Legenda Golok Halilintar

New Picture (1)

Legenda Golok Halilintar

Karya : Lan Li

Saduran : Sin M

Edisi Ke 1 : Desember 2008

Djvu Kiriman : Lavilla

Ebook pdf oleh : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

JILID KE SATU

Pendahuluan

Halilintar memecah di langit yang berwarna kelam abuabu

dan menghantam bumi!

Getaran bunyi halilintar yang mengelegar-gelegar

dahsyat bergentayangan dicelah-celah lembah gunung lama

sekali hilangnya.

Kilatan cahaya yang datangnya hanya sekilas, menerangi

tiga macam barang yang membuat orang miris, diatas bukit

tunggal yang menyerupai kepala botak dewa Lohan. Golok

panjang yang putus, Pedang yang patah, Busur panah yang

cacad.

Golok panjang yang putus, hanya menyisakan bagian

kira-kira dua cun dari ujung goloknya, tetapi diatas puncak

menusuk tanah batu yang kerasnya bagaikan emas dan besi

diatas, ekor pitanya berwarna merah darah mencolok

berkibar di terpa angin, gagang golok tersebut berbeda

dengan yang lain, besarnya sama dengan jari tangan anakanak,

kelihatan terbuat dari bahan yang empuk, sekarang

berdiri dengan tegak.

Pedang yang patah, tergeletak di tempat tidak jauh dari

golok panjang yang putus, ujung pedang yang telah patah

setengah, entah dimana bagian patahannya? Dalam kilatan

halilintar, gagang pedang itu mengeluar-kan cahaya ke

Sekeliling tempat itu, sekali pandang sudah dapat

diketahui gagang pedang itu telah tertanam banyak batu

perhiasan.

Busur panah yang cacad, tergantung di pinggir tebing

tidak jauh dari golok putus, pedang patah, sepertinya

hampir jatuh ke bawah jurang, sebetulnya, sebagian

busurnya sudah terbenam di celah batu, kokoh tidak dapat

dicabut lagi, punggung busurnya terbuat dari giok putih, tali

busurnya sudah hilang, sehingga disebut busur panah yang

cacad.

Kilat dan halilintar sudah berlalu, dari jurang yang

sangat dalam timbul angin yang sangat dingin, dan

Dewi KZ 3

mendadak suara rintik-rintik hujan turun dari langit yang

lusuh!

Apakah langit turut bersedih atas sisa pertarung-an di

puncak bukit tunggal ini? meneteskan air mata kasihan pada

golok panjang yang putus, pedang yang patah dan busur

panah yang cacad.

Apa betul? Atau bukan?

0-0dw0-0

BAB I

Gua iblis

Kilatan halilintar bagaikan pelangi, amarah geledek

masih bergetar! Lembah iblis yang gelap gulita terletak di

daerah Ban-li-san (Pegunungan sepuluh ribu) di Gui-lin

selatan.

Begitu kilat halilintar berkelebat, sisa cahaya yang merah

menyala terang, membuat lembah iblis terang benderang

sekilas dan lembah yang sejak ribuan tahun, siang malam

terkunci oleh kegelapan, baru tampak di mata langit.

Tampak dasar lembah berlumut hijau tanpa jalan, tidak

terlihat batunya, di sampingnya berdiri bukit-bukit yang

menjulang tinggi, kadang ada juga batu-batu yang

mencolok keluar, bentuknya seperti binatang raksasa jaman

purbakala, dengan mata yang mengerikan memandang ke

bawah, membuat orang takut.

Saat kilatan sinar berkelebat, terlihat satu anak kecil

sedang meloncat melewati batu yang terletak di atas dasar

bukit, yang tingginya puluhan meter.

Dewi KZ 4

Anak itu! Loncatannya ringan dan lincah, tidak kalah

dari loncatan monyet batu-batu yang bisa melon-cat sampai

sejauh dua tombak.

Yang lebih aneh lagi, dia turun dari atas bukit tinggi yang

banyak jumlahnya, bocah lelaki yang baru berumur sepuluh

tahun, bagaimana bisa datang ke tempat itu? Untuk apa dia

datang?

Saat kilatan sekali lagi datang di ikuti suara halilintar,

geraknya seperti ular emas yang melesat ke bawah lembah,

dengan cepat lewat di depan anak itu, biarpun sangat

berani, dia terkejut juga atas kejadian itu.

Bocah itu belum minum dan makan sejak kemarin siang,

tubuhnya gemetar tersiram air hujan, lapar dan dingin,

membuat orang dewasa saja bisa patah semangat, apa lagi

bocah cilik ini, dia hampir putus asa.

Dia melihat pemandangan sekeliling tempat, kesunyian

dan kegelapan belum memperlihatkan muka asli lembah

iblis yang mengerikan, demua menambah ketakutan bocah

ini.

Mendadak, kilat dan halilintar datang lagi, mem-buat

hati bocah yang kelaparan ini mendapat pukulan berat.

Tetapi… sinar kilat dan suara halilintar ini seperti memberi

rangsangan sejenak, membuat jiwa pemberani-nya pulih

kembali.

Dengan semangat yang pulih, dia berpikir: ”pepatah

mengatakan ayahnya adalah gambaran laki-laki sejati, dia

adalah pemimpin dari empat pendekar wahid yang

termasyur yang mendapat gelaran “Lui-to (Golok

Halilintar), In-kiam (Pedang Awan), Giok-kiong (Busur

Kumala) dan Kau-sat (Kail Pembunuh)”

Dewi KZ 5

Ayahku berjuluk Lui-to-cai-thian (Golok halilintar di

langit)! Adalah seorang ayah yang gagah, mana boleh aku

jadi seorang pengecut dan gampang putus asa.”

Semangatnya yang teguh seperti membuat suatu

keajaiban, begitu bocah itu memikirkan sebutan ayahnya,

Lui Kie Lui-to-cai-thian, semangat juangnya langsung

bangkit, hilang rasa takut terhadap situasi sekelilingnya

yang gelap dan asing, juga melupakan perihnya perut lapar

dan gemetaran untuk sementara, mengunakan ilmu

meringankan tubuh yang diajarkan ayahnya sejak dia masih

kanak-kanak, dia meloncat ke bawah, ke jurang iblis.

Ke bawah jurang iblis? Tentu saja, bocah kecil itu tidak

tahu dia telah menuju tempat yang salah, dia tidak

mengenal jalan, hanya menerjang tempat itu bagaikan

orang buta.

Sekali lagi kilat dan halilintar berselingan keluar, hujan

lebat tercurah dari langit, sekejap saja bajunya sudah basah

semua, detik ini mana mungkin dia menpersoalkan bajunya

yang basah? Tetapi terpaan hujan lebat tersebut,

membangkitkan rasa dingin dan lapar yang telah dilupakan

tadi, dia jadi lebih tersiksa lagi.

Bocah itu terpaksa melanjutkan loncatan yang bagaikan

angin melewati batu-batu yang terjal, sebentar saja sudah

melesat sejauh sepuluh tombak.

Hujan lebat, batu licin, di tambah lapar, dingin, dan

kelelahan, baru saja bocah itu meloncati batu terjal di

seberang yang jaraknya satu tombak, mendadak kaki-nya

terpeleset, dalam hatinya berseru, ‘Celaka’ belum katakatanya

juga diucapkan, tenaga dalamnya seperti terkuras

habis, tanpa daya dia jatuh terpelanting menuju bawah

jurang yang puluhan tombak dalamnya.

Dewi KZ 6

Anak kecil itu putus asa! Dia memejamkan kedua

matanya, terasa suara angin yang menderu di pinggir

kupingnya, kecepatan turunnya cepat, dalam hatinya dia

merasa sedih, dan berkata:

“Ayah, sebetulnya A Bin tidak boleh kabur dari

rumah………”

Belum berhenti berpikir, tubuhnya mendadak menimpa

benda yang basah, empuk dan sangat kenyal, dia tidak

merasa sakit, malah tubuhnya terpental balik ke udara dan

jatuh lagi, berulang-ulang hingga empat kali, baru bisa

terlentang diatasnya.

Dia terkejut bercampur senang, dengan teliti di rabanya

benda yang menahan tubuhnya, dalam hatinya berkata,

‘beruntung selamat’ ternyata dia selamat oleh lumut hijau

yang tebalnya beberapa kaki, yang tumbuh sejak jaman

purba kala tidak terkena sinar matahari, lumut itu berobah

jadi empuk dan elastis, biarpun ada orang jatuh dari tempat

tinggi hingga seratus tombak pun, tidak akan terluka.

Hujan makin deras, dibawah jurang terasa lebih deras

lagi, A Bin merangkak bangun di bawah dasar jurang yang

gelap, dia meraba-raba dinding jurang yang licin dan basah,

dengan lunglai menginjak lumut yang empuk dan basah

hingga sepuluh tombak jauhnya.

Mendadak tangannya meraba celah yang kosong, A Bin

tidak waspada, keseimbangan tubuhnya tidak terkontrol,

dan lumut yang dibawah kaki tidak bisa menahan kakinya,

sehingga dia jatuh kedalam lubang itu, terdengar satu suara

“bruk”, ternyata dia jatuh ke atas tanah yang keras dan

kering.

Hujan yang deras menjadi berhenti karena terhalang

lumut, sekarang A Bin merasa lebih leluasa, dia bersandar

di tembok lubang itu yang ternyata menyerupai sebuah goa,

Dewi KZ 7

setelah beristirahat sejenak, dia melihat gelapnya dalam goa

hingga tidak kelihatan apa-apa, pelan-pelan dia teringat

kehidupan masa lalunya………..

0-0dw0-0

Ketika A Bin baru dilahirkan tiga hari, ibunya meninggal

karena sakit, dia di rawat oleh ayahnya dengan penuh kasih

sayang, sejak kecil ayahnya telah memupuknya dasar

latihan silat, dan oleh kakek dari ibunya yang terpelajar, dia

diajarkan membaca dan menulis, hingga umur sepuluh

tahun, dia telah menguasai seratus dua belas jurus ilmu

ayahnya yang bernama Ilmu golok halilintar, ‘Lui-teng-kiehoaf

(jurus Halilintar gemuruh)

Karena ayah A Bin, Lui Kie sangat sayang pada

anaknya, maka dalam kehidupan sehari-harinya dia jarang

keluar rumah, sepanjang tahun dia menemani anak

tersayangnya, kecuali tiap tiga tahun sekali pada bulan 5 di

saat hari Pecun (bacang) dia pergi ke Kwie-lam, mengikuti

pertemuan Empat pendekar wahid yang diadakan tiga

tahun sekali di Liong-bun-hong (Puncak-pintu langit) di

Ban-li-san.

Pertemuan ini sudah berlangsung sekitar dua puluh

tahunan, tiap tiga tahun menjelang malam hari raya Pe-cun,

empat pendekar wahid di jaman itu akan datang ke Liongbun-

hong untuk mengadu kepandaian, yang menang akan

memegang tanda ” Su-ciat-leng” (Empat perintah tertinggi)

selama tiga tahun.

“Su-ciat-leng” hanya berupa Papan perintah yang

berwarna hitam, perebutan Papan perintah ini telah

berlangsung sepanjang dua puluh tahun, Papan perintah

mempunyai kekuasaan yang sangat besar, bagi golongan

hitam atau putih di dunia persilatan, biarpun tidak terikat

Dewi KZ 8

oleh Papan perintah itu, tetapi tetap mengakui

keberadaannya, karena orang yang meme-gang “Su-ciatleng”,

adalah orang yang paling hebat ilmu silatnya, siapa

yang berani melawan Papan perintah itu, berarti menantang

pada Empat pendekar wahid, tidak bisa di sangsikan lagi.

Di dunia persilatan siapa yang mau bermusuhan dengan

gabungan Empat pendekar wahid ini?

Tahun ini timbul pikiran A Bin untuk ikut ayahnya ke

Liong-bun-hong menyaksikan pertemuan empat pendekar

wahid. Ayahnya Lui-to-cai-thian tahu perjalanan kali ini

tidak aman, maka dia tidak mengijin-kan A Bin ikut, tapi

meski A Bin orangnya kecil, nyali-nya sangat besar, setelah

ayahnya pergi, dia seorang diri meninggalkan rumahnya,

dia telah mengelabui kakek-nya. Dengan menempuh ribuan

li dari In-lam datang ke Liong-bun-hong di pengunungan

itu! Sehari sebelumnya A Bin telah menemukan sebuah

tempat tersembunyi di puncak itu dan mengintai situasinya,

pada malam hari raya Pecun, di waktu bulan sabit

menerangi Liong-bun-hong, disana telah penuh oleh orangorang

dari segala partai perguruan silat.

A Bin mengetahui aturan Empat pendekar wahid, dan

sebetulnya kepandaian Empat pendekar wahid ini hampir

seimbang semuanya, mereka sudah beberapa kali

bertanding, tapi tidak ada pemenangnya, maka mereka

berjanji tiap tiga tahun sekali mereka bertemu, masingmasing

akan menggunakan tiga jurus ilmu terbarunya, dan

akan dinilai dengan adil oleh empat orang itu, siapa yang

lebih maju pesat dalam ilmunya, dialah yang berhak atas

“Su-ciat-leng” selama tiga tahun.

Sepuluh tahun yang sudah lewat, In-kiam (Pedang

Awan), Giok-kiong (Busur Kumala), Kau-sat (Kail

penbunuh) telah menang satu kali, sedang Lui-to-cai-thian

telah menang dua kali, Empat pendekar wahid telah

Dewi KZ 9

berjanji, siapa saja yang lebih dulu bisa menang tiga kali,

maka dia berhak memegang “Su-ciat-leng” selamanya,

maka dengan rasa percaya diri yang sangat besar, A Bin

ingin menyaksikan ayahnya menjadi pemilik benda itu

selamanya.

Di tengah Liong-bun-hong (Puncak pintu langit) terdapat

empat buah tempat duduk dari batu merupa-kan tempat

penampilan Empat pendekar wahid.

Tepat jam dua belas malam, di Liong-bun-hong sunyi,

tidak ada yang berbicara, semua orang yang datang dari

segala perguruan silat masing-masing diam menunggu. A

Bin membuka matanya lebih lebar, dalam hatinya dia

sangat tegang.

Di bawah cahaya malam, satu sosok bayangan, melesat

turun dari ketinggian, lajunya sangat cepat bagaikan bintang

jatuh dari angkasa langsung jatuh tepat di batu tempat

duduk di bagian selatan.

A Bin melihat keindahan orang itu melesat, dengan

pikiran dan dalam hati berdebar dia tahu hanya ayahnya

saja yang menguasai ilmu meringankan tubuh itu, hampir

saja mulutnya kelepasan memanggil “Ayah telah datang”.

Kata yang ingin di ucapkan dimulut, mendadak berhenti

karena kecewa. Pandangan matanya dengan cepat telah

melihat orang yang datang tersebut di bahu tangannya

tergantung sebilah kail besar yang meng-kilap, ternyata

adalah Kail pembunuh Kau Bun-kek, salah satu dari

anggota Empat pendekar wahid.

Empat pendekar wahid hanya datang satu orang,

menbuat orang-orang partai yang ingin menonton

tercengang dan gaduh, hati A Bin lebih bergolak bagaikan

terbakar.

Dewi KZ 10

Kau Bun-kek menunggu sejenak, dan dari sarung tangan

bajunya dia memperlihatkan sebuah benda yang warna

hitam, itulah, “Su-ciat-leng” yang direbutnya dulu, bukanlah

hal aneh sekarang berada ditangannya, tetapi yang baru

pertama kali melihat benda yang melambangkan kekuasaan

di dunia persilatan, tidak bisa menahan diri dan membuat

suara gaduh.

Dengan kedua mata yang jernih Kau Bun-kek

memandang sekeliling lapangan satu kali, dan dengan

tertawa nyaring berkata:

“Pertemuan untuk memperebutkan Su-ciat-leng telah

berjalan delapan belas tahun, waktunya jam dua belas

malam tepat lewat, jika tidak datang tidak akan ditunggu

lagi, sekarang aku akan memanggil tiga nama pendekar

wahid yang belum datang sebanyak tiga kali, bila tidak

menampakkan diri, berarti “Kau Bun-kek” ada kesempatan,

memegang lagi Su-ciat-leng.”

Orang-orang di sekeliling yang datang dari segala jurusan

mengharapkan pemimpin iblis yang suka melihat darah ini

kalah dalam pertarungan kali ini, agar Su-ciat-leng itu jatuh

ke tangan tiga pendekar wahid lain, tetapi sampai detik ini,

Lui-to (Golok Halilintar), In-kiam (Pedang Awan), Giokkiong

(Busur kumala) masih belum datang.

“Siapa yang mau mencampuri urusan ini, katakan

setuju?”

Betul saja, Kau Bun-kek berteriak keras:

“Saudara Busur Kumala (Giok-kiong), Giok Kang-tong!”

dia berteriak tiga kali, tapi tidak ada orang yang menyahut,

tersenyumlah Kau Bun-kek yang bermuka buas.

Dan dia berteriak lagi:

Dewi KZ 11

“Saudara Pedang Awan (In-kiam) In Tiang-long!” Juga

dipanggil tiga kali, “Tidak ada balasan,” Kau Bun-kek

semakin senang.

Dia berteriak lagi:

“Saudara Golok halilintar di langit (Lui-to-cai-thian) Lui

Kie!”

A Bin menyaksikan Busur Kumala, Pedang Awan sama

sekali tidak menampakkan diri, seperti ada rusa kecil yang

menabrak ketika mendengar Kau Bun-kek memanggil nama

ayahnya, ayahnya juga tidak muncul, tidak terasa

punggungnya mengucur keringat dingin.

Makin keras tertawa Kau Bun-kek, dia berteriak lagi:

“Saudara Lui-to-cai-thian, Lui Kie!” Tetap tidak ada alasan,

A Bin memandang mata yang hampir lepas, hatinya seperti

terbakar, dia tidak dapat menguasai diri.

Kau Bun-kek diam-diam bernapas panjang, dan dengan

tertawa senang berteriak untuk ketiga kaliny: “Saudara Luito-

cai-thian, Lui Kie!”

Ternyata, dari kejauhan terdengar suara balasan yang

nyaring:

“Lui Kie datang!”

Kau Bun-kek seperti terkena halilintar di siang hari,

dalam keadaan sangat terkejut dia belum memperhatikan

suara jawaban yang agak berbeda, roman mukanya yang

berseri-seri langsung menghilang, warna mukanya berobah

menjadi pucat ke abu-abuan.

Semua orang yang berasal dari semua partai di dunia

persilatan turut senang, mereka berpikir, jika Lui Kie, Luito-

cai-thian datang, tidak mungkin Kau Bun-kek tidak

bersedia menyerahkan “Su-ciat-leng” dan tiga tahun ke

Dewi KZ 12

depan, dunia persilatan akan berada dalam ketentraman

dan aman.

Setelah sesosok bayangan hitam melesat ke batu duduk

di seberang Kau Bun-kek, semua orang melihat jelas, yang

bersuara sepatah kata “Itu,” ternyata yang menyebut dirinya

Lui Kie adalah bocah laki-laki yang belum berumur sepuluh

tahun.

Kau Bun-kek merasa aneh bercampur terkejut dan

curiga, dia berkata dengan kasar:

“Anak ingusan siapa yang berani menyamar nama Lui

Kie?”

Bocah yang berhadapan dengan salah satu dari Pendekar

Wahid, Kau-sat (Kail Pembunuh) Kau Bun-kek, sama

sekali tidak takut, dia menjawab dengan kata-kata yang

tegas:

“Aku Lui Bin! Ayahku tidak bisa datang pada waktunya

karena ada suatu urusan, pertemuan hari ini aku yang

mewakili ayah untuk bertanding.”

Kau Bun-kek tercengang sebentar lalu tertawa terbahakbahak

dan berkata:

“Ku kira siapa! Ternyata anak saudara Lui Kie, ayahmu

tidak bisa datang! Jadi kau ingin mewakili ayahmu….!!

Ha…ha…ha…”

Orang-orang yang berada di pinggir lapangan juga

menjadi gaduh dan berbisik-bisik.

A Bin tegar, dengan suara nyaring berkata:

“Kau menganggap aku tidak pantas untuk mewakili

ayahku?”

Tidak hentinya Kau Bun-kek tertawa, tetapi dia

menjawab juga:

Dewi KZ 13

“Bagus! Bagus! Ayahnya harimau tidak mungkin

anaknya anjing, ayahnya seorang ksatria. Aku Kau Bun-kek

menerima saudara Lui kecil mewakili ayahnya

berpartisipasi dalam pertemuan ini, tetapi aku tidak mau

menyandang nama yang mengatakan yang besar meng-hina

yang kecil. Sekarang aku menetapkan pada orang-orang

yang menonton, kau boleh menyerangku sebanyak tiga

jurus, jika dalam tiga jurus, kau bisa memaksaku untuk

membalas serangan atau jatuh dari tempat duduk batu ini,

berarti kaulah yang memenang-kan pertandingan ini. Tanda

“Su-ciat-leng” ini boleh kau bawa pulang dan menjadi

pemiliknya selama tiga tahun!”

A Bin mendengar kata Kau Bun-kek, kedua matanya

bersinar sejenak, segera bertanya:

“Apakah kau bisa dipercaya? Jangan asal berkata tapi

tidak ada buktinya!”

Kau Bun-kek tetap tertawa, dan berkata dengan tegas:

“Aku bicara di hadapan umum, mana bisa tidak

menepati janji, silakan keluarkan jurusmu!”

A Bin menenangkan pikiran sejenak lalu mengeluarkan

sebuah golok dari pinggangnya, golok itu dibuatkan oleh

ayahnya menyerupai golok halilintarnya, gagang golok itu

terbuat dari urat badak, bisa bengkok bisa juga lurus, hingga

leluasa menggunakannya.

Begitu “golok halilintarnya” muncul, jantung Kau Bunkek

bergetar juga, mukanya berobah warna, dia meneliti

golok yang dipegang A Bin, golok itu tampak lebih kecil

dari kepunyaan ayahnya Lui-to-cai-thian, semangatnya

segera pulih, seperti tidak ragu-ragu lagi, dengan suara

nyaring dia berkata:

“Lui kecil, ayo keluarkan jurusmu!”

Dewi KZ 14

Perkataannya belum habis, sinar mata Kau Bun-kek

terlihat bayangan cahaya warna merah, ternyata A Bin

telah menyerang, Golok Halilintar nya bergerak dengan

jurus “Kuang-su-gu-touw” atau (sinar menyo-rot kerbau

menubruk), pita merah pada goloknya ikut bergerak.

Golok bergoyang, menciptakan tiga kuntum bunga yang

menarik sekali, dan ujung lancip golok di dalamnya,

menyerang tubuh Kau Bun-kek.

Jurus itu mempunyai perobahan aneh, tujuannya sangat

mematikan, berupa jurus dalam jurus, jurus aneh yang

bersambung terus dengan jurus intinya.

Kau Bun-kek dengan suara tertawa bagaikan lonceng

besar, tubuhnya dengan cepat di geser sedikit kekanan,

Kau-sat yang beratnya sepuluh kati yang digantung

dipundak kiri ditaruh kedepan dadanya.

“Trang, trang” dua suara nyaring itu adalah benturan

serangan tiga serangan beruntum golok A Bin yang

berbenturan dengan Kau-sat, sisa satu serangan, sudah

menuju dada Kau Bun-kek.

Kejadian itu membuat orang-orang dunia persilatan

dalam hati terperanjat, biarpun A Bin masih seorang bocah,

tetapi dia telah menguasai inti sari ilmu ” Golok Halilintar”,

kalau saja tenaga dalamnya sudah cukup, dia sudah pantas

berada di deretan jago kelas satu di dunia persilatan.

Serangan golok yang menuju dada Kau Bun-kek, dapat

dihindari olehnya dengan menarik nafas mengempiskan

dada sambil goyang pinggang.

Begitu serangan tidak berhasil, tanpa ragu-ragu A Bin

memutar golok, dan ditujukan ke bawah, merobah tusukan

menjadi sabetan, jurus Thian-bun-sau-swat (Menyapu salju

Dewi KZ 15

di pintu langit) dilancarkan menyerang bagian tengah tubuh

musuhnya.

Kau Bun-kek betul-betul punya kepandaian yang hebat,

dengan cepat dia menjatuhkan diri ke sebelah kiri,

bersamaan itu kaki kanannya diayunkan, jelas dalam

keadaan menyelamatkan diri, dia bermaksud menyimpan

serangan balik pada lawannya, agar lawan menghindar,

bersamaan waktunya satu tangan kirinya bersandar di batu

duduk itu.

Ternyata A Bin betul-betul menghindar tendangannya,

sambil merobah laju goloknya ke arah tenggorokan lawan

dengan cepat.

Tetapi Kau Bun-kek yang duduk dengan bantuan satu

tangan kiri bersandar di batu, cepat tubuhnya bergoyang,

dengan beruntung menghindar jurus itu.

Sepertinya bila tidak menggunakan jurus itu, dalam

hitungan detik tenggorokannya pasti akan berlobang, betulbetul

sangat menegangkan, ternyata Kau Bun-kek bisa

menghindar dengan leluasa dan sempurna.

Tetapi, A Bin yang punya otak brilian, setelah serangan

pertamanya tidak berhasil, dia telah menyadari bila ingin

mengalahkan Kau Bun-kek dalam tiga jurus, dia harus

mengeluarkan jurus aneh, maka dalam jurus kedua, dia

memberi kesempatan Kau Bun-kek menyombongkan diri,

agar dia merasa betul-betul merasa hebat, dan tertawa riang

beberapa kali.

Bersamaan dengan tertawanya A Bin melepaskan Golok

halilintarnya, satu kilatan merah bagaikan terjangan

halilintar meluncur, ini adalah jurus menjinakan musuh

yang sangat hebat dalam jurus Golok halilintar bernama

Tiang-hong-koan-jit (Pelangi menantang matahari).

Dewi KZ 16

Kau Bun-kek sama sekali tidak menyangka jurus Golok

halilintar A Bin begitu cepat, baru saja dia melihat, Golok

halilintar tersebut sudah berada didepan tubuh.

Sebagai salah satu empat pendekar wahid, bila Kau Bunkek

gentar terhadap serangan A Bin, tentu sangat

memalukan, perbandingan tenaga dalam dan tingkatan

ilmunya tidak bisa diukur jauhnya, bila dia menggunakan

ilmu kebalnya yang sempurna, golok terbang yang menusuk

tubuhnya pun tidak akan berakibat apa-apa.

Tetapi dengan kedudukan Kau Bun-kek yang tinggi, bila

dia sampai terkena ujung golok A Bin, meski hanya ujung

bajunya, otomatis dia harus mengaku kalah, gara-gara dia

tadi terlalu sombong mengucapkan kata-kata, jadi dia tidak

boleh melayang menghindar atau membalas serangan.

Dalam keadaan terdesak, niat jahatnya mendadak

timbul, angin telapak tangannya mendadak keluar, bukan

saja dia telah memukul Golok halilintar sampai jatuh

kebawah, dia juga mengerahkan tenaga penuh menghadang

A Bin, dan bila A Bin sampai terkena, dia segera akan mati

ditempat itu juga.

Biarpun Kau Bun-kek punya niat jahat, tetapi tidak lupa

matanya menatap orang-orang disekeliling-nya, mata

orang-orang yang menaruh cemoohan itu membuat dia

merobah niatnya, dia menyimpan kembali tenaga

dalamnya, dengan tertawa berkata:

“Ternyata keponakanku adalah anak muda yang

mengagumkan, masa depannya tentu sangat cerah, aku Kau

Bun-kek bila telah membuat janji, mana boleh

melangarnya, jurus telapak tangan ini hanya menguji

keberanianmu saja!”

Habis bicara, Kau Bun-kek segera menyerahkan tanda

Su-ciat-leng ke tangan A Bin.

Dewi KZ 17

A Bin segera menyimpan tanda Su-ciat-leng, tanpa

membuang waktu lagi dia segera berjalan pulang.

0-0dw0-0

Ban-li-san (Pegunungan selaksa) sangat luas, A Bin harus

menempuh perjalanan selama dua hari baru bisa keluar dari

lingkup pegunungan ini, dan pada malam kedua, hujan

turun dengan deras.

Kilat dan halilintar saling bersahutan, begitu hujan deras

baru turun, karena A Bin tergesa-gesa berlari mengejar

waktu, dia tersasar salah masuk ke daerah Lembah iblis,

baru saja sampai di pinggir lembah itu, mendadak terdengar

suara seperti langit runtuh bumi retak, batu-batuan seperti

bukit kecil berterbangan dan menggelinding

mendatanginya.

Dalam keadaan yang sangat keritis ini, tanpa pikir

panjang, A Bin terpaksa meloncat ke bawah lembah.

Baru saja dia turun, batu tersebut sudah melewati

kepalanya, menggelinding terjun ke dasar lembah, terdengar

suara keras “Bruk”, suaranya membuat gema di antara

gunung dan lembah, A Bin baru mengetahui bahwa

Lembah iblis ini sangat dalam, jika dia jatuh meski tidak

remuk oleh batu besar itu, dia akan hancur lebur juga jatuh

kebawah dasar lembah.

Belum hilang rasa terkejutnya, tubuhnya yang sedang

melesat ke bawah mendadak pinggangnya terasa dirangkul

oleh sebuah tangan raksasa, rangkulannya terasa kencang

sekali, A Bin terkejut, rohnya seperti keluar dari batoknya,

dia berpikir tangan iblis dari mana ini?

Setelah tenang pikirannya, dia melihat sekeliling-nya dan

tertawa sendiri, ternyata tubuhnya persis jatuh ke dalam

Dewi KZ 18

keranjang pohon tua rotan yang tumbuh di celah batu

gunung.

Setelah istirahat sejenak, A Bin baru meloncat keluar dari

keranjang rotan itu, dia mendarat di atas batu yang paling

dekat…………

0-0dw0-0

Dalam goa itu ingatan A Bin kembali sadar dalam

kejadian sebelumnya, timbul pertanyaan dalam hatinya,

apakah jatuhnya batu seperti gunung kecil itu kejadian

alamiah, atau ada orang sengaja mencelakakan dirinya.

Dengan bingung, A Bin melihat satu titik terang yang

timbul dari dalam hati, tergerak rasa ingin tahunya, A Bin

memegang Golok halilintarnya, berjalan masuk kedalam

gua.

Makin dalam masuk, tubuhnya makin merasa dingin,

tetapi tercium oleh hidungnya bau wangi yang

menyegarkan, segera rasa lelahnya pulih dan laparnya

menghilang, hanya hawa dingin yang menusuk tulang yang

susah di hindari.

A Bin yang tertarik oleh bau wangi itu, tanpa hiraukan

hawa dingin yang menusuk tubuh, berjalan dengan langkah

tegak, sinar itu makin terang, dan hawa di dalam goa makin

dingin lagi.

Kira-kira satu jam lamanya, pemandangan dalam goa

sudah terlihat dengan jelas, hati A Bin terperanjat dan

gerakan kakinya segera berhenti.

Matanya sudah bisa melihat semuanya, ada setumpukan

bunga-bunga dan rumput yang tampak asing baginya, di

lantai tidak ada tanah sedikit pun, bunga dan rumput itu

Dewi KZ 19

tumbuh diatas batu yang putih bagaikan salju, dan bau

wangi yang menyegarkan keluar dari bunga dan rumput itu.

Keadaan dalam gua sangat lebar, kira-kira seratus meter

persegi, di tengah tumpukan bunga dan rumput berdiri tiga

buah tempat duduk dari batu ukir, masing-masing setinggi

satu tombak lebarnya lima kaki.

Batu duduk itu terukir gumpalan awan, dilihat sepintas

persis sebuah awan putih, dan di atasnya terdapat orang tua

yang sedang duduk, janggutnya panjang hingga mencapai

perut, kedua matanya tertutup, penampilan mereka sangat

agung.

Ketiga orang tua itu bulu rambut dan jambang-nya

semua sudah putih, roman mukanya seperti orang hidup,

tetapi tidak tampak warna darahnya, mereka seperti batu,

dari potongan bajunya, diperkirakan mereka adalah orangorang

ratusan tahun lalu.

Sinar kecil yang menarik A Bin masuk kedalam, ternyata

keluar dari gumpalan sinar bagaikan embun yang kira-kira

berdiameter satu meter .. .yang melingkari tubuh tiga orang

tua itu.

Melihat cahaya yang menerangi gua itu, diperkirakan

ketiga orang tua telah melatih ilmu hingga tingkat tertinggi,

sehingga dalam tubuhnya bisa mengeluarkan lingkaran

sinar yang berbeda dengan sinar lain.

Meski sekitar tempat itu makin dingin, A Bin sangat

tertarik oleh pemandangan aneh dan orang aneh, dia hanya

bersin karena kedinginan, tapi tidak menghiraukan tubuh

yang menggigil.

Dengan teliti dia memandang ketiga orang tua itu,

ternyata warna kulit muda, rambut dan godeknya, model

bajunya sama semua seperti orang yang bisa ilmu

Dewi KZ 20

memisahkan tubuh, bersamaan waktu menjadi tiga orang

persis dirinya, A Bin makin tercengang.

Tergerak oleh rasa ingin tahu, A Bin mendekat hingga

satu kaki terasa orang tua itu tidak mati dalam bertapa,

masih seperti orang hidup, timbul keinginannya agar orang

tua itu membuka mata melihatnya.

A Bin merasa telah melanggar tempat tinggal orang,

timbul rasa menyesal dan ingin keluar secepat-nya.

Mendadak jengot panjang warna putih orang tua yang

duduk di bagian kiri bergerak tanpa ada angin, A Bin

terkejut sekali, rasa takut dan gemetar makin ber-tambah,

dia segera ingin mengangkat kaki mundur dari tempat itu,

cepat berlari.

Ternyata kedua kaki dari sebatas dengkul ke bawah jari

kaki telah beku, sama sekali tidak mau diperintah lagi,

bergerak sedikitpun tidak bisa, A Bin terkejut hingga

mukanya menjadi pucat, tidak tahu apa karena terlalu

terkejut membuat kaku kedua kakinya, atau ketiga orang

tua aneh yang bertapa itu mempunyai ilmu hitam

menguasainya? Atau karena hawa dingin dalam gua yang

membekukan kakinya?

Dalam kebingungan, A Bin hanya ingin menggunakan

kedua tangannya meraba kedua kaki yang membeku,

ternyata kedua tangannya seperti kakinya, tidak dapat

digerakkan juga.

Dia mencoba menggerakan kepalanya, tapi juga tidak

bisa bergerak sedikit pun, A Bin tambah terkejut bukan

main, tanpa sadar membuka mulut ingin berteriak dan yang

membuat dia tambah putus asa adalah meskipun sudah

sekuat tenaga ingin berteriak sekeras-kerasnya, tetapi tidak

ada suara yang keluar dari mulutnya, apa suaranya juga

ikut membeku.

Dewi KZ 21

Pukulan dahsyat ini membuat kesadaran, kecerdasan A

Bin jadi hilang, dia bagaikan patung batu yang membeku

berdiri di tempat, jiwa dan raganya semuanya membeku,

seperti batu peninggalan sejarah.

A Bin sama sekali tidak bisa bergerak, hanya melalui

sepasang matanya dia bisa melirik tiga orang tua yang

duduk di batu seperti awan. Dia berpikir apa mereka juga

seperti dia sendiri, membeku juga?

Setelah melihat beberapa detik, A Bin pun tidak

mendapatkan jawaban, dalam keadaan linglung dia melihat

sepintas kulit mata orang tua yang duduk di tengah

bergerak-gerak.

A Bin terkejut bercampur senang, matanya

memperhatikan kedua mata orang tua itu. Betul juga, orang

tua yang duduk di tengah setelah kulit matanya di gerakan

sebentar, pelan-pelan membuka matanya, seperti seorang

yang sudah tertidur panjang baru melek matanya.

Setelah terbuka matanya, sinar matanya yang berwarna

aneh dengan pandangan dingin seperti es melihat muka A

Bin.

Sejenak kemudian, dua orang tua yang duduk di kiri

kananpun membuka kedua matanya, juga dengan

pandangan dingin seperti es melihat A Bin.

Tiga sorot pandangan yang menatap muka A Bin, lebih

dingin dari dinginnya gua itu, membuat tubuh A Bin

gemetaran.

Tiga orang aneh biarpun orang hidup, selain enam

matanya yang mempunyai warna aneh, tubuhnya sama

sekali tidak bereaksi, seperti patung batu yang diukir.

Dewi KZ 22

A Bin ingin bicara tapi suaranya tidak bisa keluar, hanya

membalas pandangan mereka, ingin mengetahui tiga orang

tua itu bagaimana menghukum-nya?

Kedua belah pihak berpandangan beberapa detik, baru

terdengar suara yang tidak menandakan senang atau marah,

keluar dari mulut orang tua yang duduk dikiri, dengan

dingin berkata:

“Sayang, kita bertiga yang sudah memupuk ilmu yang

selama Ji-kah-cu (dua kali enam puluh tahun), telah

terganggu oleh bocah yang tidak tahu apa-apa, bagaimana

pun membuat kita sedih sekali!”

Mendengar kata-kata yang bernada penuh jengkel dan

kehilangan, seperti mewakili orang lain, tanpa perasaan

senang atau marah, tidak ada nada tinggi, kata-katanya

dingin seperti es, mulutnya pun tidak gerak.

A Bin makin takut bercampur perasaan terkejut, kagum,

mendengar perkataan itu, suara yang keluar dari mulut

yang tidak bergerak menandakan tenaga dalamnya sudah

mencapai tingkat kesempurnaan, sehingga dapat

mengeluarkan perkataan dari dalam perut, istilahnya

“bahasa perut”, meskipun para pendekar hebat juga bisa

menguasai ilmu berkata perut tetapi nada yang keluar

bernafas pendek dan cepat, berbeda dengan suara biasa,

tidak seperti yang dikatakan orang tua yang duduk dikiri

itu, perkataannya tidak tergesa-gesa dan santai, ini

merupakan hal yang menakjubkan, belum pernah ada cerita

ini sebelumnya.

Kata yang diutarakan orang tua yang duduk di sebelah

kiri, membuat A Bin lebih terperanjat, bila betul bertiga

saudara ini sudah menghabiskan waktu dua kali 60 tahun,

berarti umur mereka lebih dari seratus dua puluh tahun?

Dewi KZ 23

Yang membuat A Bin risau adalah, bila betul kata orang

tua itu, berarti A Bin telah merusak latihan mereka yang

dikumpulkan selama dua kali 60 tahun, sungguh susah di

mengerti oleh orang biasa. Sejak masuk ke gua, satu rumput

satu batu pun belum pernah digeser, batuk pun tidak,

bagaimana A Bin yang masuk tidak mengganggu mereka,

dikatakan telah merusak latihan mereka?

Pikiran A Bin belum habis, terdengar orang tua yang

duduk di sebelah kanan berkata dengan perkataan perut

yang tanpa perasaan:

“Berlatih dengan susah selama dua kali 60 tahun, masih

susah menebus dosa yang dulu! Tuhan terlalu kejam buat

kita tiga bersaudara, kalau tahu akhirnya begini, buat apa

kita datang ke Lembah iblis, tersiksa oleh suasana dingin

selama ratusan tahun, bukankah kita masih bisa menikmati

hidup senang di Siau-yau-kiong selama puluhan tahun.”

Walau A Bin tidak tahu dimana letaknya Siau-yaukiong,

tetapi dari ucapan orang tua yang duduk di sebelah

kanan itu, dia bisa mendapat sedikit perkiraan, dia

menduga, ketiga orang tua aneh ini telah banyak berbuat

dosa di masa lalu, kemudiaan insaf, dan datang ke gua

lembab di Lembah Iblis ini, berusaha mencari pencerahan

dan menahan siksaan dalam suasana dingin, juga melatih

kepandaian mencari kesempurnaan hidup.

Terdengar kata-kata dari perut orang tua yang duduk di

tengah:

“Jite! Samte! Ternyata latihan kalian yang susah selama

Ji-kah-cu (dua kali 60 tahun), masih belum menghilangkan

rasa marah dan rasa jengkel kalian, ini membuktikan

menjadi dewa itu sangat susah. Menurut aku, meskipun

anak ini tidak melanggar masuk, kita bersaudara pun juga

susah mendapatkan buah emas yang murni dari latihan,

Dewi KZ 24

apakah benar kedatangan anak ini pun takdir kita, kalau

benar kita harus rela menerima nasib kita!”

Perkataan perut orang tua di tengah, sama seperti dua

orang tua yang lain, tanpa perasaan, tanpa nada, tetapi

didengar oleh A Bin kata-katanya penuh welas asih dan

damai, berbeda jauh dengan kedua orang tua yang lain,

hampir bersamaan kedua orang tua di sebelah kiri dan

kanan bertkata:

“Apa maksud perkataan Toako?”

Orang tua yang duduk di tengah berkata dengan tenang:

“Kalian pasti tahu maksud melatih ilmu supaya

mendapat buah emas, jangan bicara yang lain dulu, pokok

utama yang harus di taati, adalah putuskan tujuh macam

perasaan, membatasi enam nafsu, selama 120 tahun kita

berlatih menjernihkan pikiran, menjauhkan hawa nafsu,

hidup seperti kura-kura, menolak ratusan godaan,

sebetulnya terlalu memasakan diri, betul-betul belum bisa

mencapai taraf bisa melupakan diri, ini bisa di lihat dari

kedatangan anak ini, perasaan jengkel dan marah adik

berdua segera timbul, membuktikan kata-kataku tidak salah,

bila kita memaksa menahan diri, jangan kata kita bertiga

hanya berlatih dua kali 60 tahun, di beri waktu dua belas

kali 60 tahun pun akan sia-sia.”

Perkataan yang diucapkan orang tua di tengah itu

membuat dua orang tua di kiri dan kanan merasa malu,

mereka diam saja. A Bin pun yang di pinggir mendengarkan

kata-katanya, sdikit mengerti juga ter-hadap arti katakatanya.

Dalam hati dalamnya timbul rasa hormat yang

tinggi!

Orang tua yang duduk di kanan sepertinya ada hal yang

mengganjel, dia bertanya:

Dewi KZ 25

“Perkataan toako sangat masuk akal, kami sebagai adik

sangat malu tidak bisa berpikir demikian, tetapi toako

bilang, kedatangan anak ini sebagai takdir kita, apa ini

pikiran yang dipaksakan!”

Sambil menutup matanya sebentar, lalu dia menghela

nafas sekali, orang tua tengah itu berkata:

“Pertanyaan Jite, terlihat perasaan tidak ikhlas-nya

belum sirna, bukan saja menyesali orang, juga menyesali

Tuhan, kalian kira perkataanku tentang takdir itu hanya

kata-kata yang menghibur kalian? Faktanya mengatakan

bukan, apa kau lupa, sebelum datang ke Lembah iblis kita

telah mempersiapkan diri berapa lama, membawa berapa

banyak alat untuk menjaga diri, baru bisa melewati

rintangan puluhan ribu binatang berbisa, ular beracun,

lumut yang penuh kalajengking beracun, baru bisa selamat

sampai di gua ini, coba kita bayangkan anak ini, dia tidak

mempunyai ilmu satu persen dari sepuluh persen ilmu kita

pada tahun-tahun sebelumnya, tetapi tidak dia terluka

sedikitpun………”

Belum habis kata-katanya, orang tua yang di sebelah kiri

merasa tidak puas dengan kata-kata itu, dia memotong

perkataan Toako nya dan berkata:

“Apa anehnya, dia kebetulan mendapat kesempatan saat

turunnya hujan besar setelah hari raya Pe Cun, sehingga

menghilangkan racun-racun yang gentayangan di luar

lembah, dan saat ratusan binatang berbisa menghindar,

kesempatan baik itu menguntungkan anak ini hingga tidak

terluka oleh ular berbisa saat melewati lembah lumut,

apakah ini dinamakan takdir?”

Orang tua di tengah berkata dengan tenang: “Samte, kau

bilang anak ini kebetulan mendapatkan kesempatan? Aku

tanya, dalam waktu seratus tahun setelah kita bertiga masuk

Dewi KZ 26

ke dalam Gua iblis ini, ada berapa orang yang jatuh ke

lembah ini dan tidak mati, dan ada berapa orang yang

berani merayap masuk ke gua ini dalam kegelapan, dan ada

berapa orang yang menemukan tiga kesempatan dalam

kurun waktu ratusan tahun, begitu kebetulan mendapatkan

kesempatan yang sempurna itu, apakah ini bukan takdir?

Apakah kau mesti tahu dulu takdir, baru mau mengakui?”

Kata orang tua yang ditengah itu membuat kedua orang

tua di sebelah kiri dan kanan menjadi bungkam, diam tidak

bisa menjawab.

Orang tua yang di tengah memandang A Bin dengan

seksama, dengan nada kasihan berkata:

“Sayang anak ini, bila dinilai dari kecerdasan dan bakat

sejak lahir, dialah bibit unggul dalam ribuan orang! Susah

dicari!”

Ketiga orang tua itu telah melepas kekangan emosinya,

nada bicaranya sudah tidak sedingin waktu pertama.

Orang tua yang duduk disebelah kiri memotong:

“Betul! Anak ini mempunyai dasar tubuh sifat jantan,

bila aliran es yang dingin itu masuk keparu-parunya, tidak

lebih dari dua belas jam, darahnya akan membeku dan

mati!”

A Bin mendengar kata-kata itu, seperti terkena geledek,

dia berkata dalam hati, ‘Ampun, dua kali selamat dalam

kecelakaan, masih tidak luput dalam takdir kecelakaan

ketiga!

Orang tua di tengah itu merubah roman muka-nya yang

kaku, timbul tawanya, dan dengan ramah berkata pada A

Bin:

Dewi KZ 27

“Hai Bocah, jangan risau, nyawa kecilmu akan

kuselamatkan, yang aku bicarakan sayang itu adalah

menolong nyawamu, kau mesti belajar dengan tekun ilmu

kami yang berbeda dari aliran ilmu silat umum, setelah aku

belajar dan mencapai hasil buah emas, baru tahu ilmu kami

berbeda dari jalur resmi, melihat bakat dan tubuhmu, yang

masih murni aku merasa sayang!”

A Bin merasa aneh, ketiga orang tua tersebut entah

datang dari mana, kelihatan bukan orang jahat, kenapa

mereka belajar ilmu yang menyimpang.

Orang tua duduk di sebelah kanan bisa melihat jalan

pikiran A Bin, dia ikut berkata:

“Bocah! Kau mungkin ingin tahu riwayat kita tiga

bersaudara! Ketahuilah Toako kami namanya Tiong Ki-cu,

aku bernama Yu-siau-yau-cu, Samte bernama Co-siau-yaucu,

seratus tahun lalu di gunung Bu-san kami adalah

pemilik Siau-yau-kiong, di kalangan dunia persilatan kami

mendapat julukan Sam-lo Siau-yau-cu. Biarpun berlatih

ilmu sesat, tetapi tidak berbuat yang tidak diperkenankan

oleh alam (membunuh), wanita-wanita yang telah

membantu menyempurnakan ilmu kita, juga mendapat

imbalan obat mujarab untuk pemulihan………………”

Orang tua di sebelah kiri juga terkenang pada

kejayaannya di masa lalu, dia berkata:

“Kita bersaudara biarpun belajar ilmu sesat, tetapi pada

masanya mempunyai kedudukan terhormat di dunia

persilatan, begitu orang menyebut Sam-lo Siau-yau-cu,

semua akan merasa kagum dan segan…………..”

Biarpun A Bin masih kanak-kanak, tetapi dia sudah

banyak membaca buku, pengetahuannya sangat luas, dia

mendengar perkataan orang tua yang di sebelah kiri dengan

sangat terperanjat, pikirnya, dia bukan seorang yang takut

Dewi KZ 28

mati, jadi tidak boleh belajar ilmu sesat yang di luar dari

jalur aturan dunia persilatan.

Pandangan mata Tiong Ki-cu yang tajam, melihat

dengan nada kagum dan tersenyum:

“Bocah! tekadmu yang tidak takut mati dapat di puji,

tetapi kau jangan kuatir, kau tidak perlu belajar ilmu yang

harus di bantu perempuan, hanya karena paru-parumu telah

terserang oleh hawa dingin es, sehingga harus

menggunakan ilmu yang kukuasai, baru bisa

menghilangkan hawa dingin dalam paru-parumu, tetapi kau

harus rajin belajar.

Setelah beberapa tahun, dengan tenaga dalam dan ilmu

silat kami, baru bisa menyelamatkan nyawamu dan hidup

terus, biarpun kau tidak belajar ilmu sesat, itu tidak jadi

masalah, karena ilmu silat hanyalah alat untuk membantu

orang susah dan beramal, asal digunakan dengan tujuan

baik ilmu sesat juga tidak menjadi masalah!”

Habis bicara, tidak menghiraukan A Bin yang masih

menolak, tangan kanannya di angkat dengan perlahan,

lengan jubahnya menggembung, sebuah hisapan yang kuat

mengenai tubuh A Bin, A Bin seperti berada dalam pusaran

raksasa di lautan luas, dia tidak dapat menguasai diri lagi,

kepalanya terasa tidak ada ingatan, membubung keatas,

setelah tenang pikirannya, dia baru tahu bahwa dirinya

sedang tidur telentang di depan Tiong Ki-cu.

Tiong Ki-cu membungkukkan kepala dengan suara halus

dan muka serius berkata:

“Kau harus menahan siksaan aliran darah yang

berlawanan arah, aku akan menyalurkan “Ciat-im-sam-kekceng-

kie” melalui urat darah, (Dasar pernapasan murni tiga

inti negatif) baru bisa menghilangkan hawa es di dalam

tubuhmu, sesudah tiga bulan tubuhmu akan mengalami

Dewi KZ 29

perobahan besar, meski tidak bisa dikatakan berganti tulang

berobah urat, cuci bulu dan sumsumnya, tetapi dasar tenaga

dalammu sudah maju jauh dari pada hari ini!”

Habis bicara, tanpa menunggu lama, dia segera

mengangkat telapak tangan kanannya memukul kepala A

Bin .

A Bin hanya merasakan terpaan angin kencang

mengurung kepalanya, persis di atas pusat jalan darah

pokok, tubuhnya tergetar sejenak, terus tidak sadarkan diri.

Seperti dalam alam mimpi, dia merasa tubuhnya jatuh

dari puncak gunung pada ketinggian ribuan tombak ke

bawah, organ dalam tubuhnya seperti ditarik oleh tenaga

magnit ke atas, semua pori-pori jalan darah di bagian

pergelangan, seperti dilonggarkan oleh orang, dan ribuan

rayap atau semut masuk ke dalam pori-pori, bergerak

merayap, terasa tulangnya lemas uratnya kendor, sangat

tersiksa sekali.

Beberapa kali dia ingin membuka mulut berteriak, tetapi

tenggorokannya seperti tidak men-dengar perintah, meski

berusaha sekuat tenaga pun, dia tidak bisa mengeluarkan

suara.

Dan bersamaan itu darah dalam tubuhnya, mulai

mengalir terbalik arah, walaupun berusaha membuka

matanya, tetapi hanya ada bayangan buram, apapun tidak

jelas. Entah berapa lama, rasa sakit mulai menghilang

begitu pula dengan pegalnya tulang dan urat, semangatnya

juga pulih, pemandangan di depan mata jelas terlihat.

A Bin melihat Tiong Ki-cu sedang memejamkan mata,

kepalanya sedikit turun, berdiam seperti seorang tua

melupakan segalanya.

Dewi KZ 30

Setelah istirahat beberapa detik, Tiong Ki-cu membuka

matanya, dengan pelan-pelan berkata:

“Bocah! Darah mengalir terbalik sesungguhnya sangat

menderita, jadi kau harus kuat menahan rasa sakit, kau

ingat pepatah mengatakan, “Bisa makan pahit di atas pahit,

baru bisa jadi orang di atas orang.” (orang yang tahan uji,

baru bisa jadi orang sukses)”

A Bin tidak bisa bicara, dan tidak bisa menggoyangkan

kepala tanda memgerti tetapi kedua matanya terpancar

sinar keteguhan.

Tiong Ki-cu tertawa sejenak, berkata lagi:

“Sekarang aku akan menotok tiga pusat jalan darahmu,

menyalurkan “Ciat-im-sam-kek-ceng-kie” ke dalam jalan

darahmu”

Habis bicara, dengan cepat dia menyodorkan tangan

kurus yang dingin, menangkap pergelangan tangan A Bin,

A Bin merasakan tangan kurus itu seperti gelang besi,

seluruh tubuhnya langsung kram, jalan darahnya mengalir

terbalik ke organ dalam tubuhnya.

Dalam hitungan detik, terasa pusat jalan darah di depan

dadanya telah di totok oleh Tiong Ki-cu beberapa kali.

A Bin merasakan kesal yang sangat dalam, dada-nya

seperti ingin pecah. Kurang lebih setengah jam seluruh

tubuhnya seperti dalam kuali air mendidih, terbakar sampai

luka. ‘

Terdengar dalam kuping suara Tiong Ki-cu:

“Detik ini tubuhmu bagaikan terbakar, karena sifat positif

dalam tubuhmu beradu dengan Ciat-im-sam-kek-ceng-kie

yang aku salurkan, biar aku memijat agar sebagian jalan

darahmu bisa menyesuaikan ilmu liar ini menuju kebaikan.”

Dewi KZ 31

A Bin merasakan sepasang tangan Tiong Ki-cu tidak

berhenti menekan memijat seluruh jalan darah pentingnya

hingga ke seluruh tubuh.

Perasaan membara dalam tubuhnya mulai hilang,

berganti dengan rasa dingin yang makin berat.

Segumpal arus dingin yang masuk ke dalam tubuh,

membuat jantungnya terasa beku, lebih sakit dari pada arus

panas yang tadi masuk, A Bin menggigil hingga kedua garis

giginya beradu kencang, dia ber-tahan terus.

Kecepatan dua telapak tangan Tiong Ki-cu bertambah,

dia menyentuh ke seluruh tubuh A Bin, setengah jam

kemudian rasa dingin makin hilang, A Bin mendapatkan

pusat jalan darah yang di pijat, aliran darah dan nafasnya

pun hilang sama sekali.

Kerisauan dalam hatinya pun hilang, dari tegang menuju

tenang, tidak terasa A Bin tertidur nyenyak.

0-0dw0-0

Waktu cepat lalu, sesudah melewati waktu lama, dalam

gua yang dingin tidak ada siang dan malam, tidak bisa

membedakan hari, tapi perkiraan A Bin sudah ada beberapa

bulan lamanya.

Kebanyakan waktu itu, A Bin berada dalam keadaan

setengah pingsan, hanya pada waktu di pijat oleh Tiong Kicu

baru sadar, walaupun masih ada rasa sakit karena dingin

dan darah mengalir terbalik, tetapi makin hari terasa makin

ringan, jalan darah rubuhnya pun sudah mulai

menyesuaikan perobahan yang berlawanan dengan biologi

manusia umumnya, yang di buat oleh aliran ilmu sesat, tapi

ada sesuatu hal yang aneh terjadi dalam jangka waktu

panjang,

Dewi KZ 32

A Bin tidak pernah makan dan minum sedikit-pun, tapi

tidak terasa lapar.

Pada suatu hari, A Bin terbangun dari tidurnya, Tiong

Ki-cu mendadak berkata:

“Langkah pertama ilmu ini telah selesai dengan

sempurna, sebentar lagi, aku akan menggunakan ilmu

rahasia dari aliran Tok-wan-tay-hoat (Cara cepat mencapai

hasil), memberikan tenaga intisari dari hasil latihanku

selama seratus tahun Han-kie-sin-kang (Tenaga inti hawa

dingin) membantu tenaga dalammu, beberapa hari

kemudian kau harus mengikuti petunjuk yang aku ajarkan,

untuk mengendalikan cara nafas, setengah tahun kemudian

tibalah waktu latihan tenaga dalam, tenaga luar dan ilmu

silat lain!”

Mendengar kata-kata Tiong Ki-cu, dua adiknya merasa

terkejut, bersamaan mereka berkata:

“Toako, jangan menggunakan cara itu! Bila kau

menggunakan ilmu Tok-wan-tay-hoat dan memberikan

tenaga mumi yang kau latih selama seratus tahun kepada

anak ini, hawa mumimu akan terkuras sekitar delapan

puluh hingga sembilan puluh persen, nanti bukan saja

umurmu akan berkurang, pun selama sisa hidup harus

terkurung dalam gua ini, tidak bisa keluar gua, dan karena

tidak melihat matahari, kau akan mati!”

Mendengar kata-kata kedua orang tua itu, A Bin merasa

tidak nyaman, dari matanya terlihat maksud menolak dan

gelisah.

Tetapi Tiong Ki-cu dengan tegas dan hikmat berkata:

“Putusanku sudah bulat, kalian jangan meng-halangi, kita

bertiga sudah tahu bahwa kita tidak ada harapan lagi

mencapai hasil mendapat buah emas mumi dalam ilmu

silat, maka tidak boleh sayang lagi pada simpanan lama.

Dewi KZ 33

Bila ilmu sesatku telah diturunkan pada anak ini, dan

dipakai untuk berbuat amal pada masyarakyat luas,

bukankah lebih bagus, daripada ikut kita masuk ke liang

kubur!” selanjutnya dia berkata pada A Bin, “bocah, kau

harus mendengarkan pesan, bila tidak, aku bisa terluka, kau

pun tidak mendapat keuntungan, bukankah pengorbananku

menjadi sia-sia!”

Selanjutnya dia mendudukan A Bin dengan sikap bersila,

mengajarkan cara melihat ke dalam tubuh, mata

memandang hidung, hidung memandang jantung, dari

pikiran ruwet masuk dalam keheningan, meng-hilangkan

ribuan pikiran yang bersimpang siur.

A Bin tidak bisa menolak, terpaksa menerima

seluruhnya, agar tidak menjadi sia-sia pengorbanan Tiong

Ki-cu, dia menuruti perintah itu, tidak lama dia sudah

mencapai taraf manusia dan langit bersatu, pikirannya

menjadi jernih sekali.

Tiong Ki-cu sangat senang, dalam hati dia memuji

kecerdasannya, ilmu mengendalikan dirinya sangat kuat,

kali ini dia pasti berhasil menyalurkan tenaga intinya, maka

dia menjulurkan kedua tangannya, ke atas dan ke bawah

menotok pusat nadi A Bin, diatas kepala “Sin-teng-hiat” dan

di perut “Tiong-ki-hiat”

Menghadapi situasi tegang ini Tiong Ki-cu masih tenang,

tapi kedua orang tua yang di sampingnya Yu-siau-yau-cu

dan Co-siau-yau-cu, malah sangat tegang sekali.

Tiong Ki-cu memusatkan tenaga muminya yang didapat

dari latihan ilmu “Han-kie-sin-kang” selama seratus dua

puluh tahun, dirobah menjadi setitik aliran udara yang

halus, keluar dari kedua jarinya menuju aliran jalan

darahnya.

Dewi KZ 34

Dan seperti menahan berat ribuan kilo, Tiong Ki-cu

tampak sangat lelah, tetapi dia tetap harus bertahan untuk

menghindari kegagalan total.

Rambut putih yang panjangnya empat lima inci,

bergoyang tanpa angin, bertebaran diatas batu berukiran

awan, dan rambutnya yang mengkilat bagaikan perak,

mulai layu dan kusam abu-abu dari ujung hingga setengah,

angin ringan berlalu, setengah rambutnya yang abu-abu itu,

berterbangan jatuh.

Tenggorokan A Bin berbunyi, dan tubuhnya jatuh

terlentang ke belakang, Tiong Ki-cu juga mengikuti

merendahkan tubuhnya ke depan, kuku dua jarinya tetap

menotok pada pusat nadi A Bin “Sin-teng-hiat” dan “Tiongki-

hiat”

Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu hanya bisa

mengkhawatirkan, dan mereka tahu, Tiong Ki-cu sendiri

yang sudah menentukan, orang lain tidak bisa membantu.

A Bin terlentang di atas batu berukiran awan itu, yang

masuk ke dalam tubuhnya arus yang sangat dingin

bercampur arus yang sangat panas, dan jatuh dalam

bayangan yang mengganggu, A Bin ingat pesan Tiong Kicu,

dia tidak menghiraukan.

Tidak lama kemudian, dia telah masuk dalam suasana

yang menakjubkan, tanpa pikiran, tanpa sakit, hanya

kenyamanan, ketenangan. Waktu tanpa ditunggu telah

berlalu………………

Terdengar teriakkan bersama dari mulut Yu-siau-yau-cu

dan Co-siau-yau-cu:

“Toako!”

Suaranya sangat sedih dan menakutkan, terjadi sesuatu

yang kejadian.

Dewi KZ 35

A Bin membuka sepasang matanya, terasa tubuh nya

sangat segar bugar, pandangan matanya melihat dinding

atas gua, lalu melihat sekeliling, dia baru ingat lagi dimana

dia sekarang, dengan menggulingkan tubuh nya, dia

melihat ke samping, mendadak dia terperanjat.

Entah kapan Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu sudah

meloncat ke tempat duduk Tiong Ki-cu sedang menopang

tubuh Tiong Ki-cu yang telah rontok rambut putihnya,

pandangan matanya tidak bersinar, kulit seluruh tubuhnya

kendur, keadaan tubuhnya sangat loyo.

A Bin tahu, Tiong Ki-cu telah menyalurkan tenaga

murni yang telah dipupuk ratusan tahun ke dalam

tubuhnya, sehingga dia kehilangan seluruh tenaganya,

tubuhnya jadi loyo begitu, biarpun A Bin tidak bisa bicara,

dia segera melipatkan tumitnya dan bersujud di depan

Tiong Ki-cu, menangis tanpa bersuara, sangat sedih.

Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu meluruskan posisi

duduk Tiong Ki-cu, membantu memijat sejenak, agar Tiong

Ki-cu tertidur dengan tenang, Yu-siau-yau-cu dengan nada

serius berkata pada A Bin:

“Bocah! sebetulnya aku tidak ingin Toakoku

menghamburkan tenaga dalamnya hanya untuk

menolongmu, tetapi itu sudah menjadi kenyataan, untuk

tidak menyia-nyiakan pengorbanan Toako, kau harus betulbetul

berusaha, agar berhasil pada waktunya!”

Biarpun kata-katanya sangat dingin, tetapi A Bin tahu

betul Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu adalah orang yang

mengutamakan tali persaudaraan, perkataan nya tidak

mengandung kebencian, dengan sopan A Bin

menganggukan kepala.

Co-siau-yau-cu berkata juga:

Dewi KZ 36

“Kau jangan menganggap Jiko tidak punya perasaan,

setelah Toako menberikan tenaga dalamnya kepadamu,

kami juga sudah menganggap kau sebagai murid sendiri,

Toako sekarang telah tenang kembali, dan memerlukan

waktu setahun untuk melakukan pemulihan, saat itu, kau

ikuti petunjuk jiko, belajar pernapasan”

Selanjutnya A Bin di bawah petunjuk Yu-siau-yau-cu

dan Co-siau-yau-cu belajar ilmu pernapasan, agar tenaga

murni yang diberikan Tiong Ki-cu, bisa tersimpan dengan

aman, kedua orang tua itu menyuruh A Bin memetik benda

putih yang tumbuh di dinding gua sebagai makanannya,

karena di gua ini tidak ada benda lain yang bisa dimakan.

Kedua latihan ilmu yang sedang dilatih merupakan ilmu

bersifat Im, maka makanan yang bersifat positif dilarang di

makan.

0-0dw0-0

Waktu seperti air mengalir, tidak berasa sudah hampir

satu tahun, Tiong Ki-cu selama ini seperti mayat duduk

bertapa tanpa bergerak. Sedang Yu-siau-yau-cu dan Cosiau-

yau-cu sangat sibuk, membimbing A Bin dalam ilmu

pernapasan, kadang kala mereka mengurus Tiong Ki-cu,

setelah satu tahun, karena kecerdasan A Bin, mereka jadi

berobah pandangannya, mereka turut menyayangi A Bin.

A Bin yang telah mendapatkan tenaga murni dari Tiong

Ki-cu, dan belajar tekun ilmu pernapasan, tetapi dia tetap

tidak bisa mengobati suaranya selama setahun, hanya

dengan isyarat tangan dia menggantikan mulut, berbicara

dengan kedua orang tua itu.

A Bin baru tahu mengapa Siau-yau-cu bertiga mencari

tempat terpencil ini dan berlatih tekun selama ratusan

Dewi KZ 37

tahun, bila latihan mereka berhasil, mereka bisa membentuk

tulang dan otot baru, menjadikan tubuhnya seperti emas

yang tidak bisa rusak, membuat prestasinya melebihi orang

purbakala, tetapi karena mereka belajar ilmu sesat, mereka

mesti berlatih di dalam tempat yang sangat dingin dan

sunyi, hingga mereka memilih gua di lembah iblis ini.

Ternyata usaha manusia tidak dapat melawan kehendak

Tuhan, perbuatan yang melangkahi ciptaan Tuhan adalah

sebuah pelanggaran, A Bin yang mempunyai rubuh bersifat

positif telah salah masuk ke gua itu, membuat hasil yang

akan didapat oleh ketiga Siau-yau-cu menjadi gagal, dalam

sekejap impian mencapai ilmu tertinggi menjadi buyar.

Setelah mengetahui seluk beluk mereka, A Bin makin

giat belajar agar dirinya berhasil, dan dia bertekad

menemukan cara ajaib dari seluruh dunia, membantu ketiga

Siau-yau-cu berlatih mencapai hasilnya, menebus kesalahan

dulu.

Setahun kemudian, Tiong Ki-cu telah melewati masa

yang membeku, seluruh tubuhnya sudah bisa bergerak

dengan leluasa, tetapi ilmu yang dia pelajari selain menahan

dingin dan menahan lapar, yang lain telah hilang semua,

tetapi melihat kemajuan A Bin yang pesat, dia senang

sekali, setiap hari dia memberikan petunjuk, ingin A Bin

belajar lebih sungguh-sungguh.

Tidak terasa beberapa tahun telah lewat, A Bin tumbuh

dengan pesat dari seorang anak kecil, tumbuh menjadi

pemuda yang cakap, tenaga dalamnya juga maju dengan

pesat.

Pada suatu hari, ketika A Bin sedang bersemedi

mengatur napas, mendadak dari Tan-tian terasa ada satu

aliran panas yang menjurus ke atas, seperti ingin keluar dari

mulutnya, bagaikan kuda liar lepas kendali, tidak dapat

dikuasai, A Bin terkejut sekali, dia ingin menahan aliran

Dewi KZ 38

panas itu ke bawah tapi tidak berhasil, terasa hawa murni di

Tan-tian makin bergolak, melaju ke atas dada, bagaikan

sungai besar, tanpa berhenti dan susah di bendung, lima

bagian dalam tubuhnya dan jantung seperti di terjang aliran

panas itu, bergoyang tanpa henti……………..

Ini adalah gejala bahaya besar bagi seorang yang berlatih

tenaga dalam mencapai kesuksesan sempurna! Bila aliran

panas itu keluar dari mulut, bukan saja latihannya akan

gagal total, fisik orangnya juga akan terluka berat, bisa jadi

lumpuh, yang paling ringan pun akan kehilangan ilmunya,

latihan berat puluhan tahun pun akan hancur dalam

hitungan detik.

A Bin mengetahui bahaya yang dihadapi sangat besar

resikonya, maka dia menggigit bibirnya dengan tenaga

penuh, jangan sampai aliran panasnya keluar mulut, tetapi

dia tidak bisa menahan menguapnya aliran panas tersebut

tanpa berhenti, dia merasakan organ dalam tubuhnya

bergetar dengan keras, ulu hatinya sangat sakit dan

kencang, seperti mau meledak.

Bertahan lagi selama lima belas menit, dia sudah tidak

berdaya, keringat dingin bercucuran di seluruh tubuh.

Di saat yang kritis ini, A Bin merasakan punggung

belakang di bagian jantung dipukul oleh telapak tangan

orang.

Terdengar di pinggir kuping, suara Yu-siau-yau-cu

berkata:

“A Bin, cepat balikan arah jalannya darah di seluruh

tubuh dan salurkan aliran panas itu ke jalur jalan darah.”

A Bin merasa ada satu arus hangat melalui jalan darah

Beng-bun-hiat menuju organ dalam tubuhnya, aliran panas

Dewi KZ 39

yang berkeliaran di dalam dada, langsung dijinakkan oleh

arus hangat yang diberikan dari luar tubuh.

A Bin bernafas pelan-pelan, dia segera membalikan arus

jalan darah dalam tubuhnya, ternyata benar, aliran panas

dari Tan-tian yang naik ke atas, dengan mengalirkan jalan

darah secara terbalik, pelan-pelan kembali menuju jalan

darahnya.

Badai jadi tenang kembali, terdengar kata Tiong Ki-cu di

telinga:

“A Bin, selamat! Kau telah berhasil dengan sempurna!”

Mata A Bin melirik ke samping, ternyata Yu-siau-yau-cu

sedang duduk bersila di belakangnya, Tiong Ki-cu sudah

pindah duduk di tempat lain, tiga orang tua itu berseri-seri

memandangnya.

Co-siau-yau-cu dengan tertawa berkata:

“Aku dan Jiko dalam setengah tahun ini telah

mengetahui kau akan berhasil dengan sempurna pada

waktunya, maka setiap detik menjagamu agar tidak terjadi

hal yang fatal”

A Bin merasakan perhatian mereka yang sangat dalam,

tidak tertahan timbul rasa harunya, dia membungkukkan

tubuh tanda terima kasih.

Tiong Ki-cu berkata:

“Anak bodoh! Jangan berbuat demikian, lebih baik

bicarakan urusan yang lebih penting, ilmu silat, cara

pernafasan, dan tenaga dalamku telah diberikan pada-mu,

sekarang dalam tubuhmu ada hawa Han-kie yang sangat

dingin, kekuatannya sebanding dengan pesilat nomor satu

yang menpunyai dasar tenaga dalam alamiah yang masih

disayangkan adalah tubuhmu yang bersifat positif belum

Dewi KZ 40

bisa menerima ilmu negatif ini hingga mencapai

puncaknya, bila di kemudian hari kau terus berlatih dengan

tekun, saat kau bertarung dengan lawan yang bagaimana

pun hebatnya, dengan hanya memakai telapak dan telunjuk

tangan saja, senjata apa pun tidak ada yang bisa

melukaimu………..”

Mengetahui kesuksesan dirinya demikian besar, A Bin

merasa terharu dan berterima kasih, tidak terasa dia

mencucurkan air mata!

Dengan rasa menyesal Tiong Ki-cu yang muka-nya agak

pucat berkata lagi:

“Suaramu hilang, karena tubuhmu yang bersifat positif

berlawanan dengan tenaga dalam yang kusalur-kan padamu

yang bersifat negatif, sehingga timbul aliran nafas yang

dingin mengunci tenggorokanmu, agak susah untuk

disembuhkan, tapi bila kau ingin menyembuhkannya,

hanya ada dua cara, yaitu kau harus meningkatkan tenaga

positifmu, caranya adalah dengan ilmu kami mengambil

sari dari lawan jenismu, menggunakan ilmu ini terhadap

wanita jalang yang selalu menggunakan laki-laki sebagai

sumber tenaganya, kau harus menyedot tenaga positifnya

untuk membantu menambah tenaga positifmu, agar tenaga

positif dan negatifnya berimbang, untuk yang satu ini kau

tidak akan mau mempelajarinya, maka keberhasilanmu

sangat susah, selain jalan ini, untuk memulihkan suaramu

supaya sembuh, kau harus meningkatkan tenaga dalammu

setingkat, hingga kepandaianmu setaraf dengan pesilat kelas

satu, satu cara lagi yang merupakan cara paling bagus,

tetapi kalau bukan jodohnya, tidak akan bisa didapatkan,

yaitu kau mesti mendapatkan 3 batang Su-li-kut (tulang

putih dari tosu suci yang sudah dikremasi), tulang putih ini

dari tosu yang telah berilmu Budha ratusan tahun, setelah

tulang putih ini di tumbuk dan abunya di makan, maka

Dewi KZ 41

hawa nafas yang positif dan negatif akan bersatu, hawa ini

seolah-olah mencuci tulang sumsum mengganti bulu tubuh,

meningkatkan tenaga dalam sampai puncak tertinggi, segala

kepintaran dan kecerdasanmu akan berobah meningkat

jauh, dengan pikiran kau bisa menguasai musuhmu, kau

bukan saja menjadi orang paling agung di dunia persilatan,

juga bisa panjang umur, tulang kekar urat berobah, awet

muda. Hanya saja tosu-tosu menganggap aliran sesat kami

tidak sesuai dengan ajaran mereka, maka mereka tidak mau

mempelajarinya supaya bisa umur panjang, padahal buat

mereka tidak perlu waktu seratus tahun mereka sudah bisa

memetik hasilnya. Su-li-kut yang berumur ratusan tahun

susah di dapat, apa lagi yang berwarna putih, dalam seratus

batang tulang jarang menemukan satu batangpun,

sedangkan kau memerlukan tiga batang Su-li-kut putih, jadi

sangat susah sekali mendapatkannya!”

Setelah A Bin mendengarkan penjelasan Tiong Ki-cu, dia

merasakan hasil yang di capai sekarang, buat dia sudah

terlalu banyak, mana berani dia meng-harapkan lebih lagi,

maka dia tidak merasa kecewa.

Yu-siau-yau-cu dan Co-siau-yau-cu bersama-sama

berkata:

“Pertemuan kita tiga bersaudara dengan kau adalah

jodoh, sekarang Toako tidak bisa meninggalkan gua ini,

kitapun tidak ingin kembali ke dunia ramai dan akan

menghabiskan sisa umurnya disini, kita berdua belajar ilmu

tidak sebanyak Toako, tetapi akan memilih satu dua bagian

yang istimewa untukmu, agar ilmu kami tidak ikut terkubur

di gua ini.”

Benar saja, kemudian selain A Bin berlatih ilmu yang

diberikan Tiong Ki-cu, jurus-jurus, cara mengendalikan

pikiran, pernafasan. Yu-siau-yau-cu juga mengajarkan A

Dewi KZ 42

Bin ilmu meringankan tubuh, cara menotok, pukulan

telapak tangan, senjata rahasia dan sebagainya.

Dan Co-siau-yau-cu juga mengajarkan ilmu yang dulu

dia pelajari, khusus menyedot sari tenaga positif orang lain,

ilmu ini dinamakan “Ku-yang-na-hoan” (mengambil Yang

memperkuat unsur), semula A Bin tidak mau mempelajari

ilmu ini, tetapi Co-siau-yau-cu beberapa kali memberi

nasihat sambil berkata, di dunia luar banyak sekali orangorang

yang bermoral bejat, lebih-lebih A Bin punya dasar

tenaga dalam yang sangat tinggi dan orangnya tampan,

akan mudah sekali tertipu, dengan belajar ilmu ini dia bisa

menjaga diri.

Maka di bawah petunjuk Co-siau-yau-cu, A Bin belajar

juga ilmu Ku-yang-na-hoan, karena dia baru meningkat

dewasa, begitu mendengarkan petunjuk guru nya, muka

dan telinganya menjadi merah.

0-0dw0-0

Waktu cepat berlalu, pada suatu hari Tiong Ki-cu dengan

serius berkata pada A Bin:

“Sekarang semua kepandaian kita tiga saudara sudah

diwariskan padamu, selain suaramu yang tidak terobati, kau

telah menguasai ilmu dasar yang paling tangguh, menurut

perkiraanku, sejak kau masuk ke gua ini, sudah enam tahun

lamanya, kebetulan hari ini adalah hari kedua hari raya Pecun,

di luar kebetulan sedang hujan dan banyak halilintar,

binatang-binatang beracun sedang menghindar, kau boleh

keluar gua dan mulai mengamalkan kepandaianmu,

sesungguhnya dengan kepandaianmu saat ini, sudah tidak

perlu takut pada binatang beracun, tetapi bila kau keluar

pada jam-jam ini, bisa mengurangi banyak kerepotan,

sekarang tubuhmu telah berobah, setelah terjun ke dunia

Dewi KZ 43

ramai, kau boleh makan dan minum seperti orang biasa

tidak ada masalah, tetapi kau jangan makan dua macam

barang, satu adalah sari ginseng, satu. lagi bubuk mutiara,

jika kedua barang itu termakan, tidak akan terjadi

kerusakan dalam tubuhmu, tetapi akan membuatmu

lumpuh selama satu jam.”

Setelah hidup demikian lama dengan ketiga Siau-yau-cu,

A Bin merasa tidak tega untuk meninggalkan mereka. Yusiau-

yau-cu dan Co-siau-yau-cu tidak menghiraukan katakata

A Bin, Yu-siau-yau-cu mengeluarkan satu bungkusan

di bawah tempat duduknya, termasuk satu stel baju yang

bukan model orang biasa dan satu stel baju dalam, sepatu

kain, memerintahkan A Bin untuk mengganti bajunya yang

sudah kumal. Dan di bekali sedikit emas dan mutiara untuk

biaya perjalanan.

Co-siau-yau-cu menjelaskan apa saja yang harus

diperhatikan di kemudian hari, setelah A Bin berlutut

mengucapkan terima kasih, kedua orang tua itu mendorong

A Bin keluar gua agar segera berangkat.

Halilintar bagaikan pelangi, geledek menggetarkan bumi!

0-0dw0-0

Di sebelah kiri mulut jalan Pek-lun, yang menuju Ban-lisan

di Kwie-lam, satu-satunya warung arak di kampung

kecil, tidak seperti biasanya, penuh dengan tamu.

Tamu-tamu yang memenuhi warung arak itu, semuanya

pada takut geledek dan halilintar, diperkira-kan akan segera

turun hujan lebat, dan setelah mulut gunung Pek-lun ini,

sejauh dua puluh Li tidak ada tempat untuk berteduh lagi.

Dari pada terkena hujan di perjalanan, lebih baik

Dewi KZ 44

beristirahat sejenak di warung gubuk kampung gersang ini,

sambil menikmati arak dari daerah Kwie-lam.

Tetapi hari ini ada sesuatu yang ganjil, tamu yang datang

bukan pedagang yang biasa lewat, tiap orang itu tubuhnya

tegap, ada yang membawa senjata tajam, melihat sepintas

akan mengetahui mereka adalah orang-orang dunia

persilatan, dan mereka telah melintas Ban-li-san, sepertinya

di gunung itu ada satu perjamuan.

Gubuknya kecil, tapi tempat duduknya banyak, berturutturut

masih berdatangan tamu, yang paling mencolok ada

tiga tamu.

Yang paling dulu menarik perhatian adalah tamu yang

telah duduk, seorang pemuda berbaju hitam yang matanya

bersinar tajam, tetapi mempunyai muka seperti monyet,

mulutnya lancip, sepasang matanya bersinar seperti api,

persis seperti cerita legenda pendobrak langit, raja monyet

Sun-go-kong.

Orang ini umurnya masih muda, tetapi kelihatan sudah

dewasa, segala tindak tanduknya, duduk, minta arak pesan

menu sayur………..

Begitu masuk gubuk tersebut, matanya telah memandang

tamu yang duduk di sekelilingnya, seperti ingin mengetahui

apa ada musuhnya, atau teman brengsek. Dia melihat tamu

yang lain memandangnya dengan mata kagum, dalam

hatinya dia merasa senang. Setelah melihat tamu-tamu

sekelilingnya adalah orang-orang biasa dalam dunia

persilatan, maka dengan tingkah angkuh dia duduk sendiri

di meja kosong sambil menikmati arak.

Orang-orang disana ada juga yang mengenalnya, mereka

berbisik pada teman semejanya mengatakan bahwa pemuda

yang berbaju hitam ini adalah pendatang baru di dunia

persilatan, nama aslinya Cia Ma-lek, karena dia adalah

Dewi KZ 45

satu-satunya murid dari pendekar ternama Seng-jiu-pui-suo,

Leng Hau-te. Di belakang orang-orang persilatan

menyebutnya bangsat Cia Ma-lek, gurunya adalah orang

aneh yang suka berkelana, biarpun mempunyai julukan

dewa pencuri di kalangan dunia persilatan, sebetulnya dia

mempunyai harta berlimpah dari nenek moyangnya, jadi

tidak perlu mencuri untuk membiayai hidupnya, ilmu

copetnya hanya untuk membuat malu orang. Bangsat Cia

Ma-lek telah menguasai kurang lebih tujuh puluh persen

ilmu gurunya, tetapi dia licik dan akalnya melebihi

gurunya, sedang untuk ilmu tunggal gurunya, dia tidak

belajar banyak, semua berkat lindungan nama besar

gurunya, akal busuknya banyak dan pintar berkelit, delapan

cara mencuri telah di kuasai dengan sempurna maka orangorang

dunia persilatan selalu menaruh curiga bila bertemu

dia.

Belum lama Cia Ma-lek duduk, orang aneh kedua masuk

ke gubuk lagi.

Orang ini roman muka dan bajunya sangat aneh, musim

panas bulan lima di pegunungan ini, dia malah memakai

jubah putih dari kulit domba, dan bulu kulit dombanya

dipakai terbalik keluar, rambutnya di sanggul seperti

sanggul tosu, memakai sepatu warna putih, berkumis seperti

bulu domba kecil, dan matanya tertutup oleh kaca-mata

hitam.

Begitu orang ini muncul, semua orang yang duduk

duluan termasuk Cia Ma-lek, diam diam menghela napas,

mereka tahu dia adalah Hiapkhek ternama yang berjuluk

Piau-bhe-lo-jin (Kakek Jubah kulit kambing), Yo-po-lo-to.

Begitu Yo-po-lo-to masuk, dia tidak melihat tamu-tamu

yang datang duluan, segera dia mencari tempat dan duduk

di tempat yang kosong, lalu memesan arak dan makanan,

dan melahab dengan rakus, sekejab saja telah menghabisi

Dewi KZ 46

sepuluh poci arak Kwie-lam, sepuluh kati daging sapi dan

dua ekor ayam rebus, tapi dia tampak masih belum

kenyang, dia memanggil pelayan untuk tambah sayur dan

arak.

Saat mata semua orang memperhatikan orang yang

berjubah kulit domba itu makan besar, diam-diam

menyelinap masuk seorang tamu, setelah tamu-tamu lain

memperhatikannya, dia telah duduk di dekat jendela, dan

pelayan telah mengantarkan arak dan makanan, diam-diam

dia minum arak sendiri.

Orang ini tidak terlalu menarik perhatian seperti Yo-polo-

to dan Cia Ma-lek. Hanya Cia Ma-lek sangat

memperhatikannya, karena orang ini umurnya lebih kecil,

kira-kira lima belas tahunan, orang ini pakaiannya tidak

aneh seperti Yo-po-lo-to, tetapi modelnya seperti jubah tosu

dan memakai sepatu yang kekecilan, ketika Cia Ma-lek

melihat matanya yang bersinar hijau, dia menduga pasti

orang ini berilmu tinggi, dan mempunyai banyak harta,

identitasnya juga sangat mencurigakan, alasan ketiga bagi

Cia Ma-lek mengawasi pemuda itu karena di waktu pesan

makanan dia tampak sedikit ragu-ragu dan menunjuk ke

meja Cia Ma-lek, ternyata dia memesan makanan yang

sama dengan Cia Ma-lek.

Cia Ma-lek merasa curiga, melihat rumah makan ini

biarpun kecil, tetapi tempat duduknya banyak, kenapa anak

muda yang berbaju unik itu hanya menunjuk arah mejanya

dan pesan sayur yang sama, apa sengaja mau mencari

masalah.

Bersamaan waktu itu, Yo-po-lo-to telah kenyang, dengan

suara keras dia minta pelayan menunjukan tempat kamar

kecil.

Dewi KZ 47

Cia Ma-lek tahu orang tua ini suka mempermain-kan

orang, caranya tidak kalah dengan dia dan gurunya, terangterangan

berkata ingin ke kamar kecil, entah mau

mempermainkan siapa. Begitu Yo-po-lo-to pergi ke

belakang dia jadi makin penasaran, setelah melihat sejenak

pada pemuda yang berbaju unik, dia melangkahkan kakinya

ke meja pemuda itu, ingin menyelidiki asal-usulnya.

Pemuda yang berbaju unik itu ternyata adalah A Bin

yang baru keluar dari Gua iblis, setelah mendapat petunjuk

Yu-siau-yau-cu, dengan menggunakan ilmu meringankan

tubuh yang tinggi dia melesat keluar, setelah keluar gua dia

langsung menuju mulut gunung Pek-lun.

A Bin juga menghindari hujan dan masuk ke gubuk ini,

dia belum punya pengalaman bagaimana memesan

makanan, karena suaranya hilang dan tidak bisa bicara,

maka dengan terpaksa dia memesan sayur menurut meja

Cia Ma-lek, karena itu mengundang Cia Ma-lek datang ke

mejanya.

Cia Ma-lek seperti orang yang kenal lama saja, dia

berdiri di pinggir meja A Bin sambil memberi salam:

“Permisi” dan dengan enaknya dia duduk di bangku meja

A Bin, A Bin tidak tahu apa maksudnya, dan juga tidak bisa

bertanya, hanya bisa membalas salamnya dengan

tersenyum.

Dengan penuh percaya diri Cia Ma-lek berkata:

“Adik! Melihat penampilanmu yang lain dengan lain,

pasti adik adalah murid seorang Tay-suhu, apa boleh aku

tahu nama anda dan guru anda, biar kita bisa berkawan.”

A Bin risau, dia tidak tahu bagaimana menjawab-nya,

dia juga tidak bisa menberi isyarat.

Dewi KZ 48

Cia Ma-lek mengira A Bin adalah anak ayam yang baru

keluar dari kandangnya, tidak tahu tingginya langit tebalnya

bumi, dan sombongnya melebihi dirinya, dia jadi agak

marah dan berkata:

“Aku Cia Ma-lek, guruku adalah Seng-jiu-pui-suo Leng

Hau-te”

Cia Ma-lek mengira begitu dia mengatakan diri-nya dari

aliran mana, bila lawannya kurang gaul, tidak tahu nama

besar Cia Ma-lek, paling sedikit pernah mendengar nama

gurunya.

Ternyata A Bin hanya memandangnya dan tersenyum

ramah, tidak bereaksi apa pun.

Cia Ma-lek sangat terkejut, dengan pengalaman-nya

menilai orang, hanya dari sinar mata hijau orang muda ini

dia sudah dapat memastikan orang ini dari dunia persilatan,

tidak mungkin tidak tahu nama besar gurunya, dari tingkah

yang tidak menghiraukan, mungkin saja dia orang lebih

penting.

Cia Ma-lek sangat pintar memutar otak, dia merobah

sedikit warna mukanya, pelan-pelan dia berdiri dan berkata:

“Saudara sangat dingin terhadapku, apa kau menganggap

aku Cia Ma-lek tidak pantas menjadi sahabatmu!”

A Bin melihat Cia Ma-lek salah paham dan ingin pergi,

dengan perasaan sangat menyesal A Bin meng-gunakan

jarinya tangan menulis di meja:

“Aku Lui Bin! guruku adalah Han-yu-sam-lo”

Ternyata di waktu berangkat, Co-Yu-siau-yau-cu telah

berpesan jangan mengatakan nama Siau-yau-sam-cu, bila

ada yang menanyakan nama gurunya, jawab saja dengan

nama Han-yu-sam-lo.

Dewi KZ 49

Cia Ma-lek agak senang dengan jawaban A Bin, dia

duduk kembali dibangku, dengan berkata seperti sudah

berteman lama:

“Adik juga turun dari gunung Thian-bun!”

Dia tidak tahu siapa sebetulnya Han-yu-sam-lo, tetapi

melihat penampilan A Bin bukan orang biasa, gurunya pasti

orang hebat. Dengan namanya yang asing itu, ada

kemungkinan mereka orang hebat, makanya dia ingin

bersahabat dengan A Bin.

Mendengar nama puncak Thian-bun, A Bin ter-getar

juga hatinya. Dia merenungkan sejenak, biarpun “Su-ciatleng”

ada ditangannya, tetapi pertandingan empat senjata

ampuh itu tetap berlangsung, entah ayahnya ikut bertanding

atau tidak, bagaimana menang kalahnya? Dia hanya

menggeleng-gelengkan kepala, tetapi memperlihatkan

wajah rasa ingin tahu.

Cia Ma-lek masih belum mengetahui si A Bin tidak bisa

bicara, dia agak curiga kenapa orang ini tidak mau banyak

bicara, karena ingin mengutarakan pendapatnya, dengan

senang dia berkata:

“Kau tidak datang ke Thian-bun-hong tidak apa-apa!

Tahun ini seperti tahun sebelumnya, yang menyombongkan

diri hanya Kau Bun-kek seorang, dia berteriak-teriak

sendiri, yang lainnya Lui-to, In-kiam, Giok-kiong, seorang

pun tidak ada yang keluar…………

A Bin ingin bertanya, ingin berkata dengan isyarat

tangan, mendadak di mulut gunung terdengar suara kaki

kuda menghampiri warung arak

Terlihat mereka berenam naik kuda, masing-masing

memakai baju jago silat, mukanya bengis, tampak dari

kalangan persilatan.

Dewi KZ 50

Di depan warung arak, mereka bersamaan meloncat

turun dari punggung kudanya, dengan angkuh masuk ke

dalam warung, kedua belas matanya melirik tamu-tamu

disekeliling warung, penampilannya sangat angkuh.

Peminpinnya seorang yang mukanya agak gelap,

jengotnya berdiri, hidung seperti macan, bermulut besar, dia

seperti mencari sesuatu tapi tidak menemukan, dengan agak

jengkel berteriak:

“Mana majikannya?”

Pelayan warung sudah mengetahui bahwa enam orang

ini bukan orang baik-baik, maka tidak berani berlambatlambat,

dengan cepat dia menghanpiri.

Orang yang mukanya agak gelap itu berkata:

“Di warung ini apa sudah datang seorang pemuda

berbaju hitam yang mukanya seperti monyet!”

Setelah mendengar suara gertakan itu pelayan warung

berkata:

“Ada! Ada! Ada!” sambil menunjuk meja yang di duduki

Cia Ma-lek, dan berkata terkejut, “Ih, aneh, tadi dia duduk

di meja itu kenapa hilang………” tadi dia tidak melihat

Cia Ma-lek pindah duduk ke tempat A Bin.

A Bin juga melihat ke sekeliling, ternyata Cia Ma-lek

entah sejak kapan sudah tidak ada di warung lagi, waktu

enam orang itu masuk warung A Bin melihat Cia Ma-lek

bangkit dari tempat duduk, di kiranya dia kembali ketempat

duduknya, ada kemungkinan dia melarikan diri.

Orang yang bermuka gelap itu berteriak kepada semua

tamu di warung:

“Kita enam orang bersaudara adalah “Sai-it-ngo-su”

(Singa tunggal lima tikus), berhubung tadi di pegunungan

Dewi KZ 51

barang kami tercuri oleh Cia Ma-lek, jadi kami mau

menghukum bangsat itu, bila kalian ada yang tahu dia lari

kemana? Silahkan beritahu, bila tahu tapi tidak melaporkan,

berarti bermusuhan dengan kita” kata pemimpin Sai-it-ngosu.

Sebetulnya, orang ini tidak perlu menyebutkan nama

kelompoknya, karena semua orang, selain A Bin, sudah

tahu mereka adalah penjahat kejam dari golongan hitam,

tidak ada orang berani mengusiknya, malah ada yang takut

terlibat, mengetahui Cia Ma-lek tadi duduk berdampingan

dengan A Bin, sengaja memandang ke arah meja A Bin,

ingin menghindari bencana yang tidak diinginkan.

Orang yang mukanya agak gelap dengan pandangan

tajam terpancing juga melihat ke arah meja A Bin, betul

juga di sana kelihatan ada bangku kosong yang baru

ditinggalkan orang, segera dia menghampiri meja A Bin,

dengan suara keras membentak:

“Hey, bocah! Apa kau melihat kemana Cia Ma-lek

pergi?”

Biarpun orang itu berbuat kasar dan kata-katanya tidak

sopan, tetapi bagi A Bin yang telah hidup selama enam

tahun dengan tiga orang Siau-yau-cu, dia telah

mendapatkan pupukan Tiong Ki-cu, hingga terlatih

meredam hawa amarahnya, kata-kata dan tingkah laku

orang itu tidak membuat A Bin marah, dia hanya

memandang dengan tenang.

Ternyata orang itu tersinggung oleh tingkah dingin A

Bin, dia membentak:

“Apa kau tidak punya mata, kau tahu tidak siapa yang

bicara denganmu, berani sekali melihat aku dengan mata

anjingmu!”

Dewi KZ 52

A Bin mulai marah, tetapi dia masih mencoba menahan

diri, orang itu telah memasang kuda-kuda, ingin memukul

A Bin yang dianggap kurang ajar.

Bersamaan waktu itu, di belakang warung terdengar

suara omelan dari seseorang:

“Warung kalian ini apa untuk burung! Kamar kecilnya

tidak pantas, baunya bukan main, dan banyak sekali badutbadut

tengik, baru duduk sejenak saja sudah datang

sekelompok kacoa dan lima ekor tikus bau yang setengah

mati!”

Orang yang bermuka agak hitam mendengar suara

sindiran yang ditujukan pada mereka, seketika berobah

mukanya dan ingin membentak siapa orangnya.

Kain hordeng pintu belakang tampak terbuka, keluar

seseorang dengan santai berjalan, ternyata Yo-po-lo-to yang

tadi makan dengan lahap dan mencari kamar kecil.

Kesombongan kelompok Sai-it-ngo-su segera lenyap,

mereka tahu Yo-po-lo-to suka mempermainkan orang-orang

dari golongan hitam, kalau bertemu orang jahat, suka

memberi hukuman, dia adalah musuhnya golongan hitam,

dengan julukan “Siu-mo”, kelompok ini tidak mengakui

mereka sebagai Siu (bangsat), tetapi tahu betul bahwa Yopo-

lo-to adalah musuh mereka.

Enam orang jagoan golongan hitam yang punya reputasi

hebat mengetahui, mereka berenam tidak akan bisa

melawan Yo-po-lo-to sedikitpun, asalkan “Siu-mo” tidak

mencari masalah pada mereka, itu sudah ber-untung, mana

berani membentak orang lagi.

Tanpa banyak bicara, dengan lemas mereka

meninggalkan warung itu, cepat menunggang kuda masingmasing

pergi ke arah utara.

Dewi KZ 53

Seperti orang bodoh yang bicara sinting, dia menghalau

pergi kelompok Sai-it-ngo-su, Yo-po-lo-to seperti tidak tahu

apa-apa, dia mengomel terus sambil membayar bon

makanan, langsung melangkah keluar warung.

Sebelum pergi, dia melihat A Bin sejenak, dari kaca mata

hitamnya, dia bisa melihat A Bin telah terlatih ilmu Piekuang-

sin-gan (Malaikat mata hijau), memandang kaca

mata hitam itu A Bin telah melihat Yo-po-lo-to memandang

dirinya dengan seksama.

A Bin memberi senyuman tanda terima kasih atas

pertolongannya yang telah menghilangkan gangguan dan

melihat dia pergi ke utara.

Kuping A Bin mendengar orang berkata:

“Wah! Lote, sejak aku melihatmu, aku tahu kau adalah

orang luar biasa, ternyata betul juga! Siu-mo-lo-to juga

sampai memperhatikanmu!”

A Bin mendengar suara Cia Ma-lek, entah kapan dia

sudah kembali ke sampingnya. Kemudian Cia Ma-lek

dengan leluasa bercerita panjang lebar tentang

pengalamannya di dunia persilatan, bagaimana menggunakan

ilmu mencurinya mempermainkan orang, karena

A Bin tidak bisa bicara, dia membiarkan Cia Ma-lek bicara

dengan senang dan semangat.

Awan di langit makin tebal, hujan lebat akan segera

turun, di jalan pegunungan turun dua orang penunggang

kuda putih, kuda yang gagah orangnya juga lain dengan

orang biasa, yang seorang gadis berbaju hijau berusia sekitar

dua puluh tahun, mukanya bagai-kan bunga, kulitnya

seperti batu giok, matanya seperti mata burung hong, bibir

yang indah dengan pinggang yang ramping, sungguh

seorang gadis yang cantik sekali. Yang seorang lagi, seorang

kakek dengan rambut, jengot serba putih, beralis tebal,

Dewi KZ 54

mukanya bersinar, kedua penunggang kuda yang satu tua

yang satu muda bagaikan lakon dalam sebuah gambar.

Mereka menambatkan kudanya di depan warung itu, lalu

masuk ke dalam, yang tua memandang sekeliling ruangan,

yang muda tidak memandang siapa pun, mata indahnya

hanya menuju meja kosong yang baru ditinggalkan Yo-polo-

to.

Baru saja mereka duduk, mata semua orang seperti

tertarik melihatnya, kecuali Cia Ma-lek yang sedang asyik

menceritakan riwayat hidupnya.

Gadis yang baju hijau itu sambil melihat orang tua

memesan makanan sambil dengan suara kecil mengomel:

“Wai-kong (Kakek luar), kau terlalu hati-hati, kita ke

Thian-bun-hong hanya melihat-lihat, dan tidak berbuat apaapa,

apa yang salah, kau tidak mau kesana dan hanya

berputar-putar di gunung ini, sampai harus berteduh di

warung ini.”

Setelah pelayan pergi, orang tua itu dengan tersenyum

katanya:

“Siau-cian! demi kau aku tidak buka suara, sekali aku

buka suara akan membuat orang-orang terkejut, aku ingin

orang-orang di dunia persilatan tahu, bahwa wanita pun

juga bisa jadi jagoan, makanya lebih baik kau menahan diri,

supaya begitu muncul, kau akan menggemparkan dunia

persilatan.”

Suara percakapan kedua orang itu sangat kecil, tetapi A

Bin yang manpu melihat jauh ke langit dan mendengar

suara lembut dari bumi bisa mendengar, kata-kata mereka

sangat menarik hatinya, maka ocehan Cia Ma-lek malah

tidak didengarkan lagi.

Dewi KZ 55

Gadis baju hijau yang dipanggil Siau-cian masih terus

menggerutu, orang tua yang berjenggot putih perak itu

kebetulan beradu pandang dengan A Bin. Mata A Bin yang

bersinar hijau membuat dia tercenggang sejenak, membuat

dia memandang mata A Bin terus-menerus.

A Bin tenang-tenang saja di pandang orang, dia tidak

menghindar malah membalasnya dengan ter-senyum.

Siau-cian melihat Wai-kongnya memandang ke lain

arah, dia merasa aneh, dia juga jadi memandang ke arah A

Bin.

Baju yang dipakai A Bin sangat lucu dipandang, tetapi

tidak mengurangi ketampanannya, silauan “Malaikat mata

hijau” nya membuat Siau-cian memandang beberapa kali,

dan berbisik pada kakeknya.

Dari kejauhan A Bin mendengarkan Siau-cian bertanya

pada kakeknya:

“Wai-kong! mata anak muda itu agak aneh!”

Kakeknya dengan tersenyum menjawab:

“Siau-cian, kalau bicara mesti sopan, mungkin dia bisa

mendengarkan percakapan kita!”

Cia Ma-lek juga melihat tingkah laku A Bin yang tidak

menghiraukannya, dia jadi berpaling ke arah pandangan A

Bin, hal ini terlihat juga oleh Siau-cian bahwa perkataannya

terdengar oleh A Bin, lalu Siau-cian berkata lagi dengan

kakeknya:

“Ternyata dia bersama si pencuri? Mana mungkin dia

orang baik-baik?”

Cia Ma-lek tidak mampu mendengar kata-kata yang

menghinanya, tetapi dia mengenal siapa orang tua yang

berjenggot perak itu, dengan cepat dia meninggal-kan

Dewi KZ 56

bangkunya menghadap pada orang tua itu dengan sopan

memberi hormat:

“Maafkan, tadi Siautit tidak melihat Supek datang!”

Tingkah laku yang sopan dan hormat tersebut membuat

A Bin merasa aneh, apa dia terhadap gurunya juga bersikap

begitu, dia memperkirakan kakek itu adalah Cianpwee

dunia persilatan.

Siau-cian dengan nada aneh berkata:

“Wai-kong, kapan menjadi seperguruan orang ini!”

Sambil mengusap jenggot peraknya, dia berkata:

“Aku dengan kakeknya adalah sahabat lama!” lalu

berkata pada Cia Ma-lek, “siapa temanmu yang semeja itu?

Hayo kenalkan pada kita!”

Cia Ma-lek dengan senang segera mengajak A Bin,

berkatakan pada A Bin:

“Ini adalah paman Wie, sepuluh tahun yang lalu dia

adalah satu-satunya pendekar terkenal yang berani

menantang jago-jago Siau-lim dan Bu-tong tanpa

tandingan, julukannya “Gin-hoat-lojin, (Kakek Jenggot

Perak).”

A Bin baru tahu kakek ini adalah pendekar terkenal,

yang dijuluki “Gin-hoat-lojin” Wie Tiong-hoo, saat muda,

berkat ilmu silat yang dikuasainya, dengan hormat

mendatangi kuil Siau-lim dan Bu-tong menguji

ketangguhan ilmu kedua aliran itu, dan mendapat ijin dari

pemimpin kedua aliran itu dengan janji bertanding untuk

mengikat persahabatan, setelah saling bertukar ilmu dengan

jagoan-jagoan kedua aliran itu dia pulang dengan selamat,

kemudian namanya dijunjung tinggi di dunia persilatan.

Gin-hoat-lojin berkata dengan senang:

Dewi KZ 57

“Tidak usah dibesar-besarkan ceritanya, pada waktu itu

aku senang belajar ilmu silat hingga berbuat hal-hal yang

ceroboh, hingga sekarang, bila dipikirkan aku merasa malu,

lain dengan saudara Lui yang menguasai ilmu tangguh,

biarpun nama gurunya asing, tapi aku kira mereka adalah

ahli ilmu silat yang tidak ingin diketahui orang!” lalu dia

memperkenalkan Siau-cian kepada kedua orang itu, dia

hanya mengatakan Siau-cian adalah cucu luarnya, yang lain

tidak diceritakan.

A Bin sangat risau tapi tidak bisa bicara, dia ragu-ragu

bagaimana menjawabnya, Siau-cian yang di samping

dengan sinis berkata:

“Wai-kong! Jangan terlalu semangat, diapun malas

menjawabnya mungkin kita tidak pantas jadi kenalannya!”

Kakek Wie Tiong-hoo juga merasa aneh, A Bin terpaksa

menggunakan jari dicelupkan ke gelas arak, menulis

keterangan di meja, bahwa sejak keluar dari perguruan, dia

mengalami gangguan suara sehingga tidak bisa bicara,

harap dimaafkan.

A Bin menulis dengan arak, kata-katanya halus,

tulisannya rapih, Gin-hoat-lojin sambil menyayangkan

riwayat A Bin tetap memuji:

“Ceritakan! Ceritakan!”

Setelah mengetahui cerita yang sebenarnya, dan ternyata

A Bin baru berkenalan dengan Cia Ma-lek, Siau-cian jadi

merobah pandangan terhadap A Bin, dengan suara

menyesal berkata halus:

“Lui Toako, aku telah ceroboh, aku tidak baik telah

melecehkanmu!”

A Bin tidak bisa menjawab, hanya dengan mata-nya

yang hijau memandang mata Siau-cian yang jernih,

Dewi KZ 58

membuat Siau-cian malu dan menundukan kepala, kedua

pipinya langsung berobah merah.

Kakek Wie Tiong-hoo dan Cia Ma-lek melihat mereka

berdua saling pandang dengan akrab, mereka pura-pura

tidak melihat, terus melanjutkan percakapan tentang

peristiwa di dunia persilatan, A Bin juga sering ikut

memberi isyarat tangan untuk bertanya atau menjawab,

Siau-cian merobah ucapan yang sinisnya ketika pertama

kali bertemu A Bin, sekarang nada ucapannya berobah

halus dan enak didengar.

Wie Tiong-hoo melihat dengan senang dan terkejut,

tetapi tidak banyak bicara tentang perobahan Siau-cian

Tidak lama kemudian, betul saja hujan turun sangat

lebat, kurang lebih satu jam kemudian baru hujan berhenti,

cuaca berobah menjadi cerah, tamu-tamu warung

berangsur-angsur meninggalkan warung arak itu, Gin-hoatlojin

dengan Siau-cian berpamitan pada A Bin dan Cia Malek,

menunggang kuda berjalan duluan.

Cia Ma-lek berjalan kaki menemani A Bin, di perjalanan

Cia Ma-lek menunjuk pada arah perginya kakek Wie dan

Siau-cian berkata:

“Adik Lui, tidak sangka kau punya jodoh persahabatan,

bukan saja kakek Wie sangat sayang padamu, cucunya

Siau-cian pun menaruh perhatian pada pandangan

pertama!”

A Bin sedang menikmati kejadian tadi, tidak disangka isi

hatinya telah diketahui oleh Cia Ma-lek, dia jadi merasa

malu dibuatnya.

Cia Ma-lek tidak memperhatikan muka A Bin, di

perjalanan dia tetap bercerita tentang pertualangan dirinya.

Dewi KZ 59

Perjalanan kedua anak muda ini setelah melalui tikungan

jalan, di sana terdapat tumpukan batu gunung, dan hutan

yang tidak terlalu lebat, baru saja mereka menginjakan

kakinya di pinggir hutan, terdengar suara bentakan:

“Bangsat tengik, kau sudah masuk perangkap kami!”

Sedang senang-senangnya Cia Ma-lek bercerita, tidak

tahu ada orang yang menghalangi jalannya, setelah dilihat

ternyata mereka musuh yang bertemu di jalan sempit,

mereka adalah Sai-it-ngo-su.

Orang yang berkata itu adalah pemimpin kelompok

enam orang yang bernama Kong Tai-hong dengan julukan

“Ci-bin-pa” (Macan muka ungu) sambil berteriak dia

berkata:

“Bangsat tengik, cepat serahkan barang yang kau curi

dari adik ke enam, melihat gurumu, kami tidak akan

memberimu hukuman, bila tidak, kau harus tahu keganasan

kelompok Sai-it-ngo-su!”

Cia Ma-lek melihat enam bajingan yang menghadang

jalan, dia tahu tidak bisa menghindar lagi, bila satu lawan

satu tidak jadi masalah, bila mereka berenam menyerang

bersama dia pasti kalah, biar pun Cia Ma-lek banyak akal

licik, dan tidak mau menerima kerugian di depan mata.

Tetapi bahaya di depan mata tidak membuat dia mau

menyerah kalah begitu saja, dengan pura-pura bodoh dia

berkata:

“Aku kira siapa, ternyata bandit Sai-it-ngo-su, kalian

jangan menganggap karena aku dan guru punya julukan

pencuri dewa, lalu setiap orang yang kehilangan barang

pasti dicuri oleh kami, kalian berenam kehilangan barang

apa, coba katakan, apakah pasti ada di tubuhku?”

Dewi KZ 60

Ci-bin-pa Kong Tai-hong berkata berang: “Bangsat

tengik kau jangan bersilat lidah, cepat serahkan barang

yang kau curi, kita tidak peduli tindakan gurumu di

kemudian hari, saat ini kami akan membereskan kau dulu!”

Cia Ma-lek tidak takut gertakan itu, dia masih tertawa

kecil, katanya:

“Bandit Kong, kau begitu memandang guruku, aku

merasa tersanjung, kau paksa aku mengeluarkan barang,

tetapi harus dijelaskan dulu, barang apa yang dimaksud?

sebab seluruh tubuhku penuh dengan barang, kau mencari

barang apa?”

Ketua kelompok lima tikus membentak: “Jik-hoat-lo-su”

(Tikus rambut merah) Cuo-tong berkata:

“Bangsat tengik! Siapa yang ada waktu beradu mulut

denganmu, cepat keluarkan barang “Hiat-san-peng-can”

(Kodok salju) yang kau curi dari adik keenam, maka segala

urusan beres, bila tidak kita tidak akan pandang lagi

gurumu, segera membereskan kau!”

Cia Ma-lek tertawa terbahak-bahak berkata: “Aku kira

barang langka apa, sehingga kalian berenam turun gunung,

dengan garang memaksa aku, ternyata barang kecil “Hiatsan-

peng-can!”

Macan Muka Ungu Kong Tai-hong berteriak: “Ya itu!

Kau jangan punya pikiran miring, cepat kembalikan pada

kita!”

Cia Ma-lek masih tertawa:

“Agar Enam raja gunung puas, benda “Hiat-san-pengcan”

……….aku belum pernah melihat!”

Keenam orang itu tidak terima dipermainkan Cia Ma-lek

lagi, segera mereka bersama-sama ingin meng-hajarnya.

Dewi KZ 61

“Tunggu sebentar!” Cia me-lek berteriak.

Mereka berenam suara lantang, tapi dalam hati

sebetulnya masih takut pada gurunya Seng-jiu-pui-suo Leng

Hau-te, bila tidak terpaksa, mereka tidak ingin berselisih

dengan Cia Ma-lek. Mereka bersamaan berkata:

“Bangsat tengik, cepat bicara!”

Cia Ma-lek masih berseri-seri berkata:

“Dari dulu ada perkataan begini “tangkap bangsat

tangkap barang bukti, tangkap yang berjinah tangkap

pasangannya,” kalian berenam menuduhku mencuri “Hiatsan-

peng-can”, kalian harus membukti-kan apa barang itu

ada ditubuhku atau tidak, bila barangnya tidak ada, guruku

akan mencari kalian!”

A Bin menonton adegan ini di pinggir, dia tidak tahu apa

Cia Ma-lek mencuri, dia sendiri pun tidak bisa bicara,

sehingga hanya diam berpangku tangan saja.

Sambil menjawab pertanyaan enam orang tersebut, Cia

Ma-lek melirik kepada A Bin, A Bin tidak mengerti apa

maksudnya, dia balik memandang ke arah Cia Ma-lek,

perbuatannya membuat enam orang itu curiga.

Ci-bin-pa Kong Tai-hong segera menangkap arti lirikan

Cia Ma-lek, dia bersuara sadis:

“Bangsat tengik, pantas saja kau bersedia di-geladah,

ternyata kau telah menyimpan “Hiat-san-peng-can” pada

anak muda ini.”

Dia segera meloncat ke depan A Bin, dan membentak:

“Anak muda! Cepat serahkan Hiat-san-peng-can, jangan

membuat kami pusing, maka kau akan selamat!”

Sebetulnya Kong Tai-hong hanya mengira-ngira barang

itu ada ditubuh A Bin, tetapi tidak berani memastikan, dia

Dewi KZ 62

tahu sifat Cia Ma-lek yang banyak akal licik, ilmu silatnya

juga cukup baik, menggeladah tubuhnya tidak mudah, bila

barangnya ternyata tidak ada ditubuhnya, Cia Ma-lek akan

merongrong mereka tanpa henti, lebih baik jangan cari

masalah dengan Cia Ma-lek, tetapi A Bin adalah anak

muda polos, gampang diatur, lebih baik digeladah duluan,

bila tidak ada ditubuhnya, Hiat-san-peng-can pasti ada di

tubuh Cia Ma-lek.

A Bin merasa tidak mengantongi barang itu, dia tidak

takut sedikitpun, tetapi dia tidak ingin digeladah, maka

matanya melotot pada Kong Tai-hong.

Mengiranya A Bin pura-pura tuli dan bisu, Kong Taihong

berteriak sekali, lalu menjulurkan tangan kirinya

menangkap A Bin.

A Bin tidak menggerakan kakinya sedikit pun, hanya

menarik tenaga dalam satu kali, tubuhnya sudah mundur

satu kaki lebih, telapak tangan Kong Tai-hong hanya

mengenai angin.

Gerakan A Bin membuat Kong Tai-hong gentar, dia

adalah jagoan di dunia hitam, pandangannya luas, gerakan

lawannya itu membuktikan tenaga dalamnya sangat tinggi,

pasti orang ini dari perguruan ternama, maka dia tidak

berani melanjutkan serangannya, dengan nada sopan

berkata:

“Siapa gurumu? Cepat katakan, jangan sampai aku

melukai dirimu!”

Cia Ma-lek menyindir di samping, berkata:

“Ci-bin-pa jangan sok ingin berteman, gurunya mana

mau berkenalan dengan kalian, bila dikatakan, kalian juga

akan terkejut!”

Dewi KZ 63

Keenam orang itu marah atas perkataan Cia Ma-lek,

melihat A Bin tetap bungkam, mereka merasa terhina dan

tidak tahan atas tingkah A Bin, Kong Tai-hong dengan

suara keras berkata:

“Kawan-kawan dia tidak memandang kita ber-enam,

nama gurunya pun tidak mau dikatakan, bila dia

mengandalkan kepandaiannya, lebih baik kita berenam

mencoba keahliannya!”

Kelompok Sai-it-ngo-su ini sebetulnya ingin menghadapi

Cia Ma-lek dengan cara mengeroyok, setelah bertambah

satu lagi musuh tangguh, mereka jadi ingin sekalian

mengganyang A Bin dengan cara mengeroyok.

Cia Ma-lek segera meloncat keluar, mulutnya berkata:

“Aku tidak bermusuhan dengan kalian, jika kalian ingin

berkelahi pada temanku, silahkan, jangan libatkan aku!”

Macan Muka Ungu Kong Tai-hong berpikir, Cia Ma-lek

tidak ikut bertarung lebih bagus, anak muda ini biarpun

berilmu tinggi, mana bisa menahan gempuran mereka

berenam, maka dia berteriak:

“Bangsat tengik, awas, jangan melarikan diri!”

Ngo-lo-su tanpa menunggu komando Ci-bin-pa, sudah

bergerak menyerang A Bin dari segala arah, lima macan

senjata, bagaikan angin campur geledek menuju tubuh A

Bin.

A Bin tidak bermaksud melukai mereka, tetapi untuk

jaga diri dengan kedua telapak tangannya dia menghadang

lima macan senjata itu, ke lima tikus merasakan ada angin

yang sangat dingin menahan senjata masing-masing, malah

berbalik arah menyerang muka sendiri, mereka terkejut

bukan main, bersamaan dengan gerakan “Keledai malas

menggelinding”, masing-masing pundaknya menyentuh

Dewi KZ 64

tanah mengeluar kan suara, “Duk, Duk” berurutan, lima

tikus telah menggelinding sejauh setengah tombak.

Ci-bin-pa Kong Tai-hong melihat kejadian itu dengan

mata melotot penuh rasa terkejut, setelah mengetahui

kepandaian A Bin begitu tinggi, dia ikut menyerang juga

akan mendapat malu.

Cia Ma-lek bertepuk tangan sambil tertawa:

“Bagus! bagus! Bandit Kong apa kau sendiri akan

menggeladah anak muda itu!”

Kong Tai-hong tahu mereka bukan tandingan A Bin,

tanpa menghiraukan sindiran Cia Ma-lek, dengan jengkel

berkata:

“Kita kelompok Sai-it-ngo-su punya mata tanpa bola

mata, tidak tahu diri membuat malu sendiri, kita enam

bersaudara tidak akan minta kembali “Hiat-san-peng-can”

apa anda bisa beritahu nama, agar di kemudian hari bisa

membalas budi!”

Cia Ma-lek tertawa terbahak-bahak, berkata:

“Dia bernama Lui Bin, bila kalian masih ada umur,

boleh cari dia, tetapi dengan kepandaian yang begini

rendah, jangan harap bisa membalas budi!”

Kong Tai-hong tidak mendengarkan kata Cia Ma-lek,

dengan menjejakkan kedua kakinya ke tanah, dia sudah

meloncat balik ke dalam hutan, tindakannya segera disusul

oleh Ngo-lo-su.

Cia Ma-lek meloncat kembali ke samping A Bin, dengan

senang memuji A Bin:

“Adik Lui, sungguh kau orang yang tidak suka

memamerkan diri, aku Cia Ma-lek juga tidak menyangka,

kau menguasai ilmu yang maha hebat…………..”

Dewi KZ 65

Kata-katanya belum habis, dia melihat A Bin dengan

muka marah mengeluarkan sebuah benda dari dadanya,

ternyata itu adalah Hiat-san-peng-can yang dia titipkan

pada A Bin sewaktu di warung arak.

Cia Ma-lek sangat cerdik dia menangkap expresi muka A

Bin, untuk menghindar salah paham pada A Bin, dia cepat

berkata:

“Adik Lui, benda Hiat-san-peng-can adalah obat mujarab

untuk mengobati racun, racun dari senjata tajam atau

senjata gelap hingga racun di gigit binatang berbisa, segera

hilang bila dihisap oleh benda ini setelah ditaruh di bagian

luka racun, kelompok Sai-it-ngo-su juga mencuri benda ini

dari orang lain, aku ingin mempermainkan mereka, jadi

mengambilnya dari dada Pek-bin-lo-su (Tikus muka putih).

