Naga Bumi – Asmara Para Pendekar (Kitab II)

New Picturedff

Naga Bumi

Kitab II:

Asmara Para Pendekar

(Karya: Seno Gumira Ajidarma)

101: Orang yang Terasing

Pembaca yang budiman, kita harus kembali ke pertarunganku melawan Putri Khmer yang cantik jelita, menawan, dan memesona, dan sangat amat berbahya ini. Pagi pertama di tanah Khmer. Kudengar semuanya, tetes embun, semut berjalan di antara rumputan, cacing menggeliat dalam serbuan barisan semut api. Pagi masih dingin tetapi bunuh-membunuh sudah berlangsung sebagai bagian dari kewajaran alam. Kabut masih mengambang di atas sungai. Kapal-kapal saling bersentuhan karena arus sungai yang tersibak oleh kapal-kapal lain yang baru tiba dari pedalaman pada pagi yang sedikit demi sedikit menjadi semakin terang. Lawanku belum juga bergerak. Aku tak akan bergerak selama ia belum bergerak. Berapa lama pun ia tak bergerak aku juga harus tidak bergerak.

SEANDAINYA pagi menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam, dan malam menjadi gelap berkepanjangan sampai begitu gelap segelap-gelapnya malam, dengan atau tanpa rembulan, dengan atau tanpa burung hantu yang berkelebat di tengah hutan menyambar tikus bagaikan malam hanyalah siang karena bagi matanya kegelapan malam adalah terang seterang-terangnya siang, dengan atau tanpa ular yang menjulur diam-diam di pepohonan dan menyambar telor burung elang yang begitu siap menetas bahkan dari balik dinding telur sudah terlihat paruh kecil anak elang, dengan atau tanpa segala makhluk yang bergerak dalam kegelapan malam, aku harus tetap bertahan.

Aku tak tahu sampai berapa lama perempuan itu akan bertahan tetapi ia tampak sungguh sakti dan menawan, paduan yang mendebarkan dan penuh dengan ancaman, karena setiap pesona adalah bahaya dalam pertarungan yang sangat membutuhkan ketenangan. Dalam pertarungan tanpa gerak ketenangan sangat dibutuhkan, dan hanya yang lebih tenang akan dapat memenangkan pertarungan. Persoalannya sekarang, dalam sebuah adu tatapan, tidaklah mungkin kuingkari pesonanya dengan menghindari pandangan, sebaliknya haruslah kuhadapi tatapan dengan segala pesona yang terdapat di dalamnya, karena jika tidak maka aku akan terkalahkan.

Namun siapakah kiranya ia di dunia ini yang akan berdaya menghadapi pandangan penuh pesona seperti matanya yang maya? Kutahu betapa sekejap kukedipkan mata untuk menghindari tatapan maka pada kejap itulah leherku akan putus dengan sangat halus oleh pedang lentur itu, yang seolah begitu ringan tanpa daya tusuk tetapi kutahu betapa rambut pun bisa dibelah ketebalannya, bukan panjangnya, menjadi tujuh bagian. Memang benar betapa Jurus Penjerat Naga tiada akan mengizinkan penggunanya, betapapun, untuk menyerang lebih dulu, seberapa lemah dan tanpa dayanya sang lawan itu, tetapi siapa yang bisa tahu bahwa perempuan pendekar ini sedang mengecohku? Bukankah merupakan siasat yang sangat tepat, bahwa ia mampu membuat aku mengira dirinya sedang menggunakan Jurus Penjerat Naga, sehingga betapapun aku tidak akan pernah menyerang? Tetapi apa pun kemungkinannya, aku tidak akan pernah menyerang, karena terhadap jurus yang bahkan tak bisa dikenal, Jurus Penjerat Naga semakin menekankan pentingnya menanti terbukanya kelengahan lawan.

Maka aku pun harus tetap menatapnya, seperti yang telah kulakukan sepanjang malam sampai pagi terang begini. Tak dapat kuperiksa lagi siapa saja yang telah datang berkerumun melihat kami. Tampaknya mereka semua mengenal putri istana ini, karena tampak seperti maklum saja tentang apa yang terjadi. Hanya setelah mendengar nada ucapan mereka yang meninggi dan dengan sudut mata meraba-raba apa yang terjadi, kuyakini betapa dirikulah perbincangan mereka yang seperti kicau burung itu, meski kicaunya tidak sama dengan bahasa orang-orang Negeri Atap Langit. Begitulah bahasa yang hanya terdengar seperti kicau burung itu memberiku perasaan yang sangat terasing. Siapakah aku di sini dan untuk apa aku di sini? Semangat pengembaraan kadang tercairkan oleh kesepian dan keterasingan. Tentu aku merasa terkejut ketika ternyata diriku dikenali, sampai

kepada hal yang sangat pribadi. Bagaimana caranya kuterima diriku dikenali sebagai anak Sepasang Naga dari Celah Kledung, yang tiada pernah kusampaikan kepada siapa pun jua?

Siapa pun dia, aku tidak mengenalinya, meski ia kemudian mengenaliku. Hanya satu penghubung yang membuatku terus menerus berpikir sepanjang malam: Jika ia memang menguasai Jurus Penjerat Naga, dari manakah ia telah mempelajarinya? Namun ia tidak mempelajari Jurus Penjerat Naga seperti yang kupelajari, karena jurusnya masih seperti jurus, bahkan jurus yang digambarkan hanya untuk disebutkan sebagai jurus yang tidak akan pernah digunakan oleh Pendekar Satu Jurus. Ada berapakah kitab yang menyimpan Jurus Penjerat Naga ini? Ketika aku menemukannya di dalam peti kayu, aku tidak tahu dengan pasti apakah pasangan pendekar yang mengasuhku itu sudah mempelajarinya, karena untuk menghadapi para naga, mereka telah menciptakan Ilmu Pedang Naga Kembar yang juga sudah kukuasai. Bahkan bukannya takmungkin kitab itu mereka baca bukan karena tertarik kepada ilmu silatnya, sebaliknya justru untuk mencari kelemahan Jurus Penjerat Naga itu.

Mereka memang tidak memerlukan Jurus Penjerat Naga lagi, karena bahkan Pahoman Sembilan Naga telah meminta keduanya secara bersama menggenapinya sebagai naga kesepuluh, meskipun Sepasang Naga dari Celah Kledung itu menolaknya, dengan cara tidak memenuhi undangan Pahoman Sembilan Naga tersebut. Penolakan itu bisa menjadi pertanda kerendahan hati, tetapi bisa juga keyakinan betapa mereka berada di atas segala naga.

Sejauh kukenali kedua orangtua asuhku itu, mungkin saja mereka tidak SEJAUH kukenali kedua orangtua asuhku itu, mungkin saja mereka tidak mempelajari Jurus Penjerat Naga, antara lain karena mereka juga tidak akan rnempelajari ilmu-ilmu silat yang dipelajari orang lain. Jadi benar, terdapat beberapa kitab Jurus Penjerat Naga yang ditulis Pendekar Satu Jurus, dan kini dua orang yang sama-sama mempelajari kitab itu berhadapan sebagai lawan. Bagaimanakah kitab itu dapat berlayar sampai ke tanah orang-orang Khmer ini? Aku memikirkan sesuatu, tetapi aku tidak boleh terlalu lama asyik dengan pikiranku, karena sekejap kelengahan saja akan menyebabkan tercerabutnya nyawaku. Kudengar suara-suara di sekelilingku tanpa memejamkan mata, karena jurus ini mewajibkan aku menatap matanya. Namun mata itu tidak bisa kutatap tanpa menimbulkan persoalan baru, yakni betapa aku tidak akan bisa melepaskan diri dari tatapan mata itu. Tanpa melepaskan pandangan kudengar segalanya di tanah yang asing bagiku ini. Kemudian kudengar suara Naga Laut dan anak buahnya. “Tidak mungkinkah ia berhenti daripada mematung terus menerus seperti itu?” Tidaklah terlalu jelas apa jawabannya, tetapi tampaknya ia kesal sekali. Barangkali karena ia memang ingin segera berangkat ke Indrapura. “Pertarungan ini bisa lama sekali,” ujar Dhawa kepadanya, “jika salah satu berhenti begitu saja, saat itu pula nyawanya bisa melayang.”

“Sudah daku katakan kepadanya agar tidak terlibat dengan apa pun,” kudengar lagi nakhoda berkata, “angkat sauh, kita berangkat sekarang!” Dhawa mungkin mengatakan sesuatu, tetapi nakhoda menukas. “Dia seorang pendekar pengembara, tidak penting benar baginya terus bersama kita atau tidak. Rencana perjalanan tidak perlu ditunda demi kepentingan satu orang saja. Anak muda tanpa nama itu akan mengerti.” Kulepaskan pendengaranku dari percakapan itu dan menyelusuri khalayak yang berbisik-bisik takut mengganggu pertarungan. Apakah mereka mengerti sifat pertarungan ini? Aku sendiri hanya mengetahui dari pembacaan Riwayat Pendekar Satu Jurus, kini setelah kualami sendiri, dan baru berlangsung semalam, lawanku masih juga bergeming, tak bergerak seperti patung. Ilmu yang dilatih dalam Jurus Penjerat Naga adalah jurus-jurus yang tidak seperti jurus, antara lain berdiri tanpa kuda-kuda apapun seperti memang hanya mau berdiri tanpa maksud lain lagi. Perempuan pendekar itu jelas menggelar sebuah jurus. Apakah pikiranku yang ingin dipermainkannya? Sekarang rambutnya berkibar ditiup angin pagi yang masih dingin. Maka ketiak yang semula tertutup rambut panjang hitam kelam, dengan jurus pembukaan mengangkat pedang seperti itu, tampak terbuka dengan segenap bulu-bulunya yang subur. Namun matahari yang merambat naik bagaikan muncul dari balik punggungnya, membuat cahaya dari balik seluruh tubuhnya melesat-lesat berkilauan. Kewaspadaanku sangat amat meninggi, karena kedudukannya yang membelakangi matahari pagi menguntungkan sekali. Ibarat kata aku hanya melihat sosok hitam dengan bayangan rambut melambai-lambai, dan begitu juga kain yang samar-samar memperlihatkan segala sesuatu di baliknya itu.

Aku tidak melihat apa pun akhirnya, hanya kesilauan cahaya luar biasa, kini kutahu apa yang dinantinya sepanjang malam! Kelengahan sekejap yang ditunggu adalah saat munculnya matahari itu, yang telah ia ketahui benar dengan kedudukannya yang sekarang ini. Ia berpikir sama seperti aku, seorang petarung yang tidak memanfaatkan keuntungan ini tidak akan mendapat kesempatan kedua. Ia melesat! Ini berarti ia tidak membaca dan tidak mengetahui Riwayat Pendekar Satu Jurus, karena siapa pun yang membacanya pasti tahu betapa Pendekar Lautan Tombak menemui ajalnya justru ketika menyerang di balik cahaya berkilatan yang menerpa pandangan Pendekar Satu Jurus. Itu hal pertama.

Adapun hal kedua, kitab yang dibaca dan dipelajarinya mungkin adalah kitab yang telah dipalsukan dan sengaja dikelirukan, untuk menjaga seandainya saja kitab itu hilang dicuri orang. Dengan kata lain, puteri Khmer yang tubuhnya meruapkan aroma setanggi itu telah mempelajari Jurus Penjerat Naga dari sebuah kitab curian! Telah kuceritakan tentunya betapa pencurian kitab ilmu silat pada masa itu merupakan sesuatu yang jamak. Jika bukan karena seorang murid yang kurang

sabar dan sangat bernafsu menguasai ilmu silat sang guru akan mencuri kitab pusaka perguruannya, tentunya dari seorang pencuri sakti yang mempertaruhkan hidupnya memang untuk mencuri kitab-kitab ilmu silat, baik untuk dipelajari sendiri, maupun diperjual belikan dengan harga yang tinggi. Bahkan para pencuri kitab ilmu silat ini berani menerima pesanan atas kitab-kitab tertentu, yakni kitab ilmu silat yang termasyhur tetapi belum pernah dilihat orang. Kiranya keadaan semacam inilah yang membuat kitab-kitab tertentu pula sengaja disalin untuk dikelirukan.

SAYANG sekali puteri tercinta yang penuh pesona itu telah mempelajari kitab yang salah, karena sudah jelas Jurus Penjerat Naga tidak memiliki jurus yang masih seperti jurus dan apa pun yang terjadi Jurus Penjerat Naga tidak akan digunakan untuk menyerang. Dalam keadaan biasa serangan sang putri dari balik cahaya ini sudah pasti menelan korban, tetapi bagiku yang telah mempelajari Jurus Penjerat Naga yang sebenarnya, serangan itu tiada lebih dan tiada kurang merupakan kelengahan yang sangat terbuka. Maka dalam sekejap setelah putri itu melesat, pedang lenturnya yang luar biasa itu sudah terpotong-potong menjadi sepuluh bagian, sementara tubuh putri itu sendiri terpaksa kusentuh dengan angin pukulan begitu rupa sehingga terpental dan melayang ke atas tanpa daya….

Tubuhnya menggeliat ketika terputar di atas, tampak begitu lambat dalam mataku, kain samar-samar itu tersibak, dan segalanya menjadi begitu jelas dalam cahaya keemasan. Semua ini berlangsung sangat cepat, melebihi kecepatan kilat, sehingga tidak seorang pun akan dapat melihatnya. Namun saat itu berkelebat sesosok bayangan menyambarnya sebelum aku menyangga tubuhnya. Kubiarkan dia menolongnya, karena meskipun kusadari kemudian cukup banyak orang dari wilayah Suvarnadvipa berkeliaran dari wilayah ini, apakah itu dari Mataram di bawah wangsa Syailendra, apakah itu dari kedatuan Srivijaya, tidak kukenal siapa pun dengan urusan apa pun di tanah orang-orang Khmer ini.

Sosok itu berkepala gundul, dan tubuhnya dibalut jubah yang kumal sekali, yang karena hanya dikenakannya menyamping, maka dapat kulihat dengan jelas tubuhnya yang sangat kurus ibarat hanyalah tulang dibalut kulit, itu pun tampaknya bongkok pula. Ia memunggungi aku sembari membopong putri bangsawan yang tampaknya pingsan itu, kemudian berbicara dalam bahasa Sansekerta.

“Amrita memang masih terlalu muda dan tidak mau mendengar kata-kata gurunya. Aku, paman gurunya, kebetulan lewat untuk mempelajari filsafat Hindu Sankara ajarah brahmana Siwasoma 1) di kota ini . Apakah yang akan terjadi jika aku tidak kebetulan lewat di sini? Gurunya, Naga Bawah Tanah, kakak seperguruanku yang tidak pernah menampakkan diri, telah lama memperingatkan muridnya yang haus ilmu ini, betapa sangat berbahayanya belajar dari kitab curian tanpa kesahihan. Telah disampaikannya betapa ilmu-ilmu silat yang langka telah dilindungi dengan cara sebegitu rupa, sehingga banyak dibuat kitab palsu untuk mengelirukannya, karena pencurian ilmu-ilmu silat telah semakin jadi gejala. Namun Amrita bahkan bersedia membayar dengan apapun yang dimilikinya dan entah siapa pula telah menipunya. Kini ia harus membayar kenekatan melanggar peringatan gurunya. Datanglah ke Puncak Tiga Rembulan pada malam bulan purnama, wahai Pendekar Tanpa Nama dari Jawadwipa. Telah kami saksikan kedua pedang iblis yang telah membantai bangsa ini. Datanglah sekadar mencicipi ilmu silat yang sebenarnya dari tanah ini, semoga saat itu Amrita telah diizinkan gurunya keluar dari perguruan dan mengucapkan terima kasih bahwa dirimu tidak membunuhnya.”

Tubuh bongkok itu berkelebat menghilang, meninggalkan aroma setanggi dari tubuh perempuan yang dibopongnya. Pedang hitamku rupanya telah keluar masuk tanganku dengan sendirinya sesuai dengan kebutuhannya. Dalam pertarungan yang kecepatannya melebihi kilat, setelah berdiri mematung semalaman, gerakan tubuh bahkan lebih cepat dari pikiran. Itulah yang telah berlangsung tanpa bisa diikuti mata, sehingga tanpa kusadari pedang lenturnya yang luar biasa tajam dan indahnya berantakan di tanah dalam sepuluh potongan. Aku tidak terlalu suka bertarung dengan senjata, tetapi kedua pedang hitam Raja Pembantai dari Selatan itu telah tertanam dalam kedua tanganku melalui rapalan ilmu sihir yang tidak kuketahui pemecahannya. Dalam ilmu sihir, setiap mantra memiliki mantra pemudarnya. Aku tak tahu apakah mantra semacam itu ikut diwariskan kepadaku. Selama kedua pedang hitam ini tak bisa kulepaskan dari diriku, aku tak bisa menyebutkan diriku telah mencapai kesempurnaan dalam ilmu persilatan, meski memang telah membuat diriku semakin sulit dikalahkan.

***

FU-NAN adalah kata yang diberikan para sejarawan Negeri Atap Langit kepada kata Khmer bnam yang artinya adalah gunung. Para penguasanya pada masa lalu disebut Raja Gunung. Meski daya tariknya sebagai bandar antarbangsa sudah dilumpuhkan semenjak armada Srivijaya menguasai jalur perdagangan antara Negeri Atap Langit dan Jambhudvipa, penduduk Fu-nan yang berasal dari berbagai bangsa masih mencerminkan kejayaannya pada masa lalu itu.

DALAM perjalananku di wilayah itu, kusaksikan barang-barang asal Jambhudvipa yang bercampur dengan penemuan-penemuan masa lalu ketika manusia memanfaatkan bahan perunggu, tetapi dengan hasil yang sudah sangat maju sekali, meski sudah diketahui lagi asal-usul mereka yang membikinnya dahulu kala. Sebelum kapal-kapal dirakit dan candi-candi dibangun, agaknya manusia merupakan gerombolan yang mengembara dari tempat yang satu ke tempat lain tanpa pernah kembali lagi, yang memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun.

Di sebuah tempat tersembunyi, kutemukan tulang belulang yang dari bentuknya mirip juga dengan tulang belulang manusia purba yang pernah ayahku perlihatkan kepadaku, ketika mengajakku mengarungi wilayah pegunungan kapur pada masa kecilku. Gerombolan manusia masa lalu mengarungi dunia dengan cara menyusuri pantai, dari pantai satu ke pantai yang lain, barangkali sambil menunjuk dan berkata dalam bahasa yang belum pernah dituliskan: “Mari kita ke sana, melihat apa yang ada di baliknya.” Pernah kudengar teman-teman sekapal bercerita tentang tulang belulang yang sama di pantai-pantai sepanjang Semenanjung Melayu.

Dari apa yang kulihat di wilayah utara negeri itu, tempat kuduga terdapat pengaruh Mon-Khmer, kusaksikan Fu-nan semula dihuni penduduk dua lapisan yang berdampingan dan tak lama kemudian melebur dengan akrab satu sama lain. Orang-orang Fu-nan dianggap leluhur langsung raja-raja Kamboja yang berpusat di Angkor sekarang. Mereka telah berkenalan dengan budaya yang datang dari Jambhudvipa melalui pelabuhan, ketika para pelaut Jambhudvipa memperluas wilayah dagangnya ke mana-mana. Memang Fu-nan merupakan tempat persinggahan yang terbaik untuk menuju Suvarnadvipa. Daerah itu dapat dicapai melalui jalan darat sepanjang pantai Birma, lalu Siam, atau dengan memotong jalan menyeberangi Teluk Benggala ke arah Tanah Genting Kra, lalu dengan menyeberangi Teluk Siam; atau dengan mengitari Sumatra dari selatan untuk melintas di antara pulau tersebut dan Pulau Jawa.

Dari pantai Fu-nan yang terlindung dari angin topan laut di selatan Negeri Atap Langit, setelah memuat perbekalan, dengan mudah orang dapat mencapai pantai timur sepanjang Khmer dan Champa melalui jalan sungai dan meluncur dengan dorongan angin musim yang menguntungkan ke arah Negeri Atap Langit, dan dengan demikian menghindari belokan yang panjang dan sulit di Tanjung Ca-mau. Di samping itu, Fu-nan terletak di pinggiran hutan Gunung-Gunung Kamboja yang kaya rempah-rempah dan dicari orang-orang Jambhudvipa dengan gigihnya. Fu-nan sendiri juga menghasilkan rempah-rempah dan emas dapat ditemukan jika rajin mencari di sungai-sungainya.

Kuduga seratus tahun yang lalu itu dengan cepat sekali pantainya menjadi sangat padat penduduk, sedangkan pantai-pantai lain di Teluk Siam itu sangat jarang penduduknya atau sama sekali takberpenduduk. Tidak aneh jika para pedagang Jambhudvipa membuka pasar mereka di sana.

Di sebuah kedai, kudengar cerita ini, yang baru kuketahui setelah seseorang menerjemahkannya ke dalam bahasa Sansekerta kepadaku. Dibimbing mimpi, seorang Brahmana berlayar ke pantai-pantai itu, tempat ia bertemu dan menikahi seorang puteri penguasa setempat, yakni suatu raja naga. Sebagai bekal perkawinan puterinya, penguasa itu minum air yang menggenangi negerinya, supaya anak-anaknya dapat bercocok tanam.

Cerita ini dapat kutafsirkan sebagai berikut, karena cerita macam ini memang bukan semacam pengantar tidur, melainkan cara menerjemahkan hubungan Fu-nan dengan Jambhudvipa: Pada mulanya adalah pembukaan pemukiman untuk urusan dagang, kemudian berlangsung perkawinan dengan penduduk setempat; lantas berkat pelajaran para guru Jambhudvipa dan kerja bersama, dilakukanlah penggarapan delta-delta yang terendam sebagai suatu kerja besar yang ditangani bersama. 2)

Penduduk Fu-nan sudah terbiasa dengan adanya orang-orang asing. Anak-anak kecil tidak lari jika melihat orang asing, seperti ketika mereka melihatku. Bahkan mendekat, melihat dari dekat seolah-olah aku makhluk aneh, adakalanya sambil memegang-megang pula. Namun selalu kubiarkan mereka. Berkat petunjuk orang

orang aku mengetahui arah menuju Puncak Tiga Rembulan. Ternyata perjalananku memang masih jauh, jika aku ingin memenuhi undangan itu. Bukan sekadar undangan sebetulnya, melainkan suatu tantangan, dan terhadap suatu tantangan seorang pendekar tidak boleh menghindarinya -jika memang masih ingin menjadi pendekar.

Dalam perjalanan aku teringat para pencuri kitab. Bagaimana caranya mereka bekerja? Tentu sudah kudengar perihal para murid yang membunuh guru, tetapi bagiku yang lebih mengerikan adalah munculnya pencuri-pencuri bayaran yang menjadi sangat mahir dengan tugasnya, memanfaatkan apa pun yang bisa dilakukannya untuk mencapai tujuannya.

102: Para Pencuri Kitab

MENURUT cerita yang kudengar, peristiwa ini terjadi sebelum terdapatnya Pahoman Sembilan Naga, yang meski berkedudukan di Jawadwipa, berlaku sebagai wibawa yang memengaruhi seluruh wilayah Suvarnadvipa, yakni ketika kejayaan dan kegemilangan dalam dunia persilatan tergenggam di tangan tiga kakak beradik Harimau Putih, Harimau Hitam, dan Harimau Merah, yang mendapatkan ilmu silat dari ayah mereka, Harimau Kencana. Setelah ayah mereka meninggal dunia, menuruti wasiat ayahnya, kitab rahasia ilmu silat perguruan dibagi tiga di antara mereka untuk disimpan, dan masing-masing hanya diberi hak untuk menurunkan sepertiga dari ilmu silat yang mereka, sesuai dengan bagian kitab yang mereka miliki. Kebijakan ini akan membuat ketiganya tidak terkalahkan oleh siapa pun, karena ilmu silat Harimau Kencana saat itu hanya dapat dikalahkan oleh ilmu silat Harimau Kencana juga.

Perguruan Harimau Kencana terletak di lereng Gunung Semeru di bagian timur Jawadwipa yang jarang didatangi manusia. Meskipun terletak di lereng, tidak berarti perguruan itu mudah dicari dan apabila sudah diketahui tempatnya akan mudah dicapai, karena letak perguruan itu seolah sengaja menyembunyikan diri di tengah hutan yang begitu lebat. Kelebatan hutan itu membuat orang mudah tersesat, dan tersesat maupun tidak tersesat binatang buas yang berkeliaran lebih banyak membuat manusia yang merambahi hutan tersebut tidak selamat. Mereka yang pandai mencari jalan ke arah yang sedikit tepat, biasanya akan menemukan tulang belulang manusia di sana-sini, yang masih utuh maupun sudah berserakan, karena jika pun manusia dapat meloloskan diri dari sergapan binatang buas, apakah itu diterkam harimau atau ditelan ular hidup-hidup, maka ia masih harus menghadapi para Pengawal Harimau, yakni murid-murid Perguruan Harimau Kencana yang ditugaskan membunuh siapa pun orangnya yang mendekati perguruan.

Bermaksud baik atau tidak baik, bermaksud berguru maupun bertarung, selalu diberikan sambutan yang sama, itulah serangan memastikan kematian yang disebut pembunuhan. Kenapa demikian? Dalam dunia persilatan memang berlaku suatu kebiasaan, bahwa orang-orang yang menempuh jalan persilatan untuk menjadi seorang pendekar akan mencari guru terbaik yang ilmunya tidak pernah terkalahkan. Pada masa itu Harimau Kencana, sampai ajal menjemputnya, memang belum pernah kalah dalam pertarungan mana pun, dan demikian pula dengan ketiga anaknya yang kemudian membuka perguruan itu.

Namun ternyata kebijakan yang dibuat tidaklah bertujuan membagi ilmu, melainkan sebaliknya, menguasai dunia persilatan. Dengan tujuan ini, apa yang berlangsung dalam kepekatan hutan rimba di lereng Gunung Semeru dapat dipahami sebagai berikut: Pertama, mereka yang lolos dari serangan mematikan para Pengawal Harimau maupun sergapan binatang buas boleh dianggap sebagai bakat-bakat terbaik dari dunia persilatan saat itu, karena sebagai tokoh-tokoh tidak terkalahkan mereka akan didatangi orang-orang yang menyoren pedang dari segala penjuru, baik untuk menjadi murid maupun menantang bertarung; kedua, siapa pun yang lolos dan berhak diterima sebagai murid, betapapun cerdas, berbakat, dan tekun orangnya, hanya akan mendapatkan sepertiga Ilmu Silat Harimau Kencana, karena setiap murid hanya boleh diajar oleh satu orang dari Harimau Putih, Harimau Hitam, dan Harimau Merah tersebut.

Kedua perkara ini saja telah membuat Perguruan Harimau Kencana akan selalu berjaya, karena bahkan murid-muridnya yang terbaik pun akan mati oleh calon murid yang lebih baik lagi, dan demikianlah seterusnya, sehingga kemungkinan pengkhianatan pun dengan sendirinya sudah ditepis. Sebegitu jauh, penantang mana pun yang sudah berhasil melewati hutan, menewaskan segala binatang buas yang menyergap maupun segenap Pengawal Harimau yang menyerang dengan tujuan mencabut nyawa, ketika akhirnya berhadapan dengan salah satu dari ketiga tokoh Perguruan Harimau Kencana, apalagi ketiganya sekaligus, hanyalah menemui ajal dalam keadaan mengenaskan. Bukankah Ilmu Silat Harimau Kencana sampai saat itu memang tidak terkalahkan?

Kebijakan itu telah menghabiskan pendekar-pendekar terbaik dunia persilatan dari golongan putih maupun golongan merdeka, karena mereka semua memang akhirnya dikalahkan; orang-orang golongan hitam, yang selamanya licik, jahat, dan hanya mementingkan diri sendiri, tidak tertarik sama sekali menyabung nyawa atas nama kehormatan dan kesempurnaan, bahkan tidak juga kejantanan, yang biasanya sangat menyinggung perasaan, bukan sekadar karena kekalahan dan kematian bisa dipastikan, melainkan juga karena jalan menuju kematiannya yang sangat mengerikan.

ITULAH cara Perguruan Harimau Kencana menguasai dunia persilatan, karena akhirnya memang tersisa orang-orang yang datang hanya untuk menjadi murid, tiada lagi yang datang untuk menantang. Mereka yang datang dengan tujuan menimba ilmu ini sudah dapat dibatasi ilmunya dengan cara yang sudah kuceritakan tadi, sehingga jika memang bermaksud menantang gurunya, menurut perhitungan akan dapat diatasi.

Pernah adakah seorang murid yang begitu nekat menantang ketiga guru ini? Memang pernah terjadi, seorang murid yang tidak menyadari bahwa keharusan untuk belajar kepada hanya satu guru dari Tiga Harimau itu maksudnya membagi ilmu, suatu ketika merasa cukup pantas untuk menantang gurunya sendiri untuk bertarung. Kebetulan ia menjadi murid Harimau Merah yang terkenal paling kejam di antara Tiga Harimau, meski yang disebut kurang daripada kejamnya Harimau Putih dan Harimau Hitam itu tiada lebih dan tiada kurang kejam jualah adanya.

Memang tidak bisa dimengerti mengapa murid satu ini begitu berani menantang Harimau Merah yang tampangnya saja sudah begitu seram bukan buatan. Di antara ketiga anak Harimau Kencana, anak bungsu inilah yang wajahnya paling mendekati macan, terutama berkat bulu-bulu cambang nan kaku dan keras yang tumbuh kedua pipinya, sementara rambut panjangnya yang merah juga begitu tebal seperti singa. Mereka bertarung di halaman perguruan yang luas, disaksikan Harimau Putih dan Harimau Hitam yang sudah dipastikan akan turun tangan jika terjadi sesuatu dengan adik bungsu mereka itu, meski hal itu tidak mungkin terjadi -karena bukankah kepada murid mana pun hanya sepertiga ilmu silat Harimau Kencana yang diturunkan kepadanya?

Harimau Merah berkacak pinggang di bawah bulan purnama menghadapi muridnya yang bersimpuh di hadapannya dengan sangat sopan, meski tetap menantang.

“Hai murid! Mengapa dikau begitu nekat menantang daku, gurumu sendiri yang telah menurunkan kepadamu segala ilmu dengan sepenuh hati?”

“Ampunilah muridmu yang lancang ini, duhai guruku yang sahaya junjung tinggi,” ujarnya sembari membungkuk dalam sekali, “tiada lain hanyalah kehormatan dalam jalan persilatan yang sahaya butuhkan, betapa kematian yang terindah akan tercapai dalam puncak kesempurnaan seorang pendekar.”

“Hmm, jadi apa alasanmu bahwa gurumu yang harus dikau tantang sebagai balas budi segenap ilmu yang telah diturunkan kepadamu itu?”

“Maafkan sahaya guru, tetapi apalah artinya sahaya mengalahkan segala pendekar di seantero Yawabhumipala jika belum mengalahkan satu dari atau semuanya Tiga Harimau sekaligus? Sebaliknya, karena ilmu silat Harimau Kencana belum terkalahkan, maka cukuplah dengan menantang dan mengalahkan guru, maka itu berarti segenap ilmu silat yang lain akan dapat juga sahaya atasi.”

Harimau Merah meraung, benar-benar mirip raungan harimau yang memendam kemarahan bukan alang kepalang.

“Kalau begitu bersiaplah untuk mati, wahai murid, untuk mendapatkan kehormatan yang dikau inginkan!”

Sembari berkata begitu tangannya yang bercakar kuku-kuku macan menyentak ke depan, mengirim angin pukulan ke arah murid yang bersimpuh itu, yang segera melenting ke atas dengan ringan ke udara. Namun belum lagi turun ke bumi, Harimau Merah telah meleasat ke arahnya dengan dua cakar terkembang.

Ilmu Silat Harimau Kencana sungguh dahsyat. Pertarungan guru murid itu segera tidak terlihat oleh pandangan mata orang biasa, meski bagi kedua kakak Harimau Merah bukanlah persoalan sama sekali. Segera terlihat oleh mereka berdua, betapa murid yang telah berani menantang gurunya ini memang memiliki bakat luar biasa, yang jika dikuasainya Ilmu Silat Harimau Kencana secara utuh, bukan tidak mungkin taksatupun dari Tiga Harimau tersebut bisa menang terhadapnya. Terbukti perhitungan Harimau Kencana benar belaka. Dengan hanya memberikan sepertiga ilmu kepada murid manapun, Ilmu Silat Harimau Kencana terjamin dikuasai keturunan Harimau Kencana tanpa pernah terkalahkan, dan dengan begitu berarti merajai dunia persilatan.

Seluruh Ilmu Silat Harimau Kencana hanya terdiri atas 30 jurus, tetapi gabungan jurus satu dengan jurus yang lain memungkinkan lahir ribuan jurus baru yang tidak pernah terduga dan tidak mungkin ditebak kapan munculnya, kecuali sering-sering bertarung dengan lawan yang sama, yang tidak mungkin terjadi, karena pertarungan silat selalu berakhir dengan kematian. Murid yang berbakat itu tentu mendapatkan hanya sepuluh jurus, tetapi yang dapat dikembangkan setidaknya menjadi 900 jurus baru, juga dengan ketentuan yang sama, yakni tidak pernah dapat diduga dan tidak dapat ditebak kapan munculnya.

INI membuat sang murid untuk sementara bukan hanya dapat bertahan, melainkan menyerang dan mendesak Harimau Merah, bahkan mencakar dadanya dengan jurus Cakar Harimau Mengibas ke Selatan.

“Arrrgghhhh!!!”

Harimau Merah meraung dan merenggangkan rompi kulit harimaunya. Lima garis merah menyilang di dada, yang segera mengucurkan darah pula. Ia segera meraung.

“Grrruuuiaahh! Murid! Bersiaplah menerima kematianmu!”

Harimau Merah berkelebat ke arah muridnya yang baru saja mau membuka mulut untuk minta maaf. Harimau Putih dan Harimau Hitam yang mengikuti pertarungan itu mengerti, bahwa Harimau Merah kini menggunakan jurus-jurus dari sisa duapertiga Ilmu Silat Harimau Kencana yang tidak pernah diturunkan kepada siapa pun di luar diri mereka bertiga. Dengan segera terdengar suara-suara kain robek, kemudian kulit tersayat, lantas desah kesakitan tertahan-tahan.

“Tahankanlah kesakitan ini murid! Seorang pendekar tidak menangis!”

Namun agaknya Harimau Merah memang sengaja menyiksa muridnya itu dengan sengaja tidak segera membunuhnya. Murid berbakat ini agaknya segera tahu, betapa belum semua ilmu telah diturunkan kepadanya. Di tengah hujan cakar dan pukulan yang telah membuat tubuhnya merah penuh darah, murid penuh bakat yang belum berkesempatan membuat nama bagi dirinya itu, berujar dengan marah bercampur pilu.

“Guru tidak menurunkan segenap ilmu! Jurus-jurus ini tidak kukenal!”

“Dasar tolol! Apa yang membuat dikau berpikir kami akan menurunkan semua ilmu kepada seseorang yang akhirnya akan menantang kami?”

Dalam kelebat dua bayangan di tengah malam, Harimau Putih dan Harimau Hitam mendengar percakapan itu.

“Apakah guru tidak bersedia mengakui siapa pun yang lebih unggul daripada guru? Tidakkah seorang pendekar selalu siap mati dalam pertarungan secara ksatria? Tiga Harimau takut dikalahkan murid-muridnya sendiri, maka ilmu yang diturunkan sangat terbatas! Itu melanggar hubungan kepantasan guru dan murid, juga melanggar tata krama dunia persilatan!”

Namun karena kekecewaannya yang mendalam ia yang sudah terdesak menjadi sangat kurang waspada. Cakar Harimau Merah dengan kuku-kuku macan sekuat baja melesak masuk ke dalam perutnya.

“Ugh!”

Ketika ditarik keluar, seluruh isinya bagaikan sudah tergenggam oleh cakar Harimau Merah. Murid berbakat yang telah berguru dan menantang dengan penuh kejujuran itu, demi jalan yang ingin ditempuhnya untuk mencari kesempurnaan, terguling di tanah dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Seluruh kulit tubuhnya bagaikan telah dicabik-cabik cakar harimau, masing-masing dengan lima garis sayatan, sehingga semuanya berjumlah 500 sayatan, karena Harimau Merah telah mengeluarkan Jurus Seratus Harimau Menari yang jelas tidak diajarkan kepada murid yang malang itu. Jurus Seratus Harimau Menari akan membuat lawannya merasa diserang oleh seratus harimau dari segala arah sekaligus, yang tentu saja tidak akan bisa dihindari tanpa mengetahui rahasia penangkalnya.

Sebenarnya dengan mempertahankan lingkar penguasaan Ilmu Silat Harimau Kencana dengan penipuan terhadap murid seperti itu, terhadap Tiga Harimau layak diambil tindakan atas pelanggaran tata nilai kependekaran, tetapi siapakah yang berada dalam kedudukan untuk menilai dan mengambil tindakan? Pada masa itu belum terdapat Pahoman Sembilan Naga yang memang terbentuk untuk menjaga ketertiban dan tata nilai dunia persilatan, selain menjadi cara berbagi kekuasaan, meski kesempatan memperebutkannya secara ksatria sangat terbuka. Lagipula dalam hal Perguruan Harimau Kencana, siapakah kiranya dapat mengetahui kebijakan mereka, jika di luar Tiga Harimau itu murid-muridnya selalu berganti karena setiap kali mati terbunuh oleh pendatang yang akan menggantikannya dan seterusnya? Para murid pun, sekali menjadi bagian perguruan, tak akan bisa lari dan menembus hutan untuk memberi kabar kepada dunia.

Tiga Harimau itu selalu saja bisa mencium usaha pelarian, dan hukuman untuk itu jangan ditanya lagi, karena kesalahannya dianggap jauh lebih besar daripada menantang guru. Mereka yang dilumpuhkan akan digantung hidup-hidup dengan kaki di atas dan kepala di bawah dan setelah itu nasibnya diserahkan kepada seisi rimba raya….

Syahdan, suatu ketika seorang murid malang yang masih tergantung, dan satu-satunya yang beruntung, melihat seorang perempuan yang menyoren pedang sedang mencari-cari jalan. Tentu perempuan pendekar itu dilihatnya dalam keadaan terbalik. Perempuan pendekar itu mengenakan kancut seperti lelaki, rambutnya digulung ke atas, dan sepasang payudaranya dibebat dengan kain yang melingkar ketat ke punggungnya. Di bahunya tergantung pedang menyilang dalam sarungnya dan di tangannya tergenggam sebuah kapak.

Sepasang kakinya terlindungi kulit dengan ikatan tali pada betisnya. Ia sangat cantik, kulitnya gelap karena sering terbakar matahari, tubuhnya tegap dan rambutnya kemerah-merahan. Alisnya yang tebal membuat tatapannya tambah tajam dalam kerimbunan hutan menjelang malam. Masih terlihat darah pada mata kapaknya dan tangan kirinya menggenggam potongan tubuh seekor ular. Mulutnya masih mengunyah daging ular mentah-mentah. Wajah orang yang digantung dengan kepala di bawah itu, dalam penderitaannya,

menatap dengan pandangan bertanya-tanya. ”Ular ini mau memakan daku hidup-hidup,” katanya dengan mulut belepotan, ”tidak ada salahnya dia yang kumakan setelah daku membunuhnya. Apa yang terjadi pada dikau?” ”Puan Pendekar,” ujarnya dengan sisa tenaga, ”apakah Puan bermaksud mencari Perguruan Harimau Kencana?”

”Mengapa jika iya dan mengapa jika tidak, wahai orang yang terikat?”

”Jika iya, lepaskanlah sahaya, maka akan sahaya ceritakan segala sesuatu yang penting untuk Puan ketahui, untuk memutuskan berbalik arah maupun meneruskan perjalanan.”

Sekali tetak dengan kapak jatuhlah orang itu ke tanah, dan dengan sekali sabet lepaslah ikatan pada tangan maupun kakinya. Namun ketika ia mau berdiri, perempuan yang menyoren pedang dan masih mengunyah daging ular mentah itu menginjak dadanya.

”Ceritakanlah sekarang dan jangan membuat gerakan mencurigakan,” katanya, ”aku sudah seminggu berputar-putar di hutan ini, dan aku sekarang sangat marah.” Dengan dada terinjak, murid yang melarikan diri itu menceritakan semuanya. Terbayanglah segalanya dengan segera di mata perempuan pendekar yang memegang kapak berdarah itu. Segalanya sebelum dirinya sendiri tiba. Betapa setelah kerimbunan hutan ini nanti akan berhasil dilewatinya dan mendaki sebuah tebing maka akan dilihatnya bangunan kayu Perguruan Harimau Kencana yang megah, tiga bangunan yang mengelilingi sebuah lapangan. Bangunan di sebelah kiri ditinggali Harimau Hitam, bangunan di sebelah kanan ditinggali Harimau Merah, dan bangunan yang berhadapan dengan hutan menjadi tempat bersemayam Harimau Putih. Setiap bangunan ditinggali bersama murid mereka masing-masing, yang ruangannya mampu memuat seratus orang, karena memang merupakan rumah panjang dengan kayu serba pilihan. Di belakang bangunan Harimau Putih terdapat tebing curam yang jika siapa pun menatap ke arahnya maka akan terlihat puncak Gunung Semeru yang kadang-kadang mengepulkan asap. Kedudukan bangunan-bangunan yang lebih tinggi ini memang menguntungkan, karena membuat siapa pun yang keluar dari hutan tersebut dapat diawasi. Bangunan-bangunan besar yang saat ini tentunya sepi karena murid-muridnya makin lama makin habis terbunuh oleh para calon murid baru yang berhasil menembus hadangan, yang kemudian juga akan terbunuh lagi dan seterusnya, sampai tinggal satu orang yang akhirnya melarikan diri dan ditemukan olehnya itu.

Sambil masih menjejak dada dan mengunyah daging ular mentah, dapat dibayangkannya betapa pada malam-malam yang telah menjadi larut, di bawah cahaya api yang remang, Tiga Harimau itu masing-masing menekuni sepertiga kitab yang menjadi bagian mereka. Namun saat itu ia tidak mengetahui bahwa masing-masing kitab itu hanyalah sepertiga dari keseluruhan Kitab Ilmu Silat Harimau Kencana, yang terbayangkan olehnya, seperti didengarnya dari murid yang bercerita, karena hanya yang menantang bertarung sajalah kiranya akan mengetahui terdapatnya jurus-jurus Ilmu Silat Harimau Kencana yang belum diturunkan kepada merekaótentu mereka hanya akan mengetahuinya menjelang ajal tiba. Terbayangkan oleh perempuan pendekar yang memegang kapak itu betapa masing-masing dari Tiga Harimau itu akan mematangkan dan memperdalam

ilmunya dari malam ke malam, setiap malam, karena memang tidak ada lagi yang akan dikerjakan siapa pun yang menempuh jalan persilatan selain menekuni ilmunya dengan semakin dalam.

TERBAYANGKAN olehnya betapa seusai menekuni segala sesuatu dari Kitab Ilmu Silat Harimau, masing-masing dari Tiga Harimau itu akan meniup api dan ruangan mereka akan menggelap dan mereka akan merebahkan diri di atas tikar pandan di lantai kayu. Merebahkan diri dan tidur lurus, tanpa gerak sama sekali, dengan napas sangat teratur sampai ayam jantan berkokok karena melihat cahaya kemerah-merahan, dan hanya mereka yang dapat melihatnya, di ufuk timur yang jauh, nun di balik Gunung Semeru itu.

Membayangkan kehidupan semacam itu, perempuan pendekar tersebut tersenyum.

103: Murid yang Datang Pagi Hari

PEREMPUAN pendekar itu masih membutuhkan waktu sehari semalam untuk mencapai Perguruan Harimau Kencana, bukan saja karena binatang-binatang buas aneka rupa masih terus berusaha menyergapnya di dalam hutan gelap nan pekat apalagi kalau malam itu, tetapi karena setelah murid-muridnya habis terbunuh Tiga Harimau telah menempatkan Penjaga Bayangan yang diciptakan melalui mantra sihir. Para Penjaga Bayangan akan berlaku seperti Pengawal Harimau, yakni mencegat dan menyerang setiap orang yang memasuki hutan dengan tujuan mencari jalan ke Perguruan Harimau Kencana. Sebagaimana layaknya ciptaan sihir, Penjaga Bayangan ini akan tampak dengan sendirinya dan langsung menyerang begitu wilayah penjagaannya dimasuki orang asing. Meski hanya ciptaan sihir dan disebut Penjaga Bayangan, mereka yang ilmu silatnya lebih rendah tetap akan terbunuh oleh senjata para Penjaga Bayangan. Sebaliknya, jika ilmu silat para perambah hutan lebih tinggi, pada saat kelemahan terbuka para Penjaga Bayangan menjadi sasaran, mereka akan lenyap begitu saja.

Demikianlah perempuan pendekar ini telah berjalan dalam kegelapan dan kerapatan hutan semalaman sembari setiap kali memapaskan kedua senjatanya menghadapi para Penjaga Bayangan. Mereka menyerang satu persatu dari segala sudut dan segala penjuru dengan jurus-jurus mematikan yang semuanya dapat ditangkal sang perempuan pendekar. Sepanjang malam ia hanya berjalan ke satu arah, lurus dan mendaki, karena semua orang tahu Perguruan Harimau Kencana terletak di lereng gunung berapi. Ia berjalan, berjalan, dan berjalan sembari terus menyabet dan menghindar ke kiri dan ke kanan. Para Penjaga Bayangan begitu lincah karena memang hanya bayangan, tetapi ilmu silat perempuan pendekar ini tampaknya begitu tinggi, sehingga secepat apa pun para Penjaga Bayangan bergerak, perempuan pendekar itu berkelebat lebih cepat lagi. Dengan kecepatan seperti itu ia

selalu lebih dulu mampu menyentuh titik lemah para Penjaga Bayangan, yang segera lenyap menguap tiada tentu rimbanya.

Kadang pedangnya lebih dulu mencapai jantung, kadang kapaknya lebih dulu mencapai leher, semua itu dilakukannya sambil terus melangkah maju. Para Penjaga Bayangan hanyalah sosok-sosok hitam seperti orang, tetapi tiada berwajah sama sekali. Mungkinkah karena itu pula sang pendekar perempuan bertempur tanpa merasa perlu melihat wajah mereka sama sekali? Ia bergerak sangat amat cepat, yang hanya memancing secara terus-menerus para Penjaga Bayangan ini, karena setiap kali yang satu mati segera muncul yang lain lagi. Ketika pagi tiba, tidak kurang dari 3000 sosok Penjaga Bayangan yang telah dibunuhnya. Seandainya semua itu manusia sesungguhnya, bisakah dibayangkan betapa darah akan bersimbah pada senjata dan sekujur tubuhnya? Sihir ada batasnya. Masing-masing dari Tiga Harimau itu telah menciptakan 1000 sosok Penjaga Bayangan yang semuanya telah dikalahkan. Maka tidak ada lagi yang bisa menghalangi langkah perempuan pendekar ini.

Matahari telah muncul dari balik Gunung Semeru ketika perempuan pendekar ini akhirnya muncul dari dalam hutan, melangkah ke tengah lapangan yang dikelilingi tiga rumah panjang itu. Dari dalam rumah-panjangnya masing-masing, Harimau Putih, Harimau Hitam, dan Harimau Merah yang baru saja membuka mata dari samadhi pagi menyaksikan seorang perempuan yang ditimpa cahaya. Dari ketiga sisi, cahaya menyepuh tubuh tembaga perempuan itu, yang telah mengatasi 3.000 sosok Penjaga Bayangan sepanjang malam, yang kini melangkah ke tengah lapangan dengan pedang di tangan kanan dan kapak tergantung di pinggang. Sampai di tengah lapangan ia lepaskan kedua senjatanya ke tanah sebagai tanda tak ingin bermusuhan, lantas duduk bersimpuh sebagai tanda permohonan untuk menjadi murid perguruan.

Tiga Harimau menyadari betapa calon murid yang datang kali ini bukanlah sembarang orang yang menyoren pedang.

“SEHARUSNYA ia datang untuk meminta pertarungan,” pikir Harimau Putih, “bukan datang untuk berguru. Benarkah ia memang ingin berguru?”

“Seorang perempuan yang telah menembus hutan dan mengalahkan 3.000 sosok Penjaga Bayangan adalah hal terbaik bagi sebuah perguruan di dalam hutan,” pikir Harimau Hitam, yang merasa sangat berminat untuk memberi pelajaran.

“Perempuan pendekar yang gagah perkasa dan menarik pula, semoga Kakak Harimau Putih menyerahkannya kepadaku, siapa tahu aku bisa menidurinya.”

Malang bagi Perguruan Harimau Kencana, karena calon murid yang datang pagi hari ini sebenarnya seorang pencuri kitab tingkat tinggi, yang demi pekerjaannya bersedia memberikan segala-galanya demi keberhasilan tugasnya.

Betapa Tiga Harimau tidak akan mengangkatnya jadi murid, jika setelah tiga hari dan tiga malam perempuan berkulit tembaga ini masih juga bertahan dan bersimpuh di tempatnya dalam panas maupun hujan?

“Jika dia masih tahan sehari lagi, aku sendiri yang akan mengambilnya sebagai murid,” ujar Harimau Putih yang sangat terkesan kepada perempuan ini.

Biasanya siapa pun yang muncul dari dalam hutan setelah mengalahkan para Pengawal Harimau langsung diterima sebagai murid, tetapi yang dikalahkan perempuan ini adalah 3.000 sosok Penjaga Bayangan, mungkin Harimau Putih merasa untuk orang hebat harus diberikan ujian yang lebih berat.

Di antara Tiga Harimau, sebetulnya Harimau Putih adalah yang paling bijak dan paling hati-hati, tetapi rupanya ia telah jatuh hati.

“Mungkin karena inilah perempuan pertama yang tiba di Perguruan Harimau Kencana,” ujar pencerita di dalam kedai itu.

Tidak kuingat apakah ia bercerita juga tentang perempuan yang melahirkan anak-anak Harimau Kencana.

Demikianlah, karena perempuan itu masih juga bersimpuh tanpa bergerak sedikit pun di tengah lapangan setelah hujan semalaman, yang berarti telah dilampaui malam keempat, Harimau Putih menepati janji kepada dirinya sendiri. Apalagi perempuan itu memang rela melepaskan segenap ilmu silat yang telah dikuasainya, yang merupakan syarat pembelajaran Ilmu Silat Harimau Kencana.

***

SELAMA menjadi murid Harimau Putih, perempuan itu tinggal di rumah-panjang Harimau Putih pula yang menghadap langsung ke hutan. Seperti murid yang lain ia pun mendapat tugas untuk berlaku sebagai Pengawal Harimau, yakni menyergap dan menyerang siapa pun yang memasuki hutan dan mencari-cari jalan menuju ke perguruan. Kemampuannya yang tinggi telah membuat ia selalu berhasil dengan tugasnya. Meskipun sudah dilepaskannya ilmu pedang dan kapak yang dikuasainya sebelum menerima Ilmu Silat Harimau Kencana, apa pun yang telah dipelajarinya dengan cepat lebih dari cukup untuk mengalahkan dan menamatkan riwayat mereka yang sedang mencari jalan, sehingga untuk beberapa lama tiada lagi yang merambah hutan di lereng Gunung Semeru itu.

Kepandaiannya yang tinggi sempat membuat Tiga Harimau waswas. Mereka pernah membicarakan masalah tersebut.

“Kakak Harimau Putih, perempuan ini sangat pandai, dengan sangat cepat telah dikuasainya sepertiga ilmu yang Kakak turunkan. Mungkinkah ia seorang mata-mata yang sedang menipu kita?”

Ini diucapkan Harimau Hitam, yang sebetulnya sangat tertarik mengangkatnya sebagai murid.

“Adik Harimau Hitam sebaiknya bersikap tenang. Betapapun pandainya perempuan ini, ia hanya akan menguasai sepertiga kemampuan kita masing-masing. Bahkan jika ia ingin menikam kita dalam tidur pun, dalam keadaan tertidur itu kita masih dapat mengatasinya.”

“Bagaimana dengan ilmu silat yang dimiliki perempuan itu sebelumnya? Meski hanya sepertiga Ilmu Silat Harimau Kencana dikuasainya, jika ia mampu mengolah dan meleburkannya dengan jurus yang tidak kita kenal, tentu akan sangat berbahaya…”

Harimau Putih menukas.

“Adik Harimau Merah! Sejak kapan Ilmu Silat Harimau Kencana bisa dikalahkan? Kita telah menghapus ilmu silatnya yang lama dengan mantra, dan jika pun masih ada yang tersisa, peleburannya dengan sepertiga ilmu kita tetap belum cukup untuk mengatasi Ilmu Silat Harimau Kencana seutuhnya. Hanya yang mempelajari tiga bagian itu selengkapnya akan mampu mengalahkan salah satu dari kita. Ilmu Silat Harimau Kencana hanya dapat dikalahkan oleh Ilmu Silat Harimau Kencana!”

HARIMAU Merah hanya manggut-manggut karena ia memang asal bicara. Semenjak perempuan yang datang untuk belajar silat itu menjadi murid Harimau

Putih, pikirannya selalu terganggu dan jiwanya selalu gelisah, karena dari hari ke hari yang diinginkannya hanyalah meniduri perempuan itu saja. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya, karena dalam hal tata susila, Perguruan Harimau Kencana mempunyai peraturan yang ketat. Jika menghendaki perempuan tersebut, ia hanya boleh langsung meminangnya, tetapi meskipun Harimau Merah tidak takut kepada siapapun di dunia ini, dalam hal pinangan ia sangat takut ditolak. Sebetulnya ia sama sekali tidak ingin menjadikan perempuan ini seorang istri, karena memang tidak memang tidak mencintainya. Ia hanya ingin meniduri seorang perempuan. Sudah bertahun-tahun ia membayangkan hal itu. Bayangan yang berkobar membara begitu perempuan itu memasuki lapangan pertarungan Perguruan Harimau Kencana.

Maka yang sering dilakukannya adalah mengendap-endap ke rumah-panjang Harimau Putih untuk mengintip perempuan itu tidur. Perempuan itu ditempatkan pada sebuah bilik yang luas, tempat dahulu banyak murid bergelimpangan di atas tikar sebelum akhirnya habis tanpa sisa. Sehabis meronda dalam hutan yang juga

dilakukannya lewat tengah malam, perempuan itu akan mencuci kakinya dengan air yang memancur dari saluran bambu sebelum tidur. Dari celah dinding kayu, dengan nafas tertahan akan ditatapnya perempuan itu membuka kain penutup payudaranya, melepaskan kancut lelakinya sebelum menggantikannya dengan kain, yang rupanya memang hanya dipakainya untuk tidur. Saat itu perempuan tersebut tidak akan tampak sebagai orang yang menyoren pedang di sungai telaga dunia persilatan, melainkan seperti perempuan impian yang didambakan setiap lelaki.

Dalam cahaya api kemerahan, Harimau Merah masih akan terus menahan nafasnya menyaksikan di antara celah betapa perempuan itu melepaskan ikatan rambutnya, sehingga rambutnya yang panjang dan tebal itu jatuh ke bahunya, juga payudaranya, yang akan disisirinya dengan jari-jari yang telah berkuku panjang karena mempelajari Ilmu Silat Harimau Kencana. Namun yang paling dinantikannya adalah ketika perempuan itu merebahkan diri ke atas tikar, tepat di hadapannya, ketika kedua kaki perempuan itu tidak selalu ikut terbaring lurus, melainkan centang perenang ke sana dan ke sini. Apabila hal itu terjadi, bisa dipastikan betapa malam akan sangat menyiksa bagi Harimau Merah.

Esok paginya, apabila perempuan itu turun ke sungai untuk mandi, dapat dipastikan bahwa Harimau Merah telah siap mengintipnya pula. Harus dikatakan hal semacam ini sangat aneh, karena di luar perguruan, seperti di desa-desa di kaki gunung, ketelanjangan bukanlah sesuatu yang perlu diintipómelainkan terbuka tanpa harus menimbulkan getaran apa-apa. Mungkin karena banyak tabu susila di Perguruan

Harimau Kencana, yang belum pernah terjalani karena tidak pernah menerima murid perempuan.

Maka alangkah terkejutnya Harimau Merah, ketika pada suatu malam disaksikannya Harimau Putih telah berada di dalam bilik perempuan tersebut. Hanya sepintas adegan itu disaksikannya, tetapi cukup untuk memberitahukan keadaannya, bahwa tiada batas lagi antara Harimau Putih dengan perempuan itu. Hanya sepintas, tetapi gambaran mata terpejam perempuan berambut panjang itu, yang tangannya menancap di punggung Harimau Putih, bagaikan akan bertahan selama-lamanya.

Saat itu Harimau Merah langsung berkelebat tanpa suara. Tak diketahuinya mata yang tadi bagaikan terpejam tanpa kesadaran dengan mulut terbuka, kini terbuka dengan wajah menyungging senyuman pula. Senyum seseorang yang merasa pasti dirinya akan menang.

***

DI tengah hutan, ketika sedang meronda, perempuan itu tahu belaka betapa Harimau Merah mengikutinya. Meski Ilmu Silat Harimau Kencana yang dikuasainya hanya sepertiga, lebih dari cukup untuk mengenali Jurus Harimau Melangkah di Atas Daun Teratai yang digunakan Harimau Merah untuk meringankan tubuhnya.

Tanpa menoleh perempuan itu berkata. “Paman Guru Harimau Merah, apakah dia sedang menguji pendengaranku sehingga diperlukannya ilmu meringankan tubuh untuk mengikutiku?”

Baru setelah itu ia menoleh sambil tersenyum. Harimau Merah melangkah maju dengan bibir bergetar. “Kakak Harimau Putih telah melanggar tabu perguruan yang telah ditentukannya sendiri, tiada lagi tabu bagiku untuk mendapatkan apa yang juga didapatkannya. Berikanlah juga kepadaku apa yang telah dikau berikan kepada Harimau Putih.”

NAMUN perempuan itu menjulurkan tangan dengan telapak ke depan. Tangan itu sudah berwarna kemerahan bagai besi yang sedang ditempa, tanda pengerahan tenaga dalam.

“Tunggu dulu Paman Guru. Jangan terburu nafsu. Guruku Harimau Putih berhak atas apa yang didapatkan sebagai imbalan. Aku akan memberikan juga kepada Paman Guru, sebagai imbalan sepertiga Ilmu Silat Harimau Kencana yang paling dikuasai Paman.”

Harimau Merah tertegun. Ia menyadari apa artinya melanggar sumpah perguruan. Namun ia hanya berpikir jika Harimau Putih yang paling tua dan kini memimpin perguruan pun telah melanggar tabu itu, maka baginya pun ikatan tabu itu kini tidak berlaku.

“Berikanlah kepadaku apa yang dikau berikan kepada Kakak Harimau Putih, wahai murid, maka akan kuberikan kepadamu sepertiga dari Ilmu Silat Harimau Kencana yang kukuasai.”

Perempuan itu tersenyum.

“Berikanlah dahulu apa yang dikuasai Paman Guru, setelah itu Paman Guru boleh mendapatkan seluruh tubuhku,” ujarnya dengan pandangan mata yang menggugurkan segenap daya pertimbangan Harimau Merah.

Hutan lebat tanpa manusia itu pun kemudian menjadi saksi, bagaimana Harimau Merah memberikan kunci-kunci sepertiga bagian terakhir dari Ilmu Silat Harimau Kencana. Telah disebutkan bahwa meskipun Tiga Harimau itu mewarisi segenap ilmu warisan Harimau Kencana dengan sama baiknya, semenjak kitab ajaran ilmu silatnya dibagi tiga, masing-masing dari mereka dianjurkan memperdalam bagiannya. Apabila perempuan ini telah menguasai bagian pertama dari Harimau Putih, dan kini mempelajari bagian ketiga dari Harimau Merah, maka setelah menguasainya berarti ia tinggal mempelajari bagian tengah atau kedua yang diperdalam oleh Harimau Hitam untuk menguasai Ilmu Silat Harimau Kencana selengkapnya.

“Kini ikutilah gerakanku,” ujar Harimau Merah, “dikau telah mengetahui kuncinya dan kini seraplah gerakannya.”

Di tengah hutan, di sebuah petak agak lapang, perempuan itu memperdalam Jurus Seratus Harimau Menari yang mengandalkan cakar maut sebagai penghancur lawan. Ilmu Silat Harimau Kencana mendasarkan gerakannya kepada segenap gerak harimau dalam pertarungan yang dikembangkan dengan segala kemungkinan gerak tubuh manusia. Maka segera terlihat bagaimana perempuan itu mengikuti terkaman dan cakaran, geliat dan lompatan, elakan dan raungan, yang dari jauh

bagaikan tarian berpasangan, tetapi bukan tarian halus mulus mengesankan melainkan ganas kejam tangkas buas sembari terus menggeram-geram.

Terlihat kemudian bagaimana kuku-kuku tangan keduanya menyala bagaikan besi membara yang sedang ditempa karena tenaga dalam yang dikerahkannya. Ilmu Silat Harimau Kencana memang sama sekali tidak mengandalkan senjata, tetapi kuku-kuku tangan mereka yang panjang menjadi sekuat baja dan sangat berbahaya. Adalah biasa bila pedang, tombak, panah, maupun trisula akan berkeping-keping disampoknya. Apabila kemudian Jurus Seratus Harimau Menari ini dibawakan dengan lambaran tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, maka di dalam hutan yang remang memang hanya cahaya bara api dari kuku-kuku itu yang akan kelihatan, bergerak sesuai jurus-jurus cakaran tetapi orangnya tidak kelihatan.

Usai mengikuti seluruh gerakan, berarti usai pula Jurus Seratus Harimau Menari diserapkan, dan Harimau Merah menatap perempuan itu dengan pandangan penuh tuntutan. Perempuan yang kini telah menguasai duapertiga Ilmu Silat Harimau Kencana itu mengerti dan paham sepenuhnya betapa kini Harimau Merah menuntut imbalan. Dengan senyuman penuh pengertian, tetapi terkandung juga sedikit ejekan, perempuan itu pun serta merta mengundang.

Sembari melepaskan segenap kain di tubuhnya ia berkata.

“Paman Guru yang perkasa, tidakkah Paman Guru kuasai juga Jurus Harimau Bercinta di Tengah Hutan?”

Tanpa membuang waktu lagi Harimau Merah menyergap perempuan yang kini menyeringai bagaikan harimau dalam berahi. Di atas pepohonan tinggi yang daun-daunnya menghalangi jalan cahaya matahari, burung-burung mencericit dan monyet-monyet mencerecek melihat sepasang manusia bercumbu seperti harimau bercumbu. Keduanya saling menggeram dan meraung, saling menyergap sampai tubuh mereka tersayat-sayat cakaran mesra.

SEGENAP taring, misai, dan cakar berubah menjadi peralatan cinta. Bahkan harimau yang sesungguhnya pun tidak akan mempunyai gairah yang sama.

Di antara dahan dan ranting terlihat sesosok bayangan hitam seperti harimau kumbang, bergerak lincah tanpa suara dari dahan ke dahan. Gerakan itu berhenti di sana, menatap adegan di bawahnya dan menyeringaikan mulutnya. Dilihatnya perempuan itu, sementara adiknya menyergap. Ketika raungan sepasang harimau itu menguak langit, sosok yang mengendap seperti harimau kumbang itu, yang ternyata adalah Harimau Hitam, berkelebat menghilang…

104: Bercinta di Atas Pepohonan

KEMUDIAN hari-hari berlalu seperti biasa di Perguruan Harimau Kencana, bahkan Harimau Merah sudah tidak lagi mengendap-endap ke rumah-panjang Harimau Putih, karena apapun yang bisa didapatkan Harimau Putih dari perempuan itu sekarang bisa didapatkannya pula -dan perempuan itu tidak pernah memberikan apa yang dikehendaki keduanya begitu saja. Ia hanya memberikannya dengan imbalan atas pendalaman jurus-jurus tertentu.

Sedemikian pentingnyakah ilmu silat, sehingga seorang perempuan bersedia memberikan tubuh, dan bersama itu kehormatannya, demi penguasaan atas jurus-jurus pamungkas dan rahasia dari Ilmu Silat Harimau Kencana?

Pertanyaan ini mendapat jawab, hanya bila telah diketahui bahwa perempuan itu ternyata adalah seorang pencuri kitab. Demikianlah dalam dunia persilatan, seperti kita kenal dari kehidupan Pendekar Mahasabdika 1), terdapat orang-orang yang menyoren pedang tetapi menguji kesempurnaan hidupnya dengan mencuri kitabkitab ilmu silat. Setidaknya terdapat tiga jenis pencuri kitab ini: Pertama, yang mencuri demi penguasaan ilmu silat; kedua, yang mencuri untuk memperjual belikannya; ketiga, yang mencuri demi kepuasan dalam mencuri itu sendiri -semakin sulit sebuah kitab dicuri, semakin tertantang mereka untuk mencurinya. Tentu saja tujuan pencurian itu bisa menjadi satu, karena tanpa ilmu silat yang tinggi, mencuri kitab ilmu silat adalah tindakan bunuh diri. Bukankah kitab ilmu silat dianggap

sebagai pusaka yang dijaga, karena sifatnya yang rahasia, dan apalagi kalau memang langka?

Pencuri kitab dari jenis pertama adalah yang paling sering dipergoki, karena dengan pengutamaan kepentingannya terhadap ilmu silat, biasanya ilmu mencuri mereka lemah sekali, dan jika tertangkap nasibnya janganlah dipertanyakan lagi. Pencuri kitab dari jenis yang kedua, jelas menjadikan pencurian sebagai pekerjaan, sehingga ilmu mencuri mereka memang tinggi, tetapi minat untuk mempelajarinya tidak ada, karena tujuannya terutama adalah menjual kembali. Pencuri kitab dari jenis ketiga adalah yang paling diwaspadai, karena mereka menjadikan pekerjaan mencuri sebagai seni; mereka mencuri kitab bukan karena tujuan mencapai kesempurnaan dalam ilmu silat, melainkan kesempurnaan sebagai manusia melalui seni mencuri, dan untuk menjadikan pencurian sebagai sebagai seni yang tinggi, ilmu mencuri mereka mutlak harus tinggi.

Di dalam ilmu mencuri yang tinggi itu, ilmu silat yang juga tinggi adalah bagian dari persyaratannya, karena ilmu mencuri hanya diakui tinggi jika mampu dimanfaatkan untuk mencuri kitab-kitab ilmu silat tingkat tinggi. Sedangkan kitab-kitab itu tentu bukan saja disimpan di tempat tersembunyi, tetapi dikitari orang-orang berilmu tinggi. Tidak heran jika para pencuri jenis yang terakhir ini menjadi sangat tinggi ilmu silatnya, tetapi yang mereka pelajari hanya untuk mendukung tujuan mencuri. Sehingga dengan ilmu silatnya mereka tidak akan pernah bercita-cita mencari dan menguji kesempurnaan sebagai manusia melalui pertarungan antara hidup dan mati.

Sudah tentu ilmu silat yang tinggi itu sangat diperlukan jika jiwa mereka terancam dan karena itu harus membela diri.

Perempuan pendekar yang datang setelah menempuh perjalanan dan ujian berat itu jelas memenuhi ukuran jenis yang pertama, bahwa dengan suatu cara ia telah mencuri kitab itu demi ilmu silatnya. Namun tentu saja ia juga memenuhi syarat bagi ukuran jenis yang ketiga, bahwa setidaknya ia telah menggunakan cara tertentu untuk mempelajari bagian kitab yang tidak diperuntukkan baginya, dan itu adalah seni mencuri namanya. Baginya tidak penting benar kehormatan atas tubuhnya,

karena kehormatannya dipertaruhkan dalam keberhasilan mencuri. Itulah falsafah para pencuri kitab ilmu silat.

MAKA setelah akhirnya ia mengetahui, betapa Harimau Hitam ternyata juga sering mengintip percumbuannya dengan Harimau Putih maupun Harimau Merah, ia biarkan saja anak kedua Harimau Kencana itu mengikutinya ke dalam hutan ketika meronda, hanya untuk memasang jebakan yang sama.

Ia berkelebat dari dahan ke dahan dengan cepat menjauhi perguruan, dan Harimau Hitam pun berkelebat dengan sangat cepatnya. Hutan itu begitu luas, sehingga meskipun keduanya melesat luar biasa cepat, meronda ke segenap sudut hutan itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Berkelebat, artinya pergerakan mereka tidak terlihat. Namun bagi mereka yang mampu menyaksikannya karena bergerak secepat mereka, kecepatan itu menjadi gerak lambat yang mengesankan seperti keindahan. Hutan rimba hanyalah kelebat hijau tua, dengan garis-garis cahaya matahari yang menembus dedaunan, membuat pandangan Harimau Hitam menjadi nanar, karena cahaya kuning keemasan telah membuat rambut kemerahan perempuan itu berkilau-kilauan. Perempuan itu melirik, maksudnya memang mengundang, dan masih mereka melesat bergelantungan dari akar pohon yang satu ke akar pohon lain ketika dengan sengaja tetapi seolah-olah tak sengaja ia lepaskan kain yang melibat erat dadanya.

Kain itu melayang-layang turun dan belum sampai ke tanah ketika di atas sana sambil masih bergelantungan Harimau Hitam berkelebat memeluk perempuan yang seolah tidak memberi perlawanan itu. Memang perempuan itu tidak melawan, tetapi ternyata tetap menghindar dan berkelit jua. Seolah-olah diberinya kesempatan Harimau Hitam merasakan hangat tubuhnya dalam dingin hutan, tetapi dengan licin ia berputar melepaskan diri sambil melejit kembali ke akar pohon yang lain.

Harimau Hitam mengejar sambil menggeram-geram.

“Kedua saudaraku telah melanggar tabu, wahai murid Harimau Putih, daku berhak mendapatkan pula apa yang telah dikau berikan kepada mereka berdua,” katanya sambil memburu perempuan itu.

Dalam hutan yang kelam, dalam kilau seleret cahaya yang menembus dedaunan, kerlingan mata perempuan yang telah membuka pula ikatan rambut merahnya itu semakin membuat Harimau Hitam penasaran, sampai rasanya betapa ingin menubruk dan menyeretnya ke rerumputan.

“Apa yang membuat Paman Guru berpikir daku memberikan semua itu tanpa imbalan? Berikanlah kepadaku apa yang telah mereka berikan, maka Paman Guru akan menerima dariku apa yang juga mereka dapatkan.”

Harimau Hitam menggeram-geram.

“Katakan segera yang telah mereka berikan.”

Ketika perempuan itu sambil masih berayun-ayun menyebutkannya, Harimau Hitam yang mengikutinya tertegun. Bukan sekadar tabu perguruan tentang hubungan guru dan murid yang telah dilanggar, melainkan juga sumpah mereka sendiri kepada ayah dan guru mereka, bahwa tiada seorang murid pun dari perguruan mereka akan menerima lebih dari sepertiga bagian Ilmu Silat Harimau Kencana.

Semula ia bermaksud mengurungkan niatnya, tetapi cara berpikirnya telah dirusak oleh nafsunya.

“Jika kedua saudaraku telah melanggar sumpah dan tabu perguruan untuk mendapatkan perempuan ini, mengapa pula aku tidak boleh melakukannya,” pikir Harimau Hitam.

Jadi bukan cara menyelamatkan amanat, bahwa Ilmu Silat Harimau Kencana jangan sampai dikuasai seutuhnya oleh siapa pun di luar garis keturunan, melainkan pembenaran atas kesalahan, agar dirinya bisa mendapatkan apa yang selama ini dibayangkannya sebagai puncak kenikmatan.

“Berhentilah di atas dahan yang melintang di ujung itu, wahai murid Harimau Putih, agar dapat kuberikan kepadamu sepertiga bagian Ilmu Silat Harimau Kencana yang dikuasakan kepada Harimau Hitam.”

Perempuan itu pun dengan ringan hinggap pada dahan yang sangat lebar itu. Menyusul kemudian Harimau Hitam pun hinggap di situ.

“Ikutilah semua gerakanku,” ujar Harimau Hitam.

Maka perempuan itu pun mengikuti peragaan setiap jurus dalam bagian kedua Ilmu Silat Harimau Kencana di atas dahan yang sangat amat tinggi di atas hutan yang kelam. Ilmu Silat Harimau Kencana memang mengacu kepada gerak pertarungan

macan, tetapi bagian kedua terutama memanfaatkan segala keistimewaan harimau kumbang, yang memang hitam, dan selalu mengendap tak terlihat di antara dahan.

DENGAN penguasaan bagian ini, pesilat tidak membutuhkan bumi untuk berdiri, sehingga ilmunya memang wajar diturunkan pada ketinggian dahan.

Semuanya, genap sepuluh jurus, yang termungkinkan berkembang menjadi 900 jurus baru, diberikan semuanya di atas dahan itu. Dengan kecerdasan seperti yang dimiliki perempuan tersebut, cukup hanya sepuluh jurus itu saja yang diturunkan, sudah lebih dari cukup untuk dikembangkannya sendiri. Di atas dahan itu pula dengan segera Harimau Hitam meminta imbalannya.

”Apa yang bisa daku lakukan dengan sisa kain di tubuhmu itu, wahai murid Harimau Putih? Telah kuberikan apa yang dikau minta, sekarang berikanlah imbalan yang sepadan.”

Segulung kain yang semula membelit sebagai kancut laki-laki bagi perempuan itu tampak melayang dari atas dahan, tetapi yang segera disusul penutup tubuh dari kulit harimau kumbang.

Daun-daun berguguran lebih banyak dari biasa dan terdengar suara seperti yang akan terdengar jika sepasang harimau menggeram-geram dalam percintaan, meski kali ini jauh tinggi di atas dahan.

Geraman berahi berakhir dengan raungan panjang. Namun kali ini disusul dengan jeritan panjang antara kesakitan dan kemarahan.

Sesosok tubuh melayang jatuh dengan 500 sayatan cakar yang mematikan. Harimau Hitam telah tewas dengan sekujur tubuh yang menjadi merah karena darah.

***

BISAKAH dibayangkan betapa semua ini terjadi dalam kesunyian yang seolah akan menjadi abadi di lereng pegunungan? Perempuan ini bukan sekadar pencuri kitab maupun pelajar ilmu silat yang andal, melainkan juga cerdik bersiasat dalam pertarungan. Mungkinkah karena sifat seni mencuri yang mesti matang dalam perhitungan lebih dari sekadar keberanian?

Meski setelah didapatkannya bagian kedua Ilmu Silat Harimau Kencana dari Harimau Hitam kini kemampuannya setara dengan siapa pun dari Tiga Harimau, perempuan itu tidaklah menjadi gegabah untuk menantang dua dari Tiga Harimau yang tersisa itu di kandangnya. Selain karena pertarungan sangat mungkin jadi pengeroyokan, juga karena jika tantangannya untuk bertarung satu lawan satu dilayani, ia menyadari betapa meskipun seluruh jurus Ilmu Silat Harimau Kencana

telah dikenalinya, tidak dapat dipastikan keunggulannya melawan pemegang ilmu yang sama tetapi lebih berpengalaman.

Maka setelah pembunuhan Harimau Hitam dengan serangan mendadak, perempuan itu kembali ke perguruan seperti tidak ada sesuatu pun yang telah terjadi. Namun apabila kemudian seperti biasa pula ketika ia meronda hutan Harimau Merah mengikutinya dari belakang, segera dipancingnya agar anak bungsu Harimau Kencana itu mendekat, kali ini untuk diserangnya secepat kilat dengan penuh kekejaman. Limapuluh cakaran pertama dari Jurus Seratus Harimau Menari

memang bisa ditangkis, tetapi ketika ia melakukan penjajaran berselang-seling dari Jurus Harimau Mengibaskan Ekor dan Jurus Harimau Melepaskan Taring agaknya Harimau Merah tidak mengenali lagi jurus perguruannya sendiri, dengan akibat yang parah: 250 sayatan cakar sudah cukup untuk membunuhnya, masih ditambah tendangan maut dari Jurus Harimau Main Bola yang meretakkan tengkoraknya. Mayatnya dibuang perempuan itu ke samping mayat Harimau Hitam yang agaknya nyaris tinggal tulang belulang karena digerogoti makhluk pemakan bangkai.

Hasil pertarungan ini memberi kepercayaan diri kepada perempuan itu untuk menantang Harimau Putih bertarung di puncak Gunung Semeru pada malam bulan purnama yang masih 20 hari lagi. Tentu menimbulkan pertanyaan, bahwa seorang pencuri kitab yang telah berhasil mencuri seluruh isi kitab, tanpa harus menyentuh kitab itu sendiri, merepotkan diri untuk mengadu jiwa dalam suatu pertarungan antara hidup dan mati. Perkara ini terhubungkan dengan suatu riwayat yang berlangsung sebelumnya.

Dahulu kala ketika Harimau Kencana masih hidup dan Tiga Harimau masih remaja, ternyata pernah datang kepadanya seorang perempuan untuk belajar ilmu silat. Telah diketahui bahwa Harimau Kencana tidak ingin ilmu silat yang sudah susah payah diciptakannya dikuasai oleh siapa pun di luar keluarga. Namun ketika itu belum ada Perguruan Harimau Kencana seperti sekarang, yang secara resmi menerima murid dengan segala persyaratannya itu.

PEREMPUAN itu adalah anak seorang bekas prajurit dari Kerajaan Mataram di bawah wangsa Sanjaya. Ia mencari Harimau Kencana yang namanya tersohor di bagian timur Yawabhumipala. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang terawat membangkitkan niat jahat Harimau Kencana, yang sementara itu telah kehilangan istri yang menjadi ibu ketiga anaknya. Istrinya tersebut, juga pengelana di sungai telaga persilatan, Harimau Kuning namanya, telah dibunuhnya karena berselingkuh

dengan seorang awam terpelajar yang pekerjaannya menerjemahkan kitab-kitab dari Jambhudvipa ke bahasa dan huruf Jawa di perpustakaan istana. Meskipun istri dan kekasihnya itu berhasil ia bunuh ketika memergokinya di sebuah penginapan,

Harimau Kencana telah kehilangan rasa percaya terhadap cinta. Maka ia enggan membasmi golongan hitam, malas menyebarkan ilmu, bahkan merasakan suatu dendam kepada setiap perempuan.

Malang nian nasib perempuan yang dari tempat sangat jauh datang untuk belajar ilmu silat tersebut. Ketika ia menunjukkan penolakan atas berahi Harimau Kencana sebagai ganti ilmu silat yang akan diajarkannya, ternyata Harimau Kencana justru memperkosanya, yang segera disusul oleh pemerkosaan oleh ketiga anaknya. Perempuan yang malang itu kemudian dibuang ke hutan, jauh dari gubuk mereka, dengan tujuan agar dimakan binatang, tetapi nasibnya ternyata belum menentukan demikian. Seorang tabib yang sedang mencari jamur, akar kayu, dan daun-daun tertentu untuk pengobatan, menemukan perempuan yang tergolek lemah tanpa daya itu dan menolongnya. Sembilan bulan kemudian ia melahirkan seorang anak perempuan akibat pemerkosaan itu. Sepanjang sisa hidupnya perempuan yang semula ingin belajar ilmu silat itu sakit-sakitan, tetapi tidak segera mati sebelum menceritakan riwayat hidupnya yang pahit kepada sang anak setelah dewasa.

Anak perempuannya kemudian berguru kepada seorang perempuan pencuri kitab tingkat tinggi, yang tidak termasuk dalam ketiga jenis pencuri kitab yang telah disebutkan, karena tujuannya mencuri kitab yang dirahasiakan bukanlah untuk meningkatkan ilmu silat, memperjualbelikan, atau demi seni mencuri, melainkan untuk digandakan sebanyak-banyaknya agar bisa disebarkan seluas-luasnya.

”Kalau dalam setiap rumah terdapat setidaknya satu kitab ilmu silat, orang awam tidak usah tergantung kepada para pendekar untuk menghadapi para penjahat, karena dapat melindungi dirinya sendiri,” ujar gurunya itu, yang sudah tentu sangat tinggi pula ilmu silatnya.

”Juga kaum perempuan,” katanya lagi, ”bisa melawan jika lelaki memaksakan kehendak dengan kekuatan tenaganya.”

Kiranya anak perempuan itu, atas petunjuk tabib yang merawat ibunya, telah mendapatkan guru yang tepat untuk melaksanakan dendam ibunya, yang telah diwariskan menjadi dendamnya sendiri.

Kini ia telah berhadapan dengan Harimau Putih, yang berbusana kulit harimau loreng hitam-putih yang diburunya di sebuah hutan di Jambhudvipa. Kuku-kuku keduanya sudah menyala seperti besi membara dalam tungku api. Harimau Putih menggeleng-

gelengkan kepala. Selama perempuan itu tinggal bersamanya, tentu banyak hal telah diperiksa. Termasuk potongan kitabnya yang hanya sepertiga. Sebagai murid pencuri kitab tingkat tinggi, setiap tanda pada kitab dapat dibacanya, termasuk bahwa yang dilihatnya hanyalah sepertiga. Sebuah kitab yang dibagi-bagi sebagai warisan keluarga bukanlah sesuatu yang terlalu langka dalam dunia persilatan. Banyak dongeng beredar di kedai perihal kitab perguruan yang tidak utuh karena terbagi-bagi.

105: Puncak Tiga Rembulan

PANTAI Fu-nan hanya memiliki dua pelabuhan alami, yaitu muara-muaranya; selebihnya rendah dan berawa-rawa sehingga bukan tempat berlabuh yang bagus. Kota-kota tidak dapat dibangun di tanah yang lembab itu. Supaya para pengembara, penjelajah, dan pedagang-pedagang dapat hidup, bahan makanan mereka harus dibawa dari luar. Jadi dasar seluruh pengaturan dan kemudian perluasan Fu-nan adalah penataan daerah pedalaman negeri itu serta pemanfaatannya dalam pertanian. Mereka yang dianggap guru dalam pertanian didatangkan dari Jambhudvipa, tepatnya dari negeri Tamil di bawa wangsa Pallavas.

ATAS nasihat mereka orang-orang Fu-nan dapat menggunakan bidang-bidang tanah endapan antara Sungai Bassac dan pantai Teluk Siam. Dari sungai ke arah laut terdapat jaringan berbentuk bintang terdiri dari kanal-kanal yang serbalurus, saling berhubungan dan menuruti kerangka umum timur laut-barat daya. 1)

Kuperhatikan memang air laut dengan mudah masuk ke sungai melalui muaranya yang lamban arusnya dan melapisi tanah dengan garam, sehingga akibatnya tidak dapat ditanami. Maka jaringan saluran-saluran di Funan itu digunakan untuk mengalirkan alur sungai ke arah laut dan sekaligus mencuci tanahnya, sambil membuang air asin dan dengan demikian memberi kemungkinan untuk bertanam

padi terapung. Bersama dengan itu, saluran-saluran dibuka untuk angkutan melalui sungai yang melayani seluruh negeri; pokoknya kapal-kapal besar dapat langsung mencapai kota-kota yang didirikan jauh di pedalaman, bahkan mungkin melalui Sungai Bassac dan Sungai Mekong mencapai pantai-pantai di sebelah timur Tanjung Ca-Mau.

Di pusat-pusat jaringan yang rumit berdirilah kota-kota besar yang pada masa lalu menimbun seluruh kekayaan Fu-nan. Kota-kota itu dikelilingi oleh beberapa benteng tanah dan parit, yang penuh dengan buaya. Kanal-kanal memasuki kota dan

membagi-baginya dalam kampung-kampung kecil, tempat keberadaan rumah-rumah dan toko-toko panggung di samping deretan kapal-kapal, dan mereka semua berserikat sebagai anggota persekutuan dagang. Kini, meskipun Fu-nan telah ditaklukkan Tchen-la, yang pada gilirannya ditaklukkan Angkor pula, masih dapat kubayangkan kebesaran kekuatan dagangnya dan bahwa masyarakatnya terpusat di kota-kota, yang menunjukkan pula betapa besar kekuasaannya. 2)

Demikianlah aku memperhatikan dan mempelajari segala sesuatu, selama mencari dan menempuh perjalanan ke Puncak Tiga Rembulan. Perjalanan kemudian lebih sering kutempuh dengan kapal. Berhari-hari kapal berlayar tanpa henti dan perjalanan dengan kapal yang berkelak-kelok menyusuri sungai sering membuat aku melamun. Dalam lamunan itu kadang-kadang aku teringat kembali Amrita dengan jurus takterpakai dalam Jurus Penjerat Naga yang justru dipakainya, yang tidak pernah kuketahui apakah kiranya yang menjadi sebab, apakah ia sekadar mencoba-coba, ataukah memang mendapatkan salinan kitab yang salah. Merajalelanya pencurian kitab ilmu silat di mana-mana di Jawadwipa, telah membuat para penyalin melindungi kitab-kitab langka dari pembelajaran yang tidak dikehendaki dengan cara penulisan rahasia, sehingga pembaca yang tidak mengenali kunci-kunci rahasia tersebut bukan hanya terkecoh, tetapi juga mempelajari dengan cara yang akan mencelakakan dirinya dalam saat-saat genting.

Ada kalanya aku turun dari kapal dan melakukan perjalanan di daratan sebelum naik kembali ke sebuah kapal di pelabuhan lain, karena seorang pengembara sejati memang sebaiknya menyerap sebanyak-banyaknya, dengan memasang telinga

serta membuka mata selebar-lebarnya, jika ingin perjalanannya tidak terlalu sia-sia. Begitulah kupelajari bahwa tahun 503, raja yang bernama Kaundiya-Jayawarman mengirimkan sebuah arca Buddha dari batu karang dan sebuah stupa dari gading kepada maharaja Negeri Atap Langit, sedangkan seorang ratu Fu-nan mendirikan patung-patung dari perunggu yang dilapisi emas. 3 Tentu juga menarik bagiku untuk melihat berbagai benda yang berasal dari luar Fu-nan, tetapi telah mengembangkan kesenian Fu-nan, di samping menunjukkan masalalu Fu-nan sebagai tempat persinggahan dan pertemuan antarbangsa, dalam suatu kegiatan dagang yang sibuk.4 Karya-karya dari Jambhudvipa misalnya, sebuah kepala arca Buddha gaya Gandhara di Ba-the yang jelas tua, perhiasan emas, cincin-cincin yang dihiasi sapi berpunuk, atau juga cincin stempel yang ditulisi istilah-istilah dagang dalam bahasa Sansekerta berabjad brahmi.5

Benda-benda itu berasal dari masa 600 tahun sampai 200 tahun lalu, tulisannya terdapat pada batu yang keras, karena cara cukilan tampaknya pernah sangat digemari di wilayah itu. Dengan cara cukilan itu terbentuk juga gambar-gambar seperti seorang perempuan yang sedang mempersembahkan air suci di atas altar untuk memuja api atau sejumlah jimat dari timah, menunjukkan lambang ajaran Visnu atau Siva, sebagai tanda keberadaan igama-igama dari Jambhudvipa di Fu-nan.

”JADI itulah ceritamu,” ujar Harimau Putih sembari mengangguk-angguk, ”tidak penting benar bagiku ceritamu itu karangan atau bukan, karena sudah pasti aku akan membunuhmu.”

Keduanya berhadapan dengan kuda-kuda yang sama, yakni kedua kaki ditekuk, sebelah kiri di depan dan kanan di belakang dengan tubuh serong ke arah kanan. Kedua tangan terangkat dengan cakar terkembang, kuku-kukunya menyala seperti besi panas ditempa, penanda telah dikerahkannya tenaga dalam. Logam sekeras apapun berbenturan dengan kuku-kuku ini, niscaya meleleh karena panasnya yang tiada terkira.

”Ketahuilah Guru, jika berhasil daku kalahkan dirimu hari ini, berarti dikau mengalami tiga kekalahan: Pertama, bahwa Ilmu Silat Harimau Kencana berhasil dicuri seutuhnya; kedua, bahwa orang luar takdikenal mampu mengalahkan Tiga Harimau dengan ilmu mereka sendiri; ketiga, bahwa daku adalah anak ibuku yang kalian aniaya dengan jumawa dan kini daku membalaskan dendam ibuku.”

”Hmmh! Orang luar? Tidakkah kamu adalah anak salah seorang dari kami berempat? Mana yang benar? Dikau anakku, keponakanku, atau adikku?”

Ucapan Harimau Putih itu jelas membuat darah perempuan ini menggelegak, meskipun ia memaksakan dirinya agar tetap berkepala dingin. Ia tahu Harimau Putih berusaha merusak pemusatan perhatiannya. Harimau Putih tahu ia telah membunuh Harimau Hitam dan Harimau Merah dan karena itu tentu akan mengeluarkan jurus yang mungkin saja belum diketahuinya. Tiga puluh jurus memang sudah dikuasainya, tetapi penggabungannya satu sama lain tidak terlalu mudah diduga. Namun begitu Harimau Putih selesai bicara, perempuan itu telah melesat ke arahnya, dan segera keduanya berubah menjadi gulungan bara menyala.

Perguruan di lereng gunung itu masih tetap sunyi seperti biasa, tetapi tanah lapang yang biasanya lembab oleh hawa dingin kini mengepul bagaikan di atasnya telah berlangsung perkelahian dua harimau. Mereka yang bertarung memang tidak terlihat

wujudnya, justru karena itu suara-suara yang terdengar seperti dua harimau yang bertarung antara hidup dan mati dengan geram dan raungan silih berganti.

Pertarungan yang tidak bisa diikuti mata tentu menjanjikan kecepatan takterkira. Namun bagi kedua petarung yang bergerak sama cepatnya, gerakan masing-masing cukup lambat dalam pengamatan mata, meski jika kemudian kalah cepat, yang tampaknya lambat ternyata takbisa ditangkisnya pula. Itulah yang disaksikan Harimau Putih ketika cakar terkembang perempuan itu bagaikan sangat lambat menyambar lehernya, tetapi tangannya sendiri serasa begitu berat untuk diangkat guna menangkis cakar maut itu. Ia berusaha berkelit dengan mengundurkan lehernya, tetapi juga terasa berat bukan alang kepalang.

Maka dengan sangat terpaksa disaksikannya sendiri betapa cakar yang menyala seperti besi membara sedang ditempa itu melesak ke dalam urat lehernya dari sebelah kiri, menancap sampai tembus ke kerongkongannya dan segala yang tergenggam ditarik keluar tanpa ampun. Harimau Putih merasakan pandangan matanya gelap, sehingga tak dapat dilihatnya lagi segenap busana kulit harimau loreng hitam putihnya menjadi merah semerah-merahnya merah karena pancuran darah. Ambruklah Harimau Putih, bersama dengan ambruknya Perguruan Harimau Kencana, yang ingin menguasai dunia persilatan dengan cara begitu rupa.

Disebutkan betapa perempuan itu berteriak ke langit sambil mengembangkan kedua cakarnya ke langit.

”Ibu! Ibu! Telah kubalaskan dendam Ibu!”

Tidak ada yang mengenal nama asli perempuan itu, karena nama yang kemudian dikenal adalah Cakar Maut dari Timur. Konon, ia tidak pernah meninggalkan lagi lereng Gunung Semeru itu, bahkan membuka jalan dalam hutan agar siapa pun bisa datang kepadanya untuk mempelajari segala ilmu. Ia mengundang para penyalin kitab untuk menyalin kitab-kitab yang pernah dicurinya, lantas menyebarkannya, agar ilmu silat dan pengetahuan apa pun jua lebih mudah dipelajari semua orang.

Seratus tahun kemudian, tempat itu menjadi tujuan mereka yang mencari kitab-kitab ilmu persilatan, ilmu pengobatan, maupun kesusastraan dan keagamaan, baik dengan membeli atau menyalinnya sendiri di tempat itu juga. Cakar Maut dari Timur meninggalkan dunia ini bukan sebagai pencuri kitab, melainkan penyebar pengetahuan. Untuk mendapatkan kitab-kitabnya kemudian ia tak selalu mencuri, karena ada juga yang mengantarkan sendiri kitab-kitab perguruan mereka ke tempat itu, terutama apabila para pewaris tidak berminat lagi meneruskan perguruannya.

Penyebaran kitab-kitab telah menyadarkan bahwa ilmu silat tidak seharusnya menjadi rahasia yang hanya dimiliki sedikit orang.

Inilah yang juga terjadi dengan Kitab Ilmu Silat Harimau Kencana yang telah dibagi tiga itu. Perempuan yang kemudian dikenal sebagai Cakar Maut dari Timur itu kemudian menggabungkannya kembali menjadi satu, melakukan penyalinan,

menjualnya kepada siapa pun yang berminat membeli salinan-salinan itu, sehingga kini di dunia awam tersebar ilmu silat harimau tanpa dikenali asal-usulnya lagi, meski lebih banyak tanpa ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam.

Keadaan semacam ini memberikan penggolongan dunia perkitaban, yakni terdapatnya kitab-kitab yang dengan mudah didapatkan dalam jangkauan, dan kitab-kitab langka yang memang isinya dirahasiakan dan hanya menjadi pengetahuan sedikit orang. Kitab dari golongan terakhir inilah yang membuat para pencuri kitab di sungai telaga persilatan masih penasaran.

105: Puncak Tiga Rembulan

PANTAI Fu-nan hanya memiliki dua pelabuhan alami, yaitu muara-muaranya; selebihnya rendah dan berawa-rawa sehingga bukan tempat berlabuh yang bagus. Kota-kota tidak dapat dibangun di tanah yang lembab itu. Supaya para pengembara, penjelajah, dan pedagang-pedagang dapat hidup, bahan makanan mereka harus dibawa dari luar. Jadi dasar seluruh pengaturan dan kemudian perluasan Fu-nan adalah penataan daerah pedalaman negeri itu serta pemanfaatannya dalam pertanian. Mereka yang dianggap guru dalam pertanian didatangkan dari Jambhudvipa, tepatnya dari negeri Tamil di bawa wangsa Pallavas. Atas nasehat mereka orang-orang Fu-nan dapat menggunakan bidang-bidang tanah endapan antara Sungai Bassac dan pantai Teluk Siam. Dari sungai ke arah laut terdapat jaringan berbentuk bintang terdiri atas kanal-kanal yang serba lurus, saling berhubungan dan menuruti kerangka umum timur laut-barat daya. 1)

Kuperhatikan memang air laut dengan mudah masuk ke sungai melalui muaranya yang lamban arusnya dan melapisi tanah dengan garam, sehingga akibatnya tidak dapat ditanami. Maka jaringan saluran-saluran di Funan itu digunakan untuk mengalirkan alur sungai ke arah laut dan sekaligus mencuci tanahnya, sambil membuang air asin dan dengan demikian memberi kemungkinan untuk bertanam padi terapung. Bersama dengan itu, saluran-saluran dibuka untuk angkutan melalui sungai yang melayani seluruh negeri; pokoknya kapal-kapal besar dapat langsung

mencapai kota-kota yang didirikan jauh di pedalaman, bahkan mungkin melalui Sungai Bassac dan Sungai Mekong mencapai pantai-pantai di sebelah timur Tanjung Ca-Mau.

Di pusat-pusat jaringan yang rumit berdirilah kota-kota besar yang pada masa lalu menimbun seluruh kekayaan Fu-nan. Kota-kota itu dikelilingi oleh beberapa benteng tanah dan parit, yang penuh dengan buaya. Kanal-kanal memasuki kota dan membagi-baginya dalam kampung-kampung kecil, tempat keberadaan rumah-rumah dan toko-toko panggung di samping deretan kapal-kapal, dan mereka semua berserikat sebagai anggota persekutuan dagang. Kini, meskipun Fu-nan telah ditaklukkan Tchen-la, yang pada gilirannya ditaklukkan Angkor pula, masih dapat kubayangkan kebesaran kekuatan dagangnya dan bahwa masyarakatnya terpusat di kota-kota, yang menunjukkan pula betapa besar kekuasaannya. 2

Demikianlah aku memperhatikan dan mempelajari segala sesuatu, selama mencari dan menempuh perjalanan ke Puncak Tiga Rembulan. Perjalanan kemudian lebih sering kutempuh dengan kapal. Berhari-hari kapal berlayar tanpa henti dan perjalanan dengan kapal yang berkelak-kelok menyusuri sungai sering membuat aku melamun. Dalam lamunan itu kadang-kadang aku teringat kembali Amrita dengan jurus takterpakai dalam Jurus Penjerat Naga yang justru dipakainya, yang tidak pernah kuketahui apakah kiranya yang menjadi sebab, apakah ia sekadar mencoba-coba, ataukah memang mendapatkan salinan kitab yang salah. Merajalelanya pencurian kitab ilmu silat di mana-mana di Jawadwipa, telah membuat para penyalin melindungi kitab-kitab langka dari pembelajaran yang tidak dikehendaki dengan cara penulisan rahasia, sehingga pembaca yang tidak mengenali kunci-kunci rahasia tersebut bukan hanya terkecoh, tetapi juga mempelajari dengan cara yang akan mencelakakan dirinya dalam saat-saat genting.

Ada kalanya aku turun dari kapal dan melakukan perjalanan di daratan sebelum naik kembali ke sebuah kapal di pelabuhan lain, karena seorang pengembara sejati memang sebaiknya menyerap sebanyak-banyaknya, dengan memasang telinga serta membuka mata selebar-lebarnya, jika ingin perjalanannya tidak terlalu sia-sia. Begitulah kupelajari bahwa tahun 503, raja yang bernama Kaundiya-Jayawarman

mengirimkan sebuah arca Buddha dari batu karang dan sebuah stupa dari gading kepada maharaja Negeri Atap Langit, sedangkan seorang ratu Fu-nan mendirikan patung-patung dari perunggu yang dilapisi emas. 3) Tentu juga menarik bagiku untuk melihat berbagai benda yang berasal dari luar Fu-nan, tetapi telah mengembangkan kesenian Fu-nan, di samping menunjukkan masalalu Fu-nan sebagai tempat

persinggahan dan pertemuan antarbangsa, dalam suatu kegiatan dagang yang sibuk. 4) Karya-karya dari Jambhudvipa misalnya, sebuah kepala arca Buddha gaya Gandhara di Ba-the yang jelas tua, perhiasan emas, cincin-cincin yang dihiasi sapi berpunuk, atau juga cincin stempel yang ditulisi istilah-istilah dagang dalam bahasa Sansekerta berabjad brahmi. 5)

BENDA-BENDA itu berasal dari masa 600 tahun sampai 200 tahun lalu, tulisannya terdapat pada batu yang keras, karena cara cukilan tampaknya pernah sangat digemari di wilayah itu. Dengan cara cukilan itu terbentuk juga gambar-gambar seperti seorang perempuan yang sedang mempersembahkan air suci di atas altar untuk memuja api atau sejumlah jimat dari timah, menunjukkan lambang ajaran Visnu atau Siva, sebagai tanda keberadaan igama-igama dari Jambhudvipa di Fu-nan. Selain benda-benda dari Jambhudvipa, juga kusaksikan benda-benda dari Negeri Atap Langit, seperti cermin dari perunggu semasa wangsa Han, patung-patung Buddha yang kecil, juga dari perunggu, tampaknya dari masa wangsa Wei; bahkan juga benda-benda dari suatu negeri jauh yang disebut Romawi, seperti medali emas cetakan tahun 152 dari Maharaja Antonius yang Saleh, maupun medali emas lain dari masa Maharaja Marcus-Aurelius. 6) Tampak juga kemudian gambar cukilan pada batu seperti gambar ayam jago di atas kereta yang ditarik oleh tikus, dan kemudian gambar-gambar percumbuan, yang secara berturut-turut berasal dari masa 600 tahun sampai 400 tahun lalu.

Tidak dapat kubayangkan betapa ramainya Fu-nan pada masa-masa itu, bahkan kulihat pula dari kejauhan di rumah seorang pejabat tinggi, sebentuk benda kaca biru memperlihatkan seorang tokoh kerajaan sedang mencium bunga, yang tampaknya berasal dari wangsa Sasan. Aku tidak perlu heran tentunya, jika sempat

kulihat gerabah yang berasal dari sebuah negeri yang disebut Yunani di kapal Naga Laut waktu itu, yang katanya dibelinya di Semenanjung Melayu. Dhawa, yang telah meninggalkan aku karena mengikuti Naga Laut, pernah bercerita tentang lampu perunggu indah yang dihiasi Silenos dari masa Ptolemaus, maupun lampu-lampu dari gerabah dari Romawi, di sebuah tempat bernama Pong Tuk di Siam. Aku menghela nafas, dunia bagai terpampatkan di Fu-nan. 7)

Pada sebuah kapal, aku teringat Amrita. Bagaimanakah sebuah salinan dari Kitab Jurus Penjerat Naga sampai kepadanya? Kitab itu keterangan gambar-gambarnya ditulis dengan huruf Jawa, dalam bahasa Jawa pula. Pasti terdapat peranan seseorang yang berasal dari Jawadwipa dalam perjalanan kitab itu. Apakah itu

seorang pencuri kitab? Dalam perjalanan di tanah Khmer ini aku mempelajari bahasanya sedikit demi sedikit, asal bisa untuk percakapan sehari-hari, sambil mempelajari aksaranya pula, dan tahu bahwa bahasa dan huruf Jawa bukan takdikenal di sana, setidaknya di kalangan mereka yang membaca dan menulis. Kuingat kembali poros jalur pelayaran yang hanya lurus saja dari Jawadwipa ke Teluk Siam. Sebenarnya aku tidak berada di sebuah negeri yang terlalu asing, tetapi seberapa banyak orang Jawa menjelajah masuk sampai ke pedalamannya?

Aku teringat kembali gambar-gambar percumbuan itu, gambar-gambar yang tercukil pada batu itu dalam kepalaku sering bergerak dengan sosok Amrita sebagai gantinya. Kupertanyakan kepada diriku sendiri, apakah aku menjelajahi tanah Khmer ini untuk melayani tantangan adik seperguruan tokoh yang bernama Naga Bawah Tanah, ataukah karena kemungkinannya bertemu lagi dengan Amrita? Bagaimana jika ia berhasil memperbaiki kembali Jurus Penjerat Naga itu dan menantangku kembali? Perempuan muda seperti Amrita, kerasnya kepala mereka bukan pula perkara yang membuatku harus merasa asing pula. Entah kenapa aku teringat kedua orangtuaku, yang demi persiapan menghadapi naga yang manapun jua memilih untuk menciptakan Ilmu Pedang Naga Kembar daripada mempelajari dan menggunakan Jurus Penjerat Naga meskipun mereka memilikinya. Darimanakah kiranya mereka mendapatkan Kitab Jurus Penjerat Naga, yang semenjak sebelas tahun lalu kutinggalkan di Balinawang itu?

Aku belum selesai dengan pertanyaan-pertanyaanku, ketika kapal merapat di sebuah pelabuhan di tepi sungai.

“Dikau lihat tiga puncak itu? Berjalanlah lurus saja ke arahnya, maka akhirnya dikau akan tiba di Puncak Tiga Rembulan.”

BULAN purnama masih lima hari lagi, apakah Puncak Tiga Rembulan dapat kucapai dalam lima hari perjalanan? Berjalan lurus dalam hal ini tidak berarti terdapat jalan yang betul-betul lurus. Namun kuturuti saja langkah kakiku, selama langkah kakiku mengarah ke tiga puncak tersebut. Tiada lagi sungai yang bisa dilayari menuju ke sana, karena arahnya yang semakin mendaki dan berbatu-batu pula. Meninggalkan sawah dan pemukiman, aku memasuki hutan dan mencari sungai untuk menyusurinya sampai ke atas. Apakah sebaiknya aku menggunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit? Dalam salah satu kitab ilmu silat yang pernah kubaca, disebutkan bahwa semakin cepat kita kenali gelanggang pertarungan, semakin lama kita berada di dekatnya, akan semakin berkurang pula perasaan terasing kita, ketika

harus berada di tempat tak dikenal, menghadapi orang yang juga belum dikenal, dengan ilmu silat yang bahkan belum pernah terlihat.

Namun aku tetap saja berjalan seperti biasa, melangkahkan kaki satu persatu, sebentar tunduk sebentar terangkat, dan tertatap ketiga tiang batu yang menjulang ke langit, yang kadang tertutup kabut sehingga tidak kelihatan sampai lama sekali, tetapi sebentar kemudian muncul kembali. Puncak Tiga Rembulan memang tampak

anggun, dan begitu hidup ketika matahari yang naik di belakang ketiga puncak itu membuat ketiga tiang itu bagaikan bergerak-gerak. Kilatan cahaya bagaikan berdenting. Hutan berderak-derak. Aku melangkah di atas tumpukan daun-daun yang basah, sembari mempertahankan jarakku dari sungai, dengan perkiraan berdasarkan pendengaranku sahaja. Apabila kemudian tiada lagi jalan yang bisa kutempuh, karena di hadapanku hanya terdapat dinding lereng yang penuh dengan lumut serba licin, kuturuti saja jalan sungai itu, dengan segala dahan melintang dan lorong gua yang harus kulewati karena itu.

Kukira hutan ini pun tidak pernah dirambah oleh orang-orang Khmer. Ini bukan soal Jawa atau Khmer. Ini soal manusia dan hutan. Ada hutan yang memang dirambah manusia untuk berburu, mencari kayu, dan tumbuh-tumbuhan; ada hutan ada kebudayaan, aku harus siap merasa kesepian dalam kesendirian di hutan tanpa jejak manusia selain jejak waktu yang menumbuhkan alam. Namun kapankah kiranya aku akan kesepian? Sudah kukatakan aku berjalan dengan kepala yang kadang tengadah dan kadang menunduk. Pada saat tengadah, tidak selalu terlihat Puncak Tiga Rembulan karena semakin rapatnya hutan itu, tetapi apabila aku berhasil merayap ke tempat yang lebih tinggi, dan melampaui ketinggian hutan, tampaklah kembali tiang-tiang raksasa yang seolah menembus mega itu. Di manakah adik seperguruan Naga Bawah Tanah itu menantangku bertarung? Di bawah tiang atau di puncak tiang batu itu?

Pada saat berjalan menunduk kulihat sebagian dari diriku sendiri. Sepasang kaki tanpa alas, kancut kumal yang tidak berwarna lagi, dan sekadar kain penahan dingin yang kuselempangkan menutup bagian atas tubuhku. Tidak bisa kulihat diriku sendiri, tetapi dapat kuraba wajah dan kepalaku. Kukira wajahku sudah tidak bisa lagi dilihat secara langsung. Semenjak terapung-apung di laut bersama Puteri Asoka, aku belum pernah bersentuhan dengan pisau cukur sama sekali. Rambutku yang kasar kuikat dengan tali kulit seperti yang dikenakan awak kapal Naga Laut, tetapi karena sudah sangat panjang, ujung-ujungnya menjuntai di atas bahu, melebar liar

bagaikan orang tidak beradab, yang tidak berkasta dan menjadi gelandangan di jalan-jalan kota.

Betapapun harus kuceritakan bahwa diriku ini tetap mandi setiap hari. Masalahnya, di tanah orang-orang Khmer ini aku tidak mudah menemukan daun lidah buaya, atau daun lain yang bisa menggantikan lidah buaya tersebut. Dalam perjalanan tidak dapat kutanyakan hal itu di sembarang tempat, karena jika keberadaan diriku sebagai orang asing terlalu kentara, hanya akan memancing pemerasan dan perampokan. Memang aku tidak memiliki harta benda lagi, semenjak peristiwa pecahnya kapal Samudragni, tetapi penangkapan manusia tak dikenal untuk dijadikan budak sangatlah mungkin. Adapun aku selalu menghindari keributan dengan orang awam, apalagi orang awam di sebuah negeri tempat diriku adalah seorang asing. Jadi tidak ingin kupersulit diriku dengan pertanyaan tentang daun pencuci rambut.

Orang-orang asing hanya bebas di pelabuhan, penginapan, kedai, atau rumahrumah pelacuran, yang semuanya berdekatan. Di luar pelabuhan, selama terdapat tempat-tempat tersebut, orang-orang asing tentu merasakan itu sebagai rumahnya.

MESKIPUN orang Jawa meninggalkan luka dalam serangan mereka yang kejam, tidak berarti semua orang Jawa yang sebelum dan sesudahnya berada di sana dimusuhi, bahkan tak jarang kulihat pengaruh seni arca dan gaya bangunan candi wangsa Syailendra di sana. 8) Pada gilirannya mereka berbaur dan beranak pinak, dan tidak melupakan asal usul mereka. Ini membuat orang-orang Jawa maupun Sriwijaya dari Samudradwipa yang mereka samakan begitu saja, termasuk di antara orang-orang asing yang tidak dianggap terlalu asing di tempat-tempat pertemuan antarbangsa tersebut.

Masalahnya aku belum sempat tinggal terlalu lama di tempat-tempat itu selain untuk makan dan minum sekadarnya, antara lain karena aku terus-menerus memikirkan Amrita. Serasa masih terhirup olehku aroma yang meruap dari tubuhnya, dan meskipun sebagai pencari kesempurnaan di dunia persilatan seharusnya kupersiapkan diriku menghadapi adik seperguruan Naga Bawah Tanah, bahkan Naga Bawah Tanah itu sendiri, meski katanya tidak pernah menampakkan diri, aku hanya teringat kepada Amrita. Bukan dalam kedudukannya sebagai lawan dalam

pertarungan yang belum usai, melainkan sebagai perempuan yang telah membuat diriku melupakan segala hal selain kembali merasakan punya tubuh. Setiap kali teringat Amrita dengan perasaan masygul aku teringat juga kepada Harini yang telah

membacakan dan menguji coba Kama Sutra. Alangkah jauhnya kini terasa Balinawang!

Namun kemudian, menjelang hari pertemuan, setelah merayapi sebuah jurang dengan ilmu cicak, karena tiada pijakan untuk kaki jika ingin melenting ringan dari batu ke batu maupun dari dahan ke dahan, bahkan bibir jurang itu melengkung begitu rupa sampai punggungku menghadap ke bumi, tibalah aku di Puncak Tiga Rembulan.

Dalam desis angin dingin, aku menahan napas, mega-mega sedang berarak melewatinya. Begitu tinggikah tempat ini? Hanya mengandalkan kain yang bahkan tidak cukup untuk seluruh tubuhku, tentu saja aku bisa mati membeku. Hanya karena tenaga dalam yang kusalurkan melalui pernapasan ke seluruh tubuh sajalah, maka udara dingin ini bagaikan tiada berarti. Kulihat burung elang yang kelabu, melayang tanpa mengepakkan sayap mengelilingi Puncak Tiga Rembulan. Hari masih siang, tetapi cahaya matahari bagaikan diselaputi tabir, sehingga hanya kekelabuan yang pekat, sepekat-pekatnya kelabu yang paling kelabu yang paling mungkin dari kekelabuan yang membuat tempat itu menjadi serbakelabu.

Kukitari tempat itu dan kusadari betapa besar tiang-tiang raksasa yang membentuk Puncak Tiga Rembulan itu dan memanglah harus begitu besarnya karena dari zaman ke zaman tentu sempatlah suatu ketika gempa melewati dan menggoyangnya tetapi karena memang kokoh tiada terkira maka sampai hari ini kulihat tiang-tiang itu masih saja ada. Puncak Tiga Rembulan, bentuknya terjal, seluruh sisinya penuh batu-batu tajam menceruat, tetapi begitu curamnya dinding setiap tiang sehingga Puncak Tiga Rembulan benar-benar merupakan tiang yang menembus mega bagaikan menyangga langit. Hmm. Sementara ini aku merasa lebih tepat disebut Tiga Penyangga Langit. Aku mendekat dan meraba dindingnya, dalam dingin udara yang membekukan darah, kurasakan serpihan-serpihan batu itu

tajam seperti pecahan gelas. Tanpa ilmu meringankan tubuh yang tinggi, kaki hanya akan melesak dalam ketajaman pisau.

KUTATAP ke atas. Burung elang itu masih melingkar-lingkar di sekitar tiga tiang, kini bahkan sepasang. Mungkinkah di puncaknya terdapat sarang anak-anak mereka? Jika di atas sana terdapat sarang burung elang dan anak-anaknya, tidak mungkinlah adik seperguruan Naga Bawah Tanah itu mengajakku bertarung di atas sana? Di manakah kami akan bertarung? Apakah kiranya keuntungan yang akan didapatkan adik seperguruan Naga Bawah Tanah itu di tempat ini?

Lantas malam tiba dan rembulan muncul. Kukelilingi tempat itu sekali lagi sebelum penantangku itu muncul, karena aku tidak tahu jenis ilmu silat macam apa kiranya yang akan kuhadapi. Gelar naga yang telah diterima Naga Bawah Tanah yang tak pernah muncul itu, kemungkinan karena tiada lagi tandingannya, menjelaskan kedigdayaannya. Jika ia mengaku sebagai adik seperguruan, tentu ilmunya tidak

akan terpaut terlalu jauh. Adapun Amrita yang tentu ilmu silatnya masih berada di bawah paman gurunya saja sudah begitu saktinya, bagaimana pula harus kuhadapi paman gurunya ini?

Begitulah aku melamun sembari melangkah berkeliling di daerah berbatu-batu itu. Kabut datang dan pergi menutupi cahaya bulan purnama. Kuperhatikan serat kabut yang mengertap lemah dalam sepuhan lembut purnama itu. Kemudian ketika mendongak ke atas kumengerti makna nama Puncak Tiga Rembulan tersebut. Kukira inilah keajaiban dunia yang tersembunyi dari mata manusia.

Jika kita mengelilingi tiga tiang sebesar bukit yang menjulang ke langit itu, terdapatlah suatu titik yang menempatkan ketiga tiang tersebut dalam satu garis lurus, dan dari sudut pandang tersebut tentu saja seolah-olah hanya terdapat satu tiang. Ketika bulan purnama tiba, maka dari sudut pandang ini akan terlihat pemandangan tiang menyangga rembulan. Betapapun indahnya pemandangan ini, di manakah kiranya keajaibannya?

Aku masih harus berjalan terus, meninggalkan titik yang membuat ketiga tiang itu berada dalam satu garis lurus dan tampak bagaikan satu tiang menyangga sebuah rembulan dalam keadaan purnama. Saat kutinggalkan titik itu, yang semula tampak sebagai satu tiang segera menjadi tiga kembali, tetapi kali ini masing-masing menyangga sebuah rembulan di atasnya…

106: Buddha dan Dua Pedang

SEKARANG aku tahu kenapa tempat ini disebut Puncak Tiga Rembulan, entah gejala alam macam apa telah menggandakan rembulan yang purnama menjadi tiga, hanya pada malam bulan purnama, dan hanya setelah seseorang melihat ketiga tiang itu menjadi satu dari sebuah titik dengan sudut pandang tertentu, yakni ketika tiga tiang tersebut berada dalam satu garis lurus.

Namun, pada malam bulan purnama di Puncak Tiga Rembulan, bukan hanya rembulan yang tergandakan menjadi tiga. Pengetahuan atas perubahan yang dimungkinkan selama malam bulan purnama, telah dimanfaatkan adik seperguruan

Naga Bawah Tanah yang ternyata disebut Pangeran Kelelawar itu, untuk menggandakan dirinya juga menjadi tiga. Ketika perasaan terpesonaku belum lagi hilang, tiga titik hitam melayang ke bawah, langsung ke arahku dengan kedua tangan terkembang. Sepasang pedang hitam muncul sendiri dari kedua tanganku. Sebentar kemudian, tiga titik hitam itu menjelma tiga sosok yang berkelebat cepat menyerangku tanpa pernah menyentuh permukaan bumi.

“Pendekar Tanpa Nama,” ujarnya dalam bahasa Sansekerta, “Pangeran Kelelawar menyambutmu dan memohon sedikit pelajaran.”

“Pangeran Kelelawar terlalu merendah,” kataku, “daku yang tiada bernama tak mengenal peradaban, sepantasnya diberi sekadar pelajaran.”

Dalam kegelapan, ketiga sosok bergerak cepat, sangat cepat, terlalu cepat, karena bagai tak terlihat dalam bayangan malam. Karena hanya merupakan penggandaan, kedua sosok yang lain mengikuti saja gerakan Pangeran Kelelawar, meski wujud rupanya sungguh bagai pinang dibagi tiga, sehingga memang tiada jelas siapa yang mengikuti dan siapa yang diikuti. Begitulah aku menghadapi satu orang, tetapi yang telah tergandakan menjadi tiga orang dengan ilmu silat yang sama tingginya, ilmu silat yang aneh pula, yakni kemampuan untuk bertarung tanpa menyentuh tanah dalam dingin malam.

Telah banyak kuhadapi pendekar silat dengan tingkat ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, tetapi setinggi apapun ilmu meringankan tubuh seorang pendekar, tetap saja perlu menyentuh dan menjejak apa pun agar tubuhnya dapat melenting kembali, sehingga dalam kecepatan tinggi ia akan terkesan terbang dan tidak menyentuh tanah meski kenyataannya tetap membutuhkan sesuatu untuk tetap melayang. Maka kutingkatkan kecepatanku agar dapat kusaksikan bagaimana caranya ketiga Pangeran Kelelawar ini terbang melayang dan selalu menyerangku dari atas kepala. Dengan menjadi sama cepat, bahkan lebih cepat, kusaksikan segala sesuatunya dengan lebih jelas.

Setiap orang ternyata memiliki selaput kulit yang terpasang dari pergelangan tangan sampai ke pinggangnya, membentuk sayap yang membuatnya bisa terbang. Mereka bertarung dengan mata tertutup, bukan karena mengandalkan pendengaran, melainkan karena melalui telinganya mereka membaca ruang melalui getaran suara yang terpantul kembali sehingga dapat menandai benda di sekitarnya. Suara yang dikirimkan itu sendiri tidak terdengar, karena matranya di luar wilayah pendengaran manusia.

Sembari menghindari serangan dari tiga jurusan di atas kepala, aku teringat Kitab Ilmu Silat Kelelawar dari dalam peti kotak kayu yang pernah kubaca. Aku memang membaca dan memahaminya, tetapi tidak pernah kubayangkan Ilmu Silat Kelelawar akan mungkin dikuasai manusia, karena persyaratan berat yang mesti dilaluinya, antara lain bertapa menggantungkan diri dengan tubuh terbalik seperti kelelawar di atas pohon. Selama masa penggantungan terbalik itulah, berkat ramuan tertentu yang harus diminum, akan tumbuh selaput kulit di antara pergelangan tangan sampai pinggang, yang akan membuat seseorang memiliki sayap seperti kelelawar. Dengan ilmu meringankan tubuh dan sayap seperti itu manusia dapat memenuhi impiannya untuk terbangÖDalam hal pemilik Ilmu Silat Kelelawar itu bermukim di Puncak Tiga Rembulan, pada malam bulan purnama ia dapat menggandakan dirinya menjadi tiga dengan cara yang juga telah membuat bulan yang sedang purnama itu menjadi tiga. Kenapa ia menamakan diri atau dinamakan orang sebagai Pangeran? Teringat Amrita, dan kerajaan Fu-nan maupun Tchen-la yang sudah terhapuskan, kuduga mereka sisa-sisa golongan darah biru dari kerajaan yang sudah hilang. Namun setelah mengingat lagi para pengawal yang mengiringi Amrita, tidak mungkin pula Amrita adalah bagian dari bangsawan yang sudah terhapuskan itu.

Kuduga Amrita adalah puteri bangsawan Angkor, jika bukan putri raja yang berguru kepada para pendekar berdarah biru dari kerajaan yang tersingkir. Kerajaan boleh timbul tenggelam di tanah Khmer, tetapi persekutuan antarbangsawan membuat ilmu-ilmu silat langka hanya beredar di antara mereka saja. Dalam beberapa hal, ilmu silat juga menjadi syarat dalam pengukuhan kekuasaan. Aku berguling-guling di atas dataran batu untuk menghindari berbagai serangan di bagian atas tubuhku.

Kuduga mereka akan kesulitan terbang rendah di atas tanah, tetapi bukan saja mereka mampu melakukannya, bahkan mereka mampu melakukannya dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Semula mereka mengandalkan cakar pada jari-jarinya, tetapi kini di kedua tangan masing-masing tergenggam belati panjang yang berkilatan dalam cahaya bulan purnama.

Lentik api dari benturan logam berkilatan bagaikan pesta kembang dan suara dentingannya meruyak kebekuan Puncak Tiga Rembulan. Hmm. Jika yang mengaku adik seperguruannya saja sudah begitu sakti seperti ini, bagaimana pula jika Naga Bawah Tanah mengambil keputusan untuk menampakkan diri? “Pendekar Tanpa Nama, dikau sungguh sakti mandraguna, pantaslah Amrita tak berdaya!îìPangeran Kelelawar sungguh terlalu memuji! Hanya yang sakti mandraguna bisa terbang dan menggandakan dirinya menjadi tiga!îSebetulnya aku malas bertempur sambil

berbicara, karena pemusatan pikiran bisa pecah dan titik lemah segera terbuka. Namun kali ini aku senang melayaninya, karena ingin kuketahui sosok yang asal dari ketiganya, sosok yang semula satu dan kini menjadi tiga. Begitu kuketahui sosok mana yang berbicara, dengan kecepatan kilat kuubah permainanku, dari Ilmu Pedang Cahaya Naga menjadi Ilmu Pedang Naga Kembar, dengan tujuan mendesak kedua sosok yang hanya bayangan itu dan menyelesaikannya.

Ketergandaan tiga sosok kuhadapi dengan ketergandaan permainan pedang. Kedua pedang terasa bagaikan empat pedang, sehingga aku masih memiliki sebuah, yang bebas memilih dan menentukan korban. Empat belati panjang segera terlempar dari kedua sosok bayangan, tetapi ketika sembari masih berbaring kedua pedang hitamku melesak ke dalam jantung masing-masing dari keduanya, yang menyembur keluar adalah darah yang sebenarnya. Jadi keduanya bukanlah bayangan ciptaan sihir. Dengan segera pula kedua pedang hitam warisan Raja Pembantai dari Selatan itu telah mengurung Pangeran Kelelawar dengan kedua belati panjangnya. Jika kumasuki Jurus Dua Pedang Menulis Kematian sekarang juga, niscaya riwayatnya segera dapat kutamatkan. Namun kunantikan jurus-jurus pamungkasnya, agar dapat kuserap dengan jurus-jurus yang kelak akan terkenal sebagai Jurus Bayangan Cermin.

Seperti yang kuduga, ia menyerang dengan memanfaatkan kedua sayapnya. Diriku bagaikan terkurung jala hitam dan kedua pedang yang kuayun untuk merobek selaput kulit yang menjadi sayap itu selalu luput mengenainya. Maka kugabungkan Jurus Bayangan Cermin dan Jurus Penjerat Naga. Dengan Jurus Bayangan Cermin terseraplah sudah segenap jurus dalam ilmunya, dan dengan Jurus Penjerat Naga meski aku tetap bergerak membuat ia mengira aku dalam kelemahan terbuka. Saat kedua belatinya bermaksud menggunting leherku, kedua pedangku malah masuk kembali dalam tanganku, karena aku hanya perlu menyorongkan tangan ke depan memberikan kepadanya pukulan Telapak Darah.

Ia terlempar ke atas memuntahkan darah. Namun bukannya jatuh, ia mengepakkan sayapnya, terbang ke atas. Aku melesat ke atas dengan kedua pedang yang sudah muncul kembali dari dalam tanganku. Setiap kali sambaran pedangku ditangkisnya, kugunakan dorongan tenaganya sebagai daya melenting ke atas, dengan demikian Pangeran Kelelawar itu selalu bisa kukejar ke atas. Jadi sebetulnya pedangku tidak menyambar untuk membunuh, melainkan untuk ditangkis agar aku bisa melayang ke atas tanpa harus memijak sesuatu. Meski siasatku ini sebetulnya gampang dibaca,

tetapi pukulan Telapak Darah telah membuatnya tidak bisa berpikir. Ia seperti menghindariku, seperti ada yang menunggunya di atas, meski dalam pertarungan tingkat tinggi seperti ini tentu aku tidak bisa berpikir terlalu panjang. Pada saat kedua tangannya terbuka kutusukkan pedang hitam yang kehitamannya disebabkan ramuan racun bercampur darah korban. Begitu kuat tusukan pedang di tangan kananku itu ke dadanya, sampai tembus ke punggung, dan menancap pada dinding tiang penyangga bulan. Lantas kutancapkan pula pedang di sebelah kiriku, sehingga ia tertancap makin di dinding itu.

Masalahnya, bagaimana aku bisa melepaskan pedang itu? Selama ini kedua pedang itu melekat tanpa diminta, yang membuat aku berpikir tidak akan bisa menganggap diriku sempurna selama keduanya masih mengendon di dalam kedua tanganku. Maka dalam sekejap kuselusuri perbendaharaan ribuan mantra yang berada dalam diriku. Kucari mantra semacam mantra pelepas pedang jika memang

kemampuan menyimpan pedang dalam tangan itu merupakan kemampuan sihir. Namun rasanya tidak kutemukan mantra itu. Bagaimana caranya Raja Pembantai dari Selatan memasukkan dan mengeluarkannya, sebelum kemudian memindahkannya ke dalam diriku berikut segenap mantra sihir itu? Aku nyaris merasa putus asa dalam usaha melepaskan sepasang pedang yang setiap kali selalu gagal. Padahal kalau pedang itu masuk kembali ke dalam tanganku, tubuh Pangeran Kelelawar tentu jatuh melayang ke bawah, padahal ia belum lagi mati.

Tentu aku berada dekat sekali dengannya. Nafasnya tinggal satu-satu, karena tenaga dalamnya untuk sementara dapat melawan aliran racun kedua pedang itu. Matanya terus memandangku seperti berusaha mengatakan sesuatu. Namun aku sibuk berusaha melepaskan pedang itu dengan usaha yang sia-sia. Kedua kakiku sampai naik ke dinding batu di samping kiri dan kanan sepasang pedang yang masih menancap di tubuh Pangeran Kelelawar, kutekankan kaki ke dinding itu sambil menarik tubuhku sekuat-kuatnya, seolah-olah dengan cara itu kedua pedang itu bisa terlepas dari tanganku. Begitu kuatnya usahaku menarik diri, sampai kepalaku terdongak ke belakang, begitu rupa sehingga tampak olehku segala pemandangan di bawah.

Kami tertempel di dinding itu pada ketinggian setengah dari keseluruhan tinggi tiang. Rembulan masih purnama, tampak luar biasa luas bagaikan payung dari langit. Kiranya inilah yang menjadi sebab mengapa dari bawah tiang ini bagaikan menyangga rembulan. Namun aku tidak dapat menikmati keindahan itu sebab dipenuhi rasa putus asa karena tidak dapat melepaskan kedua pedang tersebut.

Waktu kepalaku tersentak-sentak dalam usaha menarik diri itu terpandang bumi dan langit berganti-ganti. Dalam puncak keputus asaan aku berteriak: “Aaaaaaagggggggghhhhhhhh!”

Lantas aku tenggelam dalam sunyi. Dalam kesunyian segalanya menjadi jelas, begitu jelas, terlalu jelas, lebih jelas dari kejelasan itu sendiriÖ

pada tingkat yang murni

tiada pengertian keesaan atau kejamakan

dari para Buddha

tiada keesaan

mulanya mereka berbadan

tiada kejamakan

mirip angkasa

tiada memiliki badan 1)

Saat itulah aku terpental. Lepas! Aku melayang tanpa bobot, jadi meskipun lepas aku tidak jatuh ke bawah. Aku mengambang di hadapan Pangeran Kelelawar yang tertancap oleh kedua pedang itu di dalam dinding batu. Ia masih hidup, dan matanya masih memandangku seperti ingin mengatakan sesuatu. Aku segera menjejak udara dan kembali menempel ke dinding batu dengan ilmu cicak di sebelah Pangeran Kelelawar, karena aku tahu bobot tubuhku akan segera kembali bersama kembalinya kesadaranku.

