Sayap-Sayap Yang Terkembang (Jilid 21 – 30)

New Picture (3s)

Sayap-Sayap Yang Terkembang

Jilid 21 – 30

Karya : S.H. Mintardja

Jilid 21

SIKAP yang keras dan bahkan kejam dari Ki Rangga itu ternyata tidak mampu melindungi padepokan mereka, sehingga pada suatu saat yang tinggal adalah abunya saja.

“Puguh,“ berkata Ki Randu Keling yang seakan-akan dapat membaca gejolak hati anak muda itu, “ternyata bahwa yang dilakukan oleh ayah dan ibumu selama ini tidak menjamin kerahasiaan padepokan kita. Bahkan akhirnya padepokan kita benar-benar telah dihancurkan tanpa bekas. Karena itu, maka sikap sebagaimana dilakukan oleh ayah dan ibumu itu perlu diperhitungkan kembali, apakah pada saat yang lain masih juga perlu dilakukan.”

Puguh menundukkan kepalanya. Ia mengerti sepenuhnya pendapat Ki Randu Keling. Tetapi bagaimanapun juga, ia masih saja dicengkam oleh perasaan takut kepada ayah dan ibunya yang telah berpesan kepadanya, agar kehidupan di padepokan itu sama sekali jangan mengalami perubahan.

Ki Randu Keling yang melihat keragu-raguan di wajah Puguh berkata selanjutnya, “Mungkin kau masih selalu dibayangi oleh pesan ayahmu. Tetapi sekali lagi aku katakan, bahwa yang terjadi ini bukan salahmu. Bahkan kau harus membuat perhitungan-perhitungan yang lebih cermat tentang kemungkinan yang bakal datang. Apakah menurut pendapatmu, ayah dan ibumu masih akan datang ke padepokan ini? Padepokan yang pernah didatangi oleh musuh-musuhnya dan dihancurkannya.”

Puguh mengangguk-angguk. Ia memang mulai memikirkan kemungkinan seperti itu.

Ternyata bahwa Puguhpun mempunyai kesimpulan bahwa ayah dan ibunya tidak akan mungkin datang lagi ke tempat yang tentu dianggapnya sangat berbahaya, karena tempat itu telah diketahui oleh musuh-musuhnya. Justru musuh-musuh yang belum dikenalnya dengan jelas.

Dengan demikian maka Puguhpun kemudian condong untuk membangun padepokan itu sesuai dengan angan-angannya sendiri menurut petunjuk kakek dan gurunya. Nampaknya akan menjadi lebih baik bagi masa mendatang. Meskipun Puguh masih harus memperhitungkan orang-orang yang mungkin masih tetap mendendam kepada ayah dan ibunya.

Namun Puguhpun sadar, bahwa membangun padepokan itu diperlukan waktu yang panjang. Mereka harus mendapatkan bahan dan mendapatkan tenaga manusia untuk melaksanakannya.

“Sudahlah,“ berkata Ki Randu Keling, “kita memang ingin membangun kembali padepokan ini. Tetapi tentu bukan harus dilaksanakan besok pagi atau lusa. Kita harus membuat beberapa perhitungan dan pertimbangan.”

“Sementara ini, apa yang harus kita lakukan kek?“ bertanya Puguh.

“Kita harus beristirahat dahulu lahir dan batin. Kita mencoba merenungkan apa yang telah terjadi dan apa yang mungkin terjadi. Kita juga harus mencari jalan, bagaimana kita mendapatkan bahan dan tenaga untuk membangun kembali padukuhan kita. Bukan hanya sekedar mendirikan bangunan di lingkungan padepokan ini. Bangunan induk dan barak-barak. Tetapi juga siapakah yang akan menghuni barak-barak itu. Siapa pula yang akan mengerjakan sawah dan ladang kita untuk mencukupi kebutuhan seisi padepokan. Tetapi siapa pula yang mempunyai kebutuhan itu,“ jawab Ki Randu Keling.

Puguh menarik nafas dalam-dalam, sementara gurunya berkata, “Kita memang memerlukan waktu.”

“Apakah kita akan tetap berada disini selama kita menyusun rencana dan mengusahakan bahan serta tenaga?“ bertanya Puguh.

“Bukankah itu tidak mungkin?“ desis Ki Randu Keling, “apakah kita akan membiarkan diri kita kepanasan disiang hari, berembun dimalam hari dan basah kuyup dihari hujan?”

Namun Ki Ajar Paguhan kemudian berkata, “Maksudmu, kemana kita untuk sementara akan tinggal?”

“Ya guru,“ jawab Puguh.

“Puguh, “suara gurunya merendah, “sebelum aku tinggal di padepokan ini atas permintaan kakekmu, aku sudah mempunyai tempat tinggal. Sama sekali bukan sebuah padepokan. Tetapi aku justru menyepi disatu tempat yang terasing sama sekali. Namun selain aku, kakekmu juga mempunyai rumah tempat tinggal. Nah, sekarang dapat kita pertimbangkan, apakah kita akan pergi ke tempat tinggalku semula atau kita akan pergi kerumah Ki Randu Keling.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia memandangi gurunya dan kakeknya berganti-ganti. Namun akhirnya ia berkata, “Terserahlah kepada guru dan kakek.”

Ki Ajar Paguhan mengangguk-angguk. Dengan kerut dikening ia berkata kepada Ki Randu Keling, “Ki Randu Kelinglah yang akan mengambil keputusan. Bahwa aku tinggal dipadepokan inipun karena Ki Randu Keling minta kepadaku. Jika bukan Ki Randu Keling yang aku kenal sejak masa muda dan telah banyak berbuat sesuatu bersama-sama, maka aku tentu tidak akan betah tinggal disini.”

Ki Randu Keling mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, maka sebaiknya kita kembali saja kerumahku. Rumahku lebih banyak memenuhi beberapa persyaratan sebagai rumah tempat tinggal daripada gubug Ki Ajar Paguhan.”

“Rumahmu yang mana Ki Randu Keling?“ bertanya Ki Ajar Paguhan.

Ki Randu Keling menarik nafas dalam-dalam. Namun bagaimanapun juga sebaiknya ia berada ditempat yang sementara aman bagi Puguh. Orang-orang yang mencari Ki Rangga dan Warsi itu akan dapat beralih sasaran. Jika keduanya tidak segera ditemukan, maka mereka akan dapat menangkap anaknya sebagai barang taruhan.

Karena itu, maka Ki Randu Kelingpun berkata, “Aku juga memikirkan kemungkinan buruk bagi Puguh jika diketahui tempatnya. Karena itu, maka aku akan membawa kalian ke rumahku yang ditunggui oleh seorang kemanakanku di kaki Pegunungan Sewu, disebelah Barat Sembojan. Jaraknya cukup panjang dari Sembojan.”

Namun tiba-tiba saja Puguh bertanya, “Apakah kakek mempunyai dugaan bahwa yang telah datang kemari adalah orang-orang Sembojan?”

“Tidak.” jawab Ki Randu Keling, “orang-orang Sembojan tidak akan berbuat sekeji itu. Aku mengenal mereka dan aku yakin akan hal itu.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Iapun teringat akan kehadiran dua orang yang ditemuinya di Song Lawa, yang mengaku bernama Wanengbaya dan Wanengpati. Puguhpun sudah menduga, bahwa nama itu tentu bukan nama mereka yang sebenarnya.

Namun Puguhpun tidak dapat menduga bahwa keduanyapun yang telah melakukan kekejian itu. Puguh menyadari, bahwa ilmu kedua orang itu sangat tinggi, sehingga tanpa kehadiran gurunya dan kakeknya di padukuhan itu, maka dengan bantuan beberapa orang saja keduanya akan dapat menghancurkan padepokan itu menjadi abu seperti yang telah terjadi. Namun menilik sifat keduanya, maka Puguh yakin, bahwa bukan kedua orang itulah yang telah melakukannya. Apalagi kedua orang itu juga tidak nampak diantara orang-orang yang telah mencari ayah dan ibunya di persembunyiannya.

“Jika kedua orang itu ada, aku tidak tahu, apakah guru dan kakek akan dapat mengatasinya,“ berkata Puguh didalam hatinya.

Tetapi Puguh tidak mengatakannya kepada guru dan kakeknya. Apalagi menurut pendapat Puguh keduanya bersikap baik kepadanya.

Demikianlah, maka mereka telah sepakat untuk pergi ke kaki Pagunungan Sewu yang panjang, yang membujur di sisi Selatan tanah tempat mereka tinggal.

Namun mereka tidak berangkat hari itu juga. Mereka akan berangkat fajar dihari berikutnya. Mereka masih ingin merenungi padepokan mereka yang telah menjadi abu itu.

Ternyata yang telah terjadi itu merupakan tempaan bukan saja bagi tubuh dan ketrampilan Puguh dalam olah kanuragan, tetapi juga jiwanya telah tertempa. Ia menjadi semakin memahami kehidupan yang penuh dengan tantangan. Bahkan tantangan yang hampir saja menyentuh nyawanya.

Ketika kemudian malam turun, ketiganya telah bersiap-siap untuk meninggalkan padepokan yang telah menjadi abu itu di keesokan harinya. Namun mereka masih akan menunggui sepanjang malam. Satu-satunya yang masih dapat dipergunakan dengan baik di kedua padepokannya itu adalah sumurnya. Senggotnya masih terpasang disebatang pohon randu dengan timba yang terbuat dari upih masih tergantung diujungnya.

***

Tetapi agaknya Puguh tidak terlalu cepat dapat tidur, ia masih saja merenungi padepokannya sehingga lewat tengah malam. Namun akhirnya, Puguhpun telah tertidur pula sampai menjelang dini hari.

Pagi-pagi benar mereka telah bangun. Mandi dengan air sumur yang terasa sangat segar bagi Puguh. Sumber air yang telah cukup lama diteguknya, sehingga pati sarinya telah mengaliri segenap urat nadinya.

Namun untuk sementara tempat itu harus ditinggalkannya. Tetapi Puguh tetap pada pendiriannya, bahwa pada suatu saat ia akan kembali ketempat itu dan membangun padepokannya kembali meskipun dengan ujud dan watak yang berbeda.

Dalam pada itu, selagi Puguh bersama guru dan kakeknya muiai menempuh perjalanan menuju ke kaki Pegunungan Sewu, maka di Tanah Perdikan Sembojan, seorang anak muda yang sebaya dengan Puguh, bahkan sedikit lebih tua meskipun selisihnya tidak lebih dari satu tahun, sedang sibuk di dalam sanggarnya. Anak muda itu juga bangun sebelum dini hari, memasuki sanggar dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia telah berusaha untuk melatih ketahanan tubuhnya, ketrampilan gerak dan bahkan untuk mengembangkan kekuatan dan kemampuannya.

Dua orang menungguinya serta memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Ketika anak muda itu berloncatan dari tonggak yang satu ketonggak yang lain, bahkan kemudian menelusuri palang bambu serta sekali-kali menggelantung pada tali-tali yang terjulur, terayun dan hinggap pada patok-patok bambu yang agak tinggi.

“Kemampuannya cukup memadai,“ desis salah seorang diantara kedua orang yang menungguinya, “Kiai Badra telah mempersiapkannya untuk memasuki satu keadaan yang dipersiapkan untuk menerima ilmu Janget Kinatelon.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berdesis, “Tetapi anak ini agak terlalu manja dibandingkan dengan Puguh yang menjadi dewasa ditempa oleh keadaan.”

Keduanya terdiam sejenak. Namun nampak kepala mereka yang terangguk-angguk kecil.

Sejenak kemudian, maka anak muda itu telah duduk diatas sebuah tonggak batang kelapa. Sambil duduk bersila ia mengembangkan kedua tangannya. Sekali terentang lebar-lebar sambil menarik nafas dalam-dalam. Kemudian diputar keatas dan perlahan-lahan kedua telapak tangannya mengatup diatas kepalanya. Kedua telapak tangan yang mengatup itupun perlahan-lahan pula turun sampai kedadanya.

Untuk beberapa saat ia bertahan dalam keadaannya. Namun kemudian kedua telapak tangannya itupun telah terurai. Sambil meloncat turun anak muda itu tersenyum.

“Kau telah mencapai kemajuan yang berarti, Risang,“ berkata Sambi Wulung, salah seorang diantara kedua orang yang menungguinya berlatih itu.

“Ya,“ sahut Jati Wulung, “baru beberapa hari kau berada disini. Namun yang beberapa hari ini telah kau pergunakan sebaik-baiknya.”

“Ah, tidak seberapa. Tetapi aku sudah berusaha sejauh dapat aku lakukan,“ jawab Risang.

“Kau sudah membagi waktumu dengan baik,“ berkata Sambi Wulung. Lalu katanya pula, “Kau isi waktumu di pagi hari dengan latihan-latihan seperti ini. Kemudian kau berlatih dialam terbuka dengan menjelajahi jalan-jalan di Tanah Perdikan ini. Turun naik gumuk-gumuk besar dan kecil. Menyusuri sungai dan jalan-jalan yang terjal. Kemudian disore hari kau berlatih dengan orang-orang yang dapat kau anggap sebagai gurumu. Meningkatkan serta memperdalam ilmu yang telah kau miliki. Sedangkan malam hari kau belajar ilmu kesusasteraan serta ilmu yang lain yang berhubungan dengan perkembangan kecerdasan dan pengetahuanmu disamping memperdalam pengetahuanmu tentang hubungan antara manusia dengan penciptanya.”

“Pembagian waktu ini bukankah berlaku sejak aku di padepokan?“ desis Risang.

“Ya. Dan itu harus kau pertahankan terus. Kecuali jika saatnya kau benar-benar dalam persiapan menerima ilmu tertinggi sebagaimana dimiliki oleh ibumu,“ berkata Sambi Wulung.

“Masih sangat jauh,“ berkata Risang, “tetapi aku juga tidak terlalu tergesa-gesa meskipun aku mengerti bahwa diluar pengetahuanku, aku tiba-tiba saja sudah berada dalam suasana yang bermusuhan. Tetapi aku tidak mengenali siapakah musuh-musuhku itu.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

Bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, Risang memang sudah tumbuh semakin dewasa. Karena itu, maka penglihatannya atas dirinya dalam kehidupanpun telah berkembang. Jika semula Risang hanya bertanya kenapa dirinya harus disamarkan, maka kini ia merasa bahwa sebenarnyalah ia telah berada dalam suasana yang tidak diinginkannya. Tiba-tiba saja diluar tanggung jawabnya ia telah dihadapkan kepada musuh-musuhnya yang mendendamnya, bahkan akan membunuhnya.

Pertanyaan yang paling dicemaskan akan datang dari Risang itu akhirnya didengar juga oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kenapa permusuhan itu terjadi?“ bertanya Risang.

Sambi Wulung dan Jati Wulung merasa sangat sulit untuk menjawab. Mereka memang menyatakan, bahwa mereka tidak banyak mengetahui tentang hal itu, karena mereka tidak terlibat langsung.

Tetapi Risang berkata, “Kalau jawaban itu aku dengar lima tahun yang lalu, maka aku tentu akan mempercayainya.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Risang. Kau memang sudah bertambah dewasa. Tetapi justru karena itu, maka kaupun harus mengetahui bahwa aku tidak berwenang untuk menjawab pertanyaanmu itu.”

“Aku mengerti,“ suara Risang merendah, “kakek-pun mengatakan begitu. Demikian juga nenek. Sedangkan ibu menganggap aku masih terlalu kecil untuk mengetahuinya. Sementara itu aku sudah mengetahui sejak lama, bahwa aku harus bersembunyi di padepokan yang sunyi itu. Terpisah dari keluarga dan lebih dari itu, aku tidak berada di tanah kelahiran sendiri.”

“Semua itu untuk kebaikanmu,“ berkata Jati Wulung.

Risang mengangguk kecil. Jawabnya, “Aku menyadarinya. Tetapi tentu tidak selalu dibayangi oleh sebuah teka-teki. Sementara itu aku hanya tahu, ibu terluka dalam sebuah pertempuran tanpa mengetahui ujung dan pangkalnya.”

Sambi Wulunglah yang menyahut, “Jika kau dipanggil sekarang ini, mungkin ibumu telah menganggapmu cukup dewasa untuk mendengar tentang banyak hal yang menyangkut Tanah Perdikan ini. Kedudukanmu sebagai seorang anak laki-laki Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan dan hal lain-lain yang ada hubungannya dengan keadaanmu itu.”

Risang mengangguk kecil. Ia memang mengharap ibunya mengatakan sesuatu. Tetapi jika ibunya tetap berdiam diri, maka ia akan memberanikan diri untuk bertanya tentang dirinya lebih jauh. Tentang permusuhan yang terjadi dan tentang ancaman terhadap dirinya sehingga ia perlu menyingkir dari Tanah Perdikan itu.

Tetapi Risang ternyata tidak perlu bertanya kepada ibunya. Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung kemudian menemui Iswari, maka pertanyaan Risang itu telah di kemukakannya.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Karena saat itu ada ketiga orang kakek dan neneknya, maka iapun kemudian bertanya, “Apakah sudah waktunya aku mengatakannya kepada Risang?”

Kiai Badralah yang kemudian menjawab, “Agaknya memang sudah waktunya, Iswari. Lebih baik kau sendiri yang mengatakannya daripada orang lain. Jika orang-orang dirumah ini tidak mau memenuhi hasrat ingin tahunya, maka Risang mungkin saja akan mencari keterangan diluar rumah ini. Mungkin ia akan menemui orang-orang tua di Tanah Perdikan ini untuk mendapatkan keterangan. Sementara itu, orang-orang tua itu tidak tahu dengan pasti apakah yang sebenarnya terjadi dengan latar belakangnya, sehingga dengan demikian maka yang dapat mereka terangkan adalah sekedar ujud lahiriahnya saja. Itupun tidak selengkapnya. Dengan demikian maka akan dapat menimbulkan salah tanggapan dari Risang sendiri atas persoalan yang menyangkut Tanah Perdikan ini dan yang menyangkut tentang dirinya.”

Iswaripun mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Baiklah kek. Nanti setelah senja aku akan berbicara dengan Risang.”

“Dimana Risang sekarang?“ bertanya Kiai Badra.

“Bersama Bibi dikebun. Risang sering bertengger di pohon jambu air dibelakang,“ sahut Sambi Wulung.

“Baiklah,“ berkata Kiai Badra, “tolong sampaikan kepada anak itu, bahwa senja nanti ibunya ingin berbicara dengannya.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia ikut merasa lega bahwa dengan demikian Risang tidak akan mengulangi lagi pertanyaan yang sulit itu kepada mereka.

“Aku akan mengatakan semuanya,“ berkata Iswari, “dengan demikian maka ia akan mempunyai gambaran yang benar tentang dirinya dalam hubungan dengan Tanah Perdikan ini serta orang-orang yang masih saja selalu mengganggu ketenangan Tanah Perdikan ini.”

“Agaknya memang sudah waktunya,“ desis Nyai Soka, “ia tidak boleh terlalu lama merasa terganggu oleh pertanyaan itu didalam hatinya.”

Orang-orang tua itu masih sempat memberikan beberapa pesan kepada Iswari, apakah yang sebaiknya dikatakan kepada Risang. Memang harus tuntas, tetapi bijaksana, sehingga tidak menumbuhkan gejolak baru dihati anak muda itu.

“Ia pernah menyatakan bahwa sebaiknya ia tidak perlu bersembunyi seandainya ada orang yang mengancam untuk membunuhnya sekalipun,“ berkata Sambi Wulung.

“Ya,“ desis Iswari, “nampaknya harga dirinya memang tersinggung.”

“Ia tentu akan kecewa atas dirinya sendiri, atas ayahnya, ibunya, kakeknya dan orang-orang disekitarnya. Tetapi itu lebih baik diketahuinya sekarang daripada lebih lama lagi berteka-teki, apalagi jika ia mendengar dari orang lain,“ berkata Kiai Badra.

Iswari mengangguk-angguk. Terkilas jalan hidupnya sendiri yang penuh dengan gejolak. Ketika ia dilamar oleh Ki Wiradana, putera Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka seakan-akan nampak fajar yang akan menyingsing di Timur. Namun tiba-tiba matahari berjalan terlalu cepat, sehingga iapun telah terlempar ke suramnya senja yang kelabu. Hadirnya seorang perempuan yang bernama Warsi, yang memasuki Tanah Perdikan sebagai seorang penari keliling telah merusakkan segala-galanya.

Bulu-bulu di tengkuknya terasa berdiri jika teringat olehnya bagaimana Bibi membawanya ke satu tempat yang sepi dan siap membunuhnya. Untunglah bahwa Bibi yang disebut Serigala Betina itu masih memiliki secercah kebaikan hati didalam dadanya yang penuh dengan noda-noda, sehingga ia membatalkan rencananya untuk membunuhnya. Apalagi saat itu ia sedang mengandung anak laki-laki-nya. Risang.

“Apakah aku juga harus mengatakannya? “ Iswarilah yang kemudian bertanya kepada diri sendiri.

Namun Iswari masih sempat merenungkannya sampai senja turun. Iapun masih sempat membicarakannya dengan ketiga orang kakek dan neneknya.

Demikianlah ketika senja turun, maka Risang telah menghadap ibunya. Malam itu ia tidak akan mempelajari pengetahuan tentang hidup dan kehidupan, juga tidak memperdalam pengetahuannya tentang hubungannya dengan penciptanya serta sesamanya. Tetapi Risang ingin mendengarkan satu kisah yang panjang tentang dirinya.

Ibunyapun telah bertekad untuk menceriterakan semua hal tentang Risang dan lingkungannya. Tetapi pada saat terakhir Iswari memutuskan untuk tidak mengatakan, bagaimana ayah Risang itu merencanakan pembunuhan atas dirinya disaat ia sedang mengandung.

“Tidak banyak orang yang mengetahuinya,“ berkata Iswari didalam hatinya, sehingga iapun berharap bahwa tidak akan ada orang yang menyampaikannya kepada Risang setelah Iswari berpesan kepada Bibi untuk merahasiakan hal itu kepada anaknya.

Risang memang menjadi berdebar-debar. Sudah terlalu lama ia menunggu kesempatan seperti itu.

Namun untuk mengurangi debar dijantung Iswari, maka ia minta salah seorang kakek atau neneknya mendampinginya disaat ia berbicara dengan Risang.

Ternyata kakeknya sendirilah yang akan bersama-sama menceriterakan tentang diri Risang yang baru diketahuinya serba sedikit itu.

Demikianlah, maka dengan-penuh perhatian Risang mendengarkan ibunya berkata, “Risang. Aku anggap kau sudah cukup dewasa untuk mengenal dirimu sendiri lebih dekat. Tentu ada yang dapat kau banggakan tentang dirimu, tentang orang tuamu dan tentang lingkunganmu. Tetapi tentu ada pula yang tidak sejalan dengan angan-anganmu. Kau tidak boleh menjadi terlalu kecewa. Yang penting bagimu bukannya masa lampaumu, meskipun masa lampau bagi seseorang akan ikut menentukan masa sekarang dan masa yang akan datang. Masa lampau memang bukan sekedar untuk dikenang. Tetapi dapat dipetik sebagai pengalaman yang perlu diperhitungkan dalam langkah-langkah kita sekarang dan di masa datang.”

Risang mengangguk-angguk kecil. Ia tahu bahwa pengantar itu tentu sekedar menenangkannya, karena Risangpun serba sedikit telah dapat meraba, bahwa masa lampau bagi keluarganya adalah masa yang buram.

“Risang,“ berkata ibunya pula, “karena kau sudah dewasa, maka kau tentu dapat mempertimbangkan keteranganku dengan sikap dewasa pula serta menanggapinya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.”

Risang mengangguk kecil pula sambil berdesis, “Aku mengerti ibu.”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Risang sudah tidak sabar lagi menunggu, sementara ia masih belum sampai kepada masalah yang sebenarnya.

Namun kemudian Iswari yang sudah bertekad bulat untuk mengungkapkan masa lampau anaknya dengan terbuka, meskipun melalui saringan yang lembut, telah mulai dari masa lampaunya sendiri. Disaat-saat ia memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

Peristiwa demi peristiwa disampaikannya dengan jelas. Diceriterakannya pula hadirnya seorang penari jalanan yang telah mendesaknya keluar dari Tanah Perdikan itu, tanpa menyebut usaha pembunuhan yang urung, karena Bibi tahu ia sedang mengandung.

Risang mengikuti ceritera ibunya dengan saksama. Sebagian memang tidak mengejutkannya. Namun sebagian yang lain telah membuat hatinya bergejolak. Seolah-olah ia telah dihadapkan pada suatu cermin yang menunjukkan wajahnya yang sebenarnya. Cacat-cacatnya serta noda-noda yang terdapat di wajah itu.

Risang menundukkan wajahnya semakin dalam. Sementara ibunya berkata, “Risang. Kau harus berani melihat kenyataan tentang dirimu, sebagaimana ibumu melakukannya. Ibupun melihat cacat diri yang dapat membuat diriku terasa terlalu kecil dihadapan orang lain. Sebagai seorang perempuan aku telah disingkirkan dari sisi seorang suami. Tetapi aku tidak menyerah kepada keadaan. Keadaan itu telah mendorongku untuk menempuh satu laku yang berat dan panjang. Ternyata usahaku berhasil. Jalur pimpinan Tanah Perdikan ini tidak akan berkisar dari alur yang seharusnya meskipun ayahmu sudah tidak ada. Tetapi banyak saksi yang akan memperkuat kedudukanmu, karena kita berada dijalan kebenaran. Apalagi pertanda kebesaran Tanah Perdikan inipun ada padamu.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak sepatah katapun yang diucapkannya. Namun perasaan kecewa dan menyesal telah bergulat dihatinya.

Risang memang tidak menyalahkan kepada ibunya. Apalagi ketika ia mendengar bahwa dua kali ibunya harus berhadapan dengan bekas madunya itu. Bukan soal seorang laki-laki. Tetapi mereka bertempur karena Tanah Perdikan Sembojan ini. Apalagi setelah perempuan yang bernama Warsi itu bekerja sama dengan Ki Rangga Gupita yang sedang mencari kesempatan untuk membalas dendam terhadap Pajang.

Tetapi bagaimanapun juga setiap orang di Tanah Perdikan itu tahu bahwa ia adalah anak yang sebenarnya telah tersingkir bersama ibunya. Saat itu, apapun alasannya, ibunya sudah tidak dikehendaki lagi oleh ayahnya, sehingga sebenarnyalah bahwa iapun seharusnya sudah tidak berada di Tanah Perdikan itu lagi.

Dalam pada itu, ibunyapun kemudian berkata, “Risang. Apa yang aku lakukan waktu itu semata-mata karena aku menghormati hakmu. Hakmu sebagai seorang anak laki-laki tertua dari seseorang yang seharusnya menerima warisan jabatan Kepala Tanah Perdikan. Kakekmu, Ki Gede Sembojan yang dibunuh oleh perempuan itu, tentu akan menghormati hakmu pula seandainya ia sempat memberikan pendapatnya. Bagaimanapun juga persoalannya telah menyangkut kelanjutan kepemimpinan di Tanah Perdikan ini.”

Risang masih tetap menundukkan kepalanya. Namun ibunya dan Kiai Badrapun sudah menduga bahwa akan terjadi gejolak di hati anak muda itu. Tetapi gejolak itu akhirnya tentu akan menjadi tenang kembali.

Namun dalam pada itu, Risang membayangkan peristiwa itu dengan sudut pandangan yang berbeda. Seandainya ibunya tidak berbuat apa-apa, sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan perempuan yang disingkirkan oleh suaminya, maka ia tentu sudah tersingkir pula dari garis keturunan Ki Wiradana. Ia tidak akan dapat menjadi pewaris jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Hampir diluar sadarnya, sambil menundukkan kepalanya Risang berkata, “Ibu telah melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh perempuan. Merebut seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang telah menyisihkan ibu dari sisinya.”

“Risang,“ desis Kiai Badra, “kau salah menafsirkan tindakan ibumu. Ibumu sama sekali tidak berusaha merebut laki-laki itu lagi. Bahkan sama sekali tidak mempedulikannya. Tetapi laki-laki itu adalah tetap ayah dari anak yang dilahirkannya waktu itu. Laki-laki itu adalah pewaris Jabatan kepala Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi laki-laki itu telah dikuasai oleh seorang perempuan yang tidak memungkinkan jalur warisan itu turun menurut alur yang seharusnya. Kaupun jangan salah mengerti, bahwa seolah-olah terjadi perebutan warisan yang meskipun berupa jabatan, untuk sekedar mencari kedudukan. Kau harus dapat membayangkan, jika jabatan itu jatuh ke tangan orang yang tidak berhak, maka Tanah Perdikan ini tentu akan kehilangan arah.”

“Tetapi bukankah itu tanggung jawab ayah?“ bertanya Risang.

“Ayahmu bukan saja dikuasai oleh perempuan itu sebagai seorang laki-laki yang lemah hati. Tetapi benar-benar dikuasai sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan. Dan kaupun harus mengetahui pula kehadiran seorang laki-laki lain didalam kehidupan perempuan yang menguasai ayahmu itu, sehingga memang diperlukan satu kekuatan yang akan mampu menegakkan kembali pemerintahan di Tanah Perdikan ini. Dalam rangka itulah ibumu berjuang dengan satu tujuan, menyelamatkan Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, kau pulalah yang telah menguasai pertanda jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata Kiai Badra.

Wajah Risang menjadi semakin tunduk. Sementara kakeknya berkata selanjutnya, “Risang. Kau tidak boleh mengingkari kenyataan ini. Kau harus menerima dengan sikap seorang laki-laki. Mungkin kau kecewa, bahwa baik ayahmu maupun ibumu kau anggap melakukan langkah-langkah yang salah. Tetapi kau tidak dapat melangkah surut karena itu. Justru kau harus menunjukkan bahwa kau, anak Wiradana mampu menegakkan pemerintah di Tanah Perdikan ini. Apalagi di saat-saat mendung sedang menyelimuti Pajang seperti sekarang ini.”

Risang tidak menjawab. Pikirannya terasa menjadi kalut. Namun Kiai Badra berkata, “Jangan mengambil sikap dalam keadaan seperti ini Risang. Kau harus mengendapkan perasaanmu lebih dahulu. Baru kau dapat berbicara dengan dirimu sendiri untuk menentukan langkah-langkahmu.”

Risang mengangguk. Sementara itu ibunya berkata dengan suara yang bergetar, “Kau harus memaafkan ibumu Risang. Kau harus tahu niat yang saat itu menyala didalam dadaku. Permusuhan itu terjadi bukan sekedar karena aku dan perempuan itu pernah dimadu oleh seorang laki-laki yang lemah hati. Tetapi seperti aku katakan, aku menghormati hakmu sebagai pewaris Tanah Perdikan. Juga seperti aku katakan, bukan jabatan itu yang penting. Tetapi Tanah Perdikan ini.”

Risang mengangguk kecil. Dengan nada rendah ia berkata, “Dan permusuhan itu terjadi sampai kini, sehingga aku perlu disingkirkan dari Tanah Perdikan ini.”

“Kau sekarang sudah dewasa Risang,“ berkata ibunya, “menurut pendapatku, kau sudah mempunyai bekal yang cukup untuk melindungi dirimu sendiri. Karena itu, kami mulai memikirkan kemungkinan untuk mempersiapkan kau memimpin Tanah Perdikan ini. Selagi Pajang masih belum terlibat sepenuhnya dalam kekalutan yang sungguh-sungguh.”

“Kenapa dengan Pajang ibu?“ bertanya Risang.

“Pajang adalah kekuasaan yang wenang untuk menetapkan dan menguatkan kedudukanmu sebagai Kepala Tanah Perdikan. Meskipun Tanah Perdikan mempunyai wewenang untuk menentukan diri sendiri, tetapi Tanah Perdikan ini tetap ada didalam kesatuan kuasa Pajang.” jawab ibunya.

“Jika ayahku seorang yang lemah hati dan tidak pantas memegang jabatan sebagai Kepala Tanah Perdikan, apakah aku, anaknya, akan pantas melakukannya?“ bertanya Risang tiba-tiba.

“Kenapa tidak? Seorang anak akan dapat menjunjung tinggi martabat keluarganya. Meskipun orang tuanya mempunyai cacat sebagaimana terdapat pada setiap orang, maka anaknya akan dapat menghapusnya dengan sikap dan tingkah lakunya.“ kakeknyalah yang menyahut.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun ibunya dan kakeknya masih merasakan gejolak didalam hati anak itu. Tetapi seperti yang sudah mereka rencanakan, maka Risang akan diberi kesempatan untuk mengendapkan perasaannya.

“Risang,“ berkata ibunya tersendat, “mungkin masih ada yang terlampui dari keteranganku Mungkin besok atau kapan saja aku teringat, maka aku akan mengatakannya kepadamu. Tetapi kau dapat mulai mempertimbangkan untuk tetap tinggal di sini, karena kau harus mempersiapkan diri bagi jabatanmu masa datang.”

Risang termangu-mangu. Tetapi ia tidak segera menjawab. Kepalanya masih tetap menunduk dalam-dalam. Sementara jantungnya terasa berdetak semakin cepat.

Terbayang di rongga matanya sederet orang yang siap datang untuk membunuhnya. Yang terdepan berdiri seorang perempuan yang bernama Warsi, yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, meskipun ternyata belum mampu mengalahkan ibunya. Seorang perempuan yang tubuhnya menyerap cahaya bulan untuk meningkatkan kemampuan dan ilmunya. Kemudian disebelahnya seorang laki-laki yang juga memiliki ilmu yang tinggi. Seorang.bekas perwira dalam pasukan Jipang, yang kemudian bertugas sebagai prajurit sandi. Disisi yang lain seorang anak muda, adiknya seayah, yang memandangnya dengan penuh kebencian. Puguh. Seorang anak muda yang juga memiliki hak untuk mewarisi jabatan Tanah Perdikan Sembojan, jika ia tidak ada. Atau katakanlah, dapat disingkirkan.

Risang memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia sendiri belum pernah terlibat dalam satu persoalan apapun dengan mereka. Namun yang ternyata permusuhan itu telah ada sejak ia dilahirkan.

“Sekarang beristirahatlah Risang,“ terdengar suara ibunya lembut,“ berpikirlah sebagai seorang anak muda yang telah dewasa. Kemudian kau akan menemukan endapan penalaran dan perasaanmu dalam keseimbangan.”

Risang mengangguk kecil. Dengan nada rendah ia berkata, “Terima kasih ibu. Aku mohon diri untuk merenungi semua keterangan ibu dan kakek.”

“Kau dapat membicarakannya dengan orang-orang yang kau anggap dapat memberimu petunjuk,“ berkata ibunya.

Risangpun kemudian meninggalkan ruangan itu. Tetapi ia tidak segera menemui siapapun juga. Iapun tidak berbicara dengan Bibi atau orang lain. Risang langsung masuk kedalam biliknya, menyelarak dari dalam, kemudian berbaring di pembaringannya. Tetapi matanya sama sekali tidak terpejam. Dipandanginya atap rumahnya dengan tanpa berkedip. Namun gejolak didadanya seakan-akan menjadi sangat sulit dikendalikan.

Ketika Risang mencoba memejamkan matanya, maka kepalanya serasa menjadi pening, sehingga iapun kemudian kembali membuka matanya menatap atap.

“Ayahku seorang yang lemah, bahkan tidak setia. Sedangkan ibuku adalah seorang perempuan yang telah tersisih, namun karena perjuangannya berhasil merebut kembali kedudukannya meskipun dengan alasan menghormati hakku atas Tanah Perdikan Sembojan ini,“ berkata Risang didalam hatinya. Yang terbayang adalah wajah-wajah yang mencibirkan bibir melihat seorang perempuan yang tidak tahu diri dan berusaha merebut kembali laki-laki yang telah mengambil perempuan lain sebagai isterinya.

Tetapi di sudut yang lain didasar hatinya ia berkata, “Ternyata orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu menghormati ibu. Bahkan wibawanya tidak kalah dengan wibawa seorang pemimpin laki-laki. Apakah itu pertanda bahwa orang-orang disekitarnya mencemoohkannya? Dan menganggapnya sebagai perempuan yang tidak tahu diri? Atau bahkan sebaliknya menganggap bahwa ibu adalah pejuang yang tidak kenal menyerah sehingga berhasil meluruskan jalur warisan di Tanah Perdikan ini.”

Berbagai macam perasaan bergejolak didalam hatinya. Namun bagaimanapun juga Risang sulit untuk menyingkirkan perasaannya yang membuatnya menjadi rendah diri.

Sementara itu, sepeninggal Risang, ternyata Iswari tidak dapat mengendalikan diri lagi. Betapapun ia pernah menghadapi keadaan yang paling keras sekalipun didalam hidupnya, namun disaat-saat yang sangat menyentuh perasaannya itu, ia tidak dapat mengingkari sifat-sifatnya sebagai seorang perempuan. Betapapun ia bertahan, namun air matanya telah meleleh dipipinya.

“Sudahlah Iswari,“ berkata kakeknya, “kau jangan hanyut kedalam arus perasaanmu. Sepeninggal Ki Wiradana, maka kau adalah ibu sekaligus ayah Risang. Karena itu, maka kau harus tabah serta mempergunakan penalaran untuk memecahkan satu masalah. Bukankah sudah kita duga, bahwa Risang tentu akan kecewa. Tetapi pada suatu saat ia akan mengerti, bahwa kau tidak dapat memilih jalan lain dari yang pernah kau lakukan, jika kau masih ingin disebut bertanggung jawab.”

Iswari mengangguk kecil. Tetapi tidak mudah baginya untuk menghapus begitu saja kenangan masa lampaunya.

“Kau boleh mengenang dan kemudian menilai kembali apa yang pernah kau lakukan, tetapi kau harus melihat semuanya dalam keadaan utuh. Bukan sepotong-sepotong sehingga hanya yang cacat sajalah yang kau lihat. Dan kau seharusnya menjadi bangga, disamping mengucap sukur kepada Yang Maha Agung, bahwa kau mampu berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikan ini,“ berkata Kiai Badra, “Karena jika kau tidak melakukannya, maka Tanah Perdikan ini akan mengalami bencana yang mungkin akan berkepanjangan sepanjang jaman.”

Iswari mengangguk pula. Namun dengan suara yang gemetar ia berkata, “Kakek. Aku tidak peduli apa kata orang tentang diriku. Tetapi aku tidak dapat menutup telinga atas pendapat Risang, anakku sendiri.”

“Ia masih terlalu muda,“ berkata Kiai Badra, “tetapi ia memang harus mengetahuinya dari mulutmu sendiri. Itu lebih baik. Sikapnya adalah wajar sebagaimana kita perhitungkan sebelumnya.”

“Ya, kakek,“ sahut Iswari perlahan.

“Sekarang beristirahatlah. Kaupun letih,“ berkata Kiai Badra.

Iswari mengangguk pula. Dengan kepala tunduk dan sekali-sekali mengusap matanya yang masih saja basah, Iswari memasuki biliknya. Tetapi seperti Risang, iapun tidak segera dapat tidur di pembaringannya.

Dihari berikutnya, Risang nampak menjadi lebih pendiam. Orang-orang disekitarnya merasakan hal itu, dan berusaha untuk mengerti. Ibunya tentu menceriterakan semua persoalan pribadinya selain usaha Ki Wiradana untuk membunuh Iswari. Karena jika hal itu dikatakannya pula, maka satu pukulan jiwani atas anak muda itu akan dapat membuatnya semakin kusut.

Iswari sendiri berusaha untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat dianggap satu perubahan sikap. Ia menjalankan tugasnya sebagaimana biasanya. Bahkan ia telah mengajak Risang untuk melihat orang-orang Tanah Perdikan Sembojan di bagian Utara memperbaiki sebuah bendungan yang hampir pecah.

Dengan mengerahkan tenaga dari beberapa padukuhan, serta brunjung-brunjung bambu yang telah diisi dengan batu, maka bendungan itu dapat diselamatkan, sehingga air yang mengalir di parit-parit tidak menjadi susut.

“Risang,“ berkata ibunya ketika mereka berada dibendungan, “banyak yang pantas kau lihat disini. Semua ini harus kau amati, karena pada saatnya semua ini akan menjadi tanggung jawabmu.”

Risang mengangguk kecil. Namun di wajahnya masih nampak kerut-kerut yang dalam. Ia masih belum nampak gembira seperti biasanya.

Tetapi Iswari memang harus bersabar. Pergolakan di dada anak muda itu tentu memerlukan waktu yang cukup, sehingga akhirnya akan dapat mengendap.

Dihari-hari berikutnya, memang nampak perubahan lagi pada anak itu. Risang memang mulai nampak mendapatkan kegembiraannya kembali meskipun anak muda itu masih belum mengatakan sesuatu. Sehingga dengan demikian, maka ibunyapun telah berangsur berbesar hati. Iswari ternyata menjadi lebih cerah dari Risang sendiri, karena kegembiraannya sebagai ibu terutama jika ia melihat anaknya bergembira.

Dengan nada yang ringan Iswari berkata kepada kakeknya, “Nampaknya perasaannya mulai mengendap kakek.”

“Sokurlah,“ berkata Kiai Badra, ”anak muda itu harus mulai ikut melakukan kegiatan yang kau lakukan. Dengan demikian ia akan mengenali tugas-tugas yang bakal dipertanggungjawabkan kelak.”

“Aku sudah mengatakan kepadanya,“ berkata Iswari.

“Baiklah. Mudah-mudahan ia akan menjadi semakin mantap,“ sahut Kiai Badra.

Namun ternyata anak muda itu telah mengejutkan ibunya ketika pada suatu senja ia datang menghadap. Dengan suara sendat ia berkata, “Ibu, agaknya aku sudah cukup lama berada disini.”

“Kenapa?“ bertanya ibunya dengan jantung yang berdebaran.

“Agaknya sudah waktunya aku kembali ke padepokan kecil itu,“ berkata Risang kemudian.

“Aku tidak tahu maksudmu Risang. Bukankah sudah aku katakan, bahwa kau sudah waktunya untuk berada di Tanah Perdikan ini. Kau sudah menginjak usia dewasamu, sehingga kau harus mulai mengenali tugas dan tanggung-jawab yang bakal kau pikul dimasa mendatang,“ berkata ibunya.

“Tetapi aku tidak dapat meninggalkan padepokan itu terlalu lama ibu. Jika aku harus tinggal disini, maka aku harus mengatur segala sesuatunya, sehingga aku tidak begitu saja meninggalkan padepokan itu.” jawab Risang.

“Apakah kau sudah berbicara dengan kakekmu?” bertanya Iswari.

“Belum ibu,“ jawab Risang, “tetapi seharusnya kakek tidak berkeberatan. Apalagi aku sudah mulai terikat pada tempat itu, seakan-akan memang padepokan itu adalah tempat yang disediakan bagiku.”

“Risang,“ potong ibunya dengan dahi yang berkerut, “Tempatmu bukan di padepokan itu untuk seterusnya. Tempatmu disini, karena kau adalah calon Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Tetapi sejak kecil aku berada di padepokan itu ibu, sehingga seolah-olah aku memang anak padepokan itu,“ berkata Risang.

“Bukankah kau tahu alasannya, kenapa kau harus berada di padepokan itu?“ bertanya ibunya.

“Aku mengerti ibu. Tetapi justru karena itu, aku sudah merasa terikat dengan padepokan itu. Meskipun demikian, bukannya aku menolak perintah ibu untuk tinggal disini. Tetapi aku mohon waktu.” jawab Risang.

Jantung Iswari rasa-rasanya berdegup semakin cepat. Namun justru untuk sesaat ia tidak dapat mengatakan sesuatu. Ketika bibirnya bergerak, maka yang terdengar adalah kata-katanya, “Mintalah ketiga kakek dan nenekmu hadir sekarang disini.”

Risang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak membantah. Sejenak kemudian, maka Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka telah hadir pula untuk ikut berbicara tentang keinginan Risang kembali ke padepokan.

Kiai Badra adalah orang yang tinggal paling lama bersama-sama dengan Risang di padepokan itu. Karena itu, ia adalah orang yang paling memahami sikap Risang. Risang memang sudah terikat pada padepokannya itu. Bahkan terbersit satu niat untuk mendirikan satu perguruan tersendiri yang akan menjadi penghuni dan pengembang padepokan itu.

Karena itu, maka Kiai Badrapun kemudian berkata, “Risang. Aku dapat mengerti niatmu untuk kembali ke padepokan. Tetapi bukan berarti bahwa kau akan mengabaikan perintah ibumu.”

“Tidak sama sekali kakek. Sudah aku katakan, aku hanya mohon waktu,“ berkata Risang.

“Waktu dapat terjulur terlalu panjang, tetapi dapat berkerut menjadi sangat pendek. Kau harus membuat satu rencana tentang waktu itu Risang,“ berkata kakeknya.

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika saatnya datang, maka aku akan segera memberitahukan kepada ibu, kakek dan nenek.”

“Risang,“ berkata Nyai Soka, “kau adalah satu-satunya tangkai tempat ibumu bergantung. Kau harus menyadari itu. Bukan untuk bermanja-manja. Tetapi justru merupakan satu tanggung-jawab yang berat bagi masa datang. Jika kau tidak berminat untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh ibumu selama ini, maka perjuangan ibumu itu akan sia-sia. Tanah Perdikan ini tidak akan mendapat manfaat apa-apa. Sehingga dengan demikian maka hasil yang dicapai oleh ibumu tidak lebih dari keberhasilan seorang perempuan untuk merebut seorang laki-laki yang telah menyingkirkannya. Tetapi jika kau melanjutkan perjuangan ibumu bagi Tanah ini, maka perjuangan ibumu itu akan mempunyai arti.”

Risang mengerutkan keningnya. Dipandanginya neneknya sejenak. Namun kemudian wajahnya telah tertunduk lagi.

“Pikirkan baik-baik Risang,“ berkata Kiai Soka, “kau sudah dewasa. Kau harus berpikir secara dewasa. Kau harus dapat membedakan, yang manakah yang akan berarti bagi hidupmu dan mana yang tidak.”

Risang tidak segara menjawab. Sementara itu ibunya bertanya dengan nada lembut, “Bagaimana menurut pendapatmu Risang?”

“Aku mengerti ibu. Aku akan mempertimbangkan semuanya itu. Aku mencari ketenangan batin lebih dahulu di padepokanku barang satu dua bulan. Aku akan segera memberitahukan apa yang akan aku lakukan.”

“Kau memerlukan waktu begitu lama untuk menentukan sikap?“ bertanya ibunya.

“Aku sudah berada di padepokan itu bertahun-tahun. Satu dua bulan tentu tidak banyak berarti dari berbilang tahun itu.” jawab Risang.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu menyumbat tenggorokannya. Sedangkan sudut-sudut matanya terasa menjadi panas.

“Baiklah Risang,“ berkata Kiai Badra, “kita akan kembali ke padepokan itu. Dalam waktu satu dua bulan, maka kita akan kembali ke Tanah Perdikan ini, meskipun barangkali kita masih perlu hilir mudik.”

Jawaban kakeknya itu sedikit mengendapkan gejolak perasaan Risang. Sementara itu Kiai Badrapun tidak melihat sikap lain yang lebih baik dari kesempatan itu. Jika mereka berkeras untuk memaksa Risang menentukan sikapnya segera, maka sikap itu mungkin justru tidak dikehendaki oleh ibunya.

Iswaripun tidak dapat mencegahnya lagi. Karena itu, maka katanya, “Risang. Rasa-rasanya kali ini terlalu berat untuk melepaskanmu. Tetapi jika itu sudah menjadi kebulatan niatmu, maka ibu tidak akan dapat mencegahnya. Namun ibu minta, agar kau dapat mengerti keadaan ibumu lahir dan batinnya. Ibu berharap agar kau benar-benar mampu menjunjung tinggi nama keluargamu. Ibu yang sudah terlanjur melangkah, tentu tidak akan mungkin surut. Semua mata telah terlanjur memandang ke arahku. Sebagai seorang perempuan aku telah melakukan banyak kelainan dari kebanyakan perempuan. Sama sekali bukan untuk seorang laki-laki. Tetapi untuk Tanah Perdikan ini.”

Wajah Risang menjadi semakin tunduk, meskipun dari sela-sela bibirnya terdengar jawabnya, “Aku mengerti ibu.”

Ternyata pembicaraan itu tidak berkepanjangan. Iswaripun kemudian telah meninggalan ruangan itu dan masuk kedalam biliknya. Yang nampak kemudian sama sekali bukan seorang Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang garang dipertempuran melawan orang-orang yang berniat mengambil alih pimpinan di Tanah Perdikan itu untuk tujuan yang sesat. Tetapi benar-benar seorang ibu yang memikirkan sikap anak laki-laki satu-satunya.

Risangpun telah memasuki biliknya pula. Terasa dadanya bagaikan bergejolak. Memang ada pertentangan didalam dirinya. Apakah ia akan meninggalkan ibunya dengan hati yang pedih atau ia akan tetap tinggal di Tanah Perdikan sebagaimana dikehendaki oleh ibunya, namun dengan perasaan yang tidak mapan.

Ternyata hampir semalam suntuk Risang tidak dapat tidur. Baru menjelang dini hari, ia tertidur hanya sesaat.

Tetapi hari itu Risang tidak berminat untuk berbuat apa-apa. Tetapi ia lebih banyak bersiap-siap, karena di keesokan harinya, Risang akan menuju ke padepokan kecilnya.

Niatnya telah bulat untuk kembali ke padepokannya. Setidak-tidaknya untuk sementara.

Karena ketika ia datang, ia menempuh perjalanan bersama dengan Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka esok hari Risang juga akan menempuh perjalanan bersama Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. telah bersiap-siap pula. Mereka sudah mendapat perintah dari Iswari untuk mengantar Risang esok pagi menuju ke Kademangan Bibis, bukan saja sekedar dalam perjalanan, tetapi juga untuk berada di padepokan itu. Mereka diperintahkan untuk menunggu dan pada saatnya kembali bersama-sama dengan Risang pula.

Sementara itu, di hari terakhir Risang berada di Tanah Perdikan, ketiga kakek dan neneknya telah memberikan beberapa petunjuk yang sangat berharga tentang ilmunya. Ketiga orang kakek dan neneknya telah memberikan petunjuk bagaimana Risang harus tetap memelihara pembagian waktu yang baik untuk berlatih.

Ibunya sendiri justru tidak terlalu banyak berpesan. Ibunya hanya selalu berharap agar Risang segera kembali lagi ke Tanah Perdikan itu.

“Risang,“ berkata ibunya, “satu-satunya keinginanku sekarang adalah, bahwa kau ada disini. Kau sudah cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri, sehingga kau tidak perlu lagi berada di tempat yang jauh ditepi Kali Lorog itu.”

“Aku akan selalu memikirkannya ibu.” jawab Risang. Lalu katanya, “Yang perlu aku lakukan adalah mempersiapkan diri untuk tinggal di Tanah Perdikan ini.”

Ibunya mengangguk kecil. Namun iapun telah mempersiapkan bekal bagi anaknya. Bukan saja uang dan beberapa kitab yang memuat berbagai macam ceritera yang dapat memberikan tuntunan kepada anaknya tentang jalan kehidupan tetapi juga harapan agar anak itu segera kembali.

Kepada Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung, Iswari dan ketiga orang tua di Tanah Perdikan itu berpesan, agar mereka selalu mengawasi Risang. Terutama saat-saat ia berlatih, agar Risang tetap dapat memelihara keseimbangan pada dirinya. Merekapun telah dipesan untuk menjaga agar Risang dapat membagi waktunya dengan baik.

“Kami akan berbuat sejauh dapat kami lakukan,“ jawab Gandar.

Demikianlah, dihari berikutnya, menjelang dini, keempat orang itu telah siap untuk berangkat. Setelah makan pagi maka mereka telah minta diri.

“Hati-hatilah di perjalanan Risang,“ pesan ibunya dengan suara yang dalam.

Risang mengangguk. Katanya dengan nada rendah, “Aku mohon doa restu ibu, kakek dan nenek. Semoga aku tidak saja mendapat perlindungan oleh Yang Maha Agung, tetapi juga mendapatkan terang dihati.”

Demikianlah sebelum matahari terbit, mereka telah meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan menuju ke sebuah padepokan kecil di Kademangan Bibis, dekat Kali Lorog. Satu perjalanan yang cukup panjang.

Pada bagian pertama dari perjalanan mereka, ternyata mereka tidak mendapat hambatan. Kuda-kuda mereka laju di jalan-jalan bulak, di antara hijaunya tanaman di sawah. Sekali-sekali mereka memasuki padukuhan-padukuhan besar dan kecil. Memang ada beberapa orang yang tertarik kepada empat orang penunggang kuda. Namun karena tidak terdapat tanda-tanda yang khusus, maka orang-orang yang melihat mereka dengan cepat telah melupakannya.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi dan panasnya bagaikan menyengat tengkuk, keempat orang itu sepakat untuk beristirahat sejenak di sebuah kedai sekedar menghilangkan haus serta memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka untuk beristirahat.

Karena itu, maka mereka telah memilih sebuah kedai yang memberikan tempat bagi kuda-kuda mereka dan nampaknya memang menyediakan makan dan minum bagi kuda-kuda mereka yang kebetulan singgah di kedai itu. Memang satu pelayanan khusus. Tetapi dengan demikian akan dapat menambah jumlah orang yang singgah di kedai itu. Terutama orang-orang yang menempuh perjalanan jauh dengan berkuda.

Di kedai itu, Risang dan ketiga orang yang menempuh perjalanan bersamanya itu dapat menghirup minuman hangat dan makan beberapa potong makanan, sementara kuda merekapun dapat beristirahat sambil minum air segar dan rerumputan yang hijau.

Ketika mereka memasuki kedai itu, tiga orang telah berada di dalamnya. Tetapi nampaknya ketiga orang itu sama sekali tidak menghiraukan kehadiran mereka berempat.

Namun sejenak kemudian, beberapa orang telah datang lagi memasuki kedai itu. Nampaknya mereka adalah kawan-kawan dari ketiga orang yang telah berada di kedai itu lebih dahulu.

Dengan demikian maka kedai itupun menjadi riuh. Mereka berbicara dengan bahasa yang agak kasar dan suara yang keras. Sekali-sekali terdengar umpatan yang menggelitik telinga.

Namun seperti orang-orang itu, maka keempat orang itupun tidak menghiraukan mereka. Risang, Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung, sambil menunduk telah menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan. Jika sekali-sekali mereka berbicara, maka mereka berbicara perlahan-lahan saja.

Tetapi yang tidak mereka duga adalah, bahwa tiba-tiba saja seorang diantara orang-orang yang ada di dalam kedai itu telah memperhatikan Risang. Semakin lama semakin bersungguh-sungguh. Bahkan tiba-tiba saja ia melangkah mendekati sambil berkata, “He, anak muda. Lihat aku.”

Risang yang tidak berprasangka apapun telah mengangkat wajahnya memandang orang itu dengan heran. Sementara orang itu hampir berteriak berkata, “Inilah salah seorang dari mereka yang kita cari. Ini adalah anak mereka. Jika kita dapat menangkap anak ini, kita akan memaksa kedua orang tuanya untuk menyerah.”

Orang-orang yang ada di kedai itu segera berloncatan mengerumuni Risang dan ketiga orang yang bersamanya dalam perjalanan. Dengan kerut di dahi Gandar bangkit berdiri sambil bertanya, “Siapakah yang kau maksud?”

“Anak muda ini. Kami memerlukannya. Adalah satu kebetulan bahwa kita dapat bertemu disini. Kami sama sekali tidak menduga, bahwa kami akan menemukannya begitu cepat.” jawab orang itu.

“Aku tidak tahu yang kau maksudkan,“ jawab Gandar, “nampaknya terjadi kesalah pahaman. Apakah kau mengenal anak ini?”

“Tentu,“ jawab orang itu, “kau tidak usah berpura-pura. Kami mencarinya sampai kesudut bumi. Dan kini, kami telah menemukannya. Dengan menangkap anak itu, maka kami akan dapat memaksa kedua orang tuanya untuk menyerah tanpa perlawanan.”

“Anak ini sudah tidak mempunyai orang tua lengkap,“ jawab Gandar, “anak muda ini sudah tidak berayah.”

Orang itu tiba-tiba saja tertawa berkepanjangan. Katanya, “Semua orang tahu bahwa ayahnya telah mati. Yang aku maksud dengan orang tuanya yang sekarang adalah ibunya dan laki-laki yang berlaku sebagai suaminya itu. Aku tidak tahu, apakah keduanya telah menikah atau belum. Tetapi keduanya kini dikenal sebagai suami istri.”

Wajah Risang menjadi merah. Dengan nada keras ia berkata, “Jaga mulutmu Ki Sanak. Kita tidak mempunyai persoalan. Jangan mengungkit masalah disini.”

Orang itu telah tertawa lagi. Sementara kawannya yang tidak sabar menuggu telah mendesaknya, “Siapa anak itu?”

“Anak inilah yang bernama Puguh. Anak Warsi.” jawab orang itu.

Semua orang terkejut. Kawan-kawan dari orang yang menyebut nama Puguh itu terkejut. Mereka memang tidak mengira, bahwa mereka akan segera menemukan anak yang mereka cari kemana-mana di samping mencari kedua orang tuanya.

Tetapi yang lebih terkejut lagi adalah Risang, Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Bahkan hampir tanpa disadarinya Risang berteriak, “Kau gila. Kau kira aku Puguh. Aku bukan Puguh.”

Namun dengan cepat Sambi Wulung menyahut, “Kami tidak mengenal anak yang bernama Puguh. Kami tidak mempunyai sangkut paut. Kami adalah orang-orang yang tidak pernah mempunyai persoalan dengan kalian. Apalagi dalam hubungan dengan nama yang kau sebut, Warsi.”

Tetapi orang itu menyahut, “Tentu kau tidak akan mengaku. Tetapi aku tidak akan salah lagi. Aku pernah mengenali wajah anak muda yang bernama Puguh itu. Anak Warsi yang lahir karena perkawinannya dengan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, namun yang kemudian tersingkir dan hidup dalam petualangan bersama ibunya dan laki-laki yang disangka ayahnya. Rangga Gupita.“

“Tutup mulutmu,“ bentak Risang.

Tetapi orang itu justru tertawa lagi dan berkata, “Nah, kau tidak akan dapat ingkar lagi.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Namun mereka yang telah pernah mengenal Puguh itu diluar sadarnya telah memperhatikan wajah Risang. Mereka tidak pernah memperhatikan sebelumnya. Namun ternyata keduanya memang mirip. Keduanya memiliki kemiripan dengan ayah mereka.

“Memang tidak mustahil keduanya sangat mirip,“ berkata keduanya didalam hatinya, “keduanya memiliki ayah yang sama. Ibu yang sama-sama cantik meskipun dengan watak yang berbeda.”

Ternyata orang yang menyangka bahwa ia telah bertemu dengan Puguh itu merasa yakin. Karena itu, maka katanya, “Puguh. Sebaiknya kau menyerah saja. Kami akan memperlakukan kau dengan baik. Yang kami perlukan adalah kedua orang tuamu. Jika kami menangkapmu adalah semata-mata sebagai satu cara untuk memaksa kedua orang tuamu menyerah. Jika kami sudah mendapatkan keduanya, maka kau tentu akan kami lepaskan.”

“Cukup,“ Risang benar-benar berteriak. Justru karena ia sudah mengetahui dengan pasti, siapakah Puguh itu, maka kemarahannya bagaikan telah membakar jantungnya.

Yang kemudian berbicara adalah Gandar, “Ki Sanak. Cobalah kau perhatikan sekali lagi anak itu. Kau tentu akan melihat bahwa anak itu sama sekali bukan Puguh. Bahkan nama itupun baru aku dengar kali ini. Karena itu, bagaimana mungkin kau dapat menyangka bahwa anak muda itu adalah anak muda yang kau cari.”

Tetapi orang itu menjawab, “Ternyata kalian telah ingkar. Justru karena itu, maka persoalannya akan bertambah rumit bagi kalian. Jika kalian menyerah, maka kalian tidak akan mengalami kesulitan apa-apa.”

“Sudahlah,“ berkata Jati Wulung yang tidak sabar, “kami menolak dugaan Ki Sanak. Anak muda itu bukan Puguh. Karena itu anak muda itu tidak mau diperlakukan seperti Puguh. Nah, lalu kalian mau apa? Kalian akan memaksa?”

“Kata-katamu seperti api yang menyentuh telingaku.“ berkata orang itu, “aku mencoba untuk menyelesaikan persoalan diantara kita dengan baik. Tetapi kau telah menyakiti hatiku.”

“Ki Sanak,“ Jati Wulung justru melangkah mendekat, “kau harus menyadari bahwa kau telah menyudutkan kami meskipun kami sudah berusaha untuk memberikan penjelasan. Kau harus memperhatikan anak itu tidak hanya sekali lagi. Tetapi berulang kali. Atau barangkali kaupun belum begitu jelas terhadap anak muda yang kau sebut bernama Puguh itu, sehingga kau begitu saja menyangka anak itu Puguh.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Ia memang belum begitu jelas atas anak muda yang bernama Puguh itu meskipun ia memang pernah melihatnya di padepokan Ki Rangga pada suatu saat, ketika ia belum tergabung dalam kelompoknya yang sekarang. Memang sudah agak lama.

Sejenak orang itu memang mencoba memperhatikan wajah Risang. Untuk sesaat ia memang ragu-ragu. Tetapi ketika ia memperhatikan hidung Risang, maka sekali lagi orang itu berkata, “Aku yakin. Anak itu adalah Puguh. Hidungnya aku tidak akan pernah melupakannya. Mancung dibawah alisnya yang nampak tebal diumurnya yang masih sangat muda. Sorot matanya menunjukkan kecerdasan otaknya dan segala-galanya telah meyakinkan aku, bahwa anak muda itu adalah Puguh.”

“Kau dengar suaranya?“ bertanya Jati Wulung, karena Jati Wulung tahu pasti bahwa suara Puguh berbeda dengan suara Risang. Demikian pula caranya berbicara dan pilihan kata-katanya.

Namun orang itu menjawab, “Ya. Suaranya itu adalah suara Puguh.”

“Persetan,“ Jati Wulung menjadi marah, “apakah kalian sengaja memancing persoalan? Jika demikian, maka kalian tidak usah menyebut-nyebut nama lain. Berterus teranglah bahwa kalian memang ingin merampok kami. Tetapi itupun tidak akan memberikan kepuasan kepadamu, karena kami tidak membawa harta benda yang pantas untuk dirampok.”

Orang itulah yang kemudian menjadi sangat marah. Dengan nada keras ia berkata, “Kami bukan perampok. Untuk apa kami merampok pengembara seperti kalian? Kami tentu lebih kaya dari kalian yang tidak mempunyai papan dunung, karena padepokan kalian telah menjadi abu.”

“Cukup,“ potong Jati Wulung, “jika kalian sekedar ingin berkelahi, kita akan berkelahi meskipun tanpa sebab. Mungkin kalian sudah beberapa hari tidak membunuh orang, sehingga tangan kalian sudah menjadi gatal. Sekarang kalian telah mencari alasan untu berkelahi dan membunuh. Tetapi kamipun sudah beberapa hari tidak membunuh orang. Tangan-tangan kamipun sudah gatal, sehingga kebetulan sekali jika kalian memberi kesempatan kepada kami untuk membunuh.”

“Iblis kau,“ bentak orang itu, “kau memang benar-benar ingin mati. Tetapi ingat, aku akan menangkap anak itu hidup-hidup. Aku tidak akan memberi kesempatan kepadanya untuk membunuh diri sekali pun.”

“Bagus,“ jawab Jati Wulung, “kita akan berkelahi diluar. Kita tidak ingin merugikan pemilik kedai ini.”

“Agar kau dapat melarikan diri?“ bertanya orang itu.

Jati Wulung menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa ia melangkah keluar diikuti oleh Risang, Gandar dan Sambi Wulung. Kemudian orang-orang yang ada di kedai itu.

Ketika mereka sudah berada di halaman disamping kedai itu, pemimpin dari sekelompok orang itu berbisik ditelinga orang yang merasa dapat mengenali Puguh itu, “Tetapi bukankah kau tidak salah?”

“Tidak Ki Lurah. Aku yakin. Anak itulah yang bernama Puguh. Anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan.” jawab orang itu.

Pemimpin sekelompok orang, itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih saja bergumam, “Tetapi orang-orang itu nampaknya meyakinkan bahwa anak muda itu memang bukan yang kita cari.”

“Ah. Tentu mereka akan ingkar karena mereka tahu akibatnya,“ berkata orang itu.

“Tetapi jika mereka memang berani menghadapi kita, untuk apa mereka ingkar? Akhirnya kita juga akan bertempur,“ desis pemimpinnya.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia berkata, “Tetapi aku tidak mungkin salah. Aku sudah mengenalinya.”

“Tetapi bukankah sudah cukup lama? Apalagi ketika anak itu masih lebih kecil.”

“Belum terlalu lama. Ki Lurah aku mohon yakin akan pengenalanku atas seseorang,“ berkata orang itu dengan sungguh-sungguh.

Pemimpin sekelompok orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ialah yang kemudian berdiri dipaling depan dari para pengikutnya yang ternyata semua berjumlah sepuluh orang.

“Ki Sanak,“ berkata orang itu, “aku hanya ingin mengulangi apa yang dikatakan oleh orangku tadi. Jika Puguh menyerah, maka kalian tidak akan mengalami kesulitan apa-apa. Kami akan memperlakukan kalian dengan baik. Bahkan kami akan melepaskan kalian bertiga untuk menyampaikan pesan kami kepada Ki Rangga Gupita dan Warsi. Jika mereka kemudian bersedia datang, maka Puguh itupun akan kami lepaskan pula.“ orang itu berhenti sejenak, lalu, “sedangkan terhadap Ki Rangga dan Warsipun kami tidak akan berbuat kasar. Kami hanya ingin berbicara tentang masa depan. Tentang pembagian tugas dan wewenang kami masing-masing. Itu saja. Tetapi kedua orang tuamu itu selalu menghindari kami. Bahkan melawan keinginan kami sebagaimana kalian lakukan sekarang.”

Namun tiba-tiba saja Sambil Wulung bertanya, “Siapakah kalian sebenarnya?”

“Seandainya kami menyebut nama dan kedudukan kami, maka kalian juga tidak akan mengerti,“ jawab orang itu, “karena itu biarlah kami bertemu langsung dengan orang tua anak muda itu. Biarlah aku membawa anak itu dan kalian bertiga memberikan pesan kami kepada kedua orang tuanya agar mereka datang kepada kami.”

“Mengerti atau tidak mengerti, tetapi sebutkan, siapakah kalian yang sebenarnya. Kemudian kami akan mempertimbangkan kemungkinan yang paling baik untuk kami lakukan.“ sahut Sambi Wulung.

Risang termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia tidak ingin berlama-lama. Namun ia belum tahu maksud Sambi Wulung sehingga ia masih juga menunggu.

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Itu tidak perlu.”

Namun Sambi Wulunglah yang kemudian bertanya, “Apakah kalian anak kadang atau orang yang pernah dirugikan oleh orang-orang yang kalian cari itu.”

“Sudahlah,“ jawab orang itu, “jangan terlalu banyak ingin mengerti. Semuanya itu tidak akan berguna sama sekali bagimu. Yang penting, serahkan saja Puguh itu kepada kami. Semuanya akan segera selesai dengan baik.”

Sambi Wulung menggeleng pula. Katanya, “Tidak ada anak muda bernama Puguh disini.”

Pemimpin dari sekelompok orang itu telah kehilangan kesabaran pula. Karena itu, maka iapun telah berkata dengan lantang, “Kalian tidak mempunyai pilihan. Puguh tentu akan jatuh ketanganku. Jika kalian menyerahkannya dengan baik, maka tiga orang yang lain akan selamat. Tetapi jika kalian melawan, maka kalian akan mati.”

“Ada dua pilihan bagi kalian,“ Jati Wulunglah yang menjawab, “Jika kalian urungkan niat kalian, maka kalian akan selamat. Tetapi jika kalian memaksa, maka kalian akan mati disini.”

Jawaban Jati Wulung itu benar-benar tidak dapat diterima oleh orang-orang itu. Mereka benar-benar tidak dapat mengendalikan diri lagi, sehingga tanpa perintahpun sepuluh orang itu mulai bergerak. Apalagi ketika pimpinannya berkata, “Tangkap anak itu. Jika yang lain tetap melawan, bunuh mereka tanpa ampun.”

Namun sebelum perintah itu selesai, maka Jati Wulung telah meloncat menyerang lebih dahulu. Satu sikap yang tidak diduga sebelumnya, sehingga karena itu, maka serangannya telah mengenai salah seorang diantara mereka.

Demikian kerasnya serangan kaki Jati Wulung itu, maka orang yang dikenainya telah jatuh berguling di tanah. Hampir saja menimpa seorang kawannya yang lain yang sempat bergeser selangkah, namun gagal berusaha menangkap kawannya yang terjatuh itu.

Orang yang terjatuh itu dengan cepat melenting berdiri sambil mengumpat. Namun punggungnya terasa menjadi sakit.

Pertempuran dengan cepat telah terjadi antara kedua kelompok yang jumlahnya tidak seimbang itu. Tetapi seperti Jati Wulung, Maka Risangpun telah dengan tiba-tiba menyerang seorang diantara mereka. Meskipun orang itu tidak terjatuh, tetapi Risang telah berhasil menyakitinya, meskipun tidak banyak berpengaruh.

Sepuluh orang itupun kemudian telah memecah diri. Jati Wulung dan Gandar masing-masing harus melawan tiga orang, sedang Sambi Wulung bertempur melawan dua orang. Pemimpin kelompok itu telah menempatkan diri berhadapan dengan Risang dibantu oleh seorang kawannya yang merasa pernah mengenal Puguh. Mereka berusaha untuk menangkap Risang hidup-hidup. Bagi mereka Risang yang dikiranya Puguh itu akan sangat berarti jika dapat ditangkap hidup-hidup.

Jati Wulung yang marah itu segera bergeser ketempat yang lebih luas. Demikian pula Gandar yang masing-masing harus menghadapi tiga orang lawan. Di tempat yang lebih luas, mereka mendapat kesempatan untuk bergerak lebih leluasa.

Sementara itu, pemilik kedai itu seakan-akan telah kehilangan kekuatannya. Ia justru terduduk dengan gemetar dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Seorang pembantunya pun telah menjadi sangat ketakutan sehingga rasa-rasanya menjadi hampir pingsan.

Sementara itu, pemimpin sekelompok orang yang ingin menangkap Risang itu berusaha untuk dapat menguasai anak muda itu tanpa melukainya. Dengan bergerak cepat ia menyerang dengan garangnya, sementara kawannya berusaha untuk mengimbangi gerak pemimpin kelompoknya itu. Iapun berusaha melakukan sebagaimana dilakukan oleh pemimpinnya. Menangkap Risang hidup-hidup.

Tetapi Risang terlalu tangkas untuk dapat ditangkap. Apalagi Risang tidak merasa perlu untuk menjaga agar tidak melukai lawannya. Sehingga dengan demikian, maka iapun telah berloncatan dengan cepat. Sekali menghindari jangkauan tangan lawannya, namun tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang.

Pemimpin kelompok yang ingin menangkapnya itu memang terkejut. Anak muda itu mampu bergerak sangat cepat. Berloncatan dari satu lawan ke lawan lainnya. Serangannyapun terasa sangat berbahaya.

Sementara itu Jati Wulung yang marah telah bertempur dengan garang pula. Tetapi lawan-lawannyapun merasa sangat marah kepadanya. Jati Wulung dianggap telah menghina mereka, sekelompok orang yang dibekali dengan kemampuan olah kanuragan yang tinggi.

Tetapi merekapun tidak dapat mengingkari kenyataan. Lawannya itu ternyata seorang yang berilmu. Tiga orang diantara mereka tidak segera dapat mengatasinya, apalagi menguasainya. Bahkan sekali-sekali serangan Jati Wulung justru telah mulai menyentuh tubuh mereka.

Dengan demikian kemarahan ketiga orang itupun semakin menyala. Selapis demi selapis mereka meningkatkan kemampuan mereka, sejalan dengan pemanasan yang terjadi di urat-urat darah mereka. Ketika darah mereka semakin bergejolak dan tubuh mereka mulai berkeringat, maka ketiga orang itupun menjadi semakin garang.

Jati Wulung menyadari bahwa ia harus menjadi sangat berhati-hati ketika ia melihat bahwa ketiga orang itu ternyata adalah saudara seperguruan. Mereka mampu saling mengisi, menunjukkan ciri-ciri unsur gerak yang serupa dan kemampuan mereka luluh dalam satu gerakan yang sangat berbahaya.

Dengan demikian, yang mereka hadapi bukan sekedar satu kelompok orang yang berkumpul karena berbagai macam alasan, mungkin karena tujuan mereka yang bersamaan, mungkin karena upah atau mungkin karena kepentingan-kepentingan yang lain, tetapi nampaknya sudah menyangkut sebuah perguruan. Ikatan pada sebuah perguruan biasanya jauh lebih erat daripada ikatan sekelompok orang yang berkumpul karena alasan lain.

Dalam satu kesempatan Jati Wulung telah melihat, bahwa yang bertempur melawan Gandarpun ternyata mempunyai ciri-ciri yang sama dengan orang-orang yang bertempur melawannya. Namun mereka yang bertempur melawan Risang justru belum nampak kesamaannya dengan orang-orang yang lain. Mungkin dengan sengaja orang itu menyembunyikan ciri-ciri perguruannya, atau karena sebab yang lain. Atau mungkin juga karena ia tidak sempat mengamati dengan cermat, karena ia harus bertempur melawan tiga orang.

Namun semakin lama tekanan ketiga orang lawannya itupun terasa semakin berat bagi Jati Wulung. Tetapi Jati Wulung masih belum sampai kepuncak kemampuannya. Ia masih belum merambah ke ilmunya yang tertinggi. Meskipun demikian, sebagaimana lawan-lawannya, maka setingkat demi setingkat Jati Wulung pun telah meningkatkan ilmunya pula.

Gandar yang memiliki kekuatan yang sangat besar, mula-mula bertumpu pada kekuatannya. Tetapi ternyata lawan-lawannya bukan saja memiliki kekuatan yang besar pula, namun juga mampu bergerak cepat, segingga Gandar harus memperhatikannya dengan saksama.

Namun seperti Jati Wulung, maka Gandarpun segera menyadari bahwa ia berhadapan dengan sebuah perguruan. Bukan sekedar sekelompok orang yang bekerja bersama dibawah satu perintah. Atau bahwa sebuah perguruan yang bekerja bersama dengan pihak-pihak tertentu untuk satu kepentingan.

Lepas dari kepentingan mereka, maka berhadapan dengan tiga orang dari satu perguruan memang lebih sulit daripada berhadapan dengan tiga orang yang mempunyai landasan ilmu yang berbeda di tataran yang setingkat.

Orang-orang dari satu perguruan akan mampu bekerja bersama lebih baik dan dengan cepat akan dapat saling mengisi kekurangan-kekurangan mereka di medan daripada orang-orang yang berbeda alas kemampuannya.

Seperti Jati Wulung, maka Gandarpun harus meningkatkan kemampuannya pula. Ternyata ketiga orang itu-pun dapat bergerak cepat dan menyerang bergantian dari arah yang berbeda-beda.

Di lingkaran pertempuran yang lain, Sambi Wulung harus bertempur menghadapi dua orang. Semula Sambi Wulung merasa beruntung, bahwa ia tidak harus bekerja keras sebagaimana Jati Wulung dan Gandar. Namun ternyata kemudian, bahwa kedua orang itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Seorang diantara mereka sempat memperkenalkan diri. Katanya, “Ki Sanak. Nasibmu memang kurang baik. Kau telah bertemu dengan Sepasang Elang Randu Alas. Atau barangkali kau memang pernah mendengar nama Sepasang Elang itu?”

Sambi Wulung menggeleng. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Aku belum pernah mendengarnya. Siapakah nama kalian? Barangkali nama kalian lebih besar dari gelar kalian?”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Namaku tidak berarti apa-apa. Di seluruh negeri ini pernah mendengar gelarku, tetapi jarang sekali yang pernah mendengar namaku.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Sayang, bahwa aku termasuk perkecualian dari orang-orang di seluruh tanah ini.”

“Mungkin saja orang belum pernah mendengar gelarku. Orang yang tidak mengenal riuhnya dunia kanuragan. Juga orang-orang perempuan yang sibuk bekerja di dapur.“ sahut orang itu.

Sambi Wulung tersenyum. Katanya, “Meskipun aku laki-laki, tetapi kepandaianku bekerja di dapur melampaui seorang perempuan. Aku pandai masak jenis apapun dengan bahan apapun. Bahkan daging elang yang dianggap tidak enak itu, dapat aku masak menjadi lebih enak dari daging ayam, meskipun aku harus merendamnya dalam landa merang selama sehari-semalam.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka agaknya masih sempat menahan diri. Seorang yang lainlah yang kemudian berkata, “Kau memang seorang yang berani Ki Sanak, meskipun harus dibedakan antara berani dan berilmu tinggi.”

“Tepat,“ jawab Sambi Wulung, “juga antara orang yang banyak dikenal dengan orang yang memiliki kelebihan.”

Yang tertua diantara kedua orang yang menyebut dirinya Sepasang Elang itupun berkata, “Baiklah. Nampaknya kau benar-benar sudah siap menghadapi kematian. Kau telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadamu untuk menyerahkan anak itu.”

“Bagaimana kami dapat menyerahkan anak muda yang tidak tahu menahu tentang persoalan yang kalian hadapi. Bagaimana aku harus menyerahkan anak muda itu sebagai anak muda yang bernama Puguh, sementara kami sama sekali tidak pernah mengenalnya.” jawab Sambi Wulung.

“Dan sekarang perintah sudah jatuh. Kalian harus dibunuh,“ berkata yang muda diantara kedua orang itu.

“Sudah tentu aku akan membela diri. Jika kalian benar-benar akan membunuhku, maka akupun akan benar-benar membunuh kalian.” jawab Sambi Wulung.

“Kau memang terlalu sombong, “geram yang tua, “tidak ada kesempatan bagimu untuk hidup. Betapa tinggi ilmumu, jika kau sudah berhadapan dengan Sepasang Elang Randu Alas, maka kau tidak akan berarti apa-apa lagi.”

Sambi Wulung tidak menjawab. Ia telah menjadi muak mendengar kesombongan kedua orang itu. Karena itu, maka iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas, maka Sambi Wulung tidak akan merendahkan lawan-lawannya. Meskipun gelar yang dibanggakan itu belum pernah didengarnya tetapi bukan mustahil bahwa keduanya memang orang-orang berilmu tinggi.

Karena itu, maka pertempuran diantara merekapun telah menyala lagi. Dengan cepat berkobar lebih dahsyat dari sebelumnya. Sepasang Elang itu telah benar-benar berusaha untuk melumpuhkan pertahanan Sambi Wulung. Keduanya menyerang beruntun tanpa henti-hentinya, seperti debur ombak yang beruntun menghantam tebing.

Tetapi Sambi Wulung ternyata tidak mudah ditundukkan. Dengan tangkas ia berloncatan kian kemari. Menyilang diantara kedua orang itu. Namun kemudian melenting mengambil satu arah. Sekali-sekali menyerang dengan kaki. Namun tiba-tiba tangannya terayun mendatar ke arah kening.

Semakin lama kedua orang yang menyebut dirinya Sepasang Elang itu bergerak semakin cepat. Mereka bagaikan berterbangan mengitari Sambi Wulung. Sekali-sekali menukik menyambar lawannya. Tangannya bagaikan kuku-kuku cakar Elang yang tajam. Namun Sambi Wulung dengan tangkas selalu berhasil menghindarinya. Iapun berloncatan dengan cepat dan langkah-langkahnya menjadi panjang. Bahkan kemudian kakinya seakan-akan tidak lagi berjejak diatas tanah.

“Anak iblis,“ geram Elang yang tua, “darimana kau mewarisi kemampuan seperti itu?”

Sambi Wulung sama sekali tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja ketika Elang yang muda menyambarnya dengan jari-jarinya yang mengembang, maka Sambi Wulung sempat bergeser kesamping sambil merendahkan dirinya. Kuku-kuku yang siap mengajak wajahnya itu terayun setapak diatas kepalanya. Namun sambil merendahkan diri, Sambi Wulung telah mengayunkan kedua kakinya dan bertumpu pada kedua tangannya.

Satu serangan yang sangat tiba-tiba dan tidak ter duga. Karena itu, maka Elang yang muda itu bagaikan terhempas dan terlempar beberapa langkah. Dengan susah payah ia berusaha mempertahankan keseimbangan dengan mengembangkan kedua tangannya. Meskipun ia berhasil tetap berdiri, namun Elang yang muda itu harus menyeringai menahan sakit. Rasa-rasanya tulang iganya bagaikan retak.

Yang terdengar adalah suara Elang itu mengerang. Tetapi semakin lama semakin keras. Yang kemudian terdengar bukan lagi erang kesakitan, tetapi teriakan marah yang menggetarkan jantung.

Sambi Wulung mula-mula menganggap bahwa teriakan yang semakin keras itu hanya menyakiti telinganya saja. Namun semakin lama iapun semakin menyadari, bahwa suara itu telah dilontarkan dengan landasan ilmu. Suara yang mirip dengan suara seekor burung Elang yang marah itu semakin lama menjadi semakin keras.

Sambi Wulung yang telah memiliki sebangsal pengalaman itupun segera mengerahkan daya tahannya untuk menjaga agar isi dadanya tidak rontok karenanya.

Namun sekali ia berusaha mengatasi kesulitan dida-danya, maka Elang yang tuapun telah menyambarnya. Hampir saja ayunan tangan Elang itu menyambar keningnya. Tidak dengan jari-jari yang mengembang, tetapi terbuka dan merapat. Namun ketika serangan itu tidak menyentuh sasarannya, maka Elang yang tua itu telah berputar dan sekali lagi menyambar. Namun yang terakhir itu telah dilakukannya dengan jari-jari yang mengambang.

Sambi Wulung meloncat menghindar, sementara itu ia harus mengatasi serangan suara yang dilontarkan oleh Elang yang muda.

Tetapi sambi Wulung tidak membiarkan dirinya sekedar menjadi sasaran serangan kedua orang yang menyebut dirinya Sepasang Elang Randu Alas itu. Ketika itu merasa mulai terdesak, maka Sambi Wulungpun telah meningkatkan kemampuannya pula.

Dengan demikian maka Sambi Wulung itupun telah menjadi semakin garang. Serangannya menjadi cepat dan keras. Bahkan dengan perhitungan penalarannya, maka serangannya justru lebih banyak ditujukan kepada Elang yang muda, sehingga ia tidak mendapat kesempatan terlalu banyak untuk memusatkan serangannya lewat suaranya yang bergerak bagaikan memecahkan jantung.

Sejenak kemudian, maka pertempuran antara Sambi Wulung dengan Sepasang Elang itupun menjadi semakin sengit. Mereka bergerak semakin cepat dan semakin kuat. Sekali-sekali terdengar Elang yang muda itu masih saja berteriak, justru semakin keras.

Namun dengan demikian Sambi Wulung telah memperhatikan keadaan Risang pula. Nampaknya kelompok yang dikirim untuk mencari Puguh itu bukan asal saja menunjuk setiap orang diantara mereka. Tetapi diantara mereka terdapat orang-orang yang berilmu tinggi.

Tetapi Sambi Wulung tidak tahu, bahwa sebuah kelompok yang berhasil menemukan tempat persembunyian Ki Rangga dan Warsi telah gagal mengambil mereka, karena kehadiran Ki Ajar Paguhan dan Ki Randu Keling.

Dengan demikian, maka Sambi Wulung itu sempat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dengan Risang. Meskipun Sambi Wulung yakin, bahwa Risang tidak akan dibunuh jika tidak terpaksa, tetapi anak itu akan dapat mengalami kesulitan dan bahkan mungkin akan dapat ditangkap. Jika dua orang di antara orang-orang itu memiliki ilmu yang tinggi, maka pemimpinnya tentu juga memiliki ilmu yang memadai.

Sebenarnyalah bahwa Risang mengalami banyak kesulitan. Meskipun ia sudah menjadi semakin tangkas, tetapi pemimpin kelompok itu memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, setiap kali Risang menjadi terdesak. Sedangkan lawannya yang seorang lagi, selalu berusaha memotong garis geraknya. Orang itu menjaga agar Risang tidak dapat melarikan diri.

Ketika Sambi Wulung sempat memperhatikan sekilas, maka ia memang menjadi cemas.

Sementara itu, iapun telah sempat melihat apa yang terjadi pada Jati Wulung dan Gandar. Ternyata bahwa orang-orang yang bertempur melawan kedua orang itupun termasuk orang yang berbekal ilmu. Bukan sekedar orang yang mampu bermain pedang atau jenis-jenis senjata yang lain.

Dengan demikian, maka Sambi Wulung harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapat kesempatan melindungi Risang. Jika tidak, maka Risang akan dapat dibawa oleh orang itu. Orang yang tidak diketahui sangkan parannya, sehingga mereka tidak akan mudah untuk dapat melacaknya.

Untunglah bahwa Risang telah memperdalam ilmunya dengan sungguh-sungguh. Karena itu, ia masih mampu memperpanjang waktu perlawanannya atas dua orang ang berusaha menangkapnya. Kecerdasan nalarnya telah memberinya isyarat, bahwa kedua orang itu untuk sementara tidak akan membunuhnya. Tetapi jika terpaksa agaknya hal itu akan dapat mereka lakukan.

Beberapa saat kemudian, maka pertempuran di halaman samping kedai itupun menjadi semakin sengit. Ternyata pertempuran itu memang menarik perhatian banyak orang. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka berani ikut campur setelah mereka melihat dari kejauhan, apa yang telah terjadi. Seorang yang memiliki sedikit pengetahuan dalam olah kanuragan, justru telah menjadi gemetar, karena ia tahu, betapa tinggi ilmu yang disaksikannya itu.

Dengan demikian maka mereka yang serba sedikit mengenal olah kanuragan, justru menjadi sangat cemas, bahwa akan terjadi pembantaian yang mengerikan. Salah satu pihak tentu akan jatuh korban.

Hanya orang-orang yang tidak tahu menahu tentang olah kanuragan sajalah yang justru berani lebih mendekat. Mereka ingin tahu apa yang telah terjadi di halaman sebelah kedai itu. Sementara itu, pemilik kedai itu sendiri bersama pembantunya telah lari lewat pintu samping.

“Siapa mereka?“ bertanya salah seorang diantara mereka yang berani agak mendekat.

“Entahlah.” jawab kawannya.

“Kasihan. Empat orang harus berkelahi melawan sepuluh orang,“ berkata orang yang pertama.

“Ya. Tetapi nampaknya mereka tidak segera dapat dikalahkan,“ sahut kawannya.

Yang pertama mengangguk-angguk. Ia mencoba memberikan pendapatnya tentang mereka yang bertempur meskipun sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa.

“Yang masih muda itu luar biasa,“ desis orang itu, “ia mampu berloncatan kian kemari mengatasi serangan-serangan kedua lawannya.”

“Yang mana?“ bertanya kawannya.

“Itu, yang harus bertempur melawan dua orang”

“Tetapi ia sering berloncatan mundur. Berbeda dengan yang harus bertempur melawan tiga orang itu. Orang yang bertubuh kekar.”

Orang yang pertama mengangguk-angguk. Ia memang melihat Gandar yang dengan tangkasnya melawan ketiga orang lawannya.

Namun sebenarnyalah bahwa Gandarpun harus bekerja keras untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan yang datang beruntun dari tiga arah berturutan. Seakan-akan tidak ada waktu sama sekali baginya untuk membalas menyerang. Yang dilakukan hanyalah sekedar menangkis, menghindar dan melindungi dirinya.

Tetapi Gandar tidak membiarkan keadaan itu berlangsung terus-menerus. Karena itu, maka iapun segera menghentakkan dirinya ketika serangan berikutnya datang. Ia tidak berusaha menghindar atau menangkis serangan itu. Tetapi Gandar dengan sengaja telah membentur serangan itu dengan serangan pula.

Dengan demikian maka telah terjadi benturan yang keras. Gandar memang terguncang dan terdorong selangkah surut. Namun dengan tangkasnya Gandar telah meloncat, justru keluar dari garis serangan ketiga orang lawannya.

Lawan-lawannya memang tidak segera memburu. Mereka tengah memperhatikan seorang diantara mereka yang telah membentur Gandar yang dengan sengaja tidak menghindari serangan.

Orang itu bukan sekedar terguncang. Tetapi orang itu telah terlempar beberapa langkah surut. Tanpa dapat mempertahankan keseimbangannya, maka orang itu telah terjatuh.

Kedua orang saudara seperguruannya telah mendekatinya dengan cepat. Mereka menolong saudaranya yang terjatuh itu untuk berdiri.

Orang yang terjatuh itu mengumpat kasar. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Punggungnya memang bagaikan retak.

Karena itu untuk beberapa saat ia memerlukan waktu untuk memperbaiki keadaannya. Sementara itu, saudaranya yang lainlah yang telah bersiap-siap untuk melawan Gandar.

Sejenak kemudian Gandar telah btempur lagi. Mula-mula ia hanya melawan dua orang. Ketika tumbuh niatnya untuk memanfaatkan keadaan itu, maka lawannya yang ketiga telah kembali memasuki arena. Dengan demikian maka Gandar telah kembali melawan tiga orang lawan. Tetapi seorang diantara mereka sudah tidak lagi setangkas semula. Meskipun demikian orang itu masih tetap merupakan orang yang sangat berbahaya.

Sementara Gandar masih sibuk dengan ketiga orang lawannya, maka Jati Wulung masih juga harus melayani tiga orang lawan. Seperti Gandar, maka Jati Wulung merasa bahwa tekanan-tekanan lawan semakin lama menjadi semakin berat.

Bahkan ketiga orang lawan Jati Wulung nampaknya secara bersama-sama telah mengetrapkan ilmu mereka yang sangat berbahaya.

Ketiga orang itupun dalam satu kesempatan telah berdiri mengepung Jati Wulung. Tangan mereka tiba-tiba telah melakukan gerakan-gerakan yang nampaknya memang rumit. Namun sejenak kemudian, kedua kakinya telah merenggang. Kaki kanan justru agak ditarik ke belakang.

Sejenak kemudian dalam sikap miring itu, mereka mulai bergerak mengelilingi Jati Wulung.

“Tataplah langit untuk yang terakhir kalinya,“ berkata salah seorang diantara ketiga orang itu, “sebentar lagi kau akan mati digilas oleh kedahsyatan ilmuku ini.”

Jati Wulung tidak menjawab. Namun iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kedua kakinya menjadi renggang. Ia agak merendah pada lututnya, kemudian kedua tangannya telah siap di dadanya. Kedua tangannya terbuka dengan jari-jari yang rapat.

Sementara itu, ketiga orang itu mengelilingi sambil menghentak-hentak tanah. Berderap semakin lama semakin cepat. Hentakkan yang dibarengi dengan gumam di mulut yang semakin lama juga menjadi semakin keras.

Jati Wulung termangu-mangu sesaat. Namun ia tidak mempunyai banyak waktu. Ternyata sejenak kemudian, ketiga orang yang seperti menjadi mabuk itu telah menyerang dengan garangnya. Seorang-seorang melenting dengan cepat susul-menyusul.

Jati Wulung yang memang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan tangkas pula telah menghindari setiap serangan. Namun serangan ketiga orang itu semakin lama seakan-akan menjadi semakin cepat. Setiap kali mereka kembali dalam putaran dan irama yang semakin cepat itu, serta gumam dimulut yang menjadi bagaikan teriakan-teriakan kasar.

Sementara itu, ketiga orang yang bertempur melawan Gandar telah melakukan hal yang sama pula. Mereka berdiri dalam satu lingkaran sambil berputar dengan menghentak-hentakkan kakinya serta mulutnya yang berteriak semakin keras.

Jati Wulung akhirnya tidak sekedar menunggu. Ketika putaran itu mulai lagi, maka Jati Wulunglah yang menyerang dengan cepat. Tetapi sasarannya cepat menghindar, sementara itu dua oran yang lain, telah meluncur membantu saudara seperguruannya dengan menyerang Jati Wulung.

Jati Wulung berhasil menghindari serangan orang yang pertama dengan bergeser menghindar. Namun serangan yang kedua, ternyata tidak dapat dihindarinya sepenuhnya. Serangan itu telah mengenai pundaknya sehingga Jati Wulung terguncang dan terdorong beberapa langkah surut.

Terasa tulangnya bagaikan retak. Sentuhan itu memang sakit sekali. Jauh melampaui sengatan pukulan dengan sepotong kayu sekalipun.

Sementara Jati Wulung berusaha mengatasi rasa sakit itu, maka ketiga orang itupun telah melingkarinya pula dengan hentakkan-hentakkan kaki dan teriakan yang membuatnya menjadi pening.

Akhirnya Jati Wulung tidak dapat membiarkan keadaan itu berlangsung terus-menerus, sehingga akhirnya ia kehilangan pengendalian diri oleh perasaan pening yang semakin menekan.

Karena itu, maka Jati Wulung telah mempergunakan kemampuan diantara ilmu yang dimilikinya.

Ketika saat yang dianggapnya baik itu datang, maka sekali lagi Jati Wulung menyerang salah seorang diantara ketiga orang itu. Ia sadar, bahwa dua orang yang lain akan membebaskannya dengan menyerang bersama-sama.

Sebenarnyalah seperti yang diperhitungkan oleh Jati Wulung, serangan dari kedua orang yang lain itu datang beruntun, sementara sasarannyapun mencoba untuk menghindar.

Namun Jati Wulung telah bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang, maka Jati Wulung dengan cepat menghindar, sementara serangan yang lain, sengaja tidak dihindarinya. Tetapi Jati Wulung telah membentur serangan itu dengan serangan pula.

Orang itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa lawannya telah membentur serangannya. Sehingga justru karena itu, maka orang itu telah terpental beberapa langkah surut. Meskipun Jati Wulung juga berguncang, tetapi keadaannya tidak menjadi separah lawannya. Dalam benturan yang terjadi, Jati Wulung telah menghantam dada orang itu dengan telapak tangannya, sementara lambungnya sendiri merasa sakit sekali karena kaki lawannya yang dapat mengenainya dengan kekuatan yang berlipat dengan kekuatan kaki sewajarnya.

Tetapi Jati Wulungpun telah mempergunakan ilmunya pula. Telapak tangannya yang mengenai dada lawannya, bukan sekedar dorongan yang membuat lawannya terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Tetapi lawannya itupun kemudian menyeringai menahan sakit yang sangat. Rasa-rasanya dadanya bukan saja dikenai telapak tangan dalam benturan yang keras. Tetapi rasa-rasanya dadanya telah tersentuh api.

Ketika ia sempat menyaksikannya, ia terkejut bukan kepalang. Bajunya, bahkan kulitnya memang menjadi hangus. Didadanya membekas kehitam-hitaman telapak tangan lawannya itu.

“Tapak Geni,“ geram orang itu. Kedua orang saudara seperguruannyapun tiba-tiba saja telah berhenti menghentak-hentak. Nampaknya mereka sangat memperhatikan keadaan saudaranya yang telah disentuh oleh kekuatan ilmu Jati Wulung.

“Iblis kau,“ orang yang telah dikenai sentuhan tangannya itu mengumpat, “darimana kau mendapatkan ilmu seperti itu. Dan siapakah kau sebenarnya?”

“Sekali lagi aku peringatkan. Kita tidak mempunyai persoalan sama sekali. Aku masih memberimu kesempatan untuk pergi. Anak muda itu bukan anak muda yang kalian cari. Jika kalian mati dalam pertempuran ini, maka kematian kalian adalah kematian yang sia-sia. Karena itu aku minta agar sekali lagi kawanmu itu mengenali wajah anak muda itu. Apakah benar-benar ia orang yang dicarinya,“ berkata Jati Wulung.

“Persetan,“ geram orang itu, “bekas-bekas yang nampak pada mayat-mayat kawan-kawanku di Pajang ketika mereka gagal menangkap Ki Rangga dan Warsi mirip dengan bekas tanganmu meskipun nampaknya dengan alas ilmu yang berbeda. Tetapi kami mendengar bahwa saat itupun hadir orang-orang berilmu tinggi. Setidak-tidaknya menilik bekas pertempuran yang telah terjadi.”

“Siapa yang ada di Pajang?“ bertanya Jati Wulung.

“Kau memang iblis yang licik. Jangan berpura-pura lagi. Saat kematianmu telah datang.“ geram orang itu.

“Apakah artinya semuanya ini,” desis Jati Wulung, “perkelahian yang tidak ada gunanya hanya karena salah paham. Tetapi jika terpaksa kami harus membunuh, apa boleh buat.”

“Kau tidak perlu merajuk.“ geram orang itu.

“Baiklah. Tetapi siapakah kalian sebenarnya. Siapa-pun yang skan mati bukan soal lagi.“ bertanya Jati Wulung.

“Itu tidak perlu. Perguruanku terletak ditempat yang jauh. Tidak ada gunanya kau mengenalnya,“ jawab orang itu, “yang penting, kau akan mati. Anak itu akan menjadi tawanan kami.”

Diluar dugaan Jati Wulung sempat rpemandang lingkaran pertempuran yang lain sejenak. Terutama Risang.

Jati Wulung memang menjadi berdebar-debar. Risang nampaknya mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri. Karena itu, maka seperti Sambi Wulung, maka Jati Wulungpun merasa bahwa ia harus mempercepat penyelesaian atas lawan-lawannya. Tetapi Jati Wulungpun sadar, bahwa hal seperti itu bukan hal yang mudah.

Karena itu, ketika lawannya masih akan berbicara lagi, Jati Wulung berkata, “Waktu kita tidak terlalu banyak. Disekeliling arena itu, orang semakin banyak berkerumun melihat perkelahian yang tidak punya arti apa-apa ini, selain sekedar keinginan untuk membunuh. Mungkin Bekel atau bahkan Demang dari tempat ini akan turut campur sehingga persoalannya menjadi berkepanjangan.”

“Kita tidak perlu menghiraukan tikus-tikus kecil itu,“ desis lawannya.

Namun Jati Wulung telah benar-benar ingin mempercepat penyelesaian dari pertempuran itu, karena keadaan Risang yang menjadi gawat. Meskipun Jati Wulung juga berpikir bahwa Risang tidak akan dibunuh, tetapi jika ia tertangkap dan dibawa oleh lawannya itu, maka persoalannya akan menjadi sangat rumit.

Karena itu, maka Jati Wulunglah yang mulai bergerak. Dengan demikian maka ketiga orang lawannyapun telah bersiap pula. Namun Jati Wulung melihat, bahwa orang yang telah dikenai dadanya itu tidak lagi mampu bergerak sebagaimana kedua orang kawannya yang lain.

Sejenak kemudian maka pertempuranpun telah berlangsung kembali. Kedua belah pihak telah mengerahkan kemampuan mereka untuk benar-benar membunuh lawannya.

Namun ketiga orang lawan Jati Wulung harus lebih berhati-hati, karena mereka tahu, bahwa telapak tangan Jati Wulung yang dilambari dengan ilmunya, mampu membakar tubuh mereka yang sempat disentuhnya.

Tetapi Jati Wulunglah yang kemudian menjadi semakin garang, karena keadaan Risang yang menjadi semakin gawat.

Gandarpun sempat melihat keadaan Risang yang semakin sulit. Karena itu, maka Gandarpun telah meningkatkan ilmunya pula. Kekuatannya bagaikan menjadi semakin besar dan bertumpu pada tangan dan kakinya. Dengan demikian, maka sentuhan tangan Gandar telah membuat tulang-tulang lawannya bagaikan berpatahan.

Sebenarnyalah kekuatan Gandar bukan sekedar kekuatan wadagnya. Tetapi ia benar-benar telah melampaui batas kemampuan wadagnya itu. Gandar yang kekar itu telah memasuki ilmunya yang tinggi, sehingga sentuhan tangannya bukan saja sentuhan tangan wajar. Demikian pula sentuhan kakinya. Getaran yang tersimpan didalam dirinya, akan dapat dengan cepat dan dengan serta merta langsung menyusup ketubuh lawan sehingga menimbulkan getar asing didalam diri mereka. Getar yang asing itulah yang kemudian akan mengganggu dan menyakiti lawannya, seakan-akan akibat pukulan Gandar dengan kekuatan yang sangat besar.

Baik Jati Wulung maupun Gandar perlahan-lahan telah mulai mendesak ketiga orang lawan masing-masing. Jati Wulung telah berhasil melukai lawannya yang lain. Bahkan seorang diantara mereka telah dilukainya di beberapa bagian tubuhnya. Dengan demikian maka perlawanan merekapun mulai menjadi semakin mengendor, meskipun sama sekali tidak terbersit niat yang demikian. Ketiga orang lawan Gandar dan tiga orang lawan Jati Wulung itu masih bertekad bulat untuk membunuh lawan-lawan mereka sebagaimana perintah pemimpinnya, karena orang-orang yang dianggap para pengawal Puguh itu tidak mau menyerah.

Tetapi mereka harus mengakui satu. kenyataan, bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Dibagian lain, Sambi Wulungpuh menjadi sangat cemas. Tetapi iapun tidak terlalu mudah untuk mengalahkan Sepasang Elang Randu Alas itu. Keduanya mampu bergerak cepat dan seakan-akan menyambar-nyambarnya dari segala arah. Sementara itu derak suara Elang yang muda disetiap kesempatan itupun telah membuat telinganya semakin pedih.

Karena itu, maka Sambi Wulungpun telah berniat untuk mempergunakan ilmunya sebagaimana Jati Wulung. Agaknya Sambi Wulungpun berniat untuk mempergunakan kemampuannya sebagaimana dipergunakan oleh Jati Wulung. Namun kemampuannya yang paling berbahaya bagi musuh-musuhnya.

Sebagai saudara tua seperguruan, maka Sambi Wulung memang memiliki kelebihan dari Jati Wulung. Meskipun mereka sama-sama mempelajari ilmunya sampai tuntas, tetapi pengembangannya ternyata sedikit lebih matang.

Karena itu, menghadapi lawan yang berilmu tinggi itu, Sambi Wulung masih mampu mengimbanginya. Bahkan ketika ia mulai merambah ke ilmunya, Sepasang Elang itu harus menjadi semakin berhati-hati.

Elang yang muda itu terkejut ketika terjadi benturan ilmu dengan Sambi Wulung. Ketika Elang yang muda itu menyerang, maka Sambi Wulungpun justru telah menyerangnya pula.

Sambi Wulung terdorong selangkah surut. Tetapi ia masih mampu bertahan pada keseimbangannya, sementara lawannya telah terpental beberapa langkah. Namun bukan saja dadanya sakit karena hentakan kekuatan tangan Sambi Wulung, tetapi pakaian dan kulitnya telah membekas luka bakar di bagian dadanya. Terasa perasaan pedih yang menyengat. Sehingga Elang yang muda itu harus mengerahkan daya tahan tubuhnya untuk mengatasi perasaan sakit.

Namun dalam pada itu, Sambi Wulung yang baru saja terdorong surut dan berusaha untuk tetap menguasai keseimbangannya itu telah diserang dengan tiba-tiba. Elang yang tua itu bagaikan menukik dari langit. Kukunya yang tajam telah mencengkam ke arah leher Sambi Wulung. Sambi Wulung memang berusaha untuk menghindar. Tetapi karena serangan itu demikian tiba-tiba, maka ia tidak dapat menghindar sepenuhnya. Kuku-kuku yang tajam itu berhasil mengenai pundaknya sehingga pundaknya itu bagaikan telah terkoyak.

Sambi Wulung terhuyung-huyung kesamping. Namun dengan cepat ia meningkatkan daya tahannya pula untuk mengatasi perasaan sakit, sementara darah mulai mengalir dari lukanya itu.

Sambi Wulung menggeram. Kemarahannya telah memuncak sampai ke ujung rambutnya. Ia tidak ingin terlambat untuk menyelamatkan Risang. Apalagi gagal sama sekali.

Karena itu, maka Sambi Wulung itupun telah mengerahkan kemampuannya, sementara ia masih juga berdoa dan berharap, agar Risang diselamatkan.

Dengan demikian maka pertempuranpun semakin lama menjadi semakin cepat. Sambi Wulung justru menjadi semakin garang, seperti seekor banteng yang terluka. Dengan bekal berbagai ilmunya, maka Sambi Wulung mampu bergerak cepat, tenaganyapun menjadi berlipat, sementara itu telapak tangannya bagaikan telah membara.

Dengan demikian, maka Sambi Wulung yang terluka itu menjadi semakin garang. Kakinya menjadi semakin cepat bergerak. Tangannya terayun-ayun mengerikan. Bahkan Sambi Wulung kemudian tidak lagi berniat untuk menghindari serangan-serangan. Tetapi ia harus membentur serangan-serangan. Jika lawannya menyerang dengan jari mengembang, maka Sambi Wulung berusaha untuk membenturnya dengan telapak tangannya yang membara.

Sepasang Elang itu memang mengalami kesulitan untuk menyerang. Tetapi keduanya memiliki pengalaman yang luas, sehingga dengan saling mengisi, keduanya mampu juga menembus pertahanan Sambi Wulung. Lengan Sambi Wulung ternyata telah tergores pula oleh kuku-kuku Elang muda yang tajam. Tetapi Elang yang muda itu tidak dengan cepat dapat menghindar ketika Sambi Wulung langsung memburunya. Punggungnyalah yang kemudian tersentuh telapak tangan Sambi Wulung.

Elang yang muda itu menyeringai menahan sengatan panas. Namun giginya menjadi gemeretak. Ketika punggungnya dilukai, maka Elang yang tua telah menyerang Sambi Wulung pula. Tetapi dengan tangkasnya Sambi Wulung merendah. Demikian ayunan kuku-kuku yang tajam itu menyambar diatas kepalanya, maka Sambi Wulunglah yang kemudian menjulurkan tangannya ke arah lambung lawannya.

Karena jaraknya yang tidak terlalu dekat, maka Sambi Wulung hanya menyentuh saja lambung lawannya itu tanpa dorongan kekuatan yang cukup. Tetapi sentuhan itu adalah sentuhan bara, sehingga meskipun tidak dengan kekuatan yang besar tetapi sentuhan tangan Sambi Wulung itu telah mampu membakar kulitnya.

Kedua Elang yang telah terluka itupun memang menjadi semakin garang. Tetapi lawan merekapun menjadi semakin keras pula.Bahkan Sambi Wulung yang tidak mau kehilangan Risang itu tidak lagi mengekang diri. Serangan-serangannya ternyata tidak kalah cepatnya dari Sepasang Elang itu.

Ternyata bahwa sentuhan tangan Sambi Wulung semakin lama menjadi semakin banyak ditubuh Sepasang Elang itu. Meskipun Sambi Wulung sendiri tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa tenaganya menjadi susut karena darah yang mengalir terus dari lukanya, namun lawan-lawannyapun menjadi semakin tidak berdaya pula.

Dalam kemarahan yang memuncak, maka Sambi Wulung benar-benar tidak mengekang diri lagi. Apalagi ketika ia mulai dipengaruhi bayangan-bayangan yang mengerikan tentang Risang yang ternyata telah dikira Puguh.

Dengan demikian, maka serangan-serangan Sambi Wulung itu menjadi semakin garang dan berbahaya. Dengan sisa tenaganya maka ia berusaha untuk mengakhiri pertempuran.

Sebenarnyalah Sepasang Elang Randu Alas itu menjadi semakin terdesak. Luka-luka bakar ditubuh mereka bukan saja terasa panas, tetapi untuk bergerak cepat dan keras, maka luka-luka itu bagaikan telah terbuka. Darah mulai mengalir dari luka-luka bakar itu, sehingga Sepasang Elang itupun menjadi semakin lemah karenanya.

Disaat-saat terakhir, Sepasang Elang itu memang tidak banyak berdaya. Sentuhan-sentuhan tangan Sambi Wulung menjadi semakin sering mengenai tubuh mereka.

Ternyata maka kedua orang itu akhirnya tidak mampu lagi bertahan. Disaat terakhir, maka Elang yang mudalah yang lebih dahulu kehilangan kemampuannya untuk melawan. Meskipun ia masih mencoba untuk mempergunakan suaranya mempengaruhi ketahanan dan perlawanan Sambi Wulung. Elang yang tua itupun sekali-sekali telah mencoba pula memperkuat serangan suara Elang yang muda. Namun semuanya tidak berhasil. Sambi Wulung benar-benar telah menguasai medan sehingga akhirnya Sepasang Elang itu benar-benar tidak berdaya. Nafas mereka menjadi terengah-engah, sementara tenaga mereka bagaikan terkuras.

Tetapi mereka telah bertempur sampai kemampuan mereka yang terakhir. Sebagai bagian dari satu kelompok yang besar dan terikat berbagai macam alasan, maka Sepasang Elang itu sudah menunaikan tugasnya dengan sepenuh kemampuannya. Tetapi ternyata bahwa mereka berhadapan dengan orang yang berilmu jauh lebih tinggi dari mereka masing-masing, sehingga meskipun mereka bertempur berdua, namun mereka tidak dapat berhasil.

Elang yang mudalah yarig lebih dahulu terjatuh ketika tangan Sambi Wulung sempat terayun mengenai tengkuknya. Sengatan panas dan kekuatan yang sangat besar rasa-rasanya telah mematahkan dan membakar lehernya. Karena itu, maka Elang yang muda itu telah jatuh tertelungkup.

Sementara itu, Elang yang tua bagaikan terbang menerkam Sambi Wulung. Tetapi Sambi Wulung sempat meloncat kesamping. Namun, demikian sambaran Elang itu lewat, maka Sambi Wulung telah meloncat dan dengan satu putaran tangannya terayun mendatar. Namun telapak tangannya masih juga sempat menghantam dan bahkan mencengkam lengan Elang yang tua itu. Satu hentakkan yang tidak diperhitungkan telah menarik Elang itu mendekat. Dengan kekuatan yang sangat besar, Sambi Wulung telah menghantam dada lawannya itu.

Elang yang tua itu sempat mengumpat. Namun kemudian yang terdengar adalah erang yang panjang ketika Elang itu terjatuh menelentang di tanah.

Sambi Wulung sejenak berdiri bagaikan membeku. Ia masih ingin meyakinkan apakah kedua orang itu masih akan bangkit lagi untuk melawan. Tetapi ternyata kedua orang itu sudah tidak berdaya lagi.

Karena itu, perhatian Sambi Wulung kemudian tertuju kepada Risang yang semakin terdesak. Bahkan Risang sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghindarkan diri dari cengkeraman kedua orang lawannya.

Jantung Sambi Wulung bagaikan berdentang semakin cepat. Dengan langkah panjang Sambi Wulung meloncat mendekati Risang.

Tetapi yang dilakukan oleh Sambi Wulung itu ternyata telah mempercepat berakhirnya perlawanan Risang. Ketika seorang lawannya menyerang dengan kakinya ke arah lambung, Risang masih sempat mengelak. Namun ia tidak mendapat kesempatan berikutnya. Ketika pemimpin kelompok itu melihat Sambi Wulung menyelesaikan kedua lawannya dan meloncat ke arahnya, maka iapun telah meningkatkan kemampuannya, sehinga dengan serta merta, kekuatan dan kemampuannya telah meningkat.

Dengan cepat orang itu menangkap tangan Risang yang menangkis serangannya. Sekali tangan itu dipilinnya kebelakang, maka Risang tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Sementara tangan lawannya yang lain telah melingkar dilehernya.

“Jangan mendekat,“ geram orang itu, “dengan satu hentakkan, leher anak ini akan patah. Terserah kepadamu, apakah aku harus membawa anak ini, atau membunuhnya sekali. Jika aku tidak berhasil membawanya, maka lebih baik aku membunuhnya.”

Sambi Wulung memang harus berhenti. Nampaknya Orang itu bersungguh-sungguh. Dengan nada datar Sambi Wulung berkata, “Aku tidak membunuh Sepasang Elang Randu Alas itu. Mereka masih hidup. Yang aku inginkan adalah, agar kalian sekali lagi memperhatikan anak itu. Ia sama sekali bukan Puguh.“ Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu, “Jika kau dapat menerima tawaranku, kita akan saling menukar. Kau ambil kawan-kawanmu sebelum aku membunuhnya. Tetapi serahkan anak itu kepadaku.”

“Persetan,“ geram pemimpin kelompok itu sambil bergeser surut, “jangan mengada-ada. Aku tidak peduli kau bunuh kawan kawanku. Yang penting aku berhasil menangkap Puguh.”

“Jika anak itu benar-benar Puguh, maka kematian kawanmu itu akan berarti. Tetapi anak itu bukan Puguh. Aku minta kalian memperhatikan sekali lagi. Apakah kalian benar-benar mengenalinya? Kematian kawan-kawanmu tidak akan berarti apa-apa, karena orang yang kau harapkan datang untuk mengambil anaknya itu tidak akan pernah datang. Mungkin Puguh sekarang sedang bergurau bersama kedua orang tuanya itu, atau berburu atau mungkin apa lagi,“ berkata Sambi Wulung.

“Persetan dengan Puguh,“ geram orang itu, “pokoknya aku akan membawa anak ini. Puguh atau bukan Puguh. Jika anak ini ternyata bukan Puguh, aku akan dapat melepaskannya sepanjang tidak ada seorangpun diantara orang-orangku yang terbunuh.”

“Licik kau,“ geram Sambi Wulung, “lalu buat apa kau bawa anak itu jika ia bukan Puguh. Kau telah merampas haknya tanpa alasan. Hanya karena ketidak mampuanmu mengenali seseorang sajalah maka kau telah melakukannya. Dengan demikian, jika ada korban yang jatuh dari pihak manapun, adalah tanggung jawabmu sendiri.”

“Aku tidak peduli,“ bentak orang itu, “aku tidak peduli dengan hak siapapun. Jika aku berkepentingan, maka aku akan melakukannya. Sesuai dengan kepentinganku. Bukan kepentingan orang lain. Jika dengan demikian hak orang lain terlanggar, aku tidak peduli. Tanggung jawabku adalah bahwa aku siap membuat perhitungan dengan cara apapun juga.”

Sambi Wulung termangu-mangu. Ia tidak berhasil membujuk orang itu. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan Risang dibawa olehnya.

Sementara itu, Jati Wulung dan Gandarpun terkejut melihat keadaan Risang yang sepenuhnya sudah dikuasai oleh pemimpin sekelompok orang yang mencari Puguh itu.

Namun dengan demikian, maka keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan dan ilmu mereka tanpa menghiraukan kemungkinan apapun yang akan terjadi dengan lawan-lawan mereka. Karena itu, maka sesaat kemudian, dengan menghentakkan kemampuannya, maka Jati Wulung dan Gandar telah mengakhiri perlawanan dari lawan mereka yang terakhir.

Tetapi keduanya sama sekali tidak berhasil mendekati Risang. Tangannya masih dipilin di punggungnya, sementara lehernya masih juga dilingkari oleh lengan pemimpin kelompok itu. Nampaknya tangan-tangannya memang demikian kuatnya, sehingga baginya tidak akan sulit untuk mematahkan leher Risang.

Sebenarnyalah ketiga orang itu menjadi kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

Risang sendiri nampaknya sudah tidak mempunyai harapan, karena itu untuk beberapa saat ia pasrah akan keadaannya.

Namun tiba-tiba saja Risang itu telah teringat akan sesuatu. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah bersiul dengan nyaringnya.

“Apa yang kau lakukan,“ bentak pemimpin kelompok itu.

“Sekedar melepaskan sesak didadaku,“ jawab Risang dengan sedikit gemetar. Tetapi ia berusaha untuk tetap nampak tabah menghadapi saat-saat yang paling gawat itu.

“Kau jangan melakukan sesuatu yang dapat menghancurkan lehermu sendiri,“ ancam orang itu.

“Aku mempunyai kebiasaan, dalam ketakutan aku bersiul,“ jawab Risang.

Tanpa menunggu lagi, Risang telah bersiul pula lebih keras.

“Diam,“ bentak orang itu.

Namun suara siul itu telah mempunyai pengaruh yang besar.

Kuda Risang adalah kuda yang baik. Suara siul Risang sangat dikenalnya, sehingga ketika terdengar ia bersiul, maka kuda itu telah berusaha melepaskan diri dari ikatannya yang memang tidak begitu keras. Karena itu, maka tiba-tiba saja kuda itu telah berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah suara siul Risang.

Pemimpin kelompok yang memegangi Risang itu terkejut melihat seekor kuda dari balik kedai itu berlari ke arahnya, seakan-akan hendak menerkamnya. Sehingga karena itu, maka perhatiannya sejenak telah tertuju kepada kuda itu.

Risang ternyata cukup cerdik. Ia memanfaatkan saat yang pendek itu untuk menghentakkan dirinya sehingga terlepas dari pegangan pemimpin kelompok itu.

Pemimpin kelompok itu terkejut. Namun Risang telah berlari ke arah Sambi Wulung. Waktu yang sekejap itu telah dipergunakan sebaik-baiknya.

Namun pemimpin kelompok itu menjadi sangat marah. Tidak ada lagi yang terbersit di kepalanya selain membunuh anak itu. Karena itu, maka dengan serta merta, pemimpin kelompok itu telah melemparkan sebilah pisau belati ke arah Risang.

Hampir berbareng Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar berteriak, “Risang, awas. Pisau.”

Risang memang mendengar. Karena itu, maka dengan cepat ia telah bergeser arah, namun kemudian iapun telah menjatuhkan diri berguling ditanah.

Tetapi pisau itu masih juga tergores dilengannya sehingga lengannya itu telah terluka. Darah telah mengalir pula dari lengannya membasahi bajunya.

Namun Sambi Wulung sempat mengatasi keadaan. Sebelum pemimpin kelompok itu bertindak lebih jauh, maka Sambi Wulung telah meloncat menyerangnya.

Namun serangan Sambi Wulung itu tidak mengenai sasaran. Ternyata pemimpin kelompok itu mampu bergerak cepat pula, sehingga ia telah meloncat kesamping.

Tetapi dengan demikian, Sambi Wulung telah berada diantara orang itu dengan Risang yang berusaha untuk bangkit.

Orang yang mengaku mengenal Puguh, yang semula bertempur bersama pemimpin kelompok itu menjadi bingung. Tetapi ia tidak mendapat banyak kesempatan karena tiba-tiba saja Jati Wulung dan Gandar telah berada disebelah menyebelahnya.

“Kau tidak usah turut campur. Lebih baik kau perhatikan saja anak itu. Apakah ia benar-benar Puguh atau bukan,“ berkata Gandar.

Orang itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia sadar, bahwa kedua orang itu adalah orang yang berilmu tinggi, yang masing-masing dapat mengalahkan tiga orang lawan yang termasuk bukan orang kebanyakan.

Sementara itu, Sambi Wulung telah berdiri berhadapan dengan pemimpin kelompok orang yang akan menangkap Puguh itu. Ketika orang itu sempat memperhatikan Risang, maka anak muda itu telah berdiri tegak. Lengannya memang berdarah, tetapi tidak banyak mempengaruhinya.

“Kalian memang orang-orang yang tidak tahu diri,“ geram pemimpin kelompok orang-orang itu, “ternyata kalian memilih mati daripada menyerahkan anak itu.”

“Sudah aku katakan, anak itu bukan Puguh. Karena itu kami tidak akan menyerahkannya. Apapun yang terjadi. Meskipun kami harus membunuh sekalipun.” jawab Sambi Wulung.

“Kalian memang terlalu sombong,“ geram orang itu, “kalian jangan terlalu berbangga bahwa kalian dapat mengalahkan orang-orangku. Tetapi kalian tidak akan dapat mengalahkan aku, meskipun kalian akan bertempur bersama-sama. Ampat orang sekaligus.”

“Jangan menjadi putus asa seperti itu,“ berkata Sambi Wulung, “kita masih mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan baik.”

“Tutup mulutmu,“ geram orang itu, “hanya ada dua pilihan. Aku membunuh kalian, atau kalian membunuh aku. Jika aku gagal membawa Puguh, maka aku sudah tidak pantas lagi untuk tetap hidup. Aku sudah gagal seperti orang-orang yang terdahulu.”

“Tetapi anak itu bukan Puguh. Bukan, bukan.“ teriak Sambi Wulung, “pergilah dengan orang-orangmu. Cari Puguh sampai dapat kau ketemukan.”

“Persetan. Kau harus mati. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Kau sudah merendahkan harga diriku.“ teriak orang itu.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian, maka ia sudah tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus bertempur melawan orang itu.

Sejenak kemudian maka keduanya telah mempersiapkan diri untuk menghadapkan ilmu mereka masing-masing pada satu benturan.

***

Jilid 22

 

JATI WULUNG, Gandar dan Risang menjadi tegang. Tetapi nampaknya Sambi Wulung ingin menyelesaikan orang itu seorang diri. Karena itu, maka ia sama sekali tidak memberikan isyarat kepada yang lain untuk terjun dalam pertempuran itu.

Tetapi lawannya yang dipanggil Ki Lurah itupun nampaknya telah bersiap menghadapi kemungkinan apapun. Ia memang tidak mau gagal. Agaknya ia memang memilih mati daripada tidak dapat membawa anak muda yang benar-benar dianggapnya Puguh itu.

Ketika orang itu bergeser selangkah kesamping, maka Sambi Wulungpun telah bergeser pula. Sementara itu, Gandarpun seakan-akan telah melekat dibelakang orang yang merasa mengenali Puguh itu, sedangkan Jati Wulung berada di sisi Risang.

“Risang,“ berkata Jati Wulung, “obati lukamu meskipun hanya untuk memampatkan darah. Aku akan mengawasi setiap orang yang masih mencurigakan disini. Mungkin satu dua orang bangkit lagi setelah beristirahat sambil berbaring. Mungkin orang yang disebut Ki Lurah itu tiba-tiba saja menyerang. Gandar akan selalu mengawasi orang yang membuat gara-gara itu. Karena ia menyebutmu Puguh, maka telah terjadi persoalan yang sebenarnya tidak perlu terjadi ini.”

Risang tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian telah duduk dipinggir halaman samping itu ditunggui oleh Jati Wulung. Dengan obat yang dibawa, Risang telah mencoba mengobatinya sendiri dengan menaburkannya pada lukanya dibawah bajunya yang terkoyak.

Sementara ia mengobati lukanya, maka iapun telah bersuit memanggil kudanya sehingga sejenak kemudian, kudanya itu telah berada didekatnya pula.

Dalam pada itu, Sambi Wulung telah bertempur dengan sengitnya melawan orang yang dipanggil Ki Lurah itu. Sementara Gandar yang berdiri dibelakang orang yang telah merasa mengenali Puguh itu masih juga berdesis, “Ki Sanak. Kita sudah tahu akhir dari pertempuran ini. Karena itu, apakah kau dapat bersikap jujur terhadap dirimu sendiri.”

“Apa maksudmu?“ bertanya orang itu.

“Lihat anak yang sedang mengobati lukanya itu. Apakah benar ia anak muda yang kau maksud dengan Puguh? Apakah kau benar-benar mengenalinya? Jika kau ragu-ragu akan wajahnya, kau dapat mencoba mengenali bagaimana ia berjalan. Bahkan jika kau sempat melihat dan mengenali ciri-ciri ilmunya. Atau barangkali suaranya,“ sahut Gandar.

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Perhatiannya memang mulai terbagi. Sebagian pada pertempuran antara pimpinannya melawan Sambi Wulung, namun sekali-sekali perhatiannya tertuju kepada anak muda itu.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Menilik sikap orang-orang yang bersama-sama dengan anak muda itu, maka nampaknya memang meyakinkan bahwa anak muda itu bukan Puguh. Tetapi setiap kali ia memandang wajah anak muda itu, maka rasa-rasanya ia benar-benar berhadapan dengan anak muda yang dicarinya.

Karena itu, maka dalam kebingungan akhirnya ia tidak menentukan sikap baru. Ia sudah terlanjur mengatakan bahwa anak itu Puguh. Karena itu, maka ia harus mempertahankannya apapun yang terjadi.

“Amati anak itu sebelum pemimpinmu terlanjur mati,“ geram Gandar.

“Yang akan mati bukan pemimpinku. Tetapi pemimpinmu itu,“ jawab orang itu.

Gandar tertawa. Katanya, “Ternyata kau tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali tingkat ilmu seseorang. Bahkan seandainya demikian, kau tentu secara naluriah dapat melihat bahwa pemimpinmu menjadi semakin terdesak.”

Orang itu menggeram. Namun sebenarnyalah ia melihat pemimpin telah terdesak.

Karena itu, maka tidak sepantasnya ia hanya berdiam diri saja. Dengan diam-diam ia mencari kesempatan untuk melakukan serangan yang tiba-tiba sehingga dengan sekali gerak, dapat melumpuhkan orang yang membayanginya itu.

Untuk beberapa saat, orang itu bagaikan membeku. Perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada pemimpinnya yang sedang bertempur itu.

Gandarpun ternyata telah memperhatikan pertempuran yang nampaknya memang mendekati pada akhirnya. Sambi Wulung semakin lama telah semakin mendesak lawannya. Apalagi ketika keduanya telah melepaskan ilmunya masing-masing. Pemimpin sekelompok orang yang memburu Puguh atau kedua orang tuanya atau semuanya itu telah membuat tangannya bagaikan menjadi beberapa pasang. Semuanya menyerang dengan garangnya. Meskipun Sambi Wulung menyadari, bahwa hal itu semata-mata karena kemampuannya bergerak dengan cepat dilandasi dengan ilmu yang sangat tinggi, namun sekali-sekali tangan orang itu telah berhasil mengenai tubuhnya.

Namun kemudian Sambi Wulung tidak selalu berusaha menghindari serangan yang seakan-akan datang dari segenap penjuru itu. Dalam keadaan yang memungkinkan, maka Sambi Wulung telah membentur serangan lawannya.

Lawannyalah yang harus meloncat surut. Sentuhan telapak tangan Sambi Wulung itu bagaikan sentuhan bara api yang panasnya tidak terkira.

Namun sekali-sekali orang itu masih saja memandang sekilas Risang yang sedang mengobati lukanya sendiri. Betapa geramnya orang itu. Rasa-rasanya ia ingin mengoyak anak itu sampai lumat. Baginya, daripada gagal lebih baik membunuhnya sama sekali.

Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa lawannya sulit sekali dikalahkannya. Bahkan semakin lama justru semakin mendesaknya.

Pada saat-saat yang sulit, maka orang itu telah bergeser beberapa langkah surut justru mendekati Risang yang sedang mengobati lukanya. Orang itu memang berniat untuk membunuh anak itu. Seandainya ia harus mati, maka biarlah ia mati bersama-sama dengan anak yang dicarinya itu.

Menurut dugaan orang itu, maka ia akan dapat menyerang dengan tiba-tiba. Ia menduga bahwa orang yang menunggui anak yang disangkanya Puguh itu tentu tidak mempunyai ilmu setinggi orang yang bertempur melawannya itu.

Karena itu, maka ketika ia mendapat kesempatan, dengan tiba-tiba saja ia telah meloncat meninggalkan Sambi Wulung. Dengan serta merta maka orang itupun telah menyerang Jati Wulung untuk mendapat kesempatan menyerang Risang. Menurut perhitungannya, dengan serangannya itu Jati Wulung akan terlempar. Sebelum Sambi Wulung sempat berbuat sesuatu, ia sudah berhasil memukul anak itu sehingga mati.

Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, maka orang itu benar-benar telah menyerang Jati Wulung yang berdiri menjadi Risang.

Tetapi dugaannya ternyata salah. Jati Wulung memang melihat sikap yang menarik perhatiannya itu. Sebagaimana Sambi Wulung yang menjadi curiga saat-saat orang itu bergeser justru mendekati Risang, maka Jati Wulungpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, ketika orang itu meloncat menyerangnya, maka dengan segenap kemampuannya pula Jati Wulung telah membentur serangan itu dengan mempergunakan ilmu yang sama sebagaimana Sambi Wulung.

Namun ternyata bahwa Jati Wulung masih juga terdorong beberapa langkah surut. Hampir saja ia menimpa Risang yang sedang mengamati lukanya. Namun ternyata Risang cepat bergeser sehingga tidak terinjak kaki Jati Wulung. Sementara Jati Wulung juga tidak terjatuh karenanya. Meskipun harus dengan susah payah mempertahankan keseimbangannya.

Sementara itu, orang yang menyerangnya itupun telah terpental pula beberapa langkah. Iapun harus berusaha dengan susah payah menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh. Namun dalam pada itu, ternyata dalam benturan itu, telapak tangan Jati Wulung sempat menggapai dan mencengkam pundak lawannya, sementara tangannya yang lain menangkis ayunan tangan orang itu.

Cengkaman tangan Jati Wulung itu benar-benar berakibat gawat bagi lawannya. Pundaknya bagaikan telah terbakar sehingga tangannya rasa-rasanya menjadi lemah.

Dalam keadaan yang demikian, maka kemampuannya untuk bertempur menjadi jauh susut. Ia menyangka bahwa ia akan dapat dengan tiba-tiba menjatuhkan orang yang menjaga anak itu sehingga dalam waktu yang singkat langsung membunuhnya. Namun ia justru telah gagal.

Sementara itu, kawannya, yang merasa mengenali anak Warsi itu terkejut pula melihat akibat itu. Hampir diluar sadarnya, dengan serta merta ia meloncat untuk menolongnya.

Namun Gandar yang berdiri didekatnya tidak membiarkannya. Dengan cepat Gandar mencengkam lengan orang itu. Diputarnya dan satu serangan tangannya tepat mengenai dadanya.

Orang itu terlempar beberapa langkah dan justru jatuh terjerembab. Ia memang dengan cepat meloncat bangkit. Tetapi ternyata punggungnya terasa sakit, sementara dadanya menjadi sesak bagaikan terhimpit sebongkah batu.

Kedua orang itu memang tidak akan mampu lagi bertempur melawan ketiga orang yang menemani anak muda yang disangkanya Puguh itu. Sementara kawan-kawannya sudah tidak berdaya lagi.

Sambi Wulunglah yang kemudian berdiri dihadapan orang yang memimpin sekelompok orang yang memburu Puguh itu sambil berkata, “Nah, apapun yang akan kau lakukan, kau sudah tidak dapat memilih lagi.”

Orang itu menggeram. Sementara Sambi Wulung berkata selanjutnya, “Aku masih memberimu kesempatan untuk hidup. Tetapi sekali lagi kau harus mengamati anak yang telah kau lukai itu. Ia bukan Puguh. Untung bahwa lukanya tidak terlalu berat, sehingga aku masih dapat memberimu kesempatan meninggalkan tempat ini serta mengurusi kawan-kawanmu yang terluka itu. Aku sama sekali tidak berniat untuk membunuh. Tetapi jika ada kawan-kawanmu yang mati itu adalah tanggung jawabmu sendiri.”

Kedua orang itu berdiri diam seperti patung. Memang di wajah mereka memancar kemarahan dan dendam. Tetapi Sambi Wulung berkata sekali lagi, “Kami akan meninggalkan tempat ini. Kalianpun boleh pergi. Carilah Puguh di-mana saja. Tetapi jangan melakukan kesalahan yang sama.”

Sambi Wulungpun kemudian memberikan isyarat kepada Jati Wulung dan Gandar untuk meninggalkan tempat itu. Sementara Sambi Wulung sendiri melangkah mendekati Risang untuk mengamati lukanya yang telah ditaburinya dengan obat yang memampatkan darah.

“Bagaimana keadaanmu?“ bertanya Sambi Wulung.

“Tidak apa-apa. Luka ini sudah menjadi baik,“ berkata Risang.

“Baiklah. Marilah kita meneruskan perjalanan,“ berkata Sambi Wulung kemudian, “biarlah orang itu belajar dari pengalaman ini. Ia tidak dapat berbuat sesuka hatinya. Atau barangkali matanyalah yang sudah menjadi rabun.”

Sejenak kemudian, maka keempat orang itu telah siap untuk berangkat. Mereka telah berada diatas punggung kuda-kuda mereka. Namun mereka masih sempat meninggalkan uang di kedai itu untuk membayar makanan dan minuman mereka serta bahkan lebih dari itu.

Ketika mereka berampat telah berada di depan kedai itu Sambi Wulung masih sempat bertanya, “Apakah kau tetap menyangka anak ini Puguh?”

Orang yang pernah mengenal Puguh sementara punggungnya hampir patah itu termangu-mangu. Dicobanya untuk menajamkan ingatannya tentang anak muda yang bernama Puguh itu. Rasa-rasanya memang ada beberapa perbedaan diantara mereka. Namun orang itu tidak akan berani mengatakannya kepada pimpinannya itu.

Demikianlah maka kuda-kuda itupun segera berderap meninggalkan tempat itu. Ketegangan masih membayang diwajah Sambi Wulung, Jati Wulung, Gandar dan bahkan Risang.

Dengan nada penuh penyesalan Risang berkata, “Jadi dengan demikian wajahku tentu mirip dengan wajah anak itu.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang pernah melihat wajah Puguh saling berpandangan sejenak. Namun Sambi Wulunglah yang kemudian menjawab, “Jangan kau sesali dirimu. Bukan salahmu jika kau dilahirkan seayah dengan anak itu, sehingga memang mungkin terjadi kemiripan.”

“Tetapi bagaimanapun juga semua orang Sembojan mengenali riwayat kelahiranku. Mereka tahu siapa aku, siapa ayahku, siapa ibuku dan siapa perempuan yang telah merebut ayahku dari ibuku itu. Kemudian dendam diantara kedua orang perempuan itu yang berkepanjangan, sehingga apakah sebenarnya aku pantas menjadi kepala Tanah Perdikan di Sembojan? “ suara Risang menjadi sangat dalam.

“Sudahlah Risang,“ desis Gandar, “kita akan berbicara nanti di padepokan.”

Risang tidak menjawab. Namun bagi mereka yang mengantarkannya melihat bahwa gejolak itu masih terdapat didalam dada anak muda itu.

Untuk beberapa saat kemudian, orang-orang diatas punggung kuda itu saling berdiam diri. Mereka lebih banyak berbicara dengan angan-angan mereka sendiri.

Beberapa saat kuda-kuda itu berderap di bulak-bulak panjang dan sekali-sekali melewati padukuhan. Namun Risang tidak dapat menyingkirkan gejolak di perasaannya. Apalagi tangannya yang terluka masih saja terasa pedih meskipun darah sudah tidak mengalir lagi.

Dalam pada itu, jarak yang mereka tempuh memang bukan jarak yang pendek. Karena itu, maka mereka memang memerlukan waktu yang lama meskipun mereka berkuda.

Sementara itu, yang ditinggalkan di halaman samping kedai dengan luka-luka ditubuh mereka, mulai berusaha untuk menolong diri mereka sendiri serta kawan-kawan mereka yang parah. Mereka mencoba untuk menyingkir dari tempat itu. Beberapa orang dikejauhan masih saja mengawasi mereka meskipun tidak seorangpun berani mendekat.

