Tugas Rahasia

New Picture (5)df

Tugas Rahasia

Karya : Gan KH

Ebook Pdf by Dewi KZ

Berdasarkan file DJVU yg dikonvert oleh BBSC

Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid ke : 1

Mega mendung, cuaca buruk hawa lembab, dalam keremangan yang kelabu ini Kim-hou po (benteng macan emas) yang terbuat dari susunan batu bata kelabu itu kelihatan seram, misterius diliputi warna beku. Benteng besar itu didirikan dtatas dataran tinggi dengan pagar tembok dua tombak tingginya, panjangnya mencapai puluhan li. Dari luar tiada orang pernah melihat bagaimana keadaan di dalam benteng, kecuali burung yang terbang diudara Dan kenyataan udara diatas benteng macan emas tidak kelihatan ada burung terbentang melintas, maklum sekitar benteng adalah tanah tandus, sepucuk pohonpun tiada, karena tiada pepohonan tiada tempat untuk berpijak dan membuat sarang, maka jarang ada burung yang terbang di sini.

Benteng itu memang mirip iblis raksasa yang sedang mendekam diatas sebuaji bukit rendah, kecuali warna kelabu, seluruh benteng itu hanya dihiasi dua kepala harimau besar yang terbuat dari emas, dua kepala harimau yang dipasang diatas pintu gerbang dengan menggigit dua elang besar yang terbuat dari emas pula, gelang emas itu sebesar lengan bayi, beratnya pasti seratusan kati. sementara kepala harimau itu ada orang pernah naksir beratnya ada tiga ribu kati, maklum karena terbuat dari emas murni.

Dalam Bulim (dunia persilatan) sering terjadi pertikaian, hanya lantaran belasan tahil emas. Tapi ribuan kati emas murni jang berbentuk kepala harimau ini menjadi pajangan pintu, entah sudah sekian tahun lamanya beiada di sana. tidak sedikit orang yang lewat di daerah ini, dari jauh sudah melihat adanya warna kuning kemilau dari kepsla harimau dan gelang besar yang tergigit di-muluti ya, selamanya takkan ada yang berani menyentuhnya.

Kim-hou-po boleh dikata merupakan benteng yang palin misterius di Bulim. Begal besar, perampok yang paling ganas, bila sudah kepepet karena tiada tempat berpijak karena takut di buru hukum, jalan satu-satunya pasti akan masuk ke Kim-hou-po. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Demikian bagi seorang persilatan karena diburu musuh besarnya, keluarga terbunuh habis, pada hal kekuasaan musuh besarnya tersebar luas diempat penjuru, demi menyelamatkan jiwa. terpaksa dia pun masuk ke-Kim-hou-po.

Bagi setiap insan persilatan yang punya hoby belajar silat dan menuntut ilmu yang lebih tinggi, setelah gagal dalam usahanya mengembara di Kangouw untuk mengejar kungfu, akhirnya diapun akan pergi Kim-hou-po. Pokoknya setiap insan persilatan bila menemukan jalanbuntu, entah karena persoalan apa, demi mencapai cita-citanya, secara langsung dia akan teringat pada Kim-hou-po.

Tapi ada apakah sebetulnya rjdalam Kim-hou-po? Tiada orang bisa merjelaskan karena tiada seorang manusia yang sudah masuk kedalam Kim-hou-po perrah keluar pula dan muncul dikalangan Kangouw

Didalam Kim-hou-po mungkin mereka hidup senang, atau mungkin sudah lama mati atau. . . . hakikatnya tiada oran tahu. namun asosiasi kaum persilatan terhadap Kim-hou-po tidak pernah berobah, bila menghadapi jalan buntu serta merta mereka akan hijrah ke dalam Kim-hou-po.

Sudah tiga hari tiga malam Ciong Tay pek mendekam dalam lobang galiannya ditanah berdebu ditanah belukar, setengah li jauhnya diutara Kim-hou-po. Untuk mendekam didalam lobang galian seperti kelinci selama itu sudah tentu bukan pekerjaan yang enteng dan segar, kalau tidak mau dikatakan merupakan siksa, tapi Ciong Tay pek justru kuat bertahan, selama tiga hari tiga malam itu, dia jarang tidur, seluruh waktunya dihabiskan untuk memperhatikan dan mengawasi gerak gerik Kim-hou-po, namun selama tiga hari tiga malam itu. pintu gerbang benteng besar itu hakikatnya tidak pernah terbuka barang sekejappun.

D bawah kaki bukit dimana benteng raksasa itu berdiri, dibangun dua deret rumah batu. Dalam rumah batu yang besar dan panjang itu dipelihara tidak sedikit kuda dan orang-Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang yang merawatnya. Bila kebetulan arah angin menghembus keutara dari tempat persembunyiannya Ctong Thay pek sering mendengar ringkik kuda, kadang kala didengar nya pula gelak tawa orang, pernah pula dia melihat bayangan beberapa orang yang mondar mandir, tapi orang-orang itu semua ber-seragam hitam dengan tutup kepala hitam pula, sering orang-orang berkedok itu menunggang kuda secara berombongan dibedal ditanah tandus pegunungan menimbulkan kepulan debu kuning, kelihaiannya tugas mereka adalah mengasuh dan merawat kuda-kuda itu atau pesuruh dan kuli. karena sering Ciong Thay-pek mendapatkan mereka mengeluarkan kereta memuat buntalan-buntalan besar entah apa isinya diangkut keatas bukit dan berhenti dibawah pagar tembok lalu mengerek bantalan itu kedalam.

Bahwasanya Ciong Thay-pek belum pernah melihat seorangpun wajah penghuni Kim-hou-po. Pada hal begitu besar hasratnya untuk tahu keadaan didalam Kim-hou po. sayang dia bukan burung yang punya sayap dan bisa terbang diudara mengintip dari udara.

Pagi hari keempat, akhirnya Ciong Thay-pek melompat keluar dari lobang galiannya. Ciong Tay-pek adalah seorang pemuda berperawakan kurus dengan pakaian yang compang camping, baju yang sudah rombeng itu tidak dapat membungkus badannya yang kurus, sehingga kelihatan didepan dadanya dihiasi sebuah tato biru berhentak seekor kupu-kupu besar. Walau badannya kurus, tapi wajahnya menampilkan sikap tegas, sorot matanya tajam penuh tekad, seolah olah tiada seuatu kekuatan apapun didunia ini dapat mencegah dia melakukan sesuatu bila dia sudah punya tekad untuk meakukannya.

Setelah berdiri dia menepuk badan membersihkan debu yang melekat dibadannya lalu melangkah lebar kedepan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hari ini cuaca cerah ceria, sang surya memancarkan cahayanya yang berderang semakin jauh dia beranjak kedepan, kepala harimau dan gelang emas di atas pintu gerbang Kim-hou-po semakin menyolok mata ,langkahnya memang lebar, jarak setengah li ditempuhnya dengan cepat akhirnya dia tiba didepan dua deret rumah batu panjang, sejenak dia berdiri.

Banyak orang didepan rumah, tapi semua sibuk akan pekerjaan sendiri, Giong Tay-pek celingukan memandang beberapa orang yang mondar-mandir didepannya, akhirnya dia mengulum senyum getir. Orang-orang itu semua berpakaian hitam dengan kerudung kepala hitam pula jadi tidakkelihatan wajahnya hanya perawakan mereka saja yang berbeda tinggi rendah kurus gemuk, namun selintas pandang Ciong Tay-pek sudah tahu bahwa orang-orang ini semua memiliki kungfu yang cukup tinggi.

Ternyata kehadiran Ciong-Tay-pek di antara mereka tidak menimbulkan perhatian, tiada satupun yang melirik atau menegor diri nya, maka dia meneruskan jalan kedepan melewati kedua deretan rumah itu dan tiba dijalan miring yang menuju keatas bukit, di mana benteng raksasa berdiri, sejauh ini orang-orang itu. tetap diam, tiada yang menegurnya

Ciong-Tay-pek memanjat keatas lewat jalan yang serong terus maju kedipan pintu gerbang Kim-hou-po. Setelah menarik napas, dia ulur tangan memegang gelang emas disebelah kiri, gelang emas ini memang berat, baru saja dia memegang dan belum mengetukkan keatas pintu, maka terdengarlah seorang serak tua berkata: “Tunggu.”

Suara “tunggu” ini kedengarannya berat menggelegar laksana guntur yang menyelinap keluar dari cela-cela pintu, hingga badan Ciong Tay pek bergetar, lekas dia menegakkan badan lalu mengingat kata-kata yang sudah dirangkaikannya serta pernah diucapkan dainm hati ribuan kali, maka suaranya terdengar mantap: “Cayhe (aku yang rendah) Ciong Tay-pek, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ingin mencari perlindungan di Kim-hou po. jikalau diterima, selama hidup ini rela bekerja dan setia bagi Hou- pocu” waktu mengucapkan perkataan, jantung berdebar, namun sekuatnya dia menekan perasaannya.

Ciong Tay-pek tahu bukan kejadian aneh bila seseorang mengetok pintu minta perlindungan kepada Kim hou po. Sementara ada pula suatu ketentuan dari pihak Kim-hou-po yang harus dipatuhi, setiap orang yang datang minta perlindungan tidak pernah ditanya asal usul dan tujuannya. Peristiwa terjadi sejak delapan tahun yang lalu, Se-san-liok yan (enam siluman dari gunung barat) karena bertumpuk kejahatan yang pernah dilakukan, sehingga menimbulkan kemarahan masa. kaum persilatan bergabung mengeroyok mereka, setelah diadakan rapat terbuka di Siong-san. berbagai perguruan silat dari aliran terus sepakat untuk mencari jejak Se-san liok-yau serta menumpasnya, dalam suatu pertempuran sengit empat dari keenam siluman itu hasil dibunuh, dua lagi yang masih hidup sempat melarikan diri dan mencari perlindungan di Kim hou-po.

Sudah tentu Ciong Tay-pek tahu, sesuai ketentuan pihak Kitn-hou-po tidak akan menanya asal usul dan maksud tujuannya, padahal dia sendiri tahu bahwa kedatangannya bahasanya memikul suatu tugas rahasia, tugas khusus.

Bukan mustahil sejak Kim-hou-po berdiri dibukit rendah diutara sungai besar ini, selamanya belum pernah ada seorang yang mempunyai tekad dan maksud tujuan seperti dirinya memasuki Kim-hou-po. Bahwa Ciong Tay-pek berani melakukan sesuatu tugas yang belum pernah orang lain lakukan, jelas dia bukan manusia yang bernyali kecil. namun bila dia terbayang akan berita yang tersiar luas diluar, betapa misteriusnya Kim-hou-po ini, jantungnya masih berdebar dengan keras.

Maka terdengar pula uara serak tua itu separah lebih berat dari patah yang terdahulu serasa mendengung telinga Ciong Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thay-pek ,,Kim-hou-po tidak pernah menolak kedatangan siapapun tapi harus diketahui, bila gelang emas diatas kepala harimau diketuk, bila pintu gerbang terbuka, maka kau harus masuk. Setelah masuk kecuali memperoleh jdziu dari Pocu (ketua atau pemilik benteng), selama hidup siapapun dilarang meninggalkan benteng ini.”

Jari jemari Ciong Tay-pek masih pegang gelang emas itu, tanpa merasa telapak tangannya sudah berkeringat dingin. Dia maklum kalau sekarang dia membatalkan niatnya masih ada kesempatan. Tapi dia justru menjawab lantang : „Aku tahu.”

”Bagus,” ucap suara serak tua itu, ”kau boleh ketok.”

Ciong Tay-pck menarik na?as dalam dengan keras dia ketukan pelang emas itu di atas pintu suaranya berkumandang tapi tidak begitu keras, namun hanya sekejap dua daun pintu gerbang itu pelan-pelan terbuka, namun pintu besi itu hanya terbuka selebar empat lima dim jadi hanya celah-celah belaka, cukup tiba untuk seseorang menyelinap masuk.

Tanpa bimbang Ciong Tay-pek lantas menyelinap masuk, waktu dirinya mendekam tiga hari tiga malam dilobang galian ditanah tegalan itu, dalam hati sudah ribuan kali dia memikirkan persoalan Ini, maka sekarang tak perlu dipikir lagi, dengan miring tabuh segera dia sudah berada dibalik kedua daun besi besar itu.’

Begitu dia menyelinap masuk kedua daun pintu besar itupun lekas merapat pula dengan suara gemuruh. Waktu Ciong Tay pek angkat kepalanya, dirinya berada disebuah lorong panjang yang sempit, kedua sisi adalah tembok batu yang tinggi. Delapan kaki didepannya tampak sesosok bayangan orang yang bungkuk berdiri membelakangi dirinya pelan-pelan orang bungkuk ini beranjak ke-depan.

Akhirnya Ciong Tay-pek sudah berada didalam Kim-hou-po, melangkahkan kakinya d i dalam benteng raksasa yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dipandang amat misterius oleh kaum persilatan. Meski hanya lorong sempit panjang yang dihadapinya tapi dia bingung tak tahu bagaimana dia harus berbuat. Untunglah orang bungkuk didepan itu bersuara ”Ikut aku.”

Itulah suara serak tua yang didengar Ciong Tay-pek waktu dia masih berada diluar pintu tadi, didalam lorong sempit ini kedengarannya mendengung dengan volume suara yang menggetar genderang telinganya.

Tersipu langkah Ciong Tay-pek beranjak kedepan. Dia tahu Lwekang (tenaga dalam) kakek bungkuk ini ternyata sudah diyakinkan setaraf itu, pasti sebelum ini adalah seorang jago kosen didunia persilatan.

Tapi setelah sekarang dia berada di Kim-hou-po, terhitung apa pula dia ? Sembari berpikir Ciong Tay-pek melangkah kedepan, dengan tangkah lebar, kakek bungkuk didepannya kelihatannya berjalan tertatih-tatih namun meski Ciong Tay pek sudah mempercepat langkah dan melebarkan tapak kaki nya tetap dia berada dibelakang si kakek dalam jarak yang sama. Akhirnya mereka sudah keluar dari lorong sempit itu, diujung lorong terdapat sebuah gardu yang dipajang amat indah dan serba antik, sayup-sayup Ciong Tay-pek mendengar percakapan dan cekikik tawa lembut dari dalam gardu, seperti cekikik seorang gadis lembut yang berhati polos sedang berkelakar, siapapun mendengar tawa lembut itu pasti merasa longgar dan bebas perasaan.

Begitu berada didepan gardu kakek itu lantas berhenti, tapi begitu berhenti dia lantas membalik badan,sehingga Ciong Tay-pek tetap tidak bisa melihat raut wajahnya, namun dikala orang berputar itulah sekilas Ciong Thay-pek menangkap tanda merah berbentuk hati dipipi kiri orang.

Seketika benak Ciong Tay pek teringat pada seeorang. Sesaat dia berdiri melenggong dengan mulut terbuka lebar, teraba keringat dingin mengucur di punggung menyentuh pinggang alat itulah si kakek sudah bersuara pula: “Masuklah.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bahwasanya hati dan perasaan Ciong-Tay-pek sudah tidak karuan, bentakan si kakek juga mendadak pula sehingga perasaannya semakin gundah dan hatinya, tanpa sadar dia beranjak kedepan mendorong pintu terus melangkah masuk kedalam gardu tertutup itu.

Bagi seorang lelaki yang jiampu bertahan tiga hari tiga malam mendekam dalam lobang tanah ditegalan, keadaan garda dengan perabot serba antik ini sudah tentu merupakan dunia lain yang teramat mewah. Baru saja kaki melangkah masuk hidung sudah dirangsang bau wangi, begitu dia angkat kepala, diantara pajangan yang serba mewah dan molek dengan aneka warna cerah, dibelakang sebuah meja bundar kayu cendana, duduk seorang cewek cantik, sanggul sang terhias berbagai hiasan dengan pakaian kuno laksana putri keraton, mata yang jeli mengerling, senyum yang menawan hati pula, suaranya merdu: “Silakan duduk,” dua patah kata yang mengandung maknit, seperti tersedot saja Ciong Tay pek beranjak kesamping lalu duduk didepan meja bundar.

Sebening kaca sepasang bola mata cewek jelita ini menatap wajah Ciong Tay-pek, yang dipandang menjadi risi dan malu tertunduk, hanya sepasang tangan cewek jelita saja yang diamat Pada saat itu pula jantung Ciong Tay-pek seketika berdebar-debar.

Demi suatu tujuan rahasia dia bertekad menyelundup kedalam Kim-hou-po untuk mencapai maksudnya ini dia sudah menyembunyikan asal-usul merobah nama, serta berguru ke Tay-seng-bun dikota Cu seng di Shoa-tang. Tay-seng-bun tidak memiliki Kungfu yang lihay atau tinggi, tapi perguruan ini terkenal dengan tujuh puluh dua perobahan tata riasnya, jadi aktifitas perguruan ini kalau bukan mencuri, ya merampok, menipu atau perbuatan kotor apa saja yang dipandang hina dina. Selama setahun Ciong Tay-pek merendahkan derajat, menutup tali batinnya ikut aktif dalam berbagai kegiataan kotor didalam Tay seng bun waktu dia meninggalkan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perguruan ini. dia beranggapan banwa kepandaian tata rias yang dikuasai..ya sekarang sudah terhitung nomor satu didunia ini kalau tidak mau dikatakan termasuk kelas wahid.

Kini dikala dia mengawasi sepasang tangan si cewek jelita ini, sepasang tangan putih halus laksana batu jade dengan jari-jari runcing berkuku panjang, begitu halus dan moleknya sehingga lelaki manapun yang melihatnya akan terbangkit nafsu birahinya.

Tapi Ciong Tay pek yang sudah ahli ini sudah yakin bahwa sepasang tangan itu palsu, dibalik kepalsuan sepasang tangan yang halus molek itu bukan mustahil adalah tangan yang kurus kering, dengan jari-jari seperti cakar burung, hasil dari keahlian sepasang tangan yang udah beken dalam bidangnya ini. sehingga langan yang buruk dan menyeramkan itu sekarang kelihatan begitu halus dan menyenangkan, jelas kepandaian ini jauh masih berada diatas kepandaian tata rias yang pernah diperolehnya dari Tay-seng- bun, meski dalam perguruan itu seluruhnya mempunyai tujuh puluh dua jenis tata rias yang berbeda dengan perobahan-perobahan yang tidak kentara.

Bahwa cewek jelita ini juga seorang ahli dalam soal rias merias, adalah logis kalau CiongTay-pek amat terperanjat, lalu maksud kedatangannya apakah masih dapat mengelabui lawan? Tanpa terasa punggungnya seperti dijalari ribuan semut, itulah keringat dingin yang bercucuran.

Didengarnya cewek jelita itu berkata lembut: “Angkat kepalamu.”

Tanpa sadar Ciong Tay-pek angkat kepala nya mengawasi cewek yang ayu jelita didepannya, jantungnya berdebar srmakin keras. Sebelum berguru ke Tay-seng bun yang memiliki tujuh puluh dua kepandaian perobahan tata rias Ciong Tay-pek sudah memiliki Kungfu yang lumayan, Ciangbun (pemimpin) Tay-seng-bun amat sayang dan memberi kepercayaan penuh kepadanya, pernah dalam suatu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

percakapan gurunya itu memberi tahu bahwa Ja-li-pay dari Persia terhitung nomor satu diseluruh jagat dalam kepandaian tata rias alias make up.

Tapi anggota Ja li-pay tiada yang pernah datang keTionggoan. Anggota seluruhnya adalah nenek-nenek yang sudah berusia enam puluhan, tapi mereka mampu merias dan berdandan sendiri menjadi seorang gadis tujuh belas tahun yang cantik molek, orang lain tidak akan mampu melihat kepalsuannya. Kepandaian lain yang lihay dari Ja-li-pay adalah Ja-li bi-hun (ilmu sihir), seseorang bila terpengaruh oleh ilmu Ja-li-bi-hun segala persoalan yang terkandung dalam sanubari-bisa dilimpahkan tanpa tedeng aling-aling kepada orang yang mempengaruhi pikirannya.

Sekarang Ciong Tay-pek sudah yakin bahwa cewek jelita dihadapannya ini adalah perempuan yang berkedok, dengan sejenis obat-obatan khusus menoleh kulit mukanya kulit yang kerat keriput di mukanya akan segera kelihatan.

Dari berita yang tersiar luas di Kangouw Ciong Tay-pek sudah tahu bahwa pihak Kim-hou-po selamanya tidak pernah tanya asal usul dan tujuan seseorang yang mencari perlindungan didalam bentengnya, kenyataan hal itu tidak benar karena mereka memiliki cara lain yang amat manjur, sehingga pendatang baru itu akan tunduk dan menyerah lahir batin serta secara suka menuturkan isi hatinya.

Pelan-pelan Ciong Tay-pek menarik napas panjang, hatinya amat kalut. padahal dia tahu untuk menolak daya kekuatan Ja-li-bi-hun, dia harus mengkonsentrasikan pikiran, serta menyalurkan tenaga murni dalam badannya, kedua tangannya mengepal kencang jari tengah tangan kanannya mengincar Lau-kiong-hiat ditelapak tangan kiri sendiri.