Kemudian karena aku ingin melihat ilmu silatmu, jadi

sengaja menaruh benda itu di dadamu………….”

Perkataan Cia Ma-lek belum habis diutarakan, terdengar

suara terbahak-bahak dari dalam hutan:

“Pencuri cilik! Hari ini kau tidak beruntung, baru dihalau

kelompok Sai-it-ngo-su, datang aku Pencuri iblis!”

A Bin dan Cia Ma-lek memandang kearah suara orang

itu, ternyata Pencuri iblis Yo-po-lo-to sedang keluar dari

hutan.

Cia Ma-lek tidak berani bertingkah di depan orang ini,

segera menghampiri dan memberi hormat:

“Paman Lo-to, bila kau juga menginginkan Hiat-sanpeng-

can, aku akan serahkan dengan dua tangan, tetapi aku

telah duluan memutuskan untuk memberikan barang itu

kepada adik Lui!”

Yo-po-lo-to sambil tertawa:

Dewi KZ 66

“Pencuri licik! kau orangnya kecil tapi siasatnya banyak,

pintar putar otak, apakah kau takut aku cari masalah, maka

cepat-cepat panggil aku paman, dan memberi janji kosong

untuk menjaga hubungan?”

Cia Ma-lek dengan mengeluarkan lidah dari mulutnya,

makin tertawa, katanya:

“Kau orang bijaksana, tipu muslihat dalam perut ku

mana bisa mengelabuimu!”

Yo-po-lo-to tertawa terbahak-bahak berkata:

“Pencuri licik! Jangan banyak mulut, aku dengan

gurumu Pencuri ulung Leng Hau-te belum pernah menjalin

hubungan, tetapi aku suka cara kerjanya, biarpun kau

punya nama Cia Ma-lek, tetapi aku Pencuri iblis tidak akan

membuat masalah padamu, tujuanku datang saat ini bukan

kau, hanya ingin menilai adik Lui!”

Setelah bicara, dia melepaskan kaca mata hitam yang

dipakainya, melihat A Bin dari atas ke bawah.

Cia Ma-lek melihat tingkah laku Yo-po-lo-to, lalu

berkata pada A Bin:

“Adik Lui! Kau mendapat kehormatan, yang aku tahu

paman Lo-to waktu dulu memakai kaca mata hitam karena

dunia sangat kotor dan orang pada licik, tidak pantas

diteliti, sehingga dia memakai kaca mata hitam, sekarang

dia membuka kaca mata hitam menilaimu, biarpun bukan

orang pertama, sedikit sekali orang yang mendapat

kehormatan tersebut.”

Diwaktu kecil A Bin juga pernah dengar nama Yo-po-loto,

tadi di warung arak dia juga telah membantu

menghilangkan kerepotan, maka dia memberi hormat pada

Lo-to.

Dewi KZ 67

Dengan menganggukkan kepala, Yo-po-lo-to memuji A

Bin:

“Dilihat dari fisik dan kecerdasan, kau adalah orang yang

jarang terdapat, dan yang istimewa adalah sepasang

matamu yang hijau, menandakan kau telah menguasai

tenaga dalam tingkat tinggi, boleh tahu gurumu?”

Cia Ma-lek cepat mewakili A Bin berkata: “Adik Lui

tidak bisa bicara, gurunya adalah Han-yu-sam-lo.”

Yo-po-lo-to belum pernah mendengar nama Han-yusam-

lo, dia menggeleng-gelengkan kepala:

“Mungkin nama samaran, pandanganku adalah nomor

satu, gurumu pasti orang ternama, tapi tidak usah

dibicarakan dulu, aku lihat kau lain dengan orang biasa,

maka aku khusus mengajakmu berbuat sesuatu.”

Cia Ma-lek merasa terkejut berkata:

“Paman sudah puluhan tahun terjun di dunia persilatan,

belum pernah membawa pembantu, adik Lui hari ini malah

diajak berbuat sesuatu, betul-betul buat aku jadi iri!”

Yo-po-lo-to tidak menghiraukan Cia Ma-lek, dia kembali

memakai kaca mata hitamnya, dengan serius berkata:

“Pekerjaan ini, hanya adik Lui yang pantas

mengerjakannya, dia tidak bisa bicara, malahan lebih

cocok!”

Cia Ma-lek ingin bertanya lagi, tapi dilarang oleh Yo-polo-

to dan berkata:

“Kau jangan ikut bicara dulu, dengar dulu di samping,

nanti juga ada tugas lain buatmu!”

Mendengar perkataan itu, Cia Ma-lek sangat senang

sambil meremas-remas kuping dan pipinya, dia tahu betul

orang ini tidak sembarangan memerintah orang, bila telah

Dewi KZ 68

diputuskan menggunakan seseorang, tentu akan diberikan

hadiah yang berharga, entah hadiah apa yang akan dia dan

A Bin dapatkan.

Yo-po-lo-to melanjutkan pesannya pada A Bin:

“Aku tugaskan dirimu ke arah utara kurang lebih seratus

li, yaitu kota Lam-ning untuk bertemu seseorang, orangnya

muda sepertimu, katanya dirinya turunan raja tapi aku tidak

hafal betul. Ayahnya seorang pendekar ternama bergelar

Lok-houw-it-kun, yang telah berhubungan denganku. Dia

datang ke Tionggoan ini selain ingin bertemu denganku,

juga ingin mencoba ketangguhan pesilat-pesilatnya. Aku

ingin memberi pelajaran pada dia, tapi karena umurku lebih

tua dari dia jadi tidak pantas aku keluar sendiri, tadi aku

melihat kau sangat tangguh, aku ingin meminjam

tenagamu, mematahkan kesombongan dia.

Merasa tidak pantas mencari masalah dengan orang

asing tanpa alasan, terlihat sinar ragu di muka A Bin.

Yo-po-lo-to memandang dengan matanya yang terang

dengan sungguh-sungguh berkata:

“Adik Lui! Telah dua kali aku memperhatikan, kau

punya watak yang agung, bukan bandingan anak muda

yang suka menang sendiri tanpa perhitungan. Tugas yang

akan diberikan padamu, bukan untuk kepentinganku, kau

harus tahu jurus mereka lain dengan jurus silat yang biasa

digunakan di Tionggoan, dia menganggap remeh ilmu silat

Tionggoan. Kali ini dia menugaskan anak tunggalnya ke

daerah utara, bermaksud memamerkan ilmu Lok-houw-itkun,

bila tidak dibendung, kesombongan mereka akan

menjadi-jadi.”

Setelah A Bin mendengar cerita yang berhubungan

dengan reputasi ilmu silat di Tionggoan, dan dia sendiri

memegang tanda Su-ciat-leng (Empat perintah wahid),

Dewi KZ 69

maka dia mesti membela nama aliran Tionggoan, bila di

kemudian hari ayah tahu juga akan senang. Maka dia

merobah pikiran, dia setuju sambil menganggukan kepala

pada Yo-po-lo-to.

Yo-po-lo-to senang setelah mengetahui A Bin setuju

dengan tugasnya. Dia berkata lagi:

“Dan aku minta kau mau belajar ilmu silatku sekali saja,

jadi ketika kau menantang anak Lok-houw-it-kun,

gunakanlah ilmuku, ini adalah janjiku pada Lok-houw-itkun

waktu dulu. Sesungguhnya ilmu silatmu tidak di

bawahku, tetapi kau harus belajar dua jurus ilmu silatku!”

Cia Ma-lek mendengar permintaan Yo-po-lo-to pada A

Bin, dia ingin juga belajar ilmunya seperti A Bin.

A Bin tampak ragu-ragu sejenak, lalu mengangguk

kepala setuju.

Yo-po-lo-to umurnya sudah tua, tetapi masih punya sifat

anak muda, setelah bicara dia langsung mengerjakan, di

pinggir jalan dia menerangkan dengan jelas dua jurus

ilmunya pada A Bin. Ilmunya di namakan “Po-in-san-jiu”

(Tangan menghalau memecah awan) dan “Yu-sian-bi-tiongpouw”

(Langkah menyesatkan dewa)

Ilmu Yo-po-lo-to juga punya keistimewaan jurus yang

berbeda dengan ilmu dari Tionggoan, jurusnya sangat aneh,

jarang ditemukan dalam aliran perkumpulan besar.

Berkat dasarnya yang kuat, dan otaknya cerdas, sekali

diberi petunjuk, A Bin langsung mengerti, tidak lebih

setengah jam A Bin telah menguasai ilmu itu dengan mahir.

Melihat hasil yang diperoleh A Bin begitu cepat, Yo-polo-

to yang biasa suka humor, berkata dengan sungguhsungguh:

Dewi KZ 70

“Aku jarang memuji orang, tetapi kau adalah bibit

unggul yang sepuluh tahun ini baru aku temukan!”

Cia Ma-lek melihat Yo-po-lo-to mengajarkan ilmu silat

di depan matanya, dia senang juga dalam hati, dalam

pikirannya dia juga mendapat kesempatan menambah

ilmunya, tetapi sampai A Bin berhasil mempelajari

jurusnya, dia hanya hafal sekitar dua puluh persen saja,

melihat jurus yang diperagakan A Bin ternyata hampir

mendekati kesempurnaan, dia merasa terkejut dan iri, tetapi

memuji juga atas kemampuan A Bin

A Bin telah berhasil menambah sebuah ilmu baru,

mengetahui Yo-po-lo-to memberikan ilmunya agar

menghadapi anak Lok-houw-it-kun, dia sangat menghargai

dirinya, dia langsung mengucapkan terima kasih.

Yo-po-lo-to pura-pura tidak melihat A Bin, kemudian dia

memberi petunjuk:

“Aku belum pernah melihat anak Lok-houw-it-kun,

tetapi aku tahu kira-kira orangnya bagaimana, tubuhnya

kurus pendek, mukanya cakap, selewat kelihatan seperti

anak perempuan, sifatnya sombong sekali, kali ini datang ke

utara, selain didampingi pesilat-pesilat tangguh Lok-houwit-

kun dengan rahasia, dia juga membawa pembantu

dekatnya, dalam dua hari dia akan sampai di kota Lamning.

Orang muda ini sudah biasa berfoya-foya, minum,

makan dan peng-inapan selalu minta yang paling mewah,

kau pasti gampang mengenalinya.”

Yo-po-lo-to juga berkata pada Cia Ma-lek:

“Pergilah bersama A Bin! aku sudah memberi petunjuk,

jalankan sesuai dengan rencana.” dia langsung mengatakan

tugas rahasia itu pada Cia Ma-lek dan A Bin.

Dewi KZ 71

Malam itu, Cia Ma-lek dan A Bin sudah sampai kota

Lam-ning, Cia Ma-lek membawa A Bin ke toko membaju

membeli baju anak bangsawan, menginap dihotel paling

mewah.

Dua orang ini menunggu dengan sia-sia selama dua hari,

dan berkesempatan menengok hotel lain yang agak besar,

tapi tidak menemukan tamu yang persis seperti yang

diceritakan,

Siang hari ketiga, Cia Ma-lek dan A Bin sedang di luar

kamar sambil santai melihat-lihat tamu yang keluar masuk

hotel, ternyata matanya terpancing oleh tiga tamu yang

baru masuk, satu majikan dan dua pembantunya.

Majikannya tampan seperti seorang anak bangsa wan,

umurnya sebaya A Bin, penampilan gagah, berbibir merah

dan gigi putih, penampilannya membawa tingkah laku

perempuan. Cia Ma-lek dan A Bin saling melempar muka

lucunya, mereka berdua sama-sama sudah menebak, pasti

orang ini anak Lok-houw-it-kun.

Setelah lebih diteliti lagi, pelayan hotel meng-iring tiga

kuda bibit unggul ke halaman belakang, salah satu dari

kedua pembantunya memegang satu pedang antik, yang

lainnya berdandan dengan potongan pendekar dunia

persilatan, Cia Ma-lek dan A Bin lebih yakin lagi tebakan

mereka tidak meleset.

Tamu tiga orang itu mengetahui Cia Ma-lek dan A Bin

memperhatikan mereka dari seberang, mereka juga balik

memandang. A Bin dan Cia Ma-lek merasakan anak

bangsawan itu sangat cakap namun sombong.

Setelah memperhatikan tiga orang itu masuk kamar,

kebetulan pelayan hotel yang menaruh kuda lewat depan

kamar, Cia Ma-lek segera memanggil dia, menanyakan

asal-usul anak bangsawan itu.

Dewi KZ 72

Pelayan itu berkata:

“Tamu seberang itu sangat kaya, majikannya dipanggil

tuan muda Hong-tai, dari selatan, mereka bertiga telah

memborong tiga kamar besar di dua sayap bangunan

hotel.”

Makin tenang kedua anak muda ini, berpikir kembali

akan kata-kata Yo-po-lo-to, Tuan itu mengaku namanya,

penampilan sangat mewah, pasti anak Lok-houw-it-kun.

Cia Ma-lek lama berkelana di dunia persilat-an, mahir

dalam penyelidikan, maka dia sendirian melang-kah ke

serambi hotel pelan-pelan menuju kamar tuan muda itu.

Dari kejauhan terdengar pembantu tuan muda itu

memesan makanan pada pelayan hotel:

“………Ikan tim, kuah merpati pecai, arak bunga Lotus!”

Pelayan berkata:

“Yah,yah” sambil membuka hording kamar.

Cia Ma-lek pura-pura berjalan di serambi hotel,

menggunakan kesempatan di waktu pelayan membuka

hordeng, dia mengintai ke dalam kamar, terlihat tuan muda

Hong-tai duduk di pinggir ranjang, dibantu pembantu

memegang cermin kecil, seperti seorang perempuan

berdandan.

Cia Ma-lek dalam hati berbicara:

“Mengapa laki-laki seperti perempuan perlu dandan di

depan cermin, apakah adat di luar perbatasan seperti itu.”

Belum puas dengan penyelidikannya, Cia Ma-lek purapura

berjalan di serambi hotel sekitar dua langkah lagi, dan

berbalik tubuh pulang ke kamarnya untuk berunding

dengan A Bin agar melaksanakan tugas Yo-po-lo-to.

Mendadak, belakang kepalanya terasa dingin, ilmu silat Cia

Dewi KZ 73

Ma-lek tidak terlalu tinggi, tetapi dia murid guru terkenal,

dan berpengalaman menghadapi banyak musuh, dia segera

mengerutkan leher sambil miringkan tubuh, dalam hitungan

detik, dia terhindar dari barang yang menghantam

kepalanya.

Mengikuti arah mata, ternyata satu lembar daun

melewati kepalanya, terbang lurus ke seberang timur jalan

serambi.

Dengan marah Cia Ma-lek berbalik kepala memandang,

terlihat tuan muda Hong-tai diam-diam sudah berdiri di

bagian barat jalan serambi, sedang mengangkat kepala

memandang awan di langit, sepertinya tidak melihat pada

Cia Ma-lek.

0-0dw0-0

BAB 2

Cucu raja Lok

Cia Ma-lek tahu daun itu dilemparkan oleh tuan muda

Hong-tai, dia kagum atas ilmu yang disebut Sia-yap-hui-hoa

(Memetik daun menerbangkan bunga)

Dia jelas bukan tandingannya, dia melirik ke tempat A

Bin yang berdiri diseberang timur serambi, ternyata dia

tidak ada disana juga.

Cia Ma-lek berseru dalam hati ‘celaka’. Dia tidak berani

berlama-lama ditempat itu, langkah kakinya dipercepat

menuju keluar hotel, dia ingin mencari A Bin menanyakan

kenapa pergi duluan?

Baru saja dia menginjak mulut pintu, tiba-tiba empat

gadis berbaju putih menerobos masuk, karena perhatikan

Cia Ma-lek sedang kalut, hampir saja dia bertabrakan, ke

Dewi KZ 74

empat gadis itu sedikit menggoyangkan tubuhnya, lewat di

samping tubuh Cia Ma-lek, tempat demikian sempit tetapi

ujung bajunya sedikitpun tidak bersentuhan.

Bersamaan itu tercium wangi keluar dari baju gadis itu,

setelah diteliti oleh Cia Ma-lek, ke empat gadis itu umurnya

berkisar tujuh belas-delapan belas tahun, mukanya cantikcantik

berbaju serba putih , membuat Cia Ma-lek tertegun

melirik terus.

Salah seorang orang gadis merasa tidak enak dipandang

Cia Ma-lek, dengan mata melotot berteriak:

“Orang jelek, kenapa berjalan tidak pakai mata, hampir

saja menabrak orang, kenapa masih melihat terus?”

Cia Ma-lek tidak menghiraukan orang berteriak begitu,

tetapi jengkel pada ucapannya yang mengatakan ‘jelek’

hampir saja dia naik darah atas ucapan gadis itu, tetapi

mengingat kata pepatah “laki-laki jantan tidak pantas

beradu mulut dengan perempuan” dia tidak jadi marah.

Keempat gadis itu tampak bukan orang bijaksana, salah

seorang telah berteriak lagi:

“Orang jelek! Kau lancang ya? Kita datang dari istana

Lok-houw, siapa yang berani kurang ajar? Bila kau tidak

tundukan kepala minta maaf, rasakan sendiri hukumannya”

Sambil bicara, tubuhnya bergerak maju, lengan bajunya

dikibaskan ke leher Cia Ma-lek, seperti sebilah pisau tajam

siap mengiris.

Melihat gerakan empat gadis itu sangat cepat, Cia Malek

makin berhati-hati, begitu kibasan lengan bajunya

datang, dia segera membungkukkan tubuh dan menciutkan

leher, jurus Sian-goan-jang-to (Dewa monyet menyimpan

buah Tho) digunakan menbuat serangan lengan baju gadis

itu lewat diatas kepala.

Dewi KZ 75

Keempat gadis itu tertawa melihat jurus Cia Ma-lek yang

lucu dan seorang mengatakan: “Persi seperti monyet!”

Meski empat gadis itu mulutnya mengolok terus, tapi

jurusnya tidak memberi kesempatan, mereka berusaha

membuat malu Cia Ma-lek, baju putihnya berterbangan,

tangan-tangan yang putih saling berganti menyerang,

hingga Cia Ma-lek terkurung di dalam serangan mereka.

Jurus mereka tidak betul-betul mengenai tubuh Cia Malek,

tetapi sangat berbahaya dan memalukan, membuat Cia

Ma-lek tidak bisa membalas.

Dalam kurungan gadis-gadis yang berbau wangi, Cia

Ma-lek dengan susah payah menghindar serangan

berbahaya, sehingga keringatnya yang bau membasahi

tubuhnya.

Ilmu silat Cia Ma-lek tidak terlalu tinggi, jurus empat

gadis itu juga aneh, dengan posisi empat lawan satu,

membuat Cia Ma-lek kewalahan, dia hanya berusaha sekuat

tenaga bertahan, mengharapkan A Bin segera datang

membantunya.

Dalam perkelahian tidak seimbang, empat gadis itu

saling mencemoohkan Cia Ma-lek, berapa kali Cia Ma-lek

ingin keluar melarikan diri, sayang empat gadis itu tidak

memberi jalan, mereka menutup arah yang dituju Cia Malek.

Cia Ma-lek jadi marah, tanpa pikir panjang dia

mengeluarkan senjata rahasia perguruannya “Thian-ciatsengmang”

(Langit danau bintang cahaya). Dia ingin

melukai keempat gadis itu, bersamaan waktu itu dari luar

hotel masuk lagi empat gadis berbaju putih, mengiring

seorang tuan muda berbaju brokat bordir, tuan mudanya

sangat tampan, berbibir merah, mukanya putih, umurnya

Dewi KZ 76

sekitar dua puluh tahun, dilihat sepintas juga berbau bedak

perempuan.

Tuan muda yang berbaju brokat itu melihat empat gadis

yang sedang mempermalukan Cia Ma-lek, dia mengerutkan

bulu alisnya, mulutnya berbicara, entah logat daerah mana,

ke empat gadis itu langsung menghentikan kepungan

terhadap Cia Ma-lek, berdiri ditempat dan memberi hormat

pada tuan muda itu.

Tuan muda itu dengan dingin bertanya pada Cia Ma-lek:

“Anak muda jelek, kau anak didik siapa?”

Cia Ma-lek yang mendengar kata itu sangat marah, dia

membelalakan mata putihnya, dengan nada tidak sopan

berbalik tanya:

“Kau sendiri siapa? Bicara dulu!”

Dua gadis baju putih yang berdiri disamping tuan muda

itu bersamaan membentak:

“Orang jelek, kau betul-betul punya mata tanpa biji, ini

adalah tuan muda dari istana Lok-houw, tersohor sebagai

cucu raja Lok-houw, kau betul tidak tahu, ya ampun!”

Cucu raja Lok-houw bertanya lagi:

“Hai, anak muda jelek, cepat katakan siapa gurumu?”

Mendengar kata-kata ini, Cia Ma-lek merasa memang

dirinya punya mata tanpa biji, belum lama tadi dengan A

Bin mereka salah beranggapan, tuan muda Hong-tai sebagai

anak Lok-houw-it-kun, mereka menghabiskan waktu

hampir setengah hari, ingin mengetahui dengan jelas. Siapa

tahu di depan matanya sekarang berdiri cucu raja Lok-houw

yang sebenarnya!

Dewi KZ 77

Beberapa kali cucu raja Lok-houw ini menanya-kan

gurunya, entah apa maksudnya, maka dengan congkak dia

menjawab:

“Aku adalah Cia Ma-lek yang tersohor di dunia

persilatan, guruku lebih hebat lagi, setiap orang pasti tahu

siapa guruku, Seng-jiu-pui-suo Leng Hau-te…. Tayhiap.”

Ternyata cucu raja Lok-houw tidak terkejut atas ucapan

Cia Ma-lek, dia hanya menanyakan pada gadis di sebelah

kiri:

“Pek-tan, kau teliti dalam buku catatan, apa terdaftar

nama guru anak muda ini?”

Mendengar perintah majikannya Pek-tan mengeluarkan

sebuah buku dari dalam lengan baju, segera menjawab:

“Ada terdaftar di urutan pertama Seng-jiu-pui-suo

namanya Leng Hau-te!”

Cucu raja Lok-houw dengan tertawa sadis, berkata:

“Bila gurunya ada di urutan nomor satu, sebagai cucu

raja aku pantas juga turun tangan, mengambil satu tanda

ditubuhnya!”

Cia Ma-lek tidak tahu apa gunanya buku daftar nama

pesilat yang dipegang itu, mendengar nama gurunya ditaruh

paling atas, dia merasa bangga juga, tetapi setelah

mendengar bahwa lawannya akan meng-ambil tanda mata

ditubuhnya, dia merasa heran, dan cepat berkata:

“Tunggu sebentar, Cia Ma-lek dengan guruku tidak

punya dendam dengan istana Lok-houw, kenapa baru

bertemu, kau ingin mencelakakan aku?”

Dengan sinis cucu raja Lok-houw berkata:

“Anak jelek! Aku sebagai cucu raja kali ini datang ke

Tionggoan, untuk mengibarkan nama besar perguruanku,

Dewi KZ 78

mengalahkan pesilat tangguh yang ada disini, agar dunia

persilatan mengetahui hebatnya istana Lok-houw, sejak

masuk wilayah Tionggoan, aku telah mengalahkan murid

pertama aliran Tian-cong yang bernama pedang Cu-bu-pak,

di’propinsi Kwie-lam barat, membunuh ketua gerombolan

serigala tangan tunggal Ke Cen-e, bila gurunya ada nama

dibuku ini, di antaranya murid-muridnya harus dibunuh

satu, bila punya satu murid, dicongkel satu biji matanya

atau dipotong satu kupingnya, sisa hidupnya agar bisa

melaporkan pada gurunya, supaya gurunya bertemu aku,

tetapi sepanjang jalan, baru kali ini aku bertemu murid yang

gurunya terdaftar paling atas, ternyata ilmu silatmu biasa

saja, jadi lebih baik kau terima nasib, aku akan mengambil

satu matamu, agar kau bisa melaporkan keadaanku.”

Mendengar kata-kata itu, Cia Ma-lek terkejut bercampur

marah, juga ngeri atas kekejaman cucu raja ini, hanya

untuk menantang gurunya, dia membunuh muridnya,

mencongkel mata memotong kuping, dia marah pada orang

yang sombong ini, menganggap rendah aliran persilatan di

Tionggoan. Terhadap guru-nya pun tidak hormat, maka dia

tanpa berpikir panjang berkata:

“Hei anak muda, kau jangan menghina para jago silat

Tionggoan, silahkan coba cambukku dulu.” Sambil bicara

dia mengeluarkan satu cambuk yang terbuat dari baja,

dengan sembilan tengkorak hitam yang dinamakan Ma-lepian,

seperti sembilan ekor burung aneh terjun dari udara,

menghajar kepala cucu raja Lok-houw.

Jurus Cia Ma-lek yang bernama “Kim-gui-lui-thian”,

jarang ada orang yang bisa menghindar, dan ternyata

lawannya tidak menghindar, hanya menggeser tubuhnya

sedikit, jari tangan kirinya bergetar, sebuah angin kencang

dengan jurus Tok-coa-sin-hiat (Ular berbisa mencari lubang)

dia menyerang perut kecil Cia Ma-lek. Jurus ini sangat

Dewi KZ 79

ganas, bila Cia Ma-lek tidak menarik pecutnya, maka bukan

lawannya yang terluka, tetapi dia sendiri yang akan mati

terkena totokan angin dari jari cucu raja Lok-houw.

Dalam keadaan terpaksa, Cia Ma-lek menarik pecutnya

meloncat ke belakang mundur ke halaman tengah yang

diapit dua serambi. Cucu raja Lok-houw tidak memberi

napas, dia membentak:

“Mau lari kemana!”

Gerakannya kencang seperti angin, jurusnya seperti

geledek, Cia Ma-lek masih bingung melihat lawan

menggunakan jurusnya, terpaan angin keras ke muka sudah

sampai betul-betul menuju satu mata kirinya.

Cia Ma-lek tidak sanggup mengelak serangan itu, dengan

reflek memejamkan kedua matanya. Dalam hati berkata:

“Habislah riwayatku, mungkin satu mata kiriku akan

hilang.”

Mendadak terdengar suara teriakan dari cucu raja Lokhouw,

serangan angin yang menuju muka Cia Ma-lek

langsung lenyap, Cia Ma-lek membuka matanya terlihat

cucu raja Lok-houw telah mundur kebelakang sekitar tiga

kaki, mukanya penuh dengan rasa terkejut, dia sedang

mengawasi keadaan.

Cia Ma-lek melirik ke belakang, ternyata A Bin telah

berdiri di belakangnya sekitar setengah kaki, entah kapan

datangnya dan dengan kedua matanya yang bersinar hijau

memandang cucu raja Lok-houw, tampak dia juga hati-hati

menghadapi lawannya.

Cia Ma-lek sendiri bingung dengan apa yang terjadi di

depannya, lain dengan tuan muda Hong-tai yang melihat

secara langsung kejadian tadi dari seberang serambi timur.

Dewi KZ 80

Ternyata saat cucu raja Lok-houw berteriak dan ingin

mencopot mata kiri Cia Ma-lek, A Bin segera terbang dari

serambi barat, bagaikan bintang meteor jatuh, dalam

sekejap telah beradu satu pukulan dengan cucu raja Lokhouw

yang membuat cucu Lok-houw mundur.

Sejak Tuan muda Hong-tai masuk ke hotel ini, sepintas

dia telah melihat wajah A Bin yang cakap dan bersemangat,

berpenampilan gagah tapi santai, seperti gunung

menghadap langit, membuat perhatian orang tertarik,

karena di sampingnya ada Cia Ma-lek yang rupanya jelek

dan telah mengintainya dengan mata bangsatnya, sehingga

membuat marah pada mereka.

Tadi setelah melihat jelas kecepatan geraknya dan

ketangguhan tenaga telapak tangannya, ditaksir tidak

dibawah pesilat tangguh yang lebih tua, maka dia menaruh

simpati dan memberi pujian pada A Bin.

Sejak Cucu raja Lok-houw masuk ke Tionggoan,

segalanya berjalan lancar, jago-jago silat yang tangguh telah

dikalahkan semua, hingga matanya selalu melihat ke atas

dan angkuh sekali, tapi saat tadi dia beradu tenaga dalam

dengan A Bin, dia baru tahu dia pesilat yang betul-betul

tangguh, selain terkejut dan marah, dia ingin menggunakan

kepandaiannya bertarung lagi untuk menentukan siapa

yang lebih tangguh, apalagi setelah ada orang lain malah

memuji lawannya, amarahnya makin naik.

Pemuda dari daerah asing ini dengan matanya melirik

tuan muda Hong-tai yang sedang memegang kayu gantar

pemisah kamar, dia ingin melampiaskan kemarahannya

pada orang itu.

Begitu matanya tertuju pada sasaran, dia melihat seorang

pemuda cakap yang kulitnya lebih putih dari salju. Cucu

raja Lok-houw ini punya ilmu menilai orang, sekali melihat

Dewi KZ 81

tuan muda Hong-tai, dia jadi senang sekali, kemarahan

yang tadi ingin dilampiaskan langsung dibuang ke langit

tingkat sembilan.

Cucu raja Lok-houw jadi meremehkan keberadaan A Bin

dan Cia Ma-lek, dia menghampiri halaman depan kamar

tuan muda Hong-tai, memberi salam perkenalan dan

berkata:

“Numpang tanya… oh… adinda, siapa namamu?”

Tuan muda Hong-tai melihat cucu raja Lok-houw yang

mukanya cakap, tetapi sombongnya bukan main, dan

memperkenalkan diri seperti punya maksud tertentu, dalam

hati berpikir dia tidak pantas jadi kawannya, maka dia sama

sekali tidak mau menjawab.

Di belakang tuan muda Hong-tai keluar dua anak muda

cakap, berdiri di kiri mewakili menjawab:

“Tuan muda kami she In, orang menyebutnya tuan muda

Hong-tai!”

Yang tadi bertanya adalah cucu raja Lok-houw, tapi

anak muda cakap ini menjawabnya menghadap muka A

Bin, sambil tersenyum seperti memberi isyarat pada A Bin

menggunakan kesempatan berkenalan dengan majikan

mereka.

Gara-gara tidak bisa bicara, A Bin tidak menjawab,

tetapi cucu raja Lok-houw dengan maksud terselubung

tidak menghiraukan sifat dingin tuan muda Hong-tai dan

pembantunya, dengan masih berseri-seri berkata:

“Aku dipanggil Thio Kong-giok, ayahku Lok-houw-itkun,

dia adalah Tay-suhu ternama di daerah selatan, aku

sudah mewarisi ilmu ayahku sekitar enam-tujuh puluh

persen, maka mereka memanggil aku cucu raja Lok-houw,

kali ini datang ke Tionggoan ingin menjumpai pesilatDewi

KZ 82

pesilat tangguh di daerah ini, meng-angkat nama besar

istana Lok-houw, hari ini bisa bertemu nona In….oh salah,

adinda In, adalah kehormatan besar bagiku.”

Tuan muda Hong-tai mengetahui A Bin tidak menjawab,

malah pemuda yang membuat jengkel cucu raja Lok-houw

Thio Kong-giok berebut menjawab, dia jadi merasa kesal,

sengaja dia berpaling muka tidak melihat.

Pembantu tuan muda Hong-tai telah lama mendampingi

majikannya, mereka tahu keinginan tuan mudanya, maka

pembantu yang di kanan bernada kesal berkata pada Thio

Kong-giok:

“Kau orang yang tidak tahu malu, Tuan muda tidak

menghiraukanmu, siapa yang bertanya padamu, sehingga

kau ngomel terus hampir setengah hari!”

Adat Thio Kong-giok betul-betul hebat, penampilannya

sekarang sama sekali berbeda dengan tingkah sombongnya

tadi, dia mau merendahkan diri terhadap pembantu tuan

muda Hong-tai, dengan tertawa berkata:

“Tuan muda ……….tadi tidak tahu aku siapa, pasti tidak

mau memperhatikan aku, sekarang setelah tahu bahwa aku

adalah cucu raja Lok-houw yang termasyur, seharusnya

menjalin hubungan denganku!”

Pembantu tuan muda Hong-tai yang di kiri berkata:

“Siapa yang peduli pada cucu raja atau anak raja, Tuan

muda kami ingin berkenalan dengan orang lain, bukan

dengan kau!” sambil bicara pandangan matanya tertuju

pada muka A Bin.

Mengetahui niat tuan muda Hong-tai dan pembantunya,

delapan pembantu wanita cucu raja Lok-houw yang berbaju

putih menjadi iri, mereka mencari kesempatan berbuat

onar, salah seorang di antara satu orang itu berteriak:

Dewi KZ 83

“Anak kecil tidak tahu aturan, berani melecehkan Tuan

muda kita, biar aku membereskanmu!” sedikit menekan

kaki kanannya ke lantai, tubuhnya bagaikan panah terlepas

dari busurnya, melesat kearah kayu pembatas serambi

timur, dengan tangan yang halus menempeleng pembantu

tuan muda Hong-tai yang berdiri di sebelah kiri

majikannya.

Anak muda cakap itu tertawa geli, berkata: “Kau berani

membereskan aku, apa aku Moi-ji takut padamu, musang

genit!”

Terlihat dia mengayunkan telapak tangan kiri-nya ke

atas, dan jarinya berobah bengkok seperti kaitan, dia sudah

mencengkram tangan gadis berbaju putih itu, dengan sedikit

tenaga bantuan sudah menggendong gadis itu ke

pelukannya.

Cia Ma-lek terkejut melihat kejadian itu, dalam hati

berpikir, kedua rombongan ini saling berlomba, ternyata

anak muda bernama Moi-ji ilmunya lebih tinggi dari gadis

berbaju putih, dari kejadian itu bisa diduga bagaimana ilmu

majikannya, kelihatan ilmu silat tuan muda Hong-tai lebih

tinggi dari cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok.

A Bin berpikiran lain, dia menganggap anak muda cakap

Moi-ji kurang sopan, mana boleh dia mempermalukan

seorang gadis.

Gadis baju putih itu dengan malu bercampur marah

dengan tenaga penuh melepaskan diri, meloncat keluar dan

berdiri dilantai, ingin menggunakan senjata rahasianya

membalas dendam.

Thio Kong-giok segera berteriak:

“Berhenti Bek-kui jangan mencari masalah lagi dengan

pembantu tuan muda In!”

Dewi KZ 84

Dan segera berpaling muka menghadap tuan muda

Hong-tai, dengan memberi salam berkata:

“Aku sudah melihat ilmu silat pembantumu, aku sudah

bertekad ingin menjalin hubungan persahabatan dengan

saudara In, harap jangan menolak!”

Tuan muda Hong-tai melihat A Bin sangat dingin

terhadap dirinya dan kata-kata pembantunya membuat dia

merasa jengkel, sengaja dia berkata pada Thio Kong-giok:

“Kau bicaralah, ingin bersahabat bagaimana dan aku

juga tidak ingin berkenalan dengan yang lain.”

Cia Ma-lek sangat cerdik dia menangkap ucapan dan

tingkah laku tuan muda Hong-tai bersama pembantunya,

dia mengetahui tuan muda Hong-tai ingin berkenalan

dengan A Bin, karena A Bin tidak bisa bicara, sehingga

mereka salah paham dan marah, segera ikut bicara:

“Saudara A Bin, dia………….”

Kata-katanya belum habis, telah dihentikan dengan nada

dingin oleh tuan muda Hong-tai:

“Siapa yang pedulikan kalian? Siapa yang perlu……”

Sambil melirik dengan marah melihat muka A Bin,

tergesa-gesa meninggalkan tempat dengan mata berlinangan

air mata. Dua pembantunya diam-diam menjulurkan

lidahnya pada A Bin dan Cia Ma-lek, menampilkan muka

lucunya.

Cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok tahu Cia Ma-lek

dan A Bin dilecehkan, dia jadi sangat senang, segera dengan

ramah sekali mengajak tuan muda Hong-tai berbicara:

“Mari! Mari! Mari! Adik In dan pembantumu, silahkan

ke ruang depan, aku mengundang kalian makan bersama!”

Dewi KZ 85

Tuan muda Hong-tai dalam keadaan marah, telah

sengaja melewati lorong berjalan ke serambi timur,

membawa dua pembantunya yang cakap mengikuti langkah

Thio Kong-giok dan delapan orang gadis berbaju putih

menuju ruang depan.

Anak muda Moi-ji membalikkan kepala disaat turun dari

lorong jalan, diam-diam memberi isyarat mata pada Cia

Ma-lek.

Sebetulnya setelah melihat penampilan tuan muda Hongtai

yang orang cakap dan elegan, A Bin ingin juga

berkenalan dengannya, karena bisunya malah membuat

mereka marah, dia memperhatikan tuan muda Hong-tai

pergi, dia merasa sedih dan merasa kehilangan.

Dari isyarat mata Moi-ji, Cia Ma-lek menangkap sesuatu

maksud, maka dia menarik bahu A Bin berkata:

“Mereka pergi ke ruang depan, kita berdua juga bisa

pergi kesana! Adik Lui, mari ikut aku!”

Entah bagaimana, A Bin merasakan dirinya menaruh

perhatian sangat pada tuan muda Hong-tai sejak pertama

melihatnya, maka dia menurut saja ajakan Cia Ma-lek,

sampai di ruang depan.

Di sana, cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok, tuan

muda Hong-tai masing-masing duduk di meja besar bagian

kanan, dua orang anak cakap dan delapan gadis baju putih

bersama duduk di samping mereka.

Kelihatan sekali Thio Kong-giok mengetahui adat

istiadat Tionggoan, dia sedang memesan menu makanan

pada pelayan hotel, yang dipesan adalah; empat porsi buah

kering, empat buah-buahan segar, masing-masing empat

manisan asin dan manis, juga pilih delapan macam sayur,

di dalamnya ada goreng telapak bebek, kuah burung, lidah

Dewi KZ 86

ayam, perut rusa, goreng merpati, kembang kol campur

soun kelinci, ikan tim dan dua belas piring nasi, delapan

makanan ringan……………..

Cia Ma-lek lama berkeliaran di dunia persilatan, dia

hafal nama-nama menu sayuran, dia melihat cucu raja

burung ingin memamerkan kekayaannya, dalam hati dia

pikir, bila aku dan A Bin memesan sayur yang sama, adalah

bodoh benar, aku tidak perlu menggeluarkan uang sebesar

ratusan… uang perak, dengan inisiatif sendiri, dia

memanggil pelayan, dan memesan empat macam makanan

dan dua botol arak Kwie-lam.

Thio Kong-giok ingin memamerkan pengetahuannya,

dia bercerita asal usul aliran sesuatu partai perguruan,

menarik juga. Hanya saja kata-katanya tidak masuk ke

telinga tuan muda Hong-tai, dia murung saja, kadangkadang

melirikan matanya pada meja A Bin. Cia Ma-lek

melihat tingkah Hong-tai dari samping, dia melihat pikiran

A Bin pun seperti tidak di tempat, kadang-kadang melirik

juga kemeja mereka. Cia Ma-lek merasa heran, pikirnya

’aku kira kata jatuh cinta pada pandangan pertama hanya

untuk laki bertemu dengan perempuan, tidak pernah

kudengar ada dua laki-laki saling jatuh cinta, kelihatan

sekali adik bisuku sangat berjodoh dengan tuan muda

Hong-tai. Sebetulnya mereka adalah pasangan ideal, bila

mereka berdua berjalan bersama, lebih serasi dari pada aku

menemani adik bisu ini, lebih baik aku satukan saja

mereka’.

Cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok juga mengetahui

tuan muda Hong-tai sering melirik ke meja A Bin, rasa

irinya timbul dalam hati, tetapi perasaan irinya tidak

ditampilkan diwajahnya. Melihat sayur di meja A Bin

adalah menu biasa, bila dibandingkan dengannya, sangat

Dewi KZ 87

memalukan, dia lalu merubah pokok pembicara-annya, dia

bicara soal barang antik yang aneh-aneh.

Dia bermaksud memamerkan kekayaannya, sambil

bicara, dari tangan pembantunya dia mengambil kantong

yang ditaruh dipinggangnya, sambil memperkenalkan nama

barang dan bentuknya. Satu-satu dipamerkan, ternyata

barang-barangnya betul-betul sangat antik yang jarang

ditemukan di masyarakat, dan Thio Kong-giok sengaja

mengatur susunannya, lebih ke belakang yang dipamerkan

lebih berharga.

Pertama adalah batu perhiasan, giok, mutiara, safir, dan

lain-lain. Terakhir barang antik seperti pisau dari tulang

ikan, mutiara penangkap api, batu berwarna merah, baju

dari benang emas………..

Tuan muda Hong-tai seperti tidak tertarik pada barangbarang

batu perhiasan tersebut, dilihatpun tidak dia hanya

melirik sejenak barang antik itu.

A Bin tidak punya pikiran iri pada kekayaan atau tamak,

tetapi menyaksikan Thio Kong-giok begitu rajin

memamerkan kekayaan di depan tuan muda Hong-tai,

perasaan irinya tampak dalam mukanya. Perobahan ini

tertangkap oleh Hong-tai dalam pandangan tidak sengaja,

seperti ingin membalas pada kelakuan dingin A Bin

terhadap dirinya, dia mendadak merobah rasa kekesalan

terhadap Thio Kong-giok, dan tertawa menarik bicara riang

pada Thio Kong-giok.

Thio Kong-giok merasa tersanjung dan sangat senang,

dalam pikirannya barang antiknya betul-betul telah

menjatuhkan hati orang cakap ini, tingkahnya makin

menjadi-jadi.

Menyaksikan tuan muda Hong-tai berbuat begitu, A Bin

makin panas, hingga mukanya berobah pucat, dia juga

Dewi KZ 88

merasa aneh, kenapa menaruh perhatian serius terhadap

Hong-tai.

Cia Ma-lek melihat perobahan wajah A Bin tersebut, dia

ikut merasa terkejut, dia tidak mengerti kenapa A Bin bisa

jatuh hati pada laki-laki, tetapi dia juga tidak senang pada

tingkah sombong Thio Kong-giok yang menyombongkan

hartanya, dia berpikir sejenak, untuk mencari akal untuk

dilaksanakan.

Diam-diam Cia Ma-lek mengeluarkan sebuah barang

dari kantong yang digantungkan di pinggang-nya,

merendahkan kepalanya di pinggir meja dan memberi udara

dari mulutnya pada barang itu, diam-diam

melemparkannya melalui bawah meja keatas meja Thio

Kong-giok.

Ternyata barang itu adalah seekor tikus buatan dari

bahan kulit. Melalui lemparan khusus Cia Ma-lek, persis

seekor tikus hidup, berbunyi “cit,cit” meloncat-loncat di atas

meja Thio Kong-giok.

Aneh juga, di dunia ini banyak orang pemberani

melawan harimau atau macan dengan tangan kosong tetapi

ternyata takut sekali pada tikus kecil.

Orang-orang di meja Thio Kong-giok juga begitu,

semuanya pada kesima, lebih-lebih ke delapan gadis berbaju

putih itu, mereka malah menjerit-jerit, suasana menjadi

kacau.

Cia Ma-lek sengaja berbuat onar dengan maksud

tertentu, menggunakan kesempatan dia lari ke meja itu

dengan tangannya menangkap tikus buatan itu sambil

berteriak:

“Kau tikus, sudah mencuri di mejaku, masih tidak cukup

ya, masih tamak pada barang mewah di meja ini, biar aku

Dewi KZ 89

membereskan kau!” Gerakan Cia Ma-lek sangat terlatih,

cepat dan tepat, di waktu tikus palsu itu meloncat di depan

muka Thio Kong-giok, telah ditangkap kembali. Sengaja

diangkat balik tikus palsu itu, dengan tipuan gerakan

gemetaran tikus palsu itu seperti yang hidup ingin

melepaskan diri dan mengeluarkan bunyi cit, cit, sehingga

ke delapan gadis baju putih itu terdesak menjadi satu

gerombolan, Thio Kong-giok juga tidak bisa berbuat

banyak, hanya tuan muda Hong-tai yang mengetahui Cia

Ma-lek sengaja berbuat onar, dia tertawa sinis.

Cia Ma-lek pura-pura marah berkata:

“Tikus yang ingin mati, biar aku masukan dulu ke dalam

kantong, biar malam nanti di kupas kulitnya, setelah dicuci

digoreng untuk santapan arak ku!” Sambil bicara, benar

juga tikus palsu itu dimasukan kedalam kantongnya.

Tamu dalam ruang depan, termasuk dua pembantu tuan

muda Hong-tai dan delapan pembantu Thio Kong-giok, ada

yang terkejut, ada yang tertawa, semua mata tertuju ke meja

A Bin, otomatis cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok

seperti telah dikucilkan.

Cia Ma-lek seperti tidak menghiraukan pandangan

semua orang, dia minum arak dan makan kembali, malahan

A Bin merasa tidak enak di pandang begitu, pandangan

matanya sementara ditujukan pada bawah meja.

Setelah membuat keributan tadi, Thio Kong-giok merasa

gusar, jerih payah untuk menarik perhatian tuan muda

Hong-tai jadi gagal total, dia mengulangi keadaan tadi,

memamerkan lagi barang yang belum dikeluarkan.

Thio Kong-giok dengan semangat tinggi, dengan nada

sombong berkata:

Dewi KZ 90

“Tadi aku telah mengeluarkan barang-barang antik,

tetapi harganya hanya setengah dari barang yang akan aku

keluarkan ini, barang itu adalah jerih payah ayahku baru

bisa mendapatkannya. Hasiat barang ini biarpun tidak bisa

menghidupkan orang mati, tetapi asal masih bernapas,

dengan menggunakan barang ini di tempelkan pada

lukanya, luka pisau atau pukulan, terbakar, tenggelam di air

atau pingsan kedinginan, akan bisa mempertahankan

nyawanya sampai mendapatkan obat mujarab. Biar ku

perlihatkan agar saudara In bisa…………”

Bicaranya mendadak berhenti, tangan kanan yang

dimasukan kedalam kantong seperti terkena sengatan ular,

cepat dikeluarkan lagi, ternyata kantong-nya sudah kosong.

Dua pembantu tuan muda Hong-tai mengetahui

majikannya tidak suka pada Thio Kong-giok, mereka tidak

kuat menahan diri dan tertawa sinis, Moi-ji malah

mendesak:

“Cucu raja she Thio, kau bilang barang yang jarang ada

di dunia, kenapa tidak cepat dikeluarkan, biar kita tambah

wawasan!”

Thio Kong-giok dengan mata melotot berkata terpatahpatah:

“Aku…….aku………..barang antikku Liong-swie-hiangyap

(Sumsum naga daun wangi) telah hilang, hi……….lang.

Kedelapan pembantu baju putih yang menge-tahui daun

berharga tersebut hilang, mereka berteriak bersamaan:

“Apa Liong-swie-hiang-yap telah hilang?”

Karena kehilangan barang mahal, Thio Kong-giok dan

delapan pembantunya jadi kacau dan bimbang mencarinya,

Cia Ma-lek malah sengaja berteriak dimeja-nya:

Dewi KZ 91

“Adik A Bin kau lihat, mereka memamerkan banyak

barang antik, apa kita di Tionggoan juga tidak punya? Bila

kita tidak pamerkan, orang luar akan meremehkan kita

penghuni Tionggoan!”

A Bin tidak mengerti apa maksud kata Cia Ma-lek, dia

tidak bisa bertanya, hanya bisa buka mata lebar-lebar,

melotot pada Cia Ma-lek.

Cia Ma-lek dengan tertawa mengingatkan A Bin: “Adik

Lui, barang kau yang sudah bosan, yang akan diberikan

padaku Hiat-san-peng-can, coba kasih lihat pada mereka.”

A Bin langsung mengerti apa maksud kata Cia Ma-lek

tadi, agar dia menggunakan kesempatan meledek Thio

Kong-giok, tapi dalam hati dia menyalahkan Cia Ma-lek

yang lupa ingatan, barang Hiat-san-peng-can itu sudah

dikantongnya sendiri karena ditolak, kenapa mendadak

minta barang itu padaku!

Biarpun punya pikiran itu, A Bin mencoba merogoh

kedalam dadanya, ternyata Hiat-san-peng-can itu entah

kapan sudah ditaruh oleh Cia Ma-lek di dadanya.

A Bin mengetahui ini adalah perbuatan Cia Ma-lek,

maka tanpa banyak tingkah, pelan-pelan dia mengeluarkan

Hiat-san-peng-can, diberikan pada Cia Ma-lek.

Cia Ma-lek mempermainkan Hiat-san-peng-can

ditangannya, mulutnya mengomel terus:

“Adik Lui! Kau dalam segalanya baik, hanya tidak

sayang pada barang antik, ini adalah hal tidak baik.

Mungkin kau mempunyai barang antik terlalu banyak,

hingga malas merawatnya, seperti Hiat-san-peng-can ini

adalah barang yang disukai orang untuk mengobati segala

racun , kau malah mau membuangnya, ingin diberikan

padaku.”

Dewi KZ 92

Begitu Hiat-san-peng-can disebut, langsung menarik

perhatian orang-orang di meja Thio Kong-giok, karena

barang tersebut mempunyai nama tersohor, bila

mendapatkan barang itu, tidak perlu takut pada segala

racun.

Kedua mata Thio Kong-giok seperti api membara, iri,

ingin dan kesal menguasai dirinya, iri karena barang A Bin

ini tidak kalah nilainya dengan Liong-swie-hiang-yap, dia

ingin mendapatkan barang A Bin, sejak berangkat dari

rumah, dia tahu di Tionggoan ada benda Hiat-san-pengcan,

kesal terhadap Liong-swie-hiang-yap miliknya yang

entah bagaimana bisa hilang. Sehingga begitu barang

pusaka A Bin dikeluarkan, pameran barang-barang antik

miliknya jadi tidak berharga lagi.

Tuan muda Hong-tai ikut terkejut juga setelah

mendengar nama Hiat-san-peng-can, tetapi setelah tahu A

Bin begitu dingin penampilannya, dia tetap menaruh rasa

marah pada A Bin, sehingga rasa ingin tahunya dipendam

lagi.

Hanya dua pembantunya dan delapan gadis berbaju

putih yang menaruh perhatian besar, pandangan kedua

puluh mata melotot melihat meja A Bin.

Setelah banyak pasang mata memperhatikan barang

Hiat-san-peng-can, A Bin baru mengerti betapa berharganya

barang tersebut, benda pusaka yang diberikan pada dia oleh

Cia Ma-lek, membuat dia memuji keikhlasan Cia Ma-lek.

Makin bicara Cia Ma-lek makin senang, terdengar lagi

dia berkata:

“Adik Lui, kenapa aku tidak mau menerima barang

pemberianmu, lucu juga kalau dikatakan. Karena aku selalu

menjadi dewa harta yang lewat saja, setiap punya barang

pusaka di tangan kanan di berikan lagi pada orang lain

Dewi KZ 93

dengan tangan kanan, tidak punya niat untuk

menyimpannya dan aku punya satu barang lagi, katanya

tidak bisa menghidupkan orang mati, segala luka oleh

senjata tajam atau terbakar, tenggelam dalam air atau

pingsan dalam es, asal masih ada napasnya, asal

menggunakan barang ini bisa mempertahankan nyawa-nya

sampai menemukan obat mujarab.”

Thio Kong-giok merasa curiga, kenapa kata-katanya saat

memamerkan barang Liong-swie-hiang-yap diucapkan

kembali oleh Cia Ma-lek.

Cia Ma-lek masih cerita panjang lebar:

“Aku mendapatkan barang ini tidak perlu mengeluarkan

tenaga banyak, bukan barang dari luar daerah, juga tidak

punya nama mentereng, benda ini dinamakan “Kau-kutyap-

souw” (Tulang anjing daun bau) yang aku dapatkan

dari anjing turunan silang dari luar negeri, masih bau

anjing……”

Thio Kong-giok makin dengar makin merasa aneh,

sudah pasti nama Kau-kut-yap-souw adalah nama samaran

dari Liong-swie-hiang-yap.

Tuan muda Hong-tai mulai mengerti kata-katanya,

melihat Cia Ma-lek bertingkah lucu terhadap Thio Konggiok,

tidak tertahan dia tertawa juga. Pembantunya Moi-ji

dan kawannya juga menangkap lucu perumpamaan Cia

Ma-lek, mereka juga ikut tertawa.

Mendengar tertawa tuan muda Hong-tai dan

pembantunya, Thio Kong-giok sadar akan arti kata-kata itu

dia melihat ternyata tangan Cia Ma-lek sedang memegang

Liong-swie-hiang-yap, dia jadi betul-betul dipermalukan

oleh lawan.

Dewi KZ 94

Dengan perasaan penuh percaya diri, dia kali ini keluar

rumah untuk menantang pesilat-pesilat tangguh di

Tionggoan, ternyata dia mendapat malu oleh Cia Ma-lek di

tempat ini, Thio Kong-giok jadi marah sekali, dia

membentak, sesaat kakinya tanpa menginjak bumi, hanya

menggunakan tekanan tangan kiri, dia seperti panah

melesat meninggalkan tempat duduk, berputar arah,

menuju kearah Cia Ma-lek.

A Bin dan tuan muda Hong-tai adalah ahli silat tinggi,

mereka melihat gerakan Thio Kong-giok yang dinamakan

“Yu-it-cong-thian” (Satu sayap menerjang langit), mereka

memuji ilmu Thio Kong-giok, biarpun dia sombong, tetapi

betul-betul berisi, tidak bisa dipandang remeh.

Melihat jurus Thio Kong-giok, A Bin mengetahui Cia

Ma-lek bukan tandingannya, A Bin berdiri dari tempat

duduk, telapak kanannya diarahkan antara Cia Ma-lek dan

Thio Kong-giok, dia mengamankan Cia Ma-lek.

Thio Kong-giok telah tahu ketangguhan ilmu A Bin, dia

tidak berani ceroboh, melihat lawannya membela Cia Malek,

dia segera mengontrol serangan yang ditujukan pada

Cia Ma-lek, tubuhnya ditegakkan langsung berdiri di

samping A Bin.

Melihat lawannya lumayan berat, Thio Kong-giok

mendadak berdiri diatas meja A Bin tetapi tubuhnya

tampak enteng sekali, arak dalam gelas Cia Ma-lek dan A

Bin sama sekali tidak bergoyang.

Cia Ma-lek terkejut dengan ilmu Thio Kong-giok, tetapi

berhubung ada A Bin di sampingnya, dia masih berteriak

tanpa berhenti:

“Kau tidak tahu sopan santun, setelah melihat Kou-kutyap-

souw, timbul keinginanmu mencurinya dan

merampas…………”

Dewi KZ 95

Thio Kong-giok sangat cemburu terhadap A Bin yang

mendapat perhatian dari tuan muda Hong-tai, maka

kemarahannya diarahkan pada A Bin. berteriak:

“Kau cari mampus!”

Dengan jurus “Giok-kou-cia-kua” (Giok kail

digantungkan miring)” kaki kirinya menendang pada A Bin,

ini adalah jurus khusus dari Lok-houw, tendangan-nya

sangat keras, A Bin tidak tahu pasti berapa besar kekuatan

tenaga dalam lawan, dia tidak mau bentrok langsung, maka

tubuhnya digeser sedikit ke samping menghindar.

Tendangan Thio Kong-giok membuat piring sayur, gelas

arak di meja pada jatuh kebawah, cipratan sayur dan arak

berterbangan, A Bin dan Cia Ma-lek telah menghindar,

namun sepatu bordir mutiara Thio Kong-giok telah

kecipratan tidak sedikit minyak sayur, dia yang suka

kebersihan menjadi marah besar, setelah kakinya menapak

di lantai, dia mengangkat kedua telapak tangannya

mengejar A Bin.

Tiba-tiba, terchim bau wangi yang diterpa angin, satu

sosok rubuh mungil telah berdiri di tengah A Bin dan Thio

Kong-giok, setelah dilihat, ternyata tuan muda Hong-tai.

Mengetahui tuan muda Hong-tai dihadapannya, Thio

Kong-giok jadi lebih ingin memamerkan kebolehan ilmu

silatnya, segera berkata:

“Adik In, biar aku yang membereskan anak muda itu!”

Maksud turut campur tuan muda Hong-tai sebetulnya

selain curiga, juga dia ingin mencoba A Bin kenapa selalu

diam saja, apa yang membuat A Bin tidak suka pada

dirinya, maka dengan nada dingin dia berkata pada Thio

Kong-giok:

“Kau tutup mulut,biar aku tanya dia.”

Dewi KZ 96

Aneh sekali, terhadap tuan muda Hong-tai yang begitu

alim, Thio Kong-giok tidak berani membantah, dia menurut

saja permintaan Hong-tai, menyaksikan ekspresi wajah

Hong-tai yang matanya bertanda marah, dengan berkata

dingin pada A Bin:

“Mengapa kau selalu diam tidak bicara.”

Kedua pembantu Hong-tai itu terperanjat setelah

mendengar majikannya berbicara begitu terhadap A Bin,

mereka berpikir kok majikan…….seperti di rumah saja,

terlalu manja, sehingga berani terang-terangan bertanya

begitu.

A Bin yang disodorkan pertanyaan itu, mulutnya jadi

pahit tidak bisa menerangkan sedikitpun. Hong-tai merasa

A Bin tidak peduli pada dirinya, dia jadi bertambah salah

paham terhadap A Bin, kemarahan langsung meledak,

dengan satu bentakan, dia menjulur-kan telapak tangannya

yang mungil, menyapu muka A Bin.

Bila dilihat dari ilmu A Bin, kecepatan tangan Hong-tai

sebetulnya bisa dihindar oleh A Bin, tapi A Bin seperti

hilang konsentrasi, diam di tempat tanpa menghindar, maka

terdengar suara tempelengan di mukanya.

Suara tempelengan tersebut malah buat Hong-tai

terkejut, lain dengan Thio Kong-giok, dia begitu senang, A

Bin diam terpaku, Cia Ma-lek mendadak dapat ilham, dia

berteriak:

“A Bin, adik bisuku, kau tidak pantas menerima

tempelengan itu!”

Mendengar kata Cia Ma-lek, tuan muda Hong-tai seperti

tersengat aliran listrik, dia melihat muka A Bin dengan

terbata-bata berkata:

“Apa? Kau bi……..su……..”

Dewi KZ 97

A Bin tampak bingung setelah rahasia pribadi-nya

terbuka.

Setelah Thio Kong-giok melihat A Bin di tempeleng oleh

tuan muda Hong-tai, dia berteriak-teriak bagus, karena

rahasia A Bin terbuka, dia makin girang, sambil menyindir

berkata:

“Bagus, ternyata kau seorang bisu, bila tadi aku tahu, aku

tidak pantas berduel denganmu!”

Dipermalukan sedemikian rupa, A Bin merasa sangat

sedih, api kemarahan tampak dari sepasang mata yang

hampir keluar.

Tuan muda Hong-tai dengan suara lantang berbalik

berkata pada Thio Kong-giok:

“Kau………tutup mulutmu…………… siapa yang minta

kau bicara!”

Thio Kong-giok yang dimarahi oleh Hong-tai, bagaikan

kingkong besar tidak bisa bicara, dia hanya meraba

kepalanya, entah harus berbuat apa, diam terpaku.

Hong-tai berbalik pada A Bin berkata dengan suara halus

dan lembut:

“Kau………kau……..aku…………aku………..” mendadak

air matanya keluar, dia menangis tersedu-sedu, menutup

mukanya memakai lengan baju, cepat berlari menuju

halaman belakang. Moi-ji segera memanggil temannya:

“Tiau-ji, mari kita susul!” mereka berdua tergesa-gesa

pergi.

Biarpun mendapatkan tempelengan dari Hong-tai, A Bin

tidak menaruh dendam, malahan merasa iba terhadap sikap

Hong-tai yang meninggalkan tempat duduk sambil

Dewi KZ 98

menangis, Karena dirinya tidak bisa bicara, dia jadi tidak

mengejar Hong-tai.

Setelah Thio Kong-giok menyaksikan kepergian Hongtai,

dia memuntahkan kemarahannya pada A Bin. A Bin

pun tidak gentar. Terlebih dahulu dia memberi isyarat

tangan pada lembar daun Liong-swie-hiang-yap yang

dipegang Cia Ma-lek.

Cia Ma-lek memahami isyarat tangan A Bin, lalu

menyerahkan daun itu pada Thio Kong-giok sambil

berkata:

“Kau jangan seperti monyet, aku tidak perlu barangmu,

ambil kembali!”

Thio Kong-giok dengan cepat merebut kembali daunnya,

dengan hati-hati dimasukan kedalam dadanya, dan

mukanya segera berobah, berkata:

“Barang turunan raja, mana boleh sembarangan dipinjam

paksa, kalian berdua pencuri teri, bila tidak menyerahkan

Hiat-san-peng-can untuk ganti minta maaf, aku turunan raja

akan memberi pelajaran pada kalian, sampai mampus!”

Mendengar perkataan congkak itu, A Bin dan Cia Maleki

marah besar. Mereka berdua mendapat perintah rahasia

dari Yo-po-lo-to untuk datang ketempat ini, justru berniat

untuk meredam kesombongan Thio Kong-giok dan kini

saatnya telah tiba.

Cia Ma-lek sudah tidak sabar lagi, dengan tingkahnya

berkata:

“Bagus, kau sebagai cucu raja burung, lebih pintar

menggertak dari pada bandit tua di dunia persilatan, jahat

makan yang jahat, bila bukan karena adik Lui tidak mau

sembarangan mengambil barang orang, daun busuk tadi

Dewi KZ 99

tidak akan ku kembalikan! Sekarang tahu-tahu kau malah

ingin memeras barang kita.”

Kedua pihak sudah memasang kuda-kuda, pertarungan

seperti tidak terelakan lagi. Tamu hotel dan pelayan sudah

berdiri di pinggir, menghindar di sudut.

Di saat genting itu, dari luar hotel tergesa-gesa masuk

dua orang bertubuh tegak yang berbisik di kuping Thio

Kong-giok.

Terlihat Thio Kong-giok tersenyun, langsung berkata

pada A Bin:

“Dua pencuri teri, sekarang aku ada janji penting,

sementara kuberi ampun, besok aku akan memberi

pelajaran pada kalian.”

Habis bicara, dia langsung meninggalkan hotel diikuti

semua pembantunya.

A Bin terus memikirkan kepergian Hong-tai yang

menangis, malah tidak peduli atas kejadian di depan

matanya, Cia Ma-leki juga melihat ketidak acuhan A Bin,

maka menbiarkan mereka pergi, dengan pertimbangan

belum waktunya melawan Thio Kong-giok.

Cia Ma-lek menuntun A Bin kembali ke kamar hotel,

sambil berkata:

“Adik Lui, tidak disangka kau dengan tuan muda Hongtai

bisa saling terharu, bila salah satunya adalah perempuan,

tentu bagus sekali, sayang dua-duanya laki-laki, aku malah

belum pernah melihat dan mendengar kejadian aneh ini.”

Sambil bicara, mereka berdua masuk kamar, A Bin persis

seorang dungu sambil berbaring di ranjang, kedua matanya

melihat langit kamar, merenungkan sesuatu, Cia Ma-lek

semakin terkejut, dia ingin menghibur A Bin.

Dewi KZ 100

Mendadak, pintu kamar diketok orang diikuti suara

nyaring berkata:

“Tuan muda Lui dan tuan muda Cia apa ada di kamar?

Tuan muda kami sengaja datang untuk minta maaf ?”

Kedua orang itu tahu, itu adalah suara pembantu Hongtai

yang bernama Moi-ji, A Bin langsung berdiri dari

ranjang, segera menuju pintu kamar.

Cia Ma-lek melihat sekeliling kamar, tidak tampak

pemandangan berantakan maka dia turut juga ke depan

pintu kamar, ternyata Hong-tai sudah berdiri di depan

pintu, matanya masih tampak merah, sangat menarik,

mereka berdua dengan A Bin sedang tukar pandang, tapi

saling diam.

Moi-ji dan Tiau-ji tersenyum pada Cia Ma-lek, Cia Malek

berkata:

“Adik Lui, cepat undang tamu agung masuk kamar,

untuk duduk dan ngobrol.”

A Bin dan Hong-tai sedikit terperanjat, lalu mereka

saling tertawa, A Bin memberi isyarat tangan, mengundang

tamunya masuk, mereka bersamaan masuk kamar, Cia Malek

juga ingin masuk, tetapi Moi-ji memberi isyarat tangan

minta dia jangan masuk dan menghampiri sambil berkata

pelan:

“Tuan muda Cia biarkan mereka bicara leluasa, jangan

digangu!”

Cia Ma-lek mengerti, dia tidak jadi masuk kamar, di

serambi dia bersenda gurau dengan dua anak muda cakap

Moi-ji dan Tiau-ji.

Lain cerita. A Bin mengundang tamunya masuk kamar

setelah duduk berhadapan di kursi, A Bin memandang

Dewi KZ 101

muka tuan muda Hong-tai, hingga muka Hong-tai menjadi

merah, malu dipandang terus.

Hong-tai dengan agak menundukan kepala, dengan halus

berkata:

“Aku In Hong-tai, tadi tidak tahu Lui Toako tidak bisa

bicara, hingga bicara sembarangan, aku merasa menyesal,

sengaja datang minta maaf padamu.”

A Bin senang sekali melihat roman muka dan

penampilan Hong-tai, karena senang, dia memegang tangan

kiri Hong-tai, ternyata tangan Hong-tai sangat halus dan

licin, seperti tidak bertulang, hingga membuat A Bin

tercengang, In Hong-tai tertawa kecil, kepalanya makin

tertunduk.

A Bin melihat muka merah Hong-tai seperti seorang

gadis, warna kulit leher belakang putih lembut, cahaya

matanya seperti salju, dia merasa agak aneh, tapi dia tidak

menghiraukannya, dan di atas telapak tangan Hong-tai

menggunakan telunjuk menuliskan nama sendiri.

Walaupun dua orang ini baru bertemu, terasa begitu

akrab jadinya, satu memakai mulut, satu memakai telunjuk,

berbicara panjang lebar, A Bin mendengarkan

pengalamanan dan tutur katanya, dia sangat salut pada

Hong-tai, begitu juga Hong-tai memandang A Bin yang

pintar dan banyak pengetahuan, mereka berdua merasa

terlambat bertemu, hingga tidak terasa mereka

menghabiskan waktu tiga jam, akhirnya Cia Ma-lek di luar

kamar berteriak:

“Tuan muda In! Adik Lui! Kalian telah lama bicara,

sudah waktunya makan malam!”

Hong-tai dan Lui Bin baru tahu langit sudah gelap,

bersama-sama tersenyum mereka mengundang Cia Ma-lek,

Dewi KZ 102

Moi-ji dan Tiau-ji masuk kamar, dan telah memesan

pelayan hotel untuk mengantarkan beberapa macam sayur

dan satu botol arak Kwie-lam, sambil makan sambil cerita,

hingga hampir tengah malam, In Hong-tai baru kembali ke

kamar sendiri bersama kedua pembantunya.

Meski sudah larut malam, karena bertemu teman yang

cocok dengan selera sendiri, A Bin sangat senang, sehingga

dia tidak dapat tidur, dia bolak-balik di ranjang, dilihatnya

Cia Ma-lek sudah tidur nyenyak, A Bin tertawa sendiri, lalu

dia memakai mantel dan keluar kamar menuju serambi.

Waktu hampir jam dua subuh, di langit terang bulan,

bintang bisa dihitung, di halaman hotel keadaan sunyi,

tiada suara.

A Bin melihat tiga kamar tuan muda Hong-tai di

seberang timur, pintu kamarnya terkunci rapat,

penghuninya kemungkinan sedang tidur nyenyak.

A Bin baru mendapatkan teman akrab, hatinya sangat

senang, segala kepusingannya hilang, maka dia berjalan

santai di halaman hotel.

Mendadak hidung A Bin mencium sesuatu wangi yang

aneh, dia telah mendapat petunjuk dari Co-siau-yau-cu

gurunya tentang wangi yang biasa diguna-kan orang-orang

dikalangan aliran sesat untuk melumpuhkan orang dan

berbuat tidak senonoh pada korbannya, A Bin meneliti arah

wanginya, ternyata dari arah timur, dia berkata dalam hati,

celaka, jangan-jangan tuan muda Hong-tai sedang diincar

musuhnya.

A Bin menperkirakan bangsat yang membuang dupa

wangi itu dari arah luar jendela hotel, maka dia segera

meloncat keatas genting, di sana dia diam-diam mengintai

ke bawah.

Dewi KZ 103

Terlihat oleh A Bin bayangan gelap sudah berbalik tubuh

menjauh jendela kamar, dari dalam kamar juga keluar satu

sosok orang, diam-diam mengejar orang yang sedang

melarikan diri.

Dari bentuk tubuh, A Bin melihat orang belakang yang

mengejarnya adalah Hong-tai, dia tidak bisa memberi

isyarat, terpaksa meloncat kebawah, menggunakan ilmu

mengentengkan tubuh dia mengejar juga.

Dari kejauhan, A Bin melihat orang jahat yang

menyebarkan bau wangi ke kamar itu, ilmu meringankan

tubuhnya tidak setinggi In Hong-tai, tetapi dia sangat

waspada, begitu keluar dari hotel, langsung menyelinap ke

gang yang gelap, melarikan diri dengan berputar-putar,

biarpun In Hong-tai berilmu tinggi, tetap tidak bisa

digunakan dengan leluasa di dalam gang gelap itu, dia

hanya bisa menguntip orang itu jangan sampai kehilangan

jejak.

A Bin yang terlambat mengejar, sementara tidak bisa

mengejar kecepatan In Hong-tai, dia takut membuat suara,

sehingga In Hong-tai salah paham dan menghindar darinya,

hal itu mengakibatkan orang jahat itu bisa lari jauh, A Bin

pun hanya bisa mengikuti secara diam-diam dibelakang.

Tiga orang itu saling kejar-mengejar, tidak lebih dari

seperempat jam, akhirnya tampak di depan ada satu kuil

yang lumayan besar, orang yang di kejar itu tampak

meloncat ke dalam halaman kuil itu

In Hong-tai juga tidak ragu-ragu meloncat tembok kuil

ikut masuk juga. A Bin takut In Hong-tai mendapat bahaya,

maka tanpa ragu-ragu mendekati tembok, mengangkat

tubuhnya, berdiri diatas tembok.

Seluas matanya memandang, dalam tembok terdapat

halaman yang luas, sekelilingnya berupa barisan pohon

Dewi KZ 104

bambu, jejak In Hong-tai dan orang yang dikejar tidak

kelihatan, kemungkinan telah masuk ke dalam hutan

bambu itu.

Timbul dalam pikiran A Bin, bila dalam hutan itu ada

jebakan, adik Innya pasti dalam keadaan bahaya, atas

pertimbangan itu, maka dia melupakan dirinya juga dalam

bahaya, perlahan dia meloncat ke bawah, men-injak daun

yang berserakan di tanah, pelan-pelan maju ke depan,

berkat ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, maka

langkahnya tidak menimbulkan suara.

Sambil jalan A Bin mengawasi keadaan sekitarnya, lalu

terdengar suara teriakan nyaring dari ruang utama kuil itu,

jelas itu teriakan dari mulut In Hong-tai, A Bin sangat

terkejut, segera menebus ranting pohon menuju dimana

suara itu berasal. Hanya berjalan sekitar tiga tombak, daun

bambu di depannya sudah agak berkurang dan hampir

keluar lingkaran hutan bambu.

Keluar dari hutan, ternyata A Bin berada di samping

ruangan utama kuil, sebuah bangunan kuning emas yang

gemerlapan, sangat agung dan hikmad, tidak tampak ada

yang mencurigakan, hanya saja sangat sunyi. Memang

tempat orang petapa biasanya demikian.

Dalam remang-remang embun malam, A Bin meneliti

sekeliling kuil, tidak terlihat sedikit jejak yang

mencurigakan, dalam hati A Bin berpikir mungkin adik In

nya sudah masuk kedalam kuil, maka A Bin pun masuk

juga ke ruang utama kuil tanpa ada waktu mengagumi

megahnya bangunan kuil.

Begitu masuk pintu gedung utama A Bin tercengang,

pertama yang dia lihat dilantai ruang tengah, dibawah

patung guru Sam-ceng-sian-jin (Thio Sam-hong), ada

sekelompok pendeta To kurang lebih sepuluh orang sedang

Dewi KZ 105

mengelilingi dengan bentuk setengah bulat, duduk

bersemedi tanpa menghiraukan orang luar.

A Bin merasa aneh, yang dia tahu jarang ada tosu duduk

bersemedi di bawah patung guru pendiri Sam-ceng-siangjin,

apa sebabnya?

Tiga guru A Bin Han-yu-sam-lo bukan dari golongan

agama, tetapi mereka juga memakai baju tosu, maka A Bin

menghormati mereka memberi salam sambil

membungkukkan tubuh, memohon maaf atas kedatangan

dia tanpa ijin.

Para tosu itu seperti patung dari batu saja, tidak ada

reaksi atas kedatangan A Bin, sepertinya tidak mengetahui

ada orang masuk ruangan.

Karena A Bin tidak bisa bicara, hanya diam berdiri di

tempat diterangi sinar lilin, dengan sepasang matanya

memperhatikan para tosu yang sedang bertapa. Sesudah

lama timbul rada curiganya, dia merasakan tosu itu terlalu

kaku, seperti bukan orang hidup saja, maka dia melangkah

maju lebih memper-hatikan.

Lama memperhatikan, timbul pertanyaan dalam hati A

Bin, apakah mereka hidup atau mati? Karena tidak melihat

mulut atau hidung mereka bergerak menghirup udara.

Dengan tidak sabar, dia meraba tubuh seorang tosu yang

duduk paling dekat, ternyata suhu badannya sudah turun,

seperti gejala baru mati

Dengan hati berdebar A Bin memeriksa yang lainnya,

ternyata semua tosu juga hampir habis suhu hidup

tubuhnya, kelihatan mereka dalam waktu bersamaan

meninggal sebelum A Bin datang kekuil ini, A Bin meneliti

lagi, tidak ada luka di tubuhnya, entah bagaimana cara

meninggalnya.

Dewi KZ 106

Menemukan hal yang aneh ini, A Bin lebih

mengkhawatirkan nasib Hong-tai. Dia melirik sekeliling

ruangan, sudah tidak ada jejak lain, maka segera dia keluar

dari ruangan mencari ke tempat lain.

Baru saja dia berbalik menuju pintu ruangan sekitar dua

tombak, terlihat satu bayangan putih masuk ke dalam

gedung, berdiri di depan tosu-tosu yang telah meninggal.

A Bin berdiri melihat, ada seorang orang tua berbaju

putih, sepatu putih dan rambut kumisnya putih semua, di

terang sinar lilin, orang ini tinggi besar bermuka gagah,

sayang punya hidung seperti burung elang hingga wajah

orang berbaju putih putih ini jadi seram, tetapi rambutnya

dibentuk seperti ikatan tosu, potongan baju dan ikatan

rambut yang tidak serasi ini, jadi susah ditebak orang ini

tosu atau orang biasa?

Begitu masuk orang tua yang berbaju putih melihat pada

sepuluh orang yang duduk kaku, lalu menginjakkan kakinya

ke lantai dengan keras, dan berkata seperti menyesal:

“Aku terlambat datang selangkah!”

Dia seperti tidak peduli, tidak memandang A Bin yang

berdiri tidak jauh darinya. Diterangi sinar lilin, mata A Bin

yang berwarna sukar diketahui orang, A Bin begitu muda,

bajunya mewah bagaikcin anak orang kaya, tidak tampak

sebagai orang dunia persilatan, hingga jarang diperhatikan

pesilat-pesilat tangguh.

Lain buat A Bin, sejak orang tua berbaju, putih ini

masuk, dia ingin mengetahui perkembangan selanjut-nya,

maka dia diam di tempatnya, tapi timbul banyak

pertanyaan dalam hatinya, tempat apa kuil ini? siapa tosutosu

yang duduk kaku ini? dengan cara apa mereka

dibunuh? Dan siapa orang tua berbaju putih ini? Dan yang

paling membuat A Bin tidak mengerti, ketika orang tua itu

Dewi KZ 107

memperhatikan para tosu yang kaku hanya tampak

penyesalan tetapi tidak tampak kesedihan.

Orang tua berbaju putih itu sedang memperhati-kan satu

persatu tosu yang telah mati, berkata sendiri:

“Kelihatan para tosu ini mati karena racun yang dahsyat,

tetapi badannya tidak ada luka, kenapa?”

Sejenak dia ragu-ragu, mendadak dia dapat pikiran, dia

segera melihat kepala tosu tersebut, ternyata diikatan

rambut tosu itu terdapat satu jarum emas yang sangat kecil.

Dari jauh A Bin melihat kejadian itu, dia merasa malu

karena pengalamannya di dunia persilatan ternyata masih

sedikit, tadi waktu dirinya memeriksa tosu itu, tidak

terpikirkan di bawah ikatan rambut bisa terselip satu senjata

rahasia berupa jarum emas kecil.

Orang tua berbaju putih itu yang menemukan jarum

emas kecil diikatan rambut jenasah pendeta To, tampak

sedang diperhatikan di ujung jarinya, sambil termenung.

Bersamaan waktu itu, masuk tiga orang berbaju hitam

yang roman mukanya mengerikan, penuh dengan hawa

setan.

Orang tua berbaju putih itu segera membalikkan tubuh,

memperhatikan mereka sejenak, tanpa bereaksi apapun,

diam di tempat.

Ketiga orang berbaju hitam itu diam-diam meloncat

menuju tempat orang tua berbaju putih, setelah dekat

kurang lebih dua kaki, mereka segera meloncat lagi ke

pinggir, gerakannya cepat bagaikan bayangan setan, posisi

ketiga orang berbaju hitam menempati tiga penjuru,

mengepung orang tua berbaju putih itu dalam kurungan.

Dewi KZ 108

Orang tua berbaju putih itu tetap diam, hanya dengan

sepasang matanya memperhatikan mereka, tetapi dari sinar

matanya waspada, terlihat juga dia tidak berani

menganggap enteng orang tersebut.

Kedua pihak seperti patung batu saling pandang, tidak

ada seorangpun yang bicara, tanda-tanda membuka

kebisuan juga tidak dilakukan.

Sejak A Bin masuk ruangan ini, yang dilihat dan

didengar makin menarik, keingintahuan selanjutnya

membuat dia untuk sementara melupakan tugas mencari In

Hong-tai, tetapi ditempatnya memperhatikan situasi.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian, satu diantara

orang berbaju hitam menggunakan tangan menunjuk tosutosu

yang terpaku di lantai, selanjutnya menunjuk orang tua

baju putih dengan muka garang, seperti menanyakan tosu

itu apa dibunuh orang tua berbaju putih.

Orang tua baju putih itu tidak sudi menjawabnya, hanya

tertawa sinis sambil geleng-geleng kepala.

A Bin yang melihat dipinggir merasa geli juga, apa

mungkin tiga orang baju hitam itu seperti dia, bisu juga,

ditambah tuli, membuat A Bin mereka-reka kenapa mereka

diam saja.

Ketiga orang baju hitam itu sepertinya tidak percaya atas

jawaban orang tua baju putih, salah satu diantara orang itu

membalikkan tubuh menghampiri mayat tosu itu, seperti

orang tua itu berbaju putih dia memeriksa mayat itu tapi

tidak mendapat hasil apa-apa.

Sedang dua orang baju hitam lainnya tetap mengawasi

orang tua berbaju putih, mengawasi jangan sampai dia

menyerang.

Dewi KZ 109

Orang baju hitam yang memeriksa mayat tosu seperti

tidak sabar, beberapa kali menggeladah tanpa hasil

amarahnya jadi meledak, dengan angin telapak tangannya,

dia mengebut mayat-mayat tosu itu, tidak perlu waktu

lama, sudah setengah mayat tosu pada roboh ke lantai,

rambut, bajunya berantakan, membuat suasana mengerikan

dalam ruangan.

Orang marah itu kebetulan berpapasan mata dengan A

Bin, dia jengkel melihat mata A Bin yang mengawasi

perbuatannya, dalam tenggorokannya keluar bunyi seperti

suara gorila marah, ingin berbuat sesuatu terhadap A Bin.

Dua orang baju hitam lain tampak lebih sabar, melihat

situasinya, mereka merasa musuh yang perlu diawasi

adalah orang tua yang berbaju putih, buat apa pedulikan

anak kecil yang kelihatan tidak ada apa-apanya, mereka

segera mengeluarkan isyarat butiran beras yang dilepaskan

dari ujung jarinya, menghalau temannya untuk kembali

ketempat semula.

Orang tua berbaju putih itu menggunakan kesempatan

tiga orang baju hitam itu sedang lengah, dengan sekali

tertawa dingin, dengan cepat melesat ke depan dua orang

baju hitam yang jaraknya kurang lebih dua kaki

menggunakan kedua tangannya, menyerang mereka di

bagian tiga titik penting tubuh manusia.

Kedua orang itu sebetulnya sudah waspada pada orang

tua berbaju putih, karena kelalaian sejenak, sehingga

mengundang orang tua itu menyerang mereka, berkat ilmu

meringankan tubuhnya cukup tangguh, mereka dapat

menghindar.

Begitu kedua orang baju hitam itu terdesak orang tua

berbaju putih menggunakan kesempatan, bergerak maju

lagi, kedua telapak tangannya saling bergantian

Dewi KZ 110

mengeluarkan angin kencang, dalam satu jurus sudah

menyerang kedua orang lawannya.

Kedua orang baju hitam mengetahui mereka telah

bertemu lawan berat, maka empat tangannya bersamaan

digerakan untuk menyelamatkan diri, menutup tempatempat

penting di tubuhnya sambil mundur, temannya yang

berhadapan A Bin segera merobah siasatnya, dengan satu

loncatan balik, dia sudah mendekati orang berbaju putih,

lalu menusuk punggung orang tua berbaju putih, membantu

temannya yang terdesak.

Ternyata kepandaian orang yang berbaju hitam itu cukup

hebat, tenaga jurusnya pun sangat dahsyat, tapi orang tua

yang baju putih itu masih tetap tertawa sinis, tubuhnya

melesat sedikit kesamping, lalu mengeluarkan telapak

tangan kiri menghadang orang yang berbaju hitam yang ke

tiga, bersamaan kedua telapak tangan merobah jurusnya

dengan cepat, terlihat tenaga dari jurus telapaknya

mengeluarkan angin keras dan geledek.

Jurus ini bukan saja mengandung pertahanan yang kuat

juga menyerang tiga orang dengan tenaga bertambah besar,

bagaikan tenaga halilintar yang sangat dahsyat, bergulunggulung

diudara.

Dari tiga orang baju hitam itu, hanya satu orang yang

bisa menyerang tetapi dia tidak menyangka orang tua yang

berbaju putih itu bisa menambah tenaganya berlipat lipat,

sementara dia jadi tidak berdaya, yang dua temannya lagi

masih di bawah tekanan lawan, dan sekarang setelah

bertemu dengan tenaga kuat seperti gunung runtuh, mereka

tidak bisa bertahan lagi, bersama-sama mundur kebelakang,

kedua telapak tangan mereka mengeluarkan jurus untuk

melindungi diri sendiri, menutup rapat rapat tempat-tempat

yang berbahaya, tetapi orang tua baju putih itu terlalu

kuatbuat mereka, dia terus mengejar kedua orang baju

Dewi KZ 111

hitam itu mendesak hingga mundur beberapa langkah dan

tangan mereka mengeluarkan lima jurus, dan beruntung

setelah orang ketiga berusaha mati matian menyerang orang

tua baju putih dengan jurus berbahaya untuk membatasi

sebagian tenaga orang tua itu, mereka baru bisa menahan

satu jurus saja.

Orang tua baju putih itu sambil tertawa sinis sambil

melambaikan kedua telapak tangan, terlihat dua arus tenaga

menyerang ketiga orang baju hitam, sebentar diatas

sebentar dibawah, kadang di depan lalu berobah di

belakang, kecepatan jurusnya jarang terlihat di dunia,

dalam seekejab mata saja dia sudah menggunakan sepuluh

jurus lebih.

A Bin melihat di pinggir, dia tahu bahwa orang baju

putih dan lawannya mempunyai ilmu tinggi dan mereka

sangat mahir menggunakan jurus. Tetapi orang tua baju

putih ini kelihatan lebih tinggi setingkat dari tiga lawannya,

kebetulan dia dapat merebut inisiatif menyerang dulu di

waktu tiga lawannya terpencar pikiran mereka, sehingga

dua lawannya hanya bisa bertahan, bila betul betul ketiga

orang itu bersatu, orang tua baju putih itu juga tidak akan

begitu gampang menang.

Sedang asyiknya ABin berpikir, terlihat baju ketiga orang

baju hitam itu terlayang layang, sepertinya mereka berada

diatas puncak bukit terkena terpaan angin, jurus orang1 tua

itu lebih cepat, maka tenaga anginnya makin keras.

Selang bertarung sesaat, orang tua baju putih itu

menambah lagi tenaga serangannya, maka ketiga lawan-nya

seperti terkurung dalam lingkaran badai, sehingga membuat

lawannya kelabakan, selain yang dikiri, kedua orang yang

sudah berat bertindak, sudah berada dalam keadaan

bahaya, belum lagi lewat lima jurus, salah seseorang sudah

Dewi KZ 112

meingis kesakitan karena terkena pukulan, dan tubuhnya

jatuh terpental beberapa tombak.

Kedua orang baju hitam lainnya bersamaan terkejut,

melihat temannya terluka, sehingga jurus mereka makin

kacau, tampak sekali siapa yang akan menang dalam

pertarungan ini sudah jelas.

Tetapi orang tua baju putih itu malah memper-lambat

serangannya, dan matanya melihat-lihat kearah pintu

gedung.

Bersamaan itu A Bin juga melihat dari luar gedung

datang lagi tamu tidak diundang. Orang ini bermuka bengis,

dari gerakannya terlihat ilmu silatnya sangat tinggi, lebih

tinggi dari ke empat orang yang bertarung.

Kelihatan orang tua baju putih dan dua orang baju hitam

itu merasa gentar pada tamu yang baru datang itu, sehingga

mereka bersamaan berhenti berkelahi dan memandang

orang itu.

Orang itu memandang orang tua baju putih, tertawa

dengan sinis, katanya:

“Po-heng datang duluan……” mata angkernya

memandang sejenak para tosu yang duduk dan tertelungkup

dilantai berkata lagi, “Kelihatannya Po-heng sudah

berhasil!”

Orang tua baju putih itu menyembunyikan rasa takutnya,

dengan muka dingin berkata:

“Kongsun-heng adalah orang kuat nomor satu di negeri

barat, apa pantas berkata ceroboh demikian, apa kau tidak

melihat para tosu itu telah terkena oleh pukulan tiga Tuli

dari Bu-ie, dan mereka yang mati kaku bukan karena

tangan aku. He he! Hal ini, aku ingin mencoba ilmu

Dewi KZ 113

Kongsun-heng, mohon kau teliti, mereka mati karena jurus

apa?”

Orang tua Kongsun biarpun telah dilecehkan dan

disindir oleh orang tua baju putih, tetap tidak berobah

roman mukanya, hanya dalam sepasang mata-nya terpancar

niat membunuh, dengan masih tertawa dingin dia. berkata:

“Bila Po-heng ingin mencoba ilmuku, aku menurut saja!”

Habis bicara, dia langsung mendekati salah satu tosu

yang duduk kaku, melihat dari kedua tangan, punggung

tosu itu dengan teliti, tidak bersuara, kelihatan ada masalah

yang menyulitkan.

Orang tua baju putih Po tidak melepaskan kesempatan

ini, dia menyindirnya, beberapa kali tertawa sinis berkata:

“Kelihatan punya nama tersohor, orang bijak berhati ular

Coa-sim-cu-kat (Orang pintar berhati ular) Kongsun-heng,

kali ini juga……”

Kata-katanya belum selesai, terlihat mata orang tua

Kongsun seperti menemukan sesuatu, segera dia tertawa

terbahak-bahak:

“Po-heng jangan gembira dulu, aku telah menemukan

titik luka tosu-tosu itu!”

Dengan tertawa bangga dia mengeluarkan tangan

membuka ikatan rambut tosu, dengan teliti memeriksanya.

Orang tua baju putih Po merasa malu sendiri, diri sendiri

lupa membereskan kembali rambut tosu itu, Saat

mengambil jarum emas pada kepala mereka, orang yang

mempunyai nama Coa-sim-cu-kat, pasti bisa menemukan

jejak.

Dewi KZ 114

Betul juga Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau segera

menemukan luka diatas kepala tosu. Dengan tertawa riang

berkata:

“Ternyata tosu-tosu ini mati karena jarum racun, luka

kecil ini selain jarum terbang, tidak ada senjata rahasia lain

yang bisa melakukan, melihat di dunia persilatan yang bisa

menggunakan ilmu jarum terbang tidak seberapa banyak

orang, tetapi dalam waktu sangat singkat mengambil nyawa

tujuh belas tosu di kuil Cu-sia, hanya bisa dihitung dengan

jari saja. Yang aku tahu, Sin-jiu Jiu-kim-ciam, Oey Hosung1

(Dewa tangan jarum emas.) adalah orang pertama,

tetapi ilmu melepaskan jarum dia selalu tidak beracun,

pilihan kedua adalah Tiat-ci-nio-cu Pian Giok-ih, tetapi

nenek ini sudah sepuluh tahun tidak muncul di dunia

persilatan, dan dia tidak akan kemari, mencari gara gara

kepada para tosu tua ini. Dan beberapa orang lagi tapi

belum sampai tingkat sedemikian tinggi, tahun-tahun yang

lampau Po-heng sudah mendapatkan jarum-jarum emas itu.

“Bila tidak keberatan, aku ingin pinjam lihat sebentar

jarum emas itu. Aku bisa menduga sekitar delapan puluh

persen, siapa orangnya!”

Orang she Po sekali lagi tertawa sinis, katanya:

“Baik! Bila Kongsun-heng berkata demikian, aku berikan

jarum emas itu, silahkan periksa!” dan dia menggoyangkan

tangan kanannya, sepuluh lebih jarum emas berbentuk jala

emas menyerang seluruh tubuh Kongsun Pau.

Dia menggunakan cara yang sangat sempurna, asal

terkena satu saja jarum emas itu, lawannya akan seperti

tosu-tosu itu segera mati ditempat.

Mengetahui lawannya sering berbuat licik, maka

Kongsun Pau selalu berjaga-jaga, disaat lawan menggoyangkan

tangan kanannya, dia sudah membuka kedua

Dewi KZ 115

lengan bajunya mengeluarkan tenaga berputar, sehingga

jarum emas yang bertebaran menyerang langsung masuk ke

dalam lengan baju.

Jurus yang digunakan Kongsun Pau, dinamakan Ban-liucui-

tong, (selaksa aliran kembali ke asalnya) jurus ini

membuat bengong orang-orang yang ada di dalam gedung,

orang tua baju putih, tiga bisu dari gunung Bu-ie, dan A

Bin, terkejut dengan ilmu silat Kongsun Pau yang

sempurna.

Kongsun Pau sudah menduga, bila jarum emas beracun

itu bertemu darah pasti akan mengunci tenggorokan, tetapi

jika mengenai kulit saja tidak akan apa-apa, maka dari

lengan bajunya dia mengeluarkan satu jarum emas, sambil

tertawa sinis mengejek:

“Tadi aku telah salah bicara, aku belum mengetahui

dunia ini ternyata masih ada satu orang yang bisa

menggunakan ilmu jarum emas sedemikian sempurna,

itulah Po-heng.” Sambil bicara, matanya melirik jarum yang

dipegang jarinya, dengan tertegun bersuara, “Ih….”

Orang she Po, A Bin dan tiga bisu dari gunung Bu-ie

memandang orang tua Kongsun yang mukanya tampak

heran atas penemuannya.

Kongsun Pau membolak balik melihat dua kali jarum

emas beracun itu, lalu berkata terbata-bata:

“Jarum emas ini ternyata bukan benda yang digunakan

orang-orang yang disebut tadi, dan………” dia tidak

melanjutkan perkataan malah berteriak kearah luar gedung,

“Teman dari mana! Bila sudah datang terus-terang saja

keluar bertemu kita, apa…….”

Perkataannya belum habis, di luar gedung telah bergema

ucapan budha, bersama suaranya tampak seorang hweesio

Dewi KZ 116

melayang masuk, semua orang terkejut melihat kedatangan

hweesio besar ini.

Orang ini mukanya agak aneh, kepala besar seperti lebar

daun pisang, kupingnya panjang hampir menyentuh bahu,

matanya agak masuk ke dalam kelopak mata, sepasang

mata bercahaya, semangat penuh, mukanya penuh dengan

tertawa dan hawa seorang beragama tinggi, tetapi tidak bisa

menutupi aura sadis dalam pandangan sepasang matanya.

Jurus lompatan yang cepat, orang susah melihat dia

dengan jurus apa dia masuk gedung, baju jubah yang besar,

tetap tidak bergoyang sedikitpun.

Kongsun Pau menenangkan pikiran, lalu berkata dengan

nada aneh:

“Bu-ih Taysu juga mau menampakan diri.” kuil Cu-sia

ini harus bangga menerimanya.

Bu-ih Taysu tertawa terbahak-bahak, katanya:

“Aku dari aliran agama, tetapi memperdalam ilmu

agama lain dengan pendeta biasa, tidak pantang segala tetek

bengek duniawi, semasa hidup senang mencari tempat

ramai. Bila kuil Cu-sia hari ini ada Coa-sim-cu-kat (Orang

pintar berhati ular) Kongsun Pau, Po Kong-hoo, tiga tuli

she Sung dari gunung Bu-ie, sudah pantas disebut pesta

besar, aku datang kesini juga tidak sia-sia.”

A Bin yang mendengar kata-kata mereka, menjadi

panasaran karena dianggap remeh Bu-ih Taysu sebagai

salah satu jagoan dari dunia persilatan, nama-nama

Kongsun Pau, Po Kong-hoo, dan tiga tuli dari Bu-ie-san

sudah termasuk pesilat-pesilat tinggi dan ternama didunia

persilatan, tapi kenapa mereka datang kekuil Cu-sia, dan

siapa yang melepaskan jarum emas beracun pada tosu-tosu

kuil ini, kemungkinan ada sesuatu gairah yang mengundang

Dewi KZ 117

mereka datang kekuil ini, Dipikirkan lagi oleh A Bin, siapa

yang menaruh obat bius ke kamar Hong-tai di malam hari,

yang akan mencelakakan penghuni hotel Su-hai, dia

kelompok orang jahat yang mana? Apa ada hubungan

dengan tosu-tosu di kuil Cu-sia ini?

Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau sudah menduga

kedatangan Bu-ih Taysu tidak bermaksud baik, untuk

mengusirnya tidak cukup dengan sepatah dua patah kata,

jika rahasia kuil Cu-sia ini sampai bocor keluar, dalam

waktu lama, entah berapa banyak lagi jagoan-jagoan di

dunia persilatan yang akan berbondong bondong datang ke

kuil ini, maka timbul rencana dalam pikiran ingin dengan

siasat menghalau harimau mener-kam srigala, mengadu

donba orang lain, membuat dia sendiri mendapatkan

manfaat.

Orang yang mendapat julukan orang pintar siasat dari

daerah barat, Kongsun Pau menampilkan tertawa sinisnya,

katanya:

“Kalau demikian, Bu-ih Taysu datang kesini, sama

seperti maksud kita orang, ada sesuatu yang diinginkan,

tetapi sayang anda terlambat selangkah.”

Bu-ih Taysu telah mengetahui bahwa Kongsun Pau

punya banyak akal licik, maka dia tidak terlalu percaya

pada ucapannya, maka dengan tidak tampak antusias

berkata:

“Aku ingin mendengar orang mana yang mendahului

kita, mendapatkan buku silat dari Tiat-hoan-lo-to, dan

membunuh sepuluh orang lebih tosu disini untuk menutup

mulut-mulut mereka, supaya rahasia tidak bocor?”

Kongsun Pau dengan mata berkedip, tertawa licik:

Dewi KZ 118

“Sayang aku juga terlambat datang, hal ini lebih baik

tanya pada Po-heng atau tiga tuli dari Bu-ie-san!” sementara

itu seorang yang terluka dari tiga tuli sedang beristirahat,

sedang yang dua lagi tidak bisa mendengar-kan perkataan

orang, tetapi mengeti dari gerakan mulut orang, tiga

bersaudara sudah mengetahui Bu-ih Taysu ini susah

dilayani, dia adalah musuh yang paling berat, di depan

matanya mana mau membuat dia curiga, maka mereka

membuang pandang-an mata pada muka Po Kong-hoo.

Pandangan mata tiga bersaudara tuli itu memberi isyarat

bahwa Po Kong-hoo adalah orang pertama masuk gedung,

menjadi tersangka penbunuh tosu-tosu dan yang mengambil

buku ilmu silat itu. Bu-ih Taysu tidak bicara, hanya

memandang sejenak muka Po Kong-hoo dengan mata

tajamnya.

Orang tua baju putih Po Kong-hoo merasa dingin ketika

dilirik sejenak oleh Bu-ih Taysu, dalam hatinya berkata

jangan cari masalah dengan hweesia ini, dia memaksakan

batuk sedikit, merobah sifat dingin yang ada sejak masuk

gedung, terpaksa dia berkata:

“Memang betul aku yang pertama masuk gedung ini,

tetapi puluhan tosu disini sudah di bunuh orang duluan

oleh jarum emas, bila Tay-suhu tidak percaya, ada dua hal

yang bisa jadi saksi. Satu adalah yang telah mengambil

jarum emas diatas ikatan rambut tosu-tosu itu, sekarang

jarum itu dipegang oleh Kongsun-heng, dan satu hal lagi

adalah anak muda yang berdiri disana yang lebih dulu

datang ke gedung ini, dia bisa menerangkan bahwa katakataku

tidak bohong.

Sambil bicara Po Kong-hoo menunjuk pada arah A Bin.

Pandangan mata semua orang melirik ke A Bin.

Dewi KZ 119

Bu-ih Taysu tercengang juga, segera melirik seluruh

tubuh A Bin, dengan suara terpendam berkata:

“Anak muda, kau datang kekuil ini untuk apa? Siapa

yang suruh kau datang kesini?”

A Bin sudah menebak Bu-ih Taysu ini orangnya sadis,

biarpun kata-katanya sopan, tetapi sinar matanya

memancarkan jiwa garangnya, diam-diam dia musatkan

tenaga dalam untuk menjaga diri.

Bu-ih Taysu menyaksikan A Bin tidak menjawab, dikira

dia betul-betul berani membangkang, mukanya tambah

berseri-seri, semua orang tahu bahwa semakin hweesio iblis

ini tertawa, niat membunuhnya makin besar, menduga dia

akan segera mencelakakan A Bin, mereka sebagai jagoan

silat mana ada jiwa iba menolong yang kecil dan lemah,

tapi melihat niat jahat Bu-ih Taysu semua jadi diam, tidak

berusaha sedikitpun.

Bu-ih Taysu sebagai jagoan ternama, jarang ceroboh

dalam bertindak, sambil menghampiri A Bin, sambil melirik

A Bin dari atas kebawah, hingga dalam cahaya sinar lilin

dia melihat mata A Bin yang bermata hijau, baru dia

terkejut dan berhenti melangkah.

Hweesio iblis ini melalui pandangan mata hijau A Bin,

mengetahui bahwa anak muda ini bukan orang

sembarangan, dan terpikir kembali, kenapa anak muda ini

didepan jagoan-jagoan dunia persilatan begitu tenang, pasti

dia punya sesuatu andalan, dilingkungan banyak lawanlawan

yang tangguh, tosu ini tidak mau berbuat konyol,

gegabah berbuat sesuatu, sehingga memberi kesempatan

pada lawan.

Maka ditempat yang dia berdiri, memalingkan setengah

posisi badannya, sambil tertawa sinis berkata pada semua

orang dalam gedung,:

Dewi KZ 120

“Kalian semua adalah jagoan dari dunia persilatan, tetapi

hari ini mata kalian telah tertutup, sehingga tidak melayani

tamu agung di depan mata.”

Semua orang sudah tahu bahwa Bu-ih Taysu sudah

berpengalaman, ilmu silatnya tinggi, pengetahuan dan

akalnya lebih tinggi dari semua orang yang ada dalam

gedung, bila tidak yakin betul, dia tidak akan sembarang

bicara yang akan ditertawai orang lain, maka penilaian dia

terhadap A Bin, membuat semua orang melihat A Bin

dengan muka bengong.

Dalam hati A Bin memarahi hweesio iblis itu, karena

cerdik dan teliti telah mengetahui dirinya berilmu tinggi.

Tetapi Bu-ih Taysu tidak berani menempuh resiko

menantang A Bin, maka berusaha mengadu domba pesilat

lain, agar menghadapi A Bin agar dapat mengambil

keuntungan.

Ternyata tebakan A Bin betul, Bu-ih Taysu sambil

tertawa dingin berkata lagi:

“Tamu agung kita ini lebih pagi datangnya dari saudara

Po, bila dia bukan orang yang menggunakan jarum emas

itu, jadi susah mengetahui siapa yang berbuat?”

Po Kong-hoo ingin cepat mencuci namanya, tidak

percaya A Bin anak muda begini, bisa menpunyai ilmu

lebih tinggi dari pada dirinya, sebagai ketua perguruan,

maka tubuhnya menghampiri A Bin, sambil membentak:

“Bocah, cepat katakan segala yang kau ketahui!”

A Bin tidak senang melihat tingkah laku Po Kong-hoo

sebagai ketua perguruan silat, malah takut pada yang kuat

menghina yang lemah, maka A Bin tidak melayani orang

tersebut, hanya memandang dingin saja.

Dewi KZ 121

Po Kong-hoo sebagai seorang ketua perguruan yang

punya ilmu tinggi melihat A Bin begitu tangguh dan acuh

saja, malah terkejut juga, tidak berani berbuat gegabah, dia

berhenti melangkah, dan nada katanya lebih lunak berkata:

“Kau datang lebih duluan dari aku, semestinya tahu

siapa yang melepaskan jarum emas membunuh tosu-tosu

ini, kau pasti mendengar nama-nama kami, kau harus tahu,

di depan kita orang tidak boleh berbohong, lebih baik cepat

jelaskan!”

Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau melihat ada kesempatan,

dia berbicara mengadu domba:

“Adik cilik, apa kau tahu yang bertanya padamu adalah

ketua Heng-san-pay yang tersohor namanya kakek putih Po

Kong-hoo, Po-tayhiap, kau hati-hatilah bicara, jangan

sampai dia marah!”

Perkataan Kongsun Pau yang penuh nada adu domba

dan sindiran, terang-terangan ditujukan pada A Bin, tetapi

arti ucapannya menyindir Po Kong-hoo apa berani

bartanding dengan A Bin.

Po Kong-hoo biarpun takut bertindak, tapi di Hadapan

anak muda yang belum punya nama dia tidak boleh

memperlihatkan sikap ragu-ragu dan rasa takut, dengen

nada sinis berkata:

“Kongsun-heng sengaja membuat aku marah pada anak

muda ini supaya bertarung, agar kau dapat keuntungan,

tetapi ingat! disini masih ada Bu-ih Taysu, tidak akan

membiarkan kau meraih keuntungan.”

Sudah jelas kata Po Kong-hoo itu mengisyarat-kan pada

Kongsun Pau, lawan yang paling berat adalah Bu-ih Taysu,

kau sengaja supaya orang lain bertarung, akhirnya kau juga

bukan lawannya Bu-ih Taysu, buat apa berpikiran begitu.

Dewi KZ 122

Dia mengisyaratkan juga pada Bu-ih Taysu, bahwa

Kongsun Pau orangnya sangat licik.

Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau dan Bu-ih Taysu adalah

orang -orang yang tidak gampang naik darah, kata-kata Po

Kong-hoo telah menyentuh hati mereka.

Tetapi kedua orang ini tidak memperlihatkan pikiran

dalam hati di tampilkan di wajahnya, dua-duanya saling

tertawa, Kongsun Pau berkata duluan:

“Po-heng bermaksud mengadu domba persaha-batan aku

dengan Tay-su?”

Bu-ih Taysu juga tertawa sinis berkata:

“Po Sicu, lebih baik selesaikan dulu pekerjaan di depan

mata, kau pasti sibuk melayani orang, mana bisa perhatikan

lagi pada aku dan tuan Kongsun.”

Kata hwesio iblis itu sudah jelas mengisyaratkan Po

Kong-hoo belum tentu bisa melawan A Bin, kata ini

membuat Po Kong-hoo terkejut dan marah. Terkejutnya

karena dia apa betul salah lihat anak muda yang dari tadi

diam saja, tetapi bagi seorang pesilat tinggi, marah karena

kata-kata Bu-ih Taysu terlalu jahat, membuat dia terpaksa

bertarung dengan A Bin.

Karena terdesak oleh situasi, biarpun lawannya

setangguh Bu-ih Taysu, Po Kong-hoo juga harus turun

tangan juga, yang jelas dia tidak percaya bahwa A Bin

betul-betul hebat.

Ketua Heng-san-pay ini maju selangkah lagi, dengan

kedua matanya memperhatikan mata A Bin, dari bayangan

gelap terlihat mata A Bin yang hijau, Po Kong-hoo terkejut,

dalam hatinya merasa sedikit gentar.

Dewi KZ 123

Po Kong-hoo memusatkan tenaganya, dan berteriak

pada A Bin:

“Kau anak muda siapa gurumu? Datang kesini ada

maksud apa? Bila tidak cepat berkata, jangan salah-kan aku

berbuat kejam!”

Muka A Bin tetap dingin, tidak pedulikan ucapannya. Po

Kong-hoo sangat marah, berteriak lagi:

“Kau betul-betul kurang ajar, lihat pukulanku,

bagaimana rasanya!” Dia tidak berani menganggap enteng

lawannya, maka memusatkan tenaga dalamnya hingga

tujuh puluh persen, mengangkat telapak tangan kirinya

ingin memukul kepala A Bin, tetapi baru saja tangannya

diangkat, kepalanya merasa pusing, mata menjadi buram,

tubuh seperti mau jatuh, tangan yang diangkat tinggi seperti

tidak bertenaga lalu turun lagi dengan lemas, Po Kong-hoo

cepat-cepat memusatkan pernapasan karena sudah tidak

berdaya memukul lagi.

Orang-orang yang berdiri dibelakang Bu-ih Taysu, Coasim-

cu-kat Kongsun Pau dan tiga tuli dari Bu-ie-san

mengira kakek putih Po Kong-hoo terluka oleh senjata

rahasia A Bin, semuanya pada terkejut, A Bin punya senjata

rahasia sehebat apa, sehingga dalam satu jurus bisa melukai

Po Kong-hoo.

Semua orang iri pada A Bin, umurnya masih begitu

muda sudah menguasai ilmu sedemikian hebat, mereka

bersamaan ingin membunuh A Bin.

Mendadak terdengar suara tertawa sadis di salah satu

sudut ruangan:

“Kalian semua telah terkena racun Cap-poh-bi-hun-hiang

(Dupa lupa ingatan sepuluh langkah), cepat duduk bersila,

Dewi KZ 124

tunggu perintah, bila tidak mendengarkan perintah,

nasibnya akan seperti Po Kong-hoo.”

Kata-katanya sadis dan menakutkan, melebihi kata-kata

Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau, kata-katanya jelas, menusuk

telinga, membuat hati masing-masing merasa dingin.

Bersamaan waktu, terdengar suara benda jatuh “Bruk”

ternyata Po Kong-hoo sudah tidak tahan berdiri, seluruh

tubuhnya lemas, kakinya tidak bertenaga menopang

tubuhnya sehingga jatuh kelantai.

Jago-jago dari persilatan biasanya mempunyai

pandangan mata yang bagus, tetapi mereka tidak dapat

melihat jelas orang yang bicara tadi.

Mereka berpengalaman lama, mencoba merasa-kan

dengan hidung masing-masing, ternyata ada satu macam

bau wangi yang sangat ringan masuk ke hidung, bila tidak

diperhatikan susah mengetahui itu adalah racun.

Mereka mengartikan kata-kata orang tadi, Cap-poh-bihun-

hiang, pasti orang yang terkena racun dupa itu dalam

sepuluh langkah pasti ambruk. Contohnya Po Kong-hoo,

karena marah pada A Bin, ingin menghajar lawan dengan

gerakan berantai, mengakibatkan racun dupa itu menyerang

dengan cepat, sehingga dia lumpuh di tempat. Semua orang

pada ragu-ragu sejenak, lalu mereka diam tidak berani

bergerak sembarangan.

Suara dingin bagaikan angin dingin seperti es berkata

lagi:

“Saat kalian masuk kuil Sam-ceng-tiam telah kena racun

yang kami campurkan dalam api lilin, racun Cap-poh-bihun-

hiang tidak akan membuat kalian mati, tetapi bila

sembarangan bergerak, bisa langsung lumpuh tidak dapat

bergerak, seperti Po Kong-hoo, bila dalam satu jam tidak

ditolong, semua ilmunya akan musnah, dan selamanya

Dewi KZ 125

akan lumpuh total, bila kalian tidak percaya, coba masingmasing

bernapas, teliti lagi apakah dalam harum dupa itu

terdapat harum lain!”

Harum lain dari asap lilin, semua jagoan telah

menghirupnya, sekarang setelah dicoba lagi ternyata ada

rasa lain dari hisapan hidung, semua orang mengetahui

bahwa kata orang itu bukan sembarang gertak.

Dalam keadaan bahaya Bu-ih Taysu tetap ber-sikap

tenang, dia berbicara keras:

“Teman dari mana! Kalian begitu memperhati-kan kami,

pasti ada satu pesan, apa lebih baik kita bertatap muka, biar

kita bisa rundingkan dengan baik.”

Terdengar suara tertawa dan dingin:

“Kalian tenang saja, kita pasti bertemu, hanya ada dua

jalan untuk pilihan. Satu jalan potong kepala sendiri, satu

jalan lagi menyerah pada aliran kami Jian-kin-tiauw, patuh

seumur hidup tanpa membangkang.”

Semua jagoan dalam gedung mendengar kata-kata orang

itu, telah mengetahui bahwa musuh dalam sekeliling kuil ini

sangat banyak, mereka merasa aneh baru hari ini

mendengar nama Jian-kin-kau-tiauw, sebelumnya belum

pernah ada orang menbicarakan, tetapi cara menaruh dupa

racun itu adalah pekerjaan organisasi yang rapih, bila

ternyata tosu-tosu yang dibunuh oleh jarum emas juga

perkerjaan orang Jian-kin-kau-tiauw, itu pasti lebih

mengerikan.

Semua jago-jago itu adalah orang-orang telah banyak

makan asam garam, pintar menyesuaikan diri, tapi sekarang

saatnya tidak tepat menjadi jagoan, bila dengan kata-kata

kasar memancing musuh keluar dari persembunyiannya, itu

Dewi KZ 126

hanya mencari masalah, maka semua pada diam, tidak

menjawab.

Mendadak di ruangan terdengar suara tertawa keras yang

bergema bernada gembira.

Semua mata jagoan menuju sudut suara itu, terlihat

serombongan orang keluar dari sudut timur utara ruangan

gedung.

Jalan ditengah rombongan ada seorang berbadan sedang,

memakai baju panjang warna emas muda, mukanya dibalut

kerudung kepala warna emas, hanya terlihat sepasang mata

yang bersinar penuh, memancar-kan kecerdasan dan

kekejaman.

Dia diapit kiri kanan oleh empat orang berbaju perak,

mukanya juga ditutup kerudung berwarna perak.

Rombongan lima orang itu menghampiri tempat jagoanjagoan

berdiri, kelihatan orang berbaju emas sebagai

pemimpin dari1 mereka, sebelumnya jalan bersamaan,

kemudian ternyata empat orang baju perak ini pengawal

yang baju emas.

Tiga tuli dari Bu-ie-san paling ceroboh, diantara satu

orang itu menunggu rombongan lima orang lawan

mendekat, mendadak loncat dan lari kedepan, di waktu dia

loncat keatas sambil mengeluarkan pena perak dari

punggung dan dipegang ditangan.

Melihat ada orang meloncat keluar, seorang pengawal

baju perak di sisi kiri tertawa sinis, dia meloncat ke depan

juga, mulutnya membentak, telapak tangan kanannya di

dorong ke depan menghadang penyerang.

Ternyata satu orang tuli dari Bu-ie-san ini tidak bisa

menghindar, dada depannya terkena pukulan telapak, tanpa

Dewi KZ 127

sempat merintih sakit tidak dia sudah jatuh ke arah

belakang, ambruk dilantai.

Semua jagoan pada terkejut, dengan ilmu silat yang di

kuasai Tiga tuli dari Bu-ie-san, biarpun bertemu orang

berilmu tinggi di dunia persilatan juga tidak mungkn hanya

satu jurus sudah ambruk diserang lawan. Kemungkinan

racun dalam “Dupa lupa ingatan dalam sepuluh langkah”

telah bekerja sedemikian hebat.

Orang yang berbaju emas berkata dengan dingin, “Siapa

lagi yang mau bertindak, Tuli ini jadi contohnya!”

Semua jagoan pada miris, tidak ada orang yang berani

gegabah bertindak.

Lima orang yang berkerudung muka sama sekali tidak

melihat keadaan jagoan, pelan pelan melewati barisan

mereka, dengan santai lewat tanpa takut di serang secara

mendadak.

Bu-ih Taysu, Kongsun Pau dan Dua Tuli dari Bu-ie-san

melihat ketenangan lawan, makin tidak berani bertindak,

dan melihat seorang dari Tiga Tuli Bu-ie-san ambruk dalam

satu serangan, membuat mereka makin waspada, dan

membiarkan lima musuh dengan angkuh melewat di depan

mata, ternyata lima orang berkerudung muka itu menuju

tempat A Bin berdiri.

A Bin juga tidak mengerti, kenapa lima orang

berkerudung muka ini, tidak menghiraukan kehadiran

jagoan jagoan seperti Bu-ih Taysu, Kongsun Pau, malah

memperhatikan dirinya yang belum ternama di dunia

persilatan dan asal usulnya juga belum jelas.

Yang menyaksikan di tempat lain, Bu-ih Taysu Kongsun

Pau juga terkejut, menaksir A Bin sebagai orang penting.

Dewi KZ 128

Lima orang yang berkerudung muka berjalan menuju

tempat A Bin, kakek putih Po Kong-hoo yang terluka persis

menghalangi jalan mereka, salah seorang orang baju perak

menganggap dia ketua Heng-san-pay itu sebagai barang

bekas saja, dia langsung ditendang hingga satu kaki,

badannya terpuruk dilantai.

Bu-ih Taysu, Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau dan Dua Tuli

dari Bu-ie-san, semua orang tidak bersahabat dengan Po

Kong-hoo, tetapi melihat dia dipermalukan demikian,

didalam hati masing-masing timbul rasa iba (rasa seperti

musang menangisi kelinci mati), semua khawatir akan nasib

diri sendiri dibelakang nanti.

A Bin juga tidak suka dengan penampilan Po Kong-hoo,

tetapi karena dia terluka dulu oleh racun, bukan karena

ilmu silat dia tidak baik sehingga di hina orang lain, A Bin

marah, kedua mata melotot dengan marah pada lima orang

yang berkerudung muka.

Orang baju emas mengetahui A Bin sedang marah,

sambil tertawa sinis, berkata:

“Anak muda bisu, kau melihat kejadian yang tidak enak

ya? Kau sekarang juga tidak bisa apa apa, tapi masih ingin

membela orang? Kau benar-benar keterlaluan, ingin ikut

campur urusan orang lain, sebentar lagi kau akan dapat

perlakuan lebih buruk dari dia!”

A Bin merasa terkejut, semua jagoan di gedung ini masih

belum tahu dia seorang bisu, kenapa orang baju emas ini

malah tahu dia tidak dapat bicara, timbul curiga didalam

hatinya.