“Setan itu lepas lagi,“ geram pemimpin pengawal itu.

Tidak seorangpun yang menyahut. Orang-orangnya masih terlalu dicengkam oleh perasaan sakit yang tidak dapat mereka atasi. Bahkan ada diantara mereka yang sama sekali tidak mampu lagi untuk bangkit.

“Untunglah, tidak seorangpun diantara kita yang mati,“ berkata pemimpin mereka. Namun ketika ia melihat beberapa orang yang sudah tidak mampu lagi untuk berbuat sesuatu, iapun berkata, “Jika kami tidak dapat membawa kalian, maka kalian terpaksa kami tinggalkan dalam keadaan mati. Mulut kalian tidak boleh berbicara tentang apa saja.”

Orang-orang yang dalam keadaan parah itu menjadi semakin cemas. Namun mereka terpaksa mempergunakan sisa-sisa tenaga mereka agar mereka tidak dibunuh oleh pemimpin mereka.

Dengan susah payah mereka telah meninggalkan tempat itu. Orang-orang yang memandangi mereka dari kejauhan telah menyibak pula. Mereka telah bergeser meninggalkan tempat mereka dan berlindung dibalik pepohonan atau bahkan dinding halaman.

Ketika orang-orang yang terluka itu sudah menjadi jauh, barulah mereka keluar dari persembunyian mereka dan saling berceritera tentang pertempuran yang telah terjadi antara ampat orang melawan sepuluh orang. Namun ternyata yang sepuluh orang itu dapat dikalahkan. Mereka saling merasa lebih tahu dari yang lain sehingga ceritera mereka menjadi semakin ramai.

Namun tidak seorangpun diantara mereka yang tahu siapakah orang-orang yang bertempur itu dan untuk apa mereka telah bertempur.

Dalam pada itu, ketika Risang telah berada di padepokannya kembali, maka seakan-akan sifatnya menjadi berubah. Meskipun ia masih juga bekerja keras bukan saja disanggar untuk melatih diri meningkatkan ilmunya, tetapi juga dikebun, pategalan dan di sawah, namun sekali-sekali ia duduk merenungi dirinya sendiri.

Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar selalu memberikan petunjuk-petunjuk baginya, namun sangat sulit bagi Risang untuk dapat menyingkirkan kabut yang menyelimuti perasaannya.

Ketika ia melihat dirinya sendiri dalam keseluruhan, maka rasa-rasanya dirinya menjadi terlalu kecil. Rasa-rasanya jika ia kembali ke Tanah Perdikan, maka orang-orang akan selalu mengawasinya.

Yang selalu terbayang diangan-angannya adalah masa-masa muda ibunya yang harus bertempur memperebutkan seorang laki-laki yang tidak lagi menghiraukannya. Ketika ia menjadi dewasa maka ia merupakan kelanjutan pertengkaran itu dan akan selalu bermusuhan untuk memperebutkan kedudukan di Tanah Perdikan.

Di padepokannya, Risang yang disebut Bharata itu memang telah menemukan satu dunia baru yang tidak dibayangi oleh peristiwa-peristiwa lampaunya. Karena itu, maka di padepokannya Risang telah menenggelamkan diri dalam kerja yang seakan-akan tidak pernah berhenti. Latihan di sanggar, bekerja disawah dan ladang serta terjun kedalam kesibukan Kademangan Bibis bersama dengan anak-anak muda. Risang tidak pernah tidak hadir dalam kerja besar di Kademangan. Memperbaiki bendungan, membuat susukan untuk mengairi sawah yang masih belum sempat mendapat air dimusim kering. Bahkan membuka hutan untuk memberikan kesempatan penghuni Kademangan Bibis untuk mendapatkan tanah garapan baru karena penghuni Kademangan yang semakin meningkat dan berjejalan di padukuhan-padukuhan.

Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar tidak pernah menegurnya. Bahkan merekapun telah melibatkan diri pula dalam kerja itu sebagaimana Risang. Terutama Gandar yang lebih banyak dikenal oleh orang-orang Kademangan.

Namun dalam kesibukan-kesibukan itu, Risang sempat mengikuti berita tentang keadaan di pusat pemerintahan. Meskipun Bibis termasuk Kademangan yang cukup jauh dari pusat pemerintahan, namun peristiwa yang terjadi di Pajang telah bergema sampai ke sudut-sudut wilayah yang membujur di sepanjang tanah ini, justru ke arah Timur.

“Kemelut antara Pajang dan Mataram itu nampaknya telah menyalakan api peperangan,“ berkata Ki Demang dihadapan anak-anak muda yang sedang beristirahat ketika mereka menyelesaikan ujung sebuah parit yang mengalirkan air dari susukan induk.

“Apakah perang sudah pecah?“ bertanya seorang anak muda.

“Memang belum. Tetapi pertempuran-pertempuran kecil antara mereka yang berpihak telah terjadi,“ jawab Ki Demang, “sementara itu Mataram benar-benar telah menyusun kekuatan.”

“Bukankah Pajang telah tumbuh menjadi negara yang semakin besar? Apakah Sultan Pajang tidak dapat dengan mudah menangkap putera angkatnya yang telah mempersiapkan perlawanan di Mataram itu?”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Katanya, “Sulit untuk dimengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tetapi putera angkat Kangjeng Sultan yang mendapat tanah Alas Mentaok itu adalah putera angkat yang sangat dikasihi sebagaimana puteranya sendiri Pangeran Benawa. Karena itu, Kangjeng Sultan nampaknya merasa ragu-ragu untuk melakukan satu tindakan yang tegas atas putera angkatnya itu.”

“Lalu apakah yang dapat kita lakukan jika perang itu benar-benar pecah?“ bertanya seorang anak muda yang bertubuh tinggi dan besar.

Ki Demang termangu-mangu. Tetapi kemudian katanya hampir diluar sadarnya, “Ada kesempatan bagi anak-anak muda itu memberikan darma baktinya bagi Pajang. Pajang telah membuka kesempatan bagi anak-anak muda itu menjadi prajurit.”

“Benar Ki Demang,“ bertanya beberapa orang anak muda hampir bersama-sama.

“Ya. Seorang utusan telah datang di Kademangan ini. Kademangan Bibis ini mendapat kesempatan untuk ikut menyumbangkan tenaganya bagi Pajang,“ jawab Ki Demang.

“Apakah kita yang ingin menjadi prajurit harus pergi ke Pajang?“ bertanya seorang anak muda.

“Tidak perlu,“ jawab Ki Demang, “dalam waktu yang pendek akan ada petugas yang datang ke Kademangan ini. Mereka mendapat tugas untuk melakukan pendadaran. Bagi mereka yang dapat mengatasi kesulitan-kesulitan dalam pendadaran itu, maka mereka akan diterima menjadi calon prajurit. Mereka akan mendapat kesempatan untuk pergi ke Pajang dan akan dilakukan pendadaran berikutnya. Yang mampu melampaui pendadaran kedua ini akan diterima menjadi calon prajurit yang sebenarnya, sedangkan yang lain akan dikembalikan ke Kademangannya. Tetapi bagi mereka yang tinggal tidak terlalu jauh dari Pajang, tidak perlu melalui tahap pendadaran yang pertama di daerah masing-masing. Mereka dapat langsung pergi ke Pajang dan menyatakan diri untuk mengikuti pendadaran tahap demi tahap di Pajang.

Anak-anak muda dari Kademangan Bibis itu mengangguk-angguk. Kesempatan itu nampaknya menarik bagi mereka. Ada beberapa orang anak muda yang agaknya memang berminat untuk menjadi prajurit. Mereka ingin menunjukkan, bahwa mereka merasa ikut bertanggung jawab atas tegaknya pemerintahan di Pajang.

Sebenarnyalah sebagaimana pernah di dengar oleh Iswari, saat itu Pajang menjadi panas. Panembahan Senapati di Mataram benar-benar tidak mau lagi menghadap ayahanda Sultan Pajang karena berbagai macam alasan. Antara lain alasan yang sangat pribadi. Panembahan Senapati pernah merasa direndahkan oleh beberapa orang pemimpin Pajang. Para pemimpin yang tidak setuju bahwa Panembahan Senapati membuka Alas Mentaok itu mengatakan, bahwa Alas Mentaok tidak akan pernah menjadi negeri yang ramai.

Pada saat itu juga Raden Sutawijaya meninggalkan paseban sambil berkata lantang, “Aku tidak akan menginjak paseban Pajang ini lagi sebelum Mataram yang didirikan diatas Alas Mentaok itu menjadi negeri yang ramai.”

Semula para pemimpin Pajang hanya mentertawakan saja sikap itu. Namun Kangjeng Sultan Pajang sendiri yang kemudian mendapat laporan setelah ia hadir di paseban, menganggap sikap itu bersungguh-sungguh. Sejak saat itulah yang selalu memikirkan putera angkatnya yang sangat dikasihinya itu.

Namun bahwa kemudian Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senapati di Mataram itu benar-benar tidak mau menginjakkan kakinya di paseban Pajang, benar-benar menjadi persoalan. Beberapa orang pemimpin di Pajang dan beberapa orang Adipati yang telah menyatu dibawah pemerintahan Pajang menganggap sikap Panembahan Senapati sebagai sikap bermusuhan. Karena itu beberapa orang pemimpin telah mohon kepada Kangjeng Sultan untuk bertindak tegas.

“Mataram merupakan sepercik api didalam jerami. Jika tidak segera dipadamkan, maka api itu tentu akan bertambah besar dan akhirnya akan membakar lumbung,“ minta para pemimpin itu.

Tetapi Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang sangat mengasihi Panembahan Senapati itu selalu menunda-nunda keputusannya.

Namun sambil menunggu, maka para pemimpin Pajang telah mengambil langkah-langkah seperlunya. Mereka telah mempersiapkan pasukan yang lebih besar. Disamping kesediaan para Adipati untuk mengirimkan pasukan ke Pajang, maka Pajang sendiri telah menyusun barisan yang dapat memastikan, bahwa Mataram tidak akan dapat berbuat banyak. Bahkan pada suatu saat pasukan Pajang akan dapat memaksa Mataram untuk menyerah dan memaksa Panembahan Senapati untuk menghadap ke Pajang dan memaksanya untuk menginjak paseban.

Untuk itulah maka Pajang telah memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk didadar menjadi prajurit. Anak-anak muda itu harus sudah mempunyai bekal kemampuan sejak mereka memasuki lingkungan keprajuritan, karena dalam waktu yang singkat, tentu tidak akan mungkin diselenggarakan latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan mereka. Yang dapat dilakukan dalam waktu singkat adalah, bagaimana mereka bertempur sebagai seorang prajurit. Bertempur dalam gelar dan bertempur dalam satu kesatuan. Bukan lagi bertempur sendiri-sendiri tanpa menghiraukan kesatuan pasukan dan apalagi bentuk gelar.

Keterangan Ki Demang tentang kesempatan itu ternyata telah singgah di kepala Risang. Ketika ia kembali ke padepokannya, maka bayangan seorang prajurit itu selalu saja mengikutinya.

“Agaknya lebih baik bagiku untuk ikut menjadi seorang prajurit daripada harus berada di Tanah Perdikan yang tentu akan selalu diperbincangkan orang,“ berkata Risang didalam hatinya. Iapun memperhitungkan, jika ia pulang sebagai seorang prajurit, maka tanggapan orang terhadapnya tentu akan berbeda pula meskipun mereka tahu apakah yang pernah terjadi pada keluarganya.

“Mungkin mereka akan bersikap wajar kepadaku sebagaimana kepada orang lain,“ berkata Risang didalam hatinya. Lalu, “Atau jika aku menerima warisan jabatan kakek yang belum sempat dijabat oleh ayah, akan dianggap sebagai wajar juga. Kecuali orang-orang Tanah Perdikan menganggap bahwa sebagai seorang prajurit aku tidak lagi terlalu mementingkan kepentingan diri sendiri, termasuk jabatan Kepala Tanah Perdikan, waktunyapun tentu sudah berselang lebih lama lagi. Saat ini orang-orang itu tentu masih dibayangi oleh perang tanding yang sampai berulang dua kali diantara ibu dan bekas madunya itu. Apapun alasannya, tetapi orang-orang Tanah Perdikan belum melupakan bagaimana ibu tersisih ketika seorang perempuan lain hadir disisi ayah itu.”

Tetapi Risang tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Ia sadar, jika hal itu dilakukan, tentu ia akan mendapat hambatan dari orang-orang disekitarnya. Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung tentu tidak akan setuju. Mereka tentu akan berupaya dengan jalan apapun juga untuk membatalkan niatnya.

Karena itu, maka keinginannya itu hanya disimpannya sama didalam hatinya.

Namun setiap kali ia berkumpul di padukuhan, maka ia selalu mendengarkan tentang bakal penerimaan calon prajurit pada pendadaran pertama di Kademangan Bibis itu.

Hampir setiap anak muda yang dewasa dan bahkan yang telah meningkat dewasa tertarik dengan rencana penerimaan prajurit itu. Ada diantara mereka yang sekedar ingin mendapat kebanggaan dimata kawan-kawannya. Ada yang ingin mendapat pengalaman yang luas, ada yang benar-benar tertarik untuk mengabdikan diri kepada pemerintahan Pajang. Sementara itu Risangpun ternyata mempunyai alasan tersendiri, meskipun ada juga niatnya untuk menunjukkan pengabdiannya kepada Pajang, bukan sekedar menuntut haknya agar ia segera diwisuda menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan oleh pemerintah di Pajang.

Risang menjadi semakin nampak murung ketika ia mendengar dari Ki Demang sendiri bahwa pernyataan untuk menjadi calon itu harus diberikan kepada beberapa orang prajurit Pajang yang akan bertugas di Kademangan itu. Sekaligus akan diselenggarakan pendadaran. Bagi mereka yang memiliki cukup kemampuan, maka mereka akan mendapat kesempatan, bersama-sama dengan para prajurit itu untuk pergi ke Pajang.

Ternyata darah didalam dada Risang bergejolak. Bukan saja darah mudanya. Tetapi darah seorang kesatria memang mengalir dari kakek-kakeknya. Kakek dari keturunan ayahnya maupun kakek dari keturunan ibunya. Meskipun ayahnya sendiri tidak menunjukkan sifat-sifat seperti itu.

Karena itu, maka telah terjadi kebimbangan yang sangat tajam didalam jantungnya.

Ia memang didorong oleh satu keinginan yang sangat untuk menyatakan diri ikut menjadi calon prajurit. Tetapi terbayang di angan-angannya, bagaimana tanggapan ibunya atas hal itu. Ia adalah anak tunggal dan menilik sikap lahiriah ibunya yang tidak kawin lagi itu, maka tentu tidak akan ada anaknya yang lain, kecuali jika ia mengangkat seorang anak.

Namun ternyata Risang condong untuk hidup sebagai seorang anak muda yang menjelang usia dewasanya. Ia tidak berbeda dengan anak-anak muda yang lain yang dengan dada tengadah menempuh pengalaman hidup yang kadang-kadang menyentuh bahaya. Namun dengan demikian maka iapun menyadari, jika ia gagal pulang, maka terputuslah arus keturunan ibunya. Yang kemudian akan tampil sebagai anak Wiradana adalah Puguh.

“Tetapi bukankah ibu waktu itu juga tidak memperhitungkan kemungkinan gugur di pertempuran atau bahkan diperang tanding untuk menunjukkan sikap kesatrianya? Bukankah ibu juga tidak membiarkan dirinya terhina dan berusaha merebut kesempatan pula?“ desis Risang didalam hatinya, “Akupun harus merebut kesempatan untuk menjadi seorang laki-laki yang terhormat di Tanah Perdikan. Jika aku gagal dan hilang di medan, maka itu adalah taruhan dari sebuah perjuangan.”

Kebimbangan yang membuat Risang terlalu banyak merenung itu memang tidak terlepas dari pengamatan Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun mereka menduga, hal itu disebabkan oleh getaran perasaan anak muda itu, ketika ia mendengar pengakuan ibunya tentang jalan hidupnya yang berliku-liku. Meskipun agak diluar dugaan, bahwa dengan demikian Risang justru merasa menjadi sangat rendah diri.

Dengan hati-hati ketiganya berganti-ganti pada setiap kesempatan berusaha untuk membuat Risang menjadi gembira sebagaimana sebelumnya.

Namun nampaknya usaha mereka memerlukan waktu yang lama. Peristiwa yang terjadi disepanjang jalan menuju ke Bibis, membuat luka dihatinya menjadi semakin pedih. Dengan kekeliruan itu, maka Risang merasa dirinya mirip dengan anak muda yang bernama Puguh itu.

Dalam pada itu, baik Gandar maupun Sambi Wulung dan Jati Wulung memang selalu mengatakan kepadanya, “Jika bukan kau yang memegang jabatan pimpinan Tanah Perdikan, maka Puguhlah yang akan melakukannya.”

“Persetan,“ geram Risang sambil menggeretakkan giginya, “jika aku tetap hidup, maka aku akan mendapat tempat terhormat di Tanah Perdikan. Jika tidak, Puguh-pun tidak akan dapat melakukannya karena ibu tentu tidak akan membiarkannya. Orang-orang Tanah Perdikanpun tidak akan menerimanya dan Pajang juga tidak akan mengesahkannya. Bahkan siapapun yang akan menggantikan kedudukan itu, aku tidak peduli. Sementara itu baik ibu, kakek atau nenek selalu mengatakan, bahwa hidup mati seseorang berada di tangan Yang Maha Agung. Meskipun aku tidak menjadi seorang prajurit, bersembunyi didalam bilik besi sekalipun, jika maut itu datang menjemput, maka aku tidak akan dapat ingkar lagi.”

Dengan demikian maka Risang itu telah membulatkan tekadnya untuk menyatakan diri bersama-sama dengan anak-anak muda yang lain dari Kademangan Bibis untuk menjadi calon prajurit.

Ketika saat itu tiba, maka Kademangan Bibis memang menjadi ramai. Kedatangan sekelompok prajurit dari Pajang yang cukup jauh itu telah membuat Kademangan Bibis bergejolak.

Sebenarnya di Tanah Perdikan Sembojan, kesempatan yang samapun telah dilakukan. Beberapa orang perwira dan prajurit telah datang untuk menerima pernyataan anak-anak muda untuk menjadi calon prajurit. Namun dengan penuh pengertian, para perwira itu telah menyatakan, bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah dibebaskan dari kesempatan yang terbuka itu, karena keadaan Tanah

Perdikan itu sendiri. Namun para perwira itu telah membuat persetujuan dengan pemangku jabatan kepala Tanah Perdikan, bahwa jika diperlukan sekali, Tanah Perdikan akan mengirimkan sekelompok pengawal terlatih.

Para perwira itu mempercayai kemampuan para pengawal Tanah Perdikan yang setingkat dengan kemampuan para prajurit, sehingga tidak perlu dilakukan lagi pendadaran. Mereka akan mendapat tempat khusus pada saat mereka diperlukan.

Iswaripun dengan sengaja tidak memerintahkan untuk memberitahukan hal itu kepada Risang yang telah berada di padepokannya, karena Iswari sama sekali tidak mengharap bahwa Risang akan menjadi seorang prajurit.

“Jika anak itu mengetahui kesempatan untuk menjadi seorang prajurit, maka nampaknya ia akan menjadi sangat tertarik untuk itu,“ berkata Iswari didalam hatinya.

Tetapi Iswari sama sekali tidak menduga, bahwa di Kademangan Bibis, tempat Risang mengasingkan diri, kesempatan seperti itu juga telah terbuka.

Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata terlambat mengetahui bahwa Risang juga telah menyatakan diri untuk menjadi calon prajurit di Kademangan Bibis.

Demikian Risang kembali dari Kademangan setelah menyatakan diri untuk menjadi calon prajurit serta menunggu pendadaran tingkat pertama yang akan dilakukan dua hari lagi, maka telah terjadi ketegangan di padepokan. Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung minta Risang membatalkan pernyataan itu. Tetapi Risang berkeberatan.

“Tidak ada hukuman apapun yang dapat dijatuhkan atasmu jika kau membatalkan niatmu menjadi seorang prajurit. Atau kau dapat melakukannya dengan cara lain. Kau buat pendadaranmu besok gagal,“ berkata Gandar.

Tetapi Risang menggeleng. Katanya, “Aku sudah bertekad untuk menjadi seorang prajurit.”

“Kau harus mendapat ijin dari ibumu lebih dahulu,“ berkata Sambi Wulung.

“Aku sudah cukup dewasa. Aku dapat menentukan sikapku sendiri. Apalagi aku yakin, bahwa sikap yang aku ambil ini adalah sikap yang baik bagi anak-anak muda Pajang,“ jawab Risang.

“Aku tahu Risang,“ berkata Gandar, “tetapi kau sudah mengemban tugas sendiri yang tidak kalah pentingnya.”

“Aku tidak dapat mementingkan diri sendiri,“ berkata Risang, “Pajang telah memanggil anak-anak mudanya. Jika aku harus kembali ke Tanah Perdikan, maka yang akan aku lakukan, justru membawa anak-anak muda Tanah Perdikan untuk menyatakan diri menjadi calon prajurit.”

“Tetapi kau harus mengingat suasana bagi Tanah Perdikanmu sendiri. Kau jangan terpancang pada satu bentuk pengabdian saja, karena ada lebih dari seribu macam cara untuk mengabdi kepada negara. Jika kau bangun Tanah Perdikanmu dengan baik termasuk ketenangan dan ketenteraman hidup disamping meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, maka itupun sudah merupakan satu pengabdian kepada Pajang,“ sahut Jati Wulung.

“Seandainya Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin maju lahir dan batinnya, tetapi Pajang kemudian jatuh, apa yang dapat kita lakukan?“ bertanya Risang.

“Risang,“ berkata Gandar dengan nada rendah, “kau harus mengingat ibumu. Kau adalah tumpuan harapannya.”

“Jika aku mengabdi kepada Pajang, bukankah seharusnya ibu menjadi bangga? Keluargaku dan Tanah Perdikanku telah menyerahkan seorang anaknya untuk ikut menegakkan pemerintahan di Pajang,“ berkata Risang.

“Apapun yang kau lakukan Risang,“ berkata Sambi Wulung, “sebaiknya kau bicarakah saja lebih dahulu dengan ibumu. Itu merupakan satu kewajiban bagimu.”

Risang menggeleng kecil. Bahkan katanya, “Tolong. Jika aku diterima menjadi seorang prajurit, katakan kepada ibu, bahwa aku telah memilih jalan yang tentu sangat disetujui oleh ibu.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bertiga bersama Gandar dan Jati Wulung mereka tidak dapat menahan Risang untuk tidak menyatakan diri menjadi seorang calon prajurit, yang menurut perhitungan mereka bertiga, tentu akan dapat lolos pada pendadaran pertama dibandingkan dengan kemampuan anak-anak muda yang lain. Bahkan merekapun yakin bahwa di pendadaran keduapun Risang dengan bekal kemampuannya tentu akan lolos pula.

Karena itulah, maka Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mengadakan pembicaraan tersendiri. Apa yang sebaiknya mereka lakukan. Namun waktu sudah terlalu singkat.

Akhirnya mereka memutuskan, bahwa Sambi Wulung dan Jati Wulung akan pergi ke Tanah Perdikan Sembojan untuk memberitahukan hal itu kepada Iswari.

Ketika hal itu dinyatakan kepada Risang, maka Risangpun berkata, “Tidak ada gunanya kau memberitahukan kepada ibu.”

“Tentu ada Risang,“ jawab Sambi Wulung, “keputusan apapun yang akan diambil oleh ibumu, aku tidak tahu.”

“Ibu akan bergembira karenanya. Anaknya ternyata telah memilih jalan pengabdian yang paling baik dalam masa seperti sekarang ini bagi Pajang,“ berkata Risang.

Ternyata Risang sama sekali tidak menghiraukan ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung berangkat ke Tanah Perdikan. Bahkan dimata Gandar yang ditinggal untuk menunggui Risang, sikap anak muda itu benar-benar berubah. Dalam waktu yang singkat, maka rasa-rasanya Risang begitu cepat menjadi dewasa. Rasa-rasanya ia telah dapat mengambil satu keputusan dengan satu keyakinan yang tidak goyah.

Dalam pada itu, waktu yang hanya dua hari itu telah dipergunakan oleh Risang untuk benar-benar menempa diri. Ia telah mematangkan semua ilmu yang pernah disadapnya dari orang-orang yang pernah membimbingnya. Memang ada beberapa sumber ilmu, tetapi kakeknya mampu membuatnya luluh didalam dirinya. Namun dengan demikian, maka ilmu Risang termasuk ilmu yang sudah mapan.

Gandar sama sekali tidak dapat berbuat banyak. Namun justru karena itu, agar Risang tidak memaksa diri melampaui kemampuan wadagnya, Gandar telah menungguinya jika Risang berada di sanggar atau mengadakan latihan-latihan dialam terbuka.

Risang tahu bahwa waktu yang dua hari itu cukup bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk membawa ibunya datang kepadepokan itu. Sambi Wulung dan Jati Wulung tentu melarikan kudanya seperti sedang berpacu bertaruh seluruh kekayaannya.

Tetapi hati Risang sudah tetap. Apapun yang dikatakan ibunya tidak akan dapat menggoyahkan pendiriannya.

Kehadiran Sambi Wulung dan Jati Wulung di Tanah Perdikan Sembojan memang mengejutkan. Iswari, kakek dan neneknya, bahkan Bibipun menjadi gelisah.

“Apa yang terjadi?“ bertanya Iswari demikian keduanya duduk diruang tengah ditemui oleh kakek dan nenek Risang beserta Bibi yang ikut mendengarkannya.

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun kemudian telah memberi tahukan apa yang telah terjadi atas Risang. Terutama diperjalanan kembali ke padepokannya yang terletak di Kademangan Bibis.

“Jadi kedua anak itu wajahnya menang mirip?” bertanya Iswari.

Sambi Wulung dan Jati Wulung saling berpandangan sejenak. Namun keduanya memang tidak dapat ingkar. Hampir tidak terdengar Sambi Wulung berkata, “Ada beberapa bagian yang memang mirip.”

“O,“ Iswari menundukkan wajahnya. Diluar sadarnya ia mengusap matanya yang tiba-tiba terasa panas.

“Kita tidak dapat melawan garis-garis yang dipahatkan alam pada kedua anak itu. Iswari, bagaimanapun juga, kau tidak dapat mengelakkan kenyataan bahwa keduanya diturunkan oleh ayah yang sama,“ berkata Kiai Badra dengan nada lembut.

Tiba-tiba kebencian yang dalam telah terungkit di dalam dadanya kepada suaminya yang sudah tidak ada lagi. Suaminya yang hampir saja merupakan seluruh kehidupannya. Bahkan berusaha membunuhnya.

Tetapi gemeretak giginya membuat Kiai Badra berkata, “Jangan menyesali peristiwa yang telah terjadi. Dengan cara apapun kau tidak akan mungkin dapat menghapuskannya.”

“Iswari,“ berkata Nyai Soka, “jangan kau timbun beban dihatimu. Kau harus berani meletakkannya. Jika setiap beban kau usung sepanjang hidupmu, maka tidak seorangpun yang akan mampu melakukannya. Yang penting sekarang, bagaimana mengatasi persoalan yang sedang kau hadapi sekarang ini. Apakah kau sependapat jika Risang menjadi seorang prajurit atau tidak?”

“Nenek,“ jawab Iswari, “aku merasa berkeberatan jika Risang menjadi seorang prajurit. Aku sudah membuat persetujuan tersendiri dengan para perwira di Pajang. Tanah Perdikan yang sedang bergejolak ini tidak akan melepaskan anak-anak mudanya untuk sementara. Namun dalam keadaan yang penting, aku akan mengirimkan sekelompok pengawal terpilih. Itu sudah cukup.”

“Tetapi Risang tentu belum tahu persetujuan yang pernah kau buat itu,“ berkata Kiai Soka, “karena itu, maka tentu ada baiknya jika kau dapat menemuinya.”

“Aku sependapat,“ berkata Kiai Badra, “sebaiknya disisa waktu yang pendek ini, kau temui anak itu.”

Iswari sendiri memang sependapat. Karena itu, maka mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Waktu mereka terlalu sempit. Karena itu, maka merekapun segera berkemas untuk pergi ke padepokan.

Iswari akan berangkat bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Namun Kiai Badra ternyata telah diminta oleh Iswari untuk menyertainya. Mungkin Kiai Badra dapat membantunya meluluhkan hati Risang yang tiba-tiba telah mengeras itu.

“Aku titipkan Tanah Perdikan ini kepada kakek dan nenek berdua,“ berkata Iswari.

“Kami akan melakukan tugas-tugas di Tanah Perdikan ini dengan sebaik-baiknya,“ berkata Kiai Soka.

Kepada Bibipun Iswari telah memberikan beberapa pesan untuk dilakukan selama Iswari pergi untuk beberapa hari.

Sebenarnya Bibi berniat untuk ikut bersama Iswari. Tetapi Iswari minta agar Bibi tetap saja bersama Kiai dan Nyai Soka menjaga Tanah Perdikan itu.

Seperti yang diperhitungkan Risang, maka sebenarnyalah ibunya datang ke padepokan Bibis bersama kakeknya seperti Sambi Wulung dan Jati Wulung pagi-pagi menjelang hari pendadaran. Ternyata mereka tidak menemui hambatan apapun di perjalanan.

Ketika mereka datang, Risang sudah berbenah diri. Ia sudah siap lahir dan batin untuk melakukan pendadaran pada hari itu.

Dalam pada itu, demikian ibunya turun dari kudanya, maka iapun langsung memeluk anak laki-lakinya. Betapapun panasnya pelupuk mata Iswari, namun ia bertahan untuk tidak menangis.

Namun kata-katanya terdengar sendat, “Risang, Apakah kau benar-benar sampai hati meninggalkan ibumu.”

Ternyata sikap Risang memang sudah berubah. Ia tidak segera menjawab. Tetapi dengan sikap seorang dewasa ia berkata, “Marilah. Kami persilahkan ibu masuk ke bangunan induk padepokan kecil ini.”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian melangkah memasuki bangunan induk bersama Kiai Badra, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Ternyata Risang sempat menanyakan keselamatan perjalanan mereka serta yang ditinggalkan di Tanah Perdikan Sembojan.

Baru kemudian Risang berkata, “Ibu, aku tahu bahwa ibu akan datang, selambat-lambatnya saat seperti ini. Akupun tahu apa yang akan ibu katakan.”

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Risang. Aku minta kau dengarkan permintaan ibu. Urungkan niatmu untuk menjadi prajurit Pajang.”

“Tekadku sudah bulat ibu. Pada saat sekarang ini, hanya cara itulah yang dapat aku tempuh untuk mengabdikan diri kepada Pajang,“ jawab Risang.

“Tetapi banyak cara yang dapat kau pilih Risang,“ berkata ibunya, “apakah kau hanya dapat memilih menjadi seorang prajurit untuk menunjukkan kesetianmu kepada Pajang? Tanah Perdikan Sembojan akan dapat menyediakan dan mengirimkan bahan makanan bagi para prajurit. Pajang tidak akan dapat bertahan tanpa persediaan makan yang cukup bagi prajurit-prajuritnya. Nah, bukankah itu juga sudah merupakan satu pengabdian seandainya kau pilih cara itu? Bahkan sebenarnyalah aku sudah berbicara dengan seorang perwira Pajang, bahwa jika diperlukan Tanah Perdikan akan mengirimkan bukan hanya satu orang. Tetapi sekelompok pengawal untuk membantu Pajang.”

“Ibu,“ berkata Risang, “beri aku kesempatan. Biarlah jiwaku berkembang. Jika selama ini wadagku telah ditempa dengan latihan-latihan yang berat, namun jiwaku sama sekali tidak mendapat tempaan seperti itu, sehingga rasa-rasanya tidak ada keseimbangan sama sekali antara wadag dan jiwaku.”

“Cobalah dengar keterangan ibumu Risang,“ berkata Kiai Badra, “kau dapat mengembangkan jiwamu dengan banyak cara sebagaimana kau menuntut ilmu kanuragan. Sebagaimana pula satu pengabdian. Karena itu, kau harus berpikir panjang. Kau tidak boleh membiarkan dirimu hanyut dalam arus perasaanmu. Marilah kita melihat kedalatn diri kita masing-masing dengan jujur. Tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah dorongan untuk menjadi seorang prajurit yang kau lakukan itu benar-benar merupakan satu dorongan pengabdian?”

Wajah Risang berkerut mendengar pertanyaan kakeknya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Jadi kenapa kakek? Apakah kakek melihat dorongan lain yang memaksaku untuk menjadi seorang prajurit?”

“Pertanyaanmu itu sudah merambat kearah yang benar,“ jawab Kiai Badra, “seandainya kau tidak menjadi kecewa tentang masa lalu yang terjadi diluar keinginanmu bahkan dugaanmu itu apakah kau juga akan menyatakan diri untuk menjadi seorang calon prajurit.? Apakah dengan demikian pengabdianmu itu murni?”

Pertanyaan itu memang langsung menyentuh perasaan Risang yang paling dalam. Kepala anak muda itu tertunduk. Beberapa saat ia berdiam diri.

Iswari memang berpengharapan bahwa anak itu akan dapat menilai kata-kata kakeknya, yang kemudian menilai sikapnya. Meskipun menurut Iswari kakeknya itu terlalu keras mendesak Risang yang selanjutnya menyudutkannya.

Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening. Sementara itu pagi merayap keambang terang. Cahaya matahari mulai membayang di langit. Beberapa saat kemudian, pendadaran akan dimulai.

Risang sadar, jika ia tidak datang tepat pada waktunya, maka kesempatannya akan dilampauinya dan ia kehilangan haknya untuk mengikuti pendadaran. Memang tidak akan ada tuntutan apalagi hukuman. Tetapi dengan demikian, maka ia dapat dianggap seorang yang licik, yang tidak berani memasuki arena meskipun baru sekedar pendadaran tingkat pertama.

Ketika Risang kemudian mengangkat wajahnya, kemudian mengucapkan jawabannya, maka ibunya, kakeknya, Sambi Wulung, Jati Wulung serta Gandar yang mendengarkannya memang terkejut. Dengan jelas, kata demi kata Risang menjawab, “Kakek. Baiklah aku berterus terang. Aku memang ingin lari dari cengkeraman perasaan itu. Aku ingin mencari jawab, apakah, yang sebaiknya aku lakukan terhadap diriku sendiri? Jika aku kemudian benar-benar memegang pimpinan di Tanah Perdikan Sembojan, apakah itu sudah wajar. Tetapi apakah sikap ini sikap yang jujur? Seolah-olah aku tidak ingin satu kedudukan baik yang sudah tersedia. Aku memang ingin membekali diriku dengan harga diri yang pantas bagi seorang Kepala Tanah Perdikan. Tetapi aku tidak tahu, manakah sikapku yang sebenarnya. Keragu-raguan dan kebimbangan, bahkan kecewa dan rendah diri, seribu macam perasaan dan pertanyaan yang tumbuh dihati. Kakek, dalam kebingungan ini aku akan mencari jawab. Adalah lebih baik bagiku untuk menjadi seorang prajurit dengan sedikit kadar pengabdian dari pada aku pergi mengembara tanpa tujuan dalam upaya mencari diri sendiri. Jika aku bersikap seperti ini akupun tidak tahu, apakah aku jujur atau munafik, atau mementingkan diri sendiri atau justru tidak mau memetingkan diri sendiri.”

“Risang,“ ibunya terpekik kecil. Ia tidak mengira sama sekali bahwa didalam dada anaknya telah bergejolak masalah yang demikian rumitnya, sehingga Risang itu tiba-tiba saja tidak dapat mengenali dirinya sendiri.

Yang lain tidak pula kalah terkejutnya. Bahkan Kiai Badra telah mengusap dadanya dengan telapak tangannya sambil berkata, “Kau tidak boleh kehilangan dirimu sendiri seperti itu Risang. Apapun yang terjadi atasmu, kau harus tetap tegas, berdiri tegak diatas keyakinan tentang dirimu sendiri.”

“Itulah yang ingin aku dapatkan kakek. Dengan menjadi seorang prajurit, aku akan menemukan satu pengalaman yang barangkali akan dapat menumbuhkan keyakinanku atas diri sendiri. Sekali lagi aku tidak tahu, apakah aku akan mengabdi atau akan lari dari kenyataanku yang mengecewakan atau justru akan mencari diri sendiri, atau apapun namanya,“ jawab Risang.

“Risang,“ betapapun juga Iswari bertahan, namun matanya menjadi basah, “pandang ibumu. Ibumu sudah menjadi semakin tua. Pada suatu saat ibumu tidak akan dapat lagi menjalankan tugas yang berat itu.”

Namun dengan cepat Risang menyahut, “Sementara itu aku telah menemukan satu keyakinan, bahwa aku pantas untuk memegang jabatan Kepala Tanah Perdikan.”

Wajah Iswarilah yang menunduk. Ia tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan keibuannya. Titik-titik air mata mulai meleleh di pipinya.

“Risang aku minta kau mendengarkan permintaan ibumu,“ berkata kakeknya.

Hati Risang memang bergejolak. Tetapi ia tidak dapat menentang tekadnya untuk memasuki pendadaran itu. Karena itu maka katanya, “Aku mohon maaf kek. Aku mohon ibu mendapatkan satu kebanggaan tersendiri dengan niatku ini. Bukan sebaliknya. Bukankah kakek, ibu dan nenek dan siapapun juga pernah memberikan petunjuk bahwa hidup ini bukan milik kita yang dapat kita perpanjang atau kita perpendek? Tegasnya, kita tidak dapat berbicara tentang hidup dan mati meskipun bagi diri kita sendiri.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa tidak seorangpun lagi yang akan dapat merubah niat Risang untuk menjadi seorang calon prajurit. Sementara itu, setiap orang tahu bahwa kemampuan Risang sudah berada diatas kemampuan prajurit bukan saja pada tataran pertama, tetapi bahkan para perwira mudanya.

Dengan demikian maka kesempatan Risang untuk menjadi seorang prajurit agaknya terbuka lebih lebar daripada anak-anak muda Bibis yang lain. Bahkan seandainya hal itu dilakukan di Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka baik Kiai Badra, maupun Iswari hanya dapat menahan hati ketika Risang kemudian berkata, “Matahari telah hampir terbit, ibu. Ibu tentu lelah setelah menempuh perjalanan semalam suntuk bersama kakek. Karena itu, aku persilahkan ibu beristirahat. Aku mohon doa restu, agar aku dapat diterima menjadi prajurit di Pajang.”

Iswari hampir tidak dapat mengucapkan kata-kata. Namun akhirnya terdengar pesannya dari sela-sela bibirnya, “Berhati-hatilah Risang.”

Risangpun kemudian bersujud dikaki ibunya. Desisnya, “Terima kasih ibu.”

Demikianlah, maka Risangpun segera bersiap untuk pergi ke banjar. Beberapa pesan telah diberikan oleh kakeknya. Kiai Badra. Namun Kiai Badra tidak mengatakan, bahwa ia juga akan melihat pendadaran yang akan dilakukan di banjar itu.

Ketika Risang yang dikenal dengan nama Bharata itu muncul di halaman banjar, maka semua mata telah memandangnya. Semua orang yakin bahwa anak muda itu tentu akan diterima menjadi seorang prajurit. Anak-anak muda padukuhan Bibis telah mengenal Bharata sebagai seorang anak muda yang memiliki kemampuan olah kanuragan.

Kiai Badra memang berniat untuk hadir pula di banjar. Namun ia harus menenangkan kegelisahan Iswari, karena mereka tidak berhasil membujuk Risang agar mengurungkan niatnya.

“Dosa apakah yang telah aku sandang kek? “ Iswari hampir menangis.

“Tidak ada hubungannya dengan dosa apapun yang pernah kau lakukan,“ jawab Kiai Badra. “sebenarnya sikap Risang adalah sikap yang wajar bagi anak-anak muda. Apalagi selama ini ia merasakan terlalu dilindungi, di sembunyikan dan dengan demikian ia merasa dirinya terlalu kecil. Pada suatu saat, ia memang meledak untuk mengenali dirinya sendiri lebih jauh.”

“Tetapi ia adalah satu-satunya anakku,“ Iswari mulai terisak.

Kiai Badra tidak mencegah Iswari agar tidak menangis. Dalam keadaan tertentu, maka menangis akan dapat memperingan beban yang memberati jantungnya. Persoalannya bukan persoalan yang dihadapi Iswari sebagai seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan. Tetapi persoalan yang dihadapi Iswari waktu itu adalah persoalan seorang ibu menghadapi anak laki-laki satu-satunya.

Yang dilakukan oleh Kiai Badra kemudian adalah sekedar menenangkannya.

Namun akhirnya Kiai Badra telah meninggalkan Iswari di padepokan ditemani oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung, sementara Kiai Badra dan Gandar yang sudah banyak dikenal oleh orang-orang Bibis telah pergi ke banjar pula.

Ketika keduanya sampai di banjar, maka pendadaran masih belum dimulai. Tetapi para perwira dan prajurit Pajang telah siap untuk melakukannya. Di halaman banjar itu telah dibuat satu arena yang agak luas. Setiap anak muda yang akan mengalami pendadaran akan memasuki arena itu.

Beberapa saat kemudian, maka setelah diadakan beberapa sesorah dan penjelasan tentang maksud dan cara yang akan ditempuh dalam pendadaran itu, maka penda-daranpun akan segera dimulai. Sementara itu mataharipun mulai memanjat semakin tinggi.

Kiai Badra dan Gandar yang ada diantara penonton yang banyak berkerumun di halaman, sebenarnya telah di persilahkan untuk naik ke pendapa oleh para bebahu yang melihatnya. Tetapi sambil tersenyum Kiai Badra berkata, “Cucuku ikut dalam pendadaran. Biarlah aku tidak mempengaruhinya. Jika aku berada di pendapa dan ia melihatku, mungkin ada pengaruh yang entah menolongnya atau sebaliknya.”

Bebahu yang mempersilahkan itu tersenyum pula. Katanya, “Pengaruh itu tentu kecil sekali.”

“Betapapun kecilnya,“ jawab Kiai Badra. Lalu katanya. “Sudahlah. Biar aku disini.”

Bebahu itu tidak memaksa. Alasan Kiai Badra dapat dimengertinya pula. Karena itu, maka Kiai Badra itupun telah ditinggalkannya kembali ke pendapa banjar Kademangan Bibis yang tiba-tiba saja telah menjadi ramai seperti ada sebuah tontonan sehari semalam. Ternyata di sekitar banjar itupun telah banyak pula orang yang berjualan, karena di banjar itu bukan saja penuh dengan anak-anak remaja, anak-anak muda dan orang-orang tua, tetapi juga banyak anak-anak yang ingin melihat.

Dalam pada itu, seorang anak muda telah dipanggil memasuki arena. Ia berhadapan dengan seorang prajurit Pajang yang bertugas untuk melakukan pendadaran.

Ternyata bahwa pendadaran yang dilakukan itu cukup berat. Anak muda itu harus melakukan perintah-perintah yang diberikan oleh prajurit yang melakukan pendadaran. Setelah diadakan sedikit pemanasan, maka ia harus melakukan gerakan-gerakan dari yang paling sederhana sampai gerakan-gerakan yang bagi anak-anak padukuhan terasa sulit.

Terakhir, anak muda itu harus berkelahi melawan prajurit yang melakukan pendadaran itu. Meskipun hanya beberapa gerakan, tetapi prajurit itu sudah menilai tingkat kemampuan anak muda itu dalam pendadaran di tataran pertama.

Tetapi diantara anak-anak muda pada urutan berikutnya, ternyata ada juga yang benar-benar telah dikenai serangan prajurit yang melakukan pendadaran. Untung tidak terlalu keras, sehingga mereka tidak menjadi pingsan karenanya.

Ketika datang giliran Barata memasuki arena, maka semua orang menjadi tegang. Orang-orang Kademangan Bibis tahu, bahwa Barata, anak muda yang tinggal di padepokan itu memiliki ilmu yang jauh lebih baik dari anak-anak Kademangan itu.

Sebenarnyalah bahwa Barata telah dapat melakukan semua yang diperintahkan oleh prajurit yang melakukan pendadaran atasnya dengan baik. Namun Barata sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia telah menguasai ilmu yang lebih tinggi dari yang diperlukan. Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan. Ketika kemudian dilakukan pendadaran dengan perkelahian, maka Barata melakukan sekedar mengimbangi prajurit itu agar tidak menimbulkan kesan berlebihan.

Orang-orang Bibis memang kecewa. Mereka ingin ikut menjadi bangga jika Barata itu membuat para prajurit menjadi heran. Tetapi ternyata yang dilakukan oleh Risang sama sekali tidak menarik perhatian para prajurit.

Kiai Badra yang menyaksikan pendadaran itu bersama Gandar memang menjadi heran. Hampir diluar sadarnya Kiai Badra berdesis, “Tiba-tiba saja anak itu mampu berpikir secara dewasa.”

“Satu hentakkan pada perasaannya ternyata mampu mempercepat perkembangan pribadinya,“ sahut Gandar.

“Ya. Dan ia telah mengetrapkannya dengan tepat. Ia sama sekali tidak dengan kekanak-kanakan menyombongkan kemampuannya meskipun barangkali setiap orang yang dikirim dari Pajang, bahkan termasuk perwira-perwiranya tidak dapat menyamai kemampuan Risang.“ gumam Kiai Badra hampir kepada diri sendiri.

Gandar mengangguk-angguk kecil. Sementara itu Kiai Badra telah mengajak Gandar untuk kembali ke padepokan tanpa menunggu sampai orang terakhir yang menempuh pendadaran.

“Besok baru diberitahukan, siapa-siapa diantara mereka yang diterima sebagai calon prajurit untuk mengikuti pendadaran pada tataran berikutnya di Pajang,“ berkata Kiai Badra.

“Risang tentu akan ikut. Tidak ada yang melampaui Risang meskipun Risang tidak menunjukkan kelebihannya,“ sahut Gandar.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak ada yang lebih baik dari Risang.

Ketika mereka sampai di padepokan, Iswari duduk termenung diruang tengah bangunan induk. Sebagaimana ketika ia datang sebelumnya, maka Iswaripun masih saja menyembunyikan kenyataan tentang dirinya.

“Bagaimana dengan pendadaran itu kakek?“ bertanya Iswari meskipun ia sudah dapat menebak apa yang telah terjadi di arena pendadaran.

“Risang adalah yang terbaik,“ jawab Kiai Badra, “seandainya dari Kademangan ini akan diambil seorang saja, maka orang itu adalah Risang.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sementara Kiai Badra berkata, “Sudahlah Iswari. Nampaknya Risang sudah bertekad bulat. Apaboleh buat. Kau harus dengan ikhlas menyerahkannya kepada Yang Maha Agung. Kau menerima anak itu sebagai seorang gembala, yang memeliharanya. Jika saatnya ia akan diambil oleh pemiliknya, maka apapun alasannya, kau tidak akan dapat mempertahankannya. Tetapi jika kau masih mendapat kepercayaan untuk memeliharanya, maka ia tentu akan kembali kepadamu.”

Iswari tidak menjawab. Tetapi iapun menyadari, bahwa tidak mungkin lagi baginya untuk menahan Risang. Jika ia memaksanya maka akibatnya justru akan kurang baik bagi semuanya.

Ketika kemudian Risang datang pula dari pendadaran, maka Kiai Badrapun bertanya, “Bagaimana dengan kau?”

“Bukankah kakek ada di banjar?“ bertanya Risang.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Risang mengetahui bahwa Kiai Badra dan Gandar ada di halaman banjar disaat pendadaran dilakukan.

Namun Kiai Badra itu berkata, “Aku tidak menunggu sampai selesai.”

“Besok baru diumumkan, siapakah yang diterima dan siapakah yang tidak,“ jawab Risang.

“Apakah kau dapat juga diterima?“ bertanya Iswari.

“Aku mohon doa restu ibu,“ jawab Risang.

Iswari justru menundukkan kepalanya. Ia memang tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi hampir dapat dipastikan, bahwa Risang akan meninggalkannya.

Dengan demikian maka hampir semalam suntuk Iswari tidak dapat tidur. Ia menjadi sangat gelisah. Kadang-kadang terdengar ia berdesah.

Risang sendiripun telah menjadi gelisah pula. Tetapi ia memang tidak ingin melangkah surut. Ia benar-benar sudah bertekad untuk menjadi seorang prajurit.

Sebenarnyalah, di hari berikutnya, ketika diumumkan siapa sajadiantara anak-anak muda Kademangan Bibis yang dapat diterima menjadi calon prajurit untuk menempuh pendadaran berikutnya ternyata hanya dua belas orang. Diantara mereka adalah Barata.

“Hanya dua belas orang,“ Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Bahkan katanya, “Itupun baru pendadaran pertama. Mungkin di pendadaran kedua hanya angger Barata sajalah yang dapat diterima.”

Tetapi salah seorang perwira dari Pajang itupun berkata, “Jangan kecewa Ki Demang. Dua belas orang sudah terhitung banyak. Ada Kademangan yang hanya dapat diambil tiga atau empat orang calon. Mereka belum tentu dapat melampaui pendadaran kedua. Namun bahwa banyak anak-anak muda yang berminat untuk menunjukkan pengabdiannya sebagai prajurit, meskipun kali ini belum dapat diterima, namun niat mereka itu sudah dapat dihargai.”

Ki Demang hanya mengangguk-angguk saja. Bagaimanapun juga ia harus puas dengan kenyataan itu. Pajang memang berniat mengambil anak-anak muda yang serba sedikit telah mempunyai bekal.

Dalam pada itu, anak-anak muda yang diterima sebagai calon prajurit dan kemudian anak ikut dalam pendadaran yang diadakan di Pajang, maka bagi mereka disediakan waktu satu hari untuk berkemas.

“Yang dapat lolos dalam pendadaran kedua akan langsung masuk kedalam barak prajurit Pajang. Mereka tidak perlu pulang lebih dahulu. Karena itu, maka sebaiknya mereka membawa ganti pakaian seperlunya, karena bagi mereka yang akan diterima menjadi prajurit dan mendapat pembagian pakaian khusus seorang prajurit,“ berkata perwira Pajang yang mengumumkan hasil pendadaran.

Ketika hal itu semuanya dinyatakan kepada ibunya oleh Risang, maka dada ibunya bagaikan menjadi sesak.

Namun Kiai Badralah yang berkata, “Jika itu sudah menjadi tekadmu Risang, maka kami tidak dapat berbuat apa-apa. Pergilah dengan wajah tengadah. Kita akan sama-sama memohon, agar pada suatu saat kau akan kembali dengan wajah tengadah pula.”

Risang memandang kakeknya dengan ragu-ragu. Ketika ia kemudian memandang kepada ibunya, maka ibunyapun berkata, “Kau harus tahu Risang, bahwa apa yang dikatakan oleh kakekmu itu adalah kemungkinan terakhir dari satu sikap yang kecewa. Kau harus tahu bahwa kami tidak sependapat dengan sikapmu itu. Tetapi kamipun menyadari, bahwa kami tidak dapat mencegahmu lagi.”

“Aku mohon maaf ibu,“ desis Risang.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau yang sudah merasa dirimu dewasa, maka kau menganggap bahwa perbedaan pendapat diantara kita adalah wajar. Agaknya kau sudah melepaskan diri dari hubungan yang lebih rapat dari seorang ibu dan anak,“ berkata Iswari.

“Tidak ibu. Sama sekali tidak,“ jawab Risang dengan serta merta.

“Tetapi kau tetap berpegang pada keyakinanmu sendiri,“ berkata ibunya.

“Aku mohon ibu dapat mengerti perasaanku. Justru karena ibu adalah ibuku. Aku tidak akan melakukannya kepada orang lain. Bahkan aku sama sekali tidak peduli,“ berkata Risang.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menangis lagi. Bahkan dengan wajah yang meyakinkan ia berkata, “Risang. Kau sadari bahwa kita berbeda pendapat. Dan kau merasa berhak untuk menentukan jalanmu sendiri. Tetapi aku masih tetap berharap, bahwa kau akan kembali ke Tanah Perdikan karena kau masih mempunyai tanggung jawab yang harus kau pikul disini.”

“Tentu ibu. Aku akan kembali. Justru untuk menanam alas bagi tugas itulah, aku sekarang menjadi seorang prajurit. Seperti sudah aku katakan, aku tidak tahu apakah sikap itu benar, bahkan aku tidak tahu apakah aku bersikap jujur terhadap diriku sendiri. Atau sekedar karena aku menjadi kecewa tentang kenyataanku atau karena sebab lain. Mudah-mudahan pengalamanku kelak akan dapat membantu aku menemukan diriku sendiri,“ jawab Risang.

Memang tidak ada yang dapat dibicarakan lagi. Namun ibunya masih juga menunggu sampai saatnya Risang berangkat dari Kademangan Bibis menuju ke Pajang. Memang satu perjalanan yang agak jauh.

Satu iring-iringan kecil dari para perwira, prajurit Pajang dan anak-anak muda yang akan mengikuti pendadaran di Pajang yang jumlahnya dua belas orang termasuk Barata.

Sepeninggal Risang, maka Iswari merasa tidak ada gunanya lagi ia berada di padepokan itu. Karena itu, maka iapun telah meninggalkan padepokan itu bersama Kiai Badra serta Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kita tidak dapat meninggalkan padepokan ini begitu saja,“ berkata Kiai Badra. Lalu katanya kepada Gandar, “Untuk sementara tunggulah padepokan ini. Aku sekali-sekali tentu akan berada disini pula. Demikian pula Sambi Wulung dan Jati Wulung. Disini kau harus berusaha untuk mendapat kabar tentang Risang. Bahkan jika ia diterima menjadi prajurit sekalipun,“ Gandar mengangguk dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia merasa segan untuk meninggalkan padepokan itu. Meskipun Risang tidak ada di padepokan itu, rasa-rasanya ia harus menunggunya. Karena menurut keyakinannya, jika Risang itu pulang, maka ia tentu akan pulang ke padepokan itu lebih dahulu sebelum ke Tanah Perdikan.

Dalam pada itu, setelah menempuh perjalanan panjang, maka para perwira, prajurit dan calon prajurit Pajang itu telah mendekati pintu gerbang. Para calon prajurit itu di sepanjang jalan telah mendapat petunjuk apa yang harus mereka lakukan dalam pendadaran tataran kedua itu.

“Kalian harus dapat menunjukkan bahwa kalian memiliki kemampuan,“ pesan seorang perwira yang menyertai mereka.

Ketika anak-anak muda itu sampai di Pajang, maka mereka langsung dimasukkan kedalam sebuah barak.

Di barak itu Risang tahu, bahwa penerimaan prajurit itu akan berlangsung dalam beberapa tahap. Setelah tahap yang pertama, maka akan dilakukan lagi pendadaran bagi penerimaan prajurit tahap kedua dan yang terakhir pada tahap ke tiga yang masing-masing berselang satu bulan.

Di barak itu pula Risang tahu bahwa pendadaran tataran kedua akan dilakukan di alun-alun Pajang sepekan yang akan datang.

Ternyata mereka bukannya sekedar menunggu di barak dengan berbaring di pembaringan selama menunggu saat pendadaran tiba. Tetapi beberapa orang prajurit telah memberikan beberapa macam pengarahan dan tuntunan olah kanuragan. Para calon prajurit itu sudah mendapat petunjuk apa saja yang harus mereka lakukan dalam pendadaran. Dengan demikian maka para prajurit yang akan melakukan pendadaran serta para peserta mempunyai bahasa yang sama sehingga tidak terjadi salah paham selama pendadaran. Hanya karena kurang jelas aba-aba yang diberikan maka seorang calon gugur. Atau sebaliknya seorang calon tidak mengerti istilah apa yang dipergunakan oleh mereka yang melakukan pendadaran. Namun ternyata para prajurit yang akan mendadar itupun memerlukan petunjuk-petunjuk dan pesan-pesan khusus untuk menyamakan segala macam sesorah bagi mereka yang berada di barak-barak penampungan itu.

Dalam sepekan, para calon prajurit itu telah benar-benar dipersiapkan untuk memasuki pendadaran. Jika masih ada yang salah paham, kurang mengerti serta menjadi bingung di saat pendadaran, maka kereka termasuk anak muda yang lambat berpikir sehingga mereka memang tidak akan mungkin dapat menjadi prajurit yang baik.

Ketika akhirnya saat pendadaran itu tiba, maka para calon prajurit itu telah dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok. Mereka berada di alun-alun yang luas yang disaksikan oleh para pemimpin tertinggi Pajang.

Disetiap kelompok, seorang demi seorang di panggil memasuki arena yang dibatasi dengan tali. Mula-mula mereka melakukan pendadaran seperti pendadaran di tataran pertama. Namun semakin lama menjadi semakin rumit. Mereka harus melakukan gerakan-gerakan sebagaimana diperintahkan oleh para prajurit yang melakukan pendadaran dibawah pengamatan tiga orang prajurit yang lain.

Terakhir para calon prajurit itu harus bertempur melawan prajurit yang sedang melakukan pendadaran itu.

Meskipun telah dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok, tetapi pendadaran itu ternyata memerlukan waktu dua hari. Kemudian para calon masih harus menunggu tiga hari lagi barulah diumumkan siapa yang diterima menjadi prajurit.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, maka Risang yang dikenal dengan nama Barata itu termasuk diantara lima orang anak muda dari Kademangan Bibis yang diterima. Tujuh orang kawannya yang lain dihari berikutnya akan dikembalikan ke Kademangan dengan mendapat sedikit uang bekal di perjalanan.

Meskipun ketujuh orang itu menjadi sangat kecewa, namun mereka telah merasa bangga bahwa mereka sempat sampai ke Pajang untuk didadar menjadi calon prajurit bersama-sama dengan ratusan calon yang lain.

Ketika berita itu kemudian sampai ke Bibis serta sampai ke telinga Gandar, maka Gandar sendiri tidak tahu, perasaan apakah yang telah bergejolak didalam dadanya. Ia memang merasa kecewa bahwa Risang benar-benar telah meninggalkan padepokan itu. Namun iapun merasa bangga, bahwa dengan demikian Risang bukan saja menjadi seorang anak muda yang harus disembunyikan ditem-pat yang terpencil. Tetapi ia akan menjadi seorang prajurit. Jika ia mampu melakukan tugasnya dengan baik, serta waktunya telah tiba, maka Pajang tentu akan memberikan kesempatan kepadanya untuk menjabat sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan dengan melepaskan jabatan keprajuritannya.

“Dalam keadaan yang demikian, Risang tentu sudah menemukan harga dirinya kembali. Harga diri yang dianggapnya telah dikoyakkan oleh masa lalunya itu.”

Sementara itu, Risang yang sudah bertekad bulat untuk menjadi seorang prajurit itu memang belum menunjukkan kelebihannya dari anak-anak muda yang lain. Ia masih berada pada tataran pertama dari ilmunya sehingga menurut penglihatan banyak orang, maka ia tidak jauh berbeda dengan kawan-kawannya yang telah diterima menjadi seorang prajurit.

Ketika ketujuh orang kawan-kawannya yang tidak diterima di kembalikan ke Bibis, maka Barata dengan empat kawannya telah ditempatkan di sebuah barak prajurit. Mereka bersama beberapa kelompok prajurit yang baru ditempatkan di perbatasan kota Pajang, justru diluar dinding kota.

Tetapi yang berada di barak yang besar itu bukan hanya prajurit-prajurit baru. Tetapi di bagian lain dari barak itu, terdapat prajurit-prajurit Pajang yang justru prajurit pilihan dari Pasukan Khusus Pajang.

Prajurit-prajurit baru itu memang ditempatkan di barak itu, agar mereka setiap hari mengenali tata cara hidup seorang prajurit yang sebenarnya. Sejak bangun pagi sampai masuk kembali kedalam bilik tidur mereka.

Di hari-hari pertama, prajurit-prajurit yang baru itu sudah mendapat latihan-latihan yang meskipun masih sederhana, tetapi terasa cukup berat bagi mereka. Meskipun rasa-rasanya baru sekedar perkenalan dengan tugas-tugas keprajuritan serta latihan-latihan yang harus mereka jalani, namun anak-anak muda itu mulai merasa bahwa mereka telah benar-benar menjadi seorang prajurit dengan segenap paugerannya yang mengikat.

Menjelang pertengahan bulan mereka berada di barak itu, para prajurit baru itu mulai ditilik kemampuan mereka secara pribadi. Beberapa orang pelatih sekaligus telah turun bersama-sama.

Namun dalam pada itu, Barata masih saja tidak menunjukkan kelebihannya. Ia masih tetap setingkat saja dengan kawan-kawannya yang lain, meskipun sebenarnya ia dapat berbuat jauh lebih baik.

Tetapi yang tidak diketahui oleh Risang bahwa seseorang selalu memperhatikannya. Hampir setiap gerak-geriknya. Apalagi disaat-saat Risang mengalami penilikan secara pribadi dari kemampuannya.

Risang termangu-mangu ketika lewat senja seorang prajurit dari Pasukan Khusus datang ke baraknya untuk menyampaikan perintah agar Risang menghadap pelatihnya.

“Kau harus menghadap sekarang,“ berkata prajurit itu.

Risang menjadi ragu-ragu. Namun prajurit itu mengulangi, “Kau dengar perintah itu? Kau harus menghadap Ki Lurah Mertayuda.”

“Tetapi dalam latihan-latihan tadi, Ki Lurah tidak mengatakan apa-apa?“ desis Barata.

“Aku ulangi sekali lagi. Kau harus menghadap Ki Lurah Mertayuda. Ki Lurah berada di gardu tiga yang menghadap ke sanggar latihan terbuka,“ berkata prajurit itu.

Ternyata prajurit itu tidak menungu lagi. Iapun segera meninggalkan tempat itu.

Barata memang masih ragu-ragu. Dipandanginya kawan-kawannya yang sudah mulai berada di pembaringannya meskipun mereka masih saling berbincang. Tetapi latihan-latihan yang bagi mereka terasa berat telah membuat mereka letih, sehingga setelah makan malam, mereka kebanyakan telah berada di pembaringan.

“Agak aneh,“ desis Barata.

“Ya,“ sahut salah seorang kawannya yang datang dari Bibis. Sementara kawannya yang lain, yang kebetulan datang dari Kerta berkata, “Nampaknya kau tidak membuat kesalahan apapun.”

Risang yang oleh kawan-kawannya dikenali bernama Barata itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berani membantah perintah itu. Karena itu, maka katanya kepada kawan-kawannya, “Baiklah aku akan pergi kes gardu tiga. Mungkin aku telah melakukan kesalahan diluar sadar, sehingga aku akan mendapat hukuman di sanggar latihan terbuka itu.”

Kawan-kawannya memang tidak dapat mencegahnya. Mereka hanya dapat memandangi saja Barata yang melangkah keluar pintu baraknya.

Sementara itu seorang kawannya berkata, “Ia anak baik. Rajin dan rasa-rasanya ia mempunyai daya tahan yang setidak-tidaknya lebih dari aku. Ketika kita harus berlari di sekitar gumuk kecil berkapur itu, nafasku hampir putus. Tetapi anak itu nampaknya masih cukup segar.”

“Ia juga tidak banyak salah langkah sehingga tidak perlu mengulangi beberapa kali untuk satu gerakan tertentu. Ketika aku harus mengulangi satu gerakan tertentu sampai lima kali, maka Barata hanya mengulangi dua kali,“ berkata yang lain.

“Aku hanya satu kali,“ terdengar suara berat di sudut. Seorang anak muda yang bertubuh tinggi tegap yang datang dari Jati Kerep.

Beberapa orang anak muda berpaling kepadanya. Namun mereka tidak menghiraukannya lagi. Anak itu memang agak sombong dan merasa dirinya jauh lebih baik dari kawan-kawannya.

Sementara itu Barata berjalan diantara barak-barak yang sudah menutup pintunya. Kemudian ia turun ke halaman dan berjalan menuju ke lapangan rumput menjelang sanggar latihan terbuka yang penuh dengan berbagai macam peralatan latihan. Tetapi sebagai seorang prajurit ia belum pernah mendapat latihan tertentu di sanggar itu kecuali latihan secara umum bersama-sama dengan kelompoknya. Sekedar berloncatan dan berlari-lari diantara tonggak-tonggak batang kelapa.

Untuk sampai di gardu tiga, maka Barata memang harus melalui sanggar latihan terbuka itu.

Ketika ia memasuki sanggar latihan, ternyata tidak ada sebuah oborpun yang dipasang kecuali di depan gardu tiga, yang terletak di seberang itu. Karena itu, maka cahayanya seakan-akan tidak dapat mencapai regol sanggar itu. Namun obor itu memang dapat dipergunakannya sebagai ancar-ancar untuk mencapainya sebagaimana diperintahkan oleh Ki Lurah Mertayuda.

Barata memang tidak menerobos ditengah-tengah sanggar. Ia memilih jalan melingkar, lewat bagian pinggir dari sanggar itu.

Namun kemudian Barata itu melihat bahwa pintu gardu tiga tertutup rapat.

Barata memang menjadi ragu-ragu. Tetapi ia melangkah terus dengan hati-hati. Sesuatu terasa bergetar di dadanya. Rasa-rasanya ada yang tidak wajar dengan perintah prajurit itu.

Sebenarnyalah ketika Barata sampai di sudut sanggar, sebelum sempat berbelok menuju ke gardu tiga, ia mendengar sesuatu gemerisik diantara tonggak-tonggak batang kelapa. Karena itu, maka iapun segera bersiap. Dalam keadaan yang tiba-tiba, maka Barata sulit mengendalikan diri. Apalagi tiba-tiba saja seorang telah menyerangnya. Demikian orang itu meloncat dari antara tonggak-tonggak batang kelapa itu, maka ia langsung menerkam tengkuknya.

Tetapi dengan gerak naluriah Risang berhasil mengelak. Juga serangan-serangan yang datang kemudian dapat dielakkannya. Dengan berloncat-loncat Barata masih belum mulai menyerang. Ia belum tahu siapa yang menyerangnya itu.

Namun dalam keremangan ujung malam dibawah cahaya obor yang agak jauh, Barata melihat bahwa orang itu tidak mengenakan pakaian seorang prajurit. Dengan demikian maka Barata menganggap bahwa ia berhadapan dengan seorang yang bukan prajurit apalagi prajurit dalam tugas. Karena itu, maka ia tidak mau sekedar menjadi sasaran serangan-serangan yang semakin cepat dan semakin berbahaya.

Dalam keadaan yang terdesak maka Baratapun kemudian telah meningkatkan kemampuannya. Apalagi setelah ia menganggap bahwa ia tidak melihat orang lain di sanggar itu.

Demikianlah maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Keduanya berloncatan dengan tangkasnya. Serang menyerang dan saling mendesak. Barata yang agaknya memiliki ilmu yang mapan karena latihan-latihan yang matang, harus menghadapi seorang yang memiliki pengalaman yang lebih luas, sehingga mampu menentukan sikap disaat-saat yang penting.

Barata yang masih saja merasa heran, kenapa tiba-tiba seseorang telah menyerangnya justru dalam barak prajurit Pajang itu tidak sempat berpikir lebih lama. Lawannya menyerang semakin mendesak. Ilmunyapun menjadi semakin meningkat.

Tetapi Baratapun telah meningkatkan ilmunya pula, sehingga ia tidak lagi seorang anak muda yang mengikuti pendadaran dalam tataran yang tidak banyak berbeda dengan anak-anak muda yang lain. Tetapi ia adalah anak muda yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi.

Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Keduanya saling menyerang dengan kekuatan yang rasa-rasanya menjadi semakin besar. Bahkan sejenak kemudian, keduanya tidak bertempur ditem-pat yang lapang, tetapi keduanya mulai bergeser ke dalam lingkungan tempat latihan. Keduanya telah bertempur disela-sela tonggak-tonggak batang kelapa. Menyusup, memutar dan sekali-sekali meloncat keatas.

Sebenarnyalah Barata adalah seorang anak muda yang telah dipersiapkan oleh guru-gurunya untuk mewarisi ilmu Janget Kinatelon. Sehingga karena itu, maka ia telah menguasai ilmu dasar dari ilmu Janget Kinatelon itu. Dengan demikian, maka bukan saja ketangkasan, tetapi kekuatan Barata memang sangat mengagumkan. Meskipun kemudian kedua orang yang bertempur itu harus berloncatan pada tonggak-tonggak batang kelapa, namun keduanya tetap tangkas dan kuat sambil mempertahankan keseimbangannya.

Bahkan semakin sengit mereka bertempur, maka mereka telah bergeser semakin ketengah. Mereka tidak saja bertempur diatas tonggak-tonggak batang kelapa, namun mereka mulai berloncatan diatas palang-palang bambu. Bergayutan pada tali-tali yang memang dipasang untuk berlatih.

Barata yang tidak tahu ujung pangkal dari perkelahian itu, memang terpaksa untuk meningkatkan ilmunya mendekati ilmu puncak penguasaannya dari yang dipersiapkan untuk menjadi alas ilmu Janget Kinatelon. Namun sebelum ia memasuki ilmunya itu, maka ia masih berusaha untuk meyakinkan dirinya, “Ki Sanak. Apakah soalnya Ki Sanak menyerang aku?”

Tetapi sama sekali tidak ada jawaban. Orang itu justru menyerang semakin seru.

Dengan demikian maka pertempuran itu telah meningkat semakin mendekati puncak kemampuan mereka masing-masing. Barata yang mulai merambah puncak umunya, telah menghadapi tingkat terakhir dari kemampuan lawannya. Ternyata keduanya memiliki kelebihannya masing-masing. Barata yang ditempa dengan matang, sementara lawannya yang agaknya memiliki pengalaman lebih luas itu mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Dengan demikian, maka pertempuran itu telah meningkat menjadi semakin sengit. Bahkan telah melampui batas kewajaran kekuatan wadag.

Namun demikian, masih belum ada yang nampak mulai terdesak.

Dalam pada itu, sebenarnyalah diantara tonggak-tonggak yang berada di pinggir seberang dari sanggar itu, terdapat beberapa orang yang dengan sengaja bersembunyi untuk menyaksikan pertempuran itu. Beberapa orang diantara mereka telah menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka tidak mengira bahwa diantara prajurit itu ada dua orang yang berilmu tinggi, bahkan melampui para perwira di barak itu. Barak Pasukan Khusus.

Ketika kedua orang yang bertempur itu benar-benar mencapai puncaknya maka serangan-serangan mereka telah mulai menyentuh tubuh lawannya. Barata yang meloncat turun dari atas sebatang tonggak telah diburu oleh lawannya. Satu ayunan tangan mendatar dengan cepat menyambar keningnya. Tetapi Barata masih sempat mengelak. Ia meloncat mundur ketika tangan itu terayun. Tetapi pada saat yang bersamaan, orang itu berputar dengan kaki terayun. Hampir saja menyambar lambungnya. Tetapi tiba-tiba saja orang itu menggeliat, sehingga serangannya bagaikan tertahan. Ketika lambungnya benar-benar tersentuh, maka sentuhan itu tidak menimbulkan kesakitan.

Barata memang merasa bahwa orang itu tidak bersungguh-sungguh ingin menyakitinya. Karena itu, ketika ia mendapat kesempatan mengayunkan sisi telapak tangannya ke punggung orang itu, maka Baratapun telah menahan diri pula, sehingga ayunan itu seakan-akan tidak bertenaga.

Dengan demikian maka keduanyapun telah menyadari, bahwa yang terjadi itu bukanlah satu pertempuran yang sebenarnya. Apalagi ketika kemudian terdengar beberapa orang bertepuk tangan.

Barata terkejut. Dengan serta merta ia meloncat mundur. Sementara itu, dari balik batang-batang bambu disisi sanggar yang lain, lima orang prajurit telah muncul. Seorang diantara mereka berkata, “Sudah cukup.”

Barata dan lawannya itu telah meloncat beberapa langkah mundur. Merekapun kemudian berdiri termangu-mangu menunggu perintah berikutnya.

“Marilah,“ berkata salah seorang diantara mereka, “kita pergi ke gardu tiga.”

Barata segera mengenali, bahwa suara itu adalah suara Ki Lurah Mertayuda.

Sejenak kemudian mereka telah berada didalam gardu. Ki Lurah Mertayuda dan beberapa orang perwira duduk dihadap oleh dua orang anak muda yang nampaknya memang sebaya.

Dua orang anak muda yang memiliki ilmu yang hampir sama tingkatnya.

“Nampaknya kalian memang belum saling mengenal,“ berkata Ki Lurah Mertayuda.

Kedua anak muda itu menunduk.

“Baiklah. Aku ingin memperkenalkan kalian berdua,” lalu katanya kepada anak muda yang telah menyerang Barata itu, “Namanya Barata dari Kademangan Bibis.“ Lalu kepada Barata Ki Lurah berkata, “Namanya Kasadha. Menurut keterangannya, ia dilahirkan di musim keduabelas.”

Kedua anak muda itu saling mengangguk. Namun kemudian mereka telah menundukkan kepalanya lagi. Sementara Ki Lurah berkata, “Kasadha datang dari kaki Gunung Sewu. Dari sebuah desa yang bernama Pudak Kerep.”

Kedua orang anak muda itu masih tetap berdiam diri.

Dalam pada itu, maka Ki Lurahpun berkata selanjutnya, “Sejak kami melakukan pendadaran, kami telah mencurigai kalian berdua. Agaknya kalian bukan anak muda kebanyakan. Betapapun kalian berdua menyembunyikan kemampuan kalian, tetapi ternyata kami, yang melakukan pendadaran sempat melihatnya. Hal itu semakin kami yakini ketika kalian berdua memasuki latihan-latihan dalam penilikan pribadi. Karena itu, maka kami telah mengatur pertemuan diantara kalian yang tiba-tiba. Tetapi kami sulit untuk mempertemukan kalian tanpa sebab. Karena itu, salah seorang diantara kalian terpaksa kami persiapkan di tempat ini.”

Kedua orang anak muda itu masih saja menunduk. Sedangkan kemudian seorang perwira yang lain berkata dengan nada rendah, “Ternyata pengamatan kami benar. Kalian berdua memiliki dasar ilmu yang sangat tinggi. Kalian tidak saja pantas menjadi seorang prajurit. Tetapi kemampuan olah kanuragan kalian telah melampui kemampuan para perwira pertama.”

Kedua anak muda itu masih menunduk. Sementara Ki Lurah meneruskan, “Yang belum kalian miliki adalah kemampuan kepemimpinan bagi kelompok prajurit.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Ternyata apa yang disembunyikan itu tidak luput dari tangkapan pengamatan para perwira prajurit Pajang, sehingga pada suatu saat, ia harus membuka diri dihadapan pelatihnya.

Dalam pada itu Ki Lurah itupun berkata, “Untuk sementara kalian aku minta tetap seperti biasa. Tetapi kalian berdua telah kami persiapkan untuk memimpin kelompok prajurit baru yang bakal kami terima kemudian. Pada tahap terakhir kami masih akan menerima beberapa kelompok prajurit lagi. Sementara itu, kalian akan mendapat tuntunan khusus untuk memimpin sekelompok prajurit. Jika kalian mampu menunjukkan sikap kepemimpinan kalian, maka kalian akan mendapat kesempatan berikutnya dimasa-masa mendatang.”

Demikianlah, maka pertemuan itupun untuk sementara sudah dianggap selesai. Ki Lurah akhirnya berkata, “Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian. Dengan ilmu kalian telah siap untuk mengabdi kepada Pajang yang sedang dibayangi oleh awan yang gelap sekarang ini karena Panembahan Senapati telah mendirikan Mataram. Apalagi Panembahan Senapati telah menolak dengan tegas untuk menghadap ke Pajang. Disamping kalian aku masih memerlukan tiga orang lagi pemimpin kelompok. Tetapi nampaknya sulit dicari diantara para prajurit baru, sehingga kebijaksanaan paling akhir adalah menyerahkan pimpinan kepada prajurit yang lama.”

Sejenak kemudian maka Barata dan Kasadhapun kemudian telah diijinkan meninggalkan gardu tiga untuk kembali ke barak masing-masing.

Ternyata keduanya memang cepat menjadi akrab. Dengan nada rendah Kasadha bertanya, “Dimana letak barakmu?”

“Diujung itu,“ jawab Barata, “kau dimana?”

“Di sebelah sanggar ini,“ jawab Kasadha.

Namun Barata masih juga bertanya, “Bagaimana kau menyerangku dengan tiba-tiba?”

“Aku sendiri tidak mengerti. Tetapi ternyata para pelatih melihat kemampuanku meskipun aku sudah berusaha untuk menyembunyikannya. Aku tidak ingin nampak menonjol diantara kawan-kawan yang lain. Namun ternyata mereka memungutku ke gardu dan aku mendapat perintah untuk menyerangmu.”

“Tetapi terasa bahwa pada saat-saat terakhir kau tidak bersungguh-sungguh,“ berkata Barata.

“Kaupun tidak bersungguh-sungguh pula,“ jawab Kasadha.

“Ternyata mereka sekedar menjajagi kemampuan kita,“ desis Barata.

“Ya. Aku tidak mungkin mengelak lagi,“ sahut Kasadha.

“Baiklah,“ berkata Barata, “besok kita bertemu lagi. Bukankah baraknya yang terletak disamping ini?”

“Ya. Barak dua,“ jawab Kasadha.

“Aku berada di barak tujuh,“ desis Barata.

Demikianlah, maka keduanya telah menuju ke barak masing-masing yang terpisah oleh beberapa barak yang lain.

Demikianlah Barata mendekati pintu baraknya, ternyata ia berpapasan dengan dua orang prajurit peronda. Dengan garang seorang diantaranya membentak, “Dari mana kau he? Bukankah telah terlalu malam untuk berkeliaran?”

“Aku baru saja dari gardu tiga,“ jawab Barata, “memenuhi perintah Ki Lurah Mertayuda.”

“Bohong,“ bentak yang lain, “Ki Lurah tidak akan memanggil seorang prajurit, apalagi prajurit baru ke gardu tiga pada saat seperti ini.”

“Tetapi aku dari sana,“ jawab Barata, “jika kau tidak percaya, bertanyalah kepada Ki Lurah.”

“He, kau perintah kami ya? Kau itu siapa menurut pendapatmu sehingga kau berani memberikan perintah kepadaku?“ bentak seorang diantara keduanya.

Barata menjadi bingung. Namun tiba-tiba saja dari kegelapan terdengar seseorang berkata, “Aku memang telah memerintahkan anak itu untuk pergi ke gardu tiga.”

Ketika para prajurit itu berpaling, dilihatnya Ki Lurah Mertayuda berdiri dibayangan kegelapan. Namun yang kemudian maju mendekat, sehingga para prajurit itu mengenalinya.

“Maaf Ki Lurah,“ hampir berbareng mereka berdesis.

“Pergilah,“ perintah Ki Lurah.

Kedua prajurit itupun kemudian telah meninggalkan barak itu, sementara Barata berkata, “Terima kasih Ki Lurah.”

Ki Lurah tertawa. Katanya, “Aku yakin bahwa lima orang prajurit seperti yang meronda itu tidak dapat mengalahkanmu meskipun mereka dari Pasukan Khusus Pajang. Yang mereka miliki adalah ketahanan tubuh, ketrampilan bermain senjata dan kecepatan berpikir menanggapi perkembangan keadaan. Tetapi kau sudah berbekal ilmu yang tinggi disaat kau memasuki barak ini.”

“Ki Lurah terlalu memuji,“ desis Barata.

“Tidak. Aku berkata sebenarnya,“ jawab Ki Lurah. Namun kemudian katanya, “Masuklah kedalam barakmu. Sudah waktunya untuk bermimpi.”

“Terima kasih Ki Lurah,“ sahut Barata yang kemudian melangkah kepintu baraknya.

Dalam pada itu, demikian Barata memasuki baraknya, ternyata beberapa kawannya terdekat masih belum tidur. Seorang yang sedikit gemuk bertanya, “Ada apa?”

Barata menggeleng. Jawabnya, “Tidak apa-apa. Hanya satu tegoran ringan. Aku dianggap kurang berminat untuk berlatih memegang senjata dan berlatih keseimbangan. Agaknya pelatih dari kedua jenis ilmu ini menganggap aku terlalu bodoh atau kurang berminat.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka bertanya, “Apakah kau harus menjalani hukuman?”

Barata termangu-mangu sejenak. Tubuhnya memang berkeringat dan barangkali nampak bahwa ia baru saja melakukan gerakan yang keras. Karena itu, maka Barata itupun menjawab, “Berlari-lari mengelilingi sanggar latihan terbuka.”

“Berapa kali?“ bertanya yang lain.

“Kali ini hanya sepuluh kali. Tetapi aku diancam untuk melakukan lebih banyak lagi jika aku masih belum merubah sikapku menghadapi dua jenis ilmu itu,“ jawab Barata.

Kawan-kawannya menjadi heran. Menurut pengamatan mereka, Barata termasuk seorang anak muda yang baik, rajin dan tangkas meskipun tidak lebih dari kawan-kawannya yang lain.

Tetapi mereka tidak bertanya lagi ketika mereka melihat Barata itu mengganti bajunya yang basah oleh keringat. Pergi ke pakiwan dan kemudian berbaring di pembaringan.

Di barak yang lain, seorang anak muda telah berbaring pula di pembaringannya. Ketika kawan-kawannya bertanya, meskipun tidak bersepakat lebih dahulu, namun Kasadhapun mengatakan bahwa ia telah dihukum karena pelanggaran yang tidak disadarinya.

Namun dalam pada itu, ketika kawan-kawannya telah tertidur nyenyak, Kasadha justru mulai menelusuri jalan hidupnya. Sebenarnya ia tidak mengira bahwa kemampuannya tidak lepas dari pengamatan para pelatihnya sehingga ia harus berhadapan dengan seorang anak muda yang lain yang juga mengalami keadaan yang sama. Anak muda yang tidak berhasil menyembunyikan kemampuannya.

“Sayang,“ berkata anak muda itu, “aku tidak dapat melakukan pesan guru dan kakek. Para pelatih itu mempunyai pengamatan begitu tajamnya, sehingga mereka melihat kemampuanku.”

Sebenarnyalah ketika Kasadha dipanggil menghadap pelatihnya ia masih mencoba untuk mengaburkan kemampuannya. Tetapi para pelatihnya telah dapat memancingnya sehingga ia tidak dapat ingkar lagi sehingga datang perintah untuk menyerang seorang anak muda yang lain, juga seorang prajurit baru yang akan dipanggil ke sanggar latihan itu.

Ketika anak itu kemudian memiringkan tubuhnya sambil memejamkan matanya, maka rasa-rasanya nampak semakin jelas, laki-laki yang menyebut dirinya ayahnya itu menudingnya sambil membentak kasar, “Kubunuh jika kau membantah.”

Kasadha menggeretakkan giginya. Ketika ia kemudian kembali tidur menelentang, maka rasa-rasanya ia melihat kedua-orang tuanya itu berdiri di hadapannya dengan marah.

Kemudian terngiang ditelinganya suara gurunya dan kakeknya berbareng, “Puguh, kau dengar panggilan untuk menjadi seorang prajurit.”

Kesempatan itu memang menarik perhatian Puguh. Gurunya dan kakeknya telah memberikan kesempatan kepadanya untuk menghindar dari jalur hidupnya yang tidak sesuai dengan kata batinnya.

“Sebagai seorang prajurit, maka kau dapat menunjukkan pengabdianmu bagi Pajang. Hidupmu akan berarti. Kau tidak lagi akan berkeliaran dalam dunia yang tidak menentu. Tetapi kau akan dapat berdiri pada suatu sikap yang mantap. Ayahmu juga seorang prajurit dari Jipang. Kakek juga pernah mati-matian membela Jipang ketika berperang melawan Pajang. Tetapi kita tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Jipang sudah tidak ada lagi sekarang. Yang sekarang memegang kendali kekuasaan adalah Pajang. Karena Pajang terancam perpecahan, maka kau mendapat kesempatan untuk ikut mempertahankan kesatuan itu,“ berkata Ki Randukeling.

Puguh akhirnya sependapat dengan kakek dan gurunya. Dengan nada dalam gurunya berkata, “Isilah hidupmu dengan kerja yang berarti. Jika kau berkeliaran dan mengumpulkan kekayaan bagi dirimu sendiri, maka hal itu akan sangat mudah dilakukan. Tetapi justru memberikan sesuatu bagi kepentingan orang banyak adalah kerja yang sulit dan tidak menyenangkan. Termasuk pengabdian bagi seorang prajurit. Kedua orang tuamu telah terlalu banyak membuat orang lain gelisah. Beberapa kali mereka telah mengguncang Tanah Perdikan Sembojan namun selalu gagal. Kemudian berkeliaran dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak wajar untuk mendapatkan kepuasan diri.”

Namun satu pukulan yang paling pahit yang hampir saja membuatnya gila adalah kenyataan tentang hubungan antara laki-laki yang disangkanya adalah ayahnya dengan ibunya.

“Kau harus menerima kenyataan itu,“ berkata gurunya, “apapun yang kau lakukan, maka kau tidak akan dapat merubah apa yang pernah terjadi itu.”

“Kenapa kakek dan guru tidak mengatakan sebelumnya?“ bertanya Puguh.

“Kami menunggu saat yang tepat,“ jawab kakeknya, “kami tahu bahwa jiwamu akan terguncang. Karena itu, harus ada saluran yang dapat menampung kegoncangan jiwamu itu. Pada saat Pajang memanggil, maka menurut perhitunganku, waktunya tepat sekali untuk membuka penglihatanmu. Kami sudah yakin, bahwa jiwamu cukup dewasa untuk menanggapi persoalan ini. Sementara itu, kau dapat menyalurkan gejolak jiwamu bagi satu pengadian. Ingat, jika kau menjadi seorang prajurit, maka landasannya adalah pengabdian.”

Puguh mengangguk-angguk. Ia memang telah berkembang menjadi dewasa karena jiwanya yang ditempa oleh perjalanan hidupnya. Di hatinya memang tertanam dendam dan kebencian kepada sasaran yang tidak jelas, yang oleh kedua orang tuanya telah disiapkan bahwa pada satu sasaran itu akan dijelaskan. Tetapi ternyata sikap guru dan kakeknya dapat mengaburkan dorongan dendam dan kebencian itu.

“Tetapi dengan menjadi seorang prajurit, maka kau akan dapat mengisi hidupmu yang singkat dengan arti yang sewajarnya,“ berkata gurunya pula.

Kenyataan tentang kehidupan kedua orang yang dianggap ayah dan ibunya itu telah membuat Puguh menentukan jalannya sendiri. Ia sudah bertekad untuk tidak memberitahukan kepada ibunya apalagi laki-laki yang dianggapnya ayahnya itu, bahwa ia memasuki dunia keprajuritan.

Namun dalam pada itu, kakek dan gurunya itu masih berpesan, “Tetapi kau harus menjadi orang lain Puguh. Kau jangan menyatakan dirimu sebagai kau. Sebagai anak Warsi dan Rangga Gupita.”

Dengan nada dalam kakeknya berkata lebih jauh, “Kau harus mempergunakan nama lain. Jika kau pergunakan namamu, mungkin seseorang diantara para prajurit baru itu ada yang tertarik karenanya apapun sebabnya. Mungkin seseorang pernah mendengar namamu. Mungkin karena hal-hal lain. Bahkan mungkin pengaruh dari kehidupanmu masa lalu. Misalnya satu dua orang yang pernah mendengar namamu di tempat-tempat yang tidak sewajarnya.”

Puguh mengangguk-angguk.

“Kau kuburkan saja masa lalumu. Kau akan memasuki dunia keprajuritan dengan wajah tengadah serta langkah-langkah baru,“ pesan gurunya.

Sebenarnya bahwa Puguh telah memasuki dunia keprajuritan dengan nama yang baru. Kasadha, karena kebetulan ia lahir di musim keduabelas.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia merasa bersukur bahwa ia telah melakukan pesan kakek dan gurunya. Apalagi keduanya berkata kepadanya bahwa mereka akan bertanggung jawab jika pada suatu saat ayah dan ibunya itu menuntutnya.

Ketika Kasadha kemudian mengamati kawan-kawannya di sekelilingnya, ternyata mereka telah tertidur nyenyak. Karena itu maka iapun telah berusaha untuk melepaskan masalah-masalah yang hilir-mudik di kepalanya itu agar iapun dapat segera tidur pula.

Dihari-hari berikutnya, maka Barata dan Kasadha memang mendapat perhatian khusus dari para pelatihnya. Dalam latihan sehari-harinya, keduanya berada diantara kawan-kawannya. Tidak ada perbedaan apapun pada keduanya di kelompok mereka masing-masing.

Namun dalam pada itu, para pelatihnya sedang merencanakan untuk mengadakan tuntunan khusus bagi mereka.

Ketika dilakukan penerimaan prajurit pada tahap kedua, rencana itu barulah dapat dilakukan. Ada beberapa perubahan susunan kelompok bagi para prajurit baru. Meskipun prajurit yang sudah diterima setengah bulan sebelumnya tidak digabungkan dengan yang baru saja diangkat, namun terjadi beberapa perubahan susunan pada kelompok-kelompok prajurit yang telah lebih dahulu diterima.

“Waktunya tinggal sedikit,“ berkata Ki Lurah Mertayuda, “dalam waktu setengah bulan menjelang penerimaan prajurit pada tahap terakhir, kalian berdua harus sudah dapat menjadi seorang pemimpin. Meskipun baru pemimpin kelompok kecil. Kami, para pelatih dan sebagaimana sudah disaksikan oleh perwira dari Pasukan Khusus, bahwa kalian berdua memiliki kemungkinan yang sangat baik. Karena itu, maka kalian telah mendapat kesempatan pertama untuk berada ditataran pimpinan meskipun di paling bawah.”

Kedua anak muda yang secara khusus dipanggil itu menundukkan kepalanya. Sementara itu Ki Lurah berkata selanjutnya. “Kami masih memerlukan tiga orang lagi. Kami merencanakan untuk menumbuhkan lima orang diantara kalian yang bersamaan memasuki dunia keprajuritan. Tetapi yang tiga belum kami dapatkan.”

Namun sejak saat itu, Barata dan Kasadha sudah tidak ada lagi diantara para prajurit yang diterima bersama mereka. Keduanya telah ditempatkan secara khusus diantara para prajurit yang telah lama berada di barak itu untuk mendapat bimbingan khusus.

Betapapun sulitnya, tetapi akhirnya Ki Lurah Mertayuda telah menunjuk pula tiga orang yang lain, yang akan menjadi pemimpin kelompok pada pasukan yang akan disusun kemudian setelah penerimaan tahap terakhir. Tetapi ternyata yang tiga orang itu berada pada tataran yang masih jauh dibawah tataran Barata dan Kasadha yang seakan-akan sengaja dibuat seimbang. Dengan demikian, maka latihan-latihan yang diselenggarakan secara khusus itupun telah dibagi menjadi dua tataran dengan pelatih yang berbeda pula, Namun semuanya berada dibawah pengawasan Ki Lurah Mertayuda.

Latihan-latihan yang diberikan kepada Barata dan Kasadha lebih banyak pada tuntunan untuk menjadi seorang pemimpin sekelompok prajurit. Mereka mempelajari susunan perang gelar dan kerja sama dalam satu kesatuan. Bagi kedua orang itu maka latihan-latihan kanuragan secara khusus lebih diutamakan pada penyesuaian diri dengan latihan-latihan yang diberikan kepada para prajurit.

“Kami tidak dapat memaksakan unsur-unsur gerak dalam olah kanuragan karena kalian masing-masing sudah memiliki dasar yang kuat. Kami minta kalian dapat menyesuaikan diri tanpa mengganggu dan bahkan mungkin terjadi benturan ilmu didalam diri kalian masing-masing,“ berkata pelatihnya yang agaknya dapat mengerti sepenuhnya keadaan kedua orang anak muda itu.

Karena itu, maka latihan-latihan di sanggar maupun di tempat-tempat terbuka bagi mereka menjadi tidak terlalu banyak lagi. Tetapi setiap kali mereka bersama pelatihnya harus mengikuti latihan-latihan bagi para prajurit dalam Pasukan Khusus itu. Dengan demikian maka kedua anak muda itu mendapatkan pengalaman memimpin sebuah kelompok pasukan.

Namun dalam saat-saat tertentu, kedua anak muda itu harus berlatih juga bersama dengan ketiga orang calon pemimpin kelompok yang lain untuk mendapat kesamaan cara menangani kelompok-kelompok pasukan.

Karena waktunya tidak banyak, maka latihan-latihan telah diadakan hampir setiap saat. Bahkan kadang-kadang sampai malam hari mereka masih berada di dalam sebuah bilik untuk mendengarkan penjelasan-penjelasan tertentu.

“Kalian harus mulai melakukan tugas kalian setelah prajurit-prajurit yang diterima pada tahap akhir itu disusun dalam kelompok-kelompok,“ berkata Ki Lurah Mertayuda, “memang satu tugas yang berat bagi kalian yang hanya mendapat latihan dan tuntunan untuk waktu yang singkat. Tetapi selama kalian melakukan tugas, maka kalian masih akan mendapat tuntunan-tuntunan khusus.”

Namun ketika saat pendadaran dilakukan, kelima orang anak muda yang telah dipilih menjadi pemimpin kelompok itu telah mampu menguasai ketentuan-ketentuan dasar bagi seorang pemimpin kelompok. Kelima orang itu akan menjadi bahan pengamatan para pemimpin Pasukan Khusus, kemungkinan-kemungkinan yang dapat dikembangkan pada prajurit-prajurit muda. Tetapi sudah barang tentu dengan mengingat kemampuan dasar mereka masing-masing.

Namun sebagaimana terjadi di mana-mana maka perasaan iri seseorang kadang-kadang telah menggelitik jantung. Seorang diantara kelima orang calon pemimpin itu merasa tidak senang melihat kekhususan kedudukan Barata dan Kasadha. Mereka berdua dianggap terlalu mendapat perhatian dari para pelatihnya, bahkan dari Ki Lurah Mertayuda, seorang perwira dari Pasukan Khusus yang mendapat tugas menangani prajurit-prajurit yang baru.

Setiap kali para pelatih memberikan contoh, jika bukan para pelatih itu sendiri yang melakukannya, tentu Barata atau Kasadha, seakan-akan keduanya telah memiliki tataran yang sama dengan para pelatih, meskipun kedua orang anak muda itu sendiri serta para pelatih tidak dengan sengaja menunjukkan kelebihan anak-anak muda itu.

“Kenapa perhatian para pelatih dan bahkan Ki Lurah lebih banyak tertuju kepada kedua anak gila itu? Bahkan mereka berdua telah mendapat latihan secara terpisah? Padahal kedudukan mereka tidak lebih dari kedudukan kita,“ berkata anak muda itu. Seorang anak muda yang bertubuh tegap berkumis tipis dan bermata tajam. Menilik sorot matanya, anak muda itu tentu memiliki ketajaman penalaran.

“Mungkin anak itu dianggap memiliki kelebihan dari kita,“ berkata seorang kawannya.

Tetapi anak muda berkumis tipis itu berkata, “Apa kelebihannya? Keduanya tidak menunjukkan sesuatu yang pantas dikagumi. Kita belum tahu, siapakah yang akan lebih baik memimpin kelompok yang akan dipercayakan kepada kita masing-masing. Kitapun tidak tahu seberapa jauh bekal yang kita bawa masing-masing ketika kita memasuki pendadaran. Sayang, aku dan anak-anak itu berada dalam kelompok yang berbeda saat dilakukan pendadaran itu.”

Tetapi kawannya yang lain berkata, “Aku tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan anak-anak itu. Aku bersokur bahwa bukan aku yang harus melakukan banyak hal. Juga bukan aku yang harus menempuh latihan-latihan terpisah. Mungkin mereka masih harus mengisi kekurangan mereka dalam latihan kanuragan, atau apapun. Rasa-rasanya kakiku sudah sulit untuk bergerak dengan latihan-latihan yang kita lakukan sekarang. Apalagi dengan tambahan-tambahan dalam ujud apapun.”

“Semua orang tahu, bahwa kau memang pemalas,“ geram anak muda berkumis tipis itu.

“Mungkin. Tetapi aku memang malas mengurusi orang lain,“ jawab anak muda itu.

“Mungkin. Tetapi aku memang malas mengurusi orang lain,“ jawab anak muda itu.

“Jika kau menjadi pemimpin kelompok, maka kau harus mengurusi orang lain,“ berkata anak muda berkumis tipis itu.

“Tetapi masalahnya agak berbeda. Itu adalah tugasku. Bukan, sekedar mencari pekerjaan,“ jawab anak itu.

Anak muda berkumis tipis itu terdiam. Nampaknya dua kawannya yang lain memang tidak tertarik pada sikapnya. Tetapi ia benar-benar tidak senang melihat kedua anak muda yang dianggapnya mendapat perlakuan yang berbeda itu.

Namun dalam pada itu, hubungan antara Barata dan Kasadha justru menjadi semakin akrab. Apalagi justru karena mereka terlalu sering berada dalam keadaan yang harus mereka jalani bersama-sama. Latihan-latihan, mengikuti tuntunan khusus di dalam bilik-bilik terpisah.

Berada di sanggar latihan dan di alam terbuka bersama para prajurit dari Pasukan Khusus yang sudah lebih lama berada di barak itu.

Bahkan Ki Lurah Mertayuda menyebut kedua orang anak muda itu sebagai kakak beradik.

“Kalian berasal dari daerah yang jauh letaknya. Seorang dari daerah Bibis sedangkan yang lain dari kaki Gunung Sewu. Namun kalian seakan-akan memang dikirim untuk menjadi pasangan yang baik. Wajah kalianpun mirip sementara umur kalian nampaknya juga sebaya,“ berkata Ki Lurah Mertayuda.

Jantung Barata memang berdesir. Ia masih selalu ingat bagaimana seseorang menyangkanya sebagai Puguh, karena kemiripan wajah. Di Pajang tiba-tiba saja ia telah bertemu dengan anak muda yang sebaya, sedangkan wajahnya mirip dengan wajahnya sendiri.

Tetapi Barata sama sekali tidak menduga bahwa anak muda yang bernama Kasadha itu memang Puguh. Menurut dugaan Barata, Puguh adalah seorang anak muda yang keras, kasar dan jahat. Meskipun barangkali wajahnya memang mirip dengan wajah Barata sendiri, tetapi sorot matanya tentu membayangkan kebencian. Sikapnya adalah sikap keluarga Kalamerta yang ganas itu.

Sedangkan yang dihadapinya adalah seorang anak muda yang bernama Kasadha. Lebih banyak berdiam diri dan merenung. Matanya justru kadang-kadang nampak dalam sekali. Tidak ada tanda-tanda kekasaran pada sikapnya. Tidak pula ganas dan kata-katanyapun lembut.

“Tidak mungkin anak perempuan yang bernama Warsi itu bersikap seperti ini,“ berkata Barata didalam hatinya jika ia mendengar orang lain mengatakan bahwa wajahnya memang mirip dengan wajah Kasadha.

Bahkan seorang kawannya berkata, “Kau pantas menjadi adik Kasadha itu Barata.”

Barata hanya tersenyum saja. Demikian pula Kasadha. Jika ada orang yang menyebut bahwa Barata pantas jadi adiknya, ia tidak mengatakan apa-apa.

“Jika ia disebut kakakku, maka ia tentu lebih tua dari aku. Sedangkan Puguh tentu lebih muda dari aku,“ berkata Barata didalam hatinya.

Barata tidak pernah berpikir bahwa ujud seseorang itu kadang-kadang tidak selalu sesuai dengan umurnya yang sebenarnya. Orang yang nampak jauh lebih tua, namun mungkin umurnya masih lebih muda.

Demikianlah, maka pada saat yang telah ditetapkan, kelima anak muda itu telah dianggap cukup mampu untuk melakukan tugasnya sebagai pemimpin kelompok dari para prajurit yang diterima pada tahap terakhir. Dari dua puluh kelompok, lima kelompok akan dipimpin oleh prajurit-prajurit muda. Bukan saja umurnya, tetapi juga pengalaman dan pengetahuannya. Sedangkan lima belas kelompok yang lain akan dipimpin oleh para prajurit yang sudah cukup lama bertugas dalam pasukan Khusus.

Kepada lima orang prajurit muda itu, Ki Lurah Mertayuda berpesan, “Kalian memang menjadi bahan percobaan. Kami ingin melihat kemampuan orang-orang muda. Apakah dalam waktu singkat dapat disiapkan menjadi pemimpin. Sementara itu, keadaan memang menuntut langkah-langkah yang cepat sekarang ini karena perkembangan keadaan yang tidak diduga-duga.”

Seperti tahap-tahap sebelumnya, maka secara resmi para calon prajurit yang sudah melalui dua tataran pendadaran itu diwisuda di alun-alun Pajang. Yang berdiri didepan lima kelompok pasukan adalah lima orang prajurit muda yang telah mendapat tuntunan dan tempaan dalam waktu singkat, namun bersungguh-sungguh.

Sejak hari itu, maka Barata, Kasadha dan tiga orang kawannya telah memimpin kelompok-kelompok prajurit untuk mengikuti latihan-latihan yang berat sebagaimana pernah mereka lalukan dihari-hari pertama mereka berada di barak itu. Tetapi berlima mereka telah mendapat latihan-latihan khusus yang tidak pula kalah beratnya.

Dalam latihan-latihan yang dipimpin oleh para pelatih dari Pasukan Khusus itu sebenarnyalah Barata dan Kasadha sama sekali tidak mengalami kesulitan, meskipun mereka masih saja berusaha untuk tidak menunjukkan kelebihan mereka. Mereka ikut berlatih sebagaimana para prajurit yang lain, tidak lebih baik dari ketiga orang pemimpin kelompok yang lain, yang bahkan kadang-kadang justru menunjukkan sikap lebih keras dari Barata dan Kasadha.

Namun dalam beberapa hal yang nampaknya sulit untuk dilakukan, sehingga bagi orang lain harus diulang beberapa kali, maka baik Barata maupun Kasadha mengulang sebanyak-banyaknya hanya sekali. Itupun karena mereka tidak ingin nampak sebagai anak-anak muda yang melampui kewajaran kawan-kawannya.

Dihari-hari berikutnya, maka para prajurit itu harus berlatih meloncati rintangan yang tinggi, seakan-akan mereka meloncati dinding padukuhan. Meniti palang bambu. Berayun pada tali dan latihan-latihan ketrampilan wa-dag yang lain. Disamping itu, maka para prajurit yang pada dasarnya telah memiliki bekal itu, telah dilatih mempergunakan berbagai macam senjata sehingga mereka dapat mempergunakan apa saja sebagai senjata dalam keadaan yang memaksa.

Disamping latihan-latihan ketrampilan khusus itu, maka mereka juga mendapat latihan tentang bentuk gelar. Perang dalam gelar dan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan gelar. Mereka harus dapat dengan cepat mengikuti perintah melakukan perubahan gelar sambil bertempur.

Selain itu, maka mereka juga mendapat latihan-latihan untuk dapat bertempur dalam satuan-satuan kecil. Isyarat-isyarat dengan gerak serta secara khusus pula mereka mendapat latihan peningkatan kemampuan secara pribadi. Meskipun tidak banyak yang dapat dilakukan oleh para pelatih dalam waktu dekat, namun para pelatih berusaha agar para prajurit Pajang dapat menunjukkan ciri-ciri kekhususan para prajurit. Kerja sama yang serasi dan saling mengisi dalam pertempuran-pertempuran yang rumit.

Sebenarnyalah persiapan yang nampak tergesa-gesa dari para pemimpin Pajang itu dilakukan karena sikap Mataram. Sementara itu Pajang menyadari, bahwa Mataram telah menyusun kekuatan yang meskipun jumlahnya tidak begitu besar, tetapi memiliki kemampuan yang tinggi. Diantara mereka terdapat orang-orang yang disegani selain Panembahan Senapati sendiri yang selalu di embani oleh ketajaman penalaran dan kebijaksanaan Ki Juru Martani.

Sadar akan tingkat kemampuan para prajurit Mataram maka Pajangpun telah meningkatkan kemampuan para prajuritnya. Sehingga latihan-latihan terasa menjadi berat. Lebih-lebih bagi para prajurit yang baru, sedangkan para prajurit yang lamapun kadang-kadang masih juga berdesah mengalami latihan-latihan yang sangat berat itu.

Sementara kemampuan para prajurit itu meningkat, kebencian seorang diantara kelima orang anak muda yang menjadi pemimpin kelompok itu menjadi semakin meningkat pula.

Bahkan ketika ia tidak lagi dapat menahan diri melihat keberhasilan Barata dan Kasadha melakukan latihan yang berat memanjat tebing yang tegak meskipun tidak terlalu tinggi, maka orang itu berkata, “Mereka akan menjadi sombong. Tetapi memanjat tebing bukan ukuran mutlak seorang prajurit.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun seorang dibawah pimpinannya bertanya, “Apa maksudmu Dirga.”

“Kau lihat Barata dan Kasadha itu?“ bertanya anak muda yang disebut Dirga.

“Ya. Mereka adalah orang-orang yang dapat melakukannya dengan sangat baik meskipun mereka harus mengulangi masing-masing dua kali. Tetapi yang lain justru ada yang tetap tidak mampu melakukannya meskipun sudah mendapat kesempatan mengulangi sampai ampat kali,“ jawab orang itu.

“Tetapi bukankah ukuran kemampuan seorang prajurit tidak hanya dinilai dari caranya memanjat tebing?“ bertanya Dirga, anak muda yang berkumis tipis itu.

“Ya. Sudah tentu,“ jawab anak muda yang berada dibawah pimpinannya itu. Namun katanya kemudian, “Namun melihat latihan-latihan yang kadang-kadang diadakan bersama-sama dengan kelompok mereka, nampaknya keduanya memang cukup trampil.”

“Omong kosong,“ geram Dirga. Lalu katanya, “Kau lihat, bagaimana Barata kehilangan senjatanya ketika berlatih di alun-alun dua hari yang lalu.”

“Ya,“ anak muda itu mengangguk-angguk. Ia memang melihat dalam latihan yang dilakukan diantara kelompok-kelompok untuk meratakan kemampuan mereka, Barata memang telah kehilangan senjatanya yang terlepas karena pukulan salah seorang lawan berlatihnya.

Dengan demikian, maka para prajurit itu memang menganggap bahwa Baratapun termasuk diantara mereka yang berkembang bersama-sama.

Demikian pula Kasadha yang kadang-kadang telah menunjukkan satu kelemahan, sehingga ia bukan orang ajaib diantara para prajurit muda itu.

“Pada suatu saat, aku akan mencoba apakah benar Barata atau Kasadha orang terbaik diantara para prajurit muda,“ geram Dirga.

Anak muda yang berada dibawah pimpinannya itu mengerutkan keningnya. Namun sudah tentu bahwa ia akan merasa ikut berbangga jika pemimpin kelompoknya adalah orang yang paling baik diantara para pemimpin kelompok yang lain.

Dengan demikian, maka Dirga itu seakan-akan telah menunggu satu kesempatan untuk menundukkan salah seorang diantara kedua orang yang dibencinya itu.

Kesempatan itu ternyata didapatkannya juga pada akhirnya. Ketika mereka mendapat istirahat sehari semalam setelah mengadakan latihan-latihan berat selama selapan hari, sebagaimana biasanya, maka secara kebetulan Barata dan Kasadha yang berjalan-jalan ke pasar telah bertemu dengan Dirga bersama dengan tiga orang anak muda yang berada didalam kelompoknya.

Dengan ramah Dirga telah menegur kedua anak muda itu. Sudah tentu Barata dan Kasadhapun telah menjawab dengan ramah pula.

“Marilah, kita berjalan-jalan ke sendang,“ ajak Dirga.

Barata dan Kasadha saling berpandangan sejenak. Sendang yang dimaksud tentu sendang pemandian yang tidak begitu besar yang terdapat di luar dinding Kota Pajang yang justru kearah hutan yang pernah dijamah oleh Puguh.

Kasadha memang menjadi berdebar-debar. Sendang itu akan mengingatkan pada lukanya yang pedih dihatinya.

Namun iapun segera menghapus kesan itu dari wajahnya. Bahkan katanya, “Terserah kepadamu Barata.”

Barata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Tetapi sebentar saja. Aku telah membeli sebuah nangka utuh. Kawan-kawan di barak tentu senang. Asal saja tidak terlalu banyak sehingga perut kita akan dapat diguncang karenanya.”

“Titipkan saja nangka itu pada penjualnya,“ berkata Dirga, “agar kau tidak usah mengusungnya kemana kau pergi. Nanti kita akan datang mengambilnya.”

Baratapun mengangguk-angguk. Ia memang seorang yang senang berenang. Di Kademangan Bibis, Barata sering berendam dibendungan yang telah dibuat bersama-sama oleh anak-anak muda, sehingga airnya naik. Sehingga anak-anak bahkan anak-anak mudanya sempat menjadikan bendungan itu semacam sendang tempat mandi.

Ketika mereka berjalan sepanjang jalan menuju ke sendang, jantung Puguh memang menjadi berdebar-debar. Tidak mustahil bahwa ia akan dapat bertemu dengan orang-orang yang mencarinya atau mencari ayah dan ibunya yang bersembunyi. Sementara itu selama beristirahat, maka ia telah berada diluar lingkungan keprajuritan.

Tetapi sampai mereka memasuki jalan kecil yang menuju kesendang, Kasadha tidak bertemu dengan orang-orang yang dicemaskannya.

Namun Kasadha sudah tentu tidak dapat mengatakan kegelisahannya itu kepada Barata, karena dengan demikian maka akan dapat menimbulkan kesan tersendiri. Apalagi didalam dunia keprajuritan Kasadha ingin meninggalkan semua beban yang untuk waktu yang lama harus dipikulnya, meskipun Kasadha sadar, bahwa pada suatu saat tentu akan muncul persoalan tentang dirinya. Tetapi jika ia sudah menjadi seorang prajurit serta mampu menunjukkan pengabdiannya, maka persoalannya tentu akan berbeda.

Dalam pada itu, maka Dirga, Barata, Kasadha dan tiga orang anak muda yang berada didalam kelompok yang dipimpin oleh Dirga itu telah pergi menyusuri jalan kecil menuju ke sendang.

***

Jilid 23

 

TETAPI sebelum mereka sampai kesendang, tiba-tiba Dirga berkata, “Marilah. Kita singgah di ara-ara di dekat gumuk kecil itu sebentar. Nanti kita akan mandi setelah tidak banyak orang.”

“Untuk apa? Apa salahnya kita mandi bersama-sama dengan mereka?“ bertanya Barata menjadi heran.

“Bukankah sendang itu cukup luas? Kau barangkali malu karena ada perempuan yang sedang mandi disendang itu pula? Tetapi bukankah kita telah mendapat tempat sendiri. Disebelah kiri itulah sendang Lanang, yang diperuntukkan laki-laki, sedang sebelah kanan itu sendang Wadon yang diperuntukkan perempuan, yang biasanya sambil mencuci pakaian,“ berkata Kasadha.

Tetapi Dirga menggeleng. Katanya, “Kita dapat mempergunakan saat yang pendek ini untuk mengadakan latihan khusus.”

“Apa maksudmu?“ bertanya Barata.

“Kita pergi ke ara-ara,“ jawab Dirga singkat.

Barata dan Kasadha saling berpandangan sejenak.

Namun kemudian keduanya telah mengikuti Dirga menempuh jalan setapak untuk pergi ke ara-ara. Ara-ara yang biasanya memang sepi.Para gembalapun bahkan segan untuk pergi ke ara-ara didekat gumuk itu, karena menurut ceritera orang, gumuk itu ditunggui oleh seekor harimau putih yang dapat muncul setiap saat. Bahkan disiang hari. Dengan demikian maka para gembala yang biasanya adalah anak-anak dan remaja itu lebih senang menggembalakan kambingnya didekat sendang. Bahkan kadang-kadang setelah dilepas di sekitar sendang yang berumput hijau segar itu, para gembala itu berendam di air sambil bekejaran beradu tangkas berenang.

Barata dan Kasadha masih belum tahu pasti maksud Dirga beserta kawan-kawannya. Namun keduanya tidak segera bertanya sehingga beberapa saat kemudian, keduanya telah berada di ara-ara didekat gumuk kecil itu.

“Nah,“ berkata Dirga kemudian, “kita adalah prajurit-prajurit Pajang yang terpilih. Karena itu, bagiku, istirahat di hari ini justru membuat tubuhku menjadi lemas dan letih. Karena itu, marilah kita isi waktu yang sehari ini dengan mengadakan latihan khusus.”

“Aku tidak tahu maksudmu Dirga,“ berkata Barata, “bagiku istirahat ini menyenangkan. Kita dapat pergi ke pasar. Kita dapat mandi disendang itu bersama dengan orang-orang disekitar tempat ini. Atau kita dapat tidur sehari suntuk di barak.”

“Kita bukan orang-orang yang malas,“ berkata Dirga, “kita adalah prajurit-prajurit yang diharapkan untuk dapat melindungi Pajang.”

“Ya, kamipun tahu,“ jawab Kasadha, “tetapi bukankah kita juga memerlukan hari-hari peristirahatan seperti ini? Dengan demikian justru akan dapat memperse-gar jiwa kita, sehingga besok kita akan dapat memasuki tugas-tugas kita dengan kesegaran baru.”

“Bagiku, beristirahat justru akan dapat menumbuhkan keseganan untuk memulainya lagi,“ berkata Dirga, “karena itu, marilah, kita mengadakan latihan khusus. Kita dapat membuat perbandingan ilmu. Salah seorang dari kau berdua, yang dianggap orang terbaik diantara kita yang terpilih menjadi pemimpin kelompok harus membuktikan kepadaku, kepada kita semuanya bahwa kalian memang yang terbaik.”

Barata dan Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Mereka telah memahami keadaan yang mereka hadapi. Agaknya keinginan Dirga untuk mencoba kemampuan mereka itulah tujuan utamanya untuk membawanya ke tempat yang sepi itu.

Namun dalam-pada itu Baratapun berkata, “Kita tidak dapat mengadakan latihan dengan cara ini. Bukankah kau juga tahu, bahwa dengan demikian kita akan melanggar ketentuan? Latihan-latihan khusus apalagi yang menjurus pada perbandingan ilmu yang boleh dilakukan dengan ditunggui oleh para pelatih. Disini kita tidak mempunyai seorang pelatihpun yang akan dapat menilai seandainya latihan seperti itu kita lakukan. Siapakah yang akan menentukan tingkat kemampuan kita, karena kita sendiri yang terlibat langsung dalam latihan itu tentu tidak akan mungkin dapat mengamatinya.”

“Hanya seorang diantara kalian yang akan melakukan latihan khusus bersamaku. Seorang yang lain akan mengamati latihan ini dan menjadi saksi, asal dengan jujur. Kawan-kawankupun akan menjadi saksi pula, siapakah diantara kita yang terbaik. Nah, apa lagi?“ bertanya Dirga.

“Kita semuanya tidak berwenang untuk mengamati latihan apapun juga kecuali latihan-latihan ketahanan tubuh dan tata gerak dasar bagi kelompok kita masing-masing,“ berkata Kasadha.

“Sudahlah,“ berkata Dirga, “jangan banyak alasan. Aku justru ingin melakukannya tanpa ada orang lain. Jika seandainya salah seorang diantara kalian dapat aku kalahkan, kalian tidak akan menjadi malu, karena kalian sudah terlanjur menjadi orang terbaik. Kawan-kawanku yang akan menjadi saksi, tidak akan menceriterakannya kepada orang lain.”

“Jangan melakukan sesuatu yang dapat dianggap melanggar paugeran Dirga. Kita adalah prajurit-prajurit baru. Kita akan dapat dengan mudah disingkirkan jika kita tidak menepati segala perintah. Aku tidak mau tersingkir dari lingkungan keprajuritan yang dengan susah payah aku gapai. Sekarang, kita sudah berada dalam lingkungan keprajuritan. Kenapa kesempatan yang dengan susah payah kita dapatkan ini harus kita sia-siakan.“ Barata berhenti sejenak, namun tiba-tiba iapun bertanya, “Apakah alasanmu sebenarnya menantang salah seorang dari kita untuk melakukan latihan khusus seperti ini.”

“Aku hanya ingin menguji diri. Seperti yang sudah aku katakan, kalian disebut oleh banyak orang, bahkan para pelatih kita, sebagai orang terbaik. Tetapi aku tidak yakin. Aku kira mereka dikelabui oleh sikap kalian sehari-hari. Kalian pandai bersikap sangat baik kepada para pelatih kita, atau jika kita mau memakai istilah kasar bahwa kalian adalah penjilat,“ berkata Dirga.

Barata mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada Kasadha maka Kasadhapun berkata, “Jadi itulah yang terpenting bagimu untuk menunjukkan bahwa kau adalah orang terbaik. Kau yang bukan penjilat.”

“Ya,“ jawab Dirga.

Pengaruh kehidupan Kasadha sebelumnya memang jauh lebih keras dari Barata. Karena itu, maka betapapun juga Kasadha mengekang perasaannya, namun ia telah lebih dahulu marah. Karena itu, maka iapun berkata, “Baiklah Dirga. Jika kau memang menjadi muak melihat sikap kami yang kau sebut sebagai penjilat itu. Sebaiknya aku berkata terus terang. Orang terbaik diantara kami berlima, yang mendapat kesempatan memimpin kelompok-kelompok terbawah prajurit Pajang dari angkatan terbaru itu adalah aku dan Barata. Karena itu, sebagaimana kau katakan, apakah aku atau Barata akan sama saja. Marilah, kita mengadakan latihan khusus dibawah saksi. Bukan aku yang berniat melakukannya. Tetapi kau.”

“Aku tidak akan ingkar. Dihadapan para pelatih sekalipun jika kita harus menghadap karena latihan diluar ketentuan ini diketahui, aku akan berkata sebenarnya. Jangan takut bahwa aku akan menfitnah kalian. Aku adalah laki-laki. Seorang prajurit Pajang yang besar,“ berkata Dirga.

“Bagus Dirga,“ sahut Kasadha. Lalu katanya, “Jika terjadi sesuatu adalah salahmu sendiri.”

Barata melihat kemarahan yang memancar di sorot mata Kasadha. Karena itu ia justru menjadi cemas bahwa Kasadha kurang dapat mengendalikan diri. Karena itu, maka iapun berkata, “Kenapa bukan aku saja yang melakukannya?”

“Tidak,“ jawab Kasadha, “orang lain yang sering menyebut kita bersaudara menganggap aku lebih tua dari-mu. Karena itu, biarlah aku mencobanya dahulu. Jika aku gagal, baru kau.”

“Tidak ada yang akan berhasil atau gagal,“ berkata Dirga, “kita harus bersikap jantan. Jika kita merasa kalah, maka kita harus mengaku kalah. Maka semuanya akan selesai.”

“Baik,“ jawab Kasadha, “aku terima syaratmu.”

Dirga yang merasa dirinya lebih baik dari kedua orang kawannya itupun kemudian berkata kepada tiga orang anak buahnya, “Kalian menjadi saksi. Tetapi kita sudah berjanji, bahwa kalian tidak perlu mengatakan kesaksian kalian kepada siapapun juga. Aku tidak mau menyakiti hati Barata atau Kasadha dihadapan orang banyak.”

“Cukup,“ potong Kasadha, “bersiaplah. Waktu kita tidak terlalu banyak. Penjual nangka itu akan segera pergi. Jika nangka Barata yang dititipkan kepadanya itu tidak segera diambil, maka nangka itu akan dibawanya.”

Dirga mengerutkan keningnya. Ia memang tersinggung karenanya. Seakan-akan persoalan nangka Barata itu lebih besar dari tantangannya.

Tetapi ternyata Kasadha telah bersiap sehingga iapun harus segera bersiap pula.

Barata hanya termangu-mangu saja. Ia memang tidak dapat mencegah perkelahian itu. Sudah barang tentu Kasadha atau dirinya sendiri tidak akan dapat menahan diri dengan tuduhan yang menyakitkan hati itu, seakan-akan mereka dianggap orang terbaik hanya karena menjilat saja. Padahal baik Barata maupun Kasadha telah menahan dirinya untuk tidak menunjukkan kelebihannya kepada kawan-kawannya secara berlebihan. Meskipun demikian mereka tidak dapat menyembunyikan diri dari para pelatihnya bahwa mereka memang memiliki kelebihan ilmu dari kawan-kawannya. Bahkan terpaut jauh.

Sejenak kemudian, maka Dirgapun mulai bergerak. Dengan tangkas ia telah meloncat menyerang Kasadha. Dirga memang telah mempunyai bekal kemampuan pribadinya sejak ia memasuki dunia keprajuritan, sebagaimana prajurit-prajurit yang lain. Bahkan Dirga telah dianggap memiliki kelebihan, sehingga ia termasuk lima orang yang terpilih untuk memimpin kelompok prajurit yang diterima terbaru dalam kesatuan keprajuritan Pajang.

Namun setelah perkelahianku berlangsung beberapa lama, Kasadha yang marah itu justru menjadi lebih tenang. Ia menjadi yakin, bahwa kemampuan Dirga tidak cukup tinggi untuk mengimbangi kemampuannya. Tetapi karena keyakinannya itulah maka Kasadha justru mampu mengekang diri. Ia tidak mempergunakan seluruh kemampuannya sehingga dalam sekejap dapat mengalahkan Dirga. Tetapi Kasadha yang tidak lagi menjadi sangat marah itu, telah berusaha untuk menyesuaikan dirinya.

Dengan demikian maka yang dilakukan Kasadha kemudian seakan-akan hanyalah sekedar melayani Dirga yang setingkat demi setingkat telah mengerahkan kemampuannya. Bahkan dimata Barata yang juga memiliki kemampuan yang agak terpaut banyak dengan Dirga, Kasadha telah mulai sekedar bermain-main.

Namun dengan demikian Barata justru menjadi tenang. Ia tidak lagi melihat sorot mata Kasadha yang memancarkan kemarahan. Bahkan kemudian, bukan saja sorot matanya, tetapi tata geraknyapun menjadi lunak, meskipun tetap tangkas dan cepat.

Dengan demikian maka perkelahian diantara kedua anak muda itu seakan-akan menjadi seimbang. Sekali-sekali Dirga sempat mendesak Kasadha. Namun kemudian Kasadhalah yang telah mendesak Dirga.

Namun setelah mereka berkelahi beberapa lama, keduanya sama sekali masih belum tersentuh serangan lawan masing-masing. Meskipun Dirga dengan garang menjulurkan serangan-serangan tangan dan kakinya berganti-ganti, tetapi Kasadha selalu sempat mengelakkannya. Sebaliknya serangan-serangan Kasadhapun nampaknya kurang tenaga sehingga kadang-kadang justru tidak sempat menggapai lawannya meskipun lawannya tidak mengelak.

Demikianlah perkelahian itu berlangsung semakin lama semakin cepat. Ketika Dirga sudah mulai berkeringat, maka iapun menjadi semakin garang. Sebaliknya tidak ada perubahan yang nampak pada Kasadha. Ia masih bergerak agak lunak meskipun juga semakin cepat.

Namun akhirnya Barata mengetahui cara Kasadha menundukkan Dirga. Agaknya Kasadha ingin membiarkan Dirga kehabisan nafas. Baru kemudian Kasadha akan mengambil langkah-langkah kecil untuk menunjukkan sedikit kelebihan.

“Ternyata Kasadha cukup bijaksana,“ berkata Barata didalam hatinya, “justru pada saat ia marah dan merasa tersinggung oleh kata-kata Dirga yang menganggapnya penjilat.”

Sebenarnyalah bahwa Kasadha masih sempat berpikir untuk tidak menyakiti hati Dirga. Dalam saat-saat yang gawat itu, Kasadha menyadari, bahwa Dirga memiliki sifat dengki dan iri. Karena itu, jika ia menyakiti hati anak muda itu, maka Dirga tentu akan mendendamnya, sementara latar belakang kehidupan Kasadha sendiri termasuk dalam lingkungan warna yang buram. Karena itu, Kasadha tidak ingin menambah persoalan yang akan dapat membuat hidupnya semakin rumit. Ia tidak ingin Dirga karena dendamnya berusaha untuk mencari-cari kelemahannya termasuk latar belakang kehidupannya. Apalagi jika diketahui siapakah laki-laki yang mengaku ayahnya dan siapakah ibunya.

Karena itu, maka perkelahian itu seakan-akan menjadi semakin sengit. Keduanya seakan-akan masih saja seimbang, sehingga keduanya saling menyerang, saling mendesak dan saling menghindar.

Tetapi sebagaimana yang diperhitungkan oleh Barata itu ternyata benar-benar terjadi. Katika mereka mulai mengerahkan kemampuan mereka, terutama Dirga, maka kekuatannyapun bagaikan telah terperas pula, sehingga lambat laun kekuatannya itupun menjadi susut.

Kasadha sudah memperhitungkan hal itu. Ketika tenaga Dirga mulai menurun, Kasadha justru memancingnya untuk bergerak lebih banyak. Bahkan sekali-sekali Kasadha mulai mengenainya meskipun tidak menyakitinya. Kadang-kadang Kasadha hanya mempergunakan telapak tangannya untuk menyentuh pundak Dirga atau dengan ujung-ujung jarinya menyentuh punggung. Meskipun ujung-ujung jari Kasadha itu dalam kekuatan puncaknya akan dapat mematahkan tulang belakang, tetapi ia tidak melakukannya atas Dirga.

Dirga yang telah memeras keringat memang menjadi semakin lemah. Bagaimanapun juga ia harus mengakui, bahwa ia tidak dapat mengalahkan Kasadha. Tetapi dengan cara yang ditempuh oleh Kasadha itu, maka Dirga tidak merasa dikalahkannya dalam benturan ilmu.

“Aku hanya kurang keras berlatih,“ berkata Dirga didalam hatinya sehingga ia merasa bahwa tenaganya memang lebih cepat susut, meskipun ia tidak merasa dikalahkan.

Tetapi kenyataan itu terjadi. Akhirnya Dirga benar-benar telah kehabisan tenaga. Nafasnya menjadi terengah-engah. Rasa-rasanya perutnya menjadi mual ketika ia memaksakan diri untuk tetap melawan.

Ketika Dirga menyerang dengan sisa tenaganya yang terakhir, maka Kasadha tidak membenturnya meskipun jika ia melakukannya maka Dirga tentu akan menjadi pingsan. Tetapi Kasadha justru telah menghindari serangan itu.

Karena serangannya dengan mengerahkan sisa tenaganya tidak mengenai sasaran, maka Dirga justru telah terseret oleh berat tubuhnya sendiri tanpa dapat mencegahnya lagi. Karena itu, maka Dirga itu justru telah terjatuh tanpa mendapat serangan dari lawannya.

Kasadha sendiri kemudian telah melangkah tertatih-tatih mendekati Dirga. Bahkan kemudian iapun telah terduduk disebelahnya sambil berdesis, “Satu latihan yang menarik.”

Dirga memang berusaha untuk bangkit. Tetapi ketika ia kemudian terduduk dan melihat Kasadha juga duduk disebelahnya, ia termangu-mangu sejenak.

Namun ternyata Kasadha justru tertawa. Katanya, “Aku jarang sekali mengalami latihan seperti ini.”

Dirga masih termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian tertawa pula. Katanya, “Ternyata kau memang lebih baik dari aku.”

“Tidak,“ jawab Kasadha, “kita memang berada pada tataran yang sama.”

“Bagaimanapun juga aku harus mengakui, bahwa kau lebih baik. Setidak-tidaknya daya tahanmu. Dalam pertempuran yang sebenarnya, kau masih sempat membunuhku disaat terakhir,“ berkata Dirga.

“Apakah tanganku masih kuat mengangkat senjata?“ Kasadha justru bertanya.

Keduanyapun kemudian tertatih-tatih berdiri. Bedanya, Dirga benar-benar mengalami kesulitan. Sedangkan Kasadha merasa perlu untuk berbuat demikian meskipun ia benar-benar masih nampak lebih baik.

“Aku harus berlatih lebih keras,“ berkata Dirga, “pada kesempatan lain, aku ingin mengadakan latihan seperti ini dengan Barata. Mungkin Barata juga lebih baik dari aku, sehingga Barata oleh para pelatih dianggap setingkat dengan Kasadha. Adalah kebetulan bahwa kalian memang pantas untuk menjadi kakak beradik.”

“Sudahlah,“ berkata Kasadha, “kita masih mempunyai waktu untuk pergi ke sendang.”

“Ya,“ Baratalah yang menyahut, “kita mandi sebentar. Kemudian kita singgah di pasar mengambil buah nangka itu.”

Demikianlah mereka bertiga diikuti oleh kawan kawan Dirga sempat singgah di sendang. Dirga nampak terlalu letih setelah ia memaksa diri berusaha untuk mengimbangi Kasadha. Namun ternyata bagaimanapun juga ia harus mengakui kelebihan kawannya itu meskipun menurut tanggapannya, hanya selapis tipis. Tetapi seperti yang dikehendaki oleh Kasadha, Dirga tidak menjadi sakit hati dan tidak pula mendendamnya.

Kasadhapun sekali-sekali masih juga menunjukkan batrtva iapun menjadi sangat letih.

Namun ketika Barata sempat berbisik di telinganya, ia berkata, “Suatu cara yang sangat bijaksana.”

Kasadha hanya tersenyum saja. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, setelah mereka puas mandi di sendang sehingga tubuh mereka terasa segar, maka merekapun telah kembali lagi ke Pasar. Seperti ketika berangkat, maka ketika mereka kembali, Kasadha juga menjadi berdebar-debar. Ketika mereka memasuki jalan induk menuju ke pintu gerbang kota, maka Kasadha lebih banyak menunduk. Bagaimanapun juga ia tidak dapat melenyapkan kekhawatiran, bahwa tiba-tiba seseorang mengenalinya dan apalagi memburunya karena ia adalah anak Warsi dan dianggap anak Rangga Gupita, salah seorang diantara bekas prajurit dari pasukan sandi Jipang.

Tetapi ternyata bahwa tidak seorangpun yang menyapanya, apalagi mengikutinya dan menegurnya sebagai Puguh.

Bahkan ketika mereka sudah berada di dalam kota dan berjalan menuju ke barak, Kasadha terkejut ketika tiba-tiba seseorang meloncat dari mulut lorong sambil memanggil namanya.

Ternyata orang itu adalah salah seorang anak buahnya yang kemudian bersama-sama dengan kawan-kawannya yang lain kembali ke barak, untuk menghabiskan sisa hari istirahat mereka.

Dalam pada itu sekelompok prajurit yang dipimpin oleh Barata sempat memecah sebuah nangka yang besar yang dibeli oleh Barata di pasar. Bahkan Kasadha dan Dirgapun sempat ikut pula makan buah nangka itu bersama mereka yang ikut pergi ke belumbang.

Demikianlah, setelah peristiwa itu, Dirga memang menjadi tenang. Ia merasa bahwa Kasadha memang lebih baik. Tetapi meskipun ia tidak dapat menang atasnya, ia tidak merasa terhina oleh kekalahannya. Setiap kali ia sempat menghibur diri, bahwa kekalahannya itu terutama hanya karena ketahanan tubuhnya sajalah yang tidak sebaik Kasadha.

“Jika aku meningkatkan latihan-latihan untuk ketahanan tubuh, maka aku tentu akan dapat mengimbanginya,“ berkata Dirga.

Keyakinannya itu memang mendorongnya untuk meningkatkan latihan-latihannya. Namun ia sama sekali tidak menjadi dendam karenanya, meskipun ia tetap ingin menjadi yang terbaik diantara kelima orang pemimpin kelompok yang dipungut dari prajurit-prajurit baru dari angkatannya.

Yang agak mengalami kesulitan adalah anak buah Dirga. Dirga yang ingin meningkatkan latihan-latihan bagi dirinya itu, ternyata telah mempengaruhi seluruh kelompoknya. Pagi-pagi dalam latihan-latihan ketahanan tubuh, ketrampilan dan keseimbangan dengan berlari-lari di jalan-jalan sempit dan bahkan di pematang-pematang sawah, meniti palang bambu di lapangan di belakang barak mereka atau meloncat hambatan-hambatan yang disediakan khusus untuk latihan-latihan seperti itu, menjadi lebih berat. Tetapi kadang-kadang Dirga telah berlatih sendiri setelah anak buahnya mendapat kesempatan untuk beristirahat.

Akhirnya anak buahnya tahu juga, kenapa pemimpin kelompoknya berlaku demikian. Meskipun ketika orang yang menjadi saksi perkelahian antara Dirga dan Kasadha berusaha untuk merahasiakannya, tetapi akhirnya mereka tidak dapat bertahan. Mereka telah mengatakan meskipun dengan pesan untuk tidak disampaikan kepada orang lain, apa yang telah mereka lihat di ara-ara sebelah gumuk kecil itu.

“Pantas,“ desis salah seorang diantara anak buahnya, “latihan-latihan menjadi semakin meningkat. Kitalah yang menderita.”

“Tetapi ia lebih banyak berlatih sendiri,“ sahut yang lain.

Namun seorang prajurit yang terlalu yakin akan dirinya sendiri berkata, “Mereka tidak berarti apa-apa bagi perguruanku.”

“Mereka siapa?“ bertanya kawannya.

“Dirga, Kasadha, Barata, Permana dan siapa lagi yang dianggap orang-orang terbaik. Aku hanya belum saja mendapat kesempatan untuk menunjukkan kelebihanku, karena aku datang kemudian setelah mereka,“ jawab orang itu.

Tetapi kawan-kawannya tidak menghiraukannya. Mereka masing-masingpun merasa pernah berada di sebuah perguruan sebelum mereka mengikuti pendadaran, karena yang diterima menjadi prajurit, bukannya orang yang tidak berilmu sama sekali.

Sementara itu, para prajurit Pajang memang harus menempuh latihan-latihan yang berat, yang ditekankan pada unsur-unsur perang gelar. Perang berpasangan serta mempergunakan jenis-jenis senjata yang paling banyak dipergunakan oleh para prajurit. Dengan bekal kemampuan mereka secara pribadi, maka memang lebih cepat pasukan Pajang menyusun diri menjadi kesatuan yang kuat.

Dalam pada itu, para pemimpin Pajang telah bersiaga sepenuhnya menghadapi pertumbuhan Mataram. Sedangkan Panembahan Senapati di Mataram benar-benar tidak mau datang menghadap ayahandanya, Sultan Pajang. Satu sikap yang membuat para pemimpin Pajang menjadi tersinggung,

“Mas Ngabehi Loring Pasar memang tidak kuat memanggul derajad. Ia sangat dikasihi oleh Kangjeng Sultan sebagaimana putera kandungnya sendiri. Tetapi ternyata ketika ia mendapat kesempatan, telah berusaha untuk melawan ayahanda angkatnya itu,“ berkata seorang Senapati Pajang. Bahkan katanya kemudian, “Sebenarnyalah tidak usah seluruh kekuatan Pajang dikerahkan. Pasukanku segelar sepapan cukup kuat untuk mematahkan perlawanan Mataram.”

Tetapi seorang kawanya menyahut, “Jangan berkata begitu. Seolah-olah kau belum kenal siapakah Raden Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati itu.”