Cewek jelita itu tertawa merdu, katanya: ”Siapa namamu? Untuk apa masuk kebenteng ini ?’ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Segera Ciong Tay-pek menjawab: ”Aku bernama . . . .” hampir saja dia menyebut nama aslinya, karena suara si cantik memang sedemikian merdunya punya dayi tarik luar biasa bagi sehingga setiap lelaki rasanya tidak akan berbohong pula kepadanya. Tapi tidak sia-sia usaha persiapan Ciong Tay-pek selama setahun didalam Tay-seng bun, maka segera dia menyambung: ”..Aku bernama Ciong Tay-pek. karena diuber uber musuh dan menemukan jalan buntu, terpaksa mencari perlindungan ke Kim-hou-po.”

Agaknya sicantik amat puas akan jawaban Ciong Tay-pek, dengan tawa cekikikan dia berdiri, katanya : ..Sekarang kau sudah berada didalam Kim hou po, boleh legakan hatimu. Tapi kau harus ingat, didalam benteng kau akan bertemu dengan banyak orang, kau dilarang tanya asal usul dan nama mereka, lebih baik percakapan keras dan panjang lebar juga harus kau hindarkan. Kehidupan dalam benteng tentram dan sejahtera, laksana kehidupan dalam kalangan dewa-dewa, betapapun tinggi Kungfu, sekali kali tidak boleh mendemonstrasikan kepandaianmu didalam benteng. Lebih penting lagi setelah berada di Kim-hou-po maka jangan punya pikiran lagi ingin keluar dari sini.’

Ciong Tay-pek ikut berdiri serta mengiakan dengan hormat sambil munduk.

..Baiklah, kau sudah lulus.” ucap si cantik, ‘”boleh terserah kemana kau mau mencari tempat tinggal, akan datang orang nvelayani segala keperluanmu, jangan lupa pesanku, Begitu memutar badan si cantik mengeluarkan bebauan wangi, melangkah gemulai keluar pintu belakang. Dikala si cantik membelakangi dirinya, sudah timbul hasrat Ciong Tay-pek menyergapnya dengan tutukan mematiikan di Hiat-to (jalan darah) mematikan dipunggungnya. Tapi dia telan mentah-mentah keinginannya itu. karena dia sadar dirinya baru tiba, segala sesuatunya tidak boleh sembrono, langkah selanjutnya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia harus mencari tahu keadaan dan situasi di Kim-hou-po, baru menentukan langkah selanjutnya.

Dengan pandangan mendelong dia antar bayangan si cantik keluar pintu. lalu pelan-pelan diapun beranjak keluar. Diluar adalah sebuah taman kembang yang besar, waktu masih diluar benteng siapapun takkan pernah membayangkan bahwa didalam benteng tinggi yang serba misterius ini terdapat sebuah taman kembang yang permai, tanah berumbut menghijau halus seperti permadani, di sana sini tertaman berbagai jenis tanaman dan Kembang-kembang yang belum pernah dikenalnya, empang teratai, gunungan palsu serta gardu-gardu pemandangan, demikian pula loteng-loteng mungil ditengah taman yacg tersebar luas itu.

Tepat ditengah taman kembang ini terdapat sebuah telaga buatan dengan airnya yang jernih bening sehingga kelihatan dasarnya. Dipermukaan air mengambang daun teratai yang bundar besar dengan bunga teratai yang lagi mekar semerbak, menambah semarak keadaan taman yang memabukan ini.

Didalam taman ini terdapat bauyak orang, tapi setiap orang sibuk akan pekerjaan masing masing, malah suasanapun hening lelap tiada terdengar suara berisik sedikitpun. Tampak oleh Ciong Tay-pek dibawah sepucuk pohon murbei seorang kakek perawakan tinggi kurus sedang meniup seruling, jari jemarinya kelihatan bergerak dengan lincah dan mahir, tapi serulingnya itu tidak mengeluarkan suara.

Lebih banyak orang lagi yang berjalan-jalan menghirup hawa segar ditengah taman, namun sikap dan mimik wajah mereka kelihatan santai dan tak acuh akan keadaan sekelilingnya, seperti dalam taman kembang besar dan luas ini adalah milikku, hanya aku saja yang sedang berada ditengah taman kembang ini, umpama mereka jalan berpapasan satu dengan yang lain juga dianggap tidak melihatnya sama sekali. Pida hal serirg terjadi dua orang sudah hampir Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertabrakan namun secara mendadak keduanya bisa menyingkir sendiri secara tangkas. Jelas dalam saat-saat yang menentukan itu mereka berbareng menggunakan gerak tubuh dan langkah kelas tinggi yang teramat lihay

Waktu masih diluar benteng Ciong Tay-pek sudah ribuan kali membayangkan keadaan didalam Kim-hou-po dengan berbagai kayalannya. tapi apapun tak pernah diduganya beginilah keadaan gata didalam Kim-hou-po ini. Pelan pelan dia beranjak kedepan, dibawah gunungan yang terbuat dan batu-batu karang laut, ada beberapa lelaki ubanan tengah duduk bermain catur. Tapi mereka bukan main berpasangan, satu lawan satu, tapi bermain sendiri-sendiri tanpa lawan. Biji-biji catur merekapun beraneka ragam warnanya, ada yang terbuat dari emas murni perak atau batu jade. ternyata ada pula yang terbuat dari mutiara. Ciong Tay-pek berdiri sekian lamanya d samping seorang kakek, ternyata si kakek tetap sibuk dengan permainan, jangan kata menyapa melirikpun tidak kepadanya.

Dipinggir telaga banyak pula yang sedang mengail, Ciong Tay-pek melihat seorang lelaki besar memegang joran panjang dua tombak sebesar lengan tangan orang, bobot joran itu yakin ada ratusan kati, tapi lelaki besar itu hanya memegang joran dengan kekuatan jari-jari tangannya diujung pangkalnya, namun sedikitpun tidak kelihatan makan tenaga. Melihat lelaki ini mau tidak mau tercekat hati Ciong-Tay-pek, bagi orang lain mungkin punya kesan din bisa kecurigaan yang mendalam, karena Ciong Tay-pek pernah sekali melihat orang ini, yaitu Kim-kong-kan Sulo Hou, murid-murid dari Thi-kan bun yang membunuh empat puluh tujuh jiwa keluarga gurunya dan dipandang sebagai musuh bergama kaum persilatan umumnya. Waktu itu dia terkepung dan sedang pertarung sengit melawan beberapa jago silat lihay yang mengeroyoknya, namun akhirnya dia berhasil melarikan diri dengan membawa luka luka parah. Gaman yang selalu dibawanya adalah joran yang terbuat dari baja itu, joran Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

raksasa yang tiada tandingan di jagat ini. Sekarang manusia durjana, besar yang telengas itu sedang duduk dipinggir telaga, seluruh perhatian dicurahkan diujung kailrya, seperti tiada manusia lain yang hidup disekitarnya.

Ciong Tay-pek terus maju kedepan, tampak pemuda dengan berdandan Kacung langsung menhampiri dirinya seria menyapa: ”Kau baru datang? silakan ikut aku.”

Ada orang mengajak bicara dirinya Ciong-Tay-pek merasa diluar dugaan, namun lekas dia mengiakan. Ternyala pemuda itu juga tidak banyak mulut, langsung dia putar badan terus beranjak kesana, tak lama kemudian mereka telah menyusuri rumpun kembang memasuki sebuah bangunan berloteng besar, serambi panjang telah mereka telusuri, sepanjang jalan ini tidak sedikit orang-orang yang berpapasan dengan mereka, tapi setiap orang itu sama, seolah-olah hanya dia sendiri yang menghuni Kim-hou-po ini.

Akhirnya pemuda itu membawa Cinng Tay-pek memasuki sebuah lorong panjang terus membelok ke sebuah serambi, mendorong sebuah pintu serta berkata: ”Bagaimana kamar ini?”

Ciong Tay-pek mengangguk, sahutnya: „Bagus sekali saudara, cilik, kenapa orang-orang disini semua tiada yang berbicara7″

Pemuda itu melerok sekejap kepada Ciong-Tay-pek katanya;„Waktu kau datang apakah nona Ho tidak berpesan apa-apa kepadamu?” habis bicara dia terus melangkah pergi. Kebetulan di serambi luar tiada orang, mendadak dia ulur tangan mencengkram kepundak si pemuda, gerak cengkraman jari tangan Ciong-Tay-pek boleh di kata cukup cerat dan lihay, tapi pundak si pemuda seketika mengedap kebawah, kelihatannya seperti tidak sengaja, namun cengkraman tugas rahasia Ciong Tay-pek telah dihindarkan dengan baik. Karuhan kejut Ciong-Tay-pek bukan main, sementara pemuda itu sudah melompat setombak jauhnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berdiri melongo diambang pintu, tampak pemuda itu sudah melangkah gesit keluar perambi, maka Ciong Tay-pek menarik napas panjang. Tampak dari serambi sana beranjak perlahan seorang lelaki setengah umur kearahnya, sebilah golok tergantung dipinggangnya

Lelaki setengah umur ini lewat disamping Ciong Tay pek, seperti orang lain diapun tidak melirik sama sekali kepada Ciong Tay-jek, namun begitu melihat golok yang tergantung dipinggang lelaki itu, seketika dia kaget terkesiap, teriaknya: „Jit-sing-to.”

Sejak mula Ciong Tay-pek sudah tahu, umpama dirinya gembar-gembor didalam Kim-hou-po orang lain juga tidak akan menghiraukan dirinya, tapi begitu dia melihat golok yang kemilau laksana salju, begitu tipisnya golok itu seperti tembus sinar saja. dekat punggung goloknya terdapat hiasan tujuh butir mutiara bundar yang memancarkan sinar gemerdep, tak tertahan dia menjerit kaget,

Itulah reaksi umum bagi setiap insan persilatan setelah melihat golok ku.

Maklum Jit-sing-to (golok tujuh bintang) bukan gaman sembararang gaman. Dua puluhan tahun yang lampau, berbagai Ciangbun dari aliran persilatan di Bulim, entah yang berkuasa didaratan atau diperairan pernah mengadakan pertemuan tiga kali di Hing-yang, ketiga kali pertemuan itu menentukan secara mutlak akan nilai-nilai tertinggi dari senjata-senjata sakti yang berada didunia ini. Akhirnya dipastikan ada delapan belas macam senjata didunia ini yang diakui menjagoi dunia persilatan. Sementara Jit-sing-to adalah golok tersakti dan tertajam diantara berbapai jenis golok yang pernah ada. Demikian pula Ing-sia-kiam milik lng-sia Tojin diagulkan sebagai pedang nomor satu dari seluruh pedang yang menjagoi Bulim.

Bahwa tokoh-tokoh Bulim itu berkumpul bukan untuk bertanding silat, tapi hanya menilai dan menentukan kesaktian Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

semata, maksudnya adalah demi menjaga keselatarian beberapa tokoh silat kenamaan itu, maklumlah bila diadakan pertandingan silat, seluruh percatutan dunia persilatan pasti akan geger dan mendatangkan bencana yang tidak kecil artinya, tapi tak pernan terpikir dalam benak mereka, bahwa penilaian senjata secara mutlak itupun akhirnya mendatangkan bencana pula bagi pemilik senjata yang diagulkan itu.

Pemilik Jit-sing-to waktu itu adalah Pendekar besar Siau Tm-hong dari Ouw pak, tapi sejak gamannya itu diakui sebagai golok nomor Satu diseiuruh jagat ini, tak lama kemudian mendadak tersiar kabar bahwa Siau Tin-hong mati sicara konyol, Jit-sing-to juga lenyap tak karuan parannya. Hingga dua tanun kemudian baru orang tahu bahwa Jit-sing to berada di tangan Hek-ing-cui hong (bayangan hitam mengudak angin) Pek Liau-pine.

Tak lama setelah berita ini tersiar, gembong penjahat yang terkenal dan disegani diseluruh lapisan golongan hitam Hek-ing-cui-hong Pek Liau-ping ternvata ditemukan ajal didepan Pek be-si dikota Lok-yang, Jit-sing-to di tangannya itu juga, lenyap entah kemana.

Tiga tahun lagi, seseorang pernah melihat Lok-hoat Lojin yang terkenal sebagai manusia aneh dari Biau-kiang ada membawa senjata sakti itu, tapi tidak lama kemudian, tersiar berita pula bahwa Lok-hoat Lojin mendadak rnati, sejak kejadian itu Jit-sing-to pernah muncul pula beberapa kali, tapi setiap kali muncul pemiliknya pasti ganti orang lain, Kungfu pemilik baru lebih tinggi dari pemilik lama. Terakhir kali Jit sing-to berada ditangan Pangcu Liong bun-pang yang berkuasa disepanjang sungai kuning, merupakan Pang atau sindikat terbesar di-perairan itu. Dlhadapan umum Liong-bun-pang Pangcu bilang golok itu adalan hadiah salah seorang kenalan baiknja diwaktu dirinya merayakan hari ulang tahun Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

enam puluh tempo hari. Akan tetapi kelayak umum tahu bahwa Liong jiau-kun (pukulan cakar naga) Liong-bun Pangcu yang mempunyai tujuh puluh dua jurus permainan itu tiada bandingnya diseluruh jagat, maka boleh diduga bahwa Ju-sing-to pasti berhasil direbutnya secara kekerasan.

Bahwa Jit sing-to sudah terjatuh ketangan Liong-bun pan Cu, maka kaum persilatan beranggapan golok itu akan abadi ditangannya, tidak akan ganti pemilik baru pula. Tapi biarnya Liong-bun Pangcu mati juga. kematiannya juga secara misterius, demikian pula Jit-sing-to telah lenyap pula.

Semua kejadian besar itu pernah menggemparakan Bulim, sudah tentu Ciong Tay-pek tahu akan peristiwa itu, oleh karena itu begitu dia melihat Jit-sing-to yang pernah membuat geger kaum persilatan ini tanpa kuasa menjerit keras. Namun lelaki setengan umur yang menyoreng pedang dipinggang itu tetap beranjak kedepan seperti tidak mendengar suaranya.

Berdebar jantung Ciong Tay-pek, kedatangannya kedalam Kim-hou-po ini memang sedang mengemban tugas rahasia, untuk mencapai tujuan jelas bukan pekerjaan yang mudah dilakukan, tapi bila dia memiliki golok sakti yang tajam luar biasa itu. urusan pasti dapat dilaksanakan lebih leluasa dan lancar. Tacli dia sudah diberi peringatan, siapa-pun didalam Kim-hou-po dilarang menggunakan kepandaian, tapi dikala lelaki setengah umur itu lewat didepannya, dengan golok kemilau dipinggangnya, tanpa sadar Ciong Tay-pek ikut mcnggerakan kaki mengikuti dibelakang orang.

Dipunggung golok yang tajam luar biasa dihiasi mutiara, merupakan suatu hal ganjil. Namun konon kabarnya bila Jit-sing-to yang tajam itu membabat, apapun yang menjadi sasarannya pasti terbelah menjadi dua, maka mutiara hiasan iru selamanya takkan pernah rusak,

Sambil berpikir Ciong Tay-pek mempercepat langkah, serambi panjang ini sepi dan sunyi tiada bayangan manusia lain kecuali mereka berdua, yang terdengar hanyalah jantung Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ciong Tay-pek sendiri yang berdebur-debur seperti amukan karang mendampar pantai. Jikalau orang ini.mampu merebut Jit-sing-to dari tangan Liong bun Pangcu, maka betapa tinggi Kungfu orang ini tentu susah diukur. Lalu kenapa dia datang ke Kim-hou-po? Mungkin dia takut menghadapi jago silat lain yang berkepandaian lebih tinggi dan merebut golok itu dari tangannya, maka dia sembunyi atau menyelamatkan diri di Kim-hou po? Bahwa Kim-hou-po siapapun dilarang menggunakan ilmu silat, maka selama hidupnya dia akan dapat mempertahankan Jit-sing-to. Tapi umpama semua itu betul. lalu apa pula faedahnya dia merebut dan memiliki Ju-sing-to itu?

Jantung Ciong Tay-pek makin berdetak, perasaannya juga kalut, kini dia sudah dekat dibelakang lelaki setengah umur itu, bila keluar dari serambi ini, selanjutnya mungkin dia tidak akan memperoleh kesempatan lagi maka betapapun sekarang dia harus mencobanya .

Mendadak dia angkat sebelah tangannya menekan pundak lelaki itu, diwaktu jari jarinya menyentuh pundak orang, berbareng lelaki itu menolen serta memandangnya sekejap, tampak oleh Ciong Tay-pek, wajah orang menampilkan rasa heran dan kaget.

Sebetulnya Ciong Tay-pek Sendiri juga tidak melihat jelas karena pandangannya berkaca-kaca oleh keringat dingin sendiri yang bercucuran diseluruh mukanya. Begitu orang itu menoleh maka kedua jari tangan kiri Ci ong Tay-pek langsung menyodok ke Cian coan-hiat di leher lelaki setengah umur itu.

Sodokan jari itu dilandasi seluruh kekuatan Lwekangnya, dengan bekal kepandaian Ciong Tay-pek sekarang, papan jati setebal dua dim sekali sodok juga bolong seketika sekarang kecepatan gerak tangannya juga luar biasa, baru saja lelaki itu menoleh Ciong Tay pek juga sudah turun tangan, hakikatnya kesempatan untuk berkelit juga tidak ada, dalam sedetik itu Ciong Tay-pek sudah bersorak girang dalam hati Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam anggapan Ciong Tay-pek serangannya itu pasti berhasil, maka Jit-sing-to juga akan menjadi miliknya, setelah memiliki Jit-sing-to. tugas kerja selanjutnya juga pasti lebih mudah dilaksanakan.

Tapi pada detik-detik bagai kilat menyambar itulah, jelas kedua jari Ciong Tay-pek sudah menyodok leher orang dan tenggorokan orang jupa bersuara: “‘Krok’ sekali, tapi kenyataan kedua jari Ciong Tay-pek senerti menyodok perut ikan yang licin terus menggelincir turun, seluruh tenaga yang dikerahkan dalam sodokan itu juga sirna tanpa bekas.

Karuan dalam sekejap itu Ciong Tay-pek melenggong. Maklum setelah sodokan jarinya gagal, bila mendadak kekuatan lawan menggetar balik menyerang dirinya, isi perut tubuhnya bisa tergetar hancur dan jiwapun melayang. Kalau hal itu terjadi, jiwanya tentu sudah tamat dan Tay pek tidak akan melenggong dengan darah tersirap. Sebelum turun tangan dia sudah yakin bahwa lelaki tua ini bukan orang sembarangan, tapi sekarang dirinya seperti hampa, tanpa perasaan. Ternyata lelaki itu juga tidak bertindak atau memberi reaksi balasan, orang hanya berdiri diam memandang dengan sorot dingin.

Ciong Tay-pek membuka mulutnya ingin bicara, namun dari tenggorokan serdiri ternyata mengeluarkan suara ganjil, dia sendiri menjadi heran dan tidak habis mengerti kenapa hal ini bisa terjadi. Maklum Tay-pek terlalu kaget, bahwasanya dia tidak tahu apa akibatnya. Persoalan apa pula yang paling menakutkan dalam dunia ini kecuali tahu dirinya segera akan mampus.

Lama lelaki itu menatap Ciong Tay-pek, rona matanya berganti beberapa kali dan kelihatan ganjil, kecuali merasakan kulit kepala terasa kesemutan dan lidah kelu, hakikatnya Ciorig Tay-pek rasakan sekujur baaan kehilangan rasa.

Mendadak lelaki tua itu terbahak-bahak, sambil tertawa kakinya melangkah lebar, tampak oleh Ciong Tay-pek dikala Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang berputar dan melangkah pergi sorot matanya mendadak memancarkan sinar aneh yang tajam.

Saking kaget dan pesona karena serangan kedua jarinya tidak mampu merobohkan orang, Ciong Tay pek menjublek dan lupa menurunkan tangannya. Bila sinar tajam tadi berkelebat, seketika dia rasakan jari tangannya yang masih menjulur iuius itu seketika dingin semilir, semula Ciong Tay-pek menyangka lelaki itu menghukum ringan dirinya hanya menabas kutung kedua jari tangannya terus pergi dengan gelak tawa latah.

Ciong Tay-pek tidak tahu setelah dirinya melakukan kesalahan besar ini, apa akibatnya, maka seluruh badannya basah kuyup o.eh keringat dingin, jikalau orang kebetulan hanya menabas kutung kedua jarinya, maka persoalan inipun boleh dianggap selesai sampai di sini, maka diapun akan menerima hukuman ringan ini dengan perasaan lega. Maka sambil menarik napas panjang pelan-pelan dia menarik tangannya, syukur perasaan telah pulih Namun kembali dia berdiri tertegun.

Ternyata kedua jarinya masih utuh, bukan saja masih utuh malah diantara kedua terjepit sebilah golok pusaka yang kemilauan Jit-sing-to itulah. Setelah keluar dari serambi dan melangkah semakin jaun, lelaki tua itu masih terus tertawa dan tertawa. Karuan Ciong Tay-pek kira dirinya sedang bermimpi.

Akan tetapi ini kejadian nyata bukan impian, Jit-sing-to inasih terjepit d kedua jari tangannya, batang pedang itu ternyata dingin, hawa dingin itu merembes kedalam badan lewat kedua jarinya itu kenyataan lelaki ha itu memang menyerahkan Jit-sing-to kepadanya terus tinggal pergi dengan gelak tawa kesenangan.

