Elang Terbang di Dataran Luas

New Picture (1)

Elang Terbang di Dataran Luas

Karya : Khu Lung

Saduran : Tjan ID

Sumber DJVU & Convert : Lavilla

Ebook oleh : Dewi KZ

PEMBUKAAN

Angin topan berhembus kencang, suara menderu menerbangkan pasir kuning dan debu. Betapa kencangnya angin bertiup, pasir dan debu tak mampu menembus tenda raksasa yang terbuat dari kulit kerbau, Thiat Gi sedang duduk di bawah lentera minyak yang bercahaya redup, sedang menggosok tombak baja miliknya.

Sudah delapan hari angin puyuh yang menakutkan

melanda tempat itu, sudah delapan hari pula rombongan

onta mereka terjebak di tempat itu. Demikian sengsara

hidup saat itu, sampai onta yang terkuat pun mulai loyo.

Tapi Thiat Gi seperti tombaknya, sadis, tajam, kaku,

bersih, dan mengkilap.

Dia berharap Thiat-hiat-sah-cap-lak-ki (Tiga puluh enam

penunggang darah besi) pun seperti dia, tidak terpengaruh

oleh keadaan, tidak takluk dengan situasi terburuk

sekalipun, selalu patuh, taat, disiplin, dan selalu waspada.

Mereka pernah mengalami pendidikan ketat selama tiga

belas tahun, jiwa mereka sudah ditempa hingga lebih keras

dari baja.

Sekarang mereka sedang melakukan patroli, yang tiap

hari mereka lakukan selama tiga belas tahun. Biarpun angin

puyuh berhembus kencang, namun mereka tak pernah

melepas kebiasaan itu.

Tuntutan kali ini jauh lebih ketat, lebih keras, sebab

barang yang mereka kawal adalah benda yang paling

merangsang napsu manusia, merangsang ketamakan

manusia sejak zaman bahuela… lantakan emas murni.

Tiga puluh laksa tahil emas murni!

Harta karun yang fantastik, yang cukup untuk

mengundang kehadiran seluruh begal, perampok ulung

yang ada di kolong langit untuk berbondong-bondong

mendatangi gurun pasir yang kejam ini.

Mau tak mau dia harus lebih waspada, lebih berhati-hati.

Angin puyuh masih berhembus kencang di luar tenda,

pasir dan kerikil yang beterbangan menghantam tenda kulit,

suaranya persis butiran es batu yang disambitkan dari

angkasa.

Thiat Gi bangkit, tubuhnya yang kurus kering masih

tetap tegak bagai sebatang pit.

Dua puluh tahun berselang, dengan mengandalkan

tombak baja hitamnya ini, ia pernah menyapu tiga puluh

dua Hohan dari delapan benteng Liok-lim, kemudian ketika

bertarung di tepi sungai Yong-teng, dengan tombaknya dia

mengobrak-abrik telaga harimau. Hingga kini kekuatan

maupun ilmu silatnya sama sekali tak pernah surut.

Terhadap diri sendiri maupun terhadap pasukannya,

ketiga puluh enam orang pasukan kuda bajanya, dia

menaruh rasa percaya diri yang tinggi.

Pada saat itulah, mendadak terdengar suara pekikan

lengking berkumandang dari balik hembusan angin

kencang, suara pekikan itu berasal dari Ma-luk, orang Tibet

yang bertugas jaga kawanan onta.

“Semi kolarkolo!”

Biarpun Thiat Gi tidak mengerti apa yang sedang

diteriakkan, namun ia bisa menangkap rasa ngeri, rasa takut

yang begitu hebat, perasaan horor yang merasuk ke dalam

tulang sumsum orang itu.

Hampir bersamaan, tenda kulit kerbau yang begitu

kokoh, mendadak retak, lalu pecah menjadi bubuk halus.

Dalam waktu singkat, pecahan tenda sudah lenyap

tergulung oleh hembusan angin puyuh yang keras.

Ketika pasir tajam menghantam wajah Thiat Gi,

parasnya sama sekali tak berubah. Dia masih berdiri tegar

di situ bagai sebatang tongkat.

Angin bercampur pasir yang beterbangan di depan

matanya bagaikan selapis dinding tinggi yang terjatuh dari

langit, membuat orang awam tak mampu melihat

pemandangan di sekelilingnya, bahkan tenda yang berada

sepuluh langkah di hadapannya pun tak terlihat.

Tapi sayang dia bukan orang awam, dia bukan manusia

biasa.

Sepasang matanya yang sudah terlatih lama telah

melihat kehadiran ketiga puluh enam orang anak buahnya,

berdiri berjajar di hadapannya seperti tiga baris tombak.

Betapa pun kencangnya angin bercampur pasir, betapa pun

menakutkan perubahan yang terjadi, mereka tetap dapat

menjaga ketenangan.

Di saat bencana menjelang tiba, di saat pertarungan

antara mati dan hidup, “Tenang” merupakan semacam

senjata paling mustajab.

Apalagi mereka terhitung jago kelas satu dalam dunia

persilatan, dalam soal ilmu silat, senjata rahasia maupun

senjata tajam, latihan yang mereka lakukan jauh lebih

tekun, lebih gigih ketimbang siapa pun.

Dia percaya, betapa pun menakutkannya musuh yang

datang kali ini, mereka masih sanggup menghadapinya

dengan sepenuh tenaga.

Dia pribadi sudah berpengalaman dalam menghadapi

ratusan pertarungan baik besar maupun kecil. Selama ini

tak sekali pun ia pernah mundur, apalagi merasa takut

menghadapi seseorang.

Tapi entah mengapa pada detik yang amat singkat kali

ini, tiba-tiba muncul semacam rasa takut, rasa ngeri yang

tak terlukiskan dengan kata-kata.

Semacam perasaan horor yang merasuk hingga jauh ke

dalam tulang sumsumnya.

Jeritan keras yang memilukan sudah lenyap tertelan oleh

gulungan angin puyuh, di tengah gulungan angin dan pasir

mendadak muncul seseorang.

Sejujurnya, yang terlihat oleh Thiat Gi waktu itu

bukanlah sesosok manusia, lebih tepat dibilang hanya

sesosok bayangan abu-abu gelap yang mirip sukma

gentayangan.

Bagian kepala bayangan itu seolah memiliki sepasang

tanduk, tanduk macam telinga kucing, tanduk macam hasil

sulapan.

Tiba-tiba Thiat Gi merasa tenggorokannya seolah dijejali

dengan segumpal bola salju yang membawa bau anyir

darah.

“Siapa kau?” hardiknya.

Tiba-tiba bayangan manusia itu memperdengarkan suara

tawanya yang tinggi melengking seperti jeritan kucing, dia

hanya mengucapkan enam patah kata, “Semi kolarkolo!”

Itulah keenam kata yang diteriakkan Ma-luk tadi,

sesungguhnya apa arti keenam patah kata itu? Kenapa

begitu menakutkan? Kenapa terdengar seperti mantera yang

mampu membetot sukma manusia?

Sambil menggerakkan tombaknya memberi tanda kepada

anak buahnya, Thiat Gi berseru, “Tangkap dia!”

Perintahnya selalu dipatuhi anak buahnya, belum pernah

ada anggota pasukannya yang berani membangkang, tapi

kali ini… ternyata tak ada yang bereaksi, bahkan tak

seorang pun yang bergerak.

Kembali bayangan manusia bertanduk

memperdengarkan suara tawanya yang seperti kucing,

sepasang tangannya bergerak tiada henti.

Tiga puluh enam jagoan yang berdiri tegak bagaikan

tombak itu mendadak roboh ke tanah, satu per satu roboh

terjungkal, keadaan mereka tak ubahnya seperti boneka

kayu yang diikat dengan rangkaian tali dan kini talinya

telah ditarik.

Dengan satu gerakan cepat Thiat Gi menerjang maju ke

muka, kini ia baru tahu bahwa ketiga puluh enam orang

anak buahnya telah berhenti bernapas, bahkan tubuh

mereka telah berubah jadi dingin dan kaku.

Rupanya sejak tadi mereka tidak roboh karena ada

sebatang tombak yang mengganjal di punggung setiap

orang, di balik tombak itu, masing-masing bersembunyi

seseorang, seseorang dengan kepala bertanduk telinga

kucing.

Napas Thiat Gi nyaris terhenti secara tiba-tiba,

mendadak dia melejit ke tengah udara, tombak bajanya

bagaikan seekor ular berbisa langsung menusuk ke depan.

Tusukan tombak ini jauh lebih beracun dari pagutan ular

berbisa, lebih cepat dari sambaran petir.

Dalam tusukan maut ini, Thiat-tan-sin-jiong (Nyali baja

tombak sakti) telah menyertakan segenap kekuatan inti

yang dimilikinya, tapi sayang, di saat tusukan maut itu

dilontarkan, tahu-tahu bayangan manusia yang berada di

hadapannya telah melambung ke udara, kemudian

mengikuti gulungan angin puyuh yang berpusing di udara,

ia berputar tiada hentinya.

Dalam waktu singkat bayangan manusia itu telah

berubah jadi segulung angin berpusing.

Angin tak mungkin terbunuh, tak mungkin tertusuk,

apalagi mati.

Sekonyong-konyong Thiat Gi merasa ada segulung angin

berpusing menyapu wajahnya, mendadak ada beribu butir

pasir lembut yang tajam bagaikan jarum menusuk sepasang

matanya, lalu dia tak bisa merasakan apa-apa lagi.

Ooo)dw(ooO

Hari ini adalah bulan sembilan tanggal tiga belas. Bulan

sembilan tanggal lima belas, akhirnya badai angin puyuh

berhenti bertiup.

Angin puyuh yang melanda wilayah gurun pasir ibarat

anak panah yang dilepas pemanah sakti, bagai sabetan

golok seorang pembunuh bayaran, datang begitu tiba-tiba,

pergi pun begitu mendadak.

Wi Thian-bong melarikan kudanya dengan kencang.

Di sisi pelananya tergantung sebuah wadah anak panah,

di pinggangnya tersoreng sebilah golok.

Golok maupun anak panah sama menakutkan seperti

hembusan angin puyuh di gurun pasir.

Dia datang karena mendapat tugas menjemput Thiat Gi.

Bagaimana pun tiga puluh laksa emas murni merupakan

sebuah umpan yang susah ditampik oleh siapa pun.

Apalagi sahabat dari kalangan hitam, tak seorang pun

dari mereka yang bisa mengekang godaan itu.

Dia maupun Thiat Gi merupakan orang dari rombongan

yang sama, mereka tak akan membiarkan uang emas yang

begitu banyak jumlahnya terjatuh ke tangan orang lain.

Yang ikut serta dalam rombongannya kali ini selain anak

buahnya, Sian-hong-sah-cap-lak-pa-to (Tiga puluh enam

batang golok angin berpusing), dia pun membawa seorang

petunjuk jalan, So-ma namanya.

Andaikata perjalanannya tidak terhadang oleh angin

topan yang melanda gurun pasir, sekarang niscaya dia

sudah bergabung dengan Thiat Gi.

So-ma adalah saudara sesuku Ma-luk, kemampuan

mereka dalam mengenali situasi di gurun pasir pada

hakikatnya jauh lebih hebat dibanding kemampuan mereka

mengingat celana dalam perempuan.

Dia sudah tahu jalan mana yang akan ditempuh Ma-luk.

Tentu saja dia pun sanggup menemukan rombongan

onta yang dibawa Ma-luk.

Tapi sayang, ketika ia menemukan Ma-luk, yang

dijumpai hanya jenazah rekannya yang sudah mengering

seperti ikan teri.

Dia pun menemukan Thiat Gi beserta ketiga puluh enam

orang pasukannya.

Jenazah mereka ditemukan tak jauh dari jenazah Maluk,

namun kondisi tubuh mereka sama persis jenazah para

Lhama yang hidup di wilayah sana, sebagian besar tubuh

sudah habis dilalap burung pemakan bangkai, mereka telah

menerima kehormatan dikubur secara alami.

Masih untung ada sebagian jenazah yang telah terkubur

di balik pasir, terkubur di bawah lapisan pasir yang tak

mungkin terpanik oleh tajamnya paruh burung pemakan

bangkai.

Wi Thian-bong berhasil menemukan jenazah Thiat Gi,

dia pun berhasil menemukan sebab kematiannya yang

tragis.

Kondisi jenazahnya tak jauh berbeda dengan kondisi

ketiga belas jenazah lainnya yang tertimbun di bawah pasir,

tidak ditemukan luka yang jelas di tubuh mereka, tapi pada

wajah setiap orang terdapat tiga buah bekas cakar berdarah,

bekas luka seperti dicakar seekor kucing liar.

Mimik muka mereka menunjukkan rasa ketakutan yang

luar biasa, rasa ngeri, rasa horor yang jauh lebih

menakutkan ketimbang ‘kematian’ itu sendiri.

Begitu menyaksikan ketiga bekas cakar berdarah itu, tibatiba

paras Su-ma menunjukkan rasa ketakutan yang luar

biasa, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut, lalu sambil

menyembah berulang kali menghadap langit, ia menjerit.

Biarpun Wi Thian-bong tidak mengerti apa yang dia

katakan, namun enam patah kata yang selalu diulang-ulang

dapat didengarnya dengan sangat jelas.

“Semi kolarkolo!”

Saat itulah dari balik langit yang biru kembali terbang

mendekat segerombolan burung elang.

Segerombolan burung elang pemakan bangkai!

Ooo)dw(ooO

BAB 1. BURUNG PEMAKAN BANGKAI

Burung elang sedang berputar, berputar di bawah langit

nan biru, berputar sambil menunggu saat untuk melahap

bangkai tubuhnya. Hingga kini dia belum mati. Dia sendiri

pun ingin melahap burung elang itu. Seperti burung-burung

itu, dia pun kelaparan, kelaparan setengah mati.

Ketika kehidupan sudah mendapat ancaman, ketika

ancaman sudah mencapai satu taraf tertentu, seorang tak

jauh berbeda dengan seekor burung elang, mereka samasama

berusaha mencelakai lawan demi mempertahankan

hidup sendiri.

Dia ingin sekali melompat bangun dan menangkap

burung elang itu, ingin mencari sebuah batu untuk

menimpuk burung elang itu. Kalau di hari biasa, hal itu

sangat mudah dilakukan, tapi sekarang dia sudah kehabisan

tenaga, jangankan menimpuk, mengangkat tangan sendiri

pun sudah sulit.

Dia sudah mendekati ajal.

Bila sobat-sobat dunia persilatan tahu dia hampir mati,

pasti ada banyak orang yang merasa tercengang, banyak

yang sedih, banyak yang kecewa, tapi pasi juga ada banyak

orang yang merasa gembira.

Dia bermarga Hong, bernama Wi, tetapi kebanyakan

orang memanggilnya “Siau-hong”, Siau-hong yang ‘tak

takut mati’.

Terkadang dia sendiri pun merasa dirinya memang

seorang yang tak takut mati, tak takut mati yang aneh

sekali.

Dia telah melakukan perjalanan selama belasan hari di

tanah luas yang tak ada air, tanah kering-kerontang yang

tak ada kehidupan, ransum, serta air persediaannya telah

lenyap sewaktu terjadi badai gurun tempo hari.

Kini pada tubuhnya hanya tersisa sebilah pedang

sepanjang tiga kaki tujuh inci serta sebuah mulut luka

selebar tiga inci tujuh hun. Satu-satunya kehidupan yang

menemaninya sekarang hanyalah “Ci-hu” (Anjing merah).

“Ci hu” adalah seekor kuda, kuda pemberian Be Siauhong.

Be Siau-hong adalah pemilik peternakan kuda Lok-jit-becong

di wilayah Kwan-tong. Pengetahuannya tentang kuda

jauh lebih mendalam daripada pengetahuan seorang hidung

belang terhadap perempuan. Sekalipun seekor kuda yang

paling liar pun begitu terjatuh ke tangannya, pasti dapat

dilatihnya menjadi seekor kuda jempolan.

Semua kuda yang ia hadiahkan untuk teman-temannya

adalah kuda jempolan, tapi sekarang kuda jempolan yang

paling hebat pun sudah hampir roboh ke tanah.

Siau-hong menepuk pelan punggung kudanya, sekulum

senyuman seolah tersungging dari balik bibirnya yang

merekah.

“Kau tak boleh mati, aku pun tak boleh mati, kita belum

lagi berbini, mana boleh mati begitu saja?”

Teriknya matahari ibarat kobaran api yang membara,

membakar seluruh permukaan bumi di seputar sana,

membuat seluruh kehidupan yang ada hangus terbakar,

beberapa ratus li di seputar sana sama sekali tak nampak

jejak manusia.

Tapi… tiba-tiba ia merasa ada seseorang sedang

mengikuti dari belakang tubuhnya.

Dia sama sekali tidak melihat orang itu, juga tidak

mendengar suara langkah kakinya, namun ia dapat

merasakan, merasakan dengan instingnya yang tajam bagai

seekor hewan liar.

Kadangkala dia merasa orang itu seolah sudah berada

sangat dekat dengannya, dia pun segera berhenti untuk

menanti.

Entah berapa besar harapannya saat itu agar bisa

bertemu dengan seseorang yang lain, sayang harapan itu

sia-sia.

Setiap kali dia menghentikan langkahnya, orang itu pun

seakan segera ikut berhenti.

Dia adalah orang persilatan, punya banyak teman, punya

banyak musuh, bukan satu-dua orang saja yang berharap

dapat memenggal batok kepalanya.

Tapi siapakah orang itu? Mengapa selalu mengikutinya?

Apakah dia hendak memenggal batok kepalanya di saat ia

sudah kehabisan tenaga dan tak berdaya melawan? Lalu

mengapa hingga sekarang belum juga turun tangan?

Apakah orang itu masih was-was dengan pedang yang

tersoreng di pinggangnya?

Ia tak sempat berpikir lebih lanjut, apalagi

memikirkannya dengan seksama.

Terkadang meski kelaparan dapat membuat akal pikiran

orang lebih tajam dan lincah, tapi sekarang ia sudah

sedemikian laparnya hingga kekuatan untuk

mengumpulkan pikiran pun tak ada.

Kembali ia bergerak maju, bergerak dengan susah payah

sebelum akhirnya berhasil menemukan sebuah gundukan

pasir yang dapat dipakai untuk menahan sinar matahari.

Ia berbaring di balik bayangan gelap di belakang

gundukan pasir, kini elang itu terbang semakin rendah,

seolah dia sudah dianggapnya orang mati.

Dia masih belum ingin mampus, dia masih ingin berduel

melawan elang itu, bertarung sambil beradu akal, sayang

sepasang matanya makin lama semakin tak sanggup

dipentang lagi, bahkan pemandangan di depan mata pun

telah berubah jadi buram dan kabur.

Pada saat itulah dia menyaksikan seseorang.

Konon berada di tengah gurun pasir, orang seringkali

akan melihat gedung bertingkat dan hidangan yang lezat,

orang sekarang bilang fatamorgana, seseorang yang hampir

mendekati ajal pun katanya akan merasakan juga khayalan

semacam ini.

Tapi apa yang dilihatnya sekarang bukan khayalan,

bukan fatamorgana, ia benar-benar telah menyaksikan

seseorang.

Seorang bertubuh kecil dan kurus, mengenakan jubah

putih yang sangat lebar dengan kepala bersorban putih,

kemudian ditutup dengan sebuah topi bambu yang sangat

lebar.

Di bawah bayangan topinya yang lebar, tampak bentuk

wajahnya yang kurus tajam dihiasi sebuah mulut yang lebar

dan sepasang mata setajam elang botak.

Siau-hong mengucek matanya berulang kali, meyakinkan

diri kalau apa yang terlihat tak salah.

Di tengah gurun pasir yang kejam tak berperasaan, dapat

bertemu dengan makhluk sejenis memang merupakan satu

kejadian yang patut digembirakan.

Ia segera bangkit untuk duduk, kemudian mengulum

senyuman yang kering.

Orang itu tampak menghela napas panjang, kelihatannya

ia merasa amat kecewa.

Melihat itu, tak tahan Siau-hong menegur, “Kesedihan

apa yang sedang mengganjal hatimu?”

“Tidak ada!”

“Mengapa menghela napas?”

“Karena aku tak menyangka ternyata kau masih bisa

tertawa,” jawab orang berjubah putih itu sambil menghela

napas.

Jarang ada orang kecewa dan menghela napas hanya

dikarenakan alasan semacam ini.

“Apa salahnya kalau aku masih bisa tertawa?” tak tahan

kembali Siau-hong bertanya.

“Hanya ada satu hal yang tak bagus,” sahut orang itu,

“Orang yang masih sanggup tertawa berarti tak mungkin

cepat mati!”

“Jadi kau berharap aku secepatnya mati?”

“Betul, makin cepat makin baik.”

“Oh, jadi selama ini kau menguntit terus karena berharap

aku segera mati?” seru Siau-hong, kemudian setelah

berhenti sejenak lanjutnya, “Kini, kau seharusnya sudah

tahu kalau sedikit tenaga pun tak kumiliki lagi, kenapa kau

tidak segera membunuhku!”

“Aku tak punya dendam tak punya permusuhan

denganmu, kenapa harus membunuhmu?”

“Kalau memang tak ada dendam maupun permusuhan,

kenapa kau berharap aku cepat mati?”

“Karena cepat atau lambat kau bakal mati, bukan hanya

aku saja yang berharap kau cepat mati, elang itu pun pasti

berharap kau cepat mati!”

Elang itu memang masih terbang berkeliling di atas

kepala mereka.

“Jadi kau pun seperti burung elang itu, menunggu untuk

melahap daging badanku?” tegur Siau-hong.

“Setelah kau mati, cepat atau lambat jenazahmu tetap

akan membusuk dan hancur. Sekalipun dimakan elang itu,

bagimu toh sama sekali tak ada ruginya.”

“Bagaimana dengan kau sendiri?”

“Aku tak ingin melahapmu, aku hanya menginginkan

pedang di sampingmu itu.”

“Bagaimana pun setelah mati aku tak bisa membawa

pedang itu, kau ambil atau tidak, bagiku sama sekali tak

rugi apa-apa.”

“Tepat sekali.”

“Walaupun kau berharap aku cepat mati, namun tak

bakal turun tangan membunuhku.”

“Aku memang tak pernah membunuh.”

“Tapi bila orang itu pasti akan mati dan kenyataan ini tak

terbantahkan, maka setelah dia mati, bagi siapa saja yang

mengambil barang miliknya, hal ini sama sekali tak akan

merugikan.”

Kembali orang itu menghela napas panjang, “Ai, sangat

jarang ada orang bisa memahami teori semacam ini, tak

kusangka ternyata kau memahaminya.”

Siau-hong tersenyum, “Justru karena banyak teori yang

tak dimengerti orang lain baru dapat kupahami, maka

selama ini hidupku selalu gembira dan riang.”

Tiba-tiba ia melepas pedang yang tergantung di

pinggangnya, kemudian sekuat tenaga dilemparkan ke

hadapan orang itu.

“Apa yang kau lakukan?” sedikit di luar dugaan orang itu

bertanya dengan tercengang.

“Aku ingin menghadiahkan pedang ini untukmu.”

“Tapi pedang itu ternama dan mahal harganya.”

“Ternyata ketajaman matamu sungguh mengagumkan.”

“Kau belum mati, kenapa kau hadiahkan pedang itu

untukku?”

“Karena di saat aku hidup dengan penuh kegembiraan,

aku pun berharap orang lain ikut gembira.”

Sewaktu tertawa dia memang tampak sangat gembira.

“Bagaimana pun aku sudah hampir mati, cepat atau

lambat pedang ini tetap akan jadi milikmu, kenapa aku

tidak menghadiahkan lebih cepat kepadamu agar kau pun

ikut gembira?”

“Aku dapat menunggu,” kata orang itu.

“Menunggu kematian bukan pekerjaan yang

menyenangkan, terlepas sedang menunggu kematian sendiri

atau menunggu kematian orang, keduanya sama-sama tak

menyenangkan. Aku tak pernah mau melakukan perbuatan

yang tak menyenangkan, aku pun tak ingin orang lain….”

Orang itu menatapnya dengan sepasang mata elangnya

yang tajam, tiba-tiba dia ikut menghela napas.

“Ternyata kau adalah manusia yang sangat aneh, aneh

setengah mati.”

“Tepat sekali pernyataanmu itu,” sahut Siau-hong sambil

tertawa.

“Tapi bila kau ingin menggunakan cara ini untuk

mengetuk hatiku, agar aku menolongmu, maka

pemikiranmu itu keliru besar, selama hidup belum pernah

hatiku terketuk oleh siapa pun.”

“Aku dapat melihatnya.”

Sekali lagi orang itu mengawasinya dengan mata

melotot, tiba-tiba serunya, “Sampai berjumpa lagi!”

Seringkali arti kata “sampai berjumpa lagi” bukan berarti

masih ingin bertemu lagi lain waktu, tapi selamanya tak

akan berjumpa lagi.

Gerakan tubuhnya tidak terlampau cepat, dia tak akan

menghamburkan sedikit tenaga pun dalam keadaan yang

tak perlu.

Sementara pedang itu masih tertinggal di atas tanah.

“Kau telah melupakan pedangmu,” seru Siau-hong cepat.

“Tidak, sama sekali tidak melupakan.”

“Mengapa kau tidak membawa pergi pedang itu?”

“Bila kau sudah mati, aku pasti akan membawa pergi

pedang itu,” jawab orang itu.

“Bukankah pedang itu telah kuhadiahkan kepadamu?

Masa kau menampiknya?”

“Selama hidup aku belum pernah mau barang milik

orang hidup,” kata orang itu cepat, kemudian lanjutnya,

“Dan sekarang kau masih hidup.”

“Jadi kau tak mau semua barang milik orang hidup?”

“Tidak mau.”

“Tapi ada berapa jenis barang yang tak mungkin dimiliki

orang mati, seperti misalnya persahabatan.”

Orang itu memandangnya dengan sinar dingin, seakan

belum pernah mendengar kata “persahabatan”.

“Kau belum pernah memiliki sahabat?” tanya Siau-hong.

“Tidak!” jawaban orang itu singkat dan tegas.

Dia mulai berjalan lagi ke depan, tapi hanya selangkah

kemudian berhenti lagi, karena secara tiba-tiba ia

mendengar berkumandangnya suara derap kaki kuda yang

amat ramai dari kejauhan, suara itu gemuruh seperti suara

genderang perang, penuh diliputi hawa pembunuhan yang

kental.

Kemudian ia menyaksikan debu beterbangan dari

belakang gundukan pasir, ternyata yang datang bukan

hanya seekor kuda seorang.

Parasnya yang kurus seketika terlintas perubahan mimik

yang sangat aneh, tiba-tiba ia berbaring, berbaring di bawah

bayang- bayang gundukan pasir, mengawasi elang

pemangsa yang terbang berputar makin lama semakin

rendah.

Suara derap kaki kuda semakin mendekat. Pada saat

itulah, tiba-tiba terdengar desingan angin tajam bergema

membelah angkasa dan melesat ke tengah udara.

Tampaknya sang elang memiliki firasat yang tajam, dia

seakan sudah merasakan gejala yang tidak menguntungkan

bagi dirinya, ia siap terbang melesat ke tengah angkasa.

Sayang gerakannya terlambat selangkah, di mana angin

tajam menyambar, tiba-tiba tubuhnya menggelepar di

tengah angkasa, kemudian rontok jatuh ke bawah,

meluncur jatuh disertai sebatang anak panah.

Sebatang anak panah berbulu sepanjang tiga kaki

menerjang dari bawah sayap kirinya langsung tembus ke

punggung kanannya, membuat tubuh elang itu meluncur

jatuh dan tak pernah bergerak lagi.

Padahal waktu itu si pemanah masih berjarak tiga puluh

tombak dari tempat itu, namun anak panah yang dilepas

olehnya dapat menembus tubuh elang itu secara telak.

Sambil menghela napas gumam Siau-hong, “Terlepas

siapa pun orang itu, aku berharap dia datang bukan

lantaran sedang mencari aku.”

Suasana terasa begitu hening, sepi, langit nan biru serasa

makin suram, suara derap kaki kuda telah berhenti di

kejauhan sana, debu dan pasir yang beterbangan pun telah

mereda.

Elang kelaparan yang sedang menanti untuk makan

daging jenazah pun kini hanya bisa menunggu orang lain

melahap daging tubuhnya.

Semua irama kehidupan seolah terhenti pada detik itu,

namun kehidupan tetap harus berlanjut, suasana hening

seperti ini tak mungkin berlangsung terlalu lama.

Tak selang beberapa saat kemudian, suara derap kaki

kuda kembali berkumandang, tiga ekor kuda secepat anak

panah terlepas dari busur berlari mengitari gundukan pasir

dan bergerak mendekat, orang pertama adalah seorang

lelaki bermantel hitam dengan ikat pinggang berwarna

merah, di sisi pelana tergantung anak panah, dalam

genggamannya memegang gendawa, sedang sebilah golok

tergantung di pinggangnya.

Baru saja kuda itu berhenti, dia telah berdiri di depan

kudanya, manusia dan kuda sama-sama cekatan, yang luar

biasa adalah sinar matanya yang tajam menggidikkan,

membuat siapa pun tak berani menatapnya kelewat lama.

“Aku bernama Wi Thian-bong.”

Suara itu rendah dan berat, penuh keangkeran dan

keangkuhan. Dia hanya menyebut nama sendiri, seolah

nama itu sudah cukup menerangkan segala sesuatunya,

karena setiap orang seharusnya pernah mendengar

namanya dan siapa pun yang pernah mendengar nama itu

seharusnya bersikap hormat dan patuh kepadanya.

Tapi dua orang yang sedang terkapar di hadapannya

sama sekali tak bergerak, sedikit reaksi pun tak ada.

Sinar mata Wi Thian-bong yang tajam bagai mata golok

sedang mengawasi wajah Siau-hong tanpa berkedip,

mendadak tegurnya, “Tampaknya kau sudah berjalan

banyak hari di tengah gurun pasir, pasti telah bertemu

dengan badai pasir itu.”

Siau-hong tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.

Baginya badai itu pada hakikatnya bagaikan sebuah

impian yang sangat buruk.

“Dalam dua hari belakangan, apakah kau telah

menjumpai seseorang yang mencurigakan?” kembali Wi

Thian-bong bertanya.

“Ya, aku telah bertemu seseorang,” jawab Siau-hong.

“Siapa?”

“Aku!”

Kontan Wi Thian-bong menarik wajahnya, dia paling

tak suka gurauan semacam ini, tegurnya ketus, “Bila

bertemu orang yang mencurigakan, aku hanya mempunyai

satu cara untuk menghadapinya.”

“Aku tahu.”

“Apa yang kau ketahui?”

“Bila bertemu orang yang mencurigakan, kau pasti akan

memotong hidungnya, lalu memotong sebuah telinganya,

memaksa dia mengakui asal-usul serta identitasnya,

kemudian sekali bacok kau habisi nyawanya.”

“Apakah kau akan mengatakan juga bahwa dirimu

adalah orang yang mencurigakan?” ejek Wi Thian-bong

dingin. Siau-hong menghela napas panjang.

“Mau mengatakan atau tidak sama saja hasilnya. Bila

manusia seperti aku bukan orang yang mencurigakan, siapa

lagi yang pantas dicurigai?”

“Kau ingin aku menggunakan cara itu untuk

menghadapimu?”

“Bagaimana pun juga aku toh sudah hampir mati,

terserah cara apa yang hendak kau gunakan untuk

menghadapiku, karena tak masalah lagi untukku.”

“Tapi kau bisa saja tak usah mati, asal ada sekantung air

sekerat daging, maka nyawamu pasti akan terselamatkan.”

“Aku tahu.”

“Aku punya air, aku pun punya daging,” kembali Wi

Thian-bong berkata.

“Aku mengerti.”

“Mengapa kau tidak memohon kepadaku?”

“Kenapa aku harus memohon kepadamu?”

“Karena aku dapat menyelamatkan jiwamu!”

Siau-hong segera tertawa. “Bila kau bersedia

menolongku, tak perlu aku memohon kepadamu. Bila kau

enggan menolongku, memohon pun tak ada gunanya.”

Wi Thian-bong menatapnya tajam, menatap tubuhnya

dari atas hingga ke bawah, tapi secara tiba-tiba gendawanya

sudah ditarik kencang, anak panah telah terpasang di atas

busur dan… “Sreeeet!”, sebatang anak panah telah

dilepaskan.

Siau-hong tetap tak bergerak, bahkan mata pun tak

berkedip, sebab dia sudah melihat sasaran anak panah itu

bukan tertuju ke arah dirinya.

Anak panah itu dibidikkan ke arah orang berjubah putih

bermata elang, yang diarah pun bagian tubuh yang

mematikan.

Selama ini Wi Thian-bong seakan tak pernah menengok

ke arahnya, walau sekejap pun, tapi panah yang dilepaskan

tepat mengancam tenggorokannya.

Wi Thian-bong berjuluk Nu-ciam-sin-kiong (Panah

amarah gendawa sakti) selalu tepat sasaran, tak sekali pun

meleset dari targetnya.

Tapi kali ini ada pengecualian.

Orang berjubah putih itu hanya menggerakkan kedua jari

tangannya, tahu-tahu anak panah yang dilepas itu sudah

terjepit di antara jari tangannya.

Biji mata Wi Thian-bong segera berputar, cahaya setajam

sinar golok pun memancar keluar dari balik matanya.

Menyusul dua orang pemuda berpakaian ketat yang

berada di sisinya telah mencabut golok Sian-hong-to

mereka.

Tiba-tiba Wi Thian-bong mengayunkan tangan, dengan

gagang busurnya yang terbuat dari baja, dia pukul golok di

tangan mereka hingga rontok.

Kedua orang pemuda itu melengak.

“Tahukah kalian, siapakah orang itu?” kata Wi Thianbong

sambil tertawa dingin, “Hmm, hanya mengandalkan

kemampuan kalian berdua, berani mencabut golok?”

Kemudian perlahan-lahan ia membalikkan badan,

menghadap ke arah orang berjubah putih itu dan lanjutnya

ketus, “Bila kau menyangka dengan berlagak tidur di atas

tanah pura-pura mampus, lantas aku tak mengenal dirimu

lagi, maka kau keliru besar.”

“Jadi kau kenal dia? Siapa dia?” tak tahan Siau-hong

bertanya.

“Dia adalah Po Eng!”

“Po Eng!”

Siau-hong membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar.

Siapa pun itu orangnya, bila bertemu orang ini, sepasang

mata mereka pasti akan terbelalak lebar, karena di dunia

persilatan nyaris tiada orang kedua yang lebih misterius

daripada orang ini.

Dalam perjalanan hidupnya yang hingar-bingar terdapat

banyak kisah cerita, dan setiap kisahnya selalu dipenuhi

dengan misteri.

Siau-hong menghembuskan napas panjang, gumamnya,

“Sungguh tak kusangka, akhirnya pada hari ini aku dapat

berjumpa dengan Po Eng!”

“Aku pun tak menyangka,” sambung Wi Thian-bong.

“Kau punya dendam dengannya?”

“Tak ada.”

“Mengapa kau ingin membunuhnya?”

“Karena aku ingin menjajal, benarkah dia adalah Po

Eng.”

“Kalau dia adalah Po Eng, tak mungkin ia mati

tersambar panahmu. Bila dia mati, berarti orang itu bukan

Po Eng.”

“Tepat sekali.”

“Bila ia mati, yang mati tak lebih hanya seorang yang tak

tahu diri. Nu-ciam-sin-kiong-can-kui-to (Panah amarah

busur sakti golok pemenggal setan) sudah lama malangmelintang

di dunia persilatan, meski salah membunuh

orang bukanlah sesuatu hal yang luar biasa.”

“Benar, bukan hal yang luar biasa,” Wi Thian-bong

membenarkan, kemudian setelah berhenti sejenak,

lanjutnya dingin, “Demi uang emas sebanyak tiga puluh

laksa tahil, biarpun salah membunuh tiga sampai lima ratus

orang lagi pun bukan masalah.”

“Tiga puluh laksa tahil emas? Dari mana datangnya tiga

puluh laksa tahil emas?” tanya Siau-hong keheranan.

“Aku tahu dari mana uang itu berasal, tapi tak tahu ke

mana uang itu lari.”

Hari ini adalah bulan sembilan tanggal enam belas,

selisih dari hari kematian Thiat Gi yang mengenaskan serta

terbegalnya uang emas baru tiga-empat hari. Kasus

perampokan yang sangat menggemparkan dunia persilatan

ini belum ketahuan orang persilatan.

“Apakah kau menyangka dia pasti tahu?” kembali Siauhong

bertanya.

Wi Thian-bong tertawa dingin.

“Po-toakongcu sangat terhormat, kalau bukan lantaran

tiga puluh laksa tahil emas, buat apa dia mesti bersusahpayah

datang ke tempat gersang yang jauh dari arak wangi

dan perempuan cantik?”

Ooo)d*w(ooO

BAB 2. PANAH AMARAH

“Benar!” Siau-hong manggut-manggut.

“Po-toakongcu sekali keluar uang, ribuan tahil bisa

melayang, selama ini memandang harta bagaikan tahi

kerbau, kalau bukan lantaran seringkali memperoleh

tambahan dari luar. Dari mana dia peroleh begitu banyak

uang yang bisa dihamburkan semau sendiri?”

“Benar,” sekali lagi Siau-hong mengangguk, namun

setelah dipikir sejenak, tiba-tiba ujarnya, “Hanya ada satu

hal yang kurang tepat.”

“Hal apa?”

“Seberapa banyak uang emas tiga puluh laksa tahil? Aku

tak tahu karena belum pernah kulihat emas sebanyak itu,

aku hanya tahu sekalipun ada orang menghadiahkan emas

sebanyak tiga puluh laksa tahil kepadaku pun belum tentu

aku sanggup mengangkutnya.”

Kemudian setelah tertawa, kembali ujarnya, “Kau

anggap Po-toakongcu seorang diri sanggup mengangkut

emas sebesar tiga puluh laksa tahil?”

“Dari mana kau tahu kalau dia hanya sendirian?” jengek

Wi Thian-bong dingin.

“Aku memang datang lantaran persoalan ini!” tiba-tiba

Po Eng buka suara.

Sekali lagi biji mata Wi Thian-bong berkerut kencang.

“Pengeluaranku memang amat besar,” kembali Po Eng

berkata, “Jadi emas itu memang tepat untuk menutup

semua ongkos dan pengeluaranku.”

“Tiga puluh laksa tahil emas bukan jumlah yang sedikit,”

seru Wi Thian-bong.

Ternyata Po Eng tidak menyangkal, “Betul, memang

bukan jumlah yang kecil.”

“Oleh karena itu uang emas sebanyak itu teramat susah

disembunyikan walau terjatuh ke tangan siapa pun.”

“Memang susah sekali.”

“Kalau memang susah disembunyikan, berarti lebih

susah lagi untuk mengangkutnya pergi.”

Tiga hari setelah kejadian perampokan itu, seluruh

kawasan di seputar sana telah dikelilingi para pemburu

emas, memang tidak mudah untuk mengangkut tiga puluh

laksa tahil emas dari tempat itu tanpa diketahui orang lain.

Wi Thian-bong menatap tajam wajah Po Eng, katanya

lagi dengan ketus, “Oleh karena itu kuanjurkan, lebih baik

serahkan semua emas itu kepadaku.”

Tiba-tiba Po Eng menutup wajahnya dengan topi yang

dikenakan, sama sekali tak menggubris dirinya lagi.

“Dari mana kau bisa tahu kalau emas itu jatuh ke

tangannya?” tak tahan Siau-hong bertanya lagi.

“Jago yang mengawal emas murni itu adalah Thiat Gi.”

“Thiat-tan-sin-jiong (Peluru baja tombak sakti) Thiat Gi?”

Wi Thian-bong manggut-manggut, balik tanyanya, “Ada

berapa banyak jago dalam dunia persilatan yang mampu

membunuhnya?”

“Tidak banyak.”

“Tahukah kau, di saat emas itu dirampok, Thiat Gi

beserta ketiga puluh enam jago thiat-hiatnya mati dalam

keadaan mengenaskan?”

“Tidak tahu.”

“Dari mana Po-toakongcu bisa tahu?” Siau-hong tidak

bicara lagi.

Wi Thian-bong dengan tangan sebelah memegang busur,

tangan yang lain sudah mulai menggenggam gagang golok

yang tersoreng di pinggangnya.

Biarpun goloknya belum dicabut dari dalam sarungnya,

dari balik matanya telah terpancar napsu membunuh yang

jauh lebih menakutkan daripada mata golok.

Kalau bisa Siau-hong ingin sekali menyingkap topi yang

menutupi wajah Po Eng, agar dia dapat melihat sorot mata

lawan yang menakutkan itu.

Bila golok sudah dilolos dari sarungnya, setan pun dapat

ditebas Wi Thian-bong dengan sekali bacokan, apalagi

hanya seorang yang menutupi wajahnya dengan topi.

Apalagi dalam kantung kulitnya masih terdapat anak

panah, panah amarah yang lebih dahsyat dari guntur, lebih

cepat daripada kilat.

Topi itu masih menutupi wajahnya, golok pun masih

berada dalam sarung.

Tiba-tiba dari balik gundukan pasir berkumandang suara

jeritan ngeri yang memilukan. “Semi kolarkolo!”

Tentu saja Siau-hong tidak mengerti apa arti teriakan itu,

namun ia dapat mendengar jeritan itu dicekam perasaan

takut yang luar biasa, rasa takut, ngeri seakan ada seseorang

hendak mencabik-cabik tubuhnya.

Ketika ia mendengar jeritan ngeri itu, Wi Thian-bong

bagai panah yang terlepas dari busur telah melejit ke depan,

melewati gundukan pasir.

Sebetulnya ia sudah tak memiliki kekuatan tubuh lagi,

jangankan berdiri, bergerak pun sudah tak sanggup lagi, tapi

ia termasuk pemuda yang rasa ingin tahunya sangat kuat,

kadang kala rasa ingin tahu merupakan salah satu

penggerak kekuatan yang dimiliki manusia, menggerakkan

kekuatan terpendam yang paling purba dari makhluk

manusia.

Ternyata dia ikut melompat bangun, mengikut di

belakang Po Eng, melewati gundukan pasir itu.

Begitu keluar dari gundukan pasir, dia pun menyaksikan

sebuah pemandangan seram yang selama hidup tak

mungkin akan terlupakan.

Coba kalau lambungnya saat ini tidak berada dalam

keadaan kosong, kemungkinan besar ia sudah

memuntahkan seluruh isi perutnya.

Kuda masih berlari kalap, namun tubuh manusia telah

terkapar tumpang tindih.

Tiga puluh enam jago pedang kilat angin puyuh anak

buah Wi Thian-bong, sudah ada tiga puluh empat orang

yang roboh bersimbah darah.

Golok mereka rata-rata belum sempat dicabut dari

sarungnya. Padahal kawanan jago itu merupakan jago

golok kilat yang amat tersohor dalam dunia persilatan,

namun belum sempat mereka melolos senjata, nyawa

mereka sudah melayang di tangan orang.

Kematian orang-orang itu tidak mirip mati di tangan

orang lain, tapi mati karena dicakar seekor kucing, sebab

pada wajah setiap orang tertinggal tiga buah bekas cakaran

kucing yang masih mengeluarkan darah.

Seorang berpakaian Tibet, dengan wajah luyuh dan sayu

kini mengejang karena takut dan ngeri yang mencekam,

sedang berlutut di atas tanah, mengangkat tinggi-tinggi

sepasang tangannya dan berteriak berulang kali ke atas

langit, “Semi kolarkolo!”

Tahun ini Su-ma berusia lima puluh satu tahun, sejak

umur tiga puluh empat tahun ia sudah bekerja sebagai

penunjuk jalan bagi bangsa Han, kecuali Ma-luk, saudara

satu sukunya, jarang ada yang hapal wilayah gurun pasir

sehapal dirinya.

Gurun pasir yang tak berperasaan, bagaikan sebuah

impian buruk yang menakutkan, walaupun terkadang bisa

muncul pemandangan indah yang bisa membuat orang

kalap dan gila, namun pada akhirnya hanya kematian yang

datang menghampiri.

Baginya kematian sudah bukan merupakan suatu

kejadian yang menakutkan, ia sudah terlalu sering

menyaksikan tulang-belulang manusia yang mati tercecer di

tengah gurun.

Selama hidup belum pernah juga terlihat ia begitu

ketakutan, sedemikian takutnya hingga tubuhnya

mengejang keras.

Ketakutan pun merupakan semacam penyakit yang

sangat menular, seperti penyakit menular yang mematikan,

melihat orang lain ketakutan, terkadang diri sendiri pun jadi

ikut takut, ketakutan yang membingungkan.

Apalagi tiga puluh enam golok kilat angin puyuh yang

nama besarnya telah menggetarkan sungai telaga, ternyata

dalam waktu singkat nyaris mati mengenaskan secara

bersamaan, peristiwa ini sendiri pun sudah merupakan

sesuatu yang amat menakutkan.

Tiba-tiba saja Siau-hong merasakan kaki tangannya ikut

dingin, dingin sebeku salju, peluh dingin bercucuran

membasahi tubuhnya, meleleh melalui ujung hidungnya.

Sewaktu ia melompat bangun tadi, Po Eng masih

berbaring, wajahnya masih tertutup topi, tapi ketika ia

berputar ke balik gundukan pasir, ternyata Po Eng telah

berdiri di situ.

Po Eng berdiri dengan wajah hambar, sama sekali tak

nampak perubahan mimik mukanya.

Yang mengalir dalam tubuh Po Eng seakan bukan darah

yang panas, melainkan air salju, air yang dingin.

Namun Siau-hong seolah mendengar mulutnya sedang

menggumam lirih, mengulang mantra menakutkan yang

didengarnya berulang kali.

“Semi kolarkolo!”

“Apakah kau mengerti apa arti mantra itu?” Siau-hong

segera bertanya.

“Aku mengerti.”

“Apakah kau bersedia memberitahukan kepadaku?”

“Bersedia.”

“Apakah semi artinya beras yang terbuat dari batu

kerikil?” kembali Siau-hong bertanya.

“Bukan, batu kerikil bukan beras, batu kerikil tak bisa

jadi beras, batu kerikil tak bisa dimakan, bila batu kerikil

bisa dimakan, tak ada orang yang mati kelaparan di dunia

ini.”

“Tapi aku seperti mendengar orang itu menyebut semi

dan kau pun sempat mengulangnya.”

“Itu bahasa Tibet!”

“Apa maksud semi dalam bahasa Tibet?”

“Kucing!”

“Kucing?”

“Ya, kucing!”

Kucing adalah sejenis binatang yang sangat penurut,

binatang yang sering dijumpai dalam kehidupan manusia,

jangankan orang dewasa, nona kecil berusia enam-tujuh

tahun pun berani membopong kucing dalam pelukannya.

Kucing suka makan ikan.

Manusia pun suka makan ikan, makan lebih banyak ikan

daripada kucing.

Kucing suka makan tikus.

Banyak orang takut tikus, namun jarang yang takut

kucing.

“Apa seramnya seekor kucing? Ikan saja tak takut

kucing, ikan hanya takut manusia, manusia yang

menangkap ikan.”

“Betul.”

“Hanya tikus yang takut kucing.”

“Tepat sekali!”

Tiba-tiba sinar mata elangnya memancarkan cahaya

yang sangat aneh, seakan dia sedang mengawasi sebuah

tempat menakutkan di kejauhan yang penuh diliputi

kemisteriusan dan keanehan.

Tampaknya Siau-hong pun seakan terbius, terpengaruh

oleh situasi penuh misteri ini, ternyata ia tidak bertanya

lebih jauh.

Wi Thian-bong masih berusaha keras memulihkan

kembali ketenangan Su-ma, minta dia untuk bercerita

kembali kisah yang baru saja dialaminya, tapi sayang, orang

Tibet yang paling gemar minum arak Cing-ko-ciu (arak dari

sorgum) ini masih tetap tak mampu menenangkan hatinya.

Lewat lama kemudian Po Eng dengan nada perlahan

baru berkata lebih jauh, “Konon di ujung dunia terdapat

sebuah puncak gunung yang lebih tinggi dari langit, bukan

saja puncak gunung itu diselimuti salju abadi yang tak

terhingga tebalnya, bahkan di sana pun hidup siluman iblis

yang jauh lebih menakutkan dari setan mana pun…”

“Apakah kau maksudkan puncak Cu-mu-lang-ma

(Himalaya)?” tanya Siau-hong.

Po Eng manggut-manggut.

“Siluman iblis yang kumaksud adalah kucing,” katanya,

“Walaupun tubuhnya berwujud manusia, namun kepalanya

masih tetap berupa kucing.”

” Kolarkolo apa artinya?”

“Penyamun, bandit, rampok, semacam rampok yang

sangat ganas dan jahat, bukan saja merampok harta

kekayaan manusia, dia pun makan daging dan mengisap

darah manusia.”

Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya,

“Kebanyakan mereka adalah orang-orang suku Gorlo yang

hidup jauh di perbatasan Tibet, cara mereka hidup, budaya

serta dialek bicara jauh berbeda dengan orang lain, bahkan

sifat mereka buas, ganas dan barbar, jauh lebih buas dan

kejam daripada orang-orang suku Kazak.”

Akhirnya dia menambahkan lagi, “Gorlo dalam bahasa

Sansekerta masih memiliki arti lain”

“Apa artinya?”

“Kepala siluman.” Siau-hong menghela napas panjang.

“Ai, siluman iblis bertubuh manusia berkepala kucing,

bandit berkepala siluman yang buas, ganas dan barbar….”

Dia pandang Su-ma sekejap, kemudian melanjutkan,

“Tak aneh orang ini ketakutan setengah mati, bahkan

sekarang aku pun mulai merasa sedikit takut.”

Mendadak Wi Thian-bong menarik tangan Su-ma yang

tiada hentinya mengejang keras, jari tangannya satu demi

satu dipentangkan dengan paksa.

Ternyata dia menggenggam sebuah panji kecil, di atas

panji kecil itu tampak sebuah sulaman yang

menggambarkan siluman iblis bertubuh manusia berkepala

kucing.

Lagi-lagi Su-ma berlutut di tanah, dia menyembah panji

kecil itu berulang kali, sementara mulutnya komat-kamit

membaca mantera, setiap kata yang dikatakan tak jauh dari

“Semi kolarkolo!”.

Kini Siau-hong sudah memahami arti perkataan itu,

bandit berkepala kucing!

Akhirnya Su-ma berhasil menenangkan hatinya, dia pun

mulai menceritakan semua peristiwa yang disaksikannya

barusan.

Ketiga puluh empat orang golok kilat angin puyuh

ternyata tewas di tangan bandit berkepala kucing ini.

Mereka muncul secara tiba-tiba bagaikan setan

gentayangan, tubuh mereka berwujud manusia tapi

berkepala kucing, di atas jidat masing-masing tumbuh

telinga kucing yang menyerupai tanduk.

Mereka benar-benar memiliki daya pengaruh iblis yang

aneh tapi mematikan, karena itu kawanan jago golok kilat

yang sudah lama berlatih diri pun tewas secara

mengenaskan di tangan mereka, mereka tak sempat

mencabut senjata masing-masing.

Mereka sengaja membiarkan Su-ma tetap hidup, karena

mereka ingin orang Tibet ini menyampaikan pesan kepada

Wi Thian-bong.

Merekalah yang telah merampok emas itu dan

membunuh orang, barang siapa berani melacak dan

menyelidiki peristiwa ini, dia bakal mati secara

mengenaskan, setelah mati sukmanya akan dibekuk dan

dimasukkan ke penjara salju abadi di puncak gunung Cumu-

lang-ma hingga sepanjang masa tersiksa oleh dinginnya

salju dan tak pernah bisa reinkarnasi kembali.

Langit lambat-laun semakin gelap, seluruh jagat raya

seolah secara tiba-tiba diselimuti hawa dingin yang

menyayat dan penuh hawa pembunuhan.

Siau-hong ingin sekali mencari arak Cing-ko-ciu untuk

menghangatkan tubuh.

Di setiap saku kawanan jago golok kilat angin puyuh itu,

meski tidak membawa arak, paling tidak mereka membawa

air, sekarang air itu sudah tak berguna lagi bagi mereka.

Tapi para begal kucing bukan saja telah merenggut

nyawa mereka, bahkan kantung kulit kambing berisi air

yang mereka gembol pun ikut dirampas.

Dengan tenang Wi Thian-bong mendengarkan

penuturan Su-ma hingga selesai, tiba-tiba ia membalikkan

badan, lalu sambil menatap Po Eng tanyanya, “Kau percaya

perkataannya?”

“Tidak kutemukan alasan mengapa dia harus

berbohong,” jawab Po Eng tenang.

“Jadi kau percaya kalau di dunia ini benar-benar terdapat

makhluk siluman bertubuh manusia berkepala kucing?”

dengus Wi Thian-bong sambil tertawa dingin.

“Kau tidak percaya?”

“Aku pun tidak percaya,” tiba-tiba Siau-hong menyela,

“Tapi aku percaya kalau tiga puluh laksa tahil emas itu pasti

dirampok kawanan begal kucing.”

“Siapa pun itu orangnya, asal dia mengenakan topeng

berwajah kucing, maka dia pun bisa menyebut diri sebagai

begal kucing,” kata Wi Thian-bong.

“Siapa mampu berbuat begitu?” tanya Siau-hong seolaholah

menegaskan, “Siapa orangnya yang dapat membunuh

tiga puluh empat orang jago golok kilat angin puyuh dalam

sekejap mata? Siapa pula orang yang sanggup menghabisi

nyawa Peluru baja tombak sakti beserta ketiga puluh enam

orang darah bajanya?”

Wi Thian-bong terbungkam, ia tak mampu bicara lagi.

Sekalipun begal kucing bukan siluman iblis tapi manusia,

dia pastilah manusia yang sangat menakutkan.

Bukan saja sepak-terjang mereka tak menentu, bahkan

pasti memiliki ilmu silat yang penuh misteri dan hebat.

“Aku hanya percaya satu hal,” tiba-tiba Po Eng menyela.

“Soal apa?”

“Bila mereka ingin membunuh seseorang, pastilah hal ini

bukan suatu pekerjaan yang terlalu sulit.”

Berubah paras Wi Thian-bong.

Ditatapnya wajah orang itu dengan pandangan dingin,

kemudian Po Eng berkata lagi, “Ada satu hal lagi harus kau

pahami.”

“Katakan!”

“Jika aku adalah begal kucing, sekarang kau sudah

menjadi orang mati.”

Wi Thian-bong tidak bicara lagi, dia membalikkan tubuh

langsung pergi meninggalkan tempat itu.

Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, Siau-hong

mengira dia bakal turun tangan.

Tangan yang digunakan untuk menggenggam golok telah

berubah mengejang, setiap ruas, setiap otot jari tangannya

telah memutih karena genggamannya yang sangat kuat.

Ilmu goloknya dapat dipastikan berada pada deretan

sepuluh besar di antara ilmu golok tersohor lainnya di

kolong langit, Golok Pemenggal setannya tajam dan berat,

bahkan istimewa panjangnya. Perawakan tubuhnya pun

jauh lebih tinggi besar bila dibandingkan Po Eng.

Sebaliknya Po Eng kelihatan kecil dan lemah, kecuali

sepasang matanya yang tajam bagai mata elang, bagian

tubuh lainnya kelihatan sangat lemah, khususnya sepasang

tangannya itu, jauh lebih halus dan lembut daripada tangan

seorang wanita.

Bahkan Siau-hong pun tidak percaya kalau dia sanggup

menghadapi Panah amarah busur sakti golok pemenggal

setan yang namanya telah menggetarkan kolong langit ini.

Tapi jalan pikiran Wi Thian-bong justru bertolak

belakang.

Oleh karena itulah dia pergi, pergi dengan mengajak

serta dua orang pengawalnya yang tersisa dari tiga puluh

enam golok kilat angin puyuh, berlalu tanpa mengucapkan

separah kata pun.

Tak dapat disangkal Wi Thian-bong memang seorang

jago yang pandai mengendalikan diri, dia banyak

pengalaman dan luas pengetahuannya, bahkan sikapnya

dingin dan sadis, pandai melihat gelagat.

Sewaktu berlalu, dia bahkan tidak memandang lagi

mayat-mayat yang berserakan di atas pasir, walau sekejap

pun, meski mereka adalah anak muridnya, tapi sekarang

sama sekali tak berguna.

Siau-hong tak kuasa menahan diri, dia segera bertanya,

“Kenapa kau tidak mengubur mereka terlebih dulu sebelum

pergi?”

Jawaban yang diberikan Wi Thian-bong seperti sikapnya

sewaktu melakukan pekerjaan lain, membuat orang

tercengang dan tanpa kompromi.

“Aku telah mengubur mereka secara massal,” katanya,

“Mengubur secara alami!”

Po Eng belum beranjak pergi.

Lagi-lagi dia membaringkan diri, berbaring di belakang

gundukan pasir tempat yang ideal untuk berteduh dari

hembusan angin, bahkan menggunakan jubah putihnya

yang lebar untuk membungkus tubuhnya.

Gurun pasir tak ubahnya bagaikan seorang wanita yang

banyak bertingkah, sewaktu panas, dia dapat membakar

tubuhmu, tapi ketika dingin, ia dapat membuat peredaran

darahmu membeku.

Begitu menjelang malam, gurun pasir yang semula panas

gersang bagai api membara akan berubah jadi dingin

membekukan badan, ditambah lagi dengan kegelapan yang

tiada bertepian, tanpa berisik tanpa menimbulkan suara,

seakan telah membinasakan seluruh kehidupan di dunia ini.

Tiada seorang pun bersedia menyerempet bahaya

semacam ini.

Kini langit baru saja menjadi gelap, jelas Po Eng

berencana untuk tetap tinggal di sana melewatkan malam

panjang yang tak berperasaan.

Siau-hong duduk di sampingnya, tiba-tiba ujarnya sambil

tertawa, “Benar-benar minta maaf.”

“Kenapa harus minta maaf?”

“Karena ketika mendusin esok pagi, aku pasti masih

hidup, bila kau ingin menunggu kematianku, pasti harus

menunggu lama sekali.”

Dia telah menemukan bangkai elang yang siang tadi

ingin melahap tubuhnya, sekarang ia sedang bersiap

melahap bangkai elang itu.

Kembali ujarnya sambil menghela napas, “Sekarang aku

baru tahu, ketika berada dalam keadaan terdesak, seorang

akan berubah tak bedanya dengan seekor elang pemakan

bangkai.”

“Di saat biasa pun mereka tak ada bedanya….” sela Po

Eng.

“O, ya?”

“Setiap hari kau makan daging sapi?”

“Ya, makan!”

“Bukankah daging sapi yang kau makan berasal dari

bangkai sapi.”

Siau-hong tertawa getir.

Dia memang hanya bisa tertawa getir, walaupun

perkataan Po Eng tajam, sadis tanpa perasaan, namun

perkataannya sukar terbantahkan. Hingga kini “Ci-hu”

belum roboh.

Ia bisa bertahan sampai sekarang karena Siau-hong telah

memberi sisa air terakhir yang dimilikinya untuk kuda itu,

meski kuda tergolong binatang namun sifat binatang kuda

sangat tipis dibandingkan manusia, paling tidak ia tak

doyan anyirnya darah. Dia pun bukan pemakan bangkai.

Tiba-tiba Po Eng berkata lagi, “Kau bukan saja

mempunyai pedang yang bagus, ternyata mempunyai kuda

yang hebat pula.”

“Sayangnya aku adalah manusia yang tak terhitung

orang baik,” sahut Siau-hong sambil tertawa getir.

“Oleh karena itulah orang lain menjulukimu Siau-hong

yang tak mau nyawa sendiri.”

“Hah, jadi kau tahu?” seru Siau-hong agak terperanjat.

Kini langit sudah semakin gelap, susah untuk melihat

perubahan mimik wajahnya, namun suaranya masih

dipenuhi rasa terkejut bercampur keheranan. “Dari mana

kau bisa tahu?” teriaknya lagi.

“Hanya sedikit yang tidak kuketahui.”

“Apa lagi yang kau ketahui?”

“Kau memang seorang pemuda yang benar-benar tak

mau nyawa sendiri, watak keras luar biasa, tulang keras luar

biasa, terkadang royal setengah mati, terkadang juga miskin

bukan kepalang, ada kalanya menginginkan nyawa orang

lain, ada kalanya juga orang lain menginginkan nyawamu.”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan hambar,

“Kini paling tidak ada tiga belas orang sedang

menguntitmu, menginginkan nyawamu.”

Bukannya takut, Siau-hong malah tertawa lebar.

“Hahaha, cuma tiga belas orang?” katanya, “Aku malah

menyangka masih ada lebih banyak lagi.”

“Padahal tak perlu tiga belas orang datang semua, asal

dua orang di antaranya muncul di sini pun sudah lebih dari

cukup.”

“Dua orang yang mana?”

“Siu-hun-jiu (Tangan maut pencabut nyawa) dan Sui-gin

(Air raksa)”

“Air raksa?”

“Kau belum pernah mendengar nama orang ini?”

“Siapa Sui-gin itu? Manusia macam apa dia?”

“Tak seorang pun tahu manusia macam apakah dia,

bahkan laki perempuan pun tak ada yang tahu. Aku hanya

tahu dia adalah seorang pembunuh, seseorang yang hidup

sebagai pembunuh.”

“Bukan hanya dia seorang yang hidup sebagai

pembunuh.”

“Tapi paling tidak harga yang dia minta untuk satu

nyawa sepuluh kali lipat lebih mahal dari tawaran orang

lain, sebab belum pernah korbannya berhasil lolos dari

tangannya.”

“Aku sangat berharap dia adalah seorang wanita, seorang

nona cilik yang cantik dan menawan. Bila aku harus mati,

mati di tangan seorang gadis cantik jauh lebih nyaman dan

menyenangkan.”

“Mungkin saja dia seorang wanita, mungkin seorang

nona kecil yang cantik jelita, tapi mungkin juga dia adalah

seorang kakek bangkotan, bahkan seorang nenek peyot.”

“Mungkin juga dirimu!” Siau-hong menambahkan.

Po Eng tidak langsung menjawab, ia termenung dulu,

lewat lama kemudian baru jawabnya, “Mungkin juga aku!”

Angin berhembus makin dingin, kegelapan malam

semakin mencengkeram seluruh jagat, dua orang itu

berbaring tenang di tengah kegelapan malam, masingmasing

tak dapat melihat perubahan mimik muka

lawannya.

Kembali lewat lama sekali, tiba-tiba Siau-hong berkata

lagi sambil tertawa, “Aku tidak sepatutnya mencurigai

dirimu.”

“O, ya?”

“Kalau kau adalah Air raksa, sekarang aku pasti sudah

menjadi orang mati!”

“Aku belum membunuhmu, mungkin saja karena aku

memang tak perlu terburu napsu,” kata Po Eng dingin.

“Mungkin.”

“Oleh karena itu, begitu ada kesempatan, kau seharusnya

segera berusaha membunuhku.”

“Kalau kau bukan Air raksa?”

“Lebih baik salah bunuh daripada dibunuh orang.”

“Aku pernah membunuh orang, tapi belum pernah salah

membunuh orang baik.”

“Berarti semua yang kau bunuh adalah orang yang

pantas mati?”

“Tepat sekali.”

“Tapi aku tahu, paling tidak kau telah salah membunuh

seseorang.”

“Siapa?”

“Lu Thian-po”

Setelah berhenti sejenak, kembali Po Eng melanjutkan,

“Padahal kau tahu, dia adalah putra tunggal Hok-kui-sinsian

(Dewa kaya dan terhormat), kau pun sudah tahu bila

membunuh Lu Thian-po, maka dia tak bakal melepaskan

dirimu. Tentu kau juga tahu banyak orang persilatan yang

bersedia menjual nyawa untuknya.”

“Aku tahu.”

“Mengapa kau harus membunuhnya?”

“Karena dia pantas mati, pantas dibunuh.”

“Tapi setelah berhasil membunuhnya, kau sendiri pun

tak bisa hidup lebih lama lagi.”

“Sekalipun setelah membunuhnya aku segera bakal mati,

aku tetap harus membunuhnya.”

Tiba-tiba suaranya penuh diliputi hawa amarah yang

kental, terusnya, “Sekalipun tubuhku bakal dicincang orang

hingga hancur berkeping-keping, meski sukmaku bakal

dijebloskan ke neraka delapan belas tingkat, aku tetap akan

membunuhnya, dia tetap harus mati.”

“Asal kau menganggap orang itu pantas dibunuh, apakah

kau tetap akan membunuhnya, terlepas siapakah dirinya,

semuanya sama saja?”

“Betul, biarpun dia kaisar yang memerintah negeri ini

pun aku tetap akan membunuhnya.”

Tiba-tiba Po Eng menghela napas, ujarnya, “Ai, maka

saat ini kau hanya menunggu orang lain datang mencabut

nyawamu!”

“Aku selalu menunggu, setiap saat setiap detik selalu

menunggu.”

“Kau tak bakal menunggu terlalu lama,” kata Po Eng

dengan nada berat dan dalam.

Kegelapan yang tak bertepian, keheningan bagai

semuanya telah mati, tiada cahaya, tiada suara, tiada

kehidupan.

Siau-hong sendiri pun tahu, dia tak perlu menunggu

terlalu lama, dari hati kecilnya telah timbul semacam firasat

tak baik.

Air raksa adalah cairan yang dapat menyusup setiap

lubang pori, dia tak akan melepaskan setiap kesempatan

yang dijumpai.

Air raksa ketika bergerak sama sekali tidak menimbulkan

suara.

Asal kau biarkan setetes air raksa mengalir masuk ke

dalam tubuhmu, dia akan mengelupas seluruh kulit

tubuhmu.

Bila seseorang sampai disebut Sui-gin, air raksa, tentu

saja dia mempunyai sebab-musababnya.

Siau-hong sendiri pun tahu, dia pastilah seseorang yang

teramat menakutkan!

Luka yang dideritanya tidak terhitung ringan, mulut luka

sudah mulai membusuk, darah dan daging seekor elang

belum cukup untuk memulihkan kekuatan tubuhnya,

berada dalam keadaan seperti ini tampaknya dia hanya bisa

menanti datangnya saat kematian.

Menunggu saat ajal sesungguhnya merupakan satu

kejadian yang menakutkan, bahkan jauh lebih menakutkan

dari ‘kematian’ itu sendiri.

Tiba-tiba Po Eng bertanya lagi, “Tahukah kau manusia

macam apakah Siu-hun-jiu, si Tangan maut pencabut

nyawa?”

“Aku tahu!”

Siu-hun-jiu, si Tangan maut pencabut nyawa berasal dari

marga Han, bernama Cang.

Orang ini tidak terlalu sering berkelana dalam dunia

persilatan, tapi namanya sangat tersohor, karena dia adalah

salah satu dari empat jagoan yang dipelihara Hok-kui-sinsian.

Senjata andalannya adalah sebuah senjata khas yang

disebut Tangan maut pencabut nyawa, sudah lama punah

dari kalangan dunia persilatan. Bukan saja jurus

serangannya ganas, keji dan mematikan, entah berapa

banyak nyawa sudah lenyap di ujung senjata itu.

“Tapi ada satu hal kau pasti tak tahu,” ucap Po Eng.

“Soal apa?”

“Dia masih mempunyai julukan lain, semua

sahabatnya memanggilnya dengan sebutan itu.”

“Apa julukannya?”

“Si buta!”

Buta bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Tapi begitu mendengar julukan itu, Siau-hong segera

merasakan hatinya seolah tenggelam ke dasar samudra.

Orang buta tak bisa melihat apa-apa, ketika seorang buta

hendak membunuh seseorang, dia tak perlu melihat

korbannya karena dia tetap dapat menghabisi nyawanya.

Di tengah kegelapan malam seperti ini pun seorang buta

tetap dapat membunuh lawannya.

Tiada cahaya bintang, tiada cahaya rembulan, di tengah

kegelapan malam yang mudah membuat orang lain putus

asa, sepasang mata si buta justru jauh lebih tajam dan lebih

menakutkan.

“Sesungguhnya dia sama sekali tak buta seratus persen,

tapi tak ada bedanya dengan orang buta lainnya, beberapa

tahun berselang sepasang matanya pernah terluka,

bahkan….”

Ia tidak melanjutkan kata-katanya, ucapan itu seakan

terbabat putus secara tiba-tiba oleh tebasan sebuah golok

tajam.

Dalam waktu sekejap Siau-hong merasakan bulu

kuduknya berdiri, rasa seram dan ngeri yang luar biasa

membuatnya bergidik.

Dia tahu apa sebabnya Po Eng tiba-tiba tutup mulut,

karena dia pun telah mendengar suatu suara yang aneh,

bukan suara langkah kaki, bukan pula suara dengusan

napas, melainkan sejenis suara lain yang aneh.

Semacam suara yang tak bisa didengar dengan telinga,

suara yang tak akan bisa ditangkap dengan telinga,

semacam suara yang hanya bisa dirasakan dengan insting

seekor binatang liar.

Seseorang telah muncul di sana! Seseorang yang datang

untuk mencabut nyawanya!

Dia tak dapat melihat kehadiran orang itu, bahkan

bayangannya pun tak tampak, tapi ia dapat merasakan

kehadirannya, jarak mereka kian lama kian bertambah

dekat.

Jagat raya yang begitu dingin membeku, butiran pasir

yang dingin membeku, mata pedang yang dingin membeku.

Siau-hong telah menggenggam pedangnya,

menggenggam sangat kencang.

Dia masih belum dapat melihat kehadiran orang itu,

bahkan bayangan pun tak tampak.

Tapi ia dapat merasakan semacam hawa pembunuhan

yang membetot sukma.

Tiba-tiba ia ia menggelinding ke arah Po Eng berada.

Tadi jelas sekali Po Eng masih berbaring di sana, tidak

jauh dari tubuhnya, tapi sekarang ia sudah tak berada di

sana.

Tapi di sisi lain pasti telah muncul seseorang, orang itu

berada dekat dengannya, sedang siap menanti merenggut

nyawanya.

Ia tak berani bergerak lagi, tak berani mengeluarkan

sedikit suara pun, tubuhnya seolah makin lama semakin

bertambah membeku, makin kaku.

Sekonyong-konyong dia mendengar lagi suara desingan

angin tajam yang membelah udara.

Dia sudah mulai mengembara dalam dunia persilatan

sejak usia empat belas tahun, selama ini dia mengembara

dalam dunia Kangouw bagaikan seekor serigala liar.

Sudah terlampau sering dia merasakan sodokan tinju,

pernah ditampar orang, pernah kena bacokan, pernah

ditusuk pedang, bahkan pernah mencicipi hajaran berbagai

senjata dan Am-gi.

Kini ia dapat mendengar suara desingan angin tajam itu

berasal dari sejenis senjata rahasia yang membelah angkasa,

sejenis Am-gi yang kecil dan lembut sekali bentuknya.

Biasanya senjata rahasia tajam dan lembut semacam ini

ditembakkan dari sebuah alat penembak yang dilengkapi

pegas berkekuatan tinggi, bahkan sangat beracun dan

mematikan.

Dia tidak berkelit, sama sekali tak bergerak. Sebab bila

bergerak, dia pasti akan mati!

Senjata rahasia itu sudah meluncur tiba, menghajar di

atas butiran pasir di samping tubuhnya.

Orang itu sudah memperkirakan ia pasti akan

menghindar, pasti akan bergerak, maka senjata rahasia itu

bukan diarahkan ke tubuh korbannya, melainkan

menghajar jalan mundurnya, ke mana pun dia menghindar,

asal bergerak berarti pasti akan mampus.

Untungnya dia tak bergerak, sama sekali tak

menghindar.

Ia dapat menangkap suara desingan angin tajam itu

bukan ditujukan langsung ke tubuhnya, dia telah

memperhitungkan secara tepat maksud dan tujuan orang

itu.

Tentu saja dia tidak yakin seratus persen, dalam

menghadapi kejadian seperti ini siapa pun tak nanti

memiliki keyakinan seratus persen.

Dalam situasi yang kritis seperti ini, dia memang tak

punya waktu untuk banyak berpikir.

Sekalipun begitu dia tetap harus bertaruh, menggunakan

nyawa sendiri sebagai barang taruhan, menggunakan

analisa sendiri sebagai modal taruhan.

Dalam taruhan kali ini, ia berhasil memenangkannya.

Ooo)d*w(ooO

BAB 3. SI BUTA

Namun taruhan ini belum selesai, dia harus bertaruh

lebih jauh, pihak lawan pasti tak akan melepaskan dirinya

begitu saja.

Walaupun kali ini dia menang, tidak menjamin

berikutnya akan menang lagi, setiap saat kemungkinan

besar dia akan kalah, kalau sampai kalah berarti nyawa

harus digadaikan.

Malah kemungkinan besar sebelum sempat melihat jelas

tampang lawannya, ia sudah harus menggadaikan

nyawanya karena kalah.

Sebetulnya dia sudah siap menghadapi kematian, namun

mati dengan cara begini membuatnya tak puas, merasa

tidak rela.

Tiba-tiba ia mulai terbatuk-batuk.

Kalau orang batuk tentu akan menimbulkan suara, kalau

ada suara berarti ada target, dia telah menelanjangi posisi

sembunyi sendiri kepada pihak lawan.

Dengan cepat ia mendengar lagi suara deru angin tajam,

segulung angin tajam yang seakan hendak mencabik-cabik

tubuhnya.

Dengan satu gerakan cepat dia menerobos maju,

menggunakan segenap kekuatan tersembunyi yang

dimilikinya untuk menyusup keluar, menyusup keluar dari

bawah desingan angin tajam itu.

Tiba-tiba terlihat kilatan cahaya pedang di tengah

kegelapan.

Rupanya di saat ia terbatuk lagi, pedangnya telah dilolos

dari sarungnya, salah satu di antara tujuh bilah pedang

paling tajam di kolong langit.

Di antara kilatan cahaya pedang, terdengar… “Triiing!”,

lalu terdengar sebuah benda logam terjatuh ke atas pasir.

Setelah suara itu, suasana kembali dicekam dalam

keheningan yang luar biasa.

Siau-hong tidak bergerak lagi, sampai napas pun seolah

ikut berhenti, satu-satunya yang bisa dia rasakan sekarang

hanya peluh dingin yang meleleh ke bawah melalui ujung

hidungnya.

Entah berapa lama sudah lewat, tapi yang pasti masa

yang begitu panjang dan lama yang pernah dia alami

selama ini, sebelum akhirnya terdengar lagi semacam suara

lain.

Suara yang sedang ia nantikan selama ini.

Begitu mendengar suara itu, sekujur tubuhnya seketika

terasa bagaikan dilolos dari kulitnya, perlahan-lahan ia

roboh terjungkal ke tanah.

Suara yang didengar Siau-hong adalalah suara rintihan

yang amat lemah dan lirih serta suara dengusan napas

memburu.

Hanya manusia dalam keadaan kesakitan setengah mati

hingga tak mampu mengendalikan dirilah yang bakal

mengeluarkan suara semacam ini.

Ia tahu dalam pertempuran ini, lagi-lagi ia telah

memperoleh kemenangan, meskipun kemenangan itu diraih

dengan susah-payah dan mengenaskan, namun dia tetap

berhasil memenangkannya.

Ia pernah menang, sering menang, itulah sebabnya dia

masih hidup hingga sekarang.

Ia selalu berpendapat, bagaimana pun menang dan tetap

hidup, paling tidak jauh lebih baik daripada kalah dan

menghadapi kematian.

Tapi kali ini dia nyaris tak bisa membedakan bagaimana

rasanya meraih kemenangan, sekujur tubuhnya secara tibatiba

jadi lemas, seluruh tulangnya seakan dilolos, ia

merasakan semacam kelemasan yang luar biasa karena

seluruh otot dan syarafnya mengendor.

Empat penjuru masih diliputi kegelapan luar biasa,

kegelapan tanpa tepian, kegelapan yang gampang membuat

orang putus asa.

Menang atau kalah seakan sama sekali tak ada bedanya,

membuka mata atau memejamkan mata pun sama sekali

tak ada bedanya.

Lambat-laun kelopak matanya terasa makin berat,

seakan ingin terpejam rapat, dia tak sanggup

mempertahankan diri lagi, karena hidup dan mati seakan

sudah tak ada perbedaan pula.

Kau tak boleh mati!

Selama masih ada secercah kesempatan dan harapan,

kau tak boleh melepaskannya begitu saja.

Hanya lelaki bermental tempe, lelaki lemah yang akan

melepaskan kesempatan untuk tetap hidup.

Tiba-tiba Siau-hong tersentak kaget, mendusin dari rasa

kantuk dan melompat bangun.

Entah sejak kapan dari balik kegelapan tiba-tiba terlihat

cahaya.

Cahaya terang pun seperti kegelapan, selalu datang

secara tiba-tiba, tak pernah jelas dia akan muncul di saat

kapan, tapi kau harus merasa yakin, cepat atau lambat sinar

terang pasti akan datang juga.

Akhirnya dia dapat melihat orang itu, seseorang yang

selama ini berusaha merenggut nyawanya.

Orang itu pun belum mati.

Dia masih meronta, masih bergerak, bergerak dengan

susah payah dan lambat, seperti seekor ikan sekarat yang

terkurung di tengah gundukan pasir panas.

Baru saja dia mengambil semacam barang.

Tiba-tiba Siau-hong menerkam ke depan, menerkam

dengan sekuat tenaga, karena ia telah melihat barang apa

yang berada dalam genggaman orang itu, sebuah kantung

terbuat dari kulit kambing yang berisi air.

Berada di sini, air adalah nyawa, setiap orang hanya

memiliki selembar nyawa.

Tangan Siau-hong mulai gemetar keras lantaran gembira,

ia menerkam ke depan bagaikan binatang buas,

menggunakan cara dan gerakan binatang liar untuk

merampas kantung air itu.

Air dalam kantung tidak tersisa terlalu banyak, tapi asal

masih ada setetes saja, mungkin dapat memperpanjang

masa hidupnya.

Setiap orang hanya memiliki selembar nyawa, nyawa

yang begitu berharga, nyawa yang patut disayang dan

dilindungi.

Siau-hong menggunakan tangan yang gemetar untuk

membuka penutup kantung air itu, bibirnya yang kering

nyaris pecah segera merasakan segarnya air, segarnya

kehidupan, dia sudah bersiap menikmati setiap tetes air

yang berada dalam kantung itu, meneguknya perlahanlahan.

Dia akan menikmatinya perlahan-lahan, menikmati

segarnya air, menikmati kehidupan ini.

Pada saat itulah dia menyaksikan sorot mata orang itu.

Sepasang sorot mata penuh penderitaan, putus asa,

dan permohonan, sepasang mata sayu orang yang sudah

sekarat.

Luka yang diderita orang ini jauh lebih parah ketimbang

lukanya, dia lebih membutuhkan air itu daripada dirinya.

Tanpa air, orang itu pasti akan mati jauh lebih cepat.

Sekalipun kedatangan orang itu hendak membunuhnya,

namun dalam waktu sekejap, dia seolah telah melupakan

hal ini.

Sebab dia adalah manusia, bukan binatang buas, juga

bukan burung pemakan bangkai.

Tiba-tiba ia menemukan seorang dan seekor burung

pemakan bangkai, berada dalam kondisi dan situasi seperti

apa pun, tetap terdapat perbedaan yang besar.

Harga diri seorang, hati nurani seorang serta rasa

simpatik selalu amat sulit untuk ditinggalkan, sukar untuk

dilupakan begitu saja.

Dia pun mengembalikan kantong berisi air itu kepada

orang itu, orang yang selama ini berusaha merenggut

nyawanya.

Walaupun dia pun pernah berniat mencabut nyawa

orang ini, namun dalam detik yang singkat, di saat sifat

kemanusiaannya menghadapi tantangan yang tak

berperasaan, terpaksa dia pun melakukan hal itu.

Dia tidak sepantasnya merampas kantung berisi air itu

dari tangan seseorang yang hampir menghadapi ajal,

terlepas siapa pun orangnya.

Ternyata orang itu adalah seorang wanita, menanti dia

menyingkap kain kerudung hitamnya untuk meneguk air,

Siau-hong baru mengetahui bahwa pihak lawan adalah

seorang wanita, seorang wanita yang amat cantik,

kendatipun ia tampak pucat-pasi dan layu, namun semua

itu justru menambah kecantikan dan lemah-lembutnya.

Seorang wanita semacam ini, kenapa bisa muncul

seorang diri di tengah gurun pasir yang begitu menakutkan,

hanya untuk membunuh seseorang?

Dia telah meneguk habis air dalam kantung kulit

kambing itu, sedang melirik secara diam-diam ke arah Siauhong,

sorot matanya seakan terselip perasaan minta maaf.

“Seharusnya kutinggalkan setengah untukmu,” katanya

sambil membuang kantung kosong itu ke tanah dan

menghela napas, “Sayang air dalam kantung itu kelewat

sedikit!”

Siau-hong tertawa, dia hanya tertawa saja menghadapi

ucapan itu, kemudian baru tak tahan tanyanya, “Kau si

Buta atau si Air raksa?”

“Semestinya kau bisa melihat sendiri kalau aku tidak

buta!”

Setelah dibasahi oleh segarnya air, sinar matanya yang

sejak semula memang cantik, kini nampak lebih cerah dan

menawan.

“Jadi kau pun bukan Air raksa?” desak Siau-hong lebih

lanjut.

“Aku hanya pernah mendengar nama ini, namun tak

pernah tahu manusia macam apakah dia,” perempuan itu

menghela napas pula, “Padahal aku sendiri pun tidak tahu

manusia semacam apakah dirimu, aku hanya tahu kau

bermarga Pui (Hong) bernama Wi!”

“Tapi kau datang untuk membunuhku!”

“Aku harus datang untuk membunuhmu, dengan

kematianmu, aku baru bisa hidup terus.”

“Kenapa?”

“Karena air, berada di tempat seperti ini, tanpa air berarti

tak bisa hidup melebihi tiga hari,” dia memandang sekejap

kantung air di atas tanah, “Mereka baru bersedia memberi

aku air minum bila aku berhasil membunuhmu, kalau tidak,

inilah untuk terakhir kalinya aku minum air.”

Suaranya penuh diliputi perasaan ngeri dan takut.

“Suatu ketika, aku nyaris mati kehausan karena mereka

tidak memberi air kepadaku, selama hidup aku tak pernah

akan melupakan perasaan dan siksaan itu. Kali ini,

kendatipun aku dapat pulang dalam keadaan hidup, asal

mereka tahu kau belum mati, maka mereka pasti tak akan

memberi setetes air lagi kepadaku.”

Siau-hong tertawa.

“Apakah kau minta aku merelakan batok kepalaku ini

agar kau tebas, agar bisa dibawa pulang untuk ditukar

dengan air?”

Ternyata perempuan itu ikut tertawa, tertawa dengan

lembut tapi mengenaskan.

“Aku pun manusia, bukan binatang, kau bersikap begitu

baik kepadaku, tentu saja aku lebih suka mati daripada

mencelakaimu lagi.”

Siau-hong tidak berkata apa pun, dia pun tak bertanya

kepadanya, “siapa mereka?”, dia memang tak perlu

menanyakan hal ini.

Tentu saja mereka adalah orang-orang yang dikirim Hokkui-

sin-sian untuk membunuhnya, kemungkinan besar

mereka saat ini sudah berada di sekeliling tempat ini. Po

Eng telah pergi!

Orang ini tak bedanya dengan angin ribut di tengah

gurun pasir, sewaktu datang, tak seorang pun bisa

menghalanginya, sewaktu akan pergi, siapa pun tak dapat

mencegahnya. Selamanya kau tak pernah bisa menebak

kapan dia akan datang, terlebih menduga kapan dia akan

pergi.

Akan tetapi “Ci-hu” masih berada di situ.

Matahari sudah mulai muncul dari ufuk timur, akhirnya

Siau-hong buka suara.

“Kau tak boleh tetap berada di sini,” tiba-tiba ujarnya,

“Apapun yang bakal terjadi, kau harus tetap kembali kepada

mereka.”

“Kenapa?”

“Karena bila matahari telah terbit, maka dalam radius

seribu li di sekeliling tempat ini akan berubah menjadi bara

api, sisa air yang kau minum tadi dengan cepat akan

terpanggang kering dan menguap.”

“Aku tahu, tetap tinggal di sini berarti aku bakal mati

kehausan, akan tetapi….”

“Akan tetapi aku tak ingin melihat kau mati, juga tak

ingin kau melihat aku mati,” tukas Siau-hong cepat.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun perempuan itu

manggut-manggut dan berdiri, tapi baru bangkit, dia sudah

roboh kembali.

Luka yang dideritanya memang cukup parah.

Tusukan pedang Siau-hong tadi dengan telak

menghujam di dadanya, hanya selisih dua inci dari letak

jantungnya.

Sekarang ia sudah susah berjalan, tenaga untuk berdiri

pun tak mampu, bagaimana bisa pulang sendiri?

Mendadak Siau-hong kembali berkata, “Aku mempunyai

seorang teman yang bisa mengantarmu pulang.”

Perempuan itu tidak melihat ada teman lain di tempat

itu.

“Rasanya di sini hanya ada kau seorang!”

“Yang disebut teman belum tentu harus manusia, aku

pun tahu ada banyak manusia yang belum tentu pantas

disebut teman.”

Perlahan-lahan ia berjalan menghampiri Ci-hu, lalu

sambil membelai bulunya ia berkata lebih jauh, “Aku pun

pernah bertemu dengan banyak manusia yang kau anggap

sebagai teman, padahal semuanya bukan manusia.”

“Oh, jadi temanmu adalah kuda ini?” agak terkejut

perempuan itu berseru, “Kau telah menganggap seekor

kuda sebagai sahabatmu?”

Kembali Siau-hong tertawa.

“Mengapa aku tak boleh menganggap seekor kuda

sebagai sahabatku?” senyumannya tampak sangat ewa dan

pedih, “Selama ini aku hidup bergelandangan, tiada sanak

tiada keluarga, hanya dia yang selalu mengikutiku,

bersamaku, mati hidup selalu bersama, bahkan sampai saat

ajal menjelang pun dia tak mau meninggalkan aku, ada

berapa banyak sahabat di dunia ini yang lebih setia

daripadanya?”

Perempuan itu tertunduk lesu, lewat lama kemudian ia

baru bertanya, “Sekarang, mengapa kau minta dia berpisah

denganmu? Minta dia mengantarku pulang?”

“Karena aku pun tak ingin dia menemani aku mati di

sini!”

Ditepuknya punggung “Ci-hu” perlahan, kemudian

terusnya, “Dia adalah seekor kuda jempolan, mereka tak

akan membiarkan dia mampus. Sedang kau pun seorang

perempuan yang sangat menarik, mereka pun tak akan

benar-benar membuat kau mati kehausan. Dengan

membiarkan ia membawamu pulang, maka inilah satusatunya

jalan kehidupan untuk kalian.”

Perempuan itu mendongakkan kepalanya, menatap kuda

itu sekejap, lama kemudian ia baru bertanya lagi,

“Pernahkah kau berpikir untuk dirimu sendiri? Mengapa

kau tak pernah berpikir, apa yang harus dirimu lakukan

agar bisa hidup lebih lanjut?”

Siau-hong tidak menjawab, dia hanya tertawa lebar.

Ada sementara pertanyaan memang tak dapat dijawab

dan tak perlu dijawab.

Tak tahan perempuan itu menghela napas panjang,

menghela napas sambil mengemukakan pendapatnya

tentang anak muda itu, “Kau memang manusia aneh, aneh

setengah mati!”

“Memang begitulah aku!”

Matahari telah terbit di angkasa.

Jagat raya tak berperasaan, segala sesuatunya telah

berubah jadi bara api, seluruh kehidupan seolah sedang

terbakar, terbakar hingga punah, musnah, dan akhirnya

mati.

Siau-hong telah roboh terkapar di tengah bara api.

“Ci-hu” pun telah pergi, pergi sambil membawa

perempuan yang dipaksa datang untuk membunuhnya.

Mungkin dia tak ingin berpisah dengan Siau-hong, tapi ia

tak mungkin bisa membangkang perintahnya, karena

bagaimana pun dia tak lebih hanya seekor kuda.

Di seputar tempat itu sudah tak nampak lagi kehidupan

lain, Siau-hong telah terkapar di atas butiran pasir yang

membara, berusaha mempertahankan diri, agar matanya

tak terpejam.

Namun dalam pandangan matanya sekarang seluruh

jagat raya seolah telah berubah menjadi segumpal bara api.

Dia sadar, kali ini dirinya benar-benar akan mati, karena

dia telah menyaksikan khayalan yang hanya bisa dilihat

oleh mereka yang hampir sekarat, tiba-tiba ia saksikan ada

satu rombongan kuda dan kereta indah bergerak mendekat,

muncul di bawah teriknya cahaya matahari yang berwarna

kekuning-kuningan.

Setiap orang yang berada dalam rombongan itu seakanakan

memancarkan sinar keemasan seperti cahaya emas

murni, tangan mereka membawa kantung emas berisi air,

dalam kantung bukan hanya tersedia air, bahkan ada pula

arak wangi yang lezat.

Kalau apa yang disaksikan bukan fatamorgana, bukan

ilusi yang diciptakan langit untuk menghibur mereka yang

sekarat, sudah pasti merekalah urusan yang dikirim akhirat

untuk menjemputnya pulang.

Perlahan-lahan dia memejamkan mata, memejamkan

matanya yang semakin berat, ia merasa biar harus mati

pun, harus mati dengan pasrah.

Hari ini waktu menunjukkan bulan sembilan tanggal

enam belas. Ketika tersadar kembali, Siau-hong segera

memastikan dua hal. Pertama, dia belum mati.

Kedua, dia berada dalam keadaan telanjang bulat.

Berbaring di atas ranjang berlapiskan kulit macan tutul

dalam keadaan telanjang bulat.

Ranjang empuk itu berada di sudut sebuah tenda yang

maha besar dan indah, di sampingnya terdapat sebuah meja

kayu, di atas meja terdapat sebuah baskom yang terbuat

dari emas, dalam baskom emas berisikan air yang nilainya

jauh lebih mahal dari emas.

Seorang gadis berkerudung sutera bertubuh langsing dan

mengenakan baju orang Han, sedang menggunakan

selembar handuk yang lembut membasuh tubuhnya

memakai air dalam baskom emas.

Tangannya lembut, halus dan indah, gerak-geriknya

penuh kelembutan dan teliti, seakan sedang membersihkan

sebuah benda antik yang baru dikeluarkan dari gudang

rahasia, dia membasuh tubuh pemuda itu dari alis mata,

mata, wajah, bibir, badan hingga ke ujung kaki, bahkan

semua debu yang menempel pada kuku kaki pun dicuci dan

dibersihkan hingga betul-betul bersih.

Seseorang yang baru saja lolos dari lubang kematian,

baru saja mengalami berbagai penderitaan karena siksaan

tubuh dan cuaca, tiba-tiba menjumpai dirinya berada dalam

kondisi seperti ini, bisa dibayangkan betapa terperangah,

kaget, keheranan, dan gembiranya pemuda ini.

Perasaan pertama yang dirasakan Siau-hong adalah

seolah dirinya telah melakukan satu hal yang amat berdosa.

Di tengah gurun pasir, ternyata ada orang menggunakan

air yang lebih berharga dari emas untuk memandikan

tubuhnya, kejadian semacam ini bukan saja telah

menghambur-hamburkan barang berharga, pada hakikatnya

sudah tergotong satu perbuatan dosa besar.

Siapakah tuan rumah di sini? Siapa yang telah

menyelamatkan dirinya?

Dia ingin sekali menanyakan hal ini.

Namun sayang, sekujur tubuhnya terasa lemah tak

bertenaga, bahkan tenggorokan pun tetap terasa kering,

dahaga nyaris merobek tenggorokannya, mulutnya tetap

getir, malah lidahnya pun terasa merekah seperti mau

robek.

Perempuan berkerudung asing itu meski telah

membersihkan tubuhnya dengan air bersih, namun tak

pernah memberinya minum, walau hanya setetes air.

Oleh karena itu perasaan kedua yang timbul dalam

hatinya bukan gembira, melainkan rasa gusar yang meluap.

Akan tetapi hawa amarahnya sama sekali tak

dilampiaskan, sebab secara tiba-tiba ia menjumpai lagi

bahwa di dalam tenda mewah itu bukan hanya ada mereka

berdua, masih ada seorang lagi berdiri tenang di sudut

tenda, sedang mengawasinya dengan tenang.

Seorang lelaki yang mempunyai harga diri, di bawah

tatapan dan pengawasan orang lain ternyata berbaring

telanjang bulat, bahkan bagaikan seorang bayi, sedang

dimandikan seorang wanita yang teramat asing baginya.

Bisa dibayangkan bagaimanakah perasaannya saat itu?

Siapa pula yang dapat menghadapinya?

Kini perempuan itu mulai menggosok dan memegang

bagian tubuhnya yang paling sensitif. Coba andaikata dia

bukan kelewat lelah, dahaga dan lapar, kemungkinan besar

napsu birahinya akan terangsang dan terpancing bangkit.

Keadaan semacam ini terlebih lagi membuat orang susah

untuk mengendalikan diri.

Sekuat tenaga Siau-hong mendorong tangan perempuan

itu, meronta sekuat tenaga untuk duduk, dia ingin sekali

meneguk air di dalam baskom emas.

Dia harus minum sedikit air, dengan minum air dia baru

bertenaga, sekalipun air dalam baskom itu adalah air bekas

mencuci kaki bau, dia tetap akan meneguknya.

Sayang sekali gerakan perempuan itu jauh lebih cepat

daripada gerakan tubuhnya, tiba-tiba dia sambar air dalam

baskom itu, lalu sambil tertawa cekikikan menyelinap

keluar dari tenda.

Siau-hong tak punya kekuatan untuk mengejar, dia pun

tak mampu melakukan pengejaran. Kini dia masih berada

dalam keadaan telanjang bulat, lelaki asing yang berdiri di

hadapannya pun masih mengawasi gerak-geriknya.

Sekarang dia baru dapat melihat jelas tampang orang itu.

Dulu ia belum pernah berjumpa dengan manusia

semacam ini, di kemudian hari pun mungkin dia tak pernah

akan bertemu lagi.

Di sudut tenda sebelah depan sana terdapat sebuah

bangku yang amat lebar, besar, dan nyaman, orang itu

berdiri persis di depan bangku itu namun tidak pernah

menempatinya.

Sekilas pandang, orang yang berdiri di tempat itu sama

sekali tak ada bedanya dengan orang lain.

Tapi bila kau perhatikan beberapa kejap lagi, maka

segera akan ketahuan bila gayanya sewaktu berdiri ternyata

jauh berbeda dengan orang mana pun.

Tapi di manakah letak perbedaan itu? Tak seorang pun

dapat menerangkan.

Walaupun dengan jelas ia berdiri di tempat itu, namun

justru memberi kesan susah bagi orang lain untuk

mengetahui keberadaannya, sebab orang itu seakan telah

menyatu dengan bangku di belakang tubuhnya, tenda di

atas kepalanya serta permukaan tanah di bawah kakinya.

Peduli di mana pun ia berdiri, seakan tubuhnya selalu

menyatu dengan benda dan alam yang berada di

sekelilingnya.

Bila kau melihat pada pandangan pertama, dia seakan

sama sekali tak bergerak, anggota badannya, tubuhnya,

bulunya, setiap bagian tubuhnya dari atas hingga ke bawah,

tak satu pun yang bergerak, bahkan detak jantung pun

seolah ikut berhenti.

Tapi bila kau perhatikan beberapa kejap lagi, maka akan

kau jumpai tubuhnya, setiap bagian organ tubuhnya seakan

sedang bergerak bahkan tiada hentinya bergerak.

Bila kau lepaskan sebuah pukulan ke arah tubuhnya,

peduli bagian mana pun dari tubuhnya yang kau incar,

kemungkinan besar segera akan memperoleh reaksi balasan

yang amat menakutkan.

Parasnya pun sama sekali tidak menunjukkan perubahan

apa pun.

Biarpun dengan jelas ia sedang menatapmu, namun sinar

matanya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apaapa,

seperti benda apa pun tak terlihat olehnya.

Dalam genggaman orang itu terdapat sebilah pedang,

sebilah pedang bersarung hitam yang sempit dan panjang.

Pedang itu masih berada dalam sarungnya.

Akan tetapi asal kau memandang sekejap saja, segera

akan kau rasakan semacam hawa pedang yang amat

menyesakkan napas.

Tangannya meski belum mencabut pedangnya, namun

seakan sudah berada di depan tenggorokanmu.

Siau-hong benar-benar tak ingin memandang orang itu

lebih lama, apa mau dikata dia justru tak tahan untuk

melihatnya lagi. Orang itu sama sekali tidak bereaksi.

Ketika sedang menatap orang lain, dia seakan sama

sekali tak punya perasaan. Ketika orang lain sedang

memandangnya, dia pun seolah sama sekali tak tahu.

Dia seakan-akan sama sekali tak peduli terhadap semua

kehidupan yang ada di langit dan bumi, dia pun tak peduli

atas sikap pandangan orang terhadap dirinya.

Karena yang dia perhatikan hanya satu hal….

Pedang miliknya!

Tiba-tiba Siau-hong merasakan telapak tangannya telah

basah oleh keringat dingin.

Hanya di saat sedang menghadapi duel maut yang

menentukan mati hidup, telapak tangannya baru akan

basah oleh keringat dingin.

Kini dia tak lebih hanya mengawasi orang itu beberapa

kejap, orang itu pun tidak bergerak, sama sekali tidak

menunjukkan sikap bermusuhan, mengapa dirinya bisa

timbul reaksi seperti ini?

Apakah sejak dilahirkan mereka sudah ditakdirkan harus

berhadapan sebagai musuh? Cepat atau lambat, suatu saat

salah seorang di antara mereka harus tewas di tangan

lawan?

Tentu saja kalau bisa peristiwa semacam ini jangan

sampai terjadi. Di antara mereka berdua sama sekali tak

terikat dendam atau sakit hati, mengapa harus saling

berhadapan sebagai musuh bebuyutan?

Anehnya dari dasar lubuk hati Siau-hong justru muncul

semacam firasat yang tak menguntungkan, dia seakan

melihat ada seorang di antara mereka berdua yang roboh

terkapar di tanah, roboh terkena tusukan pedang lawannya,

terkapar di tengah genangan darah.

Sayang ia tak dapat melihat siapa di antara mereka

berdua yang bakal terkapar.

Suara tawa yang merdu bagai keleningan kembali

berkumandang. Perempuan berkerudung itu muncul

kembali dari balik tenda, kali ini dia muncul sambil

membawa lagi baskom emas yang tadi.

Suara tawanya indah, merdu dan manis, bukan saja

menunjukkan rasa gembiranya, dia pun membuat orang

lain ikut gembira.

Sayang Siau-hong tidak gembira. Dia pun tak habis

mengerti mengapa perempuan itu bisa tertawa dengan

begitu gembira.

Tak tahan ia pun menegur, “Dapatkah kau memberi

sedikit air minum untukku?”

“Tidak,” perempuan itu menggeleng sambil tertawa, “Air

dalam baskom sudah kotor, tak bisa diminum.”

“Air kotor pun tetap air, asal ada air, dahagaku pasti

hilang.”

“Aku tetap tak bisa memberi air untukmu.”

“Mengapa?”

“Karena air dalam baskom ini memang bukan diberikan

untuk menghilangkan dahagamu.”