Terdengar kata orang baju emas itu: ‘”Anak muda bisu,

bila aku tidak jelaskan, takut kau jadi setan penasaran, kau

mesti tahu, aku ingin membunuhmu, karena kau telah

berbuat masalah dengan tamu agung aliran kita, sekarang

Dewi KZ 129

aku ingin mengambil kepalamu, agar tamu kita merasa

puas.” Mendengar kata kata itu, A Bin telah mengetahui

kira kira delapan puluh persen persoalan, orang baju emas

yang mengatakan tamu agung aliran dia, pasti cucu raja

Lok-houw Thio Kong-giok, entah cucu raja itu mengetahui

tidak tindakan orang ini, dan A Bin pun berpikir Hong-tai

juga dalam bahaya, atau juga telah masuk perangkap yang

digunakan Jian-kin-kau-kau.

Bersamaan orang baju emas tertawa sadis, mendadak dia

menjuruskan tangan kanan, memusatkan tenaga menotok

titik nadi kematian Ki-gan-hiat di dada A Bin.

Mendapat serangan itu, A Bin dengan gesit malah maju

selangkah mendekati orang baju emas itu, dengan tusukan

jari tangan bersamaan waktu telah menotok dua titik nadi

tenggorokan Lian-koan dan Cu-kong.

Gerakan A Bin sangat cepat dalam menotok dua pusat

urat nadi lawannya, tubuh orang baju emas itu melayang

jatuh, satu tangan A Bin segera memegang bahu dia, dan

satu tangan lagi merangkul pinggangnya dan diangkat,

sehingga membuat empat orang baju perak itu tercengang

dengan mata melotot, takut melukai pimpinannya, sehingga

mereka tidak berani bertindak.

Sebetulnya ilmu silat orang baju emas ini sangat tinggi,

tetapi dia tidak mengetahui bahwa tubuh A Bin menyimpan

benda penangkal racun Hiat-san-peng-can, biar pun terkena

racun dupa Cap-poh-bi-hun-hiang, dia tidak jadi masalah,

sehingga dia berbuat ceroboh, dan berhasil dilumpuhkan

oleh A Bin dalam satu jurus saja.

Melihat kejadian itu, Bu-ih Taysu, Kongsun Pau dan

Dua Tuli dari Bu-ie-san terangsang semangatnya,

diantaranya Satu Tuli sampai lupa daratan, ingin meloncat

menyerang orang baju perak, baru meloncat jarak dua kaki,

Dewi KZ 130

ternyata kedua kakinya lemas dan jatuh lagi dilantai,

jagoan-jagoan lainnya terperanjat, semua segera diam tidak

berani bertingkah.

A Bin pura pura melayangkan tubuh orang baju emas ke

arah empat orang baju perak. Keempat orang itu sedang

mencari kesempatan menyerang A Bin untuk menolong

orang baju emas itu, gerakan A Bin membuat mereka

bingung dan takut melukai teman sendiri, salah seorang

berkata dengan halus:

“Teman, kau sangat pintar menggunakan kesempatan,

dengan cara gelap menyandera ketua kelompok kita, kau

ingin apa, terangkan saja.”

A Bin berpikir sejenak dengan tangan kanan menunjuk

ke arah Bu-ih Taysu dan jagoan lainnya.

Orang baju perak yang tadi bicara lagi:

“Kau ingin orang-orang ini, gampang sekali, mereka

telah kena racun Cap-poh-bi-hun-hiang, bila ada niat

melawan, sedikit bergerak saja, akibatnya akan sama

dengan setan tua Po dan kedua orang Tuli itu, kalau begitu,

kau lepaskan dulu ketua kelompok kita, kita akan keluar

dari sini!”

A Bin geleng geleng kepala, dengan tegas sekali lagi

menunjuk Bu-ih Taysu dan lain lain orang, mata empat

orang baju perak tampak terperanjat, yang orang bicara tadi

berkata lagi dengan ragu ragu:

“Apa……apa kau ingin obat penawar racun buat

mereka?”

Bu-ih Taysu Cukat Su-sin Kongsun Pau dan Tiga Tuli

dari Bu-ie-san yang dalam detik-detik ini seperti tahanan

yang akan di eksekusi, juga dengan pandangan mata aneh

melihat A Bin, ternyata A Bin dengan tegas menganggukan

Dewi KZ 131

kepala, tanda betul minta obat penawar buat Bu-ih Taysu

dan lain-lainnya.

Keempat orang baju perak itu tidak berani membantah

karena ketua kelompok mereka masih ditangan A Bin, salah

seorang diantaranya agak ragu sejenak, terpaksa berkata:

“Di dalam kantong di pinggang ketua kita, ada satu botol

kecil yang si cat merah, terdapat obat penawar racun, tiap

orang makan satu butir obat tersebut, maka racun dupa itu

akan hilang. “

A Bin menggeledah kantong yang diikat di pinggang

orang baju emas, disana terdapat banyak botol kecil, di

ambilnya botol yang dicat merah, dengan jari dibuka cocok

botolnya, hidung A Bin mencium satu unsur wangi, berarti

omongan si baju perak itu betul, tanpa dipikirkan lagi,

segera melemparkan botol merah kecil itu ketangan Bu-ih

Taysu.

Bu-ih Taysu seperti mendapatkan harta karun, setelah

tertangkap botol kecil itu, segera menelan satu butir obat

penawar racun, dengan sedikit ragu, botol kecil itu langsung

dimasukan kedalam dada sendiri.

Melihat perbuatan Bu-ih Taysu, A Bin marah besar,

menyesal dirinya begitu ceroboh, tidak sangka orang orang

jahat ini mempunyai hati yang begitu licik, segala cara

sudah digunakan, sudah susah payah mendapatkan obat

penawar racun, ternyata dimakan sendiri oleh Bu-ih Taysu.

Dalam keadaan marah, A Bin meletakan orang baju

emas dilantai, meloncat menuju tempat Bu-ih Taysu berdiri.

Ke empat orang baju perak melihat ketua kelompok

mereka terlepas dari pegangan A Bin, mereka langsung

menolongnya, tetapi totokan khusus dari A Bin tidak dapat

dibuka oleh mereka, maka mereka tidak berani berdiam

Dewi KZ 132

lama-lama di gedung itu, langsung menggotong tubuh

ketuanya, segera meninggalkan tempat itu.

Sebelum tubuh A Bin sampai, Bu-ih Taysu telah

memusatkan tenaga dalamnya diseluruh tubuh, dia masih

tidak percaya tenaga dalam A Bin melebihi dirinya, dia

ingin mencoba beradu tenaga.

Begitu datang sapuan telapak tangan A Bin, Bu-ih Taysu

tetap berdiri di tempatnya mendorong dengan kedua telapak

tangan, dia sudah lebih dulu mengeluarkan tenaga

dalamnya, tubuhnya menghadang tekanan tenaga

lawannya. Tapi tubuh Bu-ih Taysu malah bergetar hebat

tidak bisa mempertahankan langkahnya, dia terdorong

sampai tujuh delapan langkah.

Tenaga telapak tangan A Bin hanya dalam satu dalam

jurus telah memaksa Bu-ih Taysu mundur tujuh delapan

langkah, membuatnya dan yang menyaksikan di pinggir,

Coa-sim-cu-kat dan Satu tuli dari Bu-ie-san jadi terkejut dan

berobah warna mukanya.

Mereka tahu betul Bu-ih Taysu adalah seorang hweesio

iblis yang licik, ilmunya berasal dari aliran Lohan kuil

Siauw-lim, dan telah dilatih sejak kanak kanak, tenaga

dalam dia berupa tenaga positif (yang) yang telah terkumpul

selama enam puluh tahun. Bila bukan orang yang punya

latihan tenaga dalam selama enam puluh tahun, tidak akan

tahan menerima pukulan Bu-ih Taysu, tetapi usia A Bin

belum sampai dewasa, bila bisa mendorong Bu-ih Taysu

sehingga terpaksa mundur sampai enam-tujuh langkah, ini

adalah hal yang tidak bisa dibayangkan oleh akal sehat.

Bu-ih Taysu yang mempunyai ilmu silat tinggi, setelah

mencoba ilmu silat A Bin yang umurnya masih kecil, tetapi

tingkatnya sudah demikian tinggi, dalam kegetaran hati dia

Dewi KZ 133

tahu diri, dia tahu tidak baik ber-musuhan dengan A Bin,

maka dengan terbahak bahak berkata:

“Aku hanya bergurau! Saudara jangan marah!”

Dan segera mengeluarkan botol kecil cat merah,

menyerahkan masing-masing satu butir obat kepada Coasim-

cu-kat dan satu orang Tuli dari Bu-ie-san, dan

dimasukan kemulut dua orang Tuli dari Bu-ie-san dan Po

Kong-hoo masing-masing satu butir obat penawar racun.

Tidak berapa lama, orang yang terjatuh dan telah makan

obat itu, pada bangun berurutan membuka matanya,

melihat botol kecil cat merah yang dipegang Bu-ih Taysu,

mereka merasa aneh, tosu iblis punya hati baik menolong

orang?

Po Kong-hoo tidak tahu kejadian A Bin menangkap

orang baju emas dan minta obat penawar racun dupa

tersebut, begitu buka mata melihat A Bin, teringat tadi

sewaktu pingsan dan mendatangkan malu, dengan marah

berteriak:

“Bila bukan kau bajingan, aku juga tidak mungkin

dikuasai orang!”

Habis bicara, dia langsung memukul A Bin getaran angin

dahsyat dari tinjunya menerjang, jurus tinju dari aliran

Heng-san telah kesohor di kalangan dunia persilatan,

tenaganya begitu menakjubkan.

Dalam pandangan A Bin terhadap jagoan-jagoan di

gedung itu, masih menaruh pandangan baik pada Po Konghoo,

dan mengingat dia baru bangun dari pingsan, kejadian

sebenarnya tidak tahu, maka hanya mengguna-kan tangan

kirinya, untuk menghalau serangan itu.

Dewi KZ 134

Bu-ih Taysu dan Coa-sim-cu-kat sebagai orang licik,

mana mau menerangkan kejadian sebenarnya, mereka

hanya berpangku tangan di pinggir.

Dan Tiga Tuli dari Bu-ie-san sedang sibuk tukar syarat

tangan masing-masing, tidak sempat menerangkan apa yang

terjadi sebenarnya.

Po Kong-hoo setelah memukul satu jurus, kakinya maju

dua langkah lagi, mengeluarkan satu jurus pukulan tinju,

karena pukulan berantai ini mengguna-kan tenaga maju

kedepan, tenaga pukulan makin dahsyat, angin pukulan

membuat suara menakutkan.

A Bin tetap tidak membalas, hanya mundur selangkah

dengan jurus tangannya menghindar dan menghilangkan

tenaga lawan.

Bu-ih Taysu dan Coa-sim-cu-kat di dalam hati merasa iri,

mereka berpikir, bila diberi waktu lebih lama, A Bin tidak

akan ada lawannya, dan anak muda ini benci pada orang

yang jahat. Diumpan makan es dan…..arang buat mereka,

bila tidak menggunakan kesempatan ini, dengan gabungan

tenaga jago-jago di gedung ini untuk menghilangkan A Bin.

Kedua jagoan itu berpikiran sama, lalu bersama sama

bertindak, Coa-sim-cu-kat tertawa dingin dan berkata:

“Bocah, kau masih muda, tetapi ilmunya sangat tinggi,

biar aku mencoba ilmumu!”

Kata katanya sopan, tetapi pukulannya sadis, dia

mengeluarkan satu kipas lipat dari dadanya, menjulur-kan

tangan menyerang titik nadi Beng-bun dipunggung A Bin.

Bu-ih Taysu mengucapkan kata Budha satu kali berkata:

“Aku juga tidak mau kesepian, juga ingin mencoba ilmu

adik muda ini!”

Dewi KZ 135

Tubuh Bu-ih Taysu bergerak sedikit, dia memusat kan

tenaga dalamnya, lengan bajunya sampai mengeluar kan

suara krak… krak… tulangnya tampak bergerak, kedua

lengannya mendadak tambah panjang, mencakar lengan

kanan dan bahu kiri A Bin.

Mendapat serangan dari kedua jagoan, A Bin tidak

berani gegabah, dia membalikkan telapak tangan

kebelakang menepak kipas Kongsun Pau, dan memiringkan

badan sedikit menghindar cakaran Bu-ih Taysu,

berpura pura ingin meloncat keluar gedung.

Bu-ih Taysu tertawa sinis, dia maju selangkah lagi,

menghadang jalan A Bin berkata:

“Bila adik kecil tidak memberi pertunjukan satu atau dua

jurus, jangan harap keluar dari gedung ini!”

Mendadak A Bin mengeluarkan dua telapak tangannya,

tenaga telapak tangan begitu besarnya, membuat Bu-ih

Taysu kewalahan, Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau terpaksa

melipat juga kipasnya, tidak berani melawan, tubuh A Bin

melesat dengan cepat, betul-betul meloncat keluar gedung.

Tindakan A Bin berdasarkan penilaian Bu-ih Taysu,

Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau dan kakek putih Po Kong-hoo

bukan orang biasa, ilmunya biar pun adalah didikan dari

tiga guru Siau-yau-cu, hanya saja pengalaman hidup masih

kurang, satu lawan tiga musuh, dia takut tidak bisa bertahan

lama, dan dia tidak mau menyerang organ mematikan

pihak lawan, jadi dia serba terganggu, bila lama-lama

melayani mereka, takut Tiga Tuli dari Bu-ie-san juga ikut

membantu mereka menyerang, pada waktu itu dia akan

susah lari, dan kedua, A Bin dari semula sampai akhir

pertarungan masih tetap mengkuatirkan keselamatan In

Hong-tai, dia ingin menyelidiki, maka dia membiarkan soal

Dewi KZ 136

pem-bunuhan dan buku ilmu silat yang diributkan itu,

dengan cepat dia keluar dari bangunan kuil itu. v

Sewaktu ketiga jago itu mengejar keluar, A Bin telah

hilang ditelan kegelapan malam.

Begitu keluar dari kepungan musuh, A Bin meloncat ke

bagian kiri hutan bambu kuil, menunggu sejenak, melihat

dari gelap apakah jago-jago itu masih ingin mengejar atau

tidak, ternyata mereka kembali lagi ke dalam gedung

itu membereskan hal yang belum selesai.

Menunggu musuh tidak mengejar, dengan teliti kedua

matanya memantau sekeliling sudut-sudut kuil, tapi dia

tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan, timbul dari

pikiran, apakah In Hong-tai mengejar penjahat keluar lagi

dari kuil ini, bila begitu, bagaimana mencarinya.

Ketika sedang ragu-ragu memikirkan, mendadak melihat

ditembok bagian selatan meloncat turun satu sosok

bayangan hitam, dari potongan tubuhnya, seperti In Hongtai.

A Bin sangat gembira, dia meloncat meng-hampiri, dan

menghadang dijalan.

Orang itu seperti terkejut melihat A Bin tiba-tiba ada di

depan matanya, mula mula dikira itu adalah musuh, belum

lagi menyerang segera mengetahui bahwa yang

menghalangi jalan adalah A Bin, dengan terkejut dan

gembira berkata:

“Ternyata kau! Aku……”

Mendadak tenggorokannya seperti ada benda

menghalangi, tidak bisa bicara lagi, Hong-tai seperti

bertemu familinya, ingin mengutarakan keluhan dan

menangis.

Dewi KZ 137

A Bin baru melihat dengan jelas orang yang baru datang

adalah orang yang diperhatikan dengan sangat, In Hong-tai.

0-0dw0-0

BAB 3

Terperangkap dalam sarang iblis

A Bin dengan teliti melihat muka In Hong-tai, tampak

rambutnya berantakan, air mata menetes di kedua pipinya,

bajunya tidak rapih, tangan menjinjing senjata sepanjang

tiga kaki, seperti baru mengalami pertarungan yang sengit

dan beruntung bisa kembali.

Dari warna muka In Hong-tai, A Bin dapat menilai dia

telah mengalami kekalahan dalam pertarungan, selain

terkejut juga entah dia bertemu lawan tangguh mana, walau

pun menguasai ilmu tinggi, juga dikalahkan orang.

Melihat kesedihan In Hong-tai, A Bin merasa perlu turut

berbagi, tetapi tidak bisa dikatakan, terpaksa menghampiri

Hong-tai, mendekap tubuh Hong-tai ke pinggir tubuhnya,

turut mengatakan kekuatiran yang dalam.

In Hong-tai tidak tahu apa maksud A Bin, setelah

terkejut sejenak, dipandangnya mata A Bin, begitu mengerti

apa artinya pelukan itu, dengan perasaan berterima kasih

yang dipendam, dibiarkan A Bin memeluk tubuhnya dan

terlihat mukanya menjadi merah karena malu.

Perkenalan A Bin dengan In Hong-tai belum sampai

sehari penuh, belum pernah tubuhnya berdekatan seperti

sekarang, begitu hidung dia mencium wangi bunga anggrek

dari tubuh Hong-tai, A Bin berpikir dalam hati, In Hong-tai

sebagai anak orang bangsawan, sehari-hari terbiasa hidup

mewah, keluar rumah pun, masih berpakaian mewah, sekali

Dewi KZ 138

terpukul oleh kekalah-an, sedihnya tidak terkira! Merasa

perlu memberi lebih kasih sayang terhadap adik In nya,

maka A Bin lebih erat mendekap tubuh Hong-tai.

In Hong-tai tahu tindakan A Bin adalah perhatian A Bin

terhadap dirinya, dia merasa sangat terharu, dengan suara

lembut berkata:

“Lui-ko, kau sangat baik terhadap aku……”

Punya mulut tapi tidak bisa bicara, A Bin hanya bisa

mendekap lebih erat lagi tubuh In Hong-tai, tanda

terharunya atas ucapan In Hong-tai.

Dekapan tersebut, membuat wangi anggrek tercium lebih

banyak oleh A Bin, dan tubuh In yang lembut

mengeluarkan rasa hangat, dan sedikit detak jantung yang

terasa oleh tangan A Bin.

A Bin merasa aneh, kenapa adik In begitu terharu,

sambil memegang tangan halus kiri In Hong-tai,

memandang muka In Hong-tai, yang tertawa matanya

bening bagaikan air, mukanya seperti bunga, melebihi

cantik seorang gadis, membuat A Bin tercengang.

Hong-tai melihat A Bin begitu terpesona, maka sekali

lagi tampak mukanya menjadi merah, sambil pura-pura

marah:

“Toako dungu! Kenapa begitu melihat aku?”

Mendengar suara Hong-tai yang merdu, jiwa A Bin

tergoncang, makin tanpa hentinya memandang muka

Hong-tai.

Hong-tai pura-pura marah, berkata sambil geleng

gelengkan kepala:

“Aku tidak ijinkan kau memandangi aku!”

Dewi KZ 139

Ternyata gerakan geleng geleng kepala itu mem-buat

ikatan rambut yang sudah longgar terlepas, sehingga

untaian rambut bergoyang tertiup angin ringan.

A Bin sangat terkejut, ternyata Hong-tai adalah seorang

wanita.

Hong-tai yang tahu rahasianya telah bocor, dia makin

bertambah malu, tetapi tetap tidak mau melepaskan kedua

tangan yang dipegang A Bin.

A Bin sejak mengenal Hong-tai, selalu merasa ada jodoh

berkenalan, asalkan bertatap muka saja sudah

mendatangkan kesenangan, sekarang mengetahui dia

adalah perempuan, tetap tidak rubah penilaian pada Hongtai.

Pada jaman itu, larangan laki perempuan sangat ketat,

bagi hubungan muda mudi berumur lima belas, enam belas

tahun, masih polos, bagi Hong-tai pun merasa cocok sekali

dengan A Bin, tidak ada pikiran lain.

Mereka berdua saling berpegangan tangan di pinggir

hutan kuil, melupakan bahaya yang mengintai di

sekelilingnya, saling pandang lupa suasana sekeliling, biar

pun tidak berkata, tetapi dua hati saling bersatu, masingmasing

tahu isi hatinya.

Selang beberapa lama, Hong-tai pelan-pelan melepaskan

kedua tangan A Bin, dengan ringkas menceritakan kejadian

tadi waktu mengejar musuh.

Ternyata, waktu Hong-tai mengejar penjahat yang

menyebarkan dupa di kamar hotel hingga dalam hutan

bambu, karena batang bambu lebat, sehingga sulit

menggunakan ilmu ringan tubuh, dengan susah payah

menerobos hutan bambu terlihat bangunan kuil di depan

Dewi KZ 140

matanya, namun jejak penjahat sudah hilang dari

pengawasan.

Hong-tai merasa jengkel, pikirnya dalam hati, bila diri

sendiri tidak bisa menemukan bangsat kelas teri itu, jangan

bilang lagi cari pengalaman di dunia persilatan untuk

memulihkan nama besar keluarga!

Saat sedang menyesalkan dirinya, mendadak Hong-tai

melihat ada sedikit gerakan di seberang hutan bambu, maka

dia bersorak sejenak, dengan cepat menuju hutan bambu

itu.

Betul juga, ada satu bayangan hitam keluar dari hutan

itu, dan meloncat tembok kuil bermaksud keluar, Hong-tai

tidak membiarkan orang itu pergi, maka dengan dua tangan

membelah ranting bambu, dengan gerakan kaki menginjak

tanah langsung mengangkat tubuhnya ke udara, berdiri di

atas pucuk pohon bambu, menggunakan ilmu ringan tubuh

warisan dari ayahnya, mengejar keluar kuil. Dari kejauhan

terlihat satu bayangan hitam sudah berlari sekitar sepuluh

tombak, sedang menuju daerah perkebunan di luar

kampung.

Hong-tai melihat bayangan itu, mengetahui ilmu ringan

tubuhnya lebih tinggi dari penjahat yang pertama tadi

ternyata mereka bukan satu orang, dia jadi agak ragu-ragu,

sejenak bayangan hitam itu meloncat lebih jauh lagi.

Hong-tai melihat kesempatannya akan hilang dengan

segera, dia jadi berpikir, tidak peduli orangnya siapa?

Karena penjahat pertama tidak dapat ditemukan, lebih baik

kejar dan tangkap orang itu dulu, maka Hong-tai

menggerakan ilmu ringan tubuh melewati jalan di

persawahan, mengejar orang itu.

Hong-tai menguasai ilmu meringankan tubuh dari

ayahnya, ilmu meringankan tubuhnya tiada tanding di

Dewi KZ 141

dunia ini, di persawahan biar pun banyak pohon padi,

tetapi jalan setapaknya jelas, gampang dilewati oleh Hongtai,

tidak berapa lama, sudah tampak jelas seorang

bayangan hitam itu, orang berjubah hitam, kepala pakai

kerudung warna perak, sedang berlari dengan kencang.

Hong-tai menilai berapa detik lagi dia bisa mengejar

orang itu, tetapi dia sangat teliti dalam segala hal, biarpun

baru pertama terjun didunia persilatan, tetapi mengetahui

banyak siasat licik dan berbahaya, maka sambil mengejar

sambil melihat situasi sekeliling-nya, dia tahu sebentar lagi

sampai di bukit gunung.

Timbul dalam pikirannya, orang itu lari ke arah gunung

itu, pasti ada maksud tertentu, kelihatannya diatas gunung

adalah sarang mereka, disana pasti ada temannya yang

membantu, jadi lebih baik dia bertindak dulu, jangan

biarkan dia naik kegunung, hingga urusan akan lebih rumit.

Maka Hong-tai menarik nafas sejenak, lalu terbang

miring dalam ketinggian dua tombak, sambil menggerakan

dua tangannya, dia berlari semakin cepat maju ke depan

dan sudah melewati kepala orang itu, dengan membalikan

dua telapaknya, badan berbalik turun dengan kepala

dibawah, kaki keatas, langsung menyerang orang berbaju

perak itu, ini adalah jurus istimewa dari warisan keluarga

yang bernama In-liong-ngo-hiang (Lima naga terbang di

awan).

Orang baju perak itu mendengar ada suara di atasnya,

kepalanya menengadah ke atas, bersamaan itu jurus Hongtai

sudah mengurungnya, segera orang itu mundur

selangkah kebelakang, menghindar serangan dari depan,

lalu mengeluarkan golok melindungi kepala dan muka.

Jurus serangan Hong-tai ternyata mengandung

perubahan lain, tubuhnya membalik lagi di udara, kaki

Dewi KZ 142

kanannya berputar, dengan kecepatan tinggi menotok

belakang punggung di bagian ketiak bawah orang baju

perak itu, terdengar teriakan keras dari orang itu, terkulai

jatuh, goloknya pun terlepas dari tangannya.

Pada waktu bersamaan, terbang beberapa benda berupa

bintang diatas tanaman padi menuju tubuh Hong-tai,

keluarga Hong-tai tersohor di dunia persilatan dengan jurus

pedangnya, ilmu meringankan tubuh dan senjata rahasia,

maka dengan tertawa sinis, Hong-tai menggetarkan lengan

bajunya, segera menangkap senjata rahasia itu dan di buang

kesawah, sambil ber-teriak:

“Bangsat dari mana, berani menyerang di tempat

tersembunyi?”.

Belum habis Hong-tai bersuara, di sekeliling sawah

sudah berdiri banyak orang, Hong-tai terkejut dan

menyesal, karena kecerobohan sesaat, tidak menyangka

musuh bisa bersembunyi di pohon padi, dan diatas kepala

mereka terlilit batangan padi untuk penyamaran, mereka

berbaju perak, tetapi kerudung kepalanya berwarna gelap,

sehingga dalam waktu sempit susah melihat mereka yang

menyamar.

Hong-tai segera meneliti lagi pada mereka, ternyata

musuh yang ada di sekelilingnya lebih dari dua puluh

orang, di tangannya masing-masing memegang alat panah

berantai, sedang mengarahkan dirinya, bila Hong-tai berniat

mengadakan perlawanan, ribuan panah akan segera

dimuntahkan oleh mereka, biarpun dirinya pintar

menghindar senjata rahasia, tetap tidak akan mampu

menghindar dari bidikan anak panah itu.

Tetapi bila menyerah, dia sendiri adalah seorang gadis,

mati adalah urusan kecil, tetapi bila ada tindakan amoral

dari mereka, matinya juga mencemarkan nama…

Dewi KZ 143

Pikirannya segera berputar sampai Hong-tai timbul satu

pikiran, dia sekarang sedang dalam kepungan dua puluh

orang pemanah, bila tidak bisa melawannya, apa tidak lebih

baik dia pura-pura menyerah saja, menunggu lawan

menugaskan orang untuk mengikat dirinya, baru bertindak

menangkap, pada waktu itu orang berbaju perak

disekelilingnya pasti tidak berani memanah kawan sendiri,

dan itu bisa dipakai sebagai sandera untuk meloloskan diri.

Sesudah bulat mengambil keputusan, maka Hong-tai

dengan tertawa sinis berkata:

“Bangsat bangsat hanya bisa menang dengan orang

banyak, dengan kepungan begini menghadapi aku seorang

diri, aku sebagai laki laki baik menyerah saja!”

Habis bicara, Hong-tai membalikan kedua tangannya

kebelakang, tanda tidak akan melawan.

Betul juga, dua orang baju perak masih memegang alat

panah, tidak bicara sedikit pun, sambil mengarahkan

panahnya perlahan mendekati Hong-tai.

Melihat musuh mendekati, Hong-tai tertawa dalam hati,

bagaimana pun hati-hatinya kalian bila kalian mendekati

aku dalam lima langkah, dua alat panah itu sudah tidak

akan berfungsi lagi, bila yang lain berani melepaskan panah,

kedua orang ini, akan jadi sasaran empuk, tetapi pikiran

tetap pikiran, Hong-tai masih tetap di dalam posisi semula.

Kedua orang baju perak pelan pelan melangkah, satu di

kiri satu di kanan, dengan empat mata yang bercahaya

melotot pada Hong-tai melalui lubang kerudung.

Hong-tai adalah ahli senjata rahasia, sambil

memperhatikan jarak langkah kedua orang baju perak,

sambil memperhatikan gerakan kedua tangan orang itu.

Dewi KZ 144

Menghitung jarak mereka masih ada tujuh atau delapan

langkah, hampir mendekat antara lima langkah, bila dia

menggunakan gerakan tangan dari ilmu keluarganya, dia

bisa menghindar serangan panah itu, dan menangkap orang

itu sebagai sandera, tetapi setelah dilihat lagi dia baru sadar

jempol mereka telah berada dikunci panah tersebut.

Hong-tai berkata didalam hati, ‘Celaka!’, dia tidak

menyangka mereka bertujuan membunuhnya, dalam jarak

tujuh langkah sudah siap menekan tombol panah! Menilai

dengan aman menangkap mereka sebagai sandera sudah

tidak mungkin, tetapi bila orang terdesak apa pun harus

berani mencoba, maka kedua tangan di belakang tubuhnya

digerakan ke depan, empat jarum sayap burung Hong sudah

melesat menuju ke empat tangan dua orang baju perak itu,

dan juga siap untuk menangkap orang.

Mana yang lambat mana yang cepat sudah tidak jadi

soal, suara tombol alat pemanah begitu bunyi, jarum empat

sayap burung Hong sudah duluan datang, terdengar dua

teriakan orang baju perak, lengan mereka terkena jarum

sayap burun Hong, tetapi Hong-tai juga terlambat menilai,

panah itu juga sudah datang

Dengan tatapan mata yang jeli, Hong-tai mengukur

kecepatan panah, dalam hitungan detik dia mencoba

menghindar dalam situasi yang serba sulit.

Siapa tahu, sesudah bunyi tombol panah itu, tidak ada

panah yang keluar dari alatnya, hanya dua arus asap kuning

seperti air terjun pecah tersebar di udara persawahan.

Hong-tai tidak menyangka, bahwa alat pemanah itu

hanya tameng belaka, di dalam alat itu ternyata adalah

dupa pelupa ingatan, belum juga terucap satu kata celaka,

Hong-tai sudah terkulai oleh asap kuning itu.

Dewi KZ 145

Begitu Hong-tai siuman, dia melihat dirinya sudah ada di

sebuah kamar yang serba mewah, tergeletak di sebuah

kasur, dia berusaha berontak ingin bangun, ternyata seluruh

tubuhnya lemas, hanya dapat berkata marah:

“Kalian mengurung aku dikamar ini, apa maksudnya?”

Datang seorang wanita berpenampilan seksi membuka

tirai pintu masuk ke kamar, dengan tertawa berkata:

“Jangan berpura-pura lagi, ketua ranting kita mengetahui

tamu agungnya menaksirmu, maka ketua berusaha

menangkapmu, dan akan diserahkan pada tamu agung itu,

biar tamu kita gembira!”

Hong-tai dengan terkejut, katanya:

“Tamu agung apa?”

Perempuan seksi itu dengan tertawa berkata: “Dia

dengan kau juga telah makan bersama, apa betul kau tidak

tahu siapa dia?”

Mendengar kata-kata itu, Hong-tai menilai yang

dikatakan tamu agung, pasti anak raja Lok-houw-it-kun,

cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok, maka dengan gemas

dia berkata marah:

“Ternyata dia……”

Perempuan seksi itu tidak tahu apa yang ada di dalam

pikiran Hong-tai, dengan tertawa berkata:

“Bagaimna? Sekarang kau tidak takut lagi kan? Aku tahu

orang itu berwajah tampan, punya keluarga elite,

perempuan mana yang tidak suka pada dia. Menurut

pandanganku, ketua ranting kita terlalu berlebihan, tidak

perlu mengirim banyak orang untuk menangkapmu, asal

diutarakan terang-terangan, kau juga rela……”

Dewi KZ 146

Dengan kesal Hong-tai mendengarkan kata-kata itu,

sambil buang ludah dia berteriak:

“Berhenti bicara……”

Perempuan seksi itu berobah warna mukanya, ingin

berbicara lagi, tapi terdengar suara kaki mendekat masuk,

dia segera diam.

Tidak lama, satu orang baju putih tergesa gesa masuk

kekamar memberi perintah kepadanya:

“Hoa Ji-nio, kau cepat periksa lagi kamar itu, ketua

ranting kita dan cucu raja Lok-houw segera tiba.”

Dada Hong-tai penuh dengan amarah, dia menunggu

cucu raja Lok-houw Thio Kong-giok masuk, dia ingin

memarahinya.

Betul juga, selang beberapa detik, gorden kamar dibuka,

ada dua orang masuk kekamar, cucu raja Lok-houw Thio

Kong-giok dan seorang bermuka segi empat warna gelap,

berjengot tiga bagian, penampilannya sangat gagah,

kelihatan Thio Kong-giok sedang marah.

Hong-tai sudah menaruh emosi dalam hati, begitu

melihat Thio Kong-giok, tanpa pikir panjang, langsung

dengan marah bicara:

“Kau tidak tahu malu, bersekongkol dengan penjahat,

dengan cara tidak bermoral menangkap aku dan dibawa

kesini, betul-betul membuat malu nama istana Lok-houw!”

Thio Kong-giok yang dimarahi oleh In Hong-tai begitu

masuk kamar, tidak dapat membela diri, menunggu dia

habis bicara, baru berkata dengan berat:

“Nona In, jangan salahkan aku, Thio Kong-giok

sungguh-sungguh berniat berkenalan denganmu, tapi tidak

perlu menggunakan tangan orang bertindak demikian, ini

Dewi KZ 147

adalah ulah mereka, aku datang kesini justru untuk

melepaskanmu agar bisa pulang.”

Sesudah berkata, dia membalikkan tubuhnya berkata

kepada orang yang mukanya gelap:

“Urusan aku bisa aku kerjakan, tidak perlu aliran anda

membantu, ketua ranting Kwang kau berbuat sesuatu yang

merugikan aku!”

Ketua ranting Kwang yang diomeli Thio Kong-giok

muka gelapnya bertambah merah, tetapi karena ketua aliran

ingin merangkul Lok-houw-it-kun untuk mengembangkan

alirannya, telah memberi perintah ke anak buahnya untuk

menghormati Thio Kong-giok, kali ini maksudnya

menangkap In Hong-tai, dia ingin memberikan pada Thio

Kong-giok untuk melampiaskan nafsu birahinya agar

mendapatkan simpati, tetapi malah di marahi oleh Thio

Kong-giok, terpaksa dia menahan diri, pura-pura berkata:

“Ini adalah pekerjaan bodoh anak buahku, biar nanti aku

selidiki siapa saja yang bertanggung jawab, akan diberi

hukuman, harap cucu raja dan nona maafkan kejadian ini!”

Thio Kong-giok dengan kata kata keras berkata:

“Kalian cepat berikan obat penawarnya nona In.”

Ketua ranting Kuang menahan emosi berkata:

“Ini tidak boleh sembarangan, kau adalah tamu agung

kita, segala hal tidak ada yang ditutup-tutupi, tetapi nona In

ini adalah orang luar, mana boleh mengetahui rahasia

aliran kita. Kami hanya dapat menggunakan cara seperti

dia waktu datang dan diantar pulang, harap cucu raja

mengerti!”

Sifat Thio Kong-giok sangat sombong, tetapi kali ini

sebelum ke merantau kedataran tengah, ayahnya LokDewi

KZ 148

houw-it-kun pernah berpesan, mesti bersahabat dengan

orang orang Jian-kin-kau-kau, tidak boleh menjadi musuh,

dan sekarang mengetahui kata-kata ketua ranting adalah

masuk akal, dia jadi tidak memaksakan diri, maka Thio

Kong-giok berkata dengan dingin:

“Kalau begitu, silahkan ketua ranting Kwang

menugaskan dua orang gadis mengantarkan nona In

pulang, aku mengawal dari belakang.”

Ketua ranting Kuang sudah sangat sabar, mengetahui

Thio Kong-giok tahu diri, dengan gembira memanggil

orang di luar kamar untuk mengantar pulang Hong-tai, dan

memcoba bertanya pada Thio Kong-giok:

“Ada seorang bisu yang menentangmu, kemungkinan

sekarang telah jatuh ke tangan murid murid kita, entah

keinginan cucu raja, bagaimana mengurus dia?”

Mendengar perkataan dua orang tersebut, Hong-tai

dengan terkejut berkata:

“Ai!”

Kata “Ai!” tersebut, Thio Kong-giok mengetahui bahwa

Hong-tai sangat perhatikan pada A Bin, hatinya merasa

tidak enak, dia menumpahkan kemarahannya pada ketua

ranting….

“Ketua ranting Kwang, kalian sungguh memperhatikan

aku luar biasa, aku hanya berkata, segala perbuatanku, aku

yang akan selesaikan, tidak berani minta bantuan aliranmu,

bila anak bisu itu sudah ditangkap oleh murid muridmu,

sekalian lepaskan saja, nanti aku bisa cari dia!”

Ketua ranting Kwang sudah beberapa kali diomeli Thio

Kong-giok, dia merasa kesal juga, dengan berkata dingin

menjawab:

Dewi KZ 149

“Bila cucu raja punya ide begitu, aku perintah-kan anak

buah ku sekalian melepaskan si bisu itu juga!”

Habis bicara, dia beri isyarat mata pada perempuan seksi

yang berdiri di pinggir Hong-tai, Hoa Ji-nio, dan

perempuan itu dengan lengan baju menyapu muka Hong-tai

pelan-pelan, lalu Hong-tai langsung pingsan lagi.

Begitu siuman lagi, Hong-tai sudah berada di bawah

tumpukan batang padi di pesawahan, cucu raja Lok-houw

Thio Kong-giok sedang menunggu di pinggir-nya. Melihat

Hong-tai bangun, dengan gembira berkata:

“Nona In sudah bangun, aku Thio Kong-giok sudah

menunggu kau beberapa menit.”

Setelah mengalami kejadian yang sebenarnya Hong-tai

sudah merubah pandangan terhadap Thio Kong-giok,

sebelumnya dia mengetahui orang ini sangat sombong,

tetapi tingkah lakunya bermaksud baik, boleh dibilang

orang punya martabat, memikirkan tadi dia memarahi Thio

Kong-giok bertubi-tubi, dia merasa menyesal juga, dia

berusaha menggerakan tangan dan kaki dengan bebas,

segera berdiri, tetapi tetap berkata pada Thio Kong-giok:

“Melihat kelakuanmu tadi, kau masih tidak kehilangan

jiwa kesatriamu, tetapi sayang kau mau berhubungan

dengan bangsat, hingga merendahkan dirimu. Kali ini aku

tidak mempersoalkan lagi, tetapi lain kali bila kau masih

berhubungan dengan bangsat-bangsat itu, jangan salahkan

aku menganggap kau sebagai musuh!”

Sudah habis bicara, tidak melihat lagi pada Thio Konggiok,

segera berlari menuju Cu-sia-koan, ingin menyelidiki

apa betul A Bin sudah jatuh ke tangan murid-murid Jiankin-

kau-kau.

Dewi KZ 150

Setelah mengetahui A Bin dalam keadaan selamat, dia

merasa gembira, dan memikirkan kejadian yang menimpa

dirinya, ternyata sekarang bertemu A Bin, seperti bertemu

orang yang paling dekat, sehingga dia terharu meneteskan

air mata, ingin menangis.

Setelah mendengarkan kejadian Hong-tai, A Bin merasa

tidak enak, dan menyesal tidak dapat membela Hong-tai

sepenuh tenaga, sehingga Hong-tai mengalami keadaan

yang berbahaya. ‘

Hong-tai pun dengan gembira dan menanyakan kejadian

yang menimpa A Bin, A Bin dengan isyarat tangan

menceritakan dengan ringkas tentang beberapa jago-jago

dan orang-orang baju emas dan perkelahian-nya tadi

dengan mereka.

Hong-tai dengan bersemangat berkata:

“Lui Toako! Binatang-binatang tua itu, tidak tahu balas

budi, hanya mengejar keuntungan saja, mereka

meremehkanmu karena kau sendirian, tidak ada yang

membantu, sekarang dengan aku disini, mari kita berdua

masuk lagi ke biara itu, dan memberi pelajaran pada

mereka!”

Sebelumnya A Bin juga tidak takut pada Bu-ih Taysu

dan jago-jago yang lain, tadi dia merasa khawatir dengan

keadaan Hong-tai dan ingin segera mengetahui jejaknya,

hingga tidak tenang, sekarang melihat Hong-tai berniat

menghadapi masuk lagi, dia jadi tidak enak menolak, maka

dia setuju dengan kehendaknya, mereka berdua lalu berlari

menuju ruang Sam-ceng-tian di biara itu.

Hong-tai menggunakan ilmu meringankan tubuh dari

keluarganya yang tergolong kelas satu di dunia persilatan,

sedang A Bin yang telah mendapat ilmu asli dari tiga guru

Dewi KZ 151

Siau-yau-cu, tidak mau ketinggalan, mereka berdua berlari

seperti asap, sejenak saja sudah masuk ke dalam ruangan.

Saat tubuh mereka turun ke lantai, mereka tidak

mendapatkan perlawanan di ruangan itu. Orang-orang yang

pernah bertemu A Bin tadi, ternyata semuanya telah pergi,

disana hanya tinggal sepuluh lebih pendeta tosu yang sudah

mati, dan tetap duduk ditempatnya.

Di tiang atas bangunan tergantung empat mayat yang

mulai kaku, mereka adalah kakek putih Po Kong-hoo dan

Tiga Tuli dari Bu-ie-san, mereka di buat seperti orang

bunuh diri, tetapi bagi orang yang ahli, sekali melihat

langsung tahu bahwa mereka di buat mati terlebih dulu baru

digantung di tiang atas, sedang Bu-ih Taysu dan Coa-simcu-

kat Kongsun Pau tidak kelihatan.

Yang membuat terkejut dan marah A Bin dan Hong-tai

adalah gantungan satu potong kain putih yang ditulis

dengan darah orang, kata-katanya berbunyi ‘empat orang

hebat hilang, Jian-kin jaya! Yang turut aku makmur, yang

lawan aku mati! Seluruh aliran di dunia persilatan, segera

menyerahkan diri!’

A Bin dan Hong-tai terkejut dengan kata ‘empat orang

hebat hilang’, mereka tidak mengerti mengapa Jian-kin-kaukau

berkata demikian, apa yang dimaksud dengan empat

orang hebat itu adalah Lui, Giok, In, Kau. Yang tiga

orangnya sudah menemui ajal. Yang membuat mereka

marah juga surat darah di kain putih yang merendahkan

empat orang hebat, berarti dia menantang seluruh dunia

persilatan, bagi A Bin dan Hong-tai yang masih muda dan

beradatnya panas, dirinya masih besar sifat mengagulkan

dirinya, mereka mana mau terima pada kata-kata yang

sangat sombong dan itu.

Dengan suara kecil Hong-tai berkata:

Dewi KZ 152

“Lui Toako, kita periksa dengan teliti, mungkin didalam

ruangan atau disekelilingnya masih ada antek-antek Jiankin-

kau-kau!”

Saat itu, waktu hampir jam lima pagi, langit mulai

menampakan cahaya fajar, sinar lilin di dalam ruangan

yang semakin pudar menerangi mayat-mayat dingin dilantai

dan yang digantung, di dampingi oleh kain putih yang

berhuruf darah, membuat suasana semakin seram. Walau

pun A Bin dan Hong-tai mempunyai ilmu tinggi dan

berjiwa tegar, tetapi masih belum lama terjun di

masyarakat, belum pernah melihat kejadian yang sadis

seperti ini, tidak urung semua ini membuat bulu kuduk

mereka berdiri juga.

Hong-tai sebagai wanita, mengawasi mayat-mayat itu

dalam hati merasa takut, tanpa sadar tubuh-nya bergeser

menempel ke tubuh A Bin, mereka berdua bergandengan

tangan memeriksa seluruh ruangan.

Setelah meneliti seluruh ruangan, mereka tidak

menemukan jejak apa pun, tapi saat mereka berjalan di

depan patung Sam-ceng, terdengar suara helaan napas

dibelakang patung itu, Hong-tai terperanjat, roman muka

berobah warna, tangan lemburnya semakin erat memegang

pundak A Bin.

Sebagai seorang laki-laki, keberanian A Bin lebih besar,

sambil mengusap punggung tangan Hong-tai agar dia

tenang, sambil dengan teliti melihat patung yang

mengeluarkan suara, setelah dilihat beberapa saat, dia tetap

tidak menemukan kelainan, Hong-tai yang lebih teliti lagi,

mendadak terpikir sesuatu, dia mendekati kuping A Bin

berkata pelan:

“Kita lihat kebelakang patung itu apa ada kelainan

tidak?”

Dewi KZ 153

Mereka berdua segera memeriksa lagi dengan teliti,

akhirnya menemukan tombol rahasia di belakang badan

patung yang bila tidak awas tidak akan terlihat, A Bin

segera menekan tombol itu, terdengar suara ssst… ssst…

ringan, terbukalah sebuah pintu rahasia yang hanya bisa

dilalui orang dengan membungkukan badan.

Mereka berdua saling tukar pandang, A Bin dengan

telunjuk tangan menujuk ke arah pintu rahasia,

menanyakan keinginan Hong-tai.

Hong-tai berpikir sejenak, walau pun menempuh bahaya,

dia tetap ingin tahu, dia berkata:

“Kita sama-sama masuk melihat, ada apa di dalamnya,

jangan takut?”

Mereka berdua masuk melalui pintu rahasia itu, sekarang

baru tahu badan dalam patung itu ternyata kosong, ada

sebuah jalan melalui bantal batu bunga teratai menuju

ruangan bawah tanah, lantainya berselimut tebal, di tembok

tertanam lampu penerangan kecil yang dibuat dari kerang

dan penerangannya sangat lemah.

A Bin memegang tangan Hong-tai dengan hati hati

melangkah, setelah menuruni beberapa anak tangga,

mereka menemukan satu ruangan bertapa, disatu bangku

duduk teratai berwarna emas bersila seorang tosu, bermuka

aneh, kepalanya memakai topi dari besi, sama sekali tidak

bergerak, seperti patung kayu.

Melihat tosu itu, A Bin terkejut juga, apa betul tosu ini

yang dikatakan oleh jago-jago yang namanya Thi-koan

Tojin? Kenapa bisa duduk terpaku diruang rahasia? Apa

sudah mati? Maka dia segera menghampiri, meraba bagian

jantung, ternyata maih hangat, denyut nadinya tetap

normal.

Dewi KZ 154

Hong-tai mendesak dipinggir berkata:

“Lui Toako, jangan berlama-lama di ruang rahasia, lebih

baik kita menggotong orang ini keluar dari ruang besar ini,

baru kita teliti lagi, apakah dia telah mati atau hanya

terluka?”

A Bin menuruti kata-kata Hong-tai, dia segera

mengangkat kedua tangan tosu, mereka segera keluar

melalui jalan rahasia itu.

Baru sampai di pinggir pintu rahasia, terdengar suara

ribut di ruangan besar, A Bin terperanjat, mereka saling

pandang dengan Hong-tai, mereka sepakat berhenti

berjalan, menempelkan kuping di pintu rahasia

mendengarkan keadaan di ruangan besar.

Dari suara langkah yang terdengar, orang yang datang

banyak, ada juga yang memeriksa sekeliling ruangan.

Terdengar suara keras dari depan patung yang diucapkan

orang bertenaga besar:

“Thi-koan To-tiang sudah bersemedi selama sepuluh

tahun, sekarang sudah waktunya keluar dari tempat semedi

dengan hasil sempurna, dia menjanjikan pada hari ini

bertemu teman-teman dan seluruh aliran partai untuk

mengikuti upacara, dan menurunkan wasiat yang akan

dibacakan di depan umum, ilmu dalam lembaran besi yang

ditinggalkan pendiri Thio Sam-hong Couw-su, tapi rupanya

semua telah di dahului oleh orang-orang yang menamakan

Jian-kin-kau-kau, membunuh semua tosu, dan

menggantung mayat ketua Heng-san-pay Po Kong-hoo dan

Tiga Tuli dari Bu-ie-san yang mengincar ilmu dalam

lembaran besi itu, yang diam-diam datang kesini dan

dibunuh juga oleh Jian-kin-kau, tetapi dimana Thi-koan Totiang?

apa bersemedi di tempat lain dan belum keluar, atau

Dewi KZ 155

sudah di bunuh juga oleh Jian-kin-kau, mengapa sama

sekali tidak ada jejaknya, membuat orang bingung saja!”

Terdengar satu suara nyaring berkata:

“Jie Ie Taysu, biarpun Thi-koan Totiang sudah di bunuh,

tindakan Jian-kin-kau-kau sudah berarti menantang semua

aliran persilatan, mohon ketua anda Kian Ih Taysu turun

tangan mengundang ketua semua partai dan sesepuh

persilatan yang ternama untuk merundingkan cara

menghadapi musuh!”

Satu suara yang membuat telinga mendenging berkata:

“Kata-kata Ku-cu Tojin sangat betul, sejak Lui-to, Inkiam,

Giok-kiong menghilang tanpa kabar enam tahun

yang lalu, tanda Su-ciat-leng (Empat perintah wahid) telah

berhasil diambil anak Lui Kie, tapi Kau-sat Kau bun-kek

berobah menjadi sangat sombong, banyak kalangan dunia

persilatan mengeluh. Partai Siauw-lim dan Bu-tong adalah

dua partai yang sudah berdiri ratusan tahun, seharusnya

tidak membiarkan mereka bertindak seenaknya. Waktu

membuat Su-ciat-leng beberapa tahun lalu, tujuannya untuk

membela kebenaran, membasmi kejahatan, seharusnya

jangan membiarkan mereka meraja lela tidak basmi, tetapi

sejak pimpinan dipegang oleh Kau Bun-kek, dia telah

merubah banyak aturan yang berlawanan dengan tujuan

semula, membuat Su-ciat-leng menyimpang dari tujuan

semula, berbuat banyak ketidak adilan. Sekarang muncul

lagi sebuah aliran yang dinamakan Jian-kin-kau, keutuhan

dunia persilatan harus segera dipertahankan, aku kira

pemimpin itu harus dari ketua Siauw-lim-pay dan Bu-tongpay!”

Terdengar dua suara nyaring dan membuat telinga

mendengung telinga yang bicara tadi bersamaan berkata:

Dewi KZ 156

“Pujian Gan-tayhiap, kami merasa belum pantas

menerima, tetapi urusan dunia persilatan kami tidak dapat

lepas tangan, kita akan sampaikan maksud kalian pada

ketua partai, tetapi, surat undangan untuk seluruh partai

pantas mencantumkan nama pendekar Gan, yang

termashur di provinsi Kwie-ciu!”

Hong-tai mendengarkan kata-kata tiga orang yang saling

memuji, dengan suara kecil berkata pada A Bin:

“Tiga orang diluar adalah orang orang ternama, Jit Ie

Taysu dan Ku-cu Tojin adalah petinggi dari Siauw-lim dan

Bu-tong, ilmu silat mereka hanya dibawah ketua mereka,

yang dipanggil Gan-tayhiap pasti pendekar terkenal dari

provinsi jauh yang dijuluki Pelajar sombong dari Kwie-ciu,

Gan Cu-kan adalah orang ketiga yang keluar bicara,

kelihatan diruangan besar itu banyak jagoang jagoan

tangguh?”

Terdengar lagi suara diluar, kata Ki-liu-kwie-seng:

“Aku tidak berani disejajarkan dengan Kian Ih Taysu

dan Soat-song Cinjin, tetapi kalau namaku di-cantumkan

pada deretan akhir, aku bisa terima!”

Sambil bicara, dia merendahkan nadanya, berkata lagi:

“Ketika aku datang kemari, diperjalanan aku mendapatkan

kabar, kalian berdua boleh sampaikan pada ketua kalian,

bahwa ada orang melihat di puncak bukit pegunungan besar

di provinsi Kui ditemukan golok putus dari Lui Kie, pedang

patah dari In Tiang-long dan busur dari Giok Kangtiong……”

A Bin dan Hong-tai yang mendengar berita itu, masingmasing

merasa tergetar hatinya, saling pandang melihat

getaran tubuh masing-masing, mereka tertarik kembali oleh

kata-kata di luar, terdengar suara Gan Cu-kan melanjutkan

perkataannya:

Dewi KZ 157

“Orang itu melihat barangnya sangat jauh di puncak

gunung itu, harus mempunyai ilmu meringan-kan tubuh

yang tinggi baru bisa naik ke puncak itu, jadi tidak melihat

dengan jelas, tetapi menurut perkiraanku, Lui-to, In-kiam

dan Giok-kiong yang telah menghilang selama enam tahun,

dan senjata ternama mereka sudah patah dan rusak di

puncak gunung itu, kelihatannya mereka telah meninggal

dunia, sebab mereka telah mati, kemungkinan mereka

bertiga saling bunuh. Hanya satu hal yang buat aku tidak

mengerti, mereka bersahabat baik, kenapa……”

Pembicaraan orang yang diluar belum habis, Tubuh In

Hong-tai bergetar hebat dan menangis. A Bin juga terkejut

mendengar ulasan Gan Cu-kan, lebih terkejut lagi melihat

kegoncangan Hong-tai, dan mendadak teringat dia she In,

dan memegang pedang, apa dia anak perempuan dari Inkiam

In Tiang-long? Bersamaan waktu itu, In Hong-tai

sudah lepas kontol dari emosi, mendadak dia meloncat ke

depan, mendorong pintu rahasia, meloncat ke dalam

ruangan, A Bin terperanjat sejenak, segera mengapit tubuh

Thi-koan Tojin, menyusul keluar.

Dari belakang patung Sam-ceng mendadak terbuka pintu

rahasia dan keluar sepasang muda mudi, membuat

terperanjat sekitar tiga puluh orang di dalam ruangan,

mereka segera melihat Hong-tai dan A Bin.

Sekarang Hong-tai dan A Bin berhadapan dengan

seorang tosu, seorang hweesio dan seorang terpelajar yang

bersemangat tinggi. Baju yang dipakai orang biasa itu

sangat mewah, tetapi sengaja ditambah kain tambalan di

bagian dada, kain kotak penutup kepalanya sangat mahal,

sepatu mewah yang dipakai bertabur sepasang mutiara,

roman muka yang terpelajar tertutup oleh bulu jambang

yang penuh, sepasang matanya bersinar terang, penampilan

luar biasa dari seorang pelajar, dalam hati A Bin

Dewi KZ 158

mengetahui bahwa orang ini yang dikatakan oleh Hong-tai

bernama Ki-liu-kwie-seng Gan Cu-kan, tosu dan hweesio

itu adalah Jit Ie Taysu dari Siauw-lim dan Ku-cu Tojin dari

Bu-tong.

Ketiga orang ini biar pun termasuk orang ter-kenal dari

dunia persilatan, begitu melihat A Bin dan Hong-tai

mendadak muncul sambil mengapit tubuh Thi-koan Tojin

yang kaku, mereka tercengang juga sejenak, namun segera

menenangkan pikiran, Ki-liu-kwie-seng terlebih duhulu

memancarkan sinar terang yang keluar dari matanya,

melihat dengan teliti A Bin, Hong-tai dan tosu yang kaku

itu, baru bicara:

“Kalian dari mana? Bagaimana Thi-koan Tojin?”

A Bin tidak bisa bicara, Hong-tai yang baru mendengar

berita sedih tentang Lui-to, In-kiam, Giok-kiong berobah

lupa keadaan, dia tidak mendengarkan pertanyaan Gan Cukan,

berdua jadi tidak menjawab.

Nama Gan Cu-kan sangat tersohor, dan punya

kedudukan tinggi di dunia persilatan, dia disanjung dan

ditakuti orang, melihat anak muda begitu acuh tidak

menjawab pertanyaannya, dia merasa sedikit marah,

dengan dingin berkata:

“Kalian tidak menjawab pertanyaanku, mungkin murid

dari seorang jago silat, sehingga tidak mau menjawab? Aku

adalah Ki-liu-kwie-seng Gan Cu-kan!”

Dia mengenalkan namanya sendiri, takut kedua anak

muda yang baru keluar dari dunia persilatan, tidak tahu

nama besar dia, sekarang dia ingin mereka mengetahui dan

menghormati dia, agar tidak bentrok karena salah paham,

agar dikemudian hari mudah bertanggung jawab pada guru

atau orang tua mereka, Ternyata, kata-kata dia seperti batu

jatuh ke dalam lautan, tidak ada reaksi dan jawaban.

Dewi KZ 159

Sekarang Gan Cu-kan betul-betul marah, dalam hatinya

berpikir, ‘aku telah mengatakan nama besarku, di dunia

persilatan semua orang tahu, aku sudah beberapa kali

bertanya tapi mereka tidak jawab, berarti mereka

merendahkan aku. Kalian dua anak kecil, bila bukan baru

terjun ke dunia persilatan, tidak tahu nama besar aku,

berarti ada sesuatu pegangan untuk mencari masalah.’

Maka dengan muka berobah dia berteriak: “Bocah tidak

tahu aturan! Bila tidak menjawab lagi, orang she Gan akan

mewakili orang tua kalian memberi pelajaran.”

Pesilat tinggi yang baru masuk ruangan sudah berkumpul

disekeliling, A Bin, Hong-tai dan tiga orang, tosu, hweesio

dan orang terpelajar.

Kata-kata yang bernada bentakan dari Gan Cu-kan itu

baru membuat Hong-tai sadar, dia yang berpenampilan

angkuh mana bisa menerima perkataan itu, maka sambil

membelalakan mata, dia membentak:

“Kalau tidak menjawab, kau bisa apa? Kau punya

kepintaran apa, coba perlihatkan!”

Perkataan dengan bentakan itu, Hong-tai seperti sengaja

mencari gara-gara, bukan saja Gan Cu-kan marah, Jit Ie

Taysu dan Ku-cu Tojin dua orang yang berbudi luhur juga

terpaksa berkata:

“Anak muda harap berbicara sopan, kau harus1tahu, Kiliu-

kwie-seng Gan Cu-kan adalah orang yang tinggi

kedudukannya yang dihormati……”

Hong-tai menjawab dengan dingin:

“Aku tidak tahu, apa itu pendekar sombong, bila dia

berani turun tangan, aku akan memberi pelajaran!”

Dewi KZ 160

Biar pun kesabaran pendekar Gan Cu-kan sangat tinggi,

tidak tahan juga dengan ucapan itu, muka dia berobah

pucat, dengan marah membentak:

“Kalian berdua jangan ikut campur, biar aku yang

menghadapi anak muda ini, aku mengetahui lebih

banyak….!”

Sambil bicara dia sudah melangkah kedepan melewati

kedua orang itu, mengetahui bentrokan tidak akan terelakan

lagi, tosu dan hweesio segera melangkah mundur kepinggir.

A Bin melihat di pinggir dengan pikiran bersih, dia

mengetahui Gan Cu-kan bukan seorang biasa, dia khawatir

Hong-tai yang angkuh akan kalah, segera dengan

memegang tubuh Thi-koan Tojin dia maju ke depan Hongtai,

menghadap Gan Cu-kan.

Dalam keadaan marah, Gan Cu-kan mana bisa

membiarkan A Bin menghalangi jalannya, sambil ber-pikir

tidak melukai Thi-koan Tojin, dengan satu totokan kipas

lipat dia menyerang menuju bahu kiri A Bin berseru:

“Minggir! Jangan halangi aku!”

Dia mengharapkan A Bin terdesak kepinggir, agar dia

bisa bertarung dengan Hong-tai.

Ternyata A Bin tidak bermaksud menghindar, malahan

mengeluarkan tangan kiri dari kedua tangan yang

memegang badan Thi-koan Tojin, secepat kilat, memotong

tangan kanan Gan Cu-kan, jurus ini sangat cepat, tidak bisa

membedakan jurus Gan Cu-kan lebih cepat atau tidak, bila

kedua jurus ini bentrok, bahu kiri A Bin akan kena totokan

kipas lipat, tapi tangan kanannya juga akan kena sapuan

jurus tangan kiri A Bin.

Orang-orang yang menyaksikan di sekeliing, tidak

menyangka bahwa anak remaja ini menguasai ilmu

Dewi KZ 161

demikian tinggi, banyak yang bersuara kagum “Iiii!”, Jit Ie

Taysu dan Ku-cu Tojin juga terkesima.

Gan Cu-kan terkejut bukan main, dia telah

berkecimpung dalam ilmu kipas ini puluhan tahun, ternama

dengan kecepatan dan kecerdasannya, tidak disangka dalam

hitungan detik, anak remaja ini bisa membalas serangan

dia, waktu serangan baliknya juga sangat tepat, bila saja

tangannya terkena sapuan serangan tangan A Bin, atau

kena sedikit saja angin telapak tangan A Bin, nama

besarnya seumur hidup akan sirna.

Memang pantas dia seorang jago dalam dunia persilatan,

dalam segala kerepotan dia menarik kipas mundur setengah

langkah, dengan menunjuk dia berbicara dikejauhan:

“Kau lepaskan dulu Thi-koan Tojin! Jangan sampai dia

terluka, agar aku dapat leluasa bertarung denganmu, kalian

berdua sama-sama bertarung juga, aku tidak keberatan!”

Hong-tai keluar dari belakang A Bin, sambil meludah ke

lantai berkata:

“Kau pelajar murahan, tidak pantas bertarung dengan

kita berdua.”

Sebenarnya Hong-tai mengetahui nama dia sangat

tersohor, karena dia marah di dalam hati, ingin mencoba

ilmu silatnya, dia sengaja membuat marah lawannya.

Saking marahnya Gan Cu-kan malah tertawa, dengan

sinis dia berkata:

“Aku sudah menjelajah dunia persilatan selama empat

puluh tahun, baru kali ini bertemu anak muda yang

sombong begini, mari! Mari! Seperti kau bicarakan, siapa

yang duluan, kalian tentukan saja sendiri!”

Dewi KZ 162

Hong-tai mengetahui ilmu kipas orang ini sangat tinggi

dia tidak berani menganggap enteng lawannya, maka dia

menurunkan pedang awan ungu dari pundak dan bersiap

sambil membentak:

“Pelajar murahan! orang takut lain mungkin takut pada

kipas kusammu, aku malah tidak takut!”

Mendengar kata-kata itu Gan Cu-kan berpikir dalam

hati, ‘kalian sudah tahu malahan sengaja menantang aku’,

maka dia menahan kemarahannya, sambil menggoyangkan

kipasnya, berkata dingin:

“Anak kecil, jangan bermulut besar, silahkan keluarkan

jurusmu!”

Hong-tai tahu dengan kedudukan dan ilmu silat Gan Cukan,

minta dia menyerang dulu, bukan berarti lawannya

sombong, maka Hong-tai memusatkan tenaga dalamnya,

lalu membentak menyerang, jurus pedang Awan Ungu

melesat bagaikan sinar pelangi menuju jalan darah Souwcin-

hiat di dada lawan.

Gan Cu-kan mendehem sekali, tubuhnya melesat

melewati pinggir pedang, membuka kipas ssst…. suara

kipasnya mengibas Hong-tai.

Hong-tai menyangka, dengan nama besarnya, Gan Cukan

tidak akan berani menggunakan siasat bangsat

menggunakan obat bius, tetapi pengalaman membuat dia

lebih pintar, khawatir dalam kipas lawan ada sesuatu,

begitu angin kipas hampir sampai, dia bergeser dengan jurus

bintang tujuh, menghindar beberapa kaki.

Gan Cu-kan pura-pura tidak melihat gerakan Hong-tai,

dengan tertawa sinis, dia meloncat beberapa tombak,

bagaikan setan mengejar, kipas di tangan sudah dilipat lagi,

menyerang Hong-tai.

Dewi KZ 163

Mengetahui lawan mengejar dengan cepat, bayangan

kipas sudah menuju arah jalan darah Khi-hoan-hiat di

tenggorokan, dalam sisa serangan pedangnya Hong-tai

menggunakan kelincahan, mem-buat serangan dahsyat

kipas Gan Cu-kan melenceng ke pinggir, ternyata Hong-tai

menggunakan ilmu khas keluarganya, meminjam tenaga

lawan melencengkan arah kipas ke pinggir.

Jago-jago dari aliran perguruan, melihat A Bin dan

Hong-tai hanya dengan satu jurus sudah menunjukan ilmu

silat yang luar biasa, mereka bertanya-tanya tentang riwayat

anak muda itu, melihat jurus pedangnya tadi, ada orang

yang mengetahui berteriak terkejut:

“Jurus pedang In-kiam!”

Mendengar itu Gan Cu-kan segera menghenti-kan

gerakannya, lalu bertanya dengan sopan:

“Apakah kau murid aliran In-kiam?”

Pada detik itu dari luar gedung terdengar suara

menggema:

“Semua berhenti, kalian adalah teman sendiri!”

Mata semua orang di dalam gedung melihat keluar,

mereka melihat seorang kakek berjenggot perak dan seorang

gadis muda dengan gerakan cepat mendarat di lantai

ruangan.

Saat itu A Bin telah meletakan tubuh Thi-koan Tojin

dilantai, dia ingin menjaga dan menggantikan Hong-tai,

mengetahui ada orang dari luar gedung masuk, dia melihat

dengan jelas, ternyata mereka adalah kakek jenggot perak

Gin-hoat lojin dan cucu luar dia Siau-cian yang pernah

bertemu dikedai arak mulut pegunungan Pak-lun.

Dewi KZ 164

Jit Ie Taysu dari Siauw-lim dan Ku-cu Tojin dari Bu-tong

adalah kenalan lama dengan Gin-hoat lojin, malah jika di

lihat dari tingkatan mereka lebih rendah kedudukan atau

paling-paling sejajar, maka mereka berdua memberi hormat

sambil membungkukkan tubuh.

Orang orang dalam gedung biar pun tidak tahu siapa

kakek ini, tetapi dari sikap tosu dan hweesio yang menyebut

Cianpwee, mereka langsung tahu bahwa kakek ini bukan

orang biasa.

Gin-hoat lojin dengan tenang melewati kerumun an

orang, menghadap Gan Cu-kan sambil tertawa berkata:

“Adik Gan, kenapa bisa berselisih dengan mereka?”

Disebut ‘adik’ oleh kakek Wie Tiong-hoo sudah

merupakan satu kehormatan bagi Gan Cu-kan, biar pun dia

mempunyai julukan Ki-liu-kwie-seng, juga tidak berani

sombong, maka menyembunyikan keangkuhan-nya dengan

hormat dia menjawab:

“Wie Lo-cianpwee! Ini hanya salah paham, aku

mengaku salah!”

Si cantik Siau-cian yang juga ikut dibelakang Kakek

luarnya, meski di dalam gedung begitu banyak orang

ternama, sedikit pun tidak dipandang oleh dia, sepasang

matanya seperti terbetot, dengan roman muka manis

senyum melirik muka A Bin.

A Bin juga senang pada Siau-cian, sejak pertemuan

mereka di kedai arak pegunungan Pak-lun, dalam hati

sering terbayang nona cantik ini, begitu bertemu lagi, A Bin

sangat bembira, dan menjawab dengan lirikan mata

tersenyum.

Sejak kakek dan anak gadis masuk ruangan, Hong-tai

sudah memperhatikan, lebih-lebih terhadap nona cantik itu,

Dewi KZ 165

timbul perasaan iri dari sifat alamiah seorang gadis, biar

pun dia tahu kakek itu seorang terhormat dari dunia

persilatan, tetapi tidak ada hubungan keluarga dengan

dirinya, mungkin mereka ada hubungan apa-apa dengan A

Bin,

Maka dalam hari Hong-tai timbul perasaan benci dan

waspada terhadap Siau-cian, dia mendekati A Bin, bertanya

di pinggir telinga A Bin:

“Siapa nona itu?” rasa iri dari Hong-tai mem-buat dia

lupa bahwa A Bin itu tidak bisa bicara.

Sambil tertawa terbahak-bahak, Wie Tiong-hoo berkata

pada A Bin:

“Keponakan Lui, cukup lama kita berpisah, sekarang kita

bertemu lagi, betul-betul ada jodoh!” lalu berkata pada Gan

Cu-kan, “Keponakan Lui, karena terdorong arus dingin es,

sehingga mendapat gangguan di tenggorokan, tidak bisa

bicara sampai kini, mungkin salah paham adik Gan dari

soal ini.”

Gan Cu-kan merasa malu setelah mendengar keterangan

itu, dia segera berkata:

“Aku tidak menyelidiki dulu, mohon maaf sebesarbesarnya!”

Wie Tiong-hoo berbicara pada Hong-tai:

“Kau mungkin turunan dari In Tiang-long -heng, jurus

tadi yang digunakan To-in-tan-jif selain dari jurus Tn-kaukiam-

hoat’, tidak ada orang yang bisa gunakan jurus itu.”

Berhadapan dengan Lo-cianpwee dunia persilatan,

Hong-tai tidak berani bersikap angkuh dan tidak sopan,

maka dia menjawab dengan hormat:

“In-kiam adalah ayah ku!”

Dewi KZ 166

Terdengar suara terkejut di sekeliling ruangan, mereka

terkejut mengetahui bahwa ada turunan dari salah satu

Empat Jagoan Wahid.

Mendengar perkataan Hong-tai itu, muka Siau-cian

berobah menjadi dingin, hal ini terlihat oleh A Bin yang ada

dipinggir, dia merasa terkejut dan aneh, entah apa

masalahnya?

Hong-tai yang ingin segera mengetahui jejak ayahnya,

tidak hiraukan keramahan Wie Tiong-hoo, dia berbalik

tanya pada Gan Cu-kan:

“Bolehkan anda ceritakah tentang ayahku!”

Kata-kata Hong-tai sekarang lebih sopan, meski-pun

nada bicaranya tetap dingin, bagi Gan Cu-kan sebagai

orang ternama, ilmu mengendalikan dirinya sudah tinggi,

apalagi dihadapan Wie Tiong-hoo, tidak pantas buat dia

meributkan soal kecil, maka dengan menahan kegusaran

pada Hong-tai, dia menceritakan kembali soal yang tadi

diceritakan pada tosu, hweesio dengan lebih jelas semua

orang baru tahu cerita ini, maka timbul suara bisik-bisik

diantara orang banyak.

A Bin memperhatikan dengan seksama, melihat emosi

Hong-tai dan Siau-cian yang paling tinggi, timbul dugaan

apa hubungan dia dengan peristiwa itu.

Bersamaan waktu ada orang berteriak:

“Thi-koan Totiang, sudah bangun!”

Pandangan mata semua orang tertuju ke tempat tosu itu,

tampak kedua mata Thi-koan Totiang sudah terbuka lebar,

dia sedang menjulurkan kedua tangan dengan pelan-pelan

ingin berusaha duduk, Ku-cu Tojin dan Jie Ie Taysu

berebutan menghampiri, membantu Thi-koan Totiang

Dewi KZ 167

duduk di bangku, orang-orang pun berkerumun

menghampiri mereka.

Karena baru bangun dari pingsan, pandangan Thi-koan

Totiang masih buram, dia belum bisa mengenal siapa saja

yang ada di sekelilingnya, berdiam sejenak, dia

mengatakan1 kejadian yang menimpa diri dia.

Ternyata waktu dia bertapa selama sepuluh tahun, pada

saat berakhir pagi itu sekitar jam lima subuh, pada detikdetik

terpenting dia tidak boleh mengalami gangguan dari

luar, semua usaha jerih payahnya selama sepuluh tahun

akan gagal dan akan mengalami kelumpuhan, maka muridmurid

dia berkumpul di dalam gedung, menjaga jangan ada

musuh mengganggu. Tidak tahunya, ada tamu yang tidak

diundang masuk dan menggunakan jarum perak menyerang

mereka, sehingga tanpa mengeluarkan sedikit suara pun

mereka langsung mati, dan orang itu menyelinap masuk ke

pintu rahasia, masuk ke dalam kamar tersembunyi, buat

Thi-koan Tojin yang dalam detik-detik terakhir akan

mencapai kesempurnaan, berobah seperti orang cacad,

entah siapa orang yang datang, tahu-tahu dia sudah ditotok

jala darah kematian-nya, dan mengambil naskah besi berisi

ilmu Thio Sam-hong couwsu.

Beruntung Thi-koan Tojin saat sebelum bertapa dia

sudah menutup semua jalan darahnya, biarpun ditotok

orang jalan darah kematiannya, dia hanya pingsan sebentar,

lalu bangun lagi dengan sendirinya, hanya kaki bagian

bawah yang menjadi lumpuh.

Semua orang gusar, karena nyawa sepuluh orang murid

Thi-koan Tojin bukan urusan sepele, dan mereka

menempuh jarak ribuan li datang ke biara ini untuk

mendapatkan pepetah dari buku wasiat Thio Sam-hong,

ternyata buku itu sekarang telah dirampas orang, sehingga

mereka menjadi sia-sia datang.

Dewi KZ 168

Yang pertama marah adalah Gan Cu-kan, dia berkata:

“Ada tulisan dari Jian-kin-kau di ruangan ini, berarti

yang mencelakakan Thi-koan Tojin tentu per-buatan

mereka juga, kita harus bertindak cepat mencari alamat

dimana sarang Jian-kin-kau?”

Jit Ie Taysu adalah hweesio yang tinggi ilmunya dan

penampilannya tenang, dia berbicara dengan sabar:

“Di lihat dari kata-kata yang ditinggalkan Jian-kin-kau,

bernada menantang semua aliran dunia persilatan, berarti

mereka mempunyai organisasi sangat besar, aku kira lebih

baik kita pastikan harinya meng-undang semua ketua partai

dan ahli-ahli silat untuk merundingkan cara yang baik

menghadapi musuh bersama!”

Ku-cu Tojin berkata juga:

“Aku setuju saran Jit Ie Taysu dan mengusulkan bulan

depan tanggal satu siang tepat, semua berkumpul dibiara

Siauw-lim, selain kawan-kawan disini, dan mengundang

ketua partai lain dan orang-orang persilatan lainnya, dan

urusan surat undangan akan ditangani oleh Kian Ih Taysu

dari Siauw-lim, Wie Lo-cianpwee, Gan-tayhiap, Thi-koan

Totiang dan ketua partai kami!”

Semua orang dalam ruangan setuju usulan dari hweesio

Siauw-lim dan tosu Bu-tong.

Gan Cu-kan dengan tegas berkata:

“Saran Jit Ie Taysu dan Ku-cu Tojin adalah cara

mengambil sumber api di bawah teko, berarti saat rapat

diadakan, jika asal usul Jian-kin-kau sama sekali belum

jelas, rapat itu hanya omong kosong, aku bersedia

menampilkan diri, mengemban tugas, sebelum rapat

dimulai menyelidiki segala hal tentang aliran itu.”

Dewi KZ 169

Setelah itu jago-jago persilatan pada bubar dan

meninggalkan tempat, Thi-koan Tojin juga dituntun oleh

teman dekatnya meninggalkan biara Cu-sia.

Wie Tiong-hoo bersamaan A Bin dan Hong-tai juga

meninggalkan biara itu, sambil jalan menanyakan

pengalaman Hong-tai selama diluar rumah.

Hong-tai sebetulnya tidak mau menerangkan urusan

sendiri, karena Wie Tiong-hoo yang bertanya, dia tidak

berani menolak, maka dia bercerita dengan asal saja, bahwa

karena jejak ayah menghilang selama enam tahun, dia

mendapat izin dari ibunya, keluar rumah mencari jejak

ayahnya.

Sambil memegang janggotnya Wie Tiong-hoo berkata:

“Berita yang dikatakan Gan Cu-kan tadi, belum tentu

betul, kau jangan langsung percaya, hingga berselisih

dengan Lui-to dan Giok-kiong.”

Hong-tai diam sejenak, pelan pelan menjawab:

“Terima kasih atas petunjuk kakek, aku mengerti dan aku

akan segera ke puncak gunung itu untuk melihat sendiri,

apa kata-kata Gan Cu-kan betul atau bohong.”

Siau-cian seperti tidak senang pada percakapan kedua

orang itu, tetapi sepasang mata dia selalu melirik muka A

Bin, Hong-tai yang diam-diam melihat tingkah Siau-cian,

rasa irinya menjadi makin besar.

Sambil ngobrol, mereka telah sampai di pusat kota,

setelah menanyakan nama penginapan yang A Bin dan

Hong-tai gunakan, Wie Tiong-hoo bersama Siau-cian pamit

pergi.

Ketika bersamaan berjalan pulang kepenginapan, di

dalam perjalanan Hong-tai sama sekali tidak menyapa A

Dewi KZ 170

Bin, seperti ada rasa jengkel menguasai dirinya, hal ini

membuat A Bin kelabakan tidak mengerti Hong-tai bisa

begitu.

Sampai dipenginapan, dua pembantu Hong-tai yang

menyamar menjadi laki-laki, sudah lama menung-gu diluar,

melihat dia telah kembali dengan aman, dengan gembira

mendekati dan berteriak:

“No……tuan muda, kau kemana saja, membuat kita

khawatir bukan main!” Hong-tai dengan muka dingin

langsung masuk kamar.

A Bin tidak mengerti kenapa Hong-tai begitu marah pada

dia, dia tidak dapat langsung bertanya, dengan kesal dia

kembali ke dalam kamar, dia tidak melihat Cia Ma-lek ada

didalam kamar, kemungkinan Cia Ma-lek sedang mencari

dia juga, A Bin dengan banyak pikiran, setelah semalam

tidak tidur langsung berbaring di ranjang, tapi dia tidak bisa

tidur, entah berapa lama dia seperti tidak sadar.

Mendadak terdengar Cia Ma-lek berkata di pinggir

kupingnya:

“Aiyah, adik Lui, aku cari kemana-mana tidak bertemu,

ternyata kau pulang duluan.”

A Bin terperanjat bangun, dia melihat Cia Ma-lek

dengan Yo-po-lo-to sudah berdiri di dalam kamar, segera

dia bangun dan memberi hormat pada kakek Yo-po-lo-to.

Yo-po-lo-to tertawa terbahak-bahak berkata:

“Kelihatannya kau mendapat masalah!”

Muka A Bin menjadi merah menundukan kepala,

terdengar lagi gurauan dari Yo-po-lo-to:

“Aku menjadi setengah tosu, bukan untuk apa, justru

menghindarkan masalah, ketika masih muda karena

Dewi KZ 171

perempuan, sesudah tua karena anak cucu, semua sangat

membuatku pusing. Sekarang aku tidak punya murid, tidak

ada pikiran dalam diriku, hampir sama senangnya dengan

dewa? Bisa minum arak bagus, makan pun enak, aku juga

rakus, maka bicara soal ini, aku juga bukan tosu lagi……”

A Bin dan Cia Ma-lek masih punya sifat anak muda,

kata-kata Yo-po-lo-to hanya bisa diterima setengahnya,

antara mengerti atau tidak, Yo-po-lo-to dengan menghela

nafas sedikit berkata:

“Aku bercerita ini, mungkin untuk hari ini kalian tidak

mengerti, mungkin sepuluh tahun kemudian kalian baru

tahu filsafat ini, sekarang berbicara soal masalah di depan

mata! Anak temanku Lok-houw-it-kun biar pun sombong,

tetapi masih mempunyai jiwa ksatria, tadi pagi kata-kata

Hong-tai di depanmu, aku ikut mendengarkan, tetapi teman

aku itu semakin tua semakin ceroboh, mau saja menjalin

hubungan dengan Jian-kin-kau-kau, aku tidak menaruh rasa

simpati kepada orang-orang yang menamakan aliran murni,

tetapi tidak ingin aliran sesat itu meraja rela, dan Pelajar

sombong itu biar sombong dan urakan, tetapi masih

seorang baik, didepan umum menjagokan diri sendiri akan

menyelidiki aliran sesat itu, ada kemungkinan terjadi

perahu terguling di sungai deras, malah di-permainkan

orang, aku tidak ingin dia mati di tangan bangsat teri, aku

akan mengejar dia, melindungi di belakangnya, jika kalian

berdua punya rencana, silahkan kerjakan, bulan depan di

pertemuan Siauw-lim, meski tidak terang-terangan

menampakan diri, tetapi aku akan melihat diam-diam, aku

ingin tahu mereka yang menamakah dirinya aliran lurus,

punya rencana apa terhadap musuh” orang tua ini begitu

datang sebentar langsung pergi lagi, kata-katanya begitu

habis, dia keluar pintu kamar langsung menghilang bersama

bayangannya.

Dewi KZ 172

Cia Ma-lek dengan muka lucu berkata:

“Orang tua ini sesudah berkata langsung meninggalkan

kita, entah kenapa, begitu lihat dia aku merasa tidak

tenang……” dan berkata lagi, “Oh, kau tahu tidak? Nona In

telah pergi?”

A Bin sangat terkejut, dia berdiri dan keluar dari pintu

kamar, Cia Ma-lek ikut keluar, sambil berkata:

“Adik, orang sudah pergi, kau mau lihat apa?”

A Bin tidak menghiraukan kata-kata Cia Ma-lek, dia

menerobos masuk ke kamar Hong-tai, benar saja, kamarnya

sudah kosong, dia tercengang beberapa detik, mendadak dia

ingat pada satu tempat, dia langsung keluar kamar

meninggalkan hotel, berlari menuju ke arah Ban-li-san.

Cia Ma-lek jadi dibuat kalang kabut, segera

membereskan rekening hotel sambil berteriak-teriak, cepat

mengejar A Bin, A Bin sama sekali tidak men-jawab,

menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dia berlari

kencang, meninggalkan Cia Ma-lek jauh-jauh.

Ternyata A Bin ingat kata-kata Gan Cu-kan, dia

menduga Hong-tai dan pembantunya pasti ke puncak tiang

langit, ingin menyelidiki sendiri apa betul cerita tentang

golok putus, pedang patah, busur panah cacad, maka A Bin

begitu terpikir langsung berjalan, berbalik lagi ke tempat

asal dia datang, menuju Ban-li-san.

Berita kematian ayahnya, kepergian tanpa pamit In

Hong-tai dan pekerjaan sadis dari Jian-kin-kau yang

berurutan datang, membuat A Bin seperti mimpi dan dalam

bayangan tidak menentu dia berlari kencang menuju

pegunungan itu, tanpa menghiraukan keadaan di

sekelilingnya.

Dewi KZ 173

Ilmu meringankan tubuh yang digunakan A Bin seperti

terbang, tidak sampai tiga jam, dia sudah sampai di kedai

arak di Pak-lun, setelah semalaman kelelahan, perutnya

sudah merasa lapar, maka dia segera makan, dan membeli

makanan ringan, setelah itu dia menuju mulut gunung, dan

masuk ke daerah Ban-li-san.

Enam tahun yang lalu, sebelum masuk ke pegunungan

itu, A Bin telah mempelajari dengan jelas daerah-daerahnya

di peta, puncak tiang langit adalah puncak utama di Ban-lisan,

mudah dicari, A Bin ingin mendahului Hong-tai tiba di

sana, menyelidiki dengan jelas, maka dia tidak banyak

istirahat.

Ban-li-san sangat luas, jurangnya sangat dalam mungkin

ribuan li, dengan kemahiran ilmu meringankan tubuhnya,

A Bin juga harus menghabiskan waktu banyak, hingga sore

dia baru menempuh setengah perjalanan.

Hati A Bin sedang membara, di tambah berilmu tinggi,

nyalinya besar, tidak takut pada kegelapan, pegunungan

makin tinggi, sekeliling gelap dan embun makin tebal,

pohon dan tanaman, batu dan bunga seperti diciptakan oleh

iblis, berbentuk ingin memangsa manusia. A Bin tidak

gentar, dia masih dengan cepat melompat menuju puncak

tiang langit.

Tengah malam di pegunungan, jarang ada jejak manusia,

perasaan A Bin seperti berada dalam neraka, otak terasa

bimbang, pemandangan ditambah embun semakin remang,

timbul bermacam-macam pertanyaan yang susah

dipecahkan.

Dia ingat pada ayahnya, dia tidak percaya sebagai pesilat

tangguh ayahnya bisa terbunuh, apa telah terkena tipu

orang? Musuh yang mana? Apa betul kata-kata Gan Cukan,

mereka bertiga Lui-to, In-kiam dan Giok-kiong saling

Dewi KZ 174

membunuh? Makin dipikir dia makin tidak mengerti,

persahabatan ayah dengan dua teman-nya itu biarpun

bukan teman sehidup semati, tidak mungkin terjadi saling

membunuh, bila itu terjadi, berarti ada sesuatu, apa ada

dendam yang sangat besar atau terjadi kesalah pahaman?

Memikirkan sampai disini, otaknya terbayang muka

sadis dan licik Kau Bun-kek, hati dia terasa menggigil,

‘Celaka!’ pikirnya dalam hati A Bin, apa betul jagoan licik

ini yang mengadu domba?

Bolak-balik berpikir, A Bin makin percaya ucapan Gan

Cu-kan yang memperolehkan desas-desus tentang ayahnya,

In-kiam dan Giok-kiong telah terbunuh, semangat A Bin

langsung ambruk.

Sebuah berita kematian yang mendadak datang, susah

dipercaya oleh yang menerima, lebih-lebih bila sebagai

anak, tetap menaruh satu garis harapan, selalu tidak mau

percaya berita kematian orang yang terdekatnya. Tetapi A

Bin telah mengetahui kelicikan Kau Bun-kek, timbul dalam

pikirannya bila betul ayahnya, In-kiam dan Giok-kiong

terkena bujukan hingga di adu domba berduel sampai mati,

betul atau tidak tidak siasat ini adu domba Kau Bun-kek, Inkiam

dan Giok-kiong boleh dikatakan musuh sendiri, dan

turunan mereka termasuk musuh sendiri juga.

Dan A Bin berpikir lagi, bila dia sendiri tidak

mempedulikan dendam ini, apakah Hong-tai juga tidak

akan menganggap dia sebagai musuh bila tahu diri A Bin

adalah turunan dari Lui Kie.

Lebih lanjut dipikirkan lagi, sifat Hong-tai susah

memaafkan, tidak memandang A Bin sebagai musuh sudah

susah, mana berani meneruskan persahabatan mereka,

seharian A Bin berkenalan, sudah menaruh rasa cinta di

dalam hati, dan kemudian bila bermusuhan, bagaimana

Dewi KZ 175

perasaan cintanya tersalurkan, ingat pada hal itu A Bin

menjadi sedih.

Hati A Bin makin kacau, perasaan hatinya ingin melihat

muka Hong-tai, melihat tawa mendengar suara merdunya.

Sekarang mengetahui dia sebagai anak perempuan

musuhnya, dia jadi takut bertemu, maka dia memutuskan,

ingin lebih dulu dari Hong-tai tiba di puncak tiang langit,

mengetahui benar atau tidaknya kejadian itu tanpa

diketahui Hong-tai.

Bila betul tahu kejadian itu sebuah fakta, bahwa ayah

dan In-kiam, Giok-kiong mati saling bunuh, diri sendiri

bagaimana terhadap Hong-tai, A Bin tidak berani berpikir

lagi.

Hati A Bin kusut bagaikan karung, dan makin terasa

berat, langkah-langkahnya juga berat sekali, dia dengan

linglung lari ke depan, tidak tahu sudah sampai di daerah

mana.

Saat dia sadar kembali dan ingin berhenti berlari, dia

mengawasi sekelilingnya, terdengar satu suara aneh

dikupingnya, suara itu sangat sedih dan memilukan, seperti

suara tangis monyet atau orang sedang nyanyi?

A Bin tertarik oleh suara aneh itu, sementara dia

menangguhkan rencana semula, mencari asal suara

bernyanyi itu, didengar dengan seksama, A Bin tidak

mengetahui isi lagunya, tetapi dari suara orang itu terdengar

bernada sedih, menyesal dan duka cita……

Mengikuti arah suara nyanyi, A Bin melewati satu jalan

kecil yang melingkar, disebuah tumpukan pohon, suaranya

makin terdengar nyaring, kesedihan yang amat dalam,

sungguh-sungguh menyayati hati orang yang

mendengarnya.

Dewi KZ 176

Suara lagu itu datang dari dalam hutan lebat, A Bin

dengan perasaa ingin tahu, tidak menghiraukan bahaya

menerobos ke tempat yang gelap itu.

Ketika makin dekat, lagu itu mendadak berhenti, A Bin

melihat dalam jarak beberapa tombak sepasang mata hijau

bercahaya sedang berkedip-kedip.

A Bin terkejut sejenak, dalam pikirannya entah binatang

apa itu, maka dia pun berhenti melangkah, memasang

kuda-kuda, menjaga benda aneh yang bersinar hijau itu

menerkam.

Mendadak sepasang mata itu hilang, A Bin merasa aneh,

biarpun loncatan gesit macan tutul, juga tidak mungkin

hilang jejak dalam sekejap mata.

A Bin termenung, mendadak terdengar lagi lagu sedih

dari tempat yang bersinar hijau itu, A Bin baru mengerti,

sinar yang berkedap kedip itu adalah mata orang yang

sedang bernyanyi, mata dia ditutup sehingga tidak terlihat

oleh A Bin, bukan berpindah tempat itu, A Bin merasa

terkecoh juga.

A Bin tidak tahu orang itu dari mana, maka dia tidak

berani berbuat sembrono, dia berdiam di tempat, menunggu

perkembangan, lagu itu makin sedih, seperti ingin

mengeluarkan seluruh isi hati si penyanyi, jadi yang

terdengar bukan lagu lagi, tetapi teriakan dalam hati,

mendengar suara itu, A Bin tahu kesedihan orang itu sangat

dalam.

Sejenak kemudian, A Bin merasa aneh dan iba terhadap

orang itu, pelan-pelan dia mendekat, pohon-pohon berdaun

lebat, terang langit tidak bisa menembus daun yang lebat

itu, sampai jarak beberapa kaki, baru agak jelas roman

muka orang itu.

Dewi KZ 177

Orang tersebut duduk di atas tumpukan tanah,

rambutnya panjang hingga ke lantai, alis dan kumis sama

panjangnya, sehingga hidung dan mulut tertutup, baju yang

dipakai compang-camping, terlihat bekas luka di seluruh

tubuhnya.

Sambil menutup mata orang itu bernyanyi dengan tekun,

tidak menghiraukan segala sesuatu, sampai kedatangan A

Bin juga seperti tidak tahu.

A Bin berdiri didepan dia, memperhatikan orang itu

bernyanyi dengan penuh perasaan dalam lubuk hatinya, dia

tampak menggunakan tenaga besar, dada-nya turun naik

sangat kentara, suaranya keluar dari Tan-tiannya.

Melihat itu, A Bin sangat terkejut, dia sendiri pernah

belajar ilmu tenaga dalam yang tingkat tinggi, dia

mengetahui bernyanyi menggunakan cara begitu sangat

menguras tenaga, orang biasa yang bernyanyi beberapa kali

akan kecapaian dan tidak bisa meneruskan, tetapi orang itu

sudah bertahan sekitar satu jam, kelihatan bukan baru saja

bernyanyi, entah sudah sepanjang hari dan malam, tenaga

dalam orang itu betul-betul hebat.

Setelah bernyanyi sejenak lagi, lagunya berhenti, orang

tersebut membuka kedua matanya dan sinar hijau dari

matanya bercahaya lagi.

A Bin telah tahu bahwa orang ini menutup mata saat

bernyanyi, membuka mata waktu berhenti, saat dia

membuka mata A Bin ingin memberi isyarat tangan

berkenalan, tapi orang tersebut telah menghela nafas

panjang!

Suara tersebut panjang sekali, pertama-tama di dengar A

Bin seperti dekat kupingnya, selanjutnya seperti jauh

puluhan tombak, membuat A Bin lebih percaya bahwa

orang ini berilmu sangat tinggi.

Dewi KZ 178

Sesudah menghela nafas panjang, orang itu dengan suara

sangat sedih berkata:

“Kau tahu tidak! Sekali salah akan menyesal seumur

hidup!”

A Bin mengetahui dia berkata pada dirinya, biar pun

merasa mendadak, tidak tahu apa maksudnya, dia masih

menundukan kepala dengan hormat.

Orang itu memalingkan kepalanya kesamping, berkata

pada pohon besar di sebelah kiri:

“Kau tahu tidak? Musibah di puncak gunung tidak layak

diucapkan!” dan kepala dia berpaling ke belakang berkata

pada sebuah pohon besar, “Kau tahu tidak, penyesalan

tidak ada akhirnya!” dan kepala berpaling kearah kanan,

berkata pada pohon lainnya, “Kau tahu tidak, kesalah

pahaman tidak bisa di-katakan?”

Setelah itu dia duduk di tempat asalnya, meng-hadap

muka A Bin menghela panjang sekali, langsung

memejamkan kedua matanya, tidak bicara tidak bernyanyi,

suara sedih dari helaan panjang orang itu masih

berkumandang di seputar hutan itu.

Setelah mendengarkan empat baris kata yang berupa

lagu atau sajak dari orang itu, A Bin baru sadar bahwa

orang itu sudah dalam keadaan linglung, memandang

pohon di sekelilingnya sebagai manusia, melimpahkan isi

hati, dan memandang A Bin seorang yang hidup juga

seperti pohon itu.

A Bin merasa turut simpati pada orang itu, sayang dia

tidak bisa bicara untuk membuat perhatian pada orang itu

dan untuk memberi dukungan moril. Bersamaan waktu itu

terdengar suara geresek di batang pohon, seperti ada

binatang mendekat, tetapi tidak berani mendekat turun, A

Dewi KZ 179

Bin menduga ada binatang buas yang akan mencelakakan

orang linglung itu, segera siap menghadap serangan.

Orang tua itu membuka kedua mata, dengan nada

bertanya diarahkan keatas pohon berkata:

“Kau-ji, kau kenapa belum turun?”

Diatas pohon terdengar suara ‘dca’ dua kali, dan segera

meluncur satu monyet kecil turun ke tanah, tangan

kanannya memegang satu tangkai buah, tangan kiri

menunjuk ke A Bin, berteriak-teriak di depan orang linglung

itu.

Orang tua linglung itu memandang A Bin sebentar, tapi

tidak peduli pada A Bin, dengan suara sayang berkata pada

monyet kecil itu:

“Kau-ji, aku lapar, cepat cari makan!”

Monyet itu sambil memandang A Bin dengan curiga,

lalu memberikan satu ikat buah itu ke tangan orang tua itu

yang dilahapnya dengan cara sembarangan, buah itu

dimakan habis dengan sekejap waktu.

Monyet kecil itu menunggu orang itu habis makan, lalu

meloncat dengan gembira kepelukannya, dia terlihat intim

sekali, dan orang tua itu seperti memeluk bayi sambil

berkata:

“Kau-ji! Gadis baik! Tunggu setelah kau dewasa kakek

akan mencarikan jodoh pilihan buatmu!” monyet kecil itu

seperti mengerti, melihat muka orang itu bersuara ‘ci ca’ ‘d

ca’.

Kata-kata lucu orang tua itu, bila A Bin tidak punya

perasaan sedih mungkin akan tertawa juga.

Orang tua itu tetap menyayangi monyet kecil, berkata

sendiri, bengong sebentar, A Bin terpikir juga bahwa orang

Dewi KZ 180

tua ini kemungkinan besar punya anak yang namanya Kauji,

sekarang setelah menjadi di dalam hutan, salah

menganggap monyet sebagai anak gadisnya sendiri, hingga

berbicara demikian.

Setelah berkata tidak karuan, orang tua itu bersuara lebih

jelas, katanya:

“……sedihi Sedih! Mereka adalah petarung hebat di

dunia persilatan, semua tidak ada dendam mendalam,

ternyata saling bunuh dengan satu pedang, satu busur, satu

tombak……”

A Bin seperti tersengat setrum mendengarkan kata-kata

itu, terpikir di dalam hatinya, apa kejadian itu betul seperti

ayahnya berduel dengan In-kiam dan Giok-kiong, apa

orang tua ini menyaksikan di tempat kejadian, sehingga

terkejut dan menjadi, tersesat dihutan ini, tiap hari

bernyanyi dan berkata. Dia ingin mengetahui lebih jelas, A

Bin menahan gejolak di dalam hati, terus mendengarkan di

pinggir. Orang tua itu terus bercerita:

“……semua orang mempunyai ilmu tinggi, pertama-tama

tidak ada yang terluka, tiga orang tidak bisa menentukan

siapa pemenangnya, akhirnya mereka bertiga saling serang

hingga menjadi pertarungan yang kacau-balau……”

A Bin mendengarkan dengan sangat sedih yang

mendalam sehingga bulu romanya berdiri, tetapi tetap

mendengarkan dengan teliti.

“Sepuluh jurus lewat… seratus jurus lewat… seribu jurus

lewat biarpun orang terbuat dari baja, dewa agung juga ada

saat tenaganya habis, pertarungan kacau itu entah telah

berjalan berapa ribu jurus, hingga akhirnya mereka semua

lemas kehabisan tenaga dan ingatannya jadi kacau, jurusjurus

mereka tidak beraturan, malah seperti orang atau

binatang, sembarang pukul kiri pukul kanan, golok, pedang,

Dewi KZ 181

busur saling memukul memukul tubuh lawannya, terjadilah

cucuran darah seperti keringat, kulit dan daging terbelah,

tetapi tidak ada orang yang merintih kesakitan, tidak ada

orang yang mundur dari arena pertarungan, semua

bagaikan manusia besi! Orang kuat……”

A Bin yang mendengarkan kata-kata itu jadi sedih sekali,

jantungnya seperti dibelah, ingin membekam mulut orang

tua itu supaya jangan di teruskan lagi cerita sedihnya, tetapi

dia masih bertahan, dia terus mendengarkan.

Orang tua itu dengan mata memandang kosong ke depan

seperti mengingat kembali kejadian itu, kedua tangannya

diarahkan bergerak ke depan, sambil bercerita kembali,

monyet itu sudah terbiasa dengan gerakan tangan orang tua

itu sambil bermalas-malasan dipangkuan dia:

“……satu persatu pada roboh, lalu bangun lagi

berkelahi lagi, berteriak-teriak, bunuh, bunuh, akhirnya,

busur cacat, pedang patah, golok putus juga, masing masing

tinggal setengah busur, setengah gagang pedang, setengah

pegangan golok, tapi masih berteriak-teriak tidak hentihentinya.”

A Bin tidak tahan mendengarkan lagi, menutup kedua

kupingnya, memejamkan kedua mata, tidak tahan

mendengarkan lagi cerita itu, sambil berteriak dalam hati:

“Tuhan! Kenapa bisa terjadi kekejaman ini, sehingga

ayah, In-kiam dan Giok-kiong tiga ksatria terlibat

pembunuhan sadis, apa pendorong tenaganya? Dimana

mereka? Apa sebabnya membuat pembantaian yang tidak

bermoral?”

Pedih sekali A Bin mendengar cerita itu, tetapi dia ingin

mendengarkan kelanjutan cerita orang tua itu, tangannya

dilepaskan kembali, lubang kupingnya terus mendengarkan

cerita kembali.

Dewi KZ 182

“……langit dan bumi gelap, matahari dan bulan tidak

bercahaya, angin kencang diatas puncak gunung juga

tertutup oleh teriakan amarah ketiga orang itu, dan akhir

cerita, pedang menusuk daging di bawah ketiak, busur

mengiris tenggorokan, golok memukul patah kedua kaki,

tiga orang itu semua roboh.”

Mendengar cerita sampai disitu, A Bin sangat sedih,

keluar teriakan dari dalam hatinya, tetapi hanya berbunyi

dalam tenggorokan.

Tanpa mempedulikan lingkungan, orang tua itu

termenung dalam ingatan, berkata lagi:

“……tiba tiba, berdiri satu orang di antara mereka,

membelalakan matanya yang merah meman-dang kedua

orang yang terlentang ditanah, berteriak, ‘Bunuh! Bunuh!’

Dua tangan diangkat tinggi ingin merobek tenggorokan

kedua orang itu, mendadak satu suara geledek di siang hari

bolong membuat bertiga orang itu sadar kembali, seorang

yang berbaring berkata duluan, ‘ini……kejadian apa?’ yang

berdiri juga berkata, ‘Apa yang terjadi?’ Satu orang yang

berbaring berusaha duduk juga berkata, ‘Ini……’ baru

berkata sepatah, jatuh kembali, ternyata sudah

meninggal……”

Karena sedih besar A Bin makin termenung di

tempatnya, terus mendengarkan cerita:

“Yang berdiri tertawa sedih, berkata sendiri, ‘Tidak

disangka nasib tiga pendekar wahid bisa begini’ lalu duduk

di samping orang yang berbaring, berkata lembut, ‘Kita

berdua sudah terluka parah, tetapi bila berusaha saru orang

masih bisa hidup, dikemudian hari bisa mencari sebab

kenapa kejadian sadis ini bisa terjadi, aku sekarang akan

menyalurkan tenaga dalamku membantumu……’, sampai

Dewi KZ 183

cerita disini, tenggorokan orang tua itu berbunyi, sambil

menangis, air matanya jatuh bercucuran ke bawah.

A Bin ingin mengetahui akhir cerita, dengan sabar

menunggu orang itu bercerita lagi, sambil terisak isak orang

tua itu berkata dengan suara merintih:

“……akhir kata, satu orang lagi meninggal, tiga orang

jagoan dari dunia persilatan sisa satu orang yang setengah

hidup……”

Bercerita sampai disini, orang tua itu dengan nada putus

asa berdiam sebentar, dan melanjutkan bernyanyi lagi.

A Bin juga tersiksa oleh kesedihan, terjerumus dalam

keadaan bimbang dan bengong, entah berapa lama,

tubuhnya mulai terasa dingin, dia membuka matanya baru

tahu matahari sedang muncul di timur, embun dingin

menusuk tubuh, ternyata dalam keadaan setengah sadar dia

telah berdiri di lapangan terbuka sepanjang malam.

A Bin mendadak teringat orang tua itu, dia melihat orang

tua itu sudah tidak ada ditempatnya, A Bin terkejut bukan

main, diingatnya kembali kejadian tadi malam, apa

sungguh-sungguh bukan mimpi, lalu kemana orang tua itu?

A Bin segera menggunakan ilmunya, menerobos hutan,

dengan teliti mencari hingga diluar hutan, di depan

matanya terlihat satu gunung kecil di pinggir tebing, di kaki

gunung kecil itu ada satu goa.

Dalam hati A Bin berpikir, orang tua itu mungkin tinggal

di dalam goa itu, tanpa ragu ragu dia menerobos masuk

kedalam, baru melangkah tiga kali terdengar suara ‘ci ca’

satu kali, ada satu benda hitam jatuh dari atas melesat

masuk ke dalam goa, mata A Bin dengan jelas melihat anak

monyet itu yang kemungkin-an tidur diatas goa, karena

Dewi KZ 184

terkejut kedatangan orang asing, segera berlari ke dalam

memberitahu orang tua itu.

A Bin tidak membenci monyet itu, malah menilai

binatang itu cerdik, loyal dan menarik, maka dia

memperlambat langkah kakinya, agar orang tua di dalam

mengetahui kedatangannya.

A Bin pelan-pelan masuk sekitar sepuluh tombak,

melewati satu tikungan batu gua, di depan mata terlihat

satu ruangan sebesar rumah biasa, orang tua itu sedang

bersila di dudukan batu dengan tenang, dan monyet kecil

itu sedang menarik-narik sudut baju dia sambil terteriak,

tetapi dia tetap diam saja.

Monyet kecil itu melihat A Bin makin mendekati,

dengan terkejut meloncat kepangkuan orang tua itu, dua

cakarnya menggesek gesek kedua lengan baju orang tua itu.

Orang tua itu pelan-pelan membuka kedua matanya,

dengan dingin memandang A Bin, tetapi seperti tidak

melihat diri A Bin, muka dia tidak tampak terkejut.

A Bin bimbang juga bagaimana menyampaikan niat

untuk menanyakan lebih jelas kejadian di atas puncak

gunung tiang langit itu.

Orang tua itu memandang A Bin sejenak kemudian,

seperti melihat sesuatu di muka A Bin, dia berobah terkejut

dan gembira berteriak:

“Kau…… kau belum mati? Apa…… bagus ssekali!……

bagus sekali!”

A Bin mengetahui orang tua ini sudah lupa ingatan, pasti

tanpa aturan salah mengenal orang, entah melihat seperti

orangnya dimana, dia ingin lebih dekat dengan orang tua

itu, agar lebih banyak mengetahui semua hal, A Bin

menganggukan kepala agar orang tua itu senang padanya.

Dewi KZ 185

Tetapi orang tua itu segera menggeleng-gelengkan kepala

berkata:

“Tidak……tidak……kau ini palsu! Aku dengan jelas

melihat dia mati dipinggir tubuhku, menghembus-kan nafas

terakhir, mana mungkin hidup kembali, datang kemari!”

Orang tua itu sudah lama, begitu marah segera

melayangkan tangan kirinya, satu tenaga sangat kuat keluar

dari pusat telapak tangannya menerjang A Bin, A Bin tidak

berjaga diri, segera memusatkan tenaga dalamnya melawan,

tetapi belum lagi tenaganya terkumpul, suara benturan

tenaga bentrok “Buum…..’ A Bin terdorong mundur delapan

langkah, punggung-nya terbentur tembok gua, tangannya

terasa pegal sekali.

A Bin merasa terkejut, dalam hatinya berpikir bila

dirinya bisa mengumpulkan seluruh tenaganya, juga belum

tentu dapat menerima pukulan orang tua itu, mungkin

orang ini adalah seorang jago yang hebat sebelum linglung,

terpikir dari ucapan sendiri orang tua tadi, timbul dugaan A

Bin, apakah orang ini adalah In-kiam atau Giok-kiong?

Serangan pertama tidak berhasil, orang tua itu makin

bertambah emosi, mendadak menggunakan sebelah

tangannya menekan ke tanah, seluruh tubuhnya terangkat

dan melayang, dengan sebelah tangan lainnya mencakar

kepala A Bin.

A Bin telah mengetahui orang tua ini kepandaian nya

sangat tinggi dan dalam keadaannya linglung, dia tidak

berani ceroboh, segera menghindar kepinggir, lolos dari

cakaran orang tua linglung itu.

Terdengar suara batu gua pecah “Praak!”, ternyata

cakaran orang tua itu membuat tembok gua itu berlubang

dalam beberapa inci.

Dewi KZ 186

Ternyata orang tua ini lupa ingatan, hanya tenaga

dalamnya yang masih tersisa, tetapi kegesitannya sudah

hilang, sehingga serangan itu hanya bisa kearah depan,

tidak bisa ganti posisi dan menghentikan jurus serangan.

Loncatan orang tua itu membuat A Bin dengan jelas

melihat orang itu telah putus kedua kakinya dari tumit

kebawah, dia baru mengerti orang tua linglung ini adalah

orang terakhir yang hidup di puncak gunung tiang langit,

tetapi dia tidak bisa membedakan apa orang ini In-kiam

atau Giok-kiong.

Setelah menghantam tembok gua membuat batu-batuan

berterbangan, orang tua itu tertawa dengan riang sambil

berkata:

“Bagus! Bagus, aku telah membalas dendam, ini……”

Orang tua itu dengan tenaga penuh berusaha mundur

dari tembok dinding, tetapi sudah tidak dapat menguasai

aliran darah dalam tubuh, sehingga dari mulutnya keluar

muntahan darah, dan jatuh ke tanah, monyet kecil itu

berteriak dengan suara sedih mendekati orang tua dan

memperhatikannya dari pinggir.

Bersamaan waktu itu A Bin juga terbawa dalam keadaan

sedih, di dalam hati membara api dendam, menganggap

orang tua ini entah In-kiam atau Giok-kiong, sama-sama

adalah biang pembunuh ayahnya, dia ingin membunuh

orang ini untuk membalas dendam. Maka dia

menggemeratakan gigi dengan kencang, membelalakan

mata amarah, menghampiri orang tua linglung itu.

Dalam keadaan pikiran sedang penuh dengan dendam,

A Bin hanya melihat tubuh orang tua itu, yang lain tidak

dilihat dan tidak didengar, sepuluh jari tangan menekuk

bagaikan cakar, pelan-pelan diarahkan ke atas kepala orang

tua yang terbaring ditanah, tidak bisa menghindar.

Dewi KZ 187

Dalam waktu sekejap orang tua itu akan mati dibawah

sepuluh jari A Bin, mendadak terdengar satu suara sedih,

satu benda berbulu dan empuk jatuh ke dada A Bin,

ternyata monyet kecil itu melihat A Bin ingin mencelakakan

orang tua itu segera menerkam A Bin, sepasang cakarnya

yang tajam, sepasang gigi runcing, mencakar dan menggigit

tubuh A Bin, membuat A Bin pelan-pelan sadar kembali.

Dengan tingkat ilmu silat A Bin, hanya dengan satu

telunjuk saja dia sudah bisa buat monyet itu mati, tetapi

begitu sadar kembali, jiwa rasa sayang dia pulih kembali,

menghadapi monyet kecil yang setia dan berani, A Bin

merasa turut simpati, dan pelan-pelan menahan api dendam

dalam dadanya, sambil menahan cakaran dan gigitan

monyet kecil itu.

Monyet kecil itu tidak bisa bergerak dalam pegangan A

Bin, hanya bisa memekik-mekik, orang tua itu seperti

terkena setrum, kedua tangan menepuk tanah, meloncat

lagi, menyerang A Bin sambil dengan marah berteriak:

“Siapa yang berani melukai anakku Kau-ji, siapa…….”

Orang tua itu seperti harimau marah, biarpun kedua kaki

sudah buntung, gerakannya masih cepat menerkam A Bin,

A Bin tidak berani melawan ujung tenaga itu, dan punya

niat tidak akan mencelakakan lawan, terpaksa merubah

posisi menghindar kesamping.

Orang tua itu tidak dapat membedakan arah, terus

melesat menuju tembok di belakang badan A Bin, sepuluh

jari dia tertancap masuk ke tembok beberapa inci, hingga

tubuhnya menggantung sambil bergoyang goyang, mulut

terus menerus meratap tangis:

“Kau-ji! Kau-ji! Kau! Kau dimana?”

Dewi KZ 188

A Bin melihat kejadian itu, merasa sedih dan turut

meneteskan air mata, dia sudah menghilangkan rasa

dendam, berbalik menjadi kasihan pada orang tua itu,

timbul pikiran aneh di dalam kepalanya, dari tiga pendekar

wahid, kematian ayah dengan salah satu orang dari In-kiam

atau Giok-kiong lebih bagis, melihat orang tua linglung ini

tiap hari tersiksa oleh penyesalan, lebih tertekan dalam

batinnya, lebih pedih dari pada mati, berapa besar dosanya

pun sudah terlunasi.

Dengan menggendong monyet kecil A Bin pelan pelan

menghampiri orang tua itu, dengan bantuan satu tangan dia

menurunkan orang tua yang sudah kelelah-an, di sandarkan

untuk duduk di pinggir tembok, dan pelan-pelan ‘menaruh

monyet kecil itu ke dada orang tua itu.

Anak monyet itu seperti mengerti pikiran orang,

mengetahui A Bin tidak akan mencelakakan dia dan orang

tua, maka dalam pelukan orang tua itu, berbuat lucu seperti

bayi ingin disayang.

Orang tua itu seperti memdapatkan kembali benda

pusaka, menggendong anak monyet itu dengan erat, sambil

berkata:

“Kau telah kembali! Kau-ji! Kau tidak akan tinggalkan

kakek bukan? Kau mesti tahu, kakek adalah orang baik,

kejadian di puncak gunung entah kenapa bisa terjadi? Aku

sendiri tidak mengerti, Kau-ji, kau tidak akan menyalahkan

kakek kan! Kau tidak……”

Melihat kejadian yang memilukan itu, A Bin

membayangkan bila dia juga dalam pelukan ayahnya, akan

bagaimana rasanya? Emosi sedih membuat dia meneteskan

air mata……

Setelah berbicara sendiri beberapa saat, orang tua itu

menaruh monyet itu di pinggir, merangkak di tembok gua,

Dewi KZ 189

dan meraba raba di bawah bangku batu, mengeluarkan

sebuah benda, A Bin melihat dengan jelas benda itu adalah

busur putus yang tinggal separahnya, entah dari mana

benda itu datangnya, dan melihat kembali orang tua itu

mengeluarkan potongan ujung pedang, kedua mata orang

tua itu memperhatikan kedua senjata yang sudah cacad

sambil berkata sendiri:

“Busur cacad, pedang patah milik orang mati jago tempo

hari, sekarang tinggal tulang putih, kalian berdua di liang

kubur tidak akan memejamkan mata, aku telah memilih

tempat mengubur tulang-tulang yang paling bagus……”

A Bin baru mengerti benda itu adalah benda wasiat dari

Giok-kiong dan In-kiam, tetapi tidak mengerti kata-kata

orang tua itu, bila dia mengatakan bahwa Giok-kiong dan

In-kiam sudah dikuburkan, lalu dia ini siapa?

Sejenak kemudian, orang tua itu mengeluarkan satu

benda lagi, A Bin begitu melihat langsung berteriak,

“Ayah!” tidak bisa menahan diri, langsung maju ke depan

dan menyerobot, diambilnya benda itu, adalah golok

ayahnya yang sisa sepotong dengan pegangan, A Bin kenal

betul benda itu.

Gerakan mendadak itu membuat orang tua dan monyet

kecil itu bengong karena terkejut, mereka melotot tingkah A

Bin yang mengusap golok putus itu, yang sedang

merenungkan diri, “Ayah! Ayah! Apakah kau dengan nama

tenar, terkubur di puncak gunung tanpa mengetahui

sebabnya? Apakah ayah rela mem-biarkan anak tunggal

hidup sendiri?”

Orang tua itu ikut terharu, berteriak juga:

“Kau-ji! Kau-ji! Dimana kau? Apa kau sudi

menelantarkan ayah?……”

Dewi KZ 190

Monyet kecil itu takut atas ulah kedua orang itu, dia

membungkukan tubuh melesat lari keluar gua. Orang tua

itu berteriak-teriak sejenak, seperti menemukan sesuatu,

memandang A Bin dengan potongan golok itu berkata:

“Kau! Kau penasaran ya! Aku tahu, kau tidak takut mati,

kau mati karena aku, bila kau tidak membantu aku dengan

tenaga dalammu, kau tidak akan mati, karena itu kau

mati……kau tidak takut mati, kau tidak rela meninggalkan

anak, maka mati penasaran, oh kau bilang……kau pernah

bilang……oh! Kau minta aku berikan potongan golok ini ke

anakmu, agar dia menyelidiki kejadiannya, agar dia

membalas dendam…”

Mendengar kata kata itu, jelas-jelas kata-kata terakhir

ayah, A Bin berteriak, “Ayah!” langsung bersujut di depan

orang tua itu, dianggap ayah sendiri dan berdoa, “Ayah, A

Bin tahu kau sayang padaku, tetapi mati terpaksa, kau

sengaja memberi pesan pada seseorang agar aku bisa

membalas dendam, pasti! Pasti……”

Orang tua itu terus berkata sendiri sambil

menggoyangkan kepala:

“……aku berjanji, kau baru rela mati, aku telah

menguburkan kau dengan dia bersama di tempat itu, dan

aku juga telah menggali satu lubang, agar aku setelah dapat

membalas dendam, aku akan menemani kalian……” ‘

Mendengar kata itu, A Bin mula-mula ter-cengang,

akhirnya pikiran dia tenang juga, kata-kata orang ini

berbolak-balik, sebelumnya bilang telah mengubur In-kiam

dan Giok-kiong, sekarang malah telah mengubur ayah

dengan yang lain, kelihatannya orang tua ini sudah hilang

ingatan, sampai siapa diri sendiri juga tidak tahu, maka

ucapan dia berbelit-belit, tetapi bila ditelusuri, dia pasti

Dewi KZ 191

seorang diantara In-kiam atau Giok-kiong, apa dia ini Inkiam?

Apa Giok-kiong?

A Bin ingin menebak dari muka orang tua itu, tetapi

terhalang oleh rambut dan bulu kumis, dan luka dimanamana,

sungguh sulit melihat muka aslinya.

A Bin memandang beberapa lama, timbul niat lagi

dibenaknya, dan api dendam membara lagi, timbul niat

balas dendam untuk ayah, ingin membunuh orang tua ini,

dia segera berdiri lagi, memegang golok putus itu, pelan

pelan disodorkan ke arah dada orang tua itu.

Orang tua itu tidak tahu bahaya ada di depan mata, dia

masih berkata sendiri:

“……bila aku tidak berjanji pada kau, agar golok putus ini

diberikan pada anakmu, bila bukan aku ingin melihat kau-ji

sejenak, aku……aku juga malu masih hidup sendirian……”

A Bin seperti terkena sengatan setrum, segera

menghentikan gerakannya, memarahi dirinya sendiri,

“Kenapa aku bodoh amat, ayah rela mati untuk menolong

nyawa orang ini, sudah pasti orang ini bukan pembunuh

ayah, dan ayah pesan agar aku menyelidiki kejadian

sebenarnya, mungkin bila aku salah membunuh orang ini,

orang yang benar-benar salah akan bebas.”

