Pahlawan Harapan

New Picture

Pahlawan Harapan
Judul Asli: Liong Hong Kiam
Pengarang: Tang Fei
Penyadur: OHG
Penerbit: Indah Jaya Bandung
Buku ini di scan oleh BBSC
Dikirim oleh Gun Gun Dimhader dlm Bentuk Word
Edit & Convert ebook pdf oleh Dewi KZ

Jilid 1
Bunga mekar indah dan harum semerbak tersiram hujan rintik-rintik dimusim semi. Inilah musim semi di daerah Kang Lam (selatan). Beberapa desa yang terbenam dalam kesunyian terletak dilereng-lereng gunung Thian Bok, kini dalam remang remang diliputi kabut putih dan hujan gerimis.
Jalanan jalanan kecil di desa menjadi licin tak terhingga. Sedikit
saja orang kurang hati hati berjalan akibatnya dapat jatuh
jungkir balik.
Pada saat yang demikian inilah tampak seorang ‘pemuda,
dengan memikul keranjang tahu. Ke luar dari desa kecil ini.
Ia berjalan dengan hati hati dan cermat, namun setelah
semua rumah-rumah dilaluinya. Segera dibentangkan
kemahirannya. Dengan kedua tangan bertulak pinggang
dan pikulan bergelantungan di bahu kiri. Mulailah ia berlari
bagaikan terbang! Dalam keranjang pikulannya terdapat
banyak piring mangkok, anehnya sedikit suara bentrokan
pun tak terdengar! Seolah olah ia berjalan di atas tanah
datar yang rata. Pemuda tersebut agaknya bergirang.
Sewaktu waktu ia menindak dua langkah-dua langkah, di
sela loncatan-loncatan sejauh tiga langkah dengan
indahnya. Sebentar merendak perlahan-lahan kemudian
cepat bagaikan kuda kabur. Kemudian kakinya diangkat
sebelah berjingkai-jingkai meloncat – loncat menotol bumi.
Cara berganti cara, ketenangan tetap terpelihara. Dengarlah
sedikit gesekan piring dan mangkok tetap tak terdengar!
Pemuda itu berdiam di lereng sebuah bukit kecil yang
jauh kurang lebih sepuluh lie dari desa tersebut. Setiap pagi
ia datang ke desa itu untuk berjualan, dan pulang pada
senja hari. Walaupun dalam keadaan mendung serta hujan
gerimis. Sedikitpun tak dihiraukan, sebaliknya keadaan
alam yang demikian itu sangat digemari dan
menggembirakan.
Pemuda itu tibalah di kaki sebuah bukit, dan langsung ia
menuju ke sebuah gubuk reyot, yang terpencil jauh dari
mana mana. Dengan perlahan lahan didorong pintunya,

3
serta diiringi suara memanggil “ibu”. Asap lilin dan dupa
mengepul dari meja sembahyang Sesajian berupa ayam.
bebek dan ikan terletak di meja. pemuda itu menjadi
tercengang menyaksikan itu semua.
Ia nampak ibunya dengan pakaian rapi dan wajah
tenang. Membayangkan wajah usia limapuluh tahunan.
Rambut putih menghias di kepala. Tetapi semangat dan
jasmaninya tetap memancarkan kesehatan yang terpelihara
baik. Hari ini kedua mata ibunya bercahaya bening, serta
melukiskan perasaan sedih yang tak dapat disembunyikan.
Agaknya ada satu peristiwa yang terjadi di luar dugaan. Ia
hendak bertanya, untuk menghilangkan rasa herannya.
“Anakku ke sinilah! Bersujudlah di depan meja
sembahyang dari arwah mendiang ayahmu. Berilah
hormatmu!” ibunya mendahului berkata.
Pemuda itu berkata diliputi keheranan dan tidak
mengerti. Ia maju ke depan sambil berlutut dengan
sujudnya.
Sang ibu dengan senyum terhibur, memandang
puteranya yang tahu peradatan dan kesopanan itu dengan
puas.
“Anakku, berapa usiamu tahun ini?”
“Duapuluh tahun bu.”
“Anakku dengarlah aku akan menuturkan kisah sedih dan
penasaran dari mendiang ayahmu. Hal ini sudah delapan
belas tahun lamanya kusimpan di dalam dada. Hari ini
adalah ulang tabun kedelapan belas dari kebinasaan
ayahmu. Pada tahun-tahun yang lalu hal ini tidak
diperingati. Kini waktunya sudah tiba. Dengarlah baik-baik,
selak-seluk dari kisah dan kehidupan ayahmu. Penuturan ini
adalah yang sebenar benarnya.”
“Nah! Tutuplah pintu itu terlebih dahulu.”
Dengan membalik badan pemuda itu segera merapatkan
pintu itu. Pada detik itulah terdengar seruan ‘Awas’
menyusul desiran angin halus dari tiga senjata rahasia yang

4
menyerang ke tiga jurusan! Gerakan lincah dan tangkas
dibuatnya. Pemuda itu menotol kan kedua ujung
kakinya.Badannya merapung ke udara setinggi beberapa
tumbak, secepat kilat tubuh itu berputar di udara.
Sepasang mata ibunya cukup tajam. Tangannya
bergerak lagi, enam butir batu berhamburan secepat kilat.
Tiga menyerang bagian bawah tubuh. Tiga mengarah
bagian tubuh sebelah atas. Yakni Bun-tong, Hoa-kay, Tiongteng
tiga urat nadi besar. Pemuda itu cukup tangguh!
Sebelum kakinya menempel bumi, pinggangnya bergeliat!
Tubuhnya sejajar dengan bumi. Tiga butir batu yang
menyerang bagian bawah dan dua butir yang menyerang
bagian atas dengan begitu saja dapat dikelit, Batu yang
menyerang ke pusarnya dipaku puku jatuh dengan batu lagi
yang terlepas dari tangannya. Batu yang dilepas itu masih
bertenaga besar sekali, terus melesat menuju pada ibunya.
Ia gugup dan kuatir! Tapi—suatu kelitan sempurna dan
wajah tersungging senyuman puas terlukis di sudut bibir
ibunya.
Dalam gugupnya pemuda itu kesima dan mematung
bengong. Ibunya dengan welas asih menatap sang anak,
lama dan lama sekali.
“Bu tak terasa aku mengeluarkan tangan terlampau
berat. Untung tidak melukai ibu. Atas ini aku minta ampun
bu.”
Ibunya tersenyum bangga, ia mengangguk perlahan.
“Anakku gerak gayamu barusan taki ubahnya seperti
kepandaian yang dimiliki mendiang ayahmu. Keluarga Tjiu
sungguh beruntung dengan tidak sirnanya kepandaian
ampuh dari senjata rahasia Tjian Kin Bwee Hoa Tok Tju.
Coba ke sini ada semacam benda akan kuperlihatkan
kep&damu.”
Ia mengambil dan membuka cupu-cupu tempat
perhiasan. Diambilnya sebuah bungkusan kecil. Perlahan –
lahan dibuka pembungkusnya. Di dalam bungkusan
terdapat pula bungkusan kain yang dijahit. Sesudah

5
digunting ke luarlah sebuah kantong kecil pula vang terbuat
dari kulit rusa. di dalamnya terdapat enam butir mutiara
kuning bergemerlapan, sinarnya menusuk mata!
Ibunya mengambil sebutir dan diberikan kepada anaknya
Sambil berkata:
“Nak perhstiKanlah dan amat-amatilah dengan teliti, apa
yang terdapat pada mutiara ini.”
Pemuda itu meneliti seperti yang dikatakan ibunya
Tampak di permukaan mutiara, agak menonjol beberapa
duri halus. Terkecuali dari itu terdapat tiga usiran huruf
kecil Ciu Cian Kin. Ia tak mengetahui makna tersebut.
Hanya dengan hati-hati dikembalikan lagi pada ibunya.
“Bu, sudah.”
“Apa yang kau lihat anakku?”
“Di permukaan mutiara terukir tiga huruf Ciu Cian Kin.”
Mendengar ini tiba-tiba di pelupuk mata sang ibu
tergenang air mata. Hening seketika . . . dengan menahan
sedih sang ibu berkata: “Itu adalah nama dari mendiang
ayahmu!”
Dalam kagetnya pemuda itu bertarya: “Bukankah aku
dari keluarga Nio dengan nama Piau.”
“Nio adalah She dari ibumu. Hal ini terjadi delapan belas
tahun lamanya. Semua dilakukan demi keselamatan kita.
Dari itu tidak kuperkenankan memakai She Tjiu. Kini
saatnya tiba kau memakai She Tjiu. Tjiu Piau,yah namamu
Tjiu Piau. Enam butir mutiara ini adalah benda peninggalan
mendiang ayahmu. Mulai sekarang kuserahkan kepadamu.
Simpanlah untuk menjaga diri.”
Tjiu Piau menyambuti pemberian itu dengan bengong.
“Bu, aku sama sekali tidak pernah mengetahui hal ikhwal
ayah semasa hidupnya.”
“Oh! anakku, kejadian delapan belas tahun yang silam.
Tidak dapat segera kututurkan habis dengan serentak.

6
Duduklah dahulu, dengarilah penuturanku. Di butiran
mutiara itu. bukankah terdapat duri halus? Sebenarnya duri
itu sangat beracun. Bilamana mengenai seseorang. Ketikaa
duri itu akan menggores kulit daging si terserang. Racun ini
hanya dapat dipunahi dengan obat pemunah keluarga Tjiu
saja. Pemunah ini demikian mujarab dapat menjaga-jaga
keselamatan orang, dan menghindarkan diri dari racun
kematian. Di tengah-tengah terdapat lima duri vang
merupakan lima helai daun bunga Bwee 5rang indah.
Karenanya di Kang-ouw terkenal Bwee Hoi Tok Tju keluarga
Tjiu.
Sewaktu menurun sampai pada ayahmu. Hal ini lebih
terkenal. Ayahmu bertenaga besar. Gaya melepas senjata
rahasia ini mengandung tenaga seribu kati, sebab inilah
Bwee Hoa Tok Tju berubih nama menjadi Tjian Kin Bwee
Hoa Tok Tju. Inilah senjata ampuh untuk menolong diri dari
bahaya maut.
“Ayahmu mempunyai duabelas butir. Tapi biasanya
hanya enam butir saja yang selalu dibawa- bawa,”
Penuturannya sementara terhenti sebentar. Sang ibu
dengan suara dan nada yang halus, perlahan-lahan
melanjutkan lagi penuturannya.
‘Delapan belas tahun yang lalu. Ayahmu beserta tiga
saudara angkatnya, bersama – sama mendaki gunung Oey
San untuk mengadakan suatu pertemuan. Semenjak itu ia
tak kembali lagi.
Hanya adik angkat yang termuda kembali seorang diri. Ia
mengatakan bahwa ayahmu dan dua saudara lainnya.
Menemui ajalnya masing masing dalam pertemuan itu.
Menurut perkataan saudara angkatnya itu, sakit hati itu
sudah dibalasnya, dengan berhasilnya ia membunuh musuh
dari saudara – saudara angkatnya itu.
Di balik itu ada pula satu hal yang mencurigai hati! Yakni
di lengan kanan dari saudara angkat ayahmu itu. Tertera
bagai tercerak tanda dari setangkai ( sekuntum ) bunga
bwee merah …”

7
“Siapa gerangan pembunuh dari ayahku itu bu.” tanya
Tjie Piau memotong perkataan ibunya. “Di mana kini
saudara angkat ayah itu? Apa artinya bunga Bwee merah
dipangkal lengannya itu?” Tambahnya pula.
“Puteraku sepuluh tahun lamanya aku menyelidiki hal ini.
Hasilnya masih tetap samar samar. Tahun itu ayahmu
mengangkat saudara. Yang tertua She Ohg. Ayahmu yang
kedua, yang ketiga Sne Tju, yang termuda She Louw
bernama Eng. yarg masih hidup kini. Adapun lawan dari
empat saudara ini tidak lain dari pada, seorang pendekar
kelas utama di dunia persilatan. Nama besar nya
menggoncangkan dunia Kang Ouw, ia sangat dimalui orang.
Namanya Wan Tie No. Semasa hidupnya ayahmu sangat
menghormati pendekar ini. Pertemuan di Oey San
bertepatan sekali dengan hari wafatnya Giam Ong ( Lie Tju
Seng ) dan masuknya tentara Tjeng ke tanah air. Dalam
pertemuan itu ayahmu akan bahu membahu guna berjuang
menghadapi tentara Tjeng. Karenanya kalau ditinjau dari
sudut ini. adalah hal yang tidak termakan otak untuk
mempercayai ayahmu itu terbunuh Wan Tie No. Kecurigaan
besar memenuhi dadaku. Lebih lebih bunga Bwee yang
terdapat pada pangkal lengan Louw Eng itu, siapa lagi kalau
bukan ayahmu yang memberikan tanda tersebut?
Hal inipun dengan secara kebetulan saja dapat
kuketahui. Tahun itu Oey San. Ia bergilir ia menyambangi
kami, pertama ke Ong pee bo, terus ke Tju- siok bo dan
ketika untuk menyampaikan kabar, duka itu. Masa itu
usiamu baru dua tabuh, seorang anak yang masih belun
mengenal apa apa. Kau meronjak ronjak meminta makanan
darinya. Ia menggendong mu sambil menjanjikan akan
membelikan kue dan gula gula di pasar Seketika itu aku
terbaru melihat kecintaannya kepadamu. Siapa kira kau tak
kena dibujuk, tetap berontak rontak sambil mencakar cakar
pangkal lengannya tidak keruan. Tak dinyana dalam usia
sekecil itu, tenagamu sudah demikian besar. Lengan
kecilmu berhasil merobek lengan bajunya-. Seketika Louw
Eng berubah, segera kau diturunkan dari gendongannya.
Dalam waktu sekejap di tempat yang kena sobek kulihat

8
tegas tegas tanda bunga bwee merah dengan lima helai
mahkotanya. Tak lain diri ciri peninggalan mutiara emas itu.
Hatiku terkesiap seketika aku sadar dan memastikan ada
tabir rahasia dalam pembunuhan ini. Untuk menghindarkan
kecemasanku terlibat oleh Louw Eng. Aku pura pura tidak
melihat. Kutarik lenganmu sambil kumarahi. Louw Eng pun
segera pamit berlalu. Malam mendatang secara hati hati
sekali aku bertandang ke rumah Ong Pee bo untuk
memperbincangkan bal itu. Tak Kukira Tju Siok-bu pun
sudah ada di sana tengah membicarakan hal yang serupa
dengan piKiranku. Karena merekapun mendapatkan tandatanda
yang mencurigakan.
Kecurigaan kami semakin bertambah. Kami kuatir Louw
Eng mendengus kecurigaan kami. Sesudah berunding kami
berpencar ke tiga jurusan dalam cuaca gelap gulita. Dengan
membawa kau aku melarikan diri kesini. Kini kejadian itu
sudah delapan belas tahun berselang ”
Ibu yang tua itu menutur sampai di sini,
Kerongkongannya kering tak dapat bicara. Tjiu Piau bagai
siuman dari pingsannya. Tak diketahuinya kisah
keluarganya demikian ruwet penuh penasaran Ia terbenam
diam. Sesaat kemudian terdengar pula penuturan dari sang
ibu.
“Anakku belasan tahun yang lalu aku menyembunyikanmu
dengan menukar sebuah nama di desa yang sunyi ini.
Sepenuh tenaga kucurahkan untuk mencari giro berilmu
puna mendidikmu- Menyesal sekali sesudah negara kacau
balau. Pendekar pendekar menghilang di tengah tengah
rimba rimba dan pegunungan sunyi. Untuk mencarinya
sukar sekali. Akhirnya dengan sekuat tenaga kudidik kau.
Tapi kepandaianku ada terbatas, sehingga aku tak dapat
mendidikmu secara lebih sempurna. Terkecuali itu segala
kepandaianku sudah diturunkan habis kepadamu-
Untunglah kau adalah seorang anak yang rajin dan giat
serta bersemangat. Barusan sudah kuuji kebisaanmu.
Nyatanya dalam keadaan bagaimana juga kamu bisa
menghadapi segala kemungkinan.

9
“Ilmu warisan ini jika sepenuh hati diPelajari. Kiranya
untuk menjelajah dunia Kang Ouw sudah cukup menjamin
diri. Anakku tiga hari kemudian, kau harus menerjunkan diri
ke dunia Kang Ouw. Perihal urusan ayahmu dan hal Louw
Eng. Tidak perduli apakah dendam atau budi. Kubebankan
kepadamu untuk mengurusnya menjadi terang!”
Semenjak kecil Tjiu Piau dirawat dan dilindungi ibunya.
Mengingat harus berpisah batinnya menjadi sedih. Tapi
tugas berat sudah terletak di bahunya. Ia termenung
sejenak. Kemudian dengan suara tegas ia berkata: “Bu,
kendati aku harus melalui tebing curam dan melintasi lautan
badai, tugas ini akan kujalani dengan -baik!” tambahnya
pula, ‘bu aku mohon penjelasan pula. Apakah Ong Pee-pee
dan Tju Siok siok terbinasa pula dalam pertemuan di Oey
Sian itu?”
“Hal ini memang niat kututurkan pula. Akan Ong Peepeemu
itu bernama Tie Gwan, seorang yang memiliki
kepandaian tinggi. Sayang ia gemar mengembara, dan
enggan menerima murid atau mendirikan perguruan.
Semasa mudanya ia mengangkat saudara dengan ayahmu.
Kemudian jarang sekali kami bertemu muka.
Tahun itu ke empat saudara angkat bersama – sama
mendaki Oey San. Waktu kembali tertinggal Louw Eng
seorang. Kebinasaan dari ayahmu serta Tju Siok-siokmu,
sungguh menyedihkan sekali karena sekalian dari
jenazahnya tak dapat diketemukan. Menurut Louw Eng,
ayahmu dan Tju siok-siok terpukul jatuh ke dalam jurang
dan hancur dimakan cadas gunung yang tajam tajam.
Hanya jenazah dari Ong Pee-pee seorang masih utuh dan
dapat dimakamkan di kaki gunung Oey San dengan baik.
Pemakaman ini dilakukan oleh Louw Eng dan Ong Pee
bo, setengah bulan kemudian sesudah terjadi peristiwa di
Oey San. jenazah Ong Pee pee masih tetap segar, karena
hawa di gunung sangat dingin. Sewaktu ditukarkan pakaian.
Tampak satu telapak tangan yang sudah menjadi hitam
ngejeplok di punggungnya. Pasti disebaDkan dari pukulan
dansyat sang lawan. Pantasnya Ong Pee pee waktu kepukul

10
mengerahkan tenaga dalamnya untuk bertahan. Sang
lawanpun tentu mengerah kan iwekangnya. Dari itu darah
menjadi beku di situ dan menggambarkan telapak tangan
dengan tegas.
Waktu itu Louw Eng terisak isak nangis sambil memukulmukul
dada ia berteriak; ‘”Wan Tie No! Wan Tie No!
Tangan besimu sangat ganas dan kejam sekali! Walaupun
aku sudah dapat membinasakan kamu dengan menubleskan
pedang ke tubuhmu, sehingga sakit hati dari saudara
saudaraku sudah terbalas. Tapi bagaimana aku dapat
menghilangkan kegusaranku demikian saja!” Sudah itu
Louw Eng menjatuhkan diri menangisi layon jenazah Ong
Pee- pee sambil sesambatan dan menyedihkan sekali.
Ong Pee – bo saat itu tengah berduka sekali. Mendengar
kata kata Louw Eng itu, berkobar kegusaran dan kebencian
pada Wan Tie No, kemendongkolannya itu hampir-hampir
saja meledakkan dadanya!
Ong Pee-bo agak tenang sesudah upacara pemakaman
selesai.
Malamnya di rumah, dalam kekeruhan dan penderitaan
batin, la mengingat satu hal yang membangkitkan perasaan
curiga. Wan Tie No terkenal di jagat raya berkat lengan
besinya. Lebih – lebih tangan kirinya lebih ampuh lagi dari
tangan kanannya. Setiap pukulan kematian selalu datang
dari tangan kiri itu. Tetapi telapak tangan yang terdapat di
punggung Ong Pee pee, adalah telapak tangan kanan!
Lebih-lebih kecurigaan ini menjadi lebih besar. Ketahuilah
terlebih dahulu tangan kanan Wan Tie No mempunyai enam
jari, yakni di ibu jarinya tumbuh pula sebuah jari kecil.
Misalkan ia menggunakan tangan kanan. Telapak itu harus
melukiskan ke enam jari itu. Akan tetapi telapak di tubuh
Ong Pee pee itu hanya menggambarkan lima jari. Dari segi
ini dapat dipastikan, pukulan itu datang dan seorang lain!
Ong Pee bomu itu sedikit juga tidak dapat bersilat Tapi
semen jak kecil hidupnya mengembara saja dengan
ayahnya. Sesudah nikah dengan 0ng Pee pee, segala
kejadian di rimba persilatan cukup diketanui dengan jelas.

11
Ong Pee peemu mempunyai nuikang yang sangat tinggi,
waktu itu orang yang dapat sekali pukul membinasakannya,
terkecuali dari Wan Tie No tak ada orang ke dua yang dapat
melakukannya. Ong Pee bo memeras otak semalaman
penuh untuk mengingat ingat orang orang yang berilmu
dalam golongan Liok lim. Tetapi hasilnya sia sia saja. Ia
berpikir tiga hari tiga malam, lupa makan lupa tidur.
Akhirnya ia muntah darah! Ketika aku datang untuk
menyambanginya, guna memperbincangkan bunga Bwee
yang tertera di pangkal lengan Louw Eng, Kecurigaannya
bertambah tambah.
Dengan badan dirundung sakit ia berpisah dengan kami.
Bertahun tahun berlalu tanpa kabar cerita. Entah
bagaimana akan penyakitnya.
Berceritera tentang diri Tju Siok siokmu, lebih lebih
mencurigai. Hui Tnian Wan Tju Hong (Kera terbmg dari
langit Tju Hong), Namanya sangat terkenal di dunia kang
ouw jauh dan dekat. Ilmu mengentengkan tubuhnya yang
lihay, boleh dikatakan tak ada ke duanya. Di badannya
tidak pernah tertinggal seutas tambang panjang berkaitan
di kedua ujungnya. Dengan mengandalkan tambang ini, ia
dapat lari bagai terbang dilereng lereng gunung curam
bercadas cadas.
Wan Tie No berkepandaian lebih tinggi dan padanya. Tapi
untuk menjatuhkan dan membinasakannya ke dalam
jurang, bukan hal yang mudah!”
Saat ini malam mendatang, kegelapan memenuhi ke
dalam gubuk kecil itu. Hanya lilin dart meja abu, berkelap
kelip menerangi ruangan.
Tjiu Piau seolah olah dirinya sudah pergi ke tempat jauh.
Seperti sudah berada di puncak gunung Oey San dan
menyaksikan kejadian peristiwa tahun tahun yang silam di
kedua matanya. Sayang sekali .bayang bayang tersebut
menjadi kabur dan hilang dari pandangan mata. Kejadian
itu serupa dengan impian! Telinganya yang masih
terbentang mendengar pula penuturan terlebih lanjut dari
ibunya.

12
Tambang dari Tju Hong panjangnya tiga depa. Bukan
tambang sembarang tambang, sebab terbuat dari ribuan
benang emas halus dan seutas tali besi yang sudah diolah
demikian rupa. Dipilih menjadi satu. Segala benda tajam
berupa golok dan pedang biasa, Jangan melamun dapat
memutuskannya.
Tambang ini menjadi senjata pula untuk Tju Siok siokmu.
Ia dapat turun naik ditebing tebing dan jurang jurang curam
mengandalkan tambangnya itu. Caranya ialah menggaet
pohon pohon di gunung dengan pengaitnya yang terdapat di
kedua ujung tambang. Waktu ujung pengait yang satu
menggaet pohon ujung yang lain berada di tangan, dari itu
sekali kedet tubuhnya merapung ke depan. Silih berganti
kaitaan itu dikerjakan dengan cepat. Puncak dan bukit yang
tinggi dengan waktu sebentar saja dapat didaki!
Tempo hari, waktu Louw Eng pulang, hanva membawa
sebagian tambang dan separo dari kaitannya yang sudan
kutung. Menurut ceritanya Louw Eng. Sewtktu Wan Tie No
berbasil memukul Tju Siong jatuh ke jurang. Tju Hong
menggaetkan tambangnya ke batang pohon Siong tua. Wan
Tie No cepat menabaskan pedangnya. Hai itu Tju Hong
tengah menggenjot tubuhnya dan melayang di udara
menuju ke atas. Ujung lain dari tambangnya menggaet ke
batang pohon yang berada di dekat Wan Tie No.
kesempatan ini tidak disia siakan Wan Tie No. Tambang itu
ditabas dan mengenai kaitannya, kaitannya pun putus kena
pedangnya itu. Tju Hong terkaturg katung di udara tanpa
pegangan. Dengan satu Jeritan yang menyedihkan
tubuhnya jatuh ke dalam jurang.”
Tiu Siok-bo meneliti tambang dan kaitan yang tinggal
separo itu dengan perasaan pedih. Bekas tabasan pedang
itu sangat mengkilap. Pedang itu pasti pedang
mustika.Malam itu Tju Siok-bo mempercakapkan hal itu
pada Ong Pee-bo. Hal ini hanya menambah-nambah saja
kecurigaan yang sudah demikian besar.
Wan Tie No seumur hidupnya menjagoi dan terkenal
berkat tangan besinya. Tak pernah tertarik akan segala

13
senjata. Misalkan ia membutuhkan juga paling banter ia
membawa senjata biasa saja. Wan Tie No seorang yang
jujur, tidak ada satu hal yang tidak dikatakan kepada
temannya. Andai kata ia mempunyai pedang mustika, hal
ini pasti diketahui orang-orang Kang ouw.
“Kemungkinan besar yang mencelakakan Tju Hong
pdalah orang lain. Tidak tahu pedang mustika itu bernama
apa?”
Ibunya berkata lagi: “Benar seperti katamu. Waktu itu
kamipun berpendapat demikian. Louw Eng tidak
menjelaskan sesuatu dengan jelas. Karenanya kamipun
tidak mau memaksa minta bukti bukti yang nyata. Malam
itu diam diam kami berunding untuk mendayakan dan
mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Berkali kali
mencari jalan, alhasil nihil semua. Kau harus tahu, sewaktu
ayahmu dan Louw Eng mengangkat saudara. Ia masih
muda sakali. Kemudian ia pergi ke Kwan Tong
mengembara. Tatkala kembali, wajahnya berubah demikian
macam, wataknyapun agak berlainan, Kami kaum wanita
enggan untuk mengatakannya perihal seseorang lelaki.
Malam itu kami terdiam tak berdaya untuk mengetahui
sesuatu yang lebih lanjut. Tiba – tiba dari wuwungan rumah
berkelebat sinar putih, menyusul benda jatuh menimpah
meja. Kami terkejut, aku meloncat ke atas rumah. Tapi
sepotong bayanganpun tak terlihat di mata. Benda itu ialah
bungkusan kain putih berisi Bwee Hoa Tok Tju. Di kain itu
terdapat beberapa tulisan.”
“Apakah mutiara itu senjata ayah?” tanya Tjiu Piou.
Ibunya diam termenung. Dalam matanya seolah-olah
menggambarknn kejadian dikala itu.
“Betul. Ketika itu kugenggam dan kuremas remas
mutiara itu. Tak salah memang senjata yang biasa
menyertai ayahmu, sebanyak enam butir,” Sambungnya
pula, “aku lupa segala galanya. Mutiara itu erat erat ku
genggam Air mataku tak tahan tidak keluar.
Mendengar sampai di situ, Tjiu Piau berseru kaget:

14
“Bukankah mutiara itu beracun bu!”
“Yah memang beracun. Waktu kena durinya aku baru
merasa sakit. Segera kusadar atas racun dari mutiara itu!
Tapi hatiku mengambil putusan pendek. Agaknya aku ingin
dengan segera menyusul ayahmu ke tanah baka. Sengaja
ku remas remas semakin keras! Biasanya barang siapa
terkena racunnya yang demikian lihay , Pasti pingsan
seketika. Tak terkira sedemikian lama kuremas-remas.
sedikit reaksipun tidak terasa. Kubuka tanganku, hanya
terdapat tetesan darah mengalir dari telapak tangan. Tak
ada tanda tanda kena racun kiranya racunnya sudah sirna.
Mungkin di sebabkan terlalu sering dipergunakan
menyerang, entah berapa banyak orang. Racun racun itu
sedikit demi sedikit hilang meresap di daging si korban.
Kalau dipikir kedatangan tamu malam pasti untuk mencari
balas, tapi mengherankan, di kain pembungkus terdapat
empat baris sajak yang berlainan dengan perkiraan kami.
Sajak itu berbunyi:
Peristiwa Oey San membawa dendam bagai lautan.,
Delapan belas tahun hidup menanggung penasaran..
Putera puteri membawa pedang mendaki Oey San.
Tamu menanti malam Tiong Tjiu , bulan delapan.
Sajak itu terang-terang mengatakan pertemuan di Oey
San mengandung perkara penasaran. Maksudnya, delapan
belas tahun kemudian, dikala malam Tiong Tjiu. Anak anak
dari generasi kemudian pergi mendaki Oey San. Di sana ada
seorang menantikan kedatangan mereka untuk
menerangkan hal penasaran dan dendam itu. Kata kata ini
meyakinkan dan menghilangkan keraguan, bahwa
pendatang malam itu bukan musuh, tapi kawan.”
“Jika demikian, pertemuan Oey San, pasti dihadiri pula
orang banyak!”
“Menyesal tak diketahui siapa dia. Hingga kini masih
sukar diketahui. Selanjutnya malam itu, kami tidak dapat
seketika mendapat kepastian. Tapi kalau kami tetap

15
berdiam di tempat lama. Tidak menguntungkan. Dari itu
untuk sementara kami berpisah. Masing masing berpisah
dan bersembunyi guna membesarkan anak anak. Delapan
belas tanun kemudian berjanji saling bertemu dan
berkumpul lagi. Serentak kami malam – malam berpisah
meninggalkan kota Souw Tjiu dengan berlinang air mata.
Perpisahan ini terhitung sudah delapan belas tahun
lamanya, tapi rasanya baru kemarin saja terjadinya. Yang
nyata kini aku sudah beruban dan kamu sudah dewasa.”
Menuturkan sampai di sini tak tertahan lagi, air mata ibunya
mengalir dengan deras.
Sang ibu menyeka butiran – butiran air mata. Dari dalam
kotak dikeluarkan lagi dua macam barang. Satu mutiara
emas, satu lagi semacam carikan kain.
“Mutiara ini biar aku simpan, karenanya dengan setiap
hari bertemu. Sama dengan bertemu ayahmu. Adapun
carikan kain ini, ialah benda kepercayaan sewaktu berpisah.
Kau tahu sajak itu terdiri dari empat baris. Ong Pee pee
mempunyai seorang putera dan seorang puteri. Tju Sioksiok
hanya mempunyai seorang putera, terhitung
denganmu semua empat orang Masing – masing mendapat
sebaris dari sajak itu dan berjanji pada tahun ini akan
berkumpul pada malam Tiong Tju di puncak gunung Oey
San. Sebagai tanda kenal dan bukti, yakni menggunakan
carikan kain ini.”
Tjiu Piau menerima dan membuka benda itu. Ia
menerima baris kedua dari sajak itu.
“Delapan belas tahun hidup menanggung penasaran”.
Tulisan itu demikian indah, agaknya buah tangan seorang
wanita.
Kata kata sajak itu meresap dalam ingatan Tjiu Piau.
Dimasukkannya ke dalam sakunya dengan hati hati. Kesal
hatinya tidak dapat segera terbang dan melampiaskan
dendam dan sakit hati. Tiba tiba sesuatu pertanyaan timbul
dalam hati nya,
“Bu, tidak tahu anak anak keluarga Ong dan Tju

16
mempunyai ciri ciri apa untuk dikenal. Kapan bertemu aku
harus bagaimana membahasakan diri pada mereka?”
Ibunya menarik napas sebentar, lalu menjawab :
“Kejadian sungguh kebenaran adanya. Kalian berempat
sebaya saja. Kala kejadian Oey San, putera sulung dari Ong
Pee pee baru berusia tiga tahun. Tubuhnya sangat besar
dan gemuk, dari itu kami biasa memanggil A Pang (si
gemuk) ia terbenar diantara kalian. Jika bertemu
dengannya panggillah toako (kakak) karenanya ia
mendapat baris pertama dari sajak ituYang kedua ialah
kamu sendiri dan mendapat baris kedua dari sajak itu. Yang
ketiga adalah putera tunggal dari Tju Siok-siokmu, waktu
itu ia baru berusia satu tahun,mendapat baris ketiga dari
sajak itu. Baris keempat terjatuh pada puteri Ong Pee pee
yang kala itu baru lahir beberapa bulan. Dua anak yang
belakangan ini sampai nama kecilnya saja aku lupa. Sebab
waktu berpisah terlalu tergesa gesa. Sampaipun hal penting
ini kulupakau suiah. Lebih lebih bicara tentang parasnya,
sekali kali tak dapat kuingat pula. Tahuu itu kalian hampir
serupa saja wajahnya.”
Pembicaraan ibu beranak itu melupakan Waktu. Ceritera
semakin panjang, waktu terasa semakin singkat. Ibu itu
teramat teliti dalam mengemukakan penuturannya tentang
keempat dari saudara angkat itu.
Lain hal yang diketahuinya, juga tidak luput dalam
penuturannya itu. Tjiu Piau baru sadar, bahwa pertemuan di
Oey San Itu. Telah menggemparkan dunia Kang ouw dan
rimba persilatan. Hal yang lebih lebih menggoncargkan
kaum Kang ouw: matinya Wan Tie No dalam tangan Louw
Eng. Sehingga kegagahan Louw Eng dalam waktu semalam
saja sudah tersiar luas. Tapi tidak lama kemudian Louw EDg
tidak dianggap sebagai pendekar Kang ouw lagi. Ia
menyerahkan diri dan menjadi budak bangsa Boan. Entah
apa jabatannya di istana tidak ada yang mengetahui. Yang
diketahui pengaruhnya sangat besar dan berkuasa
dikalangan istana.
Ayam jago berkeruyuk memperdengarkan suaranya. Pagi

17
mendatang dari ufuk timur dengan sinar yang berkilau
menerobos di celah-celah pohon di desa itu.
“Anakku, pertama kali kau ke luar pintu, kau belum kenal
jalan.. Dari itu janganlah menyia – nyiakan waktu. Tiga hari
kemudian segeralah kau pergi ke Oey San. Kini baik baklah
pergunakan waktu tiga hari untuk melatih diri Bwce Hoa Tok
Tju terdiri dari tiga kali tujuh, duapulub satu jurus. Aku
hanya apal tujuh jurus saja. Kesemuanya sudah kuturunkan
kepadamu. Sisanya masih ada empat belas jurus lagi. Ini
dapat kau pelajari menurut buku, ada di sini, ambillah dan
selidiki serta pelajari. Terkecuali itu racun dari mutiara
emas kini sudah hilang. Tapi cara pembuatannya aku masih
ingat dengar baik. Dalam waktu tiga hari, kita pergi ke
gunung untuk mencari bahan bahan dari racun itu. Sekalian
kau pelajari juga cara membuatnya. Kalau hal ini sudah
selesai hatiku lega sekali untuk melepaskan kau dari
pangkuanku.”
“Aku setuju dengan usulmu bu. Tapi aku berkeberatan
untuk menggunakan Bwee Hoa Tok Tju. Aku sudah biasa
menggunakan batu batu kecil”
“Racun mutiara itu bagaimana dapat dipakai dalam
batu!” tegur ibunya sambil cemberut.
“Aku tak ingin melakukan seseorang dengan, racun bu!”
Sang ibu mengerti kejujuran anaknya, AtaS ini
seharusnya ia merasa syukur dan bangga. Tapi Tjiu Piau
baru besar, dengan sebatang kara menceburkan diri ke
dunia Kang ouw. Kalau tidak persenjatakan ilmu warisan ini,
tak tenang akan hatinya. Dengan keras ia berkata:
“Anakku, kau jawablah pertanyaanku. Misalkan kau
berhadapan dengan pembunuh ayahmu, tidak juga kau
mempergunakan mutiara emas ini untuk melukainya?”
Mendengar ini Tjiu Piau mengenakkan gigi sambil
berkata: “Kalau dapat kucari manusia terkutuk itu. Detik itu
juga kuhajar dengan senjata beracun ini!”
“Nah! demikian baru benar, racun ini harus baik baik
dibuatnya. Biar penjahat penjahat di kolong langit dapat

18
menikmati benda ini,”
Seiring dengan datangnya fajar hujan rintik rintikpun
turun mendatang. Percakapan antara ibu dan anak
semalam suntuk tanpa henti hentinya. Kini tanpa
menghiraukan pada keadaan alam, tanpa tidur lagi.
Langsung mendaki gunung untuk memetik ramuan obat
obatan untuk racun dan berlatih silat.
Gunung Thian Bok berdiri tegak dengan megahnya. Bukit
bukitnya tinggi berantai,tebing tebingnya curam dan dalam,
tersusun demikian rapi, menambah keindahannya. Kini
diliputi dan diselimuti kabut putih. Jauh dan dekat hanya
halimun tebal yang terlihat Di gunung tampak bermacam
macam pohon dan bunga bunga indah.
Ibu dan anak itu tak tergerak hatinya guna menikmati
pemandangan alam yang demikian indah itu. Hanya
melanjutkan perjalanannya untuk mencari tempat sunyi.
Beberapa lama kemudian mereka tiba di suatu bagian
gunung yang jarang dikunjungi dan dipijak manusia.
Tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di sini semua aneh dan
jarang dilihat manusia. Kiranya Thian Bok terkenal sebagai
tempat menghasilkan obat obatan. Segala pohon obat yang
jarang dan tak ternilai harganya membayak memenuhi
lereng dan jurang. Sambil berjalan sang ibu tidak henti
hentinya memetik pohon pohon obat. Dua jam kemudian
udara berubah menjadi cerah. Mereka sampai di tempat
yang sunyi dan permai. Diapit dua tebing yang indah
terletak sebidang tanah datar kecil.
“Bu, istirahatlah di sini. Berilah petunjuk petunjuk, aku
ingin berlatih.”
Sang ibu walaupun semasa mudanya mempelajari ilmu
silat. Tapi tidak tinggi, tambahan sudah lanjut usianya. Tak
heran sudah letih juga. Dikeluarkannya buku pusaka ilmu
Warisan keluarga Tjiu dan diberikan kepada Tjiu Piau.
“Buku ini memuat cara cara melatih bagaimana harus
melepaskan senjata rahasia Bwee Hoa Tok Tju yang ampuh
itu. Semua terdiri dari tiga gelombang. Gelombang pertama

19
terdiri dari tujuh jurus, dipergunakan waktu dalam keadaan
terdesak dan genting. Dengan jurus Pek Ho Tiong Thian
(Bangau putih mencelat ke udara) ditambah enam jurus
lainnya. Segala serangan musuh dari empat penjuru dapat
dihindarkan. Di samping itu masih berketika untuk
membalas menyerang dengan mutiara emas ini. Gelombang
pertama ini sudah dipelajari Tjiu Piau dengan sempurna.
Buktinya sudah dipertunjukkan di rumah. Kini- menurut
petunjuk buku ia berlatih sekali lagi. Tanah di gunung
berlumut dan licin, tambahan baru habis hujan. Tapi Tjiu
Piau dapat melakukan setiap gerakan dari setiap jurusnya
sekehendak hatinya. Melihat ini ibunya bukan buatan rasa
senangnya.
Gelombang kedua lebih menakjubkan lagi.
Diperuntukkan menghadapi diri waktu dikurung dan
diserang musuh. Ilmu ini dapat menyelamatkan diri dengan
berhasil. Caranya ialah dengan satu kaki diangkat. Kaki
yang menempel pada tanah tidak henti hentinya meloncat
loncat menotol tanah dengan keras Tubuh dibuatnya
berputar putar hebat bagai kiliran. Karenanya walaupun
dikurung musuh dari empat penjuru. Mata masih dapat
melihat setiap gerakan musuh dengan tegas. Di mana ada
lowongan segera mempergunakan Sian Hong Kian Tjiok
(angin puyuh menggulung batu) menyusul Sun Lui Thiao
Tjiang (petir dahsyat dari langit) Serta ketujuh macam cara
melepas mutiara iainnya. Musuh yang bagaimana
tangguhpun sukar dapat meluputkan diri. Ketujuh jurus ini
tidak mudah dapat segera diselami dan dipelajari Tjiu Piau
menurut petunjuk petunjuk buku dan ibunya yang pernah
malihat Tjiu Tjian Kin dulu melatih diri. Baiknya Tjiu Piau
sangat cerdas, sesudah berlatih setengah hari, ia sudah
faham. Di sebuah batu berlumut yang licin ia berdiri Tak
jera jeranya mengulang ulang pelajaran ini. Semakin
berputar semakin menyenangkan, badannya diputar
menyerupai gulungan asap, mendadak beruntun Serangan
batu dengan dahsyat dilepaskan ibunya. Tjiu Piau dengan
tenang mengegos atau berkelit dan menghantam lagi
dengan batu. Memunahkan semua serangan. Dalam
kagetnya Tjiu Piau merasakan suara itu masih

20
berkumandang dalam telinganya. Pasti suara seorang gadis.
Lemah lembut cukup menarik, membuat hati si pendengar
merasa nyaman. Suara itu datang kira kira tidak lebih
sepuluh tindak dari Tjiu Piau Walaupun hujan rintik rintik
membasahi bumi. Mata dapat melihat sejauh seratus
tumbak. Tapi sejauh mata memandang, hanya tampak
goyangan goyangan rumput dalam kesunyian saja yang
kelihatan. Di mana dan mana ada bayangan orang?
Ibunya sesudah berdiam diri sejenak lantas berkata :
“Anakku, turunlah. Agaknya tempat ini tidak sesuai untuk
berlatih marilah kita cari tenpat lain.”
Tjiu Piau masih mengawasi sekeliling dengan heran. Ia
meloacat turun dari batu cadas, menurut kata ibunya.
Belum kedua ibu daa anak melangkah, mendadak datang
suara gaib berkeresek. Membuat pendengar merasa
waswas. Agaknya suara itu datang dari tebing, makin lama
makin dekat!
Tjiu Piau dengan mata mudanya yang awas, segera
menampak seekor ular berwarna merah mendarah.
Kepalanya besar, tapi badannya kecil. Panjang tubuhnya
lebih kurang sepuluh depa. Tengah asyik merosot dari
tebing. Dilaluinya pohon pohon dengan cepat dan
menghampiri mereka. Tjiu Piau berteriak: “Bu awas ular!”
Sambil menghadang tubuhnya di muka ibunya.
Dikata lambat tapi cepat. Ular merah itu sudah berada di
hadapan Tju Piau. Kepalanya berdiri. lidahnya yang hitam
pekak mengelel panjang. Tubuhnya mempunyai titik garis
garis hitam. Sungguh menakutkan. Ular itu mengkerat
sedikit, sekonyong konyong mencelat bagai kilat menyerang
lambung Tjiu Piau. Sekilat mungkin Tjiu Piau mengegos ke
kanan, tangan kirinya menolak perlahan sang ibu sambil
memperingati: “Bu lekas berlalu!”
Sungguh mengherankan ular itu hanya memperhatikan
Tjiu Piau saja. Matanya menatap dengan buas. Sekali
serangannya tak membawa hasil, dengan cepat cepat
tubuhnya berputar ke kanan. Ekornya menempel tanah, ia

21
berdiri tegak bergoyang goyang ke kanan dan ke kiri.
Matanya yang buas membayangkan ingin segera mencaplok
Tjiu Piau bulat bulat.
Tjiu Piau sebenarnya memegang beberapa butir batu
batu kecil. Tapi kini tak ada garang sebutir, entah kapan
disebarkan. Ia meloncat ke belakang, ular Itu menggeleser
membayangi.
Ibunya tergesa gesa berkata: “Anakku, pergunakan
mutiara!” Tjiu Piau tersadar, tangannya segera mengambil
mutiara. Ular itu sesudah mengkeret sebentar, kembali
menyerang pula. Tjiu Piau mencelat ke atas berbareng
melepaskan mutiara mutiara itu. Semua menyerang jalan
kematian, alhasil semuanya mengenai dan terbenam dalam
tubuh ular di bahagian tengah. Ular itu tak mengira akan
mendapat hajaran. Sesudah menggeliat sebentar, terus
menerjang Tjiu Piau kembali dengan kegila gilaan. Tjiu Piau
meloncat kaget, sejauh tujuh delapan depa tatkala ia
menoleh, ular itu masih saja membayangi dengan erat.
Tubuhnya melayang di udara ekornya disabetkan bagai
cambuk menyapu datang. Tjiu Piau kembali meloncat, ular
itu kembali mengikuti. Tjiu Piau belum pernah berkelahi
dengan ular, dalam gugupnya ia lari lagi. Sesudah ia lari
dua lie baru ular itu tak kelihaian mata ekornya. Baru saja
Tjiu Piau tenang sebentar, hatinya kembali cemas memikiri
nasib ibunya.
Tiba tiba berbunyi lagi desisan ular itu, nyatanya ular itu
sudah berada di hadapan mukanya, kelincahan ular itu tak
ada taranya. Badannya menempel bumi dalam sekejap
mata sudah sa mpai dekat kakinya. Tjiu Piau kaget,
setengah mati. Cepat-cepat kakinya menotol bumi, ia
meloncat. ular itu agaknya sudah mengetahui akan adanya
gerakan ini. Bergemingpun tidak. Kepalanya menjulur ke
atas menantikan Tjiu Piau turun. Dengan tubuh di udara
Tjiu Piau merasa kaget. Mendadak ia ingat perkataan ibunya
ular harus dipukul tujuh centimeter di belakang kepalanya.
Dalam kegirangannya Tjiu Piau segera mengeluarkan jurus
‘Siang Liong Tok Tjiu’ (Sepasang naga nyemburkan
mustika). Dua butu mutiara itu tepat menembus di

22
belakang kepala ular itu sejauh tujuh centi meter Sekali
jungkir tubuh Tjiu Piau hinggap sejauh satu tumbak dari
tempat asal. Ular itu sudah tak berkutik. Secepat kilat Tjiu
Piau mengirimkan dua butir lagi. Ia baru sadar ular itu,
sudah jengkar menjadi mayat. Baru saja ia menarik napas
lega. Lagi lagi berkumandang suara anak perempuan itu.
Saat itu kabut mendadak turun di muka bumi dan
memenuhi pegunungan. Dengan tangan menjinjing ular.
Tegak ia berdiri dibawah tetesan hujan dan liputan kabut.
Matanya mencelos memandang keempat penjuru. Hatinya
berdebaran keras. Mendadak dan tiba tiba mendatang suara
dari dekat sekali. Suara tertawa dan teguran masuk
kedalam telinga Tjiu Piau dengan berbareng.
“Hai! Kenapa kau bunuh Tan-djieku?”
Suara itu datang dari samping tubuh Tjiu Piau, ia
menoleh dencan kaget. Dalam cuaca remang-remang di
dalam kabut dan hujan gerimis, tampak sesosok tubuh
seorang gadis berpakaian putih. Berusia lebih kurang limaenam
belas tahun. Ia tersenyum jenaka. Raut mukanya
bulat, mulutnya mungil. Matanya hitam jernih dan bergigi
putih mengkilap bagai salju. Ketawa itu ketawa lircah dan
nakal. Sukar untuk mengetahui makna senyumnya itu.
Entah apa yang tengah direnungkan dan dipikirkan
olehnya?
Diam diam Tjiu Piau berkata di dalam hati: “Mungkinkah
di dunia ini benar benar ada dewa dan dewi?”
Dalam lirikan matanya, sedikit juga tak terlihat noda
noda kotor dalam baju putih si gadis itu. Tak ubahnya
seperti bidadari turun dari kayangan. Tjiu Piau merasakan
sesuatu yang ganjil. Ia kesima dan tidak dapat berbuat apa
apa. Matanya tak tahan mengawasi gadis itu lama lama.
Bertepatan gadis itu juga tengah asyik menatap. Empat
mata bentrok, gaya tenaga mata dari sang gadis membuat
Tjiu Piau tunduk. Mata itu demikian berpengaruh, bagai
benda suci yang tak dapat dijamah. Gadis itu kembali
berkata “Hayoh bicara, kenapa kau membunun Tan djieku
yang kucintai. Bila tidak bicara bisa tahu!” Tjiu Piau

23
deredetan gugup, menjawab; “Siapa yang membunuh Tan
djiemu?” Gadis itu mendadak tertawa bergelak- gelak
“Apa yang kau jinjing di tanganmu?” “Seekor ular ”
“Nah, itu bukan?” ia berkata, badannya tergoyang
sedikit, melewat di samping Tjiu Piau. Dua jeriji kirinya
terjulur menuju mata sang jejaka. Tjiu Piau cepat – cepat
mendek, ular sudah berganti tangan.
“Aduh kagetnya sedemikian macam, siapa sih yang
benar benar akan mengkorek mata mu?” ia bicara tanpa
memperdulikan Tjiu Piau. Ularnya diletakkan sambil diusap
usap di tanah, dan menangis dengan sedih sekali!
Tjiu Piau merasakan gadis ini mengherankan dan
membingungkan. Dalam hutan dan di dalam gunung dari
mana datangnya orang ini? Saat ini Tjiu Piau mendengar
panggilan ibunya. Hatinya berpikir lebih cepat berlalu lebih
sempurna. Ia segera berlalu. Baru melangkah dua tindak,
gadis itu berteriak memanggilnya. “Hei! Barangmu yang
tertinggal tak mau diambil!” Tjiu Piau berdiri menanya.
“Barang apa?”
“Mutiaramu, dibuang saja?”
Tjiu Piau berpikir sebentar. Keenam mutiara peninggalan
dari mendiang ayahnya, semua sudah bersarang di tubuh
ular itu. Biar bagaimana harus diambil. Tapi bagaimana
membuka mulut untuk memintanya. Gadis itu berkata:
“Ular ini sudah mati, sudah tidak resep aku main
dengannya. Aku tak mau lagi sudah. Hitung hitung tidak
menyusahkan kamu!”
Tangan kirinya mencekal ular, dengan pisau di tangan
Kanan digores-gores mayat ulur itu, menyusul suara
merontok dari butiran butiran mutiara berjatuhan di tanah.
Gadis itu berbicara sendiri: “Sayang, sayang Tjian Tok Tjoa
(ular seribu racun ) ini sudah diberikan kepadanya. Masih
tak mau mengambil besi berkarat ini kah?” katanya lagi.
Tjiu Piau cepat-cepat meraup mutiaranya dan segera
berlalu. Gadis itu sambil cengar-cengir kembali
menghadang perjalanannya, seraya berkata: “Bagaimana?

24
Kau sudah membunuh ularku dan sudah menghisap bersih
seribu macam racunnya. Sedikit juga kau tidak
menghaturkan terima kasih masa akan berlalu begitu saja?”
Tjiu Piau berkata dengan gugup: “Siapa yang kesudian ular
seribu racunmu itu.” Gadis itu dengan gusar berkata. “Kau
benar benar gila, apa pura pura berlagak pilon? Kalau dilihat
usiamu pasti lebih besar dari aku. Aku mengerti masa kau
tidak!”
Tengah mereka asyik berdebatan, di udara terdengar
suara elang membunuh burung gereja Gadis itu mendongak
ke atas, mulutnya berbunyi cek cek cek meniru suara
burung. Sepontan dari atas melayang seekor elang hitam
menuju bumi. Gadis itu melemparkan ular aneh yang
dipegang itu ke udara. Elang hitam itu menyambut dengan
kedua kukunya dengan tepat, sambil berbunyi keriangan
elang itu terbang pergi. Tjiau Piau tak mengerti apa yang
tengah dipertunjukkan, waktu ia dongak ke atas. Terlihat
elang hitam itu tengah mematokkan paruhnya pada ular itu.
Hanya tersentuh sedikit akan lidahnya pada ular itu. Kedua
sayapnya segera teklok tak bertenaga. Sayapnya hanya
mengelapak ngelapak dua kali, lantas jatuh menukik ke
bawah. Gadis itu siang siang sudah menampani lengannya.
Elang itu dikeset sayapnya, dan dilempari kepada Tjiu Piau
sambil berkata: “Periksalah dengan benar! Elang itu sudah
jengkar mati. Di tempat terkeset terlihat dagirgnya yarg
telah hitam hangus, sungguh menakutkan sekali. Gadis itu
berkata sambil tertawa: “Lihatlah, barang siapa kena racun
ular seribu racun ini. jadinva begitu. Bicara lari sejujurnya
racun ini baik atau tidak?” Tjiu Piau menggigil
mendengarnya. Hatinya mengatakan lebih baik ?egera
berlalu, ia berkata: “Racun itu demikian dahsyatnya, tapi
diberipun aku enggan menerimanya. Untuk permainanmu
saja yah!” ia segera berjalan pergi. Kata-kata ini membuat
alis si gadis yang lentik mendjadi berdiri, bahna
dongkolnya.. “tau membersihkan diri dari kesalahan
demikian baiknya, tak mau tak dipaksa. Tinggalkan
mutiara-mutiara itu! Hm . . kau tahu dengan seribu macam
ular berbisa ku pelihara ia menjadi besar. Sekujur badannya
penuh dengan bisa bisa yang mematikan, dari itu dinamai

25
ular seribu racun. Tak kira mutiaramu di permukaannya
berduri dan dapat menghisap racunnya. Mutiara mutiara itu
sudah terbenam dalam tubuh ularku, siang-siang sudah
menyedot racun dari ular itu! Pokoknya aku tak mau
mengerti dengan begitu saja!” Mendengar itu Tjiu Piau baru
sadar. Hatinya heran, kenapa gadis itu mengetahui akan
senjata rahasianya demikian terang. Kala ingin bertanya,
segera diurungkan. Pikirnya untuk menghindarkan dari
kerewelan, lebih baik kira menanya. Tapi untuk menyingkir
sudah tak mungkin. Putusan untuk berlalu sudah tetap,
dengan penuh hormat ia berkata. “Dengan menyesal Siauw
tee (adik ) sudah membunuh ular kakak, dan mengambil
bisanya. Harap jangan berkecil hati. dengan ini Siauw tee
minta kakak memberi maaf.” Gadis itu tertawa terpingkal
pingkal seraya berkata. “Bicara tak keruan macam, sungguh
tak mengenal berbahasa, usiamu lebih besar empat lima
tabun dariku kau memanggil kakak kepadaku. Mengaco
saja.!”
Tjiu Piau tak sabar pula menerima gangguan, ia
mangkel. Tak banyak bicara pula melangkah pergi.
Gadis itu kembali tertawa dan berkata. “Kau boleh pergi,
tapi harus bergebrak dulu denganku. Kalau bisa menang
baru boleh pergi!”
“Tidak gentarkah akan mutiara beracunku.” tanya Tjiu
Piau.
“Sekali kali tidak, marilah kita coba-coba Hajarlah aku
dengan sebutir mutiaramu, kemudian kau harus menggigit
ularku sekali, Setuju? Jangan dilupakan ular seribu racun ini
adalah peliharaanku. Di dunia ini hanya akulah yang dapat
memunahkan racunnya.”
Dalam kagetnya Tjiu Piau menyesali’ kelalaian hatinya,
dan mengagumi ketelitian si’gadis. Takut kalau kalau gadis
itu masih mempunyai benda benda aneh lagi, dari itu ia
berpikir baik tak berkelahi, la berkata: “Kiranya kau kasih
aku berlalu atau tidak?”
“Kau harus tinggal meremani aku dahar.” guraunya,

26
mendadak suaranya berubah menjadi lembut: “Asal kau
dapat melulusi permintaanku. Hal matinya ularku dan
diambil racunnya tak kuperhitungkan lagi.”
Hal apa yang diminta tanya Tjiu P-au. Gadis itu
membuka mulutnya perlahan, satu syarat aneh dikeluarkan,
katanya: “Kau harus tahu, tabiatku gemar pada tempat –
tempat aneh yang baru. Menyesal tak ada kawan memain,
sehingga tak pernah aku merasa gembira. Kini aku hanya
mohon kau melulusi untuk menemani aku pergi bermain
main di tiga tempat, ini saja, kalau mau, tentang ularku tak
perlu kau ganti lagi. setuju yah? Kata katanya ini bagai
suara anak kecil yang tengah merengek meminta sesuatu
kepada ibunya. Kata katanya menimbulkan rasa kasihan.
Lebih lebih waktu mengatakan ‘setuju yah’ kedua matanya
memandang Tjiu Piau dengan penuh harapan. Tjiu Piau
kelabakan tak keruan, ia tak dapat berkata tidak. Kepalanya
mengangguk angguk tanpa terasa. Dalam girangnya gadis
itu berkata. “Memang kau baik, dari semula sudah ku duga
kau pasti melulusi permintaaumu”
Baiklah kau tunggu sebentar aku segera mencari tempat
bermain yang baik. Kemudian baru kita bersama sama
bermain – main!” Waktu bercakap cakap,. Tjiu Fiau
mendengar suara panggilan ibunya, Ii menjawab sekeras
mungkin. “Bu, aku di sini!” Gadis itu berkata. “Ibumu
datang, aku pergi dah”! Aku tak senang berjumpa dengar
nenek nenek!” Kata-katanya belum habis, tubuhnya sudah
bergerak. Bagai melayang-layang ia pergi menjauhi.
Pemandangan ini bagai dalam khayalan, tapi kenyataan,
perlahan-lahan ia menghilang. Baju putihnya bercampur
dengan halimun putih menjadi satu. Mana si gadis mana
halimun. Sekali kali tak dapat dibedakan.
Baru saja Tjiu Piau berhenti mengawasi, dalam kabut
tebal nampak bayangan ibunya. Ibunya segera bertanya:
“Anakku, dengan siapa kau bicara?” Sebelum menjawab ia
mempunyai perasaan aneh. gadis kecil lebih muda darinya,
tapi berkepandaian lebih tirggi. Paling mengherankan gadis
itu mengetahui dengan terang senjata tunggal dari keluarga
Tjiu. Kata-kata ini disimpan dalam hatinya. Ia hanya

27
berkata: “ibu lebih baik kita pulang saja.” Waktu itu ibunya
sudah memetik sekeranjang penuh obat obalan. ibu dan
anak turun gunung. Setiba di rumah Tjiu Piau menuturkan
hal pertemuannya dengan gadis berbaju putih pada ibunya.
Sesaat kemudian ibunya baru berkata: “Anakku, hal ini
sangat mencurigai sekali. Sebaiknya hari esok jangan
melatih diri di sana. Adapun gelombang ketiga yang terdiri
dari tujuh jurus ilmu Bwee Hoa Tok Tju ini. Dilatih sambil
berbaring, ini dipergunakan waktu tubuh dalam keadaan
luka. Esok hari tak perlu ke luar rumah. Kesemua ini dapat
dipelajari di dalam rumah. Aku sendiri akan membuat racun
untuk ke enam mutiara pusaka itu. “Mutiara itu sudah
beracun bu.” “Biar sudah berbisa dari ular itu. tapi tidak
boleh tidak harus dibubuhi lagi racun dari keluarga Tjiu
Racun ular itu kita tak dapat memunahinya. Kini ditambahi
lagi dengan racun dari keluarga kita. Anak wanita itu pun
tak dapat memunahkannya. Bila kau berjumpa lagi
dengannya. Jangan sampai kamu berpeluk tangan lagi tak
berdaya.” Tjiu Piau mengangguk membenarkan kata-kata
ibunya. Waktu berlalu dengan cepat, tiga hari sudah lewat.
Selama itu Tjiu Piau mengeram diri sambil melatih diri. Hasil
yang diperoleh cukup memuaskan. Ibunya sudah selesai
mengolah racun Bwee Hoa Tok Tju. Untuk menjaga jangan
sampai meracuni diri send’ri. Ibunya membuatkan Tjiu Piau
sarung tangan dari kulit rusa. Sesudah itu tbunya
menasehatkan lagi banyak kata pada sang anak.
Keesokan harinya dalam cuaca cerah Tjiu Piau mohon
pamit dari ibunya. Ibunya meminta jangan dikuatirkan akan
dirinya. Beliau dapat melewatkan hari dengan menjual obat
obatan. Ia memberikan do’a restu agar anaknya dapat
cepat cepat membereskan hal sakit bati dan lekas lekas
kembali. Tjiu Piau mengingat baik baik pesan ibunya. Di
baw^h antaran sorot welas asih dari mata ibunya. Hatinya
penuh rasa hangat bercampur duka. Kakinya setindak demi
setindak melangkah pergi.
Tiiu Piau pertama kali pergi merantau banyak hal sangat
asing baginya. Hatinya tak terhindar dari rasa bingung.
Kejadian-kejadian beberapa hari belakangan ini bagai dalam

28
impian saja. sepuluh tahun lamanya sang ibu merawat dan
membesarkan dia dengan susah payah. Delapanbelas tahun
berselang peristiwa Oey San sudah berlalu, kejadian yang
sesungguhnya entah bagaimana? Ayah binasa di tangan
siapa? Sebab apa binasa? Hingga kini masih menjadi teka –
teki yang belum terpecahkan. Saudara-saudara dari
keluarga Ong dan Tju kini entah di mana. Dapatkan
berjumpa diOey San sebelum hari Tiong Tjiu. Mereka pasti
sudah memiliki kepandaian silat yang tinggi, moga-moga
saja kepandaian mereka semua melebihi kepandaiannya
sendiri.
Wan Tie No sebenarnya orang dari kalangan apa? Louw
Eng kiat entah menjadi manusia macam apa? Hal ini
diharapkannya agar lekas-lekas menjadi terang.
Terkecuali dari hal hal di atas. Tjiu Piau mempunyai
sesuatu perasaan yang aneh untuk dirinya. Hatinya selalu
terkenang akan gadis bermain ular yang di jumpai di Thian
Bok Sin. Ia tidak merindukannya. Karena gadis itu
mengherankan dan sedikit menakutkan. Tapi ia tak jemu
atau benci. Karena gadis itu mempunyai sesuatu gaya tarik,
yang menyenangkan. Teringat waktu ia berjanji untuk
menemani gadis cilik nakal itu. Ketiga tempat bermain-main
yang indah. Lucu benar terjadinya. Walau pun ia sudah
melulusi. Tapi satu sama lain belum memperkenalkan diri.
Entah di mana tempat tinggalnya? Kini ia pergi jauh dari
rumah. Gadis itu bagaimana dapat mercarinya. Kesimpulan
dalam lubuk hatinya, ia mengharap sesuatu yakni moga
moga gadis kecil itu dapat mencarinya.
Pada suatu hari, tibalah ia di suatu kota kecil. Banyak
keterangan didapat, yang mengatakan jarak ke Hang Tjiu
tak berapa jauh lagi. Tjiu Piau selalu ingat pesan sang ibu.
Karenanya ia selalu berlaku hati hati, jarang singgah dalam
kota kota besar yang ramai. Tak pernah mau menerangkan
diri ingin pergi ke mana, dan apa maksud dari kepergiannya.
Ia berhenti dan beristirahat di kota kecil itu. Ia
bermalam dalam rumah penginapan buruk. Sekedar untuk
melewatkan malam saja.

29
Saat itu matahari sudah condong ke barat. Walaupun
sebuah kota yang tidak seberapa terawat, tapi dasar di
Kang Lam, tetap indah dan menarik. Tjiu Piau jalan jalan di
kota dan mampir di warung kopi, untuk menangsel perut
dengan beberapa bakpao dan semangkuk bakmi. Dari
tempat ia duduk tampak di ujung ruangan banyak orang
tengah berkerumun. Dasar anak muda senang dengan
keanehan, dan ingin tahu segala sesuatu Hatinya tak tahan
untuk tidak melihat. Dilihatnya dua orang laki laki setengah
umur. Seorang dengan alis tebal dan mulut besar. Yang
seorang lagi bermuka panjang dan bermata sipit. Keduaduanya
duduk di tengah-tengah ruangan. Laki laki beralis
tebal tengah asyik bercerita tentang keganasan tentara
Boan waktu menduduki kota Hang Tjiu. Laki-laki bermuka
panjang asyik duduk meneguk arak. Kedua mata sipitnya,
berputar-putar larak-lirik tak henti-hentinya melihat
kesekeliling. Tatkala tentara Tjeng memasuki Tiongkok, di
Hang Tjiu, Kiang In, Ka Teng dan beberapa tempat lain.
Melakukan pembunuhan besar besaran. Menurut catatan
sejarah, satu kota Hang Tjiu saja rakyat Tiongkok terbunuh
sebanyak delapanratus ribu orang lebih !
Semasa di rumah Tjiu Piau sering mendengar cerita dari
mulut ke mulut tentang keganasan dan kekejaman tentarau
Boan. Tapi belum pernah mendengar cerita itu langsung
dari seorang yang pernah mengalami dengan mata kepala
mendiri. Laki laki itu berceritera dengan semangat berapi
api, Tju Piau bersemangat dibuatnya Inilah kebiasaan dan
anak muda tak berpengalaman, girang dan duka
dibayangkan dalam wajahnya. Demikianlah suatu sifat
kebajikan dan cinta negara dari Tjiu Piau memenuhi
wajahnya. Hal ini sedikit juga tak terlepas dari mata sipit
laki laki bermuka panjang itu.
Mendengar sampai di tempat yang menyedihkan. Tjiu
Piau merasakan gemas dan duka. air mata hangat hampir
hampir tak terbendung ke luar dari kelopak matanya.
Sesaat itu nasehat dari ibunya teringat di otaknya bahwa ia
harus berhati hati di jalan. Maka segera ia menahan duka
sambil berlalu Baru saja ia melangkah dua tindak.

30
Mendadak laki laki beralis tebal itu berkata sambil
menggerak gerakkan tangan. Sehingga sebuah cawan
melayang terlepas dari tangannya. Cawan itu tepat menuju
Tjiu Piau. Cawan itu mengandung tenaga tersembunyi yang
maha hebat. Harus diketahui dalam hal senjata rahasia
Bwee Hoa Tok Tju keluarga Tjiu menduduki salah satu
tempat tertinggi di dunia Kang ouw. Tjiu Piau walaupun
belum dapat menguasi dengan sempurna, tapi sudah tak
boleh dibuat gegabah. Tanpa siaga Tjiu Piau mendapat
serangan cawan dengan mendadak. Waktu hamDir sampai
di kepalanya, tanpa berpikir lagi. Tangan kanannya meraih
ke belakang. Cawan itu segera melekat dalam tangannya
waktu itu ia menoleh, terlihat wajah laki laki beralis tebal itu
berubah mendadak. Laki laki bermata sipit pura pura bagai
tak melihat sesuatu.
Tjiu Piau menyesal telah mempertunjukkan
kepandaiannya itu, untuk baiknya ia berlaku tenang seperti
tak terjadi sesuatu. Cawan itu dengan hormat dikembalikan
pada laki laki itu. Dari tujuh delapan orang yang meriung
mendengar cerita, antaranya ada lima enam pasang mata
yang menatapnya dengan mata terbelalak. Dua tiga
antaranya dengan tergesa gesa berdiri dan berlalu.
Hanya seorang tua berambut putih bagai salju, rupanya
seperti anak sekolah lemah. Duduk di kursi yang berada di
sudut lain, bibirnya mengeluarkan senyum dingin, Sebelum
Tjiu Piau sampai memberikan cawan itu dan membuka
mulut. Laki laki itu sudah bertanya: “Tidak tahu siapakah
nama Tuan yang mulia.?” Jawab Tjiu Piau: “Yang rendah
She Tjiu.” kata kata baru dari tepi bibir, lagi lagi ia
menyesal, Ia bertabiat jujur dan belum mengerti kehidupan
didunia bebas. Ia masih hijau tak bisa berbuat bobong.
Cepat cepat diletakkan cawan itu di atas meja. Kedua orang
itupun ia tak bertanya lagi. Tjiu Piau segera berlalu tanpa
menoleh lagi.
Sekembalinya di rumah penginapan, hatinya diliputi
perasaan kuatir, mengingat pesanan pesanan ibunya. Di
dunia Kang Oaw hal yang paling dan harus dijaga jangan
sembarangan menunjukkan diri. Dua laki-laki itu seenaknya

31
saja memaki dan membusuki pemerintah Boan. Kalau
diketahui pemerintah Boan, begitu saja cukup untuk
mencari malapetaka hilang kepala. Kini ia sendiri bercampur
baur dan mengobrol dengan mereka. Kalau nasib malang,
pasti kerembet rembet,
Semalam berlalu tanpa terjadi sesuatu Pada hari kedua
Tjiu Piau merasa lebih tenang. Merenungkan kejadian
kemarin, merasa sangat gegabah, untungnya urusan tiada
berekor. Kiranya tidak perlu gugup atau cemas lagi. Dengan
tenang ia berjalan menuju ke. Hang Tjiu. Rencananya
sesampai disana berganti mempergunakan jalan air.
Baru berjalan setengah hari. perutnya mulai gerujukan
sekali. Ia hendak mencari rumah makan untuk
menghilangkan lapar dan dahaga. Apa mau sampai warung
nasipun tak dijumpai. Tidak seberapa jauh tampak sebuah
perkampungan yang besar. Tapi Tjiu Piau segan
mengganggu penghuni-penghuninya. Ia melaluinya sambil
meuupdukkan kepala. Secara tiba-tiba dua orang laki laki
ke luar dan bertubrukan dengannya. Bawaan orang itu yang
berupa sekantong uang receh tembaga, berserakan di
tanah.
Kedua laki laki itu berdiri sambil bertolak pinggang
dengan wajah gusar. Bentaknya “Hei, bocah mencari
kesenangan jangan pada tuan besarmu!”
Tjiu Piau merasa salah, dan takut membuat onar, ia
minta maaf berulang kali Kedua laki laki ini dengan pongah,
tak mau mengerti. Dalam hati Tjiu Piau berkata:
“Lagihan siapa yang akan bersetori dengan kalian.”
Cepat ia berkata: “Uang ini tanpa sengaja Siauw tee
berantakan. Harap jangan gusar tuan-tuan, tunggu saya
pungutinya dan membereskannya. Dipunguti uang itu satusatu
dan dimasukinya ke dalam kantung. Terdengar salah
satu laki-laki itu berkata campur tertawa: “Saudara kecil.
Tak baik untuk menyusahkan kamu. Terkecuali itu dengan
sendirian saja memunguti uang sangat membuang waktu.
Sebaiknya peganglah kantung uang itu. Kami akan
memanggil beberapa orang kampung untuk membantu

32
membereskannya.
Dengan satu kali seruan. Cukup mengumpulkan tujuh
delapan orang kampung.
Tjiu Piau mengawasi orang itu, entah gusar entah girang
tidak ketentuan. Diam-diam hatinya mengeluh. Tak banyak
komentar lagi ia berdiri tegak di tengah-tengah sambil
memegangi kantung uang. Kesepuluh laki-laki itu
memunguti uang itu, dan dilemparkannya ke dalam
kantung. Lemparannya semua jitu. Lambat laun
lemparannya mereka semakin ngawur.
Terang terang mereka kini membidikkan uang uang itu
ke arah Tjiu Piau. Dari delapan penjuru uang uang itu
beterbangan bagai hujan. Beberapa antaranya terdapat
bidikan bidikan khusus ditujukan pada jalan darah Tjiu Piau,
oleh orang orang berkepandaian tinggi.
Sekejap saja uang uang beterbangan bagai hujan. Tjiu
Piau mau tak mau harus berkelit ke timur dan mengegos ke
barat. Untuk menghindarkan diri dari serangan serangan
yang berbahaya. Kemudian semakin banyak serangan
serangan mendatang, sudah tak dapat dikelit atau diegos
lagi. Sambil menahan amarah hatinya berkata “Kalau aku
tak mengeluarkan kepandaianku, sukar kiranya melewati
gangguan ini ” Sesudah tetap pikirannya. Dibuka kantung
itu dengan kedua tangan. Ia berdiri dengan satu kaki dan
berputar. Ilmu warisan keluarga Tjiu gelombang ke dua
yang terdiri tujuh jurus hebat dikeluarkan. Uang yang
beterbangan dari segala penjuru tidak ada yang jatuh ke
bumi, semua dikandangi ke mulut kantung
“Indah!” terdengar satu seruan menggeledeg. Serentak
orang orang itu menghentikan tangan. Berputar membentuk
lingkaran menyerupai bulan sabit mengurung Tjiu Piau. Di
ambang pintu dari kampung itu berdiri tegak seorang lakilaki,
orang itu tak Jain tak bukan dari si pencerita Si Beralis
Tebal.
Ia tertawa terbahak-bahak sambil berkata:
“Selamat berjumpa, selamat berjumpa. Kiranya tuan.

33
Marilah mampir dulu barang sejenak dan duduk duduk di
kampung kami. Tjung Tju (majikan kampung) mengundang
tuan”
Tjiu Piau mengawasi pintu kampung yang bertulisan tiga
huruf besar ‘Ban Liu Tjung’. Pintu dibuka, terlihat dedaunan
hijau di dalam. Kala angin bertiup terdengar keresekan
daun daun pohon liu bagai hujan gerimis
Jilid 2
Tjiu Piau berpikir. “‘Kampung ini tempat apa gerangan?
Aku mempunyai urusan di badan. Lebih baik tak singgah.”
Sebelum ia membukai mulut, di bawah pintu tampak ke
luar lagi seorang laki laki pula. Muka psnjang mata sipit.
Lagi lagi orang yang sudah dikenalnya. Orang itu berdiri di
pintu, dengan suara halus berkata. “Tjung Tju sendiri ke
luar menjemput tamu.” Walaupun tak keras suaranya, tapi
sepatah demi sepatah tegas terdengar di telinga Tjiu Piau.
Nada kata kata belum hilang, dari dalam daun liu yang
rimbun. mendatang seseorang. Orang ini kira – kira berusia
limapuluh tahunan wajahnya gemuk, berpakaian sangat
mentereng. Tak ubahnya sebagai hartawan besar. Dalam
pandangan mata sangat menyolok sekali perbedaannya
dengan pohon liu hijau ayu gemulai. Begitu ke luar pintu,
segera berkata dengan suara keras: “Tamu agung di
mana?” Begitu melihat Tjiu Piau lantas menyongsong sambil
menjabat tangannya.
“Ban Liu Tjung menyambut kedatangan tamu agung.
Bukan main sukar dan beruntung. Silahkan bermalam
barang semalam di tempat kami yang buruk ini. Simbil
mengikat tali persahabatan antara tuan dan kami. Ayoh
silahkan masuk, silahkan masuk.”
Perkataannya cukup ramah-tamah tanpa menunggu
jawaban Tjiu Piau dituntun masuk. Sebelah tangan yang
lain memberi isyarat kepada orang orangnya: “Lekas lekas
sediakan hidangan dan minuman untuk menjamu tamu
agung ini.”

34
Tjiu Piau dibesarkan di pegunungan sepi, tak biasa
menerima perlakuan demikian, diperlakukan demikian
hangat. Tak sampai hati untuk menolak. Tak sadar lagi
kakinya sudah melangkah masuk. Tapi hatinya sudah
mempunyai perhitungan lain. Baiklah sesudah meminum
seteguk teh segera aku berlalu.
Tjung Tju dan Tju Piau berjalan di muka, dua laki-laki
beralis tebal dan bermata sipit mengiring dari belakang.
Mereka berbareng memasuki Ban Liu Tjung. Tak nyana
kampung ini demikian menakjubkan sejauh mata
memandang hanya hijau daun liu saja yang tampak Sima
sekali tak ada bunga atau pohon lain. Di pintu masuk
berdiri sebuah tenda kecil, masuk lagi ke dalam tak ada
rumah yang kelihatan. Hanya terlihat jalan kecil berliku liku
menjurus ke dalam. Dahan liu yang berjuntai menutupi
jalan. Orang-orang berjalan di tengahnya, bagai dalam
lukisan saja! Sesudah berbelok beberapa tikungan, rumah
kecil itu hilang dari pandangan mata. Di muka terlihat
sebuah rumah kecil terbuat dari susunan bata merah.
Rumah itu penuh dengan gaya seni dan indah tampaknya.
Tamu dan tuan rumah masih-masing mengambil tempat
duduk, kacung pelayan segera menyuguhkan teh harum.
Tjung Tju itu berkata:
“Kekurang ajaran dari budak-budak kami itu harap
Tuan maafkan. Kepandaian tuan yang luar biasa sungguh
mengagumkan sekali. Siapakah nama lengkap tuan yang
besar?”
Laki-1aki beralis tebal itu menyela dari samping:’Tuan ini
dari keluarga Tjiu,” Mendengar ini Tjung Tju itu bergoyang
sedikit, tanyanya pula; “Dilihat dari kepandaian tuan
barusan, mengingatkan saya pada ilmu Tjian Kin Bwee Hoa
Tok Tju yang termasyur dalam dunia Kang ouw. Tidak tahu
mempernahkan apa antara tuan dengan pendekar Tjiu Tjian
Kin?”
Mendengar ini Tjiu Piau terkejut sekali, sampai gelas
yang dipegangnya jatuh hancur dari pegangan. Orang orang
itu seolah-olah tidak memperhatikan. Hanya matanya

35
mendelong mengawasi menantikan jawaban, Tjiu Piau
mengambil putusan dalam hati: “Biar bagaimana kali ini aku
harus berdusta.” Baru saja timbul pikiran begitu, mukanya
kontan menjadi merah: “Tjian bwee Tjiu Tjian Kin. adalah
paman jauh yang rendah.”
Tjung Tju itu berkata sambil bergelak:
“Tak kira. hari ini dapat berjumpa dengan ahli waris Tjiu
Tjian Kin, Tjiu Shi heng sebaiknya kau bermalam di
kampung kami, hitung hitung istirahat saja bukan?” Di
panggilnya dua pelayan dan dititahkan membersihkan
kamar tamu. Atas paksaan dari tuan rumah.Tjiu Piau
tidakdapat menampik. Tjung Tju itu berhasil menahan Tjiu
Piau.
“Mohon tanya siapa nama tuan yang besar?”
Tjiu Piau sudah sekali membohong, kini terpaksa harus
mendutta lagi. “Boan pwee bernama Liu. Tidak tahu siapa
nama besar dari Tjian pwee?”
Tjung Tiu itu kembali tertawa, ujarnya.
“Yang rendah Ouw Yu Thian, bergelar Ang Bin Kauw
(kauw semacam binatang jahat dalam sungai, binatang ini
hanya binatang khayalan seperti naga muka merah) Yang
ini Tjee Bin Kauw Ku To (kauw beralis ungu ) ini Tiang Lian
Kauw Tam Tjiu Liong (Kauw bermuka panjang ) Sedangkan
kami terdiri dari tujuh saudara orang orang Kang ouw
menggelari kami Tjit kauw. Toako kami Louw Eng adalah
saudara angkat dari Tjiu Tjian Kin.. Dari itu kita terhitung
orang serumah.”
Tjiu Piau terpaku mendengar ini. Tidak nyana belum
berapa jauh dari rumah Louw Eng sudah berada di depan
mata. Sungguh menyulitkan sekali, sebab pertemuan Oey
San belum diketahui yang sebenarnya. Saudara dari
keluarga Ong dan Tju belum dijumpai. Dengan tenaga
sendiri sukar menghadapinya Sebaiknya aku harus
menemui orang orang itu dahulu baru menemui Louw Eng.
Memikir sampai di sini hatinya menjadi berdebar-debar.

36
“Toako kami siang malam memikiri anak Tjiu Tjian Kin.
Kalau ia mengetahui bahwa Tjiu Shi-heng berada di sini,
betapa akan girangnya. Sayang Toako kini tak ada di sini.
Hendaknya Shi heng berdiam di sini sebulan dua lamanya.
Sesudah itu pasti Shi-heng dapat bertemu muka dengannya
entah bagaimana pendapat Shi-heng?”
Dengan gelisah Tjiu Piau menjjwab: “Boan-pwee masih
mempunyai sedikit urusan yang belum selesai. Dari itu
harus mengejar waktu agar tak terlambat. Beginilah malam
ini biar mengganggu tuan tuan semalam, esok pagi
ijinkanlah Boan pwee pamit Kapan hari ada waktu, pasti
Boan-pwee berkunjung kembali ”
Belum sempat Tjung Tju itu berkata, tiba tiba dari luar
terdengar suara ribut ribut.
“Ouw Siok siok kenapa kau rampas tamuku!” Seiring
dengan suara tibalah sebuah gempelan benda hijau. Tak
lain dari si gadis nakal yang tempo hari bertemu Tjiu Piau di
Thian Bok San. Kedatangannya membuat Tjiu Piau
keheranan.
“Oh, kiranya Tjen Tjen.” kata Ouw Thian. “Sopanlah
sedikit aku mempunyai tamu istimewa!Mari kuperkenalkan!”
“Tjea Tjen,” dua patah kata ini diingat benar oleh Tjiu
Piau. “Satu nama yang indah,” puji hatinya,
“Siapa kesudian kau perkenalkan! Kami sudah saling
mengenal!” kata Tjen Tjen. “Hai! betul tidak?” tanyanya
pada Tjiu Piau. Tjiu Piau manggut membenarkan.
“Aku tergesa gesa ke luar rumah, sampai lupa
mewartakan dulu kepadamu. Terkecuali itu aku tidak
mendapatkan janji. atas ini harap dimaafkan.” Tjiu Piau
berhenti sebentar. “Sungguh di luar perkiraan kita berjumpa
pula ‘di sini.” Tjiu Piau adalah seorans yang jujur, rak bisa
ingkar pada janji Dari itu begitu melihat orang yang
dijanjikan segera membuka mulut.
Sebaliknya Tjen Tjen merasa reli melihat tingkah laku
Tjiu Piau. Sambil tertawa ia berkata: “Pertemuan ini

37
direncanakan! Bukan di luar perkiraan atau hitungan! Biar
janji lama dilanggar asal sekarang saja kau temani aku,
mari sekarang juga kita pergi! Tempat yang indah sudah
kucari!”
Diam diam Tjiu Piau merasa serba salah. Bagaimana aku
dapat dilibat dia? Lebih-lebih Tjen Tjen adalah orang
serumah dengan Ouw Yu Thian. Sedangkan Ouw Yu Thian
adalah komplotan Louw Eng. Kalau semua tidak tersangkut
dendam dan sakit hati denganku bukan main baiknya.
Sebaliknya kalau bukan? Tak ubahnya diriku ini seperti ikan
di dalam bubu. Untuk menghilangkan kerisauan di dalam
hatinya itu ia beikata: “Di mana kita bermain? Aku hanya
kuatir diriku tidak dapat menyenangkan kau.”
Tjen Tjen mencibirkan bibirnya sambil berkata:
“Pokoknya kau sudah melulusi, soal menyenangkan atau
tidak bukan urusanku. Ayu lekas!” Ditarik tangan Tjiu Piau.
“Kau tahu di sini banyak tempat yang indah, pasti
menjamin kau senang dan gembira!” sambung Tjen Tjen. Ia
berkata pula pada Ouw Yu Thian: “Ouw Siok siok tamu ini
kupinjam selama tiga hari. Atas ini sebelumnya kuhaturkan
banyak terima kash ” Sebelum Ouw Yu Thian sempat
menjawab. Tiang Bin Kauw sudah mendahului membuka
mulut: “Ouw Djiko Tien Tjen senang pada tamu kita,
berikanlah bermain-main dengan Shi heng beberapa hari.”
ia berpaling pada Tjiu Piau, sambungnya: ” Tjiu Shi-heng,
urusanmu sangat penting, tapi pertemuan inipun sangat
sukar didapat bukan? Kalau tak terpaksa benar, kuharap
tinggal di sini lebih lamaan.” Nada suara dari laki laki
bermuka panjang ini. entah bagaimana tak sedap dalam
pendengaran. Tjen Tjen bersorak kegirangan sambil
berseru; “Tindakan Tam Siok-siok sangat bijaksana.”
Tjiu Piau hatinya berpikir: “Gadis ini cerdik sekali,
tapi kalau bicara sekehendak hatinya saja, sekali kali tak
memakai otak. Hal ini baik sekali untuk mengorek
keterangan dari mulutnya. Dari itu lebih baik aku turut
dengannya pergi bermain main. Terkecuali itu lebih banyak
kesempatan, andai kata ingin menyingkir dari sini.
“Sesudah berpikir begitu ia berkata :

38
“Niat Boan pvvee ke Hang Tju hanya urusan dagang saja.
Kini atas perlakuan Tuan tuan yang demiKian baik. Boan
pwee hanya menurut saja.”
Tjen Tjen berseru kegirangan: “Benar!” Tubuhnya
meloncat melepaskan Tjiu Piau “Lekas turut aku!”
Matahari hampir terbenam di arah barat. Tjiu Piau
mengikuti Tjen Tjen dari belakang. Mulutnya berteriak
teriak “Malam hampir datang. Sebaiknya hari esok saja kita
bermain!” Tjen Tjen tidak menghiraukan perkataan orang ia
lari terus, sebentar saja tubuhnya hilang di antara ribuan
daun liu yang hijau. Lama kemudian baru terdengar suaia
Tjen Tjen, “Main dimalam hari, lebih menyenangkan dari
pada main disiang hari, lekaslah ikut padaku!”
Tjiu Piau berlari ke arah suira itu. Tapi ia tak
mendapatkan Tjen Tjen. Ia ingin menaik ke pohon yang
tinggi guna mencarinya. Tapi kiri kanan tak ada pohon
lain terkecuali pohon liu. “Ah, sesuai benar kampung
ini bernama Ban Liu Tjung. Kampung ribuan pohon
liu,” pikir hatinya. Tiba-tiba terdengar pula suara dari atas.
“Turutlah padaku, turutlah!” Suara itu demikian
parau, tak ubahnya seperti suara nenek berusia delapan
puluh tahun. Tjiu Piau merasa terkejut, kepalanya
kontan dongak ke atas. Apa yang dilihat? Bukan Tjen
Tjen! Juga tak terdapat orang lain terkecuali dari
dirinya. Sesudah Celingukan lama, suara itu datang lagi
diiringi bergelepakan sayap burung. Waktu ditegasi
kiranya seekor burung kakak tua yang pandai bicara,
burung itu berwarna ungu mulus. Ia terbang di atas Tjiu
Piau sebagai penunjuk jalan.
Sesudah melewati beberapa lorong kecil yang terdapat di
kampung itu. Tjen Tjen baru kelihatan. Ia tengah duduk di
dahan pohon Jiu sambil tertawa lucu. Kakaktua itu hinggap
dalam rangkulan majikannya, lagaknya sangat aleman
sekali. Melihat ini Tjiu Piau menjidi ketawa.
“Apa yang ditertawakan?” tanya Tjen Tjen.
“Aku mentertawakan kau!”

39
“Sebabnya?”
“Biasanya memelihara ular, kenapa sekarang memelihara
burung. Mungkin dirumah segala harimau juga dipelihara!”
“Hei! begitu saja tertawa! Kau tahu, dirumah memang
memelihara harimau! Kau tahu mereka adalah kawan
bermainku, kalau tak ada mereka aku akan kesepian dan
bisa menangis sepanjang hari!”
“Kalau begitu kapan hari ada waktu, akan kubawakan,
kecebong, kokok beluk, kura kura dan lain lain, mau tidak
kau menerimanya?”
“Mau, pasti mau. jangan bohong yah!” jawabnya
kegirangan.
“Sekarang mau ke mana sih?” tanya Tjiu Piau.
“Ssssstttt! jangan keras keras, kita harus ngeloyor
secara diam diam. tak boleh di ketahui orang ”
Mereka sudah meninggalkan Ban Liu Tjung. Jalanan
sudah’ berubah menjadi jelek dan berliang liang serta
gragajulan tidak rata. Kiri kanan tak tampak persawahan,
melulu batu batu gunung saja yang kelihatan. Perjalanan
diteruskan, keadaan semakin sepi dan sunyi. Sepuluh lie
kemudian sampailah mereka di kaki sebuah gunung batu
yang gundul. Gunung itu tidak tinggi juga tidak mempunyai
pohon – pohon yang lebat. Melulu terdiri dari batu – batu
aneh yang menyerupai manusia. Lebih lebih waktu tersorot
matahari senja batu batu aneh itu tak ubahnya seperti
manusia hidup saja. Ada yang lagi duduk, ada vang berdiri,
ada yang tengah berlutut, ada juga yjng berbaring yang
tengadah pun ada, ada pula yang sedang terpekur di
samping sekelompok orang yang sedang berbisik bisik,
terkecuali itu masih ada yang sedang membentangkan
tangan sambil berteriak teriak. Tjen Tjen duduk di batu
sambil terpaku mengawasi batu-batu gaib itu. Mulutnya
kemak kemik berkata: “Kau lihatlah di sini demikian ramai
dan menyenangkan bukan?” Tjiu Piau tidak menjawab,
sebaliknya duduk di samping Tjen Tjen dengan perasaan
kosong tak keruan.

40
Mereka lebih kurang sudah sejam lebih duduk di situ
untuk menikmati pemandangan itu. Malampun sudah
mendatang. Selama mereka itu duduk Tjen Tjen tidak
berkata-kata pula. Dalam kegelapan malam, batu yang
ajaib itu seo’ah olah bergerak gerak. Sesaat kemudian
Tjen Tjen loncat bangun. Ditariknya lengan Tjiu Piau untuk
diajak berlalu. Di sana masih banyak tempat yang lebih
menyenangkan. Mari kita ke sana!” Katanya. Sebelum
berlalu Tjen Tjen menoleh lagi pada orang orangan batu
itu sambil berkata dan melandaikan tangan. “Kakak-kakak
dan adik adik sekalian, esok hari aku bermain pula dengan
kalian!”
Tjiu Piau yang mengikuti Tjen Tjen dari belakang
merasakan kelincahan dan kegesitannya melebihi dirinya
beberapa kali. Tiba tiba Tjen Tjen berseru. “Awas jurang!”
Tubuhnya melebihi kecepatan suara, menghilang dari
pandangan mata. Tjiu Piau terkejut, tubuhnya menerjang
ke depan. Siapa tahu kakinya memijak tempat kosong,
tubuhnya berada di udara. Dalam bingungnya ia bersalto
(jungkir) dan turun tanpa mengeluarkan suara. Kiranya satu
goa yang dalam dan berlebar dua depa lebih sudah dilalui.
Atas ini Tjen Tjen memuji sambil bertepuk tangan. “Wah!
Bagus betul jungkiranmu itu!” Sesudahitu tangannya
membetot Tjiu Piau. “Sini, sini lihat tuh disini terdapat dunia
luar!” Tjiu Piau melihat di depan goa terdapatpula goa kecil.
Di samping goa terdapat pula goa kecil yang penuh
ditumbuhi rumput dan tumbuh tumbuhan kecil. Kalau tak
teliti pasti tidak melihatnya.
“Kemarin aku bermain sendirian di sini dan
menemukannya tempat ini. Aku masuk ke dalamnya dan
bermain sebentar di sana. Sekarang kita masuk lagi dan
main-main sampai kenyang!”
Tjen Tjen membungkukkan badan- dan memasuki liang
goa. Tjiu Piau mengikuti dari belakang.
Goa kecil itu terang ada goa buatan. Tapi sudah lama
dikerjakannya. Karena lamanya di sekeliling dinding penuh
ditumbuhi rumput rumput dan pakis serta rumput rumput

41
lain yang tidak diketahui namanya. Barang siapa masuk ke
dalam goa itu, pohon pohon kecil itu menyinggung orang,
seperti mengitik ngitik orang dengan sengaja. Tjen Tjen
tertawa terkekeh-kekeh diusap pohon-pohon kecil itu.
Mereka menyusuri jilanan berliku liku, menikung dan
melewati beberapa belokan. Keadaan di dalam sangat gelap
gulita. Sampai jeriji sendiri tak kelihafan. Baru saja Tjiu Piau
niat mengeluarkan bahan bakar untuk menerangi.
Mendadak di mukanya terlihat sinar kelap kelip Entah dari
mana Tjen Tjsn mengeluarkan sebutir mutiara yang
mengeluarkan sinar. Sinar ini lumaym juga. Jalanan di
dalam semakin berliku liku dan melingkar lingkar,
merupakan sebuah terowongan.
Sesudah menempuh seketika lamanya keadaan di dalam
belum menunjukkan perubahan. Perubahan yang nyata
semakin kedalam semakin sukar bernapas. Tjiu Piau
merasakan dadanya sesak, tapi Tjen Tjen semakin gembira.
“Hei, katakanlah menarik atau tidak tempat ini?
Sebelumnya pernahkah kau jalan jalan di tempat yang
serupa ini?”
“Belum pernah! Bicara tentang menarik? Sedikitpun
tidak!”
“Tempat yang menarik terletak di sebelah dalam.
Rupanya kau sudah tidak sabar yah? percepatkanlah
langkahmu!” Habis berkata ia segera berlari tanpa
menunggu jawaban.
Tjen Tjen dapat berlari dengan cepat berkat sinar
mutiaranya yang dipegang Tjiu Piau menyusul dengan
seluruh kemampuan yang dimilikinya. Alhasil kian mengejar
kian tertinggal!
Dengan susah payah Tjiu Piau sampai juga di tempat
yang lebar. Ruangan goa itu merupakan pula dari bangunan
besar Di tengah-tengahnya ruangan itu berjejer jejer dan
bersinar dengan teratur kursi dan meja batu, Tjen Tjen
siang siang sudah berada di situ, ia duduki di kursi batu.
Mutiaranya menggeletak di atas meja.

42
Tjen Tjen memanggilnya seperti berbisik. “Mari, mari
duduk di sini.” Kata katanya demikian perlahan, seolah olah
takut mengganggu sesuatu Tjiu Piau berjingkat jingkat
menghilangkan derap sepatunya sambil menghampiri,
untuk duduk. Tjen Tjen duduk mematung. Keadaan sangat
sunyi sekali. Pada waktu inilah terdengar kerucukan air
mengalir.
“Kau jangan membuat gaduh, dengarlah! Tak lama lagi
kita dapat mendengar para dewa bermain tetabuhan,
melagukan irama surga!” Benar saja tak seberapa lama
mereka duduk duduk di situ. Suara air sudah berubah
bunyinya menjadi- ting tang, tang ting, ting. Suara ini
demikian lembut dan bening. Tak ubahnya seperti suara
mutiara berjatuhan di cawan kumala. Menyusul suara suling
beialun alun meningkah suara tadi. Kemerduan dan
kehalusan dari paduan nada nada ini membuat si pendengar
mulai mabuk.
Dua muda mudi ini siang siang sudah terbenam dalam
alunan irama merdu gemulai bak bulu perindu. Perlahan
dan halus Tjiu Piau bertanya. “Sungguh heran, bagaimana
kau dapat tempat yang demikian luar biasa ini.”
“Setiap waktu aku senggang, waktu yang terluang ini
kupergunakan untuk mencari tempat yang indah indah”
jawab Tjen Tjen.
“Seorang diri sajakah kau ngelayap sepanjang hari? Apa
kau tak merasa takut?”
“Ayahku selalu sibuk dengan pekerjaan ya, mana ada
waktu untuk menghirauKan aku. Sebaliknya lebih bebas
bermain sendiri.”
“Ibumu juga tak mengurus kamu?”
“Ibuku sudah lama meninggal.”
“Apakah kau tidak mempunyai saudara laki laki atau
perempuan?”
‘Sayang tidak punya. Aku anak tunggal, karenanya aku
kesepian dan selalu bermain dengan segala unggas, ternak

43
serta binatang buas! Eh kau tidak tahu, hewan hewan itu
demikian baik dan begitu pandai! Coba pikir bagaimana aku
mencarimu? Kau tahu? Kusuruh kakaktuaku mengikuti jejak
kaki mu. Biar ke mana kau lari. hmm pokoknya dapat
kucari!”
Atas ini Tjiu Piau merasa kagum.
“Siapa akan nama besar dari ayahmu?” tanya Tjiu Piau.
Tjen Tjen tersenyum. “Namanya Louw Eng.”
Mendengar ini keringat dingin Tjiu Piau membasahi
tubuh. Ia diam tak dapat berkata-kata. Bagusnya di dalam
remang remang, sehingga perubahan parasnya tak terlihat
oleh Tjen Tjen.
Kala ini irama tabuhan dewa dewa itu beralih menjadi
demikian menyayatkan sukma. Suara suling itu seolah olah
berubah dan terbagi menjadi beberapa nada, tinggi dan
rendah. Seperti suara tangis menuturkan kisah sedih, dari
kehidupan manusia.
Tjen Tjen walaupun masih kecil, tapi sudah mengerti
urusan. Ia duduk termenung menung, di sela tarikan
napasnya.
“Eh, berapa sedihnya irama ini, kalau bukan dewa yang
membawakannya siapa lagi yang bisa?” Suaranya ke luar
dengan parau diiringi helahan napas. Tjiu Piau merasakan
Tjen Tjen ini mempunyai perasaan kemanusiaan yang
dalam. Ha1 ini menenangkan hatinya yang banyak curiga.
Hatinya berpikir” “Anak ini mau berkenalan dan berkawan
denganku. Tapi tak pernah menanyakan namaku. Selalu
aku dipanggil si Hai, atau si Eh Hal ini tidak menjadi soal. Ia
tak mau mengetahui hal ikhwalku, sebaliknya aku ingin
mengetahui segala sesuatu tentang dirinya.” Sesudah
pikirannya tetap lagi-lagi bertanya: “Ayahmu kini beiada di
mana?”
“Siapa yang tahu!” jawabnya acuh tak acuh. “Sepanjang
tahun kerjanya mundar-mandir ke barat ke timur. Sekalikali
tak memperdulikan dan mengurus aku.”

44
“Mungkin disebabkan kesibukan tentang pekerjaannya.
Karenanya tak boleh terlalu menyalahkannya.”
“Apa? Urusan penting?” tanya Tjen Tjen dengan kesal,
“mana mempunyai urusan penting! Setiap hari yang
diceriterakan tak lain tak bukan ialah soal menangkap
komplotan pengacau, membekuk perusuh. Yah kerjanya
menangkap dan menangkap, menangkan tanpa habis
habisnya! Menurut hematku lebih baik tidak ditangkap
bukan? Akupun heran kenapa ajakku gemar menangkap
orang secara mati matian!”
Mendengar ini hatinya Tjiu Piau menjadi lapang. Teka
teki dalam pikirannya kini mendapat jawaban.
Pada hari yang lalu Tjiu Piau mendengar ceritera Ouw Yu
Tnian dan Tam Tjiu Long di rumah makan. Tanpa terasa lagi
wajahnya menunjukkan perubahan Selanjutnya Tam Tjiu
Long melontarkan mangkuk untuk menguji ilmunya.
Menyusul ia dipegat di Ban Liu Tjung. Kiranya hal ini terjadi
bukan secara kebetulan, melainkan sudah direncanakan
terlebih dahulu.
Tjiu Piau berpikir, “Kenapa mereka dapat mengetahui
kepandaianku dari gaya keluarga Tjiu. Sesudah itu
perlakukan mereka terhadapku bukan main baiknya. Apa
benar benar Louw Eng adalah saudara angkat yang berbudi
dari ayahku? Yah moga moga demikian hendaknya. Tapi
siapa yang mencelakakan ayah? Untuk menyelesaikan
urusan yang memusingkan otak ini, biar bagaimana Louw
Eng harus ketemukan.” Berpikir sampai di situ hatinya
kembali menjadi gelisah. “Louw Eng menjual tenaganya
mati matian untuk kepentingan bangsa Boan. Dapatkah
kiranya orang yang demikian kupanggil siok siok. (paman
yang lebih muda dari ayah)”
Tiba tiba pikirannya menjadi hilang demi didengar suara
ribuan kuda berlari. Gendang peperangan berbunyi bertalu
talu. Iman menjadi goncang dibuatnya. Kiranya entah
sedari kapan irama sedih sudah beralih kepada peperangan
yang membuat hati si pendengar berdebar debar!

45
Kedua muda mudi itu serentak bangun, telinganya
dipasang dengan penuh perhatian. Tiba tiba datang deruhan
angin. Seluruh bunyi bunyian melagu sirap menjadi tenang.
Keadaan kembali terbenam dalam kesunyian. Tjen Tjen
menuntun Tangan Tjiu Piau sambil berkata: “Ju lekas kita
lihat dewa dan dewi!” Lama juga berjalan, tapi terowongan
tetap kosong melompong! Di mana ada dewa dan dewi!!??
(pengarang : Di dalam terowongan atau jalanan di dalam
tanah, dapat mengeluarkan bunyi. Disebabkan aliran udara
atau angin).
Tjen Tjen masih belum hilang kegembiraannya. ia jalan
terus ke depan, jalan terowangan itu makin nanjak ke atas.
Tiba-tiba Tjen Tjen menempelkan telinganya ke bumi.
“Eh.coba dengar ada orang tengah bicara!” Tjiu Piau
menempelkan telinganya ke dinding goa. Tak dapat
diragukan lagi memang suara orang Sepatah di sini sepatah
di sana. Rupanya jumlah pembicara lebih dari seorang. Tjiu
Piau berpikir, tengah malam demikian entah siapa yang
bicara di atas. Apa yang tengah mereka rundingkan. Betapa
hati-hati didengarinya, tapi tetap tak terdengar tegas
Mungkin disebabkan terhalang lapisan tanah yang terlalu
tebal.
Tjen Tjen gemar bermain main, disorot-sorotkannya
sinar mutiaranja. Sebentar ke timur sebentar ke barat
untuk mencari kalau-kalau ada liang ke luar. Akan tetapi
terowongan itu rupanya sudah terlampau lama tak
dipergunakan. Dengan sendirinya tak bisa dengan segera
dapat mencari jalan ke luar. Tjiu Piau hendak menasihati
Tjen Tjen, bahwa pekerjaannya itu hanya membuang buang
waktu saja. Sekonyong-konyong dari atas terdengar suara
seseorang dengan lantang dan tegas. Suara itu dapat
menembus dinding tanah yang demikian tebal. Kepandaian
orang ini pasti sudah sampai taraf sempurna.
“Padi tahun tahun belakangan ini, banyak hal yang
menyusahkan saudara saudara. Misalkan hilir mudik ke
timur dan ke barat, semua melakukan kerja keras dan
penuh bahaya Sebab itulah saudara – saudara dapat

46
mendirikan jasa-jasa besar, Pengacau-pengacau dan
gerombolan – gerombolan Kang ouw bukan sedikit yang
sudah kita bekuk dan tumpas. Aku yang rendah dapat jaga
menjalankan tugas ini tak mengecewakan bantuan dari
saudara saudara. Atas ini Biginda pasti akan menghargai
jasa-jasa saudara-sai dara itu, terkecuali demikian aku yang
rendahpun tak akan melupakan budi dan kebaikan saudarasaudara.”
Inilah suara yang datang dari atas dan kena
didengar dari bawah oleh Tjen Tjen dan Tjiu Piau.
“Ih, ayahku sudah datang! Yang bicara itu adalah
ayahku.” Tapi sesudah Tjen Tjen mengucapkan kata-kata ini
wajahnya berubah menjadi tak gembira. “Untuk apa? Ayah
toh tidak akan mengajak aku jalan – jalan, atau menemani
bermain.”
Tjiu Piau menyedot seteguk hawa segar. Tangannya
tanpa terasa memegang megang ke enam butir mutiara
emasnya.
Kembali suara Louw Eng yang santer terdengar pula.
“Malam ini kita berkumpul untuk merundingkan sematu
urusan yang maha penting. Hal ini baru dapat berhasil- jika
dapat bantuan dari saudara-saudara.” Waktu inilah
terdengar suara lain yang bernada parau dari atas. “Louw
Heng hati – hati bicara, berjaga jagalah! Kalau kalau dinding
bertelinga!”
Tjen Tjen girang mendengar suara ini.
Dibisknva Tjiu Piau. “Heran benar, tempat apa sih di
atas. Kenapa guruku Peng San Hek Pau juga ada di atas.”
Menyusul saara datang lagi.
“Atas ini jangan kuatir! Ban Liu Tjung terdiri dari pohon
liu yang dahannya terkulai. Tak seorang pun dapat
bersembunyi di pohon itu Silahkan Louw Toako meneruskan
cerita.” Suara ini adalah suara Ban Liu Tjung Tju.
“Urusan ini dapat dikatakan luar biasa. Pada malam Tjap
Go Me tahun ini. Keramaian di kota tak dapat dilukiskan.
Kejadian ialah di malam larut. Sri Baginda sudah lelah

47
lantas menuju ke tempat peraduan” Begitu masuk dilihat
bsliau sehelai kertas kuning di atas meja. Surat itu
berbunyi:
“Malaman Tiong Tjiu, di bukit Oey San, kau pendekar
berkumpul .. ” kata-katanya terhenti sebentar, dengan
terpaksa baru dilanjutkan lagi. “Semua penghianat bangsa
akan dipenggal batang lehernya.” Terkecuali dari kata kata
itu, terdapat pula dua lukisan naga dan merak.”
Mendengar ini Tjiu Piau mengeluarkan seruan kaget.
Suara ini walaupun kecil, tapi rupanya dapat didengar orang
orang yang berada di atas. Pembicaraan mereka rep sirep!
Menyusul tindakan kaki yang berat mendatang. Hilir mudik
dan berhenti tepat di atas terowongan. Digebraknya tanah
sambil berseru :
“Siapa yang bersembunyi dibawah? Lekas ke luar!”
Terdengar pula seorang berkata : “Kasilah aku periksa.”
Menyusul terowongan itu mengeluarkan bunyi krak!!
seperti” gunung runtuh. Tanah di situ sudah menjadi
gempur!
Dengan waspada Tjen Tjen menarik lengan Tjiu Piu.
Mereka meloncat sejauh dua tumbakke belakang. Tangan
Tjiu Piau yang sudah bersarung menggenggam enam butir
mutiara emas dengan erat erat.
Luar dan dalam goa sangat berbeda. Di dalam gelap di
luar terang Dari atas tak nyata melihat, ke bawah,
sebaliknya dari dalam goa nyata melihat ke luar. Dengan
tegas Tjiu Piau dapat melihat lima enam orang berada di
mulut goa. Tepat dimulut goa berdiri seorang dengan paras
seperti pohon merangas tak kena air. Mukanya lebat
ditumbuhi berewokan kasar. Seperti ada firasat yang
memastikan, bahwa orang itu adalah Louw Eng.
Disampingnya berdiri seorang Hweesia (Paderi)
Perawakannya kate gemuk Berdiri mematung seperti bukit
kecil mendadak menjelma dihadapan mata. Hweesio ini
melongok longok ke dalam goa. oh! kiranya dua bocah cilik
” katanya sambil melangkah turun. Si Hweesio mempunyai

48
ilmu memberatkan tubuh yang mentajubkan Tanah tanah
yang dilaluinya meninggalkan bekas lebih kurang dua dim
dalamnya. Tak dapat diragukan lagi dialah yang menjejak
dan menggempurkan tanah tadi. Gerak geriknya kelihatan
lambat sekali, tapi sebenarnya cepat luar biasa! Sebentar
saja ia sudah tiba dihadapan kedua orang. Tangannya
dikeluarkan untuk menjambak orang. Tjiu Piau terkejut
sekali. Kiranya sikate ini mempunyai tangan yang lebih
panjang dari orang kebanyakan. Serangannya demikian
kukuay (aneh) Kedua tangannya diletakkan didada,
sebentar dikerutkan sebentar disodorkan dengan
mendadak, dibarengi tubuhnya mencelat ke depan,
menerjang di tengah tengah kedua orang. Dinantikan kedua
orang berpisah ke kiri dan ke kanan. Menyusul kedua
tangannya dikerjakan dengan cermat ke kiri dan kanan.
Lengannya yang panjang itu hampir-hampir berhasil
mencengkeram bocah bocah itu! Tjiu Piau siang siang sudah
sedia, tangannya sudah mengeluarkan Bwee Hoa Tok Tju
Dalam waktu pendek pikirannya berbalik, Hweesio ini apa
kawan apa lawan masih belum jelas. Dimasukkan lagi
mutiara mutiara itu ke dalam kantungnya dan dikeluarkan
batu-batu kecil sebagai gantinya. Waktu dilihat serangan
datang, tubuhnya mendekam berkelit, berputar mengepos
kebelakang penyerang tangannya tak tingpal diam, sebuah
batu terlepas menyerang pinggang si Hweesio.
Si Hweesio menangKap angin Hatinya menjadi heran.
bocah ini demikian lincah. Sedangkan serangan Sian Wan
Pak Su (Malaikat kera merabut pohon) walau pun agak
sembarrngan dipergunakannya, orang biasa pasti tak dapat
melolosi diri! Tapi bocah ini dapat menghindarinya, pasti
bukan golongan sembarangan. Sedang ia berpikir begini,
tiba tiba terasa angin dingin datang ke arah pinggangnya.
Segera ia berkelit. Waktu inilah tangan kanannya baru
merasa seolah olah dililit ular. Kiranya tangan kanannya
yang menyerang Tjen Tjen. Dihadapi Tjen Tjen dengan
berani. Begitu tangan si Hweesio yang panjang tiba,
disambut dengan tangan kirinya, tangannya demikian halus
seperti ular. Gelejat gelejot membelit tangan si Hweesio

49
Tjen Tjen dari kecil biasa bermain ular, gerak gerik dari ular
dipelajarinya. Karena tanpa terasa ia memengeluarkan
cara ular menbelit! Cara ini tidak termasuk dalam ilmu silat
apapun, juga tak bernama apa apa. Begitu tangannya
berhasil melilit, tubuhnya dilemaskan, sehingga seluruh
tubuhnya bergantungan di lengan si Hweesio. Si Hweesio
mati kutu. didorong tak bisa, dilempar tak mempan,
dilunakkan salah dikeraskan bukan!
Hweesio itu tertawa terbahak bahak: “Hai bocah konyol!
Ayoh pergi, siapa sudi bergurau denganmu!” Tangan kirinya
menyusul menangkap Tjen Tjen. Tjen Tjen melilit lagi
dengan tangan kanannya, Hweesio itu segera
menggempurnya dengan tenaga dalamnya yang ampuh
Tjen Tjen tak dapat melekat pula, tubuhnya bagai
anak panah terlempar ke luar goa- Tjen Tjen gusarnya
bukan alang kepalang. Dari udara ia mengaoki Tjiu Piau.
“Hei ke luarkan kebiasaanmu, hajar Hong hu, Sian-to
dan Beng-bunnva!” Yang dikatakan ini ialah tiga jalan darah
yang terdapat dipunggung, Tjiu Piau kala ini berada
di belakang Hweesio Kate itu. dengan berbareng tiga
batu melesat dari tangannya menyerang ketiga tempat
yang disebutkan Tjen Tjen.
Ketiga jalan darah itu tepat terletak di tengah tengah
punggung, berbaris menjadi satu garis lurus Terbagi di
atas. di tengah dan bawah. Tjen Tjen mengetahui Hweesio
ini gerakannya lamban, kelincahannya kurang,
tidak mudah berkelit kekiri dan kanan. Maka
dititahkannya Tjiu Piau menyerang ketiga tempat itu.
Hweesio kate itu waktu mendengar desiren angin, sudah
tak sempat menyambut lagi, ditambahnya tempat yang
dipijik adalah tanah tanah gembur, merebas bagai
lumpur! Ia hanya dapat membungkukkan tubuhnya
kedepan Dua butir dapat dikelit, sebutir lagi yang di bawah
tak terhindar lagi. Tepat mengenai lunggirnya. Walaupun ia
sudah mengunci jalan darahnya. Tapi „Plak!” sakit juga! !
Dengan gusar ia menteriak: „Hei bocah!” Bidannya
berbalik, tapi Tjiu Piau entah sudah kemana perginya Dalam
dongkolnya penuh amarah ia berkata: “Apa kiranya aku

50
… Aku Tong Leng Ho Siang tak dapat membekuk
segala bocah ingusan semacam kau’ Tubuhnya bergerak
mengejar.
Sementara itu TJen Tjen yang kena dilempar ke luar,
sedikit juga tidak merasa gentar ! Karena ia mengetahui
yang berada diatas adalah ayahnya dan kawan-kawan dari
ayahya. Dengan satu gerakan Hong TjutLiu Ijie (ingin
menghembus ranting liu). Tabuhnya perlahan-lahan
melayang turun. ” Ayah” katanya.
Hal ini diluar perkiraan Louw Eng :”Kau!” bentaknya.
“Mau apa datang Kesini? Siapa itu dibawah?” kata kata ini
diucapkan dengan bengis. Dalam kagetnya Tjen Tjen
bertata bertutu menjawab:
“Di -di bawah – eh, bocah anak kecil- Aku pun tidak tahu
siapa dia, aku hanya bermain main dengannya.” Ia berpikir
sebentar, lalu tambahnya pula, “ia adalah tamu dari Ouw
Siok siok. Ouw Siok-siok Pasti mengenalnya.”
Mendengar ini Louw Eng tidak berkata apa-apa. Mukanya
sedikit juga tidak menunjukkan perubahan. Dalam diamnya,
tak seorang mengetahui apa yang tengah dipikirnya. Di
sampingnya berdiri Tjen Tjen dan Oaw Yu Thian Louw Eng
menolehpun tidak! Juga tidak bertanya: Kemudian kedua
matanya kedip-kedip, sudut bibirnya bergerai, ia tertawa ! !
Melihat ini Ouw Yu Tnian sepontan gemetar setengah
mati’!!!???
Kiranya sepuluh tahun belakang ini Louw Eng mendapat
gelaran Siau Bu Siang (ketawa tak wajar) di dunia Kangouw.
Wataknya sangat aneh, walaupun menghadapi segala
soal kecil maupun besar, wajahnya tak pernah menujukkan
perubahan. Biar di dalam hatinya tengah gusar setengah
mati, parasnya tetap tenang. Tapi kalau ia sekali tertawa
artinya ada yang celaka!
ak heran Ouw Yu Thian merasa kuatir sekali. sebab Tjiu
Piau adalah tamunya. Ouw Yu Thian berpikir di dalam
hatinya: “Ban Liu Tjung asalnya kepunyaan orang lain. AKu
dapat memilikinya dengan jalan kekerasan. Jalanan di

51
dalam tanah mungkin sudah ada sedari dulu, tapi ditimbuni
orang. Ah berkat kelalaianku sendiri hal ini tidak kuketahui.
Su<ar untuk menjelaskan hal ini kepada Toako. Ah! lebih
baik kututup mulut. Tapi bocah she Tjiu itu dapat ku
serahkan untuk diurusnya.” Sesudah tetap pikirannya ia
berkata:
Toako bocah itu adalah Tjiu Liu, yakni ahli waris dari
orang yang selalu dikenang Toako, yakni keponakan dari
Tjiu Tjian Kin. Toako ingin menyelidiki putera dari Tjiu Tjian
Kiu, sebaiknya tanyakan saja kepadanya.”
Mendengar ini Louw Eng ikut-ikutan berkata. ‘Tjiu Tiian
Kin?” wajahnya tetap tak berubah, tapi suaranya agak
bergetar.
“Kalau demikian tidak boleh tidak ia harus kembali!” Baru
saja kalimat ini ke luar, dua orang menyahut. Kami pergi
memanggilnya,” menyusul berkelebet dan tubuh, dan hilang
ke dalam terowongan.
Kegesitan dan kelincahannya luar biasa lihay!
Tjer Tjen mengenal kedua orang itu. yakni Mau San Hak
Hoo dan Pek Hoo (dua rase putih dan hitam dari gunung
Mo). Dua saudara ini dalam kalangan Kangoaw sangat
terkenal.
Dalam ruangan itu lebih kurang terdapat tiga puluh
orang orang luar biasa. Golongan cabang atas, hampir
kumpul semua disitu, Terkecuali dari Tjit Kauw. Tjen Tjen
mengenal gurunyn Peng San Hek Pau Bok Tiat Djin, Kwan
Tong It Koay Bi Berg Nie (nanusia aneh dari Kwan Tong)
Kim Ie Kong Dju Kte (pangeran baju emas) Salah satu dari
Go Bie Sam Kiam (tiga pendekar pedang dari Go Bie) yang
bernama Lauw Tjiok Sim, Toai Ouw Hu Lui Ong Hie Ong
(raja sungai dari Thai Oaw) dan lain lain. Semua jago jago
kelas berat. Kesemua orang ini sering berhubungan dengan
Louw Eng dari itu Tjen Tjen mengenalnya. Antaranya ada
yang tidak dikenal tapi dapat dipastikan mereka bukan
orang sembarangan pula.
Tjen Tjen hatinya cemas, kalau ayahnya menegur di

52
muka orang banyak, wah, malunya bukan alang kepalang!
tak dikira Louw Eng tidak mengambil perhatian kepadanya.
Louw Eng matanya seperti alap alap menyapu para
hadirin yang ada disitu. Dengan karena ia melanjutkan
pembicaraannya: ..Hari ini dapat berkumpul dengan
saudara saudara adalah hal yang sangat menggirangkan.
Dari ini marilah kita selesaikan urusan kita. Bocah itu sudah
berhasil mencuri dengar pembicaraan kita hanya sedikit.
Kini sudah diurus oleh Tong Leng dan Mau San Djie Hoo
Bocah itu pasti dapat dibawah kemari. Dari itu tak perlu
dikuatirkan.”
Sesaat kemudian Louw Eng baru melanjutkan kata
katanya lagi. “Begitu baginda melihat surat itu, segera
mengumpulkan pengawal pengawal istana, diperintahkan
untuk memeriksa dan meronda kesegala penjuru. Alhasil
nihil semua. Sedikit ciri ciri yang mencurigakan tak
ditemukan. Beliau bergusar benar. Kata-kata da$ri surat itu
sangat mengganggu pikirannya. Sebab itulah mulai hari itu
istana dalam penjagaan keras. Duapuluh empat jago-jago
jaga istana siang malam berganti mendampingi baginda.
Urusan yang mengenai urusan Tiong Tjiu di Oey San
diserahkan ke padaku. Aku diwajbkan untuk memeriksa dan
mengetahui bahwa Liong Hong Sang Kiam itu pemberontak
dari golongan apa!”
Louw Eng di kalangan istana tidak memangku pangkat,
semata mata untuk memudahkannya mondar mandir di
dunia Kang-ouw. Cita citanya ingin menjagoi di kolong
langit dan ditakuti orang orangrimba persilatan. Sedangkan
pemerintah Boan sudah menjuluki dan memberi gelar
BuLim Tee It (jago rimba persilatan nomor satu), Pengawal
pengawal keraton sangat menghormatinya. Lebih kurang
sepuluh tahun Louw Eng menjelajah dunia Kang ouw,
melakukan pekerjaan khusus membasmi orang orang yang
berani menentang pemerintah Boni. Jasa jasanya terhadap
pemerintah Boan bukan sedikit. Atas ini beberapa kali ia
menerima penghargaan penghargaan besar dari Sri
Baginda. Sehingga hidupnya menjadi mewah Untuk
melakukan pekerjaannya ini Louw Eng berhubungan pula

53
pada orang-orang yang sehaluan. Lihat saja orang orang
berilmu yang sukar dicari kini sudah dikumpulkan datang di
Ban Liu Tjung. Louw Eng meneruskan keterangannya: “Atas
hal yang tadi itu, kini sudah tercium sedikit di kalangan
Sungai Telaga tersiar kabar secara meluas, bahwa
pertemuan di Oey San adalah untuk merundingkan dan
merencanakan untuk menggulingkan pemerintah. Hal ini
katanya akan dilakukan besar besaranan karena urusan
demikian besar, aku memutuskan untuk turun tangan
sendiri. Di samping itu bantuan saudara saudara sangat
dibutuhkan. Sebab atas bantuan dari saudara urusan baru
dapat dijamin menjadi sukses. Kini yang belum diketahui
siapa siapa yang akan ke Oey San dan siapa Liong Hong
Siang.Kami itu.Saudara saudara adalah orang orang yang
kenamaan di rimba persilatan, apakah saudara mengetahui
atau pernah mendengar sesuatu tentang ini?”
Orang orang itu saling pandang memandang dengan
mata mendelong, tiada seorang mengeluarkan pendapat.
Tjen Tjen diam di situ merasa gerah tidak keruan.
Hatinya memikiri Tjiu Piau yang tengah dikejar Tong Leng
Hweesio. Apa sudah tertangkap apa belum? Makin memikir
makin menyenangkan pikirannya yang gemar keramaian.
Dari itu ia berkata pada ayahnya: “Yah, aku juga ingin
mengejar bocah itu!” tubuhnya segera masuk ke dalam goa.
Mari kita tengok Tjiu Piau yang sudah berhasil menghajar
tunggir Tong Leng Hweesio dan melarikan diri sebelum Tong
Leng balik badan. Tjiu Piau mengandal pada kegesitannya,
tambahan jalanan sudah dikenal. Ia dapat berlari depan
cepat. Sebentar saja sudah menghilang dari pandangan
mata. Tong Leng seorang yang berani dan berkepandaian
tinggi. Tidak menghiraukan kegelapan, terus saja maju
sambil memperbesar langkahnya. Matanya tidak dapat
melihat dengan awas di dalam gelap. Dari itu telinganya
yang tajam menggantikannya. Tak heran ia dapat berjalan
seperti disiang hari. Tjiu Piau hampir terkejar, sebelum itu
telinganya sudah mendengar derap kaki Tong Leng
yang seperti palu menempa besi Dalam kegelapan suara itu
menakutkan dan menyeramkan sekali. Sebaliknya Tong

54
Leng pun sudah mendengar langkah kaki Tjiu Piau yang
ringan.
Dalam gelisahnya Tjiu Piau ‘ mendapat akal baik. Setiap
sampai ditikungan Tong Leng dihajar oleh batu batu kecil.
Sehingga dapat menghambat langkah si Hweesio. Karena
ini Tjiu Piau dapat memisahkan diri agak jauh juga, Tjiu
Piau hatinya berpikir. “Dari serangan tadi, menunjukkan
bahwa Hwaesio itu berkepaindaian tinggi. Sama sekali
bukan tandinganku. Yah kalau dilawan mati-matian,
mungkin dapat juga kuhajar dengan mutiara T.api
komplotan Hweesio ini belum kuketahui lawan atau kawan.”
Pikirannya kacau tak dapat mengambil keputusan yang
tepat. Hatinya hanya berpikir asal dapat keluar dari goa ini
sudah bagus. Di luar banyak batu batu gaib yang
menyerupai oraig,tempat itu cocok untuk menyembunyikan
diri. kemudian baru menyelidiki Low Eng itu manusia
macam apa…?
Di luar goa terlihat malam cerah dengan hiasan ribuan
binatang. Dalam ketenangan dan kesunyian malam. Samar
samar Tjiu Piau melihat dua bayangan berdiri di mulut gua.
Tjiu Piau terkesiap hatinya, hatinya mengeluh “Hweesio di
belakang itu demikian lihay, untuk mundur sudah tak ada
jalan. Kedua orang di muka ini belum kuketahui
kepandaiannya. Sebaiknya mengadu nasib saja.” Sesudah
tetap pikirannya.. Tubuhnya mencelat ke luar goa dan
diserangnya salah seorang dari mereka. Lain tangannya
sudah siap dengan butir butiran batunya. Adalah hal yang
mengherankan orang itu sama sekali tidak melawan hanya
tergesa gesa menyingkir! Salaih satu dari meieka berkata
pada Tjiu Piau. “Kawan naiklah dan istirahatlah di balik batu
itu!” Dalam herannya Tjiu Piau tidak menjawab. Kakinya
langsung membawa sang tubuh kedalam kumpulan
kumpulan batu yang mendapat di situ.
Dalam keadaan gelap, wajah kedua orang itu tidak
terlihat dergan tegas. Melihat dari cara berpakaiannya tidak
lain adalah anak sekolah. Satu besar satu kecil, berdiri
dengan gagahnya di bawah naungan sang malam. Tengah
Tjiu Piau menduga-duga tentang dua orang ini, mendadak

55
sebuah bayangan gelap mencelat dari liang goa. Orang ini
tidak lain dari Tong Leng Hweesio. Lengannya terbentang ke
samping dengan lurusnya. Tak ubahnya seperti kunyuk
Ancol loncat dari pohon jengkol! Kedua Sie-seng (telajar
atau anak sekolah) diam saja tidak bergerak. Siauw Sie
seng (peiajar yang kecilan) tertawa terkekeh kekeh sambil
berkata : “Kak, dilihat dari tampangnya, delapan bagian
orang ini seperti yang disebut Tong Leng Ho Siang.
“Coba kau coba barang tiga jurus!” jawab Toa Sie seng
(pelajar yang besaran). Tong Leng tidak melihat Tjiu Piau,
sebaliknya bertemu dengan dua bocah bermulut lancang.
Dongkolnya menjadi – jadi. Tanpa berkata – kata, lengan
kanannya menggebuk dada Siauw Sie seng. Orang itu tidak
gugup sedikit juga. Sebaliknya ia berteriak. “Kini Hong Heng
Sau ( angin emas menyapu dengan ganas)!”‘ Kedua
tangannya dirapatkan di depan dada, mendadak di dorong
kemuka menangkis serangan Tong Leng. Plak!!! terdengar
suara bentrokan keras, menyusul tubuh Tong Leng menjadi
limbung. Sebaliknya Siauw Sie-seng mundur setumbak lebih
ke belakang, ia sudah mengetahui bahwa tenaganya tidak
dapat menbandingi tenaga lawan. Dan itu ia sengaja
mundur demikian jauh agar tak kena digempur tenaga
dalamnya.
Tong Leng gusar dan tak habis mengerti, yang
menjadikan gusar ialah beruntun dalam malam ini juga
kebentur bocah-bocah hijau tanpa dapat menundukkan.
Yang membuat ia tak habis mengerti, ialah ilmu ciptaannya
yang dibuat kebanggaan yakni Sian Wan Kiam Hoat ( ilmu
pukulan malaikat kera ) begitu bergebrak sudah dikenal
bocah itu. Sedangkan di dunia Kang-ouw jarang yang dapat
mengenalnya.
“Hai ! Bocah siapa namamu?”
Siauw Sie seng menjawab sambil tertawa: “Thai Shu aku
hanya golongan bocah hijau tak bernama!” Suaranya
berhenti, tangannya bekerja ke atas dan ke bawah
membawa serangan dahsyat menuju pada Tong Leng.
Tong Leng enggan berkelit, dengan cepat tangannya

56
dirapatkan dan dikirimkan ke depan dengan delapan bagian
tenaga dalamnya Jurus ini ialah Sian Wan Pai Gwato
(Malaikat kera menyembah rembukan) salah saru jurus
yang lihay dari ilmunya”. Pukulan ini mendatangkan angin
dasyat yang sukar ditahan. Pukulan ini bukan saja dapat
menangkis serangan lawan, bahkan berlebihan! Sehingga
sisa dari tenaganya ini merupakan serangan hebat pada
lawan. Siauw Sie seng rupanya sudah menduga, cepat
bagai kilat badannya mengelinding ke sebelah kiri
menghindarkan bahaya. Sambil melelet leletkan lidah ia
berkata pada Toa Sie seng :
“Kak sembilan puluh persen orang ini Tong Leng
adanya!”
Kembali tubuh Siauw Sie seng Gencelat bangun, tangan
kanannya mendorong. Serangan ini tidak dipandang oleh
Tong Leng. Bukannya ia berkelit sebaliknya lengan orang itu
dibabad dengan tangan kirinya. Siauw Sie seng menarik
serangannya tidak berani mengadu tulang. Tangan kirinya
tidak tinggal diam, diserangnya kepala Tong Leng : “Lihat!
Hut Siu Jie Kie (lengan baju mengebut pergi), benar saja
tangan baju itu menyapu kedua mata Tong Leng. Tong Leng
gelagapan, tak terpikir olehnya bocah sekecil ini sudah
mempunyai Nuikang (ilmu dalam) yang demikian tinggi.
Karena ini ia tak berani lagi berlaku gegabah. Bagai kilat
mulutnya terbuka, giginva berhasil menggigit lengan baju
Siauw Sie seng. Dalam pada iini Siauw Sie seng salah
hitung, kiranya habis mengebut ia bisa segera meloncat
pergi. Tak kira Tong Leng membuatnya tidak berkutik.
Sambil menggigit Tong Leng sempac tertawa besar!
Tangannya diulur untuk menangkap bocah Kecil itu Siapa
tahu mendadak angin dingin berkesiur di batok kepalanya.
Ia tahu ini adalah serangan hebat dari tingkat atas. Buru
buru ia berkelit sambil membalik badan menyambut
serangan. Serangan ini datang dari tangan Toa Sie seng.
Siauw Sie seng napasnya senen kemis, tapi ia berkata :
“Kakak, tak salah lagi, dialah Tong Leng Ho Siang!”
Tong Leng beruntun mengrimkan tiga serangan hebat.

57
Toa Sie seng pun beruntun, tiga kali menyambuti tiga
serangan itu. Kedua belah pihak seolah olah sudah
saling mengetahui kekuatan lawan. Tong Leng sadar Toa
Sie seng ini berkepandaian lebih tinggi dari Siauw Sie seng.
Walaupun demikian masih tetap bukan menjadi lawannya.
Hal ini melegakan pikiran Tong Leng. Seluruh kepandaian
Tong Leng dikerahkan untuk mempercepat jalan
pertandingan. Karena dengan selesainya bertanding dapat
dengan leluasa mengejar Tjiu Piau. Terdengar Toa Sie-seng
berkata: “Tong Leng Ho Siang, kenapa bukan baik baik
diam di Wan Liu San memuliakan Buddha dan membakar
dupa. Untuk apa kau bergaul dengan segala Ouw Yu Thiaa
melakukan pekerjaan buruk. Dengarlah nasibku dan segera
pulang ke tempat kediamanmu. Mengenai orang yang kau
kejar akan kujadikan tamu. Berilah muka kepada kami.
Urusan pasti menjadi beres. Ingatlah untuk satu lawan satu
memang kami bukan lawan darimu tapi kalau kami
bergabung, jangan harap kau bisa banyak tingkah!”
“Bocah itu siapa namanya? Kau sendiri bocah berengsek
dari kampung mana? Apa alasanmu untuk menjadikan dia
sebagai tamu kau?”
“Sementara ini aku belum mengenalnya. Tapi aku dapat
memastikan, setiap orang yang melarikan diri dari Ban Liu
Tjung bukan orang jahat!”
“Diam ! ! ! Kalau sudah kegusur ke Ban Liu Tjung baru
tahu rasa!” bentak Tong Leng dengan kegusaran yang
muncak. Tangannya berputar, menderu deru mengeluarkan
angin menyerang kedua orang. Badannya yang tambah
tangannya yang panjang luar biasa. Di dalam gelap
tampaknya bagai kunyuk liar ke luar dari hutan dan tak
ubahnya seperti iblis jahat turun dari mereka! Melihat ini
Tiiu Piau menahan napas. Hatinya berpikir. “Dua pemuda itu
dapatkah menandinginya? Haruskah aku turun tangan
membantunya?”
Iimu silat Sian Wan Kiam Hoat dari Tong Leng tidak
boleh dibuat gegabah. Sepasang lengannya yang
mempunyai tenaga ratusan kati, sebentar diulur sebentar

58
ditarik. Perubahan sama sekali tidak terduga pemuda itu.
Sebaliknya untuk menghadapi Tong Leng dua pemuda itu
bahu membahu, mundur maju dengan penuh perhatian
menghadapi sang lawan. Beberapa kali Tong Leng
menghantam dengan keras, disambut pula dengan ke
empat tangan bergabung secara keras pula!”
Tong Leng pikirannya tak keruan rasa. Ilmu pukulannya
yang dibuat bangga ini, berpokok pada kelincahan kera,
ditambah peryakinan selama sepuluh tahun dari ilmu
dalamnya. Sehingga dalam tubuhnya terdapat berat dan
lincah. Tapi kini kelincahannya berkurang banyak
disebabkan tambah gemuknya dari sang badan. Jika dua
pemuda mengandalkan kelincahannya untuk mengatasi
Tong Leng. sesuai benar dengan pikiran orang. Tapi dua
pemuda ini baKu hantam dengan seenaknya. Keras dilawan
akal, kepelan dihajar, tenaga dalam diterima pula dengan
ilmu dalam!
Hal itu membuat Tong Leng berpikir, bahwa kedua orang
ini harus dipisahkan, agar tak dapat. menggabungkan diri.
Habis berpikir tangannya menyerang sepenuh tenaga
dengan ganasnya. Tanpa gugup kedua orang itu melihat
dan memunahi serangan serangan itu. Akan kedudukan
mereka tetap tak berubah, bahkan dapat bekerja sama
semakin erat. Tong Leng mengubah pukulannya. Sekali lagi
pukulan Sian Wan Pai Gwat ditebaskan ke tengah tengah
dua orang. Dengan cepat kedua orang itu mencelat ke
kiri dan kanan.
“Bersiagalah Lo Tjiau To Sin (orang tua memikul buah
sin).” seru Toa Sie-seng.
“Kong Sim Tjiau!” seru Siauw Sie-seng.
Kedua orang tiba dipermukaan bumi kekiri dan kanan
sejauh tiga tumbak. Tong Leng sebenarnya ingin mengulur
tangannya ke kiri dan kanan. Mendadak hal ini dibatalkan
setengah jalan. Bukannya ia menyerang sebaliknya berdiri
memasangkuda-kuda mengawasi kedua orang menantikan
serangan.