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya sambil

tertawa, “Kau seharusnya tahu, air adalah benda yang

sangat berharga di wilayah gurun pasir, air ini milikku,

kenapa harus kuberikan kepadamu?”

“Jadi kau lebih rela air dalam baskom itu dipakai untuk

memandikan aku daripada menghilangkan rasa dahagaku?”

“Itu dua masalah yang berbeda.”

Mengapa berbeda? Siau-hong sama sekali tak mengerti,

semua perkataannya benar-benar membuat orang sukar

untuk memahaminya.

Untung saja perempuan itu segera memberi penjelasan.

“Memandikan dirimu merupakan kenikmatan bagiku.”

“Kenikmatan bagimu? Kenikmatan apa?” tanya Siauhong

semakin tak mengerti.

“Kau adalah seorang pemuda yang memiliki perawakan

tubuh sangat bagus, pertumbuhan badanmu dari ujung

kepala hingga ujung kaki sangat bagus, memandikan

tubuhmu akan membuat hatiku sangat gembira. Bila

membiarkan kau meminumnya, jelas hal ini merupakan

masalah lain.”

Dia tertawa semakin manis, tambahnya, “Sekarang

apakah kau sudah memahami maksud hatiku?”

Siau-hong ingin sekali tertawa kepadanya, sayang ia tak

mampu tertawa.

Kini walaupun dia sudah memahami maksud

perkataannya, namun ia tetap tak paham, bagaimana

mungkin perempuan itu bisa mengucapkan perkataan

semacam ini.

Pada hakikatnya ucapannya itu tak mirip perkataan

manusia.

Tapi perempuan itu seakan menganggap apa yang

dikatakan sangat masuk akal.

“Air ini milikku, terserah mau kuapakan air ini, karena

sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan dirimu. Jika

kau ingin minum air, cobalah mencari akal sendiri.”

Sewaktu tertawa, sepasang matanya kelihatan amat sipit

bagaikan sepasang bulan sabit, mirip juga mata kail, hanya

saja siapa pun dapat melihat kalau yang ingin dia kail

bukanlah ikan, melainkan manusia.

“Bila kau tak berhasil menemukan cara yang baik, kami

dapat memberi sebuah petunjuk jalan untukmu.”

Kali ini dia berbicara dengan bahasa manusia, karena

ucapannya bisa dipahami.

“Dengan cara apa aku dapat menemukan air? Ke mana

aku harus mencarinya?” Siau-hong segera bertanya.

Tiba-tiba perempuan itu mengangkat jari tangannya yang

putih lembut dan menuding ke arah belakang tubuh Siauhong,

katanya, “Asalkan berpaling, kau segera akan

mengetahuinya.”

Siau-hong pun segera berpaling.

Entah sejak kapan, ternyata sudah ada seseorang berjalan

masuk ke dalam tenda.

Pada hari biasa, sekalipun hanya seekor kucing yang

menyelinap masuk, dia pasti akan segera mengetahuinya,

tapi sekarang dia kelewat lelah, dahaga, ingin minum air,

menanti berpaling ke belakang, dia baru melihat kehadiran

orang itu.

Ternyata yang dia jumpai adalah Wi Thian-bong.

Wi Thian-bong dengan perawakan tubuhnya yang tinggi

besar, bersikap serius, berpakaian rapi, senyuman selalu

menghiasi ujung bibirnya, sepasang mata penuh dengan

tekad yang bulat, tekad yang susah dibelokkan.

Berada pada saat apa pun, tempat mana pun, dia selalu

dapat memaksa orang lain selalu bersikap hormat dan

kagum terhadapnya.

Di hari biasa, semua sepak terjang, semua perbuatan

yang dilakukan pun cukup mengundang rasa hormat dan

kagum orang lain.

Tahun ini dia berusia lima puluh tiga tahun. Sejak usia

dua puluh satu tahun, ia sudah menjadi Congpiauthau

sebuah perusahaan ekspedisi terbesar di wilayah Kwantong,

dalam perjalanan kariernya selama tiga puluhan

tahun, semua usahanya berjalan lancar, belum pernah

mengalami masalah dan musibah yang kelewat besar.

Hingga kemarin malam, untuk pertama kalinya dia telah

menghadapinya.

Lenyapnya emas lantakan menjadi bagian tanggungjawabnya,

seluruh anak murid kepercayaannya pun nyaris

tewas secara mendadak dalam keadaan mengenaskan.

Sekalipun begitu, dia tetap tampil penuh wibawa dan

gagah, pukulan yang begitu menakutkan ternyata sama

sekali tidak mengubah sikap maupun penampilannya.

Siau-hong segera menggunakan kulit macan tutul untuk

menutupi bagian tubuhnya yang paling vital, kemudian

baru mendongakkan kepala menghadap Wi Thian-bong.

“Tak nyana ternyata kau telah menyelamatkan aku.”

“Aku tidak menyelamatkan kau,” jawab Wi Thian-bong,

“Tak seorang pun dapat menolongmu, hanya kau sendiri

yang dapat menyelamatkan dirimu sendiri.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Kau

telah menghabisi nyawa putra tunggal Hok-kui-sin-sian,

seharusnya kau mesti menggantinya dengan nyawamu.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang seharusnya kau telah tewas di tengah gurun

pasir, tewas di tangannya.”

Yang dia maksudkan “nya” tak lain adalah perempuan

berkerudung hitam itu.

“Tahukah kau siapa dia?” tiba-tiba Wi Thian-bong

bertanya lagi.

“Aku tahu,” sahut Siau-hong sambil tertawa, “Dia pasti

menyangka aku tidak mengenalnya lagi, karena waktu aku

bertemunya pagi tadi, dia masih merupakan seorang

perempuan mengenaskan yang hampir mati, dia dipaksa

orang untuk membunuhku, tapi sebaliknya malah termakan

sebuah tusukan pedangku, sementara air dalam kantungnya

hanya tersisa dua tegukan.”

Setelah menghela napas, lanjurnya, “Karena dia tahu

belum tentu usaha pembunuhannya akan berhasil

menghabisi nyawaku, maka jauh sebelumnya ia telah

menyiapkan jalan mundur, tentu saja dia tak boleh

membawa terlalu banyak air di dalam kantungnya,

daripada terampas olehku pada akhirnya. Selain itu dia pun

harus berlagak sangat mengenaskan, agar hatiku iba dan

terenyuh dibuatnya.”

Selama ini perempuan berkerudung itu hanya

mendengarkan, mendengarkan sambil selalu tertawa, tentu

saja suara tawanya jauh lebih riang ketimbang tadi.

“Sejak perjumpaan kali pertama, kau tidak seharusnya

mempercayai aku, hanya sayang hatimu kelewat lembek,”

katanya.

“Sayangnya, hati dia tak pernah lembek!” tiba-tiba Wi

Thian-bong buka suara lagi.

Sui-gin, si Air raksa, ketika membunuh korbannya, ia tak

pernah lembek hatinya, tak pernah lembek serangannya.

“Perempuan ini tak lain adalah Air raksa, air raksa yang

tiada pori yang tak dapat ditembusi!”

Ternyata Siau-hong sama sekali tak merasa di luar

dugaan.

Kembali Wi Thian-bong bertanya, “Tahukah kau,

mengapa hingga sekarang dia belum membunuhmu?”

Siau-hong menggeleng, dia memang tak tahu.

“Karena Lu Thian-po telah mati, sementara tiga puluh

laksa tahil emas masih tetap ada wujudnya,” sahut Wi

Thian-bong.

“Apa hubungan Lu thian-po dengan tiga puluh laksa

tahil emas?”

“Hanya ada satu hubungan, emas senilai tiga puluh laksa

tahil itu milik Hok-kui-sin-sian Lu-sam-ya.”

“Peduli siapa pun yang mati, setelah mampus, dia tak

lebih hanya sesosok mayat,” kata Sui-gin pula, “Dalam

pandangan Lu-sam-ya, tentu saja sesosok mayat tak akan

mengungguli emas sebanyak tiga puluh laksa tahil.”

Setelah tertawa cekikikan, tambahnya, “Kalau bukan

begitu, mana mungkin dia bisa kaya?”

“Oleh karena itu asal kau dapat membantuku

menemukan kembali emas lantakan senilai tiga puluh laksa

tahil itu, kujamin dia tak bakal mencarimu lagi untuk

menuntut balas” sambung Wi Thian-bong.

“Wah, kedengarannya sebuah transaksi yang sangat

menarik,” teriak Siau-hong.

“Memang sangat menarik!” senyuman Sui-gin semakin

memikat.

“Kalian selalu menaruh curiga kalau emas itu telah

dirampok Po Eng, kebetulan aku kenal, aku segera akan

membantu kalian untuk menyelidiki persoalan ini.”

“Ternyata kau memang tak bodoh,” seru Sui-gin sambil

tertawa.

“Asal kau bersedia,” ujar Wi Thian-bong pula, “Apa pun

yang kau butuhkan, kami pasti akan menyediakannya

untukmu.”

“Dari mana aku bisa tahu saat ini Po Eng berada di

mana?” kata Siau-hong lagi.

“Kami dapat membantumu untuk menemukan jejaknya.”

Siau-hong kembali termenung, kemudian ujarnya

perlahan, “Po Eng sama sekali tidak menganggapku sebagai

sahabat. Membantu para Piausu menangkap perampok pun

bukan termasuk pekerjaan yang memalukan.”

“Betul.”

“Bila aku tak bersedia menerima tawaran ini, sekalipun

kalian tidak membunuhku pun aku tetap akan mati karena

kehausan.” Sui-gin menghela napas panjang.

“Benar, siksaan semacam ini pasti teramat tak enak,”

katanya. “Maka dari itu rasanya aku harus menerima

tawaran kalian ini.”

“Betul, kau memang sudah tak ada pilihan lain lagi,” Suigin

membenarkan dengan suara lembut.

Kembali Siau-hong menghela napas.

“Ai, rasanya aku memang harus berbuat begitu.”

“Dan kau sudah menyanggupinya?”

“Masih belum.”

“Apa lagi yang sedang kau pertimbangkan?”

Ooo)d*w(ooO

BAB 4. ANTARA HIDUP DAN MATI

“Tak ada lagi yang kupertimbangkan.”

“Sebenarnya kau menyanggupi atau tidak?” desak Wi

Thian-bong.

“Tidak!”

Jawabannya langsung, singkat, dan terus terang,

singkatnya setengah mati.

Paras Wi Thian-bong sama sekali tak berubah, namun

daging di sekitar kelopak matanya mulai mengejang keras,

pupil matanya ikut berkerut kencang.

Sebaliknya sorot mata Sui-gin justru menampilkan

perubahan yang rumit dan aneh, dia seakan terperangah,

seakan juga merasa sangat kagum, sangat menarik hatinya.

“Dapatkah kau beritahu kepadaku, mengapa kau

menolak?” tanyanya kemudian lembut.

“Karena aku tak suka!” jawab Siau-hong santai, ternyata

dia masih sanggup tertawa.

Alasan ini bukan saja tak cukup baik, pada hakikatnya

tak bisa dibilang sebagai sebuah alasan. Lantas apa alasan

yang sebenarnya? Siau-hong tak ingin mengutarakannya,

selama ini dia selalu bertindak sesuai dengan prinsip yang

dianutnya, biasanya sulit bagi orang lain memahaminya,

dia pun tak ingin orang lain berusaha memahaminya.

Dalam melakukan pekerjaan apa pun, dia merasa sudah

lebih dari cukup asal dia tidak mengingkari prinsip dan

keyakinan sendiri.

Sui-gin menghela napas panjang, “Wi Thian-bong tak

nanti membunuhmu, dia tak pernah memaksa orang lain

untuk melakukan pekerjaan apapun.”

“Kebiasaan semacam ini cukup positif,” kata Siau-hong

sambil tersenyum, “Sungguh tak kusangka ternyata dia bisa

memiliki kebiasaan sebagus ini.”

“Aku pun tak bakal membunuhmu, karena aku telah

berjanji tak akan mencelakaimu lagi.”

Setelah tertawa, katanya lebih jauh, “Pegang janji pun

merupakan sebuah kebiasaan yang baik, kau pasti tak akan

menyangka bukan kalau aku pun memiliki kebiasaan baik

semacam ini?”

“Memang tak banyak perempuan yang memiliki

kebiasaan baik semacam ini,” Siau-hong mengakui.

“Kami tak lebih hanya ingin mengantarmu balik ke

tempat semula, agar kau bisa berbaring seorang diri sambil

menanti datangnya kematian dengan perasaan tenang.”

Menunggu mati jauh lebih menderita daripada kematian

itu sendiri, jauh lebih tersiksa.

Namun Siau-hong tak peduli.

“Sebenarnya aku memang sedang menunggu mati, apa

salahnya kalau sekarang menunggu lagi.”

“Maka kau masih tetap menolak?”

“Benar!”

Jawabannya masih tetap begitu sederhana, sederhana

setengah mati.

Angin puyuh kembali melanda di luar tenda,

menerbangkan pasir dan bebatuan. Dalam waktu singkat,

senja akan berlalu dan kegelapan yang membawa

datangnya kematian segera akan menyelimuti seluruh jagat.

Di tengah dataran luas yang tak berperasaan ini, nilai

sebuah kehidupan memang berubah jadi begitu kecil,

rendah dan tak berarti, kalau masih bisa hidup tentu saja

harus hidup lebih jauh, kalau tak mampu hidup lagi, apa

salahnya mati?

Kembali Siau-hong membaringkan diri, dia seolah sudah

bersiap untuk diantar kembali ke tengah terpaan pasir dan

menanti datangnya ajal.

Pada saat dia hampir memejamkan mata itulah

mendadak terdengar seseorang dengan suara dingin, kaku,

dan sangat aneh, bertanya kepadanya, “Kau benar-benar tak

takut mati?”

Tak usah membuka mata pun dia sudah tahu siapakah

orang itu.

Selama ini orang itu hanya berdiri tenang di sana,

memandangnya dengan tenang. Sinar matanya tak pernah

bergeser sekejap pun ke arah lain, sorot matanya pun tidak

memperlihatkan perubahan apa pun.

Sewaktu orang itu memandang Siau-hong, dia seolah

seekor kucing yang sedang mengawasi seekor serangga yang

sudah terjebak dalam jaring laba-laba.

Mereka bukanlah berasal dari jenis yang sama.

Sesungguhnya kehidupan memang begitu rendah,

pergulatan antara mati dan hidup pun tentu saja berubah

jadi begitu bodoh dan menggelikan.

Sudah barang tentu perasaannya tak akan tergerak.

Tapi sekarang secara tiba-tiba ia bertanya kepada Siauhong,

“Kau benar-benar tak takut mati?”

Apakah pertanyaan ini diajukan karena selama hidup ia

belum pernah bersua dengan orang yang benar-benar tak

takut mati?

Siau-hong menampik menjawab pertanyaan itu.

Karena dia sendiri tak yakin dengan jawaban pertanyaan

itu.

Namun ia telah berbuat begitu, telah menunjukkan harga

diri dan keberanian yang dipilihnya di saat manusia

dihadapkan pada dua pilihan yang menentukan, hidup atau

mati.

Terkadang memang ada beberapa persoalan yang tak

mungkin bisa dijawab dengan perkataan, dan bukan

perkataan yang bisa menjawabnya.

Ternyata orang itu dapat memahaminya.

Maka dia tidak bertanya lagi, perlahan-lahan berjalan

mendekat, caranya berjalannya ternyata sama anehnya

dengan sikapnya sewaktu berdiri.

Orang lain sama sekali tak dapat melihat bagaimana dia

bergerak, tapi secara tiba-tiba ia sudah berdiri persis di

depan ranjang, ranjang di mana Siau-hong sedang

membaringkan diri.

Pedang milik Siau-hong tergeletak di atas meja kayu di

samping ranjang.

Tiba-tiba ia bertanya lagi, “Ini pedang milikmu?”

Pertanyaan ini tak susah untuk dijawab dan tak perlu

menampik untuk menjawabnya.

“Benar, itu memang pedangku.”

“Jadi kau menggunakan pedang?”

“Benar!”

Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat, secercah sinar

bianglala menyebar bagai halilintar.

Siapa pun tak ada yang melihat bagaimana orang itu

mengulurkan tangan mengambil pedang dan mencabutnya,

tapi pedang yang tergeletak di atas meja tahu-tahu sudah

berpindah ke tangannya.

Bahkan pedang itu pun telah dicabut dari sarungnya.

Ketika pedang yang telah lolos dari sarungnya itu berada

di tangannya, penampilan orang itu pun ikut berubah,

berubah seperti pedang yang berada dalam genggamannya,

memancarkan pula cahaya bianglala yang amat

menyilaukan mata.

Cahaya bianglala yang menyilaukan mata itu hanya

berlangsung singkat untuk kemudian lenyap tak berbekas,

karena pedang yang berada dalam genggamannya tiba-tiba

disarungkan kembali.

Penampilan orang itu pun seketika berubah tenang

kembali,-lewat lama kemudian sepatah demi sepatah dia

berkata, “Orang di dunia ini menempa berjuta bilah pedang,

namun hanya dua-tiga di antaranya yang pantas disebut

senjata tajam.”

“Pedang mestika, kuda jempolan hanya bisa ditemukan

tak dapat dicari, di antara sekian juta paling hanya ada satu,

dan itu pun sudah terhitung cukup banyak.”

“Pedangmu sangat tajam.”

“Sorot matamu pun amat tajam,” sahut Siau-hong

tersenyum. “Kau pernah menggunakan pedang ini untuk

membunuh orang?”

“Pedang itu hanya membunuh mereka yang memang

pantas untuk dibunuh.”

“Hanya mereka yang pandai menggunakan senjata

tajam, ia dapat membunuh orang tanpa dibunuh, ilmu

pedangmu pasti lumayan.”

“Masih terhitung lumayan juga.”

Kembali orang itu termenung cukup lama, katanya lagi,

“Kalau begitu kau masih tersedia sebuah jalan lain.”

“Jalan yang mana? Bagaimana harus kulewati?” tak

tahan Siau-hong bertanya.

“Gunakan pedangmu untuk membunuh aku,” suara

orang itu tetap hambar, “Asal dapat membunuhku, kau

boleh tak usah mati.”

“Kalau tidak, apakah aku akan mati di ujung

pedangmu?”

“Benar,” perlahan-lahan orang itu melanjutkan, “Tidak

banyak orang yang pantas mati di ujung pedangku, bila kau

dapat mati di ujung pedangku, kematianmu boleh dibilang

terhitung terhormat…”

Ucapan itu diutarakan kelewat latah, coba kalau orang

lain yang mengatakannya, kemungkinan besar Siau-hong

akan tertawa terbahak.

Tentu saja Siau-hong tidak tertawa.

Ia tak bisa menertawakan perkataan itu, sebab ia dapat

melihat perkataan orang itu adalah ucapan yang sejujurnya,

sebuah ungkapan kata jujur yang amat sederhana dan

singkat, tiada yang menonjol, tiada gertak sambal. Sewaktu

dia mengucapkan perkataan itu, dia seolah hanya

mengungkap sebuah kenyataan yang sangat sederhana.

Bagaimana pun bisa mati di ujung pedang orang itu jauh

lebih baik daripada menunggu kematian sambil berbaring di

sana.

Bukankah dapat berduel mati hidup melawan seorang

jagoan tangguh macam orang ini merupakan suatu kejadian

yang paling didambakan seorang yang belajar ilmu pedang?

Seluruh tenaga terpendam Siau-hong telah terangsang

keluar, mungkin hal ini merupakan yang terakhir kalinya,

terakhir kali dia menggunakan seluruh tenaga terpendam

yang dimilikinya.

Tiba-tiba saja dia melompat bangun, mencengkeram

pedang miliknya.

“Kapan? Di mana?” teriaknya.

“Menurut kau?”

“Di sini, sekarang juga!”

“Tidak bisa!”

“Sekarang aku berada di sini, pedangku pun berada di

sini, mengapa tidak bisa?”

“Karena meski pedang dan dirimu sudah siap, tenaga

dan kekuatanmu belum siap,” suara orang itu masih hambar

tanpa perasaan, “Bila kubunuh dirimu pada saat dan

keadaan seperti ini, sama artinya aku telah membuat malu

pedangku sendiri.”

Kemudian dengan hambar dia melanjutkan, “Sekarang,

pada hakikatnya kau belum pantas untuk memintaku turun

tangan sendiri.”

Siau-hong menatapnya lekat-lekat, mendadak timbul

perasaan kagum dan hormat yang tak terhingga dari dasar

lubuk hatinya.

Dia kagum dan hormat karena dia menghormati diri

sendiri.

Rasa hormat ini telah melampaui mati hidup, telah

melampaui segala sesuatunya.

Tiba-tiba Siau-hong mengajukan sebuah permohonan,

sebuah permohonan yang orang lain pasti menganggapnya

latah dan tak tahu diri, “Berikan kepadaku sekantung air,

sekantung arak, sekantung daging, sekantung kue, satu stel

pakaian, selembar selimut, tiga hari kemudian datanglah

lagi mencari aku.”

“Boleh!” ternyata orang itu segera menyanggupi.

Wi Thian-bong sama sekali tak bereaksi, dia seakan-akan

tak mendengar perkataan itu.

Sebaliknya Sui-gin, si Air raksa seolah hendak melompat

bangun sambil berteriak, “Apa katamu?”

Orang itu membalikkan badan, memandangnya dengan

sangat tenang, sekujur badannya, dari atas hingga ke bawah

sama sekali tidak memperlihatkan gerakan atau perubahan

wajah apa pun, dia hanya bertanya dengan tenang, “Sudah

kau dengar dengan jelas semua perkataanku?”

“Aku telah mendengar sangat jelas,” bukan saja sikap

Sui-gin segera berubah jadi tenang, bahkan ia

menundukkan kepala rendah-rendah, “Aku telah

mendengar dengan jelas.”

“Apakah kau masih ada pendapat lain?”

“Tidak ada!”

Air, arak, daging, kue, pakaian, selimut bagi seseorang

yang terkurung di tengah gurun pasir boleh dibilang

merupakan sebuah barang yang tak ternilai harganya,

makna dan manfaat semua itu tak mungkin bisa diurai

dengan bahasa dan tulisan bangsa mana pun.

Siau-hong dengan membawa semua barang

kebutuhannya telah meninggalkan tenda mereka, meski ia

sudah berjalan cukup lama, namun gejolak perasaannya

belum juga bisa tenang. Rasa lapar dan dahaga yang

kelewat lama telah membuatnya berubah jadi lebih lemah

dari keadaan semula, perasaan seseorang yang lemah

memang selalu lebih mudah bergejolak.

Dia sama sekali tidak meminta balik “Ci-hu” dari tangan

si Air raksa, karena dia memang tak berniat pergi kelewat

jauh, dia kuatir tersesat hingga tak dapat menemukan

kembali tenda ini.

Dia pun tak ingin orang lain mengira dia pergi jauh,

karena dia memang bertekad akan balik kembali.

Namun dia tak mungkin bisa tetap tinggal di sana sambil

menunggu pulihnya kesehatannya. Asal dia bertemu orang

itu, segera akan muncul suatu perasaan ancaman yang tak

terbendung, dia merasa ancaman itu membuatnya selalu

tegang, tak pernah bisa mengendorkan diri lagi.

Dalam tiga hari ini dia harus dapat memulihkan seluruh

kekuatan tubuhnya, bahkan kalau bisa, pulih dalam kondisi

puncak, dengan kondisi yang prima, ia baru punya harapan

untuk berduel melawan orang itu, jika ia tak bisa

mengendorkan seluruh syarafnya, berarti dia pasti akan

kalah.

Kalah di ujung pedang seorang jago pedang tanpa

perasaan, kalau sampai kalah berarti mati.

Angin dingin berhembus kencang, pasir berwarna kuning

masih beterbangan di angkasa, malam ini sebuah malam

yang membekukan.

Akhirnya ia berhasil melewati malam yang dingin

dengan hembusan angin yang begitu kencang dalam sebuah

liang batu karang yang tahan angin, sambil meneguk air,

minum arak, makan kue, menggigit daging, ia gunakan

selimut untuk menutupi tubuhnya.

Dalam waktu singkat ia terlelap tidur.

Tatkala mendusin dari tidurnya, pada pandangan mata

yang pertama ia telah melihat Po Eng.

Malam yang dingin kembali berlalu, baju putih yang

dikenakan Po Eng tampak bagaikan sukma gentayangan di

remangnya sang fajar, jubah itu seolah terbuat dari bahan

yang telah diberi mantera sakti, hingga selamanya tampil

putih, bersih dan halus.

Siau-hong tidak merasa tercengang akan

kemunculannya, malah sambil tertawa ujarnya, “Tak

disangka kau telah datang.”

Padahal kejadian semacam ini bukannya tak bisa diduga,

lagi pula munculnya orang ini di tempat mana pun, kapan

pun, dia tak bakal merasa tercengang atau keheranan.

Mendadak Po Eng mengajukan satu pertanyaan yang

sangat aneh.

“Penampilanku sekarang bila dibandingkan

penampilanku saat pertama kali kau berjumpa aku, apakah

terdapat perbedaan?” ia bertanya.

“Tak ada.”

“Tapi kau telah tampil beda.”

“Di mana bedanya?”

“Kau kelihatan seperti seorang yang kaya mendadak,”

sindir Po Eng dengan suara keras.

Siau-hong segera tertawa, kantung kulit kambing

tergeletak di sisi tubuhnya, dengan ketajaman mata Po Eng,

tentu saja semua benda itu tak akan lolos dari

pengamatannya.

Berada di dataran luas yang tak berperasaan semacam

ini, bila ada orang bersedia memberi berbagai barang

kebutuhan untukmu, tentu saja kau harus membayar untuk

semua itu. Dan kini satu-satunya yang bisa dia bayar untuk

semua itu adalah kesadaran serta suara hatinya.

Apakah Po Eng sudah mulai menaruh curiga kepadanya?

Siau-hong tidak memberi penjelasan.

Berada di hadapan manusia semacam Po Eng, memang

tak perlu menjelaskan persoalan apa pun.

Tiba-tiba Po Eng berkata lagi sambil tertawa, “Tapi aku

lihat kau si orang kaya mendadak rasanya tak pernah

melakukan perbuatan yang memalukan.”

Terkadang tidak memberi penjelasan justru merupakan

semacam penjelasan yang paling baik.

“Aku tak lebih hanya bertemu seseorang,” Siau-hong

menjelaskan, “Sementara waktu ini, dia tak ingin

membiarkan aku mati dahaga.”

“Siapakah orang itu?”

“Seseorang yang tiga hari kemudian bersiap akan

membunuhku dengan tangannya sendiri.”

“Dia akan membunuhmu dengan apa?”

“Dengan pedang miliknya.”

Dengan sorot mata tajam Po Eng memandang sekejap

pedang Siau-hong, lalu ujarnya, “Kau pun mempunyai

pedang, kemungkinan besar orang yang bakal terbunuh

mati bukan kau, melainkan dia.”

“Kemungkinan ini memang ada, tapi rasanya tidak

mungkin.”

“Kau memiliki sebilah pedang bagus, ilmu pedangmu

juga lumayan hebat, seranganmu tidak lambat, tidak

banyak orang yang mampu menghindari serangan

pedangmu.”

“Maka kau pun akan pergi?”

“Karena untuk sementara waktu kau tak bakal mati, aku

pun terpaksa harus pergi,” suara Po Eng masih dingin dan

tajam bagai mata golok.

Menunggu datangnya kematian ataupun mati di tangan

orang lain, sama-sama merupakan kejadian yang tidak

menyenangkan.

Apakah perasaannya juga sedingin ucapannya? Dia pergi

dari situ, apakah karena dia tahu Siau-hong telah lolos dari

ancaman bahaya maut?

Siau-hong meneguk araknya, kemudian meneguk pula

air tawar, baru perlahan-lahan mendorong campuran arak

itu ke dalam perut.

Dia sangat berharap Po Eng pun bisa minum seteguk

dengan cara begitu, sebab minum dengan cara begini selain

amat nikmat, bahkan amat bermanfaat bagi semangat

maupun kesehatan badan.

Ia tidak mempersilakan Po Eng minum, seperti dia tak

akan meminta seorang pejabat yang bersih dan jujur untuk

menerima uang sogokan.

Pemberian dari seseorang terkadang malah dianggap

sebuah penghinaan oleh orang lain.

Tak disangkal Po Eng telah mengetahui pula akan hal

ini, dari balik sorot mata elangnya yang dingin ternyata

muncul secercah kehangatan.

“Kau belum pernah bertemu orang itu?” tiba-tiba ia

bertanya. Siau-hong menggeleng.

“Belum pernah,” kemudian setelah termenung, lanjutnya

pula, “Padahal aku mengetahui hampir semua jago pedang

kenamaan yang ada di kolong langit, namun tak bisa

kuduga siapa gerangan orang itu.”

“Tentu saja kau tak akan mengetahuinya,” dari balik

mata Po Eng terpancar pemikiran mendalam yang

mendekati “tingkat tinggi”.

Lewat lama sekali dia baru berkata lagi perlahan-lahan,

“Karena jago pedang yang sebenarnya memang tak punya

nama.”

Ucapan ini pun sudah mendekati taraf “tingkat tinggi”,

Siau-hong masih muda, ia belum dapat mencernanya.

Maka tak tahan dia pun bertanya, “Kenapa?”

Po Eng harus berpikir cukup lama sebelum dapat

memberi penjelasan, “Karena jago pedang yang

sesungguhnya hanya mencari inti sari sebuah ilmu pedang,

yang dipikirkan hanya tingkatan paling tinggi dan dalam

dari sebuah ilmu pedang, kalau bisa mencapai sebuah taraf

yang belum pernah dijamah dan diraih jago pedang lainnya.

Hatinya sudah begitu tergila-gila dengan pedang, tubuh dan

pikirannya telah menyatu dengan pedang, maka musuh

yang dia cari pastilah orang yang bisa membantu dia untuk

mencapai taraf yang sedang dituju.”

Mungkin dia merasa penjelasan ini masih belum cukup

membuat orang merasa puas, maka kembali tambahnya,

“Orang semacam ini bukan saja tak akan terjun ke dalam

dunia persilatan untuk mencari nama, bahkan terkadang dia

telah melupakan nama sendiri.”

Siau-hong segera menambahkan, “Betul, yang terutama

baginya adalah tidak berharap orang lain mengetahui nama

mereka, sebab bila seseorang mempunyai nama besar, dia

tak akan bisa konsentrasi untuk melakukan perbuatan yang

disukainya.”

Tiba-tiba Po Eng menghela napas panjang, ujarnya,

“Ternyata kau memang seseorang yang amat cerdas,

kepintaranmu luar biasa….”

“Tapi sayang orang yang pintar terkadang justru berumur

pendek,” cepat Siau-hong menambahkan.

Suara Po Eng mendadak berubah jadi dingin dan tajam,

setajam mata golok, “Oleh karena itu, tiga hari kemudian

aku pasti akan datang untuk mengurus jenazahmu!”

Hari ini sudah bulan sembilan tanggal delapan belas.

Ooo)d*w(ooO

Bulan sembilan tanggal dua puluh, hari cerah.

Dalam dua hari belakangan, kalau siang udara amat

panas, sedang malam hari udara dingin membekukan,

sekalipun kondisi badan Siau-hong makin lama semakin

pulih, namun perasaannya justru berubah semakin tegang,

gelisah, dan tak sabar.

Hal ini bukan dikarenakan ia merasa sangsi dan ngeri

menghadapi duel yang segera akan dihadapinya, tapi

karena ia merasa kelewat kesepian.

Sejujurnya dia ingin sekali mencari seseorang dan

mengajaknya mengobrol, tapi Po Eng telah pergi dari situ,

wilayah seputar ribuan li tak nampak jejak sesosok

bayangan manusia pun.

Tegang, kepanasan, persediaan daging dan arak yang

berlebihan membuat perasaannya mendadak berubah jadi

lebih bersemangat.

Sudah lama, lama sekali ia tak pernah menyentuh

wanita.

Terkadang dia bisa tak tahan untuk membayangkan

kembali tangan itu, tangan halus, lembut yang sedang

meraba setiap inci bagian tubuhnya, menggosok dan

membasuhi setiap bagian badannya, termasuk bagian yang

vital.

Ia mulai merasa bara api yang membakar dadanya,

membakarnya hingga nyaris meledak.

Maka di tengah malam bulan sembilan tanggal sembilan

belas, dengan mengikuti posisi bintang di langit sebagai

kompas, dia mulai berjalan balik menuju ke arah tenda itu.

Hari ini sudah bulan sembilan tanggal dua puluh, dari

balik remangnya cahaya fajar, ia sudah dapat melihat

bayangan tenda.

Dia sendiri pun tahu, dengan kondisi badan yang

dimilikinya sekarang, ia belum pantas untuk berduel

melawan orang itu.

Namun dia enggan menghindar, dia pun tak mungkin

mundur dari kenyataan.

Ada begitu banyak orang yang mempercayai takdir,

semua beranggapan takdir akan menentukan jalan hidup

seseorang.

Tapi ada banyak orang yang tidak tahu bahwa hal yang

menentukan jalan kehidupan seseorang seringkali justru

watak dan perangai sendiri.

Siau-hong adalah manusia semacam ini, maka dia pun

memilih jalan kehidupan itu.

Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke dalam

tenda.

Tenda kulit kerbau yang besar dan kokoh itu dibangun di

bawah sebuah tebing batu penahan angin.

Ketika tiga hari berselang Siau-hong pergi meninggalkan

tempat itu, dalam tenda bukan saja terdapat orang, di sana

pun terdapat onta dan kuda, tapi sekarang tak satu pun

yang kelihatan. Kemana perginya mereka?

Kemana perginya onta dan kuda yang demi

kelangsungan hidup, telah memikul beban makanan dan

air, setiap hari menderita pecut dan siksaan manusia yang

tak berperasaan?

Mungkinkah di dalam tenda saat ini hanya tersisa si jago

pedang seorang, jago pedang tanpa nama tanpa perasaan

yang sedang menunggu kedatangannya?

Menunggu untuk mencabut nyawanya!

Matahari yang terik telah muncul di tengah angkasa.

Butiran air keringat telah membasahi tubuh Siau-hong,

mengalir hingga ke ujung bibir.

Butiran keringat yang asin bercampur getir, bila dijilat

dengan ujung lidah akan terasa anyir bagaikan darah.

Dalam waktu singkat dia akan benar-benar mencicipi

rasanya darah asli. Darah sendiri!

Selimut, kantong air dan benda lain yang berat telah dia

tinggalkan, semua barang yang bakal mempengaruhi

kecepatan gerakan telah ia tanggalkan, sambil

menggenggam kencang pedangnya ia berjalan masuk ke

dalam tenda, bersiap menghadapi musuh yang paling

tangguh sepanjang hidupnya.

Di luar dugaan, tak terlihat seorang pun di dalam tenda

itu.

Jago pedang tanpa nama, mencabut pedang tanpa

perasaan, sekali menyerang seketika mencabut nyawa

lawan, bukan saja tusukan pedang itu mengandung seluruh

inti sari ilmu pedangnya, terkandung juga seluruh

rahasianya. Tentu saja sewaktu turun tangan, dia enggan

ada orang lain menyaksikannya.

Hanya orang mati yang pernah menyaksikan serangan

pedangnya, karena siapa pun yang pernah menyaksikan

serangan pedangnya, dia harus mati.

Oleh karena itu Siau-hong menduga, Wi Thian-bong

serta si Air raksa telah dipaksa meninggalkan tempat itu.

Tapi mimpi pun dia tak menyangka jago pedang tanpa

nama itu pun ikut pergi dari situ, terlebih tak habis mengerti

mengapa dia harus pergi dari tempat ini?

Mereka berasal dari kelompok yang sama, dalam situasi

dan keadaan seperti apa pun tak nanti meninggalkan arena

pertarungan dan melarikan diri.

Mungkinkah di tempat itu telah terjadi sebuah perubahan

yang mengejutkan? Terjadi suatu peristiwa yang

memaksanya mau tak mau harus pergi meninggalkan

tempat itu?

Siau-hong tak dapat menduganya, dia pun tak tahu apa

jawabannya.

Segala perabot dan keadaan di dalam tenda masih sama

seperti keadaan pada tiga hari berselang, saat ia tinggalkan

tempat itu, baskom emas masih berada di atas meja, kulit

macan tutul pun masih ada….

Tiba-tiba seluruh otot badan Siau-hong mengejang

kencang, dengan satu gerakan cepat dia menerjang ke

depan, menghampiri ranjang itu.

Ia telah melihat kulit macan tutul itu sedang bergerak.

Dengan tangan sebelah menggenggam pedang, ia

gunakan tangan yang lain, dengan gerakan yang lambat,

lambat sekali… kemudian secepat sambaran kilat

mencengkeram dan menarik kulit macan tutul itu.

Tak salah, di bawah kulit macan tutul ternyata terdapat

seseorang.

Dia bukan si Air raksa, bukan Wi Thian-bong, terlebih

bukan jago pedang tanpa nama.

Orang itu adalah seorang perempuan, seorang

perempuan dalam keadaan telanjang bulat.

Sekilas pandang Siau-hong dapat memastikan kalau

sebelum ini dia belum pernah bertemu dengan perempuan

ini, karena perempuan ini memiliki perbedaan dengan

semua perempuan yang pernah dijumpainya selama ini.

Di mana letak perbedaannya?

Sekalipun Siau-hong tak dapat menjelaskan, namun ia

dapat merasakannya, semacam perasaan yang begitu

dalam, begitu kuat, nyaris menyusup masuk hingga ke

tubuh bagian bawahnya.

Dia memang seorang gelandangan.

Tak sedikit perempuan yang pernah dijumpainya, tak

sedikit pula perempuan yang pernah bugil di hadapannya.

Tapi tubuh perempuan ini kalah jauh bila dibandingkan

dengan tubuh mereka, perempuan-perempuan itu memiliki

tubuh yang lebih padat berisi, lebih kenyal, lebih

merangsang napsu birahi.

Ia kelihatan selain pucat-pasi, bahkan kurus dan lemah,

selain itu perkembangan payudaranya kurang sempurna,

namun kesan yang ditimbulkan perempuan ini justru dapat

menyusup hingga menyentuh napsu birahi paling purba dari

manusia.

Sebab dia pasrah, sama sekali tak memiliki kekuatan

untuk melawan, bahkan keinginan untuk melakukan

perlawanan pun sama sekali tak ada.

Sebab perempuan ini kelewat lemah, apa pun yang akan

dilakukan orang lain terhadapnya, terpaksa ia harus

menerimanya.

Setiap lelaki dapat melakukan apa pun yang ingin dia

lakukan terhadap perempuan itu.

Bila seorang wanita telah memberi perasaan semacam ini

terhadap seorang lelaki, bagi dirinya atau pun bagi orang

lain, jelas keadaan itu merupakan sesuatu yang sangat tidak

menguntungkan.

Karena perasaan itu sendiri membawa semacam

rangsangan yang menggiring manusia untuk melakukan

dosa.

Siau-hong menerjang keluar, keluar dari tenda itu walau

di luar tenda matahari sedang bersinar terik.

Ia membiarkan tubuhnya terbakar oleh teriknya

matahari, sementara kobaran api birahi masih membara

dalam lubuk hatinya.

Sudah terlalu lama dia mengendalikan gejolak birahinya,

dia tak ingin berdosa lagi.

Butiran keringat mulai mengucur deras, mengendalikan

napsu birahi terkadang jauh lebih susah daripada

mengendalikan gejolak napsu lainnya.

Ia tidak pergi terlalu jauh, karena masih ada beberapa

masalah yang harus dibikin jelas.

Dengan cara apa perempuan itu tiba di situ? Ke mana

perginya Wi Thian-bong sekalian?

Ketika untuk kedua kalinya dia masuk kembali ke dalam

tenda, perempuan itu sudah duduk, tubuhnya telah

dibungkus dengan kulit macan tutul, ia sedang mengawasi

pemuda itu dengan pandangan ngeri, takut, dan seram.

Siau-hong berusaha menghindarkan diri dari tatapan

mata perempuan itu.

Dia masih belum dapat melupakan perasaan yang

dialaminya tadi, juga belum bisa melupakan tubuh bugil

yang tersembunyi di balik kulit macan tutul itu.

Sekalipun begitu, ada beberapa persoalan tetap harus dia

tanyakan, pertama-tama dia harus mencari tahu lebih dulu

siapakah dirinya.

Setiap satu pertanyaan diajukan, ia segera menjawabnya

secara spontan.

Tampaknya perempuan itu belum pernah

membangkang, karena dia tidak memiliki kekuatan untuk

membangkang, juga tak memiliki keinginan untuk

membangkang.

“Siapa kau?”

“Aku bernama Pova.”

Suaranya halus dan lembut, biarpun dialek yang dipakai

adalah dialek yang biasa digunakan di daratan Tionggoan,

namun terkesan aneh dan lucu.

Tampaknya walaupun dia seorang bangsa Han, tak

disangkal sejak kecil sudah hidup di gurun pasir, nama yang

digunakan pun menggunakan bahasa Tibet.

“Kau adalah anak buah Wi Thian-bong?”

“Bukan!”

“Kenapa kau bisa sampai di sini?”

“Aku datang untuk menunggu seseorang.”

“Siapa?”

“Dia bernama Hong, seorang lelaki, seorang lelaki yang

sangat baik.”

Siau-hong tidak merasa tercengang dengan

pengakuannya itu, maka segera tanyanya lagi, “Kau kenal

orang itu?”

“Tidak!”

“Siapa yang menyuruh kau menunggu di sini?”

“Majikanku.”

“Siapa majikanmu?”

“Dia pun seorang lelaki.”

Ketika menyinggung tentang majikannya, dari balik

matanya segera terpancar semacam rasa kagum dan hormat

yang luar biasa, seperti rasa hormatnya terhadap para

dewata.

“Tapi dia lebih tangguh, lebih kosen daripada seluruh

lelaki yang ada di dunia ini, asal dia ingin melakukan

sesuatu, tak ada yang tak bisa dia lakukan, asal dia mau, dia

pun bisa terbang ke langit nan biru, terbang ke puncak Cumu-

lang-ma, karena dia seperti seekor burung elang.”

“Burung elang?” akhirnya Siau-hong mengerti,

“Bukankah dia bernama Po Eng?”

Perempuan itu datang ke sana karena Po Eng yang

menyuruh dia ke situ.

Wi Thian-bong tak berada di sana, tentu saja hal ini

dikarenakan mereka telah dipaksa pergi oleh Po Eng.

Dia telah mewakili Siau-hong mengusir pergi Wi Thianbong

dan Air raksa, dia pun telah mewakili Siau-hong

mengalahkan jago pedang tanpa nama yang menakutkan

itu.

Asal ia bersedia, pekerjaan apa pun dapat ia lakukan.

Tiba-tiba Siau-hong merasa sangat gusar.

Dia semestinya merasa berterima kasih, tapi rasa gusar

yang membara di dalam dadanya sekarang jauh lebih kuat

dari rasa terima kasihnya.

Jago pedang tanpa nama itu adalah lawannya, duel mati

hidup yang bakal mereka berdua langsungkan sama sekali

tak ada sangkut-pautnya dengan orang lain, sekalipun dia

kalah dalam pertarungan, bahkan mati di medan laga,

semuanya tak ada urusan dengan orang lain.

Hampir saja dia ingin menerjang keluar, pergi mencari

Po Eng, pergi memberitahu orang yang luar biasa itu bahwa

ada sementara urusan yang tak boleh diwakilkan siapa pun,

ada pekerjaan tertentu yang harus dia lakukan sendiri…

pertarungannya harus diselesaikan oleh dirinya sendiri,

harga diri serta martabatnya harus dia sendiri yang

lindungi, seperti dirinya melindungi nyawa sendiri.

Peluhnya masih menetes, dia pun masih pirnya darah

untuk mengalir, atas dasar apa manusia yang luar biasa itu

ingin mencampuri urusannya!

Perempuan itu masih mengawasinya tanpa berkedip,

tiada rasa takut lagi di balik sorot matanya, mendadak ia

berkata, “Aku tahu, kau pastilah orang yang sedang

kutunggu.”

“Dari mana kau bisa tahu?”

“Aku bisa melihat, kau adalah orang baik,” perlahan ia

menundukkan kepala, “Karena kau tidak menjahati aku….”

Sebetulnya manusia itu sama rata sama derajat, setiap

orang berhak untuk “tidak dijahati”, tapi bagi perempuan

ini, bisa tidak dijahati orang sudah merupakan sebuah

berkah, sebuah keberuntungan yang langka.

Sudah berapa banyak tekanan, penghinaan dan

perkosaan yang dia alami selama ini? Dari balik perkataan

yang diucapkannya sekarang, terkandung betapa besar

kesedihan dan kepedihan yang pernah dia alaminya selama

ini?

Tiba-tiba rasa gusar Siau-hong lenyap seketika, rasa

gusarnya telah berubah jadi rasa kasihan dan iba.

Kembali perempuan itu mengangkat wajahnya, menatap

pemuda itu lekat-lekat, “Aku pun dapat melihat apa yang

kau butuhkan sekarang, apa yang kau inginkan segera akan

kuberikan semuanya untukmu!”

Detak jantung Siau-hong kembali berdebar keras,

perempuan itu telah bangkit, berdiri di hadapannya dalam

keadaan telanjang bulat.

Ketika Siau-hong ingin kabur, ingin menghindarkan diri,

perempuan itu sudah menubruk ke dalam pelukannya.

Suara tawanya benar-benar sangat riang, jauh lebih riang

daripada seorang pemancing ikan yang memasukkan ikan

hasil tangkapannya ke dalam kuali berminyak panas.

Bagaimana pula perasaan sang ikan?

Ooo)d*w(ooO

BAB 5. IKAN DALAM JARING

Perasaan pertama yang muncul dalam benak Siau-hong

adalah “Tidak percaya”, dia tak percaya Pova bakal

mengkhianatinya.

Sayang semua ini merupakan kenyataan, seringkali

kenyataan jauh lebih menakutkan, jauh lebih sadis dan

kejam daripada impian buruk.

Tapi akhirnya dia mengerti juga.

Pova menunggunya di dalam tenda bukan atas perintah

Po Eng. Ternyata majikannya bukan Po Eng, melainkan

Sui-gin, si Air raksa.

“Sekarang tentunya kau sudah paham bukan kalau

semua ini hanya sebuah perangkap, semua perkataan yang

dikatakan nona Sui kepadamu tadi tak satu pun yang

merupakan kata sejujurnya, walaupun dia mempunyai

suara yang manis bagai madu, namun di balik

senyumannya tersembunyi golok, golok yang dapat

membunuh tanpa mengeluarkan darah!”

Pova berdiri di samping Sui-gin, apa pun yang dikatakan

Sui-gin, Pova hanya mendengarkan dengan tenang.

Mendadak ia cengkeram rambut Pova, menekan

wajahnya yang pucat-pasi itu ke hadapan Siau-hong.

“Pentang matamu lebar-lebar dan awasi wajahnya, aku

berani bertaruh, hingga sekarang kau pasti tak akan percaya

kalau dia adalah perempuan semacam ini!”

Siau-hong membuka matanya lebar-lebar, rambut

perempuan itu telah mewakilinya menahan cahaya

matahari, rambutnya yang panjang terurai di atas

wajahnya, sepasang mata perempuan itu tampak kosongmelompong,

seakan tak melihat apa-apa, dia pun seolah tak

memikirkan apa-apa.

Pada hakikatnya, orang ini seolah hanya tinggal sebuah

badan yang kosong, tidak memiliki pikiran, tak punya

perasaan, juga tak punya sukma.

Dalam waktu sekejap inilah, Siau-hong telah memaafkan

dirinya. Terlepas dia pernah berapa kali melakukan

perbuatan yang menakutkan, dia telah memaafkannya.

“Orang yang punya janji denganmu telah pergi,” kata si

Air raksa lagi, “Karena ia sudah tahu kalau kau pada

hakikatnya tidak pantas untuk bertarung melawannya. Wi

Thian-bong ingin menggunakan kau untuk mencari kembali

uang emasnya, sedang aku hanya menginginkan

nyawamu.”

Setelah menarik napas, perlahan-lahan ia berkata lebih

jauh, “Aku berani bertaruh, kali ini pasti tidak ada lagi

orang yang datang menyelamatkan dirimu.”

Tiba-tiba Siau-hong tertawa lebar.

“Apa yang kau pertaruhkan? Mempertaruhkan

nyawamu?” katanya.

Sui-gin balas menatap lawannya lekat-lekat, “Aku hanya

menginginkan….”

Perempuan itu tidak menyelesaikan kata-katanya,

mendadak senyuman di bibirnya membeku, karena secara

tiba-tiba dia telah menyaksikan munculnya sesosok

bayangan hitam di atas tanah.

Cahaya matahari memancar masuk dari belakang

punggungnya, bayangan hitam itu justru muncul dari

belakang tubuhnya, bayangan dari seseorang.

Dari mana datangnya orang itu? Sejak kapan muncul di

sana? Ternyata Sui-gin sama sekali tidak merasakannya.

Bayangan itu menempel ketat di belakang tubuhnya,

bergerak sedikit pun tidak.

Sui-gin tak berani bergerak, ia tak berani bergerak secara

sembarangan.

Tangan dan kakinya telah dingin membeku, butir

keringat sebesar kacang kedelai telah jatuh bercucuran, butir

demi butir bercucuran membasahi jidatnya.

“Siapa kau?” akhirnya tak tahan dia bertanya.

Bayangan itu tidak menjawab, Siau-hong yang

mewakilinya menjawab, “Mengapa kau tidak berpaling dan

melihatnya sendiri?”

Tentu saja wanita itu tak berani berpaling.

Asal dia berpaling, kemungkinan besar ada sebilah

pedang yang tajam akan segera menggorok lehernya.

Segulung angin berhembus, mengibarkan jubah panjang

bayangan itu.

Dia segera dapat melihat ujung jubah berwarna putih

yang jauh lebih putih dari salju di pegunungan nun jauh di

sana.

Kembali Siau-hong bertanya, “Sekarang apakah kau

masih akan bertaruh lagi denganku?”

Sui-gin ingin sekali buka suara, namun hanya bibirnya

yang gemetar, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan.

Di saat orang lain menyangka dia sudah hampir runtuh

karena rasa ketakutan yang luar biasa itulah mendadak

perempuan itu melejit keluar lewat samping Pova,

kemudian sambil menginjak di atas kepala Pova, dia melejit

sejauh tiga tombak dari tempat semula kemudian kabur

terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Sampai detik terakhir dia tetap tak berani berpaling

untuk memandang sekejap ke arah bayangan yang berdiri di

belakang tubuhnya, sebab ia sudah dapat menebak siapa

gerangan orang itu.

Di atas puncak Cu-mu-lang-ma yang selalu dilapisi salju

abadi, hanya ada seekor burung elang. Di dataran luas yang

tak berperasaan pun hanya ada seorang, konon orang itu

adalah jelmaan dari siluman elang, seorang tokoh sakti

yang selamanya tak pernah bisa dimusnahkan.

Semua orang yang hidup di tengah gurun pasir, pasti

pernah mendengar kisah cerita tentang dongeng ini, begitu

juga dengan Sui-gin.

Po Eng tidak mengejar perempuan itu, dia masih berdiri

di situ tanpa bergerak, berdiri sambil mengawasi Siau-hong

dengan sepasang mata elangnya.

“Kau sudah kalah,” tiba-tiba ujarnya, “Bila ia benarbenar

mengajakmu bertaruh, kau sudah kalah.”

“Kenapa?”

“Karena apa yang dia katakan memang benar, kali ini

memang tiada orang yang bakal menolongmu.”

“Bagaimana dengan kau?”

“Aku pun bukan datang untuk menolongmu, aku hanya

kebetulan lewat di sini, kebetulan berdiri persis di belakang

tubuhnya.”

Siau-hong pun menghela napas panjang.

“Ai, apakah selamanya kau tak pernah mau menerima

rasa terima kasih orang lain terhadapmu?”

Dia tahu Po Eng tak bakal menjawab pertanyaan ini,

maka segera lanjutnya lebih jauh, “Jika secara kebetulan

kau butuh lima lembar sabuk kulit kerbau, kebetulan aku

memiliki lima lembar sabuk kulit kerbau dan bisa

kuhadiahkan untukmu, aku pun tak ingin kau berterima

kasih kepadaku!”

Senyuman mulai nampak dari pancaran mata Po Eng,

sahutnya, “Kebetulan aku memang sedang membutuhkan

sabuk kulit kerbau semacam ini.”

Siau-hong segera menghembuskan napas lega, katanya

kemudian sambil tersenyum, “Kalau begitu, bagus sekali.”

Kulit kerbau yang terikat di keempat anggota badan serta

tenggorokan Siau-hong sudah dilepas, Po Eng pun

menggabungkan kelima utas sabuk itu menjadi satu, tibatiba

ia bertanya, “Tahukah kau apa yang hendak kuperbuat

dengan benda ini?”

“Tidak.”

“Akan kuhadiahkan kepada seseorang.”

“Dihadiahkan untuk siapa?”

“Untuk seseorang yang setiap saat kemungkinan akan

menggantung diri, kalau ingin gantung diri, sabuk kulit

kerbau semacam ini paling cocok dipakai,” kata Po Eng

hambar, “Aku tak suka membunuh orang, tapi aku pun tak

keberatan jika ada seseorang ingin menggantung diri.”

Siau-hong tak perlu bertanya lagi siapakah orang itu, dia

memang tidak terlalu menaruh perhatian atas perkataan

dari Po Eng itu.

Hingga saat ini, dia hanya mengawasi Pova terus tanpa

berkedip.

Waktu itu Pova sudah terinjak hingga terbenam dalam

pasir, biarpun rambutnya yang hitam masih berkibar

terhembus angin, namun seluruh wajahnya telah terbenam

di dalam pasir kuning.

Selama ini dia hanya berbaring terus dalam posisi begitu,

sama sekali tak bergerak, sama sekali tak mendongakkan

kepalanya.

Apakah hal ini dikarenakan ia tak berani mengangkat

wajahnya lagi untuk berhadapan dengan Siau-hong?

Sebetulnya Siau-hong ingin sekali pergi begitu saja, pergi

tanpa mempedulikan perempuan itu lagi, akan tetapi

perasaannya masih terasa sakit sekali.

“Mana pedangmu?” kembali Po Eng bertanya

kepadanya. “Tidak tahu!” pedang itu memang sudah tidak

berada di sampingnya lagi.

“Masih ingin mendapatkan kembali pedangmu?”

“Tentu saja!”

Mendadak Po Eng tertawa dingin, katanya, “Padahal

kau sudah tak menginginkannya lagi, kecuali perempuan

ini, kau sudah tak menginginkan yang lain….”

Ternyata Siau-hong tidak menyangkal, tiba-tiba dia

mengulurkan tangan, membelai perlahan rambut Pova yang

masih berkibar terhembus angin.

Berada di hadapan Po Eng, sebetulnya dia tak ingin

berbuat begitu.

Tapi sekarang dia telah melakukannya, ia lakukan semua

itu bukan terdorong oleh rasa iba atau simpatik, bukan juga

karena luapan emosi sesaat, melainkan karena suatu

perasaan yang sukar dijelaskan, sukar dilukiskan dengan

perkataan apa pun.

Dia tidak tahu kalau perasaan semacam ini

sesungguhnya tak dapat dipahami oleh Po Eng, dia hanya

mendengar suara tertawa dingin Po Eng, lalu secara tibatiba

suara itu semakin menjauh.

Di kolong langit, di tengah dataran yang begitu luas

seolah-olah kini tinggal mereka berdua, walau begitu Siauhong

sudah tidak merasakan kesendirian dan kesepian lagi.

Cepat dia membangunkan perempuan itu, mengangkat

wajahnya dengan kedua belah tangan, tampak sorot mata

Pova kosong dan hampa, tiada perubahan mimik, tiada

luapan perasaan, tiada air mata.

Bekas air mata masih memenuhi wajahnya yang kini

telah tergesek luka oleh pasir panas, mendadak Siau-hong

mengambil keputusan, dia bertekad akan membuat

perempuan itu memahami perasaannya.

“Semua ini bukan kesalahanmu, aku tidak membencimu.

Terlepas perbuatan apa saja yang pernah kau lakukan dulu,

aku tak peduli, selama aku masih bisa hidup, akan kurawat

dirimu secara baik-baik, tak akan kubiarkan kau diatur

orang, diperintah orang dan dianiaya orang lain.”

Pova hanya mendengarkan tanpa bicara, membiarkan air

matanya meleleh membasahi pipinya, bukan saja ia tidak

memberi penjelasan atas kesalahan yang pernah dilakukan,

dia pun tidak menampik kasih sayangnya yang lembut.

Peduli apa pun yang akan dilakukan pemuda itu, dia

bersedia menerimanya, rela menuruti semua kemauannya.

Maka Siau-hong pun membopong tubuh perempuan itu,

berjalan ke depan dengan langkah lebar.

Tapi berapa jauh dia bisa pergi? Berapa lama dia bisa

hidup?

Siau-hong tak tahu, dia pun tak peduli.

Belum jauh ia berjalan meninggalkan tenda, tiba-tiba

terdengar suara keleningan onta, suara keleningan onta

yang lebih merdu dari irama dewa-dewi, lebih

membangkitkan semangat daripada genderang perang.

Menyusul dia pun menyaksikan satu rombongan

pedagang yang mengendrai onta yang begitu besar,

rombongan besar yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Begitu banyak onta, begitu banyak barang muatan,

begitu banyak manusia….

Orang pertama yang dia saksikan adalah seorang

bongkok yang timpang kakinya, putus jari tangannya,

berkepala botak, dan bermata satu. Si bongkok ini tampak

tinggi besar dan jauh lebih buas tampangnya daripada

kebanyakan orang.

Terhadap manusia semacam ini, dia tak perlu bicara

berputar-putar.

“Aku dari marga Hong,” dia langsung berterus terang,

“Saat ini tak punya air, tak punya makanan, tak punya

uang. Aku sudah tersesat. Karena itu kumohon kalian mau

menerimaku, bawa aku meninggalkan wilayah gurun pasir

ini!”

Dengan mata tunggalnya yang memancarkan sinar tajam

si bongkok mengawasinya lekat-lekat, kemudian bertanya

dingin, “Kalau kau memang tak memiliki apa-apa, kenapa

kami harus menerimamu?”

“Karena aku adalah manusia, kalian pun manusia.”

Oleh karena ucapannya itu, maka mereka pun

menerimanya.

Rombongan pedagang itu berasal dari berbagai ragam

bangsa, ada orang Tibet dengan dandanannya aneh tapi

indah, ada orang Mongol yang gagah perkasa, ada orang

Bhutan yang gemar memakai baju ungu, ada pula bangsa

Han yang sudah lama meninggalkan kampung halaman.

Barang dagangan mereka terdiri dari bulu domba, kulit

samak, daun teh, garam, obat-obatan, serta dupa wangi.

Adapun tujuan mereka adalah negeri Turfan pada dinasti

Tong, kota Tosiamso yang dalam pandangan orang Tibet

merupakan kota suci mereka, Lhasa!

Sekalipun kelompok yang mereka bentuk sedikit campuraduk,

namun semuanya merupakan kaum pedagang, oleh

karena itu kerja sama antar kelompok berlangsung sangat

baik dan harmonis.

Ada yang bertugas memberi makan onta, ada yang

bertugas mengurus makanan dan minuman, ada yang

bertugas mengobati penyakit, ada pula satu kelompok orang

yang paling kuat dan buas bertugas sebagai pengawal,

pengamat, serta pasukan pemukul serangan musuh.

Si bongkok yang mengizinkan Siau-hong bergabung

dalam rombongan ini adalah salah satu di antara kelompok

itu.

Siau-hong mendapat tahu kalau pemimpin mereka

adalah seorang Tibet yang mempunyai julukan sebagai

Pancapanah, sayang selama ini belum pernah

menjumpainya karena dia sering berkelana ke empat

penjuru dunia.

Selama dia tak berada di tempat, kelompok ini akan

dipimpin oleh si bongkok serta seseorang bernama Tong

Leng yang berasal dari wilayah Siok (Su-cwan).

Memang bukan pekerjaan gampang untuk mengurusi

serta bertanggung-jawab atas keselamatan rombongan besar

semacam ini!

Biarpun si bongkok adalah seorang cacat, ternyata gerakgeriknya

cepat dan lincah, bahkan memiliki kekuatan yang

menakutkan, bungkusan barang seberat beberapa ratus kati

ternyata sanggup dia angkat hanya dengan mengandalkan

sebelah tangan.

Sejak awal perjumpaan, Siau-hong sudah tahu orang ini

adalah seorang jago persilatan yang memiliki kungfu sangat

hebat.

Tong Leng adalah seorang lelaki pendiam tapi gerakgeriknya

serius, dia memiliki jari tangan yang panjang

namun penuh bertenaga, kemungkinan besar merupakan

anak murid keluarga Tong dari Su-cwan yang tersohor

karena kelihaian senjata rahasia beracunnya.

Kendatipun begitu, setiap kali menyinggung

Pancapanah, sikap mereka segera akan berubah amat

hormat dan patuh.

Kendati Siau-hong belum pernah bertemu orang itu,

namun bisa membayangkan bahwa dia adalah seorang

lawan yang tak gampang dihadapi.

Perjalanan yang ditempuh rombongan itu tidak terlalu

cepat. Onta memang bukan termasuk jenis binatang yang

gemar berlari, sementara rombongan itu pun tidak punya

kepentingan untuk menempuh perjalanan cepat.

Begitu matahari mulai tenggelam di balik gunung,

mereka akan mengumpulkan semua onta menjadi satu

lingkaran besar, di tengah lingkaran kosong inilah mereka

mendirikan tenda untuk berteduh, Siau-hong serta Pova

mendapat jatah sebuah tenda tersendiri.

Malam kedua, Siau-hong dapat tidur amat nyenyak.

Berada dalam perlindungan keamanan sebuah kelompok

yang begitu ketat dan kuat, tentu saja ia dapat tidur sangat

pulas.

Dia berharap Pova pun dapat tidur dengan nyenyak

sekali, tapi sampai ia mendusin pada hari kedua,

perempuan itu masih duduk bodoh di tempat semula,

sekalipun sudah tiada air mata namun ia sudah

memperlihatkan reaksi.

Sorot mata yang terpancar menunjukkan perasaannya

yang hancur-lebur.

Biarpun selama ini dia tak pernah mengucapkan sepatah

kata penyesalan pun, namun sinar matanya telah

memperlihatkan seluruh perasaannya, ungkapan hati yang

jauh lebih gamblang daripada kata-kata.

Biarpun Siau-hong telah memaafkan dirinya, akan tetapi

ia tak dapat memaafkan diri sendiri.

Dia hanya berharap waktu dapat menyembuhkan

seluruh luka yang membekas dalam hatinya.

Sewaktu Siau-hong bangun dari tidurnya, hari belum

begitu terang tanah, saat itu rombongan onta sudah siap

melanjutkan kembali perjalanannya.

Ketika keluar dari tenda, si bongkok telah menantinya.

“Kemarin aku telah menerangkan semua keadaan di sini

kepadamu, tentu saja kau sudah paham bukan, setiap orang

yang berada di sini harus bekerja.”

“Aku mengerti.”

“Apa yang dapat kau lakukan?”

“Kau menghendaki aku mengerjakan apa, akan

kulakukan.”

Si bongkok memandangnya dengan dingin, di antara

kilatan cahaya dari balik mata tunggalnya, mendadak

secepat kilat dia melancarkan serangan.

Tangan kirinya hanya memiliki dua jari tangan, namun

ketika turun tangan, kedua jari itu tiba-tiba saja berubah

seperti sepasang pedang, sebilah gurdi dan seekor ular

berbisa, ular yang langsung menyergap tenggorokan Siauhong.

Menghadapi datangnya ancaman itu Siau-hong sama

sekali tak bergerak, bahkan mata pun sama sekali tak

berkedip, menunggu kedua jari tangan itu sudah berada

lima inci di depan tenggorokannya, ia baru mulai bergeser,

tiba-tiba saja ia sudah menyelinap ke sisi kiri si bongkok.

Waktu itu telapak tangan kanan si bongkok telah

melancarkan pukulan, pukulan inilah baru merupakan

serangan utamanya, angin serangan yang muncul akibat

pukulan itu seketika membuat seluruh tenda bergoncang

keras.

Sayang sekali sasaran gempurannya sudah tidak berada

pada posisi yang diperhitungkan semula.

Siau-hong sudah tahu serangannya hanya jurus tipuan,

biarpun anak muda itu bergerak lamban, namun

sesungguhnya cepat luar biasa, arah di mana Siau-hong

bergeser justru merupakan posisi yang paling sulit dicapai

serangan lawan atau dengan perkataan lain merupakan

posisi yang paling lemah dan kosong pertahanannya. Asal

dia melancarkan serangan balasan, niscaya pihak lawan

segera akan roboh.

Siau-hong tidak turun tangan.

Dia membiarkan pihak lawan tahu kalau dirinya tak bisa

dianggap enteng, dengan “tenang mengatasi gerak, dengan

lambat mengatasi cepat, menyerang belakangan tiba

duluan”, ia perlihatkan ketangguhan dan kelebihan dirinya.

Si bongkok pun tidak lagi melancarkan serangan.

Kedua orang itu berdiri saling berhadapan, saling

menatap sampai lama sekali, kemudian si bongkok itu baru

berkata perlahan, “Sekarang aku sudah tahu apa yang bisa

kau lakukan.”

Sambil membalikkan badan tambahnya, “Mari ikut aku!”

Sekarang, tentu saja Siau-hong pun sudah tahu pekerjaan

apa yang bakal diberikan si bongkok kepadanya.

Demi kelanjutan hidup, demi keluar dari gurun pasir

dalam keadaan hidup, terpaksa dia harus melakukannya.

Dia harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk

memperebutkan hak mempertahankan hidup bagi dirinya

serta Pova. Di saat tak boleh mati, dia akan berusaha sekuat

tenaga untuk tidak mati, di saat harus hidup, dia pun akan

sepenuh tenaga memperebutkannya.

Tong Leng mempunyai perawakan tubuh setinggi lima

kaki sedang berat tubuhnya hanya seratus lima puluh satu

kati, namun setiap inci tubuhnya dipenuhi otot baja dan

tenaga raksasa, setiap otot setiap tulang, setiap syaraf yang

dimilikinya selalu terjaga dalam kondisi sehat dan

sempurna sehingga setiap saat dapat melancarkan serangan

telak yang mematikan.

Biarpun perawakan tubuh anak buahnya rata-rata jauh

lebih tinggi dari tubuhnya, namun selama berdiri di

hadapannya, ternyata tak seorang pun berani memandang

enteng terhadap dirinya.

Di antara kelompok mereka ini, di antaranya bukan saja

terdapat para jago gagah dari dunia persilatan, ada juga

para jago dari luar perbatasan maupun jago-jago dari

bangsa asing.

Dan sekarang, mereka telah ketambahan lagi seorang

rekan.

“Dia she Hong,” si bongkok mengajak Siau-hong ikut

hadir di tempat di mana setiap pagi mereka berkumpul,

“Aku ingin menggunakan dia!”

“Apakah dia berguna?” tanya Tong Leng, hanya satu

pertanyaan.

“Ya!”

Tong Leng tidak bicara lagi, dia sangat mempercayai si

bongkok, selamanya tak pernah banyak bertanya.

Sayang belum tentu orang lain berpandangan begitu.

Kelompok manusia ini terdiri dari kawanan manusia

yang sudah terbiasa hidup menyendiri, angkuh, dan enggan

mengaku lemah di hadapan orang lain, sifat mereka masih

liar, siapa pun tak pernah memandang sebelah mata

terhadap orang lain.

Setelah saling bertukar pandang, akhirnya orang pertama

yang tampil ke depan adalah Ma Sah.

Lelaki yang bernama Ma Sah ini berperawakan tinggi

besar dan kasar, ia memiliki tenaga dalam yang luar biasa

kuatnya, termasuk seorang Bu-su kenamaan di wilayah

Mongol dan merupakan jagoan hebat ilmu gulat.

Kalau akan mencari masalah dengan orang lain, dialah

orang pertama yang selalu tampil lebih dulu.

“Biar aku yang mencoba lebih dulu sampai di mana

kehebatan kepandaian silatnya!”

Diiringi suara bentakan nyaring, sepasang tangan

besarnya yang kuat bagai banteng itu langsung

mencengkeram bahu Siau-hong.

Seketika itu juga tubuh Siau-hong terlempar ke tengah

udara.

Ma Sah tertawa terbahak-bahak. Tapi baru saja tertawa,

mendadak ia tak dapat tertawa lagi.

Orang yang baru saja dilempar jauh ke belakang, tahutahu

sudah berdiri kembali di posisi semula, bukan hanya

balik ke tempat semula, bahkan seakan sama sekali tak

pernah bergerak.

“Bocah muda, ternyata hebat juga kepandaianmu.”

Ma Sah meraung keras, kembali ia gunakan jurus paling

hebat dari ilmu gulatnya. Konon dengan jurus ini dia

pernah membanting mati seekor banteng buas.

Tapi kali ini Siau-hong sama sekali tak bergerak,

sepasang kakinya seolah sudah berakar di dalam tanah.

Kembali Ma Sah meraung keras, suaranya nyaring bagai

auman binatang buas, seluruh kekuatan yang dimilikinya

telah digunakan.

Kali ini Siau-hong mulai bergerak.

Bahunya dikibaskan perlahan, sekonyong-konyong

tubuh Ma Sah yang gede bagai kerbau itu sudah

berjumpalitan beberapa kali di tengah udara, lalu roboh

terbanting ke atas tanah, begitu kerasnya bantingan itu

hingga nyaris menciptakan sebuah liang besar di atas

permukaan pasir.

Pada saat itulah sekilas cahaya dingin berkelebat di

tengah udara, sebilah golok telah dilolos dari sarungnya dan

langsung dihujamkan ke arah pinggang Siau-hong.

“Coba dulu kehebatan golokku!”

Orang ini menyerang dulu kemudian baru bersuara,

memang begitulah cara seorang pejuang suku Gurkha

ketika hendak membunuh orang, Garda merupakan salah

seorang dalam pasukan mereka yang paling ganas dan buas.

Bagi mereka, membunuh tetap adalah membunuh, asal

dapat membunuh lawan, peduli cara mereka itu gagah atau

tidak.

Baru saja suara bentakan bergema, mata goloknya nyaris

sudah menusuk pinggang Siau-hong, sayang pergelangan

tangannya sudah keburu ditahan oleh Siau-hong, menyusul

tahu-tahu golok miliknya sudah berpindah tangan.

“Kau hendak membunuhku, seharusnya aku pun

membunuhmu,” ujar Siau-hong dengan suara berat,

“Karena kau tak mampu membunuhku, seharusnya kaulah

yang mati di tanganku.”

Setelah berhenti sejenak, tambahnya, “Apakah cara ini

terhitung sangat adil?”

Saking sakitnya, peluh sebesar kacang kedelai telah

membasahi jidat Garda, ia merasakan pergelangan

tangannya nyaris hancur berkeping, sambil mengertak gigi

sahutnya cepat, “Adil!”

Siau-hong tertawa, tiba-tiba ia kendorkan tangannya dan

menyarungkan kembali golok itu ke dalam sarung kulit

kerbaunya.

“Aku tak boleh membunuhmu karena kau adalah

seorang jago pemberani, seorang jago pemberani yang tak

takut mati.”

Garda melotot besar, melotot sambil mengawasi

lawannya tanpa berkedip, mendadak ia meleletkan lidah,

meleletkan lidahnya yang panjang, panjang sekali.

Jelas dia bukan sedang membuat muka setan, mimik

wajahnya tampak serius dan sangat menaruh hormat.

Kemudian dari sakunya dia ambil keluar selembar kain

putih yang terbuat dari sutera, dengan kedua belah tangan

dia persembahkan sutera itu dan diletakkan di bawah kaki

Siau-hong.

Untung Siau-hong sudah pernah mendatangi banyak

tempat di wilayah seputar sana sehingga tidak sampai salah

mengartikan maksudnya.

Meleletkan lidah di hadapan orang lain merupakan

upacara penghormatan paling tinggi bagi orang Tibet,

menandakan mereka menaruh rasa hormat yang luar biasa

terhadap dirimu.

Sementara kain putih sutera itu merupakan “Ha-da”,

benda yang amat dihormati bangsa Tibet, jika seorang

mempersembahkan Ha-da kepada orang lain, hal ini

mengartikan dia telah menganggap dirimu sebagai

sahabatnya yang paling terhormat.

Oleh karena itulah paling tidak di tempat itu Siau-hong

sudah mempunyai seorang sahabat yang bisa diandalkan.

Tak ada lagi yang turun tangan, ketika menatap Siauhong

sekarang, sorot mata setiap orang sudah jauh berbeda

bila dibandingkan dengan tatapannya semula.

Siau-hong mengerti, mereka telah menerima

kehadirannya.

Selama ini si bongkok hanya mengawasi tanpa bicara,

saat itulah dia baru berkata, “Julukan untuk kelompok kami

adalah ‘Panah’, sekarang kau sudah menjadi salah satu

anggota kelompok Panah, berarti seperti anggota lain,

setiap hari mendapat giliran sekali untuk meronda dan

piket. Barang dagangan yang kita bawa pulang kali ini tak

ternilai harganya. Asalkan ada orang mencurigakan ingin

datang membegal barang dagangan kita, kau boleh segera

membunuhnya.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali terusnya,

“Kau bahkan boleh menggunakan cara yang digunakan

Garda untuk membunuhmu tadi untuk membinasakannya.”

“Kau akan mendapat tugas piket senja nanti,” ujar Tong

Leng kemudian, “Aku akan mengirim Garda untuk tugas

bersamamu, sampai waktunya dia akan pergi

menghubungimu.”

“Sekarang kau boleh kembali untuk merawat

perempuanmu itu lebih dulu,” si bongkok menambahkan.

Dari balik mata tunggalnya tiba-tiba terlintas senyuman,

tambahnya, “Kelihatannya perempuan itu adalah seorang

perempuan baik, di sini jarang ada perempuan, lebih

banyak kaum lelaki, jadi kau harus menjaganya ekstra hatihati.”

Siau-hong hanya mendengarkan dengan mulut

membungkam, kemudian berlalu tanpa bicara.

Belum jauh dia pergi, terdengar Tong Leng bertanya

kepada si bongkok, “Ilmu silat yang dimiliki orang she

Hong itu sangat hebat, tahukah kau asal-usul ilmu

silatnya?”

“Tidak tahu.”

“Kau tak bertanya kepadanya?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak kau tanya?”

“Karena….”

Siau-hong tidak mendengar pembicaraan mereka

selanjutnya, karena secara tiba-tiba si bongkok

merendahkan suaranya, sedang dia pun sudah pergi jauh.

Rombongan onta kembali melanjutkan perjalanannya,

mereka bergerak sangat lamban.

Ada di antara anggota rombongan yang demi sujud

hormatnya terhadap tempat suci, mereka bersujud penuh

dengan ketulusan hati, setiap tiga langkah satu kali

menyembah, lima langkah tiga kali bersujud.

Pova mendapat jatah seekor onta, ia duduk termangu di

atas onta dengan pandangan mata kosong, seolah tak ada

yang dipikirkan selama ini, seolah juga kelewat banyak

yang sedang dia pikirkan.

Sementara Siau-hong sedang memikirkan terus

perkataan yang diucapkan si bongkok tadi.

“Kali ini kami sedang membawa barang dagangan yang

mahal harganya, asal ada orang mencurigakan yang

berusaha mendekat, kau harus segera membunuhnya.”

Mau tak mau timbul kecurigaan di hati Siau-hong.

Apakah barang dagangan yang mereka bawa pulang kali

ini adalah emas lantakan senilai tiga puluh laksa tahil?

Mungkinkah orang-orang ini adalah begal kucing?

Menggunakan cara semacam ini untuk mengelabui

identitas mereka meski tak bisa dihitung terlalu baik, namun

untuk mengirim keluar emas sebesar tiga puluh laksa tahil

dari gurun pasir, memang tiada cara lain yang lebih bagus

lagi daripada cara seperti ini.

Bila para Bu-su dari kelompok Panah mengenakan

topeng kepala kucing, bukankah mereka segera akan

berubah menjadi begal kucing?

Sekalipun sepak terjang mereka sangat mencurigakan,

namun di balik hal itu pun masih terdapat persoalan lain.

Kalau ada rombongan yang begitu besar sedang melakukan

perjalanan di gurun pasir, tak mungkin Wi Thian-bong

tidak memperhatikan.

Kenapa hingga sekarang Wi Thian-bong belum

melakukan suatu langkah serta tindakan terhadap mereka?

Jika mereka benar-benar adalah bandit kucing, mengapa

pula mau menerima dirinya sebagai seorang asing yang tak

jelas asal-usulnya?

Siau-hong memutuskan untuk tidak berpikir lebih jauh.

Bagaimana pun juga sikap orang-orang itu terhadapnya

masih terhitung lumayan, bila bukan mereka yang mau

menampungnya, kemungkinan besar saat ini tubuhnya

sudah menjadi santapan elang kelaparan.

Yang paling ketat dan keras pengurusannya adalah

masalah penggunaan air minum.

Orang yang bertanggung jawab atas masalah ini adalah

seorang dari marga Gan, dia bernama Tin-kong, orangnya

jujur, adil, tegas, dan sangat pakai aturan.

Selama menempuh perjalanan, tak terhindar tentu ada

yang menderita sakit atau tak sehat badan.

Orang yang bertanggung-jawab masalah pengobatan

adalah seorang Siucay yang mengembara hingga keluar

perbatasan, tubuhnya kurus, lemah, mukanya penyakitan.

Meski dia tak mampu menyembuhkan penyakit yang ia

sendiri derita, namun semua orang bersikap hormat

kepadanya, mereka memanggilnya Song-lohucu, si tabib

Song.

Dalam waktu singkat Siau-hong telah berkenalan dengan

mereka, namun selama ini ia tak pernah bertemu

Pancapanah yang jejaknya penuh misteri itu, dia pun tak

pernah lagi berjumpa dengan Wi Thian-bong.

Tampaknya Wi Thian-bong sama sekali tidak menaruh

perhatian kalau di tengah gurun terdapat rombongan onta

yang begitu besar.

Senja telah menjelang.

Rombongan onta kembali membuat sebuah lingkaran,

tenda-tenda pun mulai didirikan.

Pova kelihatan makin layu, makin lemah dan kusut,

walaupun kadangkala secara diam-diam ia mencuri

pandang sekejap ke arah Siau-hong, namun tak pernah buka

suara.

Untung saja perempuan itu sangat penurut, bila Siauhong

memintanya minum, dia langsung minum, bila

memintanya tidur, dia pun langsung tidur.

Justru sikap semacam ini membuat perasaan orang

makin kecut dan pedih.

Dia sebetulnya ingin sekali menemaninya lebih lama,

tapi Garda telah muncul, memanggilnya untuk tugas ronda.

Seluruh barang dagangan telah diturunkan dari

punggung onta dan dikumpulkan jadi satu di tengah arena,

begitu banyak barang bawaan itu hingga tertumpuk bagai

sebuah bukit pasir.

Sejak senja hingga tengah malam, terdapat dua belas

orang yang terbagi dalam enam regu ronda, Siau-hong dan

Garda merupakan salah satu di antaranya.

Siapa pun itu orangnya, asal bungkusan yang ada di

tengah arena dibuka sedikit saja, segera akan diketahui apa

isi barang itu.

Sejak awal Siau-hong memang sudah menampik

memikirkan persoalan itu.

Emas batangan milik Hok-kui-sin-sian memang kelewat

banyak, sudah seharusnya ia membagi sedikit harta

kekayaannya untuk orang lain.

Langit makin lama semakin gelap, mereka melakukan

perondaan di sekeliling barang dagangan.

Garda selalu secara sengaja berjalan selangkah di

belakang, pertanda ia menaruh rasa hormat terhadap Siauhong,

selama anak muda itu tidak berbicara, dia pun tak

akan buka suara.

Akhirnya Siau-hong buka suara terlebih dulu, ujarnya,

“Dapat kulihat Ma Sah adalah seorang jagoan hebat,

apakah dia adalah sahabatmu?”

“Benar,” wajah Garda tampak amat berat dan serius,

“Tapi selanjutnya mungkin kita tak pernah akan bertemu

lagi dengannya.”

“Mengapa?” tanya Siau-hong terperanjat.

“Ketika tengah hari tadi, dia minta aku menemaninya

pergi berhajat, karena aku tak mau berhajat maka tak jadi

ikut, dia pun pergi seorang diri.”

Sekilas rasa sedih dan pedih melintas di wajah Garda,

terusnya, “Siapa tahu sejak kepergiannya itu, dia tak pernah

balik lagi.”

Siau-hong cukup memahami perasaan sedihnya.

Penyebab kematian di tengah gurun pasir memang

terlalu banyak, setiap saat kau bisa mati secara mendadak di

tengah pasir panas bagaikan seekor anjing liar, kecuali

sahabat karibnya, tak bakal ada orang lain yang akan

menguatirkannya, terlebih merasa sedih bagi kepergiannya.

Langit semakin gelap, tiba-tiba dari kejauhan

berkumandang suara terompet, kemudian tampak dua ekor

kuda bergerak cepat mendekati rombongan. Rupanya

dalam barisan ini pun terdapat kuda.

“Mereka adalah orang yang dikirim Tong Leng untuk

menemukan jejak Ma Sah,” ujar Garda dengan semangat

bangkit kembali, “Ma Sah pasti ikut kembali!”

Cepat dia menyongsong kedatangan kuda-kuda itu. Betul

saja, Ma Sah memang telah kembali, tapi yang kembali

bukan Ma Sah dalam keadaan hidup.

Jago gulat yang tiada duanya di kolong langit, jagoan

yang memiliki tenaga raksasa itu sudah tewas dengan

tulang leher patah, ternyata dia tewas terkena jurus jepitan

mematikan dari ilmu gulat.

Siapa yang telah membunuhnya? Mengapa harus

membunuhnya? Tak ada yang tahu.

Bayangan kematian yang penuh misteri dan menakutkan

itu seakan sudah seperti kegelapan yang menyelimuti langit

saat itu, mengurung dan mencekik rombongan ini.

Ma Sah tak lebih hanya orang pertama yang menemui

ajalnya secara mengenaskan, ketika mereka kembali ke

tempat ronda, segera ditemukan korban kedua.

Terdapat begitu banyak jagoan tangguh dalam kelompok

Panah, ada yang pandai menggunakan golok, ada yang

pandai menggunakan pedang, ada yang menguasai ilmu

gulat, tapi hanya satu yang menggunakan ruyung panjang.

Ruyung panjang yang digunakan Sun Liang adalah

sebuah ruyung ular berbisa sepanjang satu depa tiga kaki.

Dialah orang kedua yang ditemukan tewas secara

mengenaskan, ia mati terlilit oleh ruyung ular milik sendiri.

Hong Hau, rekannya satu regu ikut hilang, hingga

keesokan harinya mereka baru menemukan jenazah orang

itu.

Hong Hau adalah anak murid perguruan Kim-to-bun,

gara-gara terlibat kasus pembunuhan, ia melarikan diri

keluar perbatasan.

Senjata yang digunakan adalah sebilah golok pemenggal

bukit berpunggung emas.

Goloknya masih kedapatan berada di sana, namun batok

kepalanya justru sudah lenyap, batok kepala itu terpenggal

oleh golok emas miliknya sendiri.

Dalam satu malam sudah ada tiga orang ditemukan

tewas secara mengenaskan, tapi sayang kematian yang

penuh misteri baru saja memasuki tahap awal.

Malam semakin larut.

Ketika Siau-hong balik kembali ke tendanya, bukan saja

terasa amat lelah bahkan hatinya amat berduka.

Walaupun ketiga orang korban yang tewas secara

mengenaskan itu sama sekali tak ada sangkut-paut dengan

dirinya, namun menyaksikan suasana duka yang mencekam

rombongan itu, sedikit banyak perasaannya ikut tertekan

dan tak leluasa.

Setiap musibah, setiap halangan yang ia alami selama

beberapa hari belakangan ini hampir semuanya membuat

dia merasa kecewa. Pembegalan yang misterius, musibah

yang mengenaskan, kematian yang tiba-tiba, seakan selalu

mengikutinya kemana pun dia pergi.

Dari balik jagat raya yang luas seolah terdapat sebuah

kekuatan jahat yang selalu menyatukan dan mengaitkan

dirinya dengan semua ketidak beruntungan yang

dialaminya selama ini.

Suasana dalam tenda tenang dan gelap, walaupun dia

berharap Pova bisa menghiburnya, namun dia dapat

memahami perasaan perempuan itu, terlepas apakah dia

sudah tidur atau tidak, ia tak berani lagi mengganggunya.

Sambil meraba, ia menemukan selembar permadani,

dengan perlahan ia pun membaringkan diri, dia berharap

bisa tertidur dalam waktu singkat.

Namun ia tidak tertidur.

Tubuh Pova yang halus dan lembut telah bergeser

menempel tubuhnya, bukan saja ia dapat merasakan

kehangatan perempuan itu, dia pun dapat merasakan

tubuhnya yang gemetar tiada hentinya, entah gemetar

karena tegang ataukah karena merasa sedih?

Tampaknya perempuan itu tahu kalau Siau-hong butuh

hiburan, maka dia pun mengantar tubuhnya.

Di kolong langit dewasa ini, belum pernah ada seorang

wanita lain yang bersikap begitu baik dan mesra terhadap

dirinya.

Tiba-tiba Siau-hong menjumpai tubuhnya ikut gemetar.

Di saat mereka saling bersentuhan, bukan hanya napsu

birahi saja yang terlampiaskan, rasa cinta pun ikut

meningkat. Dia tak pernah menyangka apa yang

dilakukannya sekarang dapat berubah menjadi begitu indah.

Ooo)d*w(ooO

BAB 6. PEDANG PENEMBUS HATI

Ketika semuanya telah berlalu, dalam hatinya masih

penuh dilimuti kehangatan dan kemesraan yang lebih manis

dari madu.

Dia pernah memiliki perempuan, namun belum pernah

merasakan suasana yang begitu nikmat seperti saat ini.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba perempuan itu

berkata lirih, “Dia adalah ciciku!”

Ternyata Pova buka suara dan berbicara, namun

perkataan itu kedengaran sangat aneh.

“Siapakah cirimu?” tak tahan Siau-hong bertanya,

“Apakah perempuan keji dan buas itu adalah cirimu?”

Pova manggut-manggut membenarkan.

“Sejak kecil aku sudah ikut dia, apa pun yang dia suruh

aku lakukan, pasti akan kulakukan….”

“Dan kau tak pernah membantah atau melawan?”

“Belum pernah terpikir untuk berbuat begitu.”

Bukan saja dia tak berani membangkang, bahkan berpikir

pun tak berani, itulah sebabnya dia baru melakukan

perbuatan semacam itu, akhirnya dia menceritakan semua

kepedihan dan kesedihan yang mengganjal hatinya selama

ini.

Persoalan apa pun tak perlu dijelaskan lagi, perkataan

apa pun tak perlu disampaikan lagi.

Tiba-tiba saja Siau-hong merasa semua kedukaan,

kemasgulan, dan semua kemurungan yang mengganjal

dalam hatinya, lenyap bagaikan asap yang buyar di

angkasa, tiada persoalan lagi di dunia ini yang pantas dia

murungkan dan masgulkan lagi.

Dia memeluk tubuhnya erat-erat.

“Mulai hari ini, selama masih hidup, aku tak akan

membiarkan kau dianiaya dan dipermainkan orang lain.”

“Biarpun sekarang kau berkata begitu, tetapi…

bagaimana di kemudian hari?”

Penderitaan yang kelewat lama membuat perempuan itu

seolah kehilangan rasa percaya diri.

“Siapa tahu kejadian apa yang bakal kita hadapi di

kemudian hari? Siapa tahu saat itu kau pun akan berubah?”

“Peduli peristiwa apa pun yang bakal terjadi di kemudian

hari, aku tak bakal berubah, kau harus percaya padaku.”

“Aku tak yakin,” perempuan itu menempelkan pipinya di

wajah pemuda itu, butiran air mata telah membasahi

wajahnya, “Tapi aku percaya!”

Malam yang panjang belum juga lewat.

Cahaya lentera tampak bersinar terang-benderang dari

balik tenda terbesar di tempat itu, Tong Leng telah

mengumpulkan seluruh anggota keamanan yang

dimilikinya, termasuk juga Siau-hong.

Saat itu selisih waktu dengan kematian Hong Hau sudah

terpaut empat jam lebih.

Siau-hong telah tidur sejenak untuk melepaskan penat,

namun orang lain tidak seberuntung dirinya, semua orang

tampak lelah, penat, mengantuk, dan menderita.

Sepasang mata Tong Leng telah dipenuhi dengan jalur

darah, namun sikapnya masih sangat tenang.

“Kita sudah mengirim beberapa rombongan untuk

melakukan pelacakan di sekeliling tempat ini, dalam radius

tiga puluh li tak nampak jejak seorang pun.”

Keterangan itu disampaikan dengan penuh keyakinan,

sebab dia tahu setiap orang yang diutusnya merupakan

jago-jago yang sangat ahli dalam bidang ini, apabila mereka

mengatakan dalam radius tiga puluh li tak ditemukan jejak

manusia, siapa pun tak bakal menemukan seorang pun.

“Oleh sebab itu pembunuh yang telah menghabisi nyawa

Hong Hau sekalian pasti masih berada dalam rombongan

kita, sekarang dia pasti berada dalam kelompok ini, satu di

antara kita semua.”

Setelah berhenti sejenak, dengan nada sedingin salju

kembali Tong Leng berkata, “Tidak banyak jagoan dalam

rombongan ini yang bisa membunuh mereka berlima

sekaligus.”

“Lima orang?” seru Siau-hong tanpa terasa.

“Betul, lima orang,” jawab Tong Leng dingin, “Sewaktu

kau tertidur tadi, kembali ada dua orang menemui ajalnya,

kau pasti tertidur sangat nyenyak sehingga jeritan ngeri

menjelang ajal mereka pun tak terdengar.”

Siau-hong tidak bicara apa-apa, dia memang tak mampu

berkata apa pun.

Kembali Tong Leng berkata, “Asal-usul mereka berlima

tidak sama, aliran ilmu silat yang mereka miliki pun

berbeda, jadi mustahil mereka bermusuhan dengan orang

yang sama pada saat yang sama, maka kematian mereka

sudah pasti bukan karena balas dendam.”

Namun membunuh orang pasti ada alasannya, tentu ada

sumber permasalahannya.

Biasanya sumber permasalahan yang membuat orang

melakukan pembunuhan hanya ada dua jenis, karena harta

atau perempuan.

“Mereka terbunuh pasti dikarenakan ada orang ingin

merampok barang dagangan kita,” kata Tong Leng lagi.

Si bongkok yang selama ini hanya membungkam, kini

baru buka suara, katanya, “Barang dagangan sudah pernah

dirampok, bahkan ada belasan bungkusan yang telah

dibongkar orang, mungkin mereka ingin memeriksa dulu

apakah barang dagangan yang kita bawa pantas untuk

dirampok atau tidak.”

“Kalau menurut kau, apakah barang-barang itu berharga

untuk dirampok?”

“Tentu saja berharga sekali.”

“Walaupun barang dagangan ini tak mungkin bisa

diangkut satu orang, namun jika ia dapat membantai kita

satu per satu, pada akhirnya barang-barang ini akan

menjadi miliknya.”

Sorot mata Tong Leng selama ini menatap terus Siauhong

tanpa berkedip, lanjutnya, “Walaupun sekarang kita

belum tahu siapakah orang itu, tapi kita pasti akan berhasil

melacaknya, karena asal-usul setiap orang yang berada

dalam rombongan ini telah kami selidiki hingga jelas.”

Bukan mencakup setiap orang, masih ada seorang

terkecuali. Siau-hong adalah satu-satunya orang yang

terkecuali.

“Sebelum pembunuh itu berhasil kita lacak, sementara

waktu kita akan tetap tinggal di sini, siapa pun dilarang

meninggalkan barisan,” kata Tong Leng lebih jauh.

Mendadak ia berpaling, ditatapnya Siau-hong dengan

sepasang matanya yang memerah, kemudian ujarnya lebih

jauh, “Khususnya kau, lebih baik untuk sementara waktu

jangan meninggalkan tenda walau selangkah pun.”

Siau-hong masih tetap tak mampu berbicara.

Semua peristiwa itu baru terjadi setelah keberadaannya

di sini, tak heran bila semua orang menaruh curiga

kepadanya.

Kini Tong Leng tidak menutupi lagi perasaan curiganya,

dengan berterus terang ujarnya lagi, “Paling baik bila mulai

sekarang kau sudah balik ke dalam tendamu.”

Baru saja Siau-hong akan beranjak pergi, tiba-tiba ada

orang yang mewakilinya berbicara.

Selama ini Garda selalu ingin bicara, tapi dia tak berani

buka suara, baru sekarang ia membesarkan nyali sambil

berseru, “Bukan dia, bukan dia!”

“Bukan apa?”

“Bukan orang yang kalian maksudkan, aku bukan buta,

bila ia membunuh orang, aku pasti melihatnya.”

“Kau pasti melihatnya?”

“Aku selalu mengikuti dia, dia pun selalu mengikuti aku,

hubungan kami bagaikan manusia dan bayangan, kami

selalu berada di tempat yang sama.”

Tong Leng tertawa dingin.

“Ketika kau membopong jenazah Ma Sah sambil

menangis, apakah kau melihat berada di manakah dirinya?”

Garda tak sanggup bicara lagi.

Dia memang hanya memiliki satu jalur usus, satu jalur

usus dari mulut hingga tembus ke ujung usus, kalau melihat

dia akan mengatakan melihat, kalau tidak melihat dia akan

mengatakan tidak.

Tong Leng menggunakan tangannya yang dipenuhi otot

menonjol untuk mengusap matanya yang memerah,

katanya lagi, “Perkataanku telah selesai kusampaikan,

kalian tentu sudah memahami maksud hatiku.”

Kemudian sambil mengulap tangan, dia menambahkan,

“Sekarang kalian pergilah.”

Semua orang pun beranjak pergi dari situ.

Siau-hong berjalan paling cepat, karena dia tahu ada

orang sedang menunggunya, dapat menghibur hatinya.

Baru saja dia memasuki tendanya, baru saja melihat

Pova yang tidur melingkar di balik selimut bulu, tahu-tahu

terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan.

Kali ini dia belum tertidur, kali ini ia mendengar dengan

sangat jelas, suara jeritan ngeri yang memilukan itu berasal

dari balik tenda dimana baru saja ia tinggalkan, bahkan itu

adalah suara Tong Leng.

Tong Leng sudah mati, menanti mereka tiba kembali

dalam tenda, Tong Leng telah tewas.

Sebilah pedang yang tajam berkilat telah menghujam

masuk dari depan dadanya hingga tembus ke punggung.

Sebuah tusukan pedang yang langsung menembus

jantungnya.

Suasana dalam tenda masih terang benderang

bermandikan cahaya.

Tapi serangan itu sangat mematikan, pedang yang

menembus jantungnya dalam satu kali tusukan masih tetap

tertinggal di atas jenazah Tong Leng.

Cahaya terang yang memantul dari badan pedang,

seterang sepasang mata.

Mata seorang gadis remaja yang baru pertama kali jatuh

cinta, mata kucing yang siap menangkap tikus, mata

harimau kelaparan yang siap menerkam mangsanya, mata

elang yang siap menerkam ayam, mata setan dalam impian

buruk.

Bila kau dapat membayangkan bagaimana jadinya bila

semua sinar mata itu bercampur-baur jadi satu, maka kau

baru bisa membayangkan seperti apakah kilauan cahaya

yang memantul dari tubuh pedang itu.

Dari permukaan tanah pun memantul cahaya terang.

Bukan cahaya terang seperti cahaya pedang, tapi kerlipan

cahaya tajam yang membawa semacam keremangan,

keseraman, dan ketidak-pastian.

Cahaya kerdipan itu berasal dari tiga belas batang senjata

besi yang memancarkan sinar kegelapan.

Dari semua orang yang dikumpulkan tadi, kini ada

separoh sudah kembali, di antara mereka banyak yang

memiliki ketajaman mata luar biasa.

Namun sayang, walaupun mereka dapat melihat benda

apa yang memancarkan cahaya, namun tak dapat melihat

dengan pasti bagaimana bentuknya.

Di antara mereka segera ada yang berjalan mendekat,

mengambil sebatang di antaranya dan diperiksa dengan

lebih seksama.

“Jangan disentuh, tak boleh disentuh!” tiba-tiba si

bongkok membentak keras.

Sayang perkataan itu sedikit terlambat, sudah ada

seorang yang memungutnya.

Baru saja benda itu dipungut dan dilihat sekejap,

mendadak pupil matanya jadi suram, lalu buyar sinarnya.

Diikuti parasnya mulai berubah, berubah amat suram,

berubah jadi warna keabu-abuan yang menyeramkan,

sekulum senyuman misterius yang aneh pun tersungging di

ujung bibirnya.

Dengan perasaan terperanjat setiap orang mengawasi

semua perubahan itu, dia sendiri seakan sama sekali tak

merasakan perubahan itu.

Bahkan dia masih bertanya, “Kenapa kalian mengawasi

aku?”

Hanya perkataan itu yang mampu dia ucapkan, begitu

selesai bicara mendadak parasnya berubah dan mulai

mengejang keras, tubuhnya bagaikan sebuah bola yang tibatiba

kehilangan udara, tahu-tahu kempis, layu, dan roboh

terjungkal.

Sewaktu roboh ke tanah, parasnya telah berubah jadi

hitam, hitam mati, meski senyuman aneh itu masih

tersungging di wajahnya.

Dia telah mati, namun dia sendiri seolah tak tahu kalau

dirinya telah mati.

Ia seakan masih merasa amat gembira.

Sementara orang lain telah bermandi keringat dingin,

hawa dingin serasa merasuk dari ujung hidung hingga

tembus ke hati, lalu dari hulu hati tembus hingga telapak

kaki.

Bagi yang lebih luas pengetahuannya, mereka segera

tahu kalau orang itu sudah keracunan hebat, namun sama

sekali tak mengira kalau dia langsung keracunan begitu

memungut sebuah benda dari tanah, bahkan racun itu

bekerja begitu cepat dan ganas.

Hanya beberapa orang yang tahu kalau benda yang

dipungut orang itu adalah senjata rahasia paling beracun

dari keluarga Tong di wilayah Su-cwan, senjata mematikan

yang selama ini menggetarkan kolong langit.

Apa yang diketahui Siau-hong jauh lebih banyak

daripada orang lain.

Bukan saja dia mengetahui betapa menakutkannya

senjata rahasia semacam ini, dia pun mengetahui asal-usul

pedang itu. “Inilah Mo-gan (Mata iblis)!”

Si bungkuk mencabut pedang yang menghujam di atas

jenazah, tiada bekas darah di ujung pedang itu. Dari balik

mata pedang yang bening bagai air di musim gugur, hanya

terlihat setitik codet, codet yang berbentuk bagaikan sebuah

mata.

“Mata iblis!”

Ada orang tak tahan untuk bertanya, “Apakah Mata iblis

itu?”

“Pedang ini bernama Mo-gan, si Mata iblis, merupakan

salah satu di antara tujuh bilah pedang tertajam di kolong

langit dewasa ini.”

Pedang mustika ibarat batu permata, tidak seharusnya

terdapat cacat apalagi bekas codet.