Angin bertiup, amat sangat dingin. Setelah pertarungan usai alam menghadirkan dirinya kembali. Kami tenggelam dalam kabut. Meski malam bulan purnama, kabut tetap membuat kami taksaling dapat melihat. Kudengar napas-napas terakhirnya yang tersengal.

”Amrita di atas sana, tolonglah…”

Suaranya memang sangat lemah, dan ketika kabut itu pergi, agaknya ia pun ikut pergi. Tubuhnya tergantung dengan sayap kelelawar yang kuncup. Kepalanya tertunduk, darah yang semula mengucur dari tempat kedua pedang itu menancap telah membeku. Tempat ini memang sangat tinggi. Udara sangat tipis. Kulihat serpihan pada bulu mata, janggut, dan kumisnya. Saat menolong Amrita yang tak sadarkan diri waktu itu, kulihat seseorang berkepala botak, kurus kering seperti hanya tinggal kulit membalut tulang, dengan tubuh bongkok yang ditutupi jubah. Kini botaknya tampak sedikit berambut dan jubahnya terlihat berada di dalam,

terbungkus busana hitam yang sewarna dengan sayap hitam kelam berbulu yang seperti tumbuh alami antara pergelangan tangan dan pinggangnya. Ia tidak bersayap

dan tidak berselimutkan kain hitam ketika muncul di pelabuhan. Bagaimanakah caranya pendeta Buddha ini mengubah dirinya jadi Pangeran Kelelawar? Aku menduga ia mengubah dirinya melalui mantra, tetapi tentu saja aku tidak dapat memastikan.

Ia menggantung di sana, tentu tidak akan terlalu kelihatan dari bawah. Namun apabila kelak seseorang mendaki tebing ini, dengan ilmu cicak atau peralatan untuk mendaki, mungkin Pangeran Kelelawar ini sudah membatu bagaikan sebuah arca yang dipahatkan langsung pada dinding bukit yang sangat curam ini.

Aku menengok ke atas, Amrita berada di atas sana katanya. Jadi kedua elang yang kulihat mengelilingi Puncak Tiga Rembulan tadi siang, bukanlah sepasang elang yang sedang mengawasi anak-anaknya, melainkan seorang putri nan indah rupawan tiada terkira. Bahkan dengan segala ukuran, Puteri Amrita Vighnesvara masih selalu unggul sebagai wujud kecantikan. Di atas sana, yang jaraknya masih setengah bagian dari tempat kematian Pangeran Kelelawar, tidak mungkinkah ia sudah mati kedinginan?

KUINGAT lagi apa yang terjadi ketika berhadapan dengannya di pelabuhan. Titik lemahnya terbuka karena jebakan Jurus Penjerat Naga, yang memang akan membuka bagian terlemah, dan begitu lemahnya sehingga meski hanya kusentuh saja, tanpa tenaga dalam sama sekali, akan memberi akibat yang parah, yakni kematian. Namun karena terhadap Amrita diriku tidak berniat menamatkan riwayat hidupnya di muka bumi ini, maka sentuhanku itu sebenarnyalah merupakan selemah-lemahnya sentuhan, meski tetap saja telah membuat murid Naga Bawah Tanah itu kehilangan kesadaran.

Tentu aku tidak dapat menjamin apakah ia akan tetap hidup jika berada di atas sana, apalagi tanpa seorang pun mengetahuinya, karena kukira mereka memang menyembunyikan diri di sana. Tempat yang tidak akan pernah didatangi manusia, karena udaranya yang begitu tipis dan suhu yang sungguh terlalu dingin bagaikan mampu membekukan darah mengalir. Hmm. Bagaimanakah caranya aku ke sana secepatnya agar dapat menolong Amrita?

***

AKU tidak boleh berpikir terlalu lama. Suhu sedingin ini, yang bahkan embun pun segera membeku bagaikan salju, mungkin saja telah menewaskan Amrita sejak lama. Namun aku tidak dapat mengandalkan ilmu cicak untuk me-rayapi tiang penyangga langit ini, karena pasti masih akan lama untuk sampai ke sana. Jika

hanya mengandalkan ilmu cicak, secepat-cepatnya merayap, besok pagi pun belum tentu aku mencapai puncaknya. Sementara itu, jika aku dengan ilmu meringankan tubuh berusaha melenting-lenting sampai ke puncaknya, seperti biasanya jika melayang ke atas jika bertemu dinding tebing yang curang, kini tiada sesuatu yang

dapat diinjak untuk melentingkan aku terus menerus sampai ke atas. Berarti satu-satunya jalan tinggal berlari, berlari miring sepanjang dinding sampai ke atas, dan jika kutancap Jurus Naga Berlari di Atas Langit, maka sebelum fajar kurasa aku sudah akan sampai ke puncak. Masalahnya, kakiku tidak akan berlari di atas dataran yang rata, karena sesungguhnyalah sepanjang tiang hanyalah serpihan batu tajam, yang begitu tajamnya sehingga jika kulit manusia menyentuhnya, meski tenaga dalam telah membuatnya sekeras besi dan ilmu meringankan tubuh membuatnya seringan kapas, tetap saja ketajaman serpihan itu akan menembusnya.

Maka, meskipun mampu berlari miring sepanjang dinding ke arah langit, aku tidaklah mungkin melakukannya jika tidak ingin telapak kakiku hancur. Angin bertiup lagi bagaikan membawa bongkahan-bongkahan es. Aku berkutat menahan dingin. Di sebelahku Pangeran Kelelawar itu membeku. Kulihat sayapnya yang kuncup, dan aku segera mendapat akal. Kusalurkan tenaga dalam ke ujung jariku agar dapat memotong selaput kulit yang membentuk sayap kelelawar tersebut. Satu lembar dari sayap kanan dan satu lembar lagi dari sayap kiri. Kulit itu nyaris keras seperti batu, tetapi kusalurkan hawa panas untuk mencairkan es yang telah membekukannya. Dari selaput kulit yang bukan sembarang kulit itulah, yakni selaput kulit sayap Pangeran Kelelawar, kubuat alas bagi telapak kakiku, sehingga aku akan dapat berlari tanpa terluka sama sekali.

Dengan ilmu cicak, punggungku dapat menempel erat pada dinding curam sementara kedua tanganku mengerjakan lembaran-lembaran kulit tersebut, membuat tali daripadanya, dan mengenakan serta mengikatnya sebagai alas kaki yang membungkus serta menutupi sampai ke betisku. Meski terikat secara kasar begitu, selaput kulit tersebut enak jatuhnya di telapak kakiku dan segera kuketahui, bahwa meskipun selaput itu tampaknya lemas dan halus, begitu liat dan kuat sehingga senjata setajam apapun tak akan mampu menembusnya, seperti juga serpihan-serpihan batu setajam gelas sepanjang dinding ini tidak akan segaris pun dapat menggoresnya.

Setelah kujejak-jejakkan sebentar, aku merasa yakin, dan segera melejit berlari miring ke arah langit dengan perasaan berlari di atas dataran batu. Rembulan bagaikan payung raksasa keperakan ketika kabut akhirnya kutembus. Fajar sebentar

lagi tiba dan aku berharap cahaya matahari akan sedikit mencairkan kebekuan Puncak Tiga Rembulan yang bagai tidak tertahankan ini. Aku yang berlari dengan Jurus Naga Berlari di Atas Awan ini saja, yang artinya melakukan pengerahan tenaga dalam, masih merasa kedinginan begini rupa, lantas bagaimana pula dengan Amrita yang hanya tergeletak saja dalam kesendirian di atas sana?

Ternyata berlari miring ke atas pada dinding curam Puncak Tiga Rembulan ini bukanlah hal terakhir yang bisa kulakukan sebelum dapat mencapai Amrita.

SETENGAH perjalanan dari tempat Pangeran Kelelawar tertancap dua pedang pada dinding batu, artinya tiga perempat bagian jika dihitung dari bawah, saat rembulan memudar dan matahari menyingsing, kedua elang gunung abu-abu yang pernah kulihat terbang berputar-putar di puncaknya itu muncul dan menyambarku silih berganti. Bahwa kedua elang itu bukanlah elang sembarang elang segera bisa kuketahui dari kecepatan sambaran, kekuatan angin sambarannya yang mendesau, dan keras patukan, cakar, dan kibasan sayapnya yang bahkan menghancurkan batu-batu.

Tiada pernah kuduga betapa dalam perjalananku sebagai pencari kesempurnaan dalam dunia persilatan, harus kuhadapi sepasang burung elang terganas dengan sayap-sayap besi, yang memaksaku mengerahkan segenap jurus yang tidak pernah kupakai, karena memang tidak pernah mendapat serangan dalam bentuk seperti ini. Dalam kemiringan dinding curam, aku bertarung melawan dua burung elang ketika cahaya matahari melesat dengan cahayanya yang berkilauan, membuat ketiga tiang raksasa Puncak Tiga Rembulan berkeretap dalam cahaya keemas-emasan.

107: Panah-panah Asmara

BURUNG-BURUNG elang kelabu dengan kekuatan sayap sekeras besi. Hmm. Keduanya tentu diperintahkan Pangeran Kelelawar yang telah tertancap kedua pedang hitam di bawah itu untuk menyerang siapa pun yang menuju ke atas, untuk melindungi Puteri Amrita yang belum kuketahui nasibnya. Apakah kedua elang yang sungguh-sungguh perkasa itu harus juga kubunuh? Namun jika tidak kubunuh, tentu bukan hanya aku yang akan mati terbunuh, melainkan juga Puteri Amrita akan semakin jauh dari pertolongan meski aku sendiri belum tahu pasti pertolongan macam apa yang dibutuhkannya. Ia bisa menjadi lemah takberdaya, dan agaknya bahkan takbisa disembuhkan oleh kesaktian Pangeran Kelelawar, karena

sentuhanku di tempat yang terlemah, tetapi bisa pula terutama akibat pembelajaran dari kitab curian.

Aku belum tahu, karena itu aku menjadi semakin penasaran, dan karena itu haruslah kuselesaikan kedua burung elang pengawal ini. Namun membunuh kedua elang ini bukan perkara mudah, bahkan sebaliknya adalah mereka berdua yang berkemungkinan lebih besar untuk membunuhku, karena ruang pertarungan ini adalah ruang mereka dan bukan ruangku. Mereka selalu melayang-layang di Puncak Tiga Rembulan ini, tetapi aku baru untuk kali pertama tiba di sini, setelah semalaman bertarung melawan Ilmu Silat Kelelawar yang ajaib itu. Namun bahwa sebelum menghadapi kedua burung elang ini aku telah menghadapi Pangeran Kelelawar, dan bahwa dalam pertarungan itu telah kugunakan Jurus Bayangan Cermin untuk menyerap Ilmu Silat Kelelawar, ternyata sangat berguna untuk membaca dan menghadapi berbagai bentuk serangan kedua burung elang itu.

Mereka terus menyerbu bergantian dengan sambaran cakar, paruh, dan kibasan sayap yang sangat berbahaya. Aku hanya dapat bertahan dengan kedua kaki menempel dan tentu tidak bisa lama-lama bertahan dengan kedudukan seperti itu. Serangan mereka bukan jurus manusia, jadi tidak bisa dihadapi dengan jurus-jurus silat yang dipelajari dari pengamatan terhadap burung elang. Ilmu Silat Kelelawar tidaklah mengamati gerak kelelawar dari luar, melainkan menyerap segenap sifat gerakannya dengan menghayati kehidupan kelelawar itu sendiri, sehingga jurus-jurusnya tetap bersifat kelelawar yang mampu berkelebat dengan mata tertutup

dalam kegelapan. Namun Ilmu Silat Kelelawar itu hanya mungkin dimainkan dengan sempurna jika pelakunya bersayap kelelawar seperti Pangeran Kelelawar.

Maka sungguh kupertaruhkan nyawaku ketika kujejakkan kakiku ke dinding, melepaskan diri dari ilmu cicak, meluncur dengan kecepatan sangat tinggi seperti gerak kelelawar menyambut serangan elang itu, menghindari sambarannya tetapi meminjam tubuhnya untuk kujejak agar bisa melenting ketika sambaran elang yang satu lagi datang. Aku bisa melayang karena gerakanku sangat cepat, yang berarti aku dapat bergerak banyak sebelum tubuhku mestinya jatuh ke bumi. Bukankah ini yang dilakukan anak-anak desa, jika mereka memperagakan gerak indah ketika meloncat dari atas tebing, sebelum jatuh ke bawah, di sebuah kolam, sungai, atau air terjun?

Sebelum itu terjadi aku dapat menjejak punggung burung itu agar dapat melenting, sama seperti aku biasa melenting meski hanya menjejak pucuk-pucuk daun, tetapi

kali ini melenting agar dapat menghindari serangan burung elang yang datang kemudian.

BURUNG elang yang datang kemudian ini berkelebat dengan cakarnya dan mengibaskan sayapnya sepenuh tenaga, tetapi yang hanya menyambar udara karena seperti setiap kelelawar aku pun kini dapat menghindarinya. Saat itulah kujejakkan kakiku ke punggungnya sebagai tendangan maut yang langsung mematikannya, sekaligus mendorong diriku sendiri kembali kepada burung elang yang sebelumnya telah menyerangku.

Aku tak bersayap, tetapi kelelawar pun tidak selalu melayang dengan cara mengepak, melainkan seperti menjatuhkan diri dan hanya menggunakan sayapnya itu sebagai kemudi yang akan menentukan arahnya. Itulah yang kulakukan dengan berbagai cara meliukkan tubuhku, sehingga dalam sekejap aku telah berada di atas burung yang masih terdorong oleh jejakanku sebelumnya, hanya untuk kujejak sekali lagi, tetapi kali ini sebagai tendangan maut yang juga menamatkan riwayatnya.

Dengan daya dorong tendangan itu aku kembali meluncur menuju dinding, untuk langsung menempel kembali seperti cicak. Kulihat kedua elang perkasa yang dengan sangat menyesal harus kutewaskan itu melayang jatuh ke bawah tanpa nyawa lagi. Meninggalkan sejumlah bulu yang beterbangan dan menyusul jatuh dengan lebih lamban karena angin dingin yang membuatnya melayang-layang.

***

BERAPAKAH tinggi tiang raksasa yang seolah menyangga langit ini? Aku tidak tahu. Apabila kemudian tiang yang menjadi bagian dari Puncak Tiga Rembulan ini menembus mega, aku kembali berlari miring ke atas hanya dengan mengandalkan perasaanku saja, karena dalam kenyataannya sepanjang mata memandang aku tidak dapat melihat apa pun lagi, kecuali cahaya demi cahaya. Lapis demi lapis cahaya keemasan dari pagi yang sudah penuh sehingga tempat rembulan diganti matahari membuat segalanya hanyalah cahaya menyilaukan. Selepas mega hanya cahaya di atas dinding keemasan sehingga hanya kakiku yang telah terbungkus selaput kulit sayap kelelawar dapat merasakan jalan ke atas dan hanya ke atas, tiada lain selain ke atas, tempat kuyakini terdapatnya Amrita di atas sana dalam keadaan siap kehilangan nyawa.

Bayangan betapa Amrita terkapar di sana dalam keadaan lemah membuat aku mengerahkan segala daya untuk melejit ke atas tanpa terbendung lagi. Suhu memang tetap dingin, tetapi cahaya matahari menembus butiran-butiran udara dan

berjuang mencairkan kebekuannya. Begitulah cahaya menjadikan dirinya sendiri sebagai harapan, berkilauan, dalam bentangan cahaya menyilaukan, ketika matahari bagaikan suatu payung cahaya di atas sana, yang tak mungkin kupandang berlama-lama, sehingga aku terus berlari tetapi sambil memejamkan mata. Dalam kecepatan tinggi kutancap ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang, sekadar untuk memastikan pijakan berdasarkan desir angin yang menyapu sisi tiang.

Berlari miring menuju ke atas tidaklah sama dengan berlari dalam keadaan biasa di tanah datar. Meskipun telah kugunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit yang membuat diriku sangat ringan dan mampu melesat seperti kilat, tetapi berlari pada

dinding tegak lurus dengan ketinggian seperti itu menuntut pengerahan tenaga dalam yang lebih besar dari pertarungan selama berhari-hari. Mengerahkan tenaga dalam tanpa lawan seperti ini, aku berhadapan dengan segala kelemahanku sendiri. Makin ke atas makin tertantang daya tahanku sendiri. Hanya kesunyian kini, menembus dingin dalam sepuhan matahari.

biasakanlah menganggap bentuk dunia

sebagai sunyata

tak terlihat bentuk badannya

demikianlah uraian

tentang bentuk yang ditangkap

dan bentuk yang menangkap 1)

Mendadak saja kakiku lepas dari segala jejakan. Melenting ringan ke atas bagaikan telah diluncurkan oleh pengerahan tenaga sejak dari bawah. Aku meluncur ke atas, tapi kemudian berhenti dan melayang turun perlahan-lahan seperti tubuhku lebih ringan dari sesobek kapas.

Dari atas kulihat salah satu dari Puncak Tiga Rembulan itu, yang tengah tepatnya, sebuah dataran batu melingkar tempat sesosok tubuh berbalut selimut kulit kambing sedang berbaring di atasnya. Itulah Puteri Amrita yang terkapar tanpa daya, tetapi ia masih berada jauh di bawah sana, karena aku melayang turun dengan sangat pelahan-lahan.

Di dekatnya kulihat sisa unggun kayu yang sudah tidak menyala lagi. Tentu yang kemudian kukenal sebagai Pangeran Kelelawar itulah yang sangat mungkin telah membawa kayu bakar itu ke atas. Jika perlu setelah digandakannya diri menjadi tiga, sehingga ia tidak perlu naik dan turun lagi beberapa kali. Aku turun perlahan-lahan seolah-olah tubuhku bergantung kepada sebuah payung, tetapi aku turun tanpa

payung dan tetap saja turun perlahan-lahan sehingga dapat menikmati pemandangan, nun sampai ke batas cakrawala di sekitarnya. Hutan, jurang, dan persawahan, disusul pemukiman, dan gugusan candi-candi. Kulihat semuanya dari atas, kerbau yang digunakan untuk membajak, orang-orang menanam bibit, iring-iringan pendeta Buddha menuju ke tempat upacara, kerumunan atas tontonan, sejumlah orang memasang puncak candi, mengangkut batu, dan juga harimau yang mengejar kijang.

Kulihat sungai besar yang cokelat dengan anak-anak sungainya. Perahu-perahu yang menyusurinya dalam kesunyian, pemukiman yang dilewatinya, dan anak kecil berlari-lari di tepian. Kadang kulihat juga seorang perempuan dengan rambut terandam dengan dada terbuka berjalan sendirian dengan barang bawaan di atas kepala di jalan setapak di atas bukit. Dari atas terlihat betapa terpencilnya Puncak Tiga Rembulan dengan segala kesulitan untuk mencapainya. Namun bersama dengan itu tampaklah pula betapa Puncak Tiga Rembulan ibarat sebuah tempat yang tidak seharusnya berada di atas bumi karena seperti turun dari langit di bumi yang lain.

Pada tiang yang berada di tengah dari Puncak Tiga Rembulan itulah Amrita tergolek berbalut selimut dalam sapuan cahaya keemasan. Puncak tiang adalah dataran batu nan hitam melingkar yang panjang jari-jarinya sekitar limapuluh langkah, tetapi dari atas kulihat Amrita bagaikan sedang tidur di atas ranjangnya sendiri. Ia berbalik ke

sana dan kemari, lantas meregangkan tangan, dan membuka mata. Kukira ia langsung melihatku yang sedang melayang-layang turun, karena meskipun jarak kami masih terlalu jauh, bagaikan terasa olehku betapa ia tersenyum. Semakin dekat jaraknya, semakin tampak kepadaku wajahnya sebagai wajah yang mungil. Wajah penuh kemurnian yang akan membuat siapapun lupa betapa Amrita Vighnesvara selain berarti dewi pendidikan dan ilmu pengetahuan, sebetulnya juga berarti dewi penghancur.

Aku melayang turun semakin dekat, dan perasaanku memang tidak keliru jika merasa ia tersenyum kepadaku. Aku tidak hanya merasakannya sekarang, tetapi juga melihatnya. Matahari membuat Amrita bagaikan bongkahan emas di tengah batu hitam. Angin nyaris membawaku kepada tiang Puncak Tiga Rembulan yang di sebelahnya, tetapi kukemudikan diriku dengan cara menyapu udara agar tetap mengarah kepada Amrita. Semakin jelas bahwa ia memang tersenyum. Perempuan pendekar yang semula kuhadapi dengan pertaruhan nyawa itu, yakni pertarungan yang mengizinkan pembunuhan, kini menyambutku dengan pandangan kekanak-

kanakan yang murni. Apakah itu benar suatu kemurnian, ataukah jebakan terakhir seorang petarung yang dengan segala cara ingin menang?

Itulah masalahnya dengan pertarungan para pendekar, apakah pertarungan hanya sahih di dalam gelanggang, ataukah dunia ini dianggap sebagai gelanggang pertarungan itu sendiri, tempat siapapun yang kurang waspada dapat tewas seketika karena serangan rahasia? Aku telah sampai kepada jarak tempat bisa kukirimkan angin pukulanku sekarang juga, karena sudah terlalu sering kudengar cerita tentang perempuan di balik selimut seperti itu, yang bagaikan menanti dengan penuh hasrat tetapi di balik selimutnya menggenggam belati melengkung siap menikam.

AKU turun semakin dekat, sedikit kuberatkan tubuhku agar diriku tidak kabur dibawa angin. Jadi dalam ilmu meringankan tubuh sebetulnya terdapat jurus pemberat badan, bahkan pernah kudengar cerita tentang seorang pendekar yang mempunyai ilmu pemberat badan, sehingga tubuhnya bergeming begitu rupa bagaikan seonggok batu gunung ketika menghadapi barisan gajah. Namun tentang hal itu

biarkanlah kuceritakan nanti karena di bawah itu kulihat Amrita yang tergeletak di dalam selimut tampak pucat, begitu pucat, sangat pucat, bagaikan tiada lagi yang lebih pucat. Aku heran, mengapa tidak ada yang bisa dilakukan Pangeran Kelelawar itu untuk menolongnya? Tidakkah semestinya dengan penyaluran tenaga dalam maka Amrita dapat setidaknya terhangatkan dan bertahan di atas Puncak Tiga Rembulan yang betapapun memang dingin tak tertahankan itu?

Manusia biasa boleh membeku, tetapi untuk apa para pendekar memiliki tenaga dalam, jika tidak dapat menahan dingin melalui olah pernapasan mereka yang boleh dikatakan nyaris sempurna? Aku turun tepat di hadapan Amrita dan ia tetap saja hanya tersenyum, tetapi kini dengan air mata berlinang-linang… Aku mendekatinya dan memegang urat nadi di tangannya.

”Bagaimana keadaanmu?” aku bertanya dalam bahasa Sansekerta.

Sekali lagi ia hanya tersenyum lemah dengan air mata mengalir ke pipi. Astaga. Ia tidak dapat berbicara! Apakah yang telah terjadi?

Maka segera kulakukan penyapuan dengan tenaga prana ke seluruh tubuhnya. Penyapuan adalah cara pembersihan, tetapi juga dapat digunakan untuk memberi tenaga dan membagikan kelebihan prana. Pembersihan yang dilakukan ke seluruh darah dan daging tubuh disebut penyapuan umum, sedangkan yang berada di bagian tubuh tertentu disebut penyapuan setempat. Kulakukan penyapuan umum ke seluruh tubuh Amrita. Kubuka selimutnya, lantas kucakupkan tangan dalam jarak

sejengkal di atas kepalanya. Aku tidak menyentuhnya, tetapi mempertahankan jarak yang lebih rendah lagi di seluruh tubuhnya ketika tanganku bergerak menyapu.

Dengan tangan tetap melengkung, kusapukan tanganku perlahan-lahan ke bawah dari kepala ke kaki mengikuti suatu garis, kemudian kembali sampai ke lutut, lantas membuang limbah pembersihan itu ke bawah kaki. Begitulah diulang berkali-kali dengan cakupan kedua tangan yang setiap kali mengulang diperlebar jaraknya. Setiap kali limbah pembersihan memang harus dibuang ke bawah kaki, untuk menghindari agar tidak masuk lagi dan menjadi racun ketika tangan kembali naik ke tubuh bagian atas. Jika tidak dilakukan, bahkan tubuhku sendiri akan keracunan

oleh limbah penyapuan itu, yakni bahwa jari-jariku sendiri, juga tangan dan telapak tangan, akan menjadi sakit dan tubuh melemah, akan mengalami kesakitan yang sama seperti Amrita.

Lantas kubalikkan tubuhnya, kusapu lagi dengan tangan tetap berjarak dari tubuhnya pada punggung ke bawah, dengan cara yang masih sama. Kupusatkan perhatianku dan kuteguhkan niatku, karena hanya dengan pendekatan ini penyapuan akan berhasil. Setelah semua limbah terbuang ke bawah kaki, Amrita pun tertidur. Untuk itu kulakukan gerakan untuk membangunkannya kembali, dengan menyapukan kembali tangan ke atas, tetapi yang tidak lagi untuk melakukan pembersihan. Jika tadi limbah belum kubuang ke bawah kaki, limbah itu akan terbawa kembali saat tangan bergerak kembali ke atas, dan bisa berpindah atau menetap di daerah kepala, sehingga membuatnya bertambah sakit.

Penyapuanku itu telah menutup prana yang bocor. Agaknya dalam usaha penyembuhan Amrita, ketika menyalurkan tenaga dalamnya Pendekar Kelelawar tidak melakukan penyapuan dalam tubuh Amrita lebih dahulu. Sentuhanku pada titik terlemah yang menjadi terbuka karena Jurus Penjerat Naga telah membuka lubang yang dilalui prana yang bocor. Tanpa menutup lubang itu, penyembuhan sangat lambat, meskipun Amrita diberi daya dengan prana, karena prana hanya akan bocor keluar. Ini yang membuat kesakitan dan kelemahan akan kembali, hanya beberapa saat sesudah disembuhkan atau tenaganya dikembalikan. 2)

BEGITU lemahnya Putri Amrita sehingga ia tidak dapat berbicara. Betapapun kelak kuketahui betapa Amrita sendiri tidak pernah mengampuni musuh-musuhnya, kurasa aku sama sekali tidak menyesal telah menyembuhkan dia. Sebaliknya, tidak

dapat kubayangkan apa yang akan terjadi jika di Puncak Tiga Rembulan ini nyawanya pergi tanpa sempat kutolong lagi.

Amrita membuka mata, dan segera terasakan adanya suatu getaran dalam dadaku. Ia mengulurkan tangannya dan kusambut tangan itu, yang ternyata ketika tersentuh begitu lembut seperti kapas. Itulah tangan terindah yang pernah kutemui di dunia ini, dengan jari-jari kecil yang bagaikan begitu mudah terkulai, dengan kuku-kuku bening di atas kulit kuning nan langsat, yang kini keemasan karena cahaya matahari. Kuangkat tangan kiriku dalam kedudukan Menggapai Langit dalam penyerapan prana matahari, sebagai chakra yang menyalurkannya ke tubuh Amrita melalui tangan kananku. 3) Ia pun lantas memejamkan mata lagi, tetapi tidak untuk tidur melainkan agar prana mengalir ke dalam dirinya dengan lancar.

Namun kami hanyalah dua manusia saja di Puncak Tiga Rembulan yang sunyi dengan angin yang bertiup dingin dan sangat menggigilkan. Apakah yang harus menjadi alasan bagi kedua manusia itu, yang seorang lelaki dan yang lain perempuan, untuk tidak berbagi kehangatan? Aku memegang tangannya yang lembut halus mulus dengan maksud memberikan penyembuhan, tetapi tidaklah kuingkari betapa aku merasakan getaran manakala tangannya menyambutku dengan tatapan berbinar penuh kebahagiaan. Pikiran bahwa perempuan ini telah dan akan membunuh siapa pun yang kiranya dia anggap lawan menguap dari kepalaku. Aku hanya merasakan getaran, semacam kebahagiaan, yang tidak kutahu namanya dalam perbendaharaan bahasa, karena tentulah ada kata lain selain asmara…

Matahari bersinar terang, tetapi apakah yang masih diharapkan dari sebuah tempat di ketinggian yang begitu tingginya sehingga menembus mega-mega bagaikan tempat dewa-dewa bersemayam? Namun tidak ada dewa-dewa di sini, hanya kami berdua yang sedang berbagi kehangatan dengan tenaga prana, yang jika untuk pertama merupakan penyembuhan, maka yang kedua dengan prana matahari terang cuaca, adalah mengembalikan kekuatan. Demikianlah wajahnya yang semula pucat kini kembali bersemu merah, yang kemudian mengalir ke dadanya, ke perutnya, lantas kedua kakinya.

Ia masih memejamkan mata, dan kulihat wajahnya tersenyum, tetapi ini bukanlah senyuman seperti yang kulihat pertama kali dengan air mata membasahi pipi itu. Ini adalah senyuman karena memikirkan sesuatu yang menggelikan, mungkin membahagiakan, tetapi aku lebih merasakannya sebagai rencana petualangan.

Amrita yang pucat tanpa darah dan tidak berdaya tentu berbeda dari Amrita yang telah memiliki kembali segenap kekuatannya. Lubang kebocoran prana kutahu sudah tertutup, tiada lagi masalah bagi Amrita, meski matanya masih terpejam

dengan tangan tetap memegang tanganku. Sebaliknya, kini kurasakan kehangatan tertentu merasuki seluruh tubuhku. Apa yang harus kulakukan di puncak tertinggi tanah Khmer ini, dengan seorang perempuan terkapar yang telah kusingkapkan selimutnya, tertatap dadanya, dan masih mengenakan busana seperti yang kusaksikan di pelabuhan, yakni terbuat dari cita nan tembus pandang?

Di Puncak Tiga Rembulan ini, aku hanyalah seorang lelaki yang sendirian saja, jauh di tanah terasing dan tiada mengenal seorang pun dalam perjalanan dari keterasingan yang satu ke keterasingan yang lain, tetapi kini seorang perempuan muda yang indah, perkasa, serta matang tubuhnya tergolek dan terbuka di hadapanku. Amrita meremas tanganku, kuremas pula tangannya. Tangannya menarikku dan tidak kulawan sama sekali sehingga aku terjerembab di atas tubuhnya. Kedua tangannya menekan punggungku dan aku tidak bisa bergerak lagi karena kedua kakinya menjepit dan mengunci pinggangku.

‘’Pendekar Tanpa Nama,’’ katanya dalam bahasa Sansekerta, ‘’salurkanlah tenaga prana dari mulutmu melalui mulutku….’’

Maka bibirnya pun segera mengunci bibirku. Aku tidak berdaya, tetapi sungguh aku menyukainya.

108: Jibvayuddha

DALAM Kama Sutra terdapat istilah jibvayuddha yang artinya adalah Pertarungan Lidah, tetapi yang memiliki ketentuan bahwa pasangan lelaki dalam percintaan ini tidak berkumis. Maka ketika percintaan yang kesekian akan dimulai kembali, sebelumnya Amrita ingin mencukur seluruh bulu yang berada di wajahku.

‘’Datanglah kemari Pendekar Tanpa Nama, tidurlah terlentang di pangkuanku, biar kubersihkan wajahmu,’’ katanya.

Di tangannya telah tergenggam sebilah pisau, yang biasanya digunakan sebagai satu dari sederetan pisau terbang pada ikat pinggang. Aku tahu pisau seperti itu ketajamannya luar biasa, bahkan besi pun jika tidak dilambari tenaga dalam akan ditembusnya. Dengan pisau itu, ketika aku terlentang di pangkuannya sementara ia

mencukurku, tentunya ia bisa menggorok leherku sampai putus, tetapi ujian bagi seorang pecinta kukira justru datang pada saat-saat seperti ini: Apakah ia mencintai perempuan itu begitu rupa sehingga rela dibunuhnya, ataukah cintanya sebatas kehangatan bara yang menyala hanya ketika percintaan membakarnya?

Masalahnya, sebagai pendekar, seberapa besarkah nyaliku menghadapi pisau setajam itu di bawah urat leherku?

Kini aku tahu apakah itu pertarungan dalam arti sebenarnya, yakni kemampuan untuk menaklukkan ketakutan dan keraguan dalam diri sendiri. Maka aku pun merebahkan diri kepangkuannya. Udara masih dingin. Amrita membungkus dirinya dengan selimut kulit kambung, dan aku dengan kain sekadar penahan dingin yang kini mesti menahan dingin udara yang sangat tidak sekadarnya.

‘’Masuklah kemari,’’ Amrita berkata sambil membuka selimutnya, dan kulihat segalanya di dalam sana.

Aku bergulir satu kali dan masuk ke sana. Tinggal kepalaku di luar selimut itu, siap dibersihkan seluruh bulunya oleh Amrita yang ingin memberlangsungkan jibvauddha sesuai petunjuk Kama Sutra.

Ia mulai mencukur. Angin kencang dan dingin. Bunyinya sangat berisik, seperti bunyi ribuan orang yang bersiul tetapi tidak bersama-sama. Untuk mencukur wajahku, ia hanya membutuhkan sekali sapuan dan tak perlu mengulang supaya licin bagaikan batu pualam. Namun saat semuanya sudah bersih, ternyata pisau itu tidak beranjak pergi, melainkan tetap berada di leherku.

Aku tertegun, tetapi bersikap diam, seolah tidak sadar bahwa pisau itu sengaja berhenti di sana. Wajah Amrita muncul di atas kepalaku. Rambutnya begitu wangi dan jatuh pula pada wajahku.

‘’Dikau pikir akan daku potongkah kepala yang wajah seramnya telah daku ubah menjadi manis ini?’’

Dilemparkannya pisau itu, lantas ia bergulir ke atas tubuhku. Wajah kami berhadapan.

‘’Dikau sudah tak berkumis, sekarang kita mulai dari depan. Ini tentang ciuman. Ciuman bisa dilakukan pada kening, pipi, leher, mata, dada lelaki, …,’’ ujarnya sambil melakukan semua itu.

Aku diam saja, karena ketika melakukannya ia memang terus berbicara seperti memberikan pelajaran.

‘’Vatsyayana berkata, tidaklah mungkin menghitung bagian tubuh tempat seseorang dapat menempatkan bibirnya.’’

Begitulah lagi-lagi sambil mengatakannya ia pun melakukannya, dan lenyap ke balik selimut bulu kambing yang hangat itu. Kupandang langit yang biru di atasku, bagaikan tiada lagi yang lebih biru dari kebiruan langit yang paling biru.

Mega-mega lewat bagaikan terlalu cepat. Aku teringat cerita Harini tentang Kama Sutra bagian yang ini, bahwa menurut Vatsyayana, ketika ciuman memegang peran untuk menimbulkan rasa tertarik, lebih baik diiringi cakaran dan gigitan. Adalah keliru jika percaya bahwa selama saat-saat awal tidak ada aturan. Selama seseorang mempertahankan kepekaannya, ia akan peduli kepada yang dilakukan pasangannya. Baru kemudian segalanya akan lepas…

Itulah kata Vatsyavana, dan ketika memikirkannya aku lupa sejenak perilaku Amrita di dalam selimutnya.

di bawah kata raga

Vatsyavana mengkaji laku percintaan

di seluruh dunia

ia menyebut raga sebagai tingkat kelima

dari kehendak yang disebut rati

pada tahap awal sekali ketika kehendak meningkat namanya prema seperti panas matahari melelehkan mentega begitulah cinta melelehkan chitta dan membentuk sneha meningkatnya kemesraan mengundang mana pertimbangan menumbuhkan pranaya pada saat kepercayaan diri mutlak berkembanglah raga dan pada tingkat tertinggi tercapailah anuraga 1) Beratlah bagiku mengatasi Amrita. Kurasa kancutku pun sudah tidak jelas lagi

berada di mana.

”Amrita, jangan…,” kataku dalam bahasa Sansekerta, tetapi ia seperti tidak akan mengenal bahasa mana pun di dunia. Sepanjang pagi sepanjang siang sampai sore hari, Amrita menyusuri urutan

petunjuk-petunjuk Kama Sutra yang dikuasai di luar kepala. Aku tidak bisa diam

saja, karena keberpasangan ini menuntutku untuk mencari pada tubuh Amrita apa

yang dalam bahasa Sansekerta disebut sebagai nabhimula, urusandhi, dan pedu.

Harus kuakui betapa kunikmati percintaan dengan Amrita, tetapi harus kuakui dengan jujur pula betapa perasaan bersalahku karena pengkhianatan terhadap

Harini nun di desa Balinawang di Jawadwipa sana terus memburu, sehingga barangkali saja Amrita merasakan keraguanku. Namun ia tampaknya tidak mau menyerah, dengan seluruh kemampuannya ia berusaha membuat aku lupa, entah siapa berada di Jawadwipa sana yang telah mengisi hati dan pikiranku, meski tetap tiada berdaya menyambut kehendak tubuh untuk melayani Amrita, di atas Puncak Tiga Rembulan yang menyediakan hawa dingin, yang diperdingin, begitu dingin, sehingga percintaan bagaikan suatu kewajiban, dibandingkan kematian yang

tampaknya mungkin saja mencengkeram tiba-tiba, mengingat perubahan suhu yang memang bisa sangat amat mendadak datangnya.

Dengan perasaan bersalah kulayani Amrita, dengan pikiran yang terus menerus melayang ke desa Balinawang. Apakah perasaan bersalahku akan berkurang, jika kubayangkan saja Harini? Sepuluh tahun lebih telah berlalu semenjak kami berpisah. Dulu usiaku 15 tahun dan Harini sepuluh tahun lebih tua daripadaku. Dari Harini untuk kali pertama kukenal segenap isi Kama Sutra dan dari perempuan yang saat itu bagiku sungguh sempurna tersebut kukenal apa artinya memiliki tubuh dengan segenap kemungkinan yang bisa diberikannya dalam permainan asmara.

Kusingkap selimut. Hari telah menjadi malam dan tanpa Amrita di atas Puncak Tiga Rembulan yang menembus mega-mega ini tidak bisa kubayangkan nasib tubuhku dalam kedinginan dan kesepian. Kubayangkan Harini, tetapi jiwa dan badan seorang lelaki 25 tahun agaknya tidak terlalu sama dengan remaja ingusan 15 tahun. Jika dari Harini ibarat kuterima pelajaran dan percobaan, dari Amrita dapat kunikmati seninya percintaan.

BERBARING berdampingan, aku dan Amrita memandang rembulan yang terlalu terang, terlalu lebar, terlalu besar, dan bagaikan sungguh-sungguh terlalu dekat karena Puncak Tiga Rembulan ini memang bagaikan menyangga rembulan dan untunglah bagaikan saja, sebab jika tidak tiadalah dapat kubayangkan kekacauan semesta yang telah menyebabkannya. Namun memang rembulan tampak seolah-olah begitu dekat, bagaikan payung jamur di atas langit dunia kami.

”Dikau lihatkah rembulan yang tampak seolah-olah begitu dekat bagaikan payung jamur di atas langit dunia kita, wahai Pendekar Tanpa Nama yang gagah perkasa dari Jawadwipa?”

”Ya daku lihat rembulan yang tampak seolah-olah begitu dekat bagaikan payung jamur di atas langit dunia kita, wahai Putri Amrita Vigneshvara yang tiada duanya yang belumlah kuketahui asal usulnya.”

”Pada saatnya dikau akan mengetahui juga siapa diriku, karena di tanah Khmer semua orang terlalu tahu siapakah daku meski belum pernah bertemu. Katakanlah dahulu kepadaku, adakah tempat di Jawadwipa yang membuat kita dapat memandang rembulan seperti sekarang?”

Kucoba mengingat-ingat segala tempat yang pernah kulewati di Jawadwipa, kurasa memang tidak ada tempat yang keajaibannya seperti Puncak Tiga Rembulan sekarang ini, meski kutahu banyak keajaiban lainnya. Puncak Tiga Rembulan

memang bagaikan tidak berada di dalam dunia. Namun kalau tidak berada di dalam dunia lantas sekarang ini aku berada di mana? Tentu saja aku tidak dapat menjawab pertanyaanku sendiri. Jika memang Puncak Tiga Rembulan ketinggiannya menembus mega-mega, kukira semenjak masih berada di tengah lautan di Teluk Siam, dari atas kapal pun semestinya sudah dapat kulihat ketiga puncak yang dapat membuat suatu gambaran menjadi tiga dalam wujud benda nyata ini. Namun bukankah Puncak Tiga Rembulan ini memang ada, begitu nyata seperti aku kini sedang tidur terlentang di atas salah satu puncaknya, memandang rembulan yang begitu luas, sangat luas, dan amat sangat luasnya sehingga tiada dapat kulihat tepi-tepinya karena agaknya memang sudah begitu dekatnya, sangat amat dekat, dan tentu saja terlalu dekat, meski aku merasa terlalu tenang dan memang tenang

tenang saja bagaikan tidak ada sesuatu yang memang perlu membuat aku merasa tidak tenang.

”Tidak ada rembulan seperti ini di Jawadwipa, wahai Amrita, meski rembulan yang berada di sana adalah rembulan yang ini juga.”

”Tetapi jika memang rembulan yang ini juga, dan sekarang begitu dekat dengan kita, bagaimanakah mereka saat ini dapat melihatnya?”

Dalam cahaya bulan yang terang keperakan, kucari tanda adakah Putri Amrita, murid kesayangan Naga Bawah Tanah yang tidak pernah memperlihatkan dirinya, memang bersungguh-sungguh dengan kalimatnya.

Ketika tertatap olehku kedua matanya, kulihat cahaya cemerlang mengertap dan berkeredap penuh kebahagiaan. Kutahu ia tidak memerlukan jawaban, karena lantas memeluk dan menciumku kedua pipiku seperti seorang ibu menumpahkan perasaan kepada anaknya.

Putri itu lantas menggamit tanganku dan memperhatikannya.

”Tangan dikau begitu halus,” katanya, ”seperti bukan tangan pendekar.”

”Seperti apakah kiranya tangan pendekar itu menurut pendapat dikau, wahai murid Naga Bawah Tanah yang sakti mandraguna? Bukankah tanganmu sendiri selembut kapas, bagaikan tangan bayi yang belum pernah menyentuh apa pun selama hidupnya?”

Kami saling berpandangan, dan tersenyum penuh pengertian, karena memang hanya mereka yang belajar silat dengan tenaga kasar akan menjadi kasar telapak tangannya. Mereka melatih diri dengan memukul batu, memasukkan tangan ke pasir panas, atau memukul-mukul karung goni berisi entah apalah yang membuat tangan kapalan begitu rupa sehingga kulit seolah-olah bisa dikupas tanpa terasa.

Aku jadi teringat masa latihanku sendiri. Meski tidak memukul batu dan menohok pasir panas, juga tidak bisa dibilang ringan. Aku teringat ketika pasangan pendekar

yang mengasuhku itu melatihku dengan cara seperti ini, yakni harus berdiri di atas gelondongan batang pohon yang licin di tengah sungai, dan aku harus terus menerus tetap bisa berdiri meskipun batang pohon itu bukan saja licin sekali tetapi juga terus menerus berputar. Bisakah dibayangkan bahwa dalam keadaan seperti ini mereka berdua masih menghamburiku dengan pisau-pisau terbang pula?

AKU teringat betapa bisa lama sekali diriku mesti bertahan agar tetap dapat berada di atas batang kayu. Meski tidak lagi melempar pisau terbang, pasangan pendekar itu menetapkan aku tetap harus berada di atas batang kayu yang berputar-putar itu. Mereka bahkan akan pergi meninggalkan diriku dan tidak mau tahu, dalam keadaan apa pun aku harus tetap mampu berdiri di atas batang kayu di tepi sungai tersebut. Tentu saja pada mulanya, apalagi untuk kali pertama , jangankan untuk berdiri di atasnya dan meloncat-loncat menghindari siraman pisau-pisau terbang pula, sedangkan untuk mampu naik ke atasnya saja luar biasa susahnya. Sekali aku dapat menaiki pohon itu, aku sama sekali tidak bisa berdiri, melainkan hanya berbaring saja memeluknya, karena setiap kali mencoba berdiri langsung jatuh ke sungai dan harus merayap kembali.

Batang pohon itu sendiri memang sudah lama berada di sana, bahkan pasangan pendekar yang mengasuhku itu sendiri tidak juga tahu semenjak kapan batang pohon tersebut berada di situ. Mereka mengatakan kepadaku bahwa sejak mereka masih muda pun mereka berdua telah menggunakannya untuk berlatih, karena memang sudah ada di sana ketika mereka datang untuk pertama kalinya ke Celah Kledung. Batang itu memang besar, panjang, dan menghitam licin karena lumut yang menahun, terletak di bagian tepi sungai yang tidak mengalir, pada semacam ceruk tempat orang biasa memasang bubu, tetapi yang semenjak lama tak lagi digunakan untuk itu setelah seseorang yang tidak dikenal mati terbunuh di tempat.

Mayatnya itulah yang melintang di atas batang yang kelak pada hari kemudian menjadi tempatku berlatih itu. Di atas ceruk itu terdapat pohon besar yang tinggi dan rindang, sehingga memang nyamanlah jika aku berlatih di situ, apalagi setelah kukuasai ilmu meringkankan tubuh dengan sedikit sempurna, sehingga batang

pohon itu tiada lagi menjadi siksaan bagiku. Dengan ringan aku mampu melenting-lenting di atas batang pohon itu tanpa jatuh sama sekali, sembari melemparkan kembali pisau-pisau terbang yang berhasil kutangkap kepada ayah ibuku. Kemudian,

apabila karena jarang digunakan untuk latihan ada saja yang menggunakannya untuk berkasih-kasihan. Ingatan ini mengembalikan aku kepada keadaan diriku sekarangÖ

”Pendekar Tanpa Nama, dikau sedang melamunkan apa?”

Inilah aku, seorang perantau lata dari Jawadwipa, tidur berbaring di dalam selimut di samping seorang perempuan yang begitu indah cantik rupawan tiada terkira. Nun jauh di atas Puncak Tiga Rembulan, tempat aku belum tahu cara terbaik untuk turun kembali.

”Bagaimana caranya turun, wahai Puteri, itulah yang sedang berada di dalam pikiranku kini,” jawabku. Kukira akan terlalu panjang untuk mengisahkan kembali apa yang tadi melintasi pikiranku. Masa lalu yang sebetulnyalah juga belum selesai untukku. Lagipula, bukankah masa depan yang semestinyalah menjadi jauh lebih penting bagiku? Meski dalam hal itu pun diriku hanyalah pengembara dalam waktu, yang tidak memiliki masa lain selain masa kini yang betapapun memang menuju ke depan.

”Dikau berpikir tentang turun ke bumi, wahai Pendekar Tanpa Nama, mengapa tidak tinggal di langit saja, bersama mega-mega dan Amrita?”

Tidak kumungkiri daya pikat Amrita yang luar biasa dan betapa diriku ingin memilikinya, tetapi meskipun bayangan Harini makin lama makin jauh, keberadaanku di tanah asing ini sendiri menyadarkan kepada tujuan hidupku. Memang benar betapa kesempurnaan pencapaian manusia melalui ilmu persilatan menjadi tujuan dalam pembelajaran di jalan pedang, tetapi sebagai pengembara di bumi manusia, berjalan tanpa tujuan itulah bagiku yang menjadi satu-satunya tujuanku.

”Kita tidak mungkin berada di sini selama-lamanya bukan, wahai Puteri Tanah Khmer yang indah lagi rupawan, bekal daging keringmu sudah habis, dan besok kita belum tahu akan makan apa. Tidak ada tetumbuhan maupun hewan yang bisa mengisi perut kita sama sekali di Puncak Tiga Rembulan ini.”

Amrita bercerita bahwa selama ini Pangeran Kelelawar itulah memang yang telah merawatnya, tetapi tanpa menyadari sama sekali perkara kebocoran prana akibat sentuhanku, setelah titik lemahnya dibuka oleh Jurus Penjerat Naga. Karena tidak kunjung sembuh, Amrita tidak bisa ke mana-mana. Semula Pangeran Kelelawar membawanya ke sana dengan maksud hanya untuk sementara, tempatnya berlatih sampai tumbuh selaput kulit di antara pergelangan tangan sampai pinggangnya, sambil menghindari musuh-musuh Amrita yang tersebar di mana-mana. Namun

karena Amrita tetap saja tiada berdaya, akhirnya Pangeran Kelelawar setiap kali terbang untuk berburu ketika bekal makanan menipis.

Kulihat sekeliling, tiada tulang belulang sama sekali, bersih seperti lantai istana di atas langit. Amrita seperti bisa membaca pikiranku.

ëíPaman guruku mempunyai ilmu untuk menghancurkan tulang di daging, jadi ketika dipanggang dagingnya bisa dimakan berikut tulang di dalamnya. Terlalu rumit bagiku waktu itu, dan diriku masih terlalu lemah jika harus memegang sepotong daging dengan kedua tangan. Sebelum turun bertarung denganmu ia tinggalkan daging-daging kering ini. Agaknya ia pun tidak yakin dirimu akan dapat dikalahkannya.”

”Kenapa?”

”Ia berlatih dan merenung berhari-hari sebelum hari pertarungan itu, dan ia sering menghela napas panjang,” katanya, ”Daku kira tidak akan bisa daku kalahkan pendekar dari Jawadwipa itu, sampai sekarang belum kutemukan kunci untuk membongkar ilmu silatnya, bentuknya sama sekali tidak dapat daku lacak.”

Akulah yang kini menghela napas panjang. Pengorbanan seseorang demi kematian dalam puncak kesempurnaan selalu mengharukan diriku, apalagi jika dirikulah yang

menjadi jalan kematiannya itu, yang menjadi sebab kenapa seorang pendekar sangat menghormati siapa pun lawannya dalam pertarungan seperti itu.

HMM. Jadi seseorang telah menjadikan Puncak Tiga Rembulan ini sebagai tempat berlatih silat. Kukira memang tempat yang sangat cocok untuk mengembangkan Ilmu Silat Kelelawar yang betapapun memang luar biasa itu, dan aku tahu tentu bukan sekadar karena telah mengalami diserang dan bertarung dengan Pangeran Kelelawar, melainkan karena telah menyerapnya dengan Jurus Bayangan Cermin. Begitu banyak ilmu silat yang telah kuserap, tetapi aku tidak selalu memikirkan kembali seperti Ilmu Silat Kelelawar ini, karena kukira inilah cara termudah turun kembali ke bumi.

109: Perjuangan Orang Kalah

PANGERAN Kelelawar itu, kenapa dia disebut Pangeran? Bagiku ini agak membingungkan, karena semula, ketika datang berkelebat menolong Amrita di pelabuhan, ia tampak sebagai seorang biksu. Bukanlah rahasia lagi bahwa ilmu silat merupakan bagian penting dari pembelajaran para biksu maupun biksuni, karena biara Buddha tidaklah sepi dari ancaman marabahaya. Sebaliknya, bersama dengan tersebarnya igama Buddha ke berbagai wilayah di sebelah timur dan selatan

Jambhudvipa, tersebar pula berbagai bentuk ilmu silatnya, yang terutama dipelajari orang-orang persilatan golongan putih, dengan tujuan menghadapi dan membasmi golongan hitam yang terkenal ganas ilmu silatnya.

Namun Ilmu Silat Kelelawar seperti yang diperagakan Pangeran Kelelawar tidaklah seperti ilmu silat para biksu yang kukenal. Seperti telah kuhadapi, Ilmu Silat Kelelawar ini bisa membuat penggunanya terbang, yang tentu saja tidak didapatkannya dengan mudah. Selain bahwa ilmu silat ini hanya dapat diperagakan secara sempurna jika pelakunya menggunakan selaput kulit yang tumbuh antara pergelangan tangan sampai pinggang, selaput kulit tersebut hanya mungkin tumbuh melalui tapabrata luar biasa yang mengikuti perilaku kelelawar, yakni menggantung di mana pun, di atas pohon, di dalam gua, atau pada tonjolan batu di tepi tebing,

dengan kaki di atas dan kepala di bawah, pun masih dilengkapi mantra yang dibuat untuk itu.

Jadi jelas Pangeran Kelelawar bukan biksu, bahkan menurut Amrita, igama yang dianut pun bukan Buddha.

’’Ia seorang Hindu,’’ kisah Amrita.

Berikut inilah kisah Amrita selanjutnya.

Mengikuti penyebutan yang diberikan oleh orang-orang Negeri Atap Langit, terdapatlah sebuah wilayah di dataran tengah Mekong pada poros Sungai Se Mun, dari Roi Et sampai wilayah Bassac, yang disebut Tchen-la. Negeri itu, ketika aku tiba di tanah Khmer, setidaknya telah berdiri sekitar 200 tahun. Prasasti-prasasti pertama dalam Khmer muncul di wilayah itu dalam pergantian abad sekitar 100 tahun lalu, dan belakangan, seperti juga asal-usul Fu Nan, tersebarlah suatu dongeng yang menempatkan Tchen-la sebagai tempat lahirnya orang-orang berdarah Kambuja, termasuk Khmer, yang kemudian sering membingungkan diriku sebagai orang asing, karena orang Khmer terkadang menyebut negeri mereka ini Kambuja juga.

Tiga ratus tahun yang lalu mungkin wilayah Tchen-la terbatas pada daerah yang dialiri Sungai Se Mun, sementara wilayah Bassac dikuasai orang Cham. Memang Mi-son terletak tidak jauh dari situ, di arah timur, seberang daerah pegunungan yang dapat ditembus. Pada masa itu seorang raja Champa mendirikan sebuah lingga dalam sebuah candi, yang dipersembahkan kepada Siva, di sebuah gunung dekat Bassac, tempat belakangan akan didirikan Vat Phu, yang merupakan pusat pemerintahan Tchen-la. 1)

’’Dan Pangeran Kelelawar adalah keturunan raja Champa itu?’’

’’Bukan hanya keturunan, melainkan pewaris, tetapi dengarlah dahulu lanjutannya.’’

Sekitar limapuluh tahun sebelum Tchen-la itu sendiri berdiri, jadi 250 tahun sebelum aku tiba, seorang raja bernama Bhavavarman, keturunan wangsa yang memerintah di Fu-nan, yang mungkin sekali cucu Rudravarman, menikah dengan seorang puteri

Tchen-la dan mempersatukan negeri itu. Ia berusaha menaklukkan Fu-nan, mungkin untuk mendukung hak-hak keluarganya. Ketika ia meninggal setelah tahun 598, kedua negeri sudah tergabung dengan baik sekali. Adiknya, Chitrasena, yang kemudian menggantikannya dengan gelar Mahendravarman, menyelesaikan penaklukan Fu-nan dan memperbanyak bangunan Siva di wilayahnya.

NAMUN adalah putranya, Isanavarman, berjaya antara 611 sampai 635 dengan pemerintahan gemilang, sampai sanggup membangun ibu kota baru, yakni Isanapura. 2)

”Ceritakanlah kepadaku yang ada hubungannya dengan Pangeran Kelelawar sahaja, wahai Amrita yang jelita,” kataku.

”Apakah yang tidak akan daku berikan kepada dikau, wahai Pendekar Tanpa Nama yang telah membuat Amrita untuk kali pertama jatuh cinta?”

Maka ia pun bercerita tentang raja pertama Champa, Bhadravarman, yang memerintah sekitar 400, dan membangun tempat pemujaan yang dipersembahkan kepada Siva di daerah pegunungan Mi-son itu, yang akan menjadi pusat pemujaan raja-raja abad selanjutnya. Ia disebutkan membangun sebuah ibu kota 3), dan di sekitar tempat itulah akan ditemukan prasasti-prasasti dalam bahasa Sansekerta maupun bahasa Cham. Namun yang sekarang ini pun sudah tidak dapat ditemukan lagi, karena semuanya musnah terbakar.

”Siapa yang membakar?”

”Belum jelas apakah sengaja dibakar atau karena terbakar begitu saja, Pangeran Kelelawar pun tidak tahu pasti, kecuali bahwa seluruh keluarganya terlunta-lunta.” 4)

Haruslah kujelaskan pula tentunya, bagaimana perubahan kekuasaan telah berlangsung perlahan-lahan di seluruh wilayah yang meliputi tanah Khmer dan Champa, tempat sejarah kerajaan-kerajaan Fu-nan, Tchen-la, dan Angkor, silih berganti meliputinya, yang ternyata juga dipengaruhi keadaan alam maupun gelombang kebudayaan yang datang dari arah Jambhudvipa.

Perubahan berlangsung di daerah selatan, ketika kekuasaan berpindah ke kerajaan Tchen-la, saat itu di Fu-nan telah terdapat penduduk yang hanya terdiri dari kelompok orang-orang Malayu 5) di pinggir laut dan mencari nafkah hanya di laut. Terbuka, sebagai warga kota yang didatangi segala bangsa, penduduk tersebut

menyambut segala pengaruh dan membagi-bagikannya lagi sedemikian rupa, sehingga wilayahnya menjadi pusat kebudayaan di kawasan selatan dari Negeri Atap Langit. Namun dengan Tchen-la sendiri, kita temukan bangsa yang murni Khmer, tertutup di dataran tinggi Mekong dan sama sekali tidak mengenal laut.

Sebagai petani, tetapi juga prajurit, orang-orang Tchen-la akan sigap menukar kemiskinan mereka dengan penaklukan dan perampokan. Sedangkan kebudayaan mereka, yang berasal dari Jambhudvipa, dan terlebih-lebih dari kebudayaan Fu-nan yang telah memiliki kepribadian sendiri, memang kemudian jadi cemerlang. Namun kebudayaan tersebut hanya sebatas negeri itu saja, yang memang terus menerus diperluas, tanpa menyebarkan pengaruh sendiri seperti Jambhudvipa dan dalam tingkatan yang dinilai lebih rendah dari kebudayaan Fu-nan. 6)

”Nanti dulu, apa ukurannya kebudayaan Tchen-la dianggap lebih rendah daripada kebudayaan Fu-nan?”

Kudengar perbincangan seperti ini di sebuah perahu ketika memasuki pedalaman Khmer.

”Itu ukuran orang-orang Angkor sekarang, yang menganggap orang Fu-nan istimewa.”

”Bagaimana kalau orang Tchen-la yang menolak untuk menirukan yang istimewa? Itu tidak sama dengan mengatakannya lebih rendah.”

”Terserahlah apa pendapatmu, tetapi itulah yang dikatakan banyak orang.”

”Dan tentu saja itu bukan pendapat orang Tchen-la. Tidak ada tinggi rendah dalam kebudayaan, yang ada hanyalah diberlangsungkan dan dibermaknai oleh banyak atau sedikit orang!”

SEJALAN dengan perbedaan tajam tersebut, terlihat perbedaan besar dalam cara pengolahan tanah, yang mungkin menjelaskan segala perbedaan yang lain. Orang Fu-nan terpaksa mengeringkan air delta dan lebih disibukkan dengan urusan kelebihan daripada kekurangan air. Lagipula kelihatannya mereka hanya bertanam padi terapung. Perdagangannya pasti merupakan sumber penghasilan yang sama pentingnya dengan pertanian.

Adapun orang Khmer menggarap dataran tinggi, yang tidak menahan air berkat kemiringannya sendiri. Sebaliknya harus menampung air sepanjang musim kering, menyiram sawah-sawahnya tempat ia bertanam padi gunung. Perbedaanperbedaan tajam tersebut tentu membekas pada rakyat yang sangat ketat dipengaruhi cara hidup masing-masing.

Tidak mengherankan jika kemudian orang-orang Khmer turun ke dataran rendah karena kagum melihat kekayaan Fu-nan, dan berlangsunglah perkara pertama dalam riwayat kebudayaan wilayah itu suatu gelombang perpindahan ke wilayah selatan, yang agaknya akan menjelaskan banyak hal di kemudian hari. Namun Tchen-la tidak menduduki wilayah Fu-nan, karena perubahan arus Sungai Mekong menimbulkan banjir yang membawa bencana besar, sehingga wilayah Fu-nan

tengah yang lama, hampir tidak bisa dihuni. Kenyataan, kelompok-kelompok orang Khmer terpencil dan miskin, tetap bertahan di wilayah itu, terutama pada tanggul-tanggul tanah endapan dan tanah-tanah yang tinggi. Betapapun, Fu-nan menjadi tidak penting lagi bagi nasib Kambuja. Kemaharajaan Khmer, pewaris Tchen-la, terus berkembang ke utara, dan meski ibukotanya yang bernama Sambor terhubungkan dengan lautan melalui Sungai Mekong, tetapi lautan menjadi semakin tidak penting bagi kehidupan budaya tanah Khmer, untuk tidak mengatakan telah meninggalkannya sama sekali.

Terihat bahwa siapa pun yang berkuasa di Khmer akan berlindung di dataran tinggi tempat asalnya di ujung utara Kambuja dan dataran tinggi Korat sampai Roi Et, seperti kembali kepada asal-usulnya. Jadi orang-orang Khmer sama sekali tidak meniru cara menggarap tanah delta seperti yang diciptakan orang Fu-nan. Kota-kota Tchen-la merupakan lahan luas yang dikelilingi dinding tanah dan terutama oleh parit yang sangat lebar. Letak parit tersebut selalu diatur lebih rendah dari sebuah sungai yang terus menerus mengalir dan langsung dihubungkan dengannya. Maka parit itu terisi air dengan sendirinya selama musim hujan dan air pasang, dan menjadi tempat persediaan air pada musim kering, dan menghidupi penduduk dengan sawahnya.

Cara penampungan air yang cerdik ini cocok dengan iklim dan keadaan tanahnya, diciptakan di Tchen-la dan kemudian dibawa orang Khmer ke dataran rendah Kamboja. Itulah yang menjadi dasar kekuasaan Angkor hari ini. Cara-cara ini disaksikan orang Fu-nan langsung dari tempat pemukiman bundar pada masa pra-sejarah ribuan tahun silam yang masih terlihat di dekat tempat tinggal mereka, dan tampaknya mereka memang tidak pernah membuat pengairan tanah kering yang lebih maju dari itu. Sedangkan orang Khmer tidak akan menggarap delta Sungai Mekong, yang sebetulnya cocok sekali, tetapi menggunakan tanggul-tanggul yang muncul di antara dua air pasang untuk panen tambahan.

Dari kebiasaan ini terlihat perbedaan mendasar tentang pengaturan dan falsafah ruang, tetapi ada persamaan dari kedua kebiasaan ini, yakni bahwa pemusatan kekuasaan dianggap perlu oleh rakyatnya, demi penciptaan dan pengawasan

aturan-aturan dalam berbagai cara pengairan tersebut. Dalam hal ini, Tchen-la langsung menggantikan Fu-nan dan berhasil mencapai penguasaan pengaruh melalui jalan yang sama. Kedua kerajaan yang sama-sama mendapat pengaruh Jambhudvipa, yang dihidupkan terus oleh Tchen-la tanpa terlalu banyak perubahan, karena sebagian besar pengaruhnya sampai di situ melalui Fu-nan, sesuai kecenderungan jalannya nasib manusia, bahwa yang dikalahkan mengadabkan sang pemenang dan bertahan hidup melalui sang pemenang itu. 7)

Aku segera mengerti bahwa jika Pangeran Kelelawar adalah seorang keturunan bangsawan Champa pemuja Siva dari Pegunungan Mi-son, maka dalam diri Amrita agaknya masih mengalir darah bangsawan Tchen-la, yang mempertahankan kebudayaan Fu-nan, tetapi kini terjajah oleh Angkor. Kelak akan kuketahui mengapa keduanya dapat berkumpul di sekitar Naga Bawah Tanah yang tidak pernah menampakkan diri. Amrita, tinggal di istana karena ibunya yang keturunan Tchen-la menjadi salah satu isteri raja Angkor yang sekarang berkuasa, Jayavarman II. Menyadari bahwa ibunya dikawini secara paksa, Amrita menggalang segala usaha untuk menjatuhkan pemerintahan ayahandanya sendiri.

UNTUK itu sejumlah pembunuhan gelap di istana telah dilakukannya. Di istana Indrapura, yang baru saja dibangun di sebelah timur Kompong Cham, dalam beberapa bulan terakhir sering berlangsung kematian mencurigakan atas warga istana. Mulai dari yang diracuni lewat makanan atau minuman, dicekik dan dibekap di bawah bantal ketika sedang tidur, ataupun diserang senjata rahasia dari jarak jauh. Baik lelaki maupun perempuan, yang ditewaskan adalah orang-orang penting yang memegang kendali laju penyatuan Angkor sebagai cita-cita Jayavarman II.

Mendengar cerita itu keningku berkerut. Ia mengaku telah menggunakan jaringan rahasia dari Jawadwipa untuk menjamin kerahasiannya. Entah kenapa aku tidak merasa terkejut. Bukankah pada hari pertama kakiku menginjak pelabuhan bekas kerajaan Fu-nan, telah kudengar orang menyebut kresna-naga yang berarti Naga Hitam? Aku sungguh terkesiap dengan luasnya jaringan rahasia yang menjual jasa

pembunuhan ini, meski mengingat pengaruh kedatuan Srivijaya dan wangsa Syailendra di tanah Khmer ini, seharusnya aku tidak usah terlalu heran.

Tanpa Amrita harus menyebutnya, sudah semestinya aku menduga bahwa Naga Hitam juga menggunakan tenaga orang-orang setempat.

***

’’JADI apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah kita akan tetap di sini dan bertahan tanpa makanan, ataukah turun melanjutkan pengembaraan?’’

Mendengar ucapanku itu Amrita yang sejak tadi berkicau riang mendadak jadi muram dan matanya berlinang menatapku tajam.

Ah, siapakah yang akan tahan menghadapi tatapan seperti itu?

’’Akan ke manakah kiranya Pendekar Tanpa Nama meneruskan perjalanan, meninggalkan Amrita sendirian dalam kesepian?’’

Tentu aku sampai ke Puncak Tiga Rembulan ini pun karena Amrita. Namun apakah masih bisa disebut cinta jika dalam kenyataannya sekarang ini aku selalu ingin pergi saja? Rasanya memang bagaikan bisa kuserahkan jiwa ragaku bagi Amrita, tetapi apalah kemudian yang harus kukerjakan di tanah yang juga disebut Kambuja ini? Sebagai pengembara di rimba hijau dan sungai telaga persilatan, setelah mengatasi Ilmu Silat Kelelawar seharusnya kukeluarkan tantangan kepada Naga Bawah Tanah dan siap memberikan yang terbaik untuk kematian pada puncak kesempurnaan. Namun bukanlah karena aku takut dikalahkan semenjak memainkan dengan semakin baik Jurus Bayangan Cermin maupun Jurus Penjerat, bahkan telah kupikirkan suatu jurus yang tiada akan pernah terlawan karena meski bukan sihir yang diserangnya adalah pikiran, tetapi karena jika aku menang, hanyalah tangis Amrita akan kudengar berkepanjangan.

Keberadaan Amrita tampaknya menunjukkan keberadaan diriku yang selalu mendua, apakah aku akan hidup untuk cinta, ataukah mengalahkan semuanya demi cita-cita?

’’Pendekar Tanpa Nama, janganlah pergi demi Amrita, atau ajaklah Amrita mengembara kemana pun dikau berkelana, meskipun keliling dunia!’’

Perempuan yang sedang jatuh cinta. Hmm. Benarkah mereka bersedia mengorbankan apa saja? Jangankan perempuan, lelaki pun akan melakukan hal yang sama! Apakah ini berarti cinta membuat manusia buta? Nantilah kuperiksa ujaran-ujaran para bijak seperti Nagasena, Nagarjuna, maupun Sang Buddha sendiri tentang cinta, karena aku tidak percaya betapa cinta harus membuat manusia bodoh adanya.

Sekarang aku memikirkan berbagai cara untuk kembali turun ke dunia. Betapapun keindahan Puncak Tiga Rembulan begitu ajaib sehingga tidak selalu bisa dijelaskan, kurasa bukanlah keindahan demi keindahan itu sendiri yang kucari dalam pengembaraanku ini. Telah kukalahkan Pangeran Kelelawar dalam pertarungan untuk mencapai kesempurnaan dalam persilatan, dan Amrita yang sebelumnya terandaikan juga akan jadi lawanku ternyata bersikap sebagai yang tidak bisa

ditinggalkan. Aku mesti turun dan pergi untuk berganti pandangan, darahku bagaikan menggelegak dan berdenyut memintaku untuk segera meneruskan perjalanan…

110: Terjun dari Langit

AKHIRNYA kugunakan selimut bulu kambing yang kulitnya tersamak sampai lemas itu sebagai sayap kelelawar yang tidak kumiliki. Betapapun ilmu meringankan tubuh Puteri Amrita Vighnesvara itu sudah sangat tinggi, masih perlu pendalaman baginya untuk bisa membuat tubuh begitu ringan, agar dapat berbobot kapas ketika turun melayang perlahan-lahan seperti berpegangan kepada sebuah payung raksasa.

Kitab 6: Asmara Para Pendekar

ITU artinya aku harus memondong tubuhnya dan dengan begitu tubuhku tidak bisa menjadi seringan kapas lagi. Kupilih cara turun seperti terbangnya kelelawar, yakni turun dengan kecepatan seperti orang terjatuh tetapi sangat terkendali, karena selaput sayapnya menjadi kemudi. Inilah cara yang telah kugunakan tanpa sayap

ketika harus menghadapi kedua burung elang penjaga puncak itu, yang tentu saja memanfaatkan penyerapan Jurus Bayangan Cermin atas Ilmu Silat Kelelawar. Kini, dengan menggunakan sayap kulit kambing, aku bahkan dapat memperlambat laju jatuh kapan saja aku menghendakinya dan terbang naik turun berputar-putar seperti kelelawar.

Begitulah dengan Puteri Amrita menempel pada punggungku aku menja-tuhkan diri dengan kepala lebih dulu dari Puncak Tiga Rembulan. Tanganku terpentang, membuka dan menutup seperti cara kelelawar, meluncur ke bawah dengan cepat dan penuh kendali. Begitu tingginya Puncak Tiga Rembulan ini sehingga meluncur turun dengan cepat ini pun rasanya lama sekali. Itulah sebabnya ilmu cicak tidak dapat menjadi pilihan untuk menuruninya, karena meskipun bisa dipercepat dengan tiap sebentar melompat seperti katak sebelum menempel kembali, itu pun akan memakan waktu berbulan-bulan.

Tepat ketika fajar menyingsing dan tiang-tiang Tiga Puncak Rembulan berkilau keemasan, aku melayang dengan Amrita di punggungku memasuki pemandangan terbentang dari lapisan ke lapisan di udara tinggi, menembus mega-mega dan warna-warni pelangi di langit yang berubah-ubah dari ungu ke biru memasuki kuning lantas merasuk kelabu, dengan sangat cepat, tetapi yang terasa sangat lambat, begitu lambat, sehingga dapat kami amati dengan cermat segala sesuatu di atas bumi dari ketinggian ini. Pegunungan Mi-son yang bagaikan gundukan ungu tua,

aliran Sungai Mekong dengan anak-anak sungainya berkelak-kelok di atas permadani hijau tua hutan rimba belantara pedalaman Kambuja.

Pemandangan itu akan hilang mendadak apabila aku memutar tubuhku jungkir balik yang membuat Amrita di punggungku tentu terpaksa mengikutinya sebelum kembali kuluruskan tubuhku. Begitulah caranya aku mengatur kecepatan dan kelambatan dalam perjalanan turun ke bumi. Melayang, meluncur, melayang, sebagaimana kelelawar yang bukan burung pun akhirnya dapat terbang. Tiada akan pernah kukira tentunya, betapa Ilmu Silat Kelelawar yang kuserap berkat Jurus Bayangan Cermin, hanya karena jurus ini memang harus menyerapnya terlebih dahulu sebelum

mengembalikan jurus ini kembali kepada penyerangnya, akan segera menjadi sangat berguna.

Kami masih meluncur, melayang, dan meluncur sembari menembusi berlapis-lapis pemandangan langit sebelum akhirnya mencapai setengah dari tinggi tiang Puncak Tiga Rembulan. Ketinggian luar biasa yang membuat segalanya sangat lambat, terlalu lambat, yang membuat kami dapat menatap dengan cermat bagaimana tubuh Pangeran Kelelawar masih tertancap pada dinding tebing karena tertancap dua pedang hitamku yang melesak sampai ke pangkalnya. Bahkan sempat kukitari lingkar dinding tempat kami mengadu jiwa itu, sehingga tampak jelas tubuhnya yang kaku membeku bagai menyatu dengan batu. Kepalanya tertunduk seperti ketika aku meninggalkannya di sana bersama kedua pedang hitam warisan Raja Pembantai dari Selatan, yang sangat dikenal orang-orang Khmer karena didatangkan wangsa Syailendra untuk membantai siapapun yang menghalangi jalan mereka.

Dingin udara membekukan segala-galanya. Serpihan embun yang menjadi beku menyelimuti seluruh tubuh Pangeran Kelelawar yang selaput kulit kedua sayapnya telah kujadikan alas dan penutup kaki bagaikan sepatu. Kukelilingi tiang itu perlahan-lahan sehingga Amrita bisa selama mungkin memandang paman gurunya itu untuk terakhir kali, sebelum meninggalkannya untuk selama-lamanya. Baru kusadari kemudian betapa keduanya memang sempat lama bersama, sejak Pangeran Kelelawar membawanya pergi dari pelabuhan itu sampai tiba saatnya menyerangku, tepat saat aku tiba di kaki Puncak Tiga Rembulan pada malam bulan purnama. Setidaknya duapuluh hari dan barangkali hanya duapuluh hari menjelang bulan purnama, paman dan keponakan perguruan itu sempat bersama dalam usaha Pangeran Kelelawar menyembuhkan Amrita, karena Pangeran Kelelawar itu memang selalu mengembara.

Dalam kenyataannya Pangeran Kelelawar tidak berhasil memecahkan kunci Jurus Penjerat Naga yang telah membocorkan prana, sehingga Amrita takdapat disembuhkannya, dan pada gilirannya takdapat pula memecahkan kunci Jurus

Bayangan Cermin yang telah menyerap Ilmu Silat Kelelawar miliknya, sebelum akhirnya terperangkap pula oleh Jurus Penjerat Naga.

JIKA aku sampai menggunakan Jurus Penjerat Naga itu berarti lawan yang kuhadapi memang tangguh seperti para naga, karena hanya diciptakan terutama untuk menghadapi lawan dengan kesaktian pada tingkat naga. Hanya pasangan pendekar yang mengasuhku saja memilih untuk menciptakan Ilmu Pedang Naga Kembar daripada mempelajarinya, karena memang mencintai permainan ilmu pedang berpasangan.

Sembari mengelilingi tiang sebesar bukit yang berada di tengah itu, aku diliputi perasaan haru menghayati kehidupan Pangeran Kelelawar yang terlempar dari kehidupan istana, mengembara dalam pencarian kesempurnaan dalam dunia persilatan, dan suatu hari tewas di tangan seorang perantau asing dari Jawadwipa. Tidakkah terasa pedih, dikalahkan seorang pendatang, dari bangsa yang telah menjarahrayah dan membakar candi pemujaan sembari menyebarkan pembunuhan, meski memperkaya kebudayaan pula? Namun siapakah yang tidak akan kalah dan mati di ujung pedang dalam dunia persilatan, dalam perjalanan mencari kesempurnaan seperti dikehendakinya? Siapapun dia, betapapun saktinya, selama masih menghendaki pencapaian kesempurnaan haruslah siap untuk mati di tangan siapapun yang lebih unggul daripada dirinya. Jadi selalu siap membunuh dan juga selalu siap dan rela terbunuh —memang di sanalah seorang pendekar mempertaruhkan kehormatannya.

Kemudian kuketahui betapa Amrita pun menangis. Air matanya meleleh pada pipinya yang membeku. Aku sangat mengerti bagaimana ikatan dalam perguruan silat bisa lebih erat daripada ikatan kekeluargaan. Apalagi keduanya berada di tempat yang sama dalam keadaan yang rawan, bahwa Amrita terancam kematian dan Pangeran Kelelawar bersiap menghadapi kematian. Kemudian bukan hanya airmata, tetapi juga suara sesenggukannya terdengar olehku di antara deru dingin, yang semakin lama semakin mengencang angin, meski bukanlah maksud Amrita yang menempel di punggungku itu untuk memperdengarkan kedukaannya yang sangat dalam dan memedihkan.

Kuusahakan melayang lebih dekat dan semakin dekat, karena apalagi dengan Amrita di punggungku tiada mungkin kami melayang naik. Dalam jarak yang dekat tetapi tentu takbisa berhenti, wajah Pangeran Kelelawar yang betapapun memang beku menyatu batu bagaikan masih hidup, dengan tangan terkulai lemas, tetapi takbergoyang dalam tiupan, sementara dua pedang menancap seperti bagian tubuh itu sendiri. Meskipun tubuh itu jelas tiada bernyawa, tetapi kedudukan tubuh yang bagaikan menyatu pada batu seperti itu, wajah yang tertunduk dengan mata terpejam bagaikan tepekur begitu, seperti menyimpan banyak sekali cerita.

Akhirnya harus ditinggalkan juga tubuh Pangeran Kelelawar yang semakin lama semakin mengecil itu, meninggalkannya dengan segala cerita yang ada padanya, semakin jauh dan semakin jauh. Aku terus meluncur ke bawah, bahkan mempercepatnya, dengan mengapitkan kedua tangan sejajar tubuh dengan kaki yang juga terkatup rapat. Bagai terdengar ledakan di telingaku ketika tubuhku dengan Amrita menempel pada punggungku menembus segala lapisan udara, meluncur dan meluncur turun langsung ke bumi. Percepatan kulakukan karena perjalanan memang masih jauh. Perasaan telah melayang dengan lambat hanyalah pertanda betapa Puncak Tiga Rembulan ini sangatlah tinggi.

Betapapun setelah meninggalkan titik tempat tubuh Pangeran Kelelawar tertancap sendirian itu perjalanan tinggal separuh lagi. Aku ingin segera kembali ke bumi karena dingin udara langit memang bagaikan taktertahankan. Selimut telah kujadikan sayap untuk mengemudi, sehingga diriku hanya dibalut kancut dan kain jubah dari kapal yang jauh dari cukup untuk menahan dingin, serta Amrita busananya lebih parah lagi, takmengenakan apapun di bagian atasnya dan dari pinggang ke bawah masih saja kain tembus pandang gaya Fu-nan, yang meskipun tidaklah setipis tampaknya apalah artinya pada ketinggian di antara mega-mega?

Aku meluncur turun, turun, dan turun, kini sengaja tegak lurus ke bawah karena aku tidak ingin membuang waktu lagi. Dalam sekejap sepertiga dari setengah bagian bawah itu terlampaui, dan kiranya akan terus meluncur jika Amrita tidak mengingatkan bahwa aku tidak bisa terus menerus menjatuhkan diri tegak lurus

kecuali ingin jatuh seperti karung dan hancur lebur meleleh seperti buah kates jatuh dari atas pohon kelapa.

‘’Menyamping! Menyamping!’’ Amrita berteriak di telingaku.

Tentu aku tahu bahwa kini tiada lagi mega yang akan tertembusi dan karena itu sudah waktunya kusesuaikan kejatuhanku dengan tarikan bumi, maka akupun berputar satu kali sebelum membelokkan arah menyerong, menjauhi ketiga tiang

Puncak Tiga Rembulan, melampau hutan, dan setelah itu membentangkan lagi kedua kaki dan tangan.

DENGAN segera penurunanku tertahan, melambat, dan aku melayang lagi mengitari wilayah hutan yang pernah kurambah ketika mencari Puncak Tiga Rembulan, dan di luar hutan itulah terlihat titik-titik seperti semut, beribu-ribu semut, yang segera menyebar ketika melihat kami.

”Lihat!’’ Amrita berteriak, ”pasukan Jayavarman!’’

Benarkah mereka memang menanti kedatangan kami? Tidakkah dari bawah sana kami pun taklebih hanya sebuah titik? Aku mencoba melayang menyamping lebih jauh dan lebih jauh lagi dari titik-titik semut yang lari berhamburan menyeberangi persawahan itu. Melayang menyamping memang mengurangi kecepatan, menjadikanku lebih lamban, tetapi tetap menurun dan menurun jua. Arah pendaratanku bagaikan bisa mereka duga. Sebagian pasukan yang berkuda dengan cepat memburuku ke tempat aku takbisa melayang lebih jauh lagi.

Aku masih mempunyai pandangan luas di atas ini, dan dengan sayap selimut kulit kambing ini aku masih bisa mengemudikan diri ke tempat yang aku kehendaki. Sembari melayang dan terpandang hutan, sawah, kampung, lapangan, serta jurang, aku sempat berpikir. Tantangan Pangeran Kelelawar, meski diucapkan dalam bahasa Sansekerta, terdengar oleh setiap orang di pelabuhan Fu-nan. Pertarungan kami mempunyai jadwal yang jelas, yakni pada malam bulan purnama, dan tempatnya juga jelas, yakni Puncak Tiga Rembulan. Meski tempat itu, seperti yang

kualami, sangat sulit dicapai, jika aku pun sampai ke sana, mengapa harus menjadi lebih sulit bagi orang Khmer sendiri?

Amrita kurasakan semakin erat mencengkeram. Aku berpikir kepungan beribu-ribu orang ini lebih berhubungan kepada dirinya daripada diriku. Bukankah dirinya, seperti yang telah diceritakannya sendiri, telah menyebarkan kematian begitu rupa di istana untuk melumpuhkan pemerintahan Jayavarman? Betapapun telah dimanfaatkannya para pembunuh gelap dari jaringan Naga Hitam, selama pengawal rahasia istana yang terlatih berhasil mengendusnya, sangatlah mungkin kerahasiaannya terbongkar. Telah diketahui betapa Jayavarman II tinggal bertahun-tahun di lingkungan istana di Jawadwipa, dan tentunya ia belajar pula bagaimana memanfaatkan jaringan rahasia seperti Cakrawarti demi kepentingannya.

Kami masih cukup tinggi di udara, setidaknya masih dapat berputar sekali lagi dalam wilayah yang sangat luas ini. Mereka tentu mendengar diriku dan Putri Amrita

Vighnesvara ini berada di atas Puncak Tiga Rembulan untuk bertarung ulang, dan karena Pangeran Kelelawar berada di pihak Amrita, maka kemungkinan besar mereka berdua itulah yang akan turun dari atas sana. Namun karena tidak tahu pasti tempat pendaratannya, mereka sebarkan manusia di mana-mana. Apakah mereka perkirakan bahwa siapa pun tidak mungkin meluncur jatuh ke bawah, sehingga di kaki tiang-tiang itu sendiri tidak diperlukan penjagaan oleh seorang pun jua? Kubelokkan arah melayangku kembali menuju kaki Puncak Tiga Rembulan. Setidaknya jika ribuan manusia, yang berkuda maupun tidak berkuda tetap akan memburuku ke kaki tiang-tiang itu, tidaklah mudah bagi siapa pun untuk menempuh rimba raya yang pernah kulalui itu,

Aku melayang makin rendah. Pucuk-pucuk pohon di bawahku, bahkan sejumlah burung terbang berpapasan di atas kami. Kadang-kadang terlirik pula olehku sarang burung dan telur-telurnya di atas pohon itu. Kami melesat ke arah kaki Puncak Tiga Rembulan yang berada di dataran tinggi. Pucuk-pucuk pohon kemudian menyerempet tubuh kami sebelum akhirnya kukerahkan ilmu meringankan tubuh untuk mengurangi pengaruh bobotku yang ditarik perputaran bumi. Amrita telah pula melenting lebih dulu dari punggungku, sebelum aku seharusnya menginjak tanah,

yang ternyata kubatalkan karena kudengar suitan senjata rahasia siap merajam tubuhku. Dengan sayap kulit kambing ini, tanpa beban Amrita di punggungku, aku dapat bergerak seperti yang dimaksudkan Ilmu Silat Kelelawar, yakni berkelebat terus menerus tanpa menginjak tanah sama sekali. Ribuan jarum beracun yang amis baunya, tanda racun yang tingkatnya tinggi, melesat dan bersuit-suit dari segala arah.

Di atas tanah Amrita telah memegang kipas besar yang kibasan anginnya saja telah merontokkan jarum-jarum itu ke tanah. Namun hujan jarum yang datang dari segala arah itu tidak juga berhenti, sehingga Amrita melepaskan dua belas pisau terbang ke dua belas arah yang tepat mengenai sasarannya. Dua belas tubuh yang tertancap pisau terbang di lehernya masing-masing terjatuh dari atas pohon di sekitar tiang-tiang Puncak Tiga Rembulan itu. Berhentinya serangan jarum itu membuatku bisa mendarat di bumi.

DARI segala arah telah muncul orang yang memegang berbagai macam senjata, dan lengan mereka berkelat sebagai tanda jabatan tertentu.

’’Pengawal istana,’’ dengus Amrita, ’’apa kerja kalian di tengah hutan ini?’’

Jumlah mereka sekitar lima puluh orang. Salah satu pemimpinnya menunjuk ke suatu arah dengan pedangnya.

Amrita memekik tertahan. Para pengawal pribadinya yang kulihat di pelabuhan waktu itu tergantung pada lehernya dan tubuh mereka penuh dengan luka. Tidak kurang dari dua belas orang banyaknya.

Tubuh Amrita bergetar, wajahnya memerah, dan matanya menyala-nyala. Di tangannya segera terpegang satu lagi kipas.

’’Kalian harus membayar untuk perbuatan kalian!’’

Lantas ia mengepakkan kedua kipasnya ke belakang, dan tubuhnya melayang ringan ke arah pengawal istana yang menunjuk dengan pedang itu. Kulihat Amrita melayang di udara dengan dua tangan yang memegang kipas itu terlipat di samping tubuh menuju ke arah pengawal istana itu, yang dengan begitu mengira Amrita sebagai makanan empuk. Namun begitu ia berusaha membacok kepala Amrita yang seolah-olah tidak terlindung, Amrita melejit jungkir balik sampai dengan kepala masih di bawah berada di atas kepala pengawal istana itu. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukan Amrita, dalam sekejap mata kedua kipas yang sudah mengembang di samping tubuhnya itu tinggal ditepukkannya ke bawah, dan lenyaplah kepala pengawal istana itu tidak kelihatan lagi. Tinggal tubuhnya terbanting dengan darah menyembur deras bagai air mancur dari batang lehernya.

Dengan tenaga tepukan itu Amrita melayang jungkir balik ke atas, sehingga ketika kepalanya berada di atas kembali, dapat segera dilihatnya berpuluh-puluh pengawal istana itu keluar dari persembunyiannya, dan semuanya, semuanya tanpa kecuali, melemparkan senjata rahasia jarum-jarum beracun. Masih di udara Amrita menggerakkan kipasnya begitu rupa sehingga tubuhnya berputar bagai baling-baling dengan kipas tersebut sebagai sayap baling-balingnya; maka ribuan jarum beracun itu pun terserap oleh angin pusaran tubuh Amrita yang kini sudah berputar seperti baling-baling itu.

Tidaklah mengherankan bagiku jika di tanah Khmer ini tiada lawan yang cukup sepadan bagi Amrita, yang membuat putri nan cantik serta jelita ini merajalela tanpa tandingan. Pantaslah jika ibarat kata seluruh pasukan bersenjata Angkor dikerahkan untuk menangkapnya. Kemudian akan kuketahui, bahwa sebetulnya adalah Amrita dan para pengawal pribadinya yang telah bergerak ke seluruh Kambuja membasmi golongan hitam di tempat-tempat persembunyian mereka. Maka kedigdayaan Putri Amrita, murid Naga Bawah Tanah yang tidak pernah memperlihatkan dirinya, memang telah menjadi permakluman seisi negara.

Para pengawal istana melesat beterbangan ke arah Amrita yang masih berputar, tetapi saat itulah Amrita mendadak berhenti berputar, melenting ke luar dari lingkaran jarum yang berpusar sambil mengibaskan kedua kipasnya mengikuti

pusaran itu, mendorong jarum-jarum itu dengan tenaga pusarannya yang dahsyat melesat kembali ke arah para penyerangnya! Demikianlah ribuan jarum itu berurutan keluar dari pusaran, menyambut para pelemparnya sendiri dengan janji perajaman. Terpaksalah para pengawal istana ini, sembari masih meluncur di udara, menggerakkan senjatanya untuk menangkis jarum-jarum beracun mereka sendiri. Maka bagi Amrita yang sementara itu telah sampai ke bumi, terdapatlah kesempatan untuk menjejakkan kakinya lagi, melesat dengan kedua kipas tertutup yang ketajamannya melebihi pedang, berkelebat cepat membuat garis di bagian tubuh setiap pengawal istana, yang ketika menangkis jarum-jarum itu pertahanannya jadi terbuka. Membuat garis artinya melubangi tubuh di tempat yang mematikan.

Ketika Amrita mendarat kembali hampir seluruh pengawal istana yang menyerangnya itu sudah tewas. Dari garis yang diguratkan Amrita di tubuhnya merembes darah, yang semula memang hanya membentuk garis, tetapi lantas membanjir menggenangi tanah. Sisanya yang masih hidup mengerang-erang sebentar, tetapi segera tewas menyusul yang lain menuju nirvana jika mereka mempercayainya. Dalam sekejap mata putri istana yang halus mulus dengan telapak tangan selembut kapas ini telah menewaskan limapuluh pengawal istana. Aku yang baru saja menginjak tanah bahkan belum sempat berbuat apa-apa. Untuk berterus terang, bahkan belum sempat menarik nafas sama sekali!

Peristiwa yang baru saja kuceritakan secara rinci itu sebenarnyalah berlangsung dalam sekejap mata.

HANYA karena mereka yang terlibat dalam dunia persilatan, yang pergerakannya serbacepat, begitu cepat, melebihi kecepatan pikiran, matanya terlatih untuk mekakukan pengamatan. Jadi segala yang berkelebat tetap saja berkelebat, bukan tak mungkin lebih cepat dari pikiran, tetapi pengajian atas pengamatan tetap bisa dilakukan, atas pandangan mata yang terlatih menanggapi percepatan pergerakan.

Kulihat Putri Amrita yang memunggungi diriku, berdiri tegak dengan kaki terbentang, menatap tajam ke dalam hutan yang memperdengarkan suara gemuruh datang

suatu barisan. Kupejamkan mataku dan melalui ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang kuketahui betapa selaksa manusia yang bermaksud mengepung kami sedang mendatang dengan bergelombang. Di dalam, di atas, maupun di luar hutan.

Agaknya memang tiada celah yang ingin mereka berikan. Berlindung di antara kerimbunan hutan sudah tiada memungkinkan, karena telah dipenuhi pasukan; jika melenting ke atas pucuk-pucuk pepohonan, maka di sana kulihat pasukan pengawal rahasia istana, yang paling tinggi ilmu silatnya dari berbagai kesatuan keprajuritan, telah berteberan dan berayun ringan di ketinggian; lantas kalaupun dengan suatu cara kami lolos dari hadangan, di luar hutan masih terdapat lautan pasukan kerajaan yang menyemut untuk memastikan berhasilnya penangkapan.

Kusaksikan Putri Amrita, dan kuraba sayap kulit kambing yang masih terikat pada kedua tanganku. Barulah kusadari betapa Ilmu Silat Kelelawar yang terserapnya hanya secara kebetulan dan tidak diniatkan, kini sungguh bagiku menjadi andalan. Gelombang manusia muncul dari dalam hutan bagaikan air pasang.

111: Demi Sebuah Penangkapan

SELAKSA prajurit menyerang bagaikan gelombang pasang dari dalam hutan dengan pekik peperangan yang menggetarkan langit dan membuyarkan awan. Kami yang hanya berdua bagaikan menjadi sekadar noktah di lautan, dengan segera kukepakkan sayap kulit kambing yang membuat tubuhku mengambang ke atas, lantas kugerakkan tubuhku naik dan turun seperti kelelawar menyambar-nyambar buah di dalam hutan. Sayap itu membuat aku dapat bergerak jungkir balik dan berguling-guling di udara tanpa menyentuh sesuatupun di atas bumi, menghindari usaha penangkapan membabi buta karena pembunuhan gelap Amrita yang nyaris melumpuhkan pemerintahan. Kulirik Amrita yang dengan kedua kipasnya bergerak seperti menari tetapi yang setiap gerakannya mendatangkan kematian.

Korban-korban Amrita inilah yang menjadi penanda gerakan takkelihatan. Ia bergerak sangat cepat, terlalu cepat, secepat-cepatnya cepat karena gelombang pasang pasukan kerajaan ini memberikan jumlah manusia yang seolah-olah di luar perhitungan dalam jarak yang begitu dekatnya sehingga tiada ruang bagi

penghindaran dan penyelamatan. Dalam sekejap ratusan nyawa telah tercerabut sepasang kipas Amrita yang dapat kulihat telah menjadi merah sepenuhnya karena darah para penyerang. Perempuan pendekar ini bergerak dengan sangat tenang, terlalu tenang, sangat amat tenang, tetapi dengan kecepatan taktertatap dan hanya korban-korban berpentalan tanpa nyawa sajalah membuat para pengepungnya dapat menandai kedudukan.

Para pengepung ini tidak sembarang mengepung, di antara para prajurit bersenjatakan tombak dan parang yang menyerang dengan teriakan selalu

diselipkan seorang perwira berilmu tinggi yang diharapkan mendapat sekejap kesempatan. Dalam pertempuran beratus ribu orang juga berlaku dalil dunia persilatan, bahwa hanya diperlukan setitik kelemahan dalam sekejap kelengahan untuk menyentuh bagian yang paling melumpuhkan. Namun siapakah orangnya yang dapat melumpuhkan Amrita Vighnesvara sang dewi penghancur murid Naga Bawah Tanah yang kesaktiannya bagaikan dewa, tanpa Jurus Penjerat Naga yang telah dipelajarinya pula meski dari kitab curian yang nyaris mencelakakannya?

Para perwira diselundupkan di antara barisan untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan, tetapi Amrita telah menyiapkan pisau-pisau terbang dalam ikat pinggangnya hanya untuk menyambut mereka itu sahaja. Begitu cepatnya gerakan Amrita, sangat amat cepat sampai tiada terlihat, sehingga dapat dilihatnya segenap gerak penyerangan sebagai sesuatu yang amat sangat lambat, bahkan terlalu lambat, sehingga dapat dilumpuhkannya setiap penyerang dengan terlalu mudah, bagaikan menepuk nyamuk yang sedang kekenyangan. Namun dengan mata awam tentu saja ini menjadi pembantaian mengerikan.

ALIH-ALIH pasukan kerajaan bermaksud merajam, sebaliknya Amrita melapangkan jalan bagi setiap sukma yang hari itu tiba saatnya berpulang. Untuk setiap perwira yang menyerang dalam kesempitan dilayangkannya pisau terbang yang bagaikan bermata untuk segera menancap pada setiap tenggorokan tanpa perlindungan.

Pengepungan ini betapapun terlihat kacau balau sungguh penuh perhitungan, meski perhitungan yang manapun sangat mungkin mengalami kesalahan. Perhitungannya sendiri memang tampak sederhana, karena setelah menyadari kesaktian Amrita, diduga bahwa ia bisa ditenggelamkan oleh lautan manusia. Tidaklah terduga tentu bahwa ilmu silat Amrita jauh lebih tinggi dari yang dapat dibayangkan manusia. Naga Bawah Tanah tentu tidak mendapatkan namanya dengan begitu saja, dan jika akhirnya Amrita diterima sebagai murid satu-satunya tentu karena dapat menerima segenap ilmu yang diturunkannya. Inilah memang yang membuatku bertanya-tanya: Jika Naga Bawah Tanah tidak pernah memperlihatkan diri, bagaimanakah caranya Amrita dapat menjadi muridnya?

Namun ini tentu bukan saat untuk memikirkannya, terutama ketika aku masih berkelebat seperti kelelawar di udara, menghindari hujan tombak dan anak panah yang datang bagaikan hujan, tanpa celah sama sekali untuk dapat menghindarinya. Maka terpaksalah aku tidak sekadar menghindar, melainkan juga menangkisnya, dan untuk itu kusambar sebuah pedang yang melayang, lantas menggerakkannya

dalam perpaduan antara Ilmu Silat Kelelawar dan Ilmu Pedang Cahaya Naga. Dengan Ilmu Silat Kelelawar aku dapat bergerak di udara terus menerus tanpa menyentuh bumi, dengan Ilmu Pedang Cahaya Naga aku dapat menangkis seberapa banyak dan seberapa cepat pun setiap serangan yang mendatang, bahkan bila perlu membalasnya begitu rupa, sampai habis luluh lantak tanpa sisa, meski terhadap pasukan yang berasal dari golongan petani ini aku tidak tega melakukannya.

Seharusnya kugunakan sepasang belati panjang seperti Pangeran Kelelawar, tetapi menurutinya sesuai Ilmu Silat Kelelawar tidak akan bisa tanpa menelan korban. Jadi kugunakan Ilmu Pedang Cahaya Naga yang kecepatannya tidak dapat diikuti mata, begitu rupa cepatnya sehingga bukan saja aku dapat menangkis, melainkan dapat membabat ribuan senjata yang menyerang berbarengan pada punggung senjata-senjata itu. Kemudian, apabila begitu cepatnya gerakanku sehingga tak selalu sempat para penyerang itu melempar senjata, maka kukurimkan sekadar angin pukulan untuk melontarkan mereka ke mana-mana. Jelas aku tidak tega menggunakan pukulan Telapak Darah yang merupakan puncak pencapaian angin

pukulan itu, terutama karena seluruh urusan pengepungan dan penangkapan ini sungguh tidak menyangkut diriku.

Ini sungguh berbeda dari Amrita, yang menyadari dirinya akan dirajam, yang hanya membangkitkan kehendak untuk merajam pula. Telah kukatakan betapa kedua kipasnya telah menjadi merah karena darah. Setiap kali kipas di tangan kiri maupun kanan mengembang maupun menutup, darah memuncrat dari tubuh korban. Amrita tidak lagi tampak sebagai putri cantik jelita dengan mata mengerjap tajam yang dapat membuat setiap orang terkesiap, melainkan algojo pencabut nyawa yang seluruh tubuhnya bagaikan tercelup darah. Amrita hanya merah. Kain tembus pandangnya yang telah membuat aku terpesona dan mengejarnya sampai ke Puncak Tiga Rembulan telah menjadi kain yang basah kuyup oleh darah dan diikatkannya sebagai kancut seperti busana pria. Kakinya yang putih mulus juga merah sepenuhnya oleh darah yang bagaikan tiada pernah mengering karena setiap kali tersembur semprotan darah baru. Adalah juga darah yang terus menerus bercipratan membuncah-buncah ke seluruh tubuh bagian atasnya, yang meski tiada mengenakan apa pun kini tak ada yang bisa dilihat lagi selain dari merahnya darah.

Amrita mungkin tidak akan sempat menyadari keadaan dirinya, karena gelombang pasang yang kini sengaja tidak dihindarinya. Perempuan pendekar ini mengeluarkan Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan yang sangat kejam dan berbahaya,

karena memang akan sangat mengecoh setiap lawannya. Jurus ini memperlihatkan gerak-gerik seorang pendeta yang tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya, dan asyik mengipasi dirinya sendiri sambil menikmati pemandangan alam. Jadi Amrita tidak melenting-lenting lagi, bahkan matanya mengerling genit seperti bhiksuni berganti pekerjaan menjadi muncikari. Maka sepintas lalu Amrita dengan seluruh tubuh yang telah memerah oleh darah itu bagaikan perempuan kehilangan kewarasan, karena berjalan melenggang sambil berkipas-kipas di tengah medan pertempuran.

NAMUN akibat dari jurus ini tidak terbayangkan, karena bukan saja penyerang terkecoh oleh keberadaan Amrita yang melenggang penuh kelemah lembutan, tetapi

sekian lapis barisan yang berada di belakangnya pun tewas bergelimpangan sebelum menyerang. Apakah yang telah terjadi? Aku teringat pernah membaca Kitab Pembahasan Jurus-Jurus Kipas Berbagai Aliran dan di sana disebutkan tentang Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan tersebut. Seingatku memang dikatakan di situ bahwa jurus-jurus ilmu kipas merupakan ilmu silat yang menggabungkan kelembutan dan kekerasan, dan karena itu mensyaratkan penguasaan ilmu meringankan tubuh maupun tenaga dalam yang tinggi. Dalam Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan, kelembutan itu terletak dalam gerakan lemah, ibarat pendeta yang sudah 40 hari berpuasa, tetapi yang dalam gerakan Amrita menjadi lemah gemulai penuh kerlingan; sedangkan kekerasannya terletak pada tenaga dalam yang disalurkan melalui kipas itu.

Disebutkan bahwa dalam ilmu kipas, tenaga dalam akan membuat kipas kertas lebih kuat dari senjata logam manapun, bahkan angin pukulan kipas itu dapat menerbangkan siapapun dengan kuda-kuda begitu kuatnya sampai jatuh terguling-guling jika tidak membentur pohon dengan begitu keras sehingga tewas saat itu juga. Namun jurus yang satu ini, Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan, jauh lebih istimewa, karena tenaga dalam yang dikuasai bukan hanya harus mampu membuat kipas kertas lebih tajam dari logam, melainkan betapa zat udara yang meneruskan garis dan sisi bidang kipas itu pun menjadi zat padat dan tajam, setajam mata pisau belati yang lebih dari tajam. Tenaga dalam memadatkan udara sepanjang sisi bidang yang mengikuti kipas sejauh-jauhnya, sejauh daya tenaga dalam yang tersalur melalui kipasnya. Tenaga dalam yang biasa membuat kipas kertas sekuat logam, hanya tenaga dalam luar biasa membuat seorang pendekar mampu membelah pohon maupun batu, dari jarak seribu langkah dari pohon atau batu itu, hanya

dengan menggerakkan kipas yang bagaikan disambung baja tertajam di dunia tanpa kelihatan.

Itulah yang sedang dilakukan Amrita sekarang dengan Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan. Di tengah medan pertempuran di bawah Puncak Tiga Rembulan yang tinggi menjulang ia tampak berkipas sambil melenggang-lenggok, tetapi kibasannya ibarat irisan logam tajam bertenaga dahsyat yang membabat siapapun dalam garis lintasannya, dengan pencapaian sejauh-jauhnya. Bukan saja

baris terdepan yang menyerang dengan segala pekikan jatuh bergelimpangan, tetapi juga empat sampai lima baris di belakangnya yang baru siap untuk menyerang terbabat bergelimpangan. Apapun yang menghalangi jalan dipatahkannya. Jika itu tombak, maka tombak itu akan patah; jika itu pedang, maka itu akan terbelah; jika itu perisai, tak urung akan terpercik warna merah karena tangan yang memegangnya terdedah parah. Jangan ditanyakan lagi bagian tubuh manusia seperti perut, leher, dada, atau kepala yang berada dalam garis lintasan kipas yang dalam jarak seribu langkah tetap menyapu ganas.

Pemandangan yang sungguh aneh, tetapi sangat mengerikan. Kalau sebelumnya hanya yang berada dekat Amrita seperti mengantar nyawa segera bersimbah darah, kini semua orang di baris-baris belakangnya pun, sampai empat dan lima lapisan ikut bergelimpangan dengan luka terparah. Kipas itu sedang terbuka atau tertutup akibatnya berbeda, karena meski sama tajam dalam irisan, dalam keluasan sangat besarlah perbedaan. Bagaikan terdapat pisau jagal raksasa dari langit yang membelah ke kiri dan ke kanan, dan di sana Amrita berlenggang-lenggok sendiri bagaikan takpeduli, dengan sekujur tubuh, dari wajah sampai sepasang kaki, merah semrerah-merahnya merah karena darah.

”Amrita!”

Aku berteriak menyergah di antara serbuan membabibuta yang sebenarnya juga tidak memberi kesempatan.

”Sudahlah Amrita! Kita tinggalkan semua ini! Tinggalkan!”

Amrita mengerling dalam penghayatan jurusnya itu, sembari menggerakkan kipasnya, dan kini para penyerangkulah yang bergelimpangan dan terlontar ke udara dengan tubuh-tubuh terbantai mengenaskan.

Tentulah sudah kuduga betapa tidaklah akan terlalu mudah meninggalkan gelanggang pertempuran, yang telah diperhitungkan demi berhasilnya penangkapan. Meskipun Amrita adalah puteri Jayavarman II sendiri, pembunuhan gelap adalah kesalahan tak berampun, yang karena itu pasti berlangsung oleh

penyebab yang lebih besar dari sekadar kepentingan kekuasaan. Telah kusebutkan betapa selain prajurit yang mengempas bak gelombang pasang dari dalam hutan, di atas pucuk pepohonan telah menanti para pengawal rahasia istana, yang tentu saja paling tinggi ilmunya di antara segenap kesatuan dalam pasukan kerajaan.

BERBEDA dengan pengawal rahasia istana Mataram di Jawadwipa yang busana resminya serbaputih, dengan pedang lurus panjang yang berkilat keperakan, maka para pengawal rahasia istana raja Jayavarman II yang masih sedang menggalang kesatuan Angkor di seluruh Kambuja ini berbusana jauh lebih sederhana, taklebih dan takkurang karena mereka semua hanya berkancut abu-abu kecoklatan, yang memberi kesan lusuh, dengan ikatan kain kepala yang disimpulkan di depan. Hanya perhiasan seperti kalung dan kelat bahu menunjukkan kedudukan mereka yang lebih tinggi. Betapapun, ke sanalah aku melayang seperti kelelawar menyambar-buahan, tetapi dengan tangan memainkan Ilmu Pedang Cahaya Naga.

Penghargaanku atas kesetiaan mereka kepada rajanya membuat aku tidak tega membunuh mereka. Namun apa daya serangan para pengawal rahasia istana ini jauh lebih berbahaya dari gelombang manusia di bawah sana. Melenting di atas pucuk-pucuk pepohonan membuatku dapat memainkan paduan Ilmu Silat Kelalawar dan Ilmu Pedang Cahaya Naga dengan cara yang berbeda. Jika di bawah tadi Ilmu Silat Kelelawar membuat aku tidak perlu menapak bumi yang memang penuh dengan manusia bertombak, di atas pohon ini bisa kumanfaatkan pucuk-pucuk pepohonan untuk mengubah jurus-jurus Ilmu Silat Kelelawar yang agaknya telah mereka pelajari sebelum pengepungan. Memang tampak serangan serempak mereka tidak menemui sasaran, bahkan dengan kecepatan cahaya aku bergerak dengan mudah untuk membuat senjata mereka melayang berpentalan.

Telah kukatakan aku sama sekali tidak ingin membunuh, tetapi ini pun tidak dapat dilakukan tanpa kesulitan, terutama karena ilmu silat mereka yang tinggi dan ini membuat serangan mereka berbahaya, begitu berbahaya sehingga bagaikan tiada mungkin dihentikan atau dihindari tanpa membunuhnya. Padahal aku memindahkan gelanggang ke atas pucuk-pucuk pepohonan ini justru agar pembantaian Amrita

mendapat cara untuk dihentikan, hanya dengan membuat jalan keluar aku dapat meyakinkan Amrita bahwa menghindari pertempuran bisa dilakukan. Masalahnya, bukan saja bahwa para pengawal rahasia istana jumlahnya bukan sekadar belasan atau puluhan orang, melainkan ratusan orang banyaknya, yang memenuhi pucuk-pucuk pepohonan seluruh wilayah hutan, karena memang dikerahkan dari berbagai

istana seluruh Angkor; tetapi juga bahwa Puteri Amrita sama sekali tidak sudi menghindari pengepungan ini dan pergi.

Dugaanku tidaklah terlalu keliru, karena sementara aku berkelebat mengelak dari berbagai serangan yang begitu cepatnya, sempat kulirik Amrita yang setelah bosan dengan Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan kini melenting-lenting dengan ringan di atas kepala dan pundak ribuan penyerangnya untuk menyebarkan maut melalui jarum-jarum beracunnya yang takpernah kutahu di mana disimpan. Seluruh tubuhnya masih penuh dengan darah, membuatnya seolah-olah bagaikan penampakan iblis yang terkejam dan terganas. Orang-orang tewas dengan tubuh tersentak dan menghijau. Apabila sebatang jarum saja lebih dari cukup untuk mengakhiri riwayat seseorang, apakah yang akan terjadi ketika Amrita ternyata cukup meraup saja jarum-jarum beracun itu, dan terus menerus menghamburkannya bagaikan tiada akan ada habisnya?

’’Katakanlah kepadaku, wahai Amrita,’’ aku berteriak sambil menghindari berbagai tetakan tajam yang sangat mematikan, ’’bagaimana agar bisa daku bawa dikau keluar dari sini dan menghindarkan orang-orang tak bersalah ini dari pembantaian?’’

Amrita hanya tertawa, tak lagi renyah seperti yang kukenal, melainkan terdengar getir tanpa kegembiraan. Maka aku pun tidak lagi merasa membutuhkan jawaban, apalagi ketika serangan para pengawal rahasia istana berilmu tinggi itu semakin gencar dan menuntut terpusatnya perhatian.

Sekali lagi aku merasa harus berterima kasih kepada Ilmu Silat Kelelawar yang membuatku bisa tetap berputar dan berputar naik turun seperti kelelewar berkelebat di antara pepohonan. Para pengawal rahasia istana ini dengan cerdik sama sekali tidak berusaha mengepung dan menyerang serentak seperti ratusan ribu prajurit di bawah itu, melainkan hanya bergerak bila aku berada di petak yang mereka jaga,

sehingga tiada ruang kosong yang digunakan Amrita karena perhatian tersita untuk menyerangku.

Seberapa besarkah daya tahan manusia? Dari waktu ke waktu gelombang manusia terus menerus menyerang Amrita di bawah sana. Jangan lupa betapa kami terjun dan turun melayang dari dataran Puncak Tiga Rembulan antara lain karena tiada lagi yang bisa dimakan. Amrita masih melenting-lenting dan terbang ke sana sini sambil menyebarkan maut dengan kipasnya, tetapi para kepala pasukan telah semakin cerdik dalam siasat pengepungan. Menyadari betapa lautan manusia ternyata tak juga dapat menenggelamkan Amrita, dan betapa bahkan dengan cara itu pun Amrita dapat menjadi lenyap mendadak tak kelihatan, tetapi segera muncul kembali dengan

Jurus Kipas Menggunting dalam Lipatan sehingga korban jauh lebih banyak lagi berjatuhan, panglima pengepungan ini bersuit sebagai pertanda anak buahnya harus mundur.

MAKA sejak barisan lapis pertama mereka pun mundur seratus langkah. Kedudukan yang mundur digantikan barisan panah, bisa mencapai lima puluh ribu orang, yang meskipun saat melepaskan anak panahnya berbarengan, datangnya dari arah yang berlain-lainan. Sepuluhribu anak panah meluncur setinggi dada, sepuluh ribu yang lain setinggi paha, sepuluh ribu lagi meluncur setinggi mata kaki, dan dua puluh ribu sisanya mengancam rajaman dari atas kepala. Tentu tidaklah mungkin Amrita menghindarinya, bahkan jika ia bertiarap begitu rupa, tetaplah puluhan ribu anak panah akan mengenai sasarannya. Bagaimanakah caranya Amrita akan bisa menghindarinya? Agaknya Amrita menggunakan Jurus Kipas Menelan Matahari yang membuat seluruh tubuhnya bagaikan berada dalam kurungan, yang adalah gerak kipas yang membentengi seluruh badan.

Puluhan ribu anak panah pun mental kembali semuanya, semuanya dan semuanya tanpa sisa, dalam keadaan hancur, tetapi yang segera disusul lapis selanjutnya dalam barisan yang sama. Demikianlah kipas yang membentengi Amrita menjadi bagaikan penggilingan yang menelan dan memuntahkan puluhan ribu anak panah terus berlesatan tiada habisnya. Sehabis panah, tombak atau tepatnya lembing

dengan ujung yang pipih, dalam jumlah yang tiada terhitung pun melesat penuh semangat rajaman. Namun Amrita tak hanya sudi menerima serangan, ia pun menuntut haknya untuk ganti menyerang, sehingga alih-alih Amrita yang maksudnya dirajam, tetap saja di pihak penyerang yang banyaknya bukan alang kepalang itu bagaikan sawah disapu banjir bandang korban terlalu banyak berjatuhan.

Di bawah tekanan para pasukan pengawal rahasia istana yang terus juga masih menyerang, aku berpikir keras mencari pemecahan.

112: Tanah Peperangan

MAYAT sudah bertumpuk-tumpuk di bawah ketiga tiang Puncak Tiga Rembulan yang menjulang ke langit dan menembus awas bagaikan persembahan bagi dewa-dewa entah di mana yang menuntut persajian. Tubuh-tubuh yang semula terpotong irisan raksasa nan tajam karena Jurus Pendeta Mengipas karena Kepanasan, tertumpuk tubuh-tubuh menghijau karena jarum beracun yang tampaknya saja disebarkan berhamburan, tetapi yang setiap jarumnya mengenai setiap sasaran dan

membuatnya tersentak bergelimpangan. Potongan senjata tajam yang digiling Jurus Kipas Menelan Matahari bertebaran di mana-mana sampai menutupi rerumputan. Bau amis darah meruap. Bencana yang masih akan datang jika Amrita terus diserang sungguh tak terbayangkan. Namun bagaimanakah kiranya Amrita akan dibiarkan bebas berkeliaran, jika telah sangat jelas putri raja itu yang merancang segenap pembunuhan gelap yang nyaris melumpuhkan pemerintahan?

Sembari terus berkelebat menghindari serangan, aku membayangkan berbagai kemungkinan jika pertempuran ini diteruskan. Pertama, gelombang pasang manusia akan dikerahkan lagi yang diselang-seling hujan tombak serta anak panah yang betapapun penangkisannya akan melelahkab; dalam kedua cara ini mayat tetap akan bergelimpangan, yang pertama karena dihabisi Jurus Pendeta Mengipas karena Kepanasan, yang kedua karena Amrita sangat mungkin akan menyebarkan jarum-jarum beracunnya lebih dahulu sebelum tombak dan panah dilepaskan. Kedua, jika secerdik yang kuduga, pada saatnya mereka akan melonggarkan kepungannya sampai seratus atau dua ratus langkah, sekadar menjamin Amrita tidak bisa lolos, kalau perlu terus menyerang dengan para prajurit pilihan sampai

Amrita kelelahan. Aku tahu meskipun mengetahui para prajurit itu akan tewas, sekali pilihan dilakukan kemungkinan tewas sudah diperhitungkan untuk dikorbankan.

Meskipun belum dijalankan, kemungkinan kedua harus kuakui lebih bagus dari yang pertama, dengan suatu catatan: Kemampuan Amrita menjalankan Jurus Pendeta Mengipas karena Kepanasan itu sesungguhnyalah menunjukkan ketinggian tingkat tenaga dalam, begitu tingginya sehingga sangatlah mungkin bahwa dalam jangka panjang justru pasukan kerajaan ini yang akan lebih dulu kelelahan. Tentu kumaklumi kemarahan para petinggi istana atas segala pembunuhan gelap penuh perhitungan yang ternyata dilakukan orang dalam, tetapi pengerahan selaksa manusia untuk menjamin penangkapan ini bagaikan pekerjaan yang berlebihan dalam perbandingan dengan tuntutan keadaan. Terkumpulnya selaksa manusia demi pengepungan jelas tak hanya mengandalkan pasukan kerajaan, melainkan juga penduduk desa maupun kotaraja yang terpaksa meninggalkan kewajiban. Kelumpuhan pemerintah akan diikuti kelumpuhan negara apabila sebagian besar rahayat takdapat menjalankan kewajiban. Apakah yang akan terjadi pada sebuah negeri jika para petani meninggalkan sawah dan ladang, para tukang melepaskan peralatan, dan para seniman menimang kelewang, segalanya dikerahkan demi penangkapan Amrita seorang?

APABILA kemudian Amrita memang begitu kuatnya sehingga penuh daya bertahan dalam pengepungan, bagaimanakah caranya kemudian membuat mereka semua tetap makan? Jika kemudian bagaimana mereka akan makan dan minum itu telah dipersiapkan, tidakkah itu merupakan sebesar-besarnya pekerjaan? Memang aku telah mendengar riwayat Kambuja yang penuh peperangan. Seorang teman seperjalanan dalam kapal bercerita bahwa dalam Sejarah Wangsa Tsin, pada bab biografi T’ao Houang, seorang kepala daerah Tonkin yang menjadi bagian Negeri Atap Langit, terdapatlah pemberitahuan bawahannya yang mengeluh atas serbuan Kerajaan Lin-yi sekitar tahun 280. Disebutkan bahwa, ’’…kerajaan itu berada di sebelah selatan, berbatasan dengan Kerajaan Fu-nan, banyak sekali jumlah sukunya, gerombolan-gerombolan yang hidup bersahabat, saling menolong, mereka

memanfaatkan keadaan daerah mereka yang berbukit itu dan tidak mau tunduk kepada Negeri Atap Langit.’’ 1)

Kerajaan Lin-yi adalah catatan pertama tentang keberadaan Campa dalam sejarah Negeri Atap Langit, ketika didirikan pada 192. Dikisahkan bahwa seorang punggawa pribumi bernama K’ieu-lien memanfaatkan keuntungan dari merosotnya Wangsa Han Akhir, untuk membentuk wilayahnya dari sebagian wilayah ketentaraan Negeri Atap Langit, yang terletak antara bukit barisan Hoanh-son dan Lintasan Mega. Ia menyatakan diri jadi raja di Sianglin, wilayah paling selatan Campa.2) Terbentuknya Kerajaan Lin-yi berawal setengah abad sebelumnya, tahun 137, ketika untuk kali pertama Siang-lin diserbu segerombolan orang yang disebut tidak beradab, sekitar seribu orang, dari luar perbatasan Je-nan. Mereka yang disebut orang-orang tidak beradab itu adalah orang-orang Cam, bahkan juga Malayu, tetapi yang waktu itu belum berigama Hindu dari dewa yang mana pun.

Adalah orang-orang yang dituliskan sebagai tak beradab ini dalam Sejarah Tiga Kerajaan yang telah menolak pemberian upeti, yakni raja-raja Fu-nan, Lin-yi, dan T’ang-ming yang alih-alih mengantar upeti, pada 248 pasukan Lin-yi menjarahi kota-kota di sebelah utara, dan sesudah pertempuran besar di teluk sebelah selatan Ron, menguasai wilayah K’iou-sou di daerah Badon di tepi Song Gianh. Akhirnya raja Fan Hiong, cucu K’ieu-lien dari pihak keluarga ibu 3) menyerang lagi pada 270, dibantu Fan Siun, raja Fu-nan. Tidak kurang dari sepuluh tahun waktu yang diperlukan T’ao Huang, kepala daerah Tonkin itu, untuk mendesak orang-orang Lin-yi masuk kembali ke perbatasan mereka sendiri.

Perang selanjutnya berlangsung tahun 347, ketika raja Fan Wen yang berhasil mendamaikan suku-suku yang masih liar, meminta kepada Maharaja Tsin agar

perbatasan utara ditetapkan pada Gunung Hoanhson. Sejak diminta dari tahun 340, kaisar terus ragu-ragu melepaskan tanah subur Je-nan itu, dan Fan Wen merebutnya tujuh tahun kemudian. Namun pada 349 ia meninggal ketika sedang melancarkan penyerbuan di sebelah utara perbatasan baru itu. Fan Fo, anak Fan Wen, yang gagal dalam serbuan-serbuan tahun 351 dan 359, terpaksa

mengembalikan Je-nan kepada Negeri Atap Langit pada 372 dan 377 setelah Sang Maharaja mengirimkan utusan-utusannya. 4)

Ternyata adalah Fan Fo ini yang terkenal sebagai Bhadravarman, pendiri candi pertama di Mi-son yang dipersembahkan kepada Siva Bhadresvara, karena dalam catatannya orang-orang Negeri Atap Langit sulit mengalihkan bahasa Sansekerta ke aksara mereka sendiri. Setelah Fan Fo meninggal, lagi-lagi negeri ini menyerbu Je-nan pada 399, dipimpin Fan Hou-ta, mungkin anak atau cucu Fan Fo, dan lagi-lagi gagal. Dalam suasana kacau yang berlangsung setelah jatuhnya Maharaja Tsin, kembali Fan Hou-ta melancarkan serangan pada 405, 407, dan 413 ke dalam wilayah utara Je-nan. Di sanalah Fan Hou-ta gugur.

ORANG yang bercerita kepadaku di dalam kapal tidak mengetahui apa yang terjadi setelah itu, hanya saja pada 420 muncul seseorang bernama Yang Mah yang artinya Pangeran Emas. Ia menyerang daerah Tonkin dan minta dikukuhkan sebagai

raja oleh Negeri Atap Langit. Namun tahun itu juga ia sudah mati. Anaknya yang masih berusia 19 tahun juga mengambil gelar Pangeran Emas dan melanjutkan penjarahan ke utara. Pada tahun 431 ia mengerahkan seratus kapal untuk merampok sepanjang pesisir Je-nan. Serangan ini dibalas Negeri Atap Langit dengan pengepungan Kíiou-sou, tetapi meskipun Pangeran Emas tidak di tempat, badai telah mengacaukan segalanya, sehingga kepungan terpaksa dilonggarkan.

Kesempatan ini membuat Pangeran Emas berusaha meminjam pasukan dari Fu-nan, dengan alasan untuk menjatuhkan Tonkin yang pernah ia minta pada 433 kepada Negeri Atap Langit. Namun permintaan ini tidak dipenuhi. Sebaliknya, serangan-serangan Cam yang semakin mengganggu itu membuat kepala daerah Tonkin yang baru, T’an Ho-tche, pada 446 menyerang dan membantai dengan keras. Selain berbagai perundingan dengan bangsa Cam berlangsung curang, ia pun menyerang dan merebut kembali Kíiu-sou. Penyerbuan Negeri Atap Langit yang lain sampai merebut kotaraja Hue dan tak kurang dari lima puluh ribu kilo emas dirampas.

Kemudian orang yang bercerita di dalam kapal itu menyebut-nyebut Nagasena. Namun kenapa disebutnya pendeta Hindu? Lagipula, apakah Nagasena masih hidup tahun itu? Nagasena manakah yang diceritakannya dan ada berapa Nagasena di dunia ini? 5)

Katanya, ”Pada tahun 484, raja Jayavarman dari Fu-nan mengutus pendeta Hindu Nagasena mempersembahkan hadiah kepada Maharaja Negeri Atap Langit, sekalian memohon bantuannya untuk menaklukkan Kerajaan Lin-yi. Maharaja Negeri Atap Langit menyatakan terimakasihnya kepada Jayavarman atas hadiahnya itu, tetapi tidak mengirimkan pasukan untuk menundukkan Lin-yi.”

”Bagaimana sikap Jayavarman,” tanyaku waktu itu, dalam bahasa Malayu yang dikenal para pengembara Khmer.

”Tidak diketahui apa yang dilakukan Jayavarman, yang pasti pada 491 perebut takhta itu masih memerintah dengan nama Fan Tang-ken-tch’ouen dan mendapat pengukuhan dari Negeri Atap Langit sebagai Raja Lin-yi. Namun tahun berikutnya,

pada 492 ia diturunkan dari takhta oleh keturunan Pangeran Emas yang bernama Tchou Nong, yang memerintah selama enam tahun, dan tidak jelas sebabnya, tenggelam di laut pada 498.” 6)

Akupun tak tahu kenapa percakapanku dengan teman sekapal dalam kegelapan malam ketika menyusuri Sungai Mekong itu muncul kembali sekarang, justru ketika aku seharusnya memeras otak menyelesaikan persoalan di tengah kepungan. Aku masih terus berkelebat naik turun seperti kelelawar tanpa pernah menyentuh apapun untuk membuatku tetap berada di udara. Mungkin karena aku memang bergerak cepat dan memang sangat amat cepatnya, takterimbangi oleh satupun dari para pengawal rahasia istana Jayavarman II itu, maka dari segala sesuatu yang menjadi lambat dan sangat amat lambatnya, aku bagaikan mendapat ruang tempat segala kenangan berkelebatan. Cerita teman sekapal tentang peperangan di tanah Kambuja dari zaman ke zaman, tempat orang-orang Cam selalu memberi perlawanan kepada kekuasaan Negeri Atap Langit, terus berlanjut.

Pada 534, Rudravarman seperti para pendahulunya melanjutkan serangan ke utara, tetapi dikalahkan Pham Tu, jenderal dari Li Bon yang baru memberontak melawan penguasaan Negeri Atap Langit dan telah menguasai Tonkin. Sangat mungkin pada saat inilah berlangsung kebakaran di Mi-son dengan akibat kehancuran candi Bhadresvara yang pertama. Agaknya raja manapun memang akan berhadapan dengan kekuasaan Negeri Atap Langit yang sudah membentang dengan begitu luasnya itu. Terhadap Kemaharajaan Tengah, raja Sambhuvarman yang oleh

penulisan Negeri Atap Langit disebut Fan Fan-tche, berusaha memanfaatkan kelemahan Wangsa Tchíen yang berkuasa antara 557-589 dan menyatakan taklagi takluk sebagai raja bawahan. Namun setelah kemaharajaan itu bangkit lagi di bawah Yang Kien, yang menyatakan diri sebagai raja Souei pada 589, ia merasa lebih aman memulihkan kembali hubungan, dan pada 595 mengirimkan upeti kepada Yang Kien.

Kini aku ingat sebuah cerita yang berhubungan dengan upeti, tetapi kukira lebih baik kuceritakan nanti.

SEKARANG kusambung dulu kisah teman sekapal, yang melanjutkan bahwa sepuluh tahun kemudian, tahun 605 tentunya, sang maharaja menugaskan Lieou Fang yang baru saja merebut Tonkin kembali, untuk memimpin penyerbuan ke Campa. Perlawanan Sambhuvarman yang sia-sia membuat balatentara Negeri Atap Langit menduduki Kíiu-sou dan kotaraja Tra-kieu serta membawa pulang rampasan yang bukan alang kepalang banyaknya dari negeri kaya itu. Setelah pasukan Negeri Atap Langit mengundurkan diri, Sambhuvarman kembali ke negaranya dan minta maaf kepada sang maharaja. Semasa pemerintahan Maharaja Yang Kien, lagi-lagi Sambhuvarman seperti tidak peduli atas kewajibannya untuk membayar upeti, dan hanya setelah Wangsa Tíang memegang kekuasaan pada 618, setidaknya ia tiga kali mengirimkan utusan, pada 623, 625, dan 628.

Menurut teman seperjalanan dalam kapal layar yang menyusuri Sungai Mekong itu, kemungkinan besar adalah Sambhuvarman yang menerima Menteri Simhodewa dari Kambuja, utusan Mahendravarman untuk mengadakan hubungan dengan Campa. 7) Pemerintahan Sambhuvarman yang baru berakhir tahun 629, membangun kembali puing-puing tempat suci yang aslinya dibangun oleh Raja Bhadravarman. Salah seorang penggantinya, Prakasadharma, memerintah antara 653 sampai 686, keturunan Isanavarman dari Tchen-la melalui garis keturunan perempuan, mengabdikan seluruh masa pemerintahannya untuk memperindah Mi-son dan membangun segala peninggalan awal Cam. 8)

Namun teman itu kuingat menarik perhatianku pada kisah sebelumnya, bahwa cucu Sambhuvarman dari Kandarpadharma, yakni Prabhasadharma, telah dibunuh tahun 646 oleh salah seorang menterinya. Bagian ini meruyak kembali karena aku teringat akibat pembunuhan-pembunuhan gelap Amrita yang luar biasa ini, pengerahan pasukan berlebihan yang membuatku berpikir keras atas pengaruhnya kepada

seluruh negeri. Jika jalan pikiranku juga menjadi jalan pikiran Amrita, maka mati pun akan dijalaninya, asalkan pengerahan selaksa manusia yang telah berkurang puluhan ribu orang ini memang akan membatalkan kejayaan Angkor yang berdiri di atas puing-puing Kemaharajaan Tchen-la.