59
Kiranya Tong Leng sesudah menyerang dengan Sian
Wan Pai Gwat dan berhasil memisahkan kedua orang.
Menyusul akan menjambak dua orang dengan jurus Lo
Tjiau To Sin.Serangan ini batal sebab sudah disebutkan
terlebih dulu oleh Toa Sie-seng. Mengenai seruan Siau Sie
seng Kong SimTjiang (telapak kosong) apa artinya tidak
diketahui. Dalam bingungnya ini ia mengawasi sambil
memasang besi.
“Hei! Bocah bocah berengsek! Sebenarnya kalian dari
golongan mana? Lekas bilang! Jika orang sendiri boieh aku
ampuni.”
“Pasti dan terang orang lain! Dinyatakan pula bukan
orang sendiri. Belas kasihanmu itu simpan saja dalam
sanubarimu, tunggu sampai ada yang membutuhkan!
Sebaliknya kalau kau yang minta kami kasiani itu sangat
baik. Pokoknya asalnya kau lekas-lekas pulang ke tempat
kediamanmu!” Kalimat ini membuat Tong Leng kalap,
tenaga dalamnya dikerahkan, tangannya melayang ke kiri
dan kanan, menyerang dengan bengis kedua orang itu. long
Leng tahu Toa Sie seng berkepandaian lebih dalam dari
Siauw Sie seng. Dari itu tangan kirinya lebih banyak
menggunakan tenaga. Dalam hati si Hweesio ingin segera
menjatuhkan kedua lawannya. Siauw Sie seng yang berada
di sebelah kanan, merangkap dan mengepalkan kedua
tangannya untuk menangkis dengan setakar tenaga. Toa
Sie seng berada di sebelan kiri melepaskan tangkisan
dengan kedua tangan terbuka. Tong Leng merasakan
tenaga Toa Sie seng menjadi hilang. Sedangkan ia
menggenjot lawannya sepenuh tenaga, alhasil mengenai
tempat kolong, sehingga tenaga itu berbalik mengulung
dia. Tepat pada waktu ini Siauw Sie seng menggempur
tangannya Mau tak mau membuai Tong Leng ternuyung
huyung! Hampir tubuhnya yang besar itu ngusruk.
Kiranya telapak tangan Toa Sie seng bertenaga besar
dan keras seperti petir! Tapi tengah-tengah telapak
tangannya sedikitpun tak bertenaga. Inilah yang disebut
Kong Sim Tjiang. Tong Leng mempunyai pengalaman yang
luas Biasa mendapat Kerugian gerakannya tak menjadi

60
kalut. Sebaliknya otaknya menggunakan akal. Tiba tiba
tubuhnya yang hampir jatuh itu condong kekiri, kakinya
bagai menginjak roda kereta berputar pindah ke kanan.
Kedua orang tidak mengira dan bersiaga atas jurus yang
kukuay dari si Hweesio. tahu – tahu tangan si Hweesio
sudah tiba di muka Siauw Sie seng. sekali putar lengan
Siauw Sie seng. kena dicekal!
Ketika ini dari dalam liang goa muncul Mau San Djie Hoo
Mereka berseru girang waktu melihat Tong Leng berhasil
menangkap Siauw Sie seng. Sebelum kegirangan Mau San
Djie Hoo hilarg menyusul tiga butir batu melayang
ketubuh Tong Leng. Tong Leng begitu melihat batu,
gusarnya bukan main, lengan kanannya menangkis Toa Sie
seng. lengan kirinya mengangkat tubuh Siauw Sieseng
sebagai tameng untuk menangkis senjata rahasia Tjiu Piau.
Katakanlah lambat tapi cepat. Batu batu yang hampir
bersarang di tubuh Siauw Sie seng. entah kenapa
berjatuhan ke bumi. Tong Leng menotok jalan darah Siauw
Sie seng, sudah itu tubuh orang dilempari Pada Djie Hoo.
Tubuhnya sendiri melesat mengejar Tjiu Piau. Tjiu Piau
yang bersembunyi di kumpulan batu batu itu. Tak mungkin
dapat di ketemukan orang jika fajar belum menyingsing.
Tapi waktu melihat kedua orang yang semula menang angin
berbalik kena terdesak Tong Leng Hatinya menjadi gelisah,
tanpa terasa sudah melangkah ke luar Batu batu dilepas
dengan maksud menolong orang, Tjiu Piau menjadi gugup
kala melihat Tong Leng memburu kepadanya. Waktu inilah
seruan keras mendengung di telinganya. “Kawan! Lekas
masuk lagi ke dalam tumpukan batu” Inilah suara Toa Toa
Sie seng. Sedangkan orangnya sendiri lengah mati-mat’an
menerjang Djie Hoo untuk menolong adiknya. Tjiu Piau
melihat tak ada bantuan untunya. Tambahan Tong Leng
bukan lawannya Ia menurut kata kata itu, kembali masuk
ke dalam tumpukan batu. Ketika ini terlihat sebuah batu
bergoyang goyang. Dalam kagetnya, ia tak percaya pada
penglihatannya, kiranya matanya berkunang kunang. Waktu
ditegasi, orang-orangan batu itu benar-benar berjalan. Ah
kiranya bukan batu, melainkan seorang tua berambut putih,
wajahnya sangat welas asih. Rupanya ia sudah lama

61
menonton perkelahian itu. Kini baru menunjukkan diri. Tjiu
Piau merasa kenal akan wajah orang tua ini tapi entah di
mana.
Orang tua berambut putih ini memegang tongkat,
tindakannya ringan dan gesit. Ia berkelebat di samping Tjiu
Piau sambil berbisik: “Turut padaku!” sedangkan kakinya
terus menjurus pada Mau San Djie Hoo. Tjiu Piau melihat
Tong Leng sudah dekat sekali, lekas – lekas ia mengikuti
orang tua itu dari belakang. Sambil lalu tangannya
melepaskan enam butir batu menghajar Tong Leng.
Dengan maksud menghambat Tong Leng. Tak kira orang
tua itu pun melepaskan juga entah benda apa kepada Tong
Leng.Benda itu melesat demikian cepat dan keras, melebihi
batu-b^tu yang dilepas Tjiu Piau. Tong Leng sebenanya
sudah mengangkat kedua tangannya untuk mengebut batubatu
Tiau Piau dengan kekerasan, tapi dikagetkan benda
yang dilepas orang tua itu. Sehingga membuatnya
gedubukan tidak keruan Dengan kelihayannya Tong Leng
berhasil melepaskan diri dari serangan orang tua itu. Tapi
tangan kanannya tak dapat menghindarkan batu batu Tjiu
Piau! Lengan itu segera kesemutan, buru buru tenaga
dalamnya dikerahkan untuk memecahkan totokan batu itu.
Hatinya semakin gusar. Seperti gila ia mengejar Tjiu Piau.
Dalam kesibukan yang sangat ini Tjiu piau masih dapat
berpikir: “Senjata rahasia orang tua ini bukan main
lihaynya. Rupanya tidak salah lagi dialah orangnya yang
menjatuhkan batu-batuku tadi. Kapan waktu kalau aku
mendapat petunjuk darinya, pasti ilmuku dapat maju
dengan pesat.” Dilain pihak, Mau San Dji Hoo menyanggapi
tubuh Siauw Sie seng yang dilempar Tong Leng. Anak itu
ditotok lagi dan diletakkan di samping Sedangkan kedua
rasenya sendiri harus bertarung dengan Toa Sie seng.
Kiranya ilmu Hek Hoo dan Pek Hoo tidak seberapa lihay.
Tapi namanya sangat terkenal di dunia Kang ouw berkat
akal bulusnya yang licik. Nuikang dari Toa Sie seng sudah
cukup lihay ditamban berkelahi dengan mati matian. Kalau
satu rase saja yang melawan pasti bukan lawannya, dua
rase bergabung mengerubutinya baru bisa mengimbangi

62
Toa Sie seng ini. Orang tua itu menotolkan tongkatnya ke
muka bumi, tubuhnya meleset seperti terbang, dengan
cepat sudah berada di samping tubuh Siauw Sie seng.
Tangannya sudah siap untuk membebaskan jalan darah
Siauw Sie seng. Sebelum itu terlebih dahulu melesat
sesosok tubuh dari liang goa itu. gerakannya sangat lincah
sekali.” Hei aku datang,” serunya, “aduh ramai betul di
sini!” Inilah suara Tjen Tjen. Tubuhnya yang kecil ramping
itu tiba di depan Tong Leng. dilihatnya Tong Leng tengah
menyerang Tjiu Piau. Tidak banyak pikir lagi diserangnya
Tong Leng dari samping. Hal ini di luar perkiraan Tong Leng.
Ia menjadi heran dan mana datangnya bocah perempuan
ini!?
Waktu inilah dipergunakan orang tua itu untuk membuka
jalan darah Siauw Sie seng. Hal ini mengubah jalannya
pertandingan.
Sepihak Tong Leng tambah Mau San Djie Hao. Sepihak
lagi orang tua berambut putih, Toa Sie-seng, Siauw Sie
seng tambah Tjiu Piau. Kini pihak Tjiu Piau menang di atas
angin.
Sebaliknya Tjen Tjen tidak ke sana kemari. Apa yang
dilakukan demi kesenanganya saja. Nanti Tong Leng
diserang, sewaktu waktu Siauw Sie seng dan Toa Sie-seng
dihantamnya. Nanti Tjiu Piau, dibantu, sebaliknya nanti
Tong Leng dibantu. Sehingga medan perKelahian ini aduk
adukan tidak keruan macam.
Orang tua dan kedua Sie seng itu, semula tak
mengandung niat lama lama berkelahi. Tapi disebabkan
tertangkapnya Siauw Sie seng, baru perkelahian
dilangsungkan dengan mati matian. Kini Siauw Sie
seng sudah tertolong. Kalau terus berkelahi, orang orang
Ban Liu Tjung yang banyak jumlahnya itu, bisa meluruk
datang. Hal ini tidak diingini mereka. Dari itu mereka ingin
segera menyingkir. Orang tua itu bergerak mendesak Tong
Leng mundur. Toa Sie seng berbisik pada Tjiu Piau. “Kawan
turutlah kami berlalu!”
Maksud orang tua ini sudah diketahui Djie Hoo. Dari itu

63
diserangnya Toa Sie seng dengan hebat, sedikit juga tidak
diberi kesempatan untuk mengangkat kaki. Walau pun ilmu
kedua orarg mi lidak memadai Toa Sie seng. Tapi mereka
menang pengalaman dan kelicikan, sehingga tak mengalami
sedikit rugipun. Siauw Sie seng walaupun mengeluarkan
ilmu silat dari perguruan kelas utama, tapi masih kurang
latihan. Dari itu DjieHoo selalu menghatam Siauw Sie seng
ini bertubi tubi. Hal ini membuat Toa Sie seng repot
menolongnya sebab ini keadaan Djie Hoo untuk sementara
berada di atas angin.
Toa Sie seng sesudah berhasil mematahkan beberapa
serangan lawan. Segera mengetahui apa yang dikehendaki
lawan.
Dari itu dibiarkannya Pek Hoo menyerang Sie seng.
Sekali kali ia tak menolongnya, sebaliknya kedua
kepalannya dikerahkan dengan mendadak menyerang Hek
Hoo. Hek Hoo mengubah ilmunya untuk menangkis, Kedua
kakinya berputar tak henti hentinya nanti maju nanti
mundur, ke kanan dan ke kiri, tubuhnya menggeleyot ke
kiri bergoyang ke kanan. Dan tangannya terus mengubahubah
ilmu silatnya. Sebentar benar benar menyerang,
kemudian hanya menggertak saja, orang yang melihat
ilmunya ini menjadi berkunang kunang dan tak dapat turun
tangan! Inilah ilmu ciptaan Djie Hoo yang dinamai Hoo Po
Kun (oukulan rase bergerak) Ilmu ini demikian licin dan
membingungkan sesuai dengan adat rase yang licik dan
licin. Toa Sie seng mengawasi permainan Hek Hoo sambil
menantikan ketika untuk menyerang letak kematian lawan.
Hek Hoo sebaliknya mengawasi keadaan di belakang Toa
Sie seng. “Bagus” serunya tidak keruan-ruan. Toa Sie seng
mengira Pek Hoo sudah berhasil dalam serangannya hatinya
menjadi kuatir adiknya mendapat luka buru buru ia
berpaling. Sekali berpaling ini. artinya ia sudah kena
perangkap bulus Hek Hoo Ketika yang baik ini tidak disia
siakan Hek Hoo. tubuhnya melompat.tangannya terangkat
seperti penggaruk mencakar Toa Sie-seng dari belakang.
Toa Sie-seng merasakan punggungnya sakit dan perih.
Dengan segera tenaga dalamnya dikirim, tubuhnya

64
dibungkukkan dan dibantingnya musuh. Hek Hjo tidak
bersiaga atas ini, tak ampun lagi tubuhnya kena dilempar
beberapa tumbak jauhnya. Toa Sie seng punggungnya
sudah ditandai lima gores tanda darah.
Waktu ini orang tua itu sudah berhasil mendesak Tong
Leng Hweesio sejauh dua tumbak. Segera ia berbalik badan,
diserangnya Pek Hoo taK berani menyambut serangan
lawan, lekas lekas ia mundur. Dengan demikian ketiga
orang itu berhasil membebaskan diri dari libatan lawan.
Tubuhnya susul menyusul melesat masuk ke dalam
tumpukan orang-orangan batu Tjiu Piau tidak bisa lari,
sebab dipegangi Tjen Tjen. “Kau mau pergi main ke mana?”
tanyanya tanpa curiga. Tjiu Piau tidak menjawab, Saat
inilah dari dalam goa datang suara keras. “kawan-kawan
kalau sudah datang, untuk apa tergesa-gesa berlalu!”
Louw Eng menunjukkan diri paling depan. Hal ini
membuat Tjiu Piau terkejut. Sedangkan tiga orang yang
mengajak berlalu sudah hilang dalam tumpukan batu.
Memikiri dirinya yang sendirian saja, mau tak mau merasa
gentar. Fajar sudah menyingsing di ufuk timur, sinar
keemas emasan membawa kehidupan itu menerangi muka
Tjiu Piauw. Louw Eng yang berdiam dari tempat agak gelap
menatap wajah pemuda ini. Seolah – olah matanya itu
melihat kembali wajah Tjiu Tjian Kin yang sudah meninggal
dua puluh tahun lamanya. Hatinya diliputi bermacam
macam rasa bimbang. Dan tidak tahu harus bagaimana
menghadapi pemuda yang berada di depan matanya?
Walaupun Ouw Yu Thian sudah menerangkan, bahwa
pemuda ini adalah keponakan dari Tjiu Tjian Kin. Tapi dalam
batin Louw Eng sudah memastikan pemuda ini adalah anak
dari Tjiu Tjian Kin.
Inilah orang yang sepuluh tahun lebih lamanya
dikerarg dan dicarinya. Dari itu biar bagaimana tidak boleh
dilepas lagi. Hatinya sudah mengambil keputusan dengan
cepat. Ia menindak melalui orang orang yang berada di situ,
menghampiri ke dekat Tjiu Piau.
Tjiu Piau walaupun tidak dapat memastikan Louw Eng

65
sebagai pembunuh dari ayahnya. Tapi entah bagaimana,
wajah Louw Eng ini menimbulkan kesan tak menyenangkan
untuk dilihat. Kedua pasang mata beradu dalam pandangan.
Tjiu Piau hatinya berdenyut terlebih keras dari biasa. Ia
merasakan orang yang berada di depannya ini adalah
manusia yang menjemukan. Tak terasa lagi, ia
menggentakkan tangannya yang dipegang Tjen Tjen dan
mundur beberapa tindak ke belakang. Atas ini Tjen Tjen
menjadi gusar. Mendadak tangannya bergerak melepaskan
tambang Niatnya melibat kedua kaki Tjiu Piuu. Tjiu Piau
tidak memandang, mata atas hal ini, Kakinya perlahan
melompat ke atas. Dua butir batu secepat mungkin menuju
kemata Tjen Tjen. Louw Eng maju melindungi puterinya,
dua butir batu itu dengan mudah diraihnya dari udara.
Menyusul tangan kirinya maju menyerang bagian bawah
Tjiu Piau. Satu tenaga gencetan yang keras dirasakan Tjiu
Piau menyesak dada. Untuk menghindarkan ini, kembali ia
mencelat lagi. Begitu tubuhnya terangkat naik, sebuah
tubuhpun membayangi dan melebihi tinggi tubuhnya. Itulah
Louw Eng. yang berhasil melebihi tubuh Tjiu Piau.
Tangannya terbentang, kakinya ditekuk tak berdaya seperti
seekor elang raksasa. Seketika itu Tjiu Piau merasakan
tubuhnya seperti seekor burung gereja yang tengah
dijadikan korban keganasan elang lapar itu.
Jilid 3
Tjik Piau turun dengan cepat, Louw Eng merapati
tubuhnya dengan cepat pula. Tangannya hampir dapat
mencengkeram tengkuk Tjiu Piau. Tjiu Piau dengan cepat
mengeluarkan ilmu Wo Liong Toh Tju (naga rebah
menyemburkan mustika) tubuhnya berbaring, tangannya
melepaskan enam butir batu menghajar bayang bayang
hitam yang akan menerkam itu.
Ilmu Louw Ecg itu bernama Ngo Eng Pu Tjiok (Elang
lapar memburu pipit) sekali kali jarang mengalami
kegagalan. Tak terkira tak terpikir, bisa menerkam angin.
Lebih – lebih kagetnya dalam keadaan dengan butiran

66
butiran batu. Tubuhnya yang masih berada di uiara tak
dapat megegos hanya dapat dimiringkan. Dengan jalan ini
tiga butir batu dapat dihindarkan ke samping. Tangannya
berhasil menangkap dua butir, sebutir lagi tepat mengenai
tangan kanannya. Sedikit rasa nyeri dinikmatinya. Hal ini
membuat Louw Eng kaget sekali, la diam terpaku sambil
mengusap-usap lengannya yang kena batu itu. Louw Eng
merasakan sesuatu yang gaib. Kejadian delapan belas
tahun di Oey San seperti terulang kembali dalamkelopat
matanya. Bedanya tahun dulu lengannya kena Bwee Hoa
Tok Tju, kini hanya kena batu kecil. Tapi yang lainnya
semua serupa semata-mata. Ilmu senjata ranasia ini, gerak
dan jurusnya satu persatu serupa belaka. Pemuda ini tak
diragukan lagi pasti puteranya Tjiu Tjian Kin. Orang yang
delapan belas tahun dicari-cari, kini berada di depan mata!
Louw Eng sudah tahu harus bagaimana berbuat. Dari itu ia
tersenyum, senyuman yang misterius ini membuat orang
merasa tak keruan rasa!
Tjiu Piau berdiri bengong, tak mengira sama sekali,
bahwa serangannya dapat mengenai seorang lawan yang
demikian targguh.
Diam diam tangannya sudah siap menantikan segala
kemungkinan dengan Bwee Hoa Tok Tjunya. Hatinya
menjadi besar atas hasilnya tadi Sehingga keraguannya
hilang sebagian besar. Pikirnya, bahwa ia masih dapat
mengadu jiwa dengan jago kelas wahid!”
Senyum Louw Eng masih belum pudar, ia berkata. “Tjit
djie.” (keponakan) katanya, “kau adalah keponakan dari
Tjiu Tjian Kin, dari itu dengan sendirinya menjadi
keponakanku juga. Kau tahu delapan belas tahun lamanya
aku ingin bertemu muka dengan putera dari kakak Tjiu
Tjian Kin. Kini baru bertemu denganmu saja hatimu sudah
merasa girang sekali. Tit djie biar bagaimana kau harus
berdiam di sini untuk beberapa hari lamanya, sekedar untuk
melepaskan kerinduanku kepada kakakku almarhum. Dari
itu kau jangan merasa asing lagi berdiam di sini. Kau akan
mendapat perlakuan seperti anakku sendiri.”

67
Louw Eng berkata kata disertai gerak gerik yang penuh
kecintaan. Saat ini matanya membayangkan sinar welas
asih dari seorang itu. Hal ini membuat Tjiu Piau menjadi
terbaru. Tak terasa lagi kakinya melangkah setindak
setindak, tiba tiba ia menubruk ke dalam rangkulan Louw
Eug sambil berseru : “Siok siok”
Dalam sekejap mata, pemuda yang sedari kecil
kehilangan akan kasih ayahnya ini merasakan kehangatan
waktu mendengar perkataan Louw Eng. Dalam hayalnya itu
sang pemuda menganggap Louw Eng adalah orang yang
terdekat dari ayahnya. Air matanya membanjir di kedua
kelopak matanya dan mengalir membasahi kedua pipinya
Tak tertahan lagi akan kesedihannya, ia berseduh sedan
sepuas puasnya.
“Apakah kau Tjiu Piau Tit djie yang selalu menjadi buah
pikiranku siang danmalam?” tanya Louw Eug lemah lembut.
“Siok siok memang benar aku adalah Tjiu Piau,” jawab
Tjiu PiaU sambil mendongakkan kepalanya memandang
Loung Eng. Ahhhhb sebuah senyum iblis memenuhi ruang
matanya. Tjiu Piau seperti tersadar dari impian manis!
Tubuhnya seperti diguyur air dingin! Perlahan lahan
lengannya melepaskan Louw Eng, kakinya mundur
beberapa langkah Keadaan menjadi hening dan sunyi,
pasangan-pasangan mata berputar dengan tak wajar.
Mereka menantikan jawab. Untuk menghilangkan suasana
yang janggal ini. “Hei kawan!’* suara mendatang
memecahkan kesunyian, “jagalah diri baik baik! Lain waktu
kita berjumpa pula.” Suara itu datang dari tumpukan batu
batu aneh berbentuk orang. Tjiu Piau buru buru menoleh ke
arah suara datang. Pada waktu inilah matanya melihat dua
benda putih melayang datang. Tjiu Piau menangkap senjata
rahasia itu dengan kedua tangannya.
Louw Eng melihat ke angkasa yang luas sambil berkata:
“Surya sudah menunjukkan diri, siapa yang bersedia masuk
ke dalam untuk mengundang beberapa kawan itu?”
“Tumpukan batu batu ini demikian gaibnya, meski sudah
terang tanah, tapi tak boleh sembarangan masuk. Kalau

68
kalau diserang musuh secara menggelap. Cukup kita jaga
dari luar saja. Di mana ada gerakan di situ kita rintangi
dengan cara ini jangan kuatir mereka dapat melarikan diri!”
kata salah satu dari Mau San Djie Hoo.
Louw Eng menggangukkan kepala membenarkan. Pek
Hoo dan Hek Hoo menjelat naik di batu tinggi yang
berdekatan dengan tubuhnya. Matanya celingukan ke dalam
batu, gerak-geriknya tak ubahnya seperti rase yang jahat.
Tjiu Piau mengambil dan memegang senjata rahasia
yang bersinar putih itu, benda itu demikian lemas. Kiranya
tak lain tak bukan adalah dua sobekan kain. Benda itu
dipegangi terus sedari tadian. Kini baru dapat dilihatnya,
waktu orang-orang Louw Eng sibuk dengan orang-orang
yang berada di dalam tumpukan batu. Waktu dibuka kain
itu berhuruf yang mengejutkan Tjiu Piau bukan alang
kepalang. Dua carikan Kain itu bertulisan: “Tamu menanti
malam Tiong Tjiu bulan delapan.” “Peristiwa Oey San
membawa dendam bagi lautan.” Huruf-huruf itu merah
warnanya sebab ditulis pakai darah.
Tjiu Piau berpikir: “Dua Sie-seng itu Pasti putera dan
puteri Ong Pee-bo. Toa Sie-seng pasti yang disebut A Pang
semasa kecilnya. Siauw Sie-seng seharusnya anak
perempuan, kenapa menyampai anak laki-laki?” Bukankah
ia menyamar? Berpikir sampai di situ Tjiu Pilu bukan main
napsunya untuk segera mendapatkan kedua saudara Ong
itu. Pikirnya, ia akan saling berpelukan dan menangis
sepuas – puasnya!” Di samping itu bersama sama
merundingkan hal membalas dendam dan sakit hati. Ia
menyesali dirinya yang demikian bodoh ! Kenapa ia tak
menyadari sedikit juga, bahwa dua orang itu adalah
saudara-saudara dari keluarga Ong. Untuk mencarinya kini
sukar sekali. Demikianlah ia berpikir atas dirinya sendiri.
Sementara itu Louw Eng dan kawan-kawan masih tetap
mengurung batu-batu aneh itu untuk menjaga ke luarnya
Toa Sie seng, Siauw Sie seng dan orang tua itu. Misalkan
diketemukan pasti terjadi perkelahian yang hebat. Tapi
dapat dipastikan pihak orang tua itu akan menderita rugi,

69
sebab jumlahnya sedikit. Tjiu Piau sangat kuatir atas
keselamatan ketiga orang itu. Hatinya sudah mengambil
ketetapan, bila mana ketiga orang itu tertangkap, Bwee Hoa
Tok Tju pasti akan mengamuk untuk membantu mereka !!!
Tunggu punya tunggu matahari sudah jauh tinggi. Batu
batu yang gaib itu hilang kegaibannya di bawah sinar surya
yang panas itu. Sehingga keadaan di dalam dapat dilihat
dengan tegas. Tapi orang yang dinantikan itu tidak
kelihatan mata hidungnya. Djie Hoo meloncat turun.
“Tumpukan batu batu itu menjorok sampai ke kaki
gunung, sudah dapat dilihat dengan tegas! Tapi sungguh
aneh bayangan kedua orang itu tak kelihatan Sedangkan
gerakan gerakan juga tidak teriihat sama sekali! Apakah di
dalam tumpukan batu batu itu terdapat jalan di dalam
tanah?”
Mendengar ini parasnya Louw Eng agak kaku, tubuhnya
meloncat ke atas bata sambil mengawasi sekeliling.
Kemudian melompat turun dan jalan pulang. Orang-orang
mengikuti dari belakang. Semua kembali ke Ban Liu Tjung.
Tjen Tjen tidak segera berlalu, tapi ia naik sebentar ke atas
batu, kemudian berlari lari menyusul yang lain.
Di tengah jalan Tjea Tjen mengnampiri Tjiu Piau. Ia
berbisik: “Aku mengetahui bagaimana mereka meloloskan
diri. tapi semenetara waktu tak dapat aku menerangkan
kepadamu!” Baru Tjiu Piau ingin bicara. Suara Louw Eng
sudah mendahului
“Saudara-saudara harap datang lagi di Ban Liu-Tjung.
Aku masih mempunyai beberapa hal yang masih per!u
dirundingkan dan minta petunjuk petunjuk dari saudarasaudara.”
Ramai ramai orang kembali ke Ban Liu Tjung, semua
berkumpul di ruangan tamu. Sesudah semua duduk dengan
teratur. Louw Eng mulai membuka suaranya lagi.
“Kejadian hari ini sudah disaksikan saudara-saudara
sendiri. Yakni Ban Liu Tjung mempunyai jalan di dalam
tanah, yang dapat berhubungan ke luar. Sedangkan mulut

70
goa ini t’dak jauh letaknya dari tumpukan-tumpukan batu
batu aneh. Pada siang hari batu batu itu kelihatannya biasa
saja. Sebaliknya batu batu itu menjadi tempat
persembunyian yang baik di kala malam. Malam tadi
kedapatan orang di dalam goa. Ini semata mata bukan
karena orang orang itu salah jalan dan masuk ke sana!
Orang orang itu menjadi seteru kita yang berbahaya. Orang
orang itu pasti mempunyai bagian dalam pertemuan Tiong
Tjiu di bukit Oey San. Karena demikian kita harus terlebih
waspada!”
“Mau San Hek Hoo berkata: “Menurut hematku, orang itu
sudah lama dan sering masuk ke dalam terowongan itu
untuk mencuri dengar rahasia kita. Hari ini kalau bukan
Tjen Tjen mendahului masuk ke dalam, pasti mereka
menyusup dan mendengari rahasia penting kita. Dapat
dikatakan kita masih mujur, bahwa mereka belum
mengetahui sesuatu apa yang kita percakapkan.” Louw Eng
mengangguk anggukkan kepalanya mendengar keterangan
Hek Hoo itu.
Tiang Bin Kau Tam Tjiu Liong, biasanya sangat pendiam
tak banyak berkata kata, kinipun mengeluarkan pendapat.
“Mengenai Liong Hong Siang Kiam Kek (kedua pendekar
pedang Naga dan Merak) yang demikian berani menyatroni
istana dan meninggalkan surat, ini membuktikan bahwa
mereka bukan orang yang sembarangan! Mungkin mereka
sudah menghimpuni orang orangnya untuk menyelidiki kita,
Tiga orang yang masuk ke dalam tumpukan batu batu,
bukan lain dari pada penyelidik dan sepion mereka.”
Louw Eng manggut-manggut mendengar ini seraya
berkata. “Ban Liu Thun sebenarnya kita pergunakan untuk
menyelidiki gerakan gerakan orang orang Kang ouw Siapa
kira sebaliknya kita yang kena di selidiki musuh!” kata kata
ini memerahkan selebar muka Ouw Yu Thian. Louw Eng
mengawasi kesemua, mendadak ia berdiri dan berkata lagi ;
“Terhadap hal ini masih adakah pendapat pendapat yang
berharga dari saudara saudara?”
“Kami mempercayai dan menyerahkan semuanya kepada

71
Toako!” jawab mereka serentak.
Suasana menjadi hening seketika, sedikit suarapun tidak
ada. Louw Eng melanjutkan lagi perkataannya:/’Rapat
rahasia diOey San tinggal beberapa bulan lagi. Sebenarnya
masih ada waktu untuk berpikir guna menghadapinya. Tapi
dengan adanya kejadian kemarin malam. Nyata dan tak
perlu di sangsikan lagi, pengacau pengacau itu sudah
bertekad untuk mengadu kekuatan dengan kita. Kita harus
ingat, semenjak tentara Tjeng kita masuk ke wilayah Tiong
Goau. Orang orang gagah dari dunia Kang ouw sudah dua
puluh tahun lamanya tidak mengunjukkan diri. Andaikata
pengacau pengacau itu berserikat dengan mereka. Hal ini
harus dipikirkan secara mendalam. Tak usah dikatakan lagi
saudara saudara yang berada di sini adalah orang orang
gagah kelas utama. Tapi untuk merebut kemenangan
secara meyakinkan, yang rendah berniat mengundang
seorang berilmu yang luar biasa.”
Sebenarnya kepandaian Louw Eng sudah sampai di batas
sempurna. Biasanya menganggap dirinya yang terpandai,
sehingga dimatanya tak ada yang dipandang. Tapi kini
mengeluarkan pernyataan yang demikian. Membuat para
hadirin merasa heran bercampur cemas. Mereka sadar
pertemuan Oey San kali ini hebat adanya. Musuh musuh
pasti terdiri dari orang orang berilmu tinggi.
Tong Leng berpikir di dalam hati: “Terhadap bocahnya
saja aku agak kewalahan, apalagi kelak?” Menikir sampai di
sini hatinya menjadi deg degan. Louw Eng berkata pula:
”Ban Liu Tjung tidak berjauhan dengan Oey San, cocok
untuk kita berkumpul. Bocah tadi sungguh tak kenal mati,
keberanian datang memenyelidiki kita. Dari itu kita harus
memburu mereka. Untuk membalikkan keadaan kita di
pihak menyerang. Untuk membereskan hal ini kuserahkan
pada saudara Ouw.”
“Legakan hati Tjako, hal ini dapat kami lakukan dengan
sempurna,” sahut Ouw Yu Thian dengan penuh keyakinan.
“Jangan memudahkan sesuatu hal dengan begitu saja!”
kata Louw Eng memperingati. “‘Saudara-saudara mungkin

72
agak heran melihat keadaanku hari ini. Menang dalam hal
ini aku terlalu hati-hati! Inikah yang mengherankan? Hal ini
tidak dapat kujelaskan sekarang. Tunggulah pada saatnya!
Yang perlu saudara saudara ketahui ialah, tersebarnya
jaring jaring sepion musuh untuk menyelidiki kita.
Dari itu cucu kura-kura itu harus pula kira awasi. Kendati
demikian saudara saudara tidak perlu kuatir, sebab
kemenangan pasti di tangan kita. Dalam beberapa bulan ini
aku akan mengadakan perjalanan ke Kwan Tong guna
mengundang Hek Liong Lo Kway (Naga hitam yang gaib)
untuk membantu kita. Bukankah dengan cara ini
kemenangan pasti terjamin secara mutlak?” Kata-katanya
habis ditutup dengan suara tertawa yang aneh.
Orang banyak menjadi heran lagi. Mereka masing masing
berpikir: “Mungkinkah Hek Liong Lo Kway masih hidup?”
Mendengar kata-kata Louw Eng, seolah-olah
hubungannya dengan Hek Liong Lo Kway erat adanya. Tapi
hal ini belum pernah didengar dan diketahui orang.
Perundingan selesai keputusan sudah diambil.Yakni
bagaimana menyelidiki lawan, bagaimana mengundang
kawan, semuanya sudah diatur dengan baik untuk
menghadapi pertemuan Oey San.
Tjiu Piau yang berdiri di samping, hatinya merasa cemas.
Keringat dingin membasahi sekujur badannya. Berbagai
pertanyaan timbul dalam hatinya: Di Oey San kelak akan
terjadi pertempuran dahsyat yang bagaimana? Siapakah
Liong Hong Siang Kiam Kek itu? Kenapa dua pendekar itu
memberi tahu rapat Oey San ini kepada raja? Apakah rapat
Oey San yang dimaksud mereka adalah rapat Oey San yang
akan dihadirinya sendiri? Atau rapat lain lagi? Tapi yang
pasti rapat Oey San kali ini akan menerangkan dan
memberi jawaban tentang kematian ayahnya secara terang.
Sementara itu para hadirin sudah meninggalkan
tempatnya masing masing, Tjiu liau pun bangkit berlalu.
Sebelum itu Lauw Eng sudah membuka mulut. “Tjiu Tit djie,
harap jangan berlalu dulu.” Tjiu Pau merasa kaget, entah

73
apa yang menyebabkan Louw Eng menahannya. Sesudah
Louw Eng mengantar para tamu segera merapatkan daun
pintu. Dihampirinya Tjiu Piau, dijabat tangannya dengan
erat. Sedangkan air mata buayanya menggenangi kedua
kelopak matanya.
“Tit djie, delapan belas tabun lamanya aku mencari dan
merindukan kau siang dan malam. Banyak kata kata
memenuhi dadaku, baiklah nanti perlahan lahan kita
bicarakan. Sebaliknya adakah sesuatu pertanyaan dalam
hatimu? Silahkan kau bertanya sekaranng.”
Mendapat kesempatan ini Tjiu Piau jadi berpikir.
“Sesuatu pertanyaan yang menyesak dada, kiranya sudah
tiba waktunya kuketahui,” Diberanikan dirinya ujcuk
bertanya. “Louw Siok siok, dapatkah kau ceritakan perihal
kematian ayahku dengan sejujur jujurnya?”
Louw Eng sudah menduga bakal mendapat pertanyaan
ini. Tanpa berkata kata digulung lengan baju kanannya. Di
situ tertera dengan tegas setangkai bunga bwee. Inilah
peninggalan Bwee Hoa Tok Tju keluarga Tjiu. Tjiu Piau tidak
mengerti maksud Louw Eng, Akhirnya Louw Eng merunjuk
tanda itu sambil berkata. “Inilah tanda peninggalan dari Tok
Tju, tentu kau kenal bukan?” suara mi demikian halus di
ucapkannya, sedikitpuu tak mengandung nada kebencian.
Tjiu Piau menganggukkan kepalanya. “Yah, Tit dje kenal.”
“Racun dari Tok Tju Keluarga Tjiu, tak ada duanya di
dunia ini. Barang siapa terkena, hanya keluarga Tjiulah
yang dapat menolong dengan obat pemunah buatan
mereka. Tapi kalau sejam kemudian sesudah terkena, obat
keluarga Tjiupun tak ada gunanya. Betulkah demikian?”
Mendengar ini Tjiu Piau manggut lagi. Di samping itu
hatinya kembali berpikir. “Louw Eng kena racun tapi tidak
mati, tentu seketika juga mendapat obat penawarnya. Obat
pemunah itu hanya berada pada ayah dan hanya ayah pula
yang mengetahui cara menggunakannya. Louw Eng
mendapat kesembuhan pasti mendapat pertolongan dari
ayah. Kalau demikian jadinya, sampai matinya ayah masih
menmpunyai hubungan yang baik dengan Louw Eng. Dari

74
segi ini dapat dipastikan pembunuhan dari ayah adalah
orang lain!” memikir sampai di sini hatinya menjadi panas.
Ia berhasrat mengetahui pembunuhan ayahnya dengan
cepat.Di balik itu kau karena ia seorang yang berhati polos.
Apa yang terkandung dalam pikirannya, semua
digambari dalam wajahnya dengan terang. Dari wajah
curiga sampai ke percaya dari percaya menjadi gusar,
semua perubahan ini nyata dan tegas. Louw Eng melihat
perubahan ini dengan tenang. Sebab kata-kata dari Louw
Eng di atas itu bermaksud untuk menarik kepercayaan Tjiu
Piau semata-mata. Sebelum Tjiu Piau membuka mulut Lou
Eng sudah melanjutkan lagi kata katanya: ‘Delapan belas
tahun berselang, kami berempat memenuhi permintaan
Wan Tie No untuk menghadiri rapat Oey San. Hal ini tentu
kau sudah ketahui. Sesudah rapat berjalan, kami sadar
bahwa diri kami ini sudah masuk perangkap tipu keji Wan
Tie No. Tak banyak cerita lagi pertarungan terjadi ketika itu
juga. Tak kira Wan Tie No demikian lihay. Kekuatan
bergabung dari kimi berempat hanva dapat mengimbangi
kekuatan Wan Tie No seorang. Pertarungan bei jalan
dengan hebatnya, tiba-tiba ayahmu terpeleset jatuh,
menggunakan kesempatan ini Wan Tie No mengirimkan
pukulan beSinya!”
“Aiihh!” seru Tjiu Piau tanpa terasa.
Louw Eng melanjutkan lagi kaca-katanya: “Dengan
nekad dan tak menghiraukan nyawaku lagi, kutubruk
punggung Win Tie No, demi keselamatan dari ayahmu.
Entah bagaimana mendadak Wan Tie No meloncat menjauhi
diri? Tidak tahunya ayah mu sambil merebahKan diri
melepaskan Tok Tju, aku tak dapat menghindarkan diri lagi.
lengan kananku tak ampun lagi kena dilukai Tok Tju.”
Louw Eng berhenti sebentar untuk menyeka air matanya,
“kalau kuingat kejadian ini hatiku merasa sedih dan hampa.
Ayahmu melihat aku roboh lekas lekas membanguni aku
serta memberikan obat penawar racun dan menitahkan aku
harus bagaimana memakainya. Karena sedikit ini, Wan Tie
No berkesempatan pula untuk mengirimkan pukulan

75
mautnya secepat kilat pada ayahmu. Ah pukulannya itu
demikian ganas, ayahmu terpental sejauh dua tumbak dan
tergelincir ke dalam jurang.” Bicara sampai di sini Louw Eng
menarik napas sambil mengelah. “Duhhh, apa gunanya
hidup di dunia dengan kehilangan saudara yang kucinta”
Kata kata ini membuat Tjiu Piau mengeluarkan air
matanya secara deras. “Tak nyana pembunuh dari
mendiang ayahku kiranya benar benar Wan Tie No adanya,”
pikir hatinya. Mulutnya sudah hampir bergerak untuk bicara
Tiba tiba sekali dari luar terdengar tertawa dingin. “Louw
Eng lidahmu sungguh beracun!”
Suara ini datang dari atas pohon. Louw Eng mengenjot
tubuhnya mencelat bagai alap alap menerjang wuwungan
rumah. Krakkkk atap rumah hancur menjadi sebuah liang.
Cepat sekali Louw Eng sudah berdiri tegak di atas genteng.
Tjiu Piau meloncat melalui liang itu. Sementara itu pohon
liu di paviliun timur turun naik bagai ombak. Di ujung
ranting tampak dua tubuh orang. Mereka terdiri dari
seorang anak laki – laki dan seorang anak gadis. Usia
mereka lebih kurang tujuh-delapan belas tahun. Mereka
berpakaian yang singset dan pas. Caranya berpakaian ini
bukan main gagahnya. Yang laki laki beralis kereng,
bermata seperii macan, berapi-api penuh semangat. Yang
gadis serupa benar dengan raut wajah yang laki laki. Hanya
gerak-geriknya lebih ayu, Begitu Tjiu Piau melihat mereka,
hatinya tergerak, ia berkata di dalam hati: “Kalau
pemandangan indah mempunyai sukma, pasti sukma itu
masuk di tubuh mereka. Gagahnya cantiknya, manisnya,
segalanya, berkumpul menjadi satu di tubuh mereka.”
Louw Eng lebih terkejut lagi. Dalam matanya kedua
muda mudi ini mempunyai paras welas asih yang sudah
dikenal betul, entah di mana rasanya pernah bertemu. Yang
lebih mengherankan, ranting – ranting pohon liu ini
demikian halusnya. Tapi kedua bocah yang masih ingusan
ini, mempunyai ilmu mengentengkan tubuh yang demikian
mengagumkan. Mereka dapat berdiri dengan seenaknya di
ranting yang kecil itu. Kepandaian ini dapat dikatakan sudah

76
sampai di batas yang sukar diselami. Angin bertiup datang
pohon pohon itu bergerak gerak, mereka dengan anteng
mengiKut alunan dahan dahan itu turun naik tanpa
bergerak gerak!
Tanpa berkata kata lagi Louw Eng menghunus pedang.
Kedua tangannya masing-masing memegang sebilah. Kedua
pedang mengeluarkan sinar yang menyilaukan mata. Pada
pedang itu tertera ukiran burung hong dan naga. Tjiu Pau
menjadi terkesiap hati nya melihat pedang pedang ini.
orang mengenal kepandaian Louw Eng sudah jarang
tandingan. Orang orang Kang Ouw sangat menyeganinya.
Biasanya untuk menghadapi lawan jarang sekali
menggunakan senjata. Tapi hari ini begitu ketemu dua
orang budak ini, entah bagaimana hatinya. Mungkin
dikarenakan gentar? Lebih lebih ia menghunus pedang
untuk menghadapi bocah bocah! Hal ini sebelumnya belum
pernah terjadi Kedua anak muda itu, begitu melihat Louw
Eng menghunus pedang. Matanya tak henti hentinya
mengawasi pedang itu sambil berbisik bisik. Ketawa dingin
ke luar dari mulut pemuda itu: “Louw Eng kau jangan
kuatir, hari ini kami kakak beradik tak mau berkelahi
denganmu, ingat saja hutangmu pada kami, pada suatu hari
harus kau lunaskan. Sebenarnya hutangmu pada kami
sudah terlampau banyak, pedang Liong dan Hong yang kau
pegang itupun harus dibayar kembali kepada kami, tapi
tidak sekarang. Yang penting hari ini dengarlah sepatah
kataku. Jangan mendustakan orang, jangan terlampau
banyak membuat kejahatan!”
Habis bicara matanya melirik pada Tjiu Piau. “Kawan
yang baik, jangan sembarangan percaya pada mulut orang.
Kau harus dapat berpikir secara mendalam, untuk mem
bedakan mana kawan mana lawan. Semoga kau dapat
berlaku terlebih hati-hati Untuk hari hari yang akan
datang.”
Louw Eng tidak menantikan orang bicara habis, tubuhnya
sudah melesat seperti anak panah. Masuk ke bawah pohon.
Sinar pedang berkelebatan bulak balik, tujuh delapan

77
cabang liu berbareng putus menjadi dua. Menyusul suara
ambruk dahan dahan itu susul menyusul jatuh di bumi.
Kedua muda mudi itupun mengikuti cabang liu turun
hinggap di bumi tanpa kurang sesuatu apa. Sinar pedang
berkelebatan lagi sambil membawa angin yang menderuderu,
cepatnya seperti kilat menyerang dua anak muda itu.
Kedua orang itu hanya mengegos egoskan badannya, tanpa
menderita luka. Juga tidak melawan. Pemuda itu berkata
lagi dengan dingin: “Louw Eng kami tidak mau melawan
hari ini, tunggulah nanti. Atas ini kami minta maaf dan
mohon pamit!”
Dua orang itu dengan sebelah tangan memegang cabang
liu, sesudah itu dengan berbareng membal ke atas.
Sesampai di atas pohon mereka melompat lompat dengan
cepat dalam sekejap mata segera hilang dalam pandangan
mata!
Lou Eng berdiri di tanah dengan gemas sambil berpikir:
“Kedua pemuda itu pasti, adalah orang yang menyatroni
istana. Aku menjelma menjadi enghiong (orang gagah)
mana mau dipermaini mereka. Biarlah dalam Pertemuan di
Oey San nanti akan kutangkap mereka hidup hidup untuk
melampiaskan kedongkolanku hari ini!”
Kegaduhan ini membuat orang orarg Ban Liu Tjung budal
semua. Tapi mereka datang kesiangan karena Liong Hong
Siang Kiam Kek siang siang sudah menghilang. Apa yang
terlihat mereka hanya cabang cabang pohon liu
bertumpukan di samping tubuh Louw Eng. Melihat lagi pada
cabang cabang liu yang halus bergoyang-goyang ditiup
angin, mereka tak menduga ada orang bisa hinggap di
atasnya. Tak sadar lagi mereka saling pandang memandang
pada kawan kawannya dengan penuh pertanyaan.
Walaupun terjadi demikian, paras Louw Eng sedikitpun tidak
berubah. Akan hatinya siapa yang tahu? Dalam suasana
gaduh dan ribut, tentu saja Tjen Tjen tak mau ketinggalan
“Ada apa, ada apa,” tanyanya pada Tjiu Piau.
Tjiu Piau tengah dilandai berbagai soal, mana mau
menghiraukan dia Tjeu Tjen menjadi uring-uringan. “Ayo

78
bilang, ayoo… bilang, bilang tidak! Awas yah kalau nanti
baru kau beritahu, sepatahpun aku tak sudi
mendengarnya!” Tanpa menunggu jawaban ia lari ke luar.
“Tjen Tjen ke mari kau!” panggil Louw Eng.
Tjen Tjen merandek, tanpa menoleh lagi ia menjawab:
“Ada apa ayah?”
“Tjen Djie, ayahmu lama tak mengajak kamu bermain
main. Sebenarnya ayah niat mengajakmu main main di
tempat yang indah dan permai Berjalan jalan di tempat
keramaian untuk membeli mainan. Makan-makan di rumah
makan. Coba kau katakan baik tidak?” Tjen Tjen
kegirangan, kontan balik badan menubruk ayahnya. “Ayah,
betulkah ayah?”
”Pasti benar benar tapi kini ayah masih sibuk dan belum
bisa menemani kau.”
Tjen Tjen hatinya mencelos, harapan muluknya menjadi
buyar seketika. “Eummm, tuh dibohongi lagi, ayah gitu sih.”
Low Eng bergelak gelak tertawa. “Lau Bok, lihat lagak
muridmu!”
Peng San Hek Pauw Bok Tiat Djiu pun tertawa: “Kau lihat
anakmu, dari pagi menggerecok saja. Sampai hari siang
masih belum mengasih hormatnya kepada yang menjadi
guru!” Kedua orang lantas tertawa bergelak-gelak.
Tjen Tjen sedari kecil sslalu dimanja-manja. Kini ia masih
mangkel dan sedih atas janji palsu dari ayahnya. Ia diam
sambil ngedumel terus. Orang orang ada yang ikut ikutan
tertawa. Ada yang berpikir di dalam hati: “Bapaknya gelo,
pasti anaknya sableng!”
Louw Eag sengaja membuat suasana menjadi gembira,
semata mata untuk menghilangkan perasaan cemas dan
tegang para tamunya. Sesudah itu ia baru berkata: “Tjen
djie, ayahmu ingin mengurus sesuatu hal yang maha
penting, dari itu tak lama lagi akan meninggalkan Ban Liu
Tjung. Karena ini kau harus memperlakukan tamu istimewa
ini secara memuaskan. Temanilah dia bermain main, agar

79
hatinya tak merasa kesal, dapatkah kau lakukan?”
Tjen Tjen tahu ayahnya menyuruhnya menemani Tjiu
Piau. karena ini hatinya dongkol kembali. Dimonyongkan
mulutnya. “Tamu macam apa? Istimewa segala!”
“Ke mari, ini adalah saudaramu Tjiu Piau! Ia adalah anak
dari saudara angkat ayah yang bernama Tjiu Tjian Kin,
yakni yang sering sering kukemuKakan dan sebut sebut di
depanmu. Tak lain tak bukan dari Tjiu Piau adanya. Mulai
hari ini kau harus berkumpul, sama sama bermain dan
berlatih silat! Kau harus bersungguh-sungguh memanggil
Piau Koko!”
Mendengar ini orang banyak menjadi girang. Yang dicari
cari kini di depan mata. Didapat tanpa banyak membuang
tenaga. Lebih lebih Ouw Yu Thian girang nya bukan main.
“Toako, kiranya pemuda ini Tit djie Tjiu Piau. Berapa lama
dicari cari kini berada di depan mata, hal ini sungguh
menggirangkan. Untuk ini kita harus mengadakan malam
gembira untuk bersuka ria bersama sama!” kata Ouw Yu
Thian. Louw Eng tentu saja melulusi dan setuju.
Pada malam harinya Ban Liu Tjung menjadi ramai sekali,
tapi hal ini tidak perlu banyak diceritakan.
Semenjak itu orang orang di Ban Liu Tjung bersungguh
sungguh memperlakukan Tjiu Piau dengan hangat.
Sampaipun Tong Leng yang pernah merasakan batunyapun,
memperlakukannya secara mesra. Hal ini membuat Tjiu
Piau menjadi syukur dan senang. Beruntun beberapa hari
Louw Eng sering sering mencarinya untuk mengobrol, Tjiu
Piau takut ditanyai kenapa delapan belas tahun yang lalu
keluarganya melarikan diri dimalam buta? Juga takut
ditanyai keadaan sekarang Tapi sungguh heran Louw Eug
tak pernah menyinggurg nyinggung hal ini.
Hari ketiga Louw Eng berangkat pergi. Jago jago yang
berkumpul di Ban Liu Tjung pun satu demi satu berangkat
pergi ke tempatnya masing masing. Akhirnya tinggal enam
Kauw dan para pelayannya saja. Sebelum pergi Louw Eng
memesan pada Tjen Tjen agar ia menemani Tjiu Piau baik

80
baik, setengah bulan kemudian baru ia kembali lagi
Sebaliknya Tjiu Piau tidak menampik untuk tinggal sedikit
lama di Ban Liu Tjung sebab pertemuan Oey San masih
agak lama. Apalagi memikir pembunuh ayahnya sudah
meninggal, apalagi yang akan dibalasnya.
Satu dua hari kembali berlalu tanpa meninggalkan bekas.
Pada suatu hari sehabis bermain main Tjiu Piau merasa
lelah sekali, ia beristirahat dimalam sunyi dengan tenang.
Malam itu bulan tak menampakkan diri. Di cakrawala hanya
terdapat ribuan bintang yang berkelap kelip dengan adem.
Sambil memandang pada bintang bintang itu Tjiu Piau
berpikir: “Bintang bintang ini demikian banyaknya,
membingungkan saja untuk dihitung. Aku Tjiu Piau ingin
mencari saudara saudara dari keluarga Ong dan Tju, tak
ubahnya bagai ingin mencari beberapa bintang kecil tanpa
nama di antara lautan bintang. Entah kapan baru dapat
bersua. Ah sayang hari itu aku menyia-nyiakan ketika,
waktu berjumpa dengan dua saudara Ong. Dapatkah
kiranya aku bertemu dengan mereka sebelum malam Tong
Tjiu? Waktu berpikir sampai di sini, mendadak sekali dari
luar terdengar bunyi langkah-langkah kaki. Satu dengan
tindakan berat, satu dengan langkah ringan agaknya orang
orang itu terdiri dari dua orang.
Tjiu Piau buru buru bangun mencelat dari tempat
duduknya. Pikirnya penjagaan di Ban Liu Tjjng demikian
keras, kenapa dengan mudah kena dimasuki orang.
Jangan – jangan ada jago – jago datang menyelidiki lagi?
Lilin segera dikebut padam. Perlahan lahan ia ke luar pintu.
Terlihat dua bayangan orang, satu besar satu kecil. Dengan
lincah mereka masuk ke kebun liu. Dilihat dari bentuk
badannya. Siapa lagi kalau bukan saudara saudara dari
keluarga Ong. Tjiu Piau bergembira sekali Orang itupun
sampai ditembok luar. Kedua orang itu berbareng
melompati tembok. Tjiu Piau mengikuti jejak mereka.
Sesudah berada di luar masih tetap tak terdengar gerakan
apa apa dari dalam, hal ini membuat Tjiu Piau menarik
napas lega.

81
Tjiu Piau mengikuti kedua orang di depannya itu dengan
jarak yang terrentu. Kira kira sudah satu dua lie dilewati,
jalan selanjutnya sudah dikenal Tjiu Piau. Tak lain ialah
jalanan menuju ke tumpukan di mana terdapat batu batu
aneh. Yang besar berkata, perlahan pada Tjiu Piau: “Mari
kita bicara di dalam.” Sesudah berkata tubuhnya, langsung
masuk ke dalam tumpukan batu-batu. Tjiu Piau mengikuti
terus.
Di luar tahu ketiga orang ini. bayangan seseorang
mengikuti jejak mereka dari tadian, Orang ini gerakannya
sangat lincah dan gesit. Tapi agaknya acuh tak, acuh
kelihatannya. Siapakah dia? Oh bukan lain dari Tjen Tjen
adanya. Malam ini ia tengah bermain dengan kakak tuanya.
Tiba,tiba dilihatnya bayangan Tjiu Piau berkelebat lari ke
luar. Ia gemar bermain – main segera, diikutinya dari
belakang.
Jalanan di Ban Liu Tjung sudah dikenalnya dengan baik.
Diri itu ketiga orang itu tak merasa dirinya dibuntuti sedari
siang siang Tambahan berkat tubuhnya yang ringan dan
lincah.
Dia melihat ketiga orang memasuki batu-batu itu. Ia
sadar orang orang itu sudah mengambil kedudukan baik.
Yakni mereka dapat melihat ke luar tanpa dapat dilihat
orang dari luar.
Kiranya batu aneh ini, berantakan dan jadi sendiri. Tapi
sebenarnya teratur dengan rapi dan merupakan satu Tin,
Memang kalau dilihat sepintas lalu berserakan dan kalangkabut.
Cobalah perhatikan dengan cermat dari utara ke
selatan, atau dari selatan ke utara. Terdapat dua baris batu
menjadi garis lurus yang saling menutupi. Kalau dari dua
baris batu ini berjalan kita dapat mengandalkan bentuknya
ini untuk bersembunyi.sehingga tidak diketahui orang. Tak
heran waktu dua Sie seng dan orang tua itu dapat
meninggalkan tempat ini tanpa meninggalkan bekas. Hal ini
Waktu itu juga sudah diketahui Tjen Tjen. Kemudian Tjen
Tjen datang seorang diri untuk mempelajari terlebih jauh.
Sehingga keadaan batu batu itu dikenalnya dengan matang.

82
Kini Tjen Tjen berpikir “Kebenaran sekali waktunya untuk
aku mencoba kegaiban dari batu batu ini.” Dari itu ia
berputar ke utara dan dari sana perlahan, lahan masuk ke
dalam.
Baru saja ia masuk bebe.apa tindak. Terdengar suara
orang bercakap cakap, seorang berkata perlahan-lahan.
“Peristiwa Oey San membawa dendam bagai lautan”.
Mendengar ini Tjen Tjen buru buru bersembunyi, untuk
mendengarkan terlebih lanjut apa yang akan dipercakapkan
mereka.
Terdengar Tjiu Piau menjawab: “Delapan belas tahun
hidup menanggung perasaan.” Suara ini bernada gemetar.
“Ong Toako, Ong Moy-tju kalian bersembunyi di mana?
Kenapa tidak mau ke luar”
“Tjiu Heng teekah?” tanya orang itu.
“Benar, Siau tee bernama Piau. Mendiang ayahku adalah
Tjiu Tjian Kin.” Sesaat kemudian baru terdengar pula orang
itu berkata, suaranya tetap perlahan. “Tjiji Heng tee kita
harus hati hati dari itu lebih baik kita bicara dengan cara
ini.” Tjiu Piau pikir beralasan. “Ong Toako Siau tee sangat
merindukan kalian, mengenai Tju Heng-tee apa ada
kabarnya?”
“Hal ini baru mau dilanjutkan kepadamu.”
Tjiu Piau mercelos mendengar ini. “Habis bagaimana?
Moga-moga saja bisa bertemu dan berkumpul di Oey San.”
“Yah, semoga demikian hendaknya.”
“Ong Toako kini kalian tinggal di mana? Bagaimana
keadaan Pee-bo? Bertahun-tahun ibuku merindukannya!”
“Semua dalam keadaan sehat, ibukupun selalu
mengenang kalian. Entah di mana Siok bo kini berada?”
“Ibuku tinggal di Thian Bok San. Melewatkan hari depan
memetik daun obut-obatan.”
Mendengar sampai di sini Tjen Tjen merasakan kenal
suara orang yang bicara dengan Tjiu Piau Sesudah diingatDewi
KZ http://cerita-silat.co.cc/
83
ingat terpikirlah bahwa orang ini adalah Pek Sek Sie seng
(Pelajar seratus lidah) yang bernama Ie Kim Wan. Binatang
ini kenapa datang ke sini untuk menipu orang? Hampir
hampir Tjen Tien tertawa atas’ penipuan ini.
Ie Kim Wan mempunyai kepandaian yang melebihi orang
lain dalam hal memutar lidah. Yakni ia dapat meniru suara
segala macam burung, ternak dan binatang liar Hal ini
dapat ditiru asal ia sudah mendengar suara iru. Lebih-lebih
suara orang tak peduli perempuan atau laki laki dapat
ditirunya dengan baik sekali. Pagi itu, ketika dua kakak
beradik berkelahi dengan sengit dengan orang-orangnya
Louw Eng, Ie Kim Wan berada di dekat liang goa.
Percakapan antara kakak beradik itu didengarnya dan kini
ditirunya untuk menipu Tjiu Piau. Tambahan ia bertubuh
besar serupa benar dengan Ong Toa Sie seng. Entah dari
mana ia mendapat pembantu yang bertubuh kecil dan
serupa dengan tubuh Ong Siau Sie seng. Sehingga mereka
dapat menyamar demikian sempurna. Tjiu Piau tidak sadar
dirinya kena disengkilit orang. Demi untuk tidak diketahui
Tjiu Piau mereka mengajak bicara dengan terpisah. Ilmu
lidahnya demikian lihay tidak urung kena diketahui Tjen
Tjen yang cerdik.
Makin mendegar Tjen Tjen makin geli dan ingin tertawa.
Sebaliknya Tjiu Piau kian bicara kian serius, sehingga Tjen
Tjen mules dibuatnya, Beberapa kali ia riat ke luar untuk
membuka kedok orang. Tapi ia balik pikir. Biarlah dahulu,
dengari saja si Bocah Tolol itu akan mengeluarkan kata kata
apa lagi.
Pek Sek seng bertanya pula: “Tjiu Hian tee, kapan kau
mau ke Oey San?”
“Sebenarnya aku mau terlebih pagi sedikit. Guna mencari
daya guna bertemu dengan Tjiu Piau. Tapi,” orang itu agak
terkejut. “Bukan malam Tong Tjiu tapi sebelumnya bukan?”
“Toako kenapa lupa? Sebelum Tiong Tjiu adalah untuk
kita berempat berkumpul. Malam Tiong Tjiu menantikan
orang yang memberikan sajak itu.” _”Oh yah aku lupa.”

84
“Toako ini kenapa bohelo betul!” pikir Tjiu Piau di dalam
hati. Sebelum percakapan mereka berlangsung pula.
Mendadak terdengar suara gemuruh menggelunggung bagai
gunung runtuh. Eutah bagaimana beberapa batu baru besar
berjatuhan roboh. Pecahan pecahan batu beterbangan.
Sesosok bayangan manusia muncul dengan tiba tiba. Kedua
tangannya mulai bergerak gerak memindahkan batu batu.
Membuat satu lirgkaran batu yang menyerupai sebuah
penjara kecil. Orang ini meloncat ke atas batu. menatap ke
bawah seperti harimau lapar. Perubahan ini terjadi dalam
sekejap mata sampat orang tak sempat berjaga. Tapi Tjiu
Piau tidak terkurung di pembuian kecil itu.
Baju orang itu bergeleberan disampok angin.
Dandanannya sangat keren tak ubahnya seperti anak
sekolah. Siapa lagi kalau bukan Ong Toa Sie seng? Tjiu Piau
kegirangan, ia melompat menghampiri. “Toako,aku di sini!”
“Tjiu Heng tee apa yang kau katakan barusan sudah
kudengar semua. Tapi orang yang bicara dengannu
bukanlah aku!”
“Habis siapa?”
Ong Toa Sie seng menunjukkan jarinya ke bawah. “Tuh
lihat!”
Dua saudara Ong sejak mengetahui bahwa pemuda itu
Tjiu Piau adanya, segera memberikan kata kata dari sajak
itu. Mulai dari malam itu, siang malam mereka mencari
daya guna bertemu dengan Tjiu Piau. Tapi akalnya kandas
dalam penjagaan pagar manusia Ban Liu Tjung.
Malam ini mereka kembali datang berkeliaran di luar
kampung untuk menyelidiki keadaan. Pada waktu inilah
secara kebetulan dilihatnya dua bayangan terbang!
Menyusul terlihat lagi dua bayangan lagi, satu didepan satu
di belakang. Dua bayangan yang ke belakangan ini salah
satunya adalah Tjiu Piau. Kedua saudara Ong tanpa
membuang waktu membuntuti mereka dari belakang.
Mereka melihat bayang bayang itu masuk ke dalam
Tumpukan batu. Dua kakak beradik-pun masuk ke dalam

85
tumpukan batu batu aneh. Waktu inilah mereka mendengar
Je Kim Wan memalsukan dirinya dan menipu Tjiu Piau.
Gusarnya tidak tertahan. Dia diam dua saudara memberi
tanda. Sang adik mengawasi Tjen Tjen. Sang kakak segera
ke luar sambil mengeluarkan ilmu Tiu San Tjiang (pukulan
menggempur gunung) mengatur batu batu menjadikan
sebuah buaian kecil mengurung dua penipu itu.
Dua orang itu kaget mengalami perubahan yang tiba
tiba. Dilihatnya musuh sudah berdiri dengan baik di tempat
yang menguntungkan. Dua orang inipun tak merasa
gentar.Masing masing menghunus senjatanya.
Senjata Ie Kim Wan adalah sebatang pipa vang lebih
panjang setengah kali lebih dari pada seruling. Di atas pipa
terdapat banyak liang besar dan kecil yang tidak serupa.
Entah apa runanya belum dapat diketahui. Yang menyamar
sebagai Siau Sie seng bersenjatakan sebilah pedang.
Pedang itu lain dan pedang biasa, karena di ujungnya bulat
mengkilap seperti mutiara. Kiranya orang itu adalah salah
seorang Tjit Kauw yang bergelar Tiat Diiau Kauw (Kauw
berkuku besi) bernama Hoo Pun. Seorang yang terkenal
sebagai ahli totok. Ujung pedang yang bulat itu khusus
digunakan untuk menotok.
Dua orang ini siang siang sudah mempunyai rencana
untuk menghadapi dua saudara Ong. Yakni mengambil
sesaat turun tangan terlebih dahulu. Sehingga tak
memperdulikan lagi aturan Kang Ouw yang tidak
memperbolehkan tingkatan tuan mencabut senjata terlebih
dahulu. Sebaliknya Ong Toa Sie seng mempunyai
perhitungan sendiri pula. Yakni ingin sekali gebrak
mengalahkan orang.
Ong Toa Sie seng segera mengeluarkan ilmu Hong Gwa
Lian Tjiang (ilmu bukit berantai) yang lihay. Mulutnya
berseru panjang, tubuhnya merupakan bayangan hitam
menyergap dari atas menindih datang. Kedua tangannya
membuat lingkaran besar berputar-putar. Jurus ini dinamai
Kie Hong Hui Lay ( puncak gaib terbang mendatang ).
Dalam lingkungan dua lingkaran yang dibuat mengeluarkan

86
angin yang menderu deru dengan dahsyat, tak ubahnya
seperti puncak gunung runtuh dengan bahana gemuruh
gugur ke bawah !
Si Lidah Seratus tertawa panjang, pipa besinya digigit di
mulut, tubuhnya berkelit kesamping, menghindarkan diri
dari serangan maut ini. Menyusul tangannya bergerak
mengeluarkan jotosan keras ke daju Ong Toa Sie seng.
Berbareng dengan jotosan mengiringi semacam suatu
gemuruh yang aneh seperti setan jejeritan. Suara ini
menusuk pendengaran dan membuat kacau pikiran si
pendengar.
Sebenarnya Ong Toa Sie-seng akan mengirimkan
kelanjutan dari ilmunya yang bernama Hong Gwa U Hong
(di luar bukit terdipat bukit) dengan sepenuh tenaga. Tak
kira Pek Sek Sie seng mengeluarkan bunyi aneh itu,
sehingga perhatian dari Ong Toa Sie seng agak kacau.
Lekas lekas serangannya dibatalkan untuk memusatkan
kembali pikirannya. Pek Sek Sie-seng tidak berhenti sampai
di sini tangan kanannya menyerang dengan jurus Torg Tju
Tui Tjuang (kacung buka jendela) ke sebelah kiri tubuh Ong
Toa Sie-seng. Waktu mengeluarkan tangan sekalian
mengebas, sehingga pipa besi yang berada di mulut pindah
ke tangan dipakai menghantam bagian kiri orang.
Berbareng mulutnya mengeluarkan gerakan dan mengaum
dari harimau lapar. Ong Toa Sie-seng mengebutkan kedua
lengan bajunya, untuk melindungi di atas dan bawah. Jurus
ini bernama Louw Hong In Pek (Puncak hitam bertembok
mega) sehingga penjagaannya menjadi rapat. Pipa besi Pek
Sek Sie-seng kena dikebut lengan baju, telapak tangannya
merasa tergetar. Pada waktu inilah Ong Toa Sie-seng
merasakan di belakang tubuhnya suara tebasan pedang. Ia
tahu tentu si pemalsu adiknya sudah turun tangan.
Perhatiannya jadi terbagi untuk menghadapi dua musuh,
tiba – tiba terdengar suara mendesingnya senjata rahasia di
samping tubuhnya. Tangan kirinya segera menyampok, tapi
tangannya menyampok angin kiranya suara ini buatan
mulut Si Lidah Seratus” Pada detik inilah Ong Toa Sis seng
merasakan bahu kirinya kesemutan kena totokan lawan.

87
Perlahan lahan tangannya menjadi kaku tak dapat bergerak.
Tiat Djiau Kauw Hoo Pun tertawa sambit berkata: “kiraku
lihay sekali, tidak tahunya hanya begini saja!” Habis berkata
pedangnya menjurus ke bahu kanan lawan, dengan maksud
melumpuhkan tangan kanan lawan.
Mendadak berkelebat sebuah bayangan: “Toako aku
datang membantu!” serunya Ini adalan suara Tjiu Piau. Dari
jarak dua depa ia melepas batu-batu kecil menuju Ong Toa
Sie seng, tepat mengenai jalan darah Tjian Kin sehingga
totokan musuh terbuka. Walau pun totokan Hoo Pun
demikian berat, batu itu tidak dapat membuka semua. Tapi
Ong Toa Sie sengmempunyai Nai kang yang cukup baik.
Sekali ia mengirimkan tenaga, lengan kirinya segera dapat
bergerak lagi.
Tjiu Piau takut terjadi perkelahian lagi buru buru
berkata: “Ong Toako Hoo Siok-siok, Ie Siok siok. Harap
jangan salah mengerti. Kita adalah orang sendiri.”
Hoo Pun terkekeh-kekeh; ‘”Akupun hanya bermaksud
mengundang mereka ke rumah, siapa kira ia turun tangan
main main, aku tidak berniat menyusahkan atau
mencelakakannya mereka ”
Mendengar ini Ong Toa Sie seng menjadi gusar. “Tjiu
Heng tee jangan percaya pada mulut gilanya. Tanyakan
pada mereka apa maksudnya menyamar sebagai kami,
untuk memancing kau ke sini. Tanyakanlah bermaksud
apa?”
Tjiu Piau memang mempunyai pertanyaan yang serupa
dengan ini, segera ia menoleh sambil berkata: “Djie-wie
Siok siok, untuk apakah kau bergurau dengan cara
demikian?”
Si Lidah Seratus berkata: “Kenapa heran? Ini toh hanya
main main saja, Louw Siok siokmu berkata bahwa kau
sangat merindukan saudara Ong, Untuk menggirangkan
hatimu kami menyamar sekedar melucu dan berkelakar.”
Tjiu Piau setengah percaya setengah tidak.Tapi dua Sioksiok
ini sama sekali tidak mempunyai laga kaya anak kecil.

88
Tjiu Piau Jadi bingung.
Ong Toa Sie seng kembali tertawa dingin. “Omongan
macam itu hanya dapat menipu nenek pikun! Tjiu Heng tee
kenapa mereka mengetahui’ kata kata sajak itu. Apakah
kau perlihatkan pada mereka-” Tjiu Piau bagai tersadar dari
impian, diraba raba tubuhnya, kedua carikan kain itu sudah
hilang dicuri orang. Pikirannya bekerja. “Waktu terjadi
perkelahian di mulut goa aku tidak mengetahui, bahwa
pelajar besar dan kecil ini adalah kedua saudara Ong. Aku
mengetahui diri mereka sesudah menerima kedua baris
sajaknya. Hal ini hanya aku seorang yang mengetahui.
Terhadap Louw Siok siokpun belum pernah kukatakan
Kedua Siok siok ini kenapa bisa mengetahui?” Berpikir
sampai di sini hatinya menjadi curiga. “Djie wie Siok siok
perkataanmu barusan mungkin kata kelakar pula?”
Ong Toa Sie seng berkata. “Kata – kata yang ke luar dari
mulut orang orang Ban Liu Tjung dapat dipercaya! Di dunia
masih ada perkataan lain yang tak dapat dipercayakan? Tjiu
Heng tee Ban Liu Tjung bukan tempat yang baik. Marilah
turut kami berlalu.” Mendengar ini Tjiu Piau mengakui katakata
itu cukup beralasan. Tapi ada pula sesuatu yang tidak
mengena hatinya. “Ong Toako. Louw Siok siok siang malam
memikiri kita, kenapa kau tak mau menemuinya untuk
membicarakan urusan yang lain dengan jelas?”
Ong Toa Sie seng tidak senang mendengar kata kata ini.
“Louw Siok siok, Lojw Siok siok, hemmmm demikian mesra
kau membahasakan dia!” Tangannya bergerak dengan
sembarangan, tapi bertenaga besar. Tenaga ini sengaja
dikebutkan menuju Tjiu Piau. Dengan sepenuh teaaga Tjiu
Piau baru dapat menangkis kebutan ini. Tjiu Piau. berpikir;
“Hari ini dengan susah payah dapat berjumpa dengan
saudara Ong. Dari itu tidak-boleh membuang kesempatan.
Ia tidak mau tinggal, biar aku mengikuti dia pergi. Sekalian
menjelaskan duduknya hal yang sebenarnya. Segera ia
berkata; “Baiklah kita berlalu!”
Hoo Pan tertawa sambil berkata : “Untung datang
mudah, tapi berlalu tidak semudah datang. Tjiu Tit jie,

89
kenapa kau tak menahan tamu, berbalik kena diajak tamu?
Ketahuilah olehmu tiap tiap tamu yang lewat di Ban Liu
Tjung hari ini. Pasti mendapat penghormatan untuk sama
sama dahar! Sesudah kenyang dan puas baru boleh
berlalu.” Sesudah bicara, Tiam Hiat Kiamnya melintang
menghadang jalan. Pek Sek Sie seng (si Seratus lidah)
membunyikan pipa besinya dengan nada irama sedih.
Sehingga suasana berubah menjadi demikian menyayatkan
sukma, hening membenamkan pikiran orang ke dalam
duka— Tiba tiba ada suara orang dari belakang
memecahkan kesunyian yang sedih ini. “A-pa benar Ong Tit
djie datang?” Kedatangannya ini tidak menerbitkan suara.
Siapa dia, siapa dia, siapa lagi kalau bukan Louw Eng.
Katanya ia ingin ke luar ru nah untuk setengah bulan
lamanya. Tidak tabunya kata kata itu hanya untuk pelabu
saja. Yang benar ia tengah bersandiwara. Hatinya ingin
lekas lekas dapat mengetahui kediamannya dan anak
anaknya mendiang saudara angkatnya dari Tjiu Piau. Orang
ini bekerja tanpa kentara, Tjiu Piau ditahan beberapa hari
tanpa ditanyai hal hal ini, juga dengan sengaja menyuruh
Tjen Tjen untuk menemani Tjiu Piau bermain. Di balik itu
diam-diam mengawasi sepak terjangnya Tjiu Piau. Sesudah
beberapa hari berlalu tanpa dapat mengorek sesuatu dari
mulut Tjiu Piau. Di luar tahu siapa siapa barang barang
bawaan Tjiu Piau digerayanginya dan diperiksa satu peisatu.
Sebab kelalaian Tjiu Piau seketika, yakni tidak membawa
sajak pemberian saudara Ong di badan. Sehingga hal ini
dapat diketahui Louw Eng. Dua baris dilihat Louw Eng
dengan hati hari. Ia sadar dua baris sajak itu mempunyai
hubungan erat dengan peristiwa Oey San dimasa dulu.
Melihat pula bahwa surat itu ditulis memakai darah,
menandakan darah yang baru. Diingat-ingat sesuatu
dengan teliti, sesudah dikaji sebentar, sadarlah dan
mengetahuilah. Dua Sie seng besar dan kecil melepas
senjata rahasia kepada Tjiu Piau. Tapi ia tidak mengetahui
makna dari sajak itu. Juga tidak dapat memastikan bahwa
dua Sie-seng itu adalah keturunan dari keluarga Ong.

90
Untuk mengetahui ini dengan diam-diam Louw Eng
mengatur akalnya. Dicarinya Pek Sek Sie-seng dan Hoo Pun
untuk menyamarsebagai Ong Kee Sie seng. Tjiu Piau dapat
dipancing dengan akal ini. Dengan kepandaian lidahnya Pek
Sek Sie seng berhasil mengorek keterangan dari mulut Tjiu
Piau, sedangkan Louw Eng sendiri sebelumnya sudah
bersembunyi di balik batu untuk mendengari pembicaraan
mereka. Di luar perkiraan hal ini menimbulkan suasana
yang ramai. Persaudaraan Ong menampilkan diri di luar
perkiraan orang. Louw Eng sangat girang. Dipikatnya ikan
besar masuk kedalam jaring, tapi ia tak tergesa-gesa
menarik jalanya itu.
Waktu Pek Sek Sie seng membunyikan pipa besinya, ia
ke luar dari tempat persembunyiannya. Terkecuali dari Pek
Sek Sie seng dan Hoo Pun yang lain terkejut heran.
“Louw Siok siok, saudara ini adalah Ong Toako. Mari
kuperkenalkan.” kata Tjiu Piau. Ong Toa Sie seng matanya
membara, memberalak memandang Louw Eng. Dari
matanya seolah olah ke luar api yang menembus dan
menghanguskan tubuh Louw Eng, Louw Eng tak enak rasa,
kena tusukan sinar mata membenci itu. Keadaan menjadi
hening dan sepi untuk seketika lamanya.
Louw Eng berbalik badan menghadapi Hoo Pun dan Pek
Sek Sie seng, lalu berkata: “kalian berdua bukan anak kecil
lagi! Kenapa masih gemar melakukan pekerjaan anak kecil
semacam ini? Kalian kira lucu? Apa maksudmu melakukan
permainan ini? Sulgguh tak bermalu!”
Di antara tujuh Kouw Hoo Pun paling akur dengan Louw
Eng, dari itu ia menjadi orang kepercayaan Louw Eng yang
sangat diandalkan. Hoo Pun tentu saja mengerti maksud
Louw Eng yakni ingin menumplekkan semua kesalahan ini
pada mereka berdua. Hoo Pun mengetahui Ie Kim Wan
adalah orang yang kenamaan di dunia Kang Ouw. Tentu
saja tidak mau begitu saja menerima makian serupa itu.
Dari itu lekas-lekas ia berkata: “Toako hal ini semua Siau
tee yang sa’ah. Hal ini dilakukan karena Siau tee bertaruh
dengan Ie-heng, untuk mencoba kepandaian lidahnya itu.

91
Sehingga mengakibatkan terjadinya kelakar ini. Dari itu
mohon beribu maaf?”
“Apakah ini termasuk juga urusan bergurau?” tanya
Louw Eng dengan gusar tubuhnya bergerak seperti kilat,
dua jeriji tangannya berkelebat di samping Hoo Pun Secara
mentah-mentah pedang Hoo Pun kena dijepit dan direbut,
“dasar kuya!” katanya. Berbareng menyusul suara trang tak
pedang itu kena dijepit patah jerujinya, Patahan pedang
berjatuhan di tanah!
Amarah Louw Eng masih belum reda, kembali mulutnya
nyapnyap: “Enyahlah kalian dari sini! Menunggu apa lagi di
sini?” Hoo Pun buru buru memungut patahan pedangnya
dan mengundurkan diri sambil mengangguk anggukkan
kepalanya. Sebaliknya Ie Kim Wan. ia merasa tidak senang
“Semula aku datang untuk membantu atas permintaanmu
sendiri. Siapa yang kesudian dimaki maki kamu?” pikirnya.
Sudah itu tanpa ba atau bu, ia berlalu dengan sombong
Sambil meniup lagi pipanya dengan lagu kematian yang
sangat sedih!
Louw Eng tidak mau meladeni. Sebaliknya dengan mesra
ia memanggil. “A Pang.” ketahuilah inilah nama kecil dari
Ong Toa Sie-seng. Biasanya suara panggilan ini hanya
dapat didengar kalau ibunya memanggil. Kini mendadak
mendengar suara ini ke luar dari mulut Louw Eng. Dengan
terpaksa ia menyahut ‘eh’.
Louw Eng berkata pula: “A Pang kini kau lebih besar dari
ayahmu. Tuhan sungguh pemurah Ong Toako pun akan
merasa senang di alam baqa. Tit djie kepandaianmu
sungguh lihay, semua sudah kusaksikan barusan. Berlatihlah
beberapa tahun lagi, tenagamu pasti menjadi besar dan
ilmumu bertambah lihay. Sehingga bisa menggolongkan diri
di dunia Kang Ouw sebagai orang gagah kelas satu.” Sambil
bicara kakinya sambil mendekati, perlahan lahan pundak A
Pang ditepak tepak. A Pang merasa serba salah dan tak
dapat ngadat. Mendengar Louw Eng menyebut nyebut
ayahnya, teringat ia akan pesan ibunya.
“Louw Eng membunuh ayahmu, itu sakit hati keluarga.

92
Dia sebagai anjing bangsa Boan, entah berapa banyak
penyinta negara binasa di tangannya, ini sakit hati negara.
Sakit hati keluarga belum dapat dipastikan, tapi sakit hati
negara sudah pasti. Hal keluarga adalah kecil, hal negara
adalah besar.”
Karena memikir hal ini, perasaannya terhadap Louw Eng
menjadi tetap dan tak merasa sukar pula untuK
menghadapinya. Akan tetapi pada saat ini juga
punggungnya merasakan panas, suatu tenaga maha besar
menindihnya. Dalam kagetnya tenaga dalamnya bergerak
melawan. Siapa kira tenaga menekan itu berat sebagai
gunung Thai San dan ringan seperti kapuk. Kalau ia tak
mengerahkan tenaganya, tenaga menekan itu segera
menjadi ringan. Kalau ia mengerahkan tenaga, tenaga
menekan itu turut bertambah sebanyak tenaga yang
dikeluarkan! Hal ini membuat hatinya A Pang menjadi
cemas, ingin hatinya melepaskan diri dari tangan setan
Louw Eng itu. Tapi tangan Louw Eng yang mengusap-usap
itu tak mau lepas lepas, agaknya sudah melekat saja !
Hal ini membuat A Pang menyesal, hatinya berpikir: “Ah.
sebab kelalaianku aku kena akal Louw Eng. Kini asal ia
mengerahkan tenaganya jiwaku pasti melayang. Ibu …. oh
iba. capai lelahmu untuk mendidik aku guna mengetahui
tentang kematian ayah dan membalas sakit hati, nyatanya
sia sia belaka!” Pikirannya baru Sampai di situ, tenaga di
pundaknya terasa kendur. A Pang tak ragu ragu lagi,
dengan sekuat tenaga ia membalik badan secepat mungkin.
Ber — ber tangannya bekerja mengirimkan dua serangan
beruntun. Sebenarnya Louw Eng sudah berpikir untuk
membinasakannya, tapi pikirannya berubah dengan cepat,
“empat orang yang kucari sudah tiga berada di tangan.
Lebih baik kuselesaikan saja nyawa mereka terlebih
dahulu”. Waktu akan turun tangan hatinya kembili berpikir,
“Kenapa harus tergesa gesa? Biarlah mereka tinggal hidup
dulu, masih ada gunanya.” Dari itu tenaga di tangannya
dikendurkan dan A Pang dapat melepaskan diri.
A Pang menyerang dengan ganas, Louw Eng sengaja
mengalah, serangannya itu tidak ditangkis, melainkan

93
diegos ke kiri dan kanan! Sebaliknya A Pang jurus demi
jurus menyerang dengan gencar! Pukulan bukit barisan
dipergunakan dengan cermatnya, sedikitpun tidak memberi
kesempatan kepada lawan. Sampailah pertandingan di jurus
ke tujuh, A Pang dengan tiba tiba saja memutar ke
belakang tubuh Louw Eng. Tangannya berbareng diangkat
dan ditebaskan dengan ganas ke pundak Louw Eng. Louw
Eng terancam serangan ini secara hebat. Serangan ini tak
mungkin untuk diegos atau dikelit lagi. Mau tak mau Louw
Eng terpaksa harus mengeluarkan tangan untuk menakis.
Tubuhnya berbalik, tangannya terangkat naik untuk
menakis. Di luar perkiraan orang tenaga A Pang itu
terlampau keras, tak mungkin dapat disambut oleh
kekerasan. Terpaksa Louw Eng mundur beberapa tindak.
“Kiranya ilmu pukulan Bukit Barisan yang terdiri dari
delapan jurus lihay, kini sudah mendapat tambahan jurusjurus
yang indah dan Hoa San Kie Sau,” kata Louw Eng
sambil memasang mata.
Kiranya Hoa San Kie Sau yang disebutkan Louw Eng
bukan orang lain. Yakni orang tua berambut putih yang
datang bersama dua saudara Ong. Ia adalah Su-heng. Ia
bernama Nio Tay!
Adapun Nio Tay senang bergelandangan dan mengembara
melebihi dari Ong Tie Gwan. Sesudah ia berusia empat
puluh lima tahun. Ia mengundurkan diri dari dunia Kang
Ouw. Sebaliknya untuk melewatkan hari, ia berdiam di Hoa
San. Hoa San adalah gunung indah, di lereng gunung
terdapat kupel untuk beristirahat kaum pelancong. Di kupel
itu terdapat pula tempat bermain catur. Nio Tjay setiap hari
pergi ke sana membawa anak catur untuk melewatkan hari
sambil menghibur diri dengan anak-anak catur. Demikianlah
pekerjaannya setiap hari, yakni mengajak pelancongpelancong
itu menanyakan namanya. Jawabnya selalu Hoa
San Kie Sau (biji catur dari Hoa San)
Terkecuali dari bercatur. Setiap hari Nio Tjay menikmati
keindahan pemandangan gunung kenamaan ini Bukitbukitnya
yang indah, tebing tebingnya yang keren serta

94
sejuknya udara dan suasana tenang ini, membuat Nio Tjay
mengenangkan pada tempat tempat dan gunung gunung
yang kenamaan yang sudah pernah dijelajahnya. Pikirannya
bekerja siang dan malam. Akhirnya ia berhasil menciptakan
ilmu pukulan tersendiri.
Jurus dan gerakan gerakan dari ilmu pukulannya
mengandung suasana pegunungan. Tenang adem, sejuk
sepi, seram berbahaya, berubah-ubah tak dapat diselami.
Ilmu bukit barisan ini sangat terkenal di dunia Kang Ouw.
Delapan belas tabun yang lalu ilmu pukulan ini hanya terdiri
dari delapan jurus seperti yang disebutkan Louw Eng. Tapi
keanehan di alam fana sungguh luar biasa, perubahan
perubahan terjadi di luar perkiraan orang. Misalkan gunung
runtuh tanah longsor dan lain-lain yang tak perlu disebut
satu demi satu. Dari hal inilah Hoa San Kie Sau sudah
berhasil menambah jurus jurus lihay yang tidak dikenal
Louw Eng.
Sesudah Ong Tie Gwan meninggal dunia, isterinya
membawa anak anaknya menemui Nio Tjay. Sesudah
berulang kali memaksa akhirnya Nio Tjay menerima kakak
beradik ini sebagai muridnya. Hoa San Kie Sau terkecuali
memberikan ilmu pukulan dan perburuannya, juga
memberikan ilmu ciptaannya sendiri pada dua muridnya itu.
Kini pertemuan Oey San sudah hampir sampai. Hoa San
Kie Sau menemani Kedua saudara Ong turun gunung.
Sebelum itu ia berjanji lebih dahulu, yakni begitu sakit hati
Ong Tie Gwan terbalas, sebera ia akan kembali ke Hoa San
untuk bermain catur lagi.
Pukulan Ong Toa Sie seng walaupun lihay, tapi
peryakinannya belum sampai, titik sempurna. Biar begitu
tekanan lengannya bagai puncak gunung runtuh kerasnya.
Karena Louw Eng memandang rendah dan mengalah,
dalam gebrakan ini hampir hampir kena dirugikan.
Louw Eng mengawasi dengan teliti setiap pukulan lawan
sambil memasang kuda kuda. Tampak tubuhnya Ong Toa
Sie seng mencelat naik, sepasang lengannya berputar-putar

95
menderu deru membawa angin yang keras. Dari atas
menurun menyergap lawan.
“Inilah pukulan Puncak Gunung Aneh Terbang
Mendatang!” seru Ong Toa Sie seng dengan keras.Louw Eng
tidak menunggu suara habis sudah meloncat sejauh dua
tumbak menghindarkan serangan ini. Ong Toa Sie seng
membayangi dari belakang sambil mengirimkan lagi sebuah
pukulan. Louw Eng tidak mengegos lagi ditangkisnya
serangan itu. Lagi lagi ia tergempur mundur.
“Kembali jurus yang lihay!” puji Louw Eng sambi berseru.
Tidak tahunya Louw Eng sengaja pura-pura tidak kuat
menahan dan mundur beberapa tindak. Semata-mata untuk
mengetahui pukulan baru yang bagaimana sudah diciptakan
Hoa Son Kie Sau. Hal yang sebenarnya tenaga dan
kepandaian Loaw Eng sudah berlebihan untuk menghadapi
bocah umur dua puluhan ini Tapi pertarungan ini agaknya
luar biasa. Walau pun tenaga Ong Toa Sie-seng tidak
memadai tenaga Louw Eng. Tapi pukulan pukulannya dari
ilmunya luar biasa lihay dan tak boleh dipandang enteng.
Louw Eng berhasrat untuk memancing kepandaian lawan
guna mengetahui dan menyelidiki ilmu pukulan lawan.
Kendati kekurangan kekurangan dan lowongan lowongan
didapat dari sang lawan, sekali kali Louw Eng tidak berniat
menurunkan tangan jabat Ia membuat pertarungan selalu
berjalan dengan seimbang. Dengan cara begini tak urung
Louw Eng setengah mati juga menghadapi serangan
serangan bocah ini.
Sepuluh jurus berlalu, Louw Eng sudah menghiturg jurus
jurus baru dari Hoa San Kie Sau yakni tidak lebih dan tak
kurang terdiri dari enam belas rupa, di gabung dengan yang
lama cukup menjadi dua puluh empat jurus. Diam-diam
louw Eng menjadi kaget. Hitinya berpikir: “Apakah pukulan
pukulan ini tak habis-habisnya dan dapat ditambah lagi?
Bagaimana kalau Hoa San Kie Sau sendiri yang memainkan
ilmunya ini. Ah benar benar aku tak boleh memandang
enteng.”

96
Ong Toa Sie seng mengetahui Louw Eng mengulur ulur
waktu, tapi tak mergetahui apa maksudnya yang dikandung
Louw Eng. Ia sendiripun sengaja mengulur waktu, untuk
mencari ketika guna melarikan diri. Pertarungan sudah
berlangsung demikian lamanya, Ong Toa Sie seng hatinya
merasa heran dengan tak munculnya sang adik. Sepuluh
jurus kembali berlalu, hatinya semakin cemas, sambil –
menghalau serangan serangan lawan ia memanggil
adiknya; “Moy Tju (adik perempuan) tiup angin selatan!”
Tanda ini diberikan dengan artian agar sang adik lari
menurut angin ke utara. Berulang ulang ia berteriak-teriak
tanpa mendapat jawsban. Ingin hatinya melompat untuk
menjenguk sang adik. Tapi Louw Eng melibatnya dengan
serangan-serangan hebat.
Dalam kecemasannya Ong Toa Sie seng merasa
menyesal, hatinya mengeluh :”Kalau tahu begini tak:
sepatutnya aku membohongi Suhu untuk melakukan
penyelidikan malam ini.”
Kiranya Sesudah terjadi perkelahian di mulut goa tempo
hari. Ong Kee Sie seng ingin menemukan Tjiu Piau dengan
tak sabar. Tapi mereka selalu dilarang oleh gurunya. Kerena
itu kedatangan mereka malam ini ke Ban Liu Tjung adalah
di luar tahu Hoa San Kie Sau.
Ber — ber— ber- – Louw Eng melakukan serangan hebat,
Ong Kee Sie-seng tak dapat menangkis, mundur serba
salah. Louw Eng berbasil dengan tangan kirinya menangkis
kedua lengan lawan. Tangan kanannya seperti kampak
membacok turun. Dalam keadaan genting ini Ong Toa Sieseng
meng-ambil putusan tekad. Pikir hatinya, kukerahkan
semua tenaga dalamku ini untuk menangkis dan kubarengi
menyerang ulu hatinya. Biar sama sama menemui ajal!” Di
perhatikan turunnya tangannya Louw Eng dengan mantap.
Siapa tahu lengan Louw Eng mendadak terhenti di udara.
Kedua orang ini dia tidak bergerak. Matanya terbuka lebar
saling melotot, kedua mata Ong Toa Sie-seng berapi api,
sebaliknya Louw Eng matanya sayu, sehingga sukar
diketahui hatinya. Kemudian Louw Eng membatalkan

97
serangannya itu sambil mundur ke belakang. Dengan ramah
tamah ia berkata: “A Pang mengertikah kau akan hatiku?
Kita adalah orang serumah. Jika kau menganggap aku Sioksiok
silahkan datang ke Ban Liu Tjung. Kita dapat bicara
dengan tenang untuk menghilangkan salah faham ini,”
A Pang tahu apa yang harus dilakukan. Kata kata Louw
Eng sedikitpun tak didengar, seratus kali tak didengar! Ia
bersiul sambil memanggil adiknya: “Moy Tju!”‘
“Kau ingin mencari Tit-lie (keponakan perempuan)
akukah? Ia sudah melulusi permintaanku untuk bermalam
beberapa hari diBan Liu Tjung!” kata Louw Eng, “Tjen djie
ke luarlah!”
Batu batu aneh itu bergerak, Tjen Tjen sambil tertawa
jalan ke luar.
“Ayah, nenek-nenek yang menyamar laki-laki ini,
walaupun tadi berbasil menotok Jalan darahku. Tapi kini
mendapat gilirannya.
*Aku sudah mengikatnya seperti lepat!” Ong Toa Sie
seng agak ragu-ragu mendengar ini. Ia tahu kepandaian
sang adik bukan dari golongan kampungan. Tambahan
mengenal keadaan tempat. Kenapa tidak keruan keruan
dapat dikalahkan bocah berandalan ini?
Tidak tahunya sewaktu dua saudara menampak Tjen
Tjen membuntuti Tjiu Piau.sang adik diam-diam
mendekatinya dengan dialingi batu batu itu tanpa disadari
Tjen Tjen. Dengan cepatnya Tjen Tjen disergap dan ditotok.
Jilid 4
Tjen Tjen merasakan angin dingin berkesiur di belakang
tubuhnya. Ia sadar ada yang membokong, badannya segera
berbalik, tangannya menjambret tangan lawannya.
Lengannya itu seperti ular, ketemu apa, apa dilihat. Tangan
penyerang dengan segera kena dililitnya. Kelincahannya ini
tak ada taranya, tapi tenaganya tidak melawan tenaga
lawan yang demikian kuat. Ia merasakan jalan darahnya

98
menjadi beku kena totokan lawan. Lengannya menjadi kaku
tak berkutik, sebab inilah tangannya terus melilit lengan
sang lawan tak lepas-lepas. Dua dua berlibat menjadi satu
tak dapat melepaskan diri.
Tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat di belakang
mereka. Ong Siau Sie seng merasakan punggungnya kaku,
kena totokan orang. Nyatanya orang ini adalah Louw Eng,
yang secara kebetulan sekali tengah menantikan di samping
batu besar ini. Louw Eng buru-buru membebaskan jalan
darah sang puteri. Dititahkannya Tjen Tjen mengawasi
perempuan penyamar laki laki itu. Ia sendiri keluar untuk
menghadapi Ong Toa Sie seng.
Mengingat kena ditotok gadis ini. Tjen Tjen menjadi
dongkol sekali. Tanpa banyak pikir lagi jari-jarinya menotok
berkali kali ke tubuh orang secara keliwatan! Sesudah itu
diikatnya tubuh orang seperti lepat. Ia sendiri menonton
bapaknya bertarung! Tjen Tjen Ke luar dari batu-batu waktu
mendengar panggilan sang ayah.
Louw Eng mendengar ia mengikat gadis itu demikian
macam. Pura pura bergusar sambil membentak: “Begitukah
caranya memperlakukan tamu? Lekas kau persilahkan ia
datang!”
Tjen Tjen menbalik badan sambil melelet leletkan
lidahnya. Ong Toa Sie seng melihat dia ke luar lagi
menenteng tubuh adiknya. Tubuh adiknya yang sudah tak
berdaya itu digabruki ke tanah. Sing adik tidak berdaya,
matanya mendelik menunjukkan kegusarannya yang
memuncak.
Kiranya waktu Tjen Tjen melepaskan Ong Siau Sie seng
ke tanah. Tangannya memegang ujung tali pengikat. Begitu
ujung tali ditarik tali itu lepas semuanya. Bahkan tubuh Ong
Siau Sie seng tidak jatuh ke tauah, sebaliknya berdiri tegak
sambil berputar putar seperti gangsing! Tjen Tjen berwatak
senang bergurau. Demikianlah tubuh orang diikat dan
dipermainkan seperti panggal.
Ong Toa Sie seng begitu melihat adiknya segera

99
menubruk seperti terbang Tjen Tjen dengan seenaknya
melempari ujung tali dari tangannya ke arah Ong Toa Sie
seng. Tali itu demikian halus dan tak bertenaga. Sedikit pun
tik diperdulikan dan dipandang oleh Ong Toa Sie seng.
Siapa nyana tali itu seperti seekor ular, melipat tangannya
dengan erat sekali. Begitu Tjen Tjen menggerakkan
tenaganya Ong Toa Sie-seng tak dapat bergerak lagi!
Ong Toa Sie seng merasa kaget, “Bocah ini mempunyai
tenaga yang demikian besar sekali? Aneh betul!” pikir
hatinya. Waktu ia menoleh untuk mengawasi, entah kapan
ujung tali pengikat ini sudah berada di tangan Louw Eng. Ia
tak heran lagi tenaga ini demikian besar.
Louw Eng menteriaki orang orangnya untuk membawa
Ong Siau Sie seng ke dalam Ban Liu Tjung untuk
beristirahat. Saat itu juga beberapa orang ke luar dari
tumpukan batu. Yang mempelopori adalah Hek Pek Djie Hoo
Ong Toa Sie seng melihat adiknya di bawa orang, diamdiam
hatinya merasa susah. Matanya melirik ke sekeliling,
tampak Louw Eng masih memegangi tali seperti tadi,
sedikitpun tidak menunjukkan habis berkelahi.
Tjen Tjen tertawa tawa kegirangan melihat keramaian
ini. Tjiu Piau berdiri di lampingnya dengan pikiran
melayang-layang tak bertujuan Ong Toa Sie seng berpikir:
“Baiklah aku pergi ke Ban Liung Tjung, sebab adik ku
ditawan orang. Saudara Tjiu pun belum kuketahui
bagaimana pikirannya. Aku harus mencari ketika untuk
bicara dengannya.”
“Anak yang baik. Mungkin kau belum puas dengan
pertarungan tadi. Silahkan kau pertunjukan lagi
kepandaianmu!” kata Louw Eng menyindir.
Ong Toa Sie seng diam tidak menjawab. Hanya tampak
ujung tali yang mengikat lengan kirinya tiba tiba menjadi
tegak rata sebagai toya. Louw Eng sedikit kaget, sadarlah ia
bahwa tenaga dalam bocah ini adalah dari golongan kelas
utama. Ia telah bergerak, tahu tahu ujung tali yang berada
di tangannya turut berdiri. Tenaga dalam dari dua orang ini

100
mengalir melalui tali ini dan bertemu di tengah tengah.
Masing-m?sing mengempos tenaganya. Tiba tiba “tas!” tali
itu putus menjadi dua. Ong Toa Sie seng diam diam
merasakan dahinya berkeringat. Tangannya dikebaskan
sambil tertawa dingin Tali yang sudah putus itu jatuh di
tanah.
“Atas kebaikan tuan tuan demikian besar,yang rendah
terpaksa tak menampik bertandang dan ganggu Bin Liu
Tjung yang mulia.”
Ramai ramai orang banyak mengangkat kaki menuju Ban
Lui Tjung. Louw Eng merasa gembira dan puas. Delapan
belas tahun yang lalu, janda-janda dan anak anak dari tiga
saudara angkatnya, tiba tiba hilang dalam semalaman dan
tidak diketahui di mana rimbanya. Hal ini menyebabkan
hatinya tak tenang. Penderitaan batin di derita selama
kurang lebih 30 tahun lamanya. Dalam waktu demikian
lamanya ini, tak pernah wajah mukanya menunjukkan
kekuatiran naiinya itu. Apa yang tampak pada wajahnya
hanya perasaan menanti dan rindu pada keponakan
keponakan dari mendiang saudara saudara angkatnya itu.
Tambahan hal ini sering dikata katakan pada kawan
kawannya selama delapan belas tahun sehingga orang
percaya bahwa ia mempunyai hati yang baik itu.
Bahkan orang orang kepercayaannya seperti Mau San
Djie Hoo, Hoo Pun juga tidak mengetahui hal yang
sebenarnya. Kira mereka Toako sudah mendapatkan
keponakannya. Antara mereka terjadi salah faham,
sehingga terjadi pertarungan.
Louw Eng tergirang mendapatkan tiga diantara empat
anak yatim itu. Tambahan sudah mengetahui di mana ibu
Tjiu Piau bsrdiam. Tinggal dua janda dan seorang anak yang
belum diketahui.
“Pada suatu hari pasti dapat kucari mereka. Kalau sudah
lengkap sekaligus kubersihkan mereka dari permukaan
bumi. Dengan jalan ini perbuatanku yang kurang baik itu
tak dapat diketahui lain orang,” pikir Louw Eng dengan
asyik. Pikiran ini semata mata untuk menutupi perbuatan

101
kejinya yang memalukan, di balik itu untuk menjamin
keselamatan jiwanya pula. Memang terkecuali dan ia
sendiri, kiranya hanya beberapa orang ini saja yang
mengetahui sedikit akan perbuatannya yang buruk itu.
Sesudah berpikir demikian Louw Eng merasa gembira,
senyum manis menghias mulutnya! Inilah senyum wajar
yang benar-benar ke luar dari sanubarinya.
Oiang orang tengah bergembira, sambil jalan sambil
bercakap cakap serta tertawa-tawa. Waktu mereka sampai
di bawah kaki gunung, tiba tiba dari atas mendatang
seorang tua berambut putih dengan kecepatan seperti
terbang!
“Suhu!” panggil Ong Toa Sie seng. tapi orang tua itu tak
menolongnya, sebaliknya menerjang bagai air bah pada
pagar manusia itu. Tanpa diketahui bagaimana caranya,
tahu tahu lengannya sudan mengempit seseorang. Sesudah
itu kembali berlalu bagai bayangan!
Orang orang banyak tak ubahnya seperti kesima. Mereka
hanya dapat mengeluarkan sekali, tapi tidak keburu untuK
menggerakkan tangannya.
Louw Eng otaknya tetap tenang, ia berseru. “Saudarasaudara
harap sabar! sekalikah jangan mengejar! yang
penting kita harus melayani tamu-tamu ini!” Dirinya sendiri
tetap berdiri dekat kedua saudara Ong. Setengah tindakpun
ia tak berkisar.
Malam hari Hoa San Kie Sau tidak melihat dua saudara
Ong berada di penginapan. Pikirannya memastikan mereka
pergi menyelidiki lagi Ban Liu Tjung. Lekas-lekas ia
menyusul, sebab hatinya tak merasa tenang. Sayang
kedatangannya terlambat. Dua saudara Ong sudah jatuh ke
tangan Louw Eng. Musuh terdiri dari jago – jago rimba
persilatan, sebaliknya ia hanya seorang diri. Pemain catur
ini berpikir : “Lebih banyak celakanya dari untungnya kalau
Menteri berani sembarangan masuk wilayah musuh tanpa
pengawal. Lebih baik diam dulu tak bergerak untuk
menantikan ketika.”

102
Terlihat rombongan Louw Eng dengan kegirangan
berlimpah limpah kembali pulang. Tjen Tjen gemar bermain
main, lari sana lari sini jauh dari rombongan. Pemain catur
ini mendapat ketika baik, rubuhnya seperti terbang
menyergap Tjen Tjen, Satu langkah yang terlalu berani di
jalankan dengan berhasil!
Dengan cara dan perhitungan caturnya ia mengharapkan
orang orang terpencar untuk menolong Tjan Tjen. Ia sendiri
akan berbalik arah untuk menolong dua muridnya. Harus
diingat kepandaian saudara Ong sudah termasuk lihay Asal
saji Louw Eng dan kawan kawannya berlalu setindak saja,
mereka pasti dapat melolosi diri. Tambahan dapat
sambutan dan gurunya, cara ini pasti berhasil baik.
Bilamana tipu ini gagal, Tjen Tjen sudah di tangan,
keselamatan dua saudara Ong sudah terjamin. Pokoknya
sudah menang satu atap.
Loaw Eng sebagai jago Kang Ouw yang sudah kawakan,
tenang tenang saja waktu melihat Hoa San Kie Sau
menampakkan diri. Tapi ia tak mengira Hoa San Kie Sau
berani mengambil langkah berbahaya ini. Sehingga
puterinya kena ditawan. Hatinya berpikir: “Kie Siu tidak
mungkin mau mecelakakan Tjen Tjen semasa saudara
saudara Ong berada di tanganku. Yang perlu kedua bocah
ini tak boleh terlepas, sekali terlepas sukar didapatnya
kembali.”
Ia menyuruh kawan-kawannya melanjutkan perjalanan
menuju pulang. Wajahnya sedikitpun tak menunjukkan
perubahan, Sementara itu Hoa San Kie Sau sudah hilang
dari pandangan mata.
Ong Kee Sie seng mengerti maksud gurunya- Hatinya
menjadi lapang. Ia dongak ke langit sambil bersiul-siul
kecil!
Louw Eng tidak berkata kata, menurut perhitungannya
Hoa San Kie Sau cepat atau lambat pasti akan datang
menyatroni mereKa. Tiba tiba dipanggilnya Mau San Djie He
dan dibisikinya beberapa patah. Djie Hoo mengangguk
anggukkan kepalanya dan berlalu dengan cepat.

103
Sebenarnya Louw Eng berpikir akan berbelok jalan, tak
kembali ke Ban Liu Tjung. Sesudah bulak balik pikir,
akhirnya diambil keputusan untuk kembali ke Ban Liu Tjung
dulu terlebih baik. Saat ini pasti Kie San
membuntutinya,sesudah kembali ke kampung baru berbalik
jalan. Cara ini di lakukan diam diam tak diduga duga, pasti
dipat melepaskan diri dan Kie Sau. Dari itu disuruhnya Djie
Hoo melakukan tugas ini.
Malam hari dua saudara Ong dan Tjiu Piau menghadiri
perjamuan yang diadakan Tjung Tju. Louw Eng bicara ke
barat ke timur menceritakan keadaan dunia Kang Ouw.
Sedikitpun tidak menyinggung -nyinggung urusan lama atau
bertanya keadaan mereka sekarang. Yang ditanyai ialah
nama kedua saudara Ong. Yang besar bernama Ong Djie
Hai yang kecil bernama Ong Gwat Hee. Dua nama ini
masing masing di ambil dari sajak yang dipunyai mereka
sendiri. Louw Eng sudah mengetahui dua baris kata-kata
dari sajak itu bertalian besar dengan urusan Oey San. Diam
diamnya sajak itu diingatnya di dalam hati.
Ong Djie Hai menggunakan ketika memberi tanda pada
adiknya. Agar tenang dan menunggu ketika baik untuk
bergerak. Mereka minum air kata-kata dengan tenang agar
tidak dicurigai orang orang Ban Lui Tjung. Siapa tahu
perjamuan belum selesai ketiga orang ini sudah mabuk tak
sadar diri. Apa yang diminum mereka kiranya adalah arak.
bercampur obat pulas khas buatan Ban Liu Tjung. Obat ini
sedikitpun tidak mengeluarkan bau, buatannya sangat teliti.
Barang siapa terkena, akan mabuk selama dua belas jam.
Waktu sadar kembali tak ubahnya merasakan diri seperti
mabuk arak biasa. Sehingga takkan mempunyai sangkaan
dikerjakan orang.
Ketiga orang ini tengah mabuk. Tiba tiba terdengar suara
berisik dari para pelayan dan pegawai Ban Liu Tjung,
Mereka berserabutan sambil berteriak: “Api . . api .
kebakarannnnnnnnn! ! !” Kebakaran ini terjadi secara
mendadak. Louw Eng tenang tenang saja melihat kesibukan
orang. Sebab hal ini terjadi atas titahannya pada Mau San
Djie Hoo. Louw Eng menjadi orang selalu berhati penuh

104
curiga, tindakannya selalu hati hati. Ia merasa Ban Liu
Tjung sudah kena diselidiki orang. Sengaja membakarnya,
menggunakan orang sibuk dan kalut, ia berlalu bersama
Djie Hoo. Tong Leng Ho Siang, Peng San Hek Pau serta tiga
anak itu melalui jalan tanah. Di mulut goa Hoo Pun sudah
menantikan, mereka naik kuda dan hilang dalam kepulan
debu.
Sebelum berlalu Louw Eng meninggalkan surat pada Hoo
Pun untuk disampaikan pada Ouw Yu Thian. Dalam suratnya
itu Louw Eng memesan untuk melakukan sesuatu menurut
rencana.
Hari kedua dikala senja, Ong Gwat Hee pertama tama
yang layap layap sadar dari mabuknya. Ia merasakan tubuh
seperti di ayun ayun dan tidur dalam gumpalan awan.
Matanya terbuka, ia kaget dan neran mendapatkan dirinya
di sebuah perahu kecil yang terumbang ambing di sungai.
Lekas-lekas ia bangun, diamat amati keadaan seKelilirg.
Suatu pemandangan dan hutan belantara yang terawat
manusia terbentang di kiri kanan dengan indahnya.
Perahunya berjalan di sebuah sungai yang berliku liku
dengan cepatnya.
Gwat Hee menjadi merah pipinya. waktu mendapatkan
Tjiu Piau masih tidur nyenyak di sisi tubuhnya. Diperiksa
paVaiannya tak ada perubahan tetap masih seperti
sediakala. Gwat Hee semenjak kecil selalu memakai pakaian
laki-laki. Tambahan sudah lama mengikuti gurunya
mengembara di dunia Kang Ouw Sehingga tidak pemaluan
lagi seperti gadis gadis lain. Kini mendapatkan seorang
pemuda yang sebaya dengannya tidur bersama sama. hal
ini membuat ia merasa mslu. Terkecuali dari juru mudi,
hanya dialah berdua. Kagetnya tak terkira.
“Kakakku? Ke mana dia? Ini tempat apa? Benarkah aku
sudah terlepas dari tangan Louw Eng dan komplotannya?”
Pikir hatinya renuh pertanyaan. Serentak ia berdiri
memandang ke tempat jauh.
Pengemudi perahu itu tertawa tawa melihat kelakuan
Gwan Hee

105
“SiauwKo sudah bangun, nyenyak benar tidurmu!”
ngomong ngomong tandannya tetap mengayuh air.
Pendayungnya itu demikian besar dan terbuat dari logam.
Paling sedikit dua ratus kg beratnya.
Pengemudi itu mengayuh seperti tidak mengeluarkan
tenaga tiap kali kayuh perahu itu seperti terbang dibuatnya.
Perahu maju ke hulu melawan air, air kena diterjang perahu
yang pesat sehingga beterbangan muncrat setinggi dua
tumbak. Membuat satu pemandangan yang langkah dan
indah sekali! Gwat Hee melihat kejadian ini semua. Ia tahu
bahwa pengemudi itu bukan orang sembarangan. Dengan
hormat ia bertanya.
“Toako, numpang tanya sudah berapa lama kami di
perahu ini? Tempat ini apa namanya?”
“Kalian demikian nyenyak sehingga tak sadar diri.
Setahuku waktu air pasang, kalian naik perahu, kini air
sudah pasang Jagi.”
Gwat Hee menghitung sehari dua kali air pasang, kini
sudah senia. Dan itu paling kurang semalam suntuk aku
mabuk.
Pengemudi itu berkata pula. “Tak lama lagi kita akan
sampai di Bu Beng Hop (sungai tak bernama).
Pemandangan di situ baru indah!”
‘Di mana letak Bu Beng Hoo?”
“Bu Beng Hoo adalah sungai yang mengalirkan air Bu
Beng Ouw (Janau tak bernama).”
“Dari Bu Beng Ouw ada lagikah terusan lain?”
“Di tengah danau terdapat Bu Beng To (pulau tak
bernama), bukankah kalian bertujuan ke sana?”
“Berapa perahukah yang seiring dengan kita?”
“Dua di depan satu di belakang.”
Gwat Hee melihat ke depan dan ke belakang, tapi tak
mendapatkan perahu itu.

106
“Kenapa tak tampak?”
“Dua perahu di depan masing masing di kayuh adikku.
Mereka lebih kuat dari pada ku, dari itu aku tak dapat
menyusulnya”
“Masa yang jadi kakak kalah oleh yang jadi adik?”
Pengemudi itu tertawa: “Mereka terkecuali bertenaga
besar, pengayuhnyapun lebih besar dari yang aku!”
Mendengar ini Gwat Hee se makin kaget. Orang ini sudah
begini kuatnya. Tapi masih ada yang melebihinya.
‘Bukan main! ‘ serunya. “Siapakah yang naik perahu di
depan?”
“Sebuah dinaiki seorang Hwee-sio gemuk dan dua orang
bermuka lancit seperti rase.
Sebuah lagi dinaiki seorang tua dan seorang muda yang
tidur nyenyak seperti kalian.” Gwat Hee agak terhibur
mendengar kakaknya berada di depan.
“Siapa pula yang naik perahu di belakang?”
“Oh, tuan rumah dan tamu tengah asyik ngobrol di
perahu itu.”
Gwat Hee menduga tamu itu Louw Eng adanya, tapi
siapa gerangan tuan rumah itu. Diamat amati pengemudi
itu. Kira kira berusia empat puluhan, mukanya persegi,
mulutnya besar, kulitnya hitam manis. Wajahnya cukup
gagah dan simpatik.
“Dapatkah aku mengetahui nama Toako yang besar?”
“Perahu berlalu tanpa meninggalkan bekas di muka air.
Orang hiduppun tak ubahnya demikian. Untuk apakah
meninggalkan nama?”
Gwat Hee kaget mendengar jawaban berfilsafat dari
pengemudi itu. Waktu mau bicara lagi, Gwat Hee
merasakan perahu menjadi miring. Tak tahunya Tjiu Piau
sudah sadar. Ia berbalik berdiri sewaktu merasakan tidur di
tempat yang aneh. Sebab ini perahu hampir diterbalikkan

107
Terlihat pengemudi itu menotolkan pengayuh ke muka air
dengan perlahan, perahu ini menjadi tenang kembali.
Terlihat mulut Tjiu Piau akan bergerak, tetapi sebelum
suannya ke luar terlebih dahulu datang suara ribut terbawa
angin mendatang dari depan.
“Di depan ada orang kecebur.” kata pengemudi itu.
Sudah bicara pengayuh besinya dikerjakan terlebih cepat,
sehingga perahu kecil ini lajunya terlebih pesat.
Mendengar ini mau lak mau Ong Gwat Hee merasa
cemas. ia taKut Ong Djie Hai sudah membuat onar dengan
orang orang di depan. Perahu laju seperti terbang tapi dua
orang penumpang itu masih merasa jambat sekali. Baiknya
begitu ke luar dari tikungan, perahu di depan sudah di
depan mata. Herannya tak ada orang di atasnya. Mendadak
dari dalam air muncul sebuah kepala orang. Orang ini Ong
Djie Hai adanya. Huppp—-hup ia menarik napas dan kelelap
lagi.
Gwat Hee berteriak tertolong tolong
ia tahu kakaknya yang besar di pegunungan melulu
mempelajari silat. Sama sekali tak dapat berenang seperti
dirinya. Ia minta Tolong pada pengemudi, iapun bertanya
pada Tjiu Piau:
‘Tjiu koko kau bisa berenang tidak? Bisa tidak?”Tjiu Piau
hanya melongo saja karena tidak becus berenang.
Pengemudi itu mendekati perahunya sambil tertawa
tawa. Sementara itu tampak beberapa kali tubuh Ong Djie
Hai timbul tenggelam sambil ngengap ngengapan menyedot
hawa.
“Lau Sam, jangan mengganggu orang, lekas ke luar!”
teriak pengemudi itu ke dilam air. Sekali ini Ong Djie Hai
muncul ke permukaan air sebatas badan. Tubuhnya
kelepekan mendekati perahu yang terkatung-katung itu.
Dengan susah payah berhasil juga ia menjambret dan naik
ke perahu itu. Sesampai di perahu tubuhnya sudah lemas,
ia terlentang ngengap ngengapan.

108
Saat ini dari dalam air muncul seseorang, dengan muka
persegi usianya masih muda kira kira dua puluhan. Ia
tertawa dan berpaling pada pengemudi perahu Gwat Hee
sambil tertawa: “Toako, bukan aku yang mengganggu dia,
melainkan ia yang mencoba aku!” Habis, berkata kembali ia
menyelam. dalam waktu sekejap kembali ia muncul dengan
sebuah pengayuh besinya yang besar. Pengayuh itu sudah
somplak sebesar pangkal lengan anak kecil.
Kiranya begitu Djie Hai sadar, tampak di sampingnya
berduduk Peng San Hek Pau, di belakangnya berduduk
pengemudi perahu dengan pengayuh besinya yang besar.
Djie Hai tak dapat berenang, tapi jarak perahu ke darat tak
seberapa jauh. pikirnya asal perahu sedikit ke pinggir, ia
dapat melompat ke darat. Sesudah mengambil keputusan.
Di ajaknya tukang perahu ngobrol. Ditanyainya bagaimana
caranya mengemudikan perahu. Sementara tangannya
memegang – megang pengayuh orang, dicobanya sekuat
tenaga mengayuh perahu agak ke pinggir. Begitu
tenaganya dikerahkan, tiba tiba ia merasakan tenaga
balikan yang demikian besar dari pengemudi itu. Djie Hai
memang mengandung pikiran untuk menguji tukang perahu
itu. Semangatnya diempos tenaganya kian bertambah.
Pengemudi itu dengan erat memegang pengayuhnya
dengan dua tangan, sedangkan tubuhnya sedikitpun tidak
bergeming. Sebaliknya pengayuh itu yang tidak tahan
menerima tenaga dua orang itu. Bagian yang dipegang Djie
Hai menjadi cekung, sebaliknya yang dipegang pengemudi
itu menjadi cembung!
Djie Hai mengubah keputusannya secara tiba tiba.
Hatinya berpikir; “Pengemudi itu bertenaga besar sekali,
lebih baik kupinjam tenaganya untuk loncat ke darat” Habis
berpikir tubuhnya mencelat, tangannya menekan pengayuh,
dengan tenaga balikan yang diterima tubuhnya melayang
seperti terbang. Pengemudi ini tidak bersiaga atas tindakan
Djie Hai ini, begitu Djie Hai berialu, ia kehilangan imbangan
badan. Perahunya miring ke sebelah kanan. Buru buru ia
pindah ke sebelah kiri dengan maksud menenangkan
perahu. Siapa tahu Peng San Hek Pau mendadak tubuhnya

109
melayang dengan totolan kakinya! Hampir-hampir
menterbaliKkan perahu. Tukang perahu tergoyang goyang
di atas perahunya. Tubuhnya belum dapat ditetapkan
mendadak Djie Hii jatuh dari atas dan menjambretnya. Tak
ampun lagi dua dua kecebur ke dalam sungai!
Sedari semula Peng San Hek Pau sudah memperhatikan
gerak-gerik Djie Hai. Begitu ia melihat Djie Hai lompat,
tubuhnyapun melayang mengikuti. Ditariknya Djie Hai dari
udara sampai jatuh ke air. Hek Pau sendiri meminjam
tenaga tarikan, sehingga tubuhnya membal beberapa
tumbuk! Perlahan-lahan dan tak bersuara tiba di bumi. Ong
Djie Hai tidak bisa berenang, beberapa teguk air kena
diminum. Semakin ia berontak semakin gelebeKan. Dalam
keadaan setengah mati ia merasakan tubuhnya didorong
orang dari dalam air. Membuat ia dapat mengeluarkan
kepala dari permukaan air. Udara dihirupnya secepat
mungkin. Sesudah mati-matian akhirnya ia berbasil sampai
di perahu.
Beberapa saat kemudian pikirannya tenang kembali.
Telinganya mendengar suara ribut ribut. Waktu matanya
melek tampak beberapa perahu, dinaiki Louw Eng dan
komplotannya. Di samping Louw Eng duduk seorang muda
dengan tubuh kurus seperti bambu. Adiknya dan Tjiu Piau
terdapat pula di situ. Ia hanya dapat menarik napas,
Matanya dimerami lagi dan tak berkata-kata.
Begitu Louw Eng mengetahui ketiga orang ini tak bisa
berenang, hatinya bertambah lega. Sesampainya di Bu
Beng To boleh berbesar hati untuk meninggalkan mereka.
Kalau sudah beres pertemuan di Oey San baru kembali lagi
untuk membereskan mereka. Pikir Louw Eng.
Pengemudi dianjurkan meneruskan perjalannya sambil
diburu buru Peng San Hek Pau perlahan lahan melompat ke
perahu. Gwat Hee mengajak kakaknya pindah ke
perahunya. Dua saudara itu tidak berkata-kata. Hatinya
pasti tengah meraba raba pikiran lawan. Merekapun tidak
mengetahui pikiran Tjiu Piau. Ingin mereka bicara, sayang
bukan tempatnya. Sebaliknya Tjiu Piau pun ingin bicara

110
dengan mereka untuk menjelaskan tentang dirinya seterang
mungkin. Sayang tak ada waktu dan ketika. Sesudah ribut
mereda, malampun mendatang, keadaan sangat gelap
sebab gelap bulan. Sesudah perahu jalan tak seberapa
lama. Tiba tiba tampak di muka seolah olah tidak ada jalan
lagi. Waktu didekati kiranya di muka penuh ditumbuh
gelagah yang sangat lebat sekali.
Perahu berputar ke arah timur sebanyak dua kali, dalam
sekejap saja, jalanan menjadi terbuka, di muka terbentang
sebuah danau dengan tenangnya, angin dingin bertiup
perlahan-lahan mengusap air, bintang-bintang kec 1 kelap
kelip berbayang di air, pemandangan menjadi indah
tampaknya.
Di tengah-tengah danau tampak sebuah teng dengan
sinar lampunya yang bergoyang goyang tertiup angin. Di
sekeliling teng terlihat bayang bayang gelap yang besar, tak
salah lagi pasti inilah yang disebut Bu Beng To.
Gwat Hee terlentang di atas perahu memandang langit.
Ia melihat bintang tujuh yang terang bergemerlapan.
Perahu membuat suatu garis lurus dengan bintang ini.
Karenanya hatinya menjadi tergerak, jalan ke luar dari Bu
Beng To ialah di sebelah selatan dari Bu Beng To, hal ini
diingatnya betul betul. Waktu ia melihat kakaknya dan Tjiu
Piau, mereKa tengah asyik mendengari pembicaraan Louw
Eng. Tapi sayang sekali yang di bicarakan Louw Eng adalah
lagu lama dari kejadian kejadian di Kang Ouw melulu.
Sehingga kedua orang merasa bosan untuk mendengari
terlebih lanjut.
Perahu sudah sampai di tengah-tengah Bu Beng di depan
mata. Pulau ini tidak lebih tidak kurang sebesar bukit kecil.
Keadaan tanahnya datar. Hanya di tengah-tengahnya agak
menonjol, dan di situlah terdapat beberapa batang pohon,
dari tengah-tengah pohon memancarkan sedikit sinar
terang, mungkin di situ terdapat beberapa rumah. Tempat
ini sangat sepi dan sunyi sekali, tak ubahnya seperti hutan
belantara!.
Gwat Hee berpikir: “Siapa gerangan yang mendiami

111
pulau ini? Tempat yang demikian Kecilnya tidak terurus!
“Sementara itu perahu sudah mendarat, orang-orang sudah
merapat, di bawah pimpinan anak muda yang kurus seperti
bambu itu. Mereka berjalan di atas jalan yang terbuat dari
batu-batu yang merupakan tanggul tanggul. Lekak-lekuk.
Sesudah lama kemudian baru sampai di tempat yang tinggi
yakni di mana terdapat rumah-rumah. Kiranya rumah ini
terbuat dari tumpukan batu batu, buatannya sangat kodi
sekali. Ketiga mengemudi sudah memasak nasi, lauk
pauknya terdiri dari ikan dan udang melulu, tapi segar dan
manis serta nyaman akan rasanya.
Tjiu Piau bertiga siang siang sudah merasa lapar sekali,
tak banyak ribut lagi segala hidangan itu disikatnya sepuas
mungkin. Selesai bersantap Louw Eng berkata pada Ong
Djie Hai. “Dalam cuaca malam yang demikian indah sayang
-kalau dilewatkan begitu saja. mati kita berjalan-jalan
mencari angin.”
Ong Djie Hai sudah bertekad melihat segala tindak
tanduk Louw Eng. Dengan tak banyak pikir lagi ia menjawab
mau. Pikirnya. “Lagaknya segera akan ke luar.” Sebelum
berlalu ia mengedipkan dahulu adiknya memberi isyarat.
Louw Eng dan Djie Hai segera naik perahu tanpa
pengemudi, sebab Louw Eng dapat berperahu. Demikianlah
perahu kecil itu sudah mulai jalan perlahan-lahan dikayuh
Louw Eng.
Beberapa hari ini ‘perlakuan Louw Eng ternadap Tjiu Piau
dan dua saudara sangat aneh sekali. Seolah-olah ia sangat
memperhatikan dan telaten sekali, di balik itu juga sangat
keras menjaganya. Pengikutnya yang terairi dari jago-jago
ulung tidak henti-hentinya mengawasi sepak teijang ketiga
orang ini.
Djie Hai gagal usahanya untuk melarikan diri sewaktu di
Bu Beng Hoo. Mereka juga tidak mengusik ngusik hal ini,
seolah olah tidak terjadi sesuatu. Mungkin mereka
mempunyai cara lain yang akan dikeluarkan. Tapi Djie Hai
selalu siap sedia untuk menyelamatkan dirinya.
Di dalam perahu Djie Hai membawa lagak seperti tengah

112
menikmati pemandangan di danau itu, tapi sebenarnya
tengah mengawasi gerak gerik Louw Eng.
Sampaiditengah tengah, keadaan sekeliling sangat sunyi
sekali, hanya tiupan angin halus yang terdengar samar
samar datang dan berlalu. Tiba tiba Louw Eng berkata:
“Djie Hai Tit djie (keponakan) kau tahukah, kenapa aku
ingin dengan kau berjalan jalan ke sini? Aku mempunyai
sesuatu rahasia yang maha penting, yang sudah terbenam
dalam dadaku selama delapan belas tahun lamanya.
Terkecuali dari diriku, hanya seorang saja yang
mengeiahuinya. Sayang orang itu sudah meninggal. Hari ini
rahasia itu akan kuberitahukan kepadamu!”
“Apakah rahasia ini sangat erat hubungannya denganku?”
“Bukan saja berhubungan dengan kau seorang, tapi
berhubungan pula dengan rakyat seluruh negeri!
Bersumpahlah dahulu untuk mengatakan rahasia ini kepada
orang kedua. Sesudah itu baru aku mau memberi tahu
kepadamu!”
“Aku bukan ahli untuk bersumpah, sumpah apa yang kau
kehendaki dariku?” Kata Djie Hai dengan suara dingin. Louw
Eng melirik, tiba tiba pengayuh di angkat dari air, dengan
tangan kanannya mentah mentah dilepas, sret— plung!
pengayuh itu menjadi somplak, petelannya jatuh, di temDat
jauh, pengayuh yang sudah rusak itupun dilemparnya ke
tengah danau. Tenaga tangannya memang cukup
mengejutkan orang sesudah itu ia berpaling pada Djie Hai
seraya berkata.
“Bersumpahlah semacam ini! Bilamana kau menceritakan
rahasia ini kepada orang lain, kau mendapat nasib serupa
pengayuh ini.”
Tanpa ragu ragu sedikitpun Djie Hai mulai bersumpah.
“Baik! Demi kepentingan rakyat jelata. Bilamana aku Ong
Djie Hai menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak
kuceritakan. Kehidupanku semoga seperti pengayuh itu!”
Louw Eng tertegun tak berkata kata, agaknya banyak

113
banyak kata kata yang ingin dibicarakan, tapi untuk
seketika semua kandas di tepi bibirnya. Kini perahu itu
terbawa angin merapung rapung di atas danau, sebab
sudah tidak dikemudikan lagi.
Dengan keren dan mantap Louw Eng memperdengarkan
suaranya: “Ketahuilah Sri Baginda Tjeng jiwanya sudah di
atas tanganku!”
Dengan kata katanya ini Louw Eng melihat tubuh Djie Hai
bergoyang goyang dan berhenti lagi. Tahulah ia bahwa kata
katanya ini mengenai hatinya Djie Hai benar benar. Dari itu
sambungnya pula: “Kini tercapailah cita citaku selama
delapanbelas tahun untuk mendapat kepeicayaan dari raja
Tjeng, sembarang waktu aku dapat mendampinginya. Cita
citaku selama delapan belas tahun ini hanya diketahui oleh
ayahmu seorang Menyesal sekali ia sudah mendahului aKu
pergi ke tanah baka!”
Tak terasa lagi Djie Hai bertanya: “Apa artinya akan kata
kata ini?”
“Diam dulu. jawablah pertanyaanku duhulu. Tahukah kau
akan kematian ayahmu sejelas jelasnya?” Perlahan lahan
Djie Hai menggeleng gelengkan kepala, wajahnya sangat
tenang.
“Inipun ada rahasia pula. Delapan belas tahun yang lalu.
Nama Wan Tie No bukan main terkenal dan dimalui
orang. Tak seorang tidak mengetahui, bahwa ia adalah
pengikut dari Giam Ong Lie Tju Seng. Tidak sedikit jasa jasa
didirikan. Sewaktu tentara Tjeng masuk di wilayah Tiongkok
ia menyembunyikan diri di gunung sunyi. Diam diam ia
mengumpulkan orang gagah untuk mengobarkan
pemberontakan pada pemerintah. Siapa kira dan siapa
menyangka, tidak tahunya terlebih dahulu ia sudah
sekongkol dengan penghianat bangsa nomor satu Ang Sin
Tiu!’
Bicara sampai di sini Louw Eng berdiam sambil mengawasi
dengan tajam. Sekeliling terbenam di dalam
kesunyian seperti mati, perahu terkatung katung tanpa arah

114
tujuan Tanpa diketahui lagi perahu sampai di tepi yang
berumput tebal.
Ong Djie Hai hampir hampir nyeletuk :Benarkah terjadi
hal ini ? Tapi kata kata ini tertelan lagi ke dalam mulutnya.
ia berusaha untuk menguasai perasaannya menjadi tenang.
Agar dapat mengetahui betul dan palsunya perkataan
orang, ia tahu yang terbaik, wajahnya tidak boleh berubah,
harus pura pura percaya.
Perlahan lahan Lauw Eng berkata pula “Walaupan
ayahmu mempunyai hubungan yang erat dengan Wan Tie
No, tapi tidak mengetahui hatinya yang sesungguhnya.
Delapan belas tahun yang lalu, ayahmu mendengar
perkataannya, dan mengajak kami empat saudara untuk
menghadiri pertemuan di Oey San, katanya untuk rencana
besar guna menggulingkan pemerintah Tjeng Diluar
perkiraan, ayahmu secara kebetulan sekali mengetahui
perbuatannya dan rahasianya, hal ini akibatnya besar. Dari
kawan baik menjadi musuh besar. Sepontan di situ juga
terjadi gelanggang laga yang besar. Akibat dari pertarungan
itu tertinggallah aku yang tidak berguna ini.
Kejadian delapan belas tahun yang lalu tak ubahnya
seperti dalam impian saja.” Louw Eng berkata lagi dengan
nada sedih sesudah diam seketika: ‘Yang lebih celaka ialah
salah satu dari persaudaraan kami ini sebenarnya menjadi
pengkhianat pula. Waktu terjadi perkelahian bukan saja ia
tidak membantu kami, bahkan membantu musuh. Hian Tit,
jika kau ingin mengetahui siapa orang itu, lihatlah apa yang
tertera di paugkal lenganku ini!” Digulungnya lengan baju.
di bawah sinar bintang samar-samar terlihat bunga bwee
merah. Ong Djie Hai sudah mengetahui di pangkal lengan
Loaw Eng terdapat bwee merah itu. Kini dilihatnya bunga
itu. sekedar ingin melihat lihat saja.
“Tjiu Tjian Kin Siok-siokkah yang kau maksudkan orang
itu?”
“Benar dia adanya. Mutiara beracun itu dilepas tanpa
kukira. Tak ampun lagi aku kena tipu busuknya ini. Untung
dalam bahaya yang demikian hebat itu. ayahmu dapat

115
menghajarnya luka. dan mengambil pemunah dari mutiara
itu . . . Perkelahian yang hebat ini untuk sementara waktu
tak dapat kututurkan dengan jelas. Apa yang akan
kukatakan ialah perkelahian ini berakhir sangat
menyedihkan. Wan Tie No mati di tanganku, Tjiu Tjian Kin
dengan lukanya masuk ke jurang sebab malu. Tju Hong
jatuh ke dalam jurang yang terjal. Ayahmu mati kena
tangan besi Wan Tie No sehingga luka parah dan tak
sadarkan diri beberapa jam lamanya, dalam pada itu aku
terus menjaga dan mendampinginya. Akhirnya ia siuman
dan sadar kembali. Ia berkata sepatah kata kepadaku,
sesudah itu ia lantas meninggal. Kata-katanya ini memesan
agar aku memeriksa dan membersihkan sisa sisa dari
gerombolan Wan Tie No. Aku berpikir cara yang terbaik
untuk melakukan hal ini ialah pura pura mengabdi pada
pemerintah Tjeng di samping itu aku menjadi musuh di
dalam selimutnya.” Bicara sampai di sini tiba tiba terdengar
suara orang berkata kata.
Di mana gelagah yang rimbun, bergoyang bayangan
hitam.
“Siapa!” bentak Louw Eng.
Di mana bayangan hitam bergerak, sebuah perahu kecil
perlahan lahan maju mendatang Dua orang penaik perahu,
berbadan serupa, tubuhnya kurus daa wajah mukanya
Seperti rase Satu berbaju putih satu berbaju hitam. “Oh,
kiranya Louw Toako berada pula di sini?’ Dua orang ini tidak
lain dan Mau San Pek Hoo dan Hek Hoo.
Louw Eng diam sejenak, tiba tiba dalam kegelapan
malam, di bawah renang remang sinar bintang kecil,
tampak sebuah senyuman dari bibirnya.
“Kiranya Djie wie (dua tuan) marilah sama sama kita
nikmati pemandangan yang indah ini bersama sama.
Pengayuh kami jatuh tanpa sengaja sehingga perahu ini
terkatung katung dan berjalan tanpa pengemudi.Kini kalian
datang sungguh kebetulan sekali. Perahu ini agak besar,
bawalah pengayuh itu sama sama kita seperahu,
bagaimana?”