Tapi terkecuali pedang ini, bekas cacat yang membekas

di tubuh pedang malah menambah misterius dan

menyeramkan dari pedang itu.

Dengan lembut si bongkok membelai mata pedang, dari

balik matanya terbesit setitik cahaya berkilauan.

“Biarpun Tong Leng hanya murid tak resmi keluarga

Tong di Su-cwan, namun dia masih terhitung salah satu

jagoan paling tangguh di antara beberapa jago keluarga

Tong lainnya. Bukan saja serangannya cepat dan tepat,

bahkan pernah mempelajari ilmu pedang Sian-wan-kiam

(Ilmu pedang dewa monyet) dari Go-bi-pay.”

Pedang yang digunakan Tong Leng adalah sebilah

pedang lemas, biasanya selalu dililitkan pada pinggang

sebagai sabuk, kecepatannya mencabut pedang sama

kilatnya seperti dia melepaskan senjata rahasia.

Tangannya selalu terkulai di samping pinggang, asal

tangannya bergerak, pedang lemas yang melilit di

pinggangnya segera akan menusuk ke depan bagaikan

seekor ular berbisa.

Tapi kali ini jangankan melancarkan tusukan maut,

kesempatan untuk melepaskan pedang pun tak ada, tahutahu

pedang lawan telah menembus hulu hatinya.

Tusukan maut itu betul-betul kelewat sadis, kelewat

cepat.

Semua orang yang hadir sadar dan mengerti, mereka

tahu, tak seorang pun di antara kawanan jago yang ada

dalam rombongan ini mampu menggunakan ilmu pedang

setajam, seganas, dan secepat ini.

Bahkan dahulu pun mereka belum pernah melihat

pedang setajam ini.

Lalu siapakah pembunuhnya? Pedang itu milik siapa?

Tiba-tiba si bongkok berpaling, menatap tajam wajah

Siau-hong.

“Aku rasa kau pasti pernah mendengar asal-usul pedang

ini, bukan?” katanya.

“Betul, aku pernah mendengarnya,” Siau-hong

mengakui.

“Benarkah pedang ini sudah terjatuh ke tangan seorang

jago pedang muda dari marga Hong?”

“Benar!”

“Dan orang itu apakah bernama Hong Wi?”

“Benar!”

Tiba-tiba mata tunggal si bongkok mengerut kencang,

berubah bagaikan sebatang jarum, sebatang jarum yang

menusuk mata.

“Bukankah kau adalah Hong Wi?” sepatah demi sepatah

ia bertanya.

“Betul!”

Begitu jawaban itu dilontarkan, pupil mata semua orang

langsung berkerut kencang, detak jantung berdebar makin

kencang, keringat dingin pun mulai membasahi telapak

tangan.

Dalam waktu singkat hawa pembunuhan telah

menyelimuti seluruh tenda.

Siau-hong masih tampil tenang, seakan tak pernah terjadi

sesuatu. “Pedang itu memang milikku, seranganku tak

pernah lambat, bukan masalah sulit bagiku untuk

membunuh Tong Leng,” katanya perlahan.

Debar jantung semakin kencang, ada beberapa tangan

yang sudah basah oleh keringat dingin, secara diam-diam

mulai menggenggam senjata masing-masing.

Siau-hong berlagak seolah tidak melihat, lanjutnya lagi

dengan hambar, “Hanya saja bila kali ini akulah yang telah

membunuh Tong Leng, mengapa kutinggalkan pedang itu?

Memangnya aku gila? Kuatir orang lain tak tahu akulah

yang telah membunuhnya?”

Setelah menghela napas lanjutnya, “Tidak mudah untuk

mendapatkan pedang itu, tak nanti benda yang kuperoleh

secara susah-payah kutinggalkan begitu saja untuk orang

lain, terlepas orang itu sudah mati ataupun masih hidup.”

“Masuk akal!” tiba-tiba si bungkuk berteriak.

Perlahan sorot matanya mulai bergeser dari wajah Siauhong

menatap wajah setiap orang anak buahnya, menatap

mereka satu per satu.

“Bila kalian memiliki sebilah pedang macam begini,

selesai membunuh, apakah akan kalian tinggalkan

senjatamu?”

Tak akan ada orang berbuat begitu, kendatipun baru

pertama kali kau lakukan pembunuhan, tak mungkin orang

akan bertindak begitu gegabah, bahkan goblok setengah

mati.

Senjata yang pada mulanya sudah digenggam kencang,

kini mulai dikendorkan kembali.

Siau-hong ikut menghembuskan napas lega, ia

berpendapat si bongkok ini bukan saja amat tegas bahkan

selalu berdiri di sisinya, selalu melindunginya secara diamdiam.

Kembali si bongkok berkata, “Tapi pembunuh itu pun

pasti bukan anggota dari rombongan kita, di sini tak ada

orang yang sanggup membunuh Tong Leng dengan sekali

tusukan, juga tak ada orang yang sanggup merampas

pedang itu dari tanganmu.”

Siau-hong tertawa getir.

“Sudah hampir dua-tiga hari lamanya aku tak pernah

melihat pedang itu lagi,” katanya, “Seharusnya kau pun

masih ingat, sewaktu pertama kali kau bertemu aku, pedang

itu sudah tidak berada di tanganku lagi.”

“Kenapa bisa tidak berada di tanganmu? Lantas di

tangan siapa?” tanya si bongkok cepat.

Siau-hong tidak langsung menjawab.

Tiba-tiba ia teringat akan Wi Thian-bong, teringat Suigin,

si Air raksa, teringat jago pedang tanpa nama yang

menakutkan. Bahkan dia teringat pula Po Eng.

Mereka kemungkinan besar adalah pembunuh Tong

Leng, tapi kemungkinan itu pun seakan tak ada.

Di tengah gurun pasir yang nyaris tiada benda atau

tumbuhan apa pun yang menghalangi, bukan pekerjaan

gampang untuk menyelinap masuk ke dalam tenda secara

diam-diam, lalu setelah membunuh mengeluyur pergi

secara diam-diam, sesuatu kejadian yang mustahil.

Dia pun percaya dengan kemampuan yang dimiliki

kelompok jagoan ini, bila ada orang mendekati tempat itu,

tak mungkin mereka tidak mengetahuinya.

Kecuali sang pembunuh telah menyelinap masuk ke

dalam rombongan itu, bahkan sama sekali tidak

menimbulkan perhatian orang lain.

Tapi hampir semua anggota dalam rombongan ini saling

mengenal bahkan berhubungan sangat akrab, rasanya tidak

mungkin bagi orang luar untuk bisa menyelinap masuk

tanpa mereka ketahui.

Siau-hong merasa tak sanggup menjelaskan semua

urusan itu, karenanya terpaksa dia hanya tutup mulut.

Ternyata si bongkok tidak bertanya lebih lanjut, dia

hanya memberi tahu padanya, “Sebelum pembunuh yang

sebenarnya ketahuan, lebih baik kau jangan meninggalkan

tempat ini, pedang ini pun tak bisa kau bawa pergi.”

Kembali Siau-hong menghela napas panjang, sahurnya,

“Sebelum berhasil melacak siapa pembunuh sebenarnya,

biar ada orang mengusir aku pergi pun belum tentu aku

mau pergi.”

Dia memang bicara sejujurnya.

Jangankan orang lain, bahkan dia sendiri pun dapat

merasakan bahwa kematian beberapa orang itu sedikit

banyak masih ada hubungan dan sangkut-paut dengan

dirinya.

Dia pun ingin mencari tahu siapa pembunuh sebenarnya.

Kembali si bongkok berpesan, “Besok kita tak akan pergi

dari sini, siapa pun tak boleh meninggalkan rombongan,

semua lelaki berusia di bawah tiga puluh lima tahun, peduli

ia pernah belajar silat atau tidak, harus bergabung dalam

pasukan keamanan.”

Kemudian setelah menghela napas panjang, tambahnya,

“Untung besok Pancapanah sudah kembali.”

Malam panjang akhirnya telah tiba di ujungnya, secercah

sinar terang mulai muncul dari luar tenda.

Pova masih seperti tadi, tidur meringkuk di sana,

menggunakan selimut untuk menutupi kepalanya.

Kali ini dia benar-benar tertidur, bahkan tidur dengan

begitu nyenyak.

Bagi seorang lelaki mana pun, ketika baru pulang setelah

mengalami kejadian yang menakutkan, di saat melihat ada

seorang wanita semacam itu sedang menanti

kedatangannya, dia pasti merasakan kehangatan dan

kelembutan cinta yang tebal.

Siau-hong telah duduk di sisinya, ingin sekali dia singkap

selimut untuk melihat wajahnya, akan tetapi dia pun kuatir

akan membangunkan perempuan itu, tapi pada akhirnya ia

tak kuasa menahan diri untuk mengulurkan tangannya.

Pada saat itulah tiba-tiba Garda menyusup masuk ke

dalam tendanya bagaikan seekor tikus tanah, tangannya

menenteng sepasang sepatu laras terbuat dari kulit yang

aneh sekali bentuknya.

Dilihat mimik mukanya, ia tampak serius bahkan tegang,

mendadak sambil menjatuhkan diri berlutut, ia

persembahkan sepasang sepatu laras kulit itu kepada Siauhong.

“Inilah Kapasa,” katanya, “Aku hanya memiliki sepasang

Kapasa, seperti kau hanya memiliki sebilah mata iblis.”

Biarpun Siau-hong tidak paham apa artinya “Kapasa”,

namun ia dapat menduga kalau apa yang dimaksud Garda

adalah sepasang sepatu bot itu.

Dia kurang begitu memahami kebudayaan serta adat

orang Tibet, tapi ia tahu jelas, orang Tibet sangat

menghargai sepasang kaki sendiri. Bila kau ingin

mengetahui tingkat status mereka dari dandanan serta cara

berpakaian orang Tibet, yang paling gampang adalah

memperhatikan sepatu yang mereka kenakan, perbedaan

status tinggi dan rendah tak akan terbayangkan oleh orang

luar.

Biarpun Siau-hong tidak tahu kalau “Kapasa” merupakan

jenis sepatu paling terhormat yang dikenakan orang Tibet,

bahkan di wilayah Persia pun dianggap sangat terhormat,

namun dia dapat melihat kalau Garda sangat menaruh

hormat atas sepatunya itu, bahkan telah menjajarkan

sepatunya dengan pedang kenamaan yang menggetarkan

dunia persilatan.

Kembali Garda berkata, “Aku belum pernah

mengenakan Kapasa itu, karena kakiku bau, keringat

kakiku akan mengotori Kapasa, karenanya aku tak layak

memakainya. Biarpun sebetulnya aku pun tak berniat

menyerahkannya kepada orang lain, tetapi sekarang akan

kupersembahkan untukmu.”

“Kenapa?” tanya Siau-hong keheranan. “Aku tidak bakal

mempersembahkan pedang mata iblis kepadamu, kenapa

kau harus mempersembahkan Kapasa milikmu kepadaku?”

“Karena kau akan pergi, pergi jauh, jauh sekali, harus

pergi dengan cepat, cepat sekali, untuk itu kau butuh

sepasang sepatu laras yang baik untuk melindungi kakimu.”

“Kenapa aku harus pergi?”

“Karena Pancapanah segera akan kembali,” sahut Garda

cepat, “Orang lain tak berani mencurigaimu karena mereka

tak berani mengusikmu, karena orang lain takut kepadamu,

takut setengah mati.”

Garda menyeka keringatnya dengan ujung baju, lalu

terusnya, “Tapi Pancapanah tak bakal takut, Pancapanah

tak pernah takut siapa pun, tak pernah jeri menghadapi

siapa pun, begitu Pancapanah muncul, kau pasti akan mati,

mati seperti Ma Sah.”

Suaranya mulai gemetar karena perasaan ngeri dan takut

yang luar biasa, sungguh aneh, seorang prajurit tempur

macam dia, mengapa bisa menaruh perasaan takut yang

begitu luar biasa terhadap seseorang?

Tak tahan Siau-hong bertanya lagi, “Pancapanah

adalah…”

Belum selesai dia bertanya, tiba-tiba Pova tersentak

bangun dari tidurnya, tiba-tiba ia menerobos keluar dari

balik selimut dan memandangnya dengan perasaan

terkesiap.

“Apa yang baru saja kau katakan?”

“Pancapanah,” sahut Siau-hong cepat, “Aku baru saja

akan bertanya pada sahabatku ini, manusia macam apakah

Pancapanah itu?”

Tiba-tiba saja tubuh Pova mulai gemetar keras, dilihat

dari mimik mukanya, perempuan ini tampak jauh lebih

ketakutan daripada Garda.

Mendadak dia peluk tubuh Siau-hong erat-erat dan

berbisik, “Apakah Pancapanah benar-benar akan datang?

Kalau begitu kau harus segera kabur, cepat lari dari sini.”

“Kenapa?”

“Tahukahkah kau siapakah ksatria nomor wahid di

puncak Cu-mu-lang-ma? Pernahkah kau mendengar Ngohoa-

sin-cian (Dewa panah panca bunga)?” suara Pova

kedengaran makin serak dan gemetar, “Pancapanah tak lain

adalah Dewa panah panca bunga.”

Ooo)d*w(ooO

Di tengah gurun pasir yang panas bagaikan tungku api,

dari dalam ruangan yang begitu panas hingga susah untuk

bernapas, kau masih dapat menyaksikan lapisan salju yang

putih nun jauh di puncak gunung yang tinggi di depan sana.

Di saat kau sudah hampir mati karena kepanasan,

puncak salju di tempat kejauhan masih dapat kau saksikan

dengan jelas.

Hanya dari tempat inilah kau bisa menyaksikan

pemandangan aneh semacam ini, maka sekalipun kau

bukan orang Tibet, seharusnya kau akan mengerti mengapa

jalan pikiran orang Tibet selalu begitu romantis, begitu

misterius, begitu penuh khayal.

Pikiran semacam ini tak mungkin bisa terwujud hanya

dalam sehari semalam, tapi sesudah melewati penghidupan

indah yang begitu romantis dan penuh misterius selama

hampir berabad-abad lamanya, tentu saja dari balik semua

itu akan muncul banyak sekali dongeng yang menawan

hati.

Di antara sekian banyak dongeng yang paling romantis,

paling misterius, paling indah, salah satunya adalah cerita

tentang Dewa panah lima bunga.

Dalam bahasa Tibet, Dewa panah lima bunga disebut

Pancapanah.

Menurut catatan kuno yang tercantum dalam kitab suci

kaum Tibet, catatan paling purba yang pernah ditemukan,

panah dari Pancapanah adalah “Sebuah panah yang tak

pernah meleset, panah yang tajam luar biasa, di balik bulu

panah terkandung perasaan yang penuh penderitaan, ujung

panah yang mengandung perasaan rindu akan seseorang,

sebuah panah yang langsung menembus hulu hati”.

Pancapanah mengendalikan kekuatan di alam jagat yang

susah dilawan, kekuatan cinta dan napsu.

Pedangnya penuh dihiasi bunga segar, gendawanya

adalah serat dari madu.

Dia selalu muda dan tampan.

Dia adalah seorang pemuda paling tampan, paling gagah

yang pernah ada di kolong langit.

Ia memiliki lima batang anak panah yang tajam,

sebatang panah keras bagai emas, sebatang panah lembut

bagai musim semi, sebatang panah yang manja dan genit

bagai bunga, sebatang panah yang panas bagai bara api dan

sebatang panah yang tajam bagai gurdi.

Tiada seorang pun mampu melawan kekuatannya.

Tentu saja Pancapanah yang dimaksud Pova serta Garda

bukan dewa, melainkan seorang, seorang pejuang, seorang

ksatria yang sangat dihormati dalam pandangan mereka,

seseorang yang memiliki kekuatan melebihi dewa, kekuatan

yang tak bisa dilawan siapa pun.

Sayangnya, walaupun Siau-hong ingin mengikuti

nasehat mereka dan pergi meninggalkan tempat itu pun

keadaan sudah terlambat.

Tiba-tiba dari luar tenda terdengar suara orang berteriak

penuh kegirangan, “Pancapanah telah kembali, Pancapanah

telah kembali!”

Pancapanah dengan menuntun kuda putihnya yang

tinggi besar telah berdiri di depan tenda, berdiri tenang

sambil menerima sorak-sorai memuji dari kaumnya.

Dia sudah tiga hari meninggalkan rombongannya,

melewati kehidupan yang sepi penuh penderitaan di tengah

dataran luas yang tak berperasaan, namun sorot matahari

yang terik, hembusan pasir yang kencang serta rasa lelah

yang luar biasa sama sekali tak mampu mengubah sikap

maupun penampilan dirinya.

Pakaian yang dikenakan masih tampak bersih dan indah,

dia tetap tampil gagah dan penuh wibawa, lebih gagah dari

matahari di langit.

Tak seorang pun, tak sebuah persoalan pun yang dapat

merobohkan Pancapanah, tak ada pula kesulitan serta mara

bahaya yang tak bisa dia taklukkan.

Selamanya tak pernah.

Suasana di dalam tenda gelap dan tenang, tempik-sorak

di luar sana telah lama berhenti, bahkan kuda serta onta

pun sudah berhenti meringkik.

Karena Pancapanah butuh istirahat, butuh ketenangan.

Biarpun seringkali ia memperoleh pujian dan tempiksorak

dari orang lain, namun dia selalu lebih suka berbaring

seorang diri dalam kegelapan.

Sejak dilahirkan dia suka hidup menyendiri, dia suka

hidup seorang diri, tidak seperti orang lain, suka

kemegahan, kekayaan, dan kehormatan.

Dengan tenang ia membaringkan diri di tengah

kegelapan, kini tiada orang lain yang bisa melihatnya lagi.

Parasnya yang semula tampan bercahaya, tiba-tiba

berubah begitu pucat, begitu lelah, kepucatan yang tak

terlukiskan dengan perkataan.

Namun bila ada seorang asing muncul di hadapannya,

maka cahaya terang seketika akan mulai membara lagi dari

balik mukanya.

Dia tak akan membiarkan kaumnya kecewa, dia tak

ingin anggota sukunya kecewa atas penampilannya.

Karena dia seorang bangsa Tibet.

Walaupun dia sudah berulang kali memasuki daratan

Tionggoan, di daratan, di Hui-im, bahkan di wilayah mana

pun dalam daratan Tionggoan, ia pernah hidup dan tinggal

cukup lama di sana, bahkan utara selatan sungai besar pun

pernah dijelajahi dan dijamah olehnya.

Namun dia tetap orang Tibet, mengenakan pakaian

orang Tibet, makan minum dengan hidangan bangsa Tibet,

bahkan sangat menyukai arak dan teh lemak buatan orang

Tibet.

Dia selalu bangga karena dilahirkan sebagai orang Tibet.

Kaumnya pun selalu merasa bangga karena memiliki

seorang pemimpin semacam dia.

Kini ia sedang menanti kedatangan Siau-hong.

Semua peristiwa yang terjadi dalam dua hari belakangan

telah diketahui olehnya, secara ringkas si bongkok telah

melaporkan semua kejadian itu kepadanya.

Dugaan dan kesimpulan yang dia ambil pun tak jauh

berbeda dengan kesimpulan orang lain, satu-satunya orang

yang paling mencurigakan hanya Siau-hong seorang.

Pedang “Mata iblis” telah berada dalam genggamannya,

dia telah mencabutnya. Sambil membelai mata pedang yang

tajam tiba-tiba ia bertanya, “Pedang ini milikmu? Kau

adalah Siau-hong si pencabut nyawa?”

Ia belum sempat melihat wajah Siau-hong, tapi dia tahu

ada orang telah muncul di depan tendanya dan dia yakin

orang itu pastilah Siau-hong.

Orang yang sepanjang tahun hidup dalam mara bahaya,

meski seringkali’ memiliki reaksi aneh yang melebihi reaksi

seekor binatang buas, namun reaksi dan insting yang

dimilikinya tak disangkal jauh lebih tajam dari siapa pun.

“Betul, pedang itu memang milikku,” jawab Siau-hong

sambil melangkah masuk, “Akulah Siau-hong si pencabut

nyawa.”

Pancapanah yang semula masih berbaring tenang, tibatiba

melompat bangun dan berdiri tegak persis di

hadapannya bagaikan sebuah tiang bendera, sorot matanya

yang dingin terasa berkilat dari balik kegelapan.

“Konon di saat orang lain masih ingusan, kau sudah

mulai mengucurkan darah segar?”

“Biasanya darah yang mengucur bukan darah yang

berasal dari tubuhku.”

“Bila ingin orang lain mengucurkan darah, diri sendiri

harus mengucurkan darah terlebih dulu,” suara Pancapanah

kedengaran teramat lembut dan hangat, “Kini darah Tong

Leng telah dingin membeku, bagaimana dengan dirimu?”

“Darahku masih mengalir, setiap saat telah siap untuk

mengucur keluar.”

“Bagus sekali,” suara Pancapanah kedengaran lebih

lembut dan hangat, “Siapa yang telah membunuh, dia harus

mati. Dengan darah membayar darah.”

Suaranya kedengaran lebih lembut bagai hembusan

angin di musim semi, namun suara Siau-hong pun tak kalah

tenangnya.

“Sayang sekali orang yang tidak membunuh pun

terkadang bisa mati,” ucap Siau-hong, “Bila aku harus mati,

sang pembunuh yang sesungguhnya bakal hidup sentosa

sepanjang masa.”

“Jadi bukan kau yang melakukan pembunuhan itu?”

“Bukan, kali ini bukan,” Siau-hong menggeleng.

Pancapanah memandangnya sampai lama sekali,

memandang dengan penuh ketenangan.

“Kau belum melarikan diri, juga tak ingin melarikan diri,

sikapmu begitu tenang dan tenteram, dengus napasmu pun

lembut dan teratur, kau memang tak mirip seorang yang

telah melakukan perbuatan dosa.”

Dia seakan sedang menghela napas panjang.

“Ai, hanya sayang dengan mengandalkan gejala

semacam itu masih belum cukup untuk membuktikan kalau

kau tidak berdosa.”

“Lalu bagaimana baru bisa membuktikan?” Siau-hong

segera bertanya.

Ooo)d*w(ooO

BAB 7. PANAH SAKTI DEWA PANAH

Pancapanah termenung tanpa bicara, sampai lama

kemudian perlahan-lahan ia baru berkata, “Aku adalah

orang Tibet, orang Tibet biasanya sangat takhayul. Kami

selalu percaya orang yang tidak melakukan kesalahan, dia

tak bakal mati terbunuh secara penasaran.”

Kini fajar telah menjelang tiba, secercah cahaya terang

mulai memancar masuk ke dalam tenda, kini dapat terlihat

dengan jelas gendewa serta sekantung anak panahnya.

Tiba-tiba dia mengambil gendawa dan anak panahnya

sambil berjalan keluar dari dalam tenda.

“Kau pun ikut keluar!” katanya.

Sewaktu Siau-hong berjalan keluar dari dalam tenda, ia

jumpai di luar sana telah berkumpul banyak orang.

Setiap orang berdiri tenang di sana bagaikan sebuah

patung batu, menunggu jagoan mereka menyelesaikan

persoalan ini.

Dengan gendawanya, Pancapanah menuding ke arah

sebuah tenda lebih kurang lima tombak di hadapannya.

“Sekarang kau berdirilah di sana baru aku mulai

menghitung, bila telah mencapai angka lima, aku baru akan

mulai turun tangan. Hitunganku tak bakal terlalu cepat,

dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang kau

miliki, tatkala aku selesai menghitung hingga angka lima,

kau pasti sudah pergi sangat jauh dari sini.”

Kemudian sambil menepuk kantung panah yang

tergantung di pinggangnya, ia menambahkan, “Aku hanya

memiliki lima batang panah, bila kau benar-benar tidak

melakukan kesalahan, dapat dipastikan tak sebatang panah

pun akan berhasil melukaimu.”

Tiba-tiba Siau-hong tertawa.

“Dewa panah lima bunga yang tak pernah meleset

bidikannya, ternyata ingin menggunakan cara begini untuk

membuktikan salah benarnya seseorang, hahaha… sebuah

ide yang sangat bagus,” katanya.

Pancapanah tidak tertawa, ia balik bertanya, “Bila

kau menganggap cara ini tidak bagus, masih tersedia sebuah

cara lain lagi.”

“Apa caramu itu?”

Sebelah tangan Pancapanah masih menenteng pedang

mata iblis milik Siau-hong, tiba-tiba ia menghujamkan

pedang itu di atas pasir, tepat di hadapan anak muda itu.

“Gunakan pedang ini untuk membunuhku,” ujarnya

hambar, “Asal kau dapat membunuhku, maka tak perlu lagi

dibuktikan benar salahnya dirimu. Asal kau dapat

membunuhku, peduli perbuatan apa pun yang pernah kau

lakukan, tak bakal ada orang yang akan menanyakannya

lagi.”

Fajar telah menyingsing, cahaya matahari memancarkan

sinarnya menyinari seluruh jagat.

Mata pedang memantulkan cahaya terang ketika terkena

sinar mentari pagi, begitu juga dengan sepasang mata

Pancapanah.

Dia adalah manusia, bukan dewa yang selalu awet

muda, kerutan sudah mulai nampak di sudut matanya.

Namun di bawah cahaya sang surya yang baru terbit, dia

masih nampak bagaikan dewa.

Siau-hong sangat mempercayai perkataannya.

Orang-orang dari sukunya maupun anak buahnya masih

tetap berdiri tenang di sana, peduli apa pun yang dia

katakan, mereka selalu taat dan melaksanakannya tanpa

membantah.

Mencabut pedang membunuh orang bukanlah satu

pekerjaan yang susah.

Selama ini Siau-hong selalu yakin dan percaya dengan

kemampuan ilmu pedang miliknya, di saat harus mencabut

pedang, dia tak pernah akan mundur apalagi menghindar.

Terdengar Pancapanah kembali bertanya, “Dari dua cara

yang tersedia, cara mana yang kau pilih?”

Siau-hong tidak menjawab, tanpa mengucapkan sepatah

kata pun dia mulai bergerak ke depan, berjalan menuju ke

depan tenda, lebih kurang lima tombak di hadapannya dan

berhenti di situ.

Dia telah menggunakan gerakan tubuh untuk menjawab.

Setelah membalikkan badan, ujarnya kepada

Pancapanah, “Sekarang kau sudah boleh mulai

menghitung, lebih baik hitung agak cepatan, aku paling

takut menunggu terlalu lama.”

“Baik!” jawab Pancapanah singkat.

Semua yang hadir mulai memencarkan diri,

meninggalkan sebuah lapangan kosong untuk mereka

berdua. “Satu, dua, tiga, empat….”

Perlahan-lahan Dewa panah lima bunga mencabut anak

panahnya yang pertama, gagang panah berwarna kuning

emas dengan mata panah berwarna kuning juga.

Bidikan yang tak pernah meleset, panah sakti yang

langsung menembus hulu hati, lembut bagaikan angin

musim semi, indah bagai sekuntum bunga, panas bagai bara

api, tajam bagai ujung gurdi, kokoh bagai emas.

Hitungannya tidak terlampau cepat, tapi akhirnya ia

telah menghitung hingga genap angka lima.

Ternyata Siau-hong masih tetap berdiri di tempat, sama

sekali tidak bergerak.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya,

secepat apa pun Pancapanah menghitung, ketika mencapai

angka lima, paling tidak ia telah berada belasan tombak dari

tempat semula.

Namun ia sama sekali tak bergerak, jangankan beberapa

puluh tombak, seinci pun ia tak bergerak.

“Lima!”

Begitu hitungan terakhir diucapkan, semua orang pun

mendengar suara desingan angin tajam menderu di tengah

angkasa, suara itu begitu tinggi dan tajam bagaikan pekikan

serombongan setan iblis.

Setiap orang dapat melihat dengan jelas ketika

Pancapanah mencabut anak panahnya yang pertama,

secara tiba-tiba kotak panahnya telah kosong.

Ternyata pada saat yang hampir bersamaan, kelima

batang anak panahnya telah dibidikkan bersama-sama.

Siau-hong masih tetap tak bergerak.

Desingan angin tajam yang membelah angkasa kini telah

berhenti bergema, kelima batang anak panah berwarna

keemasan itu telah menancap berjajar di bawah kakinya.

Pada hakikatnya dia sama sekali tidak berkelit.

Entah apakah karena sudah diduga olehnya kalau

Pancapanah hanya berniat menjajalnya, maka dia merasa

tak perlu untuk menghindar atau karena dia tahu semisal

ingin berkelit pun, belum tentu ia dapat meloloskan diri.

Terlepas apa pun yang dia pikirkan, kali ini lagi-lagi dia

gunakan nyawa sendiri sebagai barang taruhan.

Dan dalam taruhan kali ini pun dia telah menang.

Akan tetapi bila seseorang tidak memiliki keyakinan dan

rasa percaya diri yang begitu membaja, siapa pula yang

berani bertaruh macam dia?

Tiba-tiba meledaklah tempik-sorak yang gegap-gempita

dari kerumunan orang banyak, dengan cepat Garda

menerjang keluar dari balik kerumunan orang, menjatuhkan

diri berlutut dan mulai menciumi kakinya.

Dari balik mata Pancapanah yang dingin dan kesepian

pun terlintas secercah senyuman.

“Sekarang kau tentu percaya bukan, seseorang yang tak

bersalah tak nanti akan mati terbunuh. Asal kau tak

melakukan kesalahan, kelima batang anak panah itu tak

bakal menembus tubuhmu, terlepas aku adalah Dewa

panah lima bunga atau bukan.”

Sudah jelas hal semacam ini bukan termasuk takhayul

tapi suatu ujian yang amat cerdas, hanya orang yang tak

bersalah baru berani menerima ujian semacam ini.

Hanya Siau-hong sendiri yang tahu, seluruh pakaian

yang ia kenakan saat ini nyaris sudah basah kuyup.

Hingga kini keringat dingin masih bercucuran tiada

hentinya.

Dengan langkah lebar Pancapanah berjalan mendekat

sambil menepuk bahunya, dengan cepat tangannya

menyentuh peluh dingin yang membasahi punggungnya.

“Hahaha, ternyata kau pun sedikit ketakutan.”

“Bukan hanya sedikit rasa takutku,” sahut Siau-hong

sambil menghela napas, “Aku ketakutan setengah mati!”

Pancapanah tertawa terbahak-bahak, semua anggota

sukunya, semua anak buahnya ikut tertawa. Sudah terlalu

lama mereka tak pernah melihat senyuman menghiasi

wajahnya.

Di saat semua orang sedang tertawa dengan penuh

keriangan itulah mendadak terdengar lagi suara jeritan yang

memilukan, setiap orang dapat mengenali jeritan ngeri itu

berasal dari si bongkok.

Tumpukan barang dagangan yang semula tersusun

sangat rapi, kini telah berubah sangat kacau, banyak

bungkusan yang telah dirobek orang sehingga isinya berupa

bahan obat-obatan yang mahal harganya berserakan di

mana-mana.

Yang tampak hanya barang dagangan dan bahan obatobatan,

sama sekali tak ada lantakan emas murni.

Siau-hong telah memperhatikan kejadian ini,

mungkinkah orang yang merobek dan membongkar

bungkusan barang dagangan itu bertujuan untuk

menyelidiki dan membuktikan sesuatu?

Mungkinkah Wi Thian-bong sekalian telah muncul di

seputar sini?

Si bongkok tergeletak di samping sebungkus bahan

wangi-wangian, pakaiannya telah berubah jadi merah

karena cucuran darah segar, tentu saja darah itu berasal dari

darah tubuhnya serta darah rekannya.

Luka tusukan yang mematikan berada tepat di atas

dadanya, senjata yang digunakan pun sebilah pedang.

Seketika itu juga Siau-hong teringat si jago pedang tanpa

nama tanpa perasaan itu.

Ilmu silat yang dimiliki si bongkok bukan saja sangat

tinggi, dari bekas luka yang begitu banyak membekas di

tubuhnya, dapat diketahui dia adalah seorang jago

berpengalaman yang pernah bertarung ratusan kali. Lalu

siapa yang telah membunuhnya?

Kecuali jago pedang tanpa nama, siapa pula yang

sanggup menghujamkan pedangnya dalam sekali tusukan

tepat di atas dadanya?

Walaupun tusukan pedang itu sangat mematikan,

ternyata si bongkok belum menghembuskan napasnya yang

terakhir.

Manusia semacam dia bukan saja kekuatan hidupnya

jauh lebih kuat dari orang lain, niat dan keinginannya untuk

berjuang hidup pun melebihi siapa pun.

Si bongkok termasuk jenis manusia semacam ini.

Dia masih terengah-engah, meronta, meronta untuk

kehidupan sendiri, raut mukanya mengejang karena rasa

sakit yang luar biasa dan rasa takut yang mencekam.

Namun dari balik sorot matanya justru memancar

perasaan lain, semacam perasaan kaget, curiga, dan

keheranan yang bercampur aduk.

Hanya seseorang yang telah menyaksikan suatu kejadian

yang dia anggap tak pernah dan tak mungkin terjadilah

yang bakal menunjukkan sorot mata semacam ini.

Lalu apa yang telah dia saksikan?

Pancapanah telah membongkokkan tubuh, menjejalkan

lemak yang oleh bangsa Tibet dianggap sebagai obat yang

mampu menyembuhkan berbagai penyakit ke dalam

mulutnya.

“Aku tahu, kau pasti ada perkataan yang ingin

disampaikan kepadaku,” ujar Pancapanah sambil menepuk

wajahnya, dia ingin menggunakan tepukan itu untuk

membangkitkan semangat hidupnya, “Kau harus

mengatakannya, katakan segera kepadaku!”

Kelopak mata si bongkok mulai berdenyut, mulai

bergetar, akhirnya dia mengucapkan beberapa patah kata.

“Sungguh tak disangka… sungguh tak disangka….”

“Apa yang tak kau sangka?” tanya Pancapanah cepat.

“Tak kusangka ternyata dialah yang telah membunuh

orang.”

“Siapakah dia? Di mana ia sekarang?”

Dengus napas si bongkok makin memburu, ia sudah tak

sanggup mengeluarkan suara lagi, tak mampu

menyelesaikan perkataannya.

Hanya mata sebelahnya yang masih bereaksi, terkadang

pandangan mata pun bisa berbicara.

Sorot matanya telah dialihkan ke tempat jauh,

memandang sebuah tenda yang terletak paling jauh dari

sana.

Sebuah tenda dengan bulu elang berwarna hitam

tergantung di sudut atasnya, bulu elang berwarna hitam

pekat, hitam perlambang penyakit, musibah, dan kematian.

Penghuni tenda itu kebanyakan adalah orang-orang yang

sudah sakit parah, terluka parah atau mereka yang sudah

sekarat, mendekati saat ajalnya.

Kecuali tabib yang bertanggung jawab menyembuhkan

mereka, siapa pun enggan memasuki tenda laknat itu.

Mungkinkah sang pembunuh telah melarikan diri masuk

ke dalam tenda itu?

Pancapanah tidak bertanya lagi, dia memang tak perlu

bertanya, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya dia

telah meluncur ke depan.

Siau-hong segera menyusul dari belakang.

Mereka memasuki tenda itu hampir bersamaan waktu,

pada saat yang sama pula mereka jumpai dua orang.

Mimpi pun Siau-hong tak pernah menyangka kalau dia

bakal menyaksikan kedua orang itu di dalam tenda.

Bahkan nyaris dia tak mempercayai apa yang telah

dilihat sepasang matanya.

Ternyata orang pertama yang dia saksikan adalah Pova,

Pova yang seharusnya menunggu kedatangannya di dalam

tenda.

Orang kedua yang dijumpainya tak lain adalah Po Eng!

Po Eng berdiri di sana dengan tenang, sikapnya masih

dingin, kaku dan sadis, pakaian yang dikenakan masih

berwarna putih salju.

Pova tertelungkup setengah melingkar di hadapannya,

sinar kaget, ngeri, takut dan horor yang luar biasa terpancar

dari balik matanya yang indah.

Kedua orang itu tidak seharusnya berada di dalam tenda,

namun kenyataan mereka berada di sana.

Sang pembunuh telah melarikan diri masuk ke dalam

tenda ini, sedang tenda itu tiada jalan mundur yang lain,

berarti salah satu di antara mereka berdua pastilah si

pembunuh itu.

Lalu siapakah di antara mereka berdua yang telah

membunuh orang?

Dengan pandangan dingin Siau-hong menatap Po Eng

sekejap, kemudian setelah menghela napas panjang ujarnya,

“Aku pun tak menyangka akan dirimu, selama ini aku

selalu menganggap kau benar-benar tak pernah membunuh

orang.”

“Di dunia yang luas ini memang banyak terdapat

kejadian yang sama sekali tak terduga,” jawab Po Eng tanpa

perubahan mimik wajah, “Lantakan emas murni memang

dapat membuat orang melakukan tindakan yang dia sendiri

pun tak pernah menyangka.”

“Aku tahu, kau pun sedang mencari tumpukan emas itu,

tapi kau ..” Ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Saat itu Pova telah menubruk ke dalam pelukannya,

dengan air mata berderai dia berbisik, “Bawa aku pergi,

kumohon, bawalah aku pergi dari sini!”

“Aku pasti akan membawamu pergi, kau tidak

seharusnya datang ke tempat ini,” sahut Siau-hong sambil

membelai rambutnya yang lembut.

Tapi sayang ia telah datang, datang ke tempat itu.

“Mengapa kau bisa muncul di sini?” mau tak mau Siauhong

harus bertanya.

“Aku tak tahu,” dengan air mata belinang Pova

menggeleng, “Aku benar-benar tak tahu, aku hanya ingin

secepatnya pergi dari sini.”

“Kau tak boleh pergi!” tiba-tiba Pancapanah buka suara,

kini suaranya tidak selembut tadi, “Siapa pun tak boleh

membawanya pergi.”

“Kenapa?” tanya Siau-hong.

“Karena orang yang menginginkan orang lain

mengucurkan darah segar, dia sendiri pun harus bermandi

darah.”

“Siapa membunuh, dia harus mati, dengan darah

membayar darah!” Begitulah peraturan yang berlaku dalam

dunia persilatan, terlepas kau berada di daratan Tionggoan,

di wilayah Kang-lam atau pun berada di tengah gurun pasir,

peraturan tetap peraturan dan harus ditaati.

Siau-hong menggenggam tangan Pova erat-erat, serunya,

“Kau seharusnya dapat melihat, bukan dia pembunuhnya!”

“Kau dapat melihatnya?” Pancapanah balik bertanya,

“Apa yang telah kau lihat?”

Tiba-tiba dia mengalihkan pokok pembicaraan, katanya

lagi, “Semua orang, semua barang dagangan yang berada di

sini berasal dari satu perusahaan dagang.”

“Perusahaan dagang mana?”

“Eng-ki!”

“Eng-ki?” sepasang tangan Siau-hong mulai terasa

dingin, “Eng dari kata hui-eng, Elang terbang?”

Eng dari hui-eng si elang terbang tak lain adalah Eng dari

nama Po Eng.

Dengan pandangan terkesiap dia menatap wajah Po Eng,

tegurnya, “Jadi kau adalah Tongcu mereka?”

“Betul, dia adalah majikan yang menyewa kami!” sahut

Pancapanah, “Kami bersedia menampungmu pun tak lain

gara-gara dia. Kalau tidak, kemungkinan besar tadi kau

sudah mati di ujung anak panahku.”

Sekujur badan Siau-hong terasa dingin membeku, untung

saja tak sampai menggigil.

Kembali Pancapanah berkata, “Sekalipun ingin

menelusuri jejak emas murni itu, tak nanti ia akan

menggeledah barang bawaan rombongan sendiri, sekalipun

barang bawaan sendiri mau digeledah, rasanya dia tak perlu

membunuh orang.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya dengan

dingin, “Sekarang seharusnya kau sudah tahu bukan siapa

yang telah melakukan pembunuhan ini?”

Tangan Pova terasa jauh lebih dingin dari tangan Siauhong,

bahkan air matanya terasa jauh lebih dingin dari

tangannya.

Dia peluk tubuh Siau-hong erat-erat, sekujur tubuhnya

gemetar keras.

Padahal perempuan ini begitu lemah lembut, begitu

pasrah, mungkinkah gadis semacam dia adalah seorang

pembunuh berdarah dingin?

Siau-hong tidak percaya.

Biar sampai mati pun Siau-hong tak bakal mempercayai

akan kenyataan ini.

“Aku hanya tahu orang yang melakukan pembunuhan

itu pasti bukan dia!” kata Siau-hong sambil memeluk tubuh

gadis itu makin kencang, “Apalagi tak ada yang

menyaksikan sendiri dia melakukan pembunuhan itu.”

“Jadi kau baru mau percaya bila sudah menyaksikan

dengan mata kepala sendiri?” tanya Pancapanah.

Tiba-tiba Po Eng menghela napas panjang, selanya,

“Kendatipun kau telah menyaksikan dengan mata kepala

sendiri pun tak bakal percaya.”

Bila Siau-hong adalah seseorang yang memakai akal

sehat, bila dia seorang yang bisa memilah masalah dan

mengambil kesimpulan secara sehat, sekarang seharusnya

semua masalah sudah jelas.

Kenyataan dengan jelas, sudah terpampang di depan

mata.

Wi Thian-bong sekalian sejak awal rupanya sudah tahu

kalau Po Eng adalah majikan rombongan saudagar ini, dia

selalu mencurigai Po Eng menggunakan rombongan

saudagar ini sebagai kamuflase untuk mengelabui niatnya

mengangkut emas lantakan sebesar tiga puluh laksa tahil

yang telah dirampok.

Namun mereka tak berani mengganggu rombongan besar

ini.

Hampir semua orang persilatan tahu kalau ilmu silat

yang dimiliki Po Eng tiada taranya, bahkan selama ini

belum pernah ada orang yang mampu mengalahkannya.

Sedangkan Dewa panah lima bunga Pancapanah adalah

jago nomor wahid yang telah menggetarkan luar

perbatasan, ksatria sejati idola bangsa Tibet.

Wi Thian-bong bukan saja menaruh perasaan jeri dan

takut menghadapi kedua orang ini, bahkan dia pun harus

meningkatkan kewaspadaannya menghadapi setiap orang

dalam rombongan ini.

Sebab kemungkinan besar setiap orang yang berada

dalam rombongan ini adalah begal kucing, jika benar-benar

terjadi pertarungan sengit, sudah pasti mereka tak punya

keyakinan untuk meraih kemenangan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,

terpaksa mereka melakukan penyelidikan secara diamdiam,

mereka ingin mencari tahu apakah emas murni itu

berada di dalam bungkusan barang dagangan yang dibawa

rombongan ini.

Sebetulnya mereka ingin memperalat Siau-hong untuk

melakukan tugas ini.

Siapa tahu Siau-hong justru merupakan seorang yang tak

sayang dengan nyawa sendiri, karenanya terpaksa mereka

harus mencari akal lain.

Untuk melacak apakah emas murni itu benar-benar

berada dalam bungkusan barang dagangan itu, mereka

harus mengirim seseorang untuk menyelinap dan membaur

ke dalam rombongan ini.

Orang itu harus seseorang yang tak gampang menarik

perhatian, seseorang yang tak gampang menimbulkan

kecurigaan orang lain.

Selain harus pandai berkamuflase hingga sukar terlacak

orang, dia harus memiliki gerakan tubuh selincah kuning,

seganas patukan ular berbisa, semantap seekor gajah

raksasa, selain harus memiliki kecantikan yang lebih manis

dari madu, memiliki kelembutan melebihi air dan sanggup

menaklukkan hati Siau-hong.

Karena Siau-hong satu-satunya jembatan penghubung

untuk bisa menyusup masuk ke dalam rombongan ini.

Ternyata mereka berhasil menemukan manusia semacam

ini.

Pova!

Bila Siau-hong masih memiliki sedikit kesadaran,

sekarang dia seharusnya sudah dapat melihat duduk perkara

yang sebenarnya.

Tapi sayangnya Siau-hong bukan jenis manusia

semacam itu.

Dia bukannya tak memiliki otak dan kecerdasan, hanya

saja kecerdasan otaknya kerap kali terhanyut dan tenggelam

oleh perasaan emosi.

Dia bukannya tak bisa menduga sampai ke situ, hanya

saja pada hakikatnya dia menampik untuk berpikir begitu.

Pada dasarnya dia menampik untuk mengakui bahwa

Pova sang pembunuh.

Tentu saja Pancapanah pun dapat melihat akan hal ini.

“Tak ada orang melihat dia melakukan pembunuhan, tak

ada orang yang bisa jadi saksi untuk membuktikan dia telah

membunuh orang,” kata Pancapanah perlahan, “Akan

tetapi kau pun sama saja tak bisa membuktikan kalau dia itu

tidak bersalah.”

Siau-hong segera memahami maksud hatinya, “Apakah

kau ingin menggunakan cara tadi untuk membuktikan

benar salahnya dia?” ia bertanya.

“Benar,” Pancapanah membenarkan, “Anak panah dari

dewa lima bunga tak bakal melukai orang yang tidak

bersalah.”

Siau-hong segera tertawa dingin.

“Sayangnya kau sama sekali bukan Dewa panah lima

bunga yang sesungguhnya, kau tak lebih hanya manusia,

pikiran dan hatimulah yang memutuskan apakah dia

berdosa atau tidak.”

“Untuk kejadian kali ini, apakah kau mempunyai cara

lain yang jauh lebih baik?” tanya Pancapanah.

Tentu saja Siau-hong tidak memiliki cara lain yang lebih

baik.

Di dunia ini sudah tak ada orang lagi yang bisa

memikirkan cara apa pun untuk membuktikan kalau

perempuan itu tidak bersalah.

Tiba-tiba Pova meronta lepas dari pelukan Siau-hong,

katanya dengan air mata bercucuran, “Walaupun kau

pernah berkata, selama dirimu masih hidup maka tak akan

kau biarkan orang lain menganiayaku, namun sejak awal

pun aku tahu bahwa janjimu itu tak mungkin bisa kau

lakukan, setiap persoalan dapat berubah, setiap orang pun

dapat berubah.”

Kemudian sambil menyeka air mata yang berlinang,

lanjutnya, “Oleh sebab itu mulai sekarang kau sudah dapat

melupakan semua janjimu itu, biarkan mereka

membunuhku, biarkan aku mati!”

Dia masih tetap begitu lembut dan lemah, begitu

penurut, dia masih menggantungkan keselamatannya pada

perlindungan Siau-hong.

Kini dia telah menyerahkan seluruh hidupnya, tubuhnya

kepada Siau-hong, ia rela mati karena tak ingin

menyusahkan Siau-hong.

Biarpun tak seorang pun yang menyaksikan dia telah

melakukan pembunuhan, namun setiap orang yang hadir

dengan jelas mengetahui akan apa yang telah terjadi.

Tiba-tiba terdengar Po Eng menghela napas panjang.

“Biarkan dia pergi!” katanya.

“Kau akan melepaskan dia begitu saja?” tanya

Pancapanah amat tercengang.

“Bukan hanya membebaskan dia begitu saja,” terus Po

Eng dengan nada dingin, “Kau pun harus memberinya

sekantung air, sekantung rangsum, dan seekor kuda.”

Kemudian dengan hambar tambahnya, “Berikan seekor

kuda tercepat untuknya, aku ingin dia pergi dari sini

secepatnya, makin cepat semakin baik.”

Pancapanah tidak bicara apa-apa lagi.

Dia memang selalu tunduk kepada Po Eng, seperti orang

lain tunduk kepadanya.

Siau-hong pun tidak bicara lagi, setiap tindakan yang

dilakukan Po Eng selalu membuat dia tak mampu bicara

apa-apa lagi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia menarik

tangan Pova dan membalikkan badan.

Tiba-tiba Po Eng berkata lagi, “Biarkan dia pergi, kau

tetap tinggal di sini.”

“Aku tetap tinggal di sini?” Siau-hong berpaling, “Kau

minta aku tetap tinggal di sini?”

“Bila kau ingin aku membebaskan dia, maka kau harus

tetap tinggal di sini!”

“Inikah syaratmu?”

“Benar!” jawaban Po Eng singkat tapi tegas, hal ini sudah

merupakan keputusannya yang paling akhir, tak seorang

pun dapat mengubah keputusannya itu.

Siau-hong sangat memahami keadaan itu, maka dia pun

melepas genggaman Pova.

“Asal aku tidak mati, suatu ketika pasti akan datang

mencarimu, aku pasti dapat menemukan dirimu.”

Itulah perkataan terakhir yang dia sampaikan kepada

Pova, kecuali ucapan itu, apa lagi yang bisa dia katakan?

Pova tidak mengucapkan sepatah kata pun, dengan

mulut membungkam ia berlalu dari sana.

Dia tidak berkata apa-apa lagi, pergi dengan mulut

membisu.

Siau-hong pun tidak bergerak, dia hanya mengawasi

perempuan itu keluar dari sana, mengawasi bayangan

punggungnya yang ramping dan lemah lembut dengan

pandangan tak berkedip.

Dia berharap perempuan itu berpaling lagi

memandangnya, tapi dia pun takut melihat perempuan itu

berpaling.

Seandainya ia berpaling, kemungkinan besar dia akan

menerjang keluar, tanpa mempedulikan apa pun yang bakal

terjadi, dia ikut pergi dari situ bersamanya.

Sayang sekali ia tidak berpaling.

Pancapanah pun telah pergi dari situ, sesaat sebelum

meninggalkan tempat itu tiba-tiba dia menyampaikan

sepatah kata yang bermakna sangat mendalam kepada Siauhong,

“Bila aku jadi kau, aku pun akan melakukan hal yang

sama.” Perkataannya sama sekali tidak mengandung nada

sindiran atau ejekan, “Perempuan semacam dia memang

tak banyak jumlahnya.”

Ketika hampir keluar dari dalam tenda, kembali dia

berpaling sambil menambahkan, “Tapi bila aku adalah kau,

di kemudian hari aku tak bakal mau bertemu lagi

dengannya.”

Sepasang tangan Siau-hong yang mengepal kencang

perlahan-lahan mengendor kembali, kemudian dengan

gerakan lamban dia membalikkan badan, berhadapan

dengan Po Eng.

Dia ingin bertanya kepada orang itu, “Kalau memang

kau bersedia membebaskan dia, kenapa pula harus

menahan diriku?”

Namun pertanyaan itu tak sampai diutarakan.

Sepeninggal Pova dan Pancapanah, sikap Po Eng pun

tiba-tiba berubah sama sekali.

Tatkala Siau-hong berhadapan dengannya, ia telah roboh

terkapar di atas tanah, terkapar di atas kasur empuk yang

berlapiskan kulit. Belum pernah Siau-hong menyaksikan dia

begitu lelah dan lemah.

Parasnya pucat-pias tanpa rona darah, namun di atas

pakaiannya yang berwarna putih salju telah dibasahi darah

segar, noda darah mengotori seluruh dadanya, hanya selisih

beberapa inci dari hulu hatinya.

“Kau terluka?” teriak Siau-hong, “Mengapa kau bisa

terluka?”

Po Eng tertawa getir, “Asal dia manusia, tentu saja dapat

terluka, jika ada sebilah pedang tajam menghujam dadamu,

siapa pun pasti akan menderita luka cukup parah.”

Siau-hong semakin terkesiap.

“Orang persilatan mengatakan bahwa kau tak pernah

terkalahkan, aku pun tahu, kau memiliki beratus kali

pengalaman pertarungan sengit, namun belum pernah kalah

walau satu kali pun.”

“Setiap masalah, setiap persoalan pasti ada kesatu.”

“Siapa yang telah melukaimu?”

Sebelum Po Eng sempat menjawab, Siau-hong telah

teringat akan seseorang, bilamana ada orang yang sanggup

melukai Po Eng, sudah pasti manusia itulah orangnya.

Jago pedang tanpa nama, pedang tanpa perasaan.

“Jadi kau telah bertarung melawannya?” Siau-hong

segera bertanya.

Lama sekali Po Eng termenung, kemudian perlahanlahan

ia berkata, “Aku pernah bertemu dengan tujuh jago

pedang paling tersohor di kolong langit, meskipun belum

pernah bertarung dengan mereka, namun aku pernah

menyaksikan ilmu pedang yang mereka miliki.”

Setelah menghela napas panjang, terusnya, “Di antara

mereka, ada yang sudah tua, ada yang hidup terlalu royal,

ada yang ilmu pedangnya sudah mundur, tujuh orang jago

pedang yang paling tersohor waktu itu, kini kehebatannya

telah memudar, sudah menjadi masa lampau, oleh sebab itu

aku tak pernah bertarung melawan mereka, karena aku

tahu, kemampuanku pasti dapat mengalahkan mereka.”

Perkataannya itu bukan sebuah jawaban, maka Siauhong

kembali bertanya, “Bagaimana dengan dia?”

Tentu saja Po Eng juga tahu siapa yang dimaksud “dia”

oleh Siau-hong.

“Aku telah bertarung melawannya,” akhirnya Po Eng

menjawab, “Aku berani jamin, di antara tujuh jago pedang

paling tersohor, tak satu pun sanggup menghadapi sebuah

tusukannya….”

Tak disangkal, tusukan itulah yang telah melukai Po

Eng…

“Selama hidup belum pernah kujumpai ilmu pedang

semacam ini, bahkan membayangkan pun belum pernah,”

perlahan-lahan Po Eng melanjutkan, “Aku hanya bisa

melukiskan tusukan pedangnya itu dengan beberapa patah

kata….”

“Perkataan apa?”

“Pasti membunuh! Pasti menang! Pasti mati!”

“Tetapi kau belum mati,” Siau-hong berusaha

menghiburnya, seakan juga sedang menghibur diri sendiri,

“Aku dapat melihat, kau tak bakal mati!”

Po Eng tertawa, di balik suara tawanya penuh

mengandung nada ejekan dan sindiran, katanya, “Mungkin

saja aku menahanmu karena aku ingin kau menemaniku di

sini, melihat aku mati, karena aku pun pernah berada di

sampingmu, menunggu saat kematianmu.”

Terkadang sindiran pun merupakan semacam kepedihan,

suatu kepedihan hanya bisa disampaikan dengan nada

sindiran.

Siau-hong sangat memahami hal itu.

Kecuali terhadap perasaan sendiri, biasanya dia gampang

memahami persoalan lain.

Perlahan-lahan dia duduk, duduk di samping Po Eng.

“Aku akan menunggu,” katanya, “Bukan menunggu saat

kematianmu tapi menunggu saat kau berdiri.”

Matahari yang terik kembali muncul di tengah angkasa,

namun suasana dalam tenda justru gelap dan dingin.

Sudah cukup lama Po Eng berbaring sambil

memejamkan mata, entah dia sudah tertidur atau tidak,

sampai lama kemudian ia baru membuka kembali matanya,

menatap Siau-hong dan berkata, “Ada dua hal aku harus

memberitahukan kepadamu.”

“Katakan!”

“Si jago pedang tanpa nama itu sesungguhnya bukan tak

bernama, dia bermarga Tokko bernama Tokko Ci, bukan Ci

tergila-gila karena cinta, tapi tergila-gila pada pedang,” ujar

Po Eng sambil menghela napas, “Oleh karena itu kau tak

boleh bertarung melawannya, orang yang tergila-gila karena

cinta pasti akan mati di ujung pedang orang yang tergilagila

karena pedang. Dalam hal ini, kau tak bisa tidak harus

mempercayainya.”

“Apa masalah yang kedua?” Siau-hong kembali bertanya.

Kembali Po Eng termenung sampai lama sekali sebelum

menjawab, “Kau adalah seorang gelandangan, ada

gelandangan yang punya banyak emas, ada gelandangan

yang banyak bercinta, ada gelandangan yang suka tertawa,

ada pula gelandangan yang suka menangis, walaupun

begitu, ada satu kemiripan yang dimiliki setiap

gelandangan.”

“Kemiripan apa?”

“Perasaan hampa,” sahut Po Eng, “Hidup menyendiri,

kesepian, dan kehampaan.”

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya lagi,

“Oleh karena itu, bila seorang gelandangan dapat

menemukan seseorang yang dianggap dapat membuat

dirinya tidak merasa kesepian lagi, maka keadaan itu ibarat

seseorang yang tenggelam dalam air tiba-tiba berhasil

memegang sebatang balok kayu, biar sampai mati pun

enggan lepas tangan. Sementara apakah balok kayu itu

dapat membawanya kembali ke tepian atau tidak, baginya

tak peduli, karena dalam hatinya sudah keburu muncul

suatu perasaan aman dan tenteram, bagi kaum

gelandangan, perasaan tenteram semacam ini sudah lebih

dari cukup.”

Tentu saja Siau-hong memahami maksudnya.

Apa yang dia katakan tak lain adalah penderitaan Siauhong

yang selama ini selalu tersembunyi di dasar hatinya,

penderitaan yang tak pernah berani disentuh olehnya.

Seorang diri dengan sebilah pedang berkelana dalam

dunia persilatan, kebebasan hidup seorang gelandangan

tampak begitu menggairahkan, begitu mengundang decak

kagum banyak orang.

Karena selamanya orang lain tak bakal tahu kalau

perasaan mereka yang sesungguhnya adalah kehampaan

dan penderitaan.

Kembali terdengar Po Eng berkata, “Akan tetapi balok

kayu yang berhasil kau tangkap itu terkadang bukan saja tak

dapat membawamu menuju ke tepian, sebaliknya malah

bisa membuat kau tenggelam makin cepat, oleh sebab itu di

saat harus lepas tangan, kau harus segera melepasnya.”

Sepasang kepalan Siau-hong yang semula menggenggam

kencang perlahan-lahan mengendor kembali.

“Mengapa kau harus menyampaikan kata-kata semacam

itu kepadaku?” tanyanya.

“Karena kau adalah sahabatku.”

Sahabat? Ya, sahabat!

Mendengar perkataan semacam itu muncul dari mulut

Po Eng, Siau-hong betul-betul merasa terkesiap, bahkan

jauh lebih terkesiap dibandingkan ketika ia melihat noda

darah di pakaiannya yang berwarna putih bersih, seketika

itu juga ia merasakan darah panas menggelora dalam

dadanya, menyumbat tenggorokannya, membuat dia tak

sanggup berkata-kata.

Po Eng telah duduk, dari sebuah kantung kulit kambing

yang tergeletak di samping tubuhnya dia mengeluarkan

sebotol arak tawar yang kecut tapi terasa pedas.

“Inilah arak Ku-shia-sau dari jalan utara menuju gunung

Thian-san,” katanya, “Arak semacam ini jauh lebih keras

dan memabukkan dibandingkan arak yang terbuat dari

sorgum.”

Diteguknya dulu satu tegukan, kemudian ia serahkan

kantung kulit kambing itu ke tangan Siau-hong.

“Apakah kau takut mabuk?” tantangnya.

“Hahaha, kalau mati pun tak takut, kenapa mesti takut

mabuk?” Secercah senyuman terlintas dari balik mata Po

Eng yang tajam, tiba-tiba saja ia mulai bersenandung:

“… lelaki harus ternama, Arak harus memabukkan.

Berbincang setelah mabuk, Isi hati pun semua terpampang.”

Ooo)d*w(ooO

BAB 8. JAGO BERILMU TINGGI

Itulah potongan bait syair Mira Lesepa seorang penyair

Tibet, walaupun amat sederhana, singkat, dan terdiri dari

beberapa huruf saja, namun terkandung perasaan campukaduk

yang sukar diurai dengan perkataan, macam golakan

darah panas dalam tubuh seorang lelaki.

Po Eng tidak mati, Siau-hong pun belum pergi.

Rombongan besar itu kembali melanjutkan perjalanan,

akhirnya tibalah mereka di gunung Toa-kit-leng, lebih

kurang dua ratus lima puluh li dari tanah suci Lhasa.

Langit sangat cerah, hanya setitik awan tipis yang

melayang di udara nan biru, di kejauhan sana terlihat

puncak bukit yang berlapiskan salju, perasaan Siau-hong

pun nampaknya jauh lebih cerah dan riang.

Akan tetapi dia sama sekali tak dapat melupakan Pova.

Agaknya Po Eng mengetahui akan hal ini.

“Masih ada satu hal lagi yang perlu kuberitahukan

kepadamu,” suatu hari ia berkata kepada Siau-hong,

“Terserah mau percaya atau tidak, aku tetap harus

mengatakannya kepadamu.”

“Masalah apa?”

“Pova berarti salju, salju yang telah membeku dan

mengeras bagai batu, warna salju adalah putih keperakperakan….”

Setelah berhenti sejenak, Po Eng baru kembali

melanjutkan, “Pova sebenarnya tak lain adalah Sui-gin, si

Air raksa yang sebenarnya!”

Siau-hong sama sekali tidak menunjukkan reaksi.

Ia sedang menerawang lapisan salju di puncak bukit di

kejauhan sana, pemuda itu seolah tidak mendengar apa

yang sedang dibicarakan Po Eng.

Kembali Po Eng berkata, “Sebelum tumpukan emas

murni yang hilang ditemukan kembali, tak nanti Wi Thianbong

akan melepaskan diriku. Putra yang telah mati

selamanya tak pernah bisa hidup kembali, Lu-sam pun pasti

tak akan melepaskan dirimu.”

Setelah berhenti sejenak, perlahan lanjutnya, “Kini,

kelompok panah kita sudah kehilangan setengah

anggotanya, mereka tak nanti akan membiarkan kita tiba di

kota Lhasa dengan selamat.”

Selama dua malam belakangan, setiap kali rombongan

mereka sedang berhenti untuk beristirahat, lamat-lamat

Siau-hong seakan mendengar ada suara derap kaki kuda

yang ramai di kejauhan sana.

Apakah Wi Thian-bong sedang mengumpulkan anak

buahnya, bersiap untuk melakukan pertempuran terakhir

melawan mereka?

“Di depan sana terdapat sebuah celah sempit, orang

Tibet menyebutnya sebagai sumbatan leher,” kata Po Eng,

“Bila perhitunganku tak meleset, saat ini mereka pasti

sedang menanti kedatangan rombongan kita di sana!”

‘Sumbatan leher’. Cukup mendengar namanya, Siauhong

sudah dapat membayangkan betapa berbahaya dan

ngerinya celah sempit itu.

Dengan empat penjuru tertutup dinding curam yang

menjulang ke angkasa, andaikata ada musuh bersembunyi

dan melakukan sergapan di sana, dapat dipastikan tak akan

banyak anggota rombongan mereka yang bisa lolos dalam

keadaan selamat. Apalagi musuh yang bersembunyi di sana

adalah jago-jago inti kelompok pimpinan Wi Thian-bong.

“Kau siap menerjang ke sana?” tanya Siau-hong dengan

perasaan kuatir.

Po Eng tertawa dingin.

“Mereka memang berharap aku menerjang melalui celah

itu, kenapa aku harus memenuhi harapan mereka?”

“Selain celah sempit itu, apakah masih ada jalan lain

yang bisa dilewati?” kembali Siau-hong bertanya.

“Tidak ada, hanya saja kita bukan harus melewati tempat

itu.”

“Lalu bagaimana caramu melewatinya?”

“Menunggu, mereka bisa menunggu kedatangan kita,

kita pun dapat menunggu kedatangan mereka, menunggu

sampai mereka datang sendiri.”

“Mereka pasti akan datang sendiri?”

“Pasti, bahkan dalam waktu singkat akan datang, karena

kita bisa menunggu, sementara mereka tidak.”

“Mengapa?”

“Anak buah yang mereka kumpulkan pasti sedang berada

dalam keadaan kenyang dan semangat tempur paling

puncak. Mereka telah memperhitungkan pertarungan ini

pasti dapat mereka menangkan, begitu berhasil dengan

pertarungan ini, mereka akan mulai pesta-pora

merayakannya, oleh sebab itu mereka pasti tidak membekal

rangsum dan air dalam jumlah banyak, sebab dalam

anggapan mereka, selesai pertarungan ini, rangsum dan air

yang kita bawa akan menjadi milik mereka.”

Setelah mendengus, kembali Po Eng melanjutkan dengan

nada dingin, “Oleh sebab itu mereka tak bisa menunggu,

bila kita tidak lewat, merekalah yang pasti datang mencari

kita.”

“Kemudian?”

“Aku telah menurunkan perintah untuk mendirikan

perkemahan di tempat tiga puluh li dari celah sempit itu,”

sahut Po Eng, “Sewaktu mereka tidak melihat kedatangan

kita, semangat tempurnya pasti akan melemah, apalagi

harus menempuh perjalanan sejauh tiga puluh li untuk

mencari kita, sudah pasti kekuatannya akan makin lemah.

Nah, di sanalah kita sambut kehadiran orang-orang itu,

menunggu mereka datang mengantar kematian….”

Bukan saja ia bisa melihat secara tepat, bahkan

memperhitungkan segala sesuatunya dengan tepat, bukan

hanya bisa mencabut pedang melukai musuh dalam jarak

lima langkah, bahkan dapat membuat strategi perang yang

jauh lebih unggul daripada menempuh jarak ribuan li.

Mau tak mau Siau-hong harus mengakui bahwa dia

memang seorang tokoh silat berbakat aneh yang jarang

dijumpai dalam dunia persilatan.

Namun ada satu hal yang membuat Siau-hong tetap

kuatir. “Sekalipun mereka datang kemari, belum tentu

kedatangan mereka hanya untuk mengantar nyawa.”

“O, ya?”

“Kalau memang Wi Thian-bong sudah bertekad akan

menangkan pertarungan ini, sudah pasti dia akan

mengerahkan segenap kekuatan inti yang dimilikinya,

ditambah Tokko Ci dan Siu-hun-jiu, ada berapa orang di

pihak kita yang sanggup mengungguli beberapa orang itu?”

Kembali terlihat darah segar meleleh membasahi baju

putih yang dikenakan Po Eng, selewat pertarungan nanti,

entah ada berapa banyak darah segar lagi yang akan

menodai baju putihnya.

Namun sikap dan penampilannya tetap tenang, tiba-tiba

ujarnya, “Aku tahu, terlepas seberapa besar kesempatan kita

dalam pertarungan ini, kau tak bakal pergi meninggalkan

aku. Kalau tidak, kau pun tak perlu menguatirkan

keselamatanku.”

Lagi-lagi Siau-hong merasakan hawa panas menggelora

dalam dadanya.

Pengertian dari seorang sahabat selalu membuatnya lebih

terharu dibanding persoalan apa pun.

Po Eng menatapnya, sinar mata yang dingin, sadis dan

tajam tiba-tiba berubah lebih lembut dan halus, katanya,

“Aku telah terluka, anak buah yang kita miliki pun tidak

banyak, tapi kita bukannya sama sekali tak punya

kesempatan, karena kita memiliki sebuah benda yang tak

mungkin dimiliki Wi Thian-bong sekalian.”

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya, “Kita

memiliki sahabat yang siap sehidup semati, sahabat yang

tak akan melarikan diri di saat bahaya maut datang

mengancam.”

“Apa pun yang bakal terjadi, kali ini kau harus sisakan

Tokko Ci untuk diriku!” teriak Siau-hong tiba-tiba.

Kembali Po Eng menatapnya cukup lama, sekali lagi

secercah senyuman melintas dari balik sorot matanya.

“Kali ini mungkin Tokko Ci tak bakal datang.”

“Kenapa?”

“Kau pasti suka juga mendengar perkataan yang paling

senang diucapkan Pancapanah.”

Tentu saja Siau-hong tahu apakah perkataan itu.

Bila ingin orang lain mengucurkan darah, diri sendiri

pun harus mengucurkan darah.

“Kuakui Tokko Ci adalah jago pedang yang tiada duanya

di kolong langit,” ujar Po Eng, “Tapi bila dia ingin aku

mengucurkan darah, dirinya pun harus membayar mahal

untuk itu.”

“Jadi dia pun terluka?” Siau-hong segera bertanya.

Po Eng tidak menjawab pertanyaan itu, hanya ujarnya

hambar, “Peduli bagaimana pun, bila ia berani datang lagi,

aku pasti akan menahan dia di sini.”

Sebelum senja menjelang tiba, rombongan itu sudah

menghentikan perjalanan.

Menurut laporan Garda, jarak tempat ini dengan

“sumbatan leher” hanya selisih dua puluh sembilan li.

Rombongan onta telah berkerumun jadi satu, tendatenda

pun telah didirikan, setiap orang sibuk melaksanakan

tugas harian yang harus mereka selesaikan, keadaan tak

jauh berbeda dengan situasi di hari-hari biasa, seakan

mereka sama sekali tak tahu akan kehadiran musuh

tangguh.

Kembali seharian penuh Siau-hong tak berjumpa dengan

Pancapanah, dalam dua hari belakangan, dia pun tidak

mendapat tugas melakukan perondaan, selama ini dia

hanya menemani Po Eng, berada dalam tenda dengan

puncak tergantung bulu elang berwarna hitam pekat.

Orang yang bertugas mengurus rangsum dan air, Gan

Tin-kong dan Song-lohucu telah datang, Po Eng yang

mengundang kedatangan mereka, mengundang mereka

berdua untuk minum arak bersama.

Tampaknya kegembiraan Po Eng pada hari ini sangat

baik.

Arak yang mereka teguk bukan arak Ku-shia-sau,

melainkan arak biji-bijian yang keras dan menusuk lidah.

Walaupun arak semacam ini tidak gampang

memabukkan, namun sekali mabuk, jangan harap bisa

mendusin dengan mudah.

Selewat magrib, dari luar tenda mulai berkumandang

suara nyanyian, bagi orang Tibet, nyanyian dan arak

memang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Cahaya api mulai menerangi segala penjuru, setiap orang

sedang menyanyi, sedang menenggak arak, seakan sengaja

membiarkan orang lain menyangka mereka sama sekali tak

waspada, sama sekali tak siap.

Namun sekalipun dilakukan persiapan, sekalipun setiap

orang waspada, lalu apa gunanya? Jumlah petarung dalam

kelompok ini hanya tersisa tak lebih belasan orang saja.

Menurut suara ringkikan kuda yang terdengar oleh Siauhong,

kawanan jago yang berhasil dihimpun Po Eng paling

tidak berjumlah sepuluh kali lipat dari jumlah mereka.

Pancapanah telah kembali.

Dia membuktikan kebenaran jalan pikiran Siau-hong, ia

telah mengunjungi “sumbaran leher”.

“Rombongan pasukan yang saat ini telah berkumpul di

sana lebih kurang berjumlah tujuh puluh ekor kuda,”

jelasnya.

Tujuh puluh ekor kuda berarti tujuh puluh orang jago

dengan tujuh puluh jenis senjata tajam, dapat dipastikan

setiap senjata yang mereka bawa adalah senjata tajam yang

sangat mematikan.

Kembali Pancapanah berkata, “Mereka hampir

semuanya merupakan jago-jago tangguh yang pandai

menunggang kuda, di antaranya ada sebagian yang

menggunakan senjata tombak panjang, ada sebagian

membawa busur dan anak panah, ada pula tujuh-delapan

orang di antaranya menggunakan senjata yang tak biasa

digunakan orang.”

Orang yang bisa menggunakan senjata istimewa tentu

memiliki ilmu silat yang sangat tangguh.

Terdengar Pancapanah kembali berkata, “Sesungguhnya

orang yang benar-benar menakutkan bukanlah mereka.”

“Lalu siapakah yang benar-benar menakutkan?” tanya

Siau-hong cepat.

“Kecuali tujuh puluh ekor penunggang kuda, ada pula

tiga buah tandu yang telah tiba di sini.”

Berada di tengah gurun pasir ternyata ada orang naik

tandu, bahkan di saat bersiap menyergap musuh tangguh

pun masih ada orang yang berada dalam tandu.

“Adakah seseorang di dalam tandu itu?” tanya Siau-hong

semakin terkesiap.

“Tentu saja ada,” Pancapanah mengangguk, “Dalam

setiap tandu terdapat seorang.”

“Manusia macam apakah mereka?”

“Tentu saja hanya orang-orang luar biasa yang bisa

dijemput Wi Thian-bong dengan menggunakan tandu,”

setelah agak sangsi sejenak, kembali Pancapanah

melanjutkan, “Aku hanya kenal salah seorang di

antaranya.”

“Siapakah orang itu?”

“Perempuan yang kau anggap tak mungkin membunuh

orang.”

Seketika itu juga Siau-hong terbungkam dalam seribu

bahasa.

Benarkah Pova adalah seorang pembunuh berilmu tinggi

yang sengaja menyembunyikan kemampuannya? Benarkah

dia mampu membunuh orang dalam sekejap mata?

Dia tak dapat melihatnya, betul-betul tak dapat

melihatnya.

Dia pun tak percaya, bukannya tak dapat percaya,

melainkan tak ingin percaya.

Kembali Pancapanah berkata, “Selain dia, orang kedua

adalah seorang cacat yang memiliki sebuah lengan dan

sebuah kaki, kaki kirinya dipasang kaki kayu sedang di

tangan kanannya menenteng sebuah buntalan kuning,

tampaknya buntalan itu cukup berat.”

“Berapa usianya?” Siau-hong segera bertanya.

“Aku tak dapat menilai usianya,” sahut Pancapanah,

“Tapi setiap lembar rambutnya telah memutih, putih

berkilat bagaikan serat perak, namun wajahnya justru masih

putih bersemu merah, pada hakikatnya dia adalah seorang

nona cilik.”

“Nona cilik?” kembali Siau-hong bertanya, “Kau

maksudkan orang ini adalah seorang wanita?”

“Betul, dia adalah seorang wanita.”

Paras Siau-hong kelihatan sedikit berubah.

“Lalu siapa pula orang yang ketiga?”

“Tampaknya orang itu adalah seorang buta, sewaktu

turun dari tandu harus dituntun orang, tapi justru dialah

satu-satunya orang yang mengetahui kalau aku

bersembunyi di seputar sana.”

Sesudah tertawa getir kembali Pancapanah melanjutkan,

“Hampir saja aku tak bisa pulang kemari.”

Siau-hong merasakan hatinya mulai tenggelam.

Dia telah menduga siapa gerangan kedua orang itu, di

antara kawanan jago paling tangguh yang terdapat di

kolong langit saat ini, nama besar kedua orang itu boleh

dibilang menempati deretan sepuluh besar.

Seharusnya Po Eng pun mengetahui identitas kedua

orang itu, namun dia sama sekali tidak memberikan reaksi,

hanya ujarnya hambar, “Kau sudah lelah, mari, minumlah

arak ini.”

Arak yang tidak gampang memabukkan, sekali mabuk

akan susah mendusin kembali. Orang yang paling menawan

hati, terkadang justru merupakan orang yang paling

menakutkan.

Memang banyak peristiwa dan kejadian seperti ini terjadi

di dunia.

Langit sudah semakin gelap, manusia pun sudah

mendekati mabuk, cahaya api dalam tenda terasa makin

terang benderang, suara nyanyian pun bergema makin

nyaring dan lantang.

Sorot mata Po Eng tampak jauh lebih terang dan tajam.

Mengapa dia bisa bersikap begitu tenang? Apakah dia

sudah mempunyai cara untuk menghadapi serbuan orangorang

itu?

Siau-hong tak habis mengerti, dia benar-benar tak tahu

apa yang akan dia lakukan.

Si manusia buta itu tak disangkal pastilah Siu-hun-jiu.

“Tangan beracun pencabut nyawa, tiada tempat aman

untuk nyawa”. Bila dia pergi mencari seseorang, kalau

orang itu tidak segera melarikan diri, secepatnya persiapkan

urusan akhir bagi diri sendiri.

Hingga kini hanya beberapa orang saja yang berhasil

melarikan diri dari cengkeraman mautnya.

Perempuan berambut putih berwajah merah berlengan

tunggal berkaki tunggal itu jauh lebih menakutkan lagi,

sebab dia hanya terhitung separoh manusia.

Separohnya yang lain bukan dewa, juga bukan setan,

terlebih bukan manusia.

Sebab separoh yang lain sudah termasuk “iblis”.

Perempuan ini seakan telah terbelah jadi dua oleh

semacam ilmu iblis yang sangat menakutkan, separohnya

adalah Giok-li, perempuan suci, sementara yang

separohnya lagi adalah Thian-mo, iblis langit.

Giok-li-thian-mo, perempuan suci iblis langit Liu Hunhun!

Tak seorang pun yang tahu seberapa tinggi ilmu silat

yang dimilikinya, tak ada pula yang tahu berapa usianya.

Tapi setiap orang tahu dengan pasti, setiap saat dia dapat

membelah tubuhmu menjadi dua bagian.

Gan Tin-kong selamanya tak pernah meneguk arak biar

setetes pun, sementara Song-lohucu sudah meneguk tak

sedikit arak keras.

Yang tidak meneguk arak selalu bersikap serius

sementara yang meneguk arak pun merupakan seorang

Kuncu, dalam keadaan apa pun, mereka berdua merupakan

orang-orang yang pantas dihormati.

Tapi setelah tiba saat mencabut golok bersiap adu

nyawa, mungkin nilai kedua orang ini sudah tak bisa

menandingi nilai Garda.

Sebagaimana diketahui Garda adalah seorang petarung,

seorang patriot, namun ketika harus berhadapan dengan

jago-jago tangguh macam Siu-hun-jiu serta Liu Hun-hun,

satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah mati.

Sekalipun “kematian” merupakan akhir dari semuanya,

namun tak akan menyelesaikan persoalan mana pun.

Sekalipun benar-benar dapat menyelesaikan masalah,

bukan berarti ada orang bersedia menggunakan cara begini

menyelesaikan persoalannya.

Po Eng telah terluka parah, Pancapanah pun bukan

dewa, dengan cara apa mereka akan menghadapi serbuan

musuh yang begitu tangguh?

Sudah banyak yang dipikirkan Siau-hong, namun ada

satu hal yang tak pernah terpikir olehnya.

Mungkinkah Pova akan ikut datang? Seandainya datang,

sikap seperti apakah yang akan dia perlihatkan menghadapi

dirinya?

Sikap seperti apa pula yang harus dia lakukan

menghadapinya?

Kekasih yang cintanya sehidup semati tiba-tiba berubah

jadi musuh bebuyutan yang harus bertarung mati-matian,

dengan cara apa dia harus menghadapi situasi semacam ini

dan menyelesaikannya? Siapa pula yang bisa memahami

penderitaan serta tekanan batin yang harus dirasakan?

Selama ini Po Eng mengawasi dirinya terus, dia seolah

dapat melihat penderitaan batin yang dirasakan saat ini,

tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia mengangkat cawan

araknya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda

yang ramai bergema dari kejauhan.

Tujuh puluh ekor kuda berlari bersama, suara derap kaki

yang keras bagai suara guntur yang menggelegar di

angkasa, dalam waktu sekejap hawa pembunuhan

menyelimuti seluruh jagat.

Namun suara nyanyian yang berkumandang di luar

masih bergema tiada hentinya, Po Eng masih tetap duduk

tenang tanpa bergerak.

Dalam cawannya masih penuh dengan arak, cawan

dengan arak wangi yang tak menetes setitik pun, dia hanya

berkata kepada Siau-hong dengan nada hambar, “Aku tahu,

kau paling takut menunggu, ternyata mereka tidak

membiarkan kita menunggu terlalu lama.”

Kemudian sesudah mengangkat cawan, terusnya, “Untuk

hal itu, kita seharusnya meneguk habis isi cawan arak ini!”

Suara derap kaki kuda bergerak semakin dekat,

tampaknya kelompok penyerang itu hanya berlari

mengelilingi tenda itu tanpa ada maksud menyerbu masuk.

Orang-orang yang berada di sekitar api unggun masih

menyanyi dengan lantang, mereka seakan tidak tahu akan

kehadiran kawanan musuh tangguh itu, seolah tidak sadar

kalau mati hidup mereka hanya dibatasi soal tarikan napas.

Apakah hal ini dikarenakan mereka menaruh keyakinan

dan kepercayaan penuh terhadap Po Eng, percaya dia tak

akan membawa mereka menuju jalan kematian, karena itu

mereka tetap tenang?

Atau justru karena ketenangan luar biasa yang

ditampilkan orang-orang itu, maka musuh tangguh tak

berani menyerang secara gegabah?

Mendadak terdengar suara suitan nyaring yang tajam

bergema menembus angkasa.

Kuda-kuda jempolan yang sedang berlarian mengelilingi

tenda seketika berhenti secara tiba-tiba, begitu suara derap

kaki kuda berhenti, suasana pun dicekam dalam keheningan

yang luar biasa.

Hawa pembunuhan terasa semakin pekat menyelimuti

angkasa.

Tampaknya tujuh puluh ekor kuda jempolan dengan

tujuh puluh orang petarung tangguh telah memasang panah

di atas gendawa dan melolos golok siap melakukan

penyerangan.

Po Eng masih tetap tak bergerak.

Selama pihak lawan tidak bergerak, dia pun tak akan

bergerak, dia jauh lebih pandai menunggu, lebih sabar

menunggu daripada orang-orang itu.

Siau-hong ingin sekali berjalan keluar melihat keadaan di

luar, tapi lagi-lagi Po Eng telah mengangkat cawan araknya.

“Kujamin mereka tak bakal berani menyerbu kemari,

sebelum keadaan diketahui secara jelas, mereka tak bakal

berani bertindak secara sembarangan.”

Kembali dia meneguk isi cawannya hingga habis, lalu

terusnya, “Paling tidak kita masih punya cukup waktu

untuk meneguk tiga sampai lima cawan arak lagi.”

Baru saja dia menghabiskan secawan arak, kembali

terdengar suara suitan yang amat nyaring bergema

membelah angkasa, lalu terlihat Garda secara tiba-tiba

menerjang masuk ke dalam tenda seraya berteriak, “Sudah

datang!”

Kembali Po Eng memenuhi cawannya dengan arak,

kemudian tanyanya dingin, “Siapa yang telah datang?”

“Wi Thian-bong telah datang,” suara Garda terdengar

makin tegang dan sedikit panik, “Selain itu terdapat enam

orang menggotong tiga buah tandu ikut datang bersamanya,

mereka telah memasuki daerah tenda sebelah barat.”

“Berapa orang yang telah datang?”

“Pasukan berkuda lainnya telah mengepung kita rapatrapat,

sedang yang masuk ke dalam wilayah tenda hanya

beberapa orang itu,” sahut Garda, “Mereka bilang hendak

bertemu denganmu.”

Po Eng meneguk dulu araknya, kemudian baru berseru,

“Kalau memang kita kedatangan tamu agung, mengapa

tidak mempersilakan mereka masuk?”

Mendadak dari luar tenda terdengar seseorang tertawa

dingin.

“Kalau sudah tahu ada tamu agung datang berkunjung,

mengapa tuan rumah belum keluar menyambut?”

Suara orang ini melengking tapi lembut, seperti ada

sebuah jarum tajam yang menusuk telinga.

“Po-toalopan, kau tidak merasa lagakmu berlebihan?”

kata orang itu lagi.

Po Eng mendengus dingin.

“Hm, sejak awal lagakku memang besar,” sahutnya. Dia

mengulap tangan memberi tanda, Garda segera

menggulung pintu masuk tenda besar itu.

Tampak cahaya lentera menerangi seluruh tempat,

suasana di luar tenda terasa terang benderang bagaikan

siang hari, di kejauhan sana tampak cahaya pantulan golok

dan pedang, sementara suara nyanyian telah berhenti, yang

terdengar kini hanya suara ringkik kuda dan onta.

Angin malam berhembus kencang, udara terasa makin

dingin membeku, begitu dingin seakan ada golok yang

menghujam ke dalam tulang.

Seekor kuda tinggi besar ditambah tiga buah tandu kecil

berwarna hijau telah berhenti di luar tenda. Wi Thian-bong

duduk di atas kudanya dengan golok tersoreng di pinggang,

anak panah dalam kantung.

Biarpun golok masih berada dalam sarung, biar anak

panah masih belum terpasang, namun hawa pembunuhan

telah mencekam seluruh jagat.

Ternyata orang yang barusan berbicara bukan dia.

Suara itu muncul dari dalam tandu nomor satu dan kini

orang itu sudah turun dari tandunya.

Dia adalah seorang wanita berlengan tunggal berkaki

tunggal, rambutnya telah memutih bagai warna perak, tapi

wajahnya masih merah segar bagaikan seorang gadis.

Pada kaki kirinya terpasang kaki kayu yang jelek dan

kasar, sementara kaki kanannya mengenakan kain celana

warna hijau bunga dan memperlihatkan betisnya yang

putih, halus dan kenyal. Tujuh-delapan buah gelang

berwarna keemas-emasan menghiasi betisnya itu.

Lengan kirinya telah tertabas kutung, tapi tangan

kanannya tampak indah dan mulus, dalam genggamannya

terlihat menenteng sebuah buntalan kuning yang

tampaknya berat sekali.

Ketika kaki kayunya menginjak tanah, penampilan

perempuan itu nampak jelek dan bebal, tapi setelah kaki

kanannya menginjak tanah, seketika penampilannya

berubah indah dan cantik bagaikan bidadari.

Perempuan ini boleh dibilang tampil dengan dua macam

penampilan yang saling bertolak belakang, meski begitu,

justru dia dapat tampil begitu indah dan pas, membuat

siapa pun yang melihatnya bergidik dan ngeri.

Sejak awal Siau-hong memang sudah pernah mendengar

kabar berita manusia macam apakah Thian-mo-giok-li,

perempuan suci iblis langit Liu Hun-hun.

Namun setelah menyaksikan dengan mata kepala

sendiri, dia baru tahu apa yang dilukiskan orang selama ini

sesungguhnya belum dapat menggambarkan seluruh

kesesatan dan kemisteriusan perempuan itu.

Orang yang berada dalam tandu kedua telah muncul

pula, dia adalah seorang bertubuh kurus dan hitam, tinggi

bagai bambu dan mengenakan baju berwarna hitam pekat.

Sepasang matanya gelap tak bersinar, sepasang tangannya

selalu disembunyikan di balik pakaian, seakan dia tak ingin

memperlihatkan tangannya kepada orang lain.

Siau-hong tahu dia tak lain adalah si Tangan sakti

pencabut nyawa yang nama besarnya telah menggetarkan

sungai telaga.

Namun ia tidak terlalu memperhatikan orang ini, karena

seluruh konsentrasi Siau-hong telah dialihkan ke arah tandu

nomor tiga.

Apakah Pova segera akan tampil dari balik tandu itu?

Jantungnya berdebar keras, berdetak sangat keras, ia

merasakan rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit yang

merasuk hingga ke tulang sumsum.

Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan diri, tidak

membiarkan rasa sakit itu tampil di atas wajahnya.

Siapa tahu tak seorang pun yang menampilkan diri dari

balik tandu ketiga itu.

Dalam pada itu Wi Thian-bong telah melompat turun

dari kudanya dan berjalan masuk ke dalam tenda mengikut

di belakang Siu-hun-jiu serta Liu Hun-hun.

Bulu elang berwarna hitam di puncak tenda masih

bergoyang terhembus angin, seakan-akan sedang

memproklamirkan kepada setiap orang akan arti ketidak

beruntungan yang bakal terjadi, penyakit, malapetaka,

kematian!

Tapi semua itu sama sekali tak digubris Siau-hong, mau

penyakit, mau malapetaka, bahkan kematian sekalipun, dia

tak peduli.

Sekarang hanya satu hal yang dia peduli.

Sebetulnya adakah orang di dalam tandu ketiga? Kalau

ada, mengapa tidak keluar? Kalau tak ada orang, mengapa

mereka harus menggotong datang sebuah tandu kosong?

Po Eng masih duduk tak bergerak, tiada perubahan

mimik muka pada wajahnya yang pucat-pasi.

“Po-toalopan, ternyata lagakmu memang luar biasa,”

jengek Wi Thian-bong sambil tertawa dingin.

“Kau keliru,” tukas Liu Hun-hun ikut tertawa, “Sekarang

aku sudah tahu lagaknya memang tidak besar.”

Tiba-tiba suaranya berubah, berubah lembut, merdu

bagai rayuan seorang gadis remaja.

“Dia tidak bangkit menyambut kedatangan kita karena

dia sudah terluka, mana boleh kita menyalahkan dirinya?”

ia menambahkan.

Ternyata Po Eng tidak menyangkal.

“Betul, bukan saja sudah terluka, bahkan lukaku sangat

parah,” sahutnya.

“Padahal kau tak perlu kelewat sedih,” suara Liu Hunhun

semakin halus dan lembut, “Selain kau, rasanya belum

pernah ada orang kedua yang berhasil menyelamatkan

jiwanya dari ujung pedang Tokko Ci.”

“Aku sama sekali tak sedih,” sahut Po Eng, “Karena aku

tahu keadaan Tokko Ci saat ini pun tidak lebih baik

daripada keadaanku.”

Ternyata Liu Hun-hun sangat setuju dengan

pendapatnya itu.

“Oleh karena itu kau tak bisa dianggap kalah dalam

pertarungan kali itu, karenanya Po-toalopan masih tetap

merupakan jagoan yang selamanya tak pernah

terkalahkan!”

Setelah berhenti sejenak, terusnya lagi dengan lembut,

“Paling tidak hingga sekarang masih belum pernah

terkalahkan, kalah satu kali pun belum pernah.”

“Bagaimana setelah ini?” sela Siu-hun-jiu dingin.

“Setelah ini pun dia tak pernah bakal kalah,” sahut Liu

Hun-hun sambil tertawa terkekeh, “Sebab kali ini dia tidak

bersedia menyanggupi permintaan kita, pada hakikatnya tak

bakal ada lain kali lagi.”

“Siapa yang kalian kehendaki?” tanya Po Eng kemudian.

“Uang emas sebesar tiga puluh laksa tahil ditambah

seseorang.”

“Kalian telah mengirim orang untuk melakukan

penggeledahan, seharusnya sudah tahu bukan, di sini tak

ada emas murni.”

“Kalau bukan di sini, lantas di mana?” kembali Wi

Thian-bong tertawa dingin, “kecuali kau, mungkin tidak ada

orang kedua yang mengetahuinya.”

“O, ya?”

“Kami telah mengutus orang melakukan penggeledahan

di sekitar wilayah ini,” ujar Wi Thian-bong lagi, “Kecuali

kalian, tiada ada orang lain lagi yang mampu merampok

tumpukan emas murni itu dari tangan Thiat Gi, oleh sebab

itu sekalipun emas lantakan tidak berada dalam barang

dagangan yang kalian angkut, dapat dipastikan barangbarang

itu telah kalian sembunyikan.”

“Ai, buat apa kau galak begitu?” sela Liu Hun-hun sambil

menghela napas panjang, “Kalau bertanya secara kasar, dia

pasti tak akan mengakuinya.”

“Jadi kau punya cara untuk membuatnya mengaku?”

“Biasanya hanya ada satu cara untuk menyelesaikan

persoalan semacam ini, biarpun cara ini agak berlebihan

namun justru merupakan cara paling kuno, yang paling

bermanfaat.”

Tiba-tiba suaranya kembali berubah… berubah jadi tinggi

melengking dan sadis, “Siapa menang dia yang kuat, siapa

kalah dia bakal mendapat bencana. Bila mereka kalah di

tangan kita, sekalipun uang emas itu bukan mereka yang

rampok, mereka tetap harus mencari akal untuk

menyerahkan tiga puluh laksa tahil emas murni itu kepada

kita.”

“Hm, agaknya cara ini memang sangat bagus,” seru Siuhun-

jiu sambil tertawa dingin, “Aku percaya tidak sulit bagi

Po-toalopan untuk menyerahkan emas sebesar tiga puluh

laksa tahil.”

“Kujamin dia pasti dapat menyerahkan,” sahut Liu Hunhun

cepat.

“Tapi kami tak ingin menimbulkan banyak korban yang

tak berguna,” sambung Wi Thian-bong, “Oleh sebab itu,

hanya kami bertiga saja yang datang.”

“Mari kita bertaruh tiga babak,” kata Siu-hun-jiu,

“Bertaruh emas murni sebanyak tiga puluh laksa tahil serta

nasib orang itu.”

Cepat Wi Thian-bong menambahkan, “Asal kau mampu

mengalahkan kami bertiga, mulai saat ini kami tak akan

mencampuri urusan ini lagi.”

“Peduli siapa yang akan kalian pilih sebagai lawan

tanding, Siau-hong tetap menjadi milikku,” Siu-hun-jiu

menambahkan pula. Akhirnya Siau-hong membalikkan

tubuh.

Selama ini sudah berapa kali dia berniat menerjang maju,

dia ingin memeriksa apakah dalam tandu terdapat

seseorang atau tidak, dia ingin membuktikan apakah Pova

berada di dalam tandu itu.

Namun berapa kali pula niat itu diurungkan.

Setelah melihatnya, apa yang dapat dilakukan? Dapat

membuktikan apa? Dapat merubah apa?

Sambil membalikkan badan menghadap Siu-hun-jiu,

ujarnya kemudian, “Akulah Siau-hong, orang yang sedang

kau cari. Apakah sekarang juga kau ingin turun tangan?”

Sebelum Siu-hun-jiu menjawab, Po Eng telah

mewakilinya, “Dia tak ingin. Pada hakikatnya dia bukan

benar-benar ingin mencari kau sebagai lawan, karena dia

sendiri pun tahu, dalam sepuluh gebrakan kau sanggup

menghabisi jiwanya di ujung pedangmu.”

“Tapi dia secara terang-terangan sudah datang

mencariku?”

“Apa yang dia lakukan tak lebih hanya sekedar taktik

tempur mereka.”

“Taktik tempur? Taktik tempur apa?” tanya Siau-hong

tak habis mengerti.

“Aku sudah terluka, sedang Pancapanah adalah orang

Tibet, mereka selalu menganggap di antara suku Tibet tak

pernah ada jago yang benar-benar tangguh,” kata Po Eng

lagi, “Maka satu-satunya orang yang harus mereka

waspadai hanya dirimu seorang, itulah sebabnya mereka

ingin Siu-hun-jiu memilih kau sebagai musuh utamanya,

sebab ilmu silat yang dia miliki paling lemah, dengan

menggunakan orang paling lemah menghadapi orang paling

tangguh sama artinya mereka menyisakan dua babak

terakhir untuk orang yang paling tangguh, kemenangan pun

sudah dipastikan akan jatuh ke pihak mereka.”

Inilah taktik perang yang paling populer zaman Cun-ciu

dulu, asal penggunaannya dilakukan tepat waktu, biasanya

akan memberikan hasil yang luar biasa.

Tiba-tiba Po Eng berkata lagi sambil tertawa dingin,

“Tapi sayang penggunaan taktik perang kali ini, mereka

telah melakukan kesalahan.”

“Di mana letak kesalahannya?” tak tahan Wi Thian-bong

bertanya.

“Kalian keliru karena pada hakikatnya sama sekali tak

bisa menduga siapa jago tangguh yang sesungguhnya.”

“Di sini masih ada jago tangguh?”

“Masih ada satu orang,” sahut Po Eng, “Asal dia mau,

setiap saat orang itu dapat merampas golok dalam

genggamanmu, mematahkan busur dan anak panahmu,

bahkan menempeleng tujuh-delapan kali di wajahmu dan

menendangmu hingga mencelat!”

Mendengar itu kontan saja Wi Thian-bong tertawa,

tertawa terbahak-bahak.

“Jadi kau tak percaya?” ejek Po Eng.

“Mana berani aku tidak mempercayai perkataan Potoalopan?”

sahut Wi Thian-bong cepat, “Hanya saja, bukan

cuma aku tak pernah menyaksikan manusia macam apa

yang dikatakan Po-toalopan, bahkan mendengar pun belum

pernah.”

“Sekarang kau telah mendengarnya, apakah ingin segera

bertemu dengannya?”

“Tentu saja, aku ingin sekali.”

“Kalau begitu tak ada salahnya kau segera mencabut

golokmu, asal kau cabut golokmu, orang itu segera akan

kau jumpai.” Wi Thian-bong tidak melolos goloknya.

Golok andalannya tergantung di pinggang, golok

pembelah setan yang nama besarnya telah menggetarkan

sungai telaga.

Namun kini tangannya telah menggenggam gagang

goloknya kencang-kencang.

Cara dan sikapnya sewaktu mencabut golok boleh

dibilang begitu ketat pertahanannya tanpa setitik kelemahan

pun, gerakan mencabut senjata pun sama tepat dan

cepatnya, jarang ada orang persilatan yang sanggup

menandinginya.

Setiap kali goloknya dicabut, darah segar pasti akan

berhamburan di mana-mana.

Walau begitu, kini dia sama sekali tidak mencabut

goloknya.

Di dalam tenda itu, selain mereka bertiga dan Siau-hong,

Po Eng, serta Pancapanah, di sana masih hadir dua orang

Losianseng.

Gan Tin-kong polos dan jujur, sama sekali tak memiliki

kelincahan dan hawa pembunuhan seorang jago persilatan.

Song-lohucu tampak sudah tua, rabun, dan berbadan

agak bongkok, dia lebih mirip seorang kakek terpelajar.

Dipandang dari sudut mana pun, kedua orang ini sama

sekali tak mirip seorang jago silat berilmu tinggi.

Lalu selain mereka berdua, apakah masih ada orang lain?

Wi Thian-bong tak menemukan orang yang dimaksud,

maka dia sama sekali tidak melolos goloknya. Selama hidup

dia belum pernah melakukan perbuatan yang sama sekali

tak meyakinkan.

Tiba-tiba Liu Hun-hun menghela napas panjang, ujarnya

dengan suara lembut, “Po-toalopan, kau seharusnya

memahami tabiat orang ini, bukan pekerjaan gampang

untuk memintanya mencabut golok. Beda sekali dengan

aku, gampang sekali bila kau ingin aku turun tangan.”

Sekulum senyuman manis kembali tersungging di

wajahnya yang merah segar bagai gadis remaja.

“Bukankah kita sama saja akan melihatnya bila aku yang

turun tangan?”

“Sama,” jawaban Po Eng tegas dan singkat.

“Kalau begitu bagus sekali,” seru Liu Hun-hun sambil

tersenyum.

Di dalam tenda terdapat dua buah meja pendek serta

tempat duduk yang berlapis kulit hewan, perlahan-lahan

Liu Hun-hun mengambil tempat duduk, dia letakkan

buntalan kain kuningnya di atas meja, lalu membukanya

memakai jari tangannya yang putih mulus.

Ia sudah bersiap turun tangan, tak disangkal isi buntalan

itu adalah senjata pamungkas andalannya, sejenis senjata

pembunuh yang tidak termasuk senjata pembunuh yang

bersifat “manusia”.

Semacam senjata pembunuh yang hampir mendekati

sifat “iblis”.

Ooo)d*w(ooO

BAB 9. TANGAN YANG LAIN

Buntalan telah dibuka, isi bungkusan itu hanya tiga belas

senjata besi yang memantulkan cahaya kehitam-hitaman.

Setiap senjata memiliki bentuk yang aneh, ada yang tampak

seperti gelang, ada pula yang berbentuk seperti tulangbelulang.

Siapa pun tak akan pernah melihat bentuk senjata

semacam ini, karena pada hakikatnya tak ada jenis senjata

macam begini dalam dunia persilatan saat ini.

“Inilah tanganku yang lain!” Liu Hun-hun menjelaskan.

Ia menunjukkan tangannya yang indah, putih dan halus

itu, lalu ujarnya lebih jauh, “Tanganku ini tak jauh berbeda

dengan tangan milik orang lain, aku memakai baju, makan

nasi, cuci muka, gosok gigi, semuanya menggunakan

tangan ini, bahkan terkadang aku pun menggunakan tangan

ini untuk meraba tubuh lelaki yang kusukai.”

“Apa gunanya tanganmu yang lain?” tanya Po Eng.