Kejadian yang tidak mungkin justru menjadi kenyataan, otak Tay-pek seperti beku sekeras batu. Apapun dia tidak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

habis meengerti rangkaian peristiwa ini bagaimana bisa terjadi.

Untunglah pada. saat itu dibelakangnya terdengar langkah orang yang mendekat, kalau tidak entah berapa lama lagi dia akan berdiri menjubek ditempat im. Derap langkah yang mendatangi itulah yang menyentak lamunannya, cepat dia menyingkap baju menyembunyikan golok itu kedalam bajanya.

Dilihatnya seorang muda lewat didamping nya, ternyata orang muda ini melirikpun tidak kepadanya. Pelan pelan Ciong Tay pek menarik napas, perasaannya memang bergejolak, satu hal masih membuatnya sadar; Dirinya berada di Kim hou-po. peristiwa apapun mungkin saja terjadi dalam Kim-hoa-po, meskipun kejadian itu teramat ganjil seperti di dalam mimpi.

Kini Jit-sing to tersimpan dalam bajunya, rasa dingin itu meyakinkan bahwa kejadian ini memang sesungguhnya. Dia membalik tubuh, tiada orang lain diserambi ini, maka dia melangkah balik kedalam kamarnya, setelah menutup pintu jantung masih berdenyut keras.

Jit sing-to sudah menjadi miliknya, gelak tawa lelaki tua itu seperti masih kumandang ditelinganya, kenapa orang tua itu tertawa seriang itu malah? Sudah tentu Ciong Tay-pek tidak memperoleh jawaban. Bahwa Jit-sing-to diperolehnya dalam keadaan ganjil dan semudah itu. sebelumnya juga tidak pernah terbayang olehnya.

Maka dia menerawang, bagaimana langkah selanjutnya? Begitu banyak jago jago kosen didalam Kim hou-po, namun dimana dan siapakah Pocu (pemilik benteng) ini? orang-orang itu kelihatan adalah para tamu yang mencari perlindungan hidup disini, sejauh ini hanya tiga orang penghuni Kim-hou-po asli yang pernah ditemuinya. Orang pertama adalah Kakek bungkuk yang menyambut dirinya pertama kali dilorong sempit itu, kedua adalah nona jelita yang tidak diketahui Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

wajah aslinya itu. seorang lelaki adalah pemuda yang melayani dirinya itu.

Ciong Tay-pek terus duduk diam hingga hari menjadi petang, jantungnya masih berdebar, didengarnya langkah orang mondar-mandir diserambi, tak lama kemudian pintu kamarnya didorong terbuka, pemuda tadi melangkah masuk mendorong sebuah kereta kayu yang berbentuk seperti meja meja teh kecil, setelah menyulut dian. hidangan yang tersedia diatas kereta dia pindahkan keatas meja. Hidangan ternyata banyak dan lezat, tapi Ciong Tay-pek tidak punya selera, dia hanya n.engangkat poci arak terus menenggaknya sampai puas. Setelah arak dalam poci kering laagsung dia merebahkan diri diatas ranjang.

Tak lama lagi pemuda itu balik lagi. Ciong Tay-pek sembunyikan tangannya didalam baju dengan kencang dia genggam gagang Jit-sing-to, dengan mendelong dia awasi pemuda itu mengukuri hidangan diatas meja.

Jarak dengan pemuda itu hanya tujuh kaki. bila dia melarcarkan serangan mendadak, golok tajam itu akan merobek bajunya, Ciong Tay pek tidak percaya pemuda ini mampu menyelamatkan diri dari tabasan toloknya. Terasa telapak tangannya yang menggenggam gagang golok basah oleh keringat, namun dia tidak berani bertindak secara gegabah lagi. Dia maklum nasib baik tidak mungkin selalu menimpa dirinya, bahwa dalam keadaan serba ganjil tadi dia bisa memiliki Jit-sing-to adalah karunia Yang Maha Kuasa

Setelah pemuda itu mendorong keluar kereta meja itu, baru Ciong Tay-pek merebahkan dirinya keatas ranjang pula, cuaca makin gelap. keadaan Kim-hou-po ternyata sunyi senyap, dalam benteng sebesar ini seperti hanya dirinya saja yang masih hidup.

Dengan hati berdebar-debar Ciong Tay-pek asyik menunggu dengan sabar, keringat dingin yang membasahi tubuhnya sudah kering, basah lagi kering pula, entah berapa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kali, akhirnya dia berdiri perlahan lalu mendorong daun jendela, dari bintang-bintang yang bertaburan diangkasa, dia memperhitungkan waktu itu sudah menjelang tengah malam.

Diluar jendela adalah sebuah pekarangan tiada seorangpun kelihatan, sedikit mengenjot badan tanpa bersuara dia melompat keluar dan hinggap diatas tanah, sebali menjejak lagi badannya melambung keatas genteng. Setelah diatas wuwungan, baru secara samar-samar dia dapat menjelajahkan pandangannya keseluruh Kim-hou-po. Didalam benteng terdapat dua taman besar, satu didepan yang lain di belakang. Siang tadi dirinya berada drtaman depan ternyata taman belakang jauh lebih besar dari taman depan.

Dimana-mana terdapat rumah-rumah, keadaan pekat dan sepi, setitik sinar pelitapun tidak kelihatan. Dimanakah penghuni asli dari Kim-hou-po ini bertempat tinggal?

Dengan menahan napas Ciong Tay-pek celingukan kian kemari, angin malam menghembus kencang, satu jam lebih Ciong Tay-pek mendekam diatas wuwungan, namun tetap tidak menemukan apa-apa. Kelihatannya tiada ronda atau penjagaan apapun didalam Kim-hou-po. Sungguh kejadian yang susah dibayangkan, kalau benar di Kim-hou po ini tanpa ronda dan penjagaan, kenapa jago-jago silat ssbanyak itu bisa hidup tentram dan selamat, kenapa pula para penjahat besar yang sudah masuk ke Kim-hou po tak ada yang pernah bisa keiuar ?

Tahu mendekam sampai pagi juga tidak memperoleh apa-apa diatas wuwungan, maka dengan enteng dia melayang turun pula. berjalan pelan-pelan kedepan setiap langkah kakinya menambah cepat detak jantungnya, hatinya was-was dan siaga menghadapi segala kejadian yang bakal menimpa dirinya. Tapi satu pekarangan demi satu pekarangan telah dijelajahinya, keadaan tetap sunyi tiada gerakan apapun, seolah-olah tinggal dirinya seorang yang masih hidup dalam benteng ini. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akhirnya dia tiba ditaman belakang dan berada dikaki tembok tinggi, di sini dia berhenti serta angkat kepala memandang kelangit. Pagar tembok ini amat tinggi, terutama dimalam gelap ini, kelihatan lebih tinggi, tapi Ciong-Tay-pek tahu dirinya tidak boleh bertindak sembrono, dengan mudah sebetulnya dia bisa melompati pagar tembok dan melompat keluar, bila berada diluar tembak, bukankah berarti dirinya sudah keluar dari Kim-hoa- po?

Sudah tentu sekarang Cong Tay-pek tidak akan meninggalkan Kim-hou-po, karena maksud tujuannya belum tercapai. Menyusuri kaki tembok dia terus maju perlahan, mungkin kerena terlalu sepi, maka pendengaran tajam Ciong Tay-pek dapat menangkap sedikit suara lembut disebelah depan dekat kaki tembok.

Kontan CiongTay-pek menghentikan langkah dan berdiri siaga, perasaannya yang peka seperti kucing yang mengintip tikus dibalik jerami. Kini dia sudah mendengar jelas, ada orang sedang berbicara, orang yang lagi bicara kemungkinan berada diluar pagar tembok. Cepat dia tempelkan kupingnya kedinding tembok, hawa murni dalam tubuhnya dikerahkan. Waktu dia meyakinkan ilmu te-thia (mendengar dari bumi), Kungfu yang sukar dilatih ini pernah banyak makan derita, namun sekarang kepandaiannya itu dapat dimanfaatkan.

Suara itu begitu lembut dan lirih, semula sukar Tay pek membedakan arah datangnya suara, namun lambat laun setelah dia pasang kuping dengan seksama, kini dia mulai mendengar jelas, itulah langkah seseorang yang mondar mandir, seperti ada orang memindah dan menggeser meja lalu berduduk, kejap lain orang itu mulai membalik lembaran buku.

Suara itu tidak mungkin kumandang dari luar tembok; karena diluar tembok adalah tanah tegalan, mana mungkin ada suara selembut itu? Sejenak Ciong Tay-pek berdiri melenggong tapi akirnya dia mengerti. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suara itu memang bukan dari luar tembok tapi kumandang dari dalam tembok, ternyata didalam tembok tebal tinggi yang memagari benteng raksasa ini dihuni orang. Kembali janturg Ciong Tay-pek berdebar, orang yang bertempat tinggal didalam pagar tembok, sudah tentu adalah orang-orang Kim-hou-po, maka dapat dipastikan orang yang hendak di carinya pasti juga berada didalam pagar tembok ini

Maka Ciong Tay-pek mendengarkan lebih cermat, dia mendengar suara daun pintu nya terbuka, di susul seorang berkata:

”Sau pocu ada pesan apa?”

Mendengar Sau-pocn (tuan muda pemilik benteng) seketika mengejang tubuh Ciong Tay-pek maka didengarnya sebuab suara sinis dingin berkata sambil menyeringai:,

”Yang baru datang bernama Ciong Tay-pek? Tidak patuh pada peraturan?”

Bahwa suara dalam tembok menyinggung nama dirinya, lebih besar rasa kaget Ciong-Tay-pek, lekas kedua tangannya menekan tembok sambil merapatkan tubuhnya dia ingin mendengar lebih lanjut pembicaraan didalam.

Terdengar suara semula berkata : ”Masih mending, siang tadi, Yang ah Lojin menyerahkan Jit-si -to kepadanya.”

Mendengar sampai disini lutut Ciong Tay-pek Serasa goyah hampir saja dia jatuh semaput, dia kaget bukan lantaran leiaki tua yang disergapnya diserambi panjang itu ternyata adalah Yang ah Lojin, saJah satu dari Thian-san- ji-lo (dua orang tua dari Thian-san), tapi lantaran setiap gerak gerik-nya yang dianggapnya tersembunyi ternyata sudah dibawah pengawasan orang diluar tahunya.

Didengarnya pula suara sinis tadi berkata :

”Baru datang ke Kim-hou-po,’ tidak perlu dibuat heran kalau dia tidak mematuhi aturan, siapa tidak yakin bahwa diri Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sendiri memiliki kepandaian yang luar biasa dan ingin melakukan sesuatu yang mengejutkan ? Hehe, mendekam diluar tembok mencari dengar pembicaraan kami bukan dia saja yang pernah melakukan,”

Seperti disambar geledek kejut Ciong Tay-pek mendengar ucapan orang, sekujur badan tanpa kuasa menggigil. Pada saat itu pula segulung tenaga mendadak terlontar dari balik tembok menerjang dirinya.

Padahal kedua tangan Ciong Tay-pek menekan tembok, separo mukanya menempel tembok pula, begitu tenaga besar itu menerjang tiba, kontan mukanya seperti kena tampar “Plak” menyusul seluruh tubuhnya mencelat terbang kesamping. Jangan kata ingin meronta, berteriak kejutpun tidak sempat lagi tahu-tahu tubuhnya sudah melorot turun dan terjatuh kedalam sebuah jaring yang lemas lembut.

Perlu diketahui C.ong Tay-pek adalah pemuda yang punya asal usul, bagaimana asal usulnya biar disebelah belakang akan kami terangkan. Ilmu silatnya tidak lemah, bernyali besar, tindak tanduknya cermat pula, kalau tidak bagaimana mungkin dia berani menyelundup ke Kim-hou po ? Tapi sekarang sekujur badannya terjaring dalam keadaan lunglai, benang jaring terbuat dari benang perak yang lemas dan lembut, semakin meronta benang lembut itu mengiris kulit rasanya sakit dan gatal.

Jaring besar itu ujungnya dipasang sebuah galah, ujung galah yang lain berada ditangan seseorang, waktu Ciong Tay-pek menoleh dan melihat jelas pemegang galah, seketika merinding bulu kuduknya.

Pertama Ciong Tay-pek melihat sebuah tangan yang halus putih dengan jari jari runcing yang berkuku panjang di susul melihat seraut wajah ayu rupawan yang menawan hati siapa lagi kalau bukan si molek yang menguji dirinya waktu pertama masuk ke Kim hou po tadi. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tanpa sadar Ciong Tay pek mengeluarkan suara jeritan panik dan ngeri, namun baru saja dia pentang mulutnya, dilihatnya Si cantik menurunkan kedua tangannya hingga jari itupun mengedap turun, tapi sekali sendai pula hingga jaring itu membal keatas maka tubuh Ciong Tay-pek seperti dilempar pegas mencelat keatas tembok.

Rasa kaget dan takut Ciong Tay-pek saat itu tak bisa dibayangkan, hakikatnya tak sempat dia berpikir, cara bagaimana si cantik dapat melempar dirinya dari dalam jaring itu keatas tembok, memangnya dirinya mau dilempar keluar dari Kim-hou po ?

Di saat perasaan tak karuan menggelitik sanubarinya, sementara tubuhnya melayang keatas tembok, sekilas dia sempat melirik kebawah, ternyata pagar tembok ini lebarnya ada satu tombak lebih, beberapa ekor kuda bisa berlari kencang berjajar diatas tembok benteng ini. Kebetulan waktu tubuhnya melayang turun, sebuah papan menjeplak terbuka, maka terbukalah sebuah lobang besar, dibawah kelihatan ada cahaya lampu menyorot keluar.

Sebisa mungkin Ciong Tay-pek masih berusaha dikala tubuh terapung diudara menggeliat tubuh mengembangkan Ginkang supaya dirinya melayang keluar pagar, karena setelah dirinya melayang keluar tembok dirinya punya kesempatan melarikan diri.

Tapi begitu papan tadi menjeblak terbuka, dibawah cahaya lampu yang benderang tampak dua lelaki baju hitam dengan kepala mendongak, memancang dingin dirinya. seorang diantaranya malah melambaikan ke dua tangan. Kontan terasa segulung tenaga besar yang punya daya sedot kuat telah menarik dirinya kebawah. sekujur badan seperti terbungkus oleh tenaga orang, begitu kedua sikut orang itu di tekuk, maka badan Ciong Tay-pek seketika anjlok kebawah lewat lobang melayang kedalam kamar. Diwaktu Ciong Tay pek mengira dirinya bakal terbanting jatuh diatas lantai, seorang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

baju hitam yang lain ulur sebelah tangannya, seperti meraih sesuatu, berbareng tangan yang lain menarik sebuah kursi, “Bluk” dengan tepat pantat Ciong-Tay-pek jatuh diatas kursi itu.

Seperti bermain sulap saja. namun kenyataan sedikitpun Ciong Tay-pek tidak terluka namun rasa kaget dan takutnya sungguh tidak terlukiskan, meski sudah duduk diatas kursi pandangannya masih gelap berkunang-kunang telingapun seperti mendengung. Tenggorokan terasa kering seperti dipanggang diatas bara, mulut sudah terbuka namun megap-megap tak kuasa bersuara.

Begitu Ciong Tay-pek terjatuh dan terduduk diatas kursi orang lain tiada yang bersuara, semua diam tidak bergerak, sesaat kemudian baru Ciong Tay pek agak tenang dan pandanganpun mulai terang, ternyata dirinya berada disebuah kamar yang terpajang mewah dan megah, perabot yang ada didalam kamar ini tanggung tiada keduanya dldunia ramai serba antik dan kuno, tak ternilai harganya. Tak pernah terbayang dalam benak Ciong-Tay pek. meski dia tahu dirinya berada dikamar dalam tembok benteng, ternyata sedikitpun dia tidak merasa sempit atau gerah.

Dihadapannya duduk seorang pemuda, usianya sekitar likuran tahun, wajahnya tampan, hanya air mukanya yang pucat itu kelihatan agak ganjil, bukan pucat lesi, tapi pucat menghijau seperti lumut, siapapun yang memandang muka ini akan timbul kesan aneh dan seram.

Dikanan kiri si pemuda berdiri dua orang berpakaian hitam, kedua matanya merem melek, tapi memancarkan sinar terang, kedua orang ini menatap dingin dan mengancam kepada dirinya.

Jantung Ciong Tay-pek kembali berdetak keras, baru terpikir dalam benaknya cara bagaimana dia harus mohon ampun, pemuda itu sudah buka suara lebih dulu: Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Saudara Ciong, kau sudah berada di dalam Kim-hou po, kami tidak akan tanya asal-usulmu, tapisetelah berada di dalam Kim-hou-po. maka kau harus mematuhi segala peraturan yang berlaku, apa kau tahu apa maksudku?” suaranya tidak kereng atau bengis, namun kedengarannya membuat bulu kuduk orang merinding, karena orang secara langsung akan merasa ancaman terasa dibalik perkataannya itu. Ciong Tay-pek bergidik pula, mulutnya terbuka pula, tapi tetap tak bisa berbicara.

Tampak bergerak kulit daging muka si pemuda, itulah tanda dia tertawa, katanya pula: „Tapi harus di maklumi setiap pendatang baru pasti merasa heran dan ketarik akan sesuatu yang dianggapnya ganjil dan melanggar peraturan, karena itu boleh kami memberi sekali peringan kepadamu.” sampai di sini dia menunduk serta berhenti sejenak lalu melanjutkan. ”Hanya sekali peringatan sebelum kau meninggalkan kamar ini. apapun yang pernah kau lakukan kami anggap tidak pernah terjadi, maka peringatan yang sekali boleh anggaplah sebagai permulaan dari kehadiranmu di Kim-hou-po.”

Ciong Tay-pek cukup cerdik pandai, sekali ini dirinya tidak akan dihukum atau di apa-apakan, malah bila sekarang dia masih mau melakukan perbuatan apapun, masih belum melampaui peringatan pertama tadi dan tidak akan dianggap melanggar kedua kalinya. Karuan jantungnya berdebar pula, bukan karena takut, tapi lantaran semangatnya menggejolak, rasa ingin mencoba timbul dalam benaknya. Diwaktu tubuhnya disedot turun tadi, sebelah tangannya sudah menyelinap kedalam baju, gagang golok sudah dipegangnya kencang, tadi dia sudah bersiaga bila perlu akan turun tangan melabrak musuh dan mengadu jiwa.

Tapi jalan pikirannya sekarang berobah; tiga orang didepannya ini. terutama si pemuda pasti mempunyai kedudukan penting didalam Kim-hou po. Maka Ciong Tay-pek Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berpikir: „Bila aku bisa membekuknya, maka, maka maksud kedatanganku bukan mustahil bisa terlaksana malam ini juga.”

Dia maklum Kungfu kedua orang baju hitam itu pasti hehat luar bisa, dari permainan tenaga kedua tangannya tadi, dapatlah dinilai bahwa mereka sudah menguasai ilmu Tay-si-mi-jiu dan aliran Hud, itulah ilmu silat tingkat tinggi, tapi jari-jari Ciong Tay-pek yang menggenggam gagang golok semakin mengencang.

Baru saja Jit-sing-to dimilikinya, betapa perbawa dan kekuatan Jit-sing-to sebelum ini sudah sering dia mendengarnya, maka begitu tangannya memegang gagang Jit-sing-to, maka timbul keyakinan teguh dalam sanubarinya, dia yakin bila secara mendadak dirinya menyergap si pemuda, harapan mencapai kemenangan amat besar.

Pada saat itulah, seperti tertawa tidak tertawa pemuda itu masih terus menatapnya, tanyanya:

’Kau sudah mengerti?”

Mumpung ada kesempatan sambil menarik napas Ciong Tay-pek berdiri sambil menjawab:

’Aku sudah…..mengerti.” dikala mengucap ‘mengerti’, lengan kanannya pun sudah bergetar, „Bret” selarik sinar dingin berkelebat, Jit-sing-to sudah menyamber menyobek pakaian membabat kearah si pemuda. Serangan goloknya boleh dikata teramat cepat dan kencang, seluruh batang Jit-sing-to memancarkan tabir cahaya perak laksana lembayung.

Serangan Ciong Tay-pek kelihatannya biasa saja, pada hal merupakan jurus serangan yang amat dibanggakan, sejurus serangan mengandung tujuh perobahan, dalam arena setombak sekujur badan lawan terbelenggu dalam cahaya goloknya, ke manapun musuh menyingkir pasti termakan oleh ketajaman goloknva, apalagi gaman yang dibuat menyerang sekarang adalah Jii-siang-to, golok sakti yang diagulkan sebagLi senjata terampuh jaman ini. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Waktu melancarkan seranga.n goloknya Ciong Tay-pek masih kelihatan duduk diatas kursi, mendadak dia berjingkrak berdiri, sementara ketujuh perobahan goloknyapun berkembang dalam sesingkat itu, di mana deru angin goloknya menyamber, sinar golok juga seperti meluber kekanen kiri, jadi bukan hanya si pemuda saja yang diincarnya, kedua orang baju hitam itupun tak luput dari ancaman goloknya.