A Bin sudah pulih dari rasa bimbang dan sudah tenang

kembali, dia jelas-jelas tahu bahwa orang tua ini bukan

pembunuh ayahnya, juga dia sudah tidak tega membunuh

dia……

Dan mendengar orang tua itu selalu ingat pada anaknya

dan memanggil Kau, mata A Bin terbayang anak gadis yang

menarik dan lincah, rambut terurai panjang, matanya

bersinar, berdiri dekat jendela menunggu ayah pulang,

muka yang cantik itu seperti Hong-tai, mirip juga Siau-cian.

Dewi KZ 192

Berpikir sampai disini A Bin terkejut, siapa yang tidak

punya orang tua, siapa yang tidak cinta orang tua,

bagaimana aku begitu sembrono membunuh orang, bila lain

tahun dia bertemu Kau-ji, dendam dia akan sedalam

bagaimana……”

Berpikir sampai disitu, A Bin menjadi lemas, golok cacad

itu jatuh ke tanah berbunyi sekali ‘traang!’

Bunyi tersebut membangunkan A Bin dan orang tua itu

dari mimpi mereka, orang tua itu tercengang melihat A Bin

dan bertanya:

“Kau……kau siapa?”

A Bin tidak menjawab, berusaha menampilkan roman

tertawa, dia ingin memberi tahu pada orang tua itu bahwa

dia tidak bermaksud jahat, ternyata orang tua itu melangkah

mundur kebelakang, berkata sendiri:

“Tidak! Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini,

tidak bisa meninggalkan kau-ji, dia tiap hari mengantarkan

nasi padaku, aku tidak bisa membuang dia……”

A Bin dibuat serba salah, dia tahu orang tua itu sudah

menganggap monyet kecil itu sebagai anaknya sendiri, tidak

tega meninggalkan, dan A Bin juga tidak dapat membawa

orang tua itu keluar gunung, dan tidak tahu dia siapa, apa

lebih baik kalau dia sudah bertemu Kau-ji, memberi tahu

agar dia membawa ayahnya keluar gunung.

A Bin memungut kembali golok cacad itu pelan-pelan

keluar gua, masuk ke hutan rimba lagi, dan begitu di luar

dia mendengar kembali nyanyian orang tua yang sangat

sedih dan memilukan.

A Bin menggemeretakan gigi, berhenti menangis, begitu

keluar hutan, dia berlari dengan cepat menuju arah puncak

langit.

Dewi KZ 193

Dia, masih penasaran, ingin balik lagi kepuncak tiang

langit, ingin memeriksa tempat itu, apa ada jejak yang bisa

memberitahukan kebenarannya.

Dengan dada penuh kesedihan, dan api’ dendam

membara dia berlari kencang! Terbang menuju puncak

gunung itu!

Waktu tidak dihiraukan lagi, entah berapa lama, terlihat

puncak gunung itu di depan mata A Bin, saat ini, mata dia,

pikiran dan kaki dia hanya menuju puncak gunung, yang

lainnya tidak dipikirkan!

Puncak tiang langit berupa ribuan tembok bukit, sangat

curam, dipinggir-pinggir bukit tidak tumbuh sedikit pun

rumput atau bunga, juga tidak ada seongok tanah, semua

berupa bebatuan, dengan berdiri di pinggir bukit lain yang

agak tinggi baru bisa melihat puncak itu.

Dengan pikiran yang rumit, A Bin tidak memandang

bahaya bukit itu, dengan menggunakan kedua tangan yang

menempel ketembok, dia merangkak naik seperti cecak,

sesekali dengan ujung tangan memegang ujung batu bukit,

istirahat sejenak melepas rasa lelah, dia ingin dengan segera

naik kepuncak itu.

Tidak terasa angin semakin kencang, kakinya seperti

menginjak awan, A Bin telah sampai di pinggir puncak itu.

Di bagian puncak disatu sudut terdapat batu duduk selebar

satu tombak, membuat A Bin sedih bukan main, hampir

saja pegangannya terlepas pada tembok bukit dan hampir

jatuh kebawah.

A Bin terkejut, sejenak dia menenangkan pikiran segera

meloncat ke atas bukit itu.

Ternyata di puncak itu berserakan golok putus, pedang

patah, busur cacat. Kepala goloknya sudah karatan warna

Dewi KZ 194

pita merahnya sudah pudar, sinar pedang sudah

menghilang, mutiara di gagang pedang masih berkilau,

warna punggung busur cacat masih bersinar, hanya karet

busur sudah jadi rumput layu.

A Bin bersujud di depan golok putus itu, berdoa di dalam

hati, “Ayah! Ayah! Semasa hidup kau gagah berani,

sekarang di mana……”

Angin dingin di atas puncak bertiup kencang, A Bin

seperti patung bersujud disana sambil berdoa sekitar

setengah jam dengan baju di tubuhnya melayang-layang.

Sampai air mata hampir habis, kedua lutut kald merasa

kram, A Bin baru pelan-pelan berusaha berdiri, ingin

mencabut golok putus yang tertanam, tetapi dia berobah

pikiran, melirik lagi busur cacat, pedang patah hampir

setengah hari.

Mendadak A Bin menemukan satu benda aneh di tanah,

adalah kancing logam yang dibuat dari besi hitam. A Bin

berpikir benda siapa itu, karena ayah dan orang tua linglung

itu tidak memakai kancing itu, mungkin benda dari orang

lain, apa bisa berdasarkan benda itu menyelidiki dengan

mudah orang tua itu In-kiam atau Giok-kiong, berpikir

sampai begitu, A Bin memungut benda itu di masukan ke

dalam kantong.

A Bin masih mencari barang yang lain, tetapi waktu

selama enam tahun dengan terpaan angin, jemuran

matahari, rendaman air hujan, sisa barang tahun yang silam

hanya ada golok putus, busur cacat, pedang patah dan

hanya satu buah kancing besi itu tidak ada benda lain lagi.

A Bin menahan emosi dan memastikan bahwa jenasah

ayahnya telah di kuburkan orang tua itu di salah satu

tempat, dan timbul di dalam pikirannya, pekerjaan yang

harus di kerjakan sekarang adalah mencari kembali orang

Dewi KZ 195

tua itu, berusaha agar orang tua itu pulih kembali

ingatannya dulu, agar dapat mencari tempat kuburan ayah

dan satu orang lagi, dan dari ingatan orang tua itu dia akan

mencari jejak, untuk mengetahui sebab musabab

pembantaian ketiga orang itu? Apa ada orang yang

mengadu domba?

Mendadak di bawah tembok gunung terdengar suara

batu yang dipukul, A Bin mengetahui pukulan itu, apa ada

orang lain yang ingin naik kepuncak?

A Bin segera berlindung di belakang batu besar, dan

memasang telinga mendengarkan dengan seksama,

terdengar suara ketukan pada batu satu kali, dua

kali……tiga kali, suara makin jelas, makin dekat.

A Bin dapat kepastian bahwa ada orang menggunakan

senjata yang ditancapkan ke tembok, untuk membantu naik

ke puncak, jantung A Bin tambah berdebar-debar, urat

nadinya makin tegang.

Pikiran A Bin jadi serba salah, dia berpikir pasti Hong-tai

yang datang, padahal dia mengharapkan bukan Hong-tai

yang datang, A Bin tidak ingin bertemu Hong-tai ditempat

ini, dan disaat ini.

Kerukan tembok itu sudah dekat puncak tebing, A Bin

makin tegang. Dari jauh dia melihat satu bayangan hitam

timbul ke atas, pasti kepala seseorang, terdengar satu suara

“Iii!” terkejut, bayangan hitam itu lalu menghilang.

A Bin terkejut bukan main, terpikir kembali diri sendiri

juga mengalami kejadian itu, kerena begitu berada di lereng

bukit, melihat golok, busur, pedang, perasaan sedih

membuat pikirannya terganggu, sehingga terjatuh kembali,

A Bin ingin meloncat menolongnya.

Dewi KZ 196

Ternyata satu bayangan hitam sudah kembali meloncat

ke atas, ternyata orang itu menguasai ilmu tinggi, pada

detik yang sangat kritis, dia bisa meloncat kembali.

Orang itu dalam keadaan sedih, tidak merasakan ada

orang lain sedang mengintai, pelan-pelan meng-hampiri

golok putus, pedang patah, busur cacat.

A Bin dengan sabar menunggu muka orang itu berpaling

kearahnya, dan begitu melihat, dia terkejut dan aneh, dia

berteriak di dalam hati.

0-0dw0-0

BAB 4

Diantara pilihan cinta dan dendam

A Bin bersembunyi dibalik batu besar puncak gunung itu,

dengan sabar menunggu orang yang datang, begitu melihat

muka orang itu, A Bin terkejut bukan main.

Ternyata orang itu bukan Hong-tai, tetapi cucu Gin-hoatlo-

jin Wie Tiong-hoo, Siau-cian.

Begitu Siau-cian sampai dipuncak gunung, dengan

gerakan cepat mengambil Giok-kiong Sambil menangis

berkata:

“Ayah! Ayah! Kau dimana? Kemana kau pergi? Apa

betul jagoan seperti ayah bisa mati konyol diatas puncak ini,

kenapa tulang ayah tidak ada disini?”

Suara Siau-cian sangat sedih seperti burung To-koan

menangis sambil memuntahkan darahnya, suara itu bikin

orang turut sedih juga, dan A Bin teringat juga nasib ayah

sendiri, sehingga tidak kuasa menahan linangan air mata.

Dewi KZ 197

Sambil menangis Siau-cian memperhatikan di sekeliling

tubuhnya juga tergeletak golok putus, pedang patah,

melihat kedua barang itu, Siau-cian dengan gemas berkata:

“Betul, mereka mati karena saling bunuh! Aku akan cari

turunan mereka, hutang ayahnya dibayar oleh anak, aku

akan minta bayaran pada mereka dengan darah mereka!”

A Bin merasa merinding juga bulu kuduk sendiri,

mendengarkan kata kata sadis yang diucapkan seorang

gadis belia dan lemah lembut yang baru berusia lima belas

tahun. A Bin berkata dalam hati, ‘Soal ini sangat ruwet,

salah paham tiga keluarga bisa menimbulkan bencana balas

dendam turun temurun, entah kapan bisa selesai, aku harus

cepat mencari keterangan, kenapa mereka saling bunuh?’

Selang tidak lama, emosi Siau-cian tidak sekeras

dibandingkan waktu datang dan berobah menjadi tangis

kecil, mulutnya juga entah berkata apa, tidak jelas lagi

didengar A Bin.

A Bin berpikir beberapa kali, dia memutuskan untuk

tidak keluar dari tempat bersembunyi. Dan teringat kata

Kiau-ji yang terus diucapkan oleh orang tua gila itu

sebetulnya siapa? A Bin sudah dapat memastikan bahwa

orang tua gila itu adalah salah satu dari In-kiam atau Giokkiong,

dan Siau-cian dengan Hong-tai adalah anak dari

salah satu mereka, tetapi anak mereka berdua tidak ada

yang namanya Kiau-ji, jadi siapa Kiau-

A Bin sedang sibuk memecahkan teka teki itu, dari

bawah gunung telah memanjat lagi seseorang kepuncak

gunung, begitu tiba diatas, kedua orang saling pandang dan

bersamaan berkata dengan nada terkejut:

“Kau……”

Dewi KZ 198

A Bin dengan jelas melihat orang yang baru datang itu

adalah Hong-tai yang susah dilupakan olehnya, dan dari

muka Hong-tai yang kurus kelihatan sedang menanggung

tekanan batin.

Hong-tai masih berpakaian laki-laki, rambut panjangnya

berantakan, dan tidak bisa lagi menutupi penyamaran,

tampak jelas tubuh seorang gadis, Siau-cian begitu melihat

Hong-tai, timbul perasaan tidak menentu.

Hong-tai sekali lagi melihat Siau-cian dengan dingin, dan

melirik ketangan Siau-cian yang memegang busur rusak itu,

dan segera melirik ketanah melihat sesuatu dan meloncat

dengan gesit ke pinggir tempat yang terletak pedang patah,

sambil memegang benda itu, menangis dengan sedih dan

berseru:

“Ayah!”

Siau-cian dalam keadaan sedih, terharu juga melihat

kesedihan Hong-tai, sementara melupakan rasa

permusuhan, turut juga menemani Hong-tai menangis.

Setelah beberapa detik, Hong-tai berhenti menangis,

dengan mata melotot, berkata dengan menantang:

“Kau pasti anak gadis dari Giok-kiong, mereka bertiga

mati saling bunuh, ayahmu pasti ikut bagian, jadi kau

adalah musuh aku, aku mesti membunuhmu!”

Kata kata Hong-tai itu memancing emosi Siau-cian yang

tadi bersumpah penuh bau darah, sambil menggigit gigi

juga bersuara keras menjawab:

“Biar kau adalah anak gadis In-kiam, berarti musuh aku,

hutang dari ayah anak yang bayar, kau cepat serahkan

nyawa!” mereka langsung memulai perkelahian.

Dewi KZ 199

Kedua gadis itu bukan saja kata katanya saling bentrok,

jurus jurusnya juga berbahaya, Hong-tai menggunakan

pedang patah yang dipegang menjadi satu arus cahaya

menyerang Siau-cian.

A Bin merasa kagum atas jurus Hong-tai, ternyata Hongtai

telah menguasai ilmu mengendali pedang yang jarang

bisa dikuasai ilmu itu, pedang patah masih memancarkan

cahaya seperti pelangi.

Tenaga jurus pedang itu sangat dahsyat, Siau-cian

terlihat terkejut sejenak, dan segera maju kedepan,

menjulurkan busur cacad itu, menghadang serangan pedang

itu ditengah jalan.

Tenaga berdua orang itu bentrok, Hong-tai telah

mengetahui ilmu silat lawannya tidak kalah dari dirinya,

maka dia ingin menggunakan akal mulus untuk

melumpuhkan musuh, dengan bantuan sedikit tenaga

diujung kaki, dia segera menggeser tubuhnya beberapa

kaki…..

Siau-cian berteriak:

“Kau mau lari kemana!” busur cacadnya mengikuti

tubuh yang melayang mengejar Hong-tai dengan tenaga

halus.

Hong-tai tidak menjawab, dengan pedang patah

memotong badan busur dengan satu suara aneh yang

dikeluarkan dari gerakan pedangnya.

Muka Siau-cian berobah terkejut, segera meng-gunakan

busur membongkar serangan itu, sambil loncat mundur

beberapa tombak.

Hong-tai yang berhasil memancing lawannya, jadi

menguasai pertarungan, dia segera meloncat dan mengejar,

Dewi KZ 200

pedangnya dengan gesit berkelebatan, angin pun

bergelombang, membuat orang gentar.

Siau-cian tidak mau menyerah, busur yang dipegang

berbalik memotong serangan Hong-tai, jurusnya ternyata

bisa meredam serangan Hong-tai yang dahsyat itu.

Hong-tai tidak mengurangi serangannya, dengan pedang

ditangan sekali lagi memukul senjata lawan, kecepatannya

bagaikan halilintar mengejar.

Siau-cian menarik dan menyerang dengan busur,

menutup serangan Hong-tai, bersamaan waktunya, dia

mengeluarkan telapak kiri dengan kilat menyerang bagian

pinggang lawan.

Sejenak Hong-tai terkejut, segera menggunakan jurus

rahasia keluarganya In-hong-jauw-hoat (Cengke-raman

burung hong di awan) dengan getaran jari menghadapi

jurus lawannya, jurusnya membuat Siau-cian terpaksa

menarik kembali serangannya yang baru setengah jalan,

sehingga Hong-tai dapat menghindar dari serangan Siaucian,

membuat serangan pedang Hong-tai juga tinggal

setengah tenaganya.

Kedua orang itu saling serangan dan saling bertahan,

seperti begitu bertemu langsung terlepas, tetapi serangannya

mengandung jurus lawan jurus, isi kosong saling berganti,

sangat dahsyat sekali tiap jurusnya.

Karena mereka berdua bukan orang biasa di dunia

persilatan, begitu mereka mengeluarkan satu jurus langsung

tahu jurusnya, bisa berhasil atau tidak, jadi jarang bisa

menggunakan jurusnya dengan sempurna, seperti dalam

awang-awang, tiap jurus jadi tidak berisi penuh, padahal

sebetulnya tiap jurus tiap tingkah mengandung hawa

membunuh yang tebal.

Dewi KZ 201

A Bin tidak ingin salah satu dari mereka terluka, melihat

mereka berduel demikian sadis sehingga bercucuran

keringat dingin, tergesa gesa tanpa pandang bahaya, segera

meloncat keluar, menyelinap meng-hampiri, tanpa berasa

telah mengambil golok patah itu ditanah, terjun dalam

lingkaran kilatan pedang dan bayangan busur kedua gadis

itu.

Kedua gadis itu tidak menyangka ada tamu tidak

diundang datang mendadak, dengan terkejut memandang,

melihat bahwa yang datang adalah A Bin, masing masing

tubuhnya tergetar karena terkejut, tanpa sadar bersamaan

berkata:

“Kau!”

Kedua gadis yang bersamaan berkata “Kau!” dan saling

merasa menangkap sesuatu, cemburu adalah sifat alamiah

wanita, dibawah pengaruh cemburu, putusan terhadap

sesuatu masalah jadi suka berlawanan dengan normanorma

isi hati, diwaktu marah besar, bisa berbuat jauh

berlawanan dengan pengusaan diri sendiri.

Maka setelah tersendat beberapa detik, senjata pedang

patah dan busur cacad kedua gadis itu seperti geledek

bertemu lagi, dendam ditambah cemburu, sehingga jurus

mereka tidak memberi ampun pada lawannya, masingmasing

menggunakan jurus berbahaya menyerang titik

mematikan lawan, seperti ingin mematikan lawan dengan

saru jurus saja.

Tindakan kedua gadis itu bikin A Bin serba susah, dia

tidak bisa membuka mulut mencegah, hanya bisa pakai

golok patahnya mencari kesempatan untuk menghentikan

duel mereka.

Bila serangan Hong-tai sangat keras, A Bin membantu

satu jurus pada Siau-cian, bila busur Siau-cian dalam

Dewi KZ 202

keadaan diatas angin, A Bin membantu Hong-tai satu jurus

juga.

Karena tindakan A Bin mengarah pada kedua pihak

tidak menguntungkan, sehingga kedua gadis itu bersamaan

berteriak, punggung busur dan ujung pedang bersamaan

keluar seperti halilintar dengan suara keras menyerang A

Bin.

Dapat serangan mendadak, A Bin terpaksa dengan

semangat penuh menggunakan tangan kiri dan golok

dikanan, menahan serangan busur dan pedang, tetapi dia

tetap takut melukai kedua gadis itu, jurus yang di keluarkan

jadi tidak sempurna, mana bisa menahan serangan dahsyat

kedua senjata gadis yang marah sekali, tidak sampai tiga

jurus, A Bin sudah dalam keadaan bahaya.

Masih beruntung, jurus kedua gadis itu sangat cepat dan

berbahaya, tetapi masih memberi muka pada A Bin,

kelihatan tidak jurus menyerang tempat mematikan di

tubuh A Bin, tetapi hampir sampai dititik itu, mereka segera

menarik dan mengganti jurus lain.

Biarpun kedua gadis tidak menyerang dengan sepenuh

hati, tetapi A Bin merasakan sulit menahan juga, sehingga

bercucuran keringat dingin.

Tidak lama kemudian, dari kejauhan terdengar ada suara

seperti lonceng nyaring berteriak, bersamaan dengan

naiknya seorang yang berbadan gemuk ke puncak gunung,

dia datang dengan cepat, sampai di dalam pusaran angin

pertarungan ketiga orang itu, dan menggunakan kedua

telapak tangan, bergema satu suara ‘gung’ yang

menghasilkan satu tenaga angin yang dahsyat,

memencarkan tiga senjata, pedang, golok, busur yang

sedang beradu.

Dewi KZ 203

Ketiga orang dengan terkejut melihat orang yang baru

datang dan memisahkan mereka yang sedang duel, ternyata

yang datang adalah Gin-hoat-lo-jin Wie Tiong-hoo.

Dengan rambut dan godek yang berdiri, Wie Tiong-hoo

dengan suara keras memarahi ketiga anak muda dengan

kata:

“Kalian bertiga anak kecil yang bloon dan tidak tahu

malu, tidak menyelidiki kebenaran, tidak mencari tahu

seluk beluk sesuatu soal, malah bertarung saling bunuh, bila

ayah kalian tahu pada kejadian ini, entah bagaimana sakit

hati mereka! Melihat kalian bertiga berbekal kepintaran

melebihi orang lain, kenapa bodoh sedemikian terhadap

persoalan yang ada didepan mata? Apakah kalian hanya

berdasarkan tiga barang pedang, golok dan busur yang

cacad dan taksiran orang-orang, sehingga percaya ayah

kalian sudah mati? Dan kalau betul mereka mengalami

musibah, pasti ada rahasia yang tertutup, kalian pikir saja,

ketiga orang tua kalian adalah orang orang penting, tidak

mungkin karena salah paham seketika, langsung saling

bunuh……”

Sentakan orang tua itu, membuat Hong-tai, Siau-cian

diam tidak berani jawab, masing-masing menunduk kan

kepala dengan malu dan menyesal.

Hong-tai yang tidak sabar, berteriak dengan sedih dan

menangis, segera terbang, menuju arah jalan pertama

datang, segera turun kebawah gunung, pergi seperti angin.

Kakek Wie Tiong-hoo pun tidak mencegah, hanya

dengan suara sedih berkata pada Siau-cian:

“Siau-cian, kau segera pergi dengan kakek! Urusan

ayahmu, selama enam tahun aku selalu ingat dalam hati,

kita mesti menyelidiki persoalan yang sebenarnya, kau tidak

boleh gegabah bertindak sendiri.”

Dewi KZ 204

Siau-cian mendadak menangis, dengan menutup muka

menuju pinggir gunung, dan segera turun kebawah gunung,

kakek Wie Tiong-hoo takut kesedihan cucunya bisa

berbahaya, tidak sempat berbicara dengan A Bin, segera

loncat kebawah bunung mengejar cucunya.

Diatas puncak gunung tersisa A Bin sendirian, dalam

keadaan sedih, bimbang bukan main, A Bin dengan erat

memegang golok patah, menengadah melihat bintangbintang

dilangit, berdoa dalam hati:

“Ayah! Apakah betul kau telah meninggalkan aku? Bila

betul, mohon arwah ayah dilangit membantu aku mencari

kebenaran!”

Angin kencang yang menerpa muka, membuat A Bin

bersin, dia memikirkan orang tua gila diperjalanan itu,

entah dia In-kiam atau Giok-kiong, bila ingin mengetahui

persoalan yang sebenarnya, benang merahnya ada pada

orang tua itu, maka dia segera membawa golok cacad itu

digabungkan dengan yang dapat dari orang tua gila itu

diselipkan dipinggang, menyusur jalan semula segera turun

dari puncak gunung.

A Bin menggunakan ilmu meringankan tubuh yang

mahir, tidak lebih dari tiga jam, dia telah menemukan hutan

yang dicari, dia segera menuju gua yang pernah dia masuk,

tetapi gua itu sudah kosong, orang tua gila dan monyet kecil

itu tidak ada didalam gua itu.

A Bin menyusuri pinggiran gua yang tertutup oleh

pohon-pohon, juga tidak menemukan apa apa, A Bin

merasa terkejut dan menyesal, dia juga tidak menemukan

ada bekas perkelahian, jadi tidak bisa memastikan apa

orang tua gila itu pergi atas kemauan sendiri atau dibawa

orang.

Dewi KZ 205

Satu satunya petunjuk telah hilang juga, membuat A Bin

sangat menyesal, dia berpikir pulang pergi, dengan terjun

lagi ke dunia luar, dia mencari jejak orang tua gila itu

diantara bermacam ragam orang-orang dunia persilatan.

Setelah mengambil keputusan, A Bin segera

meninggalkan pegunungan, tetapi dia bimbang kemana

akan pergi. Teringat permulaan bulan depan akan ada

pertemuan jago-jago silat di biara Siauw-lim, di Gunung

Siong, dimana akan datang orang-orang dari semua partai,

mungkin lebih mudah mendapatkan keterangan, maka A

Bin berangkat menuju ke arah utara. Berhubung waktunya

masih jauh, maka A Bin memperlambat perjalanan, sambil

memperhatikan orang-orang dunia persilatan dengan hatihati,

menguping pembicaraan mereka agar mendapat berita

yang di inginkan, tetapi hingga di pinggir Tiang-kang

hasilnya tetap nihil.

Pada suatu hari, dia melalui perbatasan dua propinsi

Cing-kwan, melewati pegunungan Hoai-yang, berjalan di

daerah tandus, orang jarang lewat, hingga matahari

terbenam, dari kejauhan A Bin baru melihat satu sudut

bangunan biara diantara pohon-pohon.

Biarpun menguasai ilmu meringankan tubuh yang mahir,

tetapi dia seharian belum makan dan minum, dengan perut

kosong setelah berlari seharian, membuat A Bin merasakan

kelelahan dan lapar beserta haus, dia ingin menuju biara itu

untuk menumpang menginap semalam. Dan daerah ini

sudah dekat dengan biara Bu-tong, mungkin pendetapendeta

di biara ini akan berbaik hati pada orang dunia

persilatan.

A Bin setelah menerobos hutan, sesudah sampai didepan

biara itu. Diatas pintu terukir papan nama dengan cat emas

yang bernama biara Ih-sim (menyenangkan hati), A Bin

Dewi KZ 206

memuji dalam hati atas nama itu, cocok dengan kondisi

biara diluar kota, mengandung makna jauh dari keramaian.

Sesungguhnya jarang ada biara pakai nama itu, tetapi A

Bin sangat kagum, pikir didalam hati hweesio-hweesio

didalam biara pasti adalah orang orang saleh dari golongan

agama.

A Bin melangkah ke depan pintu, mengetuk agak lama,

baru keluar seorang pendeta tua yang kurus sekali, baju

yang dipakai juga warnanya sudah pudar dan banyak

tambalan dimana-mana.

A Bin masih berpikir, orang saleh makin bisa

menyesuaikan dengan kemiskinan, maka dengan senyum

menghampiri pendeta tua itu dan memberi tahukan

keinginannya menginap di biara dengan isyarat tangan.

Kemungkinan karena sudah tua dan mata sudah tidak

awas, kakek itu melihat A Bin beberapa lama masih tidak

bereaksi, sampai A Bin memberi tahu akan memberi uang

sedekah sesudah menginap, baru kelihatan muka hweesio

tua itu berseri-seri mengundang tamunya masuk ke dalam

biara.

Di dalam biara juga terdapat tembok-tembok yang rusak,

kelihatan sebuah biara sudah lama tidak dirawat, dan jarang

orang datang bersembahyang lagi.

Pendeta tua dan kurus itu mengantar A Bin ke kamar

tamu, di dalam gang yang menuju kamar itu terdengar satu

suara batuk yang parah dari seseorang yang kelihatan

mempunyai penyakit paru-paru yang akut, bersamaan

dengan suara batuk itu terlihat satu orang pendeta muda,

mukanya santun, alis dan mata tampak jelas, tetapi kuning

mukanya dan daging badan sangat tipis, jalannya loyo

sekali, hanya baju pendetanya yang masih kelihatan

mewah.

Dewi KZ 207

A Bin sudah beberapa hari berlarian, tubuhnya penuh

debu, baju yang dipakai juga sudah hilang warna dasar yang

mentereng. Hweesio muda itu tidak senang melihat A Bin

berpenampilan demikian, dengan muka asam, menyentak

pendeta tua itu dengan kata:

“Kau makin tua makin pikun, aku telah pesan padamu,

biara kita sudah tidak terima tamu yang menginap, kenapa

kau masih membawa orang asing kemari?”

Hweesio tua itu kelihatan sangat takut pada pendeta

muda ini, menjawab dengan terputus putus dan gemetar.

“La……lapor……ketua, ini…… ini tuan muda…… bilang,

numpang menginap semalam, besok…… besok akan……

akan memberi sedekah dupa satu liang……, sedekah dupa!”

A Bin sedang berpikir di dalam hati kenapa ketua biara

ini seorang anak muda, dan ketua biara itu setelah

mendengar bahwa A Bin akan memberi sedekah, muka dia

berobah berseri dan berkata:

“Puji pada Budha! Bila tamu kita rela menginap di biara

sederhana ini, silahkan menginap dengan suka hati!”

A Bin mengetahui orang ini berobah dari sombong

menjadi hormat dalam sekejap, mata terbelalak melihat

uang, persis potongan orang mengejar harta, dalam hati dia

merasa kesal, tidak pantas biara ini punya nama 3′ang

mulia, tetapi saat itu dia terdesak dan perlu bantuan

mereka, maka dengan hormat membalas kesediaan ketua

biara itu dengan syarat tangan, dan mengikuti pendeta tua

kurus itu ke sebuah kamar.

Kamarnya agak sederhana tetapi bersih, pendeta tua

kurus itu menunggu dan membantu A Bin cuci muka

sampai selesai, dengan suara kecil bertanya:

“Apa tuan……sudah makan!”

Dewi KZ 208

A Bin kebetulan sedang lapar, dia menggelengkan kepala

tanda belum, hweesio tua itu berkata lagi:

“Biara itu jauh dari kota dan kampung, makanan tidak

mudah dibeli, segala terserah tuan memberi berapa, bila

ingin sederhana saja, nasi dan teh saja cukup 1 liang saja,

bila ingin lebih bagus, mesti banyak uang juga!”

Setelah melihat ketua biara itu seorang mata duitan, A

Bin berpikir bila dirinya berani keluar uang lebih banyak

akan dapat layanan lebih memuaskan, maka mengeluarkan

tiga liang perak dari kantong, diberikannya pada hweesio

tua itu sambil menjelaskan bahwa, “Uang itu selain untuk

sedekah, sisanya untuk biara makan.”

Pendeta tua kurus itu melihat A Bin mengeluar-kan uang

dengan rela, mukanya berobah jadi berseri, langkah kakinya

juga jadi lebih ringan, cepat-cepat keluar kamar,

menyiapkan makanan untuk A Bin.

A Bin menyaksikan kejadian menjengkelkan itu, di

dalam hati berkata kenapa bisa demikian, tetapi hal tersebut

meredam juga sedikit perasaan sedih dan pikiran ruwet A

Bin. Tidak lama, makanan telah tiba, biarpun tanpa daging

tetapi bersih dan menarik, berlainan dengan muka pintu

biara, A Bin tertawa di dalam hati, betul-betul uang sangat

berjasa.

Pendeta tua kurus itu mengeluarkan satu botol kecil arak

dari dalam jubah dengan tertawa kecil menggoda berkata:

“Aku pendeta tua, tidak pantang minum arak, tuan tentu

lelah diperjalanan, minumlah dua teguk untuk

menghilangkan kelelahan, pasti manjur!”

A Bin mengetahui hweesio tua itu ingin hadiah uang,

maka diberikan lagi sebuah uang perak kecil, hweesio tua

Dewi KZ 209

itu mengucapkan banyak terima kasih dan mengundurkan

diri keluar kamar.

A Bin sudah tahu bahwa ketua biara dan pendeta tua

kurus ini adalah pendeta yang makan daging dan minum

arak yang munafik, tetapi dia tidak menemukan sedikit pun

trik-trik masyarakat luas, tetapi dia masih waspada, dia

menaruh botol arak itu dipinggir dan tidak diminumnya.

Dan makanan telah diteliti dengan cara guru yang

mengajarkan pada A Bin bagaimana membedakan

makanan yang dicampuri obat bius, dan tidak menemukan

kelainan, maka A Bin dengan tenang melahap semua

makanan.

Habis makan, hweesio tua kurus itu menyodor-kan satu

poci teh dan berkata: i

“Biara kecil ditempat terpencil, tidak menyedia-kan teh

mahal, teh yang dari daun bambu ini adalah buatan aku

sendiri, mengambil dan menjemur daun itu diwaktu

senggang, tuan silahkan cicipi!”

Habis bicara hweesio tua itu membereskan sisa makanan

dan keluar kamar lagi.

A Bin dengan teliti memeriksa air teh itu, betul juga

terbuat dari daun bambu, tidak menemukan kelainan,

mencicipi beberapa teguk, sangat enak rasanya, A Bin

berpikir dalam hati, biara Ih-sim ini hanya satu benda teh

yang betul betul cocok dengan nama antik biara itu.

A Bin sesudah minum teh, makan sudah kenyang,

semangatnya telah pulih banyak, dia berdiri dan berjalanjalan

di kamar sekitar tujuh delapan langkah, lalu dia

merasakan kepalanya pusing dan timbul rasa kantuk. A Bin

sangat hapal dirinya yang sudah terlatih dalam ilmu tingkat

tinggi, biar lelah bagaimana pun tidak akan ada gejala

demikian, dalam hati dia berteriak, ‘aku kena jebakan

Dewi KZ 210

orang’, dan otaknya sudah tidak jalan normal, di depan

mata tampak gelap, A Bin jatuh kepinggir ranjang kayu,

dan tubuhnya tergeletak dibawah lantai.

Dalam keadaan masih sedikit sadar waktu jatuh, A Bin

mendengarkan kata-kata ditelinga yang diucapkan ketua

biara itu dengan tertawa panjang:

“Biar pun kau punya delapan hati yang cerdik, toh

terkena juga jebakan aku Ping-cun-yang (Laki-laki sakit),

kau sangat hati hati, semua makanan dan minuman diteliti

sebelum dimakan, tetapi kau tidak tahu resep kakek kita

yang dinamakan Cui-sian-san (Bubuk dewa mabuk), adalah

obat ajaib yang tidak ada banding-nya di dunia. Biasanya

puder ini tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, dan

tidak berbahaya pada manusia, tetapi bila bertemu benda

yang berlawanan sifatnya seperti teh daun bambu, bisa

mabuk dalam tujuh langkah, tulang sendi lemas, tidak bisa

melawan waktu ditangkap, biar pun kim-kong juga akan

tunduk pada kakek kita, betul-betul ajaib Cui-sian-san ini,

kali ini kakek kita entah mau berbuat apa…….”

Sebelum betul betul pingsan, A Bin merasa terkejut

dalam hati mengetahui hweesio muda itu bernama Pingcun-

yang Lok To-cian, adalah kepala dari kelompok aliran

hitam, tidak menduga bisa ada dalam biara yang terpencil

dan kenapa umurnya bisa muda begini, dan dia lebih

terkejut lagi siapa kakek orang ini, dan jago yang

seberapa tinggi ilmunya?……tetapi reaksi obat bius itu sudah

jalan dengan cepat, sehingga A Bin tidak bisa berpikir lama

lagi, langsung sudah pingsan total……

Setelah sadar kembali, A Bin sudah dalam sebuah kamar

munggil yang tidak ada jendelanya, di tengah ruangan

tergantung sebuah lampu gelas yang besar, yang dikelilingi

pita-pita berwarna warni terurai kebawah, dibawah lantai

terdapat sebuah tempat dupa yang besar sekali, di dalamnya

Dewi KZ 211

sedang keluar asap dupa yang mengeluarkan wangi bunga

yang menusuk hidung, membuat orang seperti mau mabuk.

Di dalam ruangan hangat seperti di musim semi,

temboknya tertutup oleh kain cotton halus yang berwarna

rose muda, dan lantainya tergeletak satu karpet tebal yang

berwarna merah tua. Dimeja rias selain ada cermin dari

perak, lampu meja bertaburan mutiara, juga alat alat untuk

make up. Dan ditengah kamar ada sebuah ranjang besar

yang berukir naga mas sedang melilit tiang, dan kelambu

yang diikat dari atas ranjang, dalam ranjang ada sepasang

bantal dan selimut bertaburan permata.

A Bin belum pernah ke istana raja, tetapi yakin kamar

tidur ratu atau selir selir pasti semewah kamar ini, merasa

terkejut dalam kamar itu, A Bin berusaha untuk bangun,

ternyata tangan dan kakinya tidak ada tenaga, dan

terbayang kembali kejadian yang mencelaka kan dirinya

dengan Cui-sian-san.

Dikala A Bin sedang bimbang, terdengar suara anting

telinga yang berbunyi ting ting tang tang, dan bunyi gesekan

kain gaun panjang, entah dari pintu rahasia mana keluar

seorang wanita yang cantik sekali.

Usia wanita itu sekitar tiga puluh tahun, wajah-nya

seperti bulan purnama, matanya bening, alis yang indah,

hidung yang mancung, bibir seperti bunga, kulit putih dan

halus, rambut hitam diikat seperti sanggul istana, bulu

rambut dipinggir kuping yang hitam dan subur, hanya satu

kata cantik sekali untuk penampilan wanita ini, hanya

sepasang mata yang memancarkan sinar birahinya yang

membuat A Bin takut bukan main.

Wanita itu dengan tertawa penuh birahinya mendekati

ranjang, dengan mata indahnya melirik seluruh tubuh A

Bin dan berkata:

Dewi KZ 212

“Anak muda, pandangan matamu tidak buyar, dua titik

nadi dipinggir kepala Tai-yang masih kencang, kau betul

betul seorang bujangan yang belum tahu apa apa!”

Sambil tertawa liar, tubuh wanita itu bergetar seperti

bunga-bunga terkena tiupan angin, sangat romantis, dengan

tangan memegang kepala A Bin, dan mencubit beberapa

tempat di tubuh A Bin, berkata lagi:

“Betul-betul kau seorang bujangan, dan telah melatih

ilmu dalam yang tinggi, hari ini kau bertemu aku, betulbetul

rejeki aku, sebentar setelah kau melayani aku, kau

tidak akan menyesal seumur hidup telah datang ditempat

ini!”

A Bin mendengarkan kata-kata itu, sudah tahu apa

maksud wanita itu, hati A Bin terkejut dan marah, sayang

seluruh tubuh tidak bisa leluasa bergerak, hanya bisa

dengan mata marah memelototi wanita itu yang

memperdayai dirinya.

Wanita itu tertawa sejenak, dan mengeluarkan satu

bungkusan dari tempat rias, menaburkan sedikit isi

bungkusan ke tempat dupa itu, dan wewangian makin tebal,

membikin tulang A Bin makin lemas, dan timbul nafsu

birahinya, A Bin berkata didalam hati ‘celaka’, dia segera

menggunakan ilmu mengendalikan diri yang diajarkan

gurunya, meredam api nafsu yang baru timbul, beruntung

organ di bawah perutnya belum terbangun, sehingga nafsu

birahinya dapat diredam.

Wanita jalang itu telah melepas baju yang dipakai, hanya

dengan jubah merah menutupi dadanya, pelan-pelan

menuju pinggir ranjang, dan berkata dengan tertawa liar:

“Dupa yang bisa merangsang ini, bila telah tercium

olehmu, kau tidak akan berpikir bisa bergerak lagi, sekarang

biar aku yang melayanimu duluan!”

Dewi KZ 213

Sambil bicara, dia segera melepaskan seluruh baju A Bin,

A Bin merasa malu bukan main, tetapi tidak bisa apa-apa,

dikerjain oleh wanita itu, tapi wanita itu melihat sesuatu,

mula-mula terkejut dan berobah lagi, dengan tertawa liar

berkata:

“Kau anak muda bisa juga ilmu berguna, bisa

menggunakan pernapasan meredam api liar dalam hati,

sehingga tidak terpengaruh oleh dupa perangsang, tetapi

didepan mataku, kau jangan pamer ilmu itu!”

Wanita iblis itu sambil bicara, melepaskan jubah yang

menutupi dadanya, terlihat badan yang putih seperti salju,

begitu mendekati tubuh A Bin, membawa harum yang

menggiurkan, dan sepasang mata birahinya memancarkan

daya tarik yang maha besar, A Bin mengetahui dirinya

sedang dalam bahaya, dia berusaha menahan diri sehingga

menggigit giginya sampai berbunyi.

Wanita iblis itu tertawa liar sambil berkata yang bukanbukan,

merebahkan tubuhnya diranjang, di samping A Bin,

tubuhnya seperti ular air merangkul tubuh A Bin, mulut

diadu mulut, lidah melomot dengan liar, hawa mulutnya

membuat tubuh A Bin seperti memegang sesuatu ‘ barang

yang mengandung rasa musim semi merembes ke dalam

kulit, dan harum yang masuk dalam mulut menuju pusat

nadi Tan-tian, A Bin hampir menyerah, tidak bisa menahan

kegiatan organ di bawah perutnya.

Wanita iblis itu tertawa lagi dan berkata:

“Anak muda masih tidak mau menyerah? Kau harus

tahu, aku adalah Ang-lian-sian-cu (Dewi teratai merah)

yang tersohor namanya, aku telah belajar ilmu menambah

hawa mumi, telah menerima ribuan laki laki ganteng dan

perkasa, belum pernah ada yang lolos dari genggaman

tanganku. Bila kau membikin aku jengkel, aku akan hisap

Dewi KZ 214

kejantananmu, biar kau mati tidak tahu sebabnya. Tetapi

bila kau menyesuaikan keinginanku, dengan baik melayani

aku, kita sama sama gembira, aku akan menerima kau

sebagai murid aku, dan memberi pelajaran ilmu menambah

hawa murni padamu, dan kau akan selalu awet muda,

selalu bersinar mukanya, seumur hidup bahagia!”

Mendengarkan kata kata wanita itu, A Bin makin

terkejut, dia telah mendengarkan cerita gurunya, bahwa

Ang-lian-sian-cu ini adalah aliran tersesat yang menguasai

ilmu menambah hawa murni yang bernama kelompok

Teratai merah. Dia berbeda dengan aliran guru A Bin,

hanya untuk kepentingan diri sendiri, setelah mengambil

hawa mumi orang lain, membiarkan korban mati, yang

mati ditangan Ang-lian-sian-cu tiap tahun lebih dari seratus

orang.

Karena terkejut, pertahanan A Bin jebol, Ang-lian-siancu

menggunakan kesempatan ini, merangkul A Bin dengan

erat diatas tubuh A Bin.

Tangan dan kaki A Bin tidak dapat bergerak, hanya bisa

memejamkan mata berpikir, ‘aku akan mati hari ini’.

Mendadak terbayang gurunya yang pernah mengajarkan

ilmu Menahan Diri Menambah Energi, pikirnya dalam

hati, ‘wanita iblis ini telah mencelakakan banyak orang, aku

akan membalas kejahatan dia atas perbuatan jahatnya,

tindakanku tidak akan melanggar kode moral. Maka

dengan hati tenang, dia meredam nafsu birahinya,

membiarkan Ang-lian-sian-cu itu berbuat sesukanya, dan

diam-diam mengerahkan ilmu gurunya yang ketiga,

menyerang balik wanita itu dengan jurus Menahan Diri

Menambah Energi.

Maka Ang-lian-sian-cu masuk dalam jebakan A Bin,

tidak terasa dia menyalurkan hawa murni yang telah dia

kumpulkan puluhan tahun kepada A Bin, hingga begitu dia

Dewi KZ 215

terjaga dari kelengahan, dia sudah tidak tertolong lagi, dia

tergeletak diranjang seperti tanah lumpur, sanggul

kepalanya jatuh di pinggir ranjang, rambutnya yang hitam

langsung menjadi putih, mukanya berobah menjadi keriput,

berobah total menjadi nenek tua yang berkulit seperti ayam,

semua kecantikan dan kesegarannya sudah tidak kelihatan

lagi.

Sebaliknya A Bin menjadi pulih kembali dan merasa

sangat nyaman, dia segera mencari bajunya dan berpakaian

kembali, kemudian dia mencoba menyalurkan hawa murni

pada tenggorokannya, ternyata betul seperti ramalan

gurunya yang pernah cerita bahwa dia akan bisa bicara, bila

mendapat kesempatan seperti yang tadi dia alami. Melihat

wanita yang menamakan diri Ang-lian-sian-cu yang telah

berobah begitu parah, dengan terkejut A Bin berkata:

“Karena kau telah berbuat jahat pada banyak orang,

keadaan seperti yang kau alami sekarang, adalah takdirmu,

aku tidak bermaksud mencelakaimu, sekarang masih

membiarkan kau hidup, sudah pantas buatmu!”

Ang-lian-sian-cu mencoba bangkit dari ranjang tetapi

tidak bisa, matanya yang layu masuk ke dalam kelopak

mata, dengan suara serak berkata dengan penuh dendam:

“Aku tidak bisa marah denganmu, aku hanya ingin tahu

kau belajar dari mana ilmu yang bisa lebih ampuh dari

aliran Teratai Merah, sehingga aku akan mati dengan

tenang!”

A Bin berpikir sejenak, dia merasa tidak perlu

membohongi wanita itu, maka berkata:

“Aku dapat ilmu itu dari guruku dari Siau-yau-kiong

(Istana ketenangan), kau akan puas atas jawaban ini!”

Ang-lian-sian-cu berteriak dengan sedih:

Dewi KZ 216

“Ooh, Istana ketenangan!” dia segera menutup matanya,

dia tidak punya tenaga lagi menjawab kata-kata A Bin,

mukanya penuh dengan warna abu padam.

A Bin menyaksikan kejadian yang mengerikan ini, dalam

hati merasa berdosa, tetapi setelah dipikir kembali iblis ini

telah berbuat jahat di dunia selama puluhan tahun,

membunuh banyak orang. Mendapatkan nasib begini,

adalah hukum karma. Maka A Bin segera mencari pintu

rahasia, dan meninggalkan tempat itu.

0-0dw0-0

Siong-san termasuk dalam lima gunung ternama,

tersohor dengan pemandangannya yang menakjubkan, dan

puncak Siauw-san lebih gagah dan menjulang tinggi

menarik para pelancong untuk melihatnya bukan karena

pemandangan alamnya saja, tetapi untuk ber-kunjung ke

biara Siauw-lim yang tersohor di dunia.

Waktu lewat tengah hati, dibawah puncak Siauw-su

mendadak telah datang serombongan orang orang

persilatan yang sedang berjalan diantara pohon pohon

cemara yang lebat, baju mereka bermacam-macam corak.

Rombongan ini adalah mereka yang pernah bertemu di

biara Cu-sia, yang sekarang mendapat undangan untuk

rapat dibiara Siauw-lim.

Rombongan sepuluh orang itu, termasuk murid pertama

aliran Go-bi-pay, Yang-ciang (Telapak Yang) Tee Wie dan

Ciang-hohiap (Pendekar Sungai Ciang), Liu Ta-ang,

keduanya paling menarik dan dihormati oleh yang lain, dan

mereka berdua juga pantas dianggap pemimpin, hingga

tindakan dan ucapannya juga sangat hati hati.

Dewi KZ 217

Pendekar Tee dan Liu dua orang itu belum pernah ikut

dalam pertemuan di biara Cu-sia. Mereka datang atas

undangan Tee Wie mewakili kelompok partai Go-bi karena

ketua partainya tidak bisa datang, Liu Ta-ang adalah

pendekar tersohor di daerah sungai Ciang, kali ini mereka

diundang karena munculnya Jian-kin-kau yang mengancam

dengan provokasi kepada semua perguruan silat.

Rombongan itu dengan hormat mendengarkan

pembicaraan kedua orang itu, mereka berdua karena belum

melihat sendiri kejadian di biara Cu-sia, dan hanya

mendengar desas-desus dari luar, mereka merasa berita itu

terlalu dibesar-besarkan, mereka menganggap remeh

kekuatan Jian-kin-kau, malah mengomentari jago-jago silat

yang mengundang mereka terlalu membesar-besarkan soal

yang sepele.

Yang-ciang Tee Wie menganggap di rombongan ini

hanya Liu Ta-ang yang pantas namanya disejajarkan

dengan namanya sebagai murid pertama dari partai

ternama, dan pandangan mereka pun sama terhadap

pertemuan kali ini, mereka bicara sangat akrab sepanjang

perjalanan. Dan saat itu puncak Siauw-su telah kelihatan,

Tee Wie dengan mengangkat telunjuk ke arah puncak itu

berkata:

“Biara Siauw-lim telah mempunyai reputasi sohor

hampir seratus tahun, tetapi menurut pendapatku, partai ini

dalam beberapa tahun kebelakang menuju pada keadaan

mengkhawatirkan, beberapa pimpinannya sudah kurang

berwibawa dan kurang berjiwa besar, lihat saja undangan

kali ini, untuk menghadapi Jian-kin-kau yang belum

ternama, sudah merepotkan semua para-pendekar di dunia

persilatan, berarti mereka tidak sanggup menghadapi

kejadian yang mendadak, boleh dikatakan keterlaluan……”

Dewi KZ 218

Ciang-hohiap Liu Ta-ang, umurnya lebih tua dan telah

banyak makan asam garam didunia persilatan, dia takut

perkataan pendekar Tee yang berlebihan, terdengar oleh

pendekar lain dari rombongan yang punya hubungan dekat

dengan partai Siauw-lim, dan dikemudian hari dia sendiri

akan terlibat dalam kesalah pahaman, sehingga dia segera

berkata:

“Pendapat pendekar Tee membuat kita tambah

wawasan, tahun tahun belakang ini, partai-partai besar ada

yang maju ada yang diam ditempat, partai anda jauh di

propinsi Suchuan, tetapi namanya sudah tersohor hingga di

tepi Tiang-kang, wibawa kian hari kian naik, bukan saja

partai tuan Ouyang di hormati oleh kalangan dunia

persilatan, juga nama Yang-ciang Tee Wie begitu

diucapkan, semua orang juga akan kagum.

Liu Ta-ang sudah berpengalaman, kata-katanya moderat,

tidak mengkritik partai lain, hanya memuji nama partai Gobi,

Yang-ciang Tee Wie masih muda dan gila nama,

disanjung begitu oleh Liu Ta-ang, membuat seperti mabuk

dan menjawab dengan hormat:

“Jangan berkata begitu, Ciang-hohiap Liu Ta-ang,

barulah dapat dikatakan petinggi silat didunia persilatan

yang dihormati orang……”

Kedua orang itu saling sanjung, ada pula orang-orang

dipinggir yang ikut melambungkan nama mereka berdua,

membuat mereka makin sombong seperti sudah trdak ada

tandingan lagi didunia.

Rombongan ini sudah mendekati jalan gunung yang

menuju puncak, didepan mata terhalang oleh sebuah batu

gunung yang besar, dan terdengar suara O-mi-to-hud

beberapa kali, juga dua orang hweesio yang memakai jubah

merah.

Dewi KZ 219

Yang-ciang Tee Wie dan Liu Ta-ang dijalanan berupaya

mencemoohkan biara Siauw-lim yang makin redup

namanya, dan hweesio-hweesionya yang makin tidak

berilmu tinggi, tetapi begitu berhadapan dengan muridmurid

dari biara yang tersohor didunia, dari lubuk hati

mereka juga timbul rasa segan terhadap dua hweesio yang

baru muncul.

Yang-ciang Tee Wie yang masih terlalu muda dan tidak

berpengalaman, dan tadi dia sudah berkata sombong tidak

mau melihat situasi, maka dengan berpura-pura angkuh,

berkata dingin:

“Dua orang hweesio kesini, apa ditugaskan menjemput

kita keatas gunung?”

Kedua Hweesio yang berjubah merah tidak menjawab

pertanyaan Tee Wie, malah balik bertanya:

“Tuan-tuan datang dari mana, silahkan laporkan nama

kalian!”

Tee Wie menjadi terkejut mendengar nada dan

perkataan kedua hweesio yang kurang sopan, dengan nada

marah dia berkata dengan keras:

“Aku Tee Wie, mewakili ketua Go-bi-pay, guru aku she

Ouwyang, datang memenuhi undangan yang ditulis nama

ketua kalian Kian-ih Hong-tiang, dan tuan ini adalah Cianghohiap

Liu Ta-ang, yang lainnya adalah para-pendekar

yang tersohor di kalangan dunia persilatan, juga datang atas

undangan, kita tahu bahwa biara Siauw-lim-sie sangat

tersohor, hweesio-hweesio nya juga berpenampilan anggun,

tidak tahunya menerima tamu yang datang dari jauh

dengan cara begini, apakah ini hasil didikan ketua kalian

Kian Ih Taysu!”

Dewi KZ 220

Sindiran kata kata dari Tee Wie itu, membuat pendekar

Liu Ta-ang dan puluhan orang pesilat berobah warna

mukanya, mereka kuatir terjadi kesalah pahaman dengan

murid-murid Siauw-lim, dan merasa menyesal satu

rombongan dengan Tee Wie.

Pendekar Liu Ta-ang ingin memotong pembicaraan

mereka untuk menghilangkan suasana ketegangan mereka

karena kata-katanya yang pedas, tetapi dugaan mereka

ternyata salah, tampak kedua hweesio tidak menghiraukan

kata cemoohan dari Tee Wie atas ketua partai mereka,

seperti tidak bermaksud mencari gara-gara, salah satu

hweesio dengan suara keras sambil tertawa berkata:

“O-mi-to-hud! Aku ditugaskan disini, menunggu kalian

tidak ada maksud lain, karena atas perintah ketua kita, kali

ini mengundang jago-jago di dunia persilatan untuk

menghadapi Jian-kin-kau yang misterius, kita memerlukan

pesilat-pesilat yang betul-betul menguasai ilmu tinggi,

mencegah sembarangan orang yang tidak layak berupaya

masuk, maka kita menjaga di gardu ini, bila kalian bisa

menerima lima jurus kami, baru dapat izin masuk gunung!”

Semua orang dalam rombongan ini merasa terkejut,

mereka sudah tahu bahwa partai Siauw-lim ternama

diseluruh dunia, sepanjang seratus tahun namanya diatas

partai lain, tetapi belum pernah mendengar bahwa muridmurid

biara bisa sombong seperti orang ini. Mereka sedang

menduga, apakah betul Siauw-lim-pay meremehkan pesilatpesilat,

memberi perintah ini, atau kedua hweesio ini

memang sombong dan berbuat sesuka hati, ingin beradu

ilmu dengan pesilat-pesilat dari aliran partai semua.

Yang pertama tidak terima perlakuan hweesio itu adalah

Tee Wie, hatinya marah sekali dan tertawa keras berkata:

Dewi KZ 221

“Baik! Baik! Bila partai Siauw-lim dengan cara ini

menerima tamu dari aliran lain, aku sebagai orang kecil

yang tidak layak, akan mencoba dulu ilmu kalian yang

menjadi jago dari biara ini.

Dalam keadaan marah sekali. Tee Wie sudah tidak

perhatikan reputasi nama partai besarnya, tanpa basa basi

dia meloncat kedepan, mengeluarkan sebelah telapak

tangannya, menyerang dada hweesio yang berdiri di sebelah

kiri, karena dengan emosi marah, tenaga telapak tangannya

sangat cepat seperti halilintar.

Hweesio itu tidak menghindar, dia tetap diam

ditempatnya. Pikiran Tee Wie sedang berpikir kenapa

hweesio itu diam saja, terdengar suara hweesio di sebelah

kanan berteriak dan kata:

“Aku akan melayani kau!” hweesio itu dengan tongkat

nya memukul punggung Tee Wie dengan jurus Hui-poceng-

ciong (Gembreng terbang menghantam lonceng).

Tee Wie terpaksa menarik tangan yang menyerang

hweesio dikiri, menggeser badan, menghindar tongkat yang

menyerang, menggunakan ilmu partainya yang dinamakan

Ih-seng-hoan-tou (Memindahkan bintang ke posisi lain),

dengan sekejab mata telah menyelinap ke pinggir tubuh

hweesio yang dikiri itu, tangan kanannya telah memegang

tongkat lawan, tangan kirinya mengeluarkan jurus Huiciam-

hu-ki (Belaian sapu membersihkan meja.) dengan

cepat menghantam tangan hweesio yang memegang

tongkat.

Hweesio yang dikiri tidak menyangka bahwa gerakan

aneh Tee Wie begitu sempurna, dia tercengang sejenak dan

dalam keadaan itu, tangan Tee Wie sudah menggunting

tangannya, bila hweesio itu tidak melepas-kan tongkat

tangannya pasti dia akan terluka, terpaksa dia

Dewi KZ 222

memindahkan tongkatnya ke tangan kanan, menghindar

guntingan tangan Tee Wie, tangan kirinya berobah jadi

kepalan memukul dada Tee Wie.

Tee Wie tidak tahu hweesio itu bisa menghindar dan

langsung menyerang secara bersamaan, pukulan hweesio

itu membuat dia mundur kebelakang sebanyak tiga langkah,

mendapat kesempatan, hweesio yang di kiri itu langsung

mengejar, kaki kanannya menendang perut Tee Wie, dan

tangan kirinya dengan cepat memegang tongkatnya yang

dipegang Tee Wie, dengan tenaga penuh menarik.

Jurus hweesio itu digunakan sangat tepat, Tee Wie yang

memegang tongkat itu tertarik oleh tenaga hweesio,

badannya jatuh kedepan, persis menghadap tendangan kaki

kanan hweesio itu.

Tee Wie menjadi marah lagi, kejadian ini sangat

mencurigakan, karena partai Go-bi sudah sejajar dengan

partai Siauw-lim, Bu-tong dan Kun-lun, biar pun namanya

tidak seterkenal Siauw-lim dan Bu-tong, tetapi Tee Wie

adalah murid pertama dari partai Go-bi, hari ini dia hampir

dipermalukan oleh hweesio tanpa nama di biara Siauw-lim,

dia merasa malu. Tetapi Tee Wie sudah mendapatkan

warisan partai Go-bi yang mumi, dia bukan petarung biasa,

maka tubuhnya menghindar kepinggir, tangan kanan tidak

melepaskan tongkat, tangan kiri menjulur keluar,

memegang kaki kanan hweesio itu, dengan tenaga

mendorong, hweesio di sebelah kiri itu keseimbangan

tubuhnya jadi goyah, tubuhnya jatuh ke belakang.

Hweesio disebelah kiri itu merasa terkejut sejenak,

berpikir dalam hati murid partai besar betul betul berilmu

tinggi, tetapi tangan kirinya tetap memegang tongkat tidak

mau dilepas, dan meminjam tenaga Tee Wie dia menarik

tongkat itu, tubuh yang sudah jatuh ke belakang, mendadak

Dewi KZ 223

tegak lagi dengan jurus Liu-ciang-lam-hai (Arus menuju

lautan selatan), tangan kanannya menyerang lagi.

Tee Wie kembali dibikin terkejut, dia berpikir dalam hati,

apa betul ilmu Siauw-lim lebih tinggi banyak dari partai Gobi,

orang-orang yang bertugas enteng juga punya ilmu

tinggi, sehingga sulit di taklukan. Sambil berpikir, telapak

tangan kirinya dengan jurus Eng-hong-toan-cauw

(Menyambut angin memotong rumput.) menyapu urat nadi

tangan lawan.

Hweesio itu menurunkan tangannya, meng-hindar

serangan Tee Wie, tangan kanannya mengeluarkan jurus

dari ‘Cap-pwee-lo-han-ciang’ dengan suara ‘hu’ ‘hu’ ‘hu’

membalas serangan. Tee Wie menghindar tiga jurus

lawannya, segera membalas dengan gerakan cepat tangan

kirinya menyerang tiga jurus juga.

Perkelahian berdua yang satu tangan masing-masing

memegang satu tongkat itu, rubuh mereka berjarak hanya

dua kaki, masing-masing berduel dengan jarak dekat

menggunakan sebelah tangan keluar masuk, gerakan tangan

mereka bisa mengarah tempat ber-bahaya di tubuh lawan,

dan pusat nadi, bila salah satu orang berlaku ceroboh,

bukan saja bisa terluka tetapi maut akibatnya, perkelahian

mereka betul betul lain dengan yang lain, sangat bahaya

dan tegang, membuat orang orang yang menyaksikan

dipinggir sangat gentar.

Tidak berasa mereka telah saling serang sebanyak

sepuluh jurus, Ciang-hohiap Liu Ta-ang juga terkejut, dia

tahu pertarungan kedua orang ini akar masalahnya ada

dipihak Siauw-lim, tetapi dia punya nama tersohor berkat

sendiri, tidak mudah mencapatkan julukan itu, lain dengan

Tee Wie yang punya sandaran partai Go-bi, maka dia

sendiri tidak berani bermusuhan dengan Siauw-lim, dia

Dewi KZ 224

ingin berusaha mendamaikan perselisihan kedua pihak,

maka dia segera berkata:

“Saudara tadi berkata, hanya mencoba lima jurus saja,

tamu boleh masuk, sekarang sudah lewat lima jurus, apakah

sudah boleh membiarkan pendekar Tee Wie lewat untuk

ikut pertemuan?”

Tee Wie dan hweesio yang sedang bertarung seru, mana

mau mendengarkan kata Liu Ta-ang. Malah hweesio lain

yang berdiri di pinggir kanan segera menjawab:

“Ini bukan urusanmu, jangan banyak bicara! Sudah lama

aku mendengar nama Ciang-hohiap, aku ingin mencoba

beberapa jurus, apakah betul nama yang tersohor itu dan

bukan menipu halayak ramai didunia ini?”

Ciang-hohiap Liu Ta-ang biarpun umurnya lebih tua dan

pengalaman lebih matang, juga tidak terima sindiran

hweesio itu, maka tanpa pikir panjang lagi, biarlah

bermusuhan dengan Siauw-lim dari pada dipermalukan,

maka dengan tertawa terbahak bahak berkata:

“Aku tidak menyangka bahwa partai Siauw-lim begitu

congkak, aku Liu Ta-ang apakah betul punya nama hanya

untuk menipu halayak ramai kau boleh mencoba jurusku

baru menentukan betul atau tidak!”

Liu Ta-ang melihat lawannya sudah memegang sebatang

‘Alu penjinak iblis’ dan telah menyaksikan hweesio yang

berduel dengan Tee Wie betul-betul tangguh, maka tanpa

ragu ragu, dia mengeluarkan senjata pribadi ‘pedang

pemisah air’ Hong-sui-go-bi-ca (Garpu mata angin Go-bi)

menantang hweesio itu.

Hweesio itu juga tidak banyak bicara, dia berteriak

sekali, dengan satu jurus Ting-cia-kai-san (Tameng

membuka bunung), langsung memukul kepala Liu Ta-ang,

Dewi KZ 225

Liu Ta-ang sudah siap, tapi mengetahui tenaga senjata itu

sangat besar, dia tidak berani mene-rima langsung, dia

meloncat menghindar serangannya.

Hweesio itu jadi mendapat kesempatan, dia tidak

memberi hati pada lawannya, mengayunkan alu itu

sebanyak lima jurus, kelima jurus itu adalah ilmu inti dari

hweesio itu yang dinamakan Ji-cap-si-hong-lui-cu (dua

puluh empat jurus alu halilintar), tiap jurusnya bertenaga

dahsyat, Liu Ta-ang sambil meloncat dan menghindar baru

lolos dari sapuan dan pukulan alu lawannya, tapi semua

membuat tubuhnya mengeluar-kan keringat dingin karena

terkejut.

Liu Ta-ang tetap berpikiran jernih, sambil menghindar

serangan hweesio itu, juga mempelajari jurus lawannya,

setelah melihat beberapa jurus, dia merasa terkejut, ternyata

hweesio yang menyerang Tee Wie, jurus tongkatnya mirip

jurus Siauw-lim, tetapi jurus alu penjinak iblis yang

digunakan hweesio yang berhadapan dengan dirinya sama

sekali bukan jurus Siauw-lim, Siauw-iim-pay adalah partai

ternama, orang luar biarpun belum pernah belajar, bisa

mengetahui juga jurus yang dinamakan jurus Siauw-lim,

maka timbul kecurigaan Liu Ta-ang, maka pikirannya

berputar, lalu menambah tenaga serangan menggunakan

‘jurus tusukan membelah sinar’(Hwan-kuang-kian-hoat),

segera mendesak lawannya.

Hwwesio itu merasakan juga tekanan tenaga dari Liu Taang,

sekejap dia berteriak lalu mengayunkan1 alu nya

melawan, maka dalam sekejab, tusukan ber-kelebatan,

bayangan alu bagaikan bentuk gunung meng-hadang, kedua

orang yang bertarung masing-masing mengeluarkan

kepandaiannya dengan semangat.

Setelah terlibat dalam duel sepuluh jurus lebih, Liu Taang

menggunakan satu jurus Coan-tho-can-ie (Menerobos

Dewi KZ 226

badai menusuk ikan) dari Hu-po-cap-ji kian (Dua belas

tusukan menaklukan gelombang), senjata Liu Ta-ang

menusuk dengan diiringi angin keras menyerang dada

hweesio itu, sambil berteriak bertanya:

“Tumpang tanya kau dari bagian mana di biara, bertugas

diruang mana dan ditingkat apa dibiara Siauw-lim,

memegang jabatan apa?”

Liu Ta-ang ingin menyelidiki dengan tuntas, kedua

hweesio yang mencurigakan, tetapi hweesio dihadapan dia

berkata sambil tertawa berkata:

“Biara Siauw-lim-sie ada tiga ruang besar, dua loteng,

enam kamar, tiga belas halaman, dari bawah kepala biara

terbagi dengan susunan nama angkatan Ih, Goan, Kong,

Leng empat tingkat lebih seratus orang, dan sisa sesepuh

yang telah pensiun, bila aku menyebutkan nama, apakah

kau bisa tahu siapa aku?”

Sambil berkata, jurus alu Oh-liong-cut-in (Naga hitam

keluar dari awan) setelah menutup serangan Liu Ta-ang,

dengan tenaga penuh memukul dari atas.

Liu Ta-ang mendengarkan hweesio itu tahu keadaan

Siauw-lim dengan jelas, kecurigaannya agak berkurang,

maka serangannya agak lambat, sehingga kesempatan ini

digunakan hweesio itu untuk membalas serangan Liu Taang,

hampir saja mencelakakan Liu Ta-ang, dengan

pukulan alu itu memaksa dia mundur ke belakang sampai

lima langkah.

Tindakan ini membuat Liu Ta-ang marah, dalam hati dia

berkata, ‘Kurang ajar, bila aku tidak memberi pelajaran

pada hweesio ini, dikiranya aku orang yang bernama

kosong. Liu Ta-ang segera menggunakan ilmu simpanan

yang jarang digunakan, jurus ‘Dua belas tusukan

menaklukan gelombang’ berturut-turut dengan tiga tusukan

Dewi KZ 227

berantai menimbulkan satu kilatan sinar yang mengerikan,

bagaikan angin puyuh menerjang bumi.

Hweesio yang mendapat serangan pedang Liu Ta-ang

yang bagaikan ombak besar menerjang gunung, terpaksa

mundur tiga kaki, dan diwaktu itu, dari belakang batu

gunung besar itu keluar lagi dua hweesio dengan dua bilah

golok yang memancarkan dua kilatan sinar dingin, masingmasing

menyerang kepala Tee Wie dan Liu Ta-ang.

Orang-orang yang tadi berombongan dengan Tee Wie

dan Liu Ta-ang, mengetahui bahwa dengan tambahan dua

hweesio lagi, Di dan Lu sulit bertahan. Tetapi mereka takut

dengan nama besar Siauw-lim, dan tidak berhubungan

dengan diri sendiri, tidak berani berurusan dengan hweesio

Siauw-lim, karena Ti dan Liu sepanjang perjalanan sangat

sombong, jadi mereka berpangku tangan tidak membantu,

mereka ingin melihat nasib memalukan dari kedua teman

perjalanan.

Dua hweesio yang memegang golok, melayang keatas,

tenaga goloknya bagaikan halilintar menerjang kepala Ti

dan Liu, dan Tee Wie, Liu Ta-ang sedang berusaha

menahan kedua hweesio yang dihadapi, sepertinya tidak

bisa membagi tenaga untuk menangkis serangan dari atas.

Dalam detik yang genting itu, teman-teman rombongan

mengetahui keadaan bahaya Tee Wie dan Liu Ta-ang dan

ingin membantu tetapi sudah terlambat selangkah.

Pada saat bersamaan, mendadak terdengar ada suara

bentakan, satu bayangan pelangi terbang dari angkasa,

menebar cahaya bagaikan bunga, membikin orang yang

melihat matanya silau, seperti ratusan cahaya bintang terjun

kebumi, terdengar jeritan ke dua hweesio yang ingin

membokong kedua pendekar Tee dan Liu, tubuh mereka

Dewi KZ 228

jatuh kebelakang batu gunung, nasib mereka entah hidup

atau mati?

Suara jeritan yang mengerikan membuat kedua hweesio

yang sedang bertarung dengan pendekar Tee dan Liu

berobah warna mukanya. Mereka bersamaan

menggoyangkan tongkat dan alunya, membikin pertahanan

bersama, dan segera mundur kebelakang sekitar lima kaki,

mereka ingin mengetahui jelas nasib teman-nya, dan segera

meloncati batu gunung itu menghilang dari pandangan

semua orang.

Suasana ditempat kembali sunyi. Setelah sinar pelangi

hilang semua orang dilokasi pertarungan baru melihat jelas

yang membantu Tee Wie dan Liu Ta-ang adalah seorang

anak gadis sekitar lima belas atau enam belas tahun yang

cantik, berbaju putih dengan rambut diikat lingkaran bunga

putih dari kain wool seperti sedang berkabung, dan tangan

gadis itu memegang satu busur panah, sinar cahaya bagai

pelangi atau cahaya bintang waktu tadi ternyata keluar dari

ujung busur ini.

Tee Wie dan Liu Ta-ang mengetahui bahwa bila bukan

gadis ini yang membantu, mereka berdua tentu akan mati

diserang empat hweesio itu, maka mereka bersamaan

menghampiri dan mengucapkan terima kasih.

Gadis yang memegang busur itu seperti memendam rasa

kesedihan yang kelihatan dari alis dan mukanya, tidak

memperdulikan kata terima kasih kedua orang itu, hanya

dengan suara lembut bertanya:

“Kalian juga ingin ikut dalam pertemuan Siauw-lim, apa

kalian tahu jalan ke biara Siauw-lim? Bisa antar aku

kesana!”

Kata kata gadis itu tidak sopan, tetapi Tee Wie dan Liu

Ta-ang terpesona oleh kecantikan gadis ini dan merasa dia

Dewi KZ 229

telah menolong mereka, maka tidak memandang rendah

gadis itu bersamaan berkata:

“Aku antar! Aku antar!”

Setelah ke empat hweesio hilang ke belakang batu

gunung itu, tidak ada orang lagi yang menghadang mereka,

Tee Wie dan Liu Ta-ang mengapit gadis itu dikiri dan

kanan menuju puncak Siauw-su

Yang-ciang Tee Wie sangat hormat dan kagum pada

gadis ini, hilang sudah sifat angkuh yang biasa diperlihatkan

oleh dirinya, dengan suara lembut sambil berjalan dia

berkata:

“Tidak di sangka bahwa partai Siauw-lim begitu kurang

sopan, bisa menyuruh orang untuk menguji ilmu orang lain,

ingin membikin malu orang-orang, sampai menggunakan

tindakan membunuh, entah apa maksud mereka?”

Sepertinya gadis yang memegang busur itu banyak

pikiran dalam benaknya, mengkerutkan alis cantik, hanya

berjalan mengikuti Ti dan Liu, tidak mendengarkan kata

kata Tee Wie. Tee Wie melihat dari pinggir dan takut

mengganggu dan membikin risau gadis itu, dia segera tutup

mulut, diam diam men-dampingi gadis itu menuju puncak

Siauw-su. Rombong-an yang lain mengikuti mereka dari

jauh.

Sepanjang jalan jadi lancar tanpa ada gangguan, sampai

di pinggir puncak Siauw-su, berlarian dua orang calon

hweesio dengan cepat dan lincah menghampiri mereka

bertiga.

Tee Wie menduga dua orang calon hweesio itu juga

menghadang jalan, maka dia memusatkan tenaga dalam

dan berteriak:

“Berhenti!”

Dewi KZ 230

Kedua calon hweesio itu terkejut dan berhenti, mereka

merasa terkejut kenapa orang ini kurang sopan, tetapi

setelah dapat pesan dari ketua partai bahwa tamu tamu

yang datang dipertemuan hari ini adalah tamu tamu agung,

tidak boleh disepelekan, maka mereka memberi salam

tangan Budha didepan dada, berkata dengan sopan:

“Aku dapat perintah dari ketua, spesial menjemput tamu

agung!”

Ciang-hohiap, Liu Ta-ang bertindak lebih hati-hati,

melangkah maju kedepan dua langkah, berkata: “Dimana

ketua kalian?”

Kedua calon hweesio itu berkata:

“Ketua kita sedang menjamu tamu diruang pertemuan,

guru penjemput tamu sedang menunggu kalian didepan

pintu gunung, biar aku jalan didepan menuntun kalian!”

Habis bicara, mereka berbalik badan dan berjalan cepat

menuju pintu gunung, rombongan orang-orang mengikuti

dari belakang, berjalan sekitar satu li, sampai didepan satu

bangunan biara yang megah.

Tee Wie dan Liu Ta-ang yang sepanjang jalan

meremehkan partai Siauw-lim, sekarang setelah melihat

nama Biara Siauw-lim diatas pintu tiga kata dari warna

mas, masing-masing merasa tertegun, dan fakta berkata

bahwa biara yang masyur ini, telah ratusan tahun

menggetarkan dunia persilatan, tiap orang dikalangan

pesilat selalu memberi hormat pada partai Siauw-lim, hanya

gadis baju putih itu seperti tidak melihat nama papan itu,

tetap dengan angkuh masuk pintu biara.

Di depan pintu berdiri seorang hweesio tua yang

berjubah kuning, menghampiri mereka di dampingi empat

Dewi KZ 231

calon hweesio muda, hweesio tua itu dengan kata O-mi-tohud

sambil tersenyum berkata:

“Pinceng Hong Ih, mendapat perintah dari ketua ,

menjemput tamu disini!”

Liu Ta-ang adalah orang yang berpengalaman, melihat

hweesio Ih wajahnya ramah, bermata sopan, sikap damai,

dan empat calon hweesionya bermuka sopan, sangat

disiplin. Berbeda jauh dengan empat hweesio yang sadis

tadi, dalam hati timbul lagi rasa curiga, sekarang setelah

mendengar nama Hong Ih yang seangkatan dengan ketua

partai yang menjemput mereka, maka dia segera maju

kedepan dua langkah, sambil memberi hormat, berkata

dengan tersenyum:

“Ternyata guru pengawas biara, kami merasa tersanjung,

aku Liu Ta-ang, dan ini adalah murid Ouwyang Sian-seng

dari Go-bi-pay bernama Tee Wie, dan ini……”

Memperkenalkan gadis yang memegang busur itu, Liu

Ta-ang sendiri juga belum tahu siapa nama dan marga apa,

jadi tidak bisa melanjutkan berkata, dan gadis itu seperti

tidak menaruh dihati, tidak memper-dulikan cerita Liu Taang,

membuat Liu Ta-ang yang berpengalaman juga

terdiam.

Beruntung Hong Ih Taysu bijaksana, segera dengan

tertawa berkata:

“Ternyata Ciang-hohiap Liu Ta-ang dan Tee-siauhiap

dari Go-bi, maafkan aku baru kali ini bertemu, dan

persilahkan teman-teman yang lain sama-sama masuk

kedalam biara.”

Semua anggota rombongan berduyun-duyun mengikuti

Hong Ih Taysu masuk kedalam pintu biara, melalui satu

halaman tiba disatu ruangan samping.

Dewi KZ 232

Didalam ruangan iru sudah datang kurang lebih dua

puluh orang, masing-masing duduk dibeberapa bangku.

Satu orang hweesio tua yang berjubah putih dengan bulu

alis putih dan mata agak tertutup meng-hampiri rombongan

orang itu, dengan suara nyaring berkata:

“Tamu datang dari jauh, mohon maaf bila aku menerima

kalian disini.”

Lalu Hong Ih Taysu memperkenalkan pada tamu yang

baru datang, semua orang baru tahu bahwa hweesio itu

adalah Hong-tiang dari Siauw-lim yang tersohor di dunia

persilatan yang nama besarnya adalah Kian Ih Taysu.

Liu Ta-ang memberi hormat pada Kian Ih Taysu dan

berkata:

“Kita sekalian mendapat surat undangan yang tertera

nama-nama ketua dari Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay, Wie

Tiong-hoo lohiap, masa tidak akan datang?”

Kian Ih Taysu menghela nafas sebentar dan berkata

dengan senyum:

“Pinceng orang biasa, karena dibimbing Budha masuk ke

biara, selama lima puluh tahun membaca alkitab dibawah

sinar lampu, memperdalam ilmu agama, biar pun belum

bisa menghilangkan hati marah dan jengkel, dan tidak

berani memberi kesulitan pada kalian, karena masalah ini

berhubungan dengan kelangsungan hidup dunia persilatan,

terpaksa Pinceng mengundang kalian kesini.”

Liu Ta-ang berhadapan dengan Kian Ih Taysu dengan

muka ramah dan berwibawa, sudah merasa kagum dalam

hati, dan berobah pandangan merendah-kan Siauw-lim, dia

memberi hormat pada Kan Ih Taysu dan berkata dengan

sungguh-sungguh:

Dewi KZ 233

“Hong-tiang dari Siauw-lim begitu memperhati-kan nasib

dunia persilatan, bersama pendekar lain mengundang jagojago

silat, ini adalah pekerjaan yang mulia dan

berpandangan luas, niat yang mulia itu seharusnya

dihormati orang banyak!”

Semua orang yang sudah berada diruangan itu

bersamaan berdiri mengenalkan diri, termasuk nama yang

turut mengundang ketua Bu-tong-pay Soat-song To-tiang,

Liu Ta-ang melirik tamu yang lain, tapi tidak menemukan

dua orang lagi yang turut mengundang yaitu Wie Tionghoo

lo-jin dan pendekar Gan Cu-kan.

Mengingat kejadian tadi yang membuat Yang-ciang Tee

Wie yang hampir dipermalukan, hatinya masih merasa

tidak senang, sekarang setelah bertemu dengan tuan rumah

Kian Ih Taysu, amarahnya jadi timbul kembali, dia berkata

dengan dingin:

“Aku telah lama mendengar nama harum partai Siauwlim,

tapi setelah hari ini bertemu ternyata berbalik dengan

fakta, Kian Ih Taysu ternyata seorang yang bersifat angkuh

seperti orang biasa, dan tidak mau menerima kehadiran

orang lain!”

Kian-Ih Taysu tahu Tee Wie adalah murid pertama dari

Go-bi-pai, dan sekarang berkata begitu, dia jadi bengong

sebentar, lalu memandang Liu Ta-ang ingin mengetahui

sebabnya.

Melihat sikap Kian Ih Taysu dan kecurigaan terhadap

empat hweesio yang menghadang dijalan tadi, Liu Ta-ang

sudah menyadari tentang kejanggalan itu, maka dia segera

menceritakan kejadian tadi pada semua orang.

Kian Ih Taysu mendengarkan cerita itu dengan tenang,

tidak tampak rasa terkejut, dia berkata dengan tenang dan

sopan:

Dewi KZ 234

“Ini masalah yang mencurigakan, biara kita punya nama

di dunia persilatan karena punya ilmu silat, tetapi seperti

biara lain, memberi kebebasan buat semua orang untuk

sembahyang pada Budha, belum pernah ada pos penjagaan,

dan pintu gunung biara juga ada diluar sejauh tiga li, bila

bukan ada pertemuan penting hari ini, anak didik kita tidak

boleh sembarangan meninggalkan tempat tanpa perintah

ketua. Hweesio hweesio yang tadi menghadang kalian

kemungkinan menyalah gunakan nama biara kita, untuk

merusak persahabatan kita, dan ada satu kata yang tidak

malu dikatakan bahwa tidak ada hweesio biasa kita yang

ilmunya bisa melawan kalian berdua Liu-tayhiap dan Teesiauhiap.”

Perkataan Kian Ih Taysu sangat masuk akal, Soat-song

Cinjin ketua dari Bu-tong-pay turut berkata:

“Hal ini sangat mencurigakan, sebab pertemuan kita

adalah untuk minta saran pikiran dan tenaga semua orang

menghadapi musuh besar, tidak mungkin mencari

perselisihan. Dan kebiasaan partai Siauw-lim berbuat selalu

terbuka, tidak mungkin membuat tindakan yang bodoh itu,

menurut pendapat aku, empat hweesio yang mencurigakan

itu kemungkinan suruhan Jian-kin-kau untuk mengganggu.”

Gadis baju putih itu sejak masuk ruangan tetap berdiri

disana tanpa gerakan. Semua percakapan orang orang

seperti tidak didengar, mukanya tetap dingin.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin bukan orang biasa,

dari awal sudah memperhatikan tingkah laku gadis itu,

dalam hati mereka merasa gadis itu bukan sembarang

orang. Kebetulan Giok Ih Taysu baru masuk dari luar,

melihat gadis baju putih itu segera menghampiri dan

bertanya:

Dewi KZ 235

“Nona muda sudah datang, kenapa Gin-hoat-lo-jin Wie

Tiong-hoo belum juga datang?”

Ternyata gadis baju putih ini adalah cucu dari Wie

Tiong-hoo… Siau-cian, mendengar pertanyaan dari Jie Ie

Taysu mengenai kakeknya, Siau-cian menjawab dengan

hormat:

“Kakek berpisah dengan aku sudah beberapa hari,

dimana jejak kekek, aku belum tahu!”

Ketua Siauw-lim-pay Kian Ih Taysu yang sudah tahu

asal usul busur yang dipegang Siau-cian, dengan salam

Budha berkata:

“Tumpang tanya hubungan apakah tuan Giok-kiong

Giok Kang-tong dengan anda?”

Muka Giok Siau-cian berobah sedih, air matanya hampir

saja keluar dia berkata:

“Giok Kang-tong adalah ayahku, aku anak tunggal

beliau, Siau-cian!”

Kian Ih Taysu sangat berpengalaman, sudah lama tahu

berita tentang kematian tiga pendekar wahid Giok-kiong,

In-kiam dan Lui Kie, melihat Siau-cian sangat sedih, begitu

ditanya tentang ayahnya, maka dia segera membelokan

perkataan, mempersilahkan tamu tamu masuk ruangan.

Lalu datang lagi orang-orang yang berdandan macammacam,

orang-orang itu ada yang jubah panjang, baju

pendek, godek panjang, kumis pendek, macam-macam

roman muka, tua muda laki perempuan komplit. Tee Wie

dan Liu Ta-ang melirik tamu-tamu itu dan mengenali

beberapa orang ternama, dari partai Kun-lun ada pendekar

Tuo-ci-kong (laki-laki berjari banyak) Hun San-kiau yang

seangkatan dengan ketuanya, dari Hoa-san-pay Biauw-tie

sinni, Hoai-sang-it-ho (orang berbakat tinggi dari Hoai)

Dewi KZ 236

Shangguan Leng, ketua partai dari Heng-san-pai, Cuan Taikwie

dan ketua biara Cu-sia Thi-koan Tojin dan lain-lain

orang.

Mata Kian Ih Taysu melihat tamu-tamu di sekeliling

berkata:

“Kalian datang dari jauh, mungkin sudah lapar, silahkan

duduk dulu.”

Semua tamu duduk ditempat yang telah disedia-kan,

semuanya lima puluh orang duduk di delapan meja.

Karena Yang-ciang (Pendekar telapak Yang), Tee Wie

mewakili ketua Go-bi-pay, maka bisa duduk bersama

dengan ketua Kun-lun-pay Hun San-kiau, Biauw-tie sinni

dari Hoa-san-pay, ketua Heng-san-pai, Cuan Tai-kwie,

Siau-cian adalah turunan Giok-kiong, dia datang bersamaan

dengan Tee Wie, otomatis duduk di samping Tee Wie,

membuat Tee Wie sangat gembira.

Tidak lama kemudian, hweesio-hweesio muda telah

mengeluarkan botol arak dan sayur di masing- masing meja,

menu sayur vegitarian dari Siauw-lim sangat tersohor,

makanan ini dibuat demikian menarik hingga mengundang

selera makan.

Hong-tiang Siauw-lim Kian Ih Taysu dan Soat-song

Cinjin beberapa orang yang namanya tercantum di surat

undangan, membagi tugas, masing-masing duduk di meja

tamu yang berlainan, begitu makanan sudah siap disantap,

di meja utama Kian Ih Taysu mengangkat gelas arak

berkata:

“Terima kasih atas kedatangan kalian dari jauh untuk

memenuhi undangan kami, aku mewakili teman-teman

dengan segelas arak tawar ini, memberi hormat pada

kalian!”

Dewi KZ 237

Semua tamu berdiri, masing-masing mereguk habis arak

di gelasnya.

Kian Ih Taysu mengajak tamu-tamunya ber-sulang lagi,

tanda terima kasih atas kedatangan tamu-tamu atas

undangannya.

Tamu-tamu meminum habis juga gelas arak yang kedua,

dan memandang tuan rumah yang mengundang mereka,

selain kakek Wie Tiong-hoo dan pendekar Gan Cu-kan

yang belum datang, ketua Bu-tong-pay Soat-song Cinjin

yang telah dikenal oleh semua orang, dan yang telah dilukai

oleh Jian-kin-kau sehingga menjadi lumpuh Thi-koan Tojin

dan satu orang lagi yang diperhatikan tamu-tamu adalah

seorang yang pintar meramal dan berpendidikan tinggi,

bernama Sin-ki-siucay (Sastrawan peramal jitu) Cukat

Hiang.

Kian Ih Taysu setelah meneguk habis arak itu,

memandang jago-jago silat disekeliling meja, berkata lagi:

“Aku dengan rekan-rekan mengundang kalian datang

kesini, saudara-saudara pasti sudah tahu maksud nya. Sebab

akhir-akhir ini didunia persilatan telah muncul satu aliran

yang bernama Jian-kin-kau, sebuah organisasi besar tetapi

tindakannya jahat sekali, apa yang mereka perbuat selalu

menggunakan akal licik, jejaknya pun rahasia, kadang

timbul kadang hilang, susah ditebak, dalam satu bulan ini,

mulai dari peristiwa di biara Cu-sia, sudah banyak temanteman

persilatan diganggu dan dilukai, dari informasi yang

dapat dikumpulkan, orang-orang aliran ini berilmu tinggi

dan mahir menggunakan segala macam racun, juga tidak

menampakan muka aslinya. Setelah melukai teman-teman

persilatan dengan kejam, selalu meninggalkan kain putih

bertuliskan peringatan berdarah dengan kata-kata: ‘

Dewi KZ 238

“Empat jagoan wahid sudah habis, Jian-kin-kau berjaya,

yang ikut kita selamat, yang melawan kita mati,

bergabunglah dengan Jian-kin-kau!” Tindakan sadis

mereka, bila tidak cepat dicegah, semua teman-teman di

dunia persilatan tidak akan bisa tentram!”

Ketua Bu-tong-pay, Soat-song Cinjin juga ikut berbicara:

“Sudah setengah bulan, teman-teman yang telah dibunuh

oleh mereka adalah, tujuh belas hweesio di biara Cu-sia,

Thi-koan Tojin dibuat lumpuh dan belum pulih, sesepuh

aliran Heng-san, tuan Po, tiga saudara tuli she Sung, dan

teman-teman lain kurang lebih dua puluh orang juga mati

tanpa jelas sebabnya. Pendekar Gan Cu-kan yang

menyelidiki Jian-kin-kau sendirian hampir sebulan belum

ada beritanya, adik perguruan kita Ku-cu bersama tiga

murid pergi ke selatan Tiang-kang untuk menyelidiki sudah

beberapa hari, juga tidak sempat pulang mengikuti rapat

hari ini.”

Semua kejadian itu bukan hal yang kebetulan, dan

teman-teman yang tadi diserang oleh hweesio-hweesio yang

menyamar menjadi hweesio Siauw-lim juga kemungkinan

orang-orang mereka, jadi Jian-kin-kau sudah menyebarkan

banyak anak buahnya, siap masuk dalam segala

kesempatan.

Peristiwa di biara Cu-sia semua orang sudah tahu, tetapi

kejadian menyamar hweesio Siauw-lim, baru pertama

mendengar, sehingga tamu di setiap meja berbicara bisikbisik,

semua merasa terkejut.

Orang yang dinamakan Peramal jitu (Sin-ki-siucay)

menggoyangkan kipas ditangannya, lalu berdiri dengan

berseri-seri berkata:

“Pertemuan hari ini adalah mengumpulkan saran-saran

semua orang, berunding bagaimana cara menghadapi JianDewi

KZ 239

kin-kau, tetapi bila ada orang mereka yang menyamar

diantara tamu-tamu kita, rencana kita yang matang pasti

gagal total, dan usaha yang akan digunakan juga akan sia

sia!”

Sambil bicara, kedua matanya memandang semua tamu,

dari mula sampai rapat mau berlangsung dia diam-diam

duduk disatu sudut ruangan meneliti dengan hati-hati tamutamu

yang masuk, dan sekarang dia telah menemukan satu

sasaran yang dicari.

Ketua Siauw-lim-pay tahu Peramal jitu ini umurnya baru

empat puluh tahunan, tetapi banyak membaca buku, sangat

pintar, orang yang pintar meng-hadapi segala perubahan

tidak pernah gagal, dia berkata begitu pasti bukan kata-kata

kosong, maka dia berkata dengan hati-hati:

“Cukat-tayhiap bila ada orang yang mencuriga-kan,

silahkan tunjukan!”

Peramal jitu tersenyum sejenak, tanpa bicara, pelanpelan

melangkah, mengelilingi meja-meja perjamu an,

tamu-tamu dibikin terkejut oleh ucapan dia, masing-masing

melirik meja sebelahnya, apa ada orang asing yang

mencurigakan, Cukat Hiang dengan santai ber-salaman dan

bergurau dengan tamu-tamu yang sudah kenal.

Semua jagoan diruangan tidak tahu dia mau ‘jual obat’

apa didalam Hiolonya, mata mereka mengikuti tubuh

Cukat Hiang dan menaruh curiga pada orang yang ditanyai

oleh Cukat Hiang.

Setelah melewati empat meja, dia kembali lagi ke meja

depan pertama, mendadak dengan tersenyum dia bertanya

pada seorang pemuda yang mengenakan baju hitam:

“Sobat Hong! Guru anda apa baik-baik saja?”

Dewi KZ 240

Semua orang menaruh salut pada Cukat Hiang, karena

yang dinamakan tuan Hong adalah murid kesayangan Bu

Ki, Ting Ta-hong baru keluar dari perguruan dan mewakili

gurunya datang pada pertemu-an ini, Cukat Hiang

mengenali orang ini hanya mendengarkan sekali saat Hong

Ih Taysu memperkenal-kan tamu yang baru masuk pada

ketua Siauw-lim-pay. Semua orang menilai Cukat Hiang

lebih teliti dari orang lain.

Anak muda yang dipanggil tuan Hong berdiri dengan

tenang menjawab:

“Guru sehat seperti biasa terima kasih atas perhatian

anda, tetapi sebelum berangkat guru berpesan pada aku

untuk titip salam pada Lo-cianpwee, tapi tidak

menyebutkan nama Cukat-tayhiap, boleh tanya apakah

Cukat-tayhiap pernah bertemu muka dengan guru? Atau

karena tergesa-gesa guru lupa pada nama anda? Aku

mewakili guru mohon maaf!”

Diantara tamu-tamu yang tahu aturan, setelah

mendengarkan kata-kata tajam anak muda ini, yang ingin

membuktikan bahwa dia telah mendapat perintah dari

gurunya, merasa aneh atas perkataan Cukat Hiang pada

dirinya, dan sebaliknya membalas pada Cukat Hiang yang

tidak ada hubungan dengan gurunya, tapi kata salam dari

Cukat Hiang itu ada maksud lain.

Cukat Hiang sangat bijaksana, biarpun telah

dicemoohkan oleh anak muda ini, dia tidak marah sama

sekali dan masih tersenyum bertanya lagi:

“Betul juga, aku Cukat Hiang memang belum pernah

bertatap muka dengan guru anda, tetapi teman lamaku

sangat dekat dengan guru anda, entah dia masih sering

datang tidak?”

Dewi KZ 241

Anak muda itu tercengang sejenak, dan segera berobah

tenang lagi, menjawab dengan tenang:

“Aku telah ditunjuk oleh guru banyak berlatih di tempat

latihan untuk memperdalam ilmu, maka teman-teman guru

yang berkunjung kerumah guru tidak tahu jelas!”

Cukat Hiang mendadak tertawa terbahak-bahak dan

berkata:

“Baik! Baik! Baik! Aku Cukat Hiang ingin mengetahui

ilmu telapak Bu Ki pada hari ini!” dan dengan segera

menggunakan tangan kirinya menceng-kram anak muda

Kong itu. Tapi ternyata anak muda itu telah waspada, dia

menghindar dengan cepat, tidak bergeser dari posisi duduk,

dia menendang nadi Tan-tian Cukat Hiang.

Karena menguasai ilmu tinggi, Cukat Hiang menghindar

tendangan itu, dengan cepat mencengkram tangan kiri anak

muda itu, tapi lawannya merendahkan posisi tangan,

hingga terlepas dari jangkauan lima jari Cukat Hiang,

kemudian meloncat kedepan, menyerang dada Cukat

Hiang.

Pesilat pesilat tangguh dari dunia persilatan yang

menyaksikan sudah mengetahui jurus yang digunakan anak

muda ini bukan jurus Bu Ki, mereka makin salut pada

Cukat Hiang atas tindakan yang ingin membuktikan bahwa

anak muda itu asli atau palsu muridnya Bu Ki.

Cukat Hiang yang mendapat perlawanan anak muda itu,

tidak menghindar malah maju lagi, dengan kipas yang

ditangan kanan dia menahan serangan telapak lawannya,

tangan kirinya menggunakan jurus mengunci naga, dengan

cepat mencengkram tangan atas anak muda itu. Ternyata

anak muda itu betul-betul punya kepandaian lumayan,

tubuhnya bergoyang dan telah menghindari serangan kipas

dan tangan kiri dari Cukat Hiang.

Dewi KZ 242

Cukat Hiang tercengang sejenak, berkata: “Anak muda!

Ternyata ilmu silatmu tinggi.” Dia lalu mendorong sebelah

telapak tangannya, Cukat Hiang dianggap punya kepintaran

sangat tinggi, dan ilmu silatnya juga sejajar dengan guruguru

perguruan empat partai, dibawah tontonan banyak

orang, setelah mengeluarkan berapa jurus, masih bisa

dihindari oleh anak muda yang belum ternama, timbul

amarahnya, maka serangan ini telah menggunakan tujuh

puluh persen tenaganya, serangannya sangat dahsyat, anak

muda itu terpaksa menerima serangan itu dengan telapak

tangan. Dua tenaga bertemu, anak muda ini terdesak

hingga mundur tiga langkah, hampir saja menabrak orang

yang duduk debelakang meja.

Cukat Hiang dengan tertawa sinis sekali, segera mengejar

lawannya, hanya dengan tangan kiri secara berantai

menyerang tiga jurus, tiga jurus yang cepat seperti arus

listrik, membuat anak muda itu terdesak kelabakan.

Cukat Hiang tidak memberi waktu luang, tangan kirinya

lagi-lagi memukul dua jurus, mendesak anak muda itu

seperti lampu kuda berputar-putar tanpa arah, dan

terdengar satu bentakan dari Cukat Hiang, dia merobah

telapak tangannya jadi cakaran, kuncian lima jarinya

menangkap tangan kanan lawan, bersamaan itu kipas yang

dipegang tangan kanan menepuk jatuh setumpukan jarum

perak yang ingin dilayangkan oleh anak muda itu, dibawah

sinar lilin terlihat jarum-jarum itu berwarna biru, tentu saja

jarum kecil yang seperti bulu sapi itu telah dilapisi racun.

Dengan tertangkapnya orang jahat, semua tamu merasa

lega, semua berpikir bila orang itu telah diinterogasi tentu

akan mengatakan rahasia Jian-kin-kau, ternyata anak muda

yang dipanggil Hong itu mukanya berobah, keringat

bercucuran di kepala jatuh ke bawah lantai, baru saja dalam

hati Cukat Hiang berkata celaka, segera dia menotok nadi

Dewi KZ 243

pingsan anak muda itu, sayang sudah terlambat, saat

jarinya menyentuh titik nadi anak muda itu, muka orang itu

sudah berobah warna, sudah mati seketika.

Cukat Hiang segera meneliti seluruh tubuh anak muda

itu, segera dia menemukan satu jarum perak yang

tersembunyi diikatan rambut kepala orang itu, jarum itu

persis seperti yang dilantai, hanya lebih kecil.

Semua orang didalam ruangan adalah orang orang yang

berpengalaman di dunia persilatan, tahu bila bertindak

ceroboh, pasti memberi kesempatan musuh yang ada di

tempat gelap, maka semuanya diam ditempat seperti tidak

terjadi apa apa, jadi sepintar apa pun Cukat Hiang, tidak

dapat menemukan orang yang dicurigakan lagi di antara

tamu-tamu itu.

Cukat Hiang sangat cerdik dan hati-hati, bila tidak pasti

dia tidak akan bertindak, maka dia tersenyum sekali dan

berkata pada Kian Ih Taysu:

“Harap maafkan tindakanku yang ceroboh, kejadian ini

membuat tempat suci Budha ini jadi berbau amis darah.”

Kian Ih Taysu merapatkan kedua telapak tangan-nya

sambil mengucapkan “O-mi-to-hud” dan berkata:

“Tidak marah, tidak pikiran bercabang, tidak pikirkan

diri sendiri, tidak robah roman muka, adalah ilmu paling

tinggi aliran Budha, aku sudah diincar iblis, biara kita tidak

luput dari hawa amis darah, aku berharap sesudah

pertemuan hari ini, teman-teman persilatan bisa bergotong

royong menghadapi Jian-kin-kau, menyelamatkan bencana

dunia persilatan, menyela-matkan nyawa yang tidak

berdosa di dunia ini, aku siap bersemedi dalam gua sepuluh

tahun untuk menanggung dosa di hadapan Budha!”

Hoai-sang-it-ho Shangguan Leng mendadak ikut bicara:

Dewi KZ 244

“Pandangan jauh ketua, Shangguan Leng sangat kagum,

di dunia persilatan sudah lama mengetahui keahlian

peramal ajaib, hari ini kepandaiannya telah membuat

banyak orang turut kagum, tetapi aku ada satu hal yang

tidak mengerti, kenapa Cukat-heng bisa memastikan orang

ini adalah mata-mata dari pihak lawan?”

Semua orang juga punya pikiran itu, hanya tidak berani

bertanya, sekarang setelah diutarakan oleh Shangguan

Leng, semua orang jadi bersemangat mem-buka kuping

untuk mendengarkan penjelasan.

Cukat Hiang tersenyum dan berkata:

“Hal ini sangat sederhana, semua orang bila dengan teliti

perhatikan, akan mengetahui lebih banyak persoalan tiap

partai, pasti tidak sulit mengetahui seluk beluk tiap partai!”

Shangguan Leng berkata lagi:

“Kita ingin mengetahui lebih jelas!”

Cukat Hiang menggoyangkan kipas ditangannya,

berkata:

“Aku datang kepertemuan ini sudah menaruh perhatian

khusus, menjaga jangan sampai ada mata-mata menyamar

masuk, tiap orang yang masuk ke ruangan ini telah diteliti

dengan cermat, memperhatikan tingkah laku dan ucapan

orang ini mengaku murid Bu Ki, dia menyebut nama guru

begitu hormat, bila bagi murid partai lain mungkin ini

adalah hal yang biasa, tetapi aku mengetahui tuan Bu Ki

sangat akrab dengan murid-muridnya, tidak mau terikat

dengan status guru dan murid, jiwanya sangat terbuka,

tidak dengan kekerasan mendidik muridnya, dan muridmurid

mereka tidak terlalu serius bila diucapkan nama guru

mereka oleh orang lain, jadi orang ini mengundang

kecurigaan aku…….”

Dewi KZ 245

Cukat Hiang berhenti sejenak, berkata lagi: “Tadi aku

takut mencelakakan orang baik, maka dengan pertanyaan

bohong mencoba lagi, ternyata orang ini sangat licik,

sampai mengatakan bahwa tuan Bu Ki tidak pernah kenal

dengan aku. Tetapi orang ini juga tidak yakin seratus persen

sehingga kata-katanya bersifat dua kemungkinan, aku tahu

bahwa semua orang di dunia persilatan telah mengetahui

tuan Bu Ki sudah bermukim jauh dipinggiran negara bagian

barat dan tidak pernah ke Tionggoan, dan aku tinggal di

tenggara, jarang pergi ke barat laut, orang yang mengetahui

soal dunia persilatan, tidak susah untuk mengatakan bahwa

aku tidak kenal tuan Bu Ki. Dan aku tidak menyuruh

dengan kata yang dibuat buat, ternyata orang ini tertipu,

harap tahu bahwa yang tadi aku tanya nama itu adalah

nama samaran tuan Bu Ki, teman-teman dunia persilatan

jarang ada yang tahu, aku punya kebiasaan mengumpul-kan

barang-barang emas dan permata, buku-buku dan lukisan,

pernah tahu bahwa tuan Bu Ki memberi hadiah lukisan

kaligrafi dengan nama samaran Hoat Ih, bila orang lain

tidak tahu itu tidak aneh, masa murid kesayangan tidak

tahu nama samaran gurunya!”

Shangguan Leng mengacungkan jempol memuji Cukat

Hiang dan berkata:

“Sungguh nama peramal jitu pantas buatmu, kau bilang

mudah, tetapi di dunia ini siapa lagi yang bisa seperti

dirimu, teliti, pengetahuan luas! Aku betul betul salut pada

kau!”

Semua orang juga turut salut pada Cukat Hiang, dan

saling bertukar ucapan sanjung.

Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud pelan dan

berkata:

Dewi KZ 246

“Aku sedang kuatir, bila bukan tuan Cukat teliti sekali,

mata-mata ini mungkin susah diketahui dalam waktu

pendek.”

Cukat Hiang membalas dan memberi hormat atas kata

kata sanjungan dengan menggunakan kipas yang terbuka,

berkata:

“Kebetulan dengan cara sederhana bisa berhasil nyata,

jangan dibesar besarkan! Tetapi, kejadian ini, aku

memikirkan beberapa soal yang mengkhawatirkan!”

Soat-song Cinjin sudah lama mengetahui Cukat Hiang

punya kelebihan dari orang lain, ramalannya selalu tepat,

maka segera bertanya:

“Apa lagi yang tuan Cukat ketahui, silahkan diuraikan

biar lebih jelas!’

Dalam hati Cukat Hiang berpikir, ‘keadaan sekarang,

banyak mulut bisa menimbulkan macam-macam akibat,

lebih baik hati-hati’, maka setelah ragu ragu sejenak dia

berkata:

“Pendapat aku begini, satu, orang ini saja bisa

mengetahui banyak urusan perguruan Bu Ki, jadi

kemungkinan mereka telah menangkap murid asli tuan Bu

Ki dan dengan cara kejam memaksa korbannya membuka

rahasia, aku pikir murid utama tuan Bu Ki mungkin sudah

dibunuh. Kedua, orang ini pasti suruhan Jian-kin-kau, dari

pernilaian orang ini tentang ilmu, kecerdikan dan

keberanian, bisa dilihat Jian-kin-kau banyak orang pandai

dan banyak akal liciknya, dengan bervariasi, mencari celahcelah

untuk masuk, jadi aku akan menambah kewaspadaan.

Ketiga, orang ini mati karena serangan racun mendadak,

melihat sekeliling bangunan jika jarumnya melayang datang

dari luar ruangan, kemungkinannya sangat tipis,

pendapatku, orang yang mengeluarkan jarum racun itu

Dewi KZ 247

masih menyelinap diantara tamu-tamu, dia pasti adalah

mata mata dari Jian-kin-kau, tapi harap dimaafkan, sebab

aku tidak dapat mengenal dan menuduh dia sebagai

pembunuh!”

Kejadian itu semua orang menyaksikan sendiri dan

semua juga tahu, tetapi dengan penjelasan Cukat Hiang itu

membuat setiap orang jadi waspada, diam-diam melihat

orang yang duduk semeja atau sebelahnya, tindakan itu

membuat suasana pertemuan jago-jago agak ribut, semua

orang merasa keamanan dirinya jadi terancam.

Hoai-sang-it-ho Shangguan Leng punya reputasi sangat

tinggi di dunia persilatan, sifatnya pun sangat terbuka dan

ramah, dia tertawa sejenak dan berkata:

“Setelah mendapat peringatan dari saudara Cukat, maka

aku lebih berhati-hati. Ada satu perkataan yang mohon

dimaafkan oleh teman-teman, bahwa kejadian ini, selain

ketua Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay, dan saudara Hun dari

Kun-lun-pay, Hoa-san-sin-ni dan saudara Cukat yang dapat

aku percaya, juga ketua biara Cu-sia yang telah dilukai oleh

Jian-kin-kau merupakan satu fakta membuat aku mesti

waspada. Dan teman-teman disini, bila aku dicurigai anda

sekalian juga hal yang wajar, aku juga tidak akan marah!”

Kata-kata Shangguan Leng yang bercampur benar dan

bohong, serius dan humor yang keluar dari mulut pendekar

termasyur itu tidak mengundang marah tamu-tamu, malah

semua orang dibikin tertawa keras, tetapi sesudahnya

semua orang dibuat lebih waspada.

Saat itu mendadak datang seorang hweesio dari luar,

setelah memberi hormat pada guru Kian Ih dan berbisikbisik

entah apa yang dibicarakan, kemudian segera pergi

lagi.

Dewi KZ 248

Kejadian itu mendapat perhatian tamu-tamu, mereka

menujukan mata pada tubuh Kian Ih Taysu, karena mereka

ingin tahu kejadian apa yang membuat hweesio itu datang

dan pergi lagi begitu tergesa gesa.

Kian Ih Taysu setelah memandang semua tamu dan

berkata pelan-pelan:

“Sekarang diluar pintu gerbang telah datang empat tamu

yang tidak diundang, memaksa ingin ikut rapat, aku tidak

berani ambil putusan……mereka adalah Lam-mo (Iblis dari

selatan) Kauw Ki-koan, Tong-hai-to-liong (Naga bungkuk

dari laut timur) Cia Houw-ciat, Bu-ih Taysu dari gunung

Thian-tai, Coa-sim-cu-kat (Orang pintar berhati ular)

Kongsun Pau dari propinsi Sie-kiang.”

Semua pendekar saling pandang dengan tercengang,

sebab empat orang iblis ini tidak ada hubungan dengan

aliran persilatan, malah kadang-kadang ada yang

bermusuhan dengan mereka, kenapa hari ini bisa datang,

tampaknya punya niat tidak baik.

Hoai-sang-it-ho Shangguan Leng cepat berkata sambil

berteriak:

“Apa iblis iblis dari aliran luar tidak bercermin sendiri,

kok berani berkata ingin ikut rapat, ketua partai tidak perlu

minta persetujuan dari kita orang, turunkan perintah,

mereka dilarang masuk, mereka bagaimana menjawabnya?”

Peramal cerdik Cukat Hiang berdiri dan berkata sambil

membuka kipas:

“Tunggu! Mereka adalah kelompok iblis dari aliran

hitam, biasanya tidak berhubungan dengan kita, sekarang

mereka mencari gara-gara, tentu bukan hal yang kebetulan,

kita harus berpikir panjang menyelesaikan persoalan

mereka.”

Dewi KZ 249

Shangguan Leng sangat salut pada Cukat Hiang, melihat

Cukat Hiang bicara maka segera berkata:

“Bagus! Bagus! Bagus! Rencanamu pasti lebih bagus dari

aku, aku menurut pada pendapatmu saja, ucapan tadi aku

tarik kembali!”

Cukat Hiang tersenyum sejenak, dan berkata:

“Menurut pendapatku, empat iblis ini sengaja datang

ingin ikut pertemuan ini, bila kita tidak mengizinkan

mereka masuk, mereka akan punya dua macam alasan, satu

alasannya bahwa kita sangat picik tidak bisa menerima

mereka. Juga mereka akan mengatakan kita takut atas

kedatangan mereka sebagai tamu merebut posisi tuan

rumah hingga sengaja menolak mereka masuk, dan bila

mereka datang atas hasutan orang sengaja ingin cari gara

gara, bila kita tolak mereka masuk, malah digunakan

mereka sebagai alasan bahwa kita takut pada mereka. Maka

aku lebih setuju mengizinkan mereka masuk, apa kemauan

mereka, kita akan bertindak dengan melihat gelagat!”

Ketua Siauw-lim-pay Kian Ih Taysu dan Soat-song

Cinjin saling pandang, mereka setuju cara itu, Shangguan

Leng juga mendukung, tamu lain tidak ada saran lain, maka

Kian Ih Taysu memberi perintah pada hweesio muda:

“Sampaikan perintah pada guru penerima tamu untuk

mengundang mereka masuk!”

Dua orang hweesio muda pergi menjalankan tugas

mereka, tidak lama kemudian, tugas rangkap menjadi

penerima tamu Hong Ih Taysu mendampingi empat tamu

yang punya roman muka aneh, tetapi semuanya angkuh

karena punya nama tersohor disebut iblis besar, mereka

pelan-pelan masuk ruangan. Semua ketua iblis ini tidak

membawa murid.

Dewi KZ 250

Empat iblis ini angkuhnya sama, tetapi penampilannya

berbeda, dan masing-masing punya ciri khas, semua orang

gampang mengenali siapa mereka.

Botaknya kepala Bu-ih Taysu, bongkoknya Cia Houwciat

langsung ketahuan dan liciknya si hati ular Cukat, yang

sombong itu adalah Lam-mo Kauw Ki-koan.

Diantara empat iblis itu hanya Lam-mo (iblis selatan)

Kauw Ki-koan yang punya nama dan ilmu silat paling

tinggi, dan dia menampilkan dirinya sebagai pemimpin

mereka, begitu masuk ruangan, dia tidak melihat siapa pun,

hanya menengok Kian Ih Taysu, tertawa dengan liar

berkata:

“Sudah lama aku dengar nama hweesio agung pemimpin

biara Siauw-lim, menganggap diri partai nomor satu di

dunia, hari ini bertemu, betul-betul tidak bohong sanjungan

diluar, aku datang kesini juga ternyata tidak sia sia!”

Diantara kumpulan para-pendekar mencari ketua Siauwlim-

pay Kian Ih Taysu tidak sulit, iblis selatan begitu masuk

ruangan hanya sekali lihat langsung menuju tempat duduk

Kian Ih tanpa ragu-ragu, ini membukti-kan pengalaman dan

pengetahuan tentang dunia persilatan sangat luas, biarpun

kata-katanya kurang sopan, tetapi dia masih tetap menaruh

sedikit hormat pada Kian Ih Taysu.

Setelah mengucapkan kata O-mi-to-hud, Kian Ih Taysu

berkata:

“Terima kasih atas pujian anda! Aku tidak berani

menyebutkan diri nomor satu, entah kedatangan empat

kawan hari ini kemari ada pesan khusus apa!”

Kauw Ki-koan tertawa keras yang menggema

menggetarkan genting rumah, nadanya panjang, ruangan

yang begitu besar terasa agak goyang, dan suaranya

Dewi KZ 251

bergema melalui tiang bangunan, nyata iblis selatan ini

telah mencapai ilmu yang sangat tinggi, membikin terkejut

para-pendekar yang ada di ruangan, terdengar dia berkata:

“Aku dengar hari ini dibiara Siauw-lim ada pertemuan,

yang diundang katanya jago-jago dari semua aliran, tetapi

kita empat orang tidak menerima surat undangan, entah

dalam pandangan kalian, aku dan kawan-kawan kurang

besar? Atau ilmu kita kurang tinggi?”

Kata katanya sangat memojokan, sengaja ingin cari

masalah, Hoai-sang-it-ho Shangguan Leng sudah tidak

sabar, menggebrak meja berkata dengan lancang:

“Kalian aliran sesat, mengapa ingin memaksakan diri

turut rapat?”

Kauw Ki-koan berseru “Hai!” seperti getaran halilintar,

tatapan matanya bagaikan aliran listrik menusuk orang,

dengan mata setengah tertutup menyentak Shangguan Leng

dan berkata:

“Kau siapa? Berani berkata begitu padaku!?”

Peramal jitu Cukat Hiang takut ucapan mereka berdua

menimbulkan pertarungan, sedang maksud kedatangan

empat iblis ini belum jelas, rasanya memulai perselisihan

kurang tepat waktunya, maka dengan cepat dia melangkah

kedepan dan berkata:

“Kauw-heng datang dari jauh adalah tamu kita, silahkan

jelaskan maksud kedatangan kalian, agar bisa

dirundingkan.”

Dengan mata dingin Kauw Ki-koan melihat sejenak

pada Cukat Hiang, dengan suara dari hidung berkata:

Dewi KZ 252

“Kau juga siapa? Berani panggil aku kakak, aku berbuat

sesuatu selalu sendirian, ada apa yang perlu aku

dirundingkan dengan kalian!”

Cukat Hiang tidak marah dan tidak tersinggung, dia

menggoyangkan kipasnya dan berkata:

“Aku Cukat Hiang sangat rendah pengetahuan tentang

anda, entah bagaimana menyebut anda? Bila anda tidak

menyelaskan maksud kedatangan kalian, walau ‘pun kita

mengikuti keinginan anda, bagaimana melaksanakan

tugasnya?”

Lam-mo Kauw Ki-koan tidak menyangka bahwa yang

berdiri didepan mukanya seorang terpelajar bermuka cakap

yang punya nama tersohor dengan julukan Peramal jitu

Cukat Hiang, maka dia tercengang juga sejenak! Tetapi

mendengar kata-kata lawan yang bernada sindiran, dia

berkata dengan marah:

“Aku sudah lama tidak jalan-jalan di dunia ini, kalian

juga meremehkan ilmu saktiku, bila tidak memberi sedikit

pelajaran pada kalian, kalian menganggap diri kalian jagoan

semua!”

Habis bicara Lam-mo dengan ringan mendorong sebelah

telapaknya kedepan bagaikan menyapu debu diatas meja

dengan pelan pelan, dan berkata:

“Bila kalian tidak ingin bajunya ternoda kotoran,

pergilah jauh dari meja!”

Dimeja itu duduk tamu angkatan muda dari dunia

persilatan, mendengar suara itu segera berdiri dan

menghindar, ternyata dengan sedikit dorongan tenaga-nya

membuat permukaan meja yang terbuat dari kayu keras,

hancur berterbangan menjadi debu kayu yang lapuk, piring

dan gelas yang diatas meja berjatuhan ke bawah lantai,

Dewi KZ 253

cipratan arak dan sayur menodai baju dan sepatu orang

dimeja itu, ilmunya membuat semua orang terkejut.

Tapi Cukat Hiang tetap tenang, dengan kipas ditangan

dia berkata:

“Ilmu Ci-yan-li-hwee-ciang mu (Telapak api merah)

adalah ilmu tunggal di dunia persilatan, tetapi aku tetap

ingin tahu maksud kedatangan kalian!”

Ternyata iblis dari selatan Kauw Ki-koan sangat

membanggakan ilmunya, dia menganggap ilmu tenaga

dalam, telapak tangan, tenaga telunjuk, tenaga bayang-an,

ilmu tinju, ilmu suara, dan totokan, tujuh ilmunya bisa

dibilang ilmu paling tinggi di dunia persilatan, maka dia

menamakan diri Kauw Ki-koan (Kauw tujuh paling top),

setelah Cukat Hiang tahu ilmu telapak tangan dan

mengatakan ilmu tunggal, dia sangat gembira ada orang

mengetahui ilmunya, maka dengan kata lebih sopan

berkata:

“Kau dijuluki Peramal jitu, sungguh tahu situasi,

biasanya aku jarang bicara banyak dengan orang lain, kali

ini aku beri kelonggaran, kedatanganku kesini karena ada

desas desus bahwa empat jagoan wahid telah hilang tiga

orang, kalian yang menamakan diri para-pendekar dari

kalangan putih berkumpul disini dan rapat, berusaha

menghadang aliran-aliran yang diluar jalur, aku sangat

tidak setuju, aku tidak ingin bicara dengan kalian disini

yang hanya punya nama kosong, berhadapan dengan empat

pendekar wahid saja, aku pun tidak takut!”

Cukat Hiang, Kian Ih Taysu dan Soat-song mengerti isi

kata Kauw Ki-koan, mereka mengetahui pasti ada orang

yang mengobor dibelakang, sehingga membuat empat iblis

ini datang kesini dan ingin mengacaukan rapat. Cukat

Hiang sedang memikirkan perkataan apa yang bisa

Dewi KZ 254

menyelesaikan perselisihan yang tidak perlu, agar kekuatan

dipihak sendiri tidak kurang dan Jian-kin-kau tidak diberi

peluang untuk mengadu domba.

Mendadak di pinggir pintu ruangan terdengar satu suara

wanita yang marah berkata:

“Siapa bilang empat pendekar wahid telah mati? Siapa

yang sombong berani mengatakan tidak takut dengan

pendekar empat wahid?”