Liu Hun-hun tertawa, mendadak senyumannya berubah

jadi begitu sesat, licik, buas, dan penuh misteri.

“Kalian seharusnya dapat melihat, tangan ini sebetulnya

bukan tangan manusia.”

Setelah berhenti sejenak, sepatah demi sepatah ia

melanjutkan, “Inilah tangan iblis, tangan iblis yang ditempa

dengan menggunakan api iblis yang diambil dari neraka

tingkat kedelapan belas.”

Tiba-tiba ia menggulung ujung bajunya, dari dalam ruas

tulang lengan yang telah terpapas kutung itu ia cabut seutas

serat kawat berwarna hitam yang terbuat dari baja.

Kemudian dia mengeluarkan ketiga belas jenis benda

besi itu dan menyambungnya satu per satu di atas

lengannya yang terpapas kutung sehingga terwujud sebuah

lengan besi yang aneh dan menyeramkan bentuknya.

Dan paling akhir, dia memasang sebuah cakar yang

terbuat dari baja murni.

Kemudian dia pun menggandengkan cakar tadi ke atas

serat baja yang dicabut tadi dan menghubungkannya

dengan tombol rahasia untuk menggerakkan cakar tadi.

Begitu tali pengontrol terpasang, maka lengan baja

berwarna hitam pekat yang semula tak berdarah, tak

berdaging dan tak bernyawa itu pun merndadak berubah

jadi punya nyawa.

Dalam waktu singkat cakar itu mulai bergerak, mulai

menekuk dan mengarah setiap sudut tempat yang dituju.

Semuanya dilakukan dengan lincah, cepat dan cekatan.

Ternyata hubungan terakhir membuat gerakan lengan

besi itu jadi sempurna dan leluasa, kemudian cakar itu

berputar sambil menekuk dan tahu-tahu sudah

mencengkeram lengan besi itu.

Gerakan semacam ini tak mungkin bisa dilakukan oleh

siapa pun, namun dia dapat melakukannya.

Karena tangannya itu pada hakikatnya bukan tangan

manusia.

Tiba-tiba ia berpaling ke arah Siau-hong dan berkata,

“Dapatkah kau ulurkan tanganmu biar kulihat?”

Siau-hong segera menjulurkan tangannya.

Dia memiliki telapak tangan yang besar dan lebar, kuat,

kering, jari tangannya panjang tapi penuh tenaga.

Sambil tersenyum kembali Liu Hun-hun berkata, “Kau

memiliki sepasang tangan yang indah bahkan sangat

berguna, ketika kau gunakan sepasang tanganmu untuk

memegang pedang, siapa pun akan sulit untuk menjatuhkan

pedang itu dari genggamanmu.”

“Pedang yang berada dalam genggamanku memang tak

bisa dirontokkan siapa pun,” sahut Siau-hong hambar.

“Bagaimana jika tanganmu tak memegang pedang?”

tanya Liu Hun-hun, “Dapatkah kau mendapat sebilah

pedang dari udara kosong?”

Siau-hong tak bisa, siapa pun tak bisa melakukannya.

“Aku bisa,” kata Liu Hun-hun.

Lengan besinya sedikit ditekuk, lalu cakarnya menyentil

keluar, katanya kemudian, “Inilah sebilah pedang, aku telah

menggunakan pedang ini untuk menembusi tenggorokan

dua puluh tujuh orang.”

“Dua puluh tujuh orang tak bisa dibilang kelewat

banyak,” dengus Siau-hong dingin.

Kembali Liu Hun-hun tertawa terkekeh.

“Tentu saja orang yang kubunuh bukan hanya dua puluh

tujuh orang saja, sebab di dalam tanganku ini tersimpan

juga bubuk pemabuk, cairan beracun, serta tiga belas jenis

senjata rahasia lainnya, semua senjata itu dapat dilancarkan

setiap saat dan merenggut nyawa siapa pun! Tentu saja tak

seorang pun yang tahu kapan senjata pamungkas itu akan

dilancarkan, apalagi menyerang dari arah mana.”

Siau-hong tak berbicara lagi, mulutnya seketika

terbungkam dalam seribu bahasa.

Siapa pun itu orangnya, mau tak mau mereka harus

mengakui bahwa tangannya ini benar-benar merupakan

sejenis senjata pamungkas yang sangat menakutkan.

Sekali lagi Liu Hun-hun menekuk lengan besinya dan

cakar baja itu pun untuk kesekian kalinya menyentil ke

depan, “Sreeet!”, diiringi desingan angin tajam, papan meja

setebal tiga inci seketika tertembus hingga muncul sebuah

lubang besar, asap berwarna hijau menyebar keluar dari

sekeliling lubang itu.

“Sekarang tentunya kalian sudah melihat bukan,

pedangku ini sangat beracun, barang siapa terkena, bukan

saja seketika akan mati mengenaskan, bahkan racun ini tak

ada obat penawarnya.”

Belum selesai dia berkata, sekeliling lubang di atas meja

kayu itu mulai terbakar hingga hangus dan retak.

“Kini aku sudah siap turun tangan!” kata Liu Hun-hun

lagi.

Sinar matanya yang menakutkan bagai sengatan

kalajengking perlahan-lahan menyapu wajah Siau-hong, Po

Eng, dan Pancapanah, kemudian ia baru bertanya pelan,

“Aku harus menghadapi siapa?”

“Aku!” sahut seseorang hambar, “Sejak tadi aku sudah

menunggu kau turun tangan.”

Ternyata yang berbicara bukan ketiga orang itu,

melainkan Song-lohucu yang kelihatannya mustahil

mengucapkan perkataan itu.

“Kau?” seru Liu Hun-hun dengan tercengang, “Kau yang

akan menghadapi diriku?”

Song-lohucu menghela napas panjang.

“Hai, padahal aku sendiri pun agak takut menghadapi

tanganmu itu, terlebih menggunakan tangan semacam itu

untuk menghadapi diriku, hanya sayangnya justru di tempat

ini hanya ada aku seorang yang dapat menghadapimu.”

Liu Hun-hun mengawasi wajahnya, sampai lama

kemudian ia baru tertawa lagi.

“Hanya kau yang dapat menghadapku?” suara

tertawanya kembali berubah jadi sangat lembut, “Kau siap

menggunakan cara apa untuk menghadapiku?”

“Menggunakan tanganku yang lain,” sahut Song-lohucu,

“Kau mempunyai sebuah tangan yang lain, aku pun

punya.”

“Kau pun punya?”

Liu Hun-hun mengawasi sekejap sepasang tangan

kurusnya yang tergeletak di atas meja, kemudian ejeknya,

“Kelihatannya sepasang tanganmu sudah berada di sini.”

Song-lohucu tersenyum.

“Tanganmu yang lain adalah tangan kedua, sedang

tanganku yang lain adalah tangan ketiga,” ia tertawa makin

riang, “Sepasang tanganku ini pun tak jauh berbeda dengan

tangan milik orang lain, kugunakan untuk berpakaian,

makan nasi, cuci muka, gosok gigi, semuanya kugunakan

sepasang tangan ini. Kebetulan aku pun bisa menggunakan

sepasang tangan ini untuk meraba tubuh perempuan

lain….”

Tiba-tiba Pancapanah ikut tertawa.

“Biasanya hanya bagian tertentu dari tubuh perempuan

yang kau raba, tak perlu kujelaskan pun orang lain juga

tahu,” kata Song-lohucu, “Tapi tanganku yang lain ini beda

sekali kegunaannya.”

Mendadak senyuman di wajahnya berubah jadi amat

misterius, terusnya, “Apakah kau ingin melihat tanganku

itu?”

“Ingin setengah mati,” sahut Liu Hun-hun tertawa genit.

“Bagus, kalau begitu lihatlah.”

Sepasang tangannya memang tergeletak di atas meja,

kini ke sepuluh jari tangannya telah direntangkan.

Dia sendiri pun sedang mengawasi sepasang tangan

milik sendiri.

Tentu saja mau tak mau Liu Hun-hun harus

memandangnya, begitu juga dengan Wi Thian-bong serta

Siu-hun-jiu.

Lampu lentera masih bergoyang terhembus angin,

cahaya lampu berkedip tiada hentinya.

Tiba-tiba sepasang tangannya yang kurus kering mulai

berubah, bukan saja warnanya berubah, bentuknya ikut

berubah.

Tangan yang semula tiada cahaya darah, mendadak

berubah jadi kuat, muda, dan penuh tenaga, seakan-akan

sepasang kantung kulit kambing yang tiba-tiba dijejali

daging segar.

Paras mereka yang menyaksikan kejadian itu pun ikut

berubah.

Pada saat itulah mendadak ada sebuah tangan yang lain

menjulur keluar secepat sambaran kilat, “Krakkk!”, lengan

besi Liu Hun-hun yang perkasa dan menyeramkan itu tahutahu

sudah tertangkap.

Dari mana munculnya tangan itu?

Tangan itu sejak awal memang sudah berada di situ,

berada di tubuh Gan Tin-kong, setiap orang dapat melihat

tangan itu, namun tak seorang pun yang menyangka kalau

tangan itu adalah “tangan lain” Song-lohucu.

Kini lengan baja milik Liu Hun-hun sudah berada dalam

cengkeraman Gan Tin-kong.

“Terhitung apa caramu itu?” teriak Liu Hun-hun dengan

paras berubah.

“Terhitung kau sudah kalah,” jawab Song-lohucu sambil

tertawa menyengir, “Dari tiga babak pertarungan, kalianlah

yang kalah dalam pertarungan babak pertama.”

“Tidak bisa, kejadian ini tak bisa dihitung!”

“Kenapa tak bisa dihitung?” Song-lohucu balik bertanya,

“Tanganmu yang lain kau sembunyikan di dalam buntalan,

sementara tanganku yang lain berada di tubuh orang lain.

Tangan kita berdua sama-sama tidak berada di tubuh kita

sendiri.”

“Tapi kau menggunakan kekuatan dua orang untuk

menghadapi aku seorang….”

“Siapa bilang kami berdua turun tangan bersama? Dia

yang melancarkan serangan, sementara tanganku sama

sekali tak bergerak.”

Tiba-tiba saja paras Liu Hun-hun yang merah segar

seperti wajah gadis muda berubah jadi begitu tua, seakanakan

dia telah menjadi tua dua-tiga puluh tahun dalam

waktu singkat.

Tentu saja kejadian ini merupakan sebuah perangkap,

dan kini dia sudah tercebur ke dalamnya, apa lagi yang bisa

dia perbuat?

Paras Wi Thian-bong berubah hijau membesi, serunya

tiba-tiba, “Kagum, aku sungguh merasa kagum.”

“Kau kagum kepadaku?” gelak tertawa Song-lohucu

kedengaran semakin gembira.

“Tentu saja aku merasa amat kagum dengan kekuatan

tenaga dalam dan tenaga pukulanku,” ucap Wi Thian-bong

sambil berpaling ke arah Gan Tin-kong, “Tapi aku lebih

kagum dengan kecepatanmu turun tangan.”

Tiba-tiba ia tertawa dingin lagi, tertawa dingin sambil

menengok ke arah Po Eng.

“Aku tetap merasa paling kagum kepada dirimu!”

“O, ya?”

“Seandainya kau tidak mengatakan lebih dulu, sehingga

kami beranggapan bahwa di sini terdapat seorang jago lihai

yang setiap saat dapat merebut golokku dan menendang

tubuhku, tak nanti Liu-hujin akan termakan oleh tipu

muslihatmu ini.”

Po Eng balas tertawa dingin.

“Kau tetap tak percaya kalau di kolong langit benarbenar

terdapat jagoan semacam ini?”

“Di mana orang itu?”

“Dia berada di sini!”

“Siapa dia?”

“Sudah kukatakan, asal kau cabut golokmu, segera akan

kau ketahui siapakah orang itu,” sahut Po Eng segera, “Dan

kujamin kau pasti tak akan kecewa.”

Selama ini Wi Thian-bong selalu tenang dan bertindak

hati-hati, dia selalu pandai mengendalikan diri, tak pernah

turun tangan secara sembarangan, tak pernah melakukan

pekerjaan yang tidak dia yakini.

Tapi sekarang, mau tak mau dia harus melanggar

kebiasaan ini.

Mau tak mau dia harus mencabut goloknya!

“Criiing!”, diiringi suara dentingan nyaring, golok telah

dicabut dari sarungnya.

Cahaya golok putih bagai salju, bergetar bagai cahaya

halilintar, mata golok sepanjang tiga kaki sembilan inci

dengan membawa deru angin yang menusuk pendengaran

telah dibacokkan ke tubuh Po Eng.

Ia jarang sekali turun tangan secara sembarangan, asal

turun tangan, biasanya jarang sekali meleset dari sasaran.

Tak seorang pun dapat melukiskan kecepatan serta daya

kekuatan dari bacokannya itu, kecepatan, ketepatan serta

keganasannya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Dalam bacokan ini, dia telah menggunakan seluruh

kekuatan yang dimilikinya, sama sekali tidak meninggalkan

jalan mundur bagi diri sendiri, dia pun tak ingin

membiarkan nyawa lawan tetap tertinggal.

Bila seorang jago tangguh melancarkan serangan,

biasanya dia akan mengerahkan seluruh kekuatan yang

dimilikinya, karena mereka harus mempersiapkan jalan

mundur lebih dulu bagi diri sendiri dan memposisikan diri

pada sudut yang tak terkalahkan.

Wi Thian-bong adalah seorang jago tangguh, dalam

bacokan kali ini dia sama sekali tidak mempersiapkan jalan

mundur, karena ia beranggapan dirinya tidak

membutuhkan jalan mundur.

Po Eng bukan saja sudah terluka, bahkan

menghadapinya dengan tangan kosong, apa yang akan dia

gunakan untuk menyambut datangnya bacokan golok

musuh?

Sekalipun dia sanggup menghindarkan diri, belum tentu

memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.

Jika pihak lawan tak memiliki kemampuan untuk

melancarkan serangan balasan, mengapa pula dirinya harus

mempersiapkan jalan mundur? Setiap kekuatan yang tersisa

sudah seharusnya digunakan semuanya di dalam bacokan

maut kali ini, karenanya dia menyerang dengan tak kenal

ampun.

Dia berharap dalam sekali bacokan nyawa lawan dapat

dihabisi!

Wi Thian-bong adalah seorang jago yang sangat

berpengalaman, ia sudah beratus kali menghadapi

pertempuran, selama ini pandangannya selalu tepat,

perhitungannya pun selalu tepat.

Sayang sekali, kali ini dia telah salah perhitungan.

Po Eng telah menyambut bacokan goloknya,

mempergunakan sepasang tangan kosong untuk

menyambut datangnya bacokan itu.

Begitu sepasang tangannya ditepuk, mata golok telah

dijepitnya kuat-kuat, menyusul tubuhnya melambung ke

udara, sepasang kakinya melancarkan serangkaian

tendangan berantai, tendangan pertama menghajar tangan

Wi Thian-bong yang menggenggam golok, tendangan

kedua mengancam jalan darah penting di sepasang kakinya.

Berada dalam keadaan begini, mau tak mau Wi Thianbong

harus berkelit mundur.

Sewaktu tendangan pertama menyambar tiba, goloknya

sudah lepas dari genggaman, ketika tendangan kedua

menyusul, terpaksa dia harus berjumpalitan di udara

sebelum berhasil meloloskan diri.

Ketika tubuhnya meluncur turun ke bawah, ia sudah

berada di luar tenda. Sementara golok andalannya telah

terjatuh ke tangan Po Eng.

Sambil membelai mata golok dengan lembut, jengek Po

Eng dingin, “Sabetan golokmu kurang cepat, golok ini pun

kurang bagus.”

Sambil berkata, dengan jari tengah menyentil mata

golok, “Krak!”, mata golok itu pun gumpil sebagian.

Kemudian dengan tangan kanan menggenggam gagang

golok, dua jari tangan kirinya menggencet ujung golok itu,

sekali lagi… “Krak!”, golok panjang tadi telah dipatahkan

menjadi dua bagian.

Paras Wi Thian-bong berubah makin hebat, jauh lebih

mengenaskan daripada paras Liu Hun-hun tadi.

Dengan nada dingin kembali Po Eng berkata, “Biarpun

aku sudah terluka, tidak seharusnya kalian menilaiku

kelewat rendah, karena aku belum mati.”

“Selama belum mati, tak akan ada orang yang mampu

mengalahkan dirimu?” tanya Wi Thian-bong sambil

mengepal tinjunya kuat-kuat.

Jawaban Po Eng masih sama jelasnya seperti jawaban

sebelumnya, “Hingga sekarang memang tak pernah ada.”

Jangankan memandang wajah Wi Thian-bong, melirik

sekejap pun tidak, sepasang mata elangnya hanya

mengawasi diri Siu-hun-jiu tanpa berkedip.

“Kini tinggal kau seorang,” ujar Po Eng lebih lanjut,

“Dari tiga babak pertarungan, kalian sudah kalah dua

babak, apakah dirimu masih ingin mencoba bertarung?”

“Orang ini milikku,” sela Siau-hong tiba-tiba, suaranya

meski sangat tenang, namun perasaannya penuh gejolak.

Dua pertarungan yang barusan berlangsung sungguh

membuat pergolakan darah di dalam tubuh mendidih dan

mengalir kencang.

“Tentu saja orang itu milikmu, bahkan nyawanya juga

milikmu,” kata Po Eng, “Asal dia berani turun tangan,

dalam tiga jurus pasti akan mampus di ujung pedangmu.”

“Tadi kau mengatakan dalam sepuluh gebrakan.”

“Sekarang keadaan sudah berbeda,” ucap Po Eng dingin,

“Kini nyalinya sudah ciut, semangatnya sudah luntur,

untuk menghabisi nyawanya, kau sudah tak butuh sepuluh

gebrakan.”

Tiba-tiba Siau-hong ikut tertawa dingin, jengeknya,

“Sayang dia sudah tak berani turun tangan.”

“Tentu saja dia tak berani.”

Siu-hun-jiu hanya berdiri mematung, sama sekali tak

bergerak, dia seakan sama sekali tak mendengar

pembicaraan yang dilakukan kedua orang itu.

Sekarang bukan saja dia jadi “buta”, bahkan tuli pula

sepasang telinganya.

Liu Hun-hun yang sudah lama tak bersuara, tiba-tiba

menghela napas, katanya, “Baik bertarung ilmu maupun

beradu akal, ternyata kemampuan Po-toalopan memang

tiada duanya.”

Po Eng tidak menjawab, namun dia seakan menerima

sanjungan itu dengan senang hati.

Kembali Liu Hun-hun berkata, “Tapi sepandaipandainya

tupai melompat, akhirnya pasti akan jatuh juga.”

“O, ya?”

“Biarpun kami sudah kalah, namun belum mati!”

Liu Hun-hun bangkit, sambil memandang kilauan

cahaya senjata di kejauhan, terusnya, “Di luar area

perkemahan kalian, kami masih memiliki tujuh puluh orang

jago yang sudah terlatih sempurna dan berpengalaman

dalam menghadapi berbagai pertempuran.”

“Betul,” Wi Thian-bong segera menambahkan, “Asalkan

kuturunkan perintah, mereka segera akan menyerbu kemari.

Dalam waktu singkat bangkai pun akan bergelimpangan,

darah pun akan berceceran membasahi tempat ini.”

Po Eng tidak menanggapi ancaman itu, tiba-tiba

tanyanya, “Di luar sana, kalian masih memiliki sebuah

tandu, tentunya tandu itu tidak berada dalam keadaan

kosong, bukan?”

“Tentu saja,” sahut Liu Hun-hun, “Tentu saja kami tak

akan menggotong sebuah tandu kosong kemari.”

Sekilas senyuman licik dan keji melintas dari balik sorot

matanya.

“Kemungkinan besar orang yang berada dalam tandu itu

adalah seorang jago tangguh yang belum pernah

terkalahkan, mungkin juga tersimpan bahan peledak yang

bisa menghancur-leburkan manusia dan hewan dalam

radius lima li dari sini.”

Kemudian sambil tertawa dia berpaling ke arah Siauhong,

terusnya, “Aku tahu, selama ini kau ingin sekali

mengetahui apa isi tandu itu, tapi sayang sebelum sampai

pada akhir waktu, tak nanti kami akan memperlihatkan isi

tandu itu.”

Siau-hong terbungkam tanpa menjawab.

“Sekarang keadaan belum berakhir,” kembali Liu Hunhun

melanjutkan, “Karena kami masih punya barang yang

dipertaruhkan, masih cukup mampu menantangmu

bertaruh lebih jauh.”

Bicara sampai di situ ia berpaling ke arah Po Eng dan

meneruskan, “Hanya saja aku harus melihat dulu, apakah

Po-toalopan bersedia menggunakan nyawa anak buahnya

sebagai barang taruhan.”

Po Eng tidak menjawab, dia pun terbungkam dalam

seribu bahasa.

Jelas pertaruhan ini merupakan sebuah pertaruhan akbar,

yang menjadi barang taruhan kelewat besar, pihak yang

kalah sudah pasti akan menderita kerugian yang sangat

parah, sementara pihak pemenang pun tetap akan

mengalami kerugian besar.

Terlepas kemenangan yang mengenaskan atau kekalahan

yang mengenaskan, kedua belah pihak sudah pasti akan

sama-sama menderita.

“Aku tahu sulit bagimu untuk mengambil keputusan,”

kata Liu Hun-hun, “Kalau keadaan tidak memaksa, kami

pun tak ingin memaksamu bertaruh, asal kau bersedia

memenuhi dua permintaan kami yang kecil, seketika ini

juga kami akan pergi dari sini.”

Po Eng tetap membungkam.

“Kami ingin memeriksa barang daganganmu,” sambung

Wi Thian-bong cepat, “Memeriksanya bungkus demi

bungkus.”

Inilah permintaannya yang pertama.

“Kalau toh uang emas itu tidak berada di sini, apa

salahnya membiarkan kami memeriksanya sebentar. Aku

masih berniat membawa pergi orang ini,” Liu Hun-hun

berseru.

Kemudian sambil menuding ke arah Siau-hong,

lanjutnya, “Dia bukan sanak bukan keluargamu, buat apa

kau harus beradu nyawa dengan kami hanya dikarenakan

dia?”

Akhirnya Po Eng buka suara, katanya, “Kedengarannya

permintaan kalian memang tidak kelewatan.”

“Bukan saja tidak kelewatan, bahkan sangat masuk akal,”

sahut Liu Hun-hun sambil tertawa genit, “Aku tahu, kau

pasti akan mengabulkan permintaan kami ini.”

“Aku bersedia pergi bersama kalian,” tiba-tiba Siau-hong

ikut buka suara. Nada ucapannya tegas dan sama sekali tak

ada keraguan, “Setiap saat aku bersedia pergi dari sini.”

Perlahan-lahan Po Eng mengangguk.

“Aku memahami maksudmu,” katanya, “Selama ini kau

memang tak pernah mau menyusahkan orang lain, terlebih

tak ingin orang yang tak bersalah ikut berkorban demi

dirimu.”

“Aku memang tidak seharusnya tetap tinggal di sini.”

“Tapi kau telah melupakan satu hal.”

“Soal apa?”

“Kau tetap tinggal di sini karena akulah yang menahan

kepergianmu,” ujar Po Eng, “Setelah aku menahanmu,

tentu saja tak akan kubiarkan siapa pun pergi

membawamu.”

Perkataan itu disampaikan sangat lamban, setiap patah

kata seakan sebatang paku yang menancap di atas dinding.

Setiap perkataannya seakan sebatang paku yang

menghujam di atas batu cadas.

Paku telah dipantekkan, perkataan pun telah

disampaikan, seketika Siau-hong merasakan hawa darah

menggelora di dalam rongga dadanya.

Akhirnya Liu Hun-hun menghela napas panjang,

tegasnya, “Jadi kau serius akan mengajak kami bertaruh?”

“Benar,” suara Po Eng sangat hambar, “Sekarang kalian

boleh segera menurunkan perintah, suruh ketujuh puluh

jagoanmu yang banyak pengalaman dan berani mati itu

untuk menyerbu masuk.”

Paras Wi Thian-bong berubah kehijauan, peluh dingin

membasahi telapak tangannya.

“Kau tidak menyesal?”

Po Eng menolak untuk menjawab.

Menolak untuk menjawab sudah merupakan semacam

jawaban, jawaban yang tak akan menimbulkan kesalah

pahaman orang lain, juga tak akan menjadi jawaban yang

menimbulkan kesalah pahaman.

“Bagus,” sambil menggigit bibir Wi Thian-bong berseru,

“Kalau memang kau tak takut mengucurkan darah,

mengapa kami harus takut?”

Tiba-tiba dia berpekik panjang, suaranya tinggi

melengking dan tajam, seperti jeritan setan liar di gunung

terpencil, seperti auman serigala di tengah padang salju.

Inilah tanda rahasia yang telah mereka tentukan, tanda

rahasia untuk mulai melakukan penyerangan.

Hawa malam berhembus, meninggalkan udara dingin

yang menyayat bagai bacokan golok.

Hawa pedang di tempat kejauhan terasa menyelimuti

seluruh angkasa, di bawah cahaya api yang bergoyang,

terpancar hawa dingin yang menggidikkan.

Batok kepala berada di atas tengkuk, darah panas

menggelora di dalam dada, anak panah sudah berada di

atas gendawa, golok pun telah dilolos dari sarungnya.

Kini perintah penyerangan telah diturunkan.

Suara pekikan lengking yang menusuk pendengaran

bergema menembus langit malam nan hening.

Ternyata Po Eng masih tetap duduk tak bergerak, kecuali

detak jantung dan denyut nadi, nyaris tubuhnya sama sekali

tak bergerak.

Hutan golok di kejauhan pun sama sekali tak bergerak,

tiada kuda dan jagoan yang menyerbu masuk ke dalam

kompleks perkemahan.

Paras Wi Thian-bong mulai berubah, kelompok kekuatan

yang dibentuknya sangat ketat dan penuh disiplin, tanda

perintah pun amat jelas, peraturan juga sangat ketat.

Selama ini perintah komandonya tak pernah meleset, tak

pernah menunjukkan kegagalan.

Mendadak Song-lohucu berkata sambil tertawa, “Janganjangan

telinga kawanan jago yang kau bawa sedikit kurang

beres, mungkin mereka tidak mendengar suara

teriakanmu.”

Wi Thian-bong tidak menanggapi ejekan itu, sekali lagi

dia berpekik panjang, kali ini suara pekikannya lebih tajam,

lebih melengking dan nyaring.

Buru-buru Song-lohucu menutupi telinga sendiri dengan

tangan, serunya lagi sambil menghela napas, “Seharusnya

kali ini biar orang tuli pun pasti akan mendengar suara

pekikanmu itu.”

Namun pasukan berkuda yang berada di kejauahan

masih tetap tak bergerak.

Peluh dingin mulai bercucuran membasahi tubuh Wi

Thian-bong, menetes pula di ujung hidungnya.

Tiba-tiba Po Eng buka suara, nadanya dingin bagaikan

tusukan jarum, tajam bagaikan sayatan golok.

“Mereka sama sekali tidak tuli!”

“Kalau tidak tuli, mengapa mereka tidak mendengar?”

“Mereka mendengar dengan sangat jelas.”

“Kalau mendengar dengan jelas mengapa tidak segera

menyerbu masuk ke mari?” gumam Song-lohucu sambil

mengernyitkan alisnya, “Kenapa mereka tidak

mengayunkan golok dan tombak untuk mencincang kami

semua?”

“Karena aku belum meminta mereka untuk datang

kemari.”

“Harus kau yang memanggil baru mereka akan datang

kemari?” tanya Song-lohucu lagi.

“Betul, mereka baru akan bergerak jika aku yang

memanggil mereka,” Po Eng membenarkan.

“Aku tak percaya.”

“Kau segera akan percaya.”

Tiba-tiba Po Eng mengulap tangan memberi tanda

sambil berseru, “Kemari!”

Suara perintahnya tidak melengking, tidak tajam, juga

tidak nyaring, namun anehnya begitu perintah diberikan,

kawanan manusia berkuda yang berada di kejauhan pun

mulai bergerak.

Mereka bergerak lambat sekali.

Tujuh puluh ekor kuda dengan mengangkut seratus

empat puluh orang perlahan-lahan berjalan memasuki

wilayah perkemahan yang terang benderang bermandikan

cahaya.

Di atas setiap kuda itu duduk dua orang.

Orang yang duduk di bagian depan mengenakan pakaian

ringkas warna hitam dengan tangan memegang golok,

tombak dan panah, mereka tak lain adalah anak buah Wi

Thian-bong.

Mereka memang merupakan pasukan yang sudah lama

terlatih secara ketat, namun sekarang orang-orang itu hanya

duduk tanpa bergerak di atas pelana, duduk kaku bagaikan

sebuah patung kayu, tubuh mereka kaku, wajah pun diliputi

perasaan ngeri dan takut yang luar biasa.

Karena di belakang mereka masih terdapat orang lain.

Di belakang setiap orang terdapat seorang lain yang

sedang menempelkan sebilah pisau tajam persis di pinggang

masing-masing.

Dengan cepat Siau-hong menjumpai para pelancong,

pedagang, gelandangan yang semula masih bernyanyi keras

dalam perkemahan, kini jumlahnya telah berkurang sangat

banyak, kalau semula jumlahnya mencapai seratusan orang

lebih, maka sekarang tak sampai separohnya.

Karena separoh yang lain kini sudah naik ke atas kuda,

naik di atas kuda jempolan tunggangan para jago anak buah

Wi Thian-bong, bahkan bagaikan bayangan saja menempel

ketat di belakang tubuh kawanan jago itu dan menempelkan

sebilah golok yang tajam persis di pinggang orang-orang itu.

Ternyata merekalah petarung sesungguhnya, jagoan

sejati.

Gerak-gerik mereka lincah bagai seekor kucing, gesit

bagai seekor ular berbisa dan tepat sasaran seperti anak

panah yang dilepas Dewa panah lima bunga.

Waktu itu seluruh anak buah Wi Thian-bong sedang

menanti datangnya komando penyerangan, mereka sedang

memusatkan seluruh perhatian dan konsentrasinya untuk

siap melancarkan serbuan, seluruh perhatian dan kekuatan

mereka tercurahkan ke arah tenda di mana selembar bulu

elang berwarna hitam sedang berkibar.

Pada saat itulah sekonyong-konyong mereka merasa ada

seorang telah menyelinap naik ke belakang tubuh mereka,

kemudian setiap jago pun merasakan ujung golok yang

dingin menusuk tulang telah menempel di pinggang

mereka, lalu terdengar ada seorang berbisik dari belakang,

“Jangan bergerak, berani bergerak berarti mati!”

Pertaruhan belum lagi dimulai, mereka sudah menderita

kekalahan total.

Kekalahan yang amat fatal!

Pernah ada orang melukiskan Wi Thian-bong sebagai

‘Tenang bagaikan bukit, kokoh bagaikan batu karang’.

Tapi sekarang tubuhnya seolah sudah hancur

berantakan, hancur-lebur, dan berserakan di tanah.

Sejak lahir hingga kini, belum pernah dia merasakan

kekalahan sedemikian mengenaskan.

Senyuman manis yang semula masih menghiasi wajah

Liu Hun-hun, kini pun ikut berubah pucat-pasi dan layu,

selayu wajah seorang nenek yang baru saja menjanda.

Kini dia sudah bukan setengah manusia lagi, tapi

seorang yang utuh, bagian tubuhnya yang termasuk bagian

“iblis” kini sudah lenyap terkena gempuran kesedihan yang

tak berbelas kasihan, hancur-lebur tak berbekas.

Po Eng mengawasi mereka dengan pandangan dingin.

“Walaupun kalian kalah namun belum mati, ketujuh

puluh orang jagoan yang sudah lama terlatih dan pernah

mengalami berbagai pertarungan pun belum satu pun yang

mati,” katanya perlahan.

Kemudian dengan sepatah demi sepatah tanyanya,

“Apakah kalian ingin mati? Apakah kalian ingin ketujuh

puluh orang pejuang andalan kalian itu ikut terkubur

menemani kematian kalian?”

Pada hakikatnya pertanyaan semacam ini tak perlu

dijawab, juga tak seorang pun ingin menjawab.

Tapi Siu-hun-jiu yang belum pernah buka suara selama

ini justru menjawab cepat, “Kami tak ingin mati!”

“Tangan beracun mencabut sukma, nyawa pun bakal

melayang.”

Tapi sayang orang yang suka membunuh, kadangkala

justru lebih takut mati ketimbang orang yang dibunuhnya,

karena seorang pembunuh seringkali membunuh orang lain

karena dia takut mati.

Po Eng tertawa dingin.

“Kini kalian sudah tiba pada saat paling kritis, bukan?”

“Benar.”

“Kini kalian masih memiliki sebuah tandu, kemungkinan

besar dalam tandu itu tersembunyi seorang jago silat yang

sangat tangguh, tapi mungkin juga isinya hanya bahan

peledak yang mampu menghancur-leburkan kami semua,”

kata Po Eng lagi, “Apakah kalian masih ingin bertaruh lebih

lanjut?”

“Kami tak ingin,” jawab Siu-hun-jiu cepat, “Di dalam

tandu pun tak ada jago lihai, tak ada pula bahan peledak,

hanya….”

Dia tak sempat menyelesaikan kata-katanya.

Tiba-tiba Pancapanah mengayun tinjunya, langsung

ditonjokkan ke wajahnya, membungkam mulutnya.

Siu-hun-jiu si tangan sakti pencabut nyawa yang tersohor

namanya dalam dunia persilatan ternyata tak sanggup

menghindari tonjokan itu, di kolong langit saat ini,

mungkin jarang ada yang mampu menghindarkan diri dari

tonjokan maut itu.

Oood)*w(ooO

BAB 10. KEKALAHAN TRAGIS

Tonjokan itu dilontarkan tanpa kembangan jurus apa

pun, juga tidak disertai perubahan yang rumit, pukulan itu

hanya memiliki tingkat kecepatan yang luar biasa.

Kecepatan yang menakutkan, sedemikian cepat hingga

sukar ditangkap dengan nalar sehat, sedemikian cepat

hingga menggidikkan.

Ketika tubuh Siu-hun-jiu roboh terkapar di atas tanah,

besar kemungkinan dia sudah tak memiliki sebiji pun gigi

yang masih utuh, tulang hidungnya yang retak telah

bergeser posisi, darah kental bercucuran keluar dari bibirnya

yang robek dan merekah, dia tak jauh berbeda seperti seekor

babi yang siap dijagai.

Kecepatan merupakan kekuatan.

Paras setiap orang kembali berubah. Baru sekarang

semua orang dapat melihat kekuatan tubuh Pancapanah

yang sesungguhnya.

Dengan pandangan dingin, ditatapnya tubuh Siu-hun-jiu

yang roboh terjengkang ke atas tanah, kemudian ia baru

berkata, “Aku bukan murid perguruan kenamaan, aku pun

tak pernah mempelajari ilmu silat tingkat tinggi macam

kalian, aku tak lebih hanya seorang suku Tibet yang kasar

dan tak tahu diri. Dalam pandangan kalian, mungkin aku

tak jauh berbeda dengan seekor binatang.”

Setelah berhenti sejenak, terusnya, “Tapi apa yang telah

kukatakan selalu akan kupegang teguh….”

Siapa pun tak ada yang tahu perkataan apa yang hendak

dia ucapkan, juga tak ada yang tahu mengapa dia mencegah

Siu-hun-jiu mengungkap rahasia di balik tandu.

Hanya Po Eng seorang yang tahu dengan jelas.

“Apa yang telah dia katakan merupakan apa yang

hendak kusampaikan,” kata Po Eng kemudian, “Jadi,

semua perkataan yang dia sampaikan mempunyai kekuatan

yang seperti ucapanku sendiri.”

Mereka saling bertukar pandang sekejap, sorot mata

kedua orang itu melukiskan betapa saling menghormat dan

saling percayanya mereka berdua.

Perkataan yang kemudian diucapkan Pancapanah segera

membuat orang terperangah, tercengang, dan keheranan.

“Kami tak ingin tahu apa isi tandu itu, tak mau

mendengar, apalagi melihatnya!”

Nada ucapannya dingin dan kaku, lebih dingin dari

bongkahan es.

“Jika ada orang berani mengatakan apa isi dalam tandu

itu, bila ada orang membiarkan aku menyaksikan apa yang

berada dalam tandu itu, peduli siapa pun dia, aku pasti akan

membunuhnya dengan segera!”

Siau-hong memandangnya dengan perasaan tercengang,

dia ingin buka suara, namun akhirnya ditahan kembali.

Siapa pun merasa tak habis mengerti mengapa dia harus

berbuat begitu.

Dalam pada itu Pancapanah telah berpaling ke arah Wi

Thian-bong dan berkata, “Kini pertempuran di antara kita

berdua telah berakhir, kalian telah menderita kekalahan

tragis. Berarti kau harus menerima semua syarat yang kami

ajukan.”

Kini ketenangan dan kemantapan Wi Thian-bong sudah

tidak seteguh batu karang lagi.

Tangannya mulai gemetar, bibir pun ikut gemetar, lewat

lama kemudian ia baru bertanya, “Apa syarat kalian?”

Pancapanah segera menutup mulut tak bicara lagi, dia

mengundurkan diri ke belakang Po Eng.

Dia memiliki kekuatan, namun tak pernah diperlihatkan

secara sembarangan, dia memiliki kekuasaan, namun dia

pun tak pernah menggunakan secara semena-mena.

Di saat dia harus tutup mulut, belum pernah ia

memaksakan diri untuk buka suara.

Berada di tempat mana pun, dalam organisasi macam

apa pun, hanya satu orang yang berhak memberi komando.

Sekarang dia telah menyampaikan apa yang ingin dia

sampaikan, kini dia seperti orang lain, menanti Po Eng

menyampaikan perintahnya.

Sesaat kemudian Po Eng baru buka suara, ujarnya,

“Kalian boleh membawa pergi tandu itu, tapi kalian tak bisa

pergi begitu saja….”

Dia pun mengemukakan persyaratannya, “Kalian semua,

tak terkecuali, harus meninggalkan sedikit kenang-kenangan

sebelum pergi dari sini.”

“Kenang-kenangan apa yang harus kami tinggalkan?”

sewaktu mengucapkan perkataan itu, suara Wi Thian-bong

terdengar parau.

“Tinggalkan semacam barang kenangan yang bisa

membuat kalian tak pernah melupakan selamanya,

kenangan atas pelajaran pahit yang diterima hari ini!”

Tiba-tiba Po Eng berpaling ke arah Liu Hun-hun,

tanyanya, “Menurut pendapatmu, benda kenangan apa

yang harus mereka tinggalkan?”

Dia adalah pemegang komando, setiap kata-katanya

yang disampaikan adalah perintah, tak seorang pun berani

membangkang apalagi melawannya.

Lantas mengapa dia harus bertanya pada Liu Hun-hun?

Mengapa tidak kepada orang lain? Hanya bertanya kepada

Liu Hun-hun seorang?

Liu Hun-hun sendiri pun tampak tercengang, namun

secercah cahaya terang segera memancar keluar dari balik

matanya.

Tiba-tiba saja dia memahami maksud Po Eng.

Sewaktu dia memandang Po Eng, seperti seekor rase

sedang mengawasi seekor burung elang yang berburu rase,

walaupun merasa takut bercampur hormat, namun terselip

pula semacam perasaan yang tak akan bisa dipahami orang

lain kecuali oleh mereka berdua.

Ternyata mereka berdua sama-sama telah memahami

keadaan lawannya.

Agaknya Po Eng pun sudah tahu kalau perempuan itu

telah memahami maksud hatinya. Sambil mengalihkan

tatapan matanya ke arah lain, ujarnya hambar, “Asal kau

sebut, aku pasti akan mengabulkannya.”

Liu Hun-hun kelihatan masih sedikit sangsi, tapi

kemudian sambil menampilkan senyuman licik dan keji,

ujarnya, “Kami datang bersama-sama, jadi apa yang akan

kutinggalkan, mereka pun harus sama-sama

meninggalkannya.”

Perlahan-lahan dia melanjutkan, “Aku telah

meninggalkan sebelah tanganku!”

Siau-hong pun mempunyai tangan, tangannya dingin

dan kaku, sedingin bongkahan salju.

Kini dia pun sudah mengerti maksud Po Eng.

Tampaknya Po Eng telah menduga bahwa perempuan

itu bakal berkata begitu, itulah sebabnya dia sengaja

bertanya kepadanya.

Dia percaya, di saat ia harus melindungi diri sendiri,

perempuan ini pasti tak segan untuk mengkhianati orang

lain.

Paras Po Eng sama sekali tak nampak perubahan apa

pun, dia tetap tampil kaku, tanpa perasaan.

“Kau sendiri yang berkata begitu,” ucapnya dingin,

“Apakah kau anggap cara seperti ini sangat adil?”

“Ya, adil sekali,” jawab Liu Hun-hun segera.

Po Eng tidak bicara lagi, dia pun tidak memandang lagi

ke arahnya.

Sambil menjepit mata golok dengan kedua jari

tangannya, perlahan-lahan ia sodorkan senjata yang

berhasil direbutnya dari tangan Wi Thian-bong itu ke

hadapan orang itu.

Kini dia tak usah berbicara lagi.

Dalam keadaan begini, apa pula yang bisa diucapkan Wi

Thian-bong?

Dia sudah kalah total, menderita kekalahan secara tragis.

Bagi seseorang yang telah menderita kekalahan secara

tragis, selain cucuran air mata, hanya ceceran darah saja

yang tersisa. Darah yang tak akan habis bercucuran!

Mata golok terasa dingin dan kaku, begitu pula dengan

gagang golok.

Tapi tangannya terasa lebih dingin.

Menggunakan tangannya yang dingin kaku, Wi Thianbong

menerima golok itu, lalu mengawasinya dengan sorot

mata murung. Golok itu adalah golok andalannya.

Dia pernah menggunakan golok itu untuk memenggal

batok kepala orang, menggorok leher orang, dia pun pernah

menggunakan golok itu untuk memotong tangan orang lain.

Tiba-tiba sikapnya berubah jadi tenang kembali, dia telah

siap menerima kenyataan ini, karena ia tahu, dirinya tak

mungkin lagi bisa menghindarkan diri dari kenyataan itu.

Kenyataan selalu memang keji dan tak berperasaan, tak

seorang pun dapat menghindarinya.

Tiba-tiba Wi Thian-bong bertanya, “Kau menginginkan

tanganku yang mana?”

Dia pun tahu, Po Eng pasti menampik menjawab

pertanyaan ini, maka dia menggunakan tangan kirinya

untuk menggenggam golok dan menjulurkan tangan

kanannya.

“Inilah tangan yang kugunakan untuk menggenggam

golok dan membunuh orang, akan kuberikan tangan ini

kepadamu. Mulai saat ini, aku tak pernah akan

menggunakan golok lagi.”

Tidak menggunakan golok lagi bukan berarti tak akan

membunuh orang lagi.

Sepatah demi sepatah kembali Wi Thian-bong

melanjutkan, “Tapi selama aku belum mati, aku bersumpah

pasti akan membunuhmu, peduli dengan cara apa pun aku

tetap akan membunuhmu. Sekalipun kau telah mengurungi

kedua belah tanganku, selama aku masih bisa bernapas, biar

harus memakai mulut pun aku tetap akan berusaha

menggigit putus lehermu dan mencicipi bagaimana rasanya

darahmu!”

Suaranya begitu tenang, tapi setiap patah kata, setiap

kalimat justru terkandung hawa kutukan yang menakutkan,

seakan-akan kutukan keji yang datang dari neraka,

membuat orang merasa bergidik.

Tiada perubahan mimik muka di wajah Po Eng.

“Bagus sekali,” sahutnya hambar, “Aku pasti akan

menghadiahkan obat luka terbaik untuk menyembuhkan

lukamu itu, agar kau bisa hidup lebih jauh.”

Tangan Wi Thian-bong yang menggenggam golok mulai

gemetar keras, otot-otot hijau menonjol keluar, dia sudah

siap mengurungi lengan sendiri.

“Tunggu sebentar!” mendadak Po Eng menghardik.

“Apa lagi yang harus kutunggu?”

“Aku ingin kau menyaksikan sesuatu hal terlebih dulu,”

kata Po Eng, “Selesai melihat hal itu, kau baru akan tahu

kalau kedatanganmu kali ini sesungguhnya merupakan

suatu tindakan yang amat goblok!”

Po Eng segera mengulapkan tangan memberi perintah,

seluruh barang dagangan pun segera ditumpuk di depan

kemah, setiap buntalan, setiap bungkusan, hampir

semuanya telah dibongkar dan dibuka. Tak ada emas murni

di situ.

“Sesungguhnya di sini tak ada emas murni,” kata Po

Eng. “Jadi kau tidak seharusnya datang kemari. Perbuatan

ini bukan saja kau lakukan dengan sangat goblok, bahkan

sama sekali tak menguasai. Kau sendiri pun pasti akan

menyesal sepanjang masa!”

Wi Thian-bong hanya mendengarkan dengan tenang,

sama sekali tidak menunjukkan reaksi, menanti Po Eng

menyelesaikan perkataannya, ia baru bertanya dingin,

“Masih ada perkataan lain?”

“Tidak ada.”

“Bagus sekali,” tiba-tiba Wi Thian-bong tertawa dingin.

“Padahal kau tak perlu menyampaikan perkataan semacam

itu.” Goloknya segera diayunkan ke bawah.

Di saat mata goloknya diayun ke bawah, tiba-tiba

ketujuh puluh orang petarung yang berada di atas kuda

menjerit kesakitan.

Tujuh puluh orang dengan tujuh puluh buah lengan telah

dibabat kutung oleh orang yang berada di belakang mereka.

Mereka mengurungi tangan tangan itu dengan cara yang

paling mustajab, sekali tebas langsung kutung.

Sesungguhnya mereka adalah jago-jago tangguh yang

sudah lama mendapat didikan ketat, bahkan berani mati

dan kaya akan pengalaman pertarungan, tapi kali ini

jangankan bertahan, kesempatan untuk melancarkan

balasan pun tak ada.

Ringkik kuda bergema memecah keheningan, diiringi

debu yang beterbangan rombongan jagoan itu telah kabur

meninggalkan tanah perkemahan, tandu-tandu pun telah

digotong pergi, tiga buah tandu telah digotong pergi

meninggalkan tempat itu.

Makin lama suara derap kuda makin jauh, makin sirap,

suara nyanyian tidak terdengar lagi, cahaya lentera yang

menyinari tanah perkemahan pun telah padam.

Hari mulai terang tanah.

Sesaat menjelang tibanya sang fajar biasanya merupakan

saat yang paling gelap, cahaya lentera masih memancar

dengan terangnya dari dalam tenda.

Song-lohucu telah “mabuk”, Gan-losianseng pun telah

“lelah”, mereka yang seharusnya pergi kini telah pergi

semua.

Siau-hong belum pergi, dia masih tetap berada di sana.

Akan tetapi dia pun tidak duduk, selama ini anak muda

itu hanya berdiri tenang di sana, seakan-akan sama sekali

tidak memperhatikan kepergian orang lain, dia pun seakan

tidak memperhatikan kehadiran Po Eng dan Pancapanah di

tempat itu.

Ada sementara orang, walaupun tubuhnya berada di

sana namun dia seakan-akan berada di tempat yang sangat

jauh, berada di sebuah tempat jauh yang begitu tenang,

damai, tiada dendam, tiada sakit hati, tiada cinta, tiada

perasaan.

Perlahan-lahan Po Eng menatap wajah anak muda itu,

tiba-tiba tanyanya, “Apakah kau menganggap aku tidak

seharusnya bertindak sekeji ini?”

Tiada jawaban.

“Aku tak peduli bagaimana kau berpikir, asalkan satu hal

harus kau pahami terlebih dulu,” ujar Po Eng lebih jauh,

“Hubungan kita dengan musuh ibarat kau berhadapan

dengan mata golok, tiada perasaan tiada peluang.

Seandainya aku yang menderita kekalahan, mungkin

nasibku akan jauh lebih mengenaskan.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan

tambahnya, “Apalagi di dalam pertempuran kali ini, bukan

kita yang mencari mereka, adalah mereka yang datang

mencari kita. Dalam posisi seperti ini, mau tak mau kita

harus bangkit untuk menghadapinya, kalau memang harus

melawan maka kemenangan harus berada di pihak kita,

terhadap pihak musuh pun tak boleh bersikap lemah dan

penuh perasaan.”

Teori semacam ini merupakan teori yang baku, teori

yang tak dapat berubah, teori yang tak dapat dibantah siapa

pun.

“Aku yakin kau pasti memahami teori itu,” Po Eng

menambahkan.

“Aku tidak paham!” tiba-tiba Siau-hong berteriak.

Dia seperti orang yang baru mendusin dari impian

buruk.

“Aku sama sekali tak paham dengan semua yang telah

kalian lakukan!”

“Kau merasa tak paham mengapa kami bersikeras minta

mereka menggotong pergi tandu ketiga?” tanya Pancapanah

tiba-tiba, sekulum senyuman menghiasi paras tampannya

yang pucat-pias dan lama tak tersentuh senyuman itu.

“Mengapa kalian harus berbuat begitu?” memang sudah

sedari tadi Siau-hong ingin menanyakan persoalan ini.

Pancapanah tidak langsung menjawab pertanyaan itu.

“Kau tidak akan mengerti karena ada banyak persoalan

yang tak pernah kau dengar, ada banyak persoalan yang tak

pernah kau lihat.”

Dia tidak membiarkan Siau-hong buka suara, karena dia

harus mengemukakan lebih dahulu perkataan yang harus

dia sampaikan.

“Kau tidak mengerti karena usiamu masih muda, masih

belum pernah mengalami pengalaman pahit, pengalaman

tragis seperti apa yang telah kami jalankan selama ini,”

sikap Pancapanah berubah amat serius dan bersungguhsungguh,

“Bila kau pun seperti kami, pernah hidup sepuluh

tahun di dataran yang luas ini, nyaris mati hampir dua

puluhan kali, maka kau pun akan mendengar berbagai

kejadian yang tak akan terdengar oleh orang lain, dapat

melihat berbagai peristiwa yang tak mungkin terlihat orang

lain.”

Sikap dan penampilannya yang serius membuat Siauhong

mau tak mau harus menenangkan sikapnya.

“Masalah apa yang tak pernah kudengar?” tanya Siauhong,

“Apa pula yang telah kalian dengar? Kalian lihat?”

“Tandu ketiga jauh lebih berat daripada dua tandu

sebelumnya,” Pancapanah menerangkan, “Bahkan dari

dalam tandu itu terdengar suara napas dua orang.”

Po Eng segera menambahkan, “Suara napas itu berasal

dari napas dua orang perempuan, salah satu di antaranya

bernapas dengan sangat lemah.”

Siau-hong segera merasa, ternyata masih banyak ilmu

yang harus dia pelajari, jauh lebih banyak daripada apa

yang diduga dan dipikirkan sebelumnya.

“Dari mana kalian bisa tahu kalau dalam tandu itu berisi

dua orang perempuan? Memangnya napas wanita berbeda

dengan suara napas kaum lelaki?” desak Siau-hong kembali.

“Sama sekali tak ada bedanya,” jawab Po Eng singkat.

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya, “Kami

tahu dalam tandu itu berisi dua orang wanita karena tandu

itu sedikit lebih berat daripada bobot tandu yang diduduki

Siu-hun-jiu.”

“Kami dapat melihatnya dari bekas pasir yang

ditinggalkan pemikul tandu itu,” kali ini Pancapanah yang

melanjutkan penjelasan itu, “Walaupun bahan dan bobot

tandu-tandu itu sama.”

Sesudah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan,

“Siu-hun-jiu adalah jagoan yang berlatih Gwakang, biarpun

tubuhnya kurus namun tulang badannya sangat berat,

apalagi dia jangkung, paling tidak bobot badannya

mencapai seratus dua puluhan kati.”

Bobot kedua orang itu bila dijumlahkan, paling tidak

hanya lebih berat dua-tiga puluh kati bila dibandingkan dia

seorang.

Maka kembali Pancapanah memberikan kesimpulan

yang sangat aneh, “Berat badan itu merupakan berat tubuh

kedua orang perempuan dijumlahkan jadi satu.”

“Mereka adalah dua orang perempuan? Dua orang yang

mana? Kau tahu kalau mereka berdua?” Siau-hong segera

bertanya.

“Aku tahu!”

“Pova,” kata Pancapanah lagi, “Salah satu di antaranya

pasti Pova!”

Siau-hong belum pernah mendengar nama orang ini,

maka segera tanyanya, “Pova? Siapakah orang itu?”

Tiba-tiba mimik muka Pancapanah berubah jadi sangat

sedih.

“Bila kau ingin memahami tentang manusia yang

bernama Pova, dengarkan dulu sebuah kisah yang tragis.”

Ternyata kisah yang akan disampaikan adalah sebuah

kisah tragis, kisah yang memedihkan hati.

Pova adalah seorang perempuan, ia dilahirkan di puncak

bukit Cu-mu-lang-ma sebelah utara pada ratusan tahun

berselang, dia merupakan seorang wanita suci yang

disembah dan dipuja orang-orang suku Gurkha. Demi

menyelamatkan etniknya, dia telah mengorbankan diri

sendiri.

Ketika etnik Ni-co yang ganas, buas dan tak tahu malu

menyerbu ke dalam desa etnik Gurkha, anggota sukunya

tak mampu melawan serbuan itu hingga menderita

kekalahan fatal.

Lambang suku Ni-co adalah “merah”, “merah” yang

membawa anyirnya darah, mereka memang menyukai

anyirnya darah dan warna merahnya darah.

Kepala suku Ni-co berhasil menangkap Pova hiduphidup,

lalu merogolnya secara brutal.

Perempuan itu tetap menahan diri, menerima setiap

siksaan dan penderitaan yang menimpa dirinya, karena ia

ingin balas dendam.

Dengan gigi membalas gigi, dengan darah membalas

darah, suatu saat akhirnya ia berhasil mendapatkan

kesempatan itu. Bukan saja berhasil menolong kepala suku

yang tertawan, dia pun berhasil menyelamatkan seluruh

anggota sukunya yang masih hidup.

Tetapi dia harus mengorbankan diri, menyumbangkan

selembar jiwanya.

Menanti rakyat etniknya berhasil membawa pasukan

besar dan menyerbu masuk ke perkemahan tempat tinggal

kepala suku Ni-co, ia ditemukan sudah dalam keadaan tak

bernyawa.

Dia mati sebagai pahlawan, bukan hanya pahlawan

etniknya, pahlawan bangsanya.

Di saat ajal menjelang tiba, dalam genggamannya dia

masih memegang selembar kertas yang ditulisnya

menjelang ajal untuk sang kekasih, sebuah bait lagu yang

berjudul “Kokang”.

“Kokang Yang kucinta, kau harus hidup terus.

Kau harus hidup, harus waspada,

setiap saat waspada, selalu teringat, teringat orang-orang

yang suka anyirnya darah.

Mereka gemar membunuh.

Jangan kau ampuni bila bertemu, usir mereka, usir

mereka.

Usir sampai ujung samudra, usir sampai ujung gurun,

bangunlah kembali negerimu tercinta

Biarpun negeri sudah tenggelam, biar sawah ladang

telantar.

Asal kau rajin berjuang, negeri kita pasti berjaya, sawah

ladang kita pasti subur sentosa.”

Kekasihnya tidak mengecewakan harapannya, seluruh

anggota sukunya tak pernah mengecewakan dirinya.

Negeri yang nyaris musnah kembali berjaya, kembali

sentosa, dan makin berkembang.

Untuk memperingatkan pengorbanannya, tulangbelulang

serta kertas berisi bait lagu itu dikubur di kuil

Pova, di bawah pagoda putih.

Arwahnya selalu dihormati orang, dipuja setiap orang,

dan disanjung di mana-mana.

Kisah ini memang sebuah kisah yang tragis, bukan cerita

heroik, sebuah cerita yang patut dikenang dan diingat

generasi mendatang.

Setiap anak bangsa yang dilahirkan ribuan tahun

kemudian, harus selalu ingat, mengenang, dan mewaspadai

kisah tragisnya.

Sebab walaupun aturan selalu berlaku, walau kesetiakawanan

selalu timbul, namun dunia tak pernah akan

terbebas dari manusia-manusia yang haus darah, setiap

orang sudah seharusnya meniru cara Pova, tak segan

mengorbankan diri demi melenyapkan mereka.

Kini Pancapanah telah menyelesaikan kisahnya.

Siau-hong sama sekali tidak melelehkan air mata.

Bila darah panas telah bergelora di dalam dada

seseorang, bagaimana mungkin dia akan melelehkan air

mata?

Namun dia tetap bertanya lagi, “Kalau memang tulangbelulangnya

sudah terkubur di bawah pagoda putih, lalu

siapa pula Pova yang kalian maksudkan sekarang?”

Jawaban Pancapanah kembali membuat tercengang,

terperangah.

“Pova yang kami maksud tak lain adalah perempuan

yang selama ini kau anggap sebagai Sui-gin si Air raksa.”

Siau-hong tertegun.

Pancapanah tampak makin pedih dan berduka, katanya

lebih jauh, “Dia adalah anggota suku kami, ia tahu selama

ini Lu-sam berniat menindas kami, seperti suku Ni-co yang

keji dan berlumuran darah ingin menindas suku Pova, oleh

sebab itu dia tak segan untuk mengorbankan diri demi

kesejahteraan sukunya.”

Tiba-tiba Po Eng menyela, “Karena dia bukan saja

merupakan anggota sukunya, bahkan merupakan kekasih

hatinya, dia rela mengorbankan diri dengan menyusup

masuk ke lingkungan musuh sebagai mata-mata, bahkan

berusaha menyelidiki kekuatan musuh dan menyelidiki

kabar tentang mereka.”

Pancapanah segera menggenggam tangan Siau-hong

erat-erat, katanya perlahan, “Aku pun tahu semua yang

telah dia lakukan terhadap dirimu, tapi aku jamin dia pasti

dipaksa untuk melakukan semua itu, demi aku, demi semua

anggota suku kami, mau tak mau dia harus melakukannya.”

Siau-hong dapat memahami hal itu, dia balas

menggenggam tangan Pancapanah erat-erat dan berkata,

“Aku tidak menyalahkan dia, seandainya aku jadi dia, aku

pun akan melakukan hal yang sama.”

“Tapi kini rahasianya sudah terbongkar, pihak lawan

sudah tahu bahwa dia adalah orang yang kukirim untuk

menyusup ke sana,” ujar Pancapanah lagi dengan tangan

yang dingin bagaikan es.

“Oleh karena itu mereka mengirim seseorang untuk

membawanya kemari,” kembali Po Eng menambahkan, “Ia

duduk di dalam tandu itu bersama seseorang, mereka

berencana ketika sudah mencapai saat terakhir, dia akan

dipergunakan untuk mengancam dan memaksa kita

menuruti semua kemauannya.”

“Namun mereka pun tidak menyangka bakal menderita

kekalahan secepat itu, bahkan kalah secara tragis, oleh

karena itu semua perubahan yang terjadi membuat mereka

gelagapan dan untuk sesaat tak tahu harus berbuat

bagaimana,” ujar Pancapanah sambil menahan sedih dan

emosi, “Sekalipun begitu, dia tetap merupakan senjata

pamungkas mereka yang terakhir, maka aku tak boleh

bertemu dengannya, aku tak boleh membiarkan mereka

menggunakan dia sebagai barang ancaman kepadaku.”

Itulah sebabnya terpaksa dia harus bertindak tegas,

bertindak sebelum mereka sempat berbuat sesuatu!

Bila ada orang membiarkan dia bertemu dengan

perempuan itu, dapat dipastikan dia akan membunuh orang

itu! Dalam hal ini, semua orang yakin dan percaya bahwa

dia tega untuk melakukannya.

“Mereka pun tak berani bertindak sembarangan,

kemungkinan besar di kemudian hari mereka masih dapat

memperalat dirinya, maka mereka pasti akan berusaha agar

dia tetap hidup,” ujar Pancapanah lebih jauh, “Oleh sebab

itu pula, terpaksa aku pun membiarkan mereka menggotong

pergi tandu itu secara utuh tanpa tersentuh.”

Di dalam tandu itu masih duduk seorang wanita lain,

dialah satu-satunya orang yang bisa membongkar rahasia

ini.

“Dia pun berada di dalam tandu itu,” kata Po Eng

kemudian, “Ia sadar, keselamatan jiwanya seratus persen

terjamin, maka ia terlebih tak mau bertindak secara

gegabah.”

“Sejak semula aku sudah mengenalinya,” ujar

Pancapanah, “Tapi aku sama sekali tak mengira kalau dia

adalah seorang wanita yang begitu menakutkan.”

Tak ada yang menerangkan siapakah “dia” itu.

Siau-hong pun tidak bertanya.

Dia tak ingin bertanya, tak berani bertanya dan tak usah

bertanya.

Ia sadar, mereka tidak akan mengatakannya karena

mereka tak bisa menyebut nama orang itu, tak tega

mengatakannya dan tak perlu menyebut namanya.

Mereka tak ingin melukai perasaan Siau-hong.

Dalam hati mereka seolah terdapat sebuah “sumbatan

leher”, sebuah sumbatan yang sulit untuk ditembus dan

dilalui.

Bila kau bersikeras ingin menembusnya, sudah pasti kau

akan melukai perasaan orang itu.

Pova, benarkah kau adalah manusia semacam ini?

Mengapa Pova harus mengorbankan diri?

Apa yang diperolehnya dengan pengorbanan yang begitu

besar dan luar biasa?

Rahasia apa yang akan diselidikinya? Apakah ada

hubungan dan sangkut-pautnya dengan emas murni yang

hilang terbegal?

Rombongan ini sebetulnya merupakan rombongan

saudagar biasa, belum pernah ada seorang pun di antara

mereka yang memperlihatkan ilmu silat, mengapa dalam

waktu singkat mereka sanggup menguasai tujuh puluh

orang petarung yang kenyang akan pengalaman?

Song-lohucu serta Gan Tin-kong pun bukan jago-jago

hebat berilmu tinggi, mengapa mereka harus

menyembunyikan kepandaian kungfunya?

Sebenarnya bagaimana asal-usul mereka? Rahasia apa di

balik semua itu?

Siau-hong tidak menanyakan semua persoalan itu, ia

merasa apa yang diketahui sudah terlalu banyak.

Emas murni tidak berada di dalam bungkusan barang

dagangan yang dibawa rombongan saudagar ini.

Sementara Po Eng adalah sahabatnya.

Baginya, urusan emas murni sama sekali tak penting, dia

pun enggan menaruh perhatian pada masalah itu. Asal dia

tahu ada orang telah menganggapnya sebagai sahabat, hal

ini sudah lebih dari cukup.

Bagi seorang gelandangan macam dia, nilai seorang

sahabat sejati tak tertandingi oleh benda apa pun.

Fajar telah menyingsing.

Matahari pagi telah muncul di ufuk timur, sejauh mata

memandang hanya pasir berwarna keemas-emasan yang

menyelimuti seluruh jagat.

Tanah dataran luas yang tak berperasaan, gersang,

kejam, dingin yang menggigilkan, panas yang menyengat…

meski begitu, di dataran luas yang tak berperasaan ini pun

terdapat bagian yang menawan, seperti kehidupan manusia.

Walaupun dalam sejarah kehidupan manusia sering

bertemu dengan peristiwa yang tak berkenan di hati,

menghadapi banyak masalah yang susah diurai dan

diselesaikan secara baik, namun kehidupan manusia tetap

menawan.

Siau-hong dan Po Eng berdiri bersanding di depan

perkemahan, mengawasi cahaya matahari yang sedang

menyinari dataran luas.

Tiba-tiba Po Eng bertanya, “Apakah ada suatu tempat

istimewa yang hendak kau datangi?”

“Tidak ada,” Siau-hong menggeleng, “Aku bisa pergi ke

tempat mana pun, aku pun bisa tidak pergi ke tempat mana

pun.”

“Pernah berkunjung ke tempat suci orang Tibet?”

“Belum.”

“Kau ingin ke sana?”

Jawaban Siau-hong segera memunculkan kembali

senyuman di balik sorot mata Po Eng yang tajam.

“Aku bisa saja pergi ke tempat yang ingin kudatangi,”

ucap Siau-hong, “Aku pun bisa pergi ke tempat yang tidak

ingin kudatangi.”

“Semisal aku minta kau ke sana, apakah kau akan pergi?”

“Ya, aku pasti pergi.”

Rombongan besar pun kembali melanjutkan perjalanan.

Jago-jago yang mampu menaklukkan musuh dalam waktu

sekejap kini berubah lagi jadi para saudagar yang sangat

sederhana dan bersahaja.

Di antara sepasang punuk onta yang tinggi terdapat

sebuah pelana yang terbuat dari kulit kerbau, Po Eng duduk

di atas pelana sambil mengawasi Siau-hong yang berada di

punggung onta lain, katanya, “Setelah berjalan satu jam,

kita akan tiba di tempat itu.”

“Tempat mana?”

“Sumbatan leher!”

Tebing karang menjulang tinggi ke angkasa, dinding

karang yang rata dan curam serasa menembus langit nan

biru, jalan penghubung yang terbentang di antara sela

karang terasa sempit dan kecil bagaikan usus kambing.

Di ujung jalan usus kambing yang sempit, menjulang

tebing karang berbentuk aneh, seperti gigi taring seekor

serigala lapar, ke arah tebing itulah jalanan sempit tadi

terbentang.

Mereka telah tiba di sumbatan leher.

Rombongan bergerak makin lambat, mau tak mau

mereka memang harus memperlambat gerakan, dinding

karang yang curam, terjal dan menjulang tinggi ke angkasa

seakan gerombolan serigala lapar yang siap menerkam

mereka.

Siapa pun yang tiba di tempat ini, mereka pasti akan

merasakan hatinya bergidik, jantungnya berdebar dan bulu

kuduk berdiri.

Detak jatung Siau-hong pun seolah berdebar lebih keras

dan cepat, sedemikian kerasnya hingga Po Eng seakan

dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri.

“Kini kau tentu sudah paham, bukan? Mengapa aku

harus bertindak keji dan tegas,” ujar Po Eng kemudian,

“Bila aku tidak meminta sebelah tangan mereka, seandainya

orang-orang itu balik lagi ke sini dan menghadang di tempat

ini, maka jalanan ini akan menjadi jalan kematian buat kita,

jalan menuju kematian buat orang-orang kita!”

Sumbatan leher, tanah kematian, jalan kematian!

Tiba-tiba Siau-hong merasakan keringat dingin

membasahi telapak tangannya.

“Dari mana kau tahu mereka tidak menyiapkan orang

lain di tempat ini?” tanyanya.

“Tak mungkin mereka masih mempunyai kekuatan lain

di tempat ini. Bukan pekerjaan mudah untuk

mengumpulkan kekuatan di tengah gurun pasir,

Pancapanah telah melacak dan menyelidiki dengan jelas

semua gerak-gerik kekuatan mereka, apalagi….”

Ia tidak menyelesaikan perkataan itu karena secara tibatiba

ia merasa peluh dingin telah membasahi telapak

tangannya.

Tampaknya dia mulai sadar, ternyata di sumbatan leher,

di jalan menuju kematian, di tanah kematian ini masih ada

orang lain sedang menanti kedatangan rombongan mereka.

Suatu kejadian yang mustahil terjadi, terkadang pun ada

kemungkinan bisa terjadi.

Bila dalam hati muncul sumbatan, hati pun akan sedih….

Bila manusia berada di sumbatan, dia pun bakal merasa

berduka.

Orang yang sedang berduka terkadang ingin mati, tapi

orang yang telah mati tak bakal berduka lagi, hanya orang

mati yang tak pernah akan berduka lagi.

Bila di tempat ini masih terdapat kekuatan lain yang

tersembunyi, berarti rombongan mereka mirip seseorang

yang telah dikalungi seutas tali simpul mati. Asal mereka

muncul dari tempat persembunyian sambil melancarkan

sergapan, mereka pun akan tergantung, terjirat lehernya dan

mampus.

Tengkuk akan patah, napas akan putus, nyawa pun bakal

melayang… itulah sumbatan leher.

Di balik sumbatan leher dapat dipastikan ada orang

sedang bersembunyi siap melancarkan sergapan, tak

disangkal mereka telah menapak di jalan kematian,

memasuki tanah kematian.

Po Eng yakin apa yang didengarnya tak bakal salah.

Pancapanah pun telah mendengar suara yang didengar

rekannya.

Suara tarikan napas orang, detak jantungnya, dengus

napas, dengus napas kuda. Suara mendesis….

Suara itu berasal dari tempat yang tak jauh di hadapan

mereka.

Mungkin saja orang lain belum mendengarnya, tapi

mereka telah mendengar dengan jelas.

Karena selama dua puluh tahun mereka telah berjuang

untuk mempertahankan hidup di tengah gurun pasir yang

tak punya perasaan, tak punya rasa iba, tak ada air, tiada

kehidupan dan setiap saat dapat merenggut kehidupan

mereka.

Bila mereka pun tak dapat mendengar suara yang tak

bisa didengar orang lain, paling tidak mereka telah mati dua

puluh kali.

Tak ada yang mampu mati sebanyak dua puluh kali,

sama sekali tak ada.

Bagi seseorang, jangankan mati dua puluh kali, mati satu

kali pun tak boleh.

Bila ada orang mengatakan cinta sejati hanya akan

datang satu kali, tak mungkin ada keduanya, maka apa

yang dikatakan sesungguhnya tak bisa dianggap perkataan

yang benar.

Sebab sifat perasaan cinta itu mudah berubah, berubah

jadi cinta seorang sahabat, cinta seorang sanak, berubah jadi

manja, bahkan bisa berubah jadi benci dan dendam.

Apa yang dapat berubah tentu mudah untuk dilupakan.

Ketika sifat cinta pertama mulai berubah dan memudar,

seringkali akan datang cinta kedua, kemudian cinta kedua

pun akan berubah seperti cinta pertama, cinta yang begitu

tulus, begitu dalam, begitu manis dan begitu menderita.

Tapi kematian hanya satu kali, tak mungkin ada kedua

kalinya.

Seluruh persoalan manusia baru akan berakhir setelah

kematian menjelang tiba, karena dengan kematian tak akan

muncul persoalan untuk kedua kalinya.

Manusia, kuda, onta, satu per satu berjalan menelusuri

jalan setapak itu, mereka bergerak sangat lamban bagaikan

seekor ular.

Posisi Pancapanah dalam rombongan ini persis

merupakan posisi tujuh inci dari seekor ular, posisi yang

paling strategis.

Po Eng dan Siau-hong bergerak paling belakang.

Ooo)d*w(ooO

BAB 11. CAHAYA MATAHARI BERWARNA BIRU

Mereka telah menyaksikan Pancapanah mencemplak

kudanya bergerak mendekat, di tengah derap kaki kuda

yang ringan, sekilas perasaan gugup dan panik terlintas di

wajahnya yang tampan dan tenang itu.

“Ada orang,” ia berbisik lirih, “Di depan sana adalah

jalan keluar, di kedua sisi tebing semuanya ada orang

bersembunyi.”

Tempat ini merupakan simpul mati dari saluran

tenggorokan. Bila sampai terjadi serangan, sudah pasti

akibatnya akan sangat mematikan.

Orang yang mengambil keputusan tetap Po Eng, maka

lagi-lagi Pancapanah bertanya, “Kita akan mundur ataukah

harus menyerbu maju?”

Mendadak otot hijau menonjol di jidat Po Eng, otot

hijau itu berdenyut tiada hentinya.

Setiap kali menghadapi situasi tegang, otot hijaunya

selalu berdenyut tiada hentinya.

Belum lagi dia mengambil keputusan, dari belakang

sebuah batu karang di tebing sebelah depan tiba-tiba muncul

seseorang.

Seorang bocah perempuan yang sangat muda,

mengenakan pakaian berwarna lebih biru dari langit, lebih

biru dari air laut.

Bagaikan burung walet yang terbang di udara dia

melompat naik ke atas batu tebing, sambil berdiri di bawah

sinar matahari, serunya sembari menggapai ke arah mereka,

“Po Eng, aku rindu padamu, Pancapanah, aku kangen

padamu, Song-lothau, aku pun rindu padamu.”

Suaranya riang dan gembira, kembali teriaknya, “Aku

rindu sekali kepada kalian.”

Bertemu gadis cilik ini, dari balik mata Po Eng seakan

memancar pula secercah cahaya sang surya.

Belum pernah Siau-hong menyaksikan matanya seterang

sekarang, juga belum pernah melihat dia segembira hari ini.

Gadis cilik itu sendiri pada hakikatnya seperti cahaya

matahari, cahaya yang mendatangkan kehangatan,

kebahagiaan dan kegembiraan bagi setiap orang.

“Siapakah dia?” tak tahan Siau-hong bertanya.

Po Eng tersenyum, Pancapanah pun ikut tersenyum,

semua kepanikan, rasa tegang yang mencekam perasaan

kini telah berubah jadi kegembiraan dan keriangan.

“Dia she Lan,” ujar Po Eng menjelaskan, “Namanya

adalah Yang-kong (Cahaya matahari).”

Setelah melalui sumbatan leher, kini terbentang padang

datar yang sangat luas dan subur, jaraknya dengan kota suci

Lhasa sudah tak jauh.

Kembali rombongan menghentikan perjalanan dan

mendirikan perkemahan di sana.

Setiap orang tampak gembira dan riang, Yang-Kong si

Cahaya matahari yang membawa keriangan bagi mereka.

Mereka berteriak dan memuji gadis itu dengan bahasa

Tibet, semua orang menyebutnya “Cahaya matahari biru”.

Rupanya gadis cilik ini memang khusus datang untuk

menyambut kedatangan mereka.

“Akan tetapi aku pun ingin menakut-nakuti kalian,”

ternyata suara gadis ini secerah sinar sang surya, “Tapi aku

pun tak ingin menakuti kalian hingga ketakutan setengah

mati.”

Setelah memeluk Po Eng erat-erat, terusnya, “Di kolong

langit tak akan ditemukan orang kedua semacam dirimu,

apa jadinya kalau kau mati karena kaget dan ketakutan?”

Siau-hong tersenyum.

Dia pun belum pernah berjumpa gadis secerah ini, gadis

yang begitu menawan hati, mendatangkan kegembiraan dan

keriangan bagi siapa pun yang menemuinya.

Sebetulnya nona ini belum bisa dianggap seorang

perempuan cantik yang seratus persen sempurna, bentuk

hidungnya agak bengkok, mirip bentuk hidung Po Eng yang

menyerupai paruh elang.

Akan tetapi dia memiliki sepasang biji mata yang jeli dan

bening, kulit tubuhnya putih bersih dan licin bagaikan serat

sutera.

Terutama ketika ia sedang tertawa, hidungnya yang

sedikit bengkok itu kelihatan agak berkerut, cacat kecil yang

muncul justru membuat gadis itu tampil jauh lebih cantik

dan menawan.

Mendadak Siau-hong menjumpai Po Eng suka sekali

memencet hidung gadis itu.

Kini dia sedang memencet hidung si nona sambil

berkata, “Kau telah berjanji, kali ini tak bakal keluar secara

sembarangan, mengapa lagi-lagi kau datang kemari?”

Dengan cekatan Yang-kong menghindari pertanyaan itu,

tegurnya, “Kenapa kau selalu suka memencet hidungku?

Apakah kau ingin memencet hidungku hingga bengkok

macam hidungmu?”

Siau-hong tertawa tergelak.

Tiba-tiba Yang-kong berpaling, tanyanya sambil menatap

tajam anak muda itu, “Siapakah dia?”

“Dia bernama Siau-hong, Siau-hong yang setengah

mati,” Po Eng menjelaskan.

“Kenapa dia disebut Siau-hong setengah mati?”

“Karena terkadang dia pun setengah mati macam kau,

ada kalanya membikin orang mendongkol setengah mati,

ada kalanya juga membikin orang ketakutan setengah

mati.”

Senyuman kembali melintas di balik mata Po Eng,

terusnya, “Apa mau dikata dia sendiri pun termasuk orang

yang setengah mati, karena selalu tidak memikirkan nyawa

sendiri.”

Sekali lagi Yang-kong menatap tajam Siau-hong.

“Aku paling suka lelaki setengah mati macam dia,”

kembali dia tertawa lebar, “Sekarang aku mulai sedikit

merasa suka dirimu.”

Seperti waktu dia peluk Po Eng, kali ini dia peluk Siauhong

erat-erat, bahkan mencium keningnya sambil berseru,

“Sahabat dari Toakoku berarti sahabatku juga, orang yang

dia sukai berarti aku pun akan menyukainya.”

Paras Siau-hong sama sekali tidak berubah merah,

karena wajah si nona pun tidak berubah jadi merah.

Sewaktu ia memeluk pemuda itu, wajahnya seperti sinar

matahari yang menyinari dataran luas, begitu cerah, begitu

alami….

Siau-hong bukan termasuk lelaki yang suka menyimpan

perasaan, jarang sekali ada persoalan yang tidak

dikemukakan secara terus terang.

“Aku pun menyukaimu,” katanya kemudian, “Benarbenar

menyukaimu!”

Langit telah gelap.

Suara nyanyian keras dan gembira kembali

berkumandang dari balik perkemahan, kali ini suara

nyanyian yang bergema kedengaran lebih nyaring dan

gembira.

Karena di antara suara nyanyian itu, kini telah

bertambah pula dengan suara nyanyian merdu dari puluhan

gadis muda.

Mereka datang karena diajak Yang-kong, semuanya

gadis-gadis lincah yang cerah dan hangat bagaikan cahaya

matahari.

Mereka pun seakan merupakan saudara semua orang,

seperti terhadap sang kekasih, ada yang menunggang kuda,

minum arak keras, memainkan golok tajam.

Ketika mulai mabuk, ketika lelah meneguk arak, mereka

pun seperti jago-jago lain, berbaring di atas tanah sambil

menghitung bintang.

Bagi seseorang yang sama sekali tak dipengaruhi pikiran

sesat, kejadian sesat apa pula yang ada di dunia ini?

Pancapanah yang di waktu biasa jarang minum arak,

hari ini ikut minum dalam jumlah banyak.

Dia mengiringi Po Eng, bertepuk tangan sambil

bersenandung perlahan:

Manusia harus ternama, arak harus memabukkan.

Berbincang saat mabuk, semuanya melupakan ganjalan

hati….

Di balik suara nyanyian mereka, lamat-lamat terkandung

nada pedih yang hambar, nada perpisahan yang tipis….

Tiba-tiba Pancapanah bangkit sambil berkata, “Kau

hampir tiba di rumah, aku pun sudah saatnya untuk pergi.”

Po Eng mengangguk perlahan.

“Aku tahu,” sahutnya sedih, “Aku pulang ke rumah,

sementara kau pergi dari sini.”

Pancapanah tidak berkata-kata lagi, dia hanya

menggenggam tangannya kuat-kuat, kemudian

membalikkan badan berlalu dari sana.

Di luar perkemahan telah disiapkan dua ekor kuda,

seekor kuda putih untuknya dan seekor lagi untuk

membawa semua perbekalan yang dibutuhkannya.

Begitu melompat naik ke atas pelana, dia pun

mencemplak kudanya dan berlalu dari sana.

Hingga lenyap di ujung langit sana, ia tak pernah

berpaling lagi.

Ooo)d*w(ooO

Langit belum lagi terang, hanya secercah sinar fajar

muncul di ufuk timur.

Jagat raya tetap dingin, sepi, dan sunyi.

Dengan melawan hembusan angin fajar ia bergerak

menuju ke dataran luas yang tak bertepi, tak berperasaan, di

sana ada kepedihan dan kesepian yang tiada tara sedang

menanti kedatangannya.

Tiba-tiba saja Siau-hong merasakan kesedihan yang tak

terlukiskan dengan kata timbul di hati kecilnya, tak tahan ia

bertanya, “Mengapa ia tidak pergi bersamamu? Mengapa

dia harus pergi seorang diri?”

Lewat lama sekali Po Eng baru menjawab, “Karena sejak

lahir dia memang seseorang yang hidup sebatang-kara,

sejak lahir sudah senang hidup seorang diri.”

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan terusnya, “Di

dalam sejarah hidupnya, sebagian besar kehidupannya

dilewatkan dalam keheningan, kesepian, dan kesendirian.”

“Tahukah kau, hendak ke mana dia?”

“Tidak, tak seorang pun yang tahu.”

Dalam pada itu hari sudah mulai terang tanah, akhirnya

matahari muncul dari kaki langit, secercah sinar terang

memancar ke udara, menyinari langit nan biru, menyinari

pula Yang-kong yang biru.

“Aku tak suka hidup dalam kesendirian,” seru gadis itu

sambil menarik tangan Po Eng, “Mari kita pulang ke

rumah.”

Mimpi pun Siau-hong tidak menyangka kalau Po Eng

punya rumah.

Benarkah Po Eng memiliki rumah tinggal?

Rumah Po Eng berada di Lhasa, kota yang dianggap suci

oleh bangsa Tibet, rumahnya merupakan tempat suci pula

bagi rekan-rekan seperjuangannya.

Dia bukan saja mempunyai rumah, bahkan jauh lebih

lebar dan megah daripada bangunan rumah lainnya.

Setelah melewati istana Potala tempat tinggal Buddha

hidup, di sebelah depan terdapat sebuah bukit hijau dengan

hamparan sebuah telaga dengan airnya yang tenang.

Rumahnya berada di kaki bukit, sebuah bukit yang

dikelilingi pepohonan rindang, di kejauhan sana lamatlamat

terlihat bentuk istana Potala yang merah.

Siau-hong sama sekali tak menyangka di luar perbatasan

ternyata terdapat tempat seindah ini, begitu megah, indah

dan penuh diliputi misteri, indah yang memabukkan, indah

yang membikin hati terpesona.

Barang dagangan harus segera dihitung, pembagian

keuntungan pun harus segera dibagikan, agar mereka dapat

menikmati kegembiraan dan keindahan alam di sana.

Po Eng seakan telah menyerahkan Yang-kong kepada

Siau-hong.

Mereka berdua sama-sama masih muda, sama-sama

dapat saling menghibur, Po Eng berharap Yang-kong dapat

menyinari bayangan gelap yang menyelimuti hati Siauhong.

Bayangan gelap yang ditinggalkan Pova.

Di saat matahari baru terbit, mereka berjalan santai

menelusuri tanah perbukitan, bangunan megah milik Po

Eng berada di kaki bukit sana, persis di tepi telaga yang

indah, sementara di kejauhan tampak bayangan samar

istana suci.

“Kau suka tempat ini?” tanya Yang-kong kepada Siauhong.

Perlahan Siau-hong mengangguk, dia hanya bisa

mengangguk. Tak seorang pun yang tidak menyukai tempat

semacam ini.

“Sebelum ini, apakah kau pernah datang kemari?”

kembali Yang-kong bertanya.

Siau-hong menggeleng.

Dahulu dia belum pernah datang kemari, seandainya

pernah, kemungkinan besar dia tak akan pergi dari sana.

Yang-kong menarik tangan Siau-hong, seperti ketika dia

menarik tangan Po Eng.

“Ayo, ikut aku pergi berpesiar,” kata si nona lebih jauh,

“Biarkan mereka berdagang sementara kita pergi bermain.”

“Mau pergi ke mana?”

“Kita berkunjung dulu ke istana Potala.”

Dinding benteng yang tersusun dari batu cadas

membentang dari istana Potala hingga Bukit Cagopoli,

pintu gerbang kota berada di bawah pagoda sana, konon di

dalam pagoda itu tersimpan tulang-belulang Buddha serta

banyak dongeng indah yang penuh misteri.

Sesudah melewati pintu berbentuk bulat, kuil Ta-cau-si

muncul di sisi kanan mereka.

Bangunan istana berdiri kekar dengan dinding benteng di

atas sepanjang tebing karang.

Kuil antik dan kuno, ruang pendeta, prasasti, bangunan

loteng semuanya tampak indah dan penuh daya tarik, tak

ubahnya seperti sebuah dongeng.

Siau-hong seolah terkesima oleh semua itu.

Bagaimana dengan Pova?

Bagaimana bila orang yang berada di sisinya adalah

Pova?

Mengapa di saat perasaan seseorang sedang terbuai

“kecantikan” seringkali justru susah untuk melupakan orang

yang berusaha ingin dilupakan?

Kenapa orang selalu sulit melupakan persoalan yang

seharusnya dilupakan?

Cahaya mentari menyinari tubuhnya, Yang-kong

mengamati pula dirinya, Yang-kong tampak cantik dan

cerah. Bagaimana pula dengan Pova?

Pova tidak mirip salju, Pova lebih mirip air hujan, hujan

musim semi yang lembut tiada putus, mirip kemasgulan

yang tak terputus oleh gunting, mirip cucuran air hujan

yang tak terputus oleh gunting….

“Ayo kita ke kuil Ta-cau-si,” tiba-tiba Siau-hong

mengajak.

Dia tahu jalan yang mengelilingi kuil Ta-cau-si adalah

Pat-kak-ke, merupakan tempat paling ramai di kota itu,

hampir semua toko dan pusat perdagangan kenamaan

berada di tempat ini.

“Eng-ki” pusat dagang milik Po Eng pun berada di jalan

raya ini.

Siau-hong berharap “keramaian” dapat membuat dia

“lupa”, sekalipun hanya lupa untuk sementara waktu.

Kuil Ta-cau-si konon didirikan oleh Bun-seng Kongcu

dari dinasti Tong.

Pada masa itu Tibet masih disebut Turfan, sementara

kota Lhasa masih disebut kota Lo-si.

Tahun Tin-koan, tahun keempat belas pada masa Tong,

perdana menteri negeri Turfan, Tong-jin dengan membawa

berbagai permata dan uang emas lima ribu tahil berangkat

ke kota Tiang-an dan membawa pulang keponakan

perempuan kaisar, Bun-seng Kongcu kembali ke negerinya.

Di kemudian hari Bun-seng Kongcu menikah dengan

Jin-bo, generasi ketujuh, Tong-jin Gan-bo.

Sebagai rasa cintanya yang tulus dan untuk memuji

kecantikan wajah istrinya, raja negeri Turfan ini pun

membangun sebuah kuil yang disebut kuil Ta-cau-si.

Namun jalanan kota di luar halaman biara merupakan

sisi lain kota itu.

Bentuk sebuah kota memang ibarat selembar kulit, ada

satu sisi yang berkilap dan indah, namun ada pula sisi lain

yang kasar dan jelek.

Ada jalanan yang indah, megah dan cemerlang, ada pula

jalanan yang kotor oleh tumpukan sampah, kerumunan

pengemis tua dengan pakaian dekil, bertelanjang kaki,

berkepala gundul, lalu sambil berkomat-kamit membaca

doa, menunggu belas kasihan para peziarah.

Sewaktu di tengah gurun pasir, di tengah badai angin

yang kencang, Siau-hong telah kehilangan air minum dan

rangsumnya, tapi sama sekali tidak kehilangan uangnya.

Dia dermakan seluruh isi kantong yang dimilikinya

kepada mereka, bukan karena rasa simpatik dan iba, tapi

seolah terpengaruh oleh semacam kekuatan aneh yang

membuatnya melakukan hal itu tanpa sadar.

“Aku tidak seharusnya pergi ke kuil Ta-cau-si,” Siauhong

sendiri pun tidak tahu apa sebabnya dia bisa

merasakan perubahan seaneh itu, “Bolehkah kita pergi ke

kantor perdagangan kalian?”

“Tentu saja boleh,” sahut Yang-kong, “Kau adalah

sahabat Toako, ke mana pun kau ingin pergi, aku akan

membawamu ke sana.”

Sekulum senyuman secerah sang surya tersungging di

wajahnya, kembali ia berkata, “Setelah sampai di sana, aku

akan membawamu pergi menjumpai seseorang, kau pasti

akan menganggapnya sebagai sahabat pula.”

Orang yang dia maksudkan bernama Cu Im.

Cu Im adalah Tayciangkwe toko “Eng-ki”, yang

dimaksudkan Tayciangkwe adalah seorang Congkoan,

pengurus rumah tangga.

Tahun ini Cu Im berusia dua puluh delapan tahun, sejak

tiga tahun berselang Po Eng telah menyerahkan urusan

perdagangan “Eng-ki” kepadanya.

Bukan satu pekerjaan yang gampang bagi seorang

pemuda berusia dua puluh lima tahun untuk memangku

kedudukan sedemikian tinggi, juga bukan suatu

keberuntungan yang kebetulan.

Dia muda, jujur, hidup sederhana, pandai membawa

diri, perkataannya berbobot, meskipun masih jomblo,

belum pernah main perempuan atau suka minum arak.

Po Eng menaruh kepercayaan kepadanya, semua anak

buahnya menaruh hormat kepadanya, dia pun belum

pernah membuat orang lain kecewa.

Dia pun tidak membuat Siau-hong kecewa.

Dengan sikap tulus dan bersungguh-sungguh dia

persilakan Siau-hong menikmati air teh lemak, caranya

berdagang memang sederhana, pakai aturan dan semuanya

terbuka.

Kepada Siau-hong katanya, “Aku tinggal di belakang

sana. Asal kau menjumpai masalah, setiap saat datanglah

mencari aku.”

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan, “Setiap hari

aku selalu ada, siang maupun malam selalu ada.”

Yang-kong menarik tangannya.

“Biasanya dia tidak minum arak, tapi bila kau memaksa

dia untuk minum, dia tak bakal mabuk lebih dulu daripada

dirimu,” senyumannya tetap lebih cerah dari sinar matahari,

“Tapi bila kau ingin mencari perempuan, dia pasti akan

kehabisan akal.”

Dia sama sekali tidak menganggap “mencari perempuan”

merupakan satu hal yang memalukan.

Sambil menuding ke arah hidung sendiri yang meski

agak bengkok namun masih kelihatan cantik, katanya, “Jika

kau ingin mencari perempuan, mohonlah kepadaku,

kujamin perempuan yang bakal kucarikan untukmu jauh

lebih lembut dan hangat daripada perempuan mana pun

yang pernah kau jumpai.”

Dia bukan perempuan, bukan termasuk semacam

perempuan.

Dia adalah Yang-kong.

Yang-kong atau sinar matahari menjadi milik semua

orang, siapa pun tak bisa mengangkanginya seorang diri.

Tapi bagaimana dengan Pova?

Mendadak Siau-hong bangkit dan bertanya, “Dapatkah

sekarang juga kau ajak aku pergi mencarinya?”

“Sekarang?” Yang-kong nampak agak tercengang,

“Sekarang juga kau akan pergi mencari perempuan?”

“Bukan hanya mencari perempuan, aku ingin minum

arak.”

Tempat ini merupakan tanah suci, tanah suci jelas

berbeda dengan tempat lain, banyak larangan berlaku di

tempat ini, karenanya hanya di tempat gelap baru akan

ditemukan arak dan perempuan.

Siau-hong menjumpai perempuan ini mirip Pova,

seorang wanita kurus, lemah, dan tenang.

Saat ini dia sudah mabuk berat.

Mabuk di tanah suci memang tak beda jauh dengan

mabuk di tempat lain.

Pagi hari.

Siau-hong berjalan keluar dari balik lorong kecil dan

sempit, dia merasakan kepalanya pening, kerongkongannya

haus, dan tubuhnya lunglai. Perasaan yang dialami pun

tidak jauh berbeda dengan perasaan yang dia alami di

tempat lain, sehabis sadar dari mabuk.

Cahaya matahari sedang menyoroti di atas sebuah

dinding, cahaya matahari berwarna kuning keemas-emasan,

bukan cahaya berwarna biru.

Seorang bocah berpakaian lusuh, berambut kusut, dan

berwajah busam, dengan membawa sebuah kaleng besi

sedang berjongkok di bawah dinding, ia menundukkan

kepala sambil mengamati kalengnya, memandangnya

dengan terpesona, seakan-akan di dunia ini tak ada benda

lain yang lebih menarik daripada barang dalam kaleng itu.

Di dunia yang begini lebar, banyak terdapat kejadian

iseng, seperti isengnya perasaan Siau-hong saat ini.

Seseorang yang iseng, sehabis melakukan perbuatan

iseng hampir semalaman perasaannya selalu begitu.

Tiba-tiba muncul keisengan di hati kecilnya, dia ingin

melihat apa isi kaleng di tangan bocah itu.

Ternyata kaleng itu berisikan ulat, penuh dengan

berbagai ulat kecil yang sedang bergerak.

“Ulat apa itu?” tanya Siau-hong.

“Bukan ulat.”

“Kalau bukan ulat, lalu apa?” tanya Siau-hong

membelalakkan mata keheranan.

“Walaupun dalam pandanganmu mereka adalah ulat,

namun dalam pandangan mata sahabatku, mereka adalah

santapan yang paling lezat.”

Ia mengangkat wajah menatap Siau-hong, walaupun

wajahnya bau setengah mati, namun dia memiliki sepasang

mata yang besar dan bersinar, jelas pancaran mata seorang

bocah cerdas.

“Karena sahabatku bukan manusia, melainkan burung,”

ia menambahkan.

Siau-hong segera tertawa, tiba-tiba ia merasa bocah ini

menarik sekali, ucapannya penuh bermakna, maka sengaja

tanyanya, “Sudah jelas kau adalah manusia, mengapa harus

bersahabat dengan burung?”

“Karena tak ada orang bersedia menjadi sahabatku,

hanya burung yang bersedia menjadi temanku. Ada teman

rasanya jauh lebih baik daripada sama sekali tak berteman.”

Sudah jelas dia adalah seorang bocah, namun apa yang

dia ucapkan seakan bukan perkataan yang muncul dari

mulut seorang bocah.

Perkataannya ini segera menyentuh hati kecil Siau-hong,

membuatnya terperana.

“Betul, punya teman memang jauh lebih baik daripada

tak berteman,” Siau-hong menghela napas panjang,

“Terkadang bersahabat dengan burung jauh lebih baik

daripada bersahabat dengan manusia.”

“Mengapa?”

“Karena manusia dapat berbohong, dapat menipu,

mencelakai, sebaliknya burung tidak.”

Siau-hong sudah siap meninggalkan tempat itu, dia tak

ingin bocah kecil yang masih polos ini ternoda karena

kelewat banyak tahu kelicikan dan kebusukan hati orang

dewasa.

Tiba-tiba bocah itu bertanya lagi, “Bagaimana dengan

kau sendiri? Baikkah sikapmu terhadap temanmu?”

Pertanyaannya kedengaran sangat aneh, ia bertanya lagi,

“Bila kau mempunyai seorang sahabat yang membutuhkan

bantuanmu, berharap kau pergi menengoknya, apakah kau

bersedia mengunjunginya?”

Siau-hong segera berpaling, tanyanya sambil menatap

wajah bocah itu, “Kalau aku bersedia lantas kenapa?”

“Kalau kau bersedia, sekarang juga ikutilah aku.”

“Ikut kau?” tanya Siau-hong, “Kenapa harus mengikuti

kau?”

“Karena aku adalah orang yang dikirim sahabatmu itu

untuk mencarimu,” sahut si bocah, “Aku sudah semalam

suntuk menunggumu di sini.”

“Jadi kau tahu siapakah aku?” Siau-hong semakin

terperangah.

“Tentu saja tahu, kau she Hong, orang lain

memanggilmu Siau-hong setengah mati.”

“Lantas siapakah sahabatku itu?”

“Aku tak boleh menyebut namanya.”

“Kenapa?”

“Karena dia minta aku menjaga rahasia, aku telah

menyanggupi. Sekalipun kau membunuhku, aku tak bakal

mengatakannya.”

Tak bisa disangkal lagi rasa ingin tahu Siau-hong telah

terpancing oleh kejadian ini.

Sekaleng ulat, seorang bocah, seorang sahabat yang

butuh bantuannya dan sebuah rahasia yang sampai mati

pun tak akan diucapkan.

Dia sama sekali tak menyangka kalau semua kejadian itu

dapat dirangkai menjadi satu, namun dia tak habis mengerti

apa sangkut-paut dan hubungannya semua ini.

“Baik,” akhirnya Siau-hong mengambil keputusan, “Aku

akan pergi bersamamu, sekarang juga berangkat.”

Si bocah cilik itu tidak langsung berangkat, ia justru

menggunakan sepasang matanya yang bulat besar untuk

menatap wajahnya lekat-lekat.

“Aku dapat menyimpan rahasia sahabatmu, bagaimana

dengan kau?” ia bertanya, “Apakah kau pun dapat

menyimpan rahasia sahabatmu?”

Siau-hong manggut-manggut.

Tiba-tiba bocah itu merangkak bangun, menggunakan

tangannya yang dekil ia menarik tangan Siau-hong seraya

berseru, “Kalau begitu, ikutlah aku!”

Dari kejauhan terdengar suara genta yang dibunyikan

bertalu-talu, menyusul terdengar suara pembacaan doa yang

berkumandang mengikuti hembusan angin, puncak pagoda

tampak membiaskan cahaya keemasan ketika tertimpa sinar

matahari.

Semua ini menambah keangkeran dan keseriusan

suasana di kota suci ini.

Di sisi lain, dalam lorong kecil yang kotor dan gelap,

hidup berdesakan kaum papa yang miskin, berstatus sosial

rendah serta aneka macam manusia lainnya, dewa mereka

seolah tak menggubris doa permohonan yang mereka

panjatkan, seolah segan mengulurkan tangannya merawat

dan memperhatikan kehidupan mereka.

Sekalipun begitu, orang-orang itu tak pernah

menggerutu, tak pernah mengeluh.

Si bocah dengan menarik tangan Siau-hong, menelusuri

kerumunan orang banyak, menembus lorong sempit dan

tiba di depan sebuah biara yang besar dan megah.

“Tempat manakah ini?”

“Biara Ta-cau-si!”

Mau apa dia mendatangi biara Ta-cau-si? Apakah teman

yang misterius itu sedang menanti kedatangannya di kuil

Ta-cau-si?

Tampaknya bocah itu sengaja tidak memberi kesempatan

kepada Siau-hong untuk banyak bertanya, dengan cepat dia

menarik tangannya dan menerobos masuk di antara para

peziarah yang sedang berdoa.

Biarpun dia hanya seorang bocah, namun apa yang dia

lakukan sama sekali tak mirip perbuatan seorang bocah.

Biara yang nampak megah dan mentereng itu justru

disinari cahaya yang redup, cahaya api yang terpancar dari

beribu batang lilin raksasa serta lentera tembaga yang

berminyak sapi, bergoyang tak hentinya ketika terhembus

angin.

Di atas dinding biara yang tinggi terukir beberapa puluh

patung dewa, sementara patung raksasa yang berada di

bagian tengah altar berwajah mengerikan dengan tujuh

warna yang berbeda. Ketika terbias cahaya lilin, patung itu

terasa lebih menyeramkan dan penuh diliputi misteri.

Mungkin kekuatan itulah membuat konsentrasi orang

nyaris terenggut, membuat setiap orang serasa lupa diri,

bahkan ada di antara peziarah yang memborgol kakinya

dengan rantai besi sambil merangkak di dalam ruang

utama.

Siau-hong dapat memahami makna semua kelakuan

yang mereka lakukan, memang banyak manusia di dunia

ini yang berharap dengan penyiksaan tubuh sendiri, mereka

dapat menghilangkan semua dosa dan kesalahan yang

pernah dilakukannya.

Bahkan dia sendiri pun seolah ikut terhanyut dan

tenggelam ke dalam perasaan yang seolah nyata tapi seolah

khayal ini, suatu perasaan yang aneh dan penuh misteri.