Bukan kepalang senang hati Ciong Tay-pek. Diwaktu perobahan permainan goloknya dikembangkan, pemuda itu masih diatas kursinya, matanya terbeliak seperti amat diluar dugaan, namun begitu goloknya hampir mengenai sasarannya, mendadak pandangannya kabur, bayangan si pemuda ternyata sudah lenyap dari depan matanya,

Jurus Pak-to- lay co yang dilancarkan Ciong Tay-pek ini boleh di kata merupakan jurus sarangan ilmu golok jang paling lihay, arti dari nama jurus itu adalah sekali serangan di lancarkan lawan pasti melayang jiwanya. Kenyataan si pemuda sudah terbelenggu dalam cahaya goloknya, dalam keadaan seperti itu, seekor burungpun jangan harap bisa terbang keluar. Tapi kenyataan pemuda itu kini sudah lenyap dari depan matanya. Hakikatnya Ciong Tay-pek tidak tahu cara bagaimana si pemuda dapat lolos dari ancaman sinar goloknya, yang ada didepannya sekarang adalah sebuah kursi.

Sayang serangan golok Ciong Tay-pek itu terlalu bernafsu dan daya kekuatannya juga terlalu kencang, walau tahu lawan sudah menyingkir, tapi untuk menghentikan serangan juga sudah tidak kuasa lagi. Maka dalam sedetik itu terdengarlah suara tabasan mengenai sesuatu, kejap lain sinar golokpun telah kuncup, Ciong Tay-pek menarik golok berdiri tegak sekujur badannya menggigil keras. Namun kursi yang diduduki si pemuda tadi sudah terbatat hancur berjatuhan diatas lantai.

Makin keras sara tubuh Ciong Tay-pek menggigil, Jit-sing-to masih terpegang ditangannya memancarkan cahaya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gemerdap, tapi sekujur badannya masih terus menggigil dengan keringat bertetesan,

Dalam sekejap ini sungguh ingin Ciong-Tay pek tertawa, karena sejak Jit-sing-to ini digembleng jadi, kemungkinan belum pernah terjadi seorang yang memegang Jit-sing-to bisa mennggigil takut seperti dirinya sekarang.

JILID KE – 2

Namun dalam keadaan seperti dirinya, sekarang mau tidak mau Ciong Tay-pek harus merasa takut, merasa ngeri, seluruh tubuhnya seperti mengejang kaku keberanian untuk membalik badanpun tiada lagi.

Maka terdengar suara si pemuda dibelakangnya, dari suaranya agaknya si pemuda juga merasa heran dan kaget, tanyanya : ’Apakah Sip-loyacu baik-baik saja?”

Kembali bergetar tubuh Ciong Tay-pek, pertanyaan itu kedengarannya bernada datar dan biasa, namun bagi pendengaran Ciong Tay-pek seperti bunyi guntur yang menggelegar dipinggir telinganya. dia maklum lawan sudah tahu serangan golok yang dilancarkan tadi adalah Jay-cing-to-hoat, ilmu golok Sam-siang Tayhiap yang terkenal dikolong langit, Sip Tay-hiong Sip-cengcu dari Ling-cui-ceng.

Dari pertanyaan itu dapat dinilai bukan saja kepandaian si pemuda amat tinggi, pengetahuannya ternyata juga amat luas, dirinya jelas bukan apa-apa dibanding orang.

Setelah sekian lama menggigil dan berhasil menguasaii diri baru pelan-pelan Ciong Tay pek membalik badan. Pemuda dan kedua orang baju hitam berdiri didepannya,”Tiang” Jit-sing-to d tangannya tak kuasa dipegangnya lagi, jatuh berkerontarg diatas lantai. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Waktu melancarkan jurus Pak-to-lay-co tadi goloknya menyamber dan ballik bajunya, maka bajunya robek dan tersingkap, hingga gambar tato seekor kupu terbang didepan dadanya kelihatan nyata. Suaranya ternyata juga gemetar : „Guruku .. .baik-baik saja.”

Setelah mengajukan pertanyaannya sikap si pemuda seperi tidak acuh terhadap Sio Tay hiong, tawar ya tetap tawar, katanya . „Mumpung kau belum meninggalkan tempat ini. kau masih sempat melakukan apa yang ingin kau lakukan.”

Ciong Tay-pak menelan ludah, sahutnya tergagap : ,.Aku. .. tidak berani lagi.”

Pemuda itu menarik muka, desisnya : ”Baik dan selanjutnya, kau harus patuh akan segala peraturan dalam benteng ini, kuharap kau tidak perlu diperingatkan-untuk kedua kalinya” habis bicara mendadak kedua tangannya seperti disodorkan kedepan, kontan Ciong Tay-pek rasakan segulung tenaga besar menyongsong dirinya hingga dadanya seperti ditindih barang berat napasnya seketika sesak.

Pada hal kedua tangan pemuda tidak menyentuh badan Ciong Tay-pek, orangnya juga masih berdiri ditempatnya dalam jarak yang cukup jauh tidak bergerak pula. namun tubuh Ciong Tay-pek seketika mencelat terbang keatas. di kala hampir menyentuh langit-langit, mendadak terdengar suara menjeplak pula. maka terbukalah sebuah lobang dan orangnyapun masih terus meluncur keluar lewat lubang besar itu setinggi lima kaki pula maka daya luncur tubuhnya keataspun telah sirna, d kala tubuhnya meluncur turun pula dirinya hingga dikaki tembok.

Sekujur badan Ciong Tay-pek basah kuyup oleh keringat dingin, begitu angin malam menghembus lalu seketika dia gemetar kedinginan seperti kecemplung kedalam sumur salju, tenaga untuk angkat langkah juga seperti tiada lagi. Pada saat itu pula tampak sinar perak melayang turun dari atas tembok „klontang” ternyata Jit-sing-to melayang jatuh dibawahi Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kakinya. Dalam sekejap itu tidak habis heran Ciong Tay-pek apa maksud kejadian ini. Akan tetapi lekas sekali diapun sudah paham duduknya persoalan. Ternyata Jit-sing-to dikembalikan kepadanya.

Golok mustika nomor satu dikolong langit yang pernah menimbulkan pelbagai bencana bagi setiap pemiliknya ini ternyata tidak terpandang sedikitnya oleh orarg di sini, kini bukan dirinya saja yang di bebaskan, golok mustikapun dikembalikan. Sekaligus Ciong-Tay-pek menyadari pula, kenapa begitu banyak kaum persilatan yang punya nama besar dan terkenal didunia persilatan setelan masuk Kim-hau-po ini rela mengenyam kehidupan tentram tanpa urusan. Gelagatnya dari jago-jago kosen itu juga seperti dirinya pernah mendapat peringatan yang pertama. Dan kenyataan membuktikan tiada seorangpun diantara mereka yang berani menantang bahaya untuk menerimi peringatan kedua.

Mendelong beberapa kejap lagi baru Ciong-Tay pek membungkuk badan memungut Jit-sing-to, wajahnya seketika mengunjuk senyum getir, jikalau ada orang mau merebut golok mestika ini, dengan senang hati dia akan serahkan golok mestika itu ketangan orang lalu tetawa besar tinggal pergi.

Maklum didalam Kim-hou-po, apapun tiada gunanya, hanya pendatang baru yang goblok saja lantas merah matanya begitu melihat Jit-sing-to, demikianlah keadaan dirinya, sebagai pendatarg baru yang goblok itu. Pelan-pelan dia beranjak kedepan, keadaan tetap sunyi sepi seperti tiada orang lain bertempat tinggal di sini, gelagatnya dia boleh mondar mandir kemana saja sesuka hatinya. Namun setelah mengalami peringatan pertama tadi, terasa olehnya didalam keheningan yang mencekam ini, di tempai-tempat gelap sana entah berapa pasang mata tengah mengawasi gerak-geriknya, segala gerak geriknya jelas takkan luput dari pengawasan mata-mata setan yang tersembunyi itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Akhirnya Ciong Tay-pek kembali kekamarnya, setelah rebah diatas ranjang, bukan saja dia tidak dapat tidur, matapun susah terpejam. Matanya mendelong terus hingga fajar menyingsing hingga pemuda itu membawakan sarapan pagi.

Setelah membersihkan badan dan makan kenyang pelan pelan dia melangkah keluar.

Bila dia tiba ditaman melihat orang lain, kini seakan-akan keadaan diri sendiri sudah tidak berbeda pula dengan orang lain, orang lain anggap tidak pernah ada dirinya, memang sekarang diapun merasakan, walau orang didepan matanya namun mereka sudah tiada arti bagi kehidupan selanjutnya? Beginilah dia berjalan pelan pelan, duduk melamun menghabiskan waktu.

Kehidupan tentram dan tawar itu tanpa terasa telah berselang beberapa hari lamanya. Setiap kali bertemu atau melihat tokoh-tokoh silat dan penjahat besar yang dibenci kaum persilatan, selalu dia ingin tertawa besar. Maklum setelah mereka berada di sini, tiada musuh yang akan mencari perkara dan menuntut jiwa mereka, di sini mereka bisa hidup dengan tentram, hidup seperti apa yang telah dirasakan olehnya sekarang.

Hari itu Ciong Tay-pek tak kuasa menahan rasa gelinya lagi, mendadak dia mendongak sambil tertawa besar, tertawa terpingkel sampai air mata bercucuran, tertaya latah terbungkuk-bungkuk. Tapi betapapun keras dan lantang gelak tawanya, orang-orang sekitarnya tiada yang melirik atau menghiraukan tingkah poahnya.

Pada haii itu kembali dia tertawa disamping Kim-kong kan Suto Hou yang membunuh seluruh keluarga gurunya, terasa ada seseorang memandangnya sekejap.

Setiap kali Ciong Tay-pek melihat Suto Hou, Suto Hou selalu duduk dipinggir telaga memegang joran baja dan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengail. Didalam telaga kemungkinan tiada ikan, tapi kerja Suto Hou setiap hari mengail ikan ditelaga.

Bukan sekali ini Ciong Tay-pek tertawa besar dan latah disamping Suto Hou, namun setiap kali itu pula Suto Hou tidak pernah memperlihat reaksi, demikian pula kali ini. Cuma bedanya kali itu dia merasa ada seseorang tengah memperhatikan dirinya. Semula itu hanya firasat Ciong Tay-pek sendiri, tapi begitu dia angkat kepala tampak disebrang telaga sana, seorang tengah membalikan tubuh, walau sudah membalikan badan namun masih terbayang dalam pelupuk mata Ciong Tay-pek akan pandang sepasang matanya yang jeli bening.

Sesaat Ciong Tay-pek melenggong, bayangan punggung orang kelihatan kurus ramping, setelah membalik badan orang berdiri diam tidak bergerak lagi. Ciong Tay pek juga berdiri menjublek, otaknya sedang berpikir: “Sebelum ini apakah pernah aku melihatnya. Lapat-lapat dia memang seperti pernah bertemu muka, itulah perempuan setengah baya bertubuh kurus. Tapi kenapa perempuan setengah baya ini mendadak memperhatikan dirinya ?

Setelah menarik napas panjang Ciong-Tay-pek melangkahkan kakinya menyusuri pinggir telaga beranjak kesana lekas sekali Gia sudah berada dibelakang perempuan setengah baya itu. Dia tidak buka suara mengajaknya bicara namnn tenggorokannya mengeluarkan suara aneh. Pada saat itulah perempuan setengah baya itu menoleh pula memandang sekejap. Seketika melonjak perasaan Ciong Tay-pek. sekilas pandang dia lantas tahu bahwa perempuan setengah baya ini mengenakan kedok muka.

Pada hal sepasang bola mata perempuan setengah baya ini sedemikian keji dan bening, hanya seorang gadis rupawan saja yang memiliki bola mata seterang itu. Kembali Ciong Tay-pek menduga, siapapun meski dia seorang manusia durjana, penjahat besar yang disegani sesama manusia, setelah berada Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

di Kim-hou-po, tidak perlu dia menyembunyikan wajah aslinya, sebaliknya bila memang perlu demikian, maka orang ini pasti mengemban suatu tujuan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain demikian pula keadaan dirinya.

Tengah Ciong Tay-pek berpikir cara bagaimana dia harus ajak orang bicara, perempuan setengah baya itu sudah melangkah pergi.langkahnya cepat, sesaat Ciong Tay-pek bimbang apakah perlu d a mengikutinya orang sudah membelok kebelakang gunungan, bila diapun mengejar kebelakang gunungan itu, bayangan perempuan setengah baya itu sudah tidak kelihatan.

Inilah pertemuan mereka yang pertama. walau mereka masing-masing bukan melihat wajah asli karena mereka menggunakan kedok muka-

Pertemuan mereka yang kedua terjadi beberapa hari kemudian. Ciong Tay-pek sedang duduk dibawah gardu dipinggir gunungan, dengan Jit-sing-to dia sedang mengiris kulit pohon, apa maksud mengiris kulit pohon itu, bahwasanya dia sendiripun tidak tahu. Gunungan karang itu banyak lobangnya, tengah Ciong Tay-pek duduk melamun, mendadak didengarnya suara tiupan dan angin silirpun menyampuk mukanya mendadak dia angkat kepala, dilihatnya dari lobang kecil diatas gunungan karang, ada mulut orang yang tengah meniupkan angin kearahnya.

Lekas Ciong Tay-pek melengos, golok ditangannya masih terus mengiris dahan pohon, tak lama kemudian dia mendengar suara perempuan yang lirih berbisik,: “Kau datang kemari, apa yang ingin kau lakukan.”

Ciong Tay-pek diam saja, tidak buka suara, pada hal dia tahu setombak di sekitarnya tiada orang lain. umpama ada orang, peduli dia sedang berbuat apa, orang-orang itu juga tidak akan memperhatikan dirinnya, tapi dia tetap diam, dia hanya sedikit menggeleng kepala. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka suara perempuan itu berkata pupu: “Mungkin maksud tujuan kami sama, kenapa tidak kami bekerja sama?”

Seketika berdetak jantung Ciong Tay-pek, pelan- pelan dia menggerakan badan, tapi tangannya masih sibuk mengikis pohon. lalu mengerahkan Lwekang mengecilkan suara dengan lirih dia menjawab : „Seperti kau? Mencari sebuah kedok muka yang lebih baguspun kau tidak mampu, lalu apa yang bisa kau lakukan?”

Setelah memperoleh jawaban Ciong Tay-psk, terdengar dibalik gunungan sana suara orang menggereget gemas, suaranya lirih tapi penuh mengandung rasa kejut dan heran pula, maka selanjutnya keadaanpun sepi, tiada suara lain pula

Itulah pertemuan mereka yang kedua. Siapa perempuan berkedokini, boleh di kata Ciong Tay-pek tiaik tahu menahu, namun perasaannya amat senang juga tegang Selama ini dia berpikir: „Apakah perempuan ini belum pernah mengalami peringatan pertama. Dari mana pula perempuan itu bisa meraba bahwa kedatangannya ke Kim bou-po mengemban tugas rahasia ? Betapa besar nyali perempuan itu, dalam suasana seperti ini berani dia bersuara dan mengadukan kontak dengan dirinya ? Semua pertanyaan iiu, Ciong Tay pek tidak punya bahan untuk menjawabnya, hanya satu hal dia tahu, perempuan itu pasti akan mencari nya pula, itu berarti mereka masih ada kesempatan bertemu untuk ketiga kalinya.

Hanya terpaut sekali pertemuan ketiga itu terjadi.

Cuaca sudah gelap, waktu dengan santai Ciong Tay-pek beranjak pulang kekamarnya setelah mengalami kikisan dan ukiran ujung goloknya yang tajam, dahan pohon itu sudah berobah menjadi sebuah kursi kecil yang berbentuk kuno dan sederhana.

Ciong Tay-pek masih terus maju kedepan, di kala hari sudah gelap, dia merasakan di belakang ada orang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membuntutinya, di susul suara perempuan itu terkiang di dalam telingnya, didengarnya perempuanmu berkata

”Kau ingin menjadi orang pertama dalam Bulim diseluruh kolong langit ini bukan??”

Sedikitpun Ciong tidak memberi reaksi, seolah-olah tidak pernah mendengar pertanyaan orang. Maka suara perempuan itu terdengar berkata pula : ”Akupun demikian.”

Ciong Tay-pek menghirup hawa segar.dia berpikir: „Kau melimpahkan cita-citamu kepada orang lain, maka selanjutnya jangan harap kau bisa mencapai cita-cita itu” tapi dia tidak bersuara, langkahnya tetap berjalan kedepan.

Setelah dia hampir memasuki pintu kamarnya, terasa oleh Ciong Tay-pek perempuan itu masih berada dibelakangnya, malah jarak mereka semakin dekat, perempuan itu tetap berkata : ,,Seperti kami begini, kalau kau terus menunggu dan tidak segera turun tangan, kapan akan tercapai keinginan kami “

Ciong Tay-pek mempercepat langkah memasuki serambi, lampu yang terpasang di serambi kelihatan guram. Perempuan itu berkata pula: ,, Kalau kau tidak berani, maka kau akan tamat disini, kau akan hidup merana selama hidup di benteng ini, segala cita rasapun amblas”

Mendadak Ciong Tay-pek menhentikan langkah, perempuan itu juga berhenti sejenak, tapi segera beranjak pula kedepan lewat di sampingnya, bila Ciong Tay-pek melangkah pula, maka sekarang dia berada dibelakang perempuan itu

Dengan menahan emosinya dia berkata dingin. „Dan kau? Bukankah keadaan seperti dirimu? kurasa kaupun pernah merasakan peringatan pertama, kau masih berani bertindak lagi?’ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hanya bibir Ciong Tay-pek saja yang kelihatan bergerak, umpama waktu itu ada orang lain berada disampingnya juga takkan mendengar bila dia sedang bicara. Tampak olehnya badan perempuan didepannya seperti bergetar. Maka Ciong Tay-pek lantas tertawa dingin, kini langkah perempuan itu diperlambat, hingga Ciong Tay-pek mendahului dan berada disebelah depan pula.

Suara perempuan itu kini terdengar disebelah belakang :, Kondisiku lebih baik dari engkau. sedikitnya aku sudah tahu, asal kau dapat mengorek keluar dan memindah batu besar ketiga ratus enam puluh lima ke-arah kiri sejak dari pintu besar deretan kelima dari bawah, maka kau akan memperoleh benda yang kami inginkan bersama.”

Kedengarannya suara perempuan itu seperti mengambang, dinilai bahwa orang dapat mengeluarkan suara dengan desakan tenaga dalamnya, Ciong Tay-pek tahu bahwa latihan Lwekang perempuan ini jelas tidak disebelah bawah dirinya. Beberapa patah kata-katanya yang terakhir seketika membual Ciong Tay-pek menghentikan langkah.

Diwaktu Ciong Tay-pek menghentikan langkah itulah, dari sebelah belakang mendatangi derap langkah orang banyak, beberapa orang satu persatu lewat di sampingnya tanpa bersuara waktu Ciong Tay-pek berpaling kebelakang lagi bayangan perempuan itu sudah tidak kelihatan.

Ciong Tay-pek juga tidak berhenti lama, dia melanjutkan perjalanan kedepan telinganya seperti mendengung dalam hati dia tengah meresapi beberapa patab perkataan perempuan tadi, hingga dia memasuki kamar merebahkan diri diatas tanah, terasa sekelilingnya begitu sepi, tapi perasaannya masih bergolak seperti dirinya berada ditengah alunan gelombang pasang yang mengamuk.

Entah berapa kemudian, akhirnya Ciong Tay-pek bangkit pelan-pelan, perlahan pula dia mendorong jendela, lalu melompat keluar. Daya tarik perkataan perempuan tadi Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sungguh teramat besar bagi dirinya, pada hal dia tahu bahwa kemungkinan itu hanya merupakan perangkap, namun tekadnya sudah teguh untuk menyerempet bahaya, betapapun dia harus mencoba mencari tau kebenaran dari perangkap itu.

Jantungnya berdebar keras, langsung dia masuk taman terus menuju kekaki tembok, sambil mepet tembok dia menggeremut maju kearah pintu besar. Dikala dia berdiri di-samping pintu gerbang, sayup-sayup dia mendengar ringkik kuda diluar tembok. Pernah tiga hari dia menyelidiki diluar sana, maka dia tahu kuda-kuda itu dipelihara oleh orang-orang seragam hitam berkerudung kepala hitam pula, kemungkinan orang-orang baju hitam semua adalah pesuruh atau kacung dari Kun hou-po paling tidak mereka bekerja untuk kepentingan Kim-hon-po.

Ciong Tay-pek menarik napas panjang, pelan-pelan dia menyurut mundur, tembok ini dibangun dari batu-batu padas yang berben-tuk segi empat, sambil mundur satu persatu dia menghitung, kerja ini memang ringan dan tidak sukar, tapi memerlukan ketelitian. Semakin jauh dia mundur semakin mendekati tiga ratusan, detak jantung Ciong Tay-pek juga semakin keras bila hitungannya sudah mencapai tiga ratus enam puluh mendadak dia berhenti. Bukan lantaran dia ingin berhenti, tapi karena rasa tegang hatinya menambah rasa takut dan ngeri, tapi juga makin curiga, berbagai perasaan itu gejolak dalam hatinya menimbulkan suatu kekuatan, sehingga tanpa sadar dia menghentikan langkah dan hitungannya.