Tetapi Senapati itu menjawab, “Apakah Panembahan Senapati akan dapat melawan sekelompok prajurit pilihan betapapun ia seorang yang berilmu tinggi? Sementara itu ia masih belum sempat menyusun pasukan yang cukup tangguh untuk melindunginya.”

Namun kawannya justru tertawa. Katanya, “Kau memang suka berkhayal. Aku tidak mengerti, kenapa kau sempat berpikir seperti itu.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Namun akhirnya ia hanya menarik nafas dalam-dalam.

Dalam pada itu kemelut di langit menjadi semakin gelap. Jarak antara Pajang dan Mataram menjadi semakin jauh. Tetapi justru Kangjeng Sultan Pajang sendiri tidak pernah mengambil langkah-langkah pasti untuk mengatasinya. Hatinya masih tetap tersangkut pada kasih sayangnya atas putera angkatnya itu.

Sementara itu Pangeran Benawa, putera Sultan Pajang itu sendiri, ternyata tidak mempunyai minat untuk ikut mengatasinya. Atas tuntunan ayahandanya, maka ia menjadi sangat hormat kepada Raden Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati. Bahkan Pangeran Benawa yang menjadi kecewa melihat tingkah laku orang-orang disekitar ayahandanyapun menjadi salah satu sebab, bahwa Pangeran Benawa tidak banyak berbuat untuk meredakan suasana. Bahkan nampaknya Pangeran yang kecewa itu menjadi acuh tak acuh saja.

Dalam keadaan yang tidak menentu itulah, maka sering terjadi benturan-benturan kecil antara para prajurit Pajang dan Prajurit Mataram. Meskipun belum ada perintah yang pasti, tetapi para prajurit dari kedua belah pihak kadang-kadang sulit untuk mengendalikan dari masing-masing, sehingga di tempat-tempat tertentu pertempuran-pertempuran kecil sulit untuk dihindari.

Dengan demikian maka para pemimpin keprajuritan Pajang telah menempuh jalan yang singkat. Para prajurit baik yang telah lama berada dalam barak-barak, maupun para prajurit yang baru telah ditempa untuk menghadapi segala kemungkinan. Dalam waktu dekat mereka akan segera dikirim ke tempat-tempat yang rawan. Tempat-tempat yang sering dilanda oleh benturan pasukan yang kadang-kadang tidak diketahui sebab-sebabnya.

Dalam pada itu, pasukan yang baru saja disusun itupun tidak terkecuali. Setelah beberapa bulan mengalami latihan-latihan yang berat, maka pasukan itu telah dipersiapkan untuk dikirim ke perbatasan.

Ketika kepastian itu telah diberitahukan kepada para prajurit yang tergabung dalam satu kelompok yang besar yang terdiri dari sepuluh kelompok-kelompok kecil, maka Barata menjadi sangat bimbang. Ada niatnya untuk minta ijin menemui ibunya untuk minta diri, karena ia sadar, bahwa keperbatasan adalah sama dengan maju ke medan perang.

Tetapi akhirnya niatnya diurungkan. Didalam lingkungan keprajuritan, ia adalah orang lain dari dirinya sendiri. Ia adalah Barata dari Kademangan Bibis. Bukan Risang dari Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu, Kasadha sama sekali tidak menghiraukan lagi ayah dan ibunya. Ia seakan-akan lahir begitu saja didunia tanpa ayah dan ibu. Jika ia sekali-sekali mengenang seseorang, maka ia adalah gurunya dan kakeknya, Ki Randukeling.

Tetapi iapun tidak berniat untuk menemui mereka. Ia tidak ingin seseorang mengenali jejak latar belakang kehidupannya.

Pada saat yang ditentukan, maka telah tersusun sepasukan yang terdiri dari seratus orang dikepalai oleh seorang Lurah Penatus yang akan memimpin pasukan itu yang dibagi dalam sepuluh kelompok kecil, masing-masing terdiri dari sepuluh orang. Barata dan Kasadha bersama tiga orang kawannya yang lain dari kelima orang pemimpin kelompok yang baru telah diikut sertakan bersama mereka yang digabungkan dengan para prajurit yang telah banyak berpengalaman.

Mereka akan berangkat menuju ke daerah Selatan. Mereka harus mengawasi sebuah Kademangan di bawah kaki pebukitan. Kademangan Randukerep. Kademangan yang sering dilalui sekelompok prajurit Mataram yang mengamati keadaan.

Di Kademangan Randukerep mereka telah disambut dengan baik. Mereka diterima sebagai sekelompok prajurit Pajang yang akan melindungi Kademangan mereka.

“Apakah orang-orang Mataram itu sering membuat kerusuhan disini?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Tidak,“ jawab Ki Demang, “meskipun mereka kadang-kadang hanya sekedar lewat mengamati keadaan, tetapi kami memang menjadi gelisah.”

“Tetapi kalian mengetahui, bahwa mereka tidak berwenang melintas didaerah ini,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Ya,“ jawab Ki Demang. Kemudian katanya pula.

“Karena itulah kami, para bebahu Kademangan ini telah pernah menemui mereka dan mengatakan hal itu.”

“Apa jawab mereka?“ bertanya Ki Lurah.

“Mereka melakukannya untuk menjaga agar orang-orang Kademangan ini tidak mempunyai anggapan yang salah terhadap Mataram,“ jawab Ki Demang, “selama di Kademangan ini mereka banyak berbicara dengan penduduk.”

Wajah Ki Lurah menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia berkata, “Bukankah itu justru berbahaya sekali?”

“Kami menyadari Ki Lurah,“ berkata Ki Demang, “kami sudah berusaha untuk mencegahnya. Tetapi kami tidak berdaya. Orang-orang Mataram itu mulai mengancam dengan kekerasan, sehingga kami terpaksa berdiam diri sambil menunggu kedatangan para prajurit dari Pajang.”

“Apakah di Kademangan ini tidak ada kekuatan sama sekali?“ bertanya Ki Lurah. Lalu, “Bukankah disini ada pengawal Kademangan yang tentu sudah dipersiapkan sejak lama?”

“Tetapi apakah artinya para pengawal Kademangan dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Mataram,“ jawab Ki Demang, “karena itu, kami merasa lebih baik menunggu. Pada saatnya kami akan dapat mengusir orang-orang Mataram itu jika ia datang lagi.”

“Apakah orang-orang Mataram itu sering kali datang ke Kademangan ini?“ bertanya Ki Lurah.

“Tidak tentu,“ jawab Ki Demang, “sudah beberapa hari orang-orang Mataram tidak nampak batang hidungnya. Lewat sepekan yang lalu mereka telah datang. Mereka mempergunakan banjar Kademangan ini untuk menempatkan diri. Lewat sepekan yang lalu kira-kira ada dua puluh lima orang prajurit Mataram ada di banjar.”

“Hanya dua puluh lima. Berapa jumlah pengawal disini?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Ki Lurah,“ jawab Ki Demang, “para pengawal Kademangan ini tidak memiliki keberanian seorang prajurit. Dua atau tiga orang prajurit Mataram telah membuat mereka ketakutan. Mula-mula para pengawal memang mencoba untuk mengadakan perlawanan dengan mencegah sepuluh orang prajurit Mataram agar tidak memasuki padukuhan induk Kademangan ini. Tetapi lebih dari tiga puluh pengawal tidak mampu mencegah mereka.”

“Mereka terbunuh oleh prajurit Mataram?“ bertanya Ki Lurah.

“Tidak Ki Demang. Tidak seorangpun terbunuh. Tetapi ketiga puluh orang pengawal itu terluka dan tidak mampu lagi melakukan perlawanan. Rasa-rasanya tulang-tulang mereka berpatahan,“ jawab Ki Demang.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian sekali lagi ia bertanya, “Ada berapa pengawal di Kademangan Randukerep ini? Pengawal yang memang berada dalam kedudukan itu. Berapa pula anak-anak muda yang tidak dalam kedudukan pengawal, tetapi merupakan kekuatan cadangan yang dapat digerakkan setiap saat dan berapa jumlah laki-laki di Kademangan ini yang semuanya mempunyai kewajiban untuk membela kampung halamannya?”

“Ada lebih dari lima puluh pengawal di Kademangan ini Ki Lurah,“ berkata Ki Demang, “mereka pernah mendapat latihan serba sedikit dari dua orang prajurit yang ditugaskan oleh Pajang. Sedangkan anak-anak muda yang telah dinyatakan siap untuk dipanggil dalam keadaan yang penting cukup banyak. Di Kademangan ini ada beberapa padukuhan besar dan kecil yang mempunyai anak-anak mudanya. Apalagi jumlah laki-laki yang umurnya dibawah limapuluh tahun.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Aku minta, Ki Demang besok memanggil para pengawal. Mereka akan menjadi bagian dari kekuatan Pajang di Kademangan ini. Semuanya akan termasuk dalam barisan dibawah perintahku. Sementara itu, anak-anak muda yang menjadi kekuatan cadangan di Kademangan ini harus disusun dalam kelompok-kelompok yang tertib. Aku akan ikut menanganinya. Beberapa pemimpin kelompok dari prajurit-prajuritku akan membantu bertugas di padukuhan-padukuhan untuk menyusun kelompok-kelompok kecil di setiap padukuhan. Pada lapisan terakhir, maka setiap laki-laki yang belum berumur limapuluh tahun harus diperhitungkan pula.

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan berterima kasih jika Ki Lurah bersedia membantu kami melaksanakannya.”

“Tetapi aku memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Kademangan ini,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Silahkan Ki Lurah. Kami telah menyediakan beberapa buah rumah disekitar rumahku ini. Sebaiknya Ki Lurah tidak berada di banjar, karena prajurit Mataram sering datang ke banjar itu.”

“Sebenarnya kebetulan bagi kami jika prajurit Mataram datang. Kami akan dapat menangkap mereka dan mengadilinya di Pajang,“ jawab Ki Lurah.

“Tetapi mereka akan mempunyai kesempatan lebih dahulu. Jika Ki Lurah berada diluar banjar, maka keadaannya akan berbeda. Sebagian dari pasukan Ki Lurah dan Ki Lurah sendiri kami persilahkan untuk berada di gandok rumahku sebelah menyebelah. Kemudian rumah disebelah kanan rumahku itupun telah disediakan bagi Ki Lurah sebagaimana rumah disebelah kiri. Jaraknya tidak lebih dari satu patok. Dinding pemisah dari halaman kami dan halaman rumah tetangga yang disediakan bagi prajurit Pajang itu telah kami bedah sehingga halaman rumah ini dan halaman rumah sebelah menjadi berhubungan langsung. Agaknya hal itu perlu bagi kesatuan pasukan Ki Lurah,“ berkata Ki Demang.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Kedua rumah yang ditunjukkan oleh Ki Demang itu adalah rumah tetangga terdekat yang dapat dicapai dalam waktu singkat, sehingga jika Ki Lurah menempatkan pasukannya dirumah-rumah itu, maka tidak akan terjadi kesulitan apapun juga. Namun Ki Lurah harus mengatur penjagaan sebaik-baiknya.

Setelah berbincang beberapa saat dengan Ki Demang, maka Ki Lurahpun telah membawa sepuluh orang pemimpin kelompoknya untuk melihat-lihat keadaan, sementara seluruh pasukannya berada di halaman rumah Ki Demang. Mereka melihat halaman belakang rumah, mengamati dindingnya dan membuka pintu butulan untuk melihat jalan sempit disebelah belakang rumah Ki Demang itu. Kemudian mereka telah melihat-lihat halaman rumah sebelah menyebelah yang disediakan bagi para prajurit Pajang. Juga melihat kebun belakang dan segala sudut halaman serta dinding-dinding yang mengitari halaman rumah itu. Sementara itu dinding yang memisahkan halaman rumah itu dengan halaman rumah Ki Demang memang telah dibuka agar perhubungan dari ketiga rumah itu dapat berlangsung dengan lancar. Sementara itu alat-alat untuk menyampaikan isyaratpun telah tersedia. Dirumah sebelah menyebelah itu terdapat dua kenthongan kecil diserambi dan satu kentongan yang agak besar di seketheng. Dalam keadaan yang memaksa, maka kenthongan itu akan dapat menjadi isyarat bagi para prajurit yang terpisah tempatnya itu.

Demikianlah, maka Ki Demangpun segera membagi pasukannya. Ampat kelompok berada di rumah tetangga sebelah kanan, ampat di tetangga sebelah kiri dan dua kelompok, termasuk Ki Lurah sendiri berada di rumah Ki Demang. Sementara itu, setiap hari diantara lima puluh lebih pengawal Kademangan, dua puluh orang harus bersiaga di rumah Ki Demang. Mereka akan melakukan tugas bersama-sama dengan para prajurit Pajang.

Untuk menilai para prajurit yang baru, maka Ki Lurah dengan sengaja telah menempatkan prajurit-prajurit baru yang ampat kelompok itu bersama-sama di rumah yang ada disebelah kanan rumah Ki Demang, sedangkan prajurit-prajurit yang lama dan berpengalaman berada di rumah sebelah kiri. Sedangkan satu kelompok prajurit yang „baru dan satu kelompok prajurit yang lama berada bersamanya di rumah Ki Demang. Bersama mereka akan hadir juga dua kelompok pengawal Kademangan yang pernah mendapat latihan keprajuritan pula.

Hari itu juga, maka para prajurit Pajang itu telah menempatkan diri. Setiap kelompok telah mengatur dirinya masing-masing. Kelompok yang dipimpin oleh Barata mendapat tempat digandok sebelah kanan dirumah tetangga Ki Demang, sedangkan kelompok yang dipimpin oleh Kasadha berada ditempat terbuka, pendapa dan yang sedikit tertutup adalah pringgitan rumah itu. Dirga dengan serta merta membawsi anak buahnya ke ruang dalam sedangkan satu kelompok lagi berada di gandok sebelah kiri.

Ketika Kasadha sedang sibuk mengatur pendapa dan pringgitan dengan membentangkan tikar di pringgitan untuk beristirahat orang-orangnya, maka Barata telah mendatanginya. Sambil tersenyum ia berkata, “Di gandok terdapat sebuah amben yang besar. Cukup untuk enam orang. Sementara itu, ada dua amben kecil yang dapat menampung ampat orang.”

“Kami akan tidur dilantai,“ berkata Kasadha.

“Biarlah kedua amben kecil itu dibawa keluar. Setidak-tidaknya kau dan tiga orangmu bergantian dapat tidur di pembaringan,“ berkata Barata.

Tetapi Kasadha tertawa. Katanya, “Bukankah kami sudah terlatih untuk tidur dimana saja? Disini, dipringgitan masih cukup hangat, terlindung oleh dinding disebelah menyebelah. Dirga yang memilih diruang dalam mulai mengeluh. Ternyata udaranya panas sekali. Dimalam hari, mereka justru tidak akan mudah untuk dapat tidur.”

“Kita akan berada ditempat ini untuk waktu yang tidak terbatas,“ berkata Barata, “jika setiap malam orang-orangmu terkena angin malam yang basah, maka mungkin ada diantara mereka yang tidak tahan.”

Tetapi Kasadha menggeleng. Katanya, “Seorang prajurit harus tahan berada disegala tempat dan disegala musim. Tempat ini terlalu baik bagi kami.”

Barata termangu-mangu. Namun ia akhirnya tertawa. Katanya, “Jika perlu, pada hari-hari tertentu kita dapat bertukar tempat.”

Ternyata hal itu tidak perlu dilakukan. Beberapa saat kemudian beberapa orang pembantu Ki Demang telah datang membawa beberapa buah tirai bambu yang dapat dipergunakan untuk melindungi angin. Bahkan beberapa orang yang lain telah membawa beberapa buah amben bambu yang kemudian ditempatkan dipringgitan.

“Nah,“ berkata Kasadha, “bukankah sudah beres?”

Barata mengangguk-angguk.

Sementara itu ketika Dirga keluar dari ruang dalam berkata dengan serta merta, “Kita bertukar tempat.”

Tetapi Kasadha menggeleng. Katanya, “Kau telah memilih lebih dahulu tempatmu.”

“Didalam panas sekali,“ berkata Dirga, “dengan selintru bambu maka pringgitan ini menjadi bilik yang sejuk.”

“Itu diluar perhitungan kami. Ternyata Ki Demang sangat memperhatikan kami, meskipun nampaknya amben-amben bambu itu tidak begitu kuat, sehingga jika dipergunakan oleh lebih dari dua orang, suaranya akan berderit-derit membangunkan yang sudah tertidur nyenyak sekalipun.”

“Tetapi udara di pringgitan ini lebih baik daripada diruang dalam,“ berkata Dirga.

Namun sambil tersenyum Kasadha berkata, “Aku disini saja bersama anak-anakku. Jika kau kepanasan didalam, bukankah pendapa ini cukup untuk tidur ampat puluh orang sekaligus.”

Dirga mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia sudah memilih sendiri tempat diruang dalam. Ternyata bahwa lebih terbuka di ruang-ruang lain. Juga peredaran udara didalam terasa sendat sehingga udara diruang dalam menjadi pengab dan panas, bahkan agak gelap.

Demikianlah, setelah mereka mengatur pembagian ruang bagi setiap kelompok, maka mereka mulai mengatur penjagaan. Mereka tidak hanya menjaga regol halaman. Tetapi mereka harus juga mengawasi halaman samping dan kebun belakang. Terutawa di malam hari. Mereka menyadari bahwa para prajurit Mataram adalah prajurit yang berani. Bahkan mereka yang tidak pernah mengalami latihanpun telah berani melakukan tugas yang biasanya hanya dibebankan kepada prajurit-prajurit yang berpengalaman. Sehingga dengan demikian maka mereka harus benar-benar bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

Akhirnya keempat pemimpin kelompok itupun mendapatkan kesepakatan dalam pembagian waktu dan tempat tugas kelompok mereka masing-masing, sehingga setiap saat dan tempat akan dipertanggung jawabkan oleh keempat kelompok agar mereka tidak saling menyalahkan apabila terjadi sesuatu.

Ternyata di rumah yang lain, telah dilakukan pula pembagian ruang dan waktu. Tetapi seperti para prajurit yang baru, ternyata keempat kelompok prajurit di rumah sebelah kiri juga melakukan penjagaan bersama sebagaimana para pengawal yang baru.

Namun dalam pada itu, di rumah Ki Demang telah dilakukan penjagaan khusus. Para pengawal Kademangan itu telah diikut sertakan bersama para prajurit Pajang, Namun Ki Lurah cukup berhati-hati, sehingga diantara para pengawal di ruang masing-masing telah diadakan penjagaan khusus.

Ketika kemudian para prajurit itu mengalami malam hari untuk pertama kalinya di Kademangan itu, maka rasa-rasanya malam memang terlalu sepi. Demikian matahari terbenam, maka jalan-jalan telah menjadi lengang. Tidak menunggu saat sepi bocah, maka Kademangan itu seakan-akan telah tertidur nyenyak.

Namun dari kejauhan ternyata masih juga terdengar suara tembang macapat yang mengalun di sepinya malam. Suara seorang laki-laki yang bergetar bagaikan menyentuh setiap hati para prajurit yang merasa berada ditempat yang asing.

Sementara mereka yang bertugas, justru merasa mendapat seorang kawan lagi. Setidak-tidaknya orang yang membaca kidung itu masih belum tidur. Mungkin keluarganya juga ikut mendengarkannya.

Dalam pada itu, diregol rumah Ki Demang, tetangganya sebelah menyebelah telah mendapat penjagaan yang kuat. Bahkan setiap sudut dari halaman dan kebun ketiga rumah yang berhubungan itu mendapat pengawasan dari orang-orang yang terlatih. Tidak akan ada seekor bilalang-pun yang dapat lolos dari pengawasan mereka.

Dirumah sebelah kanan, meskipun yang ada di tempat itu termasuk prajurit-prajurit baru, tetapi secara pribadi mereka justru telah memiliki bekal yang cukup. Ditambah latihan-latihan khusus dalam hubungannya dengan kedudukan mereka sebagai prajurit. Dengan demikian maka penjagaan ditempat itu tidak kalah ketatnya dibanding dengan penjagaan dirumah sebelah kiri, yang ditempati oleh para prajurit yang sudah berpengalaman sebagai prajurit.

Namun dalam pada itu, diluar pengetahuan para prajurit Pajang, maka suara tembang itupun telah mendapat perhatian sepenuhnya dari dua orang yang dengan diam-diam menyusup ke dalam padukuhan induk Kademangan itu. Dengan saksama kedua orang yang bersembunyi di kegelapan itu mendengarkan kidung yang mengalun di malam hari menyayat sepinya suasana.

“Jadi mereka telah datang,“ berkata salah seorang diantara kedua orang itu.

“Sekitar seratus orang,“ desis yang lain.

Keduanyapun terdiam pula. Sementara itu suara tembang itu masih saja terdengar. Lima bait telah terbaca. Namun kemudian orang itu telah mengulanginya dari bait yang pertama.

Tetapi para prajurit yang mendengarkan kidung itu dari kejauhan, tidak mendengar isi kidung itu, karena mereka memang tidak begitu memperhatikannya.

Namun kedua orang itu mengetahuinya, bahwa orang yang membaca kidung itu memberikan isyarat, bahwa agaknya para prajurit itu sedang mengatur diri sehingga belum akan keluar dari sarang mereka pada malam yang pertama mereka berada di padukuhan induk itu.

Ternyata kedua orang itu adalah orang-orang yang memang berani. Dengan isyarat itu, maka mereka justru telah dengah diam-diam berusaha mendekati rumah itu. Meskipun keduanya mengetahui, bahwa dipadukuhan induk itu di setiap malam selalu dikelilingi oleh para peronda yang terdiri dari para pengawal dan anak-anak muda padukuhan induk itu, yang pada malam itu akan dapat memanggil bantuan para prajurit Pajang jika mereka merasa perlu.

Dengan sangat berhati-hati kedua orang itu telah memasuki regol rumah orang yang sedang melagukan kidung yang ngelangut memecah sepinya malam itu.

Perlahan-lahan salah seorang dari kedua orang itu telah mengetuk pintu. Dua kali tiga ganda.

Suara kidung itu sama sekali tidak berhenti. Namun orang lainlah yang telah pergi ke pintu dan membuka pintu itu dengan hati-hati.

Demikian kedua orang itu masuk, maka pintupun segera telah ditutup kembali.

“Kenapa kau datang kemari?“ bertanya orang yang membuka pintu itu, sementara suara kidung itu beralun terus.

“Kami ingin penjelasan. Bukan sekedar isyarat yang hanya dapat aku raba-raba,“ jawab salah seorang dari kedua orang itu.

“Tetapi kau telah melakukan satu langkah yang sangat berbahaya,“ berkata orang yang membuka pintu itu.

“Kalian tentu memerlukan kami datang,“ berkata orang yang datang itu, “jika tidak untuk apa kalian memberikan isyarat bahwa orang-orang Pajang itu belum akan keluar malam ini.”

“Satu dugaan saja,“ jawab orang yang membuka pintu, “tetapi karena kalian sudah ada disini, biarlah kami memberikan keterangan.”

Dengan singkat orang itupun telah memberikan keterangan tentang kehadiran para prajurit Pajang. Menurut perhitungan mereka memang sekitar seratus orang.

“Cukup banyak,“ berkata salah seorang yang datang itu.

“Mereka nampaknya akan memanfaatkan para pengawal, anak-anak muda dan setiap laki-laki yang ada yang akan disusun dalam lapisan-lapisan tersendiri,“ berkata orang yang membuka pintu itu.

“Satu sikap yang sudah dapat ditebak. Itu adalah sikap yang sangat wajar dan ditempuh oleh Pajang selama ini. Agaknya Matarampun akan menempuh cara yang sama,“ sahut salah seorang yang baru datang itu namun kita semuanya sudah siap menghadapi rencana itu.

“Mungkin para prajurit itu baru besok melihat-lihat suasana di padukuhan ini,“ berkata orang itu. Sementara itu, suara tembang yang ngelangut itupun masih saja menggetarkan udara.

Namun salah seorang dari kedua orang itupun berkata, “Baiklah. Kami akan minta diri.”

“Berhati-hatilah. Suasana di Kademangan ini tentu berubah karena kehadiran para prajurit itu,“ berkata orang yang membuka pintu.

“Kami menyadari itu,“ jawab salah seorang diantara mereka yang datang, “tetapi itu sudah ada dalam perhitungan kami. Justru kalian yang tinggal di Kademangan inilah yang harus lebih berhati-hati. Prajurit Pajang adalah prajurit pilihan. Petugas sandi merekapun memiliki kemampuan yang tinggi.”

“Tetapi gairah perjuangan mereka tidak setinggi orang-orang Mataram,“ jawab orang yang membukakan pintu.

“Itu karena Kanjeng Sultan Pajang sendiri belum menjatuhkan perintah. Namun, demikian perintah itu jatuh, jika tidak berhati-hati, maka Mataram akan dapat digilas,“ jawab salah seorang dari kedua orang yang baru datang itu.

Orang yang membukakan pintu itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi tidak ada seorangpun yang akan mampu menundukkan Panembahan Senapati. Disaat-saat Kangjeng Sultan dalam kebimbangan, maka Mataram harus mengambil langkah-langkah yang menguntungkan. Apalagi menurut pendengaranku Kangjeng Sultan disaat-saat terakhir, kesehatannya sangat menurun.”

“Tetapi Adipati Tuban terlalu mendesak,“ jawab orang yang membukakan pintu.

Kedua orang yang datang itu mengangguk-angguk.

Sementara itu lima bait yang diulang oleh orang yang membaca kidung itu telah berakhir. Karena itu, maka orang itupun berhenti melontarkan tembang yang menggetarkan sepinya malam.

Ketiga orang yang berbincang itupun kemudian mendekatinya. Namun agaknya orang itu tidak berkata apapun juga, kecuali sebuah perintah, “Tinggalkan tempat ini.”

“Tetapi ada yang perlu kita bicarakan,“ jawab salah seorang dari keduanya.

“Tinggalkan tempat ini secepatnya,“ berkata orang itu.

Kedua orang itu tidak menjawab. Namun keduanya meyakini betapa tajamnya firasat orang yang telah berhenti membaca kitab itu.

Karena itu, maka keduanyapun segera meninggalkan tempat itu, sementara orang yang membukakannya pintu itu sempat berpesan, “Berhati-hatilah.”

Sejenak kemudian, maka pintupun telah tertutup kembali.

Namun sebelum kitab yang dibaca itu ditutup, telah terdengar lagi pintu diketuk. Tidak dengan isyarat dua kali tiga ganda.

“Bukakan pintu,“ berkata orang yang semula membaca kitab itu.

Sejenak kemudian pintupun telah terbuka. Tiga orang anak muda berdiri didepan pintu.

“Maaf Kiai,“ desis salah seorang diantara anak-anak muda itu, “ketika Kiai berhenti membaca, malam rasa-rasanya menjadi sangat sepi.”

Orang yang membaca kidung itu tertawa. Katanya, “Mulutku sudah menjadi lelah anak-anak muda. Tetapi marilah, silahkan duduk.”

Anak-anak muda itupun kemudian masuk dan duduk pula dihadapan orang yang membaca kidung itu.

“Kami ingin belajar Kiai. Selama ini, hampir setiap malam kami mendengar Kiai membaca. Rasa-rasanya kami ingin dapat membaca kidung seperti Kiai. Sebenarnyalah jika ada waktu beberapa orang anak muda ingin datang untuk belajar,“ berkata salah seorang diantara anak muda itu.

Orang tua yang membaca kidung itu tertawa. Katanya, “Ada baiknya jika kalian berminat belajar macapat. Kumpulan lagu-lagu untuk membaca kitab yang berisi bermacam-macam hal. Kitab yang berisikan babad. Kitab yang berisi petunjuk tentang hidup dan kehidupan dan kitab yang berisi berbagai macam ilmu antara lain ilmu perbintangan, pertanian yang berhubungan erat dengan ilmu perbintangan dan lain-lainnya.”

“Menarik sekali,“ jawab anak muda itu.

“Baiklah,“ berkata orang tua itu, “kita dapat membicarakan, kapan kalian dapat datang dan belajar melagukan kidung. Tetapi sudah tentu tidak sekarang.”

“Ya Kiai. Tidak sekarang. Kami akan berbicara dengan kawan-kawan.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kami mohon kali ini Kiai melanjutkan bacaan Kiai. Kami ada di gardu diujung lorong ini. Rasa-rasanya malam menjadi sepi jika Kiai tidak membaca.”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Aku sudah membaca beberapa bait.“ Namun katanya, “Tetapi biarlah adikku itu membacanya. Ia juga dapat membaca suara-nyapun cukup baik. Ia baru datang sore tadi.”

Anak-anak muda itu mengangguk hormat kepada orang yang membukakan pintu dan disebut adik itu.

“Ia semula tinggal di Pajang. Tetapi setelah isterinya meninggal tanpa meninggalkan anak, untuk menghilangkan kenangan pahit itu ia kembali kemari. Ia akan tinggal bersamaku disini. Mungkin ia akan dengan senang hati mengajari kalian melagukan kidung untuk melupakan masa lampaunya itu,“ berkata orang tua itu.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Tolong Kiai. Isilah malam ini dengan tembang yang dapat menemani tugas kami.”

Orang tua itu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya kepada orang yang disebut adiknya itu, “Bacalah. Kitab ini adalah kitab yang berisi berbagai macam petunjuk tentang tingkah laku.”

Orang yang disebut adiknya itupun beringsut. Ia telah mengambil kitab yang lain. Kemudian iapun telah bersiap untuk membacanya.

“Tetapi suaraku tidak sebaik suara kakakku,“ berkata orang itu.

“Tidak apa-apa,“ jawab anak-anak muda itu hampir berbareng. “Yang penting jantung kami menjadi hangat karenanya.“ Namun kemudian seorang diantara anak-anak muda itu berkata, “Aku akan mendengarkan di gardu saja Kiai.”

Anak-anak muda itupun kemudian telah mohon diri. Meskipun orang-orang tua itu mempersilahkannya tinggal, tetapi seorang diantara anak-anak muda itu berkata, “Kami akan sangat mengganggu jika kami disini.”

Demikianlah anak-anak itu keluar dan pintu rumah itu tertutup, maka telah terdengar lagi suara tembang yang menggetarkan udara malam. Ternyata suara orang yang disebut adiknya itu tidak kalah baik dari suara orang yang membaca pertama. Tinggi meliuk dalam. Kemudian seperti terayun mendatar. Namun tiba-tiba menanjak naik seperti seekor burung alap-alap yang memburu mangsanya. Tetapi sejenak kemudian menukik tajam. Akhirnya perlahan-lahan suaranya mengambang dan mencapai satu persinggahan yang terasa sangat sejuk.

Anak-anak muda yang meninggalkan rumah itu kembali ke gardu merasa senang mendengar tembang itu kembali mengisi sepinya malam.

Namun dalam pada itu, dua orang yang telah memasuki rumah itu ternyata masih ada di halaman samping. Mereka memang memperhatikan isi tembang ini. Mungkin ada pesan-pesan lain yang dilontarkan setelah tiga orang anak muda memasuki rumah itu. Tetapi ternyata tembang itu untuk selanjutnya tidak memberikan pesan apapun juga.

“Firasat orang tua itu ternyata benar-benar tajam,“ berkata salah seorang dari keduanya.

“Beberapa saat saja kita terlambat, maka padukuhan induk Randukerep ini akan menjadi gempar,“ desis yang lain.

“Meskipun tidak akan ada seorangpun yang mampu menangkap kita, tetapi kehadiran kita akan membuat orang-orang Randukerep dan khususnya prajurit Pajang itu menjadi semakin berhati-hati. Penghuni rumah itupun harus ikut bersama kita meninggalkan padukuhan ini,“ berkata yang pertama.

Namun yang lainpun kemudian berkata pula, “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini.”

Demikianlah maka kedua orang itupun kemudian dengan hati-hati telah meninggalkan halaman rumah itu. Mereka meloncati dinding halaman yang satu kemudian dinding yang lain, sehingga akhirnya keduanya telah meloncati pula dinding padukuhan induk dan hilang menyusup diantara tanaman yang hijau disawah.

Sementara itu, di rumah Ki Demang dan rumah tetangganya ternyata ada juga beberapa orang prajurit yang ikut menikmati suara tembang yang hanya terdengar lamat-lamat antara silirnya angin. Kadang-kadahg hilang, kadang-kadang terdengar lebih jelas.

Dengan demikian maka di Kademangan Randukerep itu justru terasa betapa tenang dan damai. Seakan-akan tidak pernah terjadi keributan sama sekali. Apalagi kekerasan. Di malam hari yang sepi yang terdengar adalah suara tembang yang ngelangut menggetarkan udara menyentuh jantung.

Para prajurit itu di Pajang memang jarang sekali mendengar tembang yang mengalun di malam hari, bahkan sampai jauh malam menjelang tengah malam.

Tetapi ketika malam menjadi semakin dalam dan sepi mencengkam Kademangan itu, maka para prajurit telah berada kembali dalam suasana yang menegangkan. Lebih-lebih lagi mereka yang bertugas di regol, dihalaman dan di kebun belakang. Seakan-akan berpasang-pasang mata telah mengintai mereka meskipun merekalah yang seharusnya bertugas mengintai.

Ketika suara tembang itu berhenti, maka yang terdengar adalah suara cengkerik dan belalang. Angin menandai waktu, bahwa malam menjadi semakin jauh menjelang dini.

Memang tidak terjadi sesuatu malam itu. Namun bagi para prajurit Pajang, terasa ketegangan mulai mencengkam.

Dihari berikutnya, maka Ki Lurah Dipayuda mulai mempersiapkan pasukan kecilnya itu bukan saja berada dan berjaga-jaga di Kademangan. Tetapi mereka harus juga meronda di seluruh Kademangan dan Kademangan disekitarnya.

Tetapi sebelum merambah ke daerah disekitarnya, maka Ki Lurah akan memperkuat lebih dahulu landasan kedudukannya di Kademangan Randukerep. Ia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di Kademangan itu dan kemudian menyusun langkah-langkah yang paling baik dilakukan.

Ki Lurahpun harus mengetahui sebanyak-banyaknya tentang sikap dan tingkah laku para prajurit Mataram jika mereka datang ke Kademangan Randukerep dan sekitarnya.

Untuk itu maka Ki Lurah memang tidak cukup mempergunakan waktu satu dua hari.

Di hari pertama Ki Lurah dan dua orang pemimpin kelompok serta tiga orang prajurit telah pergi melihat-lihat pasar di padukuhan induk Randukerep. Pasar yang menjadi sangat ramai setiap sepekan sekali. Dihari-hari biasa, pasar itu memang juga termasuk ramai. Tetapi tidak seperti dihari pasaran, yang rasa-rasanya pasar itu tidak muat lagi.

Ki Lurah Dipayuda itu memang merasa heran bahwa seakan-akan di daerah itu tidak pernah terjadi sesuatu yang membuat mereka resah. Pasar itu tidak menunjukkan bahwa sering terjadi gangguan ketenangan, sehingga para pedagang telah menawarkan dagangan mereka dengan tidak ragu-ragu sama sekali. Mereka yang berjualan telurpun telah dibentang diatas tampah-tampah dengan memisahkan telur itik dan telur ayam. Sementara itu yang berjualan sayur-sayuranpun telah digelar diatas amben bambu yang rendah. Pande besi di pinggir pasar itu bekerja seperti biasanya, membuat alat-alat pertanian. Membuat parang, kejen bajak dan alat-alat yang lain.

“Orang-orang Mataram memang cerdik,“ berkata Ki Lurah Dipayuda, “mereka tidak meninggalkan kesan yang dapat mebuat orang-orang Kademangan ini menjadi ketakutan. Mereka tentu telah membujuk orang-orang Kademangan ini dan bersikap manis kepada mereka.”

Para pemimpin kelompok yang menyertainya mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata, “Kita mempunyai gambaran yang agak lain dari mereka sebelumnya. Kita mengira bahwa orang-orang Mataram itu bersikap kasar dan kadang-kadang melakukan kekerasan. Beberapa laporan yang diterima di Pajang menyebutkan demikian. Dibeberapa daerah yang lain, kekerasan telah terjadi sehingga tiga Kademangan telah terpaksa mengungsi karena tingkah-laku para prajurit Mataram. Tetapi disini agaknya mereka bersikap lain.”

Ki Lurah mengangguk-angguk kecil. Iapun pernah mendengar laporan seperti itu. Bahkan dibumbui dengan laporan tentang pembakaran rumah dan banjar padukuhan. Tetapi dalam setiap pembicaraan, ia belum pernah berbicara dengan kawan-kawannya yang pernah melihat sendiri orang-orang Mataram membakar rumah dan banjar padukuhan.

Tetapi sebagai seorang yang berpengalaman luas, maka Ki Lurah berkata kepada kedua pemimpin kelompok itu, “Justru sikap seperti inilah yang sangat berbahaya bagi Pajang. Dengan lembut orang-orang Mataram telah menarik perhatian orang-orang yang ada di perbatasan. Untuk itu kita sukar meyakinkan kepada mereka, bahwa kita semuanya harus menentang berdirinya Mataram di Alas Mantaok. Berbeda halnya jika Mataram berbuat kasar. Kita akan dengan mudah menggerakkan orang-orang yang marah untuk menghancurkan mereka.

Salah seorang pemimpin kelompok itu mengangguk sambil berdesis, “Tugas kita memang berat.”

“Lebih berat daripada kita disuruhkan kedalam peperangan yang langsung berhadapan dengan pasukan lawan,“ sahut Ki Lurah.

Kedua orang pemimpin kelompok yang bersamanya itupun mengangguk-angguk pula. Keduanya melihat bahwa Ki Lurah itu berkata dengan sungguh-sungguh. Bahkan nampak sedikit kecemasan pada wajah dan sikapnya.

“Kita tidak boleh terlambat. Kita harus segera mengatur pertahanan. Pasukan kita kecil saja sehingga kita harus mampu memanfaatkan kekuatan yang ada di Kademangan ini,“ berkata Ki Lurah.

“Dalam keadaan yang mendesak, bukankah kita dapat minta bantuan dari Pajang?“ bertanya salah seorang diantara kedua orang pemimpin kelompok itu.

“Kita harus membuktikan dahulu. Jika kita jelas tidak dapat mengatasi kesulitan disini, barulah kita minta bantuan. Dengan demikian kita akan dapat mengirimkan laporan yang lengkap dan meyakinkan,“ berkata Ki Lurah.

Tetapi para prajurit yang ikut bersama Ki Lurah itu sempat berkata kepada diri sendiri, “Asal saja kita belum habis disini.”

Dalam pada itu, dari pasar Ki Lurah langsung kembali ke Kademangan. Sebenarnya hari itu Ki Lurah tidak mempunyai rencana untuk melihat-lihat keluar dari padukuhan induk. Tetapi ternyata Ki Lurah merubah rencananya. Hari itu juga Ki Lurah ingin berkunjung ke beberapa padukuhan terdekat.

“Aku minta Ki Demang atau satu dua bebahu yang Ki Demang tugaskan, untuk menyertai kami, agar jika kami bertemu dengan para pengawal dan anak-anak muda tidak terlalu banyak mendapat pertanyaan,“ berkata Ki Lurah.

Ternyata Ki Demang menjawab, “Marilah. Aku sendiri akan mengantar Ki Lurah melihat-lihat Kademangan ini.”

Demikianlah, sejenak kemudian, Ki Demang telah bersiap-siap untuk mengadakan perjalanan berkuda disekeliling Kademangannya. Sementara itu, Ki Lurah telah mengajak pemimpin kelompok yang dua itu. Pemimpin kelompok tertua diantara para pemimpin kelompok yang lain bersama ketiga orang prajurit yang itu juga, yang oleh Ki Lurah dianggap memiliki kelebihan dari para prajurit yang lain.

Beberapa saat kemudian, maka beberapa ekor kuda telah berderap menyusuri jalan induk yang membelah padukuhan induk itu. Mereka telah keluar dari pintu gerbang padukuhan dan menempuh jalan bulak menuju ke padukuhan yang lain.

Ternyata dugaan Ki Lurah Dipayuda itu keliru. Dipadukuhan-padukuhan itu sama sekali tidak terdapat pengawal atau anak-anak muda yang bersiap-siap di banjar seberapapun jumlahnya. Tidak nampak kesiagaan sama sekali dari para penghuni padukuhan itu, apalagi kesibukan dalam suasana perang.

“Tidak ada penjagaan dan pengawasan sama sekali Ki Demang,“ berkata Ki Lurah.

“Ya Ki Lurah. Aku memang tidak ingin rakyatku menjadi sangat gelisah dan ketakutan. Jika Kademangan ini berada dalam suasana perang, maka kehidupan akan berubah. Ketakutan akan tersebar kesetiap pintu rumah. Tatanan hidup akan segera menjadi kisruh,“ berkata Ki Demang.

“Tetapi apa yang dapat Ki Demang lakukan selama ini untuk mempertahankan Kademangan,“ bertanya Ki Lurah.

“Tidak ada yang perlu dipertahankan,“ jawab Ki Demang, “para prajurit Mataram tidak pernah berusaha untuk menduduki Kademangan ini. Sekali-sekali mereka lewat. Dan itu sudah membuat kerasahan yang gawat, sehingga aku harus mengatasinya dengan membuat suasana menjadi tenang.”

“Dan sekarang Ki Demang tetap bersikap seperti itu? Jika demikian, buat apa kami harus datang kemari?” bertanya Ki Lurah.

“Kedatangan para prajurit Pajang dapat membuat hati kami semakin tenteram Ki Lurah. Seharusnyalah dengan kehadiran para prajurit Pajang, maka kehidupan akan dapat berjalan sewajarnya tanpa kerasahan sama sekali sebagaimana jika para prajurit Mataram itu datang.“ berkata Ki Demang.

“Jadi dengan demikian kekuatan di Kademangan ini termasuk salah satu penentu, bahwa Kademangan ini akan dapat menjadi tenang,“ berkata Ki Lurah.

Ki Demang mengangguk sambil menjawab, “Ya. Dengan prajurit Pajang kita menjadi yakin. Kita akan dapat berbuat jauh lebih banyak. Tetapi sebelum prajurit Pajang datang, kami memang tidak berani berbuat apa-apa, karena kami tidak mempunyai kekuatan sama sekali.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Perasaan terlalu kecil ini harus dihilangkan Ki Demang. Kademangan ini bukannya tidak mempunyai kekuatan. Tetapi kekuatan itu dibiarkan tersembunyi. Bukankah Ki Demang mengatakan bahwa disini terdapat lebih dari lima puluh orang pengawal terlatih? Anak-anak muda disetiap padukuhan dan sejumlah laki-laki yang belum berumur limapuluh tahun?”

“Ya. Dan sekarang mereka mempunyai panutan dengan hadirnya para prajurit. Sebelumnya mereka merasa tidak berdaya, karena ternyata mereka tidak dapat mengatasi kemampuan prajurit Mataram yang jumlahnya jauh lebih kecil.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi ia sudah mempunyai lebih banyak gambaran tentang keadaan Kademangan Randukerep yang tentu tidak akan banyak berbeda dengan Kademangan-kademangan lainnya.

Ternyata ketika Ki Lurah melihat-lihat beberapa bagian dari padukuhan yang lain, maka suasananya tidak berbeda. Dengan demikian maka Ki Lurah memang dapat mengambil kesimpulan keadaan umum di Kademangan itu.

Demikian Ki Lurah dan Ki Demang sampai di rumah Ki Demang, maka Ki Lurah Dipayuda segera mengumpulkan para pemimpin kelompok dan memberikan gambaran umum tentang keadaan di padukuhan-padukuhan yang termasuk Kademangan Randukerep.

“Agaknya Kademangan-kademangan lain juga berada dalam suasana yang sama,“ berkata Ki Lurah. Lalu katanya, “Dengan demikian maka kewajiban kita semuanya adalah menunjukkan bahwa Mataram tidak akan dapat berbuat sesuka hatinya di Kademangan-kademangan wilayah Pajang. Seakan-akan merekalah yang memerintah di Kademangan-kademangan ini.”

Para pemimpin kelompok itu hanya dapat mengangguk-angguk. Namun sudah terbayang satu tugas yang berat harus mereka hadapi.

“Pada kesempatan pertama, sebelum kita mampu menyusun kekuatan diantara para pengawal dan anak-anak muda padukuhan, maka kitalah yang harus bergerak meronda di seluruh Kademangan ini. Tidak mustahil bahwa kitapun harus bergerak di Kademangan tetangga yang juga masih termasuk wilayah Pajang,“ berkata Ki Lurah. Lalu katanya pula, “Ki Demang sudah sanggup menyediakan meronda di Kademangan ini. Berkuda. Menurut Ki Demang tidak akan sulit untuk mengumpulkan sekitar sepuluh sampai lima belas ekor kuda yang dapat dipinjam untuk kepentingan keprajuritan. Dengan demikian maka kuda-kuda itu akan dapat membantu mempercepat tata gerak kita selama kita berada di Kademangan ini.”

Para pemimpin kelompok itu masih saja mengangguk-angguk. Sementara Ki Lurah berkata, “Kita menghadapi kerja keras. Kita belum mendapatkan apa-apa di Kademangan ini.”

Sejak hari itu, maka prajurit Pajang telah menetukan tugas-tugas meronda bagi para prajurit. Untuk mempermudah pembagian tugas, maka tugas meronda akan dibebankan setiap hari satu kelompok disiang hari dan satu kelompok di malam hari. Sementara itu, tugas di tempat harus menyesuaikan diri dengan tugas meronda dari setiap kelompok itu.

Tetapi ternyata pelaksanaannya tidak semudah sebagaimana dikatakan oleh Ki Demang. Pada hari ketiga, baru lima ekor kuda yang dapat dikumpulkan.

Meskipun demikian Ki Lurah tidak mundur dengan rencananya. Karena baru ada lima ekor kuda, maka para prajurit yang meronda dilakukan dengan berjalan kaki. Setiap kelompok telah melakukan pengamatan dibeberapa padukuhan yang ternyata memang belum melakukan persiapan apapun juga menghadapi keadaan yang semakin gawat antara Mataram dan Pajang.

Sementara itu, Ki Lurahpun akan memanggil para pengawal yang jumlahnya hampir mencapai enam puluh orang itu. Berdasarkan atas persetujuan Ki Lurah dan Ki Demang, maka pertemuan itu telah ditentukan dan para pengawalpun telah diundang untuk datang ke pendapa Kademangan.

Tetapi Ki Lurah menjadi sangat kecewa. Hampir separo dari para pengawal tidak datang ke Kademangan. Sebagian telah berpesan kepada kawannya untuk memberikan berbagai macam alasan. Sebagian diantara mereka adalah karena kerja disawah yang tidak dapat mereka tinggalkan. Kemudian yang lain karena kesibukan dirumah atau sakit atau alasan-alasan yang lain.

Tetapi Ki Lurah menyadari, bahwa mereka bukan prajurit. Mereka adalah pengawal Kademangan yang tidak terikat terlalu erat sebagaimana seorang prajurit.

Karena itu, maka Ki Lurah yang merasa saingat kecewa itu telah menahan diri. Betapapun jantungnya bergejolak, namun ia berusaha berbicara dengan cara yang lebih lunak dari cara yang dipergunakannya sehari-hari diantara anak buahnya.

Ternyata bukan saja Ki Lurah yang menjadi sangat kecewa. Terutama para pemimpin kelompok telah menjadi marah meskipun tertahan. Seakan-akan para pengawal dan anak-anak muda Kademangan itu tidak menghiraukan sama sekali kehadiran para prajurit yang bertujuan untuk melindungi mereka.

Apalagi ketika mereka melihat, sikap Ki Lurah yang lunak seakan-akan tidak terjadi sesuatu, maka para pemimpin kelompok itu hampir tidak sabar lagi.

Namun demikian sikap Ki Lurah Dipayuda itu, bagi para pengawal telah terasa sangat keras. Ki Lurah dengan tegas telah berkata, “Kademangan ini adalah kademangan kalian. Bukan kademangan kami. Karena itu, tugas utama untuk mempertahankan Kademangan ini terletak dipundak kalian. Terutama para pengawal dan anak-anak mudanya. Kami mendapat perintah dari Panglima prajurit Pajang untuk membantu kalian. Jika kalian yang akan kami bantu tidak berbuat apa-apa, maka sudah tentu bahwa kami tidak akan dapat berbuat apa-apa juga.

Para pengawal yang kebetulan hadir hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara itu Ki Lurah berkata, “Kalian pernah mendapat latihan keprajuritan. Karena itu, maka kalian akan segera terikat oleh ketentuan keprajuritan.”

Beberapa orang pengawal saling ke pandangan. Agaknya mereka tidak sependapat dengan keterangan Ki Lurah Dipayuda itu. Bahkan seorang diantara para pengawal itu berani bertanya, “Ki Lurah, jika kewajiban kita sama dengan kewajiban seorang prajurit dengan menepati segala ketentuan yang berlaku bagi para prajurit, apakah hak kami sama dengan hak para prajurit?”

Ki Lurah merasa seakan-akan telinganya tersentuh api. Tetapi ia masih menahan diri dan berkata, “Hak kita sebagai warga Pajang yang besar, sama. Sama dalam arti sesuai dengan kedudukan kita masing-masing. Selanjutnya kewajiban kitapun sama. Seperti hak kita, maka kewajiban kita juga sama dalam pengertian sesuai dengan tugas kita masing-masing pula. Tetapi sebagai rakyat Pajang, maka kewajiban kita antara lain adalah mempertahankan negeri ini dari setiap sikap permusuhan darimanapun asalnya. Ketika kalian menyatakan diri menjadi pengawal, maka sudah tentu kalian mengetahui apa artinya pengawal Kademangan. Kemudian hak dan kewajiban kalian.”

Para pengawal itu termangu-mangu. Namun tidak ada lagi yang mencoba bertanya.

Karena itu, maka Ki Lurahpun kemudian berkata, “Kademangan ini adalah bagian dari Pajang. Karena itu, maka segala perintah harus bersumber dari Pajang. Dalam keadaan gawat seperti ini, maka kewajiban para pengawal adalah sama dengan kewajiban para prajurit dilingkungan masing-masing. Aku adalah Lurah para prajurit Pajang yang bertugas di Kademangan ini. Aku adalah pemegang perintah, sementara kalian para pengawal harus melakukan perintahku.”

Para pengawal hanya dapat menundukkan kepala mereka. Sementara Ki Demang yang berbicara kemudianpun telah minta agar para pengawal menyadari kedudukannya.

“Suasana menjadi semakin panas. Kita tidak dapat bermalas-malas seperti masa-masa lewat. Kita harus sudah mulai bangun dari tidur yang nyenyak. Beberapa kali kita sudah mengalami peristiwa yang menyakitkan hati. Kita memang sudah mencoba berbuat sesuatu, tetapi kita gagal justru karena selama ini kita sedang tidur. Apa yang kita lakukan itu bagaikan terjadi dalam mimpi buruk saja. Sekarang, dengan bantuan para prajurit dari Pajang, kita akan berbuat lebih baik.”

Tidak ada yang menanyakan sesuatu. Sementara Ki Lurah berkata, “Besok kita akan bertemu lagi. Besok aku mengundang kalian dan mereka yang hari ini tidak datang. Kita akan mengatur tugas kita. Setiap hari, dan kelompok pengawal harus berada di rumah Ki Demang ini. Mereka akan melakukan tugas sebagaimana para prajurit. Kelompok itu akan dilakukan bergantian setiap waktu tertentu.”

Para pengawal itu hanya dapat saling berpandangan. Sementara Ki Lurah Dipayuda berkata, “Sementara itu yang lain bukan berarti tidak bertugas apa-apa. Yang lain harus selalu bersiap jika setiap saat harus melakukan tugas-tugas penting. Di padukuhan masing-masing para pengawal harus menjadi penggerak bagi anak-anak muda untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pertahanan. Mereka harus siap bertempur untuk mempertahankan kampung halamannya.”

Ki Lurah memang masih banyak menahan diri. Ia sadar, bahwa segala sesuatunya harus dilakukan dengan sabar. Memang agak berbeda dengan para pemimpin kelompok yang ingin segala sesuatunya berlangsung dengan cepat, tegas dan tidak usah berbelit-belit. Tetapi jika Ki Lurah juga bertindak demikian, maka akan benar-benar terjadi justru sebaliknya dari yang diharapkannya.

Demikianlah, dengan sabar namun tegas Ki Lurah berusaha membangun Kademangan itu menjadi satu kesatuan pertahanan sebelum ia merambah ke Kademangan yang lain. Namun Ki Demang menyadari, bahwa ia dapat menggerakkan para pengawal dan anak-anak muda untuk melakukan tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Tetapi rasa-rasanya pelaksanaannya masih belum memancar dari dalam hati mereka. Nampaknya seisi Kademangan itu belum memiliki kesadaran sepenuhnya apa yang sebenarnya mereka hadapi dalam pertentangan yang semakin tajam antara Mataram dan Pajang.

Tetapi dengan tidak jemu-jemunya Ki Lurah berusaha. Iapun selalu mengawani para pemimpin kelompok yang kadang-kadang menunjukkan sikapnya yang lebih keras dari Ki Lurah sendiri. Namun sikap yang keras itu kadang-kadang juga berarti, karena dengan sikap itu, maka para pengawal dan anak-anak muda Kademangan itu menjadi terdesak dan tidak berani menentangnya.

Dalam pada itu, sejak kehadiran prajurit Pajang di Kademangan itu, sama sekali tidak pernah nampak kelompok-kelompok kecil prajurit Mataram. Bahkan di Kademangan disekitar Kademangan Randukereppun prajurit Mataram tidak lagi pernah menjamahnya.

Tetapi hal itu bukan berarti bahwa Mataram tidak mengetahui perkembangan yang terjadi di Kademangan itu dan sekitarnya. Beberapa orang yang memang tinggal di Kademangan itu adalah para petugas sandi dari Mataram. Bahkan para petugas sandi yang lainpun sering memasuki Kademangan itu tanpa sepengetahuan prajurit Pajang dan para pengawal Kademangan yang mulai melakukan tugas-tugas keprajurit sesuai dengan perintah para prajurit Pajang.

Sementara itu, maka ketentuan yang dibebankan kepada para pengawal Kademangan itu mulai berjalan meskipun belum sepenuhnya. Dua kelompok yang bertugas di Kademangan itupun kadang-kadang tidak genap duapuluh.

Tetapi Ki Lurah Dipayuda masih berusaha untuk tetap bersabar. Dengan demikian maka Ki Lurah tidak menjadi hantu bagi para pengawal Tanah Perdikan, meskipun kadang-kadang sikapnya cukup keras.

Namun dalam pada itu, para pemimpin kelompoklah yang bersikap lebih keras dari Ki Dipayuda. Di padukuhan-padukuhan para pemimpin kelompok itu bertugas mengatur anak-anak muda untuk berhimpun dalam kelompok-kelompok agar lebih mudah untuk digerakkan. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang yang ditunjuk yang akan bertanggung jawab bagi kelompoknya.

Meskipun hal itu mula-mula sulit dilakukan, namun lambat laun serba sedikit dapat berjalan juga. Jika semula gardu itu hanya berisi di malam hari, maka para prajurit Pajang telah mengatur agar gardu itu tetap terisi disiang hari. Para kelompok dapat mengatur orang-orangnya sesuai dengan kebutuhan dan keperluan mereka masing-masing, sehingga paling sedikit disiang hari, masing-masing ada dua orang didalam gardu di dua mulut lorong induk disetiap padukuhan. Mereka harus mengawasi orang-orang yang keluar masuk padukuhan itu.

Kedatangan orang-orang Pajang benar-benar telah merubah tata kehidupan di Kademangan Randukerep. Meskipun Kademangan itu nampak lebih bersiaga menghadapi segala kemungkinan, tetapi kehidupan didalamnya justru menjadi gelisah. Orang-orang Kademangan itu mulai berbicara tentang perang. Tentang permusuhan antara Pajang dan Mataram dan tentang kemungkinan perang itu terjadi di Kademangan mereka.

“Kenapa para prajurit Pajang itu ribut tentang orang-orang Mataram?“ bertanya seseorang kepada kawannya, “Bukankah orang Mataram tidak berbuat apa-apa disini?”

Kawannya yang lebih memahami keadaan berkata, “Tetapi Mataram telah melanggar hak Pajang. Meskipun orang Mataram itu tidak berbuat apa-apa disini, tetapi bagi Pajang hal itu tidak dapat dibenarkan.”

Orang yang bertanya itu hanya mengangguk-angguk saja, karena iapun tidak banyak mengetahui tentang persoalan antara Pajang dan Mataram.

Dalam pada itu, Barata dan Kasadhapun telah menerima tugas sebagaimana para pemimpin kelompok yang lain. Dengan kelompok masing-masing, keduanya mendapat tugas untuk mengatur tiga buah padukuhan kecil yang letaknya berdekatan.

Kedua orang anak muda itu memang menemui kesulitan. Orang-orang yang tinggal di padukuhan itu tidak dengan cepat tanggap. Mereka memang menyatakan bahwa mereka bukannya prajurit yang dapat diatur sebagaimana para prajurit.

Betapapun bersabarnya Barata dan Kasadha, namun sekali-sekali mereka harus menunjukkan sikap yang keras. Bahkan terhadap anak-anak mudanya Barata dan Kasadha telah mengambil langkah-langkah khusus.

Keduanya telah memanggil semua anak-anak muda. Mereka diharuskan datang ke banjar salah satu dari ketiga padukuhan itu.

“Tidak ada alasan untuk tidak datang,“ berkata Kasadha.

“Bagaimana kalau sakit?“ bertanya seorang anak muda.

“Dalam keadaan perang, maka orang sakitpun harus berusaha menyelamatkan diri jika ia memang belum berputus-asa,“ jawab Kasadha.

Dengan sikap yang kadang-kadang keras itu, maka perlahan-lahan usaha merekapun mulai berhasil.

Sementara itu, Dirga yang bertugas di sebuah padukuhan sebelah mengalami kesulitan yang lebih berat lagi. Dirga sendiri kurang bijaksana menanggapi keadaan di padukuhannya. Sebuah padukuhan yang dapat lebih besar.

Namun dalam pada itu, ternyata Barata dan Kasadha telah menemukan tanda-tanda yang perlu mendapat perhatian khusus bagi para prajurit Pajang. Tetapi keduanya telah tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

“Dalam waktu sepekan, tiga orang telah mengadakan upacara adat apapun alasannya. Tedak siten, menyambut tujuh bulan dari kehamilan pertama dan pasah pangur. Upacaranya sendiri memang sederhana dan kecil-kecilan. Tetapi tamu yang datang bukan saja dari padukuhan ini,“ berkata Barata.

“Orang-orangku juga mengamati,“ jawab Kasadha, “dalam upacara-upacara itu, dua orang dari luar padukuhan ini selalu nampak hadir. Mungkin kita terlalu berprasangka buruk. Tetapi dalam keadaan seperti ini kita memang harus berhati-hati.”

“Malam nanti kelompokku mendapat tugas meronda. Tetapi aku akan memasang kelompokku di tengah-tengah bulak saja. Aku sendiri akan memasuki padukuhan itu,“ berkata Barata.

“Itu berbahaya,“ desis Kasadha, “Mungkin sesuatu memang tersembunyi dibalik peristiwa itu.”

“Tetapi agaknya itu lebih aman daripada kami sekelompok mendatangi padukuhan itu, karena dengan demikian mereka telah mempersiapkan diri untuk menghilangkan segala jejak. Tetapi aku harus dengan diam-diam memasuki padukuhan itu tanpa diketahui oleh siapapun. Oleh para pengawal dan anak-anak muda sekalipun.”

“Kau jangan sendiri,“ berkata Kasadha.

“Sebaiknya aku justru sendiri,“ jawab Barata, “aku tidak mengecilkan arti para prajuritan. Tetapi kemampuan mereka kurang meyakinkan untuk tugas ini.”

“Aku dapat membantumu,“ berkata Kasadha.

“Kau seorang pemimpin kelompok,“ berkata Barata, “kau bertanggung jawab kepada Ki Lurah atau kelompokmu. Jika kau pergi bersamaku, justru diluar waktu tugasmu, kau dapat dianggap melakukan kesalahan jika tiba-tiba kelompok harus berbuat sesuatu.”

“Bagaimana jika dengan sepengetahuan Ki Lurah?“ bertanya Kasadha.

“Aku belum melihat sesuatu yang pantas untuk dilaporkan. Aku baru menyelidikinya,“ berkata Barata.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Berhati-hatilah. Jika kau memasuki padukuhan itu sendiri, maka prajurit-prajuritmu harus bersiap. Kaupun harus mampu memberikan isyarat dengan cepat mengatasi keadaan jika memang menjadi sulit.”

Barata tersenyum. Katanya, “Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya.”

“Prajuritkupun akan bersiap. Setiap saat dapat hadir untuk membantumu,“ berkata Kasadha.

“Kelompokmu mendapat kesempatan beristirahat malam nanti,“ sahut Barata, “jangan bebani prajurit-prajuritmu dengan tugas yang terlalu berat.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Baiklah. Tetapi kita tidak dapat menganggap orang-orang padukuhan itu dungu sebagaimana kita lihat sehari-hari.”

Demikianlah, maka dalam satu kesempatan khusus Barata telah memberikan pesan-pesan terperinci kepada para prajuritnya. Malam nanti mereka akan bertugas meronda. Agaknya mereka mulai menjumpai persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih banyak.

Ketika malam turun, maka para prajurit yang dipimpin Barata sudah bersiap. Mereka bertugas untuk meronda malam itu. Mereka akan mengelilingi seluruh Kademangan, atau setidak-tidaknya pada bagian-bagian yang terpenting. Padukuhan-padukuhan yang besar sebagaimana biasa dilakukan oleh para prajurit dari kelompok yang lain.

Tetapi malam itu Barata membuat acara yang lain. Ia akan menempuh caranya sendiri untuk menyelidiki dugaan-dugaan yang selami ini menggelitik jantungnya.

Menjelang tengah malam, maka kelompok Baratapun telah melakukan perondaan sebagaimana biasa. Sepuluh ekor kuda yang dengan susah payah dikumpulkan oleh Ki Demang, ternyata adalah kuda-kuda yang sekedarnya saja dapat membantu mempercepat perjalanan. Sama sekali tidak seperti yang diharapkan oleh Ki Demang bahwa ia akan dapat mengumpulkan sekitar lima belas ekor kuda yang baik.

Malam itu sekelompok prajurit itupun telah meronda melewati jalan-jalan padukuhan. Disetiap gardu para prajurit sempat menyapa para pengawal dan anak-anak muda yang meronda.

Demikian juga ketika para peronda itu berderap dise-buah padukuhan kecil yang justru menarik perhatian Barata. Padukuhan kecil itu adalah padukuhan yang jarang sekali dilalui oleh para peronda karena padukuhan itu seakan-akan tidak memiliki hal-hal yang menarik. Memang ada dua tiga orang kaya di padukuhan itu. Tetapi selain orang-orang kaya, tidak ada lagi yang perlu mendapat pengawasan khusus.

Hanya ada empat orang digardu sebelah menyebelah. Ampat orang di regol yang terletak dimulut lorong yang satu, ampat orang yang berada di mulut lorong diseberang padukuhan itu. Rasa-rasanya padukuhan itu memang sepi. Sementara itu, obor-obor di regol-regol halamanpun banyak yang menyala.

Tetapi Barata justru memperlambat derap kaki kudanya yang memang tidak begitu cepat itu. Berbincang sejenak disetiap gardu. Kemudian meninggalkan gardu itu.

Tetapi Barata tidak beranjak jauh. Ketika mereka sudah berada di tengah-tengah bulak, maka pasukan itu berhenti. Seperti yang sudah direncanakan, maka Baratapun telah meninggalkan kelompoknya sambil berjalan kaki.

“Kalian menunggu aku disini,“ perintah Barata kepada prajurit-prajuritnya, “jika ayam jantan berkokok dan aku belum datang, kalian harus bergeser kembali ke padukuhan itu lagi. Tiga orang saja dengan berjalan kaki. Jangan melalui regol padukuhan. Amati keadaan. Kalian tahu apa yang kalian lakukan sebagaimana telah kita bicarakan siang tadi.”

Dengan menunjuk seorang prajurit yang dianggap terbaik dari antara kawan-kawannya untuk memimpin kelompok itu, maka Baratapun telah meninggalkan kelompoknya.

Dengan diam-diam Barata telah berada kembali di padukuhan itu. Malam itu memang tidak ada orang yang membuat upacara apapun. Tetapi menarik sekali, bahwa terdengar orang sedang melagukan tembang yang ngelangut, sebagaimana sering didengarnya di padukuhan induk. Tidak saja dihari-hari tertentu yang dianggap hari-hari yang baik atau pada malam-malam setelah kelahiran seorang bayi, tetapi rasa-rasanya kapan saja dikehendaki.

Dengan diam-diam Barata berusaha mendekati rumah yang nampaknya masih terang. Didalamnya seseorang sedang melagukan tembang dengan suara yang lepas menggelepar di sepinya malam.

Namun firasat anak muda yang sangat peka itu telah membuatnya semakin berhati-hati. Rasa-rasanya padukuhan kecil itu tidak sesepi yang nampak oleh matanya.

Dari satu halaman, Barata meloncati dinding ke halaman yang lain. Ia berusaha mendekati rumah itu tanpa melalui jalan padukuhan betapapun sepinya. Apalagi melewati gardu yang berisi anak-anak muda yang dengan segan berjaga-jaga.

Beberapa saat kemudian maka Barata telah berada di halaman rumah disebelah rumah yang menjadi sasarannya. Untuk beberapa saat ia menunggu. Namun kemudian ia telah meloncati dinding itu pula dan langsung mencari tempat menunggu yang terlindung dedaunan perdu di halaman samping.

Dengan saksama ia memperhatikan halaman itu. Ternyata halaman itu nampak sepi. Tidak terdengar suara lain kecuali suara tempat yang memancar dari dalam rumah itu.

Karena itu, maka Baratapun telah bergeser pula mendekati dinding rumah itu.

Suara tembang itu dari kejauhan terdengar lembut dan menyentuh perasaan. Ngelangut dan melontarkan getaran yang rasa-rasanya bagaikan memukau. Tetapi ketika Barata menjadi semakin dekat dengan dinding rumah itu, suara tembang itu terdengar terlalu keras. Agaknya orang yang melagukan tembang itu memang dengan sengaja berlagu dengan suara yang keras sekali.

Namun dengan demikian Barata menjadi semakin ingin tahu. Apakah sekedar kebiasaan atau ada maksud-maksud tertentu dengan suara yang seakan-akan melampui takaran orang melagukan tembang itu.

Ketika kemudian Barata melekatkan diri pada dinding rumah itu, maka ia telah mendengar suara yang lain. Suara orang-orang yang sedang berbincang.

Menurut pengamatan Barata, ternyata disamping orang yang melagukan tembang yang ngelangut di malam hari itu, ada beberapa orang lain yang sedang berbincang. Bahkan meskipun tidak terdengar jelas, tetapi agaknya orang-orang itu tengah berbincang tentang hal yang penting dan bersungguh-sungguh.

“Inikah isi padukuhan kecil ini?“ bertanya Barata di dalam hatinya.

Sementara itu ia menunggu orang yang membaca tembang itu sampai pada akhir bait. Ia akan berhenti sejenak sebelum memasuki bait berikutnya.

Ternyata usaha itu ada juga hasilnya. Sesaat, ketika orang itu berhenti berlagu, sementara menunggu jatuhnya irama untuk mulai dengan bait berikutnya, maka Barata mendengar salah seorang diantara orang yang ada di dalam rumah itu berkata, “Nampaknya para pemimpin prajurit Pajang di Kademangan ini cukup sabar. Karena itu, kitapun tidak tergesa-gesa.”

Tetapi Barata tidak mendengar kata-kata berikutnya dengan jelas, karena orang yang membaca kidung itu telah mulai lagi dengan bait berikutnya. Lontaran suaranya yang memang baik dan keras itu, dari kejauhan memang sangat mengasikkan. Tetapi dari jarak yang begitu dekat, Barata merasa suara itu bagaikan mengguncang selaput telinganya.

Namun orang-orang yang ada di dalam rumah itu dapat juga berbicara oleh suara tembang yang keras itu.

Tetapi Barata tidak tergesa-gesa. Ia masih mempunyai waktu sampai saatnya ayam jantan berkokok lewat tengah malam. Karena itu, maka ia justru duduk bersandar dinding meskipun tetap berhati-hati.

Ketika bait yang satu itu habis pula, maka Barata telah mendapat kesempatan sedikit lagi untuk mendengarkan percakapan mereka. Bahkan orang yang sedang membaca kidung itupun telah ikut pula berbicara beberapa kalimat.

Barata memang tertarik sekali. Karena itu, maka ia telah memperbaiki duduknya sehingga telinganya seakan-akan telah melekat dinding rumah itu.

Namun pembicaraan itu ternyata sudah selesai. Seorang diantara mereka berkata, “Sudahlah. Kita masih mempunyai kesempatan. Aku akan pulang.”

“Aku bersamamu. Aku akan tidur dirumahmu,” berkata seorang yang lain.

Barata mengerutkan keningnya. Ketika ia mendengar orang-orang yang ada didalam rumah itu mulai bergerak, maka iapun telah bergeser pula dan berlindung di balik pohon-pohon perdu.

Demikian terdengar gerit pinta, maka Baratapun berusaha untuk dapat mengamati mereka. Sementara itu suara tembang itupun telah beralun pula digelapnya malam.

Yang meninggalkan rumah itu memang agak mengejutkan Barata. Tidak hanya dua orang seperti diduganya. Tetapi ternyata ampat orang.

Dengan hati-hati Barata bergeser dalam kegelapan. Ia telah mendahului keluar dari halaman lewat dinding dihalaman samping. Kemudian berusaha mendahului keempat orang yang keluar dari dalam rumah itu dan meloncat keseberang jalan. Dari belakang dinding diseberang jalan itulah, Barata mengikuti keempat orang yang ternyata dengan berani menyusuri jalan tanpa ragu-ragu.

Nampaknya mereka tidak sedang melakukan tugas rahasia. Seakan-akan mereka baru pulang dari menghadiri keramaian atau orang yang sedang mempunyai keperluan.

“Mereka atau salah seorang dari mereka adalah orang-orang padukuhan ini,“ berkata Barata didalam hatinya.

Namun setangkas-tangkasnya Barata, ternyata satu kali kakinya telah terantuk pohon perdu yang agak tinggi sehingga terguncang. Daunnya yang mencuat lebih tinggi dari batas dinding halaman agaknya telah menarik perhatian orang-orang yang sedang lewat itu, karena ternyata diantara mereka juga memiliki penglihatan yang tajam sehingga dapat melihat gerakkan itu.

Tetapi orang-orang itu tidak segera berbuat sesuatu.

Mereka masih menunggu perkembangan keadaan. Karena itu mereka masih saja berjalan dengan tenang dijalan induk padukuhan.

“Mereka mengerti benar, bahwa anak-anak muda yang meronda hanya berada di gardu saja,“ berkata Barata didalam hatinya. Tetapi kemudian, “Atau mereka memang sudah mengenal para peronda sehingga mereka tidak akan dicurigai sama sekali.”

Dengan demikian Barata berusaha untuk mengikutinya lebih jauh. Ia yakin bahwa salah seorang setidak-tidaknya adalah orang padukuhan itu.

Tetapi Barata telah membuat kesalahan lagi. Diluar sadarnya tangannya telah berpegangan sebatang pohon yang juga lebih tinggi dari dinding halaman sehingga daunnya yang mencuat telah bergerak.

Orang-orang yang berada di jalan itu tidak menunggunya lagi. Dengan isyarat seorang diantaranya menyuruh kawan-kawannya untuk memasuki halaman itu dari sebelah menyebelah pohon yang bergerak itu, sementara seorang kawannya yang lain tetap berada di jalan, menunggu jika orang yang ada di balik dinding itu justru meloncat keluar.

Ternyata orang-orang itupun memiliki ketangkasan bergerak. Dengan cepat, tiga orang diantara mereka telah berloncatan memasuki halaman.

Barata memang agak terkejut. Tetapi ia menyadari bahwa ia harus cepat berbuat sesuatu.

Karena itu, maka Baratapun justru telah meloncat keluar halaman demikian orang-orang itu masuk. Namun ternyata di jalanpun masih ada seorang lagi. Karena itu, maka Barata telah dengan tergesa-gesa berlari secepatnya kearah yang lain.

Namun adalah diluar dugaannya. Seorang diantara mereka yang mengejarnya itu telah berteriak, “Pencuri, pencuri.”

Seluruh padukuhan itupun menjadi gempar. Orang-orang yang sudah tidur nyenyak telah terbangun. Para peronda yang ada di gardupun telah berloncatan turun ke jalan.

Namun mereka tidak sempat berbuat sesuatu ketika tiba-tiba saja Barata telah berlari cepat sekali disebelah mereka yang sedang termangu-mangu.

“Pencuri,“ teriakan itu masih terdengar. Beberapa orang memang berusaha mengejar. Terutama ampat orang yang keluar dari rumah orang yang sedang membaca tembang itu. Kemudian juga para peronda. Mereka telah ikut mengejar pula, sementara orang-orang lain yang baru keluar rumah mereka telah menyusul.

Tetapi Barata yang terlatih itu mampu berlari cepat. Karena itu, maka dengan cepat Barata telah berada di bulak.

Namun Baratapun segera mengetahui pula bahwa ampat orang yang mengejarnya di paling ujung itupun bukan orang kebanyakan. Ternyata mereka juga orang yang berilmu. Mereka mampu mengimbangi kecepatan berlari Barata.

Sebenarnya Barata dapat menghindari benturan kekerasan, karena ia yakin bahwa orang-orang itu tidak akan dapat mengejarnya. Tetapi hati anak muda itu telah tergelitik untuk mengetahui lebih banyak tentang orang-orang itu.

Karena itulah, maka Baratapun telah berusaha untuk bersembunyi dibalik pohon perdu. Melepas baju keprajuritannya dan memakainya dengan sengaja terbalik sehingga tidak nampak ciri-ciri keprajuritannya. Kemudian melepas ikat kepalanya dan menutupkannya di wajahnya. Ia memang mencemaskan kemungkinan bahwa seseorang akan dapat mengenalinya karena ia sering sekali berada di padukuhan itu. Barata masih belum ingin mendapat keterangan yang lebih mendalam serta rahasia-rahasia yang tidak akan dapat diperolehnya dalam pakaian keprajuritannya.

Setelah Barata merasa siap, maka iapun menunggu beberapa saat. Keempat orang yang merasa kehilangan buruannya itu masih saja berjalan hilir mudik.

“Ia tidak akan dapat pergi jauh dari tempat ini,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Mungkin ia merangkak di pematang, sehingga kita kehilangan penglihatan kita atas orang itu,“ desis yang lain.

“Ia berlari sampai disini. Lalu seakan-akan hilang. Ia tentu bersembunyi disekitar tempat ini,“ berkata yang lain lagi, “jika ia merangkak sekalipun, kita akan dapat melihat batang-batang padi itu berguncang. Meskipun malam hari, penglihatanku masih tetap baik.”

Kawan-kawannya terdiam. Sementara itu para perondapun telah sampai ketempat itu pula.

Barata memang berpikir sejenak tentang orang-orangnya yang justru ada dibulak disebelah lain dari padukuhan itu. Jika ia terlambat datang, maka mereka tentu akan mencarinya.

Tetapi Barata tidak dapat mencegah keinginannya untuk menjajagi kekuatan yang sebenarnya dari padukuhan kecil itu. Karena itu, maka iapun dengan sengaja telah mengguncang pohon perdu yang tumbuh di pinggir jalan itu agar orang-orang itu cepat menemukannya. Barata memang yakin bahwa orang-orang itu akhirnya akan menemukannya juga setelah mereka benar-benar mencarinya disemak-semak disekitar tempat itu. Tetapi tentu terlalu lama, sementara waktunya tidak banyak lagi.

Dengan demikian, maka hampir berbareng beberapa orang berteriak, “Ia ada disini.”

Sebelum orang-orang itu sempat mengepung, maka Barata telah meloncat dari balik semak-semak. Namun ia sudah tidak dapat dikenali lagi. Bajunya sudah terbalik dan wajahnya telah ditutupi dengan ikat kepalanya.

“Jangan biarkan orang itu lolos,“ geram salah seorang diantara mereka.

Tetapi Baratapun telah bersiaga sepenuhnya. Karena itu, maka ketika orang-orang itu mendekatinya dari beberapa arah, maka Barata mulai memancing serangan.

Dengan demikian, maka pertempuranpun segera telah terjadi. Sedikitnya delapan orang telah mengepung Barata, sehingga karena itu, maka Barata harus mempergunakan segenap ilmunya untuk melawan mereka.

Namun Barata tahu benar kelemahan dari orang-orang yang mengepungnya itu. Yang mula-mula dijatuhkannya adalah anak-anak muda yang tentu tidak memiliki kemampuan ilmu sebagaimana Barata yang sudah menempa diri di perguruannya.

Dalam waktu singkat, keempat orang peronda itu sudah merasa kesakitan sehingga mereka menjadi ragu-ragu untuk ikut melibatkan diri lebih jauh. Meskipun demikian, mereka masih juga berdiri termangu-mangu diseputar arena.

Yang kemudian bertempur adalah keempat orang yang semula berada di rumah orang yang sedang membaca tembang itu. Mereka ternyata memiliki kemampuan yang cukup, sehingga Baratalah yang kemudian mulai terdesak.

“Ternyata ia bukan pencuri kebanyakan,“ berkata salah seorang dari mereka yang berusaha menangkapnya.

“Jangan sampai lolos,“ desis yang lain.

Sebenarnyalah keempat orang itu telah berhasil mendesak Barata sehingga Barata benar-benar mengalami kesulitan. Namun Barata masih mengerahkan kemampuannya. Sebagai seorang yang telah dipersiapkan untuk menerima Ilmu tertinggi yang disebut Janget Kinatelon, maka Barata ternyata masih dapat mengejutkan keempat lawannya.

“Iblis manakah kau sebenarnya he?“ geram salah seorang diantara keempat orang itu.

Barata sama sekali tidak menjawab. Ia meningkatkan ilmunya sampai kepuncak untuk melindungi dirinya yang berada dalam kesulitan.

Tetapi Barata masih mempunyai satu cara untuk menyelematkan diri jika terpaksa. Lari.

Untuk beberapa saat Barata masih mencoba untuk bertempur. Tiga orang lawannya bagi Barata dianggap memiliki ilmu yang cukup. Tetapi seorang diantara mereka berempat itulah yang membuat Barata kadang-kadang menjadi sangat sulit. Meskipun Barata yakin, jika ia harus bertempur seorang melawan seorang dengan orang yang terbaik diantara keempat orang itu, ia tidak akan dapat dikalahkan.

Sementara itu Baratapun harus berlomba dengan waktu. Apalagi disaat-saat terakhir, Barata memang nampaknya menjadi semakin terdesak. Bahkan untuk lolospun rasa-rasanya menjadi semakin sulit.

Namun dalam kesulitan itu, tiba-tiba seorang yang berpakaian serba hitam telah meloncat dari dalam kegelapan dibalik gerumbiil-gerumbul dipinggir jalan. Dengan serta merta orang itu telah melibatkan diri kedalam pertempuran, justru berada dipihak Barata.

Keempat orang itu terkejut. Orang yang berkain hitam, berbaju hitam dan bertutup wajah hitam itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi pula. Dengan tangkasnya orang itu telah berloncatan diantara lawan-lawan Barata, sehingga dengan demikian maka keseimbangan dari pertempuran itupun segera berubah.

Berdua maka Barata dapat menahan keempat lawan-lawannya, sementara keempat orang peronda yang menyaksikan pertempuran itu bagaikan membeku.

Namun dalam pada itu, Barata mulai terdesak oleh waktu. Sementara itu orang yang datang itu sempat berbisik, “Kita akan segera menundukkan mereka.”

Barata segera mengetahui bahwa orang yang datang itu adalah Kasadha. Bukan saja dari unsur-unsur geraknya, tetapi juga suaranya ketika ia berbisik ditelinganya.

Namun pada kesempatan lain Barata berkata perlahan, “Aku ditunggu oleh anak buahku.”

“Aku melihat mereka,“ jawab Kasadha.

“Kita tinggalkan saja orang-orang ini,“ desis Barata kemudian.

Kasadha belum sempat menjawab. Tetapi ia harus menghindari serangan seorang lawannya. Baru kemudian ia dapat mendekati Barata sambil bertanya, “Kenapa kita tinggalkan mereka?”

“Apa artinya jika kita mengalahkan mereka? Bukankah kita akan pergi juga tanpa memperkenalkan diri? Sementara itu, waktu yang aku berikan kepada orang-orangku hampir habis,“ berkata Barata.

Kasadha mengerti keberatan Barata. Karena itu, maka iapun telah berniat untuk meninggalkan mereka.

Tetapi nampaknya Kasadha ingin meninggalkan kesan, bahwa mereka berdua tidak kalah dari keempat orang itu. Karena itu maka iapun telah mengerahkan kemampuannya. Demikian juga Barata yang juga mengerti maksud Kasadha.

Baru ketika keempat orang itu semakin terdesak dan hampir kehilangan kesempatan, maka Barata telah memberikan isyarat kepada Kasadha.

Pada saat itulah, maka beberapa orang padukuhan telah datang sambil membawa beberapa buah obor. Suaranya riuh sekali. Bahkan beberapa orang masih saja berteriak-teriak, “Tangkap pencurinya. Tangkap.”

Tetapi Barata dan Kasadha tidak lagi menghiraukannya. Merekapun telah meloncat meninggalkan arena.

Keempat orang itu ragu-ragu untuk mengejar mereka. Mereka menduga bahwa kedua orang itu telah memancingnya semakin jauh dari padukuhan. Kemudian mereka mungkin sekali akan dapat jatuh kedalam jebakan.

Karena itu, maka niat mereka itupun diurungkan. Mereka berempat sama sekali tidak mengejarnya. Dua diantara mereka memang sudah melangkah untuk berlari menyusul kedua orang yang lari itu. Tetapi kawannya telah mencegahnya.

“Kita berempat tidak akan dapat mengalahkan mereka,“ berkata orang yang terkuat diantara keempat orang itu.

Yang lain mengangguk-angguk. Merekapun menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa seandainya mereka dapat mengejar kedua orang itu.

Namun dalam pada itu, seorang diantara keempat orang itu bertanya, “Siapakah mereka?”

“Satu teka-teki yang sulit untuk dijawab. Mungkin orang-orang Pajang dalam tugas sandi,“ berkata yang lain.

“Tetapi pasukan Pajang sudah ada disini,“ sahut orang yang lain.

Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Sementara itu orang-orang padukuhan yang membawa beberapa obor telah datang. Seorang diantara mereka bertanya, “Dimana pencuri itu?”

“Kami tidak berhasil menangkap?“ jawab salah seorang anak muda yang meronda.

“Kenapa kalian tidak berhasil? Bukankah yang kalian tangkap hanya seorang?,“ desak orang itu.

“Ternyata ada dua orang,” jawab peronda itu.

Orang yang kecewa itu tiba-tiba saja telah merebut kentongan kecil ditangan seorang kawannya yang sejak tadi masih belum dipukul, karena mereka mengira bahwa pencuri itu tentu akan tertangkap sehingga tidak perlu membangunkan dan membuat padukuhan lain gelisah.

Tetapi pada saat mereka menyadari, bahwa pencuri itu tidak tertangkap, maka mereka merasa perlu untuk segera membunyikan isyarat juga bagi padukuhan yang lain.

Sejenak kemudian maka telah terdengar suara kentongan dengan irama dua kali berturut-turut berkepanjangan tanpa batas. Ternyata sejenak kemudian, suara itu sudah disahut oleh suara kentongan yang ada di padukuhan. Bukan hanya satu padukuhan. Nampaknya para peronda di gardu-gardu telah mendengarnya dan kemudian menyambutnya.

Dalam pada itu, Barata dan Kasadha telah menjadi semakin jauh dan hilang dalam kegelapan. Namun beberapa saat kemudian merekapun mendengar suara kentongan yang sahut-menyahut.

Namun dalam pada itu, beberapa saat kemudian, sekelompok prajurit Pajang yang berkuda telah memasuki padukuhan yang pertama kali memberikan isyarat kentongan dipimpin oleh Barata. Dengan cepat kelompok itu mendapat laporan dari orang-orang yang tidak ikut mengejar orang yang disebut pencuri itu, bahwa pencuri itu telah berlari meninggalkan padukuhan kearah yang berlawanan dengan arah datangnya prajurit Pajang itu.

Sejenak kemudian, kuda-kuda itu telah berderap menuju ketempat yang ditunjuk oleh orang-orang padukuhan itu. Namun betapapun mereka tergesa-gesa, tetapi kuda mereka tidak dapat berpacu cepat.

Tetapi akhirnya Barata dan prajuritnya telah berada diantara orang-orang yang sibuk karena buruan mereka telah hilang.

“Mereka lari kemana?“ bertanya Barata.

“Mereka berlari disepanjang pematang memasuki kegelapan,“ jawab salah seorang pengawal yang sedang meronda di gardu.

Baratapun telah memecah prajuritnya menjadi tiga kelompok. Mereka harus berusaha memburu pencuri-pencuri itu sambil berpencar.

Dengan sigap para prajurit itu telah berpacu untuk mencari pencuri yang hilang di kegelapan malam itu.

Seperti perintah pimpinan kelompok mereka, maka para prajurit itu sudah berpencar dan masing-masing mencari jalan mereka sendiri-sendiri.

Dalam pada itu, Barata telah menemui orang-orang padukuhan itu, terutama mereka yang sedang meronda. Namun seorang pengawal yang sedang meronda itu berkata, “Mereka berempatlah yang mula-mula melihat pencuri itu.”

Barata yang telah membalik bajunya lagi sehingga nampak ciri-ciri keprajuritannya itu sempat berbincang dengan keempat orang yang disebut oleh para peronda itu. Dari percakapan itu Barata mengetahui, bahwa seorang diantara mereka adalah orang padukuhan itu. Sedangkan orang yang ilmunya tertinggi diantara mereka adalah justru bukan orang dari padukuhan itu.

“Terima kasih atas bantuan kalian,“ berkata Barata. Lalu katanya pula, “mudah-mudahan pencuri itu tertangkap. Dalam suasana seperti ini, nampaknya mereka ingin memanfaatkan keadaan. Agaknya orang itu benar-benar tidak berperasaan.”

Beberapa saat mereka masih menunggu. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa pencuri itu masih berada disekitar tempat itu. Karena itu, maka orang-orang padukuhan itu, termasuk para peronda dan keempat orang yang mampu mendesak pencuri itu telah berjalan beriringan kembali ke padukuhan. Mereka merasa sangat kecewa bahwa mereka tidak mampu menangkap pencuri itu. Bahkan ternyata telah datang pula beberapa orang dari padukuhan tetangga. Merekapun merasa kecewa pula, karena pencuri itu tidak tertangkap.

“Lain kali mereka akan menyentuh padukuhan kami,“ berkata orang padukuhan sebelah.

“Berhati-hatilah,“ sahut orang dari padukuhan yang merasa kehilangan pencuri itu, “kalian harus berjaga-jaga dengan sebaik-baiknya. Terutama justru menghadapi pencuri-pencuri itu.”

Barata hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang-orang padukuhan itu perhatiannya lebih banyak tertarik kepada pencuri-pencuri daripada kemungkinan hadirnya orang-orang dari Mataram.

Namun Barata hampir mendapat kepastian, bahwa keempat orang itu telah bekerja untuk kepentingan Mataram. Sudah barang tentu juga orang yang sering membaca kidung itu. Suaranya yang keras itu disengaja untuk membuat agar pembicaraan dirumahnya menjadi kabur dan tidak mudah didengar oleh orang lain.

Sejenak kemudian, maka orang-orang padukuhan itu, termasuk keempat orang yang berilmu cukup itu serta Barata telah berada di banjar padukuhan. Mereka masih sibuk berbicara tentang pencuri yang berhasil lepas dari tangan mereka itu.

Dalam kesibukan itu Barata melihat, beberapa orang pengawal yang tinggal di padukuhan itu telah berada di banjar pula. Demikian pula anak-anak muda dan bahkan hampir semua orang laki-laki.

Tetapi Barata tidak yakin, apakah mereka juga akan berkumpul seperti itu jika mereka dihadapkan kepada prajurit Mataram.

Beberapa saat kemudian, para prajurit yang mengejar pencuri itu dengan berkuda, telah datang pula. Mereka tidak berhasil menemukan jejaknya. Bahkan mereka telah sampai ke padukuhan sebelah yang nampaknya juga sudah bersiaga karena suara kentongan itu.

“Memang sulit,“ berkata orang yang berilmu paling tinggi diantara keempat orang yang telah bertempur dengan orang yang disebutnya pencuri itu, “dengan berkuda, maka para prajurit itu tidak akan dapat menemukan pencurinya.”

“Kenapa?,“ Barata pura-pura bertanya.

“Pencuri itu tentu tidak akan berlari melalui jalan bulak. Mereka tentu akan meniti pematang dan jalan-jalan setapak yang jarang dilalui orang,“ jawab orang itu.

Barata mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Agaknya memang begitu.”

Orang itu agaknya telah bersungut-sungut. Ketika Barata kemudian beringsut, orang itu berbisik kepada kawan-kawannya yang ketiga orang itu, “Pajang memang bodoh. Anak semuda itu telah dipasang menjadi seorang pemimpin kelompok. Ternyata pengalamannya masih sedikit sekali. Bahkan nampaknya anak ini tidak tahu apa-apa. Mengejar pencuripun nampaknya ia tidak mampu. Apalagi pencuri yang satu ini, tentu bukan pencuri biasa.”

“Memang mungkin, ia seorang petugas sandi Pajang,“ berkata seorang kawannya.

“Jika kerja sama mereka dengan para prajurit itu tidak baik, maka akan dapat terjadi benturan. Pemimpin kelompok yang muda ini memang dapat bergerak cepat. Dalam waktu singkat mereka telah berada di padukuhan ini demikian kita membunyikan isyarat. Tetapi ini adalah hasil latihan mereka di barak-barak keprajuritan yang cepat dapat dikuasai. Namun entahlah tentang olah kanuragan. Seandainya tiga orang prajurit berkuda itu bertemu dengan dua orang pencuri itu, maka tiga orang prajurit itu akan dapat menjadi mayat, seandainya pencuri itu bukan petugas sandi Pajang sendiri,“ berkata orang yang berilmu tertinggi diantara mereka berempat.

Beberapa saat kemudian Barata telah mengumpulkan prajurit-prajuritnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku menyesal sekali bahwa kami telah datang terlambat, sehingga kami tidak dapat membantu kalian. Kami berjanji bahwa lain kali kami akan berusaha berbuat lebih baik. Tetapi ini juga merupakan satu cambuk bagi pedukuhan ini untuk lebih bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Sekarang kita baru berhadapan dengan dua orang pencuri. Lain kali kita mungkin berhadapan dengan prajurit Mataram yang tidak hanya satu atau dua. Tetapi mungkin ampat atau lebih.”

Keempat orang yang berilmu tinggi itu merasa berdebar-debar. Bahwa Barata menyebutkan angka ampat itu telah membuat mereka melihat kedalam lingkungan mereka. Bahkan ada diantara mereka yang bertanya kepada diri sendiri, “Apakah pemimpin kelompok yang muda ini sudah mengetahui kehadiran kami? Nampaknya ia adalah anak muda yang sangat cerdas, meskipun barangkali pengalamannya masih terlalu sedikit.”

Tetapi yang lain telah menghibur diri sendiri, “Satu angka kebetulan saja disebut. Ampat atau lebih. Tentu tidak ada hubungannya dengan jumlah kami yang ampat sekarang ini.”

Sementara itu Baratapun melanjutkan kata-katanya, “Sekarang kami akan melanjutkan tugas kami. Jika kami bertemu dengan orang yang kami curigai, maka orang itu akan kami bawa kemari untuk dicoba dikenali. Beberapa saat sebelum terjadi keributan di padukuhan ini, kami sekelompok ini telah lewat jalan induk ini pula. Kami memang tidak berhenti di banjar, tetapi kami berbicara dengan para peronda. Mudah-mudahan padukuhan ini akan menjadi tenang untuk selanjutnya.”

Sejenak kemudian, maka sekelompok prajurit yang dipimpin oleh Barata itupun telah meninggalkan banjar. Demikian mereka keluar dari padukuhan, maka Baratapun telah berkata kepada orang-orangnya, “Kita ternyata harus berhati-hati menghadapi padukuhan kecil ini.”

Ketika mereka selesai dengan tugas mereka dan kembali ke tempat mereka, maka setelah menyerahkan kuda-kuda mereka kepada yang bertugas untuk dibersihkan dan dirawat dengan baik, sebelum dipergunakan lagi dihari berikutnya, Barata langsung mengumpulkan prajurit-prajuritnya. Meskipun masih ada yang dirahasiakan, tetapi Barata telah memberikan peringatan kepada prajurit-prajuritnya, bahwa di padukuhan itu terdapat beberapa orang yang berilmu cukup tinggi.

“Kita harus berhati-hati menghadapi mereka,“ berkata Barata.

Prajurit-prajuritnya yang telah mendapat gambaran itu memang menjadi lebih berhati-hati menghadapi padukuhan yang menjadi medan pembinaan mereka bersama kelompok yang dipimpin oleh Kasadha.

Sementara itu, ketika anak buahnya sedang beristirahat setelah mendapat tugas di malam hari, maka Barata telah menemui Kasadha.

Dengan nada rendah ia berkata, “Aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu.”

“Pertolongan apa?“ bertanya Kasadha.

“Semalam. Jika kau tidak datang, mungkin aku tidak lagi dapat melihat matahari terbit,“ berkata Barata.

“Begitu mudahnya kau mati?“ Kasadha justru tertawa, “tentu tidak. Kau masih mempunyai banyak kesempatan.”

“Saat itu aku benar-benar terjepit. Untuk lolospun, rasa-rasanya sangat sulit bagiku,“ berkata Barata, “seorang diantara mereka mempunyai ilmu yang cukup tinggi.”

“Ya. Tetapi bagaimanapun juga, tanpa aku, kau akan dapat mengatasinya. Sementara itu, aku memang merasa cemas, bahwa kau telah pergi sendiri ke padukuhan itu. Agaknya di padukuhan itu perhatian kita sama-sama tertuju kepada orang yang membaca kidung dengan suara yang sangat keras itu,“ berkata Kasadha.

“Kau juga ada di sana?“ bertanya Barata.

“Tetapi aku tidak sempat memasuki halamannya. Aku yakin kau ada didalam. Karena itu, aku mengawasi saja dari luar. Akhirnya, beberapa orang telah keluar juga sementara kau berusaha untuk mengikuti mereka,“ berkata Kasadha.

“Jadi kau tidak mendengar pembicaraan dirumah itu?“ bertanya Barata.

“Tentu tidak,“ jawab Kasadha.

Dengan singkat Barata menceriterakan apa yang telah didengarnya. Sehingga dengan demikian maka mereka berdua yakin, bahwa orang-orang itu adalah orang-orang Mataram. Setidak-tidaknya orang-orang yang telah dipengaruhi dan bahkan bekerja untuk Mataram.

“Apakah kita akan melaporkan kepada Ki Lurah?“ bertanya Kasadha.

“Kita tunggu saja perkembangannya,“ berkata Barata, “jika keadaan benar-benar tidak teratasi, kita akan melaporkannya. Tetapi bagaimana jika kita mencoba untuk mengatasinya?”

“Mereka tentu sadar bahwa ada sesuatu yang harus mereka perhatikan. Mereka tentu akan menjadi semakin berhati-hati,“ berkata Kasadha.

“Ya. Sebagaimana kita berhati-hati,“ jawab Barata.

Namun akhirnya Kasadhapun setuju, bahwa hal itu tidak akan cepat-cepat dilaporkan kepada Ki Lurah. Baratapun telah memerintahkan kepada para prajuritnya, bahwa persoalan di padukuhan itu adalah rahasia seorang prajurit yang ditekankan untuk disimpan sebaik-baiknya sesuai dengan sumpah mereka selagi mereka diwisuda menjadi prajurit.”

“Tidak boleh ada orang lain yang mendengarnya,“ perintah Barata tegas.

Kasadhapun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Untuk selanjutnya kita akan dapat selalu berhubungan untuk memperbincangkan persoalan yang mungkin mendesak. Tetapi apakah menurut pertimbanganmu aku boleh memberitahukan hal ini kepada orang-orangku?”

“Aku tidak berkeberatan,“ berkata Barata.

“Mereka akan berhati-hati,“ desis Kasadha kemudian.

Dengan sedikit mengetahui isi padukuhan itu, maka Barata dan Kasadha dapat menjadi lebih berhati-hati. Mereka sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka mengetahui serba sedikit rahasia yang tersimpan di padukuhan itu. Apa yang mereka lakukan sama sekali tidak mengalami perubahan. Barata dan Kasadha masih saja mengatur kesiagaan di ketiga padukuhan kecil yang letaknya berdekatan itu.

Untuk meningkatkan kewaspadaan, maka Kasadha dan Barata telah merencanakan untuk mengadakan latihan-latihan bagi para pengawal terutama dari ketiga padukuhan itu ditambah dengan beberapa orang anak muda yang dianggap memiliki kemampuan dan kemungkinan jasmani yang memadai.

Ternyata usaha Barata dan Kasadha sedikit demi sedikit mulai nampak hasilnya. Ikatan-ikatan paugeran mulai ditaati serta peraturan-peraturanpun mulai berlaku.

Namun keadaan itu tidak luput dari perhatian orang-orang yang oleh Mataram memang ditempatkan di padukuhan-padukuhan itu untuk mengamati bukan hanya padukuhan itu, tetapi seluruh Kademangan Randukerep.

“Kita tidak boleh gagal,“ berkata salah seorang petugas dari Mataram, “Kademangan ini tidak boleh tunduk taat sepenuhnya kepada Pajang. Kita harus menjadikan padukuhan ini ajang pertentangan, seperti beberapa Kademangan yang telah direncanakan. Pada saatnya Kademangan ini akan berpihak sepenuhnya kepada Mataram.”

“Tetapi kita harus berhati-hati. Nampaknya Ki Lurah Dipayuda cukup bijaksana. Para pemimpin kelompoknya termasuk prajurit-prajurit yang berpandangan terang. Bahkan yang muda-mudapun nampak cerdas dan cekatan,“ sahut yang lain.

Ternyata orang-orang yang bekerja untuk Mataram itu sepakat. Tetapi seperti yang mereka perhitungkan, mereka harus bekerja dengan baik, teliti dan tidak tergesa-gesa. Namun bukan berarti lamban.

***

Jilid 24

 

NAMUN dalam pada itu, tiba-tiba saja tidak lagi terdengar orang membaca kidung di malam hari. Biasanya suara kidung itu terdengar sampai ke barak sementara para prajurit Pajang. Tetapi beberapa hari kemudian rasa-rasanya malam terlalu sepi.

Hal itu tidak luput dari perhatian Barata dan Kasadha. Dengan ragu-ragu Barata berkata, “Nampaknya mereka memang curiga atas peristiwa yang terjadi malam itu, ketika aku hampir saja tertangkap oleh orang-orang padukuhan itu, yang sudah barang tentu terdapat prajurit sandi dari Mataram.”

“Ya, dan mereka menghentikan kegiatan mereka dengan cara itu. Mereka tidak lagi melakukan hubungan sandi dengan kidung-kidung yang menyentuh perasaan di malam hari. Bukan saja di padukuhan itu. Tetapi nampaknya di seluruh Kademangan ini,“ sahut Kasadha.

“Kita harus mengetahui, siapa yang sering membawa kidung di padukuhan induk ini,“ desis Barata.

Tetapi Barata dan Kasadha memang sangat berhati-hati. Mereka tidak dengan serta merta bertanya tentang orang yang membaca kidung itu. Tetapi ketika ia sempat berada di gardu diantara para pengawal, Barata sempat memancing pembicaraan tentang malam yang sepi.

Tiba-tiba saja Barata berkata seakan-akan diluar sadarnya, “Kenapa tidak terdengar orang membaca Kidung?”

Dengan serta merta pula salah seorang diantara para pengawal menjawab, “Orang yang sering membaca kidung itu sedang pergi mengunjungi sanak kadangnya di Pajang.”

Barata seakan-akan tidak banyak tertarik pada keterangan itu selain mengangguk-angguk. Dan bahkan ia berkata, “Apakah diantara kalian tidak ada yang pandai membaca kidung? Sebaiknya kalian mencoba untuk mengisi heningnya malam agar tidak terasa terlalu sepi.”

Tetapi para pengawal itu hanya dapat tertawa saja sambil saling memandang. Bahkan seorang telah menunjuk yang lain, sementara yang ditunjuk mengelak dan menunjuk orang lain lagi.

Barata dan Kasadha tertawa. Tetapi mereka kemudian telah meninggalkan gardu itu.

“Sudah semakin jelas,“ berkata Kasadha.

“Aku menyesal, bahwa kehadiranku malam itu ternyata diketahui oleh mereka meskipun mereka menyebutku pencuri. Tetapi panggraita merekapun sangat tajam, sehingga seakan-akan mereka mendapat satu keyakinan bahwa cara yang mereka tempuh telah kita ketahui,“ desis Barata.

“Besok kita akan menelusuri kepergian orang yang sering membaca kidung itu. Mungkin keluarganya,“ berkata Kasadha.

“Tetapi kita dapat dengan terang-terangan datang kerumahnya,“ jawab Barata.

“Tentu tidak,“ desis Kasadha, “kita memang tidak perlu datang kerumahnya.”

Sebenarnyalah, dari seorang pesuruh di rumah Ki Demang, Barata dan Kasadha mengetahui, bahwa orang yang sering membaca kidung di padukuhan induk itu bukan penghuni padukuhan itu.

“Ia datang belum terlalu lama. Menurut keterangannya, ia tertarik tinggal di padukuhan ini karena leluhurnya berasal dari padukuhan ini. Nampaknya ia memang orang berada. Ia telah membeli sepotong pekarangan dan memagarinya sekaligus. Mendirikan sebuah rumah kecil tetapi cantik, Dan tinggal di rumah itu seorang diri. Hanya dengan seorang pembatu. Anak-anak muda sering berdatangan kerumahnya, belajar tembang dan berbincang-bincang. Kadang-kadang sampai jauh malam,“ jawab pesuruh itu. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Nampaknya Ki Sanak tertarik kepada kehidupan orang itu?”

“Bukan kehidupannya,“ jawab Barata, “tetapi selama ia tidak ada, maka malam rasa-rasanya menjadi sepi.”

“Ya. Anak-anak muda digardupun merasa sepi,“ jawab pesuruh itu.

“Kapan ia kembali?“ bertanya Kasadha.

“Tidak tahu. Seorang pembantunyapun agaknya juga tidak tahu. Beberapa orang telah bertanya kepadanya, tetapi ia tidak tahu,“ jawab pesuruh itu.

“Jadi rumah seisinya itu ditinggalkannya kepada pembantunya itu?“ bertanya Barata.

“Ya. Orang itu terlalu percaya kepada pembantunya. Tetapi pembantunya memang orang yang sebenarnya dapat dipercaya,“ jawab pesuruh itu.

Barata dan Kasadha tidak bertanya terlalu banyak tentang orang itu. Tetapi ketika mereka duduk berdua, maka mereka telah mengambil satu kesimpulan bahwa orang itu memang dikirim oleh Mataram untuk berada di padukuhan itu. Bukan saja sekedar mengamati Kademangan, tetapi telah melakukan langkah-langkah untuk mempengaruhi sikap penghuninya dalam kemelut antara Pajang dan Mataram.

Namun demikian, maka mereka berniat untuk memulai penelusuran mereka dari pembantu rumah orang itu. Tetapi keduanya harus berhati-hati. Sementara itu keduanya masih juga belum memberikan laporan kepada pimpinan mereka, karena mereka belum dapat meyakinkan dan melengkapi keterangan-keterangan mereka.

Melalui beberapa kesempatan yang mereka dapatkan, maka Barata dan Kasadha akhirnya mendapat keterangan, bahwa pembantunya tidak mendapat pesan apapun dari orang yang sering membaca kidung itu. Ia pergi begitu tanpa mengatakan pergi kemana dan untuk berapa hari.

Barata dan Kasadha merasa gagal untuk mendapat keterangan lebih lanjut. Tetapi merekapun telah yakin bahwa orang itu termasuk petugas sandi dari Mataram.

Ternyata dalam penyelidikan mereka lebih jauh ada empat padukuhan yang mempunyai seorang yang sering membaca kidung di malam hari. Namun keempat orang itu telah tidak ada di rumah mereka masing-masing, karena keempat orang itu adalah pendatang sebagaimana yang ada di padukuhan induk.

Namun Barata dan Kasadha yakin, bahwa petugas-petugas sandi seperti itu masih banyak terdapat di seluruh Kademangan. Namun sulit bagi mereka untuk mengetahuinya.

Yang dapat dilakukan oleh Barata dari Kasadha adalah mengetahui siapa saja orang-orang Kademangan itu yang termasuk orang baru. Bersama beberapa orang prajurit yang dapat dipercaya dan memiliki kecerdasan yang tinggi, maka keduanya berusaha untuk mengamati orang-orang yang termasuk orang baru apapun alasan mereka tinggal di Kademangan itu.

Namun dalam pada itu, rencana Barata dan Kasadha berjalan semakin mapan. Latihan-latihan yang mereka adakan sesuai dengan tugas keprajuritan mereka, mulai menarik perhatian anak-anak muda. Bukan saja para pengawal dari padukuhan itu sebagaimana telah ditetapkan.

Tetapi Barata dan Kasadha terkejut, bahwa di padukuhan yang menjadi tanggung jawab mereka telah timbul sekelompok orang yang sering membuat kalangan sabung ayam. Agaknya kalangan sabung ayam itu semakin lama menjadi semakin menarik. Bahkan kemudian anak-anak mudapun telah mulai tertarik pada sabung ayam itu.

Untuk beberapa lama Barata dan Kasadha tidak mengambil langkah-langkah. Mereka memang menghubungi Ki Bekel dari padukuhan kecil itu. Tetapi menurut Ki Bekel, tidak ada paugeran yang melarang sabung ayam.

“Di Pajang justru dirumah para bangsawan telah dilakukan sabung ayam. Bahkan dengan taruhan yang sangat besar,“ berkata Ki Bekel.

Barata dan Kasadha tidak dapat membantah. Sabung ayam, sabung gemak, bahkan sabung cengkerikpun telah dilakukan dengan taruhan yang tinggi disamping akibat-akibat sampingan yang buruk lainnya.

Kasadha tahu akibat buruk yang dapat terjadi, karena ia telah sering mengunjungi tempat perjudian yang termasuk besar, Song Lawa, yang telah dihancurkan oleh para prajurit Pajang. Tetapi ternyata bahwa perjudian dalam kelompok-kelompok kecil justru telah tumbuh ditempat yang dianggap rawan itu.

Barata dan Kasadha ternyata langsung dapat melihat akibat dari perjudian yang ada di padukuhan-padukuhan itu. Disiang hari mereka menyabung ayam. Sementara di malam hari, perjudian rasa-rasanya seperti memang dikembangkan.

Dengan demikian maka ketentuan yang telah ditegakkannya mulai goyah lagi. Di malam hari, gardu-gardu mulai menjadi sepi, karena anak-anak muda lebih senang berada di tempat-tempat judi. Bukan saja mereka yang berjudi, tetapi yang lainpun agaknya lebih senang berada di tempat itu daripada digardu-gardu. Ditempat-tempat perjudian, mereka mendapatkan minuman hangat serta beberapa potong makanan. Tetapi di gardu mereka harus menjerang air sendiri jika mereka mau minum minuman yang hangat menjelang dini hari.

Bahkan latihan-latihanpun nampaknya menjadi sangat mundur. Anak-anak muda, bahkan para pengawal rasa-rasanya tidak bertenaga lagi, karena mereka lebih banyak berada di tempat perjudian bahkan semalam suntuk. Dan hal seperti itu berlangsung bermalam-malam.

Barata dan Kasadha yang tidak dapat menembus kekuasaan Ki Bekel memang telah terpaksa melaporkannya kepada pimpinannya. Ki Lurah Dipayuda. Namun keduanya sama sekali belum menyinggung kecurigaan mereka, bahwa yang terjadi itu termasuk usaha yang dilakukan oleh orang-orang Mataram untuk melemahkan ketahanan di Kademangan itu.

“Apakah Ki Demang mempunyai wewenang untuk melarangnya?“ bertanya Barata kepada Ki Lurah Dipayuda.

“Aku akan berhubungan dengan Ki Demang,” jawab Ki Lurah.

“Akibatnya terasa sekali,“ berkata Kasadha pula, “sebelumnya anak-anak muda dan terlebih-lebih para pengawal, sudah menjadi semakin menyadari keadaan Kademangan ini dalam hubungannya dengan kemelut antara Pajang dan Mataram. Tetapi pada saat-saat terakhir, perhatian mereka justru telah terampas oleh sabung ayam dan judi.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan melihat keadaan padukuhan-padukuhan itu. Aku belum menerima laporan dari padukuhan yang lain.”

“Mungkin yang mereka lakukan di padukuhan yang kebetulan menjadi daerah tugas kami itu mereka lakukan dengan perhitungan-perhitungan tertentu,“ berkata Barata.

“Baiklah. Persoalan ini aku anggap penting, justru dalam masa yang semakin gawat ini,“ berkata Ki Lurah Dipayuda, “karena itu, maka kalian harus tetap mengawasi. Tetapi jangan melanggar hak dari Ki Bekel yang tentu mendapat keuntungan pula dari perjudian itu. Jika kita memaksakan kehendak kita, sehingga Ki Bekel tersinggung, maka dengan demikian kita sudah membuat jarak yang akan dapat merugikan kita sendiri.”

Barata dan Kasadha mengangguk-angguk. Hampir saja terloncat dari mulut mereka tentang kemungkinan bahwa orang-orang Mataram telah dengan sengaja mengguncang tata kehidupan Kademangan itu. Tetapi ternyata mereka masih berusaha menahan diri.

Namun belum lagi diambil langkah-langkah tertentu, maka telah datang laporan dari padukuhan yang lain, bahwa telah timbul satu kebiasaan yang sebelumnya tidak dijumpai oleh para prajurit. Seorang pemimpin kelompok telah melaporkan kepada Ki Lurah, bahwa kegiatannya dengan anak-anak muda serta para pengawal telah terganggu oleh kedatangan serombongan tari janggrung yang telah merampas perhatian sebagian laki-laki termasuk anak-anak muda di padukuhan itu.

Dengan laporan itu, maka Ki Lurahpun segera telah memanggil semua pemimpin kelompok dalam pasukannya. Mereka mulai membahas perkembangan keadaan yang timbul pada saat-saat terakhir.

“Kita harus mengikuti setiap perkiembangan dengan saksama,“ berkata Ki Lurah, “aku belum dapat mengatakan, apakah hal itu ada hubungannya dengan tingkah laku petugas sandi Mataram yang ingin mengacaukan kehidupan di Kademangan ini atau bukan.”

Barata dan Kasadha saling berpandangan. Meskipun mereka belum pernah menyinggungnya, tetapi Ki Lurah Dipayuda telah memperhitungkan kemungkinan itu.

“Aku minta semua keterangan yang dapat memberikan sedikit penjelasan tentang hal ini supaya disampaikan kepadaku. Aku akan menghubungi Ki Demang. Tetapi aku belum tahu, apakah sudah waktunya aku berbicara tentang orang-orang Mataram. Jika sebelum kita hadir disini, orang-orang Mataram sering datang ke Kademangan ini dan memang dapat membuat orang-orang Kademangan ini ketakutan, maka tidak mustahil dengan kehadiran kita disini, mereka mempergunakan cara lain,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

Barata dan Kasadha masih belum memberikan laporan lebih jauh dari pengamatan mereka. Mereka masih ingin menunggu perkembangan keadaan setelah Ki Lurah Dipayuda bertemu dengan Ki Demang Randukerep.

Namun demikian, Barata dan Kasadha merasa bahwa persoalannya akan segera menjadi semakin meruncing justru sejalan dengan kemelut yang terjadi antara Pajang dan Mataram.

Ketika Ki Lurah membubarkan pertemuan itu, maka ia masih berpesan, “Berhati-hatilah menghadapi perkembangan keadaan. Dalam keadaan seperti ini, maka segala sesuatunya dapat dengan cepat berubah. Jika kita tidak tangkas menghadapinya, maka kita tentu akan ketinggalan.”

Untuk menghadapi perkembangan keadaan, maka Barata dan Kasadha justru lebih banyak berada di padukuhan-padukuhan kecil itu. Mereka mengamati segala pergolakan yang terjadi setelah padukuhan itu dicengkam oleh demam sabung ayam. Bahkan Ki Bekel telah memberikan ijin untuk mempergunakan halaman rumah Ki Bekel yang luas untuk menjadi arena sabung ayam.

Banyak akibat sampingan telah terjadi. Banyak laki-laki yang malas pergi ke sawah. Di malam hari mereka segan pergi ke gardu. Apalagi yang mengalami kekalahan sehingga harta bendanya hanyut di arena sabung ayam. Keluarga yang berantakan karena suaminya tidak lagi berdiri tegak sebagai lanjaran keluarga. Bahkan telah menjual beberapa barang milik mereka.

Sementara itu Ki Demang yang dihubungi oleh Ki Lurah Dipayuda memang menjadi sangat prihatin. Beberapa orang bebahunya juga telah memberikan laporan tentang hal itu. Bahkan dipadukuhan lain, banyak keluarga yang pecah dan banyak laki-laki menjadi saling bermusuhan karena hadirnya sekelompok penari janggrung di padukuhan itu. Ki Bekel di padukuhan itu ternyata juga tidak bertindak. Bahkan Ki Bekel memberikan ijin sekelompok pengiring tari janggrung itu untuk bermalam di serambi gandok banjar padukuhan.

Ki Bekel harus mengambil langkah-langkah yang tegas berdasarkan suasana yang panas sekarang ini karena hubungan yang semakin buruk antara Mataram dan Pajang. Berdasarkan atas hal itu, maka Ki Demang dapat mengambil satu kebijaksanaan yang barangkali dianggap agak menyimpang jika sebelumnya Ki Demang tidak berwenang melarang sabung ayam dan tari janggrung yang jelas merusak ketenangan padukuhan-padukuhan itu karena di Pajangpun hal itu telah dilakukan pula. Bukan saja padukuhan yang ditempati arena perjudian dan sabung ayam serta sekelompok pengiring dan penari janggrung. Tetapi juga padukuhan-padukuhan lain telah terpengaruh iuga. Disiang hari seperti mengalir laki-laki tua muda datang ke arena sabung ayam. Bahkan yang harus melakukan tugaspun kadang-kadang menjadi malas. Sedangkan di malam hari arus orangpun berganti. Mereka pergi untuk melihat janggrung. Yang mempunyai sedikit uang telah memberanikan diri untuk memasuki arena, menari bersama tledek yang sengaja menggoda dengan cara yang kadang-kadang terlalu kasar bagi sikap seorang perempuan.

Sementara itu, Ki Lurah Dipayuda telah memperingatkan para prajuritnya dengan keras agar mereka tidak terperosok ketempat-tempat yang kotor itu.

Dalam pada itu, ketika keadaan terasa menjadi semakin gawat, maka Ki Demang telah diminta oleh Ki Lurah Dipayuda untuk bertindak. Jika Ki Demang tidak berbuat apa-apa, maka keadaan Kademangan itu akan menjadi semakin buruk.

Ki Demang memang merasakan akibat buruk itu semakin menjadi-jadi. Karena itu, maka iapun telah memanggil para bekel di padukuhan-padukuhan yang termasuk dalam lingkungan Kademangan Randukerep.

“Tetapi kami tidak mempunyai dasar yang kuat untuk melarangnya,“ berkata salah seorang diantara para bekel.

“Kami mendapat wewenang untuk mengatur kehidupan di lingkungan kami masing-masing,” jawab Ki Demang.

“Tetapi tidak ada paugeran yang dapat melarang Tari Janggrung dan sabung ayam. Ki Demang tentu tahu, bahwa penari janggrung terdapat juga justru ditempat-tempat ramai disekitar Kota Pajang. Kelompok-kelompok tari Janggrung mengadakan pertunjukan keliling dari satu tempat ketempat yang lain tanpa ada yang pernah melarang,“ berkata bekel yang lain.

“Aku tidak berkeberatan jika sekelompok penari janggrung sekali-sekali singgah di Kademangan ini. Tetapi tidak menetap seperti sekarang. Sekelompok pengamen yang cukup besar jumlahnya itu telah merusak sendi-sendi kehidupan. Lima orang tledek dalam satu rombongan adalah berlebihan. Biasanya hanya dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang tledek,“ jawab Ki Demang.

“Segala sesuatu tergantung kepada pribadi kita masing-masing,“ bekel yang lain lagi ikut berbicara, “jangan menyalahkan para penari janggrung. Jika pribadi kita kuat, kita tidak akan terseret kedalamnya.”

“Tetapi kita adalah manusia biasa. Batu hitam yang keras itu akan lekuk terkena tetes air hujan yang terus menerus. Betapa kekuatan pribadi seseorang, jika setiap hari ia berada dalam suasana yang buruk itu, maka kemungkinan terbesar adalah, bahwa ia akan tergelincir pula,“ berkata Ki Demang.

“Itu salahnya sendiri,“ sahut seorang bekel.

Ki Demang memang menjadi semakin panas jantungnya oleh jawaban-jawaban itu. Karena itu maka sikapnyapun menjadi semakin keras, “Saudara-saudaraku. Nampaknya saudara-saudaraku sudah kehilangan tanggung jawab yang selama ini kita banggakan. Manakah keberanian kalian untuk membela kehidupan rakyat kalian seperti yang pernah kalian tunjukkan selama ini? Dibawah ancaman prajurit Mataram yang sering datang menakut-nakuti kita disini, saudara-saudaraku masih tetap berpegang pada tanggung jawab kalian sebagai seorang pemimpin.”

“Aku masih tetap bertanggung jawab,“ sahut seorang bekel yang masih muda, “jika prajurit Mataram itu datang, kami akan melawan mereka. Bukankah saat ini ada sepasukan prajurit Pajang disini? Buat apa kehadiran mereka itu jika tidak bersama-sama dengan kami melawan prajurit Mataram.”

“Katakan, mereka akan bertempur melawan prajurit Mataram,“ jawab Ki Bekel, “tetapi kita sendiri, yang memiliki kampung halaman ini dapat berbuat apa? Anak-anak muda yang selama ini mulai berlatih perang, tiba-tiba saja telah kehilangan gairah mereka karena mereka lebih senang berada di tempat sabung ayam disiang hari dan berada di arena janggrung di malam hari. Atau ditempat-tempat perjudian yang tumbuh semakin subur di Kademangan ini.”

“Kita percayakan saja keselamatan kita kepada para prajurit,“ tiba-tiba seorang bekel yang sudah ubanan berkata.

Tetapi beberapa orang tiba-tiba saja tertawa. Hampir diluar sadar, seorang bekel yang lain berkata, “Kau lebih senang menunggui dua diantara para penari janggrung itu dirumahmu, begitu Ki Bekel?”

“Aku sudah tahu,“ Ki Demang sama sekali tidak tertawa, “Ki Bekel yang sudah ubanan itu sama sekali tidak melihat tengkuknya. Umurmu sudah menjelang tiga perempat abad. Tetapi setiap malam kau masih membawa dua diantara penari janggrung itu setelah mereka selesai menari di arena.”

“Eh, bukankah itu satu kelebihan?“ jawab Ki Bekel yang tua itu.

Ki Dipayuda yang ikut mendengarkan pembicaraan itu memang telah kehilangan kesabaran. Dengan keras ia berkata, “Inikah gambaran yang sebenarnya dari pribadi para pemimpin di Randukerep?”

Tetapi seorang bekel telah menjawab, “Jangan terkejut Ki Lurah. Kita memang lebih suka terbuka dan menunjukkan wajah kita yang sebenarnya. Kita tidak akan menutup-nutupi cacat dikening sendiri.”

“Cukup,“ bentak Ki Demang, “kalian memang memalukan sekali. Para prajurit Pajang akan mengambil sikap tegas untuk melindungi Kademangan ini. Aku yakin, masih ada satu dua orang yang tahu diri.”

Sebenarnyalah seorang diantara para bekel itu berkata, “Aku berjanji untuk membantu para prajurit dengan kemampuan yang ada di padukuhanku. Aku akan melarang segala ujud perjudian di padukuhanku dengan atau tanpa wewenang.”

“Bagus,“ sahut Ki Lurah Dipayuda, “aku memang yakin, bahwa tidak semua orang disini kehilangan akal melihat bedak penari janggrung itu. Sebenarnya Ki Demang dapat melarang segala macam bentuk perjudian berdasarkan kenyataan yang telah dilakukan oleh Pajang terhadap tempat perjudian yang disebut Song Lawa. Aku tahu pasti, bahwa tempat itu telah dihancurkan karena seorang kawanku dalam kedudukannya sebagai seorang Lurah Prajurit ikut memasuki tempat itu. Dengan demikian maka Ki Demang tentu dapat melakukannya pula di wilayah kekuasaan Ki Demang ini.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Ia mengangguk-angguk sambil bergumam, “Baik. Aku akan mempertimbangkannya.”

Namun sementara itu, Kasadha yang hadir bersama-sama sepuluh orang pemimpin kelompok prajurit Pajang di Kademangan Randukerep menjadi berdebar-debar. Ia berada di Song Lawa saat itu. Namun iapun kemudian yakin, bahwa tidak ada prajurit Pajang yang akan dapat mengenalinya karena keadaan kemudian telah menjadi demikian kisruhnya.

Sementara itu Ki Lurah Dipayuda yang hampir kehilangan kesabarannya berkata, “Tetapi jangan terlalu lama Ki Demang. Waktu sudah mendesak, sementara prajurit Mataram tentu sudah berada didepan hidung kita.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya dengan suara lantang, “Siapakah diantara kalian yang sependapat, bahwa permainan yang merusak sendi-sendi kehidupan itu harus dilarang?”

“Aku sependapat dengan Ki Demang,“ berkata seorang bekel yang bertubuh tinggi besar dan berjambang lebat. Seorang bekel yang dianggap berpengaruh atas para bekel yang lain. Kemudian beberapa orang bekel juga menyatakan kesediaannya membantu Ki Demang. Namun ternyata beberapa orang yang lain telah menjadi keras kepala.

Tetapi Ki Lurah Dipayuda menjadi berbesar hati. Dengan demikian ia sudah dapat melihat dimana ia harus bertumpu. Sementara itu dengan telaten dan bersungguh-sungguh ia harus memperbaiki keadaan di Kademangan itu.

Namun dalam kenyataannya, memang tidak begitu mudah untuk mengatasi keadaan. Ternyata para bekel yang bersedia membantu Ki Demang itupun menghadapi kesulitan. Anak-anak mudanya telah terhisap pula ke padukuhan-padukuhan yang lain untuk ikut memasuki arena sabung ayam serta dimalam hari ikut mengerumuni lima tledek yang masih muda, cantik dan dengan tingkah laku yang dibuat-buat.

Sementara itu, Barata dan Kasadha masih berusaha untuk mencari keterangan. Di padukuhan-padukuhan yang menjadi lingkungan tugasnya, ia masih mendapatkan beberapa orang anak muda yang dapat dipercaya. Beberapa pengawal telah dapat diajak berbicara dengan baik.

Dari seorang pengawal, akhirnya Barata dan Kasadha telah mendapat keterangan yang memberikan kejelasan dari dugaan-dugaannya selama ini. Seorang pengawal telah melaporkan kepada kedua pemimpin pengawal yang masih muda itu, bahwa ia telah melihat orang yang sering membaca kidung ada diantara para penabuh gamelan dari serombongan penari janggrung itu.

“Ah,“ desis Barata, “apakah kau tidak salah? Bukankah orang itu termasuk orang berada, sehingga ia mampu membeli tanah, membuat rumah dan hidup kecukupan?”

“Tidak seorangpun yang mengenalnya. Ia memakai pakaian lusuh. Ikat kepala yang asal saja membalut kepalanya. Rambutnya diurai sampai kebahu dan sebuah tahi lalat yang besar terdapat di hidungnya. Tentu tahi lalat buatan,“ berkata pengawal itu.

“Kau dapat keliru,“ berkata Kasadha, “harus ada petunjuk lain yang lebih meyakinkan.”

“Aku memang tidak mengenalinya. Tetapi pembantu rumahnya tidak dapat dikelabuhinya. Orang itu terlalu mengenal tuannya sehingga dalam keadaan apapun ia masih dapat mengenalinya. Caranya berjalan, bagaimana ia melakukan kebiasaannya meraba-raba kupingnya dan kebiasaannya mengusap kumisnya. Meskipun kumisnya telah dicukur untuk menyempurnakan penyamarannya, tetapi tangannya masih tetap sering meraba bibirnya,“ berkata pengawal itu.

Barata dan Kasadha mengangguk-angguk. Namun Kasadha masih bertanya, “Apakah pembantunya itu mengatakannya kepadamu, bahwa orang itu tuannya?”

“Dengan tiba-tiba memang begitu. Tetapi kemudian justru ia menjadi ingkar. Sehari setelah itu pembantunya mengatakan secara khusus kepadaku bahkan datang kerumahku, bahwa orang itu sama sekali bukan tuannya. Jika ia tidak menganggap penting sekali maka ia tidak akan datang kerumah hanya untuk mengatakan bahwa orang itu adalah orang lain,“ berkata pengawal itu.

“Terima kasih. Kami akan berusaha untuk membuktikannya,“ berkata Barata.

Sejak itu, maka setiap malam Barata dan Kasadha selalu mengawasi rumah itu. Jika kelompoknya mendapat tugas meronda, maka mereka telah mempercayakannya kepada prajuritnya yang tertua, sementara keduanya berada disekitar rumah orang yang disebut oleh pengawal itu.

“Jika dugaannya benar, maka sekali-sekali ia tentu akan melihat rumahnya yang masih berisi perabot yang cukup lengkap itu,“ berkata Barata.

Sebenarnyalah, bahwa pada suatu malam mendekati dini hari, Barata dan Kasadha melihat seseorang menyelinap memasuki regol rumah itu. Nampaknya orang itu sangat tergesa-gesa. Namun kedua anak muda itu berhasil melihat orang itu menyeberangi halaman dan masuk ke-dalam rumah itu melalui pintu butulan.

Orang itu tidak terlalu lama berada didalam rumah. Iapun segera keluar lagi. Pembantu rumah itu mengantar sampai ke pintu. Namun orang itu berdesis, “Masuk sajalah.”

Sejenak kemudian pintu itupun telah tertutup lagi. Namun sekilas cahaya lampu telah menerangi wajah orang itu sebelum pintu itu tertutup rapat.

Barata dan Kasadha yang memiliki pandangan yang tajam dan pengenalan yang cepat dan seakan-akan melekat di ingatannya akan dapat mengenalinya kembali seandainya mereka sempat melihatnya lagi.

Malam itu keduanya berusaha untuk mengikuti orang itu. Namun ketika orang itu keluar dari padukuhan dengan memanjat dinding agak jauh dari regol, maka keduanya agak mengalami kesulitan. Orang itu telah berlari-lari keciil di pematang, sementara tanamannya masih terlalu rendah untuk melindungi tubuh anak-anak muda itu.

Tetapi satu hal yang mereka ketahui, bahwa orang itu telah menuju kearah padukuhan tempat serombongan penari janggrung beserta pengiringnya bermalam.

Kedua anak muda itu rasa-rasanya telah mendapat kepastian. Tetapi mereka akan meyakinkannya. Besok malam mereka akan melihat tari janggrung itu.

Tanpa memberitahukan pengamatannya itu kepada orang lain, maka Barata dan Kasadha benar-benar telah melihat tari janggrung di malam berikutnya. Ternyata kehadirannya tidak menarik perhatian karena keduanya tidak memakai pakaian keprajuritan mereka. Bahkan mereka berusaha untuk berada ditempat yang kegelapan.

Tetapi perhatian mereka sama sekali tidak tertuju kepada lima orang tledek yang menari dengan solah bawa yang berlebihan itu. Tetapi perhatian kedua orang anak muda itu justru tertuju kepada pengendangnya.

Barata memberikan isyarat bahwa orang itu benar-benar orang yang mereka lihat semalam.

“Ya. Tahi lalat itu memang tahi lalat buatan,“ desis Kasadha.

“Kita harus cepat bertindak,“ berkata Barata.

“Kita menemui Ki Lurah. Kita mohon wewenang untuk menangkapnya,“ berkata Kasadha.

Keduanyapun dengan diam-diam telah meninggalkan tempat pertunjukkan yang menjadi semakin ramai itu. Bahkan anak-anakpun sulit untuk dicegah melihat adegan-adegan yang menggetarkan jantung diantara para tledek dan laki-laki yang bagaikan kehilangan nalarnya dan menari-nari tanpa irama di arena menjadi tontonan orang banyak, yang tanpa mereka sadari, maka uang mereka keping demi keping telah mengalir dari kantong ikat pinggang mereka yang lebar dan terbuat dari kulit ke tangan tledek-tledek yang telah mempesona mereka itu.

Barata dan Kasadha dengan tergesa-gesa telah berusaha menemui Ki Lurah. Mereka telah mempunyai keterangan yang agak lengkap untuk mengambil langkah.

“Seluruh rombongan penari janggrung itu harus ditangkap Ki Lurah,“ berkata Barata.

“Kami yakin mereka adalah orang-orang Mataram atau setidak-tidaknya mereka telah dikirim oleh Mataram sengaja untuk membuat ketahanan di Kademangan ini menjadi rapuh.“ sambung Kasadha.

“Kenapa kalian baru memberikan laporan sekarang?“ bertanya Ki Lurah.

“Kami baru mendapat kepastian sekarang,” jawab Barata, “selama ini kami memang berusaha untuk mengumpulkan kenyataan-kenyataan tentang kemungkinan orang-orang Mataram yang telah memasukkan racunnya kedalam padukuhan-padukuhan di Kademangan ini. Namun baru sekarang kami berani mengambil kesimpulan.”

Dengan singkat Kasadha memang memberikan uraian tentang langkah-langkah yang telah diambilnya. Sehingga akhirnya mereka sampai pada suatu kesimpulan.

“Baiklah,“ berkata Ki Lurah, “tetapi kalian harus memperhitungkan kemungkinan, bahwa para pengiring tari janggrung itu bukan pengamen kebanyakan. Mungkin mereka adalah prajurit-prajurit yang justru terpilih, sehingga mereka akan dapat mempertahankan diri jika kalian ingin menangkap mereka. Bahkan mungkin ada pula diantara orang-orang yang menonton yang kebanyakan kurang saling mengenal karena mereka berdatangan dari banyak padukuhan, bahkan padukuhan-padukuhan diluar Kademangan ini, maka kalian harus memperhitungkannya.”

“Kami akan bersiap sebaik-baiknya menghadapi mereka Ki Lurah,“ jawab Barata.

“Berapa kelompok pasukan yang kalian perlukan?” bertanya Ki Lurah.

“Paling sedikit tiga kelompok Ki Lurah,“ jawab Barata, “pengiring tari itu jumlahnya kira-kira sebelas sampai tiga belas orang. Mungkin ada diantara para penonton yang sebenarnya adalah pengikut mereka.”

“Aku akan memerintahkan lima kelompok prajurit bersama dengan kalian.“

Dengan sikap seorang prajurit, maka Ki Lurah Dipayudapun segera memanggil delapan orang pemimpin kelompok saat itu juga. Dengan jelas Ki Lurah memberikan perintah kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan. Sementara seorang diantara para pemimpin kelompok itu dengan kelompoknya sedang bertugas di Kademangan dan sekitarnya dan seorang lagi bersama kelompoknya sedang meronda.

Dua orang dari kelompok yang tidak ikut serta dalam tugas itu harus mencari dan menghubungi kelompok yang sedang meronda, sedangkan dua orang pemimpin kelompok yang lain harus mempersiapkan prajuritnya di Kademangan, bergabung dengan mereka yang bertugas. Satu kelompok lagi adalah kelompok cadangan yang mungkin justru harus bergerak cepat jika perintah jatuh.

“Aku akan berada diantara kelima kelompok yang akan menangkap rombongan tari janggrung itu,“ berkata Ki Lurah, “Aku akan mengajak Ki Demang serta sebagai saksi bahwa yang kami lakukan dibatasi oleh paugeran bagi seorang prajurit, sehingga kami tidak akan melakukan apapun yang dapat dianggap merugikan Kademangan ini.“ Ki Lurah berhenti sejenak, lalu iapun memberikan perintah, “Siapkan para prajurit di halaman. Aku akan membangunkan Ki Demang sebentar.”

Para pemimpin kelompokpun kemudian telah membangunkan semua prajurit yang sedang tidur dan dengan cepat menyiapkan mereka di halaman.

“Periksa semua senjata,“ perintah para pemimpin kelompok.

Sementara para prajurit bersiap-siap, Ki Lurah Dipayudapun telah membangunkan Ki Demang untuk diajak bersama mereka melakukan tugas sehingga ia akan dapat menjadi saksi atas apa yang telah dilakukan mewakili seisi Kademangan itu selain kewajibannya sebagai seorang Demang.

Sejenak kemudian pasukan itu bergerak dengan cepat. Ki Lurah Dipayuda telah memberikan perintah untuk memecah pasukan yang lima kelompok itu menjadi dua. Tiga kelompok akan memasuki padukuhan yang menjadi arena permainan janggrung itu dari satu arah, sementara dua kelompok yang lain, akan memasukinya melalui pintu gerbang induk yang lain. Keduanya akan dengan cepat mengepung arena dari jarak yang tidak terlalu dekat.

“Jika terjadi perlawanan ada tempat bagi orang-orang tidak terlibat dalam perlawanan itu,“ perintah Ki Lurah. Tetapi perintahnya yang lain, “jangan seorangpun yang dibiarkan lolos, termasuk semua penontonnya.”

Demikianlah, maka dengan diam-diam arena janggrung itu telah terkepung rapat dari jarak satu halaman. Lima kelompok prajurit yang dipimpin langsung oleh Ki Lurah Dipayuda telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Ki Lurah Dipayuda sendiri bersama Ki Demang ada diantara para prajurit dari dua kelompok yang mendapat tugas langsung memasuki arena. Kelompok yang dipimpin oleh Barata dan Kasadha, yang oleh Ki Lurah dianggap paling banyak mengetahui persoalan yang mereka hadapi.

Namun meskipun orang-orang yang ada di arena itu mencurahkan segala perhatiannya kepada para penari diarena serta beberapa orang laki-laki yang ikut menari bersama mereka, beberapa orang sempat juga melihat kehadiran para prajurit Pajang. Bahkan agaknya pemimpin dari rombongan tari janggrung itulah yang telah memasang beberapa orang untuk mengawasi keadaan.