Tiada kisah peperangan setelah ini. Keturunan Kandarpadharma yang naik tahta sebagai Vikrantavarman, dalam masa pemerintahannya yang lama dan damai memperbanyak bangunan suci di Mi-son, di Tra-kieu, dan beberapa tempat lain di daerah Quang-nam. Semua itu bangunan pemujaan kepada Wisnu, yang tidak kuketahui kenapa disebut teman sekapal itu sebagai, ”Lebih bersifat susastra daripada igama.” Ia tercatat mengirim utusan ke Negeri Atap Langit pada tahun 653, 657, 669, dan 670. Penggantinya, Vikrantavarman II masih mengirim setidaknya 15 utusan antara 686 dan 731. Urusan upeti dan utusan ke Negeri Atap Langit ini ternyata membentuk cerita tersendiri yang juga belum dapat kusampaikan sekarang, karena harus kuceritakan sekarang bagian yang telah kukenal, bukan sekadar karena berlangsung pada zaman yang sama dengan kehidupanku saat itu, tetapi karena masa kekuasaan Wangsa Sailendra di lautan selatan, bagi Campa dan Kambuja merupakan kurun waktu yang rawan. 9)

Saat itulah nada bicara teman sekapal tersebut menjadi terdengar getir.

”Maka Rudraloka pun digantikan Satyavarman, anak saudara perempuannya yang harus menghadapi serangan dari Jawadwipa pada tahun 774,” katanya.

Lantas ia kutip prasasti yang pernah kuceritakan dahulu. 10)

”Orang-orang yang lahir di negeri-negeri lain, orang-orang yang hidup dari makanan yang lebih menjijikkan dari bangkai, orang-orang yang menakutkan, sama sekali hitam lagi kurus, mengerikan lagi jahat seperti maut, yang datangnya naik kapal. Menghancurkan candi Po Nagar di Nha-trang yang pertama, yang pembuatannya adalah titah Raja Vichitasagara, raja dari alam dongeng. Lantas mereka mencuri lingganya. Meski kemudian dengan kapal-kapal yang lebih baik dan dikalahkan di lautan.”

SATYAWARMAN memang membangun kembali candi baru dari batu bata pada

784. Namun adiknya, Indravarman yang menggantikannya sementara ia pergi ke Jawadwipa, juga masih menghadapi serangan dari Jawadwipa pada 787, yang merusak candi Bhadradhipaticvara di sebelah barat kotaraja Virapura. 11)

Lamunanku terputus karena duabelas pisau terbang meluncur dengan tujuan merobek sayap kulit kambing ini agar aku tidak bisa terbang naik turun seperti

kelelawar lagi. Aku menangkap keduabelas pisau terbang itu, enam di tangan kanan dan enam di tangan kiri dan mengembalikannya ke arah sang pelempar tanpa maksud membunuhnya.

Srrrrrttttt! Duabelas pisau terbang ini masing-masing masuk ke sarungnya lagi yang melingkar lebar di pinggangnya itu. Tentu menjadi jelas bagi mereka yang mengepungku sekarang, betapa untuk mencabut nyawa mereka bagiku dalam pertarungan yang bukan benar-benar pertarungan ini semudah membalik telapak tangan. Mereka berloncatan menjauh, tetapi tidak melepaskan kepungan. Aku tersenyum. Kurasa aku ingin memberitahukan sesuatu kepada mereka.

Masih di udara dan tidak menyentuh pucuk pepohonan, kusentakkan sayap kulit kambing yang semula adalah selimut itu, yang lantas melayang jatuh dan tersangkut di atas pohon. Aku tersenyum dalam hati melihat mereka semua ternganga, melihatku mengambang di udara…

113: Petaka Kecantikan

SAAT mereka ternganga melihat aku mengambang di udara itulah kujejakkan kakiku seperti memang menjejak sesuatu, tetapi sesungguhnyalah membuat diriku meluncur di antara hujan panah ke arah Amrita, tentu dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata.

Keputusanku tiba-tiba membulat. Jika pengepungan berlanjut, bukan saja puluhan bahkan ratusan ribu korban akan jatuh, tetapi negara pun berkemungkinan lumpuh. Suatu harga yang terlalu mahal untuk penangkapan seorang Amrita Vighnesvara

Jadi biar aku sajalah yang melumpuhkan Amrita, agar pembantaian berhenti dan selaksa manusia kembali ke desanya dan melanjutjkan kehidupannya. Itu pun setelah kehilangan berpuluh bahkan beratus ribu nyawa. Bila malam sempat tiba, aku tak akan tahu lagi akibatnya jika Amrita berlindung di balik kegelapan dan berkelebat mencabuti nyawa seenaknya.

Saat aku meluncur ke arahnya, Amrita masih melindungi dirinya dengan Jurus Kipas Menelan Matahari, karena hujan anak panah yang memang sedang melesat ke arahnya dari segala penjuru. Aku mendengus dan berkelebat lebih cepat mendahului ribuan anak panah itu. Dengan ilmunya yang tinggi, meski aku bergerak dengan kecepatan yang bagi awam tidak dapat diikuti oleh mata, maka Amrita dapat melihatku datang; tetapi karena ternyata betapapun ilmu silatku lebih tinggi, aku tetap terlalu cepat baginya, sehingga cukup dengan selembar daun dapat kutotok jalan darahnya menembus Jurus Kipas Menelan Matahari. Pada saat ribuan anak

panah dari segala arah itu serempak menancap, aku dan Amrita sudah tidak kelihatan lagi di tempat itu.

***

TENTU saja aku mesti melalui mereka, melejit dan melenting di atas pundak dan kepala mereka sambil membopong Amrita yang takberdaya karena telah kutotok jalan darahnya. Baru kutahu bahwa kedua kipasnya terikat ke kedua pergelangan tangannya, sehingga tetap terbawa ketika tubuhnya yang mendadak lunglai itu kusambar pergi. Dengan kecepatan melebihi kilat aku berkelit dan berkelebat di antara hujan anak panah, yang ketika tertancap di tempatku menyambar Amrita, kami telah berada jauh di tepi hutan.

KUPILIH untuk masuk ke dalam hutan, karena di atasnya, pada pucuk-pucuk pepohonan terlalu banyak pengawal rahasia istana yang akan lebih menyulitkan, daripada para prajurit di dalam hutan yang kerimbunan dan kekelamannya sudah lebih dulu kupahamkan ketika merambahnya menuju Puncak Tiga Rembulan. Di dalam hutan, meski di luar senja baru saja menjelang, pekatnya kelam bagaikan lebih gelap dari kegelapan, karena bukan saja ketiadaan cahaya membuat kerimbunan menyaratkan kekelaman, melainkan juga karena batang-batang pohon raksasa dan payung dedaunan di atasnya bagaikan dinding hitam yang tidak memantulkan cahaya dari mana pun jua.

Kupejamkan mataku dan tidak menghentikan laju kecepatanku sama sekali karena kutancap ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang. Dengan begini meskipun hutan rimba gelap gulita, segenap lekuk tubuh dalam keterpejamanku menyala sebagai garis hijau terang, segalanya jelas seperti mataku terbuka dalam terang siang. Aku berkelebat di antara mereka tanpa mereka tahu aku melewatinya, meski jalur perintah telah menyampaikan betapa aku pasti menuju ke arah mereka. Aku melayang dari dahan ke dahan dengan mata terpejam, melompati mereka yang menyalangkan matanya dengan sia-sia berjuang menembus kegelapan. Hanya daun-daun berguguran tiba-tiba saja menyentuh pundak atau kepala mereka.

Tidak menjadi masalah apakah membopong atau tidak membopong Amrita, dengan ringan aku tetap dapat melompat dari dahan ke dahan tanpa kehilangan keseimbangan. Namun meski aku telah bergerak begitu cepat, tidak segera juga aku bisa keluar dari hutan, selain karena hutan ini memang luas bagai takbertepi, juga

karena aku ingin keluar di tempat yang paling kurang ketat kepungannya. Di tengah perjalanan aku teringat Ilmu Silat Kelelawar yang telah kuserap dengan Jurus

Bayangan Cermin ketika bertarung melawan Pangeran Kelelawar. Tidakkah gabungan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang dengan Ilmu Silat Kelelawar tidak bisa lebih tepat lagi untuk berkelebat dalam kegelapan? Meskipun tanpa sayap, ternyata aku tetap bisa melakukannya dengan sesekali menjejak tanpa suara di sana-sini. Seperti kelelawar beterbangan dalam kegelapan di antara pepohonan, kali ini aku pun berkelebat tanpa pernah menggugurkan sehelai daun sama sekali.

Namun aku melayang dengan kehalusan gerak yang lebih terjaga daripada kelelawar, aku menikmatinya seperti tarian di udara yang tenang, ketika kegelapan dalam keterpejaman terasa bagaikan keluasan semesta yang terarungi dengan keterpesonaan. Bahkan Amrita yang jelas menghalangi gerak tanganku karena aku harus membopongnya bagaikan menyatu dengan tubuhku, tidak mengganggu gerakanku sama sekali. Padahal kecepatanku telah menjadi lebih dari cepat, yang bagi telinga dengan ketajaman telinga naga telah menjadi ledakan dahsyat karenanya…

Saat itu teramati segala sesuatu yang lebih lambat dariku sebagai sesuatu yang mengenaskan. Para prajurit di bawah pohon yang telah berada di sana begitu lama tanpa peristiwa apapun jua, menanti dan menanti tanpa kepastian yang menyesakkan. Dengan keremangan hutan menjelang malam, segenap daya luar biasa yang telah dikerahkan menghadapi kesia-siaan. Syukurlah dengan lenyapnya Amrita mereka akan segera dipulangkan, karena tidak mungkin memburu dua manusia dengan selaksa pasukan. Apalagi jika akan menghilang ke dalam keramaian. Aku berkelebat menembus hutan, ingin segera lenyap dan menghilang, tetapi di tepi hutan pada tempat yang dengan tepat kuduga pengepungannya akan lebih jarang, ternyata dijaga oleh sejumlah pendekar berilmu tinggi!

Agaknya telah disadari betapa pengepungan yang mengerahkan tenaga manusia berlebihan adalah kesia-siaan, memang hanyalah kemarahan membabibuta telah menyebabkan selaksa pasukan mengepung Puncak Tiga Rembulan. Kini di luar

hutan memang masih terlalu banyak pasukan, tetapi mereka hanya berjaga di pinggiran dan para pendekar itulah yang menyerang dengan penuh perhitungan.

”Pendekar Tanpa Nama dari Jawadwipa! Ilmu kami memang belum setinggi Naga Bawah Tanah yang seperti dewa, tetapi justru karena itu kami ingin mendapat pelajaran!”

Ia berbicara dalam bahasa Malayu, tetapi mungkin hanya dia yang menguasai bahasa itu, karena yang lain-lain menyampaikan salamnya dalam bahasa Khmer

yang bagiku masih terdengar seperti bahasa burung meski telah menggunakan sepatah dua patah dalam perjalanan.

Mungkinkah aku menghadapi mereka sembari tetap membopong Amrita? Jelas aku tidak akan pernah melepaskannya, selain karena aku tidak mungkin melepaskan totokanku, yang akan membuatnya lebih dari sekadar mengamuk, jika kulepaskan tanpa menotok kembali agar peredaran darahnya kembali seperti semula, ia hanya akan menjadi makanan empuk siapa pun yang ingin menghabisinya.

PEREMPUAN secantik Amrita, betapa banyak musuhnya, benarkah kecantikan seorang perempuan lebih sering membawa petaka bagi pemiliknya ketimbang sebaliknya?

Mereka menyerang serempak dan aku melejit ke atas sebisanya dengan beban Amrita pada kedua tanganku. Dari atas, setiap orang yang senjatanya berbeda itu kulihat menanti dengan incaran atas setiap titik mematikan pada tubuhku. Lantas tubuhku taktertahan lagi turun, tetapi aku masih turun berkelebat seperti kelelawar yang menjatuhkan diri sebelum mengangkasa kembali. Saat itulah sejak tadi kulihat sepasang kipas Amrita yang terikat di pergelangan Amrita bergoyang-goyang dengan hukumnya sendiri. Mendadak saja aku seperti mendapat akal.

Aku membisikkan sesuatu di telinga Amrita, dan meski wajahnya tampak kurang senang, ia mengedipkan matanya tanda mengerti. Maka di antara kesibukan berkelebat seperti kelelawar naik dan turun, kulemparkan sebentar tubuh Amrita,

sekadar agar tanganku dapat bebas sebentar untuk melakukan totokan secepat kilat, lantas tentu saja kutangkap kembali. Setelah itu aku bergerak melaju, dan tidak menghindari tebasan pedang maupun tetakan maut kapak lagi, karena kedua pergelangan tangan Amrita yang telah kuhidupkan dari totokan melumpuhkan, membuatnya dapat memegang kipas dan menggerakkannya dengan jurus-jurus mematikan. Artinya meskipun tanganku mati karena mesti membopong Amrita, kedua tangan Amrita dengan kebutan kipas mautnya lebih dari cukup untuk menggantikannya. Bisalah dibayangkan jika kulepaskan seluruh totokannya, tidak mungkin Amrita bersedia kuajak pergi, karena mencabuti nyawa baginya bagaikan pekerjaan yang terlalu menyenangkan. Itulah bahayanya belajar ilmu silat, jika tidak diikuti pembelajaran filsafat.

Bahkan dalam keadaannya yang sekarang pun, Amrita tak pernah berhenti berusaha, mengembangkan jurus sambil mencari korban. Maka kedudukanku sebagai pembopong tubuh Amrita kumanfaatkan, untuk mengatur agar kedua kipas

Amrita tidak lebih banyak lagi memusnahkan. Dengan begitu meski Amrita berusaha melaksanakan pembunuhan dengan kipasnya, aku tetap dapat mengaturnya agar tetap tidak menjadi pembantaian. Apabila masing-masing ujung kipasnya siap menghancurkan kepala seseorang, kedua tanganku yang membopongnya dapat membelokkan tubuhnya sehingga pukulannya tidak mengenai sasaran, tetapi berguna mementalkan senjata sang penyerang. Dengan cara ini lawan bergelimpangan dengan nyawa tetap dikandung badan supaya dapat meneruskan kehidupan.

Tentulah pertempuran ini tergolong ajaib, karena aku menanggapi serangan dengan berputar-putar naik turun seperti kelelawar sembari membopong Amrita, sementara kedua tangan Amrita memainkan kedua kipas itu dengan jurus-jurus mematikan yang syukurlah bisa kubelokkan. Tidakkah kini para pendekar itu mendapatkan pelajaran yang mereka inginkan? Begitulah semua ini berlangsung dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti mata, dan dalam sekejap kami telah melewati mereka dengan segala pukulan melumpuhkan tanpa menyebabkan kematian. Aku melesat turun ke jurang untuk memotong jalan, dan memang lebih baik melompat

dari pohon ke pohon di tepi jurang daripada menyusuri jalan setapak di pegunungan yang hanya akan memperlambat perjalanan.

Dengan Amrita yang telah memerah bersimbah darah korban dalam bopongan, aku tak bisa sembarang bertemu orang apalagi masuk ke dalam kerumunan, karena tentu saja seorang lelaki dengan bahasa Khmer yang terpatah-patah dan membopong perempuan terindah tetapi memerah darah akan sangat menarik perhatian. Aku harus mencari tempat persembunyian. Masalahnya, tempat persembunyian macam apakah yang sebaiknya kucari dalam keadaanku yang seperti sekarang ini?

Aku masih melenting-lenting dari pucuk pohon satu ke pucuk pohon ketika kuketahui dua sosok bayangan berkelebat mengejarku. Menilik gerakan dan kecepatannya ilmu silatnya tentulah jauh lebih tinggi daripada segenap pendekar yang berusaha mencegahku tadi. Bahkan busananya yang rapat menutupi seluruh tubuh membuatku berpikir keduanya bukanlah orang Khmer melainkan Negeri Atap Langit. Bukankah selalu ada saja petualang dengan ilmu silat tinggi yang bersedia melakukan tugas apapun asal dibayar? Mereka berkelebat lebih cepat dan menyerang! Aku berbalik dengan kipas Amrita yang telah berputar kencang seperti baling-baling yang menyampok pedang mereka masing-masing yang menyerang dari kiri dan kanan.

‘’Aaaaahhhkkkk!’’

Terdengar mereka memekik kesakitan, karena dengan kecepatan mereka yang luar biasa aku tak sempat mengatur jarak kedua tangan Amrita dari keduanya. Agaknya tangan mereka masing-masing yang memegang pedang itu telah ikut terpotong, atau sengaja dipotong Amrita pada pergelangan tangan. Saat itu aku telanjur berputar dan menyepak sekaligus ke kiri dan ke kanan, sehingga keduanya terus meluncur ke dalam jurang, tanpa mampu menyentuh pohon manapun untuk melenting-lenting, karena saat itu kemungkinan keduanya sudah pingsan.

Lantas kuhinggapkan diriku pada sebuah dahan yang menjulur, sementara kedua orang bayaran yang taksadarkan diri itu meneruskan kejatuhannya, entah akan tersangkut pepohonan atau semak-semak di tepi jurang, dan suatu saat siuman; ataukah terbentur ujung batu-batu besar yang menyeruak tajam, yang jika membenturnya tentu saja berarti kematian. Kuhinggapkan diriku pada dahan yang menjulur dan menjorok itu, yang karena berat tubuh Amrita menjadi tertekuk jauh ke bawah, sebelum akhirnya bergerak ke atas lagi melejitkan diriku yang telah menarik napas dalam ilmu meringankan tubuh, karena kudengar suara-suara…

Saat terlontar kembali ke atas itulah terlihat sumber suara tersebut, suara air terjun yang sebetulnyalah bergemuruh, tetapi yang karena letaknya di dalam celah dinding batu, maka terdengar hanya sebagai suara sayup-sayup sampai. Maka ketika aku turun dan kakiku menyentuh cukuplah ranting dan takusah dahan aku segera melenting kembali ke arah celah itu, memiringkan tubuh sedikit agar dapat memasukinya, lantas berhenti dengan cara membentangkan kakiku sehingga ujung telapak kakiku masing-masing menempel pada sisi kiri dan kanan dinding itu.

Aku berada di antara suatu celah yang hanya dapat diketahui keberadaannya pada ketinggian seperti ini. Di bawah celah ini tertutup membentuk dinding batu, jadi seperti dinding batu raksasa yang merekah di atas, dan di dalamnya terdapat rongga dengan sebuah danau dan air terjun. Namun karena rekahan itu menutup lagi di atasnya, maka memang hanya dari tempatku kebetulan itulah dapat kutemukan celah sempit tersebut, yang memperdengarkan suara air terjun sayup-sayup yang sampai ke telingaku. Hanya manusia yang mendaki sampai puncak tertinggi pegunungan ini, atau tentu saja dari suatu titik di Puncak Tiga Rembulan, akan dapat melihat danau dan air terjun ini dari atas. Dengan begitu kurasa memang belum pernah ada yang mengetahui keberadaan tempat ini, kecuali mungkin Pangeran Kelelawar yang sudah mati, sehingga kupikir untuk sementara akan aman

bersembunyi di sini, terutama untuk menghindari perburuan para pembunuh bayaran yang biasanya sangat tabah dalam pencarian jejak dan ilmu silatnya tinggi.

Demikianlah kuarungi celah itu dengan kedua kaki menempel dinding setapak demi setapak sebelum terlalui sama sekali. Dengan tangan membopong Amrita seperti ini

aku tidak bisa memanfaatkan ilmu cicak sepenuhnya. Sementara yang dibopong tampak kesal sekali tertotok jalan darahnya seperti itu. Apakah yang akan dilakukannya jika totokan itu kulepaskan? Namun teringat medan pertempuran yang telah menjadi ladang pembantaian perempuan pendekar sakti mandraguna ini, kuyakini betapa keputusanku tidaklah keliru.

Lagipula kudengar betapa Jayavarman II yang telah mempelajari seluk beluk kebudayaan dari wangsa Syailendra di Jawadwipa adalah raja yang segenap kebijakannya dapat dipertanggun jawabkan. Mengapa pula langkah-langkah kebijakannya itu harus tertunda atau gagal sama sekali karena dendam pribadi puterinya sendiri? Memang benar dendam itu terdengar sahih atas nama penderitaan ibunya yang tertindas, bahkan kemungkinan besar melahirkan Amrita tanpa dasar cinta sama sekali, yang memperbesar dendam Amrita berkali-kali lipatótetapi siapakah yang dipastikan bersalah dalam jatuhnya korban-korban sejarah seperti itu, tempat setiap kerajaan membangun kejayaan di atas kehancuran kerajaan yang lain?

Memandang wajah Amrita, kubayangkan paras ibunya yang berdarah keluarga istana Kemaharajaan Tchen-la, bukan takmungkin jauh lebih cantik dari Amrita, tetapi yang mengingatkanku kembali kepada perbincangan tentang kecantikan seorang perempuan, yang justru merupakan sumber petaka atas nasibnya yang malang…

Setelah nekat beringsut dengan setiap kali menjatuhkan diri ke depan, terlalui juga celah itu, bahkan kakiku menyentuh bumi kembali tepat di samping air terjun, sehingga dapat kulihat betapa di belakang air terjun tersebut terdapatlah sebuah gua. Sungguh tempat persembunyian yang sempurna!

AKU bermaksud memasuki gua, tetapi kusadari betapa darah yang menyimbahi seluruh tubuh Amrita bahkan mulai lengket ke tubuhku. Jadi dengan Amrita masih berada dalam bopongan, aku pergi ke bawah air terjun yang meskipun tidak terlalu besar tetap saja luar biasa deras karena jatuh dari tempat yang sangat tinggi itu.

Kubiarkan air membersihkan seluruh tubuh kami, kuharapkan pula air dapat meluruhkan segenap kemarahan Amrita, baik kemarahan atas nasib ibunya, apa

yang terjadi kepada para pengawalnya, maupun kepada diriku yang telah melumpuhkannya begitu rupa.

Kubalik-balik tubuh Amrita dalam boponganku, sehingga air yang deras dan juga terasa keras jatuhnya pada badan itu mengikis bukan saja darah yang mengering di bagian depan, yakni kaki, perut, dada, dan wajah, tetapi juga bagian belakang, seperti punggung, dan termasuk pula kain tembus pandangnya yang semula taktertembus pandangan lagi karena mengentalnya simbahan darah. Amrita tampaknya pasrah, sepasang kipasnya yang terikat pada pergelangan tangannya tergantung lemah, darahnya ikut terkikis, memunculkan kembali gambar-gambar dan huruf-huruf Sansekerta yang terdapat pada kipas itu. Kulihat sepintas lalu, rupanya pada kipas sebelah kiri terdapat gambar pendeta Nagasena dengan sepotong ujaran filsafatnya, dan pada kipas sebelah kanan terdapat gambaran pendeta Nagarjuna, juga dengan sepotong ujaran filsafatnya yang menghancurkan segala kebakuan itu. Meskipun sangat penasaran, tetapi membaca dan merenungkan makna kedua ujaran filsafat kedua pendeta Buddha yang ajaib dalam sepasang kipas senjata Amrita itu harus kutunda.

Dalam dingin udara senja, kumasuki gua dengan tubuh basah kuyup. Segera kubaringkan Amrita pada sebuah batu datar. Kulepaskan totokan jalan darahnya. Lantas keluar gua lagi untuk mencari makanan, tepatnya suatu bahan yang terhadapnya dapat kulakukan sesuatu supaya dapat menjadi makanan.

Sisa cahaya pada puncak tebing hanya memperlihatkan dinding batu yang tandus. Ini berarti jika ingin makan sayuran aku harus keluar melalui celah sempit itu lagi, yang dalam keadaan remang seperti ini tidaklah terlalu menarik hati. Maka aku pun memilih untuk menyelam ke dalam danau, sembari menyelidiki keadaannya, apalagi jika bukan berburu ikan. Senja yang telah menggelap membuatku tidak bisa melihat dengan jelas di dalam danau. Tak dapat kuandalkan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang sehingga kuandalkan saja mataku mencari ikan dalam

keremangan di bawah permukaan. Betapapun sisa cahaya adalah cahaya juga, yang meski dari saat ke saat berkurang tetap masih bisa kumanfaatkan.

Namun ikan adalah makhluk air yang lebih menguasai keadaan, mereka tentu jauh lebih mahir daripada aku dalam mencari tempat persembunyian. Padahal perutku sudah amat lapar bukan buatan. Bukankah kami turun dari Puncak Tiga Rembulan juga karena tiada lagi makanan, dan betapa sampai di bawah masih harus mencurahkan segala daya mengatasi kepungan yang sungguh berlebihan?

Mendadak muncul seekor ikan menyalipku, seperti sengaja memancingku untuk mengejarnya. Aku pun memburunya dengan berenang seperti lumba-lumba, karena dengan sendirinya percaya ini bukan jebakan. Tidakkah ikan otaknya memang terlalu kecil untuk sekadar punya pikiran? Pendapatku tentang otaknya mungkin benar, tetapi mengira kelebat ikan yang seperti minta dikejar itu bukan pancingan ternyata keliru.

Ketika ikan itu memasuki mulut sebuah gua di dasar danau dan aku tetap mengejarnya, begitu memasuki gua sesosok bayangan hitam berkelebat menyergap dan melibatku dari belakang. Semula kukira semacam ular besar, tetapi kulihat dalam kekelaman jelas tangan manusia yang telah mengunci kedua lenganku, sementara kurasakan sebuah gigitan pada tengkukku! Aku meronta dengan lengan terjepit, tetapi gigitan itu menancap makin dalam dan seperti tidak mungkin dilepaskan!

114: Pertapaan Naga Bawah Tanah

Alangkah mengerikannya sergapan seperti ini. Tangan terkunci, gigi taring menancap pada tengkuk, terjadi dalam gua di dalam air, dalam keadaan lapar pula. Jika aku dengan panik mengerahkan tenaga terlalu besar, udara dalam paru-paruku tentu akan lebih cepat habisnya, tetapi tidaklah mungkin bagiku untuk diam saja, karena gigitan seperti ini tentulah dilakukan karena dayanya untuk mematikan melalui racun.

Ternyata, bahkan sebelum aku mengingatnya, segenap ilmu racun yang tertanam dalam diriku berkat pewarisan Raja Pembantai dari Selatan telah dengan sendirinya memberi perlawanan tanpa diminta. Racun yang mengalir lewat gigitan berbisa penyergap yang menyekap itu dipunahkan dan kemudian bahkan diserang.

‘’Grrrllllkkk!’’

GIGITAN itu lepas sejenak tetapi lantas menancap kembali dengan serangan racun yang berbeda. Agaknya penyerang ini bagaikan tersodok oleh perlawanan racun dari dalam diriku sehingga terpaksa melepaskan gigitannya sebentar, meski ia terbukti mampu langsung menancapkannya kembali. Namun untuk ini pun segenap daya ilmu racun yang telah tertanam dalam diriku balas menyerang dan setiap kali pula telingaku di dalam air ini mendengar suara grrrllllkk ketika gigitannya terlepas, tetapi setiap kali pula untuk segera menancap kembali. Terdapat ribuan ilmu racun dalam diriku yang akan dengan sendirinya menangkal dan memunahkan setiap serangan

racun, seperti juga yang berlaku terhadap setiap serangan ilmu sihir, tergantung dari jenis racun yang menyerang itu, tetapi aku tentu saja tidak dapat membayangkan betapa ribuan kali pula gigi taring itu akan menancap, terlepas, dan menancap lagi pada tengkukku.

Segera kuputar tubuhku seperti baling-baling, dengan setiap kali membenturkan entah siapa yang baru kuperhatikan tangannya bersisik itu ke dinding-dinding gua yang berbatu tajam. Namun gigitan manusia bersisik ini tidak kunjung lepas jua dan ini tidak kukehendaki sama sekali. Dengan benturan-benturan keras dan perputaran luar biasa baling-baling kuandaikan penyerang yang menyekap dan menancapkan taring ini akan kehabisan tenaga, dan juga udara, sehingga akan terpaksa melepaskan diriku untuk mengambil napas ke permukaan air, tetapi sepasang tangannya yang bersisik itu membuatku berpikir barangkali ia bernapas dengan insang.

Maka keadaanku sungguhlah berbahaya adanya, karena dengan lemasnya tubuhku yang kehabisan udara dalam paru-paru, segenap daya penangkal racun juga akan

melemah karenanya. Padahal perputaran diriku bagai baling-baling dalam air ini adalah pengerahan tenaga yang tidak sembarangan pula. Sesungguhnyalah kedudukanku sangat rawan dan aku berada dalam bahaya, tidak lain karena kelaparan telah membuatku kehilangan kewaspadaan ketika seekor ikan berkelebat memancing seperti siap dibakar dan disantap dengan penuh kenikmatan. Kuingat selintas cerita tentang kesaktian mereka yang dapat memberi perintah kepada binatang, tak lain karena daya batin tingkat tinggi yang hanya dapat dicapai dalam kesempurnaan.

Tanganku yang terkunci juga jelas merupakan sumber kelemahan. Aku hanya bisa melirik tangan bersisik seperti ikan, tetapi yang sisiknya begitu besar tidak seperti ikan manapun. Jika kugunakan ilmu-ilmu racun yang diwariskan Raja Pembantai dari Selatan, aku ragu apakah tidak mencemari air danau dan membunuh segenap isinya yang tidak bersalah. Sungguh tidak mudah bertempur di dalam air dengan banyak pertimbangan. Sementara manusia bersisik ini bisa bernapas dengan insang, aku tidak mungkin selama-lamanya bertarung, dalam keadaan terkunci pula di dalam air seperti ini.

Maka setelah berputar seperti baling-baling dan membentur-benturkannya ke berbagai dinding karang tanpa hasil, aku berusaha keluar dari gua di dalam danau itu dan kupikir meski dalam keadaan terjepit dapat mengambil napas di atas permukaan. Namun lawanku tentu takmau diriku mendapat daya tambahan yang

penting itu, sehingga alih-alih menuju ke atas sebaliknya aku terseret masuk ke lorong yang semakin ke dalam ternyata semakin gelap. Aku memberontak hebat, tetapi bukan saja kunciannya tak terlepaskan, melainkan gigi taringnya di tengkukku menancap makin dalam, seolah-olah gigi taring itu bisa bertambah panjang. Jelas diriku berada dalam bahaya.

Lorong itu makin lama makin sempit dan kegelapannya sungguh mencekam. Aku tidak bisa lagi berpikir panjang, karena bahkan jika aku terlepas dari kuncian ini sekarang, belum tentu cukup waktu untuk naik kembali ke atas dan mengambil napas. Aku hampir saja sampai kepada keputusan untuk menyerangnya dengan zat beracun melalui pori-pori kulitku, sekadar untuk melepaskan diri, tanpa peduli

dengan tercemarnya kolam yang akan bisa membuat seluruh makhluk hidup di dalamnya langsung mati, ketika mendadak saja kurasakan gigitannya terlepas. Bukan saja gigitan itu yang terlepas, tetapi juga kunciannya, dan betapa tubuhnya terlepas dari tubuhku karena jelas diseret seseorang.

Aku mencoba berbalik untuk keluar lagi, tetapi selain lorong itu sudah semakin sempit, jalan yang harus kulalui dipenuhi dua manusia yang sedang bertarung cepat sekali di dalam air. Dalam kegelapan masih dapat kukenali dari bentuk tubuhnya. Amrita! Dengan cepat sekali di dalam air itu mereka saling bertukar pukulan, tetapi di antaranya Amrita masih sempat memberi tanda agar aku terus saja jalan. Tentu saja aku sangat terkejut dengan kenyataan betapa sosok yang telah membuatku takperlu mengeluarkan racun itu memang Amrita. Bukan karena ia segera menjadi begitu bugar setelah kubebaskan dari totokan jalan darah, tetapi karena diketahuinya aku berada di gua dalam kolam, dan mampu bertempur dalam air dengan jurus-jurus serupa dengan manusia bersisik itu.

PERTUKARAN pukulan yang saling tertangkis tak berlangsung lama. Berlanjut dengan pertarungan bagai dua ekor ular yang saling melibat, saling menjepit, bahkan saling menggigit, bukan sebagai sembarang pergulatan, melainkan agaknya terdapat jurus-jurus pertarungan yang berlaku di dalam air dan karena itu menimba gagasan dari pertarungan makhluk-makhluk air. Amrita taklagi mengenakan kain tembus pandangnya, bagai takpercaya aku melihat tubuhnya yang seperti menerangi gua itu memang bukan sedang bercinta melainkan saling melibat dengan ketat antara hidup dan mati melawan manusia yang seluruh tubuhnya bersisik. Darimanakah Amrita mendapatkan ilmu silat yang baru kusadari saat itu dapat dan hanya berlaku bagi pertarungan di dalam air?

Aku tidak mungkin lagi menunda untuk mengambil napas ke permukaan, dan aku harus percaya betapa pada lorong yang ditunjuk Amrita itu memang terdapat jalan bagiku untuk mengambil napas yang sangat kubutuhkan. Aku meluncur secepatnya dalam lorong yang sempit itu ke depan, ke depan, dan ke depan seperti ikan lumba-lumba. Tentu tidaklah lama aku meluncur seperti itu dalam kegelapan, tetapi untuk orang yang butuh udara untuk bernapas segera, sungguh terasa sangat amat terlalu

lama. Namun kemudian terlihat bahwa lorong ini dasarnya bertambah tinggi sehingga aku pun harus berenang lebih ke atas. Tidakkah kepalaku nanti akan membentur langit-langit lorong? Ternyata tidak, bahkan kepalaku seperti tiba-tiba saja sudah melewati permukaan air!

Segera kutarik napas dalam-dalam, sedalam-dalamnya, seperti aku akan menyelam lagi sepuluh tahun lamanya —dan memang kurasa aku harus segera menyelam kembali. Aku tidak bisa membiarkan Amrita bertarung antara hidup dan mati melawan makhluk bersisik yang gigitannya sangat berbisa. Saat itu badanku separuh berada di permukaan dan separuhnya masih berada di dalam air, aku rebah tengkurap seperti lumba-lumba yang terdampar di pantai. Aku sedang akan beranjak ketika mendadak Amrita terempas di sampingku, tengkurap di atas lantai batu yang berada di bibir permukaan air itu. Baru kusadari aku telah muncul di sebuah gua yang rupanya terdapat di dasar kolam, dan hanya karena lorong yang menuju gua ini semakin naik, maka gua ini tetap kering, menjadikannya tempat persembunyian terbaik sebagai hasil keajaiban alam. Namun memandang gua itu selintas, kurasakan sentuhan tangan-tangan manusia di dalamnya, seperti yang selalu terawat dengan baik sekali. Bahkan pada dindingnya, meski dalam gelap, kulihat ukiran yang membentuk gambar naga.

Amrita beranjak lebih dulu dariku. Air menetes-netes dari tubuhnya yang terbuka, langsung berjalan ke arah gua dan masuk ke dalamnya. Keadaan tentu gelap, tetapi dalam kegelapan kami masih dapat saling melihat, sehingga aku tahu ketika keluar lagi dari dalamnya, kulihat Amrita telah mengenakan kain ki-pei. 1) Ia telah mengeringkan dirinya dengan kain ki-pei yang lain, yang lantas diulurkannya dari kejauhan itu.

‘’Selamat datang di pertapaan Naga Bawah Tanah,’’ katanya tersenyum.

Aku yang masih tengkurap, sembari menyambut kain itu merasa tercengang mendengar nadanya yang begitu tenang.

‘’Mana lawanmu?’’

‘’Oh, Naga Kecil? Dia sudah mati.’’

‘’Naga Kecil?’’

Amrita tersenyum cerah, mengapakah tak harus betah berada di dekat seorang perempuan yang begitu indah, dengan bibir merah merekah?

‘’Kuceritakan semuanya kepada dikau nanti, wahai Pendekar Tanpa Nama, tetapi baiklah kini daku cari makanan kita sejenak. Tinggallah di sini dan beristirahatlah. Amrita akan kembali dengan makanan terenak.’’

Ia melepas ki-pei yang baru saja dikenakan itu, meninggalkannya di atas batu besar, dan hilang ke dalam air. Tinggal permukaannya bergoyang-goyang, menyadarkan diriku kepada kesendirian dalam kesunyian, tempat segala sesuatu lantas mendapat tempat untuk direnungkan. Tentu saja dunia dalam gua ini sangat gelap, tetapi manusia sangat cepat menyesuaikan diri, dan aku sendiri berpengalaman tinggal sepuluh tahun dalam gua tanpa pernah keluar selama sepuluh tahun itu. Jadi aku dapat melihat segalanya di dalam gua, segala yang tertata, segala yang terukir, segala yang tersimpan aman di dalamnya.

Kulihat tumpukan ki-pei yang terlipat rapi. Kuambil satu setelah kukeringkan tubuhku dengan ki-pei yang diberikan Amrita tadi, dan kuganti pula kancutku yang basah dan tiada lagi jelas warnanya.

AKU tidak mengenakannya seperti kancut, melainkan seperti Amrita telah mengenakannya, yakni mengitarkannya dari pinggang ke bawah, lantas

menggulungnya pada pinggang itu. Dalam gelap tak dapat kulihat warnanya dengan jelas, tetapi masih kuingat warna-warna ki-pei sepanjang perjalananku dari segala jenisnya, antara cokelat tua dan merah darah, dengan ragam hiasan garis-garis benang kuning, biasanya dilengkapi selendang, dan cara melipat ki-pei maupun selendang itu yang sangat menentukan keserasian. Hiasan garis-garis benang kuning itu lebih tampak dari yang lain, bahkan seolah-olah meneranginya, sehingga kuduga benang itu bukan sekadar berwarna kuning, melainkan kuning emas.

Namun tentu saja ini sebuah gua yang gelap, meski kemudian dapat kulihat juga betapa pada dinding gua itu terbentuk rongga-rongga kotak yang rapi, tempat menyimpan segala peralatan, untuk makan, mengukir, maupun menulis, gulungan lontar, juga kain-kain ki-pei tersebut. Terdapat sebuah batu datar yang ketika kuraba terasa sangat halus, sehingga kuduga tempat itulah yang digunakan Naga Bawah Tanah jika melakukan samadhi.

Pintu masuk gua ini terdapat di dasar danau. Air tidak masuk karena rupa-rupanya lorong panjang yang sedikit demi sedikit naik itu akhirnya mengatasi ketinggian

permukaan danau. Kubah gua seperti tertutup dinding batu yang rapat, tetapi udara yang sejuk menunjukkan bahwa betapapun tentu ada celah, setidaknya semacam pori-pori yang merembeskan udara. Pantaslah Naga Bawah Tanah tidak pernah menampakkan diri! Tapi siapakah Naga Kecil, manusia bersisik yang telah dibunuh Amrita itu, yang bahkan hampir membunuh diriku? Kuraba tengkukku, masih terdapat lubang bekas taring berbisa yang terasa panas di situ, meski ilmu racun akan terus-menerus memunahkannya sampai bersih sama sekali. Apakah hubungannya dengan Naga Bawah Tanah yang menurut Amrita pertapaannya adalah gua ini? Di manakah Naga Bawah Tanah sekarang?

Terdengar kecipak ombak pada mulut lorong tempat kami terdampar tadi. Amrita muncul dengan seekor ikan yang panjang pada tangannya, nyaris seperti seekor belut besar, yang mungkin cukup untuk memberi makan enam orang.

‘’Pendekar Tanpa Nama, adakah ikan semacam ini di Jawadwipa?’’

Ia tersenyum, keceriaannya menembus kegelapan. Tubuhnya yang putih diselaputi keremangan ketika ia melemparkan ikan itu kepadaku, sementara melangkah mengambil ki-pei yang tersampir pada batu.

‘’Bakar sajalah, Pendekar,’’ katanya tanpa menunggu jawaban, ‘’bukankah kita sangat lapar?’’

Para pendekar dalam dunia persilatan, yang selalu berada dalam pengembaraan dan lebih sering menjauhi keramaian, tidaklah asing dengan segala macam cara membakar ikan, karena seorang pendekar harus mampu mencari makanan dan memasaknya sendiri di tengah perjalanan. Di dalam kota ia bisa memasuki kedai, dan di berbagai perempatan jalan antara berbagai pemukiman yang ramai juga biasanya terdapat kedai dan penginapan, tetapi pengembaraan seorang pendekar tidaklah selalu melewati tempat makanan yang selalu tersedia untuk dibayar. Para pendekar dalam sungai telaga persilatan mendaki gunung, menuruni lembah, menyusuri pantai, menjelajah hutan, dan menyeberangi rawa-rawa dalam menempuh jalan pedang, mencari lawan untuk menguji dan mencapai kesempurnaan dalam ilmu silat. Bukan berarti di sebuah kota yang dimaksudkan sebagai pusat peradaban pastilah tidak terdapat lawan, karena pada dasarnya para empu persilatan terdapat di setiap pojok kehidupan, tetapi karena di perkotaan orang tidak lagi berpikir tentang mencari kesempurnaan melalui ilmu persilatan. Akibatnya suatu pertarungan tidak diterima sebagai ujian kesempurnaan, melainkan sekadar gangguan atas ketertiban, dan tewasnya seorang pendekar yang bertarung dianggap

sebagai korban pembunuhan, sementara pendekar yang menewaskannya menjadi pembunuh yang harus ditangkap dan menerima hukuman.

Inilah yang membuat para pendekar yang ketika meninggalkan dan menjauhi keramaian menjadi sangat terbiasa berburu dan memasak makanan dalam perjalanan. Ikan yang dibakar begitu saja, ikan yang dibakar dengan bungkus daun, ikan yang dibakar dengan taburan rempah-rempah, ikan yang dibakar dengan olesan madu, lantas direndam di dalam santan. Di antara semua itu, membakar ikan begitu saja maupun membakarnya setelah dibungkus daun-daunan menjadi paling sering dilakukan, karena bagaimanakah caranya mendapatkan rempah-rempah,

madu, apalagi santan di dalam hutan? Di gua ini, bahkan dedaunan yang dapat memengaruhi rasa ikan, seperti menghilangkan amisnya, tidak ada sama sekali, sehingga dibakar begitu saja, tentu setelah dibersihkan sisiknya, menjadi satu-satunya pilihan.

KULIHAT tiga susun batu membentuk tungku di depan gua, bahkan di atasnya sudah terdapat tempat pemanggangan. Dengan batu api dan kawung untuk menyalakan ranting-ranting kering yang sudah ada di sana, berhasil kunyalakan api, yang selain akan memanggang ikan panjang tangkapan Amrita, juga ternyata menerangi gua ini. Ketika kucari ke mana asapnya pergi, seperti menghilang begitu saja di atap gua.

”Ada celah di atas sana, yang juga telah memberi udara, tempat asap terserap pori-pori tanah di atasnya,” ujar Amrita, yang seperti mendekat tiba-tiba, dan telah mengenakan kembali itu kain ki-pei.

Rambutnya yang masih basah, lurus panjang dan tampak terawat, jatuh ke bahunya dengan lemas dan menawan.

Ikan sudah dipanggang, dengan tusukan ranting dari moncongnya sampai ke luar di bagian ekor. Betapapun baunya ternyata sangat merangsang selera. Kami bagaikan berebut setelah ikan yang malang itu siap kami telan.

Rasa ikan ini begitu lezat, dan dagingnya begitu banyak, sehingga kami masih mengambilnya dari panggangan meski perut telah menjadi kenyang.

”Ceritakanlah kepadaku tentang Naga Kecil,” kataku sambil makan.

Maka Amrita pun bercerita tentang sebuah percintaan.

115: Nagarjuna di Dalam Air

”SETELAH dikau lepaskan totokan jalan darahku, tubuhku segera menjadi segar kembali dan dengan segera pula daku kenali tempat ini. Sejak dikau memasuki

celah sempit sembari membopong diriku itu, dalam pandanganku yang tergolek dan jalan darahnya tertotok sebagian, samar-samar kukenali kembali wilayah itu, yakni danau tersembunyi yang menjadi tabir penghalang bagi pertapaan Naga Bawah Tanah yang memang tidak pernah menampakkan diri.

”Sambil mengatur pernapasan kuketahui dirimu menghilang, tentunya masuk ke dalam kolam, karena seperti dikau aku pun lapar dan karena itu tidaklah keliru jika dikau memilih untuk menyelam berburu ikan daripada memancing atau menjala seperti nelayan. Daku membayangkan dan daku tahu karena pernah lama tinggal di sini, betapa dalam remang senja itu dikau harus membiasakan diri dengan lingkungan selama berenang-renang dalam penjelajahan danau, dan terutama dikau tentu tidak akan menduga bahwa di dasar danau itu terdapat gua yang merupakan pintu lorong menuju gua ini, tempat pertapaan Naga Bawah Tanah yang mahasakti.

”Daku tidak berpikir dikau akan memasukinya, meskipun jika kebetulan melihatnya, selain karena tidak memunyai alasan untuk sekadar menduga, juga keadaan kita yang lapar tentu akan membuat dikau mengutamakan ikan daripada bertualang ke mana-mana. Kita telah mengalami peristiwa yang sangat menegangkan dan tentunya dirimu juga sekadar ingin mengendapkan apakah kiranya yang akan kita lakukan. Maka daku pun beranjak untuk duduk bersila, bersikap samadhi, mengolah pernapasan, dan mengembalikan tenaga. Saat itu aku lupa dengan keberadaan Naga Kecil, saudara seperguruan yang pernah menjadi kekasihku, tetapi yang telah kutinggalkan karena perbedaan tujuan setelah menyelesaikan pelajaran.

”Seperti guru kami, Naga Kecil juga mewarisi kemampuan membaca dan memindahkan daya pikiran kepada makhluk-makhluk di atas maupun di bawah permukaan kolam. Jadi itu bukan seperti memerintahkan dengan pengertian, melainkan pengaruh daya-daya yang merambati air maupun udara, agar seperti ikan itu misalnya bergerak seperti dikehendakinya. Daya-daya itu adalah suara tak terdengar seperti yang telah membuat kelelawar maupun lumba-lumba dapat saling berhubungan, tetapi dengan jarak yang nyaris tak terkirakan jauhnya. Dengan ilmu yang sama pula telah dibacanya udara yang tersibak setiap gerak, sehingga tiada sesuatu pun dari segenap tindakanku yang tidak diketahuinya, kecuali pikiranku.

Dengan membaca segala tindakan ragaku itulah Naga Kecil dapat memperkirakan apa yang daku pikirkan. Karena tidak mampu menutupinya, maka daku biarkan saja

bekas kekasihku itu mengetahui segala tindakanku, termasuk ketika mengetahui pertarunganku dengan dikau, dan segala sesuatu yang kemudian terjadi selanjutnya.

”Meskipun telah daku nyatakan kepadanya bahwa diriku tidak terikat lagi kepadanya sebagai seorang kekasih, tetapi kepeduliannya kepadaku tetap, bahkan terlalu sering diiringi rasa cemburu. Tiada yang lebih berbahaya di dunia ini selain rasa cemburu yang berkobar dalam kebutaan cinta bukan? Telah kuusahakan segala cara untuk memberinya pengertian, bahwa meskipun kami telah terpisah jauh tetapi diriku tidak akan pernah melupakannya, dan bahwa dalam kenyataannya aku tidak pernah mempunyai seorang kekasih lagi selain dirinya.

SELAIN memang tidak mau, memang perhatianku sudah tersita oleh dua hal: Pertama, mencari kesempurnaan melalui jalan pedang di sungai telaga dunia persilatan; kedua, mengerahkan segala daya untuk membalaskan dendam penderitaan ibuku, yang sebagai bangsawan Kerajaan Tchen-la terpaksa melahirkan diriku dalam kekuasaan Kerajaan Angkor.

”Namun kecemburuan Naga Kecil telah memberi pengaruh daya nalarnya. Terhadap musuh-musuhku ia melakukan pembunuhan jarak jauh yang sebetulnya tidak perlu, hanya karena aku seolah-olah telah menjadi kekasih mereka, padahal sama sekali tidak, selain demi kepentingan membuka rahasia yang sangat kuperlukan untuk tujuan pembalasan dendamku. Kuakui memang ada pembunuhan gelap yang kulakukan dengan meminjam tangan kelompok Naga Hitam dari Jawadwipa, dan karena itu terjamin tiada jejak yang ditinggalkannya; tetapi pembunuhan yang dilakukan Naga Kecil selalu dilakukan terhadap orang-orang yang sedang kudekati begitu rupa, seolah-olah daku menjadi kekasihnya, sehingga setiap kali kecurigaan terarah kepadaku jua.

‘’Naga Kecil memang sakti, kuduga dalam pertempuran tadi berlangsung campur tangannya pula, karena meski dendamku atas penderitaan ibuku begitu membara bukanlah maksudku membantai banyak orang sampai bertumpuk-tumpuk begitu. Murid Naga Bawah Tanah hanya dua, maka tidak anehlah kiranya jika Naga Kecil menaruh hati kepadaku pula dalam gua yang terasing dan sunyi seperti ini. Berbeda dengan Naga Kecil, yang sebetulnya tidak pernah berniat belajar ilmu silat, melainkan diangkat Naga Bawah Tanah sebagai muridnya sejak bayi setelah membebaskannya dari perut seekor ular sanca; maka aku sengaja datang kepadanya demi penyempurnaan ilmu silat dan pelaksanaan dendam yang membara.

‘’Daku akui, meskipun bersisik, Naga Kecil bukan tidak menarik sebagai seorang kekasih, tetapi cinta bukanlah tujuan hidupku. Jadi kulayani Naga Kecil dengan catatan dalam hati, bahwa daku akan pergi meninggalkannya jika pelajaran yang kutempuh sudah selesai. Setelah pelajaranku selesai, kami berpisah tanpa janji ap apun, bahkan kutegaskan bahwa aku memang tidak akan memberikan diriku untuk cinta sebelum cita-citaku tercapai, dan karena itu tiadalah perlu Naga Kecil itu mengharap diriku akan kembali kepadanya.

‘’Tentu tidak ada yang bisa dilakukannya atas keputusanku itu. Lagi pula Naga Bawah Tanah telah memberi tugas untuk menjaga pertapaan, ilmu silatnya lebih dapat diandalkan di dalam air daripada di atas tanah, meski tentu saja tidak mudah mengalahkan Naga Kecil di mana pun. Ia mendapatkan namanya, karena Naga Bawah Tanah setiap kali ditantang oleh seorang pendekar yang menghendaki gelar naga, selalu mengirimkan Naga Kecil sebagai gantinya. Di Tanah Khmer belum pernah ada seorang pun mampu mengalahkan Naga Kecil, sedangkan siapa pun yang menantang Naga Bawah Tanah, tidak akan melakukannya tanpa ilmu silat yang tinggi. Namun karena betapapun ia bukan Naga Bawah Tanah, ia pun disebut Naga Kecil. Agaknya Naga Bawah Tanah juga merestui julukan itu, bahkan ikut menyebutnya Naga Kecil.

‘’Nama sesungguhnya daku tak tahu, tak jelas siapa dia ketika Naga Bawah Tanah mengetahui isi perut ular sanca yang ditemuinya. Ia mendengar bunyi detak jantung.

Maka dari jarak jauh dibedahnya perut ular itu, dan bayi yang agaknya baru saja ditelan itu menggelinding keluar kembali. Bayi itu ternyata lidahnya bercabang, sehingga ia tak bisa mengucapkan bahasa manusia. Ia hanya bisa mendesis seperti ular, kulitnya pun bersisik, dan Naga Bawah Tanah berhubungan dengannya hanya secara batin. Naga Bawah Tanah memang sangat menyayanginya, dan menumpahkan segenap ilmu kepadanya. Jika bukan daku yang melawannya, sulit mengalahkan Naga Kecil, karena kami berdua murid Naga Bawah Tanah maka saling tahu titik kelemahan ilmu-ilmunya. Kini daku bertanggung jawab atas kematiannya. Tak tahu apa yang akan dilakukan Guru kepadaku.

‘’Sebetulnya Guru sudah memperingatkan Naga Kecil, bahkan antarmurid Naga Bawah Tanah sebenarnya tidak dibenarkan adanya hubungan pribadi sebagai sepasang kekasih. Ia telah memperingatkan Naga Kecil, bukan saja masalah peraturan itu, tetapi juga keberadaanku yang tidak memungkinkan hubungan cinta abadi. Namun siapakah kiranya yang dapat membendung perasaan cinta? Meski lidahnya bercabang sehingga tak dapat berbicara seperti kita, ia punya hati, dan

matanya tajam menyatakan perasaannya. Daku pun tergetar karenanya dan karena itulah kami dapat saling mencintai dan menjalin hubungan cinta. Bahkan Naga Bawah Tanah tak berdaya menghalangi maupun melarang kami. Ia hanya menyatakan bahwa pelanggaran ini bukan tidak ada akibatnya. Sekarang daku sudah tahu, ternyata diriku harus membunuhnya demi dikau. Daku yang selalu menghindari bahkan mempermainkan cinta, kini terjebak dalam perasaan cinta yang membuatku membunuhnya, membunuh ia yang telah menjagaku dengan penuh cinta…

”AH, betapa diriku tidak berdaya…”

Masih ada sisa bara yang memungkinkan diriku melihat betapa matanya berkaca-kaca. Aku tahu bukan sekadar bahwa dirinya telah membunuh Naga Kecil yang telah membuat berduka, melainkan betapa cinta yang sudah mengorbankan seperti itu tidak akan terbalas sesuai dengan harganya. Meski aku telah bertahan melayani tantangan Pangeran Kelelawar hanya karena daya tarik Amrita, aku adalah seorang

pengembara yang sudah pasti akan meneruskan perjalanan, bahkan besar kemungkinan meski belum tahu kapan akan kembali ke Jawadwipa. Aku masih ingin menyaksikan seperti apa jadinya Kamulan Bhumisambharabuddhara. Aku masih ingin kembali menengok Celah Kledung. Namun aku juga masih ingin mengembara sejauh-jauhnya, selama ada jalan yang memungkinkan. Jadi aku tidak mungkin tetap tinggal di Kambuja ini selamanya.

Dalam gelap Amrita mendekatiku, merebahkan diri di pangkuanku, menjulurkan tangan kirinya, sehingga dalam remang kulihat ketiaknya, dan menarik leherku agar diriku bisa diciumnya. Mulut kami masih berbau ikan. Namun apa salahnya?

”Pendekar Tanpa Nama, jangan tinggalkan Amrita,” desahnya, sembari menciumiku lagi, lagi, dan lagi.

Pipiku terasa basah oleh air matanya. Apakah kiranya yang harus membuat Amrita Vigneshvara sang dewi penghancur putri raja nan jelita itu jatuh cinta kepada seorang pengembara lata? Aku hanyalah seorang lelaki berkancut dan berkain jubah sekadar penahan dingin yang miskin dan kotor.

”Jika diriku jatuh hati kepada dikau, wahai Amrita putri Jayavarman, maka hal itu sungguhlah wajar karena dirimu cemerlang seperti kejora, lembut seperti sutra, keras seperti pedang, dan mendebarkan seperti cinta pertama; tiadalah selayaknya sesuatu dari diriku seimbang dengan keadaan dirimu, tiadalah akan dirimu kehilangan daku…”

Disela ciumannya ke seluruh tubuh, dengan segenap belitan ular yang dimabuk cinta merana, Amrita terisak dan bersedusedan.

”Janganlah berkata begitu pendekar bijaksana, diriku mengukur manusia dari isi kepalanya, dan kutahu betapa luas dunia dalam dirimu dibanding semua orang siapa pun dirinya yang pernah kukenal.”

Bara api telah padam seluruhnya. Kegelapan nyaris sempurna. Kurasa bukanlah pada tempatnya kubantah segenap kata-katanya sekarang. Lagipula bibirnya telah menutup mulutku, sementara lidahnya bergulat mengunci lidahku. Malam semakin

kelam. Ketika kupejamkan mata dunia ternyata tidak lebih dari dunia di luarnya. Kubayangkan duniaku kelak tanpa Amrita, tetapi aku merasa tidak mungkin meninggalkannya.

”Aku tidak ingin berpisah darimu Amrita, pergilah bersamaku, mengembara dan menjelajahi dunia.”

”Pendekar Tanpa Nama, beri aku cinta…” Dan aku masuk ke dalam tubuhnya… Aku tidak ingat apakah Amrita masih merujuk Kama Sutra dalam permainan cintanya, karena yang kurasakan hanyalah diriku bagaikan dibelit ular naga.

*** DI dalam danau, di bawah permukaan air, kubaca Muladhyamakakarika. Konon seperti itulah Naga Bawah Tanah melatih kedua muridnya. Bukan ujaran Nagarjuna dari gulungan lontar yang tersimpan di rongga-rongga gua itu yang kupelari,

melainkan yang berasal dari lembar-lembar lempengan emas yang tertulis dengan aksara Sansekerta. tiada keberadaan apa pun yang jelas di mana pun yang muncul dari dirinya sendiri dari yang lain dari keduanya atau dari ketiadaan 1

Dengan kata-kata seperti ini, menurut Amrita mereka tidak dibenarkan keluar dari danau jika belum memahami maknanya. Tentu tidak dapat kubayangkan betapa beratnya menjadi murid Naga Bawah Tanah itu, karena setiap keluar danau tanpa menguasai isinya mereka akan segera ditempur agar menyelam kembali.

LATIHAN seperti ini membuat mereka terpaksa mengasah kecerdasan dan pada saat bersamaan meningkatkan daya ketangkasan, mula-mula hanya menghindar, lantas menangkis, tetapi kemudian mampu membalas, bahkan juga menyerang — dan hanya terhindar dari keterpaksaan bertarung jika mampu menguasai maknanya, sedangkan Naga Bawah Tanah akan mengetahui tingkat penguasaan itu cukup dengan daya batinnya. Selama penguasaan atas ujaran Nagarjuna belum dianggap memadai, mereka terpaksa terus membacanya di dalam air, dan tidak akan bertahan lama tanpa penguasaan ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk hidup di dalam air.

Maka pilihan mana pun akan meningkatkan kemampuan mereka pada tiga daya, kecerdasan olah filsafat, kemampuan ilmu silat, dan kehidupan di dalam air. Dua perkara pertama dapatlah kumengerti, tetapi yang ketiga, kehidupan di dalam air tidaklah terlalu mudah bagiku memahaminya. Seperti juga tiada bisa kumengerti bagaimana mungkin selaput kulit dapat ditumbuhkan dari antara pergelangan tangan sampai ke pinggang Pangeran Kelelawar, karena ketekunannya bersamadhi dengan cara tergantung seperti kelelawar, tiada pula dapat kupahami bagaimana Naga Kecil dapat hidup di dua alam hanya karena pernah ditelan ular sanca.

”Bahkan Naga Bawah Tanah pun juga tidak mengerti,” ujar Amrita, yang hanya mengandalkan ketangguhan menahan napas dengan tenaga dalam, dan bukan karena bernapas dengan insang untuk bertahan lama di dalam air.

”Barangkali dia memang jenis manusia yang lain,” Amrita menirukan Naga Bawah Tanah, yang karena segala perbedaannya, yakni tubuhnya bersisik dan lidahnya bercabang seperti ular sehingga tidak dapat mengucapkan bahasa manusia, akhirnya sangat menyayangi Naga Kecil.

Tidak seperti mereka, tidak ada peraturan bagiku untuk mesti memahami ujaran-ujaran Nagarjuna di dalam air lebih dahulu sebelum menarik napas di permukaan. Namun aku melatih diriku untuk memahaminya, dan tanpa memahaminya aku tidak akan keluar ke permukaan, karena betapapun aku memang ingin menguasai setidaknya dua perkara itu sekaligus, yakni menguasai filsafat Nagarjuna untuk mengembangkan ilmu silatku ke arah Jurus Tanpa Bentuk, selain menguasai cara bertahan selama mungkin di dalam air.

Lempengan emas yang kubaca tadi berisi kutipan dari Pratyaya-pariksa yang berarti Pengujian Keadaan, sebagai pembuka dari bab pertama Mulamadhyamakakarika atau Filsafat Jalan Tengah. Dengan kutipan tersebut, Nagarjuna mengajukan sastrakanta 2) kebertidakan 3) yang berjumlah delapan; suatu sastrakanta yang diajukan untuk dibuktikan dalam dua puluh lima bab berikutnya. Nagarjuna belum membuktikan apa pun di sini, artinya sastrakanta yang diajukannya belum diiringi pembelaan atau perbincangan dukungan, selain menyatakan bahwa empat jenis peristiwa munculnya keberadaan itu bukanlah suatu kejelasan atau kepastian.

Dengan belum terdapatnya pembelaan, aku tidak ingin beranjak lebih jauh dari penafsiran, bahwa Nagarjuna menggugat gagasan atas keberadaan isi dari suatu keadaan atau pracaya. Kutafsirkan pula, tampaknya Nagarjuna menggunakan pembelaan yang mengandalkan gagasan atas pengalaman langsung untuk mengingkari pandangan mereka yang berpihak kepada terdapatnya keberadaan isi.

Jadi, Nagarjuna menyatakan bahwa isi bukanlah suatu kepastian, dan karena itu keberadaannya tidak memenuhi kelayakan.4) Kucoba simpulkan, sastrakanta Nagarjuna adalah pernyataan bahwa isi atau keberadaan itu sendiri adalah gagasan yang tidak mungkin berlaku.

Napasku habis dengan simpulan ini, dan aku melejit ke permukaan danau. Seberapa cepatkah Amrita dapat memahami persoalan filsafat yang sama? Betapapun terbukti betapa daya penalarannya, seperti diriku juga, dapat dengan amat sangat menjadi rontok oleh dendam maupun cinta…

116: Sepasang Pendekar yang Menyamar

AKU dan Amrita melakukan perjalanan dengan menyamar. Setelah sekitar sebulan lamanya berada di dalam gua, kami putuskan keadaan cukup aman untuk keluar dengan kemungkinan bertemu banyak orang, asalkan kami sengaja menyamarkan diri dan menghindari setiap kemungkinan untuk ditebak dan dijebak. Dengan kemampuan bergerak lebih cepat dari kilat maupun bersembunyi di dalam bayang-bayang, sebetulnya kami lebih dari mampu menghindarkan pertemuan dengan banyak orang. Namun Amrita justru merasa perlu meleburkan diri dengan banyak orang di dunia awam, karena ingin mendengar dan mengetahui langsung perkembangan keadaan. Selaksa manusia telah gagal menangkapnya. Pengerahan tenaga sebanyak itu tentunya bukanlah tanpa akibat kepada kehidupan sehari-hari, sedangkan kehidupan sehari-hari akan memperlihatkan seberapa jauh pengaruh istana atas orang banyak itu.

Untuk itu bagi Amrita tiadalah cukup baginya memasang telinga di kedai, karena cerita lisan di kedai lebih sering terkuasai para pendongeng nan canggih, yang meskipun seru dan enak didengar, tetapi masih memerlukan penafsiran ulang untuk memahami kenyataannya. Memang kedai adalah tempat terbaik untuk mengikuti perkembangan warta mutakhir, tetapi Amrita merasa perlu menyuruk lebih jauh dan mendengar lebih langsung dari hati yang terjujur dan terdalam, seberapa jauh segenap kebijakan Jayavarman II untuk membangun Kerajaan Angkor dan mempersatukan Kambuja diterima oleh rakyatnya. Dari kedai memang terdapat warta, tetapi di kedai pula segenap mata-mata dan juru hasut demi kepentingan entah siap beradu daya dalam memberi makna berbagai peristiwa.

Maka Amrita tidak ingin hanya mendengar jurucerita, tetapi mereka yang bercerita tanpa bermaksud memberi kesan atau mempengaruhi siapa saja. Aku pun mengikutinya saja, karena aku memang tidak mempunyai alasan menolak ketika

Amrita merasa sudah sewajarnya aku berada bersamanya. Lagipula aku yakin dan percaya betapa masih ada pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk memburunya di luar sana. Jika bukan pembunuh bayaran tentu pengawal rahasia istana yang mencarinya. Mereka tentu memperhitungkan memang akan sulit mencari orang

yang bersembunyi ketika dijaring selaksa prajurit, tetapi orang yang bersembunyi itu kemungkinan besar akan keluar dari persembunyiannya setelah mengira keadaan sudah aman. Memang lama para buronan bersembunyi itu tak tentu. Bisa setahun, bisa sepuluh tahun, tetapi bisa pula sebulan. Tidaklah terlalu keliru mencari jejak seorang buronan keluar dari persembunyiannya setelah menghilang satu bulan. Betapapun kemungkinan itulah yang harus dihadapi Amrita, dan aku tidak bisa membiarkannya sendirian saja diburu para pembunuh bayaran di segala penjuru.

Amrita tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menangkap hangatnya perbincangan, dan karena itu merasa layak menempuh bahaya untuk mengetahuinya.

‘’Jika rakyat memang mencintai Jayavarman II, yang sebetulnya juga ayahandaku sendiri, dapat daku pertimbangkan untuk menerima penderitaan ibuku dengan suatu cara,’’ ujar Amrita yang seperti mendapat kesadaran baru setelah membaca kembali Nagarjuna dari lempengan-lempengan emas di pertapaan Naga Bawah Tanah itu.

‘’Rupanya pemahamanku dulu masih terlalu apa adanya,’’ katanya pula, ‘’karena bagaimanakah caranya memahami dengan lebih sempurna jika kepentingan kita hanyalah agar segera bernapas di udara?’’

‘’Sebetulnya di sanalah letak pelajaran Naga Bawah Tanah,’’ kataku, ‘’bukannya dikau dilatih untuk memahami filsafat Nagarjuna, melainkan tetap berpikir tajam dalam menghadapi bahaya. Tentang Nagarjuna, selama dikau sempat menanamkan ujaran-ujarannya dalam kepala, setiap saat akan tetap bisa mendalaminya.’’

Amrita bukan tidak mengerti makna di balik pelajaran gurunya, artinya ia mengerti betapa ilmu silat hanya menyempurnakan manusia justru ketika melampaui pembelajaran jasmaninya saja. Justru pendalaman filsafat itulah yang membuat Amrita mempelajari Jurus Penjerat Naga, tetapi yang nyaris membuatnya terbunuh olehku karena belajar dari kitab curian yang keliru.

Begitulah kami berada di dunia ramai sekarang, tidak menjauhinya seperti biasa dilakukan para pendekar, melainkan mendekati dan memasukinya, melebur di

antara khalayak sebagai orang paria yang bersedia mengerjakan apa saja demi kelanjutan hidupnya. Pilihan atas kasta paria artinya kami menyamar sebagai orang Campa pemeluk Siva, karena dengan pilihan atas kasta itu pula jadinya kami bebas

dan sahih menggelandang tanpa harus menjadi gelandangan itu sendiri. Seperti banyak pengembara yang terlihat lalu lalang dengan capingnya, seperti yang sebetulnya sudah dengan sendirinya dilakukan para pencari kesempurnaan di sungai telaga dunia persilatan.

NAMUN meski tampak serupa, perbedaan antara pengembara biasa dengan pendekar pengembara tidaklah sama.

Seorang awam mengembara terutama karena pemujaan terhadap perjalanan dan pengembaraan itu sendiri, sedangkan seorang pendekar mengembara terutama demi perburuan ilmu, tepatnya pencapaian kesempurnaan dalam ilmu silat, dengan mencari guru-guru ternama untuk belajar maupun para pendekar ternama untuk bertarung. Maka jika bagi seorang pengembara awam tiadalah ada bedanya ke mana pun kaki melangkah, bagi seorang pendekar suatu pengembaraan haruslah mencapai tujuan dalam pencarian keilmuan demi pencapaian kesempurnaan. Perbedaan ini membuat bagi para pengembara awam tiada masalah apakah tempat yang dilaluinya itu sunyi atau hiruk pikuk penuh keramaian, mereka sanggup bekerja apa pun di mana pun untuk menambah perbekalan, sedangkan pendekar pengembara cenderung mengasingkan diri dalam penempaan ilmu silat dan pencarian guru sakti di tempat-tempat terpencil.

Bagi para pendekar ini memang hanya ada ilmu silat dalam kehidupan mereka dan bagi mereka segala sesuatu yang dikerjakan orang awam hanyalah merupakan pekerjaan tidak berguna dan membuang waktu. Bagi para pendekar ini kehidupan seperti bertani, berkebun, berdagang, menjadi pengrajin, atau menempa logam adalah pekerjaan penuh keterikatan yang membuat mereka tidak bisa ke mana-mana. Meskipun begitu adalah keliru untuk mengira bahwa semua pendekar bersikap seperti itu. Selalu disebutkan bahwa terdapat para empu yang tersembunyi di berbagai sudut kehidupan. Memang itu bisa berarti pertapaan terpencil, tetapi

tidak mustahil tersembunyi dan berbaur dalam keramaian sebuah pasar di kota besar.

Amrita dan diriku melakukan perjalanan dengan menyamar sebagai pengembara awam, sehingga kemungkinan kami memang menjadi lebih luas daripada pengembara awam maupun para pendekar yang menempuh jalan di sungai telaga dunia persilatan. Dengan menyamar sebagai awam, kucoba melihat segala sesuatunya dengan pandangan awam, yakni tidak membawa-bawa tenaga dalam, ilmu meringankan tubuh, maupun ilmu silat itu sendiri dalam pertimbanganku.

Demikianlah kucoba membuka mataku dengan cara memandang lain, yang tidak hanya melihat dari sudut pandang kepentinganku sendiri, sebagai manusia yang mencari kesempurnaan di rimba hijau.

Maka meskipun sudah beberapa saat lamanya diriku berada di tanah Kambuja, tepatnya di bagian negeri Campa, seperti baru terbuka mataku pemandangan betapa penduduknya membangun tembok rumah mereka dengan batu bata yang dibakar, yang kemudian dikapur. Rumah mereka semuanya mempunyai semacam serambi atas atau teras, yang dinamakan kan-lan. Lubang pintu atau jendela pada umumnya menghadap ke utara; kadangkala ke timur atau ke barat, tak tetap aturannya. Lelaki maupun perempuan hanya memakai sehelai kain dari ki-pei yang dipasang membelit badan, seperti juga yang kami lakukan dengan ki-pei itu. Telinga mereka ditindik dan digantungi cincin kecil. Orang terkemuka memakai alas kaki dari kulit; orang kebanyakan bertelanjang kaki. 1)

Sejak tiga ratus tahun yang lalu 2), kebiasaan itu terdapat juga di Fu-nan dan di kerajaan-kerajaan yang letaknya di balik negeri Lin-yi. Raja memakai kuluk yang tinggi, dihiasi mulai emas dan jambul sutera. Kalau bepergian ia naik gajah; ia didahului barisan peniup sangka dan pemukul gendang, dilindungi payung dari ki-pei dan diarak abdi yang mengibarkan bendera-bendera dari kain itu juga….

Selama perjalanan kusaksikan bahwa perkawinan selalu dilaksanakan pada bulan kedelapan. Si gadis yang melamar anak laki-laki, karena gadis dianggap lebih rendah harkatnya. Tidak ada larangan bagi mereka yang mempunyai nama keluarga yang sama untuk menjalin perkawinan. Aku mempunyai kesan orang-orang Campa

berwatak suka berperang dan kejam. Senjata mereka busur dan panah, pedang, lembing, dan tarbil dari bambu. Alat bunyi-bunyian yang mereka pakai banyak miripnya dengan alat bunyi-bunyian yang kuketahui berasal dari Negeri Atap Langit, seperti kecapi, alat gesek berdawai lima, seruling, dan banyak lagi. Mereka juga memakai sangka dan gendang untuk menyebarkan berita kepada rakyat. Mata mereka cekung, hidungnya lurus dan mancung, rambutnya hitam keriting. Kaum perempuan mengikat rambutnya di atas kepala, berbentuk palu.

PEMAKAMAN raja dilangsungkan di atas kepala tujuh hari sesudah kematiannya; dalam hal pejabat tinggi kerajaan tiga hari sesudahnya, dan dalam hal rakyat kecil esok harinya. Apa pun pangkat orang yang meninggal itu, badannya dibungkus baik-baik, diusung ke tepi laut atau ke tepi pantai dengan suara gendang, diiringi tarian, lalu dibakar di atas api pancake yang didirikan oleh hadirin. Tulang-tulang yang tak

habis dimakan api, disimpan di dalam tempayan emas dan dibuang ke laut kalau yang dibakar tadi jenazah raja. Sisa tulang menteri-menteri disimpan di dalam tempayan emas dan dibuang ke muara sungai; dalam hal orang mati yang tidak berpangkat, hanya dipakai tempayan dari tanah saja yang dibuang ke dalam air sungai.

Orang tua, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti iring-iringan jenazah dan memotong rambutnya sebelum meninggalkan tepi air; itulah satu-satunya tanda untuk perkabungan yang masanya pendek sekali. Akan tetapi ada beberapa perempuan yang berkabung seumur hidup dengan cara yang lain: Mereka membiarkan rambutnya terus terurai sesudah tumbuh kembali. Mereka itu janda yang tidak mau kawin lagi untuk selamanya. 3)

Amrita dan diriku menyamar sebagai sepasang pengembara bercaping yang setiap kali harus berhenti untuk bekerja, sekadar agar bisa mendapat makan dan bekal untuk meneruskan perjalanan. Namun justru saat bekerja itulah Amrita menggali segenap kejelasan yang ingin diketahuinya, karena memang benarlah kiranya kami hanya menyamar sebagai pengembara, dan meski melakukan perjalanan juga, tetapi saat berhenti dan bergaul itulah yang menjadi tujuannya.

Pilihan untuk menyamar sebagai pengembara yang setiap kali berhenti untuk bekerja, sebetulnya memungkinkan kami untuk menggolongkan diri ke dalam kasta sudra, karena kaum paria lebih sering tidak mendapatkan peluang untuk bekerja tersebut, dan hidup seadanya dengan apa saja yang bisa dimakan; tetapi dengan menyatakan diri sebagai paria, kegelandangan kami tidak dipertanyakan dan tidak menarik perhatian, serta kami rasa aman dari perburuan.

Demikianlah, sejauh bisa kuingat, kami pernah bekerja sebagai penganyam tikar pandan. Setiap hari kami datang ke tempat itu untuk menganyam bersama banyak orang lain, sekitar dua puluh orang jumlahnya, dan di sanalah kami dengar bagaimana rakyat bicara tentang Jayavarman II.

Tentu bahasa Khmer yang kukuasai sangat terbatas, tetapi Amrita kemudian selalu akan menjelaskan semuanya, sehingga aku bisa menceritakannya kembali dengan lebih baik.

”Dikau dengarkah pernyataan dari istana, betapa kekuasaan raja kini didasarkan kepada igama?”

”Memang kudengar dari penyampaian warta di tanah lapang di depan istana kemarin, bahwa peranan raja secara resmi ditingkatkan sebagai utusan dewa.”

”Ya, seperti raja-raja di Jambhudvipa.”

”Padahal ia baru tiba dari Jawadwipa.”

”Tidak kuranglah pengaruh Jambhudvipa kepada wangsa Syailendra.”

”Masalahnya, mungkinkah ada manusia percaya bahwa dirinya sendiri adalah utusan dewa?”

”Ah, tentu saja ini hanya permainan penguasa, untuk menjalin kembali hubungan dengan kejayaan masa lalu, yakni Kerajaan Tchen-la.”

”Bagaimana caranya?”

”Dengan kepercayaan yang sama.”

”Memuja Siva? Bagaimana kita tahu orang Tchen-la tidak berigama Buddha?”

”Tidakkah candi-candi yang ditinggalkannya berbicara?”

”Tetapi sejak Tchen-la itulah Mahayana memasuki wilayah kita dan diterima banyak orang karena menghapus kasta?”

”Jadi kenapa kita semua tetap sudra, bahkan kedua orang itu termasuk paria?”

Orang terakhir ini berbicara sambil menunjuk diriku dan Amrita, yang menganyam tikar berdampingan tanpa bicara.

Kitab 6: Asmara Para Pendekar

”Artinya Mahayana memang menyebar tanpa harus menghapus segala sesuatu sebelumnya.”4)

Untuk tidak memancing kecurigaan, aku dan Amrita saling melirik pun tidak. Kami terus menganyam, dan terus mendengarkan, karena memang itulah tujuannya kami melakukan penyamaran.

Dengan banyak diam dan mendengarkan, kami telah mendapat banyak pelajaran berharga. Amrita, meskipun hidup di negeri ini, karena hidupnya hanya untuk ilmu silat, sering meluputkan banyak pengetahuan yang semestinyalah diketahuinya. Seperti berikut yang juga kuhimpun dari percakapan sehari-hari ini.

Seperti di Jambhudvipa yang igamanya telah mereka peluk, orang Khmer menganggap tempat pemujaan sebagai tempat tinggal dewa dan berhala memang menghuni tempat itu, sehingga mudah bagi mereka untuk memujanya, bahkan memaksanya dengan suatu upacara yang pantas agar dapat memberi keuntungan yang diinginkan kepada manusia.

Candi dan dewa yang dipuja hanyalah dua di antara sejumlah unsur upacara. Para pendeta memerintahkan pengadaannya kepada para pelaksana. Mereka tidak

memberikan pilihan lain selain cara untuk melaksanakan upacaranya. Tempat pemujaan itu bukan merupakan tempat bertemu para pemeluk teguh yang terpanggil untuk berdoa. Mereka bahkan dilarang masuk ke tempat itu. Hanya para brahmana

terdidik yang berhak masuk ke dalam candi untuk melakukan pemujaan. Aku jadi maklum kenapa candi-candi orang Khmer dapat dikatakan sempit, dan semula merupakan susunan bangunan kecil terpisah-pisah. Apakah itu menara pemujaan yang hanya cukup diisi arca dewa utama, satu atau beberapa tempat pemujaan tambahan untuk para pengikutnya, isteri-isterinya, wahananya, yang terbuat dari kayu dan dengan sendirinya lenyap dimakan waktu, yang semula menjadi tempat benda-benda upacara untuk memuja, maupun tempat menyimpan kitab-kitab suci.

Segalanya dilindungi dalam benteng yang dilengkapi pintu-pintu masuk, sebagai penggambaran tempat pemujaan utama dalam bentuk kecil, yang berisi wahana dewa atau dewi-dewi pelindung. Setelah semua itu, terdapat bangunan tempat tinggal para pendeta, pemain musik dan penari suci, pelayan-pelayan dan budak belian. Semuanya juga terbuat dari kayu, dan karena itu tak akan bertahan seperti jika terbuat dari batu, dan tanpa kayu itu lagi keberadaannya hanya ditunjukkan oleh benteng kedua. Begitulah kadang-kadang dalam pengembaraan kami kenali terdapatnya istana-istana, maupun rumah-rumah sederhana, yang sebetulnya sudah hilang dan keberadaannya kami kenali dari parit besar yang menjadi tempat penampungan air.

MEMPERHATIKAN penataan hiasan dan benda-bendanya, candi-candi mengungkapkan kepercayaan kepada dewa-dewa yang ada di dalamnya. Menyamar sebagai berigama Hindu, apa pun alirannya, kami mesti tampak percaya betapa dewa-dewa utama tinggal di pusat dunia, di Gunung Meru yang suci, serta menguasai ruang dan waktu. Denah tempat tinggal duniawi mereka diarahkan berdasarkan empat penjuru mata angin. Bagian muka dan pintu utama menghadap ke timur, arah matahari terbit, sebagai sumber kehidupan. Candinya, yang dianggap sebagai terletak di pusat ruang dalam benteng yang melambangkan batas-batas alam semesta, melambangkan Gunung Meru tempat dewa bersemayam di dalam berhalanya. Bahkan sering dimaksudkan sebagai tiruan gunung suci, dengan bentuknya yang memuncak dan siluet yang meruncing.

Candi dibangun di tengah ibu kota, dekat istana raja, agar dapat mengungkapkan pusat alam semesta secara meyakinkan, tempat dewa dan wakilnya di dunia yang tentu saja sang raja sendiri, bersemayam dan memerintah dunia. Pada dinding tempat pemujaan, terpahat adegan-adegan yang menceritakan riwayat dan perlakuan istimewa dewa, selain memperlihatkan para pemuja serta sesajen bunga. Demikianlah rakyat mengabadikan diri mereka sendiri, agar dapat terus menyanjung-

nyanjung sumber segala kemakmuran mereka. Budaya persembahan seperti itu dipertahankan berabad-abad tanpa perubahan, kecuali ukuran-ukurannya, dalam pengawasan kitab-kitab suci yang dianggap memiliki kekuatan gaib. 5)

”Bangunan ini hanya berguna selama igamanya memberi berkat,” 6) ujar Amrita suatu ketika di antara puing-puing bangunan di atas bukit.

Bukan sekali itu kulihat bangunan menjadi reruntuhan, tak lebih karena ditinggalkan dan tidak dirawat lagi. Pergantian kekuasaan sangat mungkin mengubah kepercayaan penduduknya, karena igama sering dan terlalu sering dipergunakan penguasa untuk mendukung segenap kebijakannya.

Mendadak suara cambuk meledak keras di telingaku.

”Menganyam atau melamun? Awas! Tikar yang dikau tangani itu harus selesai hari ini juga! Jika tidak rasakanlah akibatnya!”

Lantas cambuk itu meledak lagi dan meledak lagi. Aku dan Amrita berusaha keras menjaga, agar dalam keadaan seperti itu tetap tidak saling memandang sama sekali.

117: Sambil Menganyam Tikar Pandan

CAMBUK yang meledak-ledak itu tampaknya memang sengaja dibuat untuk diperdengarkan suaranya. Adalah suara itu yang mencambuk para pekerja dan bukan cambuk itu sendiri. Tikar pandan selalu dibutuhkan oleh pasar, sehingga bagi para pedagang semakin banyak tikar yang siap dijual semakin baik. Harga tikar pandan tentu jauh lebih murah daripada tikar rotan, yang hanya dimiliki para petinggi karena harganya yang mahal, dan karena itu tikar pandan harus dijual dalam jumlah besar jika ingin sekadar mendapat keuntungan —dan sebaiknya jumlah yang besar

itu tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama. Maka para perajin yang dibayar harian seperti selalu harus dilecut agar mereka menghasilkan tikar sebanyak mungkin.

Adapun besarnya jumlah tikar rotan tidak mungkin menyamai jumlah tikar pandan, karena dalam usaha membuat tikar rotan itu layak menjadi mahal, dilakukan berbagai perumitan sebagai syarat kemahalannya tersebut, dengan akibat tidak terlalu banyak orang yang menguasai pembuatannya. Maka tikar rotan pun menjadi barang seni yang jumlahnya terbatas dan menjadi suatu kepantasan tertentu untuk berada di rumah para pejabat tinggi negara, atau siapa pun itu, apakah orang berada, apakah tokoh di antara khalayak, yang memaknainya sebagai penanda kehormatan.

Cambuk itu meledak lagi di telingaku, seperti sengaja memancing kemarahan. Kami tertunduk dengan tangan terus menganyam. Barangkali yang memainkan cambuk itu adalah petugas yang bertanggung jawab atas jumlah tikar pandan yang siap untuk dijual setiap harinya. Karena menunduk terus, aku tidak dapat melihatnya, sehingga tidak bisa melakukan penilaian. Namun aku melihat tangan itu terangkat siap membuat bunyi dengan cambuk itu lagi.

’’TAHAN!’’

Terdengar suara yang memang menghentikan cambuk itu, tergantung di udara bagaikan kena sihir, ’’Dua orang ini memang diam seperti patung tetapi tangannya

tak henti bekerja seperti kincir air, tikar yang tiap harinya dihasilkan mereka berdua saja sudah separo dari keseluruhan jumlah hasil tikar kita setiap hari.’’

’’Kulihat ia melamun tadi, dan terus menerus melamun,’’ kata pemegang cambuk itu, ’’kita tidak tahu apa yang berada di dalam kepalanya.’’

’’Untuk apa kita tahu isi kepalanya? Kita hanya perlu tikar dari mereka. Selama mereka menghasilkan tikar, kita akan membayarnya seperti yang lain. Kenapa kita harus selalu curiga kepada setiap pengembara yang tentu saja tak dikenal dan melewati kita.’’

’’Dikau seperti tidak belajar dari sejarah, betapa peradaban yang asing sekarang menguasai dunia kita.’’

’’Daku suka dengan peradaban asing, apa salahnya?’’

Mereka telah melupakan kami, tetapi aku tahu mereka sedang bicara tentang Negeri Atap Langit, yang pengaruhnya terasa di mana-mana sejak lama. Meskipun mereka bicara dalam bahasa Khmer, sedikit-sedikit bisa kuikuti perbincangan mereka yang membuat aku sambil terus menganyam terpaksa ikut memikirkannya. Bangunan tertua di Kambuja, yang kulihat dalam perjalananku bersama Amrita di seluruh wilayah yang sedang menyatukan dirinya dalam Kerajaan Angkor, adalah menara bata di Preah Theat Touch dan bangunan aneh dari batu pasir di Asram Maha Rosei. Kuduga yang terakhir ini berasal dari masa Kerajaan Fu-nan. Kukatakan dugaan, karena menurut Amrita bangunan disebut meniru seni bangunan wangsa Pallawa, seperti Candi Panamalai yang dibangun seratus tahun sebelumnya, yang konon mirip bangunan itu.

Daerah Sambor Prei Kuk memungkinkan diriku mengamati terbentuknya seni bangunan Khmer dengan keragaman dan kekayaan dalam susunannya yang mengagumkan. Namun bangunan yang menegaskan keberadaan seorang empu di

belakangnya, apakah empu kesenian atau empu ketatanegaraan, tetap saja harus dilihat sebagai lanjutan bangunan-bangunan sebelumnya dalam kurun empat ratus tahun, baik di Fu-nan maupun Tchen-la. Semakin cermat pengamatan, semakin

meyakinkan betapa bangunan-bangunan itu merupakan tiruan bangunan-bangunan dari masa setelah wangsa Gupta. Tentu saja saat memikirkan ini, diriku belum pernah menginjak Jambhudvipa sehingga dapat membandingkan sendiri bangunan di Jambhudvipa dan di Kambuja, tetapi seorang pengembara dari Jambhudvipa yang pernah duduk makan di bawah pohon bersama kami memberitahukan betapa bangunan kayu di Jambhudvipa sendiri sudah hilang. Di sana, demikian katanya saat itu, tinggal tempat-tempat pemujaan di dalam gua-gua atau bangunan meruncing ke atas seperti candi-candi sekarang.

Tanganku menganyam, tetapi aku tidak ingin melepaskan kilas kenangan yang berkelebat di benakku. Jejak perubahan untuk meninggalkan peniruan seni bangunan Jambhudvipa yang mengandalkan kayu pada masa Fu-nan itu, tak dapat kutemui lagi tentunya karena terbuat dari kayu juga. Namun masih dapat kutemukan dua kelompok bangunan di utara dan selatan di Sambor, yang berkelompok dalam suatu bekas kota yang telah ditinggalkan, dan kota itu sungguh besar sekali. Kulihat benteng tanah dan paritnya, dialiri air sungai dengan cara istimewa Tchen-la yang pernah kuceritakan dahulu.

Di selatan, terlihat kelompok bangunan yang didirikan semasa Isanavarman yang dikelilingi oleh dua lapis benteng; baik yang sesungguhnya melindungi candi di sebelah dalam, yang sungguh indah dengan tatahan gambar berbagai adegan, maupun yang tinggal batu bata berderet dalam tanah, membentuk suatu gambaran tentang bagaimana bangunan itu dulu berdiri dengan megah. Kusaksikan pintu benteng dari bata merah di sebelah timur, yang atapnya dari batu pasir, yang kunyatakan sebagai seni Khmer terindah.

’’Dulu ada Lembu Nandi dari emas di sini,’’ ujar Amrita yang mendapat cerita itu dari nenek moyangnya dari Tchen-la.

Lembu Nandi, kendaraan Siva, terletak di tempat suci utama, yang tampak sebagai menara anggun dari bata, pada sebuah teras kecil dengan ketepatan dan penataaan ruang yang mengesankan. Menurut Amrita sepengetahuannya di dalam tempat itu terdapat arca yang disebut Siva yang Sedang Tersenyum, dibangun oleh Isanavarman, yang saat ini lenyap entah ke mana. Menara ini dikelilingi lima menara

lain yang memberi kesan kemegahan dan membuat siapa pun yang melihatnya terpesona.

Di kelompok bagian utara terdapat bangunan-bangunan dari berbagai zaman, dengan tempat suci utama yang berasal dari masa pemerintahan Isanavarman. Bangunan yang nyaris hancur ini terdiri dari menara tengah, di atas sebuah teras tinggi yang dikelilingi empat candi kecil. Menurut Amrita, yang telah mempelajari sejarah kebudayaan Khmer sebagai bagian dari pendidikan keluarga raja, kemungkinan bangunan ini juga dikelillingi sejumlah arca, yang ketiga kami berada di sana tinggal lapiknya saja dari batu pasir, yang juga dihiasi dengan bagus sekali.

Lebih ke utara kami temukan tempat pemujaan yang wujudnya sebuah kamar, terbuat dari papan batu pasir dan dihiasi secara sederhana dengan jendela-jendela semu berukuran kecil, mirip dengan yang terdapat di Fu-nan, meski di sini diukir pada dinding bangunan itu sendiri. Membandingkannya dengan bangunan baru abad VIII sekarang ini, kusaksikan betapa yang disebut pengaruh Jambhudvipa itu tinggal seperti gaung pada saat-saat terakhir. Hiasan semua bangunan tersebut mewah sekali. Hampir pada semua tempat stukonya sudah hilang dan aku harus membayangkannya berdasarkan garis-garis denah sederhana dari batu bata. Namun hiasan pada batu pasirnya tetap utuh. Ambang pintu atas termasuk yang paling indah dalam kesenian Khmer. Memperlihatkan sebuah bentuk lengkung yang mencontoh balok melintang dari kayu yang ada pada pintu di Jambhudvipa, tempat menggantungkan rangkaian bunga dan bangunan untuk sesajen.

Lengkung itu dihiasi bentuk medali yang bidangnya diukir dengan tokoh-tokoh suci. Ujung-ujungnya melengkung ke dalam, ditelan makhluk dongeng bernama makara dari Jambhudvipa. Di atas dan di bawahnya masih ditemukan gambar-gambar suci maupun rerangkaian dedaunan yang dikelompokkan dalam adegan-adegan yang ditata secara mengagumkan. Contoh terakhir ini masih sering kulihat pada bangunan-bangunan baru sekarang, dan tampaknya masih akan berlanjut sebagai kesenian Khmer. Untuk menopang ambang pintu atas itu, dibuat tiang-tiang yang bulat kecil dan indah pada kedua sisi pintu. Adapun yang masih terlihat dari bentuk

Jambhudvipa adalah bentuk umbi di sebelah atas yang mirip serban. Bagian bawah tiang-tiang kecil ini dihiasi rangkaian bunga yang halus dan sebuah cincin tengah pada batang yang licin. Pada bidang-bidang dinding terlihat pula sesuatu yang membentuk istana-terbang 1) yang anggun, dipenuhi tokoh-tokoh suci yang menghidupkan dinding-dinding menara itu dengan sikap yang luwes.

Sambil menganyam tikar pandan, kupikirkan tentang bagaimana orang-orang Khmer ini menyebut pengaruh asing seolah-olah sebagai sesuatu yang harus dihindari,

sementara bagiku tampak jelas betapa kebudayaan mereka sendiri terbentuk langsung melalui kesenian dan igama yang masuk dari Jambhudvipa. Namun jika kukatakan terbentuk langsung, tidak berarti bahwa orang-orang Jambhudvipa itu sengaja datang untuk mengajari. Waktu yang diperlukan untuk mengenal dan kemudian menghidupi suatu bentuk kebudayaan tentu lama sekali, bisa beratusratus tahun lamanya.

Dalam kata menghidupi kebudayaan, pengertian meniru dan terpengaruh sebetulnya tersingkir, karena dalam kenyataannya suatu kebudayaan itu pada dasarnya diterima dan dihidupkan memang karena dikehendaki. Para pedagang Jambhudvipa yang datang dengan kapal-kapalnya ke Tchen-la datang menjual dan membeli, tetapi adalah penduduk yang datang menjemput segala sesuatunya meski tidak diperjual belikan, seperti igama dengan segala upacara dan pengungkapannya yang berseni, yang kemudian mewakili kepentingan penduduk itu sendiri. Tidak mengherankan jika dalam perjalanan waktu yang panjang, dunia makna yang sebelumnya dipelajari kemudian justru diajarkan dengan penguasaan yang meyakinkan. Bukankah pusat kerajaan Srivijaya di Suvarnabhumi telah menjadi tempat ilmu-ilmu persiapan wajib dipelajari selama enam bulan, untuk igama Buddha yang tidak berasal dari Srivijaya sendiri, sebelum para mahasiswa Negeri Atap Langit bisa menerima ilmu-ilmu igama langsung dari Nalanda di Jambhudvipa?

Begitu telah berlangsung di Suvarnadvipa, begitu pula dapat berlangsung di segenap wilayah Kambuja, yang seperti telah melupakan betapa segenap pengungkapan seni mereka dapat dicari akarnya sampai ke Jambhudvipa, dan kini bicara tentang bahaya peradaban asing dari Negeri Atap Langit. Bahkan kini

mencurigai diriku dan Amrita sebagai mata-mata penyebar peradaban asing, seolah-olah peradaban itu bisa membunuh seperti racun!

DIAM-DIAM aku mengangkat kepala, orang yang memegang cambuk itu mendekat ke arah kami! Aku pun batal mengangkat kepala, melanjutkan anyaman tikar pandanku. Kulihat kaki yang melangkah dan ujung cambuknya yang menyerabut. Sampai di hadapan kami ia berjongkok.

”Tidak pernah bicara he? Orang asing kalian?”

Dadaku berdegup. Apa yang harus kulakukan? Bukanlah karena aku atau Amrita takut menghadapinya, tetapi karena penyamaran yang harus dijaga supaya tidak terbuka. Kami telah mengenal terlalu banyak hal, yang hanya mungkin didapatkan dalam penyamaran sebagai rakyat jelata. Semakin kusadari sekarang betapa

terasingnya kehidupan di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, tempat setiap saat nyawa dipertaruhkan demi kesempurnaan ilmu silat dan kesempurnaan manusia. Semakin terasa betapa terasingnya jalan kehidupan yang telah menjadi pilihan para pendekar, ketika kesempurnaan diterjemahkan ke dalam dua istilah yang bertentangan seperti hidup dan mati.

Di dunia awam tempat kami menyamar sebagai rakyat jelata, kesempurnaan hanyalah suatu kata dalam dongeng, sesuatu yang bisa diucapkan tetapi tidak mungkin dinyatakan, apalagi senyata hidup atau mati. Bagi rakyat jelata, kesempurnaan tidaklah penting, dan keselamatan hidup didapatkan kalau bisa tanpa pertaruhan sama sekali. Tidaklah terlalu mengherankan jika kemudian rakyat jelata ini dikerahkan untuk berperang, mereka akan berebut untuk mendapat tempat di lapisan paling belakang. Namun dunia awam adalah dunia yang menarik, karena hidup selalu dirayakan dengan sangat amat selayaknya, sehingga tidak pernah dipertaruhkan untuk ditinggalkan, sebagaimana sebaliknya telah dilakukan mereka yang menempuh jalan pedang.

”Biarkan mereka, apalah anehnya melihat orang asing yang mengembara di Kambuja? Jangan kau ganggu mereka!”

Namun orang yang berjongkok itu tidak juga beranjak. Ia mendekati Amrita yang juga masih menganyam sambil menunduk. Aku berdebar, karena Amrita akan lebih mudah naik darah daripadaku. Memang adalah juga kehidupan orang persilatan yang selama ini dijalaninya, tetapi betapapun ia adalah putri istana, anak raja yang tidak pernah dibantah dan mengalami penghinaan dalam hidupnya. Dengan ilmu silatnya yang tinggi, sangat mudah baginya membuat pemegang cambuk itu berkalang tanah. Aku tetap menganyam dan meningkatkan kewaspadaan. Di luar terdapat jalanan ramai, di seberangnya terdapat pasar, tempat penganyaman tikar ini sendiri adalah sebuah tempat luas dalam satu atap yang menampung sekitar dua puluh pekerja. Sangat tidak menguntungkan jika terjadi keributan.

Dengan gagang cambuknya ia mengangkat dagu Amrita, yang karenanya terpaksa berhenti menganyam.

”Kenapa daku seperti pernah mengenali wajah gembel kecil ini?”

Menyamar sebagai paria pengembara artinya memang berbusana seperti gembel. Kain ki-pei yang kami kenakan sengaja tidak pernah kami ganti, dan tubuh Amrita yang biasanya terlalu putih seperti pualam telah menjadi sawo matang karena terbakar matahari. Hanya wajahnya, karena jika melakukan perjalanan kami selalu bercaping, maka tidaklah tampak terlalu hangus seperti tubuh bagian atasnya.

Mungkin itu membuat pemegang cambuk yang tugasnya mengawasi penganyaman tikar seperti pernah melihatnya. Memang rakyat jelata mesti menundukkan kepala, bahkan bersujud di tanah, bila seorang pejabat tinggi, keluarga istana, apalagi raja berjalan dalam iring-iringan, tetapi siapa yang menjamin tiada satu pun yang nekat mencuri-curi untuk meliriknya? Jika tidak, bagaimana mungkin Putri Amrita Vighnesvara terkenal di seluruh Kambuja sebagai putri yang cantik jelita? Lagipula, dan ini lebih masuk akal, seperti yang kualami, tidak perlu dianggap terlalu mengejutkan betapa putri yang memburu kesempurnaan dalam jalan persilatan ini pertarungannya pernah disaksikan banyak orang. Kenapa tidak?

”Dari mana asalmu, Gadis?”

Dagu Amrita memang terangkat gagang cambuk, tetapi matanya tetap menatap ke bawah.

”Sahaya berasal dari Tongking, Tuan, ampunilah sahaya.”

Amrita menjawab dalam bahasa Khmer, tetapi dengan logat yang belum pernah kudengar.

”Hmm. Orang-orang utara, kenapa aku tidak mesti menganggapmu mata-mata? Kenapa dikau sampai kemari, Gadis?”

”Ampunilah sahaya Tuan, daerah kami musnah ditelan banjir besar. Keluarga kami punah, tinggal sahaya dan sepupu sahaya yang bisu.”

”Bisu? Huahahahaha! Pantas ia tidak pernah bicara.”

Kitab 6: Asmara Para Pendekar

”BISU dan tuli, Tuan.”

”Bisu dan tuli! Huahahahaha! Kukira hanya orang buta yang pandai menganyam! Huahahahahaha!”

Putri istana ini memang pandai. Dengan mengatakan diriku bisu dan tuli, kecurigaan yang muncul karena diriku tidak pernah berbicara segera terhapus, dan dengan mengatakan dirinya berasal dari wilayah Tongking di utara Campa yang semula merupakan batas Kerajaan Lin-yi, keputihan wajahnya sebagai paria bagaikan menjadi kewajaran, apalagi Amrita agaknya telah menyuarakan logat berbicara wilayah tersebut. Meski ini tentu bukan jaminan persoalan berakhir, karena jika pun kecurigaannya hilang, bukan tak mungkin ia tetap menghendaki Amrita.

”Ampunilah suami saya ini Tuan, ampunilah kami yang malang ini, kepandaian kami hanyalah menganyam. Jika Tuan tidak menyukai keberadaan kami, biarlah kami pergi dari sini sekarang juga.”

Pemegang cambuk itu menarik gagang cambuknya dan dagu Amrita langsung turun kembali. Amrita rambutnya terurai seperti layaknya kaum paria, tetapi entah disadarinya atau tidak, justru dengan rambut terurai seperti itu kecantikannya memancar tak tertutupi. Hanya jika orang percaya dirinya paria pengembara saja akan membuat kasta di atasnya berpikir dua kali untuk mendekatinya, karena bagi perempuan paria mempertahankan kehidupan sebagai pelacur bukanlah tabu untuk dijalani. Siapa pun yang mendekatinya mesti berpikir tentang penyakit kelamin rajasinga yang mungkin saja akan menimpa mereka.

Lelaki itu pun ternyata meloncat berdiri dengan ringan.

”Astacandala tanpa kasta! Bagaimana mungkin ada seorang pelacur Tongking di antara kita di sini?”

Ia menjauh sambil meledak-ledakkan cambuknya.

”Ayo lanjutkan kerja!”

Kulirik secepat kilat majikan penganyaman tikar pandan yang sejak tadi telah membela kami. Ia tampak memperhatikan Amrita dengan tajam. Adakah sesuatu yang selama ini tidak dipikirkannya, karena kejadian ini lantas menimbulkan suatu gagasan? Dilihat sepintas lalu, sosok kami memang seperti kebanyakan paria pengembara biasa yang setiap kali berhenti untuk bekerja, yakni dekil, lusuh, dan berbau pula. Namun apabila seseorang memperhatikan dengan tajam, bagaimanakah caranya mengingkari keindahan mata Amrita? Ia telah menggimbalkan rambut, melusuhkan wajah, dan selalu menunduk, tetapi segenap sosoknya menyatakan suatu bahasa tubuh yang berbeda. Memang meskipun paria berada di luar kasta, ternyata di dalamnya tetap berlapis pula, seperti terdapatnya mleccha yang tidak bekerja dan hanya dapat meneruskan kehidupan dengan melakukan kejahatan saja. Sepintas lalu saja perbedaan paria pengembara yang sudi bekerja dan mleccha astacandala yang mencuri dan merampok bila kesempatan tiba cukup kentara, apalagi jika itu bukanlah paria pengembara yang sesungguhnya.

Kepalaku sudah tunduk kembali, tetapi diriku tahu belaka betapa mata sang majikan masih tetap menatap kami berdua. Kuharap ia tidak tiba-tiba tersadar oleh keindahan Amrita yang bagiku pun seperti baru tampak nyata dari sosoknya, meski ia tampak dekil, lusuh, dan selalu menunduk pula. Memanglah keindahan tidak bisa ditutupi, meski tubuh Amrita kecil tetapi kesosokannya sungguh sempurna, yang kadangkala kurasa Amrita sendiri tak terlalu menyadarinya. Aku masih menganyam dan aku tahu Amrita pun dalam ketertundukannya membaca keadaan yang sama.

Demikianlah kami terus menganyam dan baru berakhir sampai senja tiba. Sebelum keluar kami harus antri untuk menerima upah sebelum keluar, berdasarkan jumlah tikar yang kami selesaikan hari ini. Dalam hal ini dengan terpaksa kami telah memanfaatkan kecepatan tangan yang hanya mampu dilakukan dengan ilmu silat, agar kami dapat terus mengumpulkan upah yang banyak, sehingga dapat melakukan perjalanan dengan perasaan aman. Dengan begitu jumlah tikar yang kami seleaikan menjadi paling banyak, dan entah kenapa dalam antrian itu kami berada di deretaan terakhir.

Majikan kami duduk pada sebuah bangku kecil, mengambil mata uang dari dalam tenggok setelah menghitung lembaran tikar yang kami serahkan.

”Enam,” kata Amrita sambil mengajukan gulungan tikar.

Aku berdiri di belakangnya. Biasanya aku hanya menunjukkan dengan isyarat saja jumlah tikar yang selesai kuanyam.

Majikan itu semula menunduk karena mengambil mata uang, tetapi ketika menyerahkannya ke tangan Amrita, dan menatap wajahnya, rupanya ia tak tahan lagi menahan sesuatu yang agaknya sejak tadi telah diketahuinya. Ia bersujud mencium tanah.

”Putri Amrita! Ampunilah sahaya!”

118: Pendekar Cahaya Senja

KAMI adalah orang terakhir dalam antrian, sehingga majikan rumah penganyaman tikar pandan itu, yang kukira telah menyadari keberadaan Amrita sejak tadi, berani nekat bersujud seperti itu, yang jika siapa pun mengetahuinya tentu akan membuka penyamaran. Betapapun kami terpaksa menganggap penyamaran kami telah terbuka, meskipun bapak yang bersujud itu kami percaya tidak akan mengatakannya kepada siapa pun juga.

”Bapak, berdirilah, kami sedang menyamar, Bapak akan membuka samaran kami jika menyembah seperti ini.”

”Ampunilah sahaya!”

”Sudahlah Bapak, berdirilah, kami akan sangat berterima kasih jika Bapak berdiri sekarang juga,” ujar Amrita.

Majikan kami berdiri sambil menyerahkan upah kami. Namun setelah menerima upah mata uang logam itu, Amrita mengibaskan tangannya.

Mataku dengan cepat menangkap mata uang itu melesat dan menembus tiang rumah, dan menancap pada dahi seseorang yang bersembunyi sejak tadi mendengarkan perbincangan kami.

Lelaki yang memegang cambuk itu ambruk ke lantai tanah. Pada saat majikan kami terkejut dan menoleh ke arah tubuh yang terguling sebagai mayat, kami sudah berada lima ribu langkah jauhnya dari tempat penganyaman itu.

Kami terus melejit dengan ilmu meringankan tubuh dalam senja yang seperti tibatiba saja menjadi gemilang. Kami berkelebat di antara cahaya keemasan, melesat dan melesat mencari kota lain yang cukup besar dan cukup ramai untuk bersembunyi dan menyadap segala perbincangan. Telapak kaki kami tiada lagi menyentuh tanah, cukup menyentuh pucuk rerumputan, kami pun terbang. Semakin tinggi rerumputan, semakin tinggi semak-semak, semakin tinggi padang alang-alang, semakin tinggi kedudukan tubuh kami, sehingga ketika tiba di tepi hutan, kami pun terbang di atas pucuk-pucuk pepohonan.

Ketika matahari kemudian terbenam dan cahaya yang ditinggalkannya memoles langit dengan warna darah, saat itulah ribuan kelelawar bagaikan serentak bangkit keluar dari dalam gua-gua yang berada di dalam hutan, memenuhi langit dan pergi entah ke mana untuk mencari makan. Demikianlah untuk sementara kami berkelebat di antara ribuan kelelawar yang berhamburan dari dalam hutan dan mengangkasa dengan kepakan nan anggun. Saat mereka semua berada di langit dan menjauh entah ke mana, kami pun merasakan kesunyian dalam kelam langit yang telah semakin tua merahnya, dan semakin lama semakin menggelap. Namun langit sungguh belum menjadi gelap, bumilah yang gelap dan di bawah kami kekelaman hutan.

Saat itulah berkelebat suatu bayangan yang bisa kurasakan desirnya tetapi tak dapat kutegaskan sosoknya. Aku dan Amrita hanya bisa mengandalkan kecepatan untuk menghindarkan serangannya yang ganas, sebelum akhirnya mengambil jarak dan hinggap di puncak sebuah pohon. Ia berbusana seperti pendeta Buddha aliran Yogachara, tetapi kepalanya tidak gundul melainkan panjang sampai ke bahu. Mungkin ia memang pendeta, tetapi yang kemudian menyempal dan menolak tata cara yang biasa, bahkan tampaknya kemudian menempuh jalan persilatan untuk mencapai kesempurnaan.

”Pendekar Cahaya Senja,” bisik Amrita kepadaku.

Aku terkesiap, baru kusadari betapa jubahnya itu, yang berwarna merah darah dan kuning, memang merupakan warna langit senja setelah matahari terbenam, yang

telah membuat kami hanya dapat mendengar desiran jubahnya itu mendekat dan tak dapat menegaskan sosoknya. Secara sepintas Amrita pernah bercerita kepadaku tentang seorang pendekar yang hanya muncul untuk bertarung pada saat matahari terbenam, tepatnya setelah matahari terbenam, ketika matahari menjadi merah keemasan dan berkobar bagaikan api membakar langit, tetapi yang kemudian dengan lambat dan pasti dari saat ke saat berubah, sampai akhirnya menjadi gelap.

”Ia hanya muncul setelah matahari terbenam dan menghilang sebelum gelap tiba, karena ilmu silatnya memang berhubungan dengan cahaya, saat siapa pun tidak dapat menegaskan keberadaannya, selain ketika sebilah pedang perak yang

bagaikan cermin memantulkan cahaya kuning senja menembusi tubuhnya,” kisah Amrita waktu itu.

Ia mendapatkan gelarnya bukan sekadar karena hanya muncul untuk bertarung dan ilmunya berhubungan dengan cahaya senja, melainkan karena sangat menikmati pertarungan dalam suasana senja itu sendiri.

”Pendekar Cahaya Senja sangat mencintai senja dan suka menikmati sosok-sosok yang bertarung sebagai bayangan hitam dalam latar belakang langit yang kemerah-merahan, dan katanya pula kematian terindah adalah kematian pada saat langit semburat jingga, apakah itu keemas-emasan, kemerah-merahan, ataupun keungu-unguan menjelang malam,” ujar Amrita pula.

MESKI Amrita bercerita dengan sambil lalu, aku masih mengingatnya, bagaimana Pendekar Cahaya Senja menikmati pertarungan sebagai peristiwa yang penuh keindahan. Bahkan ia tak akan muncul jika langit mendung dan kelabu tanpa cahaya jingga sama sekali. Baginya senja yang terindah adalah mutlak bagi pertarungannya, juga apabila dalam pertarungan itu dirinya harus kalah dan karenanya akan mati.

’’Jika tiba saat kematian dalam puncak kesempurnaan, apakah kiranya yang mesti disesalkan, dan bagiku tiada yang lebih sempurna selain kematian karena bertarung dalam puncak keindahan,’’ ujarnya suatu ketika, yang tersebar dari mulut ke mulut dari kedai ke kedai di seluruh Kambuja.

Adapun puncak keindahan baginya adalah senja yang terindah, saat ia menampakkan diri di antara cahaya keemasan seperti kemunculannya kali ini, dengan jubah pendeta merah kuning yang masih dikenakannya meski ia bukan pendeta lagi, bukan demi keinginan tampak sebagai pendeta, tetapi demi kepentingannya ilmunya, yang memang berhubungan dengan keadaan senja yang terindah, tetapi yang selama ini berarti kematian bagi lawan-lawannya.

Kini ia di sana, melipat tangan di dada, membelakangi sisa cahaya matahari yang masih menyala.

’’Kalian berkelebat di tengah senja terindah. Iri hatiku hanya bisa melihatnya, dan maafkan daku yang tak bisa membiarkan kalian berlalu. Kutahu siapa Putri Amrita karena gerakannya mengingatkanku kepada Naga Bawah Tanah yang ternama, tetapi siapakah yang menemaninya aku tak mengenalnya, bisakah kiranya ia memperkenalkan dirinya’’

Bahasa Khmer yang kukuasai sungguh parah, tetapi tetap saja kuusahakan menjawabnya.

’’Daku yang tanpa nama tiadalah artinya dibanding Pendekar Cahaya Senja.’’

Ia tampak tertegun.

’’Hmm. Kudengar angin berbisik tentang Amrita yang dikalahkan Pendekar Tanpa Nama dari Jawadwipa. Kiranya dikaulah orangnya yang menguasai Jurus Penjerat Naga. Hahahahaha! Amrita! Bagaimana dikau bisa tertipu oleh pencuri-pencuri kitab itu? Huahahahahaha!’’

Amrita membalas ejekan itu dengan serangan maut. Pendekar Cahaya Senja menghilang ke balik kelam dan hanya kembali sebagai desiran tipis yang nyaris tiada beda dengan desiran angin dan memang secara demikianlah lawan-lawannya dengan mudah terkalahkan. Jubahnya yang kuning dan merah berubah menjadi merah kekuningan dan kuning kemerahan, menjadi jingga seperti langit senja yang karena kecepatan geraknya bagaikan menjadi bagian dari langit senja itu sendiri padahal begitu nyata sebagai serangan yang berbahaya.

Namun yang dikatakan tentang Amrita tidaklah keliru sehingga tiada mungkin Amrita menggunakan Jurus Penjerat Naga terhadapnya. Menimbulkan pertanyaan kepada diriku juga tentang siapa tepatnya pencuri kitab yang telah menipunya itu, yang mungkin sebenarnya sudah tertipu oleh penyalin Kitab Jurus Penjerat Naga, karena memang kerahasiaan adalah bagian dari kelahiran kitab-kitab ilmu silat terpenting.

Senja belum menjadi malam. Pendekar Cahaya Senja selalu muncul pada senja hari dan selalu menyelesaikannya sebelum malam tiba. Apabila ia masih muncul di bawah langit yang kemerah-merahan sekarang ini artinya ia tidak terkalahkan dan setiap lawannya berhasil ditewaskan. Dalam pertarungan tingkat tinggi seperti ini, hanya hidup atau mati, karena pendekar yang mencari kesempurnaan dalam ilmu silat memang akan menantang pendekar dengan ilmu yang tertinggi. Belumlah pendekar namanya jika mencari lawan yang lebih rendah ilmunya, karena kesempurnaan tiada akan tercapai dalam ujian di bawah tingkatannya, meski jika

berada di atas tingkatannya tentu akan berhasil menewaskannya. Demikianlah pencarian kesempurnaan dalam ilmu silat, yang hanya akan mencapai puncaknya pada kematian dalam pertarungan.

Sangat bisa dimengerti mengapa pendekar ini, yang mendapat gelar Pendekar Cahaya Senja, memilih senja sebagai saat-saat pertarungan yang memungkinkan kematiannya.

Tidaklah keliru ia memburu kami yang berkelebat dengan kecepatan kilat. Adalah kekeliruan kami sendiri bahwa kami berkelebat seperti yang hanya dimungkinkan oleh pencapaian ilmu silat dalam tingkat tertentu. Kami bermaksud menyamar dan kami telah membuka penyamaran kami sendiri. Begitulah kehidupan siapapun yang mengarungi sungai telaga dunia persilatan, begitu seperti kami ia berkelebat meninggalkan dunia awam, berarti ia masuk kembali ke dalam rimba hujau yang penuh tantangan. Seperti sekarang kami berkelebat pergi, tetapi ternyata memasuki dunia senja pendekar ini.

Kucoba membaca pertarungan yang sulit dijabarkan ini, karena Pendekar Cahaya Senja bagaikan senja itu sendiri.

JUBAHNYA yang merah dan kuning semakin terlihat penting sebagai bagian ilmunya yang memuja keindahan. Kuingat sebuah syair:

indah seperti darah

menyiprat semburat di langit merah

membubungkan nyawa

meregang tubuh

yang

masih

memegang pedang

Sepintas lalu Amrita yang juga berkelebat tanpa bisa dilihat seperti bertarung sendirian. Namun Pendekar Cahaya Senja memang sama sekali tidak menghilang, ia berkelebat dan akan tampak sebagai bayang-bayang hitam dengan latar bekakang langit kemerah-merahan. Itulah ilmu silat Pendekar Cahaya Senja yang sangat mengecoh, karena dengan kecepatan bergeraknya yang luar biasa tinggi, seolah-olah dapat melepaskan diri bayang-bayangnya. Bayang-bayang hitam itu sendiri dengan latar belakang langit merahnya tampak sangat lamban, begitu lamban, bagaikan membawakan tarian yang paling pelan dan begitu pelahannya bagaikan tiada lagi yang lebih pelan. Namun meski tampak lamban janganlah

mencoba melakukan sesuatu terhadapnya, seperti membacoknya, karena ketika bayang-bayang hitam itu tampak begitu indah, saat itu Pendekar Cahaya Senja tiada lagi di situ.

Mungkin lawannya pun tak sempat lagi mencari, karena itulah saat nyawanya tercabut dan melesat pergi. Mungkin Amrita akan bernasib sama jika tidak setinggi itu tingkat ilmu silatnya —tetapi sampai kapan ia bisa bertahan? Pendekar Cahaya Senja selama ini menamatkan riwayat lawannya, siapa pun lawannya itu, selalu sebelum malam tiba. Dapatkah Amrita memecahkan rahasia ilmunya? Meski telah ia mainkan Ilmu Silat Kipas Maut yang luar biasa itu, kulihat Amrita sejauh ini hanya bisa bertahan. Adapun langit yang merah keemas-emasan telah menjadi merah darah, seolah-olah menegaskan tuntutan atas tercipratnya darah!

Kuingat busana para pendeta Yogachara yang dikenakannya. Adakah ia mengembangkan ilmu silatnya juga dari suatu pemahaman filsafat? Meski jika ia memang mengembangkan ilmu silatnya melalui pendalaman filsafat, maka tiada yang dapat kulihat secara langsung dari hubungan itu, setidaknya aku akan mempunyai dasar untuk sekadar menduga, daripada tidak berbuat sesuatu dan melihat Amrita ditewaskan selewat senja.

Sementara Amrita telah semakin terdesak dalam keremangan, kuingat kembali segala sesuatu yang kuketahui tentang Yogachara, seperti yang kudapatkan ketika mencuri dengar perbincangan Sepasang Naga dari Celah Kledung dengan tamu-tamunya. Sejauh bisa kuingat, Yogachara merupakan suatu bentuk dari Buddha Mahayana yang menekankan pentingnya ketenangan dan samadhi sebagai jalan menuju pencerahan. Pemikiran aliran Yogachara berkembang menuju tatanan rumit, yang pada dasarnya menempatkan diri di antara kaum pemakul Sarvastisada dan pehampa Shunyatavada. 1) Segala sesuatu temasuk benda-benda zat padat tidak dianggap sesungguhnya ada, tetapi beberapa hal memang ada, terutama dalam kebenaran tertinggi dan kesadaran dalam dirinya sendiri.

Kadangkala Yogachara juga disebut Chittamatra, atau hanya pikiran, karena paham bahwa Buddha diadakan oleh pikiran, meskipun dalam ajaran Mahayana secara umum, keberadaan pikiran itu sendiri tidak dianggap nyata. Kadangkala juga Yogachara diacukan kepada alayavijnana, semacam jiwa semesta sebagai sumber pengalaman yang memancar dalam dunia. Akibatnya, apa yang dianggap nyata hanyalah cermin dari sesuatu yang diciptakan pikiran. Aliran filsafat ini berakibat luas kepada nalar dan kebersyaratan ilmu dalam Hindu maupun Buddha. 2)

Telah kukatakan bahwa hubungan antara ilmu silat tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi pemahaman atas apa pun yang menjadi latar belakang filsafat bagi ilmu silat, tetap sahih dimanfaatkan dalam penafsiran, termasuk untuk memecahkan rahasia ilmu silat itu sendiri. Seharusnya diriku mengumpulkan lebih banyak penjelasan dari kenanganku untuk dapat memecahkan rahasia ilmu silat Pendekar Cahaya Senja dengan lebih baik, tetapi sisa waktu sebelum malam tidak memungkinkannya lagi. Aku harus memecahkan rahasia ilmu silatnya dengan

sekelumit kenangan itu saja, sebelum mempelajarinya lebih mendalam seandainya kelak masih dibutuhkan, karena jika dalam keadaan yang sudah sangat mendesak ini aku bertahan untuk merenung-renung saja, niscaya nyawa Amrita akan melayang. Meskipun nyawa Amrita akan melayang dalam puncak kesempurnaannya, aku tidaklah merelakannya.

KUTAFSIRKAN untuk sementara bahwa jika ilmu silat Pendekar Cahaya Senja mungkin saja mengacu kepada Buddha Mahayana aliran Yogachara, maka segala sesuatu yang terpikirkan oleh Amrita tidak mungkin merupakan sesuatu yang nyata, sebaliknya ia dapat mempercayai apa pun yang sedang dirasakannya, karena ilmu silat Pendekar Cahaya Senja hanya mengecoh pikiran tetapi bukan perasaan. Ini berarti Pendekar Cahaya Senja membalikkan siasat ilmu silat, yang biasanya menggunakan akal untuk mengecoh perasaan, menjadi perasaan sebagai dasar untuk menghindari pengecohan akal. Jika pikiran terbentuk oleh susunan kebiasaan yang menjadi kuasa tertentu, maka suatu jiwa semesta yang menjadi sumber segala jiwa dalam diri setiap orang menjadi satu-satunya pedoman atas kenyataan yang bisa dipegang.

Itulah, dalam penafsiranku, yang diajarkan aliran Yogachara, sehingga amatlah penting untuk melatih dan mengutamakan ketenangan dan samadhi, agar pemusatan pikiran tak terkecoh oleh pancaindera, yang sangatlah tidak mudah kiranya, selama jiwa masih tetap menjadi bagian dari tubuh. Justru karena itu, kuanggap ilmu silat Pendekar Cahaya Senja dalam kesadarannya tetap terikat kepada ketubuhannya, sehingga selama lawannya masih manusia, siapa pun ia dapat mengandaikan betapa pengaruh pancaindera yang membuat pemusatan pikirannya kurang sempurna berlangsung pula terhadap Pendekar Cahaya Senja. Jadi siapa pun lawannya boleh mengandalkan tanggapan jiwanya terhadap serangan Pendekar Cahaya Senja, karena pancaindera tubuh yang memengaruhi

jiwa juga terdapat pada pendekar yang mengandalkan pesona keindahan untuk mencapai kemenangan itu.

Bumi telah menjadi gelap. Namun langit masih semburat kemerah-merahan, meski memang tiada lagi keemas-emasan dan mega-mega telah berubah menjadi gumpalan-gumpalan hitam. Inilah saat yang rawan karena dengan hilangnya sisa cahaya itu akan selesai pula perlawanan Amrita dalam kesempurnaan ilmu silat Pendekar Cahaya Senja. Aku tidak boleh berpikir terlalu lama, meski memikirkan pemecahan ilmu silat itu dengan tergesa memang sungguh gegabah kiranya. Kuyakinkan diriku betapa ilmu silatnya memang berhubungan dengan filsafat aliran Yogachara. Bahkan kuduga pilihan atas jalan persilatan telah membuatnya bertentangan dengan para pendeta aliran itu, dan membuatnya menempuh jalan sendiri dengan menerapkan ajaran Yogachara sebagai cara pencapaian kesempurnaan dalam ilmu silatnya, sehingga tetap dikenakannya jubah para pendeta Yogachara, meski tidak lagi menggunduli kepalanya. Kulihat ia berkelebat di balik kelam, memang tampak indah dalam keberlambanan, tetapi itulah bayangan yang ditinggalkan, karena dengan kecepatannya yang tinggi ia telah berada di belakang lawan.

Apa yang harus kulakukan? Apa pun itu haruslah cepat dan segera. Amrita haruslah bertarung dengan mata tertutup, karena pandangan mata siapa pun akan terpesonakan oleh segenap jurusnya yang bagaikan peragaan tarian di langit keindahan. Meskipun mata itu nanti tertutup, tidak berarti harus menggunakan ilmu pendengaran seperti diriku dengan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, karena indera pendengaran adalah juga bagian dari kebertubuhan yang akan memengaruhi pikiran. Dengan memasuki jiwa semesta melalui jiwanya sendiri, segala kesaksian atas kenyataan terandaikan lebih dimungkinkan.

‘’Amrita! Jangan lihat semuanya!’’

Teriakanku terdengar juga oleh Pendekar Cahaya Senja, tetapi aku bicara dalam bahasa Melayu yang belum tentu dikuasainya, sehingga ia tak mungkin mengubah apa pun. Tentu saja ini juga sebuah pertaruhan, karena jika ternyata ia mengerti belaka bahasa Melayu yang mungkin diketahuinya dari pesisir Campa, ia dapat berpura-pura tak paham dan tetap saja menjebak Amrita.

Segalanya berlangsung dengan amat sangat cepatnya, dan menceritakannya tentu butuh waktu yang lebih lama. Amrita masuk ke dalam jiwanya, sehingga hilanglah gelap dan hilanglah pula terang. Hilang pandangan dan hilang pula pendengaran. Tiada gambaran dan suara desiran apa pun yang akan tertangkap indera, karena ia

telah menutupnya seperti dalam samadhi. Namun jiwanya yang telah melepaskan diri dari pancaindera membimbing kedua kipas yang dipegangnya ke belakang melalui bawah ketiaknya. Kedua kipas yang tertutup dan menjadi setajam pedang mustika dalam pengerahan tenaga dalam.

Terdengar jeritan melengking, tepat pada saat senja berubah menjadi malam, saat cahaya kemerah-merahan di langit menghitam dan sepenuhnya menjelma kegelapan. Kedua kipas itu menancap di dada kiri dan kanan Pendekar Cahaya Senja yang menyergap dengan serangan cakar maut dari belakang. Begitu cepatnya serangan itu, sehingga Amrita memang tidak akan mungkin menghindar seperti sebelumnya, yang berarti pula tamat perlawanannya, meski ternyata dengan tertutupnya segenap pancaindera, geraknya terbimbing jiwa kepada suatu tindakan yang takbisa lebih tepat lagi.

PENDEKAR Cahaya Senja langsung mati dengan tubuh terkulai seperti memeluk Amrita dari belakang. Darahnya menyembur dari dada, membasahi seluruh punggung Amrita, bahkan juga rambutnya. Agaknya menang dan kalahnya Pendekar Cahaya Senja, dalam puncak kesempurnaannya sebagai manusia dalam jalan persilatan, memang selalu terjadi pada saat senja. Biasanya ia mengalahkan lawan-lawannya sebelum senja menghilang, kali ini ia terkalahkan tepat ketika senja berubah menjadi malam. Mungkin pertarungan terlama yang pernah dilakukannya, terlama dan terakhir, karena memang tiada akan ada lagi pertarungan baginya. Tiada pendekar yang tiada terkalahkan. Pendekar Cahaya Senja menekuni filsafat aliran Yogachara untuk mengembangkan ilmu silatnya, tetapi ia mengembangkannya sebagai jurus dan bukan kedudukan jiwa. Maka meskipun ia sungguh telah berhasil menciptakan jurus-jurus yang penampakannya sungguh nyata dan karena itu sangat menjebak pula, ternyata tiada pengaruhnya terhadap

jiwa yang telah melepaskan indera, juga sebagaimana diajarkan filsafat Yogachara yang dianutnya

119: Meninggalkan Khmer

PADA suatu malam berhujan kami sudah berada di dalam perahu yang menuju ke muara Sungai Mekong. Kami masih tetap menyamar dan tetap mendengarkan bagaimana orang bicara tentang Jayavarman II, dan agaknya putrinya sendiri tidak pernah mendapat cukup alasan untuk tetap merongrong kekuasaan ayahnya itu. Memang benar bahwa dengan pasukannya yang kuat Jayavarman II telah

menaklukkan wilayah yang luas, tetapi dengan kekuasaannya betapapun orang banyak merasakan suatu ketenangan.

”Pendekar Tanpa Nama, biarkanlah Amrita mengikuti dirimu ke mana pun kakimu melangkah. Tiada lagi yang dapat dilakukan Amrita di tanah kelahirannya ini. Semua orang telah mengkhianati dan mengingkarinya. Biarkanlah Amrita mengikutimu, wahai pendekar pengembara…”

Suara hujan yang menimpa atap perahu sungguh amat riuh. Setidaknya dua puluh orang terkapar berdempet-dempetan di dalam perahu itu. Sebagian tidur, sebagian ketakutan, dan sebagian lagi hanya melamun. Amrita membisikkan kata-katanya ke telingaku agar tak perlu berteriak dan semua jadi terganggu.

”Daku bukanlah orang yang tepat untuk diikuti, wahai Putri, dikau putri raja yang terampil dan akan sangat berguna demi pekerjaanku. Beliau memimpikan suatu kesatuan kerajaan Angkor yang jaya. Tiada lain selain dirimu yang akan mewujudkan mimpi-mimpi itu, demi kesejahteraan rakyat di seluruh tanah Kambuja.”

”Dan mengkhianati segenap derita wangsa ibuku?”