Tapi Ciong Tay-pek tidak segera turun tangan, yang terpikir dalam benaknya sekarang adalah deru napasnya terasa memburu berat seperti desau kenalpot mobil yang keberatan muatan ditanjakan terjal. Batu besar persegi yang ke tiga ratus enam puluh lima sudah berada di depan mata, jaraknya juga hanya tiga tindak, barang yang diincarnya selama ini, sehingga dia berani menempuh bahaya menanggung segala resiko menyelundup ke Kim-bou-po, apa betul benda yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diinginkan itu berada dibalik batu nomor 365 ? Kebetulan dia berdiri membelakangi tembok maka dia ulur tangannya menekan tembok, tembok besar yang terbuat dari batu padas itu terasa dingin dan kasar.

Pelan-pelan Tay-pek menggeser kaki, telapak tangannya ikut bergerak tak pernah meninggalkan permukaan tembok, akhirnya jari jemarinya menekan batu yang ke 365. Pelan-pelan pula dia memalingkan kepala, d sekitarnya yakin tiada orang lain. dia angkat kepala, tampak pagar tembok di sini cukup tinggi, jikalau dia berhasil dengan usahanya malam ini, dalam waktu sekejap mata dia bisa melompati pagar benteng ini.

Tapi Ciong Tay-pek tidak segera turun tangan, yang terpikir dalam benaknya sekarang adalah keadaan dirinya dan situasi sekitarnya sebelum dirinya mengalami peringatan pertama waktu itu tak ubahnya seperti sekarang, sekelilingnya tiada orang, kesunyian terasa ganjil namun secara mendadak badannya terlempar jatuh oleh pukulan tenaga dahsyat sehingga dirinya terjatuh kcdalam jaring.

Terbayang akan kejadian itu, dia ingin segera lari balik kekamarnya tinggal tidur saja. bahaya apapun tidak diserempetnya lagi. Akan tetapi kalau dirinya benar-benar lari pulang kekamarnya, sesuai apa yang dikatakan perempuan itu. selanjutnya dirinya akan tenggelam dalam kehidupan yang tawar, tak ada masa depan dan selama bidup takkan bisa keluar dari Kim-hou-po

Detak jantung yang keras menyebabkan Ciong Tay-pek merasa dadanya sakit, sekian lama dia menjublek, akhirnya dia mengepal tinju lalu pelan-pelan menarik kedua tangannya. Dikala kedua tangan tertarik itulah dia menghimpun semangat mengerahkan hawa murni dikedua telapak tangannya, maka timbul serangkum tenaga besar, walau cukup besar bentuk batu padas itu, tapi asal bangunan batu tidak kokoh dan bisa bergerak yakin dapat dihisapnya keluar. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam detik-detik yang menentukan ini, saking tegang Ciong Tay-pek tidak pikirkan apapun lagi. Suatu kenyataan, bila dia mau menggunakan otaknya, bahwasanya dia tidak akan berani melakukan apa yang sekarang sedang dia kerjakan.

Dikala lengan tangannya sudah tertekuk mundur hampir setengah kaki. sementara telapak tangannya masih merekat kencang di permukaan batu padas yang kasar itn, keringat sudah bercucuran diselebar muka Ciong Tay-rek, malam gelap pekat, angin malam menghembus kercang, bahwasanya dia tidak melihat keadaan didepan matanya tapi setelah tangannya ditarik mundur, telapak tangan masih melekat dipermukaan batu. ini menandakan bahwa daya sedot tenaga yang dikerahkan telah berbasil menyedot keluar batu padas pada hitungan yang ke 365.

Hanya sejenak Ciong Tay-pek ragu-ragu gerakan selanjutnya secepat kilat, dengan kedua tangan dia pegang batu itu terus dijerakan diianah lalu kedua tangan merogoh kedalam lobang.

Sambil merogoh kedalam dia menyeka keringat dimukanya pada lengan baju disamping pundaknya, waktu tangannya merogoh kedalam looang batu, terasa didalam lobang masih ada pula lobang lebih kecil, dari lobang kecil inilah tangannya merasa memegang sesuatu, waktu di rogohnya keluar ternyata sebuah bumbung bambu.

Meski hanya meraba dengan sebelah tangan, tapi Ciong Tay-pek merasakan, bumbung bambu itu entah sudah diraba dan dipegang berapa tahun lamanya, maka permukaan bumbung bambu itu terasa licin mengkilap bagaikan Kaca.

Sekujur badan Ciong Tay-pek bergetar keras, tapi gerak geriknya tetap cepat dan tangkas, lekas sekali dia sudah pegang din keluarkan bumbung bambu sebesar lengan bayi panjang satu kaki itu. Karena terlalu tegang, walau kedaan sekitarnya tetap sunyi tanpa ada gerakan apa-apa, di mana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangannya merogoh “Sret: lekas dia mencabut Jit-sing-to, sementara punggungnya sudah menempel dinding terus menjejak kaki melonjak keatas

Begitu badannya merambat terus naik ke atas. di kala hampir mencapai pucuk tembok, pada saat itulah dilihatnya sesosok bayangan orang tanpa mengeluarkan suara mendadak muncul dari kegelapan. Bayangan bagai setan itu muncul dari atas ke bawah langsung menubruk kearah Ciong Tay-pek. daya tubrukannya kelihatan cepat dan ganas secara reflek Ciong Tay-pek menggerakkan tangan, jadi tanpa pikir dia menabas kearah bayangan itu.

Kelihaiannya tabasan goloknya akan mengenai sasarannya, karena tubrukan bayangan hitam itu dipapak tabasan golok, namun bayangan hitam itu ternyata teramat tangkas, sedetik sebelum tubuhnya disambar golok, mendadak dia menggeliat di tengah udara terus bersalto balik kebelakang, maka tabasan golok Ciong Tay-pek mengenai tempat kosong.

Padahal Ciong Tay-pek harus kerahkan tenaga murninya untuk mempercepat Luncuran tubuhnya keatas, disamping dia meloncarkan tabasan goloknya, tapi pada saat bayangan hitam itu bersalto kebelakang itulah, mendadak Ciong Tay-pek rasakan pergelangan tangan kirinya pegal kesemutan, dalam malam segelap itu Ciong Tay-pek tidak bisa melihat jelas senjata gelap apa yang mengenai tangannya, celakanya begitu pergelangan pegal serta merta kelima jarinyapun ikut lemas, maka bumbung bambu yang dipegangnya itu seketika terlepas jatuh.

Ternyata bumbung itu tidak langsung jatuh ketanah, dikala masih melayang turun ditengafa udara, dalam kegelapan tampak berkelebat selarik cahaya merah gelap, maka bumbung itu seketika membelok arah melayang kearah bayangan hitam yang masih terapung diudara delapan kaki diatas tanah. Dalam sekejap itu Ciong Tay-pek juga sudah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berhasil mencapai pucuk tembok, hanya sekejap dia berhenti sejenak diatas tembok.

Dengan mendelong dia saksikan bayangan hitam itu melayang turun ke tanah, gerak geriknya lebih cepat lagi dari tubrukannya dari atas tadi, dalam sedetik bayangannya telah lenyap ditelan kegelapan.

Semestinya Ciong Tay-pek bisa lompat turun pula serta mengejar bayangan itu, namun dia sudah saksikan gerak gerik bayangan itu secepat angin, tapi jelas adalah perempuan yang berkedok itu Tapi bukan Ciong Tay-pek mengejar kedalam dia justru melompat jum alitan keluar pagar. Dalam sedetik itu dia berpikir, meski dirinya tidak memperoleh apa apa dalam usahanya,masuk ke Kim-hou-po, namun merai i syukur juga bahwa dirinya selamat.

Begitu kedua kaki menginjak bumi beruntun dia melompat jangkit beberapa kaii, bayangannya pun telah lenyap ditelan kegelapan. Musim dingin sudah hampir jelang, musim semi sudah diambang mata, namun hujan salju masih sering terjadi mesti tidak lebat lagi, namun hembusan angin terasa dingin merasuk tulang. Ditanah tegalan yang menuju ke kota Sang yang, rumput-rumput liar sudah mulai bersemi, diantara lajunya arus air disungai, kelihatan gumpalan-gumpalan es yang terhanyut dalam pusaran air yang deras.

Sebuah kapal tambang sudah melepas tali dan mengangkat jangkar, dua lelaki kekar memegang galah panjang, kapal tambang itu didorong ketengah sungai. Begitu lepas jangkar kapal tambang itu lantas terbawa arus sungai yang deras melaju dengan pesat, diatas kapal tambang ada delapan orang, semua menggosok telapak tangan dan mengkeretkan badan menahan dingin, demikian pula kedua lelaki pemegang galah itu juga berpakaian tebal, namun baju bagian dada tersingkap, setiap kali mengerahkan tenaga mereka berholopis kontol baris, maka keringat panas pun bercucuran membasahi badan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Semula kapal tambang ini, dikayuh ke atas melawan arus, setiba ditengah sungai baru dilajukan kesebrang dua lelaki tadi kini memegang gayuh, tenaga mereka memang besar, namun arus air juga deras, bingga laju kapal yang melawan arus ini terasa amat lamban.

Pada saat itulah diatas tanggul dipinggir sungai sana tampak pasir debu bergulung gulung terdengar derap lari kuda yang ramai mendatangi. Mereka datang dari arah jalan raya.

Tak jauh dari tempat itu ada beberapa rumah pendek terbuat dari tanah liat, di kala beberapa kuda itu dibedal datang, didepan rumah tanah liat, itu, seorang kakek sedang duduk dikaki tembok, untuk mencari hangat dari teriknya sinar matahari sambil memicing mata dia menoleh kearah jalanraya sembari menggumam:,”Wah sudah telat, kapal tambang sudah berangkat.”

Dalam beberapa patah ucapannya itu, puluhan ekor kuda sudah memburu tiba langsung menerjang kepinggir sungai. setiap penunggang kuda semua seragam hitam dengan kerudung kepala hitam pula, kain hitam di-tubuh mereka kelihatan kotor berdebu, bahwasanya siapa mereka tiada yang bisa dikejar, seorang penunggang kuda diantaranya segera keprak kudanya naik keatas tanggul. Kuda tunggangannya berjingkrak berdiri sambil meringkik panjang, waktu anjlok turun pula kaki depannya sudah berada ditanah serong yang menjurus kesungai.

Sementara itu kapal tambang sudah hampir mencapai tengah sungai, jaraknya ada dua puluhan tombak, tampak orang di punggung kuda itu menggentak keras mendadak tubuhnya mencelat tinggi keudara, ditengah udara badannya berputar datar, maka terdengarlah suara gemerantang, seiring dengan putaran tubuh orang itu.maka muncullah seutas rantai panjang, diujung rantai terpasang sebuah gantolan yang runcing mengkilap, meluncur pesat kearah kapal tambang ditengah sungai itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disaat kuda itu menerjang keatas tanggul meringkik serta mengerem daya lajunya. orang-orang diatas kapal tembang itu sudah angkat kepalanya memandang kearah sebrang. Tapi gerak gerik. penunggang kuda itu memang cekatan dan ctpat sekali, sebelum orang-orang diatas kapal tambang taru apa yang Terjadi, „Plok” gantolan runcing berantai panjang itu sudah jatun diatas dek dan kebetulan menggantol ujung kapal, berbareng bayangan orang itu. juga sudah melayang turun dipinggir sungai terus pasang kuda. Manusia yang satu ini ternyata seperti sebuah tonggak kayu yang kokoh tertanam didaiam bumi. kedua tangan dengan cepat menarik rantai ang sudah menggantol kapal tambang itu, ternyata kapal tambang yang sedang laju kedepan itu berhamil antuknya mundur.

Sementara itu belasan orang-orang berkedok itupun sudah mencongklang kuda mereka diatas tanggul, seorang diantaranya berseru keras: „Tuan tuan, monon maaf bila menunda perjalanan kalian sejenak kami sedang memburu seseorang yang tidak merasa bersalah boleh diam saja dan tidak perlu takut.”

Orang-orang diatas kapal tambang itu kelihatannya memang kaget dan ketakutan, tiada seorangpun yang bersuara, demikian pula dua lelaki pemilik kapal menghentikan kerjanya, lekas sekali kapal tambang itu sudah kembali pada tempatnya semula. Enam orang sudah melompat turun dari punggung kuda terus berlompatan keatas kapal seraya membentak: .”Silakan tuan tuan naik keatas dara”

Lekas pemilik kapal memasang papan panjang penyebrangan seperti menggiring bebek saja sembilan penumpang kapal tambang itu berbaris naik keatas darat dengan gopoh. Enam orang berkedok itu tampak berkilat sorot matanya kepala mereka berdebu, hanya mata mereka saja yang kelihatan bersih, maka keadaannya kelihatan lucu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelan sembilan penumpang naik keatas darat, tiga orang diantara enam orang berkedok itu juga ikut naik dua orang sibuk memeriksa kapal seorang lagi berdiri diburitan. Lelaki yang menarik baliK kapal dengan rantai panjang itu masih tetap berdiri dipinggir sungai setegak tonggak yang kokoh.

Dalam pada iiu para penunggang kuda berkedok hiiam itupun sudah turun semua dari punggung kuda, sembilan penumpang kapal tambang itu dirubung dengan ketat, sekilas kedua pemilik kapal saling pandang lalu seorang angkat bicara: „Kalian mau cari siapa, urusan tidak ada sangkut-pautnya dengan kami, mau periksa apa bolen silakan cepat sedikit, hari sudah hampir petang, arus sungai akan lebih besar, penyebrangcn kuatir bisa gagal, harap kalian suka maklum.”

Agaknya pemilik kapal tambang ini sudah lama mencari nafkah dipenyebrangan sungai ini, berbagai jenis sifat manusia pernah dihadapi, karena itu meski mendadak menghadapi perohahan mendadak seperti ini, sedikitpun mereka tidak kelihatan gugup.

Maka salah seorang diantara orang orang berkedok itu tampil kedepan, katanya dengan lantang: ”Ciong Tay pek keluarlah sendiri.”

Sembilan penumpang termasuk kedua pemilik kapal terkurung dalam kepungan orang-orang berkedok itu. setelah orang berkedok itu buka suara, maka sembilan orang itu saling toleh, saling pandang satu dengan yang lain. semua tidak bersuara, tapi juga tiada seorangpun yang tampil kemuka.

Sembilan orang itu terdiri tiga lelaki setengah umur, dandan mereka mirip petani, ada sepasang suami istri yang masih muda. yang lelaki beralis tebal mata besar, sekali pandan; juga bisa diketahui sebagai pekerja sawah, yang perempuan ternyata kelihatan kekar, jari-jari tangannya kelihatan kasar, tidak punya pinggang, kulitnya hitam, jelas Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diapun perempuan jang selalu aktif diladang. Seorang lagi membopong sebuah kotak kayu besar, kelihatannya tabib keliling atau penjual kelontong. Masih ada lagi tiga orang, seorang seperti guru sekolahan, sementara dua orang lagi tampak berpakaian perlente, baju tebal mereka terbuat dari kulit rase yang berbulu indah, kalau bukan tuan tanah pasti pedagang kaya.

Angin dingin masih ribut dengan hembusan kencang, setelah orang berkedok itu bersuara, keadaan sunyi sejenak, tiada orang bersuara, maka orang itu berkata pula: ”Bagus, Ciong Tay-pek, apa kau kira dapat lolos atau menyembunyikan diri ?” merandek sebentar lalu menyambung, “Terpaksa kalian harus membuka pakaian biar kami periksa dada kalian.”

Perintah ini agaknya diluar dugaan orang-orang itu. kontan petani muda itu memprotes ”Cuaca sedingin ini, kalian jangan mempermainkan orang?’

Tapi protesnya ini justru disambut delapan orang oiang berkedok itu dengan gerakan serempak.”Sreng”, mereka mencabut golok baja yang kemilau, maka orang itu membentak pula: ”Lekas, jangan membuang waktu.’

Petani muda itu lantas menggerutu: ”Makanya, setan alas, mau libat bolen lihat,” sembari menggerutu dengan keras dia menbuka kancing mantelnya lalu membuka baju dalamnya pula maka tampak dadanya yang bidang kekar dan berbulu, ‘ Bluk, bluk” dua kali dia tepuk dada seraya berkaok: Nah boleh kau periksa ?”

Tampak lengan lelaki berkedok itu bergerak, pandangan orang banyak seketika silau tahu-tahu tangannya sudah memegang sebilah pedang panjang yang tipis dan lencir, sementara itu mentari sudah doyong kebarat hampir masuk peraduan, sinar surya menampilkan reflek cahayanya diatas pedang panjang itu hingga orang-orang didepannya tak kuat membuka mata, begitu tangan mencabut pedang, mendadak dia maju setapak, di mana pergelangan tangan berputar, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ujung pedang yang tajam dan runcing itu sudah mengancam dada si petani muda serta menggores turun.

Gerakannya amat cepat. dikala perani muda itu menjerit kaget, hakikatnya dia tidak sempat menyingkir, tahu-tahu pedang orang itu-pun sudah menarik lengannya.

Tampak goresan ringan ranjang didar’a petani muda itu menimbulkan cucaran darah, tapi hanya luka lecet dikulitnya saja, maka darah yang keluar juga hanya sedikit saja.

Keruan petani itu kaget dan gusar tapi juga jeri. sekilas dia menunduk mengawasi luka-luka ringan didadanya waktu dia angkat kepala mengawasi lelaki berkedok itu, seketika dia berdiri melongo tak mampu bersuara.

Sebaliknya lelaki berkedok itu malah tersenyum ramah, katanya: ‘”Maaf, saudara ” sembari bicara dia mengulap tangan kirinya, seorang berkedok segera maju kedekatnya lantas merogoh kedalam kantong mengeluarkan sekeping uang katanya: ”Mengganggu kau saja, terimalah ini sebagai ganti rugi pengobatan mu.”

Uang perak itu senilai lima tahil, selama hidup dan bekerja berat di sawah mungkin petani itu tak pernah memiliki uang sebanyak itu. seketika dia terbeliak kaget, kejap lain setelah dia sadar apa yang dihadapi menang kenyataan seketika mulutnya tertawa lebar, katanya : ,,Ah, luka seringan ini, diludahi beberapa kali juga sudah sembuh, terima kasih, terima kasih.” sambil bicara dengan munduk-munduk dia terima uang itu teius digenggamnya kencang-kencang, pada hal hawa dingin, angin ribut lagi, dia lupa mengancing bajunya lagi..

Lelaki berpedang itu segera memberi aba-aba : „Baiklah, berikutnya.”

Beberapa penumpang kapal tambang itu semula bersikap kaku dan seperti kurang senang, kini setelah petani muda itu memperoleh keuntungan malah, mereka jadi iri, seperti Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berlomba saja dengan muka riang semua membuka kancing baju masing-masing, tanpa kecuali dikulit dada mereka orang itu menggores luka panjang yang ringan, gerak pedangnya memang teramat cepat tapi juga penuh perhitungan, darah yang keluar dai luka panjang itu tadi setetes.

Kini tinggal kedua lelaki berpakaian tuan tanah itu, kelihatan mereka sungkan dan tidak mau diperiksa cara begitu, kalau mereka tidak pingin terima ganti rugi lima tahil, namun menghadapi kegarangan orang-orang berkedok dengan golok baja yang kemilau, apalagi mereka cukup adil setiap orang diberi ganti rugi lima lahil, maka terpaksa mereka menurut saja kehendak orang-orang berkedok itu.

Lekas sekali pekerjaan sudah hampir usai, kini tinggal perempuan petani itu, pedang panjang orang itu mendadak menuding perempuan petani dan berseru : ”Sekarang kau.”

Petani muda yang masih menggenggam lima tahil perak di angannya sambil berseri tawa tadi kini menjadi gugup, serunya keras : „Hai, orang yang hendak kalian cari itu laki atau perempuan? Inilah isteriku yang baru saja kukawin, jangan kalian main-main padanya.

Bergetar pedang panjang lelaki itu hingga memetakan garis-garis gemerdep. katanya kereng : ”Orang yang kami cari iin mendadak lelaki lain saat perempuan, kadang-kadang tua tiba-tiba menjadi muda, maka kami harus memeriksanya juga.”

Karuan petani muda itu makin gelisah, serunya ? „Tidak boleh, dia betul-betul istriku, perempuan tulen, mana boleh main buka baju didepan umum ? Memangnya kalian tidak tahu adat-istiadat ? Kalau begitu, biar kukembalikan uangmu, boleh kalian bunuh kami saja dari pada terhina.” sembari berkaok-kaok dia menghadang didepan istrinya sambil melot u. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sesaat lelaki berpedang itu jadi bimbang, akhirnya dia menoleh dan berseru : „Toa-moay, kau saja yang memeriksanya.”

Seorang berkerudung baju hitam segera mengiakan sambil tampil kemuka. Perawakan orang ini tinggi lencir, mengenakan jaket kulit, kerudung mukanya tampak berdebu, mulutnya yang kelihaian tampak menyeringai lebar. Orang yang memegang pedang menuding orang bekerudung ini dan berkata „Inilah adik besarku, dia juga perempuan, kurasa tiada halangan untuk memeriksanya.”

Melotot petani muda itu kepada orang yang mendekatinya, katanya menggeleng : „Darimana aku tahu kalau dia ini perempuan ?”

Orang berkerudung yang mendatangi ini memang tidak mirip perempuan, hakikatnya tiada berbedaan dengan orang berkerudung lainnya, malah perawakannya lebih tinggi, pantas kalau petani muda ini bertanya demikian.

„Jangan cari perkara.” sentak orang berpedang, „dia ini adik besarku, siapa bilang bukan perempuan.”