Karena itu, maka kehadiran para prajurit itupun segera diketahui oleh orang-orang yang termasuk dalam rombongan tari janggrung itu.

Ternyata mereka telah bersiap menghadapi kemungkinan itu. Karena itu, maka dengan satu isyarat, tiba-tiba semua oncor telah dipadamkan. Beberapa orang telah bergerak dengan cepat, memadamkan oncor-oncor yang menerangi arena serta sekitarnya.

Dengan demikian, maka segera telah terjadi kekacauan. Orang-orang yang mengerumuni arena itu saling berlari-larian. Mereka saling melanggar yang satu dengan yang lain karena arena itu telah menjadi gelap.

Tetapi para prajurit Pajangpun telah bersiap pula. Dengan isyarat, maka dua kelompok telah memasuki arena, sementara yang lainpun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.

Dalam kegelapan itu tiba-tiba saja telah terdengar aba-aba, “Semua orang tinggal ditempat. Yang tidak merasa dirinya terlibat dalam satu gerakan sandi, supaya tidak mencampuri persoalan yang akan timbul, atau menanggung akibat yang parah.”

Suara itu mengumandang di halaman yang memang agak luas itu. Tetapi sulit untuk mengendalikan orang-orang yang ketakutan itu. Apalagi dalam kegelapan.

Namun satu-satu oncorpun mulai menyala. Beberapa orang prajurit ternyata telah membawa oncor dari regol dan menyalakan oncor yang ada dihalaman. Bahkan beberapa orang prajurit telah mengambil oncor dari regol-regol yang lain dan menempatkannya diseputar halaman yang agak luas itu.

Para pengiring tari janggrung itu ternyata sudah tidak ada dibelakang gamelan yang masih berjajar di halaman. Namun para prajurit telah berhasil menangkap para penari yang memakai pakaian khusus sehingga mudah dikenali dan membawa mereka menepi. Dibawah penjagaan beberapa orang prajurit, maka mereka diperintahkan untuk tetap berada di tempatnya.

“Jika ada diantara kalian yang berbuat aneh-aneh, maka kami akan mengambil tindakan tegas,“ geram seorang prajurit.

Ternyata para penari janggrung itu bukan penari kebanyakan. Meskipun mereka diancam dengan senjata, namun mereka tetap tenang. Nampaknya ketika mereka menerima tugas itu, mereka telah mendapat petunjuk-petunjuk yang lengkap tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas diri mereka.

“Hati-hati dengan mereka,“ perintah salah seorang pemimpin kelompok kepada prajurit-prajuritnya.

Tetapi ketika pemimpin kelompok itu pergi, terdengar penari-penari janggrung itu justru tertawa tertahan-tahan.

“Diam,“ geram seorang prajurit.

Seorang penari justru mendekatinya. Meraba lengannya sambil tersenyum. Katanya, “Jangan terlalu galak begitu kakang. Kita sama-sama sedang bekerja mencari nafkah. Namun cara kita yang berbeda. Kakang menjadi seorang prajurit, aku menjadi seorang penari.”

“Tutup mulutmu,“ bentak prajurit itu, “kau kira aku menjadi seorang prajurit sekedar mencari makan? Ayahku mempunyai sawah lebih dari tujuh bahu. Ibuku seorang pedagang kain tenun yang berhasil. Aku tidak membutuhkan uang jika hanya itu yang aku inginkan.”

Tledek itu justru mencubitnya sambil berkata, “Jadi kau anak seorang kaya? Menarik sekali. Kau tampan, kaya dan penuh pengabdian.”

Tetapi tledek itu terkejut. Prajurit itu sama sekali tidak terpengaruh oleh sikapnya. Bahkan ia telah didorong sehingga hampir terjatuh.

Dengan marah tledek itu berkata, “Kau hanya berani berbuat begitu terhadap seorang perempuan.”

Tetapi kawan-kawannya justru tertawa kecil. Seorang diantara keempat kawannya berkata, “Jangan marah. Kau akan cepat menjadi tua.”

Tledek yang marah itu tiba-tiba saja ikut tertawa. Bahkan katanya, “Kakang, marilah sekali-sekali kita menari bersama. Jika perlu, bukan kau yang membayar. Tetapi akulah yang akan membayar jika kau mampu mengimbangi tarianku.”

Prajurit itu menjadi sangat marah. Tetapi ia harus menahan diri. Betapapun dadanya serasa sesak, tetapi sebagai seorang prajurit ia tidak dapat berbuat sewenang-wenang. Namun demikian ia merasa berhak untuk menjaga kehormatannya.

Tetapi sebelum ia berbuat sesuatu, tiba-tiba saja kawannya, seorang prajurit yang lain justru telah tertawa. Dengan nada tinggi ia berkata sambil mencibir, “Apapun yang kau lakukan perempuan cantik, namun kita semua tahu, bahwa kau adalah seorang tledek. Seorang yang tidak akan dapat dipercaya apapun yang kau katakan. Kau mencoba membujuk kawanku dengan kata-kata manis dan tingkah laku yang berlebih-lebihan. Tetapi justru itulah yang membuat kami menjadi muak.”

Penari itu mencoba untuk tetap tersenyum. Katanya, “Kau iri hati? Baiklah, aku akan mengelus keningmu dengan jari-jari penariku.”

“Tanganmu tentu tidak sehalus yang diduga orang. Di dalam kehidupanmu yang tidak menentu, kau tentu pernah melakukan kerja kasar. Bahkan mungkin menjadi orang upahan membawakan barang-barang dipasar saat orang kaya berbelanja. Atau kau justru melakukan pekerjaan yang paling kasar yang pernah dilakukan oleh seorang perempuan. Pekerjaanmu sebagai seorang tledek memang memungkinkan. Pekerjaan yang terkutuk.“ suara prajurit itu menjadi semakin tinggi.

“Kau gila,“ perempuan itu menjadi marah sekali. Kawan-kawannya tidak tertawa lagi. Merekapun ikut menjadi marah.

Tetapi prajurit itu berkata selanjutnya, “Kau tidak pantas singgah di kehidupan laki-laki yang manapun juga.”

Seorang diantara para tledek itu melangkah maju. Tangannya sudah siap memukul mulut prajurit itu. Tetapi prajurit itu berkata, “Nah, inilah yang aku tunggu. Kau membuat kawanku marah sekali. Tetapi tidak ada alasan baginya untuk memukulmu. Jika kau mau memukul aku sekali saja, maka aku mendapat alasan untuk memukulimu meskipun kau seorang perempuan, karena kau sudah memukul lebih dahulu seorang prajurit yang sedang bertugas apalagi dalam keadaan yang gawat seperti sekarang.”

Tledek itu mengurungkan niatnya. Ia melihat prajurit itu bersungguh-sungguh, sehingga jika ia memukulnya, maka agaknya prajurit itu benar-benar akan membalasnya. Karena itu, maka niatnya telah diurungkan. Ia berhasil berdiri bersama keempat kawannya yang lain sambil mengumpat-umpat kotor meskipun diucapkan oleh seorang perempuan.

Tetapi prajurit-prajurit itu tidak menghiraukannya lagi. Mereka melakukan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab menghadapi keadaan yang gawat itu.

Sementara itu, para prajurit yang lain telah mulai berusaha mengatur orang-orang yang masih kacau balau. Mereka telah digiring untuk menuju kependapa.

“Semua duduk ditangga mengelilingi pendapa. Cepat. Siapa yang tidak nelakukannya, akan dipaksa dengan kekerasan.“ teriak Barata.

Tetapi para penabuh gamelan dari rombongan penari janggrung itu ingin mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Tetapi mereka terhalang oleh para prajurit yang mengepung halaman itu. Tiba-tiba saja mereka telah berloncatan masuk dan berdiri di seputar halaman dan kebun melekat dinding.

Dengan demikian, maka orang-orang yang termasuk pengiring gamelan dari para penari janggrung itu tidak lagi mendapat kesempatan untuk meninggalkan tempat itu. Mereka menyadari bahwa mereka telah terkepung. Para prajurit Pajang nampaknya telah membuat rencana yang sangat rapi dan tiba-tiba sehingga mereka tidak mengetahui sama sekali bahwa hal itu akan dilakukannya. Justru tanpa mengikut sertakan para pengawal. Menurut perhitungan pimpinan rombongan tari janggrung itu, setiap langkah, Ki Lurah Dipayuda tentu akan mengikut sertakan para pengawal. Jika demikian, maka para pengiring tari janggrung itu tentu akan segera mengetahuinya.

Namun yang terjadi itu begitu tiba-tiba, sehingga pimpinan rombongan itu tidak sempat memberikan isyarat apapun keluar Kademangan.

Tetapi mereka tidak dapat tinggal diam. Dalam keadaan yang demikian, maka mereka harus mengambil sikap.

Karena itulah, maka pimpinan rombongan itupun telah bersuit nyaring. Satu perintah untuk melakukan perlawanan sejauh dapat dilakukan dan menghilang jika mungkin.

Sementara itu, beberapa orang telah berhasil dipaksa duduk ditangga pendapa. Namun sementara itu, para prajurit yang lain telah menghadapi sikap orang-orang yang ingin mereka tangkap. Karena itu, maka para prajurit itupun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Beberapa saat kemudian, telah terjadi pertempuran diantara para prajurit Pajang dengan orang-orang yang memang dengan sengaja ingin mengacaukan tata kehidupan di Kademangan Randukerep.

Para prajurit Pajang yang jumlahnya lebih banyak itu, telah mampu membatasi gerak lawan-lawannya. Beberapa orang telah dapat dipisahkan dari orang-orang yang tidak tahu menahu tentang apa yang telah terjadi sebenarnya.

Namun ternyata orang-orang yang menjadi penabuh gamelan para penari janggrung itu adalah orang-orang yang berilmu melampaui kemampuan para prajurit kebanyakan. Karena itu, maka para prajurit kemudian diantara mereka yang menjadi penabuh gamelan itu mampu melawan dua atau tiga orang prajurit dalam pertempuran yang menentukan.

Untuk beberapa saat Ki Lurah Dipayuda mengamati keadaan. Bersama Ki Demang ia menyaksikan, bagaimana para prajurit Pajang berusaha mengatasi keadaan yang rumit itu. Ki Demangpun melihat, bahwa para prajurit itu bertindak dengan hati-hati sehingga mereka tidak menyeret orang-orang Kademangan itu kedalam keadaan yang riuh itu, maka Ki Demang tentu akan dapat memakluminya.

Demikianlah, maka beberapa lama kemudian, para prajurit Pajang berhasil memisahkan orang-orang padukuhan yang datang untuk melihat tari janggrung dengan rombongan tari janggrung itu sendiri. Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin seru. Masing-masing dengan jelas mampu melihat lawan-lawan mereka.

Para prajurit Pajang memang harus mengakui, bahwa para penabuh gamelan dari serombongan penari janggrung itu adalah tentu prajurit-prajurit yang justru terpilih. Dengan tangkas mereka mempertahankan diri menghadapi prajurit Pajang yang jumlahnya berlipat itu.

“Menyerahlah,“ terdengar suara Kasadha lantang, “kalian telah terkepung. Kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.”

Tetapi suara Kasadha bagaikan hilang saja ditelan dentang senjata beradu. Teriakan-teriakan para prajurit yang bertempur serta aba-aba dari para pemimpin kelompok yang lain.

Namun Kasadha berteriak lebih keras lagi sehingga suaranya bagaikan menggetarkan udara malam, “Menyerahlah.”

Tetapi pertempuran masih berlangsung. Para prajurit Pajang yang mengepung tempat itupun telah terlibat pula dalam pertempuran yang semakin sengit.

Ki Lurah Dipayuda yang melihat kelebihan orang-orang Mataram memang menjadi berdebar-debar. Bahwa orang-orang Mataram itu mampu melawan dua atau tiga orang sekaligus, segera mempengaruhi ketabahan hati para prajurit Pajang.

Karena itu, maka Ki Lurah Dipayuda itupun telah berdesis, “Ki Demang, usahakan untuk menguasai orang-orang Kademangan ini. Kami akan menangkap orang-orang itu. Mereka akan dapat menjadi sumber keterangan tentang gerakan pasukan Mataram di sekitar Kademangan ini.”

Ki Demang mengangguk sambil menjawab, “Baik Ki Lurah. Aku akan mengusahakannya.”

“Beberapa orang prajurit akan membantu Ki Demang,“ berkata Ki Lurah.

Demikianlah, maka Ki Lurah Dipayudapun kemudian telah langsung turun ke medan. Ketika ia melihat seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi bertempur melawan tiga orang prajurit, maka iapun telah mendekatinya.

Tetapi sebelum ia ikut campur, seseorang telah mendekatinya sambil berdesis, “Ki Lurah Dipayuda.”

Ki Lurah Dipayuda berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia mencoba mengenali orang yang menyapanya itu.

“Apakah kau sudah terlalu pikun sehingga tidak dapat mengenali aku lagi?“ bertanya orang itu.

“Siapa?“ desis Ki Lurah Dipayuda.

Cahaya oncor di kejauhan memang tidak terlalu terang, sehingga wajah orang itu tidak begitu jelas nampak. Namun Ki Lurah rasa-rasanya memang pernah mengenal orang itu.

“Aku, Ki Lurah,“ berkata orang itu, “bukankah kita sering mendapat kesempatan untuk berlatih sodoran diatas punggung kuda? Aku tahu, Ki Lurah memiliki kemampuan yang tinggi dalam sodoran. Tetapi sayang, Ki Lurah tidak begitu cepat bergerak dalam pertempuran diatas kaki kita sendiri.”

“O,“ Ki Lurah mengangguk-angguk, “aku ingat sekarang. Kau Ki Lurah Tapajaya yang digelari orang Macan Gupuh.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Nah, akhirnya Ki Lurah teringat pula.”

“Jadi kau berada di Mataram sekarang?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Ya, Ki Lurah. Apaboleh buat. Bukankah sejak di Pajang aku adalah seorang kepercayaan Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar? Bukan kepercayaan di medan perang, tetapi sekedar kepercayaan memelihara kudanya,“ berkata Ki Lurah Tapajaya.

“Jadi kaukah yang memimpin gerombolan yang dengan sengaja telah merusak tata kehidupan di Kademangan Randukerep ini?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Bukan Ki Lurah,“ jawab Ki Lurah Tapajaya, “aku hanya ditunjuk sebagai salah seorang pengiring. Aku kebetulan memiliki kemampuan menabuh gamelan.”

“Siapa yang memimpin gerombolan ini?“ bertanya Ki Lurah.

“Ah, kau tidak usah mencarinya, meskipun barangkali kau juga pernah mendengar namanya,“ jawab Ki Lurah Tapajaya.

“Siapa?“ desak Ki Lurah Dipayuda.

“Ki Rangga Selamarta,“ jawab Ki Lurah Tapajaya.

“Ki Rangga Selamarta?“ Ki Lurah Dipayuda terkejut.

“Ya. Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala,“ jawab Ki Lurah Tapajaya.

“Bukan main,“ geram Ki Lurah Dipayuda, “jadi semuanya orang-orang yang pernah memiliki nama besar di Pajang. Orang-orang yang sulit dicari bandingnya.”

“Itulah sebabnya kita tidak mudah untuk melakukan seperti yang kalian minta. Nampaknya kami memang tidak akan menyerah.”

Ki Dipayuda memang menjadi cemas. Orang-orang yang disebut namanya, serta Ki Lurah Tapajaya sendiri adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka para prajuritnya harus bekerja keras untuk mengatasi mereka.

“Nah Ki Lurah,“ berkata Ki Lurah Tapajaya, “pertimbangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas prajurit-prajuritmu. Kedua orang itu sulit untuk ditundukkan. Apalagi sebagian dari prajurit-prajuritmu adalah orang-orang baru.”

Ki Lurah Dipayuda termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kau tidak usah menakut-nakuti aku. Kau dapat menyebut nama-nama orang berilmu tinggi. Tetapi tentu hanya namanya saja yang ada di sini, karena orangnya tentu tidak akan sempat melakukannya.”

“Jadi kau tidak percaya bahwa Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala ada disini?“ bertanya Ki Lurah Tapajaya.

Ki Lurah memang ragu-ragu. Sementara itu pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya.

“Untunglah, aku telah mengirim lima kelompok prajurit,“ berkata Ki Lurah Dipayuda didalam hatinya, “jika kurang dari itu, maka para prajurit Pajanglah yang akan mengalami kesulitan menghadapi orang-orang yang telah menyamar menjadi penabuh gamelan dalam rombongan penari janggrung itu.”

Karena itu, maka Ki Lurah Dipayuda itu berkata, “Orangku jauh lebih banyak dari orang-orangmu.”

“Apakah jumlah itu sangat menentukan? Ki Lurah Dipayuda. Kau adalah seorang prajurit yang memiliki kelebihan dari para prajurit yang lain. Kau dalam sekilas tentu dapat menilai, apa yang akan terjadi jika pertempuran ini diteruskan.“ Ki Lurah Tapajaya berhenti sejenak, lalu, “karena itu, beri kesempatan saja kami meningkatkan arena ini.”

Tetapi Ki Lurah Dipayuda menjawab, “Seandainya kau yang mendapat tugas sebagaimana aku lakukan ini, apakah kau akan melepaskan lawan-lawanmu meskipun mereka pernah menjadi sahabatmu?”

“Aku kira aku cukup bijaksana untuk melakukan hal itu, karena aku tidak mau disebut pembunuh yang kejam bagi prajurit-prajuritku sendiri,“ jawab Ki Lurah Tapajaya.

“Apa maksudmu?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Kematian demi kematian akan terjadi disini. Lawan-lawan Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala akan mati seorang demi seorang. Itu adalah tanggung jawabmu karena kau tidak berusaha mencegahnya,“ berkata Ki Lurah Tapajaya.

“Aku tahu jalan pikiranmu,“ sahut Ki Lurah Dipayuda, “tetapi itu bukan jalan pikiran prajurit Pajang. Mungkin itu jalan pikiran baru yang berkembang diantara para prajurit Mataram.”

Ki Lurah Tapajaya tertawa pendek. Katanya, “Tetapi pertimbangkan baik-baik Ki Lurah.”

“Aku sudah mempertimbangkannya. Aku sudah dibekali sikap prajurit Pajang, sehingga aku yakin bahwa keputusanku tidak akan salah,“ jawab Ki Lurah Dipayuda.

“Baiklah,“ berkata Ki Lurah Tapajaya, “kita akan mulai. Kita adalah orang-orang yang termasuk dalam kelompok-kelompok yang memang harus bertempur.”

Ki Lurah Dipayuda tidak menjawab. Iapun segera bersiap. Namun rasa-rasanya sulit baginya untuk memusatkan perhatiannya kepada lawannya, karena mau tidak mau ia harus memikirkan kehadiran dua orang perwira yang namanya telah banyak dikenal di Pajang sebelumnya.

Namun sebelum keduanya mulai, Ki Tapajaya sempat berdesis, “Nah, apakah kau tidak yakin bahwa Ki Rangga Selamarta ada disini?”

Ki Dipayuda berpaling kearah sudut pandangan Ki Lurah Tapajaya. Seorang yang berpakaian lusuh seperti Ki Tapajaya tengah bertempur dengan garangnya. Ketika keduanya berloncatan tidak terlalu jauh dari sebuah oncor, maka Ki Lurah Dipayudapun segera mengenalinya. Orang itu memang Ki Rangga Selamarta.

Tetapi kedua orang itu justru diam mematung. Orang yang disebut memiliki ilmu yang tinggi dan sulit untuk ditundukkan itu ternyata tengah bertempur dengan seorang prajurit Pajang yang ternyata mampu mengimbanginya. Justru seorang prajurit yang masih muda. Barata.

Sejenak keduanya termangu-mangu. Ki Dipayuda sendiri tidak yakin akan penglihatannya. Namun ternyata pertempuran itupun berlangsung dengan sengitnya. Prajurit Pajang yang muda itu mampu mengimbangi kecepatan gerak dan kekuatan ilmu Ki Rangga Selamarta.

“Iblis manakah yang telah mampu melawan Ki Rangga itu?“ bertanya Ki Lurah Tapajaya diluar sadarnya.

Ki Lurah Dipayuda yang kemudian yakin bahwa prajurit Pajang itu adalah Barata menjawab, “Itulah kenyataannya Ki Lurah.”

Ki Lurah Tapajaya seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Bahkan iapun kemudian berkata, “Kita akan melihat, apa yang dilakukan oleh Ki Rangga Sanggabantala.”

“Jadi, kita tidak akan bertempur?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Bukan begitu. Aku hanya minta waktu,“ jawab Ki Lurah Tapajaya.

Keduanyapun kemudian telah menyelinap diantara pohon-pohon perdu di halaman samping. Ketika mereka sampai kesudut rumah, maka mereka melihat dua orang yang sedang bertempur dengan keras dan garang.

Seorang diantara mereka adalah Ki Rangga Sanggabantala, yang juga dalam pakaian penyamarannya.

Namun ternyata bahwa Ki Rangga juga mendapat seorang lawan yang mampu mengimbangi ilmunya. Ki Lurah Dipayuda segera dapat mengenalinya pula, Kasadha, salah seorang pemimpin kelompok yang masih muda, sebagaimana Barata, meskipun Ki Lurah menganggap bahwa Kasadha sedikit lebih tua dari Barata.

“Kau lihat Ki Lurah,“ desis Ki Lurah Dipayuda yang sebelumnya tidak pernah menduga bahwa kedua anak muda itu akan mampu mengimbangi kemampuan kedua orang perwira Pajang yang telah berpihak kepada Mataram itu.

Ki Lurah Dipayuda memang sudah mendapat keterangan tentang kelebihan kedua orang anak muda itu dari pelatih mereka. Tetapi Ki Lurah Dipayuda belum pernah melihat puncak dari kemampuan kedua anak muda itu. Sementara itu Kasadha dan Barata sendiri memang tidak pernah dengan sengaja memamerkan kemampuan mereka. Bahkan dalam setiap kesempatan keduanya seakan-akan sepakat untuk membatasi tataran kemampuan mereka yang mereka perlihatkan, agar mereka tidak terlalu menarik perhatian.

Tetapi ketika mereka berada di pertempuran dengan taruhan nyawa mereka dan nyawa para prajurit mereka, keduanya memang tidak mengekang diri lagi. Ketika keduanya melihat orang-orang Mataram yang dengan mudah mendesak para prajurit Pajang yang bertempur berpasangan, maka keduanya benar-benar telah bertempur dengan segenap kemampuan mereka.

Sebenarnyalah Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala terkejut menghadapi prajurit-prajurit muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan mampu mengimbangi kemampuan mereka.

“Ini tidak mungkin,“ geram Ki Rangga Selamarta.

Tetapi adalah satu kenyataan, ia telah bertempur dengan seorang prajurit yang masih sangat muda.

Ki Lurah Tapajaya tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Prajurit Pajang memiliki tenaga-tenaga muda yang kemampuannya diluar perhitungan mereka.

Sejenak kemudian maka Ki Tapajaya itupun berkata kepada Ki Lurah Dipayuda, “Ki Lurah, ternyata Pajang yang sudah menghadapi masa senjanya itu masih mampu menunjukkan pangeram-eramnya dengan melahirkan prajurit-prajurit muda yang pilih tanding.”

“Kau harus mengakuinya, Ki Lurah,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Ya. Aku harus mengakui. Anak-anak muda itu akan segera mendapat kedudukan dalam tatanan keprajuritan Pajang. Sementara itu orang-orang tua seperti Ki Lurah Dipayuda akan segera tersingkir,“ berkata Ki Lurah Tapajaya.

Ki Lurah Dipayuda tersenyum. Katanya, “Aku tidak tahu, apakah memang sudah menjadi ciri orang-orang Mataram untuk mengadu domba, mempengaruhi dengan licik serta merusak tatanan kehidupan sebagaimana kalian lakukan?”

“Ki Lurah,“ jawab.Ki Tapajaya, “seharusnya para pemimpin Pajang tanggap akan keadaan. Kami sama sekali tidak berniat dengan licik memenangkan perang. Tetapi adalah wajar bahwa didalam perang telah dilakukan cara-cara yang akan dapat menguntungkan apalagi mampu mengurangi korban. Kami memang memperlemah ketahanan orang-orang Pajang sehingga tidak akan terjadi benturan yang keras sehingga korban dikedua belah pihak tidak akan terlalu banyak.”

“Tetapi kau telah merusakkan tata kehidupan disini. Banyak keluarga yang hancur dan banyak orang-orang yang tiba-tiba saja menjadi miskin,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Kami memang berusaha mengalihkan perhatian mereka dari latihan-latihan perang yang kalian lakukan. Dengan demikian maka yang kemudian akan berhadapan adalah pasukan prajurit Pajang dan prajurit Mataram tanpa menyeret orang-orang padukuhan ini ke medan.”

“Tetapi mereka harus diajari untuk mencintai kampung halaman mereka. Mereka harus menyadari bahwa mereka bertanggung jawab atas keselamatan lingkungannya,“ jawab Ki Lurah Dipayuda,

“Sebenarnya mereka dapat melakukan hal yang sama bagi Mataram jika mereka dapat merasakan diri mereka keluarga besar dari Mataram,“ jawab Ki Lurah Tapajaya. Lalu katanya, “Karena sebenarnyalah bahwa pulung keraton telah berpindah ke Mataram sesuai dengan ramalan seorang yang memiliki ketajaman penglihatan dari daerah Timur. Namun sebenarnyalah bahan restu Kanjeng Sultan Pajang memang telah diberikan kepada puteranya yang sangat dikasihinya itu.”

“Satu dongeng ngayawara,“ desis Ki Lurah Dipayuda.

Ki Lurah Tapajaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita berpijak pada sudut pandangan yang berbeda.”

“Ya,“ jawab Ki Lurah Dipayuda, “kepentingan kitapun berbeda.”

Tanpa disepakati bersama, keduanya tiba-tiba saja telah bersiap. Mereka menyadari, bahwa pembicaraan mereka memang tidak akan dapat bertemu.

“Biarlah Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala menyelesaikan tugas mereka. Aku juga akan menyelesaikan tugasku disini,“ berkata Ki Lurah Tapajaya.

Ki Lurah Dipayuda tidak menjawab. Tetapi ia sudah benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah saling menyerang. Keduanya adalah Lurah prajurit yang tangguh yang memiliki kelebihan masing-masing, sehingga Ki Lurah Tapajaya digelari Macan Gupuh.

Tetapi Ki Lurah Dipayudapun seorang yang tangkas trengginas. Kakinya memang tidak dapat bergerak secepat Ki Lurah Tapajaya. Tetapi tangannya menyambar-nyambar dengan garangnya, sehingga seakan-akan orang itu memiliki lebih dari satu pasangan tangan.

Pertempuran antara kedua Lurah prajurit itu menjadi semakin lama semakin garang. Keduanyapun telah meningkatkan ilmu mereka sampai kepuncak. Agaknya kedua orang yang pernah saling mengenal sebelumnya itu tidak lagi berniat untuk saling menghindari permusuhan.

Sementara itu, para prajurit Pajangpun telah bertempur dengan garangnya pula menghadapi orang-orang Mataram yang menyamar sebagai penabuh gamelan dari sekelompok penari janggrung. Namun karena jumlah para prajurit Pajang lebih banyak dari lawan-lawannya, maka merekapun telah berhasil mendesak mereka.

Para penabuh gamelan yang sebenarnya adalah prajurit-prajurit Mataram itu memang tidak banyak mempunyai harapan. Bukan karena para prajurit Pajang memiliki kemampuan lebih baik dari mereka. Tetapi para prajurit Pajang itu jumlahnya terlalu banyak dibandingkan dengan jumlah mereka. Harapan mereka kemudian tertumpu kepada tiga orang yang dianggap memiliki ilmu tertinggi diantara mereka. Ki Lurah Tapajaya serta dua orang piyandel mereka, Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala.

Tetapi mereka bertiga ternyata telah menemukan lawan yang seimbang sehingga sulit diharapkan, bahwa mereka akan dapat membantu, apalagi mengusir para prajurit Pajang.

Di pendapa, Ki Demang dan beberapa orang prajurit tengah mengawasi orang-orang Kademangan yang tidak sempat menyingkir dari tempat itu. Tetapi orang-orang Kademangan yang datang dari berbagai pedukuhan itu telah benar-benar dapat dikuasai. Mereka duduk dengan gemetar menyaksikan pertempuran yang terjadi di halaman. Disekitar tempat mereka duduk. Sementara di sudut halaman lima orang tledek dikuasai sepenuhnya oleh beberapa orang prajurit.

Pertempuran antara para prajurit Pajang dengan orang-orang Mataram itu menjadi semakin sengit. Mereka menjadi semakin keras dan benturan-benturanpun menjadi semakin sering diiringi oleh teriakan-teriakan nyaring. Kemarahan, kebencian dan permusuhan telah menyala semakin tinggi bagaikan menjilat langit.

Ki Lurah Dipayuda masih bertempur dengan sengitnya melawan Ki Lurah Tapajaya. Keduanya telah mengenal ilmu masing-masing. Beberapa kali mereka bertemu diarena latihan-latihan besar. Bahkan sodoran di alun-alun disaksikan oleh para Senapati dan para pemimpin pemerintahan.

Tetapi kini keduanya tidak berdiri di arena latihan di alun-alun Pajang. Tetapi mereka benar-benar berada diarena untuk menyabung nyawa. Siapa yang lengah dari keduanya, maka taruhannya adalah umur mereka.

Karena itu, maka pertempuran diantara Ki Lurah Dipayuda dan Ki Lurah Tapajaya itu menjadi sangat sengit. Keduanya berada pada tataran yang sama. Sementara keduanya memiliki penalaran yang luas karena pengalaman merekapun sama-sama banyaknya. Mereka berdua tidak saja bertempur berlandaskan tenaga, kekuatan dan ilmu mereka. Tetapi juga dengan akal dan nalar mereka. Dengan tangkas mereka berloncatan. Tetapi dengan tangkas pula mereka mengambil sikap menghadapi saat-saat yang paling berbahaya. Keduanya saling menyerang, saling menghindar dan membenturkan ilmu mereka.

Tidak ada yang segera terdesak. Bahkan rasa-rasanya mereka akan dapat bertempur semalam suntuk tanpa ada yang kalah dan menang.

Di tempat lain, Ki Rangga Selamarta tengah bertempur melawan seorang prajurit muda dari Pajang. Namun sebelum Barata memasuki tugas keprajuritan, ia telah memiliki bekal yang cukup sehingga menghadapi seorang perwira yang tangguh dan memiliki nama yang mencuat dikalangan para prajurit sejak ia masih mengabdi di Pajang, anak muda itu sama sekali tidak menjadi gentar.

Keduanya telah bertempur dengan sengitnya. Mereka telah bergeser memilih tempat yang cukup luas di halaman samping. Barata sama sekali tidak menjadi canggung untuk bertempur dengan jangkauan jarak yang panjang. Berloncatan dengan cepat dan dengan langkah-langkah yang lebar. Tangan dan kaki yang tangkas bergerak susul menyusul bergantian dalam serangan-serangan yang berbahaya.

Ki Rangga Selamarta yang tidak mengira bahwa ia akan bertemu dengan seorang prajurit muda dari tataran yang seharusnya tidak lebih baik dari kawan-kawannya yang ada di halaman itu, justru merasa tersinggung. Ki Rangga Selamarta adalah seorang prajurit yang keras, didukung oleh kemampuan ilmunya yang tinggi. Karena itu, maka ia merasakan satu kejanggalan, bahwa ia tidak segera dapat mengalahkan seorang prajurit biasa dari pasukan Pajang yang ada di Kademangan Randukerep itu.

Karena itu, maka Ki Rangga itupun tidak mengekang ilmunya lagi. Justru ia telah berusaha untuk dengan secepatnya mengalahkan anak yang masih dianggapnya ingusan itu.

“Ilmu iblis yang manakah yang telah kau kuasai sehingga kau mampu melawan aku, anak muda?“ bertanya Ki Rangga Selamarta.

“Aku adalah seorang prajurit Pajang. Aku ditempa di barak prajurit oleh para pelatih terpilih,“ jawab Barata.

“Omong kosong,“ geram Ki Rangga, “aku juga bekas prajurit Pajang. Tidak ada seorang prajurit, apalagi semuda kau mendapat latihan sampai pada tingkat kemampuanmu sekarang.”

“Tetapi Ki Sanak juga mencapai tataran ini,“ desis Barata, “bukankah berarti bahwa landasan dasar prajurit Pajang adalah tataran kemampuan ini.”

“Jangan sombong anak muda,“ geram Ki Rangga, “lihat prajurit-prajurit yang lain. Ia tidak akan mampu berbuat apa-apa dihadapanku. Aku akan dapat menggilas dua tiga bahkan lima orang dalam waktu singkat. Tetapi ternyata kau mampu menghadapi aku sendiri.”

“Kau salah menilai kemampuan prajurit Pajang, Ki Sanak. Mungkin prajurit-prajurit yang memasuki tugas keprajuritan sebelum aku. Tetapi mereka yang datang bersamaan dengan aku, telah memiliki landasan tataran seperti ini,“ berkata Barata.

Ki Rangga Selamarta menjadi semakin marah. Anak muda itu rasa-rasanya justru mempermainkannya. Karena itu, maka iapun telah mengerahkan segenap kemampuannya sampai tuntas.

Sebenarnyalah bahwa Ki Rangga memiliki ilmu yang tinggi. Ia bergerak semakin cepat, berputar-putar, sehingga kakinya seakan-akan tidak lagi menyentuh tanah.

Tetapi Barata adalah anak muda yang ditempa di sanggar oleh orang-orang yang berilmu sangat tinggi. Barata adalah anak muda yang telah dipersiapkan untuk mewarisi ilmu Janget Kenatelon, sehingga dengan demikian, maka ia adalah anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi pula.

Dengan demikian maka betapapun Ki Rangga Selamarta mengerahkan kemampuan dilandasi oleh kemarahan yang menghentak-hentak jantungnya, namun ia tidak segera mampu mengalahkan anak muda itu.

Jantung Ki Rangga memang bergejolak menghadapi kenyataan itu. Apalagi ketika ia melihat sekilas, orang-orangnya telah berhasil di desak oleh prajurit-prajurit Pajang yang jumlahnya memang lebih banyak.

Dengan susah payah orang-orang yang mereka harapkan mampu melindungi mereka tertahan oleh lawan-lawan mereka yang seimbang, maka mereka memang menjadi sangat cemas. Meskipun kemampuan mereka seorang-seorang tidak kalah dari para prajurit Pajang, tetapi karena jumlah prajurit Pajang jauh melampui jumlah mereka, maka mereka memang tidak dapat mengimbanginya. Setiap orang harus melawan dua atau lebih prajurit Pajang yang ternyata juga memiliki bekal kemampuan.

Yang kemudian bertempur dengan sengitnya pula adalah Ki Rangga Sanggabantala. Ki Rangga Sanggabantalapun merasa heran menghadapi anak muda yang memiliki ilmu yang luar biasa tangguhnya. Karena itu maka iapun telah bertanya, “Siapakah kau sebenarnya anak muda.”

“Aku prajurit Pajang,” jawab Kashada.

“Aku tidak percaya. Prajurit Pajang tidak akan memiliki tataran ilmu setingkat dengan ilmumu. Bahkan pimpinanmu, Lurah Dipayuda itupun tidak akan mampu melawan aku. Apalagi kau, prajurit bawahan yang tidak berarti,“ geram Ki Rangga.

“Nah, bukankah kau sudah mengatakannya? Aku memang prajurit bawahan. Aku adalah seorang pemimpin kelompok yang membawahi sepuluh orang prajurit muda. Kami bersama-sama baru memasuki tugas keprajuritan beberapa saat lamanya,“ sahut Kasadha sambil berloncatan.

“Jadi kau prajurit baru?“ bertanya Ki Rangga.

“Ya,“ jawab Kasadha.

“Pantas. Kau tentu sudah memiliki ilmu yang tinggi sejak kau belum memasuki tugas keprajuritan, sehingga kau mampu bertahan melawan aku,“ geram Ki Rangga Sanggabantala, “siapa namamu anak muda?”

“Kasadha,“ jawab Kasadha, “siapakah nama Ki Sanak?”

“Namaku Sanggabantala,“ jawab Ki Rangga.

“Sanggabantala,“ ulang Kasadha.

“Ya. Rangga Sanggabantala. Aku dipercaya untuk melakukan tugas ini bersama Ki Rangga Selamarta. Karena itu, maka tugas ini harus aku selesaikan dengan baik.”

“Tugas apa? Apakah kau bertugas untuk menduduki Kademangan ini?“ bertanya Kasadha.

“Tidak, Tetapi Kademangan ini tidak boleh menjadi landasan kekuatan prajurit Pajang,“ berkata Ki Rangga.

“Lalu, kalian datang untuk memperlemah ketahanan Kademangan ini secara jiwani,“ berkata Kasadha.

“Ya,“ jawab Ki Rangga.

“Tetapi bukankah kau tahu, bahwa usahamu itu tidak akan pernah dapat kau teruskan setelah peristiwa ini?“ bertanya Kasadha.

“Dalam keadaan seperti ini, maka aku harus menghancurkan semua kekuatan Pajang disini,“ jawab Ki Rangga Sanggabantala.

Kasadha meloncat beberapa langkah surut. Ia sama sekali tidak terdesak oleh kekuatan Ki Rangga Sanggabantala. Tetapi ia memang mengambil jarak untuk berkata, “Bagaimana mungkin kau dapat menghancurkan kekuatan Pajang disini. Kau lihat Ki Rangga. Orang-orangmulah yang akan dihancurkan jika mereka tidak menyerah. Sementara itu, kita mendapat kesempatan untuk membuat perbandingan ilmu antara seorang perwira Mataram dengan seorang prajurit kebanyakan dari Pajang.”

“Aku akui tingkat ilmumu,“ jawab Ki Rangga, “tetapi kau adalah orang yang khusus. Kau jangan membohongi aku tentang kemampuan prajurit Pajang yang sebenarnya, karena aku adalah satu diantara para prajurit Pajang itu.”

“Baiklah,“ berkata Kasadha, “apapun yang pernah kita alami dalam tugas keprajuritan, namun sebaiknya kau perintahkan orang-orangmu sekarang ini menyerah.”

Ki Rangga yang seakan-akan memang memberi kesempatan kepada Kasadha berbicara banyak, masih belum menyerangnya sejak Kasadha melangkah surut untuk mengambil jarak.

“Anak muda,“ tiba-tiba saja suara Ki Rangga merendah, “kau harus dapat memandang masa depanmu dengan terang. Sebaiknya kau memandang jauh kedepan. Kau harus menilai persoalan yang berkembang antara Mataram dan Jipang.”

“Apa maksudmu?“ bertanya Kasadha.

“Kenapa kau tidak memilih tempat untuk memberikan pengabdian dengan landasan ilmumu yang tinggi?“ bertanya Ki Rangga Sanggabantala.

Kasadha mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa pendek, “Satu cara yang sangat baik untuk memperlemah kesanggupan lawan.”

“Kau tidak sempat memikirnya sebelumnya,“ berkata Ki Rangga pula.

Tetapi Kasadha menggeleng sambil berkata, “Jangan mengada-ada.”

“Tidak, Aku tidak mengada-ada. Tetapi aku berkata sebenarnya.”

“Kau benar,“ berkata Kasadha.

“Jadi kau sependapat?“ bertanya Ki Rangga.

“Kau benar bahwa aku tidak sempat memikirkannya. Karena itu jangan bermimpi bahwa aku akan melakukannya,“ jawab Kasadha.

“Anak yang tidak tahu diri,“ geram Ki Rangga, “baiklah. Aku hargai sikapmu. Kau ternyata seorang prajurit yang tegak diatas paugeran. Karena itu, maka kita akan mempertaruhkan keyakinan kita masing-masing dengan taruhan yang mahal.”

Kasadhapun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia sadar, bahwa dengan demikian Ki Rangga Sanggabantala agaknya akan bertempur habis-habis antara hidup dan mati.

Sebagai seorang anak muda maka Kasadha harus mengakui, bahwa pengalaman Ki Rangga Sanggabantala tentu jauh lebih banyak dari pengalamannya sendiri. Betapapun ia berbekal ilmu, tetapi ia harus sangat berhati-hati.

Sebenarnyalah sejenak kemudian Ki Rangga telah meloncat menyerang. Dengan nada geram ia berdesis, “Setinggi-tinggi ilmu yang kau miliki, namun kau tidak akan mampu bertahan sepenginang.”

“Aku masih terlalu muda untuk mati Ki Rangga,“ sahut Kasadha.

Ki Rangga tidak menjawab. Tetapi ia bergerak semakin cepat. Serangan-serangannya langsung kearah tempat-tempat yang paling berbahaya ditubuh lawannya.

Sedangkan Kasadhapun telafi mengerahkan segenap kemampuannya pula. Meskipun masih muda, namun ternyata bahwa Kasadha telah mempunyai pengalaman yang lebih luas jika dibandingkan dengan Barata. Tetapi Barata mengalami tempaan yang lebih keras di perguruannya.

Ketika Kasadha bertempur semakin sengit melawan Ki Rangga Sanggabantala, maka orang-orang Mataram yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu telah menjadi semakin terdesak. Beberapa orang justru telah terluka bahkan ada diantaranya yang menjadi parah.

Ki Lurah Tapajaya kemudian harus melihat kenyataan itu. Meskipun pimpinan ada ditangan Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala, namun ia mendapat tugas untuk mendampingi keduanya. Sementara itu, ia sendiri menyadari, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan Ki Lurah Dipayuda, bagaimanapun juga ia mengerahkan ilmunya, sebagaimana Ki Lurah Dipayuda tidak akan mampu mengalahkannya.

Karena itu, maka menurut pertimbangan Ki Lurah Tapajaya, Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala sebaiknya berusaha meninggalkan tempat itu. Sementara prajurit Pajang yang mengepung tempat itu sudah terseret langsung kedalam pertempuran.

Sekilas Ki Tapajaya masih melihat Ki Rangga Selamarta bertempur dengan sengitnya. Nampaknya Ki Rangga memang berusaha untuk menguras tenaga anak muda yang mampu mengimbanginya dengan pertempuran jarak panjang. Seperti seekor burung sikatan Ki Rangga menyambar-nyambar sehingga kakinya seakan-akan tidak menyentuh tanah. Tangannya yang berputaran rasa-rasanya menjadi lebih dari satu pasang.

Tetapi lawannya yang muda itupun mampu melakukannya pula, sehingga keduanya telah bertempur bagaikan dua bayangan yang sambar-menyambar di keremangan cahaya oncor dikejauhan.

Namun Ki Lurah Tapajayapun kemudian telah memberikan isyarat kepada kedua orang itu, agar keduanya lebih baik menyingkir saja. Mungkin para prajurit Mataram yang lain dapat saja ditangkap oleh para prajurit Pajang. Tetapi kedua orang perwira itu seharusnya tidak membiarkan dirinya menjadi tawanan. Mereka akan menjadi pangewan-ewan diantara para prajurit Pajang dan bahkan mungkin mereka akan dibawa menghadap para perwira Pajang yang sebelumnya adalah kawan-kawan mereka.

Ki Lurah Dipayuda yang bertempur melawan Ki Lurah Tapajaya itu memang sudah memperhitungkan, bahwa akhirnya orang-orang yang berilmu tinggi itu tentu akan berusaha meninggalkan arena. Karena itu, maka iapun berkata, “Apakah mungkin keduanya dapat melepaskan diri Ki Lurah. Sebagaimana kau yang tidak akan dapat lepas dari tanganku meskipun aku tidak akan dapat mengalahkanmu.”

“Aku masih memiliki kelebihan dari kau Ki Lurah,“ berkata Ki Lurah Tapajaya.

“Apa?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Kecepatan berlari,“ jawab Ki Lurah Tapajaya.

Ki Lurah Dipayuda tertawa. Namun sebenarnyalah, Ki Lurah Tapajaya yang tidak ingin tertangkap itu telah meloncat meninggalkan arena.

Dalam pada itu, Ki Lurah Dipayuda menjadi ragu-ragu untuk mengejarnya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Ki Lurah Tapajaya tentu tidak ingin menjadi tawanan di Pajang yang hampir semua orang dikenalnya. Jika ia mengejarnya dan berusaha menangkapnya, maka Ki Lurah tentu akan melawan sampai mati. Sementara itu sisa-sisa persahabatan diantara mereka telah menentukan sikap Ki Lurah Dipayuda.

Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala-pun ternyata tidak dapat mengingkari kenyataan. Seperti yang diperhitungkan oleh Ki Lurah Tapajaya, maka keduanya tidak akan membiarkan dirinya tertangkap. Apapun yang terjadi, maka mereka harus terlepas dari tangan orang-orang Pajang, atau mati sama sekali.

Tetapi sikap Barata dan Kasadha berbeda dari sikap Ki Lurah Dipayuda. Justru karena Kasadha dan Barata adalah orang-orang baru dikalangan keprajuritan Pajang. Karena itu, maka mereka berdua tidak begitu saja melepaskan kedua orang perwira prajurit Mataram itu.

Namun Ki Lurah Dipayuda telah memberikan isyarat kepada keduanya. Dengan bertepuk sambil menyebut nama keduanya, maka Ki Lurah telah menghentikan Barata dan Kasadha yang telah siap untuk mengejar kedua lawan mereka.

Barata dan Kasadha tidak berani melanggar isyarat itu. Tetapi dengan tergesa-gesa keduanya telah mendekati Ki Lurah.

“Kenapa Ki Lurah?“ bertanya Barata, “jika kita berkeras untuk melakukannya, maka kita tentu akan dapat menangkap mereka. Seandainya aku tidak dapat melakukannya sendiri, maka beberapa orang prajurit dapat dipanggil untuk membantuku.”

“Ki Lurah,“ Kasadha menyambung, “lawanku adalah Ki Rangga Sanggabantala. Ia tentu seorang perwira yang akan dapat banyak memberikan keterangan.”

“Ya,“ Ki Lurah mengangguk-angguk, “lawan Barata adalah Ki Rangga Selamarta sedang lawanku adalah Ki Lurah Tapajaya, yang aku kenal dengan baik sebelumnya. Keduanya memang perwira Pajang yang menyeberang ke Mataram dengan keyakinan yang berbeda dengan keyakinan kita, seperti juga lawanku, Ki Lurah Tapajaya. Tetapi sulit bagi kita untuk dapat menangkap mereka. Mereka adalah perwira-perwira yang keras hati, sehingga mereka tentu akan memilih mati daripada ditangkap oleh prajurit Pajang. Namun dengan demikian mereka akan sangat berbahaya. Kitapun tidak tahu pasti, apakah diluar dinding halaman ini tidak terdapat orang-orang yang sedang bersembunyi, yang akan dapat membahayakan kita masing-masing jika kita mengejar mereka sampai keluar batas halaman.”

Barata dan Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun pada keduanya masih nampak perasaan kecewa, bahwa Ki Lurah Dipayuda justru memberikan kesempatan mereka untuk melepaskan diri.

Tetapi kedua anak muda itu dapat mengerti pula alasan Ki Lurah Dipayuda agar mereka tidak mengejar kedua orang itu sampai keluar halaman. Karena mereka memang tidak tahu apa yang terdapat didalam kegelapan itu. Para prajurit Mataram yang berpengalaman itu tentu memiliki banyak cara untuk membebaskan dirinya.

Sementara itu, orang-orang Mataram yang ditinggalkan sudah tidak berdaya sama sekali. Mereka dengan segera menyerah sehingga sejenak kemudian, maka pertempuran itupun telah dapat diselesaikan.

Orang-orang Mataram itupun kemudian telah dikumpulkan terpisah dari orang-orang padukuhan yang akan ditangani oleh Ki Demang sendiri. Bahkan diantara mereka terdapat beberapa orang anak muda dan bahkan para pengawal.

“Kita bawa mereka ke Kademangan,“ perintah Ki Demang kepada beberapa orang bebahu yang menyusulnya setelah mereka mendengar bahwa telah terjadi pertempuran.

Dibantu oleh sekelompok prajurit, maka Ki Demang telah menggiring orang-orang Kademangan yang berada ditempat janggrung. Lima orang tledek itupun telah dibawa pula ke Kademangan.

Sebuah iring-iringan menyusuri jalan-jalan padukuhan. Sementara orang-orang se Kademangan ternyata telah mendengar kabar tentang pertempuran, sehingga seakan-akan seluruh Kademangan telah terbangun. Mereka menunggu perkembangan dengan cemas, karena mereka tidak segera mendapat berita apa yang sebenarnya telah terjadi. Merekapun tidak mendengar kentongan dalam nada apapun juga.

Tetapi orang-orang padukuhan yang dilewati iring-iringan itu justru menjadi heran, bahwa yang digiring oleh para prajurit Pajang serta para bebahu Kademangan itu, adalah justru orang-orang Kademangan itu sendiri.

Sementara itu, di bekas arena pertempuran itu, para prajurit Pajang yang lain masih menangani orang-orang Mataram yang tertangkap. Mereka juga merawat kawan-kawan mereka serta orang-orang Matalram yang terluka. Dua orang Mataram terluka parah. Beberapa orang yang lain hanya tergores saja ujung senjata. Sedangkan para prajurit Pajang tidak ada yang terluka sangat parah. Beberapa orang memang terkena ujung senjata. Tetapi mereka masih mampu bergerak sendiri setelah mendapat pertolongan, mengobati luka-luka mereka.

Dalam pada itu, Barata dan Kasadha masih berusaha menemukan orang yang telah menyamar dengan tahi i lalat palsu di hidungnya. Orang yang pernah tinggal di Kademangan itu serta sering membaca kidung dimalam hari. Namun yang kemudian menghilang dan datang kembali ke padukuhan itu bersama rombongan penari janggrung dengan sedikit penyamaran, namun yang tidak akan segera dapat dikenali oleh orang lain.

Tetapi keduanya tidak mendapatkan orang itu diantara para prajurit Mataram.

“Dimana orang itu?“ bertanya Barata hampir berbisik kepada Kasadha.

“Seperti hantu,“ jawab Kasadha, “tempat ini dikepung rapat. Baru setelah pertempuran terjadi serta orang-orang Mataram itu berhasil didesak maka para prajurit yang mengepung tempat ini turun ke medan. Itupun sambil mengawasi kemungkinan seseorang melarikan diri. Perintah yang kita terima, tidak seorangpun boleh lolos.

“Apakah orang itu sempat melakukan penyamaran dengan ujud yang lain lagi? Kita belum begitu mengenalnya. Jika orang itu menghapus tahi lalatnya, menambah kumis palsu dan mengenakan ikat kepala dengan gaya yang lain, maka kita sudah tidak akan dapat mengenalinya lagi,“ berkata Barata.

“Malam ini kita tidak dapat mengenalinya. Tetapi besok, kita tentu akan dapat melakukannya. Kita akan mendengar pendapat beberapa orang yang pernah berhubungan dengan orang itu. Para pengawal yang sering datang kerumahnya,“ berkata Kasadha.

“Tetapi kita tidak akan dapat minta pendapat pembantunya. Ia akan dapat memberikan kesan yang menyesatkan kita. Agaknya ia adalah jenis orang yang setia kepada tuannya,“ desis Barata.

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara itu, para prajurit telah selesai dengan tugas mereka. Semua orang telah terkumpul. Beberapa orang prajurit yang masih mengamati halaman depan, ihalaman .samping dan kebun belakang telah yakin bahwa tidak seorangpun lagi yang masih bersembunyi.

“Apakah orang disebut Ki Tapajaya itulah yang kita cari?“ desis Kasadha.

Tetapi Barata menggeleng. Katanya, “Jika benar orang itu, maka ia tidak akan berani berada di Kademangan ini ketika pasukan Pajang datang. Orang itu tentu tahu bahwa yang memimpin pasukan ini adalah Ki Lurah Dipayuda yang sudah dikenalnya dengan baik. Ia melarikan diri karena ia merasa curiga atas kehadiranku pada salah seorang kawannya yang juga sering membaca kidung dipadukuhan yang lain, bukan karena kedatangan Ki Lurah.”

Kasadha mengangguk-angguk. Desisnya, “Ya. Jika orang itu pernah mengenal Ki Lurah, ia akan pergi begitu Ki Lurah datang.”

Namun anak-anak muda itu tidak kehilangan harapan untuk menemukannya. Disiang hari mereka akan dapat lebih cermat mengamati mereka seorang demi seorang.

Ketika semuanya sudah selesai dibenahi, maka Ki Lurah memutuskan untuk membawa para prajurit Mataram itu ke padukuhan induk. Dengan demikian maka para prajurit Pajang itu akan dapat mengawasi mereka dengan lebih cermat.

Di Kademangan malam itu telah terjadi kesibukan yang luar biasa. Para bebahu dan beberapa orang prajurit Pajang, telah membawa orang-orang padukuhan yang berada di arena janggrung ke halaman rumah Ki Demang.

Para prajurit yang bertugas di Kademangan itupun menjadi sibuk pula. Para prajurit yang ikut menggiring orang-orang dari arena janggrung itupun telah memberikan keterangan selengkapnya kepada kawan-kawan mereka, sehingga merekapun mengerti apa yang harus mereka lakukan.

Ki Demang dengan sengaja belum memberikan keterangan apa-apa. Orang-orang itu dibiarkan berada di-halaman semalam suntuk di udara terbuka. Dinginnya malam serta titik-titik embun membuat mereka kedinginan. Namun Ki Demang telah memerintahkan agar mereka tetap menunggu.

Sementara itu, para prajurit Pajangpun telah membawa tawanan mereka pula. Tetapi para tawanan itu tidak dibawa ke Kademangan, tetapi kerumah disebelah, yang dihuni oleh para prajurit Pajang. Yang terluka telah dibaringkan di pendapa. Sementara itu yang parah telah diusung oleh kawan-kawannya yang tidak mengalami cidera dan mendapat perawatan khusus oleh seorang yang dianggap mumpuni dalam soal pengobatan dalam pasukan Pajang yang ditempatkan di Kademangan Randukerep.

Di padukuhan induk itu Barata dan Kasadha masih saja berusaha mencari orang yang sebelumnya memukul gendang dengan wajah yang dengan sengaja disamarkan. Namun ternyata mereka tidak menemukannya, sehingga rasa-rasanya darah kedua anak muda itu menjadi semakin panas di dalam tubuh mereka.

“Apaboleh buat,“ berkata Barata.

“Agaknya orang itu tentu orang yang disebut Ki Tapajaya. Hanya ada tiga orang yang dapat melarikan diri dari halaman arena janggrung itu. Ki Rangga Selamarta, Ki Rangga Sanggabantala dan Ki Lurah Tapajaya. Kedua orang Rangga itu tentu bukan orang yang kita cari. Satu-satunya kemungkinan adalah lawan Ki Lurah Dipayuda. Ketiganya dengan tiba-tiba saja telah melarikan diri, sehingga para prajurit Pajang yang menjadi lengah karena kemenangan yang sudah dihadapan hidung, tidak lagi sempat mencegah mereka. Apalagi Ki Dipayuda sendiri telah mencegah kita mengejar mereka karena pertimbangan-pertimbangan tertentu,“ berkata Kasadha.

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin juga meskipun kemungkinan yang tipis. Agaknya Ki Lurah Tapajaya yang mengetahui bahwa Ki Dipayuda ada di Kademangan ini, telah memutuskan untuk tidak akan keluar dari rumahnya. Sementara ia memperhitungkan, bahwa Ki Lurah itu tidak akan masuk ke dalam rumahnya.

Namun keduanya tetap menunggu sampai siang. Keduanya masih berusaha untuk berbicara dengan beberapa orang pengawal yang telah mengenal orang yang sering membaca kidung di padukuhan induk itu.

Dalam pada itu, ketika matahari terbit, maka Ki Demang telah berdiri ditangga pendapa memandangi orang-orangnya yang kedinginan di halaman. Disampingnya berdiri Ki Lurah Dipayuda beserta para bebahu. Agak ke samping berdiri sepuluh orang pemimpin kelompok prajurit Pajang yang berada di Kademangan itu.

Dalam pada itu, seorang Bekel yang telah menjelang hari tuanya, ternyata telah berteriak, “Ki Demang. Apa Ki Demang berwenang memperlakukan aku seperti ini? Aku adalah seorang Bekel yang bertugas memimpin sebuah padukuhan.”

“Kenapa kau berada disitu?“ bertanya Ki Demang.

“Kenapa? Jadi Ki Demang justru bertanya? Bukankah kau dan para prajurit Pajang telah menangkap kami yang tidak bersalah dengan kelakuan yang sewenang-wenang?“ geram Ki Bekel.

“O, jadi kau menganggap aku berbuat sewenang-wenang? Tetapi di mana Ki Bekel saat aku mengepung arena janggrung itu?“ bertanya Ki Demang.

Ki Bekel tidak segera menjawab. Tetapi Ki Demanglah yang berkata lebih lanjut, “Bukankah kau seorang Bekel yang telah berambut putih, tetapi di setiap malam masih juga membawa dua diantara para tledek itu pulang kerumah tanpa menghiraukan perasaan Nyi Demang yang telah tua itu pula?”

Wajah Ki Bekel itu menjadi merah. Tetapi ia masih juga menjawab sebagaimana pernah diucapkan, “Bukankah itu sudah kelebihan, Ki Demang.”

Orang-orang yang kedinginan itu ternyata ada juga yang sempat tertawa. Namun Ki Demang berkata, “Kalian harus mendapat peringatan lebih keras daripada sekedar menunggu semalam suntuk. Kalian harus menyadari, bahwa apa yang telah kalian lakukan itu sama sekali tidak menguntungkan keadaan kita sekarang ini. Nah, sekarang kalian melihat sendiri, bahwa janggrung itu dengan sengaja telah disusupkan oleh orang-orang Mataram. Bahkan para pengiring gamelan itu adalah para prajurit Mataram.”

Orang itu berdiam. Sementara Ki Demang berkata, “Kalian seharusnya menjadi sadar hari ini bahwa kalian telah terjebak.”

Orang-orang itu justru menunduk, sementara Ki Demang telah memberikan penjelasan panjang.

Akhirnya Ki Demang itupun berkata, “Semua orang boleh pulang kecuali para pengawal yang ada diantara kalian.”

Orang-orang yang ada di halaman itu menarik nafas lega. Setelah semalam suntuk mereka berada dihalaman dibawah titik-titik embun serta di hembus oleh angin basah yang dingin, maka mereka diperkenankan meninggalkan halaman itu.

Namun ketika mereka melangkah keluar regol halaman, mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat beberapa orang prajurit Pajang dan beberapa bebahu termasuk Ki Jagabaya telah bersiap mengamati mereka. Para pengawal yang ada diantara mereka ternyata tidak mungkin lagi untuk lolos bersembunyi diantara orang-orang padukuhan itu. Satu-satu mereka yang berusaha untuk keluar dalam desakan tetangga-tetangganya, telah dihentikan dan ditarik keluar dengan keras oleh para prajurit.

Para pengawal itu tidak berani menentang. Para prajurit yang baru saja bertempur itu kelihatan menjadi lebih garang dari hari-hari yang lewat.

Sementara itu, maka Ki Lurah Dipayudapun telah memerintahkan memanggil semua kelompok pengawal dari semua padukuhan di Kademangan itu beserta semua bekel dan bebahu.

Namun bersamaan dengan itu, Ki Lurah Dipayuda pun telah melepaskan kelompok cadangan untuk mengadakan pengamatan disekeliling Kademangan. Dengan kuda yang ada kelompok itu telah meninggalkan Kademangan untuk meronda terutama diarah orang-orang Mataram diperhitungkan mempersiapkan landasan.

Ternyata Ki Demang yang sabar itu, sempat juga marah dan berbicara dengan keras dan tegas kepada para pemimpin kelompok pengawal Kademangan itu.

“Yang terjadi semalam hendaknya menjadi peringatan bagi kita,“ berkata Ki Lurah Dipayuda dengan lantang, “beberapa orang prajurit telah terluka. Tetapi kita dapat menangkap beberapa orang yang memang dikirim oleh Mataram untuk membius kita disini.”

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Sedangkan Ki Lurah berkata selanjutnya, “Disini ada beberapa orang pengawal yang ikut tergiring diantara mereka yang mengelilingi rombongan penari janggrung itu dengan tidak mengingat lagi tugas mereka. Bahkan ada diantara mereka yang seharusnya malam itu bertugas menjaga padukuhannya digardu induk di padukuhan itu, ternyata sibuk menunggui para penari janggrung.”

Beberapa orang pemimpin kelompok merasa bersalah, bahwa mereka kurang cermat mengamati anak buah mereka.

Namun kemudian Ki Lurah Dipayuda berkata, “Tetapi sudahlah. Pengalaman ini kita jadikan dorongan untuk berbuat lebih baik. Aku berani bertaruh bahwa dalam waktu dekat, Mataram akan menyerang Kademangan ini dengan terbuka. Tidak lagi dengan cara seperti yang dilakukan itu.”

Keterangan Ki Lurah Dipayudalitu memang menarik perhatian. Bahkan beberapa orang memang menjadi berdebar-debar.

“Karena itu,“ Ki Lurah meneruskan, “kita semuanya harus bersiap menghadapinya. Kita harus bangun dari mimpi buruk yang memang dihembuskan oleh Mataram itu.”

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Sementara itu beberapa orang bekel yang memang sejak semula bertekad untuk mempertahankan Kademangannya menjadi semakin mantap. Ki Bekel yang bertubuh tinggi kekar yang disegani oleh para bekel yang lain itupun berkata, “Sedumuk bathuk senyari bumi Ki Lurah.”

“Bagus,“ sahut Ki Lurah Dipayuda, “seharusnya kita semuanya bersikap seperti itu.”

Dengan menunjuk beberapa orang pengawal yang terlibat dalam judi, sabung ayam dan tari janggrung, Ki Lurahpun kemudian telah memerintahkan para pengawal berbenah diri. Ki Lurah akan segera menurunkan prajurit-prajuritnya untuk memberikan goncangan agar para pengawal itu benar-benar bangun dari mimpi buruknya itu.

“Kita harus bersiap sebelum mereka benar-benar datang. Kita tidak tahu apakah mereka akan membawa pasukan sejumlah seratus orang seperti jumlah yang tentu telah mereka ketahui dari para prajurit Pajang disini, atau lipat dua atau tiga. Tetapi aku yakin bahwa di Matarampun tidak akan mudah untuk mengumpulkan orang dan sudah tentu tidak semua prajurit Mataram memiliki kemampuan sebagaimana yang telah mereka kirim sebagai pengiring tari janggrung itu. Kebanyakan prajurit Mataram tidak akan lebih baik dari para pengawal kita. Apalagi orang-orang yang baru saja mereka panggil memasuki tugas keprajuritan dari antara orang-orang yang biasanya hanya bekerja disawah. Bahkan tanpa sempat memberikan latihan-latihan perang kepada mereka,“ berkata Ki Lurah selanjutnya.

Ternyata bahwa sesorah Ki Lurah itu mampu menyentuh hati para pemimpin kelompok pengawal Kademangan Randukerep itu, sehingga merekapun berjanji kepada diri sendiri untuk berbuat lebih baik dari waktu-waktu yang lampau.

Dengan terperinci Ki Demang telah memberikan penjelasan tentang keadaan Kademangan itu dengan orang-orang yang telah membaca kidung sebelumnya.

“Seharusnya aku mendapat keterangan dari kalian,“ berkata Ki Lurah, “tetapi sekarang, akulah yang memberi keterangan kepada kalian.”

Para pemimpin kelompok pengawal itu menundukkan kepalanya.

Sementara itu Ki Demangpun telah memberikan beberapa petunjuk kepada para bekel dan bebahu Kademangan sehubungan dengan meningkatnya pertentangan antara Mataram dan Pajang.

“Kita akan bekerja keras,“ berkata Ki Demang, “karena kita merupakan bagian dari dua kekuatan yang sedang bertentangan. Kita harus menentukan sikap. Jika kita tidak menentukan sikap yang pasti, maka justru kita akan terinjak-injak di tengahnya.”

Beberapa saat Ki Demang dan Ki Lurah masih memberikan pesan-pesan. Namun kemudian Ki Lurah berkata kepada para pemimpin kelompok, “Kembalilah kepada kelompok kalian. Mereka harus berkumpul hari ini untuk mendapatkan beberapa petunjuk dari para prajurit yang akan turun kesemua padukuhan.”

Sejenak kemudian maka pertemuan itupun telah dibubarkan. Namun Ki Demang masih minta para bebahu tinggal di Kademangan. Mereka akan mendapat tugas untuk bersama-sama pengawal yang akan bergiliran menjaga para tawanan serta merawat mereka yang terluka dibawah pengawasan para prajurit. Namun sebagian besar para prajurit akan tersebar di padukuhan-padukuhan untuk mempersiapkan para pengawal sebaik-baiknya menghadapi keadaan yang menjadi semakin panas.

Para prajurit Pajang tidak menunggu sampai besok. Hari itu juga segala-galanya telah dimulai. Para pengawal yang telah tertangkap di arena janggrung telah langsung mendapat hukuman di lapangan tempat para pengawal itu dikumpulkan untuk mendapat penjelasan-penjelasan khusus. Hukuman yang sebelumnya tidak pernah dikenakan kepada para pengawal di Kademangan itu. Mereka harus melakukah unsur-unsur gerak yang pernah diajarkan oleh para prajurit kepada para pengawal dalam pertempuran gelar dan secara pribadi.

Sikap para prajurit Pajang pada umumnya nampak berubah. Mereka tidak lagi tersenyum-senyum dan menegur dengan kata-kata terpilih sebagaimana sebelumnya, jika para pengawal melakukan kesalahan dalam latihan-latihan. Tetapi wajah-wajah para prajurit itu menjadi keras seperti batu padas. Mereka berkata dengan kalimat-kalimat pendek dan tegas. Geraknyapun menjadi semakin keras.

Sikap para prajurit itu memang berpengaruh atas para pengawal. Ada diantara mereka memang merasa bersalah atau merasa lambat berbuat, karena mereka tidak dapat berbuat sesuatu pada saat pertempuran terjadi antara para prajurit Pajang dengan orang-orang Mataram yang datang dalam rombongan janggrung itu.

Dengan demikian maka para pemimpin kelompok pengawal telah berusaha untuk selanjutnya berbuat lebih baik. Merekapun telah mendengar dari para prajurit, sebagaimana dikatakan oleh Ki Lurah Dipayuda, bahwa prajurit Mataram tentu akan segera menyerang. Karena itu, maka Kademangan itu harus membangun gardu-gardu lebih banyak di lorong-lorong masuk setiap padukuhan. Melengkapi dengan kentongan serta melakukan pengawasan jauh diluar Kademangan. Beberapa orang pengawal setiap saat harus berada di bulak-bulak panjang ditempat yang tidak langsung dapat dilihat orang, mengawasi setiap gerakan yang mungkin akan membahayakan Kademangan itu.

“Kita dapat memperhitungkan, jika pasukan Mataram bergerak, mereka akan menempuh jalan tertentu. Ada tiga jalur jalan utama yang harus diawasi, meskipun kita juga harus memperhitungkan kemungkinan mereka menempuh jalan setapak. Karena itu, maka selain pengawasan ditempat yang tetap, perlu orang-orang yang meronda siang dan malam. Mereka dapat melakukannya dengan cara yang sedikit terselubung. Misalnya anak-anak muda yang berpura-pura menyabit rumput namun tidak dengan segera memenuhi keranjangnya. Orang-orang yang bekerja disawah. Menunggui air atau kerja-kerja lain yang tidak menarik perhatian. Namun mereka harus dengan cepat memberikan isyarat jika mereka melihat gerakan yang mencurigakan. Bukan saja gerakan pasukan, tetapi juga gerakan para petugas sandi,“ Baratapun memberikan penjelasan pula kepada para pengawal dari ketiga padukuhan yang menjadi tanggung jawabnya bersama Kasadha.

Kedua pemimpin kelompok yang masih muda itu telah memilih beberapa orang diantara para pengawal yang menyatakan dirinya dengan suka rela untuk mengawasi gerakan pasukan Mataram diluar padukuhan. Mereka berdua telah memberikan beberapa petunjuk yang harus dilakukan dalam keadaan yang paling gawat.

Barata dan Kasadha telah merencanakan membuat jalur tali yang panjang menyusuri pematang. Para pengawas di bulak-bulak yang luas atau di gubug-gubug ditengah sawah atau mereka yang menyabit rumput dapat menarik tali-tali itu jika mereka melihat bahaya mengancam Kademangannya.

“Adalah kebetulan bahwa padukuhan kita terletak di hadapan kemungkinan datangnya prajurit Mataram,“ berkata Kasadha kepada para pengawal yang telah terpilih untuk menjadi pengawas itu.

Dimalam hari berikutnya, maka tali-tali itu sudah terentang dari berbagai tempat di bulak panjang membelit beberapa patok bambu yang langsung terkait pada genta yang tidak begitu besar, sehingga bunyinyapun tidak terlalu keras, yang sekedar dapat didengar oleh orang-orang yang bertugas.

Demikianlah maka Kademangan itu telah mengadakan persiapan yang sebaik-baiknya. Para prajurit Pajang-pun telah memberikan petunjuk-petunjuk terperinci kepada para pengawal.

Dihari-hari berikutnya para pengawal telah mendapat latihan-latihan yang lebih berat dari sebelumnya. Tetapi para prajurit Pajang condong memberikan petunjuk-petunjuk dan latihan-latihan yang berhubungan langsung dengan pertahanan yang harus disusun sebaik-baiknya di Kademangan itu.

Namun prajurit Pajang memang tidak mempunyai cukup waktu. Ternyata pengaruh buruk dari perjudian, sabung ayam, tari janggrung dan kemalasan yang timbul karenanya, pertentangan diantara keluarga, telah menghilangkan gairah perjuangan. Bahkan keluarga yang pecah karena kehadiran para penari janggrung serta karena kekalahan diperjudian dan sabung ayam, telah membuat ketahanan di Kademangan itu menjadi rapuh.

Dengan usaha yang tidak mengenal lelah, prajurit Pajang telah berusaha membangunkan mereka. Menyingkirkan segala persoalan dan memusatkan segala perhatian bagi pertahanan Kademangan itu, sebagaimana pernah diucapkan oleh seorang bekel, “Sedumuk bathuk, senyari bumi.”

Namun ternyata bahwa prajurit Pajang tidak dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Sebagian dari para pengawal benar-benar bangkit. Tetapi yang lain justru menjadi acuh tidak acuh. Mereka seakan-akan melakukannya dengan terpaksa dan bahkan mereka merasa telah diperlakukan tidak adil oleh para prajurit Pajang yang menjadi semakin keras.

Ternyata bahwa Matarampun telah membuat perhitungan tersendiri. Kekalahan orang-orang Mataram telah menimbulkan kemarahan pada pimpinan keprajuritan. Mereka menganggap bahwa peristiwa itu merupakan tamparan yang tidak akan dapat mereka biarkan saja.

Karena itu, maka seperti yang diperhitungkan oleh orang-orang Pajang di Kademangan Randukerep, orang-orang Mataram telah menyusun kekuatan yang jauh lebih besar dari perhitungan mereka atas kekuatan yang ada di Kademangan itu, meskipun tidak terdiri dari prajurit-prajurit.

Sementara itu keputusan Panembahan Senapati di Mataram telah mempengaruhi sikap para prajurit Mataram pula. Panembahan Senapati telah memerintahkan pasukannya untuk maju dan membuat pesanggrahan disebelah Barat Kali Opak, karena pada saat itu pula Pajang telah mengadakan perkemahan pula di Prambanan, disebelah Timur Kali Opak.

Agaknya gerjikan yang dilakukan oleh Pajang itu telah mensita segala perhatian para pemimpin keprajuritan Pajang, sehingga mereka kurang memperhatikan kemungkinan benturan-benturan yang terjadi dibeberapa tempat, karena pasukan Mataram telah menyusup memasuki daerah Pajang jauh mendahului pasukan induknya yang akan berhadapan langsung dengan kekuatan Pajang.

Demikianlah, di Prambanan kedua kekuatan itu telah saling berhadapan.

Bersama pasukan Pajang telah datang pula pasukan yang dibawa oleh para Adipati Tuban, Demak dan bahkan Banten. Sementara itu Panembahan Senapati di Mataram hanya dapat mengumpulkan prajurit dalam jumlah yang lebih kecil.

Tetapi seperti diperhitungkan oleh prajurit Pajang, yang berada di Kademangan Randukerep, bahwa Mataram telah mengerahkan hampir semua laki-laki yang dapat di kirim ke medan dari Kademangan-kademangan yang telah dapat di pengaruhinya. Namun diantara mereka memang terdapat prajurit-prajurit pilihan.

Ki Rangga Selamarta, Ki Rangga Sanggabantala dan Ki Lurah Tapajaya telah berhasil pula menghimpun kekuatan yang sangat besar jumlahnya dibanding dengan kekuatan Pajang di Kademangan Randukerep, meskipun sebagian besar dari mereka adalah anak-anak muda dari beberapa Kademangan. Namun dengan sedikit petunjuk cara mempergunakan senjata serta bertempur dalam ikatan gelar maka mereka tetap merupakan ancaman yang sangat berbahaya.

Ternyata Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala atas pertimbangan Ki Lurah Tapajaya berpendapat, bahwa Randukerep harus segera direbut, mendahului pertempuran besar yang akan segera terjadi di Prambanan.

“Jangan beri kesempatan para pengawal dan anak-anak muda Randukerep bangkit dari kemalasannya,“ berkata Ki Lurah Tapajaya.

Dengan demikian, maka Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantalapun dengan cepat pula telah menyusun kekuatan yang akan segera diberangkatkan ke Kademangan Randukerep.

“Jika Kademangan itu telah jatuh, maka akan terbukalah jalah ke Utara. Jika pasukan Panembahan Senapati berhasil maju dari arah Barat, maka kita akan maju dari arah Selatan,“ berkata Ki Tapajaya.

Kedua orang Rangga yang memimpin usaha untuk membuat ketahanan orang-orang Kademangan Randukerep itu rapuh, telah sekaligus mendapat tugas untuk memimpin pasukan yang harus membuka pintu serangan dari arah Selatan menuju ke Pajang.

Demikianlah, maka tanpa menunggu perkembangan keadaan di Prambanan, pasukan yang dipimpin kedua orang Rangga itu telah bergerak. Mereka telah mempergunakan perhitungan yang rumit pula. Sebagian dari pasukan itu akan menyerang dari arah yang memang seharusnya ditempuh. Tetapi sebagian dari pasukan mereka justru telah melingkari jalan sempit, memanjat kaki bukit dan turun dari arah yang tidak diperkirakan sama sekali oleh orang-orang Randukerep dan para prajurit Pajang yang ada di Kademangan itu.

Jumlah mereka memang tidak begitu banyak. Tidak lebih dari limapuluh orang. Tetapi mereka adalah orang-orang terpilih dibawah pimpinan Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala, sementara Ki Lurah Tapajaya akan membawa sepasukan yang jumlahnya lebih besar dari arah yang memang diperhitungkan oleh para prajurit Pajang.

Kedatangan serangan itu ternyata memang terlalu cepat menurut perhitungan Ki Lurah Dipayuda. Tetapi segala persiapan sudah dilakukan. Pengawasan telah diatur dengan tertip, serta alat-alat untuk memberikan isyaratpun telah siap.

Karena itu, maka sebelum orang-orang Mataram itu mendekati padukuhan pertama dari Kademangan, mereka tentu sudah dapat dilihat oleh para pengawas di Kademangan Randukerep.

Dalam pada itu, maka pada malam yang sudah ditentukan, maka pasukan Mataram itu sudah bersiap sepenuhnya dilandasan serangan mereka. Mereka sempat menyusun diri sehingga jika perintah datang, mereka tinggal bangkit dan berangkat.

Tetapi para pemimpin dari Mataram itu masih memberi kesempatan mereka untuk beristirahat.

“Besok, menjelang dini kita berangkat. Kita harus memasuki Kademangan Randukerep sebelum matahari terbit, sehingga kita tidak akan menjadi silau dalam benturan pertama yang terjadi,” perintah Ki Lurah Tapajaya.

Namun dalam pada itu, limapuluh orang terpilih telah mulai merayap memanjat lereng pegunungan. Mereka melintasi medan yang berat sebelum mereka mencapai tempat peristirahatan yang telah mereka tentukan sebelumnya.

“Pasukan yang dipimpin oleh Ki Lurah Tapayuda akan menyerang menjelang matahari terbit,“ berkata Ki Rangga Selamarta, “kita akan menyusul sesaat kemudian. Kita tidak akan menjadi silau oleh terbitnya matahari sebagaimana jika kita datang dari arah Barat.”

“Mudah-mudahan orang-orang Pajang itu tidak memperhitungkan kemungkinan yang kita tempuh,“ berkata Ki Rangga Sanggabantala.

“Ternyata Pajang memiliki anak-anak muda yang tangguh,“ desis Ki Rangga Selamarta.

“Sungguh diluar perhitunganku. Tetapi kali ini, kita tidak akan gagal,“ sahut Ki Rangga Sanggabantala.

Meskipun hanya sebentar, namun orang-orang terpilih yang jumlahnya hanya lima puluh orang itu sempat beristirahat.

Namun Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala tidak dapat beristirahat sama sekali. Keduanya digelisahkan oleh kemungkinan yang dapat terjadi di Kademangan Randukerep.

Dalam pada itu Ki Rangga Selamarta berkata, “Tetapi nampaknya diantara orang-orang Pajang itu hanya dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi, selain Ki Lurah Dipayuda sendiri.”

“Mudah-mudahan tidak ada orang lain,“ sahut Ki Rangga Sanggabantala, “tetapi nampaknya prajurit-prajurit muda dari Pajang itu pada umumnya memiliki bekal ilmu yang cukup.”

“Kita harus dengan segera menyelesaikan Kademangan ini. Menurut seorang penghubung, pasukan Pajang di Prambanan jumlahnya lebih banyak dari pasukan Mataram. Jika kita dapat menyesuaikan diri dan menyerang dari sisi Selatan Pajang, maka mungkin akan mempengaruhi keseimbangan jumlah pasukan di Prambanan, karena Pajang tentu akan menarik sebagian dari pasukannya. Sayang bahwa Kademangan Randukerep nampaknya luput dari tangan kita, sehingga kita tidak dapat memanfaatkan anak-anak mudanya,“ berkata Ki Rangga Sangganbantala.

Apakah kita akan dapat memasuki Pajang?“ bertanya Ki Rangga Selamarta.

“Kita tidak akan memasuki kota Pajang yang tentu akan banyak mengalami kesulitan meskipun hampir seluruh kekuatan Pajang dan bantuan yang datang dari luar Pajang dikerahkan di Prambanan. Namun jika kita mengganggu langsung kota Pajang sendiri, maka sehagaian dari kekuatan itu tentu akan benar-benar akan ditarik,“ berkata Ki Rangga Sanggabantala.

Ki Rangga Selamarta mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Sementara itu malam rasa-rasanya terlalu panjang. Meskipun ia sudah menempuh perjalanan yang sulit dilereng pebukitan untuk memasuki Kademangan Randukerep dari sisi Selatan, namun agaknya fajar masih belum akan segera menyingsing.

Namun dalam pada itu, selagi mereka berdua merenungi kemampuan lawan mereka, maka seorang penghubung telah datang menemui mereka.

“Ada apa?“ bertanya Ki Rangga Selamarta, “apakah Ki Lurah Tapajaya merubah rencananya, atau timbul persoalan baru?”

“Tidak Ki Rangga,“ jawab penghubung itu, “tetapi baru saja datang utusan dari Ki Tumenggung Purbarana.”

“Ki Tumenggung Purbarana?,“ Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala hampir berbareng mengulang. Keduanya memang terkejut bahwa tiba-tiba saja ada utusan dari Senapati Mataram yang telah memerintahkan mereka untuk menguasai sisi Selatan Pajang.

Perintah Ki Tumenggung, “Jika tidak dapat kau kuasai secara kewadagan, maka kau harus menguasainya dengan memperlemah ketahanan jiwani, sehingga sisi Selatan akan menjadi pintu kedua memasuki Pajang setelah pasukan induk yang dipimpin oleh Panembahan Senapati sendiri.”

Dalam pada itu, penghubung itu menjawab, “Ya Ki Rangga. Utusan itu telah membawa perintah baru dari Ki Tumenggung.”

“Perintah apa?“ bertanya Ki Rangga Selamarta tidak sabar.

“Perintah untuk menarik pasukan, terutama dua-puluh lima orang prajurit Mataram terpilih dan para pengawal yang ada didaerah ini,“ jawab penghubung itu.

“Disini memang hanya ada duapuluh lima prajurit itu. Yang lain adalah para pengawal yang juga harus kita pilih. Selebihnya adalah orang-orang dan anak-anak muda dari Kademangan-kademangan yang telah kita himpun selama ini,“ jawab Ki Rangga Sanggabantala.

“Para prajurit dan para pengawal itu diperlukan di Prambanan segera. Laporan kegagalan kita beberapa hari yang lalu telah sampai ke telinga Ki Tumenggung,“ berkata penghubung itu.

Ki Rangga Selamarta menggeram. Tetapi ia masih bertanya, “Bagaimana dengan Ki Lurah Tapajaya?”

“Pesan Ki Lurah, kita akan menyelesaikan Randukerep lebih dahulu. Baru kita menarik diri untuk kembali dan bergabung dengan Ki Tumenggung Purbarana,“ jawab penghubung itu. Lalu, “Nah, keputusan terakhir terserah kepada Ki Rangga berdua. Jika Ki Rangga berdua memutuskan untuk menarik pasukan sekarang ini, maka Ki Lurah akan melakukannya.”

“Tidak,“ jawab Ki Rangga Sanggabantala, “kita akan memasuki Kademangan itu lebih dahulu.”

“Aku sependapat,“ sahut Ki Rangga Selamarta, “jika kita menarik pasukan yang sudah siap untuk bertempur ini, maka secara jiwani pasukan ini akan kehilangan gairah perjuangannya. Kekecewaan itu akan mereka bawa meskipun kita sudah berada di Prambanan, disebelah Barat Kali Opak.”

Penghubung itu hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Ki Rangga Selamarta membentaknya, “He, bagaimana pendapatmu? Kau malah mengantuk.”

“Tidak Ki Rangga, “orang itu tergagap, “tetapi aku hanya sekedar menjalankan perintah.”

“Kenapa utusan Ki Tumenggung itu tidak kau ajak kemari?“ bertanya Ki Rangga Selamarta.

“Menurut Ki Lurah Tapajaya, cukup aku saja yang menyampaikan perintah ini,“ jawab penghubung itu.

Ki Rangga Sanggabantala tiba-tiba tertawa pendek. Katanya, “Agaknya Ki Lurah ingin mencegah pembicaraan antara kita disini dengan utusan itu. Ki Lurah merasa cemas bahwa kita disini akan menyetujui untuk dengan segera menarik pasukan.”

Penghubung itu tidak menjawab. Sementara itu Ki Rangga Selamarta berkata, “Cepat kembali kepada Ki Lurah yang tentu sudah mulai bersiap-siap. Aku sependapat untuk menyelesaikan Kademangan ini lebih dahulu.”

Penghubung itupun kemudian telah minta diri untuk kembali kepada Ki Lurah. Jarak diantara mereka memang agak jauh, sementara malampun telah semakin dekat dengan dini hari.

Tetapi penghubung itu tidak terlambat. Ia sampai ke landasan pasukan induk Mataram itu tepat pada saat Ki Tapajaya mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Kademangan Randukerep.

Utusan yang datang itupun memaklumi. Jika pasukan itu dicegah mengayunkan langkah terakhir, maka akibatnya akan memukul bagian dalam tubuh pasukan itu sendiri.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Tapajaya telah membawa pasukannya mendekati Kademangan. Dengan hati-hati Ki Tapajaya maju. Ia sengaja memberikan kesan bahwa jumlah pasukannya jauh lebih besar dari jumlah prajurit Pajang yang ada di Kademangan Randukerep. Dengan demikian, maka Ki Tapajaya berusaha untuk menyembunyikan kelemahannya. Yang berjumlah banyak itu sebagian adalah anak-anak muda yang begitu saja dihimpun dari Kademangan-kademangan yang berada dibawah pengaruh Mataram. Hanya beberapa bagian kecil saja diantara mereka adalah para pengawal yang sudah terlatih. Beberapa orang bekas prajurit yang umurnya telah merambat kesetengah abad, yang menganggap Mataram akan menjadi satu kekuatan yang lebih baik dari Pajang. Sedangkan lainnya adalah orang-orang yang sekedar mendapat beberapa petunjuk untuk mempergunakan senjata serta perang dalam kesatuan pasukan. Sedangkan prajurit yang sesungguhnya hanya mereka yang memimpin kelompok-kelompok tertentu saja, karena sebagian besar diantara mereka berada bersama Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala bersama beberapa orang pengawal pilihan.

Beberapa orang prajurit terbaik dari Mataram itu justru telah terperangkap ketika mereka ikut menjadi pengiring tari janggrung beberapa malam sebelumnya.

Mendekati fajar maka pasukan Ki Lurah telah mendekati Kademangan. Ki Lurah telah membentang pasukannya lebar-lebar. Beberapa pertanda kebesaran telah dibawanya pula untuk memberikan wibawa pada pasukannya itu.

Namun Ki Lurah Tapajaya telah berpesan kepada orang-orangnya, agar mereka menghindari pertempuran seorang melawan seorang. Mereka harus tetap dalam ikatan kelompok-kelompok kecil.

“Kali ini jumlah kita lebih banyak. Prajurit Pajang hanya seratus orang. Para pengawal Kademangan agaknya tidak dapat diharapkan meskipun tentu ada diantara mereka yang akan ikut bertempur. Sementara itu, pada saatnya pasukan Ki Rangga keduanya akan menyerang dari lambung,“ berkata Ki Lurah Tapajaya untuk membesarkan hati orang-orangnya.

Sementara itu, para pengawas dari Kademangan Randukereppun telah melihat kehadiran pasukan itu. Karena itu, maka beberapa orang diantara mereka yang berada digubug-gubug telah menarik tali-tali yang menghubungkan dengan padukuhan pertama yang ditunggui oleh para prajurit Pajang serta beberapa orang pengawal.

Demikian tali isyarat itu ditarik beberapa kali, maka para pengawas itupun segera berlari menuju ke padukuhan.

Isyarat itupun telah memanggil pasukan yang ada di Kademangan itu untuk bersiap. Para prajurit Pajangpun telah ditarik ke padukuhan itu. Delapan kelompok akan berada di padukuhan pertama, sedangkan dua kelompok yang lain akan merupakan pasukan cadangan. Meskipun para pengawal telah berkumpul pula untuk ikut menyusun pasukan, tetapi para prajurit Pajang agak kurang yakin terhadap ketahanan jiwani mereka. Apalagi setelah Kademangan itu benar-benar dalam keadaan bahaya, tidak semua orang yang menyatukan diri sebagai pengawal hadir dalam pasukan yang dipersiapkan.

Sejenak kemudian, maka pasukan yang ada di Kademangan itu telah berusaha untuk menyongsong pasukan yang datang dalam jumlah yang besar itu. Ki Dipayuda berniat untuk bertempur melawan pasukan Mataram itu justru diluar padukuhan.

“Mereka datang dari arah yang kita perhitungkan,“ berkata Ki Dipayuda, “agaknya mereka memang mengerahkan kekuatan mereka dalam jumlah yang besar.”

Kedua orang pemimpin kelompok yang menjadi pendampingnya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak menjawab.

Sementara itu, Ki Tapajayapun telah memerintahkan untuk membakar dua buah gubug yang ada ditengah sawah. Bukan saja untuk menakut-nakuti lawan, tetapi sebagai isyarat yang tentu akan dapat dilihat oleh Ki Rangga berdua tanpa menimbulkan kecurigaan. Jika Ki Tapajaya mempergunakan panah api atau panah sanderan, maka para prajurit Pajang akan segera mengetahui bahwa ada sekelompok pasukan lain selain yang datang dari depan. Tetapi dengan membakar gubug di sawah kesannya tentu akan lain.

***

Jilid 25

 

BEBERAPA saat kemudian, maka apipun telah menyala. Gubug itu memang tidak begitu besar. Tetapi karena terbuat dari bahan yang mudah terbakar, maka dalam sesaat api bagaikan melonjak menjilat langit.

Orang-orang Randukerep dan para prajurit Pajang yang melihat api itu memang menjadi marah. Mereka mengira bahwa orang-orang Mataram mulai bertindak kasar. Mulai membakar dan merusak.

“Untunglah bahwa yang mereka bakar baru dua buah gubug disawah,“ berkata salah seorang diantara orang-orang Randukerep.

“Entahlah jika mereka berhasil memasuki padukuhan-padukuhan,“ sahut yang lain.

“Kita akan mempertahankannya,“ desis orang yang pertama.

Sementara itu kedua pasukan itupun menjadi semakin dekat. Beberapa orang pengawal Mataram yang menyertai pasukan itu telah bersiap dipaling depan. Mereka harus memberikan kesan, bahwa prajurit-prajurit Matarampun memiliki kemampuan seimbang dengan prajurit-prajurit Pajang. Meskipun dibelakang mereka adalah orang-orang padukuhan yang telah menyatakan diri berpihak kepada Mataram dan baru sedikit sekali memiliki kemampuan olah kanuragan.

Demikianlah maka kedua pasukan itupun menjadi semakin dekat. Ki Lurah Dipayuda telah meneriakkan perintah untuk menyerang pasukan Mataram agar mereka tidak sempat mendekati padukuhan.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itupun telah berbenturan. Para pengawal Mataram yang ada didalam pasukan itu, dalam jumlah yang kecil, telah berada di depan sambil mengacu-acukan senjata mereka. Ketika benturan terjadi, maka para pengawal itu dengan sigap memutar senjata mereka dan berusaha untuk menahan arus lawan yang marah.

Namun sejenak kemudian, mulai nampak, bahwa prajurit Pajang dalam jumlah yang lebih banyak, memiliki ketrampilan bermain senjata melampaui lawan-lawannya. Tetapi Mataram telah datang dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Meskipun demikian, maka pasukan Ki Lurah Tapajaya itu sulit untuk mengimbangi kekuatan pasukan Pajang. Dalam beberapa saat maka tekanan prajurit Pajang mulai terasa semakin berat.

Karena itu, maka Ki Lurah Tapajaya telah memanfaatkan jumlah mereka yang lebih banyak. Memang hal itu sudah diperhitungkan oleh Ki Tapajaya, sehingga ketika ia memberikan isyarat, maka orang-orang Mataram telah berusaha untuk melebar melampaui batas tebaran pasukan Pajang. Beberapa kelompok diantara mereka telah melingkar dan bertempur dari sisi gelar lawan. Meskipun Mataram dan Pajang tidak mempergunakan gelar yang jelas, namun pasukan mereka yang menebar memang mempunyai bagian-bagian sebagaimana mereka menyusun gelar.

Dengan memanfaatkan jumlah yang lebih banyak, maka Ki Lurah Tapajaya untuk beberapa saat mampu bertahan sehingga pasukannya tidak terdesak surut.

Namun dalam pada itu, ketika kedua pasukan itu sudah bertempur, maka pasukan kedua dari Mataram, yang justru terdiri dari prajurit-prajurit pilihan telah melihat isyarat yang diberikan oleh Ki Tapajaya dengan membakar dua buah gubug di tengah-tengah sawah.

Dengan isyarat itu, maka Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala segera mulai bergerak. Mereka akan memasuki Kademangan Randukerep dari lambung.

Sebenarnyalah bahwa pasukan kedua orang Rangga itu tidak banyak mendapat perlawanan. Ketika mereka melintasi padukuhan yang pertama, maka para pengawal padukuhan itu yang jumlahnya tinggal sedikit, tidak mampu berbuat apa-apa. Namun mereka masih sempat membunyikan isyarat yang paling mudah dapat mereka capai. Kentongan.

Dengan demikian maka sejenak kemudian telah terdengar suara kentongan dalam nada titir keseluruh penjuru Kademangan. Setiap padukuhanpun segera mempersiapkan diri. Namun jumlah mereka terlalu sedikit untuk menahan arus pasukan Mataram. Sebagian besar dari pengawal yang dapat dihimpun oleh Pajang telah dikerahkan ke medan diarah Barat.

Karena itu, maka limapuluh orang pilihan diantara orang-orang Mataram itu maju dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain tanpa terhambat. Mereka langsung menuju ke padukuhan induk Kademangan Randukerep.

Sementara itu, pasukan cadangan yang ada di Kademangan Mataram telah mempersiapkan diri pula. Bersama dengan para pengawal yang ada dengan keberanian yang terbatas, dua kelompok prajurit Pajang berusaha untuk mengatasi keadaan.

Dua orang penghubung telah sampai kepadukuhan induk dan memberitahukan arah kedatangan sekelompok prajurit Mataram serta kekuatan mereka.

“Sekitar ampat puluh sampai enampuluh orang,” jawab penghubung itu ketika pemimpin kelompok prajurit Pajang minta keterangan tentang kekuatan lawan.

Dengan cepat prajurit Pajang itu telah menyusun pasukan. Dengan cepat pula mereka bergerak menyongsong pasukan lawan, sebelum mereka memasuki padukuhan induk Kademangan.

Sementara itu, Ki Lurah Dipayuda telah terpengaruh pula oleh suara kentongan dalam nada titir itu. Apalagi ketika dua orang penghubung telah memberikan laporan pula kepadanya tentang kedatangan pasukan Mataram dari arah Selatan.

“Seberapa besar pasukan yang datang itu?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Lebih dari limapuluh orang,” jawab penghubung itu mengira-ira.

Ki Lurah memang menjadi berdebar-debar. Ia hanya meninggalkan dua kelompok pasukan cadangan. Sementara itu sulit untuk menghimpun pengawal yang tersisa sampai berjumlah lebih dari limapuluh. Sementara Ki Lurah tahu dengan pasti, bahwa kekuatan yang datang dari sisi Selatan itu justru orang-orang yang terpilih.

“Ternyata Ki Lurah Tapajaya sangat cerdik. Aku telah dikelabuinya,“ berkata Ki Lurah Dipayuda didalam hatinya.

Karena itu, maka iapun telah memerintahkan satu kelompok prajuritnya dan satu kelompok pengawal untuk meninggalkan medan itu dan bergabung dengan kelompok cadangan. Mereka harus membawa semua pengawal yang dapat mereka jumpai disepanjang jalan menuju ke medan disisi Selatan itu.

Dengan demikian maka kekuatan disisi Barat itupun menjadi berkurang. Apalagi jumlah lawan memang masih terlalu banyak. Tetapi Ki Lurah tidak akan menyerahkan padukuhan induk begitu saja kepada para prajurit Mataram.

Atas perintah Ki Lurah, maka Kasadha telah meninggalkan pertempuran disisi Barat bersama sekelompok pengawal. Mereka bergegas mengikuti kedua orang penghubung yang memberikan laporan itu menuju ke arah kedatangan pasukan Mataram disisi Selatan. Ketika mereka melalui sebuah padukuhan, maka pengawal yang masih ada di padukuhan itu untuk menjaga ketenangan para penghuninya telah dibawa serta. Karena semua ada tujuh orang, maka lima orang telah mengikuti Kasadha menuju ke medan. Demikian pula di medan berikutnya. Kasadha dapat mengajak tujuh orang dari sepuluh orang yang ada. Tetapi di padukuhan kecil berikutnya Kasadha hanya menemukan tiga orang pengawal, sehingga karena itu, maka tidak seorangpun yang diajaknya serta.

Sementara itu, kedua kelompok prajurit Pajang serta sejumlah pengawal telah menyongsong kedatangan limapuluh orang prajurit dan pengawal terpilih dari Mataram. Disebuah bulak yang luas, maka kedua pasukan itu telah bertemu. Namun limapuluh orang pasukan dari Mataram itu adalah orang-orang terpilih, sementara lawannya hanya terdiri dari duapuluh orang prajurit dan sejumlah pengawal. Sedangkan seandainya jumlah kedua pasukan itu sama, maka pasukan Mataram akan segera mendesak pasukan Pajang yang dibantu oleh para pengawal Randukerep. Apalagi jumlah para prajurit dan pengawal dari Mataram yang terpilih itu lebih banyak.

Namun dalam pada itu, para prajurit Pajang dan para pengawal Kademangan itupun segera melihat sepasukan kecil prajurit dan pengawal yang berlari-lari menuju ke medan pertempuran.

Adalah diluar sadar, bahwa merekapun segera bersorak disambut oleh teriakan-teriakan yang mengguntur dari mereka yang baru datang. Para prajurit Pajang yang dipimpin oleh Kasadha itu dengan sengaja memberikan dorongan kekuatan jiwani kepada mereka yang sudah mulai bertempur, sementara para pengawal Kademangan Randukerep berteriak sekeras-kerasnya untuk mengusir kegelisahan yang mulai meraba jantung.

Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua pasukan itupun menjadi lebih seimbang. Bahkan prajurit Pajang dan pengawal Kademangan itu jumlahnya memang lebih banyak. Tetapi lima puluh orang Mataram itu adalah orang-orang pilihan.

Karena itu, maka kekuatan kedua pasukan itupun rasa-rasanya memang menjadi seimbang.

Tetapi kekuatan pasukan Pajang dan Randukerep di sisi sebelah Baratlah yang telah terguncang. Dua kelompok telah meninggalkan pasukan mereka. Apalagi jumlah mereka sejak semula memang lebih sedikit.

Karena itu, maka para prajurit Pajang harus bekerja keras untuk bertahan agar mereka tidak terdesak semakin mendekati padukuhan.

Tetapi jumlah yang besar dari orang-orang Mataram itu memang sangat berpengaruh. Meskipun mereka bukan orang-orang yang cukup terlatih, tetapi mereka sudah belajar memegang senjata serba sedikit, sehingga dalam jumlah yang besar, mereka memang menjadi cukup berbahaya.

Dalam pada itu, mataharipun telah memanjat semakin tinggi di langit. Panasnya semakin terasa menyengat punggung. Meskipun orang-orang Mataram yang dipimpin oleh Ki Lurah Tapajaya tidak lagi menjadi silau, namun keringat yang bagaikan terperas dari setiap tubuh telah membasahi pakaian mereka.

Namun ketika telapak tangan merekapun menjadi basah oleh keringat, maka orang-orang yang sedang bertempur itu memang menjadi semakin garang. Senjata mereka menjadi semakin cepat berputar. Benturan-benturan kekuatan dan dentang senjata beradu semakin menyala bersama dengan teriakan-teriakan kemarahan dan erang kesakitan.

Darah memang telah mulai mengalir menitik diatas bumi Kademangan Randukerep. Betapapun kedua belah pihak merasa bahwa mereka adalah keluarga, bahkan ada diantara mereka adalah bekas kawan berbincang, namun di medan mereka saling mengintai kelemahan masing-masing.

Di sisi Barat, jumlah orang-orang Mataram memang jauh lebih banyak dari orang-orang Pajang dan Randukerep. Meskipun prajurit Pajang yang berjumlah tujuh-puluh orang itu bertempur dengan gigihnya, namun jumlah orang Mataram yang dua kali lipat itu sangat menyulitkan. Sedangkan para pengawal dan anak-anak muda Kademangan Randukerep sendiri tidak terlalu banyak dapat diharapkan.

Namun dalam pada itu, maka disisi Selatan, keadaan Pajang ternyata lebih parah lagi. Lima puluh terpilih dari prajurit dan pengawal Mataram itu benar-benar bagaikan arus banjir yang sulit untuk dibendung.

Seperti disisi Barat, maka para pengawal dan anak-anak muda Kademangan Randukerep yang telah mendapat sedikit latihan itu, kurang menunjukkan ketabahan hati untuk mempertahankan kampung halamannya.

Apalagi untuk waktu yang agak lama, mereka telah terpengaruh oleh orang-orang yang memang dikirim oleh Mataram untuk memperlemah ketahanan jiwani orang-orang Randukerep. Bahkan pernyataan yang setiap kali dilontarkan oleh orang-orang Mataram tiba-tiba telah mencuat kembali di hati orang-orang Randukerep, “Tidak ada bedanya. Apakah berada dibawah kuasa Pajang atau Mataram. Bahkan jika ada diantara mereka yang tetap ingin bertahan untuk kepentingan Pajang, maka mereka tentu akan menyesal. Sebentar lagi Pajang akan ditundukkan oleh Mataran. Mereka yang berpihak Pajang sudah barang tentu tidak akan mendapat tempat.”

Dengan demikian maka para pengawal dan orang-orang Randukerep memang tidak dapat memusatkan kemampuan sepenuhnya. Keragu-raguan itu semakin lama menjadi semakin mencengkam ketika mereka melihat bagaimana orang-orang Mataram itu bertempur. Apalagi mereka yang ada disisi Selatan. Mereka harus menghadapi lima puluh orang yang berilmu tinggi menurut penilaian mereka, karena limapuluh orang itu adalah para prajurit dan pengawal terpilih dari Mataram.

Untuk beberapa lama kedua pasukan itu bertempur dengan garangnya. Para prajurit Pajang disisi Barat masih mampu mengimbangi kekuatan lawannya yang jumlahnya jauh lebih banyak, meskipun orang-orang Randukerep sendiri tidak menunjukkan tingkat perjuangan yang tinggi. Beberapa orang justru menjadi kehilangan keberanian dan berusaha untuk berlindung dibelakang para prajurit. Sementara itu, orang-orang Mataram seakan-akan telah berniat untuk menelan lawan-lawannya hidup-hidup.

Untunglah bahwa Ki Lurah Dipayuda telah membawa sebagian besar prajurit-prajuritnya di sisi Barat, sehingga dengan jumlah yang jauh lebih kecil, ia masih juga bertahan. Namun hampir setiap orang harus melawan lebih dari seorang lawan. Sementara itu, diantara orang-orang Mataram itu juga terdapat para pengawal yang terlatih dari Kademangan-kademangan yang telah menyatakan diri berpihak kepada Mataram.

Di sisi Selatan, pasukan Mataram semakin lama semakin nampak menguasai pertempuran. Agak lebih cepat dibanding dengan pasukan disisi Barat. Perlahan-lahan prajurit Pajang dan para pengawal dari Randukerep telah terdesak. Ki Rangga Selamarta langsung berhadapan dengan Kasadha, sementara Ki Rangga Sanggabantala telah menghadapi dua orang pemimpin kelompok prajurit Pajang yang lain.

Namun ternyata para prajurit Pajang dan para pengawal yang lain tidak mampu untuk bertahan ditempat. Mereka semakin lama semakin terdesak surut. Para pengawal Kademangan Randukerep yang kurang berpengalaman, apalagi menghadapi para prajurit dan pengawal pilihan dari Mataram itu, bukan saja menjadi gentar. Tetapi perasaan takut mulai merayapi jantung mereka.

Prajurit Pajang yang sudah terlatih itu berusaha untuk berbuat sejauh dapat mereka lakukan. Tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa lawannya terlalu kuat untuk ditahan. Seperti menahan arus banjir bandang.

Disisi sebelah Baratpun keseimbangan mulai berubah, ketika para pengawal Kademangan Randukerep telah kehilangan kemampuan mereka. Ketika matahari mencapai puncak langit, maka sebagian dari mereka tidak lagi mempunyai sisa tenaga untuk bertempur. Meskipun orang-orang Mataram sebagian juga telah tidak bertenaga pula, tetapi dalam jumlah yang lebih banyak, mereka justru mulai menguasai medan.

Sementara itu para prajurit Pajang yang mengerahkan segenap kekuatan sejak benturan pertama terjadi, harus mengakui, bahwa tugas mereka menjadi sangat berat. Keringat mereka bagaikan telah terperas habis, sementara panas matahari bagaikan membakar kulit.

Ki Lurah Dipayuda sendiri telah bertempur melawan Ki Lurah Tapajaya. Keduanya memang memiliki kemampuan yang seimbang, sehingga rasa-rasanya keduanya tidak akan pernah dapat mengalahkan yang satu atas yang lain.

Dalam keadaan yang gawat itulah, maka Ki Dipayuda mendapat laporan dari dua orang penghubung. Sementara tiga orang prajurit Pajang menggantikan kedudukan Ki Lurah Dipayuda, maka Ki Lurah itu telah mendengarkan laporan yang dibawa oleh kedua orang penghubung itu tentang pertempuran di sisi Selatan.

Wajah Ki Lurah memang menjadi tegang. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Ia dapat memaksa pasukannya untuk bertempur terus. Tetapi yang akan terjadi adalah penyerahan korban yang tidak berarti. Sementara orang-orang Kademangan Randukerep sendiri tidak banyak memberikan bantuan.

Meskipun demikian, Ki Lurah Dipayuda masih memberikan perintah, “usahakan untuk bertahan. Laporkan kepada Ki Demang, bahwa keadaan menjadi gawat. Kirimkan semua pengawal yang ada untuk mengatasi kesulitan di medan disisi Selatan. Secepatnya sebelum orang-orang kita dibantai sampai habis.”

Penghubung itu segera berlari menuju ke padukuhan induk. Mereka langsung menuju ke Kademangan untuk menyampaikan pesan Ki Lurah Dipayuda.

Sementara itu, keadaan prajurit Pajang di kedua medan menjadi semakin sulit. Tetapi mereka yang berada disisi Selatan mengalami kesulitan yang lebih parah.

Ketika matahari mulai turun kesisi Barat, maka telah datang laporan yang sangat menyakitkan hati Ki Lurah Dipayuda. Dua orang penghubung telah datang berlari-lari. Dengan wajah yang sangat tegang, maka orang itu telah menghadap Ki Dipayuda yang meninggalkan lawannya, sementara tiga orang prajurit berusaha untuk menahan Ki Lurah Tapayuda.

Namun agaknya Ki Lurah Tapajaya memang memberi kesempatan kepada Ki Lurah Dipayuda untuk mendengarkan laporan yang menyesakkan dadanya.

“Ki Demang sudah tidak berpengharapan lagi. Bahkan Ki Demang sudah menganjurkan untuk menyerah saja,“ berkata penghubung itu.

“Gila,“ geram Ki Lurah Dipayuda, “apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Ki Demang itu?”

“Menurut Ki Demang, sudah tidak ada lagi pengawal yang tersisa. Ia tidak ingin orang-orangnya terlalu banyak terbunuh di medan perang ini. Agaknya Ki Demang telah mendapat laporan keadaan medan yang mulai berat sebelah,“ berkata penghubung itu.

“Inikah tekad Ki Demang yang nampaknya memberikan harapan sebagai seorang pahlawan itu? Begitu mudah kehilangan gairah perjuangannya?“ Ki Lurah Dipayuda menjadi sangat marah.

Tetapi penghubung itu berkata, “Ki Demang tidak lagi mau berbuat sesuatu.”

“Persetan dengan Ki Demang,“ geram Ki Lurah, “kita akan menghancurkan lawan kita tanpa bantuan Ki Demang.”

Namun suara Ki Lurah merendah, “Bagaimana medan disisi Selatan itu?”

Kedua penghubung itu termangu-mangu. Seorang diantara mereka berkata, “Kami baru saja datang dari padukuhan induk.”

“Pergilah ke medan sisi Selatan. Hubungi Kasadha. Jika keadaan memaksa, biarlah ia mencari jalan untuk membebaskan diri dari medan bersama para prajurit Pajang. Kita akan membuat satu tempat untuk mengadakan hubungan lagi. Alas Kecil Trawangan di sebelah gumuk kecil itu,“ berkata Ki Lurah Dipayuda yang tidak dapat ingkar dari kenyataan serta tidak ingin membiarkan prajuritnya ditumpas oleh kekuatan dari Mataram. Lalu katanya selanjutnya, “Jika aku tidak datang ketempat itu, maka artinya aku tidak mampu keluar dari lingkaran pertempuran ini. Hidup atau mati.”

Kedua penghubung itu tidak bertanya labih banyak lagi. Mereka sadar, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Karena itu maka merekapun segera berangkat ke medan di sisi Selatan. Bahkan kemudian mereka telah berlari-lari tanpa merasakan betapa tubuh mereka menjadi sangat letih. Bahkan kaki-kaki merekapun menjadi semakin lemah.

Namun keduanya masih sempat mencapai medan. Ternyata medan pertempuran itu telah bergeser agak jauh. Beberapa orang terbaring diam di sepanjang geseran pertempuran itu.

Keadaan pasukan Pajang dan para pengawal Kademangan itu memang menjadi kian parah.

Karena itu, maka orang itupun dengan serta merta telah mencari kesempatan untuk berbicara dengan Kasadha.

Kasadha memang berusaha untuk dapat berbicara dengan penghubung itu. Karena itu, maka iapun telah memanggil dua orang prajuritnya. Sementara seorang diantara penghubung itu telah berusaha membantu kedua orang prajurit itu.

“Tahanlah orang itu sejenak,“ berkata Kasadha, “aku akan mendengarkan pesan dari Ki Lurah.”

Penghubung itu dengan singkat telah menyampaikan pesan Ki Lurah. Mereka akan dapat saling berhubungan lagi di Alas kecil yang bernama Alas Trawangan.

“Kecuali jika Ki Lurah Dipayuda tidak dapat keluar dari arena,“ berkata penghubung itu.

Wajah Kasadha memang menjadi merah. Ia tidak dapat menerima keadaan yang dihadapinya. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan itu. Ia tidak dapat karena dorongan perasaannya membiarkan para prajurit Pajang itu terbunuh dengan sia-sia.

Namun Kasadha itu berkata didalam hatinya, “Lebih baik menyingkir dari medan daripada harus menyerah.”

Keputusan itu tiba-tiba telah mengental didalam hatinya, sehingga iapun telah bertekad dengan bulat.

Menurut perhitungan Kasadha, mereka tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk menyingkir jika mereka justru terlambat. Selagi mereka masih mempunyai kekuatan, maka mereka akan dapat meninggalkan medan sambil mempertahankan diri.

Demikianlah maka sejenak kemudian Kasadha itupun telah berloncatan menghubungi beberapa orang prajurit dari kelompok yang lain untuk dapat disampaikan kepada pimpinannya yang masih bertempur. Sementara itu, maka iapun telah berbisik pula kepada beberapa orang pengawal yang sempat dihubungi, “Menyerah bagi kalian akan lebih baik pada saat kami meninggalkan medan. Orang-orang Mataram tentu tidak akan berbuat kasar kepada kalian, karena mereka masih memerlukan bantuan kalian.”

Para pengawal itu mula-mula tidak tahu maksudnya. Namun tiba-tiba saja mereka mendengar isyarat yang diberikan oleh Kasadha.

Medan itu dengan cepat telah bergejolak. Para prajurit Pajang telah berusaha mengacaukan arena pertempuran itu. Kemudian merekapun segera berusaha untuk menghindar.

Dengan perhitungan dan sikap prajurit yang terlatih, maka para prajurit Pajang itu telah berusaha menarik diri dan mendekati sebuah pategalan yang menjadi rimbun oleh pepohonan.

Prajurit Mataram tidak dapat membiarkan pasukan lawan itu menjauh. Namun dengan kesadaran bahwa pasukan itu tentu akan meninggalkan medan, maka pasukan Mataram telah berusaha untuk mengurungnya.

Namun para prajurit Pajang lebih dahulu mencapai pategalan itu. Demikian mereka memasuki dinding pategalan yang terbuat dari bambu yang mudah dikoyakkan, maka pasukan itupun segera tertebar dan seakan-akan telah ditelan oleh pepohonan.

Prajurit Mataram memang berusaha untuk memburunya. Tetapi prajurit Pajang telah memanfaatkan selain pepohonan juga gerumbul-gerumbul perdu dan tanaman palawija yang tumbuh di pategalan itu.

Dengan demikian, maka para prajurit Pajang itu dengan latihan-latihannya yang mapan telah berhasil melepaskan diri dari lawan-lawan mereka. Sementara orang-orang Mataram agaknya telah dikacaukan oleh para pengawal Kademangan Randukerep yang juga menjadi kebingungan.

Untuk beberapa saat para prajurit Pajang masih menyusuri pategalan yang panjang itu sambil berlari-lari untuk menyelamatkan diri. Kemudian, mereka telah memencar dan seakan-akan hilang begitu saja. Sebuah parit yang agak besar, ternyata telah memberikan jalan kepada para prajurit Pajang. Parit yang terletak diantara tanggul yang agak dalam itu, memanjang menyilang pategalan. Disebelah menyebelahnya ditumbuhi oleh pring ori yang lebat. Sedikit celah-celah diantara rumpun-rumpun pring ori itu merupakan pintu yang banyak menyelamatkan para prajurit Pajang. Mereka terjun ke balik tanggul kemudian memencar ke kedua arah. Sementara yang lain meloncat naik tanggul diseberang.

Para pengawal Kademangan Randukerep tidak dapat berbuat setangkas itu. Karena itu, maka sebagian besar dari mereka tidak sempat melepaskan diri dari tangan para prajurit Mataram.

Namun seperti yang dikatakan oleh Kasadha, prajurit dan pengawal dari Mataram itu, masih berusaha untuk berbuat lebih baik atas para pengawal Kademangan Randukerep.

Dalam pada itu, dengan susah payah para prajurit Pajang telah menghilang. Prajurit Mataram yang mengejar merekapun menjadi ragu-ragu. Mereka sama sekali kurang menguasai medan. Orang-orang Pajang yang pernah berada di Kademangan itu untuk beberapa lama nampaknya lebih mengenal lingkungan itu sehingga mereka mendapat kesempatan lebih baik dari orang-orang yang mengejarnya.

Meskipun demikian bukan berarti bahwa Pajang tidak kehilangan prajurit-prajuritnya yang menjadi korban di medan perang atau tertangkap saat mereka melarikan diri. Namun jumlah itu agaknya terhitung tidak terlalu besar dibandingkan dengan kesulitan yang dialami oleh para prajurit Pajang itu.

Sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, maka Matarampun telah memanggil prajurit dan para pengawalnya. Dengan geram Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala telah memerintahkan prajuritnya untuk berkumpul. Namun Ki Rangga keduanya telah memerintahkan sebagian dari prajuritnya untuk mengawasi para tawanan, yang sebagian besar adalah para pengawal Kademangan, sedangkan yang lain meneliti keadaan medan.

“Aku dan Adi Rangga Sanggabantala akan mencoba melacak jejak mereka,“ berkata Ki Rangga Selamarta sambil menunjuk duapuluh lima orang diantara mereka. Lalu katanya, “Rawat mereka yang terluka dan kumpulkan mereka yang gugur dipeperangan itu.”

Sejenak kemudian kedua orang perwira dari Mataram itu telah meninggalkan pategalan. Mereka mencoba meneliti jejak orang-orang Pajang yang semula berlari bercerai berai. Namun akhirnya beberapa orang diantara mereka telah berkumpul. Nampaknya mereka menjadi sangat tergesa-gesa, karena mereka tidak sempat menghindari hadirnya jejak mereka atau berusaha menghapusnya.

Karena itu, maka dengan hati-hati prajurit Mataram itu telah maju terus.

Dalam pada itu, mataharipun menjadi semakin rendah. Kedua orang perwira Mataram itu agaknya telah melupakan perintah untuk segera pergi ke Prambanan karena Mataram ternyata tidak mampu mengimbangi jumlah prajurit yang dipersiapkan oleh Pajang disebelah menyebelah Kali Opak itu.

“Jika matahari turun dan hilang dibalik bukit, maka kita akan kehilangan orang-orang Pajang itu,“ berkata Ki Rangga Selamarta.

Karena itu, maka usaha untuk mengikuti jejak itupun semakin dipercepat.

Tetapi mereka tidak segera menemukan orang-orang yang mereka cari. Jejak yang nampaknya telah menjadi semakin jelas itupun telah menjadi kabur lagi. Sehingga mereka harus meneliti untuk beberapa lama agar mereka tidak menemukan arah yang salah.

Beberapa orang prajurit Mataram justru telah menjadi jemu mencari jejak orang-orang Pajang itu. Tetapi ketika harapan untuk menemukan mereka itu menjadi menipis, tiba-tiba saja mereka telah menemukan jejak yang lebih jelas lagi, sehingga para prajurit Mataram itu telah terpancing untuk meneruskan usaha mereka menemukan para prajurit Pajang.

Tetapi mereka memang tidak dapat mencegah matahari turun semakin rendah. Langitpun menjadi semakin merah. Meskipun tidak selembar awanpun yang terbang, namun cahaya senja akhirnya mulai turun pula.

“Kita kehilangan kesempatan,“ berkata Ki Lurah Sanggabantala.

Ki Lurah Selamarta menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja seorang diantara mereka berkata, “Lihat, ranting-ranting patah.”

“Mereka ada disekitar tempat ini, Mereka tentu menuju ke Alas Trawangan disebelah gumuk itu. Jika saja kita menemukan mereka diluar hutan,“ berkata Ki Rangga Selamarta.

“Bagaimana jika mereka telah masuk hutan?“ bertanya salah seorang prajurit Mataram.

“Kita tidak dapat menyusulnya. Dalam gelapnya malam di dalam hutan, sulit bagi kita untuk dapat bertempur dengan baik. Karena itu, maka selagi masih belum terlalu gelap, kita susul mereka. Mungkin mereka masih ada dibalik bukit kecil itu sebelum mereka menghilang di-balik gumuk masuk ke Alas Trawangan,“ berkata Ki Rangga Selamarta.

Dengan hati-hati prajurit Mataram itu telah bergerak melingkari bukit kecil. Mereka tidak ingin kehilangan sekelompok prajurit Pajang yang akan dapat memperkuat kedudukan Pajang di Prambanan, atau mengganggu kedudukan mereka di Kademangan itu, meskipun mereka mendapat perintah untuk bergabung dengan para prajurit Mataram di seberang sebelah Barat Kali Opak.

Sementara itu dibalik bukit, sekelompok prajurit Pajang memang sedang beristirahat. Mereka sedang menunggu beberapa orang kawan mereka yang belum datang. Dari tiga kelompok prajurit Pajang, baru terkumpul dua puluh orang.

“Mungkin mereka sudah tertangkap atau telah terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki di medan. Gugur misalnya,“ berkata salah seorang pemimpin kelompok.

“Baiklah,“ berkata Kasadha, “jika demikian, maka kita akan masuk saja kedalam hutan. Menurut keterangan Ki Lurah Dipayuda, kawan-kawan akan berusaha untuk memasuki Alas Trawangan. Jika kita berhasil berhubungan dengan Ki Lurah Dipayuda, maka kita akan segera dapat menentukan langkah lebih jauh.”

“Marilah. Sebaiknya kita menunggu beberapa lama,“ berkata pemimpin kelompok yang seorang lagi.”

Kasadha mengangguk-angguk. Didepan mereka memang terdapat hutan yang disebut-sebut. Alas Trawangan. Hutan yang tidak begitu lebat dan tidak begitu besar.

Kasadha dan prajurit-prajurit Pajang yang lainpun telah bersiap-siap untuk memasuki hutan itu. Mereka dengan letih melangkah berurutan melintasi padang perdu yang sempit.

Tetapi mereka terkejut ketika dalam keremangan senja mereka melihat sekelompok prajurit muncul dari balik bukit. Sekelompok prajurit yang ternyata bukan prajurit Ki Lurah Dipayuda. Tetapi mereka adalah prajurit Mataram yang dipimpin oleh Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala.

Kasadha tidak mempunyai pilihan lain. Mereka harus berusaha untuk mempertahankan diri. Bertempur sambil menarik diri mendekati hutan yang sudah berada di hadapan mereka.

Tetapi dengan demikian mereka justru berada di padang perdu. Meskipun tidak terlalu luas, namun dengan demikian maka para prajurit Mataram akan mendapat banyak kesempatan untuk menghancurkan mereka.

Namun para prajurit Pajang itu tidak mempunyai pilihan. Dengan sisa tenaga yang ada maka mereka telah bersiap menghadapi prajurit Mataram yang berlari-lari dan berusaha memotong jalan antara para prajurit Pajang itu dengan Alas Trawangan. Meskipun demikian Kasadha dan para prajurit itupun masih juga berusaha untuk bergeser semakin mendekati hutan itu.

Ki Rangga Selamarta yang semakin berada diujung prajurit-prajurit Mataram itupun kemudian berkata, “Menyerahlah. Kalian tidak mempunyai kesempatan lagi. Seandainya kalian tidak menyerah sekarang, maka akan datang saatnya Pajang dihancurkan oleh Mataram. Dan kalian akan mengenali nasib buruk untuk yang kedua kalinya.”

Tetapi Kasadha menjawab dengan tegas, “Kami adalah prajurit-prajurit yang telah mengucapkan prasetya. Karena itu, seandainya kami harus mengalami nasib buruk seribu kalipun kami tidak akan mengeluh.”

“Bagus,“ berkata Ki Rangga Selamarta, “kau memang benar-benar prajurit pilihan. Kau masih sangat muda. Namun kau telah memiliki ilmu yang tinggi, melampaui lurahmu Ki Dipayuda. Prajurit-prajurit seperti kalian itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh Mataram.”

“Jangan membujuk. Hatiku tidak selemah batang ilalang yang tunduk kemana angin bertiup,“ jawab Kasadha.

Tetapi Ki Rangga Selamarta tertawa. Katanya, “Aku tidak membujukmu. Tetapi aku memujimu dengan tulus sebagai sesama prajurit. Akupun harus mengaku bahwa aku sendiri tidak akan dapat mengalahkanmu. Tetapi sebagaimana kau lihat, orang-orangku lebih banyak dari orang-orangmu.”

“Jumlah kita hampir sama,“ jawab Kasadha, “sementara itu hati kami telah tertempa oleh keadaan terakhir dalam hubungannya dengan hadirnya Mataram. Karena itu, jangan mimpi untuk dapat memaksa kami menyerah.”

“Kalian akan melarikan diri kedalam hutan menjelang malam hari? Kalian lepas dari tangan kami, tetapi segera diantara kalian akan mati dipatuk ular dan diterkam binatang buas,“ berkata Ki Rangga Selamarta.

Tetapi jawab Kasadha, “saat aku mengikuti pendadaran, maka syaratnya adalah menangkap seekor harimau seorang diri hanya dengan senjata pisau belati. Demikian juga kawan-kawanku yang lain sehingga dengan demikian, harimau sama sekali bukan hantu bagi kami.”

“Bagus,“ geram Ki Rangga, “bersiaplah. Agaknya korban masih harus jatuh disini.”

Kasadha dan para prajurit Pajangpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Mereka sadar, bahwa mereka akan menghadapi perjuangan yang sangat berat untuk mempertahankan hidup mereka.

Tetapi mereka telah menyadari bahwa kemungkinan yang demikian dapat terjadi sejak mereka memasuki dunia keprajuritan. Bahkan orang-orang yang melakukan pendadaran atas merekapun berulang kali bertanya, apakah mereka berani menghadapinya.

Kini mereka benar-benar dihadapkan pada kemungkinan yang paling pahit dalam perjuangan mereka sebagai seorang prajurit dan sebagai seseorang yang sedang mempertahankan hidupnya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian pertempuran telah terjadi lagi. Sekali lagi Kasadha harus melawan salah seorang perwira Mataram yang berilmu tinggi. Sekali lagi Kasadha menunjukkan bahwa iapun memiliki ilmu yang, mampu mengimbangi kemampuan ilmu Ki Rangga Selamarta.

Namun Ki Rangga Sanggabantala tidak mempunyai lawan yang seorang diri mampu melawannya. Karena itu, maka ia telah mengikat tiga orang lawan sekaligus.

Dengan demikian maka keseimbanganpun menjadi semakin berat sebelah. Selain jumlahnya memang lebih sedikit, Mataram mempunyai dua orang yang berilmu tinggi.

Tetapi prajurit-prajurit Pajang yang terlatih itu telah membuat gerakan-gerakan yang memang agak mengacaukan medan untuk mengurangi tekanan yang semakin terasa berat. Sementara itu Kasadha telah memimpin kawan-kawannya untuk mendekati Alas Trawangan.

Namun agaknya orang-orang Mataram berusaha untuk mendesak para prajurit Pajang justru menjauhi Alas Trawangan itu.

Dengan demikian maka keadaannya menjadi semakin sulit bagi para prajurit Pajang. Untunglah bahwa malam segera turun, sehingga pertempuran menjadi sedikit lamban. Para prajurit Pajang berkesempatan untuk membuat geseran-geseran yang menyulitkan lawan-lawan mereka, karena masing-masing tidak terikat dengan lawan tertentu kecuali Kasadha dan tiga orang prajurit Pajang yang harus menahan Ki Rangga Sanggabantala.

Tetapi beberapa saat kemudian tekanan prajurit-prajurit Mataram benar-benar sulit untuk ditahan. Sementara itu para prajurit Pajang pun tidak mampu lagi mencari jalan untuk memasuki Alas Trawangan.

Kasadha memang menjadi cemas. Bukan tentang dirinya sendiri. Ia masih merasa sanggup menghadapi lawannya, bahkan seandainya ia harus bertempur sampai pagi. Tetapi kawan-kawannya, bahkan kedua pimpinan kelompok yang lain, akan dapat mengalami kesulitan yang parah.

Ternyata bahwa Ki Rangga Selamarta sendiri tidak mau terlalu lama bertempur melawan Kasadha. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan anak muda itu. Karena itu, maka Ki Rangga itupun telah memberikan isyarat kepada seorang prajurit pilihan untuk membantunya melawan prajurit muda dari Pajang yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi.

Kasadha menggeram ketika lawannya bertempur berpasangan. Tetapi ia tidak akan menyerah apapun yang terjadi atasnya.

Perlahan-lahan Kasadha semakin terhimpit oleh pertempuran itu. Ia terdesak oleh gabungan kekuatan dan kemampuan kedua lawannya, sementara kawan-kawan-nyapun tidak lagi mampu menahan serangan-serangan yang semakin menekan.

Beberapa orang prajurit Pajang bahkan seakan-akan telah menjadi putus-asa. Namun karena itu, maka merekapun telah mengerahkan sisa tenaga yang ada untuk melawan setiap serangan. Bahkan rasa-rasanya mereka tidak lagi mengekang diri, sehingga dengan demikian kesannya justru menjadi semakin garang.

Namun para pemimpin prajurit Mataram dapat membaca gejolak hati orang-orang itu. Karena itu, maka Ki Rangga Sanggabantalapun kemudian berteriak, “Masih ada kesempatan untuk menyerah. Kalian tidak perlu menjadi putus asa dan kehilangan pertimbangan nalar. Menyerahlah.”

“Tidak,“ terdengar seorang prajurit Pajang berteriak, “bunuh kami semuanya.”

Ki Rangga Sanggabantala tidak dapat berbuat lain kecuali bertempur terus. Agaknya prajurit-prajurit Pajang adalah prajurit yang tidak saja terlatih kewadagannya. Merekapun bersikap keras sebagaimana seorang prajurit.

Bagaimanapun juga kedua orang Rangga itu harus mengakui, bahwa prajurit-prajurit muda dari Pajang itu justru lebih berbahaya dari prajurit-prajurit yang telah berpengalaman. Darah muda didalam tubuh para prajurit itu, sangat mempengaruhi keputusan yang mereka ambil.

Namun dalam pada itu, selagi mereka berada dalam kesulitan yang memuncak, tiba-tiba saja dari balik bukit, dalam keremangan ujung malam, muncul sekelompok kecil prajurit. Ternyata mereka adalah prajurit Pajang yang berhasil menyingkir dari medan disisi Barat dan seperti yang dipesankan, mereka akan berkumpul di Alas Trawangan.

Demikian sekelompok prajurit itu melihat pertempuran, maka dengan serta merta merekapun telah mempercepat langkah mereka.

“Setan manakah yang hadir itu?“ Ki Rangga Selamarta menggeram.

Ketika kelompok itu menjadi semakin dekat, maka semakin jelaslah bagi mereka yang sedang bertempur, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit Pajang.

“Kasadha,“ terdengar pemimpin kelompok yang baru datang itu menyebut nama.

“Kau, Barata,“ Kasadha menjawab.

Barata tidak membuang waktu lagi. Ia datang bersama tujuh orang prajuritnya. Di medan di sisi Barat ia telah kehilangan dua orang prajurit, yang belum jelas keadaannya. Apakah mereka terbunuh di pertempuran, atau mereka terluka dan tidak sempat menghindar atau tertangkap.

“Bertahanlah Kasadha,“ teriak Barata.

Para prajurit Pajang yang telah menjadi putus asa itupun serasa telah bangkit kembali. Mereka melihat se cercah harapan bersama kehadiran sekelompok kawan-kawannya. Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, namun kehadiran mereka tentu akan dapat membantu meringankan tekanan yang semakin terasa menghimpit. Bahkan satu dua orang diantara mereka telah tersentuh senjata orang-orang Mataram.

Sejenak kemudian, maka Baratapun telah bergabung dengan ketiga kelompok yang lain, tetapi yang sudah kehilangan hampir sepuluh orang. Barata dengan cepat telah menempatkan diri melawan Ki Rangga Sanggabantala. Anak muda itu ternyata sama sekali tidak merasa gentar. Bahkan sekali lagi Ki Rangga membentur kemampuan yang tidak teratasi.

Kedua belah pihak kemudian telah mengerahkan kemampuan mereka. Para prajurit Pajang betapapun letihnya, namun mereka masih mampu mengimbangi kekuatan prajurit pilihan dari Mataram itu. Para prajurit Pajang tidak lagi harus bertempur dalam kelompok-kelompok kecil untuk menghindari kemungkinan bertempur melawan dua atau bahkan tiga orang sebagaimana sebelumnya.

Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala menjadi sangat marah atas kehadiran sekelompok pasukan Pajang. Namun keduanyapun dengan cepat me-i nangkap kemungkinan berikutnya. Agaknya orang-orang Pajang memang telah bersepakat untuk berkumpul di Alas Trawangan.

Karena itu, maka orang-orang Mataram itu tidak ingin terjebak oleh kedatangan-kedatangan prajurit Pajang berikutnya. Ki Rangga tidak mau lagi melihat kegagalan sebagaimana pernah terjadi di Kademangan Randukerep, karena beberapa orangnya telah tertangkap.

Kedua orang Rangga itu tidak tahu, apa yang segera dilakukan oleh Ki Tapajaya. Jika Ki Lurah Tapajaya langsung memasuki induk Kademangan, maka masih ada kemungkinan mereka menemukan kawan-kawan mereka yang telah tertangkap bersama beberapa orang tledek.

Tetapi mungkin Ki Tapajaya sedang memburu orang-orang Pajang yang meninggalkan medan di sisi Barat.

Karena itu, maka Ki Rangga Selamarta telah mengambil keputusan tersendiri. Sebelum orang-orang Pajang yang lain datang ke Alas Trawangan, maka Ki Rangga berniat untuk menghindari pertempuran yang lebih sulit. Ia tidak tahu pasti, apakah Ki Tapajaya dan pasukannya juga akan datang ke hutan itu.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian, Ki Rangga Selamarta telah memberikan isyarat. Yang kemudian menghindari medan adalah pasukan Mataram.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, para prajurit Mataram itu telah berusaha melepaskan diri dari pertempuran. Merekalah yang kemudian bergeser mendekati hutan, dan kemudian menghilang kedalamnya.

Karena kekuatan kedua pasukan itu tidak berselisih banyak, maka para prajurit Mataram itu tidak banyak mengalami kesulitan untuk menarik diri. Namun sebelum mereka menghilang, Ki Rangga Selamarta sempat meneriakkan beberapa perintah sandi yang diulang oleh Ki Rangga Sanggabantala.

Para prajurit Pajang sama sekali tidak mengerti bunyi perintah sandi itu. Hanya prajurit Mataram sajalah yang mengetahui maksudnya sehingga mereka akan dapat melakukannya dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, Kasadha dan Barata telah memerintahkan agar para prajuritnya tidak memburu lawan-lawan mereka ke dalam Alas Trawangan. Meskipun mereka sebagaimana perintah dan pesan Ki Lurah Dipayuda untuk bertemu kembali di Alas Trawangan di belakang gumuk kecil, namun ternyata bahwa orang-orang Mataram itu justru telah lebih dahulu masuk kedalamnya.

“Kita tidak dapat mengejar mereka,“ berkata Barata, “banyak kesulitan akan dapat kita alami. Merekalah yang menunggu kita didalam, sehingga setiap langkah kita akan dapat mereka ketahui lebih dahulu. Dengan demikian maka mereka mendapat kesempatan pertama untuk menyerang kita didalam kegelapan dan dari balik pepohonan.”

“Ya,“ sahut Kasadha, “kita harus mengambil langkah lain.”

“Kita akan berada disebelah gumuk itu. Kita harus memberi tahukan kepada orang-orang yang datang kemudian, bahwa tempat ini sudah diketahui oleh prajurit Mataram,“ berkata Barata.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Namun dengan nada rendah ia berkata, “Kau sudah menyelamatkan jiwa kami Barata.”

“Ah, tidak. Kita bersama-sama bertempur menghadapi lawan. Kita saling menyelamatkan, saling melindungi dan kita saling tergantung yang satu dengan yang lain dalam keadaan seperti ini.”

“Jika kau tidak datang bersama kelompokmu, maka kami tentu sudah dibantai oleh orang-orang Mataram itu,“ desis Kasadha.

“Jika kalian tidak lebih dahulu berada di tempat ini, maka kamilah yang akan terbantai disini,“ jawab Barata. Tetapi katanya kemudian, “Sudahlah. Sekarang kita memperhitungkan langkah kita selanjutnya. Apakah yang sebaiknya harus kita lakukan dalam keadaan seperti ini.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, kedua orang pemimpin kelompok yang lainpun telah berdiri pula termangu-mangu. Seorang diantara mereka masih harus berdesis menahan sakit, karena ujung senjata lawan telah menyentuh kulitnya.

Sejenak kemudian, maka para prajurit Pajang itu telah bergeser justru kesebelah bukit kecil. Barata telah memerintahkan dua orang prajuritnya untuk mengawasi disebelah gumuk yang lain. Sementara Kasadhapun telah memerintahkan dua orangnya pula untuk bersama-sama dengan kedua orang prajurit Barata.

“Kalian hanya mengawasi keadaan. Jika datang bahaya, kalian^garlsegeralmemberiltahukan kepada kami. Tetapi jika yang datang kawan-kawan kami, maka kalian harus mengarahkan mereka agar mereka tidak terjerumus masuk kedalam hutan. Kita tidak tahu, apakah para prajurit Mataram akan tetap berada di hutan itu atau tidak,“ berkata Barata.

Dengan demikian maka ampat orang telah bergeser melingkari bukit kecil itu. Kemudian mereka mencari tempat terlindung untuk mengamati keadaan.

“Kita dapat melakukan bergantian,“ berkata salah seorang diantara mereka.

“Ya. Siapakah yang akan melakukannya dahulu? Seorang dari kelompokku, seorang kelompokmu. Nanti kita akan berganti tugas,“ berkata yang lain.

Keempat orang itu sependapat. Mereka memang sangat letih, sehingga kemudian dua orang diantara mereka beristirahat. Mereka tidak akan tidur atau tertidur. Tetapi mereka hanya ingin mengendorkan ketegangan dengan meletakkan tanggung jawab kepada kedua orang yang lain bergantian.