-ooo0dwooo-

JILID KE DUA

BAB 5

Sumbu api merah jauh dari api

Semua pesilat terkejut melihat seorang gadis yang

berkata itu, mereka melihat kepintu masuk, dia berdiri

dengan baju hitam, umurnya tidak lebih dari enam belas

tahun, mata terang gigi putih, muka cantik sekali, hanya

penampilan sangat dingin, bila bukan dia yang berbicara,

semua orang tidak akan tahu keberadaan dia, sesungguhnya

dia menyelinap masuk ruangan diwaktu perhatian orang

tertuju pada iblis selatan Kauw Ki-koan, gerakan dia sangat

gesit sehingga orang tidak tahu dia sudah masuk ruangan.

Kauw Ki-koan belum menjawab, Bu-ih Taysu yang

berdiri paling dekat dengan gadis itu dengan sedikit suara

hidung, menggerakan tubuh dan maju kedepan lima kaki,

dan tangan kanan yang telah menghimpun tenaga

menyerang gadis itu sambil membentak:

Dewi KZ 255

“Anak kecil tidak tahu aturan! Tidak ada tempat buat

kau bicara disini?”

Gadis baju hitam itu sudah tahu siapa Bu-ih Taysu itu,

dia tidak berani menganggap enteng pukulan lawannya,

dengan cepat sekali mengeluarkan pedang dipunggung dan

kelebatan sinar pedang menuju lengan Bu-ih Taysu,

mengandung jurus menahan tenaga telapak tangan lawan.

Jurus gadis itu yang sangat cepat dan tepat, membuat Buih

Taysu terpaksa menarik serangan dan mundur satu

langkah, semua pendekar dan empat iblis terperanjat atas

kejadian itu.

Jie Ie Taysu dan beberapa orang yang telah berada

dibiara Cu-sia tempo hari telah mengenal gadis baju hitam

ini adalah anak gadis dari salah satu empat pendekar wahid

In-kiam In Tiang-long, yang bernama In Hong-tai. Maka

dia sangat marah waktu mendengarkan kata kata yang

berisi meninggalnya empat pendekar wahid.

Bu-ih Taysu yang belum sempat bertatap muka dengan

In Hong-tai, belum tahu kemahiran silat lawannya, setelah

terdesak mundur dia merasa tidak terima, dengan tangan

kanan yang bertenaga dahsyat dia menyerang pedang yang

dipegang lawannya, dia bermaksud dengan tenaga penuh

memukul jatuh pedang lawan.

Bu-ih Taysu tidak tahu bahwa gadis itu adalah penerus

satu-satunya In-kiam, keahlian In Tiang-long dalam jurus

pedang telah dikuasai oleh anak gadisnya hampir

sempurna, hanya masih kurang tenaga dan pengalaman

saja, tapi jurus In-kiam mahir dalam meminjam tenaga

lawan, dengan sedikit tenaga bisa melenyapkan tenaga

besar lawan, maka pedang In Hong-tai mengikuti jurus Buih

Taysu dan berbalik menusuk, sehingga menembus arus

Dewi KZ 256

tenaga telapak tangan Bu-ih Taysu, In-kiam langsung

memotong lengan lawannya.

Muka Bu-ih Taysu segera berobah terkejut, terpaksa dia

kembali menarik untuk kedua kali jurus serangannya. Bu-ih

Taysu tersohor didunia persilatan sebagai jago setempat.

Tempo hari saat di biara Cu-sia karena pengaruh Dupa

Sepuluh Langkah Hilang Ingatan dari Jian-kin-kau, ilmu

sebenarnya tidak bisa keluar, sekarang menghadapi seorang

gadis dia terpaksa mundur dan menghindar dua kali, dalam

hati iblis ini timbul rasa terkejut yang hebat.

Tong-hai-to-liong Cia Houw-ciat sejak masuk ruangan

belum berkata sepatah pun, saat menyaksikan temannya

bertarung dengan gadis itu, dia segera tahu asal usul jurus

pedang itu, setelah tercengang sebentar, segera dia

mengibarkan lengan bajunya membuat angin puyuh yang

menerpa pedang Hong-tai, ternyata tenaga dalam Naga

bungkuk ini lebih tinggi dari Bu-ih Taysu, hingga pedang

Hong-tai terlepas dan terbang keatas karena serangan

mendadak yang tidak disangka-sangka.

Dalam keadaan terkejut, Hong-tai segera meloncat

terbang bagaikan kepinis menuju pohon, kecepatan tubuh

sama dengan pedang terlepas, ditengah udara dia

menjulurkan tangan dan menangkap gagang pedang yang

berada diatas lalu turun kelantai lagi dengan tenang, walau

pun dia tidak hati-hati hingga pedangnya terlepas, tapi

dengan keterampilan ilmu Gin-kangnya membuat parapendekar

yang menonton bertepuk tangan.

Lam-mo Kauw Ki-koan dengan suara tertawa dingin

berkata:

“Turunan dari empat pendekar wahid hanya begini saja

ilmu silatnya, kau bukan tandinganku……”

Dewi KZ 257

Belum habis Lam-mo Kauw Ki-koan bicara, terdengar

suara wanita berkata dari belakang tubuhnya, ternyata gadis

Siau-cian yang duduk dimeja pertama telah berdiri dan

menghampiri dia, dengan alisnya bergoyang berkata dengan

marah:

“Kau siapa, berani benar merendahkan ilmu empat

pendekar wahid!”

Kauw Ki-koan berkata dengan dingin:

“Seumur hidup aku sangat benci berbicara dengan wanita

dan anak kecil, tutup mulutnu, bila masih banyak rewel,

jangan salahkan bila aku mem-bunuhmu!”

Siau-cian menjadi lebih marah lagi mendengar kata-kata

itu, dengan dingin membalas:

“Aku malah ingin bicara terus, kau mau apa! Kau iblis

tua, tua bangka……”

Dengan mengeluarkan suara dengusan, Lam-mo Kauw

Ki-koan ingin memberi pelajaran pada gadis itu, tapi Coasim-

cukat Kongsun Pau yang persis berada diantara kedua

orang itu, lebih dulu mengeluarkan sebuah pukulan kepalan

sambil berteriak:

“Gadis yang lancang lidah, kau berani menentang Kauw

Lo-cianpwee, tandanya kematianmu sudah dekat!”

Coa-sim-cu-kat itu paling pintar berpikir, di antara empat

iblis itu, ilmu silat dia paling lemah, bila dia tidak cepat

bertindak, sampai jago-jago empat partai keluar menantang

mereka, dia tidak akan bisa berbuat banyak, dia melihat

Siau-cian muncul menantang, dalam hatinya tidak percaya

dalam waktu bersamaan, bisa muncul dua orang ahli waris

empat pendekar wahid, dia ingin memamerkan kehebatan

ilmu silatnya, maka dia menyerang Siau-cian lebih dulu dari

Kauw Ki-koan.

Dewi KZ 258

Siau-cian juga sangat cerdik, dia tahu lawan di depan

mata adalah iblis yang punya nama di dunia persilatan, bila

mengukur ketinggian tenaga dalam, diri sendiri bukan

tandingan mereka. Paling bijaksana dia menghadapi mereka

dengan ilmu silat keluarganya, maka dia segera

mengeluarkan busur dari punggung-nya, terdengar sebuah

suara senar busur, Siau-cian dengan punggung busur

memotong tangan Kongsun Pau. Kongsun Pau terkejut

juga, dia baru menyadari Siau-cian adalah betul turunan

dari Giok-kiong, salah satu dari empat pendekar wahid, dia

tidak berani semberono, dia merubah serangan kepalannya

menjadi telapak dan menyerang lawannya lagi.

Ternyata Siau-cian juga menggetarkan senar busurnya

sekali lagi, sambil senarnya mengeluarkan suara,

serangannya berobah menjadi pukulan melingkar. Baru saja

tenaga dalam Kongsun Pau keluar dari telapak tangan, dia

merasakan sebuah arus tenaga besar dari ujung busur dari

batu giok yang mengkilap itu telah merobek dinding

pertahanan telapaknya, persis menusuk pusat nadi Hongtang

dan tenggorokannya, membuat Kongsun Pau berobah

mukanya, cepat dia mengangkat telapak tangan untuk

membendung serang-an busur itu, dan kedua kakinya

dengan cepat mundur dua langkah.

Kauw Ki-koan yang melihat dipinggir dengan tidak sabar

menyentak dengan keras:

“Urusan aku, tidak perlu orang lain yang ikut campur!”

sebelah telapak tangan dia menarik Kongsun Pau mundur

kepinggir, dengan mata yang melotot pada Siau-cian sambil

kaki bergerak maju dan tertawa liar dia berkata:

“Bagus, dua anak gadis, satu adalah In-kiam, satu lagi

Giok-kiong, sepertinya empat pendekar wahid hidup

kembali, aku ingin tahu empat pendekar wahid mewariskan

jurus apa!”

Dewi KZ 259

Mendadak terdengar suara O-mi-to-hud dari Kian Ih

Taysu, dia bergerak menuju kedepan Siau-cian dan berkata:

“Urusan hari ini adalah aku yang membuat janji, bila

Kauw Sicu ingin menguji ilmu, aku siap menjadi lawan

tanding, jangan mencari gara-gara pada tamuku!”

Kauw Ki-koan dengan tertawa sinis berkata:

“Kau, hweesio tua bisa menjadi ketua Siauw-lim-pay

pasti tidak bernama kosong, aku ingin lihat kau yang

menamakan dirimu ketua partai punya berapa tahun hasil

ilmu silatnya yang dipelajari!”

Kauw Ki-koan mengangkat sedikit telapak tangan

kirinya, lalu mengeluarkan jurus Bu-hong-gou-koan

(Pukulan halus tanpa angin), ini adalah salah satu dari tujuh

ilmu terhebat dari iblis selatan, ciri khas jurus ini tidak ada

angin dan suara, melukai orang tidak terasa oleh orangnya,

dan tidak gampang menduga arah sasaran pukulannya, jadi

sulit untuk menghindar.

Kian Ih Taysu merapatkan kedua telapaknya,

membungkukan tubuh berkata:

“Pukulan halus tanpa angin dari saudara Kauw, sungguh

ilmu yang belum pernah terdengar dan belum pernah

terlihat, mana bisa aku menahan pukulan ini!”

Walaupun begitu, Kian Ih Taysu sambil berkata sudah

memusatkan tenaga dalam di seluruh tubuh secara diamdiam,

dengan dua telapaknya yang dirangkapkan dan tubuh

yang dibungkukan, dia telah menggunakan tenaga dalam

aliran Budha yang telah dilatih selama puluhan tahun Hokmo-

wan-jit-sin-kang (Ilmu Budha Penjinak Iblis) dengan

jurus ini dia telah melindungi tubuh dari serangan

lawannya.

Dewi KZ 260

Para-pendekar yang menyaksikan dengan seksama

dipinggir hanya melihat jubah Kian Ih Taysu yang

gombrang berkibar sendiri tanpa ada angin, membuat

semacam lingkaran gelombang, lalu pulih kembli seperti

sedia kala!

Lam-mo Kauw Ki-koan dengan tertawa liar berkata:

“Kepandaian hweesio Siauw-lim ternyata bukan nama

kosong, hari ini aku bisa bertemu lawan tangguh sepertimu,

sungguh tidak sia-sia perjalananku ke dataran tengah, hari

ini aku harus puas bertarung dengan ketua Siauw-limpay……”

kata-katanya belum habis kedua tangannya

digoyangkan dua kali, dan menyerang hweesio itu dengan

dua kali jurus Pukulan Halus Tanpa Angin.

Ilmu yang aneh itu menggunakan hawa murni dari

dalam tubuh, tenaga halus yang tanpa suara dan bayangan

itu menyerang hingga tenaga tersembunyi itu menyentuh

tubuh orang, baru mengeluarkan tenaga benturan yang

sangat dahsyat, melukai bagian tubuh orang tanpa

peringatan, walau pun orang yang berilmu tinggi, juga

susah tahu arah datangnya, untuk menghindar dari ilmu ini

hanya dengan berjaga-jaga dari awal. Ilmu yang sadis ini

digunakan untuk serangan yang terselubung.

Kian Ih Taysu mengucapkan kata O-mi-to-hud dengan

keras, diam-diam memusatkan tenaga dalam melindungi

dirinya, kedua kaki menginjak lantai seperti tiang

bangunan, dia menyodorkan dada, menerima dua kali

serangan Tinju Halus Tanpa Angin dari Kauw Kikoan.

Ketua Siauw-lim-pay itu tahu bila tidak memberi pelajaran

pada lawannya atau memperlihatkan ilmu sejatinya, Kauw

Ki-koan iblis tua yang sombong sekali, tidak akan berhenti

menyerang, maka dia memusatkan tenaga dalam tubuh

dengan kekuatan yang besar, ingin memberi hukuman pada

iblis tua itu.

Dewi KZ 261

Kedua tenaga itu beradu tanpa kelihatan, terdengar satu

suara halus keluar dari mulut Kauw Ki-koan, pundaknya

bergoyang dua kali, kakinya mundur dua langkah, dan

warna mukanya berobah.

Tubuh Kian Ih Taysu juga lebih pendek sekitar lima inci,

para-pendekar melihat dengan seksama, ternyata dua kaki

ketua Siauw-lim-pay itu telah masuk ke dalam lantai sekitar

lima inci, ini membuktikan bahwa dia menggunakan tenaga

dalam yang kuat.

Kauw Ki-koan menyadari bahwa partai Siauw-lim bisa

terkenal di dunia dan punya reputasi bagus dalam ilmu silat

bukan sesuatu kebetulan. Tenaga dalam Kian Ih Taysu juga

masih diatas dirinya, maka timbul perasaan gentar! Dia

melirik sebentar pada tiga temannya yang sama-sama

datang, Bu-ih Taysu dan Kongsun Pau yang sama-sama

telah diganti oleh dia dan Tong-hai-to-liong Cia Houw-ciat,

karena dinilai, kedua orang itu bukan tandingan dua gadis

itu, bila betul-betul bertarung secara terbuka.

Dan pada detik itu juga ketua Bu-tong-pay Soat-song

Cinjin berdiri dari meja menghadap Cia Houw-ciat sambil

berucap salam, tosu ini mengetahui jelas bahwa iblis

bungkuk ini adalah jago didaerahnya, dia mengkhawatirkan

bila dia timbul niat jahat, menggunakan tindakan sadis

terhadap In Hong-tai, walau pun ilmu pedang gadis itu

sangat mahir, tetapi kalah bila beradu tenaga dalam dengan

iblis tua itu, maka dia tampil untuk melayani iblis bungkuk

itu.

Lam-mo Kauw Ki-koan kali ini datang bersama-sama

Naga bungkuk, Bu-ih Taysu dan Kongsun Pau ingin

melabrak biara Siauw-lim, karena di terpengaruh oleh

bujukan Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau, yang mengatakan

bahwa perselisihan partai-partai didunia persilatan sudah

sangat dalam, masing-masing partai berebut kekuasaan,

Dewi KZ 262

saling iri. Pertemuan Siauw-lim kali ini juga sedikit yang

datang, bila Kauw Ki-koan keluar dan mengalahkan ketua

Siauw-lim-pay Kian Ih Taysu, tidak susah untuk

mengendalikan partai-partai di daratan tengah, dengan

dibantu oleh Tong-hai-to-liong, Bu-ih Taysu dan Kongsun

Pau sendiri, menjinakan para-pendekar lain bukan urusan

yang susah lagi.

Kauw Ki-koan tinggal di daerah selatan yang gersang,

dia sangat sombong dan ambisius, hingga terkena bujukan

Kongsun Pau, dia bersama-sama tiga temannya datang ke

Siauw-lim-sie, tapi baru mengeluarkan suara sedikit sudah

membuat marah turunan keluarga In-kiam dan Giok-kiong,

setelah mengadu ilmu, ternyata orang yang besar mulut

Kongsun Pau dan Bu-ih Taysu tidak lebih hebat dari anak

muda yang baru berumur enam belas tahun, dan sendiri

telah mencoba ilmu Kian Ih Taysu, mengetahui jika ingin

mengalahkan lawannya juga tidak mudah, dan selanjutnya

terpikir, ketua Bu-tong-pay juga bukan lawan enteng,

apakah Tong-hai-to-liong Cia Houw-ciat bisa mengalahkan

lawan masih tanda tanya?

Melihat situasi didepan mata, dan dilihat para tamu,

masih banyak pendekar didaratan tengah yang marah masih

belum bergerak, hal tersebut bertolak belakang dengan katakata

Kongsun Pau yang mengatakan gampang menjinakan

para-pendekar tersebut. Sekarang Lam-mo terbuka hatinya,

dia tahu dia telah dijerumuskan oleh Kongsun Pau,

jangankan sekali berbuat bisa tersohor di dunia persilatan,

bicara bagaimana menyelamatkan muka, keluar dari situasi

seperti menunggang macan juga bukan urusan enteng.

Kian Ih Taysu sebagai pemimpin partai Siauw-lim bukan

sembarangan orang, dia menilai situasi yang ada di depan

mata, dia tahu kekuatan di pihaknya cukup untuk

mengalahkan empat iblis itu, dan ketua yang cerdik ini,

Dewi KZ 263

telah menebak kebimbangan lawannya, untuk

menyelamatkan rencana besar, ketua partai itu berpikir

matang, lebih baik menjaga keutuhan kekuatan di dunia

persilatan, untuk menghadapi musuh besar Jian-kin-kau,

kalau empat iblis yang didepan mata bisa diberi pengarahan

yang pantas, mungkin mereka akan mundur setelah

mengalami kesulitan.

Kian Ih Taysu berpikir lagi, murid partai Go-bi Tee Wie

dan Ciang-hohiap Liu Ta-ang telah diganggu oleh empat

hweesio gadungan dipintu gunung, jika dihubungkan

dengan empat iblis ini, pasti mereka juga dipermainkan oleh

Jian-kin-kau, yang ingin mengguna kan tenaga mereka

untuk merongrong kekuatan dunia persilatan Tionggoan.

Memikirkan hingga hal tersebut, Kian Ih Taysu makin

yakin jangan sampai pihak sendiri tertipu oleh ulah lawan.

Setelah dipikir matang, Kian Ih Taysu memberi salam

Budha dan mengucapkan O-mi-to-hud lalu berkata:

“Tuan Kauw tenaga dalam dan ilmu silatnya hebat, aku

bukan lawan tuan, terima kasih atas pelajarannya, boleh

aku berkata sedikit, tuan punya nama besar di selatan,

angkatan muda dunia persilatan pada kagum terhadapmu,

tuan yang bijaksana sepantas-nya memberi contoh pada

mereka, sekarang Jian-kin-kau membuat kekacauan,

merongrong dunia persilatan dan makin hari makin banyak

pendekar yang dibunuh. Bila tuan pada saat sekarang

berbuat tidak hati-hati, mungkin dianggap orang membantu

berbuat jahat, apakah ini akan mencemarkan ketenaran

nama tuan!”

Dalam hati Kauw Ki-koan makin jelas, dia menduga

Kongsun Pau jika bukan orang dari Jian-kin-kau, mungkin

juga semacam pesuruh, dia sendiri malah diperalat oleh

mereka. Tetapi iblis tua ini sangat angkuh, biar pun katakata

Kian Ih Taysu sangat masuk akal, dan kata-katanya

Dewi KZ 264

menjunjung tinggi, membuat iblis tua ini senang didalam

hati, tetapi dalam sekejap waktu, dia masih ragu-ragu untuk

merobah rencana kedatangan semula.

Iblis tua ini tidak berani lagi berkata sombong, tetapi

masih berkata tanpa rasa malu:

“Perkataan hweesio tua masuk akal, tetapi aku berbuat

sesuatu dalam hidupku punya prinsip, lebih baik patah dari

pada bengkok, aku selalu ambil putusan sendiri, dan tidak

sabar memikirkan masalah orang lain. Biar pun orang orang

didunia persilatan mengatakan aku membantu kejahatan,

merusak dunia persilatan, dan membenciku, atau dendam

padaku, aku berani bertanggung jawab sendiri, siapa yang

tidak sudi melihatnya, silahkan datang sendiri kehadapanku

minta’ganti rugi, asalkan dia ada kemampuan mengalahkan

aku dengan satu atau setengah jurus, aku bukan saja akan

melepaskan julukan Ki-koan, aku pun rela menyerahkan

kepala pada orang itu.”

Coa-sim-cu-kat Kongsun Pau sebelumnya sudah tidak

tenang mendengarkan kata-kata Kian Ih yang mengalah

untuk meredam kesombongan Kauw Ki-koan, dalam hati

berpikir, rencananya tidak berhasil, tetapi mendengar kata

Kauw Ki-koan yang masih angkuh berobah tertawa, maka

dia berbuat seperti mendorong gelombang membuat

bencana, dia berkata dengan provokasi:

“Betul! Betul! Betul! Laki-laki berbuat sesuatu lebih baik

patah dari pada bengkok, apa lagi perkataan hweesio itu

mengandung ancaman pada Kauw Toako yang artinya

jangan bermusuhan dengan yang menamakan diri aliran

putih!” Berkata sampai disitu, mata Kongsun Pau sengaja

melirik ke muka In Hong-tai dan Giok Siau-cian.

Kedua gadis itu masing-masing telah menantang

keempat iblis itu, tetapi rasa dendam keluarga, rasa

Dewi KZ 265

cemburu cinta tidak hilang. Sekarang dalam keadaan diam,

permusuhan kedua gadis timbul lagi, dan Coa-sim-cu-kat

Kongsun Pau menggunakan kesempatan itu berkata pada

kedua gadis itu:

“Kalian anak muda, tidak menghiraukan dendam

keluarga, malah bersama-sama menghadapi kita. Kita yang

lebih tua dari kalian mana mungkin punya pikiran sama,

tentu tidak bisa menghadapi kalian dengan cara sadis, tetapi

kalian pikirkan, ayah kalian dibawah tanah, apa rela

menutup mata melihat kalian bergandengan dengan

turunan musuh?”

Sebenarnya Hong-tai dan Siau-cian sangat cerdik, tidak

gampang diperalat orang lain, tetapi kedua gadis itu sudah

punya prasangka yang dalam, sebenarnya rasa iri tentang

cinta lebih besar dari dendam orang tua, sekarang setelah di

adu domba oleh Kongsun Pau, timbul api marah dalam hati

mereka, kelihatan mereka berdua ingin melampiaskan

kemarahan dengan duel hidup atau mati.

Hong-tai dan Siau-cian terpengaruh oleh kata kata

Kongsun Pau.

Masing-masing dengan mata membelalak saling

pandang, seperti akan terlibat dalam pertarungan hebat

yang bercampur rasa dendam dan rasa iri soal cinta.

Sastrawan bijaksana Cukat Hiang selama ini diam saja

memperhatikan keempat iblis itu masuk ruangan, melihat

kedua gadis itu terpengaruh oleh kata kata Kongsun Pau,

dia segera berbicara:

“Kongsun-heng! Sungguh kau pantas dijuluki Pelajar

berhati ular, hanya dengan sepatah dua kata saudara yang

beracun seperti ular kau mengadu domba tetapi In

Kouwnio dan Giok Kouwnio adalah orang pintar, tidak

mungkin terpengaruh oleh ulahmu. Kau harus tahu, bahwa

Dewi KZ 266

In-kiam, Giok-kiong dan Lui-kie tidak punya dendam,

kenapa saling bunuh, pasti ada hal yang tersembunyi, dan

apakah mereka bertiga masih hidup atau mati, belum ada

bukti, mana bisa Langsung memberi penilaian!”

Cukat Hiang sudah melihat kedua gadis itu sangat keras

kepala dan angkuh, bila diberi nasihat langsung untuk tidak

bermusuhan tentu tidak akan berhasil. Maka dengan

membantah perkataan Kongsun Pau dengan memberi

pengertian dari samping, agar kedua gadis itu mengerti.

Ternyata Hong-tai dan Siau-cian jadi berobah sikap

setelah mendengarkan kata Cukat Hiang, masing masing

meredam emosinya dalam hati, untuk sementara pertikaian

mereka berhenti.

Kongsun Pau sangat marah karena rencana liciknya

gagal, tetapi dia tidak menampakan kekesalan di muka, dia

hanya tertawa sinis beberapa kali. Berkata dengan suara

santai:

“Cukat Hiang! Kau tidak perlu bersilat lidah, dan sukar

untuk menutupi mata dan telinga orang terhadap fakta,

sekarang pun pendekar Kauw Ki-koan tidak akan

membiarkan kalian yang menamakan diri orang aliran

putih bebas berkeliaran.”

Lam-mo Kauw Ki-koan yang punya sifat suka berbuat

sesuka hati, dalam hatinya sudah insaf, dia tahu

tindakannya hari ini karena diperalat oleh Kongsun Pau,

maka dengan tertawa terbahak bahak dia berkata:

“Aku tidak akan membiarkan kalian yang menamakan

diri orang-orang aliran putih leluasa berbuat sesuatu, lambat

atau cepat kita pasti bertemu lagi, tetapi karena hari ini ada

orang yang berniat mengadu domba antara aku dengan

kalian, dan mengambil keuntungan di air keruh, aku tidak

akan terpancing. Sekarang aku jelaskan, tahun depan di

Dewi KZ 267

waktu sekarang, aku akan menunggu kedatangan kalian di

tempatku di gunung selatan, saat itu kita akan mengadu

kepandaian dengan sungguh-sungguh, menentukan siapa

yang lebih hebat, apakah kalian yang menamakan diri dari

aliran putih lebih unggul atau aku dan teman teman yang di

anggap kalian sebagai iblis-iblis dari aliran sesat yang lebih

tinggi kepandaiannya.”

Kata-kata Kauw Ki-koan itu membuat Kian Ih Taysu

dan kawan-kawan merasa lega, mereka tahu sebuah

pertarungan telah terhindar bagaikan awan dan asap yang

buyar, Kian Ih Taysu segera mengucapkan O-mi-to-hud lalu

berkata:

“Tuan Kauw tindakan anda bijaksana dan sangat tepat,

janji anda tahun depan, aku dan kawan-kawan pasti datang,

pertemuan dengan saling memperkenalkan ilmu silat adalah

peristiwa yang ratusan tahun jarang terjadi!”

Baru saja hweesio itu bicara habis, dari luar gedung

terdengar tawa seram yang terasa mengerikan memenuhi

tembok ruangan, tawa itu terasa sinis dan meremehkan,

dari tenaga suara itu para pendekar dari golongan putih dan

hitam mengetahui orang yang tertawa mempunyai ilmu

tinggi, yang membuat mereka terkejut adalah orang itu

sangat berani dan sangat sombong, semua orang diam,

menunggu perkembangan selanjutnya.

Kemudian suara yang sombong itu terdengar lagi di

kuping, berkata:

“Kalian jangan menyombongkan diri dulu, saling puji,

saling mengatakan jagoan. Aku cucu raja malah mau

melihat kalian yang menamakan diri pesilat tinggi dari

golongan putih atau hitam, sebetulnya punya ilmu seberapa

tinggi!”

Dewi KZ 268

Bersamaan dengan suara itu, berkelebat sesosok

bayangan orang masuk ke dalam ruangan, orang itu

memakai baju mewah dan ikat pinggang dari giok,

mukanya cakap seperti perempuan, kesombongan dirinya

sangat menonjol dari alis bulu matanya, dia adalah cucu

raja Lok-houw, Thio Kong-giok.

Tidak perlu dikatakan lagi bagaimana hebatnya ilmu silat

orang ini, hanya atas dasar orang ini bisa masuk ke biara

Siauw-lim di siang hari bolong tanpa diketahui orang

Siauw-lim, sudah cukup membuktikan kehebatannya.

Kian Ih Taysu merasa risau dalam hati, dia segera

bertanya:

“Tuan datang dari mana? Ada keperluan apa ke biara

kami?”

Dengan ketajaman matanya Thio Kong-giok melihat bisa

keberadaan Hong-tai di ruangan ini, dia tidak

mempedulikan pertanyaan Kian Ih Taysu, malah

menghampiri Hong-tai dan berkata:

“Nona In juga ada disini, Thio Kong-giok sudah mencari

beberapa hari, tapi tidak menemukan jejak nona, hari ini

bisa bertemu disini, sungguh suatu keberuntungan buatku!”

Sejak Hong-tai terlepas dari Jian-kin-kau, pandangannya

sudah berobah terhadap Thio Kong-giok, biar pun tidak ada

perasaan persahabatan, tapi dengan sopan menundukan

kepala sejenak sebagai jawaban.

Para-pendekar di dalam ruangan yang dekat dengan

partai Siauw-lim merasa marah dan terkejut, marah karena

orang itu tidak menghiraukan pertanyaan Kian Ih Taysu,

yang berarti tidak sopan terhadap Kian Ih Taysu, mereka

juga terkejutnya dan bertanya-tanya mengapa orang itu bisa

kenal dengan anak gadis In-kiam.

Dewi KZ 269

Siau-cian yang berdiri dipinggir, entah kenapa timbul

perasaan yang sangat rumit, jika dikatakan dia dan Hong-tai

adalah musuh keluarga juga musuh cinta, sebetulnya dia

harus gembira melihat Hong-tai bisa berkenalan dengan

pemuda lain, tetapi detik ini dia malah merasa kasihan pada

A Bin, maka dengan nada tidak sopan berkata:

“Melihat satu, merayu satu tidak tahu malu!”

Sebetulnya kemarahan Hong-tai terhadap Siau-cian

belum bisa di hilangkan, mana bisa dia tahan terhadap

sindiran Siau-cian terhadap dirinya, dengan marah dia

berteriak, ingin melompat ke depan Siau-cian untuk

memberi pelajaran.

Entah kapan tiba-tiba Gin-hoat Lojin Wie Tiong-hoo

datang dan lebih dulu membentak Siau-cian:

“Siau-cian! Jangan berkata sembarangan!”, kemudian dia

maju ke hadapan Hong-tai dan berkata sangat ramah:

“Nona In! Harap maafkan, karena cucu angkatku, tidak

tahu masalahnya dengan jelas, jadi berkata yang bukanbukan.

Aku sebagai orang tua tidak mau sembrono, aku

harap kau melihat aku yang lebih tua dan mendengarkan

sepatah kataku, sebelum segala masalah jadi jernih kita

tidak boleh sembarangan menuduh orang sebagai musuh

kita!”

Di saat itu, Lam-mo Kauw Ki-koan sudah tidak sabar

mendengarkan percakapan mereka, dengan kedua mata

yang memancarkan sinar terang, dia berkata dengan keras

terhadap Thio Kong-giok:

“Hei, anak muda! Siapa yang melahirkanmu, seekor

burung dungu yang tidak punya mata, di depan orang tua

disini, kau jangan berteriak-teriak liar!”

Dewi KZ 270

Thio Kong-giok mengeluarkan suara hidung tanpa

berkata, segera memusatkan tenaga dalam di kedua

tangannya, ingin memberi serangan ganas pada Kauw Kikoan.

Kejadian itu, sementara meredam kemarahan Hong-tai

terhadap Siau-cian, dia ingin melihat dulu perselisihan

orang tua dan anak muda itu.

Bersamaan waktu itu, satu bayangan kecil dan hitam

meloncat dari sebuah meja keluar menghadapi Thio Konggiok

dan menunjuk dengan tangannya dan berkata:

“Semua orang jangan melepaskan dia, dia adalah anak

Lok-houw-it-kun, bernama cucu raja Lok-houw Thio Konggiok,

kali ini dia datang ke daratan tengah atas perintah

ayahnya, sengaja mencari gara-gara terhadap orang-orang

persilatan, di dalam perjalanannya dia sudah banyak

membunuh teman-teman pendekar kita!”

Semua orang melihat orang ini bermata warna emas dan

seperti api, mulutnya lancip dan punya muka seperti

monyet, gerak-gerik meloncat dan larinya hampir persis

seekor monyet.

Hong-tai dan Siau-cian tergetar melihat orang yang

keluar dari tempat duduk dan menampakan diri, dan secara

bersamaan dengan mata mereka meneliti sekitar tempat

duduk orang itu, apakah masih ada seseorang yang

mendampingi dia!

Ternyata, orang itu adalah Cia Ma-lek.

Tempo hari Cia Ma-lek tidak berhasil mengejar A Bin

yang tergesa-gesa mencari Hong-tai, terpaksa dia berjalan

sendiri, kehilangan teman baik membuat dia tidak tenang di

perjalanan, kemudian dia terpikir bahwa dalam pertemuan

di Siauw-lim ini A Bin pasti datang, maka dia pun datang

Dewi KZ 271

tepat pada harinya, dengan kesal dia terus mencari A Bin

yang belum kelihatan, sesudah melihat Siau-cian bersama

Hong-tai muncul, timbul rasa gembiranya, sekarang Thio

Kong-giok telah datang juga, ternyata semua orang-orang

disana belum mengenalinya, untuk memamerkan

kebolehan pengetahuan dan mematahkan semangat Thio

Kong-giok, untuk membalas penghinaan terhadap dirinya

di hotel tempo hari, maka dia keluar dari tempat duduk

untuk membongkar rahasia Thio Kong-giok.

Rahasia Thio Kong-giok yang telah dibeberkan Cia Malek,

membuat hati para-pendekar merasa terguncang lebih

dahsyat dari pada waktu empat iblis masuk ruangan,

bahkan ada yang merasa marah dan benci atas kedatangan

Thio Kong-giok yang telah membunuh sanak keluarganya,

lain orang termasuk iblis selatan Kauw Ki-koan pun merasa

terkejut, soalnya, Lok-houw-it-kun jarang sekali datang ke

daratan tengah, tetapi bila masuk kedaratan tengah, pasti

berbuat sesuatu yang menggemparkan daratan tengah,

maka nama besarnya diketahui banyak orang, yang lebih

mengkhawatirkan para pendekar di daratan tengah karena

orang itu sudah hampir dua puluh tahun tidak datang ke

daratan tengah, kabar angin mengatakan ilmu orang itu

hampir mencapai kesempurnaan, dan telah melatih banyak

murid-murid muda. Sekarang kedatangan seorang pemuda

yang bernama Thio Kong-giok bukan lagi murid

kesayangannya, tetapi keturunan kesayangannya, yang

mendapatkan warisan ilmu silat-nya hampir delapan puluh

persen, maka timbul rasa waspada bagi para-pendekar di

ruangan itu.

Thio Kong-giok melihat Cia Ma-lek ada di dalam

ruangan, dia jadi teringat A Bin, timbul rasa irinya, sambil

tertawa sinis berkata:

Dewi KZ 272

“Bangsat tengik! Kau pun berani datang kemari, mana

anak muda yang gagu itu mengapa tidak terlihat? begini

saja! Lebih baik aku memakai tubuhmu untuk mencoba

golokku, biar tua bangka yang sombong disini membuka

matanya lebar-lebar!”

Tidak melihat dia mengerahkan tenaga, dengan santai

sekali tubuh Thio Kong-giok telah tiba di depan tubuh Cia

Ma-lek sekitar dua kaki, lalu menjulurkan tangan kanan

dengan lambat seperti membersihkan debu di kancing

orang, padahal sesungguhnya ingin menotok jalan darah

kematian lawannya, Dengan kemampuan Cia Ma-lek, dia

hanya bisa menunggu kematian tanpa bisa menghindar dari

bahaya.

Tapi pada detik itu, Lam-mo Kauw Ki-koan yang berdiri

paling dekat dengan mereka tidak senang melihat tingkah

Thio Kong-giok yang sombong dan sadis itu, dia sendiri

pun bersifat sangat angkuh, mendadak dia menyerang

punggung Thio Kong-giok dengan telapak tangan kiri,

sambil mulut berteriak:

“Anak muda yang sombong! Kau pun terima dulu

pukulanku, dulu baru bicara!”

Bagaimana pun sombongnya Thio Kong-giok, dia tidak

berani menerima pukulan Kauw Ki-koan, mendengar katakata

lawannya, dan dari arah angin pukulan, dia telah

mengetahui maksud lawannya, maka tubuhnya meleset ke

pinggir untuk menghindar.

Tapi serangan Kauw Ki-koan Cuma serangan tipuan,

maksudnya hanya untuk mencegah Thio Kong-giok

membunuh Cia Ma-lek, maka sebelum menyerang telah dia

memperingati lawan, agar lawan dapat menghindar pada

waktunya, hanya Kauw Ki-koan tidak menyangka bahwa

lawan ternyata bisa menghindar dengan cepat sekali, dia

Dewi KZ 273

jadi agak terperanjat dan berpikir dalam hati, anak ini

begitu hebat ilmu silatnya, kelihatan ayahnya Lok-houw

betul-betul lebih tinggi ilmunya dari pada para-pendekar

yang ada disini.

Di saat Kauw Ki-koan tercengang, Thio Kong-giok telah

merubah serangan dengan tiga jari tangan kanan, langsung

menuju jalan darah Kie-kan ditubuh Kauw Ki-koan.

Kauw Ki-koan dengan marah membentak:

“Kau berani menggunakan jurus ini padaku”, dia segera

mengerahkan tenaga dalamnya, dengan telunjuknya dia

menyerang dengan kecepatan seperti kilat halilintar

mengarah dada Thio Kong-giok.

Sebetulnya Thio Kong-giok telah mengetahui nama

Kauw Ki-koan yang terkenal dan mengetahui jurus

telapaknya adalah ilmu paling hebat dari tujuh macam ilmu

yang dikuasai Kauw Ki-koan, sehingga dia tidak berani

menerima langsung serangannya, belum lagi telapak Kauw

Ki-koan sampai, dia telah menarik serangan telunjuknya

dan meloncat ke atas, dengan lincah menghindar serangan

itu, tetapi tubuhnya segera berbalik menyerang kembali.

Kauw Ki-koan mengeluarkan suara di hidung, mendadak

langkah kakinya maju ke depan dua langkah, telapak kanan

menyerang bagian dada lawan, dan tangan kiri memotong

tempat berbahaya di pinggang lawan.

Thio Kong-giok tidak menghindar dari serangan cepat

itu, dia merapatkan kedua tangan, menggunakan jurus

Membelah air menangkap ikan, dia menghindar dua jurus

serangan telapak tangan Kauw Ki-koan, dan memaksa

Kauw Ki-koan mundur dua langkah untuk menghindar

serangan baliknya.

Dewi KZ 274

Di bawah tontonan banyak orang, Kauw Ki-koan telah

mengeluarkan beberapa jurus beruntun, namun belum

berhasil apa-apa, timbul amarah dalam hatinya, tapi dalam

hati berkata, ‘Bila hari ini aku tidak dapat mengungguli

anak muda ini, pasti berita ini dijadikan cerita lelucon oleh

para-pendekar yang menamakan diri golongan putih. Jadi

aku tidak perlu menghiraukan bagaimana dikemudian hari

bila bertemu dengan Lokhouw, lebih baik beri sedikit

pelajaran pada anak muda ini.’

Pikiran itu membuat nafsu membunuh Kauw Ki-koan

bertambah tinggi, maka dia segera mengangkat kaki kanan,

menerobos kearah tengah, telapak tangan kirinya

menggunakan jurus menghantam dan menang-kap

bersama-sama, mencari titik kelemahan lawan, tangan

kanannya dengan kuat dikepalkan, menghantam dengan

keras dan dahsyat, kedua tangan Kauw Ki-koan ini

menggunakan dua macam ilmu silat yang berbeda, satu

mengandalkan serangan keras, satu lagi dengan teknik

mencengkram, begitu dia mengeluarkan kepandai an yang

bervariasi itu, semua orang yang menonton di ruangan

merasa kagum.

Tetapi kelincahan tubuh Thio Kong-giok sangat luar

biasa, dia bisa lolos dari dua jurus serangan Kauw Ki-koan

itu, malah kepalan dan kakinya bersamaan digunakan

menyerang balik, jurusnya begitu dilancar-kan pun cepat

seperti halilintar, dalam sekejap mata telah menyerang lima

jurus pukulan dan tiga kali tendangan. Kauw Ki-koan

sampai di desak mundur dua langkah, tetapi begitu mundur

dia langsung menyerang lagi, menggunakan telapak tangan

dengan gesit, iblis tua ini telah menghilangkan pandangan

merendahkan musuh, sehingga tiap jurus serangan dan

langkah kakinya sangat cepat sekali.

Dewi KZ 275

Di dalam ruangan yang tersisa sedikit tempat itu,

berlangsung satu pertarungan sengit yang jarang dilihat

orang, suara angin serangan dari jurus pukulan bergema

cukup keras.

Para-pendekar, Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Wie

Tiong-hoo, Cukat Hiang dan lain lain merasa terkejut dan

khawatir atas kehebatan ilmu silat Thio Kong-giok, tidak

terpikirkan oleh mereka bagaimana anak muda yang baru

berumur kurang lebih dua puluh tahun, sanggup

menggunakan kepandaiannya untuk mengimbangi jago dari

dunia persilatan, Kauw Ki-koan dengan tidak kalah

hebatnya.

Hong-tai yang menyaksikan pertarungan itu, kadang

mengerutkan bulu alisnya, dirinya tidak punya perasaan

suka atau simpati pada Thio Kong-giok, tetapi dia pun tidak

ingin orang itu terluka oleh tangan Kauw Ki-koan, jadi dia

sangat memperhatikan pertarungan mereka.

Untuk menjaga namanya yang tersohor di dunia

persilatan, Kauw Ki-koan betul-betul sudah marah sekali,

pukulannya makin dahsyat, jurus maut beruntun

dikeluarkan, tetapi langkah dan jurus Thio Kong-giok tetap

tangguh, bagaimana sadisnya serangan Kauw Ki-koan atau

jurus yang sangat berbahaya, selalu dapat dihindarkan

dengan leluasa.

Mendadak terdengar teriakan dari Kauw Ki-koan dengan

kata:

“Coba kau terima Ci-yan-li-hwee-ciang (Telapak api

merah) ku.”

Terlihat tangan kanan Kauw Ki-koan berwarna merah

membara didorong ke arah tubuh Thio Kong-giok,

mengetahui jurus dahsyat itu, Thio Kong-giok meloncat

untuk menghindar, dia tidak berani menerima serangan itu.

Dewi KZ 276

Kauw Ki-koan dengan tertawa nyaring, menyerang untuk

kedua kalinya, serangannya belum sampai pada sasaran,

angin panas yang sangat keras menerpa Thio Kong-giok.

Thio Kong-giok menggoyangkan pundak, meloncat lagi

untuk menghindar serangan kedua itu.

Serangan dua kali dari Kauw Ki-koan tidak berhasil,

maka dia tidak mengejar lagi lawannya, dia diam di

tempatnya, dengan pelan-pelan mengarahkan telapak

tangan kanan kepada Thio Kong-giok, saat itu, warna

tangannya lebih merah persis seperti bara api.

Thio Kong-giok tidak berani memejamkan mata, dia

memperhatikan tangan kanan Kauw Ki-koan yang merah

membara itu, dia seperti sudah mengetahui bahayanya.

Kauw Ki-koan mendorongkan tangan merah itu dengan

pelan-pelan sekali, gerakannya berbeda dengan dua jurus

sebelumnya.

Terlihat Thio Kong-giok membusungkan dada-nya ke

depan, dengan mendadak menjulurkan tangan kanan,

menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya, diarahkan ke

depan dengan cepat menotok telapak tangan merah api

Kauw Ki-koan.

Begitu telapak tangan dan telunjuk tangan beradu, Kauw

Ki-koan meloncat ke belakang, Thio Kong-giok masih tetap

berdiri ditempatnya.

Kian Ih Taysu berucap O-mi-to-hud sekali dan berkata:

“Tuan Kauw mungkin terluka.” Terlihat jubah yang

dipakainya bergoyang bersamaan dengan loncatan Kian Ih

Taysu, berdiri disamping tubuh Kauw Ki-koan.

Kauw Ki-koan melirik atas kedatangan Kian Ih Taysu

berkata:

Dewi KZ 277

“Anak muda ini telah menguasai ilmu Kim-kong-cie (Jari

baja emas) yang spesial untuk menghadapi segala macam

ilmu telapak tangan, aku ceroboh tidak memperhatikan dia

sehingga mengalami kerugian besar.”

Kian Ih Taysu mempunyai hati yang saleh, dia tahu

Kauw Ki-koan terkenal angkuh sejak lahir, dan di bawah

mata banyak orang, telah mengalami kegagalan sangat

memalukan, dalam hatinya tentu tersimpan kemarahan

yang besar, maka dia berkata dengan ramah:

“Ilmu yang saling berlawanan pasti ada yang dirugikan,

tetapi bukan berarti kalah, entah anda terluka atau tidak?”

Kauw Ki-koan mendengar Kian Ih Taysu yang sudah

menemani dia dengan budi yang saleh, tidak menganggap

dia sebagai musuh, maka dia menjawab dengan jujur:

“Masih untung, sebelum kedua tangan akan beradu

penuh, aku telah mengetahui Thio Kong-giok akan

menggunakan ilmu ayahnya yang telah dilatih selama tiga

puluh tahun yaitu ilmu Kim-kong-cie (Jari baja emas),

sehingga aku bisa menarik kembali seranganku, bila tidak

aku akan terluka disini.”

Kian Ih Taysu berkata dengan suara kecil:

“Silahkan anda beristirahat dulu, pulihkan nafas, biar

aku yang mencoba anak muda itu.”

Bersamaan itu Thio Kong-giok sedang berkata dengan

sombong sekali:

“Siapa lagi yang tidak sayang nyawanya!”

Soat-song Cinjin dari Bu-tong juga mengucap-kan salam

Budha, dia bermaksud maju untuk meng-hadapi tantangan

anak muda itu.

Dewi KZ 278

Tapi saat itu di pinggir ruangan terdengar suara langkah

kaki yang ribut seperti ada kejadian yang luar biasa. Orangorang

di dalam ruangan kawan atau pun lawan, termasuk

Thio Kong-giok menghentikan gerakan nya dan

memandang keluar.

Terlihat di pintu masuk dua orang hweesio sedang

menggandeng seorang hweesio tua yang sangat loyo dan

lunglai, mukanya pucat seperti kuning muda, kedua

matanya masuk ke dalam kelopak mata, dia adalah Ku-cu

Tojin, yang setingkat kedudukannya dengan Soat-song

Cinjin hanya dibawah ketua Siauw-lim.

Jie Ie Taysu yang punya hubungan paling dekat dengan

Ku-cu Tojin terperanjat dan segera meng-hampiri untuk

memegang dia sambil bertanya:

“Ku-cu Lotiang! Kenapa kau begini lemas?”

Tampak tubuh Ku-cu Tojin sangat lemah, dia

memaksakan membuka mata dan memandang sebentar Jie

Ie Taysu, tapi segera menutup kembali kedua matanya,

tidak bisa menjawab sepatah pun.

Semua pendekar juga berdiri dengan perasaan terkejut,

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin segera memberi

petunjuk kepada beberapa orang untuk memberi tempat

bersandar bagi Ku-cu Tojin dengan hati-hati.

Dan bersamaan waktu itu, semua orang melihat satu

pemuda berbaju hijau berdiri di tengah pintu di dampingi

hweesio penerima tamu Hong Ie.

Sebagai tuan rumah, Kian Ih Taysu dengan ramah

menghampiri mereka, sambil memberi hormat.

Hong Ie Taysu segera maju ke depan dan

memperkenalkan A Bin kepada Kian Ih Taysu:

Dewi KZ 279

“Ini tuan Lui, Ku-cu Tojin sepanjang jalan digendong

oleh dia, siang dan malam berlari mengejar waktu, baru

sekarang bisa sampai disini!”

Begitu Hong-tai dan Siau-cian melihat pemuda berbaju

hijau itu, hatinya berdetak keras, tetapi kedua orang itu

berusaha meredam goncangan dalam hatinya, mukanya

terlihat tidak peduli atas kedatangan A Bin.

Cia Ma-lek malah bersorak gembira, dia segera

menghampiri dan memegang kedua tangan A Bin, dengan

perasaan senang berkata:

“Adik Lui, susah sekali mencarimu, hari ini pun aku

telah lama menunggu, kau terlambat datang kemari!”

Pemuda yang berbaju hijau A Bin berkata dengan tulus:

“Cia Toako, sesudah berpisah aku juga ingin mencarimu,

tapi entah kemana? Tetapi aku sudah menduga kita akan

bertemu disini!”

Begitu A Bin membuka mulut dan berbicara, Hong-tai,

Siau-cian dan Cia Ma-lek terkejut sehingga membelalakan

mata dan mulutnya terbuka lebar, muka Hong-tai dan Siaucian

pun berobah tampak cerah, saking gembiranya Cia

Ma-lek hampir lupa daratan, dengan jari telunjuknya

diarahkan pada A Bin, dia tertawa tanpa berhenti, tidak bisa

bicara untuk beberapa detik.

Wie Tiong-hoo dan Jie Ie Taysu yang tempo hari

bertemu A Bin di biara Cu-sia juga terkejut sekali.

A Bin memberi hormat pada Kian Ih Taysu dan berkata:

“Boanpwee Lui Bin, juga termasuk orang yang diundang

kemari, karena di perjalanan menemukan Ku-cu Tojin yang

dilukai oleh orang jahat, maka turun tangan membantu dan

Dewi KZ 280

mengawal dia sehingga terlambat datang kemari, harap

Hong-tiang memberi petunjuk sebentar waktu lagi.”

Kian Ih Taysu belum menjawab, Thio Kong-giok sudah

menghampiri mereka, dia menunjuk A Bin sambil berkata

dengan sinis:

“Pribahasa berkata, bila bukan musuh tidak akan

bertemu, aku sudah mencari kau beberapa hari, kebetulan

kau datang pada saat yang tepat, sudah waktunya kau

menyerahkan nyawamu padaku!”

Di saat A Bin datang, Thio Kong-giok memperhatikan

dari samping, sebuah hal yang membikin dia jengkel dan iri,

yaitu Hong-tai dan Siau-cian begitu goncang emosinya

mengetahui kedatangan A Bin, Thio Kong-giok selalu

membanggakan diri sebagai sosok pemuda yang romantis,

melihat nona-nona cantik itu begitu menaruh perhatian

terhadap A Bin, timbul rasa dendam yang ditimbulkan

peristiwa dahulu, maka dia segera menantang A Bin untuk

berduel.

A Bin baru masuk ke ruangan ini, masih belum tahu

kenapa Thio Kong-giok ada disini, dia tidak tahu

bagaimana menjawabnya, dia hanya bisa terbengong, Cia

Ma-lek segera membantu menjawab:

“Adik Lui! Kau jangan memberi ampun pada dia, tadi

bila bukan Kauw Lo-cianpwee menghadang dia, mungkin

aku tidak akan bertemu kau dalam keadaan hidup, tetapi

Kauw Lo-cianpwee terluka juga terkena jurus Kim-kong-cie

nya, sekarang masih beristirahat memulihkan tenaga!”

Kian Ih Taysu belum tahu seberapa tangguh kepandaian

A Bin, melihat Kauw Ki-koan hampir celaka oleh Thio

Kong-giok, dia khawatir A Bin terluka oleh Thio Konggiok,

maka dia menantang duluan:

Dewi KZ 281

“Thio Sicu, aku ingin minta pelajaran dari anda!”

A Bin sangat cerdik, melihat niat ketua Siauw-lim

menantang Thio Kong-giok, dapat dibayangan bahwa Thio

Kong-giok telah memperagakan kehebatan ilmunya, setelah

mengetahui Kian Ih Taysu bermaksud menghadang bahaya

demi keselamatan dirinya, maka A Bin tidak rela orang lain

terkena musibah karenanya. Dan yang penting dia telah

dapat pesan dari Kakek jubah kulit kambing (Yo-po-lo-to)

untuk mendidik Thio Hong-giok, maka A Bin memberi

salam hormat pada Kian Ih Taysu dan berkata:

“Mohon maaf, karena Cia Toako telah dihina oleh orang

ini, aku berkewajiban untuk membelanya. Dan, orang ini

pun khusus datang mencari aku. Duel antara aku dan dia,

pasti terjadi sekarang atau nanti, maka izinkan aku

menghadapi dia.”

Kian Ih Taysu mendengar alasan A Bin, dia merasa tidak

baik untuk menolak A Bin, maka setelah berkata O-mi-tohud,

memberi pesan pada A Bin:

“Lui Sicu, hati-hati orang ini jurusnya aneh dan

berbahaya!” dan dia segera bergeser kepinggir.

Thio Kong-giok menggoyangkan kedua bulu alis yang

lebat dan angker, berkata sambil tertawa sinis:

“Anak gagu! Aku cucu raja ingin menunjukan

bagaimana hebatnya aliran Lok-houw!”

A Bin membalas dengan tertawa sinis dan berkata:

“Kata-katamu yang begitu sombong, membuat aku lebih

merasa terpanggil untuk mencoba! Silahkan keluarkan

kehebatanmu sekarang juga!”

Dewi KZ 282

Habis berkata, matanya melirik sejenak pada wajah

Hong-tai dan Siau-cian, lalu memberi isyarat pada Thio

Kong-giok untuk memulai pertarungan mereka.

Hanya sekilas baju hijau A Bin terlihat berkibar,

tubuhnya telah berada di tengah ruangan, dengan wajah

dingin dan angkuh berdiri dengan gagah di tempatnya.

Melihat sikap A Bin yang meremehkan, Thio Kong-giok

merasa benci dan marah pada A Bin, dari sepasang

matanya yang bening mendadak terpancar cahaya yang

angker menakutkan, dengan tangannya diarahkan kebawah,

Thio Kong-giok menggunakan langkah cepat dan aneh

menuju ke depan A Bin, dan setelah berjalan beberapa

langkah, telapak tangan kanannya berobah menjadi putih

seperti batu giok putih.

Hong-tai dan Siau-cian tahu Thio Kong-giok telah

menguasai ilmu yang sangat berbahaya, melihat Thio

Kong-giok yang berjalan menuju A Bin dan telah

mengangkat tangan kanan bermaksud membunuh A Bin

dalam satu jurus saja, maka mereka bersamaan berteriak

terkejut.

Lam-mo Kauw Ki-koan mengenal ilmu rahasia dari

istana Lok-houw, dengan mata membelalak berteriak:

“Adik Lui, kau harus hati hati, Thio Kong-giok telah

menguasai semua ilmu ayahnya, yang akan dia gunakan

menyerang adalah ilmu ketua Lok-houw yang terlatih

hampir tiga puluh tahun nama jurusnya Cui-giok-cie (Jari

penghancur giok) dan langkah itu bernama Lok-houw-jittou-

poh (Tujuh langkah Lok-houw).”

Kauw Ki-koan menyebutkan dua ilmu wasiat dari istana

Lok-houw yang akan digunakan Thio Kong-giok, membuat

semua orang yang mendengar mengeluarkan suara terkejut,

Dewi KZ 283

orang-orang yang menaruh simpati pada A Bin turut

mengkhawatirkan A Bin.

Kata peringatan Kauw Ki-koan membuat A Bin tambah

waspada tetapi tidak terlalu dihiraukan, hingga saat Thio

Kong-giok sudah berdiri di depan matanya, baru dia berkata

dengan dingin:

“Kau dan aku akan bertarung hingga mati, atau……”

Mata Thio Kong-giok memancarkan sinar terang, lalu

berkata dengan dingin:

“Aku masih akan bertukar jurus dengan kakek-kakek itu,

mana sabar menghabiskan waktu denganmu, kita bertarung

sepuluh jurus dibatasi ruang gerak hanya satu tombak saja!”

Mata A Bin melirik rubuh Thio Kong-giok sejenak, dan

melihat lawan ingin menggunakan jari tangan yang ampuh

itu, maka mengusulkan berduel dengan sepuluh jurus, agar

A Bin hanya bertahan dan tidak bisa menyerang, dan

dibatasi ruang gerak hanya satu tombak agar A Bin tidak

bisa menggunakan ilmu ringan tubuh keluar dari arena

pertarungan, pikiran Thio Kong-giok betul betul licik!

Mengetahui niat jahat lawan, tetapi bagi A Bin dengan

bekal ilmu tinggi dan nyali besar meski dia tahu ini adalah

jebakan, dia pura-pura tidak tahu, maka dengan sinis

berkata:

“Kenapa harus satu tombak, ruang yang ukuran delapan

kaki juga cukup untuk tempat bertarung?”

Dengan mata marah Thio Kong-giok berkata:

“Bagus!” sambil menjulurkan tangan kiri dengan jurus

Kauw-liong-tam-jauw (Naga menjulurkan cakar) dia pura

pura ingin mencakar A Bin, tetapi gerakannya segera ditarik

kembali sambil menggerakan tubuh ke arah kanan dua

Dewi KZ 284

putaran, saat kedua putarannya akan berakhir, telapak

tangan kanan yang sudah berobah berwarna putih

mendadak diangkat, dengan satu telunjuk tengah, menotok

jalan darah Cuan-kie yang penting dari A Bin.

Saat tangan Thio Kong-giok baru diangkat, A Bin masih

berdiri dengan tenang, sama sekali tidak bergerak. Tetapi di

saat Thio Kong-giok merobah jurus dan telunjuk jari

kanannya sampai di muka, ternyata bayangan A Bin sudah

hilang.

Di belakang tubuh Thio Kong-giok terdengar suara

sindiran atau mengejek dari mulut A Bin dengan berkata:

“Ternyata ilmu yang tiada bandingan di dunia persilatan

Cui-giok-cie dari Lok-houw-jit-poh hanya demikian saja

kehebatannya, bagaimana dengan langkah aku Yu-sian-bitiong-

poh (Langkah menyesatkan dewa) ini, apa lebih cepat

dari jurus langkahmu?”

Muka Thio Kong-giok yang putih cakap itu langsung

berobah menjadi hijau dan putih, dia menarik jari

telunjuknya dan membalikan tubuh menghadap A Bin

sambil bertanya dengan suara marah:

“Anak gagu! Apa hubunganmu dengan Yo-po-lo-to?”

Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Cukat Hiang, Kauw

Ki-koan dan lain-lain yang mengetahui kehebatan Yo-po-loto

merasa terkejut, Yo-po-lo-to juga seorang pesilat tangguh,

mereka tidak menyangka bahwa dia punya murid seperti A

Bin.

A Bin tidak mengakui dan tidak membantah atas

pertanyaan Thio Kong-giok, hanya berkata dengan sinis:

“Bila kau betul-betul jagoan, silahkan keluarkan jurus

apa saja, tidak perlu tanya aku hubungan apa segala dengan

orang.”

Dewi KZ 285

Thio Kong-giok merapatkan dua baris giginya, warna

mukanya sudah kembali lagi dengan tidak banyak bicara,

dia mengangkat ke atas tangan kanan yang putih

menakutkan, dengan menggunakan dua jurus aneh yang

dikombinasikan dengan langkah kaki kiri kanan berputar,

yang membuat orang susah menebak arahnya, jurus tangan

berantai segera dilancarkan, di bawah bayangan jari yang

menakutkan terselip hawa udara yang tidak mudah

diketahui, menyerang organ penting A Bin.

Dalam serangan jari yang menyeramkan, tubuh A Bin

hanya melayang dengan ringan, tahu-tahu dia sudah lolos

dari dua jurus serangan kilat Thio Kong-giok, langkah yang

diperagakan A Bin begitu menawan, membuat jago-jago

yang menyaksikan pertarungan tersebut merasa kagum,

yang ahli pun ketika memandang langkah itu, bila

digunakan oleh pemiliknya sendiri juga tidak berbeda

dengan A Bin.

Kedua orang itu bertarung tidak lewat dari batas

lingkaran delapan kaki, dua kali serangan dari Thio Konggiok

yang tidak berhasil, membuat dia tidak percaya diri

dan menyerah! dan saat dia ingin menggunakan ilmu

istimewanya yang hebat, untuk menentukan kemenangan,

A Bin sudah tidak memberi kesempatan pada Thio Konggiok,

dia melambaikan lengan baju dengan ringan seperti

tidak sengaja, mendorong pelan pelan-jurus telapak tangan

dari arah dada ke depan!

Kebanyakan jago-jago yang melihat jurus A Bin,

memandang A Bin menggunakan jurus dengan tidak

sungguh-sungguh, seperti memandang enteng musuh?

Hanya ahli seperti Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Wie

Tiong-hoo dan Cukat Hiang melihat dengan terkejut,

mereka berpikir berapa banyak anak muda ini mendapat

warisan ilmu dari Yo-po-lo-to? Kenapa dalam telapak

Dewi KZ 286

tangan A Bin mengandung banyak jurus perobahan? Dan di

dalam jurus itu terhimpun tenaga dalam yang begitu kuat.

Hong-tai dan Siau-cian yang menyaksikan duel itu

merasa lega, tetapi tidak menampakan kegembiraan di

muka mereka.

Thio Kong-giok pun mengetahui dahsyatnya serangan

itu, tidak menunggu jurus A Bin datang dengan sempurna,

dia telah melancarkan jurus andalannya sambil melayang

mundur beberapa kaki.

Dengan semangat yang tinggi, alis mata A Bin digerakan

dan berkata dengan gamblang:

“Kau lihat jurus ‘Telapak tangan menyapu awan’ (Hu-inciang),

apa lebih bagus dari jurus punyamu ‘Telunjuk

penghancur giok’?”

Mata Thio Hong-giok melotot besar, mulutnya berteriak:

“Aku baru mengeluarkan enam jurus masih ada empat

jurus, jangan senang dulu!”

Habis Thio Hong-giok bicara, terdengar suara teriakan

dan tertawa keras bersamaan, kedua bayangan orang

bentrok ditempatinya dengan kecepatan bukan main,

terjadilah duel dahsyat yang mampu membelah langit!

Dalam bentrokan jurus tersebut, A Bin dan Thio Honggiok

tidak menggunakan taktik lagi, Thio Hong-giok

mengerahkan tenaga dalam dengan seluruh

kemampuannya, tetapi A Bin tidak punya niat melukai

orang, tidak berani menggunakan tenaga dalam seluruhnya,

dia hanya mengerahkan setengah tenaga saja, meski

setengahnya terlihat arus angin yang beradu di udara,

berturut turut menggetarkan tubuh Thio Hong-giok hampir

keluar dari batas dari arena pertarungan.

Dewi KZ 287

Perlu diketahui, sejak A Bin berlatih ilmu Ku-yang-nahoan

dan berhasil menyedot tenaga dalam dari wanita

jalang Ang-lian-sian-cu, dia telah melebur hawa dingin yang

mengunci tenggorokannya, sehingga tenaga dalam yang

diajarkan oleh gurunya meningkat enam tingkat.

Kauw Ki-koan, Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Wie

Tiong-hoo beberapa orang pesilat tinggi yang berilmu tinggi

sudah terkejut melihat tenaga dalam Thio Hong-giok yang

tidak diperhitungkan, sekarang melihat A Bin tidak

menggunakan tenaga penuh telah mampu menerima

pukulan Thio Hong-giok beberapa jurus tanpa merasa

susah, malah bisa mendesak lawannya, kemampuan dirinya

betul-betul membuat mereka terperanjat! Terkejut dengan

kemampuan A Bin yang tenaga dalam nya sudah mencapai

enam puluh tahun latihan, anak muda ini bisa demikian

hebat, entah ada tenaga ajaib apa yang membantu.

Kedua bayangan orang itu sudah tergulung jadi satu,

tidak bisa dibedakan mana A Bin mana Thio Hong-giok,

hanya beberapa orang pesilat tinggi yang bisa melihat jurus

apa yang mereka gunakan.

Hong-tai dan Siau-cian yang tahu A Bin akan menang

dalam pertarungan itu dan tidak akan mendapat bahaya,

mereka dengan tenang melihat di pinggir, malah mereka

jadi sering beradu mata, masing-masing ingin tahu

bagaimana saingannya sedang memperhatikan A Bin,

timbul lagi rasa iri mereka.

Mendadak bayangan orang terpisah, A Bin dengan

tenang dan tegap berdiri di tengah lingkaran yang menjadi

batas untuk arena bertarung, sedarigkan Thio Hong-giok

sudah terdesak keluar dari garis pembatas arena, mukanya

pucat, tetapi sinar matanya makin ganas dan menakutkan.

Dewi KZ 288

Kedua mata Thio Hong-giok memancarkan sinar terang,

dia berkata:

“Anak gagu, tenaga dalamku tidak sebanding denganmu,

tetapi apa kau masih berani beradu senjata rahasia

denganku!”

A Bin mengerutkan alisnya sejenak, bertanya dengan

pelan-pelan:

“Beradu senjata rahasia tidak jadi masalah, tetapi aku

tidak membawa senjatanya dan juga tidak sudi

menggunakan senjata seperti itu, kau punya senjata rahasia

apa, silahkan gunakan, bila berhasil melukaiku, anggap saja

kau yang menang, bagaimana?”

Thio Hong-giok menjawab dengan dingin:

“Senjata rahasia dari Lok-houw, tidak ada tandingannya,

bila digunakan jurusnya sangat ganas, biarpun kau punya

ilmu yang sempurna melebihi dewa, juga tidak bisa lolos

dari maut!”

A Bin hanya tersenyum dingin, sambil menggerakan alis

matanya, bertanya:

“Diwaktu kau menggunakan senjata rahasia, apa perlu

juga dibatasi jarak, agar aku tidak bisa meloncat?”

Thio Hong-giok tahu A Bin sengaja meremehkan, dia

menjawab dengan dingin:

“Kau jangan menganggap enteng, senjata rahasia Lokhouw

ku ini, sekali dilepas, jangan harap bisa selamat!”

A Bin bersuara hidung sejenak, berkata dengan angkuh:

“Kalau begitu, setelah tubuhku mundur, kau langsung

menyerang saja!”

Dewi KZ 289

Begitu perkataan A Bin selesai diucapkan, tampak

bayangan hijau melayang, tubuh A Bin telah berbalik di

udara dan mundur ke arah belakang.

Sasaran senjata rahasia yang paling baik adalah di saat

lawannya baru meloncat ke atas atau di saat mau mendarat

ke tanah, tetapi Thio Hong-giok membanggakan

keampuhan senjata rahasia khasnya dan dia sengaja ingin

memamerkan ilmu Lok-houw di depan jago-jago daratan

tengah, jadi tidak mau menggunakan kesempatan itu, dia

hanya menunggu tubuh A Bin selesai meloncat, dia tertawa

dingin sambil berkata:

“Anak gagu, kau tidak perlu gelisah, aku tidak akan

melepaskan senjata rahasia sebelum kau berdiri dengan

betul, nah sekarang waktunya merasakan bagaimana jurus

Lok-houw yang ajaib itu?”

Bersamaan ucapannya, Thio Hong-giok melepaskan tiga

buah Pi-coa-cui (Semacam bor ular hijau) ke atas kepala A

Bin, dan selanjutnya tiga buah Ouw-ie-cu (Panah bulu

hitam) yang berobah menjadi tiga kilatan hitam melaju

dengan cepat sekali.

A Bin menunggu senjata rahasia Thio Hong-giok datang,

berbekal ilmu yang tinggi dan nyali yang besar dia tetap

berdiri di tempatnya dan tidak menghindar, tetapi ilmu

warisan gurunya, Han-kie-sin-kang telah terkumpul dalam

tubuhnya siap digunakan, A Bin berdiri dalam keadaan siap

dan waspada.

Yang membuat A Bin siap dan waspada karena senjata

rahasia Thio Hong-giok semuanya tidak ditujukan langsung

menujunya, tiga buah Pi-coa-cui yang duluan dilepas

berada diatas kepala kurang lebih dua kaki, dan yang

belakangan dilepas Ouw-ie-cu, juga tidak diarahkan ke

tubuh A Bin, suatu serangan yang aneh dan khas.

Dewi KZ 290

Di kala semua jago-jago sedang asyik memperhatikan

senjata itu, terdengar tiga kali suara “Ceng, ceng, ceng”.

Satu ledakan kecil membuat senjata itu terpencar kemanamana

di ikuti sinar hitam dan api berwarna hijau, tubuh A

Bin segera terkurung oleh sinar hitam dan api hijau itu.

Ternyata tenaga senjata rahasia itu sangat keras dan

jurus yang digunakan sangat berbeda dengan cara umum.

Tiga benda yang belakaangan dilepaskan oleh Thio Honggiok

mengejar tiga benda yang duluan meluncur, sehingga

membentur membuat tiga suara keras dan mengeluarkan

beberapa kembang api berwarna hijau.

Senjata Ouw-ie-cu yang terbang ke atas itu setelah

bertabrakan dengan senjata yang satu lagi dan membuat

tiga kali suara, berobah arah menjadi menukik ke bawah,

dan sayap bulu hitamnya terbakar oleh kembang api

berwarna hijau, membuat bulu itu bertebaran di udara

dengan rapat mengurung tubuh A Bin yang berdiri di

bawah.

Tiga buah senjata Pi-coa-cui setelah di kejar dan di

tabrak olah senjata Ouw-ie-cu itu, segera memuntah-kan

bara api bagaikan tiga naga api, terbang menuju arah ulu

hati A Bin dengan cepat sekali.

A Bin melirik dengan seksama bulu hitam yang

bertebaran diatas kepala, telapak tangan kirinya dengan

lambat segera dilayangkan keatas, tidak terdengar sedikit

pun suara angin keras, namun jurus A Bin tersebut

membuat tiga senjata Pi-coa-cui yang seperti api naga itu

terpental ke samping hingga tujuh delapan kaki.

Dan kilatan api hitam tertiup oleh udara yang ditiup dari

mulut A Bin bagaikan terkena benda yang tidak tampak,

berobah arah dan jatuh di luar lingkaran tubuh A Bin

Dewi KZ 291

berdiri, membuat lantai yang kokoh juga berlubang kecil di

beberapa tempat.

Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, dan Iblis dari selatan

Kauw Ki-koan dibikin terperanjat oleh kemampuan A Bin,

Kauw Ki-koan pun sampai lupa bahwa dia dan Kian Ih

Taysu adalah musuh, dia bertanya dengan suara rendah:

“Hweesio tua! Kau telah melihat anak muda she Lui ini

telah menguasai ilmu pelindung diri yang tidak tampak dari

luar, apakah itu ilmu tunggal yang dulu dikuasai oleh

(Istana ketenangan) Siau-yau-kiong yang bernama Han-kiesin-

kang? apakah ketiga orang tua itu belum mati, dan telah

mendidik murid yang hebat ini!”

Kian Ih Taysu masih memperhatikan suasana lapangan,

setelah berucap O-mi-to-hud sejenak dan berkata:

“Saat ketiga Siau-yau-cu sedang merajai dunia persilatan

aku sendiri juga belum lahir, kalau anak muda ini

menguasai ilmu Han-kie-sin-kang yang seperti dalam

dongeng ilmu terkenal dari Siau-yau-kiong itu, aku tidak

dapat menerangkan, tetapi aku merasa yakin hanya ilmu itu

yang dapat menghindarkan senjata rahasia Lok-houw……”

Belum habis perkataan Kian Ih Taysu mendadak dia

berhenti meneruskan kata-kata yang belum selesai dan

kembali terperanjat oleh kejadian yang terjadi di arena

pertarungan.

Ternyata setelah Thio Hong-giok gagal melukai A Bin

dengan kedua macam senjata rahasia itu, dengan muka

yang dingin, dia mengeluarkan lagi dua belas buah senjata

baru Siau-hun-gin-so (Torpedo perak mengunci roh),

senjata rahasia ini bagaikan hujan bunga yang bertebaran

menyerang A Bin.

Dewi KZ 292

Jurus yang digunakan Thio Hong-giok untuk melepas

Siau-hun-gin-so itu lebih menakjubkan, seperti satu

kumpulan air hujan berwarna perak yang bisa saling

merapat dan bertebaran lagi, terdengar suara benda logam

beradu, suara itu bergema di udara menyebar ke arah empat

mata angin, membikin lawan tidak bisa melihat dan

menebak benda itu, bagaimana terbangnya? Dan dimana

arah yang diserang?

A Bin membuka mulut dan tiupan udara dari mulutnya

menjatuhkan enam senjata Siau-hun-gin-so, sedang tenaga

kedua telapak tangan bersamaan telah mementalkan empat

buah, tetapi ada dua lagi yang terbang diatas kepala A Bin,

dengan cepat menyerang puncak kepala dan pundak kanan

A Bin, kelihatan A Bin akan terluka oleh senjata rahasia itu.

Semua jagoan diruangan berobah warna mukanya

karena terkejut, Hong-tai dan Siau-cian pun tidak

menghiraukan lagi gengsinya, masing-masing berteriak

khawatir atas diri A Bin.

Dalam detik yang berbahaya itu, A Bin menggunakan

gerakan tubuh yang menakjubkan, terlihat hanya

menggoyangkan kepala dan pundak dengan sebat sekali

berhasil meloloskan A Bin dari bahaya.

Warna muka Thio Hong-giok berobah pucat karena

gagal melukai A Bin, tanpa mengucapkan satu kata pun,

hanya dengan sepasang mata yang penuh dendam

memandang A Bin sejenak, dengan baju mewah yang

bergetar dia segera meninggalkan tempat itu bagaikan awan

terbang, lalu jejak Thio Hong-giok hilang entah kemana.

Dengan kepergian Thio Hong-giok, jago-jago di ruangan

saling berbisik, Iblis dari selatan Kauw Ki-koan segera

berdiri dan berpamitan kepada Kian Ih Taysu dan berkata:

Dewi KZ 293

“Hweesio tua! Aku telah berjanji pada kalian jago-jago

silat dari daratan tengah untuk pertemuan tahun depan, aku

sudah tidak ada urusan lagi disini, aku pamit dulu!”

Kian Ih Taysu memberi salam Budha dan berkata:

“Tahun depan tanggal seperti hari ini, aku dan temanteman

pasti memenuhi janji dan berkunjung ke tempat

anda!”

Kauw Ki-koan memberi tahu pada Tong-hai-to-liong

(Naga Bungkuk dari Laut Timur) Cia Houw-ciat untuk

bersama-sama meninggalkan tempat itu, dan sama sekali

tidak menghiraukan Bu-ih Taysu dan Coa-sim-cu-kat Kongsun

Pau dua orang temannya yang bersamaan datang,

kedua Iblis itu juga merasa malu dan dengan muka tebal

meninggalkan tempat itu dengan diam tanpa banyak bicara.

Di sudut lain, Soat-song Cinjin telah memeriksa luka

yang dialami Ku-cu Tojin, beruntung luka dalamnya tidak

terlalu parah, tetapi tenaga dalam telah terkuras banyak,

sehingga kondisi tubuh Ku-cu Tojin sangat lemah, sejak

digotong masuk ruangan, masih dalam keadaan pingsan.

Selesai tugas Soat-song Cinjin menghampiri A Bin dan

berkata:

“Tuan Lui! Pinto mengucapkan banyak terima kasih atas

pertolongan anda, tetapi Pinto ingin bertanya, siapa yang

telah melukai Suteku dan bagaimana bisa terlukanya!”

A Bin dengan singkat menerangkan bagaimana

diperjalanan bisa bertemu Ku-cu Tojin dan kejadian

menolong tosu itu.

Ceritanya, sejak A Bin meninggalkan biara yang hampir

mencelakakan itu, dia menyusuri sungai kuning

melanjutkan perjalanan ke propinsi Ho-lam, pada satu hari

A Bin melangkah di jalan pegunungan, menembus hutan

Dewi KZ 294

yang lebat, dan mendapatkan satu gunung yang tidak

terlalu tinggi di depan mata.

Karena waktunya cukup banyak, A Bin tidak berburuburu

melakukan perjalanannya, pelahan-lahan dia

melangkah di jalan yang menanjak, baru sampai di tengah

gunung, terdengar suara kaki orang dikejauhan, sejak

pengalaman diperjalanan, melatih A Bin menjadi lebih teliti

dan waspada, tetapi dengan tenang dia terus melanjutkan

perjalanannya.

Hingga sampai di satu bukit, mendadak keluar satu

orang menghadang di tengah jalan, dengan suara lancip

berkata:

“Siapa yang datang?”

A Bin pura-pura terkejut sambil melihat diatas bukit itu,

disana berdiri dua orang berbaju warna abu-abu dan muka

tertutup sambil memegang senjata dan roman muka yang

angker.

A Bin jadi tertarik oleh kedua orang itu, jadi dia purapura

seperti yang terkejut dan salah langkah, terburu-buru

melangkah naik ke puncak, menggunakan ilmu

meringankan tubuh tetapi pura-pura seperti tersesat, dia

ingin mengelabui kedua orang yang memakai topeng.

Roman muka A Bin cakap dan lembut, bajunya

berwarna hijau dan memakai sepatu kain, sama sekali tidak

kelihatan bisa ilmu silat, dan dia telah bisa menyimpan ciriciri

ahli silat yang tampak dimukanya, cara yang ditempuh

A Bin, bagi kedua orang penghadang itu susah untuk

menebak asal usul A Bin.

Salah satu orang berteriak dengan marah:

“Hai anak muda, kau jangan sembarangan jalan? Apa

mau mencari mati!”

Dewi KZ 295

Orang yang bicara itu angat brutal, begitu habis bicara

sudah menyodorkan sebilah pisau tajam menusuk titik

kematian di punggung A Bin, A Bin pura-pura berteriak

takut, tubuhnya meloncat kedepan, seperti tidak sengaja

berbuat bodoh untuk menghindari tusukan pisau itu, dan

berhasil naik ke puncak bukit.

Setelah naik keatas bukit, A Bin di bikin terkejut! Sebab

dibawah bukit sekitar sepuluh tombak terlihat ada empat

orang sedang berduel.

Ditanah sudah terbaring empat orang yang berlumuran

darah, kelihatannya sudah mati terbunuh, mereka terdiri

orang yang berbaju tosu dan berbaju abu-abu yang memakai

penutup muka, dalam pandangan A Bin sekejab sudah

mengetahui muka orang yang sedang berduel.

Ke empat orang yang berduel itu ternyata adalah Ku-cu

Tojin dari Bu-tong, yang pernah A Bin lihat saat di biara

Cu-sia, dia sedang dikurung oleh satu orang berbaju perak

dan dua orang berbaju abu-abu.

A Bin melihat keadaan Ku-cu Tojin sudah penuh bercak

darah di tubuhnya, rambut berantakari kemana-mana,

ternyata dia sudah terluka di beberapa tempat, menghadapi

tiga musuhnya, pedang yang di pegang masih tetap

bertenaga penuh dan gesit.

Hanya dalam sekejab mata, dua orang berbaju abu-abu

sudah datang mengejar A Bin, sambil menggunakan senjata

mereka menyerang A Bin dari arah kiri kanan sambil

berteriak ingin membunuh A Bin.

Sekarang A Bin sudah jelas mereka adalah murid-murid

Jian-kin-kau, maka dia bertekad tidak akan memberi ampun

pada mereka, dia segera memutar tubuh dengari cepat,

dengan sapuan tangan menyerang lengan musuh, sehingga

Dewi KZ 296

membuat kedua orang itu melepaskan senjata yang mereka

pegang dan berdiri bengong karena terkejut.

A Bin bermaksud menangkap kedua orang itu agar

mendapatkan keterangan tentang Jian-kin-kau, tetapi

menengok lagi keadaan Ku-cu Tojin sedang dalam kesulitan

dan bahaya, karena sudah terluka dan tiga temannya sudah

meninggal, mempengaruhi semangat dia untuk bertahan

lagi.

Maka A Bin berteriak bagaikan halilintar di musim semi

dengan membentak:

“Dengan orang banyak melawan satu orang bukan sikap

seorang jagoan?” dia langsung meloncat tinggi terjun ke

tempat pertarungan tersebut.

Tiga orang yang mengurung Ku-cu Tojin, yang berbaju

perak menggunakan pedang yang ada kaitnya, jurusnya

mantap, tenaga dalamnya kuat. yang berbaju abu-abu, satu

menggunakan senjata seperti panci, tenaga tangannya kuat,

jurusnya berbahaya, terpaan angin dari senjata itu sangat

keras, gerakan tubuhnya juga licin dan cepat, dan yang satu

lagi memegang sebilah golok, jurus golok juga lincah dan

berbahaya.

A Bin menggunakan telunjuk ke dua tangan yang

digetarkan, sehingga angin dari telunjuk itu melesat

bagaikan arus tenaga yang kuat, menggoyang-kan senjata

semacam panci itu, dan satu tenaganya lagi menuju tangan

yang memegang pedang yang berkait.

Orang baju abu-abu itu terkejut juga dapat serangan A

Bin, senjata ditangan hampir terlepas, bersusah payah dia

mengerahkan tenaga untuk memegang dengan erat, namun

senjata itu tertekan ke pinggir, sedang orang berbaju perak

itu dengan jurus yang indah biar pun kena tekanan tenaga

tangan A Bin, tubuh pedangnya melayang ke pinggir sedikit

Dewi KZ 297

langsung arahnya pedang kembali menyerang tangan A

Bin.

A Bin menghindar sedikit, rubuhnya berputar, dengan

cepat sekali memakai telapak tangan menyapu golok dari

orang baju abu-abu itu dan berlanjut menyerang orang

berbaju perak.

Ini kesempatan yang diharapkan, Ku-cu Tojin segera

keluar dari pertarungannya, tetapi baru bernafas sejenak,

tubuhnya sudah ambruk ditanah, terdengar suara orang

berbaju perak berkata:

“Orang ini sangat berbahaya, gempur dia sekuat tenaga!”

lalu pedangnya bersuara keras, senjata model panci dan

golok juga bertubi tubi menyerang A Bin, ketiga orang itu

menguasai ilmu cukup tinggi, sehingga A Bin harus hati

hati menghadapi mereka.

Untuk sementara A Bin tidak memperhatikan Ku-cu

Tojin dulu, kedua tangannya didorong dan di putar, satu

tenaga dahsyat keluar dari tangan A Bin membendung ke

empat senjata yang digunakan musuh, sebuah pusaran

tenaga memaksa senjata musuh terdorong ke pinggir.

Ketiga orang itu sangat terkejut, dalam putaran tenaga

mereka terpencar, orang berbaju perak bersiul memberi

tanda, mereka segera pergi tidak mau bertarung lagi.

Sebetulnya A Bin bisa menangkap salah satu dari mereka

dengan mudah, tetapi dia mengkhawatirkan keadaan mati

hidupnya Ku-cu Tojin, maka dia membiarkan ketiga orang

itu pergi, dan menghampiri Ku-cu Tojin untuk melihat

keadaan luka hweesio itu, terlihat Ku-cu Tojin dengan mata

tertutup sedang bernafas berat, asap putih sedang keluar

dari atas kepala dan menguap diudara.

Dewi KZ 298

A Bin melihat Ku-cu Tojin sedang mengguna-kan tenaga

dalam tingkat tinggi mengobati luka dalam dan

memulihkan tenaga dasarnya, melihat tosu itu berbaring

menghadap tanah, dia menduga tosu ini ingin

menggunakan hawa tanah membantu pemusatan tenaga

nya, cara yang digunakan tosu itu mungkin cara rahasia

dari aliran Bu-tong.

Mengetahui Ku-cu Tojin tidak berbahaya, maka A Bin

tidak mengganggu tosu itu, dia meng hampiri keempat

orang yang tergeletak di tanah, kedua tosu muda terluka

dibanyak tempat, sehingga mati, dan dua orang lawan

mereka yang berbaju abu-abu masing masing terbunuh oleh

pedang di ulu hati mereka, dalam hati A Bin merasa

kagum, ilmu silat aliran Bu-tong betul betul tangguh,

pedang yang dilepas oleh hweesio itu betul betul mengenai

sasaran yang tepat.

A Bin memeriksa, orang berbaju abu-abu itu bertubuh

tegap, tetapi muka mereka sangat asing, sukar untuk

mendapat keterangan dari mereka.

Selang beberapa menit kemudian Ku-cu Tojin

merangkak bangun, melihat murid yang tergeletak di tanah,

dia berdoa sejenak di depan mayat murid Bu-tong itu, baru

dengan kata sedih berkata pada A Bin:

“Hari ini bila bukan Lui-siauhiap yang menolong, aku

pasti sudah mati ditempat ini. Aku berterima kasih sedalam

dalamnya atas bantuan ini, lain hari setelah aku memberi

laporan pada ketua, aku akan kembali lagi menemui anda

untuk membalas budi.”

Dalam percakapan singkat ini, nafas dan kata-kata Ku-cu

Tojin sangat pendek dan terputus-putus, menunjukan

tenaga dalamnya sudah terkuras banyak.

Dewi KZ 299

A Bin telah mencoba ilmu silat dari tiga orang Jian-kinkau

itu, dia tahu mereka bukan orang biasa, tetapi tenaga

dalam mereka tidak terlalu tinggi, jadi A Bin tidak mengerti

kenapa tosu ini bisa terkuras habis-habisan tenaganya.

Pengalaman Ku-cu Tojin sangat dalam, dia bisa mengerti

apa yang ada dalam pikiran A Bin, dengan sedikit menyesal

berkata:

“Aku dan dua orang perguruanku telah di kepung dan

dikeroyok oleh mereka selama tiga hari, aku tahu tidak bisa

melawan gerombolan orang-orang ini, maka berusaha

melarikan diri, dalam tiga hari kami mengalami lebih dari

sepuluh kali pertarungan dengan pihak lawan yang banyak,

sehingga menguras banyak tenaga, tadi pagi aku berusaha

menghindari kejaran musuh, mencari jalan pintas dengan

jalan cepat, tetapi masih terkejar oleh regu kecil mereka.

Beruntung tenaga inti mereka belum terkumpul, sehingga

hanya beberapa orang saja yang menyerang kita, bila Luisiauhiap

tidak datang kemari, Siauhiap juga akan

menemukan nasibku seperti teman aku yang telah mati.

Sekarang aku akan pulang ke Bu-tong, tapi mungkin masih

akan mendapat serangan dari musuh beberapa kali lagi, aku

mohon dengan sungguh-sungguh Lui-siauhiap jangan

hiraukan aku lagi, sebab Siauhiap akan terlibat dalam

kesusahan.”

Ucapan Ku-cu Tojin yang keluar dari lubuk hati bukan

kata meminta bantuan, hingga membuat A Bin menaruh

rasa simpati pada tosu itu, maka dengan tersenyum dia

berkata:

“Totiang jangan khawatir, bukan aku sombong, kalau

mereka yang datang seperti tadi, ditambah dua puluh orang

lagi yang menghadang, aku pun masih bisa mengantar

Totiang pulang ke Bu-tong-san dengan aman!”

Dewi KZ 300

Ku-cu Tojin pernah melihat ketangguhan A Bin waktu

dibiara Cu-sia, memang punya ilmu lebih tinggi dari

dirinya, dan menilai dari situasi depan mata, bila bukan A

Bin yang membantu, dia sendiri tidak akan bisa pulang ke

Bu-tong dengan selamat, maka dengan menghela nafas dia

berkata:

“Aku bukan takut mati, karena aku mendapat perintah

dari ketua partai, jadi pergi jauh untuk mencari tahu tentang

Jian-kin-kau, tiga hari yang lalu beruntung aku mendapat

sedikit informasi, tetapi melanggar larangan aliran itu,

maka dalam tiga hari itu mereka menyebar pembunuhpembunuhnya

untuk menyerang kami, aku mengalami

sembilan kali hampir mati dan selamat dalam kali ini,

hanya berharap bisa menyampaikan keterangan ini pada

ketua partai, dan aetelah tugasnya selesai, aku akan rela

mati dengan tenang. Sekarang, bila Siauhiap berkenan

mengawal aku pulang, aku mengucapkan terima kasih atas

bantuan anda.” Sudah habis bicara dia memberi salam

terima kasih pada A Bin.

A Bin dengan gembira membalas ucapan terima kasih

hweesio itu, dan menyarankan pada Ku-cu Tojin, karena

terluka dalam jadi terganggu kecepatan di perjalanan,

apalagi terlalu jauh untuk pulang ke Bu-tong, apa tidak

lebih baik langsung menuju biara Siauw-lim, mengejar hari

pertemuan di Siauw-lim-sie dan menunggu kedatangan

Soat-song Cinjin disana.

Ku-cu Tojin setuju atas saran A Bin, dan minta bantuan

A Bin untuk mengubur mayat kedua adik perguruan di

tempat itu, dan atas dasar aturan Budha yang mengasihi

juga mengubur kedua mayat musuh yang berbaju abu-abu

itu.

Selanjutnya A Bin mengawal Ku-cu Tojin menuju ke

arah Siong-san, setelah sore mereka meng-inap di hotel di

Dewi KZ 301

kota kecil. A Bin telah tahu di perjalanan banyak orang

yang mengawasi mereka dari belakang secara sembunyisembunyi.

Tapi A Bin sama sekali tidak gentar, dia selalu

mendampingi tosu itu, sampai makanannya selalu diperiksa

dulu, untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan,

tidur dalam kamar pun mereka berdua bergiliran berjaga.

Karena Ku-cu Tojin terluka dan kelelahan, A Bin

membiarkan dia tidur duluan, dia sendiri tanpa berganti

baju, berbaring di ranjang sambil memulihkan tenaga, asal

ada sedikit suara saja, dia sudah dapat tahu.

Kira-kira jam dua subuh, terdengar suara ribut di dalam

penginapan, A Bin sudah terbiasa dengan hal itu, tetap

diam sambil mendengarkan dengan seksama, malah Ku-cu

Tojin terbangun dengan terkejut, dan p’ada waktu itu

terdengar suara langkah ribut di luar jendela kamar, dan

satu orang pelayan hotel mengetuk pintu kamar dan

berteriak:

“Tuan, tuan segera bangun, di belakang hotel terbakar,

kalian segera siap-siap pergi……..”

A Bin segera membantu Ku-cu Tojin keluar kamar,

melihat api di belakang hotel sudah membara, karena

membantu mengawal tosu itu, dia tidak ingin menggunakan

ilmu meringankan melayang diatas genting untuk

menghindari kegaduhan orang-orang yang sedang

membantu memadamkan api, maka A Bin mencari jalan

untuk menghindar.

Di halaman hotel banyak tamu membawa gendongan

tas, dan sebagian mengeluarkan koper yang agak besar

keluar hotel, setelah A Bin dan Ku-cu Tojin keluar hotel

melalui gang sampai di belakang hotel, dia melihat kandang

kuda hampir terbakar semua, biar pun tidak ada orang yang

Dewi KZ 302

terluka, tetapi api kalau merembet ke depan bisa

menghanguskan seluruh bangunan hotel.

Melihat situasi tersebut, terpanggil jiwa berani

membantunya maka A Bin berpesan pada Ku-cu Tojin agar

hati-hati di tempat, dan segera merebut satu ember dari

orang lain, dengan cepat menuju sumur tidak hauh dari

situ, mengambil air untuk memadamkan api, mata A Bin

tetap mengawasi Ku-cu Tojin, tidak berani ceroboh.

Kecepatan A Bin dalam membantu sangat luar biasa,

segera sudah menumpahkan air sebanyak delapan ember.

Air orang lain hanya bisa mencapai sekitar satu tombak,

tetapi A Bin bisa menjatuhkan air itu tepat dipusat api,

maka kiriman air A Bin hingga delapan ember, hampir

kelihatan bara api telah menjadi lemah.

Dan sesudah delapan ember lagi, A Bin melihat api

makin lemah, maka dengan senang hati, menenteng satu

ember air lagi melewati jalan ke sisi Ku-cu Tojin, agar lebih

mudah mengawasi. Dalam keributan terlihat satu orang tua

menggendong satu anak berpapasan muka dengan A Bin.

Dilantai banyak genangan air, orang berjalan bisa

terpeleset karena licin, baru saja A Bin ingin

memberitahukan kakek itu agar hati hati, ternyata orang itu

terpeleset jatuh di depan matanya, dan anak yang di

gendong di dada terlempar keluar.

A Bin sangat terkejut, segera dengan satu tangan yang

kosong menangkap anak itu, air didalam ember yang

dipegang satu tangan lagi sama sekali tidak terbuang keluar

ember, pertunjukan A Bin tersebut mengundang suara

pujian dari orang-orang di pinggir yang menonton kejadian

kebakaran itu.

Dewi KZ 303

Tubuh kakek itu sempoyongan hampir jatuh, A Bin

terpaksa melepaskan ember air itu, segera menahan tubuh

orang tua itu, sehingga tidak jatuh ketanah.

Setelah berdiri betul dan menerima anak kecil dari

tangan A Bin, kakek itu dengan sibuk mengucapkan terima

kasih pada A Bin:

“Kau betul betul orang baik……..”

A Bin membalas berkata:

“Kau cepat pergi dari sini, aku mau bantu memadamkan

api!”

Setelah kakek itu pergi, A Bin ingin mengambil ember air

lagi, namun ketika matanya melirik ke tempat Ku-cu Tojin

berada, ternyata sudah hilang.

A Bin sangat terkejut dan bercampur rasa aneh, orang

sebesar itu bisa hilang dalam sekejab mata, bila di culik

orang, cara mereka sungguh luar biasa. ‘

Sejauh matanya mengawasi sekelilingnya, A Bin,

menemukan sebuah benda kuning berupa pita yang ada

ditanah sekitar lima tombak, A Bin segera mengambil

benda itu, betul juga potongan kain dari ikat pinggang Kucu

Tojin.

A Bin mencoba menuju gang di mana kain kuning itu

berada, sampai di mulut jalan, karena banyak orang

menonton kebakaran, sehingga menghalangi jalan, A Bin

menjadi sangat gelisah, maka tanpa banyak pikir, dia

memusatkan tenaga dalam dan mengayunkan tangan

dengan ringan, membuat barisan orang yang berada di

depan segera mundur kebelakang, sehingga membuat celah

jalan kosong buat A Bin untuk dilalui.

Dewi KZ 304

A Bin terus mengejar, betul juga dipinggir jalan

menemukan sepotong kain kuning lagi, A Bin dapat

memastikan bahwa tanda itu diam-diam dijatuhkan Ku-cu

Tojin untuk memudahkan A Bin menelusuri dan menolong,

maka A Bin terus berjalan dan di bantu tanda kain itu

segera keluar dari kampung itu.

Di tempat itu terdapat kuburan lama dan pohon-pohon

liar, suasana gelap dan menakutkan, pandangan mata A Bin

sangat tajam, terus mengejar mengikuti tanda-tanda yang

ditinggalkan Ku-cu Tojin.

Sampai di satu bukit kecil, dia memandang jauh, terlihat

ada satu lapangan luas di bagian kiri, dan di bagian kanan

terdapat pohon-pohon yang menghalangi jalan, setelah

diteliti, A Bin melihat ada bayangan orang di dalam pohonpohon

itu, maka segera menuju kearah itu.

Setelah menerobos kira-kira delapan pohon, di mana

bayangan orang yang terlihat tadi berada, tetapi sekeliling

tempat itu tidak terdengar suara orang.

A Bin memusatkan konsentrasi, memeriksa tempat ini,

mendadak terdengar satu teriakan orang dari kejauhan.

A Bin melangkah pelan-pelan dan berlindung di pohon

atau batu-batuan gunung, dan terakhir meloncat ke atas

pohon, melalui celah daun, A Bin melihat ke depan.

Dalam jarak sekitar delapan tombak ada satu lapangan

rumput dan di tengah lapangan itu berdiri seorang yang

ternyata Ku-cu Tojin yang dalam keadaan selamat, melihat

keadaan itu A Bin sangat senang, sementara waktu A Bin

ingin menyelidiki keadaan musuh yang tersebar disekitar

itu, maka dia tetap bersembunyi.

Di atas pohon A Bin melihat ada sekitar tujuh orang

berlompatan di kegelapan, dan ada dua orang berbaju perak

Dewi KZ 305

dengan cepat melompat ke dalam lapangan itu, segera

mengepung Ku-cu Tojin dari belakang.

Gerakan kedua orang itu sangat cepat dan ilmu sangat

tinggi, sehingga Ku-cu Tojin tidak mengetahui di belakang

ada dua musuh datang dari kiri dan kanan, A Bin melihat

dari kejauhan keadaan itu segera tergugah untuk lompat

turun dari pohon itu.

Kedua orang baju perak itu entah merasa angkuh atau

merasa lawan sudah di kepung banyak orang, dan tidak

akan terlepas lagi sehingga tidak menyerang di kegelapan,

dengan tertawa menakutkan memberi tahu kedatangan

mereka, Ku-cu Tojin segera membalikkan tubuh dengan

muka sangat tenang, mungkin dia sudah tahu kedatangan

kedua orang itu, dengan nada dingin berkata:

“Kalian mengejar terus, seperti tidak puas bila aku belum

mati, sekarang aku ingin kalian puas aku tidak akan lari!

Tetapi sebelum aku mati, aku ingin menggunakan pedang

turunan dari kakek guruku untuk membasmi beberapa iblisiblis

di dunia ini!”

A Bin telah melihat muka Ku-cu Tojin sangat pucat, di

pinggir mulut juga terdapat sedikit bercak darah, sebelah

tangannya sedang memegang dada, A Bin hampir tidak

tega melihat keadaan tosu itu, dia ingin segera membantu

melawan musuh, tetapi setelah dipikir lagi dia ingin

memancing lebih banyak musuh keluar, menangkapnya

hidup-hidup, dan menyelidiki lebih seksama, sehingga dia

menahan diri tidak keluar dari tempat persembunyian.

Salah satu dari orang berbaju perak itu berkata dengan

dingin:

“Bila kau bunuh diri dan menutup sendiri titik nadimu,

mungkin bisa mengurangi penderitaan dan mayatnya utuh,

Dewi KZ 306

bila tidak, jatuh ke tangan kita kau akan tersiksa dan

menderita!”

Ku-cu Tojin berteriak sekali, mendadak menyerang

orang di kiri, pedang yang dipegang dengan kecepatan

bagaikan angin kencang dan hujan deras menyerang

musuhnya. Tosu itu keluaran dari partai ternama, jurusnya

sangat sempurna dan tenaga dalam masih cukup, sehingga

serangan itu membuat orang berbaju perak itu kalang kabut,

satu orang berbaju perak yang berdiri di pinggir segera

menghampiri dan mengayunkan tongkat yang di pegang

menghadang Ku-cu Tojin untuk menolong temannya.

Menghadapi dua orang lawan, membuat Ku-cu Tojin

bertahan dengan susah payah, berlainan dengan tadi satu

satu lawan satu. Dapat dipahami tenaga dalam tosu itu

lebih tinggi dari lawan, karena terluka sangat berat, maka

tenaga serangannya lemah, tertolong oleh jurus yang

banyak perubahan, sehingga masih bisa bertahan untuk

sementara.

Terdengar satu suara siulan, konsentrasi Ku-cu Tojin

tambah terganggu sehingga kecepatan jurusnya terhambat,

dua orang berbaju perak itu menggunakan kesempatan ini

dengan baik, satu orang dengan tongkatnya mendorong

pedang Ku-cu Tojin keluar dari posisinya, satu orang lagi

menggunakan pentungan besi menerobos pertahanan tosu

itu.

Dalam keadaan sangat genting itu, mendadak terbang

beberapa cahaya, masuk dalam lingkaran pertarungan

membawa satu suara lentingan, membuat pentungan besi

yang menyerang tosu itu meleset ke pinggir, dan senjata

rahasia yang jatuh ke tanah itu ternyata berupa beberapa

butir pasir.

Dewi KZ 307

Dan bersamaan itu, satu bayangan orang seperti terjun

dari langit, berhenti diantara Ku-cu Tojin dan dua orang

berbaju perak itu, berkata dengan suara nyaring:

“Bisanya hanya mengeroyok, menyerang dengan diamdiam

dan bersembunyi, kalian dari alirang Jian-kin telah

banyak berbuat keonaran dan kejahatan, pasti akan

terbasmi dengan pembunuhan masai, dari pada tiba waktu

tersebut, apa tidak lebih baik kalian bunuh diri saja!”

Orang yang bicara itu adalah A Bin, menggunakan katakata

orang berbaju perak tadi untuk menyindir balik.

Kedatangan A Bin membuat dua orang berbaju perak itu

ketakutan, bagi Ku-cu Tojin menjadi gembira dan risau.

Dalam sekejap, tosu itu mendekati tubuh A Bin, dengan

diam-diam menyerahkan sebuah benda ke tangan A Bin,

berpesan dengan suara kecil:

“Lui-siauhiap, di sekeliling banyak musuh, tenaga kita

kurang, bertahan mungkin bisa mati sia-sia, kau cepat

keluar dari kepungan musuh, serahkan benda ini kepada

ketua partai kami, aku disini menahan musuh!”

A Bin sangat cerdik, dia tahu bila menerima titipan

barang dari Ku-cu Tojin, membuat tosu itu tidak punya

beban, dan akan bertarung mati-matian, agar A Bin bisa

cepat keluar dari kepungan, maka dengan sedikit tenaga,

dia mengembalikan lagi benda itu ke tangan Ku-cu Tojin.

Pada waktu bersamaan, kawanan musuh bertambah lagi

lima enam orang, diantara mereka terdapat seorang berbaju

emas dengan tutup kepala, tangannya memegang tongkat

berukir kepala naga, tampak dia adalah pimpinan mereka.

A Bin dengan menunjuk orang itu tertawa dan berkata:

Dewi KZ 308

“Kau sudah tua begini, masih berani membuat pekerjaan

yang berbahaya, pasti karena terpaksa, biar aku

mengampuni kau tapi kau jangan ikut campur!”

Orang berbaju emas itu sangat terkejut, meski sudah

pakai tutup muka, tapi masih ketahuan umurnya oleh A

Bin, entah bagaimana lawan bisa tahu demikian jelas, tetapi

kata A Bin itu membuat dia marah juga, maka berkata

dengan dingin:

“Meski kau berlatih silat sejak keluar dari rahim ibumu,

hingga hari ini kau punya bekal berapa besar, berani berkata

sombong begitu, biar aku mencoba ilmu silatmu, apa betul

hebat!”

Kelihatan orang ini menganggap enteng pada A Bin yang

masih muda, dia tentu tidak akan punya tenaga dalam yang

kuat, maka sambil bicara, jurus tongkatnya pun keluar,

bersamaan itu kakinya maju dua langkah, kepala

tongkatnya menyapu tubuh A Bin dengan cepat sambil

berteriak:

“Hayo keluarkan senjatamu!”

A Bin tetap berdiri tegap, tidak bergoyang sedikit pun,

membuat orang berbaju emas itu tertegun sejenak, namun

dia tetap tidak menghentikan gerakan-nya, ayunan

tongkatnya sudah mendekati tubuh A Bin dan tongkatnya

berobah menjadi lima atau enam bayangan sambil

mengeluarkan tenaga lemas meng-gebrak tubuh A Bin

bagian atas dada.

A Bin sudah menyiapkan tenaga di tangannya, dia

menunggu waktu yang tepat, terlihat dia menyodor-kan

sebelah telapak tangan sebagai pengganti pedang, menutup

jurus serangan tongkat itu.

Dewi KZ 309

Orang berbaju emas itu sangat terkejut dan sedikit

gentar, dengan tertawa sinis dia menyalurkan tenaga dalam

ke tongkatnya, menotok telapak tangan A Bin dengan

cepat, tenaga yang disalurkan melalui tongkat itu adalah

tenaga lemas, bila A Bin bukan tandingannya, dia bisa

menarik tangannya supaya tidak beradu, tetapi organ dalam

tubuh A Bin juga akan terluka.

Dengan santai A Bin menambah tenaga dalam di

tangannya, begitu kedua tenaga lemas itu beradu, tenaga

dalam A Bin sudah merapat di atas tongkat.

Orang berbaju emas itu merasakan tenaga dalam yang

disalurkan ke tongkatnya sama sekali tidak bisa melukai A

Bin, malah ada tenaga berlawanan menahan laju

tongkatnya, dia sangat terkejut dan berpikir kenapa anak

muda ini bisa menguasai tenaga lemas dengan begitu

sempurna, bisa mengeluarkan tenaga dahsyat melalui

telapak tangan menahan tenaga dalam musuh.

Orang berbaju perak dan abu-abu dikeliling lapangan

sama-sama dibikin gempar karena orang nerbaju emas itu

berilmu lebih tinggi dari mereka, ternyata juga tidak dapat

melumpuhkan anak muda itu.

Setelah orang berbaju emas itu tidak berhasil mendesak

A Bin, segera merobah jurus tongkatnya menjadi sapuan,

dia ingin A Bin merobah jurusnya agar ada kekosongan

dalam jurus A Bin, sehingga dia bisa mendapat kesempatan

memperoleh kemenangan.

A Bin dengan cepat menghantam tongkat itu sambil

berteriak:

“Orang tua, kenapa tidak berani adu tenaga dalam?”

Mengetahui A Bin mengejek, orang berbaju emas itu

tidak bisa berbuat apa-apa, dengan perubahan jurus

Dewi KZ 310

tongkatnya dia seperti takut beradu tenaga dalam dengan A

Bin, padahal sebetulnya dia menambah lagi tenaga dalam

dengan sapuan tongkat itu.

Begitu tongkat dan telapak tangan beradu, masingmasing

menyalurkan tenaga dalam untuk mendesak

lawannya. Tenaga A Bin juga bertambah banyak, membuat

tangan kanannya makin maju ke depan, dan tongkat kepala

naga terdesak mundur ke belakang.

Orang berbaju emas itu belum kalah tetapi dia merasa

malu, segera menarik kembali tongkatnya dengan

kecepatan tinggi. Melangkah mundur sejenak lalu maju

lagi, dengan jurus yang lebih dahsyat menotok dan

menyapu A Bin.

Dengan tertawa enteng A Bin memperagakan lima jurus

tangannya terus mendesak orang berbaju emas itu mundur

beberapa tombak, lawan A Bin juga meningkatkan

semangatnya, mengayunkan tongkat menyerang balik,

mendadak A Bin menggunakan tangan kirinya menyentil,

sentilannya mengeluarkan tenaga dahsyat hingga

mementalkan tongkat lawan. Dengan ke ampuhan khusus

(Siau-yau-kiong) itu dan tangan kanan A Bin mengeluarkan

jurus Seng-cin-in-ho (Bintang bergabung dengan awan),

arus angin yang ditimbulkan sangat dahsyat, orang berbaju

emas itu sangat terkejut, dia ingin cepat menghindar, tetapi

telah terpukul oleh angin pukulan itu di bagian dada,

dengan mengaduh menahan sakit, dia menarik tongkat dan

membalikkan tubuh berlari, empat orang berbaju perak

datang dari kiri dan kanan, dengan senjata terhunus

menyelamatkan orang berbaju emas.

Dengan tertawa enteng A Bin berkata:

Dewi KZ 311

“Bila aku ingin membunuh dia, pukulan tangan ini sudah

bisa membinasakan, kalian membantu juga percuma, aku

hanya ingin menangkap dia hidup-hidup!”

Dengan serangan kedua tangannya A Bin membuat

orang-orang baju perak terpencar ke samping, lalu A Bin

menjulurkan tangan menangkap pundak orang berbaju

emas, orang itu terpaksa mengangkat tongkat menahan

serangan A Bin, tetapi tongkat belum beradu dengan tangan

A Bin, tenaga tangan orang berbaju emas itu sudah hilang,

dan tubuhnya jatuh ke depan sambil merintih kesakitan,

untuk sementara A bin belum bisa memastikan apakah

orang itu berbohong untuk mengelabui A Bin agar dia bisa

menggunakan senjata gelap, sehingga karena ragu ragu

untuk bertindak. Sementara musuh sudah berpencar

melarikan diri, Ku-cu Tojin menghadang mereka dengan

pedang, namun karena luka dalamnya terlalu parah, dia

tidak berhasihmencegah dan mereka lolos.

A Bin merasakan ada kejanggalan atas usaha larinya

musuh, dia membungkukan tubuh, melihat orang berbaju

emas itu sudah mati, ternyata di bahu tangan kiri orang itu

tertanam sebuah jarum perak yang sudah diberi racun,

persis seperti yang dilihat A Bin di biara Cu-sia tempo hari.

A Bin sangat kesal, dia membuka tutup kepala orang itu,

betul juga orang tua itu berambut putih, kira kira berumur

diatas enam puluh tahun. Ku-cu Tojin segera menghampiri

dan melihat orang itu dengan terkejut berkata:

“Dia! pendekar tongkat tunggal Liang-ho dari propinsi

Su-chuan, orang ini dari aliran putih, ilmu tongkatnya hebat

menjadi aliran tunggal, tadi waktu menggunakan ilmu

tongkatnya, aku sudah curiga pada dia, karena dia

menggunakan tongkat kepala naga bukan bambu, maka aku

tidak berani memastikannya. Entah kenapa, dia pun bisa

masuk Jian-kin-kau.”

Dewi KZ 312

Sudah berusaha dengan susah payah malah hanya

mendapat sesosok mayat, A Bin sangat gusar. A Bin

bersumpah dalam hati, lain kali bila bertemu lagi orangorang

Jian-kin-kau, dia akan menangkap seorang saksi

hidup.

A Bin dan Ku-cu Tojin meneruskan perjalanan, anggota

Jian-kin-kau telah dibikin gentar oleh A Bin, maka dalam

beberapa hari, tidak berani mengganggu lagi, A Bin berdua

sangat senang juga, tetapi tetap berhati-hati.

Luka dalam Ku-cu Tojin makin parah, sehingga laju

perjalanannya lebih lambat, karena dia takut A Bin

mengetahui dan malah mengganggu perjalanan, maka tosu

itu bertahan dan tidak mau mengeluh, perbuatan dia malah

diketahui A Bin kedua hari sebelum mencapai hari

pertemuan di Siauw-lim-sie, karena tidak mengerti

pengobatan, dan entah mau berobat kemana.

Ku-cu Tojin dengan tegas berkata:

“Semua orang pasti mati, aku hanya berharap bisa

bertemu muka ketua partai sekali lagi, menyampai-kan

jawaban atas tugas yang diberikan padaku, agar aku tidak

menyesal, tempat ini tidak jauh lagi ke biara Siauw-lim, bila

mempercepat langkah, kira kira tiga hari kita bisa sampai,

walau pun terlambat ikut pertemuan itu, ketua partaiku

pasti masih berada disana, dengan bantuan dia dan ketua

Siauw-lim yang mahir dalam pengobatan, ditambah obat

mujarab, aku masih punya harapan hidup! Aku berharap

bisa bertahan tiga hari!”

A Bin berpikir sejenak, berkata dengan halus:

“Totiang jangan khawatir, orang biasa perlu tiga hari,

bila aku siang malam mengejar waktu menggendongmu,

hanya perlu setengah waktunya saja, besok siang juga bisa

Dewi KZ 313

sampai, di saat itu pertemuan Siauw-lim belum bubar,

segala masalahmu akan segera ditangani.”

Maka tanpa banyak bicara, A Bin menggendong Ku-cu

Tojin dengan ilmu meringankan tubuh dia berlari siang

malam, sehingga tepat datang dalam pertemuan Siauw-lim.

Dan pada waktu datang dia mendapatkan Thio Hong-giok

baru mengalahkan Iblis dari selatan Kauw Ki-koan dan

sedang berkata sombong, A Bin tidak merasakan lelah, dia

masih bisa mengalah-kan Thio Hong-giok, membuat jagojago

kagum atas diri A Bin. Setelah mendengarkan cerita A

Bin tentang pertolongan A Bin pada Ku-cu Tojin.

Setelah dibantu penyembuhan oleh ‘Soat-song Cinjin dan

obat mujarab dari Bu-tong dan Siauw-lim, Ku-cu Tojin

mulai siuman, dan telah membuka matanya, melihat

keberadaan Soat-song Cinjin dan Kian Ih Taysu, dengan

muka yang gembira berusaha menggerakan tangan kanan

untuk merogoh sesuatu dalam tas pinggang.

Mengetahui adik seperguruan ingin mengambil sesuatu

di tas pinggang itu, maka Soat-song Cinjin membantu

membuka dan menaruh tas itu ditangan Ku-cu Tojin dan

menyaksikan dia mengeluarkan saru cincin tangan dari besi

hitam.

A Bin yang turut melihat cincin besi hitam itu hampir

kelepasan berteriak, karena cincin besi hitam itu sama

dengan yang dipungut A Bin di puncak Tiang Langit tempo

hari, untuk sementara dia meredam emosi dalam hatinya

dan menunggu keterangan lain.

Ku-cu Tojin dengan suara sangat kecil berkata:

“Aku dengan dua murid seperguruan menempuh bahaya,

berusaha menghadang seorang pemimpin Jian-kin-kau, biar

pun orang itu terlepas dari kejaran, tetapi barang penting ini

dapat diambil, dan kata mereka ini adalah benda sebagai

Dewi KZ 314

tanda setia pada ketua Jian-kin-kau waktu berdiri,

pendapatku, mungkin dari cincin besi hitam ini dapat

mencari jejak Jian-kin-kau.”

A Bin baru sadar kenapa Ku-cu Tojin waktu dalam

keadaan sangat bahaya waktu dikepung, ingin

menyerahkan sesuatu barang pada A Bin untuk diserahkan

pada Soat-song Cinjin, mungkin barang itu adalah cincin

besi hitam ini.

Soat-song Cinjin, Kian Ih Taysu, Sin-ki-siucai Cukat

Hiang dan Gin-hoat-lo-jin Wie Tiong-hoo dan lainnya,

setelah masing masing melihat cincin besi hitam itu semua

merasa belum pernah melihat benda itu, Cukat Hiang

menunggu semua orang selesai melihat, berkata:

“Besi hitam untuk cincin ini bukan barang biasa, benda

ini terbenam dalam es beku di kutub utara ribuan tahun,

sangat sulit mendapatkannya, benda ini punya dua macam

keunggulan, satu anti api, lingkaran dalam jarak satu kaki

bisa melindungi orang yang memakai tidak terbakar, dan

bila tangan memakai cincin itu di masukan dalam minyak

yang sedang mendidih juga akan aman, satu gunanya lagi

mempunyai daya magnit yang bisa menyedot segala macam

benda logam dalam jarak tiga kaki dan gampang

mengendalikan cincin itu ke semua arah tujuan, maka

semua senjata rahasia yang sangat kecil pun bila

bertemu………”

Cukat Hiang bicara sampai disitu, entah teringat sesuatu

dan mendadak berhenti bicara.

A Bin lebih cepat menangkap inti pembicaraan Cukat

Hiang tentang khasiat cincin besi hitam itu, segera berkata:

“Cincin besi hitam itu bisa melindungi tubuh dari

serangan jarum beracun dari Jian-kin-kau.”

Dewi KZ 315

Cukat Hiang terperanjat melihat A Bin, dia kagum atas

kecepatan berpikir A Bin, dia mengangguk-kan kepala

tanda setuju atas jawaban A Bin. Pendekar dari Sungai

Hoai, Shangguan Leng masih tidak mengerti, dia bertanya:

“Cukat Hiang! Ucapanmu dan adik Lui membuatku

bingung, dikatakan jarum perak beracun itu buatan Jiankin-

kau, apa gunanya memakai cincin besi hitam buat

melindungi tubuhnya sendiri?”

Cukat Hiang tersenyum sejenak dan menjawab:

“Shangguan Toako, tadi kau sudah lihat sendiri, orang Jiankin-

kau yang menyamar sebagai rmfrid Bu Ki dibunuh oleh

murid Jian-kin-kau juga dengan jarum perak beracun,

pimpinan Jian-kin-kau adalah orang-orang sadis, mereka

harus punya cara untuk menguasai anak buahnya, jarum

perak beracun itu adalah senjata ampuh, tetapi yang bisa

menggunakan juga banyak, mereka takut ada murid yang

memberontak menggunakan senjata itu berbalik menyerang

kepada atasannya, maka khusus membuat cincin besi hitam

itu untuk beberapa orang dekat yang bebas dari hukuman

mati, petinggi dari Jian-kin-kau yang terkepung musuh,

akan membocorkan rahasia organisasi, maka tanpa raguragu

orang itu akan dibunuh untuk menutup mulutnya,

seperti orang-orang yang menghadang Ku-cu Tojin dan

orang yang berhadapan dengan adik Lui tadi, itu sebagai

contoh!”

Jago-jago yang disana baru mengerti setelah dijelaskan

oleh Cukat Hiang, selain kagum atas pengetahuan Cukat

Hiang dan A Bin, juga meningkatkan kewaspadaan atas

ulah sadis dari Jian-kin-kau, sampai murid sendiri juga

dapat dikorbankan.

Cukat Hiang melanjutkan perkataannya:

Dewi KZ 316

“Cincin besi hitam ini berguna sekali buat kita, kalian

boleh mengawasi seluruh bentuknya, karena pimpinan Jiankin-

kau pintar menyembunyikan dirinya, tapi orang itu

pasti memakai cincin itu ditangannya, bila telah hafal

bentuknya, lain hari bila jika melihat, kita bisa langsung

tahu bahwa orang itu adalah salah satu pimpinan Jian-kinkau.”