Tiba-tiba saja dia memahami betapa agung dan besarnya

kekuatan suatu ajaran agama.

Udara terasa dipenuhi bau kecutnya susu dan harumnya

dupa, hembusan angin serasa mengalunkan suara genta

yang berbunyi lirih, di balik bayangan kegelapan semu

terbias cahaya lilin yang bergoyang terhembus angin….

Tiba-tiba bocah itu berhenti, persis di depan sebuah liang

batu di sudut dinding kanan yang berbentuk cekung.

Di dalam liang batu itu tergantung sebuah lukisan

dinding yang menyeramkan, lukisan itu menggambarkan

setan wanita berwajah menyeramkan yang sedang mengisap

isi otak seseorang.

Gambar itu dilukis amat teliti dan sempurna hingga

tampak begitu hidup, sekalipun Siau-hong tahu setan

wanita itu hanya berupa sebuah lukisan, entah mengapa

hatinya terasa sangat tidak nyaman.

Mendadak bocah itu bertanya, “Tahukah kau siapakah

orang ini? Mengapa setan wanita itu harus menghisap isi

otaknya?”

Tentu saja Siau-hong tidak tahu.

“Karena dia adalah seorang yang ingkar janji,” bocah itu

menerangkan, “Karena ia berjanji akan menyimpan rahasia

sahabatnya, namun tak pernah dia lakukan.”

“Tampaknya kau tidak begitu mempercayai aku?” sela

Siau-hong sambil tertawa getir.

“Sekarang kita masih bukan teman, tentu saja aku tak

bisa mempercayai dirimu.”

Dari balik matanya yang bulat besar, terbesit sinar

kelicikan dari mata bocah itu, ujarnya lebih jauh, “Bila ingin

kuajak ke sana, kau harus bersumpah lebih dulu, bila kau

mengingkari sumpahmu, selama hidup akan seperti nasib

orang itu, sepanjang masa disiksa dan didera kekejian setan

wanita ini.”

Sebenarnya siapakah sahabat bocah itu? Mengapa

jejaknya begitu rahasia dan misterius?

Siau-hong pun bersumpah.

Dia tak takut pembalasan dari dewa atau setan, namun

selama hidup belum pernah mengkhianati orang lain. Satusatunya

orang yang ia merasa bersalah padanya hanyalah

pada diri sendiri.

Bocah itu tertawa, tertawa senang.

“Ternyata kau memang orang baik,” kembali dia menarik

tangan Siau-hong, “Sekarang aku benar-benar akan

membawamu ke sana.”

“Ke mana?”

“Ke rumah burung! Temanmu maupun temanku

semuanya berada di sana!”

Rumah burung adalah sebuah rumah kayu yang

berbentuk sangat aneh, rumah itu dibangun di atas sebuah

tebing karang yang menonjol ke atas, rumah kayu yang

berada di antara kerumunan beberapa batang pohon besar.

Rumah itu dikelilingi pagar kayu, di atas wuwungan

rumah penuh tergantung sangkar burung.

Sangkar itu dibuat sangat bagus dan berseni, kicauan

aneka burung terdengar begitu merdu merayu, bahkan ada

beberapa jenis burung yang bukan saja tak diketahui

namanya, bahkan Siau-hong belum pernah melihatnya.

“Semua sangkar burung itu adalah hasil karyaku.”

Berkilat sinar terang dari balik mata bocah itu,

tampaknya dia merasa bangga atas kemampuannya itu.

“Dapatkah kau lihat apa keistimewaan sangkar-sangkar

itu?”

Tanpa diberitahupun Siau-hong telah melihatnya,

walaupun semua sangkar itu berpintu, namun seluruh pintu

sangkar berada dalam keadaan terbuka.

“Aku tak ingin mengurung mereka di dalam sangkar

bagaikan tawanan saja, asal mereka senang, setiap saat

mereka bisa terbang pergi dari sini,” kata bocah itu, “Akan

tetapi biarpun mereka telah terbang pergi, kadangkala akan

balik lagi.”

Senyuman cerah kembali menghiasi wajahnya yang

dekil.

“Karena mereka tahu bahwa aku adalah sahabat

mereka.”

“Di manakah sahabatku itu?” tak tahan Siau-hong

bertanya.

Sambil menuding sebuah pintu kayu yang teramat

sempit, sahut bocah itu, “Temanmu berada di dalam sana.”

Di balik rumah kayu itu lebar dan luas, dinding yang

terbuat dari kayu tampak sudah dimakan usia, bahkan di

sana sini ada yang mulai retak dan berlubang, tak disangkal

bangunan tua ini sudah dibangun sangat lama, jauh

sebelum kelahiran bocah cilik itu.

Di dalam ruang kayu yang luas, terdapat sebuah meja

kayu yang rendah dan pendek, sebuah tungku api yang

amat besar serta seseorang.

Di atas tungku api itu berjajar rak besi yang dipakai

untuk membakar makanan, sementara orang itu duduk di

lantai membelakangi pintu.

Dia sama sekali tidak berpaling ketika Siau-hong berjalan

masuk, dia pun tidak menegur.

Bayangan punggung orang itu amat kurus, sepasang

bahunya agak miring ke bawah dan mencerminkan

kesepian yang tak terlukiskan dengan perkataan, seolah di

dunia ini jarang ada orang yang bisa mengusiknya,

memancing perhatian darinya.

Andaikata kau pun seorang jago persilatan yang kaya

akan pengalaman, maka dari bayangan punggung

seseorang, kau dapat melihat banyak sekali persoalan yang

terjadi.

Pengalaman Siau-hong sendiri meski belum terhitung

banyak, tapi begitu menyaksikan bayangan punggung orang

itu, dia pun segera mengambil satu kesimpulan….

Dia belum pernah bertemu orang ini, apalagi kenal orang

itu. Asal dia kenal seseorang, cukup melihat bayangan

punggungnya pun ia pasti dapat mengenalinya.

Oleh karena itu dia sangat yakin orang ini bukan

sahabatnya.

Tentu saja siapa pun tak akan bersahabat dengan

seseorang yang selama hidup belum pernah ditemuinya.

Lalu siapakah orang ini? Mengapa harus mengaku

sebagai sahabat Siau-hong? Mengapa dia meminta seorang

bocah untuk mengajak Siau-hong datang menemuinya?

Siau-hong segera berhenti tak bergerak.

Sewaktu berjalan, dia lincah dan gesit, tapi begitu

berhenti bergerak, ia berdiri sangat mantap, seakan sebatang

paku raksasa yang menancap di atas permukaan tanah.

Ooo)d*w(ooO

BAB 12. MISTERI DALAM RUMAH BURUNG

Dia telah membuat persiapan, persiapan untuk

menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, termasuk

sergapan kilat yang dilancarkan secara tiba-tiba.

Ia sama sekali tidak bergerak, ia merasa orang ini bukan

seseorang yang berbahaya.

“Akulah Siau-hong, aku telah datang,” ujarnya

kemudian.

Orang itu belum juga berpaling, sampai lama kemudian

perlahan-lahan baru mengangkat tangan kanannya,

menunjuk meja di depannya dan menyahut lirih, “Duduk!”

Suaranya lemah dan lirih, tangannya dibalut kain putih,

bahkan lamat-lamat masih kelihatan darah yang meleleh.

Tak disangkal lagi orang ini terluka, bahkan tidak ringan

luka yang dideritanya.

Siau-hong semakin yakin kalau dia tak pernah kenal

orang ini, namun pemuda itu tetap berjalan

menghampirinya.

Jelas orang ini bukan tandingannya, serta-merta

kesiagaannya menghadapi bahaya pun berangsur

mengendor.

Setelah melewati meja pendek, ia berjalan menuju ke

hadapan orang itu.

Sesaat setelah dia menjumpai wajah orang itu, tiba-tiba

saja perasaannya serasa tenggelam, rasa dingin yang

menggidikkan tiba-tiba tenggelam hingga merasuk ke dasar

telapak kakinya.

Ternyata Siau-hong pernah bertemu orang ini, tentu saja

kenal pula orang ini.

Sekalipun orang ini adalah musuh tangguh Siau-hong,

namun andaikata dia ingin menganggap dia sebagai

sahabatnya, Siau-hong pun pasti tak akan menolak.

Ada semacam manusia memang selalu berada pada

posisi antara teman dan musuh, seorang musuh yang patut

dihormati, bahkan terkadang jauh lebih sulit diperoleh

daripada menemukan seorang sahabat sejati.

Siau-hong selalu menghormati manusia semacam ini.

Tadi dia tak dapat mengenali orang ini karena orang itu

telah mengalami perubahan total, berubah jadi amat

memilukan tapi sangat menakutkan.

Seorang wanita yang maha cantik tiba-tiba berubah jadi

nenek jelek, sebilah senjata mestika mendadak berubah jadi

besi rongsokan.

Sekalipun kehendak takdir sukar diramalkan, walaupun

kejadian di dunia mudah berubah, namun perubahan yang

terjadi atas diri orang ini tak urung menimbulkan juga

perasaan sedih dan iba yang mendalam.

Siau-hong sama sekali tak mengira seorang jago pedang

yang luar biasa, kini telah berubah jadi begini rupa.

Ternyata orang ini tak lain adalah Tokko Ci.

Siau-hong betul-betul menjadi setengah gila.

Bukan gila karena pedang, tapi gila oleh gejolak

perasaan.

Seorang yang gila pedang selamanya tak akan bisa

memahami kepedihan yang dialami seorang gila karena

perasaan, tapi seorang yang betul-betul gila karena perasaan

pasti dapat memahami penderitaan karena kesepian,

kesendirian yang dialami seorang yang gila pedang.

Seorang jago pedang tak ternama karena dia sudah

tergila-gila oleh pedang, bila seorang gila pedang tiba-tiba

kehilangan pedangnya, bagaimana tersiksa dan

menderitanya perasaan orang itu?

Bila dia telah kehilangan pedang yang digenggamnya,

perasaan apa pula yang mencekam hatinya saat itu?

Akhirnya Siau-hong mengambil tempat duduk.

“Rupanya kau!” ia berbisik.

“Ya, memang aku,” jawaban Tokko Ci tenang tapi

lemah, “Kau tentu tak menyangka bukan kalau aku yang

datang mencarimu.”

“Benar, aku sama sekali tak menyangka.”

“Aku mencarimu karena aku tak punya teman.

Meskipun kau pun bukan temanku, namun aku tahu kau

pasti akan datang.” Siau-hong tidak berkata lagi.

Ada banyak persoalan dapat dia tahan untuk tidak

ditanyakan, namun dia tak dapat mengendalikan

keinginannya untuk memandang tangannya.

Tangan yang selama ini hanya digunakan untuk

menggenggam pedang, kini sudah berubah menjadi sebuah

tangan yang dibalut dengan kain putih.

Tokko Ci sendiri pun tidak berkata apa-apa, tiba-tiba saja

dia melepas kain putih yang membalut tangannya.

Tulang tangannya telah hancur hingga berubah bentuk,

nyaris setiap kerat tulangnya telah retak atau hancur.

Padahal pedang adalah nyawanya dan sekarang dia telah

kehilangan tangan yang menggenggam pedang itu… ibarat

penyair kehilangan kata indah, wanita cantik berubah

tinggal kerangka, kuda jempolan tak mampu lari dan

pedang emas terkubur dalam tanah.

Tiba-tiba saja muncul perasaan kecut di hati kecil Siauhong,

suatu perasaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata,

semacam rasa linu karena tusukan jarum yang menyentuh

hingga ke tulang.

Tokko Ci telah berubah, berubah jadi begitu lemah dan

layu, berubah jadi tak bersinar, berubah begitu

mengenaskan hingga membuat yang melihat jadi iba dan

sedih.

Hanya ada satu hal yang sama sekali tak berubah.

Dia masih sangat tenang, tenteram, tenang bagai batu

karang, tenteram bagai jagat raya.

Jago pedang tak berperasaan, jago pedang tak ternama,

jago pedang pun tak akan meneteskan air mata.

Bahkan sorot mata Tokko Ci sama sekali tiada

perubahan perasaan atau emosi, dia hanya mengawasi

tangannya yang telah hancur itu dengan pandangan tenang.

“Kau seharusnya dapat melihat, bukan? Tulang tanganku

telah hancur,” katanya, “Hanya satu orang yang dapat

menghancurkan tanganku.”

Hanya satu orang, memang hanya ada satu orang, Siauhong

percaya akan hal itu, Siau-hong pun tahu siapa orang

yang dimaksud. Tokko Ci sadar pemuda itu pun tahu.

“Po Eng bukan jago pedang, bukan pendekar, juga bukan

seorang Enghiong, sama sekali bukan.”

“Lantas siapakah dia?” tanya Siau-hong.

“Po Eng adalah manusia luar biasa,” sikap Tokko Ci

tetap sangat tenang, “Dalam hatinya hanya ada

kemenangan, tak ada kalah, hanya boleh menang, tak boleh

kalah. Untuk memperoleh kemenangan, dia tak segan

mengorbankan segalanya.”

Siau-hong mengakui hal ini, mau tak mau harus

mengakui.

“Dia sendiri pun tahu dirinya bukan tandinganku,” ujar

Tokko Ci lebih lanjut, “Sewaktu dia datang menantangku

berduel pun, aku juga tahu dia pasti kalah.”

“Tapi kenyataan dia tidak kalah.”

“Dia tidak kalah, meskipun tidak menang, namun dia

pun tidak kalah, manusia semacam dia selamanya memang

tak bakal kalah,” sekali lagi Tokko Ci mengulangi katakatanya,

“Karena dia tak segan untuk mengorbankan

segalanya.”

“Apa yang dia korbankan?” mau tak mau Siau-hong

bertanya, “Bagaimana caranya berkorban?”

“Dia sengaja membiarkan aku menusuk dadanya,”

Tokko Ci menerangkan, “Di saat ujung pedangku menusuk

dadanya itulah tiba-tiba ia mencengkeram tanganku,

menghancurkan tulang tanganku ini.”

Ternyata suaranya masih sangat tenang, “Waktu itu aku

yakin pasti menang, kenyataan memang menang. Saat itu

seluruh pikiran dan ujung pedangku telah terjadi kontak

langsung dengan darah dagingnya, hawa pedangku telah

melemah, pedang pun telah terhadang oleh darah

dagingnya, saat seperti ini merupakan saat paling lemah

bagiku.”

Siau-hong mendengarkan dengan tenang, mau tak mau

harus mendengar, dia pun tak berpikir untuk tidak

mendengar.

Tokko Ci jarang sekali berbicara selama ini,

mendengarkan perkataannya seperti mendengar seorang

pelacur kenamaan sedang membicarakan soal cinta, seperti

seorang pendeta agung sedang membicarakan keagamaan.

“Semuanya hanya terjadi dalam sekejap, tahukah kau

berapa lama waktu sekejap itu?” tiba-tiba Tokko Ci

bertanya.

Tentu saja Siau-hong mengerti.

Dia tahu, waktu “sekejap” itu sangat pendek,

dibandingkan “berkelebatnya kuda jempolan” jauh lebih

pendek lagi.

“Waktu sekejap adalah ungkapan kaum Buddha,” Tokko

Ci menerangkan, “Waktu dalam satu sentilan jari itu berarti

enam puluh tahun.”

Perlahan-lahan dia melanjutkan, “Saat itu adalah saat

penentuan antara hidup dan mati, menang dan kalah. Pada

hakikatnya memang hanya bisa dilukiskan sebagai waktu

sekejap, Po Eng memanfaatkan baik-baik waktu sekejap itu,

karenanya dia tak akan terkalahkan!”

Dalam waktu sekejap itulah mati hidup, menang kalah

telah ditentukan, dalam waktu sekejap itu pula nasib

kehidupan seseorang akan berubah, berubah untuk

selamanya.

Waktu yang sekejap itu benar-benar menakutkan,

menggetarkan sukma dan mengerikan!

Akan tetapi Tokko Ci masih tetap menjaga

ketenangannya sewaktu membicarakan soal waktu sekejap,

dia masih dapat mempertahankan ketenteraman hatinya.

Dalam hal ini mau tak mau Siau-hong harus

mengaguminya.

Tokko Ci bukan pelacur kenamaan, bukan pendeta

agung, yang dibicarakan bukan masalah cinta, juga bukan

masalah agama.

Yang dia singgung adalah masalah pedang, teori ilmu

pedang.

Namun yang dikagumi Siau-hong bukan hal itu, Tokko

Ci memang seharusnya berbicara soal pedang, karena dia

sudah dibuat tergila-gila karena pedang. Yang dikagumi

Siau-hong adalah ketenangan hatinya.

Jarang sekali ada orang yang masih dapat menjaga

ketenangan hatinya dalam situasi seperti ini, termasuk Siauhong

sendiri.

Kelihatannya Tokko Ci dapat menembusi jalan

pikirannya.

“Aku telah mempersembahkan seluruh hidupku demi

pedang, tapi mulai sekarang kemungkinan besar aku sudah

tak dapat menggenggam pedang lagi, tapi aku tak menjadi

gila karena kejadian ini, semangatku pun tak akan runtuh

karena hal ini.”

Kemudian ia bertanya kepada Siau-hong, “Apakah kau

merasa sangat heran?”

Mau tak mau Siau-hong harus mengakuinya.

Kembali Tokko Ci bertanya, “Inginkah kau mengetahui

apa sebabnya aku masih belum roboh?”

Tanpa menunggu jawaban Siau-hong, dia telah

mengatakan sendiri jawabannya.

“Karena Po Eng meski berhasil menghancurkan tangan

yang kugunakan untuk menggenggam pedang, namun dia

tak pernah mampu menghancurkan niat pedang yang

tertanam di hatiku. Sekalipun dalam tanganku sudah tiada

pedang, akan tetapi dalam hatiku masih terdapat sebilah

pedang.”

“Pedang dalam hati?”

“Betul, pedang dalam hati itu tidak kosong, bukan semu,

dan bukan ilusi.”

Sikap dan suaranya tiba-tiba berubah jadi serius dan

bersungguh-sungguh.

“Biarpun dalam genggamanmu terdapat pedang tajam

yang mampu memutus bulu dan rambut, namun selama di

hatimu tiada pedang, maka pedang yang berada dalam

genggamanmu tak lebih hanya sebilah pedang rongsok,

sebilah pedang yang sama sekali tak berguna, selama hidup

kau tak pernah akan mampu menjadi seorang pendekar

pedang sejati.”

Dengan hati menggerakkan pedang, dengan niat melukai

musuh, inilah teori ilmu pedang tingkat tinggi.

Walaupun Siau-hong belum dapat memahami inti

perkataan itu, namun dia sendiri pun tahu, untuk menjadi

seorang jago pedang sejati, hati dan pedang harus dapat

dilebur menjadi satu.

Bila hati dan pedang telah terlebur menjadi satu,

mengendalikan gerak pedang dengan pikiran pun bukan

suatu dongeng belaka.

Melebur pedang dengan hati merupakan tingkat paling

tinggi yang harus bisa dicapai setiap jago pedang. Kalau

tidak, pada hakikatnya dia tak pernah akan mampu menjadi

seorang jago pedang sejati.

Kembali Tokko Ci berkata, “Biarpun Po Eng tidak kalah,

namun dia pun tidak menang. Sekalipun dia berhasil

menghancurkan tanganku, meski dia berhasil memaksa aku

tak bisa menggenggam pedang lagi, namun aku masih tetap

bisa membunuhnya, membunuhnya di ujung pedangku.”

“Lantas mengapa kau tidak membunuhnya?”

“Karena dalam hatiku tetap masih ada pedang, aku pun

seperti dia, di dalam hati kami tiada kata mati atau hidup,

yang ada hanya menang atau kalah. Yang kami

perjuangkan bukanlah kehidupan melainkan kemenangan,

benar-benar mengalahkan dia, menghancurkan dirinya.”

Siau-hong memandang tangannya sekejap, kemudian

bertanya, “Jadi kau masih mempunyai kesempatan untuk

mengalahkan dirinya?”

“Aku pasti dapat mengalahkan dia!” jawaban Tokko Ci

penuh dengan niat serta rasa percaya diri.

Akhirnya Siau-hong mengerti, justru karena dia masih

memiliki niat dan rasa percaya diri, maka sikapnya masih

dapat tenang dan tenteram.

Kembali Tokko Ci berkata, “Oleh karena aku harus

dapat mengalahkan dia, maka kucari dirimu. Aku tak dapat

mencari orang lain, karenanya terpaksa mencarimu.”

Setelah menatap tajam Siau-hong, kembali terusnya,

“Inilah rahasia di antara kita berdua, kau tak boleh

membocorkan rahasiaku ini, kalau tidak, aku pasti mati.”

“Kau pasti mati? Kau anggap Po Eng bakal datang

membunuhmu?”

“Bukan Po Eng, melainkan Wi Thian-bong sekalian.”

Setelah menatap sekejap tangan sendiri, kembali Tokko

Ci meneruskan, “Mereka menganggap aku adalah orang

cacat yang tak berguna. Asal mengetahui jejakku, mereka

pasti tak akan melepaskan aku, karena rahasia yang

kuketahui kelewat banyak, bahkan belum pernah

memandang sebelah mata terhadap mereka.”

“Oleh sebab itu mereka membencimu?” kata Siau-hong,

“Aku pun dapat melihat semua membencimu, selain benci

juga takut, sekarang kau sudah tidak memiliki kemampuan

yang bisa membuat mereka takut, tentu saja mereka akan

datang membunuhmu.”

“Itulah sebabnya aku mencarimu,” sela Tokko Ci, “Aku

berharap kau dapat melakukan dua hal untukku.”

“Katakan.”

“Aku butuh uang, setiap sepuluh hari satu kali kau

bawakan dua ratus tahil perak untukku, sewaktu kemari

jangan sampai jejakmu ketahuan oleh siapa pun.”

Tokko Ci tidak menjelaskan untuk apa uang sebanyak

itu, Siau-hong sendiri pun tidak bertanya.

“Aku pun minta kau membantuku pergi membunuh

seseorang.”

Ternyata dia minta Siau-hong mewakilinya membunuh

seseorang!

“Kita bukan teman. Sebagai jago pedang, bukan saja

tiada perasaan, tiada nama, tiada air mata, juga tiada

sahabat,” ucap Tokko Ci, “Sejak dilahirkan, kita sudah

ditakdirkan bermusuhan, karena kau pun belajar pedang,

aku pun ingin mengalahkan kau, terlepas apa pun yang

pernah kau lakukan untukku. Aku tetap akan mengalahkan

kau.”

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya, “Kau

pun seharusnya tahu, bila kalah di ujung pedangku berarti

mati.”

Tentu saja Siau-hong tahu.

“Oleh sebab itu kau boleh menampik permintaanku dan

aku tak akan membencimu,” kata Tokko Ci lagi, “Apalagi

pekerjaan yang ingin kuserahkan kepadamu bukanlah

pekerjaan gampang.”

Kedua permintaannya memang bukan pekerjaan

gampang.

Setiap sepuluh hari mengirim dua ratus tahil perak,

sebuah jumlah yang tidak terhitung kecil, Siau-hong bukan

orang berduit, kenyataan saat ini dia memang sama sekali

tak berduit, kantongnya bersih bagaikan baru keluar dari

cucian.

Siau-hong terlebih tak ingin sembarangan membunuh

orang.

Dia seharusnya menampik permintaan Tokko Ci, karena

pada hakikatnya mereka bukan sahabat, melainkan musuh.

Kemungkinan besar suatu saat nanti dia bakal mati di

ujung pedang Tokko Ci. Sejak perjumpaan pertama, dia

sudah merasakan semacam firasat yang tidak

menguntungkan.

Namun dia tak dapat menampik permintaannya.

Dia tak bisa menampik permintaan dari seorang musuh

yang masih mempercayainya seratus persen kendati dia

sedang menghadapi ancaman bahaya.

“Boleh saja aku menerima permintaanmu,” kata Siauhong,

“Namun aku harus bertanya lebih dulu tentang dua

hal itu.”

Pertanyaan pertama yang ingin dia tanyakan adalah,

“Kau yakin orang lain tak bakal menemukan tempat ini?”

Meskipun tempat itu sangat rahasia letaknya, bukan

berarti tempat yang susah untuk ditemukan.

Jawaban Tokko Ci ternyata sangat meyakinkan, “Dulu

tempat ini ditinggali seorang pertapa, dia pun seorang jago

pedang, semua anggota sukunya sangat menaruh hormat

kepadanya, belum pernah ada orang berani datang

mengusiknya. Jadi orang lain tak akan menyangka kalau

aku pun bisa datang ke tempat ini.”

“Kenapa?”

“Karena jago pedang itu sudah mati di ujung pedangku,”

ucap Tokko Ci, “Dua bulan berselang, aku baru tiba di sini

dan membunuhnya di bawah pohon kuno di luar sana.”

Siau-hong menarik napas dalam, lalu menghembuskan

perlahan-lahan, tanyanya kemudian, “Apakah bocah itu

adalah putranya?”

“Benar!”

“Kau telah membunuh ayahnya, bersembunyi di sini,

dan minta dia menampungmu, menjaga rahasia

untukmu….”

“Aku tahu dia pasti akan menyimpan rahasia untukku,

karena dia ingin balas dendam, karena itu dia tak akan

membiarkan aku mati di tangan orang lain, di kolong langit

saat ini, hanya aku yang bisa mengajarkan ilmu pedang

kepadanya, ilmu pedang yang mampu mengalahkan aku.”

“Kau bersedia mewariskan ilmu pedang kepadanya?”

“Aku telah menyanggupi permintaannya,” kata Tokko Ci

hambar, “Aku berharap dia pun dapat membalas dendam

ayahnya, mencabut nyawaku di ujung pedangnya.”

Siau-hong merasakan jari tangannya dingin kaku.

Dia bukannya tak dapat memahami perasaan semacam

ini, di balik watak manusia, sesungguhnya memang

dipenuhi pertentangan batin yang memilukan, justru karena

dia memahami perasaan semacam ini maka hatinya merasa

amat ketakutan.

Tokko Ci pasti akan pegang janji, di kemudian hari besar

kemungkinan bocah itu akan berubah menjadi seorang jago

pedang yang lebih tak berperasaan, cepat atau lambat, suatu

saat dia pun akan membunuh Tokko Ci, kemudian

menunggu kedatangan jago pedang tak berperasaan lain

yang akan mengakhiri hidupnya.

Bagi orang-orang semacam mereka, kehidupan tidaklah

terlalu penting, baik kehidupan orang lain maupun

kehidupan diri sendiri, bagi mereka hal itu sama saja.

Mereka hidup karena untuk menyelesaikan sebuah

persoalan, mencapai sebuah tujuan tertentu, di luar itu

semua, tak satu pun masalah yang akan mereka pikirkan.

Cahaya matahari di luar pintu telah menyinari seluruh

permukaan bumi, kicau burung di bawah wuwungan rumah

pun terdengar riuh dan berisik.

Padahal kehidupan itu sangat indah dan menawan,

mengapa justru ada manusia yang memandang ringan hal

itu, menganggap suatu kehidupan begitu tak berharga.

Perlahan-lahan Siau-hong bangkit, kini dia tinggal

mempunyai satu pertanyaan yang ingin ditanyakan, satu

pertanyaan untuk dua persoalan.

“Mengapa kau minta aku pergi membunuh seseorang?”

tanyanya, “Siapa yang harus kubunuh?”

“Karena kalau dia tidak mati duluan, maka selamanya

aku tak pernah dapat melakukan pekerjaan yang ingin

kulakukan,” Tokko Ci menjawab pertanyaannya pertama,

“Hanya Po Eng yang dapat menghancurkan tanganku yang

menggenggam pedang, tapi orang ini dapat mematahkan

pedang yang berada dalam hatiku.”

Dalam hati sebetulnya tak ada pedang, kalau pedang

berada di dalam hati, siapa yang dapat mematahkannya?

Bila ingin mematahkan pedang dalam hati seseorang, dia

harus menghancurkan hati orang itu terlebih dulu, mana

mungkin seorang jago pedang yang tak berperasaan, tak

ternama, tak punya air mata bisa hancur perasaannya?

Dari balik mata Tokko Ci yang dingin dan hambar tibatiba

terjadi perubahan yang sangat aneh, seakan sebilah

senjata tajam yang telah berulang kali membunuh orang

tiba-tiba diceburkan kembali ke dalam kobaran api yang

membara.

Siapa pun tak menyangka kalau dari balik matanya bisa

muncul perubahan mimik muka yang begitu menderita dan

tersiksa.

“Dia adalah seorang wanita, seorang iblis wanita, setiap

kali bertemu dengannya, aku tak sanggup mengendalikan

diriku. Biarpun aku tahu perempuan macam apakah

dirinya, namun tak mampu melepaskan diri dari jeratnya.

Selama dia belum mati, sepanjang hidup aku harus tersiksa,

menjadi budaknya, menjadi pelayannya.”

Siau-hong tidak bertanya siapakah perempuan itu.

Dia tak berani bertanya. Tiba-tiba dari dasar hati

kecilnya muncul sebuah pikiran yang membuat dia sendiri

pun merasa ketakutan setengah mati.

Tiba-tiba saja dia teringat lukisan dinding yang

dilihatnya dalam kuil kuno, wajah perempuan iblis yang

sedang mengisap otak seseorang, wajahnya yang jelek, buas

dan menakutkan seakan-akan berubah secara tiba-tiba

menjadi selembar wajah perempuan.

Sebuah wajah perempuan yang amat cantik.

Tokko Ci berkata lebih lanjut, “Aku tahu, dia pasti

berada pula di Lhasa, sebab dia tak akan melepaskan Po

Eng, juga tak akan melepaskan diriku.”

“Kenapa?” tanya Siau-hong.

“Karena Po Eng adalah begal kucing, dialah si begal

kucing,” kata Tokko Ci, “Dia pasti mengikuti Po Eng

datang ke Lhasa, dia pun memiliki sebuah tempat

persembunyian yang amat rahasia di kota Lhasa ini.”

“Di mana?”

“Di pusat istana Potala, di sisi istana merah, tempat

Dalai Lhama melewatkan musim dinginnya, dalam sebuah

ruang pendeta yang amat kecil dan sempit,” kata Tokko ci,

“Hanya dia yang sanggup menyusup ke pusat istana Potala,

karena Lhama pun lelaki, tak ada lelaki yang bisa menolak

permintaannya.”

Siau-hong tidak menunggu lebih lama, dia sudah

berjalan keluar dari tempat itu.

Dia tak ingin mendengarnya lagi, tak ingin mendengar

Tokko Ci menyebut nama perempuan itu.

Tapi Tokko Ci telah menyebut nama perempuan itu.

“Dia bernama Pova,” suaranya dipenuhi penderitaan dan

siksaan, “Karena kau telah menyanggupi permintaanku,

sekarang pergilah mencari dia, bunuhlah dia mewakili aku.”

Di luar pintu rumah, cahaya matahari masih memancar

menyinari seluruh jagat, burung masih berkicau dari bawah

wuwungan rumah, tapi bagaimana dengan kehidupan?

Benarkah kehidupan itu begitu indah dan menawan?

Mengapa di dalam perjalanan hidup selalu muncul begitu

banyak penderitaan dan pertentangan batin yang sulit

dihindari?

Perlahan-lahan Siau-hong berjalan keluar.

Bocah itu masih berdiri di bawah wuwungan rumah,

berdiri kesemsem sambil mengawasi sebuah sangkar dengan

seekor burung, entah burung jalak atau burung huabi?

“Dia adalah sahabatku,” bocah itu berkata tanpa

berpaling, tapi jelas perkataan itu ditujukan kepada Siauhong.

“Aku tahu,” jawab Siau-hong, “Mereka adalah

sahabatmu.”

Tiba-tiba bocah itu menghela napas panjang, dari balik

matanya yang bening tiba-tiba terlintas perasaan murung

yang sangat mendalam, perasaan murung seorang dewasa.

“Tapi aku merasa bersalah terhadap mereka.”

“Kenapa?”

“Karena aku tahu, cepat atau lambat, suatu hari nanti

mereka pasti akan tewas di ujung pedang Tokko Ci,” kata

bocah itu perlahan, “Asal tangannya mampu menggenggam

pedang, dia pasti akan menggunakan mereka sebagai

sasaran pedangnya.”

“Dari mana kau bisa tahu?”

“Karena ayahku memelihara burung-burung ini untuk

digunakan sebagai sasaran pedangnya,” ujar bocah itu lagi,

“Suatu kali dia pernah membunuh tiga belas ekor burung

dalam sekali tebasan pedang. Tapi malamnya dia sendiri

tewas di ujung pedang Tokko Ci.”

Biarpun dia hanya seorang bocah, namun suaranya

menampilkan semacam perasaan sedih dan tak berdaya

yang sangat mendalam.

Apakah hal ini dikarenakan ia sudah paham bahwa

dengan kematian segala permasalahan akan berakhir?

Puncak gunung kadangkala merupakan titik akhir dari

sebuah perjalanan, ketika seorang jago pedang telah

mencapai puncaknya, seringkali kehidupannya akan ikut

berakhir pula.

Apakah hal ini merupakan keberuntungannya ataukah

justru merupakan ketidak beruntungannya?

Angin berhembus menggoyangkan ranting pohon,

manusia itu masih berdiri di bawah pohon.

Sampai lama sekali Siau-hong termenung, kemudian

baru perlahan-lahan berkata, “Walaupun mereka adalah

sahabatmu, kemungkinan besar suatu ketika nanti kau pun

akan menggunakan mereka sebagai sasaran pedangmu.”

Bocah itu termenung cukup lama, ternyata dia

mengangguk juga perlahan, “Betul, kemungkinan besar aku

pun akan menggunakan mereka sebagai sasaran pedangku.”

“Dengan mata kepala sendiri kau saksikan dia telah

membunuh ayahmu, tapi kau tetap menerima dan

menampungnya.”

“Karena aku pun ingin menjadi seorang jago pedang

seperti mereka.”

“Suatu hari kelak, kau pun pasti akan menjadi seorang

jago pedang seperti mereka.”

“Bagaimana dengan kau sendiri?” tiba-tiba bocah itu

berpaling dan menatap Siau-hong lekat-lekat.

Siau-hong tidak menjawab.

Dia telah berjalan keluar dari rimbunnya dedaunan dan

berjalan menuju ke bawah sinar sang surya, dia berjalan

terus ke depan, berjalan tanpa berpaling lagi, karena pada

hakikatnya dia sendiri pun tak mampu menjawab

pertanyaan itu.

Di sepanjang jalan raya Pat-ka-ke di luar biara Ta-cau-si

berderet aneka macam pertokoan.

Di dalam toko-toko yang sudah gelap karena lama

terkena uap minyak, bertumpuk aneka macam barang

dagangan yang berasal dari empat penjuru.

Kulit macan tutul, kulit harimau, kulit macan kumbang,

kulit kucing hutan, aneka warna “Kari” dan kain sutera

tergantung berjajar di atas rak tinggi, permadani dan kain

yang berasal dari negeri Persia atau negeri Thian-tok (india)

memenuhi seluruh rak dalam ruangan.

Daun teh yang datang dari Da-cin bertumpuk bagai

bukit, dupa wangi yang datang dari timur Tibet, bahan

penyedap, batu manik, mutiara, perkakas tembaga yang

datang dari Nepal, barang porselen, batu Manau, sulaman,

beras yang datang dari dataran Tionggoan, bahan kulit yang

datang dari Mongol, hampir semuanya tersedia di tempat

itu.

Tak dapat disangkal toko “Eng-Ki” merupakan kantor

perdagangan terbesar di tempat itu.

Benarkah Po Eng adalah begal kucing? Sudah pasti betul.

Pova adalah iblis wanita! Belum pernah ada seorang

lelaki pun yang menolak permintaannya!

Kalau kau sudah menyanggupi permintaanku, sekarang

pergi dan bunuhlah dia!

Siau-hong tak mau berpikir, sama sekali tak ingin

berpikir.

Dia tak dapat menanyakan persoalan ini kepada Po Eng,

juga tak tahu harus menggunakan cara apa untuk memasuki

istana merah, istana musim dingin Dalai Lhama yang

berada di pusat istana Potala.

Dalam keadaan begini terpaksa dia harus balik dulu ke

“Eng-Ki”, dia ingin meminjam tiga ratus tahil perak dari Cu

Im.

Dia percaya Cu Im tak akan menampik permintaannya.

Namun sebelum dia sempat buka suara, Cu Im sudah

berkata lebih dulu, “Ada seseorang sedang menunggumu,

sudah menunggu lama sekali.”

“Siapa?” tanya Siau-hong, “Di mana?”

“Ada di sini!”

Siau-hong pun segera melihat orang itu.

Seorang lelaki yang masih sangat muda, walaupun

wajahnya nampak agak kusut namun dandanannya indah,

mewah dan terhormat, sikapnya serius, tak dapat disangkal

status sosialnya di antara kalangan etniknya jauh lebih

tinggi dari siapa pun.

Dia adalah orang Tibet dengan logat bahasa Han yang

kaku dan garing, setiap kali Siau-hong mengajukan satu

pertanyaan, dia baru menjawab sepatah kata.

“Aku she Hong, akulah Siau-hong, apakah kau datang

mencari aku?”

“Benar.”

“Tapi aku tidak mengenalmu.”

“Aku pun tidak mengenalmu,” sahut orang itu sambil

menatap tajam wajah Siau-hong.

“Kau pun tidak kenal padaku? Lalu mau apa kau datang

mencariku?” tanya Siau-hong lagi.

Tiba-tiba orang itu bangkit dan berjalan keluar dari “Eng-

Ki”, setelah berada di luar pintu ia baru berpaling sembari

berkata, “Bila ingin tahu mengapa aku datang mencarimu,

ikutlah diriku.”

Setelah ia bangkit, Siau-hong baru menemukan bahwa

dia berperawakan tinggi besar, jauh lebih tinggi daripada

kebanyakan orang.

Di luar pintu merupakan jalan raya paling ramai di kota

Lhasa, berbagai lapisan masyarakat berlalu-lalang di sana.

Ketika berada di tengah jalan raya, orang itu ibarat

seekor bangau yang berjalan di antara kerumunan ayam.

Ada banyak orang setelah memandang ke arahnya, mimik

muka mereka segera menunjukkan perubahan yang sangat

aneh, bahkan segera membungkukkan badan memberi

hormat.

Bahkan tak sedikit di antara mereka yang segera berlutut

dan mencium kakinya.

Orang itu sama sekali tidak bereaksi, seolah dia sudah

terbiasa menerima penghormatan semacam ini dari orang

lain.

Sebenarnya siapakah orang ini?

Siau-hong mengikut di belakangnya, baru saja ia tiba di

depan warung penjual susu lemak, baru saja ia mengendus

bau aneh yang entah harum atau bau, tapi yang pasti bau

itu tak akan membangkitkan selera makan, sudah ada duatiga

puluh jenis senjata rahasia yang dilontarkan ke arah

bagian tubuhnya yang sangat mematikan!

Yang benar ada dua puluh enam jenis senjata rahasia,

namun hanya terdengar sekali desingan angin tajam dan

terlihat tiga kilatan cahaya berkilauan.

Dua puluh enam jenis senjata rahasia secara terpisah

mengancam tiga bagian tubuh Siau-hong yang sangat

mematikan, tenggorokan, hulu hati, dan ginjal.

Senjata rahasia yang amat beracun, serangan yang

dilancarkan pun jauh lebih beracun.

Dua puluh enam jenis senjata rahasia datang dari satu

arah yang sama, yaitu muncul dari hadapan Siau-hong,

datang dari tangan pemuda berbaju anggun, perlente dan

sangat dihormati setiap orang itu.

Seseorang dengan status sosial yang begitu tinggi dan

terhormat, mengapa harus menggunakan cara yang begitu

keji, begitu licik untuk membokong seorang asing yang

sama sekali tak dikenalnya?

Siau-hong tidak bertanya, dia pun tidak roboh terkena

sambitan senjata rahasia itu.

Sudah terlalu banyak ancaman bahaya yang pernah dia

hadapi, sudah kelewat banyak senjata rahasia yang

disambitkan ke arahnya, karena itu setiap saat dia harus

selalu waspada, selalu meningkatkan kesiagaannya untuk

menghadapi segala sesuatu.

Begitu senjata rahasia itu disambitkan ke arahnya,

dengan cepat ia sudah menyambar selembar permadani

Persia yang tergantung di depan sebuah toko.

Dua puluh enam jenis senjata rahasia hampir semuanya

menancap di atas permadani yang terbuat dari sulaman

halus itu, namun tak satu pun yang dapat menembusnya.

Pemuda yang berjalan di depan Siau-hong itu sama

sekali tak berpaling, dia pun sama sekali tidak

menghentikan langkahnya.

Ooo)d*w(ooO

BAB 13. PERTARUHAN SEORANG PENDETA

AGUNG

Siau-hong pun sama sekali tidak bereaksi, dia

membalikkan badan sambil menggantungkan kembali

permadani itu di tempat semula, kemudian mengikuti

kembali di belakang orang itu.

Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan, seakan

tak pernah terjadi suatu peristiwa pun di sana.

Biarpun penampilan Siau-hong tetap tenang, bukan

berarti perasaannya bisa tenang, karena dia sudah melihat

kalau orang itu adalah seorang jago lihai, kemungkinan

besar dia adalah musuh paling menakutkan pertama yang

dijumpainya sejak memasuki wilayah Tibet, bahkan jauh

lebih menakutkan daripada Wi Thian-bong.

Biarpun golok milik Wi Thian-bong menakutkan,

walaupun kecepatan geraknya sewaktu mencabut golok luar

biasa kilatnya, namun sewaktu dia meloloskan senjatanya,

sedikit banyak bahu kanannya tentu akan bergerak terlebih

dahulu.

Walaupun panahnya menakutkan, namun sebelum dia

membidikkan anak panahnya, tentu akan menarik dulu

gendawanya.

Sekalipun jago-jago paling lihai dalam dunia persilatan,

sesaat sebelum mereka lancarkan serangan yang paling

mematikan, biasanya mereka akan melakukan gerak

persiapan yang dapat terlihat dan terpantau orang lain.

Namun orang ini sama sekali tak ada.

Sewaktu melepaskan dua puluh enam jenis senjata

rahasia yang mematikan, bukan saja kepalanya tidak

berpaling, bahunya tidak bergerak, bahkan tangan pun tak

nampak diayunkan.

Persendian tulang lengannya maupun persendian tulang

pergelangannya seakan dapat ditekuk dan digerakkan

sekehendak hati, dapat muncul dari posisi yang sama sekali

tak terduga oleh siapa pun, menggunakan tenaga yang

siapa pun tak bisa mengerahkan, melancarkan serangan

mematikan yang membuat orang lain sama sekali tidak

menduganya.

Langit bersih dan biru, di kejauhan sana tampak puncak

berlapis salju muncul di balik langit yang bersih, mereka

sudah meninggalkan jalan raya yang ramai dan memasuki

daerah pinggiran yang sepi.

Berdiri dari posisi di mana Siau-hong berdiri sekarang, ia

tak dapat melihat orang lain, juga tak dapat mendengar

sedikit suara pun.

Satu-satunya orang yang dapat dilihat Siau-hong adalah

orang yang berada di depannya, kini orang itu telah

berhenti berjalan, membalikkan badan dan saling

berhadapan muka dengannya.

Saat itu dia sedang mengawasi Siau-hong dengan

sepasang mata penuh rasa benci dan dendam yang

mendalam. Terhadap seorang asing yang sama sekali tak

dikenalnya, tidak seharusnya dia memperlihatkan sorot

mata semacam ini.

“Aku bernama Bu-siong,” tiba-tiba orang itu

memperkenalkan namanya, Siau-hong belum pernah

mendengar nama orang ini.

Perkataan kedua yang diucapkan Bu-siong lebih

mengejutkan lagi.

“Aku datang mencarimu karena aku menginginkan kau

mati!” katanya.

Dia berbicara dengan logat Han yang sangat kaku, tapi

kata “mati” yang diucapkan dengan logat kaku itu justru

kedengaran lebih bertenaga, lebih mengerikan hati, lebih

menakutkan, dan lebih menandaskan kebulatan tekadnya.

Siau-hong menghela napas panjang, ujarnya, “Aku tahu,

kau menghendaki aku mati, tadi hampir saja aku tewas oleh

sambitan senjata rahasiamu.”

“Kau adalah seorang jago pedang, sudah seharusnya

memahami hal ini,” kata Bu-siong, “Pekerjaan seorang jago

pedang adalah membunuh, yang penting bagaimana agar

sasarannya mati, terserah cara apa yang akam digunakan!”

Lalu dengan nada yang semakin aneh lanjutnya, “Kau

adalah seorang jago pedang, setiap saat bisa membunuh

orang, setiap saat pula dapat mati dibunuh orang. Setelah

membunuh orang, kau tak pernah menyalahkan diri sendiri,

maka bila kau terbunuh, jangan pula menyalahkan orang

lain.”

Siau-hong tertawa getir.

“Dari mana kau tahu kalau aku adalah jago pedang?”

“Aku tidak kenal kau, tapi pernah mendengar orang lain

membicarakan tentang dirimu, kau adalah seorang jago

pedang kenamaan dari daratan Tionggoan!”

Sikap Bu-siong amat serius, sama sekali tak bernada

menyindir atau mengejek.

Perlahan-lahan ujarnya lebih jauh, “Kau adalah jago

pedang, pedang dari seorang jago pedang tak beda dengan

tangan manusia. Tangan setiap orang seharusnya berada di

tempatnya, begitu pula dengan pedang milik seorang jago

pedang, seharusnya pedang itu selalu berada di tubuhmu,

tapi kau tidak.”

Pedang dari seorang jago pedang ibarat tangan dari

seseorang.

Biarpun perkataan Bu-siong susah dipahami, namun

siapa pun harus mengakui bahwa apa yang dia katakan

memang benar dan sangat masuk akal.

“Yang kau latih adalah pedang, senjata yang kau

gunakan untuk membunuh pun pedang,” kata Bu-siong

lebih jauh, “Aku tidak berlatih pedang, aku pun tidak

membunuh menggunakan pedang, aku membunuh orang

dengan menggunakan tanganku.”

Dia mulai mengulurkan tangannya.

Sewaktu tangannya dijulurkan, tangan itu masih sangat

biasa dan umum, tiada sesuatu yang aneh, namun dalam

waktu singkat telapak tangannya telah berubah menjadi

merah membara, merah bagai cahaya matahari, merah

bagaikan darah, merah bagaikan jilatan api.

Perlahan-lahan Bu-siong berkata lebih jauh, “Aku masih

memiliki – tangan, sedang kau tidak memiliki pedang,

karena itu aku tak akan mati, kau yang bakal mati!”

Belum pernah Siau-hong mendengar kata “mati” yang

diucapkan begitu tajam, sadis, dan penuh perasaan dendam.

Apakah hal ini dikarenakan dalam hati kecilnya telah

muncul bayangan kematian?

Mengapa dia ingin membunuh Siau-hong?

Dia sendiri yang berniat membunuh Siau-hong ataukah

orang lain yang mengirimnya ke sana?

Dilihat dari kemampuan silat yang dimiliki serta

penampilannya, dapat dipastikan dia bukanlah anak buah

Wi Thian-bong.

Dia sendiri sama sekali tak pernah berjumpa Siau-hong,

jadi tak mungkin mempunyai dendam kesumat atau

perselisihan yang hanya bisa diselesaikan lewat “kematian”.

Siau-hong tak habis mengerti, dia benar-benar tak dapat

memahami semua persoalan itu. Tapi ada satu hal yang

dapat dilihat olehnya.

Kekuatan pukulan orang ini kuat dan sesat, sekalipun

bukan termasuk ilmu sakti Mi-tiong-toa-jiu-eng, sudah pasti

kemampuannya mirip dengan aliran pukulan itu.

Tenaga pukulan ini dapat dipastikan tak mampu

dihadapi Siau-hong hanya dengan mengandalkan pukulan

tangan kosong.

Sementara pedangnya tidak berada dalam tubuhnya,

karena dia tak menyangka di tempat yang serba asing ini,

dia membutuhkan pedang untuk menghadapi situasi sepelik

ini.

Lalu apa yang harus dia gunakan untuk menghadapi

pukulan telapak berdarah Bu-siong?

Di tengah sorotan cahaya matahari yang menerangi

seluruh jagat, tiba-tiba hawa pembunuhan menyelimuti

seluruh angkasa. Di bawah bayang-bayang maut dan

kematian, cahaya matahari pun terasa berubah jadi suram

dan menggidikkan.

Selangkah demi selangkah Bu-siong berjalan

menghampiri Siau-hong, langkah kakinya perlahan dan

berat.

Ada sejenis manusia, bila ia sudah mengambil keputusan

untuk mulai melakukan gerakan, maka tak seorang pun di

dunia ini yang dapat menghentikannya lagi.

Tak disangkal Bu-siong termasuk manusia semacam ini.

Dia telah mengambil keputusan, dia bertekad akan

menghabisi nyawa Siau-hong di ujung pukulannya,

bayangan gelap yang menyelimuti hatinya hanya bisa

terusir dan buyar karena “kematian”.

Selangkah demi selangkah Siau-hong bergerak mundur.

Dia tak mampu menghadapi sepasang telapak tangan

Bu-siong, karena itu tubuhnya hanya bisa mundur, mundur

sampai tak dapat mundur lagi.

Kini dia sudah mundur hingga tak dapat mundur lagi.

Dia telah mundur hingga ke bawah sebatang pohon

kering, pohon lapuk yang tumbang telah menghadang jalan

mundurnya. Pohon tua, lapuk dan mati, begitu juga dengan

manusia.

Pada saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terlintas satu

ingatan di dalam benaknya, sesaat menjelang tibanya mati

dan hidup, terkadang merupakan saat pikiran manusia

paling jeli dan tajam.

Pedang hati.

Tiba-tiba saja ia teringat perkataan Tokko Ci.

Biarpun dalam genggamanmu terdapat pedang tajam

yang mampu memutuskan bulu dan rambut, namun selama

hatimu tiada pedang, maka pedang yang berada dalam

genggamanmu tak lebih hanya sebilah pedang rongsok.

Inilah teori ilmu pedang tingkat tinggi, bila teori ini

diurai dengan menggunakan cara lain maka maknanya

tetap akan sama.

Biarpun dalam genggamanmu tak terdapat pedang,

namun bila dalam hatimu terdapat pedang, biar sebuah besi

rongsok pun sama saja dapat berubah menjadi senjata tajam

yang mematikan.

Dalam pada itu pihak lawan telah berjalan makin dekat.

Tiba-tiba Bu-siong mengeluarkan bunyi raungan singa

yang rendah tapi berat, mendadak pakaian yang dikenakan

mulai bergoyang dan bergetar keras walau tidak terhembus

angin.

Dia telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya

dan siap melancarkan gempuran yang mematikan.

Kini telapak tangan darahnya telah melancarkan

gempuran maha dahsyat.

Pada saat bersamaan tiba-tiba Siau-hong membalikkan

tangan mematahkan sebatang ranting kayu, perlahan-lahan

ditusukkan ke depan.

Dalam sekejap ranting kayu itu sudah bukan ranting

kayu biasa, ranting itu telah berubah menjadi sebilah

pedang.

Sebilah pedang tajam yang dapat mencabut nyawa siapa

pun.

Karena di dalam hati dia sudah tidak menganggap

ranting kayu itu sebagai sebatang ranting, melainkan telah

menganggapnya sebagai sebilah pedang, dan seluruh

pikiran serta niatnya telah menganggap ranting itu sebagai

pedang, seluruh tenaga dan kekuatan yang dimilikinya telah

disalurkan ke atas “pedang” itu.

Biarpun “pedang” itu tampak kosong dan maya, akan

tetapi begitu “pedang” itu ditusukkan ke depan, telapak

tangan darah Bu-siong segera tertusuk tembus hingga

muncul lubang luka yang besar.

Menggunakan kesempatan itu, lagi-lagi tangannya

menyerong ke samping sambil melepaskan sebuah tusukan

lagi, kali ini “pedang”nya menusuk mata Bu-siong.

Dalam sekejap telapak tangan darah Bu-siong telah

tertancap menjadi satu dengan matanya, terpaku oleh

tusukan batang ranting itu.

Darah segar segera berhamburan ke mana-mana,

tubuhnya roboh terkapar, roboh untuk tak bergerak lagi.

Menanti ada angin berhembus, Siau-hong baru merasa

pakaian yang dikenakannya telah basah kuyup oleh

keringat.

Dia sendiri pun tidak menyangka kalau “pedang” itu

memiliki daya kekuatan yang luar biasa, karena “pedang”

itu bukan ditusuk menggunakan tangannya, melainkan

ditusuk dengan menggunakan hati.

Di saat “pedang” itu menusuk ke depan, pikiran,

perasaan, tangan maupun tubuhnya telah terlebur jadi satu

dengan “pedang” itu.

Pada detik itulah seluruh tenaga murni yang dimilikinya

telah disalurkan, pikiran dan tubuh telah menyatu,

memanfaatkan peluang sesaat inilah dia melepaskan sebuah

tusukan “pedang” yang pasti akan mencabut nyawa musuh,

tusukan yang pasti menghasilkan kemenangan.

Inilah intisari “pedang hati”

Ternyata Bu-siong belum mati.

Tiba-tiba Siau-hong mendengar ia bergumam seorang

diri, seolah sedang memanggil nama seseorang, “Pova…

Pova….”

Perasaan Siau-hong mengejang keras, segera dia

membungkukkan badan, lalu mencengkeram baju Bu-siong

kuat-kuat, tanyanya, “Apakah Pova yang mengirim kau

untuk membunuhku?”

Suaranya berubah jadi sangat parau, “Benarkah begitu?”

Pandangan mata Bu-siong mulai sayu dan kosong,

kembali dia bergumam, “Dia minta aku membawamu pergi

menjumpainya. Aku tak bisa membawamu untuk

menemuinya, aku lebih suka mati.”

Logat bicaranya memang kaku, namun kata-katanya

sekarang jauh lebih susah dicerna, “Aku tak ingin kau mati,

maka biarlah aku yang mati. Setelah aku mati, kau baru

boleh pergi menjumpainya. Selama aku masih hidup, siapa

pun tak boleh merebutnya dari tanganku.”

Siau-hong segera mengendorkan cengkeramannya.

Tiba-tiba saja dia menjadi paham, mengapa dalam hati

Bu-siong bisa muncul bayangan kegelapan, dia mulai sadar

dari mana datangnya bayangan kegelapan itu.

Hanya cinta yang diperoleh dengan menahan

penderitaanlah akan mewujudkan bayangan gelap yang

begitu suram.

Penderitaan yang sama, perasaan cinta yang sama, cinta

yang sama mendalamnya, membuat Siau-hong secara tibatiba

merasakan suatu kepedihan yang tak terlukiskan

terhadap kehidupan manusia.

Tiba-tiba Bu-siong menghembuskan napasnya dalamdalam

dan berkata, “Aku sudah hampir mati, kau boleh

pergi!”

Dia meronta, menarik bajunya yang baru saja

dikendorkan Siau-hong dan memperlihatkan pakaian

kasanya yang berwarna kuning.

Baru sekarang Siau-hong tahu lawannya ternyata adalah

seorang pendeta.

Dari lagak serta sikap orang lain yang menaruh begitu

hormat terhadapnya, tak dapat disangkal lagi orang ini

adalah seorang Lhama yang berkedudukan sangat tinggi.

Namun kenyataan dia seperti orang awam pada

umumnya, rela mengorbankan nyawa demi seorang wanita.

Dia bukan seorang wanita, dia seorang iblis wanita, tak

seorang lelaki pun yang akan menampik kehadirannya.

Siau-hong merasakan hatinya amat sakit, jauh lebih sakit

daripada tertusuk pedang.

“Kau minta aku datang ke mana?”

Dari balik kasanya Bu-siong mengeluarkan sebuah

patung Buddha emas kecil seraya berkata, “Datanglah ke

istawa Potala, bawa serta Buddha pelindung tubuhku dan

pergilah menjumpai Galun Lhama (Galun atau Gapulun

adalah nama jabatan penting dalam pemerintahan Tibet),

katakan kepadanya kalau aku… aku telah mendapat

kebebasan.”

Inilah perkataan terakhir yang dia ucapkan.

Bayangan hitam di dalam hatinya hanya bisa

terbuyarkan karena kematian, seluruh siksaan batin serta

penderitaannya pun baru terbebaskan setelah datangnya

kematian.

Tapi benarkah dia telah memperoleh kebebasan?

Sewaktu kematian datang menjelang, benarkah

perasaannya telah pulih kembali dalam ketenangan seperti

di masa lampau?

Tak seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini.

Dia telah meninggalkan pertanyaan itu untuk Siau-hong.

Galun Lhama menerima Siau-hong di dalam sebuah

bilik yang gelap di tengah istana Potala yang indah dan

megah.

Di dalam kebudayaan keagamaan yang tua dan penuh

misteri ini, seorang Galun Lhama bukan saja merupakan

seorang pendeta tinggi yang sangat menguasai ilmu agama

Buddha, dia pun seorang pejabat tinggi yang mengatur

pemerintahan serta kesejahteraan rakyat banyak,

kedudukannya begitu tinggi dan terhormat hanya terpaut

setingkat bila dibandingkan Dalai Lhama.

Biarpun posisinya sangat terhormat dan tinggi, namun

orangnya justru seperti bilik tempat tinggalnya, begitu tua,

rentan, gelap, dan diselimuti hawa sesak.

Siau-hong sama sekali tak mengira dia dapat

menjumpainya dengan begitu mudah, terlebih tak

menyangka dia ternyata adalah orang semacam ini.

Dia duduk bersila di atas sebuah ranjang tua yang sudah

jelek bentuknya, menerima patung Buddha emas yang

disodorkan Siau-hong tanpa bicara dan mendengarkan

maksud kedatangan pemuda itu tanpa komentar, raut muka

kurusnya yang penuh keriput selalu menunjukkan sikap

seolah dia sedang berpikir sangat dalam, seolah sama sekali

tak ada perasaan, karena pikirannya sudah tak dapat

menggerakkan perasaannya lagi.

“Aku memahami maksud kedatanganmu,” tanpa

menanti Siau-hong berkata, Galun Lhama berbicara, “Aku

tahu, penderitaan yang dialami Bu-siong hanya bisa dilepas

dengan kematian.”

Suaranya lemah dan sangat lamban, ia berbicara

menggunakan dialek bahasa Han yang lancar dan tepat,

“Aku hanya ingin bertanya satu hal kepadamu, benarkah

kau yang telah membunuhnya?”

“Benar,” Siau-hong mengakui, “Aku terpaksa harus

membunuh karena saat itu tiada pilihan lain bagiku, bila dia

tak mati maka akulah yang bakal mati.”

“Aku percaya karena aku dapat melihat kau adalah

seorang yang jujur,” Galun Lhama manggut-manggut, “Kau

masih sangat muda, tentu saja tak ingin cepat mati….”

Dengan matanya yang berwarna abu-abu, ditatapnya

Siau-hong sekejap, kemudian melanjutkan, “Oleh karena

itu, kau tidak seharusnya datang kemari.”

“Kenapa?” tak tahan Siau-hong bertanya.

“Tahukah kau mengapa Bu-siong minta kau datang

mencariku?”

“Dia minta aku datang bertemu Pova.”

“Keliru besar,” tukas Galun Lhama hambar, “Peraturan

yang berlaku dalam agama kami jauh berbeda dengan

aturan yang berlaku di daratan Tionggoan, kami tidak

pantang membunuh, karena kalau tidak membunuh, kami

tak dapat menaklukkan iblis. Cara kami menghadapi

siluman iblis seperti cara kami menghadapi musuh besar

atau murid pengkhianat, sebuah cara yang sama.”

“Cara apa?”

“Dengan mata membayar mata, dengan gigi membayar

gigi!” sikap Galun Lhama masih tetap amat tenang, “Kami

percaya inilah cara yang paling tepat, sejak zaman dulu

hingga sekarang hanya ada cara ini saja.”

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan tambahnya,

“Maka dari itu sekarang kau seharusnya sudah mengerti,

Bu-siong minta kau datang kemari tak lain karena dia tahu

aku pasti akan membunuhmu untuk membalaskan dendam

sakit hatinya.”

Siau-hong terbungkam dalam seribu bahasa.

Tiba-tiba dia memahami satu hal, baik dalam keadaan

hidup maupun berada dalam keadaan mati, Bu-siong tak

rela membiarkan dia pergi menjumpai Pova.

Galun Lhama masih tetap menatapnya, sorot mata

pendeta tua itu tetap lembut dan hangat. Namun tiba-tiba

saja dia mengucapkan sepatah kata yang jauh lebih tajam

daripada mata golok.

Mendadak tanyanya kepada Siau-hong, “Percayakah

kau, dalam sekali ayunan tangan aku dapat

membunuhmu?”

Siau-hong menampik untuk menjawab.

Dia tidak percaya, akan tetapi dia sudah terlalu banyak

menjumpai kejadian yang tak masuk akal.

Di negeri asing yang penuh misteri, di dalam istana yang

megah dan penuh rahasia, berhadapan dengan seorang

pendeta sakti yang misterius. Ada banyak persoalan yang

sebelumnya tak mungkin dia percaya, tapi sekarang mau

tak mau harus mempercayainya.

Terdengar Galun Lhama kembali berkata, “Di atas

dinding ada pedang, ambillah!”

Siau-hong berpaling, dia lihat di atas dinding tergantung

sebilah pedang kuno yang sudah lama dan dilapisi sarang

laba-laba.

Dia telah melolos pedang itu.

Sebilah pedang kuno dan aneh bentuknya, senjata yang

berat dengan gagang terbuat dari tembaga, sarung pedang

bersulamkan benang hijau, sekilas tak mirip sebilah senjata

tajam.

“Mengapa kau tidak melolosnya?” Galun Lhama

bertanya.

Siau-hong segera mencabut pedang itu.

Tampaknya tubuh pedang sudah melekat pada

sarungnya karena karat, pertama kali mencabut ternyata ia

gagal melolosnya, baru pada kali kedua ia berhasil melolos

senjata itu dari sarungnya.

“Criing…!”, diiringi suara dengungan nyaring, pedang itu

tercabut dari sarungnya, dalam waktu singkat hawa pedang

yang dingin memancar ke seluruh ruangan, begitu dingin

membuat alis mata Galun Lhama pun ikut berubah jadi

hijau.

“Pedang bagus!” tak tahan Siau-hong berseru memuji.

“Memang sebilah pedang bagus,” sahut Galun Lhama,

“Kau mampu membunuh Bu-siong berarti paling tidak

sudah sepuluh tahun lebih berlatih pedang, seharusnya

dapat kau kenali pedang apakah ini.”

Pedang ini memang sebilah pedang yang sangat aneh.

Kalau pada mulanya senjata itu terasa sangat berat, maka

setelah dilolos dari sarung dan tergenggam di tangan,

mendadak pedang itu seakan-akan berubah jadi sangat

ringan, mata senjata yang semula berwarna coklat bagaikan

batang pohon Siong kini justru memancarkan cahaya

berwarna kehijauan, seperti daun Siong yang hijau pupus.

“Bukankah pedang ini adalah pedang pribadi Ci Siongcu,

jago lihai zaman Cun-ciu Can-kok?” tanya Siau-hong

menyelidik.

“Benar, pedang ini adalah Ci-siong,” Galun Lhama

manggut-manggut, “Walaupun tidak termasuk dalam

deretan tujuh pedang tersohor, namun hal ini disebabkan

kebanyakan orang mengira senjata ini sudah lama

terpendam di dalam tanah.”

“Konon pedang Ci-siong memiliki warna merah darah

bagaikan cahaya matahari senja, mengapa sekarang

berubah jadi hijau?”

“Karena senjata ini sudah sembilan belas tahun tak

pernah menghirup darah manusia.”

Setelah berhenti sejenak, kembali pendeta itu

melanjutkan, “Senjata tajam yang seringkali membunuh

orang, bila sudah banyak tahun tidak menghirup darah

manusia, maka bukan saja cahayanya akan berubah warna

bahkan lambat-laun akan kehilangan sinar ketajamannya,

bahkan lama kelamaan akan berubah menjadi besi

rongsokan.”

“Apakah sekarang sudah saatnya pedang itu menghirup

darah manusia?” tanya Siau-hong.

“Benar.”

“Menghirup darah siapa?” tanya Siau-hong sambil

menggenggam kencang gagang pedangnya.

“Darahku! Kalau Hud-co bisa mengorbankan tubuhnya

untuk memberi makan burung elang demi senjata mestika

ini kenapa pula aku tak boleh meninggalkan tubuh kasarku

yang bau ini?”

Suara maupun sikapnya sama sekali tak berubah, ia

masih tampak begitu lemah lembut dan tenang.

“Kau ingin aku menggunakan pedang ini untuk

membunuhmu?” tanya Siau-hong kembali mengendorkan

genggamannya.

“Benar.”

“Bukankah kau yang berniat membunuhku? Kenapa

sekarang minta aku yang membunuhmu?”

“Aku sudah terlalu tua, sudah lama memandang hambar

masalah mati hidup. Bila aku membunuhmu, tak nanti aku

akan sedih karena kematianmu. Seandainya kau yang

membunuhku, aku pun tak akan menyalahkan dirimu.”

Tampaknya di balik perkataannya itu terkandung

maksud yang sangat mendalam.

“Oleh sebab itu tak ada salahnya aku mencoba

membunuhmu dan kau pun mencoba membunuhku.”

“Jadi maksudmu, bila aku mampu membunuhmu,

bunuhlah sebisanya, kalau tak berhasil berarti aku akan

mati di tanganmu?” kembali Siau-hong bertanya.

Galun Lhama tidak menjawab, pertanyaan semacam ini

memang tak perlu dijawab.

Sekali lagi Siau-hong menggenggam pedangnya kuatkuat.

Tiba-tiba Galun Lhama menghela napas, gumamnya,

“Kalau kesempatan emas berlalu, selamanya tak akan

kembali lagi, bila ingin berbalik arah, kau harus membayar

mahal.”

Habis berkata, kembali ia pejamkan matanya, melihat

Siau-hong sekejap pun tidak.

Namun bagi Siau-hong, mau tak mau dia harus

mengawasi ketat pendeta tua itu.

Dia memang seorang kakek tua, memang sudah tidak

memikirkan mati hidup di dalam hati. Baginya kematian

sudah bukan sesuatu yang tragis, karena di dunia sudah

tiada masalah yang dapat mencelakainya, bahkan kematian

sekali pun.

Perlahan-lahan Siau-hong menghembuskan napas

panjang, lalu sebuah tusukan dilontarkan.

Tusukan ini langsung tertuju ke arah hulu hatinya!

Siau-hong yakin dan percaya bahwa serangannya selalu

tepat sasaran, sasaran yang ditusuk pun merupakan bagian

tubuh yang dalam waktu singkat dapat mengakhiri

hidupnya, dia tak ingin pendeta agung ini menderita siksaan

dan penderitaan menjelang ajalnya tiba.

Siapa sangka tusukan pedangnya ternyata menusuk

tempat kosong.

Padahal dengan sangat jelas ia melihat Galun Lhama

duduk tenang di tempat itu, jelas tak mungkin bisa

menghindarkan diri dari tusukan pedangnya itu.

Apa mau dikata ternyata tusukan pedangnya mengenai

sasaran kosong.

Galun Lhama memang sama sekali tak bergerak, sedikit

pun tidak bergeser dari posisinya.

Ia masih tetap duduk di tempat semula, sepasang

kakinya masih bersila di atas ranjang, wajahnya masih

diliputi bayangan gelap, sepasang matanya pun masih

terpejam rapat.

Tapi pada saat mata pedang menusuk datang itulah

mendadak posisi jantungnya bergeser ke samping.

Seluruh badannya sama sekali tak bergerak, hanya

bagian itu saja yang tiba-tiba bergeser.

Dalam waktu yang amat singkat itulah bagian tubuhnya

itu seakan-akan berpisah secara tiba-tiba dari tubuhnya.

Mata pedang itu hanya selisih setengah inci dari letak

jantung di tubuhnya, namun setengah inci itu justru seakan

terpisah sangat jauh, begitu jauh seperti langit dan bumi,

seperti mati dan hidup, walaupun hanya setengah inci

namun lebih jauh dari ribuan li, seperti melihat puncak

bukit di balik awan.

Begitu tusukan pedangnya mengenai sasaran kosong,

perasaan Siau-hong pun seakan secara tiba-tiba menginjak

tempat kosong, seperti terjerumus ke dalam jurang yang

ratusan kaki dalamnya.

Dalam pada itu Galun Lhama telah menggerakkan

tangannya, dengan ibu jari menekan jari tengah, dia sentil

mata pedang itu perlahan.

“Criing!”, diiringi dentingan nyaring, tampak bunga api

memercik ke empat penjuru.

Siau-hong segera merasakan pergelangan tangannya

bergetar sangat keras, tahu-tahu pedangnya sudah terlepas

dan… “Duuuk!”, menancap di atap ruangan.

Dari atap ruangan segera berhamburan debu dan pasir

yang menghantam tubuhnya, pemuda itu merasakan setiap

debu yang menimpa kulitnya seakan martil besi yang

menghantam tubuhnya.

Begitu keras dan kuat hantaman itu membuat tubuhnya

sama sekali tak mampu bergerak.

Akhirnya Galun Lhama membuka mata dan menatap

wajah anak muda itu, sorot matanya masih tetap begitu

hangat, begitu gelap.

Kembali dia bertanya kepada Siau-hong, “Sekarang

apakah kau sudah percaya jika dalam sekali gerakan aku

dapat membunuhmu?”

Siau-hong sudah tak bisa untuk tidak percaya.

Dia telah menemukan bahwa pendeta tua yang lemah ini

justru merupakan jago paling tangguh yang pernah

dijumpai sepanjang hidupnya, bukan saja dapat

mengendalikan kekuatan inti yang dimiliki sekehendak hati,

bahkan setiap inci otot tubuhnya, setiap bagian ruas

badannya dapat dikendalikan dan diubah sekehendak hati.

Bahkan Siau-hong sendiri pun tidak tahu dirinya telah

dikalahkan oleh jenis ilmu silat seperti apa.

Rakyat yang penuh misteri, agama yang penuh misteri,

ilmu silat yang penuh misteri, apa lagi yang bisa dikatakan

Siau-hong?

Dia hanya bisa bertanya, “Mengapa kau tidak

membunuhku?”

Ternyata jawaban yang diberikan Galun Lhama sama

misteriusnya dengan ilmu silat yang dimilikinya.

“Karena aku sudah mengetahui maksud kedatanganmu,”

jawab Galun Lhama tenang, “Kedatanganmu bukan untuk

menjenguk perempuan itu, kau datang untuk

membunuhnya.”

“Dari mana kau tahu?”

“Karena kau membawa hawa napsu membunuh, hanya

orang yang telah bertekad akan membunuh orang baru

memiliki hawa pembunuhan semacam ini, meskipun kau

sendiri tidak melihatnya, namun sejak kau melangkah

masuk ke dalam ruangan ini, aku telah merasakannya.”

Siau-hong tak dapat buka suara lagi.

Dia benar-benar dibuat terkejut, terperangah oleh

kenyataan yang dihadapi.

Galun Lhama kembali berkata, “Aku tidak

membunuhmu karena aku ingin kau pergi membunuhnya.”

Tiba-tiba suaranya berubah sangat berat dan dalam,

“Hanya dengan kematiannya kau baru bisa hidup. Hanya

dengan kematiannya, kematian Bu-siong baru punya nilai.”

Dari sorot matanya yang tua tiba-tiba memancar sinar

tajam yang menggidikkan, dengan suara keras bagai auman

singa terusnya, “Cabut pedangmu, gunakan pedang ini

untuk membunuhnya! Gunakan darah perempuan iblis itu

untuk memberi minum pedang yang telah dahaga itu!”

Kemudian setelah berhenti sejenak, ia menambahkan,

“Kau harus ingat baik-baik, bila kesempatan emas yang kau

jumpai kali ini dilewatkan begitu saja, maka selamanya kau

akan hidup tersiksa di dalam neraka, terjerumus untuk tidak

bangkit lagi.”

Jelas perkataan ini bukan sebuah permintaan, juga bukan

sebuah perintah. Tapi sebuah pertaruhan.

Pertaruhan dari seorang pendeta agung.

Kau baru bisa hidup bila berhasil membunuhnya, kalau

tidak, sekalipun tetap hidup, keadaanmu tak jauh berbeda

dengan mati.

Ternyata pendeta agung yang penuh misteri ini bukan

saja dapat melihat hawa pembunuhan yang dipancarkan

Siau-hong, dia pun dapat menembus suara hatinya.

Oleh karena itulah dia mengajak Siau-hong bertaruh,

hanya seorang pendeta agung yang dapat menetapkan

pertaruhan semacam ini.

Hal ini pun merupakan niat baik seorang pendeta agung,

niat baiknya untuk melenyapkan kejahatan.

Benarkah Siau-hong bertekad akan pergi membunuh

Pova? Tegakah dia turun tangan?

Siau-hong memang telah bertekad bulat akan menghabisi

nyawa Pova.

Tokko Ci maupun Bu-siong bukan orang yang pandai

bicara bohong, perkataan yang mereka ucapkan pasti tak

bohong atau dibuat-buat.

Mereka telah membuktikan perempuan macam apakah

Pova itu, Siau-hong mau tak mau harus mempercayainya,

oleh sebab itu dia tak boleh membiarkan perempuan itu

hidup lebih lanjut, kalau tidak, entah berapa banyak lelaki

yang bakal musnah di tangannya.

Kini dia telah berhadapan dengan Pova.

Pedang sudah berada dalam genggamannya, ujung

pedang sudah tinggal beberapa inci di atas jantungnya, asal

dia dorong pedang itu ke depan, maka seluruh masalah,

seluruh penderitaan, baik cinta, benci, budi maupun

dendam akan berakhir.

Sekalipun dia masih sukar melupakan, namun dengan

berjalannya sang waktu, semua kenangan lambat-laun akan

semakin tawar dan hambar, setawar awan di angkasa, buyar

dan lenyap ketika terhembus angin.

Tapi sayang tusukan pedangnya justru tak mampu

dilanjutkan….

Matahari makin condong ke langit barat.

Pova seperti pendeta agung misterius itu, dengan tenang

duduk di balik bayangan kegelapan.

Ketika ia melihat Siau-hong berjalan masuk ke dalam

ruangan, melihat tangannya menggenggam pedang, dengan

cepat dia sudah dapat menebak maksud kedatangannya.

Walaupun hawa pembunuhan tiada suara tiada

bayangan tiada wujud, namun tak mungkin bisa

disembunyikan.

Bila dia masih ingin membantah atau mencari alasan,

masih ingin menggunakan gerak-geriknya yang lemah

lembut untuk membangkitkan rasa cinta Siau-hong di masa

lampau, tusukan pedang pemuda itu pasti sudah

dihujamkan ke dadanya sedari tadi.

Andaikata dia menubruk ke dalam pelukan Siau-hong

begitu bertemu dengannya, lalu menunjukkan wajah riang,

Siau-hong pun pasti telah membunuhnya.

Namun dia tidak berbuat begitu.

Ia hanya duduk di sana dengan tenang, menatap Siauhong

lekat-lekat, sampai lama kemudian ia baru menghela

napas seraya berkata, “Tak kusangka ternyata kau belum

mati.”

Inilah perkataan jujurnya yang pertama.

“Aku minta Bu-siong pergi mencarimu, bukan karena

ingin dia mengajakmu menengok aku, tapi ingin dia

mencabut nyawamu.”

Siau-hong tetap membungkam, menunggunya berkata

lebih jauh.

Biarpun kata jujur sangat melukai hati, namun tidak

semenderita dan tersiksa seperti waktu dibohongi orang.

“Aku tahu Bu-siong pasti tak akan membiarkan kau

datang menjumpai aku, pasti akan membunuhmu,” kata

Pova, “Bila dia tak mampu membunuhmu, berarti dia pasti

mati di tanganmu.”

Kemudian dengan hambar dia melanjutkan, “Setelah dia

mati, kau pasti akan kemari dan Galun Lhama pasti akan

membunuhmu untuk membalas dendam kematiannya,

karena hubungan mereka berdua lebih akrab daripada

hubungan seorang ayah dengan anaknya.”

Ini pun ucapan yang sejujurnya.

Dia telah memperhitungkan setiap kemungkinan secara

cermat, sebetulnya rencananya bakal membuahkan hasil

sukses.

Setelah menghela napas panjang, Pova berkata lebih

lanjut, “Sekarang aku baru tahu, ternyata perhitunganku

masih ada sedikit kesalahan. Rupanya Galun Lhama jauh

lebih cermat, jauh lebih lihai daripada apa yang

kubayangkan, ternyata dia dapat menembusi maksud

hatiku.”

Kemudian ia memberi penjelasan lebih jauh, “Biasanya

dia tak pernah peduli urusanku dengan Bu-siong, maka aku

baru kelewat memandang enteng dirinya, sekarang aku baru

tahu, ternyata selama ini dia selalu mendendam dan

membenci aku, ia lebih suka membebaskan kau daripada

membiarkan harapanku terwujud.”

Lama sekali Siau-hong termenung, kemudian ia baru

bertanya, “Mengapa kau beritahukan semua persoalan ini

kepadaku?”

“Karena aku tak ingin membohongimu lagi.”

Tiba-tiba terbias nada sendu di balik ucapannya.

“Kau pun tak usah bertanya lagi kepadaku, apakah aku

sungguh-sungguh atau berbohong kepadamu, karena kau

adalah musuhku, aku hanya ingin membunuhmu.”

Siau-hong masih ingat dia pernah mengatakan hal yang

sama di masa lalu.

Hubungan mereka memang sudah tak ada pilihan lain

lagi, hubungan antara musuh dan sahabat, kalau bukan

teman berarti musuh, kalau bukan kau yang mati berarti

akulah yang mati!

“Oleh sebab itu setiap saat kau boleh membunuhku, aku

tak bakal menyalahkan kau,” kembali Pova berkata.

Siau-hong merasa tak tega untuk turun tangan.

Bukannya tak tega, pada hakikatnya dia tak mampu

turun tangan. Karena pada hakikatnya dia sendiri pun tak

tahu, dalam peristiwa ini siapa berada di pihak benar dan

siapa salah.

Bila Po Eng benar-benar adalah begal kucing dan bila

Pova melakukan semuanya itu karena dia bertugas untuk

menangkap sang perampok, apakah apa yang telah dia

lakukan itu salah?

Demi tercapainya tujuan, bukankah Po Eng pun sama

saja pernah menghalalkan segala cara?

Tokko Ci adalah seorang jago pedang, jago pedang tidak

pernah mempunyai perasaan, Bu-siong pun sudah menjadi

pendeta, tidak sepantasnya ia terlibat dalam kasus cinta,

kalau sampai mereka berdua bisa ditipu perempuan ini

habis-habisan, maka kejadian ini hanya bisa dibilang

merupakan kesalahan mereka sendiri, mencari penyakit

buat diri sendiri.

Siau-hong tidak membayangkan tentang dirinya. Setiap

kali berada dalam situasi antara hidup dan mati, benar dan

salah, seringkali dia melupakan diri sendiri.

Ooo)d*w(ooO

BAB 14. CINTA BENCI HANYA TERPISAH SATU

GARIS

Pova menatapnya lekat-lekat.

“Kau mau membunuhku boleh saja, tidak membunuhku

juga boleh, aku tak akan memaksa dirimu,” katanya,

“Namun ada satu hal perlu kuingatkan dulu kepadamu.”

“Soal apa?”

“Jika kau tak membunuhku, bakal ada orang akan

membunuhmu. Bila aku tak mati, setelah kau berjalan

keluar dari ruangan ini, nyawamu pasti akan tercabut di

ujung pedang Galun.”

“Aku tahu,” sahut Siau-hong.

Begitu selesai mengucapkan perkataan itu, tanpa

berpaling lagi dia beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Antara cinta dan benci, antara benar dan salah, antara

hidup dan mati, sesungguhnya bagaikan golok bermata dua,

perbedaan di antara mereka hanya dipisahkan oleh sebuah

garis yang tipis.

Baru keluar dari dalam ruangan, Siau-hong telah melihat

Galun Lhama sedang menunggunya di tengah halaman

kecil.

Matahari sudah semakin redup, angin yang berhembus

terasa makin dingin dan menggigilkan.

Galun Lhama berdiri di bawah sebatang pohon kuno,

hembusan angin menggoyangkan dahan dan ranting,

namun jagat raya sama sekali tak bergerak.

Pendeta agung ini pun sama sekali tak bergerak.

Walaupun dia nampak begitu kurus kering dan lemah,

namun kesabarannya sudah melampaui ketenangan yang

mencekam jagat raya.

Satu-satunya perubahan yang terjadi hanyalah di saat ia

bertemu Siau-hong, dari balik matanya seolah terlintas

selapis perasaan pedih dan iba.

Apakah hal ini dikarenakan dia telah menduga sejak

awal kalau Siau-hong tak bakal melakukan pembunuhan?

Dalam genggaman Siau-hong masih ada pedang, cahaya

pedang tetap memancarkan sinar kehijauan.

Galun Lhama memandang sekejap pedang di tangannya,

lalu berkata hambar, “Pedang mustika bagaikan kuda

jempolan, kuda jempolan memilih majikan yang saleh,

begitu pula dengan pedang, bila kau tak dapat

mempergunakannya maka senjata itu bukan milikmu.”

“Pedang ini memang sebenarnya bukan milikku,

milikmu,” kata Siau-hong.

“Kalau bukan milikmu, cepat kembalikan kepadaku,”

ujar Galun Lhama sambil mengulurkan tangan.

Tanpa ragu sedikit pun Siau-hong segera mengembalikan

pedang itu ke tangannya.

Ketajaman pedang ini jauh berada di luar dugaan siapa

pun, seandainya dia menggenggam senjata ampuh

semacam ini, belum tentu Galun Lhama bisa

menandinginya dengan mudah.

Namun dia seakan sama sekali tidak berpikir ke situ,

sama sekali tidak punya pikiran kalau Galun minta dia

menyerahkan kembali pedang itu karena pendeta itu akan

menggunakan senjata itu untuk membunuhnya.

Dia pun tidak….

Matahari senja telah bersembunyi di belakang bangunan

istana yang tinggi megah, yang tersisa kini hanya kilatan

cahaya pedang berwarna hijau yang berkilauan di tengah

remang-remangnya cuaca.

Tiba-tiba Galun Lhama menghela napas panjang sambil

berkata, “Sebetulnya kau pun seorang pemuda yang hebat

dan mengesankan, seperti Bu-siong, tapi sayang sekarang

kau pun telah mati. Sekalipun aku tidak membunuhmu, kau

pun tak jauh berbeda dengan orang mati.”

Ia mendongakkan kepala menatap Siau-hong, kemudian

terusnya, “Sekarang apa lagi yang ingin kau katakan?”

“Ada!” jawab Siau-hong segera, “Masih ada yang akan

kukatakan, ada satu persoalan ingin kutanyakan

kepadamu.”

“Soal apa?”

Siau-hong menatapnya tajam, kemudian sepatah demi

sepatah ujarnya, “Kau membenci Pova, membenci dia telah

menghancurkan orang yang paling kau kasihi, kau pun

membenci diri sendiri, karena kau sama sekali tak sanggup

mencegah terjadinya peristiwa ini.”

Tiba-tiba dia mempertinggi suaranya dan bertanya lebih

jauh dengan nada keras, “Mengapa kau tidak berusaha

mencegah mereka? Mengapa membiarkan dia tetap tinggal

di sini? Mengapa tidak kau bunuh dengan tanganmu

sendiri? Sebenarnya apa yang kau takuti?”

Galun Lhama tidak menjawab, sama sekali tak

membuka suara, sementara cahaya pedang dalam

genggamannya bergetar semakin hebat.

Apakah tangannya sedang gemetar? Persoalan apa di

dunia ini yang dapat membuat pendeta agung ini

terperanjat hingga gemetaran?

Perkataan Siau-hong makin tajam dan memojokkan,

katanya lagi, “Sudah jelas kau memiliki kemampuan untuk

mencegah terjadinya peristiwa ini, bila kau sudah turun

tangan sejak awal, tak mungkin Bu-siong menemui ajalnya.

Dalam hatimu pasti terdapat rahasia besar yang takut

diketahui orang, karena itu bukan saja kau tak berani

membunuh Pova, bahkan bertemu muka dengannya pun

tak berani.”

“Apakah kau menginginkan aku pergi membunuhnya?”

tiba-tiba Galun Lhama buka suara, “Bila aku ingin

membunuhmu, apakah harus membunuhnya terlebih

dahulu?”

“Benar!” jawaban Siau-hong langsung, jelas dan tegas.

Dia tak ingin Pova mati, tapi dia pun tak ingin dirinya

mati, karena itu diajukan persoalan pelik untuk Galun.

Dia yakin dan percaya kalau Galun Lhama seperti

dirinya, tak akan turun tangan terhadap Pova, sebab kalau

bukan begitu, mungkin Pova sudah mati berulang kali.

Tapi kali ini lagi-lagi dia salah menduga.

Bara saja kata “benar” meluncur dari mulutnya, tubuh

Galun Lhama yang kurus kering telah menyelinap ke depan

bagai hembusan segulung angin segar dan tahu-tahu telah

menyusup masuk ke dalam ruangan.

Menanti dia ikut menyusul ke dalam, pedang di tangan

Galun Lhama yang memancarkan sinar kehijauan itu telah

menempel di atas tenggorokan Pova.

Cahaya pedang menyinari wajah Pova, paras gadis itu

sama sekali tak nampak gugup, panik, atau ketakutan.

Dia tak percaya Galun berani turun tangan terhadapnya.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Pova hambar,

“Apakah kau ingin membunuhku? Apakah kau sudah lupa

siapakah aku? Lupa dengan janji rahasia di antara kita

berdua?”

“Aku tidak lupa.”

“Kalau begitu kau seharusnya tahu, bila kau bunuh

diriku, bukan saja bakal menyesal sepanjang masa, bahkan

dosamu tak pernah bisa tercuci bersih selamanya.”

Pova berbicara dengan yakin, begitu yakinnya hingga

membuat orang mau tak mau merasa terperanjat.

Sebenarnya siapakah perempuan ini?

Antara seorang iblis wanita dengan seorang pendeta

agung, sebenarnya telah terjalin janji rahasia apa? Mereka

telah berjanji untuk apa? Untuk melakukan apa?

Siau-hong tidak habis mengerti, tapi dia pun tak bisa

tidak untuk mempercayainya.

Galun Lhama sama sekali tidak menyangkal akan hal

ini.

“Aku tahu, aku memang tak dapat membunuhmu, tapi

aku rela selamanya terjebak dalam neraka dan siksaan batin

untuk tetap membunuhmu.”

“Mengapa?”

“Karena Bu-siong adalah anakku, dua puluh delapan

tahun berselang aku pun pernah bertemu seorang wanita

seperti kau.”

Berubah paras Pova.

Dia bukan terperanjat karena mendengar rahasia ini,

melainkan karena dia tahu setelah Galun Lhama

membeberkan semua rahasia kepadanya, hal ini

menunjukkan ia telah bertekad akan menghabisi nyawanya.

Paras Siau-hong ikut berubah.

Dia pun telah menyadari akan hal ini. Bukan saja ia

tercengang bahkan merasa menyesal, karena hawa napsu

membunuh di hati Galun terpancing keluar gara-gara

dipaksa olehnya.

Dia tak ingin menyaksikan Pova tewas gara-gara

ulahnya.

Belum lagi pedang itu menusuk ke depan, Siau-hong

telah menerkam ke depan, tangan kanannya langsung

membacok belakang tengkuk Galun sementara tangan

kirinya mencengkeram urat nadi pada pergelangan

tangannya yang menggenggam pedang. Galun Lhama sama

sekali tak berpaling.

Dia alihkan pedangnya ke tangan kiri, sementara ruas

tulang lengan kanannya tiba-tiba menekuk sambil berputar

ke belakang, dia balas mengancam pinggang anak muda itu.

Siapa pun itu orangnya, tak nanti ada yang menduga

kalau lengan seseorang dapat ditekuk ke belakang dari

posisi seperti itu, apalagi menyerang dari arah yang tak

terduga.

Begitu juga dengan Siau-hong, dia pun tidak mengira.

Baru saja ia saksikan Galun membalik lengan kanannya,

tahu-tahu dia sudah terhantam roboh.

Kini mata pedang sudah berada tak sampai dua inci dari

tenggorokan Pova.

Tusukan yang dilakukan Galun Lhama saat ini sangat

lambat, perasaan yang sudah banyak tahun terkekang, rasa

cinta yang sudah lama terkendali, tiba-tiba saja

dilampiaskan semua, rasa benci dan dendamnya terhadap

Pova jauh lebih dalam dari siapa pun.

Dia ingin menyaksikan iblis wanita yang telah

menghancurkan hidup putranya ini perlahan-lahan mati di

ujung pedangnya.

Sekarang sudah tak ada orang lagi yang dapat

menyelamatkan jiwa Pova.

Siau-hong nyaris tak tega menyaksikan lebih lanjut.

Sungguh tak disangka pada detik itulah mendadak terlihat

lagi ada sekilas cahaya pedang menyambar secepat kilat,

langsung mengancam nadi besar di belakang tengkuk Galun

Lhama.

Tusukan pedang itu datang amat cepat, arah yang diincar

pun sangat tepat.

Dalam keadaan begini, mau tak mau Galun Lhama

harus berusaha menyelamatkan diri.

Pedangnya segera diayun ke belakang menyongsong

datangnya cahaya pedang yang terbang melintas di tengah

udara.

“Traang!”, sepasang pedang saling beradu, terjadilah

suara benturan yang memekakkan telinga, percikan bunga

api berhamburan ke mana-mana, seperti percikan api

mercon di tengah kegelapan malam.

Menyusul “Traak!”, sebilah pedang mencelat ke udara

dan menancap di atas tiang ruangan.

Tak ada pedang, tak ada manusia.

Ternyata pedang itu dilontarkan orang dari luar ruangan,

sementara sang pelempar masih berada di luar kamar.

Kalau lontaran pedangnya saja bisa menimbulkan kekuatan

dan kecepatan sehebat ini, bisa dibayangkan betapa

ampuhnya kungfu yang dimiliki orang itu.

Biarpun Galun Lhama belum sempat bertemu orang itu,

rupanya dia sudah tahu orang ini sangat menakutkan.

Siau-hong segera dapat menduga siapa gerangan orang

ini. Meskipun dia tak mengira orang itu bisa datang

menyelamatkan Pova, namun dia kenal betul pedang itu.

Ternyata pedang yang menancap di atas tiang penglari

itu tak lain adalah pedang Mo-gan, si mata iblis miliknya.

Ruangan yang redup, kertas jendela yang putih, daun

jendela berada dalam keadaan setengah terbuka, sementara

itu pedang meluncur masuk dari luar jendela, tapi mana

orangnya?

Sewaktu pedang Mata iblis terpantek di atas tiang, Galun

Lhama telah menerobos keluar lewat jendela, Siau-hong

hanya menyaksikan sekilas cahaya pedang berwarna

kehijauan melesat keluar dari jendela bagaikan kilatan

bianglala.

Tahu-tahu bayangan tubuhnya telah lenyap dari

pandangan.

Tubuhnya yang kurus kering telah melebur di balik

cahaya pedang, tubuh dan pedangnya telah bersatu-padu,

nyaris mendekati “tubuh pedang melebur jadi satu” seperti

sering disebut dalam legenda.

Ci-siong, pedang mestika yang berada dalam

genggamannya termasuk juga sebuah senjata langka.

Seandainya Po Eng masih berada di luar ruangan,

dengan cara apa dia akan membendung datangnya serangan

maut itu?

Tiba-tiba Siau-hong melompat naik ke atas wuwungan

rumah, dia berniat mencabut pedang miliknya dan berharap

segera dapat menyerahkan senjata itu ke tangan Po Eng.

Belum sempat tangannya diulur, mendadak atap ruangan

hancur dan berserakan ke bawah lantai, kemudian terlihat

sebuah tangan menerobos masuk melalui lubang itu dan

menyambar pedang itu.

Sebuah tangan yang kurus tapi sangat kuat, tangan

dengan jari yang panjang dan kuku yang terawat sangat

bersih dan rapi.

Siau-hong segera mengenali tangan itu, dia pun pernah

berjabatan tangan dengan tangan itu.

Ternyata orang yang muncul tak lain adalah Po Eng.

Mengapa Po Eng datang menolong Pova? Apakah

karena Siau-hong ataukah dikarenakan sebuah alasan yang

hingga kini belum diketahui oleh siapa pun?

Belum Siau-hong menemukan alasannya, dari luar

ruangan telah berkumandang lagi suara pekikan naga yang

amat nyaring.

Sekali lagi pedang Ci-siong saling bentur dengan pedang

Mo-gan, belum habis suara dengungan bergema, Siau-hong

pun telah menyusul keluar ruangan.

Waktu itu senja sudah kelam, kegelapan mulai

menyelimuti angkasa.

Siau-hong tak dapat melihat jelas tubuh Po Eng, dia pun

tidak melihat Galun, yang terlihat hanya dua kilatan cahaya

pedang yang saling menggulung dan saling berputar di

udara, di tengah hawa pedang yang menggidikkan, terlihat

daun dan ranting berguguran, bahkan ujung baju yang

dikenakan Siau-hong pun ikut berkibar.

Inilah untuk pertama kalinya Siau-hong menyaksikan

ilmu pedang yang dimiliki Po Eng.

Sudah belasan tahun lamanya ia berlatih pedang, tapi

baru hari ini dia sadar bahwa ilmu pedang ternyata

merupakan sebuah pelajaran yang memiliki jangkauan

begitu luas dan besar.

Ditatapnya pertarungan yang sedang berlangsung sengit

itu dengan termangu, bukan saja tangan dan kakinya terasa

dingin, perasaannya pun ikut dingin, begitu dinginnya

hingga merasuk ke sampai ujung kaki.

Siapa yang akan memenangkan pertarungan ini?

Hawa pedang berwarna hijau kelihatannya jauh lebih

cemerlang daripada hawa dingin “Mata iblis”. Gerakan

berputar dan beterbangan pun seakan jauh lebih lincah dan

gesit.

Tapi secara tiba-tiba Siau-hong dapat merasakan bahwa

sang pemenang pastilah Po Eng.

Sebab biarpun hawa pedang “Ci-siong” lebih cemerlang,

namun jelas memperlihatkan pertanda terburu napsu dan

gelisah.

Siapa yang bernapsu dan gelisah pasti tak akan bertahan

lama.

Ternyata apa yang dilihatnya tidak salah, meskipun

cahaya yang terpancar dari pedang “Ci-siong” lebih segar

dan cemerlang, namun hawa pedang yang terpancar sudah

tidak memiliki hawa pembunuhan yang dahsyat dan

menakutkan.

“Trang…!”, mendadak terdengar lagi suara dentingan

nyaring, untuk ketiga kalinya sepasang pedang itu saling

bentur.

Bersamaan dengan lenyapnya suara dentingan, cahaya

pedang yang menyelimuti angkasa pun tiba-tiba lenyap, kini

dedaunan di atas pohon telah berguguran, suasana di

tengah halaman pun tiba-tiba berubah jadi sunyi senyap.

Entah sejak kapan Galun Lhama sudah duduk bersila di

tengah guguran dedaunan, di tengah remangnya cuaca, dia

nampak begitu tenang, begitu lemah, seperti apa yang

dilihat Siau-hong pertama kali tadi.

Sementara itu pedang “Ci-siong” sudah tak berada di

tangannya lagi.

Dalam genggamannya tak ada pedang, di hati pun tiada

pedang.

Kini dia sudah bukan jago pedang yang garang, jago

pedang yang mampu membunuh musuhnya dalam sekejap.

Di saat dia meletakkan pedang, tubuhnya telah

melangkah masuk ke tengah halaman, tapi sekarang dia

tampil sebagai seorang pendeta agung yang hatinya lebih

tenang dari air.

Semua hawa kebengisan dan napsu membunuh, cinta

dan dendam, sayang dan benci mengikuti buyarnya hawa

pedang yang mulai sirna dan punah, tingkat kesuciannya

telah mengalami kemajuan satu tingkat.

Dengan tenang Po Eng berdiri di hadapannya,

memandang wajahnya dengan tenang, sikapnya serius

penuh hormat, sorot matanya memancarkan sinar kagum,

tiba-tiba ujarnya sambil merangkap tangan memberi

hormat, “Kiong-hi Taysu!”

“Kiong-hi apa? Kegembiraan apa yang kuperoleh?”

“Taysu telah memahami teori tingkat tinggi ilmu

pedang,” kata Po Eng, “Kiong-hi juga kepada Taysu karena

hasil latihanmu kembali memperoleh kemajuan.”

Galun Lhama tersenyum, perlahan-lahan dia pejamkan

matanya.

“Kau baik, kau sangat baik,” kemudian sambil mengulap

tangan ia menambahkan, “Kau pergilah!”

Po Eng belum beranjak pergi, tiba-tiba Galun Lhama

membuka mata kembali sambil meraung sangat keras.

“Kenapa minta kau yang pergi? Kenapa bukan aku yang

pergi?”

Seusai mengucapkan perkataan itu, dari balik wajahnya

yang semu gelap terlintas selapis hawa kelembutan dan

ramah.

Sekali lagi Po Eng merangkap tangan memberi hormat.

Dengan langkah yang lambat Galun Lhama berjalan

melewati tumpukan daun di tanah dan menuju ke balik

kegelapan malam.

Dari tengah kegelapan malam yang mencekam, terlihat

bintang bertaburan di angkasa.

“Ci-siong” masih tertinggal di tanah, mata pedang yang

berwarna hijau kini telah berubah busam tak bercahaya.

Pedang kenamaan seperti jago pedang, sama saja tak

boleh kalah.

Mengawasi bayangan punggung Galun Lhama hingga

lenyap dari pandangan, tiba-tiba Po Eng menghela napas

panjang.

“Dia tidak kalah, sekalipun dianggap kalah pun bukan

kalah oleh permainan pedangku.”

“Bukan?”

“Pasti bukan,” Po Eng menggeleng, “Dia kalah karena

dia sama sekali tak punya niat membunuhku, dia hanya

ingin menggunakan aku untuk melampiaskan hawa

pedangnya, melampiaskan semua hawa sesat dan napsu

membunuh yang mengeram di hatinya.”

Sesudah berhenti sejenak, perlahan-lahan terusnya,

“Kalau dia sama sekali tak berniat mengungguli diriku,

bagaimana mungkin bisa dianggap kalah?”

Siau-hong memahami maksudnya.

Seorang pendeta agung yang sudah banyak tahun

menahan diri, bila secara tiba-tiba timbul gejolak perasaan

yang sukar dikendalikan, terkadang dalam waktu sekejap

akan menggiringnya terjerumus ke dalam bencana iblis.

Karena jarak antara “iblis” dan “kebenaran”

sesungguhnya seperti selisih antara cinta dan benci, hanya

terbatas satu benang tipis.

Kini jago pedang telah kalah, namun pendeta agung

telah menyadari akan kekhilafannya.

Po Eng menatap Siau-hong, sinar matanya kembali

memancarkan rasa gembira dan terhibur, dia sudah tahu

pemuda itu telah memahami maksudnya.

Padahal waktu itu pikiran Siau-hong sangat kalut.

Ada banyak persoalan yang dia ingin tanyakan kepada

Po Eng, dia sudah merasakan adanya hubungan istimewa

antara Pova dan Po Eng, suatu hubungan rahasia yang

hingga kini belum pernah diketahui siapa pun.