Dengan demikian, maka bergantian mereka dapat melkipalkari mimpi buruk yang baru saja mereka alami. Sambil bersandar batu-batu padas dua orang diantara mereka duduk untuk melepaskan ketegangan syaraf mereka. Mereka sempat melihat bintang-bintang yang bergayutan dilangit. Merekapun sempat menarik nafas dalam-dalam menghirup udara yang sejuk.

Tetapi ternyata gangguan lain mulai menyentuh mereka justru karena mereka beristirahat. Perut mereka mulai merasa lapar.

“Tetapi aku tidak dapat menangkap dan menelan seekor katak hidup-hidup,“ berkata seorang diantara mereka tiba-tiba saja.

“Apa?“ bertanya kawannya.

“Lapar,“ jawabnya terus-terang.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian berdesis sambil tersenyum, “Aku juga lapar. Tetapi aku malu mengatakannya.”

Orang yang pertama mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tertawa. Berdua mereka akhirnya tertawa pula.

Dua orang kawannya yang bertugas mengamati keadaan berpaling mendengar keduanya tertawa. Seorang diantaranya berkata, “Kenapa kalian tertawa?”

Salah seorang dari keduanya menjawab disela-sela suara tertawanya yang tertahan, “Kami lapar.”

Kedua orang yang sedang bertugas itu saling berpandangan. Namun akhirnya keduanyapun tertawa pula.

Namun, demikian mereka terdiam, maka merekapun segera melihat sesuatu di padang perdu di hadapan mereka dalam kegelapan malam. Namun karena udara terbuka dan langit yang cerah, maka nampak remang-remang sebuah iring-iringan.

“Apakah mereka orang-orang Pajang atau orang-orang Mataram yang mencari kawan-kawannya,“ desis seorang diantara mereka yang berjaga-jaga itu.

Bukan hanya dua orang yang kemudian memperhatikan iring-iringan itu. Tetapi keempat orang itu bersama-sama berjongkok dibalik gerumbul untuk mengawasi orang-orang yang baru datang itu.

Namun ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat, maka mereka yakin, bahwa mereka adalah orang-orang Pajang yang terdesak dari medan sehingga mereka berusaha untuk melepaskan diri sebagaimana perintah Ki Lurah Dipayuda.

Karena itu, maka orang-orang yang bersembunyi dibalik gerumbul itupun telah bangkit berdiri dan melangkah keluar dari persembunyian mereka.

Iring-iringan itu terkejut. Beberapa orang segera meloncat sambil mengacukan senjata mereka.

Namun seorang diantara ampat orang itupun segera mengucapkan kata-kata sandi.

“Kalian sudah disini?“ bertanya salah seorang-pemimpin kelompok.

Orang yang bertugas itupun segera memberitahukan dengan singkat, apa yang telah terjadi dan mempersilahkan iring-iringan itu menemui Kasadha atau Barata.

“Mereka ada disebelah gumuk ini. Biarlah dua orang kawan kita mengantarkan,“ berkata prajurit itu.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu telah diantar untuk menyatukan diri dengan prajurit-prajurit yang lain. Namun yang datang itu baru sebagian-sebagian. Sementara Ki Lurah Dipayuda sendiri masih belum ada diantara mereka.

Beberapa saat kemudian, maka pasukan Pajang yang terkoyak di peperangan itu sudah mulai berkumpul lagi sedikit demi sedikit. Barata yang menyambut kawan-kawannya yang baru datang itu bertanya, “Bukankah kalian sudah lebih dahulu meninggalkan medan dari kami?”

“Ya. Tetapi kami tidak segera menemukan jalur jalan yang langsung menuju ke tempat ini,“ jawab kawannya itu.

Barata mengangguk-angguk. Dalam gelapnya malam, maka kadang-kadang seseorang memang mengalami kesulitan menelusuri jalan yang masih belum terlalu biasa dilaluinya. Karena itu, maka agaknya para prajurit Pajang yang lainpun mengalami kesulitan yang serupa. Mungkin saat-saat mereka menghindar dari medan justru menuju ke arah yang lebih jauh dari Alas Trawangan.

“Baiklah,“ berkata Barata kemudian, “sebaiknya kita menunggu disini. Tetapi ingat, sepasukan prajurit Mataram memasuki Alas Trawangan. Kita tidak tahu apakah mereka masih ada didalam atau sudah bergeser dan keluar dari arah lain.”

“Tetapi tentu bukan pasukan induk yang dipimpin oleh Ki Lurah Tapajaya,“ desis salah seorang prajurit.

Barata menggeleng. Katanya, “Tidak. Mereka adalah prajurit-prajurit pilihan yang dipimpin langsung oleh Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala.”

Prajurit-prajurit Pajang yang mendengar keterangan itu mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa Ki Rangga berdua adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Namun dengan demikian maka merekapun harus mengakui bahwa Kasadha dan Barata yang muda itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi pula, karena beberapa orang telah menyaksikan langsung bahwa keduanya mampu bertempur melawan Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala.

Untuk beberapa saat maka Barata dan Kasadha telah memutuskan untuk tetap berada ditempat itu. Jika perlu, maka mereka akan berbicara dengan pemimpin-pemimpin kelompok yang ada untuk menentukan langkah berikutnya.

“Mudah-mudahan Ki Lurah Dipayuda segera datang,“ berkata Barata.

Para prajurit Pajang itupun kemudian telah berpencar untuk beristirahat. Lima orang bertugas mengamati keadaan selain empat orang yang berada di balik bukit.

Namun mereka tidak perlu berjaga-jaga dengan berdiri tegak dan berjalan mondar-mandir. Mereka dapat saja duduk di belakang perdu. Namun mereka tidak boleh lengah.

Ternyata para prajurit Pajang itu memang menjadi letih dan lapar. Tetapi mereka sudah terlatih untuk mengalami kesulitan di medan sehingga karena itu, maka mereka masih mampu mengatasi keadaan itu.

Tetapi satu hal yang kemudian mereka yakini adalah, Kademangan Randukerep tentu sudah jatuh ketangan orang-orang Mataram.

Namun malam itu, prajurit Pajang yang sempat meninggalkan medan telah berkumpul di sebelah bukit di depan Alas Trawangan itu.

Sebagian besar dari para prajurit yang beristirahat itu memang sempat tertidur selain mereka yang bertugas. Tetapi para pemimpin kelompok justru menjadi lebih berhati-hati. Mereka tidak dapat melarang para prajuritnya yang letih itu tidur di udara terbuka karena mereka menyadari, bahwa para prajurit itu telah menjadi letih dan lapar. Tetapi merekapun mengerti, bahwa di Alas Trawangan itu terdapat beberapa orang prajurit Mataram.

Para pemimpin kelompok itu memang menjadi cemas bahwa Ki Lurah masih juga belum datang. Selain Ki Lurah, masih ada juga pemimpin kelompok yang tertinggal bersama anak buahnya. Namun mereka menduga bahwa para prajurit yang belum datang itu tentu dalam kesibukan mengawal Ki Lurah Dipayuda.

“Kami bersama-sama meninggalkan medan,“ berkata Barata, “bahkan aku termasuk yang terakhir. Aku masih sempat memancing beberapa kelompok lawan. Namun aku memang meninggalkan medan langsung ke arah bukit kecil itu. Sementara yang lain memencar kearah yang berbeda-beda. Mungkin mereka harus melingkar agar tidak bertemu dengan Prajurit Mataram atau mereka telah melakukan satu perlawanan khusus terhadap orang-orang yang berhasil mengejar mereka.”

Kasadha mengangguk-angguk. Memang banyak kemungkinan dapat terjadi dalam pertempuran seperti itu.

Tetapi beberapa saat kemudian, maka seorang diantara mereka yang bertugas mengawasi keadaan di sebelah bukit telah melihat sekelompok prajurit yang datang. Mereka yakin bahwa mereka juga prajurit Pajang.

Beberapa orang pemimpin kelompok segera menyongsong mereka. Mereka berharap bahwa Ki Lurah Dipayuda ada diantara orang-orang itu.

Sebenarnyalah yang datang itu adalah sekelompok prajurit Pajang bersama Ki Lurah Dipayuda. Namun ternyata Ki Lurah Dipayuda telah terluka. Meskipun tidak terlalu parah, tetapi darah yang mengalir dari tubuhnya sudah terlalu banyak, sehingga karena itu, Ki Lurah memang menjadi lemah.

Dengan dibantu oleh beberapa orang prajurit, maka Ki Lurah telah dibawa ke sebelah bukit, diantara para prajurit yang letih. Namun kehadiran Ki Lurah ternyata telah membangunkan mereka yang sedang tertidur nyenyak.

Seorang yang memiliki kemampuan pengobatan dari antara prajurit Pajang, yang memang telah dipersiapkan mengikuti pasukan di Kademangan Randukerep itu, berusaha untk segera memampatkan darah yang mengalir dari luka Ki Lurah Dipayuda itu.

Untuk beberapa saat orang yang mengobati Ki Lurah itu sibuk, sementara Ki Lurah telah memanggil para pemimpin kelompok untuk berkumpul. Diantara sepuluh orang pemimpin kelompok ampat orang telah terluka. Seorang diantaranya parah. Namun oleh anak buahnya ia sempat diselamatkan dan tidak berselisih banyak waktunya dengan kedatangan Ki Lurah, pemimpin kelompok itupun telah sampai ditempat itu pula, serta mendapat pertolongan seperlunya.

“Kita menunggu perintah Ki Lurah,“ berkata Kasadha dengan nada berat, “apakah kita harus memasuki Alas Trawangan untuk mencari jejak prajurit-prajurit Mataram itu?”

Ki Lurah Dipayuda menggeleng. Katanya, “Tidak perlu. Kita tidak akan menemukan mereka. Mereka tentu sudah pergi. Aku tidak tahu apakah mereka akan kembali dengan pasukan yang lebih banyak atau tidak. Tetapi menurut perhitunganku, Ki Lurah Tapajaya tidak akan melakukannya.”

“Kenapa?“ bertanya Kasadha.

“Ternyata ia memang memberi kesempatan kepadaku untuk meninggalkan medan,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Tetapi Ki Tapajaya telah melukai Ki Lurah,“ desis Barata.

“Bukan Ki Tapajaya,“ jawab Ki Lurah, “tetapi seorang pengawal dari Mataram yang lain. Ketika aku sedang bertempur dengan Ki Lurah Tapajaya, orang itu telah menyerang dengan serta merta sehingga aku tidak sempat mengelak. Tetapi justru Ki Tapajaya telah memukul tengkuk orang itu sehingga pingsan. Aku memang tidak melihat isyarat. Tetapi dalam gerak mundur, aku masih sempat melihat Ki Lurah itu mencegah anak buahnya memburuku.”

Barata termangu-mangu sejenak. Namun ia berdesis, “Aku tidak melihat gerak mundur Ki Lurah.”

“Kau memang berada disisi lain,“ sahut Ki Lurah.

Barata, Kasadha dahi para pemimpin kelompok itu memang menjadi bingung mendengar keterangan Ki Lurah Dipayuda tentang Ki Lurah Tapajaya. Namun Ki Lurah Dipayuda kemudian berkata, “Tapajaya adalah seorang perwira Pajang yang aku kenal dengan baik. Tetapi keadaan segera berubah, ketika Ki Lurah Tapajaya menyatakan diri menyeberang ke Mataram, karena ia memang tidak puas dengan keadaan Pajang disaat-saat terakhir. Namun ternyata bahwa ia tidak dapat melupakan kehadiran kami bersama di Pajang. Itulah sebabnya, maka ia tidak sampai hati melihat aku terbunuh disaat aku menarik perhatian para prajurit Mataram disaat para prajurit Pajang menghindar dari medan yang menjadi semakin berat sebelah itu.”

Para pemimpin kelompok dari prajurit Pajang itu ter-mangu-mangu sejenak. Ternyata dengan jujur Ki Lurah Dipayuda mengakui bahwa justru Ki Lurah Tapajayalah yang telah menyelamatkannya.

Dengan nada rendah Ki Lurah Dipayuda berkata, “Tetapi aku tidak tahu apakah ia akan dapat berbuat seperti itu jika Ki Lurah Tapajaya berada bersama Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala.”

Kasadhalah yang kemudian berdesis, “Kedua orang Rangga itu ada didalam hutan sebelah. Tetapi kita tidak tahu apakah mereka sudah bergeser atau belum. Bahkan mungkin mereka akan datang dengan pasukan yang lebih besar lagi.”

Ki Lurah Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita tidak akan dapat kembali memasuki Kademangan Randukerep. Disisa malam ini kita harus menarik diri ke Kademangan yang masih kukuh berpihak kepada Pajang. Mungkin Kademangan itu sekarang justru terancam kekuatan Mataram di Randukerep, karena nampaknya kekuatan Mataram disini akan membuka jalur jalan dari arah Selatan.”

“Jadi kita harus kemana Ki Lurah?“ bertanya Barata.

“Kita akan mundur dan membuat landasan baru di Kademangan Nglawang,” jawab Ki Lurah Dipayuda.

“Kenapa di Nglawang?“ bertanya salah seorang pemimpin kelompok, “kenapa tidak di Kademangan yang lebih dekat, misalnya Kademangan Traju?”

“Kita belum tahu pasti apa yang telah terjadi di Kademangan Traju selama ini. Mungkin pengaruh Mataram sudah terasa di Traju sebagaimana di Randukerep. Tetapi kita akan dapat meyakinkan diri bahwa Kademangan Nglawang masih tetap teguh berdiri dibelakang Pajang. Kecuali jika Nglawang ditempuh dengan kekerasan oleh Ki Lurah Tapajaya dan kedua orang Rangga itu,“ berkata Ki Lurah.

Namun Barata kemudian berdesis, “Tetapi keadaan Ki Lurah sendiri bagaimana?”

“Aku akan berjalan diantara kalian. Tolong, aku minta dibantu. Darahku sudah mulai pampat setelah mendapat pengobatan,“ sahut Ki Lurah.

Tetapi beberapa orang prajurit berkata, “Bagaimana jika kita buat usungan sederhana. Kita dapat memotong dahan-dahan pepohonan perdu. Barangkali dengan lulup batangnya kita dapat membuat tali.”

Ki Lurah menggeleng sambil berdesis, “Tidak usah. Aku masih dapat berjalan. Kita akan mencari jalan yang paling aman menuju ke Kademangan Nglawang.”

Ternyata Ki Lurah tidak menunggu terlalu lama. Setelah beristirahat sejenak setelah ia mendapat pengobatan sementara, maka ia telah memerintahkan pasukan itu untuk berangkat.

“Kita tidak dapat menunggu kawan-kawan kita yang lain. Mungkin mereka gugur di pertempuran, mungkin mereka terluka atau tertangkap,“ berkata Ki Dipayuda, “kita memang menyesal bahwa kita tidak dapat membantu mereka. Tetapi kita memang harus memilih yang terbaik yang dapat kita lakukan sekarang.”

Para pemimpin kelompok memang sependapat. Karena itu, maka dalam keadaan yang letih, lapar dan beberapa orang terluka termasuk Ki Dipayuda, prajurit-prajurit Pajang itu seakan-akan merayap menyusuri jalan-jalan sempit menuju ke Kademangan Nglawang.

Mereka menyadari, bahwa perjalanan ke Nglawang cukup jauh, sehingga saat matahari terbit, mereka tentu masih belum dapat mencapai tujuan. Namun mereka tentu sudah berada di daerah yang masih dikuasai Pajang seutuhnya.

Ki Lurah Dipayuda memang menghindari Kademangan Traju yang diragukan, setelah Ki Lurah melihat keadaan Randukerep. Mereka justru telah melingkar dan menempuh jalan yang agak jauh.

Daya tahan Ki Lurah Dipayua memang luar biasa. Beberapa orang yang terluka tidak separah Ki Lurah, hampir-hampir tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan meskipun mereka dibantu oleh dua orang. Tetapi Ki Lurah memerintahkan pasukan itu berjalan terus.

Ketika kemudian matahari terbit, maka segarnya sinar matahari pagi terasa menghangatkan tubuh mereka. Namun bagi beberapa orang diantara mereka sinar yang kemerah-merahan itu membuat mata mereka menjadi silau dan kemudian sakit. Justru karena mereka terlalu letih dan lemah.

Suasana padukuhan-padukuhan memang terasa sepi. Gema tentang pertempuran-pertempuran di Kademangan Randukerep nampaknya sudah menyebar sampai ke daerah yang luas, sehingga Kademangan-kademangan yang lainpun rasa-rasanya juga berada dalam suasana perang. Para penghuninya telah mempersiapkan diri untuk mengungsi jika memang diperlukan. Mereka sudah mengumpulkan harta mereka yang paling berharga, sehingga jika mereka setiap saat harus meninggalkan rumahnya, maka barang-barang yang paling berharga itu tidak tertinggal.

Dengan demikian, maka sawah-sawahpun dibiarkan terbengkelai. Mereka yang mendapat giliran air pada hari itu, tidak lagi dimanfaatkannya karena mereka menjadi ngeri dibayangi oleh peperangan yang mungkin akan dapat sampai ke Kademangan mereka.

Ternyata hal itu dianggap menguntungkan oleh para prajurit Pajang, karena tidak terlalu banyak orang yang melihat, bagaimana mereka mundur dari medan dalam keadaan yang parah.

Namun betapapun letih dan laparnya orang-orang Pajang itu, tetapi Ki Lurah Dipayuda memerintahkan agar mereka berhenti nanti di induk padukuhan di Kademangan Nglawang.

Beberapa orang prajurit yang terluka melangkah dengan kaki yang bagaikan digantungi timah. Satu dua orang tertinggal beberapa langkah dari kawan-kawannya. Sementara Barata dan Kasadha membantu Ki Lurah Dipayuda yang lemah. Namun ternyata hati Ki Lurah itu benar-benar bagaikan baja.

Ketika matahari naik sepenggalah, maka mereka telah memasuki jalur jalan panjang yang menuju langsung ke Kademangan Nglawang tanpa melalui Kademangan yang lain lagi. Bulak dihadapan mereka demikian luasnya sehingga seakan-akan mereka tidak dapat melihat tujuan mereka yang berada diseberang bulak itu. Sementara itu panas matahari semakin lama terasa semakin panas menggigit kulit.

Tetapi mereka harus menempuh jalan panjang itu.

Untunglah bahwa disebelah menyebelah jalan, diatas tanggul parit, banyak terdapat pepohonan yang dapat menjadi pelindung bagi mereka yang berjalan menyusuri bulak itu. Beberapa jenis pohon tumbuh. Terbanyak diantaranya adalah pohon-pohon turi. Di beberapa tempat memang tumbuh pohon gayam yang lebih besar dari pohon-pohon turi. Bahkan nampak dua batang pohon randu alas raksasa yang tumbuh disebelah-menyebelah jalan ditengah-tengah bulak itu.

Beberapa orang yang hampir tidak mampu lagi berjalan, telah minta ijin untuk membasahi kepala mereka dengan air yang mengalir di parit dipinggir jalan itu. Air parit yang ternyata sangat jernih itu.

Ki Lurah Dipayuda tidak melarangnya. Namun ia memerintahkan untuk dilakukannya dengan cepat, agar mereka segera sampai di Kademangan yang dituju.

“Jika pasukan Mataram berhasil menyusul kita ditengah-tengah bulak ini, maka kita semuanya akan ditumpas atau harus menyerah,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

Beberapa orang memang telah menyurukkan kepalanya kedalam air. Bahkan beberapa orang telah minum meskipun hanya seteguk air yang terasa sangat sejuk di tenggorokan.

Sejenak kemudian Ki Lurah Dipayuda itupun segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak kembali menuju ke Kademangan Nglawang.

Dalam keadaan yang gawat itu, maka ternyata Kademangan Nglawang telah menugaskan anak-anak mudanya untuk mengamati keadaan. Dua orang yang berada di luar pintu gerbang segera melihat iring-iringan itu. Dari kejauhan anak-anak muda itu memang melihat bahwa keadaan pasukan itu agaknya tidak lagi seger sebagaimana pasukan yang akan berangkat berperang.

Salah seorang dari kedua pengawas itu berdesis, “Nampaknya para prajurit Pajang.”

“Ya. Jumlahnya cukup banyak,“ sahut yang lain, “tetapi keadaannya cukup parah.”

“Laporkan kepada Ki Demang,“ desis yang pertama.

“Aku akan pergi ke banjar. Awasi mereka,“ sahut kawannya.

Tanpa menunggu jawaban anak muda itupun segera menyelinap kebelakang regol, sedangkan yang lain bergeser beberapa langkah menjauhi regol untuk bersembunyi dibalik gerumbul-gerumbul liar. Dengan sungguh-sungguh anak muda itu mengamati iring-iringan yang baru datang.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia yakin bahwa pasukan yang nampaknya dalam kesulitan itu adalah pasukan Pajang. Karena itu, ketika iring-iringan itu menjadi dekat, anak muda itu telah bangkit dari persembunyiannya.

Para prajurit itu memang terkejut. Namun anak muda itu segera berkata, “Bukankah kalian prajurit Pajang? Menilik pakaian dan tanda-tanda yang kalian kenakan, maka kalian memang prajurit Pajang.”

Kasadhalah yang maju mendekatinya sambil menjawab, “Ya. Kami adalah prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Lurah Dipayuda. Tetapi Ki Lurah telah terluka ketika ia berusaha melindungi para prajurit yang sedang menyingkir dari medan.”

“Apakah kalian termasuk prajurit Pajang yang bertempur di Randukerep?“ bertanya anak muda itu.

“Ya,“ jawab Kasadha singkat.

“Marilah. Silahkan memasuki Kademangan kami. Kawanku sedang mencari hubungan dengan Ki Demang,“ berkata anak muda itu.

Belum lagi Kasadha menjawab, maka dari dalam regol telah keluar lima orang penghuni Kademangan itu. Seorang diantaranya adalah Ki Bekel dari padukuhan di ujung Kademangan itu.

“Marilah,“ berkata Ki Bekel, “aku persilahkan kalian singgah di banjar. Penghubung kita baru menuju ke Kademangan. Dalam waktu dekat Ki Demang tentu akan segera datang.”

“Terima kasih,“ jawab Kasadha, “aku akan melaporkannya kepada Ki Lurah.”

Ki Lurah Dipayuda yang mendapat laporan dari Kasadha itupun kemudian berdesis, “Aku akan bertemu dengan Ki Bekel.”

Dengan dibantu oleh Barata dan Kasadha, Ki Lurah telah melangkah perlahan-lahan mendekati orang-orang padukuhan itu, yang antara lain adalah Ki Bekel sendiri. Namun ketika Ki Bekel melihat keadaan Ki Lurah, maka Ki Bekellah yang dengan tergesa-gesa mendekati.

“Yang terluka itu adalah Ki Lurah Dipayuda,“ berkata Kasadha.

“Selamat datang di padukuhan kami Ki Lurah,“ berkata Ki Bekel.

“Aku bersukur bahwa aku telah berada di salah satu padukuhan dari Kademangan Nglawang. Bukankah begitu?“ berkata Ki Lurah.

“Ya Ki Lurah,“ jawab Ki Bekel,“ Ki Lurah telah berada di Kademangan Nglawang. Kami persilahkan Ki Lurah untuk singgah di banjar. Nampaknya pasukan Pajang ini dalam keadaan yang kurang menguntungkan.”

“Nanti aku akan memberitahukan apa yang telah terjadi,“ berkata Ki Lurah.

“Baiklah,“ berkata Ki Bekel “ sekarang, marilah kita pergi ke banjar. Pasukan ini agaknya memang perlu beristirahat.”

Didahului oleh Ki Bekel maka iring-iringan itu merayap di jalan-jalan padukuhan menuju ke banjar. Namun keadaan pasukan itu memang telah memberikan kesan tersendiri. Orang-orang Nglawang memang menjadi cemas, bahwa Pajang tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi.

Tetapi seperti yang diketahui oleh Ki Lurah Dipayuda, bahwa orang-orang Nglawang termasuk orang-orang yang setia kepada Pajang. Nglawang memang mempunyai ceritera tersendiri dalam hubungannya dengan Sultan Hadiwijaya dari Pajang, sehingga ikatan antara Nglawang dan Pajang menjadi agak khusus.

Beberapa saat kemudian, maka iring-iringan itu telah memasuki halaman banjar padukuhan itu. Beberapa orang yang terluka langsung dibawa ke pendapa dan di-baringkannya diatas tikar yang memang telah dibentangkan.

Ternyata para prajurit Pajang itu benar-benar mengalami kelelahan yang sangat. Bahkan lapar dan haus. Karena itu, maka demikian mereka memasuki banjar, maka tanpa menunggu lagi, para prajurit itupun telah menebar mencari tempat sendiri-sendiri untuk beristirahat. Bukan saja yang terluka, tetapi sebagian dari mereka langsung berbaring dimana saja mereka mendapat tempat.

Ki Lurah Dipayuda sendiri telah berada di pendapa. Namun Ki Lurah tidak ingin berbaring. Ki Lurah hanya duduk saja bersandar tiang. Dengan demikian ia masih dapat melihat keadaan prajuritnya yang tersebar dihala-man betapapun ia sendiri merasa sangat lemah.

Kasadha dan Barata serta beberapa pemimpin kelompok yang lain tidak sampai hati untuk memberikan tugas-tugas khusus lagi kepada orang-orangnya yang kelelahan.

Karena itu, maka penjagaan atas banjar itu justru dilakukan oleh mereka berganti-ganti, kecuali para pemimpin kelompok yang terluka.

Ternyata anak-anak muda Nglawang lebih sigap daripada anak-anak muda Kademangan Randukerep. Tanpa mendapat perintah, mereka telah mengatur penjagaan atas banjar itu, membantu para pemimpin kelompok prajurit Pajang.

Sementara itu, dengan cepat pula telah dapat dihidangkan minuman hangat bagi para prajurit. Karena Banjar itu tidak menyediakan mangkuk cukup untuk para prajurit itu, maka yang disediakan bagi mereka adalah beberapa ceret dan dandang berisi wedang sere dengan gula kelapa. Sementara beberapa buah mangkuk harus dipakai bergantian.

Para prajurit yang belum tertidurpun yang mendapat kesempatan pertama untuk minum. Kemudian baru yang terbangun lebih dahulu. Tetapi ternyata semuanyapun akhirnya sempat minum wedang sere sehingga tubuh mereka terasa menjadi lebih segar. Gula kelapa yang terdapat dalam wedang sere itu rasa-rasanya telah memberikan tenaga baru bagi mereka yang menjadi sangat letih itu.

Sementara itu beberapa orang perempuan yang dipanggil ke banjar tengah sibuk menyiapkan makan bagi pasukan yang berada di banjar. Beberapa ekor ayam terpaksa dipotong karena di banjar itu tidak ada persediaan lauk yang lain.

Namun beberapa orang dengan suka rela menyerahkan masing-masing seekor ayam untuk kepentingan itu.

Dalam pada itu, selagi di dapur beberapa orang sibuk di perapian, Ki Demang dan beberapa orang pengiringnya telah datang pula. Dengan cemas Ki Demang mempertanyakan keadaan para prajurit Pajang yang lemah itu.

“Inilah kenyataan yang terjadi itu,” berkata Ki Lurah, “yang kita harapkan dari Kademangan Randukerep ternyata tidak terwujud. Orang-orang Mataram sudah terlalu lama meracuni kehidupan di Kademangan itu dengan berbagai cara.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Kademangan ini berbeda Ki Lurah. Aku masih yakin bahwa di Kademangan ini, segala-sesuatunya masih dapat dipertanggung jawabkan.”

“Sokurlah. Setidak-tidaknya untuk sementara kami akan berada di Kademangan ini. Meskipun hal itu akan dapat mengandung kemungkinan, pasukan Mataram akan menyusul kami kemari,“ berkata Ki Lurah.

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berkata, “Jika orang-orang Mataram itu datang kemari, maka ada dua hambatan yang harus mereka pikirkan. Kademangan Traju harus mereka perhitungkan. Meskipun hambatan ini dapat mereka atasi dengan mencari jalan melingkar yang lebih jauh. Kemudian orang-orang Kademangan Nglawang sendiri. Baru kemudian mereka akan berhadapan dengan prajurit-prajurit Pajang. Mudah-mudahan setelah beristirahat barang sebentar, kekuatan prajurit ini akan tumbuh kembali meskipun tidak akan mencapai tataran sebagaimana sebelumnya.”

“Terima kasih atas kesediaan anak-anak muda Nglawang. Tetapi perlu diketahui bahwa jumlah orang-orang Mataram itu cukup besar,“ berkata Ki Lurah.

“Tetapi orang-orang Mataram itu akan segera ditarik ke Prambanan,“ berkata Ki Demang.

“Darimana Ki Demang mengetahui hal itu?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Di Prambanan pasukan Mataram ternyata jauh lebih kecil dari pasukan Pajang yang sempat dikumpulkan. Itupun belum terhitung anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan kecil jika mereka diperlukan. Karena itu, menurut perhitunganku, Mataram memerlukan kekuatan yang besar untuk dapat mengimbangi pasukan Pajang,“ jawab Ki Demang.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa dari beberapa Kadipaten telah berdatangan para prajurit yang akan membantu Pajang. Karena itu, maka untuk menyeberangi Kali Opak Panembahan Senapati harus berpikir ulang.

Namun perhitungan Ki Demang itu memang masuk akal.

Karena itu, maka Ki Lurah itupun berkata, “Aku sependapat Ki Demang. Karena itu, biarlah aku dan pasukanku beristirahat disini. Sementara aku akan mengirimkan penghubung ke Pajang.”

“Silahkan Ki Lurah. Bahkan nanti jika keadaan Ki Lurah sudah menjadi semakin baik, aku akan mempersilahkan Ki Lurah untuk pergi ke banjar Kademangan induk. Tempatnya agak lebih luas dan banjar itu letaknya tidak jauh dari rumahku,“ berkata Ki Demang.

“Terima kasih Ki Demang. Tetapi kami mohon waktu untuk beristirahat disini lebih dahulu,“ jawab Ki Lurah Dipayuda.

“Silahkan. Silahkan. Mana yang baik menurut Ki Lurah,” sahut Ki Demang kemudian.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang berada di dapur telah selesai menyiapkan makanan bagi para prajurit. Tetapi agar pembagian makan itu dapat berjalan dengan tertib, sejalan dengan persiapan yang tergesa-gesa, maka yang dapat dilakukan oleh perempuan-perempuan didapur adalah membungkus nasi itu dengan daun pisang yang dipetiknya di kebun banjar itu dan dikebun beberapa orang tetangga.

Ketika nasi bungkus itu dibagikan, maka para prajurit Pajang yang kelaparan itu merasa telah hidup kembali. Wedang sere dengan gula kelapa yang telah mereka hirup lebih dahulu telah memberikan kesegaran baru bagi para prajurit. Maka nasi itu akan segera menumbuhkan kekuatan mereka kembali.

Ki Lurah Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Ada semacam keharusan didalam hatinya melihat prajurit-prajuritnya yang lapar itu makan nasi meskipun sekedar nasi bungkus. Tetapi nasi bungkus itu ternyata cukup memadai.

Ki Lurah Dipayuda sendiri menolak untuk mendapat suguhan khusus. Iapun minta untuk mendapat pembagian nasi sebagaimana para prajuritnya. Nasi bungkus. Namun nasi bungkus itu rasanya memang menjadi nikmat sekali meskipun hanya dengan lauk sepotong daging ayam dan jangan janggel yang pedas sekali.

Sementara para prajurit Pajang makan, maka Ki Demang sudah memerintahkan untuk menyiagakan para pengawal. Anak-anak muda dan orang-orang yang masih mempunyai kekuatan cukup untuk ikut mempertahankan Kademangan itu apabila diperlukan.

“Mungkin orang-orang Mataram akan memburu prajurit Pajang yang terpaksa mundur dari medan,“ berkata Ki Demang, “karena itu maka kita tidak akan membiarkan mereka sempat menangkap para prajurit. Kita akan membantu para prajurit Pajang itu untuk bertahan. Meskipun para prajurit Mataram telah membawa anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang telah mendapat pengaruhnya, namun kita tidak boleh menjadi gentar. Kita adalah orang yang setia kepada Raja sehingga kita dapat menyerahkan apa saja milik kita untuk melakukan perintahnya.”

Kepada Ki Jagabaya, Ki Demang telah memerintahkan untuk memanggil semua pemimpin kelompok pengawal di Kademangan itu dan memberikan beban tugas kepada mereka.

Ki Jagabayapun telah melaksanakannya dengan cepat. Iapun segera memanggil para pemimpin kelompok untuk datang kerumah Ki Demang di sore hari. Sementara itu, Ki Jagabaya telah mengerahkan anak-anak muda dan para pengawal dari padukuhan di ujung Kademangan itu untuk menjaga jika sesuatu terjadi.

Tetapi prajurit-prajurit Mataram tidak segera datang memburu. Hari itu, prajurit Pajang benar-benar dapat beristirahat sepenuhnya dengan makan dan minum yang memadai.

Ketika keadaan nampaknya sudah menjadi tenang, maka Ki Demangpun telah minta diri untuk menyiapkan banjar di Kademangan induk bagi para prajurit Pajang.

Tetapi malam itu Prajurit Pajang masih tetap berada di padukuhan di ujung Kademangan. Namun dengan penuh kewaspadaan, karena prajurit Mataram dapat datang setiap saat.

Para pengawal Kademangan dan anak-anak muda Kademangan Nglawang ternyata telah membantu dengan sepenuh hati. Mereka tidak ingin mengusik para prajurit yang beristirahat. Anak-anak muda itulah yang mengamati keadaan dengan cermat. Bahkan mereka telah bersiaga untuk bertempur jika diperlukan.

Meskipun demikian para pemimpin kelompok tidak menjadi lengah. Merekalah yang bergantian berjaga-jaga didalam banjar. Sementara itu mereka memberi kesempatan para prajuritnya tanpa terkecuali untuk beristirahat sepenuhnya.

Malam itu, Ki Demang telah mempersiapkan banjar kademangan yang lebih besar untuk para prajurit Pajang itu. Karena itu, maka di pagi hari, Ki Jagabaya telah datang untuk menjemput para prajurit itu.

Sebagian para prajurit yang tidak terluka telah menjadi segar kembali. Meskipun masih juga sedikit terasa keletihan itu, namun mereka sudah dapat berbuat apa saja sebagai seorang prajurit.

Ketika para prajurit itu kemudian pindah dari banjar padukuhan di ujung Kademangan ke banjar di padukuhan induk, maka Ki Dipayuda telah memerintahkan dua orang penghubung untuk pergi ke Pajang.

“Tidak ada orang yang lebih baik dari Barata dan Kasadha,“ berkata Ki Dipayuda kepada kedua orang anak muda itu.

Keduanya tidak ingkar akan tugas mereka. Apalagi ketika kemudian ternyata Ki Demang telah meminjamkan dua ekor kuda bagi mereka.

“Hubungi pimpinan Wira Tamtama. Perintah apa yang harus kita lakukan lagi. Jangan disembunyikan kegagalan kita di Kademangan Randukerep. Jika harus digantung karena kegagalan itu, biar aku yang menjalaninya,“ perintah Ki Lurah Dipayuda.

“Apakah Ki Lurah dapat dihukum karena kegagalan kita itu? Bukankah Ki Lurah mengambil kebijaksanaan itu dengan perhitungan yang paling baik bagi para prajurit Pajang?“ bertanya Barata.

Ki Lurah tersenyum. Jawabnya, “Tidak. Memang tidak. Tetapi para pemimpin di Pajang memang sedang mengalami goncangan-goncangan jiwani. Apalagi setelah beberapa orang diantara mereka menyeberang ke Mataram.”

Kedua anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Kasadha berkata, “Kami akan menjelaskan selengkapnya apa yang telah terjadi.”

Demikianlah, pada hari itu juga, maka kedua orang anak muda itu telah berangkat ke Pajang. Dengan kuda yang meskipun tidak begitu besar, tetapi cukup memadai untuk mempercepat perjalanan keduanya menyusuri bulak-bulak ditengah sawah serta jalan-jalan padukuhan.

Ketika keduanya berangkat, maka Ki Lurah Dipayuda telah bersepakat dengan Ki Demang untuk mengirimkan orang yang mungkin dapat menyadap keterangan tentang orang-orang Mataram di Randukerep.

“Biarlah aku menugaskan orang yang mempunyai saudara yang tinggal di Kademangan Traju,“ berkata Ki Demang, “mudah-mudahan mereka dapat mencari jalan untuk mengetahui kedudukan para prajurit Mataram di Kademangan Randukerep.”

“Terima kasih Ki Demang,” jawab Ki Lurah, “hal ini akan sangat penting artinya bagi para prajurit Pajang disini.”

Seperti yang dikatakan, maka Ki Demang telah minta K i Jagabaya menghubungi para pengawal yang mungkin untuk melakukan tugas itu.

Sebagaimana kedua orang prajurit yang bertugas ke Pajang hari itu, maka pada hari itu juga Ki Jagabaya telah menemui seorang pengawal yang mempunyai keluarga di Kademangan Traju.

“Pergilah ke pamanmu di Traju itu,“ perintah Ki Jagabaya, “kemudian usahakan untuk mendengar berita tentang Randukerep. Apakah para prajurit Mataram sudah menduduki dan menetap di Kademangan itu. Jika kau tidak dapat langsung menyadap peristiwa di Kademangan Randukerep, maka kau dapat minta tolong orang-orang Traju. Tetapi berhati-hatilah. Sekarang tidak semua orang Traju dapat dipercaya sebagaimana orang Randukerep, meskipun agaknya Traju masih belum separah Randukerep.”

Pengawal itu mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa tugas itu bukannya tugas yang ringan. Tetapi iapun menjawab dengan tegas, “Aku akan melakukannya Ki Jagabaya. Besok aku akan kembali dengan keterangan itu. Aku masih yakin bahwa paman di Traju masih tetap berpijak pada landasan yang sama sebagaimana kita sekarang ini.”

“Sokurlah,“ berkata Ki Jagabaya kemudian, “pergilah. Hati-hati. Banyak perubahan telah terjadi, sehingga kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah kita perhitungkan sebelumnya akan dapat terjadi.”

Demikianlah, dengan kelengkapan seorang yang pergi ke sawah, maka pengawal itu telah memasuki bulak panjang untuk menuju ke Kademangan Traju. Untuk beberapa saat pengawal itu memang berhenti dan mengamati keadaan sebelum pmemasuki Kademangan Traju. Baru kemudian ia mengambil keputusan untuk memasuki Kademangan itu.

Disimpannya alat-alatnya di sebuah gubug kecil ditengah sawah. Setelah membenahi pakaiannya, maka iapun telah melangkah dengan hati yang tetap, menyusuri bulak-bulak persawahan di Kademangan Traju menuju kerumah pamannya.

Sementara itu, Barata dan Kasadha masih berada dalam perjalanan menuju ke Pajang. Mereka memang harus berhati-hati. Lebih-lebih lagi bagi Kasadha. Kemungkinan yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan perang antara Pajang dan Mataram akan dapat terjadi. Bagaimanapun juga Kasadha masih mencemaskan orang-orang yang untuk waktu yang tidak ada batasnya memburunya karena ia adalah anak Warsi dan dianggap pula anak Ki Rangga Gupita. Jika mereka hadir pula dalam ujud apapun, berarti bahwa orang-orang Jipang yang tersisa akan ikut membuat para prajurit Pajang menjadi sibuk.

Namun bagi dirinya sendiri, akan dapat berarti hambatan bagi tugas-tugasnya sebagai prajurit Pajang, bahkan mungkin lebih dari itu.

Tetapi Kasadha tidak dapat mengatakannya kepada Barata, karena Kasadha tidak tahu pasti latar belakang kehidupan Barata sebagaimana sebaliknya.

Angan-angan itu agaknya telah membuat Kasadha merenung. Bahkan seakan-akan ia lupa bahwa ia menempuh perjalanan bersama Barata.

Karena itu, maka Kasadha itupun terkejut ketika ia mendengar Barata bertanya, “Ada yang kau pikirkan?”

“O,” Kasadha memang agak tergagap. Lalu katanya, “Ya. Perang ini. Aku mencoba membayangkan kesudahannya.“

Barata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak seorangpun yang dapat menebak kesudahannya. Pajang memang didukung oleh beberapa Kadipaten. Bahkan mereka telah membawa pasukan mereka masing-masing. Tetapi Kangjeng Sultan sendiri bersikap kurang meyakinkan, Bagaimanapun juga, menurut beberapa orang yang sudah lama mengabdi dilingkungan keprajuritan Pajang, Panembahan Senapati adalah putera angkat Kangjeng Sultan yang sangat dikasihinya.”

Kasadha mengangguk-angguk. Hampir kepada diri sendiri ia berdesis, “Bagaimana mungkin seorang anak melawan orang tuanya sendiri.“ Tetapi diluar sadarnya ia menjawab sendiri pertanyaan itu, “Namun kemungkinan itu memang ada jika keadaan memang memaksa. Masalahnya adalah alasan apakah yang memaksa anak itu menentang orang tuanya.”

“Siapa yang menentang orang tuanya?“ bertanya Barata yang tidak memahami kata-kata Kasadha yang agaknya memang tidak ditujukan kepadanya.

Namun pertanyaan itu telah membuat Kasadha tergagap. Untunglah bahwa iapun cepat menguasai perasaannya dan menjawab, “Panembahan Senapati telah menentang ayahandanya sendiri, meskipun ayahanda angkat. Tetapi bukankah Kangjeng Sultan Hadiwijaya menganggap Panembahan Senapati yang sebelumnya bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu seperti putera sendiri? Namun Panembahan Senapati tentu mempunyai alasan tersendiri, kenapa ia harus memberontak kepada ayahandanya.”

Barata mengerutkan keningnya. Jarang sekali terjadi perselisihan pendapat antara keduanya. Namun yang dikatakan oleh Kasadha itu agak kurang mapan di hati Barata. Karena itu, maka iapun berkata, “Alasan apapun yang dikemukakan oleh Panembahan Senapati, bukankah sebaiknya ia bersikap baik dan hormat kepada ayahandanya? Yang juga rajanya dan menurut kata orang-orang yang dekat, juga gurunya.”

Kasadha memang merasa sedikit tersesat dengan kata-katanya. Tetapi ia tidak dapat mengatakan tentang dirinya sendiri dalam hubungannya dengan orang tuanya. Karena itu, maka dengan serta merta ia menjawab, “Ya. Memang sayang. Maksudku, apakah sebenarnya alasan Panembahan Senapati itu sehingga ia telah berani menentang ayahandanya.”

Barata mengangguk-angguk. Tetapi ia segera melupakannya. Apalagi ketika debu mulai berhamburan oleh angin yang tiba-tiba saja menjadi semakin kencang. Perhatiannya sepenuhnya ditujukan pada perjalanannya yang masih cukup panjang.

Dalam perjalanan itu kedua orang anak muda itu telah mendapat kesan yang suram atas Pajang. Padukuhan-padukuhan terasa sepi. Gema perang telah bergaung di mana-mana. Bahkan rasa-rasanya orang-orang Pajang yang memiliki prajurit lebih banyak dari Mataram itu merasa kecut hatinya.

Tetapi dalam keprihatinan itu, ada saja orang yang memanfaatkan keadaan bagi kepentingan diri sendiri. Di siang hari yang cerah, dan disaat matahari memancar dengan sinarnya yang menyengat, sekelompok orang yang garang telah melakukan perampokan yang kasar disebuah padukuhan. Memang terdengar suara kentongan dalam nada titir, tetapi orang-orang padukuhan menjadi ragu-ragu. Apakah itu bukan pertanda perang?

Barata dan Kasadha yang mendengar suara kentongan itu telah memperlambat derap kaki kudanya. Mereka sudah berada di daerah yang sepenuhnya masih dikuasai Pajang sebagaimana Kademangan Nglawang. Bahkan kedudukannya saat itu jauh lebih menjorok kedalam, mendekati Pajang itu sendiri.

“Kau dengar isyarat kentongan,“ desis Barata.

“Ya,“ jawab Kasadha, “dengan nada titir.”

“Apakah ada kejahatan disiang hari begini?“ desis Batara, “atau peristiwa lain? Tentu bukan kebakaran, karena jika terjadi kebakaran, maka isyaratnya bukan titir. Tetapi tiga-tiga ganda.”

Kasadhapun termangu-mangu. Tetapi ia tidak segera menjawab. Namun telah tumbuh kecemasan didalam hatinya. Jika benar terjadi kejahatan, sedangkan orang-orang yang melakukan kejahatan itu adalah bekas prajririt Jipang atau orang-orang lain yang telah mengenalnya, maka keadaannya tentu akan menjadi rumit baginya.

Sementara itu Barata tiba-tiba saja berkata, “Marilah. Kita akan melihat, apakah yang telah terjadi.”

Tetapi Kasadha masih saja merasa ragu-ragu. Karena itu, maka iapun berkata, “Apakah kita tidak akan terperangkap dalam peristiwa yang lain sebelum kita menyelesaikan tugas kita?”

Baratapun menjadi ragu-ragu. Tetapi katanya, “Kita hanya akan melihat, apakah yang terjadi. Seandainya terjadi kejahatan, bukankah juga menjadi kewajiban kita untuk menyelesaikannya?”

“Jika kita menangkap sekelompok penjahat, apa yang akan dapat kita lakukan atas mereka?“ bertanya Kasadha.

Barata memang harus berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita serahkan kepada Ki Demang. Mereka akan diikat di banjar. Jika kita sampai di Pajang, kita akan melaporkannya agar sekelompok prajurit menyelesaikan mereka.”

Kasadha menjadi gelisah. Barata jarang melihat kegelisahan yang begitu mengganggu anak muda itu. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau berkeberatan, kita selesaikan lebih dahulu tugas kita. Tetapi isyarat itu agaknya merupakan jerit minta pertolongan.”

Adalah diluar dugaan Barata ketika Kasadha kemudian justru berkata, “Marilah. Kita lihat sebentar. Mudah-mudahan tugas kita tidak akan banyak terhambat karenanya.”

Barat alah yang menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak boleh merajuk seperti anak-anak dan menolak ajakan itu.

Berdua mereka telah memacu kuda mereka menuju ke padukuhan yang tengah digetarkan oleh suara kentongan. Untunglah mereka mendengar isyarat yang mula-mula terdengar, sehingga keduanya mengerti sumber dari isyarat itu.

Padukuhan itu memang tidak terlalu jauh. Namun sambil berpacu Kasadha masih saja dibayangi oleh kemungkinan buruk jika mereka bertemu dengan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Ketika keduanya sampai di padukuhan yang menjadi sumber isyarat itu, ternyata bahwa padukuhan itu nampak sepi. Memang terdengar suara kentongan dari beberapa tempat yang tersebar. Tetapi nampaknya orang-orang yang membunyikan kentongan itu telah dibayangi oleh ketakutan, karena ternyata mereka tidak melakukannya ditempat terbuka. Suara kentongan itupun tidak berkepanjangan terus-menerus. Tetapi suara itu terdengar tersendat-sendat. Ganti-berganti dari satu tempat, ketempat lain.

“Ada suasana ketakutan disini,“ berkata Barata, “tidak seorangpun yang keluar dari rumahnya untuk mengatasi persoalan yang mereka isyaratkan dengan kentongan.”

“Ya,“ desis Kasadha yang keduanya berkuda dengan lambat di jalani padukuhan itu.

“Bagaimana dengan para pengawal disini?“ gumam Barata. Tiba-tiba saja ia berkata, “Marilah, kita pergi ke banjar.”

Kasadha tidak menjawab. Tetapi keduanya telah menelusuri jalan padukuhan itu, sehingga mereka sampai ke banjar.

Ketika keduanya memasuki regol halaman banjar padukuhan, ternyata mereka melihat beberapa orang berada di banjar itu. Diantaranya adalah anak-anak muda.

Yang berada dibanjar itupun terkejut. Ketika serentak mereka bangkit dan bersiap, Barata dan Kasadha telah meloncat turun dari kuda mereka.

“Apa yang terjadi?“ bertanya Barata.

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang diantara mereka bertanya, “Apakah kalian prajurit Pajang?”

“Ya,“ jawab Barata, “kami adalah prajurit Pajang.”

“Hanya berdua?“ bertanya yang lain.

“Hanya berdua. Kenapa?“ justru Baratalah yang bertanya. Bahkan iapun bertanya lebih lanjut, “Isyarat apakah yang terdengar itu?”

“Perampokan,“ jawab salah seorang diantara para pengawal, “adalah kebetulan bahwa telah datang prajurit Pajang yang mungkin dapat melindungi kami.”

“Melindungi? jadi apa artinya kalian disini? Apakah kalian sama sekali tidak berusaha untuk berbuat sesuatu?“ bertanya Barata.

“Perampok itu berilmu tinggi. Kami tidak akan dapat mengimbangi mereka. Jika kami memaksa diri untuk berbuat sesuatu, maka akan jatuh korban sia-sia, sementara tenaga kami diperlukan untuk menghadapi kemungkinan lain yang lebih buruk,“ jawab salah seorang pengawal.

“Apakah kemungkinan lain yang kalian maksud itu?“ bertanya Barata.

“Kedatangan orang-orang Mataram,“ jawab pengawal itu.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Sementara Kasadha bertanya, “Jika kalian harus mempertahankan padukuhan kalian dari serangan orang-orang Mataram, apakah itu berarti bahwa kalian atan membiarkan saja para perampok itu menguras habis kekayaan di padukuhan ini?”

“Tetapi mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi,“ jawab pengawal itu.

“Dan orang-orang Mataram?“ bertanya Kasadha.

“Jika orang Mataram datang, maka para prajurit Pajang tentu akan hadir juga. Kami akan bersama-sama menghalau mereka,“ jawab pengawal itu.

“Kalian tidak berpikir menyeluruh bagi keselamatan padukuhan kalian. Sekarang tunjukkan, dimana perampokan itu terjadi,“ desis Kasadha.

Para pengawal itu termangu-mangu. Namun orang yang sudah lebih tua daripadanya berkata, “Kita akan mengikuti para prajurit. Bersama para prajurit Pajang kita akan dapat mengatasinya.”

“Hanya dua orang prajurit,“ desis pengawal itu.

“Terserah kepada kalian,“ berkata Kasadha, “apakah kalian memiliki kecintaan kepada kampung halaman kalian atau tidak. Jika masih ada setitik keberanian untuk mencintai kampung halaman, ikut aku.”

Para pengawal itu memang ragu-ragu. Tetapi orang yang tertua diantara mereka berkata, “Marilah. Kita akan pergi dan membantu para prajurit.”

“Bukan kalian membantu kami, tetapi kami akan membantu kalian, meskipun seandainya tanpa kalian,“ berkata Kasadha.

Tetapi ketika orang yang tertua itu tegak berdiri, maka para pengawal yang lainpun telah melangkah mendekat.

“Mari,“ berkata yang tertua itu, “siapa ikut aku. Selama ini kita tidak berani berbuat apa-apa. Beberapa kali aku berusaha mengajak kalian. Tetapi aku tidak pernah berhasil. Sekarang perampok itu kembali lagi dan kita mendapat dua orang kawan dari lingkungan keprajuritan. Mudah-mudahan kali ini kita dapat membuat perhitungan dengan mereka. Aku akan pergi bersama kedua orang prajurit Pajang ini. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan ikut atau tidak.”

Barata dan Kasadha saling berpandangan sejenak. Ternyata masih ada diantara orang-orang padukuhan itu yang memiliki keberanian. Namun agaknya selama ini ia tidak mempunyai kawan yang dapat mengimbangi keberaniannya untuk bertindak, sehingga akhirnya iapun tidak berbuat apa-apa.

Tanpa menghiraukan orang lain, maka orang itupun berkata kepada Barata dan Kasadha, “Marilah. Kita akan menemui para perampok itu.”

“Kalian tahu dimana mereka merampok sekarang?“ bertanya Barata.

“Aku tahu. Suara kentongan itu dari arah sebelah kiri dari regol halaman ini. Orang kaya yang tinggal di-daerah itu dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Kita akan segera menemukan mereka,“ berkata orang tertua itu. Lalu katanya pula, “tinggalkan saja kuda kalian disini.”

Barata dan Kasadha memang akan meninggalkan kuda-kuda mereka di halaman banjar itu. Keduanyapun kemudian telah mengikuti orang tertua diantara para pengawal yang telah berjalan lebih dahulu. Sebuah parang yang besar terselip di pinggangnya.

Namun diluar regol itu sempat berhenti dan berteriak, “Jangan pergi semuanya. Ampat orang tinggal di banjar ini.”

Ampat orang yang terakhir telah mengurungkan niatnya untuk ikut bersama orang itu. Mereka berhenti diregoi dan akhirnya mereka telah melangkah masuk kembali. Mereka merasa beruntung bahwa mereka tidak perlu ikut menangkap perampok-perampok itu, karena mereka tahu bahwa perampok-perampok itu berilmu tinggi. Ketika perampokan yang pertama terjadi maka usaha untuk menangkap mereka telah gagal. Bahkan tiga orang diantara para pengawal telah terluka. Namun mereka masih mengulangi usaha untuk menangkap perampok-perampok itu kemudian ketika terjadi perampokan lagi diujung padukuhan. Tetapi dua orang terluka parah. Seorang justru menjadi cacat.

Demikian pula ketika terjadi perampokan di padukuhan yang lain. Ternyata anak-anak muda di padukuhan itu juga sia-sia saja menangkap perampok itu. Perampok itu telah meninggalkan orang yang terluka. Bahkan di padukuhan sebelah, seorang yang terluka tidak berhasil ditolong lagi. Seorang korban telah meninggal ketika mereka berusaha untuk menangkap perampok itu.

Sejak itu, maka anak-anak muda seakan-akan menjadi jera untuk menghalangi perampokan-perampokan yang terjadi. Juga saat itu. Meskipun ada diantara mereka yang masih berani dengan bersembunyi-sembunyi memukul kentongan.

Ternyata orang tertua diantara para pengawal itu telah berusaha untuk membangkitkan perlawanan dari orang-orang padukuhan. Sepanjang jalan orang itu berteriak-teriak, “Pukul kentongan terus. Kami akan menangkap perampok itu.”

Tiba-tiba saja Kasadha bertanya, “Bagaimana dengan Ki Bekel di padukuhan ini?”

Orang tertua itu menjawab, “Ki Bekel sedang sakit. Ia memang sudah sangat tua untuk jabatannya. Ia memang mempunyai anak laki-laki. Tetapi anaknya sama sekali tidak tertarik akan tugas-tugas ayahnya. Ia lebih senang berada di arena sabung ayam atau putaran judi yang lain. Sebenarnya umur Ki Bekel masih belum enampuluh. Tetapi ia sudah nampak jauh lebih tua dari umurnya itu justru karena ia memikirkan anak laki-lakinya.”

“Apakah ia satu-satunya anak Ki Bekel?“ bertanya Kasadha.

Ki Bekel mempunyai lima orang anak. Tetapi diantaranya hanya ada seorang anak laki-laki,“ jawab orang tertua diantara para pengawal itu.

“Apakah ia sudah mempunyai seorang atau lebih menantu laki-laki?“ bertanya Kasadha pula sambil melangkah terus menuju ke tempat yang diduga menjadi sasaran perampokan.

“Sudah ada dua orang menantu laki-laki,“ jawab orang itu.

“Apakah menantunya juga tidak berminat kepada tugas-tugas mertuanya?“ bertanya Kasadha lebih lanjut.

“Ada rasa segan. Tetapi perlu kau ketahui, salah seorang diantara menantunya itu adalah aku,“ jawab orang itu.

“O,“ Kasadha mengangguk-angguk.

Demikianlah, maka mereka telah menjadi semakin dekat dengan rumah salah seorang yang mungkin menjadi sasaran perampokan. Suara kentongan yang pertama kali terdengar rasa-rasanya datang dari rumah itu, meskipun segera terdiam. Untunglah ada seorang yang lain yang tidak diketahui telah memberanikan diri untuk memukul kentongan pula sambil bersembunyi yang disahut oleh tiga atau ampat orang yang lain.

Tetapi teriakan-teriakan orang itu ternyata tidak berpengaruh sama sekali. Suara kentongan itu tidak semakin bertambah dan menjalar, tetapi semakin lama maka seakan-akan telah dibungkam oleh perasaan takut dan cemas.

Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di depan sebuah regol rumah yang berhalaman luas. Rumah yang sekilas sudah dapat diketahui, bahwa rumah itu adalah milik seorang yang memiliki kelebihan dari tetangga-tetangganya.

Sejenak iring-iringan itu termangu-mangu. Namun kemudian Kasadha dan Barata tidak sabar lagi. Keduanya telah meloncat memasuki halaman rumah itu dan langsung naik, kependapa.

Perhitungan para pengawal tidak salah. Ada beberapa rumah orang kaya di jalur jalan itu. Satu diantaranya pernah didatangi perampok. Sedangkan rumah itu adalah rumah yang dapat dianggap lebih besair dan lebih baik dari rumah yang pernah dirampok itu. Ternyata perampok-perampok itu tidak datang dimalam hari sebagaimana pernah mereka lakukan. Tetapi mereka telah mendatangi padukuhan itu disiang hari dengan beraninya, karena mereka yakin anak-anak muda di padukuhan itu tidak akan berani lagi mengganggu mereka.

Namun para perampok itu terkejut, ketika mereka menyadari, sekelompok anak-anak muda bersenjata telah memasuki halaman rumah itu.

Seorang diantara para perampok yang tinggal diluar untuk mengamati keadaan, segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang ada didalam.

“Setan,“ geram pemimpin perampok itu, “siapakah yang masih berani mengganggu kita? Aku akan membuat mereka benar-benar jera. Aku akan melukai semua orang yang datang dan membunuh beberapa diantaranya. Orang yang pertama menyerang kita akan mati.”

Kawan-kawannyapun telah bersiap pula. Namun pemimpin perampok itu masih membentak kepada pemilik rumah yang telah dikumpulkan sekeluarga diruang tengah, “Jangan melakukan sesuatu yang dapat memancing kemarahan kami. Satu sabetan pedang, seorang diantara kalian akan mati.”

Orang-orang yang ketakutan itu sama sekali tidak menjawab. Sementara itu pemimpin perampok itu memerintahkan seorang diantara mereka untuk menjaga orang-orang itu.

“Awasi mereka dengan baik. Kau tidak boleh mempertimbangkan perasaan belas kasihan. Kau harus bertindak tegas, agar tugas kita mendatang menjadi lebih ringan,“ berkata pemimpin perampok itu, “apalagi sekarang ternyata masih ada orang-orang gila yang mencoba untuk mencampuri urusannya.”

“Baik Ki Lurah,“ jawab perampok yang mendapat perintah itu. Ia memang lebih senang menunggui orang-orang yang ketakutan itu daripada harus ikut berkelahi melawan anak-anak muda, karena hari itu ia sedang malas membunuh. Hari itu, hari Rabo Legi adalah hari kelahirannya.

Sejenak kemudian maka pemimpin perampok itu telah melangkah keluar diikuti oleh orang-orangnya.

Sementara itu, Barata, Kasadha dan beberapa orang anak muda dari padukuhan itu telah berdiri pula dihalaman menghadap kependapa.

Karena itu, maka demikian para perampok itu keluar dari pintu pringgitan maka Barata telah berkata lantang, “Atas nama kekuasaan Pajang, menyerahlah.”

Pemimpin perampok itu memang terkejut. Ternyata di halaman itu telah berdiri dua orang prajurit Pajang bersama beberapa orang anak muda yang bersenjata. Namun sejenak kemudian pemimpin perampok itu tersenyum. Katanya, “Ternyata hanya ada dua orang prajurit Pajang menilik pakaiannya. Dua orang prajurit itu telah mencoba untuk membangkitkan keberanian anak-anak muda padukuhan ini.”

Barata sekali lagi berkata, “Sekali lagi perintahkan kepada kalian. Atas nama kekuasaan Pajang, menyerahlah.”

Pemimpin perampok itu tertawa, semakin lama semakin keras. Katanya disela-sela derai tertawanya, “Kau tentu seorang prajurit yang baru. Kau masih sangat muda. Karena itu, kau mempunyai keberanian yang melampui keberanian para prajurit yang sudah berpengalaman. Mereka yang sudah berpengalaman tentu tahu, bahwa langkah-langkah sebagaimana kau lakukan itu adalah langkah-langkah yang berbahaya.”

“Jangan merendahkan kami,“ sahut Barata, “apapun alasan kami, tetapi kami adalah alat kekuasaan Pajang. Karena itu kalian harus mematuhi perintah kami, atau kami akan mempergunakan wewenang kami.”

Tetapi pemimpin perampok itu justru tertawa semakin keras. Katanya, “Sudahlah. Pergilah. Aku tidak akan menganggapmu bersalah jika kau pergi sekarang.”

“Cukup,“ Kasadhalah yang membentak, “kau memuakkan kami.”

Wajah orang itu berkerut. Dengan wajah yang mulai tegang ia berkata, “Jadi kalian benar-benar ingin menangkap kami?”

“Jika perlu membunuh kalian,“ jawab Kasadha, “karena itu menyerahlah.”

“Diam,” bentak orang itu, “kalian juga memuakkan sekali.”

Barata dan Kasadha dengan serta merta telah melangkah mengambil jarak. Sementara itu, orang tertua diantara para pengawal itupun telah bersiap.

“Siapa yang masih ingin melihat matahari esok pagi terbit, tinggalkan tempat ini. Aku akan membunuh mereka yang masih tetap berada di dalam regol halaman rumah ini. Aku tidak mempunyai waktu banyak. Karena itu, cepat, lakukan. “ orang itu hampir berteriak.

Tetapi Barata dan Kasadha justru melangkah mendekat. Dengan lantang pula Kasadha berkata, “Ternyata kami harus memaksakan kekuasaan kami dengan kekerasan.”

Pemimpin perampok itu menggeram. Namun tiba-tiba seorang diantara mereka melangkah mendekati pemimpinnya itu sambil berkata, “Puguh. Anak itu adalah Puguh.”

Jantung Kasadha bagaikan meledak. Ia benar-benar terkejut. Hampir saja ia kehilangan pengendalian diri dan bertindak dengan tergesa-gesa tanpa penalaran. Namun sekali lagi ia terkejut ketika orang itu justru menunjuk Barata.

Pemimpin perampok itu termangu-mangu. Dipandanginya Barata dengan saksama. Kemudian terdengar suaranya berat, “Puguh anak Rangga Gupita dan perempuan liar dari keluarga Kalamerta itu?”

“Ya,“ jawab orang itu.

Tetapi orang yang lain telah meloncat maju sambil berkata, “Apakah matamu sudah rabun. Yang satu itulah Puguh. Yang tua. Bukan yang muda.”

“Setan kalian,“ geram pemimpin perampok itu, “ternyata kalian tidak mampu mengingat apa yang pernah kalian lihat.“ ia berhenti sejenak, lalu, “apakah kalian pernah melihat Puguh?”

“Pernah,“ jawab orang yang menunjuk Barata, “beberapa tahun yang lalu disarangnya.”

“Bukankah kau bersama aku pada waktu itu? Sayang kita tidak berhasil menemukannya lagi selama ini,“ sahut yang lain.

“Ya. Kita bersama-sama. Tetapi Puguh adalah yang muda itu,“ berkata yang pertama.

Tetapi yang tua tetap menjawab, “Bukan. Puguh adalah yang tua.”

“Kalian sudah gila,“ geram Kasadha yang telah berhasil menguasai perasaannya kembali, “namaku Kasadha dari kesatuan prajurit Pajang. Kawanku ini bernama Barata. Kami bersama-sama berada dalam kesatuan yang sama. Kami sama sekali tidak pernah mendengar nama sebagaimana kalian sebutkan.”

Pemimpin perampok itu termangu-mangu. Tetapi tiba-tiba ia membentak orang-orangnya, “Kalian sudah gila. Kalian telah dibayangi oleh mimpi buruk selama ini.“ ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi biarlah. Kita akan melihat siapakah diantara mereka yang bernama Puguh. Keduanya memang mirip. Mungkin keduanya itu kakak beradik. Kita harus menangkap keduanya.”

“Cukup,“ bentak Kasadha, “jangan mengigau seperti itu. Sekali lagi aku peringatkan. Menyerahlah. Atau kami akan mempergunakan kekerasan.”

Pemimpin perampok itulah yang kemudian berteriak, “Kalian saja menyerah. Jika kalian melakukan kesalahan dan kalian pertanggungjawabkan sendiri, itu bukan soal. Tetapi sekarang kau bawa anak-anak muda padukuhan ini yang tidak tahu apa-apa bersama kalian. Apalagi jika salah seorang diantara kalian benar-benar Puguh seperti yang dikatakan, karena tidak mungkin kalian kedua-duanya adalah Puguh.”

Namun dengan nada rendah Barata berdesis, “Siapakah sebenarnya Puguh itu sehingga menjadi buruan para perampok? Aku memang pernah dipaksa untuk menyerah karena aku disangka Puguh.”

“Kau?“ bertanya Kasadha.

“Ya. Seperti sekarang ini. Sedangkan aku sama sekali tidak mengenal Puguh. Sekarang giliranmu juga disangka Puguh. Mungkin setiap anak muda pada suatu saat akan disangka Puguh,“ desis Barata. Namun Barata sendiri tidak dapat mengatakan sesuatu yang telah diketahuinya tentang Puguh itu, karena ia tidak menyatakan dirinya berterus terang sebagai seorang anak laki-laki Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang bernama Risang.

“Orang-orang itu sudah dimabukkan oleh bayangan di kepala mereka sendiri,“ berkata Kasadha.

Namun dengan demikian Kasadha berkepentingan untuk menangkap orang-orang itu secepat mungkin dan menitipkan mereka di padukuhan itu dalam keadaan terikat. Sementara berdua Kasadha akan melaporkannya ke Pajang. Jika orang-orang itu masih sempat berbicara, maka uraian mereka tentang Puguh tentu akan berkepanjangan.”

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berteriak, “Sekarang, menyerahlah.”

Pemimpin perampok itu tidak menjawab lagi. Tetapi iapun telah memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk bergerak. Bahkan dengan nada berat ia berkata, “Tangkap Puguh hidup-hidup.”

“Yang mana?“ bertanya seorang pengikutnya.

“Kedua-duanya,“ jawab orang itu.

Kasadha dan Baratapun segera bersiap. Ketika ia berpaling kepada menantu Ki Bekel, maka ternyata orang itupun telah bersiap pula. Tetapi mereka masih melihat anak-anak muda yang mengikuti mereka merasa ragu-ragu.

“Perintahkan orang-orangmu,“ berkata Kasadha, “jangan melawan seorang lawan seorang. Jumlah kita lebih banyak.”

Menantu Ki Bekel itu mengangguk. Iapun kemudian berteriak, “Marilah kita tunjukkan kecintaan kita kepada kampung halaman ini. Orang yang dirampok ini telah banyak memberikan sumbangan bagi kesejahteraan padukuhan ini. Usahakan jangan ada seorangpun yang bertempur seorang diri melawan para perampok. Carilah pasangan masing-masing. Cepat.”

Anak-anak muda itu memang mulai bergerak. Sementara itu, Kasadha telah meloncat kearah para perampok yang mulai bergerak, justru hampir bersamaan dengan saat pemimpin perampok itu meloncat menyerang Barata.

Sejenak kemudian, maka pertempuran telah terjadi. Barata harus bertempur melawan pemimpin perampok itu, sementara Kasadha mendapat lawan seorang yang bertubuh raksasa, yang justru menyebutnya sebagai Puguh.

Sementara itu menantu Ki Bekel itupun telah menyerang bersama anak-anak muda yang semula masih saja ragu-ragu. Tetapi ketika mereka melihat kedua orang prajurit Pajang itu sama sekali tidak merasa gentar disusul oleh menantu Ki Bekel, maka merekapun telah menghambur pula sambil mengacu-acukan senjata mereka. Namun seperti yang dipesankan oleh menantu Ki Bekel, bahwa mereka harus berpasangan.

Jumlah anak-anak muda itu memang lebih banyak. Sementara itu, masih ada beberapa orang anak muda yang mendekati tempat itu setelah mereka melihat iring-iringan mendekati dan memasuki halaman dipimpin oleh dua orang prajurit Pajang.

Namun mereka yang tidak segera berani memasuki arena, telah mengambil langkah yang lain. Mereka berlari ke rumah yang terdekat untuk membunyikan kentongan dengan nada titir.

Ternyata di kejauhan terdengar lagi suara kentongan’ menyambutnya. Semakin lama semakin banyak. Karena suara kentongan yang pertama itu tidak lagi tersendat-sendat, maka kentongan-kentongan yang menyambutpun tidak lagi merasa ragu-ragu.

Suara kentongan itu memang berhasil mempengaruhi suasana. Para perampok itu merasa sangat terganggu oleh suara kentongan itu. Bahkan seorang diantara mereka berteriak, “Suruh kentongan itu diam. Jika nanti aku tahu siapa yang membunyikannya, setelah aku membunuh orang-orang yang menjadi gila disini, aku akan membunuh mereka.”

Tetapi Baratalah yang menjawab sambil bertempur, “Kau yang telah menjadi gila.”

“Persetan,“ pemimpin perampok yang melawannya itu berteriak.

Demikianlah, pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Ternyata Barata dan Kasadha yang telah memiliki bekal ilmu yang kuat, sementara itu mereka telah ditempa pula dalam kehidupan keras seorang prajurit, maka mereka telah menjadi garang pula.

Pemimpin perampok itu memang terkejut ketika ia mengalami perlawanan Barata. Anak yang masih sangat muda, serta kedudukannya sebagai prajurit kebanyakan itu, ternyata memiliki ilmu yang mapan.

Karena itu, maka pemimpin perampok itu harus mengerahkan kemampuannya untuk berusaha menundukkan Barata.

Tetapi Barata memang mampu mengimbanginya. Betapapun pemimpin perampok itu berusaha menekannya, namun Barata selalu dapat terlepas dari sasaran serangannya.

“Iblis manakah yang telah merasuk kedalam diri anak ini,“ geram pemimpin perampok itu.

Barata sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia menjadi semakin garang menekan lawannya, justru pada saat lawannya merasakan kesulitan untuk menundukkannya.

Pemimpin perampok itu memang terkejut mengalami tekanan yang semakin berat sehingga justru ia telah terdesak surut. Namun dengan demikian tiba-tiba saja ia berkata, “Ternyata kau benar-benar Puguh, anak Warsi. Kau agaknya telah mewarisi ilmu serigalanya yang akan mencapai puncak kekuatannya disaat purnama naik.”

“Gila,“ geram Barata, “aku bukan Puguh.”

“Kau dapat saja ingkar,“ geram pemimpin perampok itu.

Kasadha yang juga mendengar percakapan itu memang menjadi berdebar-debar. Tetapi hatinya menjadi agak lapang ketika Barata menjawab, “Tutup mulutmu. Aku belum pernah mendengar nama itu. Apalagi mengenalnya. Jika kau mampu menilai ilmu, apakah kau melihat unsur-unsur gerak ilmu serigala itu pada unsur-unsur gerakku?”

Pemimpin perampok itu justru terdiam. Ia memang tidak mampu menilai ilmu lawannya. Apalagi menghubungkan dengan ilmu yang dimilikinya oleh War-si, seorang perempuan yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun dalam pada itu, keduanya telah bertempur semakin sengit. Perampok yang mulai menjadi cemas itu benar-benar telah mengerahkan kemampuannya.

Sementara itu, Kasadha telah semakin mendesak lawannya pula. Ketika ia mendapat kesempatan, maka sambil menekan lawannya semakin ketat ia bertanya, “Siapakah Puguh itu?”

“Jangan pura-pura,“ geram orang itu.

“Katakan tentang orang itu agar aku dapat mengerti, kenapa kau menyangka aku Puguh,“ suara Kasadha menjadi semakin berat.

Orang itu tidak menjawab. Namun Kasadha menyerang semakin cepat. Bahkan hampir saja telinganya terputus oleh pedang Kasadha. Namun ketika pedangnya bergeser setebal jari dari telinga lawannya, maka dengan cepat Kasadha memutar pedangnya. Sambil menggeliat ia meloncat kesamping, namun pedangnya sempat terjulur menyentuh lengan raksasa itu.

“Setan kau,“ geram orang itu.

Kasadha semakin menekannya. Kemudian ia bertanya lagi, “Aku atau bukan aku, katakan tentang Puguh itu.”

Lawannya tidak menjawab. Tetapi ia berusaha menghentakkan kekuatannya yang sangat besar untuk mengatasi ilmu Kasadha. Tetapi Kasadha tidak terlalu bodoh untuk membentur kekuatan raksasa itu. Dengan sigap ia menghindarinya. Namun tiba-tiba saja dengan satu loncatan panjang pedangnya telah terjulur menggapai pundak orang itu.

Orang itu memang sempat bergeser mundur. Namun ternyata bahwa sekali lagi ujung pedang itu telah menyentuh pundaknya. Hanya seujung rambut. Tetapi ternyata darah telah mengembun dari luka itu serta dari luka di lengannya.

Pertempuran di halaman rumah itu semakin lama memang menjadi semakin seru.

Para perampok yang lain memang harus menghadapi lawan yang terlalu banyak. Setiap orang harus melawan dua atau tiga orang anak muda dari padukuhan itu.

Bagaimanapun juga, maka anak-anak muda itu memang tidak memiliki kesiagaan yang cukup untuk melawan para perampok. Ketika para perampok itu berloncatan dengan pedang berputaran, mereka memang mulai menjadi kecut.

Tetapi menantu Ki Bekel itu berteriak, “Jangan takut. Pemimpin perampok itu sudah tidak berdaya. Ia terikat dalam pertempuran melawan prajurit Pajang. Demikian pula raksasa itu. Yang tinggal adalah perampok-perampok kecil yang tidak berbahaya bagi kalian.”

Menantu Ki Bekel itu sendiri memang seorang yang berani. Apalagi ketika ia melihat Kasadha telah berhasil melukai lawannya yang bertumbuh raksasa itu.

Bahkan beberapa saat kemudian, pemimpin perampok yang memiliki kemampuan seorang perwira prajurit Jipang itu mulai terdesak. Orang itu ternyata tidak sekuat Ki Rangga Selamarta atau Ki Rangga Sanggabantala. Karena itu, maka beberapa saat kemudian Baratapun telah mulai mendesak lawannya. Pemimpin perampok yang sangat ditakuti itu.

Para perampok yang pada dasarnya memiliki kelebihan dari orang-orang padukuhan itu mulai gelisah. Meskipun mula-mula anak-anak muda padukuhan itu ragu-ragu, namun kata-kata menantu Ki Bekel itu memang dapat mempengaruhi mereka. Apalagi sikap menantu Ki Bekel yang garang itu.

Beberapa orang anak muda padukuhan itu memang sempat melihat darah yang meleleh diluka raksasa itu. Lengannya dan sedikit di pundaknya. Namun semakin banyak ia bergerak, maka darahpun meleleh semakin banyak pula.

Hal itu telah berpengaruh atas anak-anak muda padukuhan itu. Apalagi setiap kali menantu Ki Bekel itu memang berteriak-teriak memanaskan hati anak-anak muda padukuhan yang kadang-kadang masih nampak kecut.

Sementara pertempuran berlangsung semakin keras, maka raksasa yang melawan Kasadha itu masih bergumam, “Ternyata Puguh memiliki tingkat kemampuan ayahnya Rangga yang licik dan gila itu, yang lebih mementingkan perempuan liar itu daripada tugasnya.”

Jilid 26

KATA-KATA itu benar-benar menusuk hati Kasada. Ialah sebenarnya Puguh yang disebut-sebut itu. Karena itu, maka Kasadya seakan-akan mendapat keterangan lebih banyak tentang ayah dan ibunya. Ayah yang sebenarnya adalah orang lain sama sekali.

Karena itu, maka Kasadha telah menumpahkan gejolak perasaannya itu kepada lawannya yang telah menyebut-nyebut kedua orang tuanya yang sama sekali tidak akrab dengan dirinya. Tetapi ialah Puguh itu. Puguh sebagaimana disebut-sebut meskipun ia dapat ingkar dengan nama samarannya. Satu keuntungan pula bahwa lawannya itu ragu-ragu, apakah ia benar-benar Puguh atau tidak. Kebetulan kawannya yang bernama Barata itu-pun telah disangka Puguh pula, karena wajahnya memang mempunyai kemiripan dengan wajahnya.

Dengan demikian maka Kasadha itu bertempur semakin garang. Iapun kemudian yakin bahwa perampok-perampok itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Mataram. Mereka adalah orang-orang yang berusaha mencari keuntungan dalam saat-saat yang keruh.

Tetapi agaknya bukan itu saja. Orang-orang Jipang dengan sengaja ingin merusak tatanan kehidupan di Pajang, karena mereka sangat mendendamnya. Berdirinya Pajang telah menghancurkan harapan Jipang untuk dapat bangkit menjadi pusat pemerintahan.

Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin garang. Kasadha sama sekali tidak berniat untuk melepaskan lawannya. Kecuali orang itu bersalah sangat besar kepada rakyat Pajang, karena justru dalam keadaan gawat ia telah menambah beban, orang itupun akan dapat mengatakan kepada orang lain, bahwa orang yang disangkanya bernama Puguh itu ada dilingkungan keprajuritan Pajang.

Karena itu, maka dengan segenap kemampuannya Kasadha telah mendesak lawannya. Senjatanya yang telah bergetar ditangannya menyambar-nyambar dengan garangnya.

Bahkan sekali lagi ujung senjatanya itu mampu menggapai tubuh lawannya.

Raksasa itu menyeringai menahan sakit. Yang kemudian berdarah adalah dadanya. Meskipun tidak begitu dalam, tetapi darah yang semakin banyak mengalir itu telah membasahi pakaiannya bercampur dengan keringatnya yang bagaikan terperas.

Orang itu mulai menjadi cemas. Tetapi ia masih berharap keadaan akan dapat berubah.

Tetapi Baratapun telah mendesak lawannya pula. Anak muda itupun telah menjadi sangat marah. Dua kali ia disangka orang lain yang bernama Puguh yang sama sekali tidak dikenalnya. Dugaan yang demikian akan dapat mencelakai dirinya karena orang-orang itu berusaha untuk menangkapnya justru karena ia disangka Puguh.

Apalagi sebagaimana Kasadha ia menganggap bahwa para perampok itu tidak bedanya dengan pengkhianat yang lelah merusak Pajang justru dari dalam tubuh sendiri. Sehingga dengan demikian maka Baratapun sama sekali tidak berniat untuk melepaskan lawannya. Jika ia tertangkap hidup, maka ia harus dihadapkan kepada para prajurit di Pajang. Atau bahkan tertangkap mati sama sekali.

Dengan kemampuannya yang tinggi, Baratapun berhasil mendesak lawannya yang garang itu. Beberapa kali lawannya berteriak dan mengumpat-umpat jika serangannya gagal. Semula ia tidak mengira jika prajurit muda itu memiliki kemampuan yang demikian tinggi.

Sementara itu, anak-anak muda padukuhan itupun menjadi semakin garang pula. Mereka menjadi yakin bahwa mereka akan dapat memenangkan pertempuran setelah mereka melihat darah ditubuh raksasa itu. Sementara prajurit muda yang lain itupun telah mampu mendesak lawannya sehingga kadang-kadang kehilangan pegangan.

Dengan demikian maka para perampok itupun semakin mengalami kesulitan. Anak-anak muda padukuhan itu justru menjadi lebih garang dari kedua orang prajurit muda itu. Kedua prajurit muda itu bertempur dengan paugeran-paugeran tertentu meskipun keduanya juga menjadi semakin garang. Namun mereka tidak menakutkan seperti anak-anak muda itu seperti orang yang kehilangan nalar, yang semata-mata telah digerakkan oleh perasaan mereka. Beberapa lama anak-anak muda itu tertekan karena tingkah laku para perampok. Bahkan mereka pernah mengalami kehilangan harga diri sama sekali karena mereka tidak berani berbuat apapun juga ketika perampokan itu terjadi.

Karena itu ketika kesempatan itu datang, maka anak-anak muda itu seolah-olah mendapat kesempatan untuk melepaskan dendam mereka.

Paraperampok yang lain, memang merasa kehilangan pimpinan karena pemimpinnya dan orang bertubuh raksasa yang dianggap memiliki kelebihan dari orang-orang lain telah terikat dalam pertempuran melawan dua orang prajurit muda itu. Bahkan keduanya sama sekali tidak mampu dengan segera mengatasi kesulitan mereka dan membantu para pengikutnya melawan anak-anak muda yang jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka. Satu dua diantara anak-anak muda itu nampaknya memang pernah juga mendapat tuntunan caranya mempergunakan senjata meskipun baru dasar-dasarnya saja. Namun didalam satu kelompok, mereka memang menjadi berbahaya sekali. Apalagi dalam keadaan yang tidak menentu. Saat-saat yang dicengkam oleh kecemasan dan ketidak pastian.

Dalam keadaan yang demikian, maka para perampok itu memang menjadi sangat cemas. Mereka semula sama sekali tidak mengira, bahwa mereka akan mendapat perlawanan yang bahkan sulit untuk ditembus.

Beberapa orang anak muda memang telah terluka. Tetapi berbeda dengan hari-hari yang lewat. Mereka tidak menjadi gentar dan ketakutan. Tetapi mereka menjadi marah dan mendendam. Apalagi menantu Ki Bekel itu setiap kali telah menyalakan api kemarahan itu di setiap dada anak-anak muda.

Anak-anak muda itu menjadi semakin garang, ketika mereka juga berhasil melukai dua tiga orang perampok. Bahkan seorang diantara para perampok itu telah terbaring ditanah karena lukanya yang sangat parah.

Karena kawan-kawannya tidak sempat menyelamatkannya, maka orang itupun menjadi sangat gawat karena darah yang mengalir dari lukanya.

Paraperampok yang tersisa tidak mempunyai pilihan lain kecuali melarikan diri. Mereka adalah orang-orang yang garang. Tetapi hati mereka sebenarnya memang sudah rapuh. Sejak mereka terusir dan mengembara, mengalami banyak kesulitan, memang membuat mereka menjadi pendendam, garang dan kehilangan landasan kemanusiaan mereka. Namun hati merekapun sebenarnya menjadi rapuh dan mudah goyah.

Karena itu, maka hampir bersamaan, telah tumbuh niat dihati para perampok itu untuk melarikan diri.

Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan sama sekali. Anak-anak muda itu seakan-akan telah mengepung mereka dengan rapat. Senjata teracu dari segala arah.

Orang bertubuh raksasa itupun merasa tidak mempunyai kesempatan lagi. Tetapi iapun tidak melihat kemungkinan untuk dapat melarikan diri. Darah telah mengalir semakin banyak. Kekuatannya perlahan-lahan susut, lebih cepat dari lawannya yang masih muda itu.

Karena itu, maka iapun telah mencoba untuk menghentakkan kekuatannya yang tersisa. Ia mempunyai dua pilihan dalam kemungkinan yang sama. Berhasil mengalahkan lawannya dalam hentakkan itu atau tidak. Jika tidak, berarti ia akan mati dalam pertempuran itu.

Dengan demikian maka orang bertubuh raksasa itu telah bersiap-siap. Ketika ia mendapat kesempatan setelah berhasil menghindari serangan Kasadha, maka iapun telah melakukan niatnya untuk mempercepat penyelesaian, meskipun ia tidak yakin akan berhasil.

Dengan sisa tenaga yang ada, maka orang itupun telah meloncat menyerang. Senjatanya berputaran mengerikan. Dengan teriakan yang bagaikan memecahkan selaput telinga, orang itu mengayunkan senjatanya mengarah ke leher Kasadha.

Namun Kasadha memang cekatan. Ia segera mengetahui apa yang dilakukan oleh lawannya. Satu tindakan putus asa. Sehingga karena itu, maka Kasadhapun telah mengerahkan tenaganya pula. Meskipun tenaganya juga sudah mulai susut, tetapi ternyata sisa tenaga Kasadha yang terlatih dengan baik di padepokannya masih cukup kuat bagi lawannya.

Sejenak kemudian benturan yang keras telah terjadi. Ternyata bahwa ayunan senjata lawannya yang didorong oleh segenap sisa kekuatannya itu telah membentur kekuatan yang sangat besar, sehingga hampir saja senjata raksasa itu terlepas. Namun orang itu masih berhasil menahan senjatanya betapapun telapak tangannya bagaikan menggenggam bara.

Kasadhapun tergetar pula. Sebelumnya ia dengan sengaja menghindari setiap benturan. Tetapi ketika tenaga raksasa itu sudah jauh susut, bukan saja karena pengerahan kekuatan, tetapi juga karena darahnya yang terlalu banyak mengalir, maka Kasadha telah mencobanya.

Ternyata Kasadha berhasil. Ketika lawannya sedang berusaha untuk memperbaiki kedudukannya, maka Kasadha telah menyerangnya. Ketika senjatanya terjulur demikian cepatnya, maka lawannya berusaha untuk menangkisnya meskipun pegangannya belum mapan. Justru pada saat yang demikian Kasadha telah memutar senjatanya dan dengan satu hentakkan tegak, maka senjatanya raksasa itu telah terlempar.

Sejenak, raksasa itu menjadi kebingungan. Namun ia tidak sempat terlalu lama memandang senjatanya yang terlempar itu. Ketika Kasadha meloncat selangkah maju dengan pedang terjulur, maka ujung pedang itu telah menghunjam didadanya, tembus kearah jantung.

Orang itu mengerang. Namun ketika Kasadha menarik pedangnya, maka orang itupun telah roboh dan tidak bangkit lagi untuk selamanya.

Kematian raksasa itu memang sangat berpengaruh. Pemimpin perampok itu harus mengakui kenyataan yang dihadapinya. Sementara itu, iapun sama sekali tidak berhasil mengalahkan prajurit muda yang bernama Barata itu. Apalagi ketika pemimpin perampok itu melihat orang-orangnya menjadi sangat gelisah.

Karena itu, selagi masih ada kesempatan, pemimpin perampok itu memang akan berusaha melarikan diri tanpa memberikan isyarat kepada orang-orangnya.

Tetapi Barata dapat melihat rencana itu dari sikap lawannya yang berusaha untuk bergeser menjauhi arena. Dengan demikian maka Baratapun menjadi semakin garang. Ia tidak akan melepaskan lawannya, karena menurut pertimbangan Barata orang itu akan menjadi orang yang sangat berbahaya. Karena itu, maka ia harus tertangkap dan diserahkan kepada pimpinan prajurit Pajang, atau mati.

Pemimpin perampok itu mengumpat. Lawannya yang masih muda itu nampaknya memang mempunyai beberapa kelebihan. Apalagi dalam kegelisahan, pemimpin perampok itu menjadi kurang mapan menanggapi serangan-serangan Barata yang semakin deras.

Karena itu, sebelum ia sempat melarikan diri, justru serangan Barata berhasil mengenai lambungnya. Segores luka telah memerah dibawah pakaiannya yang koyak.

Pemimpin perampok itu mengumpat kasar. Sementara itu, Kasadha yang telah kehilangan lawannya telah berada diantara anak-anak muda padukuhan itu yang dipimpin oleh menantu Ki Bekel yang sedang sakit.

“Menyerahlah,“ berkata Barata, “aku akan membawamu ke Pajang. Atas nama kekuasaan Pajang, aku berhak untuk melakukannya. Apalagi dalam keadaan gawat seperti sekarang ini.”

“Persetan,“ geram orang itu, “kau kira aku mau menjadi tontonan orang-orang Pajang? Atau barangkali untuk melepaskan dendamnya karena kekalahan-kekalahan yang dialami atas Mataram.”

“Tutup mulutmu,“ bentak Barata, “aku dapat berbuat lebih banyak dari yang terjadi sekarang atasmu.”

“Akulah yang akan membunuhmu dan membunuh anak-anak muda yang sombong ini,“ geram orang itu.

Tetapi kata-katanya terputus. Hati Barata menjadi semakin panas. Apalagi jika ia teringat kepada nama Puguh yang sama sekali tidak diketahui ujung pangkalnya. Namun satu hal yang diyakini bahwa wajahnya tentu mirip dengan Puguh.

Hampir diluar sadarnya Barata berpaling kearah Kasadha. Tetapi anak muda itu telah tenggelam dalam pertempuran yang kusut. Namun terlintas di kepalanya bahwa Kasadha itupun mirip dengan dirinya. Tetapi namanya bukan Puguh.

“Orang-orang itu juga menyangkanya Puguh,“ desis Risang didalam hatinya.

Tetapi berbagai macam dugaan itupun segera disisihkannya. Iapun segera memusatkan perhatiannya kepada lawannya. Agaknya lawannya itupun telah menjadi berputus asa sehingga justru dengan demikian ia menjadi semakin garang dan liar.

Pada saat-saat terakhir pertempuranpun menjadi semakin keras. Barata juga mulai memperhitungkan waktu, karena ia sedang dalam perjalanan menjalankan perintah. Sehingga karena itu, maka iapun telah mengerahkan kemampuannya pula.

Akhirnya ternyata bahwa pemimpin gerombolan itu tidak mampu berbuat banyak. Ketika sekali lagi Barata menawarkan kesempatan menyerah telah ditolak, dan justru pada saat itu pemimpin gerombolan perampok itu menghentakkan serangannya, Barata menjadi kehabisan kesabaran.

Dengan loncatan pendek, Barata berhasil menghindari serangan lawannya. Namun lawannya bagaikan menjadi gila. Ia justru meloncat sambil menjulurkan senjata ke pangkal leher Barata. Namun Barata bergeser setapak sambil berjongkok. Namun demikian lawannya merapat, maka ujung senjata Baratapun telah terjulur.

Senjata pemimpin perampok itu meluncur setapak di atas kepala Barata. Namun ujung senjata Baratalah yang kemudian mengoyak bukan hanya pakaian lawannya, tetapi lambungnya. Bukan hanya goresan memanjang dikulitnya seperti yang terdahulu, tetapi langsung menghunjam dalam-dalam.

Sesaat Barata kemudian berdiri merenungi pemimpin perampok itu. Namun kemudian ia berpaling kearah pertempuran yang semakin sengit antara sisa-sisa perampok yang masih bertahan dan tidak sempat melarikan diri lagi melawan anak-anak muda padukuhan itu.

Namun kemudian ternyata bahwa Barata melihat Kasadha mengalami kesulitan untuk mencegah anak-anak muda itu membunuh lawan-lawannya. Karena itu, maka Baratapun segera berlari ke arena pertempuran itu sambil berteriak sebagaimana Kasadha, “Hentikan. Hentikan.”

“Kau juga membunuh lawanmu,“ teriak menantu Ki Bekel.

“Tetapi persoalannya lain. Jika mereka telah menyerah maka kalian tidak dapat membunuhnya,“ teriak Barata.

“Mereka belum menyerah,“ jawab menantu Ki Bekel.

“Mereka tentu akan menyerah. Aku menjamin,“ Kasadhalah yang berteriak.

Tetapi sulit untuk mencegah amukan anak-anak muda yang sudah sekian lama merasa tertekan. Bahkan Baratapun kemudian berkata, “Kita memerlukan mereka untuk memberikan laporan kepada para pemimpin prajurit di Pajang.”

Namun Barata dan Kasadha tidak mampu mencegah anak-anak muda yang marah itu. Apalagi beberapa orang diantara mereka telah terluka. Bahkan ada yang nampaknya agak parah sehingga membahayakan jiwanya.

Kawan-kawannya benar-benar sulit untuk dikendalikan lagi. Seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang telah terluka di pundaknya sama sekali tidak mau mendengar peringatan Barata dan Kasadha. Sedangkan seorang yang berkumis tipis dan yang pakaiannya telah basah oleh darah dipunggungnya menjadi seakan-akan kehilangan kesadarannya. Baru kemudian Barata dan Kasadha mengetahui bahwa anak muda berkumis tipis itu adalah saudara kandung anak muda yang terluka parah, yang bahkan telah disangkanya mati.

Pertempuran itu baru berakhir ketika semua orang dalam gerombolan perampok itu terbunuh. Tidak seorang pun yang tersisa.

Barata dan Kasadha memandangi tubuh-tubuh yang terbaring diam itu dengan jantung yang berdegupan. Tetapi merekapun harus menyalahkan diri sendiri, karena merekalah orang yang pertama-tama membunuh lawannya.

Kasadha tidak dapat ingkar, bahwa ia memang berniat membunuh lawannya itu justru karena orang itu telah menyebut namanya, Puguh, selain menurut penglihatan Kasadha lawannya itu telah berkhianat.

Tetapi apapun tanggapan Kasadha dan Barata, namun yang terjadi itu sudah terjadi. Sejenak kedua prajurit muda dari Pajang itu sempat memperhatikan anak-anak muda yang menjadi gelisah setelah mereka menyadari apa yang terjadi.

Dalam keadaan yang demikian Barata berkata, “Ki Sanak. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Kita tidak akan dapat mengharapkan orang-orang yang terbunuh itu untuk bangkit lagi. Karena itu kita harus mempertanggung jawabkannya.”

“Apa maksudmu?“ bertanya menantu Ki Bekel yang masih menggenggam pedang yang berlumur darah.

“Orang-orang itu tentu tidak berdiri sendiri,“ jawab Barata.

Anak-anak muda itu terdiam. Namun Barata melanjutkan, “Karena itu, kalian justru harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Kalian telah menyatakan diri sebagai laki-laki sekarang ini. Untuk seterusnya kalian harus bersikap sebagai laki-laki. Jika kalian merasa bahwa kemampuan kalian belum mamadai, maka kalian harus menggerakkan anak-anak muda sebanyak-banyaknya yang ada di padukuhan ini. Bahkan semua laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata. Karena tidak mustahil bahwa kawan-kawan dari orang-orang yang terbunuh ini akan datang.”

Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu Kasadha menambahkan, “Jika kalian tidak bersiap, maka yang terjadi akan sebaliknya dari yang terjadi sekarang ini. Karena itu, siapa diantara kalian yang memiliki sedikit pengetahuan tentang olah senjata, maka sebaiknya ilmu yang sedikit itu ditularkan kepada kawan-kawannya untuk mendapat kemungkinan buruk yang dapat terjadi.”

Menantu Ki Bekel itu mulai berpikir. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Baiklah Ki Sanak. Kami akan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi di padukuhan ini. Tetapi pengalaman kami kali ini menunjukkan bahwa sebenarnya kami tidak selemah cacing tanah.”

“Bagus,“ jawab Kasadha, “kami berdua mungkin tidak akan dapat membantu kalian lagi lain kali. Tetapi peristiwa ini akan kami laporkan kepada pimpinan prajurit Pajang.”

Menantu Ki Bekel itu mengangguk lemah sambil berkata, “Terima kasih atas bantuan kalian kali ini. Bahkan mampu menggugah keberanian kami. Tetapi kami juga minta maaf, bahwa segalanya telah terjadi diluar kesadaran penalaran kami.”

“Kalian akan dapat menjelaskan jika pimpinan prajurit Pajang sempat menanyakan kepada kalian tentang peristiwa ini. Tetapi jangan terlalu berharap. Pajang sedang sibuk menghadapi Mataram yang nampaknya cukup kuat.”

Menantu Ki Bekel itu mengangguk-angguk kecil.

“Sampaikan kepada mertuamu yang sedang sakit itu. Bicarakan dengan para bebahu yang lain apa yang sebaiknya harus dilakukan oleh padukuhan ini,“ pesan Kasadha.

Demikianlah kedua orang prajurit muda itupun telah minta diri. Seorang diantara anak-anak muda itu telah mengantarkan keduanya mengambil kuda mereka dan sejenak kemudian, keduanya telah melanjutkan perjalanan mereka ke Pajang untuk memberikan laporan tentang kekalahan mereka di sisi Selatan, karena Mataram telah mengerahkan bukan saja prajurit dan pengawal, tetapi anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang telah berhasil mereka himpun.

Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah berpacu langsung menuju ke Pajang untuk menghubungi para pemimpin prajurit. Namun Barata dan Kasadha sempat berpesan, jika sesuatu terjadi, sebaiknya merekapun memberi laporan kepada Ki Demang yang akan melanjutkan laporan itu ke Pajang.

“Peristiwa inipun harus diketahui Ki Demang setelah kalian melaporkannya kepada Ki Bekel,“ desis Barata sebelum meninggalkan padukuhan itu.

Disaat Barata dan Kasadha melanjutkan perjalanan mereka ke Pajang, maka seorang pengawal yang mendapat tugas khusus untuk mengamati Randukereppun telah memasuki Kademangan Traju. Tetapi kedatangan orang itu sama sekali tidak menarik perhatian, karena sebagian benar orang-orang Traju telah mengenalnya. Apalagi pamannya memang benar-benar tinggal di Traju.

Seorang anak muda yang mengenalinya bertanya, “He, apakah kau akan menengok pamanmu?”

“Aku merasa cemas akan keadaannya. Ternyata tidak terjadi apa-apa di Traju.”

“Perang telah terjadi di Randukerep,“ berkata anak muda dari Traju itu.

“Sokurlah jika tidak merambat sampai ke Traju,“ jawab anak muda dari Nglawang itu.

Demikianlah maka anak muda dari Nglawang itupun langsung menuju ke rumah pamannya tanpa gangguan apapun juga.

Dengan senang hati pamannya telah menerimanya. Bahkan pamannya itu berkata, “Tinggallah disini. Jika terpaksa kami harus mengungsi karena peperangan ini, maka kami akan mengungsi kerumahmu di Nglawang.”

Anak muda itu tidak menolak. Ia memang memerlukan waktu melakukan tugasnya. Mengamati kedudukan pasukan Mataram yang berada di Randukerep.

Sementara itu Barata dan Kasadha telah memasuki kota Pajang yang nampak sepi. Beberapa orang prajurit masih nampak berjaga-jaga. Tetapi sebagian besar kekuatan Pajang telah berada di perkemahan disebelah Timur Kali Praga. Apalagi ketika Sultan Pajang sendiri telah turun ke medan .

Namun keragu-raguan Sultan Pajang nampaknya mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi para pemimpin pemerintahan dan para Senapati. Mereka tidak dapat bertindak dengan cepat untuk mendesak Mataram.

Bahkan Sultan Hadiwijaya telah memerintahkan agar pasukan Pajang tidak dengan tergesa-gesa menyeberang Kali Opak yang besar dimusim basah.

“Kita dapat menengok pengalaman dalam pertempuran antara Jipang dan Pajang waktu itu. Karena Jipang dengan tergesa-gesa menyeberangi bengawan, maka pastikan Pajang mempunyai kesempatan untuk menghancurkannya. Disaat pasukan menyeberang, maka kekuatannya akan terasa sangat berkurang, karena sebagaian besar perhatiannya tertuju pada penyeberangan itu sendiri, sementara lawannya telah menghujani anak panah dan lembing,“ berkata Sultan itu kepada para Senapati.

Namun para Adipati yang menyertainya menyadari sepenuhnya, bahwa Kangjeng Sultan benar-benar masih dipengaruhi oleh kasih sayangnya kepada putera angkatnya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati di Mataram itu.

Bahkan sekali pernah terloncat diluar sadarnya pernyataan Kangjeng Sultan di Pajang, “Wahyu keraton memang sudah meninggalkan Pajang dan berada di Mataram.”

Dalam pada itu, Barata dan Kasadha yang mohon menghadap pimpinan keprajuritan yang bertugas di Pajang, telah dipertemukan dengan seorang Tumenggung yang sebelumnya belum dikenalnya dengan akrab. Namun Tumenggung Surapraba itu ternyata tahu betul tentang gerakan pasukan Pajang disisi Selatan.

“Kami terpaksa meninggalkan Kademangan Randukerep,“ berkata Barata dalam laporannya. Lalu katanya pula, “Selanjutnya kami menunggu perintah. Ki, Lurah Dipayuda akan melakukan semua perintah yang dibebankan kepundaknya.”

Ki Tumenggung Surapraba menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak ada lagi kekuatan yang dapat kami kirimkan untuk membantu pasukan Ki Lurah Dipayuda. Nampaknya pengamatan kami terhadap kekuatan Mataram di sisi Selatan agak kabur. Sementara itu kekuatan Mataram diseberang Kali Praga menurut laporan tidak begitu besar.”

“Mataram telah mengerahkan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang telah berada dibawah pengaruhnya,“ lapor Kasadha.

Ki Tumenggung Surapraba itupun berkata, “Ki Lurah Dipayuda harus menyusun kekuatannya kembali dengan orang yang ada, dan barangkali dapat dilengkapi dengan kekuatan di padukuhan-padukuhan se Kademangan Nglawang dan barangkali Traju dan lain-lain. Dengan kekuatan yang ada itu, Ki Lurah harus menghambat gerak pasukan Mataram sejauh dapat dilakukan. Mungkin Kademangan Nglawang lebih baik keadaannya daripada Kademangan Randukerep, meskipun Kademangan Randukerep memang lebih besar.”

Kedua prajurit muda itu mengangguk. Sementara Ki Tumenggung Surapraba yang bertanggung jawab atas pengamanan kota Pajang itu berkata selanjutnya, “Usahakan untuk mengetahui gerakan prajurit Mataram di Randukerep. Jika keadaan menjadi semakin gawat, kami memerlukan laporan kalian dengan segera.”

Barata dan Kasadha menjawab hampir berbareng, “Baik, Ki Tumenggung.”

“Sekarang kalian harus segera kembali ke kesatuan kalian. Kau dapat singgah di dapur barak ini sebelum berangkat, karena mungkin kalian tidak akan menemui makanan diperjalanan kembali. Apalagi kalian tentu kemalaman di jalan. Tetapi perintahku, jangan bermalam dimanapun. Kalian harus langsung menuju kekesatuan kalian,“ berkata Ki Tumenggung.

Kedua prajurit muda itupun kemudian diperkenankan untuk pergi ke dapur setelah Ki Tumenggung memberikan beberapa pesan dan perintah khusus.

Kasadha dan Barata yang kemudian berada di dapur mendengar dari para prajurit yang masih bertugas di kota Pajang, nampaknya Mataram telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada. Namun jumlah mereka terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah prajurit Pajang.

Namun seorang prajurit yang umurnya telah mendekati setengah abad berkata, “ Ada kelebihan pada prajurit Mataram.”

“Apa?“ bertanya prajurit yang lebih muda.

“Tekad mereka yang membakar seluruh bagian dari hidupnya. Berbeda dengan kita. Kita masih saja ragu-ragu sampai saat kita berhadapan di medan perang. Keragu-raguan yang bersumber pada keragu-raguan Kangjeng Sultan sendiri,“ berkata prajurit yang sudah lebih tua itu.

Kasadha dan Barata sama sekali tidak melibatkan diri dalam pembicaraan itu. Tetapi ia menangkap tanggapan para prajurit Pajang terhadap keadaan. Namun bagi Barata dan Kasadha, yang mereka hadapi adalah kekuatan Mataram itu langsung. Mereka telah bertempur dengan sengitnya meskipun dalam medan yang termasuk sempit. Tetapi ternyata beberapa orang kawan mereka telah gugur. Pasukan mereka terdesak mundur dengan meninggalkan beberapa orang korban.

Setelah makan dan minum secukupnya, maka Barata dan Kasadhapun telah minta diri pada petugas yang ada di dapur bagi para prajurit itu. Kemudian menuntun kuda mereka keluar dari regol halaman.

“Perut kita masih terlalu kenyang untuk berpacu dipunggung kuda,“ berkata Barata.

Kasadha mengangguk. Katanya, “Kita berjalan saja perlahan-lahan sambil menunggu nasi diperut ini turun.”

Keduanyapun kemudian berjalan menuntun kuda mereka menyusuri jalan-jalan kota yang jauh berbeda dari keadaan kota Pajang sebelum pecah perang terbuka melawan Mataram. Kotanya menjadi sepi. Yang banyak hilir mudik justru para prajurit yang meronda. Ada beberapa orang prajurit yang datang dari Kadipaten yang berdiri di belakang Pajang yang masih berada di kota untuk kepentingan-kepentingan yang khusus.

Namun dalam pada itu, Kasadha masih saja dibayangi oleh mimpi buruk tentang orang-orang yang mencari Puguh. Karena itu, maka ia masih belum dapat melepaskan kegelisahannya. Apalagi dalam keadaan yang tidak menentu itu. Hampir saja ia terjebak kedalam tangan orang-orang yang mencari Puguh, justru bersama-sama dengan Barata. Orang yang tidak tahu menahu persoalannya. Seandainya ia dipaksa untuk mengaku dengan menekan Barata, maka ia tentu harus mengatakan yang sesungguhnya. Ia tidak mau Barata, yang menurut pendapatnya adalah anak muda yang baik itu mengalami kesulitan karena dirinya hanya karena wajahnya yang mirip dengan anak muda yang bernama Puguh.

Beberapa lamanya anak-anak muda itu berjalan sambil menuntun kudanya dijalan-jalan yang sepi. Pintu-pintu rumah banyak yang tertutup. Sementara penghuninya telah menyiapkan barang-barangnya yang paling berharga. Mereka harus bersiap-siap jika pada suatu saat mereka harus mengungsi.

Paraprajurit yang lewat di jalan-jalan hanya saling memandang sejenak. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan tanpa saling menyapa. Baik prajurit Pajang sendiri, maupun para prajurit dari luar Pajang yang melibatkan diri dalam permusuhan antara Mataram dan Pajang.

“Akhirnya orang-orang padukuhan itu harus menjaga diri mereka masing-masing,“ berkata Kasadha tiba-tiba.

Barata mengangguk-angguk. Tidak mungkin bagi Pajang yang mengalami kesulitan itu untuk mengirimkan prajurit ke padukuhan-padukuhan mengatasi perampokan. Karena itu, maka setiap Kademangan harus berusaha untuk memantapkan pengamanan di lingkungan masing-masing.

Ketika mereka melewati pasar, maka nampaknya pasar itu juga menjadi sepi. Bukan hanya karena hari memang sudah sore, tetapi nampaknya di pagi haripun pasar itu sepi. Karena jika pasar itu ramai, maka sampai sore hari masih ada banyak pedati disekitarnya untuk mengangkut barang-barang yang tersisa, atau yang memang baru saja dibeli di pasar itu. Pande besi biasanya bekerja sampai menjelang senja di hari-hari pasaran. Dan kedai-kedai disetiap hari terbuka sampai lampu-lampu minyak harus dinyalakan.

Tetapi semuanya itu tidak nampak di pasar itu. Kecuali sebuah kedai yang membuka pintunya. Itupun hanya satu dari kedua pintu dibagian depan.

Kedua prajurit muda itu mendekati kedai yang terbuka pintunya sebelah itu. Mereka masih kenyang dan tidak akan membeli makanan atau minuman. Namun dari pemilik kedai itu, keduanya ingin mendengar serba sedikit tentang pasar itu sehari-hari.

Seperti dugaan mereka, maka pemilik kedai itu memang berceritera tentang pasar yang menjadi semakin sepi. Bahkan menurut pemilik kedai itu, banyak pedagang yang tidak lagi pergi ke pasar. Mereka telah meninggalkan kota Pajang dan mengungsi di tempat yang mereka anggap aman ditempat sanak kadang yang tinggal agak jauh dari kota .

“Pajang nampak seperti sebuah kota mati,“ desis Barata.

Setelah mengucapkan terima kasih, maka kedua prajurit muda itupun telah meninggalkan kedai yang pintunya hanya dibuka sebelah itu. Mereka tidak lagi berjalan menyusuri jalan-jalan kota sambil menuntun kuda mereka, tetapi merekapun kemudian telah berpacu kembali ke Kademangan Nglawang. Mereka sadar, bahwa mereka akan sampai di tujuan setelah malam. Apalagi ketika mereka keluar dari gerbang kota , mereka melihat matahari sudah sangat rendah.

Tetapi mereka selalu teringat perintah Ki Tumenggung Surapraba bahwa mereka tidak boleh berhenti dan bermalam diperjalanan. Sudah tentu dengan mengingat kekuatan kuda-kuda mereka sehingga agaknya mereka boleh saja berhenti sekedar memberi kesempatan kuda mereka minum dan makan sedikit rerumputan di perjalanan.

Ketika kemudian malam mulai turun, perjalanan mereka benar-benar diliputi oleh kegelapan. Jika mereka memasuki padukuhan, maka rasa-rasanya mereka berada di kuburan. Gardu-gardu menjadi kosong dan lampu-lampu regol halamanpun tidak dinyalakan.

Jumlah anak-anak mudapun agaknya telah susut, karena sebagian dari mereka telah menyatakan diri ikut dalam tugas-tugas keprajuritan Pajang.

Seperti perintah Ki Tumenggung maka kedua prajurit itu telah berpacu terus di gelapnya malam. Sekali mereka berhenti di pinggir jalan, di tepi parit yang airnya mengalir jernih. Mereka memberi kesempatan kuda mereka untuk minum dan beristirahat sebentar. Dengan demikian maka keduanyapun sempat juga beristirahat merenggangkan kaki-kaki mereka dan memutar punggung sambil menggeliat.

Namun sejenak kemudian, maka keduanya telah melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kademangan Nglawang.

Kedua prajurit muda itu dengan sengaja telah melewati padukuhan yang baru saja di gelisahkan oleh perampokan yang justru terjadi disiang hari tanpa mengenal takut. Namun yang karena nasib mereka yang buruk, maka para perampok itu telah dihancurkan sama sekali.

Padukuhan itupun nampak sepi. Tetapi ketika kedua prajurit muda itu lewat didepan barak, maka nampak beberapa orang anak muda dan bahkan beberapa orang laki-laki yang sudah lebih tua tetapi masih kuat, berada di banjar itu.

Menantu Ki Bekelpun berada pula diantara mereka. Ketika ia melihat Barata dan Kasadha, maka iapun telah mempersilahkan kedua prajurit itu untuk singgah.

“Terima kasih,“ berkata Kasadha yang kemudian menanyakan apakah mayat para korban sudah diselesaikan.

“Kami sudah menguburkan mereka dengan baik-baik,“ jawab menantu Ki Bekel.

“Bagaimana dengan anak-anak muda padukuhan ini?“ bertanya Barata.

“Beberapa orang terluka. Ada empat orang yang agak parah. Dua diantaranya harus mendapat perhatian khusus. Tetapi seorang tabib yang baik merawat mereka,“ jawab menantu Ki Bekel itu.

“Mudah-mudahan mereka lekas sembuh,“ berkata Barata pula. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya di mulut-mulut lorong atau ditempat-tempat yang sudah ditentukan dipasang beberapa orang pengawas. Tidak perlu digardu. Mungkin justru ditempat yang tersembunyi.”

Menantu Ki Bekel itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan melaksanakannya.”

Dalam pada itu, malampun menjadi bertambah malam. Kedua orang prajurit muda itupun segera minta diri untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kademangan Nglawang.

“Kalian tidak naik sebentar. Barangkali kalian dapat minum beberapa teguk wedang jahe,“ bertanya menantu Ki Bekel.

“Terima kasih,“ jawab Kasadha dan Barata hampir berbareng.

Demikianlah kedua orang prajurit muda itupun segera berpacu kembali menyusuri bulak-bulak panjang dan menyusup padukuhan. Semuanya hampir serupa. Gelap dan sepi. Sawah yang terbentang dan pepohonan padukuhan yang menghadang. Regol diujung lorong yang terbuka dan gardu-gardu yang kosong.

Setelah menembus kelam yang panjang, maka kedua prajurit muda itu telah memasuki Kademangan Nglawang yang suasananya memang agak berbeda karena di Kademangan itu terdapat sekelompok prajurit yang meskipun keadaannya agak parah namun mereka masih tetap berada dalam kesiagaan tertinggi dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Di padukuhan pertama di Kademangan Nglawang, Barata dan Kasadha telah dihentikan oleh empat orang yang berada di gardu. Mereka ternyata adalah prajurit Pajang dan dua orang anak muda Kademangan itu.

“O,“ salah seorang prajurit Pajang itu berdesah, “sokurlah bahwa kalian telah kembali.”

“Apakah terjadi sesuatu disini?“ bertanya Barata.

“Sampai saat ini tidak,“ jawab prajurit itu. Namun kemudian ia meneruskan, “Tetapi Ki Lurah gelisah menunggumu sampai aku berangkat bertugas disini.”

“Baiklah. Aku akan segera kembali ke banjar,“ berkata Barata.

Kedua orang prajurit itu berpacu pula menembus malam.

Di padukuhan kedua ia mengalami hal yang sama, sehingga akhirnya keduanya telah memasuki banjar Kademangan Nglawang.

Beberapa orang prajurit yang bertugas telah menyongsongnya. Dengan tidak sabar beberapa orang hampir, bersamaan bertanya, “Apakah Pajang akan mengirimkan bantuan?”

Barata dan Kasadha saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Baratapun bertanya, “Apakah Ki Lurah sudah tidur?”

“Ki Lurah baru saja beristirahat,“ jawab salah seorang pemimpin kelompok, “ia sendiri bersama beberapa orang prajurit meronda di seluruh Kademangan ini.”

“Bukankah tidak terjadi sesuatu?“ bertanya Barata pula.

“Sampai saat ini tidak,“ jawab pemimpin kelompok itu.

“Apakah sudah ada keterangan dari Traju?“ bertanya Kasadha pula.

“Belum,“ jawab pemimpin kelompok itu ragu-ragu. Tetapi ia memang belum melihat pengawal yang ditugaskan ke Traju untuk mencari keterangan tentang prajurit Mataram di Randukerep.

“Beristirahatlah,“ pemimpin kelompok itu telah mempersilahkan kedua orang prajurit muda yang baru saja kembali itu.

Keduanyapun telah menambatkan kudanya dan memberinya minum serta sedikit makan yang tersedia.

Setelah membersihkan diri di pakiwan, maka keduanyapun telah naik ke pendapa banjar. Duduk di tikar pandan yang telah dibentangkan. Dua orang prajurit muda itu sempat menjulurkan kaki mereka yang terasa lelah sambil bersandar tiang.

Sejenak kemudian seorang petugas di dapur telah menghidangkan minuman hangat bagi keduanya. Seteguk wedang sere itu telah membuat tubuh mereka merasa segar.

Seorang pemimpin kelompok yang menyongsongnya telah duduk bersama keduanya. Namun pemimpin kelompok itu merasa kecewa bahwa Pajang tidak mampu mengirimkan prajurit untuk mengatasi kesulitan disisi Selatan.

“Bagaimana jika Mataram mempergunakan kelemahan disisi ini untuk menerobos masuk Pajang,“ desis pemimpin kelompok itu.

“Aku sudah mengutarakannya,“ sahut Barata, “tetapi seperti aku lihat sendiri, semua kekuatan sudah disiagakan di pasanggrahan Kangjeng Sultan di sebelah Timur Kali Opak.”

“Jika Mataram masuk Pajang melalui sisi ini, maka pasukan Kangjeng Sultan itu akan terjepit. Panembahan Senapati akan dapat menduduki kota Pajang dan sekaligus mengepung pasanggrahan Kangjeng Sultan di sebelah Timur Kali Opak itu,“ berkata pemimpin kelompok itu.

Namun Barata menjawab, “Mataram tidak mempunyai jumlah pasukan yang cukup banyak untuk melakukannya.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Menurut keterangan yang pernah didengarnya yang bersumber dari pasukan sandi pasukan Mataram memang tidak terlalu besar dibanding dengan pasukan Pajang. Tetapi di Mataram terdapat orang-orang berilmu tinggi sehingga akan dapat mempengaruhi pertempuran.

“Beristirahatlah,“ berkata pemimpin kelompok itu kepada Barata dan Kasadha, “agaknya sampai besok pagi tidak akan terjadi sesuatu. Pasukan Mataram di Randukerep itu bukannya tidak menderita sebagaimana kita disini, meskipun kita agak lebih parah. Besok pagi-pagi kalian dapat memberikan laporan kepada Ki Lurah, Malam ini, betapapun parahnya keadaan kita, para prajurit tetap bertugas di padukuhan-padukuhan bersama-sama dengan anak-anak muda yang agaknya lebih baik dari anak-anak muda di Randukerep yang telah diracuni oleh orang-orang Mataram.”

Barata dan Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Kasadhapun bertanya, “Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang terluka?”

“Mereka sudah mendapat perawatan sebaik-baiknya. Beberapa orang merasa menjadi lebih baik. Tetapi ada juga yang nampaknya menjadi semakin parah karena semula ia hampir kehabisan darah,“ jawab pemimpin kelompok itu.

“Baiklah,“ berkata Kasadha, “aku akan kembali ke kelompokku.”

“Setiap kelompok telah menyerahkan dua orang yang bertugas malam ini,“ berkata pemimpin kelompok itu.

“Ya. Bukankah masih cukup?“ bertanya Kasadha pula.

“Masih cukup. Sementara anak-anak muda di Kademangan ini sangat membantu,“ berkata pemimpin kelompok itu, “mulai besok, Ki Lurah akan menembus batas-batas Kademangan. Tugas kita tidak dibatasi oleh dinding Kademangan ini. Kita akan menghubungi Kademangan-kademangan yang lain disekitar Kademangan ini. Bahkan mungkin Kademangan Traju.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun telah minta diri untuk kembali ke kelompoknya. Demikian pula Barata.

Sebelum mereka beristirahat, maka ia telah berpesan kepada pemimpin kelompok yang bertugas untuk meningkatkan kesiagaan.

“Ki Tumenggung telah berpesan agar aku tidak bermalam di jalan. Itu berarti bahwa malam ini aku harus berada di Kademangan ini dan berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan,“ berkata Barata.

“Baiklah. Aku akan menyampaikan pesan ini kepada semua prajurit yang bertugas. Terutama yang menghadap ke arah Randukerep meskipun mungkin pasukan Mataram dapat mengambil arah lain sebagaimana dilakukan di Randukerep,“ jawab pemimpin kelompok itu.

Sepeninggal Kasadha dan Barata, maka para prajurit yang bertugas telah meningkatkan pengawasan mereka atas padukuhan-padukuhan di Kademangan Nglawang. Mereka menyadari bahwa prajurit-prajurit Mataram adalah prajurit yang mampu bergerak cepat dan memiliki kemampuan keprajuritan yang cukup tinggi.

Dalam pada itu, Kasadha dan Barata yang letih itupun telah beristirahat diantara para prajurit di kelompok masing-masing. Satu dua diantara prajurit mereka yang sempat terbangun bertanya pula beberapa hal. Namun baik Kasadha maupun Barata tidak bersedia untuk berbicara terlalu panjang.

“Aku akan beristirahat,“ berkata anak-anak muda itu kepada kawan-kawannya.

Ternyata dalam waktu singkat keduanya telah tertidur, karena keduanya telah melepaskan semua beban kegelisahan dan persoalan didalam angan-angan mereka. Mereka telah berniat untuk beristirahat, sementara itu kawan-kawannya telah bertugas dengan baik. Jika terjadi sesuatu, maka tentu akan terdengar suara kentongan atau isyarat-isyarat yang lain.

Karena itu, maka merekapun telah dapat tidur dengan nyenyaknya meskipun masih banyak hal yang harus ditanganinya kemudian.

Pagi-pagi benar ternyata keduanya telah terbangun. Barat alah yang kemudian mengajak Kasadha untuk segera bertemu dengan Ki Lurah Dipayuda.

“Kita harus segera memberikan laporan,“ berkata Barata.

Dalam waktu yang pendek, Kasadhapun telah siap pula. Keduanya kemudian telah pergi menemui Ki Lurah Dipayuda yang ternyata sudah berada di pendapa bersama dengan Ki Demang Nglawang.

“Aku sudah mendapat laporan bahwa kalian telah datang,“ berkata Ki Lurah.

“Maaf Ki Lurah. Kami tidak segera melaporkan hasil tugas kami karena menurut keterangan, Ki Lurah sedang tidur. Bahkan baru saja ketika kami datang,“ berkata Barata.

“Ya. Aku memang merasa letih sekali,“ jawab Ki Lurah. Lalu katanya, “Meskipun aku sudah mendengar sebagian tentang hasil perjalananmu, namun sebaiknya kau memberikan laporan selengkapnya. Ki Demang tentu juga ingin mendengarnya.”

Baratalah yang kemudian memberiRan laporan tentang perjalanan mereka ke Pajang. Mereka telah bertemu dengan orang-orang yang memang berkewajiban menerima mereka. Dan Baratapun telah menyampaikan hasilnya pula. Pajang sudah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk diperbantukan kepada Ki Lurah Dipayuda.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Ia memang sudah menduga. Karena itu maka katanya kepada Ki Demang, “Nah, sudah sama-sama kita dengar keterangan dari para perwira di Pajang. Kita memang harus berbuat sesuatu dengan kekuatan yang telah ada disini Ki Demang.”

“Kenyataan itu harus kita terima, Ki Lurah,“ berkata Ki Demang, “mulai hari ini, aku akan berbuat sesuatu.”

“Aku sudah memutuskan untuk menghubungi Kademangan disebelah menyebelah. Tugasku sebagai prajurit disisi Selatan ini tidak dibatasi oleh batas-batas Kademangan,“ berkata Ki Lurah.

“Aku akan berbuat apa saja yang dapat membantu tugas Ki Lurah disini,“ jawab Ki Demang.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ki Demang. Aku minta Ki Demang dapat mengatur pertemuan dengan tiga orang Demang disekitar Kademangan Nglawang ini. Tetapi untuk sementara kita tidak usah berbicara dengan Kademangan Traju. Pada kesempatan lain, aku akan berbicara dengan Ki Demang di Traju secara khusus.

Ki Demang Nglawang mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Ki Lurah agak kurang yakin akan tegaknya tekad perjuangan pada Ki Demang Traju sebagaimana Ki Demang Randukerep.

“Baiklah,“ berkata Ki Demang, “hari ini aku akan mengirimkan orang untuk menghubungi ketiga orang Demang disekitar Kademangan ini. Besok, saat matahari sepenggalah kita mengharap mereka datang ke Kademangan ini.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Ki Demang. Terus terang, tanpa bantuan Ki Demang maka kami sudah tidak berarti lagi disini, karena jika pasukan Mataram itu bergerak maju, maka kami tentu akan mengalami kesulitan. Namun demikian, kami masih minta kepada Ki Demang, agar hari ini, sebelum kita sempat berbicara dengan para Demang disekitar Kademangan ini, kekuatan yang ada di Kademangan ini sudah dapat dikerahkan.”

“Bukankah sejak kemarin kita sudah melihat para pengawal dan anak-anak muda Kademangan ini ikut berjaga-jaga?“ desis Ki Demang.

“Ya Ki Demang. Maksudku, semua laki-laki yang masih pantas untuk turun ke medan dalam keadaan memaksa,“ berkata Ki Lurah, “namun segala sesuatunya terserah kepada kebijaksanaan Ki Demang.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mengerahkan semua laki-laki yang umurnya dibawah ampat puluh tahun. Kemudian memberikan kesempatan kepada mereka yang umurnya lebih dari ampat puluh tahun untuk dengan suka rela ikut bergabung dengan kekuatan bersenjata di Kademangan ini.”

Ternyata Ki Demangpun telah bergerak cepat. Ia segera minta diri. Kemudian bersama Ki Jagabaya, Ki Demang telah menghubungi para Bekel di padukuhan-padukuhan. Ki Demang telah memerintahkan, selain anak-anak muda dan para pengawal maka semua laki-laki diminta untuk ikut serta mempertahankan Kademangan mereka jika pasukan Mataram menyerang.

“Kecuali mereka yang benar-benar tidak memiliki keberanian. Sebaiknya jangan dipaksa. Mereka hanya akan merepotkan saja jika serangan itu benar-benar datang. Jika peperangan terjadi, maka orang-orang yang benar-benar ketakutan hanya akan menjadi beban, karena mereka akan menjadi pingsan sebelum berbuat sesuatu,“ berkata Ki Demang kepada para Bekel.

“Hari ini kalian harus sudah berbuat sesuatu,“ tambah Ki Demang.

Para Bekel itupun telah melaksanakan perintah Ki Demang dengan baik.Para bebahu padukuhan segera menemui hampir semua orang laki-laki di padukuhan masing-masing. Perintah Ki Demang itu telah sampai ketelinga mereka. Sementara Ki Bekel dan para bebahu yang menghubungi setiap laki-laki yang umurnya dibawah empat puluh tahun itu telah mengatakan pula pesan Ki Demang, bahwa siapa yang memang tidak berani turun ke medan pertempuran lebih baik tidak ikut.

Tetapi ternyata hampir semua laki-laki yang dihubungi para Bekel dan bebahu padukuhan itu menyatakan kesediaan mereka. Bahkan orang-orang yang lebih tuapun telah menyatakan kesanggupan mereka pula untuk ikut membantu, meskipun seandainya tidak harus turun ke arena pertempuran.

Pada hari itu juga setiap padukuhan telah berhasil menyusun kelompok-kelompok kecil diluar para pengawal yang memang sudah tersusun. Namun sebagian besar dari mereka masih belum banyak mengenal olah kanuragam apalagi dengan mempergunakan senjata jenis apapun.

“Tugas itu adalah tugas para pengawal untuk memperkenalkan mereka dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di medan pertempuran,“ berkata para bekel kepada para pengawal yangada di padukuhan mereka masing-masing.

Segalanya memang dituntut untuk dilakukan dengan cepat.

Namun dalam pada itu, ketika senja turun serta para prajurit di Kademangan Nglawang itu menyusun pergantian tugas, maka pengawal yang ditugaskan untuk menyadap keterangan dari Kademangan Randukerep telah datang kembali ke Kademangan langsung menemui Ki Demang dan Ki Lurah Dipayuda.

“Berita apa yang kau dapatkan dari Traju?“ bertanya Ki Demang.

Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan nafasnya yang masih terengah-engah.

“Kenapa kau diam saja?,“ Ki Demang tidak sabar. Pengawal itu bergeser setapak. Kemudian katanya, ”Ki Demang. Pasukan Mataram yang ada di Randukerep sudah ditarik. Semalam seluruh pasukan sudah meninggalkan Kademangan Randukerep.”

“Ditarik?,“ Ki Lurahlah yang memotong.

Pengawal itu mengangguk sambil menjawab, “Ya Ki Lurah. Pasukan Mataram tidak sempat berbuat apapun juga di Randukerep.”

“Kau jangan mengigau,“ geram Ki Demang.

“Aku tidak saja berada di Traju. Tetapi aku sudah pergi ke Randukerep untuk membuktikannya, meskipun dengan alasan yang lain. Adik ipar pamanku di Traju tinggal di Randukerep. Ketika berita penarikan itu kami dengar, maka aku telah minta paman untuk menengok adik paman itu di Randukerep. Randukerep memang telah dikosongkan. Pasukan yang dengan susah payah merebut Randukerep harus meninggalkan Kademangan itu begitu saja,“ berkata pengawal itu.

Ki Lurah Dipayuda termangu-mangu sejenak. Hampir-hampir tidak dapat dipercaya bahwa pasukan Mataram telah meninggalkan Kademangan itu. Tetapi pengawal itu mengaku bahwa ia telah melihat langsung ke Kademangan Randukerep.

“Lalu bagaimana dengan pengamanan Kademangan itu?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Ki Demang Randukerep telah menugaskan bekas pengawal yang masih ada untuk menjaga keamanan Kademangan agar tidak menjadi sasaran para perampok yang memanfaatkan keadaan,“ jawab pengawal itu.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan membicarakan perkembangan keadaan Kademangan Randukerep. Terima kasih atas hasil jerih payahmu. Kau telah melakukan tugasmu dengan baik.”

“Kembalilah ke kelompokmu. Tetapi sudah tentu kau akan menemui keluargamu lebih dahulu,“ berkata Ki Demang.

Pengawal itupun kemudian minta diri. Ia ingin segera pulang untuk menyatakan keselamatannya kepada keluarganya.

Sementara itu Ki Lurah segera memanggil semua pemimpin kelompok didalam pasukannya, untuk menyampaikan hasil penilikan seorang pengawal Kademangan Nglawang terhadap Kademangan Randukerep.

Parapemimpin kelompok itupun merasa ragu-ragu terhadap berita itu. Namun mereka tidak dapat mengelak karena pengawal itu mengaku bahwa ia sendiri telah memasuki Kademangan Randukerep itu.

Namun Ki Lurah Dipayuda tidak begitu saja menerima berita itu sebagai satu kenyataan. Karena itu, maka Ki Lurah telah memerintahkan dua orang pemimpin kelompok untuk melihat, apakah berita itu memang benar.

“Tetapi cara kalian tidak akan dapat sama dengan cara pengawal yang kebetulan mempunyai seorang paman di Kademangan Traju dan kemudian pamannya di Traju itu mempunyai ipar di Randukerep. Tetapi kalian harus berangkat dan melakukannya di malam hari,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

Parapemimpin kelompok itu mengangguk-angguk.

“Nah, setelah kita meyakinkan hal itu, maka kita akan mengambil langkah-langkah yang perlu.”

Dua orang pemimpin kelompok telah ditunjuk. Orang itu adalah Barata dan Kasadha.

Parapemimpin kelompok yang lainpun memaklumi hal itu, karena setiap orang didalam pasukan Ki Lurah Dipayuda akhirnya mengetahui bahwa kedua orang anak muda itu adalah orang terbaik diantara mereka. Memang semula ada pemimpin kelompok yang menganggap perhatian Ki Lurah terhadap keduanya agak berlebihan. Tetapi setelah mereka yakin akan kelebihan keduanya setelah mereka bertempur melawan kedua orang Rangga dari Mataram, maka para pemimpin kelompok itupun telah menerima sikap Ki Lurah itu sebagai satu kewajaran.

Barata dan Kasadha sendiri tidak mengeluh atas perintah yang datang beruntun itu. Mereka merasa bahwa mereka memang berkewajiban untuk melakukannya. Keduanya memang lebih senang menerima perintah itu dan menganggapnya sebagai satu kehormatan dari pada keduanya harus meronda atau berada di gardu-gardu perondan.

Dalam pada itu, Barata dan Kasadhapun tanggap akan perintah Ki Lurah, bahwa mereka harus berangkat di malam hari. Perintah itu tentu mengandung maksud agar keduanya berangkat saat itu juga.

Karena itu, keduanyapun segera mempersiapkan diri. Mereka sudah cukup beristirahat di hari itu. Dengan demikian, maka merekapun telah mendapatkan kesegaran baru sehingga merekapun telah bersiap untuk berangkat.

Tetapi keduanya tidak membawa kuda sebagai tunggangan. Mereka akan berjalan saja menuju ke Randukerep karena perjalanan mereka adalah perjalanan sandi. Berbeda dengan perjalanan mereka menuju ke Pajang.

Setelah menerima beberapa pesan dari Ki Lurah Dipayuda, maka Barata dan Kasadha telah mohon diri kepada Ki Lurah dan Ki Demang untuk melakukan tugas mereka yang baru, menuju ke Randukerep.

Meskipun keduanya telah mendapat berita bahwa orang-orang Mataram telah meninggalkan Randukerep, namun keduanya memang harus berhati-hati. Mungkin pengawal itu salah membuat perhitungan dan penilaian, tetapi kemungkinan yang lain adalah, bahwa orang-orang Mataram memang telah meninggalkan padukuhan itu setelah menebarkan racun didalamnya, sehingga jika keduanya tidak berhati-hati justru akan terjebak didalamnya.

Diam-diam kedua orang pemimpin kelompok dari prajurit Pajang itu telah memasuki daerah Kademangan Randukerep. Mereka telah memilih jalan sempit yang tidak melewati padukuhan. Justru karena mereka telah pernah berada di Kademangan itu, maka merekapun telah mengenali jalan-jalan besar dan kecil dengan baik.

“Apakah kita akan memasuki padukuhan induk?“ bertanya Kasadha.

“Ya. Untuk memastikan apakah prajurit Mataram ada di padukuhan ini atau tidak, kita harus melihatnya di padukuhan induk,“ jawab Barata.

“Mungkin dalam keadaan wajar. Tetapi mungkin Mataram dengan sengaja mengelabui kita,“ desis Kasadha.

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin. Tetapi sebaiknya kita melihat padukuhan induk lebih dahulu.”

Keduanyapun kemudian telah berusaha untuk memasuki padukuhan induk. Tetapi mereka tidak masuk lewat regol padukuhan, tetapi mereka telah meloncati dinding padukuhan, sehingga dengan demikian maka kemungkinan untuk diketahui para pengawal menjadi semakin kecil.

Ternyata padukuhan induk itu memang sepi. Barata dan Kasadha dengan sangat berhati-hati telah mendekati banjar. Mereka memang melihat beberapa orang pengawal berada di banjar. Mereka tentu anak-anak muda yang pernah menjadi pengawal Kademangan yang untuk sementara mendapat kewajiban untuk mengatasi jika terjadi kerusuhan karena kejahatan. Tetapi nampaknya Kademangan itu masih saja terombang-ambing antara dua pilihan. Mataram atau Pajang.

Selain di banjar, maka Barata dan Kasadha sama sekali tidak melihat kesiagaan yang lain. Di Kademangan mereka memang melihat beberapa pengawal bersiaga. Tetapi sekedar untuk mengamankan rumah Ki Demang itu saja.

Tetapi keduanya sepakat untuk melihat padukuhan yang lain. Mungkin ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian mereka.

Namun di padukuhan yang lainpun terasa kesepian sangat mencengkam. Memang disetiap banjar pedukuhan terdapat beberapa orang pengawal berjaga-jaga. Tetapi tidak untuk memasuki pertempuran yang sebenarnya.

Seperti yang dikatakan oleh pengawal dari Nglawang, bahwa para pengawal Randukerep sekedar menjaga agar tidak terjadi kejahatan di Kademangan itu.

Barata dan Kasadha dengan diam-diam berhasil melihat-lihat bukan saja padukuhan induk, tetapi beberapa padukuhan yang lain di Kademangan Randukerep. Mereka telah mengambil kesimpulan, bahwa orang-orang Mataram memang telah meninggalkan padukuhan itu. Sehingga dengan demikian, maka nampaknya mereka telah melepaskan niat mereka untuk menyerang Pajang dari sisi Selatan selain dari sisi Barat.

“Apakah mereka mempergunakan Kademangan lain sebagai landasan serangan mereka dari sisi Selatan ini?“ bertanya Barata.

“Tidak ada Kademangan yang lebih baik dari Randukerep. Selain arahnya yang mapan, juga di Kademangan ini didapat dukungan perbekalan yang memadai. Hasil sawah, pategalan dan tenaga yang cukup,“ sahut Kasadha.

Barata mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah bahwa pasukan Mataram telah tidak ada lagi di Kademangan Randukerep.

“Kita akan melaporkannya kepada Ki Lurah,“ desis Kasadha.

“Marilah. Mungkin Ki Lurah akan mengambil langkah-langkah yang cepat,“ sahut Barata.

Keduanyapun telah meninggalkan Kademangan Randukerep. Tetapi keduanya memang sengaja singgah di Kademangan Traju. Mereka masih juga berusaha meyakinkan, bahwa pasukan Mataram tidak berada di Traju.

Keduanyapun telah meninggalkan Kademangan Randukerep. Tetapi keduanya memang sengaja singgah di Kademangan Traju. Mereka masih juga berusaha meyakinkan, bahwa pasukan Mataram tidak berada di Traju.