Maka semua orang bergiliran memperhatikan cincin itu,

tindakan Cukat Hiang itu mengandung makna penting, dia

ingin mengetahui bila ada orang Jian-kin-kau melihat cincin

itu, bagaimana pun reaksi aneh akan timbul, sehingga orang

itu bisa ditangkap, tetapi setelah semua orang melihat benda

itu, reaksi mereka bermacam-macam, Cukat Hiang dengan

pengalamannya menilai mereka tidak ada hubungan

dengan Jian-kin-kau.

Setelah cincin besi hitam itu kembali lagi ke tangan

Cukat Hiang, terdengar ucapan Thi-koan Totiang yang

duduk di meja nomor satu, katanya:

“Aku ada satu permintaan, entah dapat dikabulkan oleh

Soat-song Cinjin atau tidak!”

Thi-koan Totiang adalah orang pertama yang dilukai

oleh Jian-kin-kau dan semua muridnya telah mati, dia

sendiri juga menjadi cacad, sehingga harus dibantu orang

untuk berdiri. Dia salah satu ketua dari panitia pertemuan

ini, dari tadi dia tidak bicara, semua orang menaruh rasa

simpati atas musibah yang diderita tosu ini, sehingga semua

orang menunggu cerita selanjutnya.

Sambil menunjuk cincin besi hitam ditangan Cukat

Hiang, dia berkata lagi:

“Aku ingin mendapatkan cincin itu, bukan aku takut

mati, karena ilmu kita dari Couwsu Thio-sam-hong hilang

dicuri dan sepuluh muridku yang mati belum terbalas, aku

Dewi KZ 317

ingin bertahan dengan sisa nyawaku, ingin menyaksikan

titik terang kasus ini. Tetapi ilmuku telah hilang sama sekali

dan musuh dari Jian-kin-kau sangat dendam padaku, bila

tidak dilindungi oleh cincin itu, entah kapan dan dimana

aku akan dibunuh oleh mereka, bila kalian…….”

Kian Ih Taysu tanpa berpikir panjang, segera berkata:

“Ketua jangan bicara lagi, cincin besi hitam ini hanya

kau yang pantas memiliki, biar aku minta izin kepada Soatsong

Cinjin!”

Soat-song Cinjin setelah mengucapkan nama Budha

berkata dengan cepat:

“Hong-tiang tidak perlu bicara begitu, bila kau tidak

mengatakan aku juga ingin menyerahkan cincin ini ke

tangan Thi-koan Totiang, aku hanya ingin menyanya-kan

pada Cukat Hiang, apakah cincin ini masih perlu digunakan

di lain tempat?”

Ternyata semua orang petinggi di pertemuan itu

menganggap Cukat Hiang sebagai penasihat, segala hal

ingin mendapatkan saran dari dia.

Dengan lirikan mata yang penuh arti, Cukat Hiang

melihat Thi-koan Totiang sejenak, dengan tertawa dia

berkata:

“Cincin ini telah dilihat semua orang disini dan telah

dikatakan bila ada orang yang memakai cincin ini pasti

orang penting dari Jian-kin-kau…….”

Berhenti sejenak Cukat Hiang berkata lagi dengan nada

kocak:

“Tentu Thi-koan Totiang tidak termasuk orang yang

dicari…….”

Dewi KZ 318

Perkataan lucu dari Cukat Hiang membuat semua orang

tertawa riang, terdengar Cukat Hiang melanjutkan

perkataannya:

“Cincin ini tidak ada guna lain, tergantung Soat-song

Cinjin ingin dipergunakan untuk apa?”

Soat-song Cinjin menunggu ucapan Cukat Hiang habis,

maka tanpa ragu-ragu mengambil cincin itu dan

memakaikan pada jari manis tangan kanan Thi-koan

Totiang, semua jago bertepuk tangan tanda setuju.

Pertemuan ini setelah diganggu oleh Kauw Ki-koan dan

Thio Hong-giok hampir menghabiskan waktu dua jam,

semua tamu telah lapar, ketua Siauw-lim-pay, Kian Ih

Taysu Hong-tiang segera berkata:

“Mohon maaf aku tidak menyiapkan apa-apa, sehingga

kalian lapar, sekarang waktu kita makan, setelah minum air

dan arak, aku masih ingin mendapat-kan petunjuk dari

kalian!”

Setelah dipersilahkan tuan rumah untuk mulai makan,

maka semua orang mulai melahap makanan di mejanya,

hanya Soat-song Cinjin dan murid Bu-tong mengawal Kucu

Tojin sementara keluar dari ruangan itu.

A Bin diundang di meja utama, kebetulan duduk di

samping Hong-tai, Hong-tai hanya minum air di gelas,

sama sekali tidak peduli pada A Bin, A Bin diam-diam

melihat ke arah Siau-cian, Siau-cian juga sama sekali tidak

memperhatikan keberadaan A Bin.

A Bin merasa sedih, entah bagaimana membuka kedua

hati gadis itu, membicarakan kerinduan A Bin.

Di meja lain, pendekar Shangguan Leng berjalan

menghampiri meja A Bin, dia tidak tahu hubungan A Bin

Dewi KZ 319

dengan Hong-tai daan Siau-cian yang sangat rumit, dia

mengangkat gelas arak menghormati A Bin dan berkata:

“Adik Lui, kau baru pertama muncul di dunia persilatan,

aku bisa memastikan kau akan jadi orang hebat tidak lama

lagi, aku bersulang untukmu!”

Karena gusar atas perilaku kedua gadis itu, melihat

Shangguan Leng bersulang untuknya, maka A Bin segera

meneguk arak itu, karena tidak biasa minum arak, muka A

Bin segera tampak merah dan tampak bertambah gagah

perkasa, Shangguan Leng terus memuji A Bin:

“Sayang aku tidak punya anak perempuan, bila ada, aku

akan minta ketua Siauw-lim atau Bu-tong untuk jadi saksi

menyatakan aku akan punya calon mantu secakap dirimu!”

Ucapan kocak dari Shangguan Leng membuat Hong-tai

dan Siau-cian tidak senang dan mengeluarkan suara sinis,

tetapi tidak urung juga untuk melirik muka A Bin dengan

sembunyi-sembunyi.

Tingkah laku kedua gadis itu terlihat juga oleh

Shangguan Leng yang berpengalaman, sambil ter-senyum

tanpa banyak bicara lagi dia meninggalkan meja A Bin.

Semua jagoan dari dunia persilatan selama ini tidak suka

tata cara yang rumit, semua orang sibuk menyantap

makanan, pimpinan panitia sibuk mengitari meja-meja

tamu untuk bersulang.

Santapan makan selesai dan meja makan telah

dirapihkan kembali, semua tamu disuguhi air teh, dan

melanjutkan pembicaraan masalah Jian-kin-kau.

Soat-song Cinjin yang telah menitipkan Ku-cu Tojin

diruang istirahat telah kembali lagi ke ruang rapat, langsung

berkata pada ketua Siauw-lim:

Dewi KZ 320

“Aku telah bicara dengan Ku-cu Sute, dan tahu beberapa

persoalan penting bahwa sayap Jian-kin-kau sudah tersebar

luas dimana-mana, di propinsi An-hui berhasil menjebak

orang penting aliran itu keluar sarang, tetapi belum sempat

mengetahui identitas asli orang itu, sudah di bawa kembali

oleh temannya, dia hanya dapat merebut cincin besi hitam

itu sebagai tanda bukti, sepanjang jalan sesudah kejadian

itu, Ku-cu Sute terus menerus diserang dan dikeroyok, aku

punya pendapat, apa kita perlu menyusuri jalan yang

pernah dilalui Ku-cu Sute, mungkin bisa mendapat jejak

dan menuju sarang mereka!”

Kian Ih Taysu berkata:

“Pendapat To-heng sangat tepat, ini adalah satu garis

harapan, entah tuan Cukat Hiang ada pendapat lain?”

Cukat Hiang dengan pelan-pelan berkata:

“Ku-cu Tojin sepanjang jalan pulang kemari hanya

ditemani oleh adik Lui, karena berdua saja, murid murid

Jian-kin-kau berusaha merebut kembali cincin besi hitam

itu, maka mengerahkan murid-murid mereka di sepanjang

jalan, bila kita sekarang mengerahkan banyak orang untuk

mencari mereka, murid-murid Jian-kin mana berani terangterangan

keluar sarang!”

Ulasan Cukat Hiang membuat Kian Ih Taysu dan Soatsong

Cinjin menganggukan kepala tanda setuju ulasan tepat

Cukat Hiang, Soat-song Cinjin balik bertanya:

“Pendapat anda betul, menurut pendapat anda, urusan

ini harus bagaimana ditangani!”

Muka Cukat Hiang tampak sedikit tersenyum murung

dan berkata:

“Aku dijuluki oleh teman-teman persilatan sebagai

Peramal jitu, biasanya aku bisa memikirkan dan

Dewi KZ 321

menyelesaikan masalah dengan tepat, tetapi buat masalah

Jian-kin-kau yang rumit, terus terang, sampai detik ini aku

masih belum punya ide sedikit pun?” sambil bicara Cukat

Hiang diam diam memberi isyarat mata kepada Kian Ih

Taysu dan Soat-song Cinjin yang duduk berdekatan, dan

isyarat itu hanya mereka berdua yang tahu, semua jagoan

tidak ada yang tahu isyarat yang diberikan Cukat Hiang

pada kedua ketua partai Siauw-lim dan Bu-tong,

mendengar-kan bahwa orang pintar semacam Cukat Hiang

juga menyerah, membuat hati semua orang bertambah

berat, sebagian orang mulai bisik-bisik.

Keinginan Cukat Hiang membuat suasana menjadi

demikian telah berhasil dan dia berpura-pura tidak enak

tubuh melangkah dan menyendiri dipojok yang sepi.

Kian Ih Taysu sebagai tuan rumah yang mengundang

rapat, tidak bisa berbuat seperti Cukat Hiang, dia berpikir

sejenak ingin berbicara sesuatu.

Di pinggir tembok ruang pertemuan terdengar suara

langkah kaki yang berat, jago-jago dalam ruangan menduga

akan ada sesuatu kejadian lagi, maka mereka berhenti

berbicara, dan mengarahkan pandangan matanya ke arah

pintu masuk.

Betul juga, sesosok tubuh yang sempoyongan masuk

ruangan dengan tergesa-gesa, dia adalah orang yang

berpisah beberapa hari Gan-tayhiap, Gan Cu-kan.

Orang aneh yang sombong ini selalu meman-dang enteng

persoalan yang dihadapi, sekarang malah tergesa-gesa

masuk ruangan tanpa menghiraukan hweesio penerima

tamu di pintu masuk biara langsung masuk sendiri.

Kian Ih Taysu segera melangkah dua kali menyambut

kedatangan tamu baru dan berkata:

Dewi KZ 322

“Tuan Gan tergesa-gesa begini, pasti mendapatkan berita

besar, silahkan istirahat sebentar, nanti baru mendengarkan

cerita anda!”

Gan Cu-kan tidak mau duduk, dia berdiri di tengah

ruangan, membuka kipas yang selau dibawa, mengibaskan

beberapa kali, dan mengatur pernafasan baru berkata:

“Kejadiannya mendadak, biar aku menceritakan dengan

singkat. Setelah perpisahan dari biara Cu-sia, aku

menyelidiki dengan seksama di dua propinsi, berkat

pengalamanku beradu otak dengan orang-orang persilatan

puluhan tahun, dengan mudah memancing murid Jian-kinkau

keluar sarang, tapi sayang, setan itu sangat cerdik,

mengetahui dibuntuti orang, segera menghindar dan lari.

Dengan susah payah aku berhasil menangkap dua orang,

tapi juga dibunuh oleh jarum racun dari tempat

tersembunyi, semua ini membuat aku marah besar, maka,

aku berobah taktik, biar hidup atau mati, aku sengaja

berbuat gila mengganggu mereka, membunuh beberapa

antek-antek mereka untuk melampiaskan kemarahan aku,

ternyata siasatku ber-hasil menggiring orang kuat mereka

keluar menghadapi aku, sayang ilmu silatku belum bisa

mengimbangi mereka, untung aku punya rencana dan

menghindar dari pengawasan mereka, berbalik diam-diam

mengikuti orang kuat itu sampai hampir ke sarang

mereka…….”

Berhenti sejenak, Gan Cu-kan membuang keringatnya

sambil mengipas beberapa kali, berkata lagi:

“Siapa tahu, setan itu sengaja berbuat licik, mereka tahu

diikuti orang di belakang, maka sengaja memancing aku

masuk perangkap, aku di kepung banyak orang yang

memegang senjata rahasia, memaksa aku masuk dalam

Jian-kin-kau, kalian pasti tahu sifatku Gan Cu-kan diancam

ribuan pedang dileher juga tidak akan menyerah, ketika di

Dewi KZ 323

kepung oleh banyak jagoan senjata rahasia, juga tidak bisa

mencegah aku melolos-kan diri, tetapi dalam pikiran

sejenak, aku ingin merubah rencana mereka jadi rencanaku,

aku pura-pura terpaksa tidak ada pilihan selain menyerah,

berusaha masuk kedalam sarang mereka. Pada waktu itu,

aku membalikan kedua tanganku dibelakang tubuh, berkata

tidak punya niat lari, karena terdesak, dengan suka rela

menyerahkan diri. Tetapi bila disuruh masuk ke Jian-kinkau

tidak mungkin mau, perbuatanku tersebut sesuai

dengan statusku, maka mereka percaya pada ucapanku.

Dan mereka mengikat aku dengan urat sapi kedua tangan

dan kaki, agar aku tidak bisa mengguna-kan kepandaian

untuk melukai orang atau lari. Mereka sangat sopan

padaku, dan menutup mataku dengan kain hitam, aku

dibawa ke satu tempat, setelah melalui dua malam, aku tiba

di satu tempat yang rahasia……”

Gan Cu-kan berhenti sejenak, melihat semua tamu

sedang asyik mendengarkan ceritanya dengan tenang tanpa

bersuara, maka dia mulai cerita lagi:

“Tempat itu sangat luas, bangunannya mewah seperti

istana, setelah melalui jalan berliku-liku, aku baru di bawa

ke satu ruangan yang lebih mewah oleh orang-orang

berbaju emas, kata mereka untuk menghadap ketua Jiankin-

kau. Pertama, aku diterima oleh seorang pengawal

pribadi yang berjubah emas, setelah berbincang-bincang,

aku tetap pada pendirian semula meski tertangkap tapi

belum mau masuk Jian-kin-kau, karena ucapan itu,

sehingga aku tidak bisa bertemu ketua mereka, mereka

mengantar aku kesatu tempat rahasia, dengan layanan

memuaskan. Aku sudah punya rencana matang, dengan

sabar bertahan, menunggu mereka lengah, baru cari

kesempatan untuk mencari rahasia mereka, dan selanjutnya

melarikan diri…….”

Dewi KZ 324

Cendekiawan sombong ini bicara sampai disini, terlihat

muka menyesal dan melanjutkan bercerita:

“Siapa tahu, orang-orang Jian-kin-kau sangat licik dan

sangat waspada. Mungkin mereka tahu rencana aku,

mereka mengerjakan aku dengan semacam racun pada

makanan, sehingga aku lupa ingatan. Dan selanjut-nya aku

terjebak dalam dunia lain, sama sekali tidak tahu aku telah

berbuat apa, sampai kemudian ditolong oleh teman dari

dunia persilatan………”

Kian Ih Taysu ingin bertanya siapa yang menolong Gan

Cu-kan, tetapi mengetahui Gan Cu-kan tidak

menyebutkan orang itu pasti ada sesuatu yang harus

dirahasiakan, maka tidak jadi bertanya.

Soat-song Cinjin malah tidak sabar dia bertanya: “Jadi,

Gan-tayhiap bekerja sia-sia, sama sekali tidak mendapat

hasil!”

Berhenti sejenak, Gan Cu-kan berkata lagi: “Tidak juga,

aku masih mendapat sedikit hasil jerih payah……”

Baru bicara sampai disitu, mendadak muka Gan Cu-kan

berobah pucat, dia tidak bicara lagi dan jatuh dilantai.

Cukat Hiang dengan reaksi paling cepat menghampiri,

meneliti dan berteriak berkata:

“Celaka! Gan-tayhiap terkena lagi oleh jarum beracun!”

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin juga menghampiri

tubuh Gan Cu-kan, muka mereka juga berobah, bersamaan

menanyakan pada Cukat Hiang:

“Apa Gan-tayhiap masih bisa tertolong!”

Cukat Hiang dengan muka murung berkata:

“Nadi Gan-tayhiap masih berdenyut, karena dasar

tenaga dalam kuat, tetapi jarum ini mengandung racun

Dewi KZ 325

keras, tidak ada obatnya, kita masukan dia ke ruang

istirahat dulu, biar dia mati dengan sendirinya!”

Kejadian itu membuat semua orang terkejut dan gaduh,

mereka tidak percaya, di bawah puluhan mata bisa memberi

kesempatan bagi musuh untuk melepaskan jarum lain,

sehingga pendekar ulung Gan Cu-kan juga bisa terbunuh,

kejadian mendadak itu membuat puluhan pasang mata

melirik kiri kanan, mencari orang yang dicurigai.

Kian Ih Taysu takut kegaduhan bisa membuat

kecolongan, maka memerintahkan pada Jit Ie Taysu dan

Yung Ie Taysu beserta dua murid Siauw-lim untuk

menggotong Gan Cu-kan ke kamar rahasia biara itu.

Lalu membalikkan tubuh berkata pada semua orang:

“Harap kalian tenang, kejadian-kejadian yang timbul,

sudah jelas menunjukan musuh sudah ada di sekeliling kita,

harap kalian hati-hati, asli atau palsu akan segera ketahuan.

Peramal jitu Cukat Hiang berkata pada Kian Ih Taysu:

“Pendapatku begini, pertemuan hari ini tidak mencapai

hasil, aku sarankan rapat ini diundur satu atau dua hari,

semua tamu harap tinggal dulu di biara Siauw-lim, kita

berunding dulu mencari jalan terbaik, dan berharap diharihari

yang luang bisa menemukan mata-mata itu!”

Kian Ih Taysu setuju dengan saran itu, kedua mata

melirik pada Soat-song Cinjin, Gin-hoat-lo-jin Wie Tionghoo

dan Thi-koan Totiang, lalu berkata:

“Kita semua setuju atas saran Cukat Hiang!”

Kemudian Kian Ih Taysu berkata lagi dengan suara

keras:

“Aku mengatakan karena pengamanan kurang

sempurna, sehingga musuh menyelinap masuk ke biara, dan

Dewi KZ 326

terpaksa mengikuti cara Cukat-tayhiap, bila ada yang

keberatan, harap terang-terangan mengatakan, tidak ada

larangan untuk keluar biara!”

Karena rapat belum menghasilkan apa-apa, kedua

mereka ingin tahu berita selanjutnya dan terpenting mereka

takut dicurgai bila sekarang keluar biara, maka semua tamu

setuju menginap di biara.

Hanya Hong-tai yang berdiri ingin keluar biara dan

berkata:

“Aku seorang gadis, tidak pantas tinggal di biara

sendirian, aku ingin pamit pergi!”

Cukat Hiang menghampiri Hong-tai berkata dengan

tulus:

“Nona In bila ada urusan penting, kita tidak akan

menahan nona pergi, tetapi bila tidak ada urusan lain, kami

persilahkan anda menginap dulu, di biara juga ada kamar

khusus wanita, apalagi ada nona Giok bisa mendampingi!”

Hong-tai mendengar nama Siau-cian yang akan

menemani dia satu kamar, dia langsung marah dan berkata

dengan sinis:

“Bila aku tinggal di biara, hanya ingin sendirian, siapa

yang ingin ditemani orang lain!”

Siau-cian mendengar kata Hong-tai itu langsung berobah

mukanya, dia ingin balas meledeki Hong-tai, tetapi Wie

Tiong-hoo melarang dia beraksi.

Cukat Hiang melihat situasi begitu, mengetahui

permusuhan mereka maka segera berobah berkata:

“Bila nona In ingin suasana tenang tidur sendirian juga

bisa di atur, aku berkali-kali menahan nona pergi, karena

perlu bantuan tenaga nona dalam sehari atau dua hari ini!”

Dewi KZ 327

Kata-kata Cukat Hiang yang sopan itu membuat enak di

dalam hati Hong-tai, maka dengan tenang duduk kembali di

bangku.

Kian Ih Taysu menunggu beberapa detik, setelah tidak

ada komentar lain lagi dari tamu-tamu, maka setelah

mengucaplan O-mi-to-hud dia berkata:

“Kita telah menyediakan banyak kamar untuk istirahat,

kalian datang dari jauh dan menempuh perjalanan berat,

hari ini sudah menghabiskan waktu setengah hari kelihatan

sudah lelah, maka silahkan istirahat semalam, besok

persilahkan kalian untuk melanjutkan rapat kita.”

Kian Ih Taysu memberi isyarat pada Hong Ie Taysu,

agar para tamu diantar oleh murid-murid muda Siauw-limsie

ke kamar masing-masing.

A Bin menilai tindakan ketua Siauw-lim-pay dan Cukat

Hiang itu mengandung makna penting, A Bin pun ingin

sekali menemukan mata-mata itu, untuk menyelidiki orang

yang meninggalkan cincin besi hitam di puncak gunung

Tiang Langit itu, maka dia berniat tinggal juga di biara itu,

menunggu tuan rumah bagaimana mengatur kamar, satu

murid Siauw-lim mempersilahkan A Bin segera pergi ke

kamarnya, ketua Siauw-lim-pay tidak meminta A Bin

tinggal lebih lama di ruang itu, maka A Bin langsung

menuju kamarnya.

Keluar dari ruangan itu, A Bin berpapasan dengan Hongtai,

tampak roman muka Hong-tai sedang gembira, dia

ingin menyapa, namun muka Hong-tai sekejap berobah

dingin dengan mempertahankan keangkuhan seorang gadis

dia langsung membalikkan tubuh merubah arah jalan.

A Bin di bikin jengkel oleh tingkah Hong-tai, dengan lesu

diantar oleh murid Siauw-lim ke satu kamar yang asri di

tengah halaman, murid Siauw-lim itu berkata:

Dewi KZ 328

“Ruangan istirahat ini disiapkan untuk tuan Lui, silahkan

masuk!”

Terbangun dari kebimbangan tadi, A Bin melirik suasana

di sekeliling kamar, ternyata kamar A Bin dipisahkan

dengan kamar orang lain, kamarnya berdiri sendiri, yang

paling kiri dekat kamar A Bin berupa kamar tertutup rapat,

kemungkinan adalah kamar kamar hweesio yang sedang

bertapa.

A Bin merasa heran, entah apa maksud tuan rumah

sengaja memisahkan kamarnya dengan orang lain, apa ada

maksud baik atau lain, A Bin tidak banyak bicara, dia

masuk ke dalam kamar, terlihat kamar sangat sederhana,

tetapi jendela dan perlengkapan kamar terawat bersih, satu

bale kayu terletak di pinggir tembok dilengkapi kasur dan

selimut, meja kayu terletak di pinggir jendela ada satu teko

dan satu cangkir, A Bin berpikir dalam hati, kelihatan

pengurus biara sudah mempersiapkan segala hal bukan

putusan mendadak, melainkan terencana, kejadian tadi di

ruang rapat kemungkinan sengaja dibuat.

Berpikir sampai disini, A Bin kagum atas rencana tuan

rumah dan pimpinan panitia yang berpengalaman dalam

rencana matang sesuai dengan umur mereka yang telah

banyak makan asam dan garam, dilain itu A Bin merasa

kasihan pada jago-jago silat yang datang dari jauh dengan

sungguh-sungguh malah tidak dipercaya oleh tuan rumah,

segala sesuatunya di awasi, A Bin berhela nafas sejenak,

berpikir lagi hati orang betul betul sangat rumit dan susah

ditebak, tidak gampang untuk bergaul.

Setelah meneguk dua kali air teh, A Bin melangkah ke

pinggir ranjang dan duduk bersila di kasur mulai istirahat.

Setelah menyalurkan hawa murni ke seluruh nadi-nadi di

tubuhnya, semangat A Bin pulih kembali, dia berbaring di

Dewi KZ 329

kasur sambil memikirkan kejadian yang dialaminya, semua

seperti mimpi atau bayangan, penuh ketegangan dan gaib.

Berpikir kesana, pikiran A Bin terbawa lebih jauh, dia

memikirkan ketiga gurunya yang mempunyai ilmu sangat

tinggi tetapi tidak bisa keluar dari gua yang dingin itu,

menerima kesunyian dalam sisa hidupnya.

Kemudian dia terbayang pada ayahnya Lui-kie Lui-tocai-

thian yang perkasa, tetapi telah memperoleh nasib yang

tidak jelas, sehingga mati di puncak gunung Tiang Langit,

sampai sekarang penjelasan tentang kematiannya juga

belum tahu, bahkan dimana mayat ayah juga belum tahu.

Sebagai anak, entah dia harus berbuat apa? Baru bisa

tenang? Terpikir juga orang tua gila yang bertemu di hutan

itu, dari ucapan orang tua itu dapat dipastikan dia adalah

salah satu dari dua orang teman ayahnya, In-kiam In Tianglong

atau Giok-kiong Giok Kang-tong, dari orang gila itu

pasti bisa mendapatkan keterangan yang pasti, namun entah

kemana sekarang orang itu?

Pikiran A Bin lalu beralih pada bayangan In Hong-tai

yang membuat A Bin jatuh cinta tetapi begitu asing, dan

perubahan sifat intim dari Siau-cian pun membuat A Bin

risau, dan terpikir muka Yo-po-lo-to dan Cia Ma-lek,

teman-teman yang lain……kejadian yang dialami A Bin

beberapa bulan yang sudah lewat, seperti gelombang laut

melintas dalam pikirannya hingga jauh sekali tidak dapat

dibendung.

Sedang asyik mengingat peristiwa-peristiwa itu,

mendadak A Bin merasakan sedikit angin yang tersibak dari

baju mendekati, A Bin yang berilmu tinggi bisa merasakan

dalam lamunannya, sayang sedikit terlambat, tahu-tahu

orang itu sudah berada di depan ranjang.

Dewi KZ 330

A Bin segera bersiap-siap, dia membuka mata melihat

orang itu, ternyata dia kakek Yo-po-lo-to yang baru

dipikirkan tadi, dia masih tetap memakai baju yang aneh

dan mimik muka yang lucu dan tenang.

A Bin baru mau bicara, kakek itu dengan nada rendah

berkata duluan:

“Anak muda jangan ribut, aku tidak mau bertemu

dengan hweesio-hweesio di biara ini, kau jangan

membangunkan mereka!”

Sesungguhnya, kakek itu tidak punya rasa benci kepada

hweesio-hweesio itu, sudah menjadi kebiasaan dia selama

hidup menggunakan kata-kata lucu dan menghina.

A Bin berkata dengan suara lembut:

“Guru mencari aku pasti ada perintah?”

Yo-po-lo-to menjawab:

“Tentu saja! Siapa yang mau masuk kemari, tempat

orang botak semua berkumpul? Mungkin kau tidak tahu

bahwa Gan Cu-kan dilarikan oleh aku dari sarang Jian-kinkau?”

A Bin gembira mendengar berita itu, maka bertanya lagi:

“Guru, kau bisa menolong Gan-tayhiap dari sarang

musuh, pasti sudah tahu rahasia dalam Jian-kin-kau!”

Dengan suara sedikit menyesal, Yo-po-lo-to berkata:

“Sejak terjun ke dunia persilatan, baru kali ini aku

menemukan lawan yang agak tangguh, tadinya aku ingin

diam-diam mengawal Gan Cu-kan, menggunakan

pendekar sombong itu sebagai umpan agar aku mendapat

rahasia aliran itu. Siapa tahu, orang orang jahat itu seperti

telah diperingati oleh orang pintar mereka, memberitahukan

bahwa murid Jian-kin harus hati-hati, karena di belakang

Dewi KZ 331

Gan Cu-kan pasti ada orang lain yang mengintai, maka

mereka membuat beberapa cara mengelabui mataku,

membuat aku pun tertipu, sehingga Gan Cu-kan betul-betul

jatuh ke tangan mereka!”

A Bin telah mendengar cerita kejadian yang menimpa

Gan Cu-kan tadi siang, maka berkata pada guru:

“Guru bagaimana cara menolong Gan Cu-kan keluar

dari bahaya?”

Yo-po-lo-to memperagakan mimik muka yang lucu

berkata:

“Selama hidup aku belum pernah dipermainkan orang

lain, kejadian itu membuat aku marah besar, setelah

memeras otak dengan teliti, setengah bulan kemudian aku

menemukan pendekar sombong itu di satu tempat rahasia.

Waktu ditemukan, dia sudah berobah jadi orang dungu,

beruntung ilmu dia tidak hilang, waktu itu dia menganggap

aku musuhnya, sehingga kita bertarung, setelah

menggunakan beberapa cara baru dia dapat kulumpuhkan,

tapi murid-murid Jian-kin menggunakan kesempatan ini

untuk kabur, saat aku menggeledah tempat itu, ternyata

sarang sementara mereka tidak ada siapa siapa lagi,

sehingga tidak dapat keterangan apa apa. Kemudian aku

mengantarkan pendekar sombong ini ke Sian-jiu-kim-cin

Oey Hu-sung untuk berobat, baru dia bisa sadar kembali

dan bisa datang ke biara Siauw-lim.”

A Bin dengan muka murung berkata:

“Tetapi pendekar sombong itu sekarang sedang dalam

keadaan bahaya karena dilukai orang dengan jarum racun!”

Yo-po-lo-to tidak terkejut atas ucapan A Bin, malah

minta A Bin bersiap pergi dan berkata:

Dewi KZ 332

“Cepat, aku akan membawamu melihat sesuatu yang

mengejutkan!”

A Bin sambil merapihkan baju berkata:

“Apakah guru menemukan sesuatu yang sengaja diatur

oleh Kian Ih Taysu dan memisahkan aku dan orang lain.”

Yo-po-lo-to sambil tertawa memuji A Bin:

“Anak muda! Kau pintar juga, bisa menebak isi hati

orang lain, tetapi mungkin kau tidak tahu, mereka sangat

curiga padamu, mengira kau sebagai mata-mata dari Jiankin-

kau!”

Mendengar berita itu A Bin sangat gusar, segera

bertanya:

“Apa betul?”

Yo-po-lo-to memberi isyarat tangan agar A Bin jangan

berbicara lagi, mengajak A Bin menyelinap keluar kamar.

Tengah malam, suasana biara ratusan tahun itu sangat

sunyi, kakek ini mengatakan tidak mau masuk ke dalam

biara, tetapi hafal sekali jalan-jalan di dalam biara ini, dia

menuntun A Bin melalui jalan kiri belok kanan, hingga tiba

di sebuah bangunan loteng yang tinggi.

Yo-po-lo-to menunjuk bangunan tinggi itu berkata:

“Mereka yang menamakan diri sebagai orang penting,

sedang berada di kamar atas ‘Ruang penyimpan an kitab’,

dengan posisiku, tidak pantas aku mendengarkan

pembicaraan mereka, kau saja yang mendengarkan mereka

cerita apa saja!”

A Bin ingin sekali mengetahui hal tersebut, maka segera

mendekati bangunan tinggi itu, melirik sekeliling, langsung

meloncat naik ke atas pohon tinggi di pinggir banganan itu,

Dewi KZ 333

belum juga melihat jelas orang-orang di dalam bangunan,

sudah terdengar satu suara yang tidak asing lagi buat A Bin.

A Bin sangat terkejut, karena suara itu keluar dari mulut

pendekar sombong Gan Cu-kan yang telah terluka parah

oleh jarum beracun. Suara itu terdengar baik sekali seperti

orang biasa saja.

0-0dw0-0

BAB 6

Ruang penyimpanan kitab

A Bin memandang dari kejauhan, melihat dengan jelas

bahwa Gan Cu-kan tampak sehat sekali, dia sedang duduk

di dalam sambil mengibaskan kipasnya, sama sekali tidak

ada tanda-tanda terluka, dalam kamar itu terlihat juga Kian

Ih Taysu, Soat-song Cinjin dan Coa-sim-cu-kat Cukat

Hiang.

Terdengar suara gembira dari Gan Cu-kan yang

berbicara:

“Orang jahat yang melepaskan jarum beracun itu tidak

akan menduga bahwa aku mempunyai ‘Batu Giok Magnit’,

menahan jarum racun itu, aku berpura-pura terluka untuk

mengelabui mereka, dan selanjutnya Jian-kin-kau akan

menganggap aku sudah mati, tidak akan takut rahasia Jiankin

bisa bocor.”

Cukat Hiang mengibaskan kipasnya sambil tersenyum

memuji dan berkata:

“Gan-heng bisa menyesuaikan diri waktu kejadian,

membuat orang kagum, mata-mata Jian-kin-kau biarpun

sangat cerdik, juga tidak akan tahu bahwa lukamu adalah

pura-pura, tetapi bila dalam satu atau dua hari tidak ada

Dewi KZ 334

tindakan cepat, mereka akan curiga bahwa anda telah

tertolong oleh obat ajaib!”

Kian Ih Taysu mengucapkan kata O-mi-to-hud sambil

merangkapkan tangannya pada Gan Cu-kan dan Cukat

Hiang, berkata:

“Anda berdua sama-sama berbakat melebihi orang-orang

dulu, aku kira urusan hari ini, harap kalian berdua mencari

akal yang sempurna, aku dan Soat-song Cinjin siap

mendengarkan rencana kalian.”

Ketua Siauw-lim-pay ini bersahabat sangat baik dengan

ketua Bu-tong-pay sejak mereka masih jadi murid kedua

aliran itu, maka kedua orang itu tidak perlu kata-kata basa

basi lagi.

Cukat Hiang melirik kesekeliling ruangan, seperti masih

kuatir ada orang yang menguping percakapan mereka,

dengan suara lebih kecil berkata:

“Tamu-tamu yang datang dari segala golongan, pasti ada

mata-mata Jian-kin-kau dalam barisan mereka, anak muda

Lui itu adalah titik mencurigakan, tetapi dia bukan dari

Jian-kin-kau, aku malah curiga pada satu, dua orang,

karena bukti belum lengkap, biar pun di depan tiga sahabat

disini, aku juga minta maaf tidak mengatakan dulu.”

Ucapan itu biar agak jauh dari posisi A Bin, tetapi buat A

Bin yang sudah menguasai ilmu ‘Thian-te’, semua ucapan

Cukat Hiang terdengar jelas.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin adalah orang

terhormat, mendengar Cukat Hiang berkata begitu, mereka

pun tidak ngotot ingin tahu lebih jelas, malah pendekar

sombong Gan Cu-kan masih dengan kata penasaran

berkata:

Dewi KZ 335

“Tentu, jika Cukat Toako masih menyelidik, dengan

mata jeli anda maka kedua orang mata-mata itu akan

menampakan diri mereka!”

Cukat Hiang berkata sambil tertawa:

“Bukan aku sengaja menyimpan rahasia, maaf-kan aku

berterus terang, bahwa biara Siauw-lim detik ini pun sudah

tidak aman, aku takut di sebelah tembok ada kuping yang

mendengarkan, jadi rahasia itu sementara tidak dibocorkan

dulu!”

Soat-song Cinjin berbicara:

“Gan-tayhiap apa bisa beritahu apa yang anda ketahui,

agar kita bisa merencanakan bertindak!”

Gan Cu-kan berkata dengan sungguh sungguh:

“Betul juga, aku ingin menceritakan segala masalahnya,

minta pendapat kalian bertiga yang berpengalaman luas,

aku hafal ilmu Hong-sui dan perbintangan, kali ini

tertangkap oleh murid-murid Jian-kin, sepanjang dalam

perjalanan aku memperhatikan posisi dengan cara yang

bermacam-macam dan tempat terakhir, aku dititipkan di

satu bangunan model istana, aku dapat pastikan tempat itu

di antara sungai Kang-han, dan pasti di dalam kota ramai!”

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin merasa menyesal,

hanya dengan sedikit keterangan, bagaimana

menyelidikinya, tetapi kedua orang itu sudah terlatih segala

tindakannya, jadi di mukanya, mereka tidak menampakan

penyesalan.

Cukat Hiang dengan seksama mendengarkan, melihat

Gan Cu-kan berhenti bicara, segera berkata:

Dewi KZ 336

“Dengan ada petunjuk ini, maka menyelidiki sarang Jiankin-

kau sudah ada titik terang. Tetapi, bila ada tambahan

penerangan, bisa lebih bagus!”

Gan Cu-kan dengan bangga berkata:

“Tentu, aku mengalami kerugian sangat besar, mana

puas dengan hasil sedikit itu……”

Belum habis bicara, ada sesuatu yang membuat empat

orang itu segera bertindak, api lilin langsung dipadamkan,

A Bin juga sudah mengetahui ada suara dari luar gedung

berlantai itu.

A Bin memuji kewaspadaan empat orang terhormat itu,

masih bisa mendengarkan sedikit suara lain dari luar

bangunan walaupun sedang asyik ber-bicara. Dan A Bin

diam-diam menengok kearah tempat suara itu.

Bersamaan waktu A Bin melihat ke asal suara itu, dari

belakang beberapa pohon besar di halaman itu muncul

seorang kakek yang memakai baju panjang dari bahan kain

belacu, memegang sebuah batang pipa tembakau yang

terbuat dari bambu, memakai sepatu kain halus. Kian Ih

Taysu, Soat-song Cinjin, Cukat Hiang sudah mengepung

tamu tidak diundang itu, hanya Gan Cu-kan yang tidak

keluar.

Orang tua itu berpenampilan biasa-biasa saja, dari baju,

penampilan sederhana saja, tingkah lakunya juga santai,

tetapi warna mukanya menakutkan orang yang melihatnya.

Walaupun mukanya tidak jelek, tetapi di bawah sinar

terang bulan yang menyinari, tampak seperti muka orang

mati, tidak ada tanda-tanda hidup.

Kian Ih Taysu dan lain orang sudah menduga suasana

dalam biara Siauw-lim malam ini tidak biasa, selain

hweesio-hweesio tingkat tinggi bersembunyi di tempat

Dewi KZ 337

gelap, pendekar-pendekar seperti Wie Tiong-hoo dan

Shangguan Leng juga mendapat tugas mengintai dan

menghadang musuh di tempat tersembunyi, tetapi orang tua

itu bisa datang ke sisi bangunan berlantai ini dengan aman

tanpa dapat dihadang oleh orang-orang, menandakan orang

tua itu bukan sembarang orang, maka Kian Ih Taysu lebih

memperhatikan orang ini.

“Sicu siapa?” Tanya Kian Ih Taysu.

Dengan tangan memegang janggot panjang di depan

dada kakek itu tertawa dan berkata:

“Aku bepergian selalu bebas tanpa ikatan, hari ini kemari

bukan untuk sembahyang, bukan untuk minta petunjuk

dari biara, dan semula juga tidak ingin mengganggu yang

punya rumah, kenapa mesti tanya namaku?”

Tertawa kakek ini membuat muka dia makin angker dan

mengerikan, sungguh dapat dikatakan kulit tertawa namun

daging tidak berobah. (tertawa yang dipaksakan untuk

menakuti orang)

Soat-song Cinjin ikut bertanya:

“Kenapa anda tidak mau memperlihatkan muka yang

sebenarnya?”

“Aku sudah biasa begini, mana ada muka lain untuk lain

orang?”

Cukat Hiang dengan suara dingin berkata:

“Anda memakai topeng kulit, masih berani berkata

sombong!”

Kakek itu tertawa terbahak-bahak, memegang mukanya

sekali dan berkata:

“Kenapa anda bisa mengatakan aku memakai topeng?”

Dewi KZ 338

Dengan tertawa sinis, Cukat Hiang berkata:

“Topeng anda yang dipakai adalah cipta karya indah,

bila bukan orang ahli dalam pembuatan topeng, tidak akan

bisa membedakan asli atau palsu, mungkin topeng ini

buatan keluarga Buyung dari propinsi Kang-souw atau

keluarga Go dari propinsi Kwie-ciu!”

Sejenak kakek itu tercengang, kedua matanya menatap

tajam muka Cukat Hiang, lalu membuka mulut lebar-lebar

dan sambil tertawa berkata:

“Anda pasti Sin-ki-siucay Cukat Hiang, betul-betul

Peramal jitu seperti julukannya.”

Kakek itu tidak langsung menjawab pertanyaan Cukat

Hiang, tetapi dari nada perkataannya dia sudah mengakui

tebakan Cukat Hiang itu betul!

Sebelum kakek itu menjawab, Cukat Hiang sudah

mengawasi kedua jari tangan orang itu, dia telah melihat

jelas bahwa di jari manis tangan kiri kakek itu memakai

satu cincin besi hitam, maka Cukat Hiang tertawa terbahakbahak

dan berkata:

“Pesilat tinggi golongan satu dari Jian-kin-kau masih

bertindak pura-pura, apa tidak terlalu merendahkan diri

anda?”

Kakek itu tidak tahu bahwa Cukat Hiang sudah tahu

rahasia cincin yang dia pakai, dia terkejut juga sejenak dan

tertawa tanpa suara, pura-pura batuk sekali dan berkata:

“Betul, aku mendapat perintah dari ketua partai, khusus

menemui Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin, Cukat-tayhiap,

Wie-lohiap, Thi-koan Totiang dan lain lain pendekar yang

ada di biara ini, kata ketua partai kami, ‘kalian sangat

membenci pada Jian-kin-kau yang akan mengembangkan

diri, kalian memonopoli dunia persilatan, menamakan diri

Dewi KZ 339

aliran putih, tetapi menggunakan kesempatan untuk

membasmi mereka yang tidak sepaham dengan kalian,

perbuatan itu sudah tidak pantas memimpin dunia

persilatan, aku sengaja datang kemari dengan membawa

peringatan ketua partai, bila kalian masih bertindak

demikian, maka hari kiamat akan tiba buat aliran-aliran

yang menamakan diri golongan putih!”

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sebagai orang

terpelajar tinggi, mendengar kata-kata sombong dari orang

tua itu merasa marah dalam hati, tetapi mereka berdua bisa

mengendalikan diri, tidak langsung menunjukan

amarahnya.

Hanya Cukat Hiang yang balik bertanya, setelah tertawa

keras dia berkata:

“Bila begitu, apakah ketua partai anda masih ada

petunjuk buat kita orang yang dikatakan tidak tahu diri dan

tersesat?”

Kakek itu tidak memperdulikan kata sindiran dari Cukat

Hiang, dengan tatapan mata yang sadis melihat sepintas

muka tiga orang pendekar tangguh itu lalu berkata dengan

pelan-pelan:

“Ketua partai memperingatkan kalian, bukalah mata

kalian, mengetahui mana yang berisiko buat kalian, karena

situasi dunia persilatan sudah lain dengan dulu, kalian

terbilang segelintir orang yang angkuh, membohongi diri

sendiri, sebab kebanyakan orang-orang penting di dunia

persilatan sudah masuk ke Jian-kin-kau, bila kalian tidak

tahu diri, dan terus melawan arus, bagaimana bisa bertahan

lagi?”

Dengan nada enteng Cukat Hiang berkata dengan sedikit

tertawa:

Dewi KZ 340

“Silahkan terangkan, kita mesti berbuat apa, baru

dikatakan tahu diri, dan bisa menyesuaikan diri?”

Kakek itu tidak menanggapi kata kocak itu, dia berkata

dengan dingin:

“Sekarang kukatakan, kalian juga tidak akan percaya,

tetapi aliran kita selalu memberi peringatan dulu baru

bertindak dan membunuh. Bila kalian sebagai ketua partai

mewakili semua murid ikut bergabung ke aliran kita dengan

tulus iklas, aku bisa menjamin kedudukan kalian tetap tidak

berobah, malah akan lebih banyak menguntungkan…….”

Belum habis perkataan kakek itu, telah terputus oleh

tertawa sinis dari Cukat Hiang.

Cukat Hiang dengan muka marah menyindir:

“Kau pintar memikirkan jalan keluar orang lain, tetapi

lupa merencanakan jalan keluar buat diri sendiri, apakah

anda bisa keluar dari biara ini dengan selamat?”

Kakek itu berbalik tertawa sinis dan berkata:

“Aku sudah bilang, aku selalu bebas pergi kemana saja,

kalau semua orang takut dengan nama Siauw-lim, aku

malah tidak memandang demikian!”

Kian Ih Taysu tidak marah atas ucapan kakek itu, hanya

Cukat Hiang yang tersinggung, dia melangkah maju dua

kali dan menghadap pada kakek itu.

Dengan nada menakutkan kakek itu berkata:

“Kau mau bertarung denganku?”

“Kau bermulut besar, entah punya tingkat ilmu silat

tingkat berapa……”

Kakek itu tidak menunggu Cukat Hiang habis bicara,

berkata:

Dewi KZ 341

“Kau coba saja!” sambil mengangkat pipa tembakaunya,

dia memukul dengan cepat sekali.

Cukat Hiang menggunakan kipas untuk membelokan

serangan pipa itu, tetapi belum membalas.

Kakek itu tidak memberi hati pada lawannya, dia

menyerang dengan gesit dan jurusnya mematikan, Cukat

Hiang melancarkan jurus memotong dan menotok, kakek

itu terpaksa menarik kembali jurus yang sedang digunakan,

Cukat Hiang masih belum membalas satu jurus pun.

Kakek itu dengan ganas menyerang sebanyak sepuluh

jurus, mendadak dia merasakan ada yang tidak beres,

membuat dia menghentikan serangan meloncat ke pinggir,

katanya dengan dingin:

“Kenapa kau tidak membalas?”

Memang hati kakek ini ingin tahu, kenapa Cukat Hiang

menggunakan jurus bertahan, dan menyembunyikan

serangan baliknya, di saat ada kesempatan menarik kembali

serangannya, membuat dia harus berjaga-jaga atas serangan

balik Cukat Hiang, dan menyiapkan cara menghadapi

serangan itu.

Karena kekhawatirannya membuat kakek itu berpikir,

maka setelah sepuluh jurus, pertahanan batin dia mulai

goyah, sebab jurus serangan Cukat Hiang tidak dikeluarkan

dengan sungguh-sungguh, membuat dia merasakan

serangan itu sangat menakutkan.

Dalam kesempatan ini Cukat Hiang berkata:

“Kau hanya sendirian, pihakku banyak orang, bila aku

mengalahkanmu, kau tidak akan menerima. Sekarang aku

akan menerima seranganmu sebanyak tiga puluh jurus

tanpa membalas, agar kau tahu diri!”

Dewi KZ 342

Kakek itu mengeluarkan suara hidungnya, tanpa banyak

bicara, mengumpulkan tenaga dalamnya, dia bersiap

menyerang dan melukai Cukat Hiang dengan pipa

tembakaunya.

Cukat Hiang yang pintar bisa melihat mata kakek itu

bersinar terang dan kulitnya turun ke dalam, dia segera

meningkatkan kewaspadaan sambil diam-diam

memusatkan tenaga dalamnya.

Setelah kakak itu menyalurkan tenaga dalamnya ke pipa

tembakau, sambil tertawa berkata:

“Bila kau tidak mau membalas dan terluka di tanganku,

jangan menyesal!”

Cukat Hiang berkata setelah tertawa sinis:

“Kau tidak perlu memanasi, bila aku janji tidak akan

membalas seranganmu, kau boleh gunakan jurus apa saja,

bila dalam tiga puluh jurus dapat melukaiku, kau boleh

pulang dengan selamat, Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin

menjadi saksi kita!”

Dalam hati kakek itu senang, dia berpikir, ‘bila aku

menggunakan kepandaiannya yang sudah puluhan tahun

dilatih, aku bisa mendapat kesempatan memukul musuhnya

lebih dulu, lawan yang lebih tinggi juga gampang

dilumpuhkan, kau seorang pelajar tidak membalas serangan

aku, kau mencari jalan mati sendiri!’

Kakek itu sudah memperkirakan kemenangan akan ada

dipihaknya, dia pura pura tertawa dan berkata:

“Hati-hatilah, aku akan menyerang!”

Cukat Hiang tidak berani gegabah, dia segera menghirup

nafas sedalam-dalamnya, memusatkan pikiran dan

menjawab:

Dewi KZ 343

“Silahkan!”

Kakek itu segera mengangkat tangan kirinya, lima jari

dalam posisi setengah lurus dan menekuk, dengan cepat

mencengkeram dada Cukat Hiang.

Cukat Hiang tercengang sejenak melihat kakek itu

menggunakan tangan kosong menyerang, dan merasakan

hawa udara dingin yang keluar dari lima jari kakek itu,

dengan perasaan terkejut Cukat Hiang menghindar

kepinggir.

Kakek itu tertawa sinis, dan menjulurkan pipa tembakau

di tangan kanan menyerang Cukat Hiang.

Jurus itu betul-betul sadis karena dari lubang pipa itu

keluar hawa yang panas sekali yang menuju bagian dada

atas Cukat Hiang.

Cukat Hiang mengibaskan kipasnya menutup serangan

kakek itu, dia berpikir dalam hati, ‘setelah kuberi

kesempatan tidak menyerang, dia tampak meningkatkan

serangannya lebih gila…….

Belum habis berpikir, Cukat Hiang sudah mendapatkan

serangan bertubi-tubi dari kakek itu, serangan tangan kiri

yang membawa hawa dingin dan hawa panas dari pipa

menyerang alat vital Cukat Hiang.

Cukat Hiang betul-betul merasakan serangan lawannya

berbahaya dan jurusnya jarang ditemui, serangan pipa dari

segala penjuru dan hawa udara yang dingin membuat dia

kelihatan seperti tidak sanggup lagi menerima serangan itu.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin yang menyaksikan

dipinggir telah melihat gelagat kurang baik bagi Cukat

Hiang, sebab Cukat Hiang telah terkurung oleh serangan

kakek itu.

Dewi KZ 344

Melalui ilmu ‘menyalurkan suara secara rahasia’ (Coanim-

jip-bit), Soat-song Cinjin diam-diam berkata pada Kian

Ih Taysu:

“Bila terus begini, tentu saudara Cukat Hiang tidak bisa

bertahan lagi!”

Kian Ih Taysu menjawab memakai suara rahasia:

“Kakek ini telah sepuluh jurus melancarkan serangannya,

bila saudara Cukat Hiang bisa bertahan dua puluh jurus

lagi, baru boleh membalas serangan!”

Sambil beradu jurus dengan Cukat Hiang, kakek itu

terkejut juga! dalam hati tidak menyangka bahwa Cukat

Hiang bukan saja otaknya pintar, ilmu silatnya juga susah

dikalahkan, bila begini terus, sampai waktu lawan boleh

membalas, aku akan lebih repot, aku harus bisa

melumpuhkan lawan dalam sisa dua puluh jurus baru

aman.

Maka kakek itu pura-pura batuk sekali, pipa tembakau

yang dia pegang segera berobah arah, tubuhnya melingkar

ke pinggir satu kali, tangannya berbalik menyerang secara

beruntun pada Cukat Hiang sebanyak lima jurus, jurusjurusnya

bagaikan kilat dan membawa hawa udara yang

panas, menyerang organ vital Cukat Hiang, membuat

Cukat Hiang terdesak mundur lima langkah.

Setelah mendesak mundur Cukat Hiang, kakek itu

berteriak:

“Cukat Hiang, hati hati!” dan mendadak dia meloncat ke

arah Cukat Hiang.

Cukat Hiang merasakan juga jurus kakek itu sangat

berbahaya, maka dia membuka mata lebar-lebar, mukanya

berobah, dengan kewaspadaan penuh pelan-pelan

mengangkat kipasnya.

Dewi KZ 345

Dengan tubuh seperti bayangan, jurus tangannya

memukul kepala Cukat Hiang bagaikan gunung besar akan

roboh di kepala Cukat Hiang, pipa tembakaunya bersamaan

waktu menyerang Cukat Hiang

Cukat Hiang membalas dengan jurus Hui-kong-pan-cau

(Membalik sinar menerangi lawan = Artinya orang yang

menjelang mati memperlihatkan muka yang sehat dan

tenang.) sayap kipasnya pun mengeluarkan tenaga

goyangan, memaksa pipa tembaga orang tua itu tidak bisa

mendekati tubuhnya, bersamaan itu tubuhnya meloncat ke

pinggir sekitar lima kaki, hingga berhasil menghindarkan

serangan lawan.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sebagai ketua partai,

memuji kedua orang itu dengan jurusnya, serangan atau

pertahanan mereka jurusnya sangat memukau, A Bin yang

menyaksikan pertarungan itu di atas pohon pun memuji

ilmu silat Cukat Hiang.

Gerakan orang tua itu sangat cepat, walaupun dua

jurusnya tidak mengenai sasaran, pada serangan ke dua dia

memusatkan tenaganya menyerang Cukat Hiang secara

berantai.

Menghadapi musuh seperti ini Cukat Hiang pantang

mundur, dia malah maju ke depan sambil menggeser

langkah kaki ke samping dua langkah, menghindar

serangan orang tua itu, dan kipasnya menghalau pipa yang

mencoba mendekat.

Disaat kedua orang itu sedang bertarung dengan seru,

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin seperti mendengar

suatu suara aneh, mereka berdua langsung meloncat

menuju ke sebuah bayangan hitam di pinggir sambil

menggunting dari kiri dan kanan.

Dewi KZ 346

Mata A Bin sangat tajam, apalagi berada diatas pohon,

dia melihat jelas ada dua orang penyerang datang, setelah di

hadang Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin, musuh itu

berlari lagi seperti mengetahui dia menghadapi lawan berat.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin mengejar mereka dari

arah yang berbeda.

A Bin berkata dalam hati, ‘Celaka, bila Kian Ih Taysu

dan Soat-song Cinjin seperti harimau sengaja di pancing

keluar gunung, dan di tempat ini hanya ditinggalkan Cukat

Hiang menghadapi musuh berat, bila ada sesuatu siapa

yang akan membantu.

Pikiran A Bin belum berakhir, ternyata ada satu tamu

tidak di undang datang.

Tenaga dalam A Bin sudah tergolong tingkat paling atas,

pandangan mata A Bin pun lebih tajam dan cepat dari

kedua ketua partai Siauw-lim dan Bu-tong, biar pun sekejap

mata, dia sudah melihat bahwa yang baru datang itu adalah

seorang wanita berbaju putih.

Menurut peraturan dunia persilatan, pendekar yang

keluar malam pantang memakai baju putih, kerena pada

malam hari warna putih paling gampang dilihat dan susah

untuk ditutupi. Maka pesilat malam selalu memakai warna

hitam yang ketat, atau hitam agak muda, atau abu-abu

gelap.

Wanita ini sengaja memakai warna putih berlawanan

dengan aturan resmi, bukan saja baju putih, dan model baju

longgar. Tetapi dengan gerakannya yang sangat cepat

adalah orang yang kecepatannya paling hebat selama A Bin

terjun ke dunia persilatan, dalam hati A Bin memuji wanita

ini atas pilihan warna baju dan kesombongan dalam

pekerjaannya di malam hari.

Dewi KZ 347

Kenapa A Bin bisa memuji wanita berbaju putih yang

melanggar pantangan dunia persilatan ini? Karena pikiran

A Bin yang cepat menangkap maksud pemakai baju putih

itu.

Betul, warna putih bila sedang tidak bergerak memang

paling menyolok, tetapi bila sedang bergerak dalam

kecepatan tinggi malah tidak berbekas, maka penyusup

malam ini dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi,

tetap tidak mudah terlihat oleh pesilat-pesilat yang biasa.

Dan bila betul dia seorang pesilat tangguh atau

mempunyai sifat tidak mau kalah, mana mau dia lari bila

ketahuan orang. Bila tidak takut dikejar, buat apa lagi

memakai baju hitam. Wanita ini sengaja memakai baju

warna putih malah menunjukan dia bersifat terbuka dan

betul-betul tidak memandang lagi sesepuh dunia persilatan.

A Bin sedang tertegun atas penampilan wanita berbaju

putih itu, ternyata wanita itu sedang terbang menuju ruang

penyimpanan alkitab yang baru ditinggalkan oleh Kian Ih

Taysu dan lain-lainnya.

Dalam hati A bin berkata ‘celaka’, ruang penyimpanan

alkitab sekarang sedang tidak ada orang, bila wanita ini

masuk ke dalam, entah ada maksud apa? Aku yang melihat

kejadian ini, mana boleh membiarkan dia berbuat sesuatu di

dalam ruangan itu, dalam keadaan tergesa-gesa, A Bin

tanpa banyak pikir lagi, langsung turun dari pohon dengan

menendang ringan dahan pohon, tubuh A Bin bagaikan

asap masuk ke dalam ruangan itu melalui jendela.

Tempat penyimpanan kitab Siauw-lim, menurut dugaan

A Bin tentu banyak buku yang tersusun dalam rak buku,

ternyata ruangan itu berupa empat tembok kosong dan

sedikit bangku meja, tiada barang lain, berarti ruangan ini

Dewi KZ 348

hanya untuk hweesio-hweesio di biara untuk belajar dan

membaca, kitab agama yang berada di bawah bangunan ini.

A Bin masuk dalam ruangan ini tanpa suara, setelah

bersembunyi sejenak, menggunakan ilmu men dengar yang

mahir ‘Thian-tee’ (Mendengar langit), mencari tahu apa ada

suara lain, ternyata tidak ada suara apa-apa, A Bin pikir

wanita berbaju putih itu punya ilmu meringanankan tubuh

yang tinggi dan hati-hati dalam bertindak, ilmu Thian-tee

nya pun susah mengetahui keberadaan wanita itu.

Setelah A Bin berpikir sejenak, dengan kecepatan tinggi

dia menyelinap masuk ke kamar sebelah, memperkirakan

wanita berbaju putih itu sudah berada df ruangan ini,

berbekal ilmu yang tinggi A Bin tidak takut terhadap

serangan gelap, dan siap menghadapi bahaya.

Ternyata, A Bin tidak mengalami hadangan, tanpa

menghilangkan kewaspadaan, A Bin cepat melirik seisi

ruangan, ternyata ruangan ini berbeda dengan ruangan

yang pertama, disini rak buku yang berbaris terlihat penuh

dengan buku agama. A Bin pikir bila ada orang

bersembunyi di belakang rak buku, susah dilacak dengan

cepat.

A Bin ragu-ragu untuk masuk lebih ke dalam, ternyata

ada kesiuran angin dingin menyerang pinggang A Bin.

Mengingat bila menghadapi pesilat tinggi, tidak boleh raguragu

karena bisa berakibat fatal, maka waktu A Bin

mengetahui ada serangan gelap, tenaga serangan itu sudah

menyentuh baju A Bin.

Otak A Bin cepat berputar, tubuhnya tetap tidak gerak,

ternyata sapuan tenaga itu telah membuat tubuh A Bin

terpaku di tempat, seperti terkena totokan orang.

Dewi KZ 349

Bersamaan waktu itu, dari rak buku di sebelah kiri keluar

satu wanita berbaju putih, yaitu orang yang dikejar dan di

curigai A Bin tadi.

Ruangan dalam itu keadaannya remang-remang, A Bin

masih bisa melihat seluruh tubuh wanita berbaju putih ini,

hanya saja mukanya tertutup oleh kain putih yang tipis,

tetapi tatapan mata yang tajam sangat menarik perhatian

orang, ditambah potongan baju yang sesuai,

memperlihatkan wanita ini tentu sangat cantik dan elegan.

Terdengar suara wanita itu dengan nada dingin dan

menyindir berkata:

“Kau tidak secerdik yang aku kira, ilmu silatnya pun

payah, kelihatannya kau sebagai anak ayam yang baru

keluar kandang, pengalamannya sangat rendah!”

Mendengarkan suara wanita berbaju putih itu yang

menarik seperti lonceng, dari suaranya diperkirakan umur

wanita berbaju putih ini masih muda, seperti seorang anak

gadis, tetapi bicaranya pada A Bin seperti orang tua yang

sudah pengalaman, A Bin merasa tidak puas, tetapi A Bin

masih ingin mendengarkan apa saja yang akan dikatakan

wanita ini, maka A Bin masih diam tidak menjawab dulu.

Wanita berbaju putih itu melihat tubuh A Bin dari atas

sampai ke bawah tubuh, dengan terkejut berkata:

“Ternyata kau yang bersembunyi diatas pohon

mendengarkan percakapan tua bangka di ruangan

penyimpanan alkitab ini, kau pun tentu ada maksud

tertentu, ada rencana yang akan dikerjakan!”

Mendengar wanita ini salah menebak pendiriannya, A

Bin malah gembira di dalam hati, dia berpikir bila dia

sengaja berpura-pura bodoh, mungkin masih bisa

mengetahui asal usul wanita ini, dan mendapat rahasia

Dewi KZ 350

kenapa wanita ini menyerang biara Siauw-lim pada hari ini,

A Bin terkejut juga kenapa wanita ini bisa tahu A Bin

bersembunyi di atas pohon, apa dia punya indra

meneropong orang.

Maka, dengan rasa ingin tahu A Bin bertanya:

“Kenapa kau tahu tadi aku bersembunyi diatas pohon?”

Wanita berbaju putih itu tertawa seperti lonceng

berbunyi, katanya:

“Kau ingin tahu kenapa aku tahu kau bersembunyi di

atas pohon?”

A Bin memanggutkan kepala tanda benar.

Wanita berbaju putih itu tertawa sejenak, berkata:

“Ini adalah hasil dari ketelitian seseorang dalam

pengalaman terjun di dunia persilatan, rambutmu ada

tetesan air, itu adalah tanda embun basah di atas pohon,

tubuhmu tercium sedikit bau daun, dan di luar jendela di

belakangmu berdiri tadi persis ada pohon besar, semua ini

mendukung analisa aku, jadi di kemudian hari bila kau

meneliti orang harus lebih seksama, kau juga akan terlatih

kemampuan menilai orang!”

Kata yang diucapkan wanita ini biasa-biasa saja, tetapi

nada bicara mengaku sudah berpengalaman lama, membuat

A Bin tidak terima, pikir dalam hati A Bin, ‘Umurmu tidak

lebih banyak dari aku, bila di hitung kau lebih banyak

berapa tahun di dunia persilatan, dan mendapat beberapa

pengalaman, kok berani menasihati aku dengan kata-kata

sombong.

Wanita berbaju putih seperti menebak isi hati A Bin,

tetapi dia tidak membongkar rahasia hati A Bin, dia

melanjutkan perkataannya:

Dewi KZ 351

“Sekarang jawab satu pertanyaanku, kau sebagai laki-laki

harus memegang janji, kau harus terang-terangan

menjawab, jangan merendahkan martabat sendiri!”

Pintar juga wanita berbaju putih ini, kata-katanya sangat

menggugah A Bin yang masih muda belia, dengan

menggunakan martabat diri itu A Bin tahu tidak bisa

menghindar dari pertanyaan lawan, maka dengan tegas dia

berkata:

“Kau tanya saja, aku akan jawab sejelas mungkin, tetapi

sesuai janji aku hanya bisa menjawab satu pertanyaanmu!”

Wanita berbaju putih itu seperti mengetahui sedang

berada diatas angin, tanpa ragu lagi dia bertanya:

“Kau hanya jawab aku, kau dengan tua bangka itu lawan

atau kawan?”

A Bin tidak menyangka bahwa pertanyaan wanita

berbaju putih itu biasa saja, dia merasa lega dalam hati,

tetapi dia tidak suka dikuasai wanita ini, dan kesombongan

tingkahnya pada orang, maka pura-pura menjawab:

“Mereka menganggap aku musuh!”

Kata-kata A Bin adalah fakta, karena sampai detik ini,

Kian Ih Taysu dan kawan-kawannya masih belum tahu

betul seluk beluk A Bin, masih curiga pada A Bin sebagai

mata-mata musuh.

Wanita berbaju putih itu pun tidak menyangka jawaban

A Bin bisa demikian, dia tertegun sejenak, sambil tertawa

berkata:

“Dilihat sekarang, kau lebih pintar dari penilaian aku

yang kedua kali tadi. Tetapi, kata-katamu yang licik, dari

nada suaranya, kau masih belum begitu memusuhi mereka,

betulkan!”

Dewi KZ 352

Mendengar kata-kata itu, A Bin merasa tidak terima,

ternyata wanita ini lebih pintar lagi pada dirinya, dengan

kesal dia tidak menjawab.

Mengetahui perubahan muka A Bin, wanita berbaju

putih itu tertawa sebentar, lalu berkata dengan menyindir:

“Kau menganggap dirimu waspada, tetapi kau telah

membongkar rahasiamu tanpa sadar! Ternyata, kau tidak

terkena totokanku, hanya berpura-pura sementara saja,

tetapi baik juga buatku, aku menaruh harapan lebih besar

padamu, ternyata ilmu silatmu tidak rendah!”

A Bin mengetahui kenapa wanita berbaju putih itu

berkata demikian, sebab saat A Bin kesal, tidak terasa dia

mengerahkan tenaga dalamnya yang kuat, sehingga kepurapuraan

A Bin terkena totokan jadi terbongkar.

Ternyata saat tadi A Bin terkena serangan mendadak,

dari tempat gelap oleh wanita berbaju putih itu, A Bin bisa

menghindar, mengetahui lawan punya ilmu meringankan

tubuh yang tangguh, bila A Bin berusaha menghindar, dia

khawatir lawannya lari. Padahal A Bin ingin tahu siapa

wanita itu dan apa tujuannya, maka berbekal tenaga tenaga

dalam yang ampuh, dia menerima serangan itu, dan

berpura-pura terkena totokan lawannya, agar lawan keluar

dari tempat persembunyiannya.

Setelah siasatnya terbongkar, A Bin menjadi terperanjat,

pikirnya dalam hati, ‘ketinggian ilmu silatku bisa ditebak

oleh wanita itu, berarti ilmu silat wanita itu tidak lebih

rendah dariku

Menghadapi hal ini A Bin jadi serba susah, bila

menyerang dengan mendadak, wanita itu pasti sudah siap,

jadi dia tidak akan berhasil melumpuhkan lawan. Bila lepas

tangan, berarti A Bin sebagai lelaki jantan, mengalami

Dewi KZ 353

kegagalan total, kalah di tangan seorang wanita muda tanpa

nama, A Bin tidak sudi kalah!

Mengetahui A Bin malu, wanita berbaju putih itu malah

meledek dengan berkata:

“Kenapa? Seorang lelaki jantan bisa saja mengaku kalah

terhadap seorang perempuan!”

Begitu di bongkar kelemahannya oleh lawan, A Bin

bertambah marah, sejenak A Bin tidak bisa menjawab, dia

hanya bersuara hidung menyatakan marah.

Wanita berbaju putih itu tersenyum, katanya:

“Anak muda! Kau jangan menganggap aku musuh, kau

harus tahu, ketua Siauw-lim-sie Kian Ih Taysu adalah

musang tua yang susah dilawan, ditambah lagi Peramal jitu

ikut bersuara, hingga mereka ber-tambah licik. Bukan aku

sombong, aku bisa saja menerobos masuk ke dalam

ruangan penyimpanan kitab ini, tapi bila ingin keluar lagi,

rasanya tidak mudah…”

Belum habis wanita berbaju putih itu berkata, A Bin

merasa gembira dan berbalik tanya:

“Kenapa? Apalah Kian Ih Taysu telah membuat

perangkap di ruangan ini!”

Seperti mengetahui isi hati A Bin, wanita berbaju putih

itu agak marah dan berkata:

“Kau jangan senang melihat orang susah, mengharapkan

aku terkurung disini oleh tua bangka itu, aku hanya tidak

ingin bertemu mereka, karena asal usulku. Bila tidak, aku

bisa menerobos keluar lagi, siapa yang berani merintangi

aku?”

Wanita berbaju putih itu berlanjut mengatakan:

Dewi KZ 354

“Kau pun jangan selalu memikirkan yang baik saja, kau

ingin berbuat baik pada tua bangka itu agar dapat pujian.

Kau harus tahu, bila mereka mengetahui kau menerobos

masuk ke ruangan ini, kau pun akan di anggap musuh,

apakah kau bisa menjelaskan?”

Mendengar analisa wanita itu, A Bin terperanjat, katakata

wanita itu sangat masuk akal, dia sendiri pun di

anggap orang tidak jelas asal usulnya, masih susah

dibedakan kawan atau lawan, bila betul di ketahui orang

dalam ruangan ini, sungguh susah dia membela diri, punya

seratus mulut pun tidak bisa membela diri, memikirkan

sampai disitu, dalam hati A Bin merasa dingin.

Mengetahui berhasil mempengaruhi A Bin, wanita

berbaju putih itu berkata lagi:

“Anak muda! Sekarang kau mengerti! Kau tidak boleh

memandang aku sebagai musuh, malah harus bekerja sama

denganku, baru bisa keluar dari ruangan ini tanpa

meninggalkan jejak!”

A Bin mengerti kata-kata wanita itu adalah fakta, tetapi

jiwa muda A Bin yang angkuh, tidak mau menerima kalah.

Pertama kalah langkah oleh wanita ini, kata-kata sindiran

yang menyakitkan, sekarang malahan senang atas

kelemahan A Bin, maka A Bin lebih baik menanggung

risiko ternoda nama dari pada di perintah wanita ini, maka

A Bin berkata dingin:

“Kau jangan senang dulu, aku tidak perlu bantuanmu,

urusan seberapa besar pun aku akan tanggung sendiri, kau

jangan mencoba merayu aku untuk kerja sama!”

Wanita berbaju putih itu tertawa manis dengan suara

yang lebih menarik berkata:

Dewi KZ 355

“Anak muda! Adatmu sangat keras! Aku beri tahu, aku

punya cara agar kita berdua dapat keluar dari ruangan ini

tanpa diketahui identitas kita, coba kau pikir kembali, kau

sembunyi di atas pohon mendengarkan rahasia orang,

berarti kau pun masih ragu-ragu terhadap tua bangka itu,

kau jangan jengkel atas kata-kata sindiranku, sekali lagi aku

katakan adatmu terlalu keras. Sekarang aku balik bertanya,

anggap saja aku minta bantuanmu bagaimana? Apakah kau

akan menolak permintaan seorang permpuan?”

Dasar A Bin masih muda, bagitu wanita berbaju putih itu

berubah nada bicaranya dengan tenang, karena pengalaman

kurang, dia tidak enak menolak permintaan orang dengan

kata-kata halus, maka dengan kata lembut dia berkata:

“Baiklah, bila kau sungguh-sungguh minta bantuanku,

aku akan bantu! Tetapi setelah keluar dari bangunan ini,

kau dan aku sebagai lawan atau kawan, lain soal lagi!”

Wanita berbaju putih tersenyum terpaksa, berkata:

“Adatmu betul-betul keras! Baiklah, waktu, tidak banyak,

urusan belakang bagaimana nanti saja, sekarang kau harus

turut nasihatku, satu, aku sediakan jubah hweesio, kulit

kepala palsu satu set, dengan baju ini kau menyamar

menjadi hweesio Siauw-lim!”

Dengan nada curiga A Bin berkata:

“Kenapa aku harus menyamar?”

Wanita berbaju putih itu dengan tegas berkata:

“Bila kau berjanji membantu aku, harus menurut

perintah, kau sebagai hweesio palsu, satu untuk dirimu,

agar kau tidak diketahui muka aslinya oleh tua bangka itu,

dan satu guna lagi, tetapi kau pakai dulu jubah dan kulit

kepala palsu itu, baru aku bicara lagi.”

Dewi KZ 356

A Bin terdiam sebentar, dia terpaksa memakai jubah

hweesio itu lalu memasukan kulit kepala palsu juga, diraba

atas kepala ternyata botak juga.

Wanita berbaju putih itu kelepasan tertawa dan berkata:

“Ku bukan hweesio, jadi kepalamu kelihatan lebih besar,

beruntung dalam kamar gelap, mungkin masih bisa

mengelabui mereka beberapa waktu!”

A Bin di permainkan oleh wanita itu, dengan sedikit

marah berkata:

“Cepat katakan! Apa gunanya buatku, memakai baju

palsu ini?”

Wanita berbaju putih itu cepat berkata:

“Tadi aku sudah masuk lebih duluan, sudah melihat di

ruangan ini ada dua pintu, depan dan belakang, ruangan ini

tidak ada jebakan, tetapi tua bangka itu pasti menjaga pintu

keluar. Kau dan aku seperti kura-kura dalam gentong, bila

beradu ilmu sejati, kita berdua pasti bisa menerobos keluar,

tetapi karena kita berdua tidak ingin ketahuan oleh mereka,

maka harus menggunakan akal ini!”

A Bin pun berpikir, bila Kian Ih Taysu tahu dia barada

dalam ruangan penyimpanan kitab, pasti di anggap

sekelompok dengan wanita ini dan dianggap musuh, maka

dia ingin tahu apa rencana wanita ini?

Wanita berbaju putih itu melihat A Bin diam dan setuju,

dengan tertawa riang berkata:

“Kau ikut aku!”

Sambil bicara, wanita itu mengulurkan tangan yang

munggil ingin memegang lengan kanan A Bin.

A Bin tidak tahu apa maksud wanita itu, maka dengan

reflek menghindar, wanita itu berkata lembut:

Dewi KZ 357

“Kau masih tidak percaya padaku!?”

Wanita berbaju putih itu mendekati A Bin, harum wangi

dari tubuh wanita itu membuat A Bin agak mabuk, cepatcepat

A Bin menenangkan pikiran dan bertanya:

“Kita akan kemana?”

Wanita berbaju putih itu pura-pura marah berkata:

“Kau harus menurut perintahku, baru bisa keluar, bila

kau masih curiga dan tidak percaya, rencana kita akan

gagal. Sekarang hanya satu kata, kau percaya atau tidak,

katakan saja aku menjebakmu, kau berani tidak!”

Jiwa rasa ingin menang A Bin timbul, dengan dingin

berkata:

“Kau jangan banyak omong, aku ikut kau saja!”

Wanita berbaju putih itu tertawa riang, sambil

menggoyangkan pinggul yang munggil, memandu A Bin

menuju jalan sempit antara rak buku-buku, dia sama sekali

tidak takut di bokong A Bin, A Bin jadi merasa malu, dalam

hati dia berpikir, gadis muda ini begitu percaya padaku, aku

malah curiga padanya, maka dia segera mengikuti wanita

itu menuju satu sudut ruangan.

Wanita berbaju putih itu menunjuk pintu kecil yang

tertutup rapat, berkata dengan suara kecil:

“Di luar pintu ini ada satu lorong sempit, melalui lorong

itu bisa meloncat ke halaman biara, kuduga tua bangka itu

pasti menjaga kuat-kuat pintu ini, sebentar lagi aku

berusaha membuka pintu ini, dan bersembunyi di atas rak

buku, kau pura-pura terluka jatuh di lantai, memancing tua

bangka itu menghampirimu dan memeriksa, aku akan

menyerang dengan tiba-tiba dari atas, bersamaan waktu itu

kau membantu, biar bagaimana tinggi ilmu tua bangka itu,

Dewi KZ 358

juga tidak akan bisa menahan serangan kita, lalu kita

terobos keluar, pasti tidak ada masalah!”

A Bin diam saja mendengarkan penjelasan itu, dalam

hati memuji siasat wanita yang bagus ini, tetapi sifat yang

angkuh membuat A Bin tidak mau membuka mulut, dia

hanya menganggukan kepala tanda mengerti.

Wanita berbaju putih itu sangat cerdik, setiap tingkah

laku A Bin dia bisa melihat isi hatinya. Mata dia berputar

sekali, pura-pura memarahi A Bin:

“Anak muda, kau cepat berpura-pura terluka dan jatuh di

lantai, dan perhatikan saat yang tepat bila aku menyerang

mereka, jangan emosi saja padaku, nanti urusan bisa

berantakan!”

Setelah itu, wanita berbaju putih itu melayang naik ke

atas rak buku, bersembunyi di deretan rak dekat pintu,

tubuh dia yang ramping, begitu bersembunyi disana tidak

meninggalkan jejak sedikit pun.

Seluruh ruangan dalam keadaan sunyi senyap, malah

membuat A Bin agak tegang. Bila dikatakan dengan ilmu

silat dan keberanian A Bin, tiada satu pun urusan yang bisa

membikin dia takut, tapi karena A Bin terlalu emosi, lupa

akan etika dunia persilatan, akibat-nya dia sembarangan

masuk ke ruangan penyimpanan kitab ini, bila dia tidak

hati-hati dan dikenali oleh Kian Ih Taysu dan lain-lainnya,

susah untuk dia jika ingin membersihkan namanya,

sehingga di kemudian hari bagaimana dia bisa berhubungan

lagi dengan mereka?

Di saat dia sedang tegang, pintu yang terkunci itu

terbuka dengan sendirinya dari luar, A Bin melihat dari

kejauhan, betul juga di tengah pintu berdiri dua orang, satu

Kian Ih Taysu dan yang lainnya Peramal jitu Cukat Hiang!

Dewi KZ 359

Kedua orang itu pantas dijuluki petinggi dunia

persilatan, berbuat segala sesuatu tidak sembrono dan

tenang, melihat seorang rahib yang terluka di bawah,

mereka kelihatan tercengang sebentar, tetapi tidak langsung

memeriksa dulu, mata mereka berdua segera melirik sudutsudut

ruangan itu, setelah tidak menemukan hal yang

mencurigakan, Kian Ih Taysu yang peduli pada muridnya

sendiri, segera menghampiri hweesio yang terluka yang

diperankan oleh A Bin.

Cukat Hiang berteriak:

“Tunggu sebentar!”

Teriakan itu membuat A Bin terperanjat, dalam hati A

Bin terkejut bercampur kagum, memuji peramal jitu ini

betul-betul punya nama besar, apakah samaran A Bin

kelihatan oleh dia. Yang membuat A Bin terkejut adalah

akal wanita berbaju putih itu akan gagal total, dia sendiri

bagaimana bisa berlari ke luar ruangan ini.

Dalam detik tegang itu, terdengar satu suara “Bruk!” dan

dilantai segera timbul segulung asap tebal berwarna kuning

telur, hingga lima jari orang sendiri juga tidak bisa

kelihatan.

A Bin menduga ini pasti tindakan wanita itu, maka dia

langsung membuat gerakan menuju arah yang tepat

menerobos pintu yang dijaga oleh Kian Ih Taysu dan Cukat

Hiang.

Dalam keadaan remang-remang, A Bin merasakan ada

dua tekanan tenaga besar menyerang dadanya, lalu A Bin

menggunakan punggungnya menghilangkan tekanan tenaga

itu ke pinggir, A Bin tahu tenaga itu datang dari Kian Ih

Taysu dan Cukat Hiang yang terlatih mengenal suara angin

dari gerakan seseorang, sehingga bisa menyerang musuh

dalam keadaan remang-remang, A Bin tidak takut tenaga

Dewi KZ 360

gabungan mereka, dia hanya takut dikenali mukanya, maka

A Bin menggunakan dua telapak tangan menyerang balik

dua orang itu, sambil menerobos tembok tenaga dua orang

itu, agar segera mendapatkan jalan keluar.

Tetapi karena A Bin tidak menganggap mereka sebagai

musuh, maka tenaga dalamnya tidak sepenuh-nya

digunakan, dia khawatir akan melukai mereka, sehingga

nanti bisa menyesal.

Setelah bertarung beberapa jurus, A Bin merasa keadaan

tidak menguntungkan buatnya, sebab dua orang itu telah

menganggap A Bin sebagai musuh, sehingga mereka

menggunakan jurus dan tenaga dalam penuh, membalas

serangan A Bin tanpa ampun, membuat A Bin agak sulit

melarikan diri.

A Bin menduga asap warna kuning telur itu tidak akan

bertahan lama, bila dia tidak berusaha lagi, dia akan

kesulitan sendiri, maka dengan tenaga dalam yang keras

dari jurus Han-ki-coan-kang, tenaga dalam A Bin menjadi

berlipat ganda, menerjang seperti halilintar menyambar.

Begitu tenaga dalam A Bin keluar dengan hebat, dalam

hati A Bin agak menyesal karena dia khawatir melukai

mereka. Ternyata tenaga A Bin malah tidak mendapat

perlawanan berarti, ini membuat A Bin terkejut, apakah

kedua orang itu mempunyai tenaga dalam yang lebih hebat

lagi, atau tidak mau beradu tenaga secara langsung.

Tapi kemudian A Bin sadar, tentu wanita berbaju putih

itu pun menyerang kedua orang itu dari tempat

bersembunyi, sehingga tenaga dalam A Bin tidak mendapat

perlawanan yang berarti.

Menggunakan kesempatan emas itu A Bin langsung

menerobos pintu, biar pun masih mendapat tekanan tenaga

Dewi KZ 361

dari belakang oleh dua orang itu, tubuh A Bin bagaikan

anak panah melesat keluar pintu.

Di luar pintu, seperti yang dikatakan wanita berbaju

putih itu terdapat lorong panjang yang sempit, dengan

beberapa loncatan, A Bin sudah melewati lorong itu, dan

tanpa gangguan meloncat ke atas pohon di sekeliling

ruangan tempat penyimpanan kitab itu.

Pertarungan yang tadi terjadi antara Cukat Hiang dengan

kakek yang bertopeng sudah tidak ada lagi.

Begitu keluar dari tempat bahaya, segera dia

mengkhawatirkan keadaan wanita berbaju putih itu, maka

dari kejauhan melihat ke arah ruangan itu, ingin tahu

wanita berbaju putih itu sudah aman keluar atau belum.

Sejenak saja, A Bin melihat Kian Ih Taysu dan Cukat

Hiang keluar dari pintu itu dan berjalan di lorong itu

dengan lemas, A Bin memperkirakan wanita berbaju putih

itu telah aman keluar dari ruangan itu, hati A Bin jadi

senang bercampur khawatir.

A Bin menenangkan diri, marah dalam hati, bagaimana

baik wanita berbaju putih itu terhadapnya, tetapi dia

menganggap sebagai musuh semua pesilat aliran putih.

Seharusnya dia bisa memisahkan mana yang baik, mana

kawan atau lawan, agar dia tidak salah bertindak.

Maka setelah menetapkan pikirannya, mengguna kan

lindungan pohon-pohon A Bin menyelinap keluar ingin

memeriksa ruangan lain, apakah masih ada musuh lain,

hingga bisa ditangkap untuk mendapat keterangan.

Baru saja A Bin berbelok di satu sudut, dia melihat di

belakang halaman biara, api besar mem-bumbung tinggi,

kelihatannya ada musuh menyelinap dan membakar.

Dewi KZ 362

Dalam hati A Bin berpikir, ‘orang biara banyak, pasti

banyak orang membantu memadamkan api, lebih baik dia

menangkap musuh.

Terdengar suara ribut dari halaman kebakaran dan

kemudian terdengar suara perintah dari pimpinan hweesio,

memperlihatkan ketenangan hweesio-hweesio Siauw-lim-sie

yang telah terlatih baik, sehingga A Bin merasa kagum atas

biara Siauw-lim.

Sambil berlindung dari bangunan apa saja, A Bin masih

mencari sasaran, ternyata tidak ada satu pun bayangan

terlihat di matanya.

A Bin jadi ragu ragu, dia ingin mencari di tempat lain,

mendadak dari belakang sederet kamar hweesio, terbang

satu bayangan hitam seperti meteor menuju halaman luar

biara Siauw-lim.

A Bin memastikan bahwa orang itu adalah musuh, maka

dia meloncat tinggi mengejar orang itu.

Di luar biara sangat sunyi, bayangan orang tadi sudah

menghilang dari pandangan mata A Bin. A Bin terkejut

juga, siapakah orang itu sampai tidak terkejar olehnya. Dia

ragu-ragu sejenak, di lindungi pohon di luar tembok biara,

A Bin berdiri sebentar, entah mau pulang lagi ke dalam

biara atau tetap mencari musuh itu.

Sekejap, mata A Bin melihat dari satu batu besar terbang

satu bayangan hitam menuju ke arah barat, dari bentuk

tubuhnya, orang itu adalah orang yang tadi di cari A Bin, A

Bin baru sadar, orang itu sangat cerdik dan licik, begitu

keluar biara, dia berlindung dulu di belakang sebuah batu

besar, tidak berlari terus, berjaga-jaga kalau ada orang yang

membuntuti.

Dewi KZ 363

Buat A Bin dia merasa beruntung, sebab demi menjaga

agar tidak diketahui orang-orang dalam biara dan tidak

mendapat kerepotan, A Bin selalu menyembunyikan diri di

tempat yang terlindung, tindakan A Bin itu kebetulan bisa

menemukan kembali orang yang dicari. A Bin baru sadar,

orang itu sangat waspada dan licik, untuk menghindari

orang yang mengejar di belakang, begitu diluar dia tidak lari

terus, malah bersembunyi dulu di belakang sebuah batu

besar, menyelidik dulu kalau-kalau ada orang yang membuntuti.

Tindakan A Bin yang hati-hati ternyata dapat

mengelabui orang itu.

A Bin mengetahui orang itu sangat licik dan cerdik,

maka dia lebih hati-hati menjaga jarak, di biarkan orang itu

berlari agak jauh, baru mengejar dengan pelan-pelan.

Dalam sekejap mata, orang itu telah masuk dalam area

pohon pohon, A Bin ragu-ragu sejenak, lalu masuk melalui

samping, di dalam pohon-pohon yang lebat, A Bin tidak

tahu mau mengejar ke arah mana?

Tindakan A Bin yang sangat hati-hati dan tubuhnya

lincah seperti monyet, bisa berlarian tanpa mengeluarkan

suara menerobos pohon-pohon, di depan mata terlihat

sedikit terang cahaya, tidak jauh dari pandangan matanya

ada tiga hingga lima orang sedang berkumpul di lapangan,

yang berdiri di tengah ternyata wanita berbaju putih yang

pernah bersama A Bin menempuh bahaya di dalam ruang

penyimpanan alkitab.

Orang yang dikejar A Bin begitu bertemu wanita berbaju

putih itu seperti sangat takut dan hormat, dia

membungkukan tubuh memberi hormat, dan berkata:

“Kaucu……”

Wanita berbaju putih melarang dia bicara lagi, dia

berkata dingin dengan seluruh mukanya ditutupi kain putih:

Dewi KZ 364

“Sie-yan! Kau tambah tua tambah ceroboh, apa sudah

pikun, di ikuti orang malah tidak tahu!”

Orang yang dipanggil Sie-yan itu membalikan tubuh

melihat ke belakang, mukanya persis menghadapi ke arah

tempat A Bin bersembunyi, begitu melihat muka orang itu,

A Bin hampir saja berteriak, sebab orang itu ternyata adalah

Thi-koan Tojin yang telah dilumpuhkan oleh orang-orang

Jian-kin-kau hingga cacad.

Detik ini A Bin baru sadar, bahwa orang itu menyamar

sebagai Thi-koan Tojin, hweesio yang asli kemungkinan

telah dibunuh, kemudian yang palsu ini menyelinap dalam

rombongan pesilat, sebagai mata-mata Jian-kin-kau agar

mendapatkan rahasia yang diinginkan.

Thi-koan Tojin palsu itu tidak mengetahui

persembunyian A Bin, dalam keadaan bimbang dia

mendadak mendengarkan tertawa dan teriakan dari mulut

ketua Jian-kin-kau dengan kata:

“Cepat jemput tamu!”

Bersamaan perkataannya, A Bin merasakan satu tenaga

tanpa suara mendorong ke arahnya. A Bin segera

memusatkan tenaga dalamnya, maka begitu serangan

datang dia langsung bereaksi, menggunakan tenaga

lawannya dia melayang terbang persis turun di lapangan

yang berjarak sekitar satu tombak.

A Bin menggunakan tenaga lawan untuk meloncat, dia

telah mengetahui orang yang menggunakan telapak tangan

untuk menyerang mempunyai tenaga dalam tingkat tinggi,

dalam hati A Bin berpikir, bila semua orang yang

berkumpul disini semua punya tenaga sebesar itu, dia akan

kewalahan menghadapi mereka.

Dewi KZ 365

Orang yang dipanggil Sie-yan itu melihat A Bin keluar

dari persembunyian, timbul api kemarahan di kedua

matanya, seperti ingin menelan A Bin ke dalam perutnya.

Wanita berbaju putih itu malah tertawa riang dengan

suara merdu berkata:

“Bagaimana? Kau mencari aku ya? Sekarang kita jadi

kawan atau lawan?”

Ditanya begitu, A Bin tidak bisa menjawab langsung,

beberapa saat kemudian dia baru berkata:

“Aku ingin tahu maksud kalian bila kalian berlawanan

dengan Siauw-lim-pay dan Bu-tong-pay, aku tidak akan

berpangku tangan…….”

Dengan tertawa merdu wanita berbaju putih itu berkata:

“Bila aku mengakui berlawanan dengan Siauw-lim-pay

dan Bu-tong-pay! Kau akan berbuat apa? Bantu aku? Atau

bantu mereka?”

A Bin tidak menyangka wanita itu bertanya begitu,

tertegun sejenak berkata dengan tegas:

“Aku tentu membantu mereka!”

Wanita berbaju putih itu tertawa sinis, katanya:

“Kau dari Siauw-lim-pay atau Bu-tong-pay? Atau salah

satu dari partai yang lain?”

A Bin tidak mengerti apa maksud pertanyaan itu, maka

dia menggelengkan kepala sebagai jawaban.

Wanita berbaju putih itu mendesak, bertanya lagi:

“Apa kau telah mendapat persembahan dari mereka?

Atau punya hutang budi pada salah satu partai? Hingga

mesti membalas budi?”

Dewi KZ 366

A Bin menjawab dengan gelengan kepala lagi.

Wanita berbaju putih itu tertawa dingin, katanya:

“Kau bukan murid dari mereka? Juga tidak punya utang

budi? Mereka malah menganggap kau sebagai mata-mata,

kenapa kau masih mau menantang aku!”

A Bin didesak dengan pertanyaan bertubi-tubi sehingga

tidak bisa menjawab, dengan tatapan mata yang tajam

wanita itu memandang A Bin, ingin A Bin menjawab.

Timbul sebuah bayangan dalam pikiran A Bin, maka dia

balik bertanya:

“Aku pun ada pertanyaan, apa kau dari Jian-kin-kau?”

Wanita berbaju putih itu menjawab tanpa ragu-ragu:

“Betul, semua orang disini selain kau adalah orang-orang

dari Jian-kin-kau!”

Mendengar jawaban itu, A Bin terperanjat sejenak,

tanyanya lagi:

“Dimana ketua aliran kalian? Aku ingin ber-bicara

dengan dia!”

Wanita berbaju putih itu dengan dingin berkata:

“Ketua Jian-kin-kau! Ada di depan matamu!”

A Bin ragu-ragu dan terperanjat memandang wanita

berbaju putih itu, berkata:

“Kau ketua Jian-kin-kau?”

Wanita berbaju putih itu memperlihatkan mimik yang

aneh dan tetap berkata dingin:

“Betul! Aku adalah ketua Jian-kin-kau!”

Dewi KZ 367

Untuk sementara A Bin tidak bisa berkata karena

terkejut, dia tidak dapat mempercayai bahwa wanita

berbaju putih yang umurnya masih muda begini adalah

ketua Jian-kin-kau yang sadis itu, mengingat perbuatan

Jian-kin-kau yang biadab membuat A Bin timbul amarah

besar maka dengan kata-kata tegas dia berkata:

“Ternyata kau adalah ketua Jian-kin-kau yang jahat dan

biadab itu, kau masih berani bertanya padaku untuk

membantu mereka atau membantumu!”

Wanita berbaju putih berkata dengan dingin:

“Bila aku ketua Jian-kin-kau, apa tindakanmu?”

Dengan nada marah A Bin berkata:

“Kalian Jian-kin-kau membunuh orang yang tidak

berdosa, dan ingin menggunakan kekerasan untuk

menghancurkan orang-orang dari aliran putih……”

Wanita berbaju putih itu memotong perkataan A Bin

berkata:

“Cukup! Aku balik bertanya, apakah kau bisa

membuktikan mereka ‘tidak berdosa’ dosa dua kata itu

terhadap siapa?” berkata lagi sambil tertawa sinis, “Aku kira

kau sangat pintar, ternyata kau hanya bisa memutus kan

sesuatu masalah hanya dengan pandangan sepihak dan

disalah artikan. Aku tanya, apakah boleh membalas

dendam, adik membalas dendam untuk kakak, membunuh

penjahat, apa bisa dikatakan membunuh orang yang tidak

berdosa!”

A Bin berkata dengan gagah:

“Tujuh belas hweesio di biara Cu-sia, dan kemungkinan

yang telah dibunuh oleh kalian Thi-koan Tojin, bukankah

mereka tidak berdosa!”

Dewi KZ 368

Wanita berbaju putih itu berkata lagi:

“Betul! Mereka memang pantas mati, Thi-koan Tojin

adalah pembunuh kakakku, ke tujuh belas murid Cu-sia

adalah anak buat hweesio itu yang turut serta, aku

membunuh ke tujuh belas hweesio, dan hweesio tua telah

kukurung di satu tempat siap digabung dengan musuh lain

untuk menghormati kakakku di sorga, apa mereka pantas

dibunuh, apa mereka tidak berdosa!”

A Bin tidak bisa menjawab pertanyaan itu, maka berbalik

kepertanyaan lain:

“Bagaimana dengan Po Kong-hoo dan Dua tuli dari Buie-

san, apa mereka pun termasuk musuhmu?”

Masih dengan nada dingin wanita berbaju putih itu

berkata:

“Mereka bukan musuhku, kau pun bisa lihat sendiri

mereka adalah jagoan setempat yang licik, mereka telah

banyak berbuat dosa selama hidupnya, aku hanya pinjam

nyawa mereka untuk memberi peringatan pada seluruh

partai, mereka berdosa, jadi aku bukan membunuh orang

yang tidak berdosa.”

Menghadapi wanita berbaju putih yang berkata dengan

nada mendesak dan fakta yang dibeberkan, A Bin merasa

agak kewalahan, terpaksa dia mencari kata lain untuk

bertanya:

“Jadi, anak buahmu, sudi diperalat dan diperintah

olehmu, tetapi di saat yang genting kau tega juga

membunuh mereka untuk menutup mulut, apa mereka pun

pantas mati!”

Wanita berbaju putih itu tertawa mendengar ucapan A

Bin, katanya:

Dewi KZ 369

“Bagaimana? sudah habis kata-kata yang ingin kau

ucapkan, sekarang kau tidak akan menyentak aku

membunuh orang yang tidak berdosa, mengatakan harus

atau tidak, terus terang agar kau mengerti! Orang orang di

aliranku, kebanyakan orang orang yang terlalu banyak

berbuat kejahatan, mati buat mereka tidak jadi soal, saat

bersumpah masuk ke Jian-kin-kau, mereka bersedia

berkorban untuk partai, dan tidak akan menolak, maka,

agar rahasia Jian-kin-kau tidak bocor, bila perlu membunuh

mereka di saat genting untuk memenuhi sumpah mereka,

jadi bukan mati sia-sia.”

Mendengarkan kata-kata wanita itu, A Bin menganggap

kata-kata itu tidak masuk norma-norma hidup manusia,

tetapi masuk akal juga, wanita ini biar licik dan jahat, tetapi

punya pandangan lain dari orang biasa, maka untuk sejenak

A Bin tidak bisa bertanya lagi.

Wanita berbaju putih itu berkata panjang lebar:

“Kau harus tahu, kau menganggap Siauw-lim-pay dan

Bu-tong-pay yang menyombongkan diri sebagai golongan

putih, apakah tindakan mereka semua betul? Coba pikirkah

dengan teliti, apa mereka pernah melepaskan musuhnya,

mengampuni musuh, apakah senjata dan kepalan mereka

pernah kasihan pada musuhnya? Asalkan ada yang

merongrong kewibawaan mereka? Mereka membikin aturan

sendiri, kata mereka itu aturan dunia persilatan, bila ada

orang berbuat sesuatu di luar aturan mereka, mereka

menuduh orang itu aliran sesat, dan menjadi musuh

kelompok aliran putih dan siap membasmi orang-orang itu,

dan mereka menghukum orang yang berlainan pikiran, dan

mengasingkan aliran lain, apakah ini dinamakan membela

kebenaran, menjun jung tinggi aliran dunia persilatan, bila

ada orang lain berbuat hal yang tidak sama dengan mereka,

mereka di cap jahat dan berbahaya untuk dunia persilatan,

Dewi KZ 370

maka mereka bergabung untuk membasmi orang-orang itu,

apakah kau bilang perbuatan mereka betul dan masuk

akal?”

A Bin sebenarnya sangat pintar, namun pengalamannya

masih hijau dan pengetahuannya pun sangat sedikit, lebihlebih

dalam pengetahuan mengenai hubungan golongan

partai-partai di dunia persilatan, dia tidak jelas, A Bin

hanya melihat berdasarkan apa yang dilihatnya baru

memutuskan bagaimana bertindak, setelah dikupas dengan

jelas oleh wanita berbaju putih itu, pandangan baik

terhadap partai-partai putih menjadi goyah, tetapi A Bin

tetap tidak setuju tindakan wanita itu yang melawan tata

krama yang lazim, namun A Bin menaruh salut pada

wanita itu atas kepintaran dan pengalamannya, yang

membikin A Bin tidak mengerti adalah kenapa banyak

murid-murid Jian-kin-kau begitu hormat pada wanita ini,

sudi diperintah, mereka diam semua waktu dibilang orangorang

jahat dan pantas dibunuh, sama sekali tidak marah.

A Bin sedang bingung berpikir, terdengar suara merdu

dari wanita berbaju putih itu dengan kata:

“Hai, anak muda, kenapa tidak tanya lagi? Apa sudah

tunduk padaku, setuju atas pandanganku!”

Sejah bertemu wanita berbaju putih itu, A Bin selalu

kalah berdebat dengan lawan yang pintar dalam kata kata

dan memojokan, harga diri A Bin terganggu, begitu

mendapat pertanyaan lagi, A Bin mengerutkan alis mata,

bertanya dengan terpaksa:

“Kau bilang membalas dendam atas orang tua dan

kakakmu, apa betul fakta itu?”

Mata wanita berbaju putih itu terlihat api dendam,

dengan suara sedih berkata:

Dewi KZ 371

“Bila kau tidak percaya, lain hari boleh selidiki kejadian

sepuluh tahun lalu, saat itu di dunia persilatan ada dua

jagoan dari marga Kou, riwayat mereka bagaimana? Bila

kau sudah tahu jelas baru bisa percaya bahwa kata-kataku

hari ini adalah betul!”

Melihat wanita itu sedih, A Bin diam sejenak, lalu

bertanya dengan serius:

“Dan kedatanganmu di biara ini untuk apa?”

Wanita berbaju putih itu dengan mata bersinar, nada

suara berobah sadis dan berkata:

“Dua jago dari marga Kou adalah ayah dan kakakku,

mereka hanya biasa berbuat seenaknya, tapi tidak sekejam

yang dikatakan orang-orang yang menamakan dirinya

golongan putih, tetapi oleh mereka marga Kou itu dicap

musuh bersama, mereka mengumpulkan jagoan dari semua

partai, mendesak ayah dan kakakku menyingkir kemanamana,

dan tidak dapat hidup tenang, dan akhir kata

kakakku dibunuh oleh kepungan Thi-koan Tojin dan

puluhan murid-muridnya, ayahku dikepung dalam satu gua

gunung terlantar, tidak sudi dipermalukan, akhirnya

tertangkap dan bunuh diri, maka pada hari ini aku

menggunakan kesempatan semua jagoan berkumpul disini

untuk membasmi mereka semua, dan selanjutnya memburu

sisa-sisa murid mereka, itu adalah rencanaku mendirikan

Jian-kin-kau, kau mengertikan!”

Mendengarkan rencana wanita berbaju putih yang jahat

itu, tubuh A Bin terasa dingin, segera berkata:

“Mereka tidak semua musuhmu, pasti ada yang tidak

berdosa, kau ingin membunuh semua, apa tidak

keterlaluan!”

Wanita berbaju putih itu berkata dengan sinis:

Dewi KZ 372

“Kenapa kau berkata begitu, aku berbuat sesuka hatiku,

dan saat ayah dan kakakku dibunuh, apakah ada orang

berusaha minta mereka jangan membunuh!”

Mengetahui wanita berbaju putih itu bernada sombong,

seolah-olah seluruh jagoan di biara Siauw-lim berada dalam

genggaman tangannya, dan berniat membunuh semua

orang, hati A Bin jadi makin berat, tetapi A Bin berpurapura

tidak percaya akan hal tersebut, dengan sinis bertanya:

“Kau sendiri yang bermulut besar, apakah anak buahmu

yang demikian bisa membunuh semua jagoan dalam biara

Siauw-lim?”

Wanita berbaju putih itu tidak segera menjawab, hanya

melirik A Bin dengan sepasang mata yang jernih, melihat

muka A Bin penuh pertanyaan, dia merasa tidak tega juga,

maka berkata dengan dingin:

“Anak muda, kau meremehkan kemampuanku, biarlah,

bila sekarang kau tidak akan percaya,’sebentar lagi fakta

akan berbicara, kau pasti percaya!”

Sejak berdekatan dengan wanita berbaju putih itu, A Bin

tahu wanita ini mempunyai pikiran lebih tinggi dari orang

lain, dan hati dia sangat dengki, kata-kata yang diucapkan

bisa dilaksanakan, maka A Bin segera berkata:

“Bila kau akan membasmi semua orang di biara Siauwlim,

aku siap menjadi musuhmu, dan aku segera pulang ke

biara menunggu kedatanganmu!”

Habis berkata A Bin ingin membalikan tubuh, tapi dia

merasakan ada sebuah tenaga menyapu dari belakang tubuh

ke arah punggungnya.

Begitu merasakan serangan mendadak ini, dan merasa

berada dalam kurungan musuh, A Bin telah mempersiap

kan diri, biarpun tenaga serangan itu tanpa bersuara, tetapi

Dewi KZ 373

bagi A Bin dia sudah siap menolak serangan itu, maka A

Bin membalikan telapak tangan memukul balik serangan

itu, lalu tubuhnya berdeser ke samping dengan gesit.

Belum sempat melihat serangan itu datang dari orang

mana, sudah ada tiga musuh menggunakan senjata

mengeroyok A Bin. Dalam kurungan musuh A Bin

menduga mereka adalah pesilat tangguh dari pihak lawan,

maka A Bin tidak berani gegabah, menggunakan kedua

tangan sebagai pedang, dia memusat tenaga dalam

menghadapi ke tiga musuhnya.

Salah satu lawan mengayunkan sebilah golok berlapis

emas dengan jurus Pek-san-ciu-bo (Membelah gunung

menolong ibu) menghantam kepala A Bin.

A Bin menghindar serangan ini dengan bergeser ke

samping sekitar lima kaki, tetapi satu lawan lainnya

menggunakan satu pecut dari urat naga menotok A Bin

dengan cepat, ujung pecut yang berkepala naga dari bahan

emas berkilauan sambil membawa suara yang memecahkan

udara.

A Bin menggunakan angin dari jari tangan kiri membuat

sebuah tusukan angin seperti pisau tajam mengunci pecut

yang datang, tenaga aneh yang menahan gerakan pecut

membuat lawan ini tidak berani beradu tenaga, dengan

menggoyangkan lengan kanan-nya, dia menarik kembali

pecut urat naga itu.

Lawan ke tiga dengan pena baja menyerang A Bin

dengan jurus Keng-hong-li-wei (Burung Hong terkejut lari

dari rumput danau) menotok dada depan A Bin, A Bin

menutup serangan itu dengan gelombang tenaga dari

telapak tangan kanan. Orang ketiga itu segera menarik

kembali pena bajanya, menggetarkan tangan kanan,

membuat sejalur sinar putih dengan cepat menyerang A

Dewi KZ 374

Bin, ternyata tangan kanan orang ini menggunakan sebuah

palu yang di ikat rantai, senjata itu bisa dipegang di tangan

sebagai senjata juga bisa dilepaskan sebagai senjata rahasia,

membuat lawan susah menghindar.

Menghadapi serangan itu, A Bin berteriak sekali, tangan

kanan yang dibalik dirobah menjadi telapak, dengan penuh

tenaga dalam memotong dari samping, jurus A Bin yang

tadi turun ke bawah segera di balik ke atas menutup

serangan lawan, tindakan A Bin yang merobah jurus

dilakukan pada saat yang sangat genting karena

keselamatan jiwanya terancam.

Serangan balik A Bin penuh dengan tenaga dalam hingga

mengeluarkan suara berciutan, terpaan angin dari telapak A

Bin menghantam tali perak yang digunakan orang ketiga

itu, rantai emas yang mengikat palu itu segera putus

menjadi dua bagian, palu yang masih bunyi tersebut

meluncur melalui pinggir kuping A Bin. ‘

A Bin tahu ilmu yang digunakan tadi menggunakan

tenaga sepenuhnya, tetapi tidak menduga tenaganya bisa

begitu dahsyat sehingga bisa memotong emas seperti tanah.

Saat A Bin tercengang atas tenaganya sendiri, dua lawan

lain menyerang lagi dari dua arah, orang ketiga juga balik

menyerang lagi dengan pena bajanya.

Ketiga orang yang setaraf dengan pesilat nomor satu

tetap tidak mudah melumpuhkan A Bin, A Bin yang

mengetahui tenaganya terlalu hebat, tidak berniat melukai

lawannya, dia hanya menggunakan kedua jurus telapak

tangan menghadapi tiga orang yang membuat gelombang

tekanan di udara, dan jurus A Bin yang diselipkan dalam

serangan telapak tangan memaksa tiga musuh mundur

untuk menghindar, bagi A Bin melawan tiga musuh adalah

pekerjaan ringan.

Dewi KZ 375

Wanita berbaju putih yang melihat dari pinggir,

mengetahui tiga anak buah dia tidak bisa menaklukan A

Bin, segera dia memberi isyarat pada orang yang berdiri di

pinggir, berkata pelan:

“Pau-it, kau bantu mereka!”

Orang yang diperintah itu segera meloncat dan berteriak,

menggunakan kedua kepalan berturut-turut menyerang A

Bin sebanyak empat pukulan.

Orang yang dipanggil Pau-it itu tenaganya sangat kuat,

jurus kepalannya menimbulkan gelombang keras,

menerbangkan pasir-pasir yang diatas tanah.

A Bin yang berencana melukai salah satu dari tiga orang

musuh, mendapat serangan dari orang baru itu, merasakan

satu tenaga yang menekan dadanya, A Bin merasa terkejut,

berpikir pembantu-pembantu Jian-kin-kau betul-betul sangat

kuat, orang kuatnya terlalu banyak, sedang dia hanya

sendiri bila tidak segera mengakhiri pertarungan dengan

jurus ganas, akan sangat merugikan, maka setelah Pau-it

menyerang empat jurus, A Bin menghindar ke pinggir,

dengan tangan kanan menggunakan jurus Ya-hwee-siauthian

(Api liar membakar langit.) tangan kiri dengan jurus

Tong-lai-ci-kie (Di timur datang udara ungu) membuat

sekeliling tempat bertarung timbul arus angin yang dahsyat

menerjang empat musuh A Bin.

Wanita berbaju putih itu segera berteriak:

“Berhenti…….”

Empat orang yang menyerang A Bin mengikuti perintah,

segera menarik jurus masing-masing, berhenti di tempatnya.

A Bin menjadi tercengang, tidak tahu apa arti dari

teriakan itu, dia pun turut berhenti bertarung, tetapi tetap

menjaga diri.

Dewi KZ 376

Dengan tertawa riang wanita berbaju putih itu berkata:

“Ilmu yang bagus, melawan empat orangku kau masih

bisa mengalahkannya, punya kepandaian yang begini bagus

buat orang yang seumurmu, atau yang lebih tua pun sulit

mencarinya, sayang kau kurang cerdik dan waspada, hanya

mengandalkan keberanian darah muda, mana bisa

memimpin dunia. Contohnya, kau melawan kita dengan

jurus keras melawan keras, ini adalah ulah yang bodoh, bila

kita memakai sepuluh orang melawan kau sendiri dengan

cara bergilir, akan membuat kau kehabisan tenaga, terakhir

akan lemas dan tidak bisa melawan, apalagi kita masih

punya senjata rahasia yang maha dahsyat untuk

melumpuhkan pesilat-pesilat kuat, bila senjata itu

digunakan, biarpun kau punya ilmu sangat tinggi, juga tidak

bisa menghindar dan akan mati.”

Mendengar kata kata itu A Bin menjadi marah, dia

berkata dengan keras:

“Kau jangan terlalu sombong, biar kau punya banyak

orang dan senjata rahasia yang maha dahsyat pun tidak bisa

melawan aku, dan bila aku melawan dengan keras, entah

berapa banyak anak buah mu akan mati di tanganku!”

Wanita berbaju putih itu tersenyum berkata:

“Betul, karena itu aku perintahkan mereka berhenti, agar

aku bisa merundingkan sesuatu dengan mu, kukira kau

tidak perlu bertarung mati-matian untuk orang-orang yang

tidak hubungannya denganmu, aku pun tidak mau

menghabiskan tenaga menghadapi-mu, sebab kau bukan

sasaran kita. Dan yang penting, selama ini aku berbuat

sesuatu dengan cara sadis, jarang menaruh perhatian baik

pada orang lain apalagi mengalah, setelah bertemu

denganmu, aku bersabar tidak mau melukaimu, tapi kau

jangan salah paham bahwa aku takut padamu!”

Dewi KZ 377

A Bin tidak menyangka wanita berbaju putih itu berkata

demikian, dia jadi terdiam, hingga sementara dia tidak bisa

bicara.

Wanita berbaju putih itu merubah nada bicaranya

dengan lebih ramah, katanya:

“Anak muda, aku bisa menduga dari adatmu pasti tidak

mau masuk ke golonganku, aku pun tidak ingin orang

seperti kau masuk ke lingkungan kita, sekarang kau harus

dengar nasihatku, segera tinggalkan tempat bermasalah ini

dan turun gunung, semua orang dalam biara telah dikepung

oleh kita, tiap waktu bisa jadi setan, tenagamu sendiri sudah

tidak dapat membantu mereka lagi!”

Dalam hati A Bin bergetar mendengar kata-kata itu, dia

tahu-kata wanita itu bukan gertakan kosong, dan

A Bin tidak ingin membiarkan para pendekar di biara

berada dalam bahaya, maka dengan suara lantang berkata:

“Bila kau tetap menjalankan perbuatanmu, aku pasti

berusaha mencegah dan bermusuhan denganmu!”

Wanita berbaju putih itu berkata dengan dingin:

“Kau tidak mau turut nasihatku, berarti kau cari

masalah, aku sudah bilang tidak akan menahan kau disini,

tetapi kau harus pegang janji, kau tidak boleh menceritakan

apa yang kau ketahui disini kepada para tua bangka itu, dan

satu lagi, kau harus ingat betul, bila kau mendengar tiga kali

suara dari terompet, kau harus pergi dari biara Siauw-lim

sejauh setengah li dalam waktu lima belas menit, bila tidak

kau mencari jalan mati sendiri!”

Setelah mendengar kata wanita berbaju putih itu, A Bin

tidak ingin tinggal disana lagi, dia ingin kembali ke biara

Siauw-lim, maka dia memberi salam kepada wanita itu dan

berkata:

Dewi KZ 378

“Terima kasih atas perlakuanmu, nanti kalau bertemu

lagi, kita akan berhadapan sebagai teman atau musuh, lihat

saja nanti!”

Sikap wanita berbaju putih itu berobah, dengan suara

sedih berkata:

“Bila kau mau mendengar nasihatku, kita bisa bertemu

lagi, bila tidak, selamanya tidak akan bertemu.”

Bersamaan itu dari luar seseorang berlari menghampiri

wanita berbaju putih itu, berkata:

“Lapor pada Kaucu! Hu-kaucu memberi tugas padaku

agar melapor pada ketua, bahwa wakil ketua dan beberapa

ketua ranting telah menyelesaikan tugas yang diberikan

ketua dengan sempurna…….”

Mata wanita berbaju putih itu bersinar terang, dengan

isyarat tangan menghentikan ucapan orang itu, dan

melototi A Bin berkata:

“Kau harus ingat, mendengar tiga kali suara dari

terompet, segera keluar dari biara Siauw-lim, kau jangan

bandel, bila tidak……”

A Bin segera memotong ucapan wanita itu:

“Aku menerima baik keinginanmu, tapi aku punya

putusan sendiri, aku pamit!”

Sebelum A Bin pergi, seorang yang berdiri di samping

wanita berbaju putih itu berkata:

“Ketua harus tegas memutuskan, bila orang ini pulang ke

biara Siauw-lim, dan membocorkan rahasia kita, sia-sia kita

punya rencana bagus!”

Wanita berbaju putih itu dengan tegas berkata:

Dewi KZ 379

“Aku telah mengabulkan dia pergi, mana boleh

menyesal, dan aku percaya dia adalah seorang yang tidak

akan melanggar dan merusak janjinya!”

A Bin dengan salam pamit dan berkata:

“Kau jangan khawatir, bila aku sudah berjanji tidak akan

melanggar, tetapi jika dalam biara Siauw-lim aku bertemu

orang-orang kalian, aku akan menganggap mereka musuh,

dan aku tidak akan memberi ampun!”

A Bin membalikan tubuh, segera menyelinap ke dalam

hutan, wanita berbaju putih itu dan orang-orangnya betul

juga tidak mengejar A Bin, sehingga A Bin dalam sekejap

mata sudah tiba di depan pintu biara.

Waktu A Bin sampai di pintu biara, di depan pintu telah

berdiri empat hweesio yang berjubah putih, masing-masing

memegang tongkat besi dan singkup logam menghadang A

Bin.

A Bin segera berkata:

“Aku tadi keluar dari biara mengejar musuh, sekarang

ada berita penting untuk dilaporkan pada ketua Siauw-limpay,

izinkan aku masuk biara!”

Empat hweesio itu tidak mengenal A Bin, semua

membentangkan senjata menghalangi jalan A Bin, salah

satu hweesio dengan suara keras berkata:

“Kita mendapat perintah dari ketua! Tiap orang sebelum

mendapat izin dilarang masuk, bila tuan ada urusan, harap

tunggu guru pengurus datang, dan menyampaikan pesan

tuan kepada ketua Siauw-lim-pay.”

A Bin mengetahui wanita berbaju putih itu telah

merencanakan sesuatu, segera akan menyerang biara

Siauw-lim, sampai detik itu A Bin masih belum mengetahui

Dewi KZ 380

sedikit pun keterangan itu, hal demikian membuat A Bin

risau ingin cepat bertemu ketua Siauw-lim-pay, tetapi bila

dia memaksa masuk ke dalam, pasti ber-selisih dengan

empat hweesio itu, hal demikian akan menambah kesalah

pahaman, maka A Bin membalikan tubuh, menyusuri

tembok biara menuju ke belakang, memilih satu tempat

yang tidak diawasi oleh penjaga biara, meloncat ke atas

tembok.

Ketika tubuh A Bin masih di udara, di atas tembok

mendadak muncul dua hweesio dengan tongkat

menghadang dan berteriak:

“Siapa? Berani sekali masuk ke biara Siauw-lim!”

A Bin tetap tidak ingin menerobos dengan kekerasan, dia

memutar tubuhnya lagi menuju tempat lain, berganti

beberapa tempat, tapi di atas tembok selalu ada hweesio

yang menghadang, ternyata, seluruh biara telah siap dalam

keadaan darurat.

Bagi A Bin waktu tidak banyak, bila terlambat tidak bisa

menbongkar rencana jahat Jian-kin-kau, maka A

Bin memutuskan menerobos masuk dan memilih satu

tempat untuk diloncati, tubuh A Bin masih di atas udara dia

mendapatkan dua hweesio dengan senjata di tangan

menghadang.

A Bin menyerang dua hweesio itu dengan dua kali

ayunan telapak tangan, terdengar rintihan dari kedua

hweesio itu, tubuh mereka terdorong dan tidak bisa

bertahan di atas tembok, hingga jatuh ke bawah.

Kaki A Bin segera mendarat di tembok itu, satu kali dan

melayang turun ke tanah.

Begitu A Bin berdiri di tanah, hweesio-hweesio yang

berjaga di dalam halaman langsung menghadang A Bin,

Dewi KZ 381

kelompok hweesio ini dari empat penjuru menyerang A Bin

dengan tangan kosong.