Dia tidak bertanya karena dia tak tahu bagaimana harus

bertanya.

Po Eng pun tidak berbicara, apakah karena dia pun tak

tahu bagaimana harus berkata?

Daun jendela yang setengah terbuka kini telah tertutup

rapat, tiada cahaya lentera di dalam ruangan, juga tak ada

suara, hanya Pova seorang diri yang duduk tenang di balik

kegelapan.

Mengapa dia masih tetap tinggal di sini?

Perlahan-lahan Po Eng membalikkan badan, menghadap

ke angkasa dengan bintang yang gemerlapan dan berdiri

termenung sampai lama sekali, kemudian baru ujarnya,

“Aku tahu, masih terdapat sebuah simpul mati yang belum

dapat kau lepas dalam hatimu.”

Siau-hong tidak menyangkal.

Kembali Po Eng termenung cukup lama.

“Bila kau benar-benar ingin mengetahui rahasia di balik

semua ini, ikutlah aku, tapi kunasehati dirimu, ada

beberapa masalah memang lebih baik tidak tahu.”

Kali ini Siau-hong tidak menerima nasehat Po Eng.

Dia pergi mengikuti Po Eng, berjalan menuju ke rumah

kecil yang berada di sebelah timur.

Cahaya bintang terlihat jauh lebih benderang di tengah

gurun, mereka sudah tiga hari lamanya berjalan di tengah

gurun pasir.

Siau-hong tidak mengerti apa sebabnya Po Eng lagi-lagi

membawanya menyusuri gurun pasir, namun dia pun tidak

bertanya.

Ia percaya kali ini Po Eng pasti akan memberi sebuah

jawaban yang gamblang dan jelas, jawaban yang dapat

mengurai simpul mati dalam hatinya.

Mereka melakukan perjalanan dengan menunggang

kuda, sepanjang hari nyaris kuda dilarikan tanpa berhenti,

waktu beristirahat sangat sedikit.

Perjalanan yang mereka tempuh selama tiga hari ini lebih

jauh daripada perjalanan biasa yang dilakukan selama

sepuluh hari.

Gurun pasir yang tak berperasaan sama tak berperasaan,

pada senja hari ketiga mereka telah balik kembali ke tebing

karang yang terbentuk dari hembusan angin.

Selamanya Siau-hong tak akan melupakan tempat ini,

sebab di tempat inilah untuk pertama kalinya ia berjumpa

Pova, di sini pula Wi Thian-bong sekalian mendirikan

perkemahannya.

Kini walaupun perkemahan itu entah sudah lenyap ke

mana, namun seluruh peristiwa yang pernah terjadi dalam

perkemahan itu, tak pernah akan dilupakan Siau-hong

untuk selamanya.

Po Eng telah turun dari kudanya, bersama Siau-hong

menikmati sepotong daging sapi dan sekantung arak susu.

Selama tiga hari perjalanan, mereka jarang sekali buka

suara, namun setiap kali selesai meneguk arak, Siau-hong

tentu akan mendengar ia mendendangkan lagu yang amat

pedih.

Lagu yang menggambarkan perasaan cinta seorang

lelaki, perasaan yang membawa kesedihan, kesendirian

yang memabukkan, jauh lebih memabukkan daripada arak

yang diteguk.

“Kapan kita akan meneruskan perjalanan ke depan

sana?”

“Kita tak akan melanjutkan perjalanan lagi,” jawab Po

Eng, “Tempat inilah yang kita tuju.”

“Buat apa kau mengajakku kemari?” kembali Siau-hong

bertanya.

Kalau tempat ini adalah tujuan mereka, apakah semua

jawaban dari pertanyaannya berada di sini?

Po Eng tidak memberi jawaban apa pun, dia

mengeluarkan dua buah sekop dari dalam buntalannya dan

melemparkan sebuah ke arah Siau-hong.

Dia minta Siau-hong mengikutinya menggali tanah di

sana.

Apakah semua jawaban dari pertanyaannya terpendam

di bawah sana?

Ooo)d*w(ooO

Malam semakin larut.

Tanah yang mereka gali pun makin lama semakin dalam,

kini mereka telah menggali melewati lapisan pasir yang

gembur, lalu melewati pula selapis batu cadas yang keras.

Sekonyong-konyong “Tring!”, Siau-hong merasa

cangkulnya telah menyentuh sebuah benda logam yang

keras.

Menyusul dia pun menyaksikan kilatan cahaya emas dari

balik bebatuan.

Ternyata emas murni!

Ternyata di bawah bebatuan karang yang keras itu

tertanam emas murni dalam jumlah yang sangat banyak.

Sambil membuang sekopnya, ujar Po Eng kepada Siauhong,

“Sekarang kau tentu sudah mengerti bukan, mengapa

kuajak kau datang kemari.”

Suaranya tetap tenang, “Tiga puluh laksa tahil emas

murni milik Hok-kui-sin-sian Lu-sam yang hilang dirampok

semuanya di sini.”

“Kau yang menguburnya di sini?”

“Benar, akulah si begal kucing.”

Walaupun sejak awal Siau-hong telah menduga, tak

urung ia terperanjat juga dibuatnya.

Kembali Po Eng menatapnya lekat-lekat, kemudian

melanjutkan dengan perlahan, “Setiap anggota rombongan

kami adalah begal kucing, merekalah pejuang sebenarnya

yang sudah lama mendapat pendidikan ketat dan bertarung

dalam ratusan pertempuran. Bila anak buah Wi Thian-bong

dibandingkan mereka, maka kemampuan orang-orang itu

tak lebih hanya bocah yang baru belajar bermain pedang.”

Nada bicaranya sama sekali tidak terselip nada ejekan

atau memandang hina, karena apa yang dikatakan memang

merupakan kenyataan.

“Mimpi pun Wi Thian-bong tak akan menyangka kalau

tumpukan emas murni ini sebetulnya belum pernah

diangkut keluar meninggalkan gurun pasir.”

“Selamanya tak akan diangkut keluar?”

“Ya, selamanya!”

Jawaban Po Eng sangat tegas dan serius, tapi Siau-hong

tetap tak habis pikir.

Dengan susah payah mereka merampok uang emas itu,

tentunya perbuatan ini dilakukan karena nilai bongkahan

emas murni itu.

Bila tumpukan emas murni itu bakal dipendam

selamanya di sana, bukankah emas yang tak ternilai

harganya itu akan berubah seperti pasir dan bebatuan, sama

sekali tak ada nilainya?

Tidak menunggu Siau-hong menanyakan soal itu, Po

Eng telah menjawab pertanyaan itu terlebih dulu.

“Sebetulnya tujuan kami bukan ingin memiliki emas

murni itu,” kata Po Eng, “Kami sengaja merampok emas itu

karena kami tak akan membiarkan Lu-sam menggunakan

emas murni itu untuk menghadapi orang lain.”

“Orang lain?” tak tahan Siau-hong bertanya, “Siapa yang

kau maksud sebagai orang lain?”

“Mereka adalah kawanan manusia yang selama dua hari

belakangan hampir setiap hari kau jumpai, yakni Pova,

Pancapanah, serta seluruh anggota sukunya.”

“Mengapa Lu-sam ingin menghadapi mereka?” tanya

Siau-hong lagi, “Ia berencana akan menghadapi mereka

dengan cara apa?”

Po Eng minta Siau-hong membantunya mengubur

kembali emas itu ke dalam tanah, kemudian baru mulai

berkisah, “Dia ingin merombak ajaran agama orang Tibet

yang telah dipuja selama hampir ratusan tahun, dia pun

ingin membunuh Buddha Hidup yang dipuja-puja orang

Tibet selama ini karena ingin mendirikan agamanya sendiri

di sini.”

“Jelas kejadian ini merupakan sebuah perencanaan yang

sangat mengejutkan, siapa pun tak menyangka Lu-sam akan

menghalalkan segala cara untuk mewujudkan ambisinya,

hal ini dikarenakan agama yang dipujanya adalah agama

menyembah api, ayahnya adalah orang Persia, pengikut

setia dari kaum pemuja api,” ujar Po Eng lebih lanjut, “Oleh

sebab itu, dia ingin menggantikan ajaran kaum Lhama di

Tibet dengan ajaran menyembah api.”

Dengan wajah serius terusnya, “Padahal agama

kepercayaan yang dianut orang Tibet sudah begitu

mengakar di hati sanubari masing-masing, karena itu

seandainya rencana yang dilakukan Lu-sam benar-benar

terwujud, dapat dipastikan wilayah Tibet tak pernah akan

hidup dalam kedamaian dan ketenteraman.”

“Oleh karena itu kalian tak bisa membiarkan rencananya

itu terwujud?”

“Benar, tak boleh terwujud,” kembali Po Eng

menegaskan, “Untuk mencegah dirinya, terpaksa kami tak

segan menghalalkan segala secara, bahkan bila perlu

mengorbankan segala yang kami miliki.”

Sementara Siau-hong masih termenung, kembali Po Eng

berkata, “Orang pertama yang mengorbankan diri adalah

Pova, dia pula pengorbanan paling besar.”

“Jadi dia adalah perempuan yang dikatakan Pancapanah,

demi kejayaan sukunya bersedia mengorbankan diri?” tanya

Siau-hong, “Bahkan bersedia mengorbankan segala

miliknya untuk menyusup ke dalam kubu Lu-sam dan

menjadi mata-mata?”

“Benar, dialah orangnya.”

Setelah berhenti sejenak, kembali Po Eng melanjutkan,

“Kami tak akan membiarkan orang lain mengetahui rahasia

ini, maka dari itu di kala masih berada dalam tenda berbulu

hitam, terpaksa aku membiarkan kau menaruh kesalah

pahaman terhadapnya, ketika berada di luar ‘leher

kematian’ pun kami tak membiarkan dia muncul dari dalam

tandu ketiga.”

Lambat-laun Siau-hong mulai paham dengan peristiwa

yang terjadi.

“Oleh karena itu Galun Lhama rela membiarkan dia

tinggal dalam istana Potala, maka kau pun bersedia datang

untuk menyelamatkan jiwanya.”

“Karena aku tak akan membiarkan dia tewas di tangan

Galun, juga tak akan membiarkan Galun menyesal

sepanjang masa,” kata Po Eng, “Demi agama yang dianut

Galun, pengorbanan yang diberikan Pova sudah kelewat

besar.”

Tiba-tiba dengan nada penuh kesedihan dan kepedihan,

kembali terusnya, “Bukan saja dia mengorbankan diri

sendiri, bahkan tak segan mengorbankan orang yang

dicintainya.”

Siapakah orang yang paling dicintai Pova?

Siau-hong tidak bertanya, juga tak perlu bertanya.

Tentu saja Lu-sam akan membalaskan dendam atas

kematian putra tunggalnya. Agar bisa memperoleh

kepercayaan dari Lu-sam, terpaksa Pova harus

mengorbankan Siau-hong, dia sendiri tak tega turun tangan,

karena itu ia minta Bu-siong untuk membantunya

melaksanakan tugas ini.

Seorang wanita, demi cintanya yang agung, demi

kepercayaannya, ternyata tak segan mengorbankan lelaki

yang paling dicintainya, sekalipun lelaki itu sebenarnya tak

bersalah, namun dia tak sempat lagi mempedulikan hal ini.

Dengan apa yang telah ia lakukan, siapa yang dapat

mengatakan kalau dia bersalah?

Siau-hong tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia

hanya membaringkan diri dengan perlahan, berbaring

tenang di bawah cahaya bintang.

Cahaya bintang nun jauh di langit, malam yang dingin

seolah menyelimuti seluruh gurun yang tak berperasaan,

seandainya dia melelehkan air mata saat itu, bisa dipastikan

air matanya akan membeku jadi bunga es.

Dia tidak melelehkan air mata, setelah mengalami

peristiwa ini, mungkin sepanjang hidup dia tak akan

melelehkan air mata lagi.

Po Eng sama sekali tidak memberi penjelasan mengapa

dia harus memberitahukan rahasia ini kepadanya, “Karena

kau adalah sahabat karibku!”

Perkataan semacam ini memang tak perlu diulang untuk

kedua kalinya.

“Kini aku telah memberitahukan semua persoalan yang

kuketahui kepadamu!” secara ringkas dan sederhana Po Eng

menerangkan, “Kau boleh mempertimbangkan masakmasak,

akan tetap tinggal untuk bergabung dengan kami

atau pergi?”

“Aku pasti akan mempertimbangkannya,” janji Siauhong.

“Terserah berapa lama kau akan mempertimbangkan

masalah ini, tapi di saat kau telah mengambil keputusan,

segeralah beritahu kepadaku.”

Siau-hong menyanggupi.

Cahaya bintang terasa makin redup dan tawar, hawa

dingin yang mencekam kegelapan malam terasa makin

membekukan, mereka berdua sama-sama tak dapat melihat

bagaimana perubahan mimik muka masing-masing.

Sampai lama kemudian Siau-hong baru berkata, “Kau

selalu bekerja cermat dan berhati-hati, tapi kali ini kau

kelewat sembrono.”

“Sembrono?”

“Kau tidak kuatir ada orang menguntit kita sampai di

sini? Tidak kuatir orang lain mengetahui kalau di sini

terdapat emas dalam jumlah yang sangat besar?”

Po Eng tidak menjawab, tapi dari balik kegelapan segera

terdengar seseorang menyahut sambil tertawa, “Dia tak

perlu kuatir ada orang lain menguntitnya karena ia tahu

sepanjang jalan aku pasti berada di sekitar kalian berdua,

sekalipun terdapat beberapa ekor rase yang ingin mengintil,

aku pasti membekuknya dan mengulitinya.”

Ternyata suara Pancapanah.

Ketika Siau-hong melompat bangun, Pancapanah telah

berdiri di hadapannya, hanya selisih jarak lima kaki.

Sepak terjang orang ini jauh lebih sukar terlacak

ketimbang rase gurun pasir yang paling gesit, gerakan

tubuhnya lebih cepat daripada hembusan angin, sorot

matanya pun lebih pekat daripada kegelapan malam, saat

ini dia sedang mengawasi Siau-hong.

“Tentu saja dia pun tidak kuatir kau bakal membocorkan

rahasianya,” ujar Pancapanah hambar, “Belum pernah ada

orang yang dapat membocorkan rahasia kami.”

Dia sedang tertawa, namun senyumannya begitu

misterius, dingin, tak berperasaan seperti suasana malam

buta di tengah gurun pasir.

Ketika mereka kembali ke kota Lhasa, pagi hari yang

cerah, kehidupan yang berdenyut serta “cahaya matahari

biru” yang indah dan cantik sedang menanti kedatangan

mereka.

Kembali Po Eng menyerahkan Siau-hong kepada gadis

itu.

“Ke mana pun dia ingin pergi, ajaklah dia ke sana,”

pesan Po Eng, “Apa pun yang dia minta, berikan semua

kepadanya.”

Ketika mendengar perkataan itu, sewaktu

membayangkan kembali senyuman Pancapanah yang

dingin tanpa perasaan, orang dengan mudah akan

terbayang suasana di saat seorang narapidana sedang

menghadapi detik-detik terakhir menjelang dihukum

gantung, karena pada saat terakhir, apa pun permintaan

yang diajukan pasti akan dikabulkan.

Dia telah membocorkan rahasia yang seharusnya tak

boleh diketahui siapa pun kepada Siau-hong, dipandang

dari sudut tertentu tak disangkal dia telah memutuskan

hukuman mati untuk anak muda itu.

Namun Siau-hong tidak berpendapat demikian, dia

seolah tidak membayangkan apa pun.

“Sinar matahari” masih tertawa begitu cerah dan

gembira, dia sama sekali tidak bertanya kemana perginya

selama beberapa hari ini, hanya tanyanya, “Apa yang kau

inginkan? Ingin aku menemanimu pergi ke mana?”

Tiga hari kemudian Siau-hong baru menjawab

pertanyaannya itu.

“Aku minta sepuluh ribu tahil perak,” katanya, “Aku

ingin pergi ke suatu tempat yang tak mungkin bisa kau

temani.”

Dalam tiga hari ini mereka nyaris berkumpul setiap saat,

ia telah menemani Siau-hong melakukan semua pekerjaan

kaum lelaki yang tak mungkin mau dilakukan oleh

perempuan lain.

Ia menemaninya main judi, menemaninya minum arak,

terkadang sewaktu minum sampai mabuk, mereka bahkan

tidur bersama.

Suatu hari ketika Siau-hong mabuk, tiba-tiba ia temukan

gadis itu sedang tertidur di sampingnya.

Sewaktu tidur, nona ini tampak lebih lembut, lebih

cantik, lebih mirip seorang wanita ketimbang sewaktu dia

mendusin. Perawakan tubuhnya yang langsing, lembut,

putih bersih, terendus bau harum yang merangsang.

Napsu birahi yang membakar dadanya ketika mendusin

dari mabuknya, hampir saja membuat Siau-hong tak kuasa

menahan diri, nyaris dia menggagahi gadis muda itu.

Untung saja ia mampu mengendalikan diri, dengan air

dingin ia guyur badannya hampir setengah jam lamanya,

hingga kini hubungan mereka berdua masih tetap bersih

dan suci.

Sayang sekali kesucian mereka bukan saja tidak

diketahui siapa pun, mungkin tak seorang pun akan

mempercayainya.

Tapi Yang-kong tak peduli, terserah apa pun pikiran

orang lain terhadap mereka berdua, dia sama sekali tak

peduli.

Ooo)d*w(ooO

BAB 15. PILIHAN

Sebetulnya persoalan semacam ini paling dipedulikan

kaum wanita, tentu saja terkecuali ia memang sudah siap

menerima kehadiran lelaki itu.

Yang-kong tak peduli, apakah dia pun telah siap

menerima kehadiran pemuda ini?

Tapi tiga hari kemudian secara tiba-tiba Siau-hong

mengajukan permintaan ini, bahkan minta gadis itu untuk

mengabulkannya.

“Kau tak boleh bertanya hendak ke mana aku pergi,

apalagi menguntitku secara diam-diam. Kalau tidak,

kemungkinan besar aku akan membunuhmu!”

Permintaan semacam ini sangat tak masuk akal, bahkan

kelewat batas. Apa yang diucapkan pun kasar dan sangat

menyakitkan hati, bahkan dia sendiri pun menyangka

Yang-kong pasti akan marah.

Siapa tahu bukan saja dia tidak marah, bahkan segera

menyanggupi permintaannya.

“Pergilah, aku cinta padamu!”

Sepuluh ribu tahil perak yang diminta Siau-hong,

ternyata disiapkan untuk diberikan kepada Tokko Ci.

Dia sama sekali tidak melupakan janjinya dan kembali

lagi ke rumah burung yang pernah ditunjukkan bocah itu.

Rumah burung masih tetap ada, sangkar burung di

bawah wuwungan rumah pun masih utuh, namun burungburung

yang berada dalam sangkar itu telah hilang, kosong,

lenyap.

Burung-burung itu telah terpapas kutung dan rontok di

atas tanah, setiap burung telah terbelah jadi dua bagian,

terpapas kutung oleh sabetan pedang tajam.

Bekas darah yang berceceran di atas tanah telah

mengering, suasana dalam rumah pun hening dan sepi.

Tiba-tiba Siau-hong merasakan tangan dan kakinya jadi

dingin, dingin membeku.

Jangan-jangan ketika ia datang kemari tempo hari, ada

orang yang secara diam-diam menguntitnya?

Sebenarnya selama ini dia yakin dengan ketajaman mata

dan pendengarannya, sulit bagi siapa pun untuk

menguntitnya tanpa ketahuan, akan tetapi setelah

melakukan perjalanan semalam suntuk di tengah gurun

pasir, sejak Pancapanah muncul secara tiba-tiba di

hadapannya, keyakinan dan rasa percaya dirinya mulai

goyah.

Siapa yang telah menguntitnya sampai di situ? Siapa pula

yang telah membantai kawanan burung itu secara sadis dan

keji? Apakah Tokko Ci dan bocah itu sudah tewas di ujung

pedangnya?

Rumah burung masih tetap seperti sediakala, begitu

melangkah masuk, lantai kayu yang terinjak menimbulkan

suara menderit yang nyaring.

Siau-hong maju, mendorong pintu hingga terbuka lebar.

Di dalam ruangan tak ada orang, juga tak ada mayat,

hanya ada selembar lukisan, kelihatannya sebuah lukisan

yang dibuat dengan darah segar, lukisan itu dipasang di atas

dinding kayu persis berhadapan dengan pintu masuk,

melukiskan seorang iblis wanita yang sedang mengisap isi

otak seorang lelaki.

Wajah iblis wanita itu mirip wajah Pova.

Sedangkan lelaki yang sedang diisap isi otaknya tak lain

adalah dirinya, Siau-hong.

Hanya ada lukisan, tanpa tulisan, tanpa penjelasan.

Namun Siau-hong telah memahami maksud lukisan itu,

tiba-tiba saja dia terbayang kembali lukisan dalam lekukan

dinding yang berada dalam kuil yang gelap itu.

Dari sisi telinganya dia pun seolah mendengar suara

bocah itu sedang berkata, “… Bila kau melanggar sumpah,

selama hidup dirimu akan seperti orang itu, sepanjang masa

akan merasakan penderitaan karena siksaan keji perempuan

setan itu.”

Siau-hong sama sekali tidak melanggar sumpahnya, dia

pun tidak membocorkan rahasia ini kepada siapa pun.

Akan tetapi dia pun tidak membunuh Pova.

Tokko Ci pasti sudah mendapat tahu kalau Pova belum

mati, dia pasti menyangka Siau-hong telah

mengkhianatinya, karena itu segera mengajak bocah itu

pergi meninggalkan rumah burung.

Burung yang dibabat mati, lukisan yang tergantung di

atas dinding jelas secara khusus memang ditinggalkan di

sana agar bisa terlihat oleh Siau-hong, sengaja ditinggalkan

agar Siau-hong tahu kalau dia sangat membenci dan

mendendamnya.

Dia masih memiliki sebelah tangan yang dapat

menggenggam pedang, masih memiliki kekuatan untuk

membunuh burung yang sedang terbang.

Sebetulnya orang ini memang memiliki kekuatan

terpendam yang sangat menakutkan, kekuatan terpendam

yang selamanya susah diduga, apalagi “benci dan dendam”

pun merupakan semacam kekuatan yang sangat

menakutkan.

Sekarang orang pertama yang akan dibunuhnya sudah

pasti bukan Po Eng, melainkan Siau-hong!

Dengan tenang Siau-hong berdiri di depan lukisan

dinding itu, berdiri lama sekali, kemudian perlahan-lahan

meletakkan uang sebesar sepuluh ribu tahil perak itu ke atas

lantai.

Setelah itu dengan langkah lebar dia beranjak keluar,

berjalan menuju ke bawah langit nan biru.

Biarpun langit masih secerah tadi, namun hatinya

sekarang telah diliputi bayangan hitam yang sukar

dibuyarkan.

Dia tahu, Tokko Ci tak bakal melepaskan dirinya.

Sejak saat ini sepanjang hidupnya, setiap saat dia harus

waspada menghadapi datangnya tusukan yang mematikan.

Sejak bertemu untuk pertama kalinya dengan Tokko Ci,

dia sudah tahu kalau salah satu di antara mereka berdua,

cepat atau lambat, akhirnya ada seorang di antaranya yang

bakal tewas di tangan lawan.

Ternyata Yang-kong masih menungguinya. Begitu

berjumpa, kata pertama yang diucapkan adalah, “Sekarang

Po Eng ada di mana? Aku akan menjumpainya, sekarang

juga akan menjumpainya!”

Ruangan di gedung samping lebar dan bersih, cahaya

matahari menyinari seluruh ruangan, hampir setiap benda

yang berada di sana merupakan barang pilihan, tak

berlebihan, juga tak bakal kekurangan.

Arak yang disuguhkan pun arak anggur dari Persia yang

manis dan segar, dituang dalam cawan batu kristal yang

tembus pandang, memercikkan cahaya yang gemerlapan.

Po Eng menuangkan secawan untuk Siau-hong

kemudian meneguk setengah cawan arak dalam cawan

sendiri, setelah itu baru bertanya, “Apakah kau sudah

bertekad akan pergi dari sini?”

“Benar!”

Jawaban Siau-hong masih seperti jawabannya dulu,

singkat dan tegas. Dia seolah tak tahu kalau pertanyaan

yang dihadapi sekarang jauh lebih serius daripada

pertanyaan yang pernah dijawab sebelumnya.

Po Eng tidak bertanya lagi, dia pun tidak bicara apa pun,

mereka berdua sama-sama tidak buka suara lagi.

Awan putih masih melayang di ujung langit nun jauh di

depan sana, angin masih berhembus menggoyang ranting

dan dahan, di bawah langit nan biru lapisan salju di puncak

bukit nampak berkilauan. Manusia biasa sedang berjuang

untuk kehidupan sendiri, manusia luar biasa pun sedang

berjuang untuk kehidupan sendiri.

Akan tetapi semua persoalan itu terpisah dari mereka,

suasana dalam ruangan itu begitu hening, tenang,

menyerupai detak jantung seseorang yang telah sekarat.

Kemudian senja pun lambat-laun menjelang tiba.

Semuanya hanya berlangsung sekejap, tiba-tiba kegelapan

malam telah menyelimuti seluruh jagat.

Di dalam ruangan ada lentera, namun siapa pun tidak

berusaha menyulutnya. Kedua orang itu masih duduk

tenang di tengah kegelapan, hanya bintang di luar jendela

yang mulai muncul di angkasa. Lalu rembulan muncul,

cahaya bintang bergemerlapan, cahaya redup yang

menembus lewat daun jendela dan menyoroti tubuh mereka

berdua.

Saat itulah Po Eng baru buka suara lagi.

“Aku sangat memahami tabiatmu, semua persoalan yang

telah diputuskan tak nanti berubah lagi.”

“Aku telah mengambil keputusan,” sikap Siau-hong luar

biasa tenangnya, “Aku harus pergi dari sini.”

Po Eng sama sekali tidak bertanya “mengapa”, malah

tanyanya, “Apakah kau masih ingat perkataan yang

diucapkan Pancapanah?”

“Aku masih ingat, dia bilang, belum pernah ada orang

yang dapat membocorkan rahasia kalian.”

“Aku percaya, kau tak bakal membocorkan rahasia ini

kepada orang lain, tapi dia beda, belum pernah dia percaya

kepada siapa pun,” kata Po Eng, “Dia selalu berpendapat

hanya orang mati yang bisa menyimpan rahasia.”

“Bagaimana dengan kau sendiri?” Siau-hong mulai

menggenggam kencang tangannya.

Po Eng tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia

hanya memberitahu Siau-hong, “Terkadang ada beberapa

persoalan yang tak mungkin bisa kuputuskan sendiri.”

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya,

“Misalnya kau hendak pergi, aku pun tak berdaya

menahanmu tetap berada di sini.”

Tiba-tiba Siau-hong memahami maksud perkataan Po

Eng ini, karena secara tiba-tiba ia teringat kembali dengan

dua patah kata yang pernah diucapkan Po Eng.

Kalau bukan teman, berarti musuh.

Untuk menghadapi musuh, jangan berbelas kasihan.

Sahabat berubah jadi musuh, rangkul berubah jadi duel,

darah segar bagaikan arak wangi berceceran di atas tanah.

Anehnya, saat ini bukan hal-hal itu yang dipikirkan Siauhong,

bukan saling membunuh, bukan kematian, bukan

kemusnahan.

Pada saat yang amat singkat, secara tiba-tiba ia teringat

desa kelahirannya, Kang-lam, Kanglam yang indah, tenang,

Kang-lam yang dikelilingi aneka bunga di tengah hujan

gerimis, Kanglam dengan jembatan dan sungai yang begitu

banyak.

Suara Po Eng pun mendadak berubah jadi begitu jauh,

seakan suara yang datang dari Kang-lam.

“Sejak awal aku sudah tahu kau akan pergi,” kata Po Eng

lagi, “Setibamu di Lhasa, kau tidak pergi menengok Pova,

aku sudah tahu kau telah bertekad akan meninggalkan

kami, karena kau sendiri pun tahu selamanya kau tak akan

memahami kami, juga tak bisa memahami semua

perbuatan yang kami lakukan.”

Mendadak dia memutus pembicaraan sendiri yang belum

selesai, mendadak bertanya pada Siau-hong, “Apa yang

sedang kau pikirkan?”

“Kang-lam,” sahut Siau-hong pula, “Aku sedang

membayangkan Kang-lam.”

“Kau sedang memikirkan Kang-lam? Pada saat dan

suasana begini ternyata kau masih memikirkan Kang-lam?”

Di balik perkataan Po Eng, sama sekali tiada nada

mengejek atau tercengang, yang ada hanya setitik rasa

pedih yang tawar.

“Pada hakikatnya kau bukan golongan kami, kau adalah

seorang penyair, bukan pejuang, bukan petarung, juga

bukan jago pedang, karena itu kau ingin pergi, karena saat

ini ternyata kau masih memikirkan Kang-lam.”

Siau-hong mendongakkan kepala, menatap wajahnya.

“Apa yang harus kupikirkan sekarang? Memikirkan

apa?”

“Kau harus memikirkan Gan Tin-kong, memikirkan

Song-lohucu, memikirkan Cu Im, berpikirlah siapakah

mereka.”

“Mengapa aku harus memikirkan mereka?”

“Karena mereka tak akan membiarkan kau pergi,” ucap

Po Eng, “Bila di dunia ini masih ada cara yang dapat

menahan kepergianmu, mereka pasti akan menggunakan

cara itu untuk menghadapimu. Bila mereka menganggap

hanya dengan menggorok lehermu maka kau baru bisa

dicegah kepergiannya, mereka tak bakal menggorokkan

goloknya ke tempat lain.”

“Mereka adalah manusia semacam ini?”

“Benar, mereka adalah manusia semacam ini, bukan saja

mereka dapat menggorok leher orang lain seperti membabat

rumput, mereka pun dapat membersihkan darah yang

menodai mata golok mereka seperti sedang membersihkan

noda air.”

Siau-hong balas menatapnya, lama kemudian perlahanlahan

ia baru berkata, “Kau pun seharusnya tahu, terkadang

aku juga dapat berbuat begitu.”

Dari balik mata Po Eng yang tajam segera terpancar

cahaya dingin yang menggidikkan bagaikan “Mata iblis”,

mendadak cawan kristal yang berada dalam genggamannya

hancur-lebur, sambil berdiri ia mendorong daun jendela,

lalu berkata, “Coba lihat apakah itu?”

Dari balik jendela tampak sebuah lentera tergantung

tinggi di puncak tiang bendera.

“Hanya sebuah lentera,” jawab Siau-hong.

“Kau tahu apa maksudnya?” Tentu saja Siau-hong tidak

tahu.

Po Eng memandang sekejap lentera merah yang

tergantung di puncak tiang, tiba-tiba sekilas perasaan sedih

yang belum pernah terlihat melintas di wajahnya.

“Itu berarti mereka sudah tahu kalau kau akan pergi, kini

telah disiapkan acara perpisahan untukmu.”

Mendadak dia menggerakkan tangan, menyentil jari

keluar jendela dan sepotong hancuran kristal mendesing

tajam menembus angkasa.

Cahaya lentera berwarna merah yang berada dua puluh

kaki di hadapannya seketika padam, sinar dingin di balik

mata Po Eng pun ikut lenyap dan sirna.

“Oleh karena itu, kau sudah boleh pergi sekarang,” dia

sama sekali tidak berpaling lagi memandang Siau-hong,

hanya tangannya yang diulapkan, “Kau boleh pergi.”

Ketika Siau-hong keluar dari pintu, dia pun berjumpa

Yang-kong.

Yang-kong sedang berdiri di bawah bayangan gelap

sederet pagar di dalam halaman, senyuman secerah sinar

matahari yang selalu menghiasi wajahnya kini sudah

lenyap.

Walaupun dia masih tertawa, namun senyumannya

tampak begitu sendu, begitu sedih dan diselimuti bayangan

gelap yang sukar dilukiskan dengan perkataan.

Siau-hong menghampirinya, berjalan ke hadapannya.

“Apakah kau pun datang untuk mengantar kepergianku?”

“Tidak!” tiba-tiba gadis itu menggenggam tangan Siauhong,

jari tangannya terasa dingin bagaikan es, “Tahukah

kau, apa yang telah mereka persiapkan untuk mengantar

kepergianmu?”

Siau-hong segera tertawa.

“Menggunakan batok kepalaku? Atau menggunakan

darahku?” katanya.

Dia pun menggenggam kencang tangan Yang-kong.

“Apa yang ingin kau katakan telah kuketahui semua,

terserah cara apa pun yang hendak mereka pergunakan, aku

tak peduli.”

“Kau tak peduli? Benar-benar tak peduli?” dengan

terperanjat, Yang-kong menatap wajahnya.

“Bagaimana pun, aku telah bertekad akan pergi dari sini,

terserah cara apa pun yang hendak mereka gunakan, bagiku

sama saja.”

Hidup juga pergi, mati pun tetap pergi, setelah

memutuskan akan pergi, tak pernah dia pikirkan mati

hidupnya.

Akhirnya Yang-kong melepaskan genggamannya, lalu

berpaling memandang seranting daun di bawah bayangan

gelap yang telah layu dan mengering.

“Baiklah, kau boleh pergi!” dia menunjuk ke arah sebuah

pintu kecil di sudut halaman, “Lewatlah pintu kecil itu,

orang pertama yang akan mengantar kepergianmu adalah

Gan Tin-kong, kau harus memperhatikan tangannya secara

khusus.”

Siau-hong pernah memperhatikan cara Gan Tin-kong

turun tangan.

Sewaktu berada di dalam tenda bulu elang berwarna

hitam, di saat dia mencengkeram lengan iblis Liu Hun-hun.

Tangan yang digunakan adalah tangan kirinya.

“Aku tahu,” ucap Siau-hong, “Akan kuperhatikan tangan

kirinya secara khusus.”

Tiba-tiba Yang-kong merendahkan suara, setengah

berbisik ia berkata, “Bukan saja harus memperhatikan

tangan kirinya, terlebih harus kau waspadai tangannya yang

lain.”

“Tangannya yang lain? Tangan kanan? Atau…”

“Bukan tangan kanannya!”

Jangan-jangan Gan Tin-kong masih memiliki sebuah

tangan yang lain, tangan ketiga?

Siau-hong masih ingin bertanya lagi, tapi nona itu sudah

mengeluyur pergi tanpa berbicara lagi, seakan cahaya senja

yang tiba-tiba lenyap di balik langit barat.

Hanya bedanya, cahaya sang surya pasti akan muncul

kembali keesokan harinya, bagaimana dengan Yang-kong?

Mungkin sepanjang hidup Siau-hong tak akan dapat

bertemu lagi dengannya.

Tatkala kau bertemu dengan Gan tin-kong, peduli di saat

apa pun dan di tempat mana pun, dia selalu tampil rapi dan

keren seolah seseorang yang hendak memimpin upacara

ritual dalam ruang biara, bukan hanya pakaiannya bersih

dan rapi, gerak-geriknya pun serius dan penuh rasa hormat.

Beginilah tampangnya saat ini, dia tampil bersih dan

penuh wibawa, sampai di saat goloknya sedang menggorok

leher lawan pun, sikap dan penampilannya tak pernah

berubah.

Siau-hong berjalan menghampirinya, tanpa

mengucapkan kata basa-basi yang sama sekali tak berguna,

dia langsung menegur, “Kau siap menggunakan cara apa

untuk mengantar kepergianku?”

“Menggunakan tangan kiriku,” jawaban Gan Tin-kong

tetap langsung dan berterus terang. “Tempat ini adalah

sarang penyamun, masuk ke sarang penyamun seperti

masuk ke dalam neraka, tak ada kesempatan untuk balik

lagi ke dunia keramaian secara utuh. Karena kau ingin

pergi, terpaksa aku harus membunuhmu, membunuhmu

menggunakan tangan kiriku.”

Dia selalu menyembunyikan tangan kirinya di dalam

saku.

“Aku tak pernah menggunakan senjata, tanganku inilah

senjataku untuk membunuh manusia,” Gan Tin-kong

menerangkan, “Tak ada manusia kidal dalam dunia

persilatan yang bisa menyerang jauh lebih cepat daripada

tangan kiriku, oleh sebab itu kau harus memperhatikan

dengan sungguh-sungguh!”

“Aku pernah menyaksikan kau melancarkan serangan,

tentu saja aku akan memperhatikan secara sungguhsungguh,”

kemudian tanya Siau-hong, “Tapi aku tak habis

mengerti, kalau memang kau berniat membunuhku,

mengapa harus mengingatkan diriku agar lebih berhatihati?”

“Karena aku ingin kau mati dengan puas,” jawab Gan

Tin-kong, “Aku ingin kau mati dengan puas tanpa

menggerutu.” Siau-hong segera menghela napas panjang.

“Ai, ternyata Gan Tin-kong seperti namanya, jujur, tulus

dan adil, tak pernah mau melakukan perbuatan yang

merugikan orang, oleh sebab itu semisal kau bermain

curang satu kali, tak akan ada orang yang menaruh curiga

kepadamu.”

Paras Gan Tin-kong sama sekali tak berubah, tapi sorot

matanya telah berubah.

Kembali Siau-hong melanjutkan, “Seandainya aku benarbenar

berkonsentrasi dan memusatkan seluruh perhatianku

terhadap tangan kirimu, dapat dipastikan hari ini aku bakal

mampus di tanganmu.”

Tiba-tiba ia tertawa lebar, tambahnya, “Untung saja aku

masih belum melupakan Liu Hun-hun!”

“Liu Hun-hun? Kenapa dia?”

“Bahkan dia pun tak menaruh curiga kepadamu, bahkan

dia pun tertipu oleh muslihatmu, apalagi aku seorang anak

muda yang baru terjun ke dalam dunia persilatan,” kata

Siau-hong, “Kau bisa menjadi tangan ketiga Song-lohucu,

tentu saja dia pun dapat menjadi tangan ketigamu,

menggunakan tangan ketiga untuk membunuhku.”

Kembali dia menghela napas, lanjutnya, “Saat itu

walaupun aku mati dengan perasaan tak puas, walau hatiku

dipenuh perasaan jengkel, mendongkol dan marah, sayang

semua itu tak mungkin bisa kulampiaskan lagi.”

Paras Gan Tin-kong mulai berubah.

“Sama sekali tak kusangka, ternyata kau tidak terlalu

bodoh.”

Dia sudah siap turun tangan, tapi sepasang matanya

mengawasi terus pintu kecil di belakang Siau-hong, tak

disangkal Song-lohucu pasti berada di belakang pintu kecil

itu, begitu dia turun tangan, mereka berdua akan

menggencetnya dari depan dan belakang, tak diragukan lagi

Siau-hong pasti akan mampus oleh gempuran ini, tak

seorang pun jagoan dalam dunia persilatan yang dapat

menghindari gempuran bersama kedua orang ini.

“Masih ada satu urusan lagi yang mungkin tak akan kau

duga,” kata Siau-hong lagi sambil tertawa.

“Urusan apa?”

“Aku pun memiliki tangan yang lain, tangan ketiga.”

“Kau pun memiliki tangan ketiga?” ejek Gan Tin-kong

sambil tertawa dingin, “Mengapa aku tidak melihatnya?”

“Tentu saja kau tak akan melihatnya, selama hidup

jangan harap bisa melihatnya. Tapi kau tak boleh tidak

harus mempercayainya.”

“Kenapa?”

“Karena tangan ketigamu kini sudah dibelenggu oleh

tangan ketigaku,” tiba-tiba Siau-hong menambahkan,

“Kalau tak percaya, apa salahnya diperiksa sendiri.”

Tentu saja Gan Tin-kong tak akan pergi memeriksanya,

dia mulai tertawa.

Jarang sekali orang ini tertawa, terkadang sepanjang

bulan belum tentu dia tertawa satu kali, tapi kali ini dia

benar-benar tertawa.

Seorang anak muda yang baru terjun ke dunia persilatan,

ternyata ingin menggunakan cara semacam itu untuk

membohongi seorang jago kawakan macam dia.

Ia sudah termasyhur sejak masih muda, sudah malang

melintang dalam dunia persilatan sejak usianya masih kecil,

tak terhitung korban yang mati di tangannya, meski di masa

pertengahan dia dipaksa berganti nama karena kejaran dan

desakan musuh besarnya, meski harus melarikan diri ke

ujung dunia, namun kecerdasannya justru bertambah

matang, pengalamannya tambah luas, bagaimana mungkin

dia termakan oleh tipu muslihat semacam ini!

Di saat dia mulai tertawa itulah tangan yang selalu

disembunyikan di balik pakaiannya mulai melancarkan

serangan secepat sambaran petir.

Di saat dia turun tangan, Song-lohucu pasti akan

mengimbangi serangannya itu dengan melancarkan

serangan maut juga.

Sudah banyak tahun mereka bertempur saling bahumembahu,

sudah sering masuk keluar pertarungan yang

mematikan, pengalaman bertarungnya banyak, belum

pernah kerja sama mereka menjumpai kegagalan atau

kejadian di luar dugaan, belum pernah meleset walau hanya

satu kali pun.

Tapi kali ini terkecuali.

Gan Tin-kong telah turun tangan, akan tetapi Songlohucu

yang berada di luar pintu sama sekali tak bereaksi.

Gagal dengan gempurannya yang pertama, dia mulai

menyerang untuk kedua kalinya.

Dari luar pintu tetap tiada reaksi, tak ada gerakan, tak

ada serangan yang mengiringi serangannya.

Gan Tin-kong tidak lagi melancarkan serangan ketiga,

tiba-tiba dia melejit ke tengah udara lalu melesat ke arah

pintu kecil itu.

Song-lohucu benar-benar berada di luar pintu, tapi saat

itu sedang berbaring di sudut dinding, mengawasinya

sambil tertawa getir.

Gan Tin-kong tak sanggup tertawa lagi, akhirnya dia

menyadari bahwa peristiwa ini sedikit pun tidak

menggelikan.

Siau-hong telah beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Dia yakin Gan tin-kong takkan mengejarnya lagi,

keberhasilannya merobohkan Song-lohucu sama artinya dia

telah merobohkan juga Gan Tin-kong.

Tentu saja dia bukan menggunakan “tangan ketiga”

untuk merobohkan Song-lohucu, dia tidak mempunyai

tangan ketiga.

Tapi dia memiliki sepasang mata kedua, Yang-kong

adalah matanya yang kedua.

Andaikata tak ada bisikan dari Yang-kong, dia tak akan

menyangka Song-lohucu bakal bersembunyi di balik

kegelapan sambil menunggu kedatangannya, dia tak akan

menyangka kalau dia akan bersama Gan Tin-kong

menyergap dan menggencetnya dari depan dan belakang.

Walaupun apa yang dikatakan Yang-kong tidak terlalu

jelas, namun peringatan yang diberikan gadis itu justru

mengingatkan dia akan kerja sama kedua orang itu ketika

menghadapi Liu Hun-hun, khususnya tipu muslihat yang

telah mereka gunakan.

Oleh sebab itu dia mencari Song-lohucu terlebih dahulu,

menggunakan senyuman yang ramah, sikap yang sopan, dia

berusaha menenteramkan hati orang tua itu.

Di saat Song-lohucu benar-benar mengira dia telah

kehilangan semangat dan daya tempurnya, secara tiba-tiba

ia turun tangan, menggunakan gerak serangan paling cepat

untuk menotok tiga buah jalan darah penting di tubuh

kakek she Song ini.

Song-lohucu bukan sahabatnya, dia adalah musuhnya,

terhadap musuh yang sedang dihadapi dia harus

menggunakan cara yang paling cepat dan cara yang paling

keji.

Atas tindakan yang telah dia lakukan ini, Siau-hong

merasa puas sekali.

Berikut siapa pula yang akan “mengantar

keberangkatan”nya?

Dia masih ingat, Po Eng pernah menyinggung nama Cu

Im kepadanya, dia pun masih ingat Cu Im adalah

Congkoan yang mengurus kantor dagang “Eng-Ki”, seorang

anak muda yang amat tulus, jujur, dan sangat tahu aturan.

Siau-hong sama sekali tak menyangka kalau dia pun

seorang jago Bu-lim yang memiliki ilmu silat tinggi dan

selama ini selalu merahasiakan kebolehannya.

Namun ketika Po Eng menyinggung nama orang ini, dia

seakan memandangnya lebih berbobot, lebih penting dan

lebih serius daripada Gan Tin-kong, memang bukan

manusia sembarangan yang mampu mengendalikan kantor

dagang sebesar “Eng-ki”, bila tidak memiliki ilmu silat dan

kemampuan yang istimewa, tak nanti Po Eng akan

menyerahkan tugas dan tanggung jawab berat ini

kepadanya.

Siau-hong yakin, lak mungkin Po Eng salah pilih orang,

terhadap Cu Im, sejak awal dia sudah menaruh perasan

waswas.

Pada saat itulah dia melihat Cu Im.

Penampilan Cu Im masih seperti di hari-hari biasa,

sopan, polos dan penuh aturan, satu-satunya yang berbeda

adalah di tangannya saat ini telah menggenggam sebilah

pedang.

Sebilah pedang besi yang amat sederhana, pedang itu

sudah dilolos dari sarungnya.

Sambil memeluk pedang dengan sepasang tangannya

dan membiarkan ujung pedang menunjuk ke bawah, dia

memberi hormat kepada Siau-hong dengan penuh sopan

santun.

“Boanpwe Cu Im, menanti petunjuk Hong-tayhiap.”

Siau-hong tertawa.

“Aku bukan Tayhiap” tukasnya, “Kau pun bukan

Boanpweku, jadi tak perlu kelewat sungkan.”

Sikapnya sewaktu berhadapan dengan Song-lohucu tadi

sama sopannya dengan sikap Cu Im terhadapnya sekarang,

kini Song-lohucu telah tergeletak di sudut dinding.

Selama beberapa hari ini dia telah banyak belajar,

banyak mempelajari berbagai persoalan.

Dia pun sangat memahami maksud Cu Im, sebagai

seorang Boanpwe yang minta petunjuk kepada seorang

Cianpwe, dia tak perlu bersikap adil lagi, biarpun di tangan

seorang Cianpwe tak berpedang, sebagai seorang Boanpwe

dia tetap boleh melancarkan serangan.

Benar saja, Cu Im telah turun tangan.

Serangan yang dilancarkan tidak terlalu cepat, perubahan

jurus pun tidak cepat, pada hakikatnya jurus serangan yang

dia gunakan sama sekali tak memiliki perubahan yang

terlalu rumit dan pelik, serangannya tak lebih hanya sebuah

jurus serangan yang amat sederhana tapi nyata dan amat

bermanfaat.

Ilmu pedang semacam ini walaupun memiliki kelebihan,

akan tetapi bila digunakan untuk menghadapi Siau-hong,

jelas sama sekali tak ada gunanya.

Biarpun Siau-hong menghadapi serangan itu dengan

tangan kosong, menggunakan ilmu Kim-na-jiu-hoat yang

merupakan ilmu dasar kepandaian silat pun sudah lebih

dari cukup baginya untuk menghadapi ancaman lawan.

Dia bahkan mulai curiga kalau penilaian Po Eng

terhadap Cu Im kelewat tinggi dan berlebihan, benarkah Cu

Im belum sempat mengeluarkan ilmu silat sesungguhnya?

Baru saja Siau-hong akan menambah daya tekanannya

untuk memaksa dia mengeluarkan segenap kekuatannya,

tiba-tiba Cu Im sudah mundur sepuluh langkah dan sekali

lagi merangkap pedangnya di depan dada sambil memberi

hormat.

“Boanpwe bukan tandingan Hong-tayhiap, Boanpwe

mengaku kalah,” katanya.

Sekarang sudah mengaku kalah, apakah tidak terlalu

awal? Tidak seharusnya Po Eng mempunyai anak buah

yang begini lemah dan sama sekali tak berguna.

Semua anak buah Po Eng adalah petarung handal, kalau

tidak bertarung hingga titik darah penghabisan, tak nanti

mereka akan mengundurkan diri.

Tiba-tiba Cu Im berkata sambil tertawa, “Hong-tayhiap

pasti menganggap Boanpwe belum menggunakan kekuatan

sesungguhnya dan tidak seharusnya mundur begitu saja,

bukan?”

Siau-hong mengakui akan hal ini.

Maka sambil tersenyum, kembali ujar Cu Im, “Boanpwe

tak ingin bertarung lagi, karena Boanpwe tak tega bertarung

lebih lanjut melawan dirimu.”

“Kau merasa tak tega? Mengapa tak tega?” tak tahan

Siau-hong bertanya.

“Karena Hong-tayhiap sudah terkena racun jahat,

usiamu sudah tak bisa melewati setengah jam lagi,” jawab

Cu Im lembut, “Bila Boanpwe memaksamu bertarung dua

puluh gebrakan lagi, maka racun dalam tubuh Hongtayhiap

segera akan bekerja dan tak ampun jiwamu pasti

akan segera melayang.”

Siau-hong ikut tertawa.

Dia sama sekali tidak percaya perkataan Cu Im, sepatah

kata pun tak percaya.

“Aku keracunan? Kau lihat aku sudah keracunan?” Siauhong

sengaja bertanya, “Sejak kapan aku keracunan?”

“Sejak beberapa saat berselang.”

“Arak yang diberikan Po Eng ada racunnya?”

“Tidak ada, dalam arak tak ada racun,” jawab Cu Im,

“Bila dia ingin membunuhmu, tak perlu menggunakan arak

beracun.”

“Kalau dalam arak tak beracun, di mana racunnya?”

“Berada di tangan.”

“Tangan siapa?”

“Tadi, tangan siapa yang kau genggam?” Cu Im balik

bertanya. Sekali lagi Siau-hong tertawa.

Tadi dia hanya menggenggam tangan Yang Kong, dia

tak akan percaya kalau Yang Kong akan mencelakainya.

Cu Im menghela napas, katanya, “Padahal kau

seharusnya dapat berpikir sampai ke situ. Dia salah seorang

yang mengantar kepergianmu, dialah orang pertama yang

mengantar kepergianmu, hanya saja cara yang dia gunakan

sama sekali berbeda dengan cara yang kami gunakan.”

“Di mana perbedaannya?”

“Cara yang dia gunakan jauh lebih lembut daripada cara

kami, tapi cara itu justru jauh lebih bermanfaat.”

“Cara apa yang dia pergunakan?”

“Kalian sudah sering pergi bersama, tentunya kau pernah

menyaksikan cincin yang sering dia kenakan, bukan?”

Siau-hong memang pernah menyaksikan cincin emas itu,

sebuah cincin yang terbuat dari emas murni, cincin yang

dibuat sangat indah dan menawan.

Bagaimana bentuk cincin itu? Siau-hong sudah tak ingat

dengan jelas. Di kota Lhasa, hampir setiap wanita

mengenakan perhiasan emas, di sudut sungai yang

mengalir, kau dapat menyaksikan ada begitu banyak orang,

menggunakan cara yang paling purba, sedang berusaha

mengeduk pasir emas dari tepi sungai.

Semua orang mengenakan cincin emas, di tempat ini

memakai perhiasan emas bukanlah satu peristiwa yang

menarik perhatian orang.

“Tapi cincin yang dia kenakan sama sekali berbeda,” kata

Cu Im, “Cincin itu meski beratnya hanya beberapa gram,

namun nilainya bisa mencapai lebih dari ratusan tahil emas

murni.”

“Kenapa?” tanya Siau-hong, “Apakah cincin itu dibuat

oleh seorang ahli perhiasan kenamaan atau bentuknya yang

unik?”

“Bukan!”

“Lalu apa sebabnya?”

“Karena racun dalam cincin itu,” Cu Im menerangkan,

“Racun itu terbuat dari ramuan tiga puluh tiga jenis bahan

racun yang ganas, mula-mula ketiga puluh tiga jenis racun

itu digunakan untuk merendam emas, kemudian emas yang

sudah mengandung racun dibuat menjadi sebuah cincin, di

ujung cincin terdapat sebatang duri, duri yang lebih tajam

dari ujung jarum, asal tertusuk sedikit saja pada kulit

badanmu, sekalipun tusukan itu tidak menimbulkan rasa

sakit, bahkan sama sekali tidak kau rasakan, namun dalam

setengah jam kemudian racun itu pasti akan mulai bekerja

dan merenggut nyawamu.”

Siau-hong tak dapat tertawa lagi, namun dia pun tidak

memberikan reaksi yang khusus.

Cu Im seolah sedang merasa kasihan dan sayang akan

nasibnya yang jelek, kembali dia bergumam, “Sebetulnya

kami semua telah menganggap kau sebagai sahabat. Bila

kau tidak pergi, tak seorang pun di tempat ini yang akan

mencelakaimu, terlebih Yang Kong, dia tak akan

menyusahkan dirimu.”

Kemudian setelah menghela napas panjang, lanjutnya,

“Sungguh tidak beruntung, sekarang kita sudah bukan

sahabat lagi.”

Tiba-tiba Siau-hong menukas perkataannya, “Aku tahu

apa yang akan kau katakan, kalau bukan teman berarti

musuh, oleh karena itulah ia menggunakan cara semacam

ini untuk menghadapiku, terhadap musuhnya, kalian

memang akan bertindak dengan cara apa pun.”

Cu Im sama sekali tidak menyangkal.

Kembali Siau-hong berkata, “Mula-mula dia

memberitahu dulu kepadaku akan rencana Gan Tin-kong

dan Song-lohucu yang berniat membunuhku, tujuannya

agar aku yakin kepadanya, agar aku percaya seratus persen

kepadanya, kemudian baru tanpa kusadari dia tusukkan

cincin beracunnya ke telapak tanganku, agar secara tak

sadar aku keracunan.”

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba tanyanya, “Tapi apa

sebabnya kau memberitahukan rahasia ini kepadaku?”

Sebelum Cu Im menjawab, kembali Siau-hong telah

bertanya, “Bila tangan terpagut ular berbisa, seorang ksatria

akan memotong tangan sendiri, apakah kau berharap aku

mengurungi sendiri tanganku ini?”

Ooo)d*w(ooO

BAB 16. PEDANG PEMUTUS SUKMA, MANUSIA

PUTUS USUS

“Bukan,” Cu Im seolah tidak mendengar kalau di balik

ucapan itu terselip nada sindiran, “Tapi tak ada salahnya

kau periksa dulu tangan milikmu, coba periksa apa benar di

atas tanganmu telah muncul mulut luka kecil seperti bekas

gigitan lebah beracun. Kalau mulut luka itu belum terjadi

perubahan, mungkin kau masih tertolong.”

“Aku masih tertolong? Siapa yang akan menolongku?”

“Asal kau bersedia tetap tinggal di sini, setiap orang tentu

bersedia menolongmu.”

Kepercayaan Siau-hong terhadap Yang-kong tampaknya

sudah mulai goyah, tak tahan ia membalikkan badan,

menghadap ke arah cahaya rembulan yang baru muncul

dan menjulurkan tangannya yang pernah digenggam Yang

Kong.

Baru saja tubuhnya berputar, tujuh titik cahaya bintang

yang amat tajam telah memancar keluar dari tangan kiri Cu

Im, cahaya tajam yang bukan dilancarkan oleh kekuatan

pergelangan tangan, tapi dilontarkan dari dalam sebuah

tabung dengan pegas yang sangat kuat.

Biarpun banyak jenis senjata rahasia yang digunakan

orang persilatan, namun Toh-beng-jit-seng-ciam (jarum

tujuh bintang pencabut nyawa) tetap merupakan jenis yang

paling menakutkan.

“Braak…!”, begitu pegas dilepas, pedang besi di tangan

kanan Cu Im kembali melancarkan sebuah tusukan kilat.

Gerak tangannya sudah tidak selambat tadi lagi, begitu

pedangnya ditusukkan ke muka, cahaya pedang yang

berkilauan telah mengunci mati seluruh jalan mundur Siauhong.

Pada saat itulah dia seolah telah berubah menjadi

seorang yang lain, dari seorang jago pedang yang berilmu

biasa telah berubah menjadi jago pedang yang maha

dahsyat.

Seandainya sejak awal dia telah menggunakan ilmu

pedang semacam ini, dapat dipastikan Siau-hong tak akan

sanggup menghindarkan diri.

Tapi sekarang dia telah mencabik hancur rasa percaya

diri Siau-hong.

Siapa pun orangnya, bila mengetahui dirinya telah

dikhianati sahabat yang paling dipercaya, perasaannya pasti

akan jatuh, sedih dan pedih, apalagi waktu itu Siau-hong

sedang memeriksa mulut luka di tangan sendiri.

Bukan satu pekerjaan yang mudah untuk memeriksa

sebuah mulut luka selembut ujung jarum di bawah sinar

rembulan yang redup.

Dia telah memusatkan seluruh pikirannya ke tangan

sendiri, rasa percaya dirinya telah hancur, perasaan dan

emosinya telah runtuh penuh kepedihan, bagaimana

mungkin serangan pedang itu dapat dihindari?

Begitu melancarkan tusukan maut, Cu Im telah

memperhitungkan bahwa Siau-hong pasti mampus.

Seandainya Siau-hong benar-benar percaya kepada

ucapan Cu Im, benar-benar memeriksa apakah tangannya

terdapat mulut luka atau tidak, dapat dipastikan dia tentu

mampus.

Tapi dia tidak mati, karena dia menaruh rasa percaya

penuh terhadap Yang Kong, rasa percaya seorang terhadap

manusia lain.

Karena kepercayaannya terhadap Yang Kong tak

mungkin bisa digoyahkan dan dihancurkan hanya

dikarenakan beberapa patah kata orang lain, oleh karena itu

dia tidak mati.

Terhadap serangan pedangnya itu, Cu Im mempunyai

keyakinan untuk berhasil, dia pun yakin benar dengan

kemampuan jarum tujuh bintangnya.

Oleh karena itu begitu pedangnya melancarkan tusukan,

dia telah menggunakan seluruh tenaga yang dimiliki, hanya

teringat untuk “menyerang” tapi lupa untuk “bertahan”.

Walaupun tusukan pedang itu sangat ganas dan dahsyat,

tapi sayang terdapat titik kelemahan, terdapat bagian

serangan yang terbuka. Dia sangka seluruh jalan mundur

Siau-hong telah tertutup, tapi sayang dia seolah melupakan

sesuatu, lupa kalau Siau-hong masih punya sebuah jalan

lagi yang bisa dia lakukan, “menggunakan serangan untuk

bertahan”, menyerang masuk melalui titik kelemahannya,

mengancam jantungnya, menyerang nadi kematiannya dan

menerjang pusat pertolongannya.

Siau-hong tidak membunuh mati Cu Im.

Mula-mula dia bacok dulu pergelangan tangan Cu Im

yang menggenggam pedang, kemudian menyelinap masuk

ke posisi kosong musuh dan menyodok iga lawan dengan

sikutnya, bersamaan jari tengah, jari telunjuk dan jari

kelingkingnya menyodok ke muka, mencengkeram

tenggorokan orang she Cu itu.

Semua bagian yang diserang adalah tempat mematikan,

dalam keadaan begini mau tak mau Cu Im harus

menghindar untuk menyelamatkan diri.

Tiba-tiba kelima jari tangan kanan Siau-hong berubah

jadi cakar elang, dia cakar wajah Cu Im, mencongkel biji

matanya sementara telapak tangan kirinya membabat bahu

kanan orang itu.

Bila bahu kanan terhantam telak, niscaya pedang besi itu

akan terlepas dari genggaman.

Menggunakan kesempatan itu Siau-hong rebut senjata

musuh, di antara kilauan cahaya pedang, tahu-tahu ujung

senjata itu telah menempel di atas tenggorokan Cu Im.

Akan tetapi dia tidak membunuh lawannya.

“Aku tak membunuhmu karena kau meskipun bukan

sahabatku, namun bukan juga musuh besarku,” ujar Siauhong,

“Kau ingin membunuhku pun karena suatu masalah,

kau anggap hal ini harus dan wajib kau lakukan.”

Cu Im yang berada di bawah todongan pedang masih

tetap berdiri tenang, tak tahan ia bertanya juga kepada Siauhong,

“Kau benar-benar percaya kalau Yang-kong tak bakal

mencelakaimu?”

“Aku percaya!”

“Mengapa kau begitu percaya kepadanya?”

“Karena dia belum pernah membohongi aku,” jawaban

Siau-hong amat sederhana.

Tiba-tiba Cu Im menghela napas panjang.

“Aku sangat kagum kepadamu, kau memang seorang

sahabat sejati,” puji Cu Im, “Tapi sayang semua sahabatmu

belum tentu merupakan sahabat sejati, oleh karena itu

kuanjurkan kepadamu lebih baik cepatlah pergi dengan

membawa pedangku itu.”

“Aku tidak menghendaki nyawamu, kenapa harus

membawa pergi pedangmu?”

“Karena dalam waktu singkat kau bakal

menggunakannya, mungkin bukan untuk membunuh

orang.”

“Lalu digunakan untuk apa?”

Cu Im menatap wajah Siau-hong, tiba-tiba sinar matanya

menunjukkan perubahan yang sangat aneh, lewat lama

kemudian baru ujarnya, “Pedang ini seperti pedang lainnya,

kecuali bisa dipakai untuk membunuh orang, benda ini pun

masih memiliki kegunaan lain.”

“Apa kegunaan itu?”

“Untuk bunuh diri,” kembali Cu Im menghela napas,

“Bagaimana pun bunuh diri paling tidak jauh lebih enak

daripada mati di ujung pedang orang lain.”

Belum sempat Siau-hong buka suara, tiba-tiba dari balik

kegelapan terdengar seseorang berkata dengan suara dingin,

“Sekalipun dia akan bunuh diri, tak perlu memakai

pedangmu, dia sendiri memiliki pedang, pedangnya jauh

lebih tajam daripada pedangmu.”

Tiba-tiba terlihat sekilas cahaya pedang berkelebat dari

balik kegelapan, lalu terlihat sebilah pedang melesat,

seakan-akan muncul dari luar angkasa, langsung menancap

di bawah kaki Siau-hong.

Cahaya pedang berhawa dingin dengan di ujung senjata

seolah terdapat sebuah mata elang yang buas dan

menyeramkan sedang menatap dingin ke arahnya, itulah

pedang ‘Mata iblis’ miliknya.

Selama ini pedang itu disimpan Po Eng dan Siau-hong

belum pernah menyinggungnya lagi, dia seakan sudah

melupakan kehadiran pedang itu.

Tapi kini pedang miliknya telah kembali, tentu saja

bukan datang dari luar angkasa.

Pedang itu meluncur dari tangan seseorang.

Begitu Siau-hong berpaling, dia pun melihat orang itu,

mata tajam seperti elang, berbaju putih seperti sukma

gentayangan dan berdiri tegak bagai sebuah bukit karang.

Orang ini tak lain adalah Po Eng.

Siau-hong segera merasakan hatinya seakan tenggelam.

Ternyata orang terakhir yang akan mengantar

kepergiannya adalah Po Eng.

Pedang yang diserahkan Cu Im kepadanya memang

bukan dipakai untuk membunuh orang lain, di bawah ujung

pedang Po Eng, pada hakikatnya dia sama sekali tak punya

peluang.

Sebetulnya mereka berdua sudah merupakan sahabat

yang sangat akrab, tapi sekarang mereka telah berubah jadi

dua manusia dari dunia yang berbeda.

Tiba-tiba Siau-hong tertawa, selama hidup belum pernah

dia tertawa sesedih dan sepedih ini.

“Sungguh tak kusangka kau pun akan datang mengantar

kepergianku,” kata Siau-hong, “Kalau memang kau berniat

mengantar kepergianku, buat apa kau kembalikan pedang

itu kepadaku?”

“Karena pedang itu sesungguhnya memang milikmu.”

Suara Po Eng sama sekali tak berperasaan, “Kau

seharusnya masih ingat apa yang pernah kukatakan

kepadamu, aku tak pernah mau barang milik orang hidup.”

Tentu saja Siau-hong masih ingat. Mungkin pada

hakikatnya Po Eng belum pernah menerima benda apa pun

darinya. Pedangnya, persahabatannya, tak satu pun yang

pernah dia terima.

Kembali Po Eng berkata, “Sekarang kau sudah memiliki

pedangmu sendiri, kenapa tidak segera kau kembalikan

pedang di tanganmu itu kepada Cu Im?”

Siau-hong mengembalikan pedang itu kepada Cu Im,

kain pembalut gagang pedang berwarna hijau telah basah

kuyup oleh peluh dingin.

Tiba-tiba Po Eng tertawa dingin lagi.

“Hingga sekarang mengapa kau belum pergi? Apakah

ingin melihat aku membunuhnya?”

Perkataan ini ditujukan kepada Cu Im.

Terpaksa Cu Im beranjak pergi, sekalipun tak ingin

namun mau tak mau terpaksa dia harus pergi juga.

Tiba-tiba Siau-hong tertawa dingin.

“Mengapa dia harus pergi?” tanyanya kepada Po Eng,

“Sewaktu kau membunuh orang, mengapa takut dilihat

orang lain?”

Dia tidak menunggu jawaban Po Eng, sebab dia tahu Po

Eng tak akan menjawab pertanyaannya itu.

Dia telah mencabut pedangnya.

Sudah banyak tahun pedang ini mengikuti Siau-hong,

setiap kali menggenggam gagang pedang itu, selalu timbul

perasaan yang aneh, seolah sedang menggenggam tangan

seorang sahabat karib saja.

Tapi ketika ia menggenggam pedang itu sekarang,

perasaannya seperti sedang menggenggam tangan sesosok

mayat, tangan jenazah yang sudah dingin dan kaku, seakan

menggenggam tangan sahabat yang telah mati untuk

terakhir kalinya.

Itulah perasaan seseorang yang belajar pedang,

menggenggam pedang untuk terakhir kalinya.

Seandainya ia bersedia tetap tinggal di sini, seandainya

dia bersedia tetap meninggalkan pedang itu di tanah, Po

Eng tak bakal turun tangan.

Namun sayang ia tidak bersedia.

Sewaktu ia cabut pedang itu dari tanah, seperti dia telah

mengubur diri sendiri ke dalam tanah.

Po Eng masih berdiri di sana bagaikan sukma

gentayangan, memandangnya dengan dingin.

Tiada pedang di tangan Po Eng, tanpa menggunakan

pedang pun Po Eng tetap bisa membunuh orang.

Dengan mengandalkan tangan kosong dia sanggup

menghadapi bacokan golok Wi Thian-bong yang cepat

bagaikan kilat, sekarang tentu saja dia pun sanggup

menghadapi serangan pedang Siau-hong dengan sepasang

tangannya.

Siau-hong telah melancarkan tusukan, serangan itu

tertuju ke arah -jantung Po Eng, yaitu jantung Siau-hong

sendiri. Karena tusukan yang dia lancarkan sama artinya

seperti menusuk diri sendiri.

Dari balik kilau cahaya pedang ia telah menyaksikan

“kematian”.

Cahaya pedang yang berkilauan tiba-tiba terhenti,

terhenti persis di depan jantung Po Eng, ujung pedang telah

menembus pakaian Po Eng yang berwarna putih.

Po Eng sama sekali tidak turun tangan, bahkan bergerak

sedikit pun tidak.

Pada saat terakhir itulah Siau-hong baru menarik

kembali tusukannya, bahkan dia sendiri pun tertegun

karena kejadian ini.

“Mengapa kau tidak membalas?” tak tahan tanyanya

kepada Po Eng.

Di saat dia bertanya kepada Po Eng, Po Eng pun sedang

bertanya kepadanya, “Mengapa kau tidak membunuhku?”

Kedua orang itu tak ada yang menjawab pertanyaan

lawan, karena mereka sama-sama mengetahui jawabannya.

Persahabatan! Inilah satu-satunya jawaban.

Pada saat bersamaan bukan saja ujung pedang telah

berhenti, seluruh pergerakan yang ada di dunia pun seakanakan

ikut terhenti.

Karena mereka telah sadar, peduli urusan orang lain

akan berubah seperti apa pun, mereka berdua tetap tidak

berubah.

Mereka masih tetap bersahabat.

Sahabat sejati selamanya tak akan berubah jadi musuh.

Cahaya lentera di atas tiang kembali bercahaya.

Tiba-tiba Po Eng membalikkan badan, mengawasi

cahaya lentera yang mirip kerlipan bintang di kejauhan,

lewat lama kemudian perlahan-lahan ia baru berkata,

“Pergilah, pergi ke bawah cahaya lentera itu, di sana ada

seseorang sedang menantikan kedatanganmu.”

Siau-hong tidak berkata lagi. Po Eng pun tidak berkata

lagi.

Ada sementara persoalan memang tak perlu diutarakan,

semua yang terindah di dunia ini memang tak perlu

diucapkan dengan kata-kata.

Mimpinya berada di Kang-lam. Kang-lam berada dalam

alam impiannya.

Cahaya lentera pun jauh bagaikan di Kang-lam, ada

seseorang menunggunya di bawah lentera, sesosok manusia

dan dua ekor kuda.

Orang itu adalah Yang-kong, sedang kuda adalah Ci-hu.

Baik orangnya maupun kudanya semua adalah sahabat

karibnya, sahabat sejati yang selamanya tak pernah akan

berubah.

Yang-kong hanya mengucapkan tiga patah kata, “Mari

kita pergi!”

Cahaya bintang lebih jauh dari Kang-lam, tapi cahaya

bintang dapat terlihat jelas, bagaimana dengan Kang-lam?

Impiannya berada di Kang-lam, impiannya memang

dipenuhi kepedihan dan kesedihan seorang perantau yang

jauh meninggalkan desa kelahiran.

Dia tak pernah dapat melupakan kepedihan dan

kesedihannya ketika dengan berat hati meninggalkan Kanglam.

Kini dia akan segera kembali ke Kang-lam, tapi…

mengapa hatinya masih dipenuhi kesedihan dan kepedihan?

Yang-kong selalu berada di sampingnya, tiba-tiba ia

bertanya, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Kang-lam!”

Kang-lam tak lebih hanya susunan dua kata, tapi ketika

mendengar dua kata itu, Yang-kong pun segera

memperlihatkan mimik muka seperti orang sedang

bermimpi, tiba-tiba ia mulai bersenandung, membawakan

bait syair dari Liu Tun-thian.

Konon bait syair ini merupakan persembahan Liu Tunthian

kepada Sun-ho Tok-say ketika berada di kolam Chetong,

di mana secara tak sengaja terbaca oleh Wanyen

Liang.

Konon gara-gara bait syair itu pula akhirnya tentara Kim

di bawah pimpinan Wanyen Liang menyerbu wilayah

Kang-lam.

Memang harus diakui, inilah bait lagu yang sangat

indah, membuat mabuk yang mendengar, membuat mabuk

pula yang mendendangkan.

Lewat lama kemudian Siau-hong baru menghela napas,

katanya, “Mereka yang belum pernah datang ke Kang-lam,

pasti ingin berkunjung ke sana, tapi bila telah tiba di Kanglam,

kau akan sangat merindukan Lhasa.”

“Aku percaya.”

“Sekembaliku ke Kang-lam, bila tahu ada orang hendak

pergi ke Lhasa, aku pasti akan menitipkan sedikit kue bunga

Kui dan gula-gula daun teratai, hidangan kecil dari Kanglam

untukmu,” kata Siau-hong sambil tertawa paksa,

“Sekalipun kau tak dapat menikmati bunga Kui dan bunga

teratai dari Kang-lam, hidangan kecil itu mungkin bisa

mengobati rasa rindumu itu.”

Yang-kong termenung sampai lama sekali, tiba-tiba dia

ikut tertawa.

“Kau tak perlu menitipkan hidangan itu kepada orang

lain,” senyumannya mendadak berubah sangat aneh, “Aku

bisa pergi membeli sendiri.”

“Kau akan membeli sendiri?” Siau-hong belum

menangkap arti perkataannya, “Mau beli di mana?”

“Tentu saja beli di Kang-lam.”

Kini Siau-hong baru terperanjat.

“Mau membeli sendiri di Kang-lam? Jadi kau pun akan

pergi ke Kang-lam?”

Yang-kong mengangguk perlahan, dari balik pandangan

matanya pun seolah muncul impian tentang Kang-lam,

bahkan tersisip pula rasa murung karena suatu perpisahan.

Siau-hong menghembuskan napas lega.

“Kau tak bakal ke sana,” katanya, “Dapat kulihat kau

merasa sangat berat untuk meninggalkan Lhasa, terlebih

harus berpisah dengan sahabat-sahabatmu.”

“Aku memang merasa berat untuk berpisah dengan

mereka,” sahut Yang-kong, “Tapi aku harus pergi ke Kanglam.”

“Mengapa?”

“Engkoh Eng minta aku mengantarmu, mintaku

mengantarmu sampai Kang-lam,” Yang-kong menerangkan

dengan sedih, “Seharusnya kau tahu, terlepas tugas apa pun

yang dia minta aku kerjakan, aku selalu menuruti semua

perkataannya.”

Sekali lagi Siau-hong tertawa paksa.

“Mengapa dia minta kau mengantar sejauh itu? Apakah

dianggapnya aku sudah lupa jalanan untuk pulang?”

“Aku sendiri pun tak tahu mengapa dia minta aku

mengantarmu,” jawab Yang-kong, “Tapi karena dia sudah

meminta, maka aku pun harus mengantarmu sampai di

Kang-lam, biar kau hajar aku dengan pecut pun aku tak

bakal pergi dari sampingmu.”

Dia pun ikut tertawa walau kelihatan sangat dipaksakan,

karena dia pun seperti Siau-hong, memahami maksud Po

Eng.

Po Eng memintanya untuk mengantar Siau-hong karena

tak lain ingin menjodohkan mereka berdua, setiap orang

beranggapan bahwa mereka sudah merupakan sepasang

kekasih.

Siau-hong termenung sampai lama sekali, tiba-tiba

tanyanya lagi, “Setelah tiba di Kang-lam, apakah kau akan

balik lagi?”

“Benar,” tanpa berpikir panjang Yang-kong langsung

menjawab, “Peduli sampai di mana pun, aku pasti akan

kembali lagi.”

Mendadak tanyanya lagi, “Tahukah kau manusia macam

apakah Po Eng itu?”

“Dia adalah Toakomu.”

“Dia adalah Toakoku, tentu saja Toakomu juga,”

Yang-kong menghela napas panjang, “Hanya sayang aku

bukanlah adiknya!”

“Kau bukan?” Siau-hong sedikit melengak, “Lantas kau

adalah apanya?”

“Aku adalah calon istrinya, kami berdua telah terikat tali

perkawinan.”

Siau-hong terperangah.

Kembali Yang-kong termenung sampai lama sekali

kemudian baru berkata lagi, “Selama ini dia tak pernah

membiarkan kau tahu akan persoalan ini, karena dia selalu

mengira kau menyukai aku, dia tak ingin kau tertekan

batinnya karena persoalan ini.”

Siau-hong tertawa getir.

Kembali Yang-kong berkata, “Lagi pula dia selalu

menganggap dirinya sudah terlalu tua, merasa tak pantas

mengawini aku, selalu berharap aku bisa menemukan

pasangan hidup yang jauh lebih baik, oleh karena itu….”

“Oleh karena itu dia minta kau mengantarku, mengantar

sampai ke Kang-lam,” Siau-hong mewakilinya menjawab.

“Dia memang manusia semacam ini, selalu berpikir demi

kepentingan orang lain, belum pernah memikirkan

kepentingan sendiri,” Yang-kong tertawa getir, “walaupun

penampilannya selalu dingin dan kaku, dingin bagaikan

bongkahan es.”

Biarpun senyumannya mengandung nada pedih namun

terselip pula perasaan bangga, bangga karena Po Eng.

“Demi kau, dia tak segan ribut sendiri dengan rekanrekannya,

bahkan tak segan menjamin dengan nyawanya

kalau kau tak bakal membocorkan rahasia mereka,” Yangkong

menghela napas panjang, “Tapi persoalan ini sampai

mati pun tak nanti akan dia katakan kepadamu, sebab dia

tak ingin kau memikul beban di hatimu, tak ingin kau

berterima kasih kepadanya.”

Siau-hong tidak berkata apa-apa lagi.

Dia kuatir air mata yang sudah mengembeng di kelopak

matanya keburu meleleh.

Dia tak akan mengucurkan air mata secara mudah,

perasaan terima kasihnya kepada seseorang pun tak pernah

diucapkan begitu saja.

Kembali lewat lama sekali, Yang-kong baru berkata,

“Peduli bagaimana pun dia bersikap kepadaku, sikapku

kepadanya tak pernah akan berubah untuk selamanya.”

“Oleh sebab itu kemana pun kau pergi, suatu saat pasti

akan kembali,” sambung Siau-hong.

Yang-kong menatap pemuda itu dan bertanya perlahan,

“Jadi kau memahami maksudku?”

“Tentu saja paham.”

Yang-kong tertawa, dia benar-benar tertawa,

senyumannya kembali secerah dan seterang sinar sang

surya.

Kembali dia menggenggam tangan Siau-hong, kali ini dia

menggenggam lebih kencang dan erat.

“Aku tahu, kau pasti dapat mengerti,” katanya, “Aku pun

tahu, dia tak akan salah melihatmu, kau memang

merupakan sahabat karibnya.”

Di saat mereka sedang tertawa paling cerah, paling

gembira itulah tiba-tiba terdengar semacam suara keluhan

yang amat menyedihkan.

Bukan rintihan, bukan pula dengusan napas memburu,

hanya seseorang yang berada dalam keadaan sangat

menderita, sangat tersiksa maka akan memperdengarkan

suara semacam ini.

Suara itu sangat rendah, sangat jauh, seandainya bukan

berada di tengah malam buta, apalagi di tengah gurun yang

sepi, kemungkinan besar mereka tak akan mendengar suara

ini.

Tapi sekarang mereka telah mendengarnya.

Tempat itu masih termasuk pinggiran gurun pasir,

merupakan sebuah oase yang kini telah mengering.

Oase yang mengering, ibarat wanita cantik yang telah

memasuki usia senja, tak akan dapat menahan ayunan

langkah siapa pun.

Yang-kong mengajak Siau-hong menelusuri jalan itu.

Bukan saja karena amat jarang orang berlalu-lalang di

sini, dikarenakan pula orang lain tak akan menyangka

orang yang begitu hapal dan menguasai situasi gurun pasir,

akan melalui sebuah tanah oase yang tak berair.

Tak berair berarti tak ada kehidupan, para pelancong

pasti akan menghindari tempat itu.

Pohon nan hijau sudah mulai layu dan mengering, yang

tersisa hanya sebuah gundukan tanah yang tetap kokoh,

tetap duduk dengan pandangan dingin, menyaksikan

perubahan yang terjadi di alam jagat ini.

Suara yang mereka dengar ternyata berasal dari balik

gundukan pasir itu.

Di belakang gundukan pasir terdapat sebatang pohon

kering, di atas pohon kering tergantung tubuh seseorang,

seseorang yang seharusnya sudah mati sedari dulu.

Siapa pun itu orangnya, tak mungkin bisa hidup hingga

sekarang setelah mengalami begitu banyak siksaan dan

penderitaan. Mungkin dia bisa hidup hingga kini karena

orang itu hanya separoh manusia dan separoh lainnya iblis.

Ternyata orang ini tak lain adalah Thian-mo-giok-li (Iblis

langit gadis suci) Liu Hun-hun.

Kalau bukan dikarenakan pakaiannya, nyaris Siau-hong

tak dapat mengenalinya sebagai Liu Hun-hun.

Dia telah disiksa hingga tak berbentuk manusia, bahkan

suara untuk merintih pun tak sanggup dikumandangkan,

yang bisa dilakukan hanya memandang ke arah Siau-hong

dengan sorot mata minta belas kasihan, memandang

dengan matanya yang merah darah.

Dia tak ingin Siau-hong menolongnya, sebab dia sendiri

pun tahu tak mungkin dirinya dapat hidup lebih jauh.

Yang dia inginkan hanya mati secepatnya.

Siau-hong memahami maksudnya, andaikata dia

menghadiahkan sebuah tusukan, tindakannya itu justru

merupakan sebuah tindakan bajik baginya, tindakan yang

sangat berperi kemanusiaan.

Namun dia tidak turun tangan, sebab dia sendiri pun tak

tahu bagaimana harus berbuat.

Bagaimana pun juga orang ini belum mati, tak seorang

pun punya hak untuk menentukan mati hidupnya.

Yang-kong telah membuang muka, dia tak tega

menyaksikan lebih jauh.

“Mari kita pergi!”

Siau-hong enggan beranjak pergi. Sambil menghela

napas Yang-kong pun berkata, “Jika kau tak ingin

menolongnya, tidak tega pula membunuhnya, mengapa tak

mau pergi?”

Siau-hong sendiri pun tak dapat mengemukakan

alasannya.

Dalam watak manusia memang terdapat banyak sekali

ungkapan perasaan yang sukar dijelaskan, oleh sebab itu

hampir setiap orang seringkali melakukan perbuatan yang

dia sendiri pun tak dapat menjelaskan alasannya.

Siau-hong hanya ingin melepaskan perempuan itu dari

tiang gantungan.

Yang-kong segera menarik tangannya.

“Kau tak boleh menyentuhnya!”

“Mengapa?”

“Sebab bila kau menyentuhnya, maka orang lain akan

tahu kalau kita pernah datang ke sini, tahu kalau jalan

inilah yang kita tempuh.”

“Orang lain? Siapa pula orang lain itu?” kembali Siauhong

bertanya.

Yang-kong tak menjawab, karena “orang lain” telah

mewakilinya menjawab, “Yang dimaksud orang lain adalah

aku!”

Suara itu berasal dari belakang tubuh Siau-hong.

Bahkan Siau-hong sama sekali tidak merasakan

kehadirannya, tahu-tahu orang itu telah berdiri di

belakangnya bagaikan sesosok roh gentayangan.

Belum pernah ada orang tahu kapan dia akan datang,

belum pernah juga ada yang tahu kapan dia akan pergi.

Siau-hong mengepal sepasang tinjunya, sampai ujung jari

pun ikut terasa dingin membeku.

Tapi dia sama sekali tidak merasa keheranan, sebab sejak

awal dia sudah tahu, Pancapanah tak bakal melepaskan

dirinya.

Wajah Pancapanah sudah tidak dihiasi senyuman

sehangat musim semi, penampilannya tampak begitu keras

dan kokoh bagaikan emas, sinar matanya tajam bagai ujung

gurdi.

Dalam genggamannya masih terlihat gendawa, di

pinggangnya tergantung pula anak panah.

Kembali Yang-kong menghela napas.

“Kusangka kau tak akan menduga bahwa aku bakal

melalui jalanan ini, tak menyangka kau masih tetap berhasil

menemukan kami.”

Lalu setelah tertawa getir, terusnya, “Tak heran setiap

orang bilang bila Pancapanah sedang mengejar seseorang,

maka keadaannya ibarat seekor anjing pemburu sedang

mengejar seekor ayam, belum pernah sekali pun mengalami

kegagalan.”

Pancapanah seolah sama sekali tidak mendengar apa

yang sedang dibicarakan gadis itu, dia masih mengawasi

Liu Hun-hun yang tergantung di atas pohon tanpa berkedip.

Tiba-tiba tanyanya, “Tahukah kalian siapa yang telah

melakukan semua ini terhadap dirinya?”

“Memangnya kau tahu?” tanya Yang-kong, “Siapa?”

Lama sekali Pancapanah termenung sebelum akhirnya

menyebut nama seseorang, “Dia adalah Kim-jiu si tangan

emas.”

“Tangan emas? Siapakah Tangan emas?”

“Kim-jiu bukan nama manusia tapi sebuah organisasi,

organisasi yang dibeli Lu-sam dengan bayaran emas

murni,” Pancapanah menjelaskan, “Kim-jiu merupakan

julukan mereka.”

“Sebelum ini mengapa aku belum pernah

mendengarnya?”

“Aku sendiri pun baru tahu belakangan,” kata

Pancapanah, “Thiat Gi, Wi Thian-bong, Liu Hun-hun,

mereka adalah anggota organisasi ini.”

“Kalau Liu Hun-hun adalah anggota organisasi ini,

mengapa mereka bersikap begitu keji terhadapnya?”

Mungkin saja Yang-kong tidak mengetahui alasannya,

tapi Siau-hong tahu.

“Karena dia pernah mengkhianati mereka!”

Sewaktu berada dalam tenda berbulu elang berwarna

hitam, dia minta setiap rekannya meninggalkan sebelah

tangan.

Sekarang Siau-hong baru paham, apa sebabnya waktu itu

Po Eng melepaskan Liu Hun-hun begitu saja.

Rupanya dia telah memperhitungkan secara tepat bahwa

rekan-rekannya pasti akan melakukan balas dendam

terhadapnya.

Mata Pancapanah mulai berkerut kencang, tapi sinar

matanya bertambah tajam, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa

dingin, “Sungguh tak disangka ternyata mereka masih

tinggal di sini dan belum pergi.”

Kembali Yang-kong bertanya, “Mereka sengaja

menggantung tubuh Liu Hun-hun di sini, apakah perbuatan

itu sengaja dilakukan untuk menakut-nakuti kita?”

Tapi dengan cepat ia jawab pertanyaan sendiri, “Sudah

pasti begitu, maka dari itu kau harus secepatnya pergi

mencari mereka, tunjukkan sedikit kehebatanmu kepada

mereka.”

Kembali dia menarik tangan Siau-hong, menariknya

menuju ke tempat di mana kuda mereka dilepas.

“Kita pun harus segera pergi.”

Tapi Pancapanah segera menghalangi jalan pergi

mereka, melintangkan gendawa di tengah jalan.

“Kau boleh pergi, tapi dia tetap di sini.”

“Buat apa dia tetap tinggal di sini?” Yang-kong sengaja

berlagak pilon, “Apakah minta dia menemanimu minum

arak?”

“Bukan!”

Sebenarnya pertanyaan ini tak perlu dijawab, tapi

Pancapanah tetap menjawab, bahkan menjawab dengan

nada serius dan sungguh-sungguh.

Kembali Yang-kong menghela napas.

“Aku pun tahu, tentu saja kau tak akan minta dia untuk

menemanimu minum arak, kau tak pernah minum arak

sewaktu hendak membunuh orang.”

Pancapanah mengakuinya, hawa napsu membunuh telah

mencorong keluar dari balik matanya.

“Kalau sudah tahu, buat apa kau bertanya lagi?”

“Karena aku berharap kau hanya memintanya

menemanimu minum arak,” sikap Yang-kong pun berubah

jadi serius dan bersungguh-sungguh, “Karena kau tak akan

mampu membunuhnya.”

Pancapanah tertawa dingin.

“Aku memahami maksudmu,” katanya, “Kalian berdua

boleh turun tangan bersama, asal dapat membunuhku, kau

boleh membawa dia pergi.”

Kemudian sepatah demi sepatah tambahnya, “Hanya

setelah berhasil membunuhku, kau baru dapat

membawanya pergi.”

“Kau keliru besar,” sekali lagi Yang-kong menghela

napas, “Pada dasarnya kau sama sekali tidak memahami

maksudku, aku tak pernah berniat membunuhmu, tapi kau

pun tak nanti bisa membunuhnya, kalau tidak….”

“Kalau tidak kenapa?” tukas Pancapanah, “Ketika dia

ingin pergi, tak seorang pun dapat menghalanginya; begitu

pula dengan aku, di saat aku hendak membunuh orang, tak

seorang pun dapat menghalangiku juga.”

Tangan kanannya telah menggenggam gendawa emas,

kemudian dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan

kirinya menarik sebatang anak panah.

“Kecuali kali ini dia masih dapat menghindari kelima

batang anak panahku!”

Kini gendawa emas telah dipentang, anak panah telah

disiapkan, Ngo-hoa-sin-ciam yang selalu tepat sasaran telah

siap melepaskan anak panah mautnya.

Mendadak Yang-kong berteriak, “Aku pun tak tahu

apakah dia sanggup menghindari anak panahmu atau tidak,

tapi aku tahu, jika panah itu kau lepaskan, maka yang mati

terpanah bukan hanya dia seorang.”

“Kau ingin menemaninya mati?” ejek Pancapanah sambil

tertawa dingin.

Ooo)d*w(ooO

BAB 17. MANUSIA YANG MATI BERLUTUT

“Aku tak ingin,” jawab Yang-kong.

Bukan takut, dia malah tertawa, terusnya, “Aku hanya

tahu, bila kau membunuhnya, maka akan ada orang lain

pasti menemaninya pergi mati.”

“Siapa? Siapakah orang itu?” mau tak mau Pancapanah

harus bertanya.

“Orang itu adalah Pova!”

Dengan hambar terusnya, “Po Eng minta aku

memberitahukan kepadamu, bila kau membunuh Siauhong,

maka Pova pasti akan ikut mati, hari ini kau

membunuhnya, Pova tak akan hidup sampai esok.”

Gendawa emas masih berada di tangan Pancapanah,

anak panah pun masih di atas gendawa, tapi sekujur

badannya telah jadi kaku, bahkan jari tangan yang menarik

tali busur pun ikut kaku.

Dia sangat memahami Po Eng, tak ada orang kedua

yang lebih mengerti tentang Po Eng daripada dirinya.

Setiap perkataan yang diucapkan Po Eng, persis panah

yang terlepas dari busurnya, ucapan Po Eng telah

disampaikan sementara anak panah belum terlepas dari

busurnya.

Tapi anak panah telah berada di tali busur, masa tak

dilepaskan?

Mendadak… “Prakkk!”, gendawa emas itu melejit ke

udara, ternyata tali busur telah tertarik putus.

Mengikuti putusnya tali busur, hawa napsu membunuh

di wajah Pancapanah pun berangsur sirna.

“Kalian memang merupakan sahabat sejati,” dia

menghela napas, “Belum pernah kuduga bahwa kalian

ternyata merupakan sahabat sejati!”

Malam sudah larut, kini semakin larut.

Selesai mengucapkan perkataan itu, perlahan-lahan

Pancapanah membalikkan badan dan berjalan menuju ke

balik kegelapan.

Kegelapan di ujung langit yang tak terhingga, selalu

mengandung kesepian yang luar biasa.

Mengawasi bayangan punggungnya yang menjauh, tak

tahan Yang-kong pun menghela napas panjang.

“Kau tak pernah mengira kalau mereka adalah sahabat

yang begitu karib, mungkin karena kau sendiri belum

pernah mempunyai teman.”

Terlihat Pancapanah mengangguk perlahan. “Mungkin

saja begitu….”

Belum sampai dia menyelesaikan ucapannya, mendadak

terlihat tubuhnya menegang bagaikan tali busur yang ditarik

kencang, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berbaring di atas

pasir, menempelkan telinganya di atas tanah, cahaya

bintang yang menyinari wajahnya memperlihatkan

perubahan mimik yang sangat aneh.

Lagi-lagi dia mendengar suara yang tak mungkin

terdengar oleh orang lain.

“Apa yang kau dengar?” tak tahan Yang-kong berbisik.

“Manusia!”

“Manusia?” tanya Yang-kong lagi, “Ada orang datang

kemari?”

“Ehm!”

“Menuju kemari?”

“Ehm.”

“Berapa banyak jumlah mereka?”

Pancapanah tidak menjawab, dia memang tak perlu

menjawab, sebab waktu itu Siau-hong maupun Yang-kong

sudah mendengar pula suara yang baru saja ia dengar.

Suara derap kaki kuda yang amat ringan bergerak amat

cepat, dalam sekejap mereka telah dapat mendengar dengan

amat jelas, rombongan berkuda itu sedang bergerak menuju

ke arah mereka, jumlah pendatang paling tidak tiga-empat

puluhan orang, tiga-empat puluhan ekor kuda.

Sambil melompat bangun, bisik Pancapanah, “Kalian

ikut aku.”

Kuda “Ci-hu” milik Siau-hong maupun kuda milik Yangkong

berada di bawah pohon kering di tepi kolam yang

telah mengering itu.

Dengan kecepatan tinggi Pancapanah menghampirinya,

menepuk perlahan kepala sang kuda, melepas tali lesnya,

dan membawa kedua ekor kuda itu menuju ke belakang

gundukan pasir yang jauh lebih rendah dan pendek,

kemudian menjatuhkan “Ci-hu” hingga merebah dan

menggunakan dada sendiri menindih kepala “Ci-hu”.

Kuda “Ci-hu” yang tak pernah menuruti kemauan orang

ternyata sama sekali tidak memiliki tenaga untuk meronta

atau melawan setelah berada di tangannya.

Sewaktu turun tangan tadi, dia telah memberi tanda

kepada Yang-kong, gadis itu segera menggunakan cara yang

sama untuk mengendalikan kuda yang lain.

Cara yang mereka gunakan selain cepat, bahkan sangat

mujarab, mungkin jauh lebih mujarab daripada cara yang

digunakan seorang hidung-belang untuk merayu

perempuan.

Pada saat itulah suara derap kaki kuda semakin

mendekat, kemudian terlihatlah serombongan manusia

berkuda bergerak menuju ke tanah hijau yang telah

mengering itu.

Jumlah mereka adalah tiga puluh tujuh orang dengan

tiga puluh enam ekor kuda, binatang tunggangan orang

paling akhir bukan kuda, melainkan seekor keledai.

Orang ini bertubuh tinggi besar, bahkan sangat gemuk,

namun binatang tunggangannya justru seekor keledai yang

kurus kecil.

Anehnya, biarpun keledai itu kurus kecil namun tampak

sangat kuat dan cekatan, sekalipun harus mengangkut

manusia sebesar dan seberat itu, ternyata ia sanggup

mengikut di belakang ketiga puluh enam ekor kuda

jempolan itu.

Biarpun orang itu bertubuh tinggi besar dan gemuk,

namun sama sekali tak nampak gagah ataupun berwibawa,

pakaian yang dikenakan sangat bersahaja, ketika mengintil

di belakang ketiga puluh enam penunggang kuda yang

berpakaian mewah, berkuda jempolan, dan menyoreng

golok panjang, keadaannya lebih mirip seorang pelayan.

Anehnya sikap para penunggang kuda itu terhadapnya

sangat hormat, bahkan kelihatan agak takut.

Setelah turun dari kuda tunggangannya, ketiga puluh

enam orang jagoan itu serentak berdiri berjajar di kedua sisi

jalan dengan sikap yang amat menghormat, jangankan

bergerak, bernapas lebih keras pun tak berani.

Sambil tetap duduk di atas keledainya, orang itu

celingukan ke sana kemari beberapa saat lamanya,

kemudian baru perlahan-lahan turun dari atas pelananya.

Wajahnya yang memerah kelihatan bagaikan seorang

yang jujur dan polos, bahkan mukanya nampak sedikit

bodoh dan kebingungan.

Kembali dia celingukan, kemudian baru menggapai ke

arah seorang lelaki bertubuh kekar sembari bertanya,

“Apakah tempat ini yang kau maksudkan?”

“Benar!”

“Seingatku, kau seperti mengatakan tempat ini adalah

sebuah oase?”

“Benar.”

“Mana airnya?” orang itu menghela napas, “Mengapa tak

terlihat setitik air pun di sini?”

Lelaki itu tertunduk rendah, butiran keringat sebesar

kacang kedelai telah membasahi jidat dan ujung hidungnya,

kedua kaki pun tampak agak gemetar, bahkan suaranya

sewaktu menjawab pun mulai gemetar.

“Tiga tahun berselang aku pernah datang kemari, di sini

memang merupakan sebuah oase, memang ada airnya, tak

nyana sekarang telah mengering.”

“Tidak nyana, benar-benar tidak nyana,” si gemuk yang

menunggang keledai itu menghela napas panjang, tiba-tiba

tanyanya lagi, “Belakangan apakah kesehatanmu bagus?”

“Bagus.”

“Apakah pernah sakit?”

“Tidak.”

Sekali lagi si gemuk penunggang keledai itu menghela

napas. “Kalau begitu kuduga kau sendiri pun tak pernah

menyangka kalau dirimu bakal segera mati, bukan?”

Tiba-tiba lelaki itu mengangkat wajahnya, muka yang

semula dicekam perasaan takut yang luar biasa secara tibatiba

muncul sekulum senyuman.

Ternyata dia masih sanggup tertawa, suatu peristiwa

yang sama sekali tak diduga siapa pun.

Si gemuk penunggang keledai itu pun tercengang, tak

tahan tegurnya, “Kau anggap sangat menggelikan?”

“Aku… aku… aku….”

Lelaki itu masih tertawa, senyumannya kelihatan begitu

gembira, begitu misterius, namun nada ucapannya penuh

dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa.

Tiba-tiba ia mulai berlutut, ketika badannya mulai

berlutut senyuman yang diperlihatkan pun makin gembira

dan riang.

Tentu saja dia pun dapat menangkap hawa napsu

membunuh yang terpancar dari wajah si gemuk, sudah jelas

dia takut setengah mati, tapi kenyataan dia masih dapat

tertawa, sudah jelas suara tertawanya begitu riang gembira,

apa mau dikata caranya menunjukkan rasa ketakutan telah

mencapai puncaknya.

Seorang normal tak bakal menunjukkan penampilan

semacam ini, apakah orang ini sudah gila lantaran

ketakutan?

Rekan-rekannya memandang ke arah orang itu dengan

perasaan terkejut, mimik muka yang sebelumnya nampak

terkejut dan heran tiba-tiba berubah jadi wajah tertawa,

tertawa penuh keriangan, penuh misterius, tertawanya

persis senyumannya.

Menyusul ketiga puluh lima orang itu pun sama-sama

berlutut, ketika berlutut senyuman mereka nampak makin

riang, makin gembira.

Berubah paras si gemuk penunggang keledai itu, berubah

jadi tercengang, kaget, dan ngeri.

Pada saat parasnya mulai berubah itulah, tiba-tiba dia

pun memperlihatkan senyuman, senyuman gembira yang

misterius, senyum yang sama dengan ketiga puluh enam

orang anak buahnya.

Kemudian dia pun ikut berlutut.

Begitu ketiga puluh tujuh orang itu berlutut, mereka tak

pernah bergerak lagi, bukan saja tubuhnya masih tetap

terjaga pada posisi semula, wajah mereka pun masih dihiasi

dengan senyuman gembira.

Ketiga puluh enam orang itu tertawa terus, seakan-akan

secara bersamaan sedang menyaksikan sebuah kejadian

yang membuat mereka sangat gembira, sangat senang.

Tiba-tiba Yang-kong menggenggam tangan Siau-hong,

tangan gadis itu dingin dan basah, begitu pula dengan

tangan Siau-hong.

Menyaksikan senyuman gembira ketiga puluh tujuh

orang itu, sedikit pun mereka tidak merasa gembira, yang

dirasakan kini hanya kengerian aneh yang tak terlukiskan

dengan perkataan.

Mereka berdua pun tak tahu apa yang telah terjadi,

namun di hati kecil kedua orang itu secara tiba-tiba

diselimuti pula perasaan ngeri dan takut yang tak

terlukiskan dengan kata-kata.

Malam kelam yang panjang belum lagi lewat, jagat raya

masih diselimuti kegelapan dan keheningan.

Ketiga puluh tujuh orang itu masih berlutut di tempat

tanpa bergerak, senyuman riang masih tertera di wajah

masing-masing.

Tapi kini senyuman gembira mereka pun sudah kelihatan

tak begitu menggembirakan lagi.

Senyuman orang-orang itu sudah kaku, sudah membeku.

Tubuh mereka pun telah kaku, telah membeku.

Di saat mereka menjatuhkan diri berlutut, nyawa mereka

ikut melayang meninggalkan raga, begitu berlutut langsung

mati.

Saat ajal orang-orang itu adalah saat mereka berlutut,

yakni di saat mereka tertawa paling gembira.