Keduanyapun akhirnya yakin, bahwa pasukan Mataram memang sudah ditarik dari sebelah Selatan Pajang, sehingga mereka tidak lagi memilih jalur Selatan sebagai pintu butulan untuk memasuki Pajang jika pasukan Mataram mengalami kesulitan untuk menyerang Pajang dari sisi Barat.

Menjelang fajar keduanya telah berada kembali di Kademangan Nglawang. Namun Ki Lurah dan Ki Demang belum lama memasuki bilik mereka dan beristirahat. Karena itu, maka keduanyapun telah memilih tidur lebih dahulu. Mereka berdua berpendapat, bahwa tidak ada hal yang sangat mendesak untuk membangunkan Ki Lurah yang juga baru saja tertidur.

Baru pagi-pagi, disaat matahari terbit, setelah membersihkan diri dan membenahi kelompok masing-masing, Barata dan Kasadha menghadap Ki Lurah dan Ki Demang yang sudah berada di pendapa.

“Orang-orang Mataram benar-benar telah meninggalkan Randukerep Ki Lurah,“ berkata Barata yang kemudian melaporkan apa yang telah mereka lihat di Randukerep dan di Kademangan Traju.

Ki Lurah Dipayuda dan Ki Demang memang hampir tidak percaya akan hal itu. Apalagi Ki Dipayuda yang telah mengalami pertempuran yang keras di Kademangan Randukerep. Seandainya Ki Lurah Tapajaya tidak memberinya kesempatan menghindar dari pertempuran, mungkin iapun telah mati sebagaimana beberapa orang prajurit Pajang yang lain.

“Bagaimana mungkin Mataram begitu saja meninggalkan Kademangan Randukerep,“ berkata Ki Lurah.

“Mungkin satu jebakan bagi para prajurit Pajang,“ berkata Ki Demang.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Meskipun Randukerep telah dikosongkan, kami tidak akan dengan tergesa-gesa kembali ke Kademangan itu. Aku ingin membuat landasan kekuatan yang kokoh disini. Baru aku akan mempelajari kemungkinan itu.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Lurah tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap tentang Randukerep.”

“Ya,“ jawab Ki Lurah, “kita harus meyakinkan sekali lagi. Sementara itu kitapun harus memperhitungkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi dalam hubungan para prajurit dan orang-orang Randukerep, yang dianggap kurang membantu. Hanya beberapa orang bagian kecil sajalah diantara para pengawal yang dengan bersungguh-sungguh telah berjuang disisi para prajurit Pajang.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Satu perkembangan yang dapat menjadi teka-teki bagi kita Ki Lurah.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun kemudian Ki Lurah telah memberi kesempatan kepada Barata dan Kasadha untuk beristirahat karena mereka baru saja bertugas hampir semalam suntuk. Bukan saja badan mereka menjadi letih, tetapi juga ketegangan yang mereka alami selama menjalankan tugas telah membuat mereka menjadi letih lahir dan batin.

Barata dan Kasadhapun kemudian telah minta diri. Namun merekapun mengatakan bahwa mereka sudah sempat tidur beberapa saat sebelum menghadap Ki Lurah dan Ki Demang.

“Tetapi itu belum cukup. Jika menjelang fajar kau baru kembali dan disaat matahari terbit kau sudah berada disini, maka kau masih memerlukan waktu lagi untuk beristirahat hari ini. Jika ada berita penting, maka aku akan memanggil semua pemimpin kelompok yang ada di pasukan ini,“ berkata Ki Lurah.

Barata dan Kasadha yang kembali ke kelompoknya masing-masing sempat memberikan beberapa peringatan, bahwa keadaan menjadi tidak menentu.

“Kita menunggu perintah dari Pajang. Tetapi bahwa Randukerep dikosongkan belum kita laporkan. Kita harus yakin lebih dahulu, apa yang telah terjadi disini,“ berkata anak-anak muda itu kepada prajurit-prajurit didalam kelompok mereka.

Sebenarnyalah pada saat itu Ki Lurah memang sedang memikirkan kemungkinan untuk menyampaikan laporan ke Pajang. Mungkin ada perintah-perintah baru menanggapi perubahan sikap Mataram itu.

Tetapi sebelum Ki Lurah mengambil keputusan, maka telah datang dua orang penghubung dari Pajang yang langsung menuju ke Kademangan Nglawang, karena para pemimpin yang ada di Pajang sudah mendapat laporan tentang pergeseran landasan pasukan mereka dari Barata dan Kasadha.

“Aku akan memanggil semua pemimpin kelompok untuk dapat mendengar langsung perintah-perintah dari Pajang,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

Sejenak kemudian maka para pemimpin kelompok-pun telah berkumpul. Mereka akan mendengar langsung perintah yang dibawa oleh penghubung yang datang dari Pajang itu setelah para penghubung itu menyampaikannya lebih dahulu kepada Ki Lurah. Namun menurut Ki Lurah, perintah yang dibawa itu adalah perintah yang tidak diperkirakan sebelumnya sehingga dengan demikian maka perintah itu merupakan perintah yang penting.

“Paraprajurit Mataram memang sudah ditarik dari Randukerep,“ berkata penghubung itu.

“Kami belum saja memberikan laporan, karena kami ingin meyakinkan apa yang telah terjadi di Randukerep. Semalam dua orang prajurit telah datang ke Randukerep,“ berkata Ki Lurah.

“Bukankah Randukerep telah kosong?“ bertanya penghubung itu.

“Ya,“ jawab Ki Lurah, “juga Kademangan-kademangan sebelah menyebelah. Kami baru membicarakan isi laporan yang akan kami kirimkan ke Pajang, tetapi nampaknya Pajang justru telah mengetahuinya lebih dahulu.”

“Kami mengetahuinya justru dari petugas sandi kami yang ada dalam pasukan Mataram yang berhasil mengetahui langsung perintah-perintah yang diberikan kepada kedua orang Rangga yang berada disisi Selatan bersama Ki Lurah Tapajaya,“ jawab penghubung itu.

“Ya.Para prajurit itu berada dibawah pimpinan Ki Rangga Selamarta dan Ki Rangga Sanggabantala serta Ki Lurah Tapajaya,“ jawab Ki Lurah Dipayuda.

“Ternyata ketiga orang pemimpin itu dianggap bersalah. Mereka telah menyebarkan racun diantara rakyat Randukerep. Itu sama sekali tidak dikehendaki oleh pimpinan prajurit Mataram. Mataram memang menugaskan mereka untuk meyakinkan anak-anak muda akan perjuangan Mataram merebut Pajang. Tetapi tidak dengan cara yang kotor itu,“ berkata penghubung itu.

Ki Lurah Dipayuda mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jadi apakah Mataram tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh orang-orangnya di sekitar Randukerep sebelum kami datang?”

“Perintah penarikan pasukan Mataram dari Randukerep sebenarnya telah diberikan sebelum terjadi pertempuran dengan prajurit Pajang. Tetapi para pemimpin dari Mataram di Randukerep telah memaksakan pertempuran itu. Baru setelah mereka meyakinkan diri memenangkan pertempuran di Randukerep, mereka telah menarik pasukannya dan membawanya ke seberang Kali Opak. Panembahan Senapati memang berkemah disebelah Barat Kali Opak. Namun menurut laporan yang diterima oleh para petugas sandi Pajang yang telah meneruskannya ke pimpinan prajurit Pajang di pesanggrahan Kangjeng Sultan di sebelah Timur Kali Opak, ketiga orang perwira prajurit Mataram itu telah mendapat hukuman khusus dari Panembahan Senapati,“ berkata penghubung itu.

“Kenapa Panembahan Senapati menganggap cara yang ditempuh oleh ketiga perwiranya itu salah?“ bertanya salah seorang pemimpin kelompok.

“Dengan cara itu, siapapun yang menang, tidak akan menemukan satu landasan yang baik bagi perjuangan mereka selanjutnya. Racun itu akan menyebar ke seluruh lekuk-lekuk kehidupan di Kademangan Randukerep dan sekitarnya. Cara hidup yang kotor itu memang akan dengan cepat melemahkan gairah perjuangan anak-anak muda dan bahkan orang-orang Randukerep. Semua orang akan segera tersesat kedalam kehidupan itu karena cara hidup yang demikian akan lebih mudah menyusup dalam kehidupan daripada usaha-usaha yang baik. Karena itu, maka kelak usaha untuk menyembuhkannya tentu akan menjadi sangat sulit. Bahkan seandainya Mataram menang karena landasan pasukan disisi Selatan ini, maka yang mereka dapatkan di Randukerep hanyalah abunya perjuangan yang tidak lagi memberikan arti apa-apa bagi masadepan. Kademangan Randukerep akan menjadi beban yang berat bagi usaha meningkatkan kesejahteraan hidup, bukan saja di Kademangan itu, tetapi juga disekitarnya,“ berkata penghubung itu.

Ki Lurah Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Namun sebagai seorang prajurit ia merasa kecewa. Ia belum sempat membalas kekalahan yang dideritanya sehingga terusir dari Kademangan Randukerep, Namun dengan keseimbangan antara nalar dan perasaannya, ia merasa bersukur, bahwa pertumpahan darah disisi Selatan Pajang itu berakhir. Namun belum berarti bahwa tidak akan terjadi pertumpahan darah disebelah yang lain dari Pajang yang terasa memang sudah goyah itu.

Dalam pada itu, maka penghubung itupun telah menyampaikan perintah kepada Ki Lurah Dipayuda untuk bersiap-siap melakukan tugas-tugas yang akan diperintahkan kemudian. Tugas yang masih belum diketahui. Namun sudah pasti bahwa menghadapi Mataram disisi Barat, Pajang memerlukan kekuatan yang sangat besar.

Dari penghubung itu pula Ki Lurah Dipayuda mengetahui, bahwa perintah penarikan pasukan Mataram dari Randukerep telah dijatuhkan oleh Tumenggung Purbarana yang ternyata mengambil kembali para prajurit Mataram yang berada disisi Selatan dan membebaskan Ki Lurah Tapajaya serta kedua Rangga yang menyertainya dari tugasnya.

“Baiklah,“ berkata Ki Lurah Dipayuda, “aku akan menunggu perintah lebih lanjut. Tetapi jika pimpinan prajurit Pajang meyakini bahwa pasukan Mataram tidak akan turun lagi ke sisi Selatan, maka pasukan ini tentu akan segera ditarik dan ditempatkan di sebelah Kali Opak bersama-sama dengan seluruh kekuatan Pajang.”

“Mungkin sekali,“ sahut penghubung itu. Lalu katanya, “Tetapi segala sesuatunya terserah kepada pimpinan Pajang yang masih berada dan menjaga ketenangan kota Pajang sekarang. Jika pimpinan keprajuritan yang berada bersama Kangjeng Sultan di pesanggrahan menjatuhkan perintah bagi Ki Lurah, agaknya akan tersalur lewat pimpinan di Pajang. Ki Tumenggung Surapraba.”

Ki Demang yang ikut dalam pembicaraan itu kemudian berkata, “Memang hampir tidak dapat dipercaya. Setelah bertempur dengan taruhan beberapa orang korban yang jatuh, pasukan Mataram begitu saja meninggalkan Randukerep. Tetapi sebenarnyalah sebelumnya aku sudah menduga. Menurut keterangan yang aku terima pasukan Mataram memang lebih sedikit dari pasukan Pajang.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ki Demang memang pernah mengatakannya. Tetapi menilik gerakan yang besar dari pasukan Mataram di sisi Selatan, maka langkah yang ternyata benar-benar diambil Mataram itu mengejutkan. Namun agaknya terdapat pertimbangan-pertimbangan lain sebagaimana di katakan oleh penghubung ini. Mataram tidak mau prajurit-prajuritnya mempergunakan cara yang kurang wajar.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun yang kemudian menyahut adalah penghubung itu, “Demikianlah yang terjadi Ki Lurah. Dengan demikian tugas kami sudah selesai. Karena itu, maka kami akan segera mohon diri.”

Tetapi Ki Demang sempat menghidangkan minuman dan makanan bagi kedua penghubung itu sebelum mereka kembali ke Pajang.

Sejenak kemudian, maka kuda kedua penghubung itupun telah berderap meninggalkan Kademangan Nglawang, kembali ke Pajang untuk seterusnya jika diperintahkan menuju ke Prambanan setelah memberikan laporan-laporan yang dibawa dari Nglawang.

Sementara itu sepeninggal penghubung yang membawa berita dan sekaligus pesan-pesan itu, Ki Lurah masih berbincang dengan para pemimpin kelompok. Dengan demikian maka mereka menjadi yakin bahwa tugas mereka disisi Selatan itu sudah selesai. Tetapi mereka masih belum menerima tugas-tugas baru yang harus mereka lakukan.

Namun sebagai seorang pemimpin sepasukan prajurit betapapun kecilnya maka Ki Dipayuda telah memerintahkan untuk bersiaga sepenuhnya.

“Satu kesempatan untuk memulihkan kekuatan pasukan meskipun kawan-kawan kita berkurang jumlahnya,“ berkata Ki Lurah.

Parapemimpin kelompok menyadari, bahwa mereka harus tetap menempa diri, meningkatkan kemampuan mereka serta mencari kemungkinan-kemungkinan yang lain untuk tetap mempertahankan kekuatan pasukan mereka.

Sejak saat itu, maka tugas prajurit Pajang di Nglawang itu adalah menunggu sambil membenahi diri. Yang terluka mendapat perawatan sebaik-baiknya. Sementara Ki Demang telah membantu dengan segala kemungkinan yang ada. Ki Demang telah berusaha untuk menyediakan perbekalan bagi pasukan yang terluka dan berada di Kademangannya itu.

Namun dihari berikutnya, keadaan pasukan Ki Lurah itu telah menjadi semakin baik. Sebagian yang terluka tidak terlalu parah telah sembuh kembali. Bahkan yang semula parahpun telah mampu melakukan kegiatannya sehari-hari tanpa bantuan orang lain.

Tetapi yang tidak dapat mereka lupakan adalah kawan-kawan mereka yang telah gugur dipeperangan.

Barata dan Kasadha serta para pemimpin kelompok yang lain dengan sungguh-sungguh berusaha untuk tetap menegakkan kelompok mereka masing-masing sebagai satu kesatuan terkecil dari pasukan Pajang. Betapapun ke adaan mereka setelah pertempuran di Randukerep, namun mereka harus tetap dengan bangga menyatakan diri mereka, prajurit-prajurit Pajang.

Namun dalam pada itu, Kasadha ternyata mempunyai beban persoalan yang lain. Bahwa ada orang-orang yang mengenalinya sebagai Puguh telah sangat mengganggu perasaannya. Setiap kali ia teringat, maka jantungnya serasa berdesir pedih. Namun ia sadar, bahwa ia tidak dapat menanggalkan masa lampaunya begitu saja.

Kasadha tidak dapat ingkar kepada dirinya sendiri, bahwa ia adalah Puguh. Anak Warsi. Sedangkan laki-laki yang disebut sebagai ayahnya adalah Ki Rangga Gupita, meskipun laki-laki itu sama sekali bukan ayahnya. Tetapi ayah adiknya yang lahir kemudian.

Persoalan yang menyangkut dirinya itu agaknya telah mempengaruhi sikapnya sehari-hari. Kadang-kadang Kasadha termenung memandangi kejauhan tanpa menghiraukan keadaan disebelah menyebelahnya.Para prajurit didalam kelompoknya sering melihat Kasadha seperti orang yang sedang bersedih.

Seorang diantara para prajurit itu pada satu kesempatan telah bertanya kepada Barata, “Kenapa kakakmu selalu murung?”

“Kakakku siapa?“ bertanya Barata.

“Kasadha,“ jawab prajurit itu.

“Ia bukan kakakku,“ jawab Barata.

“Ya. Aku mengerti. Tetapi kawan-kawan menyebutnya demikian. Apakah kau berkeberatan?“ bertanya prajurit itu.

“Tidak. Aku tidak pernah merasa keberatan. Tetapi aku hanya ingin mengatakan bahwa itu bukan yang sebenarnya,“ jawab Barata.

“Baiklah,“ desis prajurit itu, “tetapi yang ingin aku tanyakan, kenapa dengan Kasadha? Kau adalah orang yang dekat dengannya. Barangkali kau tahu apa sebabnya.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengerti. Aku juga menyimpan pertanyaan seperti itu. Tetapi aku tidak sampai hati untuk menanyakannya. Jika persoalannya itu tidak sepatutnya dimengerti orang lain, maka hatinya akan menjadi semakin sulit. Ia akan membawa beban baru justru karena pertanyaan itu. Untuk menjawab, ia merasa tidak sepantasnya, tetapi tidak dijawab, maka ia akan merasa kurang mapan karena dengan demikian akan dapat menyinggung perasaan orang lain.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Apakah Kasadha masih mempunyai orang tua?”

“Aku tidak tahu,“ jawab Barata.

Prajurit itu tidak bertanya lagi. Ia tahu bahwa Barata memang bukan adiknya. Mereka bertemu disaat keduanya memasuki dunia keprajuritan Pajang.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu telah membekas diliati Barata. Ternyata Kasadha menjadi murung justru setelah ada orang yang menyebutnya sebagai Puguh sebagaimana dirinya. Barata sama sekali tidak menjadi murung karenanya. Bahkan Barata dapat menyisihkannya untuk tidak diingatnya lagi, meskipun kadang-kadang muncul juga dipermukaan. Apalagi ia sudah dua kali mengalaminya.

Namun setiap kali telah timbul pula satu pertanyaan, “Apakah Kasadha itu memang orang yang sebenarnya bernama Puguh?”

Namun Barata selalu mengusir pertanyaan itu. Ia mempunyai beberapa alasan untuk menolaknya. Menurut gambaran angan-angannya Puguh adalah seorang anak muda yang kasar. Bahkan liar dan buas. Tetapi umurnya lebih muda dari umur Barata sendiri. Sedang Kasadha tidak memenuhi kedua-duanya. Ia bukan jenis seorang anak muda yang liar. Sedangkan menurut penilaiannya, Kasadha memang agak lebih tua dari dirinya meskipun hanya terpaut sedikit.

Karena itu, maka Barata tidak berniat memperhatikan kemurungan Kasadha apapun sebabnya. Karena seseorang menjadi murung itu dapat terjadi karena seribu macam sebab.

Namun Kasadha sendiri agaknya merasa, bahwa sengaja atau tidak sengaja, Barata telah melihat kemurungan yang tidak berhasil disembunyikannya. Karena itu, tanpa diminta Kasadha telah berceritera tentang sebuah mimpi.

“Mimpi?“ bertanya Barata.

“Ya,“ jawab Kasadha, “aku mimpi tinggal dilereng sebuah bukit. Dekat dengan rumahku terdapat sebuah sungai yang kecil saja. Namun ketika hujan turun berhari-hari, maka sungai yang kecil itu menjadi banjir. Aku tidak berpikir lebih jauh. Dengan serta merta aku memanjat tebing untuk menghindari air yang cepat sekali naik. Tetapi tiba-tiba saja aku melihat lereng bukit itu menjadi goyah. Agaknya air hujan yang lebat itu bukan saja telah menimbulkan banjir, tetapi juga tanah longsor. Aku terjepit diantara banjir yang semakin tinggi serta tanah yang mulai bergerak turun.”

Ketika Kasadha berhenti sejenak, Barata menjadi tegang. Bahkan kemudian iapun bertanya, “Lalu, apa yang kau lakukan?“

“Tiba-tiba aku pasrah kepada Yang Maha Agung. Aku tidak tahu apakah aku termasuk orang yang selama ini mempunyai kepercayaan yang kuat. Tetapi didalam mimpi tiba-tiba saja aku telah pasrah seutuhnya. Aku sudah tidak melihat jalan apapun yang akan dapat menyelamatkan diriku,“ jawab Kasadha.

“Lalu apa yang terjadi? “ Barata menjadi tidak sabar.

“Aku terbangun,“ jawab Kasadha.

“Sebelum tanah longsor itu menimpamu?“ bertanya Barata pula.

“Ya. Sebelum tanah longsor itu menimpaku dan air yang semakin besar itu dapat menggapaiku,“ jawab Kasadha dengan nada rendah.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Meskipun hanya sebuah mimpi, tetapi rasa-rasanya telah menegangkan jantung.”

“Ya. Aku tidak dapat segera melupakannya,“ berkata Kasadha pula.

“Kenapa? Apakah kau termasuk orang yang percaya kepada mimpi bahwa mimpi itu selalu ada artinya?“ bertanya Barata.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang berniat untuk mengalihkan perhatian Barata. Jika Barata pernah melihatnya murung, maka Kasadha berharap pertanyaan yang timbul dihati Barata akan terjawab dengan ceritera mimpi itu.

“Mimpi adalah mimpi,“ berkata Barata, “satu peristiwa didunianya sendiri.”

“Tetapi sejak jaman dahulu orang percaya bahwa mimpi itu mempunyai arti,“ jawab Kasadha, “dan meskipun aku bukan ahli menebak arti sebuah mimpi, tetapi rasa-rasanya arti mimpi itu jelas sekali.”

“Seandainya mimpimu itu mempunyai arti, maka apapun yang terjadi, kau akan selamat. Demikian pula jika ditarik ke lingkunganmu yang lebih besar. Pasukan ini misalnya. Maka dalam keseluruhan pasukan inipun akan selamat, karena kau sempat menyingkir dari arus banjir,“ berkata Barata.

“Tetapi tanah longsor itu?“ desis Kasadha.

“Tanah longsor itu belum menimpamu. Kau kemudian terbangun,“ jawab Barata.

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Sementara Baratapun berkata, “Mimpi atau tidak mimpi, apa yang memang akan terjadi tentu terjadi. Kau tidak-boleh terlalu terpengaruh oleh sebuah mimpi yang belum pasti bersangkut paut dengan duniamu ini.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun dengan demikian Kasadha telah menghindarkan dirinya dari pertanyaan Barata tentang dirinya yang memang kadang-kadang menjadi murung.

Untuk selanjutnya, maka ceritera tentang mimpi itulah yang dikatakan oleh Barata kepada setiap orang yang bertanya kepadanya. Dengan demikian maka para prajurit Pajang di Nglawang, terutama yang berada didalam kelompok yang dipimpin oleh Kasadha mendengar bahwa Kasadha telah terpengaruh oleh satu mimpi yang menurut tanggapannya mempunyai arti yang mencemaskan.

Tetapi Kasadha sendiri memang sulit untuk melupakan persoalan yang sebenarnya mencengkam jantungnya. Ada niatnya untuk mengatakannya kepada Barata, agar bebannya menjadi sedikit berkurang. Tetapi justru karena ia tidak tahu siapakah Barata itu serta latar belakang kehidupannya, maka Kasadha selalu mengurungkannya. Sehingga dengan demikian beban itu tetap merupakan beban baginya.

Demikianlah, maka dihari berikutnya, kejemuan telah mulai menyentuh perasaan para prajurit Pajang. Mereka merasa seakan-akan tidak diperlukan lagi dan dibiarkan begitu saja berkarat di tempat penyimpanan.

Ki Lurah Dipayuda yang memimpin pasukan yang berada di Nglawang itupun merasakan kegelisahan itu. Karena itu, maka ia dengan sungguh-sungguh memperhatikan setiap orang didalam pasukannya. Namun Dipayuda itu menyadari bahwa para prajurit itu telah dibebani oleh perasaan bersalah karena kekalahan yang pernah mereka derita menghadapi pasukan Mataram. Karena itu, maka perasaaan merekapun mudah sekali tersinggung. Mereka merasa justru karena kekalahan itu, mereka tidak diperlukan lagi oleh Pajang.

Tetapi keadaan itu tidak berlangsung lebih lama. Ketika orang-orang yang terluka telah menjadi semakin baik, maka Pajang telah mengirimkan perintah untuk menarik pasukan itu dari Pajang.

“Keadaan pasukan Pajang di Prambanan menjadi gawat,“ berkata penghubung yang mendapat perintah memanggil pasukan Pajang itu, “pertempuran-pertempuran kecil memang sering terjadi disekitar pesanggrahan. Tetapi Kangjeng Sultan masih belum mengambil sikap yang tegas.”

Ki Lurah Dipayuda yang pernah bertempur langsung menghadapi prajurit Mataram telah menyatakan kesediaannya untuk berbuat apa saja di medan pertempuran.

“Kami, pasukan ini akan menebus kekalahan yang pernah kami alami,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Tetapi kita tidak dapat bertindak sendiri-sendiri. Setiap kali Kangjeng Sultan masih menunjukkan sikap yang kurang dapat dimengerti oleh para pemimpin Pajang yang termasuk dekat dengan Kangjeng Sultan itu sendiri. Adipati Tuban telah dengan sepenuh hati bersedia melakukan apa saja bahkan menghancurkan pasukan Mataram. Demikian pula Adipati Demak. Tetapi Sultan masih saja mencegahnya,“ berkata penghubung itu.

Ki Lurah Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ia adalah seorang pemimpin dari sepasukan kecil dari Pajang. Jauh dibawah tingkat kedudukan Adipati Tuban dan Adipati Demak serta para Tumenggung yang lain. Jika mereka masih harus mengekang diri, maka apalagi Ki Lurah Dipayuda.

Tetapi jika Ki Lurah Dipayuda harus kembali ke Pajang lebih dahulu dan seterusnya ke Prambanan, itu tentu lebih baik daripada tetap tinggal di Kademangan Nglawang tanpa tugas tertentu kecuali menunggu.

Karena itu, maka Ki Lurahpun segera memerintahkan pasukannya berbenah diri. Pasukan itu dihari berikutnya harus sudah berada di Pajang dan melaporkan diri kepada Ki Tumenggung Surapraba.

Ketika penghubung itu telah meninggalkan Kademangan Nglawang, maka Ki Lurahpun segera mengadakan pertemuan dengan Ki Demang. Ki Lurah telah minta diri untuk meninggalkan Kademangan itu disertai ucapan terima kasih atas segala bantuan Ki Demang selama pasukan Pajang itu berada di Kademangannya.

“Itu adalah kewajiban kami orang-orang Nglawang,“ berkata Ki Demang.

Disisa hari itu, maka para prajurit telah bersiap-siap.Para pemimpin kelompok telah menyiapkan kelompok masing-masing bukan saja sekedar untuk kembali ke Pajang. Tetapi mereka telah bersiap untuk memasuki medan pertempuran yang lebih besar di Prambanan diantara beribu-ribu prajurit yang lain.

Meskipun prajuritnya sudah tidak genap lagi seratus, namun Ki Dipayuda akan merasa lebih berarti jika pasukannya yang kecil itu berada di medan , meskipun hanya merupakan bagian kecil dari seluruh pasukan Pajang yang besar bersama para prajurit dari Tuban dan Demak.

Malam hari menjelang keberangkatan pasukan Pajang itu Ki Lurah Dipayuda masih berbincang panjang dengan Ki Demang. Ki Lurah masih sempat memberikan beberapa petunjuk kepada Ki Demang untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang keras di masa perang itu.

“Perang itu akan dapat menjalar sampai ke mana-mana,“ berkata Ki Lurah, “saat ini pasukan Mataram telah ditarik dari Randukerep. Bukan saja karena kekuatan Mataram terlalu kecil dibandingkan dengan Pajang, tetapi juga karena cara-cara yang ditempuh oleh para pemimpin prajurit Mataram itu tidak sesuai dengan perintah Panembahan Senapati. Karena itu, maka kemungkinan hadirnya prajurit Mataram masih ada dengan membawa perintah yang baru.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Kami akan mencoba. Kademangan ini akan tetap bersiaga sepenuhnya.“

“Hati-hati dengan Kademangan Randukerep. Kami tidak sempat melihat isi Kademangan itu yang sesungguhnya,“ berkata Ki Lurah, “beberapa kelompok pengawal telah sempat kami tingkatkan kemampuannya. Namun dalam pertempuran yang sesungguhnya mereka tidak berarti apa-apa.”

“Kita tidak cemas menghadapi Randukerep seandainya mereka berbeda pendapat dengan kita. Mereka telah tertusuk racun yang disebarkan oleh para prajurit Mataram diluar kehendak Panembahan Senapati. Karena itu, maka aku masih yakin, bahwa anak-anak muda dan pengawal Kademangan Nglawang masih lebih baik dari anak-anak muda dan para pengawal Randukerep.”

“Juga menghadapi orang-orang jahat yang antara lain adalah bekas prajurit Jipang. Meskipun perang antara Pajang dan Jipang sudah berlangsung sekitar sepuluh tahun yang lalu, namun sisa-sisa prajurit Jipang itu masih saja bergerak sampai sekarang,“ berkata Ki Lurah Dipayuda sambil menyebut sekelompok penjahat yang dijumpai oleh Barata dan Kasadha.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Pengawal Kademangan ini agaknya masih lebih baik dari pengawal dan anak-anak muda dari padukuhan yang kehilangan pimpinan itu.”

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Menurut penglihatannya maka anak-anak muda dan pengawal di Kademangan itu memang lebih baik dari yang dikenalnya di Randukerep.

Demikianlah, maka malam itu adalah malam terakhir bagi pasukan Pajang itu berada di daerah Selatan. Menurut perhitungan para pemimpin Pajang, berdasarkan laporan para petugas sandi, maka tidak akan ada lagi pasukan Mataram yang bergerak sejauh itu memasuki daerah Pajang, karena pasukan itu tidak akan pernah mendapat dukungan apapun dari induk pasukan Mataram. Apalagi pasukan Mataram yang berada disebelah Barat Kali Opak jauh lebih sedikit dari pasukan Pajang disebelah Timur Kali Opak.

Menjelang tengah malam, maka Ki Lurah Dipayudapun telah berada di pembaringannya. Untuk beberapa saat ia masih belum dapat tidur nyenyak. Namun kemudian Ki Lurah itupun sempat beristirahat sebelum di keesokan harinya ia akan menempuh perjalanan kembali ke Pajang.

Pagi-pagi benar Ki Lurah Dipayuda memang sudah bangun. Demikian pula para pemimpin kelompok dan para prajurit. Menurut rencana, disaat matahari terbit, mereka akan meninggalkan Kademangan itu.

Ki Demang dan para bebahu mengantar mereka disaat keberangkatan itu tiba. Ki Lurah Dipayuda sempat berbicara sejenak dengan orang-orang Kademangan yang hadir di halaman banjar. Dengan singkat Ki Lurah mengucapkan terima kasih kepada mereka atas segala kebaikan mereka, terutama anak-anak muda dan para pengawal.

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan prajurit telah meninggalkan Kademangan Nglawang. Prajurit-prajurit Pajang itu tidak terlalu lama berada di Kademangan itu, tetapi satu kesan tersendiri telah mereka tinggalkan.

Ketika pasukan itu datang, maka keadaannya nampak sangat letih dan parah. Wajah-wajah nampak murung dan sebagian dari mereka masih juga dikotori dengan darah. Darah sendiri maupun darah kawan atau lawan.

Namun pada saat mereka berangkat, pasukan itu sudah nampak perkasa. Mereka yang terluka telah mendapatkan kekuatan mereka kembali. Namun ternyata bahwa tiga orang terpaksa dititipkan di Kademangan itu, karena keadaannya yang masih parah. Mereka tidak akan daat berjalan sendiri sampai ke Pajang. Tetapi mereka tidak mau memberati kawan-kawannya dengan membawanya pakai tandu. Karena itu, mereka sendirilah yang minta ditinggalkan saja di Kademangan itu.

“Kami merasa aman disini,“ berkata salah seorang diantara mereka yang parah.

Ki Lurah Dipayuda ternyata tidak berkeberatan. Apalagi keadaan kedua orang itu sudah berangsur baik. Sehingga agaknya tidak akan membahayakan jiwanya. Sementara itu tabib dari kalangan keprajuritan Pajang telah memberikan beberapa pesan kepada seorang tabib yang ada di Kademangan itu. Meskipun tabib di Kademangan itu pengetahuannya tentang obat-obatan tidak seluas tabib yang ada didalam pasukan Ki Lurah Dipayuda, namun ia akan dapat menolong ketiga prajurit yang terluka agak parah itu.

Demikianlah, maka pasukan Pajang itu telah menyusuri jalan-jalan panjang menuju ke Pajang.

Seperti sebelumnya ketika Barata dan Kasadha pergi ke Pajang berdua, maka Kasadhapun menjadi cemas. Jika seseorang yang mengenalinya melihatnya, maka tentu akan timbul persoalan baru. Sampai saat itu ia masih dapat merahasiakan dirinya meskipun hampir saja rahasia itu tersingkap.

Namun agaknya ia merasa lebih aman didalam pasukannya dari pada saat ia pergi berdua dengan Barata. Didalam pasukannya, ia merupakan satu orang diantara sekian banyak orang. Tentu tidak akan ada orang yang sempat mengenali sekelompok prajurit itu seorang demi seorang jika tidak secara kebetulan.

Tetapi ketika disepanjang jalan banyak orang yang melihat iring-iringan itu, maka kecemasannya telah timbul kembali.

Hati Kasadha bagaikan tersiram titik-titik embun ketika mereka mulai memasuki kota Pajang lewat tengah hari. Apalagi ketika mereka sudah berada di alun-alun Pajang.

Ki Lurahlah yang telah memasuki bagian samping istana Pajang untuk menemui perwira Pajang yang bertugas. Ki Lurah telah memberikan laporan kehadirannya atas perintah Ki Tumenggung Surapraba.

“Ya,“ jawab perwira yang bertugas, “telah disediakan barak bagi kalian.”

Dengan demikian maka Ki Lurah Dipayuda telah membawa pasukannya kesebuah barak yang memang sudah disediakan atas perintah Ki Tumenggung Starapraba. Bahkan ketika laporan kehadiran pasukan itu sampai kepada Ki Tumenggung dari perwira yang bertugas, maka Ki Tumenggung sendiri bersama ampat orang pengawal telah datang ke barak itu.

Ki Lurah Dipayuda menerima Ki Tumenggung bersama para pemimpin kelompok. Disebuah ruangan yang tidak begitu luas di barak itu, Ki Tumenggung sempat mengucapkan terima kasih kepada Ki Lurah Dipayuda.

“Aku tahu bahwa kalian terdesak dari Kademangan Randukerep. Tetapi kalian telah berbuat sebaik-baiknya sebagai prajurit Pajang. Kalian telah memindahkan landasan kalian ke Kademangan Nglawang adalah pilihan yang sangat tepat. Seandainya pasukan Mataram tidak ditarik, maka Nglawang adalah landasan yang akan dapat kalian pergunakan sebagai batu loncatan untuk mengusir pasukan Mataram dari Randukerep. Karena sebenarnyalah Randukereppun tidak akan dapat diharapkan oleh Mataram, justru karena Mataram sendiri telah menghamburkan racun di Kademangan itu,“ berkata Ki Tumenggung Surapraba.

“Kami pada saat itu memang tidak mempunyai pilihan lain Ki Tumenggung,“ berkata Ki Lurah.

“Kau sudah mengambil langkah yang benar,“ sahut Ki Tumenggung.

“Kemudian kami menunggu segala perintah,“ berkata Ki Lurah kemudian.

“Kau genapi pasukanmu dengan beberapa orang prajurit muda sehingga utuh kembali menjadi seratus. Kau sebagai Lurah Penatus akan mendapat perintah untuk bergabung dengan para prajurit Pajang di pasanggrahan Kangjeng Sultan di Prambanan. Matarampun nampaknya sudah siap untuk bertempur. Meskipun para prajurit dari Mataram jumlahnya lebih kecil dari prajurit yang dapat dihimpun oleh Pajang, namun Mataram akan dapat melanda pasukan Pajang dengan banjir bandang. Mataram dapat mengerahkan semua laki-laki untuk mengalir seperti banjir ke medan pertempuran di Prambanan sebagaimana yang kau alami di Randukerep,“ berkata Ki Tumenggung.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Mataram nampaknya memang pandai meyakinkan rakyatnya betapa terhormatnya bagi setiap orang yang turun ke medan pertempuran.

“Kami siap untuk berangkat setiap saat Ki Tumenggung,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Kami sedang mempersiapkan pasukanmu dan satu lagi pasukan yang besarnya sama dengan pasukanmu. Besok kalian akan mendapat perintah-perintah baru,“ berkata Ki Tumenggung.

Ki Lurah Dipayuda mengangguk hormat. Katanya, “Kami akan menunggu perintah lebih lanjut.”

Sepeninggal Ki Tumenggung, Ki Lurah Dipayuda telah, memerintahkan para pemimpin kelompok untuk memenuhi kelompok mereka masing-masing. Menurut Ki Tumenggung akan datang beberapa orang prajurit muda menggantikan para prajurit yang telah gugur dan terluka sehingga tidak lagi dapat melakukan tugas mereka.

Tetapi dihari berikutnya, Ki Lurah Dipayuda terkejut ketika seorang perwira Pajang datang ke barak itu bersama dengan beberapa orang prajurit. Ternyata yang diserahkan kepada Ki Lurah Dipayuda bukan prajurit-prajurit muda sebagaimana dikatakan oleh Ki Tumenggung. Tetapi prajurit-prajurit yang nampaknya sudah cukup lama berada di dunia keprajuritan. Namun menilik sikap dan tingkah laku mereka, Ki Lurah Dipayuda meragukan kesetiaan mereka.

“Kenapa tidak prajurit-prajurit muda sebagaimana dikatakan oleh Ki Tumenggung?“ bertanya Ki Lurah.

“Mereka telah disusun dalam satu pasukan tersendiri,“ berkata Perwira itu, “karena itu, maka prajurit yang untuk sementara dihentikan tugasnya ini akan dapat di tugaskan kembali.”

Ki Lurah Dipayuda termangu-mangu. Ia sudah melihat akan terjadi kesulitan didalam pasukannya.Para pemimpin kelompok didalam pasukannya pada umumnya adalah prajurit-prajurit muda yang masih lugu. Mereka masih berbuat dan berlaku sebagaimana seorang prajurit. Namun orang-orang ini agaknya adalah prajurit-prajurit yang pernah melakukan kesalahan sehingga pernah mendapat peringatan dan bahkan hukuman.

Tetapi Ki Lurah Dipayuda sendiri, seorang perwira yang berpengalaman tidak dapat menolak. Ia sadar, bahwa ia harus dapat mengatasi orang-orang itu apapun yang mereka lakukan.

“Baiklah,“ berkata Ki Lurah, “aku akan segera menempatkan mereka kedalam kelompok-kelompok yang tidak utuh lagi.”

Tetapi perwira itu sempat berpesan, “berhati-hatilah. Ada diantara mereka yang memerlukan perhatian secara khusus.”

Ki Lurah Dipayuda tersenyum betapapun kecutnya. Katanya, “Aku akan mengatasinya. Aku akan memperlakukannya sebagai seorang prajurit dan dengan cara seorang prajurit.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Ia mengenal Ki Lurah Dipayuda sebagai seorang perwira yang sabar. Tetapi Ki Lurah Dipayuda adalah seorang perwira yang memegang teguh paugeran seorang prajurit.

Demikianlah maka sejenak kemudian perwira yang membawa beberapa prajurit ke barak Ki Lurah Dipayuda bersama dengan dua orang pengawalnya itupun telah meninggalkan barak itu.

Beberapa saat para prajurit yang baru datang itu masih berdiri dihalaman barak. Sementara Ki Dipayuda berdiri tegak dihadapan mereka. Dengan lantang Ki Lurah Dipayuda telah memberikan beberapa pesan kepada orang-orangnya yang baru itu. Namun yang ternyata adalah prajurit-prajurit yang justru telah lama dan berpengalaman di dunia keprajuritan, namun yang memiliki sikap yang kadang-kadang kurang terpuji.

Menghadapi mereka Ki Lurah Dipayuda ternyata bersikap lain daripada sikapnya menghadapi prajurit-prajurit muda. Kepada mereka Ki Lurah Dipayuda bersikap sebagai seorang prajurit yang keras dan penuh dengan ikatan-ikatan pangeran yang tidak boleh dilanggar sama sekali.

Parapemimpin kelompok yang melihat cara Ki Lurah menghadapi mereka ternyata dapat mengambil contoh daripadanya. Ki Lurah itu seakan-akan sedang memberikan tuntunan, bagaimana para pemimpin kelompok itu harus menghadapi orang-orang yang dikirim kepada mereka.

Tetapi sikap Ki Lurah itu memang berpengaruh. Prajurit-prajurit yang dikirim kepadanya itu melihat, bahwa Ki Lurah Dipayuda adalah seorang pemimpin yang tegas dan tidak segan-segan mengambil tindakan jika perlu.

Namun meskipun demikian ada juga diantara para prajurit yang dikirim kepada Ki Lurah itu justru tersenyum-senyum. Seakan-akan mereka sama sekali tidak mendengar segala macam pesan dan petunjuk dari Ki Lurah itu. Bahkan rasa-rasanya mereka ingin membungkamnya agar orang itu lekas berhenti berbicara.

Setelah Ki Dipayuda selesai dengan pesan-pesannya, Ki Lurah tidak segera memberikan perintah-perintah kepada para prajurit itu untuk memasuki kelompok-kelompok yang memerlukan. Tetapi Ki Lurah telah memerintahkan seluruh pasukannya berbaris di halaman, kelompok demi kelompok.

Kemudian Ki Lurah justru memanggil para pemimpin kelompok untuk masuk keruang dalam mendengarkan pesan-pesan yang diberikannya.

Parapemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Lurah berkata, “Mereka orang-orang yang lebih berpengalaman dari kalian. Tetapi kalian mempunyai kelebihan. Ketika kalian memasuki tugas keprajuritan, maka kalian telah didadar secara khusus. Kalian harus memiliki bekal kemampuan sebelum kalian memasuki tugas keprajuritan, sehingga dalam keadaan tertentu kalian tidak akan canggung lagi berbuat sebagai seorang pemimpin betapapun kecilnya tataran kepemimpinan kalian.”

Parapemimpin kelompok itu mengerti apa yang dimaksud oleh Ki Lurah Dipayuda. Jika semula mereka masih ragu-ragu dan bahkan merasa berdebar-debar menghadapi orang-orang itu, maka pesan Ki Lurah itu seakan-akan merupakan perintah bagi para pemimpin kelompok.

Namun tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mereka mendengar dua tiga orang berteriak-teriak, “He Ki Lurah. Kau kira kami masih belum kering sehingga kami harus kau jemur disini?”

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Itu adalah contoh sikap mereka. Apakah prajurit-prajurit yang selama ini ada didalam kesatuan kita pernah berbuat seperti itu?”

Para pemimpin kelompok itu menarik nafas panjang. Sementara Ki Lurah berkata, “Ingat. Kalian sudah memiliki bekal cukup ketika kalian memasuki tugas keprajuritan.”

“Ya Ki Lurah,“ beberapa pimpinan kelompok berdesis.

“Sekarang, marilah. Ikut aku,“ berkata Ki Lurah.

Sementara itu dihalaman, para prajurit yang baru datang ke barak itu telah melihat prajurit-prajurit muda yang berada di halaman itu pula. Seorang diantara mereka berkata, “He, kita akan ditempatkan bersama-sama dengan anak-anak ingusan itu?”

Yang lain tertawa. Katanya, “Kita dianggap badut-badut yang tidak berarti disini.“ lalu tiba-tiba orang itu berteriak kepada para prajurit muda, “He, apakah kalian menunggu biyungmu membawa oleh-oleh dari pasar? He, kenapa kalian tetap berdiri disitu?”

Prajurit-prajurit muda itu memang tersinggung. Merekapun bukan pengecut yang menjadi ketakutan melihat sikap orang-orang yang dikirim kepada mereka itu. Dipertempuran mereka telah mempertaruhkan nyawanya melawan orang-orang Mataram yang garang. Ada diantaranya yang bekas lukanya masih memanjang ditubuh mereka. Sehingga dengan demikian maka mereka tidak mau dianggap anak-anak ingusan yang tidak berguna dipeperangan. Kekalahan mereka di Randukerep bukan berarti bahwa mereka tidak mempunyai arti sama sekali didalam lingkungan keprajuritan Pajang.

Untuk sesaat Kasadha menjadi berdebar-debar. Ia menjadi cemas bahwa diantara orang-orang itu terdapat bekas prajurit Jipang yang pernah mengenalinya sehingga akan dapat menimbulkan kesulitan.

Dalam pada itu ketika Ki Lurah Dipayuda muncul bersama para pemimpin kelompok, maka beberapa orang prajurit yang baru dikirim kepada mereka itupun dengan serta merta telah berteriak-teriak, “He, kenapa kami harus dijemur disini? Kami adalah prajurit yang dihormati. Kami bukan kayu bakar yang segera akan dimasukkan kedalam perapian.”

Ki Lurah Dipayuda berdiri tegak dihadapan mereka. Ia sama sekali tidak berkata apa-apa. Dipandanginya saja orang-orang yang berteriak-teriak itu seorang demi seorang.

Namun akhirnya, teriakan-teriakan itu mereda. Sikap Ki Lurah ternyata cukup meyakinkan mereka, bahwa Ki Lurah adalah seorang pemimpin.

Tetapi ternyata masih juga ada diantara mereka yang berteriak, “Ki Lurah, jangan samakan kami dengan tikus-tikus ingusan itu. Kami adalah prajurit-prajurit pilihan yang sudah kenyang makan garam di medan-medan pertempuran. Kami terbiasa membunuh atau dibunuh. Tidak di jemur seperti ini.”

Ki Dipayuda memandanginya dengan tajamnya. Namun prajurit yang lain justru masih saja berteriak, “Jangan perlakukan kami seperti ini. Atau kami akan bertindak sendiri.”

Ki Lurah Dipayuda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Kasadha, orang itu akan menjadi bawahanmu.”

Kasadha telah melangkah maju sambil berkata, “Akan aku bawa ia kedalam pasukanku.”

“Seorang lagi akan berada didalam kelompok Barata,“ berkata Ki Lurah.

Tetapi orang itu menjawab, “Mau kalian apakan kami he? Sejak kapan kau berhenti menyusu, sehingga kau berani memimpin sekelompok prajurit dan memerintah aku?”

Tetapi Kasadha tidak menjawab. Ia memang sangat tersinggung atas kata-kata prajurit itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja Kasadha telah melangkah mendekatinya. Sambil berdiri dihadapan orang itu Kasadha berkata, “Aku adalah pemimpin kelompokmu.”

Orang itu justru tertawa sambil berkata, “Kau yang masih pantas menghisap gelali gula kelapa merasa pantas menjadi pemimpin kelompokku?“

Kasadha tidak menunggu lagi. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar pipi orang itu.

Orang itu terkejut. Ia melangkah selangkah surut. Sambil meraba pipinya ia berkata, “Setan kau. Kau kira aku tidak berani menghancurkan kepalamu disini meskipun ada Ki Lurah Dipayuda.”

“Kau boleh mencoba. Ki Lurah tidak akan turut campur,“ bentak Kasadha.

Orang itu menggeram. Sementara Kasadha menjadi semakin garang. Tiba-tiba saja ia telah menarik baju orang itu dan melemparkannya keluar dari sekelompok prajurit yang baru datang itu.

Orang itu tertatih-tatih sejenak untuk mempertahankan keseimbangannya. Namun kemudian iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan iapun tertawa lagi sambil berkata, “Kau ingin memamerkan kehancuranmu sendiri dihadapan prajurit-prajuritmu yang masih ingusan itu? Baiklah. Aku akan menolongmu.”

Kasadha tidak lagi menampar pipinya. Tetapi ia mulai bersiap menghadapi prajurit yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang melampaui anak-anak ingusan itu. Apalagi ia memang termasuk prajurit yang bertingkah laku kurang baik.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Lurah Dipayuda berkata, “He para prajurit. Lihat apa yang terjadi. Kalian dapat mengambil kesimpulan sendiri apa yang sebaiknya kalian lakukan. Prajurit yang sejak semula berada didalam kesatuanku dan prajurit-prajurit yang baru datang. Aku tidak akan mencegah tindakan yang akan diambil oleh Kasadha, salah seorang pemimpin kelompokku, karena ia mempunyai wewenang untuk bertindak sendiri tanpa aku, sehingga ia tidak akan tergantung kepadaku untuk mengatur prajurit-prajuritnya.”

Semua orang menjadi berdebar-debar. Prajurit yang siap melawan Kasadha itu masih saja tertawa-tawa. Sementara prajurit-prajurit muda yang sejak semula berada di kesatuan Ki Lurah Dipayuda sudah melihat kemampuan Kasadha dan Barata.

“Marilah anak manis,“ berkata prajurit itu, “tetapi kau tidak boleh cengeng dan merajuk jika kepalamu membentur batu.”

Kasadha tidak menjawab. Ia melangkah maju. Namun prajurit yang masih tertawa-tawa itupun tiba-tiba telah meloncat menyerang. Ia berniat untuk membanting Kasadha dalam geraknya yang pertama, sehingga dengan demikian setiap orang yakin bahwa ia memang seorang prajurit linuwih. Ia berharap bahwa Ki Lurah Dipayuda sendiri akan turun menanganinya, sehingga ia berkesempatan untuk mengalahkannya. Dengan demikian, maka ia akan dapat menguasai seluruh pasukan itu, meskipun yang menjadi Lurah Penatus tetap Ki Lurah Dipayuda.

Tetapi prajurit itu salah hitung. Ternyata Kasadha juga ingin memperlakukan prajurit itu sebagaimana ia akan memperlakukannya.

Karena itu, ketika prajurit itu meloncat menyerangnya, Kasadha telah meloncat kesamping. Namun kemudian tubuhnya telah berputar bertumpu pada sebelah kakinya, sementara kakinya yang lain terayun mendatar.

Adalah tidak diduga sama sekali bahwa ternyata kaki Kasadha itu tepat menyambar kepala lawannya. Cukup keras, sehingga lawannya yang tidak menduganya telah terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian prajurit itu telah kehilangan keseimbangannya dan jatuh terlentang ditanah.

Tetapi demikian cepat ia bangkit berdiri.

Kemarahan prajurit itu telah membakar jantungnya. Karena itu maka iapun telah meloncat menerkam Kasadha. Kedua tangannya terjulur kedepan dengan jari-jari mengembang. Matanya bagaikan menyala sedang giginya gemeretak.

Tetapi Kasadha yang telah ditempa oleh gurunya serta oleh pengalamannya yang cukup luas, dengan cepat menanggapi serangan itu. Ia sama sekali tidak membenturnya. Tetapi dengan sigap Kasadha berjongkok. Namun dengan kekuatan penuh sikunya telah menghantam lambung lawannya.

Langkah prajurit itu tertahan. Bahkan iapun telah terbungkuk menahan sakit dilambungnya. Rasa-rasanya isi perutnya terdesak naik sampai kedadanya, bahkan rasa-rasanya akan muntah keluar.

Tetapi Kasadhapun telah menjadi marah sejak semula. Sikap prajurit itu sangat menyakitkan hatinya. Karena itu, justru ketika prajurit itu sedang terbongkok menahan sakit, Kasadha justru menekan kepala orang itu sambil mengangkat lututnya.

Satu benturan keras tidak dapat dihindarkan. Wajah orang itu telah membentur lutut Kasadha. Dua giginya patah sehingga mulutnya telah berdarah.

Ketika orang itu mengaduh kesakitan, satu pukulan yang keras telah menghantam kening orang itu. Demikian kerasnya sehingga orang itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling.

Tetapi Kasadha tidak membiarkannya. Ia justru memburunya. Demikian prajurit itu mencoba bangkit berdiri, maka kaki Kasadha telah menghantam lagi kearahnya.

Namun pada saat terakhir, Kasadha justru telah mengekang dirinya. Kakinya yang akan menghantam wajah prajurit itu, telah dimiringkannya, sehingga kaki itu hanya mengenai pundaknya.

Namun orang yang mencoba bangkit itu telah terbanting lagi menelentang. Cukup keras, sehingga rasa-rasanya matanya menjadi berkunang-kunang. Sehingga dengan demikian maka orang itu tidak segera dapat bangkit.

Kasadha berdiri dekat disebelahnya. Dengan kakinya ia mengungkit lawannya itu sambil berkata, “Bangkit. Bukan aku yang menjadi cengeng dan merajuk. Tetapi kau. Bukan aku yang masih ingusan di medan ini, tetapi kaulah yang sudah menjadi pikun. Kau merasa bahwa yang muda-muda tidak akan mampu berbuat lebih baik dari orang-orang setua kau?”

Prajurit itu memang sudah tidak mampu lagi untuk bangkit. Namun selagi Kasadha memperhatikan orang itu, tiba-tiba saja prajurit yang seorang lagi telah melangkah mendekatinya. Agaknya orang itu akan menyerang Kasadha dengan cara yang licik. Justru pada saat Kasadha tidak memperhatikannya.

Namun langkahnya terhenti ketika seseorang menggamitnya. Barata.

“Kau mau apa? Kau berada didalam kelompokku. Tanpa perintahku, kau tidak dapat mencampuri persoalan ini.“ berkata Barata.

Tetapi orang itu tidak menyia-nyiakan waktu. Ia sama sekali tidak menjawab. Namun tangannyalah yang dengan cepatnya langsung memukul kearah kening Barata.

Hampir saja serangan itu mengenainya. Tetapi Barata ternyata cukup tangkas. Dengan cepat ia menangkap pergelangan tangan orang itu. Dihentakkannya orang itu dengan kerasnya sementara kakinya terangkat kearah perut.

Orang itu mengaduh kesakitan. Kaki barata telah menghantam perutnya sehingga perutnya itu menjadi mual.

Tetapi orang itu berhasil menarik tangannya sambil berusaha menyerang Barata dengan kakinya. Tetapi Barata telah melepaskan tangan itu dan bergeser kesamping.

Orang itu masih saja merasakan perutnya sakit sekali. Tetapi kemarahannya telah mendorongnya untuk dengan cepat menyerang Barata. Karena itu, maka iapun telah meloncat sambil menjulurkan kakinya mengarah kelambung Barata.

Namun Barata sempat merendah sambil melindungi lambungnya dengan sikunya.

Serangan orang itu bagaikan telah membentur dinding besi. Karena itu justru orang itulah yang terdorong surut. Bahkan terasa tulang kakinya menjadi sakit sekali.

Ternyata Baratapun ingin dengan cepat menyelesaikannya sebagaimana dilakukan Kasadha, agar dengan demikian berpengaruh bagi kawan-kawannya, orang-orang yang merasa dirinya lebih berpengalaman dan yang pada dasarnya adalah orang-orang yang telah cacad namanya.

Karena itu, selagi orang itu berusaha tegak kembali, maka Baratalah yang telah menyerangnya. Dengan loncatan panjang, bahkan seakan-akan anak muda itu telah terbang dengan satu kaki terjulur menyamping.

Satu hentakan yang keras telah mengenai dada orang itu. Dengan keras pula orang itu telah terlempar dan jatuh terguling ditanah. Dadanya bagaikan terhimpit seonggok batu sehingga nafasnya menjadi sesak.

Ketika orang itu berusaha untuk bangkit, maka dadanya rasa-rasanya telah tertindih semakin berat. Ketika ia memperhatikannya dengan saksama dengan matanya yang kabur, maka ia melihat Barata berdiri disebelahnya dengan satu kakinya menginjak dadanya.

“Dengar,“ suara Barata lantang, “sudah aku peringatkan. Kau adalah prajurit yang ada didalam kelompok yang aku pimpin. Kau harus tunduk kepada perintahku. Atau aku tidak memerlukan kau sama sekali dengan mematahkan lehermu. Aku berhak melakukannya karena kau telah berani menentang. Bukan saja menentang perintahku tetapi kau sudah berani melawanku secara wadag meskipun aku sudah memperingatkanmu bahwa aku adalah pimpinanmu.”

Orang itu termangu-mangu. Namun kaki Barata menginjaknya semakin keras.

“Akui kesalahanmu, atau aku akan mengambil tindakan lebih jauh?“ bentak Barata.

Orang itu masih berdiam diri. Rasa-rasanya berat juga untuk mengakui kesalahan dihadapan anak-anak sebagaimana Barata. Namun Barata telah menekan dada orang itu semakin keras sambil berkata, “Jika kau tidak segera mengakui kesalahanmu, maka tumitku akan mematahkan tulang rusukmu. Semua orang disini menjadi saksi, bahwa kau telah berani melawan aku, pemimpinmu.”

Akhirnya orang itu tidak tahan lagi. Dadanya rasa-rasanya memang akan retak. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Baik. Baik. Aku akan mengakuinya.”

“Cepat ucapkan sekarang,“ suara Barata menjadi semakin keras.

“Ya. Aku mengakui salah. Aku minta maaf,“ berkata orang itu.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian mengangkat kakinya.

Tertatih-tatih orang itu bangkit. Tetapi badannya masih terasa sakit. Dadanya, perutnya dan punggungnya juga sakit. Sedangkan kawannya, yang dikalahkan oleh Kasadhapun telah duduk pula. Tulang-tulangnya bagaikan berpatahan.

Sejenak halaman barak itu menjadi tegang. Dua orang pemimpin kelompok yang masih muda itu telah membuktikan bahwa mereka memang mampu melakukan tugas yang dibebankan kepada mereka, sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang semula merasa dirinya lebih baik dari anak-anak yang disebutnya ingusan itu harus mulai menyadari kedudukan mereka.

Selagi ketegangan itu masih mencengkam, maka Ki Lurah Dipayuda berkata, “Cara itulah yang akan berlaku disini. Orang-orang yang tidak memperhatikan perintah pimpinannya, ia akan mengalami perlakuan seperti ini. Semua pemimpin kelompok telah menerima limpahan wewenangku. Jika mereka tidak mau bertindak tegas terhadap prajurit-prajuritnya yang membangkang, maka pemimpin-pemimpin kelompok itulah yang akan mengalaminya. Aku adalah Lurah Penatus yang tidak peduli terhadap siapapun yang menentang perintahku.”

Para prajurit yang baru saja diserahkan kepada Ki Lurah itu memang telah melihat satu kenyataan, bahwa para pemimpin kelompok yang masih muda itu mampu bertindak tegas sebagai seorang pemimpin prajurit. Dua orang kawan mereka yang mereka anggap memiliki kemampuan terbaik, ternyata tidak berdaya menghadapi anak-anak muda itu. Mereka kalah mutlak tanpa mampu berbuat apa-apa.

Sejenak kemudian maka Ki Lurah itupun kemudian berkata, “Bawa orang-orang itu kedalam kelompok kalian. Yang lain akan menunggu sampai besok. Siapa yang merasa tidak sabar, boleh memberontak. Hukuman tertinggi dari seorang pemberontak adalah hukuman mati. Dalam suasana perang seperti ini, para pemimpin kelompok akan dapat mengambil kebijaksanaan atas tanggung jawabku.”

Semua orang di halaman barak itu terdiam. Kasadha telah membawa prajurit yang dikalahkannya kedalam kelompoknya. Demikian pula Barata. Ternyata keduanya telah mengambil kebijaksanaan yang serupa. Keduanya menyerahkan orang-orang itu kepada seisi kelompok.

“Kalian yang telah selamat dari pertempuran yang ganas di Randukerep tentu akan tetap berpegang kepada tugas seorang prajurit. Kalian harus saling bersandar dalam kesatuan. Siapa yang tidak ikut serta didalamnya akan mengalami perlakuan yang pahit. Apalagi dimedan perang nanti,“ berkata Barata kepada prajurit-prajuritnya.

Sementara Kasadha berkata kepada kelompoknya, “Kalian aku anggap sama. Tidak ada yang lebih baik diantara kalian. Yang menganggap dirinya terbaik akan mengalami kesulitan disini.”

Kedua orang prajurit yang telah dikalahkan oleh Kasadha dan Barata itu tidak dapat berbuat lain kecuali mengakui satu kenyataan, bahwa ia tidak dapat berlaku menurut keinginan mereka sendiri. Di kesatuannya yang lama, ia memang selalu berbuat onar. Tetapi pemimpin kelompoknya tidak berani berbuat apa-apa selain memperingatkannya dan akhirnya melaporkannya kepada pemimpin kesatuannya sehingga ia telah disingkirkan. Tetapi pemimpin kelompok yang masih muda ini ternyata telah bertindak langsung.

“Mungkin bimbingan Ki Lurah Dipayuda itulah yang telah membentuk mereka seperti itu. Agaknya Ki Dipayuda juga seorang pemimpin yang sangat keras kepada bawahannya,“ berkata orang-orang itu didalam hatinya.

Hari itu, Ki Lurah memang belum memasang orang-orang itu didalam kelompok-kelompok. Ia masih harus berbicara dengan para pemimjnn kelompok, berapa orang mereka memerlukan prajurit untuk menggenapi setiap kelompok menjadi sepuluh orang.

Karena Barata dan Kasadha dianggap sebagai pemimpin kelompok terbaik, maka orang-orang yang paling berbahaya telah ditempatkan didalam kelompok mereka. Sementara Barata dan Kasadha secara khusus telah memanggil prajurit-prajuritnya yang lama seorang demi seorang untuk memberikan pesan-pesan khusus menghadapi orang-orang baru itu.

“Jangan menunjukkan kelemahan sama sekali terhadap orang-orang itu. Ternyata mereka diterima sebagai seorang prajurit dengan cara yang lama. Mereka tidak diharuskan memiliki kemampuan sebelumnya mereka memasuki dunia keprajuritan sehingga pendadaran khusus sebagaimana kita lakukan tidak berlaku atas mereka. Karena itu, jangan merasa bahwa kemampuan orang itu ada diatas kemampuan kalian. Jika perlu kalian harus bertindak bersama-sama kawan-kawan kalian.”

Para prajurit muda itu mengerti tugas mereka. Tetapi para pemimpin kelompokpun telah berpesan pula, dalam keadaan wajar perlakukan mereka dengan wajar. Menurut Ki Lurah Dipayuda, jika mereka diperlakukan dengan baik, maka lambat laun merekapun akan menjadi baik, meskipun dalam hal-hal tertentu mereka harus mengalami tindakan-tindakan tegas.

Demikianlah, maka dihari berikutnya, Ki Lurah Dipayuda telah menyusun kembali pasukannya sehingga menjadi utuh sambil menunggu perintah untuk berangkat ke Prambanan.

Ternyata yang akan berangkat bersama pasukan Ki Lurah adalah sepuluh pasukan, masing-masing berjumlah seratus orang yang dipimpin oleh seorang Lurah Penatus. Seluruh pasukan itu akan dipimpin langsung oleh Ki Tumenggung Surapraba yang telah mendapat tugas baru di pasanggrahan Kangjeng Sultan di Prambanan.

Baru kemudian Ki Lurah Dipayuda mengetahui, bahwa dalam benturan kecil di sayap pasukan, Prajurit Mataram berhasil memancing sepasukan kecil dari Pajang menyeberang Kali Opak dan kemudian menyerangnya dari lambung. Keadaan pasukan Pajang itu menjadi parah, sehingga diperlukan pasukan baru untuk menggantikannya, sementara Senapati yang memimpin pasukan itu telah mendapat peringatan keras dari Panglima prajurit Pajang, karena Senapati itu telah melanggar perintah untuk tidak menyeberangi Kali Opak dalam keadaan apapun kecuali perintah itu diberikan oleh Kangjeng Sultan sendiri.

***

 

Jilid 27

KETIKA Ki Dipayuda beserta pasukannya kemudian berada di Prambanan, maka pasukan itu tidak ditempatkan disayap pasukan. Tetapi pasukan itu berada di induk pasukan. Justru tugas pasukan di induk pasukan itu terasa berat, karena Sultan sendiri telah hadir pula di peperangan.

Tetapi ternyata untuk beberapa lama, Kangjeng Sultan masih belum memberikan perintah untuk menyerang. Bahkan Kangjeng Sultan selalu memperingatkan agar pasukan Pajang tidak menyeberangi Kali Opak.

Sementara itu, disisi sebelah Barat, pasukan Matarampun agaknya menunggu dengan sabar. Mereka tidak tergesa-gesa menyerang dengan serta merta. Sekali-sekali pasukan diujung-ujung sayap berusaha menggelitik pasukan Pajang. Namun setelah terjadi kesulitan pada sepasukan prajurit Pajang yang terpancing dan menjadi parah, maka pasukan Pajang selalu berusaha menahan diri.

Beberapa orang Adipati yang ada didalam pasukan Pajang hampir tidak sabar lagi. Mereka sudah memohon ijin beberapa kali untuk menyerang. Tetapi Kangjeng Sultan tidak pernah memberikan restunya.

“Apakah kita menunggu menjadi tua disini?” bertanya seorang prajurit yang tidak telaten menunggu, sementara itu mereka sadar, bahwa jumlah prajurit Pajang jauh lebih banyak dari jumlah prajurit Mataram.

Beberapa orang prajurit didalam pasukan Ki Dipayudapun selalu bertanya-tanya didalam hati. Bahkan Barata sempat berbincang dengan Kasadha tentang kejemuan yang mereka alami.

“Sampai kapan kita masih harus menunggu,“ berkata Kasadha kesal.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Satu cara yang dilakukan oleh Mataram untuk melemahkan gairah perjuangan para prajurit Pajang.”

“Apakah para pemimpin Pajang tidak menyadari?“ bertanya Kasadha.

“Tentu. Tetapi Kangjeng Sultan yang menjadi pimpinan tertinggi masih belum menjatuhkan perintah kepada kita semuanya betapapun kita merasakan kejemuan itu,“ jawab Barata.

“Panembahan Senapati meskipun hanya putera angkat Kangjeng Sultan, tetapi nampaknya kasih sayang Kangjeng Sultan tidak ada batasnya sehingga sampai berhadapan dimedan pertempuran sebagai musuhpun, Kangjeng Sultan masih berusaha untuk menyelamatkan Panembahan Senapati dan membiarkan dirinya sendiri dihancurkannya,“ desis Kasadha.

“Para pemimpin Pajang telah memberikan peringatan. Tetapi nampaknya belum berhasil,“ desis Barata.

Kasadha sebenarnya sudah tahu jawab dari pertanyaan-pertanyaannya, tetapi keadaan yang tidak menentu itu mendorongnya untuk mengucapkannya.

Ki Dipayuda sendiri memang menjadi gelisah. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Beberapa orang prajurit yang bergabung dengan pasukannya, mulai membuat tingkah lagi. Mereka menjadi jemu dan kadang-kadang melakukan perbuatan yang tidak pantas, sehingga para pemimpin kelompoknya harus mengambil tindakan.

Namun sikap yang tegas dari para pemimpin kelompok serta kawan-kawannya dalam satu kelompok, maka mereka harus mengambil langkah surut.

Seorang diantara mereka mengalami nasib buruk ketika ia mencoba mencemarkan nama baik kelompoknya. Prajurit-prajurit itu telah memukuli seorang petugas di dapur, karena prajurit itu justru ketahuan mencuri. Bukan mencuri barang-barang berharga, tetapi hanya sekedar mencuri telur.

Tetapi karena seorang petugas sempat melihat dan memaksanya untuk mengambilkannya, maka petugas itu telah dipukulinya.

Namun petugas itu tidak tinggal diam. Ia sempat menemukan orang itu didalam kelompoknya. Karena itu, maka iapun telah melaporkannya kepada pemimpin kelompoknya yang kebetulan adalah Kasadha.

Pengaruh masa kecilnya, tuntunan dari orang tuanya, memang telah membekas dihatinya meskipun gurunya agak bersikap lain. Karena itu, maka prajurit itu langsung dibawanya ketempat yang sepi dan ditantangnya berkelahi.

“Aku tidak akan memanfaatkan kedudukanku. Meskipun hal itu sah jika aku lakukan, karena aku adalah pemimpin kelompokmu. Tetapi aku lebih senang mengambil cara lain,“ berkata Kasadha.

Prajurit itu tahu, bahwa Kasadha pernah mengalahkan seorang kawannya yang dianggapnya terbaik. Tetapi dalam keadaan seperti itu, maka ia justru ingin mencobanya.

“Kita tidak berhadapan sebagai seorang prajurit dengan pemimpin kelompoknya. Tetapi kita akan berhadapan sebagai dua orang laki-laki,“ geram Kasadha. Nampaknya selain pengaruh masa-masa pertumbuhannya, maka Kasadha yang sudah menjadi kesal dan jemu menunggu itu, juga menjadi lekas marah.

“Jika terjadi sesuatu, bukan salahku,“ berkata prajurit itu.

“Aku bertanggung jawab,“ potong Kasadha, “juga jika kau mati. Ki Lurah Dipayuda tidak akan menyalahkanmu atas kematianmu itu.”

Wajah prajurit itu menjadi merah. Sifatnya yang memang liar agaknya memang sulit dikendalikannya. Karena itu, maka iapun menggeram, “Setan kau Kasadha. Kau anak ingusan sudah berani menepuk dada. Kau kira kawanku yang kau kalahkan itu benar-benar kalah? Ia masih menghormatimu sebagai pemimpin kelompok. Iapun memperhitungkan hukuman yang akan dijatuhkan oleh Ki Lurah Dipayuda jika ia benar-benar melawan dan apalagi mengalahkan seorang pemimpin kelompok. Tetapi kesombonganmu telah membawa kau kemari. Kedunguanmu telah memungkinkan aku menghilangkan jejak jika aku membunuhmu.”

“Baiklah,“ berkata Kasadha, “siapa yang dapat keluar dari arena ini.”

Prajurit itu telah bergeser mendekat. Wajahnya menjadi buas dan matanya bagaikan menyala. Ia merasa telah dihinakan oleh seorang anak-anak yang kebetulan menjadi seorang pemimpin kelompok.

Tetapi seperti dipesankan oleh Ki Lurah Dipayuda. Menghadapi orang-orang liar, maka para pemimpin kelompok memang harus bertindak tegas.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka orang itu-pun telah meloncat menerkam Kasadha. Tetapi Kasadha sudah bersiap, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengejutkannya. Dengan langkah kecil ia bergeser sambil memiringkan tubuhnya, sehingga serangan itu tidak mengenainya.

Tetapi lawannya yang garang itu tidak melepaskannya. Dengan serta merta iapun berputar dan siap meloncat menerkam pula.

Namun ia menjadi sangat terkejut. Tiba-tiba saja Kasadha justru telah berjongkok. Dengan sekuat tenaganya Kasadha telah menghantam perut orang itu.

Satu keluhan terdengar diikuti desah kesakitan. Lawannya itupun terdorong beberapa langkah surut sambil memegangi perutnya. Namun justru karena itu, maka orang itu telah terbongkok sambil menunduk.

Kasadha yang marah tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan kerasnya ia telah memukul tengkuk lawannya. Kemudian menangkapnya ketika ia terhuyung hampir jatuh. Dengan kasar Kasadha mendorongnya selangkah surut. Kemudian dengan keras sekali Kasadha telah memukul keningnya.

Orang itu mengaduh keras. Iapun segera terbanting jatuh ketanah. Sekali ia menggeliat untuk mencoba bangkit. Tetapi usahanya itu gagal. Sekali lagi ia jatuh terjerembab. Ketika ia mencoba bangkit, maka yang dapat dilakukan hanyalah berguling menengadah.

Kasadha berdiri disisinya sambil bertolak pinggang. Dengan nada keras itu bertanya, “Apa yang telah kau lakukan atas petugas didapur itu? Kau sadari, petugas di dapur itu masih baik karena ia lapor kepadaku. Bayangkan, bagaimana jika kau dilaporkan langsung kepada Ki Lurah Dipayuda? Kau tentu akan segera menjadi jladren di tepian Kali Opak.”

Orang itu menggeliat. Tulang-tulangnya serasa berpatahan. Beberapa saat ia masih saja mengaduh kesakitan.

“Katakan, apakah kau masih akan melawan?“ bertanya Kasadha.

“Tidak. Tidak,“ jawab orang itu terbata-bata. Dengan sadar ia merasa bahwa kemampuan pemimpin kelompoknya itu benar-benar tinggi. Dalam sekejap ia sudah terbaring tanpa dapat bangkit lagi.

“Kau harus minta maaf kepada petugas itu,“ geram Kasadha.

Prajurit itu termangu-mangu.

“Jawab, kau harus segera minta maaf kepada petugas itu, kau dengar?“ bentak Kasadha.

Prajurit itu tidak segera menjawab.

Kemarahan Kasadha semakin membakar jantungnya. Tanpa Barata ia justru menjadi semakin garang. Bahkan kasar. Karena itu maka dengan serta merta kakinya telah menginjak dada orang itu sambil berkata, “Cepat. Jawab. Kau bersedia atau tidak.”

Nafas orang itu menjadi semakin sesak. Dengan kata-kata yang patah ia menjawab, “Ya. ya. Aku bersedia.”

“Sore nanti kau harus menemuinya dan minta maaf kepadanya. Jika kau ingkar, maka orang-orang hanya akan menemukan mayatmu dikedung,“ berkata Kasadha. Lalu katanya pula, “Aku malu sekali mempunyai prajurit berkelakuan begitu rendah. Aku masih menghargai seorang prajurit yang mencuri pusaka di gedung perbendaharaan pusaka karena satu keyakinan akan pusaka yang dicurinya. Tidak sekedar mencuri telur didapur.”

Prajurit itu tidak menjawab. Sementara Kasadha mundur beberapa langkah sambil berkata, “Bangkit dan kembali ke perkemahanmu.”

“Bangkit,“ bentak Kasadha, “atau aku timbuni kau dengan pasir agar jejak kematianmu hilang?”

“Jangan,“ minta orang itu.

“Bangkit dan kembali,“ bentak Kasadha sekali lagi.

Orang itu memang mencoba bangkit. Tetapi ia benar-benar tidak mampu sehingga Kasadha berkata, “Terserah kepadamu. Kau mau kembali ke perkemahan atau tidak. Aku akan kembali sekarang. Jika prajurit Mataram yang gila itu ada yang sempat melihat-lihat keseberang Kali Opak dan menemukan kau disini, maka kau akan menjadi pangewan-ewan.”

“Jangan tinggalkan aku sendiri disini,“ minta orang itu.

“Aku juga tidak mau ditangkap oleh orang-orang Mataram itu,“ sahut Kasadha.

Kasadha tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera melangkah meninggalkan prajurit itu terbaring. Namun ternyata dalam keadaan yang terpaksa, prajurit itu akhirnya mampu bangkit juga dan kemudian tertatih-tatih melangkah mengikuti pemimpin kelompoknya.

Sementara itu, sekelompok prajurit Pajang yang lain tengah meronda disepanjang Kali Opak. Sekelompok prajurit dari pasukan induk yang bertugas dari pasukan Ki Lurah Dipayuda, yang kebetulan dipimpin oleh Barata.

Dengan tertib sekelompok kecil prajurit itu menyusuri tanggul Kali Opak dari arah Utara keselatan, membelakangi Gunung Merapi. Sementara langit mulai berwarna kelabu oleh mendung yang meskipun tipis tetapi merata.

Iring-iringan itu berhenti, ketika mereka melihat sekelompok prajurit disisi sebelah Barat Kali Opak berjalan dari Selatan ke Utara.

Dua kelompok prajurit itu saling memandangi. Namun diantara kedua kelompok itu terdapat Kali Opak yang mengalir agak kecoklatan karena airnya mengandung lumpur. Agaknya diujung Kali Opak hujan turun cukup deras, sehingga lumpurpun telah ikut hanyut turun ke Kali.

Ternyata sekelompok prajurit Mataram itu kemudian melambaikan tangan mereka, seperti orang yang telah saling mengenal.

Barata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun telah berdesis, “berhati-hatilah. Kita tidak tahu apa yang mereka maksudkan.”

Para prajuritnya mengangguk-angguk. Namun mereka memang merasa heran, bahwa orang-orang Mataram itu nampaknya tidak bersikap bermusuhan dengan orang-orang Pajang. Sikap itu sangat berbeda dengan sikap para prajurit Mataram yang berada di Randukerep.

Tetapi Baratapun sadar, bahwa tidak mudah untuk menjajagi maksud orang-orang Mataram. Apalagi Barata telah mendengar bahwa banyak orang-orang Pajang yang telah berpihak kepada Mataram. Sehingga mungkin orang-orang yang meronda disisi Barat Kali Opak itu adalah bekas orang-orang Pajang juga.

Namun Barata masih belum pernah mengenal mereka. Apalagi jarak yang agak jauh karena Kali Opak termasuk sungai yang agak lebar. Apalagi jika airnya menjadi agak besar dan keruh.

Sejenak kemudian, maka Baratapun telah melanjutkan perjalanan tugasnya menyusuri tanggul. Namun kemudian kelompok itu telah berbelok menjauhi sungai dan memasuki padang perdu. Satu sisi yang memerlukan pengawasan, karena orang-orang Mataram dapat saja mendekati perkemahan orang-orang Pajang lewat padang perdu itu.

Orang-orang Mataram adalah orang-orang aneh menurut penilaian para prajurit Pajang itu, apalagi mereka yang telah mengalami pertempuran yang sengit di Kademangan Randukerep. Meskipun jumlah prajurit yang terlibat tidak terlalu banyak, namun pertempuran itu telah merenggut beberapa jiwa diantara para prajurit Pajang dan Mataram.

Di Prambanan prajurit Mataram itu nampaknya tidak segarang prajurit Mataram yang berada di Randukerep.

Namun Barata masih juga sempat berpikir, “Tentu mereka mendapat petunjuk dari para pemimpin mereka, agar mereka bersikap baik. Dengan demikian, maka orang-orang Pajang yang memang ragu-ragu akan cepat berguling kesisi mereka.”

Dalam pada itu, ketika mereka memasuki padang perdu, mereka terkejut melihat dua orang prajurit yang berjalan pada jarak beberapa langkah. Karena itu, maka Baratapun telah memberikan isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk mendekati kedua orang itu.

Barata memang agak terkejut melihat Kasadha dan seorang prajurit dari kelompoknya yang tertatih-tatih dibelakangnya. Karena itu, demikian mereka mendekat, dengan serta merta Barata bertanya, “Ada apa?”

Kasadha mencoba untuk tersenyum. Namun iapun kemudian mengatakan selengkapnya apa yang telah terjadi.

“Orang ini merasa dirinya prajurit pilihan sehingga berbuat sewenang-wenang terhadap kawannya sendiri, justru ia sendiri yang telah melakukan kesalahan karena mencuri didapur,“ berkata Kasadha kemudian.

Barata mengangguk-angguk. Ia sependapat atas sikap Kasadha. Jika tidak diperlakukan demikian maka prajurit-prajurit yang mempunyai anggapan dirinya lebih baik dari orang lain dan berwatak buruk, mereka akan merasa bahwa semua keinginannya harus dipenuhi.

“Dan sekarang, apa yang akan kau lakukan? Membawa orang itu ke Kali Opak dan melemparkannya kedalamnya?“ bertanya Barata.

Kasadha tertawa, sementara prajurit itu menjadi pucat. Ia kenal kedua pemimpin kelompok muda yang seperti kakak beradik itu memiliki kelebihan dari para prajurit yang lain.

Namun Kasadha menjawab, “Aku masih memerlukannya. Tetapi jika ia sekali lagi melakukan kesalahan yang sama, maka aku memang akan melemparkannya ke dalam arus Kali Opak.”

“Baiklah,“ berkata Barata, “aku akan meneruskan tugasku. Aku akan melintasi tempat-tempat sepi. Padang perdu dan padukuhan-padukuhan yang sudah ditinggal mengungsi oleh para penghuninya.”

“Silahkan,“ jawab Kasadha, “aku akan beristirahat. Besok aku mendapat giliran untuk meronda,“ Kasadha berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bukankah di padukuhan-padukuhan yang ditinggalkan oleh para penghuninya itu masih ditunggui oleh para pengawal?”

“Sekedar untuk menghindarkan padukuhan itu dari penjahat-penjahat kecil yang sering menangkap ayam atau mengambil kelapa dari batangnya,“ jawab Barata.

Demikianlah mereka masing-masing meneruskan perjalanan mereka. Barata melanjutkan tugasnya, sedangkan Kasadha kembali ke perkemahan diikuti oleh prajuritnya yang tertatih-tatih.

Kepada prajurit-prajuritnya Barata berkata, “Satu contoh bagi mereka yang tidak menepati paugeran. Apalagi satu perbuatan yang sangat memalukan. Mencuri telur.”

Prajurit-prajuritnya tidak menjawab. Prajurit-prajurit muda yang ada didalam kelompok Barata sejak pasukan itu disusun mengerti bahwa peringatan Barata itu ditujukan terutama kepada prajurit-prajurit yang lebih tua berada dilingkungan keprajuritan dan bahkan bagaikan telah terbuang, namun yang kemudian telah bergabung dalam kelompoknya.

Ternyata untuk beberapa hari tugas para prajurit hanyalah meronda, beristirahat, latihan-latihan secara pribadi dan kemudian tidur sepuas-puasnya. Semakin lama mereka merasa semakin jemu dan bahkan rasa-rasanya Prambanan itu telah menjadi bagaikan neraka.

Saat-saat yang demikianlah yang memang ditunggu oleh Mataram. Sementara itu. Mataram telah membuat perhitungan-perhitungan yang sangat cermat. Beberapa orang prajurit bertugas di bendungan Kali Opak, agak ke udik. Bahkan Mataram telah merencanakan untuk memecah bendungan tidak hanya satu lapis. Sedangkan musim yang semakin gelap dan basah akan dapat membantu usaha Mataram sesuai dengan rencananya yang terperinci dan mapan.

Ki Mandaraka, yang telah dianggap menjadi Pepatih di Mataram adalah seorang yang ahli dalam berbagai macam hal. Juga tentang peperangan. Ki Patih Mandaraka adalah saudara seperguruan Ki Gede Pemanahan, Panglima prajurit Pajang semasa hidupnya, ayah yang sebenarnya dari Panembahan Senapati di Mataram.

Ki Mandarakalah yang telah menyusun rencana untuk mengalahkan Pajang dengan kekuatan yang kecil menghadapi kekuatan yang jumlahnya berlipat ganda.

Ternyata Panembahan Senapati yang mengerti rencana yang telah disusun oleh Ki Mandaraka itu dapat menyetujuinya. Namun ia masih berpesan, “Tetapi paman. Ayahanda Kangjeng Sultan jangan terusik.”

“Pengawal Kangjeng Sultan cukup banyak. Mereka tentu akan dapat menyelamatkannya,“ jawab Ki Patih Mandaraka.

“Bagaimana jika ayahanda juga terpancing?“ bertanya Panembahan Senapati.

“Kangjeng Sultan cukup bijaksana. Apalagi Kangjeng Sultan dalam keadaan sakit,“ jawab Ki Patih Mandaraka.

Panembahan Senapati hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Ki Patih Mandarakapun telah memanggil semua pimpinan prajurit Mataram yang ada di Prambanan. Dengan jelas Ki Patih Mandaraka memberikan perintah berdasarkan rencananya yang telah terperinci dengan baik.

Pasukan induk Mataram harus memancing pasukan Pajang untuk bertempur. Pasukan Mataram memang akan turun dan menyeberangi Kali Opak. Tetapi pasukan Mataram itu akan segera menarik diri. Jumlah mereka memang jauh lebih sedikit dari pasukan Pajang. Namun dalam pada itu, para prajurit Mataram yang ada diudik telah mendapat isyarat untuk memecahkan bendungan. Justru dua lapis. Dengan demikian maka pasukan Pajang yang masih ada di tengah-tengah Kali Opak akan dihantam oleh arus air yang tentu sederas banjir bandang meskipun tidak akan terlalu lama. Tetapi yang sebentar itu tentu sudah akan menyapu kekuatan Pajang sebagian besar.

Sementara itu, pasukan Mataram harus sudah bersiap menghadapi sisa prajurit Pajang yang telah sempat menyeberangi Kali Opak. Sekelompok prajurit Mataram akan dipisahkan dari induknya. Dibawah pimpinan Tumenggung Mayang, maka pasukan itu akan segera menyerang dari lambung.

Nampaknya para Senapati Mataram dapat menerima rencana itu. Merekapun melihat kemungkinan, rencana itu dapat dilaksanakan.

Sementara itu Ki Patih Mandaraka berkata, “Siapkan bende Kiai Bicak. Bende itu harus dibunyikan saat banjir bandang itu datang. Suara bende itu akan mempunyai pengaruh yang kuat, setidak-tidaknya pengaruh jiwani.”

Demikianlah, maka semua persiapanpun telah dilakukan. Sekelompok pasukan pilihan justru telah memisahkan diri disisi Selatan. Kemudian para prajurit yang disebelah Utara Prambanan dan berada di dua lapis bendunganpun telah bersiap. Mereka harus memecahkan bendungan itu agar menimbulkan banjir yang besar, karena air yang seakan-akan menjadi kedung oleh bendungan itu akan melanda turun dan mengalir dengan sangat derasnya. Apalagi dua lapis bendungan yang siap untuk dihancurkan.

Tali-tali untuk mencabut pasak dan tiang-tiang penyangga bendungan sudah disiapkan. Beberapa ekor lembu akan membantu menarik pasak-pasak dan tiang-tiang penyangga itu.

Namun Panembahan Senapati telah menambahkan perintah, “Jika kita berhasil kelak, maka bendungan-bendungan itu harus dengan cepat diperbaiki. Bendungan-bendungan itu memberikan kehidupan bagi ratusan nyawa disekitarnya. Karena itu, maka bendungan itu harus mendapat perhatian utama.”

Demikianlah, maka ketika segala persiapan telah selesai, maka datanglah saatnya untuk menggempur pasukan Pajang. Tetapi Mataram tidak sekedar mengandalkan kekuatan prajuritnya yang jumlahnya jauh lebih sedikit dari pasukan Pajang, namun Mataram telah mempergunakan akal untuk mengatasi kekurangannya.

Adalah sama sekali tidak diduga, bahwa Mataram akan dengan tiba-tiba saja menyerang. Namun pada hari yang telah diperhitungkan, saat matahari terbit, maka pasukan Mataram telah dengan tiba-tiba menyerang pasukan Pajang. Tanpa pertanda kebesaran, tanpa perintah sangkakala, tanpa suara bende dan tanpa tanda-tanda yang lain.

Dengan demikian maka para prajurit Pajang yang sudah menjadi jemu itu justru terkejut. Dengan tergesa-gesa mereka mempersiapkan diri.

Para Adipati yang mendapat laporanpun segera menghadap Sultan untuk menunggu perintahnya.

Sultanpun terkejut mendengar hal itu. Bahkan hampir kepada diri sendiri Sultan berdesah, “Jadi Danang Sutawijaya benar-benar telah memberontak?”

“Bukankah hamba telah menyampaikannya sebelumnya Kangjeng Sultan,“ desis Adipati Tuban agak menggeram.

“Apaboleh buat,“ berkata Kangjeng Sultan, “kita akan bertahan. Kita akan menghalau prajurit Mataram sampai kebatas Kali Opak.”

Adipati Tuban tidak menjawab. Tetapi ia tidak sependapat dengan Kangjeng Sultan. Demikian pula Adipati Demak. Mereka bertekad untuk menghancurkan pasukan Mataram yang jumlahnya mereka anggap tidak terlalu banyak.

Hanya Pangeran Benawa sajalah yang tidak begitu bernafsu untuk turun kemedan. Bagaimanapun juga hubungannya sebagai kakak beradik dengan Panembahan Senapati masih saja berbekas dalam dihatinya. Apalagi terpengaruh oleh sikap ayahandanya terhadap Mataram.

Pertempuranpun kemudian telah membakar kedua pasukan itu. Meskipun prajurit Mataram jumlahnya lebih sedikit, namun mereka memiliki tekad yang membara dihati. Sementara prajurit Pajang terpengaruh oleh sikap Kangjeng Sultan serta kejemuan yang mencengkam jantung mereka, rasa-rasanya masih juga ragu-ragu untuk bertindak.

Namun Adipati Tuban dan Adipati Demang seakan-akan telah menyalakan api didalam dada mereka. Karena itu, para prajurit Pajang itupun telah bangkit dan bertempur dengan garangnya pula melawan para prajurit Mataram.

Pasukan Ki Dipayuda ternyata tidak harus turun ke medan. Mereka adalah pengawal Kangjeng Sultan, sehingga karena itu, maka mereka tetap berada di perkemahan. Meskipun mereka bukan pasukan pengawal pribadi yang selalu ada disebelah Sultan, namun mereka termasuk pengawal yang harus membendung setiap usaha untuk mendekati perkemahan Sultan.

Ternyata pasukan Mataram telah siap dengan rencananya. Ketika pertempuran itu menjadi semakin sengit, maka adalah wajar sekali jika pasukan Mataram menarik diri. Mereka nampaknya mulai terdesak dan tergesa-gesa berusaha mengundurkan diri.

Terdengar sorak yang membahana diantara para prajurit Pajang. Kemarahan dan kemenangan yang rasa-rasanya akan segera mereka capai telah membuat mereka sangat bergembira setelah beberapa lamanya mereka dipenjara di Prambanan dalam kejemuan dan kegelisahan yang hampir tidak tertahankan.

“Kenapa tidak kita lakukan sejak beberapa hari yang lalu. Pertempuran ini bukan pertempuran yang besar yang membenturkan dua kekuatan seimbang. Belum tengah hari, kita sudah dapat mendesak mereka,“ geram seorang prajurit.

“Kita hampir mereka buat gila,“ sahut yang lain, “sekarang kita musnakan mereka. Disebelah Timur atau disebelah Barat Kali Opak tidak ada bedanya.”

Kemenangan itu telah membuat orang-orang Pajang menjadi lengah.

Namun demikian, para prajurit Mataram telah menunjukkan bahwa mereka adalah prajurit-prajurit pilihan. Dalam jumlah yang jauh lebih kecil, mereka mampu bergeser surut dalam kesatuan yang utuh.

Demikian pasukan Mataram surut dan turun menyeberangi Kali Opak, maka isyaratpun telah diterbangkan. Panah sendaren telah meluncur dilangit, mengirimkan perintah kepada mereka yang siap untuk memecahkan bendungan.

Dengan kebencian dan kemarahan yang membakar jantung, maka para prajurit Pajang telah mengejar para prajurit Mataram yang mundur dengan teratur. Beberapa lamanya mereka bertahan dan bertempur diair keruh Kali Opak yang sedikit membesar karena hujan di ujung, namun kemudian para prajurit Mataram itu telah bergerak lagi mundur ketika terdengar isyarat beberapa panah sendaren yang berterbangan diatas medan.

Para prajurit Pajang menganggap bahwa isyarat itu dilontarkan karena keadaan prajurit Mataram yang semakin mengalami kesulitan.

Sebenarnyalah bahwa prajurit Mataram telah bergerak mundur. Bahkan kemudian telah melintasi Kali Opak dan bertahan sejenak ditepian sebelah Barat. Namun kemudian mereka terdesak lagi, sehingga mereka dengan tergesa-gesa naik keatas tanggul.

Pada kesempatan yang demikian, para prajurit Mataram yang telah dipersiapkan telah muncul dari balik tanggul. Mereka berusaha menghambat pasukan Pajang dengan meluncurkan anak panah dari atas tebing.

Beberapa puluh orang yang memang terpilih karena memiliki kemampuan bidik yang tinggi, benar-benar mampu menghambat gerak maju orang-orang Pajang. Sehingga dengan demikian maka sebagian prajurit Pajang yang mengejar prajurit Mataram pada tebaran yang luas itu terhenti beberapa saat ditepian sebelah barat. Sedangkan yang lain masih berada didalam rendaman air keruh Kali Opak.

Pada saat yang demikian itu, tanpa isyarat apapun juga, Kali Opak tiba-tiba telah menjadi banjir. Air yang sangat deras telah melanda pasukan Pajang yang sebagian besar masih berada di Kali Opak.

Satu bencana yang paling pahit yang dialami oleh pasukan Pajang. Sebagian dari mereka memang berhasil menyelamatkan diri, kembali naik ke tanggul disisi sebelah Timur. Namun yang lain mengalami banyak kesulitan. Yang ada di tengah-tengah kali tidak mampu bertahan atas dorongan air yang tiba-tiba saja telah menghantam mereka dengan kekuatan yang sangat besar.

Yang sempat naik kesisi sebelah Barat harus menghadapi kekuatan pasukan Mataram.

Sebenarnya para prajurit Pajang yang sempat baik keatas tanggul disisi Barat sudah cukup banyak dibandingkan dengan prajurit Mataram sendiri. Karena itu, maka para prajurit yang telah berhasil menyeberang itu justru tidak lagi sempat berpikir. Darah mereka bagaikan mendidih didalam tubuh sementara jantung mereka bagaikan membara.

Pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Bagian kecil dari prajurit Pajang yang banyak sekali bahkan berlipat ganda dari pasukan Mataram itu ternyata cukup kuat.

Namun semuanya sudah diperhitungkan oleh Ki Patih Mandaraka. Karena itu, maka pasukan Matarampun masih saja bergerak mundur ketika prajurit Pajang itu mendesaknya.

Pertempuran memang terjadi dengan sengitnya. Sorak yang membahana bagaikan meruntuhkan langit. Orang-orang Mataramlah yang kemudian bersorak menyambut banjir bandang yang menghanyutkan sebagian para prajurit Pajang yang masih berada di Kali Opak. Dua bendungan yang sengaja dipecahkan oleh beberapa prajurit Mataram memang mampu membangkitkan banjir yang besar.

Prajurit Matarampun menyadari, bahwa banjir itu tidak akan berlangsung lama. Jika kedung yang terjadi oleh bendungan-bendungan itu telah susut airnya, maka arus Kali Opakpun akan menjadi turun pula.

Namun dalam pada itu, langitpun telah menjadi gelap. Awan yang hitam dengan cepat menutup langit. Bahkan hujanpun telah turun dengan lebatnya.

Tetapi hujan yang baru saja turun itu tidak mampu mempertahankan banjir di Kali Opak, meskipun berpengaruh juga, karena arusnya menjadi semakin keruh.

Sementara itu, pertempuran disebelah Barat Kali Opak masih berlangsung. Sementara pasukan Pajang mendesak pasukan Mataram, maka Tumenggung Mayang telah melepaskan pasukan terpilihnya dan menyerang dari lambung.

Serangan itu sangat mengejutkan. Karena itu, maka pasukan Pajang benar-benar tidak mampu lagi mempertahankan diri. Ketika hari menjadi semakin sore, sementara langit masih juga gelap dan hujan turun dari langit, maka pasukan Mataramlah yang berhasil menguasai pasukan Pajang yang terpisah dari induknya di sebelah Timur Kali Opak. Sementara sebagian dari pasukan Pajang itu telah dihanyutkan oleh banjir bandang yang telah mulai menjadi susut.

Tetapi langit seakan-akan telah membantu prajurit Mataram. Sementara hujan turun dan langit menjadi semakin gelap mendekati senja, maka guntur dan lidah api sambar menyambar di langit. Guruh menggelegar dan angin praharapun telah bertiup.

Para pemimpin prajurit Pajang disisi sebelah Barat Kali Opak tidak mampu lagi bertahan lebih lama. Mereka terpisah dari dukungan perbekalan dan perlengkapan. Sementara itu, Kali Opak yang telah susut airnya itu perlahan-lahan telah naik lagi meskipun tidak sebesar banjir bandang yang datang menyapu prajurit Pajang dengan memecahkan dua lapis bendungan.

Sementara prajurit Pajang disisi sebelah Barat Kali Opak telah dipaksa menyerah oleh para pemimpin Mataram, maka di perkemahan prajurit Pajang telah timbul perbedaan pendapat yang tajam.

Disebelah Barat Kali Opak, para pemimpin Mataram yang telah saling mengenal dengan para pemimpin Pajang akhirnya dapat memaksakan kehendak mereka. Apalagi para pemimpin Pajang memang sudah tidak mempunyai pilihan lain kecuali meletakkan senjata.

Hati mereka memang menjadi semakin kecut ketika dari belakang pasukan Mataram terdengar suara bende Kiai Bicak yang mengumandang, disela-sela suara guntur yang meledak di langit serta lidah api yang menjilat-jilat.

Sementara itu, di perkemahan para prajurit Pajang, para Adipati yang justru menjadi semakin marah telah bertekad untuk menghancurkan Mataram di keesokan harinya. Namun beberapa orang pemimpin yang lain telah mempertanyakan, apakah masih cukup kekuatan yang tersisa bagi Pajang.

Lewat senja, hujan dan guruh mereda, sejenak. Namun dalam pada itu, orang-orang Mataram sama sekali tidak menghentikan usaha mereka mempengaruhi para prajurit Pajang secara jiwani. Bende Kiai Bicak masih terus dibunyikan, meraung-raung mengumandang menyusuri Kali Opak. Seakan-akan riak arus air Kali Opak yang telah menjadi semakin besar karena hujan dan angin, telah mengumandangkan bunyi bende Kiai Bicak itu.

Para Adipati ternyata tidak lagi mampu untuk tetap menyalakan api perjuangan di hati para prajurit Pajang. Bahkan keragu-raguan Sultanpun semakin nampak pula. Gejala mengamuknya alam telah dihubungkannya dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam perang itu. Bahkan Sultan selalu merasa, bahwa kerajaan Pajang memang sudah akan berakhir.

Karena itu, berdasarkan atas kenyataan yang telah terjadi, bahwa pasukan Pajang telah susut demikian besarnya, sebagian hanyut di Kali Opak, sebagian lagi telah terpisah diseberang Kali yang banjir itu, yang ternyata telah menjadi tawanan orang-orang Mataram, maka Pajang tidak lagi meneruskan niatnya menghancurkan Mataram meskipun Adipati Tuban dan Demak masih juga menyatakan kesediaannya. Namun Pangeran Benawa lebih banyak mendampingi ayahandanya yang menjadi sangat gelisah.

Akhirnya jatuh perintah Kangjeng Sultan untuk kembali ke Pajang.

Tidak ada seorangpun yang dapat mencegah, karena mereka tidak mampu menyembunyikan kenyataan kerusakan berat yang terjadi pada pasukan Pajang. Yang tersisa, tidak lagi akan mampu dapat melawan kekuatan Mataram tanpa menghimpun kekuatan baru. Kecuali orang-orang Mataram menjadi semakin berbesar hati karena kemenangannya, maka orang-orang Pajang hatinya telah menjadi kecut. Sultanpun tidak mau mengabaikan suara bende Kiai Bicak yang mengumandang seakan-akan semakin lama semakin keras.

“Kita tidak dapat mengabaikan semua pertanda buruk. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kita atas keharusan yang bakal terjadi. Jika demikian hanya akan jatuh korban yang semakin banyak tanpa memberikan arti apa-apa bagi perjuangan Pajang untuk mempertahankan diri,“ berkata Kangjeng Sultan yang kesehatannya memang tidak begitu baik itu.

Demikianlah, akhirnya ketika malam menjadi semakin gelap lewat senja hari, Kangjeng Sultan telah menarik seluruh pasukannya dan memerintahkan untuk mengundurkan diri, kembali ke Pajang. Memang suatu perjalanan yang berat bagi pasukan yang terluka parah. Sementara dendam tetap membara di hati para Adipati.

Namun Sultan telah berniat untuk singgah di Makam Tembayat untuk berdoa bagi pasukannya dan bagi Pajang.

Tetapi pintu makam keramat di Tembayat itu ternyata tidak dapat dibuka, sehingga dengan demikian maka hati Kangjeng Sultan menjadi semakin terguncang.

Namun Kangjeng Sultan sendiri pada dasarnya tidak secara mutlak menentang hadirnya Mataram dalam cakrawala pimpinan pemerintahan diatas Tanah ini. Menurut pendapat Sultan, putera angkatnya, Panembahan Senapati adalah seorang yang memang pantas untuk memimpin pemerintahan sebagaimana Pajang. Ia tidak melihat putera dan menantu-menantunya akan mampu berbuat sebagaimana dilakukan oleh Panembahan Senapati.

Dalam saat-saat terakhir, Sultan Pajang justru lebih banyak memikirkan kemungkinan perkembangan Tanah ini daripada memberikan kedudukan kepada keluarganya. Kangjeng Sultan didalam hati kecilnya telah memilih, agar Tanah ini mampu berkembang dengan baik daripada sekedar memberikan kedudukan kepada putera atau menantunya, namun pemerintahan Pajang akan mengalami kemunduran yang gawat.

Pertimbangan-pertimbangan itulah yang membuat Kangjeng Sultan ragu-ragu untuk benar-benar berperang melawan Mataram. Namun Kangjeng Sultanpun tidak mengira bahwa korban dari Pajang akan jatuh sedemikian banyaknya.

Namun menurut perhitungan Sultan, jika perang diteruskan, korban akan semakin banyak berjatuhan.

Malam itu Kangjeng Sultan telah bermalam ditengah-tengah kegelapan malam di Tembayat.

Sementara itu. Mataram yang tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di sebelah Timur Kali Opak, menjadi ragu-ragu. Namun kemudian Panembahan Senapati telah mengirimkan petugas sandi yang memiliki keberanian dan kemampuan berenang menyeberangi Kali Opak yang benar-benar banjir karena hujan yang deras.

Dua orang menyatakan bersedia melakukannya. Mereka telah mempergunakan beberapa potong batang pohon pisang yang diikatnya menjadi satu. Kemudian mempergunakannya sebagai rakit. Namun kedua orang yang berasal dari pinggir Kali Progo itu telah terbiasa berenang diair yang deras, karena arus Kali Progo pada umumnya memang lebih deras dari arus Kali Opak.

Kedua orang itu turun ke Kali Opak justru akan ke udik. Mereka akan menyeberang sambil menghanyutkan diri pada arus yang deras, sehingga dengan demikian mereka tidak memerlukan tenaga yang terlalu banyak.

Ketika kedua orang itu berhasil mencapai seberang, maka mereka telah melihat perkemahan orang-orang Pajang telah menjadi kosong. Bahkan beberapa jenis barang perbekalan dan perlengkapan telah ditinggalkan. Agaknya para prajurit Pajang agak tergesa-gesa meninggalkan perkemahannya meskipun mereka mengerti bahwa dalam keadaan banjir, maka orang-orang Mataram tentu tidak akan menyeberangi Kali Opak.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?“ bertanya yang seorang.

Kawannya menggeleng. Dengan nada rendah kawannya itu menjawab, “Sulit untuk menebak. Tetapi agaknya para pemimpin Pajang menjadi cemas, gelisah bahkan bingung, karena sebagian dari prajurit mereka telah dihanyutkan oleh banjir yang tidak terduga-duga karena bendungan yang dipecahkan itu, justru sebelum hujan turun. Sementara itu yang lain telah terperangkap disebelah Barat Kali Progo.”

Yang seorang lagi mengangguk-angguk. Meskipun keduanya tidak pernah mendengar pesan Kangjeng Sultan bahwa prajurit Pajang tidak boleh menyeberangi Kali Opak, maka keduanya menganggap bahwa usaha prajurit Pajang memburu prajurit Mataram dengan menyeberangi Kali Opak adalah satu langkah yang tidak menguntungkan.

Setelah mengamati tempat itu dengan saksama, maka kedua orang petugas itu telah berniat untuk kembali menyeberang. Jika mereka menunggu lebih lama lagi, maka ada kemungkinan air akan menjadi semakin besar, meskipun ada kemungkinan yang sebaliknya.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka keduanyapun telah bersiap untuk menyeberang kembali. Mereka menempuh cara sebagaimana mereka menyeberang ke Timur. Dengan beberapa batang pohon pisang dan turun ke Kali Opak agak ke udik.

Panembahan Senapati yang ingin mendengar laporan kedua orang itu langsung, telah memanggil mereka menghadap.

Panembahan Senapati memang menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar laporan, bahwa perkemahan Pajang telah dikosongkan dengan tergesa-gesa. Sedangkan para pemimpin Pajang, termasuk Kangjeng Sultan sendiri, tentu mengetahui bahwa Mataram tidak akan menyerang dalam waktu dekat karena arus Kali Opak yang membesar.

“Kau tidak mendengar berita tentang Kangjeng Sultan?“ bertanya Panembahan Senapati.

“Perkemahan itu kosong Panembahan,“ jawab salah seorang dari kedua orang itu, “hamba telah melihat semua ruangan bekas perkemahan itu. Justru perbekalan masih bertumpuk dan beberapa peralatan telah ditinggalkan.”

“Kau tidak menemukan seorangpun?“ desak Panembahan.

“Tidak Panembahan. Tidak seorangpun yang tinggal,“ jawab orang itu.

Panembahan Senapati justru menjadi termangu-mangu. Namun kemudian iapun berkata, “Besok aku akan melihat sendiri.”

“Panembahan akan pergi ke mana?“ bertanya Ki Patih Mandaraka.

“Besok aku akan menyeberangi kali Opak. Aku ingin empat puluh orang pengawal berkuda terpilih untuk menemani aku melihat gerak mundur pasukan Pajang,“ berkata Panembahan Senapati.

“Itu sangat berbahaya Panembahan?“ Ki Patih Mandaraka memperingatkan.

Tetapi Panembahan Senapati telah mengambil keputusan. Karena itu, maka diperintahkan sekali lagi untuk memilih empat puluh orang terbaik diantara para prajurit Mataram untuk mengawalnya esok pagi, menyusul barisan Pajang yang mengundurkan diri.

Sementara itu Panembahan itu memberikan perintah, “Cari sekelompok prajurit yang sanggup menyeberang Kali Opak untuk menjaga perkemahan prajurit Pajang yang ditinggalkan. Jangan mengusik semua barang, perbekalan dan peralatan yang ada di perkemahan itu.“ Kemudian perintahnya pula kepada dua orang petugas yang telah menyeberang ke Timur, “Ajari bagaimana kawan-kawanmu itu harus menyeberang.”

Seorang Senapati yang menyatakan kesediaannya menyeberang, karena ia juga berasal dari sebuah padukuhan di pinggir Kali Praga telah diperintahkan untuk memimpin sekelompok prajurit untuk melindungi barang-barang dan perbekalan yang ditinggalkan oleh para prajurit Pajang.

Demikianlah menjelang tengah malam, sekelompok prajurit Mataram dengan mempergunakan batang pisang telah berenang menyeberangi Kali Opak. Namun banjir memang telah sedikit susut, setelah hujan di ujung sungai mereda.

Para prajurit itulah yang kemudian justru berada di perkemahan prajurit Pajang, dengan pakaian yang basah kuyup. Beberapa orang diantara mereka telah menyalakan api untuk memanasi badan mereka serta mengeringkan pakaian, sementara yang lain bertugas berjaga-jaga di beberapa sudut perkemahan. Namun mereka telah membagi tugas sebaik-baiknya, sehingga akan datang giliran bagi yang lain untuk memanaskan diri di perapian.

Bahkan para prajurit itu sempat menanak nasi dan membuat minuman panas dengan gumpalan-gumpalan gula kelapa yang banyak terdapat di dapur perkemahan itu.

Para prajurit Mataram di sebelah Barat Kali Opak yang melihat perapian telah menjadi lega. Mereka seakan-akan telah mendapat isyarat bahwa para prajurit yang menyeberangi Kali Opak telah selamat sampai keseberang.

Sementara itu, di Tembayat, Kangjeng Sultan dalam pengawalan yang kuat sedang beristirahat. Memang sulit untuk melupakan kepahitan yang sedang dialaminya. Terbayang para prajurit Pajang yang hanyut di Kali Opak. Namun terbayang pula, Panembahan Senapati dengan dada tengadah menatap hari depan yang lebih baik bagi tanah ini dibandingkan dengan pemerintahan Pajang.

Dimalam yang gelap, beberapa kelompok prajurit pengawal telah bertugas menjaga kedudukan Sultan dalam beberapa lapis. Disekitar pembaringan Kangjeng Sultan terdapat para Tumenggung dan Adipati, menantu Sultan dan beberapa kepercayaannya.

Diluar terdapat para pengawal terbaik dari pasukan khusus pengawal Raja. Sedangkan pada jarak beberapa puluh langkah, pasukan pengawal telah berjaga-jaga dengan kesiagaan penuh.

Ternyata malam itu tidak terjadi sesuatu atas Kangjeng Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Pagi-pagi semua persiapan telah selesai, karena Kangjeng Sultan akan meneruskan perjalanan kembali ke Pajang.

Ketika kemudian matahari terbit, maka semua pasukan telah bersiap. Suasana sedih, marah dan dendam masih nampak di setiap wajah, kecuali pada wajah Kangjeng Sultan sendiri.

Dalam pada itu, Kasadha sekali-sekali masih juga dihinggapi perasaan yang lain. Selain dendamnya yang masih juga menyala di dadanya, karena kekalahannya di Randukerep atas pasukan Mataram, kemudian kesaksiannya atas hancurnya sebagian pasukan Pajang di Prambanan, ia masih juga mencemaskan dirinya sendiri. Jika saja ada orang yang pernah melihatnya dan tiba-tiba saja telah mengenalinya.

Namun Kasadha berada didalam satu barisan yang besar, sehingga karena itu, maka kemungkinan yang demikian akan menjadi sangat kecil.

Dalam perjalanan kembali ke Pajang, maka pasukan Ki Lurah Dipayuda yang merupakan bagian dari pasukan pengawal Raja, berada beberapa lapis dibelakang Kangjeng Sultan yang naik seekor Gajah yang besar. Seorang serati dan pembantunya berada di sebelah menyebelah gajah itu. Di sebelah serati dan pembantunya, pasukan pengawal khusus yang langsung dipimpin oleh para Adipati menantu Kangjeng Sultan sendiri, berkuda.

Suasana pasukan itu memang gelap. Pangeran Benawa yang berkuda dibelakang gajah kenaikan Kangjeng Sultan itu selalu saja menundukkan kepalanya. Tidak ada gairah sama sekali disorot matanya. Sedangkan Pangeran Benawa adalah Pangeran Pati yang akan menggantikan kedudukan Kangjeng Sultan di Pajang.

Tetapi Pangeran Benawa tidak dapat melupakan hubungan ayahandanya dengan Panembahan Senapati serta hubungannya sendiri dengan Penguasa di Mataram itu. Bahkan Pangeran Benawa merasa bahwa Panembahan Senapati tentu akan menjadi seorang pemimpin yang jauh lebih baik dari dirinya sendiri.

Adalah sama sekali tidak terduga, bahwa gajah yang jinak itu tiba-tiba seakan-akan terkejut. Adalah diluar kuasa para serati dan pembantunya untuk mencegah kecelakaan yang kemudian terjadi. Demikian terkejutnya gajah itu, sehingga tiba-tiba saja telah meronta.

Kangjeng Sultan yang duduk diatas punggung gajah itu terkejut. Tidak ada kesempatan untuk melakukan sesuatu, ketika kekuatan raksasa telah melemparkannya.

Kangjeng Sultan adalah seorang yang memiliki ilmu seakan-akan tanpa batas. Tetapi demikian tiba-tiba hal itu terjadi sebelum Sultan mempersiapkan diri. Apalagi kesehatan Sultan sendiri yang agaknya kurang menguntungkan. Kecemasan hati, serta beberapa isyarat yang telah membuat hatinya kecut. Suara bende Kiai Bicak yang dibunyikan oleh orang-orang Mataram, yang suaranya mengaum seperti suara seekor harimau yang akan menerkamnya. Pintu makam keramat di Tembayat yang tidak dapat dibuka dan pertanda alam yang seakan-akan telah ikut menyudutkannya, membuat Kangjeng Sultan tidak siap menghadapi keadaan itu. Bahkan Kangjeng Sultan seakan-akan telah membiarkan tubuhnya sendiri terbanting jatuh.

Dalam keadaan yang demikian, maka orang-orang yang terdekat telah menjadi bingung. Para prajurit tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Namun para Adipati tidak segera kehilangan akal. Mereka dengan cepat menolong Kangjeng Sultan, sementara serati dan pembantunya telah berusaha menenangkan gajah yang marah tanpa sebab itu.

Demikian serati itu menguasai gajahnya kembali, maka Adipati Tuban yang marah telah mendekatinya sambil berkata dengan suara berat, “Kau sengaja melakukannya?”

Serati itu berjongkok dihadapan Adipati Tuban sambil memohon, “Ampun Sang Adipati. Hamba sama sekali tidak tahu apakah sebabnya hal seperti ini dapat terjadi. Gajah ini adalah gajah yang baik selama ini. Namun agaknya gajah ini terkejut oleh sesuatu yang tidak hamba ketahui.”

“Jika terjadi sesuatu atas Kangjeng Sultan, maka lehermulah yang akan menjadi gantinya,“ geram Adipati Tuban.

Namun dengan lemah Sultan yang mendengar Adipati Tuban itu membentak-bentak telah berkata, “Bukan salah orang itu. Ia tidak pantas menerima hukuman.”

Adipati Tuban hanya dapat menggeram. Namun kemudian iapun berkata, “Bawa gajah itu menyingkir sebelum aku membunuhmu dan membunuh gajah itu sekaligus.”

Serati itu membungkuk hormat. Iapun kemudian telah membawa gajahnya menjauhi para Adipati yang kemudian merawat Kangjeng Sultan bersama tabib istana.

Namun Kangjeng Sultan tidak akan lagi naik keatas punggung gajah. Untuk perjalanan selanjutnya, Kangjeng Sultan akan duduk diatas tandu.

Bagi Sultan, satu pertanda lagi telah didapatkannya. Gajah adalah lambang kebesaran seorang Raja. Jika Kangjeng Sultan itu sudah jatuh dari punggung Gajah, maka satu pertanda bahwa kebesaran Kangjeng Sultan Hadiwijaya dari Pajang memang akan menjadi surut.

Demikian iring-iringan itu meneruskan perjalanan, maka diantara pasukan pengawal, Barata sempat berbincang dengan Kasadha. Dengan nada rendah Kasadha berkata, “Nampaknya tugas kita dikalangan keprajuritan tidak akan lama?”

Barata mengangguk kecil. Katanya, “Apakah kira-kira yang akan dilakukan para prajurit Mataran atas prajurit Pajang, Tuban, Demak dan yang lain? Apakah kami semuanya akan menjadi tawanan atau kami akan tetap menjadi prajurit di Pajang yang berada dibawah kekuasaan Mataram?”

“Sulit untuk diramalkan,“ berkata Barata, “tetapi apakah Pajang benar-benar tidak mampu lagi menghimpun kekuatan untuk mengalahkan Mataram? Pasukan Mataram memang terlalu kecil dibandingkan dengan pasukan Pajang, namun orang-orang Mataram telah mempergunakan otaknya dengan baik. Banjir yang tidak terlalu lama, cara mereka memancing pasukan Pajang untuk menyeberang, kemudian ditahan oleh para prajurit Mataram yang sudah dipersiapkan diatas tanggul, merupakan satu perencanaan yang sempurna.”

“Ya. Tentu tidak masuk dalam akal kita sebelumnya, bahwa Mataram akan mempergunakan bendungan sebagai senjata. Jika alam kemudian membantunya, itu adalah satu kebetulan. Tetapi tanpa bantuan alam, pasukan Pajang memang sudah dikoyakkan,“ desis Kasadha.

Keduanya hanya dapat mengangguk-angguk. Namun merekapun mengerti bahwa keadaan pada waktu itu bagaikan telah dipanggang diatas api. Kemarahan, kejemuan dan dendam berbaur menjadi satu, sehingga penalaranpun menjadi buram.

Dalam perjalanan yang berat dan payah itu, tiba-tiba saja telah menghadap Adipati Tuban dan Adipati Demak, seorang petugas sandi yang berada di belakang pasukan yang tertatih-tatih itu.

“Ada apa?“ bertanya Adipati Tuban.

“Sepasukan kecil berkuda telah mengikuti iring-iringan pasukan Pajang ini Kangjeng Adipati.

“Pasukan dari mana?“ bertanya Adipati Demak.

“Mataram,“ jawab petugas itu.

“Mataram? Seberapa besarnya pasukan itu?“ berkata Adipati Demak pula.

“Sekitar lima puluh orang, Kangjeng Adipati?“ jawab petugas itu.

“Hanya lima puluh orang?“ bertanya Adipati Tuban dengan heran.

“Ya. Dipimpin langsung oleh Panembahan Senapati sendiri,“ jawab petugas itu, “bahkan malah kurang dari lima puluh.”

Adipati Tuban itu menggeram. Iapun kemudian berkata, “Panggil Pangeran Benawa. Ia berada di belalakang tandu ayahanda Sultan.”

Petugas itupun segera menghubungi Pangeran Benawa. Iapun dengan singkat telah memberikan laporan tentang Panembahan Senapati yang mengikuti pasukan itu. Namun Pangeran Benawa tiba-tiba berkata, “Aku tidak perlu laporan itu.”

“Kangjeng Adipati memanggil Pangeran,“ desis petugas itu sambil menunduk.

“Siapa yang akan memerlukan aku, datanglah kepadaku,“ desis Pangeran Benawa.

Petugas yang menyampaikan pesan itu terkejut. Pangeran Benawa tidak pernah menjadi sekeras itu. Hampir diluar sadarnya ia menengadah memandang wajah Pangeran Benawa. Namun petugas itu telah dengan serta merta menundukkan kepalanya ketika dilihatnya sorot mata Pangeran Benawa yang bagaikan membara.

Karena petugas itu tidak beranjak dari tempatnya. Maka Pangeran Benawa telah membentak, “Pergi. Sampaikan pesanku itu kepada setiap orang yang memanggil aku. Kecuali ayahanda Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Aku adalah Pangeran Pati Pajang.”

Petugas itupun telah mengangguk dalam-dalam. Kemudian bergeser meninggalkan Pangeran Benawa yang tidak diketahui, kenapa tiba-tiba saja menjadi marah.

Adipati Tuban dan Adipati Demakpun terkejut. Namun keduanya tidak ingin berselisih dengan Pangeran Benawa. Keduanya bahkan telah berusaha menghadap Sultan disebelah tandunya yang diusung oleh delapan orang.

“Ampun ayahanda Sultan,“ berkata Adipati Tuban yang kemudian menceriterakan bahwa Panembahan Senapati dengan sombongnya telah mengikuti iring-iringan ini hanya dengan sebanyak-banyaknya limapuluh orang.

Tetapi tanggapan Kangjeng Sultan jauh dari yang diharapkan. Kangjeng Sultan justru berkata, “Anak itu tentu ingin mendengar khabar keselamatanku.”

“Ayahanda,“ berkata Adipati Demak, “ijinkan hamba dengan prajurit secukupnya menghancurkan prajurit Mataram itu. Berapa ratus prajurit kita yang terbunuh di Prambanan. Kita harus menunjukkan kepada Mataram, bahwa mereka bukan pemenang yang sebenarnya dalam pertempuran ini.”

Tetapi Kangjeng Sultan menggeleng. Katanya, “Perang telah selesai.”

“Kita biarkan dendam berkarat dihati?“ bertanya Adipati Demak.

Tetapi Sultan tersenyum. Katanya, “Aku minta, kalian dapat hidup damai untuk selanjutnya. Saling menghormati sebagai saudara. Saling menghargai.”

Adipati Demak menggeretakkan giginya. Namun ia tidak berani memaksakan kehendaknya untuk tetap melanjutkan rencananya sebagaimana dikatakan oleh Adipati Tuban.

Karena itu, maka keduanya telah bergeser menjauh.

Demikianlah iring-iringan itu tetap melanjutkan perjalanan menuju ke Pajang. Sementara itu, Panembahan Senapati masih juga tetap mengikuti iring-iringan itu dari jarak tertentu.

Namun para pemimpin dan para Senapati Pajang harus tetap membiarkan saja sepasukan kecil berkuda itu seakan-akan membayangi pasukan Pajang yang jauh lebih besar.

Ketika Kangjeng Sultan itu sampai ke Pajang, maka tandu yang ditumpanginya langsung dibawa masuk ke dalam keraton. Agaknya keadaan Sultan tidak bertambah baik, tetapi bertambah buruk. Kesehatannya sejak Sultan jatuh dari atas punggung gajah terus saja menurun.

Sementara itu, Panembahan Senapati memang menjadi ragu-ragu. Namun ternyata Panembahan Senapati tidak tergesa-gesa kembali ke perkemahan. Bahkan bersama prajurit pilihan yang berjumlah ampat puluh orang itu, Panembahan Senapati telah berkemah di Mayang. Diperintahkannya seorang penghubung untuk menyampaikan perintah kepada prajurit-prajuritnya yang berada di Prambanan untuk tetap menunggu.

“Mereka harus tetap berada di Prambanan sampai perintahku berikutnya,“ pesan Panembahan Senapati.

Dalam pada itu, yang terjadi di istana Pajang adalah Keadaan Kangjeng Sultan yang semakin buruk. Betapapun keadaan itu di sembunyikan, namun akhirnya tersebar juga, bahwa Kangjeng Sultan tidak dapat bangkit dari pembaringan.

Namun para prajurit tetap bersiaga sepenuhnya. Para pemimpin Pajang mengetahui bahwa Panembahan Senapati berkemah di Mayang. Mereka semula mengira bahwa Panembahan Senapati akan mohon ijin kepada para menantu Kangjeng Sultan serta Pangeran Benawa untuk menghadap.

Tetapi ternyata hal itu tidak dilakukan oleh Panembahan Senapati.

Pada saat-saat yang gawat, maka dipagi-pagi buta, seisi kota Pajang dikejutkan oleh setumpuk bunga telasih yang berada disetiap pintu gerbang kota disegala penjuru.

Berita tentang bunga telasih itu sampai juga ketelinga Sultan. Dalam keadaan yang semakin gawat, maka Sultan itu justru berkata, “Ternyata kasih Danang Sutawijaya kepadaku sebagai ayahnya masih tetap menyala dihatinya. Namun adalah sikap seorang pemimpin yang akan menjadi seorang pemimpin yang besar bahwa ia tidak mau datang menemuiku. Karena itu, maka sepantasnya, bahwa Panembahan Senapati akan menjadi pemimpin di tanah ini.”

Kesabaran para menantu Sultan benar-benar-hampir sampai kepuncak. Jantung mereka seakan-akan telah retak dan bahkan hampir meledak. Namun karena keadaan Sultan, maka mereka masih berusaha menahan diri.

Namun dalam pada itu, Pangeran Benawa, yang telah diangkat menjadi putera Mahkota, justru tidak banyak menaruh perhatian. Bahkan ia justru sependapat dengan ayahandanya, bahwa orang yang pantas untuk memimpin tanah ini setelah ayahandanya adalah Panembahan Senapati.

Sementara itu, Panembahan Senapati setelah meletakkan tumpukan-tumpukan bunga telasih disegala pintu kota, iapun telah berniat untuk kembali ke Prambanan dan tugasnya untuk sementara rasa-rasanya memang sudah selesai.

Demikian Panembahan Senapati meninggalkan Mayang, maka keadaan Sultan memang menjadi semakin gawat. Dadanya menjadi sesak, seakan-akan telah ditimpa oleh segumpal batu padas. Sehingga akhirnya, Kangjeng Sultanpun telah wafat.

Seluruh Pajang memang berkabung. Bahkan Matarampun ikut pula berkabung. Panembahan Senapati yang telah kembali ke perkemahan, telah memerintahkan sekelompok prajurit Mataram untuk membagi sisa perbekalan orang-orang Pajang dan Mataram kepada orang-orang padukuhan yang masih ada di padukuhan mereka disekitar Prambanan.

“Tidak boleh berebut. Masing-masing harus menerima sesuai dengan yang diberikan,“ perintah para pemimpin prajurit yang bertugas.

Hanya sisa peralatan dan senjata sajalah, baik dari Pajang maupun Mataram telah dibawa dengan beberapa buah pedati kembali ke Mataram.

Sepeninggal Kangjeng Sultan, maka memang timbul persoalan di Pajang. Tetapi para pemimpin Pajang tidak tergesa-gesa mengambil sikap. Mereka justru berusaha untuk menenangkan suasana.

Namun Adipati Tuban masih juga tetap mendendam kepada Mataram. Bahkan seakan-akan Adipati Tuban masih menunggu kesempatan untuk menghancurkan Mataram dengan pasukannya sendiri yang dipersiapkannya dari Tuban.

Namun sepeninggal Kangjeng Sultan, maka Pangeran Benawalah yang selalu menjadi penghambat. Setiap kali Pangeran Benawa mengingatkan perintah ayahanda Kangjeng Sultan, bahwa mereka harus berhubungan dengan Mataram dengan cara yang baik.

“Bagaimana mungkin dapat bersiap baik terhadap Mataram,“ geram Adipati Tuban.

Sementara itu, Pajang masih tetap bersiaga dengan susunan prajuritnya yang utuh. Barata dan Kasadha masih tetap dalam kesatuannya, dibawah pimpinan Ki Lurah Penatus Dipayuda. Namun setiap prajurit Pajang, apalagi mereka yang termasuk orang-orang baru harus melihat hari-hari depan yang penuh dengan teka-teki.

Tidak seorangpun yang dapat meramalkan kedudukan para prajurit Pajang, dalam hubungannya dengan kemungkinan-kemungkinan mendatang.

Namun dalam pada itu, hubungan Kasadha serta Barata dengan Ki Lurah Dipayuda menjadi semakin baik.

Kedua orang anak yang memiliki kemiripan itu seakan-akan telah diakui sebagai anaknya sendiri. Bahkan kadang-kadang Ki Lurah menyebut Kasadha sebagai kakak Barata.

Adapun untuk sementara tugas merekapun tidak berpindah. Ki Lurah Dipayuda masih tetap berada dalam kesatuan pasukan pengawal, sehingga mereka telah ditempatkan di sebuah barak yang tidak jauh dari istana.

Namun setiap kali Ki Lurah Dipayuda duduk bersama Kasadha dan Barata, selalu saja timbul pertanyaan, “Tidak ada lagi Raja di Pajang. Siapa yang harus kita kawal?”

Tetapi Ki Lurah Dipayuda masih saja memberikan jawaban, “Siapapun yang memimpin pemerintahan di Pajang.”

Meskipun demikian, perasaan kedua anak muda itu sudah berbeda. Tidak lagi sebagaimana saat-saat mereka memasuki dunia keprajuritan. Saat mereka diterima setelah dilakukan pendadaran, apalagi ketika keduanya telah dipilih menjadi pemimpin kelompok, rasa-rasanya mereka benar-benar terpanggil untuk melakukan satu pengabdian.

Namun setelah terjadi perang antara Pajang dan Mataram, maka rasa-rasanya semuanya menjadi hambar.

Tetapi Kasadha dan Barata telah tertarik pada satu berita yang didengarnya dari antara para pemimpin Demak dan Pajang sendiri, bahwa akan segera ditentukan, siapakah yang akan menggantikan kedudukan Kangjeng Sultan Pajang.

“Kenapa harus demikian?“ bertanya Barata kepada Ki Lurah Dipayuda ketika mereka berkesempatan berbincang-bincang di saat-saat mereka tidak bertugas. “ Bukankah di Pajang sudah ada Pangeran Pati.”

“Ya,“ sahut Kasadha, “tidak ada orang yang lebih pantas untuk menduduki jabatan itu daripada Pangeran Benawa. Selain Pangeran Benawa memang sudah diangkat menjadi Pangeran Pati oleh Kangjeng Sultan semasa hidupnya, agaknya hanya Pangeran Benawalah yang bersikap paling lunak terhadap Mataram.”

“Ya,“ Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk, “meskipun kita adalah prajurit, tetapi rasa-rasanya kitapun mengalami kejemuan untuk selalu berperang. Kalian belum lama berada dilingkungan keprajuritan. Tetapi aku, yang lebih dari sepuluh tahun mengabdi pada Pajang, rasa-rasanya ingin melihat satu bentuk kehidupan yang lebih tenang dan damai. Sejak perang antara Pajang dan Jipang, kemudian usaha menundukkan beberapa Kadipatan di Timur, Pajang baru sempat beristirahat beberapa saat lamanya. Ternyata telah timbul persoalan dengan Mataram.”

Barata dan Kasadha yang memang baru memasuki kesatuan keprajuritan dekat menjelang perang antara Pajang dan Mataram hanya dapat mengangguk-angguk.

Namun ternyata yang mereka dengar itu bukan sekedar berita yang sekedar meloncat dari mulut ke mulut. Seorang Ulama yang berpengaruh akan datang ke Pajang untuk memimpin pertemuan memilih seorang pengganti Sultan Hadiwijaya.

Demikianlah pada saat yang sudah ditentukan, maka di Pajang memang telah diselenggarakan sebuah pertemuan antara para putera dan menantu Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Dalam pertemuan itu bahkan Panembahan Senapati telah dipanggil pula untuk ikut menyaksikannya.

Dalam kesempatan itu, maka disekitar istana, para pengawal telah bersiap untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi. Apalagi para prajurit Tuban dan Demak, sebagian masih berada di Pajang.

Namun pengaruh Ulama yang memimpin pertemuan itu memang sangat besar, sehingga pertemuan itu sendiri dapat berlangsung sampai selesai, meskipun tidak memberikan kepuasan kepada semua pihak. Ada pihak yang merasa dikesampingkan sehingga menumbuhkan luka di hati.

Ketika diambil keputusan bahwa yang menggantikan kedudukan Kangjeng Sultan Hadiwijaya adalah Adipati Demak, maka Panembahan Senapati hampir saja menyatakan penolakannya. Tetapi Ki Juru Martani yang bergelar Patih Mandaraka, yang menyertainya sempat menggamitnya dan berbisik agar Panembahan Senapati tidak mencampuri persoalan keluarga di Demak.

Panembahan Senapati tidak sempat membantah. Tetapi ia memang diam dan mengurungkan niatnya untuk mengingkari keputusan itu.

Sementara itu Pangeran Benawa yang sebelumnya telah diangkat menjadi Pangeran Pati, hanya ditentukan menjabat kedudukan Adipati di Jipang.

Ketika pertemuan itu kemudian selesai, dan Panembahan Senapati kembali ke Mataram, ia sempat bertanya kepada Ki Patih Mandaraka, “Bukankah yang berhak menduduki jabatan yang ditinggalkan oleh ayahanda adalah Adimas Pangeran Benawa?”

“Ya Panembahan,“ jawab Ki Patih Mandaraka, “tetapi kita lebih baik menunggu sikap para putera dan menantu Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Seandainya Panembahan menolak, tetapi putera dan menantu Kangjeng Sultan itu menerima, maka persoalannya akan berbeda.”

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi bagi Mataram, yang terbaik diantara mereka yang berebut kedudukan itu adalah Adimas Pangeran Benawa.”

Namun seperti yang dinasehatkan oleh Ki Patih Mandaraka, maka Panembahan Senapati tidak menunjukkan sikap apapun. Panembahan Senapati telah menempatkan dirinya diluar persoalan keluarga Pajang.

Tetapi satu hal yang tetap terpancang di angan-angan Panembahan Senapati, bahwa Mataran harus menjadi besar sebagaimana pernah di katakannya di paseban Pajang. Bahkan lebih besar dari Pajang.

Ternyata ditetapkannya Adipati Demak menjadi pengganti Sultan di Pajang sama sekali tidak memadamkan kemelut yang terjadi. Apalagi Adipati Demak telah melakukan langkah-langkah yang menyakiti hati orang-orang Pajang. Hampir semua kedudukan di Pajang telah diambil alih oleh orang-orang yang didatangkan dari Demak.

Demikian pula pasukan pengawal. Kangjeng Adipati Demak yang kemudian berada di Pajang, telah mengganti pasukan pengawal dengan pasukan yang didatangkannya dari Demak. Sehingga dengan demikian maka Ki Lurah Dipayudapun telah tergeser pula bersama seluruh pasukannya yang seratus orang jumlahnya.

Baraknyapun kemudian telah dipindahkan agak jauh dari istana. Bahkan rasa-rasanya prajurit Pajang justru telah dicurigai oleh para pemimpin dari Demak.

Sementara itu hubungan antara Pajang dan Tuban berjalan dengan baik. Adipati Tuban yang masih saja mendendam Panembahan Senapati telah mendorong Pajang untuk memperkuat kedudukannya. Justru untuk menghadapi Mataram.

Panembahan Senapati memang merasa sikap permusuhan dari Adipati Demak yang berkedudukan di Pajang itu. Karena itu, maka Matarampun selalu bersiaga untuk menghadapi kemungkinan buruk yang dapat timbul kemudian.

Di barak prajurit Pajang yang merasa tersisih, Ki Lurah Dipayuda yang telah mengabdi lebih dari sepuluh tahun, rasa-rasanya telah menyelesaikan tugasnya dengan sewajarnya. Karena itu, maka ketika ia sempat berbincang dengan Kasadha dan Barata, maka katanya, “Anak-anakku. Aku sama sekali tidak ingin mempengaruhi sikap kalian. Tetapi rasa-rasanya aku sudah menjadi sangat letih, sehingga aku merasa bahwa sebaiknya aku mengundurkan diri saja dari tugas keprajuritan ini.”

Kedua anak muda itu memang sudah menduga, bahwa pada suatu hari mereka akan mendengar pernyataan itu. Namun keduanya tidak mengira bahwa hal itu akan terlalu cepat terjadi, sehingga keduanya belum bersiap menentukan sikap.

Kasadha dan Batara adalah dua orang yang sama-sama tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Sikap Ki Lurah Dipayuda yang kebapaan itu benar-benar telah menyentuh hati mereka, sehingga bukan saja Ki Lurah yang menganggap keduanya sebagai anak-anaknya. Tetapi baik Barata maupun Kasadha merasa bahwa mereka seakan-akan telah menemukan seorang ayah. Bagi Kasadha, sikap Ki Lurah Dipayuda memang sangat berbeda dengan sikap Ki Rangga Gupita. Meskipun Ki Lurah Dipayuda juga seorang prajurit yang dapat bertindak tegas dan keras, namun tindakannya tidak didorong oleh perasaan benci dan bahkan seakan-akan mendendam.

Dalam beberapa hal, Kasadha menganggap bahwa Ki Lurah Dipayuda memiliki kemiripan dengan gurunya. Bahkan tiba-tiba saja Kasadha merasa bahwa ia sudah terlalu lama tidak bertemu dengan gurunya itu.

Namun Kasadha merasa bahwa ia sama sekali tidak ingin mengulangi cara hidupnya yang tidak menentu, Ia tidak ingin hidup seperti ayah dan ibunya yang selalu dibayangi oleh permusuhan tanpa ada batasnya. Bahkan kadang-kadang mereka harus bersembunyi dan hidup tidak sewajarnya. Dunia keprajuritan sebenarnya akan dapat menjadi tempat untuk menyingkir dari tata kehidupan yang tidak wajar itu. Apalagi Kasadha menyadari, meskipun tidak terlalu jelas dan pasti, bahwa ia telah dibentuk menjadi seorang yang harus membalas dendam sakit hati ibu dan ayahnya yang bukan ayahnya yang sebenarnya itu.

Tetapi tiba-tiba seorang yang baik dilingkungan keprajuritan itu tiba-tiba saja ingin mengundurkan dirinya.

Karena itu, hampir diluar sadarnya Kasadha berkata, “Ki Lurah. Jika Ki Lurah telah sepuluh tahun menjadi prajurit, kenapa Ki Lurah tidak merasa bahwa dunia keprajuritan ini adalah dunia yang paling baik bagi Ki Lurah?”

“Aku kira memang demikian Kasadha,“ jawab Ki Lurah, “jika aku meninggalkan kesatuan ini, maka aku akan kembali lagi ke padukuhan. Aku akan turun lagi ke sawah bergulat dengan lumpur. Tetapi aku setiap hari harus bertanya kepada diriku sendiri, kepada siapa lagi aku sebenarnya mengabdikan diriku?”