116
Pek Hoo setuju saja, perahu mereka di kayuh perlahan
lahan menghampiri.
Kira kira tinggal beberapa meter pula, Hek Hoo meloncat
terlebih dahulu ke perahu Louw Eng.
Louw Eng mengulurkan tangan menyambut. “Hati hati
saudaraku!” Begitu tubuh Hek Hoo Vena kepegang Louw
Eng, itu detik juga tidak berkutik lagi, dan tidak dapat
bersuara lagi. “Rebahanlah istirahat!” Hek Hoo tidak dapat
apa-apa mentah mentah dikerjakan orang.
Di sana Pek Hoo berdiri di perahunya, perlahan-lahan
pengayuhnya dilemparinya pada Lauw Eng, pengayuh ini
terbuat dari kayu biasa, Louw Eng menerimanya. Sebuah
gulungan putih perlahan lahan datang tak siapa lagi ialah
Pek Hoo loncat mendatang
“Indah sekali!” Suaranya belum habis pengayuh itu
sudah mendahului menyabet ke arah kaki dari Pek Hoo. Pek
Hoo terkejut, ditarik tubuhnya membuat salto di udara, dan
jatuh tepat di pinggir perahu, tangan yang baru berhasil
dan memegang kayu perahu itu, digeprak Louw Eng
sehingga hancur. Pek Hoo menjerit secara mengenaskan,
belum jeritannya habis, tubuhnya sudah masuk ke dalam
air. Di atas papan terlihat darah daging merah hancur
menggambarkan sepuluh jeriji tangan. Sungguh ngeri!
Louw Eng msrnbersihkan pengayuh itu pakai air danau.
Seperti tidak kejadian apa apa ia berkata : “Dalam dua
sudah beres satu, tinggal satu ini diapakan Hian tit?”
Ong Djie Hai bertanya : “Apa artinya ini?”
Louw Eng terkekeh tertawa ; “Kau sungguh terlalu muda!
Bukankah mereka sudah mencuri dengar akan rahasia
jiwaku bukan? Kalau dibiarkan mereka hidup, pasti aku tak
dapat hidup. Aku tak dapat hidup tak menjadi soal. Yang
penting yakni rencana untuk menggulingkan pemerintah
Tjeng menjadi berantakan dan hancur! Mereka adalah
pengikut pemerintah Tjeng yang sangat setia Sedari dulu
sudah niat kubereskan mereka. Nah. Djie Hai kau bereskan
satunya lagi itu!” Tangannya di ulur untuk menjambak Hek

117
Hoo, niatnya Hek Hoo akan dilempar ke depan Djie Hei.
Begitu tangannya memegang baju Hek Hoo secara
dibetotnya, dalam sekejap inilah lengan kanan dari Hek Hoo
secara tiba tiba menuju iga Louw Eng, dilengannya
memegang sebilah pisau yang mengkilap, pedang pendek
ini entah kapan berada ditangannva. Kali ini semua di luar
perkiraan Louw Eng, untuk berkelit sudah tak mungkin.
Tapi Louw Eng adalah orang Kang Ouw kelas satu, sudah
biasa menghadapi segala bahaya yang hebat hebat. Waktu
itu juga lengan kanannya yang memegang baju Pek Hoo.
mengeluarkan tenaga, secara tiba-tiba Ke depan, seperti
angin besar meniup rumput, Pek Hoo kena didorong
mundur sebanyak dua langkah, la sendiri buru buru
mengkeratkan dadanya ke dalam. Tak ubahnya seperti
tubuh udang. Dengan cara inilah ia berhasil menghindarkan
dari serangan Pek Hoo itu. Tapi tak urung baju luarnya kena
tergores pecah- Sehingga bulu dadanya yang lebat tampak
ke luar,
“Hai rase! Sungguh licin kamu yah?” bentak Louw Eng
dengan gusar.
Semua orang mengenal kelicikan dan kelicinan Mao San
Djie Hoo ini. Karena inilah mereka terkenal di kalangan
Kang Ouw. Bukankah barusan Hek Hoo sudah kena ditotok
Louw Eng sehingga tak berkutik.
Tapi kenapa dengan secara tiba-tiba ia dapat bangun
menghadapi lawan ? Ini semua adalah kelicinannya. Waktu
Loaw Eng mengulur tangan menyambutnya, ia merasakan
jalan darah di ketiaknya menjadi kaku, sadarlah ia urusan
tak beres, buru-buru badannya dimengkeratkan, sehingga
jalan darah agak tergeser. Terkecuali itu otot dan daging di
tubuhnya dikakukan, pura-pura jatuh berlaga sudah jengkar
kena ditotok. Louw Eng mengetahui, bahwa Djie Hoo tidak
mempelajari ilmu dalam, kiranya dengan tenaganya yang
penuh itu sudah berhasil melumpuhkan Hek Hoo. Dari itu
dibiarkannya ia tanpa curiga, sebaliknya sepenuh perhatian
dihadapinya Pek Hoo.
Siapa kira totokan pada Hek Hoo itu tidak telak kenanya,

118
sehingga lengan kirinya masih dapat bergerak bebas,
menantikan Louw Eng tidak bersiaga, dibukanya jalan darah
itu sendiri. Waktu inilah ia melihat saudaranya menerima
nasib yang mengharukan di bawah tangan Louw Eng yang
ganas. Tak tertahan rasa kaget dan dendam menjadi satu,
tekadnya bulat untuk mengadu jiwa.
Tusukan belatinya tidak mengenai sasaran, buru-buru ia
mundur ke belakang berdiri di hulu perahu, kedua orang itu
berdiri bernadakan satu di hulu perahu satu di buritan
perahu. Saling menatap dengan rasa jemu dan benci. Ong
Djie Hai duduk di tengah-tengah perahu, pikirannya
terbenam dalam keraguan. Haruskah aku turun tangan?
Siapakah yang harus kubantu? Pikir hatinya.
Tak perlu menunggu lama, Louw Eng sudah menyerang
dengan ganas. Dilangkahinya kepala Ong Djie Hai dengan
jurus Hie Jauw Liong Bun’ ( ikan mercelat ke pintu naga)
tubuhnya langsung menjurus ke hulu perahu. Tangannya
sekalian dikerjakan. Sebenarnya Hek Hoo sangat jeri pada
Louw Eng. tapi menghadapi antara mati dan hidup ini,
hatinya menjadi berani, tambahan ia bersenjata pisau
belati. Sedangkan Louw Eng tidak bersenjata sama sekali.
Waktu serangan Louw Eng tiba. tak ayal lagi diputar
lengannya menjaga dengan rapat. Tiba-tiba Louw Eng
menekuk kakinya seperti gendewa. lengan kirinya
mendorong lengan kanannya membuat sebuah lingkaran
besar sambil memapas, tiba tiba kaki kirinya terangkat naik
menendang Hek Hoo. Dalam sejurus ini mengandung tiga
serangan yang hebat dan berlainan arahnya.
Hek Hoo adalah seorang yang licin, ilmu pisaunya diubah
menjadi ilmu pukulan tangan sehingga dalam ilmu ini
tangannya seolah olah tambah panjang. Melihat ini Louw
Eng tak berani terlalu mendesak, sehingga pukulan dari
kedua tangannya ditarik setengah jalan. Tapi tendangan
kaki nya hampir bersarang di perut HeK Hoo. Jurus ini
berbahaya untuk Hek Hoo. tapi tangannya tidak tinggal
diam langsung menjurus menikam Louw Eng. Sayang Louw
Eng terlalu tangguh untuk Hek Hoo, hanya dengan

119
keliatannya yang seperti kilat, serangan Hek Hoo menjadi
kandas. Sedangkan kakinya tinggal menjungkirkan Hek Hoo
ke danau.
Tiba tiba Ong Djie Hai berseru: “Tinggal belas kesian di
bawah kaki, segala hal dapat didamaikan!” Mendengar ini
Lou Eng menarik serangannya secepat kilat. Hek Hoo
tubuhnya bergoyang goyang tapi tidak sampai jatuh
kecebur.
Adapun maksud Dje Hai berbuat demikian ialah untuk
memadu kedua orang ini, guna mengetahui pembicaraan
Louw Eng itu dapat dipercaya atau tidak.
Sesudah menarik serangannya Louw Eng kembali
berpikir. Aku seperti tengah naik harimau, baik aku
bereskan Si Rase Hitam ini. Tangannya cepat seperti angin
menyerang Hek Hoo kembali dengan ilmu Leng Miau Pou Su
(Kucing sakti menerkam tikus) tangannya terbentang
tubuhnya menjorok ke muka, dengan ganas ia menerkam
Pek Hoo. Saat ini Pek Hoo Sudah mempunyai persiapan
Mengandaikan kegesitan tubuhnya berkali kali ia berputar,
cara ini bukan saja dapat memunahkan serangan lawan,
bahkan tubuhnya dapat lolos ketengah perahu. Hek Hoo
jongkok di lantai perahu, pisaunya ditancapkan di papan
perahu.
“Hai Louw Eng, terlalu kau! Bila tanganmu bergerak pula,
kita harus menghadap malaikat maut bersama sama!” Louw
Eng dan Djie Hai mengerti maksud Hek Hoo ialah ingin
membocorkan perahu, dengan cara ini ketiga orang akan
mati konyol, karena ketiganya tak dapat berenang.
Walaupun berteriak belum’ tentu suara ini terdengar orang,
lambat laun toh akhirnya mati juga.
Louw Eng kaget juga mendengar gerakan ini, tapi
wajahnya tenang saja. Sedangkan hatinya Tengah mencari
daya. Menggunakan ketika ini Hek Hoo bicara pula dengan
langgam suara bernada sedih: “Louw Toako, sebenarnya
kami salah apa? berilah petunjuk padaku. Aku bukan
bangsa takut mati, tapi sebelum mati aku harus mengetahui
aku salah apa. sehingga andai kata jadi setan tidak menjadi

120
setan penasaran. Lagi pula kami telah mengikuti Toako
sudah lama enam belas tabun lamanya, sedikit banyak kami
sudah membuat sesuatu untukmu. Kini andai kata kami
salah, seharusnya wajib kau beri maaf. Kebencian Ong Shie
heng ada di sini dan mengerti dan melihat kejadian dari
mula-mula sampai sekarang. Kapan hari boleh diceritakan
di dunia Kang Ouw. siapa salah siapa benar. Louw Toako
katakanlah di mana letak kesalahan kami, Kini kakakku Pek
Hoo sudah meninggal, kematian diriku hanya menunggu
kata-katamu.” sambil berkata-kata tangannya tidak
bergeser dari papan perahu. Asal saja Louw Eng bergerak,
pasti perahu itu dibocorinya.
Katanya ini sungguh lemah tapi bersifat keras. Ong Djie
Hai pun terbawa bawa.
Kata katanya itu memperingati Louw Eng. Djie Hai
adalah saksi dari peristiwa ini. Juga memperingat Djie Hai
bahwa Louw Eng tidak bisa berbuat baik terhadapnya.
Misalkan sampai terjadi pula pertarungan ia mengharap
bantuan dari Djie Hai. Memang dalam hal menghitung
sesuatu Hek Hoo mempunyai kepandaian tersendiri. Hal ini
mau tidak mau harus diakui.
Tapi Louw Eng pun tak mudah kena dimainkan. Dalam
sekejap mata ia sudah mengambil ketetapan.
“Hek Hoo! Apa maksudmu bersembunyi di sana guna
mencuri dengan pembicaraan kami?”
“Bintang tujuh menjadi saksi, asal aku Hek Hoo mencuri
dengar setengah patah dari kata katamu aku ridlah….”
Louw Eng membentak memutuskan perkataan orang.
“Kau belum mendengar, dengarlah sekali lagi. Aku Louw
Eng bekerja di pemerintah Tjeng tapi hatiku tetap bekerja
untuk bangsa Han. Kini waktunya aku mengambil jiwa
anjingmu. Hai anjing Tjeng terimalah kebinasaanmu!”
Hek Hoo mengawasi Louw Eng dengan mata harus
dikasihani. Ia melihat Louw Eng tertawa. Ia tahu asal Siau
Bu Siang (Si jarang ketawa) tertawa, tidak harapan untuk

121
hidup pula. Kini menantikan asal Louw Eng bergerak,
perahu itupasti menjadi bocor. Dengan ini pasti ketiga
orang itu akan mati bersama dalam seperahu.
Sebaliknya Louw Eng tak menghiraukan segala
gertakannya. Kakinya perlahan lahan menindak selangkah—
dua langkah, hampir dekat sudah.
“Louw Toako!” teriak Hek Hoo putus asa. Louw Ejg tidak
menjawab, langkah ketiga sudah menyusul.
Dalam keadaan mati hidup sekejap mata ini, Hek Hoo
memutar otaknya seratus kali lebih cepat dari biasa. Ia
heran kenapa Louw Eng dalam waktu singkat memusuhinya
dan memaui jiwanya. Keadaan terlalu mendesak pikiran
untuk melolosi sama sekali tidak dipikir. Ia ingin mendapat
sesuatu dari Djie Hai. Tapi ia tak mengetahui hubungan apa
sebenarnya antara Louw Eng dan Djie Hai. Waktu berlalu
lagi, Louw Eng kembali melangkah setindak.
Sekali lagi Hek Hoo berteriak: ‘Louw Toako!”
Louw Eng kembali melangkah pula sambil tersenyum.
Hek Hoo menjadi gemas, biarlah mati bersama sama
pikirnya. Tangannya bergerak secepat kilat, perahu
berlubang kecil, tangannya bergerak pula. Pada detik inilah
Louw Eng terbang menyergapnya seperti gunung rubuh.
Sebuah lengannya menghajar kepala Hek Hoo, sebuah lagi
memegang lengan Hek Hoo, dengan sekuat tenaga ditekan.
Hanya terdengar jeritan yang menyayatkan telinga keluar
dari mulut Hek Hoo Suara ini sampai habis sudah berhenti.
Waktu dilihat lagi Hek Hoo sudah tak bernyawa. Pada wajah
nya membayang sesuatu yang tersimpul di dalam hatinya.
Kiranya waktu akan mati Hek Hoo baru dapat mengetahui,
bahwa Louw Eng mengorbankan jiwa mereka semata mata
untuk mendapat kepercayaan Djie Hai. Sayang belum dapat
ia memancahkan tabir ini, napasnya sudah mendahului
pergi ke alam baQa. Kematiannya sungguh menyedihkan.
Kiranya sebuah lengannya sudah melesak masuk ke lubang
kecil buatannya sendiri. Sehingga lubang itu bagai disumpal
dan tak bocor lagi. Kasian nasib Hek Hoo, belasan tahun
menjadi kaki tangan Lou Eng secara setia akhirnya

122
mendapatkan nasib yang demikian di tangan Louw Eng.
Ong Djie Hai melihat peristiwa ini dengan heran. Tapi
beberapa waktu kemudian ia sudah dapat meraba raba
delapan bagian kemana tujuan Louw Eng Adapun tabiat dari
Ong Djie Hai sangat benci terhadap kekejaman. Kira Louw
Eng dengan mengorbankan dua orang kepercayannya sudah
dapat kepercayaan dari Ong Djie Hai. Sesudah itu ia niat
dari Djie Hai mendapat keterangan di mana mengerannya
kaum pendekar tencinta negara Dengan ini ia ingin
sekaligus membasmi kaum patriot itu. Tapi siapa kira
pendapatnya itu salah sama sekali. Karena dengan
kekejaman yang dipertunjukkan kepada Djie Hai, membuat
Djie Hai melawan di dalam hati dan benci kepadanya. Pikir
Djie Hai kelakuan demikian bukan kelakuan kaum patriot.
“Louw Siok-siok, kalau cita citamu berhasil seperti yang
kau sebut tadi, rakyat dan pendekar dari seluruh negeri
akan memuliakan kau bukan alang kepalang.”
“Ha ha ha!” Lauw Eng tertawa besar, hatinya bungah
betul. “Tapi aku mempunyai dua pertanyaan yang tidak
dapat kujawab dapatlah kau tolong menjawabnya?”
sambung Djie Hai.
“Katakanlah lekas!”
Dengan hati hati Dj’e Hai berkata: “Tjiu Tjian Kin secara
diam diam berhubungan dengan Wan Tie No penghianat itu.
Kalau demikian Tjiu Piau adalah penghianat. Tidak tahu
kami dua saudara harus bagaimana memperlakukan dia?”
Mendengar ini Louw Eng merasa kaget juga. tak kira
bocah ini dapat memikir sampai ke situ. Sambil mengelah
napas ia berkata: “Yang lalu biarlah ia berlalu. Jelek baik
Tjiu Tjian Kin adalah saudara angkatku dari banyak tahun
Tjiu Piau masih muda, urusan yang lalu tak ada sangkut
pautnya dengan dia. Kini asal dia berlaku benar aku sudah
cukup merasa puas. Demikian juga dengan kalian jangan
disebabkan urusan yang lalu sehingga mengasingkan atau
dendam kepadanya.” Kata-kata ini memang cukup
beralasan.

123
Ong Djie Hai menganggukkan kepalanya sambil berkata:
“Sebenarnya harus demikian, tapi mengenai urusan yang
lalu harus kubicarakan dengan dia secara hati terbuka.
Apakah dendam atau budi Mau diteruskan atau diputuskan.
Supaya persoalannya menjadi beres dan tidak menjadi
ganjalan selamanya. Dengan kata-kata ini Djie Hai
bermaksud menyampingkan urusan di depan matanya dan
ingin mencari ketika untuk berkumpul dengan Tjiu Piau dan
adiknya,guna membicarakan sesuatu dengan teliti.”
Kata kata Djie Hai cocok dengan permintaan Louw Eng.
Memang ia bermaksud merenggangkan kedua keluarga ini.
“Kau bicara benar. Aku pasti membantumu dari
samping.”
“Adapun hal yang kedua, ialah mengenai danau ini. Kau
tahu sendiri kami bermalam di Ban Liu Tjung, kenapa begitu
mendusin berada di sini? Pulau ini sebenarnya tempat apa?
Pengemudi pengemudi itu manusia dari golongan mana?
Orang yang kau perkenalkan Kepada kami waktu dahar itu,
yakni yang bernama Ong Sui Sen itu, sebenarnya manusia
macam apa?
Dapatkah mereka itu dipercaya? Orang-orang yang
mengiringi kau itu, apakah diam-diam memusuhi
pemerintah Tjeng juga? Atau sebangsa dengan Mau San
Djie Hoo? Mengenai ini aku yang menjadi tamu. seharusnya
tidak boleh banyak bertanya, tapi kalau tidak demikian
urusan tidak ada beresnya. Atas ini harap kau tidak
menyalahkan kepadaku. Sukalah menjawab pertanyaanku
bila rasanya harus dijawab.”
Pertanyaan Djie Hai yang mengandung kecurigaan ini.
Siang siang sudah dalam dugaan Louw Eng.
Perahu perlahan lahan dikayuh menuju perahu yang
bekas dinaiki Mau San Djie Hoo.
“Mari kita berganti perahu dulu.” Sesudah dua orang
berganti perahu, Louw Eng dengan satu kali pukulan
menghancurkan perahu yang bekas dinaikinya. Perahu itu
dikaramkan sekalian dengan mayat Hek Hoo. Sesudah

124
berbuat ini Louw Eng berdiam diri beberapa lama, kemudian
baru berkata: “Djie Hai aku tahu pasti kau akan
menanyakan hal ini. yah, pasti kau bertanya. Sebenarnya
aku ingin mencari tempat yang sepi guna melanjutkan
pembicaraanku Ada pun mengenai kau berada di sini,
disebabkan waktu kau dalam keadaan mabuk, Ban Liu
Tjung diamuk api. Kami tergesa gesa meninggalkan
kampung, pikir pikir tempat ini baik untuk didiami, dari itu
kami ke kini berikut kalian.” Adapun pengikut pengikut aku
itu, terkecuali dari Mau San Djie Hoo yang lain semua dapat
dipercaya. Misalkan ada sesuatu urusan yang menyukarkan
kalian dapat kau katakan kepadaku atau kepada mereka.
Tapi dengan penghuni Bu Beng To ini sebaiknya jangan
terlalu banyak bicara. Adapun Ong Sui Sen ini ialah anaknya
Hu Lui Ong Hie Ong (raja sungai buaya,) Ong Hie Ong
adalah kawan karibku, ini tak perlu kusembunyikan. Tapi
mengenai Ong Sui Sen ini ia masih muda dan belum dapat
di percaya betul. Dari itu di depannya jangan suka
membicarakan sesuatu yang penting.”
Ong Djie Hai mendengar Ong Sui Sen adalah putera dari
Ong Hee Ong hatinya menjadi kaget.
“Oo, kiranya adalah Ong Sui Sen yang pernah
menggemparkan Thai Ouw sepulug tahun yang lalu.”
‘Benar benar. Memang dialah orangnya. Kini ia tinggal di
sini dengan tiga orang kepercayaannya. Yakni tiga saudara
Lu Yang bernama Lu Tie, Lu Kang dan Lu Hoo.”
Harus diketahui, walaupun Djie Hai masih muda tapi
pendengarannya banyak sekali. Hal ikhwal dan peristiwa
Kang Ouw banyak diketahuinya. Demikian juga Ong Hie
Ong Si Raja sungai sudah lama ia tahu. Bahkan ia tahu pula
bahwa Ong Hie Ong adalah Ok Pa yana sangat kejam dan
bengis sekali. Ong Siu Sen adalah putera raja sungai,
dengan sendirinya semenjak kecil sudah pandai bermain di
air. Sehingga dalam kepandaian ini sukar mencari
lawannya. Semasa ia berusia delapan belas tahun.
Berkenalan dengan pendekar wanita yang sangat cantik.
Belakangan pendekar ini dimaui jago istana yang bernama

125
Gui To Tjeng. Bahkan dengan cara paksa pendekar itu di
tangkap dengan kekerasan, semata – mata untuk dijadikan
gundiknya. Hal ini dapat diketahui Ong Sui Sen tak ayal lagi
begitu Gui To Tjeng dan orang tawanannya lewat di Thai
Ouw dihantamnya! Sedangkan Gui To Tjeng adalah kawan
baik dari ayahnya.
Sesudah ayahnya turun tangan baru ia mengalah. Tapi
pendekar wanita itu putus asa dan menerjunkan diri ke
dalam telaga dan binasa. Sesudah terjadi peristiwa itu, Ong
Sui Sen hatinya menjadi tawar dalam penghidupan diam
diam ia meninggalkan Thai Ouw, sehingga namanya tak
terdengar lagi dalam dunia Kang Ouw. Siapa tahu ia berada
di sini. Dari itu begitu Djie Hai mengetahui bahwa orang itu
ada Ong Sui Sen hatinya sudah tergerak. Diam – diam ingin
ia berkenalan dengan Ong Sui Sen ini.
Louw Eng melihat Djie Hai mulai percaya kepadanya,
hatinya menjadi gilang. Ia menantikan waktu untuk
menanyakan kediaman ibu Djie Hai. Sebab antara tiga
janda dari mendiang saudara angkatnya. Isterinya Ong Tie
Gwanlah yang paling dimalui Louw Eng. Sebab ia itu
pengetahuannya tentang dunia Kang Ouw sangat luas. Asal
saja ia dapat membereskan janda itu, hatinya baru merasa
lega dan lapang.
Tiba – tiba dari pulau terdengar suara isyarat, tidak tahu
telah terjadi apa di sana.Buru buru dikayuhnya perahu itu
dengan cepat menuju pulau. Tak lama kemudian dari depan
mendatang sebuah perahu dengan pesat menuju ke arah
mereka. Orang yang mengemudikan ialah Lu Tie. Begitu ia
melihat Louw Eug segera berkata sambil tertawa: “Tuan
mudaku menghendaki Tuan datang ke pulau.”
“Apa apakah yang terjadi?” tanya Louw Eng.
“Sebenarnya bukan apa apa, hanya adikku yang nakal itu
meminum arak sehingga mabuk dan melihat orang untuk
bertanding. Harap Tuan membereskan hal ini.” ‘Tamu mana
yang diajak tarung?”
“Yakni Thay su yang gemuk itu.”

126
Louw Eng dengan tergesa gesa mendaratkan perahunya.
Belum sampai begitu melihat Tong Leng Hwe.sio sudah
merah mukanya, agaknya lebih mabuk dari pada Lu Hoo
Kedua orang itu tengah duduK berhadapan di dekat pantai,
sambil minum tak henti-hentinya tertawa, sama sekali tidak
menunjukkan tengah mengadu kekuatan atau bertarung.
Yang lain menonton di pinggir. Tjiu Piau dan Gwat Hee pun
terdapat di situ Gwat Hee begitu melihat kakaknya kembali
tarpa kurang suatu apa, dengan sendirirya merasa girang.
Sesudah diawasi Djie Hai baru tahu kedua orang ini
tengah bertanding ilmu Tjee Tee Sen Ken (duduk berakar)
salah satu ilmu dalam yang hebat. Kalau orang yang biasa
saja pasti tak mengenal ilmu yang lihay ini. Dengan duduk
berdiam, perlahan lahan dikerahkan tenaga, tempat yang
diduduki perlahan lahan menjadi legok. Kalau yang ilmunya
sudah tinggi, dengan cara berduduk selama dua belas jam,
seluruh tubuhnya bisa ambles ke dalam tanah. Ong Djie Hai
pernah mendengar adanya ilmu ini, tapi untuk menyaksikan
baru pertama kali ini saja.
Inilah yang disebut pucuk dicinta, ulam tiba. Atau awak
rindu kekasih datang, pikir Djie Hai. Dengan ini ia dapat
melihat pertunjukan yang jarang terdapat. Terkecuali itu
kesempatan pula untuk mengamat amati keadaan orang
orang guna melarikan diri.
Tong Leng tubuhnya sudah melesak sebanyak satu dim
Tjawannya diisi penuh penuh sambil diciumnya tak henti
hentinya mengucapkan harum. Arak itu bergelukgukan
melalui tenggorokannya langsung keperut. Tabuhnya
dimelari, semangatnya dikumpuli, tubuh itu tanpa dirasa
sudah melesak lagi beberapa cm. Riuh rendah tampak sorak
para penonton! Tong Leng bukan main bangganya berulang
kali cawannya diisi dan dikeringkan lagi!
Sebaliknya Lu Hoo dengan tenang duduk bersila.
Tubuhnya seperti merapung di atas pasir, sedikit juga tak
ada tanda tanda melesek! Melihat dari cara duduknya saja
sudah dapat dipastikan, bahwa ia itu bukan dari ahli tenaga
dalam. Budak ini cengar-cengir, sekali kali tak

127
menghiraukan orang. Sambil mengunyah sepotong daging
ikan, ia pun turut berkata: “Bagus! Kepandaian saudara
sungguh bagus!”
“Kalau begitu kau sudah mengaku kalah!”
“Masih terlalu pagi untuk mengatakan itu! Buktikan saja
siapa yang akan minum air danau itu!” Kiranya dua orang
ini bertaruh. Siapa yang menang minum arak, yang kalah
minum air danau. Yang menang minum seteguk arak, yang
kelih harus minum secawan air danau.
Louw Eng sadar, mereka berbuat demikian sebab
dipengaruhi air kata-kata. Terhadap Lu Hoo ia merasa tidak
puas. Pikirnya kenapa budak itu tak mengenal adat. Masa
tamu diajak bertanding! Tapi. lapun ingin menyaksikan ilmu
memberatkan tubuh dari Tong Leng. Tanpa kata-kata lapun
berdiri di samping turut menyaksikan. Tong Leng sudah
enam puluh persen mabuk. Sambil tertawa kaya orarg gila
ia berteriak teriak: “Budak ini rupanya sudah mabuk.
Kenapa tidak lekas menyerah, agar kuringankan agar kau
tidak terlalu banyak meneguk air danau. Bilamana tidak aku
minum sampai pagi hari, dan kau minum air danau itu
sampai kering!” Habis berkata ia tertawa lagi sambil
mengusap usap lengannya yang besar. Tangannya itu
sekalian ditepakkan ketanah, sehingga di tanah tercetak
lengannya sedalam beberapa dim. Tanda cetakan itu
demikian rata, sampai sebutir pasir pun tidak ada yang
melorok jatuh !
Ong Djie Hai diam diam merasa kagum, ia tahu inilah
ilmu dalam yang sejati. Sadarlah ia bahwa Tong Leng
adalah musuh yang tangguh.
Lu Hoo masih saja acuh tak acuh, dengan gila gilaan ia
berkata: “Hai, Hweesio gemuk. Kau Tahukah bagaimana
rasanya air danau ini? Kuberi tahu tidak manis, tidak asin,
tidak masam dan tidak sepat. Kami tiga saudara siang
malam membuang air kecil di situ coba terka bagaimana
rasanya air itu?” Habis berkata, tangannya mencomot ikan
besar, gres- gres dengan cepat ikan itu tinggal tulangnya.

128
“Hai Hweesio gemuk, kita bertaruh lagi. Siapa yang kalah
harus makan tulang ikan!’ Tangannya bergerak, tulang ikan
dilempar pada Tong Leng.
Tong Leng menyambuti tulang ikan itu dengan gusar.
“Ya, kau yang makan tulang ini!” sambil melemparkan
kembali tulang itu, dengan tenaga keras.
“Celaka banget!” teriak Lu Hoo. Kepalanya ditundukkan.
tubuhnya menekan tanah. Tanah itu bersua, air ke luar dari
dalamnya. Tubuhnya menyusul ambles sedalam dua dim!
Louw Eng dan lain-lain tak terkira kagetnya, tak terasa lagi
pada datang mendekat. Ilmu semacam itu benar-benar
sudah sampai di batas maunya, didunia ini tak mungkin ada
lawannya lagi!
Louw Eng diam diam merasa terkejut,. Di merami
matanya, seluruh kekuatannya di Pusatkan. Tubuhnya
diberatkan seperti ribuan kati palu besi. Sesudah ngeden
ngeden mati matian tubuhnya melesak lagi sedikit.
Kepandaian memberatkan tubuh adalah kebiasaan Tong
Leng yang dibuat bangga,, Tapi dengan ngeden ngeden
ngepiah begitu memakan tenaga terlebih banyak. Kira kira
tubuhnya melesak sedalam satu setengah dim napasnya
engos engosan. Keringatnya sebesar besar kelereng
membasahi keningnya. Mabuknyapun kurang beberapa
bagian! Buru buru ia mengatur tenaganya, urat uratnya
dilemaskan, ia menarik napas Senen Kemis. Matanya
terbuka, melihat Lu Hoo. Kagetnya seperti dicekek setan!
Kiranya tubuh Lu Hoo sudah terbenam dua pertiganya.
Tinggal dada dan kepalanya saja yang kelihatan. Louw Eng
dan para tamu lainnya, matanya terbuka lebar lebar,
mulutnya nganga melongo.Hanya Lu Shi neng-tee dan Ong
Sui Sen diam diam tenang seperti tak kejadian apa apa!
Adapun ilmu memberatkan tubuh ini memusatkan
seluruh tenaga, dan dapat mengerahkan tenaga ini ke mana
yang dikehendaki. Kelihatannya tubuh tidak bergeming
sedikit juga, tapi di dalam tubuh pergerakan ini demikian
hebat. Kalau bisa mempelajari ilmu ini dengan baik. Cukup
dengan satu jeriji menyerang lawan, sebab tenaga seluruh

129
tubuh dapat disaluri dengan jeriji itu, lihatnya bukan
buatan! itu waktu di Ban Liu Tjunsr, kedua lengan Tong
Leng sudah dililit Tjen Tjen dengan ilmu ularnya yang aneh,
tapi dengan perlahan saja tenaganya dikerahkan Tjen Tjen
segera terlempar pergi. Tong Leng mengira ilmunya ini
paling hebat di kolong langit, tapi siapa tahu menghadapi
jago jago kelas berat, hatinya agak gentar sedikit.
Mendadak ia berdiri sambil berkata: “Sudah sudah kita tidak
perlu bertanding lagi.”
Pengemudi yang tertua Lu Tiepun maju dua langkah,
ditarik adiknya dari benaman tanah sambil dimaki:
“Membuat onar saja! Lekas kau minta maaf kepada Lau
Tjian pwee ini!”
Semua orang melihat bekas tubuhnya Lu Hoo yang
sudah merupakan liang besar. Demikianlah rata dan rapi
seperti sudah dibuatnya terlebih dahulu. Melihat ini Louw
Eng merasa tak senang, ia merasa Lu Sai Heng-tee ini
terlalu kurang ajar! Masa tamu dipermaini demikian
macam!
Pada hari hari biasa. Lu Hoo membuat liang-liang di
tanah. Inilah caranya dia untuk menangkap ikan dan udang.
Setiap air pasang liang-liang itu terendam air. begitu air
surut banyak ikan dan udang tertinggal di dalamnya.
Sungguh baik bukan cara ia menangkap ikan itu? Siapa kira
sesudah meminum arak. Tong Leng mengajaknya
bertanding ilmu memberatkan badan. Sebenarnya tentang
ilmu ini mendengarpun ia belum pernah! Tapi sesudah
dijelaskan begini begitu, ia teringat pada liang liang
penangkap ikan. Buru buru ia ke luar, diuruknya liang-liang
itu. Satu ditinggalkan dan ditutupi dengan sebilah papan
dan ditutup kembali dengan pasir sehingga tidak ketahuan.
Kemudian ia kembali ke dalam dan mengajak Tong Leng
bertanding di situ. Papan yang didudukinya harya sekali
tekan lantas pecah, tubuhnya lantas masuk ke dalam.
Adapun tabiat Lu Hoo sangat gemar bergurau dan main
main. Tambahan ia terlalu dimanjakan saudara saudaranya
dan Ong Sui Sen, sehingga tabiatnya keras dan tak

130
mengenal takut
“Maaf apa? Dia sudah menyerah! Lihat saja berapa besar
perutnya dapat dimasuki air danau ini!” Habis berkata ia
menuang arak. Pada waktu inilah sebuah bayangan hitam
datang menubruk desiran angin demikian besar dan
bertenaga sekali, sebuah kepalan lurus menuju ke dadanya.
Lu Hoo melengkungkan tubuhnya seperti gendewa
berbareng kakinya terangkat naik menghajar selangkangan
orang. Tak kira main main ini mengakibatkan mengadu
jiwa!!!!??
Kiranya Tong Leng dari malu menjadi gusar, tambahan
masih dalam keadaan mabuk arak. Pikiran buteknya ingin
segera mengambil jiwa Lu Hoo. Lu Hoo dikurniakan alam
bertenaga gajah. Dari itu ia senang mempelajari Gwa kang
(ilmu luar) Kakaknya sering menasehatkan untik belajar
Nui-Kang (ilmu dalam) tapi ia tak mempunyai kesabaran
untuk mempelajari ilmu itu.
Walaupun ia kena didahului Tong Leng, tapi reaksinya
sangat cepat dan tepat. Dengan jurusannya itu berbalik
menguntungkan dia. Ia membentak dengan gusar: “Hai
Hweesio kau jangan ingkar pada janji! Tukang jeblug (
hutang tak membayar).” Kaki kirinya melangkah miring,
lengan kirinya membabat miring, lengan kanannya
menggoco ke bawah, dimajukan kaki kirinya sambil
menendangkan kaki kanannya. Satu jurus dilengkapi tiga
macam serangan beruntun. Dengan tekad menaruhkan jiwa
dengan Tong Leng Hwee sio.
Jilid 5
Tong Leng menyambut semua serangan, hatinya agak
terkejut. Ia tak mengira budak ini bertenaga besar,
serangannya pun demikian ganas. Sedikit saja tak waspada
pasti jiwanya melayang. Untung iapun jago dari kelas
wahid. Sesudah bergerak seru, Tong Leng mengetahui
bahwa budak ini tak bisa ilmu dalam. Sengaja memberikan
lowongan di selangkangan. Lu Hoo dengan sepenuh tenaga

131
menendang sebagai pilar runtuh!
Dengan tenang Tong Leng membawahkan perutnya. Lu
Hoo merasakan sebagai menendang kapas yang lunak. Tak
sempat untuknya menarik serangan itu. Ia hanya
merasakan tenaga balikan yang maha besar menghantam
dirinya. Tak ampun lagi, tubuh nya ambrug dan jungkir ke
belakang sejauh dua tumbak.
Lu Kang melihat dua orang ini benar-benar bertarung
dengan sungguh-sungguh, baru maju melerai. “Hai budak !
Bukan lekas lekas minta maaf!” Iapun berpaling pada
Tong Leng sambil berkata : “Harap Thai-su ‘tenang.
Budak ini tidak mengerti urusan, tambahan sudah
mabuk. Sukalah Thai su memberi maaf sebelum itu yang
rendah menghaturkan maaf dulu umuKnya . . . Kata kata
itu belum habis, Lu Hoo sudah maju pula dengan
pengayuh besi di tangan; “Pei! Apa maaf, keledai botak ini
harus minta maaf dulu kepadaku. ‘Lekas kau tenggak air
danau itu sebanyak dua puluh cawan!” Tangannya
memutarkan pengayuh. Ber . . . ber diserangnya Tong
Leng. Tong Leng sudah siap sedia. Dua orang itu kembali
bertarung dengan sengitnya. Satu berilmu dalam yang lihai.
Seorang lagi bertenaga alam besar tambah pengayuh besi
Dalam sekejap saja sudah memasuki jurusan jurusan
berbahaya.
Louw Eng menonton dari pinggiran, ia tahu budak ini
bukan tandingan Tong Leng Hweesio. Andai kata tidak
mabuk siang siang Tong Leng sudah membuat Lu Hoo minta
minta ampun. Sengaja ia tidak merintangi, menunggu kalau
Tong Leng meng hajarnya babak belur baru turun tangan
memisah. Pemuda kurus ini, wajahnya tetap seperti biasa
dan sukar diraba jiwanya. Ia mengawasi perkelahian ini
dengan mata tajam.
Lu Hoo menabas dengan pengayuhnya dari atas ke
bawah. Tong Leng berkelit memiringkan tubuhnya. Lu Hoo
mengayuhkan pendayungnya seperti mengayuh perahu.
Pengkayuh itu dari belakang mendadak ke depan dan
menghantam bahu kanan Tong Leng. Tong Leng

132
memindahkan seluruh kekuatannya ke situ tanpa ber
geming dinantikan serangan itu. Pundaknya kelihaian
sebentar mengkeret sebentar berdiri. Plang!! tepat
penggayuh itu bersarang di tujuan, akan tetapi begitu kena
penggayuh itu mental ke udara sejauh lima enam tumbak.
Lu Hoo gugur besinya tak ampun lagi ia kena digempur
mundur. Tubuhnya sungsang sungsep sejauh dua tumbak.
Sebelum ia capat memperbaiki diri. Tong Leng sudah
mendahului lagi. Lengan kanannya diangkat Lu Hoo mati
kutu, tinggal menunggu ke hancuran badannya saja. Pada
saat inilah terdengar teriakan: “Awas Thai su. hati-hati lah!”
Serangan mendatang dari belakang Tong Leng mengegos
sekilat mungkin. Di lihainya penggayuh tadi jatuh dari atas
ke bawah entah siapa yang menyampoknya ke situ Lu Kang
perlanan lahan menghampiri sambil memberi hormat pada
Tong Leng.
Raut muka persegi dari Lu Kang serupa benar dengan Lu
Tie. Orang ini tabiatnya ber laiuan sekali dengan adiknya Lu
Hoo. Sedikit bicara tapi berisi. Dengan serius ia
menghaturkan hormatnya pada Tong Leng: “Thaisu demi
Bhudda yang maha pengasih, ampunilah kesalahan dari
adikku. Ia masih muda tak kenal peradatan, atas ini kami
tiga saudara menghaturkan maaf pada Thai su lahir batin.”
Suara itu masih mendengung di telinga, Torg Leng sudah
membentak lagi dengan beringas: “Hei! aku tak butuh
maafmu!” Tangannya maju ke depan mendorong Lu Kang.
Aneh bin ajaib Lu Kang masih tetap berdiri tidak
bergeming.
Tong Leng bukan main kagetnya, kiranya kepandaian Lu
Kang paling juga sekelas dengan adiknya. Siapa kira
kepandaiannya melebihi adiknya sepuluh tingkat. Tong Leng
mendilak-dilak, mata mabuknya menyapu muka Lu Kang:
“Terimalah sekali lagi doronganku!” Lu Kang tidak
bermaksud mengadu urat dengan Tong Leng. Tapi orang
mengerti iimu silat begitu terserang dengan sendiri
mempunyai gaya penolak yang otomatis. Tanpa disadari Lu
Kang sudah menunjukkan kepandaiannya. Tong Leng
berwatak ingin menang sendiri. Tak keruan keruan orang

133
diajak tarung. Lu Kang menyesal di dalam hatinya. “Yang
rendah mana dapat melawan Thai-su.” Saat ini tenaga air
kata-kata sudah mempengaruhi Tong Leng benar-berar.
“Lekas pasang besimu!” Lu Kang tergerak hatinya, segera ia
menjawab: “Silahkan Thai su , yang rendah menantikan
petunjuk yang berharga.” Tong Leng seperti babi buta. tidak
ba tidak bu mendorong orang dengan ganas. Begitu
lengannya tiba. Lu Kang sempoyongan jatuh sejauh tiga
tumbak. Ia merayap bangun dengan malu.” Terima kasih
atas kebaikan Thai-su.”
Siapa kira hal ini membangkitkan amarah Tong Leng
menjadi jadi. “Budak gila kenapa kau mengalah! Aku tidak
inginKan itu, asal. kau mengalah lagi sama dengan
menjadikan aku tontonan orang. Mari, sekali lagi. Kalau
tidak kau mengeluarkan ilmumu benar benar, jangan
menyesal kedua kakimu akan kupatahkan!”
Lu Kang secara terpaksa menjawab: “Thai-su
doronganmu itu tidak memakai bertenaga, sehingga aku
dapat menahannya. Kalau kau sungguh – sungguh
mendorongku aku pasti dapat celaka- – -” Tong Leng
memotong perkataan orang dengan sengit: “Ya kalau begitu
baiklah tapi kau harus melayani aku menuang arak untuk
menebus dosa.” Lu Kang menerima saja tawaran itu,
dituangnya arak dan diberikan pada Tong Leng. Di luar
perkiraan Tong Leng kembali mendorongnya secara
mendadak. Lu Kang biasa bersifat ksatriya tak terpikir Tong
Leng mau menipunya. Pukulan itu hanya tinggal satu dim
lagi dari tubuhnya. Lu Kang walaupun sabar ia toh berdarah
muda hatinya dongkol juga aku harus mengeluarkan
kepandaianku juga. pikirnya. Tampaknya tidak bergerak.
Dorongan Tong Leng ini demikian bertenaga tapi hanya
dapat menggoyangkan tubuhnva sedikit, kuda kudanya
tidak bergeser barang setengah langkah. Sebaliknya Tong
Leng hampir dibuatnya tak dapat berdiri. Hal ini membuat si
Hweesio mengangakan mulutnya sambil mendelik melihat
dia.
Dari pinggir, Louw Eng mengenali ilmu Lu Kang.
Dibisikmya Peng San Hek Lauw Bok Tiat Djin: ‘ Heran,

134
bocah ini dapat ber silat dengan ilmu Pang Kim Hong yang
lima puluh tahun dulu berhasil mengalahkan Peng-San Pai
dengan ilmu Im Yang Kangnya.” Kiranya limapuluh tahun
berselang, Peng San Pai pernah dipecundangkan Pang Kim
Hong gadis berusia sembilanbelas tahun, sehingga seluruh
anggota Peng Sin Pai merasa malu. Louw Eng sengaja
“berkata demikian untuk memanasi Peng San Hek Pauw
agar ia sudi, mempertunjukkan ilmu kepandaiannya.
Walaunpun perhubungan Louw Eng dengan Bok Tiat Djin
sangat erat, tapi ia selalu beradat angkuh dan tinggi, selalu
tak mau tunduk di bawah orang Kalau menghadapi musuh
biasa tak pernah ia mau turun tangan sendiri. Hanya sekali
kalinya ia mempertunjukkan kepandaiannya, yakni waktu
menarik Ong Djie Hai ke dalam sungai. Kini mendengar
hasutan Louw Eug hatinya jadi tergerak. Ia ingin
mengeluarkan kepandaiannya dengan cara yang indah
untuk menjaga muka.
Di sudut lain One Djie Hai menggunakan ketika
mendekati Tjiu Piau dan Gwat Hee.
“Adikku apakah kau masih ingat ceritera Suhu tentang
Im Yang Kang? Kita belum pernah melihatnya, kini ketika
yang baik untuk kita menyaksikannya.” Sambil berbisik ia
berkata pula: “Tjiu Heng tee, adikku, pernahkah Louw Eng
menceriterakan peristiwa Oey San kepada kalian?” Gwat
Hee menggoyangkan kepala, sebaliknya Tjiu Piau berbisik
dan berkata: “Ia sudah berbicara denganku, dan aku tengah
mencari ketika untuk membicarakan ini kepada kalian”
“Apa yang dikatakannya?” tanya Djie Hai
“Katanya musuh kita adalah Wan Tie No.”
“Percayakah kau akan ini?” Perkataannya beralasan juga-
—”
“Ini perlu kita selidiki dulu, tidak boleh sembarangan
percaya mulut orang.” potong Djie Hai. “Tahukah kau,
bahwa kita dua keluarga adalah bermusuhan.’ Tjie Piau
kaget mendengar ini, tapi belum ia bicara lagi suara Gwat
Hee sudah mendahului. “Kak, kau lihat, lihat itu!”

135
Waktu Djie Hai melihat tampak Bok Tiat Djin tengah
memberi petunjuk pada Tong Leng.
“Doronglah sekali, kujamin pisti kau berhasil
membuatnya terpental tiga empat tumbak!”
“Bagaimana kau dapat menentukan?”
“Jangan banyak ribut! Dorong saja!” Tong Leng
kegirangan. “Kalau begitu baiklah, ia menoleh pada Lu Kang
“Apa kau mau juga bertaruh yang menang minum arak
yang Ialah minum air?”
“Thai su kau sudah mabuk, lebih baik istirahat saja baik
baik.”
“Apa mabuk!? Dengan kata-katamu ini tidak boleh tidak
kau harus bertanding denganku sekurang-kurangnya dua
ratus jurus!” Tubuhnya maiu ke muka, ber…ber suara
tangannya. Lu Kang sesudah berkelit beberapa jurus,
hatinya benar-benar menjadi panas.
‘Baiklah kau dorong lagi aku sekali, umuk menentukan
siapa yang terlebih unggul. Sesudah ini aku tak mau
menemani lagi.” Sesudah berkata ia berdiri serampangan:
“Silahkan!”
Tong Leng tidak ragu ragu lagi, tangannya tellers
mendorong. Kali ini sungguh aneh, dorongannya berhasil
membuat Lu Kang terpental ke udara dan jatuh berguling
guling sejauh empat tumbak lebih. Lu Kang membalik
badan kembali berdiri dengan tak kurang suatu apa.
Dengan dingin ia berkata: “Sekali lagi ini tidak dihitung,
dibatalkan!
Ong Djie Hai melihat tegas, waktu Tong Leng mendorong
Lu Kang. Bok Tiat Djin membarengkan menyentilkan Tiat
Wan Tju (pelor besi) pada Lu Kang. Sungguh
mengherankan senjata rahasia sekecil itu dapat bertenaga
demikian besar. Sesudah ia mengedarkan pujiannya. Djie
Hai berbisik kepada Tjiu Piau dan adiknya: ‘”Kita harus
bersatu untuk melarikan diri dari tangan mereka. Mengenai
dendam atau budi pada tahun yang silam sebaiknya nanti

136
baru dibicarakan. Mereka ini biar bagaimana juga bukan
orang baik-baik. Tjiu Heng tee bagai mana pendapatmu?”
Sesudah memikir sebentar, Tjiu Piau mengangguk
anggukkan kepalanya. Djie Hai berkata pula: “Malam ini
harapan kita, semoga mereka main jadi sungguhan. Biar
mereka saling hantam antara kawan dan kita bertiga untuk
melolosi diri!”
Tjiu Piau tengah berunding untuk melarikan diri di pihak
lain Lu Kang sudah menjadi gusar.
‘Sekali lagi Thai su, tapi harus kau sendiri yang turun
tangan, jangan main menggelap. Kalau dengan cara jujur
kau bisa memenangi aku hatiku baru puas menerima
kekalahan ini?” kata kata ini diucapkan dengan tajam, di
samping itu menyindir pada Bok Tiat Djin.
Tong Leng pun mengetahui, bahwa BokTiat Djin
membantunya dengan sebuah Tiat Wan Tju. Hanya tidak
mengetahui apa gunanya dari pelor besi sekecil itu. “Pasti
aku sendiri. Kau terpental demikian jauh. bukan
dikarenakan kekuatan ku? Kiranya kau hanya menakutkan
pelor yang demikian kecil itu?”
“Pelor besi macam apapun aku tak takut, asal saja tidak
menggelap!” Tiba tiba Bok Tiat Djin berkata mendahului
Tong Leng.
“Apa katamu? Tak takut pada Tiat Wan Tju? Jagalah! Dua
Tiat Wan Tju segera akan menyerangmu!” Bok Tiat Djin ber
tubuh jangkung, kepalanya kelihatan tegas diantara kepala
orang. Kepala itu tak ubah nya seperti macan tutul. Ditutupi
warna kulit yang hitam legam, karena inilah ia mendapat
gelar Hek Pau (macan tutul hitam) habis bicara matanya
berkilat kilat menyeramkan dan menakutkan orang.
Louw Eng memusatkan perhatiannya, untuk melihat
bagaimana cara Bok Tiat Djin memecahkan Im Yang Kang
lawan, Demikian juga dengan Ong Djie Hai, ingin
memperluas pengetahuannya. Diam diam ia berbisik
kepada dua kawannya. “Perhatikanlah cara mereka
bertarung. Menurut ceritera Suhu Lu Yang Kang harus

137
dipelajari sedari berusia delapan tahun, lewat dari itu tak
dapat dipelajari dengan baik, dari itu ahli warisnya sedikit
sekali. Kalau Lu Kang benar benar dapat pelajaran asli dari
ilmu ini. Dirinya pasti mempunyai asal usul yang tak
sembarangan! ”
“Apa yang dinamai “Im Yang Kang itu?” tanya Tjiu Piau,
Baru Djie Hai mau membuka mulutnya. Tampak Bok Tiat
Djin sudah melepaskan sebuah Tiat Wan Tjunya. Keras
menghantam Lu Kang.
Djie Hu menunjuk itu sambil berkata. “Kau lihat, Tiat
Wan Tju ini tak dapat mengenainya!” Benar saji Tiat Wan
Tju yang terbang lurus itu, entah bagaimana sesampai di
pangkal lengan Lu Kang tergelincir terbang ke jurusan lain.
Sedangkan Lu Kang tak terlihat mengegos barang sedikit.
“Bagus!” seru Bok Tiat Djin dengan dingin. Kembali
sebuah Tiat Wan Tju melesat lebih keras lagi menyerang
dada kiri Lu Kang. Sekali lagi pelor itu terbang menyamping
ke arah lain.
“Kau lihat tegaskah!” tanya Djie Hai pada Tjiu Piau. “Kau
tahu Lu Kang sudah berhasil melatih dua aliran hawa satu
Im (negatip) satu Yang (positip). satu keras, satu lunak,
satu kuat satu lemah Dua aliran ini dapat dipergunakan
sekehendak batinya. Sekuat tenaga orang menghantamnya,
ia dapat memunahkan dengan Lu Yang Kang. Sebabnya,
bagian Yang mengeluarkan suatu tenaga penolak yang
besar bagian Im bagai tak bertenaga menyambutnya satu
menolak satu menyambut. Sehingga tenaga menyerang itu
dapat dikepinggirkan. Dari itu walau pun Tong Leng
Hweesio bertenaga besar, tapi tak dapat berbuat apa apa
pada diri nya. Kini serangan Bok Tiat Djin punah semua,
pasti perkelahian akan bertambah seru.
Tiba tiba Peng San Hek Pau memutari Lu Kang, sambil
meajaiani cara Pat Kwa. Ia berjalan dua langkah lantas
berhenti, se waktu waktu berjalan cepat cepat beberapa
tindak baru menoleh. Lu Kang mencurahkan pikirannya, tak
menghiraukan dia. Tiba tiba waktu Peng San Hek Pau
menindak sekali tiga langkah, tangannya bergerak dua butir

138
Tiat Wan Tju terbang menyerang, satu di muka terbang
agak perlahan. Satu di belakang menyerang dengan pesat.
Dua butir ini me nyerang kiri dan kanan, berbareng
menyerang Tjie Kong-hiat. Serangan ini diiringi suara
tertawa menggila dari Bok Tat Djin.
Pembaca harus tahu, kekalahan Peng San Pai di tangan
Pang Kim Hong itu sangat memalukan seluruh anggotanya.
Waktu itu ketua dari partai ini ialah Lui Lai Tjun, sebelum
wafat meninggalkan pesan dahulu ke pada segenap
anggotanya. Agar para murid nya tekun berlatih ilmu untuk
memecahkan Im Yang Kang lawan. Barang siapa dapat
berhasil kedudukan ketua ada miliknya. Kini sudah berlalu
sepuluh tahun. Sesampai di generasi Bok Tiat Djin,sudah
sampai turunan yang ketiga. Atas petunjuk petunjuk dari
yang tuaan dan para Su-hengnya serta ketekunan
menciptanya. Akhirnya Bok Tiat Djin dapat menemukan
cara memecahkan ilmu Im Yang Kang itu. Tapi semenjak di
dapat itu belum pernah dicobanya. Kini secara kebetulan
sekali Bok Tiat Djin menjumpai seorang yang mengerti Im
Yang Kang Tak terkatakan rasa girangnya, di balik itu iapun
merasa kuatir. Hal yang menggirangkan mendapat ketika
untuk mencoba ilmunya, kalau berhasil ia berhak menjadi
Tjiang Ban Djin Peng San Pai. Dengan ini semua to su heng
yang tak cocok dengannya dapat ditundukkan. Hal yang
mengkuatirkan misalkan ilmunya gagal untuk memecah kan
ilmu lawan, cita citanya menjadi kandas. Terkecuali itu ia
malu sekali kalau sampai bersenjata untuk menghadapi Lu
Kang.
Dari itu sebelum bergerak, Tong Leng dulu dibuat
sebagai Sian Hong (pembuka jalan) sambil dibantu dengan
Tiat Wan Tjunya. Pikirnya kalau berhasil baik, kalau kalah
Tong Leng yang ketempuhan.
Belum tertawa gilanya habis mukanya sudah berubah,
sebab dua Tiat Wan Tjunya tak hujan tak angin sudah jatuh
ke tanah.
Tjiu Piau adalah ahli melepas senjata rahasia, begitu
melihat cara Bok Tiat Djin melepaskan senjata sudah dapat

139
merabanya.
“Toako. kau lihat dua senjata rahasia itu pun satu keras
satu lunak, satu Im satu Yang. Maksudnya dengan lunak
mengalahkan keras, dengan keras mengalahkan lunak. Tapi
kenapa berjatuhan lagi?”
“Mungkin arahnya lain, sehingga terjadi keras lawan
keras, lunak lawan lunak. Karena salah raba ini menjadi
gagal kembali.”
Gwat Hee turut bicara.
“Tenaga Bok Tiat Djin sebenarnya lebih tinggi beberapa
lipat, dengan cara keras lawan keras dan lunak lawan lunak.
Lu Kang tetap bukan lawannya. Tapi di tubuh Lu Kang
mengalir dua hawa Im dan Yang yang hidup dan saling
bantu. Sebaliknya senjata rahasia Bok Tiat Djin adalah
benda mati yang tak bisa saling membantu, dari itu tak
dapat menang. Asal tangannya bekerja, aku kuatir Lu Kang
pasti menderita rugi. Tengah mereka asyik bicara, Bok Tiat
Djin sudah mencela t dengan ilmu Pau Tju Tiau Tjin ( macan
tutul melintas sungai, lengan kanannya menggencet dari
atas ke bawah dengan Tiat Tjui Kie Tjin ( palu besi
menyerang kaisar Tjm Shi Ong ), lengan kirinya menyapu
datang dengan Mang Him Liat She ( beruang buta mencari
korban ), serangan berantainya ini memaksa Lu Kang untuk
mengadu kekuatan dengan sesungguhnya.
Lu Kang menghindarkan semua serangan itu dengan
baik. Gelanggang pertandingan tengah serunya. Tiba-tiba
perhatian orang beralih demi didengarnya suara burung
aksasa melewat terbang. Di punggungnya burung raksasa
itu menggemblok seekor burung kecil. Burung itu berputar
sekaii lagi, sehingga tegas dilihat Tjiu Piau. Kiranya seekor
burung garuda yang sangat besai. Sedangkan burung kecil
itu adalah kakak tua berwarna ungu kepunyaan Tjen Tjen.
Burung itu bercowet kegirangan menemukan orang-orang,
sesudah itu ia terbang berseru, “Toako kau lihatlah burung
itu? Kakak tua itu adalah kepunyaan Tjen Tjen, janganjangan
ia sudah meloloskan diri dan datang ke mari” ‘Budak
itu sangat cerdik, kalau dia datang surgguh berabe”. kata

140
Gwat Hee dengan cemas.
Djie Hai mengawasi ke mana burung itu berlalu. “Janganjangan
Suhupun ada di sana.” Ketiga orang ini hatinya
risau. Karena orang yang akan datang itu menguntungkan
atau merugikan tidak diketahuinya.
Saat inilah Lu Kang mengeluarkan jurus Twa In Toh Gwat
( mendorong awan meraih bulan). Kedua tangannya
terangkat naik, sedangkan dua tangan Bok Tiat Djin secepat
kilat datang menggencet. Empat tangan itu bentrok
mengeluarkan suara ‘plakk’ yang keras sekali. Sekali ini
perhitungan Bok Tiat Djin tepat sekali. Keras lawan lunak,
lunak lawan keras ditambah tenaganya yang berlipat ganda
di atas Lu Kang. Sekali ini saja Lu Kang kena dipukul
mundur sebanyak dua langkah. Lu Kang menggeliat
sebentar, dari mulutnya menyemburkan darah hidup.
Bok Tiat Djin tertawa terbahak bahak. “Pang Kim Hong,
Pang Kim Hoig! kini Im Yang Kangmu tak dapat menjagoi
lagi di kolong langit iri. Lu Kang kutanya kepadamu, dari
mana kau dapat mempelajari ilmu ini? Wartakanlah kepada
suhumu atau Sou-tjou mu. bahwa Perig San Pai minta
bertemu untuk mengadu kekuatan!”
Bukan saja Bok Tiat Djin yang kegirangan setengah mati.
Louw Eng pun turut beigirang atas kemenangan orangnya
itu. Menggunakan ketika baik itu maju ke depan,
dipandangnya Lu Kang sambil berkata:
“Bok heng mengeluarkan tangan terlalu berat, sehingga
melukakan orang, lekas lekas Lu heng berobat dan istirahat,
ia berpaling pada Ong Sui Sen “Ong Shi heng. maksud kami
datang ke sini hanya numpang tetirah, sebab di sini cukup
tenang. Atas ini mohon Shi heng memandang persahabatan
antara aku dan ayahmu. Mengenai mereka dikarenakan
mabuk arak sehingga menjadi onar. sehingga membuat
kami tidak seperti tamu lagi. Kalau Ong Shi-heng tidak
keberatan hari esok kami akan mengadakan perjamuan. Ke
satu untuk mengunjukkan rasa terima kasih kami atas
perawatan baik dari Shi heng. Kedua untuk menghaturkan
maaf dan menebus dosa hari ini. Apakah Shi heng tidak

141
keberatan?” Ong Gwat Hee mendengar ini menjadi gelisah,
ditarik tangan kakaknya. “Kak bagaimana sekarang? Mereka
sudah berdamai kita bagaimana dapat melarikan diri?”
“Tenang saja dulu, lihat saja bagaimana jadinya.”
Ong Sui San berdiri sambil tertawa, ia berkata “Atas
kedatangan Tju wie, di sini menjadi lebih ramai. Sayang
orang orangku udak mengenal aturan. Dengan kepandaiannya
yang tidak karuan masih berani mempertontonkan diri
atas pengajaran dari Bok Tjian pwee, boan pwee
menghaturkan terima kasih.” Ia berpaling pada Lu Shi heng
tee. “Ingatlah baik baik, di air kalian dapat
mempertunjukkan kejelekanku itu, tapi sekali kali jangan
mengganggu orang di darat.”
Mendengar nada suara ini. Louw Eng sadar bahwa
mereka sudah merusak pamor pemilik pulau ini. Kata-kata
itu berarti mengatakan mereka tak dapat menandingi para
tamunya di darat. Tapi untuk di air mereka tak dapat dibuat
celaka.
Louw Eng sadar pada tabun yang lalu Ong Sui San
bertabiat tak mau mengalah. Barang siapa berani berbuat
salah kepadanya, walaupun dewa akan dilawannya. Kini
tenaga mereka tengah dibutuhkan, permusuhan tak boleh
dilanjutkan, dengan sabar ia berkata: “Di bawah pimpinan
yang gagah tidak terdapat perajurit yang lemah. Barusan
saudara saudara Lu sudah menunjukkan ilmu di air yang
mengagumkan sekali. Tapi untuk kami yang tak dapat
berenang, asal kecebur di air pasti ilmu kamipun turut
kerendam ”
“Tjian pwee terlalu merendah, kapan hari kami masih
mengharap pengajaran yang berharga dari Tjian pwee Tjian
pwee. Kini hari sudah malam, kami mempersilahkan Tjian
pwee Tjian pwee naik ke pulau untuk beristirahat. Lu Toako
antarlah mereka.”
Lu Tie jalan di muka. Lu Hoo mengikuti di belakang
sambil menggendong Lu Kang. Oug Sui Sen sesudah
memberikan jalan dulu pada beberapa orang baru

142
mengikuti dari belakang.
Pantai itu sangat mengherankan, yakni memanjang
seperti jalanan. Kanan kiri tergenang air, Kalau ingin
sampai ke rumah rumah yang berada di pulau lebih cepat
mengambil ja an air dari pada jalan darat-Sesampai di tepi
danau Lu Tie berkata : “Kita memotong jalan ini saja! Lebih
dekat.” Tak menoleh lagi, kakinya melangkah masuk ke air,
dengan cepat air sudah merendam sampai ke lututnya. Lu
Hoo sambil menggendong Lu Kang juga melangkah ke air,
air merendam sampai di pinggangnya. Tong Lengpun maju
melangkah seenaknya. Begitu kakinya kena air seluruh
tubuhnya masuk ke dalam. Tak tahu nya air itu demikian
dalam, sesudah gelebekan dan menenggak beberapa ceguk
air danau, baru kena ditolongi Bok Tiat Djin.
“Jalan air lebih enak, tapi kalau Tju wie tidak suka boleh
ambil jalan darat.”
Habis berkata, perlahan lahan ia melangkah kan kakinya
ke air. Tampak tubuhnya semakin melangkah semakin
rendah, seolah-olah berjalan di tangga saja! Akhirnya
seluruh tubuhnya terbenam dalam air. Tak lama kemudian
alunan airpun hilang dan menjadi hening, dan tenang.
Caranya ungkang angkit masuk ke air ini, mengingatkan
orang pada setan air, sehingga membuat bulu roma pada
berdiri!
Orang tahu. bahwa mereka sengaja mempertontonkan
kepandaiannya- Lou Eng dan kawan-kawannya bengong
mematung melihat ini. Tak lama kemudian, di pantai
seberang kelihatan tubuh Ong Sui San yang muncul sedikitsedikit
seperti tak kejadian apa-apa, ia mendarat ke pantai.
Waktu diteliti terdapat sesuatu benda di punggungnya.
Orang orang menjadi heran, berlarian dulu mendahului
pergi ke pantai seberang. Tampak di pasir menggeletak
sesosok tubuh yang basah kuyup. Wijahnya telah menjadi
pucat pasi, tak berkutik menjadi mayat. Orang ini tak lain
dari Mau San Hek Hoo! Mayat ini sudah merapung di air dan
kena didaratkan oleh Ong Sui Sen.
Tak terkira kagetnya Louw Eng, matanya berputar

143
memberi isyarat pada Djie Hai. Sebab hanya Djie Hai lah
yang mengetahui rahasia ini. Djie Hai berlagak gila seperti
tak melihat. Louw Eng maju paling mukai pura-pura
memeriksa denyut jantungnya. Se-Sndah itu dengan sedih
dan wajah berputus asa ia berkata: “Tak tertolong lagi
jiwanya* Entah siapa yang mencelakakan Hek Hoo-heng
ini? Kini harus bertekad untuk melakukan pembalasan
untuknya!'” Tak tertahan lagi air matanya bercucuran.
Djie Hai hatinya bergerak:”Kalau tidak sekarang, kapan
lagi kita berlalu?” Ditariknya tangan adiknya dan Tjiu Piau.’
“Tempat ini tidak baik untuk didiami terus.-Kini saatnya
tiba untuk melarikan diri, bagaimana pendapatmu pergi
atau tidak?”
“Ketika apa?” tanya Gwat Hee dengan gelisah.
“Hek Hoo itu mati di tangan Louw Eng sendiri. Kini ia
tengah bersandiwara agar orang tidak mencurigai ia yang
melakukan penbunuhan itu. Dengan ancaman untuk
membuka rahasia kita paksa Louw Eng untuk melepaskan
kita. Kalau Louw Eng melulusi permintaan kita dengan
sendirinya yang lain akan setuju saja.”
“Bagaimana caranya?” tanya Tjiu Piau. “Kita harus
sampai ke pantai dan naik perahu, tanoa pamit kita berlalu.
Misalkan mereka tak dapat mengejar kita itu yang terbaik.
Kalau saja terkejar baru kita bicara dengan Louw Eng.”
Baiklah kata dua orang itu dengan berbareng.
“Ingatkah di mana kita mendarat tadi? Sebelum kita
mencapai perahu yang tengah berlabuh itu. Kita harus
merepotkan dulu mereka dengan akal, agar perhatian
mereka menjadi kacau. Kita saling memberi tanda, begitu
dapat ketika segera mengangkat kaki.”
“Bagus.” jawab Djie Hii “dengan bertepuk tangan tiga kali
sebagai kode. Mengenai akalnya serahkan padaku!”
Sesudah berkata ia berbisik pada Gwat Hee. Kemudian pada
berlarian untuk melihat permainan Louw Eng,
Louw Eng dalam sedihnya mengucurkan banyak air mata
buayanya. Tiba tiba ia berpaling pada Ong Sui Sen sembari

144
berkata dengan tajam. “Ong’Shi-heng apakah di pulau ini
tidak terdapat orang luar?”
Dengan wajah yang tetap tenang Ong Sui Sen
menjawab. “Bu Beng To adalah tempat yang tersembunyi,
dapatkah kiranya orang luar datang ke mari? Demikian juga
dengan kalian, kalau tidak mendapat petunjuk dari ayahku
jangan harap datang ke sini! Lagi pula semenjak kami
mendiami pulau ini tak pernah menjumpai barang seorang
panca longok. Kamipun tidak mempunyai ganjalan apa apa
dengan orang luar, bilamana datang orang luar, paling
paling untuk menyeterukan kalian?” Dengan kata katanya ia
membersihkan diri dengan baik. dan menyatakan dirinya
hanya sebagai penonton saja.
Louw Eng berpikir. “Kau dapat membersihkan diri
demikian baik, akupun akan menjadikan diri dari tamu
menjadi tuan rumah. Sehingga pulau ini dapat kugunakan
dengan bebas. Baru saja mulutnya akan dibuka. Tiba tiba
terdengar suara Djie Hai berteriak:
“Lihat! Di sana ada lagi mayat terapung bukan?” Orang
orang memalingkan kepalanya menurut arah telunjuknya.
Dalam penerangan bintang yang demikian suram. seolah
olah benar saja terdapat benda merapung. Diam diam Louw
Eng terperanjat. Pikirnya; “Ini pasti mayat dari Pek Hoo.” Ia
berlari memburu ke sana beramai ramai.
Akal Djie Hai mendapat hasil, buru buru ia bertepuk
tangan tiga kali. Ketiga orang itu segera mengeluarkan ilmu
mengentengkan tubuhnya. Pesat menuju ke arah timur
laut. Kiranya diam diam Djie Hai membuka baju luarnya dan
dibungkusnya sebilah papan. Waktu Louw Eng dalam
keadaan sibuk dengan sandiwaranya benda ini dilepas Djie
Hai. Sedangkan yang lain otaknya tengah memikir siapa
pendatang yang membunuh Hek Hoo itu. Sehingga orangorang
yang demikian banyak ini kena di-ceboki Djie Hai.
Bu Beng To ini tidak seberapa besar, dalam waktu
sebentar saja Djie Hai dan dua orang lagi sudah berhasil ke
pantai utara; dengan sekali loncat mereka sudah berada di
perahu yang berpendayung dari besi, mereka tak dapat

145
mengayuhnya dengan baik.
Secara adug adugan dikayuh kayuhkannya pendayung
itu. Biru saja perahu itu mau bergerak. Gwat Hee menahan
secara tiba-tiba. “Perlahan dulu!” Tubuhnya meloncat ke
perahu satunya lagi dengan pisau kecil perahu itu dibacok
bacok. Kemudian tubuhnya mencelat kembali. “Hayoh!
Lekas lekas kayuh!”
Atas permainan di air, sangat asing untuk tiga orang itu.
Dengan pengayuhnya yang berat mereka tak mengetahui
caranya me-ngayuhkanpendayungitu. Sehingganerahu itu
berputar putar di atas air Gwat Hee mengambil nengayuh
itu, dicontohnya bagai mana caranya Lu Tie mengayuhkan
pendayungnya, sehingga perahu itu berjalan. Pendayung itu
sangat berat, baru saja beberapa kali Gwat Hee mengayuh,
ia sudah merasa lelah. Djie Hai buru buru sedia
menggantikannya.
Ketiga orang ini belum melihat pergerakan orang-orang
di darat, sehingga bernapas lega
“Toako, apa yang kau bicarakan dengan Louw Eng tadi?”
tanya Tjiu Piau.
“Kini belum saatnya untuk kita bicara dengan teliti.
Sebaiknya kita berdanmai, bagaimana caranya untuk
menghadapi mereka jika kita terkejai?”
‘Misalkan satu lawan satu saja kita tak dapat
melawannya. Lebih-lebih mereka terdiri dari tujuh jago-jago
kelas berat, kalau terkejar, sukar untuk mengatakannya,”
jawan Tjiu Piau.
“Kita harus mencari akal untuk satu lawan satu,” jawab
Gwat Hee.
“Aku kuatir mereka tidak datang sendiri-sendiri.”
“Perahu yang satu itu sudah kulubangi beberapa buah,
dengan perahu itu sudah tak mungkin mereka mengejar
kita. Yang ditakuti di pulau itu terdapat pula Perahu lain,
kalau tidak Kita tak perlu kuatir. Hanya empat penghuni
pulau itu saja yang mengerti ilmu di air dan dapat

146
mengejar kita. Tapi empat orang ini tidak bermusuhan
dengan kita, juga bukan orang kepercayaan Louw Eng, bila
mereka dapat mencandak masih bisa berdamai dengan
mereka,” kata Gwat Hee.
“Kalau begitu,” kata Djie Hai “kita terpaksa harus
menjalankan akal licik. Waktu turun tangan kita harus
menggabungkan tiga tenaga kita untuk jalan hidup. Tjiu
Piau Hian-tee kau kira bagaimana?”
“Begini baik juga, sayang kepandaianku tidak seberapa.
Hanya dalam melepas senjata rahasia aku dapat bergaya
juga. Hweesio yang gemukpun pernah merasakan beberapa
batuku!” Kata-kata ini membuat Gwat Hee ber besar hati,
tangannya digosok gosok “Ada ! Ada !” katanya.
Djie Hai mengerti bahwa adiknya sudah memikiri sesuatu
jalan atau pendapat baik. “Kau sudah mempunyai pendapat
apa?” tanya Djie Hai terburu buru.
“Tjiu Piau koko, kau tahu bahwa kami dua saudara sudah
biasa menggabungkan tenaga. Dengan cara ini kami masih
dapat bertahan untuk menghadapi lawan Kini ditambah
tukang melepas senjata rahasia, tiga tenaga digabung per
mainanpun bertambah banyak Nah gini! Aku dan Toako
menghadapi lawan dengan Kong Sim Tjiang, Kong Sim
Tjiang menggunakan tenaga telapak tangan, dapat benar
benar bertenaga dapat juga tidak.
Dengan ini dapat membuat lawan kalang kabut, dalam
keadaan inilah. Kau hajar musuh dengan batu. Tempo hari
Tong Leng Hweesio berhasil memenangi kami sejurus, tapi
kini kau di samping kami. Aku berani memastikan ia tak
dapat berbuat apa-apa lagi terhadap kita!’
“Cara ini memang baik. Tapi aku tidak mengetahui waktu
kalian menggunakan kenapa atau tidaknya. Kalau aku
sudah tahu dimana digunakan tenaga kosong, dapat
kubarengi melepas senjata, musuh dalam keadaan limbung
pasti kena kuhajar.”
“Apa kau hanya menggunakan batu melulu?” tanya Djie
Hai.

147
“Oh, jangan kuatir Bwee Hoa Tok Tju keluarga Tjiu masih
belum hilang dari muka bumi!”
“Kalau begitu bagus, Hian tee, kalau terpaksa kau
pergunakanlah mutiara itu.”
“Yah, kalau terpaksa”. Hatinya tidak terasa lagi merasa
kesal. Sebab Bwee Hoa Tok Tju ini terdiri dari dua macam
racun. Ia sendiri hanya mempunyai semacam obat
pemunahnya, sedangkan pemunah dari ular seribu macam
itu ada pada Tjen Tjen. Barang siapa kena racun ini jiwanya
pasti tak dapat tertolong lagi. Apakah Louw Eng dan kawankawannya
mempunyai dosa yang harus ditebus dengan
jiwanya?
“Adanya mutiara itu, membuat hatiku tambah berani.
Tjiu Piau ko kau ingat saja. Kalau kita mengeluarkan jari
rapat tandanya bertenaga benar benar, tapi kalau jari
terbuka tandanya tidak bertenaga. Sesudah musuh kena
tipu kita badannya tentu limbung, gunakan ketika itu
dengan baik.”
Tjiu Piau mengangguk-angguk mendengar itu. Kembali ia
bertanya pada Djie Hai : “Toako, sebenarnya Loa Eng
mengatakan apa sih?” Djie Hai menceriterakan apa yang
dibicarakan antara ia dan Louw Eng. Juga tentang kematian
dari Mao San Djie Hoo. Akhirnya Djie Hai menutup
penuturannya dengan kata: “Louw Erg hanya bisa bicara
kata kata gila. Lihat saja wataknya tidak berjiwa patriot
sama sekali Dari itu kata katanya boleh dianggap seperti
anjing menggonggong.”
“ivalau Louw Eng berdusta, kenapa Djie Hoo dibunuh?”
“Kesatu kata katanya kena dicuri dengar oleh Djie Hoo,
sehingga ia takut mendatang kan bencana dihari kelak pada
dirinya. Kedua membunuh dua orang untuk Louw Eng sudah
biasa. Ia membunuh dengan harapan b:sa dipercayai kita.”
“Kaisar berkata benar,” kata Gwat Hee “Tahukah sepuluh
tahun lebih berapa banyaK orang orang dari pencinta
negara mati di tangannya, terhadap manusia ini, tak boleh
kasihan lagi.” Kata-katanya Gwat Hee membuat Tjiu Piau

148
manggut-manggut tak henti hentinya. Ia merasa kagum
ternadap gadis yang amat cermat ini. Matanya melirik,
tampaklah olehnya seorang gadis yang semakin gagah.
Hatinya merasakan goncang!
Sebaliknya Djie Hai pun menanyakan apa yang
diceriterakan Louw Eng pada Tjiu Piau. Dengan sejujurnya
Tjiu Piau menceritakan apa yang didengar.
“Akupun sudah menduga dari semula, bahwa katanya itu
bohong belaka. Kini dugaanku tidak meleset barang sedikit.
Untung kita„tak dapat diadu-dombnkan. Baiklah Louw Eng,
Louw Eng maksudmu ingin kami bentrok. Sebaliknya kami
akan bersatu padu, untuk menghadapi kau bangsat tak
kenal malu!” Mendengar kara ini Tjiu Piau merasa kan
perkataan Lou Eng benar benar tidak karuan jantungnya.
“Perkataan toako benar adanya Kita bersama tujuan
untuk mendaki Oey San dan menemukan orang yang mengantarkan
sajak itu. Di situ kita baru dapat membereskan
penasaran kita selama delapan belas tahun dan
menghilangkan penasaran dari orang tua kita.
Saat inilah terdengar suara yang aneh, tidak jauh dari
tengah tengah danau terlihat sinar api menjulang ke
angkasa. Agaknya senerti panah api, tapi panah api tidak
seterang ini!
Kita berbalik melihat orang orang di Bu Beng To. Begitu
mereka tiba ditempat terdapat msyat yang ditunjuk Djie
Hai, Lu Tie mendahului yang lain turun ke air. Seperti ikan
saja carananya ia berenang. Sebentar kemudian ia sudah
sampai ke benda yang dikebut mayat itu. Begitu sampai tak
tahan jaei ia tertawa ha – ha– ha– ha– Dalam kegelapan
orang orang tidak dapat melihat tegas apa yang
dikerjakannya terhadap mayat itu. Suara tertawa memecah
suasana itu. begitu melihat Lu Tie mendarat dengan
pakaian anak sekoiah!
“Di mana ada mayat, hanya baju luar ini yang terdapat!”
kata Lu Tie sambi! tertawa terpingkal p»ngkal Louw Eng
mengenali baju kepunyaan Djie Hai dan dilihatnya

149
Djie Hai sudah tak ada di.sttu. Ia naik ke tempat
tertinggi dari bagian pulau itu, di lihatnya sebuah perahu
tengah bertolak pergi Ia sadar kena diingusi bocah bocah
itu, gusar dongkol, gelisah malu menjadi situ di dalam
pikirannya.
Bok Tiat Djin, Tong Leng Hweesio dan keempat orang
lain sudah sampai di tempat Louw Eng berada, louw Eng
mengkerutkan keningnya menghadap pada mereka. Akal
bulusnya kembali ke luar. “Tjuwie dapat melihatnya dengan
mata kepala sendiri, bahwa Hek Hao mati, Pak Hoo hilang
sedang kan ketiga bocah ini melarikan diri. Kalau bukan
kerjaannya bocah bocah ini siapa lagi yang melakukan?
Bocah bocah yang masih hijau ini biar bagaimana tak dapat
terlepas dari tangan kita. Baiklah kini kita tanggap. Sesudah
itu kita baru mengurusnya!’ la tahu ilmu di air terhitung
Ong Sui Seng yang terlihai. Kalau saja mendapat bantuan
nya alangkah baiknya Otaknya segera oer putar untuk
memanasi orang: “Ong Shi heng mendiami pulau ini tak
pernah ada yang beraut berbuat kurang ajar datang ke sini.
Tak kira kini terdapat pembunuhandi danau ini, lebih lebih
yang dibunuh itu adalah kawan seperjuargan dari kita.
Misalkan kabar ini sampai tersiar di dunia Kang Ouw,
sungguh tak enak di pendengaran Tong Leng, Hek Pau dua
saudara bantulah aku untuk membereskan hal ini. Agar
peristiwa ini tidak sampai tersiar di luaran dan merusak
nama baik dari raja sungai Ong Hie Ong.’* Mendengar kata
kata dari Louw Eng ini, kedua mata Ong Sui Sen kontan
mendelik, la tahu kata kata Louw Eng ini mengandung
suatu siasat. Sebenarnya tidak perlu Louw Eng turun
tangan, hal ini pasti akan di Selesaikannya. Karena iapun
tahu hal ini bisa merusak keangkeran nama ayahnya. Tapi
di sebabkan Louw Eng berkata begitu, batinya jadi berbalik
pikir. Dengan senyuman yang memenuhi mukanya ia
berkata! “Kalau Sam Wie Tjian pwee hendak turun tangan,
tidak satu perkara di riunia ini yang tak dapat dibuat beres-
Dengan inilah Bu Beng To akan lebih terkenal lagi.
Sebelumnya Siau Pwee menghaturkan terima kasih.”
Kembali ia mengambil jalan tengah. Louw Eng tak dapat
berbuat apa apa. Diajaknya kawan kawannya pergi

150
mengejar Perahu yang berlabuh itu di iaikinya dan d’kayuh
keras keras. Pengejaran dilakukan dengan tergesa-gesa.
Bok Tiat Djin adalah akhli mengayuh perahu, dengan
cepat perahu itu melesat maju ke muka. Tak lama
kemudian terdengar teriakan Tong Leng yang mengatakan
celaka. Kiranya liang yang dibuat Gwat Hee sudah mulai
bereaksi begitu kena tekanan berat badan ketigaorang itu.
Air makin lama makin banyak yang masuk. Nasib perahu itu
segera akan tamat. Tong Leng yang paling gelisah. Bok Tiat
Djin dapat juga bererang, tapi untrk menolongi oraug. bisa
bisa jiwanya juga akan mati konyol. Ia mengambil keputusan
untuk tak menolong orang. Louw Eng memutar
oraknya terlebih cepat dan biasa. “Dengan kepandaian kami
ini apakab harus mengantarkan jiwa secara cuma cuma di
Bu Beng To ini? Thti tiang hu sebelum mati harusbirdaya.’
Dengancepat dirogoh sckunya dan ditepaskan panah apinya
yang dapat melesat sejauh 10 lie guna minta pertolongan
pada Ong Sui Sen.
Sinar api inilah yang dilihat Djie Hai dan saudara –
saudaranya. Tapi walaupun sudab lama api itu padam, tak
terlihat gerakan apa-apa di atas pulau. Menurut per aturan
KangOuw kalau sudah melihat tanda minta tolong, harus
segera memberi isyarat lagi sebagai tanda balasan. Tapi
heran sekali orang orang di pulau itu tidak menghiraukan
tanda bahaya dari Louw Eng ini. Liang di perahu itu kian
lama kian besar, air sudah hampir memenuhi lambang
perahu itu. Sedikit lagi saja air masuk sudab cakup untuk
mengaramkan perahu itu. Ketika ini-lan Louw Eng teringat
waktu membunuh Hek Hoo, papan perahu pada merapung.
Mengingat ini hatinya merasa lega.
Tong Leng tak henti hentinya menyumpah nyumpah Djie
Hai bertiga. Katanya ini pasti kerjaan mereka, kalau ia tak
mati. Djie Hai tiga orang akan dipencet dan diremas satu
satu katanya. Hanya Bok Tiat Dju sajalah yang tetap
tenang. Pikirannya kalau sapai perahu karam, dengan
meminjam tenaga balikan buru buru memecat menjauhkan
diri dari dua orang ini, agar tidak sampai dipegangi dan
mati konyol menjadi setan air.

151
Louw Eng mendongkol bukan main pada Ong Sui Sen.
Tapi ia sudah mempunyai daya untuk menyelamatkan
dirinya. Akal itupun diberi tahu pada kawannya sehingga
mereka menjadi kegirangan. Sesudah berdamai, tubuh tiga
orang ini segera mencelat ke atas. Louw Eng membarengi
menghajarkan pengayuhnya nada perahu itu. Demikian
juga dengan Tong Leng dan Tiat Djin menghantamkan
tangannya pada perahu itu. Atas hajaran dari tiga orang
perahu itu menjadi kepingan-kepingan papan yang agak
besar. Dengan indah mereka turun dari udara hinggap di
atas papan-papan itu.
Sesudah berdiri teguh Louw Eng memunguti belasan
keping papan itu.
Dengan tolol-tololan Tong Leng bertanya pada Louw Eng:
“Louw Eng, kayu yang basah ini mana dapat dipakai
masak?”
“Kau turut saja caraku.” Habis berkata, kepingan papan
itu dilempar sejiuh tiga empat tumbak, tubuhnya menyusul
menginjak papan papan itu. Begitu sampai begitu dilempar
lagi sekeping papan dan tubuhnya kembali mencelat dan
hinggap di papan itu. Demikianlah ia maju ke muka. Papin
papan yan? bekas dipijak Louw Eng dipergunakan Bok Tiat
Djin dan Tong Leng. Dengan cara ini ketiga tubuh orang ini
seperti terbang di atas air. Lebih cepat puluhan kali dengan
naik perahu!
Sesudah menempuh perjalanan jauh juga, papan papan
itu segera akan terpakai abis. Dalam saat ini Louw Eng
mengikat beberapa papan itu dengan tambang Ujung
tambang dipegang di tangannya, habis dipakai papan itu
bisa ditarik pulang, sehingga dapat di pergunakan tak habis
habisnya. Bok Tiat Djin melihat ini merasa senang bahwa
jiwanya tidak bakal mati. Atas ini ia mengakui kecerdikan
Louw Eng. Tak lama kemudian, di muka mereka sudah
tampak sebuah perahu.
Louw Eng terbahak – bahak tertawa kesenangan
pikirnya.”Bocah-bocah ini hampir saja berhasil melarikan
diri dari tanganku, tapi akhirnya mereka tak dapat

152
meloloskan diri dari tanganku. Dengan kepandaianku aku
selalu mengalami kemujuran di dunia Kang Ouw. Kali ini
kalau aku berhasil lagi dalam pertemuan Oey San namaku
akan menjadi terkenal benar benar, mengingat Oey San
lantas teringat kata kata sajak yang dimiliki Djie Hai. Tjiu
Piau, Gwat Hee. Tiga suJah diketahui, hanya tinggal satu
bari? yang belum diketahui. Baris itu pasti menunjukkan d’
mana mereka harus berkumpul dimalaman Tiong Tjiu.
Karena pentingnya sajak .itu aku harus mendapatkannya,
hal ini harus kuselidiki dari Djie Hai. Terkecuali dari itu,
akupun harus mengetahui di mana tempat tinggal dari
ibunya. Sesudah itu baru kuhabiskan riwayat mereka.”
Memikir sampai di sini, senyumannya yang jarang itu
kembali ke luar.
Djie Hai tiga orang sekuat tenaga mengayuh perahu.
Danau itu cukup lua?. sehingga mereka tak dapat
membedakan arah tujuan. Bagusnya Gwat Hee sudah
memperhatikan keadaan bintang di langit, rrenurut arah
b’ntang mereka langsung menuju ke arah selatan. Di muka
sudah terlihat gelagah gelagah yarg menutupi air danau
Mereka tahu Bu Beng Ho sudah dekat, mereka girang sekali
mendekati ja’an ke luar itu.
Tiba tiba mereka mendengar seruan dari belakang.
Dilihatnya tiga bayangan orang datang menghampiri, orang
orang itu berjalan di air seperti juga didaratan saja. Ilmu
kepandaian ini di dengarnya saja be’um. apa lagi untuk
melihatnya. Tapi ini kenyataan di depan mata!
“Kak, mereka pasti adalah Ong Sui Sen dan Lu shi Heng
tee. Orang lainmanamem punyai kepandaian begini?”
“”Mereka tidak berempat bukan?” tanya Tjiu Piau.
“Lu Kang sudah terluka, tentu tidak datang.” jawab Gwat
Hee
“Kalau benar benar mereka yang datang, kita coba
dengan kata kata untuk menasehatkannya mereka supaya
tidak bergaul dengan komplotan Louw Eng yang jahat itu.”
Mereka sedang berunding dan bicara sedangkan pengejar

153
sudah semakin dekat. Sehingga tubuh dari pengejar itu
sudah dapat dilihat dengan tegas.
“Kak, kau lihat, orang yang bertubuh gemuk itu
bukankah Tong Leng?” tanya Gwat Hee. “Nah! satu lagi itu
Louw Eng!* seru Tjiu Piau.
Habis berkata kedua orang itu bungkem, karena tak
mengira bahwdakepandaian di air dan tiga orang ini
demikian menakjubkan. Tak terasa lagi mereka menjadi
gelisah. Keadaan menjadi hening dan sepi, suara pengayuh
saja dan loncatan ketiga orang yang terdengar. Suara tiga
orang itu makin mendekat makin menakutkan Tiba tiba Djie
Hai mendapat keputusan lain. Perahu itu dikayuhnya masuk
ke dalam gelagah gelagah yang lebat, gelagah itu tumbuh
lebih tinggi dari orang. di dalamnya terdapat tempat lain
Arah timur dan barat ditutupnya, merupakan Pak-kwa tin di
atas sungai.”
“kita masuk ke dalamnya bersembunyi dan kita sikat
satu satu!” kata Djie Hai. Tj u Piau dan Gwat Hee
menganggukkan kepa lanya.
Suara loncatan kaki sudah terdengar dekat sekali.
“Kalau tiga bocah ini bersembunyi, urusan jadi berabe. Di
mana kita harus mencarinya?” tanya Bok Tiat Djin. Louw
Eng tertawa menakutkan sambil berkata: “Mudah, mudah
sekali.- Kutanggung mereka lari ke luar!”
Tiga orang itu bercekat hatinya mendengar kata kata
Louw Eng ini.
“Kita tutupi saja telinga, jangan mendengar! Bangsat tua
ini kembali menggoyang kan lidahnya tak keruan.” Belum
suara Gwat Hee habis, suara Louw Eng sudah menyusul;
“Keponakanku yang manis, keluarlah ! Jangan nakal!” Tiga
orang itu tidak men Jawab.
“Kalau kalian tidak mau ke luar juga, hati hatilah dengan
api yang akr.n mem bakar gelagah itu!” Tiga orang itu
menjadi kaget, pikirnya: “Kalau mereka melepas api, ini
sangat celaka,”

154
“Sebaiknya kita lekas memasuki gelagah itu, dengan
harapan ada jalan ke luar dari dalam gelagah itu. Kalau kita
berhasij, api itu tak dapat membakar kita,” kata Gwat Hee
sambil menunjuk ke satu jurusan.
“Cukup beralasan!” jawab Djie Hai Buru-buru dikayuhnya
perahu itu ke dalam gelagah. Siapa tahu gelagah itu
semakin lebat, perahu itu dipaksa jalan sesudah mendapat
bantuan dari tangan untuk menyingkirkan gelagah-gelagah
perintang. Di balik sana Louw Eng tak henti hentinya
memberikan ultimatum. Ketiga orang itu tetap tak
menjawab. Sinar api sudah terlihat,. Ketiga orang itu tetap
mengayuh perahunya dengan tenang.
“Jangan takut dengan api! Api itu harus membakar dulu
gelagah yang banyak itu, baru bisa datang ke sini.
Sedangkan kita masih mempunyai waktu yang cukup
untuk-melarikan diri,” kata Gwat Hee. Tiba tiba, Tjiittt!
panah api terbang melewati kepala niereka.
“Celaka tiga belas, mereka memakai panah api!” seru
Gwat Hwee dengan kaget. Sebentar saja api sudah
membakar gelagah disebeklah kirinya.
Ong Djie Hai dan kedua saudaranya terkurung api di
dalam gelagah. Louw Eng bermaksud membakar mereka
hidup-hidup.
Ong Djie Hai menjadi gusar, ia berseru ker»s: “Hei Louw
Eng bangsat yang ganas melebihi serigala. Jangan harapkau
berhasil menipu kami lagi.” ‘Hmmm’ terdengar jawaban
yang mengejek. Kembali dua panah api terbang
mendatang. Panah ini entah ter buat dari bahan apa
terangnya bukan buatan, begitu sampai gelagah gelagah itu
segera menyala Seolah-olah gelagah – gelagah itu seperti
rumput kering. Dalam sekejap jalan ke muka sudah
dikuasai Si Jago Merah.
Tiga orang menjadi bingung, ingin di putarnya perahu ke
kiri atau ke kanan, lagi-lagi apt mendahului. Sehingga
tinggal jalan mundur saja yang tak dikuasai api. Louw Eng
bermaksud agar mereka mundur kembali. Siapa tahu

155
mereka lebih suka mati dari pada kembali.
Api itu membuat engap pernapasan tiga orang itu,
membuat matanya mengucurkan air kepedihan kena asap
itu, tubuhnya mandi peluh kepanasan.
“Kita mercarl kesempatan untuk menerjang ke luar. Akan
kuhantam ketiga tiganya dengan mutiara beracun agar
mampus semua!” Belum sempat dua saudaranya men:
jawab, tiba-tiba api sudah membakar jalan mundurnya.
Sehingga mereka terkurung api dan menantikan nasib
saja..!
Apakah kita harus, mati secara begini? Apakah kita tidak
dapat melewatkan kesusahan ini? Dun! Mati cara begini
sungguh mengecewakan dan tak berharga!” kata Ong Gwat
Hee.
“Orang hidup harus mati, tapi harus mati secara wajir.
Sayang sakit hati dari orang tua kita belum dapat diusut
secaia terang, sudah harus mati tak keruan!” kata Ong Djie
Hai.
“Peristiwa Oey Sin s idah berlalu delapan belas tahun
lamanya. Kini hari itu sudah dekat untuk kita menemui
orang yang melepaskan sajak itu. Guna mengetahui
kejadian yang sebenarnya. Asal aku dapat tahu kejadian
dan peristiwa itu dengan terang, matipun aku senang!”
sambung Tjiu Piau.
“Puteri dan puteri membawa pedang mendaki Oey Sin
Ada tamu menanti malam Tiong Tjiu bulan delapan.” Djie
Hai membacakan sajak itu sambil mengelah napas : “Kini
tinggal Tiu Hong-tee saja seorang. Semoga ia dapat
mendaki Oey San pada waktunya Tapi mengandalkan dia
seorang untuk membalaskan sakit hati dari kita berempat,
agaknya terlalu berat beban ini untuk dipikulnya sendiri.”
Api sudah semakin dekat. Gwat Hee nyap nyap dengan
sengit: “Sayang kita tak dapal main di air. Asal saja aku tak
mati. Atu akan mempelajari ilmu di air ini. dengan
sesempurna sempurnanya.” Habis berkata ia tertawa sedib.

156
Gwat Hee men ulurkan tangannya sambil berkata : Tjiu
Piau koko. Djie Hai koko. kita saling pegang tangan untuk
mati.” Tjiu! Piau mengulurkan tangan, dengan tangan Gwat
Hee berpegangan dengan erat. ia me-t rasakan tanga i
sigadis demikian halus dan licin, membuat hatinya tergerak!
Tapi waktu apa kini ? Sahmgga segala pikirannya
tentang itu padam sendiri Ong Djie Hai pun mengu’urkan
tangan, tiga pasang lengan berpegangan dengan erat
hatinya jalan napasnya seolah olah telah menjadi satu. Tjiu
Piau memikiri ibunya diam se orang diri dengan sepinya di
Thian Bok San. Mengharapkan ia kembali, tapi yang diharap
itu takkan kunjung datang sepanjang masa. Tak terasa lagi
air matanya membasahi pipi nya. Gwat Hee bertengadah ke
langit sambil berkata. “Bu, kami kakak beradik menantikan
waktu untuk menyusulmu ke Suargaloka!”
Asap api membawa hawa panas menyerang mereka,
sehingga mereka sudah tak dapat berkata kata lagi. Lidah
api menjilat ke samping perahu, membuat baju Gwat Hee
yang berkeleberan kena terbakar. Buru buru direndamnya
ujung baju itu ke air, sehingga api itu menjadi padam.
Dalam keadaan yang menentukan antara mati dan hidup,
tiba tiba api di depan padam secara mendadak. Ini sungguh
mengherankan dan tak terpikir otak. Kiranya gelagah yang
di depan itu entah bagaimana tenggelam ke dalam air
sehingga api mati dengan sendirinya. Cerecesssss, cisssss
bunyi api dimakan air. Tak lama kemudian seiring dengan
tenggelamnya gelagah yang lebat itu, terbentang satu
jalanan, dengan menerjang api yang mengurung mereka
bertarung dengan maut untuk mencari hidup. Alhasil
dengan susah payah perahu mereka dapat melewatkan
tempat berbahaya itu.
Mereka bergirang lebih dari setengah mati. Kejadian
demikian kebetulan, seo’ah olah mereka mendapatkan
pertolongan dari dewa saja. Tak lama kemudian mereka
tiba di tepi danau. Perahu berhenti, mereka sebagai sadar
dari mimpi berloncatan naik ke darat.
Kala ini sang surya sudah memancarkan sinarnya yang

157
maha terang dari ufuk timur Awan awan merapung rapung
sepeni bidadari menari. Suatu pemandangan di pagi hari
yang benar benar menyegarkan. Orang orang yang baru
mati menemui hidup lagi tak terlukiskan girangnya. Sinar
surya menyorot mengusap muka mereka yang riang dan
gembira bagai kupu kupu dimusim bunga.
“Kak, kenapa kita bisa hidup lagi? Apa benar-benarkah di
dunia ini ada malaikat?” tanya Gwat Hee.
“Kita toh belum mati! Mengenai malaikat hanya
dongengan belaka. Karena dari jaman rurba hingga
sekarang pernahkah ad orang melihatnya? Kuraba ada
orang pandai menolong kita, heran kenapa peno’ong itu
tanpa mengunjukkan diri, dapat menolong kita, sungguh
gaib bukan?” Habis berkata mereka berbareng menuju tepi
danau. “Kami menghaturkan terima kasih atas pertolongan
dari tuan dengan ini sekali lagi kami menghatur kan
banyak-banyak terima kasih, terkecuali itu kami minta tuan
penolong memberitahukan namamu, agar kami dapat
mengingatnya sampai hari mati!”
Kata kata yang tak berapa bermanfaat ini mendatangkan
bencana besar untuk mereka. Karena suara ini memanggil
datang tiga orang, yakni Louw Eng. Tong Leng, Bok Tiat
Djin. Pikir Louw Eng. Djie Hai bertiga sudab hangus
dimakan api. Dari itu dengan enaknya ia mendarat
dengan carameloncat di papan mereka. Tengah mereka
asyik beristirahat, tiba tiba terdengar suara orang bercakap
cakap, sesudah dicari dengan teliti terlihatlah oleh mereka
bahwa Djie Hai tiga orang tengah asyik berkata kata.
Keheranan mereka tidak alang kepalang. Tak terkira bahwa
bocah bocah itu masih hidup. Pikirnya bocah bocah itu kalau
tidak mati ke tembus, pasti sudah mati kepanggang.
Pikiran jahat Louw Eng berkata: “Kalicn dapat
menyelamatkan diri dari air, kinilah terimalah kematian di
daratan!* Kiranya per Cakapan Djie Hai sudah diketahuinya
dan didengarnya. Louw Eng tahu bahwa ibunya Djie Hai
sudah meninggal, juga mendengar sajak yang dibacakan
Djie Hai. Yang mengatakan anaknya Tju Hong akan

158
berkumpul dengan mereka di Oey San. Dengan tak dt
sengaja ia mendapatkan seluruh rahasia itu. Louw Eng
berpikir: “Cara yang terbaik adalah membereskan
nyawanya bocah-bocah ter lebih dahulu.” Sesudah
pikirannya tetap ia berkata pada Tong Leng dan Bok Tiat
Djin. “Bukankah Djie wie sudah mendengar percakapan
mereka? Dari sajak mereka itu mengatakan bahwa mereka
akan mendaki Oey San, Karenanya mereka itu adalah
musuh kita. Cara apakah yang terbaik untuk meng urus
mereka?”
“Sembelih dulu baru bicara!” jawab Tong Leng. Sedari
semula Tiat Djin diam diam saja. Kini sesudah mengetahui
maksud Louw Eng dengan terang. Ia mengeluarkan
pendapat: “Di sini adalah tempat yang sunyi, sungguh
cocok untuk membereskan jiwanya cecere ini!”
“Berikan aku yang menangkap'” kata Tong Leng sambil
melangkah maju. Ong Djie Hai bertiga menjadi kaget waktu
mendengar suara mereka. Tak terpikir akan berjumpa lagi
dengan tiga lawan berat ini. Di balik tubuh Tong Leng yang
besar, Tjiu Piau me lihat senyum Louw Eng yang misterius
itu. Tak terasa lagi keringat dingin membasahi sekujur
badannya.
“Tjiu Piau ko, ingat perkataan kita di perahu!” kata
Gwat Hee. Sedangkan tubuhnya sudah berdiri
berdampingan dengan Djie Hia memasang, kuda kuda
hingga kedudukan mereka merupakan segi tiga.
Tong Leng dengan acuh tak acuh menghadapi ketiga
orang itu: “Hai!!! tiga anak-anakan majulah berbareng,
sedikitpun aku tak takut!” Kata katanya ditutup dengan
gerakan tubunnya menghampiri Gwat Hee, tangannya
dikepalkan siap menyerang
“Ha, paling juga ilmu Sian Wan Pai Gwat Yang akan
dikeluarkan. Apakah kau hanya mempunyai jurus itu saja?”
kata Gwat Hee .sambil mengejek. Tong Leng kena ditebak
jitu isi hatinya. Dengan gusar ia berkata: “Yah. hanya jurus
itu semenggah-menggah-nya. Dapatkah Kau melawannya!”
Tangannya bekerja, suatu tenaga dahsyat yang sukar

159
bandingannya membabat datang. Ta»pa gugup Gwat Hee
menololkan kaki kanannyt. sedang kan kasi kirinya tidak
bergerak, tubuhnya berputar ke kiri membuat seouah
lingkaran, menghindarkan serangan. Sehingga tubuhnya
berada di sebelah kanan seirmgr dengan tenaga berputar,
kakinya menempel bumi dan kaki kirinya terangkat naik
memandang pipi kanan lawan Tong Leng buru-buru
mendek, tangannya menyapu menjurus ke perut musuh.
Gwat Hee menekuk lutut kanan mingair menghindarkan
serangan. Tangan kiri Tong Leng kembali sampai. Tangan
itu demikian paniang. Dalam repotnya kelihatannya Gwat
Hee tak dapat menghindarkan serangan itu.
Ia tahu Nui-kang Tong Leng sangat tinggi, tak dapat
ditangkis, hanya dapat dilayani secara nek?d. Tjiu Piau
berseru: “Kena,’* tangannya bergoyang membantu Gwat
Hee.
Dua batu Tjiu Piau itu mengarah kedua mata musuh.
Tong Leng hanya melihat di depan matanya melayang
benda-benda kecil, buru-buru ditundukkan kepalanya.
Begitu perhatiannya terpisah tenaganya tak dapat
dikerahkan dengan keras, sehingga tenaga di tangannya
menjadi berkurang. Sebaliknya Gwat Hee dengan sekuatnya
menangkis serangan Tong Leng. Begitu dua tangan beradu,
masing-masing bergetar, sehingga Gwat Hee tidak
menderita rugi besar.
Tong Leng Hwee sio sudah dua kali kena hajaran Tjiu
Piau. Tak heran begitu melihat Tjiu Piau turun tangan,
hatinya menjadi gusar. Tubuhnya berbalik ingin menangkap
Tjiu Piau, tapi sebelum hasratnya tercapai, angin dingin
mendahului berkesiur di belakang otaknya. Ia berkelit
secepat mungkin, dilihatnya Djie Hai sudah be diri di
belakangnya, mereka berdiri di tiga sudut dengan sikap
mengurung.
Dengan dingin Gwat Hee menegur:”Tong Leng Hweesio!
Apa gerangan yang membuat kau memusuhi kami?
Ganjalan apa yang terdapat antara kau dan kami? Kau
harus mengatakan dengan beralasan, kemudian kita baru

160
dapat berkelahi dengan ada tujuan.” Tong Leng menjadi
melengak mendengar ini, pikirnya kata-kata bocah ini benar
juga. Memang tak ada alasan dan ganjalan. Sesudah
berpikir pergi datang baru ia menjawab. “Aku tak tahu
segalanya, pokoknya tugasku hanya menangkap kalian dan
menyerahkan kepada Louw Toaku!”
“Kalau demikian kau tidak bermaksud mengadu jiwa
dengan kami, hanya bertujuan untuk menangkap raja?’
“Yah benar begitu!” Gwat Hee memberikan tanda dengan
mata kepada Tjiu Piau sambil berkata pada Tong Leng:
“Kalau begitu baik, kami juga tak ingin mengambil jiwamu
tapi hanya ingin menangkap saja. Dengan ini kita tetapkan
dan tak boleh melsnggar janji.”
“Baik, baik. Aku tak kuatir tidak dapat menangkapmu.”
Djie Hai dan Tjiu Piau mengerti Gwat Hee berbuat demikian
ini, sebab kalau tidak sukar sekali untuk menghadapi
sekaligus tiga lawan tangguh ini.
“Apa satu-satu kami melawanmu, atau kau mau
dikeroyok?” tanya Gwat Hee.
“Satu lawan satu bagaimana? Main keroyok bagaimana
pula?” kata Tong Leng.
‘Jika satu lawan satu setiap orarg melawanmu tiga jurus
kalau dalam tiga jurus tidak ada yang kalah atau menang,
kau tidak boleh lagi mencampuri urusan kami. Sebaliknya
kalau kau mau dikeroyok, pasti tak dapat dengan mudah
mengambil kemenangan, dari itu kukasih waktu dalam
sepuluh jurus. Kalau kau tak dapat mengalahkan kami kau
harus menghentikan tangan.
Tong Leng berpikir : “Kalau mereka mengerubuti aku,
tak mudah untuk mengambil kemenangan. Apa lagi ilmu
Kong Sim Tjiang yang kukoay itu sudah pernah merugikan
aku. Sebaliknya kalau satu satu semua bukan tandinganku
sehingga mudah untuk memenangkannya. Sebaiknya satu
satu saja.” Dari itu ia berkata: “Satu satu saja kalian maju!”
“Baik aku dulu yang menghadapimu!” kata Gwat Hee

161
sambil tampil ke depannya.
Kata kata Gwat Hee ini, menguatiikan Djie Hai dan Tjiu
Piau. Djie Hai berpikir: “Dalam tiga jurus Tong Leng tidak
dapat memenangiku. Tapi adikku berkepandaian lebih
rendah, aku tidak dapat menjaminnya ” Dari itu ia selalu
siap sedia di samping kalau-kalau terjadi hal yang di luar
perkiraan. Demikian juga dengan Tjiu Piau lengan kirinya
mengepal batu lengan kanannya menggenggam mutiara
beracun. Sedangkan matanya mengawasi dengan penuh
perhatian.
“Ingatkah perjanjian kita? Yakni tak boleh mencelakakan
orang, hanya bolen menangkap hidup hidup saja!” kata
Gwat Hee pada Tong Leng.
“Ingat!” jawab Tong Leng tak sabaran,
“Kau adalah Tjianpwee, maka itu kupersilahkan kau
menyerang terlebih dahulu!” kata kata ini diucapkan dengan
hormat sekali.
Tong Leng memutarkan lengannya, Serangannya segera
akan terlepas. Tapi secara tiba tiba ia ingat sesuatu: “Dalam
peraturan Lok Lim, kaum Boanpwee harus menyerang dulu,
mana ada aturan Lo Tjianpwee menyerang terlebih dahulu.”
Dibatalkan serangannya segera, sambil berkata: “Tidak, kau
harus menyerang aku!”
“Begitupun aku setuju tapi berilah ketika untukku, untuk
memikir dulu, guna mencari jurus mudah yang dapat
menangkap kau!” kata Gwat Hee. Tubuhnya diam tidak
bergerak otaknya berpikir. Tapi apa yang dipikiri adalah
cara bagaimana supaya ia dan saudara-saudaranya dapat
melolosi diri.
Tempo sudah berlalu agak lama, tapi Gwat Hee be’um
turun tangan. Dengan tak sabar Tong Leng membentak. ‘
Apa-apaan nih ?”
“Kau tunggu lagi sebentar, bisa tidak?” Ilmu silatmu
sangat lihay dengan sendirinya aku harus mencari duiu ilmu
yang lihay untuk melawanmu baru dapat menawanmu

162
hidup hidup. Kini masih belum terpikir jurus ilmuku yang
lihay itu!” Tong Leng menganggap perkataan orang betul
juga. Terpaksa ia menahan sabar menantikan dia.
Jilid 6
Bulak balik Gwat Hee berpikir, tapi tak terpikir daya
untuk melarikan diri. Harapan semegah-megahnya, ialah
gurunya datang menolong. Kemarin malam Garuda itu
ditunggangi burung kakak tua Tjen Tjen. Moga moga sang
guru bisa datang mengikuti Tjen Tjen. Saat ini cara yang
terbaik mengulur-ulur dan mengulur waktu!
Sesudah menunggu begitu lama Tong Leng tak dapat
bersabar lagi.
“Ganti yang lain saja dulu! Kau boleh berpikir sesuka
hatimu di pinggir!”
“Mana boleh! Aku yang termuda dan terlemah, seharusnya
aku tampil paling dulu: Kalau kakakku yang menggantikan
aku, dalam sejurus cukup untuk menawanmu
mukamu akan ditaruh di mana?”
Tiba tiba Bok Tiat tampil ke muka, dengan dingin ia
berkata; “Hai, bocah bocah jangan terlalu banyak kelakar!
Tong Leng heng kau sudah kalah! Minggirlah lekas kasih
aku yang melawannya!”
“Kapan! Mustahil! Aku toh belum bergerak!” kata Tong
Leng dengan keras.
“Waktu sudah berjalan demikian lama, lebih kurang
sudah dua puluh jurus, kau belum dapat membekuknya.
Bukankah sama dengan kalah?”
Gwat Hee sadar bahwa Bok Tiat Diin sudah mengetahui
maksudnya. Bok Tiat Djin lebih sukar dilawannya dari pada
Tong Leng. Buru buru ia meloncat sambil berkata. “Hai Thai
su yang baik kini baru terpikir ilmuku. Marilah kita mulai!”
Habis berkata tangannya bergerak dengan ilmu Kie Hong
Hui Lai (bukit aneh terbang mendatang) salah satu tipu

163
Pukulan dari Hong Gwa Hong Lian Hoan Tjiang (bukit
berantai.) Dengan ganas serangan itu datang dari atas
turun menggencet kepala Tong Leng.
Jangan kira kepandaian Gwat Hee cetek, jurus ini
diingininya cukup baik. Angin menderu dibuatnya ganas
menyerang. Tong Leng tergesa gesa mengangkat
tangannya ke atas, siap mematahkan lawan secara kasar
Gwat Hee melihat tangan Tong Leng terangkat, sehingga
bagian bawahnya memberikan lowongan. Tiba tiba ilmunya
berubah, tubuhnya mendek dua jeriji ke luar dengan
sempurna, langsung ditujukan kepala Tong Leng. Kedua
tangan Tong Leng berada di atas, secepat mungkin
tangannya itu dirapatkan dan diturunkan ke bawah
merupakan pukulan Pai Gwat (menyembah rembulan).
Kalau jurus ini membacok datang Gwat Hee sukar
menyelamatkan diri. Dalam kagetnya Tjiu Piau berseru ter
tahan, baru mau turun tangan untuk membantu jalan
pertempuran sudah berubah lagi.
Kiranya dalam keadaan terdesak, Gwat Hee berseru :
“Ingat! tak boleh membunuh!” Memang jurus dari Tong
Leng itu, bisa mematikan lawan atau melukakan berat. Kini
mendapat peringatan lawan ia jadi bengong tidak keruan.
Ketika ini tidak di lewatkan Gwat Hee jerijinya bersarang
dengan tepat di jalan darah Tiong-teng dan Thian-tee. Di
luar perkiraan Tong Leng hal ini bisa terjadi. Walaupun
ilmunya lebih tinggi sepuluh kali lipat dari sekarang, sudah
tak mungkin untuk menutup jalan darahnya. Sekujur
badannya terasa kaku. Hanya matanya saja mendelik
menatap Gwat Hee. Sesudah itu Gwat Hee menambahi
beberapa totokan keras di berbagai tempat.
“Apa yang kau pelototi!? Aku toh tidak membunuhmu,
tapi kau sudah kalah?”
Kegusaran Bok Tiat Djin tidak tertahan, bagai gila ia
berseru: “mencelat dan berada di muka ketiga orang.”
Kedatangannya sungguh luar biasa, batu-kecil terbawa
terbang kena angin dari tubuhnya. Bentakannya seperti
geledek di tengah hari bolong. Sepasang tangannya

164
bergerak masing masing melepas Tiat Wan Tju, satu lagi
menyerang Tjiu Piau, sedangkan tubuhnya menerjang Ong
Djie Hai sekali hantam ini sudah cukup membuat ketiga
orang kalang kabut. Gwat Hee lari ke samping, tubuh Tong
Leng menjadi sial mentah mentah ia dijadikan tameng. Tjiu
Piau menyerang senjata lawan dengan batunya, begitu dua
senjata beradu batu Tjiu Piau menjadi hancur. Tiat Wan Tju
tak terpukul jatuh masih tetap bergaya tapi tidak sekeras
tadi. Dengan menggulingkan diri Tjiu Piau berhasil
menghindarkan senjata kecil itu. Sebaliknya Djie Hai
seperti diterkam macan tutul, tak berani terang-terangan
menyambut serangan lawan, ia mengegos ke kanan dan
kiri. Tenaganya digunakan sepenuhnya menangkis
serangan serangan lawan dari samping, dengan cara ini
tenaganya baru dapat mengimbangi tenaga lawan. Dalam
sekejap saja Bok Tiat Djin sudah menyerang beberapa
jurus, dengan susah payah Djie Hai baru dapat
menghindarkan pukulan-pukulan ini. Dalam jurus jurus ini
Bok Tiat Djin tidak lupa melepas Tiat Wan Tjunya
menyerang Gwat Hee dan Tjiu Piau, sehingga kedua orang
itu tak berkesempatan untuk membantu Djie Hai.
Oiig Djie Hai sambil mencurahkan semangatnya
melawan musuh, tak urung otaknya berpikir juga secara
diam diam. “Inilah, ilmu lihay yang sebenar benarnya dari
Peng San Hek Pau.” Iapun ingat penuturan orang yang
mengatakan bahwa ilmu silat Peng San Pai. berpokok pada
pelajaran Nui (dalam) digunakan sebagai Gwa (luar).
Menerjang, menyerobot dengan ganas. Kelihatannya
seperti pelajaran ilmu luar. tapi di balik itu mengandung
tenaga tersembunyi yang maha besar. Hal ini tidak dapat
diketahui orang yang tidak bisa ilmu dalam. Dari itu ilmu
pukulan dari partai ini lihainya bukan buatan. Kalau lawan
yang lemah dalam waktu beberapa jurus saja. sudah tak
tahan menerima desakan tenaga yang demikian besar
akibatnya menderita kerugian besar.
Tapi pukulan pukulan dari Peng San Pai ini. entah
bagaimana bukan menjadi lawan dari Im Yang Kang. Tak
heran tahun dulu kena dipecundangi Pang Kim Hong yang

165
baru berusia 19 tahun. Sebabnya pukulan-pukulan ganas
dari Peng San Pai kena diterima dengan cara hawa hidup Im
dan Yang. Sehingga keganasannya itu seperti anjing kena
penggebuk! Sekali-kali tak berhasil merubah kedudukan
menjadi di atas angin. Sehingga terjangannya dan
serobotan-nya dan segala keganasannya berbalik memberabekan
dan menyusahkan diri sendiri.
Ong Djie Hai sudah lama mendengar tentang ilmu dari
Peng San Pai ini, tapi baru kali ini melihatnya dan
menghadapinya dengan mata sendiri. Dalam kesibukannya
Djie Hai pun merasa gugup. Sesudah menerima
beberapa jurus serangan, ia baru ingat kelemahan dari ilmu
Peng San Pai. Hatinya berpikir, aku tak dapat maini ilmu Im
Yang Kang. Tapi ilmu Kong Sim Tjiang aku dan adikku
bukankah pematah dari ilmunya?
Peng San Pai sudah berhasil memecahkan ilmu Im Yang
Kang Lu Kang, tapi belum mengenal ilmu Kong Sim Tjiang,
mungkin ilmu ini lebih lihay dari Im Yang Kang. Dari itu Djie
Hai mempertahankan serangan secara hidup dan mati.
Sekuat tenaga ia merangsek, agar berketika untuk memaini
ilmunya ini. Sebaliknya Gwat Hee tidak bisa meninggalkan
Tong Leng sebab terus menerus diserang Tiat Wan Tju.
Kasian Tong Leng yang ilmunya gagah sekali di jadikan
tameng oleh seorang bocah.
Bok Tiat Djin mencelat ke timur, molos ke barat Dengan
di luar dugaan diserangnya Gwat Hee, tangannya menyapu
Tjiu Piau Walaupun ia berbuat demikian, Djie Hai
dihadapinya, kedudukannya tetap mendesak dengan
gencar. Satu lawan tiga, tapi masih berada di atas angin,
diteruskan perkelahian cara ini, tiga orang itu pasti
menderita kerugian besar,
Louw Eng tertawa kegirangan.
“Bok-heng, kau tidak mengecewakan nama baik dari
Peng San Pai. Kuharap beberapa cucu kura kura ini
ditangkap hidup hidup, kemudian sesudah kuperiksa baru
kita genyei genyei (dipukul sampai mati).”

166
“Oh. ini perkara gampang, kutangkap yang Ini dulu!”
Tangannya menyamber dan membabat Tjiu Piau sambil
lalu.
Tjiu Piau menggulingkan tubuhnya di tanah, tangannya
sudah menerbangkan enam butir batunya, terbagi
menyerang ke atas, bawah, kanan, kiri, tengah satu khusus
ke mata enam bagian. Mulutnya mengiringi senjata itu.
“Lihatlah Bwee Hoa Tok Tju keluarga Tjiu!” Enam batu ini
tidak di pandang Bok Tiat Djin sebelah mata, tapi kata kata
itu membuatnya kaget. Ia tak berani menangkap dengan
tangannya senjata itu, sebaliknya mundur sejauh dua
tumbak ke belakang dengan tergesa gesa. Tubuhnya nya
bergeliat ke samping dengan jungkiran badan yang
menakjubkan, ia berhasil melolosi diri dari serangan ini.
Tubuhnya kembali berdiri, dengan dongkel dipandang nya
Tjiu Piau dengan mata berapi-api “Hai! Bocah, apakah Bwee
Hoa Tok Tju belum sirna dari dunia Kang Ouw ini?”
“Sirna, atau hilang itu bukan urusanmu, kenapa kau
usilan betul. Pokoknya Bwee Hoa Tok Tju takkan bersarang
di tubuhmu asal saja kau tidak mengganggu orang baik.”
Belum sempat Bok Tiat Djin berkata. Tiba-tiba Louw Eng
berseru: “Bok heng sambut lah!” seiring dengan seruan ini
ada benda kecil terbang mendatang, tangannya menyambuti,
apa yang terlihat? Tidak lain dari butiran batu.
“Kau perhatikan apakah itu Bwee Hoa Tok Tju?” kata
Louw Eng. Tidak tahunya ia sudah memungut batu itu dari
tanah dan diberikan kepada sang kawan. Hal ini di
ketahuinya sebab batu batu itu tidak berbinar seperti emas!
Bok Tiat Djin melihat itu bukan mutiara emas hatinya
menjadi lapang.
“Hai bocah yang baik, kenapa kau begitu berani mencari
kegemoiraan dengan memaini ayahmu sendiri!”
Tangannya kembali sudah mau menangkap Tjiu Piau.
Tapi sebelumnva sudah dirintangi oleh Djie Hai dan Gwat
Hee yang sudah mengamoil kedudukan di kanan kiri nya.
Kedua orang ini tidak memberikan kesempatan untuknya

167
turun tangan terlebih dahulu. Tangannya bergerak
mendahuluinya, dengan sendirinya dirinya sudah kena
dilihat bocah bocah itu. Mereka mengambil kedudukan yang
baik, ilmu pukulannya adalah saling membantu dan
bergabung. Sehingga ilmu pukulan Hong Gwa Hoag Lian
Hoan Tjiang (di luar bukit terdapat bukit bukit barisan atau
bukit berantai) dimaini cukup menderu deru. dengan
lihainya. Bak Tiat Djin berada dalam keadaan pasip, segera
merasakan sukar menghadapi lawan. Buru buru
perhatiannya dicurahkan, walau pun ilmunya tinggi, tapi
pukulan pukulan lawan sangat aneh. Tambahan dua orang
mengapitnya, dalam waktu singkat ia belum dapat berbuat
apa-apa.
Sepuluh jurus sudah berlalu, Bok Tiat Djin jadi gelisah. Ia
sadar tanpa mengeluar kan sepenuh tenaga tak mudah
mengambil kemenangan. Pukulannya berubah, pukulan nya
satu demi satu semakin bertenaga dan semakin ganas,
pukulan itu tak mungkin dapat ditangkis. Dua kakak beradik
baru dapat menangkis serangan ini dengan menggabung
kedua tangannya.
Serangan Bok Tiat Djin semakin gencar, dua saudara
Ong semakin serang. Mereka tahu saat baik sudah tiba.
Tiba-tiba dua orang saling sautan. “Kie Hong Hui Lai.”
“Hong Gwa U Hong” dengan bengis dan keras menggempur
lawan. Bok Tiat Djin tak mau menunjukkan kelemahannya.
Gwat Hee diserangnya dengan pukulan kosong, sedangkan
tubuhnya berbalik dengan ceoat sambil mengirimkan
serangan Piau Tja Thian Hian menghajar Djie Hai. Tjiu Piau
melihat Djie Hai menangkis dengan kedua tangan berjeriji
terbuka lalu Gwat Hee meningkah serangan kakaknya
dengan tangan berjeriji rapat, pukulan ini adalah Hoo Yap
Tjiang (pukulan daun teratai yang ganas.) Tjiu Piau tahu
kedua orang ini memainkan ilmu Kong Sim Tjiang untuk
menundukkan musuh. Mutiaranya segera di lepas di antara
Djie Hai dan Bok Tiat Djin.
Kali ini Bok Tiat Djin masuk perangkap lawan. Pukulan
Djie Hai di muka menjadikan angin yang berputar dan
menyedot, sebaliknya pukulan Gwat Hee menolak dari

168
sebelah lain. Tambahan Bok Tiat Djin menyerang dengan
keras, sehingga keseimbangan tubuhnya tak dapat
dipertahankan. Tubuhnya terhuyung ke muka beberapa
tindak, serentak telinganya mendengar suara senjata
rahasia. Sambil membetulkan tubuh nya, kedua jeriji
tengah dan telunjuk ke luar menjepit senjata Tjiu Piau yang
dikira nya batu.
Tangkapan dan kelihatannya indah bukan buatan.
Sehingga serangan dari tiga jurusan ini dapat dipunahkan
dengan berhasil. Tapi waktu dilihat apa yang dijepit
jerijinya. Sebuah benda berkilat menyilaukan mata,
sepontan hatinya menjadi gentar. Digebesi mutiara emas
itu cepat cepat tapi mutiara itu tidak mau jatuh, sebab
durinya sudah melekat di antara kedua jarinya itu.
Peng San Hek Pau mengira Tjiu Piau tidak bersenjata
Bwee Hoa Tok Tju. sehingga hatinya menjadi girang, akibat
dari ini membuat kesalahan besar. Ia berdiri bengong tak
berkata kata dalam gugupnya ditutupnya peredaran
darahnya sekuat mungkin, menjaga agar racun itu tak
masuk dalam peredaran darah. Daiam waktu seoentar saja
di keningnya sudah penuh dengan peluh yang sebesar
kacang tanah, sedang mukanya menjadi pucat pasi. Kedua
jari itu sudah menjadi merah menor seperti darah segar.
Peng San Hek Pau merasakan jeriji-nya sebentar panas
sebentar dingin. Waktu panas seolah olah badannya ditebus
dalam kuali panas. Waktu dingin seperti dimasukkan ke
dalam kulkas. Rasa yang demikian ini seumur hidupnya
belum pernah dirasai nya. Untung ia berilmu tinggi dan
dalam sehingga jalan darahnya dapat dihentikan. Cara ini
dapat menahan untuk sementara waktu saja dari kematian.
Tapi dalam waktu sebentar saja kepalanya sudah merasa
pusing dan berkunang kunang, agaknya tak kuat untuk
bertahan lagi. Asal saja ia mengendurkan jalan darahnya
dan darah itu mengalir, racun itu segera memasuki jantung
nya, jiwanya itu sudah boleh menghadap pada Giam Lo Oag
(malaikat maut).
Peng San Hek Pau hanya menahan napas nya saja dan
tak berkata kata, sedangkan akal lain tak terpikir olehnya.