„Kau sendiri yang bilang, aku tidak mau percaya, kecuali dia buka dulu bajunya, bila dada ya benar ada sepasang tetek …”

Belum selesai dia bicara, orang yang berdiri didepannya sudah menghardik :

”Kentut makmu yang busuk.”

“Plak” kontan dia gampar muka petani muda itu dengan murka.

Gamparannya amat keras sehingga petani itu terpental jatuh dan terguling kebawah tanggul, untung dia sempat meraih sebuah batu sehingga badannya tidak kecemplung kekali. Tapi separo mukanya bengap, sembari merangkak keatas dia berkaok-kaok. bila dia sudah berada diatas tanggul Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pula, orang yang menggamparnya itu sudah menyeret isteri petani itu kesamping. sebilah golok kemilau juga sudah mengancam mukanya.

Isteri petani itu tampak mencak-mencak namun hanya sejenak, orang berkerudung itu sudah berteriak : „Toako, dia bukan Ciong Tay-pek.”

Sambil medekap dada dengan muka merah dan malu isteri petani itu berlari kearah si petani dan sembunyi di belakangnya Sementara lelaki yang berpedang itu mengerut alis debu diatas alisnya kelihaian rontok berhamburan, terdengar dia memberi aba-aba : „Berangkat.”

Serempak anak buahnya mencemplak ke punggung kuda, akan tetapi dua orang yang masih berada dialas kapal tetap berdiri tidak bergerak, malah kelihatan mimik mereka amat aneh.

Beberapa orang sudah putar kudanya hendak menerjang keatas tanggul sana, namun serentak pandangan semua orang tertuju keatas kapal, cahaya mentari menjelang magrib menyinari muka mereka, kedua orang ini seperti tertawa dan bukan tertawa, seperti meringis kesakitan tapi bukan menangis kedua matanya memandang sikapnya lucu sekali.

Jumlah orang-orang seragam hitam ada belasan orang, empat diantaranya segera melompat turun pula terus memburu keatas kapal. Begitu mereka mendekat, karena kapal bergoyang maka kedua orang yang berdiri ini lantas bergerak perlahan terus roboh di atas geladak. Lelaki besar yang berdiri dipinggir tanggul dengan tangan menarik kencang rantai besi itu, begitu melihat kedua Orang kawannya yang diatas kapal roboh, seketika menampilkan sikap kaget dan heran.

Demikian pula empat orang yang menyusul keatas kapal juga seketika tertegun, serempak mereka memburu maju Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seraya memeriksa, teriaknya : „Wah sudah mati terbokong senjata rahasia.”

Karena peristiwa yang tak terduga ini, keadaan menjadi hening, yang terdengar hanya hembusan angin lalu dan deru napas mereka yang berat, sehingga teriakan kedua orang itu kedengarannya lebih seram membuat orang berdiri bulu kuduknya.

Dua orang lagi tampak mencelat mumbul dan punggung kuda meluncur kebawah tanggul dan berdiri jajar dikanan kiri lelaki yang menarik rantai besi itu. Kedua orang ini adalah lelaki berpedang dan adik besar perempuan itu. Lelaki berpedang yang menggores luka panjang didada setiap penumpang dan perempuan yang dipanggil adik besar itu agaknya bersaudara. Ketiga orang ini jelas bukan sembarang orang, di Bulim (dunia persilatan) tiga bersaudara ini juga cukup terkenal dengan julukan “Toa-ho-sam-tiau cu” (tiga saka di sungai besar) Begitu datang dengan jangkar rantainya menarik balik kapal tambang itu adalah Loji (oraag kedua) Thi Cu (saka besi), perawakannya tinggi besar. Yang dicurigai sebagai perempuan oleh petani muda itu adalah adik paling muda mereka Pi-lik cu (saka geledek), sedang saudara tua mereka adalah King thian-Cu (saka penyanggah langit) yaitu lelaki berpedang itu. Juga pemimpin dari rombongan besar orang berkerudung ini. Sepanjang sungai besar siapa tidak kenal adanya tiga saka besar di sungai besar. Kini ketiganya berdiri jajar dibawah tanggul, perawakan Pi-lik-cu meski perempnan tapi tidak kalah tinggi dari kedua saudaranya, wataknya berangasan lagi, begitu tiba disamping saudarannya dia lantas bertanya bengis : „Jiko (engkoh kedua) siapa pembunuhnya ?”

Sejak menarik kapal dengan rantainya Loji ThiCu tetap berdiri ditempatnya menghadap k arah kapal, berarti berhadapan juga dengan kedua kawannya di atas kapal itu, umpama seekor lalat terbang didepan muka mereka juga Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

darat dilihatnya jelas, tapi bukti dan nyata bahwa dia tidak tahu menahu bagaimana kedua kawan mereka bisa menjadi korban pembunuhan gelap ini, kedua matanya melotot, namun tak mampu menjawab.

Hari sudah petang, cuaca mulai gelap dua orang yang terdiri segar bugar mendadak kedapatan mati dibawah hembusan angin lalu yang dingin. Pi-lik-cu menjejak kaki tubuhnyapun mencelat keatas kapal. Kedua korban rebah telentang, kecuali mimik mereka yang kelihatan ganjil, ternyata tidak terdapat luka-luka dibadannya.

Pi-lik cu berjongkok memeriksa sejenak, mendadak dia berjingkrak berdiri pula sambil tolak pinggang, memangnya perawakannya sudah tinggi, perempuan kalau sedang berang memang kelihatan menakutkan. Pada saat itulah, terdengar pula derap lari kuda yang mendatangi, tiga ekor kuda laksana angin lesus menggnlung keatas tanggul.

Orang-orang diatas tanggul itn sudah ke lihatan bingung dan gelisah, umum sudah tahu bahwa malam hari pantang menyeberang sungai kuning. Terjadi pula pembunuhan misterius diatas kapal, sikap yang semula gugup gelisah berobah menjadi ngeri dan takut.

Sementara itu. tiga ekor kuda gagah yang mercongklang datang telah dekat, begitu kuda berhenti, ada beberapa orang diatas tanggul seketika menjerit kaget : „Kim hou-po.”

Maka sikap semua orang berobah hormat dan ramah, kedua lelaki bercorak pedagang itu segera mengkeretkan kepala, sikapnya kelihatan munduk-munduk dan takut.

Kedatangan tiga ekor knda ini menimbulkan kepulau debu, jelas tiada obahnya dengan knda-kuda lain, tapi setelah berhenti, secercah sinar mentari yang tersisa masih sempat menyinari pelana dan pidal kuda itu, tampak berwarna kuning mengkilap, ternyata terbuat dari emas murni. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diseluruh kolong langit yang membuat pelana dari emas hanya Kim-hou-po, hanya kuda yang keluar dari Kim-hou-po, meski kuda itu seluruhnya terbuat dari emas, golongan hitam yang paling jahat dan kuasa-pun takkan berani menyentuhnya.

Ternyata dandanan ketiga penunggang kuda yang baru datang ini berbeda, pakaian mereka kelihatan mewah, mengenakan mantel bulu rase dengan pelirit kecil emas pula. Yang berlari paling depan mendahului lompat turun, sebelum kakinya menginjak tanah, kedua tangannya sudah menepuk badan membersihkan debu yang melekat dibadannya. katanya kemudian : ,.Tan-lotoa, belum berhasil menemukan Ciong Tay-pek ?

Orang ini adalah pemuda berwajah gagah dan cakap, perawakannya tegak dan kereng. namun wajahnya justru pucat mengkilap, selintas pandang orang akan merinding dan mengkirik seram.

Melihat kedatangan ketiga orang ini Thi Cu segera berlari keatas, sambil menjawab: „Belum ketemu, malah dua saudara kita terbokong mati di smi.”

Berdiri alis pemuda cakap itu, wajahnya kelihatan menghijau, laporan Tni Cu agaknya tidak menjadi perhatiannya, pandangannya mendadak, tertuju kesembilan penumpang kapal yang digusur turun itu, katanya dingin: ”Kecuali menyebrang sungai dan mencari perlindungan ke pihak Liong-bun-pang jelas tiada tempat berpijak didaerah ini untuknya sudah kau periksa orang-orang itu ?

„Sudah kuperiksa semua,” sahut Thi Cu „Dada Ciong Tay-pek ada gambar tato sebuah kupu besar, kuatir dada mereka di tempeli sesuatu, dikulit dada mereka aku menggores luka berdarah, kenyataan tiada Ciong Tay-pek di dalamnya.”

Pemuda itu mendengus dingin perlahan hawa hijau dimukanya bertambah gelap kelihatannya tidak mirip wajah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang hidup, selangkah demi selangkah dia menghampiri sembilan orang itu, sorot matanya setajam pisau, satu persatu dia tatap muka mereka, mendadak dia berputar serta memberi perintah:,,Buinuh semua.”

Seketika Toa-ho-sam-tiau-cu berdiri menjublek. Dua lelaki yang datang bersama pemuda ini segera mengiakan dari punggung kuda mereka langsung berlari kearah sembilan orang itu. Sembilan orang itu agaknya juga tahu bahwa jiwa mereka terancam seketika geger dan bubar, petani muda itu menjerit lebih dulu terus berputar dan lari, namun sinar putih berkelebat, lima jiwa seketika melayang.

Serangan kedua orang itu ternyata cekatan dan telengas, jelas kelima korbannya itu pasti mati penasaran karena tidak tahu kenapa dan oleh siapa mereka mati, sementara pedang ditangan kedua orang itu tidak berhenti meski lima jiwa lteelah binasa, „Sret,-sret” kembali pedang mereka bergeraiktiga jiwa melayang pula, setiap korbannya tergores luka besar digitok mereka, tanpa mengeluarkan suara mayatnya tersungkur kedepan, kini tinggal sipetani muda itu, agaknya saking ketakutan, semula dia sudah berlari beberapa langkah kini dia membalik tubuh, mulurnya megap-megap lidahnya juga bergerak naik turun sambil melotot kepada orang didepannya.

Satu diantara kedua orang itu sudah menyarungkan pedangnya, seorang laki melompat maju Cret” pedangnya menusuk keleher petani muda itu, petani itu tetap berdiri menjublek, pedang tajam itu menggores lehernya darah mengalir, badannya sempoyongan terus roboh tak bergerak lagi, „Trap”‘ diwaktu membalik badan pedang orang itu sudah kembali kesampingnya.

Tampak air muka Toa-ho sam-tiau-cu amat jelek dan lucu, Pi-lik cu yang berangasan segera memprotes:,,Sau-pocu, sembilan orang ini sudah kami periksa, mereka hanya lah rakyat jelata yang tidak berdosa, kenapa kau bunuh mereka?”‘ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Padahal Thi Cu sudah memberi tanda kedipan mata serta menarik lengan bajunya, tapi perempuan gede ini tidak hiraukan.betapa yang dipanggil Sau tocu (tuan muda) melirik dingin kepadanya, jengcknya: „Lebih baik salah membunuh, betapapun Ciong Tay-pek tidak boleh lolos.”

Pi-lik-cu menggeram gusar, agaknya amarah terbakar, dia tampil selangkah, Sreng, sreng” dua bilah pedang bersilang mengadang didepannya, tabir malam telah mendatang, maka kemilau dingin di batang kedua pedang terasa dingin dan seram.

Lekas Thi-Cu dan Kiug-tian-cu orang satu lengan menarik Pi-lik cu mundur, maka kedua orang yang melolos pedang perlahan menurunkan pedang mereka. Dalam pada itu Sau pocu membalik badan menghadapi kedua orang pemilik kapal tambang, Kedua lelaki itu seketika pucat pias, teriaknya sember: „Kami sudah turun temurun” mencari nafkah disini sejak kakek, ayah dan aku tiga generasi, ketiga tuan besar ini tahu tentang kami Sikap pemuda itu tampak kaku dingin dan kejam, orang tua yang sejak tadi duduk didepan rumah memburu datang dengan langkah tertatih-tatih. Pemuda itu segera mundur beberapa langkah, hidungnya mendadak mendengus keras-keras. Agaknya dengusan napas ini merupakan komando, kedua pengawalnya itu segera berputar, pedangpun terayun.

Waktu mereka mengerjakan pedang Pi-lik-cu membentak murka, kelihatannya ingin mencegah atau merintangi, namun serangan pedang kedua orang ini memang teramat cepat, tiga jiwa seketika melayang.

Saking murka, Pi-lik-cu segera merenggut kain kerudung kepalanya terus dibuang. ke arah maka tampak wajahnya yarig kekar dengan rambut yang pendek, bentaknya: „Kenapa harus membunuh tanpa alasan?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pemuda itu menatap King-thian-cu Tan Cuii, suaranya sinis; ”Tan-lotoa, kau tidak ingin bekerja lagi bagi Kim-hou-po kami?”

Dalam sesingkat ini betapa buruk rona muka King-thian cu. Pi-lik-cu mewakilinya menjawab: „Siapa sudi bekerja untuk kalian? ”

Hidung si pemuda kembali mendengus, lalu berucap: „Bagus.” berbareng tubuhnya melayang hinggap dipunggung kuda. Disaat itu pula kedua pengawalnya itu sudah bergerak kilat, dimana sinar pedang mereka bergerak, jeritan jeritan ngeri kumandang diudara. Bagai angin lesung kedua orang ini bergerak membundar dari dua arah yang berlawanan, belasan orang berkurudung yang datang bersama Toa-ho-sam-tiau-cu semua sudah roboh binasa.

Begitu jeritan memecah kesunyian Thi Cu lantas menggerakan tangan mengayun rantai mengepruk kearah pemuda yang men-ceplak kuda, deru samberan rautai besi yang terayun kencang itu tidak kalah derasnya dari damparan angin badai, diujung rantai juga terpasang sebuah jangkar kemilau, jelas batok kepala pemuda itu akan termakan oleh jangkar yang berbelok ini.

Tapi pemuda itu seperti tidak melihat bahwa jangkar rantai itu telah mengancam kepalanya, kuda tetap di congklang, kepala tidak bergerak, hanya perut kuda dijepitnya lebih keras hingga kuda itu melonjak jauh kedepan. Thi Cu menghardik pula, mendadak lengannya mengendap kebawah serta ditarik mundnr hingga jangkar diujung rantai ikut tertekan turun mengepruk batok kepala si pemuca.

Kini baru terlihat pemuda itu perlahan angkat kepalanya dengan malas seperti tanpa sengaja melihat cuaca. Pada hal jangkar itu tinggal satu kati diatas kepalaiiya, tampak dia menggerakan tangan menjentik sekali ke-arah jangkar, „Cring” mengeluarkan suara nyaring. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Karuan Thi Cu terbelalak, jangkar di-ujung rantainya itu beratnya ada seratus kati, di tambah tenaga yang dikerahkan, sedikitnya kekuatannya berlipat ganda, tapi pemuda itu cukup menjentik saja dengan jari tengahnya, sebelum Thi Cu sempat menarik rantai jangkarnya, mendadak terasa serumpun tenaga dahsyat melalui rantainya. menerjang dirinya. Betapa besar tenaga yang menerjang akibat selentikan jari itu. telapak tangan Thi Cu terasa pedas linu, tanpa kuasa Kelima jarinya terlepas.

Celakanya, meski rantai sudah dilepaskan tapi jangkar yang terjentik itu masih melayang balik serta melingkar laksana ular, tahu-tahu tubuh Thi Cu sudah tersubat kencang oleh rantai sendiri, jangkar itupun telak mengenai mudanya, kontan Thi Cu menjerit nceri, kepalanya remuk darahpun muncrat. Jelas Thi Cu mati seketika, namun kejadian amat mendadak kuda-kudanya masih berdiri kokoh, sehingga badannya masih berdiri tegak.

Tabir malam sudah menyelimuti jagat raya, jiwa Thi Cu sudah melayang, kepalanya sudah remuk, darah bercampur otak meleleh kebawah, badannya masih tegak sisa rantainya baru berdering jatuh memukul tanah berbatu sehingga suaranya berisik.

Setelah menjentik jangkar, pemuda itu tetap congklang kudanya, melirikpun tidak kepada Thi Cu, kira kira tiga tombak kemudian sisa rantai yang masih melayang itu baru runtuh seluruhnya dan menindih kemayat Thi Cu dan roboh binasa.

Kematian Thi Cu berlangsung dalam waktu sekejap. Sementara itu kedua pengawalnya itu juga kerjakan pedangnya secepat angin menusuk King-thian-cu, sebat sekali King-thian-ca menyuruh mundur, berbareng pedang panjang yang lencir tipis ditangannya mengeluarkan dering suara yang keras. King-thian-cu memang tidak malu sebagai ketua dan Toaho-sam-tau cu, gerak pedangnya itu begitu lincah dan enteng, di:engah kegelapan tampak menaburkan cahaya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bening. Agaknya dia menyadari bahwa jiwanya terancam elmaut, maka pedangnya bergerak ganas menukik kedepan, agaknya dia tidak hiraukan lagi bahwa kedua lawannya sedang menyergapnya.

Pedang panjangnya mengeluarkan suara ribut dalam satu kali uruk, terpaksa kedua lawan menarik tangan sehingga serangan pedangnya tertarik satu kaki, maka terdengarlah suara „Creng -trap” ternyata dua pedang kedua orang itu telah mengencet lengkat pedang panjang King-thian-cu, satu diatas yang lain dibawah, lengan seorang menyanggah yang lain meneken, sehingga pedang panjang King-thian-cu yang lemas itu melengkung seperti leter .“S“

Sambit kerahkan tenaga melawan tekanan kedua lawannya Kim-thian-cu berteriak : „Toamoa (adik besar) lekas pergi.”

Masih untung kalau tidak berteriak, teriakan itu justru menimbulkan amarah Pi-lik-cu. dengan tangan kosong dia pentang lengannya terus menubruk kearah orang itu. Tingkah lakunya yang kasar dengan pekik suaranya yang garang lebih mirip seekor gorilla yang lagi nyamuk dari pada seorang perempuan.

Melihat adiknya tidak menghiraukan ajurannya malah nekat menyerbu musuh, King thian-cu Tan Cui memekik putus harapan, disaat Pi-lik-cu hampir tiba didepan kedua orang itu, terdengar suara „Pletak” dua kali, pedang panjang King thian cu ternyata tergencet patah tiga potong oleh kedua lawannya.

Begitu pedang King-thian cu patah kedua orang segera menggeser langkah berpindah posisi, disaat badan berputar pedang mereka laksana kilat menusuk kearah Pi-lik-cu dari dua arah.

D saat saat kritis itulah, dari tempat gelap, diantara mayat-mayat yang bergelimpangan itu, mendadak mencelat sesosok bayangan, begitu cepat gerakannya, seumpama setan langsung menerjang kearah Pi-lik-cu. Berbareng dengan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergeraknya bayangan hitam itu, kedua orang yang menusuk Pi-lik-cu juga menjerit kaget : ”Ciong Tay-pek ‘”

Pada hal cuaca sudah gelap, hakikatnya sukar melihat jelas siapakah bayangan orang yang mencelat dengan tubrukan kencang itu, cuma dari bentuknya saja dapat diperkirakan, bahwa bayangan itu bukan lain adalah petani muda itu.

Gerakan bayangan hitam itu memang teramat pesat, baru saja kedua orang itu berteriak bayangan itu sudah menekam Pi-lik-cu, Pi-lik-cu menjerit aneh, tubuhnya keterjang roboh, bayangan itupun ikut terjungkal dan bergumul, keduanya lantas megggelundung jatuh kebawah tanggul dan kecemplung ke sungai yang berarus kencang.

Karena keterjang jatuh oleh bayangan hitam itu sehingga Pi lik-cu terhindar dari tusukan pedang kedua orang itu. namun diwaktu tubuhnya bergumul dengan bayangan hitam itu. sebelum tubuhnya kecebur di air, terdengar mulutnya masih memekik dan mencaci maki.

Begitu kedua pedang mereka menusuk tempat kosong, sementara Pi-lik-cu diterjang jatuh kepinggir, kedua orang itu memburu maju, pada saat itulah King-thian cu dengan menggenggam pedang kutung memekik seram sambil menubruk, pedang buntung ditangan-pun bekerja.

Gerakan kedepan kedua orang itu juga tidak berhenti, begitu pedang buntung King-thian-cu menyerang tiba, kedua orang ini dengan dua belah pedang menggencet pula dari atas dan bawah, hebatnya kali ini pedang mereka tidak melulu menggencet sekaligus juga menusuk dan menepis miring.

Kini King thian cu sudah tiada kesempatan balas menyerang lagi, ‘”Crat Cret” beruntun dua kali, pedang kedua orang .menahan dan mengiris kulit daging King thian-cu, darah mengalir deras laksana sumber air.

Betapapun amukan King thian cu sempat merintangi gerakan kedua orang ini, maka terdengar pula “Byur”‘, jelas Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seseorang telah kecemplung keair. Meski berkorban dan jiwa melayang lega juga hati King-than cu bahwa sebelum ajal dia masih sempat menyelamatkan jiwa adiknya dari tusukan pedang kedua pengganas ini.

Begitu tubuh King-thian-cu menyentuh tanah, kedua orang itupun sudah melesat

JILID KE – 2

Namun dalam keadaan seperti dirinya, sekarang mau tidak mau Ciong Tay-pek harus merasa takut, merasa ngeri, seluruh tubuhnya seperti mengejang kaku keberanian untuk membalik badanpun tiada lagi.