”Sejarah akan memberikan pengadilannya sendiri Amrita, dan kita tidak dapat mengubahnya lagi, kecuali melanjutkan dan jika perlu memimpinnya. Dengan kekuasaan ayahmu dikau dapat melakulannya, Putri, demi kesejahteraan seluruh rakyatmu.”

Amrita memeluk dan menenggelamkan kepalanya ke dalam diriku. Hujan badai membuat perahu oleng kemoleng. Ini memang bukan perahu yang besar. Betapapun kukagumi ketangkasan tukang perahu ini, yang hanya dengan dayungnya mampu menembus tirai hujan dan menjaga keseimbangan, sehingga perahu ini tetap terjaga dan melaju ke hilir.

Berat hatiku jika memang harus berpisah dengan Amrita. Kami telah mengembarai Kambuja dengan menyamar bersama-sama. Penyamaran yang setiap kali nyaris terbuka karena para pemburu hadiah atau para pembunuh bayaran selalu bisa mengendus jejak kami berdua. Peristiwa yng terjadi di tempat penganyaman tikar pandan dahulu tidaklah dengan sendirinya berlalu. Para pengawal rahasia istana menyelidik, dan tentu bisa diduga bahwa majikan kami dahulu itu tidak memiliki cukup alasan untuk merahasiakannya.

Setiap kali penyamaran kami terbuka, Amrita selalu berhasil membunuh mereka yang memergoki keberadaannya, yang hanya membuat jejaknya makin panjang dan para pemburunya juga makin banyak. Meskipun aku juga yakin bahwa tidak akan pernah terlalu mudah untuk menangkap Amrita, apalagi dengan diriku bersamanya,

telah lama kupikirkan bahwa keadaan semacam ini tidak bisa berlangsung seterusnya. Apalagi keberadaanku di Kambuja telah diketahui pula oleh kaki tangan Naga Hitam. Tentu aku sama sekali tidak takut menghadapi siapa pun yang dikirim Naga Hitam, tetapi bukanlah pada tempatnya jika Putri Amrita Vighnesvara ini harus ikut pula menerima akibatnya. Siapakah yang bisa menjamin bahwa tidak sebatang jarum pun, yang beracun dan mematikan, tidak akan melesat dari kegelapan dan menembus jantungnya, sementara yang dituju sebetulnya diriku?

DALAM dunianya Amrita dapat melakukan perdamaian dengan ayahnya, dan untuk itu ia hanya perlu kembali ke istana. Dalam duniaku segala sesuatunya tiada pernah dapat diduga, seperti yang telah berlangsung dalam hidupku selama ini, dan jika aku betapapun siap untuk mati, tetapi aku tidak akan pernah siap untuk kematian Amrita dalam duniaku yang penuh marabahaya, apalagi mati terbunuh di hadapanku. Begitulah hatiku terbelah antara ingin terus bersama dan melindunginya,

berhadapan dengan kenyataan bahwa tempat Amrita adalah di istana untuk membangun kesatuan Kambuja bersama ayahnya. Apakah yang akan terjadi dengan sejarah Kambuja, jika Amrita mampu mengumpulkan laskar yang mengganggu bahkan meruntuhkan kekuasaan ayahnya, dengan diriku di sampingnya pula? Sudah kuniatkan untuk meninggalkan tanah orang-orang Khmer dengan sejarah mereka.

Begitulah yang kupikirkan tentang Amrita, tanpa menyadari betapa banyak masalah lain di Kambuja yang lebih menentukan jalan cerita. Selain aku sebetulnya tidak terlalu mengenal hubungan Jayavarman II dan Amrita yang sebenarnya, bahwa keselamatan Amrita ternyata sudah tidak terlalu penting lagi bagi Jayavarman II, justru salah duga atas hubungan Jayavarman II dengan putrinya itu telah membuat musuh-musuh sang raja mengira bahwa Amrita adalah permata yang terlalu berharga bagi Jayavarman II.

Kami masih berada di wilayah Champassak di sebelah timur laut dari pusat kerajaan di Angkor. Aku bermaksud mengantar Amrita sampai tiba dengan selamat di istana ayahnya, karena perburuan kepadanya masih terus berlangsung. Namun tidaklah terpikirkan sama sekali olehku, betapa ancaman terhadap Amrita tidak sekadar datang dari para pemburu hadiah dan pembunuh bayaran yang terhubungkan dengan istana ayahnya, melainkan juga dari orang-orang Cham dari berbagai kesatuan wilayah Champa di balik barisan pegunungan yang selalu tertutup awan; maupun juga dari wilayah utara yang diduduki Negeri Atap Langit. Kekuasaan

Jayavarman II yang dengan jelas berkembang sangat pesat berusaha dibendung dengan segala cara, dan Amrita diandaikan sebagai titik lemah yang akan sangat menentukan. Kedudukan terakhir itu tidak pernah kuduga karena pengetahuanku yang terbatas tentang perebutan pengaruh di wilayah Kambuja, sampai suatu peristiwa terjadi pada malam berhujan ini.

Terdengar guntur menggelegar, angin sangat ribut, dan tirai hujan dalam gelap malam tiada tertembus pandangan —meskipun begitu ternyata ada yang matanya lebih dari tajam untuk menembus kegelapan, begitu tajamnya sehingga menabrakkan perahu mereka kepada perahu yang kami tumpangi.

Sebelum perahu itu menabrak, tukang perahu kami sudah berteriak.

”Awas! Ada perahu mau menabrak kita!”

Tukang perahu itu orang Cam, bahasanya serumpun dengan bahasa Malayu, 1) lebih mudah kupelajari dari bahasa Khmer, dan kalimat sependek itu dapat kumengerti dengan jelas. Namun dalam suasana seperti ini dampak tumbukan perahu sama mengejutkannya dengan sambaran halilintar. Perahu itu terguling, mendadak saja diriku sudah berada di dalam air dan kurasakan tubuhku terseret arus yang menceraiberaikan seluruh penumpangnya.

”Amrita!” teriakku sekuatnya, tetapi hujan dan angin dalam kegelapan seperti melenyapkan segala-galanya.

Aku melenting ke atas setinggi-tingginya dan melihat sekilas sesosok manusia bersisik telah menangkap Amrita yang terkulai. Naga Kecil! Kukirimkan pukulan cahaya dengan seketika, itulah jenis pukulan dari perbendaharaan ilmu Raja Pembantai dari Selatan yang tidak akan pernah kugunakan jika bukan untuk menolong Amrita. Namun apa yang terjadi? Sambil masih berenang membawa Amrita, Naga Kecil mengibaskan tangannya dan dari telapak tangannya meluncurlah bola cahaya berwarna merah yang mencegat pukulan cahaya warna putih dari tanganku. Akibatnya terjadilah ledakan cahaya mahadahsyat yang menerangi malam. Aku masih berada di angkasa ketika tirai hujan berkilat merah, sebelum menjadi gelap saat tubuhku ditelan arus sungai kembali.

TERNYATA Naga Kecil tidak sendirian. Ia telah lenyap bersama Amrita. Tinggal kini diriku yang dikepung sekitar dua puluh manusia bersenjatakan cambuk. Aku masih berada di dalam air dan terseret arus dalam kegelapan. Mereka semua juga terseret arus, tetapi berdiri di atas permukaan air karena mengenakan terompah dari kayu. Sudah terpikir olehku untuk menyelam ketika setidaknya enam cambuk, tiga di kiri

dan tiga di kanan dengan segera telah menjerat lenganku, dan melontarkanku ke udara. Kubiarkan diriku terlempar, dan aku tahu belaka betapa mereka tentu menyiapkan sesuatu ketika mereka harapkan diriku meluncur kembali ke bawah.

Namun begitulah untuk sementara aku tetap berada di atas, bahkan dapat mengikuti arus sungai yang menghanyutkan mereka di atas terompah kayunya itu, sehingga mereka pun tampak kebingungan dan saling memandang. Aku masih mengambang ketika dari balik tirai hujan dua puluh pisau terbang melayang ke arahku! Delapan belas pisau terbang bisa kuhindari, sedangkan dua sisanya kutangkap dan kukembalikan jauh lebih cepat dari daya lontaran mereka. Keduanya menancap di dada pelemparnya sendiri. Mereka berdua jatuh dan terapung ketika aku sudah berdiri di atas permukaan sungai dengan ilmu meringankan tubuh, sementara delapan belas sisanya telah lenyap ditelan kegelapan. Aku tidak berusaha mengejarnya, karena salah satu di antara dua orang anak buah Naga Kecil itu masih bergerak, penanda ia masih hidup.

Aku bergerak menyusul dan menyambar tubuhnya ke tepi sungai. Namun napasnya pun sudah satu-satu.

’’Dibawa ke mana Amrita?’’

Sebetulnya ia sudah tidak mampu menjawab. Maka kusalurkan tenaga prana yang membuatnya bisa menjawab. Meski agaknya ia tidak mau menjawabnya. Padahal aku harus tahu ke mana Amrita dibawa. Kusalurkan lagi tenaga prana yang membuat tubuhnya segar untuk sementara, tetapi lantas kutekan suatu titik di tubuhnya yang memberikan kesakitan luar biasa. Ia mendesis dengan sisa tenaganya.

’’Katakan! Atau kubiarkan kamu tetap hidup dengan kesakitan selama-lamanya!’’

Bahwa aku harus bicara dengan bahasa Khmer, membuat kesulitanku terasa berlipat ganda. Kutekan lagi titik kesakitan itu. Saat ia akan merasa bagaikan seribu jarum beracun bergantian menusuk-nusuk tulang belakangnya.

’’Ah, bunuh saja daku!’’

’’Katakan! Cepat! Ke mana Naga Kecil membawa Amrita?!’’

Jelas Naga Kecil tidak akan kembali ke pertapaan Naga Bawah Tanah yang tersembunyi itu, karena betapapun aku sudah mengetahui tempatnya.

’’Katakan! Sebelum aku pergi dan membuatmu tetap bertahan dalam kesakitan!’’

Di sungai telaga dunia persilatan aku memang sudah banyak membunuh, tetapi tak berarti aku suka menyakiti orang. Namun perasaaan takut akan kehilangan Amrita telah membuatku menggunakan suatu cara agar orang ini bicara sebelum tewas

untuk selamanya. Dari perbendaharaan mantra warisan Raja Pembantai dari Selatan kuubah wajahku begitu mengerikan seolah iblis pun akan lari melihatku. Seorang anggota kawanan mungkin telah bersumpah setia untuk tidak mengungkap rahasia, bahkan untuk bunuh diri demi kesetiaannya, tetapi mereka tidak siap untuk mati dirobek-robek makhluk ganas bertaring panjang dengan mulut berbau busuk menetes-neteskan air liur yang sangat lengket dan menjijikkan.

Menjelang kematiannya, ia tampak sangat ketakutan.

’’Aaaahhh! Ampun! Ampun!’’

’’Katakan! Atau kutelan! Grrrrhhhhh!’’

Sihir itu ternyata mengena.

’’Sungai Merah! Pergilah ke Sungai Merah…’’

Saat itu wajahku berubah ke wajah asalku.

Tidak ada yang bisa dilakukan orang yang tubuhnya bergambar rajah naga itu pada saat-saat terakhirnya, ia mati dengan mata masih memandangku. Kulepaskan tubuhnya, dan arus sungai membawanya pergi.

Hujan berubah jadi gerimis. Di tepi sungai aku menghela nafas panjang.

***

UNTUK mencapai Sungai Merah aku harus menembus wilayah Campa sampai ke pantainya, lantas menyusuri kota demi kota ke utara di sepanjang pesisir timur tanah Kambuja itu sampai ke Teluk Tongking yang berhadapan dengan Pulau Hainan. Di teluk itulah terletak muara Sungai Merah yang juga disebut Sungai Hong.

SEPANJANG perjalanan sedikit demi sedikit kukumpulkan riwayat wilayah yang kutuju, yang meskipun sebagian wilayahnya juga dihuni orang Cam, memiliki sejarah yang berbeda sama sekali. Para pedagang Negeri Atap Langit yang kutemui berkisah bahwa dataran di sekitar Sungai Merah itu telah dikuasai balatentara Wangsa Han sejak 700 tahun lalu, meski baru dua ratus tahun kemudian Negeri Atap Langit berhasil membangun suatu pemerintahan, tetapi yang pejabatnya diangkat dari penduduk setempat, sehingga kemapanan lebih dapat dijamin. Dalam keadaan seperti itu, pejabat setempat sebagai pemimpin wilayah akan peka terhadap kepentingan kemaharajaan Negeri Atap Langit, tetapi yang akan mengutamakan kepentingannya sendiri ketika kekuatan wangsa yang berkuasa melemah.

Dua ratus tahun lalu, para pemimpin setempat menolak kekuasaan wangsa-wangsa yang lemah ini, tetapi awal abad VII, jadi seratus tahun lebih dari saat aku menyusuri

pantai timur itu, perlawanan mereka melemah, dan menerima saja kekuasaan Wangsa Sui dan Wangsa Tang. Saat aku menjelajahi wilayah tersebut dalam usaha mencari Amrita, wilayah itu telah diresmikan sebagai Daerah Perlindungan An Nam. Daerah Perlindungan adalah jenis kebijakan di wilayah perbatasan yang terpencil, tetapi dianggap menguntungkan, yang penduduknya bukan berasal dari Negeri Atap Langit. Pendirian Daerah Perlindungan An Nam diikuti penyerapan golongan penguasa setempat ke dalam peringkat jabatan kemaharajaan. Selama kekuasaan Wangsa Tang masih kuat, wilayah An Nam berada dalam suasana damai. Namun pada saat aku menyusuri kota demi kota di sepanjang pesisir timur, yang merupakan kota-kota pelabuhan tempat segala kabar terdengar dan beredar, kudengar betapa pengaruh Negeri Atap Langit kembali goyah.

Sampai seratus tahun berikutnya kelak, ternyata Daerah Perlindungan An Nam memang bergolak, ketika kelompok setempat yang kuat berjuang merebut kekuasaan, bahkan tidak jarang memang memberontak bersama dengan melemahnya kekuasaan Wangsa Tang, yang membuat tempat-tempat tertentu di Sungai Merah kini menjadi pusat-pusat kekuasaan baru di wilayah An Nam. Di sepanjang Sungai Merah, mula-mula pusat kekuasaan itu terdapat di berbagai dataran, terutama di sebelah barat daya dan sisi utara dataran, tetapi yang sejak seratus tahun lalu telah berpindah ke sebelah selatan sungai yang tanahnya lebih tinggi, mungkin menghindari banjir, di tempat yang kemudian akan disebut Thang-long. 2)

Demikianlah sembari menyusuri jejak Naga Kecil yang disebutkan menuju ke Sungai Merah, aku mempelajari segala sesuatunya dengan perbendaharaan bahasa yang sangat terbatas, karena di sini orang tidak berbicara dengan bahasa Khmer lagi. Untunglah, selama masih menyusuri pesisir, bahasa Malayu masih bisa digunakan, karena kapal-kapal Srivijaya yang selalu ada di sana maupun serangan Wangsa Syailendra ke Pho Nagar, Virapura, bahkan juga Tongking 3), yang sebetulnya belum berlangsung lama adalah bagian dari hubungan dengan wilayah Suvarnadvipa, termasuk Mataram di Jawadwipa di dalamnya, yang meninggalkan jejak kebahasaan dan kebudayaannya pula. 4) Namun semakin ke utara, dan menyusyuri Sungai Merah ke pedalaman, tampak sekali pengaruh Negeri Atap

Langit yang segenap kebudayaannya bagaikan tampak sengaja mereka serap, justru untuk melawan penindasan kekuasaannya. Ini membuatku harus banyak belajar kembali.

DARI Champassak aku telah menyeberangi pegunungan dan turun ke pesisir bekas kerajaan orang Campa yang bernama Vijaya. Dari sana aku melangkah terus dari candi ke candi, karena kuketahui dari Amrita bahwa Naga Kecil, meskipun tidak dapat mengucapkan bahasa manusia adalah seorang pemuja Siva. Ini untuk menjamin bahwa meskipun telah kuketahui tujuan Naga Kecil adalah Sungai Merah, tidak akan terjadi bahwa tanpa kuketahui telah kulewati Naga Kecil, tetapi lantas diikutinya diriku dari belakang.

Kini aku tahu Amrita ternyata tidak membunuh Naga Kecil ketika bertarung di dalam air pada lorong bawah tanah itu. Ataukah Amrita memang tidak membunuhnya,

ataukah Naga Kecil telah memperdayainya, sehingga Amrita merasa telah membunuh tetapi Naga Kecil masih hidup? Memang tidak pernah kuingat terdapat mayat manusia bersisik waktu itu. Tidak di dalam danau dan tidak juga terapung-apung. Waktu itu aku tidak merasa perlu bertanya karena kupikir tentu Amrita sudah tahu apa yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Segalanya gelap bagiku, karena terlalu banyak urusan dapat dikaitkan kepada Amrita, mulai dari hubungan cintanya dengan Naga Kecil, pengkhianatannya terhadap kekuasaan ayahnya, keterlibatannya dengan pencurian kitab, maupun kepentinganku sendiri yang telah terseret makin jauh.

Naga Kecil itu, apakah yang telah membuatnya menculik Amrita, dengan perencanaan yang tampaknya sangat matang pula? Sudah jelas bahwa pada suatu hari yang tidak kami ketahui, kebetulan atau tidak kebetulan, seseorang telah mengetahui keberadaan kami. Penyamaran memang bukan perkara yang mudah, apalagi jika diburu para pengawal rahasia istana yang dalam menjalankan tugasnya itu akan menyamar. Kuingat kembali Arthasastra yang menjadi pegangan negeri mana pun yang merujuk kebudayaan dari Jambhudvipa. Dalam kitab itu tertulis tentang Kegiatan Petugas Rahasia yang Menyamar Sebagai Pekerja Rumah, Pedagang dan Pertapa yang lengkapnya seperti berikut.

1. Dengan membagi daerah pedesaan menjadi empat bagian, kepala pelaksana harus menyuruh mendaftarkan jumlah desa, yang tergolongkan sebagai yang terbaik, menengah dan terendah (mencatat mana yang bebas pajak, mana yang menyediakan serdadu, jumlah (pendapatan) dalam gandum, ternak, uang tunai, hasil hutan, kerja dan hasil sebagai pengganti pajak.

2. Di bawah petunjuknya petugas pajak harus menjaga sekelompok lima atau sepuluh desa.

3. Ia harus mencatat jumlah desa dengan menentukan batasannya, jumlah ladang dengan menghitung (ladang) yang dibajak dan yang tidak, ladang kering dan basah, taman, kebun sayur, (bunga dan buah) yang dipagari, hutan, bangunan, cagar alam, puri, irigasi, tempat pembakaran mayat, rumah istirahat, tempat untuk minum air,

tempat suci, lapangan rumput dan jalan; dan tentang hadiah, penjualan, pemberian dan pembebasan mengenai batas desa dan ladang, dan (mencatat) rumah dari jumlah pembayar pajak dan bukan pembayar pajak.

4. Dan di dalamnya (ia harus mencatat) mereka yang termasuk empat varna, jumlah petani, penggembala, pedagang, pekerja tangan, pekerja dan budak, jumlah makhluk berkaki dua dan berkaki empat, dan jumlah uang, kerja, pajak dan denda timbul dari mereka.

5. Dan tentang pria dan wanita dalam keluarga, ia harus tahu jumlah anak dan orangtua, kerja mereka, adat, dan jumlah penghasilan dan pengeluaran mereka.

6. Dan dengan cara yang sama, petugas bagian harus mengawasi seperempat bagian daerah pedesaan.

7. Di pusat petugas pajak dan bagian, para hakim harus menjalankan tugas mereka dan berusaha memperoleh beaya.

8. Dan petugas yang menyamar sebagai pekerja rumah, diarahkan oleh kepala pelaksana, harus menemukan jumlah ladang, rumah dan keluarga di desa tempat mereka bertugas, ladang dan ukuran serta hasil seluruhnya, rumah, tentang pajak dan pembebasan dan keluarga tentang varna dan pekerjaan.

9. Dan mereka harus mencari tahu jumlah perorangan di dalamnya dan penghasilan serta pengeluaran mereka.

10. Dan mereka harus menyelidiki alasan untuk pergi dan berdiam dari mereka yang mengadakan perjalanan dan mereka yang datang (masing-masing), juga tentang pria dan wanita yang membahayakan, dan (harus cari tahu) kegiatan para matamata.

11. Dengan cara yang sama, mata-mata yang menyamar sebagai pedagang harus cari tahu jumlah dan harga barang raja yang dihasilkan di negerinya sendiri, yang diperoleh dari tambang, pengairan, hutan, kilang, dan ladang.

Dan tentang kegiatan mengenai barang yang bernilai tinggi dan rendah yang dihasilkan di mancanegara dan didatangkan melalui jalan air atau jalan darat, mereka harus cari tahu jumlah pajak, tol jalan, beaya pengawalan, beaya pada rumah jaga pengawal dan perahu penyeberangan, bagian, makanan dan hadiah.

Dengan cara yang sama, para petugas yang menyamar sebagai pertapa, dipimpin oleh kepala pelaksana, harus mengetahui kejujuran atau ketakjujuran para petani, penggembala dan pedangan dan kepala bagian.

Dan para pembantu yang menyamar sebagai pencuri tua mencari tahu alasan untuk masuk, diam, dan keberangkatan para pencuri dan pemberani musuh, dalam cagar alam, persimpangan jalan, tempat sepi, sumur, sungai, danau, penyeberangan sungai, perumahan puri, pertapaan, rimba, gunung, hutan, dan semak.

Demikianlah kepala pelaksana yang selalu rajin, harus mengawasi daerah pedesaan; dan (para mata-mata) juga harus mengurusnya, juga badan-badan lain dengan asal sendiri (yang berbeda) harus mengawasinya. 5)

Memang aku tidak pernah terlalu bisa menikmati bahasa resmi, apalagi yang berbau hukum, tetapi dari Arthasastra itu terbayang segala sesuatu yang mungkin dikerjakan para pengawal rahasia istana. Namun jika memang benar pengawal rahasia istana yang mengabdi kepada Jayavarman II menemukan jejak kami, mengapa Naga Kecil yang menangkap Amrita, dan mengapa pergi ke utara, ke Sungai Merah yang sudah berada di luar Campa?

Betapapun kusadari kesalahan yang telah kami lakukan, yakni belum mampu bersikap seperti orang biasa dalam arti sesungguhnya. Sudah bagus ketika Amrita berdiam diri saat dagunya didorong ke atas oleh gagang cambuk di tempat penganyaman tikar pandan itu, tetapi jatuhnya petugas bercambuk tanpa nyawa lagi setelah majikan kami bersujud, sudah tentu mengundang pelacakan. Kemudian, meski kami segera menyempurnakan mayat Pendekar Cahaya Senja dengan

pembakaran, dan tidak kami rasakan pertarungan Amrita itu disaksikan seseorang, ternyata cerita tentang pertarungan itu sudah begitu saja tersebar dari kedai ke kedai melalui mulut para pembual, entah bagaimana caranya, tanpa jaminan ketepatan

sama sekali. Ini terjadi karena kami membiarkan diri kami bersikap seperti para penyoren pedang di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, yakni selalu menanggapi setiap bahaya yang mengancam dengan kemampuan ilmu silat, sementara syarat pertama penyamaran adalah bersikap sepenuhnya seperti orang awam.

Jika itu pun belum mampu kami penuhi, bagaimana mungkin menghindari para petugas rahasia yang bahkan mengetahui segala sesuatu di dalam rumah sebuah keluarga itu? Sehingga apabila kami sungguh berperan dengan baik dalam penyamaran itu, tetap saja kami masih harus sangat berhati-hati terhadap siapapun yang berada di sekitar kami. Meski begitu, betapapun aku merasa kami sudah bersikap awam seperti yang semestinya dituntut dalam sebuah penyamaran. Bersikap seperti tukang kayu ketika menjadi tukang kayu, bersikap seperti pandai emas ketika menjadi pandai emas, bersikap seperti pengemis ketika menjadi pengemis, bersikap seperti sais kereta ketika harus menjadi sais. Sungguh aku begitu yakin bahwa tidak ada seorang petugas rahasia pun mengendusnya. Hanya menjadi pelacur sajalah yang tidak dijalani Amrita, karena dirinya tiada lagi bisa bercinta dengan siapapun juga selain kepada diriku. Secara keseluruhan, karena memang terus menerus berpindah tempat di seluruh Kambuja, untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, kami tetap berperan sebagai kaum paria pengembara, yang berkelana di atas bumi tanpa pernah mendapat kemapanan, menggelandang tanpa tujuan selain melanjutkan kehidupanÖ

Maka memang menjadi pertanyaan besar bagiku sekarang mengenai peran Naga Kecil di sini. Apakah dia menemukan Amrita karena daya batin alamiahnya, dan para petugas rahasia memang memanfaatkannya, ataukah tindakan Naga Kecil tidak ada hubungannya dengan kebijakan istana yang mana pun juga? Namun rajah bergambar naga menggeliat dengan mulut menganga yang kulihat pada tubuh orang yang mengikutinya itu, mengingatkan diriku kepada tanda-tanda suatu perkumpulan rahasia…

DARI Vijaya aku telah melewati Amaravati, dan terus menyusuri pantai sepanjang Indrapura. Aku tetap berperan sebagai paria pengembara yang bercaping dan berbaju compang-camping, tetapi memilih untuk tidak terlalu sering bertemu dengan manusia. Betapapun aku merasa harus secepatnya mencapai Sungai Merah, yang masih sangat jauh karena batas utara Campa yang terujung, tempat berdirinya candi Siva di Caoha, belum kulewati pula. Pantai adalah tempat yang ramai, karena tiap

sebentar terdapat kampung nelayan, bahkan pelabuhan, sehingga kutentukan untuk selalu melakukan perjalanan malam. Siang hari aku tidur di mana pun agar memiliki cukup tenaga pada malam harinya. Dalam penyamaran di dunia yang penuh mata-mata ini, aku menahan diri untuk tidak berkelebat dan melesat dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit agar tidak seorang mengendus keberadaan seseorang dari dunia persilatan di dunia awam.

Namun, begitulah, pada suatu siang berangin ketika aku tidur di tepi pantai dengan wajah tertutup caping di bawah pohon nyiur yang melambai-lambai, terdengar sebuah suara dalam bahasa Jawa.

‘’He, pengemis! Bangunlah!’’

120: Ruang Tulisan, Waktu Tulisan

PEMBACA yang Budiman, sementara Pembaca mengikuti kisah perjalananku di Kambuja, aku mengalami kejadian yang membuat diriku berada dalam kedudukan yang sulit, karena seseorang telah menyandera Nawa agar kuserahkan riwayat hidup yang sedang kutulis tersebut. Adapun kesulitan itu meliputi dua matra: Pertama, bahwa jika kuserahkan demi Nawa, dan bagiku keselamatan seorang anak jauh lebih penting dari apa pun juga, karena anak adalah masa depan, maka besar kemungkinan naskah tersebut bahkan tak dapat kubaca kembali, padahal aku menuliskannya demi sebuah penyelidikan, mengapa diriku disuruh bunuh oleh negara; kedua, dengan melibatkan diri dalam kejadian itu, sambungan penulisanku tidak jelas kapan bisa dilanjutkan, padahal aku tidak dapat menulis dan membebaskan Nawa dalam waktu bersamaan. Apa akal?

Dalam waktu yang sempit, aku mendapat jalan keluar yang hanya dapat berhasil dengan bantuan Pembaca, yang akan berbaik budi tetap mengikuti lanjutan cerita tersebut meski mengetahui betapa aku belum sempat menuliskannya! Bukankah penulisanku terhenti ketika kuketahui sesosok bayangan berkelebat, dan sosok yang lain mendadak muncul sambil menempelkan pedang di leher Nawa? Memang, aku dapat mengharapkan bahwa guratan demi guratan aksara yang sedang kutulis itu diandaikan saja sebagai lanjutan cerita yang berlangsung sampai aku keluar dari wilayah Campa. Namun seberapa banyaklah yang dapat dituliskan oleh sebuah pengutik di atas lembaran lontar bukan? Jadi, maaf, seribu kali mohon maaf atas kebodohanku dalam penulisan, dan terima kasih sebesar-besarnya atas pengertiannya, bahwa peristiwa yang berlangsung sesudahnya, seperti pertarunganku melawan Amrita dan seterusnya, tentu belum dituliskan selengkapnya

saat aku terpaksa menghentikannya ketika memergoki bayangan yang berkelebat dalam kegelapan tersebut. Mohon maklum dan mohon maaf!

Masalahnya, jika aku tidak dapat mengambil jarak dengan masa kiniku, tidak dapat kujamin aku akan segera kembali ke masa lalu dan menuliskannya; sedangkan jika penulisan masa laluku itu terbengkalai dan akhirnya terlupakan sama sekali, aku pun tidak dapat mencapai kejelasan pada masa kiniku. Maka aku harus segera menyelesaikan pengembalian ingatan segenap masa laluku itu, agar tidak tenggelam dalam kebingungan seperti sekarang.

Kini persoalan pelik lain harus kupecahkan dalam waktu singkat, sehubungan dengan pentingnya keselamatan Nawa. Betapa besar dosa dan rasa bersalahku jika seorang anak harus menjadi korban dalam masalahku yang sudah memasuki usia 101 tahun. Sangatlah tidak layak seorang anak terkorbankan untuk seseorang yang setiap saat berkemungkinan mati.

Persoalannya, apakah sosok yang berkelebat dalam kegelapan itu datang bersama dengan sosok yang memegang Nawa? Jika mereka datang bersama, dan memang bekerjasama, tentu harus kuperhitungkan berbeda dengan kenyataan jika mereka tidak saling mengenal. Paling sulit adalah memperhitungkan, jika mereka mungkin tidak saling mengenal, tetapi bisa saja kepentingannya sama; ataukah ternyata tidak

sama. Jika yang menyandera Nawa telah menyatakan kepentingannya, maka apakah kiranya maksud dan tujuan sosok yang langkahnya begitu ringan, nyaris takterdengar sama sekali, yang jelas tidak bermaksud memperlihatkan diri?

”Aaaakkhhh!”

Nawa menjerit, pedang itu telah menggores kulit lehernya. Mataku masih bisa melihat garis hitam kental dalam kegelapan, tanda darah keluar dari goresan luka.

”Semua naskah ada di pondok,” kataku, ”silakan ambil semua, tetapi tinggalkan Nawa di sini!”

Kutatap dengan pandangan menembus kegelapan. Agaknya ia membebatkan kain hitam di wajahnya, sehingga hanya tampak matanya. Pantaslah takbisa kujejaki wajahnya tadi, karena kain hitam menyamarkannya dengan kegelapan. Kulihat Nawa yang juga melihat ke arahku. Apakah yang diharapkannya dari seorang kakek tua yang setiap hari dilihatnya hanya menulis saja?

Langkah-langkah halus dari bayangan yang berkelebat tadi telah sampai ke belakang pondok. Apakah ia bermaksud mencuri tumpukan lontar yang telah kutulisi selama setahun ini? Aku tidak terlalu yakin bahwa seseorang tahu apa yang kutuliskan selama ini, kecuali pengusaha lembaran lontar ini, yang pertanyaannya

terpaksa kujawab, bahwa aku sedang menulis kenang-kenanganku. Kurasa apapun yang kutulis tidak penting bagi pengusaha lembaran lontar itu, sehingga kuandaikan ia tidak pernah memperbincangkannya, dan tentu tidak juga Nawa, yang baginya diriku hanyalah kakek tua. Namun setidaknya terdapat dua perkara yang memungkinkan seseorang mencari dan peduli dengan keberadaan maupun apa yang kulakukan di sini. Pertama, bahwa aku memang seorang buronan, yang bagi penangkapan atau kematianku tersedia hadiah 10.000 inmas; kedua, bahwa seorang perempuan muda telah bertanya-tanya kepada Nawa, apakah aku ini seorang pendekar, yang telah membuat Nawa bertanya kepadaku pula.

”AAAAKKHHH!”

Nawa menjerit, pedang itu telah menggores kulit lehernya. Mataku masih bisa melihat garis hitam kental dalam kegelapan, tanda darah keluar dari goresan luka.

”Semua naskah ada di pondok,” kataku, ”silakan ambil semua, tetapi tinggalkan Nawa di sini!”

Kutatap dengan pandangan menembus kegelapan. Agaknya ia membebatkan kain hitam di wajahnya, sehingga hanya tampak matanya. Pantaslah tak bisa kujejaki wajahnya tadi, karena kain hitam menyamarkannya dengan kegelapan. Kulihat Nawa yang juga melihat ke arahku. Apakah yang diharapkannya dari seorang kakek tua yang setiap hari dilihatnya hanya menulis saja?

Langkah-langkah halus dari bayangan yang berkelebat tadi telah sampai ke belakang pondok. Apakah ia bermaksud mencuri tumpukan lontar yang telah kutulisi selama setahun ini? Aku tidak terlalu yakin bahwa seseorang tahu apa yang kutuliskan selama ini, kecuali pengusaha lembaran lontar ini, yang pertanyaannya terpaksa kujawab, bahwa aku sedang menulis kenang-kenanganku. Kurasa apa pun yang kutulis tidak penting bagi pengusaha lembaran lontar itu, sehingga kuandaikan ia tidak pernah memperbincangkannya, dan tentu tidak juga Nawa, yang baginya diriku hanyalah kakek tua. Namun setidaknya terdapat dua perkara yang memungkinkan seseorang mencari dan peduli dengan keberadaan maupun apa yang kulakukan di sini. Pertama, bahwa aku memang seorang buronan, yang bagi penangkapan atau kematianku tersedia hadiah 10.000 inmas; kedua, bahwa seorang perempuan muda telah bertanya-tanya kepada Nawa, apakah aku ini seorang pendekar, yang telah membuat Nawa bertanya kepadaku pula.

Aku harus bertindak cepat, jika ingin Nawa tetap selamat.

”Lepaskan anak ini sekarang juga! Dan ambil naskah itu! Cepat! Sebelum aku berubah pikiran!”

Bahwa ia perlu menyandera Nawa, kutafsirkan sebagai pengenalan atas diriku yang sebenarnya. Ini membuat gertakanku berhasil, karena aku juga telah memperhitungkan, kedua orang yang menyatroni tidak bekerja sama, mengingat

perbedaan tingkat ilmu mereka. Aku mengenal para pendekar. Ibarat burung rajawali, mereka selalu terbang sendiri. Tidak banyak kemungkinannya dengan ilmu setinggi itu akan sudi bahkan hanya untuk bicara dengan penyandera ini.

Perhitunganku tidak keliru, karena jika ilmu penyandera ini tinggi, ia tentu minta naskah itu kuambil ke dalam pondok, dan menolak kehendakku. Lagipula ia tidak tahu apa yang terdapat di dalam pondok, sedangkan dalam dunia persilatan, segala sesuatu yang dianggap penting pasti dirahasiakan.

Begitulah ia melesat sambil melemparkan Nawa ke arahku. Kutangkap Nawa yang ketakutan dan segera memelukku. Dengan sebelah tangan kudekap ia di sisi kiri tubuhku dan aku segera berkelebat ke dalam pondok. Sesosok bayangan berkelebat menghilang ketika aku masuk. Kulihat sepintas. Belum ada sesuatu pun yang sempat disentuhnya. Namun lebih dari yang kuharapkan, penyandera bertutup kain hitam yang hanya terlihat matanya itu sudah tewas dengan luka di dadanya. Adapun bayangan itu sudah lenyap di balik kegelapan.

Aku tidak berminat mengejarnya, sejauh tidak ada sesuatu yang kuanggap penting telah diambilnya, apalagi dengan adanya Nawa dan mayat orang itu dalam pondokku. Aku segera keluar agar Nawa tidak melihat mayat dengan luka tepat pada jantungnya itu. Memang nyaris tak berdarah sama sekali karena ketinggian ilmu pedang yang membunuhnya, tetapi bukan sekadar kekerasan betapapun bukanlah pengalaman menyenangkan bagi seorang anak, melainkan betapa akan sulitnya menjawab pertanyaan-pertanyaan anak secerdas Nawa.

Kuletakkan Nawa yang masih terpaku dengan peristiwa yang dialaminya itu di luar. Lantas aku masuk dan memeriksa lagi orang itu. Di pinggangnya terdapat rantai, yang mungkin merupakan senjata yang belum sempat dipakainya. Ia hanya berkancut seperti semua orang yang tidak mempunyai kedudukan tinggi, tetapi kain kancutnya yang hitam kelam menunjukkan tujuan penggunaannya untuk kepentingan tertentu. Kuperiksa gulungan kain yang melingkari pinggangnya, sehingga rantai itu memang sepintas lalu tak ada. Seperti kuharapkan, segala sesuatu yang menunjukkan keterlibatan dengan kerja penyusupan terdapat di sana,

seperti jarum-jarum beracun, tali berkait untuk bergantung, bola-bola peledak, maupun pisau terbang.

”Kalapasa….”

Kudengar desisanku sendiri pada malam sunyi. Aku harus segera melenyapkan mayat ini jika tidak ingin mendapat kesulitan.

KUANGKAT mayat itu dan aku pun berkelebat lewat pintu belakang. Inilah kesulitan seseorang dari dunia persilatan yang menyamar sebagai seorang awam, apabila kemudian ternyata persoalan dari dunia persilatan itu masih terus menyusulnya. Dunia persilatan penuh dengan mayat bergelimpangan, karena seseorang yang hidup dalam dunia itu memang selalu berada dalam kedudukan antara hidup dan mati, sementara di dunia awam tergeletaknya satu mayat saja akibat pembunuhan sudah menjadi peristiwa menggemparkan. Istilah mayat yang kejatuhan embun masih berlaku untuk menekankan makna betapa sesuatu telah berlangsung di luar kewajaran.

Ke manakah aku harus pergi dalam kegelapan ini? Meski malam telah turun, tetapi ini malam yang belum larut sama sekali. Justru di kota seramai Mantyasih, kedatangan malam itu seperti harus dirayakan. Di berbagai pojok jalan obor penerangan menyala dan memperlihatkan kerumunan, bahkan di tepi jalan besar terlihat keramaian karena terdapat sebuah tontonan. Aku membawa mayat anggota Kalapasa ini dengan berlindung di balik kegelapan di balik tembok. Aku harus sangat waspada, karena jika benar yang harus kusembunyikan mayatnya ini adalah anggota Kalapasa, seharusnya ia tidaklah bekerja sendirian.

Berlindung di bawah bayangan tembok bata merah di jalan besar tidaklah mudah, karena cahaya obor yang cukup banyak telah memudarkan kegelapannya. Cahaya api kekuningan menyepuh tembok bata merah, bahkan bayanganku yang memanggul mayat tampak jelas pada tembok itu! Bergoyang-goyang sesuai goyangan api yang tertiup angin…

Aku terkesiap dan segera berkelebat dari bayangan kegelapan yang satu ke bayangan kegelapan yang lain. Aku sama sekali tidak boleh terlihat, jika tidak ingin seisi kota keluar dari rumahnya dan memburuku. Maka aku terbang ke atas tembok dan melesat di atasnya, berkelebat dari atas atap rumah yang satu ke atap rumah yang lain, menghindari keramaian, menuju ke pinggiran kota. Di depan berbagai arca Siva kulihat sejumlah orang masih melakukan upacara malam, dan ini pun harus kuhindari hanya di belakang arca itu terdapat kegelapan. Di depan arca bahkan obor

terang benderang, dan semakin ke pinggiran kota semakin sedikit terdapat tembok perkotaan, sehingga nyala api menyelusuri tanah seluas-luasnya, memperlihatkan bayang-bayangku memanjang memanggul mayat yang kejatuhan embun.

Tujuanku adalah tempat pembakaran orang-orang mati. Tempat itu berada di luar tembok kota, di pinggiran, tempat bermukimnya orang-orang paria, yang meski disebut tanpa kasta ternyata masih berperingkat pula. Rumah-rumah mereka jelas tidaklah terbuat dari batu bata seperti rumah para bangsawan di dalam kota, melainkan seperti kandang hewan sahaja. Kadang tak berdinding dan hanya beratap, bahkan tak jarang hanya menggeletak begitu saja di atas jerami. Itulah golongan candala, mleccha, dan tuca. Di dekat mereka itulah terdapat pancaka-pancaka pembakaran mayat, tempat siapa pun yang keberangkatannya ke alam baka tidak memerlukan upacara, karena tidak mempunyai biaya tentunya, mayatnya segera dibakar sampai habis tanpa sisa. Itulah sisa pekerjaan bagi para astacandala yang meski berperingkat dalam ketanpakastaan sepintas lalu tampak sama saja, yakni kumuh dan nestapa.

Mereka, laki dan perempuan, sedang duduk berkerumun bagai gundukan dalam kegelapan. Bahkan siang hari pun mereka tidak selalu tahu apa yang bisa dikerjakan selain mencari sisa-sisa makanan. Mereka berdiri ketika aku datang. Tidak ada penerangan apapun di tempat itu. Demikianlah orang-orang yang selalu dianggap tidak mempunyai igama ini, ataupun jika memiliki kepercayaan dianggap saja sebagai golongan vidharma, upadharma, upatha, apatha, vipatha, atau mithyadusti ini, atau golongan sesat, hidupnya nyaris seperti binatang, meski dalam kenyataannya tetap saja memiliki kebudayaan.

Kulemparkan mayat itu ke depan mereka. Dengan terkejut mereka berdiri.

”Siapa di antara kalian mengenali mayat ini,” kataku.

Segalanya memang gelap, tetapi apalah yang bisa terlalu gelap bagiku sebagai orang persilatan, maupun bagi mereka yang selalu hidup dalam kegelapan itu?

KUKELUARKAN beberapa keping mata uang perak. Yah, tidak perlu emas untuk membuat mata mereka terbelalak lebih. Kutahu jaringan perkumpulan rahasia sangat mengandalkan kaum paria, karena bagi kasta di atasnya kaum tanpa kasta ini hanya ada untuk mendukung keberadaan mereka, yang keberadaannya bagai merupakan suatu takdir, sama sepert keberadaan anjing, angin, rembulan, yang bagaikan sudah semestinya ada demi keberadaan mereka. Karena itu tidak ada sesuatu pun dari

kaum paria itu harus menjadi begitu istimewa untuk diperhatikan lebih dari seharusnya.

Sebaliknya kaum paria itu selalu memperhatikan segalanya yang berlangsung di luar dunia mereka, karena segala sesuatu yang berada di luar dunia mereka itu sangat memengaruhi keberadaan mereka. Selain bahwa seolah-olah tiada sesuatu pun dalam dunia mereka sendiri yang dapat menarik perhatian mereka. Mereka yang berada di tepi dunia selalu memandang ke arah pusat dunia, mereka yang berada di pusat dunia tidak punya waktu memandang apapun, selain memandang diri mereka sendiri.

Di Mantyasih, mereka merasa berada di pusat dunia dan sibuk dengan upacara igama. Candi-candi terus dibangun mengerahkan tenaga dari desa, sehingga sawah dan ladang terbengkalai. Orang desa yang jatuh miskin, merayap masuk kotaraja yang selama ini dipandang sebagai pusat dunia, tetapi tidak ada satu manusia pun peduli kepada mereka. Para pengawal dan penjaga kota menahan mereka di luar kotaraja, dan hanya bisa masuk jika kaum berkasta membawa mereka masuk sebagai budak atau orang upahan.

Dari tahun ke tahun mereka beranak pinak, selain ada kalanya datang pula rombongan baru yang desanya terlantar karena membangun candi. Anak beranak yang lahir di kandang hewan akhirnya takmengenal kehidupan lain selain keselamatan hari ini. Bukan hanya orangtuanya kehilangan kepercayaan kepada dewa-dewa yang telah berpaling, tetapi anak-anak tumbuh di kandang hewan ini telah menciptakan dewa-dewanya sendiri!

Makanya mereka disebut sebagai apatha atau mithyadusti, mereka yang sesat, dan karena itu tidak dapat diterima sebagai bagian dari peradaban. Bahkan pengemis dan gelandangan di dalam kota, seolah-olah kastanya lebih tinggi dari mereka, karena pengemis dan gelandangan hanyalah warga biasa yang terlantar, bisa berkasta sudra, bahkan vaisya yang jatuh rudin, tetapi apatha dianggap kelahiran yang salah.

Kedudukan semacam itu membuat mereka tak pernah dipandang, tetapi selalu memandang, dan karena itu layak kuanggap tahu segala sesuatu. Kulemparkan ikatan mata uang perak itu, yang segera berserak di atas tanah. Mereka menyergapnya seperti buaya menyambar itik, tetapi aku segera menendangi mereka dengan tenaga kasar, sehingga sepuluh orang terlempar sambil mengerang.

”Dasar astacandala! Katakan siapa pernah melihat orang ini! Baru uangnya boleh dimakan!”

Uang bagi orang-orang yang malang ini hanya berarti arak dan pelacur, sedangkan para pelacur yang tidak terlalu butuh uang pasti akan menolaknya.

Mereka mendekati mayat itu dan memeriksanya. Mereka membolak-balik mayat, dan kurasakan hal itu agak terlalu lama. Dengan cepat kuambil kembali ikatan mata uang perak itu, lantas kulemparkan lima keping ke udara.

”Itu untuk pembakaran, siapa pun yang akan melakukannya,” kataku sambil berlagak pergi, ”aku hanya buang waktu di sini.” 1)

Aku melangkah pergi. Dengan langkah biasa. Setelah agak jauh kudengar langkah seseorang menyusulku

”Tuan, Tuan, sahaya melihatnya.”

Aku menoleh. Seorang lelaki berkancut yang sangat dekil, seperti nyaris telanjang, karena kancut yang tak jelas warnanya itu pun sungguh compang-camping. Rambutnya terurai dan kaku, seperti mengesahkan ketidakberadabannya. Meski kurasa cara berbahasanya tidaklah sekasar seperti yang biasa diperdengarkan golongannya.

”Apa yang kamu lakukan sehingga melihatnya?”

”Sahaya sedang mencari telur burung di batas kota, Tuan, ketika sahaya mendengar perbincangan di bawah pohon yang daunnya sangat rimbun itu. Sahaya tidak berani turun, karena mereka pasti akan membunuh sahaya. Pertemuan ketiga orang penunggang kuda itu jelas dirahasiakan, karena mereka saling bertukar kata sandi.”

”Apa yang mereka bicarakan?”

”Mereka berbicara perlahan sekali tuan, maaf, sahaya tidak berkata telah mendengar percakapan mereka, sahaya hanya menyatakan telah melihatnya.’

Ia benar. Namun tentunya harus ada sesuatu yang bisa kuperhitungkan berdasarkan pandangan matanya.

”APA saja yang dikau lihat?”

”Kuda mereka.”

”Kenapa dengan kuda mereka?”

”Kuda mereka ketiganya hitam, tegap dan perkasa.”

Hmm. Apakah ini mempunyai makna? Mereka yang memilih untuk hidup sebagai penyusup akan akrab dengan warna hitam. Kuda hitam bukan perkecualian, karena tidak akan mudah terlihat dalam penyusupan dan perburuan dalam kegelapan. Ini hanya membenarkan dugaanku sebelumnya, bahwa orang malang yang terbunuh dalam tugas itu adalah petugas rahasia. Namun sebetulnya dengan segenap bukti yang kudapat, belum bisa dipastikan, apakah dirinya anggota Kalapasa, atau justru pengawal rahasia istana —meski kuyakinkan diriku betapa pengawal rahasia istana sesungguhnya telah dididik untuk bersikap ksatria, dan tidak akan pernah

menyandera bahkan membahayakan seorang anak kecil demi kepentingannya. Masalahnya, jaringan rahasia Cakrawarti disebutkan telah demikian merasuk, sehingga sangat mungkin untuk menanamkan seorang anggota Kalapasa sebagai pengawal rahasia istana, yang merupakan tindak gabungan antara ilmu penyamaran dan ilmu penyusupan. Dengan perkembangan ilmu-ilmu kerahasiaan itu, tidakkah mencari jejakku akan menjadi terlalu mudah?

Pertemuan ketiga orang itu juga berarti bukan hanya satu orang yang terbunuh itu saja mengetahui keberadaanku. Tidakkah itu sangat berbahaya? Buronan negara terlacak oleh suatu regu pemburu resmi. Dengan jalur perintah dan penugasan mereka yang terlatih, tidakkah saat ini setidaknya sudah seratus orang pengawal rahasia istana mengepuh pemondokanku?

”Tuan, mayat kedua orang itu sudah tiba lebih dahulu, Tuan.”

”Mayat dua orang? Siapa?”

”Dua dari tiga orang berkuda hitam yang berkumpul di bawah pohon itu, Tuan. Sebelum Tuan datang, seseorang sudah datang dengan dua mayat dan membayar agar segera dibakar.”

”Hah?”

”Makanya sahaya segera mengenali yang ketiga itu ketika Tuan datang dan melemparkan mayatnya. Sahaya tidak berkata kepada siapa pun tentang pertemuan ketiga orang itu, takut ada mata-mata salah mengerti tentang keberadaan sahaya.”

Setiap orang mengerti arti siksaan oleh para petugas rahasia. Siksaan yang dapat membuat orang tidak bersalah mengaku bersalah.

”Siapa yang membawa kedua mayat itu, dan kapan?”

Orang tanpa kasta ini menoleh ke sekelilingnya.

”Semua orang melihatnya, Tuan, tetapi apakah itu berarti uangnya harus dibagi?”

Itulah yang kukatakan tadi. Apakah harus dikatakan mereka memiliki budi pekerti? Meski aku tahu kecenderungan untuk merendahkan mereka adalah kesalahan besar. Kuperhatikan astacandala ini memiliki semangat hidup, dan tampaknya juga berdaya cipta, meski sepintas lalu hanyalah gelandangan hina dina tanpa kehormatan sama sekali.

”Kuberikan semuanya untuk dikau,” kataku, ”hanya jika ada gunanya bagi daku!”

Ia lantas mendekati aku dan berbisik. Aku menahan napas, karena seperti orang sadhu manusia tanpa kasta ini tampaknya sudah berbulan-bulan tidak mandi. Hanya saja dirinya bukan orang sadhu, bahkan siapa dewanya tiada jelas sama sekali.

”Memang akan berguna Tuan, karena meskipun ia tampak sebagai seorang laki-laki, sahaya tahu ia sebetulnya seorang perempuan.”

”Bagaimana dikau tahu?”

”Karena memang terlalu kentara Tuan. Sahaya rasa ia tak pandai menyamar. Tidak jelas apa maksudnya. Mungkin takut diperkosa di wilayah ini. Aneh, suaranya saja jelas suara perempuan muda.”

Jika perempuan ini juga yang membunuh keduanya, kemungkinan juga yang telah menamatkan riwayat penyandera Nawa dan menghilang dengan sangat cepatnya, artinya mustahil takut diperkosa. Betapapun aku merasa terbunuhnya ketiga orang ini sangat menguntungkan. Jika tidak aku terpaksa berpindah tempat lagi, sebagaimana layaknya seorang buronan, yang sulit kulakukan sekarang karena aku harus selalu menulis. Aku bukan saja tidak dapat menulis sambil berkelebat dalam pelarian, dan bahwa segenap gulungan keropak itu harus dibawa, tetapi juga betapa aku membutuhkan lembaran-lembaran lontar untuk ditulisi ini, yang untuk mengolahnya dari daun rontal tidaklah dapat dilakukan seketika. Jika setiap kali mau menulis harus berhenti dulu untuk mengolah rontal menjadi lembaran lontar, kapan pula tulisan tentang riwayat hidupku ini akan selesai

PADAHAL aku butuh penyelesaian secepat dan setuntas mungkin, agar segera kuketahui dari perkara yang sekecil-kecilnya, mengapa setelah mengundurkan diri dari dunia persilatan selama 25 tahun, wangsa Syailendra menjadikan aku seorang buronan.

Aku merasa keadaanku tidak terlalu mengkhawatirkan sekarang, tetapi bagaimana dengan perempuan itu?

’’Bagaimana caranya ia menyamar sebagai lelaki?’’

’’Seperti banyak lelaki maupun perempuan yang keluar malam Tuan, ia melingkarkan kain penahan dingin yang menutupi dadanya. Selebihnya seperti kebanyakan pria yang berkain pendek, maka kakinya yang seperti belalang membuat sahaya curiga. Suaranya yang lemah meyakinkan sahaya.’’

’’Apa yang dikatakannya?’’

’’’Bakar kedua mayat ini segera,’ katanya. Itu saja. Ia datang menunggang kuda hitam, dan kuda hitam yang lain untuk membawa dua mayat di atas punggungnya. Apakah Tuan mengetahui di mana kuda yang ketiga?’’

Aku merasa penjelasan orang tanpa kasta ini meyakinkan.

’’Pergi ke arah mana perempuan itu?’’

’’Ke sana Tuan?’’

Ia menunjuk arah dari mana aku datang. Itu berarti ada kemungkinan aku telah berpapasan dengannya tanpa kuketahui! Pikiranku segera melayang kepada Nawa.

Setelah melemparkan seikat uang perak, aku melesat kembali ke pemondokan. Tidak kupedulikan lagi api menyala-nyala terang di luar batas kota, dari mayat yang langsung dibakar di atas pancaka. Dengan upah atas pembakaran tiga mayat dalam semalam, kurasa kaum paria itu hari ini berpesta.

***

TIBA di pondok, sesosok bayangan berkelebat. Apakah aku harus mengejarnya? Mengingat kecepatannya, meski ilmu meringankan tubuhnya memang sangat tinggi, kukira aku masih akan mampu mengejarnya, tetapi tentu saja pikiranku tertuju kepada Nawa. Ternyata dia masih ada. Maka aku pun segera masuk dan menengok ke dalam bilik. Gulungan yang telah bertumpuk-tumpuk pun ternyata masih ada dan kukira bahkan tidak disentuhnya sama sekali.

Aku keluar dan mendekati Nawa. Kuperiksa lukanya. Tidak berbahaya. Aku masuk ke dalam pondok dan mencari daun obat-obatan. Untunglah masih ada. Segera kuusap sedikit di lehernya itu. Dengan segera memang mengering dan tidak berbahaya sama sekali. Tidak ada yang perlu kukhawatirkan dari luka itu, tetapi bagaimana dengan perasaan anak berusia enam tahun, yang baru akan memasuki tahun ketujuh dalam kehidupannya itu? Bagaimanakah ia akan menerima peristiwa yang telah melukai lehernya itu? Bukan apa yang terjadi kepada dirinya barangkali yang perlu kukuatirkan bagi seorang anak yang cerdas seperti Nawa, dan telah kukenal setahun ini melalui segenap yang selalu aku membuat aku berpikir dalam-dalam; melainkan apa yang dipikirkannya tentang diriku, yang telah mengelak dari pertanyaannya yang langsung dahulu itu: apakah aku seorang pendekar?

Masa lalu apakah yang mungkin dimiliki oleh seorang tua, sehingga seseorang sampai harus menyandera seorang anak kecil untuk mendapatkan apa yang ditulisnya? Apa pula yang mungkin dituliskannya, sampai begitu panjangnya, yang membuat seseorang sampai menyandera dan terbunuh pula oleh seseorang yang lain, yang agaknya tidak ingin naskah itu diambil dan dibawa? Seberharga apakah naskah itu kiranya, jika ternyata dilindungi begitu rupa? Siapakah kiranya orang tua yang hidupnya seolah-olah hanya menulis di sela kesibukannya mengolah daun rontal menjadi lembaran lontar ini?

Aku sangat ingin menyapa Nawa. Namun kurasa anak ini tidak memerlukan sapaan yang seperti basa-basi, meskipun jika menyapanya tentulah aku tidak berbasa-basi sama sekali. Aku hanya memeluknya, dan dia ternyata merebahkan diri di pangkuanku.

’’Kakek,’’ katanya, ’’Kakek tenanglah. Daku tidak kurang sesuatu apa.’’

AKU tertegun. Apakah peristiwa ini membuatnya mendadak dewasa? Bukan diriku yang harus menenangkannya karena kejadian yang tentunya luar biasa itu, melainkan dirinya yang merasa harus menenangkan diriku. Tidakkah ini lebih dari biasa?

Sembari memeluknya kusapu kegelapan malam. Sayup-sayup masih terdengar keramaian di luar tembok. Dalam setahun ini Mantyasih bertambah ramai, sehubungan dengan pembangunan candi terbesar yang tampaknya semakin membutuhkan lebih banyak lagi tenaga manusia. Sudah tujuh puluh lima tahun candi itu dibangun, melewati berbagai masa dan peristiwa. Kukira pembangunannya kini memang mendekati saat-saat terakhirnya.

”Kakek…”

Nawa berbisik dengan sangat amat pelahan. Alam pun terasa sangat amat sunyi, sehingga meskipun suara-suara di kejauhan itu menjadi bertambah jelas, tidak menghilangkan bisikan Nawa sama sekali.

”Janganlah takut, Kakek, tidak ada sesuatu pun yang perlu Kakek takuti…”

Meskipun aku memasuki umur 101 tahun, dan sampai hari ini aku belum terkalahkan, mataku terasa panas oleh air mata yang mengambang. Lima puluh tahun belakangan ini aku hidup menyendiri, dan memang sangat amat sendiri, tanpa pernah merasa ada yang harus ditakuti, tetapi meski barangkali di luar maksudnya, sikap Nawa terhadapku membuatku terharu. Ternyata seseorang, meskipun anak kecil, begitu peduli kepadaku. Baginya aku hanyalah seorang tua sebatang kara

yang sendirian saja, tanpa seorang pun merasa perlu untuk agak lebih peduli kepadanya…

Nawa yang akhirnya tertidur, tentu juga karena kelelahan batin, kugeletakkan pada amben bambu di serambi. Orangtuanya sudah tahu bahwa jika Nawa tak pulang berarti ia tidur di sini. Kuselmuti dirinya dengan kain dan kudengar napasnya yang lembut. Belum waktunya ia mengenal dunia yang begitu keras, meski anak mana pun akhirnya akan menjadi dewasa dan mengenal dunia dengan tantangannya sendiri.

Baru kusadari sejak tadi belum kunyalakan lampu damar. Kupertajam kewaspadaanku dan kukira keadaannya aman. Dengan batu api kunyalakan damar itu. Apinya kecil, tetapi lebih dari cukup untuk menulis. Aku sudah biasa menulis pada malam hari ketika suasana sudah begitu sunyi. Kukira sosok perempuan yang menyamar sebagai lelaki itu juga tidak akan menggangguku. Jika dirinya ingin mengawasiku tanpa suara di salah satu sudut gelap itu, biarlah ia mengawasi diriku yang sedang menulis, yang kupedulikan adalah menyelesaikan riwayat hidupku dengan secepat-cepatnya agar terselesaikan sebelum kematian entah bagaimana caranya tiba.

Kusiapkan pengutik dan lembaran-lembaran lontar yang kosong. Setelah berpikir sejenak, aku menulis kembali. Semoga tidak ada kesalahan.

121: Pembunuh Bayaran

DI bawah pohon nyiur yang melambai, aku masih tidur dengan wajah tertutup caping. Namun tidurnya mereka yang menyusuri jalan di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, bukanlah tidurnya orang awam yang mengalami tidur sebagai istirahat sejenak dari upacara kehidupan. Tidurnya mereka yang memilih jalan untuk menyoren pedang memang adalah tidur dalam pengertian tubuhnya beristirahat, tetapi justru dalam tidurnya itulah segenap inderanya bekerja penuh, sehingga dapat dikatakan dalam keadaan tidur pun kewaspadaan seorang pendekar tetap tinggi.

Dalam keadaan tidur dengan napas teratur, akan tetap terdengar olehnya langkah mengendap-endap siapa pun ia yang berkepentingan dengan dirinya, apakah itu sekadar untuk menyapa, apalagi jika bermaksud membunuhnya! Maka bukan hanya langkah mengendap-endap yang sebaiknya terdengar dengan jelas, tetapi tentunya juga desiran jarum-jarum halus yang beracun menembus udara harus mampu didengarnya dengan sangat amat jelas; karena jika tidak, bagaimanakah kiranya jalan persilatan yang ditempuhnya akan terlewati dengan selamat? Memang benar bahwa seorang pendekar itu harus siap untuk mati, tetapi bukan hanya kesiapan untuk mati terbunuh saja yang dituntut dari seorang pendekar, melainkan kematian dalam kesempurnaan dirinya sendiri.

Ini membuat tidur yang sempurna adalah tidur dalam tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Itulah sebabnya telah kuketahui langkah-langkah orang ini, yang mendekati perlahan-lahan dengan agak memutar, karena mungkin dikiranya dengan itu diriku tidak akan mengetahui dirinya datang. Namun dapat kubaca dari langkahnya bahwa ia menganggap itu tidak banyak gunanya, sehingga akhirnya ia melangkah lurus, berhenti pada suatu jarak, dan menegurku. Siapakah dia dan apa yang harus kulakukan dengannya. Meskipun mataku masih tertutup kutahu ia menyoren pedang, bercaping, dan di balik pinggangnya terdapat pisau-pisau

terbang. Jelas ia berasal dari dunia persilatan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan seperti hanya berarti pertarungan. Jadi aku pun harus benar-benar waspada!

IA berbahasa Jawa, dan dari logatnya kutahu diucapkan seseorang dari Jawadwipa. Bahwa ia berbahasa Jawa untuk membangunkan aku, maka itu berarti dirinya mengenali diriku, meskipun barangkali belum pernah berjumpa denganku. Seseorang tidak perlu mengenali dan menegurku dengan cara seperti ini, kecuali ia benar-benar bermaksud mencari dan menemukan aku.

Aku membuka caping. Langit biru. Seketika kutahu apa yang harus kulakukan setelah mendengar ombak berdebur di pantai.

Aku melesat dan berlari sepanjang pantai. Ia mengejarku dan memang kubiarkan ia menyusulku. Ia berlari di sampingku. Kulitnya sawo matang seperti kebanyakan orang Mataram, tetapi busananya seperti banyak orang di daerah ini. Pedangnya sudah tercabut dan seperti baling-baling berusaha membacok bahu kiriku. Kuajukan tangan kiriku untuk menangkis pedang itu.

Trangngng!

Terdengar suara seperti logam menimpa batu. Tentu dengan tenaga dalam bisa kujadikan tanganku sekeras batu. Ia tampak terkejut tetapi terus mencoba lagi dan aku terus memainkan tanganku seperti sebuah pedang. Aku terus berlari dan dengan begitu aku telah menyeretnya kepada sebuah pertarungan yang belum pernah dijalaninya. Aku sengaja lari dengan kecepatan yang cukup untuk membuatnya mengejarku, tetapi tidak akan cukup untuk mencegat dan menyerangku. Ia hanya bisa mengejar, mengejar, dan mengejar, dan hanya dapat berada di sampingku jika aku memberinya kesempatan untuk itu. Ilmu meringankan tubuhnya memang tinggi, karena tentunya kami tidak dapat dilihat dengan mata awam, tetapi itu belum cukup mengimbangi Jurus Naga Berlari di Atas Langit, karena dengan ilmu ini diriku bahkan bisa berlari di atas air dengan lebih cepat lagi.

Demikianlah sepanjang pantai itu kami melesat dengan dirinya selalu berada di sampingku dan tidak pernah bisa berhenti seperti jika dia berhasil mencegatku. Aku membuatnya berlari, berlari, dan terus menerus berlari, melesat di antara debur ombak, perahu-perahu nelayan, dan batang-batang pohon nyiur yang kadang-kadang begitu miring di atas pantai sehingga kami harus terbang melompatinya. Selama berlari kusempatkan diriku berpikir. Siapa pun yang berada di belakang penyoren pedang ini, dan bermaksud membunuhku, telah mengirim orang yang salah. Betapapun tinggi tingkat kepandaian orang ini, kuragukan tujuan pengirimnya untuk membunuhku. Siapa pun yang bermaksud membunuhku, betapapun sudah tahu tingkat ilmu silat seperti apa yang semestinya dikuasai seseorang agar mampu mengalahkan diriku. Jadi, jika seseorang dengan tingkat ilmu silat seperti ini tetap dikirimkan juga dari Jawadwipa, sampai mencari dan menemukanku di tempat sejauh ini, apakah maksudnya? Jika pembunuhanku tidaklah menjadi tujuan, aku haruslah memikirkan sesuatu yang lain.

Kubiarkan pedangnya sekali-sekali mengenai bahu dan tanganku yang berakibat pedangnya makin lama makin bergerigi seperti layaknya logam yang mengenai batu. Namun ia terus menerus merangsekku dan tidak sadar aku telah membawanya lari jauh sampai puluhan ribu langkah di sepanjang pantai yang landai. Tenaganya makin lama makin berkurang, tetapi tidak dirasakannya karena aku terus menyesuaikan kecepatanku dengan kecepatannya. Artinya ia selalu merasa sudah hampir mencapaiku, yang membuatnya terus berlari tanpa perhitungan lagi. Sampai

lama kelamaan tenaganya habis juga, dan saat itulah kujepit pedangnya dengan dua jari, lantas setelah kupegang kulumpuhkan dirinya dengan tepisan punggung tangan kiri, yang membuatnya terjerembab di pasir basah pada punggungnya. Langsung kuinjak dadanya.

”Dikau menyebutku pengemis! Siapakah dirimu?”

Ia tidak menjawab. Apakah dirinya anggota jaringan rahasia? Aku meragukannya. Mereka yang bergabung dengan jaringan rahasia mempunyai kepatuhan teruji, bahwa jika mereka tertangkap dan terkalahkan maka bunuh diri menjadi kewajiban. Butiran-butiran racun terdapat dalam kantong mereka, yang harus segera mereka telan apabila tertangkap seperti sekarang.

Kuletakkan ujung pedang yang kupegang ke tempat jantungnya berada.

”Dikau datang dari Jawadwipa. Adakah dikau siap mati jauh di negeri orang, tidak pernah melihat anak dan istri kembali?”

Ia tersenyum. Baru kuingat bahwa bagi anggota jaringan rahasia, hidup sendiri dan tidak berkeluarga adalah yang terbaik. Selain demi terjaganya rahasia, juga karena dengan begitu tidak ada sandera yang dapat digunakan untuk memerasnya. Namun jika ia tidak dikirim untuk membunuh, apa yang akan dilakukannya? Ternyata ia lantas berbicara.

”Sahaya mendapat tugas untuk menjatuhkan embun,” ujarnya, yang berarti ia ditugaskan untuk membunuh, ”tetapi mereka tidak mengatakan Pendekar Tanpa Nama begitu tinggi ilmunya.”

”Siapa yang menugaskan kamu?”

”Pendekar Tanpa Nama akan mengetahuinya, jika sahaya dapat memegang kembali pedang yang telah lepas dari tangan sahaya.”

Aku masih menginjak dadanya. Segera kulepaskan. Semula aku muak kepadanya karena sempat memikirkan kemungkinannya sebagai pembunuh yang mengejar bayaran. Ternyata dia hanya orang suruhan. Sebaliknya, mengingat pengejarannya sampai sejauh ini, kukira ia melakukan tugasnya dengan baik sekali.

Ia bangkit dari kegeletakannya. Kukembalikan pedangnya.

Namun begitu menerima pedang itu, dengan kedua tangan memegang erat gagangnya ia tusuklah perutnya sendiri sampai tembus ke punggungnya.

Aku sangat terkejut dan menangkap tubuhnya yang jatuh ke depan.

Darah mengalir dari mulutnya, tetapi masih bisa kumengerti yang dikatakannya.

”Na-ga-hi-tam….”

***

AKU masih terus berjalan menyusuri pantai, dengan kenangan atas Jawadwipa yang meskipun belum setahun kutinggalkan, serasa begitu jauh dalam lorong waktuku penuh pertumpahan darah. Apakah keadaannya akan jadi lain jika kucari dan kutempur saja Naga Hitam waktu itu, dan tidak mengikuti kesenangan sendiri mengembara dibawa angin seperti ini.

Kucoba merenung, apakah aku takut kepada Naga Hitam? Dengan gelar naga yang telah dicapainya, ibarat kata ilmu seorang pendekar tidak bisa lagi diukur. Seorang pendekar dengan gelar naga sudah jelas tidak terkalahkan, apakah itu karena ia telah menantang semua pendekar dan selalu menang, apakah tiada seorang pun yang berani menantangnya, atau telah direbutnya gelar naga itu dari pendekar lain yang telah menyandang gelar naga. Jika yang terakhir ini memang telah dilakukannya, sungguh tak terbayangkan bagaimana seorang pendekar bergelar naga akan bisa dikalahkan, karena ia seolah-olah telah mengalahkan pendekar terbesar.

Namun benarkah begitu? Jika memang benar, apakah sudah tidak berlaku lagi pepatah di atas langit ada langit maupun gelombang yang di depan digantikan gelombang yang di belakang? Aku telah menenggelamkan diri dalam samadhi untuk memperdalam ilmu silatku selama sepuluh tahun di dalam gua, seperti aku begitu keluar akan langsung menantang Naga Hitam. Di dalam gua itulah kemampuan yang kumiliki menjadi berlipat ganda, karena pemecahan filsafat yang kuberlakukan kepada ilmu silat, yang telah mengembangkan pendekatanku terhadap ilmu silat itu, sehingga sulit diimbangi tanpa melakukan pendekatan yang sama. Dengan Ilmu Pedang Naga Kembar akan kuimbangi Ilmu Pedang Naga Hitam, dengan Jurus Penjerat Naga bahkan setiap naga berkemungkinan kukalahkan, tetapi dengan Jurus Bayangan Cermin, yang terus kugali dan kembangkan sebagai Ilmu Bayangan Cermin, maafkanlah jika kukatakan bahwa tiada terbayangkan ada lawan yang tidak bisa kukalahkan.

Tentu aku tidak sedang menyombongkan diri. Bukankah kepada diriku pun berlaku pepatah di atas langit ada langit maupun gelombang yang di depan digantikan gelombang yang di belakang? Aku mengungkapkan hal itu karena dengan begitu seharusnya aku memang mencari, menantang, dan menempur Naga Hitam, meskipun misalnya ia menghindari diriku. Naga Hitam seharusnyalah kucari dan kutantang secara terbuka, bilamana perlu bahkan dengan cara mempermalukannya, agar ia segera keluar dari sarangnya dan bertandang, karena ia sudah terlibat begitu jauh dengan dunia kejahatan. Dalam dunia persilatan, para naga semestinya berada di atas semua golongan, tetapi Naga Hitam bagaikan telah bergabung dengan golongan hitam. Padahal kemampuanku sebetulnya mewajibkan aku membasmi gerombolannya.

Ternyata aku bukan saja tidak pernah menantangnya, melainkan pergi jauh, bagai ingin pergi ke luar dunia. Memang benar telah kutewaskan banyak murid Naga Hitam, bahkan berkat diriku pula berbagai kesatuan dalam jaringannya mengalami kehancuran, yang telah membuat Naga Hitam menganggapku seperti duri dalam daging, dan selalu mengirimkan para pembunuh bayaran untuk memburuku. Kurang alasan apa lagi bagiku untuk menantangnya bertarung dan menewaskannya? Memang benar pula bahwa aku sama sekali tidak takut kepadanya, tidak sama sekali menghindarinya, dan dalam kenyataannya begitu banyak urusan telah menyeretku tidak ke arah pertarungan itu, yang kemudian kuketahui telah menjadi perbincangan dari kedai ke kedai, meski Naga Hitam melalui utusan-utusannya tetap selalu memburuku, tetapi jika aku lebih memilih untuk menjadi pengembara, berjalan-jalan melihat dunia, tidakkah ini berarti aku ternyata lebih mementingkan diriku sendiri?

MUNGKINKAH aku cukup bodoh untuk mengira diriku belum mampu mengalahkan Naga Hitam? Mungkinkah karena masih begitu muda maka diriku belum bisa mengukur dan membandingkan, betapa tidak ada sesuatu pun yang perlu

kutakutkan dari Naga Hitam, bahkan dari pendekar mana pun yang tidak terkalahkan dan karenanya berhak atas gelar naga ? Mungkinkah aku terlalu menyadari, bahwa bukan ilmu silat yang jadi masalahku, melainkan kebijaksanaan dan kecendekiaan yang tidak kumiliku sebagai bagian dari wibawa naga ?

Sekarang, hari ini, di pantai ini, aku merasa malu kepada diriku sendiri. Merasa malu dan bersalah, karena telah mementingkan perasaanku sendiri, daripada kebutuhan orang banyak yang sudah sangat mendesak, yakni melepaskan diri dari gurita jaringan kejahatan Naga Hitam.

***

BEGITULAH aku terus berjalan, berjalan, dan berjalan jauh meninggalkan reruntuhan candi di Caoha, terus menerus menyusuri pantai sampai ke Teluk Tongking. Kucari jejak Naga Kecil dari kedai ke kedai, dari pasar ke pasar, sembari berpikir bahwa mungkin masih ada lagi pembunuh-pembunuh bayaran Naga Hitam yang dikirim mencariku. Semakin kusadari betapa Kedatuan Srivijaya sungguh berjaya di lautan. Kapal-kapal mereka sampai di Teluk Tongking ini bisa ditemukan di setiap pelabuhan. Kapal seperti yang pernah kutumpangi dulu, dengan nakhoda bernama Naga Laut yang telah kutinggalkan di bekas pelabuhan kerajaan Fu-nan di muara Sungai Mekong.

Begitulah aku menjadi seorang pemburu, dengan bayangan harus menyelamatkan Amrita, tetapi yang tahu juga sedang diburu, oleh pembunuh-pembunuh tangguh yang dikirim dari jauh, yang bersama dengan serbuan pasukan Wangsa Syailendra di sepanjang pantai Kerajaan Campa sebelumnya, membentuk jaringan perantauan Jawadwipa yang melayani kepentingan berbagai pihak dalam pertarungan kekuasaan di Suvarnadvipa. Naga Hitam telah memanfaatkan jaringan itu untuk melacak jejakku, padahal pertempuran dalam perburuan Amrita itu tentu menjadi dongeng yang bertebaran di segala penjuru.

Kuingat pertemuan terakhir dengan Naga Kecil pada malam berhujan itu. Saat halilintar berkeredap, garis-garis lengkung sisiknya menyala kebiruan, seperti cahaya tubuh ikan yang hidup di kedalaman. Kuingat Amrita berkisah tentang lidahnya yang bercabang, dan kemampuannya mengendalikan pikiran, baik pikiran manusia maupun ikan. Tentu dengan itu ia tidak perlu berbicara dengan lidahnya yang bercabang itu. Namun apakah orang-orang lantas dapat mengingat kehadirannya?

Di sebuah kedai pada sebuah pelabuhan kecil di muara Sungai Merah, aku bertanya dengan bahasa Malayu, yang dikenal di sepanjang pantai Teluk Tongking.

‘’Bapak, pernahkah melihat manusia bersisik yang diceritakan orang-orang itu?’’

Tidak bisa lain, aku hanya dapat mengajukan pertanyaan pancingan. Aku tidak tahu jalan lain, dan sebuah pertanyaan kuharap menambah kemungkinan yang dapat kuperhitungkan.

‘’Maksud Anak dengan manusia bersisik adalah Naga Kecil? Tentu semua orang pernah mendengar cerita tentang murid Naga Bawah Tanah yang ajaib itu, tetapi bukannya itu hanya cerita? Kita tidak pernah tahu apa yang mungkin dan tidak mungkin, dari dunia yang disebut dunia persilatan itu. Heheheheheh. Namun istri sahaya menyukainya, untuk mengantarkan cucu-cucu kami tidur.’’

‘’Bukankah Naga Kecil itu saudara seperguruan Amrita, putri Jayavarman II yang sedang menggalang kesatuan Angkor di selatan, dan Putri Amrita adalah nyata?’’

Pemilik kedai itu manggut-manggut sambil mempersilakan orang-orang lain yang baru datang.

‘’Tidak ada yang lebih nyata dari Putri Amrita, putri raja yang naik kuda dengan busana tembus pandang, cerita tentang pengkhianatannya terbawa angin sampai kemari. Namun kisah di sekitarnya, tentang saudara seperguruannya yang bersisik kebiru-biruan itu kenapa harus dipercaya? Selalu ada cerita bagaikan dongeng di sekitar seorang tokoh, mulai dari kesaktiannya —puteri itu bisa membunuh tanpa bergerak katanya— sampai tokoh-tokoh di sekelilingnya, yang semuanya juga mirip dongeng. Coba, semua orang mengatakan Naga Bawah Tanah tidak pernah memperlihatkan diri bukan? Hahahaha! Itulah caranya menciptakan dongeng!’’

Aku setuju, bagaimana caranya kita memercayai sesuatu yang tidak kita ketahui dengan pasti? Namun aku mengetahui banyak hal tentang Amrita dengan pasti, yang telah membuatku meninggalkan Khmer, menyusuri pantai sepanjang Kerajaan Campa, dan sampai di muara Sungai Merah ini.

’’PARA pemberontak berkumpul di Hoa Lu, tidak aneh jika Putri Amrita yang dicari seluruh mata-mata ayahnya itu bergabung ke sana. Orang-orang Viet di sini sudah lama bermusuhan dengan orang Khmer, tetapi sekarang mereka lebih nekat lagi karena berpikir untuk melepaskan diri dari Negeri Atap Langit, sementara kebudayaannya dengan senang hati mereka tiru di sana-sini.’’

Aku mendapat sebuah gambaran, tetapi gambaran yang sangat baur. Tidak ada sesuatu yang sudah dapat dipastikan dari perbincangan ini, tetapi bagiku cukup bahwa di utara Campa, di Teluk Tongking ini, terdapat kegiatan yang berhubungan dengan pergolakan kekuasaan di seluruh wilayah. Kudengar orang-orang Viet ini memang sangat gemar berperang, meski mereka juga sangat menggunakan otaknya, dan tidak pernah menantang Negeri Atap Langit jika kedudukan kemaharajaan itu sedang sangat kuat.

’’Anak merantau dari mana? Tampaknya anak warga Srivijaya…’’

Aku terkesiap. Tidakkah Srivijaya dimusuhi di sini, karena kapal-kapalnya mengangkut pasukan Wangsa Syailendra dari Jawadwipa yang membantai di mana-mana?

Pemilik kedai itu seperti dapat membaca pikiranku. Ia tersenyum.

’’Srivijaya adalah teman berdagang seluruh warga pesisir, apa pun kebangsaannya. Kami tidak menyalahkan Srivijaya yang barangkali memang menyewakan dan menakhodai kapal-kapal yang mengangkut orang-orang Jawa sampai kemari. Apalah yang bisa dilakukan orang kecil atas persengketaan di antara para raja? Lihatlah bagaimana orang Campa dan Khmer terpengaruh oleh kebudayaan Wangsa Syailendra dari Jawa itu. Tenang sajalah Anak, negeri kami bukan musuh negeri Anak!’’

Aku memang sudah meninggalkan Khmer dan tidak berada di wilayah Campa lagi, bahkan orang-orang Viet tidak akan pernah sudi tunduk kepada Jayavarman II, jika kekuasaan Negeri Atap Langit pun diterimanya tidak dengan suka dan rela. Namun apakah yang bisa dipegang dari kata-kata seorang pemilik kedai, yang harus berusaha bersikap manis kepada semua orang agar jadi langganan?

Ketika pemilik kedai itu menyambut lagi orang-orang yang baru turun dari kapal. Aku mendapat kesempatan untuk sedikit merenung, berdasarkan segala macam

keterangan yang kudapatkan sepanjang perjalanan, mengenai kedudukan berbagai kerajaan yang bertetangga dengan Campa ini.

Berbagai kerajaan di Tanah Khmer sebagian besar merupakan negeri yang mengandalkan hidupnya dari pertanian, sehingga tidak sepenuhnya terlibat dengan perdagangan antara Jambhudvipa dan Negeri Atap Langit, sementara itu juga tidak memiliki pelabuhan yang dapat mengancam perdagangan Srivijaya. Dengan kedudukan seperti ini, sulit dimengerti campur tangan perniagaan para datu Srivijaya di wilayah selatan Kambuja. Memang tampaknya terdapat kehendak Wangsa Syailendra untuk mengukuhkan kesinambungan darah mereka dengan Kerajaan Funan, meski ini juga sering dilihat sebagai hanya alasan agar dapat menjarah dan merampok harta raja-raja Khmer. Namun lebih masuk akal mempertimbangkan kenyataan, bahwa terdapat jaringan dagang lain di sepanjang pantai sebelah utara Kambuja, tempat orang-orang Viet bercokol, sebagai wilayah taklukan Negeri Atap Langit, yang mengancam kedudukan dan pengaruh orang-orang Malayu dalam perdagangan antara Negeri Atap Langit dan Jambhudvipa.

Keberadaan berbagai kerajaan Cam yang kecil di selatan dan tengah jalur pantai Campa menjadikan terdapatnya pusat kegiatan yang sangat menguntungkan dalam jaringan perdagangan dengan Negeri Atap Langit. Kelompok kerajaan-kerajaan Cam ini, sebagai lanjutan keberadaan Kerajaan Lin-yi, berbagi kerangka mandala yang sama, mengakui keunggulan kekuasaan dan perdagangan para pemimpinnya masing-masing di seluruh wilayah Campa bagian tengah. Jaringan dagang ini meliputi Campa bagian selatan, wilayah yang disebut orang-orang Negeri Atap Langit sebagai Chu-po 1), kepulauan di utara pulau yang terdapat Chu-po itu 2), Kambuja, dan Daerah Perlindungan An Nam yang dibawahkan oleh Negeri Atap Langit.

SEKITAR 40 tahun lalu, penaklukan kota-kota Luoyang dan Changan pada 755, disambung perang saudara melawan pemberontak An Lushan, penjarahan atas Kanton oleh para pedagang Persia pada 758, dan serangan orang-orang Tibet ke bagian tengah Negeri Atap Langit, yang baru berakhir tahun 777, telah melemahkan Negeri Atap Langit. Jalur perdagangan di laut wilayah selatan dari Negeri Atap Langit sekarang ini, sedang berusaha dipulihkan sebagian, sementara jaringan perdagangan ditata kembali. 3) Perubahan penting yang terjadi, sebagai ganti jalan masuk ke pasar Negeri Atap Langit, banyak barang dagangan sekarang masuk ke Negeri Atap Langit melalui Delta Sungai Merah, yang masih termasuk ke dalam Daerah Perlindungan An Nam, artinya dalam wilayah Negeri Atap Langit. Perubahan ini mendorong penataan kembali pelabuhan-pelabuhan persinggahan Cam sepanjang pantai Campa, sehingga pelabuhan-pelabuhan di bagian selatan seperti Phan Rang dan Nha Trang lebih unggul atas pelabuhan-pelabuhan Cam bagian utara.

Kesejahteraan Cam tergantung dari perdagangan dengan Negeri Atap Langit. Mereka menjual dan mengirimkan ke luar negerinya barang-barang hasil hutan yang mewah, seperti kayu gaharu, cula badak, dan gading dari pelabuhan-pelabuhannya, dan sebagai penukaran menerima sutra maupun barang-barang yang dihasilkan dalam jumlah besar dan sengaja dibuat untuk diperdagangkan, di bagian tengah Kambuja dan Campa. Maka pelabuhan-pelabuhan Cam bersaing langsung dengan Samudradvipa dan bagian utara Semenanjung Malayu dalam penyediaan hasil hutan ke pasar Negeri Atap Langit dan Kambuja. Karena tempat yang lebih dekat dengan pasar Negeri Atap Langit, maka kedudukan mereka lebih baik daripada orang-orang Malayu mendatangkan dan kemudian memperdagangkan hasil-hasil Negeri Atap

Langit dengan hasil-hasil Kambuja maupun Campa. Ketika dalam beberapa puluh tahun terakhir, setidaknya paruh kedua abad VIII ini, mengakibatkan merosotnya pasar, dan membatasi masuknya barang Negeri Atap Langit maupun pertukaran untuknya, keadaan ini taktertahankan oleh orang-orang Malayu dan segera dihakimi dengan serangan menghancurkan atas pantai Campa oleh suatu armada yang datang dari wilayah Srivijaya.

Pada 767, demikian orang-orang Viet bercerita, Tongking diserbu oleh kapal-kapal yang datang dari Cho-po, yang maksudnya taklain daripada Jawa. Mereka sebutkan juga betapa serangan ini berhasil dibalas oleh Penguasa Daerah Chang Po Yi, sehingga kapal-kapal dari Jawa ini terkalahkan, yang disebut dalam catatan Negeri Atap Langit tentang Daerah Perlindungan An Nam sebagai kemenangan kecil. Aku mempertimbangkan kemungkinan, bahwa asal dari kapal-kapal itu memang Jawadwipa, tetapi tampaknya takmungkin dapat dikirim oleh seorang penguasa merdeka seperti Devasimha atau penggantinya. Andaikanlah misalnya mereka memiliki segenap sumberdaya untuk melancarkan serangan jarak jauh seperti itu, kepentingan dalam melibatkan serangan kekuatan bersenjata di tempat terpencil sangat terbatas, mengingat mereka juga punya musuh di depan gerbang mereka di bagian tengahg Jawadwipa. Kapal-kapal yang menyerang Tongking barangkali adalah gabungan kapal-kapal Srivijaya dan kapal-kapal dari pantai utara Jawadwipa.

Tujuh tahun kemudian, pada 774, sebuah prasasti dari Candi Po Nagar di Nha Trang muncul dan menyebutkan perihal serbuan pasukan asing ke pantai-pantai Campa. Kapal-kapal asing menyerang Aya Tran, bagian dari Nha Trang, dan para penyerbu ini menguasai kota, membakar dan merampok kuil-kuilnya. Namun akhirnya kota direbut kembali oleh raja Campa, Satyavarman, yang memaksa para penyerbu untuk mundur kembali. Pada 787, armada orang-orang Malayu lain menyerang kota Panra atau Phan Rang di sebelah selatan Aya Tran, yang juga dijarah dan dihancurkan. Sekali lagi para penyerbu dapat dipaksa meninggalkan negeri, tetapi kali ini membawa barang-barang rampasan bersama mereka.

Jika melihat cara penyerbuan-penyerbuan ini diceritakan kembali, dapatkah dipastikan dua serangan terakhir itu berasal Jawadwipa atau Samudradvipa, jika orang-orang Cam menggunakan nama yang sama untuk kedua pulau? Betapapun sangatlah meragukan bahwa dua serangan yang begitu besar dapat dilakukan tanpa dukungan persekutuan Srivijaya. Bagiku serangan-serangan ini menunjukkan bahwa orang-orang Cam dan Viet adalah lawan-lawan tangguh, sehingga kedatuan Srivijaya terpaksa menggunakan cara lain untuk menguasai perdagangan sepanjang pantai Kambuja, Campa, maupun Daerah Perlindungan An Nam.

SEORANG pedagang bernama Suleyman dari wilayah yang disebut Arab 4), yang kukenal di salah satu pelabuhan, pernah bercerita bahwa kapal-kapal Srivijaya yang menyerang kerajaan di bagian selatan Kambuja, dan tampaknya serangan ini berlangsung antara 782 dan 790 di bawah pemerintahan raja dari Wanga Syailendra yang bernama Sangramadhananjaya, penerus dari Dharmasetu. Semasa pemerintahannya, sepasukan kecil kesatuan Srivijaya berhasil menaklukkan kerajaan kecil pula yang disebut Indrapura di pedalaman Sungai Mekong. 5)

Selama mendengarkan cerita di Daerah Perlindungan An Nam yang bahasa, peristilahan, dan penyebutan nama-namanya berbeda, aku harus cukup teliti untuk menandai, bahwa yang bagi orang Viet adalah Phan-Rang bagi orang Cam adalah Panduranga, yang bagi orang Viet adalah Nha-Trang bagi orang Cam adalah Kauthara, sehingga semakin ke utara aku harus mengingat-ingat sendiri bahwa Binh-dinh adalah Vijaya sedangkan Tra-kiew adalah Indrapura. 6) Demikianlah perebutan

pengaruh antara bahasa Sansekerta dari Jambhudvipa dan bahasa di bagian selatan Negeri Atap Langit yang memengaruhi bahasa di Daerah Perlindungan An Nam memperlihatkan perbedaan nama-nama untuk menyebut tempat yang sama. Bahasa mana yang akhirnya lebih banyak dipakai, ditentukan oleh siapa yang berkuasa.

Aku masih belum tahu cara terbaik melacak jejak Naga Kecil. Apa jadinya kalau aku hanya tertipu, dan ia tidak membawa Amrita ke Sungai Merah seperti yang bersenjata cambuk di hulu Sungai Mekong waktu itu? Keluar dari kedai setelah membayar harga makanan. Aku tertegun melihat sejumlah pengemis berbaju tebal. Musim dingin telah tiba, tetapi pelabuhan kecil ini cukup ramai. Banyak orang bermaksud menuju Hoa-lu dan setelah itu ke Thang-long. Untuk kali pertama banyak sekali orang-orang Negeri Atap Langit di sini. Jalan mereka cepat sekali dan mata mereka begitu sipitnya, sehingga seolah-olah tampak sebagai suatu garis sahaja. Jika tanpa sengaja bertemu pandang denganku, mereka segera memalingkan muka entah kenapa. Aku tidak melihatnya sebagai tindakan sombong atau mungkin jijik melihat caraku berpakaian yang seperti gelandangan, melainkan lebih seperti malu. Mengapa harus seperti malu?

Dalam dadaku bertiup kembali gairah menyerap segala sesuatu dalam pengembaraan. Kubayangkan seandainya diriku tidak memilih jalan di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, aku bisa lebih tenang berjalan-jalan tanpa diganggu oleh pertarungan. Itulah soalnya, bahkan dalam keadaan sama-sama menyamar sebagai orang awam, pendekar yang satu akan mengetahui keberadaan pendekar yang lain…

Maka kini kutahu kenapa aku tertegun di depan kedai. Tatapan mata para pengemis itu bukanlah tatapan sembarang pengemis!

122: Pertunjukan Naga Kecil

DALAM sekali pandang kusapu deretan pengemis bercaping yang berjongkok di depan kedai itu. Setidaknya dua belas pengemis kudisan, lelaki maupun perempuan, orang tua maupun kanak-kanak bergeletakan seperti biasanya kaum pengemis yang menadahkan tangan, menjulurkan batok, atau berwajah pasrah meminta sedekah kepada sesama warga miskin yang tidak bisa dibedakan dengan para pengungsi banjir yang belum pulang kembali ke desa mereka.

Sebelum musim dingin rupanya berlangsung banjir besar sepanjang Sungai Merah yang akibatnya belum pulih sampai sekarang. Gejala yang sama juga berlangsung di Negeri Atap Langit, tepatnya di Sungai Kuning, sehingga dikenal orang-orang yang bergerombol ke sana kemari, mengungsi sampai jauh di luar wilayahnya, dan memang harus begitu jauh, karena banjir yang melebar dari tepi-tepi sungai itu bisa menelan berpuluh-puluh ribu kampung dengan sawah dan ladangnya, menggenangi wilayah yang luas sekali.

DI lapangan itu, yang ternyata sebuah alun-alun kecil, terdapat banyak tontonan terbuka. Di antara yang segera tampak adalah keterampilan sejumlah anak yang saling menaiki punggung sampai tinggi sekali, dan ketika sudah tinggi ternyata rubuh karena agaknya memang terlalu tinggi. Penonton tertawa terbahak-bahak dan melempar uang. Sayang tak bisa kuikuti penjelasan penabuh gong itu, tetapi kulihat sejumlah orang menunjuk-nunjuk ke suatu tempat, bahkan anak-anak kecil berkepala gundul menarik-narik baju orang tuanya sambil menunjuk ke tempat yang sama. Aku pun membawa langkahku ke sana.

Kulihat orang banyak berkerumun, begitu banyaknya sehingga yang ditonton sudah tidak kelihatan lagi. Kulihat yang paling belakang susah payah berjinjit, bahkan meloncat-loncat agar dapat melihat yang berada di tengah gelanggang. Anak-anak kecil yang baru saja datang harus diangkat para orang ke atas bahu mereka. Lelaki maupun perempuan, tua maupun muda sama saja, semuanya saling menyeruak untuk melihat. Bahkan kemudian kulihat pohon-pohon di sekitar lapangan penuh manusia yang memanjat agar dapat melihat. Anak kecil yang cerdas, menyelip lincah di antara kaki-kaki orang dewasa agar dapat menyaksikan dengan jelas.

Angin berembus begitu dingin, tetapi orang-orang ini seperti lupa betapa udara membekukan tulang. Mereka berdesak-desak menyodok ke depan. Terdengar berkali-kali desah menahan nafas tanda kekaguman. Aku menjadi semakin penasaran dan menyodok ke depan. Di negeri asing, sungguh suara percakapan seperti kicau burung yang riuh rendah. Namun mendadak suara-suara itu senyap. Semua orang menahan napas. Keheningan menyapu lapangan. Ingin rasanya melesat ke atas pohon agar segera dapat menyaksikan apa yang terjadi, tetapi sebisa mungkin aku menahan diri, dan berusaha terus maju ke depan sambil mendongak-dongakkan kepala.

Apa yang kulihat ternyata memang sangat mengejutkan, tentu terutama bagiku sendiri, karena yang tampak berada di lapangan itu adalah Naga Kecil!

’’Pergilah ke Sungai Merah…,’’ kata orang bersenjatakan cambuk dan kupaksa bicara itu.

Ketika kusaksikan sendiri betapa besarnya Sungai Merah ini, dengan segala keterbatasan bahasaku tentu aku tak tahu pasti kemana Naga Kecil bisa kucari.

Keadaan Naga Kecil tidak mengherankan jika membuat orang banyak terbelalak. Kuperhatikan dengan lebih baik sekarang bahwa memang tubuhnya bersisik, tetapi yang membuat aku lebih terheran-heran lagi adalah betapa dari balik sisik menyala pijar cahaya kebiru-biruan, bertambah jelas karena cuaca mendung dengan langit gelap menghitam, membentuk garis cahaya biru indah pada tepi sisik-sisiknya itu. Aku teringat pertemuanku yang pertama kali dengan Naga Kecil, kenapa cahaya pada tepi sisik-sisik itu tidak menyala saat ia menyekap dan melibatku dari belakang, sementara sepasang taringnya menancap di tengkukku? Mungkinkah cahaya biru di balik sisik yang semestinya menyala di kedalaman gua bawah danau itu sengaja dan memang dapat untuk tidak , agar aku bertambah panik menerima serangan dalam kegelapan?

Namun bagi banyak orang di lapangan itu, agaknya bukanlah terutama sisik itu yang membuat mereka menahan napas, melainkan apa yang dilakukannya. Kulihat di hadapan Naga Kecil seorang anak kecil sekitar tiga tahun, yang tertawa-tawa dalam keadaan mengambang seperti terbang! Anak kecil itu memang seperti bermain terbang, mengepak-epakkan kedua tangannya seolah sayap burung, dan dengan kekuatan batinnya Naga Kecil membuat anak kecil itu terbang berkeliling-keliling. Sekali lagi terdengar suara nafas tertahan serempak, ketika di sekitar Naga Kecil muncul sejumlah orang yang melempari anak kecil itu dengan pisau terbang! Namun Naga Kecil membuat anak itu dapat menghindar sambil tetap mengambang di udara sambil tertawa terkekeh-kekeh. Seperti geli melihat pisau-pisau terbang yang berkelebatan menyambarnya itu tidak bisa mengenai dirinya.

Aku teringat cerita Amrita tentang kemampuan Naga Kecil mengendalikan makhluk-makhluk di dalam danau. Jika seekor ikan saja mampu dikendalikannya agar

memancingku memasuki lorong ke arah gua yang gelap, mengapa tidak pula anak kecil yang sedang terbang mengambang berayun-ayun ke sana dan kemari sambil tertawa terkekeh-kekeh ini? Teringat pula tentang kemampuannya untuk mengetahui apa pun yang dilakukan Amrita di tempat yang jauh, sehingga diketahuinya belaka apa yang terjadi antara diriku dan Amrita yang merupakan saudara seperguruannya itu.

Kemudian anak kecil itu seperti terangkat tinggi sekali, untuk turun menukik dan menghunjam ke tanah seperti nanti dirinya akan hancur terbanting. Nyaris secara bersamaan semua orang menjerit. Anak yang membentangkan tangan dan meluncur turun dengan kepala di bawah itu kasihan sekali kalau nanti mati dengan wajah remuk!

AMUN, hanya sedepa sebelum ubun-ubunnya membentur batu, Naga Kecil mengajukan kedua tangannya, dan anak itu berhenti meluncur. Masih mengambang dan masih tertawa terkekeh-kekeh. Lantas Naga Kecil menggerakkan tangannya lagi, seolah-olah ada benang takterlihat yang menghubungkannya dengan anak kecil itu. Kemudian anak kecil itu berada dalam kedudukan berdiri, dan dengan masih mengambang di udara kini menari-nari, sementara tetabuhan terdengar berbunyi lagi ditingkah suara terompet yang lain lagi. Kesenyapan pecah oleh percakapan kicau burung yang penuh desah kekaguman. Kuperhatikan wajah-wajah lugu dengan mata yang seperti sulit dibuka dan mulut ternganga, menyaksikan Naga Kecil sendiri menari dengan gerakan seperti yang kuperkirakan dari gambar pahatan pada dinding-dinding candi. Demikianlah Naga Kecil dan anak kecil itu menari berpasangan dengan kaki tidak menyentuh tanah.

Aku terus menyeruak agar sampai di baris terdepan, meski dengan terhempit dan terjepit di sana-sini, dan akhirnya bisa menyaksikan dengan lebih jelas sosok Naga Kecil yang sepasang taringnya sempat menancap di tengkukku itu. Ia bergerak lambat, memang gerakannya sama dengan gerak anak kecil itu, yakni gerak seperti gambar pahatan di candi, tetapi kecepatan gerak keduanya sangat berbeda. Anehnya, meski sangat berbeda kecepatannya, selalu bisa berakhir dengan gerak yang rampak bersama. Tarian tanpa menginjak tanah, artinya memang tarian dengan gerak kaki yang tidak memperhitungkan adanya bumi tempat kaki berpijak, sehingga tarian keduanya seperti baru pertama kali kulihat. Aku menjadi sadar betapa tarian yang kulihat pada gambar pahatan sepanjang perjalanan dimaksudkan sebagai tarian para dewa, dan dewa-dewa kakinya tidak menyentuh tanah…

Betapapun aku juga terpesona oleh pertunjukan pada hari mendung ketika awan setiap saat seperti siap berubah menjadi hujan, kuperingatkan diriku sendiri bahwa Naga Kecil yang dibebaskan dari perut seekor ular sanca itu mampu membaca dan mengendalikan pikiran sampai jauh keluar wilayahnya, dan karena itu bukan tak mungkin tak hanya telah diketahuinya keberadaanku di sini, melainkan juga sebetulnya telah digiringnya diriku sampai ke tempat ini tanpa kusadari. Mungkinkah itu terjadi? Menurut Amrita kekuatan batin Naga Kecil yang lidahnya bercabang seperti ular sehingga membuatnya tidak bisa berbicara seperti manusia memang sangat berdaya. Suatu kemampuan yang diasah dan diturunkan oleh Naga Bawah Tanah, guru mereka yang tidak pernah menampakkan diri. Dengan daya yang dimilikinya itulah Naga Kecil dapat mewakili kepentingan Naga Bawah Tanah di dunia persilatan, bahkan kemudian mendapatkan namanya karena memang juga tak terkalahkan.

Sambil memperhatikan berbagai gerak, yang jika kususun kembali dalam kepalaku, mengingatkan aku kepada jurus-jurus persilatan itu, kusadari bahwa Naga Kecil pun

sebetulnya juga berada dalam penyamaran. Dunia persilatan mengenal siapa itu Naga Kecil, tetapi kini di dunia awam ia menampakkan diri sebagai makhluk aneh yang layak dipertontonkan. Apakah yang berada dalam pikirannya dan apakah yang terjadi dengan Amrita?

Aku hanya mempertimbangkan, bahwa dengan memperlihatkan diri di muka umum seperti itu, Naga Kecil mempunyai suatu kepercayaan diri berkat perhitungan matang. Perhitungan seperti apakah kiranya, dan kepada siapa? Latar belakang pertarungan kekuasaan di seluruh wilayah telah kupelajari, dan tetap belum dapat kuperkirakan hubungannya dengan penculikan Amrita oleh Naga Kecil yang merupakan saudara seperguruannya sendiri. Segenap dugaanku akan gugur jika ini merupakan masalah perguruan, tetapi itu pun tidak terlalu menjadi masalah bagiku karena aku hanya berkepentingan dengan keselamatan Amrita.

Kuperhatikan lagi Naga Kecil. Tubuhnya seperti berubah-ubah sesuai tempat seperti bunglon, tetapi jika bunglon menyesuaikan warna tubuhnya demi keselamatan diri, maka tampaknya Naga Kecil mampu menyesuaikan tubuh demi keselamatan maupun keindahan. Kali ini tubuhnya tidak menjadi kelabu karena suasana mendung, sebaliknya bercahaya kebiru-biruan, membuat mata bagai tiada mampu melepaskan diri dari tubuhnya itu. Kini aku lebih memahami apa artinya tidak bisa menyampaikan sesuatu dengan kata-kata, yakni bahwa itu tidak berarti memang tak ada sesuatu pun yang ingin disampaikannya kepada dunia.

Seluruh tubuh Naga Kecil memang bersisik, bahkan sampai kepada wajahnya, yang apabila kuperhatikan tidaklah buruk. Bagaimana caranya ia bisa masuk ke dalam perut ular sanca, dan jika ia memang hanyalah bayi manusia biasa yang ditelan seekor ular sanca sebelum dibebaskan Naga Bawah Tanah, mengapa pula lantas tubuhnya harus menjadi bersisik dan lidahnya bercabang seperti ular?

PENGETAHUAN yang diberikan Amrita tentang Naga Kecil belum terlalu banyak sehingga bagiku pun pertanyaan-pertanyaan semacam ini bagai tiada akan pernah terjawab. Tubuhnya yang bersisik itu hanya berkancut, seperti udara musim dingin tidak memberi pengaruh apa pun kepadanya. Ia juga mengenakan gelang pada kedua lengannya, seperti gelang batu giok, tetapi warnanya biru. Konon gelang itu sudah ada bersamanya semenjak dibebaskan dari perut ular sebagai gelang yang juga kecil sahaja, tetapi yang lantas ikut tumbuh bersama perkembangan tubuhnya.

Riwayat Naga Kecil yang belum pernah diketahui siapa orangtuanya sebelum ditelan ular sanca itu mengingatkan diriku kepada riwayatku sendiri. Siapakah kiranya diriku sebelum akhirnya diselamatkan Sepasang Naga dari Celah Kledung dari dalam gerobak yang kemudian jatuh ke jurang? Memang banyak bayang-bayang baur dari masa kecilku ketika aku belum mampu mengingatnya sebagai suatu gambaran yang utuh. Bayang-bayang baur, yang ada kalanya muncul kembali, meski aku tidak pernah ingin mempertahankannya di dalam kepala. Sebetulnyalah saat itu aku belum terlalu menyadari, betapa masa lalu bisa menjadi sangat penting dan berpengaruh kepada penghayatan hidup seseorang. Betapapun, bukankah masa laluku yang tidak jelas itulah yang membuat aku disebut sebagai Pendekar Tanpa Nama? Aku tidak pernah menyebut diriku dengan suatu gelar sebetulnya, hanya saja memang harus kukatakan betapa aku tidak memiliki nama.

Terdengar gumam bagai suara lebah mendengung. Naga Kecil mengakhiri pertunjukan dengan mengirimkan anak kecil itu terbang mengambang sembari membentangkan tangan ke arah ibunya. Lantas apa yang membuat orang banyak bergumam? Ternyata dengan gerak kedua tangannya Naga Kecil juga telah

membuat ibu anak kecil itu pun mengambang dan melayang maju ketika menyambut anaknya. Aku merasa sedih tidak dapat mengerti pernyataan orang-orang banyak di sekitarku, dalam percakapan riuh rendah dengan mata berbinar-binar yang terdengar sebagai bahasa burung.

Aku sangat cepat belajar ilmu silat, juga masih cukup cepat untuk menerjemahkan pernyataan-pernyataan filsafat menjadi jurus-jurus silat. Namun aku merasa diriku cukup lambat dalam pembelajaran bahasa, yang di wilayah ini bagaikan setiap kali pindah tempat sudah berubah. Bahasa Khmer belum kukuasai, sudah memasuki wilayah bahasa Cam, yang meski seperti sekeluarga dengan bahasa Malayu, tidaklah berarti aku lantas langsung bisa bertukar pikiran. Memang untung bahasa Malayu merupakan bahasa penghubung antarbangsa di sepanjang wilayah ini, dan bahwa bahasa Sansekerta dipahami orang-orang terpelajar, tetapi di Daerah Perlindungan An Nam ini orang-orang Viet menggunakan bahasanya sendiri. Semakin ke utara, yang berarti semakin mendekati Negeri Atap Langit, semakin sulit kujumpai orang berbahasa Malayu, meski bukan berarti tidak ada sama sekali.

Serangan-serangan yang telah berlangsung dengan kapal-kapal Srivijaya di sepanjang pantai dari Phan Rang ke Tongking tidaklah berlangsung tanpa jejak. Ketika kapal-kapalnya disebutkan terusir kembali, sebetulnya masih tertinggal orang-orang Mataram dari Jawadwipa maupun orang-orang Srivijaya dari Samudradvipa. Jaringan mata-mata jelas telah bekerja sebelum serangan dilakukan, dan setelah pertempuran usai tidak berarti tiada lagi yang tertinggal di sini.

Aku melihat ke sekeliling, rasanya ingin sekali bercakap-cakap dengan seseorang, setidaknya mendengar satu dari beberapa bahasa yang sedikit kumengerti, apakah itu bahasa Cam atau bahasa Khmer, tentu baik juga jika terdapat yang mampu berbahasa Sansekerta atau Malayu, apalagi kalau bisa berbahasa Jawa. Orang-orang berteriak kagum. Aku menengok ke tengah lapangan lagi. Naga Kecil mengeluarkan api dari mulutnya. Apa yang harus dikagumi? Ternyata api itu tidak berasal dari sebuah obor yang dimasukkan ke dalam mulut, untuk kemudian disemburkan, seperti biasanya pertunjukan semacam itu kulihat di pasar-pasar, melainkan langsung keluar begitu saja dari mulutnya, dan berkobar terus menerus setinggi pohon kelapa.

Semua orang ternganga. Api itu bukan api yang merah, melainkan biru warnanya. Api itu kemudian dibuatnya menari-nari, yang tentu saja menambah kekaguman kiranya, juga kekagumanku, karena tubuh bersisik yang bercahaya kebiru-biruan yang dari mulutnya tersemprot api biru ke atas setinggi pohon kelapa tentulah menjadi pemandangan menawan.

Sampai kewaspadaanku sendiri hilang, karena entah dari mana asalnya sebilah badik yang sangat tajam telah menempel di leherku.

123: Duabelas Pengemis

Hmm. Pisau belati di leher. Apa yang bisa dilakukan seorang pendekar? Banyak. Pisau belati di leher menjadi bahaya besar hanya jika dipegang oleh seorang pendekar lain yang seimbang kemampuan ilmu silatnya. Jika jauh lebih rendah, apalagi dipegang seorang awam yang tidak mengenal ilmu meringankan tubuh maupun tenaga dalam, maka ancaman seperti itu tidak ada artinya sama sekali. Tentang pisau belati di leherku ini, dari getaran tangan maupun hembusan nafas pemegangnya, tanpa menoleh pun aku tahu betapa mudahnya berkelebat lebih cepat dari kilat, dan menghilang, ataupun melumpuhkan pemegang pisau belati itu,

apakah itu sekadar merebut kembali pisau belati, menotok jalan darah, ataukah mencabut nyawanya.

Mengikuti hati nurani, aku ingin bergerak secepat kilat, tetapi mengikuti kerja otak, kuingatkan diriku sendiri betapa aku sedang menyamar. Jika aku menanggapi todongan pisau ini sebagaimana layaknya orang persilatan, tindakan itu akan segera mengundang orang-orang persilatan yang lain, dan seperti terbukti ketika aku bersama Amrita lari dengan ilmu meringankan tubuh saja, telah mengundang tantangan Pendekar Cahaya Senja. Setelah beberapa kali merasa penyamaran gagal karena takbisa tetap tinggal sebagai awam, sudah saatnya aku menguji diriku sendiri sampai seberapa jauh bisa bertahan.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Semua orang perhatiannya tersita oleh pertunjukan Naga Kecil. Tidak seorang pun mengetahui bagaimana pisau belati itu, setelah mengancam leherku, segera pindah menusuk pinggang, bagai memberi tahu betapa bisa dilakukannya apapun kepadaku dengan pisau itu. Sebuah suara berbisik dengan nada keras penuh ancaman di telingaku. Aku taktahu bahasanya, apakah itu bahasa orang-orang Viet ataukah bahasa Negeri Atap Langit yang konon bermacam-macam pula bahasanya itu. Namun bahasa ujung pisau belati yang menusuk pinggangku itu tentulah dimengerti semua orang: bahwa aku harus menuruti perintahnya. Namun apakah perintahnya itu? Kumaki diriku sendiri karena berbakat sangat buruk dalam perkara bahasa.

Setidaknya aku tidak melawan ketika terasa dorongan sebuah tangan di punggungku. Kuturuti saja ke mana pemegang pisau ini akan membawaku. Untunglah api biru dari mulut Naga Kecil itu masih juga menyembur-nyembur ke atas setinggi pohon kelapa, dan mata setiap orang masih terarah ke sana tanpa terlalu peduli keadaan sekelilingnya, karena betapapun aku berjalan ke arah berlawanan dengan banyak orang yang masih saja datang ingin menyaksikan pertunjukan itu. Kukatakan untung, karena aku merasa dengan diculik seperti ini aku akan langsung mendapat keterangan yang lebih jelas, daripada menduga-duga tanpa kepastian dari kedai ke kedai dalam perjalanan dengan kemiskinan bahasaku saat ini. Setidaknya terdapat sesuatu yang berurusan langsung denganku, karena mengembara sendirian di tanah asing dalam kesendirian bukanlah kehidupan yang terlalu mudah.

Aku terus didorong sampai tiba di baris terbelakang, kemudian dikeluarkan dari kerumunan. Suasana perayaan masih sangat ramai, tetapi turun hujan rintik-rintik dan angin berhembus kencang. Suasana yang sungguh membuat diriku terlalu mudah untuk melepaskan diri. Namun kuturuti saja mereka, dan dengan cepat di antara banyak orang yang lalu lalang, segera kuketahui kembali titik-titik tempat para pengemis itu mengikutiku. Terdapat sebelas titik yang mengikuti dari jauh di segala penjuru. Berarti yang membawaku sekarang ini adalah pengemis yang keduabelas. Kuingat anak-anak kecil tadi, jelas tidak mungkin diandalkan dalam dunia persilatan yang penuh pertumpahan darah. Maka siapakah mereka?

Hujan rintik-rintik yang disapu angin mengempas ke wajahku. Orang-orang di jalan bergegas, jika tidak menuju lapangan yang semakin ramai, tentu mencari kehangatan di dalam rumah-rumah berdinding bata. Nanti akan kuketahui, bahwa hari ini bukanlah hari pertama pertunjukan Naga Kecil. Setelah beberapa hari menyaksikan keajaiban, banyak orang kembali kepada kenyataan hidup sehari-hari. Hanya mereka yang baru tiba dari kapal, dari hutan, dari luar kota, merasa perlu menyaksikan pertunjukan manusia bersisik dengan lidah bercabang yang kemampuannya bermacam-macam itu.

Aku masih membawa tongkat berisi buntalan kain itu. Sosokku sungguh tidak menonjol. Sebagai apakah mereka mengenal diriku sehingga sejak keluar dari kedai itu aku diawasi, yang berarti telah mengikuti aku sebelumnya, dan lantas membuntutiku terus menerus sampai ke lapangan dan menahanku sekarang ini? Begitu burukkah penyamaranku dan begitu teledorkah diriku, sehingga terlalu mudah bahkan bagi orang-orang yang tidak mengenalku itu menemukan suatu alasan untuk berurusan denganku? Maka kubiarkan diriku seolah-olah menyerah sebagai tangkapan mereka, berharap mendapatkan suatu kejelasan di antara hari-hariku yang penuh keterasingan dalam pengembaraan ini.

NAGA BUMI

DARAH TUMPAH DI SUNGAI MERAH

TERINGAT Naga Kecil yang kuburu dan harus kutinggalkan lagi. Benarkah dengan apa yang disebut sebagai kekuatan batinnya ia tidak mengetahui sesuatu pun dari peristiwa ini, dan sama sekali tidak terlibat dengan segala sesuatu yang telah menimpa diriku? Aku tak pernah tahu bahwa jawaban untuk itu tidak bisa kudapatkan dengan segera. Kuperhatikan bahwa sebelas pengemis itu masih mengikutiku, tetapi tidak akan bisa bersembunyi lagi karena semakin menjauhi pusat keramaian, rumah-rumah pun semakin jarang. Kemudian bahkan di sebuah persimpangan mereka semua dengan gesit telah berada di belakangku. Aku memutuskan untuk terus berpura-pura menyerah karena menjadi penasaran, ke manakah kiranya semua ini akan berakhir?

Kudengar bahasa burung sejenak, kemudian kuketahui sesuatu bergerak memukul kepalaku. Sungguh aku bisa bergerak menghindar dan langsung membalas, bahkan dengan cepat melumpuhkan mereka berdua belas, tetapi justru kubiarkan benda yang ternyata tongkat pengemis itu menimpa kepalaku. Tentu setelah kulapisi batok kepalaku dengan tenaga dalam yang berlaku sebagai perisai, sehingga pukulan tongkat pengemis itu tidak berpengaruh sama sekali.

Aku berpura-pura pingsan. Mereka memang bekerja cepat sekali, karena sebelum aku jatuh mereka telah menangkap dan dengan sigap telah membungkusku dengan tikar. Mereka angkat gulungan tikar berisi diriku. Kurasakan diriku dibawa berlari masuk kembali menuju pusat keramaian. Dua belas pengemis itu terus bercericit seperti burung. Tampaknya mereka saling memberi perintah. Rasanya aku diangkat di atas bahu-bahu mereka yang sudah dewasa, sementara yang masih kecil berlari memimpin di depan. Menyeruak di antara orang-orang yang tampaknya makin banyak saja hilir mudik, berpapasan maupun melewati pengemis-pengemis ini, yang berani kupastikan bukanlah pengemis paria dalam pengertian yang biasa diberikan kepadanya.

Di manakah aku? Dari percakapan burung yang semenjak tadi kudengar, tertangkap oleh telingaku berbagai bunyi yang lain, bahkan ada kalanya kukenal, seperti Khmer dan Cam lagi, atau juga Sansekerta. Aku merasa rombongan dua belas pengemis ini berjalan berkelak-kelok. Namun kemudian kudengar suara kaki-kaki menginjak papan yang biasa dipasang di tanah becek, agar dapat dilalui para petinggi tanpa kakinya harus menjadi kotor. Kemudian kudengar pula suara air berkecipak dan dinding-dinding perahu beradu. Kukira aku berada di tepi sungai di dekat pelabuhan, dan mengingat suara-suara di sekelilingku, setidaknya aku berada di sebuah pemukiman di sekitar pelabuhan, mungkin pula kampung nelayan, meski mengingat terdengarnya berbagai bahasa, aku cenderung menduganya sebagai pemukiman orang-orang asing. 1)

Dari langkah kaki, kecepatan berjalan, maupun kemiringan tubuhku yang mereka gulung dengan tikar pandan sahaja ini, kurasakan aku diangkat menaiki tangga pada sebuah rumah panggung. Percakapan burung merendah, seperti menghindar untuk didengar orang lain. Aku mendengar orang-orang bercakap di rumah lain, di jalanan, bahkan suara-suara seperti teriakan para penjaja pun lalu lalang di sana. Tentu saja kurangnya pengetahuanku atas bahasa setempat ini membuatku mati kutu. Dulu karena selalu berada di dekat Amrita, dengan cepat aku dapat berbicara bahasa Khmer, tetapi tanpa Amrita, meski minat belajarku besar, kemajuanku dalam penguasaan bahasa sangatlah lamban.

Kudengar suara pintu kayu dibuka.

LANTAS aku digotong masuk ruangan. Di dalam ruangan kurasakan udara lembab karena penuh dengan manusia. Untunglah udara musim dingin menembus kayu, bahkan hujan rintik-rintik tadi berubah menjadi hujan. Pikiranku terpaku ke lapangan. Bubarkah pertunjukan Naga Kecil dengan api biru setinggi pohon kelapa dari mulutnya itu? Atau tidakkah Naga Kecil itu sendiri yang mendatangkan hujan agar dirinya bisa menghilang? Terbenturnya diriku kepada masalah bahasa membuatku bagaikan hidup di lorong yang sempit. Kusadari kini betapa dunia persilatan bukanlah segalanya untuk menunjukkan diri kita sebagai manusia sempurna. Dunia

orang awam penuh dengan pengetahuan yang seperti silat juga tersusun menjadi ilmu yang menyempurnakan kemanusiaan.

Di dalam gulungan tikar itu terlintas pada pikiranku tentang jalan kesempurnaan. Mungkinkah kesempurnaan itu dicapai manusia dan apakah kiranya yang menjadi ukuran? Mungkinkah bisa didapatkan suatu ukuran untuk segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat diukur dan kiranya seperti apakah ukuran itu?

Lahir tanpa kukehendaki, apakah ada sesuatu yang memang harus kulakukan dalam hidup ini? Apa yang harus kulakukan dalam hidup ini? Kuingat sepotong ajaran dari kitab Siksamuccaya karya Santideva:

ia mempunyai tugas dan kewajiban

terhadap banyak makhluk hidup

karena itu seyogyanya tidak mengorbankan diri

dengan sia-sia

untuk yang tiada perlu

ia harus mampu

memadukan kebijaksanaan

dengan belas kasihan 2)

Dalam dunia persilatan, puncak kesempurnaan dicapai justru ketika mengalami kematian dalam kekalahan. Bagaimanakah hal ini bisa dijelaskan? Aku teringat riwayat hidup Naropa yang pernah diceritakan seorang guru aliran Tantra: Setelah Naropa memukul kemaluannya dengan batu, Tilopa menanyakan kepadanya tentang apa yang dirasakannya sekarang. Naropa menjawab bahwa ia merasa sangat kesakitan. Maka Tilopa mengingatkan, Naropa harus menyakiti dirinya sendiri untuk mencapai keyakinan betapa pada hakikatnya kesengsaraan dan

kenikmatan itu terlihat sama di dalam cermin batinnya, karena sesungguhnya hati merupakan tempat persemayaman nilai dari Dakini. Setelah mengungkapkan rahasia ini, Tilopa menyembuhkan Naropa sekadar agar ia dapat kencing. 3) Ah! Mungkinkah jalan yang ditempuh seorang pendekar lebih berat dari seorang pendeta, karena setelah ditewaskan dalam pertarungan tentu takdapat dihidupkan kembali? Namun telah lama kurenungkan ujaran Santideva itu: Seyogyanya tidak mengorbankan diri dengan sia-sia! Saat itu gulungan tikar yang berisi tubuhku diletakkan di lantai kayu. Dari apa yang kurasakan, tampaknya aku diletakkan di pojok seperti barang. Bahkan kemudian diduduki! Kurasa dua belas pengemis itu semuanya masuk ke dalam rumahpanggung yang luas tersebut, dan setidaknya yang masih kecil menduduki aku. Di dalam rumah yang terasa lembab itu kudengar suara-suara orang berteriak. Kemudian kudengar juga barang-barang diletakkan. Kupejamkan mataku dan kusisir ruangan itu dengan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang. Kudengar gesekan tikar lain pada lantai dan kudengar hembusan napas dalam tikar-tikar itu!

Aku berusaha menduga sesuatu dan tahu betapa penyamaranku sungguh sedang diuji. Aku merasa bodoh sekali karena Naga Kecil semula sudah begitu dekat, sehingga keberadaan Amrita dapat segera diketahui kejelasannya. Apakah aku sebaiknya melepaskan diri sebagaimana layaknya seorang pendekar? Namun aku tidak sedang berperan sebagai pendekar sekarang ini, melainkan menyamar sebagai pengembara asing, yang dengan segala kekumalan dan kedekilanku mungkin memenuhi syarat sebagai paria tanpa kasta, seorang astacandala yang tidak menjadi bagian dari masyarakatnya. Apakah sebaiknya merelakan diri terseret arus seperti ini, ataukah menguak takdir dan menentukan nasib sendiri? Masalahnya, jika pun aku telah melihat Naga Kecil tadi, sebetulnya aku masih belum mengerti cara untuk mengetahui keberadaan Amrita. Jika tidak bertanya langsung kepadanya, dan itu tidaklah mungkin jika mengingat lidahnya yang bercabang dua, maka aku dapat dari jauh mengikuti segenap gerak-geriknya.

Namun jelas para pengemis ini telah mengalihkan perhatianku. Sedikit demi sedikit kedudukanku bergeser diseret para pengemis tersebut. Semakin lama kudengar suara teriakan itu semakin keras, serba singkat, seperti suatu kegiatan sedang

berlangsung. Aku seperti mengenal sesuatu, memang tidak mengenali bahasanya, tetapi tergambar suasana sejenis, yakni kuketahui dari pasar ikan.

TIDAK jauh dari pasar ikan itu akan terdapat tempat pelelangan ikan.

Para nelayan dari laut akan memasuki muara dan menyusuri sungai ke pasar ikan terdekat. Di sanalah ikan-ikan tangkapan mereka akan dilelang dan cara melelangnya mirip dengan nada-nada yang kudengar sekarang. Angka bersahut angka sampai berhenti pada angka tertinggi.

Namun apakah yang sedang dilelang sekarang? Hatiku berdebar, antara khawatir, marah, tetapi juga merasa geli dengan arus kehidupan yang menghanyutkan aku. Benarkah aku berada di pasar budak? Kuingat peraturan tentang perbudakan dalam Arthasastra:

bukan pelanggaran bagi mleccha

untuk menjual keturunan

atau memelihara sebagai janji

Apakah yang telah terjadi padaku? Belum selesai berpikir, tikar yang membungkus diriku telah diseret ke dekat tempat terdengarnya teriakan-teriakan itu. Kemudian aku terguling ketika tikar itu dibuka dan ditarik, yang membuat aku terguling dan terputar-putar.

Seketika aku bagaikan baru saja lahir kembali ke dunia, tetapi ke sebuah dunia yang sama sekali tidak menyenangkan. Dalam keadaan terkapar, sepasang lengan perkasa memegang bahu dan mengangkat tubuhku bagai mengangkat selembar kain sahaja. Aku diangkat dan diletakkan seperti barang di atas semacam panggung kecil. Orang-orang tinggi besar terlihat di sekelilingku, menyoren pedang, membawa tombak, dan juga memegang cambuk.

Tampaknya mereka punggawa Daerah Perlindungan An Nam ini. Seseorang yang kukira juru taksir, mendekati aku, memegang-megang lengan, bahu, memukul pantat

dan menusuk-nusuk perut serta pinggangku dengan kayu. Lantas sambil menutup hidung dengan tangan kiri, tangan kanannnya membuka mulutku, mengintip mulutku sambil membungkuk, lantas menyingsingkan bibirku dengan jari untuk memeriksa gigi. Seusai itu ia menggosokkan jari-jari tangan kanan ke bajunya yang tebal dan meludah ke lantai. Ludahnya merah karena mengunyah pinang.

Meski tidak mengerti bahasanya, kutahu ia menyebut angka, juga jari-jarinya menunjuk suatu angka. Dadaku berdesir, sedemikiankah beratnya sebuah penyamaran untuk mendapatkan keterangan, sehingga harga diriku pun, meski dalam peran penyamaran, harus kuturunkan begitu rupa? Jika aku tidak mampu menertawakan diri sendiri maka penyamaranku akan gagal. Maka kutarik nafas panjang-panjang dan kulihat sekeliling dengan tenang, tetapi jangan terlalu tenang, karena seperti yang telah kukatakan, selain menyamar dari pandangan awam, seperti diriku adalah bagian dari mereka, aku harus juga menyamar dari pandangan orang-orang

rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, karena sekali terlihat aku adalah bagian dari dunia mereka, sebuah tantangan yang takbisa dihindari akan segera berdatangan. Sedangkan melayani tantangan bertarung, betapapun adalah terbukanya penyamaranku.

Jadi harus kuanggap penyamaranku berhasil. Duabelas pengemis itu rupa-rupanya menatap tajam bukan karena mengetahui betapa

diriku datang dari dunia persilatan, melainkan karena dengan suatu cara menduga aku adalah orang asing, dan karena aku rupa-rupanya memang tampak sebagai paria tanpa kasta, maka terpikir untuk menangkap dan menjualku sebagai budak demi penghasilan mereka! Kalau aku bukanlah keluarga mereka, kesamaan rendahnya derajatku membuat mereka berhak menjual diriku sebagai budak dalam pelelangan. Kenyataan bahwa aku orang asing telah membuatku berada di luar kasta, yang boleh ditafsirkan siapapun

sebagai tanpa kasta, dan karena itu bisa dijual sebagai budak lata.

Sementara aku sedang ditawarkan, kucermati ruangan yang rupanya hanya menjadi tempat berlangsungnya jual beli. Di luar masih banyak lagi yang akan masuk membawa hasil tangkapan untuk dijual.

Setelah terbeli lewat pelelangan, maka budak itu segera diturunkan melalui pintu lain, dan dibawa pembelinya. Jika pembelinya berbelanja lebih dari satu budak, mereka dikumpulkan di bawah dengan dijaga pengawal bersenjata. Rupa-rupanya ini hari pasar dan jumlah budak yang dijual cukup banyak, sehingga ruangan dalam pun penuh. Di luar masih banyak yang menunggu giliran masuk. Termasuk mereka yang menjual dirinya sendiri.

Harapan akan mendapat makan setiap hari agaknya menjadikan penjualan diri sebagai budak menjadi pencarian nafkah yang sahih.

Aku telah selesai dijual. Pembeliku yang tampak makmur membayarkan sejumlah uang kepada para pengemis itu, yang sepintas lalu kulihat berebutan. Kulihat pembeliku itu juga membayar sejumlah ongkos kepada seorang punggawa. Mungkin atas jasa pelelangan itu. Lantas aku didorong turun dari panggung sampai hampir jatuh. Seseorang tiba-tiba menyabetkan cambuk kulit ular, yang dengan segera melibat leherku dengan ketat. Aku diam saja ketika diseret seperti ternak menuruni tangga rumah panggung.

Di luar, hujan sudah menderas. Aku digabungkan dengan budak-budak lain yang dibeli oleh orang yang sama. Kami tetap dibiarkan di sana ketika hujan semakin deras dan membuat kami semua basah kuyup. Tidak seorang pun berusaha melarikan diri.

HUJAN turun membentuk tirai yang membuatku tidak bisa melihat apa pun kecuali kekelabuan yang rata, begitu rata, dan amat sangat rata, meski masih dapat kulihat samar-samar para budak yang baru saja dibeli itu menghayati nasibnya. Mereka tidak diikat kaki dan tangannya, tetapi mereka tidak bergerak dalam hujan deras pada musim dingin ini. Kepala mereka tertunduk, tubuh mereka menggigil, tetapi nasib seorang budak dalam hal ia berhasil menjual dirinya sendiri dianggap lebih daripada paria tanpa kasta, dari tingkatan terendah pula, yang bisa mati kelaparan

hanya karena tidak mendapat makanan. Sebagai budak yang dibeli, bukan tawanan perang atau semacam itu, majikannya akan merasa perlu merawatnya dengan baik, jika ingin budaknya berguna. Diberi makan, minum, bahkan istirahat yang cukup, sudahlah pasti, karena hanya budak yang sehat dan bertenaga besar akan sangat berguna. Tanpa daya tenaga, seorang budak hanyalah beban yang bisa dibuang. Apabila ia sakit, apalagi menular, kadang-kadang bahkan dibunuh, karena majikannya itulah yang bertanggung jawab jika penyakit menular menyebar dan menjadi wabah mematikan.