A Bin segera membalas dengan dua kali pukulan telapak

tangan menahan serangan kelompok hweesio, lalu dengan

menggunakan tenaga lawannya A Bin meloncat ke atas

melewati mereka dan menuju bagian tengah biara, lalu

giliran kedua kelompok hweesio menyerang bersamaan

sambil berkata O-mi-to-hud, satu arus angin pukulan yang

keras menghantam tubuh A Bin.

Ternyata serangan hweesio-hweesio itu berbeda satu dan

lainnya, ada yang menggunakan perubahan kepalan dan

telapak tangan, ada gabungan tenaga dalam menyerang,

agar lawan tidak bisa menebak jurus mereka.

Hampir saja A Bin tertipu oleh jurus-jurusnya, dia segera

menghimpun tenaga dalamnya, di atas udara disalurkan ke

dalam dua telapak tangan untuk menghadang tenaga dalam

gabungan hweesio-hweesio itu, ilmu warisan gurunya dan

saluran tenaga dalam dari gurunya membuat tenaga dalam

A Bin sangat kuat, biar pun kelompok hweesio itu

menggabungkan tenaga dalamnya pun tidak bisa melawan

A Bin.

Tubuh A Bin hanya turun sedikit di udara, tetapi

kelompok hweesio yang menyerang pada jatuh di tanah, A

Bin segera lari menuju pusat biara.

Terdengar suara baju tersibak angin mendekati A Bin,

tiga kelompok hweesio datang menyerang, serangan mereka

lain lagi, mereka menyerang dari dua sayap, kepalan dan

telapak tangan saling berganti, A Bin mengerutkan alis

sejenak berteriak sekali, dua tangan membagi tenaga

menghadang musuh dari dua arah, tubuhya tetap maju ke

depan, berdiri di tempat sekitar satu tombak.

Dewi KZ 382

A Bin sekaligus membongkar pertahanan tiga kelompok

hweesio, berdiri di tempat baru, kelompok hweesio yang ke

empat menyerang dengan jurus berantai dan lain-lain jurus.

A Bin menembus tiga rintangan kelompok hweesio, dan

maju lebih dari dua tombak, hati A Bin tetap risau, dia

berpikir, Kian Ih belum memperlihatkan ketangguhan

ilmunya, tetapi murid-muridnya punya dasar tenaga yang

kuat, pantas bisa ternama dalam kalangan dunia persilatan,

kekuatan kelompok-kelompok hweesio merupakan

kekuatan yang tidak bisa diremehkan, tetapi bila Jian-kinkau

menggunakan akal licik, banyak hweesio pun percuma

bila diserang secara sembunyi-sembunyi, bila aku melayani

mereka terus-menerus, waktunya akan tersia sia, lebih baik

dia dengan cara cepat menuju pusat Siauw-lim-sie dan bisa

bertemu Kian Ih, baru saja ingin memusatkan tenaganya

menyerang kepungan hweesio, terdengar dua kali suara Omi-

to-hud, kelompok hweesio-hweesio itu menghentikan

serangannya, masing-masing mundur ke tempat semula.

Ternyata, pengurus biara Siauw-lim Hong Ie Taysu

sudah muncul.

A Bin sangat gembira, segera berteriak:

“Hong Ie Taysu! Murid-murid Siauw-lim-sie salah

paham padaku!…….”

Muka guru besar Hong Ie seperti diselimuti salju dingin,

tidak menunggu A Bin habis bicara, dengan tertawa sinis

berkata:

“Mereka tidak salah paham, ini adalah perintah ketua

Siauw-lim-pay, mencegah sicu masuk ke biara dengan

sembarangan, sicu dengan kekuatan sendiri leluasa

menerobos pertahanan Siauw-lim hingga empat lapis,

kepandaian sicu boleh dibanggakan. Sayang di luar sicu

Dewi KZ 383

bermuka jujur, tetapi di hati busuk, sudi jadi antek

gerombolan……”

Dengan suara keras A Bin membela diri:

“Taysu! Semua ini salah paham, tadi aku mengejar

musuh hingga keluar biara, sekarang masuk kembali, ingin

memberi peringatan pada ketua Siauw-lim-pay.”

Dengan suara marah guru besar Hong Ie berkata:

“Kau jangan bersilat lidah, kau ingin bertemu ketua kami

hanya ada dua jalan, satu jalan menerobos pertahanan

barisan Lo-han, satu lagi kau menyerah sambil menunggu

putusan setelah kami selesai meng-usir musuh, tetapi,

pinceng terus terang mengatakan, sicu telah menerobos

masuk ke dalam biara, ingin keluar lagi, tidak semudah

menurut keinginan sicu!”

A Bin terpaksa berteriak:

“Taysu! Kau jangan terpaku oleh perintah ketua dan

mencelakakan semua nyawa di dalam biara ini!”

Hweesio itu nada tidak percaya, berkata dengan tegas:

“Hanya dua jalan itu, tidak ada kompromi!”

A Bin menjadi lebih risau dalam hati berkata, ‘bila aku

menurut kata hweesio ini menyerahkan diri menunggu

waktu di sidang, bukankah akan memberi peluang bagi

Jian-kin-kau melaksanakan rencana jahatnya, kelihatan

hanya dengan ilmu yang sungguh-sungguh aku baru bisa

menerobos lagi

Maka A Bin dengan kata terpaksa berkata:

“Taysu tidak memberi kesempatan bagiku bicara,

maafkan aku berbuat kasar!”

Dewi KZ 384

A Bin memusatkan tenaga dalam di kedua tangan,

mendorong kedua telapak tangan menuju tubuh Hong Ie

Taysu yang telah siap juga menerima serangan A Bin,

terdengar satu suara keras “Bung!” dan kedua orang itu

bersamaan mundur satu langkah.

Hong Ie Taysu menarik nafas sekali, menggerakan

tulang-tulang tangan kanan hingga menimbulkan suara

yang menakutkan, lalu kakinya melangkah maju setengah

langkah siap menerima pukulan A Bin yang kedua kali.

Begitu kedua pukulan kembali beradu, lantai tanah pun

bergetar, A Bin mendadak berteriak, menggunakan tenaga

dorongan Hong Ie Taysu, tubuh A Bin melayang ke atas,

menuju ruangan pertemuan di pusat biara.

Barisan Lo-han dari Siauw-lim-sie dirancang khusus

dengan diam mengunci gerakan, dan digerakan sangat

cepat, di atas udara A Bin melihat ada tanah kosong untuk

mendarat, tapi begitu tumit kakinya mendarat ditanah itu,

satu tenaga tidak terlihat telah menyerang dadanya.

A Bin melayani serangan itu sambil melihat asal

datangnya tenaga itu, yang membuat A Bin terkejut disana

telah terkumpul sekelompok hweesio yang berdiri

berdampingan, sambil menyerang dengan telapak tangan

kanan, jaraknya masih sejauh satu tombak, tetapi tenaganya

bisa mencapai tubuh A Bin, A Bin segera mengambil

keputusan, ingin mengacaukan barisan Lo-han tu.

Beradulah dua tenaga, A Bing sambil berteriak,

melayangkan sebelah telapak tangannya menyerang bagian

kanan, bersamaan tangan kiri menyerang bagian belakang.

Tenaga gabungan hweesio-hweesio itu yang beradu

tenaga dengan A Bin jadi menghilang di alihkan oleh

tenaga A Bin.

Dewi KZ 385

Tetapi secara bergantian hweesio-hweesio itu maju lagi,

sekarang kelompok baru dari barisan belakang menyerang

A Bin dengan tenaga gabungan.

A Bin berpikir dengan cepat, kalau berduel dengan cara

begini, dia tidak akan bisa bertemu dengan ketua Siauwlim-

pay, sebab dia khawatir melukai orang, dia tidak berani

mengeluarkan tenaga penuh.

Setelah berpikir begitu dia mencari cara untuk keluar dari

kepungan itu, maka setelah A Bin memusatkan tenaga

menghilangkan tenaga musuh, segera dia meloncat ke

udara, loncatan A Bin setinggi tiga atau empat tombak,

mata A Bin di udara melihat ketua Siauw-lim-pay dan ketua

Bu-tong-pay sedang melihat pertarungan hweesio-hweesio

mereka melawan A Bin dalam jarak dua bangunan lagi,

karena jarak agak jauh, A Bin masih tidak bisa langsung

menghadap mereka.

Di udara mata A Bin juga melihat gerakan Lo-han-tin

yang sangat hebat, hweesio-hweesio itu sedang mundur

teratur secara kilat namun langkah mereka tidak bersuara.

A Bin melihat tidak ada satu ruangan kosong untuk

berpijak, jika A Bin bergerak menuju sasaran tertentu,

mereka menuju kesana juga. Dalam tubuh A Bin yang akan

turun pelan-pelan, A Bin melihat mata hweesio-hweesio itu

sama sekali tidak ada satu orang pun yang melihat ke arah

dia, A Bin segera bergerak membalikan rubuh dengan

kepala di bawah kaki di atas, tangan memukul bahu salah

seorang hweesio.

A Bin sengaja tidak memukul kepala botak hweesio itu

karena kasihan, sebab pukulan A Bin bisa menghancurkan

kepala hweesio itu, arah pukulan A Bin ke bahu hweesio itu

juga bisa membuat orang itu patah tulang, A Bin terpaksa

Dewi KZ 386

berbuat demikian karena ingin menolong semua nyawa di

biara.

Dugaan A Bin ternyata meleset, hweesio yang di pukul

itu malah tidak apa apa, A Bin mendadak sadar, guna besar

barisan Lo-han ada di bagian saling terpadu tenaga

hweesio-hweesio itu untuk bersama-sama menerima

pukulan musuh, jadi tenaga seorang hweesio sama dengan

tenaga satu kelompok, maka seorang hweesio itu selamat

tanpa cidera.

Tapi tenaga gabungan hweesio-hweesio itu sangat

berguna buat A Bin, dengan memanfaatkan dorongan

tenaga itu A Bin terbang menuju ruangan pusat.

Kelompok hweesio-hweesio itu segera merubah barisan

mengejar laju terbang A Bin, tetapi percuma saja, sebab A

Bin sudah lari jauh, maka mereka berhenti.

A Bin terbang di udara beberapa tombak, dan menambah

tenaga di udara sekali, sesudah berada di atas lapangan

ruang pusat, mata A Bin melihat hweesio yang berjaga

hanya sedikit, kemungkinan sudah ditugas kan ke beberapa

tempat.

A Bin membiarkan tubuh turun dengan santai di tanah

kosong sekira dua tombak di depan ketua Siauw-lim-pay

Kian Ih Taysu yang didampingi Soat-song Cinjin, pendekar

dari sungai Hoai Sangguan Leng, dan Hun San-kiau dari

gunung Kun-lun.

Karena tahu mereka salah paham terhadapnya, maka A

Bin mendahului berkata:

“Hong-tiang, izinkan aku berbicara dulu dan

menjelaskan…….”

Dewi KZ 387

Pendekar dari sungai Hoai berwatak jujur namun

ceroboh, mula-mula sangat hormat pada A Bin, sekarang

malah marah dan putus asa, dia berkata dengan marah:

“Orang yang licik dan munafik, tidak perlu dikatakan

lagi, aku akan menghajar kau dengan tulang tua bangka

ini!”

Sesungguhnya, Sangguan Leng tahu ilmu silat A Bin

jauh lebih tinggi dari pada dia, tapi karena tidak tahan

emosi, maka dia ingin melawan A Bin biar pun nyawanya

melayang, maka begitu menyerang, jurus yang digunakan

adalah jurus andalan dari perguruan yang dinamakan Samtan-

in-gwat (Tiga kali mencetak bulan) dengan cakar yang

seperti besi menyerang dada A Bin sampai menimbulkan

tiga bayangan cakar tangan.

Mengetahui serangannya sangat kuat, sedang kedudukan

orang tua ini setingkat dengan Kian Ih Taysu dan Soat-song

Cinjin, maka A Bin menggunakan telapak tangan

menyerang dari samping, bersamaan itu tubuh A Bin

melesat ke samping, bagi A Bin yang menguasai ilmu

tinggi, dia mampu menahan serangan sadis dari Sangguan

Leng.

Serangan pertamanya tidak berhasil, Sangguan Leng

dengan berteriak berkata:

“Bajingan, kau ingin lari kemana!”

Tubuh Sangguan Leng terbang ke udara, bagaikan

bayangan mengejar ke depan A Bin, dia mengeluarkan lima

jarinya mencakar kepala A Bin.

Sepintas A Bin melihat pusat tangan Sangguan Leng

yang berwarna merah darah dan berhawa panas dari tangan

orang tua ini, A Bin mengetahui orang tua ini

menggunakan ilmu andalan lainnya.

Dewi KZ 388

Kedua ilmunya ini telah melambungkan nama besar

Sangguan Leng, yang pertama jurus tangan Sam-tan-ingwat

dan kedua ini jurus Ci-eng-jiauw (Cakar elang merah).

A Bin mempunyai Han-kie-sin-kang, mana mungkin

takut pada ilmu Ci-eng-jiauw, tetapi A Bin menilai

Sangguan Leng adalah orang tua yang jujur, karena salah

paham dia jadi bertindak ganas pada A Bin dan

melancarkan ilmu mematikan, bila A Bin betul-betul

membalas, orang tua itu pasti sudah terluka parah, maka A

Bin tidak berani beradu tenaga langsung.

A Bin memusatkan tenaga dalam, dengan sedikit

tekanan pada ujung kaki, menggunakan ilmu meringankan

tubuh yang sangat tinggi, dia terus menghindar dari

serangan musuhnya, kecepatan gerak A Bin sangat

mengagumkan

Jurus Sangguan Leng terus-menerus meleset dan tapi dia

tidak mengeluarkan jurus lain, Soat-song Cinjin dengan

suara seperti naga bernyanyi, berteriak:

“Bibit jahanam, kau berilmu tinggi, tetapi sayang

tersesat, aku bertekad membersihkan hawa silumanmu

dengan pedang pembasmi iblis ini!”

Sebagai ketua Bu-tong-pay, ilmu pedang Soat-song

sangat ampuh, tubuhnya bergerak bagaikan anak panah

terlepas dari busur, bayangan kuning berkelebat, tubuh

Soat-song Cinjin sudah di depan A Bin, menyerang dengan

jurus pedang Tok-liong-can-wan (Naga beracun melilit

pergelangan tangan.).

A Bin menggunakan tangan sebagai pedang, tangan kiri

dengan jurus Ceng-im-cut-tong (Awan hijau keluar goa)

arus angin dari pedang tangan A Bin setajam pedang asli

juga dengan cepat memotong lengan kanan Soat-song

Cinjin, serangan A Bin merobah posisi bertahannya.

Dewi KZ 389

Melihat A Bin bisa menggunakan tangan menggantikan

jurus pedang dan sangat dahsyat, Soat-song Cinjin sangat

terkejut sekali, dia segera menarik kembali pedang dan

berbalik menyerang, dalam sekejab mata sudah menyerang

tiga jurus pedang berturut-turut.

A Bin menggerakan tubuh menghindar serangan pedang

dari Soat-song Cinjin, berkata dengan cepat:

“Totiang, biarkan aku bicara dulu, urusan ini

menyangkut nyawa seluruh hweesio dan para pendekar

disini, harap kau tahan emosi marah sebentar!”

Soat-song Cinjin malah marah berkata:

“Bibit iblis! Masih muda tetapi licik, sampai detik ini

masih ingin menipu orang, kau anggap kami anak kecil!”

sambil menyerang A Bin dengan tusukan pedang sebanyak

tiga kali.

A Bin terpaksa menggunakan tangan kanan menutup

serangan Soat-song Cinjin, tangan kiri menggunakan jurus

pedang tangan See-thian-cau-seng (Perjalanan suci ke langit

barat) memancarkan cahaya yang kuat.

Soat-song Cinjin merasa ada tekanan dari tangan A Bin

datang dari segala penjuru, bagi dia yang mahir dalam ilmu

pedang, dia tahu bahwa jurus ini adalah jurus paling tinggi

dalam ilmu pedang, untuk sementara dia tidak tahu

bagaimana harus menghadapi-nya, maka dia hanya

menggoyangkan tubuh mundur sebanyak lima kaki.

A Bin berhasil mendesak mundur Soat-song Cinjin,

pendekar Hun San-kiau dari Kun-lun dengan cepat maju ke

depan A Bin dan melancarkan jurus Sui-man-kim-san (Air

menggenangi gunung emas), orang ini mempunyai tenaga

dalam tinggi, dengan bersuara keras kepalannya menyerang

dada A Bin.

Dewi KZ 390

A Bin takut melukai pendekar ini, maka tubuh-nya

menghindar ke samping dengan jurus pedang tangan

menyerang Hun San-kiau.

Hun San-kiau menggunakan kepalan tangan kanan,

melawan dengan jurus Tui-san-tia-hai (Merobohkan gunung

mengisi laut), jurusnya menimbulkan angin pukulan yang

kencang, dan tangan kiri menggunakan jurus cengkraman

mencakar tangan kanan A Bin.

Tangan kiri A Bin dengan jurus pedang tangan Han-yanti-

ie (Walet dingin mencabut bulu) menutup jurus

cengkraman Hun San-kiau, tubuh A Bin bergeser ke

samping sedikit, menghindar serangan lawan, dan tangan

kanan A Bin dengan jurus Sam-seng-coan-gwat (Tiga

bintang mendekati rembulan), menciptakan tiga bayangan

telapak tangan, memaksa Hun San-kiau mundur dua

langkah, A Bin segera menyerang lagi, tenaga tangan

kirinya membantu mendesak Hun San-kiau mundur kedua

kalinya, dalam sekejab Hun San-kiau terdesak mndur tiga

tombak.

Tiba-tiba telinga A Bin mendengar satu suara O-mi-tohud

yang keras dari belakang, membuat telinga A Bin ikut

mendengung, dan satu angin yang kencang menuju lengan

A Bin, A Bin tahu bahwa ketua Siauw-lim-pay Kian Ih

Taysu sudah turun tangan, maka A Bin menggunakan ilmu

warisan gurunya Ceng-liong-jiauw (Cengkraman naga),

dengan lima jarinya mencengkram tangan Kian Ih Taysu.

Kian Ih Taysu melihat A Bin bisa begitu cepat bereaksi,

segera menarik tangan kembali, namun tulang lengan sudah

terkena sapuan ujung jari A Bin.

Melihat tangan Kian Ih Taysu hanya terkena sapuan, A

Bin memuji Kian Ih Taysu yang berlimu tinggi, segera

berkata:

Dewi KZ 391

“Harap Taysu berhati welas asih, berikan waktu untukku

bicara!”

Tapi wajah Kian Ih Taysu tetap sangat dingin dan

dengan dingin berkata lagi:

“Sicu! Kau sangat pintar berpura-pura, mulai hari ini aku

tidak berani mengatakan aku punya kemampuan bisa

melihat muka orang lagi, kau mau bicara apa lagi?” habis

bicara, dia menyerang A Bin lagi.

A Bin tidak bergerak di tempatnya, hanya menggerakan

tubuh atasnya sedikit, menghindarkan serangan telapak

tangan Kian Ih Taysu, balik menyerang satu pukulan dan

dua totokan, memotong dua jurus lawannya, ketika punya

kesempatan dia berkata lagi:

“Taysu! Kau harus berpikir cepat, Jian-kin-kau segera

akan menyerang, di saat itu semua nyawa di biara menjadi

terancam, kau akan menyesal!”

Kian Ih Taysu yang didesak mundur oleh A Bin, menjadi

semakin marah setelah mendengar kata-kata A Bin,

sahutnya:

“Sicu masih bandel demikian rupa, sampai detik inipun

masih berani berkata mengancam, bila bukan olehmu,

apakah tindakan Jian-kin-kau akan berhasil!”

Setelah berkata, Kian Ih Taysu menyerang tujuh delapan

jurus berturut-turut.

A Bin menggunakan telapak tangannya menutup semua

serangan Kian Ih Taysu, sekarang dia menyesal kenapa dia

kembali ke biara untuk memberi kabar, dia seperti terjebak

dan tidak berpeluang untuk membongkar siasat Jian-kinkau,

dia menyayangkan Peramal jitu Cukat Hiang tidak ada

di tempat itu, sehingga menutup kemungkinan bagi A Bin

bisa berbicara.

Dewi KZ 392

Pada waktu bersamaan, tidak jauh dari biara terdengar

suara terompet sebanyak tiga kali, yang nada bunyinya

sangat sedih seperti irama mengantar orang mati, Kian Ih

Taysu terperanjat, dan A Bin ingat pesan yang beberapa kali

diucapkan wanita berbaju putih itu, dalam hati dia berkata,

“Celaka!”, keringat dingin tidak berasa bercucuran.

0-0dw0-0

BAB 7

Serangan besar-besaran

Pikiran Kian Ih Taysu terganggu sebentar, setelah

mendengarkan suara terompet yang sedih itu, dia

melanjutkan serangan yang dahsyat pada A Bin. pada detik

ini A Bin pun tidak punya pikiran untuk menjelaskan lagi

pada Kian Ih dan Soat-song, dia hanya ingin keluar dari

kepungan mereka, dia ingin berusaha dengan tenaga sendiri

mencegah serangan Jian-kin-kau, maka A Bin menyerang

Kian Ih Taysu dengan tiga jurus telapak tangan dan empat

kali tendangan kaki.

Kian Ih Taysu jadi terdesak mundur oleh serangan A

Bin, Sangguan Leng yang menyaksikan duel itu di pinggir,

melihat A Bin berniat melarikan diri, dia berteriak:

“Melawan orang yang licik dan berbahaya ini, kita tidak

perlu memakai tata krama dunia persilatan lagi, kita samasama

menangkap dia dulu!”

Maka Sangguan Leng menggunakan cakarnya

menyerang punggung A Bin, A Bin menghindar ke

samping, menghindari sepasang cakar Sangguan Leng,

malah mendekati Kian Ih Taysu, pura-pura akan

menyerang sebetulnya ingin melarikan diri keluar.

Dewi KZ 393

Kian Ih Taysu berkata:

“O-mi-to-hud, pinceng tidak akan membiarkan kau lari!”

sambil menyerang dengan dua telapak tangan.

A Bin tidak punya waktu untuk memutar tubuh-dan

merasakan ada satu tenaga besar mendorong tubuhnya,

dalam hati A Bin berpikir, pasti ini serangan dari Kian Ih

Taysu yang paling tinggi ilmu silatnya.

A Bin segera menjatuhkan tubuh ke kiri, seperti roboh ke

tanah, saat tubuh A Bin hampir mencapai tanah, ujung kaki

A Bin segera menekan tanah, hingga tubuh A Bin berbaris

diatas muka tanah melesat seperti anak panah.

A Bin dalam detik itu menggunakan ilmu meringankan

tubuh yang hebat, yang belum ada orang yang mampu

melakukannya, membuat Kian Ih, Soat-song Sangguan

Leng dan Hun San-kiau sangat terperanjat, mereka ingin

mengejar A Bin yang sudah berada di tempat sekitar empat

tombak.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin adalah orang yang

beriman tinggi, tetapi masih tidak bisa menahan rasa malu,

maka berdua berucap O-mi-to-hud, lalu membuka lengan

jubah yang lebar menggunakan angin untuk terbang seperti

elang, segera mengejar A Bin dari kiri dan kanan seperti

ingin menggunting A Bin.

Orang yang berilmu tinggi itu menggunakan ilmu tingkat

atas betul betul-hebat, maka dapat mengejar A Bin hanya

berjarak satu lengan saja.

A Bin tidak melihat ke belakang, tetapi dari suara angin

mengetahui ada dua orang kuat mengejar, pasti Kian Ih

Taysu dan Soat-song Cinjin, A Bin tidak takut, hanya

khawatir bila terkejar oleh mereka! Akan menghabiskan

Dewi KZ 394

waktu lagi, dan saat peringatan dari terompet itu akan

habis.

Dalam keadaan tergesa-gesa, A Bin memutuskan berlaku

sedikit keras, maka dia mengeluarkan dua buah potongan

golok yang dililitkan di pinggang dan melihat ke belakang

sejenak, lalu A Bin dengan tenaga ayunan melemparkan

dua senjata itu sebagai senjata rahasia, sebab A Bin tidak

punya senjata rahasia untuk mencegah Kian Ih dan Soatsong.

Lemparan A Bin cepat sekali, dan dua orang pengejar itu

tidak tahu sifat dari senjata rahasia A Bin, maka tidak

berani sembrono untuk memukul jatuh, mereka hanya

berkelit menghindar senjata rahasia A Bin itu.

Pertarungan jago tingkat tinggi, waktu sedetik pun

menjadi masalah penting, tindakan A Bin tadi berhasil

menahan lawan mengejar sejenak, maka dia segera

meloncat terbang jauh, sekejap mata sudah hampir

memanjat tembok biara.

Tetapi A Bin tidak menyangka bahwa di bawah kakinya

ada hembusan angin yang mendekat dan menangkap dua

kaki A Bin yang belum siap mengganti nafas untuk berbuat

lain.

Karena A Bin sedang memusatkan perhatiannya

menghadapi lawan di belakangnya, dia jadi melupakan

barisan Lo-han yang berlapis di dalam biara, baru saja A

Bin naik ke tembok langsung ada dua orang yang

menangkap kakinya.

Dalam hitungan detik, pikiran A Bin berputar seperti

roda, bila dia tidak mau melukai orang ini, bisa hilang

kesempatan yang berharga, maka A Bin segera menjulurkan

kedua tangan menangkap pundak kedua hweesio itu,

menekan dengan tenaga dalam sambil memusatkan tenaga

Dewi KZ 395

di kedua kaki sambil berteriak, kemudian tubuh A Bin

membungkuk ke belakang, dengan kedua kaki yang

dipegang hweesio menjejakan kakinya ke dada kedua

hweesio itu, pada detik yang genting itu, serangan Kian Ih

Taysu dan Soat-song Cinjin pun bersamaan datang

menyerang kepada A Bin.

A Bin memperkirakan jurusnya cukup cepat, bisa

melumpuhkan kedua hweesio yang di bawah dan ada

waktu menghadapi serangan dua orang lainnya.

Masalah kembali timbul bila tendangan A Bin tidak

mengerahkan tenaga penuh, dia tidak dapat meminjam

tubuh orang ini dan mengganti jurus, bila mengerahkan

tenaga penuh, kedua hweesio itu akan mendapat cedera

atau mati.

A Bin tidak ingin berbuat kejam terhadap hweesio dari

biara Siauw-lim.

Karena keragu-raguan A Bin, saat dua hweesio yang di

bawah mengeluh kesakitan dan jatuh ke tanah, bersamaan

itu pula pukulan Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sudah

mendarat di tubuh A Bin, sehingga tubuh A Bin terpukul

terpental sampai beberapa tombak jauhnya.

Sebetulnya Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin melihat

A Bin tidak mau melukai dua hweesio yang memegang

kakinya, saat mereka ingin menghentikan serangannya

namun sudah terlambat, mereka hanya bisa menggeserkan

arah serangannya sehingga serangan mereka akhirnya

mendarat di bagian tubuh A Bin yang tidak mematikan.

Karena tidak ingin melukai orang, akhirnya A Bin tidak

bisa memusatkan tenaga dalam untuk menjaga diri, dua

pukulan dari kedua guru besar itu membuat jantung A Bin

mengalami goncangan hebat, membuat dada A Bin terasa

sesak dan darah terasa bergejolak.

Dewi KZ 396

Pada saat itu, terdengar dua suara perempuan yang

berteriak terkejut, dua bayangan hitam seperti elang datang

mendekati A Bin.

Satu suara yang terdengar cemas bertanya:

“Lui-ko, apa kau terluka?”

Ini adalah suara In Hong-tai yang nada suaranya penuh

perhatian terhadap A Bin.

Satu suara lagi mengecam tindakan Kian Ih Taysu dan

Soat-song Cinjin dengan berkata:

“Kalian betul-betul mencelakakan dia!”

Itu suara Giok Siau-cian yang juga sama-sama khawatir

atas keselamatan A Bin.

Ucapan dari kedua gadis itu membuat kedua orang guru

besar dari dua partai besar itu merasa malu.

Bersamaan waktu itu di luar biara terdengar suara musik

dari alat bambu yang biasa mengeluarkan suara indah dan

merdu, tetapi sekarang berobah menjadi suara yang tidak

enak didengar dan menusuk kuping dan jantung, sebab

suara musiknya seperti gorila atau setan berteriak-teriak,

suara yang terdengar tengah malam ini bukan saja

membikin bulu kuduk berdiri, malah membuat orang seperti

berada dalam suasana kematian.

A Bin segera memaksakan tubuh berdiri dan berteriak:

“Itu suara Jian-kin-kau yang akan mulai menyerang!” dia

masih memperhatikan keselamatan semua orang di biara,

sehingga segera berlari keluar.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sudah tidak curiga

lagi pada A Bin, meski pun tidak mengerti betul apa

maksud bantuan A Bin, tetapi yang jelas A Bin bukan dari

Jian-kin-kau.

Dewi KZ 397

Maka kedua ketua partai besar itu saling berpandangan,

bersama-sama mengikuti A Bin menyambut musuh yang

datang.

Hong-tai dan Siau-cian lebih percaya pada A Bin, juga

lebih mengkhawatirkan keadaan A Bin yang terluka, maka

mereka berdua lebih cepat berlari di kiri dan kanan A Bin

persis seperti mengawal A Bin.

Mereka meloncat tembok menembus halaman biara,

sepanjang jalan hweesio-hweesio disana sudah tidak

menghadang lagi, maka dalam waktu singkat, kelima orang

itu sudah berada di pintu depan biara Siauw-lim.

Pengurus Siauw-lim Hong Ie Taysu mendampingi Jit Ie

dan anak buah sebanyak sepuluh orang yang terpilih

menjaga pintu masuk biara.

Hong Ie Taysu melihat kedatangan A Bin diikuti oleh

ketua partai, dia memperkirakan A Bin sekarang bukan

musuhnya lagi, mula-mula dia merasa terkejut juga, segera

menghampiri A Bin, memberi salam dan berkata:

“Tadi aku ceroboh menghadangmu, harap dimaafkan!”

A Bin tidak memperdulikan basa basi Hong Ie Taysu, dia

hanya menganggukan kepala, lalu mata A Bin melirik ke

hutan di bagian barat.

Di belakang tubuh A Bin, ketua Siauw-lim-pay memberi

perintah kepada hweesio penjaga pintu agar lebih waspada.

Bersamaan waktu suara musik yang berupa suara setan

itu berhenti, dari bagian barat hutan mendadak keluar

sebaris orang-orang yang berbaju merah, kurang lebih dua

puluh orangnya, mereka men-dekati pintu biara sekitar lima

tombak, lalu mendadak meloncat seperti burung besar dan

berpencar menjadi dua bagian membentuk dua barisan.

Dewi KZ 398

Berikut satu baris orang berbaju perak juga sekitar dua

puluh orang, berpencar menjadi dua baris, berdiri di depan

orang-orang baju merah tadi, namun posisi mereka berdiri

di tengah antara dua orang baju merah. Sehingga tampak

warna perak dan merah, dan pandangan orang-orang baju

merah tidak terhalangi.

Barisan ketiga bagaikan bintang meledak, secara

bersamaan meloncat delapan orang baju emas dan berdiri di

depan dua puluh orang baju perak.

Semua murid-murid Jian-kin yang berjumlah empat

puluh delapan orang, mereka masing-masing memakai

kedok muka yang sama warnanya dengan baju mereka,

hanya sembilan puluh enam mata berwarna hitam yang

terlihat dari kedok muka itu.

Hweesio-hweesio Siauw-lim-sie telah mengalami banyak

pertarungan dan banyak menghadapi musuh, menghadapi

musuh di depan mata yang memakai baju serba aneh,

setelah menaruh sedikit rasa terkejut, berkat latihan yang

teratur, maka muka semua hweesio pun dingin seperti

patung batu, tidak kelihatan isi hati di mukanya, mereka

juga seperti berkedok kulit orang.

Barisan lawan berlanjut terus, empat orang baju hitam

yang seperti setan gentayangan melayang-layang sebab

kedok mereka sangat menakutkan, A Bin mengetahui

mereka adalah pimpinan penting dari Jian-kin-kau,

loncatan ke empat orang baju hitam itu membuat posisi

seperti telah diatur sedemikian rupa dengan murid-murid

yang berbaju tiga warna itu, sehingga menjalin pertahanan

yang kokoh dan sulit ditembus.

Dan setelah barisan mereka tersusun, suara musik dari

alat bambu mengudara lagi melalui celah-celah pohon,

musik kali ini mulai enak didengar, seperti burung berkicau,

Dewi KZ 399

seperti serangga bernyanyi, hanya bagi orang-orang biara,

suara musik itu membuat hati mereka tergoncang, timbul

rasa sedih, kosong, jiwa menjadi turun semangat, dan

timbul sedikit hasrat untuk menuju kematian……..

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin yang begitu tinggi

imamnya turut tergoncang sejenak, mereka berpikir musik

kali ini lebih mengerikan dari musik permulaan, yang hebat

membuat orang yang men-dengarkan timbul perasaan

tunduk, dan di kuasai oleh musik gaib itu.

Maka mata mereka berdua melihat orang-orangnya,

selain A Bin dan Hong Ie, Jit Ie mempunyai dasar iman

yang kuat, semua murid Siauw-lim seperti terpengaruh oleh

musik gaib itu, sampai Hong-tai dan Siau-cian pun

kelihatan risau.

Kian Ih Taysu segera memusatkan tenaga dalam yang

terlatih selama sepuluh tahun, membuka mulut dan

bersuara O-mi-to-hud yang keras, bunyi suara guru besar itu

menembus langit, gema suara hingga mencapai lembah

gunung di sekitar biara, lama tidak berhenti.

Suara O-mi-to-hud yang keras itu menyadarkan pikiran

Hong-tai, Siau-cian dan semua murid Siauw-lim-sie yang

terlena. Mata mereka langsung mengawasi lagi barisan Jiankin-

kau.

Setelah musik tadi berhenti, keluar seorang wanita

berbaju putih dari pepohonan, melihat dia berjalan begitu

gemulai, pelan-pelan tapi cepat, mukanya ditutupi oleh kain

putih, tetapi sikapnya mempunyai kewibawaan yang

membuat orang takut, bila bukan empat baris orang yang

berbaju merah perak, emas dan hitam yang mendampingi

perempuan ini, orang tidak percaya bahwa dia seorang

pemimpin dari semua laki-laki yang berbaris itu.

Dewi KZ 400

Gerak-gerik dia yang begitu manis, tiap langkah yang

penuh puitis, orang tidak akan menyangka dia adalah

pemimpin aliran yang kejam.

Begitu wanita berbaju putih itu menampakan diri,

hweesio-hweesio yang berdiri di belakang guru besar Hong

Ie dan Jit Ie jadi tertegun, muka dua guru besar itu pun

tampak berbeda, hanya ketua partai Siauw-lim dan Bu-tong

tidak tergoda oleh kecantikan wanita itu.

Karena pembawaan sifat wanita, Hong-tai dan Siau-cian

pun melototi wanita berbaju putih itu, seperti ingin

menembus kain putih yang menutupi muka wanita itu,

ingin melihat jelas muka asli wanita itu.

Untuk ketiga kalinya A Bin bertemu dengan wanita ini,

melihat kedatangan yang begitu menawan, hati A Bin pun

sedikit tergugah, langkah kaki A Bin tidak terasa maju

sekitar lima langkah baru berhenti.

Dari tutup mukanya yang putih, wanita itu melihat A

Bin dengan mata yang dingin:

“Kenapa tidak menuruti anjuranku, cepat tinggalkan

tempat ini, apakah kau ingin mendampingi hweesiohweesio

disini ikut mati!”

Wanita ini berkata dengan sombong di hadapan jagojago

inti dari biara Siauw-lim, membuat guru besar Hong

Ie, Jit Ie dan murid-murid Siauw-lim-sie marah, hanya Kian

Ih yang tetap tenang.

Dari mulut wanita berbaju putih itu, Hong-tai dan Siaucian

mengetahui bahwa A Bin dan wanita itu sudah saling

kenal, rasa cemburu membuat mereka bersamaan

melangkah maju dan bertanya pada wanita itu:

“Kau siapa?”

Dewi KZ 401

Wanita berbaju putih itu tidak menjawab, tatapan

matanya melintas di muka Hong-tai dan Siau-cian, berkata

dengan menyindir:

“Siapa aku? Apa perlunya bertanya begitu?”

Jawaban itu sangat indah sekali, Hong-tai dan Siau-cian

di bikin tercengang, tidak bisa bertanya lagi, wanita berbaju

putih itu sambil tertawa mencemoohkan A Bin dengan

kata:

“Kukira kau tidak memperdulikan nasihatku, ternyata

kau tidak tega meninggalkan beban ikatan! Hei! Hei! Hei!

Kau rela mati, jangan menyesal!”

Biar pun wanita itu tertawa sinis, tetapi seperti logam

emas atau perak jatuh ke tanah, membuat suasana tegang

itu diliputi kekuasaan iblis.

A Bin memusatkan tenaga dalam, menenangkan hati

yang goncang dan merobah nada perkataannya yang

mendesak:

“Apakah kau telah merencanakan sesuatu yang akan

memusnahkan semua orang di biara Siauw-lim?”

Wanita berbaju putih itu tanpa ragu ragu menghampiri A

Bin, sambil tertawa sedikit berkata:

“Kenapa? Buat apa kau tanya lagi? Apakah kau ingin

minta ampun padaku demi mereka?”

Biar pun wanita itu berkata dua kalimat, nada suara

begitu menawan begitu menggoda, hati semua orang

dilapangan jadi tergoncang, kata-kata wanita itu seperti

bukan terhadap A Bin malah seperti ditujukan pada

mereka!

A Bin dengan teguh berkata:

Dewi KZ 402

“Aku tidak mungkin minta ampun padamu. Aku hanya

tidak percaya, sampai dimana kemampuanmu?”

Wanita berbaju putih itu sama sekali tidak tersinggung

malah sambil tertawa berkata:

“Kau tidak percaya? Baiklah! Aku akan membiarkan kau

hidup sendiri, agar kau melihat dengan jelas, apakah aku

betul bermulut besar!”

Ketua Siauw-lim tetap diam selama wanita berbaju putih

itu menampakan diri, dia hanya memperhatikan dengan

diam-diam, seperti ingin mengetahui asal usul wanita itu,

dan setelah tiba waktu dia untuk bertanya pada wanita itu,

maka dia berucap sekali kata “O-mi-to-hud”

Wanita berbaju putih itu melirik pada Kian Ih Taysu,

bertanya:

“Kelihatannya kau adalah Kian Ih Taysu dari biara

Siauw-lim!”

Dengan muka hormat, Kian Ih Taysu menjawab: “Betul,

apa sicu ketua Jian-kin-kau?”

“Betul!” Jawab wanita berbaju putih itu sambil

tersenyum.

“Nona membawa banyak orang kemari, ada urusan

apa?” Tanya Kian Ih Taysu.

Wanita berbaju putih itu berobah nada bicaranya, setelah

tertawa sinis berkata:

“Kalian yang menamakan diri dari partai putih suka

munafik, kedatanganku kemari masa tidak mengerti, dan

apa perlunya bertanya lagi!”

Ditertawakan wanita itu, Kian Ih Taysu tidak marah, dia

menjawab lagi:

Dewi KZ 403

“Aku agak bodoh, tidak mengerti maksud kedatangan

sicu?”

Wanita berbaju putih itu dengan tertawa sinis berkata

lagi:

“Kau pura-pura bodoh, aku tidak punya waktu beradu

mulut! Aku tegaskan, aku akan membawa semua murid

Siauw-lim dan semua tamu di biara ini untuk bergabung

dengan Jian-kin-kau!”

Kian Ih Taysu masih dengan sabar bertanya:

“Kau menganggap pekerjaan ini sangat mudah, apakah

kata-katamu tadi mempunyai kekuatan sangat hebat!”

“Aku tahu kalian tidak tahu diri, aku tadi berkata hanya

ingin memberi peringatan sebelum menghukum….”

Soat-song Cinjin yang dari tadi tidak bicara, tidak bisa

menahan ejekannya, dia maju selangkah dan berkata

dengan suara keras:

“Kau menganggap semua orang dari partai partai tidak

berguna?”

Wanita berbaju putih itu melihat Soat-song Cinjin yang

bertanya dengan dingin, katanya:

“Kau pasti ketua partai Bu-tong?”:

“Betul! Aku adalah Soat-song!”

“Kata orang-orang sangat tepat! Kalian persis seperti

patung-patung kayu atau tanah di dalam biara Bu-tong,

hanya bisa menakuti orang dengan nama kosong, bila

malam ini kalian menentang kemauanku, mungkin akan

mati dalam biara Siauw-lim ini!”

Soat-song Cinjin dengan marah berkata:

“Kau berani meremehkan……”

Dewi KZ 404

Perkataan Soat-song Cinjin belum habis di keluarkan,

seseorang menerobos dari belakangnya menyerang

perempuan itu, ternyata dia adalah Hong-tai.

Hong-tai dan Siau-cian sudah tidak senang melihat A Bin

berbicara dengan wanita ini, menyaksikan tingkah laku

wanita yang menggoda dan meremehkan jago-jago di biara

Siauw-lim, Hong-tai marah sekali, dengan gerakan cepat dia

menggunakan pedang menyerang wanita itu.

Tapi Wanita berbaju putih itu tidak bergerak di

tempatnya, seorang berbaju emas meloncat menghadang

Hong-tai dengan tongkatnya sambil berteriak:

“Gadis bodoh, kau berani menghina ketua kami!”

Orang yang menggunakan tongkat sepanjang enam kaki

itu mengayunkan tongkatnya dengan tenaga menakutkan

sehingga menimbulkan suara yang dahsyat.

Menghadapi ayunan tongkat yang dahsyat itu, Hong-tai

sama sekali tidak mengacuhkan tongkat itu, malah

menggetarkan pedang menusuk musuh.

Terlihat sinar putih dari pedang Hong-tai mendekati

tongkat musuh dan beradu tanpa mengeluarkan suara, kaki

Hong-tai tetap di tempat, namun langkah kaki orang baju

emas itu bergerak dan perputar setengah langkah baru

berhenti.

Wanita berbaju putih itu berkata dengan dingin:

“Kau bukan lawannya, cepat mundur, ganti orang yang

lebih mampu!”

Ternyata Hong-tai menggunakan jurus pedang yang

paling tinggi tarafnya, dia memanfaatkan tenaga lawan

untuk memukul balik lawannya dengan sontekan pedang

yang ringan, sehingga tongkat orang baju emas itu tidak

Dewi KZ 405

terkendali dan orang yang memegang tongkat ikut berputar,

jurus ini bukan mengadu tenaga dalam tetapi fakta

mengatakan bahwa ilmu silat Hong-tai jauh lebih tinggi dari

orang baju emas itu, maka dia diperintahkan untuk

mundur.

Segera seorang baju hitam yang memegang pedang kail

maju ke depan, tangan kirinya menunjuk Hong-tai dan

berkata:

“Kau, ayo maju lagi!”

Hong-tai mengangkat tangan kanan, pedang awannya

dengan pelan-pelan menusuk dada lawannya.

Orang baju hitam itu melancarkan jurus Wan-te-hoan-im

(Di dalam tangan membalikan awan), pedang kail yang di

pegangnya menyodok pedang Hong-tai dari bawah.

Tapi Hong-tai yang mengarahkan pedang ke depan

mendadak diturunkan ke bawah, dan jurus yang pelan

berobah menjadi sangat cepat seperti kilatan listrik,

memotong tangan kanan orang baju hitam.

Perubahan jurus pedangnya, dalam menghindar dan

menyerang seperti bersama-sama, betul-betul tidak

mengecewakan jurus pedang keluarga In.

Orang baju hitam itu menggoyangkan pundak dan segera

mundur tiga kaki.

Gerakan orang baju hitam itu ternyata kalah cepat dari

jurus pedang Hong-tai, kilatan pedang Hong-tai telah

merobek lengan baju kanannya dan darah pun bertetesan ke

tanah.

Wanita berbaju putih itu berkata dengan dingin:

“Lukamu sangat ringan, tidak perlu gugup, sabarlah

menghadapi dia, kau masih bisa melawannya!”

Dewi KZ 406

Orang berbaju hitam itu mencoba menyalurkan tenaga

dalamnya, ternyata tenaga dalamnya masih bisa diarahkan

mengalir ke jari tangan yang memegang pedang, hatinya

tahu dia tidak terluka di urat dan tulang, maka dengan

pantang mundur, dia mengangkat pedang dengan jurus Seekau-

yang-koan (Menahan di barat membuka pintu lintasan)

bayangan pedang kailnya menusuk Hong-tai lagi.

Jurus yang digunakan orang berbaju hitam itu

merupakan jurus yang hampir punah dari jurus pedang

Liang-gi (sepasang) yang berasal dari partai Bu-tong,

keluarga In ada hubungan sejarah dengan partai Bu-tong, In

Hong-tai pun menguasai ilmu pedang Bu-tong, maka dia

bisa mengatasi jurus itu, tapi dia rada tercengang oleh

anggota Jian-kin-kau yang bisa menggunakan jurus pedang

Bu-tong dengan sempurna, sehingga karena tercengang

Hong-tai kewalahan menangkis pedang musuhnya, terpaksa

dia menghindar ke samping dua langkah.

Kian Ih Taysu, Hun San-kiau, Hong Ie, Jit Ie dan A Bin

semua terperanjat, mata mereka ditujukan pada Soat-song

Cinjin, seperti ingin menanyakan siapa orang berbaju hitam

itu?

Soat-song Cinjin pun terkejut dan bingung, ketika orang

baju hitam itu menggunakan jurus See-kau-yang-hoan, dia

sudah memastikan orang itu dari aliran Bu-tong, tetapi

tidak bisa membayangkan siapa di dalam partai Bu-tong

yang mempunyai ilmu tinggi dan bisa muncul dari barisan

Jian-kin-kau.

Orang baju hitam melihat Hong-tai bisa menghindar,

lalu dengan pedang kailnya dia memotong dari samping,

kilatan pedang dengan jurus Tiang-hong-see-sie (Pelangi

panjang turun ke barat) memotong tubuh Hong-tai.

Dewi KZ 407

Jurus ini merupakan jurus wasiat yang tidak diturunkan

pada sembarang orang, jurus ini khusus menggunakan

kecepatan hingga jago kelas satu pun susah menghindar,

jurus ini membuat Soat-song Cinjin semakin terkejut.

Hong-tai yang kehilangan kesempatan, tidak bisa

membalas serangan, sebagai anak tersayang dari raja

pedang In Tiang-long, dia telah menguasai seluruh ilmu

pedang orang tua itu, dia mempunyai dasar ilmu silat yang

tinggi, serangan orang baju hitam sebanyak dua kali ini,

membuat dia tidak berani menganggap enteng musuhnya,

dia tidak membiarkan musuhnya melancarkan jurus ketiga,

segera mengayunkan pedang seperti roda berputar, tiga

jurus berturut-turut menyerang ke tiga tempat orang baju

hitam, membuat orang itu terpaksa membela diri dengan

pedangnya.

Sekarang giliran orang baju hitam tidak bisa membalas,

dan terperangkap dalam situasi yang membahayakan, jurus

pedang Hong-tai yang tidak memberi ampun, tiap jurus

mengeluarkan kelebatan sinar pedang, membuat dia hilang

kesempatan membalas serangan.

Dua orang baju hitam yang berdiri di belakang wanita

berbaju putih, melihat temannya dalam bahaya, bersamaan

berjalan pelan-pelan ke depan, mereka ingin cari

kesempatan untuk menggantikan temannya.

Karena jurus Hong-tai tidak berhenti seperti sungai

panjang, dan angin serangan pedangnya mendesak orangorang

yang berusaha mendekati, maka mereka tidak

mendapat kesempatan untuk membantu temannya.

Orang baju hitam yang terdesak itu mendadak berteriak

dengan keras, dengan jurus yang dinamakan Soan-coancian-

kin (Bumi berputar), salah satu jurus ampuh dari BuDewi

KZ 408

tong lagi, segera menciptakan titik-titik bintang bertebaran

sehingga membuat Hong-tai «terdesak mundur.

Tapi hanya sebentar, pedang Hong-tai dengan jurus

Thian-hong-ca-kie (Langit dan angin mendadak keluar)

sudah kembali menyerang dari sisi kiri, memotong tangan

kanan musuh, dan memaksa musuh-nya mundur selangkah.

Terdengar suara O-mi-to-hud dari belakang Hong-tai,

diikuti suara Soat-song Cinjin yang terdengar nyaring,

katanya:

“Harap nona In berhenti dulu, aku ingin berkenalan

dengan teman yang mahir menggunakan jurus dari partai

Bu-tong!”

Mendengar permintaan Soat-song Cinjin, Hong-tai

segera menghentikan pertarungannya, dia sendiri pun ingin

mendapatkan keterangan tersebut.

Soat-song Cinjin mendekati orang baju hitam itu dan

mengawasi kedok mukanya yang penuh kemunafikan,

sepertinya ingin mengenal muka asli orang itu, dan dengan

suara tegas bertanya:

“Saudara bisa menggunakan jurus pedang Bu-tong

demikian hebat, pasti orang perguruan kami, bisakah

sebutkan nama perguruanmu, bila saudara Suhengku, aku

akan memberi salam hormat, sehingga aku tidak sampai

berbuat tidak tahu aturan.”

Setelah Soat-song Cinjin menyebut orang yang dari Jiankin-

kau itu sebagai saudara seperguruan, semua orang baru

meneliti orang itu, ternyata ikat kepala orang itu lebih besar

dari orang yang berbaju hitam lainnya, jadi orang itu punya

ikat kepala tosu persis seperti yang dimiliki Soat-song

Cinjin, maka Soat-song Cinjin bisa langsung mengatakan

demikian.

Dewi KZ 409

Ternyata, Soat-song Cinjin bukan saja melihat orang itu

adalah orang dari perguruan yang sama, dan di lihat dari

tingkat ilmu orang itu, selain seangkatan dengan Soat-song

Cinjin, atau Ku-cu Tojin adik perguruannya, berapa lagi

orang yang mampu, hanya angkatan lebih tinggi atau yang

kedudukan tinggi di partai Bu-tong baru bisa menguasai

ilmu tersebut. Tetapi Ku-cu Cinjin terluka da sedang

berbaring di dalam biara Siauw-lim, dua adik perguruan

lain menjaga biara Bu-tong, jadi tidak mungkin menjadi

antek musuh. Karena tidak bisa membayangkan siapa lagi

yang diperankan oleh orang Jian-kin-kau itu, maka Soatsong

Cinjin bertanya pada orang berbaju hitam itu.

Ternyata orang itu hanya mengeluarkan suara dari

hidung dan tidak menjawab sepatah kata pun.

Soat-song Cinjin dengan ketawa dingin berkata:

“Teman perguruan bila tidak mau bicara, berarti tidak

mengakui partai kita, harap maafkan aku bila

menantangmu!”

Dari belakang orang berbaju hitam itu terdengar satu

suara nyaring dan dingin, katanya:

“Tunggu sebentar!”

Suara itu tidak keras, tetapi seperti air perak masuk

kedalam telinga orang, jelas sekali, menggetarkan jantung.

Suara itu keluar dari ketua aliran Jian-kin-kau, dengan

langkah kaki pelan-pelan menghampiri Soat-song Cinjin,

gerak jalannya yang gemulai dan pinggang bergoyang

dengan manis sekali membuat satu daya tarik yang

menggoda iman orang.

Orang yang berbaju hitam itu melangkah ke pinggir.

Dewi KZ 410

Wanita berbaju putih itu melirik muka Soat-song Cinjin,

melalui kain penutup muka, dengan nada sindiran bertanya:

“Kau ingin tahu dia siapa? Kenapa?”

Soat-song Cinjin dengan tegas berkata:

“Betul! Aku ingin tahu apakah dia orang dari perguruan

kami atau bukan, dan setelah jelas, aku akan mewakili

kakek guru menghukum murid yang melanggar aturan

partai, penghianat yang tidak mau menerangkan identitas

sebenarnya!”

Wanita berbaju putih itu dengan ketawa sinis berkata:

“Rahib tua! Pikiranmu bagus, apakah kau tahu, umur

kalian tinggal berapa menit lagi, kau sendiri pun segera

mati, mana ada waktu lagi mengurusi hal itu?”

Soat-song Cinjin dengan muka dingin berseru:

“Gertakan, mana bisa menghalangi aku bertindak!”

“Kau anggap aku omong kosong, lihat saja.” Sambil

mengangkat sebelah tangannya yang munggil keatas, segera

orang orang aliran Jian-kin-kau maju ke depan.

Orang berbaju hitam yang menggunakan pedang kail

maju pertama, dengan jurus Liong-hui-cai-thian (Naga

terbang di langit) pedang orang ini sangat mahir di tambah

tenaga dalam yang kuat, dan jurus paling dahsyat dari Butong

yang digunakan membuat serangan yang hebat.

Soat-song Cinjin dengan jurus Heng-kang-cie-thouw

(Memotong datar kepala perampok), memotong pedang

lawan dari samping menutup serangan orang berbaju hitam.

Tetapi dari samping tubuhnya sebuah pukulan yang keras

menyerang, Soat-song Cinjin terpaksa mundur tiga langkah,

segera menggunakan jurus Thian-ho-to-kua (Langit dan

Dewi KZ 411

sungai menggantung terbalik) melancarkan tujuh perubahan

dalam satu gerakan, menutup serangan dua musuh.

Yang menyerang dengan kepalan dari samping ternyata

adalah orang yang dipanggil Pau-it yang melawan A Bin

tadi.

Setelah menyerang Soat-song Cinjin, Pau-it segera

merubah arah, mendadak menyerang Hong Ie Taysu

dengan kepalannya.

Hong Ie Taysu berucap O-mi-to-hud satu kali, dia

menerima pukulan Pau-it dengan telapak tangan, kedua

tenaga itu bentrok seperti menimbulkan angin puyuh,

membawa hawa udara yang dingin, berkekuatan seperti

bisa merobohkan gunung menimbun lautan, dua kekuatan

itu mempunyai kekuatan seimbang.

A Bin pun mengeluarkan sebuah pukulan telapak tangan,

menahan seorang berbaju hitam yang menyerang, orang itu

mendadak menggunakan gerakan dari aliran tanah barat

(See-yu) yang dinamakan Coan-hong-tun-seng (Angin

berputar menghapus bayangan) tubuh berputar beberapa

kali, orang itu tetap mendesak maju, menghindar pukulan

A Bin, langsung menyerang Kian Ih Taysu.

Suara musik yang mengganggu kuping itu terdengar lagi,

maka orang orang dari aliran Jian-kin-kau, yang berbaju

hitam, emas, perak, merah bersamaan ingin menerobos

masuk ke biara.

Dalam detik yang menegangkan itu A Bin berpikir dalam

hati, ‘Tampaknya aliran Jian-kin-kau telah siap menyerbu,

wanita berbaju putih itu pun beberapa kali mengancam,

kemungkinan mereka menyerang tidak dari satu arah, pintu

kecil biara ini begitu genting, dan jago-jago di dalam biara,

seperti Cukat Hiang, Hun San-kiau, Shangguan Leng, Gan

Cu-kan, Wie Tiong-hoo tidak datang membantu, berarti

Dewi KZ 412

orang-orang Jian-kin-kau menyerang dari segala arah, bila

kita terjebak disini bagaimana bisa saling bantu.”

Setelah Kian Ih Taysu melancarkan sebuah pukulan

menahan pukulan orang berbaju hitam itu, dia berteriak

kepada orang-orang sendiri:

“Teman-teman, semua orang masuk ke dalam biara,

barisan Lo-han segera akan tergerak, kalian berdiri di

tempat yang telah ditunjuk oleh aku, pasti akan

mendapatkan hasil yang lebih sempurna, dan bisa saling

bantu, tidak terkena perangkap akal musuh yang memecah

belah kekuatan kita.”

Semua orang melihat rombongan aliran Jian-kin-kau

begitu beringas mereka tidak dapat dilawan dengan tenaga

sedikit orang, setelah mendengarkan kata Kian Ih Taysu

maka semua orang mencari kesempatan untuk mundur ke

dalam biara.

Sambil berteriak satu kali, A Bin pun menggunakan

kedua telapak tangan mengeluarkan angin yang keras,

menahan gerak maju orang orang Jian-kin-kau, bersama

Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin menjaga paling belakang,

pelan-pelan mundur ke-belakang, Hong-tai dan Siau-cian

pun ikut mundur.

Wanita berbaju putih itu mendadak mengangkat

tangannya ke atas, dan sangat aneh, gerakan tangan dia

begitu dilihat oleh orang-orang Jian-kin-kau, mereka segera

menghentikan serangannya, membiarkan orang orang biara

Siauw-lim leluasa mundur ke dalam biara.

Melihat gerakan itu, A Bin mengerutkan bulu alis mata,

berpikir, “Wanita berbaju putih itu tidak menyerang terus di

luar biara, malah sengaja agar kita masuk ke biara,

kelihatan mereka ada rencana sesuatu yang telah diatur

dalam biara.”

Dewi KZ 413

Kecurigaan A Bin tersebut langsung disampaikan pada

kuping pribadi Kian Ih Taysu dengan ilmu mengirimkan

suara jarak jauh:

“Tay-suhu harap perhatikan, orang-orang aliran Jian-kinkau

seperti mendesak kita masuk ke dalam biara, mungkin

ada rencana tertentu, bila kita semua orang masuk ke

dalam, agar kita masuk perangkap mereka. Pendapat aku,

agar kekuatan kita di sebar di luar dan di dalam biara,

mereka pasti akan ragu ragu melaksanakan gerakan itu!”

Kian Ih Taysu pun punya kecurigaan itu, setelah

dipertegas oleh A Bin, seperti mendapat hikmah, maka

langsung memberi pesan rahasia pada Jit Ie Taysu yang

berdiri disamping, agar dia memimpin semua rahib dalam

biara untuk membentuk barisan Lo-han, dan dengan ilmu

mengirim suara jarak jauh memberi tahu Soat-song Cinjin

dan Hun San-kiao untuk berhenti di tempatnya.

Melihat semua orang berhenti langkah mundur, Hong-tai

dan Siau-cian, juga sepuluh murid Siauw-lim turut berhenti,

tujuh jagoan silat, Kin Ih, Hong Ie Taysu dari Siauw-lim,

Soat-song Cinjin dari Bu-tong, Hun San-kiau dari Kun-lunpai,

Hong-tai, Siau-cian dan A Bin persis berdiri di bawah

pelang nama Siauw-lim yang warna emas.

Wanita berbaju putih itu melihat pihak lawan berhenti,

merasa terkejut dan diluar dugaan, segera dengan ketawa

dingin berkata: ‘

“Kenapa? Kalian mendadak tidak takut mati lagi!”

Pihak Siauw-lim dari jago tua dan anak muda berdiri

sejajar agak setengah melingkar, muka mereka nampak

serius menghadap bahaya, empat belas mata menatap

barisan musuh.

Dewi KZ 414

Wanita berbaju putih itu ketawa terbahak-bahak dengan

nada panjang, suara ketawa itu menembus awan, bergema

di seluruh biara Siauw-lim, lama baru berhenti.

Sejenak setelah habis ketawa, wanita berbaju putih itu

melambaikan tangan munggil, menunjuk seorang berbaju

hitam maju ke depan, sambil berteriak pada Kian Ih Taysu:

“Hweesio tua, kalian tujuh orang ingin cepat mati di

bawah pintu Siauw-lim saja bereskan, sekarang siapa yang

duluan maju menerima hukuman mati!”

Hong Ie Taysu menyaksikan jago-jago dari luar Siauwlim

yang membela Siauw-lim, dia jadi merasa agak

sungkan, tanpa menunggu perintah ketua Siauw-lim, segera

maju ke depan sambil berkata O-mi-to-hud sekali, dan

bicara pada wanita itu:

“Aku adalah pengurus biara Hong Ie Taysu…”

Orang berbaju hitam dari aliran Jian-kin-kau menjawab:

“Kau Hong Ie Taysu atau Pek Ih, terima dulu tiga jurus

pedangku!”

Begitu habis bicara dia langsung menusuk lawan dengan

jurus Kong-piau-see-lai (Angin ribut dari barat datang).

Hong Ie Taysu menjadi marah oleh tingkah kurang ajar

musuhnya, dengan jurus Heng-kan-cie-thouw dia menutup

serangan pedang lawan.

Orang berbaju hitam itu tidak memberi kesempatan buat

Hong Ie Taysu untuk membalas, pedang di tangan di

ayunkan ke kiri dan ditusukan ke kanan, melancarkan

serangan dua jurus berturut-turut, sinar pedang yang

menciptakan bunga pedang menghantam Hong Ie Taysu.

Hong Ie Taysu tertawa sinis, tongkat besinya melindungi

tubuh dengan jurus Ie-ta-pa-kau (Hujan menghantam

Dewi KZ 415

sejenis pisang), membuat bayangan tongkat dan pedang

bentrok sehingga mengeluarkan suara ting… tung… ting…

tung… serangan pedang orang berbaju hitam jadi terbuka

lebar, Hong Ie Taysu sambil berucap O-mi-to-hud, tongkat

besi yang di pegang diangkat ke atas dengan jurus Cia-sancau-

hai (Mengapit gunung melewati lautan.)

Jurus Hong Ie Taysu yang dilancarkan begitu keras,

membuat orang berbaju hitam yang sadis itu pun tidak

berani menerima pukulan itu, dia segera melangkah

mundur sekitar lima kaki.

Ketua Bu-tong Soat-song Cinjin, adalah ahli ilmu pedang

yang mahir, melihat orang berbaju hitam itu melawan Hong

Ie Taysu dengan pedang, berarti sudah tiga orang dari aliran

Jian-kin-kau yang menggunakan pedang, dan orang ini

yang paling lemah dalam ilmu pedang, kenapa wanita

berbaju putih itu malah menyuruh dia menantang pertama,

kelihatan agak ganjil.

Hong Ie Taysu dan orang berbaju hitam itu sedang

beradu jurus, angin dari tongkat seperti angin puyuh, sinar

pedang bagaikan layar. Saat pertama kali orang berbaju

hitam itu menyerang, jurus pedang sangat variasi dan

bertenaga, tetapi sekarang serangannya malah menjadi

kendur. Sebaliknya Hong Ie Taysu semakin lama semakin

gagah, pukulan tongkat besinya semakin keras, sinar

pedang lawan ditekan semakin lemah dan kecil.

Mendadak terdengar suara teriakan, orang berbaju hitam

itu berbalik menyerang, menerobos bayangan tongkat Hong

Ie Taysu yang berlapis, lalu meloncat mundur sekitar satu

tombak.

Hong Ie Taysu tidak mengejar musuhnya, dia berhenti

dan berucap O-mi-to-hud!

Dewi KZ 416

Terdengar ketawa keras dari orang berbaju hitam itu dan

katanya:

“Hweesio tua, kau jangan gembira dulu, cobalah hadapi

senjata rahasiaku, bagaimana berani tidak?” dan tanpa

menunggu jawaban lagi segera mengayunkan lengan kiri,

satu gulungan sinar mas menuju Hong Ie Taysu.

Hong Ie Taysu melihat benda itu, seperti bentuk sekoci,

dia ingin menghindar ke pinggir, tetapi melihat di belakang

tubuh berdiri enam orang, khawatir mereka tidak

memperhatikan dan terluka, maka dia mengangkat tongkat

keatas memukul senjata rahasia itu.

Pukulan Hong Ie Taysu persis memukul sekoci emas itu,

terdengar suara logam beradu, sekoci emas itu pecah dan

menumpahkan api berwarna biru menuju muka Hong Ie

Taysu.

Berhasil memukul sekoci emas musuh, Hong Ie Taysu

tidak keburu menghindar api berwarna biru itu dan

mengenai baju bagian dada Hong Ie Taysu.

Terkena percikan api, Hong Ie Taysu tetap tenang,

meloncat ke belakang sekitar tiga kaki, dengan telapak

tangan ingin memadamkan api di dada.

Ternyata begitu tangan Hong Ie Taysu beradu dengan

api warna biru itu api malah merembet ke lengan baju.

Dalam hitungan detik, seluruh tubuh Hong Ie Taysu

terbakar oleh api berwarna biru, membuat muka Hong Ie

Taysu berwarna biru juga.

Karena tidak berhasil memadamkan api ditubuh-nya,

Hong Ie Taysu menjadi gugup, dengan muka sedih dan

marah, berteriak sekali, dan mengejar orang berbaju hitam

itu.

Dewi KZ 417

Angin malam meniup baju Hong Ie Taysu yang terbakar,

seperti tubuh dia satu ekor burung turun dari udara.

Orang berbaju hitam itu sedang merasa senang karena

berhasil melukai Hong Ie Taysu, mendadak mendapat

serangan dari udara oleh Hong Ie Taysu yang penuh bara

api di seluruh tubuh, dia menjadi takut sekali, dia tahu

orang yang hampir putus asa susah dilayani, maka dia tidak

berani menerima serangan itu, meloncat ke pinggir untuk

menghindar.

Terdengar suara Hong Ie Taysu dengan suara marah

berteriak:

“Tidak boleh memberi ampun pada orang yang

menggunakan senjata rahasia yang kejam.”

Suara Hong Ie Taysu terdengar sangat memilukan seperti

gong pagi di biara tua.

Pukulan Hong Ie Taysu bersamaan dengan putaran

tubuhnya di udara, tongkat besi yang di pegang langsung

memukul kepala musuh.

Orang berbaju hitam itu menjadi panik, dia tidak berani

menerima pukulan itu, dia meloncat lagi ke pinggir sejauh

delapan kaki dengan tenaga penuh.

Hong Ie Taysu dengan suara hidung berbunyi satu kali,

pukulan tongkat besi itu memukul tanah, tubuh dia terbang

ke atas lagi dan mengejar sasarannya.

Loncatan Hong Ie Taysu yang tidak mendarat di tanah

sebanyak tiga kali naik turun memperlihatkan ilmu ringan

tubuh dia yang begitu tinggi.

Orang berbaju hitam itu berhasil menghindar dua kali,

tetapi tidak bisa menghindar untuk ketiga kalinya, dia

menghela nafas sekali, pikirnya dalam hati habislah

Dewi KZ 418

nyawaku hari ini, dia mengacungkan pedang ke atas, siap

untuk terakhir kali menerima pukulan tongkat besi Hong Ie

Taysu……

Terdengar teriakan keras di udara, satu bayangan orang

keluar dari pinggir, di udara menerima pukulan tongkat besi

Hong Ie Taysu dengan senjata tembaganya.

Satu suara benturan logam terdengar, kedua orang yang

berduel di udara jatuh ketanah.

Hong Ie Taysu menahan derita karena luka bakar di

seluruh tubuh, bersiap mati memecahkan kepala sendiri

setelah berhasil membunuh orang yang melukai dia dengan

senjata rahasia kejam, namun teman musuh yang menerima

pukulan tongkat besi dia dengan senjata tembaga itu

membuyarkan harapan Hong Ie Taysu.

Menahan derita bakar membuat jubah abu-abu Hong Ie

Taysu hampir terbakar separuh, dengan menggerakan

kedua lengan Hong Ie Taysu menjatuhkan potongan kain

terbakar di tubuhnya jatuh ke tanah berkeping keping.

Hong Ie Taysu berhasil membuang sebagian baju yang

terbakar, namun bara api di tubuhnya belum padam,

ternyata api racun itu sangat kuat, sehingga membakar

benda yang dilalui tanpa henti.

Terdengar satu ucapan O-mi-to-hud, Kian Ih Taysu

bagaikan seekor burung terbang dengan cepat menghampiri

Hong Ie Taysu, dan dengan satu telapak tangan menahan

pukulan senjata tembaga dari musuh yang menyerang Hong

Ie Taysu, satu telapak tangan lagi mengeluarkan udara

kencang mematikan bara api racun di tubuh Hong Ie Taysu,

sambil berteriak:

“Sute cepat mundur, segera minum pil anti racun, racun

yang masuk ke dalam tubuh mungkin susah di buang.”

Dewi KZ 419

Ketua Siauw-lim itu melihat adik perguruan terluka oleh

musuh dan pil anti racun Siauw-lim juga tidak bisa

menolong banyak, sehingga membuat suara dia penuh

kesedihan!

Hong Ie Taysu tanpa banyak bicara, membalikkan tubuh

ingin kembali ke dalam biara, A Bin segera menghampiri

dia sambil menyerahkan pusaka anti racun Hiat-san-pengcan

sambil berkata:

“Guru, kau pakai Hiat-san-peng-can ini, benda ini khusus

menghilangkan segala macam racun.”

Mendengar nama Hiat-san-peng-can, membuat Kian Ih

Taysu gembira, sambil berucap O-mi-to-hud dia berkata:

“Sute, kau cepat gosokan benda itu di seluruh tubuh,

racun itu akan hilang!”

Hong Ie Taysu menerima Hiat-san-peng-can dan terima

kasih pada A Bin segera berlari ke dalam biara.

Di pihak aliran Jian-kin-kau, ketua aliran wanita berbaju

putih itu agak marah mengetahui A Bin mengeluarkan

benda Hiat-san-peng-can untuk menolong Hong Ie Taysu

yang hampir mati, maka dia memberi perintah pada orang

berbaju hitam yang menggunakan senjata tembaganya

untuk menyerang A Bin.

Orang itu segera mengayunkan senjata menimbulkan

lebih dari sepuluh titik sinar kuning kemerahan menyerang

seluruh tubuh A Bin.

Bersamaan itu, semua orang-orang aliran Jian-kin-kau,

orang-orang berbaju hitam, emas, perak dan merah

menyerbu ke pintu gerbang Siauw-lim-sie secara

berurutan, pelopor mereka tentu saja orang berbaju hitam

yang paling kuat.

Dewi KZ 420

Depan pintu gerbang Siauw-lim-sie, jago-jago Siauw-limsie

sudah bersiap melawan, ditambah Hoa-san Sin-ni, ketua

baru partai Heng-san Coan Tai-kwi, Shangguan Leng dari

sungai Hoai, Tee Wie dari partai Go-bi dan lain lain, arena

pertarungan terlihat agak kacau.

Terdengar suara dari wanita berbaju putih berkata:

“Berhenti!”

Semua orang-orang aliran Jian-kin-kau segera bernanti

mendengar perintah ketuanya.

Dengan langkah indah gemulai wanita berbaju putih itu

melewati semua anggota Jian-kin-kau dan berhadapan

muka dengan jago-jago dari pihak Siauw-lim-sie, berkata

dengan dingin:

“Kalian sudah melihat, apa bisa mempertahankan pintu

melawan anggotaku yang begitu banyak. Sekarang aku

tidak mau dikatakan mengandalkan banyak orang, hanya

aku sendiri yang akan menyerang, siapa diantara kalian

yang bisa menghalangi aku!”

Sambil bicara, wanita berbaju putih itu betul-betul

berjalan sendiri menghampiri jago-jago pihak Siauw-lim-sie,

matanya sama sekali tidak memandang muka mereka,

tingkahnya sangat sombong.

Tee Wie yang punya julukan telapak tangan hebat dari

partai Go-bi sebagai seorang anak muda, tidak terima

melihat kesombongan ketua aliran Jian-kin-kau itu, dia

pertama keluar menantang wanita berbaju putih dengan

tusukan pedang dengan jurus Hong-eng-toan-cau

(Menjemput angin memotong rumput), dia ingin memotong

lengan lawannya.

Wanita berbaju putih itu sengaja memancing orang dari

pihak Siauw-lim-sie untuk keluar, maka begitu serangan

Dewi KZ 421

Tee Wie datang, dia langsung meng-hindar ke belakang dua

langkah, berteriak sejenak, dengan satu telunjuk tangan

yang munggil menotok tangan Tee Wie.

Satu tekanan angin dari telunjuk tangan wanita berbaju

putih itu menyerang tubuh Tee Wie seperti pedang tajam.

Tee Wie tidak bisa menghindar, dia terpaksa memusatkan

tenaga dalamnya ke bahu kiri sambil berputar tubuh, ingin

menggunakan bahu kiri menerima totokan jari lawan.

Beruntung buat Tee Wie karena menggunakan bahu kiri

menerima totokan ketua aliran Jian-kin-kau itu sehingga dia

selamat dari maut.

Tetapi ketika bahu kirinya terkena serangan lawannya,

seperti kena benturan benda yang berat sekali, darah terasa

naik ke bagian atas tubuh, tulang bahunya seperti hancur,

saking sakitnya membuat dia berjalan sempoyongan,

mundur sejauh lima langkah, tenaga di tubuhnya terasa

hilang semua, dia jatuh di tanah dengan muka menghadap

ke langit.

Hanya dengan satu telunjuk tangan, ketua aliran Jiankin-

kau sudah membuat Tee Wie terluka berat. Muka

semua jagoan dari seluruh partai besar jadi berobah,

sebagian orang yang sudah tua mengenali jurus wanita

berbaju putih itu adalah Hui-thian-it-ci (Telunjuk sakti

menunjuk langit) ilmu yang berasal dari seorang kakek ajaib

It-ci-sin-sou (Kakek telunjuk sakti) yang sudah ternama

seratus tahun lalu.

Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud, sambil

menggoyangkan jubahnya, tubuh dia seperti seekor kepinis

menggunting air bergerak menuju ke depan, bersamaan itu

Soat-song Cinjin dari Bu-tong, Hun San-kiau dari Kun-lunpai,

Coan Tai-kwi dari Heng-san, Shangguan Leng dari

Dewi KZ 422

sungai Hoai meloncat ke depan juga, suasana lapangan

menjadi kacau.

Wanita berbaju putih itu berteriak lagi: “Berhenti!” pada

anak buah, maka jago-jago dari aliran Jian-kin-kau terdiam

di tempat, tidak berani maju lagi.

Kian Ih Taysu membungkukkan tubuh, melihat keadaan

Tee Wie yang tergeletak di tanah dengan muka pucat,

kedua mata tertutup. Biarpun tidak mati, tetapi dengan

kepandaian Tee Wie yang lumayan tinggi bisa terluka

begitu parah, menandakan hebatnya tenaga jari Hui-thianit-

ci, hweesio tua ini mengerutkan alis mata, segera

membawa Ti Wie ke dalam biara.

Ketua baru partai Heng-san Coan Tai-kwi mengayunkan

tongkat bambunya, sambil berteriak memukul kepala

wanita berbaju putih dengan jurus Cu-go-thian-bun

(Mengetuk pintu langit).

Wanita berbaju putih itu segera menghindar ke pinggir,

jari telunjuk tangannya diarahkan ke tubuh Coan Tai-kwi.

Coan Tai-kwi melihat sendiri Tee Wie terluka parah oleh

totokan jari ‘Hui-thian-it-ci’, mana berani dia menerima

jurus itu, dia segera menarik tongkat dan tubuhnya

meloncat ke atas, tangan kiri bersamaan waktu mengambil

beberapa paku perak dari balik dadanya ingin dilemparkan

pada musuh, ternyata wanita berbaju putih itu sudah

merobah arah serangan, tusukan dari jarinya tetap mengejar

tubuh Coan Tai-kwi.

Rupanya wanita itu telah menguasai ilmu ‘Hui-thian-it-ci’

dengan sempurna, hingga bisa digunakan menurut

keinginan pikirannya sendiri.

Dewi KZ 423

Terdengar jeritan kesakitan dari mulut Coan Tai-kwi dan

tubuhnya yang sedang berada di udara, terguling dua kali

dan jatuh kebawah seperti layang2 yang putus benang.

Jago-jago dari pihak Siau-lim melihat sendiri wanita

berbaju putih itu melukai dua orang dengan satu kali

tusukan jari jarak jauh, muka mereka jadi berobah.

Sambil memegang pedang di dada Soat-song Cinjin dari

Bu-tong menghampiri tubuh Coan Tai-kwi dan

menggendong dia masuk ke biara.

Keadaan Coan Tai-kwi terlihat sangat kritis, kedua mata

tertutup rapat, dari hidung dan sudut mulut mengalir darah

segar, nafasnya lemah, Soat-song Cinjin dibuat terkejut

bukan main.

Shangguan Leng dari sungai Hoai dengan suara benci

berkata:

“Jurus yang sadis!” dia langsung menyerang wanita itu

dengan pukulan telapak tangan, lalu tubuh dia mundur

kebelakang dengan cepat.

Dia melihat Tee Wie dan Coan Tai-kwi terluka. maka

dengan sangat hati2 Shangguan Leng memusatkan tenaga

dalam telapak tangan menyerang wanita itu, dia ingin

melukai lawan, bila tidak berhasil, dia juga telah

mempersiapkan jalan mundur, dia berpikir tidak akan

terluka.

Namun pikiran wanita berbaju putih itu lain, dia sudah

berbulat tekad membunuh, mana mungkin memberi

kesempatan pada musuh melarikan diri, pukulan Coan Taikwi

dihadang dengan satu pukulan telapak tangan kiri,

sedangkan tangan kanan telah memusatkan tenaga penuh

dengan jurus “Hui-thian-it-ci” sudah menotok musuh dari

jarak jauh.

Dewi KZ 424

Satu angin keras dari tekanan jari itu mengejar punggung

Shangguan Leng, dia berusaha menghindar tapi tidak

berhasil tubuhnya terjungkal jatuh ke tanah tanpa bersuara

sepatah pun.

Wanita berbaju putih itu sudah melukai tiga jago dari

partai ternama yang berilmu tinggi, membuat semua orang

di pihak Siau-lim jadi terkejut dan marah.

Bersamaan waktu itu telah terjadi perobahan besar yang

mengejutkan, semua orang menyaksikan dari hutan barisan

belakang orang-orang aliran Jian-kin terbang seperti bintang

perak menuju atap biara Siau-lim.

Hun San-kiau dari Kun-lun berteriak:

“Celaka!”dan berkata, “itu adalah sumbu dari dinamit

belerang, mungkin dalam biara telah tersimpan bahan

belerang.” Ucapan dia belum habis, terdengar satu suara

keras “BUNG” dan terlihat di atas ruang utama biara Siaulim

ada percikan api, pecah menjadi sepuluh lebih

menyebar ke segala arah kamar2 biara.

Persis seperti dugaan Hun San-kiau, di dalam biara Siaulim

telah tersimpan bahan belerang terlebih dahulu,

sehingga percikan api yang jatuh dari atas langit langsung

menyambar benda itu, sehingga api berkobar dimana mana.

A Bin melihat beberapa kali jago dari pihak Siau-lim

terluka oleh wanita berbaju putih itu, dia ingin keluar

menantang wanita itu, namun belum ada kesempatan. Pada

detik genting ini, dimana semua orang sedang

memperhatikan kebakaran di dalam biara, A Bin meloncat

ke hadapan wanita berbaju putih itu, berkata dengan dingin:

“Kau telah melukai banyak orang, kau harus

menghentikan semua ini!”

Wanita berbaju putih itu dengan tertawa riang berkata:

Dewi KZ 425

“Kalau belum membakar habis biara Siau-lim jadi abu,

dan membunuh semua orang dalam biara kecuali kau

sendiri, aku tidak akan puas!”

Kata-kata yang penuh amis darah diucapkan oleh wanita

itu seperti perkataan anak kecil yang sedang bermain.

A Bin dengan marah berkata:

“Kau sangat keterlaluan!”

Wanita berbaju putih itu segera mundur ke belakang, dan

memerintahkan berapa orang berbaju emas untuk melayani

tantangan A Bin, dan berkata:

“Jaga dia! tetapi jangan melukainya!”

Lima orang berbaju emas berlarian dan mengepung A

Bin dengan barisan Hong-sui dari lima jurusan menurut

posisi Kim (emas), Bok (Kayu), Sui (Air), Hwee (Api), Tee

(Tanah), segera saja A Bin terkepung di tengah.

A Bin menilai wanita berbaju putih itu tidak mau

mencelakai dia, sehingga menugaskan anak buah untuk

melayani dia dengan barisan Hong-sui yang dinama-kan

“Ngo-heng hoan-cin (Barisan lima hayalan)”

Barisan “Ngo-heng,hoan-cin” adalah barisan untuk

mengurung musuh yang sudah hilang dari dunia persilatan

ratusan tahun, bagi A Bin barisan itu tidak akan sulit

dipecahkan dan mudah keluar dari kurungan itu, tetapi

tetap memerlukan sedikit waktu untuk membongkar

kurungan itu. Dan waktu itu, wanita berbaju putih itu akan

menggunakan jarinya yang mematikan itu pada orang lain,

A Bin jadi tidak bisa membantu mereka dengan segera.

A Bin merasa kesal dengan keadaannya, maka dia

langsung menyerang menusuk di arah timur, dengan jurus

“Cu-kou-thian-bun”(Mengetuk pintu langit)”

Dewi KZ 426

Orang berbaju emas itu menghindar ke pinggir, dan

mengayunkan pedang menahan serangan A Bin.

Kedua orang itu beradu jurus, barisan “Ngo-heng hoancin”

berobah terus, orang yang menyerang A Bin dengan

pedang langsung menyingkir ke pinggir.

A Bin melihat ada celah di tengah barisan itu, dia

memutuskan menyerang orang berbaju emas yang berada di

tengah, tapi barisan itu berputar terus, tahu-tahu musuh

yang berada di bagian selatan sudah berdiri di depan A Bin

dan menutup celah itu, dengan sepasang golok dia

menghalangi jalan A Bin.

A Bin menggunakan telapak tangan memukul ke atas

dan ke bawah menahan serangan musuh

Belum juga A Bin membalas serangan, orang itu sudah

menghindar lagi. Posisi dia digantikan oleh teman dia yang

datang dari arah barat, menggunakan kail ber-bentuk kepala

harimau dan langsung menyerang A Bin.

Menyaksikan barisan itu bisa berobah dengan kecepatan

tinggi, A Bin jadi terkejut dan mengakui barisan itu betulbetul

hebat, A Bin yang ingin cepat ke luar dari kepungan

jadi agak terhalang.

Dalam perlawanan mereka, A Bin bukan saja melihat

kekompakan lima orang berbaju emas itu, jurus serangan

dan pertahanan mereka pun mengandung perobahan Hongsui,

bila dinilai satu-satu, ilmu mereka lebih rendah dari A

Bin, tetapi bila A Bin terkurung di dalam barisan agak lama,

konsentrasi pikiran A Bin akan kacau, dan A Bin tidak akan

memikirkan untuk keluar dari kepungan.

Satu lagi, perobahan barisan ini tidak mengikuti aturan

biasa, sehingga mereka bisa menyerang dari posisi tidak

Dewi KZ 427

terduga, lawan tidak tahu persis bagian mana yang akan

menyerang secara mendadak.

A Bin menyadari bila pikirannya kacau, akan lebih sulit

untuk keluar dari kepungan, maka A Bin menenangkan

pikiran, memusatkan tenaga dalam pada telapak tangannya,

berdiam di tempat menunggu perobahan lawan.

Di tempat lain, wanita berbaju putih itu tidak

memerintahkan orang-orang aliran Jian-kin-kau yang lain

ikut menyerang, jadi mereka hanya diam di tempat

mengawasi pintu Siau-lim-sie. Dia sendiri malah maju dan

menyerang Gan Cu-kan yang baru keluar dari dalam biara.

Gan Cu-kan menggunakan kipas yang terbuka lebar

menutup bagian dadanya sambil melangkah mundur dua

langkah. Dia melihat sendiri wanita ini telah melukai

Shangguan Leng dari kejauhan, maka dia sangat gentar

sekali menghadapi wanita ini.

Terdengar ucapan dingin dari mulut wanita ini, dengan

kata:

“Apakah kau ingin melarikan diri!”

Wanita berbaju putih itu mendorong tangannya ke

depan, membuat kipasnya jadi tidak bisa bergerak lagi, hal

ini membuat Gan Cu-kan bertambah takut.

Di saat Gan Cu-kan sedang bingung, tubuh wanita

berbaju putih itu telah mendekati dengan kecepatan tinggi,

Gan Cu-kan tidak menduga wanita itu bisa mendekat begitu

cepat dan menyerang bahu kirinya, dia tidak sempat

bereaksi lagi.

Bersamaan waktu itu, Hun San-kiau dari Kun-lun datang

menolong, dengan pukulan telapaknya yang keras dia

menyerang wanita berbaju putih, untuk menjaga nama

Dewi KZ 428

besanya sebagai pesilat tinggi, sambil menyerang dia

berteriak:

“Awas serangan!”

Wanita berbaju putih itu menghindar hanya dengan

menggoyangkan sedikit pinggulnya, tubuhnya tetap maju

mendekat dengan cepat, Hun San-kiau tidak dapat

mengelak serangan balasan dari wanita berbaju putih itu,

sebuah pukulan mendarat di pinggang Hun San-kiau,

membuat dia memuntahlan darah, terpaksa menghindar ke

kiri dua langkah.

Hoa-san Sinni berkata dalam hati, ‘sekarang saatnya aku

turun tangan’ maka dia meloncat tinggi melayang menuju

ke arah wanita itu, bersamaan itu dia mengayunkan

tangannya, dari jauh menyerang wanita berbaju putih itu.

Wanita berbaju putih itu tidak bergerak, dia menanti

serangan di tempatnya, mendadak dari lengan baju kirinya

dia mengeluarkan sebuah kecapi dari bahan giok, lalu

menyambut pukulan telapak tangan Hoa-san Sinni, kecapi

itu didorong satu kali juga diputar satu kali, sebuah tenaga

tidak nampak menyusuri senar kecapi menyambut angin

pukulan lawan sambil menggeserkan tubuhnya ke samping.

Wanita berbaju putih itu telah berhasil mengu-asai ilmu

silatnya dengan sesuka hati, gerakan tangan-nya cocok

dengan keinginan pikirannya, gerakannya sangat lincah.

Baru saja Hoa-san Sinni mendarat, wanita berbaju putih itu

sudah berdiri di depannya, lalu mendorongkan tangannya

ke dada Hoa-san Sinni.

Hoa-san Sinni adalah guru besar sebuah partai, dan telah

bertapa puluhan tahun, menghadapi bahaya di depan mata

dia tetap tenang, dia mengeluarkan sebelah tangannya

menyambut pukulan lawan, tubuhnya berusaha mundur ke

belakang, bentrokan kedua kekuatan itu membuat tubuh

Dewi KZ 429

Hoa-san Sinni terdorong hingga mundur tiga kaki,

tubuhnya tergoyang tidak bisa berdiri dengan baik,.

Dalam hitungan detik, wanita berbaju putih itu telah

mengalahkan tiga orang pesilat yang punya nama harum di

dunia persilatan, peristiwa ini membuat orang yang

menonton tergoncang pikirannya, mereka jadi waswas

untuk menghadapi bahaya.

Kian Ih Taysu dan Soat-song Cinjin sudah keluar lagi,

setelah mengantar orang yang terluka ke dalam biara,

mereka bersiap untuk menghadapi musuh.

Wanita berbaju putih itu menghentikan langkahnya,

dengan tangannya yang mungil, memetik senar perak dari

kecapi itu, terdengarlah musik dengan suara merdu.

Melihat dia berdiri menghadap tiupan angin dengan

tubuh dan penampilan yang indah, siapapun yang melihat

tidak percaya bahwa dia adalah pemimpin satu aliran

tersesat yang begitu biadab.

Nada lagu yang dipetik dari kecapi itu sangat

memilukan, gesekan suara kecapinya membikin orang yang

mendengarkan ikut merasa sedih. Kedua pihak yang

berlawanan, kecuali A Bin dan lima orang berbaju emas

yang mengurung A Bin, semua orang berhenti tidak

bergerak, beberapa orang memperlihatkan wajah-nya yang

sedih.

Suara kecapi itu makin lama makin sedih, seperti suara

wanita menangis dalam ruangan kamar tertutup, suara

sedih itu membuat ulu hati orang sakit, semua orang selain

orang-orang aliran Jian-kin-kau yang muka mereka tertutup

oleh kain, nampak bercucuran air mata karena terpengaruh

oleh suara kecapi itu.

Dewi KZ 430

Kian Ih Taysu yang beriman sangat tinggi itu hampir

saja terpengaruh oleh suara kecapi itu, dan tanpa sadar dia

berkata:

“Suara yang begitu memilukan………”

Kemudian nada kecapi itu berobah penuh dengan suara

semacam pembunuhan.

Mendengar suara itu, orang-orang aliran Jian-kin-kau

segera maju menyerang orang-orang dipihak Siau-lim. Jagojago

dari Siau-lim pun terbangun dari suasana kesedihan

langsung menghadapi musuhnya.

Orang-orang aliran Jian-kin-kau dipelopori oleh orang

yang berbaju hitam yang ilmu silatnya paling tinggi,

serentak mendekati pintu biara Siau-lim, di depan pintu itu

Hong-tai, Siau-cian, Hoa-san Sinni, Soat-song Cinjin dan

lain-lain telah mengeluarkan senjata masing-masing untuk

melawan musuh.

Hanya Kian Ih Taysu tetap berdiri di depan pintu dengan

gagah, menunggu sampai orang-orang aliran Jian-kin-kau

barisan kedua, yaitu orang-orang berbaju emas dan perak

mendekati pintu, baru Kian Ih Taysu melangkah maju ke

depan sambil berkata ‘O-mi-to-hud’ dengan sangat keras,

hingga kuping orang-orang di sekitar itu berdengung, suara

Kian Ih Taysu itu ternyata memanggil hweesio yang ada di

dalam biara dan berlarian mengambil posisi masing-masing,

segera membuat lingkaran pertama dari barisan Lo-han.

Barisan Lo-han dari Siau-lim-sie ini terdiri dari seluruh

anggota hweesio bagian dalam dan luar biara, mereka

bergabung menjadi satu kesatuan, bila telah digerakan,

semua anggota hweesio Siau-lim mempunyai tugas masingmasing

mengikuti perobahan barisan.

Dewi KZ 431

Barisan pertama dari barisan itu terdiri dari dua puluh

empat orang hweesio berbaju abu-abu, berbaris membentuk

dua pisau tajam yang ekor pisaunya agak serong keluar di

bagian belakang, semua orang dengan wajah gagah

memegang senjata, yang dua belas orang memegang

tongkat hweesio, dua belas orang lagi memegang golok

hweesio, diantara enam orang itu ada satu orang yang

memegang sebuah obor api di tangan kiri, di bawah api

obor yang menyala, senjata mereka tampak mengeluarkan

cahaya dingin.

Dari pintu depan biara hingga ke dalam biara ribuan

obor yang menyala menerangi ribuan orang yang

memegang senjata, membentuk satu kesatuan yang kokoh,

dan siap untuk melakukan suatu pertempuran yang besar…

Rupanya orang-orang aliran Jian-kin-kau telah salah

menilai, terlalu memandang enteng kekuatan lawan,

meremehkan barisan Lo-han, Mereka sudah beberapa kali

menggempur hweesio di barisan Lo-han, tapi ke dua puluh

empat hweesio itu langsung berlarian berganti posisi,

sehingga beberapa orang aliran Jian-kin-kau telah terkurung

di dalam lingkaran barisan itu.

Serangan berantai dari hweesio dalam barisan Lo-han

bagaikan sebuah gelombang ombak, gelombang pertama

setelah memukul musuh langsung mundur dan diganti

gelombang kedua, maka dalam sekejap saja dua puluh

empat hweesio yang pertama di depan barisan sudah

berpindah ke belakang.

Wanita berbaju putih itu melihat dari kejauhan, melihat

anak buahnya tidak berhasil menembus pertahanan Lo-han,

dia segera memetik lagi kecapi itu dengan tiga kali petikan.

Tiga kali petikan yang sederhana itu menandakan isyarat

pembunuhan

Dewi KZ 432

Kian Ih Taysu mewaspadai suara kecapi itu, segera

memerintahkan anggota Lo-han-tin lebih gesit menggerakan

barisan Lo-hannya.

Setelah memetik tiga kali suara kecapi, wanita berbaju

putih itu langsung menyerang dengan tangan dan jarinya,

maka dalam sekejap mata saja dia sudah menjatuhkan tujuh

atau delapan orang hweesio.

Bila dilihat, tingkat ilmu silat hweesio di bagian barisan

Lo-han tampak sangat baik, namun begitu terkena totokan

jari wanita berbaju putih itu mereka langsung roboh,

totokan wanita itu jitu mengenai sasaran, mem-buat

hweesio-hweesio jadi was-was, sehingga mengganggu

kecepatan gerakan barisannya.

A Bin yang dalam kepungan lima orang lawan, masih

belum berhasil membebaskan diri, walaupun dia melihat

barisan Lo-han makin lemah serangannya, tetapi dia belum

bisa membantu mereka.

Salah satu orang anggota Jian-kin-kau yang mengepung

A Bin mengangkat pedang yang berbentuk melengkung,

dengan jurus “Pak-yan-lam-tou” (Burung utara menuju

selatan) dia menusuk tubuh A Bin, lalu kakinya melangkah

ke pinggir memimpin teman lainnya merobah posisi

masing-masing dan senjata mereka menyerang A Bin secara

berantai dari lima penjuru.

A Bin berteriak sekali, dia mengeluarkan golok di

pinggangnya dengan jurus ‘In-ouw-pit-thian”(Awan dan

embun menutup langit), membuat perlindungan di seluruh

tubuh, jurus serangannya dirobah menjadi jurus bertahan,

Senjata lawan yang mendekati senjata A Bin langsung

terpukul mental.

Dewi KZ 433

Orang berbaju emas pertama yang memegang pedang

melengkung pun terpukul mental, dan tangan kanannya

terasa menjadi lemas, hampir saja pedang yang

dipegangnya terlepas dari tangannya, pukulan itu membuat

dia terkejut, dia segera memberi tanda melingkar di udara

dengan pedangnya.

Tandanya berarti memberi perintah pada temantemannya

untuk menyerang A Bin dengan serentak dan

bersamaan, maka senjata seperti pedang, pentungan besi,

kail, golok dari semua arah menyerang A Bin, bila orang

yang di serang kurang tinggi ilmu silatnya, tentu akan sulit

menghindar dari serangan itu.

A Bin melihat, perobahan barisan lawan lebih cepat dan

lebih aneh, A Bin jadi lebih hati-hati, dia segera menekuk

kaki kirinya, membuat tubuh A Bin menjadi lebih pendek

satu kaki, lalu kaki kanannya dimantapkan, golok di tangan

diiringi tubuh yang berputar cepat, memukul empat senjata

yang menyerang.

Tanpa menunggu perobahan barisan musuh, sambil

berteriak, kaki kanan A Bin menginjak tanah dengan penuh

tenaga, tubuh A Bin terbang ke atas sambil mengayunkan

golok, dengan suara gemuruh menyerang musuh yang

memegang pedang melingkar.

Orang itu tidak berani menerima serangan A Bin itu, dia

segera menghindar ke samping lima langkah, sambil

mengacungkan pedang ke atas lagi, empat teman nya segera

meningkatkan serangan pada A Bin.

A Bin gagal menembus pertahanan musuh, dia tetap

berada dalam kepungan barisan lawan.

Memang jika lima orang aliran Jian-kin-kau ini tidak

bekerja sama membentuk barisan, sudah lama mereka akan

dikalahkan oleh A Bin. Berkat barisan yang serba efisien

Dewi KZ 434

membuat tenaga mereka masing-masing bertambah besar,

dan langkah kaki yang teratur rapih dan kerja sama yang

baik, membuat A Bin sementara tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia hanya bisa membentur kiri atau melabrak kanan seperti

naga terbang ke timur atau ke barat.

Pimpinan lima orang berbaju emas itu berteriak

menangkis golok A Bin, sambil melangkah ke kanan dua

langkah, pedang melingkar itu memberi tanda dua kali

diacungan keatas dan turun dua kali, tubuh dia berputar

sekali, lalu senjatanya menusuk dada A Bin. Empat orang

lainnya segera meningkatkan serangan mereka lebih

intensif, terdengar suara gemuruh dari gerakan senjata

mereka dan kilatan senjata bermacam bentuk, tubuh mereka

seperti menghilang dari barisan karena kecepatan

serangannya.

A Bin yang telah mendapatkan ilmu hebat dari tiga guru

dan mempunyai dasar ilmu silat dari turunan keluarga,

karena tidak pernah belajar bagaimana menghadapi barisan,

kelebihan ilmu silat A Bin jadi tidak bisa membantu

banyak.

A Bin seperti terkurung oleh angin serangan yang dingin

dari senjata musuh. Otak A Bin berpikir, terbayang ketika

gurunya yang memberi pelajaran tentang bermacam barisan

secara singkat di gua waktu yang lampau itu, dia segera

menenangkan pikiran, menghilangkan tujuan ingin cepat

mencari kemenangan.

Tindakan A Bin ini akhirnya membuahkan hasil,

sekarang A Bin bisa melihat kelemahan barisan musuh,

ternyata barisan itu dilandasi aturan lima arah yang normal,

jadi dia harus menyerang sebelah utara dulu baru balik

menyerang ke sebelah selatan, dengan unsur air menjinakan

unsur api.

Dewi KZ 435

Golok A Bin segera menyerang musuh yang berada di

sebelah utara.

Ketepatan waktu A Bin itu bersamaan dengan pihak

lawan ketika ingin berpindah langkah, golok A Bin telah

menahan perobahan barisan dan membuat barisan itu jadi

tersendat.

Berhasil menahan laju barisan lawan, tubuh A Bin segera

berputar ke arah selatan, dengan jurus ‘Heng-in-na-gwat”

(Membagi awan mengambil rembulan) dia mendorong

mengerahkan tenaga kepada dua senjata lawan di satu

jurusan, dan menyerang satu orang berbaju emas di lain

tempat.

Karena laju barisan musuh tersendat, terbukalah sebuah

celah, gebrakan golok A Bin telah membuat barisan itu

terlihat kacau untuk sementara.

Orang berbaju emas yang memimpin barisan segera,

mengangkat pedangnya ke udara dan berputar dua kali

menenangkan empat orang temannya yang sedang bingung,

maka barisan itu kembali bergerak ke asalnya lagi, tersusun

kembali.

A Bin melihat di tengah perobahan barisan dari langkah

dan orang yang pertama gerak, mereka telah merobah arah

gerak mereka dari arah semula ke arah berlawanan.

Tanpa membuang waktu lagi, A Bin menyerang dengan

goloknya pada musuh yang pertama akan melangkah,

bersamaan itu dia melanjutkan serangannya pada musuh

yang akan melangkah berikutnya.

Maka perobahan barisan aliran Jian-kin-kau ini tidak

bisa berjalan lagi, sebab telah terganggu oleh serangan A

Bin dengan senjata golok dan pukulan tangan.

Dewi KZ 436

Orang berbaju emas yang memimpin barisan itu segera

menyerang A Bin dengan tiga kali tusukan pedang,

membuat A Bin terpaksa menangkis serangan pedang orang

itu, dua orang yang tadi terdesak keluar barisan segera

kembali ke tempat yang tepat lagi, dan A Bin terkurung lagi.

Perubahan barisan yang belum berhasil di bongkar itu

membuat A Bin marah, sambil menggerakan bulu alisnya,

A Bin memutuskan akan melukai lawannya, maka golok A

Bin menyerang lawan di bagian utara, lalu membalikkan

tubuh menyerang musuh dengan telapak tangan dengan

tenaga penuh.

Maka tanpa ampun, tenaga dahsyat A Bin telah berhasil

melukai seorang musuh dengan jeritan kesakit-an yang

keras, tubuh orang itu terlempar sejauh dua tombak.

Sekali berhasil, tanpa menunggu perobahan barisan

musuh. Segera dengan tenaga penuh A Bin menghantam

musuh yang lain. Terdengar lagi satu jeritan kesakitan dari

orang kedua yang terluka.

Barisan anggota Jian-kin-kau jadi tidak bisa berfungsi

lagi karena dua orang anggotanya sudah terluka, pimpinan

mereka sangat marah, tanpa pikir bahaya dia melangkah

maju menyerang A Bin dengan serangan bertubi-tubi. A Bin

membalas serangan itu dengan goloknya.

Kelihatan orang ini seperti kelabakan, dia membiarkan

kedua temannya yang luka, terus menghadapi serangan

golok A Bin tanpa mau mengalah, dengan memusatkan

tenaga di pedang dia menusuk, membanting, menekan

golok A Bin, sehingga terdengar suara logam berbenturan

tiga kali.

Bentrokan yang terjadi pada senjata mereka, buat A Bin

adalah hal yang ringan, tapi lain buat orang berbaju emas

yang menahan tiga kali serangan golok A Bin, sebab dia

Dewi KZ 437

telah meggunakan tenaga penuhnya, hingga bahu kanannya

terasa lemas, telapak tangannya seperti pecah. Dia terkejut

bukan main, segera dia memusatkan pikiran supaya lebih

tenang. Sambil melangkah ke posisi tengah, dia

menyalurkan nafas menghimpun tenaga dalamnya di pusat

titik ‘Tan-tian” Dengan hati mengikuti nafas, dengan nafas

memimpin pedang, dia menggunakan ilmu pedang ternama

dari aliran Hai-lam yang tersohor ilmu pedang

melingkarnya.

Ilmu pedang melingkar ini diciptakan oleh seorang jago

pedang dari Hai-lam seratus tahun lalu bernama “Li-coan”,

ilmu pedang ini mempunyai sifat lembut bagaikan untaian

daun Liu, licin bagaikan ular, dengan bentuk aneh

melingkar seperti busur, membuat pedang semacam ini

mempunyai sifat tenaga menempel, menggebrak, mengetuk,

menarik, memecahkan, menggulung, menghilangkan, jadi

orang ini sementara bisa meredam tenaga gempuran tiga

kali serangan golok A Bin, menghindar dari keadaan

terdesak.

A Bin menyadari bahwa kepandaian orang ini diluar

dugaannya, ilmu silatnya tampak lebih tinggi dari temanteman

berbaju emas lainnya, malah lebih tinggi dari

temannya yang berbaju hitam, kemungkinan orang ini

punya kedudukan tinggi di aliran Jian-kin-kau, dia

ditugaskan menjadi pimpinan barisan “Ngo-heng hoan-sin”

adalah untuk mengelabui mata lawan, dia pun memakai

baju emas untuk menutupi identitasnya.

Dua orang teman dia yang berdiri di pinggir melihat dia

berhasil menahan gempuran A Bin, segera bersamaan ikut

menyerang A Bin lagi dengan senjata kail dan goloknya.

Serangan tiga orang itu ternyata bisa menahan gempuran

golok A Bin.

Dewi KZ 438

Dalam berkesempatan ini A Bin melirik situasi

pertempuran yang terjadi, ternyata jago-jago dari pihak

Siau-lim masih belum bisa memukul mundur barisan

musuh, Hong-tai dan Siau-cian pun belum berhasil

melumpuhkan musuh. Meskipun wanita berbaju putih itu

telah melukai berapa orang hweesio dari barisan barisan Lohan,

tapi barisan itu masih belum terlihat kelemahannya,

hanya saja tenaga gempurannya sudah mulai melemah. A

Bin berkesimpulan bahwa harus segera menyelesaikan

pertempuran ini, agar bisa menolong teman-temannya yang

bertempur.

A Bin segera membentak, tubuhnya tertutup oleh

bayangan golok yang diayunkan, dengan memusat-kan

tenaga penuh di tangan kanan, dia menggempur musuh

yang memegang pedang melingkar, tangan kiri-nya

mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya, meng-hamtam

musuh di sebelah kiri yang memegang golok, pukulan A

Bin seperti akan merobohkan sebuah gunung, dan terdengar

satu jeritan kesakitan dari musuhnya, dan orang itu

terlempar jatuh sejauh tujuh delapan kaki.

Bersamaan waktunya golok A Bin berbalik arah

menyerang musuh lain yang memegang senjata kail,

terdengar benturan senjata logam, senjata kail orang berbaju

emas itu terbang jatuh sejauh satu tombak, untung orang itu

tahu diri, dia segera berguling tiga kali kepinggir

menghindar.

Dalam sekejap waktu A Bin telah menundukan satu

lawannya, sisa satu orang lagi yang paling kuat, mengetahui

tidak dapat mengurung A Bin lagi, dia membentak dan

dengan sisa tenaganya dia menyerang A Bin kembali.

Orang berbaju emas yang rebah melihat pimpinannya

menyerang A Bin lagi, diapun bangkit dan memungut

senjata kailnya, lalu menyerang bagian kanan A Bin. A Bin

Dewi KZ 439

berteriak keras, tanpa memberi waktu lawan berdiri tegap,

telapak tangan A Bin yang bertenaga dahsyat langsung

menghantam lawannya, terdengar jeritan orang berbaju

emas yang terpukul jatuh.

Pada saat A Bin merobohkan satu lagi musuh-nya,

terdengar satu teriakan dari mulut wanita berbaju putih

dengan ucapan:

“Bagus! Baru sakarang kepandaian aslimu dikeluarkan,

sungguh hebat, biar aku saja yang mencoba kehebatanmu

……” Sambil bicara dia mengayunkan benda seperti pelangi

putih menyerang jalan darah Ki-bun A Bin.

Ternyata benda putih pelangi itu adalah ikat pinggang

wanita itu dipergunakan sebagai pedang.

Menghadapi serangan itu A Bin mengeserkan

langkahnya dan berputar tubuh, dengan jurus “Jian-bin-wiehong”

(Seribu muka orang gagah) dia menciptakan tirai

golok berlapis menahan tusukan pedang wanita itu, lalu

ujung golok A Bin menusuk wanita berbaju putih.

Wanita berbaju putih itu telah berpengalaman dalam

menghadapi pertempuran besar, mengetahui kehebatan

jurus golok halilintar, maka tangan kanan dia menggerakan

tali pinggang untuk melindungi tenggorok kannya, dan

telapak tangan kiri mengeluarkan angin lembut untuk

menahan serangan A Bin, dengan tenang dia tertawa

kepada A Bin:

“Tidak kusangka selain kau adalah turunan dari golok

halilintar dan mendapatkan kepandaian dari Siau-yaukiong,

tenaga dalammu pun begitu hebat, umurmu masih

muda tetapi mempunyai dasar tenaga dalam seperti telah

berlatih enam puluh tahun, peninggalan dari dunia

persilatan telah kau dapatkan, akupun merasa iri atas

Dewi KZ 440

keberuntunganmu, hari ini aku ada kesempatan untuk

menguji ilmu kau, mari……”

A Bin tidak menaruh dendam pada wanita ini, namun

karena beda status antara musuh dan kawan, membuat dia

siap menerima tantangannya, dia menaruh kewaspadaan

padanya, sebab lawan ternyata menge-tahui banyak asal

usul dirinya.

Wanita berbaju putih itu melayangkan tali pinggang itu

kemuka A Bin sambil menyapu kaki A Bin.

A Bin tetap berdiam ditempatnya, dia menarik nafas,

tubuh A Bin terbang ke atas, diatas udara tubuh A Bin

berbalik, golok A Bin diputar demikian rupa menciptakan

sinar emas yang bergetar melingkari kepala wanita berbaju

putih.

Wanita berbaju putih menarik kembali tali pinggangnya,

menjatuhkan dirinya sebentar, lalu tali pinggangnya

menyambut rangkaian kilatan golok, setelah bersempatan

meluruskan tubuhnya lagi, dia menggoyangkan tali

pinggang berlapis-lapis seperti gunung berlapis.

A Bin tidak mau kalah, dia mendemontrasikan jurus

golok keluarganya, sekali-kali juga menyelipkan berapa

jurus dari ketiga gurunya, sinar dingin menutup kepalanya

sambil bersuara seperti halilintar bercampur suara angin.

Serangan wanita berbaju putih dengan tali pinggang pun

mengeluarkan siulan yang menembus udara, A Bin yang

tidak berani melukai wanita cantik ini, sehingga tenaga dari

jurus goloknya tidak berfungsi penuh, maka A Bin sering

terdesak dibawah angin, tetapi saat keadaan terdesak A Bin

selalu bisa mengeluar kan jurus ampuh memukul mundur

wanita itu.

Dewi KZ 441

Dalam sekejab waktu mereka telah bertarung sekitar tiga

puluh jurus, masih tetap belum ada yang kalah dan

menang.

Wanita berbaju putih itu melihat meskipun A Bin telah

bertarung sebanyak tiga puluh jurus, dia masih tetap bisa

bertahan, bahkan jurus-jurusnya tidak pernah habis

digunakan A Bin, dia merasa tenaga dalam A Bin sangat

kuat dan sadar A Bin pun masih punya rasa kasihan

padanya. Maka dengan menggunakan ilmu mengirim suara

dia berkata pada A Bin:

“Anak muda, sungguh kau berbaik hati masih menaruh

rasa kasihan padaku, aku pun ingin terus terang padamu,

aku melayanimu juga demi kebaikanmu, asalkan kau

masuk ke dalam biara, maka dalam sekejab waktu, kau dan

orang-orang dalam biara akan terbakar menjadi abu.”

A Bin terkejut mendengar kata-kata itu, persis seperti

dugaan A Bin, orang-orang aliran Jian-kin-kau telah

mengerjakan sesuatu di dalam biara, maka A Bin melirik ke

dalam biara, terlihat bara api makin kecil, seperti hampir

habis terbakar, A Bin menjadi ragu apakah ucapan wanita

itu betul atau bohong.

Belum lagi A Bin berpikir habis, lokasi di bagian barat

dalam biara, dekat ruangan penyimpan kitab terlihat api

membubung tinggi ke atas langit. Waktu diperkirakan

menjelang fajar, dimana langit tampak gelap sekali, kobaran

api yang terjadi terasa sangat menakutkan orang, Hati A

Bin menjadi berat. Di bagian tenggara biara pun tampak api

berkobar lagi. Di bagian timur, selatan, barat dalam biara

sudah berapi, hanya bagian utara dekat pintu biara api

hanya berada di tangan para hweesio yang memegang obor.

Dewi KZ 442

A Bin merasakan ada satu pandangan dengan para

hweesio dan jago-jago di dalam biara maka dia berkata

pada wanita berbaju putih itu:

“Aku bertekad akan bersama-sama dengan mereka hidup

atau mati, aku berterima kasih pada kebaikanmu, tetapi

mulai detik ini, kau adalah musuhku yang harus dihadapi.”

A Bin segera berteriak, dan merobah jurus goloknya

dengan jurus menyerang, setiap gerakannya maju mendesak

lawan.

Meskipun wanita berbaju putih itu berilmu tinggi, tetapi

jurus golok A Bin sangat menakjubkan dan susah ditebak

arahnya, ujung goloknya selalu mengincar bagian tubuh

yang mematikan, membuat dia terdesak mundur.

Hati wanita berbaju putih itu tahu, bila dia masih

mempunyai rasa sayang pada anak muda ini, maka gerakan

yang telah direncanakan dengan matang selama beberapa

tahun akan menjadi gagal total. Maka segera menggigit gigi

dan berteriak, tali pinggangnya menusuk menghadang

serangan golok A Bin, dan bersamaan itu jarinya menotok

A Bin dengan totokan maut dalam jarak dekat.

Totokannya sangat dahsyat, dilakukan dengan sempurna

oleh wanita berbaju putih itu, belum pernah ada orang bisa

menghindar dari totokan jarinya, terlihat tubuh A Bin

terlempar diudara beberapa kali putaran lalu jatuh ke tanah.

Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu terkejut

melihat A Bin terluka, Hong-tai dan Siau-cian berteriak dan

menghampiri A Bin.

Semua jago-jago dari pihak Siau-lim mencemaskan

keselamatan jiwa A Bin, semua orang mengerumuni A Bin.

Kian Ih Taysu dengan kedua telapak tangan di depan

dada, berkata:

Dewi KZ 443

“Jurus Hui-thian-it-ci yang hebat…” mendadak sebagian

orang tertawa terkejut, membuat ketua Siau-lim itu melihat

kembali pada A Bin.

Ternyata A Bin sudah berdiri sebentar, dan duduk

kembali dengan mata tertutup, mengatur jalan pernapasan,

muka A Bin dari pucat berobah menjadi merah kembali,

dan sekejap dia sudah membuka kedua matanya,

memungut golok segera menghampiri wanita berbaju putih

lagi.

Melihat A Bin tidak terluka oleh totokan jarinya, wanita

berbaju putih itu tampak bengong, entah sedih atau

gembira, dia mundur dua langkah baru sadar kembali dan

berkata:

“Kau betul-betul beda dengan orang lain……”

A Bin tersenyum sejenak dan berkata:

“Jurus ketua sangat hebat, untung aku tidak mati oleh

jurus itu, aku mohon kau segera memberi perintah untuk

menghentikan penyerangan terhadap biara Siau-lim.”

Wanita berbaju putih itu dengan marah berkata:

“Hari yang aku rencanakan berapa tahun, mana mungkin

dapat dihentikan oleh kata-katamu!”

A Bin berteriak keras dan berkata:

“Kalau begitu, hadapilah jurusku yang lain!” lalu berkata

pada Kian Ih Taysu, ” Pihak musuh telah merencanakan

pemusnahan biara Siau-lim, untuk keamanan semua orang,

aku harap Taysu memberi perintah pada semua orang

dalam biara supaya keluar!”

Dengan jurus golok yang dimainkan seperti rangkaian

bunga, berobah seperti air hujan berwarna perak yang

menyirami tubuh wanita berbaju putih.

Dewi KZ 444

Jurus golok halilintar ini dimainkan A Bin lebih dahsyat

dari sang ayah.

Wanita berbaju putih itu sangat marah pada A Bin,

karena membongkar rahasianya, dengan tali pinggang dia

menahan serangan golok A Bin dan sekali lagi tali pinggang

itu menerobos pertahanan golok A Bin.

Ayunan tali pinggang wanita itu sangat cepat dan

bertenaga menuju satu arah yang dikehendaki, tenaga yang

disalurkan bisa menghancurkan batu atau besi.

A Bin merasa jurus tali pinggang lawan sangat hebat, tali

pinggang itu belum sampai, getaran angin dari tali pinggang

itu sudah menekan tubuhnya, A Bin jadi teringat sebuah

jurusnya yang ampuh, dia segera menarik napas,

menggumpulkan hawa murni dari Tan-tian, lalu tubuh A

Bin terbang ke atas menghindari serangan tali pinggang itu.

Wanita berbaju putih itu dengan perasaan marah,

bertekat akan membunuh A Bin dengan totokan jarinya, dia

melihat A Bin turun dari atas dengan tubuh berputar dan

golok yang memancarkan warna emas menyerang

kepalanya.

Jurus A Bin ini adalah jurus golok halilintar yang paling

hebat dinamakan ‘Gin-han-hui-seng’ (Bintang perak

terbang), kilauan dari golok itu sangat keras, sehingga susah

ditebak ujung golok itu menuju kearah mana.

Pengetahuan wanita berbaju putih sanga luas terhadap

jurus-jurus dari semua aliran, tetapi terhadap jurus A Bin

yang memutar tubuhnya di atas udara, dia tidak mengenal,

jurus ini seperti air hujan yang turun di atas kepala, dia jadi

merasa sedikit gentar.

Dewi KZ 445

Tetapi wanita berbaju putih itu mempunyai dasar ilmu

silat yang kuat, biarpun gentar dia tetap bisa tenang, dia

berteriak sejenak, lalu memusatkan tenaga dalamnya di

tangan kanan, menggerakan tali pinggang membentuk tabir

cahaya sambil bersuara keras, mem-buat pasir tanah terbang

kemana-mana dan menahan serangan A Bin di atas kepala.

A Bin tidak mau beradu senjata dengan senjata

lawannya, dia khawatir goloknya akan dililit oleh tali

pinggang itu, maka A Bin menarik napas lagi, tubuh A Bin

yang turun ke bawah segera naik lagi sekitar tiga kaki, dan

menarik kembali golok yang berputar.

Dengan siulan seperti naga, tubuh A Bin berbalik

diudara, goloknya dengan kilatan cahaya dingin seperti

bintang meteor membentur bayangan tali pinggang lawan.

Wanita berbaju putih itu tidak dapat menahan serangan

A Bin ini, biarpun pertahanan dia sangat rapat, terdengar

suara kain robek, dan tubuh dia terasa dingin karena baju

dia telah robek oleh goresan golok A Bin.

A Bin segera turun dari udara berdiri tegap dengan

tatapan mata berwibawa, menunggu reaksi wanita berbaju

putih itu.

Untuk pertama kalinya Wanita berbaju putih itu

dikalahkan oleh orang lain, dia panasaran dan ingin

mencoba lagi dengan ayunan tali pinggang itu.

Terdengar suara batuk dari orang berbaju emas yang

memegang pedang berbentuk melingkar dan menghampiri

wanita berbaju putih, dia berbisik di kuping ketua aliran

Jian-kin-kau itu.