Maka terdengar suara si pemuda dibelakangnya, dari suaranya agaknya si pemuda juga merasa heran dan kaget, tanyanya : ’Apakah Sip-loyacu baik-baik saja?”

Kembali bergetar tubuh Ciong Tay-pek, pertanyaan itu kedengarannya bernada datar dan biasa, namun bagi pendengaran Ciong Tay-pek seperti bunyi guntur yang menggelegar dipinggir telinganya. dia maklum lawan sudah tahu serangan golok yang dilancarkan tadi adalah Jay-cing-to-hoat, ilmu golok Sam-siang Tayhiap yang terkenal dikolong langit, Sip Tay-hiong Sip-cengcu dari Ling-cui-ceng.

Dari pertanyaan itu dapat dinilai bukan saja kepandaian si pemuda amat tinggi, pengetahuannya ternyata juga amat luas, dirinya jelas bukan apa-apa dibanding orang.

Setelah sekian lama menggigil dan berhasil menguasaii diri baru pelan-pelan Ciong Tay pek membalik badan. Pemuda dan kedua orang baju hitam berdiri didepannya,”Tiang” Jit-sing-to d tangannya tak kuasa dipegangnya lagi, jatuh berkerontarg diatas lantai.

Waktu melancarkan jurus Pak-to-lay-co tadi goloknya menyamber dan ballik bajunya, maka bajunya robek dan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tersingkap, hingga gambar tato seekor kupu terbang didepan dadanya kelihatan nyata. Suaranya ternyata juga gemetar : „Guruku .. .baik-baik saja.”

Setelah mengajukan pertanyaannya sikap si pemuda seperi tidak acuh terhadap Sio Tay hiong, tawar ya tetap tawar, katanya . „Mumpung kau belum meninggalkan tempat ini. kau masih sempat melakukan apa yang ingin kau lakukan.”

Ciong Tay-pak menelan ludah, sahutnya tergagap : ,.Aku. .. tidak berani lagi.”

Pemuda itu menarik muka, desisnya : ”Baik dan selanjutnya, kau harus patuh akan segala peraturan dalam benteng ini, kuharap kau tidak perlu diperingatkan-untuk kedua kalinya” habis bicara mendadak kedua tangannya seperti disodorkan kedepan, kontan Ciong Tay-pek rasakan segulung tenaga besar menyongsong dirinya hingga dadanya seperti ditindih barang berat napasnya seketika sesak.

Pada hal kedua tangan pemuda tidak menyentuh badan Ciong Tay-pek, orangnya juga masih berdiri ditempatnya dalam jarak yang cukup jauh tidak bergerak pula. namun tubuh Ciong Tay-pek seketika mencelat terbang keatas. di kala hampir menyentuh langit-langit, mendadak terdengar suara menjeplak pula. maka terbukalah sebuah lobang dan orangnyapun masih terus meluncur keluar lewat lubang besar itu setinggi lima kaki pula maka daya luncur tubuhnya keataspun telah sirna, d kala tubuhnya meluncur turun pula dirinya hingga dikaki tembok.

Sekujur badan Ciong Tay-pek basah kuyup oleh keringat dingin, begitu angin malam menghembus lalu seketika dia gemetar kedinginan seperti kecemplung kedalam sumur salju, tenaga untuk angkat langkah juga seperti tiada lagi. Pada saat itu pula tampak sinar perak melayang turun dari atas tembok „klontang” ternyata Jit-sing-to melayang jatuh dibawahi kakinya. Dalam sekejap itu tidak habis heran Ciong Tay-pek apa maksud kejadian ini. Akan tetapi lekas sekali diapun sudah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

paham duduknya persoalan. Ternyata Jit-sing-to dikembalikan kepadanya.

Golok mustika nomor satu dikolong langit yang pernah menimbulkan pelbagai bencana bagi setiap pemiliknya ini ternyata tidak terpandang sedikitnya oleh orarg di sini, kini bukan dirinya saja yang di bebaskan, golok mustikapun dikembalikan. Sekaligus Ciong-Tay-pek menyadari pula, kenapa begitu banyak kaum persilatan yang punya nama besar dan terkenal didunia persilatan setelan masuk Kim-hau-po ini rela mengenyam kehidupan tentram tanpa urusan. Gelagatnya dari jago-jago kosen itu juga seperti dirinya pernah mendapat peringatan yang pertama. Dan kenyataan membuktikan tiada seorangpun diantara mereka yang berani menantang bahaya untuk menerimi peringatan kedua.

Mendelong beberapa kejap lagi baru Ciong-Tay pek membungkuk badan memungut Jit-sing-to, wajahnya seketika mengunjuk senyum getir, jikalau ada orang mau merebut golok mestika ini, dengan senang hati dia akan serahkan golok mestika itu ketangan orang lalu tetawa besar tinggal pergi.

Maklum didalam Kim-hou-po, apapun tiada gunanya, hanya pendatang baru yang goblok saja lantas merah matanya begitu melihat Jit-sing-to, demikianlah keadaan dirinya, sebagai pendatarg baru yang goblok itu. Pelan-pelan dia beranjak kedepan, keadaan tetap sunyi sepi seperti tiada orang lain bertempat tinggal di sini, gelagatnya dia boleh mondar mandir kemana saja sesuka hatinya. Namun setelah mengalami peringatan pertama tadi, terasa olehnya didalam keheningan yang mencekam ini, di tempai-tempat gelap sana entah berapa pasang mata tengah mengawasi gerak-geriknya, segala gerak geriknya jelas takkan luput dari pengawasan mata-mata setan yang tersembunyi itu.

Akhirnya Ciong Tay-pek kembali kekamarnya, setelah rebah diatas ranjang, bukan saja dia tidak dapat tidur, matapun Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

susah terpejam. Matanya mendelong terus hingga fajar menyingsing hingga pemuda itu membawakan sarapan pagi.

Setelah membersihkan badan dan makan kenyang pelan pelan dia melangkah keluar.

Bila dia tiba ditaman melihat orang lain, kini seakan-akan keadaan diri sendiri sudah tidak berbeda pula dengan orang lain, orang lain anggap tidak pernah ada dirinya, memang sekarang diapun merasakan, walau orang didepan matanya namun mereka sudah tiada arti bagi kehidupan selanjutnya? Beginilah dia berjalan pelan pelan, duduk melamun menghabiskan waktu.

Kehidupan tentram dan tawar itu tanpa terasa telah berselang beberapa hari lamanya. Setiap kali bertemu atau melihat tokoh-tokoh silat dan penjahat besar yang dibenci kaum persilatan, selalu dia ingin tertawa besar. Maklum setelah mereka berada di sini, tiada musuh yang akan mencari perkara dan menuntut jiwa mereka, di sini mereka bisa hidup dengan tentram, hidup seperti apa yang telah dirasakan olehnya sekarang.

Hari itu Ciong Tay-pek tak kuasa menahan rasa gelinya lagi, mendadak dia mendongak sambil tertawa besar, tertawa terpingkel sampai air mata bercucuran, tertaya latah terbungkuk-bungkuk. Tapi betapapun keras dan lantang gelak tawanya, orang-orang sekitarnya tiada yang melirik atau menghiraukan tingkah poahnya.

Pada haii itu kembali dia tertawa disamping Kim-kong kan Suto Hou yang membunuh seluruh keluarga gurunya, terasa ada seseorang memandangnya sekejap.

Setiap kali Ciong Tay-pek melihat Suto Hou, Suto Hou selalu duduk dipinggir telaga memegang joran baja dan mengail. Didalam telaga kemungkinan tiada ikan, tapi kerja Suto Hou setiap hari mengail ikan ditelaga. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bukan sekali ini Ciong Tay-pek tertawa besar dan latah disamping Suto Hou, namun setiap kali itu pula Suto Hou tidak pernah memperlihat reaksi, demikian pula kali ini. Cuma bedanya kali itu dia merasa ada seseorang tengah memperhatikan dirinya. Semula itu hanya firasat Ciong Tay-pek sendiri, tapi begitu dia angkat kepala tampak disebrang telaga sana, seorang tengah membalikan tubuh, walau sudah membalikan badan namun masih terbayang dalam pelupuk mata Ciong Tay-pek akan pandang sepasang matanya yang jeli bening.

Sesaat Ciong Tay-pek melenggong, bayangan punggung orang kelihatan kurus ramping, setelah membalik badan orang berdiri diam tidak bergerak lagi. Ciong Tay pek juga berdiri menjublek, otaknya sedang berpikir: “Sebelum ini apakah pernah aku melihatnya. Lapat-lapat dia memang seperti pernah bertemu muka, itulah perempuan setengah baya bertubuh kurus. Tapi kenapa perempuan setengah baya ini mendadak memperhatikan dirinya ?

Setelah menarik napas panjang Ciong-Tay-pek melangkahkan kakinya menyusuri pinggir telaga beranjak kesana lekas sekali Gia sudah berada dibelakang perempuan setengah baya itu. Dia tidak buka suara mengajaknya bicara namnn tenggorokannya mengeluarkan suara aneh. Pada saat itulah perempuan setengah baya itu menoleh pula memandang sekejap. Seketika melonjak perasaan Ciong Tay-pek. sekilas pandang dia lantas tahu bahwa perempuan setengah baya ini mengenakan kedok muka.

Pada hal sepasang bola mata perempuan setengah baya ini sedemikian keji dan bening, hanya seorang gadis rupawan saja yang memiliki bola mata seterang itu. Kembali Ciong Tay-pek menduga, siapapun meski dia seorang manusia durjana, penjahat besar yang disegani sesama manusia, setelah berada di Kim-hou-po, tidak perlu dia menyembunyikan wajah aslinya, sebaliknya bila memang perlu demikian, maka orang ini pasti Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengemban suatu tujuan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain demikian pula keadaan dirinya.

Tengah Ciong Tay-pek berpikir cara bagaimana dia harus ajak orang bicara, perempuan setengah baya itu sudah melangkah pergi.langkahnya cepat, sesaat Ciong Tay-pek bimbang apakah perlu d a mengikutinya orang sudah membelok kebelakang gunungan, bila diapun mengejar kebelakang gunungan itu, bayangan perempuan setengah baya itu sudah tidak kelihatan.

Inilah pertemuan mereka yang pertama. walau mereka masing-masing bukan melihat wajah asli karena mereka menggunakan kedok muka-

Pertemuan mereka yang kedua terjadi beberapa hari kemudian. Ciong Tay-pek sedang duduk dibawah gardu dipinggir gunungan, dengan Jit-sing-to dia sedang mengiris kulit pohon, apa maksud mengiris kulit pohon itu, bahwasanya dia sendiripun tidak tahu. Gunungan karang itu banyak lobangnya, tengah Ciong Tay-pek duduk melamun, mendadak didengarnya suara tiupan dan angin silirpun menyampuk mukanya mendadak dia angkat kepala, dilihatnya dari lobang kecil diatas gunungan karang, ada mulut orang yang tengah meniupkan angin kearahnya.

Lekas Ciong Tay-pek melengos, golok ditangannya masih terus mengiris dahan pohon, tak lama kemudian dia mendengar suara perempuan yang lirih berbisik,: “Kau datang kemari, apa yang ingin kau lakukan.”

Ciong Tay-pek diam saja, tidak buka suara, pada hal dia tahu setombak di sekitarnya tiada orang lain. umpama ada orang, peduli dia sedang berbuat apa, orang-orang itu juga tidak akan memperhatikan dirinnya, tapi dia tetap diam, dia hanya sedikit menggeleng kepala.

Maka suara perempuan itu berkata pupu: “Mungkin maksud tujuan kami sama, kenapa tidak kami bekerja sama?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seketika berdetak jantung Ciong Tay-pek, pelan- pelan dia menggerakan badan, tapi tangannya masih sibuk mengikis pohon. lalu mengerahkan Lwekang mengecilkan suara dengan lirih dia menjawab : „Seperti kau? Mencari sebuah kedok muka yang lebih baguspun kau tidak mampu, lalu apa yang bisa kau lakukan?”

Setelah memperoleh jawaban Ciong Tay-psk, terdengar dibalik gunungan sana suara orang menggereget gemas, suaranya lirih tapi penuh mengandung rasa kejut dan heran pula, maka selanjutnya keadaanpun sepi, tiada suara lain pula

Itulah pertemuan mereka yang kedua. Siapa perempuan berkedokini, boleh di kata Ciong Tay-pek tiaik tahu menahu, namun perasaannya amat senang juga tegang Selama ini dia berpikir: „Apakah perempuan ini belum pernah mengalami peringatan pertama. Dari mana pula perempuan itu bisa meraba bahwa kedatangannya ke Kim bou-po mengemban tugas rahasia ? Betapa besar nyali perempuan itu, dalam suasana seperti ini berani dia bersuara dan mengadukan kontak dengan dirinya ? Semua pertanyaan iiu, Ciong Tay pek tidak punya bahan untuk menjawabnya, hanya satu hal dia tahu, perempuan itu pasti akan mencari nya pula, itu berarti mereka masih ada kesempatan bertemu untuk ketiga kalinya.

Hanya terpaut sekali pertemuan ketiga itu terjadi.

Cuaca sudah gelap, waktu dengan santai Ciong Tay-pek beranjak pulang kekamarnya setelah mengalami kikisan dan ukiran ujung goloknya yang tajam, dahan pohon itu sudah berobah menjadi sebuah kursi kecil yang berbentuk kuno dan sederhana.

Ciong Tay-pek masih terus maju kedepan, di kala hari sudah gelap, dia merasakan di belakang ada orang membuntutinya, di susul suara perempuan itu terkiang di dalam telingnya, didengarnya perempuanmu berkata Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

”Kau ingin menjadi orang pertama dalam Bulim diseluruh kolong langit ini bukan??”

Sedikitpun Ciong tidak memberi reaksi, seolah-olah tidak pernah mendengar pertanyaan orang. Maka suara perempuan itu terdengar berkata pula : ”Akupun demikian.”

Ciong Tay-pek menghirup hawa segar.dia berpikir: „Kau melimpahkan cita-citamu kepada orang lain, maka selanjutnya jangan harap kau bisa mencapai cita-cita itu” tapi dia tidak bersuara, langkahnya tetap berjalan kedepan.

Setelah dia hampir memasuki pintu kamarnya, terasa oleh Ciong Tay-pek perempuan itu masih berada dibelakangnya, malah jarak mereka semakin dekat, perempuan itu tetap berkata : ,,Seperti kami begini, kalau kau terus menunggu dan tidak segera turun tangan, kapan akan tercapai keinginan kami “

Ciong Tay-pek mempercepat langkah memasuki serambi, lampu yang terpasang di serambi kelihatan guram. Perempuan itu berkata pula: ,, Kalau kau tidak berani, maka kau akan tamat disini, kau akan hidup merana selama hidup di benteng ini, segala cita rasapun amblas”

Mendadak Ciong Tay-pek menhentikan langkah, perempuan itu juga berhenti sejenak, tapi segera beranjak pula kedepan lewat di sampingnya, bila Ciong Tay-pek melangkah pula, maka sekarang dia berada dibelakang perempuan itu

Dengan menahan emosinya dia berkata dingin. „Dan kau? Bukankah keadaan seperti dirimu? kurasa kaupun pernah merasakan peringatan pertama, kau masih berani bertindak lagi?’

Hanya bibir Ciong Tay-pek saja yang kelihatan bergerak, umpama waktu itu ada orang lain berada disampingnya juga takkan mendengar bila dia sedang bicara. Tampak olehnya badan perempuan didepannya seperti bergetar. Maka Ciong Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tay-pek lantas tertawa dingin, kini langkah perempuan itu diperlambat, hingga Ciong Tay-pek mendahului dan berada disebelah depan pula.

Suara perempuan itu kini terdengar disebelah belakang :, Kondisiku lebih baik dari engkau. sedikitnya aku sudah tahu, asal kau dapat mengorek keluar dan memindah batu besar ketiga ratus enam puluh lima ke-arah kiri sejak dari pintu besar deretan kelima dari bawah, maka kau akan memperoleh benda yang kami inginkan bersama.”

Kedengarannya suara perempuan itu seperti mengambang, dinilai bahwa orang dapat mengeluarkan suara dengan desakan tenaga dalamnya, Ciong Tay-pek tahu bahwa latihan Lwekang perempuan ini jelas tidak disebelah bawah dirinya. Beberapa patah kata-katanya yang terakhir seketika membual Ciong Tay-pek menghentikan langkah.

Diwaktu Ciong Tay-pek menghentikan langkah itulah, dari sebelah belakang mendatangi derap langkah orang banyak, beberapa orang satu persatu lewat di sampingnya tanpa bersuara waktu Ciong Tay-pek berpaling kebelakang lagi bayangan perempuan itu sudah tidak kelihatan.

Ciong Tay-pek juga tidak berhenti lama, dia melanjutkan perjalanan kedepan telinganya seperti mendengung dalam hati dia tengah meresapi beberapa patab perkataan perempuan tadi, hingga dia memasuki kamar merebahkan diri diatas tanah, terasa sekelilingnya begitu sepi, tapi perasaannya masih bergolak seperti dirinya berada ditengah alunan gelombang pasang yang mengamuk.

Entah berapa kemudian, akhirnya Ciong Tay-pek bangkit pelan-pelan, perlahan pula dia mendorong jendela, lalu melompat keluar. Daya tarik perkataan perempuan tadi sungguh teramat besar bagi dirinya, pada hal dia tahu bahwa kemungkinan itu hanya merupakan perangkap, namun tekadnya sudah teguh untuk menyerempet bahaya, betapapun dia harus mencoba mencari tau kebenaran dari perangkap itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jantungnya berdebar keras, langsung dia masuk taman terus menuju kekaki tembok, sambil mepet tembok dia menggeremut maju kearah pintu besar. Dikala dia berdiri di-samping pintu gerbang, sayup-sayup dia mendengar ringkik kuda diluar tembok. Pernah tiga hari dia menyelidiki diluar sana, maka dia tahu kuda-kuda itu dipelihara oleh orang-orang seragam hitam berkerudung kepala hitam pula, kemungkinan orang-orang baju hitam semua adalah pesuruh atau kacung dari Kun hou-po paling tidak mereka bekerja untuk kepentingan Kim-hon-po.

Ciong Tay-pek menarik napas panjang, pelan-pelan dia menyurut mundur, tembok ini dibangun dari batu-batu padas yang berben-tuk segi empat, sambil mundur satu persatu dia menghitung, kerja ini memang ringan dan tidak sukar, tapi memerlukan ketelitian. Semakin jauh dia mundur semakin mendekati tiga ratusan, detak jantung Ciong Tay-pek juga semakin keras bila hitungannya sudah mencapai tiga ratus enam puluh mendadak dia berhenti. Bukan lantaran dia ingin berhenti, tapi karena rasa tegang hatinya menambah rasa takut dan ngeri, tapi juga makin curiga, berbagai perasaan itu gejolak dalam hatinya menimbulkan suatu kekuatan, sehingga tanpa sadar dia menghentikan langkah dan hitungannya.

Tapi Ciong Tay-pek tidak segera turun tangan, yang terpikir dalam benaknya sekarang adalah deru napasnya terasa memburu berat seperti desau kenalpot mobil yang keberatan muatan ditanjakan terjal. Batu besar persegi yang ke tiga ratus enam puluh lima sudah berada di depan mata, jaraknya juga hanya tiga tindak, barang yang diincarnya selama ini, sehingga dia berani menempuh bahaya menanggung segala resiko menyelundup ke Kim-bou-po, apa betul benda yang diinginkan itu berada dibalik batu nomor 365 ? Kebetulan dia berdiri membelakangi tembok maka dia ulur tangannya menekan tembok, tembok besar yang terbuat dari batu padas itu terasa dingin dan kasar. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pelan-pelan Tay-pek menggeser kaki, telapak tangannya ikut bergerak tak pernah meninggalkan permukaan tembok, akhirnya jari jemarinya menekan batu yang ke 365. Pelan-pelan pula dia memalingkan kepala, d sekitarnya yakin tiada orang lain. dia angkat kepala, tampak pagar tembok di sini cukup tinggi, jikalau dia berhasil dengan usahanya malam ini, dalam waktu sekejap mata dia bisa melompati pagar benteng ini.

Tapi Ciong Tay-pek tidak segera turun tangan, yang terpikir dalam benaknya sekarang adalah keadaan dirinya dan situasi sekitarnya sebelum dirinya mengalami peringatan pertama waktu itu tak ubahnya seperti sekarang, sekelilingnya tiada orang, kesunyian terasa ganjil namun secara mendadak badannya terlempar jatuh oleh pukulan tenaga dahsyat sehingga dirinya terjatuh kcdalam jaring.

Terbayang akan kejadian itu, dia ingin segera lari balik kekamarnya tinggal tidur saja. bahaya apapun tidak diserempetnya lagi. Akan tetapi kalau dirinya benar-benar lari pulang kekamarnya, sesuai apa yang dikatakan perempuan itu. selanjutnya dirinya akan tenggelam dalam kehidupan yang tawar, tak ada masa depan dan selama bidup takkan bisa keluar dari Kim-hou-po

Detak jantung yang keras menyebabkan Ciong Tay-pek merasa dadanya sakit, sekian lama dia menjublek, akhirnya dia mengepal tinju lalu pelan-pelan menarik kedua tangannya. Dikala kedua tangan tertarik itulah dia menghimpun semangat mengerahkan hawa murni dikedua telapak tangannya, maka timbul serangkum tenaga besar, walau cukup besar bentuk batu padas itu, tapi asal bangunan batu tidak kokoh dan bisa bergerak yakin dapat dihisapnya keluar.