Demikianlah budak-budak para majikan kaya mendapatkan segalanya, kecuali kemerdekaan. Namun kemerdekaan bukanlah gagasan yang menarik dalam dunia yang dipenuhi oleh kodrat, atau nasib yang ditentukan dewa-dewa di langit. Kemerdekaan tidak dianggap mungkin didapatkan di dunia, kecuali manusia berjuang untuk mencapai pencerahan, seperti yang telah dicapai Siddharttha ketika meraih bodhi. Ia sering merumuskan dirinya sebagai tathagata, orang yang menemukan dan menyebarkan jalan menuju nibbana atau nirvana. Sejauh kudengar dari berbagai perguruan filsafat yang kulewati sepanjang pengembaraanku, berlangsung perdebatan tentang kerincian pencerahan tersebut. Salah satu alasan yang membuat perdebatan terjadi, karena ujaran Sang Buddha bukanlah sekadar ajaran, melainkan jalan, dan muncul banyak pendapat tentang apa yang dimaksud jalan dan akan menuju ke mana. 5) Apa pun isi perdebatan itu, kurasa mereka yang tubuh dan jiwanya diperbudak tidak akan mencapai apa yang disebut pencerahan tersebut, karena menurut diriku pencerahan tidak mungkin tercapai tanpa kemerdekaan, dan budak-budak di bawah pohon yang terguyur hujan ini tidak memililki kemerdekaan.

Kupandang budak-budak lelaki maupun perempuan yang kepalanya tertunduk. Di balik tirai hujan sosok-sosok mereka bagaikan patung. Kudengar budak-budak bertenaga besar memang sedang banyak dicari, terutama untuk mengangkut barang-barang dagangan ke tempat tujuan yang jauh. Jalur perdagangan laut dari Negeri Atap Langit ke Jambhudvipa dan sebaliknya yang dikuasai Srivijaya, membuat para pedagang terpaksa menempuh jalan darat yang sulit dan berbahaya jika tidak ingin diperas di tengah lautan. Sikap bermusuhan Wangsa Syailendra

dengan serangan-serangannya ke sepanjang pantai dari Panduranga, Kautara, Indrapura, sampai ke Tongking mendorong para pedagang yang tabah dan bernyali memilih untuk menyeberangi gunung terjal dan jurang yang curam dalam lebatnya rimba belantara. Meskipun jalur laut masih merupakan jalan termurah dan tercepat, dan karena itu menguntungkan, masih ada saja yang berusaha mencari jalan baru.

Pada tempat-tempat tertentu, sulitnya jalan membuat gerobak pengangkut barang tidak mungkin melaluinya, sehingga hanya para pengawal berkuda dan budak-budak pembawa barang yang dapat terus berjalan. Maka dengan demikian budak-budak pengangkut barang semakin dibutuhkan. Apakah aku juga akan dibawa menempuh jalur itu, dan artinya meninggalkan Amrita yang masih diculik Naga Kecil? Aku menggigil. Dingin udara terasa luar biasa bagiku karena Jawadwipa hanya memiliki dua musim, penghujan dan kemarau, sementara di Sungai Merah ini terdapat pula musim dingin, yang membuat semuanya menjadi tiga musim.

Dari dalam rumah panggung masih terus bermunculan budak-budak yang lehernya dilibas dan diseret cambuk. Ada yang dibeli oleh pembeli yang sama dengan orang yang membeliku, ada yang dibeli orang lain. Ada yang membeli begitu banyak budak dan menggiringnya dalam hujan bagai kumpulan ternak, ada yang membeli satu saja, yang membuntutinya berhujan-hujan hanya berpayung daun pisang. Mereka yang dibeli oleh majikan yang sama denganku, semakin banyak memenuhi tempatku, dan semuanya adalah lelaki. Orang-orang yang lalu lalang semuanya berpayung daun pisang, membentuk bayang-bayang hijau yang menembus kekelabuan dalam pekatnya hujan.

Apakah yang harus kulakukan? Jika kuserahkan nasibku kepada cabang jalan cerita ini, bagaimanakah aku bisa menemukan Amrita?

124: Mayat Mengambang di Sungai Merah

Aku masih berada di persimpangan pikiran ketika kakiku terasa basah. Permukaan air sungai rupanya naik dengan cepat. Baru sekarang aku mengerti apa maksudnya dengan perahu-perahu sampan yang terikat di kaki rumah-rumah panggung itu. Perahu sampan itu segera mengambang, mereka bergoyang-goyang di tempat

karena ditahan tali, tetapi benda-benda lain yang mengambang segera beredar. Batang pohon, ranting, ular, serta biawak terlihat berenang-renang.

Air segera mencapai lutut. Di jalanan orang-orang tidak kulihat menjadi panik. Para budak beringsut menaiki akar pohon, tetapi tidak banyak gunanya karena air tetap menyergap mereka di bawahnya. Kulihat anjing berenang-renang juga, hanya tampak kepalanya yang muncul di permukaan. Sebentar kemudian sebagian orang terlihat sudah menaiki perahu-perahu sampan. Mendayung dari rumah ke rumah dengan caping lebar sekali di atas kepalanya, yang tidak mendayung dan tidak bercaping memegangi daun pisang, sekadar mengurangi air hujan yang menimpa tubuh dan menimbulkan kedinginan yang amat sangat.

Hujan memang lebat sekali, seperti tidak pernah akan berhenti. Tirai kelabu semakin tebal sehingga setiap orang yang bergerak hanya tampak bagaikan sosok-sosok tersamar. Kapan pembelanjaan budak-budak di dalam itu selesai? Jika hujan terus menerus tercurah seperti ini, apakah jaminannya air tidak bertambah tinggi dan naik sampai ke leher dan menelan kami. Kusaksikan langit mendung terbentang sampai ke gunung. Bukanlah hujan ini benar yang kukhawatirkan, melainkan air sungai melimpah yang datangnya dari gunung-gemunung itu, yang masih akan mengalir bahkan setelah hujan selesai, karena ketika hujan berakhir di hilir, mega-mega yang tertahan dinding pegunungan terus berdatangan dibawa angin dan berubah menjadi hujan yang membentuk anak-anak sungai di hulu.

Namun bahkan di sini, di hilir Sungai Merah tempat aliran segala anak sungai menuju, hujan belum juga berhenti. Segala sesuatu yang mengambang dan beredar masih terus menerus berlangsung. Batang pohon, pohon tumbang, gerumbul semak, rerantingan, terkadang juga sampan kosong yang ikatannya lepas dari tiang. Air sungai yang naik dan meluas ke mana-mana menghilangkan tepian sungai sampai seluruh bumi rasanya diselimuti air mengalir. Waktu kupandang rumah panggung itu, rasanya seperti sudah melihat kapal besar yang melaju. Kusadari air bertambah tinggi dan bertambah cepat. Perahu seperti tidak bisa didayung lagi dan terseret arus yang kuat berputar. Di dalam rumah masih terdengar teriakan pelelangan, seperti tidak menyadari di luar berlangsung banjir yang tidak seperti

biasanya, yang hanya setinggi lutut, dan permukaan sungai tidak naik terus mengancam leher, sebagai banjir bandang seperti sekarang.

Perahu-perahu sudah terseret dan berputar-putar seperti tidak bisa dikendalikan, dayung sia-sia mengatur arah dan penumpangnya hanya bisa berpegangan pada dinding perahu dengan pasrah, meski mulut mereka terus menceracau seperti burung. Kadang-kadang perahu itu bertabrakan, salah satu atau dua-duanya terbalik, tetapi para penumpangnya tampak bisa berenang, meski arus yang deras ini tampak telah sangat menakutkan bagi mereka. Ketika ada batang pohon nyaris menghantam wajahku, dan tiba-tiba saja aku sudah berada di atasnya, baru kusadari budak-budak itu sudah lenyap semua. Sebagian mungkin bisa berenang, sebagian lagi mungkin tidak dan sebagian mungkin selamat, sebagian lagi mungkin tidak selamat.

Di atas batang kayu yang meluncur itu kemudian kulihat rumah panggung tempat pelelangan ambruk, lantas hancur terseret. Arus yang tanpa terasa telah menjadi sangat deras itu juga menyeret dan menghancurkan rumah-rumah panggung lain. Meski kuketahui bahwa Sungai Merah sering membanjiri tepiannya, banjir dengan arus sederas ini bukanlah sesuatu yang biasa. Banjir bandang ini telah mengarah pada bencana.

SAAT itulah terdengar teriakan menceracau dari kejauhan, dan ketika aku menoleh terlihat tangan melambai ke arahku dalam keadaan terseret arus dan timbul tenggelam. Kulihat seorang perempuan muda dengan bayi pada gendongannya, justru pada saat gendongan yang terbuat dari papan itu kain bebatannya yang memang sudah terurai menjadi lepas sama sekali. Ibu dan anak itu dengan segera terpisah. Di atas batang pohon aku tertegun. Siapakah yang harus lebih dulu kutolong? Bahkan aku tidak mungkin menolong keduanya, aku harus memilih salah satu!

Sepintas lalu bayi itu akan aman, karena gendongan seperti itu seharusnya mengambang, tetapi dalam waktu sangat amat rawan itu terbetik dalam kepalaku bahwa meski gendongannya akan mengambang, bayinya akan segera tenggelam. Perempuan muda itu jelas tidak bisa berenang, karena sejak tadi timbul tenggelam.

Keduanya akan mati tenggelam jika tidak tertolong, sementara di atas perahu sampannya yang berputar-putar tidak terkendali semua orang yang juga menceracau itu bahkan masih harus menjaga agar perahunya tidak terbalik dan akhirnya juga tenggelam. Aku menoleh ke arah perempuan yang kini hanya terlihat tangannya itu, dia akan tenggelam, tetapi begitu pula bayinya. Siapa yang harus kutolong? Meskipun aku bisa melesat lebih cepat dari kilat, jika yang satu hanya tinggal terlihat tangannya dan yang lain kakinya, dengan jarak yang semakin berjauhan di bawa arus, tetaplah harus dimulai dengan salah satu lebih dulu.

Aku berkelebat tanpa membiarkan diriku berpikir panjang lagi, karena bukan saja jarak keduanya semakin berjauhan jaraknya, yang akan menyulitkanku menolong keduanya, tetapi juga jarakku sendiri dengan kedua-duanya telah semakin jauh karena perpusaran arus yang makin meluas. Tanpa kusadari dengan sendirinya aku terbang menggunakan Naga Berlari di Atas Langit yang hanya sedikit sentuhan telapak kaki pada permukaan air. Seperti yang sempat kupikirkan, gendongan bayi dengan hiasan tenunan bermanik-manik itu memang masih mengambang, tetapi bayinya terjungkir ke depan tanpa penahan dan langsung tenggelam. Saat kutiba masih terlihat telapak kakinya yang halus dan mungil, yang langsung kusambar. Dengan cepat bayi itu telah kubopong dengan tangan kiri sementara aku terbang ke tempat ibunya, tetapi hanya air sahaja yang ada di sana. Permukaan air kecoklatan yang menelan segalanya…

Aku mencari-cari sementara berdiri di atas perahu yang terbalik. Namun permukaan air kecokelatan dengan titik-titik hujan yang rata di mana-mana tidak memberi jawaban atas apa yang kucari. Ranting, dedaunan, dan batang-batang pohon masih mengapung dalam kederasan arus. Kemudian serpihan papan-papan rumah yang hancur. Namun masih banyak juga rumah yang bertahan. Tampak seperti perahu-perahu di tengah lautan yang luas. Cepat sekali air pasang ini menjadi banjir bandang yang memakan wilayah nan amat luas, dan begitu luasnya sehingga seolah-olah seisi lautan telah dipindahkan kemari.

Bayi itu masih berada dalam bopongan tangan kiriku. Mendadak ia menangis keras-keras dan kakinya menyentak-nyentak, sembari tangannya menunjuk-nunjuk. Kuikuti

arah telunjuknya itu, ternyata perempuan muda yang kucari-cari itu telah muncul dari dalam air, terlentang di permukaan sungai sebagai mayat.

Apa yang harus kulakukan? Hujan masih deras dan mendung gelap di langit. Bayi itu belum genap setahun umurnya. Apakah ia ternyata mengenali ibunya? Telunjuknya masih menunjuk-nunjuk sambil menangis keras sekali. Jika kuambil mayat itu, apa yang bisa kulakukan dengan mayat itu di muka bumi yang seolah-olah hanya terdiri dari air ini? Namun ketika aku membungkuk dan tanganku berusaha meraih tangannya, mendadak muncul dari dalam air yang deras mengalir itu sebuah tangan bersisik yang menarikku ke bawah dengan sangat cepatnya.

Bisakah dibayangkan jika hal ini dilakukan ketika di tangan kiriku terdapat bayi yang belum lagi setahun? Memang itu tangan Naga Kecil, yang menyeretku di tengah banjir, yang bagi siapapun jika ia bukan makhluk air tentulah akan membuatnya sangat kebingungan, jika bukan mengalami kepanikan. Aku juga panik, tetapi tidak untuk diriku sendiri, melainkan untuk bayi belum setahun di tangan kiriku yang pasti akan mati jika aku tidak muncul ke atas sekarang juga! Padahal tarikan tangan Naga Kecil ke dalam air itu adalah tarikan pembunuhan!

SUASANA di dalam air yang sedang membanjir seperti ini tidaklah sama dengan suasana dalam air di sebuah danau berlantai batu. Air banjir ini sangat kotor dan penuh lumpur sehingga sangat amat menyulitkan diriku untuk bertarung dengan perhitungan jernih. Apalagi dengan bayi yang segera akan mati jika aku tidak melepaskan diri! Naga Kecil mencekal tangan kananku dengan kuncian seekor ular melibat lawan. Tangannya bagai tak bertulang melibatku, tidak akan mungkin melepaskan diri dari libatan ular seperti ini dengan cara persilatan yang biasa. Bahkan untuk memperhatikan kedudukannya pun belum bisa kulakukan, karena Naga Kecil menyeretku di dalam air sungguh dengan kecepatan yang sangat tinggi!

Dalam pertarungan silat tingkat tinggi, segalanya memang berlangsung amat sangat cepat, setidaknya tentu lebih cepat dari kata-kata yang menceritakannya. Begitulah aku bersama bayi di tangan kiriku itu diseret jauh keluar dari wilayah daratan yang seluas mata memandang digenangi air, masuk dalam ke kedalaman Sungai Merah yang dalam keadaan pasang seperti ini lumpurnya bergumpal sulit ditembus. Aku

tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karena bayi yang kuselamatkan ini pasti paru-parunya akan segera terisi air! Maka kurapal salah satu mantra Raja Pembantai dari Selatan yang terbaca olehku, yang rupa-rupanya masih sebuah kutipan dari Nagarjuna:

Utpadotpada utpado mulotpadasya kevalam

Utpadotpadam utpado maulo janayate panah 1)

Tanganku langsung bercahaya terang dan meskipun berada di dalam air bagaikan kudengar jeritan Naga Kecil yang karenanya jadi tersedak. Tangannya yang melibat seperti ular terlepas masih dalam keadaan melingkar-lingkar. Tangan bersisik yang semula bagaikan telah menjadi ular itu sendiri meski berada di dalam air tetap menyala karena terbakar. Begitu pula air sungai di sekitarnya menyala merah api dan kuduga sebagian permukaan sungai di atas kami pun berselaput api yang menyala berkobar-kobar. Pemandangan seperti inilah yang kelak akan menjelma dongeng, tetapi sekarang tentu aku tidak sempat memikirkannya. Naga Kecil terpental entah ke mana, aku melesat bersama bayi itu ke atas menembus permukaan sungai berarus deras yang menyala-nyala.

Aku bersama bayi itu menembus permukaan sungai dan melesat ke angkasa. Hujan deras belum berhenti dan dari balik tirai hujan kekelabuan kulihat api di atas sungai yang menyala terseret arus begitu rupa sehingga membakar pula pohon-pohon dan rumah-rumah yang masih setengah terendam. Dari atas kutahan sejenak laju turun tubuhku untuk melihat keadaan dan mencari tempat terbaik untuk mendarat. Namun ke manakah bisa mendarat pada permukaan bumi yang diselaputi air mengalir deras seperti ini, yang sebagiannya telah menyala karena mantra Nagarjuna pula? Di bawah itu yang mengapung dan mengalir di atas permukaan adalah perahu-perahu berisi pengungsi, atap-atap rumah yang masih berdiri dan penuh manusia, batang-batang pohon mengapung yang selalu saja ada seseorang yang sedang memeluknya sembari telungkup, dan tidak jarang mayat manusia, telungkup atau telentang, yang sungguh bernasib malang tiada bisa menyelamatkan diri.

Memang benar wilayah sepanjang tepian Sungai Merah sudah biasa digenangi air ketika permukaan sungai naik dan meluap karena hujan deras yang tiada kunjung berhenti di pegunungan, tetapi jika rumah-rumah panggung pun ambruk dan terseret, sementara perahu-perahu yang dinaiki penduduk untuk mengungsi pun terbalik, kucurigai betapa peristiwa alam ini telah ditunggangi jika tidak didorong oleh suatu daya luar biasa dari suatu kehendak yang menuntut bencana. Tidaklah kutuduh Naga Kecil telah melakukannya, tetapi manusia manakah kiranya betapapun saktinya memiliki daya dan alasan kuat untuk melakukannya selain Naga Kecil murid Naga Bawah Tanah yang sakti mandraguna?

Aku turun lebih lambat dari titik-titik air hujan. Bayi yang kubekap dengan kaki tergantung di tangan kiriku itu menangis keras sekali, yang membuatku lega karena itu berarti ia masih hidup. Namun kini nyawanya mungkin terancam kembali karena dari balik titik-titik hujan itulah meluncur sejumlah besar senjata rahasia yang belum kukenal. Aku tidak mau menerima akibat dari sesuatu yang belum kukenal, jadi kusapukan titik-titik hujan yang setiap titiknya mengeras dan langsung meluncur menyambut setiap dari senjata rahasia yang meluncur itu.

DALAM sekejap di antara deru hujan terdengar suara-suara tumbukan beruntun antara titik-titik hujan yang mengeras dengan senjata-senjata rahasia, yang suara tumbukannya seperti desis, yang memang mengeluarkan asap beracun, berasal dari sisik-sisik yang dikebaskan Naga Kecil dari tangannya.

Kuketahui betapa sisik-sisik itu berasal dari tangan Naga Kecil yang dikebaskan, ketika semakin ke bawah tubuhku meluncur jatuh ke sungai semakin terkuak pula tirai hujan yang menyamarkan segala sesuatu, saat kulihat memang sekali lagi Naga Kecil mengibaskan tangan untuk meluncurkan sisik-sisik dari tangannya itu. Sisik-sisik di tubuh Naga Kecil meluncur dan setiap kali sekeping sisik lepas dan meluncur segera tergantikan oleh sisik baru. Sisik-sisik di tubuh Naga Kecil menyala, tidak lagi menyala biru seperti tubuh ikan di kedalaman danau, tetapi kali ini merah, merah menyala-nyala dan berpijar bagai menunjukkan perasaannya yang meradang.

Kusapukan lagi titik-titik hujan menyambut sisik-sisik itu, tetapi Naga Kecil sendiri telah meluncur di belakang serbuan sisik-sisik beracun yang jika ditangkis

meletupkan uap beracun itu. Siasat semacam ini sering kuhadapi jika bertarung melawan mereka yang mengandalkan pisau terbang. Dalam siasat ini, ketika perhatian kita terpusatkan untuk menangkis pisau-pisau meluncur yang banyak itu, pelempar tersebut telah menancapkan pisaunya yang lain ke bagian tubuh mana pun yang disukainya, apakah itu jantung ataupun leher kita. Menghadapi mereka, berdasarkan kecepatannya aku tinggal mengibaskan kembali pisau-pisau terbang itu kembali ke arah mereka. Jika mereka lebih cepat, bisa kuhindari saja pisau-pisau terbang itu dan menghadapi serangannya dan saat itulah kuselesaikan riwayat hidupnya.

Namun sekarang ini siasat tersebut tidak dijalankan oleh sembarang penyoren pedang dari dunia persilatan, melainkan Naga Kecil perkasa yang mampu bergerak lebih cepat daripada kilat! Siapa pun ia yang mendapatkan gelar naga atas kemampuannya, bukanlah lawan yang dapat dipandang sebelah mata, karena tentulah ia setidaknya takpernah terkalahkan, bahkan oleh para pendekar yang paling ternama dan paling tinggi ilmu silatnya. Diriku dengan bayi yang harus selalu kujaga keselamatannya di tangan kiriku ini, tentulah berada dalam kesulitan yang luar biasa.

Dari bawah, dari balik tirai hujan dan cadar hamburan ribuan senjata rahasia beracun, Naga Kecil melesat dengan cakar terkembang mengancam jantungku! Menyambut serangan seperti ini, dengan bayi menangis menjerit-jerit yang sejak tadi kujepit dengan tangan kiri, dan tak tahu tempat berpijak lain di atas dunia yang seolah terdiri dari air, niscaya diriku yang masih berada di udara ini sungguh berada dalam bahaya! Menghadapi serangan cakarnya berarti bayi ini akan mati terajam sisik-sisik ikan beracun, sedangkan melindungi bayi ini dari senjata-senjata rahasia yang melesat itu sama dengan membiarkan cakar Naga Kecil menjebol dada dan merenggut jantungku tanpa sisa! Sungguh keadaan yang luar biasa sulitnya!

125: Bayi

DALAM keadaan tak teratasi itu muncul seberkas cahaya putih yang langsung melibas Naga Kecil, sehingga aku pun terlepas dari pilihan sulit itu, dan dengan sekali kibas segenap titik air hujan meluncur ke arah sisik-sisik beracun dalam

keadaan lebih keras dari batu. Segera terdengar letupan-letupan dari sisik yang terpecah meruapkan uap saat kutinggalkan segalanya ke bawah. Kulihat gulungan cahaya putih menggulung cahaya merah. Kuketahui bahwa cahaya merah itu tentu Naga Kecil, tetapi tak dapat sekadar kutebak gulungan cahaya putih itu, yang tentulah ilmunya tinggi sekali sehingga bahkan diriku tidak dapat melihat apa pun selain cahaya dan bukan pergerakan yang telah mengakibatkan adanya cahaya itu.

Aku hinggap di atas sebuah perahu sampan yang penuh dengan air karena hujan deras yang masih belum berhenti. Dengan papan yang terapung di dekatnya kusibakkan air di dalamnya sampai kosong. Ketika melewati gerumbul pohon pisang yang hanya terlihat pucuk-pucuknya, kupangkas beberapa dengan golok yang kebetulan tergeletak telanjang tanpa sarung pada sampan itu. Sebagian kujadikan alas bagi si bayi dan sebagian lagi untuk menutupinya dari air hujan yang menggila, sementara pertarungan di angkasa itu menyusup ke dalam air dan membentuk pergolakan luar biasa seolah terdapat dua naga raksasa bertarung di dalamnya.

AIR membuncah-buncah bagaikan terdapat kawah gunung yang siap meletus di dalamnya. Cahaya berkilatan dari dalamnya sebagai akibat pertarungan itu, yang meskipun berlangsung di dalam air tetapi cahayanya berkeredap dan berkilat-kilat ke angkasa. Padahal angkasa yang berlangit mendung masih penuh dengan kilat yang bersabung-sabungan diiringi guntur yang meledak-ledak bersambungan di sepanjang langit yang serba kelabu seperti itu. Permukaan air yang membuncah kadang membentuk garis buncahan yang panjang diikuti garis buncahan panjang lain saling kejar-mengejar di permukaan sungai, yang masih saja mengalir deras dan menyeret segalanya tanpa pandang bulu. Bersama dengan buncahan itu kilat berkeredap ke atas mencapai langit yang kadang melewati permukaan di bawah perahu-perahu penuh pengungsi, yang tentu saja membuat perahu-perahu itu terbalik dan menimbulkan bencana baru.

Suatu ketika garis membuncah-buncah tanda terdapatnya gulungan pertarungan di bawahnya itu seperti akan menabrak perahuku, kusambar bayi yang terbungkus daun pisang itu dan siap melejit, tetapi ketika mendekati perahu garis buncahan itu terpisah menjadi dua, masing-masing berlalu di kanan dan kiri perahu dan menyatu

lagi setelahnya, menghasilkan suara-suara benturan dan tumbukan yang dahsyat dengan kilat berkeredapan merah dan putih, diiringi suara-suara raungan dan desis naga yang beracun membunuh ikan-ikan.

Ketika mereka agak menjauh, kuambil kesempatan menatap wajah bayi yang kugendong itu. Ternyata ia juga sedang memandangku. Ia tidak lagi menangis tetapi tampak masih ketakutan dan dalam waktu sesingkat itu telah membuatku merasa bahwa baginya mungkin aku orang yang paling dikenalnya sekarang ini. Suatu perasaan yang jarang kualami merayap ke dadaku. Apakah yang disadari bayi belum berusia setahun ini? Sadarkah ia betapa ibunya sudah pergi dan tahukah ia mengenai segala sesuatu yang terjadi? Hidup manusia saling bersilang mempertemukan nasib. Mengingat nasib bayi itu aku teringat nasibku sendiri. Air mataku titik menatap wajahnya yang tiba-tiba tersenyum. Jika aku telah mendapatkan kasih sayang berlimpah dari pasangan pendekar yang mengasuhku, apakah jaminannya bayi yang tidak mungkin kucari asal-usulnya ini juga akan mendapatkan kasih sayang seperti yang telah kudapatkan selama ini?

Kulihat sekeliling, para pengungsi di atas perahu dan rakit melewati. Mereka semua masih harus berjuang agar tidak terbalik dalam arus deras ganas yang berusaha menyeret segalanya ini. Suara sungai yang mengalir deras mendesau bagaikan janji ancaman yang memang telah dinyatakannya. Nun di kejauhan terlihat cahaya merah telah semakin melemah digulung cahaya putih. Langit yang menggelap membuat cahaya-cahaya berkeredap itu berkilat makin terang. Perahuku terseret arus makin jauh dari tempat pertarungan keduanya. Siapakah sosok di balik cahaya putih yang telah menyelamatkan jiwaku itu? Aku teringat betapa di Jawadwipa dahulu aku pun masih berutang budi dan berutang ilmu, kepada seorang pendeta tua yang telah membukakan kunci-kunci ilmu silatku, sehingga bisa kulakukan penalaran demi pengembangan ilmu silat itu, yang tidak lagi sekadar menjadi olah gerakan, melainkan juga olah pemikiran mendalam.

Lamunanku yang singkat terbuyarkan oleh gelegak permukaan sungai yang dahsyat di kejauhan. Terdengar raungan serak kesakitan luar biasa yang seolah keluar dari mulut makhluk raksasa. Namun hanya terlihat cahaya merah yang membentuk naga

berpijar sejenak, sebelum meredup, memudar, dan luruh, tidak pernah kelihatan lagi. Setelah itu seluruh permukaan sungai, tanpa kecuali, bagaikan dilapisi cahaya putih mengilap sejenak, sebelum meresap ke balik permukaan sungai itu.

‘’Naga Bawah Tanah…,’’ desisku.

Naga Bawah Tanah yang mahasakti, yang tidak pernah memperlihatkan diri, yang sebetulnya sangat menyayangi Naga Kecil muridnya sendiri, telah menamatkan riwayat manusia bersisik dan lidahnya bercabang itu karena menolongku, ataukah karena kehadiran bayi itu. Sekarang aku mengerti, betapa kenyataan bahwa Naga Bawah Tanah menyelamatkan bayi dari perut ular, telah menentukan batas kehidupan bayi yang kelak bergelar Naga Kecil tersebut: Ajalnya akan tiba saat ia berusaha membunuh bayi lainnya. Barangkali Naga Kecil memang tidak berusaha membunuh bayi itu, melainkan sekadar usaha mengalihkan perhatian agar jantungku bisa ditariknya keluar tanpa sisa, tetapi agaknya bagi Naga Bawah Tanah itulah pertanda akhir kehidupan Naga Kecil sudah harus dipastikannya.

***

Angin berhembus pelan. Benarkah seluruh petaka ini terjadi karena kegalauan hati Naga Kecil?

AKU tidak ingin mempercayai kemustahilan seperti itu, tetapi entah kenapa gagasan semacam itu merasuki kepalaku. Betapapun hujan memang kemudian berubah menjadi gerimis sebelum akhirnya berhenti. Mega-mega yang bergumpal hitam dan bergulung-gulung mengerikan menyisih disapu angin. Langit menjadi bersih bagaikan terang cuaca sehabis hujan, tetapi sore memang telah berlalu dan hari menjelang malam.

Sejauh-jauh dan seluas-luasnya banjir, ada juga tempat surutnya. Ke sanalah agaknya perahuku menuju. Sejauh mata memandang memang air masih menutupi permukaan bumi, tetapi permukaan air ini sudah tidak tinggi lagi. Kulihat air kini hanya setinggi betis para pengungsi dan semakin lama semakin rendah dan semakin rendah lagi.

Perahuku terseret arus keluar jauh dari tepi sungai. Sebentar kemudian dasar perahu sampan itu sudah menyentuh tanah. Aku melompat turun dengan bayi dalam gendonganku.

Sepanjang jalan tanah becek dan berlumpur, hanya di ketinggian orang-orang membuat gubuk-gubuk darurat dari bambu dan atap rumbia seadanya. Aku pun berjalan menuju ke sana meski belum tahu pasti apa yang akan kulakukan. Gelap semakin membenam. Mayat tidak terurus masih tergeletak, terdampar, dan terlantar di sana-sini. Aku melangkah di antara batang pohon, ranting, dan segala macam benda yang terlihat sepintas kilas dalam keremangan. Guci, kundika, piring, dan gerabah segala macam peralatan rumahtangga, yang masih utuh maupun sudah pecah tersebar dalam keadaan terselimuti lumpur. Para pembawa keranjang di punggung, kutahu berusaha mengais-ngais keberuntungan dalam bencana seperti ini.

Benarkah begitu terbiasanya penduduk di sekitar Sungai Merah ini mengalami banjir? Meski banjir bandang kali ini tentunya dianggap luar biasa, karena rumah-rumah panggung yang dibuat dengan kesiapan menghadapi banjir pun terseret hanyut dalam keadaan hancur, tak kudengar ratap tangis dan raung kesedihan karena petaka. Kemudian, bayi yang kubawa menangis dan aku kebingungan. Aku berada di tengah-tengah para pengungsi yang berbahasa burung dan tidak sepatah kata pun kumengerti. Tangis bayi ini luar biasa, lebih keras dari suara tangis bayi yang lain.

Aku sungguh kebingungan. Ia tentu lapar. Apa yang harus kulakukan? Di antara para pengungsi, bagaikan tiba-tiba saja muncul seorang perempuan paro baya di hadapanku. Ia menceracau dengan bahasa burung sambil menggamit lenganku. Kuturuti saja ke mana langkahnya menuju. Betapapun aku merasa ia bermaksud baik, karena semenjak tadi ditunjuknya bayi itu, sembari memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut. Kukira ia menawarkan kepadaku agar bayi itu diberi minum.

Langkahnya berhenti di sebuah gubuk. Banyak lelaki membawa bayi di situ. Apa yang terjadi? Perempuan itu mendorong punggungku agar bergabung dengan sebuah kerumunan. Aku menyeruak, yang rupanya menimbulkan kemarahan orang-

orang. Bahasa burung dan wajah amarah bertubi-tubi tertuju kepadaku, tetapi aku tetap menyeruak juga dan —- ah! Aku sangat terkejut. Kulihat lima perempuan muda berdada subur sedang berjajar menyusui bayi-bayi, setiap perempuan membawa satu orang bayi, dan setelah bayi yang disusuinya lelap tertidur segera digantikan bayi yang lain. Untuk itulah para lelaki yang membawa bayi datang ke sana. Mengantrekan bayinya agar disusui.

Aku tertegun, bayi di tanganku menangis keras sekali. Aku baru sadar betapa sangat tidak berpengalaman dengan urusan bayi seperti ini. Bahasa burung di sekitarku bersabung dengan tangis bayi, bukan hanya bayi di tanganku, tetapi juga hampir semua bayi di tempat itu. Aku merasa kecut, kecil hati, dan rendah diri dengan ketidak mampuanku menghadapi masalah ini, tetapi ingatan atas ibunya yang tidak berhasil kutolong itu membuatku tetap bertahan di sana. Aku menjadi bagian dari para suami yang kehilangan istrinya dalam banjir bandang ini, tetapi berhasil menyelamatkan anak bayinya, yang hanya bisa bertahan hidup jika tetap disusui, dan hanyalah perempuan yang kehilangan bayinya pula yang tiada bisa lebih tepat lagi untuk menolongnya.

Betapapun, perempuan yang kehilangan bayinya ternyata lebih sedikit daripada bayi-bayi yang kehilangan ibunya. Itulah yang membuat kami semua, para lelaki yang membawa bayi kini berdiri berdesak-desak, yang semestinya tentu antri tetapi tangis bayi itu masing-masing bagai mendesak penggendong yang satu mendesak-desak penggendong lainnya. Sementara kelima perempuan itu menyusui bayi-bayinya dengan wajah penuh kasih dan sayang di tengah kericuhan luar biasa dalam kegelapan sehabis bencana yang sungguh menimbulkan petaka tersebut.

APAKAH harus mengerahkan tenaga dalam untuk membuyarkan para lelaki penggendong bayi yang menyesaki gubuk darurat ini? Aku merasa malu pikiran seperti ini muncul dalam kepalaku. Pemecahan persoalan dunia awam ternyata jauh lebih pelik daripada seperti yang selalu dilakukan dalam dunia persilatan.

Bayi yang kugendong makin keras tangisnya, bagaikan bahasa perintah yang menuntutku berbuat sesuatu dengan segera. Aku semakin panik ketika dari kedua lubang hidungnya ternyata mengalir darah!

Aku melesat keluar, tidak bisa berpura-pura lagi menjadi orang awam. Kulihat sekeliling dan kulihat ke langit. Rumah-rumah darurat pengungsian ini terletak di sebuah ketinggian yang landai, sementara langit gelap gulita. Rupanya meski dengan kematian Naga Kecil cuaca menjadi cerah, setelah malam tiba langit mendung kembali, seperti tak juga cukup memberi penderitaan kepada para korban bencana yang masih selamat dan belum mati. Ini berarti aku tidak dapat melakukan penyembuhan dengan tenaga prana rembulan maupun prana pohon. Kulihat hutan yang gelap di kejauhan, apakah aku akan ke sana, ataukah melakukan penyembuhan dengan prana udara?

Darah dari hidung bayi itu mengalir. Kutahan kepanikanku, karena penyembuhan dengan tenaga prana memerlukan ketenangan dalam pemusatan perhatian. Di tengah perkampungan pengungsi yang riuh dengan cericit bahasa burung, ketenangan yang kubutuhkan tidak akan kudapatkan. Maka dengan pengerahan Naga Berlari di Atas Langit sekuat tenaga aku pun melesat ke hutan yang gelap di perbukitan sambil membawa bayi itu. Saat melesat itulah sepintas lalu kulihat bayangan-bayangan berkelebat. Namun karena tidak tampak mengancamku, kubiarkan saja berlalu. Perhatianku tersita sepenuhnya kepada si bayi.

Tiba di hutan kudekati sebuah pohon besar. Dalam hatiku kuucapkan permintaan izin kepada pohon tersebut untuk menarik kelebihan prana darinya, melalui chakra tangan. Sementara tangan kiriku membopong bayi yang tidak lagi menangis tetapi kini lemas itu, telapak tanganku kuletakkan pada batang pohon tersebut. Kupusatkan perhatian kepada pusat telapak tanganku dan secara bersamaan kulakukan pernafasan prana. Kulakukan sampai sepuluh putaran dan kuucapkan terimakasih dalam hati kepada pohon itu karena telah menerima pemberian prana. Kurasakan getaran di seluruh tubuh, dan kualirkan dahulu seluruh tenaga prana ini ke seluruh tubuh sebelum mengalirkan ke tubuh si bayi melalui tangan kiriku. 1) Aliran hangat merasuk melalui punggungnya. Demikianlah kulakukan beberapa kali, sampai darah dari hidungnya berhenti mengalir, dan dia mulai menangis. Lebih baik menangis pikirku, seperti menemukan makna baru dari tangis bayi, daripada lemas tanpa suara seperti tadi.

Hatiku lega. Bayi itu menangis keras dengan penuh daya. Tentu ia lapar dan ini berarti ia masih sehat sekali. Tampaknya kini aku harus kembali ke tempat pengungsian untuk mencari ibu susu bagi bayi yang belum berusia setahun ini. Namun alangkah terkejutnya aku, ketika aku menoleh ke arah tempat pengungsian itu, kulihat gubuk-gubuk darurat itu sedang terbakar. Terdengar jerit tangis dan ceracau burung dari kejauhan. Kulihat obor-obor masih dilemparkan untuk menghabiskan sama sekali gubuk-gubuk itu. Aku teringat sejumlah bayangan yang berkelebat tadi. Kuketahui bahwa sepanjang tepi Sungai Merah di daerah hilir telah berkembang menjadi pusat-pusat pemberontakan setiap kali kekuasaan Wangsa Tang di Negeri Atap Langit melemah.

An Nam berarti daerah selatan yang didamaikan, tetapi didamaikan di sini tiada lebih dan tiada kurang adalah dijajah, meski dalam keterjajahannya tiada lebih dan tiada kurang orang-orang Viet mempelajari segala sesuatunya tentang peradaban dari Negeri Atap Langit, dengan hasil yang memang menjelaskan segalanya tentang hal itu. Bahasa burung mereka bagiku misalnya mirip benar bunyinya dengan bahasa burung Negeri Atap Langit, meski aku yakin keduanya tentulah merupakan bahasa yang berbeda. Betapapun sejarah hubungan mereka adalah sejarah pertentangan, pemberontakan, dan perang. Setiap kali An Nam memang berhasil ditaklukkan, tetapi setiap kali pula muncul pemberontakan baru, kadang besar, kadang kecil, tetapi membuat Daerah Perlindungan An Nam belum dapat membangun wilayah dalam pengertian sesungguhnya. Orang-orang Viet selalu merasa, ketika mereka berontak sebetulnya mereka melanjutkan semangat Trung Bersaudara, dua perempuan pemimpin yang mengangkat senjata terhadap kekuasaan Wangsa Han dari Negeri Atap Langit jauh hari di tahun 43. Saat itu wilayah ini masih diberi nama Giao-chi oleh Negeri Atap Langit. 2)

Sebelum wilayah ini ditaklukkan, peradaban mereka sudah tinggi, bahkan di wilayah Suvarnadvipa sejak ratusan tahun silam telah dikenal hasil-hasil peradaban Dong-son seperti genderang besar dari perunggu. Kuingat ayahku bercerita bahwa genderang semacam itu berasal dari kerajaan Au Lac di wilayah ini sekitar 800 tahun lalu. 3) Sudah jelas betapa saat itu leluhur orang-orang Viet tersebut merupakan bangsa yang berbudaya. Tidak seperti sekarang, yang dianggap sebagai

bangsa yang suka berperang. Ternyata sejarah mereka sendiri memang memberikan alasan yang masuk akal. Namun apakah yang membakar gubuk-gubuk itu memang pemberontak, ataukah justru utusan dari utara yang ditugaskan memadamkan pemberontakan itu? Tidak selalu pasukan besar yang dikirimkan dari Negeri Atap Langit, melainkan orang-orang pilihan dengan tugas istimewa untuk membunuh para pemimpin pemberontak.

Dari cara berkelebatnya bayangan yang kusaksikan tadi, tidak dapat kuketahui mereka berasal dari mana, tetapi jelas betapa ilmu silat mereka sangat tinggi.

Mereka bersembunyi di balik bayang-bayang malam, berkelebat dan berkelebat mendahului angin dan gerimis yang masih sedang mendatang dari pegunungan, bahkan sekarang pun belum tiba di sana, belum melampaui tempatku sekarang berdiri, meski dapat kudengar suara gerimis bagaikan naga mendesis di balik pegunungan, tentunya bagaikan tirai kelabu dalam kekelaman yang menyapu ke arahku.

Jadi tentu saja ilmu silat mereka sangat tinggi. Untuk apakah mereka yang berilmu sangat tinggi membakar gubuk-gubuk darurat orang-orang kecil yang miskin, lemah, dan tak berdaya? Tiadakah mereka dapat memperkirakan betapa akan semakin berat penderitaan orang-orang tersebut dalam kemalangan begitu rupa? Orang-orang kecil, hanya menjadi korban pertikaian orang-orang yang merasa dirinya besar. Tidakkah seorang raja boleh kita anggap merasa dirinya besar, jika mengambil keputusan untuk mengirimkan balatentara dan menjajah suatu negeri yang bukan bangsanya, dan tidakkah juga kita boleh menganggap seseorang merasa dirinya cukup penting untuk memimpin pemberontakan, melawan suatu kekuatan tempur luar biasa yang lebih besar kemungkinannya tak bisa dikalahkan dan hanya memberikan kematian besar-besaran selain harga diri dalam ketertumpasan yang mengenaskan?

Namun kusadari pula bahwa Negeri Atap Langit harus mempertahankan jalur perdagangan hasil bumi maupun barang-barang mereka ke selatan, yang menghubungkan mereka dengan berbagai kota pelabuhan di Teluk Tongking. Dari sini, dengan perantaraan kapal-kapal Srivijaya, mereka masih bisa melakukan

hubungan dagang dengan kota-kota pelabuhan di Jambhudvipa. Maka setelah menyerang, menundukkan, dan diberontak berkali-kali semenjak setidaknya seribu tahun lalu, Negeri Atap Langit takbisa berbuat lain selain menjadikan wilayah orang-orang Viet ini sebagai bagian dari wilayah mereka, seolah-olah menjadi bagian dari bangsa mereka, apapun wangsanya, dan sungguh mereka berhasil dalam ratusan tahun membuat orang-orang Viet menjadikan kebudayaan Negeri Atap Langit sebagai kebudayaannya sendiri, tentu dengan cara-caranya sendiri. Dalam pengertian cara-cara sendiri inilah sebetulnya Daerah Perlindungan An Nam takpernah bisa ditundukkan sepenuhnya.

Api berkobar menerangi langit, dan jerit tangis masih membubung ke angkasa dari arah gubuk-gubuk darurat itu. Kupandang sejenak bayi di tangan kiriku. Mungkinkah aku bertarung menghadapi para pembakar gubuk yang tidak mengenal belas kasihan tanpa membahayakan bayi ini?

Kudengar pekik kematian orang-orang yang dibantai. Aku melesat secepat kilat tanpa berpikir lagi.

126: Para Pemberontak

Api masih berkobar. Wajah orang-orang yang kalang kabut dan tercerai berai itu merah menyala karena api. Bukan hanya gubuk-gubuk dibakar tetapi orang-orang yang sudah tidak berdaya juga dianiaya sebelum akhirnya dibinasakan pula. Ratusan korban banjir bandang yang kemungkinan belum makan setelah membangun gubuk-gubuk takberdaya menghadapi para penyoren pedang berilmu tinggi. Mayat-mayat bergelimpangan dan masih terlempar dari dalam gubuk di sana-sini dalam keadaan mengenaskan. Darahku mendidih. Apakah kesalahan para pengungsi yang malang ini?

NAMUN rupanya aku tidak usah mencari mereka karena pada saat kedatanganku aku sudah langsung diserang. Demikianlah aku langsung terlibat pertarungan di antara gubuk-gubuk darurat yang hampir semuanya kini sudah terbakar dan menyala. Lima bayangan berkelebat dari lima arah dengan jurus-jurus mematikan, aku berkelebat menghindar ke balik api, dan menyerang balik dengan Ilmu Pedang

Tangan Sebelah setelah menyambar golok pembelah kayu yang tergeletak di dekatku. Dengan Ilmu Pedang Tangan Sebelah keamanan bayi di tangan kiriku yang masih juga menangis itu lebih terjamin, karena memang diciptakan seorang pendekar di Jawadwipa pada masa lalu yang hanya memiliki tangan kanan, untuk menutupi segenap kelemahan yang ditimbulkan karena tidak bertangan kiri. Maka, meskipun jurus-jurus mereka sungguh mematikan, kini kelima orang itu yang kebingungan karena jurus-jurus Ilmu Pedang Tangan Sebelah yang tidak mereka kenal.

Aku telah melenting ke atas atap untuk menjauhkan mereka dari orang-orang yang berlarian kian kemari menambah kekacauan, selain untuk menghadapinya tanpa terlalu banyak kerumitan. Bertarung di antara api yang berkobar, meski dengan bayi di tangan kiri, jauh lebih bisa kuterima daripada di tengah orang banyak, karena pusaran pertarungan tingkat tinggi bagaikan pusaran maut yang selalu siap merenggut nyawa siapa pun yang tersesat ke dalamnya. Apalagi Ilmu Pedang Tangan Sebelah menuntut kecepatan dua kali daripada ilmu pedang mana pun yang dihadapinya, sehingga suatu kekeliruan arah pedang tidaklah mudah ditarik kembali.

Begitulah aku memanfaatkan kobaran dan panasnya api, muncul dari balik api dan menghilang kembali, dan setiap kali menghilang tentu terdengar jeritan karena sabetan golokku. Kekurangan karena hanya sebelah tangan yang bergerak diganti kecepatan pergerakan luar biasa dari tangan yang memegang golok, dan kekurangan tangan kiri —yang dalam hal diriku adalah menggendong bayi— sungguh mengecoh karena setiap orang selalu mengiranya sebagai titik lemah pertahanan. Demikianlah setiap orang mengincar bayi itu untuk memecahkan perhatianku, dan mereka tetap meneruskan gerakannya meski aku tampak tak peduli. Pada saat ujung pedang mereka yang pipih panjang dan berkilat itu nyaris menusuknya, golokku telah menebas leher mereka. Satu orang kutendang ke bawah dan bergulingan di tanah becek tanpa kepala, yang lain terdorong oleh tenaganya sendiri saat mau membantai bayi dan masuk ke dalam api, satu lagi tiada menyadari betapa tangan kanannya yang memegang pedang telah terbabat putus ketika bermaksud menusuk bayi.

Ilmu Pedang Tangan Sebelah membuatku tampak seolah selalu berputar, tetapi tidak berputar seperti gasing melainkan dalam segala kemungkinan dari gerak dan kecepatan dalam perputaran. Adapun perputaran ini memang bisa sangat mengecoh, karena bukan dari kanan ke kiri seperti yang seharusnya jika bermaksud melindungi bayi, melainkan dari kiri ke kanan sehingga seolah-olah bayi itu begitu mudah dibacok. Namun dengan Ilmu Pedang Tangan Sebelah setiap ancaman mempercepat pergerakan berputar dua kali lipat, yang menjamin setiap penusuk akan terbacok dari belakang ketika mengira tusukan pedangnya itu mengenai sasarannya. Dengan cara yang sama kedua penyerang yang tersisa tewas oleh golok pembelah kayu yang kupegang dan sekarang bersimbah darah ini.

Pertarungan berlangsung lebih cepat dari kata-kata. Belum lagi dua orang yang tewas menggelinding dalam kobaran api itu sampai ke tanah, sepuluh orang melesat secepat kilat ke atas atap gubuk darurat yang ternyata sedang rubuh. Tanpa menunggu gubuk sampai ke tanah aku berkelebat di antara nyala api yang segera berubah menjadi semburan bara. Lentik bara api bercampur dengan lentik api benturan pedang dan golok berkeradapan mengiringi suara benturan yang benturan yang berdentang-dentang tanpa pergerakannya kelihatan. Masih dengan Ilmu Pedang Tangan Sebelah yang bergerak dua kali lebih cepat dari setiap penyerangnya, kutamatkan riwayat mereka satu persatu tanpa harus membuat orang mengerang karena lukanya, karena kutebas mereka di tempat yang paling mematikan agar mereka menerima kematian bagaikan suatu mimpi tanpa akhir.

Sebetulnya aku memikirkan suatu akhir kehidupan menyakitkan seperti yang layak diterima para pembunuh terkejam yang menganiaya para korban sebelum kematian, yang sedikit banyak telah kulakukan kepada lima pengepung pertama itu, yang entah kenapa jerit kematiannya membuatku tersadar bahwa pembalasan dendam tiada pernah terizinkan menjadi tujuan.

”Seorang pendekar tidak membunuh karena dendam,” kata ibuku, ”karena dendam akan membuatnya melakukan pembunuhan dan bukannya melaksanakan kewajiban. Seorang pendekar melaksanakan kewajiban berdasarkan keyakinan atas segala sesuatu yang dianggapnya tidak bisa lebih tepat lagi, seperti keyakinannya

bahwa kejahatan harus dilenyapkan dari muka bumi, meski terjamin akan selalu muncul kembali. Dendam hanya melahirkan penyiksaan dan dendam baru, jauhilah itu selalu, anakku…”

SEMENTARA itu yang sedang bergerak mendekat perlahan-lahan menampakkan diri dengan makin nyata. Aku terkesiap. Betapa lengah aku menyadari keberadaan mereka karena tangis bayi yang kini telah kupindahkan kembali ke tangan kiriku. Namun dengan alasan apa pun aku memang tidak dapat melepaskan bayi ini sejak dari sungai tadi.

Apalagi sekarang ketika sesuatu yang belum jelas peranannya makin lama kian dekat. Halilintar berkeredap dan suara guntur dipantulkan dinding-dinding pegunungan berkali-kali. Saat cahaya kilat menerangi bumi terlihat oleh ratusan penunggang kuda maju perlahan-lahan mengepung tempat ini.

Kupungut kembali golok yang kubuang. Meski senjata sudah tiada artinya lagi bagiku semenjak kupelajari secara mendalam sebuah jurus yang bukan sihir tetapi menyerang pikiran, tetap saja kuayun-ayun golok itu seolah-olah siap kulempar dan jika kulakukan pasti mengenai satu atau beberapa dari orang-orang berkuda yang sedang mendatang itu. Barisan kuda mereka memberi kesan keteraturan yang kuat, tetapi melihat bermacam-macam busana dan hiasan tubuh mereka, kukira ini bukanlah pasukan yang mewakili suatu kekuasaan resmi tertentu.

Mereka berhenti dalam suatu jarak. Hujan masih saja menderas sehingga tidak ada sesuatu yang sebetulnya bisa dipandang dengan jelas. Suara dengus kuda yang banyak terdengar dari balik tiraihujan. Tanpa diperintah, para pengungsi berlindung dengan ketakutan di belakangku. Jumlah mereka telah banyak berkurang karena pembantaian dua puluh orang bersepatu dan berpedang pipih dengan dua sisi tajam itu. Mayat yang bergelimpangan mulai digenangi air, bukan dari sungai, melainkan air hujan dari langit yang telah membuat segalanya sama sekali tiada tampak.

Aku menunggu dan mereka juga menunggu. Mereka semua berada di atas kuda dan tak seorang pun yang tidak menyandang senjata.

Pedang, kelewang, tombak, cambuk, rantai, bandul besi, kapak, toya, ruyung, panah, pisau panjang, dan pisau-pisau terbang selingkar pinggang terlintas di mataku dalam terang petir sekejap yang segera disusul guntur. Cukup bagiku untuk melihat mereka semua berbaju tebal, meski baju itu mungkin saja bertambal-tambal. Sebagian mengenakan caping, sebagian mengikatkan lembaran kulit untuk melindungi kepala dari hujan, sebagian lagi mengenakan anyaman daun pada kepala atau seluruh badan sebagai samaran. Sepintas lalu, menilik busananya, mereka bagaikan campuran segala macam suku bangsa di sekitar Teluk Siam sampai Teluk Tongking, bahkan sepintas lalu kulihat suatu regu yang seluruhnya terdiri atas orang-orang Pagan. Namun dari cara bersikap tertib di dalam barisan, kutahu ratusan penunggang kuda ini sudah terlatih dalam pertempuran bersama sebagai pasukan berkuda. Gerombolan perampok tidak memiliki ketertiban seperti itu. Jadi aku yakin mereka bukan gerombolan liar, meski tetap saja aku harus hati-hati.

Aku bersikap waspada. Dengan tangan kiri kuusahakan agar bayi itu diam. Separo tenaga dalamku telah terkumpul di tangan kananku. Jika dua puluh pembunuh berilmu tinggi yang kini bergelimpangan ternyata bagian dari mereka dan maksud pengepungan ini untuk menangkapku, dengan Jurus Naga Mengibas Ekor setidaknya seluruh lapisan terdepan barisan itu akan jatuh bergelimpangan, cukup untuk sejenak mengejutkan mereka, sementara diriku berkelebat menghilang.

Di belakangku kudengar kaki-kaki kuda bergeser, barisan terkuak, dan seorang penunggang kuda mendekati diriku perlahan-lahan. Membunuh ular lebih baik memukul kepalanya lebih dahulu pikirku.

Namun selain belum kuketahui apakah penunggang kuda ini pemimpinnya, bukankah belum bisa dipastikan pula apakah pasukan berkuda ini memusuhi atau tidak memusuhiku?

Kudengar penunggang kuda itu melompat turun. Ilmu silatnya pasti sangat tinggi. Aku berbalik untuk menghadapi setiap kemungkinan, dan…

Ah! Seseorang berambut panjang berlari dengan tangan terbentang siap memelukku! Seluruh tubuhnya tertutup baju tebal, sehingga memang tidak segera kukenali dengan seketika. Amrita! Di tengah hujan dan angin ia memeluk diriku dengan bersimbah air mata.

“Pendekar Tanpa Nama! Pendekar Tanpa Nama! Kutahu dikau akan menyusulku! Daku tahu! Meski berbulan-bulan hatiku selalu bimbang dan ragu! Tinggallah bersama Amrita selamanya, wahai pendekar! Janganlah pergi!”

Bayi itu semakin keras menangis, yang menyadarkan Amrita akan keberadaannya. Ia melonggarkan pelukan dan pandangan matanya menjadi tajam, antara bertanya dan menuduh jadi satu. Kujawab segera sebelum ia bertanya.

”Bayi ini membutuhkan susu, aku menyelamatkannya dari banjir, ibunya hilang tenggelam.”

Amrita segera mengerti. Tadi ia berbicara kepadaku dalam bahasa Khmer, sekarang ia berteriak dalam bahasa burung. Direnggutnya bayi itu dari gendonganku. Maka terkuaklah dari balik pasukan berkuda itu dua perempuan berkuda. Mereka bersenjata pelontar batu yang tergantung di pinggangnya.

”Ia baru saja melahirkan, tetapi bayinya meninggal karena kesulitan hidup dalam perburuan bala tentara Negeri Atap Langit. Tentu ia bisa menyusui bayi ini,” katanya.

Kemudian ia berteriak lagi dengan bahasa burung itu, dan terkuak lagi dari kerumunan pengungsi, para lelaki yang membawa bayi. Jumlah mereka tidak sebanyak yang kulihat sebelumnya.

Agaknya banyak di antara mereka tewas dibantai dan perempuan-perempuan yang menyumbangkan air susunya bahkan habis terbunuh maupun terbakar sehingga jika tidak teratasi tentu bayi-bayi itu pun akan menyusul mati.

Hujan membuat musim dingin seperti mampu membekukan darah, tetapi darahku mendidih karena rancangan kekejaman yang terbaca sebagai pemusnahan suatu bangsa. Kelak akan kuketahui terdapatnya suatu kelompok di Negeri Atap Langit

yang menolak usaha penguasaan An Nam melalui kebudayaan, karena kebudayaan hanya akan memperkaya makna kehidupan.

Kepada musuh hanya layak diberikan kekerasan, dan jika mereka tiada tunduk, tentu saja harus dimusnahkan. Mereka menyebut dirinya sebagai Golongan Murni yang berkeyakinan bahwa hanyalah Negeri Atap Langit yang layak menguasai dunia di atas segala bangsa.

Bayi yang kubawa segera dibawa ibu susu yang menunggang kuda itu, tetapi di antara para lelaki yang mengajukan bayi, hanya dua yang bisa diterima ibu susu lainnya. Amrita berteriak dengan bahasa burung lagi, dan segera muncul dari dalam barisan itu sejumlah lelaki dan perempuan yang kemudian menjemput bayi-bayi tersebut.

Namun Amrita masih terus menerus berteriak, dan sebentar kemudian seorang penunggang kuda datang pula membawa seekor kuda hitam yang tegap.

”Naiklah ke atas kuda itu pendekar, kita sedang dikejar Pasukan Daerah Perlindungan An Nam, dan kita bermaksud memancing mereka masuk ke dalam hutan.”ù

Sebetulnya banyak sekali yang ingin kutanyakan kepada Amrita, terutama apa saja yang terjadi semenjak ia diculik Naga Kecil. Namun tampaknya untuk sementara aku memang harus menunda pertanyaan-pertanyaanku, meski aku memang penasaran melihat kenyataan bahwa ia jelas memimpin sebuah pasukan pemberontak. Apakah yang telah terjadi?

Apakah yang sedang dilakukannya?

”Bagaimana dengan para pengungsi ini?” Tanyaku. ”Mereka tetap tinggal di sini,” kata Amrita, ”Pasukan pemerintah tidak akan mengusik para pengungsi, tidak sepertipara pembunuh dari Golongan Murni.”

Pasukan bergerak menuju ke hutan tempat aku telah menyalurkan prana pohon ke dalam tubuh bayi itu untuk menghentikan pendarahan dari hidungnya. Sejumlah

orang ditinggal untuk membangun kembali gubuk secepatnya, sembari menanti selesainya penyusuan bayi-bayi.

Nanti jika pasukan pemerintah datang, akan semakin banyak perbekalan mereka dapatkan, tetapi pada saat itu para anggota pasukan pemberontak sudah harus pergi, jika tidak ingin tertangkap dan dihukum mati!

127: Di Hutan Larangan

Dengan bahasa Sansekerta yang tidak terlalu banyak dikuasai di wilayah yang dikuasai Negeri Atap Langit ini, sembari berkuda di sebelahku Amrita menceritakan secara singkat apa yang penting kuketahui sebelum dan sesudah penculikan dirinya oleh Naga Kecil.

Pertama, saat menengahi pertarunganku dengan Naga Kecil di lorong gua di dalam danau, ia memang tidak membunuh Naga Kecil. Hubungan cinta keduanya di masa lalu, dan bahwa keduanya merupakan saudara seperguruan, sungguh tidak memungkinkan keduanya saling membunuh.

Mereka memang bertarung dengan keras saat kutinggalkan mengambil napas di permukaan air yang berada di ujung lorong itu, tetapi adalah Naga Kecil yang berkelebat menghilang, karena kesungguhan Amrita melindungi diriku telah sangat melukai hatinya.

”Meskipun ia tidak berbicara seperti kita, tetapi kuketahui segala sesuatu yang dipikirkannya, bahkan bisa berbicara kepadanya melalui pikiranku sendiri tanpa harus mengucapkannya. Begitu terluka hatinya sehingga ia tiada berdaya melakukan sesuatu apa. Perasaannya menghancurkan tubuhnya, sehingga tubuhnya itu melebur dengan air, menguap bersama udara, dan hanya membentuk tubuh Naga Kecil kembali ketika perasaannya itu sudah pergi. Perasaannya pergi, tetapi lukanya membekas selama-lamanya.”

Amrita terus bercerita di tengah derai hujan. Ia tidak lagi menampakkan diri sebagai putri istana yang harus dituruti segala kehendaknya, yang bila marah bisa membunuh ribuan manusia. Tentu ia tetap cantik dan tetap jelita, tetapi ia kini jauh

lebih sederhana, dan tampak lebih sebagai pemimpin daripada kehendak ingin dilayani. Baju tebal musim dingin yang dikenakannya memang lusuh, tetapi justru memberinya wibawa kepemimpinan yang dibutuhkan di tengah perasaan tertekan sebagai pihak yang diburu untuk dimusnahkan. Bagaimana caranya Amrita bisa menjadi pemimpin pasukan pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam ini, sementara ia masih diburu para pemburu hadiah yang disediakan ayahnya sendiri dalam usaha bersikap ksatria dalam penyatuan kerajaan Angkor ?

”Dari luka hatinya itu keluarlah lendir yang membunuh ikan-ikan dan segenap kehidupan di dalam air. Maka Naga Bawah Tanah menganjurkannya pergi, karena jika tidak air di dalam danau itu seluruhnya akan jadi beracun. Begitulah Naga Bawah Tanah menganjurkan Naga Kecil pergi sebetulnya hanya untuk sementara, karena meskipun lukanya akan tetap membekas, lendir beracun akan bisa berhenti, yakni ketika kesakitannya tiada terasa lagi. Namun dalam keadaan seperti itu, Naga Kecil menerima anjuran Naga Bawah Tanah sebagai pengusiran. Hatinya dua kali terluka dan penyebaran lendir menjadi-jadi, sehingga tiada jalan bagi Naga Kecil selain pergi.

”Di dunia awam, Naga Kecil yang tubuhnya bersisik menjadi tontonan, dan memang hanya sebagai tontonan itulah Naga Kecil mendapatkan uang yang dapat ditukarkannya dengan sekadar makanan. Selama luka hatinya masih mengeluarkan lendir, ia tidak diperkenankan masuk air oleh Naga Bawah Tanah, dan karena hidup di dunia ramai di atas daratan yang hanya menjadikannya tontonan. Namun orang-orang dari dunia persilatan tentu saja mengerti siapa Naga Kecil, dan orang-orang persilatan yang telah menjual jiwanya kepada kekuasaan segera menemukan cara untuk memanfaatkan kesaktian Naga Kecil yang sedang tenggelam dalam kegalauan.

”Di wilayah Khmer ayahku Jayavarman II berusaha membangun dan menyatukan Kerajaan Angkor dengan menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, termasuk kerajaan orang-orang Campa; sementara di wilayah An Nam, berlangsung tekanan Negeri Atap Langit yang menjadikan wilayah ini penuh dengan pemberontak yang terdesak ke selatan. Maka, demikianlah, di pegunungan para pemberontak di utara bersaling-

silang dengan para pemberontak di selatan yang terdesak ke utara. Dalam keadaan seperti itu, mereka membutuhkan orang-orang yang tangguh untuk mengatasi tekanan.

Agaknya mereka mengetahui bagaimana kita telah diburu ke segala penjuru, bagaikan tiada tempat lagi di kerajaan ayahku, yang mengerahkan para pembunuh bayaran dan pemburu hadiah ke titik mana pun yang bisa dituju. Mereka mau membantuku dengan pasukan besar, asal daku membantu mereka menjatuhkan kekuasaan Negeri Atap Langit. Masalahnya, bagaimana cara menemui dan membujukku? Maka kemunculan Naga Kecil yang jadi tontonan telah membuat orang-orang dunia persilatan mendapat gagasan: bahwa dengan daya batinnya Naga Kecil akan mampu menemukan diriku, dan memang hanya Naga Kecil yang akan mampu menculikku dari dirimu, yang mereka ketahui tidak terkalahkan selama berada di tanah ini.”

Aku mengerti sekarang, bagaimana dunia persilatan yang hanya terdengar seperti dongeng kini menjadi bagian dari pertarungan kekuasaan duniawi di atas bumi. Naga Kecil yang dongeng percintaannya dengan Amrita telah banyak diketahui orang, dianggap akan mudah dipengaruhi oleh apapun yang terhubungkan dengan Amrita. Segala sesuatu yang dianggapnya baik bagi Amrita, pasti akan dilakukannya, apapun syarat dan pengorbanan yang dibutuhkan untuk itu. Jadi, dalam segala sesuatu yang tidak kuketahui, jika kenyataan baru pertama adalah Naga Kecil tak pernah terbunuh oleh Amrita; yang kedua adalah kenyataan bahwa Amrita sendiri tenggelam dalam permainan kekuasaan dari sebuah keadaan yang sungguh penuh jebakan tipu daya dalam kekacauan

Amrita tidak bodoh. Barangkali ia juga ingin memanfaatkan sesuatu di situ. Aku tidak tahu apa yang berada dalam kepalanya. Lagipula perang siasat dan muslihat dalam saling bersilangnya kekacauan di selatan dan di utara ini selalu menampilkan segala sesuatu yang berada di luar dugaan.

Namun sudah jelas bagaimana Naga Kecil telah diseret oleh sesuatu yang tidak terlalu diketahuinya. Baginya adalah baik jika Amrita memiliki pasukan sendiri untuk menggulingkan kekuasaan ayahnya; tetapi tidak diketahuinya seperti apakah

kekuatan Negeri Atap Langit itu, dalam peperangan panjang yang tidak hanya mengandalkan pertempuran antarmanusia bersenjata, tetapi dengan segala cara penguasaan yang dikenal manusia. Dalam hal itu, Negeri Atap Langit hanya dapat ditandingi oleh kerajaan-kerajaan dari Jambhudvipa. Tanpa mengirim balatentara, pengaruh keduanya turut membentuk kebudayaan di mana-mana, dari Kambuja sampai Suvarnadvipa.

Dalam hal Amrita, tidak juga diketahuinya bahwa meski bukan takmungkin, tetapi mengalahkan pasukan manapun dari Negeri Atap Langit tidaklah mudah; itu pun jika Amrita mampu melakukannya, siapa berani menjamin bahwa perjanjian taktertulis itu akan dipenuhi dengan santun?

Demikianlah Naga Kecil dihubungi, tentu saja melalui suatu daya pengerahan batin seseorang dari dunia persilatan. Tidak dapat kubayangkan betapa dengan kekuatan batinnya Naga Kecil tidak dapat menangkap pesan-pesan yang ditangkapnya sebagai bagian saja dari tujuan yang lebih besar. Dunia persilatan memberi kesempatan manusia menjadi sakti mandraguna, tetapi agaknya belum cukup juga membuatnya peka terhadap segala daya muslihat yang begitu merajalela di atas dunia. Itulah sebabnya aku pun tidak ingin terkungkung oleh cerita dan perburuan ilmu tentang silat sahaja, melainkan juga segala ilmu tentang manusia dan dunia, yang tanpa itu diriku hanyalah akan menjadi gentong nasi yang terbutakan dari kenyataan bahwa dunia ini begitu kaya.

Betapapun kekuatan batin Naga Kecil itu sendiri tentu juga mengagumkan. Tentu memang telah dikerahkan ratusan mata-mata untuk melacak keberadaan kami, yang meski sudah sangat berhati-hati, bisa saja tetap mengundang kecurigaan seseorang, seperti yang telah berlangsung sepanjang penyamaran kami. Namun kurasa memang kekuatan batin Naga Kecil itulah yang dapat menemukan kami dengan tepat, karena saat itu kami sudah berada di hulu Sungai Mekong yang terpencil sekali, dan sudah lama berjalan kaki di dalam hutan naik turun gunung tidak berjumpa dengan satu pun manusianya. Jikalau pun ada yang menguntit, kujamin kami telah mengetahuinya, karena memang berhari-hari kami berjalan di

wilayah yang tampaknya belum dirambah manusia, sebelum tiba di pangkalan perahu-perahu yang berangkat ke hilir itu.

Sebagai saudara seperguruan, keduanya telah mengetahui kelemahan masing-masing, dan itulah penjelasannya kenapa Amrita dapat diringkusnya dengan mudah.

”Ia menggunakan mantra yang diberikan guru kepadanya, dan tidak kepadaku,” kata Amrita,”karena memang hanya bisa digumamkan oleh lidah yang bercabang. Waktu tersadar daku sudah dikerumuni banyak orang dan sangat marah karena kupikirkan selalu tentang dirimu.

Apakah yang dikau rasakan saat itu?”

Aku tidak menjawab, dan hanya tersenyum saja, menyadari semakin mustahilnya hubungan kami. Seorang pengembara dalam perjalanannya tidak berhenti untuk menikah dan punya anak. Ia bisa jatuh cinta, tetapi ia tidak mungkin setia. Seorang pengembara hanya bisa mencintai dan setia kepada perjalanan itu sendiri. Lagipula apakah yang bisa kulakukan dengan seorang perempuan yang kini memimpin sepasukan pemberontak seperti Amrita, yang juga sedang terlibat dalam permainan kekuasaan rumit yang tidak kukuasai sama sekali.

Amrita tampak kecewa aku tidak mengeluarkan suara, tetapi ia berusaha menutupinya.

”Namun setelah tertawan beberapa lama, diikat di atas kuda dan dibawa keluar masuk hutan, dan selama itu Naga Kecil menjelaskan dengan tenang keberadaan dunia yang lebih nyata, daku pertimbangkan tawaran orang-orang Viet untuk bergabung. Mereka janjikan padaku bantuan sepenuhnya untuk menyerang Angkor jika Thang-long bisa direbut, dan kemungkinannya besar karena Wangsa Tang sedang melemah. Suatu pasukan pemberontak yang besar jumlahnya telah berkumpul di Hoa-lu 1) dari segala penjuru. Bergabunglah denganku pendekar, agar dapat kita bebaskan negeri ini dari penindasan Negeri Atap Langit!”

AMRITA terdidik bukan hanya dalam ilmu silat, tetapi juga cara mengatur siasat dalam pertempuran dengan pasukan berjumlah besar. Menghadapi balatentara

Negeri Atap Langit yang sangat terlatih dalam pertempuran-pertempuran besar, pasukan pemberontak yang berasal dari berbagai macam golongan, tetapi sebagian besar adalah petani, sangat membutuhkan kepemimpinan seseorang seperti Amrita.

Saat itu kami telah memasuki hutan. Hujan masih deras, tetapi di dalam hutan yang rimbun kederasannya sama sekali tidak terasa. Amrita masih sempat bercerita tentang Naga Kecil, yang mengaku ingin mengembara untuk mendapatkan pengalaman di dunia orang awam, tetapi tidak disangkanya sengaja menanti kedatanganku, dan melakukan segala usaha untuk memusnahkan aku, sembari melanggar larangan gurunya untuk tidak memasuki air sebelum luka hatinya sembuh. Maka aku tahu bukan hanya kemungkinan terbunuhnya bayi itu yang membuat Naga Bawah Tanah turun tangan, melainkan terbunuhnya makhluk-makhluk air takbersalah maupun manusia karena banjir bandang yang diarahkan kekuatan batinnya untuk menyapuku. Meski air pasang adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di sepanjang tepian Sungai Merah, seorang mahasakti seperti Naga Bawah Tanah tidaklah dapat dikelabui oleh muridnya.

Namun setelah mendengar cerita Amrita aku merasa sangat iba kepada Naga Kecil dan kehidupannya, dan betapa secara tidak langsung aku telah menjadi penyebab akhir hidupnya yang mengenaskan, yakni mati di tangan guru yang dulu telah menyelamatkannya dari dalam perut ular sanca itu sendiri.

Tiba-tiba Amrita mengangkat tangannya, dan gerak barisan ini langsung berhenti. Dalam kegelapan hutan yang meruapkan bau kayu dan dedaunan basah, hanya terdengar suara tetesan hujan yang merayapi daun-daun lebar sebelum sampai ke tanah. Hujan lebat di luar hutan masih terdengar, tetapi jelas juga bagi kami semua terdengarnya ringkik kuda berkali-kali. Dengan berbagai macam gerakan tangan yang tidak kupahami maknanya, Amrita mengatur agar pasukan itu bersembunyi dalam suatu kedudukan tertentu.

Mula-mula setiap orang yang turun membisikkan sesuatu ke telinga kudanya. Mungkinkah supaya kuda itu tidak meringkik bahkan jangan pula mendengus? Lantas setiap orang yang bersenjata panah melenting dengan ringan ke atas dahan yang serba melintang dengan dedaunan rimbun.

Malam begitu gelap. Aku tertegun. Ini bukan sembarang pasukan pemberontak yang hanya mengandalkan kemarahan dan perasaan diperlakukan tidak adil. Ini suatu pasukan yang sangat terlatih. Seusai pasukan panah, melesat pula para pelempar batu, termasuk dua perempuan yang agaknya sudah selesai tugasnya menyusui bayi.

”Kita akan menyergap mereka di sini,” bisik Amrita selintas, ketika melesat ke arah setiap regu dari pasukan besar dalam hutan itu.

Ratusan orang dalam pasukan itu bagaikan lenyap ditelan bumi. Semua kuda ditinggal, dan setelah mendapat bisikan, ratusan kuda juga tenang. Pernah kuketahui adanya mantra para pawang kuda, yang dapat digunakan untuk meminta kuda itu berlari lebih cepat, melompati jurang, menggigit, atau justru untuk diam seperti sekarang. Kukira Raja Pembantai dari Selatan juga mewariskan mantra-mantra untuk mengendalikan kuda, tetapi sampai sekarang pun aku belum sempat menengoknya.

”Ini sebetulnya hutan larangan,” bisik Amrita setelah kembali ke dekatku, sembari menggamit tanganku, ”para tetua desa pernah menyatakan hutan ini terlarang untuk dirambah, karena akan merusak kehidupan desa-desa di sekitarnya.”

Aku tahu siasat orang-orang bijak yang menjadi tetua desa, juga di Jawadwipa, yang mengatakan suatu hutan adalah keramat, sehingga menjadi hutan larangan yang tidak akan dirambah manusia. Orang-orang bijak mempunyai pandangan jauh ke depan. Mereka mengetahui penduduk desa menebang pohon-pohon, menjadikannya tiang bangunan atau kayu bakar, dengan kecepatan yang tidak terimbangi oleh tumbuhnya pohon-pohon itu kembali. Para petugas kerajaan terkadang bahkan mengerahkan ratusan sampai ribuan orang untuk masuk ke dalam hutan dan menebang pohon, demi pembangunan istana-istana para penguasa, yang hanya akan habis dibakar manakala musuh berhasil menguasainya. Maka pada bagian-bagian tertentu dari sebuah hutan, mereka sebutlah hutan itu sebagai hutan yang terlarang untuk dirambah manusia. Dilarang untuk memburu binatang di hutan itu, dilarang untuk bahkan mematahkan sepotong ranting, apalagi menebang pohon. Dengan demikian memang tiada gunanya manusia masuk ke

sana, kecuali untuk melakukan tapabrata atau bersamadhi, yang akibatnya tentu harus ditanggung sendiri.

Tidaklah jarang bahwa orang-orang sadhu dari pemuja Siva maupun Visnu masuk ke sana dan tidak pernah kembali. Ular dan harimau tentu taktahu menahu apakah makhluk di hadapannya adalah orang suci yang tinggal kulit dan tulang, karena dalam keadaan lapar hanya makhluk inilah yang tidak bergerak menghindar ketika di dekatinya. Dalam hal ular sanca yang besar, konon orang sadhu itu ditelan utuh begitu saja dalam samadhi, karena ketika dilibat dan diremukkan tulangnya barangkali memang rohnya telah menyatu dengan Roh Besar di luarnya, seperti udara dalam bambu yang menyatu dengan udara di luar bambu. 2)

Jadi memang tidak ada hantu di hutan larangan, tetapi terlalu banyak cerita yang terlanjur dipercaya sebagai nyataósemua orang bijak tahu itu, dan orang bijak tidak selalu tua, tetapi juga bisa muda seperti Amrita, sehingga ia tidak punya beban untuk membawa masuk pasukannya bersembunyi si sana. Namun bagaimana kalau kepala pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam tidak kalah bijaknya dengan Amrita?

Amrita memberi tanda agar segenap pasukannya benar-benar takbersuara. Saat itu hujan telah berhenti sama sekali.

128: Maut Berkelebat dalam Kegelapan

SUNYI tidaklah tanpa suara. Dalam kegelapan hutan, kesunyian memberikan suatu dengung yang sama sekali tidak berbunyi. Namun perasaan tegang karena menanti kedatangan pasukan lawan membuat dengung itu terasa bagaikan denging. Semua orang memegang senjatanya erat-erat. Mereka telah berbulan-bulan diburu oleh pasukan pemerintah yang memang bertugas untuk menangkap mereka, sehingga meskipun belum pernah berhadapan, adu siasat sebetulnya sudah lama sekali berlangsung. Peperangan antara pasukan pemerintah yang kuat dengan pasukan pemberontak yang tidak terdiri atas prajurit terlatih, sebetulnya tidak pernah merupakan pertempuran berhadapan di suatu lapangan, melainkan seperti

permainan lempar dan sembunyi. Pasukan pemberontak menyergap secepat kilat, tetapi untuk segera menghilang kembali.

Siasat seperti itu bukan tidak dikenal oleh para ahli siasat perang Negeri Atap Langit yang sejarahnya sendiri juga penuh dengan pemberontakan dan peperangan. Seorang ahli falsafah perangnya sekitar 1300 tahun lalu berkata: dalam seni perang, jika kekuatanmu sepuluh kali kekuatan lawan, kepunglah dia; jika lima kali kekuatan lawan, seranglah dia; jika dua kali kekuatan lawan, ceraikanlah dia; jika seimbang dengan kekuatan lawan, dikau dapat bertempur melawannya; jika kurang daripada kekuatan lawan, dikau dapat mundur; jika tidak setara dengan kekuatan lawan, dikau dapat menghindarinya. 3)

Namun apakah yang sedang terjadi sekarang? Pasukan Amrita berlaku seperti sedang terdesak dan tiada jalan lain selain masuk hutan. Tidakkah pasukan lawan yang mengejarnya tahu betapa di dalam hutan ini para petani mampu bergerak seperti harimau kumbang, sehingga kekuatan setiap orang bagaikan berlipat ganda sepuluh kali menghadapi pasukan yang tak berdaya dalam kegelapan?

Itulah persoalannya. Jika kesunyian telah menusuk begini rupa, tidakkah lawan yang mengetahui kami memasuki hutan ini, lantas sengaja tidak memasuki, dan mengepungnya saja dari luarnya? Kesunyian itulah yang mengepung kami sekarang, karena jika lawan masuk tentu ia tidak ingin bersuara supaya tidak dengan mudah menjadi sasaran, dan apabila demikian tentu kami pun takjuga ingin bersuara sama sekali, karena dalam kesunyian seperti ini siapa yang menimbulkan bunyi nyawanya akan melayang lebih dahulu. Demikianlah kesunyian ini semakin menjadi dengung yang mendenging.

Dalam gelap Amrita menatapku dan kutatap pula matanya. Meski malam sungguh kelam untuk dapat dengan tegas saling memandang, kurasakan cintanya yang masih membara dan kebahagiaan betapa diriku berada di dekatnya. Dalam saat-saat menegangkan seperti sekarang kurasakan keharuan yang diakibatkan oleh pertemuan dan perpisahan

Kusadari betapa tidak mungkin diriku hidup bersamanya seperti pasangsan pendekar yang telah mengasuhku, Sepasang Naga dari Celah Kledung, karena meski kami segera menyatu kembali dalam sekilas tatapan, kepentingan kami masing-masing dalam kehidupan tidaklah mengarah kepada sesuatu pun yang akan membuat kami hidup bersama. Amrita adalah seorang perempuan yang berselancar di atas gelombang kekuasaan, yang dapat menikmati debur dan empasan ombaknya sebagai tantangan permainan, sementara diriku yang hanya ingin mengembara, mereguk pengalaman dan mencari pengetahuan, tentu suatu hari pasti akan pergi, menuruti langkah kaki yang dihela kata hati.

Merenungkan diriku sendiri menjelang pertempuran dalam kegelapan antara hidup dan mati, membuat aku malu sendiri membandingkan diriku dengan setiap orang yang siap bertempur ini. Betapa setiap orang dalam pasukan ini mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah tujuan mulia dan pasti, apapun itu setidaknya sebuah tujuan, yang dimuliakan dan dipastikan dalam pembermaknaan, tempat setiap orang siap berkorban; tidak seperti diriku, yang hanya mengambil dan menikmati segala sesuatu dalam kembara perjalanan, hanya untuk diri sendiri dan sungguh hanya untuk diriku sendiri semata. Tidakkah perbandingan ini sangat memalukan?

Jika aku siap maka itu hanyalah kematian yang memang direlakan tetapi atas nama kesempurnaan ilmu silat dalam puncak pencapaian, betapa nyawa pun diberikan untuk mencapai kesempurnaan diri pribadi dan sama sekali bukan suatu pengorbanan, kecuali dikatakan pengorbanan demi kesempurnaan diri dalam ilmu persilatan. Jika aku mati dalam pertarungan maka aku hanya akan mati untuk diriku sendiri. Menolong, membela, dan berpihak kepada siapapun yang lemah dan menderita adalah kewajiban seorang pendekar, tetapi di sungai telaga dunia persilatan hanya golongan putih yang menjadikan kewajiban semacam itu menjadi tujuan, sedangkan para pendekar golongan merdeka, yang tidak pernah mendirikan perguruan dan selalu mengembara, meski tidak akan menghindari kewajiban yang sama, menjadikan kesempurnaan ilmu silat sebagai tujuan hidupnya.

Kini aku berada di sini, di dalam hutan yang gelap ketika pasukan pemberontak yang dipimpin Amrita berada di ambang pertempuran melawan pasukan pemerintah yang

kekuatannya tidak bisa dianggap ringan, karena dengan segenap pengalaman dalam sejarah pemberontakan dan peperangan Negeri Atap Langit, menghadapi para pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam ini telah dikirim pasukan yang memang dikirim setelah mempelajari siasat pasukan pemberontak dengan cermat. Jika untuk memburu penjahat yang sukar ditangkap cara terbaiknya adalah menggunakan penjahat lainnya, maka cara terbaik melumpuhkan pasukan pemberontak yang menyergap serentak dan segera menghilang lagi tentu adalah menggunakan pasukan lain yang sangat mengenal cara-cara itu, yakni pasukan pemberontak juga.

Demikianlah Amrita sempat bercerita, ”Dalam beberapa bulan terakhir ini banyak sekali pasukan pemberontak yang menyerah karena dirongrong dari dalam dengan segala macam kebocoran rahasia dan adu domba. Namun yang sangat menyedihkan adalah penggunaan pasukan pemberontak yang menyerah itu untuk menghadapi dan memburu pasukan pemberontak lainnya. Pemerintah Daerah Perlindungan An Nam telah mendapat banyak keberhasilan dengan cara itu, sehingga di daerah selatan tinggal pasukan kami yang masih selamat, dan setiap kali suatu pasukan dilumpuhkan selalu berhasil dilebur dan bergabung untuk memburu kami. Maka karena sudah sangat saling mengenal siasat masing-masing, kami berusaha mengelabui mereka dengan cara-cara yang mereka kira sudah mereka kenal, padahal kami sedang menjebaknya. Namun tentu saja masih mungkin mereka pura-pura saja dapat dijebak, sebagai suatu jebakan lain.”

Kusadari betapa rumitnya siasat jebak menjebak seperti itu, sehingga memang benar betapa pentingnya peranan seorang mata-mata. Sun Tzu, ahli seni perang Negeri Atap Langit itu berkata: … yang menyebabkan raja bijaksana dan panglima ulung bergerak dan mengalahkan musuh, dan mencapai hasil yang melampaui apa yang dapat dicapai orang banyak, adalah mengetahui lebih dulu. Mengetahui lebih dahulu itu tidak dapat diperoleh dari makhluk halus dan dewa dengan membaca ramal, tidak dapat ditebak dari dalam berdasarkan banyak peristiwa yang telah dialami, tidak pula dapat diduga dari luarnya betapapun cermatnya perhitungan penuh kepastian, melainkan dapat diperoleh dari orang yang mengetahui keadaan musuh.

ORANG yang mengetahui keadaan musuh itulah rumusan seorang mata-mata. Menurutnya terdapat lima jenis mata-mata, yakni mata-mata setempat, penduduk daerah musuh yang digunakan sebagai mata-mata; mata-mata dalam, petinggi musuh yang digunakan sebagai mata-mata; mata-mata ganda, mata-mata musuh yang berbalik digunakan sebagai mata-mata; mata-mata mati, yang digunakan membocorkan keterangan menyesatkan kepada musuh; dan mata-mata hidup, yakni mata-mata yang memang dikirim untuk menyelidiki dan kembali dengan segala keterangan perihal keadaan lawan.

Menurut Sun Tzu pula, jika kelima jenis mata-mata ini serentak digunakan, tidak seorang pun boleh mengetahui rahasia jaringan mata-matanya…dan itulah yang disebut sifat dewa. Mata-mata dengan sifat seperti ini adalah harta raja yang tiada ternilai harganya. 5)

Amrita belum sempat bercerita lebih jauh tentang keadaan jaringan mata-matanya, tetapi keadaan genting sekarang ini, ketika kesunyian siap berubah menjadi hujan maut, jenis mata-mata keempat itulah, yakni membocorkan keterangan menyesatkan, yang mungkin berada di sana, atau juga mungkin berada di sini. Amrita telah bercerita tentang adu siasat, meski tak pernah saling berhadapan, jadi seharusnya ada mata-matanya di sana yang menjadi dasar pertimbangan lawannya pula.

Segera kutanyakan dengan bahasa isyarat kepada Amrita, adakah pasukan ini mempunyai mata-mata di pihak sana. Dalam kegelapan masih dapat kulihat ia menggeleng dengan pandangan mata bertanya-tanya.

Aku harus berpikir cepat: Amrita mengambil keputusan tidak berdasarkan pertimbangan dari langit, melainkan karena penjelasan para kepala regu dan anggota pasukannya. Jika harus ada yang tersesat, maka yang tersesatkan mestinya adalah pasukan Amrita, karena tidak ada pasukan dalam pendidikan Negeri Atap Langit yang tidak akan mengirim mata-mata mati ke pihak lawan dalam peperangan panjang seperti sekarang. Kesunyian sungguh mencekam. Apabila pasukan Amrita mengira akan bisa menjebak lawan dalam hutan larangan, mengapa

kita tak harus berpikir bahwa pasukan Amrita sedang dijebak oleh lawan di hutan larangan. Bagaimana cara menjebaknya?

Kemungkinan pertama adalah tidak masuk ke dalam hutan melainkan mengepungnya; kedua, masuk ke dalam hutan dengan kepastian untuk mengalahkan musuh, yang telah mereka kenali segenap kemampuannya, termasuk dengan cara seolah-olah terjebak lebih dahulu, untuk kemudian memberikan serangan mematikan; ketiga, melakukan kedua-duanya, menyerang masuk hutan dan mengepung, agar jika serangannya tak berhasil melumpuhkan lawan maka kepungan tetap bisa dijalankan. Kupikir kemungkinan ketiga itulah yang akan dijalankan, sehingga harus dilakukan tindakan di luar perhitungan tersebut, yakni bahwa kepungan itu sendiri bisa dikacaukan. Mereka mungkin telah memperhitungkan kemampuan setiap orang, termasuk cara menghadapi Amrita yang ilmu silatnya belum kulihat ada yang bisa melawan; tetapi siapa pun tentu saja tidak memperhitungkan keberadaanku. Dalam keadaan senacam itu, dan suasana sepenting ini, keputusan berada di tanganku untuk mengubah dan membalik keadaan.

Kugamit Amrita sebentar, kubisikkan sesuatu ke dalam telinganya, lantas aku berkelebat. Dalam kegelapan, tiada dapat kuandalkan mataku sepenuhnya menghadapi kepungan musuh, maka kupejamkan mataku dan kugunakan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang.

Dengan segera dalam keterpejaman terlihat bahkan embusan napas orang-orang yang mengintai dalam suatu warna tertentu. Dengan penguasaanku yang semakin matang terhadap ilmu pendengaran ini, setiap kecenderungan terlihat dalam suatu pijar warnanya masing-masing dalam kegelapan. Jika sosok tubuh terlihat sebagai garis pijar redup warna hijau, maka dengus napasnya terembus sebagai uap berwarna kuning, dan setiap senjata yang disandang, di mana pun diselipkan, jika digerakkan karena akan digunakan segera tampak sebagai pijar kebiruan, apakah itu penggada batu maupun jarum-jarum rahasia yang berlesatan.

Namun yang luar biasa dari penguasaanku sekarang, bahwa dalam keterpejaman niat membunuh dan mencelakakan terlihat sebagai pijar redup di sekitar dada dengan warna merah.

Demikianlah aku melayang dalam kegelapan hutan, tidak menyentuh bahkan sebatang ranting maupun dahan. Ternyata pihak lawan mengirimkan pengintai terbaik sebagai lapisan terdepan, mereka memang berkemampuan tinggi jika dilihat dari kemampuannya berkelebat dalam kegelapan tanpa menyentuh dedaunan. Jumlah mereka hanya satu regu, tetapi kemampuannya sangat tinggi untuk mengacaukan dan mendobrak jebakan yang sudah dipersiapkan, artinya mereka inilah yang pertama kali harus dimusnahkan.

KEMAMPUAN mereka memang tinggi dalam melayang di antara pepohonan seperti terbang dengan jejakan-jejakan ringan kadang bahkan hanya dengan sentuhan tangan pada dedaunan. Dalam gelap, seluruh tubuh mereka dibalut kain hitam, sehingga pasukan Amrita yang mengira akan mampu menjebak dengan mudah tiada akan melihatnya bahkan tersergap dan tenggelam dalam kekacauan. Saat kekacauan menimbulkan kepanikan itulah lapisan kedua yang memang dipersiapkan untuk menyerbu masuk akan mampu menyerang dengan penuh kejelasan atas kedudukan lawan. Jika serangan ini tidak berlangsung sempurna, apakah itu masih ada lawan yang tersisa dan lari keluar hutan, bahkan mungkin saja mampu menggagalkan serangan, maka masih barisan pengepung yang telah melingkari hutan larangan. Terlihat betapa cermat siasat itu dijalankan, tetapi kini sudah waktunya untuk dikacaukan.

Orang pertama yang melayang paling depan tak mengira aku seolah akan menabraknya dari depan. Saat ia mencoba berkelit kedua jari tangan kiriku telah menotok jantungnya, sehingga berhenti seketika dan mengakibatkan kematian. Namun bukanlah kematian benar yang menjadi kesulitan untuk diadakan, melainkan bagaimana cara kematiannya takdiketahui yang lainnya karena akibatnya belum dapat diperhitungkan. Jadi menotok jantung dan membunuhnya bagiku cukup mudah dalam kecepatan takterlihat di tengah gelap, tetapi setelah itu menjaga agar tubuhnya tak jatuh bersuara serasa bagaikan pekerjaan yang maha berat. Sekali

terdengar suara kematian seorang anggota regu pelopor ini, saat itu mereka akan berbalik mengundurkan diri, karena sadar akan hadirnya kekuatan di atas kemampuan, dan memilih untuk hanya melakukan pengepungan.

Maka aku harus berkelebat sangat amat cepat, sehingga setelah menotok jantung dan lawan melayang ke bumi, aku dengan segera sudah berada di bawah untuk menyambut tubuhnya agar tidak terjatuh tanpa suara. Namun aku tidak bisa meletakkan tubuhnya di atas tanah begitu saja, meskipun berada di balik semak dan onak berduri rapat, karena masih berkemungkinan ditemukan oleh pasukan penyerbu lapis kedua yang mengira segala jebakan pasti telah dibersihkan. Tentu saja lapisan pertama yang ditembuskan masuk ke dalam hutan memang suatu regu yang tidak terdiri dari sembarang orang. Bahkan harus kukatakan betapa mereka ini berdasarkan kemampuannya sungguh setara tingkatnya dengan para pendekar pilihan. Bahwa dengan tingkat ilmu silat setinggi itu mereka tidak mengembara sebagai pendekar, tetapi memilih untuk menjadi prajurit tanpa nama adalah sebesar-besarnya pengabdian.

Bersama tubuh yang kuterima agar tak jatuh berdebam aku melesat ke atas pohon dan mengikat orang yang baru saja meninggal itu dengan sulur akar-akaran pada dahan yang melintang dan segera berkelebat kembali. Meski kecepatanku bergerak jelas melebihi kecepatan kata-kata menceritakannya, tetaplah harus kuceritakan kesulitanku bahwa takmembuat suara ini merupakan pekerjaan yang sungguh tidak ringan. Jika aku dapat memburu dan melumpuhkan lawan dengan mata tertutup, berkat ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, ketika menerima tubuh dan membawanya melesat ke atas serta mengikatnya, aku merasa tetap menggunakan ilmu pendengaran itu adalah berlebihan, jadi aku melakukannya dengan mata terbuka dan saat itu telingaku bekerja hanya sebagai telinga awam biasa. Tanpa alasan yang kuat, pelepasan ilmu pendengaran dalam kegelapan itu ternyata berakibat.

Setelah naik turun tiga kali untuk menyambar, melumpuhkan, dan mengikat tiga lawan dengan sulur akar-akaran dengan cara yang sama, justru tiga lawan lagi datang sembari melepaskan serangan kilat tanpa suara tanpa kuketahui

sebelumnya. Aku yang baru saja mengikat tubuh segera berkelit ke baliknya. Duabelas pisau terbang pun menancap di tubuh itu, sementara aku melenting ke atas tanpa suara pula ketika ketiganya serentak tiba. Kutotok ketiga tengkuk mereka dari belakang sebelum mereka sadar betapa pisau-pisau terbang mereka menancap pada tubuh kawannya sendiri. Aku bergerak cepat meringkus ketiga orang yang napasnya sudah tersumbat dengan akar-akaran sebelum mereka terjatuh berdebum tanpa nyawa, kali ini tanpa membuka mata, karena hanya dengan memegang ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang aku dapat melihat dalam keterpejaman dan lebih dahulu menyerang.

Enam orang berkelebat lagi pada enam titik yang segaris tanpa mengetahui betapa kawan-kawan mereka yang melesat sebelumnya sudah mati. Dari ilmu silat dan meringankan tubuhnya yang sangat tinggi, kuperkirakan hanya duabelas orang itulah yang diandalkan sebagai regu pelopor untuk menembus hutan, karena memang layak dipertimbangkan tidak akan terjebak perangkap lawan, bahkan sebaliknya mampu menjebak dan mengacaukan mereka yang mengira setiap saat akan ada yang masuk jebakan.

DALAM keadaan biasa, mereka telah membantai barisan panah dan pelontar batu dari belakang tanpa suara, tetapi yang setelah mayat-mayatnya jatuh berdebum atau berkerosok menyerempet dahan dan semak-semak nan lebat segera menimbulkan kepanikan —saat yang tepat bagi para penyerbu masuk hutan dan menyerang, karena kepanikan yang menimbulkan suara membuat kedudukan pasukan terlacak bagai hari siang.

Demikianlah keadaan ini kubalikkan. Sama seperti cara bergerak keenamnya, kususul satu persatu mereka dengan cara melesat dan berkelebat melalui sentuhan dahan. Sengaja kutepuk yang seorang pada punggungnya dengan tepukan Telapak Darah, sehingga ia jatuh begitu rupa menimpa dahan-dahan dan menimbulkan keributan. Dengan kecepatan melebihi kilat, kelima temannya yang bergerak kususul dengan cara yang sama, tetapi tidak semuanya kuhabisi dengan pukulan Telapak Darah.

Ada yang kusabet dengan pedang yang kucabut dari punggungnya sendiri. Ada yang kudorong begitu saja sehingga kecepatan geraknya tak teratasi dan menabrak batang pohon dengan tulang remuk. Ada yang kusambut dari depan dengan kecepatan tak terlihat sehingga tiada tangkisan apa pun terhadap angin pukulanku yang mematikan. Ada yang kubarengi begitu saja laju geraknya di sampingnya, tetapi ketika ia menoleh aku telah berada di sisi lain tubuhnya dan menotok titik tertentu tubuhnya sehingga prananya bocor seketika mengakibatkan kematian di udara. Ada pun yang terakhir tanpa diketahuinya kujerat kakinya dengan sulur akar-akaran sehingga mendadak terhenti, tergantung dengan kepala di bawah dan tanpa sadarnya berteriak-teriak pula.

Semua ini berlangsung lebih cepat dari kejapan mata, aku melesat cepat hanya dengan sentuhan dan kadang justru dari sentuhan atau jejakan atas mayat-mayat yang masih melayang, dan hanya untuk menyusul yang cukup jauh kuperlukan jejakan pada dahan. Begitulah enam titik penembusan mereka di dalam hutan kujelajahi dengan cepat, amat sangat cepat, bahkan seolah terlalu cepat, dengan tujuan memang untuk membuat keributan seolah-olah tugas kedua belas orang anggota regu pelopor itu telah berhasil menimbulkan kekacauan.

Sun Tzu berkata: dengan menyerbu bagian musuh yang kosong, majumu tidak akan dapat ditahan; dengan mundur demikian cepatnya sehingga tidak tersusul oleh musuh, mundurmu tidak akan dapat dikejar. 6)

Aku telah berada di samping Amrita, ketika para penyerbu masuk sambil membuat suara.

‘’Habiskan mereka,’’ kataku, ‘’sementara kukacaukan lingkaran yang bermaksud mengepung kita sampai akhir zaman.’’

129: Serangan Angin dan Api

Maka aku pun melayang dalam kegelapan hutan, melesat dengan sentuhan dari dahan ke dahan, sementara di bawahku para penyerbu yang tertipu menyerang pasukan Amrita yang telah menunggu. Dapat kubayangkan dalam gelap dan

ketiadaan pandangan mereka tidak menemukan apapun dari keributan yang semula mereka sangka sebagai kekacauan lawan. Saat itulah ratusan anak panah beracun akan meluncur dari atas pepohonan di balik kegelapan, anak panah yang racunnya segera bekerja membiru dan menghitamkan badan. Mereka yang cukup tangkas tentu sempat menangkis anak panah dengan pedangnya yang tajam, tetapi apa lagi yang bisa dilakukan jika pada saat yang sama batu yang dilesatkan para pelontar jitu telah mendera kening atau pelipisnya yang membuat mereka setidaknya pingsan atau mati sekalian?

Masih kudengar jeritan mereka dari luar hutan, ketika para pengepung yang mengira kawan-kawan mereka sedang melakukan pesta pora pembantaian kulabrak dan kukacaukan dengan serangan kilat yang jelas takterlihat di malam gelap segelap-gelapnya kegelapan dari suatu malam yang paling kelam. Mereka tidak kubunuh tetapi hanya kuobrak-abrik dengan sapuan angin pukulan yang membuat mereka terjengkang, terkapar, atau terlontar saling bertabrakan. Barisan yang rapi dalam kedudukan penuh perhitungan dalam pengepungan menjadi berantakan, karena serangan mendadak yang kulakukan telah memancing sayap manapun memberikan pertolongan. Hal ini tidak akan terjadi jika mereka biarkan saja aku dihadapi pasukan dari bagian yang kuserang, dan hanya mengirim seorang atau beberapa prajurit pilihan yang tinggi ilmu silatnya, sementara kedudukan mengepung tetap dipertahankan.

MASALAHNYA aku telah menggunakan Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama yang mengandalkan kecepatan sangat amat tinggi sehingga meski pada dasarnya seranganku berpindah-pindah tetapi terasa bagaikan serbuan ribuan orang dalam waktu berasamaan. Bukan hanya terasa sebagai serbuan ribuan orang yang menimbulkan kepanikan, tetapi bahwa serbuan itu nyaris tidak kelihatan, takhanya karena gelap melainkan sangat cepat, sehingga menimbulkan kepanikan. Kesan itu bertambah kuat karena tak hanya manusia tetapi juga kuda kubuat berpentalan ke udara ratusan depa yang membuatnya meringkik dan ketika jatuh tentu menimbulkan keributan.

Malam seusai hujan di tepi hutan yang semula amat sangat sepi mencekam berubah menjadi penuh teriakan kekagetan dan ringkikan kuda yang sungguh mengacaukan pengepungan. Bintang di langit bertebaran membentuk rasi sayap, menandakan malam yang akan banyak anginnya. Kata Sun Tzu: kobarkanlah api dari mata angin, janganlah menyerbu dari arah yang berlawanan dengan mata angin. 1) Tak kugunakan api di musim hujan seperti ini tetapi kuandaikan seranganku sebagai api yang mengacaukan perhatian dan taktergantung angin karena diriku sendirilah api sekaligus angin yang bergerak atas perintahku sendiri kepada seribu naga penyerbu yang bahkan tak terbayangkan keberadaannya di dalam mimpi.

Malam penuh bahasa burung yang mencericit-cericit dalam kepanikan, tetapi kecepatanku telah membuat segalanya bisa kusaksikan sebagai kelambanan dalam tarian. Hanya satu penyerbu yaitu aku, tetapi barisan pasukan ratusan orang ini setiap orangnya bagaikan baru saja dipukul entah siapa dari belakang. Prajurit yang baru dipukul ini akan dengan cepat menyabetkan pedang tajamnya atau menusukkan tombak runcingnya ke belakang dan demikianlah mereka menjadi saling berbacokan. Setiap sayap barisan menekuk ke dalam dengan tergopoh-gopoh mendatangi apa yang mereka kira sebagai sumber keributan dan pusat serangan, dengan maksud menjebaknya dari belakang. Namun saat itulah setiap lapisan paling belakang dari sayap-sayap barisan yang menyerbu itu kukacaukan.

Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama memang diciptakan oleh seorang ahli siasat perang dan seorang pendekar ilmu silat yang tidak diketahui namanya, karena lembaran lontar pada bagian menyebut nama penulisnya pada Kitab Seribu Naga itu telah hilang ketika ditemukan ayah dan ibuku di sebuah gua di atas gunung. Agaknya penulisnya telah menuliskannya tetapi sengaja melepasnya lagi sebelum menghilang selama-lamanya meninggalkan kitab itu di atas batu datar pada sebuah gua sebagai warisan bagi dunia. Dari lembar-lembar pengantarnya memang disebutkan bahwa jurus ini terutama ditujukan bagi keadaan ketika seseorang harus menghadapi lawan yang sangat tidak seimbang jumlahnya, seperti ketika satu orang harus menghadapi seribu orang —dan terutama jika yang seribu orang itu berkedudukan dan bertatanan sebagai barisan tempur dalam keadaan perang.

Seribu orang yang berkelahi dengan serabutan tidaklah sama dengan seribu orang yang terlatih sebagai prajurit tempur dalam suatu barisan pasukan.

Seribu orang dalam satuan tempur diandaikan akan dan boleh terkecoh menghadapi segala siasat dan pancingan, karena kedudukannnya dalam suatu pertempuran memang mempunyai tujuan. Adapun tujuan itu tentunya adalah mencapai kemenangan. Demikianlah Sun Tzu dengan ungkapan terkenalnya: Umumnya dalam seni perang, menaklukkan negara musuh dengan utuh adalah siasat yang paling baik; mengalahkannya melalui perang adalah yang kedua. Menundukkan satu tentara, satu divisi, satu brigade, satu resimen, satu batalyon, satu kompi, satu peleton, bahkan satu regu musuh sekalipun dengan utuh adalah siasat yang paling baik; mengalahkannya melalui pertempuran adalah yang kedua. Itulah sebabnya, berperang seratus kali dan menang seratus kali bukanlah siasat yang paling baik; menaklukkan tentara lawan tanpa berperang adalah siasat yang paling baik. 2)

Namun aku telah berhasil membuat pasukan yang semula ingin meraih kemenangan dengan pengepungan ini bertempur meski hanya melawan satu orang. Jika pasukan yang menyerbu masuk hutan itu mengalami kegagalan, yang sebetulnya tidak dimungkinkan jika regu pelopor yang terdiri dari dua belas pendekar itu penyusupan dan segenap siasatnya tidak kubatalkan, para pengepung di luarnya akan bertahan selama-lamanya dengan perkiraan yang berada di dalam hutan menyerah tanpa pertempuran. Siasat seperti ini sering dijalankan balatentara Negeri Atap Langit jika mengepung kota-kota besar dengan benteng perlindungan yang kuat. Jika ada sungai melewati kota itu maka akan dituangkan ke dalamnya sumber penyakit dan racun. Demikianlah siasat pengepungan adalah salah satu cara meraih kemenangan tanpa pertempuran. Aku berusaha mengacaukan siasat itu dengan melibatkannya dalam suatu pertempuran tanpa pasukan.

DENGAN Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama diandaikan yang menggunakannya mampu bergerak dengan kecepatan begitu tinggi bagaikan satu orang serentak menjadi seribu orang. Dalam kecepatan sangat tinggi segala gerak yang kusaksikan menjadi begitu pelan, amat pelan, amat sangat terlalu pelan sehingga dengan mudah kutepuk ubun-ubun kepala mereka dan kujungkir balikkan,

kuambil tombak mereka dan kukembalikan ke kedua tangan setelah kupatahkan, kuangkat mereka bersama kudanya dan kulemparkan, kusapu seratus kaki dan terbangkan ke seratus arah tanpa peringatan. Tiada kematian dan hanya kegemparan kuberlangsungkan selama pasukan Amrita menyelesaikan pekerjaan mereka yang mau takmau penuh dengan kekejaman.

Begitulah kecepatanku sangat tinggi tetapi aku merasa melayang selamban kapas, sementara pasukan itu bagaikan patung-patung hidup yang bergerak dengan berat. Ini berlangsung ketika kecepatanku telah melebihi kilat dan nyaris hampir setiap anggota pasukan kusergap. Dari seorang prajurit kurampas seuntai cambuk yang tampaknya terpilin dari kulit ular yang segera kuledak-ledakkan sembari melenting dengan menjejak kepala, bahu, kepala kuda, sepanjang tepi hutan Dengan membuat setiap lecutan menyalakan lelatu api, yang berkilatan bagai kembang api di mana-mana dan kembali lagi sebelum menghilang, kubuat pengacauan ini bagaikan sebuah pesta sambil menunggu pasukan Amrita dari dalam hutan.

Namun muncul pula seorang prajurit sakti berilmu silat tinggi yang tak dapat dikelabui Jurus Seribu Naga Menyerang Bersama dan menyerang langsung dengan dua pedang lurus panjang. Ia mengeluarkan bahasa burung yang tidak kumengerti tetapi jurus kedua pedangnya sungguh mematikan. Kugerakkan cambuk yang kupegang dengan Jurus Ular Mabuk Menelan Tulang yang membuat cambuk itu segera melingkari pedang seperti seekor ular yang melibat sungguhan. Sekali sentak pedangnya terlontar ke udara dalam gelap malam. Dalam sentakan kedua, kuambil pedang dan kusimpan cambuk, dan dengan pedang itu secepat kilat kuselesaikan riwayat sang prajurit yang bisa sangat merepotkan.

Prajurit itu jatuh ke bumi yang menjadi gemuruh karena manusia-manusia yang panik. Dari pernak-pernik busananya kubayangkan dia adalah pemimpin dan bagaimana seseorang akan memimpin pasukan tanpa ilmu silat yang tinggi bukan? Sepintas kulihat hiasan alas dan penutup kakinya yang disebut sepatu itu memang membuatnya berbeda dari para prajurit lain. Hmm. Kata Sun Tzu: Yang kalut dihadapi dengan yang tertib; yang gelisah dihadapi dengan yang tenang. Itulah seni mengatur keseimbangan jiwa seorang panglima. 3) Pasukan pengepung ini semula

mengacu kepada apa yang dikatakan Sun Tzu: Yang jauh dari medan perang dihadapi dengan yang dekat dari medan perang; yang letih dihadapi dengan yang segar; yang lapar dihadapi dengan yang kenyang. Itulah seni mengatur kekuatan sebuah tentara 4) . Namun mereka lupakan satu dari delapan larangan dalam seni perang yang juga dikatakan Sun Tzu: jangan termakan umpan musuh. 5)

Dengan cambuk dan aku menari-nari sambil berkelebatan menyebar lelatu api. Kugunakan lelatu api dari lecutan cambuk itu untuk mengalihkan perhatian. Lantas sengaja pula cambuk kuledak-ledakkan dengan suara keras. Masih menggunakan Jurus Seribu Naga Menyerang Bersama, lelatu api pun tersebar merata sepanjang tepi hutan bersama suara ledakan. Ketika itu sekali lagi pasukan ini bermaksud menjalankan siasat Sun Tzu tentang kedudukan seperti berikut: Mereka yang ahli dalam seni perang menyerupai Shuai Ran, nama sejenis ular yang terdapat di Gunung Chang. Bila ular itu kita pukul kepalanya, ekornya segera datang menolong; kita pukul ekornya, kepalanya segera datang menolong; kita pukul tengahnya, kepala dan ekornya serentak datang menolong.6)

Namun tentu saja kedudukan Ular Shuai Ran ini gerakannya sangat kalah cepat menghadapi Jurus Seribu Naga Menyerang Bersama yang amat sangat cepat untuk menempur dan menghilang. Saat itu pasukan Amrita sudah keluar dari dalam hutan.

BAGAIKAN air bah mereka menggulung pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam yang sedang terkacaukan oleh tipuanku yang membuat mereka mengira sedang berhadapan dengan seribu orang. Pasukan pemberontak ini tidak hanya terdiri dari orang-orang Viet yang melawan penjajahan Negeri Atap Langit, tetapi segenap orang-orang pinggiran yang menganggap kekuasaan yang menindas di mana pun harus digulingkan. Mereka orang-orang tersingkir yang gagah perkasa dan bernyali, serta kepandaian bersilat dan bertempurnya sangatlah tinggi, yang berasal dari negeri-negeri di sekitar An Nam seperti Khmer, Campa, bahkan juga para pejuang dari Pagan.

Gelombang pasang ini mengempas dari dalam hutan bagai naga raksasa kehitaman yang menyeruak dari balik langit malam dan di kepala naga raksasa yang menganga itu kulihat Amrita di atas kudanya maju menerjang di tengah pusaran kekacauan.

Aku mengambil jarak dan mengamati dari atas sebuah batu besar. Amrita terlihat melenting-lenting dengan dua pedang menyebarkan kematian. Para kepala regu di pihaknya yang takkalah sakti mandraguna segera menyusulnya dalam pembantaian. Pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam bagaikan diaduk-aduk dan terlalu banyak yang perlaya pada gebrakan pertama yang luar biasa mengejutkan.

Pada pihak pasukan pemberontak terdapat para pendekar yang nama-namanya baru kuketahui kemudian. Seorang pendekar bersenjata dua bandul besi disebut sebagai Iblis Suci Peremuk Tulang. Dengan senjata bandul besinya ia melayang-layang seperti dewa pencabut nyawa, tak terhitung lagi berapa banyak korban bergelimpangan dengan kepala dan tubuh remuk bagai ditumbuk oleh tenaga raksasa. Ia dinamakan Iblis Suci yang maknanya bertentangan karena meskipun ilmu silatnya mengerikan sebetulnya ia seorang pendeta.

Konon semula ia seorang pendeta Buddha biasa yang tidak dikenal, tetapi semenjak kuilnya dihancurkan pasukan pemerintah karena menampung keluarga pemberontak, ia yang sejak semula ditugaskan menimba ilmu silat untuk menjaga keamanan lantas bergabung dengan para pemberontak. Kini kepalanya tidak lagi gundul, bahkan panjang sampai ke bahu. Ia mengenakan busana kulit hitam yang sudah usang, wajahnya penuh dengan brewok kasar yang beruban, dan matanya merah sehingga berkesan menakutkan. Berapa orang pun yang mengepungnya, sekali ia berputar dengan sepasang bandul terpentang, bandulnya berputar semuanya terpental.

Banyak lagi pendekar golongan merdeka yang bergabung dengan pemberontak, dan setiap orang dari mereka memiliki kemampuan yang istimewa, sehingga pasukan pemberontak yang dipimpin Amrita ini tidak bisa dihadapi sebagai pasukan tempur biasa. Jika prajurit pasukan tempur sangat terlatih sebagai bagian dari gerak seluruh barisan, pasukan pemberontak mampu melakukan hal yang sama, tetapi ketika kedua pasukan berhadapan langsung, para pendekar yang bergabung dengan pemberontak ini jelas memiliki kelebihan ketika bermuka-muka dalam pertarungan satu lawan satu.

Namun pasukan pemerintah juga memiliki prajurit berilmu tinggi yang lulus dari berbagai perguruan silat ternama. Mereka terdiri atas gabungan prajurit yang berasal dari berbagai tempat di Negeri Atap Langit maupun orang-orang Viet sendiri. Untuk membangun pasukan pemerintah di luar wilayahnya, bagian pembentuk pasukan kerajaan biasanya memanfaatkan tenaga para penjahat yang tertangkap, tetapi yang kejahatannya tidak cukup berat, yakni mencuri, merampok, memperkosa, tapi tidak membunuh, sehingga apabila penjara di berbagai penjuru negeri telah semakin penuh, sungguh menambah beban keuangan negara. Mereka inilah yang dibuang ke luar batas negeri untuk menjadi anggota pasukan kerajaan, yang mereka turuti saja karena pekerjaan ini memberikan jaminan hidup yang lebih baik daripada menjadi penjahat kambuhan. Wajarlah jika meskipun telah diberi latihan bergerak dalam kesatuan barisan, dalam pertempuran jarak dekat yang berhadapan langsung muka bertemu muka, watak mereka yang berangasan kembali menyeruak ke permukaan.

Tidak jauh berbeda adalah keberadaan orang-orang Viet di dalam pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam, yang juga terdiri dari penjahat-penjahat kambuhan yang tertangkap dan hanya akan menghabiskan banyak makanan atas beaya negara. Sebaliknya, mereka yang berjiwa prajurit dan mencintai tanah airnya tidak sudi bekerja untuk pemerintahan boneka yang dikendalikan dari Negeri Atap Langit, maka mereka pun bergabung dengan pasukan pemberontakan. Sikap mereka ini menarik kesetiakawanan orang-orang tersingkir dari berbagai negara tetangga, yang sangat bisa memahami sikap mereka, sehingga bergabung mendukung perjuangan mereka.

”DI mana pun penjajahan adalah buruk,” kata orang-orang tersingkir ini, ”baik dilakukan bangsa asing, apalagi bangsa sendiri.”

Adalah benar betapa tak kurang dari orang-orang Viet sendiri yang bekerja sebagai pegawai pemerintah Daerah Perlindungan An Nam, karena para petinggi yang berasal dari Negeri Atap Langit tentu tidak mengenal daerah yang diperintahnya sebaik orang Viet sendiri.

Maka dalam pertempuran yang sedang berkecamuk di hadapanku itu, kusaksikan orang Viet berhadapan dengan orang Viet, dan orang-orang Negeri Atap Langit berhadapan orang-orang tersingkir dari negeri-negeri seperti Khmer, Campa, Pagan, Siam, bahkan Malayu! Jika sudah berhadapan seperti itu, apakah masih mungkin memisahkan yang baik dari yang buruk, dan yang dianggap benar dari yang jahat?

Dalam kegelapan, senjata tajam menikam dan senjata tumpul menggebuk, dentang logam disusul percikan api berbintang, darah muncrat, tubuh ambruk, jerit membahana, kepala lepas dari tubuhnya, kuda meringkik, panah melesat, perisai tembus, cambuk meledak-ledak, batu-batu meluncur, dan di atas mereka yang mengadu jiwa para pendekar kedua belah pihak yang berilmu tinggi berkelebat dan melesat-lesat dalam pertarungan antara hidup dan mati.

Amrita dikurung oleh tujuh manusia berangasan yang masing-masing mengenakan senjata penggada, kapak, lembing, toya, cambuk, bandul, dan sepasang golok besar. Mereka adalah Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang, yang busananya berupa kulit harimau, dan bukan pemburu binatang melainkan pemburu manusia dalam perjalanan di sekitar Gunung Wudang di Negeri Atap Langit. Mereka berhasil ditangkap hidup-hidup semuanya ketika sedang mabuk, dan di dalam penjara selalu membuat onar sehingga dibuang ke Daerah Perlindungan An Nam untuk menghadapi orang-orang Viet yang gemar berperang. Ternyata ilmu silat mereka yang tinggi membuat mereka selalu selamat, bahkan kemudian digabungkan dengan pasukan pilihan yang memburu para pemberontak ini.

Kini mereka mengurung Amrita yang sudah lama diincar, sebagai pelarian asal Khmer dan puteri raja Jayavarman II, yang sangat tinggi ilmunya dan menguasai ilmu perang, sehingga pasukan yang dipimpinnya sangat sulit diburu dan dilumpuhkan. Namun kini mereka sudah berhadapan dan Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang mengharapkan suatu hadiah atau peningkatan jabatan, maka mereka ingin meringkus perempuan pemimpin pasukan ini dengan secepat-cepatnya. Mereka saling berkelebat, dan kusaksikan suatu kedudukan yang tentu menyulitkan Amrita yang bertarung dengan dua pedang.

Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang itu tidak mengurung Amrita dalam lingkaran, melainkan setiap orang melingkarinya dalam tujuh tingkatan yang membujur maupun melintang, sehingga Amrita bagaikan terkurung dalam suatu bola yang setiap saat siap merajamnya dalam penyempitan ruang. Kedudukan Amrita sebenarnya sangat rawan karena kedua pedang akan mampu menangkis dua senjata, tetapi lima senjata lainnya akan ditangkis dengan apa? Kecepatan Amrita takdapat mengatasinya karena Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang ternyata memang berilmu tinggi untuk dapat mengimbangi kecepatannya. Namun kusaksikan Amrita segera menggunakan Jurus Penjerat Naga. Aku terkesiap karena jika ia masih menggunakan jurus itu berdasarkan kitab curian yang sengaja dikelirukan, tentu bukan keberhasilan melainkan kegagalan yang berarti kematianlah yang akan diterimanya dalam malam yang telah menjadi semakin kelam.

Demikianlah Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang yang berbusana kulit harimau itu tampak bagaikan tujuh harimau yang siap menerkam seekor anak kambing. Kedudukan seekor anak kambing di hadapan tujuh harimau perkasa tentulah suatu kedudukan yang sangat amat lemahnya, dan itulah kesan yang akan didapat jika Jurus Penjerat Naga dimainkan, yakni betapa jurusnya tidaklah seperti suatu jurus sama sekali. Amrita bagaikan begitu siap diterkam dan dirajam karena seluruh kelemahannya tampak begitu terbuka.

Apalagi, dalam kecepatan yang akan tampak biasa saja bagi yang bergerak sama cepatnya, Amrita tampak terbuka segala pertahanan dengan begitu lemahnya: kedua tangan terpentang, mata terpejam, bibir merekah, seolah tak sedang terancam melainkan bercinta… Ketujuh orang gagah ini bergerak serempak dalam kedudukan yang akan membuat ke mana pun Amrita mengelak tetap saja akan menemui ajalnya. Terbayang sudah hadiah dan pangkat yang akan mereka terima dengan kematian perempuan Khmer yang memimpin pasukan pemberontak dan telah lama menyulitkan pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam.

ORANG pertama yang bersenjata gada mengira mendapat peluang emas untuk meremukkan kepala, gadanya yang mampu meremukkan gajah dalam sekejap telah terayun ke sasarannya. Amrita masih saja terpejam matanya seperti orang tertidur,

gada itu tinggal sejengkal lagi akan meretakkan pelipisnya; tetapi saat itulah kepalanya lenyap dan kepala pemegang gada itu sendirilah yang sudah terlepas dari tubuhnya yang menyuruk ke bumi. Dalam sekejap mata keenam orang gagah sisanya menyusulkan serangan, tetapi tidak lagi berurutan satu persatu, karena memang begitulah jurus mereka dalam pertarungan bersama, bahwa pihak yang kuat menutupi kekurangan bagian yang lemah. Artinya kegagalan adik seperguruan yang bungsu, harus diganti dengan serangan berlipat ganda ancamannya, sehingga dua kakak seperguruan yang di atasnya, pemegang senjata lembing dan toya, pun menyerang bersamaan. Namun saat itu pula kepala keduanya lepas dari batang lehernya.

Dari jauh kusaksikan bagaimana Amrita membantai lawan-lawannya dengan Jurus Penjerat Naga. Sungguh jurus yang sangat berbahaya, karena penampilannya sebagai bukan jurus sama sekali yang membuat lawan mengira telah melihat kelengahan musuhnya. Seperti juga dengan berbagai jurus langka di dunia, Jurus Penjerat Naga mensyaratkan ilmu silat yang sudah sangat tinggi, terutama kecepatan bergerak dan tenaga dalam peringkat para naga. Betapa tidak jika memang ilmu ini diciptakan untuk menghadapi dan mengalahkan para naga?

Aku teringat Pahoman Sembilan Naga, adakah suatu kali harus kuhadapi salah satu dari mereka dan aku mengalahkannya? Bahkan Naga Hitam yang telah menjual jiwanya kepada kejahatan, dan sebaiknya kuburu demi keselamatanku sendiri maupun banyak orang, justru kutinggalkan sampai ke Tanah An Nam ini. Adakah suatu ketika kami akan saling berhadapan? Apakah sebenarnya yang dipikirkan Naga Hitam, jika sampai ke pantai negeri Campa yang membujur dari utara ke selatan para pembunuh bayarannya masih memburuku jua?

Barangkali aku memang telah melakukan persiapan untuk menghadapi Naga Hitam dengan Ilmu Pedang Naga Hitam ternamanya yang belum terkalahkan. Dalam dunia persilatan, jika aku telah membunuh murid-muridnya dan Naga Hitam telah mengirimkan para pembunuh kepadaku, sudah semestinyalah kami pada akhirnya bahkan wajib saling berhadapan. Namun juga di dalam dunia persilatan, jika tidak akan pernah ada lagi yang bisa kukalahkan, jika memang ingin kucapai

kesempurnaan dalam dunia persilatan, maka bukan saja Naga Hitam, melainkan yang manapun wajib kutantang. Jika siapapun dari anggota Pahoman Sembilan Naga tidak menantangku bertarung lebih dulu, karena di sungai telaga dunia persilatan menantang siapapun yang belum terkalahkan adalah keharusan, akulah yang diwajibkan untuk menantangnya.

Kutengok gelanggang pertempuran, dalam kelam Amrita menghindari ancaman cambuk, bandul, dan kapak yang datang dari tiga jurusan secara bersamaan, dan saat itu pula sepasang pedangnya yang pipih, lentur, dan tajam, telah memisahkan kepala ketiganya tanpa mereka rasakan. Orang terakhir, murid tertua dalam Tujuh Pemburu dari Gunung Wudang, tampak lebih cerdik dari yang lain, dan karena itu membatalkan serangan sepasang golok lebarnya. Maka Amrita pun tentu tidak perlu memasang Jurus Penjerat Naga lagi, ia menggulung lawannya dengan dua pedang yang telah berubah menjadi sepasang baling-baling, lantas dimainkannya seperti kipas dalam Jurus Kipas Menggunting dalam Lipatan, yang dengan segera membuat sepasang golok lebar lawannya terpental ke angkasa. Bersama dengan melayangnya kedua golok itu, lenyap pula nyawa pemiliknya dari badannya, ambruk dengan pedang menembus badan dari depan dan belakang.

Pertempuran tampaknya hampir selesai. Jumlah pasukan pemerintah tinggal separuh. Rembulan yang akhirnya muncul dari balik awan memperlihatkan mayat yang bertumpuk-tumpuk. Di pihak Amrita juga jatuh korban, sekitar seratus orang, sehingga kekuatan kini berimbang. Kata Sun Tzu: …dalam seni perang jika kekuatanmu sepuluh kali kekuatan lawan, kepunglah dia; jika lima kali kekuatan lawan, seranglah dia; jika dua kali kekuatan lawan, ceraikanlah dia; jika seimbang dengan kekuatan lawan, dikau dapat bertempur melawannya; jika kurang daripada kekuatan lawan, dikau dapat mundur; jika tidak setara dengan kekuatan lawan, dikau dapat menghindarinya

BETAPAPUN bijaksana segala ujaran sang empu, peristiwa di medan tempur tidak selalu berjalan sesuai perkiraan kitab seni perangnya itu. Dalam dunia persilatan yang melibatkan kesaktian para pendekar yang tak selalu dapat diukur, hukum pertempuran semacam itu bisa terbolak-balik di luar akal sehat, meski kuakui dari

segi falsafah pendapat Sun Tzu tersebut banyak benarnya. Pasukan pemerintah yang siasatnya sudah begitu tepat, menjadi kacau karena para perintisnya yang berilmu tinggi takdisangka dapat tumbang olehku, seorang pengembara tanpa nama dari Jawadwipa.

Amrita mencabut kedua pedang sambil menahan tubuh korbannya dengan kaki. Ia putarkan kedua pedang sebelum memasukkannya kembali ke sarung pedang yang saling melintang di punggungnya. Lantas ia meloncat ke punggung kuda, menoleh ke sana kemari mencariku. Saat itulah aku melesat, karena sesosok bayangan berkelebat dengan kecepatan kilat bermaksud menikam Amrita dari belakang punggungnya. Aku memang berdiri cukup jauh, tetapi dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit segera saja aku telah berada di hadapannya sembari tangan kiriku mendorongkan angin pukulan. Jarum-jarum beracun yang diluncurkannya meluncur balik kepadanya, tetapi hebatnya ia pun bisa menyampoknya sehingga jarum-jarum itu rontok, bahkan telah diuraikannya cambuk di pinggang untuk menyerangku. Maka dengan cambuk kulit ular di tanganku kusambutlah serangannya itu.

Demikianlah pertempuran yang hampir selesai itu kini dimeriahkan oleh lelatu api dari pertarungan kedua cambuk kami yang meledak-ledak mencerahkan malam. Ujung cambuk merupakan bola kecil dengan duri-duri beracun yang setiap kali meledak menyemburkan tepung beracun. Udara malam yang basah segera berbau amis dan suatu mantra penolak racun warisan Raja Pembantai dari Selatan tanpa kuminta segera bekerja melindungi pernapasanku. Kami berkelebatan di atas bahu para penunggang kuda yang masih bertempur tanpa menyadari terdapatnya pertarungan kami yang tidak bisa diikuti mata, kecuali suara meledak-ledak berbunga api yang terdengar di mana-mana. Kuketahui ia menggunakan Ilmu Cambuk Menari di Atas Api yang merupakan ilmu cambuk langka di dunia, yang segera kulayani dengan Ilmu Cambuk Gembala Sunyi, suatu ilmu cambuk yang pernah kupelajari dari salah satu kitab dalam peti kayu warisan orangtua asuhku.

Dengan begitu kedua cambuk akhirnya saling melibat. Kami terpaku di atas tanah saling menyalurkan tenaga dalam ke dalam cambuk, sampai kedua cambuk itu berasap dan menyala. Cambukku bercahaya biru redup, cambuknya bercahaya

merah jingga. Adalah warna yang lebih kuat dan mengubah warna cambuk lainnya yang akan menang karena tenaga dalam yang lebih tinggi tingkatnya. Pertarungan tenaga dalam seperti ini hanya akan berakibat kematian, setidaknya luka dalam yang parah karena tidak mungkin ditarik kembali. Kulirik siapa musuhku dan aku terkesiap. Ternyata ia seorang nenek berambut putih! Ia berbaju musim dingin yang tebal dan mengenakan alas yang disebut sepatu, dengan bebatan kain dari mata kaki sampai ke lututnya. Sungguh perempuan tua yang gagah, tetapi sungguh besar kehendaknya untuk mencabut nyawaku secepatnya.

Saat perhatianku tersita oleh adu tenaga dalam melalui cambuk, ia menyemburkan uap racun kuning dari mulutnya. Kemudian akan kuketahui betapa uap kuning semacam itu akan membuatku kulitku terkelupas dan terbakar. Maka sekali lagi ilmu-ilmu racun warisan Raja Pembantai dari Selatan menunjukkan keajaibannnya, karena tanpa kukehendaki mulutku menyemburkan asap biru muda yang menyambut dan memunahkan segenap daya racunnya. Nenek tua itu untuk sesaat terperangah karena tak menduga, tetapi lebih dari cukup bagiku untuk menyentak lepas cambuk di tangannya yang masih saling melibat dengan cambukku, dan kulecutkan cambuknya sendiri yang menyala merah jingga itu ke tubuhnya.