169
Lauw Eng sesudah melihat mutiara emas itu juga menjadi
bengong sejenak. Tapi hanya sebentar saja pikirannya
sudah bekerja. Seperti terbang ia menghampiri Bok Tiat
Djin. Dengan pedang yang luar biasa mengkilapnya dua
jerijt itu dikutungi, dikelek tubuh Bok Tiat Djin dibawa ke
kaki bukit, dengan pedangnya yang tajam itu ditempelkan
ke tempat luka. Terlibat darah mengalir di atas pedang itu
dan menjadi air yang bening.
“Tak berbahaya sudah,” kata Louw Eng dengan
perasaan lega. Bok Tiat Djin terlampau banyak
menggunakan tenaga. Dan sesudah mengetahui bahaya
berlalu, jalan-darahnya dibuka kembali. Seluruh tubuhnya
menjadi lemas, dengan memerami mata ia terlentang
beristirahat. ,
Tjiu Piau melihat pedang yang bersinar itu, hatinya
teringat kepada dua pemuda, yang diketemukannya di Ban
Liu Tjung. Mereka mengatakan Liong Hong Kiam itu biar
bagaimana harus dikembalikan kepada mereka. Entah
mempunyai hubungan apa antara dua pedang itu dengan
dua pemuda. Juga tidak mengetahui Louw Eng dengan cara
apa mendapatkan dua pedang itu. Gwat Hee dan Djie Hai
berseru “ihhh” waktu melihat dua pedang itu. Djie Hai
lantas berkata; “Dua bilah pedang itu adalah. Liong Hong Po
Kiam yang sangat diidam-idamkan orang Kang Ouw, tak
nyana ada ditangan dia! Pedang itu bukan saja dapat
memapas besi seperti tanah liat, bahkan dalam gelap bisa
memberikan sinar penerangan. Terkecuali dari itu dapat
pula untuk memunahkan berbagai racun yang jahat
Misalkan orang kena racun, tapi belum sampai ke dalam
dapat menggunakan pedang ini untuk memotong tempat
yang kena racun. Begitu racun ini kena pedang segera
racun itu bergumpal menjadi hitam. Bila tidak, beracun
Metesan darah begitu kena pedang ini segera berubah
menjadi air bening. Pedang ini ada di tangan mereka kita
harus hati hati menghadapinya.”
“Pedang ini ada dua bilah satu Liong Kiam (pedang naga)
satu HongKiaui (pedang cendrawasih, tidak tahu yang

170
dipegang itu pedang apa?” tanya Gwat Hee.
“Waktu di Ban Liu Tjung sudah pernah kulihat ia
menghunus kedua pedang itu.” jawab Tjiu Piau. Dua
saudara Ong menarik napas mendengar penjelasan itu: ”
mustika yang hebat ini kenapa bisa berada di tangan
bangsat itu!” *
Waktu ini Tong Leng sudah dibebaskan dari totokan oleh
Louw Eng, disuruhnya menjaga Bok Tiat Djin di kaki
gunung
Louw Eng tetap menghunus pedangnya, matanya seperti
binatang liar mengawasi dan mendekati perlahan-lahan
kepada Djie Hai bertiga.
Louw Eng sudah bertekad untuk membereskan jiwa tiga
orang ini. Dari itu sudah tak mengindahkan peraturan Kang
Ouw yang tak memperkenalkan golongan tua menghunus
pedang dulu sebelum golongan muda bersenjata. Lebih
lebih pedang yang d hunus iiu ada pedang mustika. Kali ini
ketiga orang ini tak berketika lagi untuk mencari
kemenangan. Kesukaran dan bencana besar di depan mata.
tapi hati mereka tetap tenang dan jernih. Tjiu Piau
mengepel Tok Tju di tangannya, Djie Hai dan Gwat Hee
menghunus senjata belati nya yang biasa dibawa bawa. Tak
tahunya Tjiu Piau dalam hal bersenjata tak ada pegangan
yang khusus. Dua saudara Ong karena sepanjang jalan
menyamar sebagai anak sekolah, jadi tak pernah membawa
pedangnya.
Louw Eng belum bergerak, dua orang di belakangnya
sudah berdiri dan turut menghampiri Djie Hai bertiga. Bok
Tiat Djin sudah tak merasakan sakit lagi, Toag Leng sudah
merdeka. Kedua duanya menderita kerugian di tangan
bocah bocah. Hitinya bukan buatan gusar dan sakit, dengan
kebencian yang memuncak mereka menghampiri untuk
menuntut balas.
Tjiu Piau belum pernah menghadapi situasi yang
demikian menegangkan tak heran hatinya merasa goncang.
Diliriknya dua saudara Ong, tampak mereka dalam keadaan

171
tenang, sehingga membuat hatinya menjadi tenteram. Gwat
Hee menatap Louw Eng yang menghampiri setindak demi
setindak itu. Mulutnya berkata kepada dua kakaknya : “Kak.
kita harus menarungkan dan menaruhkan jiwa kita mati dan
hidup. Mereka maju serentak kita tak dapat melawannya
satu lawan satu. Kita harus dapat menghindarkan yang dua
dan menggabungkan tenaga kita bertiga untuk menghadapi
yang satu. Kalau mau menghantam, kita hantam saja
manusia dilatna Louw Eng. Kita menggabungkan tenaga
kita mati matian untuk membelitnya, agar ia merasakan
juga paitnya empedu!”
“Adikku yang baik, kata katamu tepat adanya!”
Louw Eng menyerobot dan sudah di depan Djie Hai,
pedang berputar, sinarnya berkeredepan, kelihatannya
lambat tapi cepat, sebentar saja pundak kiri Djie Hai sudah
dalam bahaya. Ia memiringkan tubuhnya ke Kanan,
tubuhnya dikatakan menghindarkan serangan ini. Tiba tiba
kaki kirinya yang lurus ditekuk, kaki kanannya yarg ditekuk
berubah meajidi lurus, tubuhnya lewat di bawah pedang.
Tubuhnya merapat ke badan lawan. Tak memberikan
kesempatan pada musuh memainkan pedangnya yang
panjang. Louw Eng melihat Djie Hai sudah berada di
sebelah kirinya. Tapi ia tak balik badan. Pedangnya berubah
permainan menjadi permainan tumbak yang disebut Hiat
Tja Liu (menancapkan batang Liu secara miring) menuju
kepada Djie Hai yang berada rendah di sebelah kirinya.
Dada Djie Hai hampir-hampir kena ditembusi pedang itu.
Djie Hai sepenuh hati mencari lowongan dan bergumul
rapat dengan lawan.Ia tak gentar menghadapi bahaya,
dinantikannya pedang itu sampai di dadanya. Baru kaki
kanannya berjingkat, kaki kirinya sedikit menotol tanah.
Tubuhnya berputar membuat satu putaran. Pedang itu tepat
berlalu dalam waktu sekilat mungkin ke arah samping di
mana tadi ia berputar. Kalau dalam keadaan biasa biar jago
yang bagaimana gagah dan berani, pasti akan kaget dan
mengeluarkan keringat dingin. Tapi lain dengan Djie Hai, ia
sudah mengambil keputusan mati, dari itu sedikit juga tak
merasa kaget atau gentar. Dengan lincah tubuhnya

172
berputar lagi menimbulkan desiran angin dan cepat sekali
sudah sampai di sebelah kanan tubuh musuh. Lengan
kanannya sekalian ditikamkan ke perut Louw Eng. Tapi
Louw Eng terlalu kawakan. kakinya terangkat, belati di
tangan Djie Hai dibuatnya terbang sejauh sepuluh tumbak
dan jatuh ke dalam danau. Serangan serangan ini dilakukan
seperti kilat, membuat orarg luar tak sempat membantu.
Djie Hai sudah kehilangan senjatanya,
Louw Eng sedikitpun tak memberi hati, wajah mukanya
yang adem itu menunjukkan senyum iblisnya, pedangnya
menodong dada Djie Hai.
“Ong Djie Hai, kau kata ibumu sudah meninggal, katamu
itu benar atau tidak?” Djie Hai tidak mau menjawab.
Sebaliknya Gwat Hee menjawab, dengan maksud
memencarkan perhatian Louw Eng : “Benar tidaknya,
memang kenapa?”
”Kalau masih hidup, aku akan mengutus orang untuk
merawatnya!”
“Kau ingin menemuinya, itu mudah! Asal saja dadamu
kulubangi pisau barang sebuah!” kata Gwat Hee.
Dengan tak berkisar sedikit juga, pedang itu tetap
mengancam dada Djie Hai. Ia ber kata dengan dingin :
“Kiranya ia sudah meninggal!” Tiba tiba ia membentak
“Sebelum meninggal apa yang dikatakannya tentang aku
kepada kamu! Ia meninggalkan pesan apa? Lekas katakan
kalau tidak pedang ini akan membereskan nyawamu dulu!”
Djie Hai tetap tak menjawab, sebaliknya kakinya bergerak
mundur. Ia mundur setindak, Louw Eng mengikuti maju
setindak Didesaknya Djie Hai ke tepi danau. Tjiu Piau ingin
melepaskan mutiara beracunnya, diam diam Gwat Hee
mengutik nya. “Tunggu dulu. mutiaramu tak boleh
sembarang dilepas, lebih baik kita hadapinya asal saja.”
Dari itu ia berkata lagi ;
“Inginkah kau ketahui apa yang dikatakan ibuku kepada
kami? Kata kata ini boleh kuberi tahu kepadamu, tapi tak
boleh didengar telinga lain, Titahkanlah Si Macan Tutul dan

173
Hweesio gemuk itu berlalu!” Louw Eng berkepandaian tinggi
keberanian nya lebih dari cukup, lebih lebih menghadapi
bocah bocah ini yang tidak di pandang sebelah matanya.
Pokoknya asal dapat mendengar apa yang dikatakan ibu
Gwat Hee itu.
“Bok heng, Tong Leng heng, kuminta kalian menjauhkan
diri agak jauh.”
“Harus pergi ke kaki bukit ..sana!” kata Gwat Hee.
“Turutlah kata katanya.” kata Louw Eng meminta pada
dua kawannya.
Waktu ini Djie Hai sudah terdesak sampai di pinggir
danau sekali. Sedangkan pedang Louw Eng masih tetap
berada di dadanya. Ia tahu Kiam Hoat dari Low Eng
kelihatannya lambat, tapi sebenarnya cepat dan ganas.
Kalau ia bergerak untuk menghindarkan pedang itu, pasti
tubuhnya mendapat celaka. Dari itu dia diam dengan
mencurahkan perhatian guna mencari ketika. Perkataan
adiknya dengan Louw Eng sama sekali tidak masuk dalam
telinganya. Waktu sudah berlalu sebentar. Bayangan Tjng
Leng dan Bok Tiat Djin sudah tak ada. Louw Eng perlahan
lahan menggerakkan ujung pedang dan berkata: “Lekas
katakan! Ibumu meninggalkan kata kata apa?”
Djie Hat tetap nembungkem, perhatiannya dicurahkan
memperhatikan gerak gerik Louw Eng.
“Ibu berkata, agar kami pergi ke Oey San urtuK mem
bereskan sakit hati selama delapan belas tahun dari
mendiang ayah kami.” jawab Gwat Hee dari samping.
“Sakit hati apa! Bukankah aku sudah membalasnya,
untuk kematian dari ayahmu itu.” seru Louw Eng.
“Tapi ibuku tidak percaya kejadian ada demikian mudah.
Kami dititahkan untuk mencari seseorang yang mengetahui
peristiwa dan kejadian ini, guna mengetahuinya. Agar
kejadian Oey San yang sebenarnya dapat kami dengar
dengan sebenar-benar nya.” Mendengar ini Louw Eng
menjadi kaget, dalam hidupnya, ia paling takut ada orang

174
mengetahui hal Oey San itu. Mungkinkah orang itu tahu
sampai ke detail-detail nya?
“Orang itu siapa?”
“Untuk apa kau tahu?” jawab Gwat Hee Perlahan-lahan
Louw Eng memutari pedangnya, matanya yang dingin
menyapu wajah Djie Hai. “Kalau kau tak beritahu kakakmu
ini segera kusembelih!”
Gwat Hee sambil bicara sambil berjalan perlahan lahan
ke belakang tubuh Louw Eng. “Orang itu siapa, hanya
kakakku yang tahu, bila kau celakakan dia tak mungkin ada
yang dapat memberi tahu Jagi kepadamu.”
Belum Louw Eng menjawab, Gwat Hee sudah mengedipi
Tjiu Piau, minta bantuan, ia sendiri mengerahkan tenaganya,
begitu loncat sudah sampai di belakang Louw Eng
“Jaga pukulan!” seru Gwat Hee. “Awas Tok Tju!” kata Tjiu
Piau membarengi kata-kata Gwat Hee. Dua butir mutiara
terbang dengan pesat, satu mengarah kaki kanan, satu lagi
dengan pada tangan lawan yang memegang pedang.
Dua mutiara ini merintangi jalan maju nya Louw Eng
pada Djie Hai. Asal saja ia maju setengah langkah, atau
mengulur kan tangannya setengah senti. Menta menta
harus merasakan Bwee Hoa Tok Tju itu Inilah cara melepas
senjata rahasia keluarga Tjiu yang antik. Tapi Louw Eng
sudah cukup memakan garam di dunia KangOuw. Begitu
mendengar suara senjata rahasia itu, sudah tahu ke mana
tujuannya, sebenarnya akan dilukainya, dulu Djie Hai, tapi
terpaksa ia harus menarik tangannya untuk menghindarkan
diri dari bencana.
Berbareng dengan ini Gwat Hee menyerang dengan salah
satu jurus lihai dari bukit berantai yang dinamai Keng Tjiok
Tjuan in (lereng gunung ambruk menembus mega). Pukulan
datang seperti batu besar menindih menyergap batok
kepala Louw Eng. Tanpa bergerak Louw Eng mengerahkan
tenaganya untuk menahan. Siapa tahu Gwat Hee mengubah
tangannya menjadi terbuka jerijinva, sehingga pukulan
menjadi kosong. Suatu tenaga menyedot ke belakang

175
memaksa Louw Eng mundur juga ke belakang setindak.
Menggunakan ketika ini Djie Hai sudah memiringkan
tubuhnya, kedua kakinya menotol bumi, dan mencelat
sejauh dua tumbak. Sehingga dirinya terlepas dari bahaya.
Kedudukan tiga orang menjadi segi tiga berlainan sudut.
Ketika baik dilewati Louw Eng. Sedangkan ketiga orang
serentak mengurung dan mengeroyoknya. Harapan mereka
ialah jangan sampai Tong Leng dan Hek Pau datang sudah
dapat melukai Louw Eng dan dapat naik perahu melarikan
diri.
Dalam waktu yang sempit ini ketiga orang ini mempunyai
jalan pikiran sendiri sendiri. Djie Hai berpikir : “Kami bertiga
bersatu melawan Louw Eng, walaupun dalam waktu singkat
tak bisa kalah. Tapi di sana masih ada dua lawan kuat yang
belum datang lagi. Begitu mereka datang, kami akan
menerima nasib buruk! Waktu tak banyak lagi, bagaimana
caranya dapat dengan lekas mengalahkan Louw Eng? Pikir
pikir hanya ada satu jalan, biar aku menentang maut
membuat perlawanan yang menentukan. Asal saja Louw
Eng kena ku lukai sedikit saja. aku Djie Hai matipun tidak
mengapa, sebab adikku Tjiu Piau heng tee dapat
meloloskan diri.”
Sebaliknya Gwat Hee berpikir : “Dalam suasana demikian
untuk meloloskan diri berbareng, agaknya tidak ada
kemungkinan. Mengandalkan keentengan tubuhku aku
dapat molos ke dekat musuh, sekuat tenaga kupeluk dia,
aku tak kuatir menjadi mati, sebab dengan jalan ini
kakakku dan kak Tjiu Piau dapat ketika untuk melukainya,
dan dapat melarikan diri demikian juga Tjiu Piau
mempunyai pikiran yang hampir serupa. Pikirnya:
“Mengandalkan ilmu leluhur yang dapat melepas senjata
rahasia yang dapat seratus kali lepas seratus kali kena
sasaran, akan kukorbankan jiwaku asal saja Louw Eng kena
mutiaraku. Dengan jalan ini dua kakak beradik 0.jg
berkesempatan untuk melarikan diri.” Beginilah buah
pikiran ketiga orang ini, semua berhasrat mengorbankan
dirinya demi keselamatan yang lain. Dalam waktu yang
hampir bersamaan dengan dulu mendahului mereka

176
melakukan serangan maut, sehingga suasana pertempuran
betul betul mengerikan dan bertambah dahsyat!
Louw Eng memutari pedangnya, sinar pedang
berkeredepan menusuk mata. Tiga pemuda yang tak kenal
mati mengasgsak dan mengurung dengan sengit serta
berkelebat diantara sinar pedang. Akan tetapi tak
seorangpun yang berhasil mendekati tubuh Louw Eng lima
enam jurus sudah berlalu. Louw Eng berhasil mendesak
ketiga orang ini ke tepi danau. Djie Hai mundur sampai di
pinggir perahu, hatinya bergerak waktu melihat pendayung
yang besar itu, diangkatnya dan dihajarkan ke Louw Eng
dengan kegemasan yang memuncak.
Pembaca harus ingat, pedang yang di pegang Louw Eng
dapat memotong besi seperti tahu. Begitu pengayuh
datang, disambutnya dengan pedangnya tanpa berkelit lagi.
Dengan sekali tabas pengayuh besi itu tinggal separu. Djie
Hai bertubi tubi menyerang dengan kecepatan lebih dari
angin. Louw Eng secepat kilat memapasi setiap serangan
pengayuh itu dibuatnya tinggal beberapa dim saja dari
pegangan. Dalam kesibukan melayani Djie Hai, tak di
ketahui lagi Gwat Hee sudah berhasil mendekati di
belakangnya.
Gwat Hee mencabut pisau belatinya, dengan setakar
tenaganya belati itu di tikamkan ke punggung Louw Eng,
serangan Gwat Hee ini dilakukan dalam keadaan mati dan
hidup, sehingga tikaman ini hanya dapat disebut jurus
antara mati dan hidup. Dalam bahaya yang besar ini Louw
Eng menyodokkan pedangnya yang terangkat tinggi ke
belakang, dengan satu papasan, senjata Gwat Hee sudah
dibuat patah ujungnya. Tapi Gwat Hee tidak mundur,
sebaliknya menubruk tubuhnya. Dengan kedua tangan dan
kakinya Louw Eng dipeluknya. “Kak! Lekas serang!” seru
Gwat Hee. Belum suaranya habis, menyusul terdengar
teriakan yang mengeneskan darinya. Kaki tangannya
menjadi kendur, tubuhnya merosot jatuh dari punggung
Louw Eng, mukanya menjadi pucat pasi, dari mulutnya
menyembur darah segar membanjir. ‘

177
Kiranya waktu ia berhasil menggemblok di punggung
Louw Eng, hal ini di luar perkiraan lawan sendiri. Berbareng
dengan ini Djie Hai menggunakan waktu orang tak berdaya
dengan pukulannya. Dengan tangan kirinya Louw Eng
menyambut serangan dengan keras, tangan kanannya
menancapkan pedangnya ke tanah. Dengan tangan kosong
dipukulnya dadanya sendiri dengan keras!!??? Jurus ini
adalah jurus yang luar biasa gaibnya, memukul diri sendiri,
tapi tak melukai diri sendiri, sebaliknya tenaga pukulannya
itu menembusi punggungnya dan menggempur dada Gwat
Hee, demikian lah Gwat Hee menjerit dan lantas pingsan
tak sadar diri.
Begitu Gwat Hee jatuh Djie Hai pun kena ditendang.
Kiranya sebelum itu Djie Hai sudah memungut belati Gwat
Hee yang putus ujungnya dan menancapkan ke tangan
lawan. Louw Eng menghadapi dua orang ini hampir hampir
menderita kerugian hatinya dikeras kan. bukan saja lengan
kirinya tidak di tarik mundur bahkan disodokkannya ke
depan, Djie Hai menusukkan belati kutung rcya ke pangkal
lengan musuh dengan berhasil. Tapi jeriji lawan sudah
mengenai jalan darah di dadanya, Djie Hai kaku dan mati
kutu. Berikutnya kaki kirinya terangkat naik, tubuh Djie Hai
dikirim ke tengah danau dan jatuh masuk ke air.
Dalam waktu sekejap mata, dua saudara Ong satu luka
parah satu kecebur ke air.
Sedangkan Louw Eng hanya menderita sedikit luka.
Sedari tadi Tjiu Piau tidak dapat turun tangan untuk
membantu, kini baru ia berseru: “Awas Bwee Hoa TokTju!”
Louw Eng buru buru menoleh, tapi tak menampak
seseorang sesudah ditelitikan kiranya Tjiu Piau merebahkan
diri. Tubuhnya bergelindingan mendatang. Inilah ilmu Bwee
Hoa Tok Tju gelombang ketiga yang terdiri dari tujuh jurus
melepas senjata sambil berbaring. Cara ini pernah
dipergunakan Tjiu Piau di Ban Liu Tjung dengan berhasil
baik. Ia tak tahu pada masa yang silam Louw Eng pernah
dihajar ayahnya dengan jurus ini, sehingga Louw Eng agak
segan dan jeri menghadapi ilmu ini. Kini ia melihat lagi ilmu

178
ini, tak terasa lagi ia mundur dua tindak ke belakang. Tiba –
tiba Tjiu Piau mencelat bangun setumbak lebih sambil
berseru “awas,” tujuh delapan butir batu mengapit sebutir
mutiara yang berkilat serentak terhambur menghantam
datang. Louw Eng sangat takut pada mutiara itu, dari itu
hanya mutiara itu saja yang diperhatikan dan dikelit,
sehingga batu kecil itu telak mengenainya.
Belum Louw Eng berdiri dengan tetap, kembali beberapa
batu yang mengiringi sebuah mutiara emas menyambar
datang. Kali ini serangan datang dari bawah, sebab Tjiu
Piau begitu hinggap di bumi lantas bergulingan lagi dan
melepis senjata, serangan ini demikian cermat dan teliti,
kalau orang yang berkepandaian biasa jangan harap dapat
meloloskan diri dari bahaya maut ini.
Tapi Louw Eng orang dari golongan apa, kalau saja ia tak
takut pada Bwee Hoa Tok batu batu itu jangan harap dapat
mengenai tubuhnya! Mutiara yang pertama dapat diegos
lewat, kini yang kedua kembali datang. Hebat
kepandaiannya, tubuhnya dikakukan seperti mayat dan
dijatuhkan ke belakang dengan tegaknya, tak ubahnya
seperti gedebong pisang runtuh! Sekali jatuh ini semua
serangan lewat tak mengenainya. Hal yang lebih
mengherankan tubuh itu kembali bangun lebih cepat dari
pada jatuhnya, seolah-olah bola karet yang membal!
Kini Tjiu Piau hanya mempunyai satu lagi mutiara emas
itu. Kalau yang sebutir ini melesat lagi…meleset –ya
tinggal menunggu ajal saja. Ia berguling lagi di tanah, tak
jauh dari tubuhnya tampak tubuh Gwat Hee yang mandi
darah, mukanya pucat tak bergerak gerak. Pikirannya
mengingat pula Djie Hai yang jatuh ke air. Entah bagaimana
Jadinya, pikirnya kebanyakan Djie Hai celaka saja. Sebab
inilah darahnya menjadi bergolak, dan bertekad bulat untuk
mengadu jiwa. Memikir sampai di sini tubuhnya tidak
bergulingan lagi. Sebaliknya lantas berdiri, tangannya
dikepalkan dan diserangnya Louw Eng.
Bicara mengenai kepandaian silat Tjiu Piau hanya biasa
saja. Saat ini dia berpikir: “Biar bagaimana Louw Eng harus

179
merasakan mutiaraku. Caranya yang terbaik menjalankan
dengan jurus nekad!” Diserangnya musuh dengan silat
kampungan yang ia bisa. Melihat ini Louw Eng terbahak
bahak tubuhnya sedikitpun tidak bergerak, hanya
bergoyang sedikit. Semua serangan Tjiu Piau jatuh ke
tempat kosong. Ia membentangkan kedua tangannya
sambil mengejek: “Mana mutiaramu, habis yah?” tangannya
itu dirapatkan untuk menjepit Tjiu Piau.
Tjiu Piau pun tidak mengegos bararg sedikit! Serangan
datarg dibarengi dengan serudukannya seperti kambing
gunung yang sudah gila. Tangannya membantu menyerang
ke dua mata Louw Eng. Tjiu Piau sadar dengan nyeruduk
akibatnya bisa mencelakakan dirinya sendiri, tapi tangannya
sudah mengepel sebutir Bwee Hoa Tok Tju yang terakhir,
dengan harapan bisa melukai lawan.
Baru tangannya sampai di depan mata lawan sejauh satu
dim, suatu perasaan sakit dengan tiba tiba saja menyerang
sampai di hati. Kiraiya Louw Eng mengubah tangannya satu
ke bawah sstu ke atas, tiba – tiba dirapatkan. Tak ampun
lagi tangan Tjiu Piau kena digencet. “Krekkk” suara yang
mengilukan terdengar, sebab sekaligus kedua lengan Tjiu
Piau sudah kena dipatahkan! Sakit ini membuat Tjiu Piau
merasakan dunia terbalik, hampir-hampir pingsan
dibuatnya. Tapi dalam beberapa saat. ia masih dapat
bertahan, entah dari mana datangnya tenaga, sekuat
mungkin ditahan sakitnya. Tenaga yang penghabisan itu
digunakan untuk melepaskan senjata rahasianya. Untung
kedua tangannya yang sudah menjadi kaku seperti kayu itu
masih mendengar kata. Dicentilkannya mutiara yang
semenggah-menggahnya itu. Begitu mutiara itu terlepas, ia
sendiri segera jatuh pingsan.
Louw Eng tak mengira akan terjadi hal ini. tambahan
jaraknya terlalu dekat, tak ampun lagi mutiara itu mengenai
dadanya.
Kekagetan Louw Eng seperti dijilat setan, ketenangannya
hilang seketika, tubuhnya mundur – mundur terus beberapa
tindak mutiara itu dicabutnya dengan tangan kanannya.

180
Baru saja tangan itu mau mengenai duri-duri mutiara itu,
kesadarannya segera datang, bahwa benda itu tak boleh
dipegang tangan. Buru buru ditariknya kembali tangan itu.
Srettt—sebilah pedang terhunus, pikirnya akan diobati
lukanya itu seperti waktu ia mengobati Peng San Hek Pau.
Baru saja pedang itu terhunus, kembali ia membengong
diri. Sebab mutiara itu bersarang di dada! Peng San Hek
Pau jerijinya dapat dipapas kutung. Tapi dada ini tak boleh
diliangi atau dipotong sebagian. Bagaimana baiknya?
Kekalutan pikirannya melewati batas, sampai satu hal
yang sedari siang siang di pikirnya tak masuk ke otaknya.
Yakni mengambil obat pemunah dari tubuh musuh. Sesudah
bengong setengah harian, otaknya baru mengingat ini.
Dihampirinya Tjiu Piau sambil dibentak: “Lekas keluarkan
obat pemunah! lekassss!” Pedangnya berkelebatan di depan
mata lawan. Tapi Tjiu Piau sedikitnya tidak bergerak-gerak
atau berkata-kata. Louw Eng baru ingat bahwa pemuda ini
sudah luka dan pingsan. Tak banyak ribut lagi ia nongkrong
di depan tubuh Tjiu Piau sambil merogohi saku orang. Saat
ini tubuh nya sudah merasakan pening yang sangat sedangkan
dadanya sudah merasakan sedikit kaku.
Ia mempunyai pengetahuan umum di dunia Kang Ouw ini
dengan baik. Ia tahu obat pemunah ini berada pada pemilik
senjata itu, dari itu digeledahnya Tjiu Piau Tapi sesudah
kodok sana rogo sini tak diketemukan obat itu. Akhirnya
dengan susah payah obat pemunah ini diketemukan juga di
lapisan kulit rusa sarung tangan lawan. Sebuah bungkusan
kecil berisi pel-pel kecil terdapat di sana, ia berjingkrak
kegirangan, dengari cara yang tergesa gesa dibukanya obat
itu. Sayang obat itu dibungkus berlapis lapis, baru
membuka sampai lapis ketiga, pening nya sudah terlebih
dahulu memingsankan otaknya. Tubuhnya menjolor kaku.
Kita tengok lagi Peng San Hek Pau dan Tong Leng
Hweesio yang pergi ke kaki gunung, sesampai di sana
melihat suatu pemandangan alam yang demikian indah-
Tak terasa lagi mereka menikmati dengan penuh
kegembiraan. Lama kemudian mereka baru ingat kembali

181
pada kawannya. Kaki nya melangkah perlahan dan ayal
ayalan sambil bercakap cakap sepanjang jalan.
Mereka kaget waktu mendekati bekas tempat
perkelahian. Seolah olah tidak terlihat bayangan orang
hidup di tepi danau. Louw Ens, Tjiu Piau, Oag Gwat Hee
malang melintang terhantar di sana merupakan mayat.
Sedangkan bayangan Ong Djie Hai tak tampak ada di sana.
Mereka merasa kuatir dan curiga, dihampirinya tergesa
gesa terlihat di tangan Louw Eng memegang bungkusan
obat, obat itu seolah olah mau dimasukkan ke dalam mulut,
tapi keburu kaku dan pingsan.
Peng San Hek Pau memeriksa denyutan jantung kawannya
itu. Nyatanya masih berdetak dengan lemah sekali,
lekas-lekas di buka obat itu, ia tak tahu aturan obat itu,
dicomotnya dengan tangan dan dimasukkan ke mulut Louw
Eng dan diberinya minum air danau.
“Mari kita periksa bocah-bocah Ini mati atau belum.
Kalau belum sebaiknya kita sadarkan mereka.” Kedua orang
itu masing masing memeriksa Tjiu Piau dan Gwat Hee Peng
San Hek Pau memberikan obat buatannya sendiri Thai Ie
Ngo Houw San. Ke dua orang itu layap-layap sadar daripingsannya
sesudah berobat itu. Peng San Hek Pau lekas
lekas bertanya pada Tjiu Piau bagai mana caranya
menggunakan obat pemunahnya. Tjiu Piau tertawa dingin
seraya berkata : “Tak halangan untuk kuberitahu kepadamu
Setiap yang terkena Bwee Toa Tok Tju pasti akan tiga kali
pingsan dan tiga kali sadar, sesudah itu baru mati. Setiap ia
sadar dari pingsannya berikanlah sembilan butir untuk
ditelannya. Tapi untuk sekali ini jiwa Louw Eng tak dapat
tertolong!”
“Kau jangan main gila. nanti kupatahkan kakimu!”
bentak Tong Leng Hweesio. Tjiu Piau tidak menjawab.
Sebaliknya mendengar Louw Eng bersuara dengan nada
yang lemah sekali! : “Tanyakan apa sebab nya aku tak
dapat baik.” Kiranya ia sudah siuman.
Tjiu Piau melihat Louw Eng siuman, segera diejeknya.

182
“Alasannya mudah saja. Mutiaraku sudah tambah
semacam racun lagi! Sedangkan obat pemunah tak ada
padaku!”
Mendengar ini tak tertahan kekagetan mereka, sehingga
mukanya pada berubah macam. Louw Eng napasnya sudah
sengal sengal, agaknya sudah akan pingsan kembali. Bok
Tiat Djin lekas lekas memberikan obat “Apa gunanya dikasih
obat itu!” tanya Tong Leng.
“Sebaiknya kita punahkan racun Bwee Hot Tok Tju
keluarga Tjiu dahulu, yang lain lihat kemudian, jawab Bok
Tiat Djin. “Mutiara itu mengandung racun apa pula? Lekas
katakan!”
Tjiu Piau mengenakkan gigi menahan sakit yang bukan
alang kepalang itu. Sebisa bisa ditahannya sakit itu, ia tak
mau meratap atau merintih! Ia ingat apa yang dikatakan
Tjen Tjen kepadanya, bahwa racun dari Tan djie yang
dipelihara itu bukan main jahatnya. Racun itu akan
bekerja perlahan lahan menyiksa orang. Obat pemunahnya
hanya dipunya Tjen Tjen sendiri, sampaipun ayahnya ,
gurunya tidak mengetahui adanya hal ini!
Inilah pembalasan alam agar Louw Eng ying biasa
melakukan kejahatan merasakan ular berbisa ciptaan
anaknya sendiri! Kini tak halangan hal ini diberi tahu
mereka, sesudah diketahui mereka pasti tak berdaya dan
tak bisa berbuat apa-api, sebaliknya mereka akan
bertambih gelisah. Memikir sampai di sini tak tahan untuk
tersenyum.
“Racun ini bukan kepunyaan orang lain, ialah kepunyaan
Louw Tjen Tjen Mintalah kepadanya!”
Dua orang bengong mendengar kata-kata ini. Bak Tiat
Djin melihat Louw Eng. sebentar biru sebentar pucat
kemudian merah membara, agaknya ribuan bisa dan racun
tengah tergumul di dalam tubuhnya, pemandangan ini
menipiskan untuk mengharapkan ia bisa hidup. Biar
bagaimana Bok Tiat Djin mempunyai hubungan baik dengan
Louw Eng sepuluh tahun lebih. Mereka sama sama membagi

183
keuntungan, sama sama pula menikmati segala senang dan
duka. Pokoknya mereka kerja sama bahu membahu dan
saling tolong. Tapi kiri kawan yang baik ini dalam beberapa
saat lagi akan meninggalkannya, kedukaan dan kesedihan
hatinya menyesak di jiwa raganya. Lebih-lebih mengingat
bagaimana kawan ini menolong jiwanya dari racun ini
dengan mengutungkan jerijinya, sedangkan ia tak berdaya
untuk balas menolong Louw Eng Kalau tidak pasti jiwanya
siang-siang melayang, mengingat ini ini keringat dinginnya
membasahi tubunnya dengan deras!
Sesudah menunggu beberapa lama. Louw Eug kembali
siuman untuk kedua kali. Bok Tiat Djin memberi tahu,
bahwa obat pemunah dari Tjian Tok Tjoa (ular seribu racun)
berada pada Tjen Tjen. Mendengar ini matanya terbeliak
putih, dengan sekuat tenaga memaksakan diri untuk bicara:
“Menyesal aku tak pernah meminta barang sedikit untuk
menjaga diri.” Hatinya gelisah dan pingsan lagi. Bok Tiat
Djin buru – buru memberikan obat lagi. Tak kira begitu obat
ini termakan oleh Louw Eng. tubuhnya berubah menjadi
dingin napasnya semakin payah. Kiranya obat ini tak boleh
terlalu banyak dimakan, sebab bisa merusak Goan Kie
(tenaga asli) sesudah kena racun sedikit banyak kehilangan
juga ilmu tenaganya. Kesatu disebabkan racun itu terlalu
lihai, kedua meminum obat terlalu banyak. Tak heran
rupanya berubah seperti orang yang menderita sakit sudah
lama.
Waktu ia siuman untuk ketiga kalinya wajahnya dihiasi
senyuman yang spesifik dan misterius dari pribadinya. “Bok
heng, Tong Leng heng, aku minta kau menjauhkan diri
sebentar, aku mempunyai kata kata yang penting untuk
dikatakan kepada dua bocah ini.”
Bok Tiat Djin merasa heran, ia berkata sambil
menasehati: “Louw heng. Kau harus istirahat untuk
memulihkan napasmu, tak boleh banyak bicara.” Louw Eig
meraba denyutan jantungnya sendiri.
“Aku mempunyai kira – kira, harap jangan kuatir.”
mereka terpaksa melulusinya. Tapi kali ini mereka tidak

184
pergi jauh jauh, mereka waspada untuk melihat sesuatu
pergerakan.
Louw Eng berkata pada Tjiu Piau dan Gwat Hee: “Tit-djie,
Tit-lie mungkin aku segera akan berpulang ke rahmatullah.
Orang hidup harus mati, dari itu aku terima kematian ini
dengan baik. Sekali-kali aku tak menyalahkan kalian. Tapi
aku mengharapkan benar, sebelum aku mati dengarkanlah
sepatah kataku …” Napasnya sengal sengal dan istirahat
sebentar.
Ong Gwat Hee dan Tjiu Piau mengedipkan matanja,
masing masing berpikir : “Bangsat ini sudah mulai lagi.”
Kedua kaki Tjiu Piau tidak menderita luka, ia duduk bangun,
Gwat Hee juga duduk sambil menguatkan tubuh. Kedua
orang itu sambil menyandar kan punggung ke punggung
masing masing duduk bersama sama. Karenanya mereka
masing masing merasakan kehangatan tubuh kawannya.
Dalam suasana celaka demikian mereka terlebih lebih lagi
akrabnya. Sayang dalam alam yang demikian romantis ini.
terjadi perkelahian saling bunuh membunuh, sungguh tak
mengena sekali. Kini kedua orang masing-masing men
derita luka berat, juga berada dalam tangan musuh, mereka
tak berdaya untuk berontak guna melawan. Begitupun baik,
mereka agaknya akan bergirang sekali mengakhiri jiwa
remajanya itu dalam suasana yang sangat manis ini. Kedua
orang ini mempunyai pendapat yang begitu. Tak heran
mereka menyandarkan tubuhnya masing – masing semakin
erat. dari hal ini hatinya merasakan sesuatu hiburan yang
tak ternilai harganya!
Louw Eng melihati kedua orang itu, sesudah menarik
napas, kembali ia berkata: “Orang yang akan mati.
perkataannya selalu lebih baik dari masa hidupnya. Kalian
sudah tak percaya perkataanku, tapi dengarilah beberapa
patah sebelum aku mati. Kalian dengar’ dan dengar jangan
gusar jangan panas, dengarlah! Sakit hati di Oey San
selama delapan belas tahun itu tak dapat dibalasnya atau
diberesinya. Sebab apa …. karena yang membunuh Tjiu
Tjian Kin adalah Ong Tie Gwan! Adapun keributan ini terjadi
di sebabkan mereka kena diadu domba oleh Wan Tie No–

185
Kalian dua keluarga adalah bermusuhan, Wan Tie No-—
juga musuh dari kalian. Kalau mau membalas sakit hati
kuberikan petunjuk yang baik.Kapan waktu ada orang yang
meminta pedang Liong dan Hong dariku, orang itu pasti
mempunyai hubungan yang erat dengan Win Tie No—”
napasnya kembali sesak, ia mengaso lagi.
Sebenarnya Tjiu Piau dan Gwat Hee sudah mengambil
keputusan untuk tak mau percayai perkataan itu., Siapa
kira perkataan Louw Eng yang sengal sengal Ini meng
gerakkan kedua hati anak muda ini. Perkataan orang yang
akan mati tentu baik ada nya. Mereka setengah percaya
dan setengah curiga mendengarkan ceritera ini.
Louw Eng berkata pula : “Wan Tie No itu demikian
kurang ajar, kami empat saudara kena diadu dombakan. Ia
binasa di targanku. itu seharusnya. Tapi— tapi ia masih
mempunyai orang yang terdekat…untuk mencari balas
kepada kalian. Kalian harus hati hati. Aku…aku agaknya tak
. . . tak dapat hidup lagi, kalian boleh percaya boleh
tidak…atas kata kata ini. Pokoknya…aku…bicara, dan
dengan…ini batiku…menjadi tenteram…kalian berdua…”
kata katanya belum habis kembali ia pingsan. Mukanya
yang pucat berubah menjadi abu-abu, tak ubahnya seperti
wajah orang mati. Kelihatannya racun dari Bwee Hoa Tok
Tju sudah dipunahkan, tapi bisa Tjian Tok Tjoa sudah
masuk ke hati.
Tjiu Piau melihat musuh itu masih ingin bicara pada
tarikan napas yang demikian lemah itu. Hatinya tergerak,
tak terasa lagi beberapa bagian dari perkataan itu sudah
dipercayai hatinya. Saat ini punggungnya merasakan
tubuhnya tak bersandaran, agaknya Gwat Hee tak
menyandar lagi padanya., ia berbalik untuk melihat empat
mata-bentrok, dari sinarnya seolah olah menunjukkan
kecurigaan masing masing.
Louw Eng melirik memandang suasana ini dengan girang
pikirnya tak cuma cuma aku berkata. Saat ini Bok Tiat Djin
menghampiri datang, ia membuka mulut untuk berkatakata
tapi napasnya terlalu lemah, akhirnya tak berkata

186
kata. Lama kemudian, dengan tenaga yang semenggah –
menggalinya terlontarlah kata katanya itu dengan keras,
seperti orang membekasi “Kasihlah mereka berlalu!”
Tubuhnya segera pingsan lagi Bok Tiat Djin buru buru
memeriksa jalan pernapasannya, dengan wajah putus asa.
digeleng gelengkan kepalanya. Napasnya sudah hilang,
tubuhnya kaku dan jengkar. tapi wajahnya masih
tersenyum. Tjiu Piau dan Gwat Hee merasakan senyum dari
orang mati itu sangat menakutkan sekali, senyum itu
demikian aneh dan berbisa, membuat orang jemu
melihatnya, ditambah dengan wajahnya yang sudah
menjadi matang biru. tak ubahnya seperti setan gaib
menjelma di dunia. Kedua orang ingin memalingkan
mukanya tidak melihat, tapi ingin melihatnya juga. Karena
inilah hatinya tidak tenang.
Sebab apa Louw Eng sampai matinya masih tertawa? Ia
biasa melakukan kejahatan dan meracuni kehidupan orang.
Waktu ia sadar akan menghadap pada Giam Lo Ong,
otaknya mau tak mau harus merenungkan hal ikhwal dari
kehidupan yang dialaminya. Bahkan disebabkan ia kuatir
akan diomongi orang nanti, atau memikiri nasib anaknya
yang akan ditinggalkan itu. Otak itu mempunyai satu
pikiran jahat: “Aku mengharap dengan kematianku,
keluarga Tjiu, Ong, Tju saling bunuh membunuh juga,
mengharapkan mereka bisa saling hantam dengan orang
nya Wan Tie No.”
Tak heran ia mengucapkan kata katanya tadi serius dan
mengarang ceritera burung Kedua anak muda itu masih
muda dan kurang Pengalaman Melihat ia akan mati tapi
masih berdaya untuk mengeluarkan kata kata itu tak terasa
lagi kewaspadaan mereka menjadi kendur sebagian,
perkataan ini memakan di otaknya dan mengeruhkan
pikiran mereka. Louw Eng melihatnya hal ini. hatinya
berpikir. “Lihat! biar aku sudah meninggal, tapi kata kataku
tidak mati. kalian masih dijiwai Louw Eng. Sehingga kalian
akan bunuh membunuh tak karuan, berkat kebodohan
kalian!”
Sebenarnya hati orang memang tidak serupa, ada orang

187
merasakan melakukan kejahatan sangat menyesal dan
memalukan, sehingga hatinya tidak tenang selama hidup
nya. Tapi Louw Eng manusia yang berlainan dari segala
orang.
Sudah tahu jiwanya akan melayang, pikirannya masih
saja jahat. dengan provokasinya ingin memancing satu
perkelahian diantara mereka, memikiri ini hatinya menjadi
senang, dari itu ia mati sambil membawa senyum.
Bok Tiat Djin dan Tong Leng membentak Tjiu Piau:
“Obatmu apakah benar atau palsu? Lekas katakan kalau
tidak hati-hati dengan paha anjingmu!”
“Lihat saja wajah mukanya, kalau tidak meminum
obatku, tidak mungkin wajahnya berwarna agak merah.
Kini ia mati disebabkan racun dari anak kandungnya sendiri.
Hal ini tak boleh menyalahkan aku.” jawab Tjiu Piau
membela diri.
Bok Tiat Djin tak dapat berkata apa-apa, lebih lebih
sebelum mati Louw Eng meminta melepaskan mereka.
Dalam rencana keji dan busuk ia mengakui Louw Eng
sangat pandai, dari itu ia berbuat demikian tentu
mengandung maksud pula, dari itu ia berkata: “Tong Leng
heng, mari kita cari tempat yang baik untuk tempat Louw
toako ber istirahat selama lamanya. Bocah bocah ini biar
mati atau hidup kita tinggalkan di sini.” mendengar ini Gwat
Hee dan Tjiu Piau merasa gembira di balik duka.
Tong Leng memanggul jenazah dari Louw Eng, Bok Tiat
Djin mengiringi dari belakang, mereka jalan pergi, makin
lama makin jauh.
Tjiu Piau merasakan sangat haus sekali, dengan sekuat
tenaga ia menghampiri tepi danau, dengan kedua tangan
nya yang sakit disendoknya air danau. Tapi tangan itu tak
mendengar perintah lagi! Terpaksa ia berlutut sambil
memonyongkan mulutnya untuk menghirup be berapa
teguk air untuk menghilangkan rasa dahaganya.
Memang manusia merasakan air menjadi harum dan
nyaman sewaktu dahaga, tapi waktu biasa air ini kurang

188
harganya Tjiu Piau merasakan tubuhnya agak segar berkat
beberapa tegukan air danau ini. Saat inilah telinganya
mendengar suara “bluk” ia menoleh dan dilihatnya Gwat
Hee tengah meronta dan melawan sakit ingin berdiri, tapi
disebabkan lukanya yang keras, sekujur badannya tak
bertenaga, tak heran begitu berdiri tubuhnya lantas jatuh
lagi.
“Kau ingin minumkah?” Gwat Hee mengangguk. “Tunggu
sebentar kusendokkan untukmu.” Tangannya mencoba
memungut kulit kerang yang terdapat di situ, tapi baru saja
tangannya bergerak sedikit, sakitnya itu menyerang ulu
hati, ia baru sadar tangan itu sudah patah, ia berdiri dengan
menyedihkan.
“Tanganmu tak dapat digerakkan, kemarilah dan
pondonglah aku.” Tjiu Piau menghampiri gadis itu
menguatkan diri untuk berdiri dan memegang leher sang
jaka. Baru saja Tjiu Piau melangkah setindak, Gwat Hee
sudah tak tahan lagi. la merosot jatuh. Dengan gusar ia
berkata: “Louw Eng si gila itu sungguh jahat, tangan nya
yang keji itu membuat nyawaku tinggal sebagian!”
Tjiu Piau, bulak balik pikir hanya ada satu daya. “Kau.
naiklah di punggungku, nanti kugendong sampai kau dapat
minum!” sang gadis merasakan syukur alhamdulillah. Ia
melirik dengan puas atas ketulusan hati nya pemuda itu.
Dengan lembah lembut ia berkata; “Tjiu Piau ko kau
sendiri menderita luka, mana dapat kau lakukan itu.”
“Tak menjadi soal lukaku adalah luka luar, asal jangan
dipegang lukaku saja. Lekaslah!” Ia membungkukkan
tubuhnya. Gwat Hee berdaya sekuat tenaga menggemblok
di punggungnya tangan itu hati-hati memegang dada sang
pemuda itu. Sesudah itu Tjiu Piau baru berdiri, tapi
kepalanya merasakan banyak sekali bintang-bintang kecil
yang berhamburan, dengan pertahanan jiwanya yang kuat
ia melangkah menuju ke tepi danau. Kira kira baru jalan
beberapa langkah, merasakan di depan matanya, gelap, tak
kuat lagi ia bertahan, kedua orang itu jatuh berbareng
dengan napas memburu. Cukuplah, tiga tindak lagi aku

189
sudah dapat ke tepi danau itu,” kata Gwat Hee. Benar saja
ia maju mengangsrot angsrot. dan berhasil meminum
beberapa teguk air itu. Ia tersenyum girang sambil
berkata: “Aku sudah baikkan, demi air ini.”
Alam cerah, sinar surya memancarkan ribuan sinarnya
seperti benang emas menerangi jagat. Danau itu dikelilingi
rumput-rumput halus menghijau, dilengkapi dengan
berjenis jenis bunga mekar, keadaan sangat sunyi dan
tenang, apa yang terdengar hanya kicauan burung dan
suara angin. Alam yang indah ini memabukkan setiap yang
melihatnya. “Sayang sekali pemandangan alam yang
demikian mentakjubkan ini, tidak dinikmati orang.” kata
Gwat Hee.
Kata kata ini diucapkan sekedar menghilangkan
kedukaan dan penderitaan mereka.
“Gwat Hee Moy moy, kau tentu mendengar patah demi
patah perkataan Louw Eng bukan?” “Semua kudengar
semua sudah kupikir, kau sendiri bagaimana?”
“Aku tak mengetahui apa yang dikatakan itu benar atau
tidak.-”
“Tiga kali ia sudah menceriterakan peristiwa Oey San,
tapi satu sama lain sangat berlainan sekali.”
“Orang sesudah mati tak mengetahui apa-apa lagi,
segala urusan sudah tak ada hubungannya lagi dengan dia.
Mungkin kali ini omongannya itu benar adanya.”
“Louw Eng itu adalah binatang yang berwajah manusia.
Dari mulutnya itu hanya dapat mengeluarkan kata kata
binatang pula!”
Kedua orang itu berdiam sejenak sambil berpikir.
“Hal ini bukan sengaja kukemukakan atau meyakinkan
kau, ini hanya buah pikiranku saja. Aku sadar hal ini tidak
dapat merusak hubungan kita. Seandainya hal ini benar
benar terjadi juga tidak mengapa, yang lalu biarlah ia
berlalu. Kita masih muda pikiran kita masih jernih dan tak
mungkin disebabkan kesalahan orang tua kita,

190
mengakibatkan permusuhan di antara kita. Sebaliknya kita
harus menjadi terlebih baik pula untuk membenarkan
kesalahan yang sudah diperbuat orang tua kita. Betul tidak?
Coba kau pikir!”
Gwat Hee tak memikir sang jaka bisa me ngeiuarkan
pendapat yang demikian. Hatinya merasa gembira
mendengar perkataan itu. Tapi sengaja ia berkata: “Ya
seharusnya musti demikian, tapi biar bagaimana orang tua
kita tetap bermusuhan. Dari itu biar bagaimana kita mana
dapat menjadi sahabat?”
“Kenapa tak bisa?” tanya Tjiu Piau.
“Kalau benar benar ayahku telah membunuh ayahmu
bagaimana?”
“Kalau demikian inilah kesalahan mereka, untuk kita
hanya berpikir pada kebenaran sekali tidak memikiri
kesalahan. Dengan cara ini kita pasti akan menjadi baik dan
rukun, betul tidak?”
Gwat Hee sangat girang mendengar ini, sampaipun rasa
sakitnya kurang sebagian.
“Katakanlah sudahkah kita berpedoman pada kebenaran
dan menjauhkan kesalahan?”
“Kini masih belum terang, hal ini baru dapat diketahui
dengan jelas kalau kita sudah mendaki Oey San. Di situlah
kita baru dapat memastikan benar tidaknya perkataan Louw
Eng. Tapi biar bagaimana Juga pasti tidak salah, coba kau
katakan benar atau tidak?”
Mendengar ini muka Gwat Hee yang pucat menyinarkan
juga perasaan girangnya. “Aku pun sependapat denganmu,”
katanya sambil menunjukkan perasaan kuatir. “Kakakku
mungkin tidak mengalami hal yang tidak diingin ya?
Mungkin hanya hanyut entah ‘ke mana?”
Kekuatiran Tjiu Piau pun tidak terhingga. Tapi sebegitu
lama tidak berani mengatakannya. Kini mendengar itu
dengan sabar ia menghibur: “Allah maha adil. orang baik
selalu dilindunginya, kuharap ia tak kurang suatu apa.”

191
Gwat Hee dengan sinar mata sayu mengawasi air danau.
“Kini aku merasakan heran sekali. Bukankah waktu
kakakku kecebui segera tidak terdengar apa apa lagi.
Kepalanya sedikitpun tidak muncul lagi, menteriakpun tidak
heran?” Belum Tjiu Piau menjawab, ia sudah melanjutkan
perkataannya. “Tjiu Piau ko kau lihat, benda apa yang
terbang mendatang itu?” Tjiu Piau dongak mengawasi,
dilihatnya sebuah titik hitam dengan kecepatan yang luar
biasa terbang mendatang, semakin lama semakin besar,
dalam sekejap saja seekor burung raksasa terbang lewat di
atas kepala mereka. Di punggung burung itu menggemblok
burung kakak tua. Tjiu Piau berkata dengan cemas: “Tjen
Tjen pasti berada tidak berjauhan dengan kita!”
“Kita harus menyingkir!” kata Gwat Hee.
“Baik. lekaslah kau naik di punggungku lagi!” Gwat Hee
menurut.
Dua orang ini tolong menolong untuk menyelamatkan
jiwanya, baru saja mereka sampai di kaki bukit. Tiba tiba
dilihatnya dua bayangan orang berlari mendatang dengan
pesat, sambil lari mereka sambil berteriak teriak. Waktu
ditegasi kedua orang itu bukan orang lain. ialah Tong Leng
dan Bok Tiat Djin. Tjiu Piau dan Gwat Hee merasa tak
mengerti, kenapa dua binatang ini kembali datang.Mereka
melihat dan mengawasi dengan penuh perhatian ;
“Tjiu Piau ko, kau lihat, benda apa yang merayap di
muka Bok Tiat Djin ! ! ? ? ?” Tjiu Piau pun sudah melihat, di
tanah itu menggeleser sebuah benda yang menyerupai
orang. Berkelok kelok dan bergeliat geliat jalan merayap
dengan cepat, sampai Tong Leng dan Bok Tiat Djin yang
berkepandaian tinggi tak mudah untuk mengejarnya.
“Itu adalah seekor ular ajaib!” kata Tjiu Piau. Gwat Hee
tidak berkata-kata! Hati-hati dilihatnya benda itu, kemudian
wajahnya menjadi kaget dan heran: “Mari, lekas lekas kita
menyingkir, benda itu bukannya ular, tapi Louw Eng!”
Mendengar itu Tjiu Piau menjadi kaget sekali. Waktu
dilihatnya benda itu sudah datang mendekat, dan dapat

192
dilihat dengan tegas, benar saja benda itu adalah Louw Eng,
yang menggeleser berjalan seperti ular. Tak terasa lagi bulu
roma kedua orang ini pada berdiri.
Jilid 7
Tjiu Piau pernah mendengar perkataan Tjen Tjen siapa
yang kena bisa Tjian Tok Tjoa akan disiksa pergi datang,
baru akan mati Tapi ia tak mengetahui bagaimana siksaan
itu berjalan, baru sekarang dilihatnya. Perut Louw Eng
mundur maju manggeleser seperti ular. Tapi kulit orang
mana dapat dibanding dengan kulit ular! Pergesekan antara
kulit dan tanah ini, membuat darah mengalir! Kelihatannya
sangat menderita sekali, bagian perutnya sudah besot dan
berdarah, lidahnya terjulur ke luar sambil mendongakkan
kepalanya. Di dalam tubuhnya seperti bekerja sesuatu
racun yang mengakibatkan tubuhnya berjalan dengan
melata.
Pembaca tentu bertanya bukankah Louw Eng sudah mati
Ya memang sudah mati. tapi mati mati ular. sebab kena
bisa ular. Kenyataannya bukan mati benar benar ! !
“Mari kita bersembunyi di sana!”
Seru Tjiu Piau. Gwat Hee melihat sekeliling hanya terdiri
dari air danau dan kaki bukit yang rendah. Walaupun
terdapat beberapa pohon, tapi bukan tempat yang baik
untuk menghindarkan diri dari ular itu. Ia terbenam diam,
tak berdaya. Louw Eng sudah tidak berjauhan lagi dengan
mereka, kira-kira sejauh seratus tindak lagi. Bok Tiat Djin
dan Tong Leng memburunya sambil berteriak-teriak “Louw
heng, Louw heng, istirahatlah kau sangat lelah.”
Habis berkata tubuhnya membungkuk untuk menangkap
teman itu. Siapa tahu tubuh Louw Eng seperti ular mulutnya
terbuka lebar dengan tiba tiba memagut. Bok Tiat Djin
sangat terkejut, buru buru ia mencelat mundur menghindarkan
bahaya. Serangan tak berhenti sampai di situ.
kembali ia menggeleser seperti ular. dengan kecepatan kilat
kembali menerjang kedua orang itu. Sekali ini mengagetkan

193
kedua orang itu sampai kabur. Mereka berlari lari sampai
jauh juga.
“Sekarang aku mempunyai akal, bukanlah perahu yang
kita naiki masih berada di sana? Sekarang hanya perlu kita
lekas lekas saja ke sana.” Tjiu Piau membenarkan pendapat
Gwat Hee, langkahnya diperbesar menuju ke tepi danau.
Pengayuh perahu itu sudah rusak dan tak berguna lagi.
Andai kata ada pengayuh juga tak ala gunanya, sebab
tangan Tjiu Piau sudah luka. Kedua orang itu sudah naik ke
perahu, mereka kembali duduk termenung, sama sekali
tidak’ mempunyai akal lagi. Gwat Hee mengayuh-ngayuhkan
tangannya, perahu hanya berderak sedikit. Ia tertawa
lemas “Andai kata Tjian Tok Tjoa bisa berenang kita pasti
berbahaya.” Tjiu Piau tidak mengerti, Gwat Hee
menjelaskan, “Kalau Tjian Tok Tjoa berasal ular air,
bukankah sama dengan bisa berenang, kalau Louw Eng
mengejar kita, pasti dia juga dapat berenang seperti ular
air!”
“Lihatlah! benda apa di sana!” seru Tjiu Piau. Gwat Hee
menoleh tampak di tempat jauh, mendatang sebuah perahu
dengan pesatnya. Di atas perahu beterbangan berkeliling
burung raksasa itu. Gwat Hee berkata: “Wah Louw Tjen
Tjen pasti datang, bukan?” Tjiu Piau menjawab dengan
lemas: “Bocah itu berkepandaian tinggi, sebaliknya kita
tengah menderita luka, pasti tak dapat menandingi!”
Perahu mendekat, seorang gadis duduk di situ tak
bergerak gerak. Dilihat dari rupanya dapat dipastikan itulah
Tjen Tjen. “Adik Gwat Hee lebih baik kita mendarat, atau
duduk di sini?” tanya Tjiu Piau.
“Kau dengar di kaki bukit terdengar suara berderak
sepatu, pasti ada orang datang!” Dalam waktu sekejap
tampak Tong Leng, Bok Tiat Djin Kembali mengejar Louw
Eng yang sudah merupakan ular.
Perahu kecil itu sudah tinggal beberapa meter saja dari
darat. Sedangkan orang-orang yang di darat itu sudab
sampai di tepi danau. Ong dan Tjiu diam tidak bergerak
menantikan perubahan. Saat ini kedua mata Louw Eng

194
merah membara, menatap wajah anaknya, yang
mengherankan Tjen Tjen sedikit juga tidak bergerak masih
tetap duduk di sana, seperti tidak meladeni.
Bok Tiat Djin tiba, begitu melihat murid muridnya, lantas
membuka mulut dengan penuh kegirangan: “Tjen Tjen,
Tjen Tjen, tepat sekali kau datang, menolong ayahmu,
bukan?” Ia tidak menjawab, melihat ini sang guru merasa
aneh, tubuhnya mencelat ke perahu yang didudukinya.
Tjen Tjen masih tetap tidak bergerak, hanya matanya
saja menatap ayahnya dengan perasaan sedih, air matanya
mengalir seperti rantai mutiara. Di balik sana Gwat Hee
mengerti Tjen Tjen pasti kena ditotok orang berilmu.
Begitu sampai di perahu. Bok Tiat Djin segera menarik
tangan Tjen Tjen. Pada saat inilah dari belakang tubuh Tjen
Tjen berkelebat sesosok tubuh orang. Kiranya di belakang
tubuhnya ada orang yang bersembunyi. Orang ini berambut
putih, tidak lain tidak bukan dari Hoa San Kie Sau.
Gwat Hee kegirangan bukan buatan, pikir saja orang
dalam keadaan terjepit, dan tak berdaya mendapat satu
harapan yang demikian memastikan. Sehingga lupa pada
sakitnya, ia berteriak-teriak kegirangan: “Suhu! Suhu!”
Baru saja teriakannya dua kali, hampir-hampir tak dapat
bernapas lagi. Pikirnya gurunya sudah datang, segala Tong
Leng dan Hek Pau Tju sudah tak perlu ditakuti lagi.
Hoa San Kie Sau sambil membaringkan dirinya melihat
keadaan ini. Dengan senyumannya yang welas asih ia
berkata: “Masih beruntung aku dapat menemukan kalian.”
Sambil berkata, tangannya dipakai menangkap tangan Bok
Tiat Djin. Hal ini di luar perkiraan lawan, tangannya buru
buru ditarik kembali, hampir saja kena dipegang. Ia mundur
ke belakang, tapi di belakang mana ada tempat pula? Tak
ampun lagi tubuhnya kecebur ke danau !
Tidak kira kejatuhannya ke dalam air ini,
menguntungkannya. Ia dapat berenang, begitu sampai di
air, segera ia menyelam, begitu muncul kepalanya sudah
berada di dekat perahu yang dinaiki Gwat Hee dan Tjiu

195
Piau. Ia bukan anak kemarin dulu, akalnya banyak. Dalam
waktu sebentar saja akalnya ‘ kembali bekerja. Didekatinya
pinggir perahu, tubuhnya diangkat naik ke udara, belum
kakinya menempel papan perahu, tangan kanannya sudah
mendahului menotok kepala anak-anak muda itu. Tjiu Piau
dan Gwat Hee menderita luka, dengan sendirinya tidak
dapat melawan.
Bok Tiat Djin tertawa dengan girang: “Orang she Nio
Serangan dari biji caturmu memang berbahaya sekali, tapi
sekarang kau tidak akan mendapat untung. Kita adalah
orang yang mengerti urusan, hal ini tidak perlu banyak
diceriterakan. Sekarang aku menanyamu, set ini
bagaimana? Mau diteruskan atau mau remis (seri) kau
boleh pilih!”
Bok Tiat Djin begitu melihat ke luarnya Hoa San Kie Sau,
sudah mengerti apa yang dikehendakinya. Yakni
menggunakan Tjen Tjen sebagai jaminan untuk meminta
orang. Karenanya dengan segera ia pun pergi mendekati
perahu Tjiu Piau- Menggunakan dua jiwa ini untuk
menjamin keselamatan muridnya. Misalkan Hoa San Kie
Sau berani bergerak mencelakakan jiwa Tjen Tjen. Tjiu dan
Ongpun akan di bereskan, dengan ini dua pion tukar satu,
tetap untung.
Hoa San Kie Sau diam sebentar, kemudian dibukanya
jalan darah bicara dari Tjen Tjen. “Ayahmu kenapa?
Katakanlah!” Kiranya ia sudah melihat Louw Eng yang
memandang puterinya dengan penuh harapan. Dan melihat
wajah Tjen Tjen yang gelisah melibat ayahnya, Saat itu tak
sempat untuknya menjawab pertanyaan Kie Sau. Ia
menangis sambil berkata. “Ayah, kenapa kau bisa terkena
bisa Tjian Tok Tjoa? Yah, katakanlah!” Louw Eng tak dapat
bicara, hanya mengelel-elelkan lidahnya saja. Bok Tiat Djiu
memelintir tangan Tjiu Piau sambil berkata. “Karena tidak
hati-hati kena dilukai anak celaka ini!” Tjiu Piau merasakan
sakit bukan main, tapi tetap dunn tak mengeluarkan
rintihan atau suara.
Hoa San Kie Sau mengerti sudah, apa yang dikehendaki

196
lawan. Baru mulutnya ingin berkata. Kembali Bok Tiat Djin
sudah mendahului berkata : “Hoa San Kie Sau, sudah kau
pikir masak-masakkah? Biji catur ku ada di tanganmu
sebaliknya anak catur mu berada dalam kekuasaanku.
Pikirlah mau melawan terus atau seri? Terkecuali ini jiwa
beberapa orang ini berada dalam keputusanmu, lekaslah
kau tetapkan pilihanmu.” Ia mengetahui watak yang welas
asih dari Hoa San Kie Sau, sengaja meletakkan mati
hidupnya jiwa orang orang ini atas pundak Kie Sau. Hal
meminta obat pemunah pada Tjen Tjen tidak dikemukakan
dulu. Sebab kalau hal ini dikatakan berarti jiwa Louw Eng
turut pula berada di tangan Kie Sau. Sama dengan menjadi
biji kemenangan pula untuk Kie Sau!
Hoa San Kie Sau tak mengira, bahwa Tjiu Piau dan Gwat
Hee akan menderita luka demikian macam. Dengan
sebentar saja ia kena ditindih Bok Tiat Djin. melihat
keadaan demikian, benar benar tak berketika untuk
mengembangkan permainannya. Tengok kiri kanan tak
terlihat Ong Djie Hai. Kakakmu ke mana?” tanyanya kepada
Ong Gwat Hee. Dengan sedih dan gusar Gwat Hee
menjawab: “Kecebur ditendang Louw Eng.” Mendengar ini
perasaan sang guru menjadi gusar, kedua matanya
mengeluarkan sinar yang berapi api, dipelototinya Louw Eng
sambil dibentak: “Bagus! Kiranya kau sudah membuka
hutang baru.”
Bok Tiat Djin kembali berkata. “Kie Sau! Percaturan ini
bagaimana akan diselesaikannya? Aku tak kebanyakan
waktu untuk menantikan kau terlalu lama! Kau lihat
matahari itu, bilamana sudah bergeser agak ke barat, kau
masih belum menentukan mau seri atau diteruskan
Selewatnya waktu itu, jangan sesalkan aku tak
berperikemanusiaan.” Habis berkata, lengannya bekerja
menggelepak tubuhnya Gwat Hee, gadis ini menahan
sakitnya, sedikitpun tidak bersuara. Hoa San Kie Sau
tertawa dingin. “Hek Pau Tjuyang baik, lepaskanlah orang
orang itu!” lalu Tangannya sendiri bergerak membebaskan
Tjen-Tjen dari totokan, tangan satunya lagi tetapi
memeganginya, tak memberi kesempatan untuknya

197
melarikan diri! Saat ini Ong Gwat Hee baru berseru. “Suhu
ia mempunyai obat pemunah, jangan lepaskan dia!”
Mendengar ini Bok Tiat Djin lekas lekas mencekal Tjiu Piau
dan Gwat Hee dengan erat. “Kau menahan obatnya, aku tak
melepaskan orang-orang ini!”
Hoa San Kie Sau tertawa mendengar ini.
“Hek Piau Tju, kau jangan kuaur, kalau kata Lohu lepas
pasti lepas! Walaupun kini Louw Eng dapat tertolong dengan
obat pemunah ini. tapi pada suatu hari pasti jiwanya tak
terlepas lagi dari hukuman alam. Baiklah sekarang kau dan
aku masing-masing mencelat dua tumbak ke beiakang
untuk saling menukar orang!”
Bok Tiat Djin ingin lekas menolong sang kawan dari itu
tidak memikir untuk berbuat licik. Tjiu Piau dan Gwat Hee
dibebaskan dari totokan sesudah itu tubuhnya sendiri
mundur ke belakang. Tjen Tjen pun dibebaskan. Begitu
bebas ia mencelat seperti seekor burung kecil menuju pada
tubuh ayahnya dengan keras leher Louw Eng dipukulnya.
Sesuai dengan cara mematikan ular harus tujuh senti meter
di belakang kepalanya.
Sekujur badan Louw Eng segera menjadi lemas, seperti
tak bertulang ia bertiarap di muka bumi. Tjen Tjen segera
mengobatinya. Gwat Hee melihat Louw Eng tertolong,
hatinya panas seperti dibakar. Sambil mengenakkan giginya
ia berkata: “Menyesal aku tak dapat mengadu jiwaku
dengannya, kalau tidak aku tak mengijinkan bangsat ini
dapat hidup terus!” Hoa San Kie Sau mencelat ke perahu
mereka. Ia berkata sambil menghibur:
“Gwat Hee kau jangan gelisah, rawatlah dirimu dulu baru
kita berusaha lagi. Kulihat wajahmu demikian pucat, apakah
kau menderita luka?” Gwat Hee menuturkan kejadian tadi
pada Kie Sau. Tjiu Piau pun diperkenalkan kepada orang
berilmu ini. Hoa San Kie Sau memeriksa keadaan luka dua
orang ini. “Oh. tidak apa apa. semua dapat diobati, tapi
tidak dengan lekas lekas. Sesudah sembuh dapat tidaknya
kepandaian kalian seperti sediakala, semua tergantung
kepada kerajinan berlatih.”

198
Ketika orang melihat Louw Eng sudah minum obat,
tubuhnya tertidur dengan nyenyak, wajah mukanyapun
kembali seperti biasa. Tong Leng menggendongnya.
Beberapa orang ini berlalu. Burung garuda itu pun
mengikuti Tjen Tjen dengan terbang perlahan lahan.
Kie Sau berkata: “Anak perempuan itu sungguh
mengherankan. Melihat binatang apapun segera suka,
binatang binatang itu pun sangat mendengar katanya.
Garuda itu didapatinya di tengah perjalanan, dengan
mudahnya dijinakkan. Aku dapat mencari kalian berkat
petunjuk dari Garuda itu” Tjiu Piau mendengar ini menjadi
heran, pertama kali berjumpa dengannya, dia memelihara
ular. kedua kali berjumpa, melihat ia memelihara kakak tua,
kali ini bertemu lagi ia sudah mempunyai burung Garuda.
Louw Eng dan kawan kawan sudah pergi jauh.
Kie Sau berkata: “Kitapun harus mencari tempat yang
sunyi dan sepi untuk merawat luka yang kamu derita.”
“Sekeliling danau ini adalah tempat yang sunyi dan
nyaman, sebaiknya kita kayuh perahu perlahan lahan untuk
mencarinya.” jawab Gwat Hee. Perahu dikayuh jalan dengan
pengayuh yang dibawa Kie Sau. Jalan punya jalan, akhirnya
mereka melihat sedikit benda terapung di permukaan air.
Melihat itu hatinya Gwat Hee sepontan bercekat. Ia berseru:
“Suhu kayuhlah perahu kita ke sana!”
Waktu perahu sampai di tempat benda itu, kiranya
adalah carikan dan sobekan dari kain kasar. Sekali lagi
Gwat Hee berseru dengan kaget. “Suhu, Tjiu Piau ko, kau
lihat, bukan kah ini sobekan baju dari kakakku?”
Hoa San Kie Sau mengambil kain itu dengan
pengayuhnya. ditelitinya dengan hati hati tengah ia ragu
ragu. Gwat Hee sudah berkata lagi. “Suhu kau lihat, di sana
ada lagi sobekan baju itu!”
Ketiga orang buru buru ke sana. di dapatinya lagi
sobekan kain yang serupa. Memang ini tak dapat diragukan
lagi. bahwa kain itu adalah baju Djie Hai yang kena sobek.
Waktu dilihat ke tempat yang lebih jauh kembali dapat

199
dilihat dari sobekan baju itu yang mengapung di permukaan
air. Mereka terus mengangkati potongan potongan kain itu,
sedangkan Gwat Hee menempel nempelkan menjadi satu,
kain kain itu sudah merupakan baju atas dari Djie Hai. Gwat
Hee tak tahan lagi ia menangis. “Kakak, kakak apa yang
terjadi pada kau?”
Hoa Sm Kie Sau berpikir sebentar, hatinya sudah
mempunyai tekanan. Pasti ada orang yang menunjukkan
jalan untuk mereka mencari Djie Hai. Kalau demikian Djie
Hai belum meninggal, tapi tidak di ketahui jatuh di tangan
siapa. Perahu di kayuh bertambah pesat, apa baik apa
tidak, tidak dihiraukan. Mereka dengan gagah dan berani
mengikuti kain kain itu terus maju ke depan.
Kala ini tak ada alunan riak memecah, air. Air bening
jernih laksana kaca, dari itu racikan kain tak terpencar,
berbaris sangat rata seperti diatur menuju ke sebuah pulau
terpencil jauh di muka.
Kie Sau dengan hati hati mendekati, perahunya menuju
pulau itu, kira kira tinggal beberapa tumbak lagi segera
akan sampai, tapi tiba tiba perahu itu dihentikan dan
berputar mengelilingi pulau tersebut itu tak menunjuKkan
suatu gerakan yang mencurigai, demikian juga tak terlihat
manusia barang serotongpun. Kecurigaan timbul di hati
mereka, tak berani mereka datang mendekat atau
mendarat. Suatu kebiasaan untuk orang Kangouw tidak
berani sembarangan memasuki daerah yang belum
dikenalnya. Lebih lebih tempat yang tidak ke lihatan ada
apa apanya, sangat pantang untuk sembarangan dimasuki.
Sebabnya sering-sering terjadi tempat yang demikian itu
tak ubahnya merupakan perangkap perangkap yang
berbahaya, sedikit saja tidak hati-hati bisa jatuh dalam
tangan musuh.
Hoa San Kie Sau berpikir, kalau ia sendiri yang masuk
masih tidak menjadi soal, andai kata menemui sesuatu
yang tidak baik, masih sanggup mengatasinya dengan
kepandaian ilmunya. Tapi di sampingnya terdapat dua
orang yang menderita luka, bukan saja tidak dapat

200
membantunya bahkan sebaliknya merupakan beban saja.
Untuk meninggalkan Tjiu Piau dan Gwat Hee di perahu,
hatinya tidak mengijinkan.
Tengah dalam bimbang tak berkeputusan, tiba tiba di
permukaan air tampak satu riak gelombang kecil yang
bulat, menyusul sebuah kepala orang timbul dari dalam air.
Hoa San Kie Sou tak mengenal orang itu, baru saja mau
memberi hormat, Gwat Hee sudah mendahului dengan
seruan kagetnya. Tak tahunya orang itu adalah Lu Shi Heng
Tee yang tertua yakni Lu Tie. Ia tertawa dengan gembira,
sekali kali tak merunjukkan sikap bermusuhan.
“Saudara saudara apakah kalian tengah mencari saudara
Djie Hai?” tanyanya dengan ramah tamah.
“Benar,” jawab Gwat Hee.
“Lu Toa ko, apakah kau menemuinyakah?”
Lu Tie berdiri di air sambil tertawa.
“Lihat, aku melihatnya dengan baik diair maupun di api!”
kata Lu Tie. Gwat Hee adalah orang yang pintar mendengar
kata-kata ini otaknya segera mengingat kejadian
bagaimana matinya api yang mengurung mereka itu dalam
gelagah. Hatinya memastikan bahwa penolong ini pasti
adalah orang-orang dari Bu Beng To.
“Pagi ini kami dapat menyelamatkan diri dan api pasti
disebabkan pertolongan dari tuan tuan. Betul tidak? Ong To
Tju kini berada di mana? Dapatkah kami menemuinya untuk
menghaturkan terima kasih kami? Mengenai kakakku
dapatkah tuan menunjukkan jalan untuk menemuinya?”
kata Gwat Hee dengan tergesa gesa.
“Terus terang kukatakan bahwa yang menolong kalian di
dalam api adaiah Ong To Tju. Ia menarik gelagah dari
dalam air, sehingga kalian mendapat jalan ke luar. Aku
tidak membantu apa apa. hanya bantu mendorong perahu
saja dari bawah. Tapi kalian harus tahu. Ong To Tju tidak
seperti dulu lagi, ia tidak mau lagi campur tangan untuk
mengurus sesuatu hal yang tidak bersangkutan. Kalian

201
ditolong, sekedar tidak tega saja melihat kalian mati secara
cuma-cuma. Kemudian kalian bertempur di atas pulau
dengan Louw Eng, pada itu Djie Hai kena ditendang ke
dalam danau, sekali lagi Ong To Tju menolongnya. Dari itu
kakakmu tidak kurang suatu apa. harap jangan kuatir.”
Gwat Hee baru tahu bahwa racikan kain itu sengaja
disobek kakaknya, untuk menunjukkan jalan. Dapat
dikatakan caranya ini tidak sia-sia dilakukan. Dengan penuh
kegirangan ia berkata.
“Lu Toa ko, tolonglah kami untuk menemui kakakku—
Ah, aku lupa tidak memperkenalkan kalian. Ini adalah
guruku yang bernama Hoa San Kie Sau.” Lu Tie
menganggukkan kepalanya memberi hormat, sesudah itu ia
berkata pula sambil tersenyum.
“Kini aku tidak mengetahui di mana kakakmu berada.”
“Kenapa?”tanya Gwat Hee tersesa gesa.
“Sesudah kakakmu kena ditendang Louw Eng. pahanya
menderita sedikit luka. Benar jaka itu tidak berbahaya, tapi
agak susah juga untuknya berjalan. Sesudah ia beristirahat
sebentar, segera mendesak kami untuk melulusinya
menemui kalian.”
Gwat Hee dan Tjiu Piau merasa terharu mendengar
kebaikan dan kecintaan Djie Hai terhadap mereka. Lu Tie
melanjutkan lagi kata katanya: “‘Kami menasehatkannya
untuk tidak pergi. Tapi biar bagaimana juga ia hendak
melihat kalian, kalau tidak melihat katanya hatinya tidak
tenang dan penasaran. Hal ini menyukarkan OJg To Tju,
kalian harus tahu To Tju tidak mau campur tangan dalam
urusan Ini. Akhirnya sesudah mengambil keputusan.
diantarnya kakakmu mendarat lagi di pulau, dan
dibiarkannya kakakmu berdaya sendiri untuk mencari
kalian. Kini ia pergi ke mana aku sekali-kali tidak
mengetahuinya. Kalau kalian ingin mencarinya pergilah ke
tempat sana.” Habis berkata tanganrya menunjukkan arah
kepada Gwat Hee dan Tjiu Piau. Sedangkan tubuhnya
segera silam ke dalam air. Lu Tie mempunyai kepandaian di

202
air yang luar biasa. Sedikit riakpun tidak tampak, entah ke
mana ia berenang. Atas kepandaiannya di air ini membuat
Hoa San Kie Sau menggeleng-gelengkan kepalanya sambil
memuji di dalam hati.
Menurut arah yang diberikan ketiga orang merapatkan
perahunya di pantai. Di atas pasir tegas kelihatan tapak –
tapak kaki, tapak ini ada dua. satu meninggalkan bekas
yang berat, satu ringan, terang ini pasti menggunakan
tongkat untuk membantunya jalan. Ketiga orang ini
mengikuti jejak kaki itu. Dalam pada ini Gwat Hee
menderita luka. demikian juga Tjiu Piau.
Benar dia dipayang oleh Hoa San Kie Sau tapi mereka
tidak dapat berjalan dengan cepat. Sesudah mengikuti agak
lama juga atas jejak jejak kaki itu. sampailah mereka di
sebuah batu besar. Mereka memeriksa batu besar itu
dengan hati hati. Ong Gwat Hee menjumpai sebuah huruf
Ong di atas batu. Mungkin Djie Hai yang menulisnya dengan
menggunakan ilmu dalamnya, sehingga huruf itu seperti
terukir di atas batu itu. Hal ini membuat Gwat Hee girang.
Ia mengambil kesimpulan bahwa kakaknya masih tetap
tidak kehilangan ilmunya. Dicarinya lagi jejak kaki itu,
sekali ini terkecuali dari satu tapak yang dalam, dan satu
yang ringan terdapat tambahan uang kecil yang bulat. Gwat
Hee tidak mengetahui tanda dari apa bulatan itu. Hoa San
Kie Sau menotolkan tongkatnya ke tanah, tanda bulat
segera terlihat seperti tanda yang mereka lihat.
“Kakakmu disebabkan luka, sehingga menggunakan
cabang pohon sebagai tongkat.” kata Hoa San Kie Sau.
Mereka berjalan lagi, keadaan tempat semakin sunyi dan
sepi, sebaliknya pohon-pohon semakin banyak. Tanpa
dirasa lagi mereka sudah tiba di tempal yang banyak
belukar lebat, sehingga jejak kaki menjadi kacau dan tak
dapat diikuti lagi. Kie Sau menotolkan kakinya, ke bumi,
tubuhnya mencelat ke atas pohon. Di pandangnya ke empat
penjuru, tapi tidak tampak seerangpun dan tidak terlibat
gerakan gerakan yang mencurigai. Sesudah lama barulah ia
melihat lagi bekas kaki orang di tempat yang agak jauh.
Ketiga orang ini buru buru menghampiri tempat tempat itu.

203
Terlihatlah di rumput itu tiga sampai empat telapak kaki
orang. Hal ini pasti bukan telapak kaki dari satu orang. Hal
ini nyata dan tegas kelihatannya. Pasti adalah jejak kaki
kaki dari Louw Eng dan kawan kawannya yang lewat di sini,
Djie Hai melihat ini segera bersembunyi. Selanjutnya
bagaimana, tak dapat dikira kira lagi, ketiga orang ini
mengikuti jejak kaki berjalan, tapi tapak kaki Djie Hai sekali
kali tidak teriihat. Sesudah mereka melewati beberapa
sungai kecil. Perjalanan mereka terhalang oleh sebuah
sungai yang besar. Sesudah sungai ini diseberangi mereka,
jejak jejak kaki itu hilang tidak berbekas.
Melihat keadaan ini Kie Sau sadar usaha untuk menemui
Djie Hai kandas sama sekali Sementara itu ia membujuk
kerisauan Gwat Hee dan mengajaknya pergi ke sebuah kota
kecil untuk mengatur rencana jangka panjang dengan
tenang.
Luka Gwat Hee tidak ringan, Kie Sau menolongnya
sambil membetulkan dan mengatur perjalanan darahnya,
selain itu ia memberikan juga obat untuk dimakan,
sehingga lukanya Gwat Hee agak baikan. Gwat Hee
diberinya pula petunjuk untuk bersemedi guna mengobati
lukanya, di samping; itu untuk memperdalam ilmunya.
Tjiu Piau menderita di luar, tapi untuk sementara waktu
tidak dapat dengan segera diobati. Lukanya itu berat juga,
karena kedua tangannya menderita patah tulang, tulang
tulang itu sudah salah sambung, tambahan di tempat
patahan itu tulang-tulang sudah menjadi hancur.
Kemungkinan untuk disambung sudah tak ada lagi. Hoa San
Kie Sau berikhtiar mencari tabib di sekitar tempat itu. Tapi
tak seorangpun berani mengobati, mereka mengatakan
kenapa tidak siang siang datang berobat. Sekarang lukanya
sudah demikian macam, sudah tak tertolong lagi. Hal ini
membuat Tjiu Piau gelisah, ditambah penderitaan sakitnya
berturut turut beberapa hari, sehingga tubuhnya kian hari
kian menjadi kurus.
Pada suatu hari Tjiu Piau merasa kesal, untuk
menghilangkan kekesalan hatinya ia pergi berjalan jalan ke

204
luar kota kecil itu. Saat itu masih pagi, sinar surya
menerangi keadaan pohon pohon yang menghijau di sekitar
pandangan mata. Tjiu Piau beristirahat di bawah sebuah
pohon yang rindang. Pikirannya terbang jauh melayang
memikiri kejadian kejadian yang dialaminya semenjak
meninggalkan rumahnya. Kini tangannya sudah menjadi
patah, sejak ini ia merasa kepandaian tunggal Bwee Hoa
Tok Tju sudah tak dapat dipakai lagi. Apakah ilmu ini akan
sirna dengan begini saja, pikirnya. Mengingat ini hatinya
merasakan kedukaan yang hebat.
Tiba tiba seekor kelinci berlari-lari mendekati Tjiu Piau
yang tengah memikiri nasibnya. Kelinci itu membuka
matanya menatap dia. Kemudian kelinci itu lari secepat
cepatnya waktu melihat Tj u Piau bergerak. Dalam waktu
sekejap saja sudah tidak kelihatan lagi mata ekornya.
Kelinci itu membangkitkan perasaan iri Tjiu Piau, hatinya
berpikir. Andai kata aku tak menderita luka. segala Kelinci
yang bagaimana lircah pun pasti tidak dapat menandingi
kegesitanku. Asal hatiku ingin menangkapnya cukup dengan
menggoyangkan tangan untuk melepaskan beberapa butir
batu, matanya dapat kubutakan, kakinya dapat
kupincangkan, dalam keadaan demikian aku dapat
menangkapnya dengan mudah sekali. Memikir sampai di
sini kerisauannya bertambah – tambah, dengan gusar
kakinya diangkat untuk menendang segala batu – batu yang
berada di situ. Sungguh kebetulan sekali salah satu batu
yang disepak itu melayang ke udara dengan kerasnya. Dan
mengenai seekor burung gereja yang sedang terbang.
Burung itu tanpa mengeluarkan bunyi lagi segera jatuh ke
bawah !
Melihat kejadian yang serba kebenaran ini membuat hati
Tjiu Piau menjadi senang. Ia berjalan mendekati burung itu,
sambil membungkukkan badan, digigitnya burung itu
dengan mulutnya, diletakkan di dengkulnya untuk diperiksa.
Benar saja burung itu mati karena batu yang disepaknya
tadi. Hatinya sepontan mempunyai pendapat yang baik,
sehingga hatinya yang gelisah dan risau itu hilang tersapu
bersih. Mukanya bercahaya dan berseri-seri, sedangkan

205
kakinya loncat loncatan kegirangan, sehingga rasa nyeri di
tangannya menjadi hilang, Ia meloncat ke barat dan
mencelat ke timur sambil menendangi batu batu yang
berserakan di situ. Dalam waktu sekejap kolar-kolar kecil
itu beterbangan di udara dengan serabutan!
“Tanganku sudah patah, tapi kakiku masih baik. Orang
lain menggunakan tangan untuk melepaskan senjata
rahasia,kenapa aku tidak memakai kakiku untuk
melepaskan senjata rahasia?” Pikir Tjiu Piau di dalam hati.
Tjiu Piau kembali menendangi batu dengan
serampangan. Kian lama kian beraturan larinya batu batu
yang kena ditendang itu. Dalam girangnya Tjiu Piau
bertekad untuk melepas senjata rahasia dengan Kedua
kakinya. Beruntun beberapa hari Tjiu Piau mempelajari
seorang diri ilmu ini. Alhasil batu betul itu dapat dilepaskan
oleh kakinya sekehendak hatinya. Tambahan kegesitan
yang sudah dimilikinya memang baik. Tak heran dalam
waktu setengah bulan pelajaran itu dipelajarinya dengan
memuaskan. Kini Tjiu Piau mempelajari cara lain pula. Kaki
kirinya terangkat menendang batu perlahan-lahan, kaki
kanannya menyusul terangkat menyepakkan lagi batu itu
yang belum turun ke tanah. Batu itu kena ditendang
merapung ke udara dengan cepatnya dan keras melebihi
lontaran tangan, sehingga sekali tendang ini membuat hal
yang di luar dugaan!
Tjiu Piau melibat batu itu dapat,ditendangnya demikian
tinggi membuat hatinya girang betul, dicobanya berkali kali
sampai puas. Batu-batu itu dapat ditendangnya tinggi atau
rendah, cepat atau lambat, sekehendak hatinya, sehingga
pelajaran ini agak dapat dikuasai dengan matang. Kala itu
senja mendatang, burung beratus-ratus pulang
kesarangnya. Tjiu Piau mengawasi seekor gagak hitam yang
terbang mendatang.
Katakan lambat tapi cepat, gagak itu bercoet sekali dan
jatuh dan udara ke muka bumi. Tjiu Piau kegirangan,
beruntun kakinya terangkat untuk melepaskan batu-batu
guna menghantam dua gagak yang tengah hinggap di atas

206
sebatang pohon yang tidak berjauhan dari tubuhnya.
Seekor kena dihajar sayap kanannya sampai tak dapat
terbang, gagak itu bergelapakan dan jatuh perlahan-lahan.
Gagak yang sudah terbang dan hinggap di sebatang pohon
yang sangat rimbun daunnya. Tiba tiba batu Tjiu Piau
menghajar dengan kerasnya. Tiba tiba “waaa” mendatang
suara aneh, agaknya batu itu mengenai sesuatu, dari pohon
itu mendadak jatuh turun sebuah benda yang hitam.
Sesudah ditegasi baru tahu benda itu adalah orang.
Tjiu Piau kaget melihat hal ini, pikirnya ia sudah
membuat onar. Lekas lekas ia lari untuk menyanggapi
tubuh orang, sayang hal ini tidak dapat dilakukan, karena
tangannya yang patah itu tidak bertenaga dan tidak dapat
digerakkan. Tengah ia bingung dan gelisah, orang itu
beruntun berjungkiran dari atas pohon yang tingginya lima
enam depa itu dengan tak gugup sedikit juga. perlahan
lahan kakinya tiba di muka bumi tanpa menerbitkan suara.
Orang ini dengan baik berdiri mengawasi Tjiu Piau,
mukanya sedikit juga tidak marah, napasnya juga tidak
memburu, sambil menepak nepak pantatnya ia berkata.
“Siau ko, aku sedikit juga tidak melakukan hal yang
menyakiti hatimu, kenapa tidak hujan tidak angin kau
menyerang aku?”
Orang ini memakai baju yang banyak tambalan, tapi
tercuci demikian bersih seperti pengemis tapi bukan. Di
pinggangnya terdapat sehelai kain yang panjang dililit lilit
entah apa yang disimpan di dalamnya. Sedangkan
pengawakannya sangat kate, mukanya merah bersinar,
kepalanya sudah agak rontok rambutnya, di janggutnya
terdapat jenggot yang sudah putih. Usianya lebih kurang
enam puluhan, tapi wajahnya seperti anak anak saja.
Tjiu Piau mendengar kata kata orang, seolah olah tidak
mengandung maksud jahat, dari itu ia maju ke depan
sambil menghaturkan maaf. “Lo Tia tia (orang tua yang
terhormat) harap jangan gusar, barusan aku tidak
mengetahui kau berada di atas pohon, apakah batuku
membuat kau luka?”

207
Orang tua itu tertawa dengan terbahak bahak sambil
berkata ; “Melukakan aku? Kau ingin melukakan aku? Ha—
ha — , ha Jika kau bisa melukakan aku, di dalam dunia
yang lebar ini kau dapat malang melintang sesuka hati!”
Kata katanya ini sangat terkebur, ia tertawa lagi dengan
tiba tiba berhenti lagi. Diawasinya Tjiu Piau dengan tajam
kembali ia berkata :
“Hei! Tanganmu itu kenapa? Patahkah?”
Dengan hormat sekali Tjiu Piau berkata: “Lo Tia tia sekali
lihat sudah mengetahui, tanganku memang kena
dipatahkan orang.”
Orang tua itu melangkahkan kakinya menghampiri Tjiu
Piau, tangan Tjin Piau diperiksanya dengan teliti, dengan
perlahan ia berkata:
“Patah sampai demikian macam! Kalau tidak kuobati
siapa pula yang dapat mengobatinya?”
Tiba tiba suaranya berubah menjadi keras.
“Mari! Ikut padaku!” ia berlalu tanpa menoleh lagi.
Tjiu Piau menjadi sangsi, hatinya berpikir turut atau
jangan.
Sebaliknya orang tua itu terus saja jalan tanpa menolehnoleh
lagi. Tjiu Piau menjadi ragu ragu pergi atau tidaknya
tergantung kepada dirinya sendiri. Tjiu Piau tidak bisa
dengan segera mengambil keputusan. Akibat dari
pengalamannya semenjak ia meninggalkan rumah dan
terjun ke dalam masyarakat bebas, mengakibatkan hatinya
tidak gampang percaya kepada mulut orang Tapi orang tua
ini menunjukkan gerak geriK yang tidak mercurigakan,
bahkan dari lagunya saja sudah membuat orang merasa
sayang dan percaya, tanpa terasa lagi iapun melangkahkan
kakinya menyusul orang tua itu.
Sesudah berjalan dua tiga lie, di depan mata tampak
sebuah desa yang terdiri dari tujuh delapan perumahan
gubuk yang terpencil-pencil. Penghuni rumah itu agaknya
tengah pergi ke ladang mereka, di rumah tertinggal kanak

208
kanak yang tengah bermain main. Orang tua itu tiba tiba
menangkap dua ekor ayam jago dengan berhasil, sesudah
itu kembali melangkahkan kakinya dengan cepat. Tjiu Piau
mengikuti terus.
Orang tua itu berkata kepala Tjiu Piau tanpa menoleh :
‘Kau jangan ikut dulu ! Kau harus menggunakan ilmu
menyepak batu dulu guna menghajar kira kira dua puluh
burung yang besar untuk ditinggalkan di sini hitung hitung
sebagai gantinya dari dua ekor ayam jago ini . . . sesudah
beres, segera kau pergi ke puncak gunung yang terletak di
sebelah tenggara, di mana ada pohon pohon liu itu di situ
aku berada.”
Sambil bicara orang tua itu terus saja berjalan. Begitu
kata katanya habis tubuhnya sudah berada-kira-kira dua
tiga puluh tumbak dari tempat ia bicara Tapi suaranya itu
masih tetap tegas terdengar. seolah olah orangnya tidak
bergerak ke mana-mana.
Tjiu Piau menjalankan pesanan dari orang tua
itu.Kakinya terangkat bekerja dalam sekejap saja beberapa
ekor burung yang terbang lewat di atas kepalanya telah
menjadi korban batu batunya yang terlepas dari kakinya. Ia
berdiam kira kira setengah jam lamanya, burung burungpun
sudah didapat dua puluh ekor tepat.
Tanpa membilang apa apa burung burung itu diletakkan
di depan rumah pak tani di situ, sedangkan ia sendiri buru
buru berlalu ke arah tenggara menyusul orang tua aneh
tadi.
Belum berapa lama Tjiu Piau berjalan Sampailah ia di
sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Walaupun demikian
bukit ini penuh ditumbuhi pohon pohon yang lebat. Tjiu Piau
menyedot napas segar, kemudian membentangkan ilmu
mengentengkan badannya untuk sampai di puncaknya bukit
itu. Dari tempat atas ini ia dapat melihat kesebelah bawah
dengan tegas, benar saja di sebelah bawah terdapat pohon
liu yang gemelai ditiup angin. Sesampainya Tjiu Piau di
bawah pohon, matanya segera menampak dua ekor ayam
jago itu diikat orang tua itu di atas dahan pohon liu,

209
sedangkan orang tuanya sendiri terdapat di bawah ponon
liu tengah tidur menggeros dengan nyenyaknya. Tjiu Piau
duduk di samping tubuh si orang tua tanpa berani
mengganggu untuk membangunkannya.
Orang tua itu tidur kurang lebih satu jam penuh.
Sedangkan mataharipun sudah turun ke arah barat dan
terbenam di balik gunung, pada saat inilah orang tua itu
baru bangun dari tidurnya.
Ia tertawa sambil berkata pada Tjiu Piau: “Kau bisa
menyayur tidak? ‘
“Aku hanya bisa menyalahkan api untuk menanak nasi.”
‘Sudahlah sudah. Yang pasti aku harus masak untuk kau
makan, betul tidak? Pikir saja lenganmu mana bisa
bergerak untuk menyalakan api? Mari, mari. Hari ini aku
harus mengobati lenganmu itu dulu sesudah itu baru
mengundangmu makan,” kata orang tua itu dengan jenaka.
“Dengan cara apa Lo Tiat tiat ingin mengobati aku?”
tanya Tjiu Piau dengan heran.
Orang tua itu tidak menjawab, sebaliknya ia bertanya
kembali pada Tjiu Piau.
“Kau dapat menahan sakitkah?”
“Aku dapat!”
“Kalau bisa baik sekali, tapi aku juga tidak berniat
membuat kau merasa saKit.”
Habis bicara tangannya memijit – mijit tubuh Tjiu Piau,
entah di sebelah mana ia menotok jalan darah Tjiu Piau.
membuat Tjiu Piau merasakan seKujur badannya menjadi
kaku dan hilang perasaan sakitnya. Orang tua itu
mengeluarkan sebilah pisau kecil, daging Tjiu Piau segera
dibeleknya. tulangnya dikerik sedang tulang tulang kecil
sebagai hancuran dari luka itu dibuangnya.
Kemudian dengan cepat dan sebet sekali dilekatkannya
cabang pohon liu yang sudah diraut bersih dibanjuri darah
jengger ayam jago. Di tempat bekas dipotong dibubuhi obat

210
bubuk yang terakhir dilekatkannya kayu dari sebelah luar.
Tidak sampai setengah jam lamanya kedua tangan Tjiu Piau
itu sudah selesai dioperasi. Pembaca yang budiman,
ketahuilah inilah cara pengobatan cara Tionghoa yang luar
biasa untuk menyambung tulang yang patah.
Sesudah selesai orang tua itu mengobati Tjiu Piau,
diambilnya ayam jago yang sudah selesai dipakai itu, tubuh
ayam itu di bungkus dengan tanah liat. sesudah itu segera
dibumbui (dibakar alam abu yang panas). Masakan ini
dinamai ayam tambus. Berkat kepandaian makan mereka,
dalam sekejap saja ayam itu sudah tinggal tulangnya.
Dengan suara bengis ditegurnya Tjiu Piau ; “Lekas kau
ceriterakan siapa yang membuat lenganmu menjadi patah!
Jika harus patah, aku akan mematahkan lagi lenganmu itu!”
Gentakan dari orang tua itu membuat hati Tjiu Piau
merasa gentar dan takut. Ia tak dapat menjawab dengan
segera, hatinya risau tidak keruan sedangkan mulutnya
kemak kemik tak bersuara. Hal ini rupanya sudah diketahui
orang tua itu, dengan tersenyum lucu ia berkata pada Tjiu
Piau:
“Kau tentu tengah berpikir untuk bagaimana mengatakannya
kepadaku. Tapi awas, kau mendusta sedikit saja
aku dapat tahu. Dalam jaman ini yang dapat membuat luka
semacam ini hanya beberapa orang saja, kau tidak
mengatakan juga aku dapat mengira – ngiranya beberapa
bagian. Lekas katakan!”
“Lo Tia-tia,, aku…aku dilukai oleh seorang jahat. Orang
jahat itu bernama…” jawab Tjiu Piau dengan gugup.
“Orang jahat macam apa?” potong orang tua itu.
Pertanyaan orang tua itu membuat Tjiu Piau terdiam
sejenak, sesudah ia berpikir sebentar baru dapat
menjawab: “Orang jahat ini adalah budaknya bangsa
Tjeng.”
“Pikiranku tidak salah, tentu si Jarang Ketawa yang
melakukan betul tidak?” tanya orang tua itu sambil tertawa.
Selanjutnya orang tua ini kemak kemiK melanjutkan kata

211
katanya, kata kata ini seperti diucapkan untuk diri sendiri.,
agaknya untuk Tjiu Piau juga. “Lukamu ini menghancurkan
tulang sampai hebat. Di tempat lukanya hanya tertinggal
sedikit tanda cacat yang ringan. Ini menandakan
penyerangan dari golongan kelas dua. Misalkan ilmu kelas
satu. pasti tidak mematahkan dan menghancurkan tulang di
sebelah bawah daging yang dipukul, sebaliknya tenaganya
dikirim melalui sumsum terus menyerang persendian
sehingga sendi sendi pada putus. Dengan cara ini orang itu
sukar tertolong lagi. Masa sekarang yang bisa melukakan
kamu semacam ini orangnya dapat dihitung dengan jeriji.
Diantaranya orang yang dapat dihitung ini, Louw Eng
termasuk yang sewenang wenang menggunakan ilmunya.
Di dunia Kang Ouw ia membuat entah berapa banyak onar.
. .” Orang tua ini tidak melanjutkan kata katanya tiba tiba
berkata keras sesudah berhenti sejenak.
“Louw Eng adalah manusia yang jahatnya luar biasa,
nyatanya ia sudah melukakan kamu kenapa kau dapat
meloloskan diri, lekas kau tuturkan!”
Sesudah Tjiu Piau mendengar kata kata orang tua itu.
Timbul rasa percaya dan hormat kepada orang tua itu. Ia
sadar bahwa orarg tua ini adalah golongan tinggi dalam
dunia persilatan, ketika ini juga ia sudah mengambil
ketetapan untuk tidak berdusta. Ia berkata dengan hormat
sekali.
“Kata-kata Lo Tia. tia benar sekali. Misalkan Siauw pwee
tidak mempunyai mutiara beracun, saat ini pasti tubuhku ini
sudah tinggal tulang belulang yang putih.”
Mendengar ini orang tua itu agaknya girang sekan,
alisnya terangkat sedikit Ia berkata sambil memperhatikan
Tjtu Piau. “Ah. kiranya kau adalah puteranya Tjiu Tjian Kin?
Yang dipanggil dipanggil Tjiu–!
‘Siau pwee dipanggil Tjiu Piau.” sambung Tjiu Piau.
“Ha— ha—- ha betul—- betul, daya ingatku sungguh
tak kuat sebentar saja lupa semuannya.Tjiu Piau mau tidak
mau merasa heran di dalam hatinya. Entah bagaimana

212
orang tua ini mengetahuinya seorang dari golongan tidak
ternama. Bahkan seperti mengenal namanya juga.
Kemudian orang tua ini jadi ramah tamah seolah-olah
seorang ayah terhadap anaknya.
“Coba ke sini untuk kuperiksa sekali lagi lukamu.” Tjiu
Piau mengasongkan lengannya. Orang tua itu dengan hati
hati sekali memeriksa lengan itu.
“Baik, lenganmu sudah baik, asal saja kau dapat
merawatnya dengan baik, dalam waktu empat puluh
sembilan hari cabang liu ini akan menjadi seperti tulang,
sehingga lengan ini tak ubahnya seperti lengan yang
diberikan orang tuamu. Kini kau boleh pulang, dan kembali
lagi esok hari pada waktu yang sama untuk menemui aku.”
Habis berkata segera membentangkan langkahnya,
dalam sekejap saja tubuhnya sudah berada dalam jarak
sepuluh tumbak lebih. Tjiu Piau mengawasi punggung orang
tua itu sambil bengong terlongong longong. Ia seperti
merasakan mimpi.
Agak malam Tjiu Piau baru sampai di penginapannya.
Hoa San Kie Sau dan Gwat Hee sudah merasa cemas
menantikannya. Takut kalau-kalau Tjiu Piau mengalami
sesuatu yang di luar dugaan. Hati mereka baru lapang
sesudah melihat Tjiu Piau kembali dengan tidak kurang
sesuatu apa.
Hoa San Kie Sau melihat wajah Tjiu Piau yang penuh
dugaan senyuman. Dilihat juga lengannya yang sudah
diobati. Mau tak mau merasa heran.
“Lukamu bagaimana? Siapa yang mengobati! Janganjangan
kau kena diperdayakan orang!” kata Hoa San Kie
Sau penuh curiga.
Tjiu Piau dengan jujur menceritakan apa yang dialami
barusan. Kie Sau begitu mendengar orang tua dan pohon,
kegirangannya sudah tak dapat ditahan. Begitu Tjiu Piau
habis menuturkan ia segera bertanya:
“Apakah kau tidak melihat ia membawa burung-burung

213
yang indah?”
“Tidak,” jawab Tjiu Piau singkat.
“Tapi biar bagaimana juga dan tak dapat diragukan lagi
orang mi pasti Yauw Tjian pwee adanya. Orang tua ini kalau
mau memberi sedikit petunjuk-petunjuk kepadamu bukan
main baiknya.” Sesudah ia beipikir sejenak segera berkata
pada Gwat Hee : “Lekas kau pergi turun ke kota, selidikilah
apakah di daerah sini mengeluarkan burung-burung yang
indah? Pilihlah burung yang tercantik, berapa yang diminta
pedagang itu bayar saja, belilah barang seekor dua.
Lekaslah!” Gwat Hee tidak mengetahui maksud Kie Sau.
Sebelumnya ia tak pernah melihat gurunya menyuruh
melakukan hal yang otak-otakan ini. Pasti ada sesuatu yang
menjadi sebab.
Tak banyak pikir lagi segera membawa uang untuk
membeli burung.
Seperginya Gwat Hee, Kie Sau kembali berkata kepada
Tjiu Piau: “Kali ini sungguh mujur sekali. Orang tua itu
adalah salah seorang dari tiga orang berilmu yang paling
tinggi pada jaman ini. Kau berjumpa dengannya, kau
terhindar dari cacat. Lebih-lebih kalau ia mau memberikan
sedikit petunjuk kepadamu, ilmunya itu dapat kau
pergunakan seumur hidup tanpa habis habis. Esok kau pasti
berjumpa lagi dengannya, ingatlah kata-kataku jangan
buang ketika secara percuma.” Tjiu Piau mendengar
petunjuk-petunjuk dari Kie Sau. Di samping itu ia tidak
membuang ketika begitu saja, ditanyainya tiga orang
berilmu untuk masa ini. Orang tua-tua itupun mengatakan
golongan dari orang berilmu kelas dua dapat dihitung
dengan jeriji. Hoa San Kie Sau mengetahui benar soal dunia
Kang Ouw ini seperti menghitung jarinya sendiri. Ketika itu
juga ia menerangkan kepada Tjiu Piau: “Orang tua itu she
Yauw usianya sudah mendekati delapan puluh tabun tapi
adalah yang termuda dari tiga besar sekarang ini. Akan
ilmunya sama terkenalnya dengan yang dua orang lagi.
Adapun kepandaiannya yang khusus yakni dapat mengobati
segala luka luar dalam. Pokoknya dalam hal ini sukar

214
mencari orang keduanya. Seorang lagi adalah Hek Liong Lo
Kuay, kini usianya delapan puluh tahun, orang ini berada di
Kwan Tong di sungai Amur (Hek Liong Tjiang) ilmunya
sangat gaib dari itu ia mendapat julukan Hek Liong Lo Kuay
(Naga hitam yang gaib). Yang ketiga adalah seorang
pendekar wanita yang sangat terkenal, yakni Pang Kim
Hong yang berhasil mengalahkan Peng San Pai. Kini usianya
sudah lebih dari delapan puluh tahun. Sepuluh tahun
belakangan ini namanya jarang terdengar lagi. Adapun
kepandaiannya yang khusus ialah dapat membedakan
segala obat-obatan, dan dapat tahu kasiat dan cara
menggunakaunya. Dari itu orang-orang Kang Ouw percaya,
ia masih dalam keadaan sehat.”
Sesudah diam seketika Kie Sau melanjutkan lagi
penerangannya kepada Tjiu Piau: “Mengenai orang dari
tingkatan kelas dua sukar untuk dikatakan. Sebab setiap
saat banyak golongan muda merendengkan namanya
dengan golongan tua. Tentu saja sesudah pertemuan Oey
San di sana bisa diketahui.” Tengah mereka asyik bicara,
Ong Gwat Hee sudah kembali dari pasar burung.
“Soe-hoe, Soe hoe aku sudah dapat membeli seekor
burung yang mungil dan cantik. Coba tebak berapa duit
kubeli. Lima puluh tail perak!” Tangannya terangkat naik
menjinjing sangkar burung yang baru dibelinya itu. Burung
itu kira Kira sebesar burung gelatik besarnya.
Burung itu demikian mungilnya, warnanya ungu mulus,
kelihatannya seperti permaisuri yang agung saja. la
mengelapak-gelapak di dalam dengan sangat lincah dan
lucu, membangkitkan rasa sayang dau cinta. Tiba-tiba
paruhnya terbuka memperdengarkan nada mengalun halus
dan bening. Suaranya tidak seperti burung kecil saja.
“Soe hoe coba katakan bagus tidak burung ini? Mahal
tidak?”
“Mengenai burung atau kembang aku tidak mengetahui
sebab bukan ahlinya. Dari itu jelek baiknya aku sama sekali
tidak tahu. Pokoknya asal bagus dilihat, dan harganya
termahal pasti bagus.”

215
“Aku memutari kota ini untuk mencari burung. sungguh
aneh burung burung di daerah sini banyak sekali, bagus
bagus dan mungil-mungil. Pasarnyapun besar. Sesudah
kupilih pilih, kudapati ini yang paling bagus dari yang lain
harganyapun paling mahal.” tambah Gwat Hee dengan
bangga.
“Ini baik,” jawao Kie Sau. Gwat Hee girang dapat pujian
dari gurunya. Tapi masih tidak tahu gurunya mengandung
maksud apa dengan burung ini. Dari itu tak tahan lagi untuk
tidak bertanya.
Hoa- San Kie San menjawab: “Kalian tidak tahu, bahwa
Yauw Lo Tjian pwee dalam hidupnya ini mempunyai hobby
yang unik. Yakni suka mengumpuli segala macam burung
yang aneh dan bagus. Kini ia menampakkan diri di kota ini,
mungkin daerah ini menarik perhatiannya, disebabkan
menghasilkan banyak burung yang indah dan jarang
terdapat di tempat lain. Kalau tidak demikian apa yang
dilakukannya diam di atas pohon.”
Gwat Hee sangat cerdik dengan keterangan ini sudah
bisa menerka beberapa bagian dari maksud gurunya.
“Aku sudah tahu maksud Soe hoe yakni menyuruhku
untuk membeli burung yang indah ini untuk diberikan
kepada Youw Lo Tjian pwee bukan?”
Hoa San Kie Sau terbahak bahak tertawa sambil berkata:
“Bocah, kau sungguh pandai, tapi kau hanya mengetahui
sebagian kecil saja akan maksudku. Kau harus tahu, kalau
di daerah .ini menghasilkan burung yang demikian banyak
dan bagus, sudah pasti penduduk adalah ahli ahli burung.
Yoaw Lo Tjian pwee, mempunyai kepandaian yang jarang
dimiliki orang. Tapi untuk mendapatkan burung yang indah,
ia harus datang ke sini. Dalam waktu singkat pasti tidak
bisa mendapatkan burung burung itu. Kalau ia ingin juga
mendapatkan burung yang baik mau tak mau harus datang
kepada tukang burung yang ahli. Karenanya aku menyuruh
kau untuk membeli burung yang luar biasa ini, untuk
diperlihatkan kepadanya Sesudah ia melihat pasti hatinya

216
akan tertarik dan tidak terburu buru meninggalkan tempat
ini. Mengenai ini aku mempunyai daya yang cukup baik.
Bilamana tidak, sekali ia jalan, dicari ke mana juga sukar
untuk mendapatkan dirinya kembali.”
“Soe hoe akalmu memang cukup baik, tapi kau harus
pikir apakah Yauw Lo Tjian pwee tidak dapat pergi ke pasar
untuk membelinya?” tanya Gwat Hee.
“Hal ini kau tidak perlu kuatir, sebab orang tua ini mempunyai
adat yang anti membeli burung yang sudah ada di
sangkar!”
Habis bicara Kie Sau menitahkan Gwat Hee harus begini
begitu. Gwat Hee manggut manggut sambil tersenyum geli.
Kie Saupun memesan wanti – wanti kepada Tjiu Piau agar
tidak melewatkan waktu yang baik, untuk minta pengajaran
dari orang tua itu. Selanjutnya pada keesokan harinya, Tjiu
Piau menepati janji untuk datang ketempat di mana
kemarin ia berpisah dengan orang tua itu. Saat ini baru ia
memperhatikan bahwa tempat ini penuh dengan pohon
pohon yang lebat, di samping itu terdengar pula banyak
suara burung berkicau memenuhi telinga dengan merdunya.
Burung burung itu beterbangan dengan bebasnya.
Disebabkan terlalu banyak sukar untuk membedakan
jenisnya. Sesaat kemudian sudah berlalu. Tjiu Piau masih
belum menampak orang tua itu, ia duduk duduk di bawah
pohon untuk menantikannya. Tak lama kemudian
terdengar suara tertawa secara tiba tiba dari atas pohon,
suara itu menunjukkan kegirangan yang luar biasa. Waktu
Tjiu Piau dongak tampak orang tua itu sudah ada di atas
pohon entah sejak kapan ia berada di situ. Tubuhnya itu
seperti daun tua yang gugur melayang turun perlahan
lahan, sedangkan tangannya me-megang seekor burung
berwarna yang indah sekali. Burung itu tidak henti
hentinya diawasi dengan penuh kegirangan yang melimpahlimpah.
Tjiu Piau buru buru maju ke muka dengan penuh
hormat.
“Eh, apakah kau yang kusuruh datang ke sini?…..Eh ya
betul betul. Coba kau lihat itu apa?”

217
Tjiu Piau melihat ke sekeliling itu dengan penuh
perhatian tapi tidak menampak sesuatu.
“Kau lihat tidak, lihat tidak?” Mulutnya berkata, matanya
tetap mengawasi burung yang baru ditangkapnya itu.
Sesungguhnya Tjiu Piau tidak melihat sesuatu yang
dimaksud itu. Dengan gugup ia bertanya: “Mohon petunjuk
dari Tjian pwee, bahwa aku sesungguhnya tidak melihat apa
yang aneh.”
Orang tua itu tetap mengawasi burungnya, mulutnya
terbuka:
“Masih belum melihatkah? Yang kumaksud adalah
tumpukan batu di tanah itu!”
Memang sebenarnya di tanah itu entah kapan sudah
terdapat batu batu yang bertumpukan.
“Maksudku menitahkan kau datang kesini, tidak lain dari
pada ingin menitahkan kau memindahkan batu batu itu dari
sana ke sini!”
Tjiu Piau agak merasa susah, hatinya berpikir,
“Lenganku baru baik, mana bisa digunakan untuk
mengangkat’ yang berat berat. Sedangkan orang tua inipun
sudah mengatakan harus hati hati melawatnya selama
empat puluh sembilan hari. Kenapa kini aku disuruhnya
memindahkan batu batu ini? Mungkinkah Yauw Lo Tjian
pwee ini sedang bergurau saja? Dengan lambat-lambatan
Tjiu Piau menindak ke tumpukan batu batu itu dengan
harapan orang tua itu membatalkan akan titahnya.
Sesampainya Tjiu Piau di depan batu, dengan terpaksa
badannya dibungkukkan sedangkan lengannya sudah ke
luar untuk mengangkat batu batu itu. Pada saat inilah
terdengar suara orang tua itu dengan keras: “Tidak boleh
mempergunakan tangan!” Tjiu Piau buru buru berdiri
dengan tegak tanpa mengetahui maksud dari Yauw Lo Tjian
jiwee itu. Orang tua ini melihat Tjiu Piau tidak bergerak
gerak baru ia mengangkat sedikit kepalanya sedangkan
matanya mengedip ngedip.

218
“Budak tolol ke mana kepandaian kau kemarin, lekas
gunakan kakimu tendangi batu batu itu!”
Tjiu Piau baru sadar bahwa kepandaiannya menendang
batu batu itu sudah diketahui orang tua ini. Hal ini
membuatnya merasa malu, tapi dengan cepat hatinya ingat
kata kata dari Kie Sau, dari itu kesempatan ini tidak disia
siakan begitu, maka ditendanginya batu batu itu menurut
petunjuk orang tua itu.
Sesudah Tjiu Piau membidik dengan tepat, mulailah
kakinya beruntun runtun terangkat naik. Satu, dua, tiga
semua batu-batu beterbangan dan jatuh pada suatu tempat
yang tidak berjauhan satu sama lain. Orang tua itu tetap
tidak mengangkat Kepalanya, ia tetap asyik mengusap usap
burungnya itu. Tapi mulutnya berKata :
“Lambat sekali, terlalu lambat. Agak cepatlah kau angkat
kakimu itu.”
Tjiu Piau menurut sekali demi sekali kakinya diangkat
terlebih cepat dari semula. Sebab ini batu batu itu tidak
berapa tepat lagi jatuh di suatu tempat. Ada yang kejauhan,
ada yang tak sampai, ada yang ke samping kanan ada yang
ke samping kiri. Sebaliknya orang tua itu tidak
memperdulikan hal ini, mulutnya mengoceh memburu buru
orang, semngga Tjiu Piau tidak sempat untuk menarik
napas. Dengan susah payah batu batu itu akhirnya dapat
juga di tendang habis. Makanya sudah merah napasnya
empas empis. Batu batu itu hanya sedikit saja yang jadi
tumpukan, selebihnya berserakan ke mana mana.
Sesudah Tjiu Piau selesai melakukan titahnya orang tua
itu baru berdiri mengawasi sambil berkata:
“Indah betul! Ilmu menendang mu ini sungguh luar biasa
dan menyenangkan. Aku sudah hidup puluhan tahun tapi
belum pernah mendengar adanya ilmu semacam yang kau
miliki ini. Eh anak tolol, baik-baiklah kau pelajari ilmu ini.
Tiap hari kau harus datang ke sini untuk menendang batu
batu ini pulang pergi. Dalam waktu setengah tahun atau
setahun ilmu ini besar manfaatnya bagimu.”

219
Tanpa menoleh lagi ia pergi meninggalkan Tjiu Piau
seorang diri. Sesudah mendengar keterangan orang tua itu,
hati Tjiu Piau menjadi lapang. Ia tahu ilmunya ini
sebelumnya belum pernah dipelajari orang. Baru saja
hatinya ingin minta pengajaran terlebih lanjut orang tua itu
sudah berlalu tanpa pamitan. Terkecuali dari itu orang tua
ini tidak meninggalkan pesan untuk ia datang kembali. Tjiu
Piau ingin mengejar orang tua itu, tapi tahu hal ini akan sia
sia belaka.
Tiba tiba terdengar suara kicauan burung yang luar biasa
merdu. Orang tua yang pergi itu menghentikan kakinya.
Suara burung ini demikian menarik sekali, membuat si
pendengar menjadi senang dan menghilangkan segala
kerisauan di dalam hati. Tjiu Piau kenal suara burung ini.
yakni suara burung yang dapat dibeli Gwat Hee di pasar.
Tiba tioa entah dari mana Gwat Hee lari ke luar sambil
membawa burungnya. Dengan girang ia berkata pada
burungnya: “Nyanyi lagi! Burung yang manis ayo nyanyi
lagi untuk kami dengar!” Burung itu membuka lagi paruh
untuk memperdengarkan suaranya yang luar biasa
merdunya itu. Kali ini suaranya sangat panjang, semakin
menyanyi semakin tinggi alunan suaranya itu demikian
lembut dan bening. Suara itu bergema dan terus naik ke
atas untuk hilang dibawa gelombang udara ke atas awan.
Tiba tiba ada suara seseorang berkata: “Burung yang indah
dan bagus, benar benar seekor burung yang jarang
didapat!”
Kiranya orang tua itu mendengar bunyi burung itu, sudah
datang kembali. Entah kapan ia sudah berdiri di hadapan
Gwat Hee dengan perhatian penuh terhadap suara burung
itu.
Orang tua itu segera bertanya pada Gwat Hee: “Hei, Siau
ko dari mana kau dapat burung ini? Mau tidak tukar dengan
burungku? Kau lihat burungku ini warnanya demikian
menarik, kucing, merah, hijau, dan putih serta hitam.
Pokoknya segala warna yang tndah dimiliki semua.”

220
Gwat Hee sengaja mengerutkan keningnya.
“Siapa yang kepengenan burungmu itu? Burung yang
semacam kau ini dalam seharian dapat kutangkap dua belas
ekor! tapi dalam dua belas ekor itu tidak mungkin dapat
diketemukan sehelai bulunya yang berwarna ungu semacam
burungku ini. Coba kau perhatikan burungku ini demikian
mulus warnanya sedikit juga tidak tercampur warna lain,
Sudah pernahkah kau melihat burung semacam ini?”
“Aku sudah melihat banyak dan banyak sekali burung,
tapi terus terang aku kata kan bahwa burung seperti ini
belum pernah kulihat. Aku senang pada burung ini! Kalau
kau tidak mau menukarnya tidak menjadi apa. asal saja kau
mau mengajak aku untuk pergi menangkapnya, bukankan
baik?”
Gwat Hee berlaga kaget.
“Hemm, kau sudah tua mana bisa turut denganku untuk
pergi menangkap burung? Ini bukan main main hal ini baru
dapat dilakukan kalau mempunyai kepandaian. Kau pasti
tidak bisa sebab sudah tua ”
“Siau ko kau jangan menganggapku tua lantas
memastikan tidak bisa Terus terang kukatakan aku masih
sanggup mengikuti kau ke mana saja. biar jauh tidak
menjadi soal, lekaslah ajak aku pergi. Terkecuali itu aku
dapat meluluskan apa yang kau kehendaki ” Mendengar ini
bukan main girangnya Gwat Hee.
“Apakah kata katamu itu dipercaya?” tanya Gwat Hee
pura pura.
“Tentu saja,” jawab orang tua itu tergesa-gesa.
‘Sebaiknya kita bicara sekali lagi agar lebih terang
bukan? Begini, kalau aku dapat menangkap seekor burung
semacam ini untukmu, kau harus memberikan sesuatu
barang kepadaku. Akupun tidak bermaksud untuk meminta
sesuatu barang yang aneh atau yang sukar pokoknya asal
yang terdapat di tubuhmu, baik tidak?”
Orang tua itu mengedip ngedipkan matanya mulutnya

221
tidak henti hentinya mengucapkan : “Baik, baik dengan ini
kita tetapkan janji kita ini.”
Tiba tiba Gwat Hee malas malasan.
“Tapi sekarang hari sudah hampir malam,” katanya.
“Malam malampun tidak menjadi soal, apa yang kau
takuti!” tanya orang tua itu dengan gelisah.
“Biar bagaimana juga tidak bisa, aku takut. Aku bisa
dipukuli orang tuaku” Habis berkata wajahnya mendadak
menunjukkan rasa girang.
“Begini baik tidak? Yakni esok hari kau datang lagi ke sini
sebelum senja.. Kini aku mau pulang.” Seiring dengan
habisnya kata kata, tubuhnya segera berbalik berlalu.
Burungnya disuruhnya menyanyi lagi dengan sengaja,
sehingga orang tua itu semakin tertarik hatinya.
Kiranya Gwat Hee melakukan hal ini tidak lain dari pada
menurut akalannya Hoa San Kie Siu. Dengan cara ini mau
tak mau orang tua itu dapat ditahannya untuk beberapa
hari oleh mereka tanpa merasa Orang tua mengejar pada
Gwat Hee sambil berteriak- “Aku menurut katamu, hari
esok aku datang menunggumu di sini sebelum senja.”
Orang iua itu mengawasi burung yang baru ditangkapnya
itu. Ia merasa burungnya itu sudah tidak beberapa menarik
lagi, dari itu tangannya segera berserak, burung itu dapat
kembali kemerdekaannya.
Malam ini Gwat Hee dan Tjiu Piau pulang ke
pondokannya dengan hati girang. Sesuatu pengalamannya
diberi tahu pada Hoa San Kie Sau. Mendengar ini bukan
main girang hati Hoa San Kie Sau. Ia tersenyum sambil
berkata:
“Kalian sangat beruntung sekali, dengan mudahnya
dapat ketika untuk berkenalan dengan Yauw Lo Tjian pwee
itu. A Piau mendapat petunjuk dari Yauw Lo Tjian pwee
untuk melatih kakinya menendang batu. Ilmu kaki ini harus
kau pelajari baik-baik, jangan menyia nyiakan petunjuk
petunjuk yang berharga dari Tjian pwee ini. belajaran ini

222
dihari kemudian sangat baik dikembangkan. Sebaliknya
burung Gwat Hee menyebabkan orang tua itu tertambat
hatinya, hal ini sungguh baik sekali. Asal saja kau dapat
bergaul dengan orang tua Itu beberapa hari, tidak kuatir
orang tua iiu tidak memberikan petunjuk-petunjuk yang
berharga untukmu.”
“Aku sudah berjanji untuk memberikan burung
kepadanya ia akan memberikan sesuatu yang kupinta.
Dengan sendirinya aku akan minta sedikit ilmunya itu untuk
di turunkan kepadaku,” kata Gwat Hee dengan girang.
“Gwat djie, hal ini mungkin menyukarkar orang tua itu,
kau harus tahu ia menpunyai tabiat yang aneh yakni
enggan menurunkan pelajarannya kepada orang lain, juga
tidak mau mendirikan suatu cabang perguruan, dari itu
tentu ia tidak mau menerima murid. Dari dulu hingga
sekarang belum pernah kudengar oang tua ini mempunyai
seorang muridpun,” kata Kie Sau menjelaskan
“Aku hanya mendapatkan sejurus dua dari ilmunya,
sama sekali tidak menginginkan untuk minta banyak
banyak.”
“Meski setengah juruspun, pendeknya asal ia
memberikan pelajaran artinya menjadi muridnya.”
Gwat Hee menjadi kesal “Kalau begini jadinya, walaupun
aku memberikan burung ini, tentu ia tidak mau memberikan
pelajaran kepadaku tapi kenapa ia mau memberikan
pelajaran menendang batu kepada Piau Koko ”
“Orang tua ini anehnya justru di sini. Ia enggan untuk
memberikan pelajarannya kepada orang lain, tapi kalau ia
melihat sesuatu ilmu yang baru didapat orang, ia akan
terlebih giat untuk menganjurkan orang berlatih. Dengan
jalan ini ia tidak menurunkan kepandaiannya kepada orang
lain tapi hanya membantu orang lain menjadi pandai
Semakin rajin orang belajar semakin giat dia memberi
petunjuk, sehingga orang itu akan dididiknya lebih dari
seorang Soe tjou (kakek guru) terhadap muridnya. Sebab
itu dengan cara ini ia selalu dapat menghindarkan diri dari

223
sebutan Soe hoe. PokoKnva perbatikanlah segala kata
katanya. Asal kalian ingin mempelajari sedikit sesuatu
darinya, perhatikanlah akan tabiatnya ini.”
Gwat Hee dan Tjiu Piau sesudah mendengar ini hatinya
mulai berpikir untuk bagaimana menghadapi orang tua itu
agar mau memberikan petunjuk-petunjuk pada mereka.
Gwat Hee adalah anak yang pandai dalam waktu sebentar
saja sesuatu sudah Terpikir dalam hatinya. Tapi hal ini tidak
perlu diterangkan di sini, lihat saja apa yang akan dilakukan
anak anak muda ini di depan Yauw Lo Tjian pwee.
Tjiu Piau mengingat benar pesan dari Hoa San Kie Sau,
karenanya tekadnya semakin bulat untuk mendapatkan
petunjuk dari orang tua itu, Tjiu Piau bertabiat jujur dan
rajin belajar, karenanya ia dapat melatih diri dengan tekun
dan ulet. Tambahan pelajarannya itu memberikan
kegembiraan besar, sehingga tak bosannya ia mengulang
dan memperdalam terus akan ilmunya yang baru didapat
itu.
Batu batu bertumpukan itu ditendanginya pergi datang
tanpa jera jeranya. Tendangannya semakin lama semakin
cepat, terkejut dari itu bidikannya juga kian tepat dari
sasaran. Tak heran batu batu yang di tendang itu bisa
berkumpul menjadi satu tumpukan baru yang teratur, tak
ubahnya seperti dipindahkan menggunakan tangan saja.
Hasil ini membuat Tjiu Piau bersemangat. maka
dicobanya batu batu itu untuk ditendang terlebih jauh pula.
Kedua kakinya silih berganti menendangi batu batu ia
dengan cepat dan lincah. Batu batu beterbangan seperti
walang sangit mendekati sinar api. Tendang dan terus
tendang ini melupakan Tjiu Piau pada waktu Matahari sudah
naik tinggi sekali. Tjiu Piau beristirahat sebentar, kemudian
melanjutkan lagi latihannya sampai surya agak condong ke
barat belum berhenti. Tjiu Piau lupa pada waktu orang tua
itu pulang.
Tiba-tiba sebuah bayangan abu abu entah dan mana
terbang mendatang, tepat sekali merintangi jalannya batu
batu yang di tendang. Tjiu Piau terkejut, takut kalau kalau

224
batunya melukakan orang. Buru buru Kakinya berhenti
menendang, tapi beberapa buah batu sudah terbang pergi
dan mengenai tubuh orang itu dengan telak sekali. Orang
itu jatuh ke muka bumi dengan malu ia merayap bangun,
kepaianya digeleng gelengkan engkau, mulutnya berkata:
“Masih payah belum cukup!” Kala ditegasi orang ini bukan
siapa siapa terkecuali orang tua itu.
Tjiu Piau segera memberi hormat: “Lo Tia-tia harap
jangan gusar, sebenarnya Siau pwee sudah melihat kau
turun. Tapi menyesal sekali kakiku tidak dapat ditahan,
sehingga beberapa butir batu mengenai tubuh Lo Tia tia.”
Mendengar ini orang tua itu tertawa besar:
“Ini menyatakan kepandaianmu masih payah sekali.”
Orang tua itu perlahan lahan mendekat datang, mulutnya
tetap mengoceh. “Masih payah, masih payah!”
“Aku mengatakan ilmu kau itu masih payah. Kau lihat
dan kan harus tahu, dengan batu-batu ini kau harus
menghajar mata orang, ulu hati atau urat urat nadi yang
berbahaya, misalkan kena paling banter hanya melecetkan
kulit saja. Ini namanya kurang dahsyat! Katamu sudah
melihat akan tubuhku, tapi tidak keburu menarik kakimu ini
namanya tidak gesit. Memberhentikan kaki tidak cepat,
dengan sendirinya mengangkat kaki lebih lambat pula.
Tidak tepat, tidak dahsyat, tidak cepat apa gunanya
kepandaian semacam ini.”
“Payah! Bangpak!” Orang tua ini sambil bicara tercampur
ketawa. Tapi dengan tiba-tiba suaranya menjadi keren;
“Siau ko kau harus ingat, pelajarilah membidik secara tepat
dulu baru menggempur secara dahsyat, kemudian melatih
kecepatan. Sekali-kali jangan belajar secara serampangan.
Kau harus dapat membidik seekor lalat dengan tepat seperti
membidik seekor kerbau yang besar. Untuk memperdahsyat
gaya serangan, kau harus dapat memutuskan sehelai
rumput dari jarak seratus tindak. Kecepatan harus melebihi
gaya pendengaran orang, sampai orang itu belum
mendengar suara batumu tapi sudah merasakan terlebih

225
dahulu batu itu!” Selesai bicara langkahnya laju ke muka.
Hanya terdengar suara perlahan keluar dari mulutnya:
“Sungguh satu ide yang baik sekali.”
Jilid 8
Melepas senjata rahasia memakai kaki, hal ini
sebenarnya sudah harus terpikir sejak dulu. tetapi kenapa
tidak ada seseorang yang memikirinya?
Habis bicara kaki tangannya memeta seperti orang
menari tarian rakyat, maka batu-batu itu beterbangan kena
kakinya. Agaknya ia tertarik benar dengan ilmu melepas
senjata rahasia dengan kaki ini.
Sesudah orang tua itu berjalan agak jauh, dengan tenang
Tjiu Piau mengaji dan merenungkan kata-kata orang tua
itu, Tjiu Piau mengambil kesimpulan bahwa kata-kata dan
petunjuk petunjuk dari orang tua itu bermanfaat sekali.
Baru saja kakinya akan terangkat untuk melanjutkan
latihannya, terlihat Gwat Hee berlari-lari sambil membawa
sangkar burungnya.
Begitu melihat Gwat Hee orang tua itu merasa girang
sekali.
“Ah, kau datang juga. Lekas kasih tahu di mana kita
dapat menangkap burung semacam ini. Yu lekas-lekas kita
pergi menangkapnya.”
Sebaliknya Gwat Hee tetap ayal-ayalan.
“Jangan tergesa gesa, sebelum kau turut aku pergi
menangkap burung, kau harus mempelajari beberapa
macam ilmu. Kemudian baru dapat berhasil menangkap
burung-burung semacam ini.”
“Pelajaran apa yang harus dipelajari? Jangan yang
berabe ya?”
“Kalau takut berabe pasti kau tidak dapat
menangkapnya. Mari, mari ikut padaku!” Gwat Hee lari ke

226
dalam pohon pohonan yang lebat, orang tua itu mengikuti
dari belakang.
Tjiu Piau melihat Gwat Hee dan orang tua itu pergi ke
dalam pohon yang lebat hatinya tidak tertarik untuk
mengetahui. Ia terus saja berlatih dengan ilmunya itu. Gwat
Hee mengajak orang tua itu sampai ke sebatang pohon
yang besar sekali, mengeluarkan ilmunya untuk dilihat
orang. Dengan pura pura merasa kaget dibanguninya orang
tua itu.
“Kau tidak bisa memanjat, baiklah! Lihat dan perhatikan
caraku memanjat!”
Dengan cepat Gwat Hee memeluk batang pohon
Tubuhnya mengangsrot angsrot naik ke atas. Lengan dan
kakinya silih berganti dikendorkan, sedangkan tubuhnya
semakin lama semakin tinggi. Dalam sekejap saja . ia sudah
sampai setinggi empat lima tambak, Gwat Hee sedari kecil
biasa melakukan permainan anak laKi laki. Tak heran ilmu
naik ke pohonpun sangat mahir, tambahan ia sudah
mempunyai ilmu dalam yang baik, tubuhrya kecil dan
lincah. Karenanya cara naik pohon ini berlainan dengan
orang biasa. Orang tua itu sedari tadi menganggap Gwat
Hee tidak lebih tidak kurang sebagai bocah yang masih
ingusan, siapa kira ilmu memanjatnya demikian cepat dan
ringan, sehingga tidak menggoyangkan sehelai daun yang
halus daii pohon cemara itu.
Orang tua ini merasa heran, matanya terbuka lebar lebar
untuk mengawasi orang menaik ini.
“Kau turun. Lekas turun. Perlihatkanlah sekali lagi
kepadaku ilmu memanjat ini!”
Dengan cara yang sama Gwat Hee merosot turun secara
cepat. Dengan tersenyum bangga ia berkata:
“Apa kau merasa tunduk dengan ilmuku ini? Aku masih
mempunyai ilmu yang bisa mengejutkan orang, kau lihat!”
Segera ia lari ke bawah pohon, dengan satu kali enjotan
badannya sudah berada di atas pohon, jika dibanding
dengan ilmu yang pertama lebih cepat sepuluh kali tikel.

227
Tubuhnya kelihatan sebentar merapat dengan batang pohon
sebentar lagi molos diantara. cabang pohon. Dalam sekejap
mata tubuhnya sudah berada di puncak pohon. Orang tua
itu kegirangan, dan tidak hentinya mengucapkan “bagus.”
Orang tua itu sadar bahwa anak muda ini bukan orang
sembarangan, tapi ia tidak sempat untuk memikirkan ini,
karena hatinya lebih banyak tertarik dengan ilmu Gwat Hee
naik ke atas pohon.
“Ilmunya ini walaupun tidak memadai ilmu mencelat dari
golongan kelas utama, tapi mempunyai keistimewaan
sendiri Ilmu mencelatku paling tinggi hanya lima enam
tumbak. Misalkan ketemu pohon yang terlalu tinggi tidak
dapat sekaligus sampai ke atas, kalau mau menginjak
cabangnya yang kecil dengan sendirinya ranting ranting itu
tidak kuat untuk diinjak. Waktu itu, ilmu bocah ini lebih
cepat lagi, dapat dihitung semacam kepandaian yang luar
biasa,” pikir hatinya.
Gwat Hee sudah tarun kembali, waktu di lihatnya orang
tua itu berdiri terbengong-bengong. Ia mengurungkan
untuk bertanya tentang ilmunya ini baik atau tidak. Orang
tua itu masih terbenam terus dari lamunannya setengah
jam lebih, sedangkan Gwat Hee berdiri di sampingnya tanpa
berani mengeluarkan sepatah kata.
Senyum gembira perlahan lahan menghiasi bibir orang
tua itu. Mulutnya terbuka dibantu dengan gerakan gerakan
tangannya ia ngoceh sendiri: “Sungguh suatu pendapat
yang bagus sekali, bagusss sekali. Sayang waktu dulu aku
tak dapat memikirnya. Ah! Kenapa dulu iku tidak dapat
memikirnya!! ! ” Matanya melirik pada Gwat Hee. “Siau ko
kau turutlah padasu!” Mereka segera pergi ke dalam
pepohonan yang rimbun sekali.
Mereka hilir mudik di dalam hutan itu selama setengah
jam lebih, akhirnya orang tua itu berhenti di bawah pohon
yang besar sekali. Pohon itu lebih kurang tiga pelukan
orang dewasa tingginya kurang lebih lima puluh depa.
“Kau lihat.” kata orang tua itu kepada Gwat Hee.