“Bukankah kita tidak mengabdi kepada seseorang, Ki Lurah,“ bertanya Kasadha, “siapapun yang menjadi pimpinan kita, kita akan ikut serta menegakkan kewibawaan tanah ini.”

“Benar Kasadha,“ jawab Ki Lurah, “namun segala sesuatunya, sayangnya, akan ditentukan oleh seseorang yang kebetulan memegang pimpinan pemerintahan.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat membantah kebenaran kata-kata Ki Lurah itu. Balkan kemudian Ki Lurah itu berkata, “Banyak kebijaksanaan yang berubah. Pimpinan yang sekarang merasa perlu untuk menunjukkan kekuasaannya dengan mengadakan perubahan-perubahan meskipun sebenarnya tidak perlu.“

“Perubahan apa saja yang telah dibuat oleh Kangjeng Sultan yang sekarang?“ bertanya Barata.

“Rasa-rasanya kurang mapan untuk menyebutnya sebagai Sultan Pajang, justru karena hadirnya Mataram. Semisal nyala obor minyak, maka seakan-akan nyala Mataram nampak lebih terang dari Pajang yang sekarang,“ jawab Ki Lurah Dipayuda. Namun yang kemudian katanya, “Kebijaksaan tentang Tanah Perdikanpun telah dirubah. Tidak semua Tanah Perdikan yang telah mendapat kekancingan dari Pajang, bahkan Demak dapat diakui oleh Adipati Demak yang sekarang berkuasa diatas tahta Pajang.”

Jantung Barata menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa?”

“Itulah yang aku katakan, bahwa hal itu semata-mata terdorong oleh keinginan Kangjeng Adipati untuk mengadakan perubahan atas kuasa yang digenggamnya. Beberapa Tanah Perdikan tidak diakui lagi. Apalagi yang kebetulan terjadi persoalan didalam lingkungannya. Misalnya Tanah Perdikan Ngandong disebelah Utara Kali Pepe. Tanah Perdikan yang tidak begitu besar. Tanah Perdikan yang mendapat kekancingan dari Kangjeng Sultan Trenggana, karena dimasa mudanya, ketika Pangeran yang masih muda itu mengembara, seorang di Ngandong telah memberikan perlindungan kepadanya dihujan yang deras. Saat prahara menerjang dan gunturpun meledak-ledak dilangit. Pangeran itu kedinginan berteduh dibawah sebatang pohon randu alas. Namun tiba-tiba saja pohon randu alas itu terangkat oleh angin yang menggetarkan jantung dan roboh membujur diatas beberapa kotak sawah. Untunglah bahwa dengan sigap Pangeran Trenggana sempat meloncat menjauh, sehingga tidak tersentuh oleh batang, maupun akar-akar. Pada saat yang demikian, tiba-tiba saja lewat dengan tenaganya seorang tua yang kemudian mengajaknya berteduh dirumahnya yang ternyata tidak terlalu jauh. Ketika Pangeran Trenggana kemudian menjadi Sultan di Demak, maka ia tidak pernah melupakannya. Ngandong kemudian telah diberi kedudukan sebagai Tanah Perdikan dibawah pimpinan Ki Gede Ngandong, orang yang telah menolong Sultan Trenggana dimasa mudanya itu.”

Barata memperhatikan ceritera itu dengan saksama. Namun kemudian iapun bertanya, “Kenapa kekancingan tentang Tanah Perdikan itu kemudian tidak diakui atau malahan dicabut?”

Ki Lurah Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Menurut keterangan seorang kawanku yang berada dalam tugas yang bersangkutan dengan Tanah Perdikan, Ki Gede Ngandong yang pertama itu sudah lama meninggal. Ia tidak begitu lama memegang jabatannya, karena umurnya yang memang sudah tua. Kemudian anaknya telah menggantikannya. Anaknya itu beberapa saat yang lalu telah meninggal pula, juga karena sudah terlalu tua. Seharusnya anaknya, cucu Ki Gede Ngandong yang pertamalah yang menggantikan kedudukan yang kosong itu. Semua persiapan telah dilakukan. Namun tiba-tiba beberapa hari yang lalu, turun kekancingan yang mencabut hak atas Tanah Perdikan itu.”

“Itu tidak adil,“ berkata Barata.

“Ya. Memang terasa tidak adil. Kecuali jika ada kesalahan mutlak dari seorang pemimpin Tanah Perdikan. Misalnya, menentang kebijaksanaan Raja atau dengan sengaja menimbulkan persoalan di Tanah Perdikan itu sehingga dapat menurunkan wibawa Raja, apalagi terang-terangan memberontak,“ sahut Ki Lurah Dipayuda, “itupun masih perlu diambil jalan yang lebih baik jika mungkin. Misalnya, dipanggil untuk menghadap.”

Wajah Barata menjadi tegang. Apalagi ketika Ki Lurah itu berkata, “Nampaknya tidak hanya Tanah Perdikan kecil Ngandong yang telah mendapat perhatian khusus.”

“Apa ada Tanah Perdikan yang lain?“ bertanya Barata dengan cemas.

“Mungkin masih ada. Tanah Perdikan yang lebih besar,“ berkata Ki Lurah Dipayuda. Lalu katanya, “Sebenarnya memang mengherankan, bahwa dalam pemulihan tatanan pemerintahan para pemimpin di Pajang begitu cepat menyempatkan diri untuk mengurusi Tanah Perdikan yang tersebar. Hal itu tentu dilakukan oleh para pemimpin yang datang dari Demak. Dengan menata kembali kedudukan Tanah Perdikan, maka mereka mengharapkan untuk dapat mengambil keuntungan daripadanya. Para pemimpin Tanah Perdikan itu akan berusaha untuk mendapatkan kembali hak atas kekancingan yang pernah mereka terima sebelumnya. Dalam keadaan yang demikian, maka kemungkinan-kemungkinan buruk dapat timbul.”

“Kemungkinan buruk yang mana Ki Lurah,“ desak Barata.

“Suap, pemerasan dan cara-cara lain untuk mendapatkan keuntungan bagi para pemimpin yang berhak mengurusi Tanah Perdikan itu,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Jika demikian, apakah itu tidak berarti memperkuat kedudukan Mataram? Bagaimanapun juga di Tanah Perdikan itu tentu tersimpan kekuatan. Pada saatnya kekuatan itu akan dapat dipergunakan untuk melawan Pajang. Mungkin kekuatan itu sendiri tidak berarti. Tetapi jika dipergunakan tepat pada saatnya, maka akan dapat membahayakan Pajang juga yang seakan-akan sedang berhadapan dengan Mataram,“ berkata Barata.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja Ki Lurah itu bertanya, “Nampaknya kau sangat tertarik pada kedudukan Tanah Perdikan?”

Barata terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun tiba-tiba kepalanya menunduk sambil berkata, “Bukan tentang Tanah Perdikannya Ki Lurah. Tetapi tentang ketidak adilannya.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Sementara Kasadha berkata, “Jika demikian, maka Pajang tentu tidak akan segera menjadi tenang.”

“Ya. Apalagi jika kita mendengar tentang sikap Pangeran Benawa yang menginginkan Mataram berkuasa mutlak. Pajang tidak seharusnya berdiri sendiri terpisah dari Mataram. Tegasnya, Pajang berada dibawah perintah Mataram,“ berkata Ki Lurah Dipayuda, “sementara itu Pangeran Benawa yang memiliki ilmu tanpa batas sebagaimana Panembahan Senapati itu, tidak tinggal diam menghadapi keadaan. Jika sebelumnya Pangeran Benawa seakan-akan tidak mau tahu tentang pemerintahan karena perasaan kecewanya atas sikap ayahandanya Sultan Hadiwijaya, maka kini ia justru mempersiapkan pasukan di Jipang.”

“Apakah Pangeran Benawa akan menempuh Pajang dengan kekerasan?“ bertanya Kasadha.

“Itulah yang mencemaskan. Itu pulalah yang membuat hatiku selalu bimbang. Kepada siapa sebenarnya aku mengabdi? Apakah terjadi bahwa satu saat, sebagai prajurit Pajang aku harus bertempur melawan pasukan Pangeran Benawa yang datang dari Jipang?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda lebih banyak ditujukan kepada diri sendiri.

Barata dan Kasadha tidak menjawab. Namun berbagai masalah masih saja berkecamuk didalam kepala mereka.

Kasadha lebih banyak memikirkan kehadiran prajurit Demak yang semakin lama semakin banyak di Pajang, dan bahkan seakan-akan mereka tidak menghiraukan lagi prajurit Pajang yang jumlahnya memang selalu susut. Ketidak puasan, kecewa dan perasaan sebagaimana timbul didada Ki Lurah Dipayuda, telah mendorong mereka meninggalkan dunia keprajuritan. Sementara itu para pemimpin yang datang dari Demak justru mendorong suasana yang demikian itu. Nampaknya semakin banyak prajurit Pajang mengundurkan diri, mereka menjadi semakin senang.

Justru karena itu, maka Kasadha telah menjadi bimbang. Apakah yang sebaiknya dilakukannya.

Sementara itu Baratapun menjadi gelisah. Bukan karena semakin banyaknya pengaruh Demak yang menyusup kedalam pemerintahan dan keprajuritan Pajang. Tetapi tentang kebijaksanaan pemerintahan Adipati Demak yang menyangkut masalah Tanah Perdikan. Jika Tanah Perdikan Ngandong sudah dibekukan, serta beberapa Tanah Perdikan yang lain, maka Tanah Perdikan Sembojanpun tentu akan mendapat gilirannya. Apalagi pada saat itu Tanah Perdikan Sembojan sedang kosong. Tidak ada seorang pimpinan Tanah Perdikan. Yang ada hanya Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan. Apalagi apabila ada laporan tentang perebutan pimpinan antara kedua isteri ayahnya. Iswari, ibunya dengan Warsi, ibu seorang anak muda yang bernama Puguh, yang hampir sebaya dengan dirinya, namun karena ia lahir kemudian, maka Puguh itu lebih muda kira-kira setahun atau lebih sedikit.

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja Barata merasa rindu kepada kampung halamannya. Kepada tempat kelahirannya. Ia merasa sudah terlalu lama meninggalkannya. Bahkan hampir sejak ia meningkat dewasa, karena ia berada di padepokannya. Rasa-rasanya ia jarang sekali berada di Tanah Perdikan itu. Jika tiba-tiba saja kekuatan yang datang dari Demak itu merenggutnya, maka ia akan kehilangan sebelum dalam ujud wadag memilikinya.

Karena itu, maka tiba-tiba saja dadanya telah bergejolak. Ada dorongan yang sulit dibendungnya pulang ke kampung halamannya. Tetapi ia tidak dapat melakukannya dengan serta merta. Ketika ia menyatakan diri untuk menjadi seorang prajurit, maka ia tidak mengatakan bahwa dirinya berasal dari Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi ia adalah seorang anak padepokan yang terletak di Kademangan Blibis.

Dengan demikian maka Barata itu tidak dapat dengan serta merta mengatakan keinginannya untuk melihat Tanah Perdikannya, Semboyan. Betapapun ia didesak oleh keinginan itu.

“Ah, sudahlah,“ berkata Ki Lurah, “biarlah kita menunggu perkembangan keadaan. Kita tidak tahu pasti apa yang akan berkembang lagi di Pajang ini.”

“Apakah Ki Lurah akan secepatnya meninggalkan dunia keprajuritan?“ bertanya Kasadha.

“Tidak tergesa-gesa. Tetapi juga tidak akan terlalu lama lagi,“ jawab Ki Lurah Dipayuda, “biarlah para Senapati dari Demak segera dapat mengetrapkan berbagai macam paugeran sesuai dengan keinginan mereka. Kemudian membentuk kekuatan keprajuritan yang lain dari yang pernah ada di Pajang.”

“Bagaimana sebaiknya dengan yang muda-muda seperti kami berdua?“ tiba-tiba saja Kasadha bertanya.

Ki Lurah Dipayuda ternyata juga tidak bersiap untuk menerima pertanyaan seperti itu. Karena itu, maka iapun kemudian justru tersenyum sambil menjawab. “Aku harus berpikir lebih dahulu untuk dapat menjawab pertanyaanmu.”

Kasadha hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mendesaknya.

Ki Lurahpun kemudian minta diri untuk satu tugas yang harus dilakukannya. Sementara itu Kasadha dan Barata masih saja berbicara tentang berbagai macam kemungkinan. Namun kedua orang anak muda itu menjadi sangat berhati-hati. Mereka masing-masing meyimpan rahasia tentang dirinya sendiri. Sehingga dengan demikian maka rahasia itu tidak boleh terloncat dari mulutnya.

Namun baik Kasadha, maupun Barata merasa bahwa dunia keprajuritan memang tidak menarik lagi bagi mereka justru karena Demak terlalu ingin berkuasa di Pajang.

Tetapi yang lebih gelisah adalah Barata. Bagi Kasadha, meskipun dunia keprajuritan menjadi serasa hambar, namun baginya masih lebih baik untuk hidup di dunia yang hambar itu daripada harus kembali kepada ibunya dan apalagi orang yang mengaku ayahnya itu.

“Biarlah aku dianggap anak hilang. Ayah dan ibu telah mendapatkan gantinya. Adikku laki-laki itu tentu akan dapat memenuhi keinginan ibu dan orang yang mengaku ayahku itu. Meskipun keadaannya akan dapat menjerumuskannya dalam satu kehidupan yang tidak sewajarnya sebagaimana kehidupan kedua orang tuanya,“ berkata Kasadha didalam hatinya.

Didalam dunia keprajuritan, apalagi setelah mereka berada kembali di Pajang, maka Kasadha semakin banyak melihat kehidupan sebuah keluarga yang mapan. Disaat-saat ia sempat berjalan-jalan, maka dari lubang pintu gerbang yang terbuka, kadang-kadang Kasadha sempat melihat kehidupan sebuah keluarga yang manis. Keluarga kecil yang mengisi waktu luangnya dengan bermain-main dibawah pohon sawo yang rimbun. Sekali-sekali terdengar suara seorang ibu memanggil nama anaknya yang nakal yang berlari-lari dan terjun kedalam tempat pembuangan sampah.

Atau sekali-sekali Kasadha bertemu dengan seorang perempuan tua yang berjalan-jalan disore hari dengan anaknya yang sudah menjelang dewasa. Mungkin memang untuk satu keperluan. Tetapi hubungan antara anak dan ibu yang demikianlah yang belum pernah dirasakannya. Apalagi dengan ayahnya. Setiap kali ia bertemu dengan ibu dan orang yang mengaku ayahnya yang didengarnya tidak lebih dari makian kasar dan umpatan yang menyakitkan hati.

Dihari-hari terakhir, maka semakin banyak para prajurit Pajang yang menarik diri dan kembali ke kampung halamannya. Sementara itu, maka semakin banyak pula prajurit Demak yang berada di Pajang.

Ternyata beberapa hari kemudian Kasadha dan Barata terkejut ketika mereka ditemui oleh Ki Lurah yang berkata, “Aku telah mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri.”

“Begitu tiba-tiba Ki Lurah?“ bertanya Barata.

“Aku sudah tidak tahan lagi. Rasa-rasanya aku begitu gelisah ketika aku bertemu dengan beberapa orang kawan yang sudah berada diluar lingkungan keprajuritan,“ jawab Ki Lurah Dipayuda. Namun Ki Lurah itu masih berpesan, “Tetapi kalian jangan tergesa-gesa mengikuti jejakku. Kalian tentu tahu, apa yang mendorong aku untuk semakin cepat meninggalkan tempat ini. Aku yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengabdi, sama sekali tidak mendapat perhatian. Apalagi setelah para Senapati diganti dengan para perwira yang datang dari Demak. Maka hari depanku yang semakin pendek itupun menjadi semakin gelap.”

“Lalu apa yang akan Ki Lurah lakukan?“ bertanya Kasadha.

“Kembali ke sawah,“ jawab Ki Lurah. Namun katanya kemudian, “Tetapi pada hakekatnya akan sama saja. Di sawahpun kita dapat berbuat banyak. Apalagi dalam keadaan gawat dan apalagi keadaan perang, semua laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata juga akan dipanggil jika sangat diperlukan.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia bertanya apakah yang sebaiknya dilakukan sebagai seorang anak dari Kepala Tanah Perdikan yang telah meninggal. Untunglah ia segera menyadari bahwa pertanyaan itu tidak seharusnya diucapkannya.

Demikianlah, beberapa hari kemudian, Kasadha dan Barata bahkan seluruh pemimpin kelompok dan para prajurit yang tergabung dalam pasukannya telah kehilangan seorang Lurah Penatus yang baik, sabar, tetapi tegas dan keras pada saat-saat tertentu dengan sifat kebapaan yang jarang dimiliki oleh para pemimpin yang lain.

Ketika Ki Lurah Dipayuda mendapat kesempatan untuk minta diri kepada para prajuritnya, maka dua orang perwira Demak telah hadir pula didampingi oleh seorang lagi yang akan menggantikan kedudukan Ki Lurah. Juga seorang Lurah Penatus dari Demak. Dari susunan keprajuritan Pajang justru hanya hadir seorang perwira yang kurang penting, bahkan yang sebelumnya sama sekali tidak bersangkut paut dengan pasukan Ki Lurah Dipayuda.

Beberapa orang, terutama para pemimpin kelompok yang telah mengenal dengan sungguh-sungguh sifat Ki Lurah Dipayuda, benar-benar telah merasa kehilangan. Namun seorang perwira dari Demak mengatakan, bahwa prajurit itu tidak perlu merasa kehilangan.

“Setiap pergantian adalah wajar sekali terjadi dimanapun,“ berkata perwira Demak itu lebih lanjut, “Ki Lurah Dipayuda telah memilih satu tugas lain yang tidak kalah pentingnya dengan tugas keprajuritan. Ki Lurah Dipayuda akan kembali ke kampung halaman dan menggarap sawahnya yang menurut keterangannya tidak terlalu luas. Tetapi kerja di sawah bukannya berarti lebih buruk daripada menjadi seorang prajurit.”

Yang mendengarkan seseorang perwira Demak itu mengangguk-angguk. Ternyata menurut penilaian para prajurit, perwira itu juga bukan seorang yang keras, kasar dan tidak mau tahu pikiran dan pendapat orang lain. Perwira yang datang dari Demak itu juga mempunyai pandangan yang mendasar tentang tugas seorang prajurit yang kemudian telah diuraikannya pula. Katanya, “Kalian adalah sekelompok orang yang telah memilih satu dunia pengabdian bagi negeri ini serta segala isinya melebihi kepentingan bagi diri kalian sendiri. Sudah tentu itu merupakan satu kebanggaan bagi kalian sendiri, bagi keluarga kalian dan lebih dari itu bagi Pajang. Namun jika pada suatu saat, seseorang sesuai dengan perkembangan jiwanya serta mungkin wadagnya yang mulai lemah dan kurang sesuai lagi dengan jenis pengabdian yang berat ini, serta memilih lapangan pengabdian yang lain, maka kita tidak boleh merendahkannya. Kita akan tetap menghormatinya sebagaimana sikap kita kepada Ki Lurah Dipayuda.”

Suasana perpisahan itu memang mencengkam. Kata-kata perpisahan Ki Lurah Dipayuda sempat menyentuh hati para prajuritnya.

Dengan demikian maka sejak saat itu, sekelompok prajurit Pajang itu telah mendapat seorang Lurah Penatus yang baru. Yang ternyata adalah seorang yang berwatak sangat keras. Sikap orang itu telah mengaburkan sesorah perwira Demak yang memberikan beberapa petunjuk dan menunjukkan sikap yang luas dan terbuka terhadap kepergian Ki Lurah Dipayuda serta tugas para prajurit yang ditinggalkannya.

Ketika pimpinan yang baru itu mendapatkan kesempatan untuk berbicara dihadapan pasukannya dihari berikutnya, maka sudah mulai terbayang, perubahan-perubahan akan segera terjadi dipasukan itu.

“Aku ingin mengenal setiap orang dengan baik dalam pasukan ini,“ berkata Ki Lurah Yudoprakosa. “Mulai besok, setiap hari harus menghadap seorang demi seorang dari setiap kelompok berurutan. Aku akan menentukan pengelompokan baru atas pasukan ini. Seluruh pasukan yang seratus orang ini akan aku rubah menjadi sembilan kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang pemimpin kelompok. Dan setiap tiga kelompok akan dipimpin oleh seorang pemimpin kelompok besar. Dengan demikian maka akan ada tiga orang pemimpin kelompok besar dan sembilan orang pemimpin kelompok kecil. Dalam setiap kelompok kecil akan berisi sepuluh atau sebelas orang termasuk pemimpin kelompoknya. Dengan demikian akan ada teras pertanggungan jawab sehingga untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kecil, setiap pemimpin kelompok kecil tidak perlu harus berhubungan dengan aku langsung. Tetapi seorang pemimpin kelompok besar harus dapat mengatasinya.”

Memang ada beberapa pendapat dikalangan para prajurit. Yang jelas, bahwa diantara mereka akan terdapat beberapa jabatan pemimpin kelompok yang dapat diisi, karena tiga diantara mereka akan menjadi pemimpin kelompok besar, sehingga akan ada dua orang diantara mereka yang akan diangkat menjadi pemimpin kelompok kecil.

Dalam pada itu, maka Ki Lurah Yudoprakosa itu berkata selanjutnya, “Hal seperti ini akan berlangsung bagi seluruh kesatuan. Pola pimpinan ini disesuaikan dengan pola pimpinan prajurit Demak,“ Ki Lurah berhenti sebentar lalu, “Sebagaimana kalian ketahui, bahwa gaya keprajuritan Demak memang agak mirip dengan Pajang sebelumnya. Kita tidak mengangkat prajurit sebanyak-banyaknya. Prajurit kita jumlahnya tidak terlalu banyak. Tetapi jika terjadi perang, maka semua laki-laki akan menjadi prajurit. Namun agaknya ada beberapa hal yang perlu disesuaikan dalam susunan jenjang keprajuritan.”

Perubahan-perubahan yang ditawarkan itu memang memberikan kemungkinan-kemungkinan baru bagi para prajurit. Dengan demikian maka keinginan Kasadha dan Barata meninggalkan dunia keprajuritan telah ditangguhkannya. Mereka ingin tahu, apa yang akan terjadi kemudian. Apakah mereka akan mendapat kesempatan lebih baik atau justru sebaliknya. Hampir bersamaan mereka berkata didalam hati, “Jika kemungkinan itu menjadi lebih buruk, maka aku akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia keprajuritan.”

Sebenarnya yang lebih banyak berniat untuk minggir adalah Barata. Ia masih juga memikirkan tentang Tanah Perdikannya. Jika terjadi seperti Ngandong dan lain-lainnya, apakah ibunya akan tinggal diam. Tetapi jika itu keputusan Pajang, apakah Sembojan akan sanggup menentangnya?

Tetapi ternyata Barata juga bertahan untuk tetap tinggal dibaraknya untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Ki Lurah Yudoprakosa.

Mulai hari berikutnya, seperti yang sudah dikatakan oleh Ki Lurah, maka ia benar-benar memanggil setiap orang untuk menemuinya dalam bilik khusus. Seorang demi seorang, mulai dari kelompok satu berurutan kelompok dua, tiga dan seterusnya. Setiap hari Ki Lurah memanggil duapuluh orang dari dua kelompok.

Kepada orang-orang yang berada didalam kelompok itu, Ki Lurah juga bertanya, jika akan dipilih tiga orang pemimpin kelompok besar, siapakah yang terbaik untuk kedudukan itu.

Demikianlah, seorang demi seorang telah menghadap. Sebenarnya bahwa Ki Lurah Yudoprakosa adalah seorang yang keras dan kasar. Beberapa orang prajurit yang tidak menjawab dengan tegas pertanyaan-pertanyaannya, telah dibentak-bentaknya dengan kasar pula. Bahkan seorang diantara prajurit yang telah terbuang dan dimasukkan dalam kesatuan yang dipimpin oleh Ki Lurah Dipayuda yang berusaha menunjukkan keberaniannya menghadapi pimpinan yang bagaimanapun juga dan siapa-pun juga, telah dipukulnya hingga pingsan, sehingga beberapa orang harus mengangkatnya dari bilik khusus itu.

Namun setelah seorang diantara mereka dipukul sampai pingsan maka tidak seorang yang berani berbuat kurang wajar dan tidak bersungguh-sungguh. Mereka benar-benar harus mengikuti peugeran dan unggah-ungguh yang berlaku di dunia keprajuritan.

Dihari pertama dan kedua, Ki Lurah Yudoprakosa selalu mendengar nama Barata dan Kasadha disebut-sebut oleh para prajurit itu apabila Ki Lurah itu bertanya tentang kemungkinan menunjuk seorang pimpinan kelompok besar di kesatuan itu. Sementara yang diperlukan adalah tiga orang pemimpin.

“Siapakah yang ketiga,“ bentak Ki Lurah Yudoprakosa kepada seorang prajurit yang hanya menyebut dua orang.

Bahkan seperti juga yang lain-lain. Selalu dua orang saja. Prajurit itu menjadi bingung. Namun kemudian ia menjawab, “Pemimpin-pemimpin kelompok yang lain memiliki tataran kemampuan yang sama.”

“Jadi siapa?“ Ki Lurah berteriak.

Prajurit itu benar-benar bingung. Sehingga akhirnya ia menyebut saja pemimpin kelompoknya sendiri, “Rantam, Ki Lurah.”

“Pemimpin kelompokmu?“ desak Ki Lurah.

“Ya Ki Lurah,“ jawab prajurit itu.

“Ia sudah lebih dahulu menghadap aku. Tetapi ia tidak mengatakan bahwa orang ketiga adalah dirinya sendiri.”

Prajurit itu terbelalak. Hampir saja ia berteriak, bahwa sudah tentu hal itu tidak akan dikatakannya. Bahkan iapun mengatakan tentang pemimpin kelompoknya itu bukan karena satu keyakinan. Tetapi semata-mata karena ia terpaksa harus menyebut salah satu nama pemimpin kelompok.

Prajurit itu terkejut sekali. Bahkan matanya menjadi berkunang-kunang ketika sebuah tamparan yang keras telah mengenai pipinya.

“Kau berani membelalaki aku he?“ bentak Ki Lurah.

Prajurit itu menunduk. Katanya gagap, “Tidak, Ki Lurah. Tentu tidak.”

“Jadi apa yang kau lakukan?“ bertanya Ki Lurah.

“Aku terkejut sekali ketika Ki Lurah mengatakan bahwa Rantam tidak pernah menyebut dirinya sendiri. Aku menjadi bingung sekali, Ki Lurah,“ sahut prajurit itu jujur dan bahkan menjadi putus asa.

Ki Lurah mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia membentak, “Keluar. Cepat. Sebelum aku pukul kau hingga pingsan. Agaknya jenis prajurit Pajang yang seperti inilah yang membuat Pajang sama sekali tidak berdaya menghadapi Mataram.”

Prajurit itu memang dengan tergesa-gesa keluar. Tetapi ia masih juga bergeramang meskipun perlahan-lahan sekali, “Apa arti kekuatan Demak yang ada di Pajang saat perang itu terjadi? Apakah mereka menunjukkan kelebihan dari prajurit Pajang?”

Tetapi ia tidak berani menanyakan kepada Ki Lurah jika ia tidak ingin giginya rontok semuanya.

Demikianlah, seorang demi seorang telah dipanggil masuk. Semuanya menjadi basah kuyup oleh keringat dingin disaat mereka keluar. Ada saja alasan Ki Lurah untuk membentak-bentak para prajurit yang menjadi kebingungan itu. Bahkan memukul.

Pada hari yang ketiga, sampailah giliran pada kelompok yang dipimpin oleh Barata. Yang- mula-mula harus memasuki bilik Ki Lurah adalah pemimpin kelompoknya, Barata.

Demikian Barata memasuki ruangan, maka Ki Lurah itupun dengan serta merta berdiri dan mendorong Barata untuk duduk.

“Inikah pemimpin kelompok yang terkenal itu, yang bernama Barata,“ geram Ki Lurah.

Barata memang menjadi heran. Tetapi ia hanya menundukkan kepalanya saja. Dari orang-orang yang terdahulu ia sudah tahu sikap Ki Lurah Yudaprakosa yang garang dan bahkan kasar itu.

“Apa kelebihanmu sehingga semua orang selalu menyebut namamu dan nama pemimpin kelompok yang bernama Kasadha?“ bertanya Ki Lurah.

Barata memang menjadi bingung untuk menjawab. Tetapi ia sadar, bahwa ia harus menjawab. Jika tidak, maka ia tentu akan menjadi sasaran bentakan-bentakan kasar untuk seterusnya.

Karena itu, maka Baratapun telah menjawab, “Aku tidak tahu Ki Lurah, karena aku sendiri tidak pernah merasa mempunyai kelebihan apa-apa.“

“Ternyata kau memang sombong. Menurut penglihatanku, sampai saat ini kau adalah pemimpin kelompok yang termuda. Yang menurut kata beberapa orang, umurmu sebaya dengan Kasadha yang juga dikagumi,“ berkata Ki Lurah semakin keras.

“Tetapi sebenarnyalah Ki Lurah, aku tidak tahu, atas dasar apa mereka mengatakan demikian,“ jawab Barata.

“Tutup mulutmu,“ bentak Ki Lurah, “kau benar-benar seorang yang amat sangat sombong. Sekarang kau berusaha untuk disebut orang yang rendah hati, tidak mau menunjukkan kelebihan diri sendiri dan berbudi pekerti halus dan lembut. Begitu?”

Wajah Barata menjadi merah. Tetapi ia masih tetap menundukkan kepalanya.

Sementara itu Ki Lurah sekali lagi membentak, “Katakan, apa kelebihanmu.”

Jantung Barata memang serasa membengkak. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia menjawab, “Baiklah. Jika Ki Lurah memaksa aku untuk menjawab.“ Barata berhenti sejenak, lalu, “agaknya aku mempunyai sedikit kelebihan dari para prajurit, khususnya yang aku tahu adalah prajurit-prajurit dalam kelompokku. Aku adalah pemimpin mereka. Karena itu, maka aku harus memiliki sikap kepemimpinan lebih baik dari mereka.”

“Setan kau,“ geram Ki Lurah, “jika kau hanya memiliki kelebihan sifat kepemimpinan, apakah kau dapat memaksakan kepemimpinanmu itu kepada prajurit-prajuritmu. Bagaimana sikapmu jika mereka menentangmu dan barangkali justru melawanmu?”

“Seorang pemimpin yang baik akan dapat mengatasinya tanpa kelebihan kemampuan mempergunakan kekerasan. Adalah terlalu biasa, bahwa seorang yang memiliki kelebihan kekuatan atau kelebihan kemampuan olah kanuragan mampu memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Yang disebut pemimpin adalah, tanpa kekerasan, orang lain telah tunduk kepadanya. Jika orang lain itu tunduk, bukan karena merasa ketakutan. Tetapi justru karena merasa berkewajiban untuk berbuat demikian,“ berkata Barata.

Tetapi Barata yang muda itu terkejut. Ternyata Ki Lurah itupun telah memukulnya keras-keras di pipinya, sehingga diluar sadarnya Barata telah bangkit berdiri.

“Apa? Kau akan melawan? Kau kira kau memiliki kemampuan untuk melawan aku he?“ bentak Ki Lurah Yudaprakosa.

Barata ternyata menyadari keadaannya. Karena itu, maka iapun telah kembali duduk ditempatnya semula sambil menundukkan kepalanya. Tetapi berbeda dengan prajurit-prajurit yang lain, maka Barata tidak menjadi berkunang-kunang.

Sementara itu Ki Lurah itupun telah membentak-bentak, “Kau akan mengajari aku he? Kau kira dengan caramu menyindiri itu aku tidak akan mempergunakan kekerasan? Jika pimpinan prajurit bersikap sebagaimana kau katakan, maka negeri ini akan menjadi negeri sampah yang hanya pantas diinjak-injak orang,“ Ki Lurah itu berhenti sejenak. Nafasnya menjadi terengah-engah oleh kemarahan yang menyesak didadanya, “Jadi setiap orang menyebut namamu itu justru karena kau sama sekali tidak pernah bertindak tegas sebagaimana seorang prajurit. Karena itu, maka kau harus mengalami pendadaran. Meskipun aku tahu, bahwa disaat kau memasuki lapangan keprajuritan, kau sudah mengalami pendadaran itu. Tetapi sekarang, pendadaran itu harus diulangi. Setelah aku selesai berbicara dengan setiap orang dari pasukan ini, maka aku akan menentukan saat pendadaran.”

Barata tidak mengangkat wajahnya sama sekali. Ia menunduk sambil mendengarkan bentakan-bentakan yang menyakitkan hati. Ia memang merasa tidak akan dapat berbuat sesuatu. Namun terbersit dihati Barata, bahwa ia akan mempergunakan kesempatan disaat pendadaran. Bahkan ia tersenyum didalam hatinya ketika Ki Lurah itu berteriak, “Aku sendiri akan melakukan pendadaran khusus.”

Barata sama sekali tidak bergerak dan tidak menjawab, sehingga akhirnya Ki Lurah berteriak, “Pergi. Siapkan dirimu untuk menempuh pendadaran itu.”

Baratapun kemudian meninggalkan bilik itu. Namun ia masih sempat berpesan kepada prajurit-prajuritnya, agar mereka berhati-hati menghadapi Ki Lurah yang bersifat agak aneh.

“Apakah pada kesatuan-kesatuan lain juga mengalami hal seperti ini?“ bertanya salah seorang prajuritnya.

“Mungkin. Tetapi alasan yang paling utama pada kesatuan kita disini adalah karena Ki Lurah Dipayuda meletakkan jabatannya dan menarik diri dari lingkungan keprajuritan,“ jawab Barata.

Demikianlah seorang demi seorang telah mengalami kesulitan yang hampir sama. Bentakan-bentakan. Dan bahkan kadang-kadang pukulan-pukulan yang menyakitkan. Bukan saja pada tubuh mereka, tetapi juga hati mereka.

Ketika Ki Lurah Yudoprakosa, sampai kepada kelompok yang dipimpin oleh Kasadha, maka Ki Lurah telah menjumpai seorang anak muda yang memiliki banyak kemiripan dengan Barata. Bukan saja ujud lahiriahnya, tetapi juga sikapnya. Bahkan Kasadha nampak lebih keras dibanding dengan Barata.

Seperti Barata, maka Kasadhapun telah mendapatkan tamparan di keningnya. Tetapi juga seperti Barata, mata Kasadha tidak menjadi berkunang-kunang.

Dengan garangnya maka Ki Lurah itupun menggeram, “Kau juga harus melakukan pendadaran sekali lagi sebagaimana Barata. Kau harus menyadari, bahwa tikus-tikus semacam kau tidak berarti apa-apa dikalangan keprajuritan Pajang. Karena itu, kau harus menunjukkan apa yang dapat kau lakukan pada puncak kemampuanmu pada saatnya. Aku sendiri akan melakukan pendadaran itu. Jika kau pingsan atau bahkan mati dalam pendadaran, itu adalah akibat wajar dari sikap seorang prajurit.”

Demikian orang terakhir telah dipanggil masuk pada hari kelima, maka Ki Lurahpun telah memberikan perintah, agar dua hari lagi, Barata dan Kasadha bersiap untuk mengalami pendadaran.

Kedua anak muda itu sempat berbincang tentang sikap Ki Lurah Yudoprakosa itu. Kemungkinan yang dapat mereka lakukan selama mereka harus menjalani pendadaran.

“Memang tidak masuk akal,“ berkata Barata, “tetapi apaboleh buat.”

“Apakah menurut pendapatmu, kita akan menunjukkan kemampuan kita yang sebenarnya?“ bertanya Kasadha.

“Kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita sudah bersiap-siap untuk menerima hukuman. Dipecat dari kesatuan keprajuritan,“ berkata Barata.

“Bagaimana jika benar-benar Ki Lurah sendiri yang akan melakukan pendadaran itu?“ bertanya Kasadha.

“Tentu bukan. Ki Lurah tentu hanya mengancam. Tetapi mungkin Ki Lurah justru akan memilih orang yang memang benar-benar memiliki kelebihan,“ jawab Barata, “memang mungkin Ki Lurah telah memerintahkan orang itu untuk mematahkan lengan kita atau membuat cacat yang lain. Tetapi apaboleh buat. Apaboleh buat. Apapun yang terjadi, kita tidak ingin direndahkan seperti seekor cacing.”

“Bagus,“ jawab Kasadha, “jika kau sudah bertekad begitu, maka akupun akan melakukan hal yang sama. Bahkan matipun tidak lagi menjadi persoalan bagiku. Sebagai seorang prajurit mati dalam tugas adalah wajar sekali. Meskipun tugas itu tidak masuk akal.”

Demikianlah Barata dan Kasadha benar-benar sudah berniat untuk berbuat sebaik-baiknya sebagai seorang prajurit. Mereka tidak akan peduli lagi, siapapun yang akan melakukan pendadaran. Bahkan Ki Lurah Yudaprakosa sekalipun.

Sehari sebelum pendadaran dimulai, ketika senja turun menyelimuti kota Pajang, maka seseorang telah memasuki barak kesatuan pasukan Barata dan Kasadha. Yang bertugas di regol melihat orang itu, namun ketika orang itu berdesis, maka orang yang bertugas itu telah mengangguk-angguk kecil.

“Silahkan, silahkan,“ desis prajurit yang bertugas.

Orang itu telah menyelinap kedalam barak dan tanpa mengalami kesulitan orang itupun segera bertemu Barata dan Kasadha yang dipanggil oleh para prajurit.

“Ki Lurah Dipayuda,“ desis Barata dan Kasadha lampir berbareng.

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Aku telah mendengar berita buruk itu. Kalian akan mengalami pendadaran besok pagi?”

“Ya Ki Lurah,“ jawab Barata dan Kasadha hampir berbareng. Kemudian Barata berkata selanjutnya, “Ki Lurah Yudaprakosa sendiri yang akan melakukan pendadaran itu.”

Ki Lurah Dipayuda tersenyum. Katanya, “Bukan. Bukan Ki Lurah Yudaprakosa sendiri. Tetapi Ki Lurah sudah memanggil dua orang raksasa yang akan melakukan pendadaran atas kalian. Seseorang telah datang kepadaku dan menyatakan, bahwa dua orang prajurit akan mengalami kesulitan jika harus melawan dua orang raksasa itu. Aku langsung menduga, bahwa tentu Kasadha dan Barata.”

Barata dan Kasadha termangu-mangu. Namun Ki Lurahpun berkata. “Tetapi jangan cemas. Letak kelebihan kedua orang itu hanya pada kekuatannya yang sangat besar. Tetapi keduanya adalah orang-orang yang tidak berotak. Karena itu, kalian justru harus menjadi tenang menghadapinya. Kalian harus menunjukkan tataran kemampuan prajurit Pajang yang sebenarnya, meskipun kami tahu, bahwa tingkat kemampuan kalian ada diatas kemampuan rata-rata prajurit Pajang.”

Barata menarik nafas dalam-dalam, sementara Kasadha berkata, “Kami mohon restu Ki Lurah.”

“Kalian harus berusaha mengguncang keseimbangannya. Kalian sebaiknya berusaha untuk menyerang bagian belakang kepalanya diatas tengkuknya. Jangan mencoba membentur dahinya. Dahinya telah menjadi sekeras batu. Tetapi akupun tahu, bahwa kalian membawa bekal yang sangat besar dari perguruan kalian,“ berkata Ki Lurah.

Barata dan Kasadha mengangguk-angguk kecil, sementara Ki Lurah berkata selanjutnya, “Yakinkah dirimu, bahwa kalian akan berhasil dalam pendadaran yang tidak sewajarnya itu. Karena sebenarnyalah cara itu dilakukan oleh orang-orang Demak untuk menghukum seseorang dengan cara yang licik, tanpa menunggu keputusan hukuman yang akan dijatuhkan sesuai dengan kesalahannya. Bahkan pendadaran itu dapat dilakukan atas orang yang tidak bersalah sekalipun sebagaimana kalian.”

Ketika malam menjadi semakin gelap dan Ki Lurah Dipayuda minta diri, maka Barata dan Kasadha telah mengucapkan terma kasih atas kunjungan Ki Lurah yang telah memberikan banyak petunjuk itu. Bahkan telah membuat kedua orang anak muda itu yakin bahwa mereka akan dapat mengatasi dua orang yang disebut raksasa dari Demak itu.

Dengan demikian, maka Barata dan Kasadha yang telah mendapatkan ketenangan itu justru dapat tidur dengan nyenyak. Ditengah malam ketika mereka terbangun sejenak, mereka sempat menyerahkan segala-galanya kepada Yang Agung. Dalam keheningan malam, rasa-rasanya mereka menjadi semakin pasrah atas apa yang akan terjadi di keesokan harinya.

Di pagi hari, ketika mereka telah mandi dan berbenah diri, maka keduanyapun telah dipanggil oleh Ki Lurah Yudoprakosa. Demikian mereka masuk kedalam biliknya, maka keduanya terkejut melihat dua orang yang bertubuh tinggi besar,berkumis melintang dan berjambang lebat, duduk didalam ruangan itu.

Barata dan Kasadha langsung mengenali keduanya sebagai raksasa yang dikatakan oleh Ki Lurah Dipayuda.

Kedua orang itu memang mempunyai ukuran yang berbeda dengan orang kebanyakan. Hampir dua kali lipat. Sehingga dengan demikian, maka baik Barata maupun Kasadha segera dapat menduga bahwa keduanya memiliki kekuatan yang besarnya tentu hampir dua kali lipat pula dari kekuatannya.

Kedua orang anak muda itupun menjadi berdebar-debar pula, jika saja kedua orang itu memiliki kemampuan ilmu untuk membangkitkan tenaga cadangannya. Jika demikian, maka keduanya benar-benar memiliki kekuatan seekor gajah.

Namun kedua orang anak muda itu sudah bertekad untuk tidak menyerah.

“Duduk,“ perintah Ki Lurah dengan nada rendah. Barata dan Kasadhapun telah duduk pula disebelah kedua orang raksasa itu.

“Sebenarnya aku ingin melakukan pendadaran itu sendiri,“ berkata Ki Lurah Yudoprakosa, “tetapi agaknya kalian terlalu kecil untuk mengalami pendadaran dari seorang Lurah Penatus. Karena itu, maka aku telah memanggil dua orang yang memang mempunyai tugas untuk melakukan pendadaran.”

Barata dan Kasadha hanya menundukkan kepalanya saja. Mereka sama sekali tidak menjawab.

Sementara itu Ki Lurahpun berkata pula, “Nah, kita akan segera bersiap. Mumpung hari masih pagi. Kita lakukan pendadaran di halaman barak ini secara tertutup. Tidak boleh seorangpun yang berasal dari luar barak ini menyaksikannya. Jika terjadi, seorang prajurit tidak mempunyai nilai seorang prajurit, maka kelemahan ini tidak akan dapat dilihat oleh orang luar.”

Barata dan Kasadha pun menyadari,bahwa yang dikatakan Ki Lurah Dipayuda itu memang benar. Yang dilakukan oleh Ki Lurah Yudaprakosa tidak lebih dan tidak kurang dari pelaksanaan hukuman dengan cara yang lain tanpa menghiraukan kesalahan yang pernah dilakukan.

Tetapi Barata dan Kasadha benar-benar telah bersiap untuk melakukannya.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka orang-orang yang akan mengalami pendadaran untuk kedua kalinya itu telah dibawa ke halaman depan. Sementara regol halamanpun telah ditutup rapat.

Seorang petugas telah membentang gawar dadung melingkar di halaman yang akan menjadi arena pendadaran. Arena yang dibuat cukup luas, karena kedua orang itu akan mengalami pendadaran bersama-sama.

Ki Lurah Yudoprakosa telah memerintahkan semua orang prajurit untuk menyaksikan pendadaran itu. Tidak boleh ada yang terkecuali.

Para prajurit yang telah menyaksikan dua orang raksasa itu, telah menjadi berdebar-debar. Mereka melihat Barata dan Kasadha kemudian seperti anak-anak yang akan dimasukkan kedalam kandang seekor orang hutan raksasa yang tentu akan dengan mudah mematahkan tulang-tulangnya.

Namun disamping orang-orang yang menjadi cemas, ternyata ada juga yang bersukur atas pendadaran itu. Katanya didalam hati, “Satu saat kesombongan anak-anak itu ternyata akan dihentikan.”

Beberapa saat kemudian, maka arena pun telah siap. Semua orang telah berkumpul di halaman dan memutari lingkaran. Ki Lurah Yudoprakosapun telah siap untuk memberikan aba-aba pada pendadaran yang langsung berada dibawah pengawasannya itu.

Tetapi tiba-tiba saja suasanapun menjadi terganggu ketika pintu gerbang yang di selarak dari dalam itu telah diketuk keras-keras dari luar.

“Setan,“ geram Ki Lurah, “apakah penjaga itu tidur? Mereka harus menolak siapapun yang akan memasuki halaman barak ini.”

Para petugas yang ada dibagian dalam regol itupun kemudian telah berteriak, “Hari ini barak ini tidak menerima tamu siapapun juga.”

Tetapi terdengar jawaban diluar regol, “Buka Pintu. Ki Tumenggung Suraprana dan Ki Tumenggung Wiradigda telah datang bersama beberapa orang pengiring.”

Nama itu telah diulang oleh petugas yang ada didalam regol setelah berlari-lari mendekati Ki Lurah.

Ki Lurah terkejut bukan kepalang. Ki Tumenggung Suraprana dari Pajang dan Ki Tumenggung Wiradigda dari Demak. Untuk sesaat Ki Lurah kebingungan. Namun regol halaman itu telah diketuk semakin keras. Bahkan dengan kekuatan ilmunya Ki Tumenggung Wiradigda dari Demak telah berkata lantang, sehingga suaranya bagaikan bergulung-gulung melibat seisi barak, “Bukakan pintu atau aku pecahkan pintu regol ini dengan kekuatan ilmuku.”

Ki Lurah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi ia masih memberikan perintah, “Buka gawar arena itu.”

Namun diluar dugaan, bahwa dengan kemampuan ilmu Sapta Pangrungu, Ki Tumenggung Wiradigda dari Demak itu dapat mendengar perintah Ki Lurah. Karena itu, maka terdengar suaranya yang bagaikan mengumandang di semua telinga, “Jangan. Aku datang justru karena aku ingin melihat pendadaran ulang bagi dua orang prajurit muda dari Pajang.”

Ki Lurah Yudoprakosa sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Karena itu, maka diperintahkannya membuka selarak pintu gerbang barak itu dan mempersilahkan beberapa orang berkuda memasuki halaman.

Sebenarnyalah yang berkuda dipaling depan adalah Ki Tumenggung Suraprana dari Pajang dan Ki Tumenggung Wiradigda. Kemudian beberapa orang pengiring yang terdiri dari para perwira dari Pajang dan dari Demak.

Ki Lurah Yudaprakosapun kemudian mengangguk hormat, sementara hatinya menjadi berdebar-debar.

“Jadi benar hari ini akan ada pendadaran?“ bertanya Ki Tumenggung Wiradigda.

“Ya Ki Tumenggung,“ jawab Ki Lurah dengan nada dalam.

“Apakah kau menerima prajurit baru?“ bertanya Ki Tumenggung pula.

“Tidak Ki Tumenggung,“ jawab Ki Lurah.

“Jadi? Apa yang akan kau lakukan?“ desak Ki Tumenggung.

Ki Lurah memang menjadi agak kebingungan. Ia tidak mengira sama sekali bahwa berita tentang pendadaran itu akan sampai ketelinga para perwira tinggi Pajang maupun Demak. Tetapi kini keduanya telah berada di halaman barak pasukannya.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Wiradigda, seorang Tumenggung dari Demak telah berkata-kepada Ki Lurah Yudaprakosa, “Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Sejak semula kau sudah tidak melaporkannya. Karena itu, maka kau sekarang juga tidak perlu memberikan laporan apa yang akan kau lakukan. Kami hanya sekedar ingin menjadi saksi dari apa yang akan terjadi disini.”

Ki Lurah menjadi semakin bingung. Namun tiba-tiba Ki Tumenggung itu membentak, “Cepat lakukan. Perintahkan menutup regol itu kembali.”

Ki Lurah yang kebingungan itu melakukan apa saja yang diperintahkan. Iapun telah memerintahkan untuk menutup pintu regol itu dan kemudian betapapun jantungnya berdebar, namun pendadaran itu akan benar-benar dilakukan.

Kasadha dan Barata sama sekali tidak menduga, bahwa akan hadir para pemimpin keprajuritan yang tidak mendapat laporan itu. Tetapi keduanya mengira, bahwa mungkin Ki Lurah Dipayudalah yang telah memberikan laporan kepada Ki Tumenggung Suraprana dan kemudian Ki Tumenggung Suraprana telah mengajak Ki Tumenggung Wiradigda untuk menjadi saksi.

“Cepat. Kau masih akan menunggu apa lagi?“ berkata Ki Tumenggung Wiradigda, “kami akan menyaksikan pendadaran itu diatas punggung kuda kami.“

Dengan jantung yang bergetar, maka Ki Lurahpun kemudian telah memberikan aba-aba kepada Barata dan Kasadha untuk bersiap. Demikian pula kepada kedua orang raksasa yang akan menjadi alat untuk melakukan pendadaran.

Namun kepada kedua orang raksasa itu Ki Lurah sempat berbisik, “Kalahkan saja mereka tanpa menciderainya sebagaimana kalian rencanakan.”

“Bukan kami yang merencanakan,“ jawab salah seorang dari mereka, “tetapi perintah Ki Lurah.”

“Hst. Cepat bersiaplah,“ desah Ki Lurah.

Kedua orang raksasa itupun segera telah bersiap pula. Sementara itu tiba-tiba saja Ki Tumenggung Suraprana berkata, “Bagus. Lawan yang seimbang.”

Ki Tumenggung Wiradigda dari Demak itupun tertawa pula sambil berkata, “Satu keahlian yang sulit dicari imbangannya. Aku tidak tahu bagaimana Ki Lurah mampu menemukan alat pendadaran yang cukup memadai.”

Ki Lurah memang menjadi semakin gelisah. Namun ia tidak dapat melangkah balik. Kedua orang anak muda itu telah bersiap sepenuhnya tanpa membawa senjata, demikian pula kedua orang raksasa itu.

Karena itu, maka sejenak kemudian maka Ki Lurah itu telah berada didalam arena itu pula untuk memimpin langsung pendadaran yang akan diselenggarakan secara khusus itu.

Dalam pada itu, bagaimanapun juga Barata dan Kasadha menjadi tegang menghadapi lawan yang bentuk tubuhnya benar-benar diluar ukuran yang sewajarnya itu. Namun ternyata keduanya masih sempat saling berbisik. Dengan nada datar Kasadha berkata, “Aku akan menyelesaikannya apapun yang terjadi meskipun ada kedua perwira tinggi itu.”

“Bagus,“ desis Barata, “aku juga tidak berniat melakukan perubahan sikap. Bersungguh-sungguh atau tidak, kedua raksasa itu harus ditundukkan.”

Pembicaraan itu telah terputus. Kedua raksasa itu telah mulai bergerak.

Barata dan Kasadha memang merasa agak ngeri juga melihat keduanya. Wajah mereka nampak dingin membeku, seakan-akan tidak terbersit perasaan apapun juga. Kedatangan kedua orang Tumenggung itu sama sekali tidak merubah raut wajahnya.

Beberapa saat kemudian, maka Barata dan Kasadha telah mengambil jarak. Sementara raksasa-raksasa itu mulai bergerak memutar.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, maka kedua raksasa itu mulai menyerang. Namun mereka tidak meloncat menerkam, atau mengayunkan tangan atau kaki mereka. Tetapi mereka melangkah saja maju mendekati lawan-lawan mereka.

Kasadha dan Barata memang sudah bersiap. Tetapi menghadapi sikap itu, mereka justru melangkah surut.

Namun masih terngiang pesan Ki Lurah Dipayuda, bahwa kedua orang itu hanya mengandalkan kekuatan mereka. Tetapi mereka tidak mempergunakan otak mereka.

Kedua orang raksasa itu ternyata memiliki gaya yang serupa. Keduanya mengacukan tangan mereka kedepan untuk menangkap kepala lawan-lawan mereka.

Tetapi Kasadha dan Barata tidak membiarkan orang itu menangkap kepala mereka. Dengan satu kali benturan didahi mereka, maka tulang kepala mereka tentu sudah akan retak.

Karena itu, maka mereka harus melawan dengan cara yang tepat, sehingga mereka tidak mudah untuk dilumpuhkan, justru dalam pendadaran yang tidak masuk akal itu.

***

Jilid 28 

KASADHA dan Barata tidak membiarkan raksasa itu menangkap kepala mereka dan membentur dengan kepalanya sendiri. Karena itu, kedua anak muda itu bergerak dengan cepat menghindar.

Tetapi kedua raksasa itu seperti orang yang tidak berperasaan berjalan dengan kedua tangan teracu kedepan mengikuti gerak Kasadha dan Barata.

Kedua orang anak muda itupun kemudian telah berpencar. Mereka telah memutuskan untuk memenangkan pendadaran itu, meskipun mereka sadari, bahwa lawan mereka memiliki kekuatan yang sangat besar.

Karena kedua orang raksasa itu maju terus dengan kedua tangan terjulur kedepan, maka kedua anak muda itu harus mengambil sikap yang tepat untuk menghadapinya. Mereka sadari, jari-jari tangan orang itu tentu mampu mencengkam dan mematahkan tulang-tulang mereka.

Paraprajurit yang menyaksikan pendadaran itu termangu-mangu. Beberapa orang bahkan memastikan bahwa Barata dan Kasadha akan mengalami kesulitan, meskipun mereka tahu bahwa kedua anak muda itu memiliki kelebihan dari para prajurit yang lain. Tetapi berhadapan dengan raksasa-raksasa itu, mereka tidak akan dapat banyak berbuat. Sedangkan sebagian besar dari para prajurit itu merasa betapa perbuatan pimpinan mereka itu tidak adil dengan melakukan pendadaran ulang. Bahkan dengan cara yang sangat tidak masuk akal.

“Untunglah kedua orang perwira tinggi dari Pajang dan Demak itu datang untuk menyaksikan pendadaran itu, sehingga dengan demikian, tidak akan terjadi keadaan yang sangat buruk bagi Barata dan Kasadha,“ berkata seorang prajurit yang menyaksikan pendadaran itu.

Dalam pada itu, Kasadhalah yang telah mengambil sikap lebih dahulu. Ketika raksasa itu masih saja berjalan maju dengan tangan terjulur kedepan untuk menangkap kepalanya, maka tiba-tiba saja ia telah meloncat menendang pergelangan tangan orang itu.

Orang itu dengan mudah menarik tangannya untuk menghindari tendangan kaki Kasadha. Tetapi yang tidak disangkanya telah terjadi. Dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh matanya, maka tiba-tiba saja raksasa itu menyeringai. Kaki Kasadha yang lain telah berputar dan menghantam lambungnya.

Langkah lawan Kasadha itu memang terhenti sejenak. Namun iapun kemudian telah maju lagi sambil mengangkat kedua tangannya seperti sebelumnya.

Sementara itu Baratapun tidak membiarkan dirinya melangkah surut berputaran. Tetapi tidak seperti Kasadha, maka Barata berusaha untuk menyerang bagian bawah anggauta badan raksasa itu, karena menurut penilaian Barata, orang itu selalu memperhatikan kepalanya saja.

Dengan tidak terduga-duga, maka Barata itu telah meloncat menyerang dengan kaki terjulur, justru kearah lutut lawannya. Untuk menghindari tangkapan tangan lawannya, maka Barata seakan-akan telah menelusur sambil memiringkan tubuhnya rendah-rendah.

Serangan itu, memang tidak terduga-duga. Karena itu, maka lawan Barata itu tidak siap untuk menghindarinya. Serangan pada lututnya itu ternyata mampu mengguncangkannya, sehingga lawan Barata yang bertubuh raksasa itu telah terdorong dua langkah surut.

Namun Barata tidak berhenti pada serangan itu. Demikian lawannya terguncang, maka iapun dengan cepat melenting berdiri. Serangan berikutnya datang dengan cepat. Tumit Barata telah mengenai dada raksasa itu.

Raksasa itu menggeram. Wajahnya menjadi tegang. Iapun mulai menjadi marah, sehingga ia mulai meloncat pula menyerang anak muda itu.

“Ternyata anak itu memang mampu bergerak cepat,“ berkata Ki Lurah Yudaprakosa didalam hatinya.

Sebenarnyalah, bahwa Barata telah berloncatan untuk memancing lawannya agar membuka diri dalam pertempuran berikutnya.

Ternyata lawan Barata memang terpancing. Ia tidak saja menjulurkan tangannya untuk menangkap kepala lawannya. Tetapi ketika serangan-serangan Barata mulai masuk dan mengenai tubuhnya, maka iapun telah berusaha untuk bertempur dengan cara yang lain.

Raksasa itu memang tidak menyangka, bahwa sasaran pendadaran mereka saat itu adalah anak-anak muda yang memiliki ilmu melampui kebanyakan prajurit.

Sementara itu, Kasadhapun telah mulai dengan serangan-serangannya. Dengan mengangkat kedua tangannya, maka bagian samping tubuh raksasa itu terbuka. Dengan kemampuan dan kecepatan geraknya, maka Kasadha telah berhasil menyerang dan mengenai tubuh lawannya itu beberapa kali.

Dengan demikian, maka yang terjadi kemudian adalah benar-benar perkelahian antara Kasadha dan Barata melawan kedua raksasa yang tidak lagi dapat menganggap tugasnya sebagai tugas yang dengan mudah dapat diselesaikannya seperti biasanya mereka lakukan.

Raksasa yang harus bertempur melawan Kasadha yang menjadi semakin marah oleh serangan-serangan anak muda itu, telah menggeram. Sambil sedikit merendahkan tubuhnya, maka iapun telah menerjang lawannya. Tetapi Kasadha dengan tangkas bergeser kesamping. Dengan sekuat tenaganya ia telah mengerahkan serangannya pada kakinya. Sambil mejatuhkan dirinya ia telah menyapu kaki lawannya yang sedang menyerangnya seperti serangan seekor babi hutan yang sangat garang itu.

Sapuan kaki Kasadha yang dilandasi dengan sekuat tenaganya itu ternyata telah menghantam kaki lawannya. Orang yang bertubuh raksasa itu telah terpelanting dan jatuh terjerembab. Hampir saja ia terloncat keluar arena. Namun ternyata ia terjatuh masih didalam gawar.

Kasadha yang menyadari akan kekuatan lawannya itu tidak memberinya kesempatan. Ia sadar, bahwa sulit sekali baginya untuk mengalahkan orang itu. Tetapi Kasadha bertekad untuk dapat melakukannya.

Karena itu, betapa kakinya sendiri merasa sakit karena serangannya itu, namun Kasadha telah melenting berdiri. Ia membiarkan lawannya bangkit. Namun demikian lawannya itu tegak, maka Kasadha telah meloncat sambil menjulurkan kakinya menyamping.

Satu tendangan yang sangat keras telah mengenai dada orang bertubuh raksasa itu. Sekali lagi orang itu terdorong dan bahkan terbanting jatuh menelentang. Sementara itu, Kasadhapun telah terpental selangkah mundur. Kakinya yang sakit disaat ia menyapu kaki raksasa itu, terasa semakin sakit justru ketika ia mengenai dada lawannya itu.

Ketika kemudian Kasadha bangkit, maka ternyata raksasa itu juga berusaha bangkit dengan cepat. Ia pun telah bersiap ketika Kasadha datang menyerangnya beruntun.

Tetapi serangan Kasadha yang datang kemudian tidak sekeras serangan sebelumnya. Karena itu, maka raksasa itu masih mampu bertahan untuk tetap tegak. Dan bahkan mulai memburu Kasadha dengan kemarahan yang hampir meledakkan jantungnya.

Sementara itu, Baratapun telah bertempur dengan tangkas dan cepat. Setiap kali terngiang ditelinganya keterangan Ki Lurah Dipayuda, bahwa lawannya itu lebih banyak mempercayakan diri pada kekuatannya. Tidak pada otaknya. Kelebihan kemampuan mempergunakan otaknya itulah yang telah dipergunakan oleh Barata untuk bertempur melawan lawannya yang bertubuh raksasa itu.

Beberapa kali ternyata Kasadha dan Barata mampu mengenai tubuh lawannya. Semakin sering, maka betapapun kuatnya orang-orang itu, namun terasa semakin sakit. Karena itulah, maka orang-orang bertubuh raksasa itu semakin lama menjadi semakin marah dan bertempur semakin garang.

Dengan bekal kekuatan mereka yang melampui kekuatan orang kebanyakan, serta daya tahan tubuh mereka yang sangat tinggi, maka mereka benar-benar orang-orang yang menakutkan bagi orang lain. Tetapi Kasadha dan Barata yang sudah bertekad untuk berhasil dalam pendadaran itu, telah berusaha untuk mengimbangi lawan-lawan mereka.

Ketika perkelahian itu menjadi semakin keras dan garang, maka baik Kasadha, maupun Barata telah berusaha mengambil jarak, sehingga seluruh arena itu terbagi menjadi dua lingkaran perkelahian. Kedua anak muda itu agaknya sependapat tanpa membuat janji, bahwa untuk melawan kedua orang yang bertubuh raksasa itu, mereka akan berloncatan dengan cepat mengitarinya. Dengan demikian keduanya memang memerlukan tempat yang Ki Lurah Yudaprakosa memang menjadi agak bingung menghadapi kenyataan itu. Ia berharap bahwa kedua orang raksasa itu dengan cepat menyelesaikan tugas mereka. Mengalahkan Kasadha dan Barata, yang ternyata dibawah pengamatan kedua orang perwira tinggi dari Pajang dan Demak keduanya tidak perlu berbuat berlebihan.

Tetapi ternyata kedua orang yang dianggapnya mempunyai kekuatan melampui orang kebanyakan itu, tidak segera dapat mengalahkan Kasadha dan Barata. Bahkan nampaknya Kasadha dan Barata menjadi semakin lama semakin garang menghadapi kedua orang raksasa itu.

Sebenarnyalah, ketika lawan-lawan Kasadha dan Barata mulai mengerahkan kekuatan mereka yang sangat besar, maka Kasadha dan Baratapun mulai merambah pada ilmu mereka. Kasadha yang telah ditempa oleh keadaan, kemudian dibawah bimbingan guru yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, apalagi anak itu telah dipersiapkan untuk satu perbandingan ilmu yang akan menentukan sebagaimana pernah dilakukan oleh ibunya melawan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, telah membuatnya menjadi anak muda yang pilih tanding. Sementara itu, Barata yang telah membajakan diri dalam asuhan ketiga orang yang memiliki ilmu mumpuni, serta dipersiapkan untuk mewarisi ilmu Janget Kinatelon, adalah seorang anak muda yang jarang ada duanya.

Karena itu, maka pendadaran itupun telah berlangsung dengan keras dan garang. Kedua raksasa yang telah mendapat pesan dari Ki Lurah Yudaprakosa agar tidak membuat kesan yang berlebihan itu telah melupakannya justru karena kedua anak muda itu benar-benar telah menyakitinya. Serangan-serangan mereka yang cepat dan kuat, telah mengenai bagian-bagian tubuh kedua orang lawannya itu dibagian-bagian yang lemah.

Dengan demikian, maka pertempuran di arena pendadaran itu semakin lama menjadi semakin keras. Kasadha dan Barata lebih banyak mempergunakan otaknya dari lawan-lawannya. Namun bukan berarti bahwa keduanya merasa lemah. Meskipun pada dasarnya, kekuatan wajar mereka tidak dapat mengimbangi kekuatan kedua orang bertubuh raksasa itu, tetapi dengan landasan ilmunya kedua anak muda itu mampu membangunkan tenaga cadangan didalam dirinya. Kekuatan yang ada didalam dirinya itu ternyata tidak kalah dahsyatnya dari kekuatan kedua orang yang bertubuh raksasa itu.

Kekuatan itulah yang tidak diperhitungkannya, baik oleh kedua raksasa itu sendiri, maupun oleh Ki Lurah Yudoprakosa, karena Ki Lurah sama sekali tidak menduga bahwa kedua anak muda itu mampu melakukannya.

Dengan kemampuan membangun tenaga di dalam dirinya itu, berlandaskan pada ilmu masing-masing, maka Kasadha dan Barata menjadi dua orang yang memiliki kekuatan tidak kalah dari kedua orang yang bertubuh raksasa itu.

Dalam pertempuran selanjutnya, maka para prajurit memang menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat, wajah kedua orang yang dipergunakan oleh Ki Lurah untuk melakukan pendadaran itu sudah menjadi sangat tegang, serta mata mereka mulai menyala.

Namun baik Kasadha, maupun Baratapun telah menjadi marah pula karena perlakuan kasar dan bahkan liar dari kedua orang lawannya itu.

Dalam lingkaran pertempuran yang terpisah, maka Kasadha telah mengimbangi kekerasan lawannya dengan sikap yang keras pula. Bahkan serangan-serangannya menjadi semakin lama semakin cepat. Landasan ilmu semakin nampak pada setiap unsur geraknya sehingga dengan demikian, maka Kasadha justru tidak menjadi semakin terdesak oleh lawannya.

Di lingkaran pertempuran yang lain, di arena pendadaran itu juga, Barata justru sudah mulai membentur serangan lawan. Untuk menunjukkan bahwa kekuatan Barata yang muda itu tidak kalah dengan kekuatan lawannya yang bertubuh raksasa, maka Baratapun mulai mengimbangi serangan-serangan lawannya dengan serangan-serangan pula, sehingga kadang-kadang kedua kekuatan itu saling berbenturan. Namun dengan demikian orang yang bertubuh raksasa itu tidak lagi dapat menggertak Barata dengan tenaga raksasanya, karena dalam setiap benturan, Barata ternyata mampu mengimbangi kekuatannya.

Para prajurit yang menyaksikan pertempuran itu menjadi tegang. Mereka seakan-akan menjadi tidak yakin apa yang disaksikannya. Mereka tidak segera dapat percaya bahwa anak-anak muda itu memang mampu mengimbangi lawannya yang bertubuh raksasa.

Sebenarnyalah ketika orang bertubuh raksasa itu menyerang Barata dengan ayunan tangannya yang besar mengarah ke kening, anak muda itu dengan sengaja tidak mengelak. Tetapi dengan mempergunakan tenaga cadangan serta kekuatan didalam dirinya, maka ia telah membentur ayunan tangan itu dengan sikunya.

Ternyata telah terjadi benturan yang keras. Barata memang terdorong selangkah surut. Namun lawannya yang bertubuh raksasa itupun harus menyeringai menahan sakit. Bahkan iapun telah terpental pula beberapa langkah mundur.

Dalam keadaan yang demikian, justru Baratalah yang meloncat menyusulnya. Ia tidak lagi menghiraukan, apakah serangannya akan mampu menyusup celah-celah pertahanan lawan. Tetapi Barata yang sudah dengan sengaja membenturkan kekuatan dan kemampuannya itu telah langsung menyerang dengan kakinya mengarah kedada.

Lawannya yang bertubuh raksasa itu tidak sempat, mengelak, karena ia masih baru saja menemukan keseimbangannya kembali. Karena itu, maka ialah yang kemudian menangkis serangan itu dengan melindungi dadanya. Kedua tangannyapun telah bersilang didepan dadanya. Gelang-gelang kulit yang besar nampak pada pergelangan tangan kanannya hampir sampai ke siku. Sedangkan di pergelangan tangan kirinya terdapat dua lingkar dari jenis akar-akaran yang membelit seperti ular.

Kaki Barata telah membentur kedua tangan yang bersilang itu. Namun ternyata Barata memang tidak mengerahkan kekuatan dan kemampuannya sepenuhnya, sehingga karena itu maka serangan itu tidak menggoyahkan lawannya.

Tetapi yang tidak disangka, dengan cepat Barata memutar tubuhnya bertumpu pada satu kakinya, sedang kakinya yang lain terayun deras menghantam kening lawannya dari samping.

Serangan beruntun itu datang begitu cepatnya, sehingga raksasa yang memang agak lamban itu tidak mampu menangkisnya. Serangan itu benar-benar mengenai keningnya, demikian kerasnya sehingga tubuh yang tinggi besar itu terpelanting dan jatuh terbanting di tanah.

Barata justru melangkah surut. Ia tidak memburu raksasa yarig berusaha bangkit itu. Dibiarkannya lawannya itu berdiri tegak dan mengatur sikap serta membenahi dirinya.

Raksasa itu menggeram. Kemarahannya benar-benar sampai ke ubun-ubun. Segala pesan telah dilupakannya, sehingga yang kemudian bergejolak di kepalanya adalah menghancurkan anak-anak ingusan itu.

Ketika lawan Barata itu kemudian berdiri tegak, maka Baratapun telah berdiri tegak pula diatas kedua kakinya yang renggang.

Sementara Barata menunggu lawannya bersiap, maka Kasadha justru telah mendesak lawannya. Kasadha ternyata bertempur dengan keras pula mengimbangi lawannya yang kemarahannya sudah memuncak.

Tetapi justru karena itu, maka serangan-serangannya menjadi tidak terarah dan dengan demikian raksasa itu banyak kehilangan tenaga. Ketika ia menyerang Kasadha dengan tangannya yang siap menerkam wajah anak muda itu, maka ia tidak sempat mengelak ketika Kasadha justru bergeser kesamping dan dengan cepat menyerang lambungnya. Namun raksasa itu masih sempat menangkis serangan itu dengan tangannya, menepis kaki Kasadha sehingga lambungnya tidak terkena. Tetapi Kasadha yang melenting itupun telah menjulurkan tangannya. Dengan jari-jari tangannya yang merapat ia telah menyerang pangkal leher raksasa itu.

Terdengar lawannya berteriak nyaring. Lehernya terasa sakit sekali. Bahkan untuk sesaat pernafasannya bagaikan tersumbat. Karena itulah, maka orang bertubuh raksasa itu harus meloncat menjauhi lawannya.

Dengan demikian maka kemarahan lawan Kasadha itu bagaikan membakar ubun-ubunnya. Untuk beberapa saat ia masih saja meraba pangkal lehernya yang kesakitan serta masih berusaha mengatur pernafasannya.

Namun Kasadha sudah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Ia benar-benar telah berdiri pada lambaran ilmu yang pernah dipelajarinya, maka ia tidak akan gentar.

Diluar arena, diatas punggung kudanya, dua orang perwira dari Pajang dan dari Demak memperhatikan pendadaran itu dengan saksama. Bahkan diluar sadarnya keduanya telah tersenyum. Dengan nada rendah, Ki Tumenggung Wiradigda berkata, “Jika saja semua prajurit muda Pajang memiliki kemampuan seperti anak-anak muda itu, maka Mataram tentu tidak akan berhasil mengalahkan pasukan Pajang di Prambanan.”

Tetapi Ki Tumenggung Suraprana menjawab, “Kita sama-sama tahu apa yang terjadi Ki Tumenggung. Mataram memiliki akal yang tajam. Betapapun tinggi kemampuan prajurit Pajang, namun mereka tidak akan dapat melawan banjir yang ternyata adalah akibat ketajaman akal orang-orang Mataram.”

Ki Tumenggung Wiradigda mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Untunglah anak-anak muda itulah yang harus melawan kedua orang bertubuh raksasa itu sehingga keduanya tidak mengalami bencana pada tubuh maupun bagian dalamnya. Jika prajurit kebanyakan yang lain yang harus mengalami pendadaran ulang seperti itu, maka kedua raksasa itu tanpa belas kasihan akan menghancurkan lawannya.”

“Satu pengalaman yang baik bagi kedua orang yang bertubuh raksasa itu,“ berkata Ki Tumenggung Suraprana. Namun kemudian, “juga satu pengalaman yang baik bagi Ki Lurah Yudoprakosa.”

Ki Tumenggung Wiradigda tertawa. Katanya, “Satu pengalaman yang baik pula bagiku. Ternyata di Pajang tersimpan prajurit-prajurit pilihan yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang Demak yang bertugas disini seperti aku.”

“Tidak banyak,“ jawab Ki Tumenggung Suraprana, “hanya dua itu. Itupun secara kebetulan ditemukan didalam pasukan Ki Lurah Dipayuda yang kemudian dipegang oleh Ki Lurah Yudoprakosa. Bedanya Ki Lurah Dipayuda dapat memanfaatkan kedua orang prajurit muda itu dengan baik, sementara Ki Lurah Yudoprakosa justru telah memusuhinya.”

Ki Tumenggung Wiradigda mengangguk-angguk. Sementara itu perhatiannya kembali tertambat pada pertempuran di dalam arena pendadaran.

Semakin lama menjadi semakin nampak, bahwa Kasadha dan Barata akan mampu mengatasi segala kesulitan yang dihadapinya dalam pendadaran itu. Lawannya yang mengandalkan kekuatanya itu ternyata masih dapat diimbangi oleh kekuatan dan tenaga cadangan yang tersimpan didalam tubuh kedua anak muda itu yang mampu dibangunkannya berlandaskan pada ilmu dan kemampuan mereka.

Dalam pada itu, kedua orang bertubuh raksasa itu benar-benar telah terdesak. Barata yang tangkas dan bergerak dengan kecepatan yang jauh melampaui lawannya, telah semakin sering mengenai tubuh lawannya dari berbagai arah. Sekali-sekali serangan tangannya justru telah menghantam tengkuk sehingga raksasa itu hampir saja jatuh terjerembab. Namun di kesempatan lain kakinya menghlantam dada lawannya itu sehingga terdorong beberapa langkah surut.

Ki Lurah Yudoprakosa menjadi semakin cemas. Namun iapun dapat menduga, apa yang akan terjadi. Ia yang tahu pasti kekuatan dan kemampuan kedua orang raksasa itu, yang memang sudah terbiasa di pergunakannya untuk menghukum orang lain dengan cara terselubung, menyadari, bahwa kedua orang itu sudah sampai pada puncak kemampuannya.

Tetapi Ki Lurah Yudoprakosa masih mengharap, daya tahan kedua orang itu lebih baik dari daya tahan anak-anak muda yang telah mengerahkan segala macam kekuatan dan kemampuannya.

Namun ia tidak sadar, bahwa justru kedua orang bertubuh raksasa itulah yang telah memeras segala tenaga dan kekuatannya karena ia tidak mampu membangunkan tenaga cadangan didalam dirinya. Keduanya mempergunakan tenaga wajar, namun tenaga wajarnya itu melampaui tenaga kebanyakan orang.

Karena itulah, maka yang kemudian nampak lebih dahulu susut adalah justru tenaga kedua orang raksasa itu.

Akhirnya Ki Lurah Yudaprakosa tidak dapat mengingkari kenyataan. Kedua orang raksasa yang diharapkannya akan dapat menghukum kedua orang anak muda itu dengan cara terselubung telah gagal. Meskipun kegagalan itu sudah nampak saat kedua orang Tumenggung dari Pajang dan Demak datang ketempat pendadaran itu.

Tetapi setidak-tidaknya ia akan mempunyai alasan untuk melakukan tindakan berikutnya jika kedua orang anak muda itu tidak berhasil dalam pendadaran.

Dengan demikian maka Ki Lurah harus mengambil sikap untuk menyelamatkan kedua orang raksasanya itu. Jika kedua orang raksasa itu akhirnya benar-benar dikalahkan, maka akibatnya akan sangat pahit bagi keduanya dan bagi dirinya sendiri.

Karena itu, maka ketika Ki Lurah tidak lagi yakin bahwa keduanya akan dapat mengatasi anak-anak muda itu, maka Ki Lurahpun telah berteriak, “berhenti, berhenti. Pendadaran telah cukup.”

Kedua belah pihak memang berloncatan mengambil jarak. Kedua orang raksasa itupun telah berhenti. Demikian pula Kasadha dan Barata.

Namun Ki Tumenggung Suraprana tiba-tiba saja tertawa, sehingga semua orang berpaling kepadanya.

Ki Tumenggung Wiradigda mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah iapun bertanya, “Ada apa?”

Ki Tumenggung Suraprana masih saja tertawa. Jawabnya, “Tidak ada apa-apa.”

Ki Tumenggung Wiradigda termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum pula sambil bertanya, “Kau lihat bagaimana Ki Lurah menyelamatkan orang-orangnya?”

Ki Tumenggung Suraprana tertawa semakin keras.

Jawabnya, “Aku tidak dapat mengatakan seperti itu. Tetapi kaulah yang dapat mengatakannya.”

“Karena aku juga orang Demak seperti Ki Lurah Yudaprakosa itu?“ bertanya Ki Tumenggung Wiradigda. Namun iapun kemudian tertawa pula. Bahkan lebih keras dari Ki Tumenggung Suraprana.

Ternyata sikap kedua orang Tumenggung itu dirasakan sebagai satu sindiran atas satu kekalahan. Dengan demikian maka kedua orang yang bertubuh raksasa itu telah tersinggung. Mereka memang merasakan tekanan yang sangat berat dari lawan-lawan mereka, tetapi mereka tidak begitu mudah dikalahkan.

Karena itu seorang diantara mereka tiba-tiba saja menggeram, “Pendadaran ini belum selesai.”

“Sudah,“ teriak Ki Lurah, “aku hanya ingin melihat ulang kemampuan kedua prajurit yang sombong itu. Dan sekarang aku sudah melihatnya.”

“Tetapi rencana kita tidak hanya terhenti sampai disini,“ jawab raksasa yang lain.

“Aku yang berhak menyusun rencana, bukan kalian,“ teriak Ki Lurah semakin keras. “Minggir kalian dari arena pendadaran ini.”

“Tidak. Aku akan mematahkan tulang-tulang anak-anak muda yang sombong itu,“ geram lawan Barata.

“Dengar perintahku, atau aku perintahkan prajurit-prajurit ini semuanya menangkapmu,“ Ki Lurah Yudaprakosa menjadi marah.

Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara Ki Tumenggung Wiradigda, “Ki Lurah. Biarlah ia mendapat kepuasan dengan pendadaran ini. Biarlah pendadaran ini diteruskan sampai tuntas. Pendadaran ini tidak hanya ditujukan bagi kedua anak muda itu. Tetapi juga bagi kedua orang alat Ki Lurah untuk melakukan pendadaran. Apakah alat Ki Lurah itu cukup baik atau tidak.”

Wajah Ki Lurah menjadi merah. Sementara itu kedua orang yang bertubuh raksasa itu telah melangkah maju lagi. Seorang diantara mereka berkata, “Atas nama Ki Tumenggung. Pendadaran ini akan diteruskan sampai tuntas.”

Keputusan itu, diluar sadar, telah menumbuhkan kegembiraan pula pada Kasadha dan Barata. Kedua anak muda itu telah menjajagi kemampuan kedua raksasa itu. Dari penjajagan itu, mereka dapat mengambil kesimpulan, bahwa mereka akan mampu bertahan.

Namun demikian keduanya memang merasa harus tetap berhati-hati. Mungkin satu perubahan akan terjadi. Tetapi kedua anak muda itu merasa bahwa mereka memang belum sampai kepuncak tertinggi dari kemampuan mereka sebagaimana jika mereka harus bertempur bertaruh nyawa. Menghadapi orang-orang Mataram di Randukerep, mereka tidak dapat lengah sekejappun karena taruhannya adalah nyawa. Merekapun harus bertempur pula dengan orang-orang yang belum pernah dikenalnya sebelumnya justru karena kedua anak muda itu bersama-sama disangka Puguh.

Dan di arena itu, mereka harus melakukan pendadaran disaksikan oleh kawan-kawannya sebagai tontonan.

Bagaimanapun juga Kasadha dan Barata adalah anak-anak muda. Darah mereka masih mudah mendidih serta perasaan mereka kadang-kadang kurang terkendali. Karena itulah, maka ketika kedua orang lawannya itu melangkah maju, maka keduanyapun segera telah bersiap pula. Mereka bertekad untuk menundukkan kedua raksasa itu dihadapan Ki Lurah Yudaprakosa. Ki Lurah memang tidak dapat mencegahnya lagi ketika Ki Tumenggung Wiradigda justru telah memerintahkannya. Karena itu, maka sejenak kemudian, Kasadha dan Baratapun telah mulai bergeser. Sementara itu, kedua orang bertubuh raksasa itu telah mulai menyerangnya pula. Mereka memang berusaha untuk dapat menangkap anak-anak muda itu. Namun mereka memang mulai ragu-ragu, karena disetiap benturan, kekuatan anak-anak muda itu mampu mengimbanginya.

Demikianlah maka pertempuran itu telah terjadi lagi. Kasadha dan Barata telah mendapatkan lawan mereka kembali.

Kedua raksasa itu memang merasa tidak pernah terkalahkan disetiap arena pendadaran seperti itu. Saat-saat ia diperalat untuk menghukum seseorang atau lebih dengan cara yang sangat licik.

Karena itu, maka sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan bahwa kedua orang anak muda itu mampu mengimbanginya. Bahkan justru memiliki kelebihan.

Namun dalam pada itu, Kasadha dan Baratapun telah bersiap dalam puncak kemampuan mereka. Keduanya berniat untuk secepatnya mengalahkan lawan-lawan mereka yang memiliki kekuatan yang sangat besar itu.

Barata dan Kasadha yang telah berdiri pada jarak yang sejauh-jauhnya diantara mereka itupun telah mulai berputaran dan kemudian berloncatan menyerang. Barata ternyata telah sampai pada kemampuan tertinggi ilmunya dalam persiapan untuk menerima ilmu Janget Kinatelon. Karena itu, maka anak muda itu justru telah menjadi semakin garang.

Sementara itu Kasadha yang memiliki pengalaman yang lebih luas, ternyata telah mampu menunjukkan unsur-unsur gerak yang dapat membingungkan lawannya. Apalagi setiap kali ditelinga kedua anak muda itu terngiang kembali pesan Ki Lurah Dipayuda, bahwa kedua orang raksasa itu tentu tidak akan memakai otaknya.

Karena itulah, maka semakin lama mereka bertempur, maka semakin ternyata bahwa Kasadha dan Barata akan mampu menguasai arena pendadaran itu.

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian, Barata yang ditempa oleh ketiga orang kakek dan neneknya itu, merasakan bahwa kekuatan lawannya menjadi semakin susut. Karena itu, maka iapun telah mengerahkan tenaga cadangan didalam tubuhnya pada kekuatan tertinggi. Ia benar-benar telah berniat mengakhiri pendadaran yang memuakkan itu.

Dengan serangan ganda, maka Baratapun kemudian telah melanda lawannya seperti amuk prahara. Tubuhnya bagaikan melayang mengitari lawannya. Serangannya datang dari segala arah.

Ketika tangannya sempat memukul tengkuk lawannya yang menunduk menghindari serangan di kening, maka raksasa itu sempat terguncang. Dengan tangkasnya Barata telah menyerang wajah yang terdorong oleh pukulan di tengkuk itu dengan kakinya.

Tidak ada ampun bagi raksasa itu. Tubuhnya yang tinggi besar itu telah terpental beberapa langkah surut. Ketika ia berusaha mempertahankan keseimbangannya, maka serangan Barata telah memburunya. Sambil meloncat maju, tangannya terjulur lurus kedepan. Sebuah pukulan yang keras telah terayun mengarah kedada orang yang sudah tidak mampu untuk mengelak dan bahkan menangkis itu.

Pada saat terakhir, Barata tiba-tiba saja menjadi ragu-ragu. Karena itu, maka iapun telah menggeser arah serangannya, menghantam pundak.

Raksasa itu mengaduh. Ia benar-benar terpelanting dan terputar beberapa kali sehingga akhirnya iapun telah terjatuh ditanah.

Ia masih berusaha untuk bangkit. Namun rasa-rasanya sulit baginya untuk mengangkat tubuhnya yang berat.

Namun pada saat yang bersamaan, Kasadha telah memburu lawannya pula. Sebuah tendangan yang keras bagaikan terbang menyambar dadanya.

Lawannya yang bertubuh raksasa itu terdorong surut. Namun adalah kebetulan, bahwa ia telah menimpa kawannya yang sedang dengan susah payah berusaha bangkit.

Dengan demikian maka keduanyapun telah terguling beberapa kali ditanah.

Ketika keduanya tertatih-tatih berdiri, maka Kasadha dan Barata telah siap untuk menyergapnya dengan serangan-serangan yang akan dapat membahayakan jiwa kedua orang bertubuh raksasa itu. Beruntunglah bahwa kedua orang anak muda itu masih mampu menahan dirinya meskipun darah mereka bagaikan mendidih.

Kedua orang bertubuh raksasa itu memang sempat berdiri. Tetapi mereka sama sekali sudah tidak berdaya untuk melakukan perlawanan. Sementara Kasadha dan Barata meskipun dibeberapa bagian tubuhnya nampak memar, namun mereka masih nampak jauh lebih segar dari kedua raksasa itu.

Untuk beberapa saat Ki Lurah justru menjadi termangu-mangu. Ia sudah tidak mungkin lagi menolong keadaan. Kedua raksasa itu benar-benar sudah menjadi sangat letih meskipun mata mereka masih tetap menyala.

Sebelum Ki Lurah mengatakan sesuatu, maka tiba-tiba saja Ki Tumenggung Wiradigda berkata sambil tertawa, “Baiklah. Pendadaran memang telah selesai. Dua orang bertubuh raksasa itu, ternyata tidak berhasil menjalani pendadaran ulang. Kedua orang prajurit muda yang melakukan pendadaran itu masih dapat bertindak lebih jauh jika mereka mau. Karena itu, maka sebaiknya kedua orang bertubuh raksasa itu tidak usah dipakai lagi bagi segala keperluan. Termasuk menghukum orang dengan cara yang terselubung.”

Kedua orang bertubuh raksasa itu berdiri tegak seperti patung. Tetapi mereka memang tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Tenaga mereka seakan-akan memang telah terperas habis.

Yang terpukul bukan hanya kedua orang raksasa itu. Tetapi juga Ki Lurah Yudoprakosa. Ki Tumenggung Wiradigda dihadapan banyak orang telah menyatakan dengan terbuka, bahwa cara yang dilakukan oleh Ki Lurah itu adalah cara untuk menjatuhkan hukuman dengan terselubung.

Untuk beberapa saat kedua raksasa itu termangu-mangu. Demikian pula Ki Lurah Yudaprakosa.

Namun dalam pada itu, Ki Tumenggung Wiradigda-pun berkata, “Ki Lurah. Lewat tengah hari, kau harus sudah menghadap aku.”

Ki Lurah terkejut. Namun iapun kemudian mengangguk hormat sambil menjawab, “Ya Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung tidak berkata apa-apa lagi kepada Ki Lurah. Kepada Ki Tumenggung Suraprana ia berkata, “Marilah. Tontontan yang memuakkan itu sudah selesai.”

Ki Tumenggung Suraprana tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Sejenak kemudian maka kedua orang Tumenggung itu telah hilang dibalik regol. Sementara itu Ki Lurah masih saja termangu-mangu di tempatnya. Ia merasa ditikam oleh keadaan yang tidak diduganya sama sekali itu.

Namun ternyata bahwa sepeninggal kedua orang Tumenggung dari Demak dan dari Pajang sendiri itu persoalan di halaman barak itu belum selesai. Salah seorang dari kedua orang raksasa itu tiba-tiba saja berteriak, “Aku tidak mau dihinakan cara ini. Kita selesaikan persoalan kita sampai tuntas.”

Sebelum ada orang yang menjawab, maka orang itu telah melangkah dengan sisa tenaganya ketepi arena untuk memungut pedangnya yang besar dan panjang.

“Jangan,“ perintah Ki Lurah yang kebingungan.

“Aku akan membunuh atau mati di arena ini,“ geram raksasa itu.

“Dengar perintahku,“ teriak Ki Lurah.

Tetapi jawaban raksasa itu mengejutkan, “Jika Ki Lurah menghalangi, maka aku tantang Ki Lurah untuk berperang tanding. Jika aku menang, maka dapat diperhitungkan, kemampuan Ki Lurah jauh dibawah anak-anak itu.”

Wajah Ki Lurah menjadi merah. Tetapi ia tidak mau membuat kesalahan lagi, karena ia sudah mendapat peringatan dari Ki Tumenggung Wiradigda. Bahkan ia harus menghadap lewat tengah hari.

Karena itu, maka katanya, “Aku dapat memerintahkan prajurit-prajuritku untuk menangkapmu hidup atau mati.”

Orang bertubuh raksasa itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu Kasadha dan Barata masih berdiri tegak di arena.

“Semuanya sudah selesai,“ berkata Ki Lurah kemudian. Lalu iapun meneriakkan perintah kepada prajurit-prajuritnya, “Semua kembali ketempat masing-masing.”

Kedua orang bertubuh raksasa itu termangu-mangu. Tetapi akhirnya mereka harus menerima kenyataan itu. Ketika keduanya melihat Kasadha dan Barata melangkah keluar dari gawar arena pendadaran tanpa menoleh lagi, maka kedua raksasa itupun tidak berbuat apa-apa lagi.

“Semua rencana kita gagal,“ geram Ki Lurah, “kedua orang Tumenggung itu datang dengan tiba-tiba sekali.”

Kedua orang raksasa itu sama sekali tidak menyahut.

Sementara itu Ki Lurah berkata lagi, “Aku akan membayar hak kalian sebagaimana sudah kita bicarakan meskipun yang kita rencanakan tidak terwujud. Kita tidak dapat saling menyalahkan karena kehadiran kedua orang Tumenggung itu diluar perhitungan kita.”

Namun diluar dugaan, seorang diantara kedua orang bertubuh raksasa itu berkata, “aku memang kalah. Untunglah anak-anak itu adalah prajurit yang berpegang pada paugeran prajurit sehingga tidak membantaiku di tengah-tengah arena, karena jika mereka mau, mereka dapat melakukan tanpa dianggap bersalah.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Raksasa yang seorang lagi, yang hampir saja kehilangan penalaran dan menantang perang tanding itupun akhirnya mengakui juga. Namun meskipun ia mengangguk-angguk kecil, tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Sementara itu, para prajurit telah kembali kedalam bilik mereka masing-masing. Kasadha dan Baratapun telah berada di barak mereka bersama para prajurit didalam kelompok mereka. Prajurit-prajurit muda telah berebut mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Namun para prajurit yang lebih tua, yang telah diserahkan kepada mereka karena dianggap perlu mendapat pembinaan khusus itupun menjadi semakin hormat pula kepada kedua pemimpin kelompok yang masih muda itu. Ternyata mereka tidak menjadi besar karena ditiup oleh Ki Lurah Dipayuda. Keduanya memang pantas untuk dianggap sebagai pemimpin-pemimpin kelompok terbaik. Karena itu, maka orang-orang yang semula tersingkir karena tingkah lakunya itu, perlahan-lahan telah menjadi semakin menyesuaikan diri.

Ketika tengah hari sebelum Ki Lurah Yudaprakosa menghadap Ki Tumenggung Wiradigda, maka Barata dan Kasadha telah dipanggil oleh Ki Tumenggung Suraprana sepengetahuan Ki Lurah Yudoprakosa. Meskipun sebenarnya Ki Lurah agak keberatan, tetapi ia tidak berani menolak perintah Ki Tumenggung itu. Apalagi ketika utusan yang menyampaikan perintah itu mengatakan, bahwa Ki Tumenggung Suraprana sudah berbicara dengan Ki Tumenggung Wiradigda.

Barata dan Kasadha sendiri merasa terkejut atas panggilan itu. Tetapi atas ijin Ki Lurah Yudaprakosa, maka keduanya telah meninggalkan barak itu untuk menghadap Ki Tumenggung Suraprana, sementara Ki Lurah Yudoprakosa telah menghadap Ki Tumenggung Wiradigda.

Meskipun Barata dan Kasadha mengerti, bahwa mereka tidak akan dianggap bersalah, tetapi panggilan itu agaknya telah mendebarkan mereka juga.

Barata dan Kasadha itupun kemudian telah duduk diserambi gandok rumah Ki Tumenggung Suraprana. Agaknya prajurit yang bertugas diregol rumah Katumeng-gungan itu sudah mendapat pesan, bahwa akan ada dua orang prajurit yang menghadap.

Tetapi karena Ki Tumenggung sedang pergi, maka keduanya masih harus menunggu.

Sambil menunggu, maka pemimpin prajurit Pajang yang bertugas dirumah Ki Tumenggung itu sempat menemui kedua anak muda yang juga prajurit Pajang itu. Bahkan pemimpin prajurit yang sedang bertugas itu tidak segan-segan telah menyatakan keluhannya atas keadaan di Pajang pada saat-saat terakhir.

“Orang-orang Demak telah menguasai Pajang seluruhnya,“ berkata pemimpin prajurit yang bertugas itu.

“Inilah keanehan yang terjadi di Pajang. Pajang mengaku atau tidak mengaku, telah dikalahkan Mataram. Tetapi yang sekarang menduduki Pajang sama sekali bukan Mataram. Tetapi Demak.”

Barata dan Kasadha mengangguk-angguk. Mereka juga merasakan hal itu telah terjadi di Pajang. Tetapi karena lingkungan mereka, apalagi setelah berada dibawah pimpinan Ki Lurah Yudoprakosa, maka tidak ada yang mereka ketahui selain lingkungan barak mereka sendiri.

Hampir diluar sadarnya, Barata tiba-tiba saja telah bertanya, “Bagaimana hal itu dapat terjadi? Namun Matarampun sampai sekarang lebih baik berdiam diri melihat perkembangan Pajang sekarang ini. Jadi apa maunya Mataram menyerang Pajang sebelumnya?”

Prajurit yang bertugas di rumah Ki Tumenggung itu menggeleng. Katanya, “Entahlah. Tetapi agaknya Mataram ingin bebas berkembang tanpa dibayangi oleh kekuasaan Pajang yang dianggap oleh Panembahan Senapati sebagai kekuasaan yang kurang memberikan harapan bagi masa datang. Tetapi menurut penilaian beberapa orang pemimpin Pajang, keadaan Pajang sekarang justru menjadi lebih buruk. Mungkin akan lebih baik jika Pangeran Benawalah yang diangkat menjadi pengganti ayahandanya. Pangeran Benawa tidak akan memenuhi kata ini dengan orang-orang dari luar lingkungan.”

Barata dan Kasadha mengangguk-angguk. Apalagi ketika prajurit itu juga mengatakan bahwa banyak kebijaksanaan yang berubah.

“Tetapi aku tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi,“ berkata prajurit itu. Lalu katanya, “Tetapi yang aku dengar kadang-kadang terluncur dari bibir Ki Tumenggung diluar sadarnya, kebijaksanaan tentang tata pemerintahan, tentang hubungan perdagangan dengan daerah-daerah disekitarnya dan tentang Tanah Perdikan.”

Jantung Barata tergetar. Untunglah ia menyadari kedudukannya sehingga karena itu, iapun telah dapat mengatur perasaannya. Dengan hati-hati ia bertanya, “Kebijaksanaan apakah yang paling nampak dilakukan oleh para pemimpin dari Demak itu?”

Pemimpin prajurit yang bertugas itu menggeleng. Katanya, “Yang aku ketahui hanya sedikit sekali. Jika kalian dipanggil Ki Tumenggung, mungkin ada sesuatu yang akan kalian dengar.”

“Tetapi tentu tidak tentang hubungan Demak, Pajang dan Mataram. Apalagi dengan Pangeran Benawa di Jipang. Yang akan dibicarakan Ki Tumenggung dengan kami tentu pendadaran ulang yang baru saja kami jalani,“ jawab Barata.

“Pendadaran ulang?“ bertanya pemimpin prajurit yang bertugas itu.

“Memang satu perlakuan yang tidak masuk akal,“ jawab Kasadha, “Kami sudah tahu sejak semula bahwa pendadaran itu hanyalah satu langkah terselubung untuk menghancurkan kami. Tetapi beruntunglah bahwa kami mampu mengatasinya.”

Prajurit di Katumenggungan itu mengangguk-angguk. Barata dan Kasadhapun telah menyesali penggantian Lurah Penatus dari seorang Lurah Penatus Pajang kepada Lurah Penatus dari Demak.

Tetapi mereka tidak sempat berbincang lebih panjang, karena Ki Tumenggung Suraprana telah datang.

Dengan gembira Ki Tumenggung kemudian telah minta kedua orang prajurit itu naik kependapa dan diterima sebagai kawan-kawannya yang akrab.

“Tidak ada yang penting,“ berkata Ki Tumenggung Suraprana, “aku hanya ingin memberitahukan kepada kalian, bahwa aku telah minta Ki Lurah Yudaprakosa diganti orang lain.”

Kasadha dan Barata menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya Barata berkata, “Ki Lurah telah menghadap Ki Tumenggung Wiradigda.”

“Ya. Ki Tumenggung memang tidak senang melihat sikap Ki Lurah. Ki Tumenggung Wiradigdapun telah mengatakan, bahwa Ki Lurah akan dipindahkannya. Sementara itu akan dicari seorang Lurah yang lebih baik. Bukan orang Demak. Jika Lurah itu ditentukan prajurit Demak, maka persoalan seperti tadi akan terulang lagi,“ berkata Ki Tumenggung Suraprana.

“Kami akan berterima kasih Ki Tumenggung,“ desis Kasadha.

Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Ki Tumenggung Wiradigda termasuk seorang diantara orang-orang Demak yang baik. Tetapi jarang sekali orang seperti itu dapat kita ketemukan diantara orang-orang Demak yang ada di Pajang.”

Kasadha dan Baratapun mengangguk-angguk. Namun mereka tidak dapat mengatakan sesuatu karena pengetahuan mereka tentang orang-orang Demak sangat terbatas. Yang mereka kenal paling dekat adalah Ki Lurah Yudoprakosa. Tetapi tentu tidak adil jika mereka menganggap bahwa orang-orang Demak seluruhnya seperti Ki Lurah Yudoprakosa. Setidak-tidaknya ada orang lain seperti Ki Tumenggung Wiradigda.

Dari Ki Tumenggung itu pulalah Kasadha dan Barata mendengar bahwa para petugas yang dipindahkan dari Demak ke Pajang mendapat kenaikan pangkat khusus.

“Merekapun telah mendapat perlakuan lebih baik dari orang-orang Pajang, karena mereka yang dipindahkan dari Demak ke Pajang memerlukan tanah, hidup yang layak yang menurut mereka berarti lebih baik dari orang-orang Pajang. Serta kekuasaan yang lebih luas,“ berkata Ki Tumenggung Suraprana.

Barata dan Kasadha mengangguk-angguk pula. Sementara itu Ki Suraprana berkata seterusnya, “Yang kita cemaskan adalah sikap orang-orang yang tidak mau menerima keadaan ini. Apalagi langkah yang diambil oleh para pemimpin Demak tentang Tanah Perdikan. Rasa-rasanya Tanah Perdikan akan dihapuskan di seluruh daerah Pajang. Sementara Mataram tidak mengambil kebijaksanaan seperti itu.”

“Bagaimana hubungannya dengan Mataram Ki Tumenggung?“ bertanya Barata ragu-ragu.

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sadar, sebagai seorang prajurit aku tidak pantas mengatakan hal ini. Tetapi yang terjadi sudah bukan merupakan rahasia lagi. Hampir setiap hari, beberapa orang Pajang telah berpindah ke daerah Mataram. Mereka telah merasa hidupnya tidak tenang di Pajang. Apalagi mereka yang terkena peraturan, sepertiga dari tanahnya diambil untuk orang-orang Demak yang datang di Pajang. Jika hal seperti ini berkepanjangan, serta persoalan Tanah Perdikan itu tidak juga dicari pemecahan yang paling baik, maka orang-orang Pajang akan meninggalkan Pajang, dan Tanah-tanah Perdikair akan berpihak kepada Mataram. Pertentangan antara Mataram dan Pajang akan timbul kepermukaan lagi sehingga akan membayang perang baru antara Pajang dan Mataram.”

Barata dan Kasadha hanya mengangguk-angguk saja. Namun demikian, keterangan Ki Tumenggung tentang kebijaksanaan Pajang mengenai Tanah Perdikan sangat menarik perhatiannya. Apalagi Tanah Perdikan Sembojan adalah Tanah Perdikan yang sedang kosong dan bahkan dipersoalkan oleh beberapa orang. Belum ada seorang yang ditetapkan menjadi Kepala Tanah Perdikan, sementara pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu adalah, seorang perempuan yang menurut penilaian umumnya adalah orang-orang yang lemah.

Tetapi Barata tidak dapat menanyakannya langsung kepada Ki Tumenggung karena ia datang tidak sebagai anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu, Ki Tumenggungpun telah berhenti sejenak ketika seorang pelayan telah menyajikan suguhan bagi kedua orang prajurit itu. Minuman hangat dan beberapa potong makanan.

Namun kemudian sambil menghirup wedang sere dengan gula kelapa, serta mengunyah makanan, Ki Tumenggung telah berkata selanjutnya, “Nah, yang penting kalian ketahui adalah bahwa Ki Lurah akan kami pindahkan. Sebenarnya akupun ingin menanyakan kepada kalian berdua, apakah kalian lebih tertarik untuk meninggalkan barak itu dan bertugas ditempat lain, atau kalian sudah merasa lebih mapan di tempat itu dengan pimpinan yang lebih baik, sehingga tidak akan terulang lagi peristiwa yang tidak masuk akal itu.”

Kedua orang anak muda itu saling berpandangan. Namun Ki Tumenggungpun tersenyum sambil berkata, “Aku tidak memerlukan jawaban, sekarang. Aku tahu, kalian memerlukan kesempatan untuk memikirkannya. Untuk selanjutnya, jika kalian telah mengambil keputusan, kalian dapat datang menemui aku kapan saja kalian kehendaki. Sudah tentu dengan ijin pimpinan kesatuanmu yang baru itu.”

Kasadha dan Barata mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Kasadha telah menjawab, “Kami mohon waktu Ki Tumenggung.”

“Ya. Kaupun tentu ingin mengenal pimpinanmu yang baru itu pula,“ berkata Ki Tumenggung Suraprana.

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk pula. Tetapi mereka tidak menjawab lagi.

“Baiklah,“ berkata Ki Tumenggung Suraprana, “sebentar lagi aku juga akan pergi. Aku kira pembicaraan kita sudah selesai hari ini. Yang penting, aku hanya ingin memberitahukan kepada kalian tentang pimpinan kalian. Karena itu, kalian jangan mengambil langkah-langkah tersendiri betapapun hati kalian menjadi sakit. Kecuali jika kedua orang yang menjadi alat pendadaran itu juga mengambil sikap sendiri. Kau tentu saja berhak membela diri. Tetapi aku kira mereka tidak akan berani berbuat apa-apa lagi, karena mereka tentu merasa benar-benar dapat kalian kalahkan. Bukan karena kebetulan.”

Demikianlah, maka kedua orang prajurit muda itupun telah mohon diri untuk kembali ke barak mereka. Namun sebelum mereka meninggalkan Ki Tumenggung, Barata telah bertanya, “Jika Ki Lurah bertanya kepada kami, apa saja yang kami bicarakan disini dengan Ki Tumenggung, apakah jawab kami?”

“Katakan, bahwa Ki Tumenggung Suraprana telah berbicara dengan Ki Tumenggung Wiradigda untuk memindahkan Ki Lurah Yudoprakosa dari pasukan kecil yang agaknya tidak berkenan dihati Ki Lurah itu. Ki Tumenggung Wiradigda akan mencarikan tempat yang lebih baik dan lebih sesuai bagi Ki Lurah,“ jawab Ki Tumenggung. Lalu katanya, “Kita tidak perlu lagi menjaga perasaannya, karena orang itupun tidak pernah berusaha menjaga perasaan orang lain.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka-pun mengerti bahwa menghadapi keadaan yang berkembang kemudian, agaknya Ki Tumenggung Suraprana telah hampir kehabisan kesabarannya. Terutama menghadapi orang-orang yang didatangkan dari Demak, kecuali Ki Tumenggung Wiradigda.

Sejenak kemudian maka kedua orang prajurit muda itupun telah meninggalkan Katumenggungan kembali ke barak mereka. Ketika mereka sampai di barak, ternyata Ki Lurah Yudaprakosa masih belum kembali.

Namun kedua orang anak muda itu sudah berjanji bahwa mereka tidak akan mengatakan kepada prajurit-prajurit Pajang tentang kemungkinan pergantian pimpinan itu. Mereka sudah sepakat untuk mengatakan bahwa Ki Tumenggung ingin mengetahui latar belakang dari pendadaran yang diselenggarakan hari itu.

Sebenarnyalah demikian kedua orang prajurit muda itu berada di barak, maka kawan-kawannya telah mengerumuninya untuk mendengar apa saja yang telah di katakan oleh Ki Tumenggung Suraprana.

Tetapi seperti yang telah mereka sepakati, maka mereka hanya mengatakan sekitar pendadaran aneh yang telah diselenggarakan oleh Ki Lurah Yudoprakosa.

“Apa yang dikatakan Ki Tumenggung tentang Ki Lurah? “ tiba-tiba salah seorang kawannya bertanya.

Kedua orang anak muda itu memang termangu-mangu. Namun yang menjawab kemudian adalah Barata, “Ki Tumenggung tidak dapat mengerti, kenapa Ki Lurah telah melakukan hal itu.”

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Namun mereka berharap bahwa Ki Tumenggung Suraprana dapat bertindak lebih jauh. Tidak sekedar mendengar keterangan tentang barak dan pimpinannya di barak itu.

Baru ketika matahari telah jauh turun di sisi Barat langit, Ki Lurah Yudoprakosa datang. Wajahnya nampak muram. Sementara pandangannya menjadi sayu.

Para prajurit yaijg bertugas di regol berdiri tegak sambil menghormatinya. Ki Lurahpun mengangguk pula sambil mencoba untuk tersenyum. Tetapi senyumnya terlalu hambar, karena bukan kebiasaannya untuk tersenyum selama ia berada dibarak itu. untuk waktu yang masih sangat singkat.

Barata dan Kasadha terkejut ketika demikian Ki Lurah memasuki ruangan khususnya, demikian ia memerintahkan memanggil kedua orang anak muda itu.

“Ada apa lagi?“ desis Kasadha.

“Aku tidak mau lagi menerima perlakuan gila,“ geram Barata.

“Ya. Setidak-tidaknya ada orang yang memperhatikan kita,“ berkata Kasadha.

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Tumenggung Suraprana tentu akan mengusut jika terjadi sesuatu di barak ini.”

Dengan ragu-ragu Barata dan Kasadha telah memasuki bilik khusus itu. Dengan wajah kosong Ki Lurah mempersilahkan keduanya untuk duduk diamben panjang.

“Aku telah menghadap Ki Tumenggung Wiradigda,“ berkata Ki Lurah.

Kedua orang anak muda itu tidak menyahut. Keduanya justru menundukkan kepada mereka dalam-dalam.

Namun tiba-tiba Ki Lurah itu bertanya, “Bukankah kau telah menghadap Ki Tumenggung Suraprana?”

Kedua anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun keduanya ternyata telah menjadi berdebar-debar juga.

Seperti yang mereka duga, maka Ki Lurah Yudoprakosa itupun bertanya, “Apa yang dikatakan oleh Ki Tumenggung Suraprana kepada kalian?”

Tetapi Kasadha dan Barata sudah membawa jawabnya. Karena itu tanpa ragu-ragu Baratalah yang menjawab, “Ki Tumenggung Suraprana minta beberapa keterangan tentang pendadaran yang diselenggarakan di halaman itu. Serta memberitahukan bahwa atas pembicaraan Ki Tumenggung Suraprana dan Ki Tumenggung Wiradigda, maka Ki Lurah Yudaprakosa akan dipindahkan tugasnya ketempat yang lebih baik.”

“Persetan,“ geram Ki Lurah, “kau tahu istilah ketempat yang lebih baik itu?”

Kedua orang anak muda itu menggeleng. Dengan nada rendah Barata menjawab, “Tidak Ki Lurah.”

“Aku akan ditempatkan justru di tempat yang paling buruk. Tetapi itu adalah akibat yang wajar dari sikap seorang prajurit yang berpegang teguh pada paugeran. Kali ini Ki Tumenggung Wiradigda tidak melihat apa yang aku lihat pada kalian. Tetapi lain kali Ki Tumenggung akan mengakuinya.”

Kasadha dengan tidak sabar bertanya, “Apa yang Ki Lurah lihat pada kami.”

“Aku melihat satu kelebihan pada kalian berdua. Kelebihan itu tidak boleh terpendam. Kelebihan itu harus dilihat oleh semua orang prajurit di barak ini, sehingga kalian berdua dihormati sebagaimana layaknya. Itulah sebabnya aku berpura-pura melakukan pendadaran ulang. Dengan cara itu maka seluruh prajurit akan melihat bersama-sama apa yang mampu kalian lakukan,“ jawab Ki Lurah.

Jawaban itu memang mengejutkan. Untuk beberapa saat Barata dan Kasadha tidak dapat berkata sepatah kata-pun. Namun keduanya tidak percaya akan keterangan itu. Mereka mendengar beberapa pembicaraan pendek antara kedua raksasa itu dengan Ki Lurah sesaat sebelum pendadaran dimulai. Sementara itu hal seperti itu sudah pernah dilakukan pula sebelumnya.

Tetapi mendengar langsung dengan tiba-tiba pengakuan yang tidak disangkanya itu, maka kedua anak muda itu telah terdiam.

Sementara itu Ki Lurahpun telah berkata selanjutnya, “Tetapi aku tidak menyesal. Meskipun aku sudah pindah ketugas yang lain, namun keinginanku untuk menunjukkan kelebihan kalian berdua sudah terjadi. Bahkan adalah diluar rencanaku bahwa Ki Tumenggung Suraprana dari Pajang dan Ki Tumenggung Wiradigda dari Demak sempat menyaksikannya, sehingga mereka langsung dapat melihat kemampuan kalian. Mudah-mudahan kalian akan benar-benar mendapat tempat yang lebih baik dengan kelebihan kalian itu, misalnya kalian dapat diangkat menjadi Lurah Penatus seperti aku.”

Kedua anak muda itu masih saja berdiam diri. Sementara Ki Lurah berkata selanjutnya, “Aku sadar, bahwa akan dapat terjadi salah paham karena yang aku lakukan sengaja terselubung dan dengan cara seorang prajurit yang barangkali terlalu keras. Tetapi apa yang terjadi di Demak lebih keras dari apa yang aku lihat di Pajang. Prajurit Pajang sudah terbiasa dimanjakan sejak pemerintahan Sultan Hadiwijaya, sehingga ketika menghadapi bahaya yang sebenarnya, Pajang bagaikan kehilangan pegangan.”

Kasadha dan Barata masih saja berdiam diri.

Karena Kasadha dan Barata tidak menjawab, maka Ki Lurah itupun berkata, “Baiklah. Kesempatan ini ingin aku pergunakan untuk minta diri. Besok aku akan mengumpulkan semua prajurit, mengatakan sebagaimana yang telah aku katakan kepada kalian berdua kemudian juga minta diri. Pemindahan itu akan dilakukan secepatnya. Tetapi tidak apa-apa, karena bagi seorang prajurit, dimanapun aku ditempakan, tidak akan ada bedanya. Tetapi satu hal pernah aku lakukan disini atas kalian sehingga kalian tentu akan mendapatkan kesempatan lebih baik. Mungkin dari Ki Tumenggung Suraprana, mungkin dari Tumenggung Wiradigda.”

Kasadha dan Barata masih tetap berdiam diri, sehingga akhirnya Ki Lurah itu berkata, “Baiklah. Kembalilah ke bilik kalian masing-masing. Mudah-mudahan kalian, benar-benar mendapat tempat yang baik dan tidak melupakan apa yang pernah aku lakukan bagi kalian.”

Adalah diluar sadar ketika kedua orang anak muda itu hampir berbareng berkata, “Terima kasih Ki Lurah.”

Ki Lurah Yudoprakosa menepuk pundak anak-anak muda itu. Sambil tersenyum ia berkata, “Jarang aku temukan prajurit seperti kalian ini di Pajang.”

Barata dan Kasadha tidak menjawab lagi. Namun merekapun kemudian minta diri dan meninggalkan ruang khusus itu. Ki Lurah mengantar mereka sampai kepintu sambil berkata, “Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi pada kesempatan lain.”

Namun demikian kedua orang anak muda itu melangkah menjauh, Ki Lurah itu menghentakkan tangannya pada dinding biliknya sehingga terguncang. Sambil menggeram ia berdesis, “Aku bunuh kalian berdua pada kesempatan lain.”

Sementara itu Barata dan Kasadha tidak langsung kembali ke dalam bilik masing-masing. Di sebuah longkangan, diantara barak-barak yang membujur, keduanya duduk dibawah bayangan pepohonan. Ketika seorang prajurit lewat, maka ia terkejut. Tetapi setelah diketahuinya bahwa yang duduk di sepotong papan memanjang dibawah pepohonan itu adalah Kasadha dan Barata, maka prajurit itu justru mendekat sambil bertanya, “Bagaimana? Bukankah kalian telah dipanggil oleh Ki Lurah?”

“Ya,“ jawab Kasadha.

“Bukankah tidak terjadi sesuatu atas kalian?“ bertanya prajurit itu pula.

“Tidak. Tidak apa-apa,“ jawab Kasadha pula.

“Sokurlah. Kawan-kawan sudah siap,“ desis prajurit itu.

Kasadha dan Barata terkejut. Serentak mereka bertanya, “bersiap untuk apa?”

Prajurit itu tersenyum. Katanya, “Kawan-kawan telah sepakat. Jika terjadi apa-apa atas kalian berdua, maka kawan-kawan akan mengambil tindakan langsung terhadap Ki Lurah.”

“Ah,“ Barata tiba-tiba saja telah meloncat bangkit, “jangan begitu. Itu satu pemberontakan. Kalian dapat dikenakan tindakan dengan hukuman yang berat. Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan kalian memperhatikan nasib kami berdua. Tetapi jangan dengan cara itu, karena kalian akan mengorbankan masa depan kalian.”

“Kami tidak mempunyai pilihan lain. Kawan-kawan sekarang masih berkumpul dibelakang barak, tempat latihan bagian belakang,“ jawab prajurit itu, “meskipun tidak semua, tetapi sebagian besar dari kami ada disana. Yang lain tetap pada tugas masing-masing untuk mengelabui Ki Lurah.”

Kasadha dan Barata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Kasadhapun berkata, “Kita akan pergi ke sana.”

Ketika Kasadha dan Barata datang bersama seorang prajurit maka beberapa kelompok prajurit yang ada di lapangan tempat berlatih itupun segera menyongsongnya.

“Tidak ada apa-apa Ki Sanak,“ berkata Kasadha kemudian, “kami berterima kasih kepada kalian. Kami sudah mendengar apa yang siap kalian lakukan. Tetapi kalian telah melangkah terlalu jauh sebagai seorang prajurit. Apa yang kalian lakukan ini dapat digolongkan sebagai satu pemberontakan. Karena itu, aku persilahkan kalian kembali ke barak kalian masing-masing. Apapun yang terjadi atas kami, maka cara pembelaan yang kalian lakukan sebaiknya dengan mempergunakan cara yang lain dari sebuah pemberontakan.”

Seorang diantara mereka menyahut, “Kami sangat cemas tentang kalian.”

“Tetapi berhati-hatilah mengambil langkah. Suasana di Pajang memang agak suram sekarang ini.“ sambung Barata, “bagaimanapun juga, kalian harus memikirkan masa depan kalian masing-masing. Kita masih sama-sama muda. Hari-hari mendatang masih panjang bagi kita semua. Sementara kita tidak tahu sampai kapan pergolakan ini berlangsung di Pajang. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Tetapi kalian jangan mengorbankan diri kalian bagi kami.”

Para prajurit itu memang tidak menjawab. Tetapi mereka tahu maksud baik Kasadha dan Barata, agar mereka tidak mengalami kesulitan atas sikap mereka terhadap pimpinan mereka.

“Sekarang, silahkan, sebelum Ki Lurah mengetahui dan memberikan laporan yang dikarangnya sendiri tanpa melihat alasan yang sebenarnya kalian berkumpul disini,“ berkata Kasadha, “kita akan kembali ke barak dan beristirahat.”

Para prajurit itupun kemudian seorang demi seorang telah meninggalkan tempat latihan dibelakang barak mereka. Meskipun mereka masih saja berbicara tentang Ki Lurah, tetapi mereka telah memasuki barak masing-masing. Beberapa diantara mereka langsung menjatuhkan diri dipembaringan sehingga amben bambu itu berderit.

Tetapi untuk beberapa saat justru Kasadha dan Baratalah yang masih tinggal.

Dengan nada rendah Barata kemudian berkata, “Aku merasa, bahwa akhirnya aku bukan dilahirkan untuk menjadi seorang prajurit.”

Kasadha terkejut. Dengan serta merta ia bertanya, “Apa maksudmu?”

Barata tidak segera menjawab. Tetapi terkilas wajah ibunya yang gelisah karena sikap Pajang terhadap Tanah-tanah Perdikan yang mengalami kegoncangan. Orang-orang Demak di Pajang sebagian memperhatikan Tanah Perdikan itu sebagai satu sumber derajat dan penghasilan khusus. Justru bekerja sama dengan orang-orang Pajang sendiri yang hatinya lemah dan justru memanfaatkan keadaan.

“Kau nampak gelisah. Bukankah Ki Tumenggung Suraprana telah memberikan banyak penjelasan. Bahkan tentang pergantian Ki Lurah Yudaprakosa?“ bertanya Kasadha.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya aku tidak akan dapat bertahan terlalu lama untuk menjadi seorang prajurit. Agaknya tidak sesuai dengan pembawaanku. Mungkin aku seorang yang terlalu malas untuk dapat bekerja keras sebagai seorang prajurit. Justru tidak diwaktu perang. Aku merasa malas untuk bangun pagi-pagi. Melakukan pemanasan tubuh. Kemudian latihan-latihan, beristirahat, makan. Bertugas jaga di regol, makan lagi, kemudian tidur. Aku merasa bahwa kerja yang harus aku lakukan terlalu berat.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau memang aneh Barata. Ketika kita sedang berperang, kau tidak pernah mengeluh. Dalam keadaan apapun kau tetap tegar dalam tugasmu. Kau telah menyelamatkan nyawaku, bahkan kelompokku. Kau telah melakukan apa saja yang sulit dilakukan orang lain. Sekarang, kau merasa terlalu berat untuk tidak berbuat apa-apa di barak ini. Aku tahu, bahwa kau tentu telah kecewa. Tetapi apakah kita tidak dapat menunggu sejenak, sehingga pada suat u saat kita akan memasuki satu keadaan yang lebih baik dari sekarang?”

Tetapi persoalan Tanah Perdikan itu selalu membayanginya. Sehingga karena itu, maka katanya, “Kasadha. Kita sudah menempuh satu kehidupan bersama. Justru saat-saat yang paling berat. Banyak hal yang bersama-sama kita alami. Rasa-rasanya memang terlalu berat untuk begitu saja berpisah. Tetapi bagaimanapun juga, akhirnya kita memang harus berpisah. Jika tidak karena salah seorang dari kita meninggalkan lapangan keprajuritan, juga pada suatu saat kita akan mendapat tugas yang berbeda.”

“Ya,“ Kasadha mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Hal seperti itu memang harus kita sadari. Tetapi jika kau meninggalkan lapangan keprajuritan rasa-rasanya perpisahan ini menjadi aneh. Berbeda jika kita mendapat tugas kita masing-masing ditempat yang berbeda. Apalagi perpisahan itu terjadi demikian cepatnya.”

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Aku juga merasakan hal seperti itu. Tetapi ada sesuatu yang mendorongku untuk melakukannya. Meninggalkan satu dunia yang terasa semakin lama tidak menjadi semakin akrab, tetapi semakin asing. Mungkin karena perubahan keadaan yang terjadi di Pajang. Kebetulan bahwa terjadi pula pergolakan di kalangan keprajuritan. Keadaan itulah yang membuat aku semakin tidak memahami duniaku sekarang ini.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya iapun merasakan keadaan seperti itu. Tetapi bagi Kasadha, maka tempat itu adalah tempat yang paling baik baginya. Pada suatu saat, orang-orang yang memburunya karena mereka memburu ayahnya akan menjadi semakin melupakannya. Ia berharap bahwa wajahnya menjadi berubah. Ia sudah menunggu kumisnya tumbuh dan membiarkannya menjadi panjang.

Kasadha yang masih juga begitu seperti Barata itu merasa dirinya yatim piatu sehingga ia sama sekali tidak mempunyai keinginan pulang, karena ia merasa tidak ada orang yang menunggunya diantara keluarganya. Memang, “kadang-kadang terbersit keinginannya untuk bertemu dengan gurunya. Namun keinginan itupun tidak sangat mendesaknya, sehingga kapan saja ia akan dapat minta ijin barang dua tiga hari untuk menengoknya.

Demikianlah, ketika kemudian keduanya telah berada di pembaringan, maka keduanya tidak segera dapat tidur. Kasadha selalu memikirkan sikap Barata. Ia tentu akan merasa sepi untuk waktu yang lama sebelum ia mendapat satu kesibukan yang akan banyak menyerap perhatiannya.

Namun Kasadha itu akhirnya berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak boleh cengeng. Aku tidak boleh tergantung kepada orang lain, siapapun orang itu. Jika Barata memilih jalannya sendiri, maka itu adalah haknya. Dan aku harus tegak pada sikapku sendiri. Aku harus memilih yang terbaik bagiku.”

Meskipun demikian, Kasadha masih juga belum dapat tidur dengan nyenyak. Bagaimanapun juga rencana kepergian Barata tidak dapat dikesampingkannya begitu saja.

Sementara itu Barata juga sulit untuk dapat segera tidur. Bermacam-macam persoalan hilir mudik di angan-angannya. Sebenarnya ia juga merasa berat untuk dengan tiba-tiba saja meninggalkan Kasadha yang dalam keadaan yang paling gawat di Randukerep rasa-rasanya sudah bersama-sama berada dalam satu kemungkinan hidup dan mati.

Tetapi ia tentu tidak akan dapat berpangku tangan menghadapi kemungkinan yang paling buruk yang mungkin terjadi atas Tanah Perdikan Sembojan. Jika Pajang mengambil keputusan untuk menghapus Tanah Perdikan yang besar seperti Sembojan, maka akibatnya tentu akan sangat terasa bukan saja oleh ibunya, tetapi oleh seluruh rakyat Tanah Perdikan itu.

Karena itu, maka akhirnya Barata benar-benar mengambil satu keputusan untuk kembali ke Tanah Perdikan Sembojan. Kembali kedalam lingkungannya yang jauh lebih kecil dari lingkungan keprajuritan Pajang. Namun lingkungan yang telah melahirkannya. Ia menghirup udara Tanah Perdikan Sembojan disaat ia lahir. Ia dibesarkan di Tanah Perdikan itu meskipun dalam bayangan kecemasan. Namun ternyata Sembojan telah memberikan banyak sekali kepadanya, sehingga akhirnya ia berada dilingkungan keprajuritan. Jika ia berada di padepokan kecilnya atau dimana saja, itu bukan berarti bahwa ia telah terpisah dari Sembojan.

“Seandainya tidak ada perubahan kebijaksanaan di Pajang mungkin aku akan berpendirian lain,“ berkata Barata itu didalam hatinya.

Tetapi Barata juga tidak berniat dengan serta merta menyatakan sikapnya. Ia memang akan menunggu sampai segala sesuatunya menjadi lebih jelas.

Lewat tengah malam, baik Kasadha maupun Barata baru dapat meletakkan beban perasaannya, sehingga menjelang dini mereka baru dapat tertidur.

Pagi-pagi seperti biasanya, maka seisi barak telah melakukan pemanasan tubuh. Mereka melakukan kegiatan yang tertib bersama-sama untuk memberikan pengantar pada tugas-tugas mereka kemudian, serta untuk melenturkan tubuh sebagaimana diperlukan oleh seorang prajurit.

Namun ketika kegiatan itu selesai, Ki Lurah Yudaprakosa tidak segera mempersilahkan para prajurit untuk membenahi diri sebagaimana biasanya, tetapi Ki Lurah telah memberikan sedikit sesorah tentang dirinya sendiri dan tentang pendadaran yang telah diselenggarakan dihari sebelumnya. Dengan lantang Ki Lurah mengatakan sebagaimana dikatakannya kepada Kasadha dan Barata tentang kedua orang anak muda itu.

Beberapa orang prajurit memang menjadi tercengang. Mereka untuk sekilas percaya kepada ceritera Ki Lurah Yudaprakosa. Namun ketika mereka mulai berpikir, maka berbagai pertanyaan telah timbul. Mereka tidak saja menilai pendadaran itu sendiri, tetapi sikap Ki Lurah itu serta langkah-langkah yang diambilnya dalam waktu yang sangat singkat, selama ia berada di barak itu.

Tetapi tidak seorangpun yang membantahnya. Semua orang memandanginya sambil mendengarkan sesorahnya.

Ki Lurahpun menyadari bahwa ia tidak dapat berharap para prajurit itu mempercayainya begitu saja. Karena itu, maka katanya kemudian, “Terserah kepada kalian. Percaya atau tidak percaya. Tetapi aku sudah merasa melakukan sesuatu yang terbaik yang dapat aku lakukan. Aku tidak tahu sejak kapan aku akan ditarik meninggalkan barak ini. Namun aku sudah puas, bahwa aku telah melakukan sesuatu. Kemarin aku sudah mendapat pemberitahuan bahwa aku akan segera dipindahkannya. Tetapi aku tidak tahu, kapan pemindahan itu akan dilaksanakan. Mungkin nanti, besok atau sepekan lagi atau jika sudah ada orang lain yang akan menggantikan aku.”

Semua orang terdiam. Namun Baratalah yang mulai berpikir. Semula ia ingin menunggu sampai Ki Lurah itu meninggalkan barak, baru ia akan minta diri. Ia berniat untuk tidak menyinggung perasaan Ki Lurah pada saat terakhir ia berada di lingkungan keprajuritan itu. Tetapi jika Ki Lurah kemudian tidak pasti bahkan mungkin masih cukup lama, maka Barata harus berpikir lagi. Rasa-rasanya ia sudah demikian didesak oleh satu keinginan untuk berada di Tanah Perdikannya. Apalagi karena sudah ada satu dua Tanah Perdikan yang mulai dibekukan.

Ki Lurah memerlukan waktu yang agak panjang untuk sesorah. Namun akhirnya ia berkata, “Tetapi selama belum ada perintah, aku tetap Lurah Penatus disini. Perintahku tetap harus diterima sebagai perintah seorang pemimpin disini.”

Beberapa orang pemimpin kelompok menarik nafas dalam-dalam. Ada beberapa kemungkinan dapat terjadi. Ki Lurah itu berusaha untuk meninggalkan kesan yang baik. Atau justru memanfaatkan kesempatan yang pendek itu untuk membalas dendam.

Namun sejenak kemudian Ki Lurah telah membubarkan para prajurit itu untuk kembali ke barak masing-masing serta berbenah diri untuk memasuki tugas mereka di hari itu.

Barata yang selalu digelitik oleh perasaannya itu telah menemui Kasadha sambil berkata, “Bagaimana jika aku menghadap Ki Tumenggung Suraprana untuk mendengar petunjuknya?”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Tumenggung itu hatinya agaknya cukup terbuka. Aku kira ada juga baiknya kita menghadapnya.”

“Besok kita akan menghadap. Besok kita akan minta ijin kepada Ki Lurah disore hari. Atau barangkali kita dapat mempergunakan waktu istirahat serta saat-saat kita mendapat waktu keluar,“ berkata Barata.

“Kita tidak usah minta ijin khusus kepada Ki Lurah. Kita pergunakan saja waktu kita disore hari saat-saat kita tidak bertugas,“ berkata Kasadha.

Barata mengangguk-angguk. Keperluannya lebih banyak berhubungan dengan kepentingan pribadinya. Karena itu, maka mereka memang tidak perlu minta ijin khusus kepada Ki Lurah, meskipun jika secara kebetulan Ki Lurah mengetahui, persoalannya akan dapat berkepanjangan. Tetapi dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya, pendadaran ulang sebagai satu usaha Ki Lurah untuk menjatuhkan hukuman yang sangat berat tetapi terselubung, maka Ki Lurah tidak akan berani melakukan tindakan sekehendak hatinya lagi.

Sebenarnyalah dihari berikutnya, ketika para prajurit yang tidak bertugas mendapat kesempatan untuk keluar dari barak, maka Barata dan Kasadha telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Tanpa diketahui oleh orang lain, bahkan prajurit-prajurit dalam kelompok mereka sendiri, keduanya telah pergi ke rumah Ki Tumenggung Suraprana.

Adalah kebetulan sekali bahwa Ki Tumenggung sore itu tidak bertugas keluar. Karena itu, maka kedua anak muda itupun telah diterimanya dengan senang hati.

Barata tidak lagi menyembunyikan niatnya. Meskipun ia tidak mengatakan alasan yang sebenarnya, tetapi ia telah mengatakan, bahwa ia berniat untuk mengundurkan diri dari lingkungan keprajuritan.

“Kenapa?“ Ki Tumenggung memang agak terkejut.

Alasan yang dikemukakan oleh Barata, adalah alasan sebagaimana pernah dikatakannya kepada Kasadha.

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas serta pengenalan yang mendalam terhadap berbagai sifat manusia, maka Ki Tumenggung merasakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Barata. Tetapi bagaimanapun juga yang disembunyikan itu tentu juga alasan yang sangat penting bagi Barata secara pribadi, yang menurut pertimbangannya tindak perlu diketahui oleh orang lain.

Karena itu, Ki Tumenggung yang bijaksana itu sama-sekali tidak berusaha untuk mencongkel alasan itu kepermukaan.

Dengan nada rendah Ki Tumenggung itupun telah bertanya, “Apakah keputusanmu sudah bulat Barata?”

“Ya Ki Tumenggung,“ jawab Barata, “semakin lama aku akan menjadi semakin asing dengan diriku sendiri.”

Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Kasadha tentu akan merasa kehilangan seorang sahabat. Kalian telah pernah bekerja bersama dalam satu medan yang sangat gawat di Randukerep meskipun tidak dalam satu perang besar sebagaimana telah terjadi di Prambanan. Namun justru dalam pertempuran yang lebih kecil, maka dituntut kemampuan pribadi setiap prajurit, karena dalam pertempuran seperti itu, maka kemampuan setiap prajurit akan menentukan hidup atau mati.”

Kasadha mengangguk kecil. Katanya, “Ya Ki Tumenggung. Aku sudah berusaha untuk menahannya. Tetapi Barata nampaknya sudah bertekad bulat untuk meninggalkan dunia keprajuritan.”

“Sebenarnya akupun menyayangkan keputusan itu. Barata adalah salah seorang prajurit terbaik di Pajang. Apalagi setelah orang-orang Demak semakin berkuasa disini. Namun agaknya justru karena itu, Barata merasa kecewa. Ia masuk dalam lingkungan keprajuritan justru saat Pajang dibakar oleh tekad untuk mempertahankan diri. Namun justru kemudian sesuatu yang sama sekali tidak diduga telah terjadi. Bukan pengaruh Mataram yang mencengkam kita disini. Tetapi justru pengaruh Demak.”

Barata tidak menjawab. Ia memang tidak dapat mengatakan apa-apa dihadapan Ki Tumenggung. Bahkan tidak kepada Kasadha, yang dianggapnya sebagai sahabatnya yang terdekat.

“Barata,“ berkata Ki Tumenggung selanjutnya, “Namun segala sesuatunya terserah kepadamu. Jika jiwamu memang sudah merasa hambar, maka tidak seorangpun dapat memaksamu.”

“Aku datang untuk mohon petunjuk Ki Tumenggung,“ berkata Barata kemudian.

“Sulit bagiku untuk memberikan satu petunjuk yang tegas. Sebagian besar dari keputusannya terletak kepadamu sendiri Barata,“ berkata Ki Tumenggung, “yang dapat aku katakan adalah tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat kau dapatkan dilingkungan keprajuritan. Kau telah terbukti memiliki kelebihan dari prajurit kebanyakan. Agaknya kau dan Kasadha pada masa yang akan datang, akan mendapat kesempatan pertama untuk diangkat dalam kedudukan yang lebih tinggi. Itu jika keadaan di Pajang wajar tanpa campur tangan orang-orang Demak. Sedangkan kemungkinan lain diluar lingkungan keprajuritan aku tidak dapat mengatakannya.”

Barata mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Ki Tumenggung tidak akan dapat memberikan petunjuk yang pasti, karena sebagaimana dikatakannya, segala sesuatunya tergantung pada dirinya.

Namun kemudian Barata mohon petunjuk, kapan sebaiknya ia minta diri dari lingkungan keprajuritan, karena penarikan Ki Lurah Yudaprakosa masih belum pasti. Sehingga ia tidak akan dapat memperhitungkan waktunya.

“Memang belum pasti,“ berkata Ki Tumenggung, “menurut pendapatku, kau tidak usah menunggunya.”

Sambil mengangguk hormat Barata berkata, “Aku mengucapkan terima kasih Ki Tumenggung. Sekaligus aku mohon diri jika aku tidak dapat menghadap Ki Tumenggung lagi.”

Ki Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apaboleh buat. Tetapi aku merasa prajurit Pajang telah kehilangan salah seorang, yang terbaik diantaranya.”

Demikianlah, maka kedua orang anak muda itu telah mohon diri. Ki Tumenggung yang mengantar mereka sampai ke regol sempat bertanya, “Apakah kau juga akan menemui Ki Lurah Dipayuda?”

“Dimana kami dapat menemuinya Ki Tumenggung?“ bertanya Barata.

“Rumahnya memang agak jauh diluar kota Pajang. Tetapi ia sering datang kemari. Jika pada suatu saat ia datang, biarlah aku mengatakannya tentang rencanamu,“ berkata Ki Tumenggung.

“Terima kasih Ki Tumenggung.”

“Tetapi aku tidak tahu pasti, kapan Ki Lurah itu datang kemari. Anaknya adalah seorang pedagang kuda yang sering datang ke kota. Jika bukan Ki Lurah sendiri, biarlah jika anaknya singgah ke rumahku aku akan berpesan kepadanya. Dalam waktu dekat anaknya tentu datang, karena aku telah memesan seekor kuda berwarna gelap. Kudaku yang satu sudah terlalu tua,“ berkata Ki Tumenggung.

“Terima kasih Ki Tumenggung,“ jawab Barata sambil mengangguk dalam-dalam.

Sejenak kemudian, maka kedua orang prajurit muda itu telah meninggalkan rumah Ki Tumenggung. Barata sempat bergumam, “Mudah-mudahan aku dapat minta diri kepada Ki Lurah Dipayuda sebelum meninggalkan barak.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun segala sesuatunya tergantung kepada kehadiran Ki Lurah atau anaknya.

Namun tiba-tiba saja Kasadha itu berkata, “Ternyata anak Ki Lurah Dipayuda tidak menjadi seorang prajurit.“

“Ya,“ desis Barata, “Ki Lurah sendiri seorang prajurit yang sudah cukup lama mengabdi kepada Pajang.”