Wanita berbaju putih dengan mata bersinar dari belakang

kain tutup muka melihat sekeliling dan segera mengangkat

Dewi KZ 446

tangan mungil keatas dan melambaikan tangan dengan

perlahan-lahan.

Lambaian tangan ketua aliran Jian-kin-kau memberi

perintah pada semua orang-orang aliran untuk mundur ke

belakang beberapa langkah, tetapi tetap melingkari pintu

biara Siau-lim.

Kobaran api dalam biara makin meluas, tetapi ketua

Siau-lim seperti tidak peduli, dia hanya mengawasi musuh

yang berada di depan mata, barisan Lo-han tetap berdiri

dengan rapih, tidak kacau dan risau.

Tetapi jago-jago lain yang melihat orang-orang aliran

Jian-kin-kau mundur tanpa mengalami kekalahan, mereka

merasa curiga, musuh seperti menunggu sesuatu, tindakan

mereka ini mengundang kecurigaan pihak Siau-lim.

Ternyata Wanita berbaju putih itu memberi perintah

lagi pada anggota berbaju hitam yang menembakan

panah isyarat ke udara, terlihat kobaran api berwarna ungu,

memecahkan kegelapan langit.

A Bin terkejut melihat api ungu itu, api yang memberi

isyarat kepada orang-orang aliran Jian-kin-kau dalam biara

untuk bertindak, tetapi A Bin tidak tahu harus berbuat apa.

Demikian juga Kian Ih Taysu, tidak berbuat apa-apa, hanya

bisa menunggu perkembangan yang terjadi di dalam biara.

Api ungu isyarat itu tidak terlihat bereaksi dalam biara

yang masih dilanda kebakaran, hal ini membuat wanita

berbaju putih dan orang berbaju hitam merasakan ada

perobahan di luar dugaan mereka.

Ragu-ragu sejenak, wanita berbaju putih itu baru

mengambil putusan tegas dan berteriak:

“Serang!”

Dewi KZ 447

Orang-orang aliran Jian-kin-kau segera mengangkat dan

mengayun-ayunkan senjata masing-masing, siap menyerang

lagi.

Kian Ih Taysu berkata ‘O-mi-to-hud’ mengambil tongkat

pusaka yang dipegang murid Siau-lim di belakang

tubuhnya, membentangkan tongkat itu dengan suara seperti

angin puyuh, memukul mundur pesilat tinggi dari aliran

Jian-kin-kau yang maju mendesak.

Kerasnya pukulan tongkat ketua Siau-lim ini, membuat

pesilat tinggi dari pihak lawan tidak berani mendekati dan

semua di hadang mundur.

Orang baju hitam yang bernama Pau-it-maju ke depan

menghadapi Kian Ih Taysu tanpa membawa senjata, tangan

kanannya langsung memukul dada ketua Siau-lim,

sedangkan tangan kiri secepat kilat ingin merampas tongkat

lawan.

Sambil berkata ‘O-mi-to-hud’ sekali, tangan kiri Kian Ih

Taysu menyambut pukulan Pau-it, tangan kanan yang

memegang tongkat diayunkan ke bawah dan menghantam

kaki Pau-it.

Pau-it tidak berhasil merampas tongkat ketua Siau-lim

dan untuk menghindari pukulan tongkat itu dia segera

mengangkat tubuhnya ke atas tetapi tangan kanan dia tetap

beradu dengan tangan ketua Siau-lim yang menimbulkan

sedikit suara.

Kedua telapak tangan bentrok, masing-masing merasa

terkejut, karena tubuh Pau-it berada di udara dia kalah

tenaga dan terlempar kebelakang sekitar tujuh atau delapan

kaki, tetapi Kian Ih Taysu juga terdesak oleh pukulan Pau-it

dengan mundur tiga langkah, bersamaan itu orang-orang

Jian-kin-kau yang lain menyerang dari dua sisi.

Dewi KZ 448

Dengan tongkat di tangannya Kian Ih Taysu

menghantam Pau-it yang sudah mendekat kembali, dan

sebelah tangannya mengerahkan tenaga dalam siap

melancarkan menyerang.

Pau-it berteriak keras:

“Keledai gundul hayo mundur!” melancarkan pukulan

pada ketua Siau-lim itu dengan tenaga penuh, menotok

pada tongkat yang datang, membuat tongkat ketua Siau-lim

ditekan turun ke bawah.

Kian Ih Taysu berseru:

“Sungguh hebat pukulan Sicu!” dia bersiap akan

menerima pukulan lawan dengan telapak tangan Budha,

mendadak satu sinar pedang menghampiri mukanya,

seorang berbaju hitam yang mahir ilmu silat Bu-tong-pay

ikut menyerang.

Kian Ih Taysu telah melihat orang ini ketika melawan A

Bin, dia tidak berani menganggap enteng, dengan tongkat

yang berada di bawah diangkat keatas dan melindungi

tubuhnya dengan bayangan tongkat.

Ujung pedang orang itu menghilang dari pandangan

mata, ternyata orang berbaju hitam itu berputar arah dua

kali dan menyelinap dari pinggir kanan Kian Ih Taysu,

berusaha maju kedepan.

Soat-song Cinjin langsung menghadang orang itu dengan

tusukan pedang.

Terlihat sesosok bayangan emas menghampiri dan suara

teriakan dari orang berbaju emas yang menggunakan

pedang melingkar telah ikut menyerang Soat-song Cinjin

dari belakang orang berbaju hitam, dia ingin melukai

tangan Soat-song Cinjin yang memegang pedang.

Dewi KZ 449

Orang ini mahir menggunakan ilmu pedang dan tidak

kalah dengan ilmu pedang Bu-tong-pay, maka Soat-song

Cinjin terpaksa mundur sedikit ke samping.

Orang berbaju hitam yang mahir dengan ilmu pedang

Bu-tong-pay dengan cepat melewati hadangan Soat-song

Cinjin, dia berusaha lebih maju ke depan, sekarang di depan

matanya berdiri Hoa-san Sinni dengan hudtimnya

menghalangi dia.

Orang-orang aliran Jian-kin-kau yang lain tertahan oleh

barisan Lo-han.

A Bin dan wanita berbaju putih itu mengawasi

pertarungan dari tempat yang berlawanan arah, siap untuk

menghadang lawan melangkah lebih maju, Hong-tai dan

Siau-cian pun tidak membantu dalam pertarungan itu,

mereka tetap berdiri di pinggir A Bin untuk melindungi A

Bin.

Terdengar suara sayup dari mulut wanita berbaju putih,

katanya:

“Anak muda, hari ini kau telah merusak rencana aku

yang sudah di atur sempurna, dan mata-mataku dalam

biara pun telah dilumpuhkan entah oleh siapa, membuat

jerih payah aku berapa tahun jadi sia-sia, dendam kematian

ayah dan kakakku, kau yang harus bertanggung jawab!”

A Bin jadi teringat kematian ayahnya yang juga belum

terbalas, A Bin merasa jika dia dipihak wanita berbaju putih

pun akan mempunyai perasaan sedih yang sama, maka dia

segera berkata:

“Kau balas dendam untuk ayah dan kakakmu adalah hal

wajar, tetapi balas dendam pada semua orang dan

membakar biara Siau-lim adalah tindakan terlalu

berlebihan…”

Dewi KZ 450

Wanita berbaju putih yang sedang dalam emosi sekali

mana mungkin menerima kata-kata A Bin, dia malah

berteriak dengan keras:

“Sudah, jangan banyak omong, hari ini, kau yang mati

atau aku yang mati!”

Wanita berbaju putih itu menyerang A Bin lagi dengan

tali pinggangnya, tapi Hong-tai dan Siau-cian sudah lebih

duluan ingin melawan dengan senjata mereka.

Tapi A Bin melarang mereka maju dan berkata:

“Biar aku yang maju!” A Bin menggoyangkan golok dan

menggunakan jurus menempel di tali pinggang itu, lalu

menurunkan ke bawah dengan cepat.

Wanita berbaju putih berusaha menggetarkan tali

pinggangnya ingin melemparkan golok A Bin, ternyata

golok A Bin mempunyai daya tempel yang kuat di tali

pinggang, untuk menghilangkan tenaga tali itu, golok A Bin

tetap turun menuju tangan wanita berbaju putih yang

memegang tali pinggang.

Jurus golok A Bin yang hebat itu adalah salah satu jurus

golok halilintar yang sulit dilepaskan oleh tenaga getaran

sebesar apapun. Wanita berbaju putih terpaksa melepaskan

tangan yang memegang tali pinggang.

Tindakan wanita berbaju putih melepaskan tali

pinggangnya adalah hal yang wajar untuk menyelamatkan

diri, tetapi setelah tali pinggangnya terlepas dari tangannya,

dia seperti terpukul oleh halilintar dan terpaku diam di

tempat.

Sejak wanita berbaju putih mendirikan aliran Jian-kinkau,

belum pernah gagal seperti hari ini, karena sedih maka

dia menangis seperti seorang gadis yang lemah, hilanglah

Dewi KZ 451

wataknya sebagai ketua aliran Jian-kin-kau yang sadis,

tegas, kuat.

Hati A Bin merasa tidak enak karena telah melukai

kewibawaan wanita berbaju putih, dia ingin menghibur dan

menghampiri wanita itu dengan langkah perlahan-lahan,

dan berkata:

“Kau jangan sedih, ini adalah……” Kata A Bin belum

habis, wanita berbaju putih itu telah mengangkat jarinya

yang mungil dan menotok A Bin yang tidak siap diri,

totokan itu persis diantara dua saraf penting, membuat

tubuh A Bin terpelanting terbang tinggi sekitar empat atau

lima kaki dan jatuh ke tanah dengan suara keras.

Hong-tai dan Siau-cian langsung berteriak dan segera

menghampiri A Bin, yang berbaring menghadap ke

samping, kedua mata A Bin tertutup rapat, warna mukanya

hijau dan nafas yang sangat lemah, seluruh tubuh

bergoyang.

Dua gadis yang selalu bermusuhan saling pandang,

sejenak mereka mengesampingkan rasa permusuhannya.

Sambil menangis Siau-cian bertanya pada Hong-tai:

“Cici Hong-tai, apakah dia ……masih bisa tertolong?”

Hong-tai dengan perasaan sedih berkata:

“Dia ……belum habis, tetapi napasnya tinggal sedikit,

aku kira dia tidak tertolong lagi.”

Siau-cian memperlihatkan mata yang marah dan berkata:

“Cici, bila dia tidak bisa hidup lagi, kita berdua bersamasama

harus membalas dendam!”

Hong-tai dengan tegas berkata:

“Betul! Kita berdua harus membunuh wanita itu untuk

kakak A Bin.”

Dewi KZ 452

Kedua gadis yang baru berkawan itu menghampiri

wanita berbaju putih sambil memegang senjata masingmasing,

pedang dan busur panah, dengan muka yang sedih

mendekati wanita itu perlahan-lahan.

Wanita berbaju putih itu seperti patung, berdiri

menunggu kedua gadis itu mendekat sekitar tiga kaki, baru

bertanya:

“Kalian berdua ingin balas dendam untuknya?”

Hong-tai dan Siau-cian menganggukkan kepala dan

bersamaan berkata:

“Kami akan membunuhmu demi kakak A Bin!”

Wanita berbaju putih dengan suara lemas berkata:

“Kalian berdua tidak akan bisa mengalahkan aku!”

Hong-tai dengan marah berkata:

“Tidak menjadi masalah, kami tetap akan melawanmu!”

Siau-cian malah berkata, “tidak bisa mengalahkanmu, kami

siap mati di tanganmu!”

Wanita berbaju putih itu dengan suara lemas dan

menghela napas berkata:

“Aku marah, sehingga melukai dia, sekarang menyesal

pun percuma, mulai hari ini, aku tidak akan membunuh

lagi, dan tidak ingin berkelahi lagi dengan orang lain, kalian

berdua jangan mengganggu aku lagi, aku akan pergi!”

Setelah habis bicara, dia mengeluarkan kecapi memetik

lagu yang sangat sedih, membuat kedua pipi Hong-tai dan

Siau-cian penuh dengan air mata, mereka tertegun berdiri,

lupa mencari wanita berbaju putih untuk membalas

dendam.

Dewi KZ 453

Setelah sadar kembali, wanita berbaju putih sudah

menghilang dari pandangan mata mereka, hanya terdengar

suara kecapi yang sedih itu dari kejauhan hingga berhenti.

Orang-orang aliran Jian-kin-kau pun mengundurkan diri

karena tidak ada pimpinannya lagi.

Setelah orang-orang aliran Jian-kin-kau turun ke bawah

gunung, hweesio-hweesio Siau-lim-sie membereskan mayatmayat

yang bergelimpangan dimana-mana, ternyata kedua

pihak telah mengalami kerugian yang sama besar. Api

dalam biara juga mulai padam, kemungkinan keributan

dalam biara sudah dapat diatasi.

Kian Ih Taysu, Soat-song Cinjin dan lain-lainnya tidak

mempedulikan keadaan dalam biara, mereka menghampiri

tubuh A Bin yang terluka parah. Soat-song Cinjin yang

pertama memeriksa luka A Bin, setelah memeriksa denyut

nadi di tangan A Bin dia jadi murung, berkata dengan

sedih:

“Lui-siauhiap terluka diantara dua urat nadi penting,

dewapun sulit mengobati lukanya.”

Mendengar kata-kata itu Hong-tai dan Siau-cian

menangis tersedu-sedu, wajah pendekar-pendekar lain pun

sedih, mereka terpaku diam di tempat lupa untuk menengok

keadaan dalam biara.

Di dalam biara terlihat serombongan orang,

menghampiri kerumunan orang yang sedang

memperhatikan keadaan A Bin. Mereka adalah Sin-kisiucai

Cukat Hiang dan Gin-hoat-lo-jin Wie Tiong-hoo dan

pesilat tinggi lain yang mendapatkan kabar bahwa A Bin

terluka, sehingga mereka berebutan keluar biara untuk

melihat A Bin.

Dewi KZ 454

Setelah melihat keadaan luka A Bin, semua orang turut

merasa sedih, Cukat Hiang yang punya julukan orang

bijaksana atau peramal jitu juga tidak punya akal apa-apa.

Mendadak terdengar suara teriakan aneh dari mulut

seorang yang baru datang:

“Adik Lui! Kau……kau kenapa!”

Seorang yang roman wajahnya seperti monyet itu segera

menyelinap masuk ke dalam kerumunan orang, dia adalah

teman baik A Bin, Cia Ma-lek. Melihat kedatangan Cia Malek,

Hong-tai teringat kembali waktu pertama kali bertemu

A Bin, sehingga dia semakin sedih melihat keadaan luka A

Bin.

Cia Ma-lek melihat A Bin terluka parah dengan nafas

yang lemah, diapun ikut menangis dengan suara keras.

Dari luar kerumunan orang-orang terdengar suara marah

seseorang dan berkata:

“Anak-anak tidak becus, apa guna menangis, ayo

beritahu aku, apakah anak muda itu telah berhenti

bernafas?”

Semua orang berpaling melihat orang yang marah itu,

ternyata seorang kakek yang memakai jubah terbalik dan

seorang yang berumur kira-kira lima puluh tahun dengan

berpakaian bangsawan yang mewah.

Cia Ma-lek mengenali mereka, yang seorang adalah Yopo-

lo-to yang kocak, sedangkan satu orang lagi adalah

gurunya sendiri Seng-jiu-pui-suo Leng Hau-te.

Melihat kedatangan dua orang itu, entah sedih atau

gembira, Cia Ma-lek segera memberi hormat pada Suhu

dan Supeknya, sambil menangis berkata:

Dewi KZ 455

“Adik Lui……dia masih bernafas, tetapi …… hampir

mati!”

Yo-po-lo-to dengan suara marah berkata:

“Kau keliru berkata, ada nafas berarti tidak mati, tidak

mati berarti tidak akan mati, mengapa bilang hampir mati!”

Cia Ma-lek tidak berani menjawab pada Supeknya yang

memarahi.

Semua pendekar telah mengenal kakek yang berpakaian

aneh dan bertabiat kocak ini, sehingga tidak tersinggung

oleh ucapan dia, hanya tidak menyangka bahwa guru Cia

Ma-lek yang tersohor dengan nama julukan pencuri ajaib

ini ternyata berpakaian sopan sekali.

Cukat Hiang baru bisa menjelaskan kejadian dalam biara

pada Kian Ih Taysu dengan berkata:

“Hari ini kita beruntung dibantu oleh kedua Tayhiap ini,

sehingga biara Siau-lim bisa selamat!” lalu dia bertanya

pada dua orang tua itu, “apakah Lui-siauhiap masih bisa

tertolong ?’

0-0dw0-0

BAB 8

Busur dan pedang bergabung dengan golok

Mengetahui kedatangan dua orang yang begitu tersohor,

dan di depan semua jagoan mengatakan bahwa A Bin tidak

akan mati, semua orang nampak gembira.

Peramal jitu Cukat Hiang segera mendesak pada Yo-polo-

to, cara apa yang bisa menyelamatkan jiwa A Bin.

Yo-po-lo-to membelalakkan sepasang matanya yang

aneh pada semua orang, tampak bola mata yang berwarna

Dewi KZ 456

putih lebih banyak dari warna hitam, dengan mata itu dia

berkata pada Cukat Hiang:

“Kau seorang cendekiawan, pengetahuannya segudang,

ilmu bumi dan perbintangan tahu semua dengan julukan

sebagai Peramal jitu, kenapa jadi begitu bingung.”

Sudah menjadi kebiasaan bagi kakek ini, semua orang

pernah diledeki oleh dia, maka Cukat Hiang tidak marah,

malah dengan nada bersungguh-sungguh dia berkata:

“Aku masih belum tahu obat atau ilmu apa yang bisa

menolong adik Lui dari totokan maut itu.”

Yo-po-lo-to makin memperlihatkan tingkahnya sebagai

orang tua yang berpengalaman berkata:

“Aku katakan padamu, Peramal jitu, kau lebih muda dari

aku, lebih sedikit makan nasi dari aku sekitar dua atau tiga

puluh tahun, maka pikiranmu kurang jernih bila

menghadapi masalah, aku tanya, totokan Hui-thian-it-ci

kehebatannya apa saja.”

Cukat Hiang menjawab seperti menghitung benda

pusaka di rumah sendiri katanya:

“Totokan itu digunakan dengan memusatkan pikiran,

mati atau hidup, tetapi bila yang terkena totokan adalah

nadi yang penting, segera akan mati…”

Cukat Hiang begitu cerdas otaknya, baru saja berkata

pada detik itu dia langsung mengerti dengan suara “OH”

sebentar dia langsung berkata dengan gembira:

“Aku mengerti, adik Lui ini kena totokan maut diantara

dua nadi penting, tetapi tidak langsung mati berarti dia

punya kekuatan tenaga dalam yang hebat, sehingga bisa

menahan luka yang berat itu, maka dia tidak akan mati!”

Dewi KZ 457

Cukat Hiang menerangkan begitu jelas, mem-buat semua

orang jadi gembira, Hong-tai dan Siau-cian langsung

berhenti menangis, Cia Ma-lek pun sangat gembira sambil

tidak hentinya menggosok kedua kuping dan pipi dengan

tangannya.

Yo-po-lo-to berkata dingin:

“Kalian jangan gembira dulu, totokan maut itu pun

jangan dipandang remeh, anak muda ini bertahan tidak

mati karena dasar tenaga dalamnya sangat hebat, tetapi bila

tidak ada cara lain untuk menolong, dia akan pingsan

demikian rupa sampai tenaga dia habis dan mati!”

Kata-kata itu membuat Hong-tai, Siau-cian dan Cia Malek

jadi ketakutan dan bengong.

Cukat Hiang pandai melihat muka orang, dia sudah tahu

bahwa Yo-po-lo-to sengaja mempermainkan anak-anak

muda ini, padahal dia sudah punya cara pengobatan tetapi

tidak segera dikatakan, maka Cukat Hiang dengan tertawa

berkata:

“Yo-po Toako, aku memanggilmu demikian, harap

jangan marah! kau jangan pura-pura lagi, kau punya cara

apa yang bagus, cepat terangkan, agar anak muda tidak

takut dan terkejut.”

Yo-po-lo-to menjawab dengan berkata:

“Siucai, kau pintar memerankan orang baik, malah

membongkar rahasiaku……”

Pencuri ulung Leng Hau-te pun meminta pada Yo-po-loto

dengan kata:

“Betul, cepat kau katakan saja!”

Yo-po-lo-to membelalakan mata putihnya, balik

menyindir dengan berkata:

Dewi KZ 458

“Pencuri tua! Kau pun mendesak aku, kau sayang pada

muridmu, supaya tidak ketakutan. Kau juga sudah tahu,

lebih baik kau……”

Pencuri ulung Leng Hau-te pernah menjadi brandalan,

tetapi beberapa tahun ini, sudah banyak berobah dan

memperdalam ilmu kebatinan, sambil tersenyum dia

berkata:

“Lui-lote ini berlatih tenaga dalam yang bersifat dingin,

tidak cocok dengan keadaan tubuhnya sekarang, setelah

terkena totokan, tenaga murni dalam tubuh yang berlainan

sifat menjadi bentrok, cara menolongnya harus dengan obat

yang sifat positif dan di bantu oleh orang yang betul-betul

kuat tenaga dalamnya, membantu dia memulihkan tenaga

dan melalui sembilan kali putaran baru bisa baik!”

Cukat Hiang sudah memikirkan obat yang cocok buat A

Bin, maka katanya:

“Obat yang bersifat panas ada Ku-cun, Lu dan Ma-hu,

barang yang ada di tempat jauh, tidak bisa diambil dalam

satu jam, dan apa mujarab buat sakit A Bin……”

Kian Ih Taysu segera memutuskan ucapan Cukat Hiang,

sambil berucap satu kata O-mi-to-hud, dengan hidmat

berkata:

“Aku telah mengetahui benda bersifat panas yang

mujarab, dan benda itu ada di dalam biara……”

Semua orang nampak gembira, Cukat Hiang dengan

nada riang berkata:

“Barang berharga apa, aku belum pernah dengar,

bolehkah semua orang mengetahui?”

Kian Ih Taysu perlahan-lahan berkata:

Dewi KZ 459

“Benda itu adalah Tulang putih yang meng-kristal (Su-likut)

dari maha guru yang meninggal dan telah

dikremasi……”

Kata-kata itu membuat semua orang terkejut, mereka

tahu bahwa maha guru biara Siau-lim itu adalah hweesio

agung yang sudah hidup selama seratus tahun, dan telah

mengabdikan diri selama enam puluh tahun di biara dan

baru saja dikremasi, dalam tumpukan tulangnya terdapat

Tulang putih itu, untuk menghormati jasanya, Tulang putih

dari seorang maha guru agama Budha di hormati sebagai

barang langka, dan benda itu diletakan dalam biara sebagai

benda pusaka.

Betul Tulang putih itu bisa berguna untuk

menyembuhkan orang yang hampir mati, ibarat mengganti

tulang yang rapuh dan kulit yang terkelupas, benda yang

dianggap keramat itu bukan sembarang orang bisa

mendapatkan, semua orang tahu bahwa benda itu sangat

mujarab, belum pernah ada orang yang boleh mendapatkan

benda itu. Sekarang Kian Ih Taysu sudah berkata begitu

berarti dia ingin memberikan benda pusaka itu pada A Bin,

semua orang jadi terkejut dan iri, karena celaka A Bin

malah mendapat rejeki.

Karena itu benda pusaka biara Siau-lim, jadi semua

orang tidak berani meminta barang itu buat A Bin. Hanya

Hong-tai dan Siau-cian saling pandang sejenak dan

menghampiri Kian Ih Taysu sambil memberi hormat pada

ketua Siau-lim.

Kian Ih Taysu mengetahui maksud kedua anak gadis itu,

sambil mengucapkan ‘O-mi-to-hud’, dia berkata:

“Kalian tidak perlu memberi hormat padaku, aku sudah

memutuskan akan memberikan benda pusaka itu pada A

Bin Siauhiap, sebab kalau bukan dia tadi yang membantu

Dewi KZ 460

kita, biara Siau-lim akan hancur, bila sampai terjadi hal

yang demikian, benda pusaka itu pasti jatuh ke tangan

aliran Jian-kin-kau. Aku memberikan benda itu pada

penolong Siau-lim, kukira arwah beliau pun akan

mengerti.”

Semua orang baru lega setelah ketua Siau-lim-sie berkata

begitu jelas.

Sambil tertawa terbahak-bahak Yo-po-lo-to berkata:

“Hweesio tua, aku sudah lama mengincar benda itu, bila

kau tidak mengatakan duluan, aku yang bermuka tebal pun

tidak berani membuka mulut untuk minta benda itu.”

Hong-tai dan Siau-cian mengucapkan banyak terima

kasih. Cukat Hiang dengan gembira berkata:

“Benda mujarab telah didapat, tapi siapa orang yang bisa

membantu memulihkan tenaga dalam A Bin?”

Yo-po-lo-to menunjuk Kian Ih Taysu katanya:

“Tidak perlu jauh-jauh, biarkan hweesio ini yang

mengerjakan, sebab tenaga dalam dia adalah pilihan yang

paling tepat.”

Sambil merapatkan kedua telapak tangan Kian Ih Taysu

berkata:

“Pinceng pasti akan berusaha sekuat tenaga membantu

memulihkan kesehatan A Bin Siauhiap.”

Setelah itu Hong-tai, Siau-cian dan beberapa orang

hweesio Siau-lim mengawal A Bin masuk ke dalam biara

menunggu Kian Ih Taysu.

Kian Ih Taysu dengan pesilat lain memeriksa kerusakan

biara Siau-lim, terlihat bekas kebakaran dan tembok yang

retak ada dimana-mana, beruntung tidak terlalu besar

Dewi KZ 461

kerugian biaranya, dan api dapat dipadamkan dengan

tuntas dua jam kemudian.

Dalam kesempatan diwaktu memeriksa keadaan biara,

Cukat.Hiang menceritakan kejadian dalam biara yang

menegangkan, semua orang baru tahu bahwa bila tidak ada

orang yang membantu diam-diam, semua orang dalam

biara dan biara yang berumur ribuan tahun akan musnah

dalam kebakaran yang besar.

Ternyata Cukat Hiang pada waktu rapat sudah menaruh

curiga pada Thi-koan Tojin yang meminta cincin besi

hitam, dan memberi tugas pada orang untuk mengintai

gerak-gerik Thi-koan Tojin. Dan dilain pihak, Cukat Hiang

mendapat berita rahasia dari Gan Cu-kan tentang akan

adanya penyerangan besar-besaran oleh aliran Jian-kin-kau,

maka semua hweesio biara telah disiap-siagakan.

Lalu Cukat Hiang memasang jebakan di ruang

penyimpanan kitab yang dimasuki oleh wanita berbaju

putih dan A Bin, namun mereka dapat lolos.

Begitu wanita berbaju putih dan A Bin dapat meloloskan

diri, Cukat Hiang langsung minta pada Kian Ih Taysu

untuk menggerakan barisan Lo-han yang tangguh untuk

menjaga biara. Dia sendiri dengan Wie Tiong-hoo

meminpin tenaga orang yang kuat, berpatroli diseluruh

halaman biara untuk menangkap mata-mata aliran Jian-kinkau

yang akan merusak biara.

Ternyata Thi-koan Tojin lebih pintar dari mereka, orang

biara yang ditugaskan mengawasi Thi-koan Tojin malah

dibunuh lebih dulu, dan dia dapat lari dengan tenang.

Setelah mengetahui orang sendiri terbunuh, Cukat Hiang

menjadi kelabakan, tidak bisa mengetahui mata-mata

Aliran Jian-kin-kau telah merencanakan siasat apa dalam

biara, dia sudah curiga pada musuh akan menaruh barang

Dewi KZ 462

mudah terbakar dalam biara, tetapi tidak dapat memastikan

ditaruh dimana. Dan bersama-sama dengan Wie Tionghoo,

Gan Cu-kan untuk mencari tempat yang dicurigai

namun tidak berhasil

Di saat orang pintar sekaliber Cukat Hiang pusing tujuh

keliling, ternyata mereka mendapatkan pesan rahasia dari

sehelai daun terbang yang mengabar-kan mata-mata dalam

biara telah dibasmi, dan minta Cukat Hiang meningkatkan

kewaspadaan terhadap musuh baru yang akan berusaha

masuk biara lagi.

Cukat Hiang tidak percaya penuh pada pesan rahasia itu,

dengan hati-hati menilai orang yangmemberi pesan yang

tidak jelas, dia masih tetap melakukan pemeriksaan yang

ketat, tapi tidak berhasil mendapatkan apa-apa.

Cukat Hiang hanya dapat memberi perintah pada semua

orang untuk lebih waspada.

Setelah pihak aliran Jian-kin-kau memberi perintah

melalui panah api di udara, ternyata hanya sebagian kecil

halaman biara saja yang terbakar, tidak terjadi kebakaran

yang susah dipadamkan, hati Cukat Hiang jadi terlepas dari

beban berat.

Karena Kian Ih Taysu dan Cukat Hiang telah mengatur

penjagaan yang sempurna, maka penyerangan orang-orang

aliran Jian-kin-kau dari tiga arah dapat ditahan, tidak ada

musuh yang dapat masuk ke dalam biara.

Di saat genting, dimana Cukat Hiang dan kawankawannya

kewalahan melawan musuh yang kuat, terlebih

pada seorang musuh yang berbaju abu, yang diperkirakan

pimpinannya, ilmu silat dan jurus yang tangguh dari musuh

ini membuat Cukat Hiang dan kawan-kawan hampir

terluka. Beruntung Yo-po-lo-to dan Leng Hau-te keluar dari

tempat persembunyiannya dan membantu untuk melawan

Dewi KZ 463

musuh, sehingga orang-orang aliran Jian-kin-kau terdesak

mundur, bersamaan itu pimpinan mereka dan wanita

berbaju putih telah pergi lebih dulu, membuat semangat

juang anggota Jian-kin-kau hilang dan mundur dari arena

pertarungan.

Cukat Hiang baru tahu yang memberi pesan rahasia

melalui daun terbang itu adalah Yo-po-lo-to, yang telah

membuang semua belerang dalam biara dengan bantuan

Leng Hau-te.

Setelah mengetahui kejadian dalam biara yang

diutarakan Cukat Hiang, Kian Ih Taysu mewakili semua

hweesio biara Siau-lim mengucapkan terima kasih pada

kedua orang sesepuh dunia persilatan itu, kedua orang itu

hanya tersenyum dan mengatakan itu urusan biasa tidak

perlu berterima kasih, dan mereka mengatakan ada urusan

lain, lalu pamit pada semua orang dan pergi.

Leng Hau-te memberi isyarat pada Cia Ma-lek untuk

pergi bersama, namun Cia Ma-lek mohon pada guru untuk

tetap tinggal di biara ikut merawat A Bin.

Setelah pertarungan yang melelahkan selesai,

kebanyakan pesilat-pesilat dari semua aliran pamit juga

untuk pulang ke tempat masing-masing. Hanya Tee Wie

dari Go-bi, Ketua partai Heng-san Coan Tai-kwi,

Shangguan Leng dari Sungai Hoai, Gan Cu-kan dan Ku-cu

Tojin dari Bu-tong yang terluka, masih tetap tinggal di biara

untuk merawat luka mereka. Ketua Bu-tong-pay Soat-song

Cinjin, Peramal jitu Cukat Hiang, kakek Wie Tiong-hoo

pun masih di biara merundingkan masa depan yang akan

dihadapi bersama.

Kian Ih Taysu sudah masuk ke dalam kamar istirahat A

Bin untuk memberi pertolongan pada A Bin. Dengan

menyalurkan tenaga dalam agar A Bin cepat baik.

Dewi KZ 464

Kian Ih Taysu memerlukan waktu tiga malam untuk

membantu A Bin dan tidak boleh diganggu sedikit pun,

agar manfaat Tulang putih itu betul-betul bermanfaat bagi A

Bin.

Berapa hari keadaan A Bin seperti yang tertidur nyenyak,

tanpa bergoyang dan bangun, Hong-tai, Siau-cian dan Cia

Ma-lek merasa cemas. Cukat Hiang, Soat-song Cinjin

menghibur mereka, mengatakan tidak perlu kuatir tentang

diri A Bin.

Hari ketiga Kian Ih Taysu keluar dari kamar A Bin,

muka ketua Siau-lim ini tampak berwarna merah dan

bercahaya, seperti bayi baru lahir saja layaknya, Jit Ie Taysu

dan hweesio-hweesio lain telah menunggu di luar pintu

dengan mengenakan jubah upacara.

Semua hweesio memberi hormat pada Kian Ih Taysu

dan terus mengucapkan lagu pujian Budha, pesilat-pesilat

lain di partai Siau-lim terlihat kagum atas kegiatan hweesio

Siau-lim yang sangat agung.

Jit Ie Taysu menghampiri Kian Ih Taysu dan membantu

ketua Siau-lim untuk memakai jubah kuning yang baru

dibawa oleh empat hweesio kecil, dan memberikan juga

segala alat untuk upacara.

Kian Ih Taysu memegang tongkat dari batu giok hijau

yang melambangkan kekuasaan ketua partai Siau-lim, di

depan dia telah siap enam belas hweesio kecil yang

memegang Hudtim dan berjalan perlahan-lahan menuju

ruang utama biara, semua hweesio mengikuti rombongan

ketua di belakang dengan tertib dan hidmat, mereka

memakai baju yang berbeda-beda warna, sebuah

pemandangan upacara yang agung.

Begitu Kian Ih Taysu mendekati tangga pintu masuk,

hweesio-hweesio yang bertugas disana segera membunyikan

Dewi KZ 465

lonceng, tambur, guci, dan alat musik upacara agama

Budha yang lain, terdengar nyanyian yang sejuk dari irama

agama Budha.

Begitu nyanyian itu habis, semua hweesio yang berdiri di

lapangan depan ruang utama bersama-sama memanjatkan

doa, Kian Ih Taysu, Jit Ie Taysu dan lain-lain hweesio

membungkukan tubuh di lantai halaman.

Ke enambelas hweesio kecil itu tiap orang berdiri di tiap

anak tanga, di kiri dan kanan mereka persis berdiri di

delapan anak tangga.

Kian Ih Taysu mengangkat tongkat kebesaran ketua

partai ke atas kepala, telapak tangan kirinya di taruh di

depan dada, sambil merapatkan mata dan berdoa, kirakira

seperempat jam kemudian baru melangkah naik tangga,

perlahan-lahan memasuki ruang utama biara.

Dalam ruang utama juga terdengar nyanyian pujian

terhadap kebesaran Budha, diikuti nyanyian hweesiohweesio

di luar ruangan utama, dan beberapa menit

kemudian nyanyiannya selesai.

Kian Ih Taysu membungkukan tubuhnya di depan altar

patung Budha, mengangkat tongkat giok hijau ke atas

kepala sebanyak tiga kali, lalu tongkatnya di serahkan pada

seorang hweesio yang berdiri di pinggir, kemudian bersujud

di bawah patung Budha, semua hweesio yang berada di

dalam pun ikut bersujud, kecuali yang sedang bertugas,

sementara itu Cukat Hiang, Soat-song Cinjin dan tamu

lainnya hanya mengikuti acara ini dengan hidmat di depan

pintu.

Suara musik pujian terhadap sang Budha yang ketiga

kalinya selesai dikumandangkan, semua hweesio mengikuti

Kian Ih Taysu membacakan ayat-ayat suci Budha, sepuluh

menit kemudian baru semuanya selesai.

Dewi KZ 466

Berikut adalah menyalakan dupa, menyerahkan bungabunga,

dan bersujud lagi memberi hormat pada arwah

mendiang guru besar Siau-lim, dan Kian Ih Taysu mohon

maaf pada beliau karena menggunakan Tulang putih beliau

untuk penyembuhan luka A Bin.

Semua orang sanga terharu menyaksikan acara agung

yang pertama kali diadakan di dalam biara Siauw-lim ini,

Hong-tai dan Siau-cian pun ikut terharu hingga ingin

meneteskan air mata.

Setelah selesai, di samping meja sembahyang Kian Ih

Taysu mengambil satu kotak sebesar bata tanah yang

terbikin dari batu marmer, lalu melangkah menuju anak

tangga di pintu masuk, di hadapan semua orang-orang dia

berkata:

“Tulang putih maha guru menurut aturan tidak diberikan

pada orang biasa, karena ini keadaan luar biasa, dan Luisiauhiap

berjasa kepada partai Siau-lim, aku mengambil

jalan tengah, agar A Bin melaksanakan satu larangan dari

lima macam larangan itu, tetapi Lui-siauhiap belum bisa

bangun, siapa yang bersedia mewakili dia untuk menerima

aturan terlarang ini!”

Cia Ma-lek mendengarkan hal itu merupakan aturan

tidak bisa ditolak, dia merasa selain dia sendiri tidak ada

orang lain yang cocok, maka katanya:

“Aku bersedia mewakili adik Lui menerima aturan itu.”

Kian Ih Taysu mengucapkan satu kali O-mi-to-hud, dan

berkata: “Bagus!”

Cia Ma-lek langsung diantar empat hweesio kecil

menghadap hweesio tua di depan pintu, dan Cia Ma-lek

diharuskan memberi hormat pada sang Budha dan Kian Ih

Dewi KZ 467

Taysu, kemudian bersujud di lantai menunggu upacara

sumpah setia mematuhi aturan terlarang.

Kian Ih Taysu memejamkan mata dan membaca ayatayat

agama Budha sekali, lalu membacakan dengan suara

tegas lima larangan yang harus ditaati oleh A Bin di

kemudian hari, ‘tidak membunuh yang hidup, tidak

mencuri dan merampok, tidak berbuat amoral, tidak

berkata sombong atau bohong, tidak minum alkohol. Dan

Kian Ih Taysu berkata pada Cia Ma-lek dengan nada serius:

“Kau telah mewakili A Bin menerima aturan itu di

hadapan sang Budha, aku harap kau dengan hati yang

sungguh-sungguh memilih satu dari lima larangan itu untuk

dilaksanakan.”

Mendengar lima larangan itu, Cia Ma-lek berpikir dalam

hati, ‘larangan ini harus ditepati oleh adik Lui seumur

hidap, aku harus benar2 memilih yang tepat, larangan tidak

membunuh, tidak minum arak adalah hal yang sulit

dihindari oleh orang-orang di dunia persilatan, tidak cocok

bagi A Bin, tidak boleh mencuri dan merampok bagi aku

sangat berat dilaksanakan, karena aku dan kakek guru aku

adalah pencuri ulung yang termasyur, mana mungkin di

depan umum mengatakan bahwa aku bersumpah tidak

mencuri lagi, dan tidak boleh berbuat yang melanggar

susila, adik Lei tidak terlibat dalam hal itu, tetapi sekarang

ada dua anak gadis yang berebutan untuk mendapatkan diri

A Bin, A Bin pasti melaksanakan perkawinan yang resmi,

ini tidak termasuk larangan asusila, tetapi aku tidak pilih

larangan ini, kalau dipikir larangan tidak boleh sombong

dan berdusta, adalah yang paling mudah dilaksanakan oleh

adik Lui. maka Cia Ma-lek berkata dengan tegas:

“Aku mewakili adik Lui Memilih larangan tidak berdusta

dan sombong!”

Dewi KZ 468

Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud, dengan nada

serius berkata pada Cia Ma-lek:

“Kau mewakili Lui-siauhiap menerima larangan itu,

harap kau beritahu pada dia setelah pulih, larangan itu

harap ditepati seumur hidup, bila dilanggar, akan

mendatangkan malapetaka!”

Ucapan ketua Siau-lim itu membuat Cia Ma-lek takut

bukan main, maka dengan otomatis dia meng-anggukan

kepala, tetapi dalam hati berkata:

“Aku tahu, aku akan menyampaikan pesan guru!”

Upacara sumpah telah selesai dilaksanakan, Kian Ih

Taysu memberi perintah pada semua hweesio agar kembali

pada posisi masing-masing, ditemani Jit Ie taysu dan

pendekar lain membawa kotak dari batu marmer itu menuju

kamar tempat A Bin.

Kian Ih Taysu menaruh kotak itu diatas meja kayu,

dengan hormat membuka kotak itu, agar semua pendekar

menyaksikan benda keramat itu.

Semua pendekar hanya tahu yang dimanakan Tulang

putih seorang hweesio agung, tetapi belum pernah lihat

benda itu, maka semua mata melihat kearah kotak itu.

Terlihat Tulang putih dalam kotak diletakan di atas kain

kuning, semuanya berjumlah tiga belas butir yang ukuran

sama, warnanya seperti giok namun bukan giok, lebih putih

dari batu giok, bercahaya seperti mutiara malah lebih terang

dari mutiara, betul-betul benda pusaka yang ajaib.

Melihat semua orang menaruh hormat pada benda itu,

Kian Ih Taysu menerangkan:

Dewi KZ 469

“Tulang putih kristal ini adalah hasil perbuatan bajik dari

kakek guru, sekarang menyelamatkan Lui-siauhiap pun

merupakan sebuah perbuatan bajik.”

Hong-tai, Siau-cian dan Cia Ma-lek ingin agar A Bin

segera ditangani oleh Kian Ih Taysu, dua gadis itu memberi

isyarat mata pada Cia Ma-lek agar dia ber bicara pada ketua

Siau-lim.

Cia Ma-lek segera berkata pada Kian Ih Taysu:

“Kuharap guru besar dapat segera menangani Adik Lui.”

Kian Ih Taysu berkata:

“Tentu! tentu! Dengan adanya tulang putih maha guru,

aku akan segera menggunakan benda itu untuk mengobati

Lui-siauhiap.”

Kian Ih Taysu memberi perintah pada Jit Ie taysu agar

menyiapkan alat yang diperlukan, dan segera membawa

mereka untuk melihat A Bin yang berbaring di tempat tidur

Semua orang terkejut begitu melihat A Bin yang seperti

patung, suara nafas A Bin pun tidak terdengar, sementara

Kian Ih Taysu memeriksa denyut nadi dan seluruh organ

penting A Bin, Tidak lama Jit Ie taysu telah membawa

masuk semua perlengkapan pengobatan yang diperlukan.

Bersamaan waktu itu, jendela luar kamar itu telah

ditutupi oleh beberapa orang hweesio dengan kertas, celah

jendela yang bisa memantulkan sinar dari dalam juga

ditutupi oleh kain hitam, dalam kamar tampak jadi agak

gelap.

Seorang hweesio muda menyalakan lilin untuk

menerangi kamar, sehingga semua orang bisa melihat apa

saja yang baru dibawa masuk oleh Jit Ie taysu.

Dewi KZ 470

Terlihat ada dua gentong besar penuh dengan air bersih,

satu baskom penuh dengan ginseng tua sekitar dua puluh

batang yang besar-besar seperti lengan anak, dan satu

mangkuk agak besar yang terbuat dari batu giok.

Kian Ih Taysu memberi keterangan pada semua orang

katanya:

“Pinceng akan tinggal dalam kamar ini untuk merawat

Lui-siauhiap, berada dalam kamar ini selama duapuluh satu

hari, selama itu tidak boleh melihat sinar, tidak boleh

kedinginan, maka semua celah jendela harus ditutup rapat.

Di dalam mangkuk ini adalah cairan khusus untuk mencuci

Tulang putih. Gingseng tua itu untuk sarapan aku selama

duapuluh satu hari, bagi aku bertapa selama tiga hari tidak

jadi masalah, tetapi dalam duapuluh satu hari aku harus

membantu Lui-siauhiap, sehingga menguras banyak tenaga

dalam, terpaksa dibantu harus dengan gingseng ini.”

Cia Ma-lek merasa aneh melihat gentong besar yang

penuh air, maka bertanya:

“Air bersih inipun untuk minum selama duapuluh satu

hari!”

Kian Ih Taysu dengan senyum berkata:

“Bukan, saat menyalurkan tenaga dalam aku dilarang

minum air selama duapuluh satu hari. Karena dalam

penyaluran tenaga dalam akan mengalami proses tubuh

menjadi panas dan kering, sebab tidak boleh minum air dari

mulut, tetapi masih memerlukan oksigen dari air, maka air

itu diperlukan.untuk penyerapan uap air, dalam duapuluh

satu hari mungkin air itu pun akan habis terserap oleh aku!”

Semua orang puas atas keterangan itu dan salut pada

Kian Ih Taysu.

Kian Ih Taysu berkata lagi:

Dewi KZ 471

“Sebentar lagi, kalian harus meninggalkan tempat ini,

hanya aku sendiri dalam kamar ini untuk merawat Luisiauhiap,

biarpun di luar kamar terjadi sesuatu apapun, aku

tetap tidak boleh keluar dari kamar ini selangkah pun,

segala keamanan dalam biara akan dipegang oleh Jit Ie

taysu, tetapi bila ada musuh menyerang, harap kalian dapat

membantu.”

Setelah keluar kamar perawatan, para pesilat langsung

berunding, Ketua Bu-tong-pay Soat-song Cinjin akan

mengantar adik perguruan Ku-cu Totiang pulang duluan.

Tee Wie dari Go-bi, ketua partai Heng-san Coan Tai-kwi

juga pamit pulang, maka dari semua pendekar hanya

tinggal Peramal jitu Cukat Hiang dan kakek Wie Tionghoo,

Hong-tai, Siau-cian dan Cia Ma-lek, dan yang terluka

yang masih dirawat pendekar Shangguan Leng dan Gan

Cu-kan, semua berjumlah tujuh orang.

Pengamanan Siau-lim-si ditingkatkan menjelang malam

oleh hweesio-hweesio yang berilmu tinggi. Selama

duapuluh hari, keadaan tetap tenang, semua orang

menduga aliran Jian-kin-kau telah membubarkan diri dan

tidak akan menyerang lagi, mereka sudah berencana akan

pulang setelah A Bin pulih.

Malam ini bagian Hong-tai, Siau-cian dan Cia Ma-lek

berjaga malam, sepanjang jalan dalam tugas, masingmasing

menceritakan bagaimana permulaan mereka

bertemu dengan A Bin yang sangat menarik. Tetapi mereka

khawatir juga pada detik-detik terakhir perawatan akan ada

gangguan, sehingga mereka merasa rada tegang. Mereka

khawatir pada saat yang genting ini musuh menyerang lagi,

akan mendatangkan musibah bagi A Bin.

Mereka bertiga segera berpisah untuk meronda sekeliling

biara.

Dewi KZ 472

Hong-tai mendapat tugas di bagian depan biara, melihat

semua hweesio yang bertugas berada di tempat masingmasing,

dalam hati Hong-tai memuji atas kedisiplinan

murid-murid Siau-lim-sie, setelah selesai dalam tugasnya,

Hong-tai ingin kembali ke tempat piket, berkumpul kembali

dengan Siau-cian, Cia Ma-lek. Mendadak terdengar satu

suara teriakan orang kesakitan yang mengerikan.

Hong-tai belum lama terjun ke dunia persilatan, tetapi

bakat dia pintar dan teliti, maka dia berobah pikiran,

mengingat keadaan biara Siau-lim tidak tenang seperti dulu,

karena aliran Jian-kin-kau sejak dipukul mundur tempo

hari, kekuatan mereka belum habis semua, aliran Jian-kinkau

tentu masih menaruh dendam pada biara Siauw-lim,

dan ada kemungkinan balik kembali. Untuk menyakinkan

teriakan orang tadi, dia berjaga-jaga siapa tahu musuh

datang kembali, maka Hong-tai menuju ke tempat suara

teriakan tadi.

Hong-tai segera meloncat bagaikan asap ke atap rumah,

meneropong sekelilingnya, di sebelah kiri tampak tidak ada

yang mencurigakan. Tapi dia yakin bahwa suara terikan

tadi datang dari sebelah kiri, maka dia langsung menuju

tempat itu, karena dibelakang bangunan itu terdapat pos

penjagaan juga.

Hong-tai melihat hweesio yang bertugas berdiri dibawah

pohon dan memegang golok, mula-mula dia merasa lega,

Hong-tai turun dari atas genting dan menghampiri hweesio

itu tanpa suara, hweesio yang bertugas itu sama sekali tidak

mengetahui kedatangan Hong-tai.

Hong-tai bangga atas ilmu keringanan tubuhnya, tetapi

ketika dia sudah sangat dekat dengan tubuh hweesio itu,

tampak hweesio itu masih tidak diketahui kedatangannya,

Hong-tai menggerutu dalam hati, kenapa hweesio ini tidak

becus sekali. Maka dengan tidak ingin membuat terkejut

Dewi KZ 473

hweesio itu, Hong-tai bertanya dengan suara perlahanlahan:

“Apakah disini aman?”

Ternyata suara Hong-tai tidak mendapat reaksi dari

hweesio itu, dia masih tetap diam, Hong-tai menjadi curiga,

segera berjalan ke depan, hweesio itu tetap seperti patung

berdiri, Hong-tai segera memegang tubuh hweesio,

hawa sudah tidak ada yang keluar dari hidungnya, ternyata

jalan darah kematian hweesio ini sudah ditotok.

Hong-tai terkejut, ketika ingin memeriksa keadaan

sekitarnya, terdengar suara orang berjalan malam di

belakang tubuhnya, dia segera membalikkan tubuh, dia

melihat sekitar lima kaki di depan mata menyelinap dua

orang berbaju emas yang memakai topeng.

Hong-tai terkejut, mengetahui aliran Jian-kin-kau datang

menyerang lagi, sekarang mereka menggunakan taktik

menyerang secara diam-diam. Ini sangat mengerikan,

melihat orang berbaju emas itu berani menyelinap masuk ke

dalam biara, mereka pasti tahu bahwa di biara sudah tidak

banyak lagi pesilat-pesilat tangguh, apakah mereka pun

tahu Kian Ih Taysu sedang mengobati A Bin, apakah

wanita berbaju putih itu memimpin lagi penyerangan kali

ini.

Mengingat kembali kesadisan wanita itu, membuat

Hong-tai keluar keringat dingin, dan hilang ketenangan.

Orang berbaju emas yang datang itu berbicara dengan

suara perlahan-lahan:

“Kami datang kembali, kami akan menghadapi kalian

dengan berterang, bila kau takut, panggil saja kawan-kawan

yang lain untuk membantumu!”

Dewi KZ 474

Hong-tai tahu mereka ingin menahan dia, agar tidak

memberitahu yang lain, maka sengaja berbicara begitu,

siasat itu membuat Hong-tai yang angkuh tidak ingin

memberitahu Siau-cian dan lainnya, agar musuh tahu

bahwa dia tidak takut.

Maka Hong-tai menghunus pedang berkata dengan

dingin:

“Kalian berdua tidak pantas melawanku, kalian berdua

boleh maju saja, aku ingin tahu kalian punya kemampuan

seberapa besar.”

Orang berbaju emas itu tidak ingin melawan Hong-tai

secara berdua, maka salah satu orang maju ke depan

dengan senjata aneh berupa cakar emas laba-laba.

Cakar emas itu persis seperti kaki laba-laba, namun

ujung kakinya tajam, gagang emas itu bisa dipanjangkan

atau dipendekkan, jarak terpanjang bisa mencapai lima

kaki.

Hong-tai tidak membuang waktu lagi dia langsung

menyerang orang itu. Dalam sekejab mereka telah beradu

jurus sebanyak lima kali, masing-masing belum bisa

menemukan kelemahan musuh, dan mereka memisahkan

diri ke belakang sebanyak setengah tombak, dan siap untuk

pertarungan berikutnya.

Mereka berdua tidak berani lengah, dengan hati-hati

mengeluarkan jurus ampuh untuk mengalahkan lawannya.

Setelah dua puluh jurus, salah satu orang berbaju emas

yang menyaksikan duel itu dipinggir telah melihat jurus

Hong-tai lebih tajam dan berbahaya dari temannya, namun

lawan Hong-tai itu mempunyai tenaga dalam yang lebih

kuat, sehingga duel itu seimbang.

Dewi KZ 475

Dalam hati Hong-tai merasa marah, bila dia sendiri tidak

dapat segera mengalahkan orang berbaju emas ini, dan

temannya akan ikut membantu menyerang, sedangkan dia

tidak mau minta bantuan dari temannya, akibatnya dia bisa

celaka.

Maka Hong-tai meningkatkan serangannya, pedangnya

jadi mengeluarkan suara yang memekakan telinga, tenaga

serangannya meningkat beberapa kali lipat, membuat orang

berbaju emas itu hanya berputar di udara tidak berani turun.

Ternyata orang itu sangat mahir menggunakan ilmu

meringankan tubuh, sehingga dia bisa terbang di atas

bagaikan seekor burung, dan masih bisa bertahan.

Dengan bersemangat Hong-tai menyerang musuhnya

dari arah timur atau barat. Orang berbaju emas yang lain

melihat temannya sedang dalam bahaya, bersiap-siap untuk

membantu.

Dengan jurus pedangnya Hong-tai memilih waktu yang

tepat, dia pun menyerang lawan dengan totokan jari dari

jarak jauh, angin panas dari jari telunjuk Hong-tai membuat

orang berbaju emas itu terperanjat dan berusaha

menghindar ke samping.

Ternyata keluarga Hong-tai selain mahir dalam ilmu

pedang, juga pandai menggunakan totokan telunjuk tangan

yang dinamakan totokan getar ajaib.

Totokan pertama Hong-tai dilanjutkan dengan totokan

yang kedua dengan suara bising menyerang lawan lagi.

Orang berbaju emas yang menonton berteriak sekali, lalu

mengerakan tinjunya menhadang dan memotong aliran

panas yang keluar dari telunjuk Hong-tai sehingga

melemahkan jurus telunjuk Hong-tai.

Dewi KZ 476

Orang berbaju emas yang menggunakan senjata laba-laba

emas tetap kena totokan Hong-tai, membuat bagian

ketiaknya berasa panas sekali, sambil ^menahan sakit dia

terpaksa turun dari udara, jatuh ke tanah dan terpelanting

ke sebuah pohon, sambil berusaha memegang tubuh pohon

baru bisa berdiri tegap.

Sambil mengerahkan tenaga dalam untuk menahan sakit,

karena panas di bagian ketiak sudah menuju ke seluruh

tubuh, orang berbaju emas yang terluka itu tidak berani

berkata apapun, dan sekejab mata saja seluruh tubuhnya

sudah basah oleh keringat.

Hong-tai khawatir dua orang itu bergabung maka segera

menggunakan jurus pedang keluarga In menyerang orang

berbaju emas kedua. Orang berbaju emas kedua menggeser

langkah sambil melancarkan dua kali pukulan beruntun

baru bisa menahan tusukan pedang Hong-tai, Hong-tai

makin semangat dia menyabet lawannya bertubi-tubi

dengan jurus pedang.

Orang berbaju emas kedua terdesak mundur, namun dia

tetap tenang menghadapi serangan Hong-tai. Karena ingin

segera menyelesaikan pertarungannya, Hong-tai pun

menggunakan jurus jari telunjuk getar ajaib sebanyak dua

atau tiga kali.

Mengetahui jurus jari Hong-tai yang berbahaya, orang

berbahu emas ini tidak berani menerima langsung dari

depan, tangan kanan dia menggunakan telapak tangan yang

aneh, yaitu dengan membuang tenaga yang menyerang,

melemahkan hawa panas dari jari telunjuk Hong-tai. Jurus

telapaknya mampu membuang aliran panas itu, meskipun

berbeda aliran tapi jurusnya mempunyai ciri yang sama

dengan ilmu silat Hong-tai, maka Hong-tai agak sulit

melumpuhkan lawan ini.

Dewi KZ 477

Mendapatkan musuh yang tangguh, semangat bertarung

Hong-tai bertambah tinggi, jurus pedangnya digunakan

sebaik mungkin dan menggunakan jurus menghindar tenaga

lawan dengan alamiah, lawan pun dibikin repot oleh jurus

pedang dan jari telunjuk Hong-tai, sehingga orang berbaju

emas kedua merasakan tidak sanggup melanjutkan duel itu.

Orang berbaju emas pertama yang terluka, setelah

beristirahat sebentar dan mengingat perintah ketua aliran

Jian-kin-kau yang harus berhasil dalam tugasnya, dia jadi

membuang keangkuhan pribadi, memungut kembali

senjatanya yang jatuh tadi dan ikut menyerang Hong-tai

kembali.

Melihat kedua lawan bergabung untuk menghadapi

dirinya, Hong-tai jadi marah sambil mengejek dia berkata:

“Kalian sungguh tidak tahu malu berbuat demikian

terhadap seorang perempuan, aku sengaja tidak memanggil

temanku, ingin tahu siapa yang lebih jantan!”

Hong-tai memainkan jurus pedang keluarga In dengan

hebat, sehingga hanya terlihat seutas pita putih yang

mengurung tubuh kedua orang berbaju emas itu.

Dua orang berbaju emas itu tahu kehebatan jurus pedang

tersebut, mereka segera berlari ke pinggir, sambil

mengeluarkan senjata mereka untuk menangkis serangan

Hong-tai, dan orang kedua baju emas itu juga

menggunakan sebilah pisau panjang yang mengkilap untuk

menghadapi serangan Hong-tai.

Biarpun telah mengerahkan tenaga sepenuhnya, kedua

orang berbaju emas itu tetap kewalahan menghadapi

serangan Hong-tai, mereka terdesak mundur hingga enam

tujuh langkah baru bisa berdiri tegak.

Dewi KZ 478

Hong-tai tidak mau memberi kesempatan pada mereka,

dia segera menyerang lagi dengan dua belas jurus In-kiam,

ayunan dan tusukan pedang Hong-tai dari kiri ke kanan

membuat dua orang berbaju emas itu terdesak mundur

enam langkah lagi.

Perobahan ini menguntungkan Hong-tai, karena lawan

terdesak mundur hingga di depan sebatang pohon, sehingga

dua orang berbaju emas itu tambah sulit mengembangkan

jurusnya, ini membuat Hong-tai lebih semangat ingin segera

menyelesaikan pertarungan.

Dilain pihak, ternyata Siau-cian pun mendapatkan

hadangan musuh, dia yang dapat tugas meronda ke bagian

belakang biara, dipinggiran ladang, dia mendengarkan

suara rintihan seseorang, begitu menghampiri arah suara

itu, dia menemukan seorang yang menyamar di tempat

gelap.

Siau-cian kurang pengalaman di dunia persilatan, tetapi

dia sangat teliti, khawatir musuh menyamar menggunakan

baju hweesio, sehingga diam-diam dia menghampiri orang

itu, namun kejadian yang dihadapi Siau-cian persis seperti

yang dialami Hong-tai, hweesio itu ternyata betul dari Siaulim,

namun sudah tidak bernyawa lagi dan berdiri tegap

seperti patung di tempat jaga. Biarpun mempunyai ilmu

tinggi, dimalam hari menemukan mayat, membuat wajah

Siau-cian berobah warna dan ketakutan.

Belum lagi dia mengambil keputusan mau berbuat apa,

Siau-cian melihat tidak jauh dari sana, di depan pohon

cemara berdiri tiga orang berbaju perak memakai kedok

kain perak, hingga yang terlihat mata mereka sedang

mengawasi Siau-cian.

Dewi KZ 479

Melihat ketiga orang berbaju perak itu, Siau-cian tahu

orang-orang aliran Jian-kin-kau telah datang kembali.

Sambil menekan gigi, Siau-cian berkata dengan gemas:

‘Kalian masih berani datang kemari……”

Ketiga orang berbaju perak tidak banyak bicara, langsung

mengeluarkan senjatanya, senjatanya terlihat seragam,

tangan kiri memegang pedang, tangan kanan memegang

tongkat, mereka bertiga segera mengepung, agar tidak

membangunkan orang-orang di biara.

Siau-cian pun punya sifat angkuh, dia tidak ingin minta

bantuan orang lain, dengan tertawa dingin dia

mengayunkan busur panah giok, menciptakan tiga sinar

yang melengkung, dalam satu jurus dia sudah menyerang

tiga orang.

Ketiga orang penyusup mengetahui Siau-cian punya ilmu

tinggi, mereka bersamaan menggunakan pedang di kiri

tongkat di kanan melawan Siau-cian.

Siau-cian tahu penyusup malam ini bukan orang baikbaik,

meskipun dia menduga musuh berkekuatan hebat, tapi

malah menimbulkan keangkuhannya, dia ingin

melumpuhkan musuh dengan tenaga sendiri, maka busur

panahnya digunakan sambil mengeluarkan suara seperti

naga melengking, burung hong bernyanyi.

Ketiga orang berbaju perak itu sama sekali tidak

menduga seorang anak gadis bisa menguasai ilmu begitu

tinggi dan bisa menggunakan teknik membuang tenaga

lawan dengan sempurna, mereka merasakan tekanan busur

panah Siau-cian seperti sebuah gunung yang besar, mereka

bersama-sama mundur ke belakang sambil menggunakan

kedua senjatanya, dengan jurus yang tepat menutup rapat

tubuh mereka.

Dewi KZ 480

Karena tekanan senjata Siau-cian sangat kuat mereka

terdesak mundur beberapa langkah dan harus merobah

jurusnya sebanyak lima kali. ‘

Sambil tertawa sinis, Siau-cian berkata:

“Kalian bisa menahan sebuah jurusku sudah bagus,

silahkan coba beberapa jurus lagi!”

Setelah berkata dia mengayunkan senjata busur

panahnya dengan kecepatan tinggi, menyerang lima jurus

berturut-turut membuat baju ketiga lawan seperti terkena

terpaan angin di atas puncak gunung.

Ketiga orang berbaju perak dengan ilmu silat yang lebih

rendah dari Siau-cian mengetahui bahaya di depan mata,

mereka berusaha ingin keluar dari kurung-an busur panah

Siau-cian. Namun Siau-cian mengetahui maksud mereka,

maka dia berkata:

“Kalian jangan harap bisa lari?” Dia menahan mereka

agar tidak lolos dari bayangan busur.

Sambil berteriak, tubuh Siau-cian merapat bersama busur

panahnya, bagaikan sebuah pelangi putih, membuat satu

lingkaran dan menjatuhkan senjata ketiga orang itu, pedang

dan tongkat mereka jatuh ke tanah, dan terpaan angin dari

busur Siau-cian yang keras membuat tutup muka mereka

terbuka dan terlihat muka aslinya.

Ternyata mereka terdiri satu hweesio dan dua orang

biasa, hweesio yang botak itu seperti pernah bertemu, Siaucian

ingat bahwa hweesio ini yang menghadang mereka

diperjalanan menuju pintu biara Siau-lim tempo hari. Maka

Siau-cian berkata:

“Kau berani datang lagi!”

Dewi KZ 481

Siau-cian mengayunkan lagi busur panahnya, ingin

membunuh hweesio gadungan itu

Namun dari belakang terdengar suara senjata yang

menyerang, Siau-cian memutar tubuhnya, melihat lagi tiga

orang berbaju perak yang ingin membantu kawan mereka

yang terdesak.

Sekarang Siau-cian sendirian melawan enam orang, dia

terlihat kewalahan, di depan di belakang tubuhnya, senjata

tajam musuh mengancam jiwa Siau-cian.

Saat itu, seluruh biara sudah terlibat pertarungan sengit.

Orang-orang aliran Jian-kin-kau ternyata betul-betul

menyerang kembali, menggunakan kesempatan penjagaan

biara agak lemah, mereka mengirim pesilat yang berilmu

tinggi, melumpuhkan hweesio yang berjaga malam, dan

seluruh orang-orang aliran Jian-kin-kau berhasil menerobos

masuk ke dalam biara.

Cukat Hiang dan lainnya sudah tidur, namun karena

mereka sering menghadapi musuh, sedikit suara

mencurigakan saja membuat mereka segera bangun dari

tidur. Mereka segera keluar kamar untuk menghadang

musuh.

Semua hweesio dalam biara pun jadi terbangun dan

langsung menempati posisi masing-masing untuk menahan

serangan musuh.

Karena musuh telah banyak yang masuk ke dalam biara

maka agak sulit mengetahui keberadaan mereka. Terdengar

suara benturan senjata dimana-mana.

Jit Ie taysu menilai dalam keadaan sangat genting ini,

lebih penting menjaga kamar perawatan A Bin, karena Kian

Ih Taysu sedang memusatkan tenaga terakhir untuk

menyembuhkan A Bin, dalam detik-detik ini Kian Ih Taysu

Dewi KZ 482

dan A Bin bisa terbunuh hanya dengan tenaga sedikit saja,

seperti orang meniup debu.

Jit Ie taysu dan Hong Ie Taysu yang baru sembuh segara

menjaga pintu kamar itu di kiri dan kanan. Cukat Hiang

memanggil Shangguan Leng dan lainnya untuk bersamasama

menggantikan posisi kedua guru Siau-lim itu.

Cukat Hiang minta kedua guru Siau-lim untuk

memimpin hweesio lain menghadapi serangan musuh,

sambil menerangkan pada kedua guru, katanya:

“Orang-orang dalam biara memerlukan kalian berdua

untuk memimpin perlawanan terhadap musuh, penjagaan

kamar ini biarlah menjadi tanggung jawab kami semua!”

Setelah mendengarkan perkataan Cukat Hiang, kedua

guru itu berlari ke barisan pertahanan hweesio-hweesio

Siau-lim-sie.

Begitu hweesio Siau-lim-sie itu pergi, di depan pintu

kamar A Bin sudah datang beberapa orang aliran Jian-kinkau

yang menyerang, dua orang penyerang itu langsung

dipukul mundur oleh kipas Cukat Hiang dan kail

Shangguan Leng hanya dalam satu kali pukulan, terdengar

satu jeritan kesakitan dari seorang berbaju perak yang jatuh

berapa tombak ke belakang dan senjata nya terlepas dari

tangan, dadanya telah tercabik oleh kail Shangguan Leng.

Pada saat bersamaan, terdengar sebuah tertawa panjang

dari sudut biara, yang bergema di seluruh biara Siau-lim,

menandakan suara orang itu dikeluarkan dari tenaga Tantian

yang sangat kuat.

Cukat Hiang mendengar tawa itu bukan dari pihaknya,

dia jadi gelisah.

Setelah tawa panjang itu berhenti, orang-orang Jian-kinkau

yang menyerang ke kamar pengobatan itu langsung

Dewi KZ 483

mundur dan meluangkan sebuah tempat kosong di depan

kamar, dari satu sudut biara yang tidak mencolok, keluar

serombongan orang yang dipimpin seorang berjubah abu,

orang itu tinggi dan tegap, dipinggir dia berdiri dua anak

kecil dengan baju mewah, yang satu memegang tanduk

kerbau yang panjang sekitar dua kaki, yang satu lagi

memanggul satu kantong besar dibahunya.

Di belakang orang berjubah abu itu berdiri empat orang

berbaju hitam, dari penampilan orang itu kelihatan seperti

orang yang punya kekuasaan di aliran Jian-kin-kau.

Cukat Hiang melihat situasi tidak menguntungkan

dipihaknya, sebab orang yang dapat menghadapi musuh

didepan matanya tidak banyak, semua sudah terjun di

medan pertarungan, barisan Lo-han tidak bisa digunakan

kerena anggotanya tidak bisa merapat semua, hweesiohweesio

itu bukan tandingan orang-orang Jian-kin-kau yang

berbaju hitam dan emas. Biarpun agak khawatir dengan

situasinya, Cukat Hiang tidak mau memperlihatkan rasa

takut pada musuh, maka dengan tenang dia membentak

orang berjubah abu:

“Tempo hari kalian telah kehilangan banyak orang,

sekarang masih berani menantang lagi, mana ketua kalian

yang berbaju putih?”

Orang berjubah abu itu tertawa dingin berkata:

“Tempo hari wanita itu mundur dari rencana, membuat

gerakan kita jadi gagal total, sekarang wanita itu sudah

menghilang, jadi aku yang menjadi pimpinan aliran Jiankin-

kau, sekarang tenaga inti dari pasukanku telah

menguasai seluruh biara, kalian tinggal menunggu waktu

ajal tiba, bila tidak menyerah, kalian pasti akan dibunuh!”

Cukat Hiang melihat waktu masih ada satu jam lagi buat

Kian Ih Taysu dan A Bin keluar dari kamar pengobatan,

Dewi KZ 484

begitu mereka keluar kamar tenaga di pihaknya sudah

cukup melawan musuh, maka Cukat Hiang ingin mengulur

waktu sambil dengan santai berkata:

“Tempo hari kalian terpukul mundur, kenapa hari ini

berani mengatakan bisa mengalahkan kekuatan Siau-lim!”

Orang berjubah abu berkata dengan dingin:

“Cukat Hiang, kau jangan main curang, kekuatan kedua

pihak sudah jelas, teman-teman kalian sudah pulang, yang

tinggal di biara hanya yang tua dan yang terluka, anak

muda Lui dan ketua biara juga sedang sibuk bersama,

kalian yang di depan mata ini mana mampu melawanku.”

Mengetahui pimpinan aliran Jian-kin-kau begitu jelas

mengetahui keadaan biara Siau-lim, hati Cukat Hiang

merasa dingin. Maka dia bermaksud mengecoh musuh agar

bisa mengulur waktu.

Cukat Hiang pura-pura bertanya:

“Kalau begitu, ketua baru aliran Jian-kin-kau yang

datang sendiri kemari, aku ingin tahu, kau punya cara apa

agar kita semua tunduk padamu!”

Ketua aliran Jian-kin-kau berkata dengan mata tajam

melihat Cukat Hiang:

“Masalah ini……aku sebagai ketua tidak ingin

mengambil jiwa kalian, kecuali pada mereka yang

membangkang, tapi anak muda marga Lui tidak akan

dilepaskan……”

Cukat Hiang pura-pura terkejut, bertanya lagi:

“Kenapa ketua begitu marah pada A Bin, apakah kalau

kita semua orang meminta tolong padamu pun tidak dapat

mengampuni A Bin!”

Orang berjubah abu itu berkata dingin:

Dewi KZ 485

“Tidak bisa!” Dia langsung merobah nada suaranya

dengan marah berkata, “Cukat Hiang! Kau jangan mimpi

mengulur waktu, aku justru menunggu Kian Ih Taysu dan

anak muda Lui keluar dari kamar, baru memberi perintah

pada anak buahku untuk membunuh semua orang disini,

kau lebih baik pikirkan bagaimana menyelamatkan dirimu

saja……”

Dengan menghadap ke langit Cukat Hiang tertawa sinis

dan berkata:

“Aku tidak punya apa-apa, tetapi bila ketua tidak

memperlihatkan ilmu silatmu barang satu dua jurus, aku

tidak rela mengaku kalah……”

Orang berjubah abu itu berkata pada orang-orang aliran

Jian-kin-kau:

“Kalian sebagai ketua ranting silahkan coba, apa nama

besar Cukat Hiang ini bohong atau tidak, hari ini dia

kelihatan tidak tahu diri!”

Orang-orang berbaju hitam di kiri kanan semua memberi

hormat pada ketuanya, salah seorang berkata:

“Ketua, lebih baik bunuh saja orang inL membunuh

salah seorang buat peringatan untuk yang lain supaya

mereka mau menyerah!”

Cukat Hiang ingin orang berjubah abu melawan dia

sendirian, dia merasa diri masih bisa bertahan terhadap

serangan lawannya sebanyak sepuluh jurus.

Cukat Hiang tertawa ter-bahak-bahak, berkata:

“Kepalaku ada disini, bila kau punya kemam-puan

cukup, silahkan ambil, tapi kukira sampai detik ini belum

ada orang bisa mengambil kepalaku!”

Orang berjubah abu itu dengan marah berkata:

Dewi KZ 486

“Cukat Hiang, kau sebagai Peramal jitu, tetapi tidak tahu

diri, berani berkata begitu sombong di depanku, berarti kau

ingin mati lebih cepat!”

Cukat Hiang dengan tertawa, sahutnya:

“Bila ketua tidak keberatan, aku akan melayani-mu

beberapa jurus, apakah boleh minta beberapa orang petinggi

dari kedua belah pihak untuk menjadi saksi, nerapa jurus

aku bisa menerima pukulan ketua!”

Orang berjubah itu sudah bernafsu membunuh Cukat

Hiang, maka tanpa banyak bicara lagi, dia langsung

menghampiri Cukat Hiang.

Beberapa kali Cukat Hiang sengaja membuat ketua

aliran Jian-kin-kau marah, sebab dia bermaksud

mengorbankan dirinya untuk menolong orang lain, dia

ingin bertarung dengan ketua aliran Jian-kin-kau, agar

anggota Jian-kin-kau yang lain berhenti menyerang, dan dia

pun tidak berani memandang enteng musuh di depan

matanya.

Ketua aliran Jian-kin-kau berdiri tidak jauh di depan

Cukat Hiang, dia berkata dengan dingin:

“Aku sudah ambil putusan untuk membunuh mu, jadi

kalau sekarang minta ampun juga percuma, silahkan

keluarkan senjatamu!”

Cukat Hiang langsung menyerang lawannya dengan

pukulan yang diarahkan ke dada lawan. Jurus in biasa-biasa

saja, tetapi Cukat Hiang berlatih dengan ilmu telapak

tangan yang berbeda dari biasa yang dinamakan Telapak

naga.

Orang berjubah abu itu membentak:

Dewi KZ 487

“Aku mengalah satu jurus!” sambil bicara dia

menggoyangkan dua pundaknya, tubuhnya telah bergeser

mundur ke samping sekitar empat langkah.

Tidak berhasil dalam jurusnya, Cukat Hiang dengan

menaruh kedua tangan di depan dada, meloncat ke depan

mengejar lawan.

Orang berjubah abu itu memuji:

“Ilmu meringankan tubuhmu lumayan juga.” dan

katanya lagi dengan dingin, “kau juga coba terima

pukulanku!”

Dengan pukulan telapak tangan dia menyerang Cukat

Hiang yang belum berdiri tegap, sebuah pukulan tidak

kelihatan menerjang tubuh Cukat Hiang.

Dengan pengalamannya yang luas, Cukat Hiang

mengawasi orang berjubah abu melancarkan pukulan

telapak tangannya yang sangat keras, terpaksa dia meng

gunakan kedua telapak tangannya menahan pukulan itu

dari samping.

Kedua tenaga telapak tangan itu bentrok di udara,

menimbulkan sebuah pusaran angin yang keras, Cukat

Hiang menyadari tenaga dalamnya kalah jauh dengan

orang berjubah abu itu, beruntung dia sudah bersiap pada

permulaan jurus pertama, maka meng-gunakan tenaga

lawan yang melanda, tubuh Cukat Hiang berputar ke arah

kiri lima langkah, tapi dia masih sempoyongan lagi dua tiga

langkah baru bisa berhenti.

Pukulan begitu keras dari orang berjubah abu itu

membuat terkejut orang-orang di pihak Siau-lim, semua

orang khawatir, Cukat Hiang tidak akan sanggup menerima

pukulan berikutnya dari orang itu.

Dewi KZ 488

Gan Cu-kan dan Wie Tiong-hoo bersamaan meloncat ke

depan ingin menbantu Cukat Hiang. Tetapi orang berjubah

abu itu dengan cepat sudah menyerang lagi kepada Cukat

Hiang.

Cukat Hiang tidak menduga gerakan orang berjubah abu

itu bisa begitu cepat, sehingga dia tidak bisa menghindar,

terpaksa menerima pukulan itu dan mengerahkan tenaga

sepenuhnya untuk bertahan.

Pukulan orang berjubah abu itu keras bagaikan

gelombang laut, dengan deras menghantam tubuh Cukat

Hiang, beruntung ilmu meringankan tubuh Cukat Hiang

masih bisa membantu sehingga dia bisa menghindar dari

pukulan secara langsung, namun pukulan orang berjubah

abu itu mengenai pinggang kiri Cukat Hiang, membuat

tubuh Cukat Hiang bergetar dan mematahkan dua batang

tulang rusuknya, sambil menahan sakit, Cukat Hiang

muntah darah dan mundur ke belakang tiga empat langkah

dengan tubuh tidak bisa berdiri tegap lagi.

Orang berjubah abu dengan cepat melangkah ke depan

satu langkah, mengangkat tangan kanan ingin membunuh

Cukat Hiang. Bersamaan waktu itu satu tekanan tenaga

seperti angin puting beliung menyerang kaki orang berjubah

abu……

Orang berjubah abu itu terdesak oleh tekanan tenaga

yang menyerang kakinya, sebagai pesilat tinggi dia tidak

rela diserang orang dari jarak dekat, maka menggunakan

tangan yang baru saja melumpuhkan Cukat Hiang, dia

membalas serangan itu.

Satu tekanan tenaga yang dahsyat membuat orang yang

menyerang segera menggulingkan tubuh menghindar

beberapa kaki, sebab mengetahui jurus orang berjubah abu

itu sangat berbahaya.

Dewi KZ 489

Ternyata yang menyerang orang berjubah abu adalah

pelajar sombong Gan Cu-kan,

Setelah mundur menghindarkan serangan balik dari

orang berjubah abu tadi, dia segera maju lagi dengan

ayunan kipas.

Orang yang berjubah abu memang ingin menunjukan

ilmu silat yang dia pahami, agar lawan mau tunduk

padanya, dan bermaksud agar anak buah jadi takut dan

tunduk, maka dia tidak minta orang baju hitam dan emas

membantu.

Aturan aliran Jian-kin-kau sangat ketat, bila tidak

mendapat perintah dari ketua aliran, maka anak buah yang

di pinggir tidak berani membantu.

Cukat Hiang yang tadi terluka oleh serangan ketua aliran

Jian-kin-kau hingga muntah darah, setelah istirahat sejenak,

biarpun dua tulang rusuknya patah, dia berusaha menahan

sakit dan berpura-pura tidak terluka, diam-diam dia

mengawsi keadaan sekitar tempatnya, melihat orang-orang

aliran Jian-kin-kau tidak bertindak kemana-mana, sesuai

dengan keinginan Cukat Hiang dan merasa satu

keuntungan.

Gin-hoat-lo-jin Wie Tiong-hoo berjalan mendekati kedua

orang yang sedang bertarung, dengan tangan kanan dia

menyerang orang berjubah abu, dia bermaksud

meringankan tekanan lawan pada Gan Cu-kan.

Orang berjubah abu memang jadi tidak mengejar Gan

Cu-kan, dia memutar tubuhnya menghadapi serangan Wie

Tiong-hoo, dengan tangan kiri yang berputar sekali di

depan dada, dia menahan serangan Wie Tiong-hoo dengan

leluasa.

Dewi KZ 490

Wie Tiong-hoo merasa terkejut ada orang yang bisa

menahan serangannya, dia berpikir siapa orang ini, sambil

mengeluarkan tangan kanan menyerang dada orang

berjubah abu dengan angin pukulan dari telapak Wie Tionghoo.

Orang berjubah abu itu menahan serangan Wie Tionghoo

dengan sebelah tangannya juga, kedua tenaga itu

bentrok di udara menimbulkan gelombang keras yang

menerbangkan sudut baju orang-orang di pinggir lapangan.

Orang berjubah abu tertawa dingin, telapak kirinya

mendadak maju dan berusaha mencengkram tangan kanan

Wie Tiong-hoo.

Setelah beradu tenaga dalam dengan orang berjubah abu,

Wie Tiong-hoo tahu diapun tidak bisa mengungguli

lawannya, sebab dia telah mengerahkan tenaga sekitar

sembilan bagian, ternyata orang berjubah abu masih tidak

terpengaruh, berarti lawannya masih mempunyai tenaga

lebih, bila dibandingkan dengan dirinya dia merasa

nafasnya terasa berat. Dan orang berjubah abu itu masih

bisa menggunakan tangannya yang lain untuk

mencengkram tangan Wie Tiong-hoo dengan cepat, Wie

Tiong-hoo tidak berani beradu tenaga lagi, dia segera

menarik tangannya, dan mengerahkan tenaga dari Tantiannya

membuat tubuhnya mundur setengah kaki dengan

cepat.

Orang berjubah abu pun tidak ingin lawannya terlepas,

dia merubah jurus cengkeramannya dengan menjulurkan

jari tangannya, menotok dada Wie Tiong-hoo dengan cepat,

sedangkan tangan kanannya meng-hantam pinggang Wie

Tiong-hoo, dua serangan ini sangat ganas dan mematikan.

Wie Tiong-hoo terdesak mundur lagi berapa kaki, sambil

kedua tangannya berusaha menahan untuk menyelamatkan

Dewi KZ 491

diri, tangan kiri memotong lengan kanan musuh, tangan

kanan melawan telapak tangan kiri musuh.

Wie Tiong-hoo sengaja mundur dua kali untuk

membuang tekanan serangan dari musuh, tapi dia tetap saja

masih terdesak mundur beberapa langkah lagi dan

sempoyongan tidak bisa berdiri tetap.

Pendekar dari sungai Hoai Shangguan Leng melihat Wie

Tiong-hoo dalam posisi berbahaya, tidak peduli aturan satu

lawan satu, dia segera menghampiri orang berjubah abu

dengan jari telunjuk tangan kiri yang mengeluarkan angin

keras menotok tubuh orang berjubah abu.

Terpaksa orang berjubah abu melepaskan Wie Tiong-hoo

dan memutar tubuh menggunakan kedua tangan secara

berantai menghadang serangan Shang-guan Leng. Lalu

menyerang dengan kedua tangannya mendesak Shangguan

Leng mundur beberapa kaki.

Orang berjubah abu sudah bertarung beberapa kali dan

berhasil mengalahkan Cukat Hiang, Wie Tiong-hoo,

Shangguan Leng tiga orang, kepandaiannya membuat

orang-orang Siau-lim tidak berani berkutik.

Orang berjubah abu itu tertawa terbahak-bahak dan

berkata dengan nada sombong:

“Siapa lagi yang bisa menahan pukulanku dan tidak

mundur!”

Dia berkata begitu sombong memang tidak berlebihan,

sebab di depan mata orang-orang Siau-lim, tidak ada orang

yang lebih hebat dari ketiga orang, Cukat Hiang, Wie

Tiong-hoo dan Shangguan Leng, yang telah dikalahkan

oleh lawannya.

Setelah mencoba memulihkan lukanya berapa lama,

Cukat Hiang melihat orang berjubah abu ini tidak bisa

Dewi KZ 492

dihadapi dengan tenaganya, maka dengan nada keras dia

berkata:

“Kita semua orang berada disini, kau tidak akan bisa

masuk ke kamar ini, kecuali membunuh kita semua!”

Ucapan Cukat Hiang ini mengandung dua arti, selain

menjawab kata sombong dari ketua aliran Jian-kin-kau,

juga memberi tahu pada kawan-kawannya agar bersamasama

menahan serangan musuh.

Perkataan Cukat Hiang itu langsung ditanggapi oleh

orang-orang dari pihak Siau-lim, sehingga mereka

merapatkan barisan dan menutup celah kosong menuju

pintu kamar.

Jit Ie Taysu dan Hong Ie Taysu tidak bisa menyusun

barisan Lo-han karena kurang orang, tetapi bisa dengan

cepat menyusun barisan yang dinamakan barisan empat

gajah sebanyak tiga group yang terdiri dari dua belas

hweesio, yang dipimpin langsung oleh mereka berdua.

Membuat benteng pertahanan yang kuat di depan kamar

itu.

Cukat Hiang melihat barisan empat gajah itu cukup

untuk menahan serangan musuh beberapa menit, bila perlu

dia dan kawan-kawan lain siap bertempur kembali.

Cukat Hiang, Wie Tiong-hoo dan Shangguan Leng

masing-masing berdiri terpisah sekitar dua kaki, juga akan

menahan orang yang berusaha masuk kamar.

Orang berjubah abu dengan tertawa liar berkata:

“Kalian barang yang sudah tidak berguna, masih

membandel begini, sudah bukan waktu yang tepat untuk

berbuat nekad seperti binatang terkurung, baiklah, aku akan

memberi pelajaran pada kalian, dengan ilmu silat yang

belum kalian tahu!”

Dewi KZ 493

Sambil bicara, ketua aliran Jian-kin-kau maju perlahanlahan

mendekati orang-orang dari Siau-lim. Barisan Empat

gajah bersiap menghadapi musuh yang baru pertama kali

dihadapi, mereka tetap tenang berdiri di tempat menunggu

kesempatan yang baik untuk menyerang.

Orang berjubah abu itu tertawa, mendadak dia

menjulurkan tangan mencengkram tangan Wie Tiong-hoo.

Mengetahui musuh kuat, Wie Tiong-hoo menying-kir ke

samping, tangan kanannya pun ikut dijulurkan ke depan

mencengkram tangan kanan orang berjubah abu.

Tentu saja ketua aliran Jian-kin-kau tidak ingin

tangannya kerkena cengkeraman lawan, dia menghindar

dari jurus Wie Tiong-hoo, sambil mengayunkan lengan

jubah bagian kiri dan tenaga dalam tersembunyi, Wie

Tiong-hoo jadi terdorong mundur dua langkah.

Orang berjubah abu langsung menyerang pada

Shangguan Leng dan mendesak Shangguan Leng sampai ke

pinggir.

Melihat orang berjubah abu ingin menembus pertahanan

kawan-kawannya, Cukat Hiang berpikir bila pertahanan

mereka sampai jebol, barisan empat gajah dari Siau-lim pun

tidak bisa diandalkan, dan akan memberi kesempatan buat

musuh memasuki kamar itu

Maka Cukat Hiang tanpa banyak bicara lagi ikut

menyerang musuh dengan pukulan tangannya. Orang

berjubah abu langsung membalas dengan pukulan tangan

kiri yang tidak terduga arahnya, Cukat Hiang terpukul bahu

kanannya, hingga mundur empat langkah, itupun ditahan

Wie Tiong-hoo yang berada di sebelah belakang Cukat

Hiang.

Dewi KZ 494

Menggunakan kesempatan kedua orang itu terdesak

mundur, orang berjubah abu itu segera berlari menuju anak

tangga kamar itu, Cukat Hiang dan Wie Tiong-hoo segera

mengejar musuhnya.

Orang berjubah abu telah ditahan oleh hweesio-hweesio

Siau-lim-si dengan barisan empat gajah yang terdiri dari

hweesio-hweesio yang berani mati, biarpun ilmu mereka

bukan lawan orang berjubah abu, tetapi untuk sementara

mereka berhasil menahan langkah musuhnya.

Bersamaan itu Cukat Hiang dan Wie Tiong-hoo sudah

tiba di belakang, membuat orang berjubah itu menghadapi

harus lawan dari depan dan belakang.

Mendadak orang berjubah abu itu memutar tubuh dan

menggunakan tangan kanan menyambut pukulan Wie

Tiong-hoo, membuat Wie Tiong-hoo tergelincir jatuh dari

anak tangga.

Cukat Hiang dan Gan Cu-kan menggunakan kipasnya

menyerang orang berjubah abu, sedangkan musuh mereka

hanya menggunakan kedua tangan melayani serangan

mereka, dan bisa mendesak mereka berdua mundur ke

bawah tangga.

Shangguan Leng dan Wie Tiong-hoo meloncat ke depan

menghadang lagi dengan kemampuan mereka yang tersisa.

Tetapi mereka berdua pun didesak mundur lagi oleh orang

berjubah abu.

Jit Ie Taysu dan Hong Ie Taysu maju bersama-sama

menghadang orang berjubah abu. Sambil tertawa sinis,

orang berjubah abu menggunakan telapak tangannya

menyambut pukulan Jit Ie Taysu, dan mendesak hweesio

itu mundur dua langkah.

Dewi KZ 495

Hong Ie Taysu maju ke depan melancarkan sebuah

pukulan, orang berjubah abu bergeser meng-hindar lalu

memutar tangan menghantam lengan kanan Hong Ie Taysu

hingga sementara menjadi lumpuh, tidak bisa digerakan.

Tanpa membuang waktu, secepat kilat orang berjubah abu

langsung melancarkan pukulan ke bahu kiri Jit Ie Taysu,

pukulannya tidak bisa dihindar-kan oleh Jit Ie Taysu, dan

membuat dia terhuyung-huyung jatuh ke depan, maka jalan

menuju pintu kamar menjadi lowong.

Kedua belas orang hweesio dengan barisan empat gajah

langsung mengepung orang berjubah abu, tetapi barisan

Empat gajah tidak mampu menahan musuh yang sangat

hebat ini, berturut-turut mereka dipukul jatuh oleh

lawannya, sebentar saja dua belas heeesio itu tinggal

setengah.

Wie Tiong-hoo dan Cukat Hiang melihat orang berjubah

abu sudah di depan pintu kamar, tidak menghiraukan

bahaya lagi mereka segera meloncat dan menyerang orang

itu dari belakang.

Orang berjubah abu memutar tubuh dan mendorongkan

tangannya ke depan, membuat Cukat Hiang dan Wie

Tiong-hoo mundur beberapa langkah.

Hong-tai dan Siau-cian mendengar suara ribut di depan

kamar A Bin, mereka segera meninggalkan orang-orang

aliran Jian-kin-kau yang menghadang dan berlarian ingin

memberi pertolongan, tetapi mereka hanya bisa melihat

Cukat Hiang dan Wie Tiong-hoo sedang dipukul mundur

oleh lawannya, dan orang berjubah abu itu akan segera

membuka pintu kamar.

Kedua gadis itu berteriak histeris, sebab bila pintu itu

dibuka belum waktunya, sinar dan angin dingin yang

masuk ke dalam kamar akan melumpuhkan tenaga dalam

Dewi KZ 496

Kian Ih Taysu yang telah terkumpul di kamar itu selama

dua puluh hari, dan jiwa A Bin tidak akan tertolong.

Tapi nyatanya orang berjubah abu itu seperti tergigit oleh

ular berbisa dan berteriak dengan terkejut:

“Siapa kalian?” sambil mundur beberapa langkah dari

pintu kamar.

Semua orang melihat ke pintu yang mendadak dibuka

dari dalam, di depan pintu telah berdiri seorang hweesio tua

yang bermuka agung dan tersenyum, dia adalah ketua Siaulim-

sie Kian Ih Taysu.

Cukat Hiang dengan senang berkata:

“Rupanya Taysu telah berhasil dan keluar dari kamar

semedi!”

Orang berjubah abu berkata dengan ragu-ragu:

“Kau… hweesio tua Kian Ih, kau……telah berhasil

memusatkan tenaga dalam?”

Sambil memberi salam pada orang berjubah abu, Kian Ie

Taysu berkata:

“Ketua datang dari jauh, dan aku sedang bersemedi,

harap dimaafkan karena tidak bisa menerima tamu dengan

segera!”

Suara Kian Ih Taysu yang begitu besar dan muka berseriseri

bersemangat penuh, kelihatan lebih sehat setelah

menyelamatkan jiwa A Bin selama dua puluh satu hari, ini

membuat semua orang-orang dari pihak Siau-lim-sie turut

gembira.

Orang berjubah abu tercengang sejenak hingga tidak

membuka mulut.

Kian Ih Taysu berkata lagi:

Dewi KZ 497

“Ketua sudah datang lagi, apakah tetap ingin

menghancurkan biara Siau-lim?”

Orang berjubah abu dengan dingin berkata:

“Kau sebagai ketua Siau-lim, apakah ilmu silat-mu lebih

tinggi dari mereka, sehingga berani menentang aku!”

Kian Ih Taysu dengan tegas:

“Aku tidak berani mengatakan lebih mampu dari

mereka, tetapi biara ini dipimpin olehku, jadi aku tidak

akan membiarkan orang lain merusak biara ini!”

Sambil tertawa Orang berjubah abu berkata dengan

sombong:

“Bila kau punya keberanian mengatakan begitu, aku

sebagai ketua baru aliran Jian-kin-kau tidak akan

membuatmu menyesal, ……mari, mari, terimalah tiga jurus

telapak tanganku!”

Setelah berkata, perlahan-lahan dia naik lagi ke tangga,

berdiri di depan Kian Ih Taysu, tangan kirinya didorong

kedepan kearah dada ketua Siau-lim-sie, sekejap ditempat

itu udara berobah menjadi sangat dingin.

Kian Ih Taysu pun menjulurkan tangan kirinya

menyambut tangan lawannya, sambil berkata:

“Aku pun ingin tahu kau punya kemampuan berapa

besar!”

Kedua tenaga itu bentrok sekitar dua kaki di depan tubuh

mereka, dan terdengar suara “BUNG”, tekanan tenaga itu

menggetarkan pintu, jendela dan tiang rumah, dan

mengeluarkan suara krek, krek, dan lampu di sepanjang

tangga itu menjadi padam semua.

Tenaga dalam mereka merupakan tenaga inti di dalam

tubuh, Kian Ih Taysu menggunakan tenaga dalam aliran

Dewi KZ 498

Siau-lim yang hampir punah, sedangkan ketua aliran Jiankin-

kau menggunakan ilmu dari aliran Tibet yang

dinamakan “Pan-bun-tu-hong.”

Bentrokan tadi hanya uji coba, masing-masing ingin tahu

kemampuan lawan sampai dimana, tenaga mereka telah

menggetarkan barang-barang dekat kamar itu, tapi tubuh

mereka tetap kokoh bagaikan gunung dan baju mereka pun

tidak bergoyang.

Tapi orang-orang yang berdiri di samping arena tidak

tahan atas tekanan tenaga dalam dari kedua orang yang

sedang bertarung, masing-masing berusaha tidak

meninggalkan tempat, hweesio-hweesio yang tersisa dari

barisan empat gajah terdorong ke belakang sekitar tujuh

langkah.

Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud dan berkata:

“Kepandaian Kaucu sangat hebat, jika aku tidak

mendapatkan tambahan tenaga saat menyembuhkan diri A

Bin, mungkin tidak bisa menerima pukulanmu yang begitu

hebat!”

Orang-orang di pinggir seperti Cukat Hiang, Jit Ie, Hong

Ie menyaksikan kedua orang ini beradu tenaga dalam

dengan hebat, ternyata Kian Ih Taysu mampu bertahan,

tadinya mereka mengkhawatirkan Kian Ih Taysu kehabisan

tenaga pada saat memulihkan kesehatan A Bin, sebab

selama duapuluh satu hari dia terus menerus mengerahkan

tenaga dalam, ternyata fakta berbicara lain, tenaga

dalamnya malah meningkat banyak, karena dia membantu

memulihkan kesehatan A Bin, namun tenaga dalam A Bin

yang berbeda sifat di bantu dengan Tulang putih maha guru

pun memberikan manfaat buat Kian Ih Taysu sendiri.

Orang berjubah abu tidak percaya ketua Siau-lim-si ini

telah melatih tenaga dalam demikian tinggi, dan dari

Dewi KZ 499

ucapan Kian Ih Taysu dapat ditebak bahwa A Bin pun telah

menguasai tenaga dalam yang tinggi. Boleh dikatakan A

Bin dari musibah malah mendapat rejeki. kenyataan ini

membuat ketua aliran Jian-kin-kau berpikir dalam hati,

untuk mengalahkan Kian Ih Taysu saja sudah berat, bila

bertarung lagi dengan A Bin, dia tidak punya harapan bisa

menang.

Hati orang berjubah abu jadi ketakutan, tetapi dia tidak

memperlihatkan rasa ketakutannya, dengan tertawa sinis

dia berkata:

“Hweesio tua, kau jangan sombong dulu, coba terima

pukulanku yang kedua!”

Jurus ketua aliran Jian-kin-kau yang dilancarkan adalah

“Pan-bun-yu-hong” tenaganya seperti men-dorong gunung

jatuh ke laut, membawa suara yang mengerikan menuju

dada Kian Ih Taysu.

Kian Ih Taysu pun memajukan telapak tangan

menyambut pukulan itu dengan tenaga penuh.

Kali ini mereka menggunakan tenaga dalam sekitar tujuh

bagian, orang-orang yang berada di atas atau di bawah

tangga seperti berada dalam gelombang laut yang dahsyat,

tidak bisa berdiri tetap di tempat, dan harus merobah posisi

berdiri untuk menghindar dari tekanan udara yang

melanda.

Terlihat kedua orang yang sedang beradu tenaga tetap

berdiri di tempat masing-masing, tetapi muka Kian Ih

Taysu telah berobah lebih pucat dari muka yang semula

kemerahan, ini menandakan mereka telah menguras banyak

tenaga dalamnya. Muka ketua aliran Jian-kin-kau tidak

kelihatan karena tertutup oleh kain.

Dewi KZ 500

Orang berjubah abu marah bercampur terkejut, baru saja

dia ingin menyusulkan pukulan berikutnya, pintu di

belakang Kian Ih Taysu tiba-tiba terbuka, keluarlah A Bin

yang kelihatan begitu segar bugar sambil berkata:

“Taysu beristirahat dulu, ijinkan aku menerima

pukulannya!”

Suara A Bin yang begitu nyaring seperti suara lonceng,

membuat semua orang yang mendengar merasa sangat

senang. Hong-tai dan Siau-cian malah berteriak gembira

melihat pujaan hatinya begitu gagah dan sehat.

Lain lagi buat orang-orang aliran Jian-kin-kau, mereka

jadi cemas melihat A Bin sudah keluar, sebab mereka tahu

bahwa anak muda ini yang telah mengalahkan ketua

mereka tempo hari.

Kian Ih Taysu mengucapkan O-mi-to-hud, lalu memberi

pesan pada A Bin:

“Orang ini mempunyai tenaga dalam yang hebat, aku

pun bukan lawannya, harap A Bin Siauhiap menunjukan

kepandaian, agar dia mendapatkan pengajaran, sadar dan

pergi dari sini!”

Orang berjubah abu mengawasi A Bin terus sejak keluar

dari kamar, A Bin merasakan aneh dan berkata:

“Apakah ketua kenal padaku, maukah memberi

keterangan yang jelas!”

Orang berjubah abu itu mendadak berkata dingin:

“Siapa yang mau banyak bicara denganmu, kau coba

dulu beberapa jurus pukulanku, apakah kau sanggup?”

Sambil bicara, dia melayangkan jurus “Pan-bun-yu-hong”

dari jarak tujuh kaki ke tubuh A Bin.

Dewi KZ 501

Angin dingin segera menerpa tubuh A Bin, tapi A Bin

berdiri di tempatnya seperti tidak merasakan pukulan itu.

Orang berjubah abu menjadi was-was oleh ketenangan A

Bin, maka dia membentak:

“Kau coba lagi jurus kedua ku ini!”

Sebuah gelombang angin dingin yang keras menerpa

semua orang yang menonton di pinggir, A Bin tertawa sinis

dua kali, sambil menggosokkan kedua telapak tangan dua

kali, dia menggunakan kedua tangan itu menyambut

pukulan orang berjubah abu, pukulan yang dilancarkan A

Bin berbeda dengan lawannya, pukulannya tidak bersuara,

tidak bergelombang, seperti tidak ada apa-apa.

Bentrokan tenaga itu mengeluarkan suara bunyi ‘BUNG’,

orang berjubah abu itu mundur selangkah, sedangkan A Bin

tetap berdiri ditempatnya. Tenaga dalam A Bin telah

mencapai tingkat yang paling tinggi, bantuan tulang putih

maha guru Siau-lim telah melebur tenaga dalam A Bin yang

sudah tersimpan dalam tubuh, A Bin menjadi orang

pertama dalam seratus tahun yang mencapai tingkat

tertinggi seperti itu.

Orang berjubah abu tidak tahu asal usul ilmu A Bin,

setelah tahu tenaga dalam A Bin begitu hebat, tetapi dia

tidak putus asa, sebab setelah dia menguasai ilmu

pukulan”Pan-bun-yu-hong” dari daerah Tibet, belum pernah

ada orang mampu bertahan hidup terhadap pukulannya,

malam ini dia kalah oleh anak muda ini, membuat dia tidak

rela menerima fakta itu.

Dia segera melancarkan jurus ketiga menyerang A Bin,

sambil tersenyum A Bin pun mengeluarkan kedua telapak

tangan dengan perlahan-lahan

Dewi KZ 502

Kedua telapak tangan dua orang itu bentrok lagi, tapi

bentrokan kali ini sama sekali tidak bersuara, pasir dan batu

kecil pun tidak terbang, tidak ada angin keras, dan dua

orang yang beradu tenaga dalam sama sekali tidak

bergoyang. Semua orang yang menyaksikan merasakan

aneh, entah kenapa bisa tidak bersuara.

Orang berjubah abu perlahan-lahan mundur ke belakang,

dari luar tidak kelihatan apa-apa, tetapi orang-orang yang

melihat duel itu melihat orang berjubah abu telah terluka.

A Bin dengan nada tenang berkata:

“Kau telah susah payah belajar ilmu ini, aku pun tidak

menggunakan tenaga penuh melukaimu, tetapi bila masih

terus mengganggu, atau berbuat yang melanggar etika

hidup, aku tidak akan melepaskanmu dan kawankawanmu.”

Orang berjubah abu tidak bicara sama sekali, perlahanlahan

dia mundur dari tempat pertarungan dengan langkah

lemas, dari kelakuannya terlihat tidak apa-apa, tetapi semua

orang yang menyaksikan pertarungan itu tahu dia telah

terluka dalam.

A Bin dengan suara pelan berkata:

“Kepandaianmu ini tidak gampang didapat, aku tidak

terlalu keras melukaimu, tapi bila masih membandel, atau

berbuat yang melanggar etiket moral, aku tidak akan

melepaskanmu pergi.”

Orang berjubah abu tetap tidak bicara, dengan langkah

perlahan-lahan turun tangga, tubuhnya terlihat lemas

Di saat bersamaan dari kejauhan terdengar satu suara

dingin dan keras berkata:

Dewi KZ 503

“Dosa orang ini sudah cukup banyak, bila hari ini

dilepaskan, entah akan jatuh korban berapa lagi di dunia

ini.”

Semua orang berpaling ke tempat suara itu terdengar,

terlihat keluar empat orang dari tempat gelap dan berjalan

dengan langkah lambat.

Empat orang itu, selain Cia Ma-lek, Yo-po-lo-to dan

Leng Hau-te yang telah diketahui, ada seorang asing yang

roman mukanya terlihat seperti baru sembuh dari sakit

berat. Semua mata tertuju pada orang ini, ingin mengetahui

siapa dia.

Tetapi dari semua orang itu, hanya tiga orang yang

paling memperhatikan dia, selain orang berjubah abu, A

Bin dan Giok Siau-cian juga memperhatikan orang itu.

Orang berjubah abu seperti melihat iblis keluar dari

neraka, dengan terkejut melangkah mundur ke belakang. A

Bin melihat orang ini yang pernah bertemu dengannya di

puncak gunung Tiang langit dan berkata seperti orang gila

menceritakan kejadian saling bunuh di antara pendekar Lui

Kie, In-kiam dan Giok-kiong, tetapi sekarang

penampilannya seperti tidak gila dan kelihatan lebih muda.

Giok Siau-cian dengan mata terbuka besar melihat orang

itu dengan perasaan terkejut, gembira dan sedih, lalu

berteriak:

“Ayah” sambil berlari merangkul orang itu.

Orang asing itupun dengan perasaan yang susah

dibayangkan merangkul Siau-cian dan mengusap terus

rambut halus sang anak dan terus berkata-kata:

“Siau-cian, Siau-cian”

Semua pendekar saling berbisik dan bersamaan berteriak:

Dewi KZ 504

“Giok……Kiong……Giok Kang-tong!”

Yo-po-lo-to masih mengenakan baju yang aneh itu

menghampiri orang berjubah abu, sambil menunjuk muka

orang itu berkata pada A Bin:

“Kau tahu, siapa dia.. Yang telah berbuat banyak dosa!”

Kaki orang berjubah abu itu seperti terpaku di

tempatnya, tidak bisa bergerak. Jawab A Bin:

“Aku tidak tahu, harap Cianpwee memberi penjelasan!”

tetapi dengan kedatangan ayah Siau-cian, A Bin dapat

menduga sedikit persoalan itu.

Saat bersamaan Hong-tai menghampiri orang asing itu

dan berkata dengan suara sedih:

“Dimana ayahku?”

Mata Hong-tai yang marah dan muka yang agak pucat

menghampiri orang itu, setelah mengetahui dia adalah

Giok-kiong Giok Kang-tong, dia langsung ingin tahu

ayahnya berada dimana.

Giok Kang-tong melepaskan tangan yang merangkul

Siau-cian, tetapi masih memegangi leher sang anak, seperti

takut direbut orang lain. Sambil menghampiri Hong-tai dan

berkata dengan lemah lembut:

“Kelihatannya kau adalah anak In Tiang-long, in Toako,

ayah kau telah meninggal diatas puncak Tiang langit!”

Hong-tai sudah lama mendengar berita bahwa ayahnya

telah meninggal, namun dengan kedatangan orang yang

diperkirakan juga telah meninggal dipuncak gunung tiang

langit, membuat dia berharap ayahnya juga masih hidup.

Setelah mendengar berita yang benar, tubuh Hong-tai

menjadi lemas seperti mau jatuh. Dia segera menghampiri

Dewi KZ 505

Giok Kang-tong dan mendorong Siau-cian terlepas dari

tangan sang ayah, lalu berkata dengan suara kasar:

“Ayahku bagaimana matinya! mati oleh perbuatan

siapa?” Hong-tai sudah berprasangka bahwa Giok Kangtong

yang membunuh ayah.

Giok Kang-tong dengan suara menyesal berkata:

“Bila dibicarakan sangat tragis, kematian ayah-mu, boleh

dikatakan olehku juga……”

Mendengar Giok Kang-tong mengaku telah membunuh

ayahnya, Hong-tai sangat marah dan langsung menusukan

pedang pada tubuh Giok Kang-tong. Tindakan Hong-tai

membuat Siau-cian berteriak tetapi tidak tahu harus berbuat

apa.

Terlihat bayangan seorang menghampiri mereka dan

dengan cepat memegang gagang pedang Hong-tai dengan

dua jari, dan berkata dengan halus:

“Tunggu dulu!”

Ternyata orang itu adalah gurunya Cia Ma-lek, Pencuri

ulung Leng Hau-te.

Leng Hau-te tidak menunggu jawaban dari Hong-tai dan

segera berkata:

“Tunggu Giok-toako bicara dulu, hari ini ada aku dan

Yo-po, pasti akan membantu kalian mencari penyelesaian

yang adil!”

Giok Kang-tong menarik napas panjang dan bercerita:

“Kira-kira enam tahun yang lalu, di puncak gunung

Tiang langit, kami bertiga bertarung sampai saling

membunuh, membuat dua orang mati, dan yang satu

menjadi gila, tetapi setelah diselidiki dengan seksama,

ternyata kami bertiga adalah korban ulah orang lain, karena

Dewi KZ 506

waktu itu kami sudah kehilangan kesadaran, sebab sebelum

kami datang ke puncak itu, sudah ada orang yang

menaburkan cairan racun yang membuat orang lupa

ingatan dan membuat orang ingin saling bunuh!”

Bersamaan itu ada tiga orang bertanya:

“Siapa orang itu? siapa yang menaburkan racun itu?”

Giok Kang-tong dengan mata penuh dendam menunjuk

muka orang berjubah abu dan berkata:

“Itulah dia, orang yang menutup muka dengan kain,

bajingan dari aliran tersesat!”

Orang berjubah abu itu dengan cepat menghampiri Giok

Kang-tong, ingin menyerang Giok Kang-tong dengan tibatiba.

Tapi tahu-tahu dari pinggir datang satu tekanan tenaga

menghilangkan tenaga serangan orang berjubah abu itu,

sehingga membuat orang berjubah abu terpelanting

kepinggir, tapi berkat ilmu silatnya yang tangguh, dia masih

bisa berdiri kembali, dia langsung melihat orang yang

menggagal-kan serangannya adalah Yo-po-lo-to.

Yo-po-lo-to berkata dengan dingin:

“Selama aku ada disini, aku tidak mengijinkan kau

mencelakakannya dengan cara tidak terpuji. Tetapi kau

jangan takut, sebentar lagi sudah ada orang yang akan

menghukummu”

A Bin menghampiri orang berjubah abu itu dan berkata:

“Kau siapa?”

Orang berjubah abu itu tidak bicara, segera mengambil

satu kantong besar dari anak buahnya yang memakai baju

mewah. A Bin sudah tidak sabar, ingin tahu siapa orang itu,

dia segera melayangkan telapak tangan ingin membuka

topeng muka orang berjubah abu itu.

Dewi KZ 507

Bersamaan waktunya orang berjubah abu telah

mengeluarkan sebuah senjata berupa kail perak yang sangat

besar dari kantong hitam, dan gerakan jurus telapak A Bin

telah sampai di muka orang itu dan berhasil membuka kain

penutup muka, terlihatlah muka asli orang berjubah abu,

serentak semua orang dari pihak Siau-lim dan orang-orang

aliran Jian-kin-kau berteriak:

“Kau-sat (Kail pembunuh) Kau Bun-kek!” Melihat muka

orang itu A Bin jadi teringat kejadian dulu yang menimpa

dirinya saat di puncak gunung Tiang langit. Dan cincin besi

hitam yang tertinggal di puncak gunung……adalah bukti

orang ini Kau Bun-kek yang berbuat, yang telah membunuh

dua pendekar ternama dan membikin seorang lagi menjadi

gila.

Kau Bun-kek melihat situasi tidak menguntungkan,

maka dia berteriak pada orang-orang aliran Jian-kin-kau:

“Kalian, semua maju serang mereka!”

Tetapi, anak buah dia telah dijaga ketat oleh hweesiohweesio

Siau-lim-sie dan dua orang pembunuh penjahat

dari aliran hitam Yo-po-lo-to dan Leng Hau-te yang berada

di pinggir anggota Jian-kin-kau, setelah wajah Kau Bun-kek

terlihat oleh semua orang dan mengetahui kejahatan yang

telah dibuat oleh Kau Bun-kek, maka anggota Jian-kin-kau

seperti tidak mau membela lagi ketua baru mereka.

Kau Bun-kek tahu dirinya telah terkepung oleh semua

orang, dan tidak ada orang yang mau membantunya, timbul

karakter jahat dari benaknya, dia mengayunkan kail perak

yang beratnya hampir lima puluh kati diayunkan ke arah

kepala A Bin, suara ayunan kail perak itu mengeluarkan

hembusan angin yang mengerikan, sedangkan langkah

kakinya digerakan ke arah kiri atau kanan untuk

mengelabui mata A Bin.

Dewi KZ 508

A Bin dengan gesit sedikit menggeser kakinya ke

samping, menghindar dari serangan kail perak itu.

Ketika ada kesempatan itu A Bin mengeluarkan golok

dari balik bajunya, goloknya dipegang di tangan sambil

berdoa sejenak:

“Arwah ayah di langit, anakmu akan menggunakan

golok yang ayah berikan padaku untuk membunuh musuh

yang telah membunuh ayah dan teman ayah!”

Kau Bun-kek berkata dengan suara keras untuk menutupi

ketakutannya:

“Anak kecil masih bau kencur! berani berkata begitu

sombong, selama ini aku Kau Bun-kek sudah membunuh

orang tidak terhitung banyaknya, masa aku takut padamu!”

Dengan kail perak besar itu Kau Bun-kek menyerang

bagian atas dan bawah tubuh A Bin, dengan suara desingan

angin yang memekakan telinga.

A Bin menggunakan gerakan merapat mendekati Kail

pembunuh Kau Bun-kek.

Dalam hati Kau Bun-kek berkata, “Anak muda ini

terlalu sombong, kailku beratnya lima atau enam kali

golokmu, tempo hari ayahmu juga tidak berani beradu

senjata langsung denganku, tapi kau sangat berani!”

Maka Kau Bun-kek menambah tenaga dalam di

tangannya ingin menjatuhkan golok A Bin dengan

menggunakan kail peraknya yang sangat berat.

Tetapi yang terjadi membuat dia terkejut sekali, sebab

dia merasa tenaganya seperti masuk ke lautan yang luas,

sama sekali tidak berpengaruh pada tubuh A Bin, cepatcepat

dia menarik kembali tenaga yang telah dikeluarkan.

Dewi KZ 509

Di saat dia ingin menarik kembali tenaga itu, terdengar

bentakan A Bin diikuti ayunkan goloknya, dan tubuh Kau

Bun-kek pun terlempar hingga setengah tombak.

Dengan perasaan terkejut, Kau Bun-kek cepat berdiri dan

memusatkan tenaga dalamnya di kail perak, lalu kembali

menyerang ke arah dada A Bin.

Tapi A Bin tidak takut dengan serangannya, dia

menggetarkan golok dan membuat lima sinar bintang dari

goloknya, menyerang lima tempat penting di tubuh Kau

Bun-kek, jurus serangan A Bin yang dipakai sebagai jurus

bertahan sekali gus menyerang, malah membuat Kau Bunkek

cepat-cepat menarik kailnya untuk menyelamatkan diri.

A Bin menyerang tanpa memberi kesempatan pada Kau

Bun-kek, membuat lawannya terpaksa memutar-mutar

tubuh untuk menghindar serangan A Bin yang bertubi-tubi.

Keringat mulai bercucuran di kepala Kau Bun-kek, rambut

yang agak putih jadi berantakan dan tidak sempat

dibereskan.

Dengan gagah, A Bin membentak lagi, seperti naga

melengking atau macan mengaum, golok yang dipegang

diayunkan menyerang bagian tengah rubuh Kau Bun-kek.

Orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu hanya

melihat satu kilatan yang menyilaukan dan satu bayangan

yang sangat cepat mendekati tubuh Kau Bun-kek. Serangan

A Bin membuat Kau Bun-kek beberapa kali harus

mengunakan kail perak menahan golok A Bin.

Terdengar bentakan dari A Bin lagi, dan tubuh A Bin

bagaikan naga putih yang sedang terbang menerjang

kurungan dan menuju tubuh Kau Bun-kek, membuat Kau

Bun-kek menjerit kesakitan dengan langkah kaki

sempoyongan mundur dua langkah.

Dewi KZ 510

Satu penjahat yang telah membuat banyak dosa dengan

susah payah berdiri tegap, dua mata di bawah alis yang

tebal dibelalakan dengan besar dan bulat, tetapi sinar mata

yang angker telah menghilang, diganti dengan mata seperti

orang mati, dia membuka lebar kedua kaki agar berdiri

tegap dan diam terus.

Dengan golok dipegang di dada A Bin berteriak nyaring,

terlihat kepala besar Kau Bun-kek terlepas dari tubuhnya,

jatuh ketanah diikuti pancuran darah segar menyembur ke

tanah.

Ternyata kepala Kau Bun-kek telah terpotong oleh golok

A Bin di saat A Bin tadi terbang bagaikan naga terbang

menyerang Kau Bun-kek, karena golok itu sangat tajam dan

tenaga yang digunakan sangat tepat, sehingga tajamnya

golok itu melewati leher Kau Bun-kek, tetapi kepala Kau

Bun-kek tidak langsung jatuh ke bawah, setelah terdengar

teriakan terakhir dari mulut A Bin, barulah suara itu

membuat kepala musuh ter-penggal jatuh.

Hong-tai melihat kepala pembunuh ayah telah jatuh di

tanah dia mendekati A Bin sambil menangis di pundak A

Bin.

Ketua Siau-lim mengucapkan O-mi-to-hud terus menerus

untuk menebus dosa Kau Bun-kek, lalu menghampiri

orang-orang aliran Jian-kin-kau, memerintahkan mereka

bubar dan berkata dengan suara tegas:

“Pemimpin kalian telah mati, untuk menebus dosa-dosa

kalian, aku melepaskan kalian untuk pulang masing-masing

dan tidak mempersulit, harap kalian nanti tidak berbuat

kejahatan lagi di masa akhir hidup kalian!”

Orang-orang aliran Jian-kin-kau segera meninggalkan

biara Siau-lim. Setelah pemimpinnya mati dan anggotanya

membubarkan diri, biara Siau-lim pulih kembali ke suasana

Dewi KZ 511

yang tenang, setelah dirapikan bagian-bagian yang rusak

oleh hweesio-hweesio. Dan sebagian pesilat-pesilat

berpamitan pada ketua Siau-lim dan meninggalkan biara

untuk melanjutkan tugas mulia mereka.

Pada satu hari yang cerah, di mana matahari baru terbit,

di pintu depan biara Siau-lim diselenggara upacara besar,

semua hweesio berbaris rapih di depan pintu, dan dipimpin

oleh Kian Ie, Jit Ie, Hong Ie untuk mengantar pesilat-pesilat

tinggi dan agung meninggalkan biara Siau-lim.

Tamu agungnya hanya bertiga, satu laki-laki dan dua

perempuan. Mereka adalah A Bin, Hong-tai dan Siau-cian,

mereka akan meninggalkan gunung Siong-san tempat biara

Siau-lim berdiri, mereka akan meneruskan kejayaan ayah

mereka masing-masing.

TAMAT

Bandung, 21 Desember 2008 Salam Hormat

(See Yan Tjin Djin)

About these ads

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s