228
“Di sini ada sebatang, di sebelah sana ada pula sebatang.
Dua pohon demikian tingginya. Apakah kau sanggup untut
memanjatnya?”
Gwat Hee menghitung di dalam hatinya, bahwa jarak
antara pohon yang pertama dengan pohon yang kedua
sejauh lima enam tumbak,
“Ya, akan kucoba,” kata Gwat Hee dengan sungguh
sungguh. Dengan ilmunya yang serupa tadi Gwat Hee sudah
mulai memanjat, dalam waktu singkat tubuhnya sudah di
tempat yang tinggi. Tak lama kemudian Gwat Hee sudah
kembali lagi di bumi dengan tidak Kurang suatu apa. Orang
tua itu tetap memandang ke atas. seolah olah tidak melihat
gerakan turun dari Gwat Hwee. Hanya mulutnya kemak
kemik berkata. “Lambat sekali, kenapa kru tidak
mempertunjukkan ilmu kenandaianmu yang sejati?”
“Ya, aku hanya dapat memanjat dengan kecepatan
demikian. Dapatkah kau memanjat terlebih cepat dariku
untuk diperlihatkan kepadaku?”
Terang-terang kau mempunyai ilmu yang baik, kenapa
tidak kau perlihatkan kepadaku?”
Biar bagaimana Gwat Hee adalah anak gadis yang pndai,
kata-kata orang tua itu membuat hatinya gugup. Hatinya
berpikir…. “Aku sudah memperlihatkan segala
kemampuanku yang terbaik, tapi masih dikatakan aku
belum mengeluarkan ilmu yang sejati. Bukankah dengan
kata ini ia mengatakan aku bodjie (tolol )?”Mulutnya ingin
mengeluarkan beberapa patah kata, tapi semuanya kandas
di tepi bibirnya.
“Kau ingin aku memperlihatkan ilmu yang lebih baik?
Katakanlah yang bagaimana, aku sendiri merasakan tidak
mempunyai cara lain yang terlebih baik dari ilmuku yang
tadi itu ”
“Waktu kau mengundurkan lengan dan mengangsrot ke
atas kenapa tidak kau tenaga itu ditambah dengan
sendirinya kau bisa mengangsrot terlebih tinggi dari
angsrotanmu tadi, bahkan dengan cara ini kau bisa manjat

229
terleoih cepat?”
Gwat Hee mendengari petunjuk dari orang tua itu
dengan tenang. Hati kecilnya mempelajari dan menimbang
nimbang kata-kata orang tua itu. Bulak balik ia berpikir
tetap merasa tidak sanggup. Dari itu dengan hati-hati sekali
ia menjawab: “Pak, kau harus tahu nku tidak mempunyai
tenaga yang demikian besar untuk melakukan itu, dapatkah
kau mengajarinya kepadaku?”
“Kenapa kau merasa tidak mampu? Dapatkah kau
jelaskan kepadaku?”
“Pohon ini demikian tinggi dan tegak berdirinya. Dengan
sendirinya kaki dan tangan tidak dapat mengeluarkan
tenaga untuk mengenjot tubuh ngangsrot ke atas Misalkan
dipaksakan juga terpaksa kedua kaki dan tangan harus
terlepas dari batang pohon. Kaki dan tangan tak
mempunyai pegangan sesampainya di atas, bukankah
dengan cara demikian bisa jatuh terbanting ke bawah.?”
Orang tua itu menunjuk ke batang pohon satunya lagi
sambil berkata: “Ya, memang jadi miring dan terlepas dari
batang pohon itu, tapi kau bisa menjambret pohon satunya
lagi.” Kata orang tua itu agaknya serampangan saja. Tapi
untuk Gwat Hee yang cerdik sudah cukup dimengerti
dengan baik maksudnya orang tua itu. Dengan girang ia
berkata, “Terima kasih banyak atas petunjukmu itu pak.”
Habis berkata tubuhnya segera mencelat ke atas pohon
setinggi satu depa, kedua kakinya menotol batang pohon itu
dengan keras, tubuhnya terbang miring ke batang pohon
satunya lagi. Sesampai di batang pohon kakinya ditekuk
untuk menjejak batang pohon dengan mendadak dan cepat,
tubuhnya membal kembali ke pohon yang semula setinggi
satu depa lagi, Gwat Hee bulak balik diantara dua pohon itu
dengan ilmu itu dalam waktu sekejap ia sudah berada di
tempat yang tertinggi dari pohon tersebut, sedangkan
kecepatannya melebihi caranya yang semula satu setengah
kali.
Dari tempat tinggi Gwat Hee memandang ke empat
penjuru, keluasan alam dan langit yang tidak ada batasnya

230
membuat hatinya berpikir. “Ilmu itu tak ada batasnya,
seperti luas raya alam. Lebih lebih ilmu silatku masih
terhitung biasa, tapi dengan didapatnya ilmu ini secara
kebetulan aku dapat naik ke segala pohon atau tebing yang
tinggi asalkan saja terdapat pohon atau tebing yang tidak
berjauhan. Ah. kakakku mempunyai kepandaian yang lebih
dalam dari kepandaianku, kalau nanti kuceritakan hal ilmu
ini kepadanya tentu dapat mempelajarinya terlebih baik
dariku. Aku kuatir dalam sekali tarikan napas ia bisa
terbang ratusan cm tingginya!” Saat inilah Gwiat Hee
dikejutkan suara burung yang merdu. Burung itu tidak
berapa jauh dari tubuhnya. Warnanya sama dengan burung
yang dibelinya di pasar. Dalam girangnya Gwat Hee
berpikir: “Aku harus membalas budi orangtua itu. dari itu
aku harus menangkap beberapa ekor burung yang
disenangi ini.” Pikirannya itu segera tubuhnya mencelat
sejauh dua tumbak. tangannya terjulur menyergap burung
itu.
Gerakan Gwat Hee ini tidak ubahnya seperti jalannya
anak panah yang pesat sekali. Tapi burung itu lebih gesit
lagi. Baru saja tangan Gwat Hee akan berhasil menangkap
entah bagaimana burung itu hilang dati pandangan,
sehingga Gwat Hee menangkap angin. Gwat Hee
berjumpalitan untuk membetulkan tubuhnya dan
mengawasi ke sekeliling. Mana dan di mana ada burungku?
Sedangkan bayangan bayangannya saja tak kelihatan.
Burung ini demikian lincah dan gesit sekali. sewaktu ia
mengetahui akan ditangkap sekali kali tidak terbang,
sebaliknya molos ke dalam tubuh orang melalui lengan baju
terus ke ketiak dan sampai di punggung, Tak heran Gwat
Hee tak dapat menemukannya.
Tubuh Gwat Hee yang makin ada di udara itu kembali
jumpalitan untuk hinggap di cabang pohon. Tapi tak terkira
sekali ia gagal. Matanya entah kenapa merasa kabur,
pandangannya menjadi gelap Sedang kepalanya pening dan
tak sadarkan diri, tubuhnya jatuh tanpa dirasa lagi!
Orang tua itu sedang merasa girang dengan hasilnya
pemuda yang menurut petunjuknya itu. Tiba tiba dilihatnya

231
pemuda itu berjumpalitan di atas udara, menunjukkan
sebagai seorang berilmu yang tidak rendah. Hatinya berpikir
untuk meraba raba Gwat Hee itu murid siapa. Tiba tiba
dilihatnya Gwat Hee jatuh dari atas, orang tua itu menjadi
kaget. Buru buru tubuhnya mencelat untuk menolong, Gwat
Hee dapat diselamatkan, akan tetapi mukanya sudah pucat
sekali. Matanya meram dengan napasnya yang sudah
menjadi lemah sekali lekas lekas Gwat Hee diletakkan di
tanah untuk diperiksa nadinya. Orang tua itu merasa heran,
karena ia merasakan bahwa Gwat Hee menderita
penyakitnya berat yang diakibatkan sesuatu pukulan keras.
Tapi di sekeliling tidak terdapat bayangan orang. Orang
tua itu jadi berpikir keras mengenai pemuda ini yang tadi
berada di tempat yang tinggi sekali, biar orang yang
bagaimana tinggi kepandaiannya juga tidak mungkin dapat
mencelat setinggi itu untuk melukakannya demikian hebat.
Dengan hati hati diteruskan pemeriksaannya terlebih lanjut.
Alhasil ia dapat mengetahui bahwa pemuda itu sudah
menderita luka sebelum naik ke atas pohon, sakitnya itu
belum sembuh betul. Dengan mencelat dan jumpalitan
mengeluarkan teaaga terlalu banyak sehingga penyakitnya
kambuh kembali. Penyakitnya ini walaupun tidak meminta
jiwa tapi orang tua itusangat kuatir, kepalanya digoyanggoyangkan
tanpa merasa. Pemeriksaan orang tua itu
memang sedikit juga tidak salah, sebab Gwat Hee sesudah
kena pukulan lengan Louw Eng dan menderita luka parah,
betul sudah diobati Kie Sau, akan tetapi penyakitnya belum
sembuh betul. Barusan sebab terlalu girang ia tidak
merasakan sesuatu akan penyakitnya itu, sehingga ia
mengeluarkan terlalu banyak tenaga dan akibatnya jatuh ke
muka bumi tanpa sadarkan diri.
Tidak lama kemudian Gwat Hee siuman dari pingsannya,
ia merasakan seperti hidup kembali dari suatu kematian.
Matanya terbuka, dilihatnya orang tua itu dengan penuh
perhatian berada di samping tubuhnya. Gwat Hee ingin
berdiri, tapi tubuh itu terasa lemas dan tak berdaya.
“Nona kecil kau jangan bergerak! Telan lah tiga butir pel
ini dahulu, baru bicara.” Kiranva begitu orang tua ini

232
memeriksa nadi Gwat Hee sudah mengetahui bahwa
pemuda ini sebenarnya adalah seorang nona yang
menyamar. Karenanya tidak ragu ragu untuk memanggil
Gwat Hee dengan sebutan nona. Sesudah Gwat Hee
menelan pel pel itu segera tertidur dengan nyenyaknya.
Sewaktu Gwat Hee akan pulas ia merasa kan sesuatu
yang nyaman. Seluruh urat dan jalan darahnya terasa
longsong, pikirannya terasa jernih. Gwat Hee berpikir :
“Heran? mungkinkah aku akan mati! Kenapa aku
mempunyai perasaan demikian yang belum pernah kualami,
ia mimpipun belum pernah demikian nikmatnya!” Tapi
belum pikirannya dapat diutarakan kepada orang tua itu ia
sudah jatuh pulas terlebih dahulu. Orang tua itu merasa
girang melihat Gwat Hee tertidur dengan nyenyak, Sudut
bibirnya mengeluarkan senyuman dari kepuasan.
Diperiksanya nadi Gwat Hee sekali lagi. kepalanya manggut
manggut, mulutnya bicara sendiri: “Sungguh menyusahkan
gadis ini, di sebabkan ingin menangkap burung untukku
sehingga menimbulkan kekambuhan dari penyakitnya ini.
Tapi tidak mengapa sebab lukanya ini kalau tidak diobati
pasti pada suatu ketika akan kumat lagi. Lebih lebih kalau
kekumatan ini terjadi waktu bertarung lantas pingsan
bukankah mencelakakan akan dirinya? Tapi gadis ini
sungguh mengherankan sekali, begini muda usianya sudah
mempunyai kepandaian yang hebat juga. Terang-terang
lukanya ini diderita dari pukulan seseorang yang berilmu
lebih tinggi darinya! Kenapa tidak mati? Lagi pula aku tidak
mengetahui murid siapakah dia? Biarlah sesudah ia terjaga
dari tidurnya akan kucoba barang sejurus untuk mengetahui
dari cabang perguruan dari mana gadis ini berasal ”
Sambil bicara sendiri dilepaskannya kain panjang yang
melibat di pinggangnya. Di keluarkannya sebuah bungkusan
kecil, dengan hati hati dibukanya. Apa yang berada
didalamnya yakni semacam pel yang serupa dengan yang
diberikan kepada Gwat Hee. Dihitungnya pel yang tinggal
enam butir itu. Orang tua itu kembali bicara seorang diri.
“Enam butir pel ini hanya bisa menyuruh dia tidur lagi
selama dua hari. Tapi untuk menyembuhkan seluruh

233
penyakitnya tidak bisa tidak harus menyuruhnya tidur
selama tujuh hari tujuh malam. Orang tua, ya aku orang
tua biar bagaimana harus berdaya untuk mengobati gadis
ini sampai sembuh betul.”
Orang tua itu melihat burung Gwat Hee yang masih
berada di dalam sangkar dengan perasaan sayang. Hatinya
berpikir, ah, sebab burung ini gadis itu menderita kembali
lukanya secara begini. Lebih baik kulepas saja. Dibukanya
sangkar itu dan disuruhnya burung itu terbang untuk
mendapatkan kembali kebebasannya. Dengan penuh
kegirangan burung itu terbang berputar putar kemudian
baru terbang menjauh. Sebaliknya kita tengok dulu Tjiu
Piau yang tengah melatih diri.
Sesudah senja ia kembali ke penginapan. Sesampainya
di pemondokan haripun sudah jauh malam. Hoa San Kie
Sau pun baru habis melatih diri. Nasi sudah dihidangkan.
Dua orang ini menantikan kembalinya Gwat Hee untuk
makan malam. Siapa tahu tunggu punya tunggu Gwat Hee
belum juga pulang, dari itu mereka makan terlebih dahulu.
Kedua orang ini masing – masing diliputi perasaan cemas
tak keruan. Pertama-tama mereka mengira Gwat Hee
melupakan waktu untuk menuntut ilmu. Tapi sampat jauh
malam masih belum kelihatan ia kembali, sehingga
kekuatiran mereka bertambah-tambah. Sehingga mereka
berpikir Gwat Hee ketemu orang jahat dan menimbulkan
sesuatu hal yang tidak diinginkan. Hoa San Kie Sau tidak
sabaran lagi untuk menunggu. Diajaknya Tjiu Piau sebagai
petunjuk jalan dan terus pergi menyusul untuk mencarinya.
Tjiu Piau ingat di mana Gwat Hee masuk ke pepohonan
yang lebat itu. Tapi disebabkan mengurus dirinya saja
melatih diri, sehingga tidak tertarik untuk melihat keadaan
mereka. Saat ini kedua orang ini ubak ubakan di dalam
hutan tanpa mengeluarkan suara. Waktu berlalu terus.
Gwat Hee belum kena dicari. Tak lama kemudian haripun
segera akan menjadi terang. Tiba tiba dari jarak jauh
mendatang suara nyanyian yang merdu sekali. Suara ini
semakin lama semakin dekat. Dengan penuh perhatian
kedua orang ini memasang telinganya. Dengan suara

234
perlahan Kie Sau berbisik di telinga Tjiu Piau; “Ini adalah
suara burung Gwat Hee yang ungu itu!”
“Ya, benar,” kata Tjiu Piau, “tapi bukan suara seekor,
agaknya banyak sekali.”
Kala ini fajar menyingsing dari timur, gumpalan awan
ungu yang terang mendatang dari arah timur juga. Awan ini
semakin lama semakin rendah terbangnya Oh kiranya
bukan awan dari angkasa, melainkan adalah ribuan burung
kecil berwarna ungu. Burung burung ini sesudah terbang
melewat Kie Sau dan Tjiu Piau segera menuju ke barat
daya. maka kedua orang ini berbareng mengangkat kaki
menuju arah itu.
Mereka terus mencari jejak Ong Gwat Hee tanpa
berhasil. Mereka memutari sebuah bukit Kecil di sini mereka
melihat kembali burung burung ungu yang merupakan
gumpalan awan itu. Barung burung itu berputaran tak
henti-hentin va di atas pepohonan yang rimbun. Di hutan
itu terlihat dua batang pohon yang menjulang tinggi
mencakar angkasa. Kedua orang itu tercengang melihat
pemandangan yang luar biasa ini. Sementara itu burung
burung itu sudah berhenti tidak berkicauan lagi. Tapi masih
terus berputar mengelilingi pohon raksasa itu. Semakin
lama semakin cepat burung burung itu berputar – putar.
Kemudian hinggap dengan cepatnya ke dalam cabang
cabang pohon dan hilang tidak kelihatan.
“Lekas kita ke sana,” kata Hoa San Kie Sau. “Burung
burung itu berputar putar di situ, mungkin Yauw Tjian pwee
berada di situ untuk menangkapnya beberapa ekor!” Kedua
orang ini segera lari dengan pesat masuk ke dalam hutan.
Dari jauh mereka melihat seseorang tengah terlentang di
bawah pohon yang besar itu.
“Nah, itu Gwat Hee !'” seru Tjiu Piau kegirangan.
Memang tidak salah orang itu Gwat Hee adanya. Mereka
mempercepat tindakannya menuju ke tempat Gwat Hee
berada. Hoa San Kie Sau mengawasi Gwat Hee tengah tidur
nyenyak. Wajahnya menunjukkan tengah tidur dengan

235
tenang, di balik parasnya yang pucat terdapat sinar semu
merah. Kie Sau memeriksa jalan darahnya walaupun
denyutan nadinya itu agak lemah, jalannya sang rata.
“Denyutan nadi Gwat-djie agak lemah, tapi teratur.
Seperti sakit tapi tidak. Terkecuali itu ia bisa tidur di dalam
hutan ini dengan begini nyenyak. Sungguh mengherankan
sekali dan tidak dapat kumengerti,” kata Kie San dengan
heran.
“Coba banguni dan tanyai kepadanya,” kata Tjiu Piau.
“Oh, jangan biarlah ia menikmati tidurnya ini!” Dua
orang ini selanjutnya duduk di samping tubuh Gwat Hee
untuk beristirahat keletihan mereka semalam suntuk ini
membuat Tjiu Piau merapatkan mata dan tertidur nyenyak,
sedangkan Hoa San Kie Sau tetap diam diri memelihara
semangatnya.
Entah berapa lama sudah berlalu. Waktu Tjiu Piau
membuka matanya terlihat orang tua itu sudah berada di
antara mereka. Tjiu Piau tergesa – gesa bangun dan
memberi hormat. Seruan Tjiu Piau ini membuat Hoa San Kie
Sau membuka matanya. Hatinya kaget dan berkata secara
diam. “Kepandaiannya Lo Yau (si Yauw tua) ini sungguh luar
biasa sekali.” Sebelum Hoa San Kie Sau sempat membuka
mulut, orang tua itu sudah tertawa terkekeh-kekeh terlebih
dahulu.
“Nio Lo tee ini murid kau bukan?” tanya orang tua itu
sambil menunjuk pada Tjiu Piau.
“Yauw Tjian pwee, yang tidur ini barulah ada muridku
yang tak berguna.”
Jawaban itu di luar perkiraan orang tua itu. Kembali ia
tertawa: “Ah Lo tee, kepandaianmu sungguh bagus,
sehingga dapat mengajar seorang murid yang cakap seperti
dia…Apakah yang terjadi atas dirinya sehingga ia menderita
luka yang demikian hebat?” Dengan singkat Hoa San Kie
Sau menuturkan hal yang dialami Gwat Hee. Kemudian Tjiu
Piau diperkenalkan. “Oh, kalau demikian kita masih orang
serumah!” kata orang tua itu. Hoa San Kie Sau dan Tjiu

236
Piau tidak mengerti apa yang dimaksud dengan perkataan
orang serumah itu. Kie Sau meminta keterangan tentang
hal Gwat Hee pada orang tua itu. Orang tua itu dengan
singkat menerangkan; ”Setiap orang yang makan obatku
segera akan tidur nyenyak. Seharusnya ia mesti tidur
selama tujuh hari tujuh malam. Sayang aku belakangan ini
menjadi malas, sampai pelku hampir habis belum
membuatnya lagi. Yang tertinggal hanya sembilan butir,
dan hanya dapat menyuruhnya tidur selama tiga hari tiga
malam saja, sehabis minum sebanyak sembilan butir ini
sebenarnya tidak seberapa berguna, paling banter
kesehatannya dapat dipulihkan seperti penyakitnya belum
sembuh.”
“Lo Tjian pwee, dapatkah resepnya di berikan
kepadaku?”, tanya Tjiu Piau dengan Cepat.
“Caranya dapat kuberikan kepadamu. tapi obat-obat
yang dibutuhkan untuk membuatnya tidak cuKup dalam tiga
lima hari didapatnya. Cara membuatnya dapat diselesaikan
dalam waktu sepuluh sampai lima belas hari. Tapi kalian
tidak perlu gelisah sebab bocah ini mujur sekali, yakni ada
sesuatu benda yang tak ternilai harganya masih dapat
menyembuhkannya.”
Tjiu Piau mendengar adanya semacam benda yang
langka, membuka matanya lebar-lebar. Orang tua itu
mengeluarkan sebuah cangkir kecil yang digunakan Gwat
Hee untuk memberi minum burungnya. Di dalam cangkir itu
tidak berisi air melainkan cairan yang berwarna ungu, entah
benda apa itu adanya.
“Bukan saja kalian belum pernah melihatnya, akupun
baru pertama kali melihatnya. Dahulu menurut orang orang
tua punya cerita, di antara bumi dan langit ini terdapat
sejenis burung yang dinamai walet sakti yang kecil dan
cerdik, warnanya ungu mulus harganya tak ternilai. Walet
sakti ini bisa mengeluarkan cairan ungu yang harum dan
berkasiat untuk menyembuhkan segala macam penyakit.
Sungguh di luar perkiraan bocah ini bisa mendapatkan walet
sakti ini. Kemarin aku melepaskan burung itu, hari ini ia

237
mengundang ribuan dari teman temannya datang ke sini.
Aku mencoba membawa cangkir ini naik ke atas pohon, di
luar perkiraan burung burung itu satu demi satu
mengeluarkan liurnya ke cangkir ini. Kamu lihat inilah liur
harum dari ribuan ekor walet sakti itu. Kalian harus
menjaga bocah ini baik baik. Berikanlah obatku dulu untuk
menidurkan ia selama tiga hari tiga malam, kemudian baru
berikan liur harum dan walet sakti ini. Dengan cara ini tidak
perlu dikuatirkan sakitnya itu tidak akan sembuh. Bahkan
sesudah sembuh tubuhnya itu akan terlebih sehat dan
terlebin kuat dari pada sebelumnya memakan obat ini.” Tjiu
Piau buru buru menerima obat obat itu. Orang tua itu
memandang Tjiu Piau dan berkata pada Hoa San Kie Sau.
“Lo tee, lebih baik Siau ko ini kau terima juga sebagai
muridmu! Ilmu kakinya melepas senjata sungguh
menyerangkan sekali. Carilah tempat yang baik untuk
membimbing dan mendidiknya, aku jamin ia akan berhasil
dengan gemilang sekali. Terkecuali itu menerima murid
semacam dia ini pasti tidak akan memalukan!”
‘Jika dihari kemudian ia mendapat kemajuan, ia harus
mengucapkan sukur dan terima kasih kepadamu, sebab
semua ini adalah jasamu.”
‘Bagus, bagus…..kau melulusi untuk menerima dia
sebagai murid!” Tjiu Piau buru buru buru maju ke depan Kie
Sau untuk memberi hormat, dan memanggil “Soe hoe.”
Sewaktu orang orang sibuk menjalankan kehormatan
sebagai murid dan guru. Orang tua itu mengencangkan kain
pengikat pinggangnya, dengan tenang ia berlalu. Dua murid
berguru itu berdiri dengan hormat mengantar kepergian
orang tua itu dengan sinar matanya,
“Sampai ketemu pula. tak lama lagi kita kembali
bertemu!” kata orang tua itu sambil melambai-lambaikan
tangannya. Sementara itu kakinya melangkah semakin
cepat, Kemudian tubuhnya lenyap di balik pohon pohon
yang rimbun, Kemudian Kie Sau berpaling pada Tjiu Piau:
“Piau djie kau harus mengingat petunjuk petunjuk dari
Yauw Tjian pwee itu pelajarilah terlebih giat ilmu itu.”

238
“Aku masih membutuhkan banyak petunjuk dari Soe hoe
juga.”
Dua guru bermurid ini kelihatannya senang sekali
Kiranya sesudah Kie Sau berkumpul dalam beberapa hari
dengan Tjiu Piau, di dalam hatinya timbul rasa sayang dan
ingin menjadikan Tjiu Piau sebagai muridnya.
Demikian juga dengan Tjiu Piau sudah mempunyai niat
untuk berguru kepada Kie Sau sewaktu di Ban Liu Tjung.
Hanya keduanva belum bisa membuka mulut untuk
mengutarakan pikirannya, kini mendapat bantuan dari Yauw
Tjian-pwee dengan sendirinya mereka merasa girang.
“Di sini, tidak berapa leluasa untuk berlama-lama, mari
kita pulang.” kata Kie Sau. Tjiu Piau lengannya belum
sembuh betul.Dari itu Gwat Hee harus dipondong oleh Hoa
San Kie Sau.
Ketiga orang itu kembali pulang ke dalam kota kecil.
Mereka mengatakan habis mengajak Gwat Hee berobat,
karenanya tidak seorangpun merasa curiga atas kepergian
mereka semalaman penuh.
Gwat Hee tertidur sampai malam hari baru bangun.
Dilihatnya sang guru dan Tjiu Piau berada di sisanya, hal ini
membuatnya merasa heran. Tjiu Piau menuturkan hal
ikhwal ini kepada Gwat Hee.
“Tak kukira burung ungu itu adalah walet sakti, kapan
hari kalau ketemu burung-burung itu harus baik-baik
memperlakukannya, baru betul !”
Sesudah dahar Gwat Hee meminum obat Yauw Tjian
pwee lagi, sesaat kemudian kembali ia tidur nyenyak. Hal
ini berturut turut sudah dilakukan tiga hari lamanya.
Sehingga kesehatannya sudah pulih kembali seperti semula.
Tapi mereka tidak berani mengabaikan pesan dari orang tua
itu. Gwat Hee diberinya minum liur harum dari walet sakti
itu sedikit sedikit setiap harinya. Sepuluh hari kemudian liur
harum itu sudah habis minum. Gwat Hee merasakan kian
hari kian bersemangat dan sehat.

239
Kie Sau melihat sakitnya Gwat Hee dan Tjiu Piau sudah
sembuh betul. Dari itu diajaknya mereka berdamai untuk
pergi ke Oey San gunanya mencari tempat yang baik untuk
melatih kepandaian. Tentu saja kedua orang itu menurut
saran gurunya. Keesokan harinya mereka meninggalkan
kota kecil itu untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka
singgah sebentar di Gui Tju Hu.
Di situ terdapat gunung yang bernama Pek Gak San. Di
sinilah Tjiu Piau dan Gwat Hee memperdalam ilmu silatnya
di bawah penilikan Hoa San Kie Sau. Malam hari mereka
tidur di gua, siang hari melanjutkan latihannya.
Adapun letaknya Pek Gak San tidak berjauhan dengan
Oey San. Mereka menunggu untuk mendaki Oey San sambil
berlatih terus. Kedua lengan Tjiu Piau sudah banyak baikan,
tapi belum bisa digunakan seperti masa sehatnya,
mengenai ilmu kakinya itu setiap hari dilatih terus dengan
giatnya. Hari itu Tjiu Piau dan Gwat Hee tengah asyiknya
melatih diri, tiba-tiba Tjiu Piau menghentikan latihannya
dan duduk di bawah pohon dengan mata mendolong kaya
orang tolol. Sudah lama juga ia terbenam dalam
lamunannya, kemudian loncat bangun sambil berseru
kegirangan: “Aku sudah menyadari! Aku tahu!’* Gwat Hee
melihat ia kegirangan demikian macam segera loncat turun
dari atas pohon.
“Api yang kau sudah sadari, dan ketahui?” tanyanya
dengan heran.
“Yauw Lo Tjian-pwee pernah mengatakan kepadaku. Kau
harus dapat membidik seekor lalat seperti seekor kerbau.
Kini aku sudah mendapatkan caranya ini!”
“Kalau begini kau sudah mendapatkan batas yang
dikehendaki Yauw Lo Tjian pwee bukan? Tentu ini batas
yang sukar dan tidak mudah untuk didapat oleh sembarang
orang! Coba kau ceritakan kepadaku apa yang kau sudah
sadari itu.”
Tjiu Piau memusatkan pikirannya. Agaknya ingin
mengingat dan mencatat dengan baik apa yang sudah

240
disadari itu. Sesaat kemudian baru ia bicara:
“Begini, barusan aku mengambil lancah yang terdapat di
pohon itu sebagai bulan-bulanan dari batuku.”
Gwat Hee melihat ke tempat arah yang ditunjuk Tjiu
Piau, tampak sebuah sarang laba labah yang sudah rusak.
“Batuku yang pertama hanya dapat merusakkan sarangnya,
sedangkan lancah-lancah itu tengah merayap pergi,
sehingga batu pertama gagal. Sesudah itu lancah-lancah itu
mundar mandir di atas jaringannya itu. Menyukarkan untuk
membidikrya. Terpaksa aku membuka mataku lebar lebar
dan kuperhatikan gerak geriknya dan menantikan dia diam
secara tenang. Sesudah aku menatap demikian lamanya,
tiba tiba kurasakan sesuatu yang aneh, labah labah itu
semakin lama semakin besar, baru baru sebesar kepala,
terus sebesar kura – kura kemudian berubah pula menjadi
sebesar kerbau. Tatkala mataku melihat lancah yang
sebesar kerbau itu. mataku seolah- olah tertutupnya dan
tidak melibat lagi keadaan sekeliling, apa yang kulihat
melulu lancah itu. Aku kegirangan dapat mencapai batas
yang diberikan Yauw Lo Tjian-pwee itu. Sehingga membuat
perhatianku terpencar, begitu buyar akan pikiranku kembali
aku dapat melibat lagi keadaan dunia yang luas ini.
Sedangkan labah labah itu kembali berubah menjadi kecil
lagi.”
Ong Gwat Hee mendengarkan perkataan Tjiu Piau
dengan penuh perhatian, dengan kepintarannya yang luar
biasa itu ia dapat menyadari dan memahami sebabsebabnya
itu. Saat ini Gwat Hee sudah tak tahan untuk
mengutarakan pendapatnya.
Kata – kata Tjiu Piau dipotongnya di tengah jalan:
“Aku sudah mengerti akan hal itu. Yakni waktu kau
mencurahkan perhatianmu pada labah – labah itu, matamu
hanya melihat itu saja, sehingga dunia dan alam yang luas
ini seolah olah tertutup oleh labah labah itu. Tak heran
labah labah dalam matamu itu menjadi sebesar kerbau.
Kerbau bisa sebesar dunia, betulkah begitu?”

241
“Benar! Benar! Memang demikian. Tadi aku duduk
menyandar di bawah pohon untuk beristirahat. Demikian
juga benda menjadi kecil kalau ada benda lain yang lebih
besar. Dalam diamku aku mendapatkan sesuatu yang
menjadi pertanyaanku selama ini. Yakni adanya benda
besar dan kecil semata mata hanya dari perbandingan saja.
Kalau mata kita tidak melihat kerbau tentu tidak merasakan
labah labah itu Kecil adanya. Kalau mata memandang
sebuah gunung maka kerbau itu menjadi kecil. Disebabkan
riai ini seekor kerbau tidak mudah untuk di kenakan batu,
sebaliknya kalau kita memusatkan perhatian pada seekor
labah-labah labah-labah itu bisa memenuhi mata kita.
karenanya mudah untuk dikenakan.” mendengar ini Gwat
Hee tidak henti hentinya menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba Tjiu Piau meloncat bangun sambil berseru:
“Sekarang aku dapat menghajar seekor labah-labah
semudah membalikkan tangan, lihatlah percobaanku ini!”
Tjiu Piau mengangkat kakinya matanya penuh perhatian
kepada labah labah yang tengah merayap ke sana merayap
ke sini itu. Batu itu ditendangnya terbang menyamber labah
labah tersebut, tidak miring tidak terlampau tinggi tepat
mengenai sasaran.
“Wah, hebat betul!”seru Gwat Hee dengan girang.
“Sumoy coba kau jajal caraku ini!”
“Ah, tidak bisa. Labah labah itu pulang pergi kulihat tetap
sebesar kacang kedelai saja!”
“Kau harus memusatkan perhatianmu, segala pikiran
harus disingkirkan, dan anggaplah di matamu hanya ada
labah-labah itu saja. Dengan cara ini pasti kau berhasil.”
“Ilmu melepas senjata rahasia pun aku tak berapa bisa!”
kata Gwat Hee sambil menarik Tjiu Piau. Tak terkira Tjiu
Piau pun lengan menatapnya dengan asyiknya. Keempat
sinar mata bentrok! Masing masing merasakan sesuatu
yang menyegarkan dan menggoncangkan perasaan. Mulut
mereka seolah olah penuh dengan kata kata yang sukar
dilukiskan. Ingin hati mereka untuk mengutarakan sesuatu

242
akan isi hati masing-masing tetapi kandas dalam goncangan
hati muda yang penuh diliputi cinta dan malu malu.
Sesudah mereka membungkam dan terbenam dalam
kemacetan dan ketidakwajaran muka mereka menjadi dadu
dan manis!
Gwat Hee buru buru memungut batu sambil berkata
untuk menghilangkan suasana yang janggal ini:
“Aku ingin mencoba untuk menghantam sarang burung
itu!”
Batu melayang, tapi jauh sekali dari sasaran. Tak heran
Gwat Hee tak berhasil sebab pikirannya masih risau
disebabkan hal tadi. Pergaulan hidup bersama beberapa
hari membuat hubungan mereka terlebih intim. Tjiu Piau
merasa kasihan pada Gwat Hee yang kehilangan Djie Hai.
Sehingga Gwat Hee hidup seorang diri tanpa saudara, atas
ini Tjiu Piau memperlakukannya seperti adik sendiri.
sebaliknya juga Gwat Hee memperlakukan Tjiu Piau seperti
kakak kandungnya. Perasaan bersaudara ini agaknya
berubah pada hari-hari terakhir, antara dua orang ini
tersimpul suatu perasaan saling memperhatikan dan
menyayang. Tak heran begitu mata Gwat Hee bentrok pada
Tjiu Piau tadi denyutan jantungnya berdebardebar sehingga
bidikannya tak menemui sasaran. Dengan bersemangat Tjiu
Piau menarik lengan Gwat Hee.
“Coba, ayo Coba sekali lagi. Kau pasti berhasil!”
Begitu lengan Gwat Hee kena terpegang ia merasa likat.
Lengannya dipengkeretkan. Tjiu Piau pun sadar atas ini,
buru buru menurunkan cekalannya. Tapi nyatanya orang
muda ini tidak melepaskan lengan mereka satu dengan lain
bahkan semakin erat!
Dengan lemah lembut Gwat Hee berkata: “Piau Soe ko,
kau sungguh baik, mau menurunkan kepandaian yang
hebat ini kepadaku. Kalau kau tidak menurunkan ilmu ini,
bukankah kau bisa menjagoi di dunia Kang Ouw?”
Dengan pandangan yang penuh arti Tjiu Piau menjawab:
“Sumoy, kenapa kau berkata begitu. Aku ridlah dengan

243
seikhlas ikhlasnya segala yang kupelajari dan yang kupikir
untuk diberikan kepadamu.”
“Akupun demikian ingin memberikan apa yang
kupelajari, yang kupikir kepadamu.”
Kembali mata mereka saling menatap dan tertawa.
Tertawa ini penuh dihiasi kemesraan gelombang remaja
yang bergelora penuh asmara. Kedua hati muda mudi ini
menjadi hangat penuh kenikmatan yang sukar dilukiskan
dengan kata kata ini. Saat ini bukan main senang dan
segarnya semangat Gwat Hee. Serentak lengannya di
lepaskan perlahan lahan dari pegangan Tjiu Piau.
“Baik! Akan kucoba sekali lagi!”
Di pungutnya sebuah batu dan ditatapnya sarang burung
itu dengan sepenuh perhatiannya. Kini entah bagaimana
hatinya menjadi tenang dan tenteram. Matanya hanya
melihat sarang burung terkecuali itu yang lain tidak
diperhatikan. Begitu lengannya bergerak maka sarang
burung tersebut kena dihancurkan sehingga burung burung
yang berada di dalamnya bercowet terbang.
“Piau Soe ko, kau lihat bagaimana hasilnya?” tanya Gwat
Hee dengan girang.
“Sedari tadi pun aku memastikan bahwa kau akan
berhasil.”
Kembali mereka berpegangan tangan, hatinya menjadi
terbuka penuh kepuasan.
Tjiu Piau sudah dapat mempelajari apa yaug disebut
‘tepat,’ selanjutnya Tjiu Piau melatih kedasyatan dan
kecepatan di bawah pimpinan Hoa San Kie Sau. Tjiu Piau
dalam waktu singkat sudah memiliki ilmu melepas senjata
rahasia itu dengan baik. Hal ini disebabkan rajinnya dan
sudah dipelajarinya sejak kecil.
Tambahan sekarang mendapat guru yang ternama tak
heran kalau ia bisa seratus kali melepas seratus kali kena.
Harus diketahui bahwa tenaga kaki adalah lebih besar dari
tenaga lengan, dari itu Tjiu Piau dapat melepaskan senjata

244
rahasianya sejauh tiga-empat tumbak untuk membinasakan
seekor kelinci. Sedangkan kedua lengannya sudah semakin
sembuh dan dapat dipakai seperti dulu, tapi tenaganya
belum pulih seratus persen.
Demikian pula Gwat Hee kelihatannya sudah pulih dan
bertambah sesudah minum liur harum walet sakti. Beberapa
hari ini Ki Sau melatihnya akan ilmu yang diberi orang tua
itu. Berkat latihan dan keuletannya Gwat Hee dapat turun
naik di tebing, di pohon dengan sesuka hatinya.
Tanpa dirasa musim panas sudah berlalu musim rontok
sudah mulai menggantikannya. Bulan delapan malam Tiong
Tjiu sudah dekat Hati ketiga orang ini penuh diliputi sesuatu
perasaan yang aneh aneh untuk mendaki Oey San.
Perasaan dan pikiran Gwat Hee menjadi aduk adukan,
demi dipikirinya pertemuan Oey San yang akan datang itu.
Kesatu saat untuk mencari balas guna ayahnya sudah
hampir sampai saatnya, hal ini tentu saja membuat hatinya
bergelora: kedua, sejak kakaknya terpisah dengan dirinya,
hingga kini masih belum ada kabar ceritanya. Dapatkah
kiranya sang kakak itu berkumpul di Oey San pada waktu
yang sudah ditentukan. Kalau kalau kakak itu tidak datang,
harus ke mana dicarinya? Ketiga dapatkah kiranya
berjumpa dengan saudara Tju itu? Keempat mengkuatirkan
orang yang memberikan sajak itu masih hidup atau tidak?
Orang dari golongan mana? Pikirannya ini membuat Gwat
Hee tak keruan rasa, sehingga sering tidak tidur dan tidak
napsu makan. Tjiu Piau pun mempunyai perasaan sama
seperti Gwat Hee. Terkecuali dari itu dalam
Hatinya selalu berpikir, bahwa pertemuan Oev San ini
pasti akan terjadi keributan,bahkan seuatu bahaya besar
akan dihadapi,untuk mengatasi keadaan ini, hatinya tak
henti hentinya berpikir.
Bulan delapan yang dinanti nantikan sudah di ambang
pintu Bulan yang terbenam di cakrawala perlahan lahan
menampakkan dirinya, lama kelamaan membentuk seperti
sisir. Kemudian menjadi agak besar. Ketiga guru bermurid
itu melanjutkan perjalanannya mendaki Oey San pada

245
tanggal sepuluh. Dengan perhitungan akan sampai – pada
malaman Tiong Tjiu ( tanggal lima belas bulan delapan) di
puncaknya Oey San yang bernama Thian Tou Hong. Pagi itu
Tjiu Piau terjaga dari tidurnya tanpa melihat Gwat Hee.
Hatinya merasa cemas sekali, tidak diketahui ke mana
Sumoynya pergi. Sesudah membereskan dirinya, terus
mencarinya sepanjang jalan yang biasa mereka bermain
dan melaiih diri. Tapi bayangan Gwat Hee tak kelihatan
sama sekali. ia berpikir sejenak, hatinya ingat di puncak
gunung terdapat jeram ( air terjun ) yang
kecil. Di mana air itu berkumpul merupakan satu situ
yang kecil. Tempat ini adalah tempat mereka biasa bermain
juga,mungkinkah Gwat Hee pergi ke sana? Kakinya segera
bergerak membentangkan ilmu mengentengkan tubuhnya
lari ke atas. Pada hari belakangan ini Tjiu Piau baru
memperoleh pelajaran ilmu dalam dari Hoa San Kie Sau.
Karena dasarnya tidak berapa dalam, belum bisa
mempelajari ilmu semacam Gwat Hee untuk mendaki dan
naik ke pohon secara cepat, tapi hari hari belakangan ini, ia
banyak melatih ilmu kakinya. Sehingga tenaga kakinya
memperoleh banyak kemajuan. Tak heran ia bisa lari
seperti terbang di atas pegunungan seperti di dataran biasa.
Sesaat kemudian ia sudah tiba di tempat tujuan. Tampaklah
di bawah air terjun, di depan situ berduduk seorang gadis,
yang membalik badan ke arahnya. Agaknya gadis itu
tengah menghias diri, rambutnya yang panjang terurai
hitam mengkilap dan menyenangkan. Membuat orang
belum melihat mukanya sudah memastikan gadis itu sangat
cantik adanya.
Tjiu Piau merasa tertegun akan hatinya. Pikirnya di
dalam hutan belantara ini dapat menemui seorang gadis
yang demikian cantiknya, sungguh mengherankan sekali,
dapatkah gadis biasa datang ke sini?
Sementara, itu gadis sudah selesai berhias. Tubuhnya
membungkuk ke air situ untuk mengaca, sedangkan
mulutnya kemak kemik entah mengatakan apa. Tanpa
merasa Tjiu Piau menggeser kakinya mendekati. Telinganya
segera mendengar kata-kata gadis itu.

246
“Oh, ayah inilah wajah dari puterimu.” Tjiu Piau semakin
mendekati kepalanya melongok air situ, dalam air itu
terdapat bayangan dari seorang gadis cantik bermata bulat
hitam. Tjiu Piau merasa kenal wajah ini, tapi tak dapat
mengingatnya dalam waktu yang singkat.
Perlahan lahan gadis itu berdiri bangun, badannya
berputar ke arah Tjiu Piau berdiri. Ditatapnya Tjiu Piau,
sedangkan pipinya menjadi merah dadu, ia tertawa dengan
manisnya sambil berkata. “Piau Soe ko!” Suara ini membuat
Tjiu Piau sadar dari lamunannya. Inilah suara Gwat Hee
bukan? pikir hatinya.Tak heran-membuatnya menjadi
bengong tak keruan karena pada hari hari biasa belum
pernah melihat sang Sumoy berpakaian wanita. Tak kira
sesudah Gwat Hee menghias diri gadisnya demikian macam
cantiknya luar biasa, sampai Tjiu Piau tidak tahu harus
mengatakan apa. Ia terpaku terus menatap tubuh yang
demikian ramping, langsing dan cantiknya.
Sesudah membengong demikian lamanya, Tjiu Piau baru
dapat berkata dengan tak wajar:
“Moy tjoe, kau- kau kenapa?”
Dengan keren Gwat Hee menerangkan: “Piau Soe ko,
sejak kecil aku biasa mengenakan pakaian anak laki laki.
Dengan cara menyamar ini aku dapat bergerak bebas di
dunia Kang ouw, tapi kini aku akan mengurus dan
membereskan sakit hati ayahku, dari itu aku harus kembali
pada wajah gadisku, agar ayahku dapat melihat wajahku
yang sebenarnya. Kau pikir betul tidak?” Tjiu Piau tak dapat
menjawab, hanya kepalanya yang mengangguk. Sesudah
hening seketika, Tjiu Piau baru dapat mengeluarkan lagi
kata katanya:
“Gwat Hee Moy tjoe, apakah pada hari hari nanti kau
tetap berdandan semacam ini?”
“Ya.”
“Selamanyakah begini?” tanya Tjiu Piau lagi.
“Kenapa?”

247
“Aku senang dengan cara kau berdandan ini.”
“Ya, selamanya begini.” jawab Gwat Hee tersipu sipu.
Kedua muda mudi ini berduduk-duduk di tepian situ itu
sambil mandi sinar surya pagi yang indah. Masing masing
hati mereka mempunyai sesuatu omongan yang indahindah
dan banyak sekali untuk diutarakan. Tapi agaknya
entah bagaimana mereka lebih senang terbenam dalam
kesunyian tanpa kata kata. Pagi hari di pegunungan,
sungguh indah sekali, burung burung berkicauan dan
beterbangan. Angin sepoi-sepoi basah membawa kesegaran
hidup. Harumnya bunga hutan membuat mereka terbenam
dalam kemabukan mesra hidup remaja.
Waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa oleh mereka.
Saat milah matahari sudah menjulang tinggi di angkasa.
Gwat Hee tersadar dari lamunannya yang manis itu dengan
kaget.
“Kita harus segera pulang, jangan jangan Soe hoe
tengah menunggu kita dengan tak sabar!” kata Gwat Hee –
sambil menarik sang jaka.
Mereka segera turun ke kaki gunung, Tjiu Piau
mempunyai ilmu kaki yang lihay dalam sekejap saja sudah
meninggalkan Gwat Hee di belakang. Tapi begitu ada pohon
Gwat Hee segera mempergunakan ilmunya dengan caranya
itu ia dapat berlari kebawah terlebih cepat dari Tjiu Piau.
Demikianlah mereka berkejar-kejaran susul menyusul,
sehingga dalam waktu sebentar sudah tiba di bawah kaki
gunung. Benar saja mereka melihat Hoa San Kie Sau sudah
menantikan mereka dalam banyak waktu. Tiga orang ini
segera berkemas kemas. Langsung menuju Oey San.
Sesudah berjalan sepuluh lie jauhnya, di depan mereka
menghadang sebuah sungai kecil, di situlah mereka
beristirahat untuk memakan ransum keringnya. Kemudian
perjalanan dilanjutkan lagi Sesudah cukup beristirahat.
Kembali sepuluh lie sudah dilalui, jauh jauh memandang
terlihat sebuah pegunungan yang berbukit berantai
bertumpuk menjadi satu.

248
Hoa San Kie Sau menunjuk ar3h itu:
“Nah itulah Oey San yang menjadi tujuan kita.” Habis
bicara, hatinya berkata sendiri:
“Ah, Oey San . .. Oey San. Delapan belas tahun
berselang di tubuhmu itu terjadi peristiwa apa yang
sesungguhnya. Kini tak lama lagi. kembali di tubuhmu itu
akan terjadi pula Kisah, kisah yang harus kau saksikan.
Penghidupan orang tak ubahnya seperti awan yang mudah
berubah, asal matanya sudah rapat segala sesuatu
peristiwa yang dialami segera menjadi tamat. Tapi lain
denganmu, kau akan terus tegak menjulang ke angkasa
dengan megahnya, sambil menyaksikan terus peristiwaperistiwa
kehidupan manusia yang tidak habis habisnya ini.”
Oey San kelihatanya di depan mata tapi tidak dapat
dengan segera dicapai. Sesudah memakan waktu sehari
lagi, baru mereka tiba di lereng Oey San itu. Untuk
melewatkan malam mereka menumpang mondok Pada
penduduk di situ.
Dengan berlalunya waktu ini, bulan di angkasa luas itu
sudah menjadi bulat. Tjiu Piau dan Gwat Hee menurut
pesan dari Kie Sau segera mendaki ke puncak Thian Tou
Hong,, sedangkan Kie Sau membuntuti dan melindungiidari
belakaiyg. Malam harinya mereka sudah sampai di puncak
gunung itu. Thian Tou Hong adalah salah satu dari puncak
Oey San yang banyak itu. Salah satu yang tertinggi dari
sekalian puncak. Satunya lagi yang menyamai Thian Tou
Hong adalah Lian Hoa Hong. Tapi untuk didaki Thian Tou
Honglah yang paling sukar. Tapi untuk mereka yang
mempunyai ilmu linay itu, puncak ini sedikit juga tidak
menyukarkan. Hati mereka menjadi mabuk sesampainya di
puncak ini, walaupun mereka dibesarkan di daerah
pegunungan, tapi belum pernah menyaksikan pemandangan
alam yang demikian indah dan permai. Terkecuali dari
puncak Lian Hoa tak sebuah puncak lain yang menyamai
puncak Thian Tou Hong. Ratusan dan ribuan puncak lain
semua berada di bawah kaki mereka. Puncak-puncak itu
tidak teratur dengan rata, selang seling di kiri-kanan

249
menjadikan sesuatu pemandangan yang mentakjubkan. Hal
yang lebih mengherankan, yakni di sela-sela awan yang
banyak itu, tampak warna warni yang indah.
Tjiu Piau berkata :
“Konon pohon Siong dari Oey San ini sangat ternama di
jagat raya. Kini aku baru dapat menyaksikan dengan mata
kepala sendiri, memang sebenarnya indah sekali. Agaknya
aku tengah dalam mimpi saja. Kau lihat! Di antara
banyaknya pohon Siong itu terdapat tambahan warna
merah, apa itu?”
“Sewaktu aku kecil pernah mendengar percakapan
seorang paderi dengan Soe hoe. Paderi itu mengatakan
bahwa pohon Siong di Oey San sangat terkenal dan
dikagumi orang tapi tidak pernah ada yang memuji akan
pohon Hongnya. Kala musim rontok daun pohon Hong itu
menjadi kuning dan merah sehingga percampuran warna
merah dari Hong dan warna hijau dari pohon Siong itu
menjadikan suatu keindahan alam yang sukar di dapat. Dari
itu pemandangan di celah celah awan itu bukan lain dari
pada kombinasi daun Hong dan Siong.” Tjiu Piau
mengangguk.
Mereka menikmati panorama yang luar biasa ini dengan
perasaan lapang dan segar. Malam hari demikian sunyi,
sekeliling tak ada suara atau kepalan asap maupun sinar api
dari rumah penduduk: Di balik puncak sebelah timur
tampak bulan yang membulat seperti nyiru sudah naik ke
tinggi.
“Pertemuan malam ini hanya diketahui beberapa orang
saja. Tetapi tak dapat dipastikan, terkecuali dari kita
mungkin ada yang mengetahui dan sengaja datang untuk
mengacau. Lebih baik kiia bersembunyi untuk menjaga
sesuatu di luar perhitungan.” kata Tjiu Piau. Gwat Hee
menganggukkan kepalanya.
Mereka mendapatkan sebuah batu besar di atas puncak
yang tinggi itu.
“Tempat itu sungguh baik untuk kita menempatkan diri.”

250
kata Tjiu Piau. Tetapi sesampai mereka di balik batu itu
hatinya menjadi kaget sebab di belakang batu tersebut
adalah sebuah tebing yang sangat curam sekali, sama
sekali tidak ada tempat untuk mereka berdiam.
“Di sini tidak bagus, lebih baik di sana saja.” kata Gwat
Hee.
Tjiu Piau memandangkan ke arah yang ditunjuk oleh
Gwat Hee. Tampak sebuah pohon Siong tua yang berlekuk
lekuk dibawah batu besar itu. Tanpa berkata-kata lagi
mereka memanjat ke pohon Siong itu dengan cepat dan
bersembunyi di dalam daunnya yang lebat. Dalam
kesunyian yang sangat ini terdengar semacam suara yang
semakin lama semakin keras dan tinggi. Suara ini tak
ubahnya seperti gelombang laut dengan topannya yang
dahsyat, membuat hati pendengar menjadi goncang.
“Inilah suara gelombang pohon Siong.” kata Gwat Hee
perlahan. Saat itu kembali terdengar suara gelombang dan
ombak daun Siong itu memenuhi jurang dan bergema
kembali.
“Apa katamu, aku tak mendengar.” kata Tjiu Piau.
“Kataku, suara gelombang pohon Siong!” seru Gwat Hee
dengan keras.
“Gelombang suara pohon Siong ini mematikan dan
menghilangkan suara yang lain. Misalkan ada orang lain
naik ke sini sukar untuk dibedakan. Kita harus terlebih hati
hati, baru betul.” sambung Tjiu Piau.
“Tentu saja,” jawab Gwat Hee singkat.
Kedua orang itu bersembunyi sampai bulan tinggi di atas.
Tetapi apa yang dinantikan belum juga datang, perlahan
lahan hatinya mulai gelisah.
Mereka masing masing berpikir: “Sudah larut malam
begini belum juga ada yang datang mungkin tak ada yang
datang.” Mereka terpikir demikian tapi enggan untuk
mengatakannya.

251
Kembali beberapa saat sudah berlalu.
“Kita turun ke bawah saja mungkin mereka berada di
sana.” kata Gwat Hee.
“Baik biarlah aku turun terlebih dahulu.” jawab Tjiu Piau.
Perlahan dan tak menimbulkan suara Tjiu Piau turun
menginjak bumi Bulan yang bulat dan terang
menggambarkan tubuhnya menjadi bayangan hitam. Baru
ia akan dongak untuk bicara dengan Gwat Hee telinganya
telah mendengar suara tertawa dingin. Tjiu Piau menjadi
terkejut kepalanya segera menoleh ke arah datangnya
suara itu. Di atas batu besar tadi terlihat sesosok tubuh
orang yang tengah duduk dengan senangnya. Sesudah
tertawa dingin orang itu kembali bicara dengan suara
mengejek. “Kiranya bersembunyi di atas pohon, kau tahu
aku sudah lama menantikan dan membuang waktu.”
Dengan heran Tjiu Piau mengawasi orang itu, ia berpikir:
“Bilamana orang itu sampai di situ, sedangkan jalan untuk
mencapai batu itu hanya ada satu yakni jalan yang di
bawah pohon Meski seekor kelinci yang bagaimana gesitpun
akan terlihat dengan tegas dari atas pohon apalagi orang.
Tetapi sekian lama aku menantikan di atas pohon tak
melihat sama sekali akan adanya bayangan orang.
Mungkinkah orang ini mengambil jalan dari belakang batu?
Tetapi di belakang batu itu ialah satu tebing yang curam
sekali, dapatkah kiranya didaki?” Memikir sampai di sini
batin Tjiu Piau menjadi tak habis mengerti “kau siapa.”
tanya Tjiu Piau dengan kasar.
Orang itu tidak menjawab melainkan berdiri di atas batu.
Dalam penerangan sinar bulan yang terang tertampak tegas
orang itu. Tubuhnya kurus dan jangkung, anggota tubuhnya
sangat lincah, sedangkan mukanya penuh dengan
kernyutan, usianya kurang lebih tiga puluhan. Matanya
kedap kedip bersinar, dalam gelap mata itu tak ubahnya
seperti mata macan. Tiba tiba tubuhnya maju dua tindak
dan secepat kilat melayang seperti anak panah, tangannya
memegang semacam senjata yang aneh serta langsung
menyerang, Tjiu Piau . Hal ini di luar perkiraan siapapun.

252
Dengan berseru kaget Tjiu Piau mengangkat kakinya
menyerang pergelangan lawan. Ilmu kakinya yang lihai ini
dengan enaknya menurut perintah tak ubahnya seperti
menggunakan lengan saja. Serangannya demikian keras
dan tepat, hampir mengenai lengan orang itu. Heran sekali!
Orang itu tidak kelihatan mengegos atau berkelit hanya
lengannya kelihatan mengedat senjata dan sinar emas
memenuhi mata Tjiu Piau, kiranya adalah sebuah kaitan
yang mengkilap. Kaitan itu hampir mengikat dan menggaet
kaki Tjiu Piau. Tetapi Tjiu Piau dengan cepat dapat
menyetop kakinya untuk ditarik pulang.
Begitu kaki kanannya turun maka kaki kirinya terangkat
naik. Kaki ini menyerang sendi lengan bawah dari orang itu
langsung menuju Tjie-tjek hiat. Meskipun senjata orang itu
demikian panjang dan tak dapat meraba dari mana
serangan datang maka bahunya diangkat untuk menyambut
serangan Tjiu Piau. Entah dari mana terdapat pula sebuah
kaitan dari bawah bahunya. Kaki Tjiu Piau menyerang
dengan tangan dahsyat, misalkan kena tergaet kaitan
tersebut sama dengan mencari penyakit sendiri. Maka buru
buru dihentikan serangannya di atas udara secepat kilat
kakinya ditarik kembali sambil mundur dua langkah.
Kedua kaki ini dapat menyerang dengan cepat dan ganas
serta dapat ditarik kembali dari udara dengan cepatnya
membuat orang itu berseru mengeluarkan pujaan.
“Sungguh semacam ilmu yang lihay sekali!” ia berteriak
sekali lagi;
“Kini kau lihat permainanku!”
Berbareng dengan hilangnya suara seruan itu senjatanya
aneh sudah ke luar pula menjambar kerah Tjiu Piau.
Padahal Tjiu Piau sudah mundur sejauh dua langkah,
jaraknya dengan orang itu kurang lebih sejauh satu
tumbak. Tetapi sekonyong konyong semacam sinar kuning
seperti emas stdah berada di depan mata. Kekagetan Tjiu
Piau tidak terkatakan tubuhnya buru buru menggelinding
untuk menjauhi diri. Sambil berbaring di atas tanah Tjiu
Piau dapat melihat senjata orang itu dengan tegas, kiranya

253
senjata itu terbuat dari seutas tambang yang mempunyai
kaitan di tiap ujungnya. Begitu melihat senjata itu Tjiu Piau
menjadi girang. Orang ini kalau bukan saudara Tjiu siapa
lagi adanya. Baru saja mulutnya akan berkaok, tapi ia tidak
diberi kesempatan sama sekali karena orang itu begini
menarik tambangnya segera mengebutnya pergi. tambang
itu berputar di atas udara dengan mengeluarkan suara –
menderu deru dan langsung menyerang kepada Tjiu Piau.
Kecepatan sekali ini tak dapeit dikatakan tanpa gugup lagi
Tjiu Piau meraup batu batu yang terdapat di situ dan
dihajarnya kaitan itu. Walaupun tenaga lengannya, belum
pulih seperti semula. Tenaga itu, cukup besar…
Trang terdengar suara beradunya batu dan kaitan itu,
sedangkan kajtan itu sendiri dibikin terpental sejauh
beberapa kaki. Bersamaan mana tubuh Tjiu Piau sekalian
mencelat bangun mendekati orang itu. “Kau bukankah…”
Baru saja suaranya ke luar sebagian segera mulutnya
tertutup lagi. Kiranya begitu dekat dengan orang itu. Tjiu
Piau segera melihat wajah orang itu dengan terang. Orang
itu hitam legam, selebar mukanya penuh dengan kernyutan
yang menandakan ketuaannya. Sama sekali tidak
merupakan seorang yang baru berumur dua puluh tahun!
Lebih-lebih wajahnya yang demikian dingin itu
membangkitkan rasa curiga orang. Tak terasa lagi kata kata
“saudara Tju” tertelan lagi ke dalam mulutnya.
“Aku ya aku,” jawabnya dingin. “Kau lihat.” Tiba-tiba
tambangnya yang berkaitan itu menyerang kembali ke arah
Tjiu Piau. Tjiu Piau menyambut setiap serangan. kembali
serangan kilat dari kaitan itu lewat di tubuh Tjiu Piau, ia
mengegos dengan cepat. Dalam perkiraan Tjiu Piau
kelitannya ini demikian sempurna, siapa tahu sekali ini ia
masuk perangkap. Tidak tahunya begitu kaitan emas ini
mendekati Tjiu Piau maka tangannya tiba tiba ditarik
sehingga ilmunya berubah mengeluarkan jurus yang aneh.
Tambang itu kena ditarik kembali sambil melingkar-lingkar
merupakan bulatan. Kecepatan dari pulang perginya
tambang ini sungguh luar biasa. Hanya beberapa kali
berputar, maka tubuh Tjiu Piau kena diringkus dengan

254
eratnya. Orang itu mengiringkan hasilnya itu dengan suara
ketawa yang gembira. Tjiu Piau masih tetap mengawasi
orang itu dengan penuh pertanyaan. Kalau dilihat
senjatanya serta gerak geriknya orang ini adalah saudara
dari keluarga Tju Tetapi kalau dilihat akan usianya agak
lebih tua sepuluh tahun sedangkan wajahnya kelihatan
demikian dingin dan beku. Tjiu Piau hanya berpikir saja
sama sekali tidak menghiraukan akan tambang yang
membelit tubuhnya. Malahan ia masih sempat bertanya:
“Kau sebenarnya siapa?”
“He he he ” orang itu ketawa.
“Aku sudah berhasil menangkapmu seharusnya akulah
yang bertanya. Kau bermaksud apa pada malam buta
datang ke sini? lekas bilang!”
“Aku datang dengan sekalian orang” jawab Tjiu Piau.
Orang itu mengeratkan tambangnya sambil membentak:
“Sekalian dengan siapa!” Pikir Tjiu Piau lebih baik berlaku
hati hati, maka sengaja ia tidak menjawab, sebaliknya ia
berkata:
“Kau lepas dulu tambang ini!”
“Aku dapat melepaskan, pokoknya kau harus
menerangkan siapa kau ini? Apa maksudmu datang kesini?”
Tjiu Piau merasa dongkol juga maka ia berpikir : “Orang ini
terlalu kurang ajar sekali, kiranya aku sudah terjatuh di
dalam kekuasaannya. Hem, masih terlalu pagi. Kalau tidak
diajar adat agaknya tidak puas”
Tubuhnya tetap tidak bergerak dan kakinya sudah siap
melakukan serangan. Tiba-tiba ia membentak: “Lepas
segera!” Menyusut kakinya terangkat menerbangkan dua
butir batu.
Batu itu demikian dahsyat dan tepat menghantam kedua
mata orang itu. Orang itu.. . tidak mengira akan mendapat
serangan yang demikian hebat dan mendadak. Buru-buru
Kepalanya diegoskan. Sedangkan Tjiu Piau mengirimkan

255
lagi dua butir batu ke arah dada orang. Orang itu terpaksa
berjungkir ke belakang sejauh satu tumbak lebih. Dengan
cara ini ia berhasil menghindarkan batu itu. Gerakannya
sungguh lincah sekali. Tapi dengan berbuat begitu
tangannya yang memegang tambang itu terpaksa harus
dilepaskan. Sewaktu ia sudah berdiri dari jungkir – balik.
Tjiu Piau sudah berhasil melepaskan dirinya dari belengguan
tambang itu dan senjata itu dipeganginya sambil diamat
amati.
Melihat senjatanya kena dirampas orang itu menjadi
nekad, dengan mati matian diserangnya Tjiu Piau untuk
merampas kembali senjatanya. Entah kapan ia sudah
mengeluarkan dua buah kaitan, tiap tangannya memegang
sebuah, seperti angin puyuh ia menyerang sambil berteriak
teriak: “He! Kau harus tahu tiap tiap benda ada tuannya,
lekas kau kembalikan benda itu kepadaku!”
Tjiu Piau mengawasi tambang itu dengan teliti. Ia
mengenangkan kata kata dari ibunya bahwa tambang dari
Tju Siok siok ini panjangnya ada tiga tumbak terbuat dari
benang emas dan seutas tali besi yang sudah diolah secara
baik sekali dipilin menjadi satu. Sambil berpikir matanyatetap
mengawasi tambang itu tak henti hentinya. Ahh
senjaTa ini memang kepunyaan Tju Siok siok! Kalau orang
itu mudaan sedikit saja pasti ia sudah memanggil Tju
Heng.tee dan sudah menerangkan dirinya ini siapa. Tapi
sekarang ia tidak dapat meraba raba siapa gerangan orang
ini. Waktu ia akan bicara tiba tiba mendengar suara dari
Ong Gwat Hee yang demikian nyaring di atas kepalanya.
“Piaw Soe ko jangan kembalikan kepada nya” Habis bicara
tubuhnya melayang turun, seperti daun kering, bajunya
melambai-lambaikan kena tiupan angin halus. Sorotan
rembulan yang terang dan halus ini membuat wajah Gwat
Hee tak ubahnya seperti bidadari turun dari kayangan.
Orang itu mula-mula merasa kaget tetapi akhirnya tenang
kembali, dengan dingin ditatapnya wajah Gwat Hee.
“Kiranya masih mempunyai pembantu ! Masib ada
berapa, ayo ke luar semuanya.” tanyanya dengan sengit.

256
“Kau jangan kuatir, tak ada lagi. Kau minta kembali
tambangmu ini, boleh saja. Asalkan mau melulusi
permintaanku.” kata Gwat Hee dengan tersenyum. “Apa
permintaanmu?” “Aku mempunyai tiga macam permintaan
yang harus kau jawab dengan sejujur jujurnya.” Orang itu
sudah mulai ingin bicara tetapi kena didahului Gwat Hee :
“Kami sudah pasti akan menanyamu, di balik itu kalau kau
ingin bertanya kepada kami silahkan kau ajukan tiga
pertanyaan. Pertanyaan mu itu dengan sendirinya akan
kami jawab dengan ikhlas dan jujur,”
“Begitupun baik. pokoknya kembalikan dulu tambangku!”
“Laki laki bicara tak mungkin menarik lagi kata katanya!”
seru Tjiu Piau dengan gagah. Sesudah itu tambang orang
segera dikembalikannya. Orang itu sudah menerima
tambangnya, dengan dingin kembali berkata. “Tanyalah
lekas.”
“Yang pertama. Tambang ini siapa tuannya?” tanya Gwat
Hee.
“Pemiliknya kini berada di puncak Thian Tou Hong!”
“Yang kedua. Pemilik dari tambang ini, apakah menurut
perintah dari ibunya datang ke sini menunggu orang?”
“Ya. menunggu tiga orang.”
“Yang ketiga… Piau Soe ko coba kau baca sajakmu itu.”
Tjiu Piau baru ingin membacakan sajaknya itu, tiba tiba
ia ingat sajaknya itu bukan yang pertama. Sedangkan yang
pertama seharusnya Ong Djie Hai yang membacakan Pada
saat inilah terdengar orang membaca sajak. Tapi suara itu
adalah suara anak kecil.
Orang yang membacakan sajak itu walaupun anak kecil
tetapi suaranya dapat terdengar dengan tegas. Sajak itu
berbunyi:
“Peristiwa Oey San membawa dendam bagai lautan!”
Hal ini bukan saja membuat Tjiu Piau dan Gwat Hee
berdiri bengong, sedangkan orang-orang yang tidak dikenal

257
itupun agaknya menjadi terkejut. Ketiga orang itu
memalingkan kepalanya ke arah suara itu. Terlihatlah di
jalan ke gunung itu mendatang seorang anak kecil yang
berusia delapan sembilan tahun. Anak ini berwajah
demikian gagah dan aksi. Matanya yang besar tak henti
hentinya larak lirik dengan mungil membayangkan wajah
yang cerdik dan cekatan.
Jilid 9
Begitu ia sampai dihadapinya tiga orang itu dengan tak
gentar. Anak itu sengaja melewati tiga orang itu sambil
membacakan lagi sajaknya: “Peristiwa Oey San membawa
dendam bagai lautan.” Dadanya ditonjolkan ke muka
dengan gagah sedangkan matanya berputar-putar menyapu
wajah tiga orang itu bergiliran seolah olah menantikan
gerakan dari mereka.
Tanpa terasa mata Gwat Hee mengawasi Tjiu Piau
sedangkan orang yang tidak di kenal itupun mengawasi pula
kepada TjiuPiau.
Terlihat Tjiu Piau membuka mulutnya sesudah berpikir
sejenak.
“Delapan belas tahun hidup menanggung penasaran.”
Orang yang tidak dikenal itu dengan tergesa gesa
melanjutkan sajak itu :
“Putera puteri membawa pedang mendaki Oey San ”
Suaranya itu demikian bersemangat penuh aliran darah
mendidih, lain sekali dengan wajahnya tadi yang demikian
adem. Air matanya tak dapat ditahan lagi mengalir dikedua
pipinya. Orang itu tidak menghapus air matanya, hanya
bengong sambil mengawasi pada Gwat Hee. Pada saat ini.
Gwat Hee merasa orang ini usianya berubah dari tigapuluh
tahun menjadi pemuda yang berusia serabilanbelas tahun.
Dalam wajahnya yang ketua tuaan terlihat sifat kekanak
kanakannya. Saat ini Gwat Hee pun merasakan
pandangannya menjadi guram sebab air matanya sudah

258
menggenangi kedua kelopak matanya. Lekas lekas ditahan
perasaan hatinya dan ia melanjutkan sajak itu
“Tamu menanti lama Tiong Tjiu bulan delapan.”
Sehabis membacakan sajak itu, ketiga orang itu menjadi
diam dengan penuh pertanyaan. Kenapa Toa ko mereka
tidak datang, sebaliknya seorang bocah yang mewakilinya.
Tapi saat ini mereka tak sempat untuk mengatahuinya
sebab masing masing perasaannya dipenuhi kegirangan dan
kekangenan. Dalam hati Gwat Hee sudah memastikan
orang yane berusia tiga puluh tahun ini adalah saudara Tju
yang berusia sembilan belas, tahun. Sebaliknya Tjiu Piau
masih tetap curiga. Ia tak habis pikir saudara Tju ini kenapa
sudah berusia dtmikian tua. Sebaliknya orang itu hanya
menjadi lega, sebab orang yang akan dicarinya ini tak salah
lagi adalah dua orang ini. Masing masing pihak mempunyai
pertanyaan di dalam hati tetapi tak tahu harus bagaimana
membuka mulut. Akhirnya mereka kena didahului bocah
kecil itu. Anak itu merogo sakunya mengeluarkan
segulungan benda, kiranya adalah secarik kain, anak itu
membeberkannya samoil berkata. “Lekas keluarkan sajak
masing musing untuk diakurkan.” Suaranya sangat keren
dan sangat bersemangat. Gwat Hee begitu melihat segera
mengenali benda itu adalah kepunyaan kakaknya, tak
terasa lagi ia berteriak kaget, ia loncat sambil menarik
lengan anak itu untuk ditanya. Anak itu lincah bukan buatan
begitu tangan Gwat Hee datang, ia sudah berada di
belakang tubuh Tjiu Piau tanpa diketahui orang sehingga
Gwat Hee menangkap angin Sebaliknya bocah itu
mengulurkan tangan kepada Tiiu Piau:
“Lekas ke luarkan kain sajakmu!”
Terhadap bocah yang nakal dan wajar ini Tjiu Piau harus
mengalah. Dikeluarkannya kain yang bertulisan sajak itu
untuk diberikan kepada bocah itu.Bocah itu mengulurkan
sebelah tangannya menjambret. Kemudian bergilir ke orang
ketiga dan ke empat mengambil kain sajak itu. Sesudah itu
ke semua digelarnya di tanah untuk dicocokkan. Dilihatnya
dengan cermat, lantas disambung sambung. Sampai satu

259
dengan lain potongan itu menempel menjadi satu. Ia baru
bangun dengan perasaan puas. Dengan lagaknya yang
kocak sekali lagi ditatapinya wajah orang dengan bergiliran.
“Tak salah lagi, kalian adalah adik adiknya dia, aku dapat
mengantar kalian untuk menemuinya!” Habis berkata
segera ia mengangkat kaki, membuka jalan. Mulutnya
masih tak henti hentinya bicara: “Lekas kalian susul aku,
kalau tak dapat mencandaknya, aku tak mau meladeni lagi
kalian untuk menjumpai dia!” Lagaknya sungguh banyak.
Tjiu Piau bertiga sebenarnya mempunyai banyak katakata
yang akan diceritakan dan ditanyakan. Tetapi untuk
sementara terpaksa ditahan dulu. Enam pasang mata saling
berpandangan, menantikan yang lain untuk memutuskan
dan mengambil ketetapan. Gwat Hee sangat memikiri
kakaknya, dialah yang mengambil keputusan .terlebih
dahulu dan berkata dengan perlahan: “Mari kita pergi!”
Kakinya sudah melangkah dengan cepat. Dua orang lainnya
menyusul dari belakang dengan kencang.
Bocah itu dari atas turun ke bawah dengan cepat. Ia
tidak mengambil jalanan gunung yang biasa, sebaliknya
belok kekiri berputar beberapa kali, menuju tepi tebing
yang curam. Kakinya terus melangkah ke ujung tebing
tubuhnya dirapatkan pada tebing itu dengan erat, menyusul
tubuhnya merosot turun. Dalam sekejap mata tubuhnya
sudah tak kelihatan lagi.
Ketiga orang itu dengan cepat sudah sampai ke ujung
tebing. Tebing itu seolah olah buatan orangjuius ke bawah
dengan dasarnya yang hitam gelap tak kelihatan dengan
nyata. Tjiu Piau dan Gwat Hee merasa kaget juga,
sebaliknya wajah orang itu tenang saja seolah olah tebing
itu tidak dipandang sebelah mata.
Terang terang bocah itu terlihat merosot kebawah,
kenapa kini tak tampak.
“Jangan jangan anak itu jatuh ke bawah! kata Gwat Hee
berkuatir. Belum suaranya hilang dari pendengaran, bocah
itu menonjolkan kepalanya dari jarak dua tumbak di bawah.

260
“Lekas merosot ke sini!” Kiranya ia berdiam di sebuah
goa.
Tjiu Piau dan Gwat Hee tidak tahu harus bagaimana
turun ke bawah. Tengah mereka bingung, terlihat orarg itu
sudah loncat turun dengan riang sekali. Begitu turun tubuh
orang itu sudah duduk dengan tenang di sebuah pohon
Siong yang berada di sebelah bawah goa. Lengannya
mengeluarkan tambang dan dilontarkan ke atas sebuah
batu. Dengan kokoh kaitan itu segera mencantel keras di
sebuah batu karang.
“Kalian peganglah tambang ini dan segera turun!”
Tjiu Piau dengan berpegang pada tambang itu segera
merosot turun. Dilihatnya di sebelah atas pohon terdapat
dua mulut goa yang gelap dan hitam. Ia mencelat masuk
terlebih dahulu dari yang lain ke dalam goa tersebut.
Selanjutnya Gwat Hee mengikuti dari belakang Orang itu
memegang tambangnya dengan sekali kedutan tubuhnya
sudah naik ke atas dan masuk ke dalam goa. Di dalam goa
itu sangat gelap sekali, sampaipun lima jeriji sendiri tidak
dapat di lihat dengan tegas. Berapa dalamnya goa ini tidak
dapat diketahui dengan pasti. Sedangkan bocah itu entah
sudah lari ke mana, “Koko. Koko!” teriak Gwat Hee dengan
keras. Dari dalam kembali terdengar gema suara “Koko,
koko!”
Suara balikan itu agaknya dari tempat jauh datangnya,
nyatanya bahwa goa ini dalamnya bukan buatan. Tjiu Piau
dan Gwat Hee ragu ragu tak berani masuk ke dalam.
Sedangkan orang itu selangkah demi selangkah
menindakkan kakinya ke dalam.
Agaknya ia dapat melihat dengan tegas di tempat gelap.
Sambil berjalan orang itu sambil bicara.
“Marilah! Jalanan ini tidak sukar untuk dilalui … di sini
harus menundukkan kepala sebab goa ini sangat rendah . .
. ah, di sini ada cadas gunung yang tajam, hati hatilah
sedikit . . . ah, ada meja dan kursi dari batu. Hei Siau Tee
tee, kiranya kau berada di sini! Kenapa kau tak

261
mengeluarkan sepatah katapun? . . .”
Dua orang yang berada di luar mendengar suara ini,
mengetahui bahwa orang tersebut sudah menemukan
bocah pembawa jalan itu. Saat mana merekapun sudah
dapat melihat bagaimana bentuknya goa ini. Tapi mereka
masih tetap menurut petunjuk yang diberikan orang itu
dengan hati hati sekali masuk ke dalam. Sesudah lama juga
berkutet didalam liang yang gelap, perlahan – lahan dapat
melihat keadaan dalam goa. Kiranya goa ini adalah goa
alam, tetapi di sini terdapat kursi meja dari batu,
menandakan goa ini ada penghuninya. Sesudah berputar
dan melewatkan beberapa tikungan, akhirnya mereka
melihat bocah itu tengah duduk bersila sambil melatih ilmu
napas. Orang itupun berada di situ sedang menantikan
mereka.
“Kakakku berada di mana?” tanya Gwat Hee tak sabar.
Bocah itu hanya menunjuk dengan jarinya ke dalam.
“Dari sini masuk ke dalam, melewati sembilan tikungan
dan memutar sebanyak delapan belas kali segera dapat
bertemu,” Gwat Hee bertiga setengah percaya setengah
tidak terhadap bocah yang nakal ini. Tapi tak ada daya lain
dari pada harus mencoba. Baru mereka berjalan beberapa
tindak, kembali bocah itu memanggil mereka. “Hei, sedikit
lagi aku lupa memesan kalian. Waktu kalian melihat dia
sekali kali jangan mengajak bicara. Esok magrib ilmu
silatnya baru selesai, saat itu kalian boleh bicara dengan dia
sepuas puasnya.”
Keadaan goa yang terletak tak seberapa jauh dari mulut
goa keluar masih mendapat sinar rembulan sehingga masih
dapat membedakan barang. Tatkala masuk kembali ke
dalam segala sesuatu tidak terlihat lagi
Gwat Hee ingin menyalakan api, tapi orang itu sudah
berkata terlebih dahulu.
“Lebih baik hati hati dan jangan menyalakan api Ikutlah
kepadaku.”

262
Orang ini dimalam gelap matanya seperti mata harimau
saja, karena itu ia dapat berjalan dengan sekehendak
hatinya. Mereka sudah melewatkan sembilan tikungan dan
tujuh belas putaran, sebelum mereka melewatkan putaran
yang kedelapan belas sampailah mereka pada jalan buntu
karena putaran itu tak ada lagi. Mata orang ini berkilat-kilat
melirik ke sana ke sini tanpa melihat orang yang dicari.
Gwat Hee menyalakan api, terlihat satu ruangan yang lebar
kosong melompong. Mereka merasa heran dan takut
dipermainkan orang. Tak terasa lagi mereka menahan
napas untuk mencurahkan pikirannya guna mendengar ada
tidaknya suara orang bernapas.Tiba-tiba Gwat Hee berseru
perlahan :
“Dengar ! Ada suara orang bernapas.”
“Bukan seorang tapi dua orang.” sambung orang itu.
Sesudah Gwat Hee mendengarkan lagi dengan penuh
perhatian benar saja terdengar lagi pernapasan dari dua
orang. Satu kuat satu lemah, tapi berbareng
dihembuskannya dan bersama pula dihirupnya. Orang itu
memeriksa lagi keadaan tempat. Dalam sekejap saja
agaknya sudah ada yang didapat.
“Ada, ada,” katanya kegirangan. Tubuhnya mencelat ke
muka. sampai di dinding yang penghabisan itu.
“Liangnya masuk berada di sini!”
Ketiga orang susul menyusulnya masuk ke mulut jalan,
suatu tempat yang tidak beberapa besar. Di sana terlihat
seseorang yang tengah duduk, kedua matanya
dimeramkan, diam tak bergerak gerak seperti patung di
musium.
“Toa ko!” teriak Gwat Hee dengan penuh perasaan.
Sedangkan tubuhnya akan menubruk maju. Tjiu Piau buruburu
menghadang sambil menarik lengannya.
“Apakah kau lupa dengan pesan anak itu!”
Gwat Hee menghentikan kaki. Sedang Djie Hai masih
tetap saja duduk tak bergerak.

263
“Inikah Toa ko?” tanya orang tua itu kepada Gwat Hee.
Gwat Hee memanggut membenarkan. Terlihat ia maju ke
muka dua tindak. Dengan hormat sekali ia membungkukkan
badan memberikan hormatnya kepada Djie Hai.
“Siau tee Tju Sie Hong memberikan hormat kepada Toako.”
Tapi Djie Hai tetap tidak bergerak, ia tidak meladeni dan
menghiraukan, terus saja tekun dengan ilmunya.Orang ini
mengaku sebagai putera dari Tju Hong dan membahasakan
diri Siau-tee kepada Djie Hai. Ong Gwat Hee dan Tjiu Piau
men jadi kaget, mereka mengawasi Tju Sie Hong dengan
mendelong. Dalam keadaan gelap, tak terlihat tegas wajah
dari Tju Sie Hong, sekali lagi seolah-olah mukanya itu
kembali menjadi muda belia. Dalam pada itu Gwat Hee
berpikir:
“Kasihan sekali kakak Tju ini, entah hal apa yang
diderita. Sehingga menjadikan ia terlihat tua sepuluh tahun.
Sebaliknya kakak tengah mempelajari ilmu yang kukuay,
sehingga tidak boleh diusik. Lebih baik kami bertiga
menceritakan dulu riwayat masing-masing. Sesudah
perhatiannya tetap didengarnya sekali lagi jalan napas dari
Ong Djie Hai. Ia tahu kakaknya bernapas dengan teratur,
menandakan tak berbahaya dan tak perlu dikuatirkan.
“Kakak Tju. Tjiu Soe ko kita jangan mengganggu Toa ko,
lebih baik kita bicara di luar saja. Dengan ini kita dapat
beristirahat dan menjiga Toa ko bukan?”
Tju Sie Hong melangkah mundur dengan perasaan kaget.
“Bukankah barusan kita mendengar suara napas dua
orang? Seorang lagi berada di mana? Kita harus mencari
dulu!”
“Tak perlu dicari lagi, aku sudah mendengarnya dengan
nyata.” kata Gwat Hee sambil tersenvum.
“Di mana?” tanya Tjiu Piau dengan cepat. Gwat Hee
menunjuk Djie Hai: “Semua berada di tubuhnya.”
Tju Sie Hong dan Tjiu Piau memasang telinganya baik

264
baik benar saja pernapasan satu kuat satu lemah ke luar
dari tubuh Djie, mereka menjadi heran sekali Dua orang ini
tidak mengerti apa yans tengah diperbuat Djie Hai. Tapi
melihat Djie Hai demikian tekun melatih din dan tidak
menghiraukan orang lain terpaksa mereka mundur ke luar
untuk tidak mengganggu. Kerinduan Tju Sie Hong selama
delapan belas tahun dan kerinduan Gwat Hee dan Tjiu Piau
selama beberapa tahun tak dapat dituturkan kepada Djie
Hai, mereka depat bertemu tapi tak dapat berkata kata.
Sesudah mundur mereka duduk dengan tenang di
ruangan besar. Mereka duduk saling pandang entah apa
yangharus dikatakan, dalam waktu sesingkat itu tak dapat
dikeluarkan. Sesudah membungkem lama sekali Tjiu Piau
membuka mulutnya:
“Sie Hong sahtee, tadi di atas puncak, kenapa begitu
melihat aku lantas menyerang? Barangkali…”
“Aku sendirian saja. tentu saja takut kena diakali orang
Dan itu aku ingin mencoba untuk meraba ilmu dari Ong
pepe dan Tjiu pepe.” dengan jengah ia melanjutkan lagi.
“Malahan aku ingin mendesak, agar djiko mengeluarkan
mutiara emas.”
“Dari atas pohon aku sudah meiihat senjata sahko itu
dan aku sudah menebaknya siapa sahko ini. Tapi begitu
melihat wajah sahko yang agak tua aku tak berani
sembarang memperkenalkan diri. Sahko dalam tahun tahun
lewat penghidupanmu bagaimana?”
Pertanyaan Gwat Hee ini membangkitkan sesuatu yang
aneh pada Tju Sie Hong. Terlihat ia mundur maju sambil
berkata :
“Ah, betul, tempat ini. Ya, tempat ini betul.”
Ia memeriksa terus keadaan goa, tangannya mengusap
usap pembaringan batu.
“Tak salah, di sini terletak sebuah pembaringan batu.”
Ia jalan ke lebar dan panjangnya goa.

265
“Tak salah ada duapuluh langkah persegi luasnya.”
Tiba tiba ia menarik napas dengan sedih.
” ah, tempat ini kucari setahun lama nya, tak kunyana di
sini adanya.”
Tjiu Piau dan Gwat Hee mendengarkan kata kata yang
tidak tentu juntrungannya itu dengan heran. Akhirnya Gwat
Hee bertanya begitu kata kata Sie Hong berhenti. “Sahko,
apakah kau sudah lama mencari tempat ini?”
“Benar, aku mendaki Oey San sudah lima tabun
lamanya. Dalam waktu lima tahun ini aku kenyang
menikmati segala penderitaan, menerima angin, embun,
halimun, hujan. Terbakar sinar matahari yang panas.
Karena itu aku menjadi lebih tua sepuluh tahun. Sewaktuwaktu
aku mengaca tanpa mengenal lagi wajahku, wajah ini
biar bagaimana lain sekali dengan wajah lima tahun yang
lalu.”
“Ya, lima tahun yang lalu kau baru berusia empat lima
belas tahun? Waktu itu kau menemukan dan mengalami hal
apa?” tanya Tjiu Piau.
Belum bicara Sie Hong sudah mengucurkan air mata
terlebih dahulu.
“Saat itu aku berusia empat belas tahun, sedikit banyak
aku sudah mempunyai ilmu silat. Juga sudah bisa
mempelajari ilmu silat warisan. Tiba tiba ibu menceritakan
hal delapan belas tahun yang lalu kisah ayah dan mendesak
aku untuk segera datang ke Oey San.”
“Oh. kami belum menanyakan kesehatan dari Tjiu Siokbo.
entah bagaimana keadaan beliau sekarang?” sela Gwat
Hee.
Tju Sie Hong tidak menjawab pertanyaan Gwat Hee. Ia
terus saja menuturkan kisahnya sambil menundukkan
kepalanya.
“Saat itu kami berada di gurun pasir. Jarak dengan Oey
San jauh sekali. Ibu mendesak untuk segera berangkat.

266
Katanya, bahwa ia tidak percaya ayahku bisa mati di dalam
jurang. Sebab ayah mempunyai ilmu seperti burung walet
katanya. Kalau sampai tak dapat mencari tulangnya beliau
akan mati dengan tak meram. Terkecuali itu beliau sering
terbangun dari tidurnya di malam buta. Katanya merasakan
ayah tidak mati hanya terletak di bawah jurang tak dapat
manjat ke luar. Beliau selalu berkata dan berpikir begitu .
sehingga membuatku percaya penuh dan tak ragu ragu.
Ibupun berkata, tiga tahun lamanya tak dapat tidur dengan
nyenyak. Setiap kali meramkan matanya pasti melihat ayah
seorang diri mundar mandir di bawah jurang. Karenanya ibu
menitahkan biar bagaimana aku harus mendapatkan ayah
kembali. Kalau tak dicari, setiap saat hatinya tak dapat
tenang. . . . Akhirnya kami sampai di Oey San ini. Tetapi
ibuku tua dan tak kuat, baru mendaki sampai setengah
gunung, tiba tiba jatuh tergelincir ke jurang yang dalam.”
Sampai di tempat yang mengerikan ini, Tju Sie Hong
masih dapat menuturkan dengan tenang. Agaknya hal itu
tidak bersangkutan dengan dirinya. Tapi kisah itu membuat
Tjiu Tiau dan Gwat Hee tak terasa lagi menjerit kaget.
Saat ini, Ong Djie Hai yang berada di dalam,
perasaannya menjadi tidak keruan karena mendengar
perkataan Tju Sie Hong Hampir-hampir ia mengeluarkan
teriakan. Akhirnya dengan kekuatan yang luar biasa
perasaannya itu dapat dikuasai. Kembali ia mengheningkan
pikirannya. Tetapi telinganya ini tak dapat untuk tak
mendengar sama sekali, entah bagaimana telinga ini mau
mendengar terus penuturan Tju Sie Hong. Kembali
terdengar suara Tju Sie Hong untuk menuturkan kisahnya
yang lebih dapat menggoncangkan perasaan orang.
Enam hari sebelumnya Ong Djie Hai sudah berada di
dalam goa ini berlatih semacam ilmu, apa yarg tengah
dipelajarinya? Kiranya tak lain dan tak bukan ialah Ilmu Im
Yang Kang yang terkenal di didunia.
Sejak Ong Djie Hai berpisahsn dengan adik nya dan Tjiu
Piau di Bu Beng To, segera mencarinya ke sekeliling.
Lukanya di kaki tidak berapa hebat, sesudah dirawat

267
beberapa hari luka itupun menjadi sembuh. Sedangkan
mencari adiknya dan Tjiu Piau mengalami kegagalan, dari
itu untuk melewati harinya ia memperdalam ilmunya yang
sudah ada. Sementara itu pertemuan di Oey San sudah
semakin dekat, hatinya menjadi gelisah, tak banyak pikir
lagi Oey San segera didaki. Dengan kebetulan sekali ia
bertemu dengan seorang nenek nenek pemetik daun obat
obatan. Djie Hai dicobanya oleh nenek nenek itu beberapa
jurus, sesudah itu tanpa sebab pula disuruhnya mempelajari
Im Yang Kang. Saat ini Djie Hai belum boleh membuka
mulutnya, dengan sendirinya ia tak dapat menuturkan
kisahnya selama berpisah kepada saudara saudaranya itu,
pembaca tak perlu kuatir kisah ini pasti dapat diketahui
belakangan.
Adapun ilmu Im Yang Kang ini sangat aneh adanya.
Waktu mempelajarinya harus ditempat yang sunyi, segala
pikiran lain yang terdapat di dalam kalbu harus di ke
sampingkan segenap pikirsn dicurahkan melulu untuk
mengatur dan mengendalikan pernapasan Im (negatif) dan
Yang (positif) sekehendak hati. Ilmu ini dapat dirampungi
dalam waktu tujuh hari, selanjutnya setiap tahun melatih
diri kembali seperti semula. Sehingga kekuatan itu tambah
terus tak putus putusnya. Sebaliknya waktu berlatih,
apabila pikiran bercabang atau bicara maupun berdiri, dapat
mengakibatkan yang dipelajari tidak diperoleh pelajaran
yang sudah ada menjadi hilang.
Enam hari yang lalu Ong Djie Hai mendapat kesempatan
baik untuk mempelajari ilmu ini dengan tekun Ketika yang
baik ini tak disia siakan. Di balik itu ia mengingat di
pertemuan di Oey San nanti pasti terjadi pertarungan yang
sangat sengit, kini dapat mempelajari semacam ilmu lagi
bukankah membuat diri bertambah kuat. Tapi selama tujuh
hari itu terdapat hari Tiong Tjiu, ia tak dapat berkumpul
dengan saudara saudaranya. Baiknya nenek nenek itu
sesudah mengajarinya cara dari ilmu itu menyuruh pula
seorang bocah kecil untuk menjaganya. Sebelum Djie Hai
mempelajari ilmu Im Yang Kang, bocah itu sudah dipesan
dulu untuk menggantikannya menemani saudara

268
saudaranya dimalam Tiong Tjiu. Bocah ini nyatanya sangat
cekatan, tidak mengabaikan tugasnya, buktinya saudarasaudaranya
Djie Hai berhasil diajak ke dalam goa. Waktu
Ong Gwat Hee memanggil kakaknya dengan keras, hampir
hampir Djie Hai tak kuasa untuk tidak menjawab. Pikirlah
mereka dua saudara demikian cinta dan menyayangi satu
sama lain, tambahan sudah lama juga tidak bertemu dan
tidak mengetahui hidup matinya. Tiba tiba mendengar suara
orang yang disayangi itu memanggil, siapa yang tidak akan
menjadi girang. Tapi begitu ia ingat akan ilmunya, dengan
cepat ditindasnya perasaan-perasaan dan gangguan itu.
Sehingga ia tetap dapat bersemedi meyakini terus pelajaran
yang baru itu.
Derak kaki Tjiu Piau bertiga didengar Djie Hai dengan
nyata, ia tahu saudara Tju sudah berkumpul.
Kegirangannya meluap, hatinya bergelora penuh kerinduan,
hampir hampir perasaannya ini tak dapat dikendalikan lagi.
lebih-lebih adik-adiknya itu satu satu berkelebatan di depan
matanya Ia ingin berkata kata tapi terlebih dahulu
merasakan tubuhnya menjadi dua bagian. Sebagian
demikian dingin sebagian begitu panas, asal ia membuka
mulut seolah olah tubuhnya itu akan menjadi dua! Ong Djie
Hai tak dapat berbuat lain dari pada mati-matian
memeramkan mata menenangkan pikiran. Akhirnya ia
berhasil menenangkan kegaduhan jiwanya sewaktu ketiga
saudara-saudaranya pergi ke luar goa. Tak kira gangguan
yang tidak disadari kembali datang dari ketiga saudara
saudaranya itu. Yakni mereka di luar menceriterakan hal
ikhwal masing masing, sehingga patah demi patah dari
perkataan mereka meresap ke dalam telinganya, akibatnya
gelombang pikiran menjadi turun naik dengan hebatnya!
Saat ini kembali terdengar penuturan dari Tju Sie Hong.
Hati Djie Hai dapat menenangkan pikiran dengan baik, apa
daya sang telinga itu selalu mendengar terus perkataan dari
Tju Sie Hong. Waktu sampai Tju Sie Hong menuturkan
ibunya jatuh ke dalam jurang. Tjiu Piau dan Gwat Hee
menjadi kaget, tapi Tju Sie Hong tetap tidak menunjukkan
perubahan wajahnya, ia Terus saja menuturkan kisahnya ;

269
“Saat itu aku sebatang kara, kesedihan dan kedukaanku
hanya bumi dan langit yang mengetahui. Dalam keadaan
bagaimana juga aku tak dapat meninggalkan ibuku atau
membiarkannya begitu saja. Dan memberanikan diri,
segera kupergunakan ilmu warisan dari keluarga Tju. Pohon
demi pohon yang terdapat di jurang itu ku gaet dan dengan
hati hati aku menyusuri tebing yang terjal itu turun ke
bawah. Untunglah tebing itu tidak berapa dalam, dalam
waktu yang tidak kuketahui akhirnya aku sampai juga di
tempat di mana ibuku. Beliau sudah memeramkan matanya
untuk selama lamanya” Menutur sampai di sini Tju Sie Hong
berhenti sebentar, dalam keadaan yang sunyi ini terdengar
helahan napas dari Tjiu Piau dan Gwat Hee. Sedang Ong
Djie Hai pun merasakan hatinya deg degan.
Seketika kemudian terdengar pula kelanjutan penuturan
Tju Sie Hong dengan suara parau :
“Saat itu aku sangat duka, lebih lebih melihat mata ibuku
yang tidak meram, beliau meninggal secara penasaran. Aku
berpikir, mungkin beliau tidak menemukan ayahku sampai
saat matinya. Dari itu di samping jenazahnya aku
bersumpah, biar bagaimana harus mendapatkan ayahku
kembali. Kalau tak dapat menemukan seumur hidup aku tak
mau meninggalkan Oey San. Selesai bersumpah, dengan
perlahan-lahan kurapati mata beliau kelopak itu secara
perlahan lahan pula menutupi mata beliau. Jenazahnya itu
tak dapat kubawa ke atas jurang, terpaksa ibuku yang
kucinta itu kumakamkan di dalam jurang itu. Untuk
memberikan baktiku semalam suntuk kugadangi makam
ibuku itu. Pagi mendatang bagaimana baiknya aku tak tahu.
Ketetapan untuk mencari ayah sudah tetap, kalau tidak
demikian ibuku mana dapat tenang berada di alam baqa.
terkecuali itu hatiku mana bisa menjadi tenang Hatiku
semakin lama semakin tetap, keberanianpun bertambahtambah,
segala apa tidak kutakuti. Sebelum naik ke atas
jurang, kuberikan lagi hormatku kepada mendiang ibuku.
Dengan beberapa kali menggaetkan kaitanku dan beberapa
loncatan aku sampai di atas tebing itu dengan selamat.
Sesampainya di atas sekali lagi aku menoleh ke bawah Aku

270
merasakan untuk turun lagi ke bawah itu adalah hal yang
mudah sekali hal ini mungkin aku mendapat banturn dari
arwah ibuku. Ketabahanku semakin menjadi jadi Tiap hari
kujelajah bukit dan jurang-jurang yang terdapat di Oey San
ini guna mencari ayahku. Ah, Oey San demikian besar,
tujuh puluh dua bukit tiga pulun enam goanya. Bagaimana
dan di mana harus aku mencarinya? Sedangkan makanan
kering yang kubawa siang siang sudah habis termakan.
Untuk melewatkan hari memburu dan makan segala daun
daunan Angin dan hujan serta teriknya matahari tidak
kuhiraukan. Tanpa terasa lagi aku menjadi demikian hitam
dan kurus seperti begini dalaum waktu setahun
Dua tahun yang lalu. aku d&tang dan terpekur di puncak
Thian Tou itu dengan tiada tujuan. Tiba tiba mendatang
semacam suara dari dasar jurang yang berada di balik
teping puncak Thian Tou ini. Suara itu ,bukan auman dari
harimau, bukan lolongan serigala, pokoknya segala
binatang binatang buas aku sudah kenal suaranya. Tapi
suara itu seperti suara orang, demikian mengilukan,
sehingga membuat bulu rona berdiri dan membuat hati
menjadi tersayat
Malam iiu bulan demikian bulatnya dan sangat terang,
sedikitpun tidak ada awan yang menutupi sinarnya. juga
tidak terdengar aliran angin barang sedikit. Sungguh sepi,
hening tenang seorang diri. Aku bertiarap di atas batu besar
yang berada di puncak itu, sambil memasang telinga ke
arah jurang yang dalam menanti suara itu kembali. Sekali
ini suara itu membuat bulu badanku berdiri, kiranya suara
itu berbunyi. Kimmmm…aaa. Kim adalah nama kecil dari
ibuku. Aku berpikir sebentar mungkinkah arwah dari ayahku
sudah bertemu dengan arwah ibuku? Selanjutnya pada
malam berikutnya selama tiga hari tiga malam aku tak
dapat tidur, suara itu seolan-o’ah memenuhi tepian
telingaku, putusan sudah kuambil untuk turun ke bawah
guna menyelidiki. Keesokan harinya aku memburu dulu
beberapa kelinci gunung guna dikeringkan, sekadar untuk
bekal ke bawah. Dengan susah payah aku hanya sampai di
tengah jurang, aku beristirahat di sebuah pohon Siong yang

271
besar untuk melewatkan malam, hari kedua baru dapat
mendekat pada jurang yang merupakan lembah itu. Tempat
ini demikian gelap sekali, sinar matahari hanya dapat
menyinari pada tengah hari saja, selanjutnya gelap kembali
aku memernahkan diri di sebuah pohon Siong tua. Tanah
itu demikian hitam dan busuk, sekelilingnya penuh dengan
tengkorak tengkorak dari binatang dan manusia, melihat ini
hatiku menjadi gentar juga sedikit. Entah berapa banyak
orang dari dulu hingga sekarang hilang jiwanya jatuh ke
jurang yang demikian dalam ini. Aku tak berani turun ke
bawah, sedangkan di bawah tiada gerakan apa-apa, dan
tiada tanda tanda dari jejaknya manusia. Senja mendatang,
kedelapan di bawah semakin cepat, aku berpikir untuk
melewatkan malam di atas pohon ini. Tapi baru aku duduk
sejenak lamanya, secara tiba-tiba aku mendengar suara
helahan napas aku yakin inilah suara orang. Saat itu urat
syaraf ku menjadi tegang bercampur takut, tapi dasar
jurang itu sudah menjadi gelap, segala sesuatu tak terlihat
lagi. Malam itu sekejap juga tak berani aku menutup mata.
otakku hanya mengharapkan lekasnya siang. Jurang ini
seperti sebuah sumur yang dalam sekali dongak ke atas
sudah siang melihat ke bawah masih tetap gelap. Sesudah
matahari di atas baru melihat dasar jurang itu, tapi tetap
seperti kemarin, tiada orang tiada gerakan. Aku
memberanikan diri, dari atas pohon aku berteriak panjang,
dengan harapan mendapat jawaban dari bawah. Ah betul
saja suara kaokan ini berhasil memanggil ke luar
seseorang! Jarak antara orang itu dengan aku kira kira
sejauh lima enam tombak, yakni di sebuah batu karang
yang besar. Batu itu sudah beberapa kali pernah kulihat, di
atas batu itu bertumpuk rumput-jumput kering, tidak kira
sekali teriak ini membuat rumput rumput kering itu
bergerak gerak. Dari dalam tumpukan rumput rumput
kering itu keluar sesosok tubuh orang, yang mengenakan
baju terbuat dari rumput yang dianyam, kaki tangannya
kurus seperti benang, rambutnya riap riapan terjuntai ke
tubunnya, sedangkan mukanya demikian pucat tidak
berdarah. Aku tak tahu, orangkah atau setan yang tengah
kuhadapi ini, sehingga aku takut juga. Kutegasi dengan

272
perasaan mantap gerak gerik darinya itu. Nyatanya
matanya dari orang itu sangat sayup sekali, seolah olah
tidak melihat sesuatu, tengah aku ingin bertanya apakah ia
setan atau manusia, tiba tiba tangan kanannya terangkat
memutarkan seutas tambang yang sudah tinggal separuh
dan serupa dengan kepunyaanku, sedangkan ujung
tambangnya yang lain masih berkaitan yang tinggal separu
pula. Orang itu berkata.”
Menuturkan sampai di sini, suara Tju Shie Hong menjadi
parau dan tak terdengar lagi. Tjiu Piau dan Gwat Hee
mengeluarkan sutera kaget yang berbareng:
“Orang itu pasti Siok-siok adanya?”
“Melihat dari romannya, dari tangannya yang memegang
tambang, dari suaranya, tak kuragukan lagi beliau adalah
ayahku. Djie ko, Sie moy, coba kalian pikir saat itu
bagaimana perasaan jiwaku? Aku tak dapat berkata – kata,
sekali loncat aku sampai di samping tubuhnya sambil
berseru: ayah anakmu datang! Berulang kali aku sebutkan
tanpa mendapat jawaban kiranya beliau sudah jatuh
pingsan. Kulihat di samping tubuhnya penuh dengan biji
buah Siong, kulit kayu, dan akar rumput-rumput. Ah
kasihan sekali, sepuluh tahun lebih ayahku melewatkan hari
dengan memakan benda benda itu, sehingga tubuhnya
tersiksa menjadi lemah dan kurus! Saat itu berdiam diri di
sisi tubuhnya menantikan beliau siuman dari pingsannya.
Sesudah beliau sadar, mulutnya tidak henti hentinya
menyebut nyebut nama kecil dari ibuku. Kukatakan, bahwa
aku sudah datang tapi siapa tahu bahwa kata kataku itu
seolah olah tidak di mengerti. Beliau hanya tertawa secara
mengenaskan sekali. Kulihat ia terlampau lemah, sehingga
kesadaran dan kewarasan dan jiwanya agak terganggu.
Hatiku bukan main pilunya, aku menangis dengan sedih
sekali, tidak kira beliau tetap tertawa terus!
Aku tidak berdaya untuk mengangkat beliau naik ke atas.
Sesudah aku berpikir agak lama. keputusan sudah kuambil
yakni, menantikan dahulu kesehatannya pulih baru mencari
daya lain. Selanjutnya setiap hari aku membawa makanan

273
untuk ayahku terkecuali itu akupun membawa kayu ke
bawah. Sesudah kupilih tempat yang agak kering,,
kudirikan sebuah rumah gubuk yang sangat ssederhana
guna tempat tinggal darurat di bawah jurang itu. Setiap
malam kalau tidak memburu binatang binatang selalu aku
mendampingi ayahku. Sewaktu waktu hasil buruanku agak
lumayan, kujual ke kota yang berdekatan, guna membeli
beras dan roti serta baju untuk ayahku. Setahun kembali
lewat, kesehatan dari ayahku berangsur-angsur menjadi
baik, mukanya sudah tidak demikian pucat, tubuhnya tidak
kurus lagi, tapi masih tetap seperti orang hilang ingatan,
sangat susah untuknya bicara, apa yang dikatakan tidak
dapat di mengerti, sewaktu waktu ia menjerit jerit ke atas,
adakalanya berteriak teriak dimalam buta memanggil nama
ibuku. Kadang kadang beliau duduk termenung menung
seharian penuh, agaknya memikiri sesuatu, alhasil
renungannya itu diselesaikan dengan helahan napas yang
menyedihkan, rupanya apa yang, dipikir itu tidak diingat
lagi. Beliau sering sering menatapku setengah harian penuh
tanpa berkata-kata, kujelaskan bahwa aku adalah
puteranya, yang berhasil mencarinya, agaknya,beliau
mengerti juga. senyum kelihatan sangat girang, tapi kata
katanya tidak kunjung datang. Djieko, Sie moy coba kalian
bayangkan, bagaimana aku dapat melewatkan hari? Kau
tabu penghidupan tidak ubahnya seperti makan madu yang
manis, tapi pahitnya seperti empedu!”
Tju Shie Hong tidak dapat melanjutkan lagi kata
Katanya, kerongkongannya itu seolah olah sudah menjadi
kering. Demikian juga Gwat Hee dan Tjiu Piau tidak berkata
kata, mereka terbenam dalam kesunyian dan kedukaan
yang sangat’hebat sekali. Terharu dan sedih membuat Gwat
Hee mengucurkan air matanya.
Sesaat kemudian baru Tjiu Piau dapat membuka
mulutnya:
“Sah tee Tju Siok siok masih dalam keadaan sehat,
dengan ini kita masih beruntung sekali. Kau tak perlu sedih
lagi, hari hari yang penuh penderitaan itu segera akan
berakhir. Banyak majukah pikiran dan kewarasan dari Tju

274
Siok siok dalam hari belakangan ini?”
“Dalam tahun ini masih tetap biasa. Hanya satu hal yang
sangat mengherankan yakni, sepanjang hari, bulan dan
tahun lengannya tidak pernah melepaskan tambangnya itu.
Hari-hari belakangan ini kalau pikirannya agak sadar,
lengannya itu segera memutar-mutarkan tambangnya itu
ke atas, seolah-olah ingin berusaha naik ke atas. Sewaktuwaktu
kugunakan ketika beliau dalam keadaan baikan untuk
menanyakan sesuatu hal yang dulu-dulu Beliau berpikir
sebentar, selanjutnya pikiran dan daya ingatan menjadi
kabur kembali, seolah-olah tiada sesuatu yang diingatnya
lagi kejadian yang sudah pernah dialami. Hari hari biasa
suka juga beliau bicara tapi apa yang dikatakan tidak ada
juntrungannya (tidak mengandung arti). Pernah sekali
kalian berkata, ada satu tempat yang luarnya kurang lebih
tiga puluh kaki, di dalamnya terdapat beberapa kursi dan
meja, dan keadaannya sangat gelap. Yang lain tidak
dikatakan lagi. Apa yang dikatakan kiranya seperti tempat
ini!” Habis berkata Tju Stie Hong mundar mandir sambil
mengawasi sekeiiling, agaknya tempat ini mempunyai
sesuatu rahasia yang tersembunyi. Tjiu Piau dan Gwat Hee
turut langak longok, tanpa mendapat sesuatu yang dapat
dijadikan bahan pengusut. Saat ini Gwat Hee sudah
berhenti beringsak ingsak. la berkata dengan suara
perlahan:
“Sah ko, Tju Siok-siok pasti mengandalkan ilmunya yang
lihay itu. sehingga tidak sampai membuang jiwa di dalam
lembah yang gelap itu. Tapi kemungkinan besar mengalami
geger otak, sehingga hilang daya ingatnya, kurasa
penyakitnya dapat hilang kalau mendapat pengobatan dari
seorang yang berilmu tinggi…”
Baru Gwat Hee bicara sampai di sini tiba tiba Tju Sie
Hong memutuskannya dengan satu saruan kaget “Dengar!
Dengar! Ayahku sudah berteriak teriak kembali !”
Perkataan ini membuat Gwat Hee dan Tjiu Piau menjadi
tegang, serentak, keadaan menjadi sunyi, sampai suara
napas dari Ong Djie Hai dapat didengar dengan tegas. Saat

275
ini terdengar dari luar goa badai pohon Siong yang sangat
keras, gelombang itu susul menyusul hilang terbawa angin,
sedikit juga tidak terdengar suara kaokan atau jeritan
orang. Hanya Tju Sie Hong seorang yang dapat mendengar
suara itu. telinganya itu sudah terlatih dalam banyak tahun
sehingga menjadi tajam sekali. Sesudah ia mendengari
dengan tenang, ia berkata :
“Ayahku berkaok sebanyak tiga kali dengan nada yang
gagah. Aku harus lekas lekas menengoknya!” Tubuhnya
segera bangkit lari ke luar.
“Mari kita turut menengoknya!” kata Tjiu Piau.
‘Baik,”jawab Gwat Hze. “tapi bagaimana dengan
kakakku! ‘ sambungnya tergesa gesa. Ong Djie Hai hampir
hampir akan loncat ke luar, tapi dengan kekerasan batinnva
perasaan itu dapat dikekang. Hatinya seolah olah bertata
“Jangan bergerak, jangan bergerak!”
Saat ini terdengar derap dari sepatu Gwat Hee yang
sampai di depan mulut goa; “Koko, kami akan
menyambangi dahulu Tju Stok siok sebentar, harap kau
jangan kuatir! Hanya sejenak saja, aku segera kembali
lagi.” Ong Djie Hii mengdongakkan kepalanya, ‘pergilah!’
mulutnya hampir terbuka, untung kata kata ini tidak jadi ke
luar! Buru buru kepalanya ditundukkan lagi, guna
menenangkan pikirannya dalam semedi, karena sedetik ini
hatinya kembali melakukan perang batin yang hebat sekali.
Jalanan di dalam goa berliku liku, tapi Gwat Hee dan Tjiu
Piau sudah mengenalnya tadi, sehingga mereka bisa
berlarian dengan cepatnya. Sesampainya di mulut goa,
terlihat anak kecil itu masih duduk bersila dengan tekunnya,
sekali kali tidak menghiraukan orang orang yang
berserabutan lari di depan mukanya. Sesampainya mereka
di mulut goa sudah tak menampak pula bayang bayang dari
Tju Sie Hong. Gwat Hee segera membentangkan ilmunya
yang baru, dengan miring-miring tubuhnya mencelat ke
atas pohon, dengan cepat kakinya menotol batang kayu,
membuat tubuhnya merapung ke atas tebing dan berdiri
dengan tenang di atasnya. Ia menoleh ke bawah sambil

276
berkata: “Tjiu Su ko, lekas naik!” Tjiu Piau tidak sekaligus
mencapai atas tebing, ia loncat dulu ke atas pohon Siong,
sesudah mengumpulkan Semangat dan tenaganya baru
meloncat ke atas tebing.
“Tju Sie ko mungkin turun dari batu besar yang terletak
di puncak Thian Tou itu, lekas kita ke sana!” Dengan
kecepatan ilmu mengentengkan tubuhnya, mereka dapat
memijakkan kakinya di atas batu itu dengan cepat, mereka
mendengar suara menderunya dari suara tambang yang
berputar putar. Kedua orang itu melongokkan kepalanya
kebawah jurang, apa yang dapat dilihat mereka? Sesosok
tubuh manusia dengan mengandalkan seutas tambangnya,
merosot turun laksana terbang, hanya dalam sekejap mata
sudah hilang dari pandangan dan kegelapan jurang itu.
Tanpa terasa Gwat Hee mengucurkan air matanya sambil
berkata: “”Tjiu Su-ko cobalah kau bayangkan, bagaimana
rasanya hidup di dalam jurang begini selama delapan belas
tahun. Hari hari pasti dilakukan seperti di dalam neraka!”
Sebaliknya Tjiu Piau mempunyai pikiran lain: “Su-moy coba
kau pikir secara mendalam, misalkan tambang dari Tju
Siok-siok tidak putus, mana bisa mendapat malapetaka ini.
Tapi dengan tambangnya yang sudah tinggal separuh dan
kaitannya tinggal sedikit masih dapat menyelamatkan
jiwanya dari kematian, sehingga masih dapat hidup di
dalam jurang selama belasan tahun, hal ini sungguh tak
dapat kupikiri.” Gwat Hee mengangguk anggukkan
kepalanya tanpa disadari.
Kedua orang ini berdiam di tepian tebing sambil
menduga duga kejadian yang lalu dengan asyiknya.
Kiranya kejadian pada tempo yang lalu, yakni begitu Tju
Hong tambangnya diputusi tubuhnya segera jatuh ke dalam
jurang yang dalam, tapi dengan mengandalkan
kepandaiannya yang lihay, ia dapat menyelamatkan dirinya.
Waktu itu ujung tambangnya sudah tidak berkaitan lagi.
Dengan sendirinya tidak mungkin dapat mengait pohon.
Demikianlah ia melayang dengan cepat beberapa ratus
meter dalamnya, ia melihat sebatang pohon Siong tua yang
menjorok dari lamping gunung, dengan cepat tambangnya

277
terbang memutari dahan itu dan mengikat dengan
kokohnya. Semangatnya terbangun, diawasinya sekeliling,
ia mendapatkan dirinya berada terkatung katung jauh dari
bumi dan jauh dari langit, sedangkan di kanan kirinya
terdapat tebing-tebing yang curam sekali, pokoknya tidak
ada daya yang memungkinkan ia naik ke atas kembali. Ia
tak dapat berbuat apa apa.
Akhirnya ia mengambil keputusan akan kedasar jurang
itu dulu, Sedangkan hal yang lain akan diselesaikan
kemudian. Demikianlah ia menerjunkan diri beberapa kali,
dan dapat mendekati dasar itu kira- kira tinggal seratus
meter. dia mengawasi ke bawah jurang, yang kolong
melompong tak ada apa apa lagi. juga tidak ada pohon
Siong besar lagi untuk membelitkan tambangnya, tiba di
dalam saat ini juga tangannya yang sedang memegang
tambang terasa semakin lemas, ditambah dahan kayu yang
menahan diiinya itu sudah kering dan tak kuat pula, sedikit
demi sedikit mulai oerbunyi “krek— krek” suara ini sebagai
suara kematian! untuk telinga Tju Hong. Sedangkan
semangatnya sudah mulai goncang.dan akhirnya ia pingsan,
tubuhnya langsung jatuh ke dasar lembah dengan
hebatnya. Andaikata dasar jurang ini terdiri dari tanah yang
keras, jiwa Tju Hong pasti sudah melayang. Baiknya di
bawah ini terjadi dari tanah lumpur dan daun pohon yang
sangat tebal, Tju Hong hanya pingsan selama tiga hari tiga
malam dan akhirnya siuman kembali. Begitu ia sadar,
otaknya sudah tidak wajar lagi, kejadian yang sudah
dialaminya menjadi bilang dalam pikirannya. Sejak itulah
belasan tahun lamanya ia hidup menderita dengan
memakan segala sesuatu yang dapat diketemuinya. Akibat
dari itu tubuhnya menjadi rusak dan tidak merupakan
manusia lagi dan berubah seperti jejadian saja.
Dasar aja belum sampai akhirnya Tju Hong dapat juga
diketemukan oleh anaknya sendiri. Hanya sayang Tju Sie
Hong walau pun berkepandaian seperti ayahnya, tapi
seorang diri ia tak dapat memondong ayahnya naik ke atas
jurang yang ribuan meter tingginya.
Sesudah Tjiu dan Ong melihat lihat ke bawah dan

278
membicarakan pendapat mereka, belum juga terlihat Tju
Sie Hong naik kembali. Ong Gwat Hee berkata .
“Lebih baik kita kembali dahulu ke dalam goa. Toa ko
akan merampungkan pelajarannya pada waktu senja kita
harus baik baik menjaganya. Terkecuali itu kita harus
istirahat, karena hari sudah siang.” Demikianlah kedua
orang itu menurut jalan yang semula kembali ke dalam
goa,sesudah masing-masing mencari tempat yang baik
mereka lantas tidur. Biar bagaimana Gwat Hee
memeramkan matanya, tetap tidak bisa tidur, dipanggilnya
Tjiu Piau yang nyatanya belum juga tidur.
“Tjiu Su ko. coba kau katakan bagaimana caranya dapat
menolong Tju Siok-siok naik ke atas?”
“Aku tak dapat memikiri sesuatu daya.”
“Aku mempunyai suatu pendapat, tapi belum tentu dapat
dijalankan.”
“Akal apa? Lekaslah kau katakan. Pokoknya asal masih
ada daya biar bagaimana juga kita harus usahakan.”
“Begini kita cari dan tebang sebatang pohon yang besar,
kemudian kita palangkan di antara tebing yang curam itu,
hal ini dapat dilakukan karena jarak antara dua tebing itu
tidak beberapa jauh. Di atas batang itu kita taruhkan
sebuah kerekan, dari atas kita gantungkan sebuah
keranjang yang besar, agar Tju Siok-siok bisa duduk di
dalamnya, kemudian dengan tenaga bersama kita kerek
naik ke atas.”
“Akal ini cukup bagus kenapa kau kata belum tentu
dapat dijalankan?”
“Kau pikir, dari mana kita dapat memperoleh tambang
yang demikian panjang? TerKecuali itu tambang harus kuat
agar tak putus di tengah jalan.”
Tjiu Piau berpikir, bahwa kata-kata itu benar adanya
Sesudah menarik napas kesal, ia berkata:
“Tambang yang baik dapat kita usahakan, coba kau pikir

279
urat rusa cukup kuat, bukan? Ah dari mana dapat kita cari
urat rusa yang demikian banyak? Mungkin ribuan dari urat
rusa belum tentu cukup untuk memenuhi lembah yang
dalamnya luar biasa itu.”
Kedua orang ini saling sahutan, membicarakan hal
menolong Tju Hong. Tak kira kata-kata dari mereka itu
terdengar oleh Ong Djie Hai, sehingga membangkit
kekesalannya pula. Sidangkan ilmu yang tengah
dipelajarinya memerlukan sekali ketenangan yang luar
biasa, perhatiannya harus dicurahkan untuk mengatur dua
jalan pernapasan Im dan Yang. Kini otaknya tak dapai
tertahan lagi terpecah memikiri daya untuk menolong Tju
Hong. “Akal apakah yang dapat menolong Tju Siok-siok?”
pikirnya.
Tak heran begitu pikirannya bercabang, perjalanan dua
napas ini menjadi kendur, kalau tidak tertahan lagi,
akibatnya aliran dua napas ini tidak dapat dikendalikan lagi
dan segera berhenti, kalau sampai hal ini terjadi sama juga
pelajaran ini menjadi batal, sehingga yang dipelajaii gagal,
bahkan pelajaran yang sudah dimilikipun akan menjadi
musnah. Setakar tenaga Dji Hai berusaha untuk
menghilangkan pikiran guna menolong Tju Stok sioknya.
tapi biar bagaimana juga tak dapat dihilangkannya. Hal ini
lebih berat dari pada waktu ia mendengar penuturan Tju Sie
Hong tadi. Pikirannya semakin kacau sehingga tubuhnya
terasa seperti dililit oleh ribuan ular berbisa, tanpa dapat
dibebaskan. Ia bertahan dengan ketekunannya sejam lebih
tanpa hasil dan merasakan tidak kuat pula untuk bertahan
terlebih lama kini sekujur badannya terasa Sesuatu
perasaan aneh. nanti panas, nanti bersemangat dan ingin
meloncat-loncat serta menjerit-jerit. Kemudian merasakan
lelah dan letih yang melewati batas, jalan napasnya itu
seolah olah akan hilang, agaknya sudah akan mati saja.
Tanpa terasa lagi perasaan-perasaan itu
menggoncangkan jiwanya, ia hampir pingsan agaknya. Pada
saat inilah teringat ia akan ayahnya, teringat pesan ibunya
sewaktu akan meninggalkannya ke tanah baQa, “anakku,
biar gunung Himalaya akan menggencat dadamu, kau harus

280
membalas dendam dari ayahmu!” B3gitu pikiran ini datang,
segala susah kekacauan pikirannya itu sedikit sedikit
menjadi hilang. Dengan payah ia menenangkan pikirannya
selama beberapa jam. baru terasa sesuatu di dalam
tubuhnya menjadi normal kembali. Dalam ketenangannya
ini kembali telinganya mendengar sesuatu suara yang aneh
sekali. Suara apakah ini? Bukan derak dari kaki orang,
bukan suara telapak binatang buas. sewaktu waktu seperti
bergeraknya kipas sewaktu waktu seperti angin badai yang
besar, sehingga menimbulkan angin di dalam goa. Angin ini
membawa bebauan yang amis sekali, sewaktu ia
mengendus ini hatinya ingin sekali melihatnya, ia berpikir:
“ke mana perginya Tjiu Piaudan Gwat Hee?”
Ia menenangkan pikirannya sehingga dapat mendengar
suara pernapasan dari kedua orang itu, agaknya mereka
sudah terlalu letih sekali, sesudah mengobrol sebentar,
masing masing segera terbenam dalam alunan malam. Ia
jadi gelisah, hatinya berpikir: “Kalau musuh datang,
bagaimana baiknya?”
Ia menyesal, “Kalau tahu begini, pasti ilmu ini tidak
kupelajari kini kalau terjadi perubahan, aku tak dapat
berbuat apa apa. kalau bergerak segala ilmuku akan habis!”
Tiba tiba benda yang bau amis itu berkesiur di depan
mukanya dan bergelapakan dua kali Ia sadar dan tahu
benda itu adalah garuda! Hatinya menjadi kuatir sekali dan
tak tenteram! Tiba tiba sekali, ia merasa sesuatu benda
hinggap di atas tubuhnya, kekagetannya bukan alang
kepalang ia menahan napas dan tidak bergerak sedikit juga.
Terasa benda ini mpunyai kuku yang tajam sekali dan
mengait dengan keras di atas kepalanya. Benda apa lagi
kalau bukan kuku garuda! ia sadar biar mempunyai
kepandaian yang lihay dan dapat dengan sekati tepak untuk
mematikan garuda itu. Tapi tak mungkin dapat
menghindarkan diri dari kematian.
Menghadapi kegawatan yang luar biasa ini, ia dapat
menenangkan dirinya dengan baik. Ia tetap duduk tak
bergerak, sehingga merupakan arca, sehingga tidak dipatok
oleh paruh garuda yang tajam. Begitu hatinya tenang napas

281
Im dan Yang menjadi bergerak dengan baik secara
otomatis, kelihatannya dari luar ia duduk seperti pilar tak
bergerak-gerak, tapi pergerakan napas di dalam itu berjalan
dengan sempurna. Ia merasakan ilmunya ini hampir selesai,
hatinya menjadi girang, sehingga melupakan diri berada
dalam bahaya. Ketenangan ini berlalu hanya sebentar
telinganya kembali mendengar sesuatu suara lain, yakni
suara menggelapaknya dari seekor burung kecil yang
masuk ke dalam goa. Burung itu beterbangan berputar
putar di dalam goa. Ia berpikir: “Tepat sekali kedatangan
burung itu, sehingga bisa memancing garuda ini pergi ke
luar.” Tapi garuda itu tetap saja tak bergerak gerak. Tibatiba
mendatang suara halus dari seorang anak perempuan.
“Tempat yang baik, tempat yang indah.” berulang kali
disebutkannya. Suara ini cukup dikenalnya dan ia ingat
suara ini bukan suara siapa-siapa terkecuali Lu Tjen Tjen
adanya. Diam diam hatinya menyebut celaka,
kegelisahannya melewati batas ia tak tahu gadis nakal itu
bisa datang ke sini, yang mengherankan lagi ia tak
mendengar suara napasnya. mungkinkah dalam jangka
pendek Tjen Tjen dapat mempelajari ilmu yang luar biasa
lihaynya?
Sekuat tenaga ia menenangkan pikiran dan memusatkan
pendengarnya untuk mengetahui di mana Tjen Tjen berada.
Sekian lama ia memasang telinga dengan cuma cuma, ia
kuatir dan takut Tjen Tjen menurunkan tangan jahat
kepada Tjiu Piau dan adiknya Sampai disaat ini kembali ia
berpikir. ‘Biar seluruh ilmu kepandaianku menjadi musnah,
aku harus berteriak sekuat tenaga untuk membanguni
mereka guna bersiap.”
Pikirannya sudah tetap, baru saja ia akan berteriak dan
membuka matanya, tiba tiba ia ingat pada burung garuda di
atas kepalanya. Burung burung ini pasti kepunyaan Tjen
Tjen. ia pernah melihatnya. Kalau ia bergerak, burung ini
pasti mencakarnya, mungkinkah masih dapat hidup?
Memikir sampai di sini. ia menjadi ragu-ragu.
Saat ini seluruh darah di dalam tubuhnya menjadi panas,
segala pikirannya serentak berkecamuk di dalam otaknya.

282
Tapi otaknya dapat tenang juga akhirnya, ia berpikir: “Biar
bagaimana jadinya mati luka berat kek, aku harus
membangunkan mereka, jangan sampai sekaligus
menderita rugi !” Segala keraguannya menjadi hilang,
dikumpulkan semua semangatnya, guna mendengari di
mana beradanya Tjen Tjen dan sekaligus akan
menyerangnya !
Saat ini kembali terdengar suara Tjen Tieu dengan kata
yang sama: “Tempat yang indah, tempat ymg baik.” Yang
mengherankan sekali, suara ini bergema dari atas
kepalanya, mungkinkah anak itu sudah mati dan menjadi
setan penasaran yang datang mengganggu? Dalam bingung
dan keanehan yang dialami ini. membuatnya tidak dapat
memastikan kejadian ini apakah benar benar atau hanya
impian saja. Dalam saat yang sangat kritis ini. tepian
telinganya mendengar seruan kaget dari Gwat Hee : “Tjiu
Su-ko, Tjiu Su-ko!”
Begitu Tjiu Piau bangun, segera ia meloncat berdiri
mereka itu menjadi kaget demi dilihatnya seekor garuda
yang sangat besar hinggap di ataskepnla kakaknya. di atas
garuda,, terdapat pula seekor burung kakak tua Burung ini
tidak nenti hentinya berkata: ‘”Tempat yang indah, tempat
yang baik!” Suaranya itu persik seperti suara Tjen- Tjen.
“Wah celaka, dua ekor burung ini adalah kawan bermain
Tjen Tjen, kenapa mereka dapat datang ke sini?” kata Tjiu
Piau.
“Mungkin .jahanam – jahanam semuanya datang ke
sini?” tanya Gwat Hee.
“Jangan gelisah! Yang terutama kita harus berusaha
untuk memancing pergi burung garuda itu. kalau diantap
terus besar bahayanya untuk Toa-ko.” Habis berkata Gwat
Hee mencabut pedangnya dari dalam selangkah sedangkan
Tjiu Piau segera menyiapkan batu batunya. Mereka
mengeluarkan bunyi bunyi dari berbagai binatang untuk
menghalau garuda itu, burung itu sangat pintar,
didengarinya suara suara itu sedangkan tubuhnya tetap
diam tak bergerak-gerak. Hanya burung kakak tua itu saja

283
yang beterbangan dengan bersuara: ‘Singguh indah, tempat
yang baik!”
Gwat Hee mendapat akal, dibisikinya Tjiu Piau: “Kita
tangkap burung kecil ini dahulu!”
Mereka mengikuti burung ini dari bawah, dinantikannya
burung itu terbang rendah, serentak empat lengan terjulur
menangkapnya. Sekali ini terpancinglah amarah dari garuda
itu, sesudah mengeluarkan bunyi yang keras, . segera ia
datang menubruk.
Biar bagaimana lihay burung garuda itu, tapi untuk
melawan kepandaian orang, hanya impian belaka. Begitu ia
menubruk datang, Gwat Hee sudah mencelat mendekati
sang kakak, pedangnya terhunus dengan waspada menjaga
dan melindungi kakaknya. Tjiu Piau bergulingan ke luar goa
sambil memegang terus burung kakak tua itu, garuda itu
membuntuti terus dari belakang dan sering sering
menyerangnya tanpa mendapat hasil, sehingga amarahnya
semakin besar, ia dikejar terus. Begitu burung itu hampir
dekat dengan lengannya, lengannya segera melepas batu
batu. sehingga terjangan hebat dari garuda itu dapat
tertahan. Kira kira hampir sampai di mulut goa. dilepasnya
burung kakak tua itu yang di pegang, burung itu terbang
sambil berkata. “Tempat yang indah, tempat yang baik!”
Garuda itupun terbang ke luar mengikuti burung kaitak tua.
Dengan kecepatan luar biasa burung burung itu dalam
waktu sekejap hilang dari dalam pandangan. Tjiu Piau
mengerti goa itu sangat sempit, sehingga burung itu tidak
dapat terbang dengan leluasa, bilamana tidak mana bisa
dirinya dengan mudah menghindarkan serangan yang maha
hebat dari paruh garuda itu. Saat ini goa itu telah menjadi
agak terang entah sudah jam berapa sekarang ini, buru
buru Tjiu Piau masuk ke dalam untut menemukan dua
saudara Ong. tampak Gwat Hee dengan tekun menjaga Djie
Hai, kaiau-kalau burung itu datang kembali. Begitu ia
melihat Tjiu Piau kembali tak kurang apa apa hatinya
menjadi lapang. Ia menunjuk kepala kakaknya sambil
berkata; “Kau lihat, kuku garuda itu membuat beberapa
tapak kuKu yang nvata sekali, bukan ‘main berbahayanya!”