”Aaaaaarrggh!”

Bukan hanya Amrita, tetapi juga prajurit yang sudah kehilangan lawan dan menonton, bahkan diriku sendiri berteriak terperanjat, karena cambuknya yang menyala seperti bara merah jingga itu begitu lepas dari cambukku dan menyentuh tubuhnya, langsung membuat tubuhnya terbakar seperti obor raksasa!

Aku terperangah. Kubuang cambukku ke tanah dan sentuhan nyala birunya dengan tanah basah menimbulkan asap yang mendesis.

Pertempuran telah selesai. Amrita mendekat, turun dari kudanya dan memelukku dalam tatapan semua orang.

”Pendekar Tanpa Nama,” bisiknya, ”berapa kali daku berutang jiwa?”

Tubuh perempuan tua yang gagah itu masih berkobar menyala, ia perlaya dalam keadaan masih berdiri tegak dengan perkasa.

130:Pengepungan

MUSIM dingin belum berlalu ketika kami mengepung Thang-long saat memasuki tahun baru 797. Gabungan pasukan pemberontak yang turun gunung dari berbagai wilayah di Daerah Perlindungan An Nam memasuki Hoa-lu sebulan sebelumnya tanpa perlawanan sama sekali. Pasukan pemerintah yang semakin terdesak telah meninggalkannya untuk bertahan di Thang-long, yang tidak seperti Hoa-lu, memiliki benteng kuat yang lebih memungkinkan untuk bertahan lebih lama, bahkan mungkin saja membalikkan keadaan dan meraih kemenangan.

Hoa-lu begitu mudah direbut, karena jaringan rahasia pemberontak telah banyak menyabot perbekalan, dan juga melakukan pembunuhan tokoh-tokoh serta para petinggi penting, sehingga tidak ada lagi yang bisa diandalkan memimpin pertahanan. Kota di seberang Sungai Merah, Bo-hai, yang terletak di tepi pantai, bahkan sudah lama menjadi sarang pemberontak itu sendiri, yang sulit dilacak karena berbaur dengan orang-orang asing. Jangan lagi dikata Nghe-an, yang jauh di selatan, tempat pengaruh Negeri Atap Langit tidak terlalu terasa.

Saat itu kekuasaan Wangsa Tang di Negeri Atap Langit memang sedang melemah. Wangsa itu telah berkuasa sejak tahun 618, artinya memasuki tahun ini sudah 179 tahun. Adalah semasa pemerintahan Wangsa Tang maka kota pelabuhan Kwangtung 1) di bagian selatan Negeri Atap Langit itu terbuka bagi perdagangan dengan berbagai negeri asing. Dari kota inilah jalur perdagangan Negeri Atap Langit terbuka, dengan Kedatuan Srivijaya, maupun Jambhudvipa dan Dashi. 2) Seperti berbagai kota pelabuhan lain, kota ini menjadi pusat perdagangan maupun pusat kekuasaan, ke-igama-an, dan kebudayaan. Maka dari barang perdagangan andalan seperti kain sutra berlangsung pula pertukaran yang menyangkut pengetahuan mengenai berbagai bidang tersebut.

Wangsa Tang bahkan mengeluarkan perintah tertulis untuk melindungi para pedagang asing yang bermukim di Kwangtung. Antara 763 dan 778 sekitar empat

ribu kapal asing berlabuh di Kwangtung setiap tahun. Para pedagang dari Dashi yang kudengar memuja Allah yang tak berbentuk dan tak terbayangkan, maupun para pedagang negeri-negeri lain, membuka jalur perdagangan dan bermukim di tempat yang disebut fanfang, bagian kota yang hanya ditinggali orang asing. 3) Namun masa ini sebetulnya adalah kelemahan pemerintahan Wangsa Tang, sejak kaisarnya yang tua, Xuanzong, yang segala kebijakannya bertentangan dengan para penasehatnya, jatuh ke pelukan selirnya yang cantik jelita, Yang Yuhuan, sementara segenap petinggi pemerintahannya berlomba memperkaya diri mereka sendiri.

Pada 755, An Lushan bersekutu dengan Shi Siming untuk mengobarkan pemberontakan, yang terkenal dengan sebutan Pemberontakan An Shi. Mereka adalah pasukan penjaga perbatasan yang bergabung sebagai kesatuan tentara yang kuat. Pertempuran yang dikobarkan para pemberontak ini berlangsung delapan tahun, yang membuat kekuasaan Wangsa Tang menjadi lemah dan memancing lahirnya pemberontakan baru pada tahun-tahun berikutnya di berbagai wilayah, termasuk di Daerah Perlindungan An Nam sekarang ini. Untuk selanjutnya, secara turun temurun Wangsa Tang menjadi semakin rapuh, karena di dalam istana sebagai pusat pemerintahan pun berlangsung permainan dalam perebutan kekuasaan tanpa henti antara jaringan orang-orang kebiri dan para petinggi negara. Pemberontakan yang tiada habisnya membuat banyak penduduk berpindah ke selatan, dan mengubah segala sesuatunya di wilayah selatan, termasuk wilayah jajahannya seperti Daerah Perlindungan An Nam.

Aku tidak mempunyai kepentingan apa pun dalam pertentangan kekuasaan ini. Kuikuti pasukan Amrita yang telah bergabung, bercerai, dan bergabung lagi dengan banyak pasukan pemberontak yang lain, tak lebih dan tak kurang karena Amrita tidak pernah rela kutinggalkan. Aku memang hanyalah seorang pengembara, mengikuti langkah kaki ke mana pun langkah itu menuju sesuai kata hatiku, dan kata hatiku kini masihlah mengikuti Amrita Vighnesvara, puteri Khmer anak raja Jayavarman II yang melawan ayahnya sendiri dalam pemersatuan Angkor. Ketika kami mengembara bersama di wilayah Khmer dan Campa, sebetulnya Amrita menemukan kenyataan betapa suatu rongrongan terhadap kekuasaan ayahnya itu

tidak berguna, karena kehadiran Kerajaan Angkor telah memberikan kebanggaan bagi rakyatnya.

NAMUN kebijakan Angkor pula yang tidak memberi ampun atas langkah-langkah Amrita, yang demi dendam lama nasib ibunya sebagai selir keturunan Tchen-la, bersama kelompoknya telah melakukan banyak pembunuhan rahasia di dalam istana. Seperti telah diketahui, orang-orang Viet yang mengetahui kedudukan dan kemampuan Amrita, berhasil mengajaknya bergabung atas nama perlawanan semesta terhadap penjajahan, terhadap pemerintah Daerah Perlindungan An Nam yang merupakan pemerintahan boneka Negeri Atap Langit.

Begitulah aku mengikutinya atas nama cinta, karena memang tiada kepentinganku dalam perjuangan para pemberontak ini, yang tidak kurang-kurangnya diwarnai pertentangan kepentingan. Namun itu tidak berarti aku tidak mendapatkan suatu keuntungan, karena inilah kesempatanku mempelajari segala macam bahasa. Telah kuceritakan betapa para pemberontak ini, meski sebagian besar memang terdiri atas orang-orang Viet, juga memanfaatkan tenaga tempur orang-orang gagah berbagai suku bangsa. Maka lambat laun, dengan kemampuan berbahasaku yang terbatas, akhirnya bahasa orang Viet maupun bahasa-bahasa Negeri Atap Langit tak lagi terdengar hanya seperti bahasa burung bagiku. Bahkan kukenali juga seperlunya bahasa Pagan dan bahasa Siam, karena rombongan orang gagah mereka bergabung pula dengan para pemberontak ini.

Dengan bekal perbendaharaan bahasa seadanya itu, dalam perjalanan menyelusuri lembah, naik turun gunung, menyeberangi sungai, dan menembus hutan ini, aku dapat bercakap-cakap dengan Pendekar Iblis Suci Peremuk Tulang, bekas pendeta yang berasal dari Sungai Hitam di utara Thang-long, jadi seorang Viet juga, yang sangat menguasai ajaran-ajaran Nagarjuna. Suatu kebetulan yang menyenangkan!

Maka sambil berkuda berdampingan kami dapat bercakap-cakap mengenai pemikiran Nagarjuna, yang kumaksudkan untuk mendorong pengembangan nalar di balik ilmu silatku itu. Ini pula yang terjadi ketika gabungan pasukan pemberontak melakukan pengepungan yang tampaknya akan berlangsung panjang. Pada malam-malam musim dingin yang membekukan tulang, di depan api unggun dalam tugas

jaga kami bersama, percakapan tentang filsafat Nagarjuna dapat memanaskan otak dan menghangatkan badan.

Demikianlah Iblis Suci Peremuk Tulang memilih untuk menjelaskan perihal Nagarjuna sejak awal, memulainya dengan suatu pengantar dan pembahasan tentang latar belakangnya lebih dahulu, sebelum memasuki ujaran-ujaran Nagarjuna. Maka, harap dimaafkan jika terdapat segala sesuatu tentang Nagarjuna yang telah kuungkapkan sebelumnya, karena mantra sihir dalam bahasa Sansekerta yang dipendamkan kepadaku oleh Raja Pembantai dari Selatan memang ujaran Nagarjuna yang suka terbaca tanpa kesengajaan olehku. Belum jelas bagiku, kenapa Raja Pembantai dari Selatan itu menggunakan ujaran Nagarjuna. Seperti telah diketahui, jika kata-kata dalam bahasa Sansekerta itu tidak dikenal, maka mantra itu akan sahih sebagai mantra, karena mantra memang harus berada di luar bahasa. Tidakkah terdapat bahaya betapa tuah mantra itu akan hilang ketika bunyinya menjadi kata biasa bagi yang menguasai bahasa Sansekerta? Betapapun kata-kata Sansekerta yang biasa ini pun sebagai kalimat dalam kenyataannya tidak dapat dengan mudah dipahami maknanya.

Sembari menghadapkan telapak tangannya ke arah api unggun, seperti menyerap prana api, Iblis Suci Peremuk Tulang menjelaskan, ”Takhayul tak masuk akal telah berkembang di sekitar tokoh-tokoh filsafat dan ke-igama-an, nyaris pada hampir setiap aliran dalam igama Buddha. Lebih sering takhayul ini dihembuskan oleh persaingan antar aliran yang terus menjadi penyakit dalam sejarah igama Buddha, khususnya persaingan dua ajaran utama, yakni Theravada dan Mahayana. Berbagai prasangka yang timbul karenanya, cenderung membentuk ajaran filsafat kedua aliran ini terkutubkan kepada asalnya pula, yang dalam kenyataannya mirip bahkan nyaris sama. Keduanya bermiripan dalam kesetiaan kepada ajaran-ajaran dasar Buddha, mereka terbandingkan dalam cara menolak sejumlah gagasan-gagasan adikodrati yang masih terus menempel bagai benalu pada ajaran-ajaran ini.”

”Kedua sisi ajaran Buddha, yang bersifat falsafi maupun yang berlaku untuk kehidupan sehari-hari, dan keduanya saling tergantung, secara jelas tersebutkan dalam dua wacana, yakni Kaccayanagotta-sutta dan Dhammacakkappavattana-

sutta, yang dihargai tinggi oleh hampir setiap perguruan igama Buddha, lepas dari persaingan demi pemisahan yang dilakukan setiap aliran.

KACCAYANAGOTTA-SUTTA dikutip oleh hampir semua perguruan Buddha yang utama, membahas perkara ‘jalan tengah’, dan ditempatkan berlawanan dengan latar belakang dua pemikiran filsafat yang serba mutlak dari Jambhudvipa, yakni atthita atau keberadaan tetap yang diajukan dalam awal Upanisads dan natthita atau kehampaan ketakberadaan yang diajukan Kaum Pemihak Jasad. 4) Kedudukan tengah dijelaskan sebagai paticcasamuppada atau kebangkitan yang tergantung, yang ketika diterapkan kepada perilaku kepribadian manusia dan dunia pengalaman, muncul sebagai ramuan yang berisi dvadasanga atau dua belas penentu. Jalan tengah yang berlaku dalam keseharian dinyatakan dalam Dhammacakkappvattana-sutta, dan dihargai oleh para penganut Buddha sebagai ujaran-ujaran Buddha yang pertama. Di sini, jalan tengah adalah antara dua titik bertentangan kamasukhalliyoga atau penurutan katahati sendiri dan attakilamathanyoga atau pemberian aib kepada diri sendiri, dan berisi ariyo atthangiko maggo atau jalan delapan lipatan menuju kebebasan dan kebahagiaan.’’

Amrita datang dengan kudanya. Melihat wajah kami berdua yang sungguh-sungguh ia pun turun, dan tanpa mengatakan apa pun lantas duduk dan turut mendengarkan.

‘’Sepanjang sejarah igama Buddha,’’ ujar Iblis Suci Peremuk Tulang melanjutkan, ‘’para penganutnya berusaha keras tetap setia kepada peraturan yang ternyatakan dalam dua wacana ini, meskipun pembagian kepada Therevada dan Mahayana, dan dalam tekanan besar baik dari dalam maupun luar, apakah dari rakyat atau dari penguasa, yang memaksa mereka kadang-kadang menyimpang dari ajaran yang asli.’’

‘’Misalnya?’’

Hmm. Cepat sekali Amrita menyela.

‘’Dalam wilayah perdugaan filsafat, terdapat suatu aliran yang bersumber dari Sthaviravada, disebut Sarvastivada, mengajukan pemikiran tentang ‘alam-diri’ atau

‘’hakikat’’ yang disebut svabhava dan sebagian kaum Mahayana menyatakan rancangan pemikiran seperti bodhi-citta atau ‘pikiran dalam pencerahan, yang keduanya, seperti akan daku jelaskan, adalah pemikiran yang bertentangan terhadap dasar ajaran Buddha tentang paticca-sammupadda atau ëkebangkitan yang tergantung’.

‘’Jalan tengah dalam kehidupan sehari-hari dijelaskan dalam Dhammacakkappavattana-sutta yang terkenal itu, yang menambah kepada ataupun menjadi dasar filsafat jalan tengah yang disebut tadi, lebih lemah terhadap pengembangan. Kajian dari keragaman yang luas dari kehidupan igama sehari-hari muncul dari dua peradatan, Theravada dan Mahayana, yang ternyata bertentangan terhadap jalan tengah, yang perbincangannya daku sampaikan nanti.

‘’Jika ingin tahu, daku harus menjelaskan bagaimanakah filsafat jalan tengah ini tahan uji mengarungi zaman, di tengah begitu banyak penafsiran menyimpang dan sesat yang kadang-kadang muncul dalam peradatan igama Buddha. Bertahannya kedudukan tengah dalam filsafat ini berkat jasa pembaharu seperti Mogalliputta-tissa 5) dan Nagarjuna. Pribadi semacam itu muncul dari masa ke masa dan bertanggung jawab atas kelanjutan pesan-pesan Buddha. Kegiatan para pembaharu semacam itu telah diabaikan, seperti dalam hal Mogalliputta-tissa, atau dilebih-lebihkan, seperti Nagarjuna.’’ 6)

‘’Dilebih-lebihkan bagaimana?’’

Amrita yang membaca ujaran-ujaran Nagarjuna melalui lembaran-lembaran lontar di Pertapaan Naga Bawah Tanah, tampaknya merasa perlu bertanya. Ia pernah mengalami akibat yang gawat dengan Jurus Penjerat Naga karena belajar dari kitab curian yang salah. Konon salah memahami filsafat Nagarjuna yang menguji daya jelajah nalar manusia bisa membuat seseorang menjadi gila.

’’ITU akan kujelaskan, Putri Amrita yang perkasa, setelah daku sampaikan bahwa penjelasan tersebut juga bermaksud menunjukkan sumbangan Mogalliputta-tissa, yang karya pentingnya, Kathavattu, tak pernah diperbincangkan di perguruan Buddha mana pun. Sebaliknya, ini justru akan membantu cara kita melihat

kedalaman falsafi dan rohaniah dari Nagarjuna, yang telah dilebih-lebih sampai ke luar batas.’’

Aku tercenung. Apabila ujaran Nagarjuna terucapkan sebagai mantra sihir, tidakkah ini termasuk sebagai cara memperlakukan filsafat Nagarjuna sampai ke luar batas? Aku bersedia kehilangan seluruh daya sihir dan ilmu pemunah racun yang terwariskan akibat paksaan Raja Pembantai dari Selatan, jika demi pengertian yang kudapat aku memang harus kehilangan semua kemampuan yang memang tidak pernah sengaja kupelajari. Aku siap kehilangan segenap daya sihir, apabila segenap kalimat Nagarjuna itu dapat dimengerti oleh penalaranku.

’’Kini baiklah didengarkan apa yang membuat filsafat Nagarjuna diterima lebih dari seharusnya…, awas!’’

Iblis Suci Peremuk Tulang itu berkelebat cepat menangkap sebilah anak panah yang tertuju ke punggung Amrita. Telah terjadi penyusupan! Aku dan Iblis Suci Peremuk Tulang yang bertugas jaga telah menjadi lengah karena tenggelam dalam riwayat suatu pemikiran filsafat yang bernama Filsafat Jalan Tengah.

Amrita berkelebat, dengan segera pedangnya telah memakan korban, tetapi rupanya penyusupan berlangsung tak hanya pada titik yang kujaga. Dari dalam kota pihak pemerintah telah melepaskan penyusup-penyusupnya yang terbaik untuk mengacaukan perhatian para pengepung. Jika pemusatan perhatian bisa dipecahkan, pasukan yang kuat dan segar akan menyerbu dari dalam kota, menggasak kepungan yang telah mengerahkan segala daya dalam keterbatasan ini.

Pengepungan memang belum berlangsung lama, baru beberapa hari saja, padahal mungkin dapat dan berlangsung berminggu-minggu sebagaimana seharusnya sebuah pengepungan dilakukan. Namun kami telah berminggu-minggu melakukan perjalanan naik turun gunung dan keluar masuk hutan yang berat, sehingga meskipun jumlah gabungan pemberontak ini cukup banyak, semuanya berada dalam keadaan letih, dengan perbekalan pangan yang telah semakin menipis. Adapun pasukan pemerintah yang bermaksud menjadikan Thang-long sebagai benteng terakhir, telah memperhitungkan semuanya, dan tentu dalam persiapannya

mengandalkan kesegaran badan sebagai suatu kelebihan. Dalam malam musim dingin yang berat, kelelahan pasukan semakin terasa sebagai siksaaan.

Para penyusup berusaha memecahkan perhatian pasukan pemberontak dengan menciptakan pertempuran kecil pada dua belas titik. Jika pasukan pemberontak terpancing, akan terbentuk dua belas gelanggang pertempuran yang tidak dapat saling menolong, dan saat itulah dari dalam pasukan pemerintah akan menyerbu bagaikan air bah. Tentu saja ini harus dicegah.

Dengan bahasa sandi yang berupa suitan karena lingkaran jari dalam mulut, kusampaikan bahwa pasukan penyusup harus dihadapi dengan jumlah orang yang sama. Ke setiap titik itu dikirim regu penyusup yang terdiri dari sepuluh orang. Berarti 120 orang dengan serentak menyusup dan bergerak ke dua belas sasaran. Tentu saja karena menyusup ke daerah lawan maka dipilih mereka yang ilmu silatnya tinggi dan memang terlatih dalam penyusupan itu sendiri.

Sandi suitan beredar cepat dan maksudnya segera dapat ditangkap. Pada setiap titik hanya sepuluh orang yang diizinkan bergerak menghadapi para penyusup, karena jika nafsu mengeroyok dan membantai para penyusup itu tidak dicegah, kekacauan yang diharapkan akan menjadi kenyataan, sementara para penyusup yang berilmu tinggi menyebarkan maut dengan senjata rahasia sesuka-sukanya.

Segera terdengar denting dan lelatu api karena senjata yang beradu. Sepuluh penyusup dihadapi sepuluh orang yang berilmu seimbang dan sisanya bersiap menghadapi segala keadaan. Kini para penyusup yang seluruh tubuhnya terlilit kain hitam pekat, dan wajahnya kecuali mata juga dilibat kain hitam, bagaikan tikus terperangkap di dalam lubang.

Amrita yang dimaksudkan menjadi korban pertama, agar kekacauan semakin dimungkinkan, mengangkat tangan. Artinya ia ingin menghadapi sembilan orang yang lain, selain dari yang telah dibunuhnya sendirian. Dengan dua pedang yang telah berlumur darah ia memasuki gelanggang yang baru saja diciptakan.

’’Kalian para pengabdi Negeri Atap Langit! Bersiaplah menghadapi kematian!’’

131: Perempuan dan Penyusupan

SEMBILAN penyusup tersisa di titik penjagaanku berjuang keras untuk tidak menjadi tewas di tangan Amrita, dan ilmu mereka yang tinggi memang membuat mereka bertahan agak lebih lama, meski tidak terlalu lama. Dalam malam yang dingin dan kelam, kedua pedang Amrita Vighnresvara, puteri Khmer yang terbuang keluar dari kerajaan Angkor yang dibangun ayahnya, bergerak cepat di antara senjata lawan-lawannya. Pedangnya yang ringan dan lentur itu dapat membabat lepas kain hitam penutup wajah para penyusup tersebut, tanpa melukai kulit wajah mereka sama sekali. Cahaya api unggun segera memperlihatkan wajah mereka. Memang orang-orang Negeri Atap Langit.

Semula wajah orang-orang Negeri Atap Langit dan orang-orang Viet tak bisa kubedakan, tetapi sekarang aku bisa mengenalinya. Dengan ganas Amrita membabat mereka satu per satu. Meskipun ilmu mereka memang tinggi, tidaklah terlalu mudah mencapai peringkat ilmu silat Amrita, murid Naga Bawah Tanah yang tidak pernah memperlihatkan dirinya itu. Senjata rahasia yang mereka lepaskan rontok hanya dengan sampokan pedang di tangan kirinya, sedangkan pedang di tangan kanannya bergerak begitu cepat seperti tiba-tiba saja ujungnya sudah berada di belakang tengkuk, menyusup jantung, memapas perut, atau menyilang dada. Para pendekar mempelajari cara terbaik untuk menamatkan riwayat lawannya dengan cara yang tidak menyakitkan, tetapi sering kulihat Amrita seperti pura-pura melupakannya. Mungkinkah karena kesempurnaan dalam ilmu silat sebagai kesempurnaan manusia, tidaklah menjadi tujuan sebesar tujuannya dalam permainan kekuasaan?

Delapan orang segera tumbang bersimbah darah, tetapi Amrita menyisakan satu orang yang telah kehilangan senjatanya dan tertelungkup dalam injakan Amrita. Sejumlah anggota pasukan pemberontak datang meringkusnya. Mereka menggelandangnya pergi untuk diperiksa. Artinya ia akan disiksa jika tidak mau berbicara tentang keadaan di dalam kota Thang-long. Adu siasat dalam pertempuran sangat ditentukan oleh banyak sedikitnya pengetahuan tentang keadaan lawan. Semakin sedikit pengetahuan tentang keadaan lawan yang kita

miliki, semakin mudah kita jatuh dalam jebakan. Namun aku ragu apakah penyusup yang tersisa itu akan berbicara, karena menahan derita akibat siksaan adalah bagian dari ilmu penyusupan.

Tidakkah pernah kuceritakan bahwa penyiksaan dalam penyelidikan dalam Arthasastra juga dianjurkan?

ia hendaknya menyiksa orang yang mungkin bersalah

tetapi sekali-sekali tidak boleh wanita hamil

atau wanita yang sebulan lagi melahirkan

tapi bagi wanita, hanya sepao penyiksaan

atau pemeriksaan dengan penyidikan saja

bagi seorang Brahmana

hendaknya dipakai pengawal rahasia

jika ia ahli Veda

juga bagi para pertapa

jika aturan ini dilanggar

denda tertinggi akan dikenakan

kepada orang yang melakukan

atau menyebabkan penyiksaan

juga bagi yang menyebabkan kematian

dalam penyiksaan 1)

Pada sebelas titik lain pertarungan masih berkecamuk. Sepuluh penyusup yang berniat memecahkan pemusatan perhatian dalam pengepungan masing-masing dihadapi oleh sepuluh anggota pasukan pemberontak, artinya pendekar golongan merdeka dengan tingkat ilmu silat yang sama tingginya, sehingga gagal menimbulkan kekacauan. Pertarungan dengan tingkat ilmu yang sama tinggi, artinya para penyusup pun mampu membunuh lawan dari pihak pemberontak. Pada berbagai titik, hal itu memang terjadi, sangat menyedihkan melihat kawan tumbang di tangan lawan.

NAMUN tetap harus dijaga bahwa yang menggantikannya cukup satu orang, selama ilmunya setara, atau boleh juga lebih tinggi. Para penyusup ini adalah orang-orang pilihan yang berilmu tinggi, sehingga memang hanya yang tertinggi ilmu silatnya pada setiap titik penyusupan yang dapat maju menghadapinya.

Betapapun dapat terjaga bahwa kekacauan tidak berlangsung, sehingga jika berlangsung penyerbuan dari dalam kota, maka pasukan pemberontak akan mampu menghadapi mereka dengan semestinya. Pada sebuah titik, Iblis Suci Peremuk Tulang mengurung lima penyusup dengan putaran sepasang bandul besinya yang bagaikan angin puting beliung, sehingga pada titik ini cukup lima orang dikerahkan menghadapi sisanya. Sungguh mengherankan betapa rantai-rantai berbandul besi yang berat ini dapat digerakkannya seringan tali permainan dan setiap bandulnya bagaikan bermata mengejar batok kepala lawan-lawannya. Aku taktega menceritakan bagaimana tepatnya lawan-lawan Iblis Suci Peremuk Tulang ini sungguh-sungguh diremukkan, tetapi sungguh ingin kusampaikan bagaimana sang pendeta yang dapat bergerak di udara seperti terbang tanpa pijakan di antara pergerakan bandul-bandulnya. Maka takselalu bandul itu yang meremukkan tulang-tulang di dalam tubuh lawan, tetapi justru dirinya sendiri dengan sentuhan tenaga dalam telah berada di belakang lawan, saat lawan itu menangkis serangan bandulnya. Betapa cepat pergerakannya!

Demikianlah kelima lawan Iblis Suci Peremuk Tulang itu menemui ajalnya satu persatu dalam waktu yang singkat. Sesudah itu tampaknya ia siap melesat menuju

ke titik-titik lain untuk segera menyelesaikan pertarungan, tetapi Amrita yang berkelebat dari titik ke titik mencegahnya.

”Iblis Suci,” katanya, ”jangan tinggalkan bidang penjagaan pasukan kita.”

Aku pun mengerti apa yang dimaksudkan Amrita. Pasukannya yang kuikuti naik turun gunung keluar masuk hutan sampai ke Thang-long ini hanyalah salah satu pasukan yang baru tiba untuk bergabung melakukan pengepungan. Siasat pengepungan hanya dapat dilakukan oleh pasukan yang berjumlah besar. Para pemimpin pemberontak telah saling berhubungan dengan sangat baik, sehingga dapat mengatur bahwa pasukan-pasukannya yang tersebar di berbagai penjuru masing-masing dapat mengatasi pasukan pemerintah yang mengejarnya, dan dengan begitu menyingkirkan segala halangan untuk keluar dari wilayah persembunyian, serta melakukan penggabungan untuk mengepung Thang-long, pusat pemerintahan Daerah Perlindungan An Nam.

Tentu saja ini berarti segenap pasukan yang keluar dari persembunyian, meski disatukan oleh semangat dan siasat yang sama, sebenarnya memang belum terlalu banyak saling mengenal. Bahkan para pemimpin pasukannya, juga tidak dapat dianggap dengan sendirinya telah saling mengetahui kedudukan dan kepribadian masing-masing. Seperti terjadi dengan Amrita, para pemimpin pemberontak yang tidak selalu bisa ditemui, untuk menghindarkannya dari pembunuhan rahasia, telah mengajak orang-orang asing yang terampil memimpin pasukan dan menguasai ilmu peperangan untuk bergabung menggoyang penjajahan Negeri Atap Langit. Mengingat bahwa bukan hanya pemimpin pasukan, tetapi juga para pengikutnya tidak hanya terdiri dari orang-orang Viet, melainkan orang-orang pinggiran beraneka ragam dari berbagai wilayah negeri tetangga, bahkan sejauh Jawadwipa seperti diriku, maka perbedaan lawan dan kawan sangat mungkin menjadi kabur.

Dalam Arthasastra disebutkan:

kesempatan untuk menggunakan berbagai jenis pasukan

turun-temurun, yang disewa, gerombolan,

sekutu, asing, dan hutan, adalah:

bila pasukan turun-temurun melebihi yang diperlukan

untuk mempertahankan pusat pengendalian

bila pasukan turun-temurun

menjadi bertebaran oleh pengkhianat

mungkin menimbulkan masalah

di pusat pengendalian 2)

Tidak akan kukatakan apalagi kupastikan akan terdapat pengkhianatan di kalangan pasukan pemberontak, karena kehidupan yang berat dalam peperangan panjang telah merupakan ujian bagi kesetiaan setiap orang yang tergabung dalam penderitaan bersama.

NAMUN tidak kuingkari betapa rawan keadaan jika diingat betapa gabungan besar pasukan pemberontak ini tidak saling mengenal, sehingga banyak kesalahan taksengaja dimungkinkan, dan terutama betapa rawan bagi tindak penyusupan yang penuh ketabahan. Betapapun, dalam peperangan yang telah berlangsung timbul tenggelam sejak ratusan tahun, tepatnya tahun 43 ketika para perempuan perkasa Trung Bersaudara memberontak terhadap kekuasaan Wangsa Han, sangatlah dimungkinkan ditanamnya apa yang disebut Mata-mata Tidur.

Adapun mata-mata tidur tidak terdapat dalam seni perang Sun Tzu, juga tidak ditemukan dalam nasehat kepada raja yang berperang dalam Arthasastra, karena siasat penggunaan mata-mata tidur adalah penemuan baru yang belum terbukti. Mata-mata tidur hidup sebagai rakyat di dalam negeri lawan dalam kurun waktu yang lama, bagaikan bagian dari bangsa yang menghuni negeri itu sendiri. Mereka kawin dan beranak pinak, kemungkinan besar memang mata-mata itu merupakan pasangan, dan dalam waktu lama tidak melakukan tugas apa pun. Itulah saat mereka ”ditidurkan”, artinya melebur dan terlibat ke dalam segenap sendi dan urat

syaraf kehidupan rakyat, seperti bagian dari bangsa negeri itu sendiri. Pada saat yang menentukan mereka akan ”dibangunkan”, untuk menjalankan tugas yang amat sangat penting, yang tidak terdapat dalam perumusan Sun Tzu maupun Kautilya.

Mata-mata tidur ini tentu sangat amat sulit dilacak, karena ia telah mendekam tanpa melakukan kegiatan selama puluhan tahun. Mungkinkah saat ini, ketika pusat pemerintahan Daerah Perlindungan An Nam berkemungkinan jatuh ke tangan pemberontak, maka mata-mata tidur itu sudah waktunya dibangunkan?

Pada berbagai titik pertarungan masih berlangsung. Denting logam dan percik lelatu api senjata yang beradu masih terdengar, diseling raung kesakitan mereka yang terbunuh. Namun kedudukan ternyata berimbang. Dari sepuluh orang yang saling berhadapan dengan sepuluh orang, masing-masing kehilangan lima orang dan lima orang sisanya segera menghadapi lima orang lainnya.

Amrita melirikku dan kami saling memahami, para ahli siasat perang Negeri Atap Langit dalam keadaan segenting ini, tidak akan menjalankan siasat yang terlalu mudah dibaca. Kami telah menduga bahwa pengiriman pasukan penyusup ke duabelas titik pengepungan adalah usaha memecahkan perhatian dengan cara menimbulkan kekacauan. Jika kekacauan berhasil ditimbulkan, akan muncul pasukan pemerintah dari pintu gerbang, dan karena itu sepuluh penyusup yang tiba-tiba muncul dari balik malam pada setiap titik tidak dihadapi lebih dari sepuluh orang, lebih bagus lagi jika hanya perlu satu orang seperti dilakukan Amrita.

Namun tidak banyak orang di atas bumi ini dapat menyamai tingkat ilmu silat Amrita, bahkan Iblis Suci Peremuk Tulang pun hanya menghadapi lima penyusup. Betapapun, melihat siapa saja yang menjadi korban di pihak pasukan pemberontak, termasuk sejumlah pendekar golongan merdeka, sudah jelas para penyusup itu ilmu silatnya sangat tinggi. Telah kuceritakan betapa tugas penyusupan itu tidak dapat dijalankan oleh sembarang orang, bahkan mengingat penjagaan kami yang dilakukan para pendekar tangguh, tak dapat kubayangkan bagaimana mereka mampu tiba-tiba muncul begitu saja dari balik kegelapan. Dikatakan bahwa dalam ilmu penyusupan seseorang dapat mengenakan malam itu sendiri sebagai jubahnya. Tentu saja ia menjadi tidak terlihat sama sekali.

Maka, jika setelah beberapa lama para penyusup masih bertahan meski akhirnya dihadapi mereka yang berilmu tinggi dari pihak pasukan pemberontak, dan tidak juga muncul penyerbuan susulan, terpikir olehku sesuatu; pertama, bahwa usaha mengobarkan kekacauan dianggap gagal, dan karena itu serbuan susulan dibatalkan; kedua, sebetulnya terdapat siasat lain yang tidak dapat diduga. Aku pun menjauh dan mencoba melihat dari ketinggian, yang segera diikuti Amrita. Namun dari sini pun hanya terlihat separuh pemandangan, karena bagian lain dari lingkaran pengepungan tentu berada di balik kota itu sendiri.

Dari atas bukit, kulihat lelatu api berkilat di antara hujan salju yang untuk pertama kalinya kulihat dalam hidupku.

”Amrita,” kataku, ”perhatikan pertarungan itu. Katakan apa yang dikau saksikan.”

Amrita memicingkan matanya menembus kegelapan. Cahaya api unggun masih cukup besar untuk memperlihatkan pertarungan yang hanya akan terasa anginnya bagu mata orang awam dan prajurit biasa.

”Ilmu mereka tinggi sekali,” katanya kemudian, ”seharusnya mereka sudah bisa menyelesaikan pertempuran dari tadi.”

”Bagaimana dengan sudah mati? Ilmunya juga tinggi sekali?”

”TENTU, mereka hanya tidak beruntung karena menghadapiku dan Iblis Suci Peremuk Tulang.”

”Selebihnya?”

”Daku memang mencurigai sesuatu.”

”Apakah itu Amrita?”

”Mereka yang terbunuh sama sekali bukan karena ilmunya lebih rendah. Dalam ilmu penyusupan kemungkinan terbunuh tidak diperhitungkan, karena kemungkinannya untuk membuka jejak dan membongkar kerahasiaan. Jadi dalam keadaan semacam ini hanya ada satu kemungkinan.”

”Yakni?”

”Sengaja membiarkan diri terbunuh demi berhasilnya tujuan!”

”Dan apakah kiranya tujuan mereka itu? Membubarkan pengepungan?”

”Seandainya kita tahu!”

Kuingat nasihat Arthasastra.

antara gangguan kecil di belakang

dan keuntungan besar di depan

gangguan kecil di belakang lebih penting

karena bila ia pergi

orang pengkhianat, musuh, dan penjaga hutan

akan memperbesar

gangguan kecil di belakang

pada semua sisi 3)

Ya, seandainya kami tahu. Artinya kami harus mengadakan penyelidikan. Telah kugiring Amrita ke arah perbincangan ini, karena aku ingin tahu apakah pikiran kami sejalan. Dulu kami seperti sepasang kekasih, tetapi sekarang kurasakan tidaklah terlalu seperti itu lagi. Mungkin karena suasana perjalanan bersama suatu pasukan pemberontak yang terus menerus berpindah dan bertempur, dan kenyataan bahwa Amrita memimpin pasukan itu, membuat hubungan kami menjadi seperti ini. Namun itu tidak berarti perasaan atas kebersamaan kami terhapus. Kurasakan betapa dia masih memperhatikan aku seperti aku memperhatikan dirinya.

Penyelidikan harus dilakukan di dua tempat sekaligus, sebelum tujuan penyusupan itu dapat berlangsung.

”Daku saja yang masuk ke dalam kota,” kataku, ”dikau lebih mudah dikenali daripadaku.”

”Tetapi daku juga ingin masuk kota bersamamu,” jawabnya pula.

Kulihat matanya yang sendu. Masihkah ia Amrita yang dulu? Kehidupan bersama pasukan pemberontak ini telah banyak mengubahnya. Rambutnya yang lurus panjang dan hitam jatuh ke bahu putih takpernah terlihat lagi, karena tertutup tudung tempur yang sebetulnya takdiperlukannya. Namun kurasa ia mengenakan tudung tempur untuk menunjukkan dirinya sebagai kepala pasukan, tepatnya sebagai bagian dari pasukan, yang sangat perlu ditunjukkannya dalam kehidupan dari hutan ke hutan. Pada musim dingin di bagian utara ini, tentu juga takmungkin lagi ia mengenakan busana tembus pandang. Ia taktampak lagi seperti patung Laksmi gaya Sambor dari Koh Krieng, yang menampakkan segalanya dalam udara panas, seperti ketika kupandang ia pertama kalinya di pelabuhan bekas Kerajaan Fu-nan itu.

Seperti juga semua orang dan diriku juga, musim dingin dan langit kelabu membuat kami semua bagaikan makhluk-makhluk sejenis yang berbaju tebal, atau baju kulit berlapis-lapis, melangkah di antara tumpukan salju yang semakin rata seluas mata memandang. Namun bagiku bukanlah busana dan lingkungan itu benar yang membuatnya terasa berubah, melainkan sesuatu pada matanya, semacam cahaya kesedihan, yang meski ditutupinya tetap saja mempengaruhi caranya memandang.

”Pendekar Tanpa Nama, biar daku saja yang masuk ke dalam kota, dan dikau berjaga di sini.”

Jika garis belakang dalam pertempuran menentukan apa yang terjadi di garis depan, kurasakan lawan sekarang sedang melakukan sesuatu di garis belakang. Apakah kami harus mengimbangi dengan setidaknya menyelidik ke garis belakang. Di antara pasukan pemberontak ini tidak terdapat regu penyusupan, karena ilmu penyusupan adalah bagian dari suatu budaya kerahasiaan yang hanya mungkin dibangun dan dipelihara dalam kemapanan kekuasaan.

PERSOALAN lain dengan pasukan pemberontak ini adalah kedudukan pemimpinnya yang selalu dirahasiakan. Belajar dari penjajahnya, orang-orang Viet bukan hanya merahasiakan keberadaan para pemimpinnya, tetapi juga bahkan namanya mereka rahasiakan. Amrita hanya mengenal seorang perwira penghubung yang disebut Harimau Perang, yang memiliki sejumlah anak buah yang sangat bisa diandalkan sebagai penghubung antara dirinya dengan para pemimpin pasukan pemberontak yang tidak selalu saling mengenal itu. Tentu regu penghubung ini sangat penting dalam wilayah peperangan yang sengaja diperluas untuk memancing pasukan pemerintah pergi semakin jauh ke segala arah, dan jauh pula dari sumber-sumber pangan. Selain itu regu penghubung yang merupakan para penunggang kuda terbaik di seluruh wilayah, yang masing-masingnya jelas pula berilmu silat dan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, memang pengganti yang diperlukan dalam kelemahan jaringan rahasia.

Bukan berarti kelompok pemberontak itu tidak memiliki jaringan rahasia sama sekali. Justru itulah yang akan menjadi persoalan seperti yang akan berlangsung berikut ini.

***

AKU berkelebat tanpa bisa dicegah Amrita lagi.

”Selesaikan pertarungan mereka,” kataku, ”mereka sengaja mengulur waktu. Daku ke dalam kota untuk mengalihkan perhatian.”

Demikianlah kulakukan juga bagaimana para penyusup memperlakukan malam sebagai jubah yang menyembunyikannya. Aku berkelebat di antara bayang-bayang. Di dalam bayang-bayang aku berhenti dan menunggu, sebelum akhirnya berkelebat lagi. Dalam hujan salju yang kutembus dengan ilmu Naga Berlari di Atas Langit, aku merasa melayang dalam dunia mimpi kapas-kapas berjatuhan. Dunia seperti begitu ringan, dengan lapisan-lapisan tabir yang sebentar putih sebentar hitam. Dengan kecepatan sangat tinggi, segala gerak yang lebih lambat menjadi terlalu lamban, sehingga kunikmati hujan salju yang membuatku bagaikan merasa terbang melayang perlahan-lahan.

Dalam kenyataan aku dengan segera telah tiba di tepi sungai di luar kota. Jarak antara garis depan pengepungan dan gerbang kota Thang-long sekitar duaribu langkah. Dapatlah dibayangkan lingkar pengepungan yang tidak terputus itu.

Seperti para penyusup aku memasuki air yang terlalu dingin itu, bernapas dengan buluh melalui mulut, aku berenang di bawah permukaan sungai yang hampir membeku, bahkan sudah terdapat lapisan-lapisan es di atasnya. Tidak berapa jauh terdapat tembok perbentengan yang mengelilingi kota, yang meski tampak tidak mulus lagi, karena hantaman peluru-peluru batu di masa lalu, dijaga dengan sangat ketat. Di atas tembok, terdapat gardu-gardu jaga setiap limaratus langkah dan di antara gardu-gardu itu terdapat penjagaan yang kuat sekali. Penjagaan ketat yang sama juga terdapat di luar tembok di sekeliling kota itu. Belum kutahu lagi tentunya bagaimana penjagaan di balik tembok itu. Pada masa perang, penyusupan untuk mengacau kubu lawan adalah siasat andalan, dan karena itu setiap penjagaan selalu mempertimbangkan kemungkinan penyusupan.

Jadi aku harus menyusup seperti yang tidak pernah dilakukan penyusup mana pun. Thang-long adalah kota besar yang dihuni ratusan ribu manusia. Kubayangkan akan sangat mudah menyelinap di antaranya. Namun di luar tembok, antara sungai dan tembok itu, hanya terdapat bidang tanah kosong selebar dua ratus langkah yang kini memutih karena salju. Mungkinkah melewatinya tanpa satu penjaga pun memergokinya? Dalam hal para penjaga yang terdiri dari prajurit biasa, bagiku tidaklah akan menimbulkan kekhawatiran. Namun aku harus waspada terhadap regu penjaga pilihan, yang tidaklah aneh jikas ilmu silatnya setingkat dengan para pengawal istana, dan dari sana pula biasanya dipilih pengawal rahasia istana yang bertugas melindungi raja.

Aku sudah sangat kedinginan karena tak kunjung bergerak. Jika aku terlalu lama bersembunyi, bukan saja tujuan lawan yang belum diketahui akan terjadi, tetapi aku sendiri sangat mungkin akan mati. Jadi aku keluar dari tepi sungai dan bertiarap. Aku harus masuk ke dalam kota, jika tidak untuk menyelidik dan menemukan sesuatu, setidaknya dapat kusulut kekacauan yang kiranya dapat menggagalkan apa pun rencana mereka, karena serangan di garis belakang tentu akan

berpengaruh kepada sasaran mereka di garis depan. Untuk itu aku harus melewati garis belakang, dan melakukan serangan dari belakang.

Dalam tiarapku itu aku menunggu.

JIKA dalam beberapa saat tidak terdapat sesuatu baru aku maju lagi, tetapi hanya sebadan demi sebadan. Dalam jarak dua ratus langkah, tentu akan sangat lama diriku mencapai tembok kota, itu pun belum tentu lolos dari mata elang para pengawal yang memang ditugaskan untuk waspada. Sembari beringsut sebadan demi sebadan, kusadari betapa harapan begitu tipis, karena keadaan bisa saja berbalik: bagaimana misalnya jika para penyusup itu tak kunjung bisa dilumpuhkan, atau bahkan meraih kemenangan demi kemenangan, yang berarti tetap saja berhasil mengalihkan perhatian? Selain itu, jika aku beringsut dengan cara seperti ini, jika pagi tiba maka terlalu mudah keberadaanku ditandai, sehingga hujan ribuan anak panah dari langit tak akan memberi ruang bagiku untuk menyelamatkan diri. Aku harus masuk ke dalam kota sebelum fajar tiba, bahkan mengacaunya sebelum cahaya yang pertama.

Maka aku pun menunggu angin. Itulah satu-satunya cara bagiku untuk melewati ketatnya penjagaan, tetapi angin tidak juga datang, meski rasanya aku telah beringsut nyaris sepanjang malam. Hujan salju telah berhenti. Bertumpuk salju di atas punggungku. Kusempatkan mendongak dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Salju yang memutih sepanjang dataran tentu akan membuat titik hitam sepertiku akan sangat tertandai pergerakannya. Memang aku dapat menggunakan ilmu bunglon sehingga oleh mata biasa sungguh aku akan tersamarkan, tetapi tak dapat kujamin diriku sendiri bahwa tiada seorang pendekar di atas tembok itu yang dapat melihat segalanya dengan terang seperti siang.

Demikianlah aku beringsut dengan sabar tanpa sedikit pun menarik perhatian. Sebegitu lama rasanya aku baru mendapatkan tiga puluh langkah, meski sudah cukup bagi sebatang anak panah yang meluncur hanya sejengkal di atas tanah secepat kilat untuk menembus leherku. Maka begitu angin yang kutunggu tiba, berdesir dan berhembus kencang sampai mengeluarkan bunyi seperti siulan, kuringankan tubuhku begitu rupa seringan kapas dan seperti layang-layang

kubentangkan tanganku sehingga aku pun segera melayang ke atas. Begitulah aku melayang berjungkir balik seperti layang-layang diterbangkan angin sampai ke langit. Dengan segera jarak yang tadinya serasa harus ditempuh sepanjang malam terlewatkan bahkan tanpa terlihat.

Meskipun dalam kegelapan malam mata yang tajam mungkin saja melihat sesuatu seperti bayangan hitam bergerak diterbangkan angin ke atas dengan cepat sekali, siapakah kiranya yang akan mengira itulah manusia yang terlalu ringan, sangat amat ringan, sampai terterbangkan ke langit malam begitu rupa bagaikan layang-layang? Angin bersiul di telingaku dan di dalam angin aku menyapukan tangan seperti berenang mengatur embusan. Melewati garis perbentangan, yang setelah hujan salju tampak bagaikan garis memanjang, kuluruskan dan kuberatkan tubuhku kembali, meluncur ke bawah untuk mencari tempat hinggap yang aman.

Kulihat hamparan salju telah memutihkan jalanan dan genting-genting rumah. Kulihat juga rumah-rumah besar bertingkat dua yang disebut gedung. Tampak para peronda menyusuri malam dengan senjata lengkap sambil membawas lentera. Kota perbentengan dalam keadaan perang, bahkan sedang menghadapi pengepungan, di manakah kiranya tempat yang lolos dari pengawasan?

132: Perbincangan yang

Kudengar

PEMANDANGAN kota Thang-long pada malam hari dari langit bagiku sangatlah memesona. Kerlap-kerlip lampion bertebaran dan berkerlipan bagai kunang-kunang di persawahan Jawadwipa. Kenyataan betapa kota berpenduduk ratusan ribu orang ini sedang berada dalam pengepungan tidaklah berarti kehidupan sehari-hari harus berhenti. Tentu saja tidak ada pesta pora dan setiap orang dengan sendirinya siaga, tetapi bahkan dari atas pun, ketika aku sudah melayang makin rendah, dan sengaja mengelilingkan diriku bagaikan elang menghentikan kepaknya, masih terlihat orang berkumpul di depan kedai tempat makanan disajikan di udara terbuka.

Menjelang dini hari, tentu orang tidak lagi makan malam. Namun kaum lelaki masih berkumpul di depan tiap kedai dan bercakap-cakap. Terlihat setiap orang membawa senjata, meskipun hanya pentungan, jadi rupanya mereka memang telah disiagakan. Pada setiap petak pemukiman terlihat kelompok-kelompok ini berjaga, dan antarpetak selalu terlihat sebuah regu melakukan ronda. Dingin malam yang bersalju membuat pekerjaan berjaga dan meronda sebetulnya berat, tetapi telah dipelajari bahwa malam seperti itulah yang menguntungkan para penyusup dan karena itu dalam keadaan kota sedang terkepung sudah sewajarnya penjagaan diperkuat.

DARI atas kucari gedung yang paling besar dan memang kutemukan berada di tengah kota. Dari pintu-pintu dan jendela-jendelanya keluar banyak cahaya, pastilah banyak orang di dalamnya. Di berbagai sudut kota kulihat masih ada orang di jalanan. Ada yang sedang berjalan dan ada pula yang menggeletak di tepi jalan. Ketika telah semakin rendah kuketahui mereka sebagai pengemis, gelandangan, dan pengamen jalanan. Sebenarnya aku belum tahu apa yang harus kulakukan, tetapi naluri membawaku ke gedung besar tersebut, yang kubayangkan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang penting. Dalam keadaan dikepung lawan, wajarlah di dalam gedung itu masih berlangsung kegiatan. Ketika berputar mengelilingi gedung yang tinggi itu, di tingkat atas terlihatlah sejumlah orang mengadakan pertemuan saat pintu dibuka karena seorang perwira pasukan masuk. Firasatku mengatakan bahwa tentunya aku bisa mendapatkan keterangan berharga jika mampu mendengarkan percakapan mereka.

Maka aku pun melayang turun tanpa suara, langsung menempel pada dinding di samping jendela dengan ilmu cicak. Angin tidak lagi menderu bersama salju, sehingga terasa sepi, dan musim dingin pada malam hari membuat pintu dan jendela tertutup rapat. Kukerahkan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang menembus celah papan kayu. Mereka berbicara keras dalam bahasa Viet yang sempat kupelajari selama mengikuti pasukan pemberontak itu. Berarti mereka semua orang-orang Viet.

’’Pedang Biru, dikau baru tiba dari garis depan, apakah yang hendak dikau katakan?’’

’’Rencana kita…’’

’’Kenapa dengan rencana kita?’’

’’Kita tidak menduga terdapat sejumlah pendekar yang sangat hebat di antara mereka.’’

’’Apakah berarti rencana kita akan gagal?’’

’’Sahaya tidak tahu, karena sebagian rencana kita sebetulnya berhasil.’’

’’Pedang Biru! Bicaralah yang jelas! Apakah Harimau Perang berhasil kita bunuh?’’

’’Itulah masalahnya Cambuk Emas! Seluruh mata-mata sampai saat ini belum berhasil menemukan jejaknya!’’

Aku terkesiap dalam dingin udara yang sungguh menyiksa. Pasukan pemberontak penuh dengan mata-mata! Tidak ada salahnya tak seorang pun pernah bertemu dengan Harimau Perang. Aku mulai menduga betapa sebetulnya orang yang bernama Harimau Perang itu tidak ada. Namun yang sebenarnya terjadi, Harimau Perang itu terdiri dari beberapa orang. Hanya satu Harimau Perang asli, selebihnya hanya jebakan, meski dalam kenyataannya belum seorang pun dari seluruh kepala-kepala pasukan pemberontak pernah melihat wajah Harimau Perang.

’’Bagaimana dengan perempuan Khmer itu?’’

’’Amrita?’’

’’Ya, anak Jayavarman II, apakah kita akan bisa mengatasinya?’’

Untuk beberapa saat tiada jawaban.

’’Mengapa dikau diam begitu lama Pedang Biru! Apakah dikau akan berkata kita tidak akan mampu mengatasinya?’’

’’Tenanglah dahulu Tombak Gila, yang kupikirkan adalah suatu bahaya yang lebih besar dari itu…’’

Di dalam ruangan hampir terdengar suara bersahut-sahutan.

’’Apakah bahaya itu Pedang Biru? Cepat katakan!’’

’’Ya, cepat katakan, wahai Pedang Biru! Apakah bahaya itu?’’

Sejenak masih berlangsung kesunyian, tetapi yang disebut Pedang Biru lantas menjawab setelah menghela napas panjang.

’’Amrita sangat berbahaya dan baginya belum kita temukan lawan sepadan, bahkan begitu juga untuk seorang kepala regunya, Iblis Suci Peremuk Tulang, pendeta yang kuilnya di Sungai Hitam pernah kita hancurkan. Para pemberontak dibantu oleh banyak pendekar hebat yang berasal dari berbagai negeri, mulai dari Campa, Siam, Malayu, dan Pagan. Namun hanya satu orang yang tiada dapat kubayangkan akan pernah menemui lawan…’’

’’Siapa?’’

’’Pendekar ini selalu berada di dekat Amrita, yang membuat keduanya semakin tak bisa ditundukkan, dan ia berasal dari Jawadwipa.’’

’’Siapakah dia dan apa kata mata-mata kita?’’

”IA tidak mempunyai nama. Dialah yang menggagalkan pengepungan kita atas pasukan Amrita di hilir Sungai Merah waktu itu, karena garis terdepan maupun garis belakang dikacaunya sendirian saja. Pasukan kita kalah di sana dan sejak itu keadaan berbalik sampai mereka mengepung kita sekarang. Menurut mata-mata kita pasukan yang terdiri atas seribu orang dihadapinya sendirian.”

”Hmm. Jadi itulah Pendekar Tanpa Nama yang menjadi buah bibir orang-orang di selatan, yang karenanya selaksa balatentara Jayavarman II takdapat menangkap seorang Amrita.”

”Hmm.”

”Hmm.”

”Hmm.”

Aku menahan napas. Tidakkah begitu luar biasa jaringan mata-mata mereka? Jadi ada mata yang dapat menangkap gerakanku, bahkan menandai keberadaanku ketika kukacaukan pengepungan dengan Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama. Masalahnya, hanya yang berkepandaian sama tinggi dengan tingkat ilmu itu sekadar dapat menyaksikannya, dan sekarang ia berada di sana tanpa seorang pun mengetahuinya! Meskipun sangat kupercayai kemampuan Amrita, di antara pasukannya terdapat musuh dalam selimut yang sangat berbahaya!

Sembari menempel pada dinding tembok kubayangkan pedang seorang mata-mata musuh menusuk punggung Amrita yang tembus sampai ke dadanya. Kugoyangkan kepalaku seperti bisa mengusir bayangan buruk. Namun bayangan betapa mata-mata musuh bertebaran di sepanjang lingkaran pengepungan tidak dapat kuhapus. Betapa sulit menebak dan menduga keberadaan mata-mata dalam pasukan pemberontak, apakah mereka berada di antara pasukan yang terdiri dari orang-orang asing, ataukah berada di antara orang-orang Viet sendiri. Setidaknya dari perbincangan yang kudengar, kuketahui bahwa bukan hanya Harimau Perang yang dicari-cari, tetapi juga keberadaan Amrita dan bahkan diriku takluput diawasi!

Namun perbincangan rupanya telah beralih ke masalah lain.

”Pedang Biru, apakah kiranya yang dikau pikirkan, jika ternyata pasukan pemberontak itu ternyata mendapat banyak bantuan, bukan hanya dari para petani di pedalaman, tetapi juga para pendekar dunia persilatan dari berbagai negara?”

”Tidakkah semuanya jelas, Cambuk Emas? Gagasan penjajahan telah memuakkan semua orang.”

”Hmmhh! Sudah berapa ratus tahun pemberontakan silih berganti? Hanya penderitaan dialami orang-orang di pedesaan. Bagaimanakah kiranya kesejahteraan dan kemakmuran diselenggarakan tanpa adanya ketenangan?”

”Tentu, tetapi gagasan perlawanan beredar di mana-mana.”

”Gagasan! Memang itu sangat berbahaya, lebih berbahaya daripada senjata! Tapi kita tidak bisa memeriksa dan memenggal kepala setiap orang.”

Aku teringat yang tertulis dalam Arthasastra:

rakyat yang menjadi miskin, menjadi rakus

jika rakus mereka menjadi tidak patuh

jika tidak patuh

mereka akan menyeberang ke musuh

atau bahkan mereka sendiri

akan membunuh tuannya

karena itu ia jangan membiarkan

penyebab kemunduran, kerakusan, dan ketidak patuhan

muncul di antara rakyat

atau kalau sudah tumbuh

harus segera diberantas

mana yang terburuk

rakyat yang miskin atau tidak patuh?

yang miskin,

karena takut diganggu atau dihancurkan

lebih suka segera berdamai,

atau perang, atau melarikan diri

yang rakus,

yang tidak puas karena rakus

akan terpikat bujukan musuh

TAMPAK sederhana yang diungkapkan Arthasastra, tetapi menjelaskan segalanya. Daerah Perlindungan An Nam diperlukan Negeri Atap Langit bukan demi rakyat An Nam, melainkan kepentingan terjaganya jalur ke pelabuhan yang dapat menghubungkannya ke Jambhudvipa. Jalur perdagangan terbentuk tentu saja untuk memakmurkan Negeri Atap Langit sendiri, bukan para petani An Nam yang tanpa penjajahan pun telah selalu menderita oleh banjir.

Namun Negeri Atap Langit telah berhasil menyusun pemerintahan Daerah Perlindungan An Nam yang terdiri atas orang-orang Viet sendiri dan hanya kepala daerah dan lapisan pejabat tertinggi saja didatangkan dari Negeri Atap Langit. Maka sebuah pemberontakan adalah perang yang untuk sebagian berlangsung di antara orang-orang Viet.

”Katakanlah yang sebenarnya Pedang Biru, bagaimanakah kedudukan kita sekarang? Apakah kita segera akan dapat menyerbu dan meraih kemenangan, ataukah kita harus bertahan dalam pengepungan dalam waktu yang belum bisa ditentukan?”

Untuk beberapa saat Pedang Biru berdiam diri, tetapi kemudian kudengar jawabannya.

”Pasukan pemberontak sebetulnya berada dalam keadaan lelah. Jika kita menempur mereka dengan kekuatan yang sama besarnya, dalam keadaan biasa mereka akan dapat dikalahkan oleh pasukan mana pun yang lebih segar. Namun semangat

mereka sedang begitu tinggi dan sangat bergelora, bagaikan tiada peduli betapa kematian menghadang di depan, sedangkan pasukan kita masih selalu memikirkan anak isteri mereka di rumah. Bukankah susah memiliki pasukan tentara yang hanya bisa mencari selamat? Inilah yang membuat pasukan pemerintah di mana-mana mengalami kekalahan dan kini terdesak masuk ke dalam kota serta kita mengalami pengepungan.”

Belum selesai kata-katanya ketika terdengar ledakan cambuk menggelegar. Pastilah ini ledakan cambuk dari yang disebut Cambuk Emas. Dari suara ledakannya aku tahu betapa tenaga dalamnya sangat tinggi.

”Tapi Cambuk Emas tidak akan sudi menyerah di tangan para pemberontak dekil itu! Biarlah maju segala pendekar dari segenap penjuru dunia, Cambuk Emas tidak pernah akan mundur!”

Aku tertegun. Jika para ksatria tersebar pada kedua kubu, bukankah menyedihkan ketika mereka harus mengadu jiwa ketika berhadapan?

Saat itulah dalam bahasa Viet kudengar teriakan.

”Penyelusup!”

Aku membuka mata, setidaknya dua puluh anak panah dari busur-busur berkait yang tepat sasaran meluncur bersamaan ke arahku. Meski tadi kugunakan ilmu pendengaran Mendengar Semut di Dalam Liang, perhatianku ke dalam perbincangan di dalam ruangan telah membuat aku lengah terhadap pengepungan gedung ini.

Panah-panah itu berbatang, bermata, dan berbulu penyeimbang yang juga hitam. Tali busurnya terpentang kencang dan tertahan kait sebelum dilepaskan dengan kayu lurus di tengah busur yang menjamin ketepatan, karena terdapatnya pengarah bidikan. Inilah jenis panah yang sekali tancap menembus badan. Melesak tanpa ampun dan meski tanpa racun batangnya yang besar tentu berdaya besar pula untuk melumpuhkan. Jika aku tetap menempel di tembok ini, sungguh aku akan tewas terajam. Maka kulepaskan ilmu cicak sehingga tubuhku jatuh dan

menggelinding ke bawah di atas genting. Sekilas terlihatlah dua puluh anak melesak bersamaan pada tembok, menancap sampai kepada pangkalnya. Tentu mata anak panahnya menembus ke balik dan terlihat dari dalam.

Di bawah telah menunggu pasukan penjaga dengan seratus tombak siap merajam, dan tentu tak kubiarkan diriku tertembus tombak-tombak bagus dengan ujung tajam yang mampu melubangi perisai besi. Begitu tubuhku menyentuh saluran air yang penuh salju aku melenting ke atas, dan di sanalah dari atas genting berkelebat suatu bayangan yang menyabetkan cambuknya. Masih di udara aku terpaksa berkelit dengan berjungkir balik ke atas semakin tinggi. Sabetan cambuk yang luput itu mengeluarkan bunyi ledakan dengan lelatu api yang mengejarku! Ah! Ini rupanya yang membuat ia disebut Cambuk Emas.

Masih di udara kusapu kembang api yang mengejarku bagai peluru katapel raksasa itu ke pelontarnya kembali. Cambuk Emas terpaksa mencambuk hancur kembang api kirimannya sendiri itu. Terdengar ledakan yang menyusul pecahnya cahaya ke segala arah membuat malam bersalju menjadi terang benderang sejenak sebelum gelap kembali. Namun sebelum kegelapan malam kembali dan lelatu api semburat ke mana-mana aku telah menerobosnya dengan ilmu memberatkan badan, yang membuat jejakan kakiku menimpa dada Cambuk Emas, jatuh bersama menembus genting yang terasa bagaikan hanya kayu lapuk ke dalam ruangan, menembus lantai sehingga tubuh Cambuk Emas tercetak di lantai batu itu

MESKI lantai hancur dan melesak oleh tubuhnya yang terinjak olehku, Cambuk Emas tak kurang suatu apa karena tenaga dalamnya yang tinggi. Cambuknya menyambar dadaku, tetapi aku telah melesat ke atas melalui lubang tembusan pada atap rumah tadi dan tentu saja sekali lagi pijar kembang api mengejarku. Di atas, semua orang yang tadi berada dalam rumah sudah berada di wuwungan rumah gedung bertingkat itu. Kuhindari kembang api dengan geliat tubuh, sambil tangan kananku menyapu pijar kembang api, sehingga perbenturannya bahkan membuat langit pun menjadi terang sekali. Begitu terang cahayanya, sehingga sangat menyilaukan sekali, jauh dari maksud Cambuk Emas dengan ledakan cambuknya,

karena akulah yang meminjam dan mengembalikan daya pijar kembang api itu secara berlipat ganda dengan Jurus Sentuhan Dewa.

Ketika cahaya menyilaukan hilang, mata orang masih berkunang-kunang, aku berkelebat pergi dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit yang agak kuperlambat, agar mereka yang berada di atas genting itu sempat mengejarku. Aku melenting dari genting ke genting dan segera terlihat seseorang yang berjubah dengan senjata tombak mengejarku. Aku melompat ke bawah dan menjejak sebuah tiang rumah besar sehingga melesat ke atas lagi dengan kecepatan kilat yang takterduga oleh pengejarku itu. Aku tahu ilmunya tinggi dari kemampuannya menyusulku, makanya kuberikan jurus yang tak dapat diduganya sama sekali, bahkan mengejutkannya.

Ia masih melesat ketika dari bawah kusambar tombaknya, lantas kutepuk punggungnya sehingga jatuh menggelinding ke bawah dari atas genting. Malang nasibnya karena panah dan tombak para penjaga di bawah yang dimaksudkan merajamku, ternyata merajam tubuhnya itu.

‘’Aaaaarrgghh!’’

Jubahnya yang putih bersimbah darah dan salju yang putih ikut ternoda cipratan darah. Sementara aku melejit dan berkelebat, melenting dengan ringan dari genting ke genting, dengan sengaja memperlambat lajunya sedikit, agar pengejar terdepan segera tiba. Demikianlah dari atap ke atap di sepanjang kota Thang-long aku diburu para perwira pasukan pemberontak yang tinggi ilmunya, sementara di jalanan dan di lorong-lorong, para penjaga kota dengan sigap telah selalu berada di bawah, menunggu mangsa yang terjatuhkan untuk segera mereka rajam. Kematian orang bersenjata tombak dan berjubah putih yang tadi mengejarku di tangan mereka sendiri, agaknya telah membangkitkan kemarahan seluruh mereka semua.

Atap-atap rumah memutih karena salju, tidak kuketahui berapa lama lagi malam bertahan. Aku masih berkelebat sambl menyiapkan tombak yang kupegang untuk menyambut pengejar yang berikutnya. Ketika pengejar itu tiba ternyata ia pun bersenjatakan tombak. Serangannya sangat cepat dan tajam. Kulayani sebentar permainan tombaknya. Tampaknya ini memang ilmu tombak yang berasal dari

Negeri Atap Langit. Ujung tombaknya seolah menjadi ratusan dan mematuk-matuk dengan ganas ke sekitar leher dan kepalaku. Dengan cepat kuujikan Jurus Bayangan Cermin yang sedang kususun menjadi ilmu silat yang mandiri, lantas kukembalikan jurus yang sama kepadanya, tetapi tanpa dapat dikenalinya.

Kutinggalkan mayat ahli tombak ini dalam keadaan berdiri disangga tombak yang menusuk jantungnya di atas wuwungan rumah, agar siapa pun yang datang segera terpancing mengejarku. Sengaja aku berdiri di wuwungan rumah lain di dekatnya, agar mereka yang datang bisa melihatku, sebelum melesat lagi setelah mereka mengejarku dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Begitulah caranya mereka kuselesaikan riwayatnya satu per satu. Aku berkelebat dari atap ke atap, turun ke lorong, naik lagi ke atap, untuk setiap kali menelan korban. Dalam sekejap mayat mereka bergeletakan di atas genting, di lorong, di jalanan, dan di lapangan. Pasukan penjaga di bawah akhirnya selalu kutinggalkan dan para perwira yang berkelebat dari segala arah mengepungku tetap saja kalah cepat dan hanya menemukan mayat yang masih hangat dan bersimbah darah segar. Dalam hamparan malam, permadani salju terciprat bercak-bercak darah segar…

Semakin banyak yang mengejar semakin banyak korban berjatuhan. Untuk beberapa saat masih kugunakan tombak, tetapi kemudian kugunakan sebilah pedang kuning keemasan yang berhasil kurebut dari salah seorang dan karenanya dapat kumainkan Ilmu Pedang Cahaya Naga maupun Ilmu Pedang Naga Kembar berganti-ganti untuk menghadapi ilmu mereka yang tinggi. Nyaris seluruh kota Thang-long terjelajahi dalam kejar mengejar ini dan kedudukan dari atap ke atap, kadang dari gedung bertingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, membuat diriku berpeluang mendapat gambaran atas pertahanan kota, yang ternyata memang kuat sekali. Ibarat jebakan, inilah jebakan lubang bagi harimau dengan tombak-tombak menanti di dasarnya, siap menembusi tubuh sang harimau yang jatuh melayang dalam kegelapan

SEKARANG aku mengerti kenapa pengejaranku berlangsung secara besar-besaran. Sudah dua puluh korban kujatuhkan dan mereka semua berilmu tinggi yang dalam

peperangan tentu dibutuhkan. Jika masih saja mereka berdatangan mengejarku dalam jumlah yang terlalu banyak untuk mengejar satu orang, tentulah karena pertaruhan mereka yang tinggi, bahwa jika aku lolos maka seluruh rencana mereka berantakan.

Namun apakah yang sebenarnya kuketahui sampai saat ini? Aku hanya mengetahui bahwa mata-mata yang bekerja untuk pemerintah bertebaran di dalam gabungan pasukan pemberontak yang sedang melakukan pengepungan, tetapi aku belum mengetahui sama sekali apa yang akan mereka lakukan. Jadi apakah kiranya yang belum kuketahui sehingga keberadaanku menjadi sangat gawat sekali? Dua pengejar terakhir tiba dan langsung menyerang. Telah kuketahui yang bernama Cambuk Emas dan seorang lagi tentulah yang bernama Pedang Biru. Ia langsung berteriak bagai telah dipastikannya diriku mengenal bahasa Viet.

”Pendekar Tanpa Nama! Bukankah itu dirimu? Janganlah pergi sebelum bermain sedikit denganku!”

Pendekar Tanpa Nama bagaikan telah menjadi namaku, meski betapapun memang bukanlah namaku. Mengapa seseorang di dunia harus mempunyai nama bukan? Apalagi jika tidak seorang pun memanggil, mencari, dan membutuhkannya. Jawadwipa adalah tempat yang jauh, tetapi melalui para pedagang Srivijaya dan serangan-serangan Wangsa Syailendra yang menggunakan kapal-kapalnya, segala sesuatu yang berlangsung di sana tampaknya bagaikan dekat saja tampaknya.

”Daku tidak pernah nemiliki nama Tuan, dan daku hanyalah seorang pengembara yang mencari pengalaman.”

”Janganlah terlalu merendah dan berbasa-basi pendekar! Izinkan kami mencicipi sebagian kecil dari ilmu silatmu yang termasyhur!’

Ilmu silatku yang termasyhur? Apakah yang telah menjadi perbincangan tentang ilmu silatku? Semua pertarunganku dalam dunia persilatan berlangsung tanpa kesaksian. Jadi tidaklah mungkin seseorang bercerita tentang diriku sejauh berhubungan dengan ilmu silatku. Mereka yang bertarung denganku, jika diriku

masih hidup, tentulah berarti tewas. Adapun mereka yang boleh dianggap menonton, yang tidak terjadi dalam pertarungan antarpendekar, tidaklah akan dapat mengikuti gerakanku, yang kecepatannya jauh lebih tinggi daripada kecepatan pikiran. Namun tiada dapat kucegah beredarnya dongeng dari kedai ke kedai yang tidak selalu mudah dipisahkan dan diuraikan, mana yang bisa diterima akal dan mana yang khayalan.

Pedang yang berada di tangan Pedang Biru memang bercahaya redup kebiru-biruan. Kusambut papasannya dengan pedang di tanganku yang kuning keemasan. Dalam sekejap pedang di tanganku disabetnya kanan kiri dan patah menjadi dua belas bagian, itu pun masih ditambah ujung pedang birunya yang nyaris menyambar urat leherku jika aku tidak menjatuhkan diri dari wuwungan ke tanah bersalju untuk segera melenting kembali. Segera kulolos cambuk kulit dari pinggangku dan kusambut sabetan Cambuk Emas dengan sabetan pula, keduanya langsung saling membelit, tetapi cambukku pun kali ini putus dan rontok menjadi dua belas bagian. Di atas atap genting berselimut salju, aku terkepung pada sebuah wuwungan, di sebelah kananku Cambuk Emas dan di sebelah kiriku Pedang Biru. Senjata keduanya berpijar, pertanda cahayanya bukan pantulan karena datang dari dalam, jelas keduanya adalah senjata mestika.

Umurku masih 25 tahun, mungkin sebentar lagi akan memasuki 26. Kedua lawanku adalah para petarung berpengalaman dengan usia di atas 40 tahunan. Namun aku mempelajari dan mengolah ilmu silat yang sangat berbeda dari ilmu silat mana pun di dunia. Jadi aku memang seharusnya bersilat tanpa senjata, bahkan tanpa bersilat sama sekali, karena aku telah mengolah dan merenungkan ilmu silat yang tidak menyerang badan melainkan pemikiran. Ini bukan sihir, melainkan filsafat, bahwa aku hanya dapat menggugurkan seluruh bangunan ilmu silat melalui filsafat yang menjadi sumbernya. Mampu menggugurkan bangunan filsafatnya berarti mampu pula menggugurkan bangunan ilmu silatnya.

Mereka menyerang, aku tak bergerak. Pedang kebiruan yang dipegang Pedang Biru jika digerakkan akan meninggalkan jejak cahaya kebiruan yang tidak segera hilang di udara, seperti berusaha mengikuti gerak pedangnya. Adapun cambuk di tangan

Cambuk Emas telah diketahui apabila dilecutkan akan mengeluarkan lelatu api, yang tidak sekadar berpijar sekejap melainkan dapat mengeras dan menyerang sebagai peluru api. Aku memusatkan perhatian kepada kenyataan, bahwa mutu ilmu silat tidak terletak pada senjata yang digunakan, melainkan kepada cara memainkan senjata itu, dan tentu saja cara kedua orang itu memainkan senjatanya sangat luar biasa.

NAMUN bukankah Sun Tzu berkata, ‘’Menaklukkan tentara lawan tanpa berperang adalah siasat yang paling baik.’’

Dalam hal ini, aku menjalankan suatu jurus yang kelak akan bernama Jurus Tanpa Bentuk —dan karena tanpa bentuk memang tidak ada yang bisa diceritakan tentang pertarungan. Sebaliknya yang tampak oleh mereka yang mengepungku di sekeliling rumah mungkin akan sangat membingungkan, karena ketika pedang dan cambuk itu bagaikan sudah begitu pastinya akan membunuhku, ternyata adalah Pedang Biru dan Cambuk Emas itulah yang tewas, keduanya dengan dada terbakar dari jejak berbentuk telapak tangan.

Api masih menyala dari dada keduanya ketika kedua tanganku masing-masing sudah memegang kedua senjata mereka. Mereka masih berdiri ketika tewas, dan mata keduanya terbeliak memandang dada mereka yang terbakar itu. Ini berarti Jurus Tanpa Bentuk yang kumatangkan selama ini belum sempurna, karena masih kubutuhkan ilmu pukulan tangan kosong Telapak Darah untuk menamatkan riwayat lawan. Padahal dengan Jurus Tanpa Bentuk seharusnya kematian lawan tidak disebabkan oleh serangan apa pun juga.

Dari bawah seribu anak panah melesat ke segala titik kematian pada tubuhku. Dengan Pedang Biru kuarahkan cahaya-cahaya biru yang menyusulnya kepada panah-panah itu seperti mengibaskan selendang, yang membuat panah-panah yang menuju kepadaku itu rontok berhamburan. Lantas dengan cambuk yang setiap kali dilecutkan mengeluarkan lelatu api itu aku melompat turun ke arah pasukan penjaga yang sejak tadi memburuku dari rumah ke rumah, dengan tujuan membuat kekacauan. Aku memang belum tahu sama sekali rencana mereka, tetapi aku yakin jika dapat kubuat kekacauan malam ini, rencana apapun yang mereka persiapkan

dengan pengiriman para penyusup ke dalam pasukan pemberontak yang mengepung itu akan mengalami kegagalan.

Maka aku pun menyuruk masuk ke dalam pasukan penjaga yang semakin banyak saja mengejarku. Aku ingin membuat kekacauan sebanyak-banyaknya lantas melesat dan kembali ke garis pengepungan secepat-cepatnya, karena penyelidikanku belum memberi pengetahuan terlalu banyak tentang apa yang akan mereka lakukan. Sangat kukhawatirkan bahwa mereka telah merancang sesuatu di luar jangkauan siasat perang Kautilya dalam Arthasastra maupun Sun Tzu, karena jika masih menyangkut dua nama tersebut, para pemimpin pasukan pemberontak pun menguasainya. Kedudukan para pengepung sangat kuat, tetapi kuketahui betapa mereka sudah sangat lelah, seperti yang pasti juga dapat diduga oleh pihak pemerintah.

Aku menyuruk dengan pedang biru dan cambuk keemas-emasan itu. Pasukan penjaga yang tampaknya mengenal senjata-senjata mestika para pemimpinnya, menjadi jeri dan segera menjauh, tetapi mengepung dan mengurungku dengan panah-panah yang melesat tajam dan mendesing kejam penuh kehendak membunuh. Begitu banyak pasukan yang mengepungku, mengalir bagai tiada habisnya, bahkan mereka yang berilmu tinggi segera berlompatan ke atap-atap rumah dan melepaskan panah-panahnya dari sini. Aku sungguh-sungguh terkepung dan meskipun tidak satu panah pun berhasil melukaiku, hujan panah yang terus menerus sungguh menghambat laju gerakku. Mereka bukan taksengaja menyusun kedudukan yang membuatku tidak bisa beranjak ke mana-mana, kecuali menangkis ribuan anak panah yang terus menerus mengancam jiwaku dari segala penjuru.

133: Naga Mendekam

di Balik Air Terjun

RIBUAN anak panah yang berlesatan menyergap dan mengancam kugugurkan dengan pedang dan cambuk mestika yang kumainkan dengan Jurus Naga Mendekam di Balik Air Terjun. Dengan jurus ini memang terjamin betapa tidak satu anak panah pun mampu menyerempetku, tetapi aku tetap tidak dapat beranjak.

Setiap orang dari pasukan penjaga Kota Thang-long ini dengan mudah dapat kulumpuhkan, tetapi sebagai kesatuan terbukti para guru perang Negeri Atap Langit telah mengajari orang-orang Viet ini dengan baik.

Sun Tzu berkata tentang keadaan:

‘’Mereka yang zaman dahulu disebut pandai berperang itu tidak hanya menang, melainkan menang atas musuh yang mudah dikalahkan. Itulah sebabnya, mereka yang pandai berperang itu kemenangannya tidak memberinya nama karena kearifan, tidak pula memberinya jasa karena keberanian.

‘’Itulah sebabnya, mereka menang perang tanpa meleset. Tanpa meleset artinya apa yang diikhtiarkannya tentu menghasilkan kemenangan, mereka menang atas lawan yang sudah kalah

”ITULAH sebabnya, mereka yang pandai berperang itu menempati kedudukan yang tidak terkalahkan dan tidak melepaskan kesempatan untuk mengalahkan lawan.

”Itulah sebabnya, tentara yang menang itu sudah lebih dahulu menang, kemudian baru mengajak berperang; tentara yang kalah itu lebih dahulu berperang, kemudian baru berharap menang.” 1)

Panah masih terus menerus berhamburan dari busur silang yang tenaganya luar biasa itu. Jika panah itu menancap pada tubuh manusia, ia takpernah tidak menembusinya. Bahkan batok kepala manusia yang keras, meski ditutup pelindung kepala terkeras, andaikanlah ditambah perisai tiga lapis, masih ditembus dengan halus tanpa harus memecahkannya, karena ketajaman dan daya peluncuran yang luar biasa. Jika senjata yang kupegang bukan pedang dan cambuk mestika, sudah dari tadi tubuhku terajam menancap di salju.

”Kepung! Kepung! Kepung! Jangan biarkan dia lolos!” Kudengar aba-aba dalam bahasa Viet.

Betapapun Jurus Naga Mendekam di Balik Air Terjun memberikan kepadaku kesempatan berpikir. Panah-panah berhamburan dalam keadaan terpotong,

melengkung, atau terbelah dari ujung sampai ekornya, karena kedahsyatan senjata-senjata yang tadi kurebut dari tangan pemiliknya itu. Sembari memikirkan jalan keluar, aku menyadari kenyataan betapa pasukan yang kuhadapi sangat matang dalam bersiasat. Membuatku bertanya-tanya di tengah serbuan panah, tidakkah kemenangan pasukan pemberontak di berbagai medan tempur di pedalaman selama ini bukanlah sesuatu yang semu?

Pasukan pemerintah yang ditugaskan memburu mereka itu, tidakkah terlalu mudah untuk dikalahkan? Atau, jika mereka memang dikirim untuk menumpas pasukan pemberontak, bukankah memang cukup dikirim pasukan yang tidak harus menang? Dalam kenyataannya, seperti yang kualami bersama pasukan Amrita, pasukan pemerintah yang dikirim memang bukanlah sembarang pasukan, melainkan pasukan yang dilatih untuk memburu pasukan pemberontak dari hutan ke hutan, tetapi tetap saja takbisa menang.

Memang, setelah peristiwa kekalahan itu, di berbagai wilayah di Daerah Perlindungan An Nam pasukan pemerintah terus menerus mengalami kekalahan, sehingga para pemimpin pasukan pemberontak, dengan perantaraan Harimau Perang, memutuskan keluar dari hutan, turun gunung dan melibas kota demi kota, sampai mengepung pusat pemerintahan. Dari kota ke kota bukan tidak ada perlawanan, bahkan perlawanan itu kudengar berlangsung sengit, kadang dengan membumi hanguskan kota yang ditinggalkan itu, sehingga memang tidak akan pernah terduga sebagai siasat mundur teratur untuk dengan mendadak menyerang kembali.

Masalah seharusnya sudah terpecahkan, jika pasukan pemberontak memiliki jaringan mata-mata yang bisa diandalkan, yang selama ini pengaturannya berada di bawah Harimau Perang, tetapi yang saat itu belumlah kuketahui keberadaannya. Sebaliknya, seperti perbincangan yang kudengar itu, yang kini pembicaranya telah kutewaskan semua, justru mata-mata pemerintah bertebaran di pihak pemberontak, yang begitu sulit dilacak, karena merupakan mata-mata tidur yang tentunya telah ditanam puluhan tahun. Bagaimana jika pada saat menentukan seperti ini para

mata-mata tidur itu dibangunkan? Karena mata-mata tidur dibangunkan, hanya untuk menjalankan tugas-tugas penting.

Aku melenting ke atas atap untuk membersihkan para pemanah yang berada di atasku. Ini hanya bisa kulakukan ketika berlangsung pergantian regu pemanah di bawah, yang dalam sekejap kumanfaatkan untuk melesat. Sekali terjadi kekosongan, aku berkelebat meloloskan diri dari kepungan, dan melejit ke arah perbentengan, tempat pasukan pemerintah berjaga di sekeliling kota, dalam pengawasan yang sangat ketat. Beberapa orang yang berilmu tinggi mengejarku sambil melempar pisau-pisau terbang. Sekali kibas dengan cambuk keemasan, pisau-pisau terbang itu rontok berantakan dan pelemparnya muntah darah karena angin pukulan Telapak Darah. Aku masih dalam pengejaran ketika tiba di dekat benteng, dan menyaksikan betapa pintu gerbang kota telah dibuka

133: Naga Mendekam di Balik Air Terjun

RIBUAN anak panah yang berlesatan menyergap dan mengancam kugugurkan dengan pedang dan cambuk mestika yang kumainkan dengan Jurus Naga Mendekam di Balik Air Terjun. Dengan jurus ini memang terjamin betapa tidak satu anak panah pun mampu menyerempetku, tetapi aku tetap tidak dapat beranjak. Setiap orang dari pasukan penjaga kota Thang-long ini dengan mudah dapat kulumpuhkan, tetapi sebagai kesatuan terbukti para guru perang Negeri Atap Langit telah mengajari orang-orang Viet ini dengan baik.

Sun Tzu berkata tentang keadaan:

’’Mereka yang zaman dahulu disebut pandai berperang itu tidak hanya menang, melainkan menang atas musuh yang mudah dikalahkan. Itulah sebabnya, mereka yang pandai berperang itu kemenangannya tidak memberinya nama karena kearifan, tidak pula memberinya jasa karena keberanian.

’’Itulah sebabnya, mereka menang perang tanpa meleset. Tanpa meleset artinya apa yang diikhtiarkannya tentu menghasilkan kemenangan, mereka menang atas lawan yang sudah kalah.

’’Itulah sebabnya, mereka yang pandai berperang itu menempati kedudukan yang tidak terkalahkan dan tidak melepaskan kesempatan untuk mengalahkan lawan.

’’Itulah sebabnya, tentara yang menang itu sudah lebih dahulu menang, kemudian baru mengajak berperang; tentara yang kalah itu lebih dahulu berperang, kemudian baru berharap menang.’’ 1)

Panah masih terus menerus berhamburan dari busur silang yang tenaganya luar biasa itu. Jika panah itu menancap pada tubuh manusia, ia tak pernah tidak menembusinya. Bahkan batok kepala manusia yang keras, meski ditutup pelindung kepala terkeras, andaikanlah ditambah perisai tiga lapis, masih ditembus dengan halus tanpa harus memecahkannya, karena ketajaman dan daya peluncuran yang luar biasa. Jika senjata yang kupegang bukan pedang dan cambuk mestika, sudah dari tadi tubuhku terajam menancap di salju.

’’Kepung! Kepung! Kepung! Jangan biarkan dia lolos!’’ Kudengar aba-aba dalam bahasa Viet.

Betapapun Jurus Naga Mendekam di Balik Air Terjun memberikan kepadaku kesempatan berpikir. Panah-panah berhamburan dalam keadaan terpotong, melengkung, atau terbelah dari ujung sampai ekornya, karena kedahsyatan senjata-senjata yang tadi kurebut dari tangan pemiliknya itu. Sembari memikirkan jalan keluar, aku menyadari kenyataan betapa pasukan yang kuhadapi sangat matang dalam bersiasat. Membuatku bertanya-tanya di tengah serbuan panah, tidakkah kemenangan pasukan pemberontak di berbagai medan tempur di pedalaman selama ini bukanlah sesuatu yang semu?

Pasukan pemerintah yang ditugaskan memburu mereka itu, tidakkah terlalu mudah untuk dikalahkan? Atau, jika mereka memang dikirim untuk menumpas pasukan pemberontak, bukankah memang cukup dikirim pasukan yang tidak harus menang? Dalam kenyataannya, seperti yang kualami bersama pasukan Amrita, pasukan pemerintah yang dikirim memang bukanlah sembarang pasukan, melainkan pasukan yang dilatih untuk memburu pasukan pemberontak dari hutan ke hutan, tetapi tetap saja takbisa menang.

Memang, setelah peristiwa kekalahan itu, di berbagai wilayah di Daerah Perlindungan An Nam pasukan pemerintah terus menerus mengalami kekalahan, sehingga para pemimpin pasukan pemberontak, dengan perantaraan Harimau Perang, memutuskan keluar dari hutan, turun gunung dan melibas kota demi kota, sampai mengepung pusat pemerintahan. Dari kota ke kota bukan tidak ada perlawanan, bahkan perlawanan itu kudengar berlangsung sengit, kadang dengan membumi hanguskan kota yang ditinggalkan itu, sehingga memang tidak akan pernah terduga sebagai siasat mundur teratur untuk dengan mendadak menyerang kembali.

Masalah seharusnya sudah terpecahkan, jika pasukan pemberontak memiliki jaringan mata-mata yang bisa diandalkan, yang selama ini pengaturannya berada di bawah Harimau Perang, tetapi yang saat itu belumlah kuketahui keberadaannya. Sebaliknya, seperti perbincangan yang kudengar itu, yang kini pembicaranya telah kutewaskan semua, justru mata-mata pemerintah bertebaran di pihak pemberontak, yang begitu sulit dilacak, karena merupakan mata-mata tidur yang tentunya telah ditanam puluhan tahun. Bagaimana jika pada saat menentukan seperti ini para mata-mata tidur itu dibangunkan? Karena mata-mata tidur dibangunkan, hanya untuk menjalankan tugas-tugas penting

AKU melenting ke atas atap untuk membersihkan para pemanah yang berada di atasku. Ini hanya bisa kulakukan ketika berlangsung pergantian regu pemanah di bawah, yang dalam sekejap kumanfaatkan untuk melesat. Sekali terjadi kekosongan, aku berkelebat meloloskan diri dari kepungan, dan melejit ke arah perbentengan, tempat pasukan pemerintah berjaga di sekeliling kota, dalam pengawasan yang sangat ketat. Beberapa orang yang berilmu tinggi mengejarku sambil melempar pisau-pisau terbang. Sekali kibas dengan cambuk keemasan, pisau-pisau terbang itu rontok berantakan dan pelemparnya muntah darah karena angin pukulan Telapak Darah. Aku masih dalam pengejaran ketika tiba di dekat benteng, dan menyaksikan betapa pintu gerbang kota telah dibuka!

Baru terlihat olehku sekarang betapa banyak pasukan yang bersembunyi di balik tembok perbentengan tersebut. Bukan sekadar parit jebakan dan pertahanan di balik

benteng itu ternyata telah diisi pasukan berkuda yang siaga sejak semalam, melainkan juga bahwa parit-parit yang menjadi tempat persembunyian sebelumnya telah ditutup atap-atap anyaman bambu yang di atasnya dilakukan penyamaran dengan tanah, dan kemudian salju. Pada musim panas, bersembunyi di dalam parit dengan kudanya akanlah sangat menyiksa bagi suatu pasukan, tetapi pada musim dingin bersalju, justru itu menjadi tempat yang sangat nyaman. Pantaslah dari udara ketika aku melewatinya bagai layang-layang diterbangkan angin masuk kota, tidak kulihat apa pun sepanjang perbentengan selain pasukan penjaga yang memang kuat sekali. Agaknya kemungkinan lolosnya penyusup dari pengamatan telah mereka perhitungkan, sehingga apabila penyusup itu berada di dekat benteng pun, tak akan penyusup itu menduga betapa di dalam tanah bersembunyi balatentara yang besarnya sama sekali tidak terduga.

Sementara aku masih diburu para penjaga perbatasan berilmu tinggi yang sangat mahir menggunakan pisau terbang, kulihat betapa setelah pintu gerbang dibuka, jembatan gantung di atas sungai yang tadi dikerek naik diturunkan pula, dan tiba di tempatnya tepat ketika pasukan berkuda melewatinya dengan menggebu. Pasukan pemerintah melakukan serangan mendadak pada pagi buta, ketika pasukan pemberontak masih sibuk melayani para penyusup, yang ketika kutinggal memang belum berhasil mengacaukan keadaan, jika hal itu yang menjadi tujuan. Namun bagaimanakah bisa kupastikan suatu tujuan, dari pengetahuan sangat terbatas, dalam perang siasat yang penuh tipu muslihat ini? Bagaimana jika berlangsung suatu keadaan yang ternyata sesuai dengan tujuan pasukan pemerintah, yang kini tampak begitu perkasa menghambur dari empat gerbang kota di barat, timur, selatan, maupun utara?

Lima penjaga perbatasan mengurungku di atas benteng dan para penjaga benteng di bagian itu menyerangku pula dengan senjata rantai berkait yang sengaja digunakan untuk menangkap penyusup hidup-hidup. Mulai dari rantai berkait sabit sampai rantai berkait cakra besi beracun berkelebatan berusaha mengait kaki maupun tangan, sementara senjata-senjata lain, tombak trisula, pedang, dan kapak dua sisi, menyambar bagian depan dan belakang tubuhku. Bila aku melenting ke atas, kutahu anak-anak panah yang dilepaskan busur silang bertenaga kuat, akan

segera menancap di segenap titik lemah yang pasti mematikan. Keadaanku sungguh sulit, dan hatiku gelisah karena sangat khawatir dengan keadaan Amrita.

Aku berkelebat menghindari segenap serangan rantai berkait, tetapi senjata-senjata lain kupapas dengan pedang biru mestika yang luar biasa itu. Tombak trisula, pedang, dan kapak dua sisi terputus begitu saja dalam sekali putaran. Lantas aku melesat ke udara, sengaja memancing diluncurkannya anak panah yang memang segera berhamburan melesat. Dengan sisi lebar pedang biru, dalam sekali kebas kubelokkan arah panah-panah itu ke arah semua orang yang telah menyerangku. Itulah yang disebut Jurus Naga Melipat Ekor. Dalam pengembangan jurus ini, bahkan mungkin pula setiap senjata yang mengancam nyawaku akan berbalik ke arah penyerang itu sendiri.

Demikianlah mereka berguguran jatuh dari tembok perbentengan dengan anak panah yang dilepaskan kawan mereka sendiri menancap pada jantung mereka. Dengan cambuk keemasan kulecutkan ledakan-ledakan berlelatu api yang membuat barisan pemanah itu pekak dan sebagian pingsan. Tentu saja berlesatan lagi regu penjagaan ke arahku.

”Penyusup! Penyusup! Penyusup!”

Kudengar teriakan itu di mana-mana. Namun aku mendapat kesempatan untuk memperhatikan bahwa barisan pasukan pemerintah ini, begitu menyeberang jembatan dan sampai di seberang sungai, segera terbagi menuju dua arah.

JIKA ini juga dilakukan pada ketiga gerbang yang lain, berarti pasuikan pemerintah menyerbu ke arah delapan titik pada delapan mata angin, yang jelas bermaksud memecahkan pemusatan perhatian pasukan pemberontak. Sejauh pasukan pembe-rontak tidak terkacaukan pemusatan perhatiannya oleh serangan para penyusup yang belum teratasi ketika kutinggalkan, maka serbuan macam apapun akan mampu diatasi oleh pasukan pemberontak yang nyaris selalu hidup dalam suasana peperangan itu.

Justru itulah sebabnya aku merasa waswas, bahwa para pengatur siasat pasukan pemerintah tidak akan melakukan serangan yang sia-sia. Bahkan aku mulai memikirkan kemungkinan yang sangat masuk akal tetapi sungguh tidak terduga, bahwa kekalahan pasukan pemerintah di mana-mana, meski tampak meyakinkan sebagai kekalahan yang sebenarnya, memang bertujuan untuk memancing segenap pasukan pemberontak turun menyerbu Thang-long sebagai pusat pemerintahan. Kemenangan demi kemenangan di pedalaman telah membuat pasukan pemberontak haus kemenangan, dan tidak menyadari keberadaan mereka sebagai harimau yang sedang dipancing masuk jebakan.

Dalam kenyataannya, melumpuhkan pasukan pemberontak di pedalaman, artinya di dalam hutan, di gunung-gunung, di antara lembah dan tepian jurang sangatlah sulit untuk tidak dikatakan mustahil. Dalam perang ratusan tahun, pasukan pemberontak tidak akan melayani tantangan perang terbuka, melainkan bertempur dari hutan ke hutan, tempat mereka menjalankan siasat serang dan sembunyi ke dalam hutan, yang sangat ampuh untuk sedikit demi sedikit melemahkan pasukan pemerintah. Apabila kemudian pasukan pemerintah ini berhasil mereka pancing untuk mengejar ke rawa-rawa, di sanalah mereka akan habis dibantai, dan tidak satu orang pun bisa kembali pulang. Jika ini berlangsung bukan hanya di satu wilayah, melainkan di segenap wilayah pemberontakan di pedalaman, akan semakin mustahil bahwa pemberontakan dapat dipadamkan.

Maka, bukankah masuk akal untuk menduga, bahwa para pengatur siasat mencari jalan, agar pasukan pemberontak dapat berkumpul di satu tempat dan di sanalah mereka ditumpas sampai tiada satu orang pun tersisa? Kenyataan lain yang menyebabkan pasukan pemberontak sulit dilumpuhkan di pedalaman, adalah keberpihakan penduduk pedalaman, yang dengan segala cara akan membantu pasukan pemberontak. Dikatakan betapa masih mungkin mengalahkan balatentara suatu negara dalam pertempuran, tetapi adalah mustahil menundukkan suatu bangsa dengan peperangan macam apapun, karena semangat perlawanan suatu bangsa tidak terletak pada senjata, melainkan berada dalam jiwanya. Itulah sebabnya cara terbaik adalah memancingnya keluar dari kubu masing-masing, melepaskan setiap kesatuan dari bumi dan rakyat yang mendukungnya, lantas

menumpasnya di satu tempat sampai habis tanpa sisa. Tiada umpan lebih baik agar siasat semacam ini terlaksana, selain meyakinkan pihak pemberontak bahwa kesempatan merebut Thang-long terbuka di depan mata.

Untuk memberi keyakinan yang tidak mencurigakan, kekalahan demi kekalahan pasukan pemerintah saja takcukup, tetapi harus ditanamkan gagasan bahwa merebut Thang-long dan menggulingkan kekuasaan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam sudah matang untuk dilaksanakan. Namun bagaimanakah caranya menyebar dan menanamkan gagasan semacam itu, dengan jaminan yang bisa dipercaya? Siapakah kiranya, atau jaringan mata-mata macam apa, yang akan mampu menyusup, menyelinap, dan diterima sebagai kawan, tanpa sedikit pun menimbulkan kecurigaan?

Tentu aku tidak lupa bahwa pasukan pemerintah yang sebagian didatangkan dari Negeri Atap Langit juga terdiri dari narapidana, yang semula merupakan para penjahat kambuhan. Siasat yang tepat untuk memperdaya pasukan pemberontak, sembari mengorbankan orang-orang yang sejak awalnya memang merupakan orang-orang hukuman.

Sekali lagi kuputar pedang biru dan cambuk kuning keemasan dengan Jurus Naga Mendekam di Balik Air Terjun. Seorang pendekar yang menilik busananya berasal dari Negeri Atap Langit memimpin sebuah regu yang mengepungku. Pisau terbang berhamburan dari segala penjuru. Namun selama aku menggunakan jurus tersebut, meski di atas tembok perbentengan ini aku dikepung oleh semakin banyak orang, aku akan tetap taktersentuh. Aku berpikir keras. Aku teringat pembicaraanku dengan Amrita tentang seorang perwira penghubung terkenal bernama Harimau Perang. Bukankah ia dengan pasukan penghubungnya yang istimewa disebut-sebut menghubungkan setiap pemimpin pasukan pemberontak di pedalaman, baik antara masing-masing pemimpin pasukan, maupun dengan para pemimpin pemberontakan yang memang tidak boleh tampak untuk menghindari pembunuhan?

TIDAK jelas bagiku, apakah gangguan para penyusup telah berhasil diatasi, tetapi cara pasukan pemberontak melayani mereka satu lawan satu dengan tandingan sepadan adalah siasat yang sangat baik, karena setiap serbuan masih akan selalu

siap mereka layani. Jadi meskipun dari dalam benteng terdapat serbuan ke delapan titik pada delapan penjuru angin, jika keadaannya tetap demikian maka serbuan ini pun akan dapat mereka hadapi dengan seimbang. Pasukan pemberontak adalah pasukan yang ganas, dan keganasannya itulah yang lebih sering membuat pasukan pemerintah jeri, bahkan jauh sebelum berhadapan sama sekali. Namun tentu saja pasukan pemerintah tidak akan menyerbu pada pagi buta, setelah menunggu di bawah tanah dalam hujan salju, tanpa perhitungan secermat-cermatnya bukan?

Aku gelisah dan karena itu ingin segera menyelesaikan pertarunganku sendiri secepatnya. Sudah jelas betapa aku telah gagal menunda sebuah penyerbuan. Jika pasukan pemerintah ingin memastikan suatu kemenangan, apakah kiranya yang akan menjadi andalan? Aku teringat dengan mata-mata tidur mereka, kiranya inilah saat yang paling tepat bagi mereka untuk dibangunkanódan itulah yang rupanya terjadi. Di garis belakang pasukan para pengepung mendadak saja terdengar ledakan dan api segera menyala-nyala ke angkasa pada delapan penjuru angin. Takhanya ledakan, api itu rupa-rupanya merambat melalui sebuah sumbu tumpukan jerami di sepanjang garis belakang sampai kedelapan titik itu bersatu.

Jadi pasukan pemerintah tiba pada delapan titik serbuan pada saat yang tepat. Luar biasa. Api di padang salju. Hanya penyusupan dan pengkhianatan cermat yang memungkinkan pada garis belakang itu tergali parit untuk menyimpan tumpukan jerami, yang agaknya disiram minyak lampu agar menyala. Mendapatkan jerami di musim dingin tidaklah mudah, membuktikan kecermatan persiapan yang sudah berlangsung lama. Siapa sajakah kiranya mata-mata tidur yang telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik itu? Aliran pasukan dari dalam kota belum juga berakhir ketika sebilah pisau terbang menembus pertahananku dan melesat ke arah leherku. Kutangkap pisau terbang itu dengan gigitan dan kukembalikan kepada pelemparnya untuk tepat menancap di dahinya.

Tubuhnya belum ambruk ke lantai perbentengan ketika aku melesat melewatinya sebagai titik terbuka dalam pengepungan diriku. Aku melompat keluar benteng dan turun ke arah pasukan berkuda yang melaju ke medan tempur itu. Dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit aku melesat di atas kepala dan bahu para prajurit

pasukan berkuda yang menyerbu sambil berteriak-teriak itu. Agaknya semangat mereka telah dipompa dalam penantian panjang sembari memupuk pembalasan dendam kepada pemberontak, takselalu karena alasan kebangsaan dan kenegaraan, melainkan juga karena alasan-alasan pribadi yang sudah sangat sulit diteliti lagi. 2)

Api berjalan tak tertahankan membentuk lingkaran yang mengepung pasukan pemberontak dari belakang, mereka kini terkurung api, sementara dari depan pasukan pemerintah menghambur dari delapan titik bagaikan air bah. Aku telah melewati jembatan, dengan segera kusalip baris terdepan yang telah disambut barisan penjaga yang memang telah disiapkan menyambut segala serangan. Aku segera menuju pasukan yang dipimpin Amrita. Barisan depan pasukan pemerintah tampak telah terkuak oleh amukan Iblis Suci Peremuk Tulang. Bandul besinya yang mengerikan bergerak lincah mencabut nyawa bagaikan kebutan selendang. Manusia dan kuda tanpa ampun bergelimpangan dan terpental dengan tulang remuk setiap kali tersambar kebutan

NAMUN masalahnya terdapat di belakang, karena kulihat bukan saja para penyusup itu masih bertahan, melainkan betapa mereka dibantu oleh wajah-wajah yang telah sangat kukenal, yang semuanya perempuan!

Bisakah dibayangkan betapa perempuan yang pertama kali kukenal karena menyusui bayi yang kutolong itu, kini ternyata dengan ganas membunuh teman-temannya sendiri? Perempuan-perempuan yang menyusui bayi-bayi terlantar itu ternyata bukan sekadar pengungsi banjir, melainkan memang sengaja dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan pemberontak, yang memang selalu kekurangan dan membutuhkan perempuan.

Sudah bukan rahasia lagi betapa dalam pasukan pihak mana pun yang mengembara dalam hutan, bahwa perempuan yang tidak bersuami akan dibenarkan melayani setiap orang jika berkenan, juga apabila ia menuntut bayaran. Ketika mereka mengikuti rombongan aku pun tidak merasa heran.

Namun itu berarti bukan merekalah mata-mata tidurnya, mereka mungkin adalah mata-mata setempat, yakni penduduk daerah musuh yang digunakan sebagai mata-mata. Di daerah tak bertuan yang menjadi wilayah peperangan, memang menjadi sulit menilai kepada siapa seseorang berpihak. Betapapun di wilayah seperti itulah banyak perempuan menjadi janda dan melakukan segala cara untuk mempertahankan kelanjutan hidupnya.

Maka siapalah yang akan curiga jika seperti perempuan mana pun di wilayah sengketa yang miskin, sehabis terlanda banjir bandang pula, perempuan-perempuan ini menggabungkan diri dengan rombongan, dan terus ikut dengan setia dalam berbagai pertempuran keluar masuk hutan selama berbulan-bulan? Dengan Amrita sebagai pemimpin pasukan, yang selalu peduli kepada kepentingan perempuan, keberadaan mereka dalam rombongan bahkan mendapat jaminan keamanan.

Kini mereka itulah yang mengamuk tak tertahankan. Pada setiap pasukan rupanya mata-mata seperti mereka telah ditanamkan, dan agaknya telah dihubungkan oleh satu tugas yang sama pada saat menentukan, yakni membentuk lingkaran api, saat pasukan pemberontak seluruhnya, ya seluruhnya, harus ditumpas dan dipunahkan!

134: Siapakah Harimau Perang

BUMI bergetar oleh derap pasukan berkuda yang mengalir bagaikan tiada hentinya dari dalam kota. Ratusan ribu pasukan berkuda, tidak terhitung lagi tepatnya berapa, menyerbu pasukan pemberontak dengan ganas. Pasukan berkuda yang terlatih, yang bahkan kudanya pun menggigit dan menyepak dengan tepat, mengalir dan mengalir dari balik pintu gerbang, seperti dimuntahkan mulut naga yang menganga.

‘’Bunuh! Bunuh! Bunuh!’’

Kudengar perintah dalam bahasa Viet untuk mengobarkan semangat prajuritnya berkumandang di mana-mana. Dalam udara dingin darah memercik karena bacokan senjata tajam, menodai putihnya hamparan salju, yang memang telah menjadi berantakan oleh pertempuran antarmanusia yang berseberangan pikiran itu. Pikiran yang harus dinyatakan melalui ayunan senjata tajam, yang kini saling berbenturan

dengan suara berdentang-dentang. Tombak dihadang tombak, pedang dihadang pedang, kelewang bertemu kelewang, sambar menyambar dengan penuh ancaman, sekali lengah nyawa langsung melayang.

Jerit kesakitan dan maki kemarahan terdengar mengiringi tertembusnya tubuh oleh senjata tajam. Tombak panjang menembus tubuh tiga orang, sabetan pedang membuntungkan lengan, putus kepala tanpa ampun oleh ayunan kelewang. Ringkik kuda mengeruhkan keadaan. Kuda menggigit kuda. Ribuan anak panah turun dari langit mencari mangsa dan menancap pada bahu, dada, punggung, maupun kepala. Tentu juga menancap pada tubuh-tubuh yang telah terkapar maupun tengkurap sebagai mayat berserakan.

Sebegitu jauh pasukan pemberontak, meski dalam keadaan lelah akibat perjalanan panjang dari pertempuran satu ke pertempuran lain sebelum bergabung dalam pengepungan, berhasil menghadapi serbuan pasukan pemerintah yang mengalir bagai air bah dengan siasat yang tepat. Dengan suitan-suitan antara kepala pasukan seperti yang kudengar dalam pertempuran di atas kapal, serbuan mengalir seperti air pada delapan titik pengepungan itu disambut dengan kedudukan barisan yang dalam Arthasastra disebut Usana maupun Brhaspati.

DALAM gabungan kedua kedudukan ini, berlangsung pergerakan silang kesatuan ular, kesatuan lingkaran, maupun kesatuan tersebar. Kedudukan ini dapat menghadapi segala serangan dengan lentur.1) Membuat serbuan pasukan berkuda yang mengalir seperti air bah itu memasuki kincir air raksasa yang menampung segala aliran dengan segala kecepatan.

Persoalannya, pasukan pemerintah juga telah menggunakan siasat lain yang diajarkan Sun Tzu, yakni Serangan dengan Api, yang tentunya hanya akan berlangsung pada musim kering, tepatnya ketika bulan menduduki rasi Pengki, Tembok, Sayap, atau Sengkang Kereta. Hari yang menduduki rasi tersebut adalah hari yang terbanyak anginnya. Menurut Sun Tzu, terdapat lima jenis serangan dengan api, yakni membakar pasukan musuh dalam perkemahannya, membakar pangkalan perbekalan, membakar kereta perbekalan, membakar gudang perbekalan, dan membakar iringan pasukan.

Sun Tzu berkata: ”Umumnya dalam serangan dengan api, mesti kita adakan serbuan terpadu sesuai dengan perubahan kelima serangan itu. Jika api dikobarkan dari dalam, segeralah lakukan serbuan dari luar. Walaupun api berkobar, jika pasukannya tetap tenang, tunggu, dan jangan menyerbu. Jika kobaran api mencapai puncaknya, jika dapat dimanfaatkan, majulah; jika tidak dapat, mundurlah. Jika api dapat dikobarkan dari luar, tentulah tidak perlu menunggu pengobaran dari dalam. Hanyalah perlu dikobarkan pada saat yang tepat. Kobarkanlah api dari mata angin. Janganlah menyerbu dari arah yang berlawanan dengan mata angin.”

Sehubungan dengan pertempuran ini: ”Semua tentara mesti mengetahui adanya perubahan kelima serangan dengan api itu dan waspada terhadapnya dengan memperhitungkan kemungkinan musuh menyerang dengan api.” 2)

Tentu saja tiada seorang pun dari pihak pemberontak, betapapun kecerdasannya seperti Amrita, akan waspada terhadap serangan api pada musim dingin, apalagi dilakukan mata-mata setempat yang mereka ajak sendiri sebagai para penghibur dalam rombongan, yang lima di antaranya kini justru sedang mengepung Amrita!

Bukanlah sekadar betapa serangan api yang tak terduga telah dilakukan mata-mata dengan persiapan matang, sehingga api berkobar-kobar begitu tingginya di udara dingin bersalju, tetapi bahwa tak seorang pun mata-mata pihak pemberontak dapat mengendusnya! Mungkinkah? Serangan api ini terlalu rapi, terlalu terencana, dan terlalu besar untuk tidak diketahui mata-mata pihak pemberontak sendiri. Sampai saat itu belumlah kuketahui bahwa yang disebut Harimau Perang, dengan pasukan penghubungnya yang terlatih, sebenarnya juga mengemban tugas sebagai pemimpin kesatuan mata-mata. Dialah yang mengatur tugas kelima jenis mata-mata dengan cermat dan selama ini selalu berhasil, sehingga pasukan pemberontak di berbagai tempat terpisah meraih kemenangan demi kemenangan, dan dapat bertemu di Thang-long dalam waktu bersamaan untuk mengepung.

Amrita telah mengeluarkan sepasang kipasnya dan berkelebat di antara sambaran berbagai macam senjata. Kuperhatikan bahwa tingkat ilmu silat kelima perempuan mata-mata yang mengurungnya sama sekali tidak di bawah Amrita. Apakah yang membuat mereka tidak sejak awal membunuh Amrita dari belakang, yang dengan

tingkat ilmu silat setinggi itu sebetulnya bisa saja dilakukannya? Agaknya semua itu telah diatur dengan sangat terperinci. Kematian Amrita yang terlalu awal akan membuat terdapatnya jaringan mata-mata terbongkar. Sedangkan jaringan mata-mata ditanam demi suatu rencana yang dijalankan langkah demi langkah dengan cermat agar mencapai tujuan yang diinginkan. Kiranya kerahasiaan itulah prasyarat pekerjaan mata-mata yang merupakan kemutlakan.

Bukan lima perempuan pendekar itu saja mata-mata yang tertanam di dalam pasukan Amrita, melainkan terdapat lima perempuan lagi dengan kepandaian sama tinggi, yang serangannya sama sekali di luar perhitungan. Sementara lapis penjagaan terdepan membentuk kedudukan kincir air untuk meredam air bah serbuan pasukan pemerintah membuat keadaan tetap berimbang, kobaran api yang menghabiskan segalanya dan tikaman dari belakang para perempuan mata-mata itu mengubah keberimbangan. Betapa tidak jika sekali berkelebat setiap perempuan mata-mata itu dapat menewaskan lima orang? Bagi pasukan pemberontak, kenyataan betapa para perempuan yang semula hanya mereka pandang sebagai penghibur itu mendadak jadi pembunuh tanpa ampun tentulah sangat mengejutkan.

MEMANG sebagai anggota pasukan pemberontak selama ini mereka juga telah menunjukkan kemampuan tempur dalam hutan rimba, sama seperti kaum lelaki dalam kemampuan memainkan senjata. Namun tiada seorang pun tentunya mengira betapa mereka semua akan mampu berkelebat dan melenting begitu rupa seperti Amrita, berkelebat dan melesat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, mencabut nyawa dengan bebas tanpa halangan apa pun jua. Dalam pasukan Amrita mereka digabungkan dengan regu panah, sebagai pemanah jitu yang bertugas mengincar para pemimpin pasukan pihak lawan. Maka jika selama ini tugas semacam itu berjalan dengan sangat baik, maka apalah yang harus menjadi alasan untuk meragukan kesetiaan mereka? Jika pada setiap pasukan terdapat mata-mata yang menusuk dari belakang dengan kemampuan setinggi ini,

Kuambil tiga dari lawan Amrita, karena keselamatan Amrita bagiku sangatlah utama. Bukan sekadar karena hubunganku dengan Amrita, melainkan karena tidak banyak orang seperti Amrita yang menguasai seluk beluk siasat perang yang telah

dipelajarinya sebagai putri raja Jayavarman II. Dengan pedang biru kubabat putus pedang dan tombak di tangan mereka, begitu ketiganya melompat mundur sembari melepaskan pisau-pisau terbangnya, cambuk kuning keemasan yang kupegang berputar cepat bagaikan kincir membentuk perisai dan merontokkan serangan dari tiga jurusan. Rerontokan pisau terbang belum lagi sampai ke bumi ketika ribuan jarum mendesing sembari meruapkan aroma racun.

Menangkis serangan jarum beracun, apalagi dalam jumlah ribuan, yang hanya bisa dilakukan tangan terlatih yang sangat terampil, di tengah pertempuran seperti ini adalah persoalan pelik, karena jika tidak berhasil kurontokkan ke tanah tentu melesat ke lain arah dan dapat membunuh teman sendiri. Juga tak dapat sekadar melesat ke atas dengan ilmu meringankan tubuh untuk menghindarinya, karena ini sama dengan merajam orang lain yang tak bisa menghindar di sekitar kita. Pernah kusaksikan betapa jarum-jarum beracun itu menancap pada tubuh kuda sejak leher sampai perutnya, dan betapa mengenaskannya nasib kuda tempur yang betapapun perkasanya tiada berdaya melawan racun yang segera membekukan darahnya. Tentu telah kusaksikan pula akibat tangkisan yang mementalkan ribuan jarum itu kepada manusia, yang wajahnya bisa berubah menjadi hijau, biru, dan kuning karena racun ganas jarum-jarum itu.

Maka, di tengah pertempuran kacau balau yang tidak segera dapat dibedakan mana kawan dan mana lawan, kuterima seluruh jarum itu agar menancap pada tubuhku. Jarum-jarum itu menembus baju tebal musim dinginku dan menancap pada kulitku, yang berani kulakukan hanya karena kuanggap dalam diriku masih tersisa ilmu-ilmu pemunah racun warisan Raja Pembantai dari Selatan itu.

Suatu pikiran yang sangat berbahaya! Karena setiap kali aku dapat memecahkan mantra Sansekerta itu sebagai bait-bait ajaran filsafat Nagarjuna, daya pemunah racun maupun sihir dari mantra-mantra itu semakin berkurang, bagaikan penanda yang tak bisa lebih tepat lagi atas bergesernya kepercayaan kepada yang gaib kepada ilmu penalaran.

Ketiga perempuan pendekar yang telah berbulan-bulan bersama kami itu tertegun. Bagaimana mungkin ribuan jarum beracun dapat menancap begitu rupa menembus

baju musim dingin tanpa akibat apa pun juga? Namun dalam pertarungan tingkat tinggi, kelengahan sesaat sangat berakibat. Saat ketiganya tertegun itulah nyawanya terputus oleh pedang biru yang menyapu leher jenjang mereka.

Iblis Suci Peremuk Tulang datang pada saat yang tepat untuk menghadapi lima perempuan mata-mata lain yang mengamuk tanpa lawan, sehingga terlalu banyak korban di pihak pasukan pemberontak bergelimpangan. Namun ia tidak akan bisa menghadapinya sendirian, karena para perempuan mata-mata ini memang bukan sembarang petarung. Mereka tidak takut mati, dan memberikan nyawa demi kemenangan perang adalah segala-galanya. Iblis Suci Peremuk Tulang bahkan nyaris terbunuh oleh pisau terbang jika Amrita, yang telah menewaskan kedua lawannya, tidak menepisnya jatuh dengan tampelan kipas sebelum menembus leher paderi itu.

”Iblis Suci! Hancurkan saja para penyerbu di depan itu! Biar kubasmi tikus-tikus ini bersama Pendekar Tanpa Nama!”

Siasat Amrita tepat. Sambil melenting-lenting jungkir balik ke udara menghindari pisau terbang yang berhamburan dari segala penjuru, kusaksikan di tempat lain pasukan pemberontak sungguh terdesak, karena pasukan perempuan mata-mata yang serba sakti mandraguna itu sungguh tidak ada lawannya. Adapun mereka itu menyerang secepat kilat tanpa tertahankan dari belakang, ketika perhatian pasukan pemberontak di setiap titik pengepungan terbelah, antara para penyelusup yang masih bertahan dan serbuan pasukan berkuda pemerintah Daerah Perlindungan An Nam yang bagaikan air bah.

HAMPIR di setiap titik pada delapan penjuru angin pasukan pemberontak terdesak ke arah dinding api, yang berkobar-kobar menggapai angkasa pada pagi buta di musim dingin seperti ini. Sambil turun dari udara kusapukan lenganku agar jarum-jarum beracun yang menancap pada lenganku di balik baju dapat melncur sebagai senjata rahasia ke arah tiga lawanku. Mereka melenting dan jumpalitan ke udara menghindarinya, maka pedang biru dan cambuk kuning keemasan yang kugerakkan dengan Jurus Naga Menguap di Tepi Danau membuat riwayat mereka tamat sebelum kembali menyentuh bumi.

Untuk sesaat segalanya tampak begitu lamban bagiku, dan kelambanan membuat segala sesuatu tampak terlalu jelas. Pertempuran ganas yang berubah menjadi tarian terindah, mulut kuda yang meringkik dengan kedua kaki depan terangkat ke atas dan matanya memancarkan kengerian, penunggangnya yang membacok ganas dengan kelewang berkilatan, tetapi yang pada punggungnya tiba-tiba saja menancap sebatang anak panah, dan dari bawah sebatang tombak menembus titik lemahnya yang terbuka saat ia membacok. Tubuhnya terangkat oleh tombak itu, terlontar dari kuda dan dibuang ke arah barisan lawan, yang tak ingin kuceritakan lagi kelanjutannya. Bunuh membunuh tiada hentinya berlangsung dalam pertempuran. Dalam peperangan panjang seperti yang telah berlangsung beratus-ratus tahun semenjak Negeri Atap Langit menguasai An Nam, takterhitung lagi banyaknya manusia yang tewas bergelimpangan.

Untuk sesaat segalanya memang tampak lamban, tetapi hanya dalam beberapa saat, berapa ribu manusia tewas karena senjata tajam dengan kesakitan tak tertahankan? Mereka yang sejatinya bukan prajurit tempur melainkan petani-petani desa sahaja, telah berubah menjadi binatang-binatang ganas tanpa ampun, yang tak bisa lain selain meraung, meradang dan menerjang, dengan amukan penuh dendam tanpa terlalu paham apa yang sebenarnya dipersoalkan. Hanya pasukan yang dalam Arthasastra disebut sebagai pasukan turun-temurun 3) bertempur dengan lebih tenang dan penuh perhitungan. Mereka ini tidak berteriak-teriak, yang memang lebih sering digunakan oleh mereka yang merasa jeri bertempur untuk menutupi ketakutannya sendiri. Namun memang tiada yang lebih ganas daripada mereka yang takut mati, karena mereka dipastikan akan membunuh siapa pun yang berpeluang membunuh mereka dengan sepasti-pastinya. Apa yang bagi prajurit sejati cukup dilumpuhkan, bagi petani yang maju berperang hanya karena kewajiban, atau tiada lagi tanah garapan, kematian saja belum cukup jika tidak diiringi perajaman.

Mataku berkejap mengusir lamunan. Amrita telah menewaskan satu lawannya dengan bersimbah air mata. Sambil bertarung ia tersedu sedan tak dapat lagi menahan tangisnya.

‘’Kenapa kalian paksa daku membunuh kalian begini rupa? Kenapa? Bukankah kita telah bersahabat begitu dekat, selalu bersama dalam suka dan duka. Kenapa daku harus membunuh kalian… Kenapa…’’

Air matanya berderai membasahi pipi. Namun tampaknya ia pun tidak menanti jawaban, ketika kipasnya bergerak mementahkan segenap jarum beracun yang berhamburan dari perempuan mata-mata itu. Lebih tidak memerlukan jawaban lagi, karena setelah jarum-jarum beracunnya gagal mengenai Amrita, perempuan mata-mata yang sangat bernyali itu lantas menghamburkan jarum-jarum beracunnya ke mana-mana dan menewaskan banyak sekali pasukan Amrita. Maka Amrita pun melesat dan menyelesaikan pertarungan dengan Jurus Satu Kebutan Satu Nyawa. Pedang yang dipegang perempuan mata-mata itu terpental ke udara dan pada saat itu pula kipas Amrita dalam keadaan tertutup menohok jantungnya.

Ia terpental ke arah sejumlah pendekar yang secara ksatria tidak merajamnya. Dari mulutnya tersembur darah. Amrita memeluknya sambil menangis sementara pertempuran masih terus berlangsung di sekitarnya.

‘’Maafkan kami, Kakak, seandainya saja kita berada di pihak sama… Tapi saya tidak menyesal terbunuh oleh Kakak…’’

Tidaklah kuketahui bagaimana caranya mengungkapkan kesedihan Amrita. Perempuan mata-mata itu memegang tangan Amrita, mulutnya penuh darah, tangannya menggamit agar Amrita mendekatkan telinga kepadanya. Kulihat ia membisikkan sesuatu kepada Amrita sebelum meninggal.

Lantas kusaksikan Amrita bangkit dan menjejakkan kakinya dengan kemarahan luar biasa.

‘’Pengkhianat!’’ teriaknya dengan mata menyala-nyala.

KAMI saling berpandangan. Kedekatanku dengan Amrita membuat kami cukup berpandangan sekilas untuk mengetahui apa yang dikehendaki. Ia menggerakkan kepalanya ke arah dinding api yang berkobar di belakang. Maka aku pun mengerti bahwa ia memintaku agar membuka jalan supaya pasukannya bisa melewati api itu.

Di antara semua titik serbuan pasukan pemerintah, memang hanya pasukan kami yang dapat bertahan, bahkan mendesak mundur pasukan pemerintah berkat amukan Iblis Suci Peremuk Tulang yang mengerikan. Namun pada titik lain, perempuan mata-mata di tempat mereka masing-masing agaknya tidak tertandingi, sementara para penyusup masih bertahan pula, sehingga pasukan pemberontak terdesak ke dinding api.

Ketika langit mulai terang, semakin jelas bahwa bukanlah sekadar sumbu yang telah menghubungkan ledakan api pada delapan mata angin menjadi satu, melainkan juga segenap perbekalan, tenda, gerobak, bahan pangan, yang selama ini diserahkan penjagaannya kepada perempuan-perempuan itu. Dalam siraman bergentong-gentong minyak lampu yang sengaja dipersiapkan, semua itu menyambungkan api di belakang para pengepung sekeliling perbentengan, sehingga pasukan pemberontak yang semula mengepung itulah yang kemudian terkepung api.

Bukanlah betapa api itu begitu tinggi, melainkan betapa luas dan lebarnya, sehingga bagai mustahil melewatinya tanpa tertembus jadi daging bakar di tengah padang salju itu. Serangan api pada musim dingin. Dengan pengetahuan bahwa setiap pasukan tempur mengacu kepada kitab falsafah seni perang Sun Tzu, kemutlakan mustahilnya melakukan serangan api pada musim dingin dimainkan, sehingga pasukan pemberontak terkecoh. Alih-alih siap memasuki Thang-long dengan langkah kemenangan, kini berada dalam ancaman kekalahan dan kepunahan.

Aku melesat ke garis paling belakang. Masih terdapat sisa-sisa para penyusup yang belum juga bisa dilumpuhkan. Betapapun harus kuakui, yang kudengar sebagai pasukan sewaan dari Negeri Atap Langit itu, mungkin berasal dari suatu jaringan rahasia, adalah orang-orang yang tangguh. Namun tiada waktu bagiku untuk mengaguminya. Kuambil alih pertarungan lima lawan lima itu dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian, meski hanya tangan kirikulah yang memegang pedang biru, sementara di tangan kananku cambuk kuning keemasan, yang membuat jurus ini semakin sulit dibaca lagi. Inilah kalimat yang dituliskan kedua senjataku:

dari mana kalian datang kawan

menjemput kematian di negeri orang

tiada maksud sahaya memutus kehidupan

selain menjalankan kewajiban

Dalam tiga baris pertama kuselesaikan perlawanan tiga orang, dengan baris terakhir tamatlah riwayat dua orang gagah sekaligus. Kelimanya bergelimpangan di medan pertempuran. Begitulah caranya Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Tanpa memahami aksara maupun isinya untuk membentuk kalimat sanggahan sebagai jurus perlawanan, kematian sudah menjadi ketentuan.

***

KUSAKSIKAN parit api yang tak mungkin dilompati kuda tempur. Kusapukan angin pukulan untuk membunuh api, dengan cara memukul tanah di bawah api tersebut dari jauh, sehingga tanah terbongkar dan menutup api itu sampai padam. Aku harus melakukannya berkali-kali, bukan sekadar karena yang terbakar bukanlah sekadar jerami kering seperti terjadi pada musim panas, melainkan bahan-bahan lain yang ditumpahkan ke sana, juga karena harus cukup luas untuk jalan keluar pasukan pemberontak ini sebanyak-banyaknya.

Melalui regu penyampai pesan, Amrita menyebarkan gagasannya, yang tidak mungkin untuk tidak dituruti, karena pilihan hanyalah tertambus api sementara dihujani ribuan anak panah dari busur silang yang mematikan. Terdengar suitan di sana-sini di tengah dentang senjata yang beradu dan jerit terakhir dari kehidupan. Dimulai dengan pasukan Amrita berlangsunglah pengunduran diri melalui celah yang kubuat, dan masih terus kuusahakan bertambah lebar dengan pemadaman demi pemadaman, yang tidak terlalu mudah karena pasukan pemerintah ternyata segera mengetahui perkembangan. Mereka tidak ingin pasukan pemberontak sekadar dikalahkan dan mundur kembali ke hutan. Mereka ingin membasmi pasukan pemberontak yang memang telah berkumpul semuanya dan berhasil mereka kurung dengan api.

Setidaknya kubuka jalan dengan cara mematikan api sepanjang empat ribu hasta prajapati, 4) lebih dari cukup untuk jalan keluar suatu barisan.

NAMUN siapakah kiranya yang sudi melepaskan musuh terdesak di depan mata? Bukan hanya pasukan pemberontak mengundurkan diri dan keluar dari gelanggang pertempuran melalui bagian yang apinya telah kumatikan, tetapi pasukan pemerintah pun memanfaatkan sebagai celah pengejaran. Demikianlah pertarungan tidak berhenti dengan pelarian, karena segera disusul perburuan.

Langit mulai terang ketika aliran pasukan pemberontak terbentuk ke arah tenggara, karena dari arah itulah pasukan Amrita datang dan kini menjadikannya jalan pelarian. Pilihan yang bisa dimengerti, karena itulah wilayah yang telah mereka kenal, tempat mereka telah mencapai kemenangan demi kemenangan, meskipun kemenangan itu ternyata semu dan menyesatkan. Para pemberontak melaju dengan sisa-sisa tenaga kuda mereka, dalam kejaran pasukan pemerintah yang kuda-kudanya masih segar dan baru keluar perbentengan setelah disiapkan berbulan-bulan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama pasukan berkuda pemerintah telah berada di kiri dan kanan barisan, dan pertempuran dilanjutkan sembari melaju tanpa henti dengan korban-korban bergelimpangan sepanjang jalan.

135: Amrita Gugur

PASUKAN pemberontak mengalir keluar bagai lagu kesedihan. Dengan pedih kusaksikan bagaimana pasukan pemerintah memburu mereka sembari melaju di kiri dan kanan barisan. Pasukan pemberontak memacu kuda sambil harus terus menangkis anak-anak panah yang berlesatan dari kiri dan kanan yang dilepaskan oleh para pemanah terbaik dari atas kuda yang berlari dengan busur-busur silang yang selalu tepat sasaran. Demikianlah anak-anak panah berlesetan dan menancap pada sisi kiri dan kanan tubuh, yang membuat korbannya terjatuh, terseret laju kudanya sendiri, atau terlindas kaki-kaki kuda temannya sendiri yang masih mengalir dan melaju dengan kecepatan tinggi. Anak-anak panah juga mengincar leher atau badan kuda jika selalu kena tangkisan, dan pada saat kuda terjatuh maka tubuh penunggangnya akan segera dibabat kelewang. Bukankah begitu menyedihkan

ketika menyaksikan kawan-kawan seperjalanan bergelimpangan sebagai mangsa empuk lawan?