Barata mengangguk-angguk. Namun iapun berdesis, “Malam nanti aku akan menghadap Ki Lurah Yudaprakosa.”

“Demikian tergesa-gesa Barata?“ bertanya Kasadha dengan suara dalam.

Barata hanya menarik nafas panjang. Hampir saja ia mengatakan dorongan yang memaksanya meninggalkan lingkungan keprajuritan. Tanah Perdikan dalam hubungannya dengan kebijaksanaan para pemimpin yang datang dari Demak. Namun ia masih sempat mengendalikan diri.

“Itu persoalan yang sangat pribadi,“ berkata Barata didalam hatinya meskipun ia tidak merasa ketakutan bahwa ada orang yang akan menyingkirkannya. Persoalan yang dihadapinya kini tidak lagi seseorang yang dianggap membahayakan jiwanya, tetapi adalah kebijaksanaan pimpinan pemerintahan yang sebagian datang dari Demak serta sebagian orang Pajang sendiri itulah.

Seperti yang dikatakannya, maka ketika malam mulai turun, Barata telah menemui Kasadha untuk menyatakan niatnya menghadap Ki Lurah Yudaprakosa. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku ingin persoalanku cepat selesai.”

Kasadha mengangguk kecil. Katanya, “Hati-hatilah berbicara dengan Ki Lurah. Jika kau memerlukan aku, panggil aku disini.”

Barata mengangguk kecil. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi.

Dengan jantung yang berdebar-debar, maka Barata telah datang menghadap ke bilik Ki Lurah Yudaprakosa. Nampaknya Ki Lurah juga terkejut menerima kedatangan Barata. Hampir saja ia membentaknya dan mengusirnya. Tetapi ketika ia melihat prajurit muda itu berdiri tegak didepan pintu serta pandangan matanya yang berat memandanginya, maka dengan ramah Ki Lurahpun telah mempersilahkannya masuk.

“Apa yang dapat aku bantu?“ bertanya Ki Lurah Yudaprakosa.

Baratapun kemudian dengan singkat telah menjelaskan maksudnya untuk minta diri, mengundurkan diri dari lingkungan keprajuritan.

“Kau salah paham Barata,“ desis Ki Lurah, “bukankah sudah aku katakan, bahwa niatku baik?”

“Tidak Ki Lurah,“ potong Barata dengan serta merta, “tidak ada hubungannya dengan pendadaran ulang itu.”

“Jadi kenapa tiba-tiba saja kau ingin mengundurkan diri dari lingkungan keprajuritan? Kau adalah satu diantara dua orang terbaik disini. Seharusnya kau bangga dengan kelebihanmu itu di dunia keprajuritan,“ berkata Ki Lurah.

“Aku mengerti Ki Lurah. Tetapi ada sesuatu yang mendesak didalam hati. Kerinduan kepada orang tua, perasaanku yang ternyata sangat lemah, sehingga aku merasa terlalu letih untuk berada dilingkungan keprajuritan serta desak-desakan yang lain yang tidak aku ketahui ujung pangkalnya,“ berkata Barata.

“Bagaimana dengan Kasadha?“ bertanya Ki Lurah.

“Kasadha akan tetap tinggal disini Ki Lurah. Ini juga satu bukti bahwa kepergianku tidak ada hubungannya dengan pendadaran ulang yang baru saja dilakukan. Bahkan aku mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang Ki Lurah berikan untuk menunjukkan kelebihanku,“ jawab Barata.

Ki Lurah Yudaprakosa memang berpikir keras. Tetapi bahwa kedua orang sahabat yang memiliki kelebihan dari para prajurit kebanyakan itu sebaiknya memang berpisah.

Karena itu, maka Ki Lurah itupun kemudian berkata, “Aku sudah mendengar permohonanmu Barata. Malam nanti aku akan memikirkannya. Selanjutnya aku masih harus melaporkan kepada Ki Tumenggung Wiradigda. Besok aku akan menghadap. Mudah-mudahan besok sore aku sudah dapat memberikan jawaban.”

“Terima kasih Ki Lurah,“ desis Barata kemudian, “aku mohon pertolongan Ki Lurah. Ibuku akan ikut berterima kasih jika permohonan ini dikabulkan.”

“Kenapa ibumu?“ bertanya Ki Lurah.

“Aku akan selalu berada disampingnya. Membantunya bekerja disawah dan kerja lain dirumah. Ibuku sudah menjadi semakin tua,“ jawab Barata dengan hati yang berdebar-debar.

“Apakah hal seperti ini tidak kau pertimbangkan ketika kau memasuki lingkungan keprajuritan?“ bertanya Ki Lurah.

Barata menjadi cemas jika pembicaraan itu berkepanjangan. Namun ia menjawab, “Saat itu, Pajang memanggil anak-anak mudanya Ki Lurah, saat Pajang terancam oleh Mataram. Setiap anak muda memang merasa terpanggil. Sekarang, keadaan telah berangsur tenang dan membaik. Segala sesuatunya telah menjadi semakin tertib.”

Ki Lurah tidak segera menjawab. Sementara Barata menjadi semakin berdebar-debar. Namun akhirnya Ki Lurah itu berkata, “Baiklah. Kembalilah ke tempatmu. Besok sore atau selambat-lambatnya besok lusa aku akan memberikan jawaban.”

Barata mengangguk hormat. Iapun kemudian minta diri dan kembali ke tempatnya. Barata sempat singgah menemui Kasadha dan mengatakan jawaban Ki Lurah kepadanya.

“Ki Lurah tentu akan menerima dengan senang hati,“ berkata Kasadha.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian telah meninggalkan Kasadha yang merenungi dirinya sendiri.

Di hari berikutnya, berita tentang permohonan Barata telah tersebar kemana-mana. Ki Lurah memang telah mengatakannya kepada prajurit yang sedang bertugas. Namun dengan demikian, maka berita itu telah tersebar kesetiap telinga.

Karena itu, maka ketika para prajurit itu berkumpul di tempat latihan untuk melakukan pemanasan tubuh di pagi-pagi hari, maka Barata telah dikerumuni oleh kawan-kawannya, sehingga Barata mengalami kesulitan untuk menjawab setiap pertanyaan. Namun Barata telah menjaga diri agar tidak terloncat dari mulutnya persoalan Tanah Perdikan itu.

Siang itu Ki Lurah memang meninggalkan barak untuk menghadap Ki Tumenggung Wiradigda. Namun ketika Ki Lurah itu sampai ke Katumenggungan, maka Ki Tumenggung Suraprana telah berada di tempat itu pula.

Tetapi Ki Tumenggung Suraprana tidak mencampuri persoalan yang kemudian dikemukakan oleh Ki Lurah tentang permohonan Barata.

“Menurut keterangannya, tidak ada hubungannya dengan pendadaran ulang itu Ki Tumenggung,“ berkata Ki Lurah, “ternyata bahwa yang seorang lagi tidak menyatakan diri untuk mengundurkan diri dari lingkungan keprajuritan.”

Ki Tumenggung Wiradigda mengangguk-angguk. Sebenarnya ia sudah mendengar dari Ki Tumenggung Suraprana. Namun karena Ki Tumenggung juga tidak mencampurinya, maka hal itu tidak disinggungnya sama sekali.

“Aku mohon petunjuk Ki Tumenggung,“ berkata Ki Lurah kemudian.

Ki Tumenggung Wiradigda sebenarnya juga merasa sayang, bahwa prajurit muda yang baik itu berniat untuk mengundurkan diri. Tetapi karena itu adalah haknya, maka Ki Tumenggung itupun berkata, “Apaboleh buat. Mungkin ia dapat berbuat lebih banyak bagi Pajang setelah ia mengundurkan diri.”

Ki Lurah mengangguk-angguk kecil. Sementara Ki Tumenggung berkata, “Kita akan melepas kepergiannya dengan satu upacara khusus. Aku telah mendengar banyak laporan tentang Barata. Ia telah melakukan tugasnya dengan sangat baik disaat perang antara Pajang dan Mataram berlangsung. Sebelum ia ditarik kedalam tugas pengawalan, maka ia berada di sisi Selatan Pajang. Di Randukerep dibawah pimpinan Ki Lurah Penatus Dipayuda, maka Barata dan Kasadha telah menunjukkan kelebihannya. Mereka adalah prajurit-prajurit pilihan yang telah berjuang dengan gigih untuk menahan arus pasukan Mataram dari lambung Selatan. Karena itu maka pendadaran ulang untuk menunjukkan kelebihan mereka sebagaimana Ki Lurah katakan itu, sebenarnya tidak perlu, karena setiap prajurit sudah mengetahuinya. Bukan sekedar diarena pendadaran, tetapi benar-benar dimedan perang.”

Ki Lurah Yudaprakosa tidak menjawab, kepalanya menunduk dalam-dalam. Namun ternyata dendamnya kepada Barata menjadi semakin memuncak.

“Jadi,“ berkata Ki Tumenggung Wiradigda kemudian, “tentukan saja, kapan kau ingin melepas Barata.”

“Kami, maksudku aku dan Ki Tumenggung Suraprana akan hadir.”

Wajah Ki Lurah menjadi tegang. Namun ia tidak berani mengangkat wajah itu. Demikian pentingnya Barata bagi kedua orang Tumenggung itu sehingga keduanya akan memerlukan hadir melepasnya meninggalkan baraknya.

Tetapi Ki Lurah tidak dapat berbuat apapun juga. Ia harus menerima hal itu betapapun hatinya terasa panas.

“Nah,“ berkata Ki Tumenggung kemudian, “apakah masih ada persoalan lain yang ingin kau katakan?”

“Tidak Ki Tumenggung,“ berkata Ki Lurah dengan nada dalam bahkan, “aku akan mohon diri.”

Ki Tumenggungpun kemudian melepas Ki Lurah sampai ke tangga pendapa. Kemudian Ki Tumenggung telah berbincang kembali dengan Ki Tumenggung Suraprana yang tidak mencampuri sepatah katapun ketika Ki Tumenggung Wiradigda berbincang dengan Ki Lurah Yudaprakosa.

Ki Lurah yang kemudian kembali ke baraknya telah mengumpat didalam hatinya. Ia memang merasa tidak senang terhadap sikap Ki Tumenggung yang seakan-akan menganggap Barata seorang pahlawan.

Ketika Ki Tumenggung itu sampai kesebuah simpang tiga, tiba-tiba ia telah menarik kekang kudanya dan berbelok kekanan meninggalkan jalur jalan kembali ke baraknya.

Tetapi disore hari Ki Tumenggung sudah berada di baraknya kembali. Iapun kemudian telah memanggil Barata dan memberitahukan hasil pembicaraannya dengan Ki Tumenggung Wiradigda.

“Ki Tumenggung Suraprana juga ada disana,“ berkata Ki Lurah.

Barata menjadi berdebar-debar. Namun Ki Lurah itupun kemudian berkata, “Tetapi Ki Tumenggung Suraprana sama sekali tidak mencampuri pembicaraan kami karena ia merasa tidak berhak melakukannya.”

Barata tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-anguk saja. Namun dengan demikian ia mengerti, bahwa sebentar lagi, ia benar-benar akan meninggalkan dunia keprajuritan.

Akhirnya Ki Lurah telah memberikan laporan kepada Ki Tumenggung, bahwa tiga hari lagi, Ki Lurah akan melepas Barata dalam satu upacara sebagaimana diperintahkan oleh Ki Tumenggung.

“Baiklah,“ berkata Ki Tumenggung, “seperti yang sudah aku katakan, maka aku akan hadir dalam upacara itu.”

“Demikian upacara selesai, Barata benar-benar akan meninggalkan barak itu. “Ki Tumenggung. Aku tidak dapat mencegahnya, meskipun hanya untuk satu malam saja.”

“Kalau itu sudah menjadi keputusannya, baiklah,“ berkata Ki Tumenggung. Namun kemudian Ki Tumenggung itupun berkata, “Ki Lurah. Bukankah aku pernah memberitahukan, bahwa dalam waktu dekat Ki Lurah akan mendapat tugas baru. Karena itu, upacara itu akan dapat dilakukan sekaligus dengan melepas Ki Lurah Yudaprakosa dari jabatan Ki Lurah sekarang.”

Terasa hentakkan yang keras mengguncang dada Ki Lurah. Bahkan rasa-rasanya wajahnya menjadi panas. Bukan saja karena begitu tiba-tiba ia harus melepaskan jabatannya, namun bahwa upacara untuk melepasnya sekedar merupakan acara tambahan dari upacara yang diperuntukkan bagi Barata.

“Ini tidak masuk akal dan tidak adil,“ Ki Lurah hanya berani berteriak didalam hatinya. Tetapi ia sama sekali, tidak mengatakan sesuatu.

Namun ada sedikit kesejukan dihati Ki Lurah ketika Ki Tumenggung berkata, “Ketika aku mengusulkan untuk melepas Barata dengan satu upacara, memang sudah terbayang niat untuk sekaligus melepas Ki Lurah. Tetapi karena aku masih harus mengadakan beberapa pembicaraan, maka hal itu belum aku katakan. Karena itu, maka katakanlah bahwa upacara itu adalah upacara untuk melepas Ki Lurah sekaligus untuk melepas Barata.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas kehormatan ini Ki Tumenggung. Sudah tentu aku tidak akan menolak tugas apapun yang akan dibebankan kepadaku, karena aku adalah seorang prajurit.”

“Baiklah. Kau dapat mempersiapkannya sejak sekarang,“ berkata Ki Tumenggung.

Namun Ki Lurah masih bertanya, “Jika berkenan dihati Ki Tumenggung, apakah aku boleh mengetahui, siapakah yang akan menggantikan kedudukanku?”

“Aku masih membicarakannya. Jika sampai saatnya aku belum menemukannya, maka untuk sementara aku akan merangkap tugas Lurah Penatus dibarakmu.”

Ki Lurah termangu-mangu. Namun iapun kemudian berdesis, “Terima kasih Ki Tumenggung. Jika demikian, perkenankanlah aku mohon diri. Aku akan mulai mengadakan persiapan-persiapan dan latihan-latihan. Barangkali acara pelepasan yang dimaksud Ki Tumenggung adalah acara sebagaimana biasa dilakukan oleh para prajurit.”

“Ya. Kau tentu tahu, bagaimana hal itu dilaksanakan,“ berkata Ki Tumenggung.

Ki Lurahpun kemudian telah meninggalkan Katumenggungan. Tetapi seperti yang terdahulu, maka iapun, telah berbelok kekanan, keluar dari jalur jalan menuju ke baraknya.

Demikianlah, dihari berikutnya segala sesuatunya telah dipersiapkan oleh Ki Lurah. Ki Lurahpun telah memberitahukan kepada para prajurit, bahwa ia akan segera meninggalkan barak itu. Karena itu, maka para prajurit telah memasuki latihan upacara pelepasan Ki Lurah itu dan sekaligus melepas Barata pula.

Ternyata bahwa tanggapan para prajurit atas kepergian dua orang anggautanya sangat berbeda. Mereka merasa kehilangan Barata. Bahkan juga prajurit-prajurit yang menyusul kemudian memasuki kelompoknya, yang terpaksa diperlakukan dengan keras oleh Barata. Namun mereka merasa bersukur atas kepergian Ki Lurah Yudaprakosa yang sama sekali tidak mereka kehendaki kehadirannya di barak itu.

Demikianlah, dua hari penuh para prajurit telah melakukan latihan. Ki Lurah ingin acara pelepasan itu berlangsung dengan baik, untuk memberikan kesan terakhir bagi kehadirannya di barak itu.

Pada hari berikutnya, maka upacjara pelepasan itu akan berlangsung. Pagi-pagi benar semuanya sudah dipersiapkan. Tidak sebagaimana pernah dilakukan atas Ki Lurah Dipayuda. Tetapi kesan pelepasan saat itu akan terasa lebih mendalam.

Ki Lurah sudah menentukan titik-titik dimana ia harus berdiri. Kemudian dimana Barata harus berdiri disaat pelepasan itu berlangsung. Bagaimanapun juga, Ki Lurah Yudaprakosa adalah lebih besar daj Barata.

Pada saat yang ditentukan, maka beberapa orang pemimpin keprajuritan telah hadir. Ki Tumenggung Wiradigda dan Ki Tumenggung Suraprana benar-benar telah datang ke barak itu diiringi beberapa orang perwira dan prajurit pengawal, sehingga kesan kehadirannya memang resmi. Salah seorang dari para perwira yang mengikutinya, adalah perwira pembantu Ki Tumenggung Wiradigda yang bertugas mengatur kedudukan para perwira bawahan mereka.

Dalam pada itu, sebelum upacara pelepasan itu secara resmi berlangsung, maka Ki Tumenggung Suraprana sempat bertanya kepada Barata, apakah Ki Lurah Dipayuda telah datang.

Barata termangu-mangu. Namun iapun menjawab, “Belum Ki Tumenggung.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Aku sudah berpesan kepada anaknya yang benar-benar datang menawarkan seekor kuda yang sangat bagus. Aku setuju membeli kudanya. Sekaligus aku berpesan tentang pelepasanmu hari ini.”

Barata memang merasa kecewa. Agaknya Ki Lurah Dipayuda sudah tidak menghiraukan dirinya lagi. Karena itu, maka ia sama sekali tidak merasa perlu untuk hadir dalam pelepasan itu.

Namun Ki Tumenggung yang melihat kekecesaan itu berkata, “Sudahlah. Barangkali Ki Lurah sedang sibuk. Mungkin ada sesuatu yang harus diselesaikannya hari ini sehingga ia tidak sempat datang menengokmu atau menghadiri upacara pelepasan ini. Tetapi ia bukan berarti bahwa Ki Dipayuda telah melupakanmu.”

Barata mengangguk kecil sambil berkata, “Ya Ki Tumenggung. Mudah-mudahan aku masih sempat bertemu lagi.”

“Kesempatan itu akan datang. Ki Lurah pernah berkata kepadaku, bahwa kau dan Kasadha seakan-akan telah menjadi anak-anaknya sendiri. Itu adalah satu, penghargaan yang sangat tinggi dari seorang pimpinan langsung kepadamu dan kepada Kasadha,“ berkata Ki Tumenggung Suraprana.

Namun ternyata sampai saatnya upacara dilaksanakan, Ki Lurah Dipayuda tidak datang ke barak itu.

Demikianlah, upacara kecil itu telah berlangsung dengan lancar dan baik. Semua berjalan sesuai dengan rencana Ki Lurah. Pada saat pelepasan, maka Ki Lurah berdiri tegak dengan segenap pertanda kebesarannya. Sementara itu agak kebelakang, Baratapun berdiri tegak mendengarkan ketetapan yang diuraikan oleh seorang perwira pembantu Ki Tumenggung Wiradigda sebelum Ki Tumenggung berbicara dihadapan pasukan kecil itu.

Ketetapan yang diucapkan oleh perwira itu menyatakan, bahwa Ki Lurah Yudaprakosa telah ditarik untuk jabatan yang akan ditetapkan kemudian dengan ucapan terima kasih atas jasa-jasanya selama waktu yang terhitung singkat, membina pasukan kecil itu sebagai Lurah Penatus. Perwira itupun juga menyatakan bahwa Barata seorang prajurit yang menjabat sebagai seorang pemimpin kelompok telah menanggalkan jabatannya atas permohonannya sendiri. Permohonan itu diijinkan dan ditetapkan disertai ucapan terima kasih atas segala jasa-jasanya selama ia menjadi prajurit Pajang. Barata telah mempertahankan jiwanya dan termasuk salah seorang yang ikut menentukan keselamatan pasukan Pajang di Randukerep saat menghadapi pasukan Mataram yang berusaha menyerang Pajang dari lambung.

Semua prajurit mendengarkan ketetapan itu dengan jantung yang berdebar-debar. Mereka tidak peduli apakah Ki Lurah akan dipindahkan kemanapun atau bahkan dikembalikan ke Demak sekalipun. Namun mereka memang merasa berat berpisah dengan Barata. Apalagi mereka yang melihat langsung, apa yang telah dilakukan oleh Barata dan Kasadha di Randukerep. Bahkan Kasadhapun merasa bahwa Barata telah pernah menyelamatkan hidupnya di medan pertempuran yang garang itu.

Namun disamping kedua ketetapan itu ternyata masih ada satu ketetapan yang sangat mengejutkan. Ketetapan yang tidak diduga sebelumnya. Apalagi Ki Lurah Yudaprakosa, bermimpipun tidak.

Ketetapan itu menetapkan, berhubungan dengan jabatan pimpinan pasukan itu menjadi kosong, karena Lurah Penatus Yudoprakosa ditarik untuk jabatannya yang baru yang akan ditetapkan kemudian, maka orang akan melaksanakan tugasnya untuk sementara adalah seorang prajurit muda yang bernama Kasadha.

Ketetapan itu bukan saja mengejutkan. Tetapi juga menggemparkan. Para prajurit sekejap melupakan upacara yang sedang mereka lakukan. Mereka lupa bahwa mereka sedang berdiri tegak. Bagaimanapun juga sentuhan perasaan mereka telah mengungkit gejolak didada mereka, sehingga tiba-tiba saja terdengar para prajurit yang sedang berdiri tegak itu bersorak. Secara serta merta mereka menunjukkan dukungan mereka terhadap ketetapan itu.

Darah Ki Lurah yang memang sudah terasa panas karena kehilangan jabatannya itu menjadi semakin panas. Ia langsung dapat membaca perasaan para prajurit itu terhadap dirinya dan terhadap kedua orang prajurit muda itu. Seandainya yang diangkat itu Barata, maka sambutan merekapun akan serupa.

Dendam Ki Lurah menjadi semakin bertumpuk ditimpakan kepada Barata. Jika Kasadha benar-benar ditetapkan, ia akan mempunyai jabatan yang sama dengan jabatannya meskipun dalam urutan penugasannya masih jauh lebih muda. Kesempatannya untuk melepaskan kebenciannya kepada Kasadha akan menjadi semakin terbatas. Tetapi Barata yang sudah melepaskan diri dari kedudukannya, akan dapat diperlakukan lebih buruk lagi, tanpa banyak akibat yang harus diperhitungkan.

Demikianlah, setelah ketetapan itu dibaca, maka Ki Tumenggung Wiradigda telah memberikan sesorahnya. Tidak terlalu panjang, tetapi langsung mengenai sasarannya. Ucapan selamat kepada yang dilepas, harapan-harapan bagi yang diangkat menjadi palaksana sementara pimpinan di barak itu.

Namun didalam sesorahnya yang pendek itu ternyata tersimpan kekuatan jabatannya dan ketegasan perintahnya. Baik bagi Ki Lurah Yudaprakosa maupun bagi Kasadha.

Demikianlah sejenak kemudian maka upacara itupun dinyatakan selesai. Ki Tumenggung Wiradigda dan Ki Tumenggung Suraprana telah memberikan ucapan selamat kepada Ki Lurah dan Barata secara pribadi. Demikian pula para perwira yang lain. Sementara itu, dengan serta merta maka para prajuritpun telah mengerumuni Barata. Mereka seolah-olah telah melupakan Ki Lurah Yudaprakosa. Apalagi Ki Lurah tidak lagi menjadi pimpinan mereka sehingga perhatian merekapun tidak lagi terpancang kepadanya.

Setelah mengucapkan selamat berpisah kepada Barata yang akan segera meninggalkan barak itu, maka para prajuritpun telah mengerumuni Kasadha yang juga telah mendapat ucapan selamat secara pribadi dari para Tumenggung dan perwira yang lain.

Ki Lurah yang seakan-akan tidak lagi menjadi bagian dari kesibukan itu meriggeretakkan giginya. Kebenciannya kepada Barata semakin membakar jantungnya.

Tetapi selain para Tumenggung dan para pengiringnya, maka Barata dan Kasadhalah orang-orang yang pertama-tama mendatanginya dan mengucapkan selamat berpisah.

“Kita akan menuju kearah kita masing-masing Ki Lurah,“ berkata Barata, “namun Ki Lurah akan tetap berada didunia keprajuritan, sedangkan aku terpaksa meninggalkannya dan memasuki duniaku sendiri sebagaimana aku belum memasuki lingkungan keprajuritan.”

“Terima kasih Barata,“ berkata Ki Lurah, “mudah-mudahan kau mendapatkan ketenangan lahir dan batin di duniamu sendiri.”

“Mudah-mudahan Ki Lurah,“ sahut Barata. Sementara Kasadha berkata, “Atas nama seluruh prajurit di barak ini, kami mengucapkan terima kasih atas bimbingan Ki Lurah selama ini.”

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Selamat bagimu Kasadha. Mudah-mudahan kedudukanmu segera disahkan. Kau akan menjadi Lurah Penatus yang baik bagi prajurit-prajuritmu. Meskipun menjadi seorang pemimpin betapapun kecilnya, mempunyai kesulitannya sendiri.”

“Aku mohon doa restu Ki Lurah,“ sahut Kasadha.

Ki Lurah tersenyum, meskipun didalam hati ia mengumpat, “Gila anak ini. Ia sudah berani menyebut dirinya atas nama para prajurit, sementara ia belum melakukan tugasnya sama sekali.”

Demikianlah, maka para Tumenggung dan pengiringnya yang telah menyelesaikan upacara itupun segera minta diri. Mereka masih mempunyai tugas lain yang harus mereka lakukan hari itu.

Sepeninggal para pemimpin, maka Baratalah yang kemudian telah minta diri pula kepada Ki Lurah. Dengan nada rendah ia berkata, “Perkenankan aku mendahului Ki Lurah. Mumpung masih pagi.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan meninggalkan barak ini siang nanti. Aku sebenarnya merencanakan untuk bermalam satu malam lagi disini. Tetapi aku telah berubah pendirian. Mungkin akan lebih baik bagiku untuk meninggalkan tempat ini segera, karena aku masih harus membenahi rumahku sendiri sebelum keluargaku aku bawa kemari dari Demak,“ Ki Lurah berhenti sejenak, lalu, “Dengan siapa kau akan menempuh perjalanan kembali?”

“Sendiri Ki Lurah,“ jawab Barata.

“Sendiri? Apakah sebelumnya kau tidak memberikan kabar kepada keluargamu agar menjemputmu?“ bertanya Ki Lurah.

“Aku sudah cukup dewasa. Bahkan aku telah pernah menjadi seorang prajurit. Apa salahnya jika aku berjalan sendiri?“ sahut Barata.

Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Kau memang anak luar biasa.”

Demikianlah, setelah minta diri kepada Kasadha dan seluruh prajurit di barak itu, Barata telah meninggalkan barak yang dihuninya disaat-saat terakhir ia menjadi prajurit. Ia telah memberikan beberapa dorongan kepada Kasadha untuk melaksanakan tugasnya dengan baik.

“Jika kita berjumpa lagi, maka sedikitnya kau harus sudah menjadi Lurah Penatus yang sebenarnya. Bukan sekedar pengemban tugas untuk sementara,“ berkata Barata sebelum meninggalkan barak itu.

Kasadha mengangguk-angguk. Ketika ia bertanya tentang tempat tinggal Barata, maka yang dikatakannya adalah sebuah Kademangan yang bernama Bibis. Ia sama sekali tidak mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang paling berhak untuk menggantikannya setelah ayahnya, Ki Wiradana terbunuh. Ia sama sekali tidak mengatakan bahwa kekacauan telah timbul dirumah tangga orang tuanya setelah seorang perempuan yang bernama Warsi mulai hadir di tengah-tengah hubungan antara ayah dan ibunya.

Demikianlah, maka dengan hati yang sangat berat, terutama Kasadha, seisi barak itu telah melepas kepergian Barata yang tidak mau tertunda lagi.

Sebenarnyalah Barata merasa agak tergesa-gesa untuk bertemu kembali dengan keluarganya. Bukan sekedar menengok untuk satu dua hari dan kembali lagi ke baraknya. Tetapi ia ingin mendampingi ibunya pada saat-saat terjadi pergolakan kebijaksanaan di Pajang. Selain karena kehadiran orang-orang Demak yang ikut berkuasa di Pajang, juga karena orang Pajang sendiri sebagian ingin memanfaatkan keadaan bagi kepentingan diri sendiri.

Karena itulah maka Barata tidak ingin menuju ke Bibis, meskipun ia tahu bahwa tentu ada seseorang atau lebih berada di padepokan kecil itu. Mungkin kakeknya, mungkin neneknya atau Bibi atau Sambi Wulung dan Jati Wulung atau siapapun yang ada disana. Namun ia ingin segera berada di Tanah Perdikan Sembojan.

“Mudah-mudahan belum terjadi sesuatu di Tanah Perdikan itu. Jika Pajang sudah terlanjur mengambil tindakan, maka Sembojan harus menentukan sikap lebih lanjut,“ berkata Barata didalam hatinya.

Namun diperjalanan kembali ke Sembojan, bukan jarak yang pendek. Ia harus menempuh jarak yang cukup panjang.

Tetapi Barata sudah bertekad untuk berjalan terus meskipun nanti saatnya malam turun. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mencapai Sembojan sebelum malam. Apalagi ketika ia menengadahkan wajahnya. Matahari sudah menjadi semakin tinggi. Upacara pelepasan itu memerlukan waktu yang agak lama juga.

Dalam pada itu, Baratapun merasa kecewa, bahwa disaat terakhir ia berada di Pajang, ia tidak dapat bertemu, dengan Ki Lurah Dipayuda. Sedangkan untuk menemuinya dirumahnya akan dibutuhkan waktu tersendiri. Sementara hatinya selalu gelisah karena kebijaksanaan baru Pajang terhadap Tanah Perdikan.

“Mungkin pada kesempatan lain, aku dapat menemuinya,“ berkata Barata didalam hatinya.

Sementara Barata menempuh perjalanan jauh, Kasadha yang menyendiri, masih saja merenungi kepergian sahabatnya itu. Bahkan yang pernah menyelamatkan jiwanya. Tugas baru di barak itu memang memberikan kebanggaan kepadanya. Tetapi perasaan itu tenggelam dalam perasaan sepi sepeninggal Barata.

Namun kadang-kadang memang telah timbul pertanyaan didalam hatinya, kenapa anak itu mirip sekali dengan dirinya sendiri, sehingga pantas jika ada orang yang keliru dan menyangkanya Puguh. Seandainya Kasadha itu sendiri bukan Puguh, maka ia memang akan dapat menyangka bahwa Barata itulah Puguh.

Tetapi anak muda itu telah pergi.

Dalam pada itu, Barata sendiri telah menyusuri jalan kota Pajang yang nampak ramai. Kehidupan memang telah bangun kembali setelah perang berakhir. Tidak nampak jelas pengaruh para pemimpin Demak di Pajang dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam pemerintahan dan bidang keprajuritan pengaruh itu nampak jelas sekali.

Tetapi ketika Barata itu kemudian keluar dari regol kota, maka iapun mulai dibayangi oleh beberapa peristiwa yang telah pernah terjadi. Beberapa orang pernah menyangkanya sebagai Puguh. Orang-orang yang mendendam anak muda yang bernama Puguh itu telah berusaha menangkapnya dan membawanya.

“Apaboleh buat,“ berkata Barata, “jika aku terpaksa bertemu dengan orang-orang itu, maka aku harus membebaskan diri.”

Tetapi Barata berusaha untuk melupakan kemungkinan itu. Apalagi Barata diperkenankan membawa pedangnya selagi ia menjadi prajurit, sebagai kenang-kenangan atas tugas yang pernah dipikulnya.

Sementara itu langitpun menjadi semakin cerah. Matahari yang semakin panas memanjat langit semakin tinggi. Namun angin yang bertiup dari Selatan telah membawa kesejukan tersendiri.

Barata berjalan cepat menyusuri jalan-jalan bulak. Ia ingin segera sampai ke tujuannya.

Namun, ternyata bahwa perjalanannya tidak selancar yang di inginkannya. Ketika ia berbelok lewat sebuah tikungan di sebuah bulak panjang, maka beberapa puluh langkah dihadapannya dilihatnya dua orang yang berloncatan ke jalan yang dilaluinya.

Barata memang menjadi agak berdebar-debar. Tetapi ia mencoba untuk berjalan saja tanpa menghiraukan mereka. Bahkan Barata yang membawa sebungkus pakaiannya itu berjalan sambil menunduk.

Tetapi yang dicemaskan itu terjadi. Dua orang itu telah menghentikannya.

Semula Barata mengira bahwa ia berhadapan dengan dua orang penyamun. Apalagi bulak yang dilaluinya itu adalah sebuah bulak yang panjang.

Tetapi ternyata bahwa kedua orang itu bukan penyamun, karena seorang diantara mereka berkata, “Nah, selamat bertemu disini, Barata.”

Barata mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah kalian?”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun ternyata bahwa keduanya masih terengah-engah. Agaknya keduanya telah berlari menyusuri pematang menyusulnya dengan memotong jalan, kemudian meloncat ke jalan yang dilaluinya itu.

Namun salah seorang diantara mereka kemudian berusaha menegaskan, “Bukankah kau yang bernama Barata?”

“Ya, aku Barata,“ jawab Barata tanpa mengetahui maksud kedua orang itu.

“Kebetulan,“ berkata salah seorang diantara mereka.

“Apa yang kebetulan?“ bertanya Barata.

“Seseorang minta kau singgah sebentar untuk menemuinya,“ jawab orang itu.

“Siapa yang minta aku singgah?“ bertanya Barata mulai curiga. Tetapi yang pasti orang itu tidak menyebutnya Puguh. Karena orang itu mengenalinya sebagai Barata.

“Singgahlah sebentar,“ berkata orang itu, “nanti kau akan tahu, mungkin orang itu akan memberikan pesan kepadamu.”

Tetapi Barata itu menjawab, “Aku tergesa-gesa Ki Sanak. Karena itu, aku tidak dapat melakukan sesuatu yang tidak jelas bagiku.”

“Ki Sanak,“ berkata orang itu, “kau tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, marilah, agar tidak timbul persoalan yang tidak kau kehendaki.”

“Maaf Ki Sanak. Aku tidak merasa perlu melakukannya,“ berkata Barata sambil melangkah.

“Tetapi tunggu sebentar Ki Sanak,“ berkata yang lain, “apakah Ki Sanak tidak ingin berbicara dengan orang itu barang sebentar. Mungkin pesannya akan sangat berarti bagi Ki Sanak.”

“Jika pesannya penting, maka ia akan menunggu aku disini. Tidak usah bersembunyi,“ jawab Barata.

“Ah, kau tidak mempercayai kami berdua,“ berkata orang itu, “kami sama sekali tidak berniat buruk terhadap Ki Sanak. Kami tahu, bahwa kau adalah Barata. Prajurit pilihan di Pajang. Itulah sebabnya, maka orang itu ingin memberikan pesan.”

Barata justru menjadi semakin curiga. Orang itu tahu banyak tentang dirinya.

Ketika kemudian Barata melihat arah pandangan kedua orang itu, maka iapun telah berpaling, Panggraitannya yang sangat tajam mengatakan kepadanya, bahwa ada orang lain yang datang dari arah belakang.

Barata terkejut ketika dari tikunpgan itu muncul dua orang dari balik pohon jarak dan pohon perdu lainnya yang tumbuh di pinggir jalan. Dua orang yang bertubuh raksasa yang telah dipergunakan oleh Ki Lurah Yudaprakosa untuk melakukan pendadaran ulang.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa kedua orang itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Ia memang dapat mengalahkan seorang diantara mereka. Tetapi menghadapi mereka berdua adalah satu pekerjaan yang sangat berat. Apalagi masih ada dua orang yang lain lagi, yang bagaimanapun juga akan dapat ikut mempengaruhi pertempuran jika itu harus terjadi.

Sejenak Barata termangu-mangu. Bulak panjang itu memang sepi. Bukan musim menanam dan bukan pula musim membersihkan rumput, sehingga jarang orang pergi ke sawah.

Barata memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali menemui kedua orang bertubuh raksasa itu, apapun keperluan mereka.

Namun anak muda itu sempat berkata kepada kedua orang yang menghentikannya, “Jadi tugasmu memperlambat perjalananku begitu?”

“Ya,“ jawab seorang diantaranya, “sekarang kau tidak mempunyai kesempatan lagi.”

“Tentu masih dapat. Jika aku berlari, kedua orang raksasa itu tentu tidak akan dapat mengejarku,“ jawab Barata.

“Tetapi kami berdua dapat mengejarmu,“ berkata salah seorang diantara mereka.

“Kau akan mencoba melawan aku?“ bertanya Barata dengan suara yang meyakinkan.

Ternyata orang itu ragu-ragu, sehingga tidak segera menjawab.

Barata tertawa pendek. Katanya, “Jangan cemas. Aku akan menunggu kedua orang raksasa itu. Keduanya sama sekali tidak menakutkan bagiku, karena aku pernah mengalahkan mereka.”

“Seorang melawan seorang,“ jawab orang itu dengan serta merta.

Jawaban yang tidak diduga oleh Barata. Agaknya kedua orang itu memang banyak mengerti tentang dirinya atau banyak mendapat penjelasan dari kedua raksasa itu.

Sesaat Barata menandangi langkah raksasa yang semakin dekat itu. Sementara kedua orang yang lain berdiri dibelakangnya.

“Kau mulai menjadi cemas,“ berkata seorang diantara kedua orang itu, “raksasa itu akan dapat mematahkan tulang-tulangmu.”

“Bukankah aku sudah pernah berkelahi melawan mereka? Bukankah kau tahu bahwa satu lawan satu, mereka tidak berarti apa-apa bagiku,“ desis Barata yang, “sebenarnya memang harus menilai kembali kemampuannya jika harus dihadapkan kepada keduanya bersama-sama.”

Kedua orang itu sama sekali tidak menyahut lagi. Mereka memang melihat bahwa sikap Barata terlalu meyakinkan meskipun yang datang kepadanya adalah dua orang sekaligus.

Beberapa langkah dihadapannya kedua orang raksasa itupun berhenti. Seorang diantaranya kemudian berkata, dengan suaranya yang berat seakan-akan hanya melingkar dalam perutnya saja, “Jangan menyesali nasibmu.”

“Jadi kau mendendam?“ bertanya Barata, “bukankah peristiwa didalam gawar pendadaran itu tidak ada hubungannya dengan persoalannya kita secara pribadi?“ bertanya Barata.

“Aku tidak peduli,“ geram raksasa itu, “tetapi belum pernah ada orang yang pernah menghina kami berdua sebagaimana kau lakukan bersama Kasadha itu.”

“Jadi bagaimana sikapmu sekarang?“ bertanya Barata.

“Aku harus melepaskan dendamku kepadamu kapan saja aku mendapat kesempatan. Sekarang kesempatan itu datang. Karena itu, maka kami sudah memutuskan untuk membuatmu cacat seumur hidup. Kau akan menjadi orang yang paling menderita disisa hidupmu. Kau akan selalu menjadi tanggungan orang lain,“ geram orang bertubuh raksasa itu.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapa diantara kalian yang akan melawanku?”

“Kami berdua bersama-sama,“ jawab salah seorang dari raksasa itu, “kami menyadari, bahwa seorang diantara kami tidak akan dapat mengalahkanmu. Tetapi dua orang bersama-sama, maka kami akan dengan mudah melakukannya.”

Barata mengangguk-angguk. Tetapi tidak terbayang kecemasan di wajahnya. Bagaimanapun juga ia. tidak boleh menjadi kehilangan akal dan penalaran. Ia harus tetap tabah apapun yang akan terjadi. Jika ia menjadi ketakutan, maka ia akan kalah sebelum melakukan perlawanan.

“Baiklah,“ berkata Barata, “ternyata kalian bukan seorang yang berhati jantan sebagaimana bentuk tubuh kalian. Aku kira kalian akan dengan sikap seorang laki-laki berusaha melepaskan dendam kalian. Tetapi ternyata kalian akan bertempur berpasangan. Tetapi tidak apa. Barangkali ini satu kesempatan bagiku untuk mengembangkan ilmuku.”

“Persetan,“ geram salah seorang dari kedua orang bertubuh raksasa itu, “kau akan menjadi lumat. Tetapi kami memang ingin membiarkan kau tetap hidup, agar kau dapat menyesali tingkah lakumu yang angkuh itu.”

Tetapi Barata justru tertawa. Katanya, “Kalian akan segera melihat puncak kemampuanku yang sebelumnya belum sempat kalian ketahui, karena disaat aku mengalahkan salah seorang dari kalian, aku belum sampai kepuncak ilmuku itu.”

“Cukup,“ bentak salah seorang dari raksasa itu, “bersiaplah untuk mengalami nasib yang paling buruk.”

“Baiklah. Tetapi aku ingin bertanya sekali lagi. Darimana kalian tahu bahwa aku akan melalui jalan ini hari ini?“ bertanya Barata.

“Bukankah kau hari ini telah meninggalkan lingkungan keprajuritan? Bukankah kau akan pergi ke daerah asalmu? Kau telah diikuti oleh kedua orang itu demikian kau keluar dari barak. Ki Lurah Yudaprakosa telah mengisyaratkan kepadaku sejak ia menghadap Ki Tumenggung Wiradigda yang pertama, kemudian ditegaskan lagi sesaat ia menghadap untuk yang kedua kalinya. Ki Tumenggung Wiradigda terlalu kagum kepadamu dan kepada Kasadha, sehingga Ki Lurah yang bersama-sama datang dari Demak justru telah tersisih.”

Barata mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi Ki Lurahlah yang memberikan banyak keterangan kepadamu tentang aku? Ternyata bahwa aku memang orang yang akan dapat menjadi orang besar sehingga mendapat banyak perhatian dari seorang Lurah Penatus.”

“Cukup. Kau membual untuk mengatasi rasa takutmu. Sekarang kau harus pasrah kepada keadaan,“ geram salah seorang dari kedua raksasa itu.

Barata tidak menjawab lagi. Diletakannya bungkusan bekal dan pakaiannya. Kemudian iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Kedua orang raksasa itupun telah bersiap pula. Kepada kedua orang yang telah disuruhnya menghambat perjalanan Barata seorang diantara mereka berkata, “Jaga, agar anak itu tidak melarikan diri.”

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi kedua-nyapun telah bersiap ditengah-tengah jalan untuk menjaga agar Barata tidak sempat melarikan diri.

Kedua orang bertubuh raksasa itu mulai bergeser saling menjauh. Dengan nada geram seorang diantara mereka berkata, “Kita selesaikan anak ini dengan cepat sebelum ada orang lewat atau orang yang turun kesawah.”

Kawannya menjawab, “Tetapi hati-hati. Anak ini jangan sampai mati.”

Raksasa itu tertawa. Tetapi suara tertawanya tiba-tiba saja terputus. Satu serangan yang tidak mereka duga tiba-tiba saja telah meluncur menghantam dada salah seorang diantara kedua raksasa itu. Serangan itu cukup keras, sehingga raksasa itu terdorong surut dan bahkan kemudian telah kehilangan keseimbangannya sehingga jatuh terlentang.

Tetapi Barata tidak dapat memburunya, karena raksasa yang lain telah meloncat menerkamnya. Hampir saja kepala Barata dapat dicengkam oleh orang itu. Untunglah, bahwa Barata sempat merendah dan bahkan kemudian dengan tangannya ia sempat menghantam perut orang itu sambil berlutut pada satu kakinya.

Pukulan itu memang tidak terlalu keras. Tetapi terasa seakan-akan telah mengaduk isi perutnya sehingga rasa-rasanya menjadi sangat mual. Karena itu, maka raksasa itu terdorong selangkah surut.

***

Jilid 29

Sambil menggeram maka orang itu telah melangkah lagi, maju menerkam kepala Bharata yang masih berlutut pada sebelah kakinya. Namun sebelum orang itu mendekat, maka kaki Bharata telah terjulur kearah lambung. Bharata memang tidak mempergunakan segenap kekuatannya. Ia hanya ingin agar orang itu tidak melangkah maju lagi. Raksasa itu memang berhenti. Dengan demikian maka Bharatapun telah melenting menjauhinya. Sementara itu, yang seorang lagi telah bangkit pula sambil mengumpat-umpat. Tendangan Bharata masih terasa sakit di dadanya. Namun sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya, maka orang bertubuh raksasa itu melangkah maju mendekati Bharata. Tetapi Bharata yang bertubuh lebih kecil itu ternyata lebih tangkas bergerak. Ia telah berloncatan sambil menyerang. Namun ketika kedua orang raksasa itu benar-benar telah bertempur berpasangan, maka memang sulit bagi Bharata untuk dapat mengenai salah seorang di antaranya. Namun kedua orang raksasa itupun tidak mudah dapat menyentuh anak muda itu. Bharata yang tangkas itu berloncatan menyusup di antara kedua raksasa yang berdiri dalam jarak yang telah mereka jaga, karena mereka akan dapat mengacaukan perhatian Bharata dan menyerang dari arah yang berbeda.

Sayap Sayap yang Terkembang 962

04/05/2008 05:28:40 TETAPI ternyata bahwa mereka tidak dapat menahan Bharata di satu arah, sementara dua orang lainnya berjaga-jaga untuk menahan apabila anak muda itu melarikan diri. Sambil berloncatan menyerang, ternyata Bharata berhasil menembus batas yang telah dibuat oleh kedua orang raksasa itu. Bharata telah berhasil menyerang dengan tangkasnya. Meskipun serangannya belum mengenai sasaran, tetapi Bharata berhasil menyeberang ke belakang kedua orang raksasa itu.

“Setan kau,” geram salah seorang dari raksasa itu.

“Jangan takut. Aku tidak akan melarikan diri,” sahut Bharata. “Jika aku mau, maka aku dapat berlari kembali ke Pajang dan melaporkan apa yang terjadi sekarang ini. Maka Ki Lurah adalah orang yang akan ditangkap pertama kali. Kemudian Ki Lurah akan menunjukkan di mana kalian bersembunyi. Di Pajang, bahkan di Demak sekalipun atau dimana saja.”

“Pengecut,” geram orang itu.

“Jangan menyebut aku pengecut, karena kalian akan dapat bertanya, siapakah sebenarnya yang pengecut di antara kita,” sahut Bharata.

“Anak iblis,” raksasa itu mengumpat kasar.

Bharata tidak menjawab lagi. Tetapi ia sudah siap untuk bertempur melawan keduanya. Sementara itu kedua raksasa yang marah itu telah memutuskan untuk dengan cepat menyelesaikan anak muda itu. Karena itu, maka keduanyapun segera telah bersiap pula. Seorang di antara mereka telah menjulurkan tangannya untuk menerkam, sedang lain telah bersiap untuk menghadang.

Bharata memang menjadi berdebar-debar. Tetapi anak muda itu memiliki keyakinan, bahwa ia mampu bergerak lebih tangkas dari raksasa-raksasa yang memang agak lamban. Namun Bharatapun menyadari, jika salah seorang dari keduanya sempat menangkapnya dengan tangannya, maka ia benar-benar akan menjadi cacat seumur hidupnya. Raksasa yang lain pun tentu akan segera turun tangan, sehingga jika seorang memeganginya dan yang lain menyakitinya, maka segala-galanya akan berakhir baginya. Ia tidak akan dapat membayangkan lagi hijaunya batang padi di kota-kota sawah Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan ia tidak akan mampu berbuat sesuatu jika Tanah Perdikan Sembojan itu dihapuskan sama sekali.

Dengan demikian maka Bharata harus benar-benar berhati-hati menghadapi kedua orang lawannya itu. Bahkan masih ada dua orang lagi yang setiap saat dapat digerakkan.

Dengan demikian maka Bharata harus benar-benar berhati-hati menghadapi kedua orang lawannya itu. Bahkan masih ada dua orang lagi yang setiap saat dapat digerakkan.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian maka Bharata telah mulai berloncatan lagi menghindari serangan kedua orang lawannya. Sekali-sekali Bharata juga berusaha untuk menyerang. Tetapi agak sulit baginya untuk dapat menggapai lawannya. Setiap kali lawannya selalu berusaha untuk menangkapnya. Jika ia menyerang yang seorang, maka yang lain telah menerkamnya.

Meskipun Bharata sendiri masih juga mampu membebaskan diri dari serangan-serangan lawannya, namun Bharata harus melihat kenyataan yang dihadapinya. Sulit baginya untuk dapat memenangkan pertempuran itu, meskipun ia pun sulit untuk dikalahkan.

Dalam keadaan yang memaksa, maka kedua raksasa itu tentu tidak akan segan-segan memerintahkan kedua orang yang berjaga-jaga itu untuk terlibat pula dalam pertempuran itu. Untuk beberapa saat, maka pertempuran masih saja berlangsung dengan keseimbangan yang sama. Namun akhirnya, Bharata memutuskan, bahwa ia harus mengerahkan segenap kemampuannya sampai pada batas puncaknya. Meskipun kemungkinan buruk dapat terjadi, bahwa ia akan lebih cepat kehilangan sebagian dari tenaganya yang tentu akan menyusut. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Bahkan Bharata telah memutuskan, jika keadaan memaksa, ia harus menghindar dari pertempuran. Ia tidak perlu mempersoalkan harga dirinya, karena lawannyapun tidak. Lawannya telah bertempur berpasangan tanpa merasa malu. Dengan demikian, maka anak muda yang telah dipersiapkan untuk menerima ilmu Janget Kinatelon itu benar-benar telah mengerahkan kemampuannya. Landasan ilmu yang telah diterimanya tiba-tiba saja telah dihentakkannya sampai tuntas. Sehingga dengan demikian, maka seakan-akan Bharata telah menjadi semakin cepat bergerak. Kekuatannyapun seolah-olah telah bertambah-tambah pula. Dengan demikian, maka Bharata sekali-sekali melihat kesempatan untuk menembus pertahanan lawannya yang memang tidak dapat bergerak secepat dirinya. Dengan loncatan-loncatan panjang, Bharata berhasil mengacaukan kerja sama antara kedua orang lawannya itu. Sehingga pada satu kesempatan, Bharata dapat menyusup di antara ayunan tangan salah seorang dari lawannya itu. Ketika lawannya itu berusaha menghantam dahinya dengan serangan lurus mendatar, maka Bharata telah merendahkan dirinya. Namun sekaligus ia telah mengangkat kakinya menyerang lambung. Serangan Bharata cukup keras, karena ia telah mengerahkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka lawannya itu pun telah terdorong beberapa langkah surut. Untunglah bahwa kawannya sempat menahannya sehingga orang itu tidak jatuh terlentang. Tetapi ketika Bharata siap meloncat menyerang untuk kedua kalinya, maka lawannya,yang seorang lagi telah sempat bersiap untuk menghadapinya. Bharata mula-mula merasa ragu-ragu. Jika ia menyerang, maka ia akan membenturkan kekuatannya. Namun akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain. Dengan sepenuh kekuatan yang dilandasi ilmu yang pernah diwarisinya dari kakek dan neneknya, ia telah meloncat menyerang. Sekali lagi kakinya terjulur ke arah dada raksasa yang seorang lagi. la sadar, bahwa kakinya akan membentur pertahanan lawannya. Tetapi ia tidak berniat mengurungkannya. Demikianlah sejenak kemudian, kaki Bharata memang telah terjulur. Sementara itu ia sendiri meluncur mendatar dengan derasnya. Semua kekuatan dan kemampuannya telah dipusatkannya pada telapak kakinya yang mengarah kepada lawan. Tetapi raksasa itupun telah bersiap. Iapun telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya. Tangannya kemudian telah bersilang didepan dadanya untuk membentur serangan itu. Lututnya sedikit merendah, sedangkan satu kakinya akan ditariknya ke belakang.

Sayap Sayap yang Terkembang 964

06/05/2008 08:29:51 SEJENAK kemudian telah terjadi benturan yang sangat keras. Bharata sendiri harus menyeringai menahan sakit ketika ia terpental surut. Kakinya telah membentur satu kekuatan yang sangat besar, sehingga ia terlempar dan bahkan kemudian jatuh berguling.

Meskipun Bharata dengan cepat berusaha untuk bangkit, tetapi kakinya terasa menjadi sakit sekali. Namun Bharata yang dilandasi dengan ilmunya itu menyadari, bahwa ia harus bangkit dan melakukan sesuatu agar ia tidak menjadi korban sehingga hidupnya tidak berarti lagi. Dengan segenap kemampuan daya tahannya Bharata telah berusaha mengatasi perasaan sakitnya itu.

Namun dalam pada itu, ternyata lawannya yang bertubuh raksasa itu juga terdorong beberapa langkah surut. Tangannya yang bersilang melindungi dadanya, justru telah menekan dadanya itu sehingga napasnya menjadi sesak. Dengan susah payah raksasa itu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan. Namun pada saat ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk tetap berdiri, kawannya yang semula juga hampir terjatuh itu telah berganti menahannya sehingga raksasa itu masih tetap berdiri tegak.

Kedua orang itu menggeram bersama-sama. Mata mereka bagaikan memancarkan api kemarahan. Mereka sadar, bawah mereka harus bertempur mati-matian melawan anak itu. Bagaimanapun juga keduanya harus mengakui bahwa anak itu menang memiliki kelebihan. Tetapi berdua mereka masih berpengharapan untuk dapan mengalahkannya.

Tetapi keduanya sadar, bahwa berdua mereka memerlukan waktu yang terlalu lama. Karena itu, maka salah seorang dari kedua raksasa itu tiba-tiba berkata kepada kedua orang yang semula diperintahkannya untuk berjaga-jaga saja, “Jangan seperti orang kebingungan. Libatkan diri kalian. Jangan tanggung-tanggung. Anak ini harus tertangkap hidup-hidup. Ia harus menderita di sisa hidupnya. Ia harus menjadi orang yang paling tidak berarti di dunia ini. Cacat, lumpuh, buta dan tuli. Tetapi ia tidak boleh mati.”

Bharata memang menjadi berdebar-debar. Ia sudah sampai ke puncak kemampuannya. Ia tidak akan dapat meningkatkan lagi barang selapispun. Jika kedua orang itu benar-benar turun ke arena, maka ia benar-benar akan mengalami kesulitan.

Bagi Bharata, satu-satunya jalan adalah menghindar dari arena itu. Ia bukan orang yang dapat disebut licik atau kehilangan harga dirinya, karena lawannyapun tidak menjunjung nilai-nilai kejantanan seorang laki-laki.

Namun Bharata tidak dengan serta merta meloncat meninggalkan arena. Untuk beberapa saat ia menunggu. Sementara kedua orang yang semula berada di luar arena telah bergerak dengan sangat berhati-hati. Keduanya telah menyaksikan apa yang dapat dilakukan oleh Bharata. Karena itu, maka keduanya seakan-akan melekat yang satu dengan yang lain. Keduanya akan dapat bergerak bersama-sama melawannya.

Bharata menjadi semakin berhati-hati. Tanpa menarik perhatian ia telah memperhatikan keadaan disekelilingnya. Jika ia menghindar, maka ia akan dapat berbuat beberapa hal. Benar-benar menghindar dan meninggalkan arena, atau sambil menghindar berusaha menghadapi lawan seorang demi seorang. Jika demikian maka ia tidak benar-benar meninggalkan arena itu, tetapi sekadar melingkar-lingkar, beradu kecepatan gerak.

07/05/2008 08:19:49

NAMUNbagaimanapun juga Bharata harus tetap menyadari, bahwa daya tahan tubuhnyapun terbatas. Pada suatu saat tenaganya tentu akan menjadi susut, jika ia mengerahkannya habis-habisan. Bharata yang masih berdiri ditempatnya melihat dua orang raksasa itu berdiri pada jarak beberapa langkah. Kemudian dua orang yang lain berjalan semakin mendekat pula. Dalam kebimbangan itu, tiba-tiba saja telah terdengar suara tertawa dari balik gerumbul jarak yang agak jauh. Tetapi suara tertawa itu terdengar jelas. Semua orang berpaling ke arah suara itu. Mereka melihat gerumbul jarak itu menyibak. Dan seseorang muncul dari balik gerumbul itu. Semua orang terkejut melihat orang yang kemudian melangkah ke arah mereka. Ki Lurah Dipayuda.

“Ki Lurah Dipayuda” desis Bharata.

Ki Lurah yang sudah semakin dekat itu menjawab, “Ya Bharata. Sebenarnya aku ingin melihat upacara pelepasanmu.”

“Kenapa Ki Lurah tidak datang?” bertanya Bharata.

“Aku mendengar bahwa upacara itu dilakukan hari ini. Tetapi ketika aku menuju ke barakmu, aku telah melihat kedua orang raksasa itu. Aku menjadi curiga. Apalagi aku juga mendengar bahwa kau akan segera meninggalkan barak itu. Karena itu, aku telah mengikutinya kemana mereka pergi tanpa sepengetahuan mereka, sehingga aku tidak sempat datang ke upacara pelepasan itu. Tetapi ternyata bahwa kita telah bertemu di sini.” berkata Ki Lurah, bahkan seakan-akan tidak memperhatikan kehadiran kedua orang raksasa dan dua orang lainnya.

Bharata menarik napas dalam-dalam. Katanya, “Ki Dipayuda tentu sudah tahu apa yang terjadi.”

“Ya. Aku tahu apa yang terjadi di sini. Sejak semula aku memperhatikannya. Ketika kau bertempur melawan kedua orang raksasa itu, aku memang sengaja berharap kau akan dapat menyelesaikan mereka sendiri, meskipun dengan susah payah. Bahkan disaat terakhir kaupun akan kehabisan tenaga. Tetapi menurut perhitunganku, kau masih mempunyai harapan untuk mengalahkan mereka berdua. Namun ketika dua orang lagi memasuki arena, maka tentu kau tidak akan dapat mengalahkan mereka. Karena itu, maka aku menganggapnya tidak adil jika aku membiarkan kau bertempur seorang diri.”

sayap-sayap yang terkembang

08/05/2008 05:23:02

BHARATA termangu-mangu sejenak. Sementara itu kedua orang bertubuh raksasa itu menjadi tegang. Seorang di antara mereka berkata, “Ki Lurah Dipayuda. Persoalan ini adalah persoalan kami dengan anak itu. Sebaiknya Ki Lurah tidak ikut campur, karena dengan demikian akan menjadi persoalan baru antara kami dengan Ki Lurah.” Tetapi Ki Lurah tersenyum. Katanya “Aku sudah siap menghadapi semua akibatnya. Aku tahu bahwa kalian mempunyai banyak kawan yang akan dapat kalian ajak untuk memusuhi aku. Tetapi meskipun aku sudah tidak menjadi prajurit, aku akan sempat menggerakkan anak-anak muda untuk melawan kalian dipadukuhanku. Apalagi di padukuhanku terdapat sebuah perguruan kecil, namun memiliki kekuatan yang cukup tinggi. Pimpinan perguruan itu adalah seorang yang baik hati, yang tentu akan bersedia membantuku jika kalian benar-benar ingin bermusuhan dengan aku. Kedua orang raksasa itu termangu-mangu sejenak. Tetapi seorang di antara mereka berkata, “Kau berbohong. Kau kira aku tidak dapat membaca kecemasan di wajahmu.” Tetapi Ki Lurah Dipayuda menjawab, “Jawablah dengan jujur. Aku atau kalian yang menjadi cemas.”

“Cukup,” teriak orang bertubuh raksasa yang tua. “Siapapun kau, jika kau turut campur, maka kau akan menyesal. Kami sudah bertekad untuk menangkap Bharata hidup-hidup. Ia sudah menghina kami. Karena itu, maka ia harus mendapat hukuman yang paling berat. Cacat seumur hidup, lumpuh, buta dan tuli.” Namun orang itu terkejut ketika Ki Lurah Dipayuda tertawa, Katanya, “Bagus. Aku sedang berpikir, hukuman apakah yang paling baik diberikan kepada kalian berdua dan kedua orang itu jika mereka turut campur. Ternyata kau sudah mengajari kami, hukuman apa yang pantas kami berikan kepada kalian.”

“Tutup mulutmu,” geram raksasa itu. “Bersiaplah. Kau sudah terlalu banyak berbicara.” Ki Lurah Dipayuda bergeser mendekati Bharata Kemudian katanya, “Marilah. Kita bersama-sama melawan mereka. Kita tidak usah membagi, lawan yang mana yang kita pilih. Kita berdua akan melawan mereka berempat.”

“Terima kasih Ki Lurah,” berkata Bharata hampir kepada diri sendiri. Demikianlah, kedua orang itu telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Ternyata kedua raksasa itu sendirilah yang seakan-akan mengatur diri. Seorang akan menghadapi Bharata dan seorang akan menghadapi Ki Lurah Dipayuda. Tetapi keduanya memerlukan seorang kawan di antara kedua orang yang menjadi semakin berdebar-debar menghadapi kemungkinan yang nampaknya semakin buruk itu. Orang-orang yang bertubuh raksasa itupun menyadari, bahwa mereka berdua masih belum mampu mengalahkan Bharata seorang diri. Tiba-tiba saja telah datang Ki Lurah Dipayuda. Tetapi orang itu memperhitungkan bahwa Ki Lurah Dipayuda, meskipun ia telah diangkat menjadi Lurah Penatus yang membawahi seratus orang, namun kemampuannya masih belum tentu akan dapat mengimbangi Bharata. Dengan demikian maka raksasa yang akan bertempur melawannya berniat untuk dengan cepat menyelesaikan Ki Lurah, kemudian bersama-sama mereka akan melakukan rencana mereka atas Bharata.

Demikianlah, maka seorang di antara kedua orang raksasa bertubuh raksasa itu telah bergeser mendekati Ki Lurah bersama seorang yang telah diberinya isyarat. Meskipun orang itu menjadi semakin kecut hatinya, namun ia tidak dapat membantah, karena iapun merasa sangat takut kepada orang bertubuh raksasa itu, yang akan dengan mudah memilin lehernya sehingga patah. Tetapi orang-orang itu bukannya tidak bertenaga sama sekali. Apalagi keduanya tidak mempunyai pilihan lain daripada bertempur dengan segenap tenaga dan kemampuan. Karena kedua orang bertubuh raksasa itu masih belum mulai menyerang, maka kedua orang yang lainpun masih menunggu. Sementara Bharata dan Ki Lurah Dipayuda justru bergeser mendekat. Keduanya akhirnya juga harus bertempur sendiri-sendiri, karena sikap lawan mereka. Sejenak kemudian, maka telah terjadi dua lingkaran pertempuran. Orang yang bertubuh raksasa yang bertempur melawan Ki Lurah Dipayuda itu sempat berpesan, “Bertahanlah. Aku akan dengan cepat menyelesaikan orang ini.” Tetapi Ki Lurah Dipayuda tertawa. Katanya, “Aku juga akan bertahan. Siapakah yang lebih dahulu dikalahkan. Aku atau kedua orang kawanmu yang bertempur melawan Bharata itu.” Lawan Ki Lurah Dipayuda itu tidak menjawab. Namun dengan langkah panjang ia maju menerkam. Tetapi Ki Lurahpun ternyata cukup cepat bergerak, sehingga usahanya itu sama sekali tidak berhasil. Namun orang yang lain telah menyerangnya pula. Meskipun masih agak ragu-ragu. Tetapi kakinya telah terjulur mengarah ke lambung. Ki Lurah bergeser selangkah ke samping. Namun ia sempat melihat raksasa itu sudah siap meloncat menangkap kepalanya. Karena itu, maka iapun telah bersiap. Demikian lawannya itu meloncat, maka Ki Lurahpun telah melenting menghindar. Bahkan, demikian lawannya menyadari, bahwa ia telah kehilangan lawannya, maka tiba-tiba saja serangan Ki Lurah Dipayuda itu demikian derasnya mengenai pundaknya. Sisi telapak tangannya yang terayun berlandaskan segenap tenaganya itu benar-benar telah menyakitinya. Raksasa itu menyeringai menahan sakit. Tetapi Ki Lurah tidak sempat menyerangnya selanjutnya, karena lawannya yang lain telah menyerangnya pula. Sehingga Ki Lurahpun harus segera meloncat menghindarinya Namun lawannya itu justru mencoba memburunya. Dengan sepenuh tenaga ia meloncat panjang. Tangannya terjulur lurus mengarah ke keningnya. Ki Lurah ternyata telah mengelak. Dengan tangkas ia melenting. Demikian lawannya mendekat sambil menjulurkan tangannya, maka Ki Lurahpun telah menyerangnya pula. Telapak tangannya yang terbuka dengan jari merapat telah menusuk perut lawannya itu tepat dibawah tulang-tulang iganya. Orang itu tersentak. Matanya terbelalak. Perutnya bagaikan telah tertekan oleh kekuatan yang tidak dapat diduganya sebelumnya. Karena itu, maka napasnya seakan-akan telah terputus sejenak. Perutnya itu menjadi sangat mual sehingga isinya bagaikan akan tumpah.

sayap-sayap yang terkembang

10/05/2008 05:28:12 TETAPI Ki Lurah harus segera melayani lawannya yang seorang lagi. Orang yang bertubuh raksasa itu telah menyerangnya dengan ayunan tangan yang keras. Tetapi sekali lagi Ki Lurah sempat melenting, sehingga serangan itu tidak menyentuhnya.

Orang bertubuh raksasa itu menggeram. Namun ia tidak segera meloncat menyerang Ki Lurah yang ternyata telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Agaknya Ki Lurah yang tubuhnya lebih kecil itu dengan bekal kecepatan geraknya, tidak mudah untuk segera dikalahkan meskipun raksasa itu bertempur berpasangan dengan seorang pengikutnya.

Sementara itu, raksasa yang lain telah bertempur melawan Bharata dibantu oleh seorang yang bertempur dengan cemas. Justru karena orang itu telah sempat menyaksikan pertempuran antara Bharata melawan kedua orang raksasa itu. Dua orang bertubuh raksasa itu mengalami kesulitan untuk mengalahkannya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, maka ia telah berusaha membantu raksasa itu bertempur melawan Bharata. Ternyata Bharata masih juga bertempur dengan cepat dan tangkas. Ia tidak membiarkan dirinya diterkam oleh lawannya yang bertubuh raksasa, karena dengan demikian maka ia akan mendapat kesulitan untuk melepaskan diri. Namun Bharata pada puncak kemampuannya adalah seorang anak muda yang pilih tanding.

Beberapa saat kemudian, maka kawan orang bertubuh raksasa itu mulai merasa betapa sulitnya mengatasi kecepatan gerak anak muda itu. Beberapa kali Bharata telah berhasil mengenainya. Bahkan mengenai tubuh kawannya yang bertubuh raksasa itu, sehingga beberapa kali raksasa itu harus menyeringai menahan sakit, serta mengaduh tertahan. Perutnya yang langsung dikenai oleh tumit Bharata dalam gerak melingkar, membuat raksasa itu menjadi sangat mual. Namun selagi ia bergeser surut sambil memegangi perutnya yang sakit sekali, Bharata dengan cepat berputar. Kakinya melenting seperti lompatan seekor bilalang. Sedangkan kakinya yang lain terjulur menyamping menggapai dada raksasa itu.

Raksasa itu memang terkejut. Ia tidak sempat mengelak dan menangkis. Dengan demikian maka kaki itu benar-benar telah mengenai dadanya sehingga ia terdorong surut.

Tetapi Bharata tidak dapat memburunya. Lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya. Sambil meloncat mendekat, maka tangannya terayun mendatar mengarah kening.

Namun Bharata yang baru saja menyerang raksasa itu mengenai dadanya, dengan cepat merendahkan diri. Tetapi lawannya ternyata cukup tangkas. Ia menarik tangannya yang terayun. Namun kakinyalah yang kemudian dengan cepat menyambar dahi Bharata.

Untunglah Bharata melihat ayunan gerak itu. Karena itu, maka iapun justru telah menjatuhkan dirinya dan berguling menjauh. Kemudian dengan cepat ia melenting berdiri untuk menghadapi kemungkinan yang lain.

Pada saat yang bersamaan, raksasa yang baru saja memperbaiki keseimbangannya yang terguncang itu sudah siap untuk menerkamnya. Namun Bharata benar-benar sudah siap menghadapinya.

Sayap-Sayap yang terkembang

11/05/2008 05:28:08 RAKSASA itu nampaknya memang mulai terpengaruh oleh kemampuan lawannya yang masih muda itu. Beberapa kali ia sudah dikenainya. Bukan hanya sekadar sentuhan-sentuhan kecil. Tetapi perutnya yang menjadi mual dan dadanya yang serasa bagaikan terhimpit batu hitam. Dengan demikian maka ia harus benar-benar berhati-hati. Apalagi ia tidak lagi bertempur bersama kawannya yang bertubuh raksasa itu. Namun ia mulai menyadari pesan kawannya itu, agar ia bertahan sambil menunggu, karena kawannya akan berusaha menyelesaikan Ki Lurah secepatnya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Ternyata kawannya itu tidak dengan segera menyelesaikan Ki Lurah Dipayuda yang bertubuh lebih kecil itu. Ki Lurah Dipayuda yang sudah mendapat kepercayaan untuk menjadi seorang pemimpin pasukan, memang memiliki bekal yang cukup. Dengan ketangkasannya ia berhasil mengatasi kegarangan lawannya yang bertubuh raksasa itu. Meskipun ia harus bertempur melawan dua orang, tetapi dengan mengerahkan kemampuannya, Ki Lurah mampu mengimbanginya. Bahkan beberapa kali ia berhasil mendesak raksasa itu, meskipun dalam keadaan yang gawat ia harus berloncatan mundur. Tetapi Ki Lurah tidak mau menyebabkan keseimbangan seluruh pertempuran itu menguntungkan lawan-lawannya. Jika ia dapat dikalahkan oleh kedua lawannya, maka Bharata akan mengalami kesulitan. Ia akan berhadapan dengan empat orang lawan, sehingga betapapun tinggi kemampuannya, namun akan sangat sulit baginya untuk mengatasinya. Karena itu, maka Ki Lurah harus dapat mengalahkan lawan-lawannya, atau setidak-tidaknya harus bertahan sampai suatu saat Bharata berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Namun ternyata ketangkasan Ki Lurah membuat kedua lawannya mengalami kesulitan. Raksasa yang marah itu tidak mempunyai banyak peluang untuk memenangkan pertempuran itu meskipun kawannya telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Yang kemudian terjadi adalah, Bharata semakin lama semakin mendesak kedua lawannya. Kaki dan tangannya semakin sering mengenai sasarannya. Lawannya yang bertubuh wajar sebagaimana dirinya sendiri, semakin sering dikenainya. Beberapa kali ia terlempar, terjatuh dan berusaha untuk bangkit lagi. Bahkan lawannya yang bertubuh raksasa itupun telah sering pula mengaduh menahan sakit. Beberapa kali keseimbangannya terguncang. Bahkan raksasa itupun pernah terdorong jatuh pula meskipun dengan cepat ia masih mampu untuk bangkit. Tetapi lawan Bharata itu tidak mempunyai harapan. Kedua-duanya tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Bharata memang memiliki ketangkasan yang tinggi. Beberapa kali orang bertubuh raksasa itu harus mengakui, bahwa tubuhnya semakin lama semakin sering dikenai oleh serangan-serangan lawannya. Keningnya bagaikan menjadi retak. Iga-iganya serasa berpatahan. Lawan Ki Lurahpun menjadi cemas melihat perkembangan keadaan. Ia melihat lawan Bharata menjadi semakin terdesak. Sementara itu, mereka masih belum mampu menguasai Ki Lurah yang ternyata juga tangkas bergerak. Mempunyai ilmu yang mapan serta penalaran yang tenang.

Karena itu, maka, kedua orang raksasa yang bertempur dengan lawan yang berbeda itu memang sudah tidak berpengharapan. Mereka sama sekali tidak lagi mempunyai peluang. Apalagi jika kekuatan mereka pada saatnya mulai susut, karena mereka memang telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Sementara itu perasaan sakit yang semakin menekan di dalam tubuh mereka harus mereka perhitungkan pula.

Karena itu, maka apapun yang mereka lakukan, mereka tidak akan dapat memenangkan pertempuran itu. Kecuali jika mereka mencoba mempergunakan senjata-senjata mereka.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, lawan Bharata yang telah beberapa kali mengalami kesakitan, kehilangan keseimbangan dan bahkan keadaan yang gawat itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali menarik senjata mereka. Lawan Bharatalah yang pertama-tama menarik pedangnya yang besar. Pedang yang hampir saja dipergunakannya di arena pendadaran di barak prajurit saat Bharata mengalami pendadaran ulangan.

Bharata meloncat selangkah mundur. Sementara itu lawan orang bertubuh raksasa itupun telah menggerak-gerakkan pedangnya pula.

Dengan pedangnya yang besar dan panjang, orang bertubuh raksasa itu berkata, “Kau akan mengalami sengsara yang lebih parah. Jika semula aku hanya berniat membuatmu buta tuli dan lumpuh, maka ternyata tubuhmu akan terpotong-potong oleh senjataku. Kakimu dan tanganmu akan buntung dalam keadaanmu yang buta dan lumpuh itu.”

“Kau mampu membayangkan penderitaan yang paling dahsyat bagi seseorang. Meskipun kau belum tentu dapat melakukannya sehingga orang lain mengalaminya, tetapi angan-anganmu tentang penderitaan yang paling pahit itu sudah merupakan kejahatan yang sangat besar. Angan-angan itu memang harus dihapuskan dari kepalamu. Jika karena itu kepalamu ikut terhapus dari tubuhmu, maka itu adalah akibat yang mungkin saja terjadi, meskipun tidak dengan sengaja,” berkata Bharata.

“Persetan,” geram orang itu, “Kau memang menjadi ketakutan.”

“Sejak tadi kau beranggapan demikian. Kahadiran Ki Lurah telah memastikan segala-galanya. Karena itu, maka aku minta kau mendengarkan kata-kataku. Kita akhiri persoalan kita sampai di sini. Pergilah dan jangan melakukannya atas orang lain.”

Sayap Sayap yang Terkembang 971

13/05/2008 08:04:56 “KAU sudah menghina kami di arena pendadaran. Sekarang kau mencoba menghina kami lagi,” geram raksasa itu.

“Saat itu telah terjadi. Seandainya kau mampu mengalahkan aku sekarang maka kemenanganmu itu tidak akan menghapus kekalahanmu saat itu, karena kemenanganmu tidak disaksikan oleh orang-orang yang melihat kalian kami kalahkan,” sahut Bharata.

Raksasa itu berpikir sejenak. Namun iapun menggeram ketika ia melihat kawannya juga sudah mempergunakan senjatanya melawan Ki Lurah. Sementara itu Ki Lurah Dipayudapun telah mempergunakan pedangnya. Meskipun pedang Ki Lurah lebih kecil dan lebih pendek dari pedang orang bertubuh raksasa itu, tetapi ternyata Ki Lurah itu memiliki kemampuan ilmu pedang yang lebih baik. Orang bertubuh raksasa itu hanya sekadar mempercayakan sedikit kemampuan ilmu pedangnya dan yang terutama adalah kekuatan tubuhnya. Ayunan pedangnya yang bagaikan arus udara maut yang garang, menyambar-nyambar. Sekali-sekali mengarah ke leher, tengkuk dan bahkan ke lambung. Sementara itu pedang lawannya yang lain, menebas dengan cepat melintang di depan dada Ki Lurah. Namun kemudian menyuruk mengarah ke perut.

Tetapi Ki Lurah Dipayuda bergerak semakin cepat. Pedangnya berputaran menyambar-nyambar seperti seekor burung sikatan menyambar belalang. Menyusup di antara ayunan pedang raksasa itu. Pedang yang besar dan panjang. Kemudian menyilang pedang lawannya yang seorang lagi, mematuk dan menggapai sasaran.

“Kau akan menyesal anak muda,” geram raksasa itu sambil mengangkat pedangnya yang besar dan panjang itu. “Satu tebasan yang tidak akan dapat kau hindari apalagi kau tangkis akan dapat memotong bagian-bagian dari tubuhmu.”

Tetapi Bharata tersenyum. Katanya, “Kau lihat bahwa kawanmu mengalami kesulitan? Nah, dengar tawaranku sekali lagi. Kau tinggalkan tempat ini. Jika kita sudah telanjur bertempur, maka akan sulit bagiku untuk mengekang diri. Karena kemungkinan yang tidak kau kehendaki dapat terjadi. Bukan aku yang menjadi cacat, tetapi kau. Jika kau menjadi cacat tubuh karena tanganmu terpenggal oleh pedangku, maka kaulah yang akan menyesal seumur hidupmu. Padahal, kemungkinan yang dapat terjadi atasku dan kemungkinan atasmu tidak ada bedanya.”

Orang bertubuh raksasa itu berpikir sejenak. Namun ia mulai ragu-ragu ketika Bharata telah menarik pedangnya. Pedang yang tidak begitu besar. Tetapi tajamnya yang bagaikan pisau pencukur itu telah membuat jantungnya berdebar-debar. Satu sentuhan kecil akan dapat mengoyak kulitnya bahkan melubangi perutnya.

Sementara itu lawan Bharata yang lain memang menjadi semakin ragu-ragu. Ia mulai merasa tenaga dan kemampuannya sudah menyusut. Sementara itu tubuhnya telah dihinggapi rasa sakit dan pedih di beberapa tempat. Senjata baginya justru hanya akan mempercepat kematian karena Bharata tentu memiliki kemampuan ilmu pedang yang tinggi pula.

Tetapi raksasa itu agaknya tidak ingin melangkah surut. Meskipun ia melihat bahwa kawannya yang bertempur melawan Ki Lurah Dipayuda agak mengalami kesulitan.

sayap-sayap yang terkembang

14/05/2008 08:50:18 BHARATA pun telah bersiap pula. Ia sadar bahwa lawannya itu tentu tidak begitu saja percaya bahwa iapun telah belajar ilmu pedang. Tidak hanya sepekan dua pekan, ketika ia memasuki lingkungan keprajuritan. Namun Bharata memang tidak ingin membuang waktu terlalu banyak. Ia. sudah bertekat untuk menghentikan perlawanan raksasa itu, agar ia dapat segera melanjutkan perjalanannya. Karena itu, maka iapun telah bersiap-siap untuk mengerahkan kemampuan ilmu pedangnya. Jika segores kecil saja telah mengoyak kulit raksasa itu, maka ia akan berpikir dua kali untuk meneruskan pertempuran itu. Sebenarnyalah, ketika raksasa itu mulai mengayunkan pedangnya, maka Bharatapun mulai melenting dan kemudian berloncatan dengan tangkasnya. Bharata justru memanfaatkan ayunan pedang lawannya yang keras sehingga raksasa itu memerlukan waktu untuk menguasainya dengan baik. Apalagi pedangnya cukup besar dan panjang, meskipun kekuatan kewadagan raksasa itu cukup memadai. Karena itu, ketika raksasa itu menyerangnya dengan ayunan yang kuat mengarah langsung ke lehernya, Bharata dengan tangkasnya bergeser surut. Tetapi raksasa itu tidak melepaskannya. Pedangnya terayun berputar dan sebuah tusukan yang deras mengarah ke dada Bharata. Bharata menyadari bahwa lawannya yang berusaha bergerak dengan cepat itu telah mengerahkan segenap kekuatannya. Karena itu Bharata sama sekali tidak menangkis serangan itu. Tetapi ia telah bergeser menghindar ke samping. Sementara itu, ujung pedangnya telah mengikuti arah gerak raksasa itu. Bharata memang harus menjangkau dengan jangkauan panjang. Ia telah melangkah dengan satu kakinya ke depan, sehingga jangkauannya menjadi semakin jauh. Ternyata ujung pedang Bharata telah mampu menggapai lambung raksasa itu meskipun hanya ujungnya. Tetapi segores luka telah menyilang di lambung itu. Perasaan pedih memang telah menggigit lambungnya. Karena itu, maka raksasa itu telah meloncat menjauh. Sementara itu Bharata tidak sempat menyusulnya, karena lawannya yang lain dengan ragu-ragu telah menyerang Bharata. Pedangnya terayun dengan derasnya setelah terangkat angkat tinggi-tinggi mengarah ke ubun-ubun Bharata. Namun Bharata masih, sempat menghindar pula dengan loncatan pendek. Bahkan kemudian ia sempat menyilang pedang lawannya, kemudian memutarnya dengan cepat. Satu hentakan yang tidak terduga. Pedang itu telah terlepas dari tangan lawannya dan terlempar jatuh. Bahkan kemudian Bharata yang memang ingin menyelesaikan pertempuran itu, telah menggoreskan luka di dada lawannya itu. Meskipun tidak terlalu dalam. Lawannyapun berloncatan menjauh. Bahkan terlalu jauh sehingga kakinya telah terperosok ke dalam parit di pinggir jalan, sehingga orang itu telah jatuh terlentang justru di dalam air parit. Terdengar orang itu mengaduh. Air parit membuat lukanya yang tidak seberapa dalam itu menjadi sangat pedih. Dengan susah payah orang itu berusaha untuk bangkit dan ke luar dari parit dengan pakaian yang basah kuyup. Air yang membasahi bagian dadanya telah mengalir bercampur dengan darah yang segar.

Sayap-Sayap ynag Terkembang 973

15/05/2008 05:27:52 KETIKA tangan orang itu meraba dadanya, maka rasa-rasanya nyawanya telah berada diubun-ubunnya. Darah yang bercampur air itu seakan-akan tidak terbendung lagi mengalir dari tubuhnya.

“Habislah sudah,” desis orang itu yang kemudian dengan lemahnya terjatuh di tanggul parit.

Sementara itu, orang bertubuh raksasa itupun merasa bahwa luka-lukanya menjadi sangat pedih. Seorang diri ia akan menjadi semakin lemah dan tidak akan mampu menghadapi lawannya yang masih muda itu. Sementara kawannya yang bertempur melawan Ki Lurahpun mengalami banyak kesulitan. Ki Lurah benar-benar memiliki kemampuan seorang pemimpin prajurit yang tangguh. Sehingga ia bukannya sekedar karena tugasnya yang panjang saja diangkat sebagai pemimpin pasukan. Tetapi tentu juga karena kemampuannya.

Dengan berbagai pertimbangan, maka lawan Bharata itu tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun ia masih juga menggenggam pedangnya erat-erat, tetapi ia tidak segera menyerang lagi.

Bharatapun seakan-akan memberinya kesempatan berpikir. Bahkan iapun kemudian berkata, “Apa katamu sekarang? Apakah kau masih berniat membuat tubuhku cacat.”

Raksasa itu termangu-mangu. Ia melihat kawannya yang terdesak jauh surut. Namun raksasa itu masih belum kehilangan kawannya.

Tetapi lawan Bharata itupun tiba-tiba telah memberinya isyarat. Sebuah siulan pendek. Agaknya lawan Bharata itu memang tidak mempunyai pilihan lain.

Lawan Ki Lurah itu pun sebenarnya sudah tidak berpengharapan. Tetapi ia masih mengingat harga dirinya sehingga betapapun beratnya, ia masih berusaha untuk bertahan.

Namun isyarat itu telah mematahkan perlawanannya. Kawannyapun ternyata merasa tidak mampu lagi bertahan. Sehingga karena itu, maka lawan Ki Lurah itupun telah berloncatan surut.

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Sementara itu Bharata bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan? Kami tidak tahu arti isyarat kalian. Jika kalian akan berbuat curang dengan isyarat itu, maka kami tidak akan dapat membuat pertimbangan-pertimbangan lain daripada menyelesaikan kalian dengan cara yang kalian angan-angankan.”

“Tidak anak muda,” jawab lawan Bharata. “Ternyata kami akhirnya harus mengakui, bahwa kami tidak mampu berbuat apa-apa terhadapmu. Apalagi karena Ki Lurah Dipayuda telah hadir pula di sini.”

Bharata menarik napas dalam-dalam. Namun Ki Lurah Dipayuda ternyata bertanya, “Apakah kalian menyerah?”

Kedua raksasa yang berdiri agak berjauhan itu saling berpandangan sejenak. Ternyata mereka tidak mempunyai jawaban lain kecuali mengiyakannya.

Dengan nada berat lawan Bharata itu menjawab, “Kami menyerah.”

“Lemparkan senjata kalian,” perintah Ki Lurah.

Kedua raksasa itu memang menjadi ragu-ragu. Namun Ki Lurah berkata, “Jika kalian tidak mau melemparkan senjata kalian, maka kita akan bertempur lagi.”

Betapapun beratnya, namun kedua raksasa itu telah melemparkan senjata mereka. Demikian pula lawan Ki Lurah yang seorang lagi. Sementara Ki Lurah berkata, “Tinggalkan senjata kalian dan duduk di bawah pohon turi itu.”

Kedua raksasa itu memang merasa tersinggung. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain. Dengan ragu-ragu keduanya serta seorang kawannya telah duduk di bawah pohon turi. “Nah,” berkata Ki Lurah. “Kalian harus menerima kenyataan ini. Kemudian terserah kepada Bharata. Ia adalah sasaran kalian. Ia dapat berbuat apa saja atas kalian sebagaimana yang akan kalian perbuat atas dirinya.” Kedua orang raksasa itu menjadi tegang. Namun Bharata dan Ki Lurah masih menggenggam senjata mereka masing-masing. Bharatalah yang kemudian berkata, “Baiklah. Aku ingin mendengar pengakuan kalian. Apakah kalian menyerah dengan sepenuh hati atau tidak?” Kedua orang raksasa itu masih saja ragu-ragu. Namun ketika mereka melihat pedang Bharata terangkat, maka hampir berbareng keduanya menjawab, “Ya. Kami memang menyerah.” Sementara itu seorang di antara mereka yang tertelungkup ditanggul kemudian menyadari bahwa dirinya belum mati. Karena itu maka ia pun mulai bergerak dan berusaha untuk bangkit. “Cepat,” bentak Ki Lurah. Ternyata bentakan itu telah mengejutkannya. Bahkan kemudian dengan serta merta orang itu telah bangkit. “Duduk di sebelah kawan-kawanmu,” perintah Ki Lurah. Dengan tergesa-gesa orang itu telah meloncat dan duduk di sebelah kawan-kawannya. “Nah, sekarang kalian harus menjalani apapun yang dilakukan oleh Bharata atas kalian,” berkata Ki Lurah Bharata telah berniat untuk membuat kalian sangat menderita. “Ya,” jawab Bharata. “Aku akan membuat kalian cacat seperti yang ingin kalian perbuat atasku. Buta, tuli dan lumpuh.” Wajah orang-orang bertubuh raksasa itu menjadi pucat. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika ujung pedang Bharata dan Ki Lurah Dipayuda terasa ke dada mereka. “Nah, kalian boleh memilih cara yang paling baik untuk melakukannya,” berkata Bharata. Namun tiba-tiba saja dari mulut orang bertubuh raksasa yang garang itu terdengar desah “Jangan. Aku mohon ampun.” Sedangkan yang lain berkata pula, “Kami tidak bersungguh-sungguh. Kami hanya ingin menakut-nakuti saja”. Bharata tersenyum. Katanya, “Yang penting bagiku bukannya pengakuan bahwa kalian hanya akan menakut-nakuti, karena aku tahu bahwa kalian bersungguh-sungguh meskipun tidak sekeras itu. Yang lebih penting bagiku adalah kesediaan untuk mengerti bahwa pekerjaan yang kalian lakukan selama ini sebagai orang upahan untuk menyakiti orang lain adalah pekerjaan yang paling buruk. Kenapa kalian tidak mencari pekerjaan lain yang lebih baik dan berarti bagi kalian dan keluarga kalian tanpa mengganggu orang lain.” Kedua orang bertubuh raksasa itu termangu-mangu. Sementara itu Bharata berkata, “Kalian masih mempunyai kesempatan.” Sebelum kedua orang bertubuh raksasa itu menjawab, Ki Lurah Dipayuda berkata, “Nah, apakah kalian tidak merasa malu bahwa anak itu dapat memberi kalian nasihat dan ternyata nasihatnya mempunyai nilai yang tinggi bagi pilihan yang harus kalian lakukan? Bharata memang tidak akan dapat mendengar jawaban kalian sekarang, karena kalian masih akan dapat berbohong. Tetapi setidak-tidaknya anak muda itu telah melontarkan satu pilihan bagi kalian. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan memilihnya atau kalian akan kembali ke dunia kalian yang kotor itu. Tetapi kalian saat ini telah diampuni oleh anak muda itu. Renungkan ini.”

sayap-sayap yang terkembang

17/05/2008 05:27:44 KEDUA orang, raksasa itu tidak menjawab. Tetapi kepala mereka telah menunduk. Memang terasa sesuatu menyentuh hati mereka. “Pergilah,” tiba-tiba suara Bharata bernada berat. Kedua orang raksasa itu terkejut. Ketika ia menengadahkan wajah mereka, mereka melihat Bharata itu sudah melangkah mundur sambil berkata kepada Ki Lurah, “Marilah Ki Lurah. Kita tinggalkan mereka. Ki Lurah akan dapat melihat, apa yang akan mereka lakukan kemudian di Pajang meskipun Ki Lurah tidak lagi menjadi prajurit.” Ki Lurah menarik napas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kita tinggalkan orang-orang itu dalam gejolak jiwanya. Mereka harus merenungkan pilihan yang paling baik bagi mereka. Tetapi jika mereka salah pilih, kita masih akan dapat membuat perhitungan dengan mereka. Bharatapun kemudian membenahi pakaiannya, Menyarungkan pedangnya dan melangkah pergi sambil berkata, “Kalian memerlukan pengobatan atas luka-luka kalian.” Ki Lurah pun berjalan di sampingnya setelah meninggalkan keempat orang itu tanpa berpaling lagi. Keempat orang itu memang menjadi heran. Tetapi bahwa kedua orang itu pergi begitu saja, ternyata membuat hati mereka tergetar. Sesuatu yang belum pernah mereka pikirkan, telah melonjak di dalam dada mereka. Namun orang-orang itu tidak ingin berada ditempat itu terlalu lama. Mereka tidak ingin orang lain melihat betapa mereka telah dihancurkan. Bukan wadag mereka tetapi harga diri mereka dan keyakinan mereka atas sikap dan tingkah laku mereka sebelumnya. Karena itu, maka kedua orang raksasa itupun telah bersepakat untuk segera pergi. Namun ketika mereka memungut pedang mereka, seorang di antara kedua pengikutnya bertanya “Bagaimana dengan luka didada orang itu.”

“Urusi orang itu agar tidak mati. Bukankah kau mempunyai obat untuk memampatkan darahnya?” sahut salah seorang dari kedua orang raksasa yang sedang mengalami goncangan jiwa itu. Pengikutnya itu tidak berani membantah. Ia pun tidak berkata sesuatu ketika kedua orang raksasa itu kemudian meninggalkannya. Ketika ia mendengar kawannya berdesah maka iapun telah mendekatinya, sementara seorang dari raksasa yang telah melangkah itu berpaling sambil berdesis “Aku juga terluka. Aku juga harus segera merawat luka-lukaku.”

Sayap-Sayap Yang terkembnag

19/05/2008 09:44:47 ORANG itu tidak menjawab. Tetapi ia kemudian berusaha merawat kawannya yang terluka itu dengan obat yang ada padanya. Obat itu setidak-tidaknya akan dapat menolong untuk sementara. Dalam pada itu, Ki Lurah Dipayuda berjalan di sisi Bharata yang menundukkan kepalanya. Dengan nada rendah Ki Lurah berkata, “Kau tidak mengambil tindakan apapun terhadap kedua orang raksasa itu?”

“Mudah-mudahan peristiwa ini dapat membuat mereka jera. Tentu satu pengalaman yang sangat berharga bagi orang-orang itu. Mungkin luka-luka yang parah tidak akan banyak berkesan di hati mereka jika mereka sembuh. Tetapi kekalahan, harga diri yang benar-benar dihancurkan sampai lumat serta keyakinan mereka yang tumbang atas kemampuan diri tidak akan pernah mereka lupakan,” berkata Bharata. “Ia sudah pernah kau rendahkan harga dirinya ketika, dilakukan pendadaran itu,” berkata Ki Lurah. “Tetapi saat itu ia masih dapat menengadahkan dadanya karena ia justru dicegah oleh Ki Lurah Yudoprakosa. Demikian pula yang seorang lagi. Namun kini mereka benar-benar kehilangan harga dirinya dan keyakinannya bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak terkalahkan,” jawab Bharata. Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata, “Baiklah. Aku sependapat dengan kau. Ternyata hatimu lebih luas dari yang aku duga. Kau telah memaafkan kedua orang raksasa itu.”

“Sejak semula bukan niat mereka secara pribadi untuk memusuhi aku,” sahut Bharata. “Ia datang ke barak atas perintah Ki Lurah Yudoprakosa. Demikian pula sekarang ini. Ternyata ia banyak mendapat keterangan dari Ki Lurah bahwa aku akan meninggalkan barak pagi ini.” Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk pula. Katanya dengan nada lembut, “Jika demikian, aku ingin mempersilahkan kau singgah dirumahku barang sebentar Bharata. Aku sudah kehilangan kesempatan untuk menyaksikan pelepasanmu di barak. Karena itu, aku harap kau bersedia singgah barang sebentar sebelum kau meninggalkan Pajang.”

“Tetapi kita sudah berada diluar kota Ki Lurah,” jawab Bharata. “Rumahku memang tidak di dalam kota ,” jawab Ki Lurah Dipayuda. Bharata termangu-mangu. Namun sebelum ia menjawab Ki Lurah Dipayuda berkata, “Jangan menolak. Sejak semula aku sudah berharap kau sudi singgah dirumahku barang sebentar. Seandainya aku sempat menyaksikan upacara pelepasanmu di halaman barak, maka setelah itu akupun ingin mempersilahkan kau singgah.” Bharata memang menjadi agak bimbang. Ia ingin segera kembali pulang, menemui ibunya dan mengatakan sikap para pemimpin Pajang yang sebagian datang dari Demak tentang Tanah Perdikan. Kemudian membuat persiapan-persiapan yang perlu untuk mencari pemecahan atas kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Namun juga sulit baginya untuk menolak permintaan Ki Lurah Dipayuda agar ia bersedia singgah barang sebentar. Selama ini Ki Lurah bersikap sangat baik kepadanya. Bahkan Ki Lurah pernah mengatakan bahwa Bharata dan Kasandha seakan-akan telah dianggap sebagai anak sendiri.

Tetapi ternyata Ki Lurah itu juga mempunyai anak sebagaimana dikatakan oleh Ki Tumenggung. Malahan telah menjadi pedagang kuda yang agaknya cukup mapan. Agaknya para pemimpin Pajang sebelumnya banyak yang berhubungan dengan anak Ki Lurah Dipayuda itu. Mungkin juga terpengaruh oleh kehadiran Ki Lurah sendiri di Pajang sehingga dapat menjadi jembatan kemajuan perdagangan anaknya yang tentu masih juga terhitung muda. “Nah, bukankah kau tidak berkeberatan?” bertanya Ki Lurah. Bharata mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Lurah. Aku tidak akan mengecewakan Ki Lurah. Namun aku tentu tidak akan dapat tinggal lama di rumah Ki Lurah.” Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Nyi Lurah tentu sudah menyediakan hidangan bagimu meskipun hanya minuman hangat.”

“Ah,” Bharata berdesah, “Jangan merepotkan keluarga Ki Lurah.” Ki Lurah tersenyum. Tetapi katanya, “Aku senang kau mau singgah.” Demikianlah maka mereka telah menempuh jalan di luar kota menuju ke rumah Ki Lurah Dipayuda. Mereka memang harus melingkar disebelah Timur kota, karena rumah Ki Lurah tidak berada diarah perjalanan Bharata. Meskipun demikian Bharata yang sudah bersedia singgah itu, harus menempuh perjalanan yang agak melingkar itu. Beberapa saat kemudian, keduanya telah memasuki sebuah padukuhan yang agak besar. Dipadukuhan itulah Ki Lurah Dipayuda tinggal bersama keluarganya. Selama Pajang dalam keadaan gawat sampai saat terakhir, Ki Lurah memang jarang sekali pulang. Hanya di saat-saat tertentu saja Ki Lurah mengunjungi keluarganya. Rumah Ki Lurah Dipayuda termasuk rumah yang tidak terlalu besar. Tetapi juga tidak termasuk rumah yang kecil. Halamannya memang agak luas. Disebelah kiri rumah, di halaman samping terdapat sebuah kandang yang agak besar. Memanjang sejajar dengan gandok rumahnya. Bharata segera mengetahui bahwa kandang itu diperlukan oleh anak Ki Lurah Dipayuda yang berdagang kuda. “Marilah,” berkata Ki Lurah, “Inilah rumahku. Asal dapat dipergunakan untuk berteduh sekeluarga.” Bharata tidak menjawab. Namun ketika ia naik tangga pendapa, maka ia melihat bahwa rumah yang tidak terlalu besar itu telah dibuat dengan baik. Bharata melihat ukiran pada tiang dan uleng pendapa. Juga ditiang-tiang di pringgitan. Bahkan ukiran pada uleng di pendapa serta langit-langit yang terdapat diantara saka guru di atas uleng, bukan saja terdapat ukiran, tetapi juga sungging. Sejenak kemudian Ki, Lurahpun telah mempersilakan Bharata untuk duduk di pendapa. Dengan nada rendah Ki Lurah berkata, “Jika anakku ada, biarlah ia ikut menemuimu.” Bharata mengangguk sambil menjawab, “Terima kasih Ki Lurah.” Ketika Bharata kemudian duduk dipendapa, maka Ki Lurah pun telah masuk ke ruang dalam. Sementara itu Bharata sempat memperhatikan rumah Ki Lurah yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi lengkap. Pendapa, longkangan di depan pringgitan yang dapat dilalui penunggang kuda di bawah tratag yang memang agak rendah. Kemudian gandok kiri dan kanan. Seketheng yang menyekat longkangan samping. Kemudian bagian tengah dan bagian dalam rumah yang membujur kebelakang. Dipaling belakang agaknya juga terdapat dapur yang luas, seperti kebiasaan rumah yang lengkap seperti itu.

Sayap-sayap yang terkembang

21/05/2008 05:27:39 BEBERAPA saat kemudian, yang ke luar dari ruang tengah bukan saja Ki Lurah Dipayuda. Ternyata juga Nyi Lurah yang nampaknya memang agak kekurus-kurusan. Sebagai isteri seorang prajurit dalam masa perang, agaknya Nyi Lurah Dipayuda tidak dapat membiarkan saja berita-berita tentang peperangan itu lewat di telinganya tanpa mengusik perasaannya. Agaknya siang dan malam Nyi Lurah memikirkan keselamatan suaminya yang lebih sering berada dipeperangan daripada berada dirumah. Nyi Lurah itupun telah mengucapkan selamat atas kedatangan Bharata di rumahnya. Dengan nada tinggi Nyi Lurah berkata, “Aku sudah sering mendengar nama angger disebut-sebut oleh Ki Lurah. Jika angger ini yang bernama Bharata, maka masih ada satu lagi yang menarik bagi Ki Lurah. Namanya Kasandha.” Bharata mengangguk hormat. Katanya dengan ragu, “Memang akulah Bharata itu Nyi Lurah.”

“Jika demikian kenapa angger Kasandha tidak datang bersama-sama?” bertanya Nyi Lurah. Sebelum Bharata menjawab, Ki Lurahlah yang menjawab, “Keduanya sudah tidak lagi dalam kedudukan yang sama. Angger Kasandha masih seorang prajurit, sementara angger Bharata telah mengundurkan diri. Justru hari ini.”

“O,” Nyi Lurah mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Ki Lurah berkata, “Tetapi sayang sekali Bharata. Anakku sedang pergi. Sebagai seorang pedagang kuda, maka ia memang jarang berada di rumah. Bahkan kadang-kadang bermalam satu dua malam diperjalanan. Ia menjelajahi daerah yang luas. Bahkan ia telah pergi dari satu kota ke kota lainnya. Nampaknya peperangan yang sudah mereda ini telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru baginya setelah beberapa lama ia harus menghentikan kegiatannya.” Bharata mengangguk-angguk. Tetapi ia pun berdesis, “Nampaknya putera Ki Lurah menyenangi pekerjaannya.”

“Ya. Ia senang kepada pekerjaannya sehingga kadang-kadang aku justru harus menghambatnya jika ia kurang beristirahat. Ia masih muda. Tetapi justru itu, ketika ia merasakan bahwa ia dapat mendapat keuntungan dari kerjanya itu, ia menjadi semakin bergairah,” berkata Ki Lurah. Bharata tersenyum. Memang agak berbeda dengan jalan yang ditempuhnya. Ketika ia bergairah menjadi seorang prajurit, yang terlintas sama sekali bukan karena ia menerima gaji disetiap akhir pekan. Tetapi justru karena gairah perjuangannya bagi Pajang. Tetapi ia tidak dapat menganggap anak Ki Lurah itu salah langkah. Bagi seorang pedagang, maka keuntungan adalah tujuan utamanya dan yang selanjutnya akan dapat mendorongnya semakin maju. Namun pembicaraan merekapun kemudian terputus. Bharata memang agak terkejut ketika seorang gadis membuka pintu pringgitan dan melangkah ke luar dengan nampan di tangannya. Beberapa mangkuk minuman hangat ada di atasnya. Hampir diluar sadarnya, Bharata sempat memperhatikan wajah gadis itu. Meskipun gadis itu menunduk, namun nampak lukisan wajahnya yang sangat mengesan. Garis-garis yang lengkung di atas kedua matanya yang bulat. Hidungnya, bibirnya dan bahkan Bharata sempat memperhatikan lehernya dan langkahnya yang kecil-kecil. “Itu anakku yang kecil ngger,” desis Nyi Lurah.

Sayap Sayap yang Terkembang 979

22/05/2008 05:27:23 BHARATA memang terkejut. Wajahnya menjadi merah. Iapun kemudian menunduk dalam-dalam, sementara gadis itu telah berjongkok di samping ibunya dan meletakkan nampan di atas tikar. Nyi Lurahlah yang meletakkan mangkuk-mangkuk berisi minuman hangat itu di atas tikar. Sementara itu gadis itupun telah kembali melangkah masuk. Bharata yang menunduk telah mencuri pandang, betapa gadis itu berjalan masuk ke ruang dalam. Ketika Bharata menunduk lagi, maka gadis itu telah ke luar pula untuk menghidangkan beberapa potong makanan. “Sudah aku katakan Bharata, bahwa kami sudah siap menerima kedatanganmu hari ini,” berkata Ki Lurah Dipayuda. Wajah Bharata semakin menunduk. Sementara itu, gadis yang disebut anak Ki Lurah yang kecil itu masih berjongkok disisi ibunya, sementara ibunya telah meletakkan beberapa mangkuk berisi makanan di antara mangkuk-mangkuk minuman. “Simpan nampan itu,” berkata Ki Lurah Dipayuda. “Kemudian kau dapat ikut menemui saudaramu. Aku pernah mengatakan kepada Bharata dan Kasandha, bahwa mereka aku anggap sebagai anakku sendiri. Karena itu, maka ia akan dapat menjadi saudaramu.” Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia telah meninggalkan pendapa dan masuk ke ruang dalam. Bharata yang duduk sambil menunduk tiba-tiba merasa aneh. Ia benar-benar mengharap gadis itu ke luar lagi dan ikut menemuinya. Tetapi ternyata gadis itu tidak muncul lagi. “Anak itu memang pemalu,” berkata Nyi Lurah Dipayuda. Bharata sama sekali tidak menjawab. “Ia memang jarang bergaul dengan orang lain,” berkata Nyi Lurah selanjutnya. “Apalagi terpengaruh oleh susunan keluarga, ia adalah anak bungsu. Sedikit manja dan barangkali memang agak bodoh.” Bharata tiba-tiba saja telah bergeser surut. Namun ia pun berdesis, “Ah, tentu tidak.”

“Marilah,” berkata Ki Lurah kemudian untuk mengatasi suasana yang hampir membeku. “Minumlah, mumpung masih hangat.” Bharatapun kemudian telah menghirup minumannya. Bahkan agak terlalu cepat meskipun masih terasa panas untuk mengatasi jantungnya yang bergejolak. Ketika kemudian Nyi Lurah pun mempersilahkan Bharata untuk duduk bersama Ki Lurah karena ia akan pergi ke belakang, maka terasa Bharata menjadi semakin terlepas dari kekakuan yang bagaikan mengikatnya. Bharata telah berani mengangkat wajahnya lagi dan berbicara dengan lancar. Namun jantungnya serasa berdebaran lagi ketika Ki Lurah berkata, “Anakku sebenarnya ampat. Tetapi dua di antaranya telah diambil kembali oleh Yang Maha Agung. Karena itu, sekarang tinggal dua. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.” Bharata mengangguk-angguk. Tetapi ia pernah beranggapan bahwa Ki Lurah Dipayuda itu tidak mempunyai anak. Namun ternyata ia mempunyai juga anak. Namun gadis itu sama sekali tidak mirip dengan Ki Lurah maupun Nyai Lurah. “Mungkin saja,” katanya di dalam hati. “Anak yang sama sekali tidak mirip dengan orang tuanya. Sebaliknya yang bukan apa-apa justru memiliki kemiripan seperti aku dan Kasandha.”

Namun Bharata tidak mengatakan sesuatu. Kepalanya mulai menunduk lagi. Bharata mengangkat wajahnya ketika Ki Lurah itu kemudian bertanya, “Bagaimana dengan anakku yang seorang lagi?” Bharata termangu-mangu. Tetapi Ki Lurah kemudian menjelaskan, “Maksudku, Kasandha.” Bharata menarik napas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Ia dalam keadaan baik Ki Lurah. Bahkan ketika upacara pelepasan pagi tadi, Ki Tumenggung Wiradigda dengan perantaraan seorang perwira pembantunya telah menetapkan untuk sementara Kasandha ditugaskan untuk melaksanakan tugas sebagai pemimpin dari pasukan yang terdiri dari seratus orang itu.”

“Kasandha?” bertanya Ki Lurah dengan wajah yang cerah. “Ya Ki Lurah,” jawab Bharata. “Ternyata para pemimpin masih memperhatikan kelebihan Kasandha sehingga ia telah ditunjuk untuk menggantikan kedudukan Ki Lurah Yudaprakosa, meskipun untuk sementara.”

“Mudah-mudahan ia segera mendapat ketetapan itu. Ia pantas menjadi seorang Lurah Penatus sebagaimana kau. Kau dan Kasandha telah menunjukkan kelebihan kalian selama kalian menjadi, seorang pemimpin kelompok di dalam lingkungan pasukanku, yang sudah barang tentu di dalam pasukan Ki Lurah Yudaprakosa,” berkata Ki Lurah Dipayuda kemudian. Bharata mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi Kasandha lebih pantas untuk menjabat jabatan itu.”

“Karena kau telah mengundurkan diri,” berkata Ki Lurah Dipayuda. “Seandainya kau tidak mengundurkan diri dari dunia keprajuritan, maka akan sulit bagi Ki Tumenggung untuk menunjuk, siapakah yang pantas, memegang jabatan sebagai pemimpin pasukan itu. Mungkin kau, mungkin Kasandha, atau malahan orang lain sama sekali. Tetapi tanpa kau maka para pemimpin prajurit Pajang itu tidak mengalami kesulitan lagi.”

“Mungkin, Ki Lurah,” jawab Bharata. “Namun nampaknya aku tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Seandainya aku tidak mengecilkan diri, dengan menganggap diriku memiliki kemampuan olah kanuragan setingkat dengan Kasandha, namun aku tidak memiliki kemampuan untuk pemimpin sebagaimana Kasandha.”

sayap-sayap yang terkembang

24/05/2008 10:47:28 KI LURAH tersenyum. Katanya, “Kau dan Kasandha memang mempunyai sifat rendah hati. Baiklah. Bagaimanapun juga, kau telah meninggalkan dunia keprajuritan, sementara Kasandha telah diangkat untuk menjadi pemangku jabatan pemimpin pasukan. Mudah-mudahan ia ditetapkan menjadi penatus dengan pangkat Lurah. Jika demikian maka ia akan menjadi lurah yang masih muda. Bahkan mungkin yang termuda yang pernah aku kenal sebelumnya. Aku sendiri diangkat menjadi Lurah setelah aku menjadi prajurit bertahun-tahun. Tetapi aku memang tidak memiliki kemampuan setingkat dengan kau dan dengan Kasandha saat aku memasuki dunia keprajuritan. Aku adalah prajurit sebagai kebanyakan prajurit. Aku menunggu beberapa tahun sebelum aku mendapat kesempatan menjadi pemimpin kelompok. Kemudian beberapa tahun lagi aku menjadi Lurah Penatus sampai saatnya aku mengundurkan diri. Namun aku sudah merasa puas telah memberikan pengabdian meskipun hanya setitik kecil bagi Pajang.”

“Ki Lurah telah melakukan banyak sekali pengorbanan bagi Pajang,” desis Bharata. Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Sedikit sekali. Bahkan bukan apa-apa.” Namun pembicaraan mereka terputus ketika Nyi Lurah ke luar dari pringgitan. Sebelum ia duduk, ia telah berkata, “Waktunya untuk makan.” Bharata mengangkat wajahnya. Namun Nyi Lurah itu telah duduk di antara mereka. Katanya “Ki Lurah, nasi dan lauk pauk seadanya telah tersedia di ruang tengah. Kami persilahkan Ki Lurah mempersilahkan angger Bharata untuk makan bersama keluarga kita. Satu hal yang jarang sekali terjadi, bahwa kita mendapat kehormatan untuk menghidangkan makan bagi seorang tamu seperti Angger Bharata.”

“Ah,” Bharata justru menjadi canggung. “Maksud Nyi Lurah, kau baru pertama kali datang ke rumah ini. Selanjutnya, kau akan kembali ke rumahmu yang jauh. Karena itu, maka kesempatan seperti ini mungkin akan dapat terjadi beberapa tahun lagi,” berkata Ki Lurah Dipayuda. Namun Ki Lurah itu berkata selanjutnya, “Tetapi mudah-mudahan akupun akan dapat berkunjung ke rumahmu. Setelah aku bebas dari tugasku, maka aku akan mempunyai waktu luang yang lebih banyak, sehingga pada satu hari aku akan dapat menyediakan waktu untuk datang kepada keluargamu.” Bharata justru menjadi berdebar-debar. Jika Ki Lurah itu benar ingin berkunjung kepada keluarganya, maka ia akan menjadi kebingungan untuk menjawab tentang dirinya, tempat tinggalnya dan apalagi keluarganya. Untunglah bahwa Ki Lurah tidak bertanya lebih lanjut tentang keluarganya, karena Nyi Lurah berkata selanjutnya, “Marilah ngger. Selagi nasi masih hangat.”

“Marilah Bharata,” sambung Ki Lurah. Bharata tidak dapat menolak. la pun kemudian bangkit pula ketika Ki Lurah Dipayuda dan Nyi Lurah telah berdiri. Bertiga mereka kemudian telah masuk ke pringgitan. Bharata tertegun ketika ia melihat anak gadis Ki Lurah Dipayuda sedang menyenduk nasi ke dalam mangkuk-mangkuk yang sudah tersedia. Namun demikian ayah, ibu dan tamunya masuk, gadis itu segera meletakkan mangkuk-mangkuk itu dan akan beranjak pergi.

Namun Nyi Lurah menyambung “Ki Lurah ingin anak itu menjadi anak yang sabar seperti lautan yang memuat arus dari sungai yang manapun. Karena itu ia diberi nama Jaladri, meskipun agaknya anakku bukan anak yang sabar.“ Bharata mengangguk-angguk. Ia tersenyum betapa kakunya. Sementara Riris hanya menunduk saja meskipun satu dua kali tangannya menyuapi mulutnya. Namun akhirnya saat yang sangat mengikat terutama bagi Riris itu selesai juga. Ki Lurah telah mempersilahkan Bharata untuk kembali ke pendapa. “Bharata,” berkata Ki Lurah. “Sebenarnya aku ingin kau dan Kasandha bersama-sama ada di sini. Jika aku tadi sempat datang ke barakmu, aku akan mempersilakan kalian berdua singgah ke rumah ini. Kasandha di hari pertamanya, tentu akan mendapat peluang untuk meninggalkan barak itu sebentar.” Bharata mengangguk-angguk. Katanya, “Aku juga akan merasa senang sekali jika Kasandha juga ada di sini. Tetapi agaknya Ki Lurah telah memilih untuk menyelamatkan jiwaku daripada datang ke barak itu.”

“Ah, yang aku lakukan tidak lebih dari satu bantuan kecil bagimu. Aku yakin, tanpa aku, kau masih akan dapat menyelamatkan diri dari kedua orang bertubuh raksasa yang rakus itu. Kau mampu bergerak lebih cepat, sehingga kau dapat mempermainkan mereka dan berusaha memecah kelompok itu sehingga kau dapat melawan mereka seorang demi seorang meskipun harus bergantian sambil berlari-lari serta memerlukan tenaga yang sangat besar. Tetapi menilik daya tahan tubuhmu, kau akan dapat melakukannya,” berkata Ki Lurah. Bharata tidak menjawab. Tetapi ia hanya termangu-mangu saja mengenang peristiwa itu. Namun dalam pada itu, Ki Lurah itu tiba-tiba saja berkata, “Bharata. Aku tahu kau ingin segera bertemu dengan keluargamu. Tetapi sebenarnya aku ingin minta agar kau sempat bermalam semalam saja di sini. Tidak ada apa-apa selain keinginanku untuk berbicara lebih banyak denganmu di saat-saat perpisahan ini.” Bharata mengerutkan keningnya. Ia memang ingin segera kembali ke Tanah Perdikan Sembojan, karena ia ingin segera berbicara dengan ibunya. Namun ternyata ada sesuatu yang telah mempengaruhi sikapnya itu. Tiba-tiba saja ia ingin memenuhi permintaan itu meskipun penalarannya tetap mengajaknya segera kembali ke Sembojan. Karena itu, maka Bharatapun menjadi ragu-ragu. “Sebaiknya kau tidak menolak permintaanku ini,” berkata Ki Lurah. “Mudah-mudahan sebelum malam Jangkung telah kembali pula. Kau akan mendapat kawan yang umurnya sebaya dengan umurmu.” Bharata menjadi semakin ragu-ragu. Namun Bharata sendiri tidak menyadari ketika ia pun tiba-tiba saja mengangguk sambil berkata, “Baiklah Ki Lurah. Agaknya belum tentu satu dua tahun lagi aku dapat singgah di rumah ini.”

“Terima kasih. Namun untuk selanjutnya tentu kau akan dapat datang dalam waktu yang lebih dekat dari bilangan tahun itu. Sementara itu, aku pun dapat datang ke rumahmu,” berkata Ki Lurah Dipayuda, karena sudah tentu bahwa Ki Lurah bukan golongan orang-orang yang memusuhi Tanah Perdikannya, apalagi akan menyingkirkannya karena persoalan yang terlalu pribadi.

Sayap Sayap yang Terkembang 984

27/05/2008 11:09:46 MESKIPUN demikian Bharata masih juga bertahan. Ki Lurah memang mungkin tidak ada hubungannya dengan kedudukannya dan kedudukan ibunya di Tanah Perdikan. Tetapi jika Ki Lurah menceriterakan hal itu kepada orang lain, maka persoalannya akan dapat menjalar.

Karena itu, maka Bharata masih berusaha bertahan menyimpan rahasia tentang dirinya itu rapat-rapat.

Dalam pada itu, maka Ki Lurahpun telah membawa Bharata ke gandok sebelah kanan. Sebuah bilik di gandok itu telah disiapkan baginya.

“Beristirahatlah,” berkata Ki Lurah. “Sekali lagi aku berharap anggap rumah ini sebagai rumah sendiri.“

“Terima kasih Ki Lurah,” jawab Bharata.

“Jika kau ingin ke pakiwan, kau dapat pergi melalui seketheng itu atau melingkar lewat sebelah rumah,” berkata Ki Lurah Dipayuda.

“Baik Ki Lurah,” jawab Bharata.

“Nah, kau dapat beristirahat di dalam bilikmu. Aku akan pergi sebentar ke rumah tetangga. Ada sesuatu yang perlu aku katakan kepadanya, tentang kerja di sawah. Sebagian sawahku telah dikerjakannya. Ia orang baik, rajin dan tertib,” berkata Ki Lurah.

“Ya, Ki Lurah,” jawab Barat.

“Mudah-mudahan Jangkung cepat pulang,” desis Ki Lurah sambil meninggalkan Bharata yang berada di serambi gandok.

Ki Lurah Dipayuda ternyata telah melintasi halaman rumahnya dan ke luar regol turun ke jalan. Ia memang akan pergi ke rumah tetangganya untuk membicarakan kerja disawahnya.

Sementara itu Bharata tidak segera masuk ke dalam biliknya. Ia duduk dilincak bambu di serambi gandok memandangi halaman rumah Ki Lurah yang luas namun bersih. Beberapa pepohonan tumbuh di halaman itu sehingga udara terasa sejuk.

Bharata mengerutkan keningnya, ketika ia melihat Riris ke luar dari pintu pringgitan kemudian membenahi mangkuk-mangkuk yang masih ada di pendapa. Dengan trampil gadis itu membawanya masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian Riris telah ke luar lagi kependapa sambil membawa sapu ijuk.

Bharata memang jarang sekali bergaul dengan gadis-gadis. Ia terbiasa hidup dalam lingkungan tertentu yang terpisah dari pergaulan luas. Di Bibispun Bharata jarang sekali berhubungan dalam hal apapun dengan gadis-gadis padukuhan itu meskipun ia berkenalan baik dengan penghuni padukuhan itu. Apalagi gadis-gadis padesan biasanya memang membatasi pergaulannya dengan anak-anak muda, karena orang tua mereka tidak senang melihatnya.

Apalagi setelah Bharata berada di dalam lingkungan keprajuritan. Maka yang paling dekat disisinya adalah senjatanya. Ia hampir melupakan sama sekali bahwa di dunia ini hidup pula gadis-gadis. Baik di padesan maupun di kota-kota. Di antara gadis-gadis itu adalah anak seorang yang pernah menjadi pemimpinnya, Ki Lurah Dipayuda yang bernama Riris Respati.

Di luar sadarnya, Bharata telah memperhatikan gadis itu. Sebenarnya gadis itu bukan seorang yang bergerak lamban sambil menunduk. Namun ternyata Riris itu dengan lincah membenahi tikar yang menjadi kotor, mengibaskannya di tangga pendapa, kemudian membentangkannya kembali setelah ia menyapu lantai.

sayap-Sayap yang Terkembang

28/05/2008 08:13:34 NAMUN Bharata itu terkejut. Wajahnya menjadi terasa panas ketika tiba-tiba saja dengan tidak sengaja Riris telah berpaling keserambi gandok. Ririspun terkejut ketika ia menyadari bahwa Bharata tengah memandanginya. Karena itu, maka cepat-cepat iapun telah melangkah meninggalkan pendapa masuk ke pintu pringgitan. Bharata menarik napas dalam-dalam. Ia masih tetap duduk ditempatnya. Tetapi ia telah memandang berkeliling. Untunglah, bahwa agaknya tidak ada orang yang telah melihatnya. Namun dengan demikian maka Bharata justru tidak ingin masuk ke dalam biliknya di gandok itu. Ia lebih senang duduk dilincak di serambi. Rasa-rasanya ada sesuatu yang diharapkannya. Tetapi Riris tidak ke luar lagi ke pendapa. Dalam pada itu, selagi Bharata masih duduk di serambi gandok, tiba-tiba seorang anak muda dengan menunggang kuda berderap masuk ke halaman. Dengan tangkasnya anak muda itu kemudian meloncat turun. Dengan lantang ia memanggil seseorang yang berlari-lari muncul dari sebelah gandok yang ada di seberang. Orang itupun kemudian telah menerima kuda itu. Sementara anak muda itu meloncat naik tangga pendapa dan tanpa berpaling hilang dibalik pintu pringgitan. Anak muda itu bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan. “Tentu anak muda itulah yang bernama Jangkung Jaladri,” berkata Bharata didalam hatinya. Tetapi Bharata menjadi berdebar-debar juga karena anak muda itu sama sekali tidak menghiraukannya. “Apakah sifat anaknya ini berbeda dengan sifat ayahnya yang baik, ramah dan rendah hati?” pertanyaan itu telah tumbuh didalam hatinya. Namun Bharata tidak beranjak dari tempatnya masih tetap duduk saja menatap pendapa yang kosong. Tetapi dugaan Bharata terhadap anak muda yang baru saja datang itu ternyata keliru. Sejenak kemudian, anak muda itu telah muncul kembali dipendapa. Kemudian berpaling ke serambi gandok. Ketika ia melihat Bharata, maka iapun telah berlari-lari mendapatkannya. “Kaukah Bharata yang dikatakan itu?” bertanya anak muda itu. “Ya,” jawab Bharata. “Kau tentu putera Ki Lurah Dipayuda. Jangkung Jaladri.”

“Ya. Darimana kau tahu namaku?” bertanya anak muda yang kemudian duduk disebelah Bharata itu.

Ternyata anak muda itu juga ramah seperti ayahnya. Dengan nada rendah Bharata menjawab, “Ki Lurah telah menyebut namamu. Bahkan pekerjaanmu. Itulah agaknya kau datang dengan naik kuda yang besar dan tegar.”

“Itu bukan kudaku. Tetapi kuda seorang saudagar emas berlian yang nampaknya kehabisan modal. Aku diminta untuk menjualnya,” jawab Jangkung. Namun kemudian katanya, “Kenapa kau duduk di sini. Mari, kita duduk di pendapa.”

“Ki Lurah memberi kesempatan kepadaku untuk beristirahat di gandok. Tetapi aku tidak terbiasa beristirahat di siang hari, sehingga aku hanya duduk saja di sini. Rasa-rasanya justru menjadi canggung,” jawab Bharata. Jangkung tertawa. Katanya, “Marilah. Lihat kuda-kudaku. Barangkali kau ingin membelinya barang seekor sebelum kau menempuh perjalanan.” Bharatalah yang kemudian tertawa. Katanya, “Darimana aku mendapat uang untuk membeli seekor kuda?”

“Bukankah kau menabung selama kau menjadi prajurit?” bertanya Jangkung yang masih saja tertawa. Bharata menarik napas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau pernah berbincang dengan Ki Lurah tentang penghasilan seorang prajurit dipandang dari segi keduniawian?” Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku pernah berbicara dengan ayah. Ayah memang mengatakan bahwa yang penting bagi seorang prajurit bukan penghasilan yang diterimanya disetiap pekan. Tetapi justru kesempatan pengabdiannya. Hampir setiap orang yang memasuki lingkungan keprajuritan telah dibekali dengan niat pengabdian.” Bharata mengangguk kecil. Katanya, “Dengan demikian, maka agak mustahil bagiku untuk dapat membeli seekor kuda. Apalagi kuda yang besar dan tegar sebagaimana kau pakai tadi. Jangkung pun mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Ayahpun tidak akan dapat memenuhi kebutuhan keluarganya untuk satu tataran kehidupan yang cukup tanpa sawah yang beberapa bahu peninggalan kakek itu. Karena itu pula maka aku merasa bahwa akupun wajib membantu ayah untuk meringankan bebannya dengan berbuat apa saja sesuai dengan kemampuanku serta kemungkinan yang dapat aku lakukan.” Bharata mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau tidak berminat menjadi seorang prajurit?” Jangkung tersenyum. Katanya, “Sudah cukup satu orang dalam satu keluarga menjadi prajurit. Ayah sudah menjadi prajurit. Karena itu, maka aku tidak menjadi prajurit.”

“Tetapi Ki Lurah sudah mengundurkan diri sekarang,“ berkata Bharata. “Belum terlalu lama. Apalagi masa ini adalah masa peralihan. Bahkan agak tidak menentu. Mataram telah mengalahkan Pajang. Namun kemudian Mataram tidak berbuat sesuatu atas Pajang. Bahkan Pajang telah ditinggalkan begitu saja. Menurut ayah, Panembahan Senapati memang memberi kesempatan kepada Pangeran Benawa untuk tampil dalam pemerintahan. Tetapi ternyata keputusan dalam sidang keluarga Istana Pajang tidak demikian. Yang memegang tapuk pemerintahan di Pajang adalah justru Adipati Demak. Sedangkan Pangeran Benawa telah disingkirkan ke Jipang,” sahut Jangkung dengan nada rendah. Namun katanya kemudian, “Tetapi biarlah yang terjadi itu. Aku telah memilih satu jalan yang tidak mengganggu pihak yang manapun. Berdagang kuda.”

Ketika Bharata kemudian mengerutkan keningnya, Jangkung tertawa. Katanya, “Sudahlah. Jangan kau pikirkan lagi. Sekarang mari lihat kuda-kudaku yang ada di kandang. Tetapi aku tidak mempunyai kuda yang terbaik sekarang ini. Aku baru saja mencarikan seekor kuda yang besar dan tegar berwarna gelap bagi Ki Tumenggung Suraprana. Ternyata aku telah mendapat pesanan pula dari Ki Tumenggung Wiradigda. Kuda yang aku pakai itulah yang akan aku tawarkan besok.” Bharatapun kemudian bangkit ketika Jangkung mengajaknya pergi ke kandang kudanya untuk melihat-lihat beberapa ekor kuda yang tentu sebagian adalah kuda yang sedang diperdagangkan. Lewat halaman depan mereka kemudian menuju ke halaman samping, langsung menuju ke kandang. Jangkung sempat menunjukkan beberapa ekor kuda yang ada dikandang. Pada umumnya memang kuda yang baik dan terpelihara. Namun harganya tentu juga mahal. Beberapa saat mereka melihat-lihat kuda itu. Bharata memang mengaguminya. Ia termasuk seorang yang menggemari kuda-kuda yang baik. Di padepokannya ia mempunyai kuda yang baik pula. Demikian juga di Tanah Perdikan Sembojan. Adalah kegemarannya untuk berlatih di atas punggung kuda sambil melontarkan tombak pada sasaran yang dibuat khusus untuk latihan ketrampilan melontarkan tombak. Dan ia termasuk seorang yang memiliki kemampuan cukup untuk berkuda. Bharata yang sedang memperhatikan kuda-kuda itu termangu-mangu ketika Jangkung berkata, “Nanti kita melihat-lihat padukuhan ini dengan berkuda. Kau tentu senang. Bukankah kau akan bermalam?” Bharata mengangguk. Jawabnya, “Ya. Ki Lurah minta aku bermalam.”

“Nah, jika demikian, marilah. Kita menunggu ayah di serambi. Jika ayah datang, kita pergi berkeliling melihat-lihat padukuhan ini dan sawah di sekitarnya. Jika kau sudah-mencoba salah seekor kudaku, maka kau tentu ingin membelinya,” berkata Jangkung sambil tersenyum. Tetapi sekali lagi Bharata menjawab, “Aku memang ingin. Tetapi apakah aku harus menjual kepala ini dahulu?’ Jangkung tertawa keras-keras. Sambil menepuk bahu Bharata ia berkata, “Marilah. Kita menunggu ayah di serambi.” Ketika Bharata melangkah menuju ke gandok, Jangkung menariknya sambil berkata, “Kita pergi ke gandok lewat dalam.”

“Ah. Aku lewat halaman samping saja,” jawab Bharata. “He, bukankah kau sudah dianggap keluarga sendiri?” bertanya Jangkung. Bharata memang menjadi bimbang. Tetapi. Jangkung menariknya menuju ke pintu dapur. Demikian mereka masuk ke dalam dapur, maka rasa-rasanya keringat mulai mengalir dipunggung Bharata. Ia melihat Riris sedang sibuk di dapur. Namun demikian ia melihat kakak dan tamunya masuk, maka iapun segera menjadi canggung. “Riris,” Jangkung malah memanggil adiknya. Riris berdiri termangu-mangu. Sementara Jangkung berkata, “Beri kami minum ya? Kami ada diserambi gandok.”

Sayap_sayap yang terkembang

31/05/2008 08:50:44 RIRIS termangu-mangu. Namun karena Riris tidak segera menjawab Jangkung berkata sekali lagi “He, kau dengar Riris?”

“Ya, ya kakang,” jawab Riris. . “Jangan lupa. Gula aren. Bukan gula kelapa,” pesan Jangkung. “Ya kakang,” jawab Riris sekali lagi. Jangkung kemudian mengajak Bharata masuk ke ruang dalam. Lewat longkangan yang memisahkan dapur dan bagian dalam rumahnya seperti sudah diduganya. Kemudian melalui ruang dalam, ruang tengah mereka menuju ke serambi samping. Mereka ke luar lagi kesebuah longkangan di dalam seketheng. Baru mereka turun ke samping pringgitan. Susunan rumah itu memang mirip dengan rumahnya yang lebih besar di Tanah Perdikan Sembojan. Ketika mereka kemudian duduk diserambi, maka mereka masih sempat membicarakan berbagai hal tentang kuda. Ternyata keduanya mempunyai pandangan yang tidak berbeda tentang katuranggan. Namun karena Jangkung bergaul dengan kuda siang dan malam, maka ia lebih banyak mengenal ciri-ciri seekor kuda. “Aku tidak boleh salah menilai,” berkata Jangkung. “Jika karena sesuatu hal aku keliru, maka aku tentu akan mengalami kerugian. Beberapa orang pedagang kuda memang sering berusaha menyembunyikan cacat seekor kuda. Tetapi jika kita sudah mampu mengenali ciri-cirinya dengan baik, maka kita tidak akan dapat dikelabuinya.” Bharata mengangguk-angguk. Ia harus mengakui, bahwa Jangkung yang umurnya tentu tidak terpaut banyak dengan dirinya itu, telah memiliki pengetahuan yang dalam tentang kuda. Namun sejenak kemudian mereka terpaksa berhenti berbicara. Riris telah datang membawa dua mangkuk minuman panas dan beberapa potong makanan. “Nah, adikku yang cantik ini tahu saja keinginan kakaknya,” desis Jangkung. “Ah, kau,” sahut Riris. “Lain kali kau ambil sendiri di dapur.”

“Kenapa?” bertanya Jangkung. “Kau tidak boleh malas. Bukankah biasanya kau ambil sendiri di dapur?” jawab Riris. “Kali ini tidak biasa. He, kenapa kau kali ini mau menghidangkan minumanku kemari?” Jangkung mulai mengganggu adiknya. “Ah kau,” Riris yang wajahnya menjadi merah, tiba-tiba saja telah mencubit lengan kakaknya. Riris kakaknyapun segera bangkit dan menghindar sakit. Kulitku tidak kebal seperti kulit Bharata. Coba, cubit anak muda itu, tentu ia tidak merasa sakit. Ia seorang prajurit linuwih yang mempunyai ilmu kebal. “Ah,” wajah Riris menjadi semakin merah. Tetapi iapun segera berlari menuju keseketheng dan hilang ke dalamnya. Jangkung tertawa. Katanya, “Anak itu pemalu sekali. Ia harus belajar untuk menjadi seorang yang biasa-biasa saja menghadapi orang lain, orang yang belum dikenalnya sekalipun.” Bharata memang menjadi berdebar-debar juga. Tetapi ia menjawab, “Bukankah itu merupakan kebiasaan gadis-gadis.”

“Ah, tentu tidak. Aku mempunyai kawan yang juga mempunyai adik seorang gadis. Jika aku datang adiknya itulah yang bercerita tentang apa saja kesana-kemari lebih banyak dari kakaknya. Jika adiknya itu datang membawa minuman, maka ia tidak masuk lagi ke dalam,” jawab Jangkung.

Sayap-Sayap Yang Terkembang

31/05/2008 16:28:45 “TETAPI tentu hanya jika tamunya sudah dikenalnya dengan baik,” berkata Bharata. “Tidak. Sejak aku datang untuk pertama kali, ia sudah bersikap begitu. Demikian pula jika ada orang, lain datang meskipun belum dikenalnya sama sekali.”

“Itu satu perkecualian,” desis Bharata. Jangkung tertawa. Nampaknya ia merasa sesuai dengan tamunya yang agak pendiam itu. Seperti yang dikatakan oleh Jangkung, ketika ayahnya kemudian datang, maka ia telah mengajak Bharata untuk melihat-lihat padukuhan dan sawah di sekitar padukuhannya. “Yang penting, aku menawarkan kuda-kudaku,” berkata Jangkung sambil tertawa. Bharata hanya tertawa saja. Tetapi ia tidak menjawab. Ki Lurah yang mendengar juga gurau anaknya ikut tertawa pula. Demikianlah, maka kedua anak muda itupun telah meninggalkan regol halaman di atas punggung kuda untuk melihat-lihat keadaan. Ternyata Bharatapun tangkas meloncat, kepunggung kuda karena ia memang memiliki kemampuan. Demikian derap kaki kuda itu terdengar di jalan, maka – Riris yang diam-diam memperhatikan kedua anak muda itupun telah bergeser ke balik dinding penyekat yang tidak terlalu tinggi, disebelah seketheng, di bawah sebatang pohon kemuning. Bharata yang belum pernah mengenal padukuhan itu telah melihat bahwa padukuhan itu adalah padukuhan yang baik. Jalan-jalannya bersih, sedangkan halaman-halaman rumahpun nampak terpelihara. Ketika mereka melintasi banjar, maka nampak banjar padukuhan itupun bersih dan hidup. Di sore hari di banjar itu banyak berkumpul anak-anak muda padukuhan itu. Jangkung ternyata merupakan anak muda yang banyak dikenal di seluruh padukuhan yang besar itu. Anak muda itu pergaulannya agaknya cukup luas. Hampir semua orang dikenalnya. Bukan saja anak-anak muda. Tetapi juga orang-orang tua dan bahkan anak-anak yang ditemuinya di jalan-jalan dikenalnya dengan baik. Apalagi ayahnya yang menjadi Lurah Penatus itu memang merupakan orang yang berpengaruh di padukuhan itu. Ketika mereka sampai ke sebuah pasar di pinggir padukuhan yang sudah sepi Jangkung berkata, “Besok adalah hari pasaran. Pasar ini akan menjadi sangat ramai. Aku sudah berjanji untuk membelikan sepasang tusuk konde penyu jika kudaku laku. Kuda itu ternyata sudah dibeli oleh Ki Tumenggung. Besok aku harus memenuhi janjiku itu, mengantarnya ke pasar, membeli sepasang tusuk konde.” Bharata tersenyum. Ternyata hubungan kakak beradik itu begitu akrabnya. Namun Bharata mengerutkan keningnya ketika ia melihat sepasang mata yang memandangi mereka dengan sorot yang berbeda dari orang-orang yang lain. Sorot mata yang tidak ramah sama sekali. Bahkan memancarkan kebencian yang membara. “Kau lihat orang itu?” desis Bharata. Jangkung menarik napas dalam-dalam. Tetapi nampaknya ia tidak menghiraukannya. Namun ketika keduanya sudah menjauhi orang itu Jangkung berkata, “Anak muda yang kecewa.”

“Kenapa?” bertanya Bharata.

Sayap Sayap yang Terkembang 990

02/06/2008 08:44:07 “BUKAN salahku dan bukan salah keluargaku,” jawab Jangkung. “Anak muda itu nampaknya sangat memperhatikan Riris. Katakanlah ia jatuh cinta. Tetapi Riris justru takut terhadap anak muda itu. Bukan saja karena wajahnya yang garang, tetapi juga kelakuannya tidak disukai adikku. Ia agak kasar dan tidak mengenal unggah-ungguh. Mungkin ia bukan seorang yang jahat. Tetapi k