284
Begitu Tjiu Piau mengawasi, benar saja di atas kepala Djie
Hai terdapat tanda dari kuku garuda yang dalam, garuda itu
tidak menggunakan tenaga, kalau tidak bukankah kepala itu
bisa remuk dibuatnya.
“Sungguh bahaya, garuda itu merupakan lawan Keras
dari kita!” kata Tjiu Piau.
“Kini yang ditakutkan ia pergi drn kembali pula
membawa Tjen Tjen, kalau Louw Eng sekali datang ini bisa
celaka ”
Tjiu Piau menganggap perkataan Gwat Hee masuk di
akal. segera ia berkata.
“Sekarang sebaiknya di belokan terakhir dari goa ini kita
sumbat dengan batu. andaikata mereka datang, tidak dapat
dengan segera menemukannya, kalau burung itu datang
tidak bisa terbang masuk paling-paling di luar.”
“Sungguh suatu pendapat yang manis!” puji Gwat Hee.
Dengan cepat kedua orang itu menyingsingkan lengan
bajunya, untuk memindah mindahkan baiu. Dalam waktu
sekejap belokan dari liang goa yang terakhir tersebut sudah
disumbat dengan baik. dengan sengaja dibuatnya beberapa
liang kecil untuk melihat ke luar. ke satu untuk mengawasi
gerak gerik musuh, kedua takut Tju Sie Hong datang
kembali dan tak dapat menemukan mereka. Sesudah
selesai mereka duduk istirahat, pada saat ini baru mereka
merasakan perutnya keroncongan dan lapar. Dibukanya
ransum kering yang dibawanya dari rumah, dengan
rakusnya makanan iiu digayangnya dengan napsu sekali.
Ong Djie Hai dengan tenang melanjutkan lagi
pelajarannya, hatinya menjadi tenang sebab mengetahui di
samping tubuhnya ada yang menjaga. Perlahan lahan di
dalam tubuhnya ada sesuatu perasaan yang tak dapat
disebutkan namanya ‘Si perut, nadi dan sepir sepir dengan
seenak hatinya dapat digerakkan ke mana mana tak
ubahnya seperti dapat menggerakkan kaki dan tangan.
Sedang dua aliran napas positif dan negatif berjalan dengan
seiring, tidak seperti api dan air lagi yang demikian

285
berlawanan, sampai pada saat ini semangatnya terasa
semakin penuh, sehingga Djie Hai merasa girang dan
syukur.
Tidak lama kemudian terdengar derak sepatu yang
membisingkan kepala, Tjiu Piau mengintai dari celah celah
batu, dengan kaget digapaikannya Gwat Hse: “Kau lihat
siapa itu?” Begitu Gwat Hee melihat, di luar dugaannya
sekali, dengan nada halus ia berkata. “Louw Eug! Ah benar
benar Louw Eng yang datang!”
Mendengar ini, hampir-hampir Ong Djie Hai mencelat
bangun!
Tak salah dugaan seludah burung itu keluar dari goa
segera kembali lagi membawa majikannva. Dengan cara
berbisik Gwat Hee berkata. “Mungkin bukan ia sendiri, kita
harus hati bati dan jangan bersuara ” Tjiu Piau mengangguk
tanda mengerti. Tampak oleh mereka Louw Eng tengah
langak longok di dalam goa, dengan wajah penuh curiga.
Tak lama kemudian ia membalik badan dan berlalu.
Mendengar derak sepatu yang semakin jauh ini, membuat
mereka menarik napas lega.
Siapa tahu baru mereka merasa tenang kembali
terdengar derak sepatu yang ringan, menyusul terdengar
suara sayap garuda yang bergela pakan. Tampak oleh
mereka di belakang burung itu terdapat majikannya.
Burung itu melihat liang goa sudah berubah, segera
berterbangan berputar-putar. Dalam waktu sekejap garuda
itu agaknya sudah mengerti, dengan dahsyat ia menyerang
ke nada batu batu yang didirikan Tjiu Piau dan Gwat Hee.
Sedangkan burung kakak tua itu tidak henti hentinya
berkata. “Tempat indah, tempat baik.” Tjiu Piau menjadi
gelisah, dengan geram ia berkata perlahan. “Dua binatang
yang laknat, lihatlah akan kukirim jiwamu ke akherat
dengan batu batu ini!”
Sungguh tajam perasaan Tjen Tjen, begitu melihat
keadaan sudah dapat menyelami delapan bagian. Walaupun
ia datang mendekat serentak dipegang-pegangnya batubatu
itu, ia segera mengerti dan berseru ke luar dengan

286
keras. “Ayah, lekas datang, mereka ada di sini!” Ia hanya
dapat berteriak sekali saja, kemudian merasakan seluruh
tubuhnya menjadi kaku den tak dapat bergerak. Kiranya
begitu tubuhnya berputar ke arah luar, tepat sekali
membelakangi lawannya, Gwat Hee menjulurkan lengannya
dari liang batu dengan tepat menotoknya, sebenarnya Tjen
Tjen berkepandaian tidak terlalu lemah, tapi dalam keadaan
tak siap sedia kena di bokong secara mudah sekali.
“Seret jangan tubuhnya?” kata Tjiu Piau.
“Tak mungkin, sebab harus membongkar dahulu batu
batu ini.”
Mereka tengah berunding, sedangkan dari luar sudah
terdengar derak yang berat dari musuh, mereka mengintai
ke luar sambil menahan napas.
Louw Enp menjadi kaget, demi dilihatnya sang puteri
terlentang tanpa dapat bergerak, ia mercelat mundur ke.
belakang dinyalakannva bahan pembakar, sehingga Tjiu
Piau dan Gwat Hee dapat dilihatnya dengan tegas. Mukanya
perlahan lahan menunjukkan perubahan, matanya mulai
mengedip-ngedip. sedangkan alisnya dikernyutkan.
sehingga satu dengan lain menjadi nempel dan
bersambungan, tepian bibirnya terbuka mengeluarkai gigi
yang kuning sebesar besar kampak, dari dalam
kerongkongannya mengeluarkan bunyi, “heee heee” dua
kali. ia dapat dikatakan ia tertawa juga. Tertawa licik yang
penuh kejahatan ini dapat dilihat dengan tegas dari sela
sela batu, mereka bukan main muaknya menyaksikan gaya
dan lagunya itu; lebih lebih suara tertawanya yang hanya
dua kali “hehe” ini membuat mereka merasakan sesuatu
menjadi tak wajar. Dengan gagah berani ia maju ke muka
untuk membebaskan totokan anaknya. Tjen Tjen segera
berkata:
‘Di dalam ada orang! Jangan tergesa gesa, mari kita ke
luar, aku mempunyai akal untuk membuat mereka terus
mengeram di dalam goa ini !”
Dalam waktu yang pendek, pemuda-pemudi ini. tidak

287
dapat menangkap maksud lawan. Djie Hai mencium asap
api ia sadar musuh menyerang mereka secara keji,
kegelisahannya sampai di puncak maunya, tanpa sedikit
bimbang, ia mencelat bangun sambil menbentak : “Louw
Eng kau jangan kabur!” kedua lengannya segera
mendorong batu batu yang dibuat saudara saudaranya.
Bahana guruh yang memekakkan telinga terdengar, demi
kena digempurnya tembok itu. Gempuran ini bukan saja
menghancurkan batu batu itu. bahkan menggugurkan pula
dinding- dinding goa. sehingga batu dan debu beterbangan
dalam goa mengejutkan orang. Jangan katakan orang lain.
ia sendiri tidak akan mengira kepandaiannya demikian
ampuh. Tapi gempuran ini sia sia belaka karena lawan
lawan itu sudah’ pergi ke tikungan lain.
Ketika itu pula Louw Eng mengangkat obor di tangannya
tinggi tinggi, sehingga ia dapat melihat dengan tegas Ong
Djie Hai. Ong Gwat Hee. Tjiu Piau tiga orang, hal ini
membuatnya menjadi kaget, ia tak tahu siapakah diantara
tiga orang ini yang mempunyai ilmu yang mengejutkan itu.
Kelima orang ini saling pandang memandang tanpa berkata
kata. Ong Djie Hai berdiri di tengah tengah dengan sikap
gagah, matanya mencerong, ia berkata: “Kiranya kau
belum mati?”
“Kebenaran sekali kita bertemu di tempat yang sempit
ini, kalian tengah berbuat apa di sini? Kenapa kalian
mengumpat seperti kurcaci tak bernyali waktu kami
datang?” tanya Louw Eng sambil tertawa mengejek.
“kami sangat mencintai Oey San ini, dari itu kami datang
ke sini untuk berkumpul. Sebaliknya aku ingin bertanya
kepadamu: kenapa kau mengikuti perjalanan kami ke sini?
Hatimu tentu mempunyai rencana busuk untuk
mencelakakan kami, bukankah begitu?” tanya Ong Djie Hai.
Louw Eng tak mau berkata kata lagi, pertanyaan itu pura
pura tidak didengar, ia mengawasi keadaan sekeliling,
kemudian ia beikata kepada sang anak. “Tjen djie bawalah
burung burung ke luar jaga mulut goa itu, satu juga jangan
dikasih melolosi diri!” Habis bicara ia maju selangkahDewi
KZ http://cerita-silat.co.cc/
288
selangkah dengan jumawa. Menggunakan kesempatan
lawan bicara. Djie Hai membisiki adiknya dengan tergesa
gesa: “Moy tju, aku sudah tak berguna lagi. kepandaian
yang kumiliki kini sudah musnah sama sekali, sebaiknya
kita mempergunakan akal untuk menghadapi mereka. Kau
dan Tjiu Piau tee harus bersatu padu untuk berusaha
menerjang ke luar!” Gwat Hee mengertakkan giginya sambil
memandang wajah kakaknya, ia tak mengerti apa yang
dimaksud, tapi keadaan sudah demikian mendesak dan tak
bisa bertanya pula. Louw Eng maju lagi selangkah
sedangkan wajahnya masih tetap dihiasi senyuman iblisnya.
Nampak ia akan menerjang’ Ong Djie Hai mendahului
membentak. “Sabar! Kau ingin mengadu kepandaian apa?”
sambil mundur setindak. Ia tahu ilmunya yang dahsyat tadi
itu tak mungkin kembali pula, kalau terang terang
bertarung dengan lawan, jeriji keliling dari musuh saja tak
mungkin kena ditangkisnya. Ia ingin mengeluarkan
kembangnya ilmu silat saja, karena ilmunya sudah musnah
tersebab batalnya merampungkan Im Yang Kang. Pokoknya
ia sendiri tidak takut mati, asal saja adik-adiknya dapat
melepaskan diri. Louw Eng sudau mengambil keputusan
mutlak untuk membinasakan mereka di dalam goa yang
sepi ini, tanpa meninggalkan bekas dan diketahui orang, hal
ini sungguh sesuai sekali dengan permintaannya. Secepat
kilat tubuhnya mencelat tinggi dan turun menerkam Kepada
Djie Hai.
Jurusnya ini sangat lihay sekali, gerakan gerakan lincah
dan sukar diketahui lawan akan perubahannya. Ke mana
lawan berkelit ke arah itu ia menubruk, tubrukan ini disertai
dengan kedua belah kaki dan tangan sekaligus
memasukkan lawan, inilah ilmu terli-hay yang dimilikinya.
Andai kata Ong Djie Hai tidak kehilangan .ilmunya yang
dahulu, belum tentu pula dapat menghindarkan serangan
ini,,apalagi sekarang? Begitu ia melihat Louw Eng mencelat,
ia segera membungkukkan badan, kepalanya menghadap
kepada bumi, tubuhnya melingkar menjadi bulat, dan
bergulingan untuk menghindarkan diri dari tubrukan musuh
itu. Walaupun ilmunya sudah musnah tapi masih tetap
lincah sekali pusingan ini dilakukan dengan baik sekali.

289
Louw Eng setaKar tenaga menubruk ke bawah, dengan hasil
nol besar. Dua lawan ini masing-masing berpikir di dalam
hatinya, yang satu berpikir. “Bisnisnya aku dapat dengan
cepat menghindarkan serangan maut itu. kalau tidak? Pasti
hancur kepalaku!” Sedangkan yang lain berpikir: “Terang
terang lengan kananku dipat menjangkau pundaknya, tapi
kenapa bisa diegosnya demikian mengherankan?
Mungkinkah mataku salah lihat?”
Louw Eng membalik badan sambil berdiri dengan tenang,
diawasinya keadaan sekeliling dengan penuh perhatian. Apa
yang terlihat hanya anaknya suja dengan garuda menjaga
di depan pintu. Sebaliknya Ong Djie Hai merapat dirinya
kepada saudara saudaranya, ia berbisik : “Kutitahkan kalian
lekas pergi, kenapa masih tetap diam saja?” Louw Eng
mendengari dengan acuh tak acuh pembicaraan, tapi ia
terkejut mendengar suara yang diucapkan dengan
serampangan itu seperti juga suatu tenaga yang maha
dahsyat, mengiang-ngiang dalam pendengaran. Bukan main
kagetnya sehabis mendengar ini, ia sadar kelihayan dan
kedalaman ilmu bocah ini sudah setaraf dengan ilmunya. Ia
tak berani lagi sembarangan menyerang, hanya matanya
saja menatap wajah mereka dengan dingin.
Gwat Hee menjawab perkataan kakaknya: “Kak tak perlu
kau takut, dengan tenaga kita bertiga pasti dapat
mengalahkan elang (Eng dari nama Louw Eng berarti Elang
hitam) jahat ini?”
“Apakah kau tidak mendengar dengan tegas, bahwa
ilmuku sudah…” kata-katanya baru sampai di sini. segera
diputuskan. “Walaupun ilmumu sudah sampai taraf yang
luar biasa, kami tetap tidak mengijinkan kau menghadapi
mereka seorang diri! Kalau mau mari kita menerjang
bersama.” kata Gwat Hee dengan salah mengerti. Habis
berkata ia menyeret nyeret lengan kakaknya; “Mari kita ke
luar!”
Jilid 10

290
Tjen Tjen begitu melihat lawan itu ingin ke luar segera
berkata: “Boleh ke luar, asal kau dapat membobolkan
penjagaanku. Kita adalah lawan lama, tapi menyesal sekali,
begitu jauh belum pernah bergebrak dengan sesungguhnya.
Mari ke mari, cobalah ilmu silat ularku ini!” Ia bersiul
memberikan tanda kepada garudanya, sedang tubuhnya
segera bertanding dengan Gwat Hee.
Garuda itu begitu mendengar suara siulan segera
terbang menyerang Tjiu Piau. Tinggal Ong Djie Hai seorang
yang harus menghadapi Louw Eng. Ia sadar dan tahu,
keadaan ini tidak menguntungkan pihaknya. Ia menyesal
bahwa adiknya tidak mengerti akan maksudnya. Ia berpikir:
“Biar bagaimana aku tidak dapat meloloskan diri lagi, aku
ridlah menemui ajal, tapi harus kuberi tahu agar saudara
saudaraku dapat kabur!” Ketetapan sudah matang,
tubuhnya perlahan lahan melangkah mundur, dipancingnya
musuh masuk ke dalam goa agar saudara-saudaranya
mempunyai banyak waktu untuk menyelamatkan diri.
Louw Eng tahu akal lawan, dari itu ia tetap pada
tempatnya sedikit juga tidak bergerak, diawasinya musuh
sudah mojok di sudut terakhir dari goa keadaan di situ
demikian sempitnya sehingga sukar untuk membentangkan
kaki tangan guna bertarung. Ia berpikir: “Bukankah bocah
ini mencari Jalan mati sendiri?” Ia melangkah besar
sebanyak dua langkah, kakinya ditendangkan ke perut
pemuda kita, sedangkan lengannya diangkat dua duanya
dan sekaligus dipukul kan kebahu lawan. Pemuda ini tak
dapat mundur lagi, kanan kiri tak terdapat tempat untuk
mengegos, sedangkan jalan depan dan kiri kanan dijaga
mati oleh lengan musuh, sehingga membuatnya tak
berdaya.
Ong Djie Hai memeramkan mata menantikan segala
perubahan, akan hatinya tak terhindar dari kedukaan yang
sangat. Orang hidup tak luput dari mati tapi saat ini sudah
terang perihal kematian ayah yang penasaran, kenapa
harus mati dengan mudah sekali, bukankan terlalu tidak
berharga. Waktu ia merasakan kesukaran ini terasa pukulan
sudah mengenai bahunya.sedangkan perutnya merasakan

291
kena tendangan. Mendadak ia merasakan bagian dalam dari
tubuhnya bergerak-gerak bahu dan perut yang kena pukul
dan tendang itu sedikit juga tidak menimbulkan rasa nyeri,
sebaliknya penyerang sendiri yang berteriak “aduh” sekali,
dan jatuh ke samping. Mendengar ini matanya terbuka dan
di lihat tubuh lawan jatuh di sebelah kanan tapi kini sudah
bangun, dan menatap dirinya dengan penuh Keheranan.
Iapun mengawasi dengan penuh keheranan, dilihatnya
kalau kalau ada orang berilmu sudah menolongnya dari
kematian. Tapi ia lak menampak orang lain. terkecuali dari
Gwat Hee yang tengah tarung dengan Tjen Tjen dan Tjiu
Piau yang melawan garuda.
Louw Eng memikir mikir dan mengangguk-anggukkan
kepalanya, agaknya sudah mengerti sesuatu keanehan tadi
beberapa bagian. Dengan tangan melindungi dada, ia
berjalan perlahan lahan menghampiri, lengannya
mengeluarkan dua jari, dan dijuluri untuk menotok jalanan
darah lawan. Hal ini membuat Djie Hai berpikir: “Aku sudah
tak mempunyai ilmu yang berarti lagi, tak ubahnya seperti
orang biasa, andai kata dapat memukulnya juga tidak
berarti untuk dia, tapi kalau ia datang mendekat, aku dapat
menyergapnya dan dapat mengorek matanya!” Matanya
menatap dengan awas kepada Louw Eng yang tengah
menghampiri dirinya. Begitu berada dalam jarak dua
langkah segera ia menerjang kedua lengannya seperti kilat
dilonjorkan siap untuk mengorek mata musuh. Louw Eng
sangat lihay. tiba tiba ilmunya diubah, salah satu dari
lengannya memapas dari kanan ke kiri dengan maksud
meminggirkan serangan, lengannya yang melindungi
tubuhnya itu dengan cepat menotok tujuh delapan urat
darah musuh dengan ganas. “Hee…he” ia tertawa pikirnya
sudah berhasil
Siapa yang tahu, hal yang aneh kembali timbul, belum
jurusnya selesai dilakukan nada tertawanya belum habis
terbawa angin tubuhnya sudah tergoyang goyang ke kiri
kanan sebanyak dua kali, hampir ia terjungkal jatuh. Tak
alang kepalang rasa terkejutnya, ia kuatir Djie Hai
membarengi menyerangnya, lekas lekas kedua lengannya

292
melindungi bagian bagian yang berbahaya seraya mundur
ke belakang, ia membentak: “Hei bocah yang baik. Dari
mana kau dapat mencuri ilmu Im Yang Kang ini?”
Ong Djie Hai merasakan kena dikebas. dan ditotok
beberapa kali tanpa menderita kerugian, menjadi heran
sendiri dan tak habis mengerti. Mungkinkah ilmu musuh
sudah demikian merosot sehingga kebasannya tidak ganas,
totokannya tidak bertenaga tubuhnya merasakan seperti
dipijit-pijit kena totokan dan pukulan ini. Dalam bingungnya
ia mendengar suara bentakan kasar, sehiugga ia bimbang.
Mungkinkah ia berhasil mempelajari Im Yang Kang ini?
Dengan setengah percaya dan setengah tidak ia bertanya
kepada adiknya: “Moy tju, saat apakah ini? Sudah
senjakah?” Ia bertanya begitu sebab keadaan goa siang dan
malam tidak berapa beda, dengan sendirinya tidak bisa
menentukan waktu. Sedangkan bocah yang disuruh
menjaganya senang sekali mengganggu orang, waktu yang
sudah ditetapkan sudah habis, dengan sengaja
diperpanjang membuatnya kena dipermainkan, sedangKan
bocah itu sendiri sudah pergi tanpa pamit dengan diam
diam. Tjiu Piau dan Gwat Hee sedari malam diam di dalam
goa dengan sendirinya tidak tahu waktu… Sebaliknya
pertanyaan Djie Hai ini dijawab oleh Louw Eng dengan
dingin: “Waktu senja sudah berganti lama. Kenapa Ada
janjikah? Aku kuatir kawan-kawanmu itu berhalangan
datang!” Mendengar waktu senja sudah berlalu, hatinya
menjadi girang sekali, karena bukan saja ilmunya tidak
hilang bahkan ilmu Im Yang Kang berhasil diyakinkan. Tjiu
Piau dan Gwat Hee berpikir waktu senja sudah berganti,
sedangkan mereka belum ke luar dari goa, bukankah
pertemuan Tiong Tjiu sudah dilewatkan begitu saja?
Pertemuan yang dinantikan selama delapan belas tahun
lamanya, mana boleh dhewatkan begitu saja?
Ong Djie Hi berdiri tanpa bergerak-gerak tapi kedua jalan
napasnya diatur dengan baik dengan memuaskan sekali,
dan baru mengerti kenapa beberapa kali Louw Eng tak
dapat berbuat apa-apa kepadanya. Seketika juga ia menjadi
girang: “Moy tju, Piau tee mari kita ke luar sekarang juga.

293
Kasilah aku yang membuka jalan!”
Nada suaranya ini penuh dengan semangat yang berapi –
api, sehingga menambah semangat saudara saudaranya.
Serentak mereka menjawab. “Baik!” mereka segera
memperhebat serangannya. Sebenarnya ilmu Gwat Hee
lebih lihay dari Tjen Tjen, tapi yang disebut belakangan ini
lebih licin dan banyak akal bulusnya, sedangkan ilmu
silatnya berubah ubah tak habis habisnya. Memang sejak
kecil Tjen Tjen tidak mempelajari ilmu yang khusus secara
tekun, sebaliknya kanan kiri dipelajarinya ilmu dari berbagai
pintu perguruan serba lumayan. Sehingga pertarungan ini
sukar dipastikan yang mana kuat yang mana lemah, Tjiu
Piau yang berhadapan dengan garuda itu. keadaannya
seimbang saja. tidak ada yang kalah tidak ada yang
menang Garuda ingin menyerang dan menerkamnya yang
segera dihajar dengan batu, sehingga terhalang
kemajuannya itu. Tapi serangan batu batu yang terarah
kepada kepala garuda itu selalu gagal dan kena dipukul
jatuh oleh sayap garuda itu, tambahan keadaan di dalam
goa sangat sempit sehingga sukar untuknya
mengembanigkan ilmunya dengan baik. Kalau pertarungan
ini berlangsung diluar, biar garuda itu dapat menyerangnya
dengan hebat, Tjiu Piau dapat pula mengembangkan ilmu
kakinya Tidak seperti sekarang ilmunya ini sama sekali
tidak dapat digunakan . Mereka serentak berseru dan
menpergiat serangannya. “Ber . – . ber” beberapa batu
terlepas dari tangan Tjiu Piau dan menyerang dengan
dahsyat, sehingga burung itu tidak berani datang
mendekat, Gwat Hee mengeluarkan serangan beruntun
angin dari pukulannya itu demikian lihai, sehingga mau
tidak mau Tjen Tjen terdesak mundur. Sedangkan Djie H u
mjlesat seperti anak panah dengan ilmu puncak aneh
terbang mendatang” sebuah telapakan tangannya dengan
keras mendesak Louw Eng.
“Bagus,” puji Louw Eng, ‘set’ sekali, lengan kanannya
sudah menghunus pedang yang tajam, disongsongkan dada
lawan dengan tusukan maut: ‘Aku ingin tahu, apakah kau
mempunyai juga ilmu Tiat Po San? ( Ilmu mengebalkan

294
tubuh)?” Demi dilinatnya sinar pedang Djie Hai secepat kilat
mengegos pergi, sambil mencabut juga pedang yang di
bawanya.
Ilmu Im Yang Kang dipergunakan menurut perubahan
tenaga dan kelincahan gerakan, tak perlu menangkis
serangan lawan, bahkan mempergunakan tenaga serangan
lawan untuk menyerarg si penyerang sendiri. Tak heran
ilmunya yang terpaut agak jauh dengan lawan sesudah
mempelajari ilmu Im Yang Kang, dapat mencapai kekuatan
yang seimbang. Pokoknya asal lawan tak berhati-hati, pasti
dapat kena dikalahkan. Tapi ilmu ini bukan semacam ilmu
‘Tiat Po San’ ( ilmu baju berlapis baja. atau kebal ) dan Kini
Tjong To ( ilmu kebal juga ) yang tak mempan dimakan
senjata. Karena Louw Eng menghunus senjata tajam, tidak
memberi ketika untuk Ong Djie Hai mendapat kesempatan
yang baik.
Pedang itu tak ubahnya seperti seekor naqa sakti ke luar
dari lautan turun naik dengan dahsyatnya menekan
perasaan orang. Ong Djie Hai berpikir: “Asal aku dapat
merapatkan tubuh denganmu, kupergunakan Im Yang kang
untuk mengadu tenaga denganmu, dan kulihat kau bisa
berbuat apa terhadapku?” Jurus “batu berserabutan
menembus awan” dipergunakannya- menikam musuh
bertubi tubi ketiga jurusan. Louw Eng segera menebas
dengan pedangnya, sinar dingin dari pedang itu mendesak
orang. Djie Hai sengaja mempergunakan pedang dengan
tenaga penuh yakni untuk menyambut serangan. terkecuali
itu ia hendak menyampingkan pedang lawan, seeera
merapatkan diri ke samping tubuh Louw Eng. Siapa kira
begitu pedang itu bentrok, trinngg ujung pedangnya
terpapas putus sebanyak dua dim.. Adapun pedang yang
dipergunakan itu adalah pedang naga atau dengan nama
aslinya ‘Keng Liong’ (naga terkejut )
Keadaan berubah. Ong Djie Hai tidak dapat mendekati
musuh dan mundur beberapa langkah. Louw Eng
menyerang terus, pedangnya diputer demikian kerasnya, ia
mendesak ke kiri kanan, ke atas dan ke bawah, kalau Ong
Djie Hai tidak cepat cepat berkelit, beberapa bacokan pasti

295
sudah mengenai tubuhnya. Mundur lagi beberapa tindak ke
belakang, ia terdesak kembali ke sudut tikungan goa yang
terakhir. Tempat itu demikian sempitnya kalau mundur
terus sama juga mengantarkan jiwa. Gwat Hee mendengar
suara Louw Eng menghunus pedang, hatinya menjadi
gelisah, selanjutnya didengar suara bentroknya senjata
yang ditutup dengan jatuhnya potongan pedang yang
putus, sedangkan – kakaknya tengah didesak setindak demi
setindak, diam diam ia berteriak: “celaka” dan tak berdaya
untuk membuat rencana. Harus diketahui barang siapa
mempelajari ilmu dalam, paling pantangan memecahkan
pikiran, begitu pikirannva bercabang, tenaga pukulannya
perlahan lahan menjadi kendur dan lemah, sehingga Louw
Tjen Tjen berhasil membelit tangannya dengan erat sekali.
Berapa kali Gwat Hee mempergunakan tenaganya untuk
mengebaskan, tapi sebegitu jauh usahanya tetap nihil,
lawan tetap membelitnya dengan keras
Bukan main rasa gelisahnya lengan kirinya yang tidak
bersenjata “bret” nenyerang bahu kiri Tjen Tjen, dengan
hasrat mendesak lawan untuk melepaskan tangan, siapa
yang tahu bahwa Tjen Tjen seperti anak ular, tubuhnya
lemas seperti kapuk dan menggeleot merosot,
menghindarkan pukulan ini, Tjen Tjen tidak mau membalas
memukul, apa yang dilakukan? Yakni lengan kirinya
mengitiki ketiak sambil berkata: “Kau gelian tidak?” Arak
perempuan kebanyakan takut sekali dikitiki orang, tuk
heran Gwat Hee menjadi lemas dan tak bertenaga kena
dikitiki ini. Dalam keadaan yang sangat genting ia tertawa
kegelian lemas tak bertenaga. Tjen Tjen mengangkat
kakinya, dibarengi dengan dilepasnya tubuh orang dari
tangan kiri. kaki bekerja, saat ini Gwat Hee tengah lemas
sekali, ia tak dapat bertahan tubuhnya bergelinjangan
beberapa kali di atas tanah. Gwat Hee bukan orang
serabarangan. begitu tubuhnya menempel bumi segera
bergulingan terus, sekadar untuk bersiaga tangan jahat dari
lawan, tegitu tubuhnya sampai di dekat liang goa. kakinya
segera menolol tanah tubuhnya miring miring mencelat
bangun, dengan niat mengubah kekalahan menjadi
kemenangan.

296
Tjen Tjen mempunyai sifat nakal sekali, begitu Gwat Hee
kena disepaknya ia bersiul kepada garuda yang dengar kata
itu, dengan tenaganya yang luar biasa garuda itu
menyerang Gwat Hee dengan bengis. Kedudukan masih
belum betul, kuku garuda itu sudah terlihat di depan mata.
ia berteriak kaget sambil menutupi kedua matanya, ia
hanya berpikir untuk melinlungi matanya saja.
Perbuatannya itu sebenarnya tidak berguna, karena kuku
garuda itu merupakan seperti baja yang sudah ditempa
pergi datang ratusan kali banyaknya. Tak heran kalau satu
kali lengan itu kena dicengkeram akan menjadi hancur,
bahkan seluruh kepalanya akan pecah berantakan, tapi
nasib orang siapa yang tahu. Demikianlah bintang penolong
untuk Gwat Hee datang pada waktunya. Siapa dia? Tak
siapa lagi Tju Sie Hong yang pulang ke goa. Banyak tahun
Sie Hong hidup dalam kegelapan, dari- itu dia masuk ke
dalam goa ini, segera dilihatnya dengan nyata apa yang
terjadi. Dengan satu gerakan ia lari dan menerbangkan
tambangnya kepada garuda itu. Kaitan emas dari tambang
ini tak meleset sedikit juga tepat mengait kuku garuda yang
tajam tajam itu. Kuku garuda dan kaitan emas, berkutetan
saling kait menjadi satu. Tju Sie Horg menarik, dengan
sekuat tenaga, sebalikrya burung itu juga berusaha sekuat
teraga menerbangkannya, sesudah saling tarik agak lama,
satu sama lain tidak bisa menggerakkan lawannya. Gwat
Hee lolos selamat dari bahaya maut ini. dari itu Tju Sie
Hong berpikir tak ada gunanya lama lama berkutetan
dengan binatang, tambangnya segera dikendurkan.
Selanjutnya ia menoleh ke belakang. dan dilihatnya
keadaan Djie Hai yang menguatirkan, sehingga hatinya
menjadi gelisah tidak keruan. Ong Djie Hai sudah terdesak
sampai di batasnya, tubuhnya ” sudah menempel di dinding
goa. Louw Eng menusukkan pedang ke dada kirinya, ia
mengegos ke sebelah kanan, ototnya juga berkerut ke
sebelah kanan, sehingga bagian kiri menjadi cekung dan
kosong, pedang naga terkejut yang mengenai cekungan ini
dengan nihil. Pedang ditarik dan ditusukkan ke dada kanan
orang yang sudah terdesak.

297
Tju Sie Hong belum pernah bertemu muka dengan Louw
Eng, ia berseru dengan keras: “Aku tak mengijinkan
seseorang berbuat sewenang wenang di sini, siapa kau?
Jagalah kaitan emasku!” Tambang di lengannya berputar
dan terlepas menyerang datang, mendengar angin serangan
dengan hanya menundukkan sedikit kepalanya, Louw Eng
dapat mengegoskan serangan ini. Sebuah lengannya tetap
memegang pedang menodong Djie Hai. sebuah lengannya
dipergunakan menjambret serangan tanpa membalik badan.
Melihat orang yang tidak dikenal ini mempunyai kepandaian
yang luar biasa, Tju Sie Hong kembali membentak:
“Siapa kau?” Louw Eng menjauhkan diri dulu dua tindak
dari Ong Djie Hai baru berani membalik badan, matanya
mendelik menyapu sekeliling goa, sambil menarik napas
panjang. Kiranya dalam waktu sekejap saja keadaan di
dalam goa sudah berubah banyak Tjen Tjen entah sedari
kapan sudah kena ditotok dan diam di sudut goa tak
berkutik. Sedangkan burung garuda sudah kabur tak
meninggalkan bekas. Terkecuali seseorang yang memegang
tambang, dan berupa seperti Tju Hong, masih ada pula
sepasang muda-mudi sebagai tambahan, ia merasakan
enam anak muda ini dengan keenam pasang matanya yang
bersinar tajam menatap dengan jemu kepada tabuhnya,
pandangan itu seperti anak panah tajamnya menyayat dan
menembusi dadanya. Diam diam mengeluh di dalam
hatinya: “Sekali ini habislah riwayatku, aku menyesal sekali
kawanku tidak kuajak masuk ke dalam, inilah akibatnya dari
memandang enteng.”
Enam orang ini. yang empat adalah: Ong Djie Hai, Tjiu
Piau. Tju Sie Hong dan Ong Gwat Hee, semuanya dikenal
betul olehnya. Sedangkan yang dua lagi, adalah anak muda
kembar yang diketemuinya di Ban Liu Tjung.
Semenjak ia melihat pasangan muda mudi ini di Ban Liu
Tjung, hatinya selalu diliputi perasaan tidak aman. Muda
mudi yang baru berusia tujuh delapan belas tahun ini
berwajah demikian welas asih, agaknya sudah pernah Ia
melihatnya, tapi tidak ingat di mana. Belakangan sesudah ia
berpikir dengan tenang, baru ia ingat kedua muda-mudi ini

298
berwajah seperti Wan Ti No suami isteri. Kalau dilihat lagak
lagunya yang laki-laki tak ubahnya adalah penjelmaan Wan
Ti No adanya. sedangkan yang perempuan seperti
penjelmaan dari isterinya Wan Ti No.
Sesungguhnya suami isteri itu sudah binasa di
tangannya, lagi pula tak pernah orang mengatakan bahwa
Wan Ti No mempunyai anak? Tapi sepasang anak muda ini
dari mana datangnya ? . . . inilah suatu pertanyaan yang
selalu tak henti-hentinya berkecamuk dalam lubuk hatinya
dan tak dapat dilupakan. Kini sepasang muda mudi yang
aneh ini muncul secara tiba tiba, membuatnya berfirasat
membayangi maut.. Sepasang anak muda yang masih
muda belia ini. berdiri sambil bersandaran bahu di mulut
goa dengan gagahnya, tak ubahnya seperti panglima besar
dari satu pasukan besar. Mereka menyapu keadaan
sekeliling dengan matanya yang tajam. kemudian mereka
saling pandang dan mengangguk-angguk tapi tidak
mengeluarkan sepatah katapun, walaupun demikian mereka
agaknya sudah mengerti dan mengetahui benar apa yang
sudah terjadi di dalam goa ini. Mereka melangkahkan kedua
kakinya berbareng menghampiri lawan, sedangkan Louw
Eng menggenggam pedangnya semakin erat dengan hati
berpikir keras. “Jalan hidup satu-satunya kau harus
menerjang dengan mati matian ke luar goa.”
Dua anak muda itu agaknya tidak merasa gentar
menghadapi jago kawalan yang bersenjata pedang naga
yang luar biasa itu, dengan tangan kosong mereka maju
terus. Pemuda itu melirik pedang itu sambil berkata.
“Pedang itu bernama Keng Liong (naga terkejut) ”
“Tak salah, memang pedang Naga Terkejut adanya.”
jawab si gadis.
“Dasar pedang wasiat, walaupun sepuluh tahun lebih
dipegang oleh buaya darat ini, masih tetap berkilat dengan
angkernya.” kata pemuda itu.
“Lebih lebih kalau ganti tuan, pedang itu akan lebih.
bersinar!” jawab si gadis.

299
Mereka seperti juga tengah ngobrol di warung kopi. sama
sekati tidak menunjukkan paras yang tegang. Sebaliknya
dengan Louw Eng. demi didengarnya percakapan mereka
Jalan darahnya semakin cepat sehingga menjadi tegang
urat syarafnya. Wajah dari pemuda pemudi itu membuat
kabur pandangannya. dalam matanya mereka bukan anak
anak yang baru berusia tujuh delapan belas tahun, tapi
adalah sepasang suami isteri rimba persilatan yang berilmu
tinggi!
Mereka sudah mendekat sekali dengan tubuhnya kurang
lebih tinggal sejauh panjangnya pedang yang panjang, yang
laki-laki di sebelah kiri. sedangkan yang perempuan di
sebelah kanan. Louw Eng adalah orang Kang ouw yang
sudah kawakan sekali, dari itu ia tak mau menyerang
terlebih dahulu. Ia tahu bagaimana harus menyerang dan
melumpuh kau musuh, dan mengetahui pula bagaimana
cara bergerak belakangan tapi menang. Lebih lebih
sepasang muda mudi ini tidak diketahui dari cabang apa,
sebaiknya ia bersabar saja menantikan serangan
mendatang.
Dengan mendadak pemuda pemudi itu menghentikan
kakinya, mereka mengejek: “Kenapa tak berani
menyerang? Berdiam diri di bawah pohon kayu menjaga
kelinci, apakah jurus ini terdapat di kitab ilmu pedang Naga
Terkejut (Keng Liing Kiam Hoat) ”
“Keng Liong Kiam Hoat?” tanya Louw Eng dengan heran.
Semenjak pedang wasiat ini berada di tangannya yang
membuatnya menyesal tak habis habisnya ialah tak dapat
mencarinya Ilmu Pedang ini. Terkecuali itu di dunia Kang
ouw pun tidak ada yang mengetahui di mana jatuhnya ilmu
pedang yang luarbiasa ini, tapi di luar dugaan kedua muda
mudi itu dapat menyebutkannya, sehingga membuatnya
turut bertanya juga, dan membentak:
“Siapa kau. kenapa mengetahui hubungan pedang ini
dengan ilmu memainkannya?”
“Pertanyaanmu sungguh baik. Tunggu sebentar akan
kututurkan hal ini dengan seterang terangnya dari awal

300
sampai akhirnya. Sebelum itu ke luarkan dulu lenganmu
untuk diborgol. dengan begitu aku baru dapat menuturkan
kejadian ini dengan hati yarg lapang!”
Begitu selesai bicara, tampak ia mencelat ke muka
secepat kilat, tubuhnya miring-miring menyusup di bawah
lengan kiri Louw Eag, jurus Yi Hoo Tjan Ek (bangau liar
membentangkan sayap), suatu ilmu bertangan kosong
melawan senjata.caranya ini mendesak mendekat ke tubuh
lawan. Tak ayal lagi Louw Eng menyabetkan pedangnya
dengan maksud mendesak pemuda itu sejauh tiga Jangkah.
Siapa tahu pada saat itu juga si gadis itu mercelat
dengan cepat ke sebelah bawah lengan kanannya sebuah
lengannya menyerang dengan ikat pinggangya. Entah dari
benda apa ikat pinggang itu dibuatnya, merapung ke udara
tak ubahnya seperti jaring labah labah putus tertiup angin,
sedangkan panjangnya tidak lebih diri dua tumbak,
tengahnya membelit pinggang, kedua ujungnya berjuntai ke
bawah, lebarnya tak lebih dari setengah elo, di atasnya
bersulam lurik yang mengeluarkan sinar, senja yang merah,
sungguh indah sekali. Begitu lengannya bergerak, ikat
pinggang itu seperti badai yang dahsyat turun naik
mengarah lengan kanan lawan.
Louw Eng mengebaskan pedangnya dengan maksud
menyingkirkan. Tak kira ikat pinggang itu seperti naga
bermain, berputar putar melilit ke tangannya dan
pedangnya.. Pedang itu tak dapat dilukiskan akan
tajamnya, tapi ikat pinggang itu tak dapat dikatakan akan
halus dan lunaknya, Louw Eng menggerek ikat pinggang itu
ke atas ke bawah, tapi sedikit juga tidak rusak dan masih
tetap melibatnya dengan erat. Ketika ini pemuda itu sudah
menyerang lagi ke sebelah kiri, ia hanya bisa menangkis
dengan lengan kirinya. Lengan kanannya yang dilibet gadis
itu membuatnya tidak wajar, tak dapat diputuskan, tak
dapat dilepaskan. Biar bagaimana ulungnya ia di dalam
dunia Kang ouw, belum pernah melihat atau mendengar
ilmu yang kukuay semacam ini.
Sedangkan Ong Djie Hai dan saudara saudaranya turut

301
menjadi heran menyaksiKan ilmu yang aneh dari gadis itu.
Ong Gwat Hee menjadi girang menyaksikan ini, ia adalah
anak gadis, tapi belum pernah memikirkan bahwa ikat
pinggang dapat digunakan demikian mentakjubkan,
sehingga membuat Louw Eng tak dapat berkutik dilihatnya.
Empat orang ini memasang matanya dengan Penuh
perhatian mereka ingin menyaksikan kelanjutannya dari
pertarungannya ini.
Pemuda itu tidak henti hentinya melancarkan serangan
dari sebelah kiri., serangannya ini tidak menyakitkan atau
membuat lawan luka, agaknya serangan ini hanya
bermaksud agar Louw Eng tidak dapat membuka ikat
pinggang yang melibet pedangnya dalam waktu yang
bersamaan, gadis itu mempermainkan ikat pinggangnya
beberapa kali, ikat pinggang itu seperti mempunyai
perasaan dan mendengar kata, melilit keKanan melibat ke
kiri perlahan-lahan menjadikan suatu ikatan mati.Pada saat
ini,kedua anak muda ini merangsak dengan berbareng. Dua
jurus ini melakukan suatu kerja sama yang luar biasa
manisnya. Sang gadis mengerahkan tenaga dalamnya
menarik ikat pinggangnya, dengan tujuan membuat jatuh
pedang lawan. Perhatian Louw Eng dicurahkan untuk
menghadapi gadis ini, menyusul gadis itu sudah menyerang
dengan Geng Hong Tui (tendangan angin puyuh) menyapu
kaki kanannya. Ketika itu juga pemuda yang berada di
sebelah kiri. memasuki jurus Pan Liong Kan Djiau (naga
melilit mengeluarkan cakar) lengan kanannya berpindah
mencengkeram batok kepala lawan. Louw Eng mengangkat
lengan kirinya menangkis serangan itu, sedangkan pemuda
itu melanjutkan serangannya dengan Tui In To Gwat
(mendorong bulan meraih bulan) membuat lengan kirinya
kena terdorong, berbireng kaki pemuda itu terangkat
dengan jurus Gong Hong Tui yang serupa menyapu kaki
kirinya.
Mereka melancarkan dan memasakkan serangan
serangannya dengan gaya dan cara yang sama sehingga
menunjukkan kerja sama yang erat sekali, tempo dan
teknik terpelihara baik. Saat lengan sang gadis menarik

302
“”ikat pinggang, sang jika tengah mendorong, ditambah
dengan tendangan angin payuh yang datang berbareng.
Dalam sekejap saja kedua lengan dan kedua kaki Louw Eng,
langsung terancam bahaya, pikirannya kacau. serba salah.
Tak ampun lagi kedua kakinya kena disapa, tubuhnya yang
besar terjengkang ke belakang terguling guling. Ingatlah
lengan kanannya yang mencekal pedang itu sudah diikat
mati ikat pinggang si gadis. Begitu ia bergulingan beberapa
kali gadis itu membarengi menarik ikat pinggangnya sekuat
tenaga, Louw Eng yang melihat itu tak ubahnya seperti
kelinci mati kena digantung! Tubuhnya bergantungan di
tengah udara, tak berdaya sehingga cuma cuma
menamakan diri sebagai Jago nomor satu!
Pemuda itu dengan cepat sudah berdiri dengan agak
menjongkok, lengannya terbuka naik ke atas. Gadis itu
menarik tubuh Louw Eng dan dijatuhkan dengan tepat di
tangan yang sudah terbuka itu. ketika itu juga Louw Eng
merasakan sekujur badannya kesemutan dan menjadi kaku.
Karena separuh jalan darahnya sudah tertotok. Pemuda itu
membanting tubuhnya, selanjutnya dengan tambang yang
sudah disediakan dibelenggunya dan dililitnya tubuh orang
semua-muanya dengan cepat sekali. Dengan mudah dan
cepatnya pasangan muda mudi ini berhasil meringkus
lawan, sehingga orang orang merasakan Louw Eng ini
seperti gentong kosong yang bersuara nyaring.
Louw Eng sudah mempunyai firasat untuk kalah, tapi tak
mengira bakal kalah secara mengecewakan sekali. Ong Djie
Hai dan Saudara saudaranya merasa kagum sekali kepada
kedua anak muda yang lebih muda dari mereka sendiri itu.
Selanjutnya pemuda itu menggusur lawannya ke tengah
tengah goa. Digeletakkan di atas tanah. Louw Tjen Tjen
juga diseret, ayah dan anak itu duduk bersenderan tanpa
berkata kata.
Kelua anak muda itu merangkapkan kedua tangannya
memberi hormat kepada Ong Djie Hat sekalian.
“Kakak sekalian terimalah hormat adikmu ini,” tubuhnya
mundur sambil membungkukkan badan, tanpa komando

303
keempat orang ini membalas hormat mereka.
Kedua pemudi ini kembali bicara:
“Pada malam Tiong Tjiu ini, kami menantikan lama sekali
di bawah rembulan yang indah, kiraku saudara-Saudara
tidak datang, siapa tahu tengah berkelahi dengan jahanam
ini. Kalau bukan Sah ko yang menunjukkan jalan, tidak
mudah untuk kami mencarinya.”
Mengingat baris terakhir dari sajak yang berbunyi. ‘Tamu
menanti malam Tiong Tjiu bulan delapan’, apakah yang di
maksud dengan tamu itu adakah mereka? Padahal dalam
hayalan Tjiu Piau, Gwat Hee dau Djie Hai tamu itu pasti
adalah orang perempuan yang sudah tua Karena waktu itu
ia mengantarkan sajak itu sudah delapan belas tabun
lamanya, sedikitnya kini sudah berusia empat sampai lima
puluh tahun. Siapa kira yang dihadapkannya sekarang ini
adalah anak anak muda belia yang lebih muda dari mereka.
Ketiga orang itu tanpa tanpa berkata-kata melirik kepada
Tju Sie Hong, karena pemuda itu ialah yang membawanya.
Sedangkan empat mata pemuda pemuda itu. mengawasi
juga kepada Tju Sie Hong menantikan penjelasannya.
Tju Sie Hong dari dalam sakunya mengeluarkan secarik
kain persegi, diberikannya kepada Ong Djie Hai sambil
berkata: “Toa ko, ini adalah benda kepercayaan dari
saudara saudara ini ” Sesudah Ong Djie Hai menyambut
dan membuka kain itu, di atas kain ini tersulam Liong dan
Hong yang mengitari dua puluh delapan huruf. Huruf huruf
itu adalah sajak untuk pertemuan mereka.. Dilihat dari
tulisannya, tak salah lagi serupa betul dengan yang mereka.
Hanya tulisan ini semakin lama semakin tergesa-gesa dan
tintanya tak senyata yang dimiliki mereka.
Mungkin tahun lalu ditulisnya kesusu sekali. Sedangkan
kain yang digunakan persis sekali dengan mereka, demikian
pula dengan pinggiran bekas guntingan pokoknya tak perlu
diragukan lagi semua serupa. Selesai melihat diserahkannya
kain itu kepada Tjiu Piau, kemudian Tjiu Piau menyerahkan
ke pada Ong Gwal Hee. Selesai melihat mereka mengerti

304
siapa yang berdiri di mukanya, yakni orang yang selama
delapan belas tahun dinanti nantikan.
Walaupun hati mereka masih diliputi keraguan tapi
kegirangan dan keharuan mereka sudah merangsang ke
dalam sanubarinya sehingga hal-hal yang lain terdesak
kesamping dan dilupakan,
Ong Djie Hai melangkahkan kakinya kemuka, sudut
bibirnya tergetar dan mengeluarkan perkataan
“Heng tee(saudara)” dan segera tidak dapat melanjutkan
lagi. Sebaliknya keduanya mengeluarkan tangan dan saling
pegang dengan erat sekali tanpa berkata-kata juga. Di balik
lain Oig Gwat Hee tengah berpeluk-pelukan dengan gadis
itu dengan mesranya, sedangkan Tjiu Piau saling rangkul
dengan Tju Sie Hong. Ong Djie Hai menekan perasaan
girangnya, ia berkata sambil melepaskan lengannya.
“Saudara-saudara marilah kita saling memperkenalkan diri,
kemudian kuminta untuk saudara-saudara menuturkan apa
yang sudah terjadi selama delapan belas tahun yang lalu di
Oey San ini. Terkecuali itu siapakah yang mengantarkan
sajak delapan belas tahun yang lalu itu.
Mungkinkah ia berhalangan datang hari ini? Hal ini perlu
juga saudara terangkan agar kami selalu dapat mengenang
budinya yang besar itu.”
Sehabis bicara mulailah ia memperkenall an diri,
“aku Ong Djie Hai putera dari Ong Tie Gwan almarhum.”
Kedua muda mudi itu merangkapkan kedua tangannya
sambil berkata:
“Ong toa ko ”
Selanjutnya ditunjuk Tjiu Piau dan di perkenalkannya.
“Ini adalah Tju Piau Heng tee.”
Kedua pemuda itu memandang Tjiu Piau sambil
tersenyum, kemudian baru memberikan hormatnya:
“Tjiu Djie ko.”

305
Mereka masing-masing pernah bertemu muka di Ban Liu
Tjung, tentu saja Tjiu Piau juga masih ingat apa yang
terjadi di sana. Sehingga Ketiganya mesem mesem dengan
lucunya!
Ong Djie Hai menunjuk Tju Sie Hong: “Ini adalah Tju Sie
Hong Sah tee.”
Serta memperkenalkan pula adiknya sendiri, sehingga
upacara perkenalan ini selesai semua, sesudah itu pemuda
ini memperkenalkan diri. “Aku bernama Wan Thian Hong.
Saudara saudara mungkin tidak mengetahui bahwa kami ini
adalah adik adik dari saudara tapi tak perlu heran karena
kami berdua adalah anaknya saudara angkat dari ayah
saudara saudara.”
“Siapakah nama besar dari ayahmu?” tanya Djie Hai.
“Ayahku bernama Wan Tie No!” jawab mereka serentak.
Jawaban ini di luar dugaan Djie Hai berempat, mereka
belum pernah mendengar Wan Tie No mengangkat saudara
dengan ayahnya, dan tak pernah mendengar beliau
mempunyai anak. Mereka terdiam sambil pandang
memandang. Keadaan seketika lamanya menjadi sunyi.
Tiba tiba terdengar suara Louw Eng yang penuh amarah
meletus dari mulutnya: “Bohong! Bohong! Penipu!
Pendusta! Jangan dengari ocehannya! Jangan dengar cerita
burung”
Pemuda itu menghampiri sambil membentak: “Louw Eng!
Hari ini kau kejepit tak dapat lari kemana-mana. dari itu
hutang piutang selama delapan belas tahun dapat kita
perhitungkan bersih sekarang juga!”
“Tutup mulutmu dan jangan berkata-kata Kalau tidak
urat gagumu itu akan kutotok!” Bentak pemuda itu dengan
garang. Kemudian ia menoleh kepada Djie Hai berempat,
“untuk menuturkan peristiwa Oey San membutuhkan waktu
yang lama, mungkin sampai fajar menyingsing, dari itu
kuminta saudara saudara berduduk. Mendengar ini
semuanya menganggukkan kepala, belum sempat pemuda

306
itu membuka suara dari luar goa terdengrr menderunya
badai pohon Siong yang hebat seperti gelombang pasang
dimalam buta. Turun naik tak henti hentinya membuat
perasaan seseorang seperti berada di tengah sebuah perahu
kecil yang sedang diombang ambingkan taufan yang maha
dahsyat. Suara gemuruh itu merupakan jaga suara
peperangan yang sengit dan membuat jantung berdebar
debar tak karuan.
Demi didengarnya suara yang aneh ini, muda mudi itu
mengucurkan air mata mereka Sesaat kemudian pemuda
itu berkata: “Moy moy marilah kita mulai dengan penuturan
kita secara bergilir, nah, kau mulailah terlebih dahulu!*’
Pemudi itu menganggukkan kepalanya .tanda setuju,
mulutnya terbuka mengeluarkan suara yang garing dan
merdu melebihi suara seruling kumala, sehingga membuat
para pendengar tak bosan bosan.
“Kami merasa terharu mendengar suara gemuruh pohon
Siong ini dan mengucapkan sukur alhamdulilah. Berkat
suara inilah kami terhindar diri kematian! Saudara saudara
harus mengetahui, delapan belas tahun berselang dimana
Louw Eag tengah mengganas dengan akal kejinya yang luar
biasa busuknya. terdapat anak kembar yang baru dilahirkan
beberapa hari lamanya menangis tidak henti hentinya.
Untunglah suara anak yang tak mengetahui bahaya ini reda
tertekan badai Siong yang maha hebat, sehingga tidak
terdengar sang jahanam. Kalau tidak pasti kami tidak dapat
hidup sampai hari ini.
Adapun ayahku bernama “Wan Tie No, seorang bawahan
dari Lie Tja Seng, waktu turut Giam Ong menyerbu ke utara
beliau menderita luka parah. Siat itu bangsa Boan sudah
masuk ke wilayah Tiongkok, tentara Giam Ong kena dipukul
hancur, untuk menyelamatkan diri ayahku yang luka
membawa ibuku yang tengah mengandung menyingkir ke
Oey San. Seiring dengan orang tuaku mengikuti pelayan
kami yang setia, kami biasa memanggilnya Yan Ie. Pelayan
ini memiliki juga ilmu silat yang lumayan, sepanjang jalan
ibu dan ayahku mendapat perawatannya yang baik
sehingga mereka bisa sampai di puncak Thian Tou Hong

307
dalam keadaan sebat dan segar. Ayahku mengetahui
adanya goa rahasia ini, dari sejak hari itulah mereka
menetap di goa untuk melewatkan hari.
Sebulan kemudian luka ayahku sudah agak baikan,
terkecuali itu kegirangannya bertambah tambah sebab
kelahiran kami berdua. Waktu kembali berlalu, pada suatu
hari ayah menitahkan Yan Ie mengirim kabar kepada
sekalian patriot bangsa untuk berkumpul di Oey San guna
merundingkan suatu pergerakan di bawah tanah untuk
merobohkan pemerintah penjajah. Yan Ie sangat cekatan
sekali dalam waktu singkat sudah selesai menjalankan
tugasnya. Waktu kembali ke dalam goa dibawanya sepucuk
surat dari orang orang percinta negara. Ayah sangat girang
atas hasil Yan Ie yang baik itu, dibukanya surat yang
dibawa itu. Nyatanya surat itu adalah balasan dari Ong Tie
Gwan Pepe, dalam suratnya beliau mengatakan bersedia
turut dalam rapat ini dengan hati terbuka Pada harian Tiong
Tjiu Ong Pepe, Tjiu Siok siok, Tju Siok siok datang mendaki
Oey San, terkecuali dari mereka mengikuti pula jahanam ini
Ayahku tidak mengenal dan tidak mengetahui sifat dan
tabiat dari Louw Eng, tapi beliau tidak merasa curiga sebab
jahanam ini diperkenalkan oleh Ong Pepe sebagai saudara
angkatnya. Dengan girang kedatangan mereka dijamu di
atas Thian Tou Hong, sebelum ini ayah sudah memesan Yan
Ie untuk menjaga kami, sehingga ia tidak bisa ke luar untuk
menyaksikan apa yang tengah dirundingkan di atas puncak
yang tinggi itu.. Rupanya percakapan mereka sangat cocok
satu dengan lain, dari itu semakin lama semakin banyak
kata kata mereka akhirnya diputuskan untuk mengangkat
saudara di antara mereka. Untuk upacara ini ayahku
kembali ke dalam goa, untuk meneambil arak, saat itu kami
sudah tidur dengan nyenyak, begitu ayah ke luar Yan Ie
mengikutinya dari belakang, dalam kegirangan yang meluap
luap Yan Ie berhasil naik ke atas dan bersembunyi di
sebuah pohon Siong tanpa diketahui mereka. Tidak
tersangka kedatangannya ia ke situ seperti suruhan dari
malaikat atau para dewa guna menyaksikan dan menjadi
orang satu satunya yang mengetahui apa yang mengetahui
apa yang terjadi di situ. Dilihatnya keenam orang

308
menghadap ke langit sambil berlutut kepada yang maha
kuasa untuk menyaksikan mereka mengangkat saudara.
Sesudan upacara selesai mereka melanjutkan lagi
percakapan. Dalam pembicaraan itu dapat diketahui bahwa
Louw Eng dan ibuku adalah saudara misan Kini mereka
menceriterakan dengan asyik masa perpisahan selama itu.
sehingga pecakapan berjalan bertambah hangat, mereka
meminum arak dan terus melangsungkan kegirangannya
ini. Yan Ie menyaksikan mereka kegirangan sampai mabuk
arak selanjutnya mereka memain pedang dan menyanyi.
Ayahku mengeluarkan dua bilah pedang mustika kepada
saudara saudaranya. Dan mengatakan bahwa pedang itu
dapat dirampasnya dari seorang jenderal Tjeng belum lama
berselang. Pedang ini bukan main tajamnya, pedang naga
dapat menabas logam seperti tanah lumpur, pedang Hong
kalau dibunyikan akan mengeluarkan suara yang nyaring
dan menarik. Sesudah mereka melihat pedang ayah ini,
mereka memuji bahwa pedang itu bagus adanya Lebih lebih
Louw Eng memegangnya lama sekali, seolah olah tidak mau
melepaskan kembali.
Saat itu bulan semakin tinggi di awang awang. Mereka
semakin mabuk, hanya seorang yang tidak mau minum dan
tidak mabuk karena mengandung niat melakukan pekerjaan
keji dan terkutuk. ” Menurut sampai di sini Wan Thian Hong
berpaling kepada kakaknya sambil berkata;
“Koko selanjutnya kau tuturkaulah kisah selanjutnya dari
peristiwa Oey San ini.”
“Baik, akan kulanjutkan,” jawab Wan Djin Liong.
“Ketika itu Louw Eng sangat girang sekali mulutnya itu
tidak henti hentinya memprogandakan bagaimana ia cinta
negara, sedangkan tangannya tidak henti hentinya
menuangkan arak kepada orang yang berada di kiri
kanannya. Ong Pepe adalah ahli minum sehingga kena
diloloh terbanyak olehnya.
Adapun tabiat dari Ong Pepe sangat pendiam dan tidak
suka membanggakan dirinya, padahal beliau adalah seorang
patriot yang sejati. Dari itu derai didengarnya arak yang

309
diminum ini untuk kejayaan kaum pencinta negara
diminumnya banyak dan banyak sekali, sehingga mabuk tak
sadar diri dan merebahkan dirinya di sebuah batang Siong
yang rindang untuk istirahat.
Louw Eng menipunya pula kepada Tju Siok-siok,
dikatakannya bahwa gunung Oey San ini mempunyai alam
yang indah dan tempatnya segala pohon-pohon yang jarang
didapat di dunia lain. Tju Siok siok sangat girang
mendengar ini, dan mengatakan ingin turun ke bawah
jurang untuk mencarinya. Terkecuali itu dengan ocehannya
yang tidak baik menipu Tju Siok-siok, ia mengatakan bahwa
di Oey San ini terdapat semacam binatang hutan yang luar
biasa lezat akan dagingnya, tapi binatang itu sukar sekali
ditangkapnya, bahkan seorang ahli senjata rahasia juga
belum tentu dapat memburunya. Hal ini membangkitkan
kegirangan besar untuk Tju Siok-siok, tanpa banyak
komentar lagi ia pergi untuk memburu binatang itu, guna
dipanggang sebagai temannya arak.
Heran mulutnya Louw Eng ini pintar sekali mengeluarkan
kata-kata dusta, ayahku kena diakalinya untuk
mengeluarkan lagi Liong Hong Kiam untuk dinikmatinya. Ia
mencekalnya pedang itu dengan erat dan tak dilepas lepas,
sedangkan mulutnya tidak henti hentinya mengoceh terus.
Mengatakan bahwa Giam Ong sudah tidak bertenaga lagi,
sebaliknya tentara Tjeng semakin kuat, dari itu membujuk
ayahku untuk mengabdi ke pada pemerintah Boan. Katanya
ayahku sebagai orang kenamaan di dunia Kang ouw pasti
akan mendapat kedudukan yang tinggi dan hidup mewah
kalau mau kerja sama dengannya, waktu mengatakan ini
Louw Eng tetap memegang dan memutar mutarkan pedang
naga dan cendrawasih.
Tatkala itu Yan Ie yang berada di atas pohon dapat
mendengar dengan tegas apa yang dikatakan Louw Eng,
sedangkan matanya tidak lepas-lepas menatap ayahku yang
menahan kegusaran untuk mendengarkan terus kata kata
Louw Eng. Waktu mendengar sampai dikelimaksnya ayahku
tidak kuat bersabar lagi, ia melompat sambil menamparkan
lengannya ke muka Louw Eng. Waktu itu kepandaiannya

310
kalau dibandingkan dengan sekarang terlebih bangpak lagi,
sebaliknya kepandaian ayahku lebih tinggi entah berapa
tingkat Gerakan ayahku yang seperti kilat itu, mana dapat
dielakkannya! Mentah mentah pipi kirinya kena tamparan
secara mutlak, sehingga tubuhnya bergoyang goyang dan
terhuyung huyung. Untunglah tamparan ini tidak terlalu
keras bilamana tidak. tamparan ini pasti sudah
mengirimnya ke dunia baka. Sesudah menerima tamparan
ini, Louw Eng masih dapat bersabar dan tidak gusar,
demikian juga dengan pipinya sedikit juga tidak diusap,
agaknya seperti tidak ada kejadian apa apa.
Ia memungut ranting kering dari tanah sambil berkata:
“Wan Djie ko pikirlah terlebih masak,kuberi waktu untuk
kau berpikir beberapa cegukan air teh lamanya, selewatnya
itu segera kau jawab apa yang kumaksud.
Jika kau mengangguk tandanya setuju, kalau kau goyang
kepala jangan sesalkan pedang naga dan Hong yang tidak
bermata ini!”
Habis berkata ia menabas putus ranting ranting kering
itu menjadi dua potong, gertakan ini memaksa agar ayahku
menganggukkan kepalanya. Hal ini membuat mata ayahku
mendelik, dengan tangan kosong diserangnya Louw Eng
penghianat ini. kedua kakinya mengeluarkan tendangan
berantai menyapunya. Inilah ilmu yang luar biasa dari
ayahku, tidak kena tendangan pertama pasti tidak dapat
mengelakkan tendangan yang kedua. Sungguh di luar
dugaan tendangannya ini mengenai angin.
Tentu saja hal ini ada sebab-sebabnya, yakni luka di
kakinya belum sembuh betul, sehingga tidak berapa
bertenaga, terkecuali itu terlalu banyak meminum arak
sehingga agak mabuk adanya.
Sesudah tendangannya tidak membawa hasil, tubuhnya
menjadi bergoyang-goyang tidak tetap, ibuku dan Louw Eng
mengerti apa yang menyebabkan terjadinya ini. Louw Eng
menjadi girang, sebaliknya ibuku menjadi gelisah.
Dalam keadaan demikian ini Louw Eng tidak membuangDewi
KZ http://cerita-silat.co.cc/
311
buang waktu, diserangnya ayahku bertubi-tubi dengan
gertakan kosong, dengan tujuan melemaskan dan
menghabiskan tenaga ayahku. Semakin menyerang
semakin keras bekerjanya tenaga air kata kata itu di dalam
otak ayahku. Tindak demi tindak semakin tidak teratur
langkah kakinya, sedangkan lengannya mulai tak dengar
kata pula. Melihat hal ini ibuku menjadi cemas, dengan
kedua lengannya dirangkul dan dipayang ayahku dari
belakang Ia menoleh kepada Louw Eng sambil berkata:
“Piau ko, apakah kau sudah mabuk! lekas hentikan
lenganmu!”
Ibuku adalah kaum terhormat yang menjunjung
kebajikan, dengan sendirinya dalam pikiran dan
perkiraannya bahwa Louw Eng sudah mabuk.
Siapa tahu hal ini menyadarkan sang penghianat, dengan
tiba-tiba ia pura-pura mau muntah seperti orang yang
sesungguhnya mabuk, sedangkan tubuhnya sempoyongan
dibuat-buat dan berkata: “Aku tidak mabuk, aku tidak
mabuk!”
Ibuku memegang ayah dari belakang tubuhnya semakin
erat sedangkan ayahku membungkuK ingin muntah, ketika
inilah Louw Eng menyerang dari belakang. Serangan
gelapnya berhasil, pedang itu menembus dari tubuh ibuku
langsung ke tubuh ayahku.
Andai kata tidak ada tubuh ibuku di belakangnya jangan
harap ia dapat melukakan ayahku dengan kepandaiannya
yang begitu buruk. Misalkan berdepan mungkin Louw Eng
ini yang kena dan binasa terlebih dahulu di tangan besi
ayahku.
Kemudian ia menyebarkan berita di dunia Kauw ouw
bahwa ayahku itu kena dikalahkannya dan dibinasakan
dengan ilmu pedangnya, karena ini namanya menjadi besar
dan terkenal ke mana-mana.
Dalam girangnya ia menganggap dirinya yang paling
lihay di dunia persilatan ini. Hal yang sesungguhnya Louw
Eng ini tidak lebih dan tidak kurang seperti kodok buduk

312
yang jorok dan kotor.
Kenapa kukatakan demikian dengarlah terus apa yang
akan kuceritakan.
Sesudah membunuh ayah dan ibuku jahanam ini masih
dapat berkata; “Piau moy cara ini terpaksa kulakukan, kalau
tidak demikian tentu aku yang akan dibunuh kalian. Untuk
menebus dosa ini akan kupanggili beberapa orang paderi
untuk membacakan liam keng guna keberuntungan kalian di
akhirat,” kata katanya ini hampir membuat dada Yan Ie jadi
meledak, kegusarannya tak tertahan lagi, tubuhnya segera
akan turun untuk mengadu jiwa dengan Louw Eng.
Tiba tiba niatnya dibatalkan demi di dengarnya tangisan
dari liang goa, sehingga ia sadar bebannya sangat berat
adanya.
Orang tuaku sudah mati, orang satu-satunya yang dapat
merawat kami hanya Yan le seorang.
Baiknya saudara saudara angkat dari orang tuaku tidak
pernah masuk ke dalam goa ini, tambahan begitu bertemu
muka segera sibuk membicarakan hal negara, dan
melupakan tentang kelahiran kami, sehingga Louw Eng
tidak mengetahui ada dua jiwa kecil yang akan menuntut
dosanya dihari kemudian.
Dengan kesabaran yang luar biasa Yan Ie menahan
gelora hatinya yang seperti ditakar. Terkecuali itu ia kuatir
suara kami dapat didengar Louw Eng, untunglah sebelum
jabanam itu mendengar, badai pohon Siong yang keras
menderu deru terus sampai dua hari lamanya.
Pada saat badai ini mengamuk seolah-olah Oey San ini
tengah diamuk angkara murka, sehingga membuat Ong
Pepe tersadar dari mabuknya. Waktu itu Yan Ie tidak
mengetahui tabiat dari Ong Pepe, kiranya sama saja dengan
Louw Eng. tak kira dugaannya ini salah sekali.
Sesampainya Ong Pepe di tempat kejadian lantas
menjadi kaget, sebaliknya Louw Eng menggerak gerakkan
kaki dan tangan entah sedang menceritakan apa.

313
Ong Pepe mematung melihat tubuh orang tuaku yang
mati secara mengecewakan, kesedihannya teramat hebat,
membuat dia tak bisa menangis membuka suara. Perlahan
lahan ia mendekat ke tubuh orang tuaku dan ditubruknya
orang tuaku itu, dia mendekam demikian lama dan tak
bangun-bangun. Ah. Louw Eng adalah manusia keji tidak
kepalang tanggung lagi kesempatan itu di pergunakan
dengan sebaik baiknya. Kedua lengannya dirangkap
menjadi satu. dengan ilmu pelajaran dari cabang Hek Liong
Pang yang lihay.
Ong Pepe dihantam dari belakang. Lengan kanan itu
menghajar terlebih dahulu, kemudian disusul dengan lengan
kiri yang menggunakan seluruh tenaga di dalam, menghajar
ke tangan kanan sehingga tangan itu menjadi satu,
sedangkan tenaga serangan menembusinya dan langsung
menyerang ke dalam tubuh Ong Pepe. Pukulan ini terang
terang adalah ilmu Hek Liong Lo Kuay, entah apa
hubungannya antara ia dan Hek Liong itu.
Tenaga pukulan ini menggunakan tenaga seluruh tubuh,
tambahan Ong Pepe tak mempunyai persiapan dan tidak
bersiaga, dengan sekali pukul ini tak ampun lagi segera
mendekam di tubuh orang tuaku untuk selama-lamanya.
Louw Eng belum puas atas kejahatannya itu. dengan
tenang dinantikannya Tjiu Siok siok kembali Saat ini Yan Ie
sudah mengetahui maksudnya Louw Eng dan dapat
membedakan bahwa jahanam ini bukan kawan Ong Pepe,
Tjiu Siok siok, Tju Siok siok.
Ia berpikir, biar bagaimana juga harus memperingati Tjiu
Siok siok agar ia tidak kena dibokong.
Lebih kurang beberapa jam lamanya Louw Eng
menantikan di jalan gunung Tjiu Siok siok sudah kembali
sambil menenteng dua anak rusa.
Tanpa mempedulikan sesuatu Yan Ie berteriak keras:
“Hei pendatang awas serangan gelap!” sayang suaranya
yang dilepaskan demikian kuat itu kandas dalam gelombang
suara pohon Siong itu.

314
Sehingga mereka tidak mendengarnya. Dalam waktu
sekejap saja peristiwa yang mengerikan sudah terjadi.
Begitu Tjiu Siok siok memijakkan kakinya di atas puncak,
segera disamber saudara angkatnya yang berhati binatang
itu dengan puKulan Eng Hui Tjia Kiong (elang ganas
menubruk datang) yang sangat ganas..
Sukur Tjiu Siok siok sangat gesit dan lincah, tiba tiba
tubuhnya berbaring di bumi sambil mengeluarkan ilmu Wo
Liong Tou Tju (naga rebah menyemburkan mustika),
sebuah mutiara beracun yang dilepaskan tepat mengenai
pangkal lengan lawan. Pada saat yang bersamaan Tjiu Siok
siok pun tidak dapat mengelakkan tendangan lawan.
Mereka jatuh berbareng, dalam waktu yang singkat tidak
bisa bangun lekas-lekas. Waktu itu Yan Ie tidak mengetahui
kelihaiannya Tok Tju keluarga Tjiu karena ini ia ragu ragu
untuk turun ke bawah. Dari tempat sembunyinya ia melihat
Louw Eng dengan jeriji lengannya menulis dua buah garis
kata kata di tanah, kemudian tidak dapat bergerak.
Tju Siok siok mencelat bangun sambil menghampiri dua
baris kata kata itu, agaknya ia gugup sekali, matanya
mendelong memandang Thian Tou Hong, sedangkan
kakinya melangkah setindak demi setindak, kemudian
dengan tergesa gesa ia balik kembali untuk mengeluarkan
obat pemunah guna mengobati Louw Eng. Tak lama
kemudian mereka menghampiri di mana terjadinya drama
yang menyedihkan atas diri Wan Tie No suami isteri dan
Ong Pepe.
Louw Eng tak henti hentinya menggerakkan tangannya
menunjuk nunjuk ke atas kebawah entah kata kata gila
macam apa yang tengah diucapkan tidak dapat terdengar.
Tapi Tjiu Siok siok mendengarinya ceritera gilanya dengan
mendelong, tiba tiba sang jahanam menunjuk ke dalam
jurang yang berada di bawah kaki mereka, sewaktu Tjiu
Siok siok memutar badan Louw Eng membarenginya
menusukkan pedangnya dengan cepat, menyusul kakinya
terangkat untuk mengirimkan tubuh saudara angkatnya ke
dasar jurang.

315
Tjiu Siok siok menderita luka besar dan tak dapat
melawan pula kakinya tidak dapat bertahan lama lama,
segera juga tubuhnya, itu berguling guling beradu dengan
cadas cadas gunung sambil mengeluarkan jeritan tertahan,
tubuhnya hilang di dalam jurang yang dalam itu.
Saat itu Yan Ie menjadi heran, apa yang ditulis Louw Eng
di atas tanah itu, sehingga dengan mudahnya Tjiu Siok-siok
mengeluarkan obat pemunah untuk menolong jiwanya. Hal
ini diketahuinya kemudian sesudah peristiwa ini berlalu,
kata kata itu berbunyi: bencana besar mendatang membuat
Toa ko mati secara menyedihKan, Siau tee mengira Djie ko
yang melakukannya, dari itu kuhantamnya dengan tak
sadar. Aku mati tidak menjadi soal, tapi sayang apa yang
terjadi tidak diketahui dengan terang.
Hanya dengan kata kata ini Tjiu Siok siok kena ditipu dan
masuk ke dalam jurang. Ah, rupanya jahanam ini belum
puas atas hasil busuknya, dengan menghunus pedang ia
berdiri di tepian tebing menantikan datangnya Tju Siok siok.
Ya kalau dikatakan sungguh aneh juga, karena Tju Siok
siok itu sesudah pergi lama belum juga kembali, entah ia
pergi ke mana dan sudah menemukan benda apa saja
agaknya sampai sudah lama sekali belum kelihatan kembali.
Waktu yang lama ini membuat Yan Ie kesal sekali dan
tak sabaran.
Dalam kesalnya Yan Ie melihat berkelebatnya sinar emas
dari kaitan Tju Siok siok, sehingga hatinya menjadi girang.
Dengan perlahan lahan ia turun dari tempat
persembunyiannya, pikirnya begitu Tju Siok-siok naik
segera ia akan berteriak untuk membuka kedok
kejahatannya jahanam itu. Andaikata untuk bertarung ia
yakin dengan tenaga ia dan Tju Siok siok berdua dapat
merobohkan jahanam ini. Alangkah kagetnya waktu
dilihatnya apa yang dilakukan Louw Eng. yakni belum tubuh
Tju Siok siok naik ke atas sudah dihajarnya dengan pedang
naga, sehingga kaitannya menjadi putus.tapi Tju Siok siok
tidak menjadi gugup, dengan kaitan yang satu lagi ia
berusaha menolong diri, tapi sayang sekali usahanya itu

316
sia-sia saji. karena jahanam ini tidak memberikan ketika
sedikit juga pada orang yang belum siap sedia. Sekali lagi.
pedang naga berkelebat membabat putus kaitan itu,
sehingga pemiliknya tak berdaya lagi menguasai tubuhnya,
terus tergelincir dengan keras sambil mengeluarkan jeritan
keras yang menyedihkan dan mengerikan sekali….
Entah karena Yan Ie terlalu banyak menghayal entah
bagaimana, katanya di dalam tidurnya atau mimpi sering
mendengar jeritan yang luar biasa menyedihkan itu.
Dengan wajah kejam dan haus darah Louw Eng tetap
memegang pedangnya menjaga di tepi jurang kalau kalau
yang dicelakakan itu dapat naik kembali, menggunakan
ketika ini Yan Ie kembali naik ke atas pohon dengan aman.
lalu dilihatnya Louw Eng mendorong batu batu besar ke
jurang di mana Tju Siok siok jatuh, takut kalau saudara
angkatnya itu belum mati, sesudah dinantikan lagi seketika
lamanya baru ia pergi berlalu. Untunglah sampai ia pergi
Yan Ie tidak diketahuinya, sehingga hal ini dapat kita
ketahui sampai sekarang. Hei, jahanam kau pikir sudah
tidak ada manusia lain yang mengetahui perbuatan kejimu
itu yang terkutuk, kau harus tahu, kalau perbuatan kamu
tidak diketahui orang janganlah berbuat, pasti tidak
diketahui orang.”
Wan Djin Liong menutup ceriteranya sampai di sini.
sementara itu para pendengarnya menjadi diam seketika
tak berkata.
Sesaat kemudian Tjiu Piau membuka mulut:
“Kemudian bagaimana? Orang yang memberikan sajak
kepada kami pasti Yan Ie adanya?”
“Memang,” jawab Wan Tnian H^ng, kira Louw Eng
perbuatannya tidak ada yang tahu dengan tenang ia
meninggalkan Oey San. Sebaliknya Yan Ie segera turun dari
atas pohon, dengan perasaan duka ia menangis tersedu
sedu. Di tempat bekas Tjiu Siok siok dicelakakan ia
menemukan mutiara beracun yang segera disimpannya
dengan hati hati. Selanjutnya ia menjenguk kami yang
sudah menangis dengan hebat sekali. Yan Ie ingat kata kata

317
dari ayahku bahwa pedang naga dan cendrawasih itu akan
diberikan kepada kami dari itu diberikanlah kami nama oleh
Yan Ie dengan mengambil nama dari pedang itu.
Selanjutnya pada hari kedua sesudah terjadinya peristiwa
itu Yan Ie dengan mengubur jenazah orang tuaku dengan
tergesa gesa dan turun gunung untuk mewartakan dan
memberikan sajak kepada saudara saudara untuk kembali
berkumpul delapan belas tahun kemudian.”
Dengan serentak Ong Djie Hai, Tjiu Piau, Tju Sie Hong,
Ong Gwat Hee membuka mulut dengan berbareng:
“Kini Yan Ie berada dimana? Kami ingin menemuinya
untuk menghaturkan terima kasih kepadanya.”
Dengan perasaan sedin dan duka dua saudara Wan itu
menundukkan kepalanya, sesaat kemudian Wan Thian Hong
baru menjawab pertanyaan ini.
“Sayang Yan Ie sudah meninggal dunia, sebelum saudara
saudara dapat menemuinya, ia…”
“Ha ..ha., ha,” Louw Eng tertawa dengan keras
memotong pembicaraan Wan Thian Hong. Suara tertawa ini
membuat semua orang memandang kepadanya dengan
sorot mata membenci, terkecuali Tjen Tjen seorang yang
merasakan suara itu penuh diliputi kebaikan. Karena saat
itu gadis ini tengah teraduk aduk otaknya, ia tidak habis
pikir ayahnya adalah seorang penghianat bangsa yang
memalukan sekali. Dalam jiwa kecilnya yang murni Tjen
Tjen menjadi malu sekali mempunyai ayah semacam Louw
Eng, sehingga kepalanya tunduk terus sambil mendengari
ceritera yang dituturkan dua saudara Wan. Tiba-tiba
mendengar suara tertawa dari ayahnya dengan segera ia
bertanya dengan napsu sekali.
“Tia tia, kau, kau masih dapat tertawa dan apa yang
ditertawakan?”
“Sesudah aku mendengari semalam suntuk sampai dini
hari. kiranya tidak lebih tidak kurang hanya ceritera
kampungan yang lucu sekali, ah, tidak kukira dua bocah ini
dapat berkelakar demikian hebat sekali.” kata-katanya

318
ditutup dengan suara tertawanya yang keras sekali.
Dua saudara Wan agaknya enggan mengadu lidah
dengan Louw Eng, dilihatnya Ong Djie Hai dan saudara
saudaranya yang menatap wajah sang jahanam itu dengan
tajam, agaknya mereka tidak tergeraK sedikit juga dengan
suara tertawa yang memuakkan itu. Hanya Louw Tjen Tjen
saja menjadi lebih bergirang dari pada tadi. ia berharap
ceritera yang tadi itu adalah kosong alias bohong, agar
dirinya terhindar dari sebutan puteri jahanam.
“Louw Eng. jangan harap kau dapat mengakali kami
sebagai delapan belas tahun yang lalu! Akui saja segala
perbuatan busukmu itu.”
Louw Eng diam tidak menjawab, ia sadar hal ini tidak
dapat dipungkir lagi. tapi biar bagaimana ia berharap untuk
meloloskan diri dari goa celaka ini. Karena itu ia ingin
memperlambat waktu agar kawan-kawannya yang sudah
mengurung Oey San ini dapat tahu dan dapat sekaligus
membekuk jago jago rimba-rimba persilatan yang
menentang pemerintah Tjeng, kalau hal ini berhasil ia boleh
merasa aman untuk melewatkan hari hari yang akan
datang, sambil menikmati jasa-jasanya terhadap
pemerintah Tjeng.
Louw Eng menatap wajah orang satu demi satu, tanpa
gugup ia berkata;
“Karena lalai aku terjatuh di tangan kalian, maka itu
disuruh mengaku kalah, aku mengaku kalah, misalkan
kalian ingin dengan sekali tabasan pedang untuk
mencelakakan aku. dengan sendirinya aku akan mati. Tapi
untuk aku mengakui sebagai penghianat saudara saudaraku
sendiri sekali-kali tidak berani.”
“Katakan sekali lagi. mengaku atau tidak!” Bentak Wan
Thian Hong dengan sergit.
“Sudah kukatakan aku mengakuinya, karena terpaksa.”
Wan Thiau Hong dan Wan Djin Liong dalam waktu
sekejap saja sudah mulai sengit dan naik darah. Darah

319
mudanya sudah mulai bekerja sehingga pikirannya menjadi
kalut dan dikuasai napsu, sehingga hilang pikiran jernihnya.
Tidak dapat menimbang buruk baiknya sehingga sesuatu
tindakan hanya menurut perasaan saja. Dua saudara Wan
adalah anak kembar, segala jalan pikirannya satu sama lain
serupa sekali sejak kecil. Kalau sang kakak berpikir begitu
sang adikpun mempunyai pikiran begitu jadinya setiap ada
soal berat dihadapi dan harus diselesaikan mereka dapat
melakukannya dengan bersama dan tak perlu berdamai
lagi. Kini menghadapi suasana gawat ini masing masing
berpikir:
“Kau tidak mau mengakui dosamu, aku akan menantikan
sampai kau mengakui dosamu baru kubunuh, agar kau mati
dengan puas, kalau kau tidak mau mengakui kalah akan
kulepas dan kuhajar lagi sampai kau menyerah dengan
puas pula!”
Sehabis berpikir begitu dua saudara kembar ini saling
menatap dengan puas. Wan Thian Hong menghadapi
saudara saudara lainnya sambil berkata :
“Saudara saudara penghianat ini tidak mau mengakui
dosanya, dari itu untuk membuktikah dosanya itu kita harus
mencari orang guna saksi . . ”
Belum habis ia. berkata Ong Djie Hai sudah memotong di
tengah jalan:
“Saudara-saudara Wan sekali kali jangan berpikir begitu,
masakan kami tidak percaya kepada kata katamu?”
“Atas kepercayaan dari saudara-saudara kami
mengucapkan sukur, tapi jahanam ini tidak mau
mengakuinya dengan kemudian baru menghukumnya agar
ia mati secara puas.”
Habis berkata demikian ia menatap kepada musuh,
“Louw Eng, dengan sekali cungkil hatimu yang busuk itu
dapat kulihat dengan nyata, kini kuberikan waktu beberapa
saat untuk merenungkan dengan cara apa kau hendak mati
dan mengakui dosa- dosa yang kau perbuat itu. Terkecuali
itu kuberikan kelonggaran untuk mengajukan pembelaan

320
pembelaan, kami tentu tidak akan melarangnya dengan
cara ini kau akan kubuat mati secara memuaskan!” Wan
Tnian Hong berani mengatakan kata-katanya itu karena ia
berpikir hal itu memang terjadi sesungguhnya, pokoknya
tidak dapat dipungkir lagi oleh terdakwa- Siapa tahu
mendapat kesempatan berkata kata untuk membela diri,
Louw Eng segera menggoyangkan lidahnya yang luar biasa
lihaynya ini untuk menyelamatkan diri.
Dimulai dengan dehem kering Louw Eng mulai berkata,
tapi kata-katanya ini tidak ditujukan kepada Ong Djie Hai
berempat atau kepada dua saudara Wan melainkan kepada
puterinya.
“Tjen djie, dua bocah ini mengaku menjadi anak siapa?”
“‘Anaknya Wan Tie No.”
“Tak kukira di dunia Ini ada lelucon yang demikian besar
dapat dipercaya orang, kalau begitu kau boleh mengaku
menjadi puteri raja!”
Kepalanya menoleh kepada kedua saudara Wan.
“kalian mengakui sebagai anak anaknya Wan Tie No
mana buktinya? Kenapa orang orang di dunia Kang ouw
tidak mengetahuinya? Kalian mengatakan orang orang di
sampingmu itu sebagai saudara saudaramu mana pula
buktinya? Kalian mengatakan pula ada seorang perempuan
mana Yan Ie yang merawat kalian menjadi besar, dan kini
sudah meninggal, mana buktinya? Pedang naga dan
cendrawasih terang terang adalah milikku yang kuperoleh
dari luar tembok raksasa, sekarang kau kata milik ayahmu,
mana buktinya? Orang mau percaya pada sesuatu tanpa
bukti itu, tololnya lebih dari pada kerbau dungu!”
Selesai berkata ia menarik napas panjang sambil
mengeluarkan suara “hemmm” dari hidungnya disertai
senyum keringnya yang memuakkan.
Perkataannya ini memang masuk di akal, Ong Djie Hai
berempat walaupun tidak mempercayainya, tapi mereka
enggan pula dikatakan “lebih bodoh dari kerbau dungu.”

321
Bulak balik pikir bukti harus ada, agar segala tuduhan itu
menjadi kuat. sehingga terdakwa tidak dapat memungkir
pula dan menerima hukumannya secara puas.
“Saksi untuk membuktikan kejahatanmu itu memang
sudah ada, dari itu kalau sampai saksi ini yang menguraikan
kedosaanmu itu, apakah masih tetap akan menyangkal
pula?” tanya Wan Thian Hong dengan tegas..
“He -he- he” Louw Eng tertawa, “kalau sampai ada saksi
yang membuktikan aku melakukan sesuatu kejahatan yang
terkutuk itu, dengan sendirinya aku harus dan ridlah
menerima hukuman mati”
“Nah, kita dengar apa yang dikatakan itu!” kata Wan
Thian Hong sambil balik badan memandang kepada Tju Sie
Hong, “Tju Sah ko, barusan aku mendengar percakapan
kalian bahwa Tju siok siok masih dalam keadaan sehat,
betulkah?”
Mendengar ini Tju Sie Hong menjadi girang, sambil
berlompat lompat ia berkata.
“Benar, benar, walaupun ayahku pada delapanbelas
tahun yang silam jatuh ke jurang, untung tidak sampai
meningga1. kini beliau masih tetap dalam keadaan baik
baik saja …” berkata sampai di sini ia tidak dapat
meneruskan lagi kata katanya.
Karena dengan secara cepat ia ingat bahwa ayahnya itu
walaupun sudah pulih kesehatannya badannya tapi akan
kewarasan otaknya masih terganggu juga. Andaikata dapat
ditolong naik dari dalam jurang dan dijadikan saksi belum
tentu ia bisa menerangkan kejadian tahun tahun yang lalu
ia dengan baik. Tapi hal ini tak mau dikatakan di depan
Louw Eng.
Sebaliknya sang jahanam mendengar kata kata ini
mukanya menjadi berubah, ia tak habis pikir Tju Hong
masih dapat hidup selama itu, sehingga bisa membuktikan
kejahatannya sekarang.
Otaknya kembali berputar dengan cepatnya untuk

322
mengatasi soal yang gawat ini, agar dapat lolos dari bahaya
maut ini. Sesudah terdiam sebentar Sie Hong melanjutkan
lagi: “Tapi ayahku kini berada di dalam jurang dan tidak
bertenaga untuk naik ke atas. Cara apakah yang terbaik
untuk memadu kejahatannya jahanam ini di depan beliau?”
Jilid 11
Mendengar ini hatinya Louw Eng menjadi lega, baru saja
ia ingin membuka mulut, anaknya yang berada di
sampingnya sudah mendahuluinya: “Aku mempunyai daya
untuk menolong orang naik ke atas!”
“Apa dayamu?” tanya Wan Thian Hong dengan girang.
“Kalian semua harus berjanji dahului”
“Hal apa?” tanya dua saudara Wan berbareng
“Kalau sampai sudah dipadu dan terbukti ayahku tidak
berdosa dan bersalah, kalian harus menghaturkan maafmu
sebesar-besarnya kepada beliau terkecuali itu lidah kalian
harus dipotong.”
“Baik,” jawab mereka serempak.
“Nah, bebaskan dahulu kami ayah beranak dari
belengguan ini!”
“Untuk melepaskan kau tidak sukar, tapi kau harus
mengatakan dahulu dengan cara apa kau dapat menolong
orang?” tanya Wan Djin Liong.
“Akan kusuruh garuda raksasa itu turun ke bawah dan
mengangkat orang!” Mendengar ini sekalian orang menjadi
sadar dan girang.
“Baiklah!” kata Wan Djin Liong, “kalian kami bebaskan
sekedar untuk mencari saksi untuk membuktikan kejahatan
yang diperbuat. Sesudah bukti nyata sampai kau tidak
dapat mungkir lagi terimalah tusukan sebilah pedang ini.”
“Baik.” kata Louw Eng, “dengan ini kita putuskan, barang
siapa tidak menepatkan janjinya akan menerima kematian

323
dengan tak selamat.”
“Ya. sekarang juga kalian kan kulepas,” kata Wan Djin
Liong sambil maju kehadapan sang tawanan untuk
melepaskan belengguan.
Waktu lengannya menyentuh tubuh Louw Eng kena
memegang pedang pusaka Hong tiba tiba lengannya ditarik
kembali sambil berpikir:
“Pedang ini apa harus kuambil atau tidak?”
Dengan sekilas saja Louw Eng sudih mengetahui apa
yang dipikir pemuda itu, dengan cepat ia berkata;
“Kalian merindukan pedangku ini siang dan malam, ambil
saja jangan malu malu lagi ”
Belum Wan Djin Liong berkata sang adik sudah
mendahuluinya:
“Kau bawa saja pedang itu, sekalian dengan pedang
naga yang sudah kummpas ini! Kami akan merampas
pedang pedang itu lagi pada kelak hari kemudian, dengan
cara ini kurasa kau cukup senang bukan?”
“Betul,” jawab Wan Djin Liong, dengan cepat tambang
yang membelenggu Louw Eng dan Tjen Tjen sudah dilepas
“Marilah kita menolong orang!” katanya sambil menjagai
Louw Eng dari sisi. takut kalau kalau jahanam ini ingkar
pada janji. Dengan cepat Louw Eag bangun dari tempat
duduknya sambil menggeliat untuk menghilangkan
pegalnya di pinggang, ia berpaling kepada puterinya sambil
berkata. “Tjen djie, lekas kita berlalu untuk mencari burung
itu.”
Kedua ayah beranak itu perlahan lahan menuju ke luar
goa. Baru saja mereka menindak beberapa langkah tiba tiba
telinganya mendengar suara batuk batuk kecil yang
menggema di goa kolong ini, sehingga suara itu seolah olah
dari banyak orang saja. Semua orang menjadi kaget sekali,
karena tidak diketahui siapa yang datang. Mendengar suara
ini hati Louw Eng menjadi berpikir: “Sekeliling dari gunung

324
ini sudah dikuasai orang-orangku* Tapi suara ini sama
sekali tidak kukenal, mungkinkah orang lain bisa datang ke
sini?” Walaupun ia berpikir begitu, akan kakinya tetap
melangkah maju ke depan baru saja ia menikung sebanyak
dua kali, di depannya berdiri seorang tua.
Melihat orang ini, dengan segera tubuhnya membungkuk
memberi hormat. Orang tua itu bertubuh cebol, dengan
muka yang kemerah merahan serta berbaju penuh
tambalan. Orang ini tak lain lagi dari pada orang tua
penangkap burung yang diketemukan Tjiu Piau dan Gwat
Hee!
Louw Eng mengenal orang ini dan mengenal pula akan
karakter orang. Hati kecilnya berteriak “celaka.” karena ia
tahu orang tua ini pasti akan menjadi seterunya yang
ampuh. Kakinya maju lagi beberapa tindak sambil
membungkukkan terus akan badannya: “Yauw Locianpwee,
terimalah hormat dari Boan-pwee.” Sesudah itu ia
menyuruh anaknya. “Lekas kau berlutut di depan Yauw
Kong kong!”
Orang tua itu tidak menghiraukannya sebaliknya ia
membentak dengan suara keras sekali. “Binatang, bukan
lekas lekas kau enyah dari sini! Orang lain baik hati
melepaskan kamu, untuk apa berlama-lama di sini?”
Louw Eng sadar orang tua ini sudah lama berada di
dalam goa ini dan sudah mengetahui apa yang sudah terjadi
di situ. Lekas-lekas ia berkata. “Ya, ya,” sambil menuntun
puterinya.
“Bagaimana dengan hal menolong orang?” tegur orang
tua itu.
“Jangan kuatir pasti kulakukan!” Orang tua itu
menggoyangkan lengannya memberikan mereka berlalu.
Tjiu Piau dan Gwat Hee melihat orang tua ini menjadi
girang sekali mereka berbareng maju ke depan untuk
menghaturkan hormatnya, tapi sebelum maksud mereka
sampai sudah didahului oleh dua saudara Wan mereka
berlutut sambil mengucapkan perkataan “Suhu”.

325
Hal ini di luar perkiraan Tjiu Piau dan Gwat Hee, kiranya
Wan Dji Liong dan Wan Thian Hong adalah murid dari orang
tua ini. Dengan ini dua saudara Wan mendapat
pengecualian dari orang tua yang tidak mau bermurid itu
“muda tidak berpengalaman Kalian harus tahu, tujuh puluh
dua puncak Oey San ini sudah dikuasai oleh komplotan
Louw Eng!”
Keenam anak muda ini menjadi terkejut, sebab hal ini
tidak dipikir sama sekali oleh mereka.
Wan Thian Hong segera berkata: “Binatang itu kenapa
bisa mengundang demikian banyak orang?”
“Hai! Dasar bocah yang kurang pikir! Kau harus tahu
mereka semuanya adalah undangan kamu sendiri!”
“Bilamana aku mengundang mereka?” tanya Wan Djin
Liong dengan heran.
“Mungkin kau sudah lupa?—tadi aku mendengar
percakapan mereka, pada malaman Tjap Go Me, ada tamu
malam masuk ke dalam istana mengantarkan surat
undangan,orang itu kalau bukan kamu siapa lagi orangnya?
Aku baru ingin bertanya, kenapa kalian berlaku gegabah
sekali.” Wan Djin Liong dan adiknya baru sadar dan
mengerti atas hal ini.
“Suhu semua ini adalah salahku. Dengan akal ini Louw
Eng dapat dipancing untuk datang ke sini, agar kami
dengan leluasa untuk membereskan utang piutang selama
delapan belas tahun yang lalu dengan sepuas puasnya! Tapi
tidak sampai terpikir ia bisa mengundang demikian banyak
orang.”
“Inilah tanda dari kehijauan kalian! Pikir saja surat
undanganmu itu bukan main mengagetkan sri baginda, tak
heran raja itu mengirimkan pahlawan pahlawannya untuk
membasmi rapat rahasia dari kawanan orang-orang gagah
yang seperti kalian sebutkan di dalam surat undangan itu!”
“Tak kukira raja itu demikian tololnya mau mempercayai
kata kataku, sehingga mentah mentah kena ku jebak!” kata

326
Wan Djin Liong.
“Yang nyata kita yang terjebak. Ah, semua karena garagaraku
yang tidak baik!” jawab Wan Thian Hong. “Suhu
sukur kau datang membantu, dari itu tak perlu takut lagi
dengan jumlah mereka yang besar itu;”
“Kalian tidak takut dengan jumlah musuh yang demikian
besar?” tanya orang tua itu sambil menggoyang –
goyangkan kepala. “Kalian harus tahu orang-orang macam
apa yang diundang mereka? Aku sudah menyelidiki keadaan
mereka, bahwa Hek Liong Lo Kuaypun turut datang ke sini.
Binatang tua ini biar kuhadapi sendiri, sedangkan Sisanya
boleh kalian hadapi!” Pemuda dan pemudi ini baru
mengetahui dan menyadari bahwa urusan di depan mata
mereka ini bukan main beratnya, mereka saling
berpandangan satu dengan lain tanpa berkata kata.
Akhirnya sesudah diam seketika Wan Thian Hong berkata
dengan nada yang mantap. “Suhu kau juga agak bersalah !
Kau tahu keadaan di luar demikian tidak menguntungkrn
kita, kenapa Louw Eng kau lepaskan, coba kalau tidak
binatang itu dapat kita dijadikan jaminan!”
“Hai ini tidak dapat kita lakukan, kalian sudah melulusi ia
berlalu dari itu ia berhak untuk berlalu, kita tidak boleh
salah janji karena sebagai pantangan, dari itu apa yang
sudah dikatakan harus dilaksanakan.”
Ditatapnya keenam muda mudi dengan tajam, “Ah. laki
laki jangan takut mati. dan itu apa pula yang harus ditakuti.
Berdayalah untuk menerjang dari kepungan ini. Tapi
sebelum dilakukan kalian harus melakukan dua hal, kesatu
biar bagaimana kalian harus dapat menolong dahulu kepada
Tju Hong. kedua, jangan takut dengan jumlah yang besar,
musuh berjumlah besar banyak pula keuntungannya bagi
kita. Pokoknya asal kita bisa membeber kejahatan Louw
Eng yang memalukan pada delapan belas tahun berselang,
kurasa orang orang Bu lim yang datang ini tidak sedikit dari
jantan sejati. dan tak mau membantu manusia yang
demikian, sehingga Louw Eng akan diasingkan oleh mereka
dalam pergaulan selanjutnya” Kata kata orang tua yang

327
belakangan ini memang adalah hal yang sangat ditakuti dan
dirahasiakan sekali oleh sang jahanam.
Sesudah mendengar wejangan dari orang tua itu,
sekalian anak muda ini menjadi terang otaknya dan
bersemangat sekali. Baru saja mereka ingin mengeluarkan
pendapatnya, tiba-tiba dari luar goa terdengar suara saling
bentak yang seru sekali. Terkecuali itu terdengar pula suara
suara jeritan yang menyedihkan dengan tegas sekal*.
Kesemua orang merasa heran, mereka berpikir. “Siapakah
yang datang untuk bertarung di atas puncak ini?” Tiba tiba
Ong Gwat Hee memikir sesuatu, ia mengeluarkan jeritan
kaget. “Suhu, suhu!” teriaknya sambil lari ke luar,
mendengar ini Tjiu Piaupun menjadi ingat kepada suhunya
yang berada di luar. Dalam beberapa hari yang lalu Ong
Gwat Hee dan Tjiu Piau mendaki Oey San, sedang Hoa San
Kie Sau melindunginya dari belakang, tapi sebegitu lama
mereka tidak mengalami rintangan sehingga sang suhu
agak terlupakan. Kini diketahuinya tujuh puluh dua puncak
Oey San berada di dalam kekuasaan musuh, mendengar
suara pertarungan sengit, mereda memastikan kalau bukan
suhunya siapa lagi yang tengah bertarung!
Memang! Yang menerjang ke Oey San ini Hoa San Kie
Sau adanya Sang guru menjadi hilang sabar dan merasa
kuatir atas diri muridnya yang tidak turun turun sejak
mendaki gunung, dari itu menyusul untuk mengetahui apa
yang terjadi atas diri mereka! Alangkah kagetnya waktu
diketahuinya bahwa tujuh puluh dua purcak gunung ini
sudah diduduki jago jago dan pengawal pemerintah Tjeng.
walaupun ia menghindarkan diri dari musuh-musuh itu, tapi
untuk sampai ke atas puncak yang dituju harus mengambil
jalan yang sudah dikuasai musuh, dengan cara paksa ia
menerjang lapisan musuh musuh itu.
Gwat Hee yang sudah berada di atas puncak Thian Tou
melihat dengan tegas guru sedang bertarung sengit
melawan dua pengawal istana terkecuali itu di samping
tubuhnya menggeletak seorang pengawal lainnya dan
terdapat pula Louw Eng dan Tjen Tjen yang tengan
menyaksikan pertarungan itu. Tak lama kemudian Tjiu Piau

328
dan Yauw Lo tjian pwee serta lain-lain, sudah sampai
semuanya mereka tidak bergerak hanya mengawasi saja
keadaan perkelahian itu.
Dua pengawal itu satu bertubuh besar satu bertubuh
kurus dan kecil, tapi gesit dan lincah sekali, setiap gerak
serangnya mengandung tenaga yang berat dan keras.
Dalam waktu sementara Hoa San Kie Sau belum bisa
mengambil kemenangan sehingga suasana pertarungan kira
kira berjalan seimbang. Kedua pengawal itu tidak henti
hentinya menghujani lawannya dengan tipu silat Siau Lim
Sie sebaliknya Kie Sau pun melayaninya dengan pukulan
Siau Lim Sie juga Gerak dan jurusnya bersamaan, tapi
dikeluarkannya secara berlainan, kedua pengawal itu
menyerang dengan cepat dan gesit, sebaliknya Kie Sau
mengerjakan lengannya dengan lambat dan ayal ayalan.
Pengawal yang bertubuh besar kini berada di sebelah
kanan, kepalan kanannya berkelebat menyerang dan
ditariknya dengan cepat, sebaliknya lengan kirinya yang
benar-benar mengirimkan Serangan Keras ke bahu lawan,
serangan ini adalah jurus ‘Tjiu Kun Tjiat Tjian (Menarik
kepalan melepas tabasan ) dilakukannya dengan cepat dan
lincah sekali: Hoa San Kie Sau mengeluarkan jurus Sian
Hong Tiau Yang ( cendrawasih tunggal menghadap sang
surya) lengan kanannya terjulur ke luar dari bawah ke atas.
tiba – tiba sampai di tengah perjalanan diubahnya secara
mendadak, tangan yang seharusnya naik ke atas
ditekuknya ke bawah menggencet lengan kiri dari pengawal
bertubuh besar itu. Seiring dengan itu tubuhnya berputar
mengeluarkan jurus Djie Liong Tan Sam (Djte Liong
memikul baju) lengannya dikembangkan, tepat sekali
menangkis serangan pengawal bertubuh kurus, begitu
kedua lengan ini beradu terdengar suara ‘plak’ sekali seolah
olah bunyi besi beradu, suara ini keras sekali. Pengawal
kurus itu agaknya mempunyai ilmu yang tinggi pula,
sehingga gempuran yang keras dari lawannya masih dapat
di tahan dengan baik.
Sesaat sesudah waktu berlalu, Yauw Lo tjian pwee yang
menyaksikan jalannya pertandingan sudah dapat

329
mengetahui bahwa dua pengawal itu bukan menjadi
tandingan dari Hoa San Kie Sau. Dua pengawal itu
menggunakan ilmu dari Siau Lim Sie,sebaliknya ilmu dari
Hoa San Kie Sau dicangkok dan diambil dari sari sari Siau
Lim Sie yang baiknya saja, ditambah dengan ilmu
ciptaannya sehingga gerakan-gerakan dari serangannya
dapat dimainkan dengan seenaknya saja. Lihat saja tadi
dengan mudahnya pukulan lawan yang demikian keras
dapat dielakkan dan dipecahkannya dengan mudah
sekali.Hal yang lebih perlu diketahui bahwa Yauw Lo
cianpwee sudah melihat dalam bentrokan lengan tadi
pengawal kurus itu kakinya sudah tergetar sedikit. Untuk
mata orang yang tidak berkepandaian tinggi seperti dia
sukar untuk mengetahui, Sebaliknya untuk Kie Sau sudah
mengetahui, dua pengawal ini menggunakan seluruh
tenaganya di kedua lengannya dan bagian atas tubuh saja,
sedang di bagian bawah atau kakinya kurang berapa teguh.
Dari itu Kie Sau tidak mau membuang waktu terlalu
lama, kaki kanannya segera terangkat naik melepaskan
jurus Hoay Sim Tui (cendangan perusak hati) dengan cepat
seperti kilat, sehingga dalam sekilas saja tidak kelihatan
dengan tegas oleh lawan. Tapi pengawal kurus itu segera
berseru: “bagus” kedua lengannya segera berubah dan
mengeluarkan jurus Tiat Kun Siang Tjiang (kepalan besi
saling beradu) sepasang kenalan itu mula mula ditarik,
sampai ke pinggangnya dan dihajarkan ke depan secara
ganas, gaya tekanan dan tenaganya besar sekali, baru saja
pukulan ini menerjang sampai di tengah dadanya sendiri
tiba tjba dihentikan dan dihadapkannya satu sama lain. dua
kepalan yang lebih keras dari batu menuju dengan keras
untuk mengapit kaki Kie Sau y«ing menendang. Genjatan
ini kalau berhasil pasti dapat menghancurkan kaki lawan
menjadi berkeping keping. Tapi Kie Sau bukan jago dari
kelas ringan karena sebelum serangannya dilancarkan
sudah mempunyai persiapan untuk menjaga. Demi
dilihatnya lawan merangkapkan kedua lengannya, tiba tiba
kakinya yang mengarah dada lawan berubah tujuan
menjadi ke atas dan melewatkan kepala musuh.
Kecepatannya ditambah entah berapa kali lipat dan semula

330
sehingga pengawal kurus itu tidak dapat melihat dengan
tegas, ia hanya merasakan sebuah benda hitam lewat
dengan cepatnya di depan matanya, terkecuali itu di
samping kedua kepalannya terdapat tenaga gencetan yang
luar biasa besarnya, membuat dirinya tidak sempat lagi
menarik kedua lengannya itu, sehingga satu bentrokan
keras antara lengannya sendiri tidak dapat dihindarkan!
Hasil dari bentrokan itu membuat lengannya menjadi kaku
tidak sakit dan tidak gatal.
Kiranya walaupun Kie Sau menggerakkan kedua
lengannya dengan ayal-ayalan tapi kalau mau
dikerahkannya dengan cepat, kecepatannya ini sukar
dilukiskan dengan kata-kata. Dalam jurusnya tadi begitu
kakinya melewati kepala sang lawan kedua lengannya
dikerahkan dengan cepat sekali menggencet kepada tangan
lawan, sehingga tenaga pukulannya ini dengan ganas
menghimpit kedua pukulan lawan dengan ganasnya,
sehingga tenaga pengawal yang sudah keras itu ditambah
lagi dengan tenaganya.
Kedua lengan pengawal yang sedang di kerjakan dengan
keras itu dengan tiba tiba kehilangan sasaran, sehingga
lengan itu saling adu dengan keras sekali secara dahsyat.
Jurus dari Kie Sau ini adalah salah satu ilmu ciptaannya
sendiri dari Bukit Berantai yang bernama Siaog Gak Heng
Peng (dua gunung raksasa gugur melinting) begitu kedua
telapak tangannya dirapatkan membawa tenaga seperti dua
gunung besar saling bentur dari itu mana dapat dielakkan
oleh pengawal bertubuh kurus itu.
Pengawai kuius itu dengan cepat mencelat ke belakang
sambil mengawasi lengannya dengan senyum getir. Kiranya
lengannya yang amat disayang itu telah menjadi ‘bonyok’
serta patah patah tulang jarinya dan terkulai seperti
pepohonan yang sudah layu.
Tadi ia belum merasakan sakit kini sakitnya itu sudah
menyerang sampai di ulu hatinya belum senyuman getirnya
hilang ia sudah mengeluarkan suatu rintihan yang
mengesankan sekali.

331
Hoa San Kie Sau tidak menghiraukannya, karena di
sampingnya masih terdapat pengawal yang bertubuh besar.
Waktu ia menyerang pengawal kurus tadi lengannya tak
henti hentinya mengeluarkan jurus jurus pelindung diri,
sehingga sang lawan tidak dapat mendekatinya.
Kini pertandingan satu lawan satu, pengawal itu asalnya
seorang jago yang lihai juga, terbukti kini dengan serangan
yang berubah rubah dikeluarkan, kalau tadi ia
mengeluarkan ilmu dari Siau Lim Sie, kini jurus pukulannva
itu berubah menjadi tipu pukulan dari Bu Tong Pat Kwa
Kun.
Gerak serangannya ini dilengkapi dengan tenaga dalam
yang kuat pula, kini ia menarik serangannya dengan ilmu
Bo Kun Kuan Hong (berpeluk: tangan menikmati
pemandangan) Sedangkan matanya mengawasi lawan
dengan tajam.
Kiranya pengawal ini memang mempunyai kepandaian
yang harus disebut tinggi, dari itu ia tidak mau mengalah
sama sekali kepada lawan, untuk mengambil kemenangan
dikeluarkannya ilmu yang menjadi andalannya yakni Bo
Tong Pat Kwa Kun, terkecuali dari itu sekalian ingin
dipamerkan kepada lawan bahwa ia pun dapat
menggunakan ilmu puKulan dari beberapa golongan, kedua
ingin mengadu kekuatan sejati guna menentukan siapa
yang terlebih lihai.
Hoa San Kie Sau mengeluarkan senyum, lengan
kanannya mengeluarkan serangan menuju bahu kanan
lawan, pengawal itu mengegoskan serangan ini sambil
mengirimkan kaki kanannya ke lambung Kie Sau.
Kakinya ini terangkat tidak terlalu cepat tapi
mengandung tenaga hidup, sesampai di tengah jalan dapat
dikekanankan atau ke kirikan, dapat diteruskan dapat pula
di tarik, pokoknya melihat reaksi dari lawan di mana ada
lowongan segera dapat bergerak dengan cepat menyerang
tempat berbahaya dari musuh.
Kie Sau tidak mau meladeni serangan kaki lawan ini

332
dipindahkan kedua kakinya dengan lincah memutar tubuh
lawan dari sebelah kanan sehingga dapat menghindarkan
serangan musuh dengan gaya kilat sedangkan lengannya
dikirimkan menyerang musuh dari belakang.
Pengawal itu walaupun bertubuh besar tapi sangat gesit
sekali, dengan cepat dan mantap tubuhnya berputar ke
arah belakang sambil mengirimkan kaki kanannya untuk
menghindarkan lengan Kie Siu. sedangkan lengan kanannya
menotok jalan darah Pek Leng Hait lawan, gaya
serangannya ini sungguh ganas dan keras.
Serangan ini menempatkan dirinya berada di atas angin,
pukulan pukulan dahsyat selanjutnya dapat dikirimkan
dengan enaknya. Ia menduga Kie Sau pasti mundur
menarik kaki ke belakang, serangannya yang bernama Tiat
Lan Kon Siong (kerangkeng besi mengekang gajah ) Go
Houw Kim Yong (harimau lapar menerkam kambing) dan
lain lain segera akan dilancarkan.
Inilah ilmu pukulan dari Pat Kwa Kun yang lihay sekali,
kalau musuh tidak menarik mundur kakinya, terang terang
kakinya sudah terkekang, dan mati, sedangkan bagian atas
menerima serangan,alamat kalah sudah pasti diderita.
Biar serangan ini demikian lihaynya, tapi Kie Sau
mengerti lawan ini tidak memadai dengan ilmunya, ia tetap
diam tidak bergerak seperti sebuah gunung yang angker,
sedangkan lengan kanannya berbalik menindih lengan kiri
musuh sedangkan lengan kirinya melindungi mukanya dan
bentrok dengan lengan kanan lawan, sehingga serangan
lawan itu dapat dipatahkan.
Dua pasang tangan saling tindih menindih dan
menempel, tubuh mereka tidak bergerak gerak, masing
masing mengempos tenaga dalamnya untuk merobohkan
musuh. Tapi keadaan ini berjalan tidak lama, sebab
pengawal yang bertubuh besar ini tidak kuat pula melawan
tenaga lawan yang lebih besar dan ampuh dari tenaga
dalamnya sendiri, sehingga tak heran mukanya menjadi
merah sedangkan urat uratnya keluar membiru memenuhi
keningnya, tiba-tiba kedua lututnya tertekuk, tapi

333
lengannya masih tetap menpertahankan tenaga musuh
dengan mati matian.
Sebaliknya Kie Siu masih tetap saja dalam keadaan
tenang, seolah olah baru mengeluarkan separuh tenaganya,
musuh itu terus ditindihnya dengan tenaga yang kian lama
kian ditambah,
Pengawal yang bertubuh besar ini kini tidak tinggi besar
lagi karena kakinya yang sudah ditekuk membuatnya
menjadi pendek, berikutnya kedua lengannya sudah
tertekan sampai di pundaknya kemudian punggungnya
menjadi bungkuk dan merapat dengan pinggangnya,
akhirnya kepalanya juga tertekuk masuk ke dalam bahunya
sehingga menjadikan ia seperti kura kura yang besar.
Sampai detik demikian lengannya masih mempertahankan
tekanan lawan dengan mati matian, sebab ia tahu kalau
tangannya di lepaskan jiwanya segara berada dalam bahaya
serangan musuh.
Kie Sau berlaku bengis menghadapi pengawal penjajah
ini dengan keras ditekannya lagi lawan itu dan
ditendangnya dengan mendadak, hanya dengan satu
tendangan ini tubuh yang demikian besar ini terpental
seperti bola, langsung masuk ke dalam jurang. Pengawal ini
berdaya sekuat tenaga untuk menjambret rumput rumput
yang berada di tebing untuk menyelamatkan jiwanya,
sayang tubuhnya terlampau berat sehingga rumput rumput
itu tidak kuasa untuk menyelamatkan jiwanya, tubuhnya
langsung tergelincir ke bawah untuk menghadap pada
malaikat Jibril di akhirat.
Seiring dengan jatuhnya pengawal itu terdengar orang
memuji ‘;Bagus”, siapakah orangnya yang mengeluarkan
seruan itu, Louw Eng adanya! Hal ini sungguh di luar
perkiraan orang.
Sebab apakah ia mengeluarkan pujian itu? Hal ini
memang gawat untuk dikatakan. Pertama ia mendaki Oey
San dengan harapan untuk mendirikan jasa, tapi di luar
perkiraannya pula bahwa raja mengutus juga tiga orang
Kim Ie Thay Wi (bayangkari) dengan alasan untuk

334
membantunya, padahal di samping itu untuk menilik pula
gerak geriknya, ketiga pengawal istana ini adalah tiga
diantara delapan pengawal kelas satu dari sri baginda yang
beradat angkuh dan tak mau mengalah kepadanya,
sehingga terhadap dirinya tidak menunjukkan rasa hormat
bahkan terhadap jago jago undangan Louw Eng tidak
memandang barang sedikit.
Mereka selalu menganggap dirinya yang terpandai, tidak
tahunya adalah kodok dalam tempurung yang tidak
mengetahui tingginya langit dan tebalnya bumi, Waktu
Louw Eng ingin masuk ke dalam goa merekapun ingin ikut
serta, tapi dengan susah payah dapat juga dicegahnya.
Dari sebab ini Louw Eng mengandung dendam kepada
tiga pengawal, walaupun ia gemas dan benci tak berdaya
untuk melampiaskan kemendongkolannya, kini di lihatnya
Kie Sau menghancurkan dan melukakan mereka, hatinyi
merasakan sukur sekali dari itu suara pujiannya tidak
tertahan lagi ke luar dari mulutnya.
Habis mengatakan pujiannya itu terlihat ia diam
terpekur, karena hatinya tengah berpikir untuk melakukan
sesuatu yang jahat pula. yakni sekuat tenaga ingin
mencelakakan seseorang, siapakah yang akan di
celakakannya, orang itu bukan lain dari pada Tju Hong yang
berada di dalam jurang.
Sebab apa ia berpikir demikian? Tak lain ingin
menghilangkan suatu saksi yang mengetahui betul atas
perbuatannya selama delapan belas tahun di Oey San ini.
Hal ini sebenarnya sudah dipikirkannya sedari ia berada di
dalam goa. kalau orang ini tidak mati hatinya mana bisa
menjadi tenang?. Sesudah pikirannya tetap dihadapinya
Hoa San Kie Sau sambil berkata. “Pukulan bukit berantai
yang benar benar lihay sekali, ingin hatiku menerima
beberapa jurus pengajaran darimu, kini untuk sementara
kita berpisah !”
Sehabis bicara ia bersiul panjang, sesaat kemudian ke
luarlah orang orangnya untuk mengangkut tubuhnya
pengawal yang luka dan segera ingin berlalu. Wan Thian

335
Hong segera mencelat ke depan: “Hei! Bagaimana dengan
hal menolong orang?”
‘”Thai Tiang Hu (jantan) sekali bicara tetap tak berubah!
Esok siang kita berjumpa pula,” Selesai berkata tubuhnya
berputar sambil memesan puterinya: “Tjen djie, malam ini
kau harus memberi makan sekenyang kenyangnya kepada
garudamu itu untuk menolong orang di hari esok!”
Kawanan Kie Sau mengetahui musuh berjumlah besar,
dari itu dibiarkannya Louw Eng berlalu.
Malam itu mereka merencanakan daya untuk menerjang
ke luar dari kepungan musuh dan menyaksikan apa betul
Louw Eng akan menolong Tju Hong ke luar dari dasar
jurang yang curam itu. Dengan aman sang malam berlalu
dan haripun ganti menjadi pagi.
Suasana puncak puncak Oey San tetap tenang tapi di
balik itu apa yang akan terjadi di sini pasti berlainan sekali
dengan ketenangannya itu.
Sehingga keindahannya yang menawan hati ini tidak
dapat dinikmati oleh Kie Sau dan lain lain.
Pemuda pemuda yang gemar akan keindahan dan
tampak bermain-main kini terbenam dalam suasana gawat
sambil berpikir mencari daya untuk turun dari gunung yang
penuh bahaya ini.
Hanya Louw Lo cianpwee saja seorang yang masih
sempat jalan ke sana sini sambil melihat-lihat keindahan
alam ini. Sedangkan mulutnya tidak henti-hentinya memuji
muji keangkeran dan keindahan Oey San dengan penuh
kegirangan.
Haripun sudah berlalu lagi menjadi siang, ke delapan
orang ini berkumpul di atas puncak Thian Tou menantikan
kedatangan Louw Eng.
Tepat waktu matahari berada di atas dari balik batu-batu
cadas yang berada di gunung ini berkelebat sesosok tubuh
orang dengan gesitnya, pendatang ini adalah Tjen Tjen
adanya.

336
Tubuhnya yang gesit dan lincah ini tidak menerbitkan
suara sedikit juga, menunjukkan bahwa ia ini adalah
Seorang anak yang berbakat.
Sesampainya di atas puncak ia menghaturkan
selamatnya kepada sekalian orang. Tak lama kemudian dari
belakangnya menyusul ayahnya, mereka datang hanya
berdua saja.
“Urusan hari ini tak perlu diceritakan lagi panjangpanjang
benar di dalam jurang ini terdapat orang, sesudah
orang ini tertolong baru kita bicara,” kata Louw Eng dengan
tenang.
“Tjen djie selesaikanlah pekerjaan kamu sekarang juga!”
Tjen Tjen menunjukkan paras yang puas sekali.
Anak ini adalah pintar dan cekatan, pada umumnya
orang yang pandai paling anti mengalah kepada lain orang.
Demikian pula dengan Tjen Tjen berketika di hadapan
banyak orang yang berilmu tinggi untuk memamerkan
keahliannya hal inilah yang membuat hatinya menjadi
girang.
Tampak ia jalan perlahan lahan seperti pengantin baru
menuju ke puncak, tangan kanannya dimasukkan ke dalam
mulutnya untuk mengeluarkan suara siulan yang keras dan
kencang, belum suara ini habis dibawa gelombang udara
seekor garuda yang besar sudah terbang mendatang
menuju kepadanya.
Di bawah sinar matahari yang demikian terang burung ini
dapat dilihat dengan tegas bulunya yang hitam mengkilap
dengan kukunya yang putih tajam menambah keangkeran
tubuhnya yang besar tegap.
Garuda ini seolah olah ingin hinggap dibahu majikannya,
tapi Tjen Tjen tidak mengijinkan, lengannya dikebaskan
sambil mengeluarkan titahnya: “Hayo terbang berputar lagi
untuk kulihat!”
Burung itu sangat dengar kata dan cerdik dengan segera
ia berputar di atas kepala sekalian orang sambil melayangDewi
KZ http://cerita-silat.co.cc/
337
layang menantikan titah selanjutnya dari sang majikan.
Tju Sie Hong melihat benar benar garuda ini akan
menolong ayahnya, segera menjalankan rencana yang
sudah dirundingkan semalam yakni ia harus turun dulu ke
dalam jurang untuk menjadi penunjuk jalan bagi garuda ini.
di samping ini dapat dengan baik baik menempatkan tubuh
ayahnya pada burung itu Louw Eng sangat tertegun melihat
kepandaian Tju Ste Hong turun ke dalam jurang itu, ia
berpikir: “Tak heran binatang Tju Hong itu tidak mampus,
pasti mengandalkan ilmu yarg serupa ini!”
Garuda itu dipanggil Tjen Tjen turun, dan dipesannya
bagaimana harus menolong orang.
Garuda itu sangat pintar sekali, mendengar sepatah
perkataan orang segera manggut sekali.
Sehabis memesan Tjen Tjen menggoyangkan tangannya
sambil berkata: “Lekas pergi dan lekas kembali!” Garuda itu
dengan cepat membentangkan sayapnya turun ke dalam
jurang, dalam waktu yang cepat sekali sudah hilang masuk
ke dalam jurang. Sekalian orang menantikan di atas puncak
sambil duduk.
Tak lama kemudian, dari dasar jurang terdengar suara
Garuda yang keras diiringi suara kelapakannya dari
sayapnya yang besar.. Sekalian orang gagah yang berada di
puncak Thian Tou mengarahkan pandangannya ke dalam
jurang yang dalam. Dari dasar lembab yang demikian
hitam, terlihat warna putih yang membumbung naik ke
atas. Sebenarnya garuda itu berwarna hiram, tapi
mengkilap, tambahan kena sinar matahari sehingga dari
jauh kelihatannya menjadi putih. Titik putih ini semakin
lama semakin besar dan semakin tegas terlihat. Sayapnya
yang sebentar terbentang dan sebentar rapat itu
mempunyai tenaga yang maha dahsyat, tak heran dapat
membawa orang dengan kukunya.
Begitu ia meninggi lagi terlihat dengan tegas orang yang
dibawa itu, orang itu berada dalam para para yang terbuat
dari pada tambang, sedangkan bagian atas dari tambang

338
tercengkeram kuku garuda dengan kokohnya.
Sekalian orang gagah memasang matanya mengawasi
Tju Hong.
Tampak wajahnya yang seperti lilin kuning, rambut
kumis dan jenggotnya berwarna putih terurai panjang tidak
terurus. Sedangkan bajunya yang dibuat oleh anaknya pada
tahun tahun belakangan sudah pecah pecah juga, kakinya
bersepatu kulit rusa. Lengannya memegang terus
senjatanya yang tinggal separuh.
Semua orang merasakan sesak dada melihat keadaannya
yang menyedihkan ini. Wan Thian Hong dan Gwat Hee tak
kuasa untuk menahan air matanya. Garuda sudah sampai di
puncak, dengan jarak beberapa tumbak dengan sekalian
orang banyak.
Ong Djie Hai tidak tahan sabar lagi, di empos
semangatnya sambil memanggil “Tju Siok siok, Tit djie Org
Djie Hai, Tju Piau, Tit lie Ong Gwan Hee memberikan
hormat atas kedatanganmu. Tju Siok siok, kami berada di
sini!” Tju Hong memalingkan kepalanya ke arah suara.
Tapi wajahnya yang pucat kuning itu membayangkan
semangat yang kurang ingatan, sedangkan kedua mata tak
dapat dibukanya. Agaknya ia tidak mengetahui keadaan
sekeliling dan apa yang terjadi di situ.
Wan Thian Hong dan Wan Djin Liong memanggil:
“Tju Siok siok. Tju Siok-siok!” Tapi Tju Hong tetap
menujukkan paras seperti tadi. agaknya ia bingung
sedangkan kedua alisnya dikernyutkan seperti tengah
memusatkan pikiran untuk mengingat sesuatu.
Garuda itu sudah sampai di puncak dan siap untuk
hinggap, tiba tiba Louw Eng berseru. “Tjen djie ” Saat itu
Tjen Tjen tengah bergirang melihat burungnya dapat
menolong orang mendengar seruan ayahnya ini segera ia
menjawab ‘”Oh aku dapat mengurusnya dan berlaku hati
hati.”
“Tjen djie suruhlah burungmu itu terbang sejauh tiga

339
tumbak lagi!”
Sekalian orang gagah menjudi heran mendengar titahnya
ini, mata mereka segera berputar mengawasi, tampak sang
jahanam ini dengan paras tenang dan dingin mengeluarkan
senyuman iblisnya. Sebaliknya sang puteri tidak
mengetahui apa yang dimaksud dengan titah ayahnya, ia
menurut saja kata kata itu. “Garuda terbang lagi sejauh tiga
tumbak.”
“Suruh ia berhenti di tengah udara!”
“Tia tia apa maksudmu ini!”
“Turut saja perintahku!” bentak Louw Eng. Garuda itu
disuruh berhenti oleh Tjen Tjen di tengah udara, sedangkan
di bawah kukunya adalah Tju Hong, jarak burung dengan
orang orang banyak ini kurang lebih tiga empat tumbak
jauhnya.
“Tia tia, sebenarnya apa yang hendak kau perbuat?”
“Kau jangan banyak bicara lagi! Bukankah kita akan
mendengarkan perkataan saksi Biarlah ia berdiam di sana
agar lebih mudah untuknya bicara! Hee . . . hee . . he..”
Agaknya jahanam ini mendapat kegirangan yang
sesungguhnya dari hati iblisnya, sehingga wajahnya benar
benar diliputi kegirangan yang meluap luap.
Inilah adat dari sang jahanam, kalau bisa ingin
mematikan orang dengan cara yang bukan bukan, sesudah
ia Tertawa cukup kenyang segera berpaling kepada
puterinya:
“Tjen djie! Marilah kita berlalu!’ tubuhnya berputar dan
berlalu.
Tjen Tjen menjadi bingung, ia berkata dengan keras:
‘Tia-tia bukankah kita akan membicarakan urusan itu
dengan mereka secara jujur ?”
Sedangkan tubuhnya mencelat ke depan menarik baju
ayahnya.
Louw Eng mengebaskan bajunya sambil membentak:

340
“Hei budak bodoh kau tahu apa, lekas turut padaku!”
Karena sedetik inilah dua saudara Wan sudah berhasil
menghadang perjalanannya, dengan mati gusar mereka
menegur: “Louw Eng, jangan mimpi untuk berlalu! Lekas
orang itu kau turunkan!”
Louw Eng sudah mempunyai maksud tertentu tanpa
gugup barang sedikit segera tertawa mengejek: “Hei bukan
kecil jangan kau kira selalu bisa beruntung dengan
kepandaianmu yang sekelumit itu. Aku sudah menyediakan
dua orang untuk melayani kalian dengan baik!” selesai
bicara ia menepak tangan dua Kali. Saat inilah terdengar
suara orang mencelat naik ke atas puncak, Wan Tnian Hong
dan kakaknya segera memalingkan kepalanya, tampaklah
oleh mereka kawan lama dari sang jahanam sudah berada
di situ, yakni Tong Leng Ho Siang dengan Pek San Hek Pau
berdiri di kiri kanan.
Tong Leng segera membuka mulutnya: “Aa.. Aa bocah
jangan berkelahi, kami pasti tidak dapat melawan” katanya
sambil mengejek.
Mendengar kata kata ini dua saudara Wan menjadi gusar
sekali, mereka harus bersabar karena harus menolong
orang terlebih dahulu. Mereka tidak dapat berbuat apa apa,
matanya mendelong memandang gurunya meminta
petunjuk petunjuk.
Yauw Lo tjian pwee memandang ketempat jauh sambil
bicara : “Louw Eng! Janganlah ingkar pada janji! Sekali ini
saja kuminta Kau tepati janjimu ini, sebagai pengecualian
dari adatmu yang biasa mendusta dan berbuat bohong!
Lekaslah titahkan burung itu menurunkan orang, apa
artinya menggantung orang di udara secara demikian?
Kalau kau gemas memain, aku siap untuk menemani
sampai kau puas, mau tidak?'”
“Youw Tjian Su adatku sudah demikian, sediKit juga tidak
dapat diubah dan tidak ada pengecualian untuk siapapun!”
jawab Louw Eng dengan sombong, sehingga orang berilmu
tinggi seperti orang tua ini tidak diindahkan sama sekali

341
Bahkan nama orang tua ini disebut secara langsung,
membuatnya sekalian yang mendengar menjadi kaget dan
heran.
Orang tua itu bangkit dari duduknya, matanya mendelik:
“Binatang, jangan mengandalkan banyaknya orang segera
berani berbuat kurang ajar! Hei Si Busuk Hek Liong itu
bersembunyi di mana? lekas suruh dia keluar!” tampak
lengannya melepaskan sehelai daun menyerang Louw Eng.
sehingga sang jahanam ini tak dapat lagi mengegos “plak”
mukanya seperti kena digampar orang dengan keras!
Pada saat inilah terdengar suara seperti kaleng rombeng
memecah udara. “Yauw-heng sekali ini ilmu kau banyak
maju, sehingga tak cuma cuma kau hidup di dunia ini!”
Orang banyak tidak mengetahui suara ini dari mana
arahnya datang, suara ini demikian halusnya, seolah olah
ke luar dari dalam tanah. Tapi Yauw Tjian Su mengetahui
dari mana datangnya suara itu.
“Binatang busuk! Masih belum ke luar, apa menantikan
diundang dulu?” lengannya segera menerbangkan butiran
batu-batu kecil menghantam sebuah batu besar yang
berada di bawah puncak.
Batu batu kecil itu sesudah mengenai batu besar sedikit
juga tidak mengeluarkan suara, agaknya masuk ke
dalamnya.
“Aduh! Lo Yauw agaknya jiwaku kau inginkan juga! batu
ini demikian ganasnya, aku tak dapat menerimanya dan
terimalah kembali!”
Batu yang sudah masuk ke dalam batu besar itu tiba-tiba
ke luar mencelat ke luar dengan keras menghantam dada
Yauw Tjian Su.
Batu ini tidak dihiraukannya, begitu kena dadanya sebera
berbalik lagi sebanyak dua meter baru jatuh di tanah.
Hal ini membuat Louw Eng menjadi kaget sekali,
sedangkan Djie Hai melihatnya menjadi kagum.

342
Semua orang sudah mengetahui di balik batu itu
sembunyi Hek Liong Lo Kuay. Tapi ia belum mau
menunjukkan dirinya, hanya terdengar suaranya “Hei Lo Su
Tau (kayu tua) kau jangan tergesa-gesa, mari
kuperkenalkan dahulu dengan kawan kawanku!” segera
terdengar suara siulannya yang panjang, menggema di
segenap penjuru gunung dan lembah.
Tak lama kemudian di.,segenap puncak-puncak gunungyang
sebanyak tujuh puluh dua itu terlihat ada orang berdiri
dengan gagahnya.
Sedangkan di hadapan Thian Tou Hong yakni Lian Huan
Hong terlibat tiga bayangan manusia, mereka menggapaigapaikan
tangannya sambil menunjuk-nunjuk, agaknya
sangat nganggur sekali.
Melihat gerak gerik dari tangan mereka, seolah olah
tengah mentertawakan orang-orang yang berada di puncak
Thian Tou Hong itu sudah berada di dalam perangkap
mereka.
Puncak puncak yang berada di sebelah bawah Thian Tou
Hong seolah olah tunduk pada puncak yang tertinggi ini di
hari-hari biasa, tapi kalau sekarang kira alihkan pandangan
mata dari puncak yang tinggi ke bawah, puncak yang
biasanya seperti berlutut itu kini bangun menentang
mengubah bentuknya seperti iblis yang siap akan menelan.
Berantai sepanjang bukit dan puncak penuh dengan
orang orangnya jahanam Louw Eng. Ong Djie Hai berempat
belum pernah menyaksikan situasi yang demikian
menegangkan urat syaraf, demikian juga dengan kedua
saudara Wan walaupun mempunyai kepandaian tinggi serta
ketabahan yang luar biasa tak urung merasakan cemas
juga.
Hanya Yauw Tjian Su dan Ho San Kie Sau yang masih
dapat berpikir secara tenang. Lemah dan kuat dari keadaan
masing masing pihak sudah nyata kelihatan. Louw Eng tidak
henti-hentinya mengeluarkan suara “ha …. ha … . ha”
kegirangan.