Bukan berarti tiada perlawanan dari pihak pasukan pemberontak, pisau terbang yang berhamburan ke kiri dan kanan juga memakan tak sedikit korban yang mementalkan para pengejar dari punggung kudanya, juga untuk segera dilindas gelombang pasukan pemerintah yang bagai air bah tak henti-hentinya mengalir dan membuncah melalui pintu keluar dari bagian padam dinding api yang masih berkobar itu. Tidak usah diceritakan dengan panjang lebar, betapa sebagian besar dari pasukan pemberontak tidak pernah sempat keluar melalui celah tersebut, terdesak ke dinding api seluas parit lebar dan terbakar, sementara anak-anak panah menyambar tak henti-hentinya dari balik api yang masih terus menyala pada pagi musim dingin bersalju itu. Keberadaan perempuan mata-mata yang bertindak tepat saat serangan dilakukan, telah melemahkan kedudukan pihak pemberontak pada setiap pasukan, sehingga dengan segera terdesak dan dihancurkan.

Setelah beberapa lama terseret arus pasukan-pasukan yang mengalir sambil terus saling menempur dalam pengejaran, kusadari betapa Amrita sama sekali tidak kelihatan. Kucari-cari ke sekeliling, hanya kulihat Iblis Suci Peremuk Tulang melenting-lenting di atas bahu dan kepala para pasukan pemerintah, sambil mengayunkan bandul besinya begitu rupa untuk mengurangi jumlah pasukan pemerintah sebanyak-banyaknya. Namun betapapun banyak sudah prajurit dijadikannya korban dalam keremukan tulang belulang, tiadalah terlalu berarti dalam arus pasukan yang melaju bagaikan air bah tanpa berkesudahan.

‘’Iblis Suci! Di manakah Amrita?’’

‘’Putri kembali ke sana! Ia mencari pengkhianat itu di dalam kota!’’

Pengkhianat? Setidaknya telah dua kali kudengar istilah itu. Kuingat Amrita mengucapkannya dengan mata nyalang setelah mendengar bisikan perempuan mata-mata sahabatnya sendiri yang terpaksa dibunuhnya.

Siapakah nama yang telah dibisikkan itu? Tentu seseorang yang telah sangat dikenalnya, dalam pengertian yang sebaliknya, yakni seseorang yang sangat dipercaya, sehingga Amrita menjadi murka karenanya.

Siapa pun orangnya, tentulah seseorang yang memegang segala rahasia pasukan pemberontak, begitu rupa banyaknya rahasia itu, sehingga sekali ia berganti pihak, rontoklah segala siasat andalan pasukan pemberontak, seperti yang telah terjadi dengan pengepungan ini. Alih-alih pengepungan menjadi langkah menuju penguasaan, berubah menjadi jebakan jitu untuk mengakhiri pemberontakan sama sekali.

AKU berpikir cepat, hanya pekerjaan gabungan yang memungkinkan terketahuinya seluruh rahasia itu, yakni pekerjaan mata-mata, dan tentu saja tugas sebagai penghubung yang menyimpan dan membagi seluruh rahasia ke setiap pemimpin pasukan itu.

Dalam kepalaku terbetik sebuah nama. Harimau Perang!

Bukankah nama itu yang selama ini menjadi kunci pergerakan kaum pemberontak, karena selain ia menjadi penghubung antara para pemimpin pemberontak dengan para pemimpin pasukan, ia juga menjadi penghubung antara para pemimpin pasukan di seluruh wilayah pemberontakan di Daerah Perlindungan An Nam? Tentu sangat bisa diterima jika keberadaan para pemimpin pemberontak itu dirahasiakan, demi menghindari pembunuhan gelap dalam penyusupan, tetapi sangatlah berbahaya mempercayakan seluruh rahasia pergerakan maupun perkembangan pemikiran, hanya kepada satu orang.

‘’Iblis Suci! Arahkan pasukan ke Sungai Merah dan menyeberang! Mereka tidak akan mengejar sampai ke seberang!’’

Setelah itu aku melesat kembali yang berarti melawan arus pasukan-pasukan yang mengalir sambil terus berbaku bunuh itu, dengan cara melenting-lenting sembari menjejak kepala manusia maupun kuda. Dengan segera aku tiba di celah yang terbentuk karena apinya kupadamkan itu. Tiada lagi pasukan berani mati yang

menahan laju pengejaran pasukan pemerintah, agar pasukan pemberontak dapat mengundurkan diri tanpa terganggu. Mereka telah gugur dirajam tombak dan panah, bahkan didesak ke dalam. Terlihat banyak tombak menancap di tanah dalam api dengan tubuh mereka di atasnya yang telah terbakar sebagai arang.

Pintu gerbang kota terbuka. pasukan pemerintah yang terakhir dikirim telah melewatinya. Pertempuran masih berkecamuk di seberang sungai yang sengaja dibelokkan alirannya melingkari perbentengan, sehingga di depan setiap gerbang pada empat penjuru terdapatlah sebuah jembatan gantung yang dapat dikerek naik turun. Namun karena hanya ada satu jalan keluar yang kubuat menembus dinding api, di jalan keluar arus menumpuk begitu rupa sehingga aliran pengunduran dan pengejaran itu tidak selancar seperti sebelumnya.

Maka kubuka bajuku, karena ingin kumanfaatkan sisa-sisa jarum beracun yang menembus baju musim dinginku, menempel pada tubuhku, tetapi tak bisa membunuhku, karena masih terdapat sisa-sisa ilmu pemunah racun Raja Pembantai dari Selatan dalam diriku. Selama aku belum menguasai ujaran filsafat Nagarjuna berbahasa Sansekerta sepenuhnya, ujaran itu tetap akan tinggal sebagai mantra sihir yang bekerja dengan sendirinya setiap kali serangan racun dan sihir menerpa.

Segera kuputar tubuhku seperti gasing, dan melesatlah jarum-jarum beracun yang telah dilepaskan para perempuan mata-mata itu ke arah pasukan berkuda lawan, setiap jarum satu orang, sehingga mereka tewas bergelimpangan dari atas kudanya. Maka mengalir makin cepatlah pasukan pemberontak, hanya untuk sementara, karena kutahu akan segera tiba pasukan pemerintah berikutnya karena inilah kesempatan terakhir untuk membasmi pasukan pemberontak tanpa sisa.

Ini berarti tak cukup satu jalan untuk menyelamatkan mereka. Jalan yang kubuat berada di wilayah pengepungan tenggara di dekat pintu gerbang selatan. Kubayangkan aku harus membuka jalan setidaknya tiga lagi. Aku pun melesat dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit, yang dalam kecepatan tinggi kembali segalanya terlihat lambat, amat sangat lambat, dan menyaksikan segalanya dalam keadaan yang terlalu jelas seperti itu rasanya sangatlah mengenaskan. Darah yang menciprat perlahan-lahan ke udara, mulut menyeringai kesakitan dari wajah yang

menemui ajalnya, dan kelebat segala senjata tajam yang ketika saling berbenturan menjadi dentang yang panjang, sangat panjang, begitu panjang bagai tiada akan pernah menghilang. Bukan hanya dentang yang menjadi lagu baru dalam perubahan ruang waktu karena percepatan, tetapi juga ringkik kuda, jeritan maut, maupun desis dan desau anak panah yang lepas dari busurnya, terdengar menjadi sesuatu yang berbeda dalam Naga Berlari di Atas Langit.

Dengan cepat aku melesat keliling perbentengan. Pada setiap titik pada empat penjuru angin, bukan hanya kubuka jalan bagi pasukan pemberontak yang telah terdesak dengan cara memadamkan api dengan angin pukulan tenaga dalam, tetapi juga kuserang jembatan gantung yang digunakan pasukan pemerintah menyeberangi sungai. Dengan terbukanya empat dinding api, pelarian pasukan pemberontak terpecah ke empat jurusan, dan karena itu semakin lancar; sedangkan jembatan gantung kuserang dalam arti kuruntuhkan, dengan cara membabat tempat bergantungnya dengan pedang biru, pedang mestika pemimpin mereka sendiri yang bernama Pedang Biru.

SATU persatu jembatan gantung itu runtuh ke sungai bersama pasukan pemerintah yang sedang gemuruh menyeberang di atasnya. Maka selain terpecah, arus pasukan pemerintah menjadi amat sangat lambat, untuk tidak mengatakannya berhenti sama sekali. Pasukan masih berusaha diseberangkan lewat sungai, tetapi kecepatannya tentu menjadi sangat berkurang untuk mengejar laju pasukan pemberontak yang kini dapat melalui empat jalan keluar. Kemudian, apabila dinding-dinding api itu menyurut, karena betapapun pertempuran ini berlangsung di musim dingin, maka berlompatanlah kuda-kuda pasukan pemberontak melewati bara yang cepat padam dalam hembusan angin yang membawa serpihan salju.

Baju yang tadi kubuka tidak kupakai lagi, penggunaan tenaga dalam terus menerus membuat tubuhku panas sehingga udara dingin tidak berpengaruh. Aku masih menggenggam pedang biru di tangan kanan dan cambuk kuning keemasan di tangan kanan. Sudah kukatakan ilmu silat yang kukembangkan tidak membutuhkan senjata, bahkan juga sebenarnya tidak membutuhkan gerakan sama sekali, karena yang kuserang dan kurontokkan adalah pemikiran, tetapi kedua senjata ini dan

sangat berguna jika terlihat kupegang. Dalam salah satu serbuanku ke jembatan, sempat terjadi tiada perlawanan sama sekali karena wibawa senjata yang tidak terpisahkan dari pemiliknya sama sekali. Adapun bila perlawanan tetap berlangsung, dengan pedang biru memang tombak dan pedang bagaikan hanya rumput melawan sabit, sementara dengan cambuk kuning keemasan itu, bahkan suara ledakannya saja dapat membuat lawan-lawanku langsung pingsan.

Aku berkelebat memasuki Thang-long begitu pasukan terakhir melewati gerbang. Pintu tidak ditutup kembali, tetapi pengawalan sangatlah ketat. Aku tidak melewati pemeriksaan orang-orang yang keluar masuk karena melesat di atas tembok perbentengan. Aku tidak sedang menyamar, aku menyusup pada pagi hari dalam keadaan perang, tetapi firasat bahwa Amrita terancam bahaya membuat aku mengerahkan segenap kemampuanku. Aku berkelebat dari dinding ke dinding, dari pohon ke pohon, dari genting ke genting, menuju gedung besar tempat aku mencuri dengar perbincangan pada malam harinya, ketika kudengar mereka menyebut-nyebut nama Amrita maupun Harimau Perang.

Meski dalam keadaan peramg, kehidupan sehari-hari tetap berjalan di dalam kota, dengan pengawasan ketat pada berbagai bangunan penting. Sudah kukatakan aku tidak berbaju, dengan ilmu bunglon kini kulitku tidak dapat dibedakan dengan tembok, atau dengan apapun yang berada di dekatku. Di atas pohon aku berwarna pohon, tiarap di tanah aku berwarna tanah, melayang di udara aku berwarna langit, dengan cara ini aku lolos dari segala pengawasan dan telah berada di atas genting dan betapa terkejutnya diriku ketika melihat Amrita terkapar di lapangan yang berada di dalam gedung itu. Di sekitarnya terdapat mayat-mayat bergelimpangan. Kusapu bangunan dan kuketahui sepasukan pengawal sedang berlari dari lorong ke lorong menuju tempat Amrita.

‘’Penyusup! Penyusup!’’

Kudengar teriakan dalam bahasa Viet. Aku melompat turun. Kusambar tubuh Amrita yang terbaring di atas salju. Ia masih hidup. Aku langsung melesat kembali dan meloloskan diri dengan melenting dari genting ke genting. Ketika membopong Amrita kurasakan punggungnya yang panas. Kutahu punggung itu hangus terbakar.

Ia telah mendapat pukulan tenaga dalam yang mengandalkan prana api dari belakang. Amrita telah mengalahkan lawan-lawannya, tetapi ia pun akan kehilangan nyawa karena pukulan itu. Betapapun ia telah memasuki sarang harimau, dan tidak sembarang manusia dapat meloloskan diri setelah membunuh para perwira andalan sebanyak itu. Berhadapan satu persatu, aku tahu Amrita tak akan terkalahkan, tetapi hukum perang tidaklah sama dengan hukum taktertulis dunia persilatan. Jika pertarungan dalam dunia persilatan adalah pertarungan antara dua pendekar, maka pertempuran sebagai bagian dari peperangan panjang adalah setidaknya pertarungan antara para ahli siasat yang melibatkan segenap manusia dari bangsa yang bersengketa.

Amrita Vighnesvara yang cerdas tentu mengetahuinya, tetapi Amrita yang muda dan berdarah panas tidak bisa menerima pengkhianatan, yang sebetulnya lazim dalam perang panjang yang melibatkan seribu satu manusia dengan berbagai macam kepentingan. Pertarungan siasat yang licin, licik, penuh muslihat dan tipu daya, memang adalah bagian dari perang semesta seutuhnya. Tiada lebih dan tiada kurang karena manusia jualah para pelakunya, sehingga peperangan berlangsung dengan daya pembayangan tinggi, tentang yang dimungkinkan maupun diharapkan akan terjadi. Tentulah ini suatu pengkhianatan yang luar biasa kejinya, yang mengundang kemarahan begitu rupa karena kepercayaan besar yang terlanjur diberikan olehnya

AKU melesat sambil berpikir ke mana Amrita akan kubawa. Aku tidak terkejar oleh pasukan pengawal karena berkelebat sangat cepat dalam lindungan ilmu bunglon, sehingga memang tidak mungkin mata awam akan dapat menangkapnya. Gabungan antara ilmu bunglon dan Jurus Naga Berlari di Atas Langit yang semakin lama telah menjadi semakin matang ini pada dasarnya membuat diriku sama sekali tidak kelihatan.

Kupandang Amrita, matanya dengan lemah menatapku, tetapi ia tampak bahagia melihatku. Ia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun kota Thang-long yang tetap hiruk pikuk dalam hujan salju membuat aku tak tahu di mana harus berhenti dan bersembunyi. Angin melayangkan gumpalan-gumpalan salju yang

beterbangan bagai kapas, tetapi aku tak dapat menikmatinya sebagai keindahan melainkan penanda suasana hatiku bagaikan mengalami kerontokan. Amrita mengalami luka dalam. Tidak seorang pun akan bisa menolongnya dengan luka seperti itu. Tidak juga gurunya yang sakti mandraguna, Naga Bawah Tanah yang tidak pernah memperlihatkan diri.

Sembari melayang kutatap wajahnya. Tampak ia ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, dan airmata mengalir dari sudut matanya, yang langsung tersapu angin. Aku melayang dan hinggap pada sebuah tembok yang membatas ke tetanggaan orang-orang kaya. Pada rumah yang satu terlihat kegiatan pagi di kebun belakang rumah, para pelayan menyiapkan penganan kukus untuk sarapan majikannya, uap mengepul dari tudung yang dibuka oleh perempuan-perempuan pelayan berbaju panjang yang menutup seluruh tubuhnya; pada rumah yang lain, tampak kosong tak terawat dengan tanaman tumbuh tak beraturan dan salju tebal menumpuk, jadi aku melompat turun ke sana.

Kubaringkan Amrita di sebuah bangku panjang usang di bawah atap. Sepintas kulihat ruang dalamnya penuh perabotan, tetapi tak berpenghuni.

”Amrita…”

Kataku pelan. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Kupegang tangannya. Kudekatkan telingaku ke mulutnya yang mengatakan sesuatu dengan sangat lemah seperti bisikan.

”Harimau Perang…,” katanya, ”merusak segalanya…”

Lantas wajahnya membeku.

”Amrita!”

Aku berteriak.

”Amrita!”

Putri Khmer itu tidak bergerak. Aku memeluknya dengan mata yang telah menjadi basah.

136: Gagak Beterbangan Memenuhi Langit

BURUNG-BURUNG gagak masih saja berdatangan memenuhi langit, lantas turun ke medan peperangan yang telah menjadi sepi, tetapi penuh dengan mayat-mayat bergeletakan dalam timbunan salju. Pemerintah Daerah Perlindungan An Nam telah mengerahkan banyak petugas maupun penduduk di pinggiran kota yang tidak berkasta, untuk membersihkan tanah lapang medan pertempuran dari mayat manusia maupun bangkai kuda, dan tentu saja mereka yang masih hidup tapi terluka tanpa peduli kawan atau lawan.

Orang-orang yang terluka dibawa dengan tandu, dipapah, atau diangkut dengan gerobak ke dalam kota melalui jembatan gantung yang sempat kuruntuhkan itu. Aku hanya membabat putus tali raksasa tempat bergantungnya jembatan, sehingga jika yang putus disambung kembali, maka jembatan itu pun kembali ke tempatnya semula. Namun mengangkat kembali jembatan yang telah tercebur ke sungai itu tidaklah mudah, karena memerlukan tenaga beratus-ratus orang, dibantu oleh empat ekor gajah pada kedua sisi sungai, belum lagi menyambungkan tali putus dengan tepat yang merupakan masalah tersendiri. Setidaknya memerlukan waktu dua hari sebelum jembatan gantung pada empat mata angin itu seluruhnya dapat dilewati kembali.

Sebelumnya, orang-orang sakit harus diseberangkan dengan rakit, sementara mayat-mayat manusia dan bangkai kuda dibakar bersama senjata-senjata yang menancap di tubuh mereka, lengkap maupun tidak lengkap tubuhnya, dengan atau tanpa kepala, lawan maupun kawan, apapun agama dan suku bangsanya, tanpa kecuali dibakar habis tanpa upacara dan pembacaan doa apapun juga. Senjata-senjata logam yang bergeletakan dikumpulkan dan diangkut ke dalam kota, karena yang rusak akan dipisahkan untuk dilebur dan kembali ditempa oleh para pandai besi yang dipekerjakan pemerintah, sedangkan yang masih utuh dibawa ke gudang senjata sebagai milik negara.

Semua ini kuikuti dengan cermat, karena sejak kematian Amrita diriku masih berada di Thang-long. Dalam beberapa hari ini kudengar cerita tentang bagaimana pasukan pemerintah telah berhasil memukul mundur pasukan pemberontak dengan kemenangan gilang gemilang, meski pada pihak pasukan pemerintah pun taksedikit jatuh korban. Kusaksikan sendiri barisan pasukan pemerintah yang kembali dari pengejaran pasukan pemberontak sampai ke tepi Sungai Merah itu tampak lunglai, letih, dan lesu. Jumlah pasukan pemerintah yang kembali mungkin tinggal separuhnya. Mengingat jumlah mereka yang besar, tentunya mesti dianggap pasukan pemberontaklah yang mendapat banyak keuntungan. Namun dalam peperangan, banyak sekali juru cerita mendapat tugas untuk menunjukkan yang sebaliknya.

Memang, jangan terlalu percaya kepada juru cerita, meski kita boleh menyukai dan mengaguminya, karena cerita adalah cerita, yakni kenyataan yang disusun kembali menurut kehendaknya, dan tiada kenyataan yang sampai kepada kita tanpa melalui susunan cerita yang terbebani suatu tujuan. Maka petabumi dunia juru cerita terbanding dengan petabumi dunia pendekar dalam persilatan, yakni bahwa terdapat juru cerita yang mengandaikan dirinya wajib menyampaikan kebenaran, yang terbandingkan dengan golongan putih; juru cerita yang sengaja memutarbalikkan kenyataan demi kepentingan tertentu, yang terbandingkan dengan golongan hitam; dan juru cerita yang mengandaikan bahwa cara bercerita itu sendirilah yang terpenting dalam bercerita, dan bukan isi maupun tujuan yang ingin disampaikannya, yang terbandingkan dengan para pendekar golongan merdeka.

Namun untuk sementara dapat kutafsirkan sendiri apa yang terjadi melihat iring-iringan yang kembali dari pengejaran tersebut. Betapapun, meski berada dalam pengejaran, semakin jauh pengejaran berlangsung, semakin para pemberontak itu kembali ke medan yang sangat mereka kenal, dan karena itu bukan takmungkin pasukan pemberontak dapat menjebak pasukan pemerintah di tempat tertentu. Kemudian akan kudengar cerita tentang pertempuran seru di sepanjang tepi Sungai Merah, ketika pasukan pemberontak menyeberangi sungai, dan terus dikejar karena tampak kelelahan, tetapi segera menghilang ke dalam air untuk muncul kembali di

belakang punggung setiap anggota pasukan pemerintah yang sedang menyeberang di sepanjang Sungai Merah itu.

Maka pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam tidak lagi meneruskan pengejaran, dan hanya dapat menyaksikan ratusan kawan-kawan mereka yang terlanjur menyeberang itu muncul kembali ke permukaan sebagai mayat-mayat mengambang dengan luka gorokan. Demikianlah terceritakan betapa Sungai Merah menjadi sungai yang sungguh-sungguh merah karena darah dengan mayat-mayat mengambang yang terbawa arus, seperti sengaja mengambangkan dirinya agar terbawa sampai ke lautan lepas. Dalam iring-iringan yang melangkah dengan kepala tertunduk meski umbul-umbul berkibar gagah, dan barisan berkuda yang sebagian besar membawa mayat-mayat penunggangnya sendiri, terbayang kisah sedih dari suatu pasukan yang dikalahkan, sama sekali bukan kemenangan.

Betapapun penduduk Thang-long bergembira ria karena pengepungan telah dipatahkan, meski hanya berarti bahwa pemberontakan belum lagi tumpas. Kumasuki kota dengan bersikap sebagai pengembara miskin yang banyak berkeliaran di negeri-negeri yang dilanda peperangan dan bencana. Meskipun di sana-sini terdapat pengawal bersenjata mondar-mandir dan tandu mengusung orang sakit hilir mudik, kehidupan ramai tetap berjalan seperti biasa, bahkan seperti sengaja mengingkari suasana peperangan, yang oleh pengepungan sebelumnya terasa amat menekan. Sejarah peperangan selama ratusan tahun membuat penduduk paham, alangkah mengerikannya jika para pemberontak berhasil masuk dan menguasai kota. Dapat dipastikan betapa penjarahan dan pembakaran akan diiringi pemerkosaan dan pembunuhan yang tiada semena-mena, membuat kehidupan porak poranda.

Suasana sedikit banyak meriah, tetapi kepergian Amrita telah meninggalkan kepadaku suatu perasaan yang kosong. Ketika aku terpisah lama darinya, seperti saat dirinya diculik Naga Kecil, masih dapat kubayangkan sebuah percakapan, seperti dirinya masih ada, berpikir dan berbicara. Namun kini bayangan semacam itu harus kugugurkan dengan terpaksa, karena aku tidak mungkin mengenangnya tanpa rasa duka yang sangat mendalam.

AKU mengarungi Thang-long dengan perasaan hambar, meski tujuanku tetap jelas, yakni mencari dan menyelidiki peranan Harimau Perang, sebelum memutuskan apakah yang harus kulakukan kepadanya. Membiarkannya tetap hidup ataukah menantangnya bertarung sampai mati.

Pengembaraan yang telah membawaku kepada perang melawan Negeri Atap Langit ini membuatku bertanya-tanya tentang tujuan hidupku, apakah diriku masih bermaksud mencari kesempurnaan dalam ilmu silat, dengan pertaruhan nyawa dalam pertarungan dengan para pendekar, atau sekadar pengembara yang hanya menikmati perjalanan dari segi yang menyenangkan dirinya, antara lain dengan menghindari segala sesuatu yang tidak harus menjadi urusannya. Aku masih terus bertanya-tanya dan tidak merasa harus menyelesaikan kebimbangan itu segera, karena terpesona oleh dunia ramai yang tetap hiruk pikuk menyembunyikan kesedihan mendalam. Dengan korban sebanyak itu, bagaikan tiada mungkin ada keluarga yang tidak kehilangan anggota keluarganya. Bahkan tidak usahlah terlalu heran jika sesama orang Viet yang berhadapan dalam pertempuran adalah keluarganya sendiri pula.

Demikianlah di antara hiruk pikuk pasar, pedagang keliling di lorong-lorong, dan pesta kemenangan resmi pemerintah Daerah Perlindungan An Nam dengan pawai di jalan-jalan utama, kutemui upacara perkabungan di dalam rumah yang dilangsungkan diam-diam dalam kegelapan. Dalam peperangan seperti itu, tiada jenazah dapat disaksikan untuk menggenapkan perkabungan, bahkan terlalu sering tiada jelas seorang handai taulan memang terbunuh sebagai pahlawan atau hilang dalam penugasan. Maka memang ada dua jenis doa, yakni bagi yang jelas tewas dan bagi yang hilang entah masih hidup atau nyawanya sudah melayang. Semerbak dupa menggenang di antara keramaian, bagai mengingatkan atas pengorbanan setiap orang sebagai ganti kenyamanan. Doa membubung di antara salju bak kapas yang melayang ringan di antara dingin angin yang mendesau dan bergumam perlahan-lahan.

Aku sungguh memasuki dunia baru, dan serentak dengan itu teringat duniaku yang lama. Bagaimanakah kabarnya Kamulan Bhumisambhara dengan berbagai

persoalan di sekitarnya? Apakah di Mataram Rakai Panunggalan masih sibuk menghadapi sisa-sisa pengikut Rakai Panamkaran yang menjadi gerombolan dan mengumpulkan segenap astacandala tanpa kasta untuk memberontak dan merongrong kewibawaan? Begitulah para penguasa mengeluarkan prasasti dalam batu berukir maupun lempengan emas dan tembaga, untuk mengukuhkan kekuasaannya, tetapi pada masa depan kelak siapa yang tahu kejadian apa saja berlangsung di baliknya?

Apa yang terjadi dengan Pendekar Melati, setelah gurunya membawa ia pergi dalam keadaaan taksadarkan diri? Kuingat gurunya mengundangku ke Gunung Halimun. Baru kusadari sekarang betapa ajakan yang ramah itu dapat ditafsirkan sebagai tantangan bertarung. Mungkin Pendekar Melati sudah menamatkan pelajarannya sekarang. Kuingat perempuan gurunya yang menandai kemunculannya dengan seruling itu, jubahnya yang putih dan rambutnya yang putih, siapakah dia sebenarnya? Aku masih terlalu muda dalam dunia persilatan. Telah kualami cukup banyak pertarungan, bahkan tanpa maksud bersombong diriku belum terkalahkan, tetapi kuakui betapa masih miskin diriku dengan pertarungan melawan pendekar-pendekar kenamaan. Bahkan pengetahuanku tentang para pendekar itu sendiri juga sangat terbatas. Pendekar yang begitu sakti seperti perempuan guru Pendekar Melati itu sendiri sampai sekarang takkuketahui namanya. Kuingat ilmu Pendekar Melati yang mampu menyerap tenaga, sampai lawan takberdaya, bahkan dalam pengembaraanku selama ini pun, setelah bertemu berbagai macam pendekar dengan ilmu mereka yang serba ajaib, belum pernah melampaui kemampuan begitu rupa.

Kota-kota di Jawadwipa mungkin tidak semegah kota-kota yang kutemui kemudian, tetapi sungguh Jawadwipa itu penuh dengan pendekar tangguh takterkalahkan. Meskipun dengan Jurus Bayangan Cermin yang kukembangkan menjadi Ilmu Bayangan Cermin telah kukuasai ilmu silat lawan sebelum kukalahkan, sehingga perbendaharaan ilmu silatku cukup banyak untuk kupilih maupun kugabungkan menjadi ilmu silat yang membingungkan lawan, masih saja aku ragu apakah itu cukup untuk mengalahkan satu saja dari Pahoman Sembilan Naga. Padahal, jika

aku sungguh ingin mencapai kesempurnaan dalam ilmu silat, harus kuujikan ilmu silatku kepada mereka semua.

AKU menghela nafas. Kurasa wilayah An Nam cukup jauh dari Jawadwipa, yang dalam dingin angin bersalju di sini, bagaikan terhirup kembali bau rumput segar dan kesejukan hutan-hutan di sana. Bagaikan terdengar kembali desir angin dari rumpun bambunya yang gemerisik, disela bunyi malas dari genta tanah liat pada leher sapi yang menghela pedati, yang membawa perempuan-perempuan tercantik berambut lurus panjang berdada terbuka di atasnya. Baru kusadari takpernah kutemui lagi pemandangan seperti itu di kota-kota An Nam ini. Bukan sekadar karena musim dingin menuntut setiap orang menutup badan, tetapi kebudayaan Negeri Atap Langit yang banyak diikuti di wilayah ini membuat busana setiap orang, juga busana prianya, menutup seluruh badan.

Begitulah di dunia yang asing bagiku ini aku harus mencari seorang mata-mata licin yang disebut Harimau Perang. Pernah kupikirkan bahwa dengan peranan sepenting itu, sangat mungkin ia hanyalah nama yang diciptakan untuk mengecoh lawan, atau memang ada tetapi jumlah orang yang bernama sama dengan segala kemiripan tubuh diperbanyak agar tersamarkan. Kini bahkan kupikirkan kemungkinan, bahwa nama Harimau Perang adalah nama yang selalu digunakan siapapun dalam peranan itu, jadi memang satu orang, tapi selalu berganti sepanjang masa peperangan. Jadi, Harimau Perang mana yang dimaksud Amrita? Harimau Perang sebagai suatu kesatuan jaringan, ataukah Harimau Perang tertentu yang kali ini berkhianat dan bertanggung jawab atas seluruh kegagalan pasukan pemberontak?

Pada 722 tercatat terdapatnya pemberontakan Mai-Thuc-Loan; pada 767, jadi tigapuluh tahun lalu, ibukota didirikan di sebelah selatan Thang-long sekarang, dan bernama Dai-la, tempat kesenian Dai-la berkembang pesat; dan enam tahun lalu, pada 791, maraklah pemberontakan Do-Anh-Han. 1) Mungkinkah jaringan rahasia Harimau Perang sebetulnya ditanam sejak lama oleh wangsa manapun dari Negeri Atap Langit untuk menggagalkan pemberontakan demi pemberontakan bangsa Viet untuk menggulingkan kekuasaan?

AKU masih terus berjalan sembari berpikir tentang apa yang harus kulakukan. Dari manakah aku bisa mulai? Kubayangkan bahwa dalam segala bentuknya, jika memang benar Harimau Perang melakukan pengkhianatan, maka tentunya ia bermukim di kota ini. Namun bagaimanakah cara memastikannya? Kuingat perbincangan yang kudengar malam itu. Bukankah mata-mata musuh disebar untuk melacak jejak dan membunuh Harimau Perang? Mereka yang kucuri dengar malam itu, Pedang Biru, Cambuk Emas, maupun yang disebut Tombak Gila, semuanya telah terbunuh olehku. Mereka tak tahu menahu bahwa Harimau Perang itulah yang telah merencanakan dan mengarahkan agar pasukan pemberontak turun gunung, mengepung Thang-long, sementara perempuan mata-mata mereka yang bergabung sebagai penghibur serbaguna telah ditanam, untuk bertindak pada saat yang tepat.

Amrita mendapat keterangan tentang Harimau Perang dari perempuan mata-mata, yang mungkin karena merasa sudah dekat ajal lantas mengungkap saja rahasia yang mestinya dibawa sampai mati. Tentu terdapat suatu masalah sehingga rahasia itu diungkapnya, karena para mata-mata yang berani dan tangguh seperti mereka seharusnya setia terhadap tugas, yakni membawa rahasia ke alam baka, dan di sana pula terletak kebanggaan atas pekerjaan ini. Apakah kesalahan Harimau Perang sehingga rahasianya perlu terungkap sebagai mata-mata yang ternyata mengabdi kepada pihak pemerintah? Sebagai perwira penghubung ia telah mengarahkan segenap pasukan pemberontak keluar dari hutan, menyeberangi sungai demi sungai demi sungai, mengalahkan dan mengejar pasukan pemerintah yang semula dikirim untuk menumpas mereka, untuk mengepung Thang-long, tempat mereka tertambus api.

Aku tentu bisa menebak apa pun, tetapi yang kuperlukan adalah bukti. Penghianat bagi Amrita, artinya Harimau Perang mengkhianati pasukan pemberontak; pengkhianat yang perlu dibocorkan rahasianya, artinya Harimau Perang bermasalah dengan pihak pemerintah Daerah Perlindungan An Nam. Bukankah ini rumit? Lebih rumit lagi bagi orang luar sepertiku, yang bahkan menafsirkan kehidupan sehari-hari saja mesti berpikir seratus kali. Dunia mata-mata sungguh rumit, tetapi menurut Sun Tzu, siapa yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang musuhnya itulah yang lebih berpeluang menang dalam perang. Pernah kudengar cerita tentang burung

elang yang terbang di atas perkemahan atau pasukan yang sedang menempuh perjalanan ke tempat musuh. Disebutkan bahwa melalui mata elang itulah seorang mata-mata melakukan pengawasan, yang membuat burung apa pun yang terbang di atas pasukan yang berangkat berperang selalu menjadi sasaran para pemanah jitu.

Cerita ini bukan tanpa kebenaran, tetapi bukanlah bahwa seorang mata-mata meminjam mata elang untuk melakukan pengawasan, melainkan betapa dari gerak-gerik burung elang, bahkan burung apa pun di angkasa, seorang pengamat dapat memperkirakan pergerakan yang berlangsung di bawahnya, misalnya bahwa terdapat barisan pasukan. Maka cerita tentang Harimau Perang pun kurasa bisa sama berkembangnya cerita tentang burung elang tersebut. Aku memerlukan bukti untuk menentukan sikap, karena menurutku haruslah ada seseorang yang bertanggung jawab atas kematian Amrita. Betapapun ia tewas oleh pukulan tenaga dalam yang telak dari belakang, sehingga punggungnya hangus terbakar. Meskipun dalam keadaan perang, peristiwa itu tidak terjadi di medan pertempuran yang hiruk pikuk dan memang lazimnya tak berketentuan. Aku merasa berhak menuntut sikap ksatria dari mereka, yang meskipun telah tewas, masih menyisakan satu orang yang menyerangnya dari belakang. Orang ini mungkin Harimau Perang, mungkin juga bukan, tetapi satu maupun dua orang haruslah kutemukan.

Tanpa terasa aku telah mengelilingi kota tanpa tujuan pasti. Kadang ikut arus orang ramai, kadang tiba-tiba sendirian. Masih tampak korban-korban perang memasuki kota, pertanda pasukan pemerintah ini memburu sampai ke tempat yang jauh. Aku belum makan, tapi tidak merasa lapar. Kekosongan perasaan setelah kematian Amrita membuat aku tidak terlalu peduli kepada keadaan diriku sendiri seperti itu. Semakin hari perasaan itu semakin kuat, bagaikan suatu gema yang semakin jauh dari peristiwanya semakin tergandakan maknanya. Tidak kukira bahwa cara kematian Amrita yang begitu rupa telah mengubah sikap dan perasaanku kepadanya. Semula aku sempat berpikir, jika pasukan pemberontak akhirnya memasuki kota sebagai pemenang, aku akan meninggalkan Amrita dengan kemenangannya untuk melanjutkan pengembaraan. Namun kenyataan berbicara lain.

Di depan sebuah kuil aku bergabung dengan orang-orang yang mendapat sedekah makanan. Pada saat aku berada dalam antrian seseorang menepuk bahuku dari belakang

137: Di Kota Than Long

AKU menoleh. Sebuah wajah yang kukenal tersenyum lebar dan tertawa tanpa berusaha menarik perhatian.

’’Iblis Suci! Kenapa dikau ada di sini?’’

Ia menyamar sebagai paria pengemis. Astacandala juga. Golongan manusia yang tidak dianggap manusia, kecuali oleh para rahib Mahayana di kuil itu, yang tentu tahu bagaimana rasanya jadi pengemis. Meskipun igama Buddha tiada mengenal kasta, keberkastaan dalam kehidupan masyarakatnya, yang semula menyembah Visnu, Durga, dan Siva, tidaklah terhindarkan. Namun makanan yang dibagi bukanlah hasil dari mengemis. Inilah dana amal Pemerintah Daerah Perlindungan An Nam, keturunan campuran Han-Viet itu, yang sengaja disediakan untuk menjaga ketenangan. Diketahui bahwa sebagian besar dari mereka yang mengemis itu pun bukanlah pengemis dalam arti paria yang sesungguhnya. Kadangkala mereka adalah orang desa dari pedalaman sahaja, para petani yang sawahnya disapu banjir bandang atau desanya dibakar karena peperangan. Kedudukan orang desa memang bisa serba disalahkan, karena pasukan pemerintah akan membumihanguskan desanya jika dianggap telah berpihak kepada pemberontak, yang juga akan dilakukan pasukan pemberontak jika mereka berpendapat desa tersebut mengakui pemerintahan yang sah.

Tidak jarang, karena takut dibunuh dan diperkosa, oleh pihak mana pun, desa-desa itu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan kosong. Daripada kehilangan nyawa, lebih menghinakan diri sebagai paria tak berkasta dalam kota, tempat mereka merasa hanya akan dianggap sebagai kumpulan lalat menjijikkan, yang tidak akan pernah dicurigai dan diawasi. Justru karena itulah menyamar sebagai pengemis adalah pilihan termudah mata-mata, dan sebaliknya para pengawal rahasia istana selalu menempatkan pula mata-matanya di sana. Demikianlah dunia yang aman

bagi orang desa dari kejaran pasukan mana pun adalah dunia yang sama sekali belum terjamin bagi kaum mata-mata, yang menyamar maupun mencari orang yang menyamar.

’’Apakah dikau berharap diriku enak-enak minum arak di suatu tempat, tanpa kepastian atas nasib kalian yang menghilang dan tak kembali lagi? Di manakah Amrita?’’

Tentu tak kujawab, dan kurasa Iblis Suci Peremuk Tulang itu mengerti. Ia menundukkan kepala dan mendesah. Betapapun kami bertiga lama bersama keluar masuk hutan dalam berbagai pertempuran.

’’Biar kudobrak saja istana dan mencari pengkhianatnya!’’

Ia mendesis penuh amarah.

’’Tidak bisa begitu Iblis Suci, mendobrak seperti membalik tangan, tetapi menemukan yang bertanggung jawab atas kematiannya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.’’

’’Ah! Kita bunuh saja seluruh isi istana! Siapa pun yang berkhianat tentu ikut mati di situ!’’

’’Tidaklah semudah itu, Iblis Suci, kita tidak akan membunuh mereka yang tidak bersalah, sementara yang bertanggungjawab tak kelihatan lagi.’’

Aku memang memikirkan masalah ini. Dalam peperangan, bagaimanakah menilai suatu pengkhianatan? Dalam pertempuran, bunuh membunuh bukanlah suatu kebersalahan, sementara jika kegiatan mata-mata merupakan bagian dari perang, seberapa jauh suatu pengkhianatan harus dianggap salah dan mendapat hukuman? Para pengkhianat dihukum mati, tetapi dihukum mati sebagai pengkhianat dan dihukum mati sebagai mata-mata pihak musuh yang berani mati perbedaannya besar sekali; yang pertama terhina, yang kedua sangat dihormati.

Kegiatan mata-mata tak hanya membuka mata dan telinga lantas menyampaikan segala keterangan yang didapatnya, melainkan juga membujuk, merayu, menawarkan, dalam tingkat penyamaran yang kadangkala sulit dipercaya. Berusaha menjadi kekasih tercinta dengan permainan asmara yang bergelora, bagi lelaki maupun perempuan mata-mata, adalah cerita biasa; tetapi bagaimana dengan menjadi suami atau istri, yang melahirkan anak segala? Bagaimanakah caranya seseorang membangun keluarga tanpa cinta demi tugasnya sebagai mata-mata?

Demikianlah pernah pula kudengar cerita tentang mata-mata yang terserap dalam cinta, mengalahkan kepentingan tugasnya, bahkan takjarang beralih pihak dan berkhianat, sehingga mati terbunuh karenanya. Betapa tipis jarak antara kesetiaan dan pengkhianatan, dengan alasan yang adakalanya sangat bisa diterima, karena menolak tugas untuk membunuh isteri atau suami dan anak sendiri tentu masuk akal adanya. Tentu cerita tentang mata-mata yang terpaksa melenyapkan anak, isteri atau suaminya sendiri, ketika siapakah dirinya yang sebenarnya terbongkar, adalah cerita yang sering beredar dari kedai ke kedai pula.

Pengemis di belakang kami berteriak marah.

’’Kalian mau bicara atau mau makan? Cepat maju!’’

TERNYATA yang di depan sudah maju begitu jauh, dan rahib yang membagi-bagikan kentang itu tampak kesal menanti. ”Kalian berdua seperti tidak butuh makanan, masih banyak orang antri di belakang kalian. Ayo cepat!”

Kutengok ke belakang, ternyata panjang juga barisan, bahkan sampai keluar halaman. Kurasa sudah sangat bagus pembagian makanan untuk orang miskin ini tidak berlangsung kacau. Di hadapan rahib berjubah merah berlapis kuning itu kuulurkan batok kelapa yang kubawa. Seketika batok kelapa itu segera penuh dengan kentang panasnya mengepulkan uap. Aku mendadak merasa lapar dan segera menepi, agar Iblis Suci bisa maju ke depan. Saat itulah rahib tersebut terbelalak. Rupanya ia mengenali Iblis Suci. Aku teringat riwayat Iblis Suci Peremuk Tulang dari Sungai Hitam yang kuilnya dihancurkan pasukan pemerintah karena menampung keluarga pemberontak.

Ia memanggil Iblis Suci dengan sebuah nama yang tidak dapat kueja. Setelah itu mereka berpelukan sambil menangis dan mengeluarkan kata-kata dalam bahasa burung. Aku mulai memahami bahasa orang Viet sedikit demi sedikit, sedangkan seperti kebudayaannya, bahasa Viet juga banyak menyerap bahasa Negeri Atap Langit. Maka alangkah mengherankan bagiku betapa diriku taksepatah pun memahami bahasa yang mereka ucapkan. Baru nanti akan kusadari betapa Negeri Atap Langit itu merupakan negeri yang betul-betul besar, bukan hanya karena luas wilayah yang dicakupnya, tetapi juga keragaman bahasa yang takpernah terduga keberbedaannya.

Orang-orang yang antri berteriak kepada rahib itu.

”Hei pendeta! Jangan asyik sendiri! Tugasmu membagi makanan kepada kami!”

Kusaksikan orang-orang yang sungguh dekil. Wajah-wajah berbulu tak terurus. Baju tebal bertambal-tambal. Karung yang mereka bawa entah berisi apa. Orang-orang yang desanya terbakar maupun yang desa-desanya terendam air. Kanak-kanak yang menempel di punggung ibunya seperti monyet, dengan wajah-wajah serba ketakutan tanpa kepercayaan diri sama sekali, sementara ibunya sibuk mengulur-ulurkan tangan dengan wajah mengiba agar segera mendapatkan makanan sedekah.

Kulihat Iblis Suci mengatakan sesuatu kepada rahib, dan rahib yang kurasa masih muda itu memanggilku dengan pandangan mata penuh belas. ”Datanglah kemari Anak,” katanya, ”masuklah ke kuil bersama temanmu ini, di sana banyak makanan untukmu.”

Ah! Apakah yang telah dikatakan Iblis Suci Peremuk Tulang itu tentang diriku? Sementara rahib itu kembali sibuk, Iblis Suci berlagak merangkul bahuku dan mengajakku masuk ke bagian dalam. Ia berbisik di telingaku.

”Rahib itu temanku. Lebih baik kita bersembunyi di sini sambil mencari keterangan. Kukatakan kamu sakit dan sudah tiga hari tidak makan.”

Pantaslah rahib itu memandangku begitu rupa!

Kami menembus lorong panjang menuju asrama tempat para rahib bermukim. Di dalam sana lebih banyak lagi makanan, meskipun tidak ada yang berasal dari makhluk hidup, tetapi sambil melangkah kami telah menghabiskan kentang. Jadi tiba di tempat kami ikuti saja suatu upacara pembayatan Bodhisattva, makhluk yang bertekad untuk mencapai Kebuddhaan bagi kepentingan segala makhluk lain itu.

Ia telah melakukan sumpah dalam suatu upacara memasuki mandala yang disebutkan kitab Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya sebagai berikut:

seandainya ada seseorang yang benci kepada Sang Hyang Samaya

tetapi yang ingin melaksanakan Sang Hyang Mantranaya

seandainya ada seseorang yang telah mengingkari sumpahnya

sesudah mengalami pembayatan

tetapi masih juga mengharapkan pengajaran

hasil apakah yang diharapkannya?

bila bertemu dengan guru, maka guru itu dihinanya;

orang demikian yang menunjukkan kebencian

terhadap samaya

dan yang mengingkari samaya 1)

dapat disuruh untuk dibunuh

ia tidak dilindungi oleh Bhatara

karena ajaran Bhatara Hyang Buddha haruslah dipelihara

serta Sang Hyang Samaya haruslah ditepati

sehingga mereka yang memusuhi samaya

akan mendapatkan kematian sebagai hasilnya

INILAH kesempatan terakhir seorang murid untuk mengundurkan diri, jika ia mengalami keraguan untuk mengikuti Sang Hyang Samaya dengan akibat yang menakutkan itu. Sejauh yang pernah kudengar, dalam Mahayana terdapat dua macam pengucapan sumpah, yaitu pengucapan sumpah bagi para rahib atau pendeta, dan pengucapan sumpah bagi seorang Bodhisattva yang diucapkannya sebelum ia memasuki jalan kebodhisattvaan. Bagi mereka yang akan memasuki jalan Tantrayana, maka mereka ini pun harus mengucapkan sumpah, yang hanya diperuntukkan bagi yana.3) Adapun yana berarti cara, jalan, atau kendaraan. 4)

Demikianlah rahib yang tentu juga seorang yogin itu, yakni orang yang telah melaksanakan yoga 5) dengan sempurna itu bersumpah.

”Saya mengucapkan Sumpah Agung ini, hai Raja atas Segala Hukum; jika saya sampai mengingkarinya saya mohon kepada para Buddha dan Bodhisattva mereka semua yang melindungi jalan mantra yang tertinggi cabutlah dari dalam diriku jantung dan darahku.” 6)

Aku terhenyak. Benarkah murid yang menghindari sumpahnya harus dibunuh?

”Sumpah atau samaya ketiga dalam Tantrayana, yang diucapkan sebelum memasuki mandala 7) ini, harus diartikan sebagai sumpah yang diucapkan murid itu sendiri, jadi bukan dibunuh oleh guru, atau orang yang diperintah untuk melakukannya,” ujar Iblis Suci kepadaku.

Ya, sekarang aku teringat, seperti pernah kuceritakan pula, seorang guru sebelum murid itu bersumpah berkata.

”Dikau dilarang untuk membicarakan tentang rahasia yang tertinggi dari Para Tathagata 8) ini dengan mereka yang belum pernah memasuki mandala. Jika sumpah dikau terputus, dan jika dikau tidak menepatinya, maka pada waktu dikau meninggal, dikau pasti akan jatuh ke Neraka.” 10)

Sesudah mengucapkan sumpahnya, Bodhisattva itu menjalani pembayatan sambil memasuki mandala, seperti meminum vajrodaka. Aku pun memikirkan kembali makna mandala itu, yang terdiri dari empat jenis: yang dibuat dari bubuk berwarna, yang dilukis di atas kain, yang diciptakan melalui dhyana , dan yang mempergunakan badan sebagai mandala. Adapun mandala dalam Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya adalah mandala yang diciptakan melalui dhyana, karena penciptaannya melalui upacara pembuka-mata.

”TENTANG mandala yang diciptakan melalui dhyana,” ujar Iblis Suci lagi, ”tidaklah semua guru atau murid mampu untuk memberi atau menerima pembayatan. Lebih tepat untuk dikatakan, bahwa hanyalah mereka yang mempunyai kepribadian menonjol, seperti misalnya guru yang teguh samadhinya, murid yang telah mampu menguasai alat inderanya dan telah mantap keyakinannya.” 11)

”Tapi bagaimana mungkin suatu mandala yang hanya diciptakan melalui penglihatan itu dapat dimasuki?” 12)

Sengaja kuuji pengetahuan Iblis Suci Peremuk Tulang itu sebagai bekas rahib. Mungkin tahu diuji, kulihat senyum tersembunyi ketika menjawab.

”Istilah yang pertama mengandung arti lebih pada perenungan daripada arti memasuki mandala secara lahiriah, karena tiada seorang pun yang akan menginjak atau memasuki mandala yang terbuat dari bubuk berwarna, untuk tujuan apa pun.” 13)

Masih kami ikuti upacara itu.

”Baiklah, sekarang pertajamlah pandanganmu, pada waktu berada dalam Sang Hyang Mandala,” kata gurunya, ”dengan demikian dikau telah terpaut pada mandala, telah dituntun untuk membuka rahasia. Sebagai hasilnya, hilanglah segala dosa-dosamu, bagai dibasuh sampai bersih, lenyap sampai ke akar-akarnya. Legakanlah perasaanmu, jangan sampai sangsi.”

Tidakkah pernah kuceritakan pula soal ini? Iblis Suci berbisik kembali di telingaku.

”Uraian itu menguatkan kembali perumusan, bahwa mandala yang dimaksud adalah diciptakan kembali melalui dhyana. Penguatan itu dapat dilihat dari kalimat, ‘pertajamlah pandanganmu’. Juga uraian yang telah memastikan sejak awal pembicaraan, bahwa Dewa yang ‘dibayangkan’ dan kemudian juga ‘diundang’ adalah Vajradhara.” 14)

Vajradhara? Iblis Suci itu tidak menyebutkannya sebagai Buddha atau Jina. Apakah yang dipelajarinya juga berasal dari Sang Hyang Kamahayanan Mantrayana yang beredar di Jawadwipa?

Murid itu pun sambil menutup mata, melemparkan sekuntum bunga ke dalam mandala, yang dalam ruangan tertutup itu terlindungi dari hujan salju. Kedudukan Dewa tempat bunga itu jatuh akan menjadi Dewa murid tersebut.

Demikianlah upacara itu berlangsung terus sampai pada saat pembayatan air, yang disebut toyabhiseka, sebagai bagian pertama dari Pembayatan Lima Bejana.

”Melalui pembayatan air,” ujar Iblis Suci, ”dengan melakukan dhyana atas cara yang ditentukan, seseorang akan mampu mencuci bersih segala noda yang menghalangi pencapaian tingkat Kebudhaan dengan sempurna dalam keluarga yang sudah ditentukan.” 15)

Pembayatan air adalah suatu tingkat pengalaman yang dijalani Bodhisattva, yang merupakan tahap pertama dari serangkaian empat pembayatan tertinggi dalam tingkat pengalaman anuttarayoga-tantra. 16) Sampai pada tingkat pencapaian pengalaman ini, seorang Bodhisattva itu telah dinyatakan menerima ajaran Tantrayana menguraikan segala rahasia, dengan segala akibat dan kewajibannya, serta juga dengan segala kemungkinan untuk memperoleh hasilnya.

SETELAH itu, ia harus mengikuti upacara persiapan, karena tanpa dikukuhkan melalui pembayatan, badan manusia biasa disebutkan tiada akan kuat menahan kekuatan Vajradhara, suaranya tiada akan kuat mengumandangkan mantranya, dan batinnya tiada akan kuat melaksanakan samadhi terhadapnya, yang mempunyai hakikat ketiadaan. Setelah menerima pengukuhan ini, Bodhisattva tidak hanya

diizinkan melaksanakan segenap upacara atau menjalankan semua ajaran yang telah diturunkan, tetapi juga telah mampu melakukannya sendiri melalui kekuatan yang disalurkan lewat gurunya.

Untunglah bahasa dalam upacara ini adalah bahasa Sansekerta, jika berlangsung dalam bahasa orang-orang Viet, tentulah aku hanya dapat mengikutinya sepotong-sepotong, meski sebagian isi Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya itu pernah pula kubaca, meski dalam bahasa dan huruf yang digunakan di Jawadwipa. Demikianlah guru itu berujar.

”Sekarang giliranmu untuk melaksanakan Sang Hyang Mantranaya, sudah selayaknya seseorang seperti dikau memasuki Sang Hyang Marga. Selanjutnya apabila dalam melaksanakan abhyasa Sang Hyang Mantra disertai dengan ketekunan, maka dikau pasti akan menemukan Kesempurnaan, sehingga akan terlepas dari gangguan Mara serta kekuatannya. Oleh karenanya legakanlah perasaan dikau. Upayakanlah untuk terus menerus melaksanakan Sang Hyang Mantra dengan penuh pengabdian.” 17)

Dengan mengikuti upacara ini secara langsung, kini aku tahu bahwa yang tertulis dalam Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya itu hanya sebagian. Apakah itu merupakan hasil penafsiran, ataukah peniruan yang kurang sempurna? Apa yang diuraikan Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya hanyalah hasil upacara itu, sedangkan yang harus dilalui untuk mencapai hasil itu tidak diungkapkan. Adapun hasil yang dicapai Bodhisattva ini agaknya dibandingkan hasil yang diraih oleh Bhatara Sri Sakyamuni, yakni dengan kekuatan Mantranaya yang menaklukkan beserta balatentaranya. 18)

Tentang kerahasiaan ajaran Tantrayana, berkatalah pula gurunya yang konon dalam usia 90 tahun, masih tampak seperti 50 tahun saja.

”Jagalah baik-baik Sang Hyang Samaya oleh dikau, dan jangan sampai tidak dengan sepenuh hati di dalam dikau menjaga kerahasiaannya. Hendaknya dikau ketahui pula kepada siapa seyogyanya Sang Hyang Samaya itu diajarkan. Hendaknya ia dinilai kemampuannya, perasaannya, kelakuannya, dan ciri-ciri

tubuhnya; demikian juga apakah ia itu teguh keyakinannya dan apakah ia bersungguh-sungguh terhadap Sang Hyang Mantra.

”Dalam hal inilah dikau bertindak sebagai penjaga pintu Sang Hyang Rahasya. Namun demikian, janganlah ragu-ragu dan jangan pula segan-segan untuk mengajarkan Sang Hyang Samaya yang kuat keyakinannya, adhimukti sattva, karena dikau telah diberi izin oleh para Tathagata untuk mengajarkan Sang Hyang Samaya, atau lebih telah diizinkan oleh Bhatara untuk melaksanakan semua perintah para Tathagata.” 19)

Sembari menelan sisa-sisa kentang yang telah diremukkan itu, kuperhatikan adanya penyamaan dan pembedaan arti dari kata Bhatara dan Tathagata dalam satu kalimat. Kiranya terdapat dua tingkat pengalaman, yakni Vajradhara sebagai benih yang disebut hetu, dan Vajradhara sebagai hasil yang disebut phala. Diterapkan dalam kalimat sang guru, maka Bhatara melambangkan Vajradhara yang pertama, sedangkan Tathagata melambangkan Vajradhara yang kedua

SAAT itu datanglah rahib teman Iblis Suci Peremuk Tulang. Ia berteriak dalam bisikan.

’’Apa yang kalian lakukan di sini? Untuk apa kalian mengikuti upacara membosankan ini? Sudah daku bilang tadi, di dalam sana itulah terdapat banyak makanan!’’

Ia menggamit kami berdua meninggalkan upacara pembayatan dan terus berjalan sepanjang lorong yang gelap. Dari arah depan sejumlah rahib dengan jubah mereka yang kuning dan merah tampak akan berpapasan. Sebetulnya aku sama sekali tidak bosan dengan upacara itu, meski bukan upacara itu benar yang memikatku, melainkan segenap pemikiran di baliknya. Namun Iblis Suci Peremuk Tulang telah memperkenalkan aku sebagai pengemis bodoh kelaparan, jika aku tampak berbeda dari yang dikatakannya, bukan rahib temannya itu yang kukhawatirkan, melainkan mata-mata yang mungkin saja sudah lama tertanam dalam kuil tersebut. Meskipun pengepungan telah dibubarkan dan pasukan pemerintah dianggap meraih kemenangan, betapapun kematian Amrita menunjukkan bahwa kota ini masih

sangat waspada terhadap penyusupan. Sudah sangat sering terjadi, pasukan yang kalah dalam pertempuran akan berusaha menebusnya dengan penyusupan, saat pihak yang menang berada dalam kelengahan, untuk melakukan pembunuhan gelap atas para pemimpinnya.

Kuingat tentang bodhicitta, 21) kitab Sang Hyang Mahakayanan Mantrayana menguraikannya seperti berikut.

Sang Hyang Bodichitta janganlah dikau tinggalkan

bodhicitta berarti Sang Hyang Vajra dan Sang Hyang Mudra

karena yang terdiri atas keduanya

akan membuat dikau menjadi Hyang Buddha kelak

yang membuat dikau terbebas

dari keterikatan pada bentuk badan dikau

melalui pengabdian

kepada Sang Hyang Vajra, Ghanta, dan Mudra 22)

Sejauh yang masih kuingat dari malam-malam perbincangan Sepasang Naga dari Celah Kledung dengan para bhiksu maupun bhiksuni yang selalu kucuri dengar, kuketahui bahwa bodhicitta yang harus dipupuk ini juga dikenal dalam tingkat ajaran Mahayana di samping tingkat Tantrayana. Dalam ajaran Tantrayana menurut penafsiran Anandagarbha dikenal adanya lima rahasia, yakni bodhicitta, pengertian terhadapnya, pencapaian pengalaman atasnya, sesudah dialami untuk tetap dikuasai, dan pengetahuan tersendiri sebagai hasil yang dicapai atas pengalaman itu.

Kemudian, kelima rahasia itu diungkapkan melalui bahasa semu, yakni dengan perbendaharaan kata yang berhubungan dengan sanggama, untuk menyembunyikan pengertian yang dirahasiakan itu. Dengan kata lain, langkah-

langkah menuju pencapaian pengalaman bodhicitta itu dilambangkan sebagai langkah-langkah persanggamaan. Dalam perlambangan semacam itu bodhicitta dilambangkan sebagai Vajrasattva, sedangkan yang lainnya, seperti pengertian, pengalaman, penguasaan, dan pengetahuan, berturut-turut dilambangkan sebagai empat devi. Perwujudannya dalam bentuk susunan dewa-dewa 23) , mereka itu dilukiskan sebagai mandala yang dirahasiakan dan disebut sebagai Kota Kebebasan.

Diungkapkan bahwa hubungan antara bodhicitta dengan keempat rahasia yang lain itu ibarat hubungan sanggama antara Vajrasattva dengan keempat devi yang terjadi di dalam mandala yang dirahasiakan. Hubungan itu dilakukan untuk menghadirkan rahasia yang lebih mendalam, yakni maha-sukha.24) Menurut Anandagharba, vajra dalam bahasa semu menyembunyikan arti kemaluan lelaki, sedangkan mudra adalah pasangan perempuan dalam upacara bersanggama, dan akhirnya bodhicitta yang terdiri atas atau tercipta dari kedua unsur tersebut berarti benih. Dalam naskah lain, Hevajra-tantra, diartikan bahwa bodhicitta adalah perpaduan antara yogin dan mudra, yang masing-masing melambangkan karuna dan sunyata. Sesungguhnya, langkah-langkah perpaduan antara yogin dan mudra itu sendiri merupakan langkah-langkah dhyana, sebagai padanan terhadap langkah-langkah perpaduan antara upaya dan prajna

BAGAIKAN masih kudengar suara bhiksu tua di pondok kami waktu itu.

”Upaya atau yogin, dalam Hevajra-tantra, melambangkan kesadaran akan kebenaran yang diakibatkan oleh kehadiran karunia rasa iba terhadap penderitaan makhluk serta timbulnya niat untuk menolong membebaskan diri mereka dari penderitaan. Disebut upaya karena merupakan sarana-agung untuk mencapai Kebuddhaan secara sempurna. Tentang mudra yang disebut juga prajna, adalah sunyata dalam pengertian semua dharma itu tidak terciptakan, yang disebut utpada. Demikian juga dengan segala makhluk, karena tiada apa pun yang tercipta dengan sendirinya atau dari benda-benda lain, atau dari keduanya, dan atau dari tidak dari kedua-duanya.” 25)

Begitulah rahasia yang berlindung di balik bahasa semu tentang persanggamaan itu ada kalanya hanya ditangkap bahasa semunya sahaja. Itulah saat para rahib gadungan yang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti mempermainkan pengertian peleburan dalam sanggama sebagai persanggamaan yang sebenarnya, agar mendapat banyak pengikut yang akan dengan sukarela bersanggama satu sama lain, terutama dengan dirinya! Para rahib cabul yang menjajakan gagasannya di antara para pelacur ini bertebaran di mana-mana dan memberikan nama buruk bagi penganut Tantrayana.

Kami masih melangkah sepanjang lorong, ketika aku berpikir bahwa Nagarjuna tentulah telah membaca kitab-kitab tua sebelum menuliskan kitabnya sendiri, karena aku merasakan suatu hubungan dengan cara berpikirnya. Kami belum berpapasan dengan sederet rahib di depan. Aku dan Iblis Suci berpandangan. Kami sudah saling mengerti, sementara teman rahibnya tersebut masih terus bicara penuh sukacita karena pertemuannya kembali dengan Iblis Suci Peremuk Tulang. Namun ia mendadak tertegun ketika melihat para rahib yang berendeng maju ke depan. Tentu ia tertegun karena tidak mengenal mereka!

Meski lorong itu gelap, sisa cahayanya masih memperlihatkan pisau melengkung yang digenggam para rahib itu di balik jubahnya, ketika angin musim dingin bagaikan tiba-tiba saja menemukan jalan masuk ke lorong, dan menyibakkan jubah mereka. Pisau melengkung itu berkilat, begitu siap menebas leher maupun perut siapa pun jua.

138: Kuil Pengabdian Sejati

LORONG di dalam kuil itu luas, karena tak hanya sekadar ruang yang menghubungkan ruang satu dengan ruang lain, melainkan juga tempat pemujaan dengan genta-genta, gambar pahatan pada dinding yang menceritakan perjalanan Siddharta Gautama, dan lilin-lilin yang menyala di bawahnya. Asap dari lilin-lilin itu membuat mata pedas, tetapi udara musim dingin di luar yang begitu menusuk membuat orang-orang tetap saja masuk, mencari sekadar kehangatan dengan pura-pura berdoa dan lain sebagainya.

Begitulah suasana di dalam lorong ketika pisau melengkung itu menyambar dari balik jubah dan dengan seketika saja sudah berada di dekat urat leherku. Setidaknya sepuluh bikhsu, atau orang-orang yang menyamar sebagai bhiksu, bergerak cepat dengan pisau melengkung yang seperti punya mata. Aku pun berkelebat dengan kecepatan kilat, yang membuat pisau itu berdesir di samping telingaku. Serangan yang sama juga terarah kepada Iblis Suci Peremuk Tulang, maupun rahib kenalannya yang bagaikan tak terlalu sadar betapa ujung pisau melengkung siap mencongkel matanya!

Sepuluh pembunuh berbusana bhiksu itu tak hanya bergerak cepat, tetapi juga mengepung kami, lima menyerang dari depan dan lima lagi berkelebat untuk menyerang dari belakang. Namun aku dan Iblis Suci Peremuk Tulang belum tertarik untuk mati di tempat ini, maka berkelebatlah kami menghadapi serangan ini. Demikianlah dalam kegelapan pisau berkilat karena cahaya lilin, di antara kibar jubah kuning dan merah itu aku berkelebat melakukan menghindar maupun serangan balasan. Mereka bergerak sangat amat cepat, sehingga setiap kali hanya kulihat pisau berkilat yang dengan kemelengkungannya itu tergerakkan dengan indah meski penuh ancaman.

BEGITULAH maut di ujung pisau melengkung itu mengejarku dengan kilatan cahaya yang mendahuluinya. Semenjak pertempuran berakhir pedang biru dan cambuk kuning keemasan itu tidak kubawa lagi, aku menukarnya dengan sejumlah uang di tempat seorang pandai besi pembuat senjata, yang pura-pura tidak tahu menahu itu milik siapa. Aku tidak butuh senjata bagi ilmu silatku, tetapi aku butuh uang, sehingga aku merasa tidak ada salahnya menjual kedua senjata mestika itu. Jika aku menyamar sebagai paria pengemis, tidak berarti bahwa dalam arti sebenarnya aku harus tidak punya uang; sebaliknya juga adalah wajar bagi seorang paria untuk menjual apa pun yang ditemukan, karena memang tak tahu apa gunanya bagi dirinya.

Maka tak dapat kumanfaatkan kilatan cahaya yang mendahului itu, misalnya dengan pantulan pedang biru, tetapi harus kutunggu pisau itu semakin dekat agar bisa kurebut. Namun kecepatan mereka luar biasa, sehingga aku harus terus waspada,

karena kelengahan sedikit saja akan bisa membuatku tidak pernah pulang ke Jawadwipa. Aku berkelebat menghindari gulungan cahaya merah dan kuning, dengan kilatan tajam pisau di tengah-tengahnya. Perlawananku menjadi sulit, karena mereka berusaha juga membunuh rahib kawan Iblis Suci itu. Mereka tahu betapa diriku dan Iblis Suci Peremuk Tulang tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, dan karena itu mereka menggunakannya untuk memecah perhatian kami.

Pertarungan yang tidak dapat diikuti mata awam ini hanya terdengar sebagai desis, desau, dan desir bagi mereka; kukira demikian juga bagi kawan rahib baik hati yang berada di tengah-tengahnya. Ia ta ktahu sama sekali betapa setiap saat nyaris mati. Begitulah suatu ketika, karena mesti memukul jatuh pisau yang mengarah ke jantungnya, suatu dorongan pukulan membuatku terlempar ke dinding, dan terbanting tepat pada gambar pahatan Siddharta Gautama di bawah pohon bodhi. Pada saat yang sama suatu bayangan kuning merah yang dari desirnya kuketahui sebagai jubah para bhiksu palsu, tidak hanya satu tetapi tiga pisau melengkung menikam dari kanan, kiri, dan belakang. Itulah Jurus Tiga Perawan Mencabut Bunga yang taklebih takkurang maksudnya memastikan berhasilnya pencabutan nyawa.

Inilah saatnya aku bergerak lebih cepat dari kilat, saat gerakan mereka tampak menjadi sangat lambat, sehingga aku sempat menyambar lilin dan dengan sentakan menjadikan apinya sebagai bola api yang menyambar jubah ketiganya. Seketika terdengar raungan manusia yang terbakar. Itulah Jurus Anak Perawan Bermain Api yang sudah jarang dipelajari lagi. Jubah yang mereka kenakan membuat tubuh mereka jadi obor menyala yang berjalan tertatih-tatih menabrak dinding. Lorong itu menjadi terang benderang dan mengundang lebih banyak orang. Semuanya para bhiksu penjaga keamanan yang masuk dari kedua ujung lorong dengan senjata toya mereka.

Iblis Suci Peremuk Tulang telah melumpuhkan dua lawan yang tergeletak layu bagaikan tanpa tulang. Tinggal lima bhiksu palsu yang kini terkepung dan saling memunggungi.

Para bhiksu dari kedua sisi semakin mendekat.

”Siapa kalian semua? Berani-beraninya bikin onar di Kuil Pengabdian Sejati ini hah?”

Keadaan sangat menegangkan. Aku tahu kemampuan bhiksu penjaga keamanan sangat tinggi. Jika bhiksu penjaga keamanan datang sebanyak itu dengan kemampuan permainan toya mereka yang terkenal, bagaimanakah aku bisa keluar dari Kuil Pengabdian Sejati ini dalam keadaan hidup?

Aku menyiapkan Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama, bersiap menghadapi kemungkinan bahwa para bhiksu itu akan memberi hukuman kepada siapa pun yang dianggap menodai kesucian kuilnya. Betapapun aku merasa tidak bersalah, dan karena itu aku harus melawan.

”Bukan hanya bikin onar, tapi juga menumpahkan darah! Hukuman seperti apa yang kalian harapkan jika bukan seberat-beratnya hukuman?”

Aku tak tahu apakah bhiksu di kuil pertapaan boleh melakukan sembarang penghakimannya sendiri. Namun Kuil Pengabdian Sejati terletak di tengah keramaian Kota Thang-long, tempat segala nilai tidak selalu bisa dipegang seperti ujaran dalam kitab yang taklekang oleh waktu.

Rahib kawan Iblis Suci Peremuk Tulang mengangkat kedua tangannya dan mengeluarkan bahasa burung. Ia lantas bersujud. Kuawasi sisa lima bhiksu pembunuh yang masih hidup. Mereka saling melirik dan memandang dengan cepat.

”Kawanku berkata kita tidak bersalah, dan bahwa dialah yang telah mengajak kita berdua masuk kemari, sebelum kita menyelamatkan dirinya dari senjata para pembunuh yang tidak dikenalnya. Lantas dia menyerahkan dirinya untuk dihukum jika bersalah,” kata Iblis Suci Peremuk Tulang.

KAWAN bhiksu yang baik hati itu bersujud di tanah. Ia tidak akan bangun jika bhiksu kepala kuil tidak mengatakan ia boleh berdiri. Seorang bhiksu penjaga keamanan yang agaknya memimpin regu bertoya ini menunjuk Iblis Suci Peremuk Tulang.

‘’Daku mengenal dikau sebagai bhiksu malang dari Sungai Hitam yang berubah menjadi seorang pendendam. Kami sayangkan tidak cukup dalam penghayatan dirimu atas Jalan Kebuddhaan, janganlah mengaku sebagai rahib yang mampu menahan godaan duniawi untuk membalas dendam. Namun kami percaya dalam hal ini dikau tak bersalah. Minggirlah bersama kawanmu itu, agar kami bisa menangkap para bhiksu yang tidak pernah kami lihat batang hidungnya ini!’’

Bisa kuikuti kata-katanya karena ia menggunakan bahasa Viet.

Barisan toya bergerak membentuk kedudukan yang mengepung sisa lima pembunuh itu, melepaskan kami berdua dari pengepungan, sementara kawan bhiksu satu itu masih terus bersujud di tengah ketegangan.

Aku mengikuti perkembangan dengan sangat khawatir. Namun aku terlambat. Kelima bhiksu gadungan itu bergerak sangat cepat, berputar sambil menyebarkan jarum-jarum beracun dari balik jubahnya. Suaranya mendesis mengerikan karena banyaknya jarum beracun yang siap mencabut nyawa itu. Dengan cepat pula para bhiksu penjaga keamanan memutar toya mereka untuk menangkis, tetapi jarum-jarum beracun itu dilepaskan oleh para pembunuh gelap yang sudah berpengalaman. Sebagian bhiksu berhasil menepis rontok jarum-jarum itu, tetapi sebagian yang lain meski dapat pula merontokkan sebagian jarum-jarum tersebut, tetap saja tewas terjengkang dengan badan menghitam, ketika satu dua jarum menembus mata, leher, dan jantung mereka.

Namun serangan jarum-jarum beracun itu sendiri pun adalah suatu tipuan, karena belum lagi para bhiksu penjaga keamanan itu selesai memutar toya masing-masing seperti baling-baling untuk menepis jarum-jarum terakhir, kelima bhiksu palsu dari jaringan rahasia pembunuh gelap itu telah menelan butiran obat beracun untuk bunuh diri.

Mendadak saja mereka jatuh terbanting dengan mulut berbusa. Tidak ada keterangan yang bisa digali dari mereka. Namun mereka tidak mati sendirian, tidak kurang dari dua belas bhiksu ikut mati bersama mereka.

Bhiksu kepala penjaga keamanan itu mengambil sebilah pisau melengkung dan memeriksanya dalam sisa cahaya api korbanku yang masih menyala. Aku pun dapat melihatnya dari jauh. Pada bidang lebar pisau itu terukir gambar seekor ular.

‘’Hmmhh!’’

Bhiksu kepala itu mendengus, dan pisau melengkung di tangannya itu dipatahkannya menjadi dua!

***

DEMIKIANLAH untuk sementara aku dan Iblis Suci Peremuk Tulang diminta para bhiksu untuk tinggal di Kuil Pengabdian Sejati. Bagi mereka, siapa pun yang terancam oleh perburuan kelompok jaringan rahasia pembunuh gelap Kalakuta, bukan hanya terancam bahaya dan harus dilindungi, melainkan juga harus dibela karena berada di pihak orang-orang baik.

‘’Hanya orang-orang jahat akan tega memanfaatkan jasa Kalakuta dengan racun mereka yang kejam. Iblis Suci Peremuk Tulang, ceritakanlah sesuatu yang dapat memberi penjelasan,’’ ujar bhiksu kepala Kuil Pengabdian Sejati kemudian, ketika keadaan sudah tenang.

Maka berceritalah Iblis Suci Peremuk Tulang bahwa diriku adalah orang yang dicari oleh mata-mata pemerintah Daerah Perlindungan An Nam. Iblis Suci menyatakan bahwa diriku adalah bagian dari orang-orang asing, seperti juga orang Thai, orang Khmer, orang Cam, orang Melayu, dan orang Pagan, yang bergabung dengan para pemberontak Viet, yang kini telah terkalahkan. Iblis Suci menyatakan gaya diriku hanyalah memenuhi tugas sebagai pendekar, tetapi setelah pertempuran usai bermaksud meneruskan pelajaran atas filsafat Nagarjuna.

‘’Hmm, Nagarjuna! Semua orang mempelajarinya sekarang, tetapi tidak semua orang bisa memahaminya, karena tidak bisa melepaskan dirinya dari filsafat lama. Hmm….’’

Bhiksu tua itu manggut-manggut sembari mengelus dagunya yang kelimis.

‘’Katakanlah kepadaku Iblis Suci, kenapa di antara ratusan ribu anggota pasukan pemberontak, justru kawanmu ini yang dicari?’’

Iblis Suci memandangku, seperti meminta persetujuan. Aku mengangguk. Kurasa aku harus mempercayainya, bukan karena golongan para bhiksu, seperti juga para rahib Hindu dari golongan brahmana, diandaikan menggenggam kesucian, tetapi bhiksu kepala telah menunjukkan betapa ia berpihak

ETELAH mengenal siapa Iblis Suci Peremuk Tulang yang membangkang terhadap pemerintah Daerah Perlindingan An Nam, terbukti ia tidak memerintahkan para bhiksu penjaga keamanan menangkapnya. Meskipun Kuil Pengabdian Sejati terletak di dalam Kota Thang-long, agaknya para bhiksu memiliki kebijakannya sendiri. Kurasa sepantasnyalah aku merasa aman di dalamnya.

Demikianlah Iblis Suci Peremuk Tulang itu pun angkat bicara.

”Setidaknya terdapat tiga nama yang dicari mata-mata pemerintah di kalangan pemberontak, yakni Amrita, Harimau Perang, dan Pendekar Tanpa Nama. Dialah yang disebut terakhir itu.”

Bhiksu tua itu tetap tenang wajahnya, dan tersenyum.

”Jadi dikaulah Pendekar Tanpa Nama yang sangat bernama itu. Jika kita tidak berjumpa karena kejadian ini, niscaya dirimu bagiku hanyalah hadir sebagai cerita yang disampaikan dari kedai ke kedai. Kudengar dikau berasal dari Jawadwipa bukan? Bagaimana keadaan di sana?”

Aku tersentak. Meskipun seperti disampaikan seperti sambil lalu, ini bukanlah pertanyaan yang begitu mudah dijawab, karena meskipun yang ditanyakannya adalah Jawadwipa, sebetulnya itu pertanyaan tentang Suvarnadvipa dalam keseluruhan wilayahnya. Adapun diriku, meskipun singgah ke Kota Kapur di Pulau Wangka, tidaklah sempat menginjak pusat Kedatuan Srivijaya, yang pulaunya dalam Ramayana dari Lanka disebut Samudradvipa, tetapi yang oleh banyak orang disebut Suvarnabhumi. Adapun Suvarnadvipa dan Suvarnabhumi adalah penyebutan wilayah yang bertumpang tindih. Betapapun aku harus segera menjawab, jadi

kuceritakan saja sesuatu yang mungkin akan membuatnya tertarik, yakni pembangunan candi raksasa Kamulan Bhumisambhara pada sebuah bukit di wilayah Budur.

Demikianlah kuceritakan bahwa saat ini terdapat kerajaan Mataram di Jawadwipa yang pemerintahannya dikepalai oleh Rakai Panunggalan yang berkuasa sejak 784. Namun sejak masa pemerintahan sebelumnya, yakni masa Rakai Panamkaran yang berkuasa sejak 746, mulai dibangunlah Kamulan Bhumisambhara sejak 780. Jadi sampai sekarang sudah berlangsung 17 tahun, dan itu barulah bagian terbawah dari keutuhan candi yang direncanakan terdiri atas tiga bagian bertingkat menuju ke atas, yang mewujudkan peleburan tiga unsur dalam suatu kesatuan.

Itulah unsur nafsu atau kamadhatu pada dasar candi, yang sempat kulihat sebagian dari penatahan 160 bingkai gambar pahatan; unsur wujud atau rupadhatu, yang kudengar direncanakan berupa empat lorong dengan 1.300 gambar pahatan sepanjang 2.500 langkah panjang mengitari bukit dengan 1.212 bingkai berukir; unsur tak berwujud atau arupadhatu, yang juga hanya kudengar dari perbincangan para pekerja, melingkar bundar tanpa lorong, tempat terdapat 72 patung Buddha dalam stupa berterawang dan satu stupa induk besar yang menunjuk ke langit. Maka selengkapnya terdapat 504 patung Buddha setinggi manusia yang 432 di antaranya terdapat dalam relung terbuka pada pagar langkan di empat lorong, dengan lebar 123 langkah dan rencana ketinggian 42 langkah lebar ke atas. 1)

”Uh!”

Aku tak tahu seberapa tepat aku dapat membayangkan wujud candi baru, dan seberapa jauh pula mampu menggambarkannya kembali, tetapi bhiksu tua itu ternyata juga mencoba membayangkannya sambil memejamkan mata, dan rupanya mengikuti kata-kataku dalam bahasa Viet yang terbata-bata, terbayangkan olehnya suatu candi yang luar biasa.

Kuceritakan pula bahwa gambar pahatan pada dinding-dindingnya, mulai dari bawah akan dimulai dengan uraian Karmawibhangga, yang menggambarkan ajaran sebab akibat perbuatan baik dan jahat; kemudian di atasnya lagi akan diisi dengan kisah

Lalitavistara, yang menggambarkan kehidupan Buddha Gautama sejak lahir sampai amanat pertama di Benares, yang akan disaksikan sambil berkeliling lewat lorong-lorong candi; di atasnya lagi adalah Jatakamala atau rangkaian Jataka yang aslinya merupakan rangkaian sajak sebanyak 34 Jataka karya Aryacara sekitar abad keempat atau hampir 400 tahun lalu, tempat Jataka menceritakan peristiwa dan perbuatan Buddha dalam kehidupannya yang lampau, kisah-kisah penjelmaan kembali sebagai contoh-contoh pengorbanan diri; lantas disambung Awadana, Jataka juga tetapi bukan Buddha peranan utamanya, melainkan kehidupan lampau para bodhisattva dalam persiapan mencapai tingkat kebudhaan; disambung naskah penting Buddha, yakni Gandawyuha yang mengisahkan Sudhana, putera seorang saudagar kaya, yang dalam tujuan mencapai kebenaran berjumpa dengan beberapa Bodhisattva Maitreya, yakni Buddha yang akan datang, dan Samanthabadra menjadi contoh hidupnya; ditutup oleh Bhadracari, yang menampilkan sumpah Sudhana untuk mengikuti Bodhisattva Samanthabhadra sebagai teladan

”SELURUH cerita ini diikuti melalui langkah keliling, dari lorong pertama sampai keempat 3)…,” kisahku, sementara dengan masih memejamkan mata, bhiksu tua itu menggeleng-gelengkan kepala.

”Terbayang daku menyusuri lorong-lorong itu,” katanya, ”luar biasa!”

Lantas ia membuka mata, masih terpesona, seolah-olah candi raksasa itu telah berdiri dan disaksikannya.

”Orang-orang macam apa kalian itu?”

Bhiksu itu mendesis, seperti bicara kepada dirinya sendiri. Maka kujelaskan bahwa apa yang berlangsung di Jawadwipa barangkali tidaklah sehebat yang dibayangkannya. Pertama, bukan hanya satu kerajaan terdapat di sana, karena dalam kenyataannya terdapat kerajaan-kerajaan kecil bersaingan, antara lain karena pengaruh igama yang melatarbelakangi kerajaannya. Meski Rakai Panamkaran dan Rakai Panunggalan berkuasa pada masa pembangunan Kamulan Bhumisambhara itu, yang kudengar, seperti pernah kuceritakan, adalah nama lain di belakang berlangsungnya kegiatan besar-besaran itu, yakni penguasa bernama

Samaratungga, dengan Gunadharma sebagai perancangnya 4) sehingga yang tampaknya hebat sebetulnya merupakan hasil persaingan antarwangsa dan antarigama. 5)

”Hmm….,” gumam bhiksu kepala itu lagi, sembari manggut-manggut dan mengusap janggutnya yang kelimis, ”dan apakah kiranya yang membawa dikau kemari, wahai Pendekar Tanpa Nama?”

”Naluri pengembaraan,” jawabku dengan nada rendah, ”dalam kehendak mencari kesempurnaan dalam ilmu persilatan.”

”Ilmu persilatan….Hmm…,” ia manggut-manggut lagi, ”bagaimana dengan dikau Iblis Suci? Apakah dikau melakukan hal yang sama?”

”Sahaya? Sahaya mencari kesempurnaan hidup sebagai rahib dengan menjadi bhiksu, tetapi menemukannya dalam ilmu persilatan, ketika ilmu yang semula sahaya pelajari sebagai bhiksu penjaga keamanan sahaja, menjadi bermakna ketika digunakan untuk membela hak hidup sebuah kuil yang dihancurkan.”

”Artinya?”

”Suatu ilmu tidak akan pernah sempurna dalam ilmu itu sendiri sahaja, melainkan bersama tujuan di baliknya. Sahaya dapat mencapai kesempurnaan ilmu sebagai pelajar ilmu silat, tetapi hanya mencapai kesempurnaan hidup ketika menggunakannya untuk membela kehidupan, dalam hal ini berperang melawan Golongan Murni yang ingin membersihkan dunia dengan pembantaian.”

Aku tertunduk, merasa rendah diri dengan kematangan Iblis Suci Peremuk Tulang yang tampaknya berangasan. Bhiksu kepala itu ganti bertanya kepadaku.

”Dan apakah kiranya yang dikau cari dengan filsafat Nagarjuna, wahai Pendekar Tanpa Nama, adakah kiranya berhubungan dengan ilmu silatmu juga?”

Aku berpikir sejenak. Aku tak pernah mengungkap apa yang kupikirkan dalam pengembangan ilmu silatku, bahkan aku merasa itu sebaiknya dirahasiakan saja.

Namun aku juga tahu betapa dengan cara itu aku tidak dapat menguji pemikiranku. Maka kujawab jugalah pertanyaan bhiksu tua itu.

’’SAHAYA belajar filsafat dengan daya tangkap sahaya yang terbatas, Bapak, memang untuk mengembangkan ilmu silat sahaya.’’

’’Silat dan filsafat, bagaimanakah keduanya bisa berhubungan, Anak?’’

’’Sahaya mempelajari filsafat, dan menafsirkannya kepada suatu bangunan gerak, tempat gerak menerjemahkan gagasan-gagasan filsafat.’’

’’Apakah mungkin gerak terpadankan dengan gagasan, Anak?’’

’’Memang tiada padanan gerak dan makna tanpa bentuk dalam gagasan filsafat, Bapak, tetapi membangun suatu pemadanan yang setia dan tertata, adalah mungkin untuk membangun suatu rangkaian gerak yang akan menjadi jurus-jurus silat. Dalam pemahaman sahaya, selalu terdapat gagasan filsafat di balik setiap bangunan jurus-jurus ilmu silat.’’

’’Masalahnya, Anak, bagaimanakah caranya pengembangan gerakmu terpadankan dengan bangunan-bangunan ilmu silat yang tidak Anak kenal sama sekali?’’

’’Betapapun seluruh bangunan ilmu silat itu, gerakan maupun makna di baliknya haruslah dikenali, Bapak, karena jika tidak, maka pengembangan yang sahaya lakukan tidak akan menjadi tanggapan yang tepat terhadap ilmu silat yang telah ada sebelumnya.’’

’’Itulah tugas yang sangat berat, Anak, apakah yang Anak lakukan jika menghadapi jurus-jurus yang tidak dikenal?’’

’’Untuk itu, sahaya telah mengembangkan Jurus Bayangan Cermin, Bapak, yang segera akan menjadi Ilmu Bayangan Cermin, tempat ilmu silat mana pun yang menyerang, akan terserap dengan seketika oleh sahaya, yang dapat seketika menguasai dan mengembalikannya dengan cara baru yang tidak akan dikenalinya lagi.’’

’’Hmm…,’’ bhiksu tua itu manggut, ’’sebetulnya tidak usah terlalu mengherankan, untuk orang-orang dari suatu tempat yang membangun candi raksasa dengan bagian tak berwujud….’’

Aku diam tepekur. Bhiksu kepala ini penglihatannya bisa melayang ke Jawadwipa, dan menghubungkannya dengan ilmu silat. Tentu, jika gagasan tentang perjalanan bentuk menuju tanpa bentuk dapat berwujud sebuah candi raksasa, maka suatu rangkaian jurus yang membentuk bangunan ilmu silat, tentunya dapat pula menampung gagasan yang sama. Barangsiapa dapat menemukan atau menciptakan jurus-jurus tidak berbentuk akan mencapai kesempurnaan dalam ilmu silatnya.

’’Namun merontokkan suatu bangunan tidaklah mungkin tanpa mengenal seluk beluk bangunan itu,’’ ujarnya, seperti diucapkan kepada diri sendiri, ’’untuk mengenal bangunan ilmu dunia persilatan, kita harus bertarung dengan sebanyak mungkin pendekar….’’

Aku teringat filsafat Nagarjuna, jika ada satu orang saja yang telah menguasainya, dan berdasarkan filsafat Nagarjuna telah mengembangkan ilmu silatnya dan bertarung denganku, tidaklah mungkin aku dapat mengalahkannya, karena aku belum menguasai filsafat Nagarjuna itu.

Tanpa mengangkat kepala aku berpikir. Iblis Suci Peremuk Tulang tampak menguasai segala sesuatu tentang Nagarjuna, tetapi tidak tampak memanfaatkannya sama sekali, karena memang tidak setiap orang berpikir tentang bagaimana mengembangkan atau menciptakan suatu bentuk ilmu silat atas suatu dasar filsafat.

NAMUN bagiku mendalami ilmu silat dengan mempelajari dasar filsafatnya akan membawa kita kepada berbagai penemuan lain.

Di luar kuil hujan salju berhenti. Di halaman terlihat para bhiksu meratakan salju. Mereka membentuk barisan yang tertib dan bergerak sangat teratur dalam perataan salju dengan penyapu bergagang panjang. Salju yang bertumpuk-tumpuk itu

kemudian memang menjadi rata, dan di halaman terhampar permadani putih, dengan bhiksu berjubah tebal merah dan kuning menyeret gagang penyapuan secara berderet dan bersama-sama dalam perataan terakhir.

Mereka adalah para rahib yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencapai Kebuddhaan, meski untuk itu barangkali akan selamanya tinggal di Kuil Pengabdian Sejati. Saat itu, aku merasa betapa diriku tidak akan sanggup hidup dengan tujuan semacam itu. Memang benar betapa dalam sepuluh tahun telah kubuktikan kesanggupanku hidup di dalam gua, tetapi bukanlah karena keinginan sendiri melainkan pengarahan seseorang yang belum kuketahui siapa. Pencarian kesempurnaan dalam ilmu silat dalam apa yang kulakukan, agaknya belum mencapai tingkat tanpa tujuan dan tanpa keinginan, seperti yang diajarkan dalam kebuddhaan itu sendiri. Aku hanyalah seorang pengembara, yang menikmati segala sesuati demi kesenangan dirinya sahaja.

Aku tertunduk makin dalam. Seolah tidak akan pernah mengangkat muka kembali.

139: Nagarjuna dalam Pemujaan

DEMIKIANLAH kami ditampung oleh para bhiksu di Kuil Pengabdian Sejati. Sebagian untuk melindungi kami dari intaian mata-mata dan perburuan para penyusup, sebagian untuk memberi kesempatan kepadaku mempelajari ajaran filsafat Nagarjuna. Maka kami pun hidup bersama para bhiksu dan hidup seperti bhiksu, yang meskipun terletak di tengah kota Thang-long, sangatlah tertutup dan ketat pengawasannya, apalagi setelah peristiwa masuknya sepuluh pembunuh dari jaringan Kalakuta itu. Setiap hari kami ikuti segenap upacara para bhiksu dan bhiksuni di situ, yang tidak menjadi masalah besar bagi Iblis Suci Peremuk Tulang, karena pada dasarnya memang ia seorang rahib, tapi tentu saja merupakan hal baru bagiku, yang meski mengenal tetapi tak pernah melakukannya sama sekali.

Kami berdua juga dianjurkan untuk menyamar sebagai bhiksu dan kami turuti, yang berarti sekarang aku berkepala gundul dengan wajah kelimis, serta mengenakan jubah merah dan kuning. Namun jika para bhiksu dan bhiksuni telah mendapat tugas hariannya masing-masing, maka tugas kami hanyalah mempelajari filsafat

Nagarjuna, tepatnya aku belajar dari Iblis Suci Peremuk Tulang yang dipercaya untuk memberikan pengantarnya.

Pada suatu hari, dalam sebuah bilik, Iblis Suci berkisah tentang bagaimana Nagarjuna dipuja begitu rupa, sehingga sosoknya lebih dikenal sebagai tokoh daripada guru filsafat yang sangat bersungguh-sungguh.

”Nagarjuna telah dipertimbangkan sebagai Buddha kedua dan telah menempati kedudukan kedua itu dalam garis kepala keluarga hampir semua aliran Buddha Mahayana, terutama karena penganut aliran-aliran ini menolak untuk mengakui kedudukan jiwa ribuan murid-murid langsung Buddha, yang menurut pengakuan Buddha sendiri, telah mencapai pengetahuan dan pengertian atau nana-dassana yang sama dengan kesempurnaan akhlak dan jiwa yang dicapai Buddha.

”Jika pencapaian kecendekiaan dan kejiwaan dari murid-murid langsung dengan jelas diungkapkan dalam naskah seperti Theragata dan Therigata, tidak ada penjelasan bagi kita tentang pencapaian jiwa Nagarjuna, kecuali catatan tentang masuknya beliau ke dalam igama Buddha dan kegiatan pengajarannya yang diterjemahkan Kumarajiva ke bahasa orang Negeri Atap Langit, Lung-shu-p’u-sa-ch’uan. Kedudukan Nagarjuna sebagai Buddha kedua diturunkan dari tulisan-tulisan utamanya, yang secara keseluruhan dipandang sebagai penafsiran falsafi sutra-sutra Mahayana. Nagarjuna kemudian menjadi begitu terkenal, sehingga sering dimanfaatkan berbagai aliran untuk mengatas namakan ajarannya, dengan mengalihkan pemikiran filsafatnya sebagai igama. Bukankah ini merupakan kekacauan luar biasa?”

Adapun yang dimaksudkan Iblis Suci Peremuk Tulang agaknya penulis-penulis Tantrayana yang mencari pengakuan atas kewibawaan dan kesucian bagi gagasan-gagasannya, yang tak diragukan lagi dipengaruhi oleh upacara-upacara Hindu. Bahkan jika akibat buruk semacam ini diabaikan, masih mungkin untuk mempertahankan bahwa kedudukan tinggi yang terhubungkan dengan Nagarjuna belum mencerminkan sikap tanpa kejelian dan setia berlebihan pengikut Buddha belakangan, terhadap jiwa sempurna pengikut Buddha pertama. Sikap semacam itu

tercerminkan bukan hanya dalam sejumlah naskah Mahayana tetapi dalam beberapa ujaran Theravada.

”MISALNYA naskah-naskah tafsiran Theravada yang muncul akhir-akhir ini,” lanjut Iblis Suci lagi, ”suatu pemujaan kedudukan teracu kepada Abhidamma dalam hubungannya dengan wacana-wacana yang begitu rupa sehingga Buddha harus mendaki dunia kedewaan atau devaloka dan menceramahkan Abhidamma kepada ibunya yang tinggal di sana. Bukankah itu ajaib?

”Penambahan semacam itu, meskipun dimaksud untuk menambah kewibawaan dan kesucian kepada suatu susunan naskah yang muncul lama setelah kepergian Buddha, jelas menunjukkan betapa murid-murid langsung Buddha pun tidak mampu memahami isinya.”

”Jadi naskah-naskah menjadi gelanggang pertarungan gagasan berbagai aliran dalam igama Buddha?”

”Setidaknya antara penganut yang tidak pernah bertemu Buddha sendiri, dengan murid-murid langsungnya itu, yang tentu merasa pendapatnya tak bisa lebih benar lagi.”

Betapapun, meski terdapat akibat dari kisah pertentangan ini, para penganut Theravada tidak memanfaatkannya dalam suatu cara yang akan mengarah kepada jatuhnya cita-cita awal para arahant atau orang suci. Sebaliknya, saat kebutuhan serupa dirasakan penganut Mahayana untuk memberikan wibawa dan kesucian bagi naskah-naskah Mahayana mutakhir seperti sutra-sutra Prajnaparamita, yang sudah jelas lebih baru daripada risalah-risalah Abhidarma, mereka takpuas hanya dengan mengatakan itu merupakan wacana agung atau vaipulya-sutra, melainkan lebih jauh lagi mengutuk cita-cita kesempurnaan arahant yang terwujudkan dalam wacana-wacana itu dan mengecam pencapaian jiwa murid-murid langsung Buddha.

Dalam keadaan semacam ini, Saddharmapundarika-sutra beredar dari kuil ke kuil. Tujuan gerakan ini dianggap sebagai mulia, karena merupakan usaha pertama untuk menyatukan segenap gagasan dan cita-cita bertentangan, yang telah

menyebabkan keretakan besar di antara para penganut Buddha. Namun kehendak untuk menyatukan ini ternyata lebih meningkatkan pertentangan daripada kerukunan dan ketenteraman. Bahkan suatu pandangan sekilas di permukaan sejarah igama Buddha, akan menampakkan keberadaan para bhiksu yang menyimpang dari cita-cita dan secara keliru mengakui suatu pencapaian jiwa, ketika beralih dari kehidupan tertutup kepada kehidupan seperti rakyat biasa. Para bhiksu seperti itu dikabarkan sudah ada sejak masa kehidupan Buddha. Kitab seperti Vinayapitaka maupun Kasyapararivar tidak tampak suka dengan para bhiksu yang dianggap menyempal semacam itu.

”Kitab yang terakhir itu malah mengibaratkan mereka sebagai sekelompok anjing yang berkelahi satu sama lain demi sejumput makanan yang dilemparkan kepada mereka,” ujar Iblis Suci Peremuk Tulang.

Sikap mementingkan diri sendiri dan perilaku takterhormat sebagian rahib mungkin memang merugikan. Dalam kaitan ini, pengorbanan diri dan sifat mengutamakan kepentingan secara habis-habisan dapat timbul sebagai cita-cita mulia. Betapapun, tindakan dan tanggapan seperti itu tidaklah bisa menjadi alasan untuk mengecam para murid langsung Buddha, orang-orang suci arhant seperti Sariputta, Mogallana, dan Kassapa, sebagai orang-orang hinabhirata, 1) dan memaksa mereka untuk menyangkal pencapaian demi menerima cita-cita kesempurnaan yang baru, karena suatu kesempurnaan tentu bertentangan Jalan Tengah yang disebutkan Buddha dalam ajarannya yang pertama bagi dunia.

”Hanya dengan mengikuti Jalan Tengah yang menghindari kedua kutub dari pemuasan-diri dan penghancuran-diri itulah,” lanjut Iblis Suci, ”bahwa murid-murid Buddha mencapai tingkat kebebasan yang disebut sankhara-samatha atau penenangan atas watak dan terus bekerja demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.”

Suatu catatan asli dalam Thera maupun Therigata menyimpan banyak pengakuan atas cita-cita para murid langsung, dan juga suatu cita-cita yang dikenal oleh Nagarjuna, seorang jawara dalam Filsafat Jalan Tengah.

Sembari mendengarkan Iblis Suci berbicara, aku mencoba memahami betapa ketika penganut Theravada mengangkat Abidhamma ke suatu kedudukan penting tanpa mengurangi nilai gagasan-gagasan dalam ajaran awal, Saddharmapundarika tampil sebagai telah melangkah jauh dalam penanganan segenap adat filsafat dan igama, dimulai dengan Buddha sendiri. Kitab itu bertanggung jawab tak hanya atas kecamannya terhadap para murid langsung, tetapi juga dalam merendahkan nilai wacana-wacana awal.

ADAPUN wacana seperti dalam nikaya-nikaya 2) dan agama-agama disadari tertutup isinya. Alasan yang dihadirkan, karena para murid langsung tidak dapat memahami ajaran yang lebih dalam, Buddha harus mengujarkan suatu ajaran yang tertutup dan takmemuaskan untuk menyesuaikan dengan kemampuan berpikir mereka.

Pernyataan semacam itu mempunyai akibat tersembunyi, misalnya bahwa Buddha tidak mampu menyampaikan ajaran yang lebih dalam dengan cara yang dapat dimengerti orang-orang yang hadir. Dalam adat Mahayana, panggung telah dibuat siap pakai untuk para pemikir seperti Nagarjuna, yang setidaknya telah menguraikan ajaran, untuk diangkat ke tingkat Buddha kedua. Namun bahkan kedudukan Buddha tertinggi lebih penting daripada Sakyamuni.

’’Kedudukan Nagarjuna telah dilebih-lebihkan begitu rupa, sampai ada yang berkata, bahwa kuncup teratai yang muncul di dunia bersama kelahiran Buddha, tumbuh dan mekar dengan kemunculan Nagarjuna,’’ kisah Iblis Suci, ’’agak terlihat sungguh-sungguh adalah pernyataan bahwa saran Buddha tentang praduga bagian-bagian 3) atau dharma telah ditolak Nagarjuna dengan praduga kekosongan 4) atau sunyata. Ini tentu menempatkan kedudukan Nagarjuna lebih penting daripada kedudukan yang ditempati Buddha.’’

Kemudian kusadari bahwa mungkin saja para pengagum Nagarjuna telah membangun suatu ruang, yang membuat orang mengira bahwa filsafatnya sedikit banyak telah disarankan, bukan diajarkan, Buddha sebenarnya dalam sejarah. Kukira aku pun harus waspada terhadap para penulis yang teracuni gagasan tentang perubahan pemikiran, sehingga gagal mengenali kecanggihan gagasan-

gagasan filsafat yang disampaikan Buddha sekitar 1400 tahun lalu. 5) Setelah gagal menggali keaslian filsafat Buddha seperti yang tercerminkan oleh nikaya-nikaya dan agama-agama, seperti juga merosotnya pendekatan tersebut dalam ujaran-ujaran adat. Hanya setelah berlangsung pembaruan atas pendekatan pada masa lebih awal, oleh pemikir seperti Moggaliputta-tissa dan Nagarjuna, para penulis dan para pengajar dapat melihat bahkan melakukan pencanggihan filsafatnya secara menyeluruh. 6)

’’Bukankah begitu?’’ Iblis Suci membuyarkan renunganku.

Kuangkat kepala. Seperti diriku, ia pun kini berkepala gundul dan wajah kelimis. Kami berada di dalam sebuah bilik batu, sebagai bagian dari ruangan dalam kuil yang digunakan untuk samadhi. Sebagai tingkat lanjut dari dharana dan dhyana, samadhi layak mendapat bilik tersendiri, dan memang tidak sembarang bhiksu dapat mencapai tingkat tersebut. Sejauh kuamati kehidupan dalam kuil, semakin tenggelam seorang bhiksu dalam penalaran filsafat, semakin sulit kemungkinannya mencapai tingkatan jiwa dalam samadhi; sebaliknya semakin tenggelam seorang bhiksu ke dalam samadhi, semakin sulit otaknya memecahkan penalaran. Itulah sebabnya hanya bhiksu tertentu yang mampu menguasai keduanya, dan melangkah lebih cepat dalam jalan menuju Kebuddhaan.

Namun bhiksu yang terhebat tentu mereka yang selain mampu berfilsafat sekaligus bersamadhi, ternyata kuat dan mantap dalam ilmu silat pula. Bahkan kemudian kuketahui bahwa terdapat juga ilmu silat yang dimainkan dalam kerangka samadhi. Kiranya inilah yang juga ingin kucapai, karena jika menguasainya maka kesempurnaan tidaklah menjadi mustahil untuk dimiliki. Betapapun, akhirnya filsafat jua yang akan mencari jalan, bagaimana semua ini dapat diberlangsungkan dalam kebudayaan igama yang diterima penalaran.

’’Bagaimana Pendekar Tanpa Nama? Apakah dikau sependapat bahwa pemujaan berlebihan terhadap Nagarjuna, tentu akan menutupi jalan filsafatnya?’’

’’Filsafat betapapun adalah penalaran Iblis Suci, dan pemujaan akan mengaburkan ketajaman penalarannya.’’

’’Bhiksu kepala sangat kagum dengan candi raksasa meskipun belum melihatnya. Aku tidak bisa melakukannya.’’

’’Lupakanlah dahulu candi itu Iblis Suci,’’ aku menyela, ’’ceritakanlah lagi tentang Nagarjuna.’’

IBLIS Suci mengambil napas. Ia memang ditugaskan menjawab semua pertanyaanku. Kuakui aku memang pernah mempelajari filsafat Nagarjuna, tetapi dengan pendekatan awam yang tidak menjamin ketepatan dalam pemahaman. Kuketahui belajar ilmu filsafat sebaiknya setapak demi setapak, tidak seperti yang kulakukan selama ini, asal menelan semua kitab tanpa bimbingan seorang guru. Pembelajaran Nagarjuna secara rinci sebetulnya juga kuperlukan demi kepentingan lain, yakni sedikit demi sedikit, lambat laun tapi pasti, untuk menghilangkan ilmu racun dan ilmu sihir yang terwariskan kepadaku tanpa kukehendaki, karena kehendak Raja Pembantai dari Selatan yang merasa perlu menurunkan ilmu-ilmu hitamnya yang mengerikan itu.

Ternyatalah betapa segenap mantra yang terpindahkan tanpa bisa kutahan itu adalah ujaran-ujaran Nagarjuna, yang akan tetap menjadi mantra selama ujaran berbahasa Sansekerta itu tidak dapat kupahami. Seiring dengan pemahamanku terhadap ujaran-ujaran Nagarjuna sebagai suatu bangunan filsafat, akan memudar pula daya-daya racun dan sihirnya, artinya segala daya gaibnya, sebagaimana takhayul yang penuh pesona dengan pasti akan runtuh oleh penalaran. Tentu saja ini akan membuat tubuhku kehilangan kekebalan terhadap racun, darahku akan kehilangan daya pemunah racun yang selama ini berlangsung, dan sihir tak akan bisa kulawan dengan sihir, melainkan dengan otak yang mengandalkan penalaran menghadapi berbagai tipuan bagi pancaindera.

Betapapun ilmu racun dan ilmu sihir Raja Pembantai dari Selatan itu telah banyak berjasa, serta bahwa suatu ilmu menjadi ilmu hitam maupun ilmu putih tergantung dari tujuan penggunaannya, tetaplah akan kurelakan kehilangan ilmu-ilmu sakti itu dengan harapan kukuasai filsafat Nagarjuna. Kubutuhkan filsafat yang membongkar bangunan sejarah filsafat ini, untuk mengembangkan apa yang telah kurintis selama ini, yakni penyempurnaan Jurus Tanpa Bentuk.

”Jadi,” demikianlah Iblis Suci Peremuk Tulang melanjutkan uraiannya, ”Nagarjuna sebetulnya adalah seorang pengulas besar, yang sama sekali tidak ingin memperbaiki ajaran Buddha, seperti dikatakan para pemujanya, melainkan ibarat kata justru berusaha keras menghancurkan tumbuh-tumbuhan liar yang telah tumbuh di sekitar ajaran Buddha, sebagai hasil sejumlah gagasan yang diungkapkan oleh para pemikir dalam adat Sthaviravada dan Mahayana.”

Menurut Iblis Suci, akan diperlihatkan dalam Mula-madhyamakakarika, suatu ulasan luar biasa terhadap Kaccayanagotta sutta karya Buddha sendiri, catatan Nagarjuna yang menegakkan setiap pernyataan yang diucapkan Buddha dalam perbincangan itu, maupun banyak bahan dari perbincangan Buddha yang lain, bagai membersihkan air berlumpur akibat prakiraan-prakiraan penuh takhayul para penganut Buddha belakangan ini. Kelanjutan prasangka-prasangka sepihak yang ingin memisahkan diri di antara pengikut setia Theravada dan Mahayana mungkin bisa dimengerti, tetapi para pelajar dan pengulas hari ini justru bertanggungjawab untuk tidak terpengaruh oleh prasangka-prasangka tersebut. Betapapun harus disadari pembedaan antara Theravada dan Mahayana adalah berlebihan, dan bahwa dasar ajaran Buddha tetaplah utuh dari abad ke abad.

”Kini sudah waktunya untuk membuang pengertian-pengertian Theravada dan Mahayana dari tatabahasa kita,” ujar Iblis Suci, ”dan halangan besar untuk menghapus perbedaan ini adalah sikap bahwa filsafat Nagarjuna harus dijelaskan para pemikir baru. Betapapun, nanti akan kujelaskan bagaimana Karika Nagarjuna bersifat memperbaiki segenap penafsiran tersebut.”

Suatu pengamatan cermat atas naskah-naskah Buddha dengan jelas menunjukkan bagaimana gagasan-gagasan mendasar selamat menembus zamannya, meski kadang-kadang muncul pemikiran yang bertentangan dengan ajaran dasar Buddha, yang mengakibatkan perdebatan di antara para pemikir Buddha.

Tanpa kecermatan dan kejelian, wacana-wacana awal Buddha itu telah dikumpulkan begitu saja dan dilestarikan dalam apa yang disebut Abhidharma, bersama dengan semua naskah penafsirannya, dalam bentuk vibbhasa atau atthakata, dan mengulas segenap himpunan itu sebagai mewakili pandangan Theravada atau Hinayana. Ini

juga terjadi dengan sejumlah wacana Mahayana yang disebut sutra, maupun risalahnya yang disebut sastra. Isi wacana-wacana tersebut, seperti terjadi pada Abhidarma telah diulas dan diberi catatan sekadar sebagai penjelasan tambahan, dan bukan pembebasan daripadanya. Jadi seperti saling membedakan diri tetapi dalam kenyataannya tidak berbeda sama sekali. Abhidarma dikatakan sebagai karya terpisah penganut Theravada, pada umumnya Theravada dan Sthaviravada, dan secara tidak biasa adalah Sarvastivada dan Sautrantika. Mereka disebut memisahkan diri, tetapi pandangan terpisahnya tidak ditemukan dalam wacana-wacana maupun Abhidarma, melainkan dalam himpunan catatan ulasan tersebut.

PENGANGKATAN Abhidarma ke tingkat bacaan utama, lebih penting dari wacana-wacana, adalah kerja para pengulas dan bukan pengumpul naskah-naskah Abhidarma. Penganut Mahayana sendiri, yang terganggu oleh pemikiran kehakikatan 7) aliran Sarvastivada dan Sautrantika, berusaha keras untuk menyelamatkan ajaran-ajaran awal dengan menekankan sisi-sisi yang dianggapnya buruk dari ujaran Buddha, tepatnya ujaran tentang sunyata atau kekosongan. Kasyapaparivarta sebagaimana juga naskah-naskah awal Prajnaparamita menghadirkan kembali tanggapan terhadap kehakikatan ajaran Buddha akhir, dan naskah ini mesti takdihubungkan dari pemisahan yang muncul sebagai akibat usaha penyatuan dalam risalah seperti Saddharmapundarika.

”Para pemikir Mahayana,” ujar Iblis Suci, ”benar-benar berusaha mengatasi penafsiran yang berusaha memisahkan diri, dan kembali kepada bentuk umum igama Buddha seperti tercermin dalam wacana-wacana awal, tanpa menolak ketentuan resmi naskah-naskah Abhidarma yang mewujudkan cara pengajaran-pengajaran yang baik, yakni sutra Mahayana yang menekankan sisi tidak baik dari ketentuan-ketentuan Buddha. Dalam pembahasan filsafat Nagarjuna, mungkin akan terlihat apakah terdapat persaingan antara dua aliran filsafat besar, Madhyamika dan Yogachara.”

Yogachara? Tidakkah pernah kuceritakan perihal aliran filsafat ini? Salah satu aliran Mahayana yang menekankan pentingnya ketenangan dan kedalaman dhyana menuju pencerahan? Pendekatan seperti itu telah dikembangkannya menjadi cara-

cara yang rumit, pada dasarnya menempatkan diri antara kaum penghamba kenyataan Sarvastivada dan penghamba ketiadaan Shunyatavada. 8) Bagi mereka benda tak nyata ada, melainkan ada dalam pencapaian kebenaran dan kesadaran dalam dirinya. Kadang disebut Chittamatra, atau pikiran saja, karena sesuai ajaran Mahayana secara umum, suatu hasil akal dalam dirinya belumlah pada hakikatnya nyata.

”Perbedaan utama Yogachara dan Madhyamaka adalah, bahwa yang pertama berkilah, betapa sesuatu itu ada tetapi merupakan kekosongan.”

”Tidakkah ini jatuhnya merupakan kecurangan atas perjuangan melawan kemenduaan?”

”Nanti kita akan dalami ini, tetapi untuk sementara dapat dikatakan, kita berada dalam kedudukan untuk mengikuti keberadaan dua hal, kekosongan dan ketakberadaan. Kilah ini menyatakan tidak ada kemenduaan terdapat dalam pendapat bahwa kekosongan tidak berarti ketidakhadiran keberadaan nyata, karena pikiran atas ketidakhadiran adalah kosong, tetapi tiada sesuatupun dalam dirinya benar-benar mengada. Madhyamaka mempertentangkan kekosongan dan keberadaan nyata, sedangkan Yogachara mempertentangkan kekosongan dan hubungan yang mengamati —yang teramati. 9) Berpikir tentang apa yang tidak benar-benar ada setara dengan kesadaran, aliran penerimaan dan pengalaman, tetapi sebagai arus pengalaman takterbedakan. Kedudukan Madhyamaka memahami kekosongan sebagai tidak terdapatnya keberadaan-dalam, sedangkan Yogachara mengambil kekosongan untuk memaknai tidak adanya kepengamatan dan keteramatan dalam pengalaman kita, karena semua yang berada di sana adalah aliran yang mengubah penerimaan.” 10)

Hmm. Meski cukup rumit. Namun aku yang selalu menghubungkan gagasan filsafat dengan jurus-jurus silat dapat membayangkan dengan jelas, betapa jika berdasarkan Madhyamaka atau Filsafat Jalan Tengah akan dapat kubangun Jurus Tanpa Bentuk, maka jika terdapat seorang pendekar yang membangun ilmu silatnya berdasarkan Yogachara, yang bahkan pernah kucoba juga, sungguh akan menjadi lawan sepadan. Kubayangkan akan menjadi sebuah pertarungan berhari-hari tanpa

ada kepastian siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang; saat kemenangan hanya dapat dipastikan ketika salah satunya lebih kuat dalam pemahaman dan akan unggul dalam perdebatan filsafatnya.

Memang benar bahwa bhiksu kepala itu mengetahui kehendakku dalam penyusunan jurus itu, dan benar juga bahwa Iblis Suci Peremuk Tulang telah mendengar masalah tersebut, tetapi tidaklah mungkin penafsiran keduanya atas pembayanganku akan tepat seperti yang berlangsung di dalam kepalaku. Tidak mungkin. Seperti juga aku taktahu apakah yang dibayangkan bhiksu kepala tersebut tentang candi raksasa yang kugambarkan akan bagaimana jadinya secara rinci, akan sama dengan pembayanganku, karena kami berdua sama-sama membayangkan sebuah candi yang belum jadi.

IBLIS Suci menjelaskan kepadaku, bahwa takdapat dipastikan jika Nagarjuna itu seorang penganut Mahayana, meski sudah pasti pula bukan Theravada. Pendapat ini berdasarkan kenyataan, bahwa Mulamadhyamakakarika atau lazim disebut Karika saja sebagai karya utamanya, tidak mengacu sama sekali kepada wacana besar manapun dalam adat Mahayana, takjuga kepada Prajnaparamita-sutra yang sangat dikenal. Iblis Suci lebih percaya bahwa risalah Nagajuna itu bersumber kepada wacana Samyukta, meski tidak pernah menyatakannya secara tersendiri. Satu-satunya sumber wacana yang disebut namanya adalah Katyayanavavada, suatu wacana yang terdapat pada Nikaya-nikaya Pali maupun Agama-agama Negeri Atap Langit. Bukti tunggal yang penting ini jarang disadari oleh para pelajar maupun guru mereka yang mendalami Nagarjuna.

Sementara Iblis Suci berkisah, aku menghela nafas dalam hati. Kurasakan betapa miskin pengetahuanku dan betapa masih banyak yang mesti kupelajari dengan sungguh-sungguh, jika memang aku harus mendalami ilmu filsafat setuntasnya dalam pencarian ilmu silatku. Kusadari betapa aku telah belajar dengan cara-cara yang sangat sembarangan, dan pengetahuan yang kumiliki tidak menjadi ilmu, karena diriku tidak memiliki pengetahuan tentang suatu pendekatan, yang dapat menjadikan segala pengetahuanku menjadi ilmu pengetahuan.

Demikianlah dalam diriku berlangsung perbincangan, apakah aku harus memilih salah satu saja antara ilmu silat dan ilmu filsafat, ataukah masih merasa mampu akan dapat meleburkan keduanya dalam pencarian atas jurus silat yang ingin kunamakan sebagai Jurus Tanpa Bentuk.

140: Penulisan, antara Ingat dan Lupa

Kuletakkan pengutik dengan mata yang pedas. Peristiwa penyanderaan Nawa telah membuatku menulis semakin banyak dan artinya harus menulis lebih lama dari biasa. Seperti hari ini, aku telah menulis sepanjang malam tanpa tidur sama sekali. Belakangan hal itu semakin sering kulakukan. Ada kalanya setelah sepanjang malam menulis, aku masih terus menyambungnya sepanjang hari, seolah-olah seperti tidak memiliki waktu lagi. Namun bagaimanakah kiranya seorang tua berumur 101 tahun bisa berpikir lain? Ia akan selalu merasa setiap saat kematiannya akan tiba. Apabila ia merasa ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum meninggal dunia, niscaya ia akan memanfaatkan setiap waktu dan tenaga yang tersisa untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Agaknya itulah yang juga terjadi dengan diriku.

Maka setelah kejadian itu, aku merasa lebih baik bersikap menunggu dan tidak memburu, seperti biasanya berlangsung dengan naluriku. Betapapun, penyelesaian tulisanku untuk sementara kuanggap lebih mendesak dari apapun. Biarlah para pembunuh dari kelompok Kalapasa itu, jika memang mereka bekerja demi kelompok itu, yang pasti memenuhi permintaan seseorang atau kelompok tertentu; biarlah perempuan yang telah membunuh ketiga lelaki dari perkumpulan rahasia itu; biarlah siapapun yang berkepentingan mendatangi aku, karena aku memang merasa lebih baik menunggu. Segalanya masih terlalu rumit diuraikan sekarang, dan aku sendiri perlahan-lahan sedang mengurainya.

Aku akan tetap berada di sini sementara ini. Berpindah-pindah tempat hanya akan menyulitkan diriku sendiri. Selain terlalu banyak kemungkinan untuk bertemu banyak orang, juga dengan membawa lembaran-lembaran lontar yang sudah sangat banyak ini ke mana-mana, bukankah terbuka peluang untuk tercecer, hilang, atau menarik perhatian. Pengalaman mengajarkan, siapapun dia orangnya yang melangkah di

jalan persilatan, akan selalu terlibat dalam pertarungan. Para penyoren pedang akan segera waspada terhadap siapapun orangnya yang mengarungi sungai telaga dan menjelajahi rimba hijau. Ibarat burung, ia mengerti beda persamaan warna dengan persamaan bulu. Ibarat kata hanya dari langkahnya, seseorang akan dapat memperkirakan apakah seseorang itu berada di jalan persilatan yang siap bertarung dengan siapapun sampai mati, ataukah seorang awam yang hanya hidup untuk mencari keselamatan sahaja.

Seperti yang telah kualami, kadangkala seorang petarung langsung menyerang begitu saja dengan jurus-jurus mematikan, yang berarti mau takmau akan membuatku terlibat untuk memberikan perlawanan. Adapun pertarungan untuk mencapai kesempurnaan hanya bisa dihentikan setelah salah satunya bisa dilumpuhkan, yang hanya berarti telah ditewaskan.

BEGITULAH di sungai telaga dunia persilatan, ilmu yang tinggi ibarat madu yang mengundang semut, yang untuk mencicipinya berkemungkinan menerima kematian. Aku sangat menyadari adat semacam itu, sehingga aku tahu jika kubawa pula gulungan keropak berisi tulisanku, sangat mungkin pula dikira sebagai kitab ilmu silat, yang lantas akan menjadi rebutan, dan tentu saja tidak usah dikatakan lagi bahwa dalam setiap usaha merebut selalu dipikirkan kemungkinan melakukan pembunuhan.

Jadi lebih baik aku di sini, tetap tinggal di dalam pondok sederhana ini, menulis kata demi kata secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya, tanpa harus mempedulikan keindahannya. Maklumlah, wahai Pembaca yang Budiman, mau dibolak-balik aku ini bukanlah seorang empu yang mampu menulis dengan kata-kata indah penuh kemanisan atas pesona dunia. Aku hanyalah seorang tua yang menulis karena merasa telah difitnah dan disia-siakan. Aku menulis tanpa pemahaman tentang bagaimana segala sesuatunya harus menjadi indah. Apakah keindahan itu? Aku tak tahu. Apakah tulisan yang indah itu? Aku sungguh-sungguh tak tahu.

Namun aku tahu apakah kiranya yang bermakna bagiku, dan bagi seseorang yang selalu berada di jalan pertarungan seperti diriku, hanya ilmu silatlah yang menjadi cukup bermakna dalam kehidupanku yang memasuki tahun ke 101. Maka, maafkan

aku Pembaca, maafkan jika riwayat hidupku sampai saat ini adalah perjalanan dari pertarungan yang satu menuju pertarungan lainnya. Betapapun itulah jalan yang telah kupilih, karena memang tampaknya tiada jalan lain bagi seseorang yang telah dibesarkan oleh suami istri pendekar bergelar Sepasang Naga dari Celah Kledung.

Begitulah aku telah menulis terus, nyaris tanpa makan dan tidur, untuk memeriksa kembali segenap rincian dalam riwayat hidupku. Aku harus melakukannya, jika ingin mendapatkan jalan menuju titik terang, tentang mengapa begitu banyak pihak ingin membunuhku. Jika hanya perkara balas dendam, yang sangat umum dalam dunia persilatan, mungkin aku tidak akan terlalu peduli; karena memang tiada akan terlalu besar bedanya, apakah aku akan mati karena seorang pendekar yang menantangku bertarung, atau sekadar anak dan keturunannya yang membalas dendam. Namun jika bahkan negara yang semestinya menjadi tempat setiap warga bernaung, telah menyebarkan selebaran berwujud lembaran lontar bergambar diriku dalam perburuanku, tentu saja aku menjadi sangat penasaran. Demikianlah makanya kutulis riwayat hidupku, karena aku yakin bahwa pasti akan ada sesuatu, apa pun itu, dari masa laluku, yang menjadi penyebab hiruk pikuk perburuan orang tua seperti aku ini.

Kusadari tidak mudah memecahkan masalah, bukan sekadar karena pengetahuan yang kuperlukan sebagai syarat pemecahan masalah itu terbatas, tetapi juga bahwa dalam kenyataannya tidak dapat kujamin diriku sendiri, dalam usia 101 tahun ini, dapat mengingat segenap rincian secara pasti. Aku memang akan menuliskan kembali apapun yang masih kuingat sampai kepada rincian yang sekecil-kecilnya. Namun apalah kiranya yang bisa kutuliskan dari sesuatu yang sesungguhnyalah sejak awal telah kulupakan? Bagaimana jika yang kulupakan itulah justru yang semestinya begitu penting untuk kuingat kembali? Bagaimana jika aku mungkin tahu ada sesuatu yang kulupakan, tetapi tidak dapat mengingat-ingatnya kembali? Adakah kiranya cara untuk dapat mengembalikan ingatan yang hilang itu?

Tidak kalah penting, bagaimanakah jika segala sesuatu yang kuingat itu ternyata bukanlah kenyataan yang dapat diandalkan, karena kusadari segala sesuatu yang berlangsung dalam duniaku ini, tidak ada yang terbebaskan dari keterlibatan

perkumpulan rahasia. Bukanlah karena tindakan seperti penyusupan dan pembunuhan gelap seperti yang menjadi pekerjaan Kalapasa, melainkan tindak penyamaran teramat licin dalam kehidupan sehari-hari dalam segenap lapisan masyarakat dan berbagai bidang kehidupan, seperti yang menjadi pekerjaan jaringan Cakrawarti, yang bagiku sangatlah meresahkan. Bagaimanakah kiranya jika yang kuketahui selama ini, apa pun dan di mana pun, ternyata hanyalah penampakan seperti yang ingin selalu diketahui orang, sebagai tindak penyanaran yang diberlakukan para pengawal rahasia istana?

SEKARANG ini, pada 872, ketika Rakai Kayuwangi telah berkuasa 17 tahun, harus kuingat kembali bahwa di Mataram ini terdapat susunan kekuasaan yang terdiri atas rajya, watak, dan wanua. Rajya atau istana adalah pusat pemerintahan tertinggi, sehingga merupakan daerah inti atau pusat. Sedangkan daerah pinggiran terdiri dari watak dan wanua. Daerah watak yang dipimpin oleh seorang raka atau rakryan adalah daerah berdaulat yang cukup luas dan memiliki perangkat pemerintahannya sendiri. Pada umumnya para raka mempunyai hubungan keluarga dengan raja. Para raka ini tidak dianggap sebagai bawahan raja, karena kedudukan mereka bukan berdasarkan wewenang yang berasal dari raja, melainkan berdasarkan hukum adat.

1)

Jadi kekuasaan seorang rakryan tidaklah lebih besar dari kekuasaan yang memimpin rajya, tetapi kedaulatan yang dimiliki rakryan yang memimpin watak itu juga tidak berarti mereka harus bersikap sebagai bawahan terhadap rajya. Jika kemudian terjadi perselisihan paham, rakyat kecil yang tidak selalu tahu susunan pemerintahan seutuhnya tentu sangat mudah tenggelam dalam kebingungan. 2) Lima puluh tahun lalu, pada 832, Sri Kahulunan, seorang ratu wangsa Syailendra menikahi Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya.

Pengaruh sang ratu sebagai penganut Mahayana terlihat dalam bantuan Rakai Pikatan atas berdirinya sebuah candi Buddha di selatan sana, tetapi Pikatan sendiri sebagai penganut Siva mendirikan candi Hindu yang menjulang ke langit di dekatnya, jelas merupakan jawaban terhadap Kamulan Bhumisambhara yang menjadi kebanggaan wangsa Syailendra, yang pada tahun perkawinan mereka itu

pun masih belum selesai dibangun meski telah diresmikan pembangunannya sejak 824 oleh Sri Kahulunan yang bergelar Pramodawardhani.

Kini, 40 tahun kemudian, mengapa seorang tua sepertiku, seperti yang pernah kudengar, diburu dengan tuduhan menyebarkan aliran sesat? Bagaimana mungkin sesuatu yang pernah menjadi aliran utama menjadi sesat tiba-tiba jika bukan karena permainan kekuasaan? Maka, memang benar aku menulis terutama untuk mengembalikan ingatan dan melacak perkara, tetapi aku tahu jika tulisanku dapat bertahan lebih lama dari kehidupanku, sedikit banyak akan berbicara atas namaku untuk mendapatkan keadilan.

Para penguasa sering lupa, tidaklah terlalu mudah menancapkan kekuasaan dalam bentuk apa pun tanpa perlawanan. Telah kusebutkan tentang susunan kekuasaan yang terpusatkan di kotaraja sebetulnya merupakan pembagian kekuasaan, antara penguasa rajya di istana dan para rakryan di daerah watak atau pinggiran. Ini tidak berarti bentuk yang sama berlangsung di desa atau wanua, karena sebagai kesatuan kekuasaan dan kesejahteraan terkecil, tata pemerintahan di desa jauh lebih berdaulat dan berkesetaraan. Tidak ada seorang pun yang berkuasa mutlak di desa, kecuali sekelompok dewan pemuka desa yang disebut rama atau ramanta, yang sepenuhnya menjalankan kegiatannya dengan pengandaian bahwa setiap orang itu setara dan sederajat. Meskipun pemerintah kerajaan berakar pada kesatuan desa, tetapi desa-desa tersebut tak tergantung pada pemerintah kerajaan. 3)

Sekarang ini, kerajaan Mataram memiliki 28 negara bawahan dengan empat orang menteri utama, keduapuluhdelapan negara bawahan inilah wilayah kerakaian atau watak. Sebagai penguasa pusat raja dibantu oleh empat menteri utama, sebagai penguasa wilayah sekitar ibukota kerajaan.

SEKARANG ini, kerajaan Mataram memiliki 28 negara bawahan dengan empat orang menteri utama, kedua puluh delapan negara bawahan inilah wilayah kerakaian atau watak. Sebagai penguasa pusat raja dibantu oleh empat menteri utama, sebagai penguasa wilayah sekitar ibukota kerajaan. Keempat menteri utama itu adalah mahamantri i hino, mahamantri i halu, mahamantri i sirikan, dan

mahamantri i wka. Keempat pejabat tinggi kerajaan itu biasanya dijabat oleh anak-anak raja atau kerabat raja. Adapun para rakai adalah penguasa di daerah yang merupakan raja-raja bawahan. Daerah watak yang dikuasai para rakai inilah yang merupakan daerah pinggiran.

Mantyasih sebagai pusat pemerintahan yang menjadi tempat tinggalku sekarang, terletak di bagian utara dari Kamulan Bhumisambhara, lainnya adalah desa Kawikwan, Panunggalan, Raja, dan Kapung sebagai daerah watak; sementara Surusunda, Luitan, Gulung, Jati, Manghujung, Ayamteas, Er Hangat, Sangut Mangli, Hasinan, Pabuharan, dan Pasir. 4) Terdapat 24 desa dalam lingkungan yang berkiblat delapan dan setiap kiblatnya memuat tiga desa. Terdapat tiga desa dari pusat, yang menjadi pusat adalah Mantyasih, secara berturut-turut ke arah selatan menuju Kedu, Pamandayan, lantas Tepusan. 5)

Dalam susunan kekuasaan yang menghubungkan segenap wilayah itu tentulah bermain segala kemungkinan permainan, karena setiap kelompok dalam wilayah kekuasaan yang sama tentu berusaha membebankan makna pandangan hidupnya. Dalam perjuangan atas makna itulah berlangsung penggabungan ataupun perlawanan, yang betapapun harus ditanggapi dan disalurkan, jika kelompok yang berkuasa dengan segenap makna pandangan hidupnya ingin tetap bertahan. Demikianlah wangsa Sanjaya yang pernah tenggelam kini tampak bangkit lagi dengan segala dewa Hindunya dari delapan penjuru angin, mendesak kembali segenap gerakan kebuddhaan wangsa Syailendra yang diturunkan dari atas. Balaputradewa, yang tidak sudi menyaksikan bercokolnya Rakai Pikatan di pusat kekuasaan, memeranginya dan kalah serta terusir untuk ditampung kedatuan Srivijaya yang menguasai lautan dan menjadi penganut Mahayana.