Di saat menemui ajalnya mengapa mereka harus

tertawa?

Mengapa mereka harus mati dalam keadaan berlutut?

Siau-hong ingin bertanya kepada Pancapanah, begitu

pula dengan Yang-kong, ada banyak persoalan yang ingin

ditanyakan.

Di dataran luas yang penuh diselimuti misteri dan tak

berperasaan ini, seandainya masih ada orang yang bisa

menjelaskan kejadian misterius yang menakutkan ini, tak

dapat disangkal orang itu adalah Pancapanah.

Tapi sayang Pancapanah tidak memberi kesempatan

kepada mereka untuk bertanya.

Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah botol kayu berwarna

hitam dari dalam sakunya, lalu dengan jari manis dan

kelingking untuk menjepit botol itu sementara memakai ibu

jari dan jari telunjuknya untuk membuka penutup botol,

dari dalam botol itu dia menuang sedikit bubuk yang

kemudian diusapkan ke hidung kedua ekor kuda itu.

Dua ekor kuda yang lambat-laun mulai bergerak itu pun

seketika tidak bergerak lagi.

Bukan saja dia tidak membiarkan manusia bersuara,

kuda pim tak boleh ikut bersuara.

Tiga puluh tujuh orang yang berada di depan gundukan

pasir telah mati semua, orang mati tak akan mendengar

apa-apa.

Mengapa dia masih belum berani bersuara? Dia takut

siapa yang mendengar suara mereka?

Pancapanah bukan hanya tenang dan dingin, bahkan

sangat angkuh, dia selalu percaya diri, tak pernah takut

kepada siapa pun, semua orang mengakui tak banyak lagi

kejadian di dunia ini yang dapat membuatnya ketakutan.

Tapi sekarang parasnya telah berubah, bahkan

tampaknya jauh lebih ketakutan ketimbang Siau-hong

maupun Yang-kong.

Sebab persoalan yang dia ketahui jauh lebih banyak

daripada mereka berdua.

Bukan saja dia tahu kalau orang-orang itu telah

keracunan, bahkan tahu kalau mereka telah terkena racun

Im-leng (Roh gentayangan) yang konon paling jahat, paling

ganas, dan paling menakutkan.

Sifat racun itu tak berwarna tak berbau, datang tanpa

bayangan tanpa bentuk, sedang orang yang melepaskan

racun pun bagaikan sesosok roh jahat yang gentayangan tak

berjejak.

Belum pernah ada orang yang tahu siapa pelepas racun

itu, menggunakan cara apa melepaskan racun, juga tak ada

yang tahu sejak kapan dirinya terkena racun, menanti

mereka sadar dirinya keracunan, racun telah menyebar ke

seluruh tubuh dan tidak tertolong lagi.

Bentuk wajah mereka berubah bentuk tatkala racun itu

mulai bekerja, otot badan pun ikut kejang dan kemudian

lemas kehilangan kekuatan yang membuat sang korban

jatuh berlutut.

Mungkin saja “Im-leng” yang meracuni mereka masih

berada ribuan li jauhnya, mungkin juga dia sudah berada di

sekeliling mereka.

Peduli di mana pun dia berada, cepat atau lambat dia

pasti akan datang untuk menengok para korban yang mati

keracunan di tangannya, seperti seorang ahli ukir, ketika

menyelesaikan hasil seninya, dia pasti akan berusaha untuk

menikmati hasil karyanya.

Tapi sayang, selama ini belum ada seorang hidup pun

yang pernah menyaksikan wajah aslinya, karena dia harus

menunggu hingga seluruh targetnya benar-benar tewas,

baru datang menikmati hasil karyanya, dia selalu akan

mengatur agar mereka mati di sebuah tempat terpencil, sepi

dan jarang ada orang yang datang mengunjunginya.

Oase kering ini memang sebuah tempat yang jarang

didatangi orang, kini orang-orang itu telah mati semua.

Oleh karena itu dalam waktu singkat Im-leng pasti akan

muncul di sana.

Sebenarnya manusia macam apakah dirinya? Laki?

Perempuan? Tua? Atau muda?

Sebenarnya dia itu manusia atau sesosok roh setan

gentayangan?

Pancapanah merasakan detak jantungnya berdebar amat

cepat.

Dia sadar, bila Im-leng tahu di situ masih ada orang

hidup, maka jangan harap orang hidup itu masih bisa

melanjutkan kehidupannya.

Malam kelam yang panjang sudah hampir lewat, pakaian

yang basah oleh keringat dingin pun sudah mulai

mengering tertiup angin malam yang menusuk tulang.

Jagat raya yang hitam pekat kini telah berubah menjadi

warna keabu-abuan yang lebih gelap daripada kegelapan

malam.

Tiga puluh tujuh sosok mayat yang mati berlutut masih

tetap berlutut kaku di bawah jagat raya yang kelabu,

menanti kedatangan Im-leng yang telah meracuni mereka

untuk menengok terakhir kalinya.

Ternyata orang pertama yang datang bukan Im-leng,

melainkan seekor elang.

Burung elang pemakan bangkai.

Tampak burung elang terbang berkeliling di angkasa.

Jagat raya yang berwarna kelabu lambat-laun mulai

memutih, lambat-laun berubah seperti warna kelopak mata

jenazah yang telah memutih.

Tiba-tiba elang pemakan bangkai itu menukik ke bawah,

hinggap di tubuh sesosok mayat yang masih berlutut,

dengan menggunakan paruhnya yang lebih kuat dari baja

untuk mematuk mata mayat itu.

Inilah patukannya yang pertama.

Pada saat dia bersiap melanjutkan sarapannya yang amat

lezat, tiba-tiba terlihat sepasang sayapnya mengejang kaku.

Tentu saja dia tak dapat mati berlutut.

Elang pemakan bangkai tak dapat berlutut, tapi elang

pun dapat mati.

Ternyata racun jahat Im-leng telah menyebar ke setiap

sel darah dalam tubuh jenazah itu, ketika elang pemakan

bangkai mematuk darah orang itu, maka sang elang pun

ikut mati keracunan.

Siau-hong merasakan dadanya sesak, begitu sesak hingga

tak sanggup bernapas, lambungnya terasa berkerut, seakanakan

cairan pahitnya akan tertumpah keluar….

Pada saat itulah dia mendengar lagi sebuah suara yang

sangat aneh.

Ia mendengar gonggong anjing.

Gonggong anjing pun bukan sesuatu yang aneh. Di

seluruh kota maupun desa di wilayah Kang-lam, orang

dapat mendengar gonggong anjing dari setiap sudut tempat,

bahkan setiap hari suara itu mengganggu ketenangan,

membuat kau yang enggan mendengar pun terpaksa harus

mendengarnya juga.

Tapi di dataran luas yang begitu gersang, sepi, dan

terpencil, apalagi di pagi hari yang dingin membekukan,

siapa pun tak akan menyangka akan mendengar suara

gonggong anjing, tentu saja semakin tak mengira kalau

akan melihat munculnya seekor anjing.

Siau-hong telah melihat munculnya seekor anjing.

Ternyata makhluk kedua yang muncul bukan roh

gentayangan pula, melainkan seekor anjing.

Seekor anjing Peking yang berbulu putih salju dan sangat

cantik.

Langit nyaris sudah terang menderang, lambat-laun

warnanya telah berubah menjadi sewarna ujung hidung

mayat-mayat itu.

Anjing Peking yang putih bersih dan manis itu masih

menggonggong, menggunakan semacam gerakan yang amat

menarik, amat lincah berlari mendekat, seakan seekor

anjing kecil yang sangat disayang berlari masuk ke dalam

kamar tidur majikannya.

Dia seakan tahu majikannya yang berhati lembut tak

bakal memarahinya, karena itu benda apa pun yang

dijumpai pasti digigitnya sekali, berjumpa dengan sandal

milik majikan pun tetap akan menggigitnya.

Hanya sayang tempat ini bukan kamar tidur gadis manja,

di sini pun tak ada nona yang berhati lembut, apalagi sandal

bunga yang indah.

Yang ada di sini hanya orang mati, sepatu laras kulit

yang dikenakan pada kaki mayat-mayat itu.

Anjing Peking yang putih menawan itu masih tetap

menggigitnya, yang digigit bukan sepatu kulit yang

dikenakan mayat itu, yang digigit adalah betis mayat itu.

Ternyata anjing Peking yang putih menawan itu

menggigit betis setiap mayat yang dijumpai.

Orang mati tentu tak akan merasa sakit, tiada reaksi dari

mayat-mayat kaku itu.

Tapi Yang-kong merasa hatinya sakit.

Seperti gadis gadis berusia sembilan belas tahun, dia pun

amat menyukai anjing kecil berbulu putih yang menarik

hati.

Dia tak tega menyaksikan anjing kecil yang menawan itu

sama nasibnya seperti elang pemakan bangkai, mati

keracunan.

Dia tak tega untuk melihatnya, namun dia pun tak tahan

untuk melihatnya.

Karena itu dia pun menyaksikan satu kejadian aneh.

Anjing kecil itu bukan saja tidak mati keracunan, bahkan

berubah makin lincah, makin menarik, makin menawan,

seperti anjing kecil yang baru habis menyantap hidangan

lezat yang diberikan majikannya, karena itu dia

menggunakan cara yang paling menawan untuk

melaporkan hasilnya, untuk membuat senang hati

majikannya, karena itu dia menggonggong tiada hentinya,

menggoyang ekor tiada hentinya.

Kini dia sudah mendengar majikannya memanggil,

“Macan kecil, cepat, cepat, cepat, biar ibu menciummu,

menggendongmu!”

Dia hanya seekor anjing kecil, bukan macan kecil,

“ibu”nya pun bukan seekor anjing, dia seorang manusia.

Seorang yang sangat menarik, berkulit putih bersih,

bermata bening, rambutnya yang hitam dikepang menjadi

tujuh-delapan belas buah kepang kecil, pada setiap kepang

kecil itu diikat dengan tali merah yang berbentuk kupukupu.

Di wilayah Kang-lam yang berpanorama indah, di

musim semi yang berudara segar, di tepi sungai kecil atau di

kebun bunga, mungkin saja kau akan bertemu dengan

seorang gadis kecil yang begitu menawan.

Tapi di tempat, waktu dan suasana seperti ini, siapa pun

tak bakal akan mengira bakal bertemu dengan manusia

semacam ini.

Tentu saja dia bukan “Roh gentayangan”, pasti bukan.

Tapi siapakah dia? Mengapa bisa muncul di tempat ini,

bahkan membawa seekor anjing kecil?

Andaikata bukan lantaran di tempat itu masih ada tiga

puluh tujuh sosok mayat yang masih berlutut di sana, Yangkong

pasti akan lari melewati gundukan pasir dan bertanya

kepadanya, dari dalam kantung kulitnya membagikan

semangkuk susu kambing yang manis kecut, lalu bertanya

tentang asal-usulnya dan bertanya kepadanya apakah

bersedia menjadi sahabatnya.

Tapi dengan cepat dia hapus seluruh rencananya itu,

kendati di sana tak ada orang mati, dia tak bakal muncul

dari persembunyiannya.

Karena secara tiba-tiba dia telah menyaksikan seseorang

yang jauh lebih menakutkan daripada orang mati, seorang

berpakaian serba putih bagaikan sesosok roh jahat muncul

secara tiba-tiba di belakang tubuh nona kecil berkepang

tujuh-delapan belas itu.

Padahal dia tidak termasuk orang yang berparas jelek,

perawakan tubuhnya tinggi tegap bagaikan sebatang pit,

pakaian putihnya bersih dan sesuai dengan potongan

badan, bahkan panca-inderanya termasuk sempurna, orang

itu terhitung tampan dan menawan.

Dia bahkan jauh lebih tampan dan menarik daripada

kebanyakan orang lelaki, namun siapa pun yang pernah

melihatnya pasti akan terperanjat hingga bermandikan

keringat dingin.

Tubuh orang ini seolah tembus pandang, semua bagian

tubuhnya yang berada di luar pakaian hampir seluruhnya

tembus pandang, setiap nadinya, setiap ototnya, bahkan

setiap kerat tulang-belulangnya dapat dilihat dengan jelas

sekali.

Seluruh bagian tubuh orang ini seolah dilapisi oleh kristal

yang tembus pandang.

Hampir saja Yang-kong menjerit keras, berteriak kepada

nona kecil yang menarik itu agar lari dengan cepat, makin

cepat larinya semakin baik.

Bagaimana pun dia merasa kuatir akan keselamatan

nona kecil itu.

Apakah kemunculan manusia kristal itu dikarenakan

gadis cilik itu? Apa yang bakal dia lakukan terhadapnya?

Sekalipun manusia kristal itu tidak mengusiknya, tatkala

gadis itu mengetahui di belakangnya telah berdiri manusia

semacam ini, apakah dia tidak mati lantaran kaget?

Sekarang gadis itu telah melihat kehadirannya.

Ternyata dia sama sekali tidak takut, malah mencakmencak

kegirangan, dipeluknya tengkuk orang itu lalu

mengecup pipinya yang tembus pandang.

Ternyata manusia kristal itu pun ikut tertawa, bahkan

pandai bicara, suaranya penuh kelembutan dan kehangatan.

Akan tetapi perkataan yang dia ucapkan lagi-lagi

membuat orang lain terperanjat.

“Apakah semuanya sudah mati?” tanya orang itu sambil

membelai lembut rambut si nona, “Apakah semuanya

sudah mati?”

“Tentu saja semuanya sudah mati,” jawab nona kecil itu,

“Perlu kita suruh si macan kecil menggigit mereka sekali

lagi?”

Lalu sambil memicingkan mata lanjutnya, “Kau

melarang mereka menyaksikan matahari hari ini, mana

mungkin mereka bisa hidup hingga fajar menyingsing?”

Tak tahan secara diam-diam Yang-kong menggenggam

lagi tangan Siau-hong, tangan mereka berdua terasa lebih

dingin ketimbang tadi.

Ternyata manusia kristal inilah si roh gentayangan, “Imleng”.

Rupanya anjing kecil itu menggigit kaki setiap mayat

yang berlutut tadi tujuannya untuk mencoba apakah mereka

benar-benar sudah mati atau belum, hanya orang mati yang

tak merasa kesakitan.

Harus menunggu hingga setiap orang mati, si roh

gentayangan baru akan muncul.

Tapi Yang-kong belum mati, Siau-hong, dan

Pancapanah pun belum mati.

Akhirnya mereka dapat melihat wajah asli si roh

gentayangan dalam keadaan hidup.

Tapi sekarang, berapa lama lagi mereka dapat hidup?

Kemungkinan besar si roh gentayangan telah

menemukan jejak mereka, telah melepaskan racunnya yang

tak berwarna, tak berbau, dan tak berwujud, melepasnya di

udara, di tengah hembusan angin, ketika mereka

menjumpai dirinya telah keracunan, tubuh mereka telah

jatuh berlutut.

Berlutut berarti mati.

Biarpun seseorang bakal mati, tidak seharusnya mereka

mati dalam keadaan berlutut.

Mengapa tidak sekalian beradu jiwa dengannya?

Menyerangnya mati-matian?

Hampir Yang-kong menerjang keluar dari

persembunyiannya…

Tapi pada saat itulah kembali ia saksikan sebuah

peristiwa yang amat menakutkan.

Dari antara tiga puluh tujuh sosok mayat yang mati

berlutut, tiba-tiba ada seorang telah hidup kembali.

Ternyata orang mati yang hidup kembali itu tak lain

adalah si gemuk penunggang keledai.

Tubuhnya yang gemuk besar tiba-tiba melejit ke tengah

udara seperti ikan Lehi dari sungai Huang-ho, terlihat

secercah cahaya perak menebar di angkasa.

Cahaya perak itu berkelebat lalu jatuh ke atas tubuh

manusia kristal itu, ternyata sebuah jala.

Tubuhnya berputar di tengah udara kemudian melayang

turun di atas batang pohon kering itu dan mulai menarik

jala peraknya.

Dalam waktu sekejap manusia kristal itu pun berubah

menjadi ikan dalam jaring.

Bila seseorang benar-benar sudah mati, dia tak akan

bangkit dan hidup kembali, karena setiap manusia hanya

memiliki selembar nyawa, hanya bisa mati satu kali.

Tentu saja si gemuk itu pun tidak terkecuali.

“Pernahkah kau bayangkan kalau aku belum mati?” ia

tertawa tergelak, “Pernahkah kau bayangkan, di dunia ini

ternyata masih ada orang yang tak mati kau racun?”

Suara tawanya amat nyaring dan gembira, kejadian

semacam ini memang patut dia banggakan.

Tapi sayang suara tawanya harus segera berakhir, karena

dia pun telah menyaksikan satu kejadian yang sama sekali

tak diduga.

Dia menjumpai nona kecil itu pun sedang tertawa.

Tadi dia masih sempat memeluk manusia kristal itu,

bahkan menciumnya. Hal ini membuktikan hubungan di

antara mereka berdua tentu sangat dekat dan akrab.

Ketika saat ini dia melihat sanak dekatnya secara tibatiba

dijaring orang, seharusnya gadis itu merasa sangat

terkejut, sangat gusar, dan sangat berduka, sekalipun dia tak

berani mengadu nyawa dengan si gemuk, paling tidak

sepantasnya ia berusaha melarikan diri.

Siapa sangka dia justru ikut tertawa, bukan hanya

tertawa bahkan bertepuk tangan, bukan saja gelak

tertawanya jauh lebih ceria, suara tepuk tangannya pun

jauh lebih keras dari siapa pun.

“Kungfu yang hebat! Kemampuan yang luar biasa!”

teriaknya sambil bertepuk tangan, “Sekalipun

kemampuanmu di bidang yang lain tidak seberapa hebat,

namun kemampuanmu untuk berpura-pura mati boleh

dibilang nomor satu di kolong langit.”

Kembali dia bertanya, “Ketika digigit si macan kecil tadi,

masa kau sama sekali tidak merasa kesakitan?”

Si gemuk ikut tertawa.

“Siapa bilang tidak sakit, sakitnya setengah mati,”

sahutnya.

“Kenapa kau bisa tahan?”

“Begitu terbayang si roh gentayangan Im-sianseng yang

selama ini malang-melintang dalam dunia persilatan dan

selalu membikin orang ngeri dan ketakutan bakal segera

tergantung dalam jaringku, biar lebih sakit pun aku masih

dapat menahannya.”

“Masuk akal, sangat masuk akal,” kembali nona cilik itu

tertawa, “Setiap perkataan Oh-tayciangkwe rasanya selalu

masuk akal.”

Sekarang Yang-kong baru tahu, ternyata si gemuk

bermarga Oh, bahkan seorang Tayciangkwe.

Di wilayah utara, Tayciangkwe berarti Toalopan,

juragan besar. Kalau dilihat bentuk badannya, dia memang

mirip seorang juragan besar, tauke besar.

Tiba-tiba nona cilik itu kembali menghela napas.

“Sungguh tak disangka hari ini ternyata Oh-tayciangkwe

telah salah mengatakan sesuatu.”

“Soal apa?”

“Orang yang kau gantung dalam jaringmu itu bukan Imsianseng,

tidak sepantasnya kau sebut si Roh gentayangan

yang membikin setiap orang ketakutan itu sebagai Imsianseng”

“Lalu harus memanggil apa?”

“Kau seharusnya memanggil dia sebagai Im-toasiocia,”

nona itu tertawa, “Paling tidak seharusnya kau

memanggilnya Im-toakohnio.”

“Di manakah nona Im sekarang?” tanya Oh-tayciangkwe

cepat.

“Berada di sini, persis di hadapanmu,” nona itu

menunjuk ke hidung sendiri, “Akulah Im-toakohnio, Imsiocia

adalah aku.”

Lagi-lagi Oh-tayciangkwe tak mampu tertawa.

Siapa pun tak akan menyangka si nona kecil dengan

rambut dikepang tujuh-delapan belas, yang suka

membopong anjing kecil, bahkan sewaktu tertawa mirip

dengan keceriaan cucu sendiri, ternyata tak lain adalah Imleng,

si Roh gentayangan yang sangat menakutkan.

Kembali nona itu membopong anjing kecilnya, lalu

ujarnya kepada Oh-tayciangkwe yang kini sudah tak

mampu tertawa lagi, “Bagaimana kalau kudendangkan

sebuah lagu untukmu?”

Dalam situasi seperti ini ternyata si nona ingin

menyanyi, bukan hanya begitu, ternyata ia benar-benar

menyanyi:

“Di Yan-pak terdapat Sam-po-tong.

Terkenal dan disegani banyak orang.

Dalam Sam-po-tong terdapat Sam-po (tiga mestika).

Siapa bertemu siapa tertimpa musibah, air mata jatuh

berlinang.

Ayah tiada, ibu pun tiada,

Siapa bertemu dia tertimpa bencana,

Air mata meleleh bagaikan butiran beras”

Apa yang dia nyanyikan pada hakikatnya tidak bisa

disebut sebuah nyanyian, bait syairnya pun sama sekali tak

indah, namun setiap patah katanya justru merupakan

kenyataan.

Sam-po-tong (Gedung tiga mestika) terletak di wilayah

Yan-pak, pamor dan namanya memang amat tersohor.

Dalam Sam-po-tong memang benar-benar terdapat Sam-po,

tiga mestika, bila orang persilatan bertemu Sam-po, jarang

sekali ada yang bisa luput dari bencana.

Menunggu nona itu selesai menyanyi, Oh-tayciangkwe

pun bertepuk tangan.

“Bicaralah menurut hati nuranimu, nyanyian yang

kubawakan barusan enak tidak dinikmati?”

“Bagus, enak sekali,” jawab Oh-tayciangkwe tertawa,

“Kujamin belum pernah ada orang lain yang bisa menyanyi

jauh lebih merdu daripada dirimu.”

Im-toasiocia tertawa terkekeh.

“Menjilat ribuan, menjilat jutaan, hanya pantat yang

paling enak dijilat. Kau begitu menyanjungku, tentu saja

aku pun harus membalas sanjunganmu itu.”

“Tentu, tentu.”

“Orang lain mendengar aku menyebutmu Tayciangkwe,

mereka pasti menyangka paling kau hanya tauke sebuah

kedai makan saja.” Oh-tayciangkwe menghela napas.

“Aku sendiri lebih suka begitu, kesulitan dan kerepotan

yang dialami para Tayciangkwe rumah makan jauh lebih

kecil daripada diriku.”

“Hanya sayangnya kau justru Tayciangkwe dari Sam-potong,

ingin menyangkal pun tak mungkin bisa disangkal.”

Tiba-tiba nona itu bertanya lagi, “Dapatkah kau beritahu

padaku, Sam-po-tong itu sebenarnya tiga mustika apa saja?”

“Menurutmu?” Oh-tayciangkwe balik bertanya sambil

tersenyum.

“Jaring yang dapat menggantung orang tentu mestika

pertama bukan?” tanya Im-toasiocia sambil memutar biji

matanya. • “Tentu saja.”

“Konon kau mempunyai Am-gi yang dinamakan Honghong-

tian-ci (Burung Hong pentang sayap), walaupun

belum sebanding dengan Khong-ciok-leng (Bulu merak)

dari Perkampungan Khong-ciok-san-ceng di masa lampau,

namun kehebatannya luar biasa juga, tentunya benda itu

pun termasuk salah satu mestikamu.”

“Seharusnya begitu.”

Ooo)d*w(ooO

BAB 18. OH-TAYCIANGKWE

“Masih ada sebuah mestika lagi, tanpa kau sebut pun aku

dapat menebaknya,” kata Im-toasiocia sambil tertawa,

“Benda mestika yang paling berharga dari Sam-po-tong

tentunya adalah dirimu sendiri, bukan?”

Oh-tayciangkwe tertawa tergelak.

“Hahaha, betul, tepat sekali, kalau aku bukan mestika,

masa tak bisa mati keracunan?”

“Justru karena orang persilatan mengatakan kau tak bisa

mati diracun, maka aku jadi ingin menjajal

kemampuanmu.”

“Bukankah sekarang telah kau coba?” kata Ohtayciangkwe,

“Rasanya sudah seharusnya tiba giliranku

menjajal kemampuanmu.”

“Menjajal apa? Bagaimana menjajalnya?”

“Mencoba apakah kau mampu menghindari sambitan

senjata rahasia Hong-hong-tian-ci!”

Walaupun senyuman masih menghiasi wajahnya,

namun hawa napsu membunuh telah terpancar dari balik

matanya.

Biarpun ia belum bergerak, namun punggung tangannya

telah muncul otot otot hijau yang menonjol.

Berputar sepasang biji mata Im-toasiocia, tiba-tiba

ujarnya, “Kau benar-benar percaya kalau aku adalah Roh

gentayangan? Mengapa kau tidak bertanya dulu kepadaku,

siapa orang yang telah kau gantung itu?”

Oh-tayciangkwe menatap tajam wajah nona itu,

jangankan bergerak, berkedip pun tidak, dia seolah telah

mengambil keputusan, tak akan berpaling untuk menengok

ke arah manusia kristal.

Dia tak perlu cabangkan pikiran lagi demi seseorang

yang sudah terperangkap di dalam jaringnya, peduli siapa

pun orang itu karena hasilnya sama saja.

Walau begitu, tak urung ia bertanya juga, “Siapakah

orang ini?”

“Padahal dia belum terhitung sebagai orang,” jawab Imtoasiocia,

“Karena dia tak lebih hanya sebuah botol.”

“Botol? Botol apa?”

“Botol untuk menyimpan racun, beragam racun ada di

dalam tubuhnya.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, Im-toasiocia

menambahkan, “Oleh sebab itu asal kau berani

menggerakkan tanganmu, berarti ajalmu segera akan tiba!”

“Ajalku segera tiba? Siapa yang akan mati?”

“Kau! Tentu saja kau.”

Dengan lembut Im-toasiocia menambahkan, “Asal dia

meniupkan udara ke arah tubuhmu, maka kau bakal segera

mampus.” Oh Tayciangkwe tertawa tergelak.

“Perkataan apa pun yang kau ucapkan, tak bakal aku

tertipu.”

Kemudian setelah tertawa keras, tambahnya, “Biarpun

tampangku mirip seekor babi, padahal aku lebih licik

daripada seekor rase tua.”

“Asal kau berani menggerakkan tanganmu, kau segera

akan menjadi seekor rase mampus.”

Tiba-tiba Oh-tayciangkwe menghentikan gelak

tertawanya.

Yang berbicara kali ini bukan Im-toasiocia, tentu saja

bukan pula dirinya, orang yang berbicara berada di

belakang tubuhnya, hanya selisih jarak tiga jengkal darinya.

Tiba-tiba dia melejit ke udara dan berjumlatan, seketika

itu juga dijumpai orang yang semula tergantung dalam

jaring, kini sudah berada dalam jalanya lagi.

Di saat dia bertekad tak akan tertipu oleh akal muslihat

nona kecil itu dan tidak berpaling untuk memecah

perhatian, si manusia kristal telah meloloskan diri dari

dalam jaringnya dan berdiri di belakang tubuhnya, bahkan

jala mestikanya kini telah berada di tangan orang ini.

Akhirnya Oh-tayciangkwe tetap tertipu.

Orang ini bukan manusia kristal, meski bukan manusia,

dia pun bukan botol.

Rupanya tingkah-polah nona kecil dengan tertawa,

menyanyi dan berbincang tak lain bertujuan agar rekannya

bisa meloloskan diri dari dalam jala.

Bila di kolong langit hanya ada dua orang yang dapat

meloloskan diri dari jala peraknya, maka orang itu adalah

salah satu di antaranya.

Bila di kolong langit hanya ada satu orang yang dapat

meloloskan diri dari jala peraknya, maka dialah satusatunya

orang itu.

Orang ini bukan saja tembus pandang, bahkan seolah tak

memiliki tulang-belulang, walau sekerat pun.

Suara tawa nona kecil berkepang itu makin merdu,

makin manis.

“Sekarang kau tentu sudah tahu siapakah si Roh

gentayangan yang sebenarnya, bukan? Tapi sayang saat ini

sudah terlambat.”

“Memang sedikit terlambat,” sahut Oh-tayciangkwe

sambil melompat naik ke atas pohon kering, “Untung belum

terlalu terlambat, asal aku belum mati berarti segalanya

belum terlambat! Sekalipun aku harus mati, kalian harus

menemani aku!”

Sepasang tangannya telah direntangkan bagaikan burung

Hong pentang sayap.

“Sekalipun aku harus masuk neraka, kalian pun harus

menemani aku!”

Seperti senjata rahasia ampuh yang konon pernah

beredar dalam dunia persilatan, seperti senjata rahasia Huihun-

ngo-hoa-jin (Kain lima warna terbang bagai awan),

Khong-ciok-leng (Bulu merak), Thian-coat-te-beng-jin-bong,

bu-cing-toh-bing-sam-cay-teng (Tiga paku tanpa perasaan

pencabut nyawa, langit musnah, manusia lenyap), orang

persilatan pun belum pernah ada yang tahu senjata rahasia

Hong-hong-tian-ci milik Sam-po-tong itu sesungguhnya

merupakan senjata rahasia macam apa, bagaimana cara

menyambitkannya, dan seberapa dahsyat daya

penghancurnya.

Sebab orang yang pernah menyaksikan kedahsyatan

senjata rahasia itu, biasanya sudah mati di ujung senjata itu.

Akan tetapi, tak ada seorang pun yang meragukan

perkataan Oh-tayciangkwe.

Ketika dia mengatakan harus menemaninya masuk

neraka, itu berarti dia benar-benar berniat mengajak mereka

masuk neraka bersama-sama.

Dia menaruh kepercayaan penuh terhadap keampuhan

senjata rahasianya, dia sangat yakin dengan

kemampuannya.

Kini sepasang lengannya sudah direntangkan,

melakukan sebuah gerakan dan gaya yang aneh penuh

misteri.

Wajah manusia kristal yang semula tembus pandang,

tiba-tiba muncul selapis kabut asap berwarna ungu yang

seketika menyelimuti seluruh mukanya.

Senyuman yang menghiasi nona cilik pun kini sudah

hilang tak berbekas.

Asal salah seorang di antara mereka mulai turun tangan,

maka ketiga orang itu akan berangkat ke neraka bersamasama…

hanya menuju neraka, tak akan pergi ke tempat

lain.

Pada saat yang amat kritis itulah mendadak dari balik

sebuah gundukan pasir yang agak besar dan tinggi bergema

suara tiupan seruling.

Irama seruling indah dan lembut, lagu yang dibawakan

pun sangat menawan, tanpa terasa seluruh hawa napsu

membunuh yang berkobar di hati orang-orang itu mulai

buyar.

Menyusul berkumandangnya suara seruling tadi, tampak

dua orang muncul, dua orang yang amat kecil.

Seorang kakek bertubuh kerdil menuntun seekor keledai

dan seorang nenek kerdil yang duduk di punggung keledai

sambil meniup seruling, wajah mereka amat kecil dengan

mulut yang kecil, bibir yang kecil dan seruling pualam yang

kecil pula.

Selama hidup belum pernah Siau-hong menyaksikan

manusia sekerdil ini, manusia di mana pun yang pernah

ditemuinya berukuran setengah lebih tinggi daripada

mereka berdua.

Walau begitu, potongan tubuh mereka justru amat

sempurna, sama sekali tidak menunjukkan kejelekan atau

kelucuan apa pun.

Kakek Jkerdil itu berambut putih dengan wajah yang

sangat ramah, sementara sang nenek kerdil berparas cantik,

lembut dan alim, dia memegang seruling dengan kedua

belah tangannya, seakan seruling pualam itu merupakan

sebuah benda mestika.

Siapa pun pasti akan mengakui kalau mereka berdua

merupakan pasangan yang serasi.

Oh-tayciangkwe tidak turun tangan, begitu pula dengan

Roh gentayangan.

Siapa pun itu orangnya, bila telah mendengar suara

seruling semerdu itu dan menjumpai dua orang istimewa

semacam ini, tak mungkin mereka dapat melancarkan

serangan mematikan lagi.

Kembali sekulum senyuman cerah menghiasi wajah Imtoasiocia.

“Losianseng, Lothaythay, kalian datang dari mana? Dan

mau pergi ke mana?”

Menyaksikan seorang nona kecil yang begitu menawan,

sekulum senyuman segera menghiasi wajah kakek kerdil

itu.

“Kami datang dari tempat di mana kalian datang.”

Kemudian menambahkan, “Tapi kami tak ingin pergi ke

mana kalian akan pergi.”

Senyumannya ramah dan lembut, perkataannya pun

sangat enak didengar.

“Dunia begini luas, ada banyak tempat indah yang patut

didatangi dan dikunjungi, kenapa kalian justru memilih

pergi ke neraka?”

Irama seruling berkumandang makin hangat dan lembut,

kabut ungu yang menyelimuti wajah manusia kristal pun

lambat-laun semakin buyar.

Tiba-tiba Oh-tayciangkwe melompat turun dari dahan

pohon, kemudian menjura kepada kakek kerdil itu dengan

sangat hormat.

Kakek kerdil itu sepertinya agak tercengang, tanyanya

kemudian, “Aku tak lebih hanya seorang tua bangka yang

tak berguna, apa sebabnya kau begitu hormat kepadaku?”

“Setelah bersua dengan Hong-locianpwe, mana berani

Boanpwe bersikap kurangajar?” jawab Oh-tayciangkwe

dengan sikap yang lebih hormat.

Berkilat sepasang mata Im-toasiocia, dipandangnya

kakek kerdil itu dengan pandangan terkejut, lalu

gumamnya, “Hong-locianpwe?”

Dengan nada tercengang dan kaget, terusnya, “Jadi kau

adalah Jian-li-hui-im, ban-li-tui-gwe, sin-heng-bu-im-tuihong-

siu” (Ribuan li mengejar awan, laksa li menangkap

rembulan, langkah sakti tanpa bayangan pengejar angin)

Hong-loyacu?”

Sambil tersenyum kakek kerdil itu manggut-manggut.

Im-toasiocia memandang ke arah nyonya kerdil yang

berada di punggung keledai, kemudian katanya pula,

“Hong-siu-gwe-bo tak pernah saling berpisah satu dengan

lainnya, aku rasa yang ini tentulah Gwe-popo, bukan?”

Senyuman yang menghiasi wajah Tui-hong-siu (Kakek

pengejar angin) semakin cerah.

“Sungguh tak nyana nona ini meski masih muda usia,

namun memiliki pengetahuan yang amat luas.”

Oh-tayciangkwe berdehem beberapa kali, lalu tanyanya,

“Hong-cianpwe bukannya menikmati hidup di

Perkampungan Poan-gwe-san-ceng (Perkampungan

menemani rembulan), mau apa mendatangi tempat gersang

yang terpencil semacam ini?”

Tui-hong-siu memandangnya sekejap, lalu tertawa.

“Sebaliknya Oh-tayciangkwe bukannya menikmati rezeki

dalam Sam-po-tong, mau apa pula kau mendatangi tempat

gersang yang terpencil ini?”

“Aku….”

“Padahal tak usah Oh-tayciangkwe bicara pun, aku

sudah tahu.”

“Kau tahu?” tampaknya Oh-tayciangkwe terperanjat,

“Dari mana bisa tahu?”

“Sebetulnya kedatangan kita dikarenakan persoalan yang

sama, mana mungkin aku tidak tahu?”

Oh-tayciangkwe makin terperanjat, sengaja tanyanya,

“Persoalan apa yang Hong-locianpwe maksudkan?”

“Ya, karena persoalan itu,” sambil tersenyum pelan-pelan

dia mengeluarkan tangan dari dalam sakunya.

Sebuah “Tangan emas” yang amat menyilaukan mata.

“Kalau memang semua orang datang dikarenakan

persoalan ini, mengapa pula harus masuk neraka bersamasama?”

ujar Tui-hong-siu sambil” tertawa, “Kalau toh kita

semua telah datang kemari, maka yang pantas masuk

neraka adalah orang lain.”

Sekarang mereka telah datang, lalu siapa yang

seharusnya pergi ke neraka?

Irama seruling telah menjauh, orang-orang itu pun telah

pergi menjauh.

Ternyata mereka datang dikarenakan “Tangan emas”. Di

bawah komando “Tangan emas”, pertikaian dan

perselisihan pribadi tidak diperkenankan tetap dipelihara,

peduli kau adalah Roh gentayangan atau bukan, Ohtayciangkwe

atau bukan, semuanya sama dan sederajat.

Kemunculan “Tangan emas” ini ternyata mendatangkan

daya pengaruh yang begitu besar.

Pancapanah melompat bangun dari atas tanah,

memandang Siau-hong dengan pandangan yang sangat

aneh, tiba-tiba ia mengucapkan pula kata-kata yang sangat

aneh, “Sekarang aku baru tahu, apa sebabnya Po Eng

membiarkan kau pergi.”

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, tambahnya,

“Sekarang kau pergilah, cepat pergi!”

Siau-hong tidak habis mengerti, dia ingin sekali bertanya

mengapa dia mengucapkan perkataan itu dan apa

maksudnya.

Tapi begitu menyelesaikan perkataannya, Pancapanah

pun ikut pergi, pergi secepat hembusan angin.

Ketika dia hendak pergi, belum pernah ada orang yang

mampu menahannya.

Lentera minyak yang redup, udara yang tercemar, tanah

yang berpasir….

Tapi akhirnya mereka tiba juga di sebuah tempat yang

ada kehidupan, Siau-hong dan Yang-kong telah

menghabiskan semangkuk bakmi yang mereka pesan,

sampai kuahnya pun diteguk habis.

Berada di desa miskin di tepi gurun, menyaksikan bocahbocah

kecil yang berebut tahi kuda di sepanjang jalan, siapa

pun akan sadar betapa berharganya setiap benda yang ada

di dunia ini.

Selesai menghabiskan semangkuk bakmi, mereka pun

duduk termenung di bawah cahaya lentera yang redup,

dalam hati serasa ada banyak perkataan yang hendak

dibicarakan, namun tak tahu harus mulai dari mana.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba Siau-hong

bertanya, “Kau pernah mendengar tentang manusia yang

bernama Tui-hong-siu ini?”

“Pernah.”

“Tahukah kau manusia macam apakah dia?”

“Aku tahu,” jawab Yang-kong, “Dua puluh tahun

berselang, dia termashur karena Gin-kang-thian-he-te-it

(Jago nomor wahid ilmu meringankan tubuh), walaupun

dalam dua puluh tahun terakhir banyak bermunculan

manusia berbakat dalam dunia persilatan, tidak banyak

orang yang mampu mengungguli kehebatannya.”

Siau-hong kembali termenung, setelah lewat cukup lama

dia baru bicara lagi, “Ketika aku baru berkelana dalam

dunia persilatan, pernah mempunyai sahabat karib yang

usianya jauh lebih tua ketimbang aku, sekalipun kungfu

yang dimilikinya tidak terlampau tinggi, namun tak ada

urusan dunia persilatan yang tidak diketahui olehnya.”

Yang-kong mendengarkan dengan serius.

Kembali Siau-hong melanjutkan, “Dia pernah

memberitahukan kepadaku beberapa nama jago persilatan

yang dianggap menakutkan.”

“Salah satu di antaranya adalah Tui-hong-siu?”

“Benar, ada Tui-hong-siu, ada juga nama Ohtayciangkwe.”

Dia tidak menyinggung nama “Im-leng”, Roh

gentayangan, karena dalam pandangan sebagian besar umat

persilatan, Roh gentayangan pada hakikatnya tidak

dianggap sebagai seorang, sebab siapa pun tak dapat

memastikan wujud sebenarnya dari makhluk itu.

“Sekarang mereka telah datang, muncul karena Tangan

emas,” lanjut Siau-hong, “Kim-jiu minta mereka melakukan

apa?”

Yang-kong tidak menjawab.

Mereka pernah mendengar penjelasan Pancapanah,

konon Kim-jiu adalah sebuah organisasi rahasia yang

didirikan Hok-kui-sin-sian Lu-sam, tujuannya adalah

menciptakan keonaran di kalangan orang-orang Tibet dan

merebut kekuasaan mereka.

Thiat Gi yang kehilangan emas dan terbunuh, Wi Thianbong

yang kehilangan lengannya, Koh-hun-jiu si Tangan

penggaet sukma yang memburu Siau-hong, Liu Hun-hun

yang mati tergantung di atas pohon, semuanya merupakan

anggota organisasi rahasia itu.

Sekarang mereka telah mengumpulkan seluruh tokoh

paling sakti dari organisasi untuk berkumpul di sini.

Mau apa orang-orang itu datang kemari? Seharusnya

Siau-hong maupun Yang-kong dapat menduganya.

Dengan termangu Siau-hong mengawasi mangkuk

kosong di hadapannya, seolah dari dalam mangkuk yang

kasar itu bakal muncul sebuah jawaban, yang bisa

menjawab semua masalah sulit yang sedang dihadapi.

Setelah memandangnya sampai lama, dia baru berkata,

“Belum tentu kedatangan mereka karena ingin mencari Po

Eng.”

“Ehm.”

“Sekalipun berhasil menemukannya, dia pasti punya cara

yang hebat untuk menghadapi mereka.”

“Ehm.”

“Dia mempunyai anak buah yang banyak tak terhingga,

sedang dia sendiri pun merupakan jagoan di antara

kawanan jagoan tangguh,” kata Siau-hong lebih lanjut,

“Bila dia pun sudah lebih dari cukup untuk menghadapi

mereka, kehadiran orang lain tak ada gunanya.”

“Ehm.”

“Peduli bagaimana pun juga urusan ini toh sudah tak ada

sangkut-pautnya denganku, bagaimana pun aku telah

meninggalkan mereka. Sebulan kemudian, aku bakal tiba di

Kang-lam”

Suaranya sangat rendah, seakan-akan semua

perkataannya itu diucapkan untuk diri sendiri.

“Kau belum pernah datang ke Kang-lam, karena itu kau

tak pernah menyangka Kang-lam adalah tempat yang begitu

indah, jembatannya, airnya, perahunya, gunung yang tak

terhitung jumlahnya….”

Ooo)d*w(ooO

Yang-kong mendengarkan dengan tenang, peduli apa

pun yang dia katakan, nona itu selalu mengiakan.

Tapi baru berbicara sampai di sini, tiba-tiba Siau-hong

menukas pembicaraan sendiri, mendadak teriaknya, “Aku

ingin minum arak!”

Dia telah minum arak dalam jumlah banyak.

Arak Toh-shia-sau yang garang dan pedas begitu

mengalir masuk ke dalam perutnya, bagaikan segumpal

bara api yang segera membakar seluruh badannya.

Dia masih ingat, Po Eng pernah menemaninya meneguk

arak semacam ini, meneguk berkali-kali, setiap kali setelah

minum arak dan mabuk, Po Eng pasti akan melantunkan

lagu yang memedihkan hati, lagu yang membuat siapa pun

tak akan melupakan untuk selamanya.

Orang yang penampilannya keras dan dingin bagaikan

baja ini sebetulnya menyembunyikan penderitaan dan

siksaan yang dalam.

Semangkuk demi semangkuk Siau-hong menghabiskan

isi cawan, setiap kali selesai meneguk, dia pun mulai

bertepuk tangan sambil bernyanyi:

“Putra bangsa harus ternama.

Arak harus memabukkan, arak harus memabukkan….”

Ia tidak melanjutkan lagi nyanyiannya.

Suaranya kini telah parau, matanya telah memerah,

mendadak sambil menggebrak meja teriaknya, “Kita segera

balik!”

Yang-kong masih mengawasinya dengan tenang.

“Kembali?” ia bertanya, “Kembali ke mana?”

“Kembali ke Lhasa.”

“Bukankah kau telah pergi, mengapa harus kembali ke

sana?” tanya Yang-kong hambar, “Apakah kau sudah lupa,

lewat sebulan kemudian kau sudah akan tiba di Kang-lam,

desa kelahiranmu, tempat sahabat-sahabatmu, impianmu,

semuanya berada di sana.”

Ditatapnya Siau-hong dengan pandangan dingin, lalu

tanyanya sekali lagi, “Mengapa kau akan kembali lagi ke

Lhasa?”

Siau-hong mendongakkan pula kepalanya, menatap

gadis itu dengan garang, “Sudah jelas kau tahu mengapa

aku berbuat begini, kenapa harus ditanyakan lagi?”

Salju yang melapisi sorot mata Yang-kong seketika

mencair, cair menjadi air musim semi, jauh lebih lembut

daripada air di musim semi.

“Tentu saja aku tahu mengapa kau berbuat begitu,”

katanya sedih, “Seperti aku, kita semua tahu apa tujuan

kedatangan orang-orang itu, kau pun seperti aku, tak pernah

dapat melupakan Po Eng.”

Siau-hong tak dapat menyangkal lagi.

Dia sendiri pun tak dapat melupakan perkataan

Pancapanah. Sekarang aku baru mengerti mengapa Po Eng

membiarkan kau pergi.

Kemungkinan besar Po Eng sudah punya firasat, bakal

ada musuh tangguh yang akan muncul di sana, karena itu

bukan saja membiarkan dia pergi, bahkan minta dia pergi

dengan membawa Yang-kong.

Peduli musibah macam apa pun yang bakal menimpa

dirinya, Po Eng tak pernah akan membiarkan mereka ikut

menderita dan terseret ke dalam persoalan itu.

“Tapi bukankah kau sendiri pernah berkata, jika Po Eng

pun tak sanggup menghadapi mereka, percuma orang lain

ikut ke sana.”

Suara Yang-kong bertambah lembut, “Oleh karena kau

telah terlepas dari kami, siapa pun tak dapat lagi

memaksamu pergi mengantar kematian, seandainya kau tak

ingin kembali, siapa pun tak akan menyalahkan dirimu.”

“Benar, aku pun tahu tak bakal ada yang menyalahkan

aku,” sahut Siau-hong, “Tapi aku pasti tak akan memaafkan

diriku sendiri.”

“Jadi kau rela balik ke sana untuk mengantar kematian?”

Siau-hong mengepal tinjunya kuat-kuat, sepatah demi

sepatah sahutnya, “Sekalipun tempat itu telah berubah jadi

neraka, bagaimana pun juga aku tetap akan balik ke sana!”

Lhasa tetap Lhasa, seperti saat mereka

meninggalkannya, langit tetap cerah, sinar matahari

menyinari seluruh jagat.

Atap bulat istana Potala masih membiaskan cahaya yang

menyilaukan mata ketika tertimpa cahaya sang surya,

segala sesuatunya masih tetap sama, sama sekali tak

berubah.

Istana suci yang kuno dan antik itu seperti persahabatan

mereka, tak pernah berubah untuk selamanya.

Mereka telah kembali di Lhasa.

Senyuman Yang-kong ikut berubah secerah langit saat

itu, sementara paras Siau-hong justru berubah makin suram

dan gelap. “Tampaknya tak pernah terjadi sesuatu di tempat

ini.”

“Rasanya begitu.”

“Bila orang-orang itu sudah tiba di sini, sudah melakukan

aksinya, tempat ini pasti berubah jadi sangat kalut,” kata

Yang-kong, “Setiap kali terjadi sesuatu, Po Eng pasti akan

mengirim orang untuk melakukan patroli di luar kota.”

Ia tertawa makin riang.

“Tapi sekarang di sekitar sini sama sekali tak nampak

orang-orang kita, meski seorang pun.”

Mereka masih belum memasuki kota suci Lhasa,

sepanjang jalan hanya terlihat tiga orang, semuanya

penganut Buddha hidup yang datang jauh dari ribuan li,

dengan tiga langkah sekali menyembah, lima langkah sekali

berlutut, menggunakan cara yang paling menderita dan

tersiksa, menunjukkan rasa percaya dan hormatnya.

Semangat dan tubuh kasar mereka telah memasuki

keadaan setengah terbebas dari godaan duniawi, terhadap

apa yang dapat dilihat, mereka memandang seolah tak

melihat, terhadap apa yang dapat mereka dengar seolah

tidak mendengar.

Mereka telah membawa diri sendiri memasuki suasana

gaib dimana tak bisa mendengar dan tak bisa melihat.

Tiba-tiba Siau-hong mengalihkan pokok pembicaraan,

katanya, “Ada sementara masalah, sekalipun tak kau lihat

dan tak kau dengar, namun tetap tak bisa memastikan

keberadaannya.”

Dengan sorot mata mengandung pemikiran yang

mendalam, pelan-pelan sambungnya, “Terkadang dia

bahkan jauh lebih jelas dan nyata daripada apa yang bisa

dilihat dan didengar, bahkan keberadaannya jauh lebih

lama dan langgeng.”

Yang-kong tidak paham apa maksud perkataan itu, dia

pun tak mengerti mengapa secara tiba-tiba dia

mengucapkan perkataan semacam itu.

Namun gadis ini tidak bertanya, karena secara tiba-tiba

ia menemukan bahwa ada sementara keadaan yang telah

berubah, berubah menjadi sangat aneh.

Mereka putuskan untuk berkunjung dulu ke kantor Engki

di jalan Pat-kak-ke untuk melihat keadaan, kemudian

baru pergi menengok Po Eng.

Karena itulah mereka tidak melewati jalanan di sisi

istana Potala, tapi langsung lewat jalan besar menuju ke

kawasan pasar.

Orang yang berlalu-lalang di jalanan makin lama

semakin banyak, ada banyak di antara mereka yang kenal

Yang-kong.

Tempat ini adalah desa kelahirannya, sejak kecil dia

termasuk orang yang supel, senang bergaul, dan suka

membantu orang. Pandai mengambil hati orang, diterima di

seluruh pelosok kota khususnya kaum papa dan kaum

pengemis yang tiap hari mengais hidup. Setiap kali bertemu

dengannya, mereka akan datang mengerumuninya ibarat

lebah bertemu madu.

Tapi hari ini, begitu mereka melihat kehadirannya, jauhjauh

sudah menghindar, seakan tak berani memandangnya

biar sekejap pun, ada pula di antara mereka yang secara

diam-diam memandangnya, sorot mata yang mereka

perlihatkan pun sangat aneh dan misterius, bahkan

mendekati rasa takut yang berlebihan. Kehadirannya hari

ini seakan bibit penyakit menular yang akan mendatangkan

ancaman keselamatan bagi semua orang.

Padahal gadis itu tahu, dirinya masih merupakan dirinya

yang dahulu, sedikit pun tidak berubah.

Tapi apa sebabnya orang-orang itu berubah begini rupa?

Apakah karena mereka tahu Siau-hong bukan anggota

kantor dagang Eng-ki? Apakah karena Po Eng telah

memperingatkan mereka, melarang mereka berdekatan

dengan Siau-hong?

Tampaknya semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab

setelah tiba di kantor dagang Eng-ki.

Sambil menuntun kuda, mereka melewati kerumunan

orang banyak dan akhirnya tiba di depan kantor dagang

Eng-ki.

Papan nama “Eng-ki” masih seperti dulu, memantulkan

sinar terang ketika tertimpa cahaya matahari.

Akhirnya Yang-kong menghembuskan napas lega.

“Ketika Cu Im bertemu kau nanti, bisa jadi mimik

mukanya akan kelihatan sangat aneh,” kata nona itu kepada

Siau-hong, “Lebih baik tak usah kau layani dia, bagaimana

pun sikapnya terhadapmu, lebih baik kau berlagak seolah

tidak melihat.”

Pada hakikatnya Siau-hong belum pernah berlagak tidak

melihat, Cu Im yang di waktu biasa selalu berada di kantor

Eng-ki sepanjang hari, ternyata hari ini tidak nampak

batang hidungnya, begitu juga para pegawai yang banyak

tahun bekerja di kantor itu pun kini tak terlihat seorang pun.

Sekalipun papan merek “Eng-ki” sama sekali tidak

berubah, akan tetapi semua pegawai dalam toko telah

berganti rupa, ternyata tak seorang pun yang dikenal Yangkong.

Tampaknya mereka pun tidak mengenali Yang-kong,

bahkan menganggapnya sebagai pembeli. Dua orang

pelayan serentak menyongsong kedatangannya, lalu

memakai dialek Han dan dialek Tibet bertanya kepada

Siau-hong berdua akan membeli apa.

Yang-kong betul-betul terperangah.

Walaupun pegawai-pegawai itu tidak mengenalinya,

seharusnya mereka tahu kalau dia merupakan bagian dari

kantor Eng-ki.

“Aku tidak membeli apa-apa, aku datang mencari

orang,” kata Yang-kong.

“Mencari siapa?” pegawai bermuka bulat berkepala

runcing dan berdialek Han itu segera bertanya. “Aku

mencari Cu Im!”

Cu Im adalah pengurus kantor ini, tapi dua orang

pegawai itu seolah belum pernah mendengar nama itu.

Kedua orang itu saling bertukar pandang dengan wajah

bingung, lalu sembari menggeleng sahumya, “Di tempat

kami tak pernah ada orang bernama itu.”

Yang-kong makin terperangah.

“Aku rasa kau pasti baru masuk bekerja,” ia bertanya

kepada pelayan itu, “Sudah datang berapa hari?”

“Baru tiga hari.”

“Tahukah kau siapa Lopan tempat ini?” Lelaki berlogat

kotaraja itu kontan tertawa.

“Sebagai seorang pegawai, kalau nama Lopan saja tak

tahu, bukankah aku orang yang tolol sekali?”

Dia tidak tolol, karena itu ujarnya lebih jauh, “Lopan

tempat ini bermarga Wi, dia bernama Thian-bong.”

Kantor dagang “Eng-ki” yang didirikan Po Eng, kenapa

pemiliknya bisa berganti jadi Wi Thian-bong?

“Tidak tahu.”

Semua pegawai yang bekerja di sana adalah pegawai

baru, mereka rata-rata berasal dari luar daerah, tentang

masalah ini mereka pun sama sekali tak tahu, bahkan nama

Po Eng pun belum pernah didengar.

Yang-kong percaya orang-orang itu memang benar-benar

tak tahu, biar dibunuh pun mereka tetap tak tahu.

Mereka pun tidak tahu Wi Thian-bong saat ini berada di

mana, sebagai pegawai tentu saja mereka tak berhak untuk

menanyakan keberadaan majikannya.

Lantas ke mana perginya Po Eng?

Yang-kong segera mencemplak kudanya, melarikan

dengan cepat langsung menuju ke gedung tempat tinggal Po

Eng.

Dia tak yakin apakah Po Eng berada di sana.

Membayangkan kembali mimik muka aneh orang-orang

itu sewaktu melihatnya, teringat sorot mata suram yang

diperlihatkan orang-orang itu, timbul satu firasat jelek yang

tak berani dia bayangkan di dalam hatinya.

Namun dia bertekad akan menemukannya.

Selama beberapa waktu mereka tinggalkan Lhasa, apa

yang sebenarnya telah terjadi di sini? Perubahan

menakutkan apa yang telah terjadi? Seluruh persoalan ini

mungkin baru bisa diperoleh jawaban setelah bertemu Po

Eng nanti.

Tapi dia sudah tak mungkin bisa menemukan Po Eng

lagi.

Sewaktu ia bersama Siau-hong tiba di tempat tinggal Po

Eng, ternyata tempat itu telah berubah menjadi puing-puing

yang berserakan, seluruh bangunan pagoda, loteng, gedung,

kebun, semuanya ludas terlalap api, terbakar hingga tinggal

abu.

“Sebuah kebakaran yang luar biasa besarnya!”

Ketika orang membicarakan kembali kebakaran itu

beberapa tahun kemudian, mereka masih merasakan detak

jantung yang berdebar keras.

“Sumber api paling tidak ada tiga-empat puluh tempat,

begitu kebakaran terjadi, api menjilat seluruh bangunan dari

tiga-empat puluh posisi yang berbeda, kebakaran ini

berlangsung selama tiga hari tiga malam.”

Setiap orang menganggap kebakaran itu berasal dari “api

langit”, merupakan bencana yang diturunkan langit

terhadap keluarga itu.

Sumber api yang sebenarnya tak pernah diketahui orang,

juga tak ada orang yang ingin mengetahuinya.

Kini Yang-kong berdiri di antara puing yang berserakan.

Tapi dia masih bisa membayangkan tempat di mana ia

berdiri sekarang, dahulunya adalah gardu segi delapan yang

sekelilingnya penuh dengan lautan bunga.

Setiap musim semi atau musim gugur tiba, di saat

senggang Po Eng tentu akan duduk dalam gardu itu dan dia

pun selalu menemaninya minum barang dua cawan arak

dan bermain satu babak catur.

Menelusuri jalan setapak yang beralas batu hijau menuju

ke timur, di sanalah letak ruang tidurnya.

Dia sudah sepuluh tahun berdiam di sini, seluruh

impiannya telah terajut di sini, seluruh kenangan pun sudah

tertinggal di sini.

Tapi sekarang semuanya telah tiada, lenyap tak berbekas.

Ia berdiri termangu, memandang dengan tertegun,

menyaksikan puing-puing yang berserakan.

Tak ada air mata yang membasahi pipinya.

Demi sebuah boneka yang dirusak orang, ia bisa

melelehkan air mata, demi seekor kucing kecil yang mati,

dia pun bisa menangis setengah harian.

Tapi sekarang malah tiada air mata yang membasahi

pipinya.

Kenangan lama masih terlintas dalam benaknya, puing

yang hancur masih terpampang di depan mata, tiada

manusia, tiada suara, segala sesuatunya telah berubah jadi

abu yang beterbangan.

Ke mana perginya Po Eng?

“Dia pasti masih hidup, dia tak mungkin mati.”

Tiada hentinya ia bergumam dan mengulangi perkataan

itu beberapa kali, entah gumaman itu khusus untuk

diperdengarkan kepada Siau-hong ataukah hanya untuk

menghibur diri sendiri.

Siau-hong tidak menjawab, sepatah kata pun tidak

menyahut.

Dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang bisa dia

katakan?

Tempat ini bukan desa kelahirannya, bukan Kang-lam,

namun rasa pedih dan sakit yang dirasakan dalam hatinya

sekarang, sedikit pun tidak lebih enteng daripada apa yang

diderita gadis itu.

Dia memahami perasaan nona itu terhadap Po Eng.

Rumah kediaman hancur terbakar masih bisa dibangun

kembali, tapi manusia yang mati tak mungkin bisa hidup

kembali, asal Po Eng masih hidup, baginya urusan lain

sudah tak penting lagi.

Apakah dia masih hidup?

Seandainya belum mati, saat ini dia berada di mana?

Dari tengah runtuhan puing yang berserakan mendadak

terdengar suara langkah kaki yang berat, seorang Lhama

tinggi besar berjalan mendekat dengan langkah lebar.

Yang-kong segera berpaling, menatapnya.

“Aku kenal kau,” meski suaranya parau, gadis itu masih

dapat mengendalikan ketenangan hatinya, “Kau adalah

murid pertama Galun Lhama.”

“Benar,” jawab Lhama itu, “Aku bernama A-so.”

“Dia yang menyuruh kau kemari?”

“Benar,” mimik muka A-so menunjukkan kedukaan

yang mendalam, “Tiga hari berselang aku telah datang

kemari.”

“Mau apa kemari?”

Ooo)d*w(ooO

BAB 19. RUMAH KAYU DI TENGAH GUNUNG

“Waktu itu api telah padam, aku datang untuk

memberesi puing bekas kebakaran.”

Sepasang tangan Yang-kong mulai gemetar karena

emosi, lewat lama kemudian ia baru bertanya, “Apa yang

telah kau temukan?”

A-so tidak langsung menjawab, dia termenung cukup

lama, hingga gejolak emosinya mereda baru menjawab.

“Bisa lolos atau tidak dari sebuah bencana kebakaran,

tergantung apa kata takdir, sewaktu sampai di sini aku tidak

menemukan apa-apa, semuanya telah ludas, telah habis

terbakar, yang kutemukan hanya sedikit abu tulang.”

Yang ia temukan bukan hanya “sedikit” abu tulang, ia

berhasil mengumpulkan tiga belas kaleng abu tulang.

“Abu tulang?” Yang-kong berusaha mengendalikan diri,

“Abu tulang siapa?”

“Abu tulang siapa? Abu tulang siapa…?”

“Di tempat ini pun terdapat orang-orang dari sukuku,

temanku, selama tiga hari ini siang malam aku selalu

berusaha mencari, aku pun ingin tahu abu tulang siapa

mereka itu, sayang tulang-belulang setiap orang telah

menjadi abu, siapa pula yang bisa mengenalinya lagi?”

“Setiap orang?” tanya Yang-kong, “Apa yang kau

maksud dengan setiap orang?”

A-so menghela napas panjang, dengan sedih ia

membungkam.

Yang-kong menarik ujung jubahnya kuat-kuat, serunya,

“Tahukah kau, sebelumnya ada berapa banyak orang di

tempat ini? Tadi kau mengatakan setiap orang, apakah

maksudmu mereka telah….”

Tiba-tiba suaranya terhenti setengah jalan, agaknya dia

sendiri pun telah dibuat terkesiap oleh pikirannya itu.

“Tidak mungkin, pasti tidak mungkin,” dia berseru

sambil melepas genggaman, “Pasti masih ada orang hidup

di sini, pasti masih ada. Asal kau dapat menemukan

seorang saja, maka dapat kau ketahui ke mana perginya

yang lain.”

A-so hanya terbungkam sambil menggeleng.

“Masa seorang pun tak berhasil kau temukan?”

“Tidak! Seorang hidup pun tak berhasil kutemukan,” Aso

menggeleng.

Setelah tarik napas pelan-pelan terusnya, “Malam ketika

terjadi kebakaran, tak seorang pun yang tahu apa yang telah

terjadi di tempat ini, siapa yang melepaskan api dan siapa

saja yang terbunuh. Ai…! mungkin selamanya tak ada yang

bisa bercerita keadaan yang sesungguhnya.”

“Tak ada yang bisa menceritakan keadaan

sesungguhnya?” lambat-laun Yang-kong mulai hilang

kendali, “Apakah kau masih belum dapat menebak siapa

pembunuhnya?”

“Apakah kau tahu siapa pembunuhnya?”

“Tentu saja tahu,” Yang-kong mengepal tinju kencangkencang,

“Wi Thian-bong, Oh-tayciangkwe, Hong-siu,

Gwe-bo, Im-leng. Mereka adalah pembunuhnya.”

“Jadi kau anggap hanya mengandalkan beberapa orang

itu, Po Eng, Cu Im, Gan tin-kong, Song-lohucu, serta

ratusan orang pejuang yang berada di sini berhasil ditumpas

dalam semalaman saja, bahkan tak tertinggal seorang hidup

pun?”

A-so segera menjawab sendiri pertanyaan itu, “Kalau

hanya mengandalkan beberapa orang itu saja aku rasa tak

mungkin mampu.”

“Jadi menurutmu masih ada siapa lagi?”

“Masih ada musuh dalam selimut.”

“Musuh dalam selimut?” tanya Yang-kong, “Maksudmu

di sini pun sudah tersusup mata-mata musuh?”

“Kalian dapat mengirim mata-mata untuk menyusup ke

dalam organisasi mereka, memangnya mereka tak sanggup

melakukan hal yang sama?”

Yang-kong termenung, lewat lama kemudian ia baru

bertanya lagi secara tiba-tiba, “Bagaimana dengan Pova?”

“Malam itu Pova pun ikut datang kemari,” sahut A-so,

“Dia bersikeras ingin bertemu dengan Po Eng.”

“Sewaktu terjadi kebakaran, apakah dia masih berada di

sini?”

“Benar.”

“Sekarang di mana dia? Sudah mati atau masih hidup?”

Tak seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini. Maka

A-so balik bertanya, “Apakah kau curiga dia telah menjadi

mata-mata pihak lawan?”

Yang-kong menolak untuk menjawab pertanyaan ini,

tapi sikapnya sudah menjelaskan semuanya.

Selama ini dia memang tak pernah percaya kepada Pova!

Antara wanita dengan wanita lain selalu timbul naluri

untuk bermusuhan, jarang sekali ada perempuan yang mau

percaya seratus persen perempuan lain, khususnya di antara

perempuan-perempuan cantik, sifat semacam ini semakin

kentara.

“Kali ini kau keliru,” tukas A-so cepat, “Mata-matanya

bukan Pova.”

“Kenapa kau begitu yakin?”

“Karena A-so sangsi sejenak, sampai lama kemudian ia

baru membulatkan tekad untuk bicara, “Karena tanpa

sengaja aku telah menemukan sebuah rahasia.”

“Rahasia apa?”

“Rahasia tentang hubungan segitiga antara Po Eng,

Pancapanah, dan Pova. Mengetahui asal-usul mereka dan

A-so tidak menyelesaikan perkataannya.

Parasnya yang serius dan berat, tiba-tiba muncul

senyuman gembira yang amat misterius, tiba-tiba ia

menjatuhkan diri berlutut, begitu berlutut badannya tak

pernah bisa bergerak lagi.

Mengapa si Roh gentayangan tidak membiarkan dia

membocorkan rahasia itu?

Rahasia tentang hubungan segitiga antara Po Eng,

Pancapanah, dan Pova sebenarnya mempunyai sangkutpaut

macam apa dengan si Roh gentayangan?

Tiba-tiba Yang-kong menarik tangan Siau-hong.

“Mari kita pergi,” katanya, “Kita pergi mencari Po Eng.”

“Kau mampu menemukan dirinya?”

“Selama dia belum mati, aku pasti dapat

menemukannya,” jawab Yang-kong penuh percaya diri,

“Dia pasti belum mati.”

“Bila dia belum mati, mengapa semua persoalan di sini

ditinggalkan begitu saja? Mengapa dia pergi tanpa

bertanggung jawab?” tanya Siau-hong.

“Kalau situasi tidak menguntungkan, apakah seorang

ksatria harus bunuh diri?” sahut Yang-kong, “Bilamana

keadaan mendesak, persoalan apa pun dapat diabaikan,

semua masalah apa pun dapat dikorbankan.”

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan lanjutnya,

“Karena dia harus tetap hidup, bagaimana pun susahnya

bagaimana pun menderitanya, dia harus tetap hidup, karena

di samping harus membangun kembali negaranya, dia pun

harus memusnahkan musuh-musuhnya, oleh karena itu dia

tak boleh pergi… tak boleh mati!”

Ditatapnya Siau-hong sekejap, kemudian terusnya, “Kau

seharusnya mengerti, terkadang mati lebih gampang

daripada hidup, walaupun ada sementara orang lebih suka

memilih jalan yang lebih mudah, mati dan semua urusan

selesai, namun dia bukan termasuk jenis manusia semacam

ini.”

“Benar dan aku mengerti,” tiba-tiba Siau-hong

mendapatkan kembali rasa percaya dirinya, “Dia pasti

masih hidup, pasti belum mati!”

Ooo)d*w(ooO

Di tengah gunung, di tepi air, jauh di balik pepohonan

yang hijau dan lebat, berdiri sebuah bangunan rumah kayu

yang kecil.

Ketika kau sedang murung dan sedih, lelah karena harus

berjuang mempertahankan hidup, di saat pulang dari

medan laga, membawa seseorang yang kau cintai dan gadis

itu pun mencintaimu, lalu memasuki rumah kayu itu dan

dia melakukan apa yang kau sukai, kau senangi, saat seperti

itu tentu sangat membahagiakan.

Bila kau memiliki rumah kayu seperti ini, bila kau

mempunyai gadis semacam ini, dapat dipastikan kau tak

akan senang diganggu orang lain.

Oleh sebab itu di saat kau menjumpai bahaya, bisa jadi

di tempat inilah dirimu bersembunyi.

Po Eng mempunyai juga sebuah rumah kayu seperti ini,

berada di tengah gunung, di tepi air, di balik pepohonan

yang hijau dan lebat. Yang-kong adalah gadis

kesayangannya.

Inilah rahasia di antara mereka berdua, sebetulnya hanya

mereka berdua yang tahu, tapi sekarang ia telah mengajak

Siau-hong datang ke sana.

Dalam rumah kayu itu terdapat empat buah jendela yang

amat besar dan sebuah anglo kecil.

Bila di musim panas, mereka akan membuka lebar

semua jendela, membiarkan angin gunung yang melewati

mata air berhembus masuk, membiarkan angin yang

membawa harum bunga menyelimuti seluruh ruangan.

Bila musim dingin tiba, mereka akan membuat api

unggun dengan memakai tungku kecil itu, di atas tungku

diterapkan sebuah kuali kecil, lalu sambil menghangatkan

arak, duduk dengan tenang menyaksikan jilatan bara api.

Inilah dunia mereka, dunia yang sangat tenang.

“Bila Po Eng masih hidup, dia pasti akan datang

kemari,” ujar Yang-kong, “Dia tentu tahu kalau aku bakal

mencarinya di sini.”

Ternyata Po Eng tidak datang.

Pintu rumah pun tidak dikunci.

Kecuali mereka berdua, tak ada orang ketiga yang

mengetahui tempat itu, jadi pintu memang tak perlu

dikunci.

Yang-kong membuka pintu, dengan cepat parasnya

berubah jadi pucat-pias.

Rumah yang kosong, rumah yang penuh kenangan,

rumah dengan penuh kerisauan… mengapa ia tak datang?

Tiba-tiba sekujur badan nona itu gemetar keras, parasnya

telah berubah jadi pucat-pias tiba-tiba timbul warna merah

yang aneh.

Tubuhnya gemetar begitu menakutkan, begitu

menyeramkan, wajahnya memerah dengan begitu aneh,

begitu mengherankan.

Apa yang telah dia saksikan? Tidak, ia tidak melihat apaapa.

Di bawah jendela terdapat meja kecil, sepasang matanya

menatap lekat meja kecil itu, tapi… tak ada sesuatu di atas

meja itu.

Siapa pun itu orangnya, wajah mereka tak akan

menunjukkan perubahan yang begitu aneh ketika melihat

sebuah meja yang kosong.

Tapi apa sebabnya secara tiba-tiba dia berubah jadi

begitu gembira? Begitu meluap emosinya?

Apakah dia dapat melihat barang yang tak terlihat orang

lain?

Tak tahan Siau-hong pun bertanya kepadanya, sekuat

tenaga Yang-kong menggigit bibir sendiri, sampai lama

sekali dia baru buka suara.

“Dia tidak mati, ia pernah datang kemari.”

“Dari mana kau bisa tahu?”

“Sebenarnya di atas meja ini terdapat sebuah boneka

tanah liat, dialah yang membawa boneka tanah liat itu dari

kota Bu-si,” Yang-kong berkata perlahan, “Selama ini dia

selalu menganggap boneka itu mirip dengan aku.”

Akhirnya Siau-hong mengerti, “Jadi sewaktu kalian pergi

dari sini terakhir kali, boneka itu masih berada di atas

meja?”

Yang-kong manggut-manggut.

“Aku masih ingat dengan sangat jelas, tak mungkin bakal

salah. Bahkan aku sempat menciumnya sesaat sebelum

kami tinggalkan tempat ini.”

“Kemudian apakah kalian pernah kemari lagi?”

“Tidak.”

“Kecuali kalian berdua, apakah masih ada orang lain

yang bisa sampai di sini?” kembali Siau-hong bertanya.

“Tidak ada, sama sekali tak ada.”

“Oleh sebab itu kau mengira Po Eng pasti pernah datang

kemari, dialah yang telah membawa boneka tanah liat itu?”

“Pasti dia.”

Suaranya telah berubah jadi sesenggukan, ada banyak

persoalan sebenarnya ingin dia tanyakan, namun dia pun

tak berani bertanya, karena ia tahu persoalan-persoalan itu

pasti akan melukai hatinya.

Jika Po Eng telah datang, mengapa pula dia pergi lagi?

Mengapa tidak tetap tinggal di sana menanti

kedatangannya? Mengapa dia sama sekali tidak

meninggalkan kabar berita?

Padahal sekalipun dia ajukan pertanyaan itu pun belum

tentu Siau-hong mampu menjawabnya.

Dia tidak menanyakan persoalan-persoalan itu,

sebaliknya ada orang lain yang telah menjawabkan

pertanyaannya, menjawab dengan menggunakan cara yang

sangat aneh, sangat mengejutkan dan sangat menakutkan.

Pada awalnya mereka hanya mendengar suara ketukan

di atas atap rumah, menyusul dari delapan penjuru

bangunan rumah kecil itu berkumandang suara yang sama.

“Tuk, tuk, tuk”, suara itu bergema berulang kali, seakanakan

ada pemburu bodoh yang menjadikan rumah kayu itu

sebagai target panahnya, seakan dia telah menganggap

rumah kayu itu sebagai binatang buruan, yang ingin

memanahnya hingga mati.

Tentu saja rumah kayu tak bakal mati, di kolong langit

pun tak akan ada seorang pemburu segoblok itu.

Lalu apa yang telah terjadi?

Dengan cepat mereka pun jadi paham apa yang telah

terjadi.

Dalam waktu sekejap tiba-tiba rumah papan itu

beterbangan ke udara, setiap lembar papan yang ada pada

dinding rumah itu tiba-tiba terlepas dari tempatnya dan

melayang di angkasa.

Rupanya setiap lembar papan rumah itu sudah tergaet

oleh sebuah kaitan baja, kaitan baja itu dihubungkan

dengan seutas tali yang panjang.

Mereka hanya menyaksikan tali berkait itu dengan

membawa lembaran papan kayu beterbangan di angkasa,

dalam waktu singkat semuanya lenyap tak berbekas.

Rumah kayu itu pun ikut lenyap.

Meja kecil masih berada di tempat semula, tungku api

yang kecil itu pun masih berada di tempat semula.

Setiap benda yang berada dalam rumah kayu itu masih

tetap utuh, masih tetap berada di posisi semula, namun

rumah kayu itu sudah lenyap.

Tempat itu berada di atas gunung, di dalam sebuah

hutan yang lebat, di balik gunung yang paling tinggi.

Tapi… dengan munculnya tali berkait yang terbang kian

kemari, rumah kayu itu pun ikut lenyap.

Gunung nan biru masih seperti semula, hutan pun masih

tumbuh lebat dan rapat, angin masih berhembus, bau

harum semerbak bunga pun terendus dengan berlalunya

angin.

Walaupun saat itu masih terang tanah, tiada cahaya

matahari yang dapat menembusi hutan purba yang lebat,

sepanjang mata memandang hanya lapisan hijau yang

menyelimuti jagat.

Kecuali tanah hijau dan mereka berdua, di jagat raya ini

seolah sudah tak ada yang lain.

Tak ada orang lain, tak ada suara lain.

Yang-kong menatap Siau-hong, Siau-hong pun

menatapnya, hanya ada mereka berdua, dua orang dengan

tangan kaki yang telah dingin bagaikan es.

Karena mereka tahu, walaupun saat ini mereka tak

melihat siapa pun, tak mendengar suara apa pun, namun di

belakang setiap pohon, di balik setiap kegelapan, semuanya

telah diselimuti hawa pembunuhan yang tak terlihat

maupun terdengar.

Tak mungkin tali berkait itu terbang datang lalu terbang

pergi tanpa sebab, tak mungkin rumah kayu itu terbang

melayang tanpa alasan.

Musuh tangguh mereka telah datang, datang mengikuti

mereka, di Lhasa, di bekas puing kebakaran, mereka sudah

dikuntit, sudah diikuti terus secara diam-diam.

Seandainya Po Eng tidak pergi, tentu saja sekarang

sudah terjatuh ke dalam cengkeraman orang-orang ini.

Karena itulah Po Eng telah pergi, bahkan sama sekali

tidak meninggalkan sedikit kabar pun.

Rupanya dia sudah menduga, cepat atau lambat Yangkong

pasti akan datang mencarinya, dia pun telah menduga

musuh besarnya tentu akan datang mengikut di

belakangnya.

Musuh tangguh mengawasi dari sekeliling sana, hawa

pembunuhan menyelimuti empat penjuru.

Apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Yang-kong mengawasi Siau-hong, Siau-hong pun

mengawasi gadis itu, ternyata mereka berdua sama-sama

tertawa, seolah tak pernah terjadi apa pun di sana.

Rumah kayu itu masih berada di tempat semula.

“Tempat ini sungguh indah,” ujar Siau-hong sambil

tertawa, “Kau seharusnya mengajakku kemari sejak dulu.”

“Sudah kuduga, kau pasti menyukai tempat ini.”

Siau-hong mencari bangku dan duduk, tiba-tiba ujarnya,

“Aku berani bertaruh denganmu.”

“Taruhan apa?”

“Aku berani bertaruh, di sini pasti ada arak.”

“Kau menang taruhan.”

Tertawa Yang-kong benar-benar sangat cerah dan

gembira, dari dalam kari dia mengeluarkan sebotol arak dan

dua buah cawan.

Ia duduk persis berhadapan dengan Siau-hong, ketika

Siau-hong membuka penutup guci arak itu, dia pun menarik

napas dalam-dalam.

“Arak bagus!” puji Siau-hong.

Dia menuang dua cawan, secawan untuk sendiri dan

secawan lagi untuk Yang-kong.

“Aku menghormati secawan untukmu,” katanya sambil

angkat cawan, “Semoga kau panjang umur dan sukses

dalam semua persoalan.”

“Aku pun menghormati kau dengan secawan arak,” balas

Yang-kong, “Semoga semua keinginanmu pun terwujud.”

Mereka bersama-sama angkat cawan.

Tapi sebelum mereka berdua sempat meneguk isi cawan

itu, tiba-tiba terdengar desingan angin menembus udara,

“Triinggg!”, tahu-tahu kedua cawan itu sudah hancur

berserakan.

Kedua cawan itu tertimpuk hancur oleh dua biji mata

uang, mata uang itu berasal dari balik kerumunan semak,

berjarak paling sedikit belasan kaki dari tempat mereka

duduk.

Menggunakan sebiji mata uang untuk menghancurkan

sebuah cawan arak mungkin tidak terlalu sulit, kalau ingin

menghancurkan sebuah cawan arak dengan sebiji mata

uang dari jarak belasan kaki, persoalan jadi lain.

Tapi baik Yang-kong maupun Siau-hong seolah sama

sekali tak menganggap kejadian ini sebagai sesuatu yang

luar biasa.

Ternyata mereka berdua sama sekali tidak memberikan

reaksi, seakan-akan dalam genggaman mereka pada

hahikatnya tak pernah memegang cawan, seolah pula

cawan arak yang berada dalam genggamannya sama sekali

tidak ditimpuk hancur.

Bila saat ini ada orang sedang mengawasi mereka, orang

itu pasti akan mengira mereka berdua sebagai orang goblok.

Waktu itu tentu saja ada orang sedang mengawasi

mereka, di balik hutan lebat di sekeliling bangunan rumah

itu penuh dengan manusia yang berjaga-jaga.

Anehnya, walaupun mereka telah membongkar rumah

kayu itu, menimpuk hancur cawan arak, namun tidak

ditindak lanjuti dengan aksi lainnya.

Kalau dibilang Yang-kong dan Siau-hong sedang

bermain sandiwara, mereka sedang menonton sandiwara.

Apakah kedatangan orang-orang itu hanya khusus untuk

menonton sandiwara?

Langit lambat-laun makin gelap.

Siau-hong berdiri, berputar dua lingkaran dalam ruang

rumah yang kini sudah tanpa dinding kayu itu, tiba-tiba

ujarnya, “Udara hari ini sangat bagus.”

“Benar, sangat bagus.”

“Kau ingin pergi berjalan-jalan?” tanya Siau-hong lagi.

Yang-kong menatapnya, sampai lama sekali, kemudian

baru menggeleng perlahan.

“Tidak, aku tak ingin pergi,” sahutnya, “Pergilah, aku

menantimu di sini!”

“Baik, aku akan pergi seorang diri,” Siau-hong segera

memberi jaminan, “Dalam waktu singkat, aku akan

kembali.”

Biarpun dinding kayu di sekeliling tempat itu sudah

lenyap, dia tetap berjalan keluar melalui bekas di mana

letak pintu rumah itu.

Ia berjalan sangat lambat, gerak-geriknya santai, gayanya

seperti seseorang yang baru kenyang bersantap dan kini

hendak berjalan santai untuk menurunkan makanan dalam

lambungnya.

Bangunan kayu itu dibangun pada sebuah tanah lapang

di tengah hutan belukar. Baru saja ia tiba di tepi hutan,

mendadak berkelebat sesosok bayangan manusia dari

belakang pohon sambil membentak nyaring, “Kembali!”

Di tengah bentakan itu, terlihat dua belas titik cahaya

bintang menyambar datang, yang diarah bukan jalan darah

di tubuh Siau-hong, bukan pula bagian tubuh yang

mematikan, semua senjata rahasia itu diarahkan persis di

depan jalan perginya hingga menyumbat jalanan itu.

Tiga titik cahaya bintang yang datang mengarah

wajahnya melesat tiba paling cepat, Siau-hong tak bisa

maju, tak bisa pula berkelit ke kiri atau kanan, terpaksa

mengikuti datangnya sambaran ketiga batang Am-gi yang

mengarah wajahnya itu, dia mundur.

Akhirnya pemuda itu mundur kembali ke depan bangku

di mana semula ia duduk.

Baru saja tubuhnya berduduk, ketiga batang senjata

rahasia itu pun ikut rontok dan jatuh persis di hadapannya,

kali ini bukan mata uang tembaga yang digunakan untuk

menghancurkan cawan tadi melainkan tiga biji teratai besi

yang bermata tajam.

Thi-lian-cu atau Teratai besi sebetulnya merupakan

senjata rahasia yang sangat umum, tapi cara orang ini

melepaskan Am-gi jauh berbeda dengan ilmu pada

umumnya, bukan saja hebat bahkan penggunaan tenaganya

sangat tepat.

Yang-kong memandang Siau-hong sekejap, walaupun

parasnya tidak menunjukkan perubahan apa pun, namun

sorot matanya sudah mencerminkan perasaan kuatir

bercampur takut.

Sekarang siapa pun dapat melihat bahwa jagoan yang

datang kali ini hampir semuanya merupakan jago-jago kelas

wahid.

Terdengar Siau-hong bertanya lagi kepada Yang-kong

sambil tertawa, “Kau tidak merasa aku pulang kelewat

cepat?”

“Betul, memang kelewat cepat,” ternyata Yang-kong

menjawab sambil tertawa pula.

Belum habis perkataan itu diucapkan, Siau-hong telah

melambung kembali dari bangkunya, dengan ujung kaki

menutul tanah, memakai gerakan Yan-cu-sam-cau-sui

(Burung walet mengayuh air), secepat sambaran kilat

tubuhnya meluncur ke arah hutan sebelah lain.

Baru saja tubuhnya memasuki hutan, mendadak

terdengar bentakan nyaring berkumandang dari balik

kegelapan, diiringi kilatan cahaya pedang terdengar

seseorang membentak, “Jalan ini pun tidak tembus, lebih

baik kau kembali!”

Begitu selesai perkataan itu diucapkan, tubuh Siau-hong

yang sudah menerobos masuk ke dalam hutan tahu-tahu

mencelat kembali keluar, setelah berjumpalitan tiga kali, ia

terjatuh kembali dari tengah udara dan turun persis di

dalam rumah kayu itu, bahkan duduk kembali di bangku

yang ditempatinya tadi.

Bukan saja pakaiannya telah robek dua tempat, setelah

duduk sampai lama pun napasnya masih tersengal-sengal.

Tak dapat disangkal lagi orang yang bersembunyi di

dalam pepohonan itu adalah jago berilmu tinggi.

Anehnya, walaupun ia berhasil memukul mundur Siauhong,

namun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk

mengejar.

Asalkan Siau-hong sudah balik kembali ke dalam rumah

kayu, serangan mereka pun segera dihentikan, tampaknya

tujuan mereka tak lebih hanya memaksa Siau-hong tetap

tinggal di dalam rumah dan tidak berniat mencabut

nyawanya.

Siapa saja yang telah datang? Apa tujuan mereka?

Langit semakin gelap.

Siau-hong dan Yang-kong masih duduk saling

berhadapan, orang-orang di dalam hutan sudah tak dapat

melihat perubahan mimik muka mereka lagi.

Tapi mereka berdua tahu, paras mereka saat ini pasti tak

sedap dipandang.

Tiba-tiba Yang-kong menghela napas.

“Waktu sudah semakin larut, satu hari lewat dengan

begitu cepatnya” lalu tanyanya kepada Siau-hong, “Kau

masih ingin keluar dari sini?”

Siau-hong menggeleng. Yang-kong bangkit.

“Kalau begitu lebih baik kita tidur lebih awal!”

“Baik, kau tidur di ranjang, aku tidur di lantai.” Kembali

Yang-kong menatapnya sangat lama. “Aku tidur di ranjang,

kau pun tidur di ranjang.” Ucapannya amat tegas bahkan

langsung berjalan mendekat dan menarik Siau-hong dari

bangkunya.

Tangannya terasa dingin membeku, bahkan gemetar

keras.

Dia adalah calon istri sahabat karibnya, dari balik

kegelapan entah ada berapa banyak pasang mata sedang

mengawasi mereka, seandainya orang lain, dia pasti akan

menghindar, pasti akan bersikeras memaksanya untuk tidur

di lantai.

Tapi Siau-hong bukan orang lain, Siau-hong tetap Siauhong.

“Baiklah,” sahutnya, “Kau tidur di ranjang, aku pun tidur

di ranjang.”

Di dalam rumah kayu itu hanya terdapat sebuah ranjang,

sebuah ranjang yang sangat besar, ketika membaringkan

diri, sikap mereka seolah tak pernah terjadi apa pun di sana,

seolah mereka masih berada dalam rumah kayu yang

hangat, di mana daun jendela terbuka lebar, dimana tak ada

orang yang datang mengganggu.

Namun dalam hati kecil mereka berdua tahu dengan

jelas, situasi kini telah berubah, setiap saat nyawa mereka

mungkin akan hancur bagaikan cawan arak, bisa hidup

sampai kapan pun mereka sendiri tak tahu.

Yang-kong membungkus tubuhnya di balik selimut yang

terbuat dari kain kasar, tubuh mereka terpisah cukup jauh,

namun kepala mereka berada sangat dekat, karena mereka

tahu pihak lawan tentu ada banyak perkataan yang hendak

dibicarakan.

Yang-kong yang buka suara lebih dulu, sambil

merendahkan suaranya ia bertanya kepada Siau-hong, “Kau

terluka?”

“Tidak,” bisik Siau-hong di sisi telinganya, “Karena

mereka memang tidak bermaksud mencabut nyawaku.”

“Bila mereka berniat begitu?”

“Maka sekarang aku sudah menjadi seorang yang mati.”

Siau-hong belum pernah putus asa, tapi setelah dia

berkata demikian sekarang, berarti mereka berdua memang

sudah tak punya kesempatan lagi.

Yang-kong tertawa paksa.

“Bagaimana pun juga sementara waktu mereka toh tak

akan turun tangan, apa salahnya kalau kita tidur sejenak.”

“Kita tak boleh tidur.”

“Kenapa?”

“Karena kita tak boleh tetap tinggal di sini,” jawab Siauhong,

“Sama sekali tak boleh.”

“Kau ingin menerjang keluar?”

“Kita harus bersama-sama menerjang keluar.”

“Bukankah sudah kau coba?” ujar Yang-kong, “Kau

sendiri pun tahu kalau kesempatan buat kita tak banyak.”

“Benar, jangankan seratus persen, sepuluh persen

kesempatan pun tak ada!”

“Lantas, apakah kita harus mengantar kematian?”

“Sekalipun bakal mati, kita tetap harus menerjang

keluar.” Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya,

“Sekalipun harus mati, kita tak boleh mati di sini.”

“Kenapa?”

“Karena kita tak boleh menyusahkan Po Eng.”

Ucapan Siau-hong pun sangat kukuh dan tegas.

“Kemungkinan besar dia masih berada di sekitar sini,

orang-orang itu enggan turun tangan, mereka pun tidak

melepaskan kita pergi, tujuannya adalah hendak

memperalat kita untuk menjebak Po Eng. Seandainya Po

Eng berada di sekitar sini, apakah dia akan berpeluk tangan

membiarkan kita terkurung sampai mati di sini?”

Yang-kong termenung, lewat lama kemudian baru

menghela napas.

“Tak mungkin!”

“Dapatkah kita biarkan dia datang kemari?” sambil

menatapnya tajam, Siau-hong bertanya.

Kembali Yang-kong termenung.

Pertanyaan semacam ini pada hakikatnya tak perlu

dijawab. Dia menatap Siau-hong, air mata telah

mengembeng dalam kelopak matanya.

Dia tak nanti akan bersedih demi diri sendiri, tapi demi

seseorang ia rela mati daripada membiarkan sahabatnya

celaka, perasaan gadis ini benar-benar hancur.

Siau-hong tak boleh mati, sama sekali tak boleh.

Tapi bagaimana dengan Po Eng?

Yang-kong memejamkan mata, lewat lama, lama sekali,

mendadak dia mengulurkan tangan memeluk Siau-hong

erat-erat.

“Bila kau bertekad akan berbuat begitu, mari kita

lakukan,”

katanya, “Peduli kemana kau akan pergi, aku akan selalu

mengikutimu. Biarpun kau pergi ke neraka pun, aku akan

ikut ke neraka.” Malam semakin kelam.

Siau-hong berbaring dengan tenang, membiarkan Yangkong

memeluk erat tubuhnya.

Dia tidak bergerak, tidak merasa bersalah, karena dia

cukup memahami perasaan Yang-kong, memahami juga

diri sendiri. Walaupun mereka sedang berpelukan, namun

yang mereka pikirkan di dalam hati adalah orang lain.

Seseorang yang setiap saat bisa mati karena mereka,

orang yang bisa membuat mereka mati untuknya.

Po Eng, di mana kau? Tahukah kau bagaimana perasaan

kami terhadapmu?

Mendadak terlihat sesosok bayangan manusia muncul

dari balik kegelapan, melambung sepuluh tombak di udara,

lalu jatuh kembali ke tanah.

“Blam!”, tahu-tahu orang itu jatuh di dalam rumah kayu

yang sudah tak utuh, jatuh persis di pinggir ranjang mereka,

begitu terjatuh dia tak bergerak lagi.

Siapakah orang itu? Mau apa datang kemari? Apakah

orang-orang itu sudah memutuskan untuk tidak menunggu

lagi, memutuskan untuk turun tangan terhadap mereka?

Yang-kong menatap Siau-hong.

“Kelihatannya kita kedatangan tamu.”

“Rasanya memang begitu.”

“Bagaimana kalau tak usah kita gubris?” Yang-kong

sengaja bertanya kepada Siau-hong.

“Kenapa tak usah digubris?”

“Dia datang tanpa mengetuk pintu, langsung menerobos

masuk ke dalam rumah, sedikit pun tak tahu sopan-santun,

kenapa kita mesti menggubris manusia tak sopan semacam

ini?”

Siau-hong tertawa.

Di saat dia tertawa itulah Yang-kong telah melepas

rangkulannya, pemuda itu pun melejit ke udara, siap

menyerang dari atas.

Tapi dia urung turun tangan karena keburu telah melihat

jelas orang itu.

Rumah ini memang tak berpintu, andai berpintu pun tak

mungkin orang ini akan mengetuk pintu.

Mana ada orang mati bisa mengetuk pintu?

Batok kepala orang ini sudah terkulai, tergantung di atas

tengkuk, seperti bocah nakal yang mematahkan tengkuk

boneka tanah liat.

Biarpun di tempat itu tak berlentera, tak ada cahaya

rembulan, sekilas Siau-hong masih dapat mengenali kalau

dia adalah orang mati.

Siapa yang telah mematahkan tulang tengkuknya?

Mengapa mayatnya dibuang kemari?

Tiba-tiba Siau-hong merasakan jantungnya berdebar

keras, dia telah teringat akan seseorang.

Ooo)d*w(ooO

BAB 20. HAWA PEMBUNUHAN DARI EMPAT

PENJURU

Pada saat itulah dari balik kegelapan arah yang lain tibatiba

meluncur keluar sesosok bayangan manusia,

melambung sejauh puluhan tombak dan… “Blam”, jatuh ke

dalam rumah kayu yang tak berdinding.

Seperti orang pertama, batok kepala orang ini pun

terkulai lemas di atas tengkuknya.

Dengan satu gulingan cepat Yang-kong melompat

bangun dari atas ranjang, tangannya menggenggam tangan

Siau-hong erat-erat. Jantung mereka berdua berdebar keras,

mencorong sinar terang dari balik matanya.

Dari balik belantara terdengar suara tertawa dingin.

“Ternyata datang juga!”

“Saudara, kalau memang sudah datang, mengapa tidak

segera tampil untuk bertemu dengan kita?”

Di tengah suara tertawa dingin yang disisipi suara ujung

baju tersampuk angin dan suara patahnya ranting serta

dedaunan, lamat-lamat terlihat sesosok bayangan manusia

berkelebat.

“Ada di sini!” dari kejauhan terdengar lagi seseorang

membentak nyaring.

Baru bergema suara bentakan itu, kembali terlihat tiga

sosok bayangan manusia melambung ke tengah udara, lalu

menerkam ke arah sana.

Detak jantung Yang-kong dan Siau-hong berdebar makin

cepat, tentu saja mereka dapat menebak siapa gerangan

yang telah datang.

Dari balik kegelapan tampak bayangan manusia

melambung berulang kali, hampir semuanya menerjang ke

arah sana, di antara sampukan ujung baju dengan angin,

bergema bentakan berulang kali.

“Manusia she Po, mau kabur ke mana kau?”

“Tinggalkan dulu nyawamu!”

Tak diragukan lagi, yang datang adalah Po Eng.

Dia sengaja memperlihatkan jejaknya agar para jago

yang mengepung tempat itu sama-sama mengejarnya,

dengan begitu muncul kesempatan baik bagi Siau-hong dan

Yang-kong untuk meloloskan diri.

Sekali lagi Yang-kong menatap Siau-hong, dalam

persoalan apa pun dia selalu menunggu Siau-hong yang

mengambil keputusan.

Siau-hong hanya mengucapkan sepatah kata, “Di mana

ia berada, ke sana aku pergi.”

Yang-kong sama sekali tidak berbicara lagi, serentak

mereka berdua menggerakkan tubuh, ikut menerjang ke

arah yang sama.

Sebetulnya mereka pun tahu kalau mara bahaya

mengancam setiap jengkal langkah dalam hutan itu, namun

mereka tak peduli.

Taburan bintang menghiasi angkasa, sayang cahaya

bintang terlalu redup, tak sanggup menembus lebatnya daun

dan pepohonan, banyak daun yang meski sudah mengering

namun tak sempat rontok dari rantingnya.

Mereka belum juga menjumpai seseorang, suara

bentakan dan teriakan di kejauhan lambat-laun sudah tak

terdengar lagi.

Hutan lebat ini berada di tengah sebuah lembah yang

dikelilingi sederet tanah perbukitan, kondisi tanahnya

rendah dan melengkung ke bawah mirip sebuah mangkok,

bukan saja udara sangat hangat, hembusan angin pun terasa

hangat, itulah sebabnya walaupun saat ini telah memasuki

permulaan musim dingin, dedaunan belum banyak yang

rontok.

Tentu saja tetap ada dedaunan yang berguguran, seperti

seseorang, terkadang disebabkan pelbagai alasan harus

meninggalkan rumah, daun pun terkadang harus

meninggalkan ranting dikarenakan berbagai alasan.

Siau-hong tidak mendengar langkah kaki siapa pun yang

sedang berjalan di atas guguran dedaunan, begitu pula

Yang-kong.

Mereka hanya mendengar semacam suara yang sangat

aneh.

Mereka mendengar seseorang sedang menangis.

Setiap orang pasti pernah menangis, di saat lahir

menangis, di saat mati pun akan menangis lagi, dalam

tahap antara lahir dan mati kau pun akan sering menangis.

Ada sementara orang hanya menangis di saat sedih,

berduka atau mengalami penderitaan, ada pula sementara

orang yang menangis di saat sedang gembira, sedang

meluap emosinya.

Ada orang berkata, dalam kehidupan seorang, tak

mungkin dia bisa menghindari dua jenis suara, pertama

adalah suara tertawa, kedua adalah suara isak tangis.

Oleh sebab itu suara isak tangis sebetulnya tak bisa

terhitung sebagai sejenis suara yang aneh.

Tapi berada di tempat semacam ini, dalam suasana

seperti ini, siapa pun pasti akan merasa keheranan bila

mendengar ada orang sedang menangis.

Yang lebih aneh lagi, orang yang sedang menangis

adalah seorang yang siapa pun tak akan menyangka kalau

dia bakal menangis.

Di saat Siau-hong dan Yang-kong mendengar suara isak

tangis, mereka telah melihat orang itu.

Ternyata orang ini tak lain adalah Oh-tayciangkwe.

Sewaktu menjumpai dirinya, ia sedang duduk di bawah

sebatang pohon yang tinggi besar, menangis sedih bagaikan

seorang bocah.

Seandainya mereka tidak menyaksikan dengan mata

kepala sendiri, siapa pun tak akan menyangka pemilik Sampo-

tong yang nama besarnya menggetarkan seluruh dunia

persilatan, ternyata pada tempat dan saat seperti ini bisa

duduk di bawah sebatang pohon sambil menangis tersedusedu

bagaikan seorang bocah.

Tapi mereka telah menyaksikannya.

Waktu itu Oh-tayciangkwe seolah tidak melihat

kehadiran mereka berdua.

Isak tangisnya benar-benar menyedihkan, begitu sedih

hingga tak sanggup memperhatikan orang lain, tapi

sayangnya Siau-hong berdua tak bisa untuk tidak

memperhatikan orang itu.

Mereka pernah bertemu dengannya, kenal dengannya,

tahu siapa orang ini.

Untung mereka tidak berlagak tidak memperhatikan dia,

berlagak tak pernah bertemu dengannya, mereka

memutuskan untuk lewat begitu saja dari hadapannya.

Tapi sayang mereka tak sempat lewat.

Tiba-tiba Oh-tayciangkwe melompat bangun dari bawah

pohon dan menghadang jalan pergi mereka, meskipun

wajahnya masih basah oleh air mata, namun dia sudah

tidak menangis lagi, meski matanya masih merah namun

sudah memancarkan sinar kelicikan seekor rase.

Tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kalian manusia?”

Siau-hong menatap Yang-kong, begitu pula Yang-kong

menatap Siau-hong, lalu sengaja tanyanya, “Bagaimana

dengan kau?”

“Aku manusia.”

“Begitu pula dengan aku.”

Oh-tayciangkwe tertawa dingin.

“Kalau kalian memang manusia, setelah melihat ada

orang sedang menangis dengan sedihnya, mengapa masih

berlagak tidak melihat.” Yang-kong balas tertawa dingin.

“Sekalipun kami telah melihatnya lantas kenapa? Apakah

kau minta kami menemanimu, duduk sambil menangis?”

Lalu dengan penuh semangat lanjutnya, “Kau menangis

di sini sementara kami lewat di hadapanmu, apa sangkutpautnya

tangisanmu dengan kami?”

“Tentu saja ada sangkut-pautnya,” ternyata jawaban Ohtayciangkwe

tak kalah semangatnya, “Justru karena kalian,

maka aku menangis.”

“Karena kami?” tak tahan Siau-hong bertanya, “Mengapa

kau menangis karena kami?”

Tampang Oh-tayciangkwe semakin sedih, semakin

berduka.

“Sepanjang sejarah hidupku, aku hanya pernah

mencintai seorang wanita,” katanya, “Sudah lama sekali

aku mencarinya, tatkala aku berhasil menemukan dirinya,

ternyata dia sudah mati.”

“Kenapa dia mati?”

“Mati gantung diri gara-gara kalian!” jerit Ohtayciangkwe

dengan sedihnya, “Kalianlah yang

menggantung dirinya di atas pohon, menggantungnya

hidup-hidup!”