343
Dengan wajah ramai dihias kepuasan napsu iblisnya
dipandang Tju Hong yang masih berada di udara sambil
tertawa mengejek tidak henti-hentinya. Tju Hong yang
masih berada di tengah udara, masih tetap hilang daya
ingatnya, dengan wajah yang harus dikasihani ia terdiam
dengan tak mengetahui apa yang sudah terjadi di
sekelilingnya. Matanya masih tetap tidak dapat dibuka,
karena terlampau lama diam di dasar jurang yang sangat
gelap. Agaknya sang mata itu tidak tahan menerima
sorotan matahari yang demikian terang, dalam
kesilauannya itu, ia tak dapat melibat sesuatu. Sedangkan
pikirannya masih tetap mengambang tak keruan, inilah
akibat goncangan otak yang diderita delapan belas tahun
sewaktu jatuh dari atas jurang. Ia mengingat sesuatu, tapi
tidak ada jalan untuk mengusutnya tak heran selalu kandas
akan daya mengingatnya yang lemah ini. Hari ini ia
merasakan tubuhnya seperti melayang di udara, perasaan
ini agaknya merangsang daya ingatnya sewaktu jatuh dari
jurang dengan tubuh melayang pula. Tapisebabapa ia jatuh,
tidak dapat diingatnya. Dalam saat ini ia mendengar suara
tertawa Louw Eng yang keras, walaupun ia tak dapat
melihat orangnya tapi suara ini cukup dikenalnya. Suara
siapakah? Perasaannya tertusuk dan tergoncang sampai ke
alam pikirannya,karena ini tubuhnya merasa tidak keruan
demi didengarnya suara tawa yang sangat menusuk ini,
dalam jiwa raganya merasakan sesuatu pikiran dongkol dan
geram yang sangat. Tiba tiba dalam jiwa kecilnya ia
mengingat suara ini. Tanpa terasa lagi ia membuka
mulutnya sesaat mungkin; “Louw Eng! Hai! Louw Eng Ha ha
ha. ..” entah kehapa ia tertawa menggila, sedangkan
ingatannya masih tetap kabur, tapi agakny. sudah dapat
juga mengingat sesuatu dengan samar-samar.
Suara jeritannya ini bagai palu yang besar menimpa
kecongkakan sang jahanam, tanpa kuasa lagi Louw Eng
melompat kaget Orang yang dikira sudah menjadi tulang
belulang selama delapan belas tahun, kini mengeluarkan
suara, tak ubahnya suara ini sebagai suara malaikat elmaut
untuk pendengarannya. Mukanya. segera berubah kaku.
tanpa berkata kata, perlahan lahan terlihat tangannya

344
bergerak menerbangkan sebuah pisau kecil yang putih dan
mengkilap seperti perak menghajar burung garuda yang
berada di atas kepalanya Tju Hong.
Tangannya yang ganas ini dikerjakan dengan cepat dan
di luar pikiran orang. Terdengar suara Tjen Tjen yang
menjerit melengking: “Tia! ! ! Kau membunuh burung ku ! !
!”
Sedangcan OngDjie Hai menjerit pula “Tju Siok siok ! ! ”
Mereka tahu sekali burung itu mati Tju Siok sioknya pasti
akan jatuh ke dalam jurang lagi. Sedangkan garuda itu
berada tiga empat tumbak dari tepi puncak, dengan
sendirinya mereka tidak dapat menolongnya. Tapi dalam
keadaan segenting itu terlihatlah sehelai daun kering
menyampok jatuh senjata perak itu, sedangkan piau yang
dilepas kemudian di jatuhkan pula oleh rumput kering dan
sekuntum bunga. Kiranya tak perlu diterangkan lagi,
kesemua ini adalah kerjaan dari orang tua she Yauw itu.
“Hei Louw Eng! Kelakuanmu sungguh gila, terang terang
di dalam banyak mata yang menyaksikan kau masih berani
menurunkan tangan jahat untuk mencelakakan orang?”
tegur Yauw Tjian Su dengan bengis. Kata-kata orang tua ini
membuat Louw Eng mencelat ke tempat beradanya Hek
Liong Lo Kuay:
” Hee . . . he . . .he yang kau maksud dengan
mencelakakan orang? Aku menerima firman dari Sri
Baginda untuk menumpas kaum pemberontak. Dari itu apa
yang ku lakukan sekali kali tidak melanggar wet negara.
Biar bagaimana Tjen Tjen adalah seorang gadis yang baik,
hatinya tidak seperti ayahnya yang demikian busuk. Dengan
menangis ia berkata: “Tia tia, perbolenkanlan aku menolong
orang itu, kemudian baru Kita bicara.”
“Kalau begitu kau memaksa aku untuk membunuh
burungmu itu, bukan?” tanya Louw Eng dengan gusar.
“Tia-tia, itupun bukan, yang kumaksud tolonglah orang
itu.”
Saat ini tiba-tiba Tju Hong mengeluarkan lagi suaranya,

345
tapi berlainan sekali dengan yang semula. Ia berteriak:
“Apakah Sie tee Louw Eng berada di situ? Sie tee, Sie tee
aku yang jadi kakak berada di sini!”-Kiranya daya ingatnya
yang kena tusukan membuat pikirannya agak baikan. Tapi
tak dapat ia mengingat sesuatu dengan serempak,
melainkan satu demi satu. Saat ini ia ingat bahwa Louw Eng
adalah saudara angkatnya yang keempat. Tabiat dari Tju
Hong sangat mementingkan kebajikan, dari itu antara
perhubungan saudara ini sangat keras dipegangnya, tapi
baru ia mengingat ini seduit kembali pikirannya menjadi
keruh dia tak dapat mengingat kembali. Suaranya sekali ini
membuat orang orang yang berada di situ menjadi heran,
karena suaranya ini mengandung nada yang mesra sekali.
Sidangkan Lou Eng sendiri turut merasa aneh juga.
Tiba tiba orang mendengar suara Tju Sie Hong yang baru
kembali dari dasar jurang: “Tia tia, apakah kau dapat
mengingatnya kejadian yang lalu? Lekaslah kau .
ceriterakan kejadian delapan belas tahun berselang di Oey
San ini? Tia tia apakah kau ingat tidak?”
“Kau siapa?” tanya Tju Hong.
“Tia aku adalah Sie Hong puteramu sendiri Yang kau
tinggalkan sejak kecil dan baru bicara.”
“Oh!” kata-katanya terdiam, agaknya jalan pikirannya
kembali hilang dan ngawur lagi.
Louw Eng adalah manusia licik dan jahat. Melihat wajah
dari Tju Hong yang kurang ingatan ini, segera pikirannya
kembali bekerja untuk mengacaukan pikiran orang, ia ingin
menangkap ikan di air Keruh, agar dosanya yang sudah
diperbuat dapat dicuci bersih! Kemudian ia berpikir untuk
mencelakakan Tju Hong masih belum terlambat. Sesudah
berdehem membersihkan riak yang menyumbat
kerongkongannya segera ia berkata:
“Tju Sah ko aku Louw Eng, kau jangan kuatir,” sambil
bicara sambil ditatapnya wajah Tji Hong dengan penuh
perhatian tampak olehnya wajah orang yang masih belum
sadar betul daya ingatnya. Ia menjadi girang. “Sah ko

346
apakah kau masih ingat sewaktu kita mengangkat saudara
dengan Wan TieNo dipuncak Thian Tou ini?” Tampak sudut
bibir Tju Hong agak tergerak, tapi kata katanya tak kunjung
ke luar.
“Apakah kau ingat siapa yang memberi lihat dua bilah
pedang mustika dikala itu? Ingat bagaimana senjatamu
diputuskan, dengan pedang pusaka itu, sehingga kau jatuh
ke dalam jurang? Sahko kau ingatlah bak baik siapa yang
mencelakakan kau itu?” Kata katanya ini semata mata
mengalutkan dan mengeruhkan daya ingat orang saja.
sehingga ia berharap menarik keuntungan dari kata
katanya.
Tju Hong yang masih dalam keadaan lupa ingat kena
terganggu jalan pikirannya. Daya ingat Tju Hong kena
dipengaruhi kata kata dari Louw Eng, sehingga otaknya
berbayang seperti di depan mata keadaan waktu mereka
mengangkat saudara, di mana Wan Tie No memperlihatkan
dua bilah pedang mustika, la ingat bahwa tambang dan
kaitannya itu kena dipapas pedang mustika, sedangkan
pedang itu adalah kepunyaan Wan Tie No bukankah kalau
begitu jiwanya ini dicelakakan Wan Tie No. Dengan gugup ia
berkata-kata sendiri : ‘Ya – – ya Wan Tie No? Wan Tie No?
untuknya kata kata ini belum terang benar, tapi untuk Louw
Eng mengena sekali di dalam hatinya. Tiba tiba ia berkata
dengan santer: “Memang Wan Tie No! Dengarlah ramai
ramai!”
Dengan perasaan bangga Louw Eng menghadap kepada
dua saudara Wan sambil berkata: “Bagaimana? Nyatanya
kata kata yang diucapkan kalian di dalam goa itu tidak
cocok dengan kenyataan ! Nah, jalankanlah sumpahmu
yang kau pernah kau ucapkan!” Ong Djie Hai dan lain lain
memandang kepada dua saudara Wan, mereka percaya
perkataannya, apa mereka mendebat perkataan dari Louw
Eng ini, sehingga mereka menjadi gelisah tampak oleh
mereka Wan Thian Hong tersenyum dingin kearah Louw
Eng, dengan tenang ia berkata.
“Waktu di dalam goa kau pernah mengatakan bahwa

347
pedang itu adalah kepunyaan kau sendiri yang didapat dari
luar tembok besar, betul tidak? Tapi sekarang kau
mengatakan apa kepada Tju Siok siok? Kau mengatakan
bahwa pedang itu kepunyaan ayahku. dari kata kata ini
sudah terang bahwa pedang itu bukan kepunyaanmu, enak
saja menggoyangkan lidah membuat ceritera burung,
sehingga kau terkecoh sendiri Dari itu perkataanmu yang di
dalam goakah atau seKarang yang dapat dipercaya?”
Louw Eng tidak akan mengira bahwa pemudi ini otaknya
masih berjalan dengan terang sehingga masih ingat apa
yang telah dikatakannya di dalam goa. Ia diam termangu
tidak bisa mendebat.
“Tak perlu gelisah kau boleh memikirnya secara tenang
untuk mendapatkan jawaban. Pokoknya lepaskan dahulu
Tju Siok siok. Baru kau membahasakan diri sebagai saudara
dengan mesra bukan? Nah, kau pikir apakah sudah menjadi
adat sang adik membiarkan kakaknya terkatung di udara?
Lekas turunkan! Atar kita dapat membicarakan Kejadian
tahun yang lalu secara terang.” Dari malu Low Eng menjadi
gusar, dengan geram ia berkata: “Baik, baik, kita bicara
perlahan lahan, Tjen djie lekas kamu turun gunung!”
Katanya ditutup dengan mencelatnya tiga batang piau dari
tangannya, sebuah menuju dada Tju Hong, sebuah lagi ke
tambang yang menahan Tju Hong dan ketiga menuju
kepada garuda itu tak perlu di katakan lagi Yauw Tjian Su
yang diam di samping segera merintangi jalannya piau itu,
Tapi sungsuh di Juar dugaan, tiba tiba datang tiga butir biji
Siong yang merintangi jalannya senjata yang dilepas orang
tua she Yauw, Senjata ini tak perlu diragukan lagi Hek Liong
Lo Kuaylah yang melepasnya.
Dengan gugup Kie Sau melepaskan tiga buah anak
caturnya, untuk menjatuhkan senjata rahasia Louw Eng
Empat orang berilmu tinggi ini dalam sekejap saja sudah
saling melepaskan senjata rahasianya, walau pun tidak
berbareng, tapi seolah olah dalam waktu yang sama,
sehingga membuat yang melihatnya menjadi berkunang
kunang. Diantara empat orang Yauw Tjian Su dan Hek Long
Lo Kuay kepandaiannya berimbang, Louw Eng dan Kie Sau

348
dapat dikatakan sekilas pula. Senjata ranasia Louw Eng
berjalan paling dahulu, tapi kena dirintangi senjata- Yauw
Tjian Su. Hek Liong Lo Kuay melepas senjatanya agak
terlambat setindak, sedangkan Kie Sau walau pun lebih
lambat ia sudah mempunyai persiapan. Sehingga jangka
waktunya tidak berapa berselisih. Dalam waktu sekejap saja
dua belas senjata rahasia saling bentur di tengah udara,
benda benda itu kecil adanya tapi suara benturannya itu
cukup keras dan membuat orang terkejut. Kemudian hancur
dan berpencar ke empat penjuru: Pecahan pecahan ini
masih tetap bertenaga, hampir hampir mengenai mata sang
garuda. Tjeu Tjen berseru kaget: “Garuda lekas kau
berlalu!” Kegaduhan dan jeritan Tjen Tjen ini membuat
garuda terkejut sekonyong konyong, sayapnya
bergelepakan terbang sedangkan kukunya yang
mencengkeram tambang penyangga terlepas sehingga Tju
Hong jatuh menuju ke dalam jurang dengan cepatnya.
Orang orang tidak berdaya untuk menolong sebab
jaraknya tidak mungkin kena dijangkau oleh lengan.
Pokoknya biar bagaimana tingginya kepandaiannya
seseorang tetap tidak bisa menolongnya! Apakah harus
dibiarkan dan dilihati saja? Sebelum orang banyak berdaya
untuk memikirkanya, tiba tiba dari batang Siong yang
terdapat di tepi jarang berkelebat sinar emas mengait
datang! Sekembalinya Sie Hong dari dasar jarang,
dilihatnya sang ayah masih tetap bergelantungan di udara,
hal ini sangat mencemaskan dirinya, dari itu ia menyiapkan
diri di samping jurang untuk memberikan pertolongan
andaikata terjadi hal yang tidak diinginkan. Dugaannya
benar sekali tambangnya terbang mengait waktu melihat
tubuh ayahnya jatuh kebawah, malang baginya tambang itu
tidak cukup panjang, tanpa banyak pikir dan tak perlu
mengadakan percobaan lagi tambang berikut tubuhnya
sekalian menyambar dengan cara ini ia berhasil mengait
tambang yang berada pada punggung ayahnya.
Perbuatannya ini membuat tubuhnya hilang pegangan,
untung baginya sebelum tubuhnya jatuh hancur, terlebih
dahulu terdengar seruan panjang berbareng dengan

349
berkelebatnya seseorang yang seperti seekor walet
menyambar lengan kirinya dengan erat. Penolong itu
demikian lincah dan indah gerak geriknya. Terlihat waktu ia
terbang mencelat ikat pinggangnya yang berwarna merah
dan lain lain mengeluarkan sinar yang beraneka ragam
dengan indahnya, tak ubahnya seperti dewi turun dari
kahyangan. Siapakah orang ini, tak lain dari Wan Thian
Hong adanya.
Bukankah dengan demikian Wan Thian Hong pun
kehilangan pegangan, ya memang demikian. Tapi tak perlu
dikuatirkan sebelum itu sang kakak sudah turun dan berada
di batang Siong, dengan cepat ikat pinggang sang adik itu
kena ditangkapnya. Dalam waktu yang demikian cepat
perasaan sekalian orang yang putus harapan hilang
sebagian,
“Djie Liong, tunggulah, aku membantu!” seru Yauw Tjian
Su sambil mencelat kesisi tubuh sang murid. Kie Sau dan
lain-lain sudah sedia kalau kalau musuh – musuhnya
menurunkan tangan jahat.
Dengan sebuah lengan Yauw Tjian Su menarik ikat
pinggang Wan Tnian Hong sambil berkara:
“Naiklah!” begitu lengannya mengedut, Wan Thian Hong,
Tju Sie Hong, Tju Hong kena diangkat seperti ikan di atas
tali joran. Sedangkan lengannya dengan cepat mengempit
tubuh Tju Hong dan berbalik mencelat ke atass puncak
dengan selamat. Begitu Tju Hong menginjak bumi, jalan
pikirannya banyak majuan, tapi matanya itu tetap tak dapat
terbuka, sambil memutar badan ia membentak: “Hei, Louw
Eng jangan kau lari!” Tapi orang yang dibentak itu sudah
menggunakan kekalutan orang menghilang diri tanpa
berbekas.
Begitu akalnya gagal, Louw Eng takut kebusukannya
terbongkar di hadapannya sekalian orang, untuk
menghindarkan ini terpaksa ia berlalu sambil berpikir:
“Pokoknya orang orang di atas puncak ini sudah berada di
dalam tanganku, untuk apa gelisah dan terburu-buru.”
Anak-anak muda sibuk mengelilingi Tju Hong dan tak

350
sempat pula untuk mengejarnya. Saat ini Tju Hong
menunjukkan paras yang gusar,, lengannya mennyabetkan
tambangnya pergi datang seraya menjerit jerit “Louw Eng!
Jangan kau lari jawablah pertanyaanku, kenapa kaitan emas
ku kau putuskan? Kenapa tambangku di putuskan? Kenapa
kau diam saja, hendak mungkirkah? Toa ko Djie ko.Sah ko
kalian di mana? Lekaslah tangkap bangsat itu, dengari apa
yang hendak dikatakan!” Mendengar ini semua orang
menjadi girang, mereka tahu bahwa kesadarannya agak
maju Dari kata katanya itu ia masih belum mengetahui
bahwa Ong Tie Gwan. Tjiu Tjian Kin, Wan Tie No dan isteri
sudah meninggal, bahkan tidak mengetahui pula bahwa
waktu sudah berlalu delapan belas tahun lamanya. Dari
kata katanya ini membuktikan bahwa kejahatan Louw Eng
terbongkar sampai ke akar akarnya dan tak perlu diragukan
lagi. Ia masih tetap memaki maki Louw Eng dengan
geramnya, sedangkan lengannya menabrak sana menubruk
sini dengan terhuyung huyung seolah olah ingin menangkap
orang Tju Sie Hong mencelat untuk memayangnya sambil
berseru seru.
“Tia tia Istirahatlah!” Sebaliknya daripada mendengar Tju
Hong mendorong tubuh anaknya, sehingga yang tersebut
belakangan dibuatnya tunggang langgang. Memang sudah
menjadi kebiasaan orang yang lupa ingatan mempunyai
tenaga lebih besar dari tenaga aslinya. Ong Djie Hai, Tjiu
Piau Ong Gwat Hee dengan cepat maju menahan tubuh
sang paman. Demi didengarnya suara angin dari banyak
orang Tju Hong menggerakkan kaki tangannya, sehingga
tambangnya berputar putar tanpa arah tujuan menyerang
sekalian anak muda. Untunglah matanya tidak melihat
orang, tambahan anak anak muda itu sangat lincah dan
gesit, mengegos ke sana-ke mari menyusup kesamping
tubuhnya Tjiu Piau berada di samping kirinya sedangkan
Gwat Hee berada di sebelah kanannya, dengan serentak
mereka maju merangkul sambil berseru:
“Tju Siok siok istirahatlah!” Tju Hong tidak tahu apa yang
harus diperbuat, kakinya secara tiba tiba ditekuk
mengeluarkan jurus Po In Kia Djit (mengusik awan

351
memandang matahari) tangannya serentak bergerak
kekanan kiri, tenaganya bukan main besarnya, sampai
muda-mudi ini kena ditolaknya sejauh dua tumbak lebih,
hal ini terjadi karena mereka tidak berani melayani secara
sungguh – sungguh takut melukakan sang paman.
Ong Djie Hai berpikir: “Kalau begini, harus berlaku
kurang ajar juga! Untuk menotok jalan darahnya.” Baru
saja ia akan tuiun tangan. Tju Hong sudah mengetahuinya,
segera ke luar bentakannya: “Hei budak! kau ingin
melukakan diriku?” Tambangnya mengiringi berputar
menderu-deru, Djie Hay secepat kilat menghindarkan diri
dan serangan itu. Biar bagaimana gesitnya ia mengelak tak
urung bahu kirinya kena kepukul lengan sang Siok-siok
yang demikian cepat datangnya. Ia merasakan pukulan Siok
sioknya ini bukan main kerasnya, untuk menyambut
serangan ini secara otomatis ilmu Im Yang Kangnya
berputar ke sebelah kiri tubuhnya. Sehingga pukulan itu
seperti membentur kapas layaknya. Sedangkan tubuh di
sebelah bawah dari penyerang menjadi gempur dan ambruk
seperti pohon kering tertiup angin! Sekali jatuh ini agak
berat, Tju Hong jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Ong Djie Hay yang siap menyanggahnya sudah tak
sempat untuk memberi pertolongan lagi. Tapi sungguh
mengherankan adanya, sekali jatuh ini membuat wajahnya
menjadi kelihatannya senang dan normal seperti biasa,
ramai ramai orang memayangnya, sedangkan jalan
napasnya sama sekali tak terganggu seperti orang pingsan,
melainkan seperti orang tidur nyenyak!
“Suhu. lekaslah kau obati Tju Siok-siok!” pinta Wan Djin
Liong pada gurunya.
“Baik, baik akan kucoba.” jawabnya singkat.
Tangannya orang tua ini segera jalan memijit seluruh
tubuh si sakit, kemudian di ulang sekali lagi dari mula
sampai akhir. Akhirnya ia mengernyitkan keningnya dan
berkata: “Aku adalah orang tua yang tidak berguna.”
Mendengar katanya ini Tju Sie Hong menjadi kaget,

352
belum sempat ia bertanya orang tua ini sudah melanjutkan
lagi kata katanya: “Aku dapat menyembuhkan segala
penyakit tapi untuk menyembuhkan orang yang sakit syaraf
sama sekali tidak mampu. Sudah kuperiksa jalan darahnya,
semua baik dan tak perlu diobati. Hanya penyakit kurang
ingatannya saja yang perlu diobati, tapi mengenai sakit itu
sudah kukatakan seperti tadi, yakni aku tidak mampu
mengobati.”
“Suhu kau mengenal banyak orang, dapatkah kau cari
salah satu dari mereka untuk mengobatinya?” tanya Wan
Thian Hong.
“Sembarangan tabib biasa mana bisa mengobatinya, tapi
ada seorang yang bisa menyembuhkannya.”
“Siapa?” tanya Thian Hong.
“Pang Kim Hong!” serunya, “tapi entah di mana sekarang
ia berada aku tak tahu.”
“Kulihat mata dari Tju Sah-tee masih takut sinar
matahari, dari itu kita pindahkan saja ke dalam goa agar ia
dapat beristirahat secara tenang dan sekalian mendamaikan
bagaimana caranya untuk ke luar dari kepungan musuh.
Yauw Tjian pwee bagaimana pendapatmu?”
“Suatu pendapat yang baik sekali, kenapa tidak dari
siang-siang kau katakan!” Tubuh Tju Hong segera diangkat
menuju ke goa.
sedang yang lain lain mengikuti dari belakang.
Pada saat ini orang banyak ini baru tahu bahwa keadaan
suasana di Oey San sudah berubah puncak puncak gunung
yang merantai demikian banyaknva sudah hilang dalam
tutupan kabut yang membanjir entah sedari kapan. Puncak
Lian Hoa yang berhadapan dengan Thian Tou Hong seolah
olah merapung dalam lautan awan yang demikian indahnya.
“Laut Kabut.” dari Oey San yang sangat kenamaan. Hoa
San Kie Sau yang sudah sering menyaksikan segala
pemandangan gunung yang luar biasa, tak luput dari rasa
kagumnya. lebih-lebih sekalian pemuda semua terpaku

353
mendelong keheranan. Dalam keadaan liputan kabut dan
awan ini terlihat seorang muda yang tidak turut masuk ke
dalam goa Pemuda ini adalah Ong Djie Hay. Kenapa ia
berdiam seorang diri? Kiranya waktu ia mendengar penyakit
Tju Hong hanya dipat disembuhkan Pang Kim Hong, hatinya
tergerak ia tahu di mana adanya orang berilmu itu. karena
ilmu Im Yang Kang yang diperolehnya adalah Pang Kim
Hang sendiri yang memberikannya. Tapi biar bagaimana ia
tak berani membuka mulut untuk mengatakan
kediamannya, sebab ia mempunyai dua macam perjanjian
dengan orang berilmu itu yang tidak boleh dibuka di muka
umum.
Suasana perkelahian dan haus darah hilang di bawah
selimut awan. Keadaan ini membangkitkan ingatan Djie Hiy
pada sepuluh hari yang lalu. Saat itu ia berpisah dengan
adiknya, dengan terpaksa ia mendaki Oey San seorang diri,
untuk melewatkan waktu tidak henti hentinya ia melatih
diri. Pada suatu hari ia melatih diri di Kiu Lioug Po (air
terjun Kiu Liong) dengan ilmu Kong Sim Tjiang, sebenarnya
ilmu ini harus dilatih berdua sayang kini adiknya tidak ada
terpaksa ia berlatih seorang diri dengan memegang peranan
dua orang.. Sewaktu-waktu ia menyerang dengan keras,
kemudian melatih memancing musuh.. Dua gerakan ini satu
bertenaga satu tidak, satu keras satu lemah ttau sebaliknya
Ilmu ini sudah biasa dipelajarinya sedari Kecil, dari itu
walaupun sangat sukar dapat dimainkannya secara mahir.
Tengah asyiknya ia berlatih, tiba tiba dari jeram yang
berdekatan itu memercik tetesan air itu lalu menuju ke
dadanya. Sebuah lengannya tengah mempergunakan Kong
Sim Tjiang yang bertenaga, sebuah lengan lainnya
melindungi dada dan mendorong ke depan menyambut
tetesan air. Air itu dapat dibuatnya muncerat ke empat
penjuru tapi lengannya sendiri sudah menjadi merah. Saat
ini ia sudah letih dan segera menghentikan latihannya.
Hari kedua Djie Hay datang lagi di tempat yang sama
untuk berlatih, kejadian seperti kemarin kembali terulang.
Saat itu air mercik menghantam dadanya lagi. serangan itu
tidak disambut dengan tenaga. tapi dengan pukulan

354
kolongnya sehingga air itu dapat dielakkan ke samping. Ia
berpikir jeram air ini mempunyai keanehan alam yang gaib
dan sembarang waktu bisa memercikkan air. Siapa tahu
secara tiba tiba sekali teidengar suara orang memuji:
“Bagus, bagus!” Ia terkejut dan mengamat-amati sekeliling
dengan heran. Hatinya berpikir: “Suara ini agaknya dari
dalam jeram itu, mungkinkah di dalamnya ada jejadian air?”
“Kakinya mundur beberapa langkah tanpa terasa, tiba
tiba dari jeram itu ke luar nenek berbaju hitam yang
bertambajan. Diawasinya orang itu, hal yang lebih
mengherankan lagi bahwa nenek itu walaupun ke luar dari
dalam air tapi bajunya sedikit juga tidak basah. Orangkah
atau jejadian, pikirnya.
Nenek nenek itu menghampiri Djie Hay sambil
mengawasi dengan matanya yang sayu. mulutnya
berkemak kemik: “Pukullah bahu kiriku barang sekali!”
“Lo poao (sebutan untuk nenek nenek secara hormat)
aku tidak berani ” kata Djie Hai sambil memberikan
hormatnya. “Kalau aku mempunyai kesalahan yang tidak di
sengaja harap kuminta dimaafkan.”
“Kalau kau tidak mau memukulku, aku akan
memukulmu! Dapatkah kau menahan pukulanku? Pukullah
lekas!” kata nenek nenek itu dengan gusar.
Oag Djie Hay tak dapat berbuat apa apa, perlahan lahan
lengannya terangkat mengirimkan pukulannya perlahan.
Pukulan itu terang terang mengenai sasarannya tapi heran
sekali seperti mengenai tempat kosong! Untunglah ia tidak
mempergunakan tenaga dengan keras kalau tidak pasti
terjungkal sendiri. Nenek itu menahan dirinya yang
terhuyung mengeluarkan sinar girang. Tidak salah mataku
masih tajam bahwa kau adalah anak yang beibakat baik.
Hay tju (anak) angkatlah. aku menjadi gurumu, nanti akan
ku turunkan ilmu Im Yang Kang yang terkenal di dunia ini
kepadamu!”
Djie Hay menjadi bingung, hatinya berpikir: “Mungkinkah
nenek ini ahli waris dari Pang Kim Hong. kalaupun ia sudah

355
tua masih dapat memunahkan ilmuku secara mudah,
sungguh lihay sekali. Lagi pula ia dapat ke luar dari dalam
jeram air tanpa menderita basah barang sedikit, pasti ia
mempergunakan cara Im Yang Kang untuk memisahkan air.
im Yang Kang sangat terkenal dan jarang yang bisa, kini
kudapat dengan cara yang mudah pasti tidak akan
kulewatkan kesempatan ini dengan begitu saja.” Selesai
berpikir segera ia berkata. “Mohon tanya, apa hubungannya
antara Popo dengan pencipta Im Yang Kang. yakni Pang
Kim Pang Lo-tjian pwee?”
Jilid 12
Nenek itu mendelikkan matanya sambil berkata:
“Kau mengetahui juga Pang Kim Hong? Pang Kim Hong
itu bukan lain dari pada aku sendiri!”
Ong Djie Hay menjadi kaget, karena dalam penuturan
gurunya bahwa Pang Kim Hong sudah berusia lebih kurang
delapan puluh tabun tapi nenek ini baru berusia lebih
kurang enam puluh tahun. Sesudah dipikir lagi ia ingat
memang orang yang berkepandaian tinggi sangat awet
muda, segera ia memberi hormat.
“Aku sungguh bodoh dan tidak berguna, mempunyai
mata tidak melihat gunung Thay San. harap mohon maaf
atas ketololanku ini.”
Pang Kim Hong segera membanguninya sambil berkata:
“Peradatan semacam ini aku tidak berani menerimanya,
pokoknya kau menerima atau tidak menjadi muridku?”
“Pasti mau ”
“Nah lekaslah panggil aku Su tjuan!”
“Su tjuan,” kata Djie Hay sambil Kou tou.
Dengan cepat upacara pengangkatan murid sudah
selesai, Ong Djie Hay merasa heran sekali dijadikan murid
secara paksa kalau caranya begini pasti muridnya banyak

356
sekali, tapi yang nyata ia tidak bermurid, hanya satu
satunya orang yang mewariskan ilmunya itu ialah Lu Kang
di Bu Beng To. Belum selesai ia memikir Pang Kim Hang
sudah berkata lagi mengajukan dua syarat yang aneh
kesatu, sesudah mempelajari Ilmu Im Yang Kang tidak
boleh dipergunakan untuk kejahatan juga tidak boleh
mengaku muridnya. Ditentukan pula pada suatu masa harus
mengasingkan diri dari dunia bebas seperti yang
dilakukannya. Kedua hari untuk mengasingkan diri ke dalam
gunung tidak ditentukan, pokoknya asal sudah sedia boleh
lantas melakukannya. Sepuluh tahun kemudian tidak
terlambat, setahun tidak kecepatan. Dalam mengasingkan
diri ini tidak boleh menemukannya, kalau bertemu muka
seumur hidup tidak boleh nikah dan turun ke dunia Kang
ouw lagi. Pada saat itulah ia akan mendapat ilmu ini yang
sesungguhnya dan menjadi ahli waris yang benar benar.
Djie Hay menganggap dua syarat ini luar biasa sekali,
tapi ia tidak berani berkata, semuanya disanggupi. Dengan
begitulah ia diajak pergi ke dalam goa untuk
mempelajarinya, seperti yang kita sudah ketahui pada pasal
terdahulu.
Kini penyakit Tju Hong hanya Pang Kim Hong seorang
yang dapat mengobatinya. Hatinya menjadi risau, pergi
atau jangan? Kalau menemuinya penyakit dari Tju Siok siok
pasti dapat disembuhkan, tapi dirinya sendiri harus
mengasingkan dunia bebas. Sedangkan ia masih
mempunyai banyak hal yang belum dapat diselesaikan.
Ke satu hal sakit hati ayahnya dan negara belum dapat
diselesaikan, dari itu bagaimana bisa ia mengasingkan diri?
Kedua hal Gwat Hee adiknya, kini orang tuanya sudah
meninggal “Kakak harus menjadi orang tua,” untuk sang
adik. karena itu harus mengatur untuk hari kemudian dari
sang adik. Beberapa hari ini dilihatnya pergaulan Tjiu Piau
drn adiknya yang demikian intim sehingga hatinya menjadi
merasa lega. tetapi ia belum sempat untuk
menanyakannya hal ini karena dua hal ini ditambah
dengan jiwa remaja yang masih senang akan pergaulan
umum Matinya menjadi tidak bisa mengambil ketetapan

357
yang positif. Ia tengah berpikir, sedangkan kabut yang
berada di Oey San sudah naik sampai di atas puncak dan
lewat di samping tubuhnya. Dalam keadaan kabut yang
demikian tebal pohon pohon Siong yang berada di situ
menjadi guram dan merupakan seperti naga yang tengah
melingkar menembus mega. Sesaat kemudian segala benda
sudah tak tampak lagi kena diselimuti awan, dunia yang
luas ini kelihatannya hanya putih saja. Segala
pemandangan yang indah indah menjadi hilang, hal ini
membuat Djie Hay berpikir. “Manusiapun seperti ini tidak
perlu ada yang diberatkan. Aku akan pergi secara diamdiam
ke Kiu Liong Po menjumpakan guruku, agar ia bisa
turun tangan menyembuhkan penyakitnya dari Tju Siok
siok, aku sendiri boleh turut dengannya mengasingkan diri
sambil melatih diri hal mi apa susahnya?” Tengah ia berpikir
dengan asyiknya tiba-tiba di atas kepalanya menggelepak
dengan suara sayap burung, ia menengadah dan melihat
bayangan hitam dari burung garuda. Ia merasa heran dan
tidak mengerti garuda itu untuk apa datang ke situ.
pedangnya dicabut menantikan serangan, tiba riba burung
itu melewat di atas kepalanya, disambutnya dengan pedang
sudah terhunus, tapi burung itu sudah terbang pergi sambil
menjatuhkan sebuah bungkusan yang menerbitkan suara
“pluk”.
Bungkusan itu. walaupun kecil tapi berat, entah apa di
dalamnya. Ia tahu bahwa kedatangan burung itu pasti
menerima titah dari majikannya. Tanpa membuang waktu ia
lari ke dalam goa untuk menyerahkan bungkusan
itu kepada gurunya. Begitu ia masuk ke dalam goa
dilihatnya Tju Hong sudah sadar dari tidurnya. Matanya
dapat dibuka dengan sorot yang aneh, ia merasakan asing
tempat sekeliling ini. di balik itu merasakan sudah kenal
pula, diamat amatinya sekeliling. Nanti ia memandang
ke sebelah kiri. kemudian melihat lihat sebelah kanan
sambil mengernyitkan keningnya. Sesaat kemudian ia
lari ke dinding goa kedua lengannya meraba raba, seolah
olah tengah cari sesuatu. Tapi tanpa mendapat hasil, ia
duduk lagi dengan perasaan kesal dan mabuk. Semua orang
tahu ia tengah mengingat ingat kejadian yang lalu. dari itu

358
di biarkan saja tidak mengganggu. Tapi Tju Hong kembali
sudah berubah lagi, kini kembali ia angin-anginan lagi
tambangnya mulai dikebutkan ke kiri kanan secara gila
gilaan!
Djie Hay menjadi sedih dan merasa kesal, sampai
bungkusan yang dipegangnya jatuh lepas. dirasa lagi.
Jatuhnya benda ini membuatnya sadar dari Kesedihannya,
sedangkan bungkusan itu begitu jatuh segera terbuka
ikatannya. Bermacam macam benda terdapat di situ.
melihat ini ia menjadi kaget sekali, waktu ia mengangkat
kepala untuk mengawasi suhunya dan lain lain, tampak
mereka sudah menatap mengawasi benda benda yang
berserakan di tanah. Pemuda pemudi merasa aneh.
sebaliknya dengan Kie Sau menggoyangkan kepalanya,
sedangKan Yauw Tjian Su memandang benda itu dengan
jemu. la berkaia: “Bagus, sekalian musuhku sudah datang!”
Yauw Tjian Su maju ke depan mengambil sebilah pedang
kecil sambil tertawa. “Hmmm inilah Tjie Sang Kiam (
pedang jeriji Lauw Tjiok Sim, bocah itu menamakan dirinya
salah satu pendekar dari Go Bie. sampai senjata
rahasianyapun berbentuk pedang, kini diberikan untuk
dibanggakan barangkali? Baik pedang ini kusimpan.”
Pedang kecil itu dimasukkan ke dalam sakunya, kemudian
dikorek korek kumpulan senjata senjata rahasia, sesudah
memilih kembali ia tertawa: “Ha ha ha, Thay Ouw Hu Lui
pun datang, terkecuali dari Ong Hie Oag orang lain mana
suka memain tulang ikan ini. Baik tulang ikanpun ingin
kutelan,” sambil menyimpan barang itu. Kembali ia
memeriksa benda-benda lain. Sebuah besi persegi
mengkilap yang berat diangkatnya. Orang tua itu kembali
berkata: “Senjata ini adalah kepunyaan Bok Tiat Djin.” Besi
itu diberikan kepada Kie Sau untuk diperiksa. “Kau periksa,
masih terdapat apa yang aneh disitu!” Begitu Kie Sau
melihat ia menjadi kaget. “Kiranya Pangeran Baju mas Kim
Dju Kie pun ada di sini! Tadipun aku Kie Sau segera
memberikan besi itu untuk di periksa mereka sambil
berkata. “Lihat ! di besi itu terdapat tanda apa? Tanda itu
adalah peninggalan dari paku emasnya yang dipukulkan ke

359
situ!” Orang banyak bergiliran mengawasi, benar saja di
papan besi tertancap dengan tegas sebatang paku yang
hampir menyerupai kelingking. Dari sudut ini sudah dapat
dibayangkan betapa lihaynya orang itu.
Yauw Tjian Su kembali memeriksa benda lain yang
menyerupai bendera, di atasnya berlukisan sebuah gambar
Pat-kwa
“Hek Liong Lo Kuay rupanya kau ingin menakut nakutkan
orang dengan bendera Pat-kwamu! Lihat akan kugunakan
untuk menghapus ingus!” Baru saja bendera ini akan
dimasukkan ke dalam sakunya tiba-tiba dilihatnya di atas
bendera itu tertera lima liang kecil peninggalan dari jeriji
wanita. Sesudah ditelitikan orang tua itu, berkata; “Tak
kupikir Niko ( paderi perempuan ) kecil ini ilmunya maju
demikian pesat lihatlah jerijinya dapat menembus
benda yang demikian tipis dan ringan, Kepandaiannya
sungguh aneh bukan?”
Sedangkan di tanah masih banyak sekali senjata rahasia
lain dari Louw Eng, Ouw Yu Thian. Tam Tjiu Liong. Ku To
Hoo Pun. Wie Lie Hay. Poa Toa Hong tujuh kauw. Pek Sek
Sie Seng le Kim Wan. . , dan lain-lain semua semata mata
untuk menunjukkan kekuatan yang besar.
Kie Sau menghitung jumlah dari seluruh senjata rahasia
ada tujuh delapan puluh. Terkecuali dari Hek Liong Lo Kuay.
Ong Hie Ong. Bu Beng Nie. Lauw Tjiok Sim. Kim Dju Kie.
Bok Tiat Djin yang termasuk jago aliran kelas satu. masih
terdapat Louw Eng. Tong Long, Ie Kim Wan dan yang
sekelas dengan mereka sebaryak dua puluh lebih.
Terkecuali itu yang lainnya terdiri dari senjata rahasia
orang-orangnya undangan Louw Eng yang pasti berilmu
tinggi pula. Dengan jumlahnya yang banyak ini tak heran
musuh bisa mengurung mereka dari segala penjuru.
Kie Sau sadar bahwa Louw Eng sudah berhasil membuat
satu jaring yang kokoh, dengan maksud sekali tebar dapat
menangkap semua orang. Dalam situasi yang berbahaya
ini, biar Yauw Tjian Su yang tinggi, ilmu kepandaiannya
belum tentu dapat menerjang ke luar. lebih lebih anak anak

360
muda lainnya lebih sukar pula, sedangkan ia sendiri pating
banter hanya bisa menghadapi Bu Beng Nie seorang. Pikir
pikir keadaannya terap kurang jauh dari jumlah musuh.
Terkecuali itu masih terdapat Tju Hong yang masih lupa
ingat dan menjadi beban. Kie Sau terdiam sambil menarik
napas. hatinya berpikir: “Cara yang terbaik, harus dapat
meninggalkan puncak ini tanpa diketahui musuh”
Tapi hal ini masih belum memastikan pikirannya, dari itu
ia bertanya kepada Yauw Tjian Su: “Yauw Lauw, kau lihat
bagaimana baiknya untuk menyelesaikan urusan hari ini?”
“Menurut hematku, kita jaga puncak ini, kalau mereka
datang satu kita tangkap satu. Karena tempat ini sukar
untuk didaki mereka, sebaliknya untuk turun pun bukan hal
y*ng mudah. Kalau mereka tidak mau naik kita jangan
turun, kita diam terus di sini sambil menikmati
pemandangan yang indah menangkap beberapa ekor
burung untuk memain, seumur hidup tntuk tetap tinggal di
sini akupun ridlah. Sampai kita sudah tidak betah tinggal di
sini, musuh sudah bosan pula menantikan kita. pasti di
antara mereka sudah ada yang pergi, saat itulah kita turun
pasti tidak ada berani yang merintangi!” Orang tua ini
mempunyai pandangan yang ringan dan mengambil
ketetapan untuk tinggal terus di sini untuk selamanya. Pikir
Kie Sau kata katanya itu memang masuk di akal juga.
Wan Tnian Hong adalah anak yang cerdik dengan segera
ia pendapat perkataan gurunya: “Suhu, kau boleh
mengatakan begitu, tapi dari mana kita mendapatkan
makanan untuk waktu yang demikiaa lamanya itu?”
“Ah, semua karena gara garamu yang mengundang
mereka datang ke sini, kini masih berani banyak bicara!”
kata orang tua itu sambil bangun berdiri dan lari ke luar,
“Suhu kau ingin ke mana?” tanya Wan Djin Liong.
“Di sini tidak ada makanan, untuk apa berdiam lama
lama? Pergunakan waktu kabut menutup gunung dan tak
terlihat tegas kita menerjang turun, mereda berjumlah
banyak belum tentu bisa bergerak semuanya dalam cuaca

361
demikian buruk, marilah kita terjang!”
“Yauw Louw kata katamu sungguh baik sekali! Tapi
sebelum turun kita harus membuat rencana dahulu!” kata
Kie Sau.
“Bagus, cobalah kau katakan!”
“Ke satu, kita tidak boleh berpencar, harus berkumpul
untuk sampai di bawah gunung. Musuh berjumlah banyak
kalau kita berpencar pasti tidak dapat melawan kekuatan
mereka, kerugian pasti akan kita derita!”
“Kata katamu sungguh baik, tapi sesampainya di bawah
gunung kalau kehilangan aku sendiri kalian tidak perlu
kuatir dan menghiraukan!” sela Yauw Tjian Su.
“Kedua, kita harus mengatur sebuah barisan, depan dan
belakang tidak boleh berpencar. Kalau tidak dapat turun
harus mencari kawan jadi berdua.” Sekalian pemuda
menganggukkan kepalanya.
“Yang ketiga. Sie Hong kau harus menggendong ayahmu,
aku akan menjaga di sisi tubuhmu.” Saat ini Tju Hong
sudah tidur dan mudah dibawa. “Yang ke empat. andaikata
usaha kita gagal semua harus balik kembali ke puncak ini
untuk membuat rencana lain.” Kie Sau memesan sekalian
pemuda sekali lagi, kemudian ia berkata kepada Yauw Tjian
Su. “Yauw Lauw, kau harus berada di belakang barisan
untuk memutar dari belakang, bagaimana pendapatmu?”
Orang tua itu membenarkan siasat Kie Sau. Sesudah
barisan beres diatur Tjiu Piau yang sangat awas matanya
jalan di depan selanjutnya Djie Hay, Gwat Hee, dan saudara
Wan. Kie Sau, Sie Hong menggendoag ayahnya, dan yang
terakhir adalah Yauw Tjian Su. Sesudah mereka ke luar dari
goa segera naik ke atas puncak Thian Tou, tampaklah
sekeliling sudah menjadi putih tertutup kabut, hanya sinar
surya senja saja yang kelihatan menjadi merah menembus
kabut itu. Sesudah dilihatnya di bawah puncak tidak
terdapat gerakan Tjiu Piau segera berseru. “Terjang!”
tubuhnya segera masuk ke dalam kabut dan hilang tidak
kelihatan.

362
Ong Djie Hay mendengari arah kaki Tjiu Piau dan
menyusul dari belakang. Kedua bayangan hampir hilang
ditelan kabut, tapi belum terdengar gerakan apa apa dan
musuh. Selanjutnya Gwat Hee, Wan Thian Hong dan Wan
Djin Liong menyusul dari belakang.
Baru saja beberapa orang yang tersebut belakangan ini
memasuki kabut, segera mendengar suara saling bentak
dengan kerasnya, satu suara Tjiu Piau satu lagi suara
menggeledek dari musuh, menyusul terdengar suara saling
labrak dengan hebatnya, tapi hal ini tidak kelihatan dari
belakang.
Siapakah yang lagi berkelahi dengan Tjiu Piau? Kiranya
adalah seteru lamanya, ialah Tong Leng Ho Sang!
Paderi itu mengandalkan pada tebalnya kabut,
menyandar di tebing yang cekung ke dalam untuk
menyembunyikan dirinya. Siasat ini adalah Hek Liong Lo
Kuay yang mengatur, bukan saja Tong Leng bahkan
semuanya mengambil tempat yang demikian untuk
menyembunyikan dirinya, menjaga kelalaian lawan dan
menangkapnya.
Tjiu Piau selalu berlaku hati-hati sesudah berjalan agak
lama tampak olehnya di depan terdapat tikungan, ia
berhenti sebentar untuk mengamat amati, ia tahu di balik
tikungan itu terdapat masuk yang sedang bersembunyi.
Walaupun demikian ia tidak bisa berbuat apa apa karena
sekelilingnya penuh kabut, tengah ia bingung mendadak
timbul akal bagus diambilnya pohon yang agak panjang
bajunya dibuka dan ditaruh di atas kayu lalu dikosongkan
ke depan, dalam keadaan remang remang baju itu tidak
ubahnya seperti orang.
Sementara itu Tong Leng sudah mendengar suara kaki
orang datang mendekat hatinya teramat girang, pikirnya
pasti akan berhasil menangkap orang yang datang. Siapa
tahu tiba-tiba suara kaki itu tiba tiba hilang, sang paderi
menjadi gelisah, ia takut orang itu tidak datang dan tidak
patut kiranya kalau ia memanggil orang itu agar datang.
Sedang ia cemas tiba-tiba terdengar lagi derak sepatu

363
orang, sesosok tubuh berkelebat di depan matanya
menerjang turun. Tak banyak rewel lagi sang paderi
mengulurkan kedua lengannya yang panjang dengan ganas
untuk menangkap, sambil membentak: “Kena!” ya,
memang kena . . . sebatang kayu dengan baju. Sebenarnya
begitu orang itu kena dipegang segera akan dibantingkan
ke bawah kini ia diam mendelong keheranan, sambil
mengangkat kedua lengannya memegangi kayu itu,
sedangkan di samping tubuhnya berkelebat dengan
gesitnya seorang muda sambil menghajar perutnya yang
gendut dengan telak sekali, Tong Leng berteriak kesakitan.
Untunglah pukulan itu adalah ilmu silat luar yang tidak
berapa lihay, walau pun keras seperti batu tak berfaedah
terlalu besar menghajar perutnya yang seperti kapas
Walaupun sakit tidak sampai melukakannya sang paderi
segera balik badan melancarkan serangan dengan ilmu Sian
Wun Pay Gwat, lengan kanannya yang besar terbuka
lebar menyampok miring dengan maksud memotes batang
kepala orang. Tapi sang musuh itu sangat lincah sekali ia
sudah berhasil memutar badan lari ke arah jalan yang
sempit, sambil merapatkan diri di lembing gunung
sehingga tidak kelihatan. Terkecuali itu sewaktu membalik
badan musuh itu sudah melepaskan dua butir batu sambil
membentak: “Hwee shio gemuk, makanlah batu ini!”
Tong Leng berniat membuka mulutnya untuk menyambut
serangan itu, tapi segera dibatalkan karena batu itu
datangnya terlalu keras segera ia mengegos sehingga batu
itu lewat disampingnya dan langsung menghajar tebing
gunung dan mengeluarkan bunyi yang keras sekali Gerakan
tangan dan batu cukup di kenal Tong Lenp, sehingga ia
menjadi gusar: “Hei Tjiu Piau sekali ini kalau kena
kutangkap tak ada ampun lagi!”
Suara saling bentak ini terdengar nyata sekali di dalam
kabut yang sunyi, Pihak Tjiu Piau sudah mendengar,
demikian juga dengan pihak Louw Eng. Mereka saling tidak
melihat, tapi pihak yang rugi adalah Tjiu Piau sekalian,
karena mereka tidak mengetahui apa yang sudah diatur
musuh di tengah perjalanan turun ini. Orang banyak
menjalankan siasat Kie Sau, begitu melihat musuh segera

364
diam tidak bergerak sambil menahan napas agar tidak
diketemukan musuh. Sesudah bersembunyi Tjiu Piau segera
menahan napasnya. demikian juga dengan yang lain. Dalam
waktu sekejap saja kesunyian Oey San kembali seperti
semula, kesunyian ini mendebarkan orang orang dipihak Kie
Sau. mereka menahan napas dengan engapnya. Sebelum
turun gunung Kie Sau sudah memesan, kaiau ketemu
musuh harus menggabungkan tenaga, untuk
memusnahkan dengan cara ini baru tidak terhambat
perjalanannya, Dalam kesunyian yang mengandung
suasana pembunuhan TjiU Piau sudah melewati Tong Leng,
sedangkan Djie Hay masih berada di belakang dengan dua
tenaga ini bisa mengapit Tong Leng. Mereka berdua
mengawasi terus gerak geriknya musuh dengan maksud
sekali serang membinasakannya.
Tjiu Piau menahan napas sambil menghampiri musuh,
tiba tiba didengarnya suara berderaknya sepatu dengan
halus bergerak di atas kepalanya, secara cepat sekali.
Mungkin di atas itu terdapat pula jalan gunung, Tjiu Piau
dongak ke atas untuk melihat, di situ masih tetap tampak
kabut putih sedangkan bayangan orang tidak kelihatan Ia
berpikir : “Walaupun di dalam kabur yang demikian tebal
orang itu dapat lari dengan pesatnya, agaknya sekali
langkah ada beberapa tumbak jauhnya. ditambah dengan
gerak geriknya yang demikian halus dan lincah, entah jago
kelas berat dari mana?” Suara langkah kaki itu berhenti
tepat di atas kepalanya seolah olah sudah mengetahui ada
orang bersembunyi di bawahnya.
“Wah celaka,” keluh Tjiu Piau, “kalau Tong Leng datang
menyerang aku harus melawan, kalau dalam keadaan
begitu orang yang di atas datang menyerang pasti aku
dapat celaka Lebih baik menyerang dahulu!”Lengannya
segera melontarkan dua butir batu kesebelah atas, serentak
kakinya maju melompat ke dekat Tong Leng. Tui Ia To Gwat
keluar menghantam musuh, berbareng dengan serangannya
ia berseru nyaring’ “Ong Toa ko. mari kita hajar binatang
in!” Djie Hay sudah siap dengan lengannya, sesudah
mengetahui di mana musuh berada segera menyerbu

365
dengan Kie Hong Hui Lay. ia sudah mempelajari Im Yang
Kang dan sudah mengerti cara menggunakannya sekaligus,
serangannya sekarang berbeda jauh dengan dahulu,
tenaganya keras dan berat sukar ditangkis.
Begitu mereka bergerak, di atas kepala Tjiu Piau
berkelebat sebuah bayangan langsing yang tiba di hadapan
Tong Leng Ho Siang. Sedangkan Tjiu Piau dan Ong Djie Hay
masing masing merasakan di mukanya mengebas dengan
perlahan tangan yang berhawa dingin seperti es, sehingga
serangan mereka menjadi buyar. Djie Hay masih
dapat mempertahankan kebasan itu., tapi Tjiu Piau sudah
jungkir balik dibuatnya kebasan yang demikian halus itu
Secara cepat mereka kembali bersiap dan menerjang lagi,
dalam jarak yang dekat mereka melihat tegas orang itu
adalah seorang Niko yang kurus kecil berusia kurang lebih
lima puluh tahun, sedangkan mukanya pucat tak berdarah,
matanya sayu dan dingin, bajunya yang berwarna putih,
sangat bersih sekali. Di lehernya bergantung seuntai
mutiara Buddha yang panjangnya sampai di perutnya.
Melihat oranh ini Djie Hay segera membentak. “Hei! Bu
Beng Nie. kau juga datang!”
“Hei bocah kemarin dulu. kenapa kau bisa tahu namaku?
Lekas kau wartakan ke pada gurumu, agar datang ke mari
untuk kutabok!” katanya dengan tawar. Sehabis bicara jeriji
tangannya ke luar satu secara perlahan – lahan disabetkan
kepada Djie Hay. Melihat serangan datang pemuda ini
mengebaskan lengan bajunya, tapi kebasannya ini tidak
membuat jeriji lawan bergerak barang sedikit, bahkan
masih tetap maju menyerang. Djie Hay kaget dan mundur
ke belakang. Musuh tidak memberikan kelonggaran terus
merangsak maju. Mereka saling desak, sepuluh tindak
kemudian hilang dalam liputan kabut. Tertinggal Tjiu Piau
dengan Tong Leng sepasang lawan lama, masih tetap saling
mendelik. Sepasang sarung tangan yang terbuat dari kulit
rusa dipakai Tjiu Piau di depan mata Tong Leng, ia berkata:
“Tong Leng! Apa kau berpikir untuk menikmati mutiara
beracun seperti Louw Eng dan Bok Tiat Djin?” Tong Leng
memang sangat segan terhadap senjata rahasia lawan, dari

366
itu ia berlaku sangat hati hati sekali, lebih lebih dilihatnya
lawan sudah menggunakan sarung tangan, sembarang
waktu bisa melepaskan Tok Tju. Diperhatikannya lengan
kanan Tjiu Piau dengan kedua matanya yang besar kalau
kalau tangan iiu melepaskan senjata rahasia. Tiba tiba ia
menyerang waktu sang pemuda tidak siap sedia, jurusnya
tidak lain dari Sian Wan Pay Gwat.Pukulan lengannya
menimbulkan angin yang keras, Tjiu Piau tidak berani
menyambut, ia segera berkelit sekilat mungkin kesebelah
samping sejauh beberapa kaki
Dalam jarak tujuh delapan kaki, tubuh orang dapat
dilihat seperti ada seperti tidak, inilah kesempatan untuk
Tjiu Piau melepas senjata rahasianya yang ampuh.
Sebaliknya musuh tak akan melihat senjata rahasianya
yang dilepasnya. Segera disiapkannya mutiara yang
berkilap kilap digapaikannya musuh: “Hei Hweeshio,
mutiara ini sudah pasti ku berikan kepadamu sambutlah!”
Tangannya terangkat menggertak, Tong Leng ketakutan
dan mencelat ke belakang sebanyak dua tumbak. Pemuda
kita mendesak terus dan menjaga jarak antara tujuh
delapan kaki, menantikan ketika yang baik untuk
membereskan jiwa lawan. Ho Siang mundur selangkah ia
maju selangkah. Suasana sudah menjadi terang, walaupun
keadaan ini baru berjalan sebentar dirasakan mereka sudah
lama sekali. Tjiu Piau melempar senjata secara menggertak,
lengannya ditaruh di belakang tubuhnya dengan niatan
melepas senjata dari bawah ketiak kiri agar Tong Leng tidak
menduga duga, tapi baru akan bergerak lengannya sudah
ada yang pegang dengan erat.
Kekagetan Tjiu Piau bukan alang kepalang dengan cepat
tubuhnya berbalik dari sebelah kanan, kaki kirinya
menendang orang Dalam waktu sekejap mata, dilihatnya
dengan tegas orang yang memegang dan datang tanpa
suara itu, kiranya adalah seorang gadis besar yakni Tjen
Tjen adanya. Tendangan Tjiu Piau itu lebih keras dari
tenaga tangannya sepuluh kali, sehingga menimbulksn
angin tenaga yang mendesak lawan. Tjen Tjen berseru
dengan heran: “Ah, hei ilmu silatmu kenapa bisa maju

367
demikian pesat!” lengannya melepaskan lengan orang
sedangkan tubuhnya berbalik kebelakang dan hilang dalam
kabut yang tebal. Dalam sejenak saja Tong Leng sudah
menyerang punggung belakang Tjiu Piau dengan jurus Sian
Wan Po Su (malaikat kera memeluk pohon) dua tangannya
itu seperti sendok garpu dicocokkan kepada tenggorokan
lawan Pemuda ini tidak menantikan serangan lawan
bersarang di tubuhnya sudah menundukkan kepalanya dan
berguling di tanah sambil mengayunkan lengan kanannya
untuk menghadiahkan Tong Leng mutiara beracun.
Tjiu Piau sebenarnya akan menpergunakan jurus ‘Naga
rebah menyemburkan mustika’ tapi jalanan di gunung
sangat sempit dan tak rata. Tak heran begitu ia berguling
segera tak kuasa menahan tubuh nya yang langsung
berguling guling kebawah! Bagian kaki Tong Leng sama
sekali tidak gesit, begitu dilihatnya sinar mutiara yang
mengkilap menuju ke perut membuatnya kaget dan
menggunakan seluruh kekuatan tenaganya mencelat ke
samping. Malang baginya jalanan gunung sangat buruk
sehingga kakinya tak kuasa menahan tubuhnya, ia terguling
guling jatuh ke bawah. Jalanan gunung ini licin sekali dalam
waktu sekejap mereKa belum bisa memperbaiki diri.
sehingga yang tertampak hanya dua gulungan besar
bergelindingan sama sama menuju ke bawah.
Kini kita tengok Djie Hay yang sedang bergebrak dengan
Bu Beng Nie. Saat ini Djie Hay tengah kena terdesak, dan
tidak tahu harus bagaimana menghadapi lawan yang aneh
dan lihay ini. Sebenarnya pemuda ini sudah mendapat
didiKan baik dan Kie Sau sehingga ilmu silatnya tidaklah
buruk, ditambah im Yang Kang yang baru dipelajarinya,
kepandaiannya ini sudah boleh disebut cukup tangguh Tapi
kalau dibanding dengan musuh, tenaga dan kepandaiannya
ini masih kurang beberapa angka. Walaupun ia bisa ilmu lm
Yang Kang tapi belum berapa lama dipelajarinya, sehingga
tenaga yang berada di dalamnya belum dapat digunakan
secara sempurna. Tambahan nama “Bu Beng Nie sangat
terkenal, belum belum hatinya menjadi gugup Dilihatnya
ilmu lawan yang kukuay. sampai ia tidak mengenal jurus

368
apa yang digunakan, apa yang tampak hanya terangkatnya
kaki tangan musuh secara bersamaan menghajar bagian
berbahaya dari tubuhnya.
Dalam waktu sekejap ini membuatnya gugup dan terus
mundur untuk siap mengadakan serangan balasan, sesaat
ia mundur lagi beberapa tindak terdengar suara Gwat Hee :
“Koko. kau di mana?” Dengan cepat ia mencelat ke arah
suara adiknya, sambil berkata : “Moy tju, hati hati musuh
lihay sekali, mari kita gabungkan tenaga untuk
menghajarnya.” Belum suara ini habis bayangan musuh
sudah terlihat mengejar
Dua saudara Ong sudah biasa bekerja sama untuk
menghadapi lawan, begitu dilihatnya musuh datang mereka
secara otomatis menggeser kakinya memisahkan diri. Ong
Djie Hay ke timur Gwat Hee keutara menyambut
kedatangan musuh dari barat daya, Bu Beng Nie melangkah
masuk ke tengah tengah, lengan kirinya dilepaskan dari
dadanya menyampok Gwat Hee yang berada di utara dan
sekalian jerijinya ke luar menotok Djie Hay. Dengan cepat
Gwat Hee mengeluarkan jurus Tian In Tjut Siu (awan pagi
ke luar dari celah celah gunung) mengebutkan lengan
bajunya memukul serangan musuh, disusul dengan
serangan balasannya dengan jurus Soa Tiong Leng Tiap (
gunung besar bukit bertumpuk ) menuju ke bahu kiri lawan
dengan ganas dan cepat. Ong Djie Hay yang berada di
sebelah timur begitu melihat jeriji lawan, tak berani lambat
lambatan lagi. diemposnya tenaga di seluruh tubuhnya
kedua lengannya yang diangkat tinggi dan diserangnya
musuh dengan jurus Thian Hu Pek San (Kapak langit
membelah gunung) kalau kepala terpukul bila terbelah dua.
kalau tulang yang menangkis akan hancur berantakan,
pokoknya pukulan ini ganas dan membahayakan, Bu Beng
Nie semula tidak memandang mata kepada sepasang muda
mudi ini, siapa tahu sesudah dihimpitnya dengan serangan
bersama baru tahu kelihayan orang. Lebih lebih serangan
Oag Djie Hay ini bukan saja bertenaga besar menindih dan
terasa anginnya, bahkan dilengkapi pula dengan suatu gaya
Im Yang kang yang sukar diraba Kiranya Im Yang Kang ini

369
di luar tahu Djie Hay sendiri sudah menambah tenaganya
demikian mengagumkan.
Bu Beng Nie berpikir : “Aku sudah biasa malang
melintang di dunia Kang ouw, masa takut menyambut
lenganmu? Biar ku sambut!” Lengan kanannya terangkat
menangkis lengan lawan, sehingga dua tangan bentrok,
aneh. tak menimbulkan suara barang sedikit. sedangkan
tenaga yang mereka gunakan bukan main besarnya.
Kepandaian Bu Beng Nie berdasarkan pada Kang (keras)
yang sudah sampai di batas maunya, sampaipun sutera
halus yang menggeleber di udara dapat dibuat berlobang
oleh jerijinya. Demikian juga dengan ilmu Bukit Berantai
dari Ong Djie Hay berdasarkan kepada keras, tetapi
sejak ia faham Im Yang Kang, tenaga di telapak tangannya
itu kalau ketemu keras segera berubah lunak, ketemu lunak
berubah keras. Ong Djie Hay merasakan kekerasan lawan
melebihkan kekerasannya beberapa lipat, Telapak tangan
itu tanpa dirasa sudah beralih menjadi lunak untuk
menghindarkan dari luka. Tak heran begitu lengannya
beradu tak terdengar suara, sehingga membuat Bu Beng
Nie keheran heranan. Tangannya ditarik pulang mengubah
permainannya, jeriji telunjuk dari sepasang lengannya
ditegakkan ke luar sedang empat jeriji lainnya ditekuk dan
ditotokkan kepada dua lawannya. Pukulannya ini bukan
merupakan kepalan atau telapak tangan, sehingga
mengherankan dua lawannya yang belum pernah melihat
pukulan semacam itu. Mereka menyambut serangan ini
secara maksimum dengan ilmu pukulan Bukit Berantai yang
paling mahir dimainkannya.
Sepuluh jurus sudah berlalu, jeriji Bu Beng Nie yang
tegak tak ubahnya seperti belati pendek, mengeluarkan
jurus bermain belati bercampur ilmu pukulan tangan
kosong, berubah ubah secara aneh Dua saudara Oag tidak
berani mendekatkan tubuhnya pada lawan. mereka
bertahan terus dari jarak agak jauh. Supuluh jurus kembali
berlalu dua saudara Ong masih belum berhasil menyelami
ilmu lawan sehingga kedudukannya berada di bawah angin.

370
“Ha ha ha,” Bu Beng Nie tertawa, “kira nya kalian adalah
murid murid Hoa San Kie Siu, tak heran berilmu demikian
baik. Sepuluh tabuh yahg lalu aku mengetahui Kie Sau
mempunyai ilmu Bukit Berantai sebanyak delapan jurus, tak
kira kini sudah bertambah menjadi duapuluh empat jurus
banyaknya. Masih adakah jurus keduapuluh limanya?”
sambil bicara tangannya terpecah kedua jurusan menghajir
dada dua musuhnya. Tinpa berjanji lagi dua saudara Ong
mengeluarkan jurus Hud Siu Djie Kie mengebut dengan
lengan bajunya untuk menangkis serangan, sedangkan
lengannya bersembunyi di balik lengan baju dan dapat
dipakai menyerang atau bertahan. Jurus ini dimainkan
demikian baiknya* tapi lawan sudah mengetahuinya. “Ha na
ha.” Bu Beng Nietemwa mengejek* “rupanya sudah
kehabisan ilmu. ini lagi. ini lagi!”
Saat itu juga ssudara Ong merasakan lengan baju
mereka kena ditarik lawan. Matanya terbuka mengawasi,
lengan baju itu sudah ditembusi jeriji sang Niko sampai
berlubang dan terkait dengan eratnya, sehingga lengan baju
itu tidak dapat ditarik pulang.
Gwat Hee cukup tenang, dikeluarkannya pisau belati dari
pinggangnya lengan baju itu disabet menjadi pecah, sambil
lalu belatinya menyerang lawan dengan jurus Kim Liong
Hiat (naga emas ke luar dari guna) menusuk kerongkongan
lawan. Bu Beng Nie cukup tangguh, bergerakpun tidak,
dinantikan belati lawan sampai di dekat badannya sebera
dipentil oleh jari jarinya yang tertekuk, “ting” bersuara,
belati itu kena disentil mundur. Bukan saja ia berhasil
mematahkan serangan lawan bahkan telapak lengan si
gadis tergetar secara keras, hampir hampir belatinya itu
terlepas jatuh. Ong Djie Hay juga sudah berhasil mencabut
senjata dan memutuskan lengan bajunya, dengan senjata
yang berkilat kilat dua saudara Ong membuat pertandingan
bertambah seru dan seimbang.
Semakin bertarung Gwat Hee semakin gelisah. Menurut
siasat yang sudah ditentukan. dua saudara Wan sudah
harus sampai untuk membantu, kenapa sampai sekarang
belum kelihatan bayangan-bayangannya?/ Ia pun kuatir

371
kepada Tjiu Piau yang berada seorang diri di muka. entah
kalah entah menang tidak diketahuinya. Begitu ia merasa
gelisah akalnya segera ke luar, tiap kali menyerang atau
menangkis selalu diiringi suara bentakannya. Hal ini
dilakukan dengan maksud saudara saudara lainnya
mengetahui mereka ada di situ dan datang membantu.
Kenapa dua saudara Wan belum kunjung datang. tidak
tahunya merekapun tengah berkelahi mati-matian dengan
lawannya, Takala mereka mengetahui saudara yang berada
di depan sudah bergebrak dengan musuh segera maju
membantu, siapa tahu baru kakinya melangkah beberapa
tindak tiba-tiba didengarnya suara “ber… ‘siuttt!” dari
sebuah rantai yang berkilau kilau. Wan Djin Liong yang
berada di depan segera merebahkan dirinya menghindarkan
serangan gelap itu. waktu ia bangun untuk mencari si
penyerang sedikit juga tidak tertampak
Sedangkan Wan Thian Hong pun berhasil mencelat
beberapa tindak menghindarkan serangan itu, tepi iapun
heran melihat penyerangnya. Mereka berdiri dengan heran,
Djin Liong memanggil: “Moy-tju!” baru suaranya keluar dari
belakang tubuhnya kembali terdengar suara ‘Ber . . «
siuuutt!” rantai ini datangnya dari atas udara. Djin Liong
menubruk dari mana suara mendatang, dalam kabut yang
tebal terlihat di depannya sebuah bayangan hitam, tidak
kasian lagi diserangnya bayangan itu dengan tendangan
kakinya, bayangan itu tetap tidak bergerak. Waktu
diawasinya ia menjadi kaget sebab bayangan itu bukannya
orang melainkan sebuah pohon Siong tua! Kakinya ditarik
sambil memutarkan badan, baru ia berdiri kembali datang
serangan rantai emas dari belakang pohon Siong tua itu.
Djin Liong mengegos, tapi tetap belum bisa mengetahui di
mana musuh berada. Rantai emas itu mengeluarkan deru
yang hebat sekali, tiba tiba di belakang tubuhnya terlihat
berkelebat sesosok tubuh dengan lincah dan gesit, sebelum
Djin Liorg dapat menyerang bayangan itu sudah sampai di
sampingnya sambil tersenyum kiranya adalah adiknya
sendiri yang habis berkelit dari serangan rantai musuh.
Kedua orang ini merasa mangkel sekali, penyerang gelap

372
yang tak menunjukkan diri itu memang terlalu licik
berkelahinya dan tidak tahu malu.
Rantai itu lebih kurang panjangnya ada sepuluh tumbak,
orang yang menyabetkan berdiri sepuluh tindak di luar
garis, sehingga tidak kelihatan mata hidungnya karena
terhalang kabut yang tebal. Rantai itu selalu menyerang
kalau lawan bergerak ingin saudara Wan membalas
menyerang” tapi tidak diKetahuinya di mana kedudukan
lawan. Rantai itu nanti berada di sebelah kiri, nanti di
sebelah kanan sewaktu waktu di tengah udara dan tak
dapat ditentukan, sabetannya demikian bertenaga dan
membahayakan sekali, untung dua saudara Wan cukup
lincah dan lihay. kalau tidak siang siang sudah kena
dikerjakan musuh.
Sesudah mereka meigelakkan sepuluh sabitan musuh,
baru mengetahui bahwa musuh bukan terdiri dari seorang,
mungkin ada dua tiganya, tapi bersenjatakan rantai emas
yang serupa, hanya tenaga menyerangnya saja yang
berbeda. Mereka kesal dan mendongkol tidak dapat dengan
seeera mengetahui di mana musuh bersembunyi,untuk
menyerangnya dan mengadu jiwa.
Orang-orang yang berjalan duluan sudah masuk dalam
pertarungan yang sengit. Sedangkan Tju Hang yang masih
berada di belakang mendengar ini menjadi kumat lagi
penyakitnya, kaki tangannya bekerja, ingin maju ke depan
untuk berkelahi. Tju Sie Hong sekuat tenaga menahannya di
atas punggung d&n tidak berani maju Yauw Tjian Su
sesudah bersungut-sungut segera lari menerjunkan diri ke
dalam kepulan mega yang putih dan tebal dengan tujuan
menolong orang. Dengan kepandaiannya yang tinggi
telinganya bisa menggantikan mata terus berjalan dicuaca
yang buruk dengan leluasa, tapi apa mau dikata begitu ia
masuk ke dalam kabut segala jurusan tidak dapat
dibedakannya.
Hoa San Kie Sau menahan napasnya untuk menerjang
musuh, ia diam tidak bergerak seperti patung batu
layaknya, telinganya mengikuti terus jalannya pertandingan

373
dengan tenang. Dari itu ia sudah mengetahui Tjiu Piau. Djie
Hiy, Gwat Hee dan dua saudara Wan di tiga tempat. Hanya
Yauw Tjian Su tidak diketahuinya lari ke mana, sebab tidak
menimbulkan suara barang sedikit.
Saat ini hari hampir magrib, kabut-kabut masih tetap
menyelimuti puncak-puncak yang berada di Oey San
dengan tebalnya.
Melihat keadaan dari pertandingan ini Kie Sau Sadar
bahwa musuh sudah mempunyai persiapan untak
menghadang, tentu saja mereka tidak dapat menerjang
turun, ia sudah bertekad untuk menarik orang orangnya.
Dari itu dikumpulkannya napasnya dari dalam pusar dan
diemposkan ke luar dengan siulan panjang tanda
memanggil pulang. Pemuda pemudi yang tengah bergulat
seru walaupun sudah mendengar ini mereka belum berhasil
untuk melepaskan diri dari libetan musuh untuk kembali
keatas.
Begitu. Yauw Tjian Su terjun ke dalam kabut yang tebal,
segera menuju ke tempat datangnya suara petarungan.
Tapi orang orang yang tengah berkelahi di dalam kabut itu
tak ubahnya seperti main kucing kucingan bergebrak
sebentar lantas diam tak bergerak. Sesudah orang tua ini
berjalan beberapa tindik tiba tiba keadaan perkelahian
menjadi sunyi, sehingga membuatnya kehilangan
penuntun jalan. Dipasang telinganya dengan penuh
perhatian untuk menantikan lagi suara-suara itu, tibatiba
dari tempat yang jauhnya seratus tindak lebih
terdengar suara. “Oahhh. . . kek!” dua kali, orang tua ini
mengenai betul suara itu, yakni batuk khas dan Hek
Liong Lo Kuay. berbareng dengan itu ia mendengar
suara Wan Thian Hong yang lemah. “Suhu tolong!” agaknya
mulutnya disumpal orang dan memaksakan diri untuk
berteriak. Orang tua ini jadi berpikir. “Wah, Hek Liong Lo
Kuay menangkap muridku, biar bagaimana aku harus
membebaskannya!” Segera ia menyusul dengan ilmu
mengentengkan tubuh yang lihay, tubuhnya seperti
terbang dalam sekejap mata sudah sampai di tempat
yang dituju Samar samar terlihat olehnya sesosok tubuh

374
orang berkelebat, tak salah lagi HeK Liong Lo Kuay
adanya, dalam tangannya mengempit seseorang.
Sebalik Lo Kuay begitu melihat Yauw Tjian Su datang
segera berteriak. “Wadun celaka, seteru lama
datang, lebih baik menyingkir.” Tubuhnya segera hilang di
balik kabut putih yang menutup mata. Pada saat ini hanya
terdengar suara berderak sepatunya saja dan rintihan dari
Wan Thian Hong,
“Suhuuu !”
Yauw Tjian Su tidak mau melepas begitu saha. dikejar
terus seteru lamanya itu. Dua orang ahli persilatan terlihay
untuk jamannya saling kejar kejaran, dalam sekejap waktu
saja sudah banyak puncak dan jurang yang dilaluinva. kini
di hadapan mereka tanpak sebuah puncak yang tinggi dan
sangat megah menghadang di depan mata, makin lama
mereka sudah berada di tempat yang semakin tinggi, di sini
keadaan kabut agak tipis, sehingga mata dapat memandang
agak jauh.
Begitu mereka lari lagi seketika, puncak gunung sudah di
depan mata sedangkan awan awan dan kabut berada di
bawah kaki mereka. Kala mereka menoleh tampak puncak
Thian Tou Hong berada di hadapannya. Yauw Tji n Su sadar
bahwa mereka sudah sampai di puncak Lian Hoa. Tak
diperdulikan segala sesuatu, paling utama adalah menolong
muridnya, dipercepat langkah kakinya sehingga dalam
sekejap mata dirinya sudah berada di tempat tertinggi
dari Liang Hoa Hong. Begitu matanya memandang, tak
terasa lagi membuatnya menjadi tepaku seperti patung
kayu yang terdapat di rumah berhala.
Tidak tahunya di atas puncak tapi di bawah pohon Siong
yang rindang dilihatnya dua orang tengah duduk dengan
menganggur sekali sambil minum arak Satu Lo Kuay lainnya
adalah Siseratu Lidah Ie Kim Wan. Yauw Tjian Su mengenal
orang ini dan sadar bahwa muridnya tidak terjatuh di
lengan musuh, ia terjebak datang ke situ disebabkan gara
gara le Kim Wan yang meniru suara muridnya.
“Tjian Su heng lama kita tidak bersua, mari kita

375
bercakap-cakap sambil duduk menuturkan pengalaman kita
selama berpisah.” kata Lo Kuay.
“Apa lagi yang perlu dipercakapkan! Bukankah kata kata
kita sudah habis dipercakapkan dua puluh tahun berselang!”
jawab Yauw Tjian Su dengan gusar.
Hek Liong Lo Kuay ini memang sesuai benar dengan
namanya yang aneh itu. Pundaknya demikian lebar,
perutnya luar biasa besarnya, mukanya seperti raut daun
sirih yang terbalik di bawah besar diatas lancip. Lebih lebih
kepalanya panjang berbentuk kerucut dan botak di tengah
tengahnya sehingga mengkilap., dan seperti tanduk kalau
dilihat dari tempat yang agak jauh. Sedangkan pakaiannya
yang berwarna hitam tidak mengena di tubuhnya.
Sesudah Hek Liong mendengar perkataan itu, ia berkata:
“Aaya, Lo-heng kenapa masih aseran saja seperti duapuluh
tahun yang lalu!”
“Apa kau ingat waktu kuputuskan persahabatan kita
pada tahun itu? Ingatlah apa yang kukatakan kepadamu?”
tanya Yauw Tjian Su dingin.
“PLSti ingat, tapi waktu itu aku tidak membuat sesuatu
kesalahan yang menyakitkan hati loheng bukan? Pikirlah
betapa baik hatiku untuk memberikan suatu kemuliaan
hidup untukmu, tapi kebaikan ini tidak kau terima, bahkan
aku diusirnya pergi! Terkecuali itu kau masih mengatakan
segala urusan negara serta kebangsaan yang tidak masuk
di akalku. Kau pikir ada kesenangan tidak dinikmati
bukankah sama dengan cari susah sendiri?”
“Kata-kataku pada tahun itu masih tetap tidak berubah
seujung rambut, karena sedikitpun tidak salah!”
“Kenapa tidak salah! Apakah raja yang bertahta kini
masih she Tji(she dari raja Beng) Kalau dahulu kau
mendengar kataku, Kini sudah dapat berdiri di samping raja
untuk menikmatkan kebahagiaan hidup, sehingga tidak
perlu susah susah mencari penyakit ke Oey San ini! H.nmm
dasar bodoh!”

376
“Jabatan Menteri anjing yang kau dapat dari raja anjing
itu boleh kau nikmati sesukamu untuk apa kau membujuk
aku pula! Lo Kuay! Ingatlah dua puluh tahun berselang apa
yang kukatakan sewaktu kita berpisah, yakni kalau tetap
kau menjadi anjing bangsa asing, begitu ketemu muka lagi
denganku salah satu harus lenyap dari muka bumi!”
Tentu aku ingat, tapi kata-katamu itu terang salah
adanya. Ambillah ibarat sekarang, kenapa kita harus
menjadi seteru besar? Pokoknya asal kau. masih dapat
mengubah kelakuanmu, kesenangan yang kuperoleh tetap
akan kubagi untuk kau nikmati!”
Mendengar sampai di sini kesabaran Yauw TjianSu habis
maunya. Dengan kasar ia membentak: “Lo Kuay, hari ini
aku tidak sempat untuk menemani, lain hari nyawamu baru
akan kucabut!” Targannya bergerak menopok pohon Siong
yang berada di samping tubuhnya, daun daun yang runcing
seperti jarum itu rontok dan berhamburan seperti anak
panah menuju pada Hek Liong Lo Kuay, “Bagus,” puji Lo
Kuay sambil menghirup arak dan menyembur kepada daun
daun Siong yang lebih kurang lima enam puluh helai itu.
Semburannya itu mengandung tenaga yang keras pula,
membuat daun daun yang seperti jarum itu tertahan
jalannya. Berikutnya Lo Kuay mengebaskan lengan bajunya
memukul semua daun daun itu ke tanah. Tubuhnya segera
mencelat ke hadapan lawan, ia berkata: “Yauw Lo heng,
apa halangan kita mengobrol tiga empat hari lagi, dan
jangan tergesa gesa untuk berlalu!”
“Lo Kuay aku tahu maksudmu memancing aku ke sini tak
lain untuk melibat aku. agar kawan kawanmu yang tidak
kenal malu dapat mengeroyok bocah bocah kecil yang
sedikit jumlahnya. Lo Koay lekas minggir! Kalau kubilang
jalan pasti jalan!
“Tidak begitu mudah seperti kau goyangi lidahmu!”
sambil memalangkan kedua lengannya menghadang jalan:
“Lo Yauw Tauw hari ini aku tidak niat untuk bertarung matimatian
denganmu. Kau mau pulang dengan selamat itu
mudah saja, pokoknya kita bergebrak dulu barang sejurus.

377
Ingatlah dua puluh tahun lamanya kita tidak bertemu,
dalam waktu selama itu tentu kau banyak mendapat
kemajuan. Pergunakanlah kesempatan yang jarang itu
untuk mencoba coba keahlianmu itu!”
“Baik, dengan cara apa kau mau?”
Lo Kuay mengulurkan kaki kanannya, sedangkan kaki
kirinya tetap tidak berubah, tubuhnya berputar membuat
satu lingkaran yang berjari jari satu kaki setengah. Ia
menggapaikan lengannya sambil berkata: “Mari, mari kita
mengadu kekuatan sebelah tangan, di dalam lingkaran ini,
barang siapa jatuh din ke luar dari bulatan ini berarti
kalah!”
“Kalau kau kalah lantas bagaimana?”
“Ha.ha ha.” LoKuay tertawa keras ‘kalau aku yang kalah
pasti kau boleh berlalu. Sepuluh tahun lamanya aku belum
pernah menderita kalah, sehingga membuat aku rindu
untuk merasakan kekalahan itu. Sebaliknya kalau kau yang
kalah, tidak kuijinkan meninggalkan tempat ini, kau harus
tetap di sini semalaman penuh minum minum arak
denganku, setuju tidak?”
“Setuju.” jjwab Yauw Tjian Su dengan singkat.,
sedangkan tubuhnya sudah mencelat ke dalam lingkaran
itu. Dua orang masuk dalam lingkaran, sehingga merasakan
kesempitan: Masing-masing mengambil kedudukan di
tepian garis lingkaran sebelah dalam, mereka saling
berhadapan, pokoknya asal mau mengangkat kaki atau
tangan pasti akan sampai di tubuh lawan. “Siap!” seru Lo
Kuay. “apakah akan mengadu kekuatan telapak lengan atau
kekuatan jeriji?”
“Mengadu jeriji kelingking ( jeriji yang terkecil ) setuju?”
“Setuju.” jawab Lo Kuay dengan girang.
Mereka mulai menekuk lengan bawahnya ketiak,
sedangkan jempol, telunjuk jari tengah dan “jari manis
ditekuk ke dalam yang dikeluarkan hanya kelingking saja,
satu. Mereka tidak berkata kata lagi. matanya saling

378
pandang seperti harimau lapar dan mengumpulkan seluruh
ambekannya guna merobohkan musuh. Dua manusia
berkepandaian tertinggi di dunia persilatan menunjukkan
pertarungannya yang luar biasa, sungguh suatu
pemandangan yang jarang dapat di lihat, hal ini membuat le
Kim Wan yang berdiri di samping bengong terpaku.
Selanjutnya dua Lo tjian pwee ini menekuk sedikit
anggota bawahnya memasang kuda kuda, tampaknya
mereka seperti pohon yang berakar, Teguh tak bergerak
gerak. Lengan kanannya mereka mulai terlihat maju
kemuka dengan perlahan lahan, belum kedua kelingking ini
bentrok, masing masing sudah mengeluarkan suatu tenaga
penghalang yang tidak dapat dilihat mata. mereka
mengempos semangatnya, jeriji itu baru bisa maju sedikit.
Hek Liong Lo Kuay mengernyitkan kedua alisnya menjadi
bersambungan satu. dengan lain. sedangkan kedua bibirnya
melar ke samping, matanya seperti meram, Yauw Tjian Su
matanya bulat, semakin melotot semakin besar. Kedua
lengan itu sudah hampir terjulur habis dan rata, sedangkan
ke dua jari kelingking mereka hampir bertemu. Semua
kekuatar sudah dialihkan kepada jari kecil ini. kalau jari ini
beradu entah bagai mana jadinya? Sedangkan le Kim Wan
yang berada di samping makin lama nganganya semakin
lebar sehingga liurnya sudah keluar dari mulutnya belum
dirasa.
Tiba tiba mereka membenturkan jerijinya masing masing
kepada jeriji lawan, kedua jeriji kecil itu tidak miring tidak
ke samping, tepat beradu pada tempatnya. Dengan
bentroknya jeriji ini. kedua Lo tjian pwee sudah
menunjukkan ilmu dan kekuatan masing masing. Mereka
tak kuasa menahan getaran keras dari tenaga lawan,
tubuhnya masing masing tergelat ke belakang. Harus
diketahui di belakang tubuh mereka sudah tidak ada tempat
lagi. asal bertindak kebelakang sedikit saja sudah harus ke
luar dari lingkaran dan kalah. Hek Liong Lo Kuay walaupun
mempunyai kuda kuda yang ampuh, tapi bagian atas dari
tubuhnya sudah tergempar desakan tenaga lawan yang
maha dahsyat, sehingga kepalanya terkulai ke belakang dan

379
tak kuat mengangkat pinggangnya. Sebaliknya dengan
Yauw Tjian Su sama juga keadaannya, pinggangnya sudah
lekuk ke beiakang sedangkan tubuhnya bergerak gerak
sedikit. Sedari dahulu Hek Liong Lo Kuay mendapat nama
dan terkenal dengan ilmu yang kukuay, sedangkan ilmunya
yang benar dan wajar tidak ada yang luar biasa. Sebaliknya
ilmu yang aneh dan tidak wajar dimilikinya dengan baik.
Saat ini pinggangnya sudah berapa kali hendak
diluruskannya, tapi tetap nihil, walaupun demikian ia tak
menjadi gelisah, tubuhnya terus menggeliat kebelakang.
Seolah olah tubuhnya ini tidak bertulang, ditekuk beberapa
kali sampai kebawah, sedangkan kepalanya sampai berada
di bawah kakinya dan menempel pada tanah. Pinggang dan
pantatnya merapat menjadi satu, punggungnyapun merapat
pula dengan pangkal pahanya. Keseimbangan tubuhnya
terletak di atas kepala, kedua kakinya perlahan lahan
diangkat naik, menyusul tubuhnya jadi berbalik kepala di
bawah kaki di atas. hal ini dilakukan untuk menghindarkan
tubuhnya ke luar dari lingkaran yang menjadi batas menang
dan kalah. Dengan ini tubuhnya dapat tegak tidak bergerak
dan tidak kalah.
Sebaliknya Yauw Tjian Su agak tidak tahan serangan itu.
tubuhnya tidak bisa melihat seperti Lo Kuay dari itu
tubuhnya yang menuju ke belakang itu dengan cepat
diputar membuat satu jungkiran besar. Menurut perkiraan
biasa orang tua ini pasti kalah, karena sehabis jungkir
tubuhnya pasti berada di belakang lingkaran sejauh tiga
empat kaki. Tapi dalam hal ini ia mempunyai kepandaian
yang cukup mengagumkan, begitu tubuhnya berada di
udara kepalanya berada di bawah, sedangkan anggota
bawahnya berada di atas, seperti merapung miring bagai
burung layang layang.. Terdengar ia berseru sekali,
tubuhnya dari udara mengeluarkan tenaga dan turun
menukik menerjang bumi, lengan kanannya ke luar sambil
menjulurkan jeriji telunjuknya, dengan tepat sekali jeriji itu
jatuh di garis lingkaran, menyusul tubuhny berbalik masuk
ke dalam lingkaran, sambil mengeluarkan angin yang keras
tubuhnya sudah berdiri dengan anteng di tengah lingkaran
lagi.. Hal ini dilakukan dengan cepat dan indah, sehingga

380
membuat Lo Kuay berseru “bagus” “Apa bagusnya?” seru
Yauw Tjian Su. “lain hari masih ada yang akan
kupertunjukkan kepadamu! Sekarang aku tidak sempat
lagi untuk menemani kau bermain!” belum bicara habis
tubuhnya sudah berlalu. Orang tua ini mengetahui ilmu Lo
Kuay tidak di sebelah bawah dari kepandaiannya, dari itu
tidaK ingin kena di libat: sebaliknya Lo Kuay pun
menganggap orang tua ini tidak dapat dibakal main, karena
Itu ia tak mau menghadapinya dan dibiarkan seterunya itu
kembali pulang.
Yauw Tjian Su menjadi bingung dan cemas memikiri
keadaan buruk di pihaknya hanya semakin cepat, dan
seperti terbang. Saat ini awan awan perlahan lahan tertiup
angin pindah bergeser. Waktu ia hampir tiba di lereng
puncak, awan awan itu sudah menipis sekali, mata mulai
dapat memandang kembali sejauh dua tigapuluh depa.
Telinganya mendengar suara perkelahian, buru buru ia
menuju ke tempat itu. dilihatnya seorang anak muda
sedang mati matian melawan belasan dari Hweeshio
Hweeshio. Pemuda itu bukan lain dari Tjiu Piau adanya. Ia
tengah mengerjakan kakinya menerbangkan batu batu
memaksa Hweeshio yang jumlahnya banyak ini tidak bisa
mendekat kepada tubuhnya.
Hal ini baiklah kita lihat kembali sesudah Tjiu Piau jatuh
terguling terguling. Ia cukup gesit begitu kakinya menginjak
tanah tubuhnya segera mencelat bangun, di usap usap
tubuhnva untung tidak menderita luka. Tiba-tiba dari jarak
dua tiga tumbak terdengar suara Tong Leng. “Hai bocah
mati tidak kau?”
Tjiu Piau bsrpikir: “Aku seorang diri, lebih baik aku
pulang kembili dan tidak melayaninya.” la diam tidak
membuat gerakan atau suara, dengan bertameng kabut ia
berjalan perlahan-lahan Tiba tiba menjadi kaget karena
didepan matanya berkelebat seorang Hweshio yang
membentaknya. “Bagus! kau mengantarkan diri sendiri
untuk dibelenggu!” Sedangkan tangannya disembahkan
mengeluarkan jurus Siam Wan Pay Gwat. Tjiu Piau lekas
lekas mencelat ke belakang, hatinya berpikir, “Aneh,

381
Hweeshio iai pasti bukan Tong Leng, tapi siapa,” baru saja
ia mundur beberapa tindak angin pukulan dari lawan sudah
datang dari belakang! Ia menekuk kakinya dan melompat
seperti kodok, dan menoleh ke belakang,kembali dilihatnya
seorang Hweeshio, tapi bukan yang tadi.
Hanya paderi lain yang mengeluarkan ilmu pukulan Sian
Wan Pay Gwat. Ia mengeluh dan tahu musuh sudah
mempunyai barisan tersembunyi, untuk menangkap dirinya.
Lebih lebih Hweeshio Hweeshio itu serupa benar pukulannya
dengan Tong Leng tidak salah lagi mereka adalah murid
murid dari Hweeshio gemuk itu. Tiba tiba terbit akalnya,
tubuhnya dibungkuk bungkukkan jalan seperti kera. dengan
cara ini ia dapat melihat orang terlebih dahulu sebelum lain
orang melihatnya. Begitu tampak bayangan orang
tangannya segera bekerja mengirimkan batu batu.
sedangkan tubuhnya segera mencelat lagi ke samping
bersembunyi di balik awan. Dengan caranya ini ia mutar
mutar dan melihat kurang lebih delapan sampai sepuluh
Hweeshio sudah dapat dilewatkan. Tapi sayang sekali
walaupun akalnya baik. akan jalanan untuk kembali tidak di
ketemukannya. lebih lebih sesudah berputar beberapa kali,
segala arah angin sudan tidak dikenalnya. Hatinya sedikit
gugup, tatkala mendetigar siulan panjang dari Kie Sau.
Kala ini angin berhembus membawa awan berlalu!
keadaan semakin terang, sehingga keadaan sekeliling dapat
dilihat dengan baik. Hal ini membuatnya semakin sukur
untuk meloloskan diri. Hweeshio Hweeshio yang sudah letih
bermain petak dengannya menjadi girang bisa melihat
dirinya. Mereka segera maju mengurung Hweeshio
Hweeshio ini adalah ahli ahli tenaga dalam sehingga
serangannya cukup berisi, jangan dikatakan lagi pemuda ini
pasti bukan tandingan mereka, sedangkan Tong Leng
berdiri di samping sambil tersenyum dan mengomandokan
murid muridnya untuk menangkap orang. Dalam gugupnya
dikeluarkannya Bwee Hoa Tok Tju, sehingga sinar emas
berkilauan menusuk mata. Dibentaknya paderi paderi itu
dengan geram. “Mutiara beracun berada di tanganku, siapa
yang bosan hidup boleh maju kesini!” Gerakan ini membuat

382
sekalian Hweeshio terkejut dibuatnya mereka mundur agak
jauh ke belakang dengan berbareng, sehingga lingkaran
kurungan semakin besar.
Tjiu Piau loncat ketengah tengah lingkaran, begitu
kakinya memijak tanah hampir hampir saja jatuh sebab
kakinya menginjakbatu batu koral yang licin, akibat diri
inimembangkitkan ingatannya kepada kepandaian
kakinya. Dengan mutiara beracun sebagai senjata gerakan
kakinya mulai menerbangkan batu batu kolar keempat
penjuru. Batu batu yang kena tendangan itu berserabutan
dengan dahsyatnya dan berhasil membendung serangan
musuh yang besar, tapi hal ini hanya dapat dilakukan
sementara Saja sebab batu batu yang berada di situ
jumlahnya tidak berapa banyak, ia menjadi gelisah sekali,
untunglah dalam keadaaa yaing genting ini Yauw Tjian Su
keburu datang menolongnya.
Sambil memperhatikan jalannya perkelahian, orang tua
ini berbicara sendiri : “Ilmu kakinya anak ini sebenarnya
tidak lemah, tapi sayang sekali tidak mempunyai aturan,
apa yang dilakukan hanya sembarangan saja. sehingga
tidak berapa lihay. Kalau ia dapat mencipiakan aturannya
dan jurus dari kaki ini, dirinya boleh menjagoi di kolong
langit!” Orang tua ini semakin melihat semakin senang, kala
ia mau memberikan petunjuknya bagaimana menyerang
dan bagaimana bertahan, otaknya sadar dengan mendadak,
paling betul lebih baik lekas lekas kembali ke atas untuk
sekalian menolong anak anak yang lain. Dan itu ia segera
membentak “Hei Hweeshio Hweeshio hentikan tanganmu!
Kami tidak mempunyai banyak waktu untuk nenemani
kalian Liam keng (membaca mantera)!” Kakinya maju
melangkah ke dalam lingkaran dengan, seenaknya.
Hweeshio hweeshio itu tidak mengenal pada orang tua
ini, dilihat laga orang yang semau mau ini dengan gusar.
Tak dapat di hindarkan lagi kaki dan tangan bekerja maju
merintang. Lo Yauw tidak memperdulikan sama sekali,
setiap kaki lawan mengenai tubuhnya segera terpental
sejauh satu tumbak lebih, hal ini membuat yang lain
bengong dan memandang Tong Leng yang menjadi

383
pemimpin, siapa tahu Tong Leng sudah sedari tadi
membungkukkan badan memberi hormat ke Lo tjian pwee
ini.
“Anak yang baik kau terhindar dari kematian, anakku ini
sudah bermain dengan kalian setengah harian lebih,
sekarang akan kuajak pulang, kau lepas atau tidak.”
“Pasti, pasti kulepas!” jawab Tong Leng tergesa-gesa.
“Enyahlah kau dari sini dan bawalah barisan kotakmu
itu!” sedangkan lengannya menarik Tjiu Piau untuk diajak
berlalu. Tong Leng dan belasan anak buahnya sedikit juga
tidak berani bergerak, ia tahu orang itu bukan tandingannya
dari itu ia menghormat dan membiarkan berlalu.
Yauw Tjian Su dan Tjiu Piau dengan cepat kembali ke
atas gunung, belum lama mereka berjalan sudah melihat
dua saudara Ong yang tengah berkelahi dengan Bu Beng
Nie. Walaupun mereka menggabungkan tenaga dengan ilmu
Kong Sin Tjiang yang baik masih tetap tidak dapat
mengalahkan lawan, perkelahian itu masih tetap seimbang.
Kini kabut putih sudah berlalu, keadaan sekeliling sudah
dapat dilihat dengan tegas, melihat keadaan begini sang
Bikuni tertawa dengan dingin: “Budak kecil, kalian dapat
melawan Lo nie dalam lima enam puluh jurus menandakan
ilmu silat kalian sudah boleh juga. Tapi untuk bertanding
lama lama aku tidak mempunyai cukup waktu, dari itu
terpaksa aku harus menurunkan lengan jahat guna
mempercepat jalannya pertandingan ini! Nah siaplah!”
Terlihat lengannya membuka Hud tju yang berada
di lehernya, mulutnya membaca mantera sambil
menghitung mutiara mutiara dari rantainya, agaknya ia
tidak menghirukan Ong Gwat Hee yang berada di belakang
tubuhnya, tubuhnya menghampiri pada Djie Hay. Dari
pertandingan tadi ia mengetahui bahwa anak laki laki ini
berilmu lebih tinggi dari yang perempuan beberapa lipat,
pikirnya asal dapat kukalahkan dahulu yang ini. satunya lagi
sudah tidak menjadi soal. Tapi dasar nasibnya masih gelap,
tanpa diketahuinya Yauw Tjian Su sudah berada di belakang
tubuhnya.

384
Djie Hay tidak tahu musuh akan mengeluarkan ilmu yang
macam apa. diawasinya lengan bikuni yang memegang
mutiaranya yang terbuat dari pada kumala hijau yang
bernaas dan bersinar itu dengan tajam. Pikirnya rantai
kumala itu adalah benda keras, kalau dijadikan senjata
untuk menyerangku sungguh mengherankan dan agak
ganjil, sesaat ini ia tidak tahu harus bagaimana
menghadapinya, sedangkan kakinya melangkah ke
belakang beberapa tindak. Pada saat inilah ia melihat
datangnya Yauw Tjian Su dan Tjiu Piau sehingga hatinya
jadi besar dan tambah semangat. baru saja ia akan
memanggilnya serangan dari bikuni itu sudah sampai
kedadanya, dirasainya serangan itu tidak mengandung
tenaga yang terlalu hebat Dengan seenaknya rantai kumala
hijau disampoknya dengan tujuan meminggirkan, tapi ia
tidak mengetahui sampokan ini mengakibatkan sesuatu
yang di luar dugaan.. Rantai itu bukan saja tidak kena
dikepinggirkan, bahkan berbalik melilit lengannya dengan
keras, diiring dengan tertawa yang dingin bikuni itu menarik
rantainya, sehingga lawan tak kuasa mempertahankan
kuda-kudanya, tubuhnya terhuyung ke muka dengan keras,
kalau sampai tubuhnya ini kena beradu dengan batu yang
keras, pasti luka di dalam akan diderita. Tapi dalam
kekagetan dan jeritan Gwat Hee, Djie Hay merasakan suatu
tenaga yang besar menyelak masuk di antara batu batu dan
tubuhnya, sehingga dirinya tersangga dan terluput dari
bencana itu. Sedangkan kepandaian yang sudah lihay
begitu mendapat pertolongan segera dapat menguasai lagi
tubuhnya dan berdiri dengan tetap. Sebaliknya sang lawan
menjadi keheranan, matanya menatap dengan mendelong
kepadanya.
Tiba tiba didengarnya suara tertawa dari belakang
tubuhnya. “Kenapa? Herankah?
Budak ini tetap bukan menjadi lawanmu, ia dapat
menghindarkan kecelakaan yang kau buat berkat
bantuanku.” Sang bikuni merasakan suara ini datangnya
dari tempat sejauh tiga kaki. tapi dirinya tidak mendengar
suara dari langkah kaki orang itu, ia tahu tahwa kalau

385
bukan Yauw Tjian Su tidak yang lain Tanpa menoleh ia
berkata:
“Yauw Lo-tauw! Kenapa kau tidak turun tangan!”
“Untuk apa memukul orang dari belakang, menang juga
tidak berarti. Terkecuali itu akupun tidak mempunyai waktu
terluang untuk melayani kamu, lekaslah kau pergi!”
“Baik. kapan waktu ada ketika aku ingin menerima
pengajaran darimu,”kata Bu Beng Nie dengan aseran dan
bernada congkak. Sedangkan tubuhnya berlalu dari
hadapan orang banyak tanpa menoleh lagi. Saat ini magrib
sudah mendatang, cuaca sudah menjadi agak gelap.
Sesudah mereka berjalan beberapa tindak, terlihat oleh
mereka dua saudara Wan yang seperti naga dan harimau
galak melawan tiga laki laki berjubah merah, laki laki itu
kira – kira berusia tiga puluhan tubuhnya mengenakan
perhiasan yang berkilauan.
Sedangkan yang seorang berdiri di sampingnya
memperhatikan jalan pertandingan, dua yang lain
menggunakan rantai emas mengebut pergi datang dengan
gila gilaan, sehingga dalam cuaca magrib senjatanya itu
merupakan ular emas yang sedang menari nari. Dua
saudara Wan sedikitpun tidak merasa gugup menghadapi
mereka, dengan tubuhnya yang gesit mencelat dan molos di
sela sela sinar emas, sehingga rantai itu tidak dapat berbuat
apa apa pada diri mereka. Pergumulan ini sudah
berlangsung sedari kabut putih berpencar. Hanya seorang
yang tidak turun tangan, orang ini tak lain dari Kim DjuKie
si Pangeran Berbaju Emas, sedangkan kedua orang yang
bertarung dengan saudara Wan adalah Su tee nya. Sewaktu
kabut masih tebal mereka berdiri di atas pohon sambil
menyabetkan rantai emasnya, tidak heran kalau dua
saudara Wan tidak dapat menemuinya. Sementara ini
pertarungan berjalan semakin seru dan hebat, dua saudara
Wan sudah dapat merangsak musuhnya dan menempatkan
dirinya di atas angin. Tiba tiba Kim Dju Kie membuka
mulutnya; “Hentikan tangan, kita setop pertandingan
sampai di sini!”

386
Dua saudara seperguruannya itu segera mencelat
ke luar dari kalangan perkelahian. Sedangkan dua saudara
Wan berdiri di samping lain sambil tersenyum mengejek
: “Begini saja Takut?”
“Saudara kecil, kita tokh sudah cukup lama bermain
main, dari itu kami melepaskan kalian untuk pulang,” habis
berkata tubuhnya berlalu ke atas gunung, dua saudara Wan
dengan cepat mengikuti dari belakang Kira kira sudah
sampai di atas gunung, dari belakang batu besar berkelebat
beberapa bayangan orang yang disusul dengan tubuhnya,
orang orang ini adalah Hek Liong Lo Kuay, Louw Eng, Bok
Tiat Djin dan lain lain.
Lo Kuay menunjuk kepada sekalian orang gagah dengan
sombong dan tersenyum mengejek : “Bagaimana? Mau
menerjang lagi? Dipersilahkan? Tapi ingat, suuggubpun
kami tidak mempunyai pasukan besar dan ribuan kuda, tapi
mempunyai cukup orang untuk melayani kalian melatih
tenaga atau melemaskan urat urat!” Louw Eng yang diam di
sampingnyapun tidak ketinggalan :
“Hari sudah malam, perut tentu sudah lapar sekali,
kembalilah ke gunung untuk masak dan makan sepuas
puasnya, sesudah tidur nyenyak semalam penuh esok boleh
kembali lagi untuk bermain main lagi. Kalian tidak perlu
kuatir nanti kami naik ke atas untuk mengganggu!” Mereka
antara puncak dan lembah tak lama kemudian suara
tertawa ini mendapat sambutan dari kawan kawanrya yang
berada di jurang dan puncak sehingga seluruh gunung mi
tengah tertawa.
Saat ini Tjiu Piau sudah lapar sekali, tambahan kena
ejekan pihak lawan yang mengetahui bahwa persediaan
makanan dari mereka tinggal sedikit sekali sehingga
laparnya menjadi jadi, didekatinya Gwat Hee sambil
berkata:
“Tahukah maksud dari Louw Eng?” “Tentu saji aku tahu.”
“Biar bagaimana kita harus mati matian menerjang
turun.”

387
“Untuk menerjang, harus berencana dan berdamai
dengan yang lain.” Tengah mereka bicara, terdengar
kembali siulan dari Kie Sau. Yauw Tjian Su tidak tahan
mendengar ocehan dari pihak lawan, mulutnya terbuka
sambil berludah: “Cuehhr! Binatang busuk, jangan banyak
sombong, besok kita berkelahi lagi sampai puas!” kepalanya
menoleh kepada putera puterinya: “Anak anak mari kita
pulang!” Lo Kuay tidak menjawab, hanya tertawa sambil
menekan perutnya. Dengan perlahan lahan orang banyak
kembali ke puncak gunung dengan perasaan tidaK tenang.
Sesampai di puncak mereka melihat Kie Sau sedang
menantikan sambil berduduk. Sesudah sekalian orang
berduduk dengan baik. Kie Sau mulai mengeluarkan
perkataan: “Coba periksa makanan masing masing masih
cukup untuk berapa hari?”
“Anak anak dengar! Makanan tinggal dua hari lagi,
karenanya kita harus berhemat betul betul untuk
menjadikan tiga hari. Dalam tiga hari setindakpun jangan
turun gunung!”
“Aku tahu memang kau mempunyai daya yang baik,”
kata Yauw Tjian Su, “selanjutnya tindakan apa yang akan
kau ambil.”
“Sebenarnya akupun tidak mempunyai daya apa apa,
tapi dalam tiga hari ini masakan kita tak dapat
memikirkannya untuk mencari jalan keluar?”jawab Kie Sau
dengan meringis.
“Aku sudah tua, otakku sudah berkarat dari itu kalian
saja yang memikir daya daya dan rencana untuk turun
gurung.”
“Tidak bisa biar bagaimana kami mengandalkan sekali
bantuanmu ini!”
Yauw Tjian Su tersenyum tidak menjawab.
Pemuda dan pemudi sudah memusatkan pikirannya
mencari daya yang baik untuk mengatasi kesulitan yang
tengah dihadapinya kini. Keadaan menjadi sunyi, hanya
suara daun Siong tertiup angin yang terdengar. Malampun

388
sudah mendatang diiringi bulan bulat di balik gunung
sebelah timur. Gwat Hee baru mengetahui bahwa Tju Siok
siok dan Tju Sie Hong tidak berada dengan mereka, ia tahu
mereka pasti sudah turun ke dalam goa untuk beristirahat.
Tanpa berkata kata ia berlalu meninggalkan saudara
saudaranya yang tengah berpikir keras untuk menuju
kedalam goa. Tjiu Piau melihat, segera mengikuti dari
belakang.
Jilid 13
Keadaan dalam goa gelap gulita, tapi mereka sudah agak
biasa dengan keadaan ini. sesudah melalui beberapa
tikungan mereka melihat sesosok tubuh kurus berduduk
dalam kegelapan.
“Siapa itu? Sah-ko atau Siok-siok?”.
“Sah komu,” jawab Sie Hong, “Sie moy tepat sekali kau
datang ke sini kami tengah berkuter dengan suatu hal.”
“Hal apa?”
“Dalam dua hari ini aku mengetahui sesuatu yakni setiap
ayahku masuk ke goa ini selalu berdiam diri seperti
memikiri sesuatu yang aneh. Sewaktu waktu ia berdiri
dengan girang dan meraba raba dinding goa seperti tengah
mencari sesuatu barang. Pikirku tentu ada sebab
sebabnya.”
“Sebabnya apa, apa kau tahu?” “Justru aku tidak
mengerti dan minta bantuan darimu.” “Di mana Siok-siok
sekarang?” Masih tetap meraba raba dinding didalam, aku
tidak mau mengganggunya dan berdiam di sini untuk
menjaga.
Gwat Hee menarik lengan Tjiu Piau sambil berkata: “Mari
kita lihat dengan diam diam.”
Mereka melihat Siok sioknya tengah meraba raba dinding
tembok dengan hati hati dan cermat, seolah olah sesenti
demi sesenti tidak mau dilewatkan. Kelakuannya ini

389
mengherankan sekali dan tidak mengandung sesuatu
tujuan. Sebegitu lamanya mereka mengawasi masih tetap
tidak mengetahui dan menyadari apa yang tengah
dilakukan Siok siok itu. Kembali mereka menemukan Tjiu
Sie Hong.
“Pernahkah kau bertanya apa yang tengah dicarinya?”
tanya Gwat Hee.
“Ah, sukar sekali kutanya segera membengong.
Kemudian ia balik bertanya kepadaku apa yang kau cari?
Sedangkan pikirannya kembali lupa ingat dan segera
menghentikan pekerjian rabanya itu. Sesudah ia istirahat
dan ingatannya kembali, lagi lasi dinding itu diraba rabanya
tanpa jemu jemu. Kau pikir heran tidak?”
“Agaknya Siok siok mengenal sekali tempat ini. mungkin
juga di dinding ini terdapat sesuatu barang yang pernah
dilihatnya pada masa yang lalu.”
“Mungkin di dinding ini terdapat huruf timbul?” sela Tjiu
Piau.
“Djie ko Sie moy, marilah kita membantunya untuk
meraba dinding ini, bagaimana?”
“Memang aku mengandurg maksud ini!” jawab mereka
serentak.
Msreka segera menyingsingkan Jengan mulai meniru Tju
Hong meraba dengan cermat dinding goa yang gelap. Tapi
usaha mereka ini sekian lamanya tidak membawa hasil
yang diharapkan. Pernah Gwat Hee meraba yang berlekuk
lekuk dan tidak rata, tapi begitu dilihat dengan sinar api
tidak terdapat suatu apa apa, sekali Tjiu Piau terkejut waktu
meraba benda yang licin dan basah, tapi waktu ditegasi
nyatanya hanya lumut yang tumbuh di situ. bahkan di sela
sela goa masih terdapat rumput hutan yang jarang terlihat.
Tiba tiba Tja Sie Hong berkata: “Djie ko, Sie onoy,
dengan cara ini paling paling kita dapat mereka tempat
setinggi tangan kita, sedangkan bagian atas dan tubuh kita
tidak kena diperiksa!”

390
“Betul, marilah kita usahakan untuk merabanya seluruh
dinding goa ini dari bawah sampai ke atas dengan cermat.”
jawab Gwat Hee.
“Sah tee lekaslah kau naik ke atas pundak ku. untuk
memulai memeriksa bagian atas dari dinding ini,” kata Tjiu
Piau.
“Baik siapkah.”
Gwat Hee seorang bertugas memeriksa bagian bawab.
Tju Sie Hong bagian atas, Tjiu Piau bagian tengah. Kasihan
sekali mereka ini, sekian lamanya berusaha tapi tidak
mendapat hasil, sesudah satu tikungan goa kena di raba
habis tanpa yang diharap semangat mereka mulai kendur.
Sementara itu orang orang yang berada di puncak Thiau
Tou sudah kembali ke dalam goa, Tjiu Piau bertiga segera
istirahat menghentikan usaha mereka.
Kie Sau dan sekalian sekian lamanya merundingkan dan
mencari siasat untuk memecahkan kesulitan tanpa berhasil,
mereka kembali ke goa untuk istirahat.. Terkecuali itu ia
mengatur pula penjagaan malam agar Louw Eng tidak bisa
naik ke atas dan membuat serangan gelap Giliran pertama
yang mendapat tugas ini adalah dua saudara Wan.
Sedangkan yang lain dititahkan untuk beristirahat
sepenuhnya guna memelihara semangat, dengan cara ini
sesuatu diaturnya dengan baik. Sedangkan ia sendiri
berdiam di salah sebuah sudut sambil memusatkan
pikirannya.
Betapapun dimeramkan matanya, Sie Hong tetap tak
dapat tidur, pikirannya selalu mengingat ayahnya yang
tengah meraba raba dinding. Tengah malam ia ke luar
untuk melihat keadaan ayahnya, hatinya menjadi girang
melihat ayahnya tertidur dengan nyenyak. Dalam
nganggurnya ia berjalan jalan mundar mandir di tikungan
goa yang ke delapan belas berbalik balik. Tiba tiba
dilihatnya sinar yang halus mencelos masuk kedalam goa.
Keheranannya menjadi-jadi, tubuhnya berdiri dengan tegak
mengawasi dengan cermat, tetapi tiada yang dilihatnya

391
terkecuali dinding yang gelap. Dalam tenangnya ini
hidungnya merasakan suatu wewangian yang menyegarkan
tubuh! Tanpa lerasa ia menghirup udara segar dengan
panjang, sehingga wewangian ini terasa harumnya yang
demikian halus dan tak terkatakan dengan kata kata. Hawa
harum ini membuatnya seperti bukan berada di dunia lagi.
ia mabuk dalam keheranan, biar bagaimana sumber harum
ini tidak dapat diketahui, tapi membangkitkan hasrat orang
untuk mencarinya. Dengan tenang ia mengendus mencari
sekeliling. Ditatapnya sinar halus yang tipis dan bersemu
merah yang seperti ada seperti tidak itu. Wewangian yang
semerbak harumnya ini seolah olah datangnya dari situ.
Tanpa banyak pikir lagi ia mencelat ke atas dan
menjambret ke arah sinar itu. lengannya berhasil
memegang rumput, tapi malang baginya rumput itu
tercabut sehingga tubuhnya jatuh ke bawah sambil
mengeluarkan bunyi “blukk.” suara ini membanguni seluruh
orang yang berada di dalam goa. Yauw Tjian Su, Kie Sau
dan lain-lain segera menghampirinya, dilihatnya Sie Hong
yang tengah duduk di tanah tidak bergerak-gerak.
“Sah-tee, kenapa kau berada di sini, lukakah?” tanya Tjiu
Piau.
Dengan wajah yang mengherankan bercampur
kegirangan Sie Hong menunjuk ke atas dinding sambil
berkata. “Kalian lihat, apakah yang terdapat di situ!”
Sekalian orang memalingkan pandangan nya kepada
arah yang ditunjuk. Ah. benar saja di atas dinding itu
terdapat liang kecil. Di dalam liang yang kecil itu terdapat
benda yang berwarna merah dan berbentuk aneh.
Berkepala seperti jamur, sedangkan batangnya bengkokbengkok
dan panjang, tak ubahnya seperti rantai kumala.
Seluruh bagian dari benda itu bening seperti kaca dan
mengeluarkan sinar merah yang halus, sehingga dapat
terlihat dengan tegas dimalam gelap.
Sekalian orang terpaku dengan mulut terbuka. tidak
terkecuali Yauw Tjian Su atau Hoa San Kie Sau. Sesudah
sunyi seketika lamanya baru terdengar suara dan Yauw

392
Tjian Su. “Ah. dalam seumur hidupku baru pernah melihat
dua kali benda yang jarang iri, kalian harus tahu benda ini
adalah Leng tjah atau rumput obat yang sakti. Pertama kali
kulihat enam puluh tahun yang lalu, tapi tidak sebesar yang
ini, benda ini mnungkin sudah berumur ribuan tahun! Anak
yang baik bagaimana caranya kau dapat mencarinya?” Tju
Sie Hong menuturkan apa yang dialami barusan, kemudian
ia menambah: “Barusan aku merayap dan mencabut
rumput ini, terkecuali dari ini terdapat pula batu yang jatuh,
yang membuat kuheran benda ini seolah olah sengaja
ditaruh orang, sedangkan batu ini untuk, menutupnya”
Orang orang melihat lagi pada Leng tjah yang terdapat di
sela sela itu, benar saja memang taruhan orang karena
tidak mungkin Leng tjah bisa hidup di sini.
Hal ini membuat teka teki yang gawat untuk sekalian
orang, sehingga suasana menjadi sunyi kembali, masing
masing diam memutar otak untuk mencari jawaban. Kie sau
berkata dengan tiba tiba: “Sie Hong lekas kau ambil Leng
tjah itu, tak perduli benda ini simpanan siapa pokoknya
lekas kau ambil untuk menolong ayahmu! ‘
“Betul, paling perlu menolong orang sakit,” sambung
Yauw Tjin Su.
“Untuk diberikan kepada ayahku?” tanya Sie Hong
bingung.
“Betul, kau harus tahu Leng tjah ini adalah benda sakti
yang jarang terdapat dikolong langit, menurut kata orangorang
dahulu barang siapa bisa makan Leng tjah segera
akan menjadi dewa. ini hanya kata-kata yang mengatakan
bahwa Leng tjah ini adalah obat yang sangat mujarab
sekali. Sesudah berobat dengan ini ayahmu pasti akan lekas
sembuh. Dengan baiknya ayahmu bukan saja dirinya tidak
menjadi beban dari kita, sebaliknya akan menjadi pembantu
yang sangat berharga, sehingga untuk turun dari Oey San
ini lebih mudah adanya.” Kata kata penjelasan dari Kie Sau
ini membuat yang lain bertambah semangat. Dengan cepat
Sie Hong merayap seperti cecak mengambil Leng tjah.
begitu ia turun seluruh goa terasa semerbak diliputi

393
harumnya Leng tjah ini, sehingga setiap orang yang
menghirup udara di goa ini menjadi segar dan bersemangat
sekali. Yauw Tjian Su menitahkan Tju Sie Hong untuk
mengambil air embun, dan meminumkan obat itu kepada
Tju Hong.
Tiga hari sudah berlalu, segala makanan sudah habis
termakan. Mau tidak mau Kie Sau dan lain lain harus turun
gunung sambil mengatur segala daya dan persiapan.
Keputusan terakhir ialah harus menerjang musuh dengan
paksa. Diaturnya Kie Sau barisan, ke satu harus saling
bantu dan tidak boleh berpencar kedua menyerang dan
memukul musuh yang diketemukan. Ketiga, kalau ketemu
Louw Eag seorang diri harus menggabungkan seluruh
tenaga untuk menawannya. Andaikata tidak dapat
menangkap Hek Liong Lo Kuay, tapi Lo Kuay lebih susah
kena ditangkap, pokoknya harus menangkap yang menjadi
otak musuh untuk dijadikan jamiran turun gunung. Buru
rencana ini sampai di sini tiba tiba dari dalam goa terdengar
teriakan Tju Sie.Hong: “Tia tia sudah baik! Tia-tia sudah
baik!” Kie Sau dan lain lain segera menghampiri.
Sesudah memakan Leng-tjah kesehatan dan daya
ingatnya Tju Hong sudah pulih seperti sediakala. Waktu ia
terbangun segera diLputi keheranan. dilihatnya Su hengnya
Ong Tie Gwan yakni Nio Tjay sudah menjadi tua belasan
tahun, dilihatnya anak anak muda yang mengelilinginva,
kemudian dilihat dirinya sendiri dan senjatanya yang tinggal
separuh Ia menarik napas kebingungan. Saat inilah Kie Sau
maju ke muka sambil memperkenalkan sekalian orang yang
berada di situ. Kemudian menceritakan apa yang sudah
terjadi selama delapan belas tahun berselang dan keadaan
sebarang yang sangat gawat. Tju Hong mendengari
penuturan ini dengan penuh perhatian, sehingga ia tersadar
betul betul dari impiannya selama delapan belas tahun.
Perlahan lahan ia berkata: “Menurut hematku cuma cuma
saja kalau menerjang dengan kekerasan!”
“Kenapa?” tanya Kie Sau.
“Aku ingat, ada jalanan yang langsung ke bawah

394
gunung! Kalau kita mengambil jalan ini pasti tidak diketahui
musuh!”
“Di mana letaknya jalanan itu? Kenapa kau tahu?” tanya
Kie Sau.
“Untuk menuturkan ini memerlukan waktu yang panjang
tapi keadaan kita tengah terdesak dari itu singkatnya saji
kuceritakan, tahun yang lalu itu aku turun ke bawah jurang
untuk mencari pohon obat mustika. Dengan girang aku
berhasil mendapatkan Leng tjah yang sangat besar.aku
segera naik ke atas untuk mempersembahkan benda ini
guna dinikmati beramai ramai. Siapa tahu di tengah
perjalanan pulang aku mendengar suara menangisnya anak
kecil. Dengan perasaan ingin tahu aku mencari suara itu,
akhirnya aku dapat menemukan goa rahasia ini. Di dalam
goa aku menemukan dua bayi kembar yang tengah
menangis…”, sampai di sini Tju Hong memandang dulu
kepada dua saudara Wan,
“tidak kira anak bayi yang kecil itu dalam sekejap saja
sudah demikian besar. Saat itu aku berpikir kenapa hal
kegirangan ini tidak diberitahukan kepada kami! Akhirnya
aku ingat Wan Djie ko sibuk mengurus negara dan lupa
memberi tahu hal ini. Tapi biar bagaimana aku harus
mengucapkan selamat lahir dan memberikan bingkisan.
Tanpa banyak ribut lagi Leng tjah yang sudah kupetik itu
kuletakkan di samping tubuh anak kembar itu. Sedangkan
akan segera keluar. tapi baru jalan beberapa tindak aku
kembali lagi dan mengambil Leng tjah dan kusimpan di atas
liang goa sambil kututup dengan sebilah batu, maksudku
berbuat begitu yakni untuk membuat surprise kepada yang
lain. Tak kukira Leng tjah yang sudah delapan belas tahun
kusimpan di situ tidak menjadi rusak, bahkan dapat
menolong jiwa tuaku ini.” Tju Hong tertawa, yang lain pun
turut tertawa. Kemudian ia berkata lagi: “Mengenai jalan
iuran dari sini itu ada di luar, marilah kita lihat!”
Orang orang mengikutinya ke luar dari goa dengan tiba
tiba Tju Hong berdiri di batang pohon Siong yang berada di
luar goa. lengannya menunjuk ke bawah : “Kalian lihat,

395
bukankah itu sebuah jalanan yang sudah tersedia!” Semua
mata menuju ke tempat yang ditunjuk, tampaklah tempat
itu demikian curam, sedangkan batu batu cadas yang tajam
berserakan seperti rebung muda ditambah batu gunung
berlumut dan licin sekali kali tidak bisa dipakai berjalan, apa
yang dimaksud dengan jalan itu?
“Sie Hong kalau kau ingin ke sana dapat memutar lereng
gunung, apa kau sanggup?” tanya Tju Hong.
“Sanggup.” kata Sie Hong sesudah mengamat amati
keadaan.
“Kalau kau sanggup, yang lain pun sanggup!”
Orang banyak yang berada di samping nya jadi bingung
melihat keadaan ini mata saling berpandangan tak berkata
kata. Mereka mengetahui bahwa ilmu dari dua beranak itu
sangat lihay dan dapat pergi ke sana, tapi untuk yang lain
belum pernah mempelajari ilmu semacam yang dimiliki
mereka, karenanya mana bisa mengikuti mereka. Lebih
lebih Kie Sau menganggap Tju Hong baru baik dari sakitnya
dan belum putih betul, sehingga ngaco tidak keruan,ia ingin
mengajukan usul, tapi tidak keburu sebab Tju Hong sudah
menunjuk kesebatang pohon Siong: “Di antara dua batang
pohon Siong itu terdapat sebuah rantai besi yang
tergantung seperti jembatan kelihatan tidak?” Sesudah
sekalian orang memusatkan pandangan matanya ke arah
yang ditunjuk, terlihat sebuah benda hitam yang
bergantung.
“Nah itulah yang kumaksud dengan rantai besi yang
merupakan jembatan! Ya kalau dikatakan memang
mengherankan, entah siapa yang menggantungkannya. di
situ! Kalau dipikir tidak tahu berapa banyak orang orang
gagah dari jaman dahulu hingga sekarang yang mundar
mandir di gunung ini, kita harus mengucapkan terima kasih
kepada mereka yang meninggalkan jalan yang luar biasa
ini!”
Kemudian Tju Hong mengawasi senjatanya yang tinggal
separuh, dengan sedih ia berkaca: “Saat ini diriku tidak

396
ubahnya seperti seekor burung yang kehilangan sayap,
sehingga harus mengandalkan rantai besi untuk
menyeberang ke sana. Tapi tidak demikian pada delapan
belas tahun yang lalu, di bawah sinar bulan yang terang
cemerlang aku naik ke sebatang pohon Siong yang tua,
dengan secara kebetulan sekali aku menemuKan rantai besi
yang panjang itu. Dengan girang aku mendekatinya dan
berlarian di atasnya berbalik-balik, tidak kira rantai ini akan
menolong kita. Sie Hong pergilah kau ambil rantai itu bawa
ke sini. Sedangkan pohon Siong yang banyak itu
merupakan batu loncatan yang dibuat alam, kita dapat
melaluinya halte demi halte, dengan cara ini kita bisa
meninggalkan gunung ini tanpa ada yang mengetahui!”
“Aku pergi,” kata Sie Hong
“Sabar dahulu!” seru Kie Sau.
Tju Hong mengawasi Kie Sau tidak mengerti.
“Coba lihat apa yang tengah datang?” tanya Kie Stu.
Semua mata memandang ke arah yang ditunjuk, tanpa
terasa mereka berseru secara berbareng. “Lautan awan!”
Kiranya benar saja lautan awan yang demikian tebal itu
kembali datang seperti air bah.
“Sekali ini Thian membantu kita, nantikan sesudah kabut
meliputi puncak dan gunung baru kita bergerak, dengan ini
bukan saja kita dapat melarikan diri tanpa diketahui orang,
bahkan setanpun tidak mengetahui! Louw Eng dan
pengikutnya boleh menantikan kita seumur hidup di Oey
San ini! Sie Hong kau sabar, nantikan sebentar baru kau
ambil rantai besi itu. Kalau tidak begini bisa bisa kita
diketahui orang orang yang berada di gunung, akibatnya
jalan turun kita bisa dijaga mereka, bukankah kalau sampai
gagal kesempatan yang baik ini cuma cuma Saja kita
dapati!” Semua orang muda sangat kagum atas Kie Sau
yang dapat memikir demikian baiknya, sehingga hatinya
merasa senang dan lapang ….
Seketika berlalu, seluruh puncak indah masuk dalam
pelukan kabut putih yang demikian banyaknya.

397
“Tia tia segera aku berangkat!”
‘Hay-tju (anak kabut) demikian tebalnya, dapatkah kau
menunaikan tugasmu?”
“Tia, legakan hatimu, bertahun tahun aku berdiam di
jurang, kabut ini sekali kali tidak dapat mempersukar
aku!”Selesai bicara lengannya bergerak melontarkan
tambangnya, dalam sekejap tubuhnya hilang dalam kabut
yang tebal, berikutnya suara geraknya semakin jauh dan
hilang tidak terdengar..
Kira kira sepemakan nasi .sie Hong sudah kembali
dengan rantai besi yang dibawanya. Di kedua ujung ramai
itu berkaitan yang cukup besar. Orang banyak kegirangan
dengan cepat khitan rantai jtu dicantelkan kepada batang
pohon Siong, sedangkan Sie Hong membawa ujung satunya
lagi untuk dikaitkan kepada pohon Siong lain dengan
kokohnya. Dalam tempo sebentar sebuah jembatan sudah
terbentang di depan mata.
“Nah sekarang kita dapat mulai meninggalkan tempat
celaka ini, Sie liong menjadi pembuka jalan, yang kedua
harus Yauw Lo yang untuk melindunginya, kalau ketemu
musuh . . ” baru ia sampai di sini tiba-tiba ia menoleh ke
kiri kanan: “Ihh, Yauw Lo ke mana?”
Betul saja di situ tidak terdapat Yauw Tjian Su, entah ia
pergi ke mana? Orang orang tengah sibak dao tidak
memperhatikannya, sehingga la menghilang tanpa
diketahui!
“Moy tju mari kita cari!” kata Wan Djin Liong Baru kedua
orang ini akan mengangkat kaki, tiba tiba Gwat Hee
berseru: “Sabar! Coba dengar suara apa itu?”
Semua orang diam memasang telinganya. Dari atas
puncak mendatang suara yang halus bening dan merdu dan
suara burung berkicau. Kie Sau dan Tjiu Piau serentak
berkata. “Ah, suara walet sakti!” Memang suara ini adalah
suara burung kecil berwarna ungu yang sudah pernah
dilihat Tjiu Piau dan Kie Siu, tak perlu diragukan lagi orang
tua yang cinta pada burung itu pasti berada di atas puncak.

398
“Kasilah aku menemuinya orang tua ini!” kata Gwat Hee
sambil lari menuju ke puncak tak lama kemudian Gwat Hee
menjumpainya orang tua ini yang tengah kegirangan
bermain dengan burung yang mungil dan manis itu sambil
menari nari. Burung itu hinggap di atas pundaknya,
kepalanya dan tangannya. Mulutnya tidak henti hentinya
meniru suara burung “cat- – cat cit— cit,” memikat burung
kecil itu. Kiranya tak perlu diherankan kalau orang tua ini
bisa memikat burung burung karena kehidupan sehari
harinya memain dengan burung, sehingga bisa
mengeluarkan suara burung.
“Lo tjian-pwee!” seru Gwat Hee, “marilah kita turun ke
bawah untuk menjalankan siasat dari guruku, agar Louw
Eng menjadi kaget dan menjaga angin di gunung yang
sunyi ini.”
“An, untuk apa tergesa gesa. lebih lebih kalau sudah
mempunyi siasat lambat sebentar tidak menjadi soal.
pokoknya asal dapat menang!” Sambil bicara mereka sudah
tiba di te npat orang banyak.
Kie Sau menjelaskan lagi siasatnya, Tju Sie Hong
membuka jalan diikuti Yauw Tjian Su menyusul Tju Hong
kemudian sekalian pemuda yang lain dan ia sendiri yang
paling belakang. Sesudah didengar tidak ada pergerakan
barang sedikit dari pinak musuh mereka mulai berjalan
meninggalkan Thian Tou Hong. Sebelum pergi Kie Sau
tertawa geli; “Louw Eng Louw Eng maksudmu ingin
membuat kami mati kelaparan di atas gunung, sayang
maksudmu itu tidak akan tercapai!”
Sedangkan Tjiu Piau menendang batu dengan geram :
“Louw Eug kini kau dapat terlepas, nanti kau pasti akan
merasakan seperti batu ini di kakiku!”
“Bagus,” seru yang lain. Dengan cepat mereka sudah
melintasi dengan selamat langkah yang pertama.
Sie Hong kembali mengambil kaitan besi dan
membawanya kembali untuk dikaitkan lagi ke pohon yang
berada di muka, dengan cara ini mereda berbasil

399
melewatkan beberapa Pohon Siong dan kini berada di
tebing yang paling curam sekali. Sekali ini rantai besi ini
dikaitkan diantara dua pohon Siong yang tidak seberapa
jauh jaraknya, sehingga rantai ini tidak tertarik kencang
melainkan kendur saja. Sehingga sukar untuk berjalan di
atasnya. Untuk Yauw Tjian Su yang berkepandaian tinggi
tidak menjadi soal demikian juga untuk Tju Hong dengan
mudah mereka dapat melewatkan jalan yang kendur itu
dengan baik. Selanjutnya siapa yang akan jalan?.
‘Aku’, kata Tjiu Piau, dengan ilmu kakinya yang baik
mulailah ia berjalan di atas rantai besi itu dengan gesitnya.
Tiba tiba langkah kakinva berhenti di tengah jalan, karena
dari kabut putih yang sangat tebal terdengar bunyi
kelapakan sayap burung Hal ini membuatnya terkejut
sekali, karena burung itu adalah garuda kepunyaan Tian
Tjen. Orang banyak mengeluh “celaka* di dalam hatinva.
Dalam keadaan begini burung ini sukar sekali untuk
dilawan. Gwat Hee sangat gugup, dengan cepat ia memberi
peringatan: “Tjiu Suko.. lekaslah kau jalan!” Belum
suaranya habis burung itu sudah berputar putar di atas
kepala mangsanya. Tjiu Piau menjadi gugup, langkahnya
diperbesar, tapi malang baginya rantai besi tergerak dengan
keras dan bergoyang-goyang karena burung itu sudah mulai
menyerang dan menerkam korbannya. Gwat Hee menutup
matanya tidak berani melihat. Yauw Tjian Su melihat
garuda itu menyerang orang segera mencegah dengan
beberapa helai daun Siong. Hal ini dilakukan dalam waktu
sekejap saja sehingga tidak terlihat oleh yang lain. Burung
itu segera mengapungkan dirinya ke atas sambil bercowet
dengan keras, mungkin tubuhnya kena daun pohon Siong
yang dilepaskan si orang tua. Lekas lekas orang melihat ke
atas rantai besi. ‘Celaka’ di atas rantai besi terdapat orang!
Ke mana? Hilangkan? Ah tidak! Sebab Tjiu Piau dapat
terlihat berada di bawah rantai besi dan menahan tubuhnya
dengan kedua lengannya. Untunglah ia mendapat
pertolongan dan orang tua kalau tidak jiwanya pasti sudah
melayang di bawah kuku garuda yang tajam itu. Di antara
orang yang demikian banyak Gwat Heelah yang paling
cemas, dengan cepat ia maju untuk menolong. Tapi Yauw

400
Tjian Su sudah memperingatinya terlebih dahulu:
“Jangan bergerak, siapapun tidak boleh bergerak!” Gwat
Hee lekas lekas menghentikan kakinya, sedangkan Tjiu Piau
yang tengah berontak-berontakpun diam tidak bergerak
menurut perintah si orang tua. Dalam saat ini garuda itu
sudah mulai berputar putar dan menubruk mangsanya, tapi
mengherankan sekali, paruhnya yang tajam itu tidak
dipatukkan kepada tubuh mangsanya hanya berbunyi sekali
dan kembali menggelepak terbang Sedangkan yang laini
sudah siap dengan senjata rahasia, kalau di lihatnya garuda
itu membuka mulutnya pasti berhamburanlah senjata
senjata itu untuk menamatkan riwayatnya.. Kini walaupun
Tjiu Piau tidak menderita apa apa, tapi orang orang
dibuatnya berkeringat dingin juga. Setiap burung buas
mempunyai penglihatan yang tajam sekali, tidak perduli
berjarak jauh pandangannya tetap awas, lebih lebih Kalau
sasarannya bergerak gerak semakin nyata pula dilihatnya.
Tapi waktu ia menubruk Tjiu Piau yang tidak bergerakgerak
dikiranya benda mati, sehingga tidak berapa
diperhatikan lagi. Yauw Tjian Su adalah ahli burung jadi
mengetahui tabiat dari binatang buas ini, karenanya
memerintahkan agar kawan kawannya jangan bergerak
dengan tujuan seperti di atas Burung buas mi tidak henti
hentinya berputar di atas, sifat buasnya semakin nyata,
lebih lebih sesudah kehilangan sasarannya, bukan hilang
hanya tidak bergerak. Semua orang berdiam seperti mati,
sampai jalan napasnyapun seolah olah tidak bergerak!
Daiam kesunyian yang demikian menyeramkan, semakin
nyata dan tegas suara bergedebaran dan sayap garuda
buas itu, dalam keadaan begini burung ini tak ubahnya
seperti raja udara saja. Tju Sie Hong memandang Tjiu Piau
yang sudah kepayahan, diam diam dikeluarkan
tambangnya, begitu dilihat garuda sudah terbang lewat di
tubuh saudaranya, tangannya segera bergerak
menerbangkan senjatanya. Dengan tepat kaitannya
menyantel di ikat pinggang saudaranya. Sedangkan garuda
yang sedang kesal tidak melihat korban, berbunyi keras dan
menerkam kepada tambang yang bergoyang goyang,
kukunya yang tajam itu mencengkeram dengan keras

401
Kepada tambang dan diterbangkan ke atas! Tjiu Piau sekuat
tenaga mempertahankan dirinya berpegang kepada rantai
besi dengan erat. demikian pula dengan Sie Hong tidak mau
melepaskan senjatanya. Sang garuda mempunyai kekuatan
yang luar biasa besarnya, dua orang ini dibuatnya dalam
keadaan cemas sekali. Saat ini secara tiba tiba terlihat
walet sakti yang kecil dan mungil terbang menjurus kepada
sang garuda.
Walet sakti itu sambil terbang tak henti-hentinya
mengeluarkan bunyi, sehingga kawan kawannya
beterbangan menuju garuda besar. Orang orang menjadi
bingung melihat keadaan ini, mereka mengira walet sakti
terkejut dan melarikan diri kala melihat burung yang
demikian ganas. Tapi kalau ditilik dari sikapnya yang gagah
burung kecil mi seolah olah hendak menyerang sang
garuda. Sebaliknya apa yang dapat dibuat oleh burung kecil
yang sebesar bulu burung garuda itu terhadap burung
raksasa yang demikian kuat?
Sekelompok walet sakti segera terbang dihadapan
garuda, dengan cepat sudah menarik perhatiannya.
Kukunya yang mencengkeram tambang segera dilepas,
beralih menangkap walet sakti. Dengan kegesitan dan
kecerdasannya burung burung kecil dapat mengegos dan
menghindarkan diri dari paruh garuda. Malang bagi mereka,
seekor kawannya yang kurang hati hati kena tertangkap
kuku garuda, tapi dengan kecepan kilat burung kecil
mencelos dari sela sela kuku yang sangat besar itu dan
berkumpul lagi dengan kawan kawannya.
Sang garuda menjadi gusar, sayapnya dikebutkan ke kiri
kanan, sedangkan Kuku dan paruhnya mematuk dan
mencengkeram dengan tenaga yang maha dahsyat. Tapi
burung burung kecil itu tidak menjadi takut, terus saja
beterbangan mengelilinginya. Perkelahian yang luar biasa
ini membuat penonton mendelong sambil mengangakan
mulut. Adapuia yang mengherankan orang banyak ini,
semakin lama burung burung kecil semakin sedikit
jumlahnya, dari belasan hanya tinggal tujuh . . enam . .
empat . . . dua . . . dan hilang semuanya. Pada hal burungDewi
KZ http://cerita-silat.co.cc/
402
burung kecil itu tidak ada yang kena patuk atau kena
cengkeraman, tapi ke mana gerangan burung burung kecil
yang mungil dan bagus itu?
Dalam saat yang membingungkan ini, burung garuda itu
tiba tiba berkelapakan di tengah udara dengan hebatnya,
sayapnya yang besar dikebaskan ke kiri kanan dengan kuat,
agaknya ingin melepaskan sesuatu yang menempel di
tubuhnya. Sesaat garuda itu seperti kesakitan sayapnya
berkelapakan semakin dahsyat sambil mengeluarkan bunyi
menyayat hati, menyusul tubuhnya berjungkiran. Entah apa
sebabnya tidak di setahu orang, mereka melihat sehelai dari
bulu garuda copot dan terbang melayang layang ke bawah,
kemudian, bulu garuda yang rontok ini semakin banyak, tak
ubahnya seperti dam kering tertiup angin Dengan cepat di
sayapnya berwarna hitam kelihatan sebuah liang. Saat
inilah orang banyak baru sadar, bahwa walet sakti
mempunyai cara berkelahi yang luar biasa, mereka masuk
dan menyelusup di ketiak musuh, dan tidak kelihatan.
Selanjutnya mereka mematuki bulu lawan sampai copot
sehelai demi sehelai. Dalam waktu sekejap saja burung
garuda itu sudah kehilangan bulunya, sehingga tidak dapat
mempertahankan dirinya untuk tetap berada di udara,
secara perlahan lahan tubuhnya menukik jatuh ke jurang.
Sedangkan burung kecil yang cantik itu segera
menyanyikan lagu kemenangan dengan merdunya mereka
berputar dan hinggap di bahu Yauw Tjian Su. Sang garuda
yang sudah kehilangan bulunya berusaha terbang kembali,
tapi usahanya selalu kandas, ia berontak sekuat tenaga
hasilnya tetap kosong, akhirnya dengan suaranya yang
berputus asa tubuhnya terus jauh ke bawah dan tidak
kelihatan lagi Perkelahian yang menarik ini, membuat
semua orang merasa kagum kepada burung keci! yang
dapat mengalahkan seekor burung raksasa yang demikian
kuat dan ganas Waktu jaman jayanya sang garuda dapat
menerjang ke atas awan dan terbang ratusan lie, tapi
sesudah kena dikalahkan sedikitpun tidak berdaya menahan
tubuhnya berada di udara. Saat ini tubuhnya yang
kepayahan itu pasti menukik dengan cepat ke bawah dan
menemui ajalnya. Dari hal ini orang banyak dapat menarik

403
sesuatu pelajaran, semakin musuh kuat diri sendiri semakin
lemah, tapi biar bagaimana masih berkesempatan
mengalahkan musuh.
Bahaya sudah lewat. Tjiu Piau dengan selamat sudah
melintasi rantai besi demikian juga dengan yang lain,
Mereka beristirahat sejenak di pohon Siong memperhatikan
keadaan sekelilingnya, karena pertarungan antara garuda
dan walet sakti tadi takut menarik perhatian musuh, tapi
sesudah mereka berdiam agak lama.. pihak musuh tidak
menunjukkan sesuatu gerakan, demikian mereka
melanjutkan perjalanannya dengan cara yang sama.
Akhirnya mereka sampai di pohon Siong yang penghabisan,
dengan cepat Tju Hong berkata. “Kini saatnya sudah tiba
untuk memijak tanah!” Tubuhnya segera berputar memijak
akar pohon dan loncat ke bawah. Kiranya di bawah akar
Siong ini terdapat sebuah jalanan gunung yang kecil, orang
banyak sesudah turun merasa girang sekali, tapi belum
habis senangnya kesusahan sudah berada pula di depan
matanya. karena jalanan ini belum pernah dijelajah Tju
Hong, ia hanya tahu saja. Terkecuali itu kabutpun demikian
tebalnya jurusan mana yang harus ditempuh tiada yaDg
tahu. Dengan cepat Kie Stu meraba tanah gunung,
kemudian menentukan jurus mana yang harus diambil.
“Kita jalan kesebelah kiri!” Sekalian anak muda dengan
heran memandangnya tidak mengerti. Kie Sau tertawa.
“Perhatikan, jalanan iai kelihatannya rata. sebetulnya
tidak. Libatlah tanda tanda bekas air mengalir, semuanya
menuju ke sebelah kiri, kita tengah mencari jalan turun,
dari itu harus menuju kesebelah kiri!” mendengar ini semua
orang baru tahu.
Saat ini mereka bergirang sekali, karena segera akan
meninggalkan gunung yang terterkurung, Yauw Tjian Su
masih tetap dengan burungnya, burung kecil yang lucu itu
tidak henti hentinya disuruh menyanyi, sehingga yang lain
tidak merasa sepi. Begitu mereka girang sang perut terasa
lapar dan haus. Tapi segala makanan sudah habis, airpun
tiada, untuk menangsal perutnya mereka menggunakan
kepandaiannya menangkap burung dan binatang liar yang

404
terdapat di situ. Dengan perasaan menyesal Tju Sie Hong
berkata: “Kalau tahu begini garuda besar itu pasti kukait,
dagingnya pasti enak dan cukup dimakan beramai!”
“Aha, saat itu mana kau ingat masih memPunyai perut!”
kata Wan Thian Hong dengan Jenaka, sehingga membuat
orang tertawa besar “Kalian jangan membuat gaduh, kini
belum saatnya kita bergirang. Kalian harus ingat seluruh
dari Oey San masih dikuasai anjingnya bangsa Boan. dari
itu hati hatilah!” Wan Thian Hong mengelelkan lidahnya
tidak berani bersuara, demikian juga dengan yang lain tidak
tertawa lagi.
Begitu suara tertawa berhenti keadaan menjadi sunyi
kembali. Langkah demi langkah maju terus. Tiba tiba Yauw
Tjian Su tertawa: “Siapa yang haus boleh minum, di depan
Terdapat sumber air!” Orang tua ini walaupun sudah lanjut
usianya, tapi pendengarannya adalah yang paling tajam, Ia
sudah mendengar aii sedangkan yang lain masih belum.
Hanya Kie Sau dapat mendengar sesudah menenangkan
perhatian: “Benar, marilah kita ke sana.”
Dengan cepat mereka berlarian menuju ke sumber air,
Yauw Tjian Su berkata: “Nio-heng agaknya bukan sumber
air yang merupakan solokan. Coba kau dengar sebenarnya
apa?” Sesudah Kie Sau mendengari sebentar segera
menjawab:
“Suaranya menderu deru, tidak ubahnya seperti air
terjun yang sangat besar!” Saat ini mereka masih berjarak
jauh ke tempat yang dituju, sedangkan sekalian anak muda
ini baru mendengar secara samar samar saja. Langkah dan
kaki dipercepat, SeSudah berjalan agak lama suara air
terjun sudah dapat didengar merela dengan nyata sekali.
Dua saudara Wan paling muda dan paling kekanak kanakan,
dengan girang mereka lari paling dahulu, tak lama
kemudian mereka balik kembali sambil berkata: “Heran,
tidak terlihat air terjun, sedangkan jalanan menjadi buntu!”
Ramai-ramai orang menuju ke tempat yang disebut, benar
saja sesudah mereka melewati satu tikungan, jalan gunung
menjadi buntu, di depan mereka hanya terlihat sebuah

405
lubang yang kecil yang menghadang perjalanan mereka.
Sedangkan suara gemuruh dari air terjun datangnya dari
liang itu.
Kie Sau memungut sebuah batu, dengan keras
dilontarkan ke bawah untuk mendengar kembali suara
balikannya. tapi begitu lama didengar batu itu tidak
bersuara lagi seolan olah masuk ke dalam liang yang tidak
mempunyai dasar. Dengan penuh keheranan Kie Sau
memandang pada Yauw Tjian Su sambil berkata: “Yauw Lo
lobang ini agaknya dalam sekali!”
Gwat Hee ingat dengan ilmunya yang pernah dipelajari
dan ingin mencobanya: “Kasihlah aku turun untuk
memeriksanya!” langkahnya cepat seperti anak panah ke
dalam liang. Kie Sau hanya bisa berkata ‘Gwat djie hati
hati!” sedangkan sang murid sudah menghilang di dalam
lobang.
Liang ini lebarnya kira kira satu depa, keadaannya tidak
berapa gelap, Gwat Hee sudah biasa dengan kegelapan di
goa rahasia dengan sendirinya dapat melihat dengan tegas
keadaan yang terdapat di situ. Sesudah ia turun tak lama
sampai di suatu tempat yang dapat dipijak kaki, dari sini
kembali terdapat suatu liang yang tembus ke bawah
merupakan sumur.. Kalau memandang ke bawah dapat
melihat sinar sinar putih yang terang dan bunyi air terjun
yang semakin keras, hal yang paling mengherankan sumur
ini tidak mempunyai air. hanya ada benda berwarna kuning
kuning entah apa tidak diketahui.
Sumur yang terdapat di bawah liang ini lebarnya
beberapa depa dalamnya beberapa tumbak. Gwat Hee
mempunyai kesanggupan untuk turun ke bawah dari itu ia
turun secara miring dengan ilmunya yang didapat dari Yauw
Tjian Su, dalam sekejap saja ia sudah tiba di dasar sumur.
Sesudah ditegasi nyata benda yang kuning itu bukan lain
dari pasir. begitu ia sampai kakinya sedikit pun tidak
mengeluarkan suara. Tak heran batu yang dilepas Kie Su
tidak menimbulkan suara, paSti jatuh di atas pasir yang
halus itu.