Semua ini terjadi sebelum 856. Tentunya ketika aku masih tenggelam dalam samadi di dalam gua. Benarkah sengketa itu berakhir dengan kepergian Balaputradewa? Jika kemudian adik bungsu Samaratungga ini menjadi seorang raja di Srivijaya, bahkan membina hubungan baik dengan Raja Dewapaladewa di Nalanda, Jambhudvipa, yang memenuhi permintaannya atas tanah untuk kuil bagi para rahib Srivijaya, mengapa pula ia tak berusaha mengganggu kekuasaan Mataram dengan

segala cara? Srivijaya dengan segenap jaringan pelayarannya sangat mungkin menyebarkan mata-mata yang mengemban berbagai tugas tak terduga. Jika Balaputradewa takbisa menang dalam peperangan yang mengerahkan pasukan, tidakkah ia bisa berperang dengan berbagai cara lainnya? Meskipun adalah Rakai Kayuwangi yang berkuasa kini, apakah jaminannya bahwa perseteruan antara Srivijaya dan Mataram tak berlanjut sampai hari ini?

Aku tidak berani meneruskan lamunanku yang barangkali saja mulai pikun ini. Diriku tidaklah harus menjadi begitu penting, sehingga kerajaan-kerajaan dari dua wangsa terbesar itu harus mengorbankan seorang tua sepertiku dalam permainan kekuasaan mereka. Lebih baik aku mulai menulis lagi, memperhatikan segala rincian dalam perjalanan hidupku yang sudah berumur 101 tahun dan takkunjung mati ini, karena aku percaya dari peristiwa kecil sangat mungkin muncul jawaban-jawaban besar. Peristiwa-peristiwa kecil yang tampaknya tidak berhubungan antara satu dengan lainnya, jika dilihat dalam suatu jarak dan cara memandang tertentu, barangkali akan memperlihatkan hubungan-hubungan yang membentuk gambaran jelas. Tentu saja untuk itu segala rincian tersebut harus ditulis dulu, sembari berusaha keras mengingat apapun yang tampaknya tidak penting, dalam usaha untuk menggambarkan segala sesuatu dengan seutuh dan selengkap-lengkapnya.

Kupegang lagi pengutik itu, dan menyiapkan lagi selembar lontar yang masih kosong. Di pondok sebelah, agak jauh di balik pohon sawo, terdengar tangis bayi. Akhirnya keluar juga bayi itu, setelah sejak semalam mengalami kesulitan untuk dilahirkan. Beberapa orang keluar masuk pondok tersebut dengan panik sebelumnya, sebelum akhirnya seorang perempuan dukun bayi datang menolong.

RUPANYA yang keluar masuk itu adalah para dukun lelaki, yang tampaknya tidak mampu berbuat sesuatu terhadap kelainan kandungan perempuan tetanggaku itu. Sebetulnya aku sudah lama tahu bahwa bayi dalam perutnya itu sungsang, yakni bukan kepalanya yang berada di bawah, siap keluar dari rahim, melainkan kakinya. Dalam banyak kejadian, bayi itu tidak dapat keluar dan ibunya meninggal. Saat melihatnya aku menjadi gelisah, dan sudah semestinya harus menolong perempuan itu, tetapi jika itu kulakukan maka perhatian tetangga sekitar akan tertuju kepada

diriku, dan mengingat keadaanku sekarang aku justru harus menghindari perhatian semacam itu. Aku tahu, jika kulakukan sesuatu terhadap kandungan perempuan tersebut, dan berhasil, maka para tetangga, bahkan penduduk di luar lingkungan ini, akan datang berbondong-bondong minta pertolongan, dan selesailah sudah kehidupanku sebagai seorang penulis.

Namun aku sudah lama menyelidiki keadaan di sekitarku, dan tahu bahwa ada seorang perempuan dukun bayi yang kemampuannya tinggi, tetapi selama ini tersamarkan oleh banyaknya dukun bayi dari kaum lelaki. Aku teringat tabib bapak-anak yang telah memberiku ramuan pelupa itu, yang membuat aku terkadang ragu apa yang kuingat dan kucatatkan selama ini memang peristiwa-peristiwa yang memang kuingat, ataukah sekadar sisa ingatan di antara banyak hal yang sudah terhapus dan tak mungkin kuingat. Mereka adalah tabib terkenal, dan tabib, dukun bayi, serta banyak penggenggam keterampilan serta kecendekiaan adalah kaum lelaki. Maka keberadaan perempuan dukun bayi itu memang di luar kebiasaan, bagaikan suatu kelainan, tetapi ada juga yang memanfaatkannya, terutama kaum paria, karena ia tidak pernah meminta bayaran apapun jua.

Keberadaan perempuan dukun bayi itulah membuatku tenang dan kejadiannya berlangsung seperti yang telah kubayangkan. Sepanjang malam perempuan yang baru kali pertama mengandung itu mengerang kesakitan, dalam usaha setiap lelaki dukun bayi yang tidak pernah berhasil itu. Bahkan kudengar betapa para lelaki dukun bayi itu berani berkata bahwa perempuan itu barangkali pernah berbuat kesalahan dan terkutuk. Tentu saja mereka sedang menutupi kelemahannya sendiri. Dalam keadaan putus asa akhirnya suami perempuan yang mengandung itu mendatangi pondok perempuan dukun bayi yang telah dipandang sebelah mata, karena yang datang meminta bantuannya hanyalah kaum paria, yang terkadang melahirkan di tepi jalan begitu saja.

Memang kaum paria telah terbiasa tidak meminta bantuan dalam segala perkara dari siapa pun jua, karena memang tidak seorang pun boleh diharap akan sudi mendekat apalagi menolongnya. Namun bahkan kaum paria pun bukanlah perkecualian ketika ada kalanya mengalami kesulitan dalam persalinan. Demikianlah

lelaki muda dari kasta waisya yang sehari-harinya berdagang di pasar itu akhirnya mendatangi perempuan dukun bayi tersebut.

”Maafkan sahaya Puan telah mengganggu malam-malam,” ujarnya merendahkan diri setengah menangis di depan pondok itu, ”mohon pertolongan bagi istri sahaya yang malang. Semua dukun mengatakan istri sahaya terkutuk dan karena itulah bayi kami menjadi sungsang. Namun sahaya telah mengenal istri sahaya sejak lama, dan tahu tiada kesalahan yang telah dibuatnya begitu rupa, sehingga layak menerima kutukan tak tertolakkan. Tolonglah kami Puan…”

Kudengar suami muda itu bicara di luar rumah, ketika pintu masih tertutup, seperti begitu yakin bahwa perempuan dukun bayi itu tidak sedang tidur dan mendengar semua kata-katanya.

Namun kudengar pintu digeser, dan terdengar suara seorang perempuan dengan kepercayaan diri yang matang.

”Sejak tadi daku dengar istrimu mengerang, kutahu bayi itu sungsang dan percayalah itu bukan kutukan. Namun tak bisa daku bebaskan bayi itu tanpa membedah perut ibunya, dan daku taktahu cara menyatukan kembali perutnya itu tanpa keajaiban.”

Suami yang kebingungan itu tentu tertegun. Perempuan dukun bayi itu berkata lagi.

”Ya, mungkin daku dapat menolong anakmu, tetapi tidak dapat kujamin kehidupan seorang perempuan yang perutnya dibedah.”

Terdengar lagi erangan perempuan yang mengandung bayi sungsang di kejauhan.

”Tolonglah Puan! Sahaya mohon! Tolonglah!”

Suami itu telah menyerahkan segalanya ke tangan perempuan dukun bayi tersebut, yang selama ini tiada pernah terpikirkan akan ia minta pertolongannya, karena hanya kaum paria tanpa kasta sajalah datang kepadanya tanpa pernah memberikan imbalan.

TIADA pernah disadarinya, betapa justru dunia kaum paria yang serbamiskin lagi hina dina itulah tempat segala persoalan dalam persalinan mengasah keterampilan sang perempuan yang hidup sendirian. Adapun perempuan yang hidup sendirian, entah kenapa, selalu dicurigai sebagai tukang tenung atau penyihir, yang dipesan untuk menyebarkan teluh…

Maka ketika akhirnya kudengar tangis bayi yang baru dilahirkan pagi hari ini, aku tahu betapa suatu kehidupan telah diselamatkan, tetapi tidak kuketahui apakah memang atas kematian dari kehidupan lain. Kuletakkan pengutik di atas lontar yang masih kosong dan berkelebat ke atas pohon sawo di dekat pondok, tempat perempuan dukun bayi itu telah membedah perut atau kandungan perempuan yang bayinya sungsang tersebut. Suami istri itu hanya tinggal berdua di dalam pondok itu. Kulihat perempuan dukun bayi tersebut keluar membawa bayi yang masih merah ke tepi sungai diikuti ayah bayi itu. Mereka tentu akan mencuci bayi itu.

Kutunggu sampai mereka hilang menuruni tebing. Lalu aku berkelebat memasuki rumah. Kulihat perempuan itu pingsan, nyaris seperti sudah mati, tetapi ketika kudekatkan telingaku ke wajahnya, jelas ia masih bernapas. Ia tergeletak bersimbah darah pada amben bambu. Dari peralatan sederhana yang masih terserak di sana, aku tahu betapa kandungan perempuan yang bayinya sungsang itu telah dibedah oleh ketajaman bambu. Darah membasahi seluruh amben. Bekas kulit perut yang disayat itu disatukan kembali oleh jahitan tali yang terbuat dari usus kucing, kemudian di atasnya dioleskan dan ditumpuk-susunkan ramuan dari berbagai tumbuhan, yang kukira mustahil menyatukan kulit perut itu kembali sekarang juga. Mungkin ramuan tetumbuhan dimaksud untuk segera mengeringkan darah, tetapi darah masih terus merembes dari bekas sayatan. Perempuan itu akan mati karena kehabisan darah. Apakah aku harus tinggal diam saja?

Untuk sementara suaminya bersama perempuan dukun bayi itu masih akan berada di sungai. Hari masih pagi, tetapi cahaya matahari terserak di dalam pondok. Kuletakkan tangan kiriku di atas perut terbedah yang penuh dengan ramuan tumbuhan, sementara telapak tanganku menghadap cahaya matahari. Prana udara, prana matahari, dan prana bumi terbuat dari prana putih atau prana umum. Prana

udara dan prana bumi bumi dalam bahasa yang hanya dipahami kalangan tertentu 6), disebut gelombang daya hidup 7), sebab bila dilihat secara waskita oleh mereka yang kepekaan matanya tinggi, prana-prana itu tampak sebagai celah sempit atau gelembung cahaya. Gelembung daya hidup berukuran macam-macam. Beberapa di antaranya mengandung lebih banyak satuan prana putih dan yang lain kurang.

Gelembung daya hidup bumi menembus bumi dan melingkupinya dalam ketebalan tertentu. Gelembung tersebut lebih padat dan berhimpitan dan biasanya lebih besar dari gelembung daya hidup udara. Beberapa gelembung daya hidup udara yang lebih besar mudah dilihat dengan memandang ke langit selama beberapa menit, terutama tepat sebelum matahari terbenam. Siapapun tidak perlu menjadi manusia waskita untuk mampu melihat gelembung daya hidup udara. Siapa pun dapat melihatnya jika terlatih, bahkan mampu melihat gelembung daya hidup bumi yang setengah depa dari tanah.

Demikianlah gelembung daya hidup atau kumpulan satuan prana putih diserap chakra untuk kemudian dicerna dan dipecah bagian-bagiannya. Bila dicerna, prana putih menghasilkan enam jenis prana berwarna seperti warna pelangi. Sejumlah besar prana udara diserap langsung oleh chakra limpa di depan dan belakang. Prana udara dipecah menjadi berbagai prana berwarna dan dibagikan ke chakra lain. Prana bumi diserap melalui chakra telapak kaki. Sejumlah prana bumi diarahkan naik ke tulang belakang dan chakra lain, sementara sejumlah besar diarahkan ke chakra kecil 8) , chakra pusar, lalu ke chakra limpa, tempat prana itu dipecah dan dibagikan ke chakra lain. Semuanya berlangsung dengan sendirinya tanpa disadari. Prana putih terdiri dari prana merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu. Dari keenam prana berwarna; prana merah, biru, dan hijau paling sering digunakan dalam penyembuhan; dan dari ketiganya kuambil prana biru untuk menghentikan pendarahan

JADI mungkin ramuan tumbuhan itu tidak menyatukan kulitnya dengan segera, tetapi dengan berhentinya pendarahan, perempuan itu masih berpeluang hidup, dan jika ia terus hidup, lukanya akan mengering dan kulit perutnya bersambung kembali. Tentu berhentinya pendarahan saja takcukup. Perempuan yang bayi sungsang-nya

masih dibesihkan di tepi sungai itu harus dirawat. Namun untuk itu kukira perempuan dukun bayi itu tahu apa yang harus dilakukannya. Betapapun, berhentinya pendarahan itu kurasa akan membuat sang ibu muda itu tetap hidup.

Aku berkelebat menghilang setelah mereka kudengar berbicara sambil mendaki tebing.

”Tabahkanlah hatimu, Anak,” ujar perempuan dukun bayi itu, ”istrimu telah menjelma kembali ke dalam diri bayi perempuan cantik ini.”

Aku telah memegang kembali pengutik itu, dan siap menulis di atas lontar yang masih kosong, ketika terdengar teriakan kaget riang gembira dari dalam pondok tersebut.

”Keajaiban! Sudah daku katakan isterimu akan tetap hidup jika ada keajaiban! Sekarang pendarahannya berhenti, artinya ia bisa sembuh kembali! Berikan sesaji kepada Durga sekarang juga!”

Suami perempuan itu taklangsung menjawab.

”Sahaya pemeluk Tantrayana, Puan, tidak memberi sesaji kepada Durga.”

”Ah! Omong kosong! Hanya Bhatari Durga Mahisasuramardini yang akan melindungi perempuan! Cepat kerjakan jika masih butuh pertolongan!”

Aku tersenyum mendengar percakapan itu, dan mulai menulis kembali. Kulihat para tetangga berkerumun dan ikut membantu mereka, sementara burung-burung berkicau riuh rendah di atas pepohonan pada pagi yang berbahagia ini. 10)

141: Memburu Harimau Perang

SETELAH mempelajari filsafat Nagarjuna selama enam bulan di dalam sebuah bilik di Kuil Pengabdian Sejati, sedikit demi sedikit aku mulai memahami cara pemikir ini menafsirkan ajaran Buddha, dan menerjemahkannya sebagai perbincangan filsafat yang sangat merangsang pemikiran itu sendiri. Setidaknya aku mengenali kembali betapa filsafat Nagarjuna ini mengacu terutama kepada penolakan Buddha atas dua

kutub, yakni keberadaan atau atthita dan ketiadaan atau natthita. Artinya sangatlah keliru mengandaikannya sebagai penganut Mahayana. Acuan Nagarjuna terhadap murid langsung Buddha, yang lebih kepada Katyayana daripada Kasyapa adalah penting, karena ia menanggapi bukan hanya isi penafsiran seperti Ratnakuta, tetapi juga penafsiran yang terdapat dalam niskaya dan agama

MAKA dengan mempelajari filsafat Nagarjuna seseorang akan mendapat pemahaman lebih baik tentang filsafat dalam ajaran Buddha, tanpa melebih-lebihkan perbedaan antara Hinayana dan Mahayana.

Aku tenggelam dalam pembelajaran Nagarjuna, selain karena menyembunyikan diri dari ancaman para mata-mata Kalakuta, juga karena berusaha mengatasi kehampaan perasaan luar biasa dalam diriku semenjak kematian Amrita. Tidak dapat kuingkari betapa sejak kali pertama menginjak negeri manca Tanah Kambuja di pelabuhan bekas Kemaharajaan Fu-nan waktu itu, tanpa terasa Amrita akhirnya menjadi bagian diriku. Tanpa Amrita pengembaraanku mungkin berlangsung ke tempat lain. Bukankah memang demi dan karena Amrita maka aku telah melacak jejaknya dari Tanah Kambuja, melewati segala bahaya dan peristiwa sehingga aku tiba dan terlibat pertempuran demi pertempuran di Daerah Perlindungan An Nam? Amrita Vighnesvara telah menjadi bagian diriku dan kematiannya mengakibatkan kehampaan besar dalam diriku yang menuntut untuk kuatasi.

Maka cara terbaik untuk mengatasinya menurut diriku adalah menghadapinya. Bahkan persoalan itu bagiku bagaikan suatu utang piutang kehidupan yang wajib dibayar. Apa kata Amrita kiranya, jika kubiarkan diriku melenggang tanpa kejelasan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi, yang bukan hanya membuat gabungan pasukan pemberontak terkurung api, tetapi telah merenggut nyawa Amrita sendiri? Aku memasuki kota karena mencari Harimau Perang, tetapi justru dirikulah yang terburu untuk dibunuh, sehingga bhiksu kepala menganjurkan aku untuk tetap tinggal dalam kuil untuk menghindarinya. Betapapun seseorang telah mengetahui keberadaanku di dalam kuil dan tidak ada jaminan telah melupakan aku.

Persoalannya sekarang, mungkinkah aku menemukan Harimau Perang? Dalam enam bulan, selain mempelajari filsafat Nagarjuna, aku telah mencoba

mengumpulkan keterangan sedapatnya, dari para bhiksu yang penugasannya berada di luar kuil, tetapi tidak kudapat kemajuan yang berarti. Mengingat tugas Harimau Perang selama ini sebagai penghubung yang mengatur jaringan antarpasukan pemberontak, jika ia memang ternyata seorang mata-mata ganda, apalagi mengepalai jaringan mata-mata musuh pula, adalah mudah baginya menghilang, bagai membalikkan telapak tangan. Di lain pihak, dengan semakin menguasai filsafat Nagarjuna, ilmu racun dan ilmu sihir Raja Pembantai dari Selatan yang terwariskan tanpa kuminta telah hilang pula, sehingga tiada mungkin kugunakan tenaga gaib untuk memburunya.

‘’Harimau Perang….,’’ kata Amrita waktu itu, ‘’merusak segalanya…’’

Aku berpikir keras. Meskipun adalah darah mudanya yang bergejolak waktu itu, tetapi pada saat terakhir ketika memberi pesan untukku, pastilah ia mengerahkan kecerdasannya untuk memberikan arah agar diriku tidak mengulang kesalahannya. Jadi apakah kesalahannya? Tentang serbuannya ke sarang harimau sendirian itu, tentu bukan kesalahan yang perlu diungkapnya lagi. Namun apakah kiranya yang telah membuatnya menyangka dapat membalaskan dendamnya segera, itulah yang agaknya harus kuketahui, karena itu pula yang diketahui Amrita sebagai kesalahannya.

Ia menyebutkan Harimau Perang merusak segalanya. Tafsiran pertama, tentu bahwa seseorang bergelar Harimau Perang telah memorakporandakan siasat pasukan pemberontak gabungan dengan sangat berhasil. Namun tafsiran kedua bukan tak mungkin, bahwa dugaan yang hanya tertuju ke arah nama Harimau Perang itulah yang justru merusak segalanya.

Itulah yang membuat aku berpikir keras. Suatu jawaban harus ditemukan, tetapi betapa rumit mendekati suatu kebenaran jika memang memungkinkan. Bukankah kebenaran memang selalu merupakan sesuatu yang rumit, bahkan mustahil dinyatakan, seperti mustahilnya kenyataan itu sendiri?

Namun aku tidak bisa tinggal diam. Lagipula para bhiksu dan bhiksuni yang menyebar ke dalam kota, bahkan ke dalam istana, pusat pemerintahan Daerah

Perlindungan An Nam, berusaha mencari keterangan sekuat bisa. Iblis Suci Peremuk Tulang bahkan menyamar dengan menumbuhkan rambut dan kumisnya, tetapi tidak cambangnya, sehingga wajahnya tidak kembali seperti semula. Dengan perantaraan jaringan rahib masuklah ia ke dalam istana dan bekerja sebagai tukang kuda.

‘’Akan kupasang telingaku,’’ katanya, ‘’jika kita waspada tentu kita mendapatkan titik-titik terang.’’

Ternyata memang dari Iblis Suci Peremuk Tulang itulah terdapat suatu jalan untuk mengetahui sesuatu. Ia tiba pada saat yang tepat, ketika aku sudah jenuh dengan filsafat, karena telah mempelajarinya terus-menerus tanpa putus dalam enam bulan terakhir ini, hanya dengan selingan upacara harian yang juga terus berlangsung seperti perputaran. Betapapun, meski kepalaku gundul, wajahku kelimis, mengenakan jubah pendeta, tak pernah makan daging, belajar filsafat, dan tenggelam dalam samadi, aku bukanlah seorang bhiksu, bahkan bukan seorang penganut Buddha dari aliran mana pun.

MESKI tak bersenjata, aku hanyalah seorang penyoren pedang dari sungai telaga dan rimba hijaunya dunia persilatan. Jiwaku adalah pedangku dan tubuhkulah sarungnya, pada saat jiwaku bertarung tubuhku bagaikan tangan yang memegang pedang. Tiada lagi pedang dan tiada lagi sarung, hanya peleburan menuju jalan pertarungan antara hidup dan mati. Ketika jarak antara hidup dan maut hanya berbatas seujung rambut, saat itulah manusia mendapat peluang mencapai kesempurnaan dalam puncak pendakian kehidupannya. Itulah yang membuat kehidupan seorang pendekar silat menggairahkan. Maka ketika pendalaman naskah filsafat menjadi ujian yang menantang kesabaran, otakku terserap daya tarik penalaran filsafat yang menuntut ketekunan, sementara tubuh dan jiwaku terpanggil untuk berangkat mengembara setiap kali angin bertiup dan cahaya matahari pagi mengabarkan janji kebahagiaan di luar sana.

Aku memang tidak punya alasan untuk pergi, sampai Iblis Suci Peremuk Tulang datang dengan berita ini.

‘’Sejumlah kuda yang segar dan sehat diminta untuk dipersiapkan diam-diam, katanya untuk suatu perjalanan rahasia.’’

‘’Perjalanan rahasia?’’

‘’Ya, persiapan ini sangat dirahasiakan dan kami semua disumpah dengan kutukan jika melanggarnya.’’

Aku tahu, kutukan yang mana pun tidak akan membuat Iblis Suci Peremuk Tulang gentar. Apalah artinya kutukan bagi Iblis Suci yang bagaikan mewakili kutukan itu sendiri setiap kali berhadapan dengan lawan. Namun dalam penyamaran, tentulah ia berlagak menerima persumpahan itu dan mempercayainya, karena hanya dengan begitu akan mendapat keterangan yang sangat amat kami butuhkan.

‘’Disebutkan bahwa seorang tokoh dipanggil oleh penguasa Negeri Atap Langit karena jasa-jasanya, sehingga akan mendapatkan kedudukan di sana. Namun karena sifat pekerjaannya, maka kepergiannya pun tidak boleh diketahui orang. Bahkan disebutkan, tidak seorang pun tahu bahwa tokoh ini ada. Jadi adalah dosa besar yang harus dibayar dengan darah jika keberadaannya terbocorkan, sengaja maupun tidak sengaja,’’ kisahnya.

Keterangan itu dikumpulkan sedikit demi sedikit. Mula-mula bahwa jumlah kuda yang dibutuhkan adalah dua puluh ekor. Artinya tokoh tersebut dijaga oleh lima belas pengawal rahasia istana, dan bersamanya terdapat empat pembantu yang tentu kedudukannya sangat penting.

Kemudian terdengar bahwa tokoh ini adalah seorang warga An Nam, seorang Viet yang berperan penting dalam penyelamatan Thang-long dari pendudukan para pemberontak. Sangatlah dirahasiakan, kapan rombongan dua puluh orang itu akan berangkat dan jalur mana saja yang akan dilalui.

Hanya diketahui betapa tujuannya adalah Chang An.

Lantas, hanya kemudian sekali, Iblis Suci Peremuk Tulang yang menyamar sebagai tukang kuda itu, mendengar bahwa tokoh tersebut adalah Harimau Perang….

‘’Waspadalah dengan berbagai macam tipu daya dalam penyebaran keterangan semacam ini,’’ ujar bhiksu kepala.

Aku setuju dengan pendapatnya. Jika segenap mata-mata di bawah pengawasannya bertugas dengan baik, kenapa mereka dapat mengawasi diriku maupun Amrita, tetapi tidak memperhatikan Iblis Suci Peremuk Tulang? Betapapun dalam pasukan yang dipimpin Amrita, Iblis Suci Peremuk Tulang merupakan andalan yang tidak terkalahkan, dan korban di pihak pasukan pemerintah karena bandul besinya mencapai angka yang besar sekali. Sosok seperti ini pasti tidak akan luput dari pengawasan para mata-mata.

Namun bukan tentang keberadaan Iblis Suci Peremuk Tulang itu yang menjadi masalahku, melainkan yang dilihat, didengar, dan dibayangkannya. Apa pun yang dibayangkannya tentang Harimau Perang tentu sangat berpengaruh kepada pertimbangan dan simpulannya. Tidak ada yang lebih rumit daripada tindak pengelabuan dalam dunia mata-mata.

‘’Tentu kita harus tahu kapan yang disebut Harimau Perang itu berangkat, jalan mana saja yang akan dilaluinya, dan kenapa sebenarnya ia harus melakukan perjalanan ini,’’ kataku.

‘’Daku usahakan sebaik-baiknya,’’ ujar Iblis Suci yang segera menghilang lagi.

Setiap kali menghilang dari tempatnya bekerja, yakni istal pemeliharaan kuda-kuda pasukan pengawal istana, Iblis Suci berkata pergi ke tempat pamannya yang sedang sakit keras.

TENTU akan memancing kecurigaan jika ia pergi terlalu sering dan apalagi terlalu lama. Bhiksu kepala akhirnya memasang mata rantai bhiksu dan bhiksuni yang mengemis dengan batok kelapa di dalam kota, untuk menyampaikan pesan Iblis Suci Peremuk Tulang itu dari lorong ke lorong dan dari sudut ke sudut di jalan utama sampai ke Kuil Pengabdian Sejati. Pesan itu cukup diucapkan kepada seorang bhiksu atau bhiksuni, yang muncul dengan batok kelapa kosong di depan asrama para tukang kuda di samping istal, maka pesan itu akan tersampaikan dari mulut ke

mulut, karena para bhiksu dan bhiksuni pengemis masing-masing berjalan dalam suatu bidang wilayah dengan cara melingkar, sehingga masing-masing membentuk suatu lingkaran yang selalu bersinggungan. Pesan itu akan berjalan dari titik singgung satu ke titik singgung lain, dan tidak sampai sepenanak nasi lamanya akan segera sampai ke telingaku. Begitu pula akan berlangsung dengan pesan balasan dariku maupun bhiksu kepala yang mengawasi langsung pekerjaan rahasia ini.

Tidak selalu ada pesan setiap hari, jadi aku berkesempatan mempelajari apa saja yang berlangsung di Negeri Atap Langit di bawah kekuasaan Wangsa Tang secara ringkas, melalui catatan-catatan para rahib yang pernah melakukan perjalanan ke sana, yang tersimpan di perpustakaan Kuil Pengabdian Sejati. Tentu juga harus kuketahui apa yang sedang berlangsung akhir-akhir ini, yang barangkali menjelaskan kenapa Negeri Atap Langit membutuhkan seorang Harimau Perang.

***

AKU berada di Thang-long pada pertengahan 797. Saat itu Wangsa Tang sudah menguasai Negeri Atap Langit selama 179 tahun semenjak mengambil alih kekuasaan dari Wangsa Sui pada 618.

Pendiri resmi Wangsa Tang adalah Li Yuan, tetapi adalah putra keduanya, Li Shih Min, yang disebut-sebut sebagai gagah berani dan berjaya dalam ilmu perang, yang telah membesarkan Negeri Atap Langit sampai dikenal dengan kemegahan seperti sekarang. Bahkan sebelum Li Shih Min berkuasa sepenuhnya, telah berlangsung peristiwa mengenaskan, karena ia terpaksa membunuh kedua saudaranya sendiri, sebelum dirinya sendiri dibinasakan keduanya yang ternyata bersekongkol itu. Li Yuan yang masih berkuasa tahu duduk perkara, jadi tidak menghukum Li Shih Min, tapi bagaimanakah kiranya perasaan orangtua dengan sengketa di antara anak-anaknya yang menghilangkan nyawa?

Li Yuan sebagai maharaja bergelar Tang Kao Tsu, Li Shih Min yang menggantikannya kemudian bergelar Tang T’ai Tsung, dan berkuasa antara 627 sampai 649. Di bawah pemerintahannya, Negeri Atap Langit berkembang lebih megah dibandingkan masa pemerintahan Wangsa Han. Sampai-sampai penduduk

Negeri Atap Langit menyebut diri mereka sendiri dengan bangga, seperti akan sering kudengar nanti, sebagai Orang Tang. Disebutkan, dalam catatan Teng Ssu-yu pencapaian Tang T’ai Tsung sangatlah ringkas:

T’ai Tsung merampungkan persatuan negeri

memajukan kebudayaannya

menambah kemakmurannya

dan menempatkan semua itu

di atas menara baru kekuasaan 2)

Dalam hampir semua catatan yang kubaca, masa pemerintahan Tang T’ai Tsung tak hanya merupakan masa keemasan negeri, melainkan juga masa keemasan bagi kesusastraan. Begitu rupa pentingnya kesusastraan sehingga ujian untuk bekerja dalam pemerintahan, antara lain adalah menulis puisi. Demikianlah Negeri Atap Langit menjadi negeri yang sangat beradab, tetapi peradaban setinggi ini pun belum dapat melepaskan dirinya dari peperangan.

Pada 627, bangsa Turk yang sebetulnya merupakan sekutu pendiri Wangsa Tang, menyerang Chang An. Namun Tang T’ai Tsung bukan hanya berhasil mencegatnya di atas jembatan yang menghubungkan ibu kota Chang An itu dengan wilayah pertahanan bangsa tersebut, tetapi cukup dengan memperlihatkan besarnya balatentara Tang di medan perang telah membuat penyerbu itu mundur tanpa pertempuran.

NAMUN dua tahun kemudian, pada 629, Tang T’ai Tsung mengirimkan pasukan berkekuatan 100.000 orang untuk menaklukkan bangsa ini di kaki Gunung Besi yang berada di wilayah mereka sendiri. 3) Sebetulnya bangsa ini adalah bangsa pengembara yang hidupnya berpindah-pindah dan datang dari utara, sedangkan bangsa apa pun yang datang dari utara disebut orang-orang Tang sebagai bangsa Tartar. Padahal tak hanya satu bangsa berada di utara dan di antara bangsa-bangsa pengembara yang saling berperang itu kadang terjadi peleburan. Seperti yang sejak

tiga ratus tahun lalu berlangsung antara bangsa Turk dan Mongol, yang kini disebut Tartar atau juga bangsa Hun. 4)

Dua puluh tahun setelah Tang T’ai Tsung naik takhta, sekitar 647, ia menjadi dipertuan yang tidak dapat diingkari lagi dari seluruh bagian timur dan tengah di benua tempat terdapat Negeri Atap Langit. Sesudah berabad-abad lamanya bersikap sebagai orang beradab yang menghindari peperangan, bahkan bersedia membayar harga perdamaian terhadap suku-suku liar, setelah dirasuki jiwa Tartar berubah menjadi pemberani bernyali nan tak kenal gentar. Gunung gemunung maupun padang pasir tak mampu menghalangi laju penaklukan pasukan Negeri Atap Langit. Namun tidak seperti bangsa Turk dan Mongol, mereka tidak meninggalkan bekas pembunuhan, pembakaran, dan pemusnahan. Memang benar memenggal kepala tak terhindarkan, tetapi keberadaban dalam bentuk pemerintahan teratur, serta ikatan raja-raja yang memerintah kepada Negeri Atap Langit, telah meningkatkan perdamaian dan ketertiban. 5)

Kemampuan mengelola pasukan tempur yang terbangun semasa T’ai Tsung itu, yang secara pribadi mampu memimpin balatentara menyerang suku-suku di sekitarnya, dilanjutkan semasa kepemimpinan Kao Tsung, dan Wu Chao yang lebih dikenal sebagai Maharani Wu. Balatentara Wangsa Tang merangsek bahkan sampai ke wilayah-wilayah utara seperti Dataran Mongolia, Gaogouli, dan Baiji. Pada abad lalu, bagian tengah benua sudah dikuasainya, berkat dukungan kemakmuran perdagangan dan kecanggihan ilmu pengetahuan serta perekaaan peralatannya. Salah satu kunci kejayaan pasukan Wangsa Tang adalah kebijakan para maharaja untuk menerima para panglima tempur yang tangguh dari suku-suku pinggiran, seperti dari Gaogouli, Qidan, Mojie, dan Tujue. Dengan itulah kesejahteraan dan kebudayaan berkembang sebagai suatu masa keemasan yang tidak akan pernah terulang.

Namun Negeri Atap Langit telah mengubah tatacara pembentukan dan pemeliharaan pasukan dari Tatacara Ketentaraan Fubing, ketika prajurit tidak memiliki kepala pasukan yang tetap dan mendukung diri sendiri dengan pertanian, menjadi Tata Cara Mubing, ketika prajurit dipilih sejumlah kepala pasukan dan

mengikutinya. Tatacara yang terakhir itu membuat para panglima penjaga keamanan perbatasan, dapat dengan mudah membentuk pasukan yang kuat untuk melawan pemerintah. Dengan cara inilah Pemberontakan An Shi dapat terjadi, yang dengan tekanan suku-suku pinggiran maupun kelompok yang ingin memisahkan diri, memang melemahkan kekuatan balatentara Wangsa Tang. 6)

Kisah kerajaan besar memang tidak sepi dari masalah. Maharaja Kao Tsung yang menggantikan ayahnya dan memerintah antara 650-683, meski berhasil menaklukkan Semenanjung Korea yang tidak dapat dilakukan T’ai Tsung, ia adalah seorang kepala negara yang disebut-sebut lemah. Kubaca betapa kelemahan hatinya terhadap cinta telah berakibat kepada kekacauan negara.

TERTULIS bahwa sebelum ia naik takhta menggantikan T’ai Tsung, ayahnya yang sakit-sakitan semenjak gagal menaklukkan bangsa Korea, ia ternyata mencintai salah seorang perempuan yang dipelihara ayahnya. Perempuan piaraan ini, demikian istilahnya, bukanlah selir yang resmi, apalagi permaisuri. Namun ketika ayahnya meninggal, Kao Tsung mengambil perempuan tersebut dari rumah berhala, tempat ayahnya menempatkan perempuan piaraan dan para selir, lantas menjadikannya sebagai selirnya sendiri.

Selir ini kemudian berhasil menjatuhkan permaisuri, bahkan membinasakannya dengan kejam. Bukannya dihukum, Kao Tsung mengangkatnya jadi permaisuri, menggantikan permaisuri sebelumnya yang dibunuh itu. Masih belum puas, permaisuri baru ini menyingkirkan semua menteri yang menentang pengangkatannya jadi permaisuri, karena mengawini bekas perempuan piaraan ayahnya dianggap perilaku tak patut sebagai maharaja. Semua menteri itu dibinasakannya tanpa sisa.

Permaisuri itulah yang bernama Wu Chao. Pada 656 ketika Kao Tsung pun sakit-sakitan, ia mengizinkan permaisurinya membaca surat-surat pemerintahan, yang lantas mengambil keputusan sendiri. Permaisuri itu memang anak seorang menteri negara di Shansi, jadi tak kurang pintar dan cerdiknya, menguasai sejarah maupun kesusastraan. Begitu Kao Tsung meninggal pada 683, anak permaisuri tersebut, Chung Tsung, naik takhta, tetapi tetap saja Wu Chao yang memegang dan

mengatur kekuasaan. Lantas, menyadari Chung Tsung ingin melepaskan diri dari pengaruhnya, ia turunkan Chung Tsung dari singgasana, dan mengangkat Hui Tsung, adiknya, sebagai maharaja baru. Tentu saja kekuasaan tetap dipegang oleh sang ibu.

Pada 690 akhirnya Wu Chao mengangkat dirinya sendiri sebagai Maharani Wu, dengan gelar lengkap Wu Tze T’ien. 7)

***

HARUS kukatakan betapa mataku tak bisa lepas dari catatan-catatan para rahib itu, terutama setelah menceritakan perilaku Wu Tze T’ien ini. Banyaklah perilaku buruk diceritakan perihal nafsu syahwatnya yang besar, pembunuhan demi lancarnya kekuasaan, dan akhirnya usaha menghapus Wangsa Tang itu sendiri, juga diiringi pembunuhan segenap keturunannya, diganti dengan peresmian Wangsa Chou.

Dalam sebuah catatan disebutkan, karena minum arak terlalu banyak pada musim dingin, Wu Tze T’ien yang mabuk memerintahkan agar bunga-bunga mekar meskipun bukan musimnya. Dikisahkan betapa bunga-bunga itu menuruti perintahnya, yakni mekar pada musim dingin, kecuali yang disebut bunga botan, sehingga bunga itu pun dihukum buang.

Namun sebagai perempuan, Wu Tze T’ien memperjuangkan kepentingan kaumnya. Ia membela hak perempuan untuk turut dalam ujian negara dan lain sebagainya. Bahkan justru lulus ujian negara inilah yang menjadi syarat bagi banyak jabatan, sehingga yang berlangsung sebelumnya, bahwa keluarga raja atau keluarga sahabat raja yang berasal dari keluarga Li di wilayah Shensi dengan sendirinya mendapat jabatan penting, yang banyak akibat buruknya, dapat diperbaiki. Ia menitikberatkan pada ujian dan karena itu orang-orang biasa, dan juga orang-orang yang berasal dari bagian lain di Negeri Atap Langit, dapat memegang jabatan tinggi dan penting. 8)

Riwayat Wu Tze T’ien berakhir tahun 705 karena diturunkan Chung Tsung, anaknya sendiri yang dulu diturunkannya. Namun sejarah segera berulang, karena

permaisurinya bagaikan ingin menjadi Wu Tze T’ien kedua. Suami sendiri diracuninya, meski ternyata gagal membunuhnya. Pemberontakan pun marak karena dikobarkan Li Lung Chi, anak maharaja kedua, Hui Tsung, yang dulu juga diturunkan Wu Tze T’ien. Tanpa ampun, permaisuri yang meneladani Maharani Wu ini dibinasakan dan Hui Tsung pun naik tahta untuk kedua kalinya. Adalah Li Lung Chi, anaknya yang akan bertahta antara 713 dan 756, dan bergelar Tang Ming Huang atau Tang Hsuan Tsung, yang akan termasyhur karena mengembangkan kesenian dan ilmu pengetahuan.

Meskipun begitu lagi-lagi urusan negara terganggu masalah cinta, ketika setelah 745 ia tergila-gila kepada perempuan yang termasyhur keelokannya, Yang Guifei. Semenjak perempuan ini bergabung ke rumah berhalanya, Tang Ming Huang menjadi seorang pemboros besar.

NAGA BUMI

Negeri Para Penyair

BETAPAPUN adalah pada masa pemerintahannya Wangsa Tang mencapai puncak keemasan, dengan tatanegara dan kebudayaan sebagai ukurannya. Adanya Dewan Han Lin atau Dewan Kesusastraan di Negeri Atap Langit adalah berkat Ming Huang. Pekerjaan dewan ini antara lain mendirikan sekolah di seantero negeri. Namun baiklah kita ikuti dahulu sepak terjang Yang Guifei, perempuan yang telah membuat maharaja Ming Huang bertekuk lutut.

Selir cantik jelita ini ternyata jatuh cinta kepada An Lushan, seorang panglima Turk berdarah campuran yang menguasai enam bahasa. Panglima ini sering datang ke istana dengan meninggalkan wilayah yang menjadi tugasnya di Hopei, tempat seharusnya ia mengamati bangsa K’i-tan di Manchuria. Memanfaatkan kesibukan negara berperang melawan orang Arab, Tibet, dan memadamkan berbagai kekacauan lain, An Lushan yang ahli perang melancarkan pemberontakan pada 755. Tak kurang dari maharaja Ming Huang terpaksa meninggalkan istana, lari dari kotaraja Chang An yang segera jatuh ke tangan An Lushan, ke Szechuan. Dalam perjalanan, pasukan yang mengawal raja menuntut kepada Ming Huang agar Yang Guifei dihukum mati. Terus terang tak dapat kubayangkan perasaan maharaja itu, yang memerintahkan kekasihnya tercinta menjerat leher sendiri dengan kain sutera. Perempuan cantik itu beserta sanak keluarganya dianggap berdosa dalam timbulnya kekusutan di dalam negeri. 9)

Pada 763 pemberontakan An Lushan dapat dipadamkan. Negeri Atap Langit terpaksa menggunakan bangsa-bangsa asing di perbatasan, terutama bangsa Turk Uigur, yang setelah perang usai menguasai berbagai wilayah di dalam negeri dan tidak berminat kembali. Demikianlah wibawa Wangsa Tang mulai pudar, dan telah kuketahui pada saat seperti inilah muncul semakin banyak pemberontakan di negeri-negeri bawahan, seperti kusaksikan sendiri di Daerah Perlindungan An Nam ini. Kini, kudengar Tang Ming Huang telah turun takhta dan digantikan putranya.

Pemberontakan tak kunjung habis, para panglima menjadi penguasa wilayah, sementara bangsa Tibet datang menyerbu, dan hanya bisa ditepis dengan bantuan bangsa Turk Uigur, yang kepada mereka Negeri Atap Langit ini bahkan membayar. 10)

Aku mencermati kembali kisah pemberontakan ini. Setelah bertempur tujuh tahun, pasukan An Lushan merebut Luoyang maupun Chang An. Tahun 757 ia terbunuh, tetapi putranya, An Qingshu, meneruskan perjuangannya sampai 763. 11) Seberapa jauhkah pemberontakan benar-benar telah selesai? Kenapa pula Negeri Atap Langit harus membentuk perserikatan dengan Harun al-Rasyid, khalifah bangsa Arab itu? Kemudian kubaca dari catatan-catatan para rahib yang pernah berkunjung ke Chang An, bagaimana wibawa Wangsa Tang semakin memudar setelah istana dikuasai orang-orang kebiri atau sida-sida, terutama setelah Tang Ming Huang turun takhta. 12)

Masih banyak catatan yang dapat kupelajari, bahkan aku merasa wajib mempelajarinya lebih lama lagi, jika ingin menguasai persoalan dengan lebih baik. Namun setidaknya kini telah dapat kupertimbangkan suatu dugaan, mengapa seorang Harimau Perang dibutuhkan segera oleh Negeri Atap Langit. Tentu para pejabat tinggi di negeri itu mendengar betapa cermatnya Harimau Perang ini telah membangun kepercayaan di antara para pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam. Berhasil meyakinkan mereka untuk keluar dari hutan dan turun gunung mengepung Thang-long, hanya untuk tertambus api pada musim dingin, yang tak akan pernah terduga karena dipersiapkan dengan penuh kerahasiaan oleh suatu jaringan mata-mata. Sungguh orang yang dibutuhkan, untuk menanggulangi pemberontakan oleh berbagai macam suku yang bagaikan tiada habisnya.

Aku pun tidak dapat memperkirakan betapa licin dan cerdiknya Harimau Perang, yang telah berhasil dipercaya para pemimpin pemberontak, kemudian menjadi satu-satunya penghubung yang dikenal para pemimpin pasukan di medan peperangan, sehingga mengenal segala kemungkinan yang membuat tugasnya sungguh-sungguh berhasil. Memang benar pemberontakan dalam arti sebenarnya tidak akan pernah bisa dipadamkan, tetapi menggagalkan pendudukan Thang-long adalah

penting, karena suatu pendudukan dalam peperangan niscaya tiada akan luput dari pembakaran, penjarahan, pembantaian, dan pemerkosaanÖ Tidak sadarkah penduduk kotaraja Daerah Perlindungan An Nam ini betapa kehidupan mereka semula ibarat telur di ujung tanduk?

KUPIKIRKAN sesuatu: jika hanya Harimau Perang yang dikenal semua orang, oleh pemimpin kedua pihak yang bertentangan, maupun antara para pemimpin pasukan, bukankah itu berarti hanya Harimau Perang yang mengenal pemimpin kaum pemberontak? Artinya tidak seorang pun dapat melindungi pemimpin pemberontak itu sekarang selain Harimau Perang, yang mengingat perkembangan keadaan, justru pasti akan membunuhnya!

Masalahnya sekarang, siapakah sebenarnya pemimpin pemberontak itu? Persiapan di istal kuda bagi rombongan sudah beberapa lama selesai, tetapi duapuluh kuda terbaik yang dipersiapkan itu masih tetap berada di tempatnya. Aku memikirkan kemungkinan, bahwa sebelum berangkat memenuhi panggilan panglima tertinggi di Chang An, maka Harimau Perang merasa harus menuntaskan tugasnya lebih dahulu. Ia telah mengenal pemimpin pemberontak itu, tetapi tentu kini sudah tidak dapat menemuinya lagi. Kematian Amrita kurasa tidak akan tersebar tanpa desas-desus tentang pengkhianatan Harimau Perang itu. Pengkhianatan yang belum tentu merupakan pengkhianatan, karena Harimau Perang mungkin saja adalah bagian dari jaringan mata-mata yang ditanam.

Betapapun Harimau Perang masih mencari mangsanya lagi, dan menurut pendapatku bukan tak mungkin pemimpin pemberontak itu ada di dalam Kuil Pengabdian Sejati ini!

142: Penyusupan Senja

DENGAN pemikiran semacam itu aku keluar dari bilik pustaka yang penuh gulungan naskah. Tidak semua catatan ditulis di atas lontar, karena peradaban Negeri Atap Langit telah memperkenalkan kepada orang-orang Viet naskah pada gulungan kain yang ditulis dengan apa yang disebut sebagai tinta. Tentu saja ini berlaku untuk naskah dengan aksara Negeri Atap Langit yang baru mampu kubaca dengan sangat

amat terbatas. Seorang bhiksu membantuku untuk menerjemahkan dan mengajariku cara menuliskannya sedikit demi sedikit. Betapapun terlalu banyak bahasa dan aksara baru yang terpaksa kupelajari dalam waktu singkat setahun terakhir ini, karena jika tidak maka jalanku untuk masuk ke dalam pengetahuan akan sangat terbatas. Adapun hanya berdasarkan pengetahuan secukupnya, maka aku dapat mengambil keputusan yang sedikit banyak bertanggungjawab.

Aku keluar dari bilik pustaka dan menyusuri lorong-lorong dalam kuil, yang penuh dengan gambar berwarna perjalanan hidup Buddha pada dinding kanan maupun kirinya. Kulewati tempat dahulu kelompok Kalakuta yang menyamar sebagai bhiksu bermaksud membunuhku. Kuingat barisan bhiksu penjaga yang begitu banyak dan bersenjatakan toya. Kuingat kembali wajah bhiksu kepala yang matanya kecil itu, dari mana kubayangkan ia melihat dan berpikir tentang dunia. Siapakah yang membayar kelompok pembunuh dengan racun bernama Kalakuta itu? Benarkah hanya diriku dan Iblis Suci Peremuk Tulang itu yang diincar dan diawasi Kalakuta, dan bukannya para rahib yang di balik jubah merah kuningnya ternyata mengamati keadaan di seantero negeri? Dari cara mereka bergerak melingkar dan menjadikan titik pertemuan sebagai saat menyampaikan pesan, kusadari betapa para bhiksu dan bhiksuni dalam Kuil Pengabdian Sejati ini bukanlah sekadar rahib biasa.

Mengingat kembali berbagai percakapan dengan bhiksu kepala maupun para rahib lainnya, kusimpulkan betapa masalah dunia menjadi bagian yang penting dalam pengabdian mereka. Mereka adalah para bhiksu dan bhiksuni yang telah mendapat ajaran untuk berpihak, kepada siapa lagi jika bukan kepada rakyat yang tertindas. Bahkan bila kuingat adegan hukuman bagi bhiksu muda yang diminta bersujud selama-lamanya itu, kurasakan betapa adegan itu sebetulnya dibuat untuk mengelabuiku. Iblis Suci Peremuk Tulang kurasa mengetahui penyamaran ini. Bukankah ia pun dahulu kala seorang bhiksu? Aku sering merasa Iblis Suci Peremuk Tulang yang berangasan itu lebih seorang bhiksu yang menyamar daripada seorang bekas bhiksu. Artinya ia mengerti kebudayaan para bhiksu. Jadi tanpa harus diberitahu iapun akan ikut merahasiakannya, sampai aku dengan sengaja maupun tidak sengaja akan mengetahuinya.

Bukankah ketika menyamar sebagai tukang kuda, tampak begitu terbiasa ia bekerja bersama dengan cara-cara para bhiksu yang mengemis dan menghubungkan pesan dengan cepat dari istal kuda sampai ke Kuil Pengabdian Sejati? Para bhiksu pengemis yang begitu sigap dan terlatih, agaknya bukan saja telah selalu menyampaikan dan meneruskan keterangan rahasia, melainkan juga mencari dan menggali segenap rahasia dunia, termasuk rahasia negara.

KUBAYANGKAN Kota Thang-long dengan para bhiksu dan bhiksuni yang seolah-olah berkeliaran mengemis dari lorong ke lorong dengan batok di tangannya. Mereka tidak berkeliaran, mereka membentuk jaringan arus keterangan yang teratur rapi. Kuil Pengabdian Sejati ini bukan sembarang kuil. Bahkan kepada diriku mereka rahasiakan siapa sebenarnya diri mereka. Aku teringat Iblis Suci Peremuk Tulang yang sebelum menyamar jadi tukang kuda sungguh meyakinkan sebagai bhiksu sahaja. Bukankah dia memang bhiksu? Atau tak seorang bhiksu pun adalah bhiksu?

Di lorong gelap ini berkilasan kembali gambaran sepuluh bhiksu gadungan yang ternyata para pembunuh kelompok Kalakuta. Mereka tak seperti pembunuh jika tangannya tidak menggenggam pisau melengkung yang sekali sabet bisa mengeluarkan seluruh isi perut. Semua orang berkepala gundul dan berwajah kelimis dalam gulungan jubah merah kuning yang menyeragamkan semua. Bagaimana caranya kita mengetahui siapa berbeda dari siapa? Hmm. Sepuluh orang itu bisa masuk begitu saja karena saat itu banyak orang masuk ke kuil untuk mengantri bantuan pangan. Semenjak kejadian itu bhiksu penjaga bersenjatakan toya tampak di segala sudut. Bahkan utusan istana pun mesti digeledah begitu rupa sebelum diizinkan masuk jika ingin bertemu bhiksu kepala.

Di ujung lorong kulihat langit senja yang kemerah-merahan. Sudah terlalu lama kubenamkan diriku ke dalam kuil hari ini. Pengetahuanku atas bahasa-bahasa maupun aksara Negeri Atap Langit yang masih sangat sedikit, membuat aku membaca gulungan catatan-catatan di atas kain itu dengan sangat lama. Untunglah bhiksu petugas bilik pustaka yang menguasai banyak bahasa dan aksara itu bersedia membantuku jika aku menemui kesulitan. Sekarang aku bermaksud menanti mata rantai terakhir bhiksu penyampai pesan, yang akan memberi tahu

tentang perkembangan terakhir hasil pengamatan Iblis Suci Peremuk Tulang yang menyamar sebagai tukang kuda.

Pada dasarnya segala sesuatunya sudah diketahui: Harimau Perang akan melakukan perjalanan rahasia ke Chang An dengan dikawal 20 pengawal istana pilihan. Aku tahu betapa dengan kawalan orang-orang pilihan seperti itu, serbuan mendadak 200 orang pun dapat mereka halau dengan mudah. Bahkan jalur perjalanan pun, yang tentu saja setiap saat bisa berubah karena sengaja diubah-ubah untuk menghindari pelacakan, setiap perubahannya selalu terendus oleh Iblis Suci tersebut. Hanya kapan rombongan itu tepatnya akan berangkat, memang masih tertutup rapat.

Aku tiba di luar lorong tepat pada saat bayangan kemerah-merahan itu berkelebat menghilang ke balik cahaya senja. Seorang penyusup sedang bergerak masuk, dengan berlindung di balik cahaya kemerah-merahan senja yang tak akan mungkin terlacak, kecuali oleh mereka yang memiliki ilmu sejenis. Aku teringat ketika menyaksikan bagaimana Amrita berhadapan dengan Pendekar Cahaya Senja. Memang aku tidak berhadapan langsung dengan pendekar yang sangat terpesona oleh keindahan senja itu, yang menyediakan dirinya untuk membunuh atau terbunuh hanya ketika langit semburat kemerah-merahan, sehingga tak dapat kugunakan Jurus Bayangan Cermin untuk menyerap ilmunya, tetapi betapapun aku telah mengamatinya. Adapun dalam pengamatan itu sempat kusimpulkan, bahwa kunci untuk mengimbangi ilmu yang mengacu kepada filsafat aliran Yogachara itu adalah penyandaran diri kepada jiwa semesta, sebagai sumber jiwa dalam diri, agar tak terkecoh oleh penalaran yang terikat kepada pancaindera dalam kebertubuhan. 1)

Aku harus bergerak cepat jika tidak ingin kehilangan jejak di balik cahaya senja yang kemerah-merahan. Ia seorang penyusup dan kukira ia menyusup untuk melakukan pembunuhan, karena jika tidak tentu takperlu mengirimkan seorang penyusup dengan ilmu luar biasa seperti itu. Memang tidak setiap penyusupan berarti pembunuhan, karena penyusupan juga dilakukan demi pengamatan, tetapi pengalamanku bersinggungan dengan orang-orang yang berkelebat ini memberitahuku tentang tujuan yang dapat ditafsirkan dari sifat-sifat geraknya.

Dalam pengamatan tersifatkan ketenangan dan kesabaran, dalam pembunuhan tersifatkan keyakinan dan ketegasan, sedangkan yang terakhir itulah sebenarnya terbaca desirannya olehku.

Seperti pengamatanku terhadap Pendekar Cahaya Senja, terhadap penyusup yang menggunakan cahaya kemerah-merahan sebagai tabir ini hanya dapat kuandalkan kecepatan, terutama untuk memburunya ke balik cahaya kemerah-merahan itu, dan apabila ia menyerangku maka tiada lain yang dapat kulakukan selain memejamkan mata terhadap segala pesona dan mengandalkan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang. Penyusup masih berada di udara, tiada yang melihatnya karena semakin luas kemerahan langit semakin tersamar dia adanya. Berkelebat takterlihat di balik cahaya kemerahan senja, yang hanya bisa dilakukan karena kecepatannya yang luar biasa. Membaca arah geraknya, kutahu dari garis lengkungannya bahwa ia akan menukik tepat pada sebuah jendela terbuka di bilik bhiksu kepala, tempat kulihat samar-samar dirinya sedang berdoa. Sudah jelas penyusup ini bermaksud membunuhnya!

Aku berkelebat menyusulnya memasuki cahaya senja dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata. Kumasuki sebuah dunia penuh dengan lapisan tabir kemerah-merahan yang bagaikan selalu bergerak dan berkibar seperti kain meski kutahu itu bukan kain melainkan tabir-tabir cahaya senja yang mengungkungku bagaikan seekor ikan di dalam lautan cahaya kemerah-merahan. Dalam dunia kemerah-merahan kuburu bayangan yang berkelebat itu, yang menjejak udara bagaikan menjejak zat padat, berkelebat begitu cepat dengan tubuh berbalut kain kuning merah yang terikat ketat, dan hanya matanya yang terlihat. Tahu dikejar ia pun menyerangku dengan senjata kaum pembunuh yang mengerikan, yakni sabit melengkung yang seperti dibuat secara istimewa untuk memenggal kepala dan betapa piawai sang penyusup ini memainkannya.

Begitu ia melayang terbang menujuku dalam kelebat tercepat yang dapat kulihat sembari mengangkat sabitnya, segera kupejamkan mataku karena pesona tabir-tabir senja dapat mengalihkan perhatianku dari kecepatan dan ketajaman sabitnya yang luar biasa. Mengandalkan ilmu Mendengar Semut Berbisik terbentuk dalam

pandangan mataku yang tertutup itu garis tepi seluruh tubuh maupun yang sedang diayunkannya, sebagai garis yang menyala redup kehijauan. Namun ia bukan sekadar penyusup jika terpilih memasuki Kuil Pengabdian Sejati untuk mencabut nyawa bhiksu kepala. Ketika sabitnya menyambar seperti ingin nembelah tubuhku, tidaklah terasa bagaikan satu saja sabit yang terayun dengan kecepatan kilat, melainkan lima sabit, itu pun tidak serentak melainkan berturut-turut. Sabit manakah yang merupakan sabit sebenarnya?

Dalam kelebat gerak yang nyaris tak terlacak, aku harus memutuskan dengan cepat, manakah sabit sebenarnya yang wajib kuhindari dan manakah sabit tipuan, karena sekali keliru dalam penilaian saat itulah nyawa melayang. Jika sabit tipuan kuhindari, saat itulah sabit yang sebenarnya menancap di badan; jika sabit yang sebenarnya kuketahui dan ingin hindarkan, berarti aku harus membiarkan sabit-sabit tipuan itu seolah-olah menancap di badan, karena hanya dengan begitu ketika sabit yang sebenarnya tiba, akan dapat dielakkan atau ditangkis tepat pada waktunya. Namun bagaimana jika sabit yang kubiarkan menancap adalah sabit yang sebenarnya? Dalam pandangan mataku yang terpejam pun, seperti terdapat lima tangan yang mengayunkan lima sabit berturut-turut. Namun kutahu jika kubuka mataku betapa akan lebih banyak hal yang mengecoh mataku.

Ini berarti untuk kali pertama mesti kutingkatkan kedalaman ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, yang memisahkan bunyi sebenarnya dari bunyi-bunyi. Ini berarti ilmu penyusup ini memang sangat tinggi, karena bukan hanya mata yang dapat dikecohnya dengan kecepatan tinggi itu, melainkan juga telinga dengan ketajaman lebih dari biasa, dan bukanlah sembarang manusia yang sungguh-sungguh dapat melakukannya. Dalam peningkatan kedalaman ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang, bunyi-bunyi semu itu akan tetap tinggal dalam pandangan mata tertutupku sebagai garis berpijar buram warna hijau, sedangkan bunyi yang sebenarnya dari sambaran sabit itu akan berwarna biru. Tentu saja dengan begitu masalah ini seharusnya dapat segera kupecahkan, yakni biarkan garis cahaya redup membentuk sabit berwarna hijau menancap dan pusatkan perhatian kepada garis cahaya redup membentuk sabit berwarna biru.

Namun aku menjadi terkejut ketika dalam tingkat kedalaman ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang yang baru ini maka kelima sabit yang menyambar berturut-turut ini semuanya berwarna biru! Semua ini memang lebih cepat dari kerjapan mata. Bahkan tentunya saat itu tentulah pertimbanganku tidak terurai serinci ini.

KUPEGANG kenyataan bahwa sebelum mataku tertutup aku hanya melihat satu sabit. Ini berarti kelima sabit tersebut tetap berasal dari satu sabit, tetapi yang digerakkan berulang dengan kecepatan begitu tinggi, sehingga indera belum usai menangkap ujudnya sabit itu telah datang, datang, datang, dan datang lagi. Jadi kuanggap tak akan keliru jika terhadap gambaran sabit berwarna biru yang datang terakhirlah aku harus memusatkan perhatianku.

Sabit itu hanya satu jari dari tengkukku ketika aku berguling di udara untuk segera melenting kembali di atasnya. Kubuka mataku sejenak, dan dunia senja masih membara raya. Rasanya enggan menutup mata kembali di tengah dunia yang kemerah-merahan ini, tetapi pembunuh itu telah berbalik pula dan menyabetkan sabitnya kembali. Tak cukup menyambarku kembali, tetapi tangan kirinya telah terkibas ke arah tertentu, yang membuatku terkesiap karena itu berarti telah dilepaskannya jarum-jarum beracun ke arah bhiksu kepala, yang dari jendela tampak masih membaca sutra!

Aku bahkan tak sempat memejamkan mataku, karena bukankah memang kulihat setidaknya 25 jarum beracun berbinar redup kuning hijau berkeredap meluncur ke arah bhiksu kepala yang sedang membaca? Demikianlah semua ini berlangsung tanpa dapat diikuti mata orang biasa dan nyaris tanpa suara. Namun seandainya seseorang yang berilmu tinggi menyaksikannya akan terlihat tarian maut berpasangan dalam dunia senja kemerah-merahan, tempat tabir-tabir senja sebentar tersibak sebentar menutup oleh bayangan hitam sabit lebar mengejar bayangan berkelebat yang tentu bayanganku, yang kini kembali mesti berkelit tanpa mampu menghentikan jarum-jarum beracun yang meluncur dengan amat sangat terlalu cepat.

Pada saat kuhindari sabit itu tanganku dengan mudah menepuk lengan kanannya, yang akan langsung lumpuh dan memang menjadi lumpuh sehingga sabitnya

terpental jauh sampai membentur puncak pagoda dan jatuh berdenting-denting di lantai kuil. Namun sabit tersebut belum membentur pagoda dan belum jatuh berdenting-denting di lantai ketika usai tanganku menepuk lengan kanannya yang menjadi lumpuh, ternyata bhiksu kepala itu telah mengibaskan sutra yang dibacanya seperti mengusir lalat tanpa menoleh, yang membuat 25 jarum itu berbalik meluncur kembali! Penyusup senja itu masih meneruskan arah geraknya di udara dengan tangan kanan lumpuh, yakni menuju bhiksu kepala di jendela yang tadi hendak dibunuhnya dengan sabit, hanya untuk disambut jarum-jarum beracunnya sendiri!

Tangan kirinya mencoba berbuat sesuatu karena tangan kanannya sudah kulumpuhkan, tetapi kedudukannya yang menyamping kanan tak mungkin lagi menyampok jarum-jarum beracun yang langsung menembus segenap kain merah jingga yang membelit seluruh tubuhnya, dan tentu menancap masuk ke dalam dadanya. Ke dalam jantung dan paru-parunya. Dua puluh lima jarum beracun mematikan menembus tubuh pelemparnya sendiri, yang langsung mati ketika tubuhnya masih terus melayang ke arah bhiksu kepala, yang sementara itu telah menutup jendela tanpa menoleh.

Bruaaaakkk!

Tubuh penyusup senja itu terbanting di luar jendela tanpa nyawa lagi ketika aku pun mendarat ringan di dekatnya. Barulah kemudian sabit itu terdengar membentur puncak pagoda, lantas terdengar dentangnya ketika jatuh di lantai.

Jendela tetap tertutup. Bhiksu kepala terdengar menggumam masih membaca sutra. Tidak seorang pun dari para rahib yang berdatangan berani mengganggunya. Kuperiksa penyusup yang telah kehilangan nyawa sesuai dengan pertaruhan tugasnya. Kusingkap kain penutup wajahnya, dan kulihat betapa bibirnya menghitam di atas wajah yang pucat. Racun jarum-jarum itu bekerja dengan seketika. Aku bergidik. Sadarkah penyusup ini bahwa jarum-jarum yang diterimanya dari seorang peramu racun itu ternyata akan menembusi tubuhnya sendiri.

Suatu ketika dalam perjalananku aku pernah tanpa sengaja melihat jarum-jarum direndam dalam ramuan bisa ular, bisa kalajengking, dan bisa tumbuh-tumbuhan

sekaligus. Kulihat itu di lorong tersembunyi di belakang pasar, ketika menyamar sebagai pengemis yang mengembara dari kota ke kota sepanjang pantai Champa sebelum sampai kemari. Saat itu berpikir bahwa jarum-jarum yang direndam dalam racun ini suatu ketika akan membunuh seseorang.

BAHWA tempat perendaman jarum itu tersembunyi, tentu karena senjata rahasia memang hanya berhubungan dengan kelompok rahasia, untuk mendukung tugas-tugas rahasia. Adapun rahasia bisa bersifat sementara, seperti tugas negara yang suatu ketika terbuka, tetapi juga bersifat gelap, yakni menjadi rahasia selama-lamanya, seperti pembunuhan-pembunuhan gelap yang takmenjadi kepentingan pelaku pembunuhannya. Rahasia yang tetap menjadi gelap, diusahakan tetap gelap, jika perlu dengan mata rantai pembunuhan lanjutan untuk menjaga kegelapannya. Jaringan kerahasiaan dapat berlangsung di medan penugasan, seperti peramu racun dan pengguna racunnya, dan keluarga masing-masing tak tahu kehidupan mereka; bisa melibatkan seluruh keluarga, yang akan saling memahami pekerjaan masing-masing tanpa kata.

Maka kematian penyusup ini adalah kemungkinan terbaik dari kegagalan tugasnya. Itulah sebabnya kukagumi kehidupan mereka dalam dunia kaum penyusup ini, yang terwajibkan untuk tetap tinggal takterlacak sampai kematian menjemputnya. Mereka hidup dalam suatu kepercayaan dan tata cara kehidupan, yang dengan setia dan bangga dipegangnya, bahwa kerahasiaan, kegelapan, dan bahaya, adalah kehidupan di atas dunia yang mulia.

Para rahib membalikkan tubuhnya, membuka selubung kain di bagian dada. Terlihat rajah gambar dua pedang bersilang di sana.

‘’Golongan Murni,’’ ujar seseorang.

Jadi itulah tanda Golongan Murni, kelompok yang menganggap bangsa penguasa Negeri Atap Langit sebagai bangsa termulia di dunia, sedangkan bangsa-bangsa lain hanya wajib mengikutinya saja. Adapun bangsa-bangsa yang tidak bersedia mengikuti dan tunduk kepadanya, adalah bangsa yang harus diberi pelajaran. Aku

ingat pernah bentrok dengan mereka dalam peristiwa pembakaran gubuk-gubuk darurat para pengungsi bencana banjir.

Aku tidak pernah tahu bahwa rajah dua pedang bersilang adalah penanda seseorang dari Golongan Murni. Apakah kenyataan ini mengubah seluruh perhitunganku? Jika memang Golongan Murni yang telah menyusup ke dalam Kuil Pengabdian Sejati ini untuk membunuh bhiksu kepala, maka urusannya tak berhubungan langsung denganku yang dapat dikatakan sedang saling mengincar dengan Harimau Perang. Setidaknya ini membenarkan dugaanku bahwa Kuil Pengabdian Sejati ini memang bukan sembarang kuil, bahkan sebaliknya merupakan bagian dari jaringan pemberontak yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pemimpinnya —dan memang rahasia tentang siapa sebenarnya yang memimpin pemberontakan hanya diketahui oleh Harimau Perang…

143: Tipu Daya Bhiksu Kepala

LANGIT masih menyisakan semburat cahaya senja yang kemerah-merahan, meski suasana kuil telah menjadi gelap. Suasana yang paling tepat bagi suatu tindak penyusupan, tetapi bahkan penyusup setinggi itu pun ilmunya telah juga gagal. Pantaslah Harimau Perang tak bisa sembarangan mengirim orang. Jika untuk sepuluh orang yang melakukan penyusupan pertama waktu itu disewanya kelompok racun Kalakuta, maka senja ini dipinjamnya tangan Golongan Murni. Jika untuk yang pertama, pembunuhan macam apa pun, selama menggunakan racun, dapat dipesan dengan bayaran; maka untuk yang kedua, bayaran sama sekali tidak diperlukan, karena segenap tindak dilakukan atas nama cita-cita kesempurnaan, bahwa siapa pun mereka yang menentang kekuasaan Negeri Atap Langit layak dimusnahkan.

Mungkinkah bhiksu kepala adalah pemimpin pemberontak itu sendiri? Jika tidak, mengapa Harimau Perang ataupun Golongan Murni mengirimkan seseorang untuk membunuhnya? Kusimpulkan saja bahwa Kuil Pengabdian Sejati setidaknya adalah bagian dari jaringan mata rantai kaum pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam, yang tentu diketahui oleh Harimau Perang, tetapi bukanlah yang dibentuknya sendiri, sehingga tak dapat dikuasainya untuk bergabung dengan pemerintah. Sebaliknya, besar kemungkinan ia pun gelisah dan merasa jiwanya terancam, ketika

diketahuinya Amrita menyerbu masuk sampai ke dalam kota hanya untuk memburu dirinya.

SESEORANG telah membuka rahasia dan ia tahu kedudukannya telah terbongkar. Benar tidaknya simpulan yang tentu masih sangat sementara ini belum dapat kuketahui, tetapi setidaknya membuat aku lebih penasaran membuntutinya dalam perjalanan ke Chan’an, dan tentunya mewajibkan diriku untuk belajar lebih jauh lagi tentang permainan kekuasaan di Negeri Atap Langit.

Para bhiksu penjaga berdatangan tanpa suara dengan toya di tangan mereka. Mereka memandangku dengan penuh hormat karena pertarungan singkat di balik tabir-tabir lembaran senja yang kemerah-merahan itu, yang hanya dapat dilakukan dengan kecepatan yang amat sangat, meski dalam kenyataannya bukan diriku melainkan bhiksu kepala yang telah menyelamatkan dirinya sendiri. Bagiku tingkat kepandaian seperti itulah yang selayaknya berada di tingkat para naga, tingkat ilmu silat yang sangat amat sulit ditandingi.

Mereka membolak-balik mayat itu dan menggeledah isinya. Masih terdapat lagi sejumput jarum bercahaya hijau redup, pertanda sangat beracun, dan sebuah sabit pendek yang dipangkalnya terukir gambar pedang bersilang, sama dengan rajah di dadanya. Tidak ada yang dapat digali lebih lanjut dari penemuan itu selain menegaskan keberadaan dirinya yang mewakili Golongan Murni. Justru kepastian itulah yang membuat setiap perhitungan harus mempertimbangkan adanya jebakan: mungkinkah ada pihak yang ingin kami mengira penyusupan ini adalah tanggung jawab Golongan Murni?

Seorang bhiksu penjaga datang menggamitku.

”Yang Mulia Bhiksu Kepala mengharapkan kunjungan Pendekar Tanpa Nama,” ujarnya dengan sopan.

Aku pun mengangguk dan menjura, lantas segera melangkah masuk ke dalam biliknya yang diterangi cahaya lilin.

”Maafkanlah sahaya, Bapak,” kataku, ”gerakannya terlalu cepat untukku, sehingga Bapak harus membuang tenaga baginya.”

”Pendekar Tanpa Nama, janganlah terlalu merendahkan diri, karena dikau memperlambatnya maka dapat kukembalikan jarum-jarumnya,” jawabnya, ”sejak dari luar tembok ia telah melenting dari genting ke genting di balik keremangan sebelum kau susul di udara.”

Aku terkesiap. Jika semua yang dikatakannya benar, tentu tingkat ilmu silatnya tinggi sekali, karena diketahuinya itu semua sembari membaca sutra. Tapak-tapak nyaris tanpa suara di atas genting; desir, desis, dan desau yang tidak mungkin terdengar dari tempat yang begitu jauh; dan tentu kelebat jarum-jarum beracun yang terlalu cepat dan tanpa bunyi itu; tak mungkin terdengar jika bhiksu kepala tua itu tak pernah, bahkan masih, menguasai ilmu silat yang luar biasa tinggi.

”Bapak jangan merendah, saya masih harus banyak belajar,” kataku menunduk, ”berikanlah kepada saya pelajaran itu.”

Bhiksu kepala itu menghela napas.

”Pendekar Tanpa Nama,” katanya, ”dikau harus membunuhku.”

Aku tertegun sejenak, tetapi cepat mengerti, bahwa Harimau Perang harus dijebak, yakni mengira usahanya untuk membunuh bhiksu kepala telah berhasil. Namun bagaimana caranya?

”Mendekatlah kemari pendekar,” katanya lagi, ”kita akan belajar bagaimana caranya bersandiwara.”

Aku mendekat, bhiksu kepala membisikkan sesuatu kepadaku, dan aku pun mengangguk mengerti.

Sebentar kemudian aku keluar dari bilik itu, menemui kepala pasukan bhiksu penjaga yang menjadi orang kepercayaan bhiksu kepala.

Lantas sebentar kemudian kami umumkan meninggalnya bhiksu kepala, satu dari dua puluh lima jarum beracun yang dilepaskan penyusup senja itu telah membunuhnya. Hanya karena ilmunya yang tinggi sajalah, maka beliau masih dapat menutup jendela, ketika tubuh penyusup senja tanpa nyawa itu meneruskan laju penyerangan ke arahnya.

***

LANGIT telah sepenuhnya gelap ketika berita ini tersebar ke seantero kota. Dengan segera para pelawat berdatangan ke Kuil Pengabdian Sejati, memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh yang sangat dihormati segenap warga Kota Thang-long tersebut. Pada sebuah balairung di dalam kuil, disemayamkanlah jenazah bhiksu kepala yang nama maupun gelarnya dalam bahasa Viet sangat sulit kuingat, tak dapat kuucapkan, sehingga menuliskannya pun bagiku menjadi sangat mustahil.

DI dalam balairung para bhiksu dan bhiksuni menyanyikan sutra dengan nada rendah. Ruangan itu penuh sesak, tetapi antara jenazah dan para rahib terdapatlah ratusan lilin menyala yang asapnya membuat mata pedas dan ruangan semakin bertambah panas. Para pelawat dapat menyaksikan jenazah bhiksu kepala di seberang lautan lilin, terbaring seperti orang tidur, bahkan mungkin karena pengaruh asap dan cahaya lilin yang bergerak-gerak, tampak pula seperti orang bernapas. Demikianlah para pelawat yang datang tiada habisnya sepanjang malam akan menyaksikan pemandangan semacam itu dari kejauhan, yang justru membuatku merasa khawatir, karena sesungguhnyalah tubuh bhiksu kepala itu tidak bernapas. Tepatnya ia tidak bernapas melalui hidung, melainkan melalui pori-pori dari kulitnya.

Tentu saja ia masih hidup. Dengan seni pernapasan tertentu yang dicangkokkan kepada yoga langit, yakni seni pernapasan yang mengakibatkan kematian dengan sengaja sebagai pencapaian kesempurnaan, bhiksu tak menjadi meninggal, melainkan seperti meninggal untuk sementara saja, karena jantungnya masih berdetak dan paru-parunya tetap bekerja. Aku hanya diminta membantunya dengan berbagai totokan jalan darah, yang akan membuatnya seperti orang mati dan bukan sekadar seperti orang tertidur. Maka jika nyala ratusan lilin yang kadang-kadang

tertiup angin dari luar bilik membuatnya seperti orang tidur dan bernapas, tentu saja segenap rencana kami dapat menjadi sia-sia.

Di sebuah sudut, dengan masih berjubah merah kuning dan berkepala gundul seperti bhiksu, aku dapat mengawasi beribu-ribu pelawat dari segala lapisan yang datang menggumamkan sutra sambil ber-pradhaksina. Dari ribuan orang bahkan puluhan ribu manusia pelawat, mulai dari pejabat tinggi, pedagang, tukang, sampai pelacur dan pengemis, setidaknya tentu terdapat satu atau beberapa mata-mata, yang bertugas menyampaikan pesan secara berantai dengan cepat kepada Harimau Perang, bahwa bhiksu kepala memang benar-benar sudah mati. Berita kematian bhiksu kepala ini penting, karena hanya dengan begitu maka perjalanan rahasia ke Chang ‘an bisa dilangsungkan.

Di antara ribuan pelawat yang masih terus mengalir, dan di antaranya tidak sedikit pula yang menangis tersedu-sedu, kusadari betapa sulitnya mengetahui mana yang mata-mata dan mana yang bukan. Kubayangkan diriku jika melakukan penyamaran dan berada di antara mereka, tentu tidaklah akan terlalu mudah bagi siapa pun untuk mengetahui dengan pasti, apakah seseorang itu aku atau bukan diriku. Bagi mereka yang bergerak dalam dunia penugasan rahasia, barangkali mudah dan cepat untuk mengetahui sesuatu itu wajar atau tak wajar, seperti sering kualami ketika menyamar dan tetap saja mengundang kecurigaan. Namun bagiku kini kusadari betapa untuk mengetahui seseorang itu dirinya atau bukan dirinya ternyata sama sekali tidak mudah. Memang, aku sendiri tidak berharap banyak, karena untuk mengetahui jebakan kami mengenai sasarannya atau tidak, kami tunggu dengan cara lain.

Kedudukan bhiksu kepala dalam masyarakatnya dapat diketahui dari para pelawat, yang tidak hanya berasal dari segala lapisan, tetapi juga para rahib penganut Buddha berbagai aliran, seperti para bhiksu Theravada dengan hanya sehelai kain warna kuning kecokelatan melingkari raganya, para bhiksu Mahayana yang kainnya kuning kunyit dijahit jadi jubah, dan bermacam aliran lagi yang menunjukkan kebijaksanaan dan keluasan pandangannya. Para bhiksu Kuil Pengabdian Sejati sendiri tidak selalu seragam busananya, selain kain jubah merah kuning seperti para

bhiksu Tibet, terdapat juga yang setia kepada Therevada tetapi para bhiksunya berpakaian seperti guru-guru Mahayana. Aku merasa tidak perlu terlalu terkejut dengan kenyataan itu, meski tetap heran jika semua ini menyangkut seseorang yang barangkali saja sebetulnya hanya menyamar.

Ya, seorang bhiksu kepala yang menguasai ilmu silat peringkat naga, sekaligus menggalang pemberontakan diam-diam dari balik kuilnya, apakah ini tidak terlalu berlebihan? Masalahnya, memang, tidakkah hanya kesempurnaan dalam peleburan pencapaian kesempurnaan rohani dan kesempurnaan jasmani yang dapat dikatakan sebagai kesempurnaan yang sebenarnya?

Namun kurasa Nagarjuna, bahkan juga Nagasena, tak akan pernah menyetujuinya.

Para pelawat masih terus mengalir sepanjang malam. Gumam doa terus berkumandang dan membubung, bersama asap dalam ruangan yang mencari jalan keluar dari celah atap sampai ke langit.

UNTUNGLAH bahwa balairung yang terbuka dapat menampung para pelawat yang bagaikan tiada putus-putusnya. Dengan sia-sia kucari wajah dengan pandangan mata seperti mata-mata, meski kusadari betapa aku sangat tidak berbakat untuk pekerjaan seperti itu.

Pada dini hari, ketika langit masih gelap, kuterima berita dari Iblis Suci Peremuk Tulang melalui mata rantai bhiksu pengemis yang selalu berputar dalam lingkaran, sambung bersambung dan ganti berganti, sepanjang siang dan malam. Bhiksu pengemis itu berbisik di telingaku ketika kutemui di gerbang kuil.

’’Pesan dari Iblis Suci, katanya ia diperintahkan membawa dua puluh kuda yang siap berangkat segera, rombongan akan berangkat sekarang juga!’’

Hmm. Jadi jebakan kami mengena! Harimau Perang tidak merasa bisa berangkat dengan tenang jika bhiksu kepala yang selama ini dianggapya menjadi pemimpin kaum pemberontak masih menjadi duri di dalam dagingnya. Betapapun Kuil Pengabdian Sejati berada di tengah-tengah Kota Thang-long, bagaikan pisau tajam yang berada di bawah urat lehernya sendiri. Tentu dengan pengetahuanku yang

terbatas sebagai orang asing, membuat aku sendiri mencadangkan terjadinya kesalahpahaman dan kejutan, mengingat pengalamanku dengan berbagai macam mata rantai kerahasiaan dalam kegelapan. Selain karena bhiksu kepala tidak pernah berterus terang tentang siapa dirinya, bukankah aku juga tidak pernah memastikan, bahwa Harimau Perang adalah seseorang atau beberapa orang?

Namun kuketahui suatu siasat pengamanan, bahwa seseorang berwajah dan berperawakan mirip raja, dapat menggantikan seorang raja untuk berjaga terhadap serangan pembunuhan. Meskipun begitu tentang Harimau Perang aku memikirkan sesuatu yang berbeda. Bukan bahwa terdapat Harimau Perang tiruan untuk menggantikan Harimau Perang yang sebenarnya, melainkan bahwa Harimau Perang adalah nama untuk suatu tata cara kerahasiaan yang terdiri dan dilaksanakan oleh banyak orang.

Betapapun dugaan liarku ini tidak mendapat bukti yang membenarkan. Sementara itu, jika duapuluh kuda dipersiapkan untuk duapuluh pengawal pilihan, maka kuda Harimau Perang tentu dipersiapkan di tempat terpisah. Tepatnya tentu ia persiapkan sendiri. Namun apakah itu memang berarti Harimau Perang ternyata seorang pribadi?

Bhiksu pengemis itu juga menyampaikan pesan, bahwa sebaiknya aku menunggu saja di Celah Dinding Berlian, karena jika mengikuti perjalanan dari dalam kota, ketika rombongan melewati gerbang kota, tentu saja akan terlalu kentara betapa aku sedang membuntutinya.

Setelah bhiksu pengemis itu menghilang, kusadari kini segala sesuatu tertanggungkan ke pundakku. Iblis Suci telah menjalankan penyamaran dan pengamatannya sebagai tukang kuda dengan hasil pemberitahuan terakhir ini. Bhiksu kepala telah terpaksa berpura-pura mati demi memancing dilaksanakannya perjalanan rahasia itu, yang berarti juga ia harus menghilang selama-lamanya dari dunia sebagai bhiksu kepala, agar aku dapat melacak keberadaan Harimau Perang. Kini tergantung kepada diriku, apakah segala jerih payah itu akan menjadi tersia atau bermakna.

Aku terpaku di gerbang Kuil Pengabdian Sejati tempat banyak orang masih saja mengalir tiada hentinya, karena memang sungguh-sungguh berduka cita. Aku masih mengenakan jubah seorang bhiksu, berkepala gundul, dan berwajah kelimis. Tentu aku tidak mungkin melaksanakan tugasku dengan busana seperti ini, bukan sekadar karena warna kuning merahnya yang menyolok mata dalam pembuntutan perjalanan rahasia di pedalaman, tetapi bahwa dalam keramaian seorang bhiksu akan terlibat dengan bermacam-macam kewajiban yang membuatku tidak bisa bebas bergerak.

Ini juga berarti aku harus segera pergi dan tidak dapat mengikuti rencana siasat selanjutnya. Di dalam bilik bhiksu kepala waktu itu sebetulnya berlangsung perbincangan seperti berikut.

’’Jika Bapak memang harus tampak terbunuh, bagaimanakah caranya Bapak melanjutkan kehidupan yang sebenarnya.’’

Bhiksu kepala tersenyum lebar.

’’Anak, Pendekar Tanpa Nama, dapatkah dikau jawab pertanyaanmu sendiri?’’

Hmm. Apakah bhiksu kepala ini bermaksud mengujikan sesuatu?

’’Harimau Perang itu tidak bermaksud membunuh Bapak,’’ jawabku, ’’melainkan cerita yang beredar jika Bapak tidak dibunuh, selain karena hanya Bapak yang mengetahui rahasia Harimau Perang.’’

Bhiksu kepala tidak menanggapi, dan menantikan kalimat selanjutnya.

”Perang bukanlah sekadar pertempuran bersenjata, melainkan pertarungan gagasan dan pemahaman, bahwa ada pihak yang menolak penguasaan dan ada pihak yang berusaha menguasai. Tidak ada kekuasaan yang tersahihkan tanpa penguasaan pikiran, karena hanya cukup melalui pikiran itulah suatu kekuasaan dapat dihancurkan.”

Bhiksu kepala itu manggut-manggut.

”Teruskan, Anak, teruskan…”

”Setelah pengepungan gagal dan para pemberontak diburu sepanjang Sungai Merah, pertempuran untuk sementara seperti selesai, tetapi perang belum dimenangkan karena para pemberontak sama sekali tidak menyerah, terutama karena pemimpin pemberontak, yang bahkan tidak diketahui siapa, tidak pernah terberitakan tertangkap atau dihukum mati. Padahal dalam perang, adalah penting untuk membunuh pemimpinnya dalam arti membunuh pikiran untuk berontak itu.”

Bhiksu kepala itu menunduk dan memejamkan mata, masih menunggu kalimat selanjutnya.

”Apalah gunanya membasmi para pemberontak, jika pikiran untuk memberontak dan menolak kekuasaan masih berada di dalam kepala setiap orang? Maka suatu peperangan memang tak hanya mengadu pasukan, melainkan berperang melawan keyakinan. Harimau Perang berusaha menamatkan cerita tentang semangat perjuangan, dengan menamatkan riwayat seorang pemimpin tersembunyi yang keberadaannya begitu nyata bagaikan dongeng. Dongeng akan dilawannya dengan dongeng, tetapi dongeng apakah kiranya yang akan kita gunakan pula untuk menanggapinya?”

Bhiksu kepala membuka mata dan menepuk pundakku.

”Dikau memahami arti perang, Anak, dan inilah rencanaku…”

Telah diketahui bagaimana aku membantu permainan ini, dengan totokan jalan darah yang akan membuatnya seperti orang mati. Bhiksu kepala sendiri telah mengolah seni pernapasan tertentu, yang tidak akan membuatnya sengaja meninggalkan dunia ini ketika menjalankan yoga langit, melainkan justru bangun kembali pada saat yang dapat ditentukannya sendiri. Apakah dirinya akan menunjukkan diri tidak dapat atau mampu hidup kembali?

”Bukan begitu, Anak, aku akan menghilang setelah mereka membakarku.”

Aku mengerti. Jika bhiksu kepala itu sekadar tetap hidup, peristiwanya mungkin hanya akan diterima sebagai gagalnya suatu pembunuhan. Namun jika ia muksa, lenyap ke langit bersama tubuhnya, maka akan diterima sebagai hidup selamanya

dan pemberontakan dianggap sebagai tidak akan dan tidak perlu padam lagi. Kemerdekaan akan menjadi sesuatu yang sah dan diimpikan setiap orang, dan tidak akan ada lagi yang dapat dilakukan, oleh Harimau Perang atau siapa pun, terhadap dongeng yang akan beredar ke seluruh wilayah pemberontakan di Daerah Perlindungan An Nam dari peristiwa semacam itu.

***

AKU masih berada di gerbang Kuil Pengabdian Sejati, tetapi tidak untuk waktu yang terlalu lama. Aku harus bergerak cepat jika tidak ingin kehilangan jejak perjalanan rahasia itu, karena tidak terdapat pesan apa pun dari Iblis Suci Peremuk Tulang perihal jalur perjalanan yang akan ditempuh. Adapun jika keterangan tentang jalur perjalanan itu didapatkannya, pun aku tidak akan dapat terlalu meyakininya, karena siapa pun yang bergerak dalam jaringan kerahasiaan seperti Harimau Perang pastilah setiap saat bisa mengubah jalur perjalanannya. Sementara itu, jika akhirnya memang aku akan melangkah masuk ke dalam keluasan wilayah Negeri Atap Langit yang luar biasa itu, terus terang aku sendiri masih merasa gamang.

Betapapun roda kehidupan tidak dapat ditunda lagi dan aku masih harus mengganti busana rahibku ini. Aku merasa sedih karena takdapat menyaksikan sendiri bagaimana bhiksu kepala akan dibakar dan saat api padam takdapat ditemukan sisa jenazahnya, sehingga akan diterima sebagai muksa, raib bersama tubuhnya, yang menandakan kebenaran sikapnya untuk menentang penjajahan. Meski dalam hal Daerah Perlindungan An Nam, setelah beratus tahun pendudukan, kebudayaan dan bahasa orang Viet yang sudah tidak dapat melepaskan diri lagi dari jejak-jejak Negeri Atap Langit membuatku berpikir bahwa penjajahan dan penguasaan itu telah pula dipandang secara berbeda. Perlawanan terhadap tertindasnya kemerdekaan itulah kiranya gagasan pemberontakan yang tidak akan pernah bisa dipadamkan. Muksanya tubuh bhiksu kepala bersama jiwanya akan diterima sebagai kesahihan untuk terus hidupnya semangat perlawanan.

KUPANDANG langit sekali lagi. Aku harus tiba di Celah Dinding Berlian lebih dahulu dari rombongan Harimau Perang. Mereka pasti berangkat sebelum terang tanah. Untung sebelumnya telah disiapkan seekor kuda yang perkasa untukku. Seekor

kuda yang diternakkan oleh orang Uighur, suku pengembara di utara Negeri Atap Langit yang dengan sendirinya membuat kuda menjadi bagian penting, jika tidak terpenting, dalam kebudayaan mereka.

Sebelum pergi kupandang ruangan balairung yang masih diterangi nyala ratusan lilin. Enam bulan lamanya aku tinggal di dalam Kuil Pengabdian Sejati ini dan begitu kuat perasaanku bahwa diriku tidak akan pernah kembali lagi.

Aku melompat ke atas kuda, memacunya segera di jalanan Thang-long yang masih kosong, melaju ke luar kota.

144: Atap Langit, Atap Peradaban

Negeri Atap Langit di bawah pemerintahan Wangsa Tang yang memegang kekuasaan sejak 618 sebenarnyalah berada pada zaman keemasan. Seperti yang telah kupelajari dari catatan para rahib Kuil Pengabdian Sejati yang pernah mengunjungi negeri itu, dapat kuceritakan setidaknya tiga pokok penting yang menunjukkan kejayaan Negeri Atap Langit.

Kemakmuran Wangsa Tang dihasilkan oleh pencerahan dalam tata cara permainan kekuasaannya, yakni tata cara pengaturan dan pemerintahan, tata cara hukum yang ketat, dan tata cara kepantasan ujian kerajaan, yang ketiganya terpadu.

Dalam tata cara pengaturan, Wangsa Tang membangun kerangka jajaran Dao dan Fu untuk memisahkan daerah pemerintahan yang satu dengan yang lain. Selama kekuasaan Zhen Guan, wilayah kebangsaan dibagi menjadi sepuluh daerah pemerintahan, yang berkembang menjadi lima belas pada masa Kaiyuan. Daerah-daerah kekuasaan terbawahkan disebut Zhou atau Fu, sedangkan yang lebih kecil disebut Xian untuk kota, Xiang untuk lima Li, sedangkan satu Li maksudnya seratus keluarga. Masih ada Cun untuk desa, Bao untuk lima keluarga, dan Lin untuk empat keluarga. Pada akhir pemerintahan Kaiyuan misalnya, dapat diketahui terdapatnya 328 Zhou dan 1573 Xian di Negeri Atap Langit.

Dalam tata cara pemerintahan, pengaturan Wang Tang melibatkan tata cara pemerintahan pusat dan tata cara pemerintahan setempat. Tata cara pemerintahan

pusat mengikuti yang telah dibangun Wangsa Sui antara 581 sampai 618, yakni Tata Cara Tiga Bagian dan Enam Kementerian. Namun ditambahkan sembilan Si dan lima Jian yang dibentuk untuk bekerja dengan enam kementerian. Tata cara pemerintahan setempat sesuai dengan kerangka pengaturan kekuasaan, tempat kepala pemerintahannya bergelar Guancha Shi atau pengamat Dao, Chi Shi atau Ta Shou yang maksudnya kepala pemerintah Zhou, maupun seperti Xian Ling, Qi Lao, Li Zheng, Cun Zheng, Bao Zhang, dan Lin Zhang.

Dalam tata cara hukum, dibandingkan dengan wangsa-wangsa sebelumnya di Negeri Atap Langit, Wangsa Tang memiliki tatacara hukum yang paling lengkap dan paling rinci. Secara umum, tatacara hukum Tang terdiri dari empat bentuk dasar, yakni Lu atau hukum kejahatan, Ling atau peraturan-peraturan badan pemerintah, Ge atau peraturan-peraturan pengaturan, dan Shi atau bentuk-bentuk surat resmi pemerintah.

Himpunan Tang Lushu Yi yang disusun semasa kekuasaan Maharaja Gaozong mewakili persyaratan hukum bangsawan, yang termasuk di dalamnya hukum kriminal, hukum pertahanan dan keamanan, hukum bagi pejabat kerajaan, hukum perkawinan dan pencatatan penduduk. Peraturan-peraturan boleh dianggap lengkap, dan ketentuan-ketentuan hukum lebih ringkas. Terutama pada awal pemerintahan Zheng Guan, Maharaja Taizong memusatkan perhatian untuk mendengarkan nasihat-nasihat bijak ketika menerapkan hukum. Dengan cara seperti ini, tata kemasyarakatan yang damai terbentuk, dan menjadi teladan negeri-negeri tetangganya di benua yang sama.

Cara lama untuk memilih orang-orang berbakat diganti dengan tata cara ujian kerajaan, yang adil dan layak untuk menguji tatacara memilih pegawai bagi kerajaan. Biasanya terdapat empat soal yang diujikan pada saatnya masing-masing, termasuk Jinshi, Mingjing, Mingfa, dan Mingyu. Ujian tingkat tertinggi disebut Sheng Shi atau ujian negara, yang diadakan tiap tahun oleh Shangshu Sheng di kotaraja Changían. Mereka yang terpilih untuk mengikuti Sheng Shi disebut Ju Ren. Peserta ujian yang lulus Sheng Shi disebut Ji D

ADAPUN yang menduduki peringkat pertama disebut Zhuang Yuan. Segenap Ji Di yang memenuhi syarat untuk maju lebih jauh akan dinilai oleh Li Bu, yang menentukan apakah mereka mendapat gelar resmi atau tidak.

Pada dasarnya, tata cara ujian kerajaan adalah suatu ujian yang memperbaiki keadaan, karena mengizinkan cendekiawan yang dilahirkan keluarga miskin untuk mendapat kesempatan menjadi pegawai kerajaan. Dari sudut kerajaan sendiri, tata cara ujian ini membantu peningkatan terpusatnya kuasa kerajaan dan mendorong kesamaan pemikiran.

Namun ini semua belum menjelaskan, kenapa Wangsa Tang pada puncak kekuasaannya lantas menjadi makmur. Kesejahteraan pada awal kekuasaan Wangsa Tang maju pesat dengan berlangsungnya perbaikan, perkembangan, dan kemakmuran. Di bawah pemerintahan Zhen Guan dan masa kegemilangan Kaiyuan, kesejahteraan negeri mencapai taraf yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam hal pertanian, sejak runtuhnya Wangsa Sui yang berkuasa antara 581 sampai 618, hasil bumi mengalami penurunan besar-besaran dan perdagangan di seantero negeri berada dalam kelumpuhan. Setelah Wangsa Tang menyatukan seluruh negeri, Maharaja Kao Tsu memusatkan perhatian kepada pengembangan pertanian dan secara berturut-turut melaksanakan rangkaian pembaruan, seperti Juntian Zhi atau tata cara penyetaraan tanah maupun tata cara Zuyongdiao. Dengan cara ini, penderitaan para petani terkurangi dan kesangkilan kerja menjadi lebih baik. Hasilnya, pembuatan alat-alat pertanian dan perkebunan pun mengalami peningkatan kecanggihan. Ditambah dengan penyelesaian kerja pengairan segera setelah berdiri Wangsa Tang, pertanian semasa pemerintahan Zhen Guan dan keemasan Kaiyuan ini maju pesat tak terbendung lagi.

Kemajuan dalam penyelenggaraan pertanian ini kemudian memberikan banyak tenaga kerja tersisa, yang disalurkan ke dalam pembuatan kerajinan tangan secara besar-besaran. Dari sisi kecanggihan, jenis, maupun jumlah yang dihasilkan, perkembangan dunia kerajinan masa Wangsa Tang melampaui pencapaian wangsa-wangsa sebelumnya. Pada umumnya cara-cara pembuatan kain cita mencapai tingkat yang canggih, seperti cara pembuatan sutera yang semakin halus

dan lembut. Pembuatan tembikar juga memasuki tahap baru, ketika selain porselin hijau pucat, ditemukan pula porselin putih maupun tembikar tanah liat berlapis kaca tiga warna. Berbagai macam pusat pembuatan kertas, penggarapan daun teh, pengolahan logam, dan perakitan kapal juga berkembang pesat pada masa ini.

Perkembangan pertanian dan pembuatan kerajinan secara besar-besaran yang pesat, memberikan dorongan kemakmuran bagi perdagangan di dalam maupun luar negeri. Barang dagang utama termasuk bahan makanan, garam, minuman keras, teh, obat-obatan, kain cita, perhiasan emas dan perak, maupun barang keperluan sehari-hari. Tumbuh kota-kota yang menjadi pusat perdagangan di seantero Negeri Atap Langit, seperti Lanzhou, Chengdu, Guilin, Hangzhou, seperti juga kotaraja Chang’an dan tambahannya, Luoyang. Di kota-kota tersebut terdapat pasar tersendiri, tempat peraturan pasar yang ketat berjalan dengan sangat baik. Sementara itu, sebagai kelanjutan pembukaan Jalur Sutera semasa Wangsa Han 1) hampir seribu tahun sebelumnya, sejumlah besar pedagang asing dan utusan resmi negara lain datang berdagang ke Negeri Atap Langit. Ini juga mendorong lintas perdagangan laut. Kapal-kapal Wangsa Tang dapat melintasi samudera di wilayah Jambhudvipa dan mencapai Teluk Persia. Kapal-kapal dagang Wangsa Tang berlayar kian kemari antara Negeri Atap Langit dan negeri-negeri di selatan maupun di utaranya, tempat kudengar cerita tentang terdapatnya binatang yang disebut singa.

Namun agaknya Pemberontakan An Shi pada 755 yang dikobarkan An Lu Shan dan baru berakhir 763 sungguh berhasil merusak kesejahteraan Wangsa Tang. Tata cara Juntian Zhi maupun Zuyongdio sama-sama hancur. Untuk mengatasi gawatnya keuangan yang disebabkan oleh pemberontakan dan kelompok-kelompok yang memisahkan diri, suatu kebijakan baru yang disebut Tatacara Pajak Ganda, berdasarkan beban waktu, diberlakukan. Dengan membebankan pajak berdasarkan kekayaan, Tatacara Pajak Ganda menghidupkan kembali pendapatan keuangan dan menjadi contoh yang bagi pembaruan pajak selanjutnya.

Kekacauan yang berlangsung akibat pemberontakan membuat penduduk di bagian utara berpindah ke sebelah selatan Sungai Yangtze, yang juga berarti membawa

tenaga kerja dalam jumlah besar dan cara-cara canggih pembuatan barang dagang ke wilayah-wilayah di selatan. Kemudian, sekarang ini, kesejahteraan penduduk di selatan berkembang sangat pesat, dan segera menggantikan wilayah-wilayah utara sebagai pusat keuangan negara. Pertanian dan pembuatan kerajinan secara besar-besaran di wilayah selatan jauh lebih memakmurkan daripada di wilayah utara.

SEMENTARA itu, banyak sekali pusat-pusat perdagangan baru yang tumbuh bukan saja pusat di kota, tempat banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru, tetapi juga di pinggiran maupun di luar kota. Adapun yang harus dicatat dari masa ini, untuk kali pertama berlangsung tata cara pertukaran mata uang, yang menunjukkan betapa perdagangan Negeri Atap Langit telah memasuki babak baru.

Dalam ilmu pengetahuan, Wangsa Tang banyak menyumbang kepada perkembangan ilmu perbintangan, obat-obatan, dan cara-cara mencetak. Ilmuwan perbintangan terkenal, rahib Yixing, adalah orang pertama yang berhasil mengukur garis bujur bumi. Adapun Raja Obat Sun Simiao, menulis buku pengobatan Qianjin Fang atau Seribu Catatan Emas Penyembuhan yang merupakan harta karun dalam dunia obat Negeri Atap Langit.

Namun entah kenapa yang sangat menarik perhatianku adalah catatan para rahib itu tentang para penyair. Semasa pemerintahan Wangsa Tang, banyak sekali penyair di Negeri Atap Langit. Tidaklah biasa bahwa jumlah penyair yang luar biasa sangat banyak dalam masa pemerintahan siapa pun di negeri mana pun, tetapi hal itu dimungkinkan semasa pemerintahan Wangsa Tang. Diawali dengan Chen Zi’ang, muncullah Lu Zhaolin, Luo Binwang, Wang Bo, dan Yang Jiong, yang segera disusul para penyair yang mengukuhkan masa keemasan tersebut, seperti Li Bai, Du Fu, Cen Shen, dan Wang Wei. Ini masih disusul Bai Juyi, Li He, dan Han Yu. 2) Para rahib itu seingatku mencatat, puisi mereka sangat beragam, mulai dari kehidupan di pedalaman, bidang kehidupan yang penuh kedamaian, cerita sejarah, dan cerita khayalan. Bukan hanya puisi, tetapi cerita panjang pun, yang sejak dahulu kala disebut Chuan Qi, mulai berkembang semasa Wangsa Tang, ketika mulai terdapat kerangka cerita yang lengkap dan berbagai macam watak. Cerita panjang itu juga

mulai bercerita tentang kenyataan hidup sehari-hari, seperti yang berjudul Zhenzhong Ji, Yingying Zhuan, dan Liwa Zhuan.

Tentu perhatianku tertarik pula kepada catatan para rahib tentang kehidupan igama di Negeri Atap Langit itu. Dari berbagai catatan, dapat kusimpulkan secara ringkas bahwa hubungan luar negeri telah menyemarakkan kehidupan negeri itu, karena tak hanya manusia yang datang bersama barang dagangan, tetapi juga keyakinan dan kepercayaannya. Maka apabila orang-orang datang belajar dari Jepun dan Korea, orang-orang yang datang dari wilayah Arab membawa merica, zamrud, dan Islam. Sejak awal Wangsa Tang berdiri, kebijaksanaan pemerintah dalam perkara igama penuh dengan kemakluman. Setidaknya Buddha dan Dao mempunyai sangat banyak penganut di Negeri Atap Langit. Semasa pemerintahan Maharaja Taizong, seorang bhiksu terkenal bernama Xuan Zang pergi mencari sutra Buddha ke Jambhudvipa. Melalui perjalanan yang susah payah, akhirnya ia mendapatkan 657 sutra, yang untuk menyimpannya perlu dibangun Kuil Angsa Liar Perkasa.

Dalam menerjemahkan sutra-sutra tua, para bhiksu semasa Wangsa Tang secara bertahap menyusun tatacara yang matang untuk menangani berbagai aliran dalam masyarakat Buddha. Bersama dengan pesatnya pertumbuhan Buddha, berbagai igama dari negeri-negeri asing seperti yang dilambangkan tanda bernama salib dan igama orang-orang Semenanjung Arab yang membuat mereka disebut orang-orang muslim, semakin memperkaya dunia Negeri Atap Langit. 3) Kisah tentang Xuan Zang yang mengembara ke Jambhudvipa untuk mendapatkan kejelasan mengenai Buddha, karena beragamnya aliran Buddha di Negeri Atap Langit yang dapat membingungkan seorang pelajar sejati, bagiku sangatlah mengagumkan.

Ajaran Buddha memasuki Negeri Atap Langit dari Jambhudvipa semasa kekuasaan Wangsa Han jauh sebelumnya, terutama sebagai igama para pedagang asing, dan tersebar bersama jatuhnya Wangsa Han dalam suatu babak yang disebut Masa Perpecahan, ketika Negeri Atap Langit terus menerus diharu biru oleh kekacauan, perang, dan kemalangan. ”Aku mengajarkan penderitaan,” demikian Buddha berkata, ”dan bagaimana menghindarinya.”

MENURUT catatan para rahib yang kubaca dengan kemampuan berbahasa seadanya, ajaran semacam itu sangat berbeda dari yang dianut Wangsa Han, yang sebetulnya merupakan tafsiran resmi negara atas Kong Fuzi atau campuran kepercayaan gaib, sihir, dan ajaran Dao, yang akibatnya menjadi tindak kesewenangan yang membuat Negeri Atap Langit terpecah-pecah saat itu.

***

SEPERTI yang kubaca, masa muda Xuanzang berlangsung pada saat Negeri Atap Langit mengalami penyatuan kembali semasa Wangsa Sui yang pendek usia. Sebagai anak pandai diterimanya beasiswa untuk belajar Kuil Tanah Murni. Ketika Wangsa Sui runtuh pada 618, Xuanzang menyelamatkan diri Chang’an tempat Wangsa Tang menyatakan pengambilalihan kekuasaannya. Ia berpindah ke Chengdu di pedalaman Sichuan, tempat ratusan rahib juga mengungsi. Kemudian ia menjelajah ke segenap pelosok, berguru kepada para rahib setempat tentang apa saja yang mereka ketahui perihal ajaran Buddha. Lantas ditemukannya betapa di antara mereka sendiri pun terdapat perbedaan yang sangat besar dalam pemahaman ajaran, dan segera menyadari sangat terbatas dan membingungkannya ajaran Buddha di Negeri Atap Langit, karena kekurangan naskah resmi yang menjadi patokannya.

Naskah-naskah Buddha di Negeri Atap Langit telah diterjemahkan pada saat dan tempat yang berbeda-beda, oleh para penerjemah yang berbeda-beda pula tingkat kemampuan dan pemahamannya atas pokok-pokok ajaran Buddha. Bahkan berlangsung terjemahan atas terjemahan atas terjemahan lagi melalui berbagai bahasa sepanjang Jambhudvipa dan wilayah tengah benua di utara Negeri Atap Langit. Xuanzang dapat menyaksikan bahwa di balik kekacauan ini terdapat Kebenaran besar, tetapi kebenaran yang hanya dapat terdapat pada naskah-naskah asli yang belum terubahkan sama sekali. Ini akan berujung dengan suatu kepergian ke Jambhudvipa untuk mengambilnya. Rahib Faxian telah pergi ke Jambhudvipa antara 399 dan 414 sebelumnya, dan Xuanzang telah pula mempelajari catatan-catatannya. Diketahuinya bahkan di Jambhudvipa pun terdapat berbagai aliran penafsiran ajaran Buddha, dan ia terutama tertarik untuk menguasai naskah

Sansekerta dari yoga sastra, yang mengajarkan bahwa ‘’yang di luar tak ada, tetapi yang di dalam ada, segalanya hanyalah kegiatan jiwa.’’

Itulah dasar Aliran Hanya Kesadaran Buddha yang kemudian didirikan oleh Xuanzang di Negeri Atap Langit. Sebagai pemikiran tak benda aliran ini tidaklah banyak pengikutnya, tetapi pengaruhnya berlangsung lama. Xuanzang masih berusia 28 ketika ia mengawali perjalanan ziarahnya ke Jambhudvipa, ziarah yang mempunyai suatu tujuan, demi kepentingan orang banyak dan bukan pribadi, yakni membawa naskah-naskah asli ke Negeri Atap Langit demi penyelamatan jiwa-jiwa yang tersesat. Selama enam belas tahun, ia melakukan perjalanan dari Chang’an melalui Gansu, melewati kota-kota oasis di sekitar Gurun Taklamakan, menuju wilayah tengah benua, melintasi berbagai negeri menuju Jambhudvipa.

Sepulangnya ke Negeri Atap Langit, ia menulis penjabaran yang rinci tentang letak tempat-tempat yang dilaluinya, dengan catatan atas orang-orang, bahasa-bahasa, maupun kepercayaan-kepercayaannya. Kemudian catatan ini menjadi kitab Xiyuji atau Catatan atas Wilayah-wilayah Barat. Tanpa disengaja, sebetulnya dalam perjalanan pulang ke Chang’an, Xuanzang melewati Dunhuang, tempat ia mendapatkan pengawalan dari Khotan atas perintah sang maharaja. Meski begitu para rahib Kuil Pengabdian Sejati yang catatannya kubaca tak berani memastikan, siapakah kiranya orang yang tergambar di dinding salah satu gua di sana, apakah Xuanzang atau bhiksu pengembara yang lain.

Dalam perjalanan ke Jambhudvipa ia melewati banyak kerajaan. Di Turfan, rajanya bermaksud menahannya, sampai pada tahap tidak membolehkannya berlalu, dan hanya terpaksa menyetujuinya setelah Xuanzang mogok makan. Sang raja begitu terperangah sehingga menyediakannya pengawalan dan perbekalan untuk sisa perjalanannya. Bahkan sang raja mengirim duapuluhempat surat perkenalan kepada kerajaan-kerajaan kecil di wilayah tengah benua yang akan dilalui Xuanzang. Mereka melanjutkan perjalanan ke oasis Kucha, salah satu tempat pemberhentian sepanjang Jalur Sutera, tempat penguasa Tokharia yang bermata biru dan berambut merah serta menganut ajaran Buddha menyambutnya. Di sanalah ia mendapat peluang berdebat dengan kaum Hinayana, yang mengikuti jalan Perahu Kecil untuk

mencaopai pencerahan, yang oleh kaum Mahayana dianggap kurang cerdas atau lebih rendah mutunya daripada jalan Perahu Besar, yang merupakan bentuk ajaran Buddha pada umumnya di Negeri Atap Langit. Perdebatan semacam itu berlangsung terus selama perjalanan Xuanzang, yang menambah pengetahuannya atas berbagai aliran dalam penafsiran ajaran Buddha itu sendiri.

SELAMA tujuh hari perjalanan melintasi pegunungan Tianshan, tak kurang dari empat belas orang, hampir separo rombongan itu mati kelaparan atau kedinginan dan membeku. Mereka pergi ke perkemahan Yehu, seorang khan di wilayah Turk, tempat surat pengantar raja Turfan sangat membantu. Khan ini pun menganjurkan agar Xuanzang tidak pergi lebih jauh lagi, tetapi akhirnya memberikan seorang pemandu berbahasa Negeri Atap Langit kepadanya, yang menemaninya sampai ke wilayah tengah benua. Dilewatinya patung raksasa Buddha yang dipahatkan pada dinding tebing di Bamiyan, diceritakannya rincian patung tersebut, dan dilanjutkannya perjalanan sampai ke Tashkent dan Samarkand, bahkan masih terus sampai Bactria di dekat Persia.

Penguasa tempat itu adalah Tardu, putera tertua Yehu, dan ipar raja Turfan. Isteri Tardu telah meninggal, dan ia pun lantas menikahi adik perempuannya sendiri, yang ternyata kemudian meracuninya. Adik perempuan itu, bersama kekasihnya, lantas merebut kekuasaan. Saat itulah Xuanzang berada di sana dan bertemu dengan Dharmasimha, yang mempelajari ajaran Buddha di Jambhudvipa; dan berjumpa pula dengan Prajnakara, seorang rahib dari wilayah dekat Kashmir. Demikianlah Xuanzang semakin dalam mengenali dan memasuki lingkungan kebudayaan Jambhudvipa, meskipun belum melintasi Hindukush menuju Jambhudvipa itu sendiri.

Ketika ia menyeberangi Sungai Kabul, ia semakin dekat ke tempat-tempat berbagai peristiwa berlangsung dalam hubungannya dengan kehidupan Sang Buddha. Ajaran Buddha itu sendiri telah mengalami kemunduran di Jambhudvipa pada saat kedatangan Xuanzang, sementara banyak kuil-kuil termasyhur yang pernah dipenuhi para rahib telah ditinggalkan dan menjadi reruntuhan…

Ia mengunjungi Sravasti, yakni Balairung Besar yang menjadi tempat Buddha bersabda menyampaikan ajaran-ajarannya, maupun Kapilavastu, tempat kelahirannya, serta Kusinagara, tempat Buddha meninggal dan diperabukan. Menurut catatan para rahib Kuil Pengabdian Sejati yang mengulas isi kitab Xiyuji tersebut, bagian yang sangat mengharukan adalah ketika Xuansang menceritakan dirinya untuk pertama kali mendekati pohon bodhi tersebut, tempat di bawahnya Buddha telah menerima pencerahan. Saat itu ia menjatuhkan dirinya di depan pohon dengan wajah mencium tanah dan menangis, bertanya-tanya dengan sedih atas dosa macam apa kiranya telah ia perbuat di masa lalu, sehingga lahir dan hidup pada zaman Wangsa Tang di Negeri Atap Langit, dan tidak sezaman dengan kehidupan Buddha sendiri di Jambhudvipa.

Selama delapan sampai sembilan hari ia tak dapat meninggalkan pohon suci itu, sampai beberapa rahib tiba dari Nalanda, kuil yang diakui sebagai tempat terbaik untuk mempelajari ujaran Buddha di Jambhudvipa, dan mengawalnya ke sana. Di Nalanda ia disambut oleh masyarakat sepuluh ribu rahib itu dengan sangat baik. Ia mengarungi seluruh Jambhudvipa, termasuk ke Benggala dan Orissa, bahkan nyaris ke Lanka, seandainya tidak terjadi kerusuhan di sana yang membuatnya sulit menyeberang. Tercatat bahwa ia sempat berada di atas kapal, ditangkap bajak laut yang ingin memanfaatkannya sebagai korban upacara, tetapi badai yang menyapu dari hutan membuat para bajak laut yang percaya takhayul itu ketakutan dan melepaskannya.

Menjelang akhir perjalanannya di Jambhudvipa, Xuansang menemui raja besar penganut Buddha, Harsha, dan menjelaskan tujuan perjalanannya. Segera setelah itu, Harsha mengirim utusan ke Chang’an, mengukuhkan hubungan antarnegara dengan Negeri Atap Langit. Sementara para rahib di Jambhudvipa menganjurkan Xuansang tetap tinggal di negeri mereka, dengan alasan bahwa Jambhudvipa adalah rumah Buddha, sedangkan Negeri Atap Langit bukanlah tempat yang tercerahkan sehingga persaudaraan Buddha akan dapat tercapai di sana. Menurut Xuansang, justru itulah yang menyebabkannya datang untuk mendapatkan naskah-naskah asli, dan karena itulah ia merencanakan kembali ke Negeri Atap Langit.

Selama berada di Jambhudvipa, sepanjang perjalanannya ia telah mengumpulkan banyak naskah dan patung. Setelah merasa tiba saat harus kembali, dilakukannya persiapan yang sungguh-sungguh, mengingat akan dilaluinya wilayah yang berat, sulit, dan berbahaya dalam perjalanannya. Meskipun begitu, ketika diseberanginya Sungai Indus yang mahaluas, bahkan dengan menunggang seekor gajah, sejumlah kitab dan patung terlempar ke sungai karena badai mendadak, dan sebagian hilang. Namun Xuansang yang pantang menyerah kembali ke Jambhudvipa, untuk mendapatkan gantinya sebelum melanjutkan perjalanan. Rombongannya terdiri dari tujuh rahib, duapuluh pemikul barang, sepuluh keledai, empat kuda, dan seekor gajah. Ia berhenti di Kashgar, kemudian Khotan, yang dicatatnya terkenal karena pasar batu permata hijau. Sampai di sini, tampaknya ia telah menjadi tersohor, begitu rupa sehingga maharaja Wangsa Tang menerintahkan raja Khotan agar menyediakan pengawalan bagi Xuansang dan rombongannya ke Dunhuang, dan dari sana ke Chang’an.

Khalayak ramai menyambut kedatangannya di Negeri Atap Langit. Maharaja Taizong berkenan menyambutnya secara pribadi, dan memintanya untuk menuliskan peta wilayah perjalanannya, yang melintasi lebih dari tujuhpuluh kerajaan, secara rinci. Begitulah Xiyuji itu diselesaikannya pada 646. Sampai saat maut menjemputnya, sang peziarah menerjemahkan ulang semua naskah yang ada, dan diterjemahkannya pula naskah-naskah yang semula tidak dikenal. Ia meninggal dunia taklama setelah menyelesaikan Sutra Berlian yang panjang dan rumit. Terjemahannya yang pernah kudengar dibacakan seorang bhiksu di Kuil Pengabdian Sejati adalah Sutra Hati, yang diungkapkan dan dikutip setiap hari di mana-mana oleh penganut Buddha di Negeri Atap Langit maupun Daerah Perlindungan An Nam. 4)

Lantas kuingat bagaimana seorang rahib mengutip Xunsuang.

jubah keigamaan takperlu diindahkan

tetapi cita-cita kebenaran batin bebas dari debu bumi

watak sempurna terlihat melalui seribu jahitan

mutiara dan perhiasan mesti serasi dengan Jiwa Utama

diaturlah malaikat melayani dengan hormat

rahib-rahib tulus dikirim memurnikan hidup kita 5)

Begitulah aku melaju di atas kudaku menyusuri jalan setapak di tepi Sungai Merah di luar kota Thang-long ke arah hulu, karena di sanalah terletak Celah Dinding Berlian yang harus dilalui siapapun jika bermaksud mengambil jalan pintas ke Negeri Atap Langit. Sembari memacu kuda secepat-cepatnya pada pagi yang sudah mulai terang langitnya, kuingat segenap penjelasan tentang Negeri Atap Langit yang sempat kubaca. Kubayangkan bukan hanya Xuansang, tetapi juga para rahib lain yang telah melakukan perjalanan panjang untuk meraih pengetahuan sebenarnya atas ajaran Buddha. Kukira perjalanan meraih pengetahuan takhanya berlaku seperti Xuansang yang mengembara ke Jambhudvipa, tetapi juga bagi para rahib yang bermaksud mendalaminya ke Negeri Atap Langit dari Daerah Perlindungan An Nam maupun negara-negara tetangganya.

Maka aku pun tiba-tiba teringat cerita seorang rahib, bahwa setelah Xuansang meninggal, seorang rahib pengagumnya yang bernama I Ching pun berangkat ke Negeri Atap Langit, tetapi melalui laut, sehingga karena itu disebabkan oleh keadaan angin, harus tinggal antara lima sampai enam bulan di Samudradvipa yang menjadi wilayah Kedatuan Srivijaya

TERNYATA selama tinggal di sana dicatatnya bahwa di wilayah itu ajaran Buddha dipelajari dengan sungguh-sungguh, takkurang dari seribu rahib dari berbagai bangsa tinggal di sana, tempat rahib-rahib Negeri Atap Langit juga datang untuk belajar dari guru-guru Jambhudvipa. 7)

I Ching, seperti pernah kudengar di Jawadwipa, lantas kubaca sendiri di Kuil Pengabdian Sejati, mencatat selama 20 tahun sejak 670-an sampai 690-an. Takkurang dari 25 tahun ia mengembara ke luar Negeri Atap Langit dan ketika kembali pada 695 membawa sekitar 4.000 naskah yang memuat 500.000 seloka Tripitaka, yang tampaknya sempat tertinggal di Kedatuan Srivijaya dan mesti

diambilnya kembali. Lantas dari tahun 700 sampai 712 diterjemahkannya 56 kitab dari Jambhudvipa menjadib 230 jilid naskah yang bisa dibaca di Negeri Atap Langit. 8)

Aku memacu kudaku tanpa pernah memperlambatnya untuk menjamin diriku tiba lebih dulu dari rombongan Harimau Perang di Celah Dinding Berlian. Setelah melalui celah itu terdapat sejumlah jalan kecil yang dapat dilalui menuju jalan besar ke Kunming, kota besar pertama di wilayah Negeri Atap Langit yang terdekat dengan Thang-long. Namun jika kehilangan jejak setelah melalui celah, tiada jaminan akan dapat melacaknya, karena banyaknya jalan kecil itu yang berada di dalam hutan, maupun banyaknya celah demi celah di antara gunung-gunung batu setelah hulu Sungai Merah dilalui. Iblis Suci Peremuk Tulang memastikan bahwa Celah Dinding Berlian adalah satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk menanti rombongan Harimau Perang, terutama, tentu saja, karena aku tidak menguasai medan.

”Dikau pun tidak dapat mengikuti mereka dari dalam kota, karena mereka akan memergokimu ketika tiba di padang-padang terbuka di luar kota,” ujarnya.

Iblis Suci Peremuk Tulang sudah tentu ingin pula pergi bersamaku, karena kematian Amrita baginya terasa sangat tidak adil, dan bagi rahib yang telah memilih jalan pemberontakan ini, rasa keadilan sangatlah banyak berbicara. Namun bhiksu kepala telah menasehatinya untuk membangun kembali kuilnya di Sungai Hitam.

”Rakyat kecil memerlukan ajaran Buddha yang bisa dipertanggungjawabkan,” kata bhiksu kepala pula, ”bukan ajaran Buddha yang bercampur dengan takhayul. Cerdaskanlah mereka seperti dirimu, dan ajarkan mereka keberanian untuk berjuang.”

Itulah sebabnya aku tidak mempunyai teman perjalanan. Ketika berpisah dengan Amrita dan menyusuri pantai Campa sampai ke An Nam, di setiap pelabuhan masih dapat ditemukan seseorang berbahasa Malayu maupun bahasa yang digunakan di Jawadwipa, sementara aku sudah sedikit bisa berbahasa Khmer. Betapapun pengaruh kebudayaan yang dibawa Wangsa Syailendra di Tanah Kambuja sangatlah jelas.

Di sini sungguh keadaannya berbeda. Sejauh telah kupelajari wilayah yang harus kutempuh, dengan pembayangan yang amat sangat sulit tentang keadaan sesungguhnya, meski setidaknya beberapa hal tentang Negeri Atap Langit telah dapat kuketahui, takdapat kuhindarkan perasaan betapa aku merasa berlayar di lautan keterasingan.

Kuda yang kupacu adalah kuda padang rumput yang diternakkan suku-suku pengembara. Ini berarti aku mendapatkan kuda terbaik dari peternak terbaik di wilayah ini. Namun sebetulnya istilah peternak tidaklah terlalu tepat, karena mengandung pengertian menghasilkan kuda sebanyak-banyaknya, sedangkan suku-suku tersebut tidak bermaksud menghasilkan kuda sebanyak-banyaknya melainkan menghasilkan kuda-kuda pilihan. Kuda terbaik diberikan kepada manusia terbaik. Adapun kuda terbaik dihasilkan oleh penjagaan kemurnian turunan, maupun persilangan cermat, dengan tujuan mendapatkan kuda yang takhanya kuat, perkasa, dan kencang larinya, tetapi juga memiliki kecerdasan dan kesetiaan.

Kudaku adalah kuda hitam yang didapatkan dari suku Uighur atau disebut juga Huihe. Demikianlah beragamnya bahasa-bahasa Negeri Atap Langit sehingga kata-kata bisa begitu berbeda untuk menunjuk hal yang sama. Suku Huihe adalah bagian dari suku-suku pengembara di utara Negeri Atap Langit yang telah membuat perjanjian dengan Wangsa Tang.

TELAH kuketahui serba sedikit, bahwa untuk menghadapi Pemberontakan An Lushan yang berlangsung dari tahun 755 sampai 762, berlangsung kerjasama segitiga antara Wangsa Tang dengan penguasa Tibet atau Tubo yang memerintah sejak 629, maupun penguasa Uighur atau Huihe yang memerintah sejak 744. 1)

Dengan demikian Wangsa Tang, untuk mengatasi kelemahan yang telah ditimbulkan oleh Pemberontakan An Lushan, terpaksa membina persekutuan dengan para penguasa di utara maupun selatan wilayahnya, yang pada masa sebelumnya tentu lebih baik ditundukkannya. Suatu persekutuan yang diterima, karena tentu saja dipertimbangkan segi-seginya yang menguntungkan. Setidaknya terdapat empat kebijakan utama Wangsa Tang yang berhubungan dengan suku-suku di luar batas negerinya. Pertama, mengirim pasukan untuk menangani pelanggaran batas oleh

para bangsawan suku-suku tersebut; kedua, membiarkan pemimpin suku-suku pinggiran tersebut memerintah di wilayah mereka sendiri, dengan tatacara pengaturan dari pemerintahan Wangsa Tang; ketiga, menikahkan puteri-puteri istana Wangsa Tang dengan para pemimpin suku, untuk membina rasa kesetaraan dua pihak; keempat, berdagang dan saling menukar penghargaan, seperti dengan Huihe berlangsung pertukaran sutera dan kertas dengan kuda. 2)

Jadi kuda hitam yang kutunggangi ini dapat berada dalam penanganan istal pemerintah Daerah Perlindungan An Nam karena datang dari utara, menyeberangi Negeri Atap Langit, untuk keluar lagi ke selatan. Ini menyangkut jarak beribu-ribu li. Kecerdasannya membuat kudaku dapat melaju tanpa kuarahkan lagi. Apabila padang ilalang di tepi sungai telah habis, dan jalan menyempit memasuki hutan, dan keluar lagi di pegunungan batu, ia seperti telah mengetahui jalan yang harus ditempuhnya, karena tentu memang pernah melewatinya.

Maka sembari melaju, aku dapat mengarahkan perhatian atas pemandangan di depanku dan betapa aku sungguh terperangah dan terpesona. Pegunungan batu itu puncak-puncaknya serba menjulang dan jurangnya curam serta dalam. Aku bagaikan berada di lautan puncak-puncak gunung batu yang segalanya berwarna kelabu. Apabila kemudian aku tiba di ketinggian, maka kabut semakin mengelabukan segalanya, membuat aku tenggelam dalam dunia kelabu. Kini aku ingat, pemandangan semacam ini sering terdapat dalam gambar-gambar yang menghiasi kitab-kitab dari Negeri Atap Langit. Meski kemampuanku mengeja aksaranya masih terbatas, sangatlah kunikmati gambar yang menjelaskan kata-kata tentang tempat atau pemandangan yang diceritakannya, dan sekarang betapa pemandangan itu menjelma.

Pemandangan. Baru kusadari betapa bertuahnya kata itu. Kudaku yang takperlu membuatku terlalu peduli dengan tali kekang, karena ia tahu di mana dapat melaju kencang dan di mana harus berjalan pelan, bahkan melangkah hati-hati menuruni jurang, dan juga di mana berhenti sebentar demi pesona sebuah pemandangan, membuat diriku mendapat banyak kesempatan mencerap segala sesuatu sejauh mata memandang. Maka kuserap semuanya ke dalam diriku pemandangan langit

bertemu dengan permukaan lautan kelabu gunung batu itu, tempat cakrawala membentang kekelabu-kelabuan sejenak sebelum lenyap segalanya di telan kabut yang sebentar pekat sebentar berpendar.

Kudaku tahu bagaimana berjalan di antara kabut yang memekat tiba-tiba dan tidak memperlihatkan apapun selain bunyi denging tanpa suara yang baru kemudian akan ternyatakan berasal dari dalam hati. Ketika kemudian kabut itu menjauh bagaikan arakan mega tertiup angin maka tampaklah kembali pemandangan yang ternyata telah berubah. Ada kalanya kudaku membawaku ke puncak gunung batu, tempat pemandangan menghampar dapat disaksikan dari tepi jurang yang curam, di kala lain kudaku membawaku turun dalam kedalaman jurang, sehingga perjalanan menyadarkan betapa pemandangan bukanlah segala sesuatu yang tampak di depan mata melainkan dunia tempat kita berada di dalamnya. Suatu kesadaran yang terasakan bagai keberadaan semesta yang menelan kita.

Mungkinkah aku menyatakan sesuatu sebagai berada di hadapanku, sebagai pemandangan yang dapat kurinci dan kuceritakan, seolah-olah aku berada di luar pemandangan itu, sementara aku ternyata berada di dalamnya? Aku hanya dapat menyatakan keberadaan, sedangkan keberadaannya ditentukan oleh pemandangan yang selalu berubah. Begitulah kuarungi pemandangan demi pemandangan dalam alam kekelabuan serba luas yang memberikan kepadaku suatu gejolak dan gelombang perasaan

Kukira memang begitulah seharusnya jika disebut sebagai Celah Dinding Berlian. Namun di sini tidak kulihat matahari sama sekali karena segalanya hanya kelabu. Mega-mega kelabu menutupi matahari, kabut mengendap meredam setiap cahaya, dan dinding-dinding tebing raksasa yang serba kelabu mengabu-abukan dunia ke mana pun aku memandang.

Tentu ada yang tidak kumengerti dari keadaan ini sehubungan dengan tugas yang kujalani. Mungkinkah aku mengikuti rombongan Harimau Perang yang dikawal duapuluh pengawal pilihan tanpa diketahui? Bahwa yang diikuti sulit melepaskan diri tentu telah dijelaskan keadaan medan, tetapi tidakkah yang membuntutinya pun nanti akan mudah dipergoki? Kuperhatikan jalan setapak ini, ada yang masih

bertanah dan berumput, tetapi tidak kurang dari jalan setapak yang hanya berbatu-batu, yang berarti takmungkin kucari jejaknya di