Kemudian setelah melotot sekejap ke arah Siau-hong

dengan benci, terusnya, “Aku tahu kau bermarga Hong,

orang menyebutmu Siau-hong yang tak takut mampus, mau

menyangkal pun tak ada gunanya.”

Siau-hong mulai mengerti.

“Maksudmu perempuan itu adalah Liu Hun-hun?”

tanyanya. “Benar.”

“Jadi kau sangka akulah yang telah membunuhnya?”

“Kalau bukan kau, siapa lagi?” Siau-hong menghela

napas.

“Kalau aku mengatakan bukan diriku, kau pasti tak akan

percaya.”

Dia tidak melanjutkan lagi kata-katanya.

Sekarang dia sudah melihat Oh-tayciangkwe berniat

mencabut nyawanya, siapa pun itu orangnya seharusnya

dapat melihat pula akan hal ini.

Hong-hong-tian-ci, burung Hong pentang sayap.

Oh-tayciangkwe telah merentang tangannya

menunjukkan satu gaya yang sangat aneh dan misterius,

siapa pun tak tahu senjata rahasianya akan dilancarkan

dengan cara apa, namun setiap orang tahu, asal senjata

rahasia itu sudah dilontarkan, maka tak ada orang yang bisa

tertawa lagi.

Tiba-tiba Yang-kong tertawa, bukan hanya tertawa

bahkan mulai bersenandung.

Yang dia nyanyikan adalah lagu yang didengarnya dari

belakang gundukan pasir di oase kering itu.

“Di Yan-pak terdapat Sam-po-tong. Terkenal dan

disegani banyak orang. Dalam Sam-po-tong terdapat Sampo.

Siapa bertemu, siapa tertimpa musibah, air mata jatuh

berlinang.

Tiada ayah, tiada ibu.

Siapa bertemu dia tertimpa bencana.

Air mata meleleh bagaikan butiran beras.”

Daya ingat gadis ini memang sangat hebat, bukan saja

setiap bait syairnya tak salah bahkan bisa dinyanyikan

seperti yang dibawakan gadis kecil itu tempo hari.

Belum selesai gadis itu menyanyi, paras Oh-tayciangkwe

telah berubah hebat.

“Siapa kau?”

“Aku adalah aku.”

“Dari mana kau bisa tahu tentang aku?”

“Kenapa aku tak tahu? Kalau aku tak tahu siapa yang

bakal tahu?” Yang-kong tertawa manis, “Padahal kau

seharusnya tahu juga siapakah aku.”

“Mana aku bisa tahu?”

“Coba kau perhatikan siapakah aku?” senyumannya

mirip dengan senyuman gadis cilik berkepang enam-tujuh

belas, hanya bedanya ia tidak membopong anjing Peking

yang mungil berbulu putih.

Dengan terperanjat Oh-tayciangkwe menatapnya,

kemudian selangkah demi selangkah mulai mundur.

“Kau sangka siapakah si Roh gentayangan?” kembali

Yang-kong berkata, “Kau benar-benar menyangka si botol

adalah….”

Belum lagi gadis itu menyelesaikan perkataannya, Siauhong

telah mencabut pedangnya.

Bagian akar pohon besar itu tiba-tiba muncul sebuah

pintu.

Tentu saja tak bisa dianggap sebuah pintu sungguhan,

lebih tepat dibilang sebuah gua, Yang-kong menyangka

lubang itu pintu karena dari dalam lubang itu benar-benar

muncul tubuh seseorang.

Walaupun orang ini bukan Po Eng, tapi dia adalah

sahabat mereka.

“Pancapanah!” tak tahan Yang-kong berteriak, “Rupanya

kau!”

Bertemu dengannya, mereka pun merasa sangat gembira.

Selama ini belum pernah ada yang tahu kapan dia akan

muncul, tapi setiap kali kemunculannya selalu membuat

orang merasa amat gembira.

“Jadi kau yang turun tangan tadi?”

“Benar, aku,” Pancapanah menunjukkan gerakan tangan

yang sederhana, memperlihatkan bagaimana cara dia

mematahkan tulang tengkuk orang, meski sederhana

namun sangat bermanfaat.

“Mana Po Eng?” kembali Yang-kong bertanya.

“Aku tidak melihatnya,” Pancapanah menggeleng, “Aku

pun sedang mencarinya.”

“Tahukah kau dia berada di mana?”

“Tidak tahu.”

Pancapanah berkata dengan penuh keyakinan.

“Tapi aku tahu, dia pasti belum mati.”

Alasannya, “Karena orang-orang itu pun sedang

mencarinya, hal ini membuktikan mereka pun tahu kalau

dia belum mati”.

Setelah tersenyum tambahnya, “Peduli siapa pun itu

orangnya, bukan pekerjaan yang mudah untuk mencabut

nyawa Po Eng.”

Yang-kong ikut tertawa.

“Bila ada orang menginginkan nyawamu, mungkin hal

ini semakin tak mudah lagi.”

Dia pun menaruh keyakinan yang sama terhadap

Pancapanah.

Peduli berada di mana pun, kapan pun, dia selalu dapat

menemukan sebuah tempat persembunyian bagi diri sendiri.

Sebuah tempat yang tak mungkin bisa ditemukan orang

lain.

Berada dalam situasi apa pun, dia selalu akan

menyiapkan sebuah jalan mundur bagi diri sendiri.

“Mereka sangka kau telah melarikan diri keluar dari

hutan ini, siapa sangka ternyata kau bersembunyi di bawah

pohon.”

Yang-kong menghela napas.

“Tak heran Po Eng sering berkata, bila kau ingin

bersembunyi, tak satu manusia pun di kolong langit yang

bisa menemukan dirimu,” katanya.

Pancapanah tersenyum.

“Aku pun tahu kau masih ingin mengucapkan sesuatu.”

“Mengucapkan apa?”

“Mengatakan kalau aku adalah seekor rase tua.”

“Kau bukan rase tua,” Yang-kong tertawa, “Dua ratus

ekor rase tua yang dikumpulkan menjadi satu pun belum

tentu bisa menandingi dirimu.”

Kalau tadi sudah tak terdengar suara manusia, kini suara

itu terdengar kembali. Orang-orang yang telah keluar dari

hutan tampaknya saat ini sedang bergerak mendekat.

Tanpa terasa Pancapanah berkerut kening.

“Kalian cepat masuk dan bersembunyi,” serunya sambil

menunjuk ke arah lubang di bawah pohon. “Gua ini lebih

dari cukup untuk menampung kalian berdua.”

“Bagaimana dengan kau?”

“Kalian tak usah menguatirkan aku,” sahut Pancapanah,

“Aku punya cara untuk menghadapi mereka.”

“Aku percaya.”

“Tapi kalian baru boleh keluar setelah aku kembali

nanti.” Ia sudah bersiap untuk pergi, tiba-tiba sambil

membalikkan badan katanya lagi, “Aku masih berharap

kalian bisa melakukan sesuatu.”

“Apa?”

“Lepaskan pakaian dan sepatu yang kalian kenakan.”

Pancapanah tidak menjelaskan mengapa mereka harus

berbuat begitu, Yang-kong pun tidak bertanya.

Ia telah membalikkan badan, dengan cepat melepas baju

luar serta sepatunya. Andaikata Pancapanah minta dia

melepaskan semua bajunya, gadis itu pasti tak akan

menolak.

Ia bukan termasuk gadis pemalu.

Dia percaya Pancapanah berbuat begitu pasti ada

alasannya. Siau-hong pun telah melepas jubah luarnya.

“Cukupkah hanya begini?”

“Cukup,” sahut Pancapanah, “Hanya saja kau harus

menyerahkan pedangmu itu kepadaku!”

Bagi seorang yang belajar pedang, di dunia ini hanya ada

dua macam barang yang tak boleh diserahkan kepada orang

lain secara sembarangan.

Pedang dan bininya.

Tapi Siau-hong tanpa ragu sedikit pun telah

menyerahkan pedang miliknya itu kepada Pancapanah,

karena dia seperti Yang-kong, selalu percaya kepadanya.

Pancapanah segera menepuk bahu Siau-hong, ujarnya,

“Kau percaya kepadaku, kau adalah sahabatku.”

Baru sekarang dia menganggap Siau-hong sebagai

sahabatnya.

“Aku tak akan membuat kau kecewa.”

Ternyata gua di bawah pohon itu benar-benar cukup

untuk memuat dua orang, hanya saja bila kedua orang itu

tetap ingin menjaga jarak, tubuh mereka tidak saling

bersentuhan, jelas hal semacam ini susah sekali.

Sedapat mungkin Siau-hong menarik badan sendiri ke

belakang.

Sekalipun mereka masih berpakaian, namun pakaian

yang mereka kenakan sudah teramat tipis.

Seorang gadis muda macam Yang-kong, hanya

mengenakan satu stel pakaian yang begitu tipis, sementara

jarak mereka berdua begitu dekat, keadaan mereka saat ini

mirip “kuning telur ganda” dalam satu butir telur.

Asal seorang masih memiliki daya pikir, dia seharusnya

dapat membayangkan bagaimana keadaan mereka berdua

sekarang.

Siau-hong hanya bisa sekuat tenaga menarik mundur

tubuhnya, sayang sekali tempat baginya untuk mundur

sudah tidak terlalu banyak.

Biarpun gua itu basah dan gelap, dengus napas Yangkong

justru harum bagaikan angin di musim semi.

Bagi seorang lelaki yang masih muda dan berdarah

panas, situasi semacam ini benar-benar menyiksa hati.

Tiba-tiba Yang-kong tertawa.

Sambil menatap Yang-kong, Siau-hong bertanya, “Apa

yang kau tertawakan?”

“Aku senang tertawa, sering tertawa, tapi rasanya di

masa sebelum ini, kau belum pernah bertanya kepadaku apa

yang sedang ditertawakan.”

“Dulu adalah dulu.”

“Sekarang mengapa harus bertanya?”

“Karena… karena aku ingin memperingatkan sesuatu

kepadamu.”

“Soal apa?”

“Aku adalah seorang lelaki normal,” mimik muka Siauhong

amat serius.

“Aku tahu kau adalah seorang lelaki!”

“Lelaki yang ada di dunia ini hampir semua sama.”

“Aku tahu.”

“Oleh karena itu bila kau tersenyum lagi, aku bakal…”

“Kau bakal kenapa?” Yang-kong sengaja bertanya, “Mau

pukul pantatku?”

Siau-hong menatapnya lama sekali, tiba-tiba dia tertawa.

Mereka berdua sama-sama tertawa.

Sesuatu hal yang semula sudah tak kuasa ditahan, tibatiba

semuanya jadi buyar di tengah senyuman mereka.

Tatkala Pancapanah balik lagi ke sana, malam gelap

yang panjang telah berlalu, hutan belukar yang lebat pulih

kembali dalam kecerahan dan ketenangan seperti semula.

Paras Yang-kong dan Siau-hong pun telah cerah kembali,

karena mereka tidak bersalah kepada orang lain, tidak pula

pada diri sendiri.

Pancapanah menatap sekejap mereka berdua, tiba-tiba ia

menepuk lagi bahu Siau-hong kuat-kuat.

“Ternyata kau memang sahabat karib Po Eng,” katanya,

“Ternyata Po Eng tidak salah melihatmu”

Tiba-tiba ia tertawa, senyumannya tampak amat

misterius, ucapannya pun sangat aneh.

Tiba-tiba ujarnya kepada Siau-hong, “Tapi sayang kau

sudah mati.”

“Aku sudah mati?” tak tahan Siau-hong bertanya,

“Kapan aku matinya?”

“Tadi!”

“Bagaimana matinya?”

“Jatuh dari atas tebing tinggi dan mati terbanting di dasar

jurang,” kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya,

“Meski batok kepalamu sudah hancur-lebur bagaikan

semangka yang terjatuh, namun orang lain pasti masih

dapat mengenalinya.”

“Kenapa?”

“Karena tubuhmu masih mengenakan pakaian yang

pernah mereka saksikan, dalam genggamanmu pun masih

terdapat pedangmu.”

Lalu tambahnya, “Bila kau belum mati, tentu saja

pedang sebagus ini tak bakal kau serahkan kepada orang

lain.”

Akhirnya Siau-hong memahami maksudnya, dia telah

mencari orang sebagai pengganti dirinya, tewas

mengenaskan di dasar jurang.

“Bagaimana dengan aku?” tanya Yang-kong.

“Tentu saja kau pun sudah mati,” jelas Pancapanah,

“Kalian berdua telah mati.”

“Mengapa kami harus mati?”

“Mungkin kalian mati demi Po Eng, mungkin juga kalian

terpeleset dan jatuh ke dasar jurang,” kata Pancapanah,

“Setiap orang mempunyai banyak alasan untuk mati.”

Setelah tersenyum, terusnya, “Siapa tahu ada orang

menduga cinta gelap kalian ketahuan Po Eng sehingga

terpaksa mati bunuh diri bersama.”

Yang-kong tertawa geli, begitu juga Siau-hong.

Hati kecil mereka tak ada ganjalan, di antara mereka pun

tak terjalin cinta terlarang, karena itulah mereka masih

dapat tertawa.

Bila seseorang setiap saat dapat tertawa, jelas hal ini

bukan sesuatu yang mudah.

Kembali Pancapanah bertanya kepada Siau-hong,

“Tahukah kau mengapa aku harus membuat kalian mati?”

Siau-hong menggeleng.

Sesungguhnya dia memang bukan termasuk orang yang

gemar banyak bicara, apalagi belakangan dia lebih sering

termenung dan membungkam. Bila dia tahu orang lain

dapat menjawab pertanyaan yang sama, ia lebih suka

memilih tutup mulut.

Tentu saja Pancapanah menjawab sendiri pertanyaannya

itu.

“Karena aku ingin kalian melakukan satu pekerjaan.”

Kemudian ia menjelaskan lagi, “Suatu tugas yang tak

boleh diketahui siapa pun, tak boleh orang tahu apa yang

sedang kalian laksanakan, hanya orang mati baru tak akan

diperhatikan orang lain.”

Yang dimaksud ‘orang lain’ tentu saja musuh mereka.

“Tugas apakah itu?” kembali Yang-kong bertanya,

“Tugas apa yang kau ingin kami lakukan?”

“Pergi mencari Po Eng.”

Sekalipun tidak disuruh, mereka tetap akan

melaksanakan tugas ini.

“Aku tahu kalian pasti ingin membalas dendam,

kemungkinan sekarang juga akan pergi mencari Wi Thianbong,

pergi menyatroni Lu-sam,” kata Pancapanah.

Mereka memang mempunyai pikiran begitu.

“Tapi sekarang kita harus bersabar, harus dapat menahan

diri,” Pancapanah menerangkan, “Peduli apa pun yang

ingin kita lakukan, semuanya baru bisa dilakukan setelah

Po Eng berhasil ditemukan.”

Jagat raya begitu luas, mencari seorang di kolong langit

sama susahnya dengan mencari sebatang jarum di dasar

samudra.

“Aku pun tahu tugas ini tidak mudah, namun selama kita

percaya diri, sesusah apa pun pada akhirnya pasti dapat

terlaksana juga.”

Tiba-tiba ia membalikkan badan.

“Kalian ikutlah diriku.”

Dia mengajak mereka mereka menemukan sebuah

pohon yang tak diketahui namanya, dari balik laras

sepatunya ia mencabut sebilah pisau, dengan pisau itu dia

gurat kulit pohon.

Tak lama kemudian dari balik kulit pohon itu meleleh

sejenis cairan berwarna putih susu.

Pancapanah minta Siau-hong dan Yang-kong menadah

cairan itu dengan kedua belah tangannya, kemudian

perlahan menggosokkan cairan tadi ke wajah dan kulit

tangan sendiri.

Kulit wajah mereka segera terasa gatal sekali, lalu

terjadilah perubahan yang sangat aneh.

Tiba-tiba saja kulit muka mereka berubah jadi hitam

bahkan berkeriput, dalam waktu singkat penampilan

mereka seolah sudah bertambah tua sepuluh tahun.

Kembali Pancapanah berkata kepada Siau-hong, “Suku

kami memberi sebuah nama yang istimewa untuk pohon

ini.”

“Apa namanya?”

“Kong-im!”

“Kong-im (Cahaya gelap)?”

“Suku kami menyebut pohon ini sebagai pohon cahaya

kegelapan,” kata Pancapanah, “Khasiatnya paling tidak bisa

bertahan selama satu tahun, dalam setahun mendatang

wajah kalian akan tetap terpelihara seperti ini, aku rasa tak

akan ada orang yang bisa mengenali wajah asli kalian lagi.”

Dia mengatakan “Aku rasa” dan bukan “pasti tak akan”.

“Oleh karena itu kalian tetap harus waspada, aku akan

membantu kalian mencarikan perlindungan lain.”

“Perlindungan apa?” tanya Yang-kong.

“Mulai sekarang kau sudah bukan Yang-kong si Cahaya

matahari biru dan kau pun sudah bukan Siau-hong yang tak

takut mati.”

“Aku tahu,” jawab Yang-kong, “sekarang kami berdua

sudah mati.”

“Oleh karena itu sekarang kalian sudah menjadi dua

orang yang lain,” kata Pancapanah, “Kalian adalah

sepasang suami-istri, pasangan suami-istri yang sangat

miskin, harus banting tulang peras keringat untuk

mempertahankan hidup.”

Di dunia ini memang banyak terdapat pasangan suami

istri semacam ini, demi mempertahankan hidup, mau tak

mau mereka harus banting tulang bekerja keras dari pagi

hingga malam.

“Kalian adalah pedagang, khusus mengangkut hasil bumi

Tibet dan menjualnya ke Tionggoan, serta mencari sedikit

keuntungan.”

Kemudian terusnya, “Oleh karena kalian tak punya

keturunan, di rumah pun tak ada orang lain, dan

dikarenakan hubungan kalian sebagai suami-istri rukun,

maka ke mana pun pergi, kalian selalu pergi bersamasama.”

Siau-hong dan Yang-kong mendengarkan dengan

seksama.

Kembali Pancapanah berkata, “Tentu saja kalian tak

mampu menyewa Piausu untuk mengantar. Demi

keselamatan sepanjang jalan, terpaksa kalian pun bergabung

dengan rombongan saudagar.”

“Rombongan saudagar?” Siau-hong tak habis mengerti.

“Rombongan saudagar terdiri dari pedagang kecil

macam kalian yang bergabung jadi satu rombongan besar,”

Pancapanah menerangkan, “Nyaris hampir setiap bulan

pasti ada rombongan besar semacam ini yang berangkat

memasuki perbatasan.”

Setelah berhenti sejenak, terusnya, “Aku telah

menyiapkan sebuah rombongan untuk kalian.”

Cara kerja Pancapanah memang sangat teliti dan cermat,

mau tak mau orang harus mengaguminya.

“Rombongan saudagar ini tidak terlalu besar, kurang

lebih terdiri dari tiga-empat puluhan orang,” katanya.

“Pemimpin rombongan bernama Hoapula, sangat

berpengalaman, cekatan dan sangat menguasai medan,

konon sewaktu muda dulu dia adalah anggota pasukan

perang dan pernah ikut penyerangan hingga ke negeri

Turki!”

“Ke mana kita harus pergi menemukan dirinya?”

“Hau-ko-ki,” sahut Pancapanah, “Mereka telah

menetapkan tempat berkumpul di Hau-ko-ki”

Kemudian dia menambahkan, “Setelah sampai di sana,

pertama-tama kalian cari dulu seorang yang bernama si

Kantong tembakau, beritahu nama kalian kepadanya, lalu

bayar ongkos jalan sebesar dua puluh lima tahil perak, sertamerta

dia akan mengajak kalian menjumpai Hoapula.”

Sekarang tersisa pertanyaan yang terakhir.

“Aku menggunakan nama apa?’ tanya Yang-kong.

“Kau adalah orang Tibet, bernama Maya.”

Kemudian sambil memandang Siau-hong, terusnya,

“Suamimu adalah bangsa Han, jadi dia bernama Biau

Jong.”

Kemudian sambil meletakkan sepasang tangannya di

bahu mereka berdua, terusnya, “Aku berharap dalam

setahun kalian sudah dapat menemukan Po Eng.”

Dalam anggapan Siau-hong dan Yang-kong, orang yang

bernama Hoapula tentunya seorang yang berperawakan

tinggi besar, berwajah kereng, dan serius.

Ternyata dugaan mereka salah besar.

Hoapula adalah seorang pendek, sebetulnya tidak

terhitung kelewat pendek, tapi oleh karena sepanjang tahun

hidupnya berada di atas pelana, hal ini membuat sepasang

kakinya berubah bentuk jadi melengkung hingga kelihatan

bagaikan lingkaran bulat, apalagi sewaktu berjalan, gayanya

lucu sekali.

Oleh karena itu dia selalu duduk di atas sebuah bangku

yang amat tinggi, sewaktu memandang orang dengan

sepasang mata julingnya, dari sorot matanya selalu tampil

kesadisan dan kesan mengejek yang sinis, persis seorang

bocah nakal yang sedang menonton kucing yang telah

diikatnya, seperti juga seekor kucing sedang

mempermainkan tikus hasil tangkapannya.

Untung dia memiliki sepasang tangan yang besar.

Tangannya itu lebar, lebar, kasar dan keras, ketika

diletakkan di atas meja, bentuknya seperti dua bilah kapak

yang dalam sekali bacokan dapat membelah meja itu jadi

dua bagian.

Mungkin lantaran sepasang tangannya itulah membuat

orang lain mau tak mau menaruh perasaan segan, jeri dan

hormat.

Kelebihannya yang lain adalah dia jarang bicara, selalu si

Kantong tembakau yang mewakilinya berbicara.

Tatkala Siau-hong dan Yang-kong berjumpa Hoapula,

waktu itu sudah ada sepasang suami-istri yang lain

menunggu dalam ruang tamu.

Sepasang suami istri seperti Siau-hong berdua, demi

melanjutkan hidup, terpaksa siang malam mereka harus

banting tulang dan berjuang.

Usia kedua orang itu termasuk cukup banyak, sang

suami paling tidak berusia tiga-empat puluh tahunan,

sedang istrinya berusia dua puluh tujuh-delapan tahunan,

wajah sang suami banyak dihiasi guratan dan kerutan

karena penderitaan, sementara bininya selalu menundukkan

kepala, malu bertemu orang.

Ketika sang suami menyerahkan ongkos sebesar dua

puluh lima tahil perak, sang istri saking tegang jari

tangannya pun ikut gemetar, sebab sepanjang hidupnya

belum pernah mereka menyerahkan uang sebesar itu.

Dalam pandangan mereka, nilai uang sebesar dua puluh

lima tahil mungkin jauh lebih berharga daripada emas

murni sebanyak tiga puluh laksa tahil milik Lu-sam.

Baru pada hari kedua Siau-hong mengetahui nama

mereka, ternyata sang suami bernama Tio Kun, sedang

istrinya dari marga Oh, mereka memanggilnya Tio Oh-si.

Bagi seorang wanita yang sudah menikah, biasanya

nama asli mereka akan terhapus dengan sendirinya.

Ooo)d*w(ooO

BAB 21. BERTEMU TANGAN EMAS LAGI

Siau-hong sama sekali tidak menyangka, sepasang

suami-istri yang amat sederhana ini justru akan menjadi

orang yang paling mempengaruhi perjalanan hidupnya serta

Yang-kong, bahkan boleh dikata telah merubah seluruh

perjalanan hidup mereka.

Tampak Hoapula sudah mulai kehabisan sabar.

Baginya, mau duduk di tempat seperti apa pun, duduk di

atas pelana kuda jauh terasa lebih nyaman.

Namun ketika si Kantung tembakau selesai mewakilinya

mengajukan beberapa pertanyaan sederhana kepada Siauhong

dan Yang-kong, kemudian minta mereka balik ke

kamar, Hoapula justru berseru, “Tunggu sebentar!”

Tiba-tiba tanyanya kepada Siau-hong, “Pernah berlatih

silat?”

“Tidak,” jawab Siau-hong segera, “Biarpun pernah

berlatih selama beberapa hari, ilmu silat kucing kaki tiga

semacam itu tidak terhitung ilmu silat.”

“Apakah kau menggembol senjata?” kembali Hoapula

bertanya. “

Tidak.”

“Sebilah pisau pun tidak?”

“Sama sekali tidak.”

Sekali lagi Hoapula menatap Siau-hong, tiba-tiba dari

balik matanya terpancar senyuman hangat yang aneh,

mendadak dari sakunya dia meloloskan sebilah pisau belati.

“Lebih baik gembollah senjata ini dalam sakumu,” ia

serahkan pisau belati itu ke tangan Siau-hong, “Usia binimu

tidak terhitung kelewat tua, padahal rombongan kita ini

terdiri dari berbagai lapisan, jadi sepanjang jalan kau harus

lebih berhati-hati!”

“Orang itu pasti bukan orang baik,” begitu kembali ke

kamar Yang-kong segera berbisik kepada Siau-hong, “Pasti

bukan orang baik.”

Siau-hong sendiri mau tak mau harus mengakui, sewaktu

tertawa Hoapula memang menunjukkan gejala kurang

beres.

Untung saja Yang-kong yang sekarang sudah bukan

Yang-kong bersinar biru, malah istri Tio Kun tampak jauh

lebih menarik ketimbang dirinya.

Sepasang suami-istri itu tinggal di kamar sebelah.

Mereka berdiam di sebuah losmen yang kecil dan murah,

dalam kamar selain terdapat sebuah tempat tidur terbuat

dari bata serta sejumlah kutu busuk, benda apa pun nyaris

tak ada.

Dua puluh lima tahil perak termasuk juga tempat

penginapan dan makan, tentu saja mereka tak bisa

menuntut kelewat banyak.

Apalagi tempat tidur tanah masih terhitung cukup

hangat, berada dalam keadaan seperti ini, bisa mendapat

tempat tidur yang hangat sudah terhitung lumayan.

Mereka hanya berharap secepatnya dapat tertidur.

Mereka tak sempat tidur.

Baru saja kedua orang itu akan terlelap, tiba-tiba dari

kamar sebelah terdengar suara aneh.

Pada mulanya mereka masih belum dapat membedakan

suara apakah itu.

Tapi suara itu makin lama semakin keras, bahkan

berlangsung cukup lama, di antara dua kamar itu pun

terpisah oleh selapis dinding tipis.

Seandainya mereka masih kanak-kanak, mungkin masih

belum dapat mengenali suara apakah itu.

Sayang mereka sudah bukan kanak-kanak lagi.

Tiba-tiba Siau-hong merasakan sekujur badannya jadi

panas.

Dia sama sekali tidak menyangka, perempuan yang

begitu tahu aturan, begitu malu sewaktu melakukan

pekerjaan begituan dengan suaminya, ternyata bisa

mengeluarkan suara teriakan semacam ini.

Mungkin saja hal ini disebabkan penghidupan mereka di

hari-hari biasa kelewat sederhana sehingga sewaktu tiba-tiba

berganti suasana, ketika tiba di tempat yang asing, tindaktanduk

mereka jadi sedikit kelewat batas.

Setiap orang pasti akan mengalami saat di mana dirinya

tak sanggup mengendalikan diri, tapi ada sementara orang

sekalipun berada dalam keadaan demikian, mereka tetap

berusaha mengendalikan diri.

Siau-hong memejamkan mata, tubuhnya dari atas hingga

ke bawah tak berani bergerak.

Dia berharap Yang-kong mengira dia sudah tertidur.

Yang-kong pun tidak bergerak, apakah dia pun berharap

Siau-hong menyangka dia telah tertidur?

Fajar telah menyingsing, sinar matahari menyinari

seluruh jagat.

Jauh sebelum terang tanah, Siau-hong sudah terbangun

dari tidurnya, dia telah menggunakan segentong air dingin

yang mulai membeku untuk mencuci muka dan

membersihkan badan, kemudian dengan mengitari rumah

penginapan itu berlari keliling sebanyak enam-tujuh belas

lingkaran.

Ketika balik ke dalam kamar, Yang-kong telah selesai

bebenah. Dia menatap Yang-kong sambil tertawa, Yangkong

pun menatapnya sambil tertawa, siapa pun tak tahu

apakah semalam pihak lawan tertidur dengan nyenyak atau

tidak.

Peduli malam itu mereka tertidur atau tersiksa, yang

penting malam itu dapat mereka lewatkan dengan aman.

Sepasang suami-istri itu pulih kembali dengan gayanya

yang jujur, polos dan tahu aturan, istrinya yang pemalu

tetap menundukkan kepala, takut melihat orang.

Siau-hong serta Yang-kong tak berani memandang

mereka, kuatir bila memandang kedua orang itu dan

terbayang suara aneh yang mereka dengar semalam, bisa

jadi mereka akan tertawa tergelak.

Apa mau dikata ternyata mereka berempat ditempatkan

pada satu kereta keledai yang sama, kereta itu kecil dan

sempit, mereka berempat boleh dibilang hidung berhadapan

hidung, mata berhadapan mata, tak ingin melihat pun tak

mungkin.

Ketika makan siang tengah hari itu, ternyata sepasang

suami istri itu sempat membagikan sedikit rangsum mereka

untuk Siau-hong dan Yang-kong, selain daging masak cabe,

ternyata ada juga bubur bawang, masakan kegemaran orang

Tibet.

Hidangan itu dibuat dari bawang liar yang tumbuh

khusus di atas bukit Cu-mu-lang-ma, daunnya lebar dan

bawangnya berwarna merah, bagi orang Tibet tumbuhan itu

pada hakikatnya merupakan benda mustika, tak mungkin

benda semacam itu dihidangkan untuk tamunya.

Tampaknya sepasang suami-istri ini khusus meminta

maaf kepada mereka berdua karena tahu Siau-hong dan

Yang-kong tak nyenyak tidurnya semalam.

Siau-hong hanya berharap sewaktu menginap malam

nanti, mereka dapat tidur dengan nyenyak.

Sayang lagi-lagi Siau-hong kecewa berat.

Malam itu dia dan Yang-kong lagi-lagi diberi kamar

bersebelahan dengan suami-istri itu, akibatnya mereka

bertambah menderita.

Tampaknya kekuatan tubuh suami-istri itu jauh lebih

kuat dan segar daripada penampilan mereka.

Seandainya Siau-hong dan Yang-kong adalah sepasang

suami-istri, persoalan ini lebih gampang untuk diselesaikan.

Sayangnya mereka bukan suami-istri sungguhan.

Mimpi pun mereka tak menyangka kalau persoalan ini

merupakan masalah yang paling memusingkan sepanjang

perjalanan, terlebih tak disangka adalah perempuan yang

begitu polos, jujur, dan malu, begitu malam tiba ternyata

berubah jadi makhluk yang mematikan.

Ketika tiba pada malam ketiga, tiba-tiba Siau-hong

mengeluarkan tiga biji dadu dan berkata kepada Yang-kong,

“Mari kita lempar dadu.”

“Lempar dadu?” tanya Yang-kong, “Apa yang hendak

kau pertaruhkan?”

“Siapa yang kalah, malam ini dia harus tidur dalam

kereta di luar sana.”

Tentu saja yang kalah adalah Siau-hong, dalam dadu itu

dia telah melakukan kecurangan, karena dia lebih rela tidur

dalam kereta.

Dan dia pun tertidur nyenyak.

Tapi sayang Yang-kong tetap tak dapat tidur.

Walaupun suara dari kamar sebelah untuk sementara

menjadi tenang, ia justru terbayang banyak urusan, banyak

urusan yang seharusnya tidak terbayangkan olehnya.

Pada saat itulah ia mendengar ada orang mendorong

pintu.

Jantungnya kontan berdebar keras.

Apakah Siau-hong telah kembali?

Ternyata bukan.

Yang datang ternyata orang lain, ia tidak melihat jelas

paras orang itu, tapi cukup melihat kakinya yang pendek,

segera diketahui siapa yang telah datang.

Sambil melompat bangun teriak Yang-kong, “Mau apa

kau datang kemari?”

“Menemanimu,” Hoapula menatap tajam gadis itu dan

mulai mengulum senyuman cabul, “Aku tahu lakimu tak

becus, jadi aku khusus datang untuk menemanimu.”

Yang-kong menarik kencang selimutnya.

“Aku tak mau kau temani,” gadis itu benar-benar tegang,

“Kalau kau tidak segera pergi, aku akan berteriak.”

“Berteriak? Memanggil siapa? Suamimu?” Hoapula

tertawa menyengir, “Sekalipun dia diundang kemari pun,

apa gunanya?”

Dia menggunakan sepasang tangannya yang kuat bagai

baja untuk mengambil sebuah cawan teh, begitu diremas,

cawan itu seketika hancur berkeping-keping.

“Memangnya suamimu memiliki kungfu seperti apa yang

kumiliki?” tanya Hoapula sambil tertawa cabul.

Yang-kong hanya bisa menggeleng.

Sekarang mereka tak lebih hanya sepasang suami-istri

yang sederhana, tentu saja mereka tak memiliki kungfu

sehebat itu. Dia tak boleh membocorkan identitas.

Tapi selangkah demi selangkah Hoapula telah berjalan

mendekat, dalam waktu singkat telah tiba di ujung

pembaringan.

“Kalau kau berani teriak, aku akan segera menyumpal

mulutmu. Bila suamimu berani kemari, aku akan

menghajarnya hingga mampus.”

Tampaknya dia sudah bertekad tak akan melepaskan

gadis ini.

Sekarang dia sudah bukan sinar matahari berwarna biru,

sekarang dia tak lebih hanya seorang wanita yang hitam

dan jelek. Aneh, mengapa Hoapula justru kesemsem

padanya?

Yang-kong merasa cemas, jengkel bercampur keheranan.

Saat itulah Hoapula telah menerkam ke depan, sepasang

tangannya yang besar sudah siap melucuti pakaian yang

dikenakan gadis itu.

Tapi ia gagal menangkap gadis itu, yang ditangkap

hanya sebuah buntalan kain.

Rupanya Yang-kong telah berkelit ke sudut ranjang, lalu

tangannya menyambar buntalan itu dan menimpuknya

kuat-kuat.

Pakaiannya gagal dirobek, tapi buntalan itu segera

tersambar hingga robek, semacam benda tiba-tiba keluar

dari buntalan dan terjatuh ke lantai.

Tiba-tiba Hoapula menunjukkan mimik muka ketakutan,

rasa takut, ngeri yang luar biasa, tanpa mengucapkan

sepatah kata pun dia kabur meninggalkan ruangan.

Tindak-tanduknya begitu gugup, seakan-akan baru saja

bertemu setan iblis, tanpa berpaling dia melarikan diri

terbirit-birit.

Yang-kong merasakan jantungnya masih berdebar keras,

tangan dan kakinya masih terasa dingin.

Mengapa secara tiba-tiba Hoapula melarikan diri? Apa

yang telah dilihatnya?

Ia benar-benar tak habis mengerti.

Barang itu terjatuh dari dalam buntalan, padahal pagi ini

dia sendiri yang membungkus buntalan itu, di sana tak

mungkin terdapat benda yang bisa membuat orang begitu

ketakutan hingga melarikan diri.

Kembali pintu didorong orang, kali ini yang masuk

bukan orang lain, melainkan Siau-hong.

Dia pun tak bisa tidur terlalu nyenyak, siapa pun tak

mungkin dapat tidur nyenyak di dalam kereta yang dingin,

keras dan sumpek.

Apalagi selama ini dia mempunyai pendengaran yang

sangat tajam.

Melihat kemunculan Siau-hong, Yang-kong

menghembuskan napas lega.

“Coba kau lihat, apakah di bawah ranjang terdapat

sesuatu benda?” tanyanya kepada Siau-hong.

Siau-hong cukup memandang sekejap, parasnya seketika

berubah hebat.

Yang-kong semakin gelisah, semakin keheranan. “Apa

yang telah kau lihat?”

Perlahan-lahan Siau-hong membungkukkan badan, dari

bawah ranjang memungut sesuatu benda.

Ternyata yang diambil adalah sebuah tangan. Tangan

emas!!

“Bukankah pagi tadi kau sendiri yang membungkus

buntalan ini?” tanya Siau-hong kemudian.

“Benar.”

“Apakah saat itu sudah ada Tangan emas dalam

buntalanmu?”

“Tidak, sama sekali tak ada,” jawaban Yang-kong amat

tegas. “Apakah barusan kau menyaksikan sendiri benda itu

terjatuh dari dalam buntalan?”

“Aku melihat dengan sangat jelas.”

“Lantas mengapa Tangan emas itu bisa muncul di dalam

buntalanmu?”

“Aku sendiri pun tak tahu.” Dia benar-benar tidak tahu.

Tangan emas merupakan benda kepercayaan Hok-kuisin-

sian Lu-sam untuk memberi komando kepada para jago,

sebetulnya mustahil dapat ditemukan dalam buntalannya.

Tapi sekarang peristiwa yang tak mungkin justru telah

terjadi.

Malam yang panjang belum juga lewat, tapi suasana di

kamar sebelah telah lama menjadi tenang kembali.

Tiba-tiba Siau-hong bertanya lagi, “Hari ini siapa yang

telah menyentuh buntalan itu?”

“Tidak ada,” nada bicara Yang-kong sudah tidak seyakin

tadi, “Rasanya tidak ada.”

“Rasanya tidak ada atau sama sekali tak ada?”

Yang-kong mulai sangsi, pertanyaan ini sulit baginya

untuk memberikan jawaban yang pasti, tapi seingatnya

buntalan itu selalu berada dalam genggamannya, belum

pernah lepas dari pandangan matanya.

Yang benar “nyaris”, bukan “sama sekali”

Kembali Siau-hong bertanya, “Mungkinkah ada orang

yang bisa mencari kesempatan untuk menyusupkan Tangan

emas itu ke dalam buntalanmu?”

Kalau ingin mencuri buntalan itu dari sisi tubuhnya, jelas

hal ini mustahil bisa terjadi, tapi untuk memasukkan benda

ke dalam buntalan, jelas ini persoalan lain.

Yang-kong segera menjawab, “Ada!” Berkilat sepasang

matanya. “Hanya ada seseorang.”

“Siapa?”

Sambil menuding kamar sebelah, sahut Yang-kong,

“Perempuan yang setiap malam ribut terus dan membuat

kita tak bisa tidur nyenyak.”

Siau-hong tidak bicara lagi.

Padahal sejak awal dia telah menduga ke situ. Mereka

duduk dalam satu kereta dan sekarang boleh dibilang sudah

menjadi sahabat.

Ketika berada dalam kereta, Tio Oh-si selalu duduk di

samping Yang-kong, sedang Yang-kong pun selalu tak

tahan untuk tertidur, jika Tio Oh-si menggunakan

kesempatan itu untuk memasukkan sesuatu benda ke dalam

buntalannya, jelas hal ini bukanlah sesuatu yang susah.

“Mungkin Pancapanah sama sekali tak berhasil

membohongi Lu-sam, mungkin saja sepak terjang kita

sudah ketahuan,” kata Yang-kong, “Oleh sebab itu, sejak

awal dia sudah mengutus orang untuk menguntit kita.”

“Kau sangka sepasang suami-istri itu adalah orang yang

dikirim Lu-sam?”

Yang-kong menggigit bibirnya.

“Sejak awal aku telah menaruh curiga terhadap mereka,

seorang wanita saleh yang polos dan jujur, sudah jelas dia

tahu kamar sebelah ada orang, kenapa tiap malam selalu

berteriak macam setan menangis?”

Rasanya sepasang pipinya agak memerah, terusnya,

“Mungkin dia memang sengaja mengacau agar kita tak

dapat tidur nyenyak, agar siang hari kita tak punya

semangat, karenanya dia baru mendapat kesempatan untuk

turun tangan.”

Walaupun semua itu hanya dugaannya, namun dugaan

semacam ini bukannya sama sekali tanpa alasan.

Satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil adalah “Bila

Lu-sam telah mengetahui gerak-gerik kita, mengapa dia

tidak langsung menghabisi nyawa kita?”

“Karena dia masih ingin mencari tahu jejak Po Eng dari

kita berdua, oleh sebab itu secara diam-diam dia mengutus

orang untuk membuntuti, bahkan berusaha agar kita tidak

mengetahuinya.”

“Bila sepasang suami-istri itu benar-benar adalah jagoan

yang secara diam-diam diutus Lu-sam untuk membuntuti

kita, mengapa pula dia memasukkan Tangan emas itu ke

dalam buntalan kita?” tanya Siau-hong, “Bukankah dengan

berbuat begitu sama artinya mereka telah membocorkan

identitas sendiri?”

Yang-kong tidak berbicara lagi.

Dalam hal ini dia sendiri pun tidak habis mengerti, di

balik kejadian ini memang terdapat banyak sekali masalah

yang bertolak belakang.

Suasana di kamar sebelah sebenarnya sudah cukup lama

tenang, sekarang secara tiba-tiba muncul suara lagi.

Suara seorang lelaki yang terbatuk-batuk, lalu suara

wanita menghela napas, suara orang turun dari ranjang,

membuka pintu kamar dan suara seorang berjalan sambil

menyeret sandal.

Tak disangkal di antara suami-istri itu ada seseorang

telah turun dari ranjang, membuka pintu dan berjalan

keluar.

Di tengah malam buta begini, mau apa keluar kamar?

Siau-hong segera merendahkan suaranya, “Biar aku pergi

memeriksa.”

“Aku ikut,” dengan cepat Yang-kong melompat turun

dari atas pembaringan, “Kali ini kau tak boleh membiarkan

aku tinggal seorang diri lagi dalam kamar.”

Suara langkah kaki tadi tampaknya sedang menuju ke

arah dapur, saat ini di dalam dapur seharusnya sudah tak

ada orang.

Tapi dari bawah tungku terlihat ada lidah api, di atas

tungku terlihat sekuali air.

Diam-diam Siau-hong dan Yang-kong menyelinap ke

samping dapur, benar saja, mereka menjumpai di dalam

dapur terdapat seseorang.

Seluruh cahaya lampu telah dipadamkan, losmen kecil

dengan harga yang sangat miring ini pasti enggan berborosboros,

tak mungkin ada lampu minyak yang dipasang,

apalagi petugas jaga malam yang meronda.

Untung saja di langit ada sinar bintang, dari bawah

tungku pun ada cahaya api, mereka masih dapat mengenali

orang itu adalah Tio Oh-si.

Waktu itu Tio Oh-si sedang menggayung air, mengambil

air mendidih dari kuali besar dan segayung demi segayung

dimasukkan ke dalam sebuah tahang kayu.

Tubuhnya walaupun sudah dibalut jubah luar suaminya,

dia tampak seperti agak kedinginan, tampaknya selain

jubah luar itu, tubuhnya sama sekali tak berpakaian.

Tiba-tiba Siau-hong merasakan jantungnya berdebar

keras, sebab dia telah membuktikan kebenaran akan hal ini.

Ternyata di balik jubah itu, dia benar-benar telanjang

bulat, tak secuwil kain pun yang menutupi badannya.

Baru saja dia mengambil segayung air, tiba-tiba karena

kurang berhati-hati air itu tumpah dan segera membasahi

jubahnya.

Cepat perempuan itu meletakkan kembali gayung kayu

sambil menjinjing jubahnya yang basah, maka tubuh

bugilnya seperti bayi yang baru lahir pun segera terpampang

jelas di depan mata.

Tentu saja tubuhnya tidak mirip dengan bayi yang baru

lahir, kulit tubuhnya putih mulus, pinggangnya ramping,

sepasang kakinya putih, halus dan kuat. Siau-hong sudah

seringkali melihat perempuan telanjang, tapi belum pernah

menyaksikan tubuh telanjang yang begini indah, montok,

dan menggiurkan.

Dalam waktu sekejap dia merasakan jantungnya nyaris

melompat keluar dari rongga dadanya.

Untung saja pada waktu itu Tio Oh-si telah selesai

mengambil air dan beranjak dari dapur sambil membawa

satu tahang air.

Siau-hong dan Yang-kong yang bersembunyi di sudut

ruangan pun menghembuskan napas lega.

“Sudah kau lihat?” tiba-tiba Yang-kong bertanya.

“Melihat apa?” Siau-hong sengaja berlagak pilon.

Tak tahan Yang-kong tertawa cekikikan.

“Kau seharusnya tahu apa yang telah kau lihat, bahkan

melihat jauh lebih jelas daripada diriku.”

Bila bertemu kejadian semacam ini, wajar bila mata

lelaki selalu lebih tajam daripada mata wanita.

Terpaksa Siau-hong harus mengakuinya.

Sambil tertawa kembali kata Yang-kong, “Tentunya kau

pun telah melihat wajah dan tangannya?”

“Ehm!”

“Menurut kau, kulit wajah dan tangannya seperti apa?”

“Seperti kulit jeruk,” walaupun perumpamaan Siau-hong

tidak terlalu bagus, namun penilaiannya tidak terlalu beda

jauh.

“Kalau kulit badannya?” kembali Yang-kong bertanya.

Dia tahu kemungkinan Siau-hong enggan menjawab

pertanyaan ini, maka jawabnya sendiri, “Kulit badannya

seperti sutera, seperti susu kambing, belum pernah kulihat

kulit badan perempuan sebagus dan semulus dia.”

Dalam hal ini mau tak mau Siau-hong harus

mengakuinya. Tapi kulit badan seorang wanita seharusnya

tidak terdapat perbedaan yang begitu besar dengan kulit

wajahnya.

“Pernahkah kau melihat perempuan semulus ini?”

“Tidak, kecuali….”

Yang-kong segera mewakili Siau-hong untuk menjawab,

“Kecuali dia pun seperti aku, menggunakan cairan Kong-im

atau cairan sebangsanya untuk mengubah kulit wajah serta

kulit tangannya!”

Tak disangkal lagi, inilah penjelasan yang paling masuk

akal.

Sepasang suami istri ini telah menyamar, keikut

sertaannya dalam rombongan saudagar ini tentu saja demi

menguntit Siau-hong serta Yang-kong.

Sekalipun di balik kejadian ini terdapat banyak hal yang

sukar dijelaskan, paling tidak dalam hal itu sudah tak perlu

diragukan lagi.

Kembali Yang-kong bertanya kepada Siau-hong,

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?”

“Aku sendiri pun tak tahu,” jawab Siau-hong setelah

termenung sesaat, “Tampaknya kita harus berlagak bodoh,

hanya bisa menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu dan memperhatikan gerak-gerik mereka,

menunggu sampai mereka tak sanggup menahan diri,

menunggu kesempatan untuk turun tangan.”

Tak dapat disangkal, memang inilah satu-satunya cara.

Karena mereka tak bisa tidak harus tetap berangkat.

Kalau toh jejak mereka sudah ketahuan, mau pergi ke

mana pun, hasilnya tetap sama saja.

Hanya sayang, menunggu adalah siksaan hidup yang

paling menderita.

Hari kedua masih seperti hari-hari sebelumnya, matahari

masih terbit dari ufuk timur, rombongan tetap berangkat

subuh.

Yang berbeda adalah Hoapula yang setiap hari pasti

duduk di pelananya sambil mengontrol barisan, hari ini

karena “tak enak badan” ia tidak menampakkan diri,

sebagai gantinya si Kantung tembakau yang memimpin

rombongan.

Siau-hong dan Yang-kong masih berada satu kereta

dengan Tio Kun suami-istri, sang suami masih jujur dan

lugu sementara bininya masih tetap malu-malu dan tak

pernah berani mendongakkan kepala.

Yang-kong serta Siau-hong pun terpaksa berlagak seakan

tak pernah melihat apa pun, seakan tak pernah terjadi

sesuatu apa pun.

Bahkan Siau-hong tak berani memandang lagi ke arah

Tio Oh-si, jangankan memandang, melirik pun tak berani.

Karena setiap kali melihat wajahnya, tak tahan dia pun

akan terbayang adegan syur yang dilihatnya semalam di

balik dapur yang remang-remang, dia pun akan terbayang

pula tubuhnya yang mulus, payudaranya yang montok,

pinggangnya yang ramping dan….

Bagaimana mungkin seorang pria muda macam Siauhong

dapat melupakan pemandangan panas yang begitu

indah, begitu merangsang napsu syawat? Jelas sesuatu yang

amat sulit.

Untung saja selepas makan siang, si Kantung tembakau

meminta mereka berdua untuk berpindah ke dalam kereta

lain. Urutan kereta pun tampaknya sudah terjadi perubahan

dan pertukaran.

Setiap kereta masih diisi empat orang, hanya kali ini

Siau-hong berada satu kereta dengan sepasang ayah

beranak, ayahnya sudah tua, lesu sementara putranya

berwajah penyakitan, mereka berdua selalu membungkam

dan jarang tersenyum.

Siau-hong segera memandang ke arah Yang-kong, begitu

pula Yang-kong memandang Siau-hong, dalam hati mereka

berdua sadar, bukan sesuatu yang mudah bagi mereka

untuk menyelesaikan perjalanan ini dalam keadaan aman

tenteram.

Selewat tengah hari, rombongan mulai memasuki

kawasan perbukitan.

Jalan gunung berliku-liku dan berbahaya, tanah yang

naik turun tak merata membentang hingga jauh ke ujung

langit dan akhirnya lenyap di sisi bukit yang memerah

karena cahaya sang surya.

Di bawah bukit dekat jalan setapak, tersebar bebatuan

cadas berwarna hitam yang amat besar, di sisi depan terlihat

sebuah gunung besar berwarna hitam, pemandangan mirip

dongeng yang mengisahkan seekor burung rajawali sedang

terbang di udara sambil mengawasi kerumunan manusia,

keadaan itu memberikan tenaga tekanan yang luar biasa

besarnya.

Siau-hong dan Yang-kong duduk semakin merapat.

Bila ada orang hendak melakukan penghadangan dan

berencana membunuh mereka di tengah jalan, tak salah lagi

tempat ini merupakan tempat yang paling baik.

Mereka tak ingin menderita kekalahan dalam

menghadapi sergapan itu, karenanya tubuh mereka berdua

menempel lebih rapat, dalam hati pun telah membuat

persiapan.

Pada saat itulah mereka dengar suara “Kraak!”,

kemudian tampak sebuah roda kereta menggelinding

terbang ke depan, menumbuk di atas batu cadas hitam di

tepi jalan dan hancur berantakan.

Pada saat yang bersamaan inilah Siau-hong menarik

Yang-kong melompat keluar dari ruang kereta.

Kusir kereta masih berusaha mengendalikan keretanya,

roda kereta pun masih bergerak tiada hentinya walau kini

roda tinggal tersisa tiga buah.

Roda as sebelah kiri belakang telah patah jadi dua,

rombongan kereta yang berada di barisan depan pun sudah

tak nampak jejaknya.

Cahaya merah di balik bukit lambat-laun berubah

menjadi warna merah tua yang meski nampak indah,

namun menyisipkan perasaan kesedihan yang tak terhingga.

Senja telah tiba, sebentar lagi malam akan menjelang.

Ternyata ayah beranak itu masih tertinggal dalam ruang

kereta, entah sudah jatuh pingsan ataukah sedang

menunggu datangnya serangan.

“Coba kau periksa,” Yang-kong berkata, “Coba periksa

apa yang telah terjadi?”

Siau-hong tidak memeriksa orang yang berada dalam

ruang kereta, dia hanya memeriksa as roda kereta yang tibatiba

patah.

As roda tampak rata pada bekas patahannya, asal orang

yang berpengalaman, mereka pasti tahu kalau as ini

memang sengaja digergaji sebelumnya hingga patah

setengah.

Tentu saja Siau-hong pun dapat melihatnya.

“Datang juga akhirnya,” dia menghembuskan napas

panjang.

“Mereka?”

“Benar!”

Yang-kong ikut menghembuskan napas panjang.

“Bagaimana pun juga mereka tidak menyuruh kita

menunggu kelewat lama.”

Ayah beranak yang berada dalam kereta masih juga tak

bergerak, sekalipun mereka sedang menunggu kesempatan

baik untuk melancarkan bokongan, saat ini seharusnya

merupakan saat yang paling tepat.

“Mengapa kalian berdua masih belum juga keluar?” tegur

Siau-hong sambil tertawa dingin.

Kemudian sambil menendang pintu kereta, teriaknya

lagi, “Mengapa kalian berdua belum juga turun tangan?”

Dari dalam ruang kereta belum juga terdengar reaksi apaapa,

dari kedua sisi jalan perbukitan pun tak nampak

munculnya bayangan manusia.

Siau-hong kembali melepaskan satu tendangan,

membuat ruang kereta yang terbuat dari anyaman bambu

itu seketika hancur berantakan.

Ternyata ayah beranak itu masih berada dalam ruang

kereta, dalam genggaman mereka berdua masing-masing

memegang sebuah tabung senjata rahasia berpegas tinggi

yang terbuat dari tembaga kuning.

Anehnya, senjata rahasia yang berada dalam tabung itu

sama sekali tak dipancarkan, sementara tubuh mereka

berdua telah mati kaku, wajahnya menghitam, biji matanya

melompat keluar seperti bangkai ikan, sinar mata yang

tertinggal pun memancarkan perasaan ngeri dan ketakutan

yang luar biasa.

Tak salah lagi, kedua orang ini memang sengaja

dipasang dalam kereta untuk melakukan pembokongan,

rupanya mereka sudah siap melancarkan serangan begitu

mendapat kesempatan.

Tapi sekarang mereka berdua telah mati, di saat mereka

siap melancarkan bokongan itulah mereka telah mati.

Mengapa mereka bisa mati?

Satu-satunya jawaban untuk pertanyaan ini adalah….

Yang-kong berhasil mengetahui rencana busuk mereka,

karena itulah mereka berniat menyerang lebih dahulu.

Siau-hong menatap Yang-kong, kemudian menghela

napas panjang.

“Kau memang hebat,” katanya, “Serangan yang kau

lancarkan ternyata jauh lebih cepat daripada apa yang

kubayangkan.”

“Apa kau bilang?” Yang-kong seperti tak mengerti.

“Kusangka kau tak bakal menyerang secepat itu,” kata

Siau-hong lagi, “Karena kita belum dapat membuktikan

kalau mereka benar-benar merupakan jagoan pihak lawan,

apa jadinya bila kita salah membunuh?”

Yang-kong balik menatapnya, jelas ia sangat terperanjat.

“Jadi kau sangka akulah yang telah membunuh mereka?”

Ooo)d*w(ooO

BAB 22. LELAKI TERNAMA, ARAK

MEMABUKKAN

“Memangnya bukan?”

“Tentu saja bukan,” sahut Yang-kong, “Malah kusangka

kau yang melakukan.”

Siau-hong tambah terkesiap.

Tentu saja dia pun tahu kedua orang ini bukan mati di

tangannya.

“Jadi bukan kau?” kembali Yang-kong bertanya.

“Bukan.”

“Kalau bukan kau, bukan pula aku, siapa yang

melakukan?”

Pertanyaan ini bukan mereka berdua yang mampu

menjawabnya.

Wajah mayat-mayat itu bersemu hitam, tampaknya

mereka tewas karena keracunan, tapi siapa yang

melepaskan racun? Kapan mereka diracun? Kenapa mereka

harus mati diracun? Apakah demi membantu Siau-hong

dan Yang-kong untuk terlepas dari bencana? Kenapa dalam

rombongan ini bisa terdapat antek mereka?

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan semacam ini pun tak

mungkin bisa mereka jawab.

Sementara Siau-hong dan Yang-kong masih berdiri

terperangah, tiba-tiba dari balik batu cadas di tepi jalan

telah bermunculan empat-lima puluh orang.

Empat-lima puluh orang yang dilengkapi dengan panah.

Mereka terdiri dari berbagai jenis manusia, ada bangsa

Han, ada suku Tibet, ada suku Biau, panah yang dibawa

pun aneka macam, ada busur besar dengan panah panjang,

ada pula panah otomatis yang berpegas tinggi, bahkan ada

juga yang membawa tulup yang biasa dipakai suku Biau

untuk berburu.

Siapa pun tak akan bisa membedakan begitu banyak jenis

anak panah dalam sekali pandang, tapi siapa saja dapat

melihat kalau setiap anak panah itu lebih dari cukup untuk

menghabisi nyawa manusia.

Tempat ini merupakan bagian tanah perbukitan yang

paling berbahaya, jika ada orang memberi perintah dan

anak panah berhamburan, biar jagoan selihai Po Eng pun

jangan harap bisa lolos dari sana dalam keadaan selamat.

Perasaan Siau-hong mulai tenggelam.

Ia mengetahui akan hal itu, kesempatan hidup mereka

berdua kali ini memang tidak besar.

Suasana amat hening, batu hitam tiada bersuara, panah

pun tidak mendesing, bahkan orang-orang itu tak ada yang

bersuara, mereka seakan sedang menunggu.

Tapi apa yang ditunggu?

Dengan jelas Siau-hong memperoleh jawaban atas

pertanyaan ini.

Rupanya mereka sedang menunggu Hoapula.

Kini Siau-hong telah melihat kemunculan Hoapula.

Hoapula berdiri di atas sebuah batu karang yang berada

di puncak paling tinggi, menggunakan sorot matanya yang

dingin penuh ejekan sedang menatap mereka, seperti kucing

yang sedang memperhatikan tikus di bawah cakarnya.

Dia pun tahu, kali ini mereka tak bakal bisa meloloskan

diri.

Siau-hong hanya bisa tertawa getir.

Dia pun sama sekali tak menyangka kalau Hoapula

adalah anak buah Lu-sam, padahal cara kerja Pancapanah

selalu teliti dan penuh rahasia, mengapa sebelum ia berhasil

mencari tahu asal-usul yang sebenarnya dari orang ini, telah

mengantar mereka bergabung dengan rombongannya?

“Sekarang apa yang bisa kau katakan?” tiba-tiba tegur

Hoapula.

“Tidak ada!”

“Kalau begitu lebih baik ikut aku pulang ke rumah, ikut

tanpa melawan.”

“Pulang ke rumah? Rumah siapa?” tak tahan Siau-hong

bertanya.

“Tentu saja rumahmu sendiri,” suara tawa Hoapula

penuh rasa puas dan bangga, “Sekarang kalian pasti sudah

tahu bukan bahwa susah melakukan perjalanan di luar,

lebih baik pulang saja ke rumah.”

Siau-hong semakin terperangah.

Pada hakikatnya dia tak mengerti apa yang sedang

dikatakan Hoapula, bukankah sekarang mereka sudah tak

punya rumah.

Siau-hong tidak mengerti, Yang-kong pun tidak

mengerti. Mereka berdua tak tahu bagaimana harus

menjawab, karenanya hanya tetap membungkam.

Terkadang membungkam bisa diartikan “mengakui”, bisa

dimaksudkan “setuju”, karena itu tawa Hoapula makin

gembira.

“Aku tahu kalian tak bakal membangkang, hanya saja

aku selalu melangkah hati-hati, terhadap kalian berdua, aku

tetap merasa sedikit tak lega.”

Hoapula sengaja berpikir sejenak, kemudian baru

melanjutkan, “Bila kalian bersedia mengikat kaki dan

tangan sendiri dengan tali, kemudian membuat tiga kali

simpul mati, aku baru merasa lega.”

Kemudian kembali dia menegaskan, “Jangan lupa, harus

dibuat simpul mati, mataku istimewa bagus dan tajam, lebih

baik kalian jangan mencoba mengelabui diriku.”

“Kemudian?” sengaja Siau-hong bertanya.

“Kemudian? Tentu saja aku akan mengantar kalian

pulang sampai ke rumah.”

Mendadak Hoapula menarik wajah, “Kalau aku hitung

sampai angka tiga dan kalian belum juga turun tangan,

terpaksa aku hanya bisa mengirim pulang mayat-mayat

kalian.”

Hoapula benar-benar mulai menghitung.

Sekalipun wajahnya cemberut, sorot matanya justru

dipenuhi senyuman keji, buas, dan penuh ejekan.

Siau-hong dapat melihat, orang itu bukan bersungguh

hati akan turun tangan terhadap mereka berdua, terlebih

bukan bersungguh hati akan mengantar mereka pulang ke

rumah.

Ia sengaja berbuat begitu tak lebih untuk memberikan

sebuah pertanggung jawaban terhadap seseorang.

Padahal sesungguhnya dia sangat berharap bisa

menyaksikan lawannya mampus dibidik hujan panah,

mampus dengan tubuh hancur-lebur, membiarkan setiap

anak panah menembus setiap jengkal tubuhnya,

menghancurkan setiap ruas tulang-belulangnya, kemudian

mengantar mayat mereka yang telah hancur pulang ke

rumah.

Hitungan dilakukan sangat lamban, sebab dia pun tahu,

tak nanti mereka bersedia membelenggu kaki tangan

sendiri.

Baru sampai hitung kedua, terdengar “Krak!”, sudah ada

serentetan anak panah meluncur tiba.

Sederet suara gendawa bergema di angkasa, tiga anak

panah telah melesat membelah angkasa, namun bukan

Yang-kong dan Siau-hong yang menjadi sasaran.

“Triing!”, tiga batang anak panah itu bersama-sama

menghajar di atas batu karang persis di hadapannya hingga

menimbulkan percikan bunga api.

Tiba-tiba seseorang terjatuh dari tengah udara, roboh

terbanting di atas jalan setapak dengan batok kepala hancur,

tiada jerit kesakitan di saat menyentuh tanah, sebab

sebelum terjatuh ke tanah ia sudah merenggang nyawa.

Suara aneh itu berkumandang setelah orang itu

terbanting ke tanah, muncul dari mulut orang lain.

Mendadak sekilas cahaya pedang berkilauan tajam

berkelewat dari atas batu karang.

Cahaya pedang beterbangan bagaikan sambaran petir,

jeritan aneh pun bergema silih berganti, para pemanah yang

bersembunyi di atas batu karang seorang demi seorang

roboh terjungkal ke tanah.

“Pancapanah!” pekik Yang-kong kaget.

Tentu saja orang yang datang menyelamatkan mereka

adalah Pancapanah, selain dia, siapa lagi yang bakal

muncul di sana?

Berubah paras Hoapula, belum ia berbuat sesuatu, Siauhong

bagaikan segulung angin topan telah menerjang ke

muka.

Hoapula membentak nyaring, dengan tangannya yang

besar bagai kapak raksasa, ia melolos seutas cambuk

berantai yang amat berat, lalu disertai deruan angin tajam

menyapu ke depan.

Menghadapi ancaman sehebat ini, terpaksa Siau-hong

harus mundur untuk menghindar.

Menggunakan peluang itu, cambuk besi di tangan

Hoapula segera diayunkan berulang kali, bukan saja ia

berhasil merebut posisi yang lebih menguntungkan, bahkan

berhasil pula menguasai keadaan.

Pemanah yang berada di atas batu karang tampaknya

belum terbantai habis, masih terlihat anak panah

beterbangan… tampaknya Yang-kong terhajar sebatang

anak panah.

Di saat Siau-hong menerjang maju untuk keempat

kalinya, tiba-tiba cambuk baja yang berada di tangan

Hoapula terkulai lemas, terkulai seperti seekor ular yang

sudah mampus.

Menyusul tampak paras Hoapula mengejang keras, sinar

matanya yang semula berkilat tiba-tiba berubah jadi kelabu,

keadaannya persis ular berbisa yang tertangkap tubuh

bagian tujuh incinya.

Kepalanya terkulai lemas, terkulai sambil mengawasi

dada sendiri, sorot matanya yang kelabu dipenuhi perasaan

ngeri, takut, kaget, dan tercengang.

Siau-hong ikut mengawasi dadanya, sinar terkejut dan

keheranan pun terpancar dari balik matanya, sebab di atas

dada Hoapula tiba-tiba muncul sebuah benda yang tembus

dari punggungnya.

Semacam benda yang memancarkan sinar berkilauan,

sebagian dari ujung pedang yang sangat tajam.

Pedang itu menusuk masuk dari punggung hingga

tembus di dada, sebuah tusukan pedang yang langsung

menembus hulu hatinya.

Tetesan darah segar masih meleleh di saat ujung pedang

itu dicabut.

Namun tubuh Hoapula tidak roboh, dia masih berdiri

kaku.

Seseorang berdiri di belakang Hoapula dengan pedang

terhunus, orang itu adalah manusia yang berhasil

merobohkan puluhan jago pemanah dalam waktu singkat,

orang yang berhasil menyarangkan pedangnya di dada

Hoapula, menusuk tembus hulu hatinya.

Ternyata orang itu bukan Pancapanah! Pedang yang

berada dalam genggamannya pun ternyata pedang Mo-gan,

si Mata iblis milik Siau-hong.

Siapakah orang ini?

Kecuali Pancapanah, siapa yang bakal datang

menyelamatkan Siau-hong dan Yang-kong?

Mengapa dalam genggaman tangan orang itu bisa

muncul pedang mata iblis milik Siau-hong?

Mungkinkah Po Eng? Mungkinkah pada akhirnya Po

Eng telah muncul?

Sebelum melihat jelas tampang muka orang itu, Siauhong

memang sempat berpikir demikian, pemikiran itu

membuat emosinya menggelora, membuat sekujur

tubuhnya gemetar keras. Sayang lagi-lagi dugaannya keliru

besar.

Orang itu bukan Pancapanah, bukan pula Po Eng, tapi

seseorang yang mimpi pun tak pernah diduga, seseorang

yang mustahil bisa muncul untuk menyelamatkan mereka

berdua.

Ternyata orang itu adalah Tio Kun, orang yang begitu

polos, begitu tahu aturan, bahkan sewaktu menyerahkan

ongkos sebesar dua puluh lima tahil perak pun tangannya

sempat gemetar lantaran tegang.

Kini tangannya justru lebih mantap daripada batu

karang.

Dalam tangannya tergenggam sebilah pedang, ternyata

pedang itu adalah “Mo-gan” si Mata iblis milik Siau-hong.

Cahaya dingin yang aneh dan misterius masih terpancar

dari pedang “Mo-gan”, sorot mata orang itu pun

membiaskan sinar tajam.

Kini dia sudah bukan lagi lelaki polos yang penuh sopan

santun, hawa pembunuhan yang terpancar dari tubuhnya

bahkan jauh lebih menakutkan daripada hawa pembunuhan

yang terpancar dari pedang mata iblis.

“Sebenarnya siapa kau?” tegur Siau-hong.

“Orang yang datang untuk membunuh, orang yang

datang untuk menolong pula,” jelas Tio Kun, “Orang lain

yang akan kubunuh dan kau yang akan kutolong.”

“Mengapa kau datang untuk menolongku?”

“Karena orang yang hendak mereka bunuh sebetulnya

bukan kau, karena kau memang tidak sepantasnya mati.”

“Lalu siapa yang hendak mereka bunuh?” kembali Siauhong

bertanya.

“Aku!”

Jawaban Tio Kun ini mau tak mau membuat orang

tercengang, terperangah.

“Orang yang sebetulnya hendak mereka bunuh adalah

aku!” ]

Siau-hong melongo, tertegun.

Sebetulnya masih ada banyak persoalan yang ingin dia

tanyakan, namun Tio Kun telah membalikkan badan.

“Ikutlah aku!” ajaknya, “Aku akan mengajakmu minum

arak, aku tahu arak yang dijual di tempat sekitar sini cukup

lumayan.”

Walau Siau-hong merasa butuh secawan arak, tapi saat

ini rasanya masih bukan waktu yang tepat untuk minum

arak. “Sekarang adalah saat yang tepat.”

“Mengapa?”

“Karena ada banyak persoalan yang ingin kau tanyakan

padaku, begitu pula aku.”

Setelah berhenti sejenak, lanjut Tio Kun, “Tapi banyak

persoalan yang ingin kusampaikan kepadamu, hanya bisa

kuucapkan setelah kita minum arak nanti.”

Setelah membelok tikungan bukit di depan sana, di balik

lembah terdapat sebuah dusun kecil. Rakyat desa hidup

ramah, penuh kedamaian, namun arak yang mereka buat

dari sorgum terasa lebih panas dari sengatan api.

Tempat di mana mereka meneguk arak bukanlah dusun

Sin-hoa-cun yang ditunjuk para penggembara, tapi sebuah

rumah tukang kayu yang miskin dan hidup bersahaja, bila

ada pelancong yang datang membeli arak kepada mereka,

berarti pada tahun baru mendatang anak-anak mereka bakal

memakai baju baru.

Tuan rumah menggunakan sepasang tangannya yang

kasar berotot menyuguhkan sebuah teko yang terbuat dari

tanah liat, menggunakan bahasa yang tak dipahami Siauhong,

mengucapkan beberapa patah kata kepada Tio Kun,

kemudian dengan memboyong anak istrinya, ia berlalu dari

sana, meninggalkan rumah batunya yang kecil untuk

ditempati para tamu kehormatannya.

“Barusan apa yang dia katakan?” tak tahan Siau-hong

bertanya.

“Dia menerangkan kalau arak ini bernama Hu-tau si

Kampak, hanya lelaki sejati yang kuat meneguknya.”

Tio Kun tersenyum, lanjutnya, “Dia bilang, tampang kita

berdua mirip lelaki sejati, karena itu dia menyuguhkan arak

itu untuk kita berdua.”

Lalu sambil tersenyum, kembali tanyanya pula, “Apakah

kau memahami maksudnya?”

Tentu saja Siau-hong mengerti maksudnya, “Dia sengaja

berkata begitu, karena berharap sewaktu membayar

ongkosnya nanti, kita pun bersikap sebagai lelaki sejati.”

Keempat dinding rumah itu terbuat dari batu cadas, di

atas sebuah anglo yang besar, anglo yang terbuat dari batu

cadas, terdapat sekuali daging kelinci, sebatang kayu bakar

membara dengan menimbulkan suara gemeratak, seluruh

ruangan dipenuhi bau harum daging dan arak.

Kaum wanita tidak berada di dalam rumah ini.

Yang-kong telah terpanah, panah itu menghujam di

bagian tubuhnya yang tak boleh terlihat kaum lelaki.

Tio Oh-si telah membawanya menuju ke rumah kecil di

bagian belakang, menggunakan arak keras yang diminum

kaum lelaki untuk mencuci mulut lukanya.

Rasa sakit yang luar biasa membuat gadis itu

bermandikan keringat dingin, namun dia sama sekali tak

ketinggalan dengan setiap patah kata yang sedang

dibicarakan kedua lelaki itu di ruang depan.

Ketika tiga cawan arak “kapak” telah mengalir ke dalam

perut, pengaruh alkohol pun mulai menyelimuti benak

mereka.

Siau-hong yang buka suara terlebih dulu, tanyanya

kepada Tio Kun, “Kau bilang sebenarnya kaulah yang

hendak mereka bunuh?”

“Benar!”

“Tahukah kau, siapakah mereka?”

“Ada di antaranya anak buah Lu-sam,” jawab Tio Kun

segera, “Hoapula pun telah dibeli Lu-sam, karena itulah

sejak pagi tadi ia sudah mengirim berita dan mengajak

datang begundal Lu-sam.”

“Datang untuk membunuhmu?” tanya Siau-hong,

“Mengapa pula kau datang menolong kami?”

Jawaban Tio Kun sangat enteng, siapa pun yang telah

meneguk arak semacam ini, caranya bicara tak akan ragu

dan penuh kesangsian lagi.

“Karena aku sesungguhnya adalah anggota mereka,

bahkan seseorang yang amat dipercaya olehnya,” Tio Kun

menerangkan, “Tapi aku telah membawa kabur seorang

wanita yang paling disayang, paling dicintainya.”

Lambat-laun akhirnya Siau-hong mengerti sudah.

Yang dimaksud “seorang wanita” tentulah Tio Oh-si,

perempuan ini memang seorang makhluk langka yang

sangat menawan, setiap saat Siau-hong dapat menemukan

begitu banyak alasan mengapa Lu-sam merasa berat hati

membiarkan perempuan semacam itu melarikan diri.

Tio Kun sendiri pun pasti mempunyai alasan yang cukup

kuat untuk membawa kabur perempuan itu, apalagi kabur

dengan mempertaruhkan keselamatan jiwanya. Siau-hong

percaya masih ada banyak lelaki yang rela melakukan hal

yang sama.

Apalagi mereka berdua memang jauh lebih sesuai, paling

tidak bila dibandingkan perempuan itu dengan Lu-sam.

Dalam hal ini Siau-hong dapat memakluminya dan

memaafkan mereka berdua.

Tio Kun memandangnya dengan sinar mata minta maaf,

“Sebenarnya aku tak ingin menyusahkan kalian berdua.”

Dengan tulus dan jujur lanjutnya, “Tapi aku tahu Lu-sam

telah membeli Hoapula, dia sudah menaruh curiga bahwa

kemungkinan besar kami telah menyusup ke dalam

rombongan pedagang.”

“Oleh karena itu kau sengaja memasukkan Tangan emas

itu ke dalam buntalan kami, agar Hoapula mencurigai

kami?”

“Tapi aku benar-benar tak bermaksud mencelakai

dirimu.”

“Bukan?”

“Aku sengaja berbuat begitu tak lain karena ingin

mengalihkan target orang-orang itu, agar mereka

mengkonsentrasikan seluruh kekuatannya menghadapi

kalian.”

Setelah berhenti sejenak, lanjut Tio Kun, “Dengan

berbuat begitu, aku baru memiliki cukup kesempatan untuk

turun tangan.”

Dalam hal ini mau tak mau Siau-hong harus mengakui,

cara yang dilakukan Tio Kun memang merupakan sebuah

langkah yang amat cerdas.

Kembali Tio Kun menerangkan, “Sejak permulaan aku

sudah tak bermaksud mencelakai kalian, karena itulah kami

telah membantumu membunuh Che Thong dan Che Beng.”

“Che Thong? Che Beng?” tanya Siau-hong tercengang,

“Apakah mereka adalah ayah beranak yang berada satu

kereta denganku sore tadi?”

“Benar.”

Kembali Tio Kun berkata, “Mereka adalah anak buah

Sam-po-tong, ayah beranak itu sangat mahir dalam senjata

rahasia, bahkan senjata rahasia mereka sangat beracun, oleh

karena itu kami pun harus menggunakan cara yang sama

untuk menghadapi mereka.”

“Menggunakan cara yang sama?” tanya Siau-hong,

“Maksudmu menggunakan racun?”

“Dengan gigi membayar gigi, dengan racun menyerang

racun,” Tio Kun mengangguk, “Oleh karena mereka adalah

manusia semacam itu, maka terpaksa Soso harus turun

tangan.”

Yang dimaksud “Soso” tentulah Tio Oh-si, Siau-hong

sama sekali tak mengira perempuan inilah yang telah turun

tangan sekeji ini.

Bisa meracuni sampai mati dua orang jago kawakan

yang tersohor karena senjata rahasia beracunnya, bahkan

sanggup meracun mati mereka tanpa disadari, sudah jelas

hal semacam ini bukanlah perbuatan yang gampang

dilakukan.

“Kapan dia meracuni mereka berdua?” tanya Siau-hong

lagi, “Meracuni mereka dengan cara apa?”

“Di saat kami harus turun berganti kereta tengah hari

tadi,” jawab Tio Kun, “Waktu itu kami pun membagikan

sedikit lauk kepada mereka, menyaksikan mereka

melahapnya sampai habis.”

Setelah tersenyum, terusnya, “Lauk yang kami siapkan

sepanjang perjalanan ini memang beraneka ragam.”

Racun dicampurkan ke dalam lauk, di saat tengah hari

itulah Che Thong ayah beranak telah menyantap nasi

dengan lauk beracun, menjelang magrib sang racun baru

mulai bekerja.

“Ia telah memperhitungkan secara tepat, orang-orang itu

baru akan turun tangan setelah memasuki wilayah

perbukitan, karena itu, dia pun telah memperhitungkan

dengan tepat saat racun itu mulai bekerja.”

Tak tahan Siau-hong menghela napas panjang.

“Ai, perhitungannya sungguh amat tepat,” bisiknya.

“Di bidang ini dia memang harus diakui sebagai seorang

jagoan yang sangat mahir.”

Nada ucapan Tio Kun dipenuh perasaan bangga dan

angkuh, “Padahal dalam bidang apa pun, dia bisa disebut

sebagai seorang jagoan tangguh yang amat hebat.”

Ia merasa bangga untuk kehebatan perempuannya,

perempuan itu pun memang harus diakui sebagai seorang

wanita yang pantas dibanggakan orang lain.

Tapi benarkah seorang pria betul-betul akan merasa

bahagia setelah memiliki seorang wanita semacam ini?

Siau-hong berharap mereka bisa memperoleh

kebahagiaan itu.

Peristiwa tragis yang berlangsung di dunia ini sudah

kelewat banyak, apalagi mereka berdua termasuk orang

yang saleh dan berhati mulia, dalam situasi seperti ini pun

mereka enggan membiarkan orang lain ikut terluka dan

menderita.

Siau-hong ingin sekali bertanya kepada mereka, ingin

tahu siapakah orang ini?

Tapi akhirnya ia tidak bertanya.

“Mo-gan” tersoreng persis di sisi pinggang Tio Kun, dia

pun tidak bertanya dari mana Tio Kun mendapatkan

pedang itu.

Dia bahkan melirik sekejap untuk melihat pun tidak.

Banyak tahun berselang, sewaktu ia baru mendapat

pedang itu, seperti para pemuda lainnya yang belajar

pedang, dia sempat memandang pedang itu lebih berharga

daripada seorang kekasih, bahkan dia pun sempat punya

angan-angan untuk mengukir beberapa tulisan pada gagang

pedang itu.

“Pedang ada manusia hidup, pedang lenyap manusia

mati”.

Tapi kini perasaannya sama sekali telah berubah, lambatlaun

ia mulai menjumpai bahwa masih terdapat lebih

banyak masalah di dalam kehidupannya yang jauh lebih

penting, jauh lebih berharga daripada sebilah pedang.

Dia sudah bukan lagi termasuk pemuda yang murung di

saat masih belum tahu arti murung, tak mampu bicara apa

pun setelah tahu apa arti murung”, dia bukan lagi seseorang

yang begitu bersemangat, ibarat seorang pendekar muda

yang baru terjun ke dunia persilatan, begitu bertemu orang

langsung hatinya menggebu-gebu ingin bertarung.

Saat ini dia hanya berharap bisa menemukan Po Eng,

berharap bisa menyelesaikan semua budi dendamnya,

berharap menjadi manusia biasa yang tidak berhutang

kepada siapa pun.

Sekalipun rambutnya belum beruban, namun jalan

pikirannya justru melampaui pemikiran seorang lelaki

setengah umur.

Hawa mabuk sudah mulai menyelimuti pandangan mata

Tio Kun, namun dia masih menatap Siau-hong tanpa

berkedip.

“Aku tahu, nama aslimu pasti bukan Biau Chong, seperti

kau pun tak tahu namaku yang sebenarnya bukan Tio

Kun,” katanya, “Tapi aku tak pernah bertanya langsung,

siapakah kau.”

“Aku pun tak pernah bertanya,” jawab Siau-hong

hambar, “Kita adalah manusia petualangan yang hidup di

ujung dunia, bertemu tanpa sengaja, di mana besok masingmasing

akan pergi ke arah yang berbeda, memang tak

penting untuk mengetahui lebih banyak tentang orang lain.”

“Apakah hal ini disebabkan dalam hatimu sudah

terlampau banyak penderitaan dan rahasia yang tak ingin

diketahui orang lain?” Siau-hong menampik untuk

menjawab pertanyaan ini.

Mendadak Tio Kun menghela napas lagi.

“Padahal aku pun tahu bahwa apa yang kau katakan

tidak salah, memang ada sementara persoalan yang lebih

baik tak usah diketahui.”

Setelah menghela napas, kembali lanjutnya, “Tapi

sayang, secara lamat-lamat aku sudah sedikit

mengetahuinya.”

“O, ya?”

“Ketika mereka menyergapmu di jalan perbukitan tadi,

di saat memaksa kau pulang ke rumah, seharusnya kalian

bisa menduga orang-orang itu telah salah sasaran.”

Kemudian tanyanya, “Mengapa kau tidak menjelaskan

kepada mereka?”

Sebelum Siau-hong menjawab, dia telah menjawab,

“Kau tidak berbicara karena kau pun merupakan target

yang sedang mereka cari.”

Siau-hong terbungkam, tak mampu bicara.

Dalam cawan masih ada arak, Tio Kun menghabiskan

isinya lalu meletakkan kembali cawan itu perlahan-lahan,

tiba-tiba ia mencabut pedangnya.

Hawa pedang yang dingin menggidikkan, “mata iblis”

yang hanya satu itu seolah berkedip tiada hentinya, seakanakan

dia sudah mengenali bekas majikannya.

Dengan lemah-lembut penuh kasih-sayang, Tio Kun

membelai mata pedang itu.

“Apakah kau pun berlatih pedang?” dia awasi sekejap

pedang yang berada dalam genggamannya, “Kau

seharusnya tahu pedang ini adalah sebilah pedang mestika.”

“Benar, memang pedang mestika.”

“Bukan hanya sebilah pedang mestika, bahkan sebilah

pedang kenamaan,” ujar Tio Kun lebih lanjut, “Pedang ini

bernama Mo-gan, si Mata iblis.”

“O, ya?”

“Sebetulnya pedang ini bukan milikku, lima hari

berselang masih bukan.”

Mendadak Tio Kun mendongakkan kepala, menatap

tajam wajah Siau-hong, “Mengapa kau tidak bertanya

kepadaku, dari mana kuperoleh pedang ini?”

Maka Siau-hong pun bertanya, “Dari mana kau peroleh

pedang ini?”

“Dari tubuh sesosok mayat,” sahut Tio Kun, “Mayat itu

adalah pemilik lama pedang ini, dia she Hong, musuh

bebuyutan Lu-sam, aku adalah salah satu di antara

kawanan jago yang diutus Lu-sam untuk memburu dan

membekuknya.”

Kemudian perlahan-lahan dia melanjutkan, “Waktu itu

aku telah berunding dengan Soso, kami gunakan

kesempatan itu untuk melarikan diri dari cengkeraman Lusam,

karena itulah aku bawa pedang ini.”

Siau-hong hanya mendengarkan dengan tenang, sama

sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun, seolah persoalan

ini sama sekali tak ada sangkut-paut dengan dirinya.

Tio Kun masih menatapnya, sepasang mata mabuknya

yang semula sudah layu dan nyaris meram tiba-tiba berubah

jadi jernih dan sadar, mendadak tanyanya kepada Siauhong,

“Inginkah kukembalikan pedang ini kepadamu?”

“Kembalikan kepadaku?” tanya Siau-hong, “Kenapa

harus dikembalikan kepadaku?”

“Karena aku tahu Siau-hong, si pemilik lama pedang ini

belum mati,” sahut Tio Kun, “Orang yang terpeleset jatuh

ke dasar jurang itu bukan Siau-hong, melainkan orang lain.”

“O, ya?”

“Karena di tangan orang itu tidak dijumpai bekas

seseorang yang sudah lama berlatih pedang.”

Setelah berhenti sejenak, terusnya, “Bukan aku saja yang

dapat menemukan tanda ini, orang lain pun dapat

menemukannya.”

“O, ya?”

Mendadak Tio Kun mengayunkan pedangnya,

mengarahkan ujung pedang ke tenggorokan Siau-hong, lalu

sepatah demi sepatah kata ujarnya lebih jauh, “Kau adalah

Siau-hong, aku tahu, kau pasti Siau-hong.”

Mata pedang berada satu inci di depan tenggorokan,

sedemikian dekatnya hingga hawa pedang yang menusuk

serasa ujung jarum yang menembus pori-pori kulit.

Siau-hong masih tidak melakukan reaksi apa pun.

Kulit wajahnya telah terbias oleh “cahaya terang”, sama

sekali tak nampak lagi perubahan mimik mukanya.

Jangankan paras, bahkan mata pun sama sekali tak

berkedip.

“Hahaha, ternyata kau memang seorang Hohan!” puji

Tio Kun tiba-tiba sambil tertawa tergelak.

Ia membalik pergelangan tangan dan “Criiinggg!”,

memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarung.

Kemudian dari pinggangnya dia melepaskan sarung

pedang dan diangsurkan ke hadapan Siau-hong dengan

kedua belah tangan.

“Mau kau adalah Siau-hong atau bukan, aku tetap akan

menyerahkan pedang ini kepadamu.”

“Kenapa?” akhirnya Siau-hong bertanya.

“Karena kau adalah seorang Hohan,” jawab Tio Kun,

“Hanya Enghiong Hohan macam kau yang pantas

menggembol pedang ini.”

Sikapnya tulus dan terbuka, dia benar-benar berniat

menghadiahkan pedang itu untuk Siau-hong, namun Siauhong

sama sekali tidak menerimanya.

Walaupun perasaannya sudah terhanyut oleh ketulusan

dan kesetia kawanan orang ini, namun dia tetap enggan

menerimanya.

“Mau diriku Siau-hong atau bukan, aku tak bisa

menerima pemberian pedangmu ini.”

“Kenapa?”

Alasan Siau-hong amat tegas, “Sebab bila aku adalah

Siau-hong, pedang ini pasti akan kuhadiahkan kepadamu,

sekalipun kau kembalikan kepadaku, aku tetap akan

memberikan lagi untukmu.”

Kemudian ia menambahkan, “Buat apa kita harus saling

menghadiahkan pedang ini?”

“Apabila kau bukan Siau-hong?”

Siau-hong segera tertawa, “Bila aku bukan Siau-hong,

atas dasar apa kau menghadiahkan pedang setajam itu

untukku?”

Tio Kun ikut tertawa, “Kau memang manusia aneh,

anehnya setengah mati!”

Ia meletakkan pedang itu di meja, kemudian sambil

mengangkat cawan arak katanya lagi, “Kuhormati secawan

arak untukmu.”

Siau-hong tidak mengangkat cawan araknya, tiba-tiba

parasnya berubah.

Sewaktu ujung pedang menempel di tenggorokannya

tadi, dia sama sekali tak berkedip.

Tapi sekarang parasnya yang oleh rembesan “cahaya

terang” telah berubah bentuk, seolah telah tertembus

tenggorokannya oleh sebatang pedang tajam yang meski tak

nampak bentuknya, namun lebih tajam daripada “Mo-gan”,

tertusuk telak di hulu hatinya.

Karena secara tiba-tiba ia mendengar suara senandung

nyanyian, lagu yang entah berapa banyak pernah diulang

olehnya:

Seorang lelaki harus ternama.

Minum arak harus mabuk.

Penuturan di saat mabuk, itulah suara hati yang

sesungguhnya….

Di balik suara nyanyian itu terkandung kedukaan

seorang lelaki yang tak berdaya, penuh terkandung

semangat jantan yang menggelorakan darah di dada. Suara

nyanyian itu terdengar begitu sendu, khususnya di tengah

kegelapan malam yang dingin, di tengah dusun terpencil

nun jauh dari kehidupan.

Tiba-tiba Siau-hong membuang cawan araknya dan

menerjang keluar dengan kecepatan luar biasa.

Berada dimana pun, kapan pun, terlepas apa yang

sedang dia lakukan, asal mendengar suara nyanyian itu, dia

akan meninggalkan segalanya dan menyerbu keluar dengan

kecepatan tinggi.

Lembah yang dingin, dusun nan sunyi, bangunan rumah

yang terbuat dari batu cadas, terhanyut dalam keheningan

dan kesepian, tiada cahaya lentera yang tampak, kecuali

secercah kerdipan api nun jauh di atas bukit.

Dari atas bukit itulah suara nyanyian itu berasal.

Di atas bukit terdapat sebuah batu cadas yang amat

besar, di atas batu cadas terdapat seonggok api unggun,

kayu dan ranting kering yang terlalap api menimbulkan

suara gemeratak yang nyaring, seolah irama musik yang

mengiringi suara nyanyian itu.

Seseorang duduk sendiri di tepi api unggun, tangannya

memegang kantung kulit kambing yang telah kosong, suara

nyanyiannya makin lama semakin rendah sebelum lenyap.

Memandang onggokan api unggun itu, menjumpai

manusia itu, perasaan Siau-hong seolah berubah seperti

sebatang kayu kering yang dilalap oleh jilatan api.

Manusia belum mabuk, arak telah habis, bagaimana

mungkin malam yang panjang dapat dilampaui?

Sudah banyak tahun Siau-hong tak pernah melelehkan

air mata, namun detik itu dia merasa air mata panas nyaris

melompat keluar dari balik kelopak matanya, nyaris

meleleh membasahi pipinya.

Yang-kong ikut mengejar ke sana, menggenggam

tangannya erat-erat.

“Dia?” bisik nona itu dengan suara gemetar, “Benarkah

dia?”

Bersambung jilid II

Ooo)d*w(ooO

Jilid 2

BAB 23. BUKAN KAU YANG KUCARI

Tiba-tiba suara nyanyian itu berhenti.

Penyanyi yang berada di sisi api unggun, dengan

menggunakan suara yang sama pedihnya seperti ketika

mendendangkan lagu tadi, berkata, “Bukan dia, tapi aku!”

Sang penyanyi berpaling, kilatan cahaya api menerangi

wajahnya, dia memiliki mata yang tajam, wajah yang

runcing, dan kerut muka yang dalam, membuktikan betapa

sengsaranya ia memperjuangkan hidup selama ini.

Dengan tatapan mata penuh penderitaan dan kepedihan,

ia berkata, “Dia yang sedang kalian cari, bukan aku.” Hati

Siau-hong serasa tenggelam.

Nyanyian pedih yang sama, ternyata bukan berasal dari

orang yang sama, bukan Po Eng, sama sekali bukan.

“Jadi kau tahu orang yang sedang kami cari adalah dia,

bukan kau?” tanya Yang-kong dengan suara keras, “Dari

mana kau bisa tahu?”

“Tentu saja aku tahu.”

“Jadi kau pun tahu, siapakah dia?”

Penyanyi itu mengangguk pelan, lalu meneguk kering

arak yang berada dalam kantung kulit kambingnya.

“Aku tahu,” jawabnya, “Tentu saja aku tahu siapakah

dia, justru dialah yang minta aku datang kemari.”

Berkilat sorot mata Yang-kong, secercah harapan

kembali muncul dalam hatinya.

“Apa yang dia minta kau lakukan?”

Penyanyi itu tidak menjawab pertanyaan itu, dari dalam

sakunya ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil.

Kantung itu bersulamkan seekor burung elang, disulam

dengan benang kuning emas di atas kain kantung berwarna

biru.

Isi kantung itu hanya sebutir mutiara.

“Apakah kau masih ingat, benda apakah ini?” penyanyi

itu balik bertanya kepada Yang-kong.

Tentu saja Yang-kong masih ingat.

Biarpun samudra mengering, batu cadas jadi lapuk, biar

langit lenyap, bumi tenggelam, biar matahari dan rembulan

tak bersinar lagi, dia tak bakal melupakan benda itu.

Dialah yang membuat kantung bersulam burung elang

itu, inilah mas kawin yang diterimanya dari sewaktu

bertunangan dengan Po Eng, mengapa saat ini bisa terjatuh

ke tangan orang lain?

Penyanyi itu segera memberi penjelasan kepada Yangkong.

“Dia yang serahkan benda ini kepadaku,” katanya,

“Menyerahkan secara langsung dari tangannya.”

“Mengapa harus diserahkan kepadamu?”

“Karena dia minta aku mewakilinya mengembalikan

benda itu kepadamu.”

Nada ucapan sang penyanyi pun dicekam perasaan

pedih, “Dia bilang, sepantasnya dia sendiri yang

menyerahkan kembali benda itu kepadamu, tapi dia sudah

tak ingin berjumpa lagi denganmu.”

Perlahan-lahan Yang-kong menjulurkan tangannya,

menyambut kantung dan mutiara itu.

Tangannya gemetar keras, gemetar luar biasa, begitu

tergoncang hatinya sehingga memegang sebuah kantung

yang kecil pun seolah tak mampu.

Kantung itu terjatuh ke tanah, mutiara itu pun ikut

terjatuh ke bawah, jatuh ke dalam onggokan api unggun.

Sekilas jilatan api berwarna biru segera terpancar dari

balik onggokan api unggun, kantung maupun mutiara itu

seketika berubah jadi jilatan api yang membara.

Yang-kong telah roboh ke tanah.

Buru-buru Siau-hong merangkul tubuh gadis itu, kepada

sang penyanyi hardiknya, “Dia bilang tak ingin bertemu lagi

dengannya, benarkah dia yang mengatakan hal itu?”

“Dia masih menambahkan sepatah kata lagi.”

“Apa yang dia katakan?” desak Siau-hong.

“Dia bilang, dia pun tak ingin bertemu lagi denganmu!”

Dengan nada dingin, kembali penyanyi itu melanjutkan,

“Kau sudah bukan sahabatnya lagi, mulai detik ini antara

dia dan kalian sudah tak terikat hubungan apa pun.”

“Kenapa?” jerit Siau-hong.

“Seharusnya kau sendiri tahu, kenapa?” penyanyi itu

tertawa dingin. “Bersediakah kau menjalin persahabatan

dengan seseorang yang setiap hari tidur sambil merangkul

binimu?”

Ucapan itu tajam bagaikan tusukan sebatang jarum,

sebilah golok, sebuah cambuk, pukulan gada bergigi yang

menghujam di atas tubuhmu.

Yang-kong segera melompat bangun.

“Aku tak percaya, sampai mati pun aku tak percaya dia

akan mengucapkan perkataan semacam ini.”

Dia melompat ke muka, mencengkeram kerah baju

penyanyi itu, jeritnya keras, “Kau pasti telah

membunuhnya, lalu menipu aku dengan menggunakan

perkataan semacam itu.”

Penyanyi itu mendengus, ditatapnya gadis itu dengan

pandangan dingin.

“Mengapa aku harus membohongimu? Kalau bukan dia

yang memberitahukan kepadaku, dari mana aku bisa tahu

urusan tentang kalian berdua?”

Biarpun Yang-kong tak mampu membantah, namun dia

pun enggan melepaskan orang itu begitu saja.

“Peduli apa pun yang telah terjadi, aku baru percaya bila

dia mengatakan sendiri kepadaku, dia harus menyampaikan

sendiri kepadaku.”

Suaranya telah berubah jadi serak, parau, “Kau pasti

tahu di mana ia berada, kau harus beritahukan kepadaku.”

“Baik, akan kuberitahukan kepadamu,” jawab penyanyi

itu.

Ternyata dia menyanggupi dengan cepat, sikap yang

sama sekali di luar dugaan ini seketika membuat Siau-hong

dan Yang-kong jadi terperangah, keheranan.

Tapi kemudian dia melanjutkan, “Walaupun aku tak bisa

memberitahukan di mana ia berada, namun aku dapat

memberitahukan satu hal kepadamu.”

“Soal apa?”

Sorot mata penyanyi itu menatap jauh ke depan, sinar

matanya membiaskan satu penampilan yang sukar

dipahami orang lain.

“Tiga belas tahun berselang, aku seharusnya sudah mati,

mati dalam kondisi yang sangat mengenaskan,” katanya,

“Aku tidak mati, karena Po Eng telah menyelamatkan

diriku, bukan saja telah menyelamatkan jiwaku, dia pun

menyelamatkan nama baikku.”

Dalam pandangan sementara orang terkadang nama baik

jauh lebih berharga, jauh lebih penting daripada nyawa.

Penyanyi misterius itu termasuk jenis manusia semacam

ini.

“Oleh karena itu nyawaku sudah menjadi miliknya,”

penyanyi itu melanjutkan, “Oleh karena itu, setiap saat aku

bisa mati demi dirinya.”

Tiba-tiba ia tertawa, padahal saat seperti ini bukan saat

yang tepat untuk tertawa, namun dia tertawa lebar.

“Sejak awal aku sudah tahu kalau kalian pasti akan

memaksaku untuk menunjukkan tempat

persembunyiannya, kecuali kalian berdua, tentu masih ada

banyak orang yang bakal memaksaku, untung aku telah

mempunyai cara yang tepat untuk menghindari paksaan

kalian.”

“Aku percaya perkataanmu, aku tak bakal memaksamu!”

tiba-tiba Siau-hong berteriak.

Kembali penyanyi itu melempar sekulum senyuman ke

arah Siau-hong, dan senyuman itu tetap tertinggal di

wajahnya, tertinggal untuk selamanya.

Sebab wajahnya secara tiba-tiba berubah jadi kaku, setiap

pori mukanya, setiap lapis kulit wajahnya, semua menjadi

kaku.

Ternyata di balik sakunya ia menyembunyikan sebilah

pisau, sebilah pisau pendek yang tipis dan amat tajam.

Pada saat dia mulai tertawa itulah, pisau tajam itu telah

dihujamkan ke hulu hati sendiri!

Langit lambat-laun menjadi terang kembali, memandang

tanah perbukitan di tengah remang-remangnya cuaca

seperti memandang sebuah lukisan tinta yang tawar.

Siau-hong berdiri di puncak perbukitan, memandang

tanah perbukitan di balik remangnya cuaca dengan

termangu, parasnya tak jauh berbeda dengan warna tanah

pegunungan.

Tio Kun yang mengundang mereka datang ke sana.

Kini jenazah penyanyi itu sudah dikebumikan, mulut

luka di tubuh Yang-kong kembali merekah hingga

mengucurkan darah segar, Soso berada dalam rumah

menemaninya.

Penyanyi tanpa nama, dikubur dalam sebuah kuburan

tanpa batu nisan, walau begitu semua yang pernah dia

lakukan, selamanya tak pernah akan terlupakan.

Setelah termenung lama sekali, akhirnya Tio Kun buka

suara, “Aku tahu tentang manusia yang bernama Po Eng

pernah bertemu denganya satu kali.”

“O, ya?”

“Kalau hidup merana, mati memang jalan keluar terbaik.

Bukan satu hal yang gampang untuk membuat seseorang

rela dan iklhas mati demi orang lain,” Tio Kun menghela

napas panjang “Po Eng tak malu disebut seorang pendekar

sejati!”

Kemudian ia berpaling dan menatap Siau-hong

“Sayangnya, betapa pun luar biasa dan hebatnya seseorang,

suatu saat dia tetap akan melakukan kesalahan.”

“O, ya?”

“Aku tahu, kali ini dia pasti telah salah menuduhmu,”

kata Tio Kun lebih lanjut, “Dapat kulihat nona itu bukanlah

nona semacam apa yang dia tuduhkan.”

“Dia tidak salah, kaulah yang salah,” sahut Siau-hong

setelah termenung lama sekali.

“Aku yang salah?” Tio Kun balik bertanya, “Di mana

letak kesalahanku?”

“Salah, karena pada hakikatnya kau tak pernah

memahami dirinya,” Siau-hong menghela napas sedih,

“Memang jarang sekali manusia di dunia ini yang dapat

memahaminya.”

“Kau sepertinya sama sekali tidak membenci dia?”

“Aku membencinya? Kenapa harus membencinya…’

tanya Siau-hong, “Apakah kau sangka dia benar-benar

sedang mencurigai aku?”

“Memangnya bukan?”

“Tentu saja bukan,” Siau-hong menggeleng, “Dia berbuat

begitu tak lain karena dia tak ingin menyusahkan kami lagi,

maka ia sengaja melukai hati kami, mengatakan selamanya

tak ingin bertemu lagi dengan kami berdua.”

Ia memandang ke tempat jauh, pancaran rasa hormat

terbesit di balik sorot matanya, “Dia berbuat begitu tak lain

karena berharap kami bisa hidup bebas merdeka tanpa

dibebani dirinya lagi.”

Kembali Tio Kun termenung sampai lama sekali,

kemudian baru menghela napas panjang.

“Ternyata kau memang sangat memahaminya, bila

seseorang bisa mempunyai seorang sahabat karib macam

begini, boleh dibilang biar mati pun akan mati meram.”

Tiba-tiba ia menggenggam tangan Siau-hong dan berkata