406
Gemuruh suara air terjun semakin keras dan
membisingkan telinga, sehingga telinganya gadis ini tuli
dibuatnya. Dengan cepat kedua lengannya, matanya
menatap ke suara itu. “Ah” terdengar ia mengeluarkan
suara kaget karena di depan matanya terbentang suatu
pemandangan yang luar biasa mentakjubkan sukma!
Di samping dasar sumur ini terdapat pula goa yang agak
panjang dan lebarnya lebih besar dari pada sumur yang
didiami Gwat Hee, yang mengherankan mulut goa itu
tertutup lapisan air terjun yang sangat tebal, sehingga
matahari yang menembus di air ini tipis sekali. Saat ini
mungkin sudah senja, karena sinar layung merah dan
matahari merah bulat membara tepat sekali membayang
dan menjadikan pelangi yarg berwarna warna. Keindahan
ini membuat sang gadis] tertegun dan heran sesaat
kemudian baru ingat dengan tugasnya dan kembali ke atas
untuk melaporkan penyelidikannya kepada sang guru.
Sesampainya diatas Gwat Hee menceritakan keadaan di
bawah,sehingga saudara saudaranya ingin turun
menyaksikan. Hanya Kie Sau seorang dengan kalem
berkata: “Jalanan ada dua ujungnya depan dan belakang
kalau yang ini buntu yang satu pasti hidup dari itu kita
berbalik lagi!”
Semua orang sudah merasa haus dan lapar, dua saudara
Wan dengan kepandaiannya menangkap beberapa burung
yang sedang pulang ke sarangnya, kemudian burung
burung itu dimatangi untuk dimakan ramai ramai,
sedangkan air untuk menghilangkan dahaga diambil dari
bawah goa. Sesudah mereka selesai dengan urusan perut
segera balik kembali menurut pendapat Kie Sau.Di atas
gunung yang tinggi senja terasa panjang, tapi begitu gelap
terasa sangat cepat sekali, sampai yang tambak hanya
bayangan dari mereka sendiri. Untunglah untuk mereka
karena sudah biasa berjalan dimalam hari, sehingga bisa
berjalan dengan baik di jalan gunung yang sempit. Waktu
sudah berlalu lagi. malam menjadi larut, tiba tiba dilihat
mereka sesuatu benda menghadang perjalanan. Sesudah
dekat mereka melihat sebuah batu yang tingginya tujuh

407
delapan tumbak mengakhiri jalan gunung yang kecil dan
merupakan jalan buntu pula.
“Di atas batu terasa tidak rata, entah terukir huruf
apa.”seru Djie Hay secara tiba-tiba Saat ini walaupun bulan
sangat terang tapi untuk melihat apa yang terukir di batu
sukar sekali, karena batu itu lama ke hujan anginan
sehingga warnanya menjadi belang dan berlumut.
“Anak anak coba kalian raba. surat apa itu!” perintah Kie
Sau. Dangau cepat muda mudi sudah menjalankan
titahnya, dalam sekejap saja mereka sudah mengetahui
bunyi huruf huruf yang terdapat di batu itu yakni terdiri dan
empat huruf yang berarti jalan terakhir untuk manusia’.
“Tidak terdapat huruf huruf lainkah di kiri kanannya?*
tanya Kie Sau.
“Tidak.” jawab mereka.
“Pepatah mengatakan tidak ada jalan buntu atau terakhir
bagi manusia kenapa huruf itu bertentangan sekali dengan
pepatah itu!”kata Kie Sau. Tja Hong terdiam mendengar ini,
hatinya menjadi kesal karena semua orang bisa datang ke
sini berkat atas ajakannya. Tapi ia biasa berdiam di atas
gunung dan lereng sekali kali tidak percaya dengan
perkataan di batu itu
“Sie Hong, ke luarkan tambangmu untuk, kupakai
sebentar!” Sesudah ia menerima tambang dari anaknya,
kaitan dan senjata itu seolah olah dengan sembarangan
sekali digaetkan kepada sela sela batu, tubuhnya menyusul
terangkat naik. Dalam waktu sekejap saja batu yang tinggi
ini sudah kena dipanjat. Hui Thian Wan ( kera terbang dari
langit) kembali muncul di hadapan orang banyak, sehingga
mereka merasa kagum sekali. Sesudah Tju Hjng ke atas
diselidikinya ke kiri kanan, kemudian dengan goyanggoyang
kepala ia turun ke bawah. Melihat ini semua orang
sudah maklum, dan tidak bertanya lagi. Dengan keluhan
napas panjang Tju Hong berkata pada Kie Sau: “Kalau di
lihat dan keadaan ini mungkin benar berair merupakan jalan
terakhir untuk manusia. Andaikata Thian sengaja

408
mengadakan jalan ini uniuk menyusahkan kita, kenapa kita
tidak mencoba kekuatan kita untuk mengalahkan Thian!
Coba pikir masa tidak terdapat sama sekali jalan ke luar
dari jalanan yang demikian panjang ini? Marilah kita
berpencar untuk mencarinya!”
Kie Sau pun berpikir serupa dengannya, ia periah
menjelajah gunung besar dan kecil tapi belum pernah
menemui jalan buntu seperti sekarang. “Anak anak lekas
kita cari jalan ke luar secara berpencaran agar kita bisa
meninggalkan tempat celaka ini secepat mungkin!”
Sesudah diatur sebentar, anak anak muda,dua orang
dijadikan satu regu, sedangkan tanda untuk minta bala
bantuan kepada kawan sendiri harus membunyikan siulan
panjang. Selesai diatur barisan ini segera berpencar ke
empat pen juru. Tjiu Piau seregu dengan Gwat Heet sambil
mencari jalan.mereka sambil bercakap cakap dengan
asyiknya. Saat ini bulan agaknya semakin terang untuk
mereka berdua, keadaanpun semakin indah tampaknya,
sehingga mereka lupa masih dalam keadaan bahaya!
Sesaat kemudian Tjiu Piau mengeluh sambil menarik
napas panjang, hal ini membuat kawannya menjadi heran
dan ingin bertanya. Tapi kata katai ya batal bertanya
melainkan mengeluarkan kata: “Tjiu Suko kau lihat benda
apa itu?” Mereka mengawasi dengan tajam pada benda
yang berada di hadapannya. Dilihatnya dari bentuknya
seperti manusia, tapi tubuhnya berukuran tujuh delapan
tumbuk agaknya, terlalu tinggi sekali bagi ukuran manusia.
Mungkinkah makhluk raksasa? Ya hanya kata kata raksasa
saja yang tepat untuk menamakan benda yang berbentuk
orang itu. Mereka berindap indap mendekati tanpa
mengeluarkan suara. Sesudah dekat sekali Gwat Hee dapat
membedakan bahwa benda, itu bukannya orang melainkan
seperti batu. la berbisik pada sang jaka : “Coba timpuk
dengan batu!” Tjiu Piau menggeserkan kakinya dan
menendangkan batu secara tiba tiba, ‘ baru itu dengan
tepat mengenai sasaran sambil mengeluarkan bunyi “pung”.
Dari: suaranya mi dapat dipastikan bukan batu melainkan
tunggul dan pohon Siong yang sudah tua sekali. Mereka

409
saling pandang dengan tertawa atas bal menakutkan diri
sendiri tadi.
“Mari kita duduk di sana dan memandang ke bawah,
siapa tahu kita dapat menemukan jalan selamat untuk
meninggalkan tempat ini!” kata Gwat Hee. Tanpa banyak
pikir, lagi Tjiu Piau menganggukkan kepalanya, kemudian
mereka segera menuju ke tempat tunggul. Sesudah duduk
Gwat Hee berkata: “Tjiu Suko kenapa kau menarik napas
tadi?” Begitu kena tanya hatinya sang jaka segera ingat lagi
dengan soal soal yang menyesak dadanya. Dengan suara
helahan ia menjawab; “Sejak kecil aku belum pernah
berpisah dengan ibu barang setindak, kini sudah setengah
tahun lamanya aku berpisah, hari ini entah bagaimana
hatiku terangsang mengingat terus akan ibuku, sehingga
membuatku menarik napas dan ingin menemuinya,”
“Kenapa kau tidak melanjutkan kata katamu?”
“Aku. seperti mendengar suara orang berkata kata”
“Ah, aku sendiri tidak mendengarnya!” Sesudah Tjiu Piau
mendengari sebentar, benar saja tidak terdengar suara lagi,
ia baru melanjutkan katanya: “Kurasa saat ini ibukupun
tengah memikirkan aku dan ingin mengetahui kabar tsutang
anaknya. Sayang disini tidak terdapat burung pos yang
dapat mengirim surat!” habis berkata kembali ia mengeluh
sambil memukulkan lengannya kepada tunggul kayu Siong
tua. sekadar melampiaskan kesedihan hatinya.
Gwat Hee melompat kaget dan memandang kepada
tunpgul Siong dengan penuh perhatian. Tjiu Piau bertanya
dengan penuh keheranan: “Kau kenapa?” Sang kawan
memberikan tanda agar ia tidak bersuara. Hal ini
menambah keheranannya, dengan perlahan Gwat Hee
berbisik. ‘Tepakanmu pada tunggul ini menerbitkan suara
yang aneh.. apa kau tidak memperhatikan?”
“Apa yang aneh?”
“Suaranya pung seperti kayu kosorg!”
“Kayu yang sudah ratusan tahun tentu saja dalamnya

410
sudah dimakan rayap, perlu,apa diherankan?”
“Ini terkecuali dan mengherankan.. Bukankah kau tadi
mendengar suara orang? Mungkin orang itu bersembunyi di
dalam kayu ini!”
“Coba kita periksa,” kata Tjiu Piau perlahan.
Dengan penuh hati hati mereka mulai memeriksa tunggul
ini dari atas ke bawah dari bawah ke atas sambil diketok
ketok, alhasil sedikit tanda-tanda yang mencurigakan tidak
didapat. Tjiu Piau tidak sabaran lagi kakinya terangkat
menendang. “Kreeeekkkkkk”
berbunyi sekali, tunggul itu seolah olah bergerak sedikit.
Mereka menjadi kaget, dengan cepat Tjiu Piau
mengerahkan tenaganya mencabut tunggul ini, sayang
sedikit juga tidak bergerak, keheranan mereka menjadi jadi.
sesudah menyiapkan tenaga sepenuhnya segera dicabutnya
bersama-sama. Sekali ini usaha mereka berhasil baik,
tunggul ini kena tercabut, bahkan di bawah tunggul tertarik
pula seorang nona besar yang memegangi tunggul palsu ini
sepenuh tenaga, sehingga tak mengherankan tunggul ini
menjadi berat. Siapakah orang ini? Tak dari lain Tjen-Tjen si
nakal!
Dengan kaget Gwat Hee mercelat ke samping sambil
bersiap atas serangan lawan. Sebaliknya dengan lawan
begitu berada diatas segera membentak: “Kalian kenapa
bercintaan di sin ! Kalau maupun harus ditempat yang agar
tidak diketahui orang dan terhindar dari segala gangguan?”
Nada katanya ini menunjukkan kegusaran yang terpendam
alias cemburu!
“Tak tahu malu! Bersembunyi sembunyi mengintip orang
masih berani memaki orang! Lekas maju dan panggil semua
orang orangmu naik untuk kuhajar satu satu. jangan
bersembunyi seperti pengecut besar.” sengaja suaranya
dibesarkan agar kawan-kawannya mendapat tahu. Tak lama
kemudian yang datang ke tempat mereka mengadu mulut.
“Untuk apa banyak bicara, lekaslah kau pergi jauhan
untuk melanjutkan kasih mesramu itu. Pepatah mengatakan

411
air sungai tidak mengganggu air sumur, aku tidak mau
mengganggumu, kaupun jangan menggangguku. Lekas!”
Dari suaranya ini menunjukkan kecemasan yang luar biasa,
seolah olah ingin mengusir orang dalam detik itu juga.
“Pasti ada sebabnya, aku harus mengetahuinya,” pikir Gwat
Hee. Dengan tersenyum ia menghampiri dan menjulurkan
lengan:”Haruskah kita berjabatan tangan untuk
mencuatkan apa yang kau katakan tadi?” Tjen Tjen
mengetahui kedatangan lawan tidak bermaksud baik,
dengan cemas ia mundur selangkah. Tiba tiba lengannya ke
luar mengeluarkan jurus ularnya menangkap lengan kanan
Gwat Hee.
Pada hari belakangan ilmu silat Gwat Hee mendapat
kemajuan banyak sudah lama hatinya ingin mencobanya,
kebenaran sekali berjumpa dengan lawan lamanya hatinya
menjadi girang sekali. Tanpa mundur tapi lengannya
mengeluarkan jurus ‘bukit aneh terbang mendatang*
membarengi serangan lawan. Dengan kecepatan kilat Tjen
Tjen menarik lengannya dan mengegos dengan lincah
menghindarkan serangan.
Tjen Tjen enggan mengadu kekuatan, hatinya
mempunyai rencana untuk mengalahkan lawan dengan
akal. Ia berpikir: “Lawan berada di tempat yang licin dan
tidak rata. Kalau ia menggunakan tenaga menarik diriku,
segera kulepas secara mendadak, tubuhnya pasti terguling
ke belakang.” Belum habis ia berpikir musuh sudah
mengeluarkan tangan untuk menariknya. Hal ini
membuatnya tertawa girang, tangannya itu sengaja
dikeraskan sedikit agar lawan mengeluarkan tenaga penuh
baru melepasnya. Tapi rencananya gagal semua, karena
sang lawan juga bukan anak kemarin dulu. Sebab begitu
berhasil memegang lengannya kakinya menotol bumi dan
tubuhnya mencelat ke atas meminjam tenaga tarikan
lawan.. Begitu turun tangannya segera mengeluarkan jurus
Kapak langit membelah gunung menghajar batok
kepalanya.
Tjen Tjen merasakan angin keras datang di atas kepala,
ia sadar kelebihannya atas lawan hanya kelincahannya saja.

412
sedangkan mengenai tenaga ia mengakui tidak sekuat
lawan. Untuk menyelamatkan kepalanya lengan yang
membelit dilepaskan baru buru mencelat mundur ingin
kabur, tapi harinya menjadi kaget karena sekeliling sudah
terjaga rapat oleh musuh musuhnya. Tjen Tjen adalah
seorang anak yang pintar dan tidak mau menderita
kerugian di depan mata, dengan cepat ia menjatuhkan diii
di tanah sambil berkata: “Aku mengaku kalah! Kalian mau
membuat apa terhadapku? Terserah!” Dua saudara Wan
maju memegang tangannya kiri kanan, tidak memberikan ia
berbuat nakal. Sedangkan Djie Hay segera bertanya:
“kenapa kau bisa bersembunyi di sini, lekas katakan!”
“Sebaliknya kalian kenapa bisa berada di sini?”
‘Di mana ayahmu yang berhati binatang itu berada. lekas
katakan!”
“Kalian ingin mencarinya, itu hal yang mudah sekali, aku
boleh membawa kalian kesatu tempat untuk menemuinya,”
Baru saja percakapan mereka berjalan sampai di sini tiba
tiha didengarnya suara tangis Tjia Piau dari dalam lobang
bekas tunggul palsu.
“Piau Koko. Piau Koko!” seru Gwat Hee kalang Kabut
“Begitu saja sudah gelisah!” ejek Tjen Tjen. Djie Hay
memegang bahunya dengan keras dan bertanya : “Siapa
berada di dalam lobang?”
“Ada seseorang yang sangat dcintainya. Dari itu tidak
perlu heran kalau ia menangis, sebab berjumpa dengan
jantung hatinya yang bukan alang kepalang dirindukan dan
dicintainya!” Gwat Hee tak sabar lagi mendengar ejekannya
segera lari melihat ke dalam liang.
Kiranya di bawah tunggul palsu terdapat lobang yang
dalamnya satu tumbak lebih dan lebar empat kaki, bisa
dipakai untuk dua orang berduduk. Gwat Hee dari atas
dapat melihat dengan tegas Tjiu Piau tengah nangis di
hadapan seorang nenek tua yang berwajah’ welas asih.
Didengarnya Tjiu Piau berkata : “Bu, akulah yang
menyebabkan kau menderita susah!” Nenek itu dengan

413
kasihnya mengusap usap rambut anaknya sambil
tersenyum :
“Kita bisa bertemu lagi sudah cukup dari bagus, kenapa
harus menangis!” Sekali ini membuat Gwat Hee terpaku,
biar bagaimana juga ia tidak memikir dapat berjumpa
dengan ibu Tjiu Piau di tempat semacam ini telah lalu di
depan banyak orang, dan disuruhnya Tjen Tjen.. menjaga.
Sedangkan ia sendiri setiap hari datang untuk
menjenguknya sekali. Ibu Tjiu Piau sangat girang sekali
melihat Tju Hong, dengan cepat hatinya ingat kepada Tjiu
Tjian Kin. sehingga menjadi sedih dan mencucurkan air
mata. Orang banyak: membujuk sambil menuturkan
kejadian baru baru ini yang dialaminya. Akhirnya mereka
terdiam, begitu sampai dengan kata – kata jalan teraknir
untuk manusia .
“Ini bukan jalan terakhir untuk manusia, sekali kali
bukan” kata ibu Tjiu Piau.
“Bu, apa kau tahu jaian untuK turun gunung.”
“Kau pikir kalau jalan ini buntu kenapa kau bisa berada di
sini, kenapa Louw Eng bisa datang ke sini setiap hari’!”
“Benar.” kata Kie Sau, “apa Djie so tahu jalan masuk ke
sini dari mana.?’*
“Waktu aku dibawa seluruh tubuhku sudah ditotok,
sehingga tidak mengetahuinya, tapi masih dapat kita
mengusutnya bukan?”
“Panggil Tjen Tjen!” seru Kie Sau.
“Anak perempuan itu sangat pandai berkata kata. hati
hatilah dengan kata kata bohongnya. Sedangkan aku
mengetahui setiap kali Louw Eng datang di tubuhnya
terdapat tetesan air. Kupikir tentu ia datang ke mari
mengambil jalan sungai atau mata air—”
“Atau air terjun,” sambung Gwat Hee dengan cepat.
Mendengar ini yang lainpun menjadi ingat pada air terjun
yang terdapat di dalam goa dan memastikan dari air terjun
itu mempunyai jalan yang berhubungan dengan dunia luar.

414
“Berilah aku menyelidikinya!” seru Djie Hay dengan
bersemangat.
“Sabar.” kata Kie Sau. “untuk apa tergesa gesa.” Kata
kata mi membuat seluruh mata memandang kepadanya. Kie
Sau melanjutkan lagi katanya. “Bukan saja harus bersabar,
bahkan ia harus menyelesaikan dahulu penghianat
penghianat bangsa itu, kemudian baru kita tinggalkan
terapat ini dengan cepat.” Wan Thian Hong adalah anak
yang pandai, sekejap saja sudah mengetahui apa yang
dimaksud dengan kata kata itu. Ia berkata: “Haruskah kita
menyiapkan Thian Lo Tee Bong (jaring langit dan bumi) di
sini untuk meringkus dan menantikan Louw Eng masuk
jaring sendiri?”
“Benar! Bukankah Louw Eng setiap hari datang ke sini
seorang diri? Mungkin tidak lama lagi ia bisa datang lagi.
sebaiknya kita tunggu sampai hari esok untuk
menyelesaikan hal ini baru berangkat!”
Mendengar tentang membalas sakit hati, sekalian muda
mudi menggosok gosok lengan dengan geram, demikian
juga dengan Tju Hong yang sudah berusia lanjut tidak mau
ketinggalan- Ibu Tjiu Piau mengharapkan agar hal ini lekas
lekas berhasil, agar ia bisa menyembayangkan arwah
suaminya serta sekalian saudara angkatnya dengan jiwa
sang jahanam. Sekalipun orang tidak mau turun dan
meninggalkan Oey San untuk membalas dendam dan
menyapu bersih sekalian kaum penghianat.
Pada hari kedua Kie Sau mulai mengatur lagi siasatnya:
“Biar bagaimana Louw Eng pasti datang, kita harus
memasang perangkap di sekitar ini, sekali kali jangan diberi
lolos Terkecuali dari ini satu hal perlu pula diperhatikan, kita
menngurung sang jahanam, taDi jangan sampai kitapun
dikurung lagi kaki tangannya.”
“Maksudmu bagaimana?” tanya Yauw Tjian Su.
“Menurut hematku yang bodoh. harus ada orang yang
menjaga jalan masuknya, begitu dia masuk,segera menjaga
jalan itu dan jangan kasih masuk yang lain. Dengan cara ini

415
kita bisa membuatnya tidak bisa balik belakang dan tidak
bisa memberi masuk kawan kawannya. Andaikata ada juga
pengikutnya mau menerjang masuk dengan paksa kita
boleh membuat rencana dahulu untuk menghadapinya.”
“Cara ini sungguh bagus, tapi di mana kita harus
menjaganya?” tanya Tju Hong.
“Kalau dilihat keadaan sekarang jalan masuk ke sini
hanya dari belakang batu besar dan dari balik air terjun dua
tempat di situlah harus kita menjaganya.”
“Kau sungguh pandai mengatur rencana dan siasat,” kata
Yauw Tjian Su, “dasar tukang main catur yang ahli,
otaknyapun pandai sekali karenanya aku setuju dengan apa
yang kau atur.”
Siapakah yang harus menjaga pintu, hal ini agak
menyulitkan, karena sekalian anak muda langsung adalah
musuh mereka, semua ingin berdiam di sini untuk
membereskan musuhnya dengan lengan sendiri, sehingga
tiada yang mau pergi menjaga di kedua pintu itu.
“Yauw Lo, kau dan aku tidak bermusuhan langsung
seperti mereka terhadap Louw Eng, kalau d lihat begini
harus kita berdua menjaga kedua jalan itu, bagaimana
pendapatmu?”
“Bagus! mari kita kerjakan”
“Ya, kau menjasa di air terjun, aku dibalik batu besar.
Tempat itu sangat baik walaupun kita menjaga seorang diri
musuh sukar untuk masuk.”
“Baiklah aku ke sana untuk bermain main!”, ia berlalu
sambil memanggil burung-burung kecil secara perlahanlahan.
Sebelum berlalu Kie Sau memesan kepada Tju Hong dan
ibu Tjiu Piau. “Mengenai urusan di sini sebaiknya kalian
berdua yang mengatur. Sesudah berhasil menangkap Louw
Eng terserah kepada kalian mau diapakan pun boleh. Tapi
harus,ingat kepada satu hal, yakni cari dan selidikinya
ditubuhnya sesuatu yang terdapat, barangkali saja kita

416
dapat mencari sesuatu jalan turun dari gunung ini.”
“Kami pasti mengingatnya. Ya urusan selanjutnya
kuserahkan kepada Djie so saja yang memimpin.” Kata Tju
Hong saling mengalah. Sementara itu Kie Sau sudah berlalu
untuk menjaga di balik batu.
Muda mudi sudah siap memboikot (menjaga secara
tersembunyi) sedangkan Tjen Tjen dijaga keras dua
saudara Wan.
Yauw Tjian Su sudah sampai di tempat tujuannya, ia
berdiam sambil berduduk di balik air terjun dengan tenang.
Belum lama ia berduduk telinganya yang tajam segera
menangkap pembicaraan dua orang.
Yang satu berkata: “Lauw tee sekali ini kau harus
menggusur nenek nenek itu untuk dibawa ke atas puncak,
kita pukul sekali dan berkata sekali, dengan cara ini pasti
anaknya itu kena terpancing datang..”
“Siauw tee tengah berpikir untuk menjalankan siasat itu,
dari itu kuminta Su siok menantikan di sini, aku segera
membawa nenek nenek itu untuk dijadikan umpan.
Dengan nenek nenek ini kita pancing Tjiu Piau dengan
bocah itu kita pancing yang lain. Waktu itu kita dapat
menangkap satu demi satu!” Kata kata ini ditutup dengan
tertawa besar dari kedua orang..
Terdengar suaranya tapi tidak terlihat orangnya, Yauw
Tjian Sa cukup mengenal suara orang. Yang pertama
mengeluarkan suara adalah Heng Liong Lo Kuay sedangkan
yang kedua adalah Louw Eng. Percakapan ini datang dari
balik air terjun, biar tidak melihat orang tua ini sudah dapat
memastikan di mana kedudukan lawan, yakni di balik air
terjun sejauh dua tiga tombak. Dengan cepat tubuhnya
bersembunyi menantikan kedatangan sang jahanam.
Keadaan di dalam goa lekak lekuk tidak rata, tubuhnya
ditempatkan pada suatu sudut yang tidak mudah terlibat
orang sedangkan ia bisa melihat ke mana saja dengan
tegas..

417
Tiba tiba dari air terjun berkelebat sesosok bayangan
hitam masuk ke dalam. Gerakannya Sangat cepat dan
lincah, menunjukkan dirinya cukup lihay. Tubuhnya tidak
basah, hanya pundaknya saja terkena sedikit tetesan air.
orang ini adalah Louw Eng. Begitu ia masuk segera
menepuk-nepuk pundaknya dan menggoyangkan kepalanya
untuk menghilangkan tetesan air, Kakinya melangkah
dengan cepat menuju ke jalan terakhir untuk manusia.
Diam-diam Yauw Tjian Su tertawa didalam hatinya: “Kau
begitu senang akan menangkap Ensomu sendiri, sehingga
tidak mengetahui bahaya sudah berada di atas kepalamu
sendiri!” Ia berpikir terus, hampir hampir suara tertawanya
ke luar dari mulutnya, tapi dengan cepat ia bisa berbalik
pikir.
“Biar bagaimana aku tidak boleh mengeluarkan suara,
sebab di luar air terjun terdapat Hek Liong, kalau sampai ia
masuk urusan akan menjadi kalut. Sedangkan anak anak
sudah lama sekali ingin membalas sakit hatinya, biar
bagaimana aku harus membantunya agar soal ini bisa
berjalan dengan lancar.” Orang tua ini memegang megang
kepalanya sambil menasehatkan diri sendiri. “Orang tua kau
harus menjaga dengan baik di sini .”
Siapa kira pada saat ini dari balik air terjun kembali
berkelebat sesosok tubuh orang, orang tua ini terbuka lebar
matanya, memandang orang itu, tampak olehnya tubuh
kurus menggelinding turun secara diam diam dari sudut, air
terjun” Agaknya dari sudut itu tidak terdapat tempat untuk
menaruh kaki, sehingga tidak bisa meloncat masuk dengan
baik, sehingga harus berguling gulingan. Dalam waktu
sekejap orang itu tidak bisa berdiri dengan baik, kepalanya
kena tertimpa air terjun secara deras, membuat dirinya
terbawa arus air terus jatuh ke bawah. Orang itu dengan
cepat menusukkan lengannya ke dinding dengan
keras,hebat luar biasa lengannya itu bisa menembus
dinding tebing sehingga tubuhnya diselamatkan. Yang
mengherankan orang tua ini lengan orang ini tidak berjeriji
sama sekali. Sedangkan tubuhnya yang kurus tak ubahnya
seperti rangka tulang terbungkus kulit. Sedangkan matanya

418
berkilat-kilat bersinar. Dengan caranya menancapkan
lengannya ia naik ke atas dan membuntuti Louw Eng. Yauw
Tjian Su semakin heran, karena tidak mengetahui orang ini
siapa, di dunia Kang ouw belum pernah ia menemui orang
semacam ini. Sedangkan lengannya yang tidak berjeriji tapi
bisa menembus didinding yang keras menunjukkan akan
ilmunya yang tinggi dan menempatkan dirinya bukan
kalangan biasa. Semakin berpikir orang tua ini semakin
pusing kepalanya, ia mengeluh dengan perlahan
mengatakan. “Kalau Louw Eng mendapat bantuan orang
semacam ini sukar untuk dihadapi seorang diri. aku harus
mengawasinya terlebih hati hati.” Sesudah mengambil
keputusan dengan cepat ia mengikuti dengan cepat tanpa
menimbulkan suara.
Orang itu maju ke muka dengan cepat, tanpa
menghiraukan di belakang ada tidaknya orang mengikuti.
Dilihat dari gerak-geriknya yang sembunyi sembunyi
agaknya ia hanya takut orang dari depan saja. Orang tua ini
semakin bingung dan tidak mengerti pada orng yang tidak
dikenal ini. Sesudah berjalan sebentar segera terlihat Louw
Eng di depan, sedangkan orang yang membuntuti di
belakang tidak mempunyai tempat untuk menyembunyikan
diri karena jalanan di dalam goa sangat kecil dan hanya
cukup untuk menempatkan tubuh seorang saja. Orang itu
tanpa gugup mempercepat jalannya menuju pada orang
yang berada di depannya. Sebaliknya dengan si orang tua
tidak terus maju hanya memberhentikan kakinya sambil
mengawasi mereka. Louw Eng balik badan begitu
mendengar suara kaki di belakang, begitu ia melihat orang
yang datang ini, wajah sepera membayangkan perasaan
takut, ia bengong tidak berderak eperti kesima. Orang itu
berdiri sejauh tiga tindak dari hadapannya tanpa bergerak
gerak, matanya mendelik tapi tidak mengeluarkan sepatah
katapun juga. Dari sinar matanya menunjukkan suatu
perasaan dendam dan benci, sedangkan mukanya dari putih
berubah menjadi merah, dari merah menjadi hijau muda,
menunjukkan perasaan hatinya yang tertusuk hebat dan
sampai di puncak Kegusaran.

419
Dalam waktu sebentar Louw Eng seperti tengah
menghadapi seorang iblis yang bengis, sampai ketenangan
yang terpelihara hilang sebagian, sebagian dari kaki
tangannya menyusul tidak dapat diperintah dengan baik,
semakin orang itu tidaK bertata kata ketakutannya semakin
menjadi jadi. Akhirnya ia memberanikan diri untuk
membuka mulut: “Siapakah kau, orang atau setan. Kalau
setan lekas kau pergi jangan mengganggu aku. nanti aku
membuat sajian untuK menyembayangkan arwahmu! —”
Orang itu tidak menjawab hanya mengeluarkan suara
“he— he” dua kali dari dalam kerongkongannya, sedang ke
dua lengannya yang tidak berjeriji diangkat dan dirapatkan
satu sama lain sambil digoyang goyangkan ke depan mata
Louw Eng. Saat ini Yauw Tjian Su baru dapat melihat tegas
akan tangannya itu. yang kering seperti terjemur dan
menakutkan. Sesudah digoyang goyangkan lengan itu
ditancapkan kepada dinding goa, sekali ini pukulannya lebih
hebat dari tadi lengan itu ambles ke dalam dinding sedalam
satu kaki. Kemudian dicabut kembali tanpa menderita luka.
Louw Eng terkejut dan mundur setumbak lebih.
Saat ini orang itu baru mengeluarkan suaranya.
“Louw Eng! Tiga bulan lamanya kunantikan kau di Oey
San ini. Tidak berani menunjukKan muka selama itu karena
kau mempunyai banyak pengikut, kini kesabaran ku
membawa hasil untuk berjumpa dengan kau seorang diri.
Keluarkanlah kedua lengan mu untuk menentu an siapa
yaag lebih unggul diantara kita berdua!”
Mendengar orang ini mengeluarkan suara ketenangan
Louw Eng maju banyak, mukanya yang licik segera
mengeluarkan senyumnya yang terkenal menakutkan,
sedangkan kedua matanya tidak henti-hentinya menatap
kepada orang itu, akhirnya ia berkata” Pek Hoo Heng, lama
sudah kau kukenang, beruntung sekali kita berjumpa di sini.
. ..”
Minang orang ini tidak lain dari Pet Hoo! Demi
didengarnya “Pek Hoo” dua huruf orang tua she Yauw lantas
ingat pada penuturan Djie Hay di pulau Bu Beng. yang

420
mengatakan Pek Hoo dihancurkan jari tangannya dan
tenggelam di danau Bu Beng. Tidak kira sampai sekarang ia
masih hidup dan muncul di Oey San secara sembunyi
sembunyi.
Suara Louw Eng tadi belum habis tapi sudah kena
dipotong oleh Pek Hoo di tengah jalan. Dengan dingin ia
bersata: “Louw Eng kau jangan banyak bicara lagi. seluruh
ini hatimu sudah kukenal. Kalau kau benar-benar
mengenang akan diriku kuhaturkan terima kasihku di sini..
Tapi sayang sekali HeK Hoo kakakku sudah menjadi tulang
tak berdaging atas dirinya mungkin kau masih mengenang
juga barangkali?”
Sambil bicara matanya mengeluarkan sinar yang merah
berapi. Kita sudah tahu bahwa Pek Hoo adalah seorang
yang bukan main licinnya dan tak Kalah disebelah bawah
Louw Eng. tempo hari terhindar dari kematian segera
mengetahui maksud yang dikandung sang toa ko hanya
menjadikan mereka menjadi anjingnya saja, lain tidak Dari
itu dendamnya semaKin besar, kini Louw Eng ingin
menggoyangkan lidah untuk menipunya lagi, mana bisa? la
sadar Jidahnya yang tidak bertulang ini sudah Kurang
Kemujarabannya, perbuatannya tadi hanya untuk membuat
lawannya tidak bersiaga agar ia bisa mengeluarkan tangan
untuk mematikannya.
Siau Bu siang kembali tertawa secara licik: “Pek Hoo tak
perlu lagi aku banyaK bicara, katakan lekas apa yang kau
kehendaki?”
“Hanya dua macam yang aku mau!”
“Katakan lekas!”
“Ke satu, Hancurkan sepuluh jarimu, untuk
menggantikan kerugian jariku! ”
“Boleh! Aku sanggup! Yang kedua?”
“Kedua, bayarlah hutang durah dari kakakku dengan
jiwamu!” baru suaranya habis tubuhnya sudah maju
menerjang menyerong alis mata musuh dengan Kedua

421
lengannya yang tak berjari. Angin pukulannya ini membuat
Louw Eug mundur lagi ke belakang, ia tahu kelihayan lawan
dan tak berani menangkis dengan kekerasan.
Pek Hoo tidak mau melepaskan lawan begitu saja,
tekadnya untuk membalas sakit hati sudah lama disimpan
di dalam hatinya, sejak ia selamat dari Bu Bene To terus
melatih dirinya guna menghadapi hari ini.. Tanpa banyak
komentar lagi, Louw Eng menghunus pedang mustikanya,
mengandalkan ketajaman dari pedangnya ini dihadapi
lawan tanpa gentar lagi, pedangnya diangkat tinggi dan
ditapaskan kepada lawan Pek Hoo tertawa besar sedikitpun
tidak merasa getar, lengan kanannya terangkat naik
menepak pedang, digunakan seperti toya tanpa takut kena
tertabas. Padang itu kena disampok miring, menyusul
lengan kirinya ke luar menghantam tenggorokan lawan.
Sebaliknya Louw Eng merasakan pedangnya itu seperti
mengenai benda yang lunak tidak lunak juga tidak keras,
tidak melukakan juga tidak membuat lawan berdarah’
bukan saja ia menjadi kaget, sedangkan Yauw Tjian Su pun
turut menjadi heran.
Pertarungan kenbali berjalan dengan sengit, segala jurus
dan serangan dari Pek Hoo disertai tekad mengadu jiwa,
kedua lengannya di pergunakan demikian ganas, andai kata
Louw Eng tidak bersenjata sepasang pedang mustika
mungkin sudah tak sanggup menahan serangan nekad yang
membabi buta ini. Beberapa jurus sudah berlalu Louw Eng
sadar lengan musuh sudah terlatih menjadi alot dan kedot
sehingga pedangnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dari itu ia
mengubah siasat lain, pedangnya tidak menyerang lengan
lawan melainkan diarahkan kepada bahu lawan, dengan
maksud memutuskannya. Kini sepasang pedangnya dan
sepasang lengan bergumul menjadi satu, sedangkan di
bagian tubuh masing-masing mengeluarkan banyak
lowongan lowongan yang dapat di serang, sayang sekali hal
ini tidak diketahui masing masing sehingga banyak
kesempatan dilalui begitu saja.

422
Jilid 14
Yauw Tjian Su yang memperhatikan perkelahian ini
menjadi malas melihat permainan pedang Louw Eng yang
tidak keruan. Kalau dibanding dengan ilmu berlengan
kosong ia dapat menggolongkan diri sekelas dengan Hoa
San Kie Sau, bahkan ia bisa memperdalamnya kalau tidak
banyak berpikir yang bukan bukan dalam bulan bulan
belakangan ini. Tapi sesudah bersenjata pedang ilmunya
segera menjadi biasa saja. padahal sejak mendapat pedang
mustika itu ia sudah melatih ilmu pedang selama delapan
belas tahun tapi tidak memperoleh kemajuan yang
diharapkan. Kesemua ini disebabkan ia tidak mempelajari
ilmu pedang secara rajin, hatinya selalu mengandalkan
ketajamannya, terkecuali itu sudah menganggap dirinya
lihay sekali. Memang dalam pandangan orang biasa ilmu
pedangnya ini sudah luar biasa sekali tapi untuk mata Yauw
Tjian Su menunjukkan dengan nyata kekurangan
kekurangan yang menyolok sekali dan mudah untuk di
kalahkan.
Orang tua ini berpikir: “Aku harus membantu Pek Hoo.
Tangannya meraup pasir sambil memandang terus
perkelahian. Perlahan lahan lengannya itu mencentilkan
butiran butiran pasir yang agak bssar pada kaki tangan Pek
Hoo, secara otomatis kaki itu terangkat naik menendang
pinggang lawan, sat ini memang di bagian pinggang itu
tengah kosong, Louw Eng segera mengegos secepat
mungkin ke sebelah kanan, tapi perutnya sebelah kanan
secara tiba tiba telah kena ditendang lawan. Hal ini terjadi
karena kaki kiri Pek Hoo sudah kena pasirnya Yauw Tjian Su
kembali dan dapat menendang lagi. Dalam Waktu sekejap
saja louw Eug menjadi kalang kabut dan berada di bawah
angin, sehingga pertempuran ini dapat diramalkan siapa
yang menang siapa yang kalah, Ia mencelat mundur sambil
bersiul panjang Suara ini mendatangkan seseorang dan
menjadikan suaiu pertarungan yang jarang terjadi di dunia
Kang ouw pada jamannya ini.
Siulan panjang dari Louw Eng semata mata untuk minta
bantuan pada Hak Liong Lo Kuay. Yauw Tjian Su segera

423
mundur setindak menyembunyikan dirinya waktu
mendengar suara orang masuk melewati tabir air terjun,
matanya terbuka lebur dengan waspada untuk melihat
sesuatu keadaan. Sedangkan hatinya diam diam merasa
kuatir jjga, pikirnya kalau dua orang ini yang masuk untuk
menangkap ibu Tjiu Piau sekalian anak muda belum tentu
dapat menandinginya,
Hek Liong terdiam sesaat menatap Pek Hoo, sebaliknya
dengan Louw Eng semangatnya menjadi terbangun, ia
berseru girang: “Su siok orang ini berilmu luar biasa
sebaiknya berhati hati!” Tengah ia bicara serangan lawan
kembali sudah datang dan mendesaknya mundur.
Pada umumnya ilmu silat mempunyai jurus menyerang
dan bertahan, tapi ilmu Pek Hoo lain dari yang lain melulu
menyerang dan tidak menghiraukan penjagaan diri.
Loaw Eng tidak berani sembarangan merangsak musuh
iya yang sudah nekad dan bertekad untuk mengadu jiwa. ia
tak sudi mati bersama sama, karena hatinya masih ingin
hidup terus untuk menikmati keindahan dunia! Tak heran
kalau semakin lama kedudukannya semakin berada di
bawah angin lebih lebih sesudah Pek Hoo mendapat
bantuan dari Yauw Tjian Su dapat dikatakan perlawanannya
sudah patah sama sekali.
Sesudah Hek Liong memperhatikan pertarungan mereka
sebanyak lima enam jurus segera mengetahui ilmu yang
digunakan sirase, yakni mengambil dan mengumpulkan
ilmu serangan dari berbagai golongan cabang ilmu silat.
Serangan lengannya serabutan dan lihay sekali, tapi
kakinya tidak selihay tangan. Kesalahan dan kekurangannya
masih baryak sekali sehingga ilmunya ini belum dapat
dikatakan sempurna.
“Louw Eng,” kata LoKuay, “mau ditangkap hidup atau
mati?”
Louw Eng berpikir, bahwa Pek Hoo sudah tidak ada
gunanya untuk dirinya. Dari itu ia berkata: “Aku tidak ingin
ia hidup!”

424
‘Baik, tunggu kuhajar! Selanjutnya kau yang
membereskan!”
Pek Hoo tidak menghiraukan tanya jawab antara mereka,
seluruh perhatiannya berpusat menyerang lawan. Kedua
pedang Louw Eng terangkat berbareng masing masing
menyerang ke dua bahu musuhnya dengan maksud
memapasnya ke atas membuat pangkal lengan lawan
menjadi putus. Pek Hoo sedikitpun tidak merasa gentar,
kedua lengannya terangkat merupakan huruf X sedangkan
kakinya ditekuk dengan ilmu Han Kee Po ( langkah ayam
kedinginan ) menantikan pedang. Begitu serangan sampai
lengannya terbentang ke kiri dan kanan mengebas pedang
dengan lengannya yang luar biasa alot, sedangkan
kepalanya di tekuk menyeruduk ke dada lawan. Louw Eng
ingin menangkis serangan tapi batal, ia balik pikir hal ini
bukan main-main, kalau dada itu kena kepala musuh yang
keras seperti besi apakah jiwanya masih bisa hidup? Celaka!
Tubuhnya segera dimelaikan ke belakang. Tak kira ia dapat
mempelajari ilmu menekuk tulang dari Lo Kuay dengan
baik. Tapi dengan berbuat begitu pinggangnya menjadi
kosong tak ada penjagaan, sedangkan Pek Hoo menyeruduk
dengan setakar tenaga, kini menubruk angin kosong
sehingga tubuhnya tidak sempat dikuasai lagi terus
menggemblok di perut lawan. Saat ini Low Eng bukan main
tenangnya, tenaga dalamnya dikumpulkan di atas perutnya
dan menolak tubuh lawan, tak ampun lagi musuhnya kena
dibikin terpental sejauh satu tumbak lebih. Louw Eng tidak
menduga bahwa kepandaiannya demikian lihay! Sebaliknya
dengan Yauw Tjian Su sudah melihat dengan tegas apa
yang terjadi di situ. Pek Hoo bisa terpental karena lengan Lo
Kuay sudah maju dan meraba pinggang Louw Eng untuk
meminjamkan tenaganya. Kalau tidak paling paling Louw
Eng hanya bisa membuat lawan jungkir balik saja.
Pek Hoo menggeliat di atas udara, matanya tidak
mencari tempat untuk hinggap melainkan menatap terus
pada musuhnya. Tubuhnya dengan cepat jatuh di samping
lawan sambil membarengi menyerang dengan tiga pukulan
ampuhnya. Louw Eng mengegoskan kepalanya

425
menghindarkan pukulan pertama. Malang baginya pukulan
ke dua sudah bersarung di bahu kanannya menyusul
dengan serangan musuh yang ke tiga yang telah mengenai
pinggangnya, tanpa dapat dicegah.
Louw Eng merasakan tubuhnya kaku tidak sakit tidak
gatal. Hatinya berpikir: “Wah. Celaka! Pukulan dari rase ini
dapat menembus dinding batu, sekali ini mungkin tulang
tulangku sudah menjadi hancur berantakan?” Tengah ia
termenung tiba tiba punggungnya dirasakan panas sekali
seperti api, kemudian hawa panas ini seperti suatu gaya
tekan dari telapak tangan orang. Ia sadar dengan segera
bahwa Lo Kuay sudah berada di samping tubuhnya dan
membantunya. Dengan begini ia sendiri terhindar dari luka
yang hebat? Tangannya cepat-cepat meraba dengan keras
di tempat kena pukulan, benar saja tidak apa apa,
karenanya ia menjadi tenang. Sebenarnya apa yang
terjadi?. Waktu kedua tangan Pek Hoo bersarang di tubuh
lawannya, Hek Liong Lo Kuay sudah berada di punggung
Louw Eng sambil menempelkan lengannya mengeluarkan
tenaga yang tembus dari punggung keponakan muridnya
menyambut serangan Pek Hoo. Ilmunya lebih tinggi
beberapa lipat dari Pek Hoo. tak heran kalau pukulan si rase
kena dipecahkan secara mudah dan tidak dapat melukakan
Louw Eng.
Saat ini Lo Kuay tertawa dengan nyaring: “Apakah kau
kaget? Tenanglah tidak apa-apa. Lekaslah kau mundur agar
kudapat menghajarnya secara leluasa!” Baru habs ia bicara
kembali terdengar suara ‘pung . . . pung’ di bawah tebing.
Entah bagaimana Lo Kuav sudah membuat Pek Hoo jatuh ke
bawah, untuk menolong dirinya sang rase menancapkan
kedua lengannya silih berganti di dinding tebing sehingga
menimbulkan suara yang seperti di atas. Lo Kuay cukup
berpengalaman dan tahu bahwa rase ini mempunyai ilmu
untuk naik kembali, dari itu dinantikannya lawan naik,
kemudian sambil mencelat ke belakang sejauh satu
tumbak. Pek Hoo berdiri dengan tenang, sedangkan Lo
Kuay memainkan tangannya seperti orang menari, gayanya
sungguh mengherankan dan aneh sekali sesudah itu dari

426
jarak satu tumbak ini ia melepaskan pukulannya. Mau San
Pek Hao sudah lama mendengar nama besar dari Hak Liong
Lo Kuay, tapi sebegitu jauh belum pernah San melihat Lo
Kuay beberapa kali, terkecuali itu ia melihat Lojw Eng dan
lain lain orang berilmu sangat menghormat pada Lo Kuay,
tersebab hal ini hatinya mempunyai rasa segan dan takut.
Siat ini secara kebetulan ia harus menghadapi orang yang
ditakuti, sehingga batinnya tidak tenang dan goncang
tertindih sesuatu tenaga gaib yang tidak terlihat mata. Kini
LoKuay menggerakkan kaki tangannya mengeluarkan
semacam tarian yang luar biasa anehnya dari jarak satu
tumbak lebih, sehingga Pek Hoo merasa takut. Ingin
matanya tidak melihat, aneh sekali matanya tidak dengar
kata terus saja melihatnya. Lo Kuay mengangkat lengannya
menunjuk ke langit. Pek Hoo pun mengangkat lengannya
menunjuk ke langit. Lo Kuay membuat suatu lingkaran
bulat di muka dadanya dengan kedua lengannya kemudian
diiringi suara”cit—cit” lengannya terpecah menunjuk
kekanan dan ke Kiri, hal ini membuat, lawannya tidak
keruan rasa dan hilang semangat.
Selanjutnya Lo Kuay mencengkeramkan, kedua
lengannya ke dalam udara, cengkeraman ini demikian
hebatnya dan ganas sampai Pek Hoo terkejut dibuatnya dan
merasakan hatinya seperti kena dicengkeram lawan.
Semakin lama cengkeramannya itu dari Lo Kuay semakin
keras dan dipusatkan di tengah tengah dada, kemudian
dibuka telapak tangannya ke arah langit sambil di gerak
gerakkan ke atas ke bawah seperti memainkan sebutir
mutiara yang bulat, selanjutnya diangkatnya tinggi tinggi
dan di dekatkan kepada alisnya kedua lengan itu perlahan
lahan dibukanya.
Akibat dari kelakuannya yang luar biasa ini membuat
kedua mata Pek Hoo kena gaya tarik lawan, begitu
sepasang mata bentrok lagi, ia tidak dapat bergerak. Dalam
jiwanya ia merasakan bahwa mata dari Lo Kuay tidak
ubahnya seperti iblis yang jahat tengah mengeluarkan jimat
untuk menangkapnya. Perlahan lahan ia merasakan sekujur
badannya melayang layang dan gelisah..

427
“Lihat! Pukulan!’* seru Lo Kuay secara tiba tiba seperti
geledek membelah bumi kerasnya, sedangkan lengannya
terangkat naik dan dilepaskan. Pek Hoo merasakan dan
melihat dari tengah-tengah alis muSuh mendatang pukulan
terbang dengan ganas menuju kepadanya, Walaupun
jaraknya sejauh Satu tumbak rasanya cukup keras sekali.
Dalam gugupnya sang tubuh bergoyang goyang sebanyak
beberapa kali dan tidak dapat berdiri dengan baik, ia
terjengkarg kebelakang seperti benar benar kena pukulan
yang keras.
Begitu Pek Hoo jatuh ke belakang segera disambut oleh
Louw Eng dengan dua tabasan sepasang pedang
mustikanya. Kasihan sekali akan nasib sirase putih, mentah
mentah kedua pangkal lengannya kena ditabas putus dalam
keadaan lupa ingat! Dengan tenaga yang terakhir Pek H30
menyeruduk lawannya sambil membentak: “Louw Eng!
marilah kita sama sama menghadap pada Giam Lo Ong!”
Tapi maksudnya mana bisa tecapai karena Louw Eng siang
siang sudah siap sedia, begitu serudukan maut datang ia
mengegos ke kiri sambil membalas menyerang Pek Hoo tak
dapat berbuat apa apa, tubuhnya menggelinding ke bawah
gunug berbenturan dengan batu cadas yang tajam dan
menemui ajal secara penasaran.
“Cek. . . kek,” Lo Kuay tertawa secara puas sekali.
“Terima kasih banyak atas bantuan Su siok. ilmu Pek
Kong Keng yang berhasil menamatkan riwayat Pek Hoo
sungguh luar biasa,” kata Louw Eng sambil membungkukkan
badannya.
”Wah, sungguh Pek Kong Keng (ilmu memukul udara
kosong) yang lihay sekali! Hemmm Pek Kong Keng! Ilmu
untuk menipu oiang melulu!” Suara ini terdengar secara
mendadak dan bernada menghina. Lo Kuay segera
menoleh, tampak olehnya seorang tua dengan wajah yang
tidak menakutkan sama sekali, Yatw Tjian Su.
Lo Kuay dan Louw Eag menjidi kaget sekali. Mereka tidak
memikir barang sedikit bahwa orang tua ini bisa
membaiboknya di sini, ia menduga bahwa orang tua ini

428
dapat mengikuti masuk ke dalam goa tanpa dirasa tentu
ilmunya jauh melebihinya !
“Lo Yauw Tauw apakah kau datang untuk merasakan
ilmu Pek Kong Keng?”
“Betul, ke luarkanlah sekarang juga ilmu itu, kalau dapat
membuat sehelai dari bulu romaku tergoyang sudah berarti
kau menang, aku segera turun dari Oey San untuk selama
lamanya”
Lo Kuay menjadi naik darah dan gusar, peitama Lo Yauw
Tauw dapat membuntutinya tanpa diketahui sehingga ia
membuang muka dan malu di hadapan keponakan
muridnya, kedua karena merasa dihina, sehingga hatinya
ingin mengeluarkan ilmu andalannya yang terahasia dan
dapat menjagoi yakni Pek Kong Keng.
“Lo Yauw Tauw. kau jangan menyesal! Sekali lenganku
terangkat jiwamu pasti berada di akhirat, sehingga aku
harus menyembahyangkan arwahmu pada tahun depan
pada waktu yang sama!” Kata kata baru selesai diucapkan,
kaki tangannya sudah mulai mengeluarkan tartan aneh,
tarian ini berlainannya sewaktu ia menghadapi Pek Hoo,
gerak geriknya lebih cepat dan lebih banyak perubahan dari
pada yang sudah. Akhirnya tariannya ini berubah menjadi
cepat, lincah, perlahan, lambat seperti mengikuti nada
irama tari. Hal yang aneh, Louw Eng yang melihati terus
turut menari nari seperti kesurupan tanpa sadarkan diri.
Gerak gerik dari Lo Kuay semakin lama semakin
menggila dan menjadi tegang. Sebaliknya dengan Lo Yauw
Tauw tidak merasakan sesuatu apa apa matanya kedapkedip
sambil menatapnya tanpa bergerak gerak. Tiba tiba
Lo Kuay menggerang keras sambil mendorong kedua
telapak tangannya mengeluarkan jurus Pek Kong Keng.
Dorongan ini mengeluarkan tenaga yang luar biasa sekali
sampai Louw Eng yang bertda di belakangnya merasakan
tertekan tapi gaya pukulannya ini tidak membuat bergerak
barang sedikit pada musuhnya.
“Ha, ilmu macam apa ini! Lihatlah sampai ujung bajuku

429
tidak bergerak barang sedikit,” ejek Yauw Tjian Su sambil
tersenyum senyum.
“Lo Yauw Tauw kalau kau benar benar lihay terimalah
sekali lagi Pek Kong Keng!” bentak Lo Huay penasaran.
“Jangankan sekali, seberapa kau suka tidak halangan!”
Tanpa banyak ribut lagi, Lo Kuay kemak kemik ‘nana
nimh’ entah menyanyikan lagu apa. Nada suaranya ini
bukan main anehnya, membuat si pendengar menjadi
hilang pikiran dan merasa mabuk. Menyusul kaki tangannya
menari lagi dengan lambat sekali.. Lengan kanannya
menjurus pada musuhnya dengan perlahan dengan tenaga
yang keras.
“Ha ha ha,” Lo Yauw tertawa, “kau sedang berbuat apa?
Persetan!” tangannya mengeluarkan .jari telunjuk menunjuk
pada dada musuh sambil berkata: “Kaupun harus
merasakan ilmu Tauw Kong Tjie (ilmu jeriji menembus
udara kosong) ini!”
Lo Kuay mengeluarkan tangan secara, lambat tapi berat,
sebaliknya dengan musuhnya mengeluarkan tangan secara
ringan tapi, cepat. Dengan sebuah jeriji yang cepat ini,
cukup membuat Lo Kuay merasa terkejut dan melompat ke
belakang sambil melindungi, dadanya dengan gugup. Kedua
matanya, mengawasi musuh, ia- tidak mengira bahwa
lawannya ini mempunyai ilmu hitam yang, luar biasa
lihaynya, di balik hatinya yang ragu ragu atas perkiraannya
iapun merasa kaget.
Dalam dunia persilatan sangat terkenal sekali ilmu Pek
Kong Keng yang dipertujukkan Lo Kuay tadi, ilmu ini dapat
memukul orang dari jarak satu tumbak lebih, buktinya Pek
Hoo dapat memukul jatuh seperti yang sudah kita ketahui.
Tapi ilmu ini sebenarnya benar benar begitukah? Ya
memang ada, tapi bukan disebabkan ilmu pukulannya benar
benar dapat memukul udara kosong dan menjatuhkan
orang. Yang sebenarnya adalah ilmu hipnotis yang di
katakan orang jaman sekarang.
Kalau kita sangat menghormat dan menyegani seseorang

430
yang berilmu tinggi tambahan orang itu mempunyai ilmu
hipnotis yang lihav dengan sendirinya mudah sekali
dipengaruhinya. segala perintahnya segera di turut,
sebaliknya kalau orang yang di hipnotis berilmu tinggi dan
tidak menakutinya, ilmu ini tak bisa berbuat apa apa!
Demikianlah Yauw Tjiau Su yang mempunyai ilmu dan
pengetahuan luas sudah mengetahui ilmu dari lawannya
yang disebut Pek Kong Keng adalah kosong belaka, segera
dirinya tidak kena dipengaruhi musuh sebaliknya jerijinya
yang dikeluarkan secara memain menghasilkan
kemenangan yang di luar dugaannya sendiri! Kenapa hal ini
bisa terjadi? Kiranya pengertian orang zaman dahulu
terhadap ilmu hipnotis tidak seperi orang jaman sekarang,
mereka hanya mempelajari turun temurun, bagaimana
menggunakannya dan bagaimana mendapat hasilnya. Lo
Koay adalah salah seorang yang percaya betul adanya ilmu
Pek Kong Keng, terkecuali itu ilmunya ini belum pernah
gagal, sehingga menjadi andalannya betul.
Terkecuali dari itu ia tidak mengerti bahwa orang orang
yang kena dikalahkan oleh ilmunya sebenarnya dikarenakan
ilmunya yang memang sudah tinggi dan kedudukannya di
dunia persilatan sangat disegani orang, sehingga yang
menghadapinya belum belum sudah merasa takut. Tak
heran setiap ia mengeluarkan Pek Kong Keng selalu berhasil
dengan gemilang. Demikian pula dengan Pek Hoo barusan
tidaK. terkecuali, yakni mengantarkan jiwanya di bawah
telapak tangan kosong belaka.
Tapi ilmunya ini sama sekali tidak manjur dan
bermanfaat sama sekali terhadap Yauw Tjian Si, karena
lawannya ini berkepandaian dan berkedudukan tidak berada
di sebelah bawahnya serta tidak merasa jeri pada dirinya.
Tak heran tabasan dari ilmu Pek Kong Kengnya tidak
membawa hasil yang diinginkan. Bahkan lawannya masih
berkesempatan untuk membalas menyerang dengan jarinya
secara bergurau!
Saat itu pikiran Lo Kuay tengah dicurahkan betul, tiba –
tiba dikejutkan oleh jari lawan sehingga perhatiannya

431
buyar, berikutnya dadanya merasa sakit, dengan cepat
lengannya membekap dada dan mundur beberapa tindak ke
belakang. Louw Eng yang berada di samping lebih lebih
merasa terkejut, karena sejak ia hidup belum pernah
melihat Lo Kuay kalah di tangan lawan, tapi sekarang
dengan mata kepalanya sendiri harus melihat paman
gurunya ini kena di bikin mundur beberapa tindak dengan
sebuah jeriji saja secara mengecewakan. Ia lekas-lekas
maju ke muka untuk menayang paman gurunya.
Begitu kena dipayang orang Lo Kuay segera sadar secara
tiba-tiba, pikirnya aku mana boleh kalah di depan muka
segala bangsa boan-pwee! Lengannya digebaskan, kakinya
melangkah maju, dengan gusar ia membentak: “Lo Yauw
Tauw jalan hidup atau pintu kematian!”
“Jalan hidup bagaimana? Pintu mati bagaimana?” tanya
Yauw Tjian Su secara tenang.
“Kalau mau hidup boleh kuantarkan kau turun gunung,
mengenai alasannya jangan kau tanya! Kalau mau mati.
mari kita cari suatu tempat yang baik. untuk menentukan
siapa yang lebih unggul diantara kita ! Sebaliknya kau harus
pikir bahwa kita ini sudah tua sekali, dari itu kunasehatkan
kepadamu untuk apa masih berangasan seperti anak muda,
marilah kuantarkan kau turun gunung dan hilangkanlah dan
lupakanlah segala kejadian yang sudah sudah sebagai
impian saja!”
Mendengar ini Yiuw Tjian Su menjadi geli di dalam
hatinya, karena ia sudah mengetahui benar perhitungan
lawan, kesatu memancingnya turun gunung, agar Louw Eng
dapat membereskan kawan kawannya di atas gunung,
kedua lawan ingin menipunya turun gunung, karena di luar
goa banyak kawan kawannya andaikata terjadi pertarungan
pasti dirinya ak?n dikeroyok dan berada di bawah angin.
Dari itu mana mau ia mendengari pendapat lawan, kareaa
ia pun mempunyai perhitungan sendiri, yakni dengan
menunjuki diri ia bermaksud melihat Lo Kuay jangan
sampai dapat masuK dan membantu Louw Eng. Terkecuali
itu ia pua tidak mau berkelahi di tempat lain, takut

432
mendatangkan musuh musuh yang lain sehingga
rencananya gagal, Sesudah perhitungannya dipikir secara
masak masak segera ia berkata. “Lo Kuay! Aku tidak mau
mengambil jalan hidup juga tidak mau mengambil pintu
sorga, pokoknya aku mau diam di sini untuk menemani kau
main-main, katakanlah permainan apa yang kau kehendaki
aku siap melayaninya!”
“Lo Yauw Tauw aku tahu kau ingin bertarung denganku!
Begitupun baik, karena pada jaman ini hanya kaulah yang
dapat menandingi aku, kesempatan yang begini baik tentu
saja tak mau kulepaskan begitu saja. Marilah dan mulailah
dengan serangan mu!”
“Ya, aku tak sungkan lagi. terimalah seranganku ini!”
seru Yauw Tjian Su sambil mencelat dengan gesitnya,
hanya dua langkah tubuhnya sudah berada di depan Lo
Kuay, lengannya terjulur ke luar mengeluarkan ilmu
pukulan Kam Kun Tjiang (pukulan langit dan bumi) yang
luar biasa ganas, dan telengas. dalam waktu dalam setarik
an napas saja orang tua she Yauw ini sudah mengeluarkan
jurus jurus Tiat Be Siang Kauw (kuda besi dengan sepasang
gaetan.)
Tjuan Hoa Siauw Houw (menyunting bunga mencekik
tenggorokan) Hek Houw Siang Sim (harimau hitam melukai
hati)
Mang Tjua Touw Tjian ( ular berbisa menyemburkan
racun). Lee Hie Kauw Sauw (ikan gabus memainkan sungut
) Huy Tiong Po Guat (merangkul bulan ke dalam dada dan
lain lain, Louw Eng mengenal bahwa pukulan ini adalah ilmu
Bu Tong yang di sebut Pak Kwa Tjiang. Sebenarnya ilmu ini
adalah biasa dan tidak aneh sama sekali, tapi terlihatnya
lain dengan ilmu yang biasa dipergunakan orang. Karena
Yauw Tjian Su mempergunakan dan mengeluarkan ilmunya
ini secara kilat, demikian juga dengsn Lo Kuay menghalau
serangan serangan ini dengan cepat pula. Gelombang
pukulan ini terdiri dari lima enam puluh jurus, kalau orang
yang berkepandaian biasa menggunakan waktu
sepemasang hio baru dapat untuk memainkan habis jurusDewi
KZ http://cerita-silat.co.cc/
433
jurus ini, tapi orang tua ini dapat menyelesaikan hanya
dalam sekejap mata.
Begitu Yauw Tjian Si selesai menggunakan ilmu Bu Tong
Kam Kun Pat Kwa Tjiang segera berkata: “Kau lihay juga
sehingga tidak kena kuserang, kini giliranmu untuk
menyerangku, mulailah!”
Lo Kuay tidak banyak mulut lagi segera menyerang
dengan ilmu Pee Bwee Kun (pukulan seratus bunga Bwee)
ilmu ini pun sangat biasa dan dikenal Lou Eng dengan baik.
Lo Kuay mengeluarkan jurus ini cepat dan lihay seperti
lawannya sehingga membuat mata yang menonton menjadi
berkunang kunang. Yauw Tjian Su menolak dan menangkis
setiap serangan dengan cepat tanpa ragu ragu. dalam
sekejap saja ilmu ini selesai dipergunakan tanpa berhasil.
Sehingga keadaan masih tetap sama kuat.
“Kini giliranku kembali, Lo Kuay apakah kau kenal
dengan ilmu ini!” seru Yauw Tjian Seu sambil mengeluarkan
lengan seperti Kilat cepatnya, akan ilmunya yang
dikeluarkan ini Louw Eng mengenal pula yakni pukulan dari
Go Bie Pay yang diciptakan oleh Go Sian Ho Siang dengan
nama Sauw In Hui Hong Kun (menyapu awan mengebut
angin). Sekali ini kedua belah pihak mergeluarkan lengan
terlebih cepat dari tadi, sehingga Louw Eng tidak dapat
melihat dengan tegas perubahan jurus ke jurus lain. ilmu ini
kembali selesai digunakan dalam sepeminum air, sedangkan
jalan pertandingan masih tetap berimbang.
Pertarungan ini tidak ubahnya seperti dua ahli catur
sedang bertanding, masing masing menggunakan bukan
biasa, masing-masing tahu bagaimana harus berjalan kalau
musuh menggunakan langkah yang mana hal ini dapat
dilakukan mereka tanpa banyak pikir lagi dan akhirnya
kedudukan masih tetap berimbang. Sebenarnya dalam
langkah-langkah yang demikian banyak ini bertalian benar
dengan kalah menangnya pertandingan asal saja salah
seorang melakukan langkah yang salah. Tapi sebegitu jauh
kedua orang ini tidak melakukan kesalahan kesalahan kalau
tidak pasti salah seorang di antara mereka sudah sekarat

434
beberapa kali!
Lo Kuay mendapat giliran untuk mengeluarkan ilmu Kuan
Tang Hek Houw Kang (ilmu pukulan harimau hitam dari
daerah Kuan Tang), ilmu ini tidak berapa terkenal untuk
orang yang berdiam di Tiong Goan, tapi Lo Kuay dapat
memainkannya sangat lihay dan mahir sekali, karena
dirinya ini sudah lama tinggal di luar Tembok Raksasa.
Walaupun bagaimana Yauw Tjian Su adalah seorang Lo tjian
pwee yang berilmu tinggi dan berpengalaman luas, dengan
mudah serangan serangan lawan dapat dipatahkan.
Pertarungan terus berlangsung dengan hebat, dalam
waktu yang singkat kembali empat macam ilmu selesai
dipergunakan, yakni ilmu ilmu Hui Eng Sie Tjap Kauw
Djiauw (elang terbang dengan empat puluh sembilan
kukunya). Ngo Tok Kun (lima pukulan beracun) Tjit Tjee Sin
Kun (pukulan tujuh dewa sakti). Bu Tiong Pee Tjua Kun
(pukulan seratus ular tanpa berbekas). Gerak pukulan satu
sama lain semakin ganas dan aneh. sewaktu waktu menjadi
lambat sekali, sampai ada gerakan yang di hentikan
setengah jalan, karena masing masing diam tidak bergerak,
hal ini terjadi disebabkan salah satu dari mereka harus
berpikir dahulu untuk memunahkan ilmu lawan, dalam
waktu yang singkat tidak berani sembarangan bergerak,
takut kalau salah bisa menamatkan riwayat sendiri.
Sesudah menunggu lawan dapat berpikir untuk menjaga
baru pertarungan yang pakai setap setap dan istirahat
mengakibatkan tubuh mereka makin merapat satu sama
lain. Kecuali itu mereka sudah berusia lanjut, pertarungan
ini meletihkan juga, tak heran kedua-duanya bermandikan
peluh!
Semakin bertarung hati Yauw Tjan Su semakin cemas, ia
berpikir: “Kalau pertarungan ini berlangsung Lama lama.
bisa bisa kawan kawan mereka datang semua, kalau terjadi
semacam begitu bukankah aku mengapirkan urusan?” la
sadar pemuda pemuda yang berada di dalam semua terdiri
dari manusia berbakat baik dan dapat dibanggakan, tapi
ilmu kepandaiannya masih belum sampai di puncak
kesempurnaan, pokoknya belum bisa melayani musuh

435
musuh yang jumlah dan kepandaiannya melebihi mereka
Oang tua ini menggigit gigit bibirnya sendiri dan
menetapkan pendiriannya sambil berkata pada dirinya
sendiri: “Orang tua, orang tua kau harus tahu anak anak
muda itu dapat membalas hatinya dan dapat turun gunung
dengan selamat semua mengandal dari bantuanmu, ke
luarkanlah keahlianmu! Ilmu ciptaannya yang bernama Tjiu
Pouw Kie Gie Tjiang sudah sampai pada saatnya untuk
dikeluarkan!”
Adapun Tjit Pouw Kie Ge Tjiang diambil dari arti Seng
Djin Kie Gie yang berarti kebajikan menjadikan kemuliaan.
Sesudah orang tua ini bertekad bulat untuk mengadu
tawanya, sebaliknya yang menjadi lawan sudah meneambil
ketetapan untuk mengeluarkan keahliannya yang bernama
Hek Liong TjaoSh Piau (Waga hitam tiga belas kali berubah)
guna mengadu jiwa. Dapat dikatakan mereka mengambil
keputusan ini dalam waktu yang bersamaan. Pada waktu
yang menentukan kalah menang ini kedua duanya tidak
sungkan sungkan lagi, masing-masing mengempos
semangatnya, empat mata saling tatap berkilat kilat
menyapu wajah lawannya, dari gerak matanya yang
demikian menakutkan sudah menggambarkan pertarungan
yang sengit. Tanpa terasa lagi suasana berubah secara
mendadak menjadi demikian tegang, mereka belum
menggerakkan tangan tapi sudah merasakan terlebih
dahulu ancaman dari kematian, sampaipun Louw Eng yang
berada di samping tertegun tidak berani sembarangan
bergerak!
Lo Kuay mulai melangkah setindak. Yauw Tjian Su pun
maju setindak Setiap tindak ini demikian berat dan lambat,
agaknya setengah langkah dari kaki mereka berarti
setengah langkah mendekati kematian, tipi sebenarnya
memang demikian adanya. Kalau jago jago kelas berat
bertanding, sedikitpun “tidak boleh salah bertindak, jarak
jauh dan dekat sama pula artinya untuk menurunkan
tangan berat dan ringan, karena hal ini membuat mereka
berlaku hati hati sekali.
Mereka sudah semakin dekat satu dengan yang lain, kini

436
kedua duanya melangkahkan kaki kanannya secara
berbareng, sehingga menjadikan kedudukan mereka
menjadi sejajar di garis lurus, antara mereka tinggal dua
langkah lagi jaraknya. Kalau salah satu melangkah lagi atau
berbareng melangkah, kedua belah pihak sudah boleh
mengeluarkan pukulan pukulan dahsyat yang mematikan.
Tiba tiba secara mendadak Lo Kuay maju melangkah sambil
menurunkan tangan terlebih dahulu. mencakar dan
mencengkeram dada lawannya.
Kedua lenganrya ini dikeluarkan secara kilat, bahkan
mengeluarkan buryi ‘krek… krek” yang lebih mengherankan
lengannya itu terjulur terlebih panjang dari biasa sesudah
mengeluarkan bunyi yang aneh tadi. Terkecuali dari itu
dada dan punggungnya dikerutkan menjadi satu dan sukar
dibedakan yang mana dada dan mana punggung, mungkin
juga tulangnya bergerak dan bertukaran tempat. Jurus yang
lihay ini bernama Hek Liong Tan Djiauw ( naga hitam
mengeluarkan cakarnya untuk mengetahui keadaan ), kalau
diperhatikan geraknya ini tak ubahnya seperti lengan setan
ke luar dari mega hitam mencabut nyawa. Kalau orang
biasa pasti dadanya akan berlubang sepuluh dibuatnya dan
patah oleh lengan Lo Kuay yang keras.
Serangan dari Lo Koay mengarah bagian tubuh dari
lawan, berbareng dengan serangan Lo Kuay secara tiba tiba
tadi, Yauw Tjian Su pun tidak tinggal diam, tubuhnya secara
mendadak dipendekkan, kedua lengannya direntangkan
sambil menindak setengah langkah dan menempatkan
dirinya di tengah tengah dadanya musuh yang melengkung
seperti gendewa itu. sedangkan lengannya segera
dirapatkan dan menyerang lutut kaki lawan. Pikirlah! Orang
berilmu semacam Yauw Tjian Su ini pukulannya tak
ubahnya seperti gada besi kerasnya dan tajam seperti keris
pusaka, kalau tepakannya berhasil baik, pasti tulang tulang
kaki dari Lo Kuay akan hancur luluh berkeping keping!
Jurus dari kedua belan pihak ini mengandung daya
kekuatan tersendiri, serangan Lo Kuay mengarah bagian
berbahaya dari musuh, sebaliknya Yauw Tjian Su hanya
menyerang bagian lutut dari lawannya, walaupun ganas tapi

437
tidak sampai menewaskan lawan. Lo Kuay seolah olah
merapung rapung waktu menggunakan ilmunya, sedangkan
lawannya tetap mantap tidak bergerak, sambil melindungi
dirinya. Kebaikan dari memantapkan diri terlebih dahulu
banyak sekali, ke satu dapat melindungi diri dan dapat
menyerang musuh kemudian. Tak heran kalau serangan Lo
Kuay yang luar biasa ini ke luar, musuh sudah menetapkan
darinya sambil merendahkan dirinya dan melindungi dirinya
dengan kedua belah lengannya, bahkan masih
berkesempatan memberikan serangan yang ganas kelutut
lawan. Lo Kuay tidak dapat berbuat apa dengan
serangannya, bahkan kena diserang.Tanpa banyak ribut lagi
tubuhnya yang seperti gendewa cekungnya digeliatkan
Kebelakang sambil berputar untuk mengangkat kakinya dari
serangan, untuk menyiapkan serangan yang kedua yang
bernama Hek Liong Pay Wie (naga hitam menggoyangkan
ekor).
Yauw Tjian Su bukan anak kemarin duiu, begitu melihat
musuh menggeliat ke belakang segera mengubah tujuan
lengannya, ia tidak menyerang lutut lawan, sebaliknya
tubuhnya yang dipendekkan segera bangun tegak menjorok
ke muka. Lengannya tidak tinggal diam dengan cepat Tan
Hong liauw Yang (cendrawasih tunggal menghadap pada
batara surya ) ke luar, lengan kanannya melindungi tubuh
sedangkan lengan kirinya dari pinggang terjulur ke luar
secara mendadak, dan cepat, serta dilengkapi dua jerujinya
menotok bagian perut musuh. GeraK langkahnya yang
cepat ini semata mata diambil untuk melumpuhkan
seterunya yang selalu ingin mendahuluinya bergerak.
Ilmu dari Yauw Tjian Su yang bernama Tjit Pouw Kie Gie
Tjiang sungguh luar biasa sekali, mengegos menyerang
secara mantap, kecepatannya bertambah setindak demi
setindak. Langkah pertama yang di ke luarkan bernama It
Pouw Kim Sin Sian (selangkah mencandak dewi) cukup
berhasil mengekang dan mengunci musuh, berikutnya
langkah kedua bernama Djie Pouw Po Tan Tian (langkah
kedua menghancurkan pusar) ganas dan lihay menyerang
bagian berbahaya dari musuhnya. Andai kata serangannya

438
ini tidak berhasil, dirinya tetap berada di atas angin, dan
boleh melanjutkan serangan langkah ketiga menghancam
pinggang dan langkah keempat menyerang dada musuh,
langkah kelima menyerang kerongkongan. langkah keenam
mencolok mata. langkah ketujuh membelah kepala lawan.
Serangannya ini dapat dilancarkan menurut tata tertib yang
sudah diatur baik.
Kalau jurus yang satu tidak membawa hasil, segera
dapat diubah secara cermat dan selalu berada di pihak
menyerang, sehingga kedudukan musuh dari aias ke bawah
kena dikuasai, karenanya setiap selesai satu jurus, pihak
musuh kena dibuat kehilangan satu angka kebebasan
bergerak, Kalau musuh yang kurang pandai dan belum
sempurna ilmunya pasti tidak dapat bertahan sampai
langkah ke tujuh dari ilmunya ini, sedangkan yang berilmu
sudah sempurna sukar untuk meloloskan dirinya dari salah
satu pukulannya ini. Inilah Ilmu Tujuh Langkah Mengambil
Kebajikan) yang menempatkan penciptanya di tempat yang
menguntungkan. Sebaliknya ilmu Lo Kuay yang bernama
(Naga Hitam Tiga Belas Kali Berubah ganas dan kejam,
setiap jurusnya cukup dan dapat membinasakan lawan. Asal
saja lawannya berkepandaian di sebelah bawahnya sedikit
saja. pasti dalam dua jurus sudah hancur luluh dibuatnya!
Sayangnya ilmunya ini depan dan belakang tidak terlalu
bekerja erat, lain dengan ilmu lawannya yang demikian
mantap dan membuat musuh sukar bernapas.
Saat tadi dua jeriji Yauw Tjian Su tengah menghantam
ke perut lawan dan menang cepat, walaupun demikian Lo
Kuay bukan manusia golongan biasa, tulang – tulang yang
berada di tubuhnya sudah terlatih demikian sempurna dan
dapat digerakkan sekehendak hatinya. Tanpa gugup barang
sedikit besinya tidak bergerak, pinggangnya seperti ular
menggeliat kesebelah kanan mengegoskan serangan dan
menempatkan tubuhnya dergan kecepatan kilat di sebelah
kanan lawan, serentak lengan kirinya menggaet bahu kiri
lawannya. Asal lengannya berhasil menggaet, lengan
kanannya boleh menyusul mencakar punggung
lawannya.sebuah serangannya ini bukan main ganasnya

439
dan dapat mencabut sebagian dari tulang punggung musuh!
Inilah jurus yang bernama Hek Liong Pok Su (naga hitam
mencabut pohon).
Pergerakan Lo Kuay yang demikian cepat di luar dugaan
lawannya. Dalam dunia persilatan pada jamannya mungkin
tidak ada orang kedua yang dapat menekuk tulang
badannya selihay dia. Untunglah Yauw Tjian Su berilmu
tinggi dan mantap serta tenang ia mengegos dan berkelit
demi di lihat perubahan ilmu dari lawan, lengan kanannya
dikeluarkan menyerang seperti kilat ke sebelah kanan dan
menotok pinggang kanan lawan yang dinamai liong Kui
Hiat.
Biasanya orang yang bagaimana lihay pun kalau kena
tertotok jalan darahnya itu pasti menjadi roboh.
Lo Kuay menjadi gugup menghadapi serangan lawan
yang bernama Sam Pouw Tuan Sak Tju (tiga langkah
menghancurkan pilar batu) lengannya yang tengah
terangkat tinggi membuat bagian perutnya tidak terlindungi
tanpa ayal lagi lengannya ditarik turun sambil dipukulkan
kepada lengan kanan musuh yang tengah mendatang kalau
berhasil pasti lengan musuh itu dapat dijadikan beberapa
potong. Sayang lawannya pun mempunyai reaksi yang
cepat pula, lengannya ditarik dan disilangkan di
pergelangan tangan sambil melindungi dadanya, Angannya
itu tidak ubahnya merupakan gunting yang aneh.
Inilah jurusnya yang bernama Sie Pouw Thian Luan Ma
(empat langkah menggunting benang goni yang kusut)
Dengan berbuat demikian seolah olah kedudukan orang tua
ini berada di pihak pasif bukan? Tapi sebenarnya dugaan ini
salah sekali, karena lengannya yang menyerupai gunting
besar terbuka lebar menuju ke atas melindungi dadanya.
Biar musuh mempunyai ilmu pukulan yang lihay atau
jotosan, gamparan, tebasan, kepretan, libatan, serudukan,
cengkeraman . . . jangan harap dapat berbuat apa apa pada
dirinya. Sebab seluruh dari serangan tawan dapat
diguntingnya hancur bagai menggunting benang goni yang
kusut. Terkecuali itu lengannya yang merupakan gunting ini

440
berlainan sekali dengan gunting biasa, pergelangan
lengannya, telapak lengan, jeriji masih dapat mengeluarkan
puluhan macam perubahan, karenanya dalam sejurus ini
dapat menghadapi bermacam-macam jurus serangan
lawan!
Gunting yang terbuat dari tangan ini menghadap pada
lawannya dan menggunting lengan Lo Kuay yang tengah
turun menabas, Lo Kuay terkejut dan menghentikan
serangannya dengan cepat tanpa mengubah jurusnya,
terkecuali itu iapun tidak menyerang, hanya matanya saja
merah membara menatap wajah lawan. Kiranya inipun
termasuk ilmunya yang lihay. ia dapat menyetop dan
menghentikan serangan dalam pergumalan yang dahsyat,
hal ini membuat lawan mendelong dan heran, selanjutnya ia
mengawasi di mana letak kelemahan musuh dan
menyerangnya untuk mematikan, hal ini sering sering
dilakukannya pada waktu yang lalu dengan berhasil
gemilang!
Yauw Tjian Su benar benar merupakan musuh yang
tangguh dan ampuh untuk Naga Hitam ini. tanpa banyak
komentar lagi lenganrya itu langsung menggunting ke muka
lawan yang tiba tiba berhenti sambil mengeluarkan langkah
ke lima dan keenam dari ilmunya, perubahan yang cepat
terletak pada jarinya yakni menuju untuk mengorek mata
Naga Hitam. Ia tahu sekali ilmunya ini dikeluarkan, lawan
hanya dapat menghindarkan maut dengan menundukkan
kepalanya!
“Bagus.” kata Lo Kuay sambil mengataikan tubuhnya.
sehingga musuhnya menggunting angin! Tapi keadaan ini
membuat kedudukan masing masing menjadi berubah,
bagian bawah dari Lo Kuay sudah tergencet di bawah
kekuasaan lawannya dan tidak dapat bergerak, ingin
pinggangnya di bungkukkan ke belakang sayang tubuhnya
sudah separuh bungkuk dan tidak dapat di kemanakan lagi
akan tubuh bagian atasnya, dengan berbuat begini
kepalanya itu berada di muka lawannya tanpa penjagaan.
Asal saja Yauw Tjian Su menarik lengannya dan
menggeprok. pasti kepala itu akan hancur berantakan! Lo

441
Kuay tidak berdaya dan menunggu ajalnya saja. sedangkan
ilmunya yang disebut Hek Liong Tjap Sah Pian tidak dapat
menolong dirinya.
Yauw Tjian Su mengangkat lengannya dan akan
menggempur batok kepala lawan yang botak, tiba tiba
lengannya dihentikan, hatinya sangat iba untuk
menurunkan lengannya itu. Sifat welas asih dari orang tua
ini sangat pantang membunuh orang, karenanya ia berpikir:
“Lo Kuay sudah tua dan mempunyai ilmu yang demikian
lihay, kalau aku membunuhnya sungguh tidak pantas,
biarlah ia hidup beberapa tahun lagi dan mati dengan tubuh
yang utuh!” Ia berpikir demikian se.ainggi melupakan
dirinya masih berada di dalam Keadaan berbahaya Tahu
tahu ia sadar dari lamunannya demi dirasakannya semacam
perasaan yang panas, semacam benda melekat di
tubuhnya, ia tahu dirinya sudah kena lengan jahat dari
musuhnya.
Yauw Tjian Su menjadi naik darah, tanpa kasihan lagi
lengannya turun ke atas kepala musuhnya dengan ganas.
Lo Kuay merasakan semacam perasaan dingin di atas
kepalanya, terkecuali itu perasaan lainnya sudah menjadi
hilang.
Louw Eng yang sedaii tadi berdiri di samping dengan
mendelong. kini melihat ke dua Tjian pwee yang bertarung
berdiam tidak bergerak, kedua lengan Lo Kuay melekat di
dada musuh, sedangkan kedua lengan Yauw Tjian Su
melekat pula di atas kepala lawannya Sedangkan kedua
tubuh dari jago jago utama rimba persilatan mi tidak
menunjukkan lain perubahan yang aneh, hanya matanya
saja yang saling tetap mendelik tanpa mengedip ngedip
Louw Eng yang terhitung seorang Kang ouw yang cukup
kawakan belum dapat mengetahui siapa yang menang dan
siapa kalah,ia diam dan samping tanpa berani sembarangan
berderak.
Kiranya wakiu Lo Kuay mengeluarkan lengan jahat tidak
berani secara keras, takut menimbulkan angin dan dapat
diraba oleh lawannya, karenanya itu lengannya perlahan

442
lahan ditempelkan kepada dada musuh, kemudian baru
menyalurkan tenaga dalamnya secara mendadak dengan
maksud menghancurkan isi perut lawannya. Begitu Yauw
Tjian Su merasakan dadanya panas sudah mengetahui
karena apa, tanpa banyak pikir lagi ketetapan untuk
mengambil jiwa musuhnya segera timbul dalam otaknya,
walaupun sudah berada dalam keadaan hidup dan mati
orang tua mi masih tetap tidak mau membuat kepala
musuh hancur, sebaliknya ia menggunakan tenaga
dalamnya dan berhasil menghancurkan otak lawannya.
Dua orang ini tetap tidak menderita luka kalau dilihat
dari luar, sehingga orang lain tidak mengetahui mereka
tengah melakukan pertarungan apa. Louw Eng mengira
mereka lengah melakukan perang tenaga dalam ia diam
terus sambil mengawasi dan melihat. Kira-kira sesudah
sepemasang batang hio berlalu mereka masih tetap-dalam
keadaan serupa. Louw Eng menjadi heran dan tergerak
hatinya, dengan memberanikan dirinya dirabanya tubuh Lo
Kuay dan dirasakannya tubuh itu sudah menjadi dingin
seperti es, sedjngkan tubuh Yauw Tjian Su Sangat panas
seperti api !
Louw Eng terkejut bercampur heran, lekas lekas
diperiksanya keadaan pemapasan kedua orang itu, ia baru
tahu bahwa Hek Liong Lo Kuay sudah bernenti napasnya,
sedangkan Yauw Tjian Su masih mengeluarkan napasnya
yang tinggal sedikit, la mencelat ke belakang takut
dipegang orang tua itu yang nyatanya belum menemui ajal.
Tapi Yauw Tjian Su tetap tidak bergerak. Louw Eng dari
jarak dua tumbak memungut batu dan melontarkannya,
orang tua itu tetap tidak bergerak juga.
Yauw Tjian Su eudah kena hajaran tenaga dalam
lawannya, sehingga isi perutnya goncang dan menderita
luka parah, dengan sekuat tenaga diatur jalan napasnya,
tapi perlahan lahan keletihannya terlalu hebat dan tidak
berdaya untuk menolong dirinya dari lukanya. Walaupun
demikian ia belum meninggal, dengan tenaganya yang
tinggal sedikit dipertahankan tubuhnya agar tidak jatuh, ia
tahu kalau sampai tubuhnya jatuh napasnyapun segera

443
berhenti. Ia mempunyai tenaga dalam yang tinggi sekali
dari itu bisa bertahan dan tak jatuh. Sedangkan tubuhnya di
sebelah dalam menjadi panas dikarenakan terlalu hebat
mengatur jalan pernapasannya. Kini Louw Eng
menghajarnya dengan beberapa butir batu. ia tetap tidak
bergerak dan menahan terus untuk berdiri. Padahal orang
tua ini sudah mengetahui bahwa dirinya sudah tidak bisa
tertolong lagi. tapi tetap tidak mau jatuh terlebih dahulu
dari pada Lo Kuay. ia berpikir : “Walaupun mati aku haius
berdiri.”
Begitu Lou Eng melihat ia tetap tidak bergerak, sudah
mengetahui bahwa orang tua ini sudah tidak berdaya lagi.
Pikiran takutnya menjadi kurang banyak, sedangkan pikiran
jahatnya segera timbul pada detik itu juga. Ia tertawa
dengan wajah yang jahat dan akan menentukan pikiran
bangsatnya.. Setindak demi setindak ia melangkahkan
kakinya maju mendekat pada orang tua yang tidak berdaya,
tampak olennya bahwa orang tua itu masih tetap diam tidak
bergerak barang sedikit, diam diam hatinya menjadi girang
sebali. Sesudah ia maju beberapa langkah, dengan tiba-tiba
tubuhnya mencelat dengan cepat dan mengirimkan
tangannya kepada punggung Yauw Tjian Su.
Pukulannya ini menggunakan tenaga yang luar biasa
kerasnya, sedangkan lawannya yang hampir putus
napasnya tentu saja tidak bisa melawan. Dalam saat yang
kritis ini: orang tua she Yauw masih dapat berpikir:.
“Waktunya aku berpulang sudah sampai,mataku sudah
mestinya dirapatkan untuk selama lamanya!”
Sedangkan sudut bibirnya mengeluarkan senyum simpul
yang wajar dan seperti tidak kejadian apa-apa. Saat inilah
pukulan lawan mengenai tubuhnya. tubuhnya dengan cepat
meminjam tenaga serangan lawan maju mendorong ke
muka sehingga tubuh Lo Kuay yang sudah kaku segera
jatuh akan dirinya hanya bergoyang goyarg dan tidak
sampai roboh!
Sesudah Louw Eng menyerang sekali segera mencelat ke
belakang, hal ini dilakukan karena ia takut bahwa orang

444
yang dihajar itu belum mati dan mengadakan serangan
balasan, hatinya semakin takut dan heran waktu dilihatnya
orang tua itu tidak jatuh bahkan masih tersenyum. Dengan
setakar tenaga dihajarnya lagi orang tua itu, kali ini tubuh
Yauw Tjian Su yang sudah hampir mati baru jatuh roboh.
Louw Eng mengetahui bahwa orang tua yang sangat
ditakuti semasa hidupnya itu sudah meninggalkan dunia
yang ramai, hatinya menjadi girang, sampai lengannya di
lihat lihat dengan bangga ia tertawa keras sambil berkata
pada dirinya sendiri:
“Lauw Eng sepasang lenganmu sejak sekarang boleh
malang melintang dan menjagoi dunia Kang ouw. Dua
orang jago kelas utama dari rimba persilatan sudah
menutup mata untuk selama – lamanya, sungguh beruntung
sekali kau dapat menamakan riwayat Yauw Tjian Su dengan
kedua lengan kosong, kalau orang mengetahui hal Ini pasti
semuanya akan merasa takut kepadamu!” Ia tertawa secara
mengila dan berpikiran secara gila pula, kegirangan yang
tidak ada taranva melupakan jalan pikirannya untuk
berpikir, kenapa Yauw Thian Su bisa berada di dalam goa
ini? Pikirannya itu hanya berjalan di atas kesenangan dan
keberuntungan saja, sehingga ia tidak mengetahui di dalam
itu terdapat seteru seterunya semua. Sebaliknya ia berpikir:
“Sesudah aku berhasil menamatkan riwayat seteru yang
lihay ini, tak perlu untuk menakutkan musuh musuh lain
yang berada di Thian Touw Hong” Hatinya girang dan
sedang, ia memastikan kali ini jasanya terhadap pemerintah
Tjeng bukan buatan besarrya, pokoknya asal menangkap
saja ibunya Tjiu Piau untuk dijadikan umpan, semuanya
dapat diringkus satu persatu. Tanpa memperdulikan lagi
jenazah dari Lo Kuay ia masuk ke dalam untuk menangkap
orang.
Jalan yang sunyi dan seperti ini sudah biasa untuk sang
jahanam, dengan cepat ia maju melangkah sambil lari lari
kecil menuju di mana terdapat tanggul dan ibu Tjiu Piau,
suaranya yang keras segera diperdengarkan
“Tjen djie!” Tak ada jawaban. Dipanggilnya sekali lagi

445
“Tjen djie! Ke luar!” Tetap tak ada jawaban. Hatinya
menjadi panas dan mendongkol ia memaki:
“Dasar bndak, ke mana kau bermain-main sampai urusan
besar dibuat terbengkelai seperti begini! Dasar!”
Dengan cepat kakinya maju melangkah ke dekat tunggul
palsu yang sudah berdiri dengan baik di tempat asalnya,
dengan perlahan lahan dibuka pintunya sambil memanggil
lagi: “Tjen djie. lekas ke luar!” Dari dalam tetap tidak
kunjung datang suara balasan ,dari panggilannya yang
sudah berkali kali itu. Dengan cepat kepalanya melongok ke
dalam untuk mengetahui keadaan sebenarnya, begitu
kepalanya melongok kekagetannya bukan alang kepalang,
di dalam kosong tidak terdapat manusia seorangpun juga,
ibu Tjiu Piau dan Tjen Tjen tidak terdapat di situ. dalam
keadaan gelap hanya terlihat sinar kuning dari benda kecil
berkilat kilat.
Dengan cepat ia turun masuk, lengannya memungut
benda itu, tapi seperti dibanjur air dingin kagetnya,
lengannya segera di tarik lagi, karena benda itu adalah
sebutir mutiara beracun yang sangat ditakuti sekali. Dengan
cepat tangannya diperiksa, untung tidak menderita luka,
hatinya baru dapat menarik napas lega. Memang benda itu
adalah sebutir mutiara beracun dari keluarga Tjiu yang
ditinggalkan Tjiu Piau dergan sengaja untuk
memperingatinya. “Hati hati dengan mutiara beracunku!”
Tanpa berayal lagi Louw Eng mencelat naik ke atas. baru
kakinya memijak bumi telinganya segera mendengar suara
tertawa dingin yang menusuk pendengaran: “Louw Eng!
Lama sudah kami menantikan engkau di sini!”
“Kalian kenapa bisa mengetahui adanya tempat mi, siapa
yang mengajak Kalian datang ke sini?” tanya Luow Eng
dengan penuh keheranan. Wan Thian Hong dan Wan Djin
Liong serentak tertawa: “Tiada siapa siapa yang mengajak
aku datang ke sini. melainkan malaikat dan setan yang
menyuruh aku datang ke sini untuk memutuskan batang
lehermu!”

446
“Apikah orang tahananku kau bebaskan?”
“Apakah tidak ada aturan untuk membebaskan orang
tahananmu!” tanya Wan Djin Liong.
“Tjen-jieku kau ke manakah?”
“Oh, anakmu?” kata Djin Liong,
“ia tengah menantikan engkau di dalam tanah, untuk
sama-sama menghadap pada malaikat Djibrail!” Mendengar
mi Louw Eng menjadi gusar, tapi ia adalah seorang Kangouw
yang berpengalaman, dengan sabar ia berpikir: “Kun
Tju tidak mau menerima kerugian di depan mata, lebih baik
aku merebut jalan dahulu untuk melarikan diri!”
Tanpa banyak pikir lagi, matanya mengawasi ke
sekeliling. Wan Djin Liong berada di sebelah kirinya sedangkan
Wan Thian Hong menghadang di sebelah kanannya,
jalan untuk ke luar berada di depannya masih terbuka.
Louw Eng mengerahkan tenaganya kepada dua kakinya
secara diam diam. tiba tiba ia mencelat maju melompat ke
muka sambil menghunus pedangnya di tengah udara,
berbareng dengan itu mulutnya mengeluarkan seruan keras
sambil mengeluarkan ilmu ‘PuaH Sen Tan Ko’ ( membalik
badan memetik buah ) menyabet dada Wan Thian Hong.
sungguh suatu jurus yang cukup mengejutkan orang !
Wan Thian Hong secara ringan mencelat sejauh satu
tumbak untuk menghindarkan serangan, terkecuali dari itu
lengannya bergerak melepaskan batu-batu kecil menghajar
sang jahanam, dengan tepat batu kecil itu mengenai ujung
pedang. Saat itu juga pedang itu mengeluarkan bunyi yang
nyaring menggema di seluruh gunung tak putus putusnya,
membuat seseorang bangkit semangatnya. Lou Eng
walaupun sudah delapan belas tahun lamanya memiliki
pedang itu tapi tidak mengetahui bahwa ujung pedang
kalau digetarkan akan mengeluarkan bunyi yang demikian
hebat. Karenanya tidak heran kalau ia merasa bingung dan
kaget atas hal ini.
Mendengar suara ini dua saudara Wan segera berkata
dengan serentak: “Ah, sungguh luar biasa bunyinya,

447
sehingga mengalahkan auman harimau, sungguh hebat
laksana, jeritan naga terkejut!” Wan Thian Hong menoleh
pada Louw Eng sambil berkata: “Louw Eng, pedang yang
kau pegang itu adalah pedang naga terkejut! Betul tidak?”
Pada hari hari biasa Louw Eng tidak pernah
memperhatikan yang mana Keng Liong Kiam dan yang
mana In Hong Kiam. karena keduanya sama panjang dan
sama mengkilapnya. Kini iapun tidak meDgetahui pedang
apa yang tengah dipergunakan, buru buru dilihatnya ukiran
yang berada di atas pedang. Ia tidak menjawab karena ia
tau bahwa Wan Tnian Hong mengetahui bahwa pedangnya
itu bisa mengeluarkan bunyi karena memiliki buku ilmu
pedang Naga dan Cendrawasih. Ia berpikir: “Aku tidak
sempat untuk mengetahui dan menyelidiki pedang Hong
atau Liong ” Sedangkan kaki tangannya tidak tinggal diam,
jurusnya yang bernama Heng Kang Tauw ( malang
me’intang dan menjelajah sungai telaga ) membabat pada
jalan kecil dan memberikan ia jalan ke luar. Tanpa gugup
Wan Thian Hong membalikkan keadaan buruk ini menjadi
baik, ia merebahkan diri demi dilihat ujung pedang datang
menuju kepada dirinya. Dengan berbuat begitu ia berhasil
menghindarkan bahaya maut tapi kesukaran kembali
datang, karena pedang lawan kembali menyerangnya
dengan tipu Kang Hong Sauw Yap ( angin utara menyapu
daun roatok), sebelum sang gadis celaka, Louw Eng dipaksa
menarik pedangnya ia tahu bahwa Wan Djin Liong sudah
datang menyerang. Dirinya pernah merasakan dan
menderita kerugian di atas lengan kedua kakak beradik ini,
dan nengeiahui bahwa ilmu bergabung dari mereka
sungguh luar biasa dan sukar mencari tandingannya,
karenanya sekali kali tidak boleh berayal lagi untuk
melarikan diri Sebelum usahanya berjalan, Wan Thian Hong
sudah mencelat bangun dengan cepat dan segera
menggabungkan tenaganya dengan sang kakak. Sehingga
tenaga bergabung dari mereka berlipat dengan cepat pada
sang lawan.
Louw Eng menarik pedang di kanan, dan menyerang
pada Thian Hong, sedangkan di lengan kiri diubah menjadi

448
ilmu pukulan menyerang pada musuh yang berada di
belakang. Djin Liong tidak mau mengadu tenaga untuk
menyambut serangan ini, dengan cepat kakinya melangkah
mundur, sedangkan Thian Hong dengan cepat
menggulingKan badannya menhindarkan ujung pedang dLn
merapat pada musuh untuk merampas pedang. Djin Liong
melancarkan serangan dari belakang dengan maksud
memecahkan perhatian lawan.. Dalam gugupnya Louw Eng
membentak dengan keras: “Kalian bermaksud mengeroyok?
Mari, mari, sepuluhpun aku tidak takut!” Ia berharap
dengan kata katanya ini bisa terhindar dari keroyokan.
Wan Thian Hong tertawa mendengar kata kata ini: “Kami
berdua, kaupun berdua, apa artinya yang kau katakan
mengeroyok?”
“Siapa bilang aku berdua, apa matamu buta.” jawab
Louw Eng kasar.
“Lihat ! Lenganmu berkawan pedang mustika? Sungguh
tak bermalu! Namanya saja Bu Lim Tee It. menghadapi
anak kecil menghunus pedang terlebih dahulu, bahkan
masih mengatakan kami mengeroyok!” Sambil berkata
sambil menerjang dengan ilmu tangan kosong merampas
senjata, lengan kiri menyampok pedang, lengan kanannya
menyerang dengan ilmu Siauw Houw Tjian (memanah
tenggorokan) kemudian diubah menjadi Tiong Thian Po (
menyangsor ke atas). Louw Eng menghindarkan dirinya,
kepalannya segera berubah menjadi telapakan. Sedangkan
jeriji jeriji gadisnya yang runcing langsung mencakar pada
mata lawan dengan kecepatan kilat.
Louw Eng bersenjatakan pedang tajam, biar bagaimana
seharusnya tidak bisa kena didesak lawan yang bertangan
kosong, hal ini terjadi semata mata karena akalnya yang
sangat licik, ia tahu Tnian Hong menjalankan jurus
berbahaya sedangKan Djin Liong menantikan ketika untuk
mengalahkannya. Dari itu Thian Hong tidak dihadapinya
dengan sepenuh tenaga, sehingga dirinya kena didesak.
Saat ini jeriji Thian Hong yang seperti besi sudah dekat
dengan matanya, dengan cepat lengan kirinya

449
mengeluarkan ilmu Kuku Elang menggaet lengan lawannya.
Sebaliknya dengan Tnian Hong tidak menantikan lengannya
kena dicakar musuh sudah menariknya dan membarengi
melepaskan tendangan perusak hati pada pergelangan
lawan yang memegang senjata, sedangkan Djin Liong
meningkah serangan adiknya dengan ilmu Mendorong
Jendela Meraih Bulan memaksa lawan tidak bisa mundur
bahkan mengharuskan musuh maju ke muka. Pokoknya
kalau ia maju ke muka Thian Hong pasti dapat
menghadapinya dengan ilmu yang cukup luar biasa.
Siapa tahu Louw Eng ini memang cukup licin dan licik,
dinantikannya Djin Liong begitu sampai segera tubuhnya
mendek dan membalikkan pedangnya menyerarg
kebelakang dengan ganas dan tepat, hal ini hampir hampir
membuat kerongkongan pemuda kita kena dilubangi
tenggorokannya.
Dalam saat sekilas ini Wan Djin Liong masih ingat kata
kata yang terdapat di buku ilmu pedang naga (Keng Liong
Put) di bagian serertiganya pedang kalau kena tersentuh
akan menimbulkan goncangan yang keras sehingga
memungkinkan terlepas dari si pemegang. ia sudah
bertekad untuk menarik keuntungan dari keadaan yang
berbahaya, tenaga di lengan kanannya dikerahkan ke ujung
jeriji, sesudah membidik dengan cermat jerijinya ke luar
secara tiba tiba menyentuh di bagian dua pertiganya
pedang. Pedarg itu tergetar tapi tidak menimbulkan suara
seperti tadi.
Louw Eng menjadi krget dan merasa lengannya tergetar,
hampii hampir melepaskan pegangannya. Sekuat tenaga
dipertahankan pedangnya itu. tapi getarannya pedarg itu
bergelombang terus seperti naga yang tengah melonjak
lonjak ingin menerjang mega. Louw Eng tidak mengetahui
bahwa hal ini adalah rahasia dari pedang Liong, ia hanya
berpikir bahwa ilmu lawannya sangat tinggi, sehingga
hatinya menjadi agak takut berikutnya gerak geraknya
menjadi agak lambat. Pada saat inilah ia merasakan
pergelangan lengan kanannya kena ditangkap orang dan
terpelintir dengan hebat, sedangkan matanya melihat pula

450
berkelebatnya bayangan hitam melewati di atas kepalanya.
Orang itu bukan siapa siapa melainkan adalah Wan Thian
Hong adanya, gadis ini sesudah melihat jurus jurus tak
kenal bahaya dari kakaknya segera mengatur siasat, begitu
melihat sang lawan agak lengah segera menangkap dan
memelintir lengan kanan lawan sambil mencelat melewati
kepala lawan terus ke belakang. Sedangkan Wan Djin Liong
sudah mengangkat lengannya seraya membentak:
“Louw Eng, lepaskan pedangmu kalau tidak lenganmu ini
akan kupatahkan!” Begitu suaranya selesai diucapkan
segera terdengar suara ‘trang’ dari jatuhnya pedang yang
dilepaskan Loaw Eng. Dengan cepat Djin Liong memungut
pedang itu sambil mencelat bersama adiknya ke kiri dan ke
kanan lawannya. Dengan girang mereka mengawasi hasil
rampasannya, sehingga membuat Loaw Eng mendelu dan
memaki secara diam diam,
‘”Budak ini terlalu bodoh sekali, kalau mereka
menggunakan kesempatan tadi untuk membinasakan aku
pasti akan berhasil baik, bukankah dengan cara begitu
mereka bisa memiliki pedang itu? Rupanya mereka hanya
menginginkan pedang itu saja. Atau menganggap dirinya
adalah ‘ksatrya’ yang berjiwa luhur, lucu betul! Kalau
mereka bisa terjatuh di tanganku segera kulubangi dadanya
untuk kulihat hatinya itu!”
“Hei, jahanam lekaslah kau ke luarkan lagi sebilah
pedang cendrawasih. Kini boleh satu lawan satu untuk
menentukan siapa yang lebih unggul!”
Louw Eng dengan cepat mengeluarkan pedang
Cendrawasih, perlahan lahan pedang itu diusap usap
kemudian dilemparkan pada Thian Hong sambil berkata;
“Kalian dua saudara agaknya senang dan suka sekali pada
pedang ini, aku sebagai orang baik. terimalah pemberianku
ini!” Habis berkata matanya melirik melihat gerakan lawan,
tampak olehnya Thian Hong ragu ragu sebentar kemudian
memungutnya sambil membungkukkan badan. Sesudah
menantikan lawan selesai memegang ujung pedang Louw
Eng membuka lagi mulutnya dengan ramah tamah:

451
“Bigaimana? Pemberian ini kurasa cukup menyenangkan
kamu?” Sambil bicara kakinya siap untuk melarikan diri,
pikirnya sang lawan akan merasa tidak enak hati untuk
menghadang lagi sesudah mererima pemberiannya itu. Tapi
sebelum maksudnya tercapai ia mendengar suara gadis itu:
“Koko, kau dengar!” sedangkan tangannya yang Berjeriji
lentik segera menggetarkan beberapa kali pada pedang
cendrawasih, dalam sekejap saja terdengarlah nada irama
yang tinggi rendah mempesonakan pendengarannya. Kedua
saudara saling menatap dengan hati seolah olah mendapat
sesuatu hai yang luar biasa menyenangkan. Dalam
keheranannya Louw Eng tertegun sebentar, sedangkan
telinganya mendengar bentakan dari sang gadis.
“Ambillah!” Pedang cendrawasih dilontarkannya seperti
pisau menuju pada dirinya. Dengan cepat tubunnya
mengegos dari pedang itu sambil mengeluarkan dua
jerijinya untuk menjepit pedang itu, sedang wajahnya
mengeluarkan gerak tipu seperti tidak mengerti kehendak
lawan, ia berkata: “Nona mungkinkah kau tidak suka pada
pedang-ini?”
“Jangan mengeluarkan kata kata yang tidak berguna,
kakakku sudah lama menantikan seranganmu!”
‘ Louw Eng sadar bahwa dirinya tidak terlepas dari
kesukaran, tipu halusnya untuk melarikan diri terang
terangan sudah kandas, jalan satu satunya harus
memberanikan diri untuk menggunakan kekerasan.
Lengannya mencekal pedang dengan erat. mata-matanya
memandang ke tempat lain seperti tidak melihat apa apa,
mulutnya kemak kemik berkata kata, “Mungkinkah pedang
ini tidak baik, sehingga tidak disenangi?” Sementara itu
kakinya bergerak secara tiba tiba membuat satu jungkiran
mendekat pada Djin Liong sambil mengirimkan serangan
menusuk pada kerongkongan lawan dengan ganas.
Wan Djin Liong tidak mungkin kena perangkap lawan
yang licik, karena siang siang sudah bersiap sedia untuk
menghadapi serangan lawan. Begitu ia menampak sinar
pedang, segera memelintangkan pedangnya dan mengetok

452
ngetok beberapa kali pada pedang lawan dengan kecepatan
seperti kilat, ketokannya menimbulkan nada suara yang
bukan main merdunya, Louw Eng hanya mengenal
membunuh dan merusak kehidupan orang, terhadap seni
suara sedikit juga tidak mengerti, ia hanya tahu bahwa
bunyi itu cukup merdu:
Sekali serangannya gagal, segera mendudukkan dirinya
pada keadaan berbahaya, dengan cepat lengannya
mengirimkan lagi serangan bertubi-tubi dengan jurus Djie
Bee Hun Tjiong (dua kuda membagi rambut kuduknya) Ku
Su Poan Kim (pohon tua membengkokkan akar), Kim Liong
Touw Sie (naga emas mengelelkan lidah), Say Tju Thio
Kauw (dnga membuka mulut) secara ganas mengarah
kepada tempat berbahaya dari Wan Djn Liong. Dengan
cepat pedang naga diputarnya dengan cepat mematahkan
setiap serangan. Dalam pertarungan ini terjadi beberapa
kali bentrokan antara pedang naga dan cendrawasih, tapi
mengherankan sekali sedikitpun tidak mengeluarkan suara
atau bunyi. Sambil menghalau serangan serangan lawan.
Djin Liong membarengi mengeluarkan bentakan keras :
“Louw Eng dengar! Aku memberikan kau menyerang
sebanyak delapan belas jurus, kalau tidak dapat
mengalahkan aku, terpaksa aku harus mengubah daya
tahanku menjadi serangan! Moy tju kini sudah sampai pada
jurus ke berapa?”
“Ah. baru delapan jurus! Tenanglah kau hadapi lawan,
aku dapat menghitungnya!”
Louw Eng memainkan pedangnya itu cukup hebat sekali
dan lain dari biasa, mungkin ia menggunakan seluruh
tenaga dan bertempur nekad untuk menghadap lawannya.
Dalam liputan sinar perak yang berkilat kilat terlihat dua
bayangan orang bergerak gerak sebentar ke kiri sebentar
kekanan. Sementara itu dalam pertempuran yang sengit ini
terdengar suara nyaring dari Wan Thian Hong yang tengah
menghitung jurus pertandingan: “Duabelas. . . limabelas . ,
. tujuhbelas . . delapanbelas, habis! Habis sudah! Louw Eng
jurus seranganmu sudah habis kenapa tidak memperoleh

453
kemenangan?”
“Kini sampai pada giliranku untuk menyerangnya, Moy
tju kau hitung!”
“Baik,” jawab Thian Hong, “dengan meram pun dapat
menghitungnya.” Louw Eng tidak mengerti perkataan sang
gadis, sedangkan Wan Djin Liong sudah mulai memutarkan
pedangnya, bahkan tabasannya sudah datang, pedang
bentrok satu sama lain dan mengeluarkan bunyi yang
menyenangkan. Wan Tbian Hong segera membuka mulut:
“Jurus pertama!” Bentrokan pedang terjadi berkali kali
sambil memperdengarkan suara suara irama yang merdu,
tak ubahnya seperti mendengar orang tengah memaiukan
Kim (alat musik Tionghoa) saja. Nada irama ini dengan
cepat mempesona pendengarnya, sehingga membawa
orang seperti pergi ke pertapaan dewa dan mendengari
para dewa-dewi memainkan alat musiknya. Tanpa terasa
semangat orang seperti hilang dihanyut irama itu, sehingga
kaki tangan tidak wajar dan ingin menari nari menurut
irama itu.
Louw Eng bukan seorang manusia tidak berguna,
kenapakah kena dipermainkan lawan demikian macam?
Tidak tahunya Wan Djin Liong memainkan pedangnya
menurut pada jurus – jurus yang tertulis dalam buku Kiam
Pu (ilmu pedang), sehingga membuatnya seperti bertanding
pedang juga seperti main Kim, Pokoknya asal jurus pertama
ia bisa dapat mengetahui di bagian mana dapat
menimbulkan nada irama, selanjutnya sudah mudah sekali.
Jurus pertamanya tadi demikian mendesak dan
memaksakan Louw Eng menangkis dengan pedangnya,
waktu pedang bentrok segera mengeluarkan bunyi,
selanjutnya ia menggetarkan lagi beberapa kali dari pedang
lawas sehingga timbul bunyi irama yang tidak henti
hentinya, sedangkan Louw Eng dibuatnya tidak berdaya
untuk membebaskan diri dari libatan lawan. Perasaan
hatinya semakin tidak keruan mendengar irama medang ini,
nada nada ini seperti mengandung tenaga yang kian lama
kian hebat, dan semakin cepat, hatinya seperti kena

454
pengaruh lawan dan mendengar kata. Kini hatinya seperti
disuruh menari nari saja.
Dengan kekuatan batin ingin hatinya mengubah jurus –
jurusnya agar irama iblis untuk telinganya itu menjadi
kabur, tapi siapa kira setiap usahanya untuk mengubah
jurus-jurusnya selalu gagal. Bahkan hatinya menjadi
terlebih tak keruan rasa.
Wan Thian Hong yang menghitung jurus jurus
pertandingan, sudah sedari tadi menghentikan mulutnya.
Walaupun demikian ia sudah apal buku pelajaran pedang
ini, nada bagaimana dan sampai di mana ia sudah
mengenalnya karena ia mengingatnya dengan matang. Kini
mulutnya meningkah suara dari pedang yang merupakan
musik itu dengan nyanyian. Semakin ia menyanyi dengan
cepat gerak pedang kakaknya pun seperti semakin cepat,
padahal Wan Djin Liong menggerakkan pedangnya semakin
lambat, untuk kesenangannya dua saudara Wan, Louw Eng
sudah mengucurkan keringat yang luar biasa banyaknya.
Nada bunyian sudah berubah sepera kacau. Louw Eng
berkata di dalam hati: “Tidak salah lagi mereka
menggunakan ilmu siluman biar bagaimana aku harus
berdaya memecahkannya.” Sesudah mengambil ketetapan
kakinya ingin meninggalkan gelanggang pertarungan,
kasihan sekali jahanam yang biasanya jahat ini dalam
keadaan begini tidak ada dayanya usahanya sama sekali
tidak bisa dijalankan. Sebaliknya dari berbasil, dirinya
semakin kena dilibat, kaki tangannya, tubuhnya tak dapat
dikuasai lagi. seluruhnya sudah berada dalam pengaruh
musik, kalau musik cepat gerakannya menjadi cepat, kalau
lambat iapun menjadi lambat dan seterusnya.
Jilid 15
Peluh dingin sudah sedari tadi membasah dan membanjir
dari tubuhnya. Untunglah mempunyai ilmu dalam yang
cukup mempunyai dasar, sampai saat ini ia masih bisa
bertahan dan belum putus napas. Tapi kalau pertandingan

455
ini dilanjutkan terus, mau tidak mau ia harus mati juga.
Waktu begini gugupnya semakin menjadi jadi. Saat ini
telinganya mendengar seruan Wan Thian Hong:
“Louw Eng kalau kau ingin terbebas dari kesusahan ini,
hanya ada satu jalan, lepas kaulah pedang cendrawasih
yang kau cekal itu!”
Louw Eng menjadi semakin kacau jalan pikirannya,
perkataan sang gadis didengarnya, tapi otaknya sudah
membatu dan tidak bisa menangkap apa yang dimaksud
dengan kata-kata itu, lengannya terus menggerakkan
pedangnya sejadi jadinya.
“Koko, setoplah permainanmu !” Wan Djin Liong meluluri
permintaan adiknya, dengan cepat pedangnya ditarik, tapi
suara yang masih mengiang ngiang masih terus bergema di
tempat yang suci ini. Begitu bunyi pedang hilang, terlihat
Louw Eng diam mematung secara menyedihkan !
Wan Thian Hong mengulangi lagi kata katanya tadi ;
“Louw Eng seharusnya kau sudah mengetahui kelihayan
dari Liong Hong Kiam ini ! Kau bukan pemilik dari pedang
ini. kalau kau tetap ingin mempunyai pedang ini, berarti
pedang itu menjadi seterumu. Kalau kau tetap tidak mau
melepaskan pedang itu, kau bisa mati lemas dibuatnya!”
Sekali ini kata kata itu baru masuk ke dalam otaknya. ia
berpikir. “Sesudah kau menghentikan pedangmu, kini
meminta pedangku dengan cara demikian, mana ada aturan
semacam ini!” Tanpa banyak komentar lagi penasarannya
memaksakan ia untuk menusukkan pedangnya lagi pada
Wan Djin Liong. Pikirnya ia sudah mengenal dan
mengetahui cara berkelahi, dan merasa tidak mungkin kena
dimabukkan lagi lagu iblis semacam tadi. Siapa tahu belum
pikirannya hilang dari otaknya pedangnya yang menusuk
kemuka sudah di pentil lawan dengan pedang lagi dan
mengeluarkan bunyi seperti tadi. saat itu pulalah ia menjadi
tidak keruan rasa.. sekali ini Wan Djin Liong mempercepat
irama nada dari pedang, sehingga membuat lawannya
menjadi kalang kabut dan tak kuasa menghadapi lawan.

456
“Louw Eng! menunggu apa lagi? Lekaslah lepas pedang
itu!” seru Wan Tniaa Hong lagi dengan keras.
Louw Eng berpikir; ‘Wah celaka, pedang ini terpaksa
harus kulepaskan juga” Tapi ia tidak tahu harus bagaimana
caranya melepaskan itu. karena iapun takut kalau sampai
pedangnya terlemas, lawannya pasti dapat menamatkan
riwayatnya. Sesudah lama ia berpikir” baru berani
mengamari ketetapan, serentak serangan ganas dilancar
kan sekuat tenaga untuk menabas kepala lawan
Dinantikannya musuh menangkis segera membarengi
melepas pedangnya. Begitu pedang terlepas, dirinya segera
terbebas dari irama pedang dan dapat mencelat
meninggalkan gelanggang.
Wan Djin Liong dengan cepat mencongkel pedang
cendrawasih dan melemparkan kepada adiknya sambil
berseru. “Moy-tju sambutlan!” Dengan cepat Thian Hong
menjulurkan lengannya menyambut pedang yang sangat
disenanginya itu, sedangkan Louw Eng tidak dihiraukan lagi
oleh mereka.
“Koko, marilah kita bunyikan lagi irama pedang!'”
Pedang itu segera akan diadukan dan mengeluarkan
bunyi yang demikian lain dengan yang tadi, suaranya halus
rasa sayang menyayangi, halus mengalun dan membuat
puas setiap pendengarnya.
Louw Eng berpikir. “Mereka hanya bermaksud merampas
pedangku, sesudah berhasil segera lupa kepada diriku,
waktunya sudah sampai untuk kutinggalkan tempat ini!”
Kakinya melangkah dan bergeser secara perlahan, ia tidak
lari takut menimbulkan kecurigaan lawannya, sesudah
berhasil menggeser tubuhnya melewat dua saudara Wan,
baru, ia mempercepat langkah kakinya
Dua saudara Wan tidak menghiraukan, mereka tengah
asyik dengan pedangnya, sehingga membuatnya menjadi
girang dan merasa dilepas dengan begitu saja.
Sesudah ia berjalan lebih kurang sejauh tujuh delapan
tumbak, hatinya berpikir lagi: “Kalau kalian tidak waspada

457
lagi, aku akan melarikan diri dengan lekas, biar bagaimana
lihay ilmu mengentengkan tubuhmu jangan harap dapat
mengejar!” Sambil berpikir sambil melangkah dan diam di
belakang dirinya, terkecuali itu di lihatnya pula dua anak
muda yang sedang berdiri tidak berjauhan dari dirinya,
seorang memegang seutas tambang sedang yang satu lagi
memainkan mutiara emas yang bersinar sinar.
Saat ini ia sadar sudah masuk dalam kurungan sekalian
para pemuda dalam gugupnya ia merasa heran kenapa
sekalian anak muda yang terkurung di atas Thian Touw
Hong bisa berada dan berkumpul di sini.
Ia berpikir di dalam hatinya: “Jalan terakhir untuk
manusia ini hanya aku yang mengetahui dari peta rahasia
yang kumiliki. Ia ingat peta itupun menerangkan di balik air
terjun yang besar itu masih ada jalan gunung, tapi jalan
itulah yang bernama Jalan terakhir untuk manusia. Tapi
mengapa mereka dari Thian Touw Hong bisa berada di sini,,
sedangkan jalan lain untuk sampai di tempat ini tidak
tertulis di buku peta rahasia. mungkinkah peta ini tidak
dapat dipercaya? Mungkin anak – anak muda ini mempunyai
peta rahasia yang lebih baik?” Ia berhenti berpikir untuk
melihat lihat Keadaan lain, tampak olehnya ibunya Tjiu Piau
dan Tju Hong sedang berdiri sambil mengawasinya dengan
benci.
“Wah. celaka tiga belas, biar bagaimana aku harus dapat
meninggalkan tempat yang celaka ini. sedangkan Tjen djie
terpaksa harus kubiarkan saja untuk berusaha sendiri.” Ia
dongak ke langit dan dilihatnya awan hitam tengah
mendalang dengan cepatnya seperti gelombang air bah,
Hatinya mendoa: “Oh Thian, Giok Hong Siang Tee (dewa
langit yang berkedudukan hampir sama dengan Bhatara
Guru dalam dunia perwayangan) Liong Ong (raja naga)
lekaslah turunkan hujan yang lehat, guna menolong jiwaku
ini. Kalau aku berhasil menyelamatkan diri segera akan
kudirikan tempat pemujaan kalian dikota Pak Kia. (Pekking)
sedangKan rumah rumah berhala yang sudan rusak akan
kuperbaiki seluruhnya yang terdapat dan Oey San sampai

458
ke Pak Kia!”
Doanya ini mungkin manjur juga. karena awan hitam
semakin tebal saja. Inilah yang dinamai kehendak alam.
Sama sekali tidak berhubungan dengan doanya Louw Eng.
Dengan girang sang jahanam mempunyai jalan hidup yang
tidak diketahui lawan lawannya.melihat. Tampak olehnya
dua saudara Wan masih tetap tidak bergerak, dengan
perasaan girang ilmu mengentengkan tubuhnya
dibentangkan untuk melarikan diri.
Siapa tahu begitu ia balik badan, segera mengeluarkan
kata “celaka!”
Kiranya di depan tubuhnya kembali berkelebat sepasang
muda mudi menghadang jalan. Pasangan ini adalah Ong
Djie Hay dan Ong Gwat Hee yang sudah cukup dikenalnya
dan menjadi seteru besarnya pula. Ia menjadi kaget dan
mengawasi sekeliling untuk mencari jalan ke luar, malang
baginya dua saudara Wan sudah datang dan Sedang para
seterunya semuanya berwajah dingin dan tak berkata kata
menatap kepadanya. Agaknya mereka tengah menghadapi
suatu hal yang maha berat, kalau semakin lama mereka
menunggu hatinya pasti akan semakin tenang, demikianlah
keadaan para muda-mudi yang berada di situ. Mereka
semuanya mempunyai dendam yang maha besar pada
dirinya, siang malam menantikan ketika untuk
membalasnya, kini saat ini sudah tiba dan berada di depan
mata, Louw Eng mengetahui bahwa dirinya sudah tak dapat
tertolong lagi dengan cara biasa.
Dalam diamnya seteru seterunya ini seperti juga
malaikat Jibrail yang sedang menentukan vonisnya. Pastilah
sesaat lagi akan pecah suara ledakan amarah yang maha
hebat dan berlainan dengan suasana sepi seperti sekarang!
Delapan orang dengan kedelapan pasang mata membara
menatap Louw Eng. Dalam waktu sekejap para muda mudi
melangkah maju mendekati sang jahanam dalam keadaan
berbahaya yang mengancam jiwanya Loaw Eng tidak
bergerak gerak maupun berkata kata, wajahnya Seperti
tidak berubah, matanya mengawasi keenam anak muda

459
yang menghentikan kakinya sejauh enam langkah dari
dirinya.
Ong Djie Hay menatap terus dengan matanya yang
merah, membuat sang jahanam yang biasa menggunakan
sinar matanya mengawasi orang kini tidak berani
menentang mata lawannya, tiap kali bentrok ia membuang
pandangannya ke tempat lain.
“Long Eng! Gunakanlah matamu melihat kepadaku!”
bentak Ong Djie Hay dengan keras seperti petir, sehingga
membuat lawannya loncat terkejut.
Dengan terpaksa Louw Eng melihat pada anak muda itu,
telinganya kembali mendengar suara yang lantang ke luar
dari mulut seterunya: “Louw Eng. bukti bukti dari
pertanyaanmu sewaktu di dalam goa kini sudah ada.
pokoknya kami akan menjawab setiap pertanyaanmu.
kesatu kau minta bukti tentang dirinya dari saudara Wan.
Kami sudah mendapat saksinya yakni Tju Siok siok. masih
berani membantahkah akan kebenarannya?”
Louw Eng dengan gugup mengeluarkan kata ‘ehh’. tidak
tahu kata apa sebenarnya yang diucapkan. Tidak terang!
“Yang kedua kau mengatakan bahwa pedang naga dan
cendrawasih bukan kepunyaan keluarga Wan.