Dalam detik-detik yang menentukan ini, saking tegang Ciong Tay-pek tidak pikirkan apapun lagi. Suatu kenyataan, bila dia mau menggunakan otaknya, bahwasanya dia tidak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan berani melakukan apa yang sekarang sedang dia kerjakan.

Dikala lengan tangannya sudah tertekuk mundur hampir setengah kaki. sementara telapak tangannya masih merekat kencang di permukaan batu padas yang kasar itn, keringat sudah bercucuran diselebar muka Ciong Tay-rek, malam gelap pekat, angin malam menghembus kercang, bahwasanya dia tidak melihat keadaan didepan matanya tapi setelah tangannya ditarik mundur, telapak tangan masih melekat dipermukaan batu. ini menandakan bahwa daya sedot tenaga yang dikerahkan telah berbasil menyedot keluar batu padas pada hitungan yang ke 365.

Hanya sejenak Ciong Tay-pek ragu-ragu gerakan selanjutnya secepat kilat, dengan kedua tangan dia pegang batu itu terus dijerakan diianah lalu kedua tangan merogoh kedalam lobang.

Sambil merogoh kedalam dia menyeka keringat dimukanya pada lengan baju disamping pundaknya, waktu tangannya merogoh kedalam looang batu, terasa didalam lobang masih ada pula lobang lebih kecil, dari lobang kecil inilah tangannya merasa memegang sesuatu, waktu di rogohnya keluar ternyata sebuah bumbung bambu.

Meski hanya meraba dengan sebelah tangan, tapi Ciong Tay-pek merasakan, bumbung bambu itu entah sudah diraba dan dipegang berapa tahun lamanya, maka permukaan bumbung bambu itu terasa licin mengkilap bagaikan Kaca.

Sekujur badan Ciong Tay-pek bergetar keras, tapi gerak geriknya tetap cepat dan tangkas, lekas sekali dia sudah pegang din keluarkan bumbung bambu sebesar lengan bayi panjang satu kaki itu. Karena terlalu tegang, walau kedaan sekitarnya tetap sunyi tanpa ada gerakan apa-apa, di mana tangannya merogoh “Sret: lekas dia mencabut Jit-sing-to, sementara punggungnya sudah menempel dinding terus menjejak kaki melonjak keatas Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu badannya merambat terus naik ke atas. di kala hampir mencapai pucuk tembok, pada saat itulah dilihatnya sesosok bayangan orang tanpa mengeluarkan suara mendadak muncul dari kegelapan. Bayangan bagai setan itu muncul dari atas ke bawah langsung menubruk kearah Ciong Tay-pek. daya tubrukannya kelihatan cepat dan ganas secara reflek Ciong Tay-pek menggerakkan tangan, jadi tanpa pikir dia menabas kearah bayangan itu.

Kelihaiannya tabasan goloknya akan mengenai sasarannya, karena tubrukan bayangan hitam itu dipapak tabasan golok, namun bayangan hitam itu ternyata teramat tangkas, sedetik sebelum tubuhnya disambar golok, mendadak dia menggeliat di tengah udara terus bersalto balik kebelakang, maka tabasan golok Ciong Tay-pek mengenai tempat kosong.

Padahal Ciong Tay-pek harus kerahkan tenaga murninya untuk mempercepat Luncuran tubuhnya keatas, disamping dia meloncarkan tabasan goloknya, tapi pada saat bayangan hitam itu bersalto kebelakang itulah, mendadak Ciong Tay-pek rasakan pergelangan tangan kirinya pegal kesemutan, dalam malam segelap itu Ciong Tay-pek tidak bisa melihat jelas senjata gelap apa yang mengenai tangannya, celakanya begitu pergelangan pegal serta merta kelima jarinyapun ikut lemas, maka bumbung bambu yang dipegangnya itu seketika terlepas jatuh.

Ternyata bumbung itu tidak langsung jatuh ketanah, dikala masih melayang turun ditengafa udara, dalam kegelapan tampak berkelebat selarik cahaya merah gelap, maka bumbung itu seketika membelok arah melayang kearah bayangan hitam yang masih terapung diudara delapan kaki diatas tanah. Dalam sekejap itu Ciong Tay-pek juga sudah berhasil mencapai pucuk tembok, hanya sekejap dia berhenti sejenak diatas tembok.

Dengan mendelong dia saksikan bayangan hitam itu melayang turun ke tanah, gerak geriknya lebih cepat lagi dari Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tubrukannya dari atas tadi, dalam sedetik bayangannya telah lenyap ditelan kegelapan.

Semestinya Ciong Tay-pek bisa lompat turun pula serta mengejar bayangan itu, namun dia sudah saksikan gerak gerik bayangan itu secepat angin, tapi jelas adalah perempuan yang berkedok itu Tapi bukan Ciong Tay-pek mengejar kedalam dia justru melompat jum alitan keluar pagar. Dalam sedetik itu dia berpikir, meski dirinya tidak memperoleh apa apa dalam usahanya,masuk ke Kim-hou-po, namun merai i syukur juga bahwa dirinya selamat.

Begitu kedua kaki menginjak bumi beruntun dia melompat jangkit beberapa kaii, bayangannya pun telah lenyap ditelan kegelapan. Musim dingin sudah hampir jelang, musim semi sudah diambang mata, namun hujan salju masih sering terjadi mesti tidak lebat lagi, namun hembusan angin terasa dingin merasuk tulang. Ditanah tegalan yang menuju ke kota Sang yang, rumput-rumput liar sudah mulai bersemi, diantara lajunya arus air disungai, kelihatan gumpalan-gumpalan es yang terhanyut dalam pusaran air yang deras.

Sebuah kapal tambang sudah melepas tali dan mengangkat jangkar, dua lelaki kekar memegang galah panjang, kapal tambang itu didorong ketengah sungai. Begitu lepas jangkar kapal tambang itu lantas terbawa arus sungai yang deras melaju dengan pesat, diatas kapal tambang ada delapan orang, semua menggosok telapak tangan dan mengkeretkan badan menahan dingin, demikian pula kedua lelaki pemegang galah itu juga berpakaian tebal, namun baju bagian dada tersingkap, setiap kali mengerahkan tenaga mereka berholopis kontol baris, maka keringat panas pun bercucuran membasahi badan.

Semula kapal tambang ini, dikayuh ke atas melawan arus, setiba ditengah sungai baru dilajukan kesebrang dua lelaki tadi kini memegang gayuh, tenaga mereka memang besar, namun Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

arus air juga deras, bingga laju kapal yang melawan arus ini terasa amat lamban.

Pada saat itulah diatas tanggul dipinggir sungai sana tampak pasir debu bergulung gulung terdengar derap lari kuda yang ramai mendatangi. Mereka datang dari arah jalan raya.

Tak jauh dari tempat itu ada beberapa rumah pendek terbuat dari tanah liat, di kala beberapa kuda itu dibedal datang, didepan rumah tanah liat, itu, seorang kakek sedang duduk dikaki tembok, untuk mencari hangat dari teriknya sinar matahari sambil memicing mata dia menoleh kearah jalanraya sembari menggumam:,”Wah sudah telat, kapal tambang sudah berangkat.”

Dalam beberapa patah ucapannya itu, puluhan ekor kuda sudah memburu tiba langsung menerjang kepinggir sungai. setiap penunggang kuda semua seragam hitam dengan kerudung kepala hitam pula, kain hitam di-tubuh mereka kelihatan kotor berdebu, bahwasanya siapa mereka tiada yang bisa dikejar, seorang penunggang kuda diantaranya segera keprak kudanya naik keatas tanggul. Kuda tunggangannya berjingkrak berdiri sambil meringkik panjang, waktu anjlok turun pula kaki depannya sudah berada ditanah serong yang menjurus kesungai.

Sementara itu kapal tambang sudah hampir mencapai tengah sungai, jaraknya ada dua puluhan tombak, tampak orang di punggung kuda itu menggentak keras mendadak tubuhnya mencelat tinggi keudara, ditengah udara badannya berputar datar, maka terdengarlah suara gemerantang, seiring dengan putaran tubuh orang itu.maka muncullah seutas rantai panjang, diujung rantai terpasang sebuah gantolan yang runcing mengkilap, meluncur pesat kearah kapal tambang ditengah sungai itu.

Disaat kuda itu menerjang keatas tanggul meringkik serta mengerem daya lajunya. orang-orang diatas kapal tembang itu sudah angkat kepalanya memandang kearah sebrang. Tapi Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gerak gerik. penunggang kuda itu memang cekatan dan ctpat sekali, sebelum orang-orang diatas kapal tambang taru apa yang Terjadi, „Plok” gantolan runcing berantai panjang itu sudah jatun diatas dek dan kebetulan menggantol ujung kapal, berbareng bayangan orang itu. juga sudah melayang turun dipinggir sungai terus pasang kuda. Manusia yang satu ini ternyata seperti sebuah tonggak kayu yang kokoh tertanam didaiam bumi. kedua tangan dengan cepat menarik rantai ang sudah menggantol kapal tambang itu, ternyata kapal tambang yang sedang laju kedepan itu berhamil antuknya mundur.

Sementara itu belasan orang-orang berkedok itupun sudah mencongklang kuda mereka diatas tanggul, seorang diantaranya berseru keras: „Tuan tuan, monon maaf bila menunda perjalanan kalian sejenak kami sedang memburu seseorang yang tidak merasa bersalah boleh diam saja dan tidak perlu takut.”

Orang-orang diatas kapal tambang itu kelihatannya memang kaget dan ketakutan, tiada seorangpun yang bersuara, demikian pula dua lelaki pemilik kapal menghentikan kerjanya, lekas sekali kapal tambang itu sudah kembali pada tempatnya semula. Enam orang sudah melompat turun dari punggung kuda terus berlompatan keatas kapal seraya membentak: .”Silakan tuan tuan naik keatas dara”

Lekas pemilik kapal memasang papan panjang penyebrangan seperti menggiring bebek saja sembilan penumpang kapal tambang itu berbaris naik keatas darat dengan gopoh. Enam orang berkedok itu tampak berkilat sorot matanya kepala mereka berdebu, hanya mata mereka saja yang kelihatan bersih, maka keadaannya kelihatan lucu.

Setelan sembilan penumpang naik keatas darat, tiga orang diantara enam orang berkedok itu juga ikut naik dua orang sibuk memeriksa kapal seorang lagi berdiri diburitan. Lelaki Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang menarik baliK kapal dengan rantai panjang itu masih tetap berdiri dipinggir sungai setegak tonggak yang kokoh.

Dalam pada iiu para penunggang kuda berkedok hiiam itupun sudah turun semua dari punggung kuda, sembilan penumpang kapal tambang itu dirubung dengan ketat, sekilas kedua pemilik kapal saling pandang lalu seorang angkat bicara: „Kalian mau cari siapa, urusan tidak ada sangkut-pautnya dengan kami, mau periksa apa bolen silakan cepat sedikit, hari sudah hampir petang, arus sungai akan lebih besar, penyebrangcn kuatir bisa gagal, harap kalian suka maklum.”

Agaknya pemilik kapal tambang ini sudah lama mencari nafkah dipenyebrangan sungai ini, berbagai jenis sifat manusia pernah dihadapi, karena itu meski mendadak menghadapi perohahan mendadak seperti ini, sedikitpun mereka tidak kelihatan gugup.

Maka salah seorang diantara orang orang berkedok itu tampil kedepan, katanya dengan lantang: ”Ciong Tay pek keluarlah sendiri.”

Sembilan penumpang termasuk kedua pemilik kapal terkurung dalam kepungan orang-orang berkedok itu. setelah orang berkedok itu buka suara, maka sembilan orang itu saling toleh, saling pandang satu dengan yang lain. semua tidak bersuara, tapi juga tiada seorangpun yang tampil kemuka.

Sembilan orang itu terdiri tiga lelaki setengah umur, dandan mereka mirip petani, ada sepasang suami istri yang masih muda. yang lelaki beralis tebal mata besar, sekali pandan; juga bisa diketahui sebagai pekerja sawah, yang perempuan ternyata kelihatan kekar, jari-jari tangannya kelihatan kasar, tidak punya pinggang, kulitnya hitam, jelas diapun perempuan jang selalu aktif diladang. Seorang lagi membopong sebuah kotak kayu besar, kelihatannya tabib keliling atau penjual kelontong. Masih ada lagi tiga orang, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang seperti guru sekolahan, sementara dua orang lagi tampak berpakaian perlente, baju tebal mereka terbuat dari kulit rase yang berbulu indah, kalau bukan tuan tanah pasti pedagang kaya.

Angin dingin masih ribut dengan hembusan kencang, setelah orang berkedok itu bersuara, keadaan sunyi sejenak, tiada orang bersuara, maka orang itu berkata pula: ”Bagus, Ciong Tay-pek, apa kau kira dapat lolos atau menyembunyikan diri ?” merandek sebentar lalu menyambung, “Terpaksa kalian harus membuka pakaian biar kami periksa dada kalian.”

Perintah ini agaknya diluar dugaan orang-orang itu. kontan petani muda itu memprotes ”Cuaca sedingin ini, kalian jangan mempermainkan orang?’

Tapi protesnya ini justru disambut delapan orang oiang berkedok itu dengan gerakan serempak.”Sreng”, mereka mencabut golok baja yang kemilau, maka orang itu membentak pula: ”Lekas, jangan membuang waktu.’

Petani muda itu lantas menggerutu: ”Makanya, setan alas, mau libat bolen lihat,” sembari menggerutu dengan keras dia menbuka kancing mantelnya lalu membuka baju dalamnya pula maka tampak dadanya yang bidang kekar dan berbulu, ‘ Bluk, bluk” dua kali dia tepuk dada seraya berkaok: Nah boleh kau periksa ?”

Tampak lengan lelaki berkedok itu bergerak, pandangan orang banyak seketika silau tahu-tahu tangannya sudah memegang sebilah pedang panjang yang tipis dan lencir, sementara itu mentari sudah doyong kebarat hampir masuk peraduan, sinar surya menampilkan reflek cahayanya diatas pedang panjang itu hingga orang-orang didepannya tak kuat membuka mata, begitu tangan mencabut pedang, mendadak dia maju setapak, di mana pergelangan tangan berputar, ujung pedang yang tajam dan runcing itu sudah mengancam dada si petani muda serta menggores turun. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gerakannya amat cepat. dikala perani muda itu menjerit kaget, hakikatnya dia tidak sempat menyingkir, tahu-tahu pedang orang itu-pun sudah menarik lengannya.

Tampak goresan ringan ranjang didar’a petani muda itu menimbulkan cucaran darah, tapi hanya luka lecet dikulitnya saja, maka darah yang keluar juga hanya sedikit saja.

Keruan petani itu kaget dan gusar tapi juga jeri. sekilas dia menunduk mengawasi luka-luka ringan didadanya waktu dia angkat kepala mengawasi lelaki berkedok itu, seketika dia berdiri melongo tak mampu bersuara.

Sebaliknya lelaki berkedok itu malah tersenyum ramah, katanya: ‘”Maaf, saudara ” sembari bicara dia mengulap tangan kirinya, seorang berkedok segera maju kedekatnya lantas merogoh kedalam kantong mengeluarkan sekeping uang katanya: ”Mengganggu kau saja, terimalah ini sebagai ganti rugi pengobatan mu.”

Uang perak itu senilai lima tahil, selama hidup dan bekerja berat di sawah mungkin petani itu tak pernah memiliki uang sebanyak itu. seketika dia terbeliak kaget, kejap lain setelah dia sadar apa yang dihadapi menang kenyataan seketika mulutnya tertawa lebar, katanya : ,,Ah, luka seringan ini, diludahi beberapa kali juga sudah sembuh, terima kasih, terima kasih.” sambil bicara dengan munduk-munduk dia terima uang itu teius digenggamnya kencang-kencang, pada hal hawa dingin, angin ribut lagi, dia lupa mengancing bajunya lagi..

Lelaki berpedang itu segera memberi aba-aba : „Baiklah, berikutnya.”

Beberapa penumpang kapal tambang itu semula bersikap kaku dan seperti kurang senang, kini setelah petani muda itu memperoleh keuntungan malah, mereka jadi iri, seperti berlomba saja dengan muka riang semua membuka kancing baju masing-masing, tanpa kecuali dikulit dada mereka orang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu menggores luka panjang yang ringan, gerak pedangnya memang teramat cepat tapi juga penuh perhitungan, darah yang keluar dai luka panjang itu tadi setetes.

Kini tinggal kedua lelaki berpakaian tuan tanah itu, kelihatan mereka sungkan dan tidak mau diperiksa cara begitu, kalau mereka tidak pingin terima ganti rugi lima tahil, namun menghadapi kegarangan orang-orang berkedok dengan golok baja yang kemilau, apalagi mereka cukup adil setiap orang diberi ganti rugi lima lahil, maka terpaksa mereka menurut saja kehendak orang-orang berkedok itu.

Lekas sekali pekerjaan sudah hampir usai, kini tinggal perempuan petani itu, pedang panjang orang itu mendadak menuding perempuan petani dan berseru : ”Sekarang kau.”

Petani muda yang masih menggenggam lima tahil perak di angannya sambil berseri tawa tadi kini menjadi gugup, serunya keras : „Hai, orang yang hendak kalian cari itu laki atau perempuan? Inilah isteriku yang baru saja kukawin, jangan kalian main-main padanya.

Bergetar pedang panjang lelaki itu hingga memetakan garis-garis gemerdep. katanya kereng : ”Orang yang kami cari iin mendadak lelaki lain saat perempuan, kadang-kadang tua tiba-tiba menjadi muda, maka kami harus memeriksanya juga.”

Karuan petani muda itu makin gelisah, serunya ? „Tidak boleh, dia betul-betul istriku, perempuan tulen, mana boleh main buka baju didepan umum ? Memangnya kalian tidak tahu adat-istiadat ? Kalau begitu, biar kukembalikan uangmu, boleh kalian bunuh kami saja dari pada terhina.” sembari berkaok-kaok dia menghadang didepan istrinya sambil melot u.

Sesaat lelaki berpedang itu jadi bimbang, akhirnya dia menoleh dan berseru : „Toa-moay, kau saja yang memeriksanya.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seorang berkerudung baju hitam segera mengiakan sambil tampil kemuka. Perawakan orang ini tinggi lencir, mengenakan jaket kulit, kerudung mukanya tampak berdebu, mulutnya yang kelihaian tampak menyeringai lebar. Orang yang memegang pedang menuding orang bekerudung ini dan berkata „Inilah adik besarku, dia juga perempuan, kurasa tiada halangan untuk memeriksanya.”

Melotot petani muda itu kepada orang yang mendekatinya, katanya menggeleng : „Darimana aku tahu kalau dia ini perempuan ?”

Orang berkerudung yang mendatangi ini memang tidak mirip perempuan, hakikatnya tiada berbedaan dengan orang berkerudung lainnya, malah perawakannya lebih tinggi, pantas kalau petani muda ini bertanya demikian.

„Jangan cari perkara.” sentak orang berpedang, „dia ini adik besarku, siapa bilang bukan perempuan.”

„Kau sendiri yang bilang, aku tidak mau percaya, kecuali dia buka dulu bajunya, bila dada ya benar ada sepasang tetek …”

Belum selesai dia bicara, orang yang berdiri didepannya sudah menghardik :

”Kentut makmu yang busuk.”

“Plak” kontan dia gampar muka petani muda itu dengan murka.

Gamparannya amat keras sehingga petani itu terpental jatuh dan terguling kebawah tanggul, untung dia sempat meraih sebuah batu sehingga badannya tidak kecemplung kekali. Tapi separo mukanya bengap, sembari merangkak keatas dia berkaok-kaok. bila dia sudah berada diatas tanggul pula, orang yang menggamparnya itu sudah menyeret isteri petani itu kesamping. sebilah golok kemilau juga sudah mengancam mukanya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Isteri petani itu tampak mencak-mencak namun hanya sejenak, orang berkerudung itu sudah berteriak : „Toako, dia bukan Ciong Tay-pek.”

Sambil medekap dada dengan muka merah dan malu isteri petani itu berlari kearah si petani dan sembunyi di belakangnya Sementara lelaki yang berpedang itu mengerut alis debu diatas alisnya kelihaian rontok berhamburan, terdengar dia memberi aba-aba : „Berangkat.”

Serempak anak buahnya mencemplak ke punggung kuda, akan tetapi dua orang yang masih berada dialas kapal tetap berdiri tidak bergerak, malah kelihatan mimik mereka amat aneh.

Beberapa orang sudah putar kudanya hendak menerjang keatas tanggul sana, namun serentak pandangan semua orang tertuju keatas kapal, cahaya mentari menjelang magrib menyinari muka mereka, kedua orang ini seperti tertawa dan bukan tertawa, seperti meringis kesakitan tapi bukan menangis kedua matanya memandang sikapnya lucu sekali.

Jumlah orang-orang seragam hitam ada belasan orang, empat diantaranya segera melompat turun pula terus memburu keatas kapal. Begitu mereka mendekat, karena kapal bergoyang maka kedua orang yang berdiri ini lantas bergerak perlahan terus roboh di atas geladak. Lelaki besar yang berdiri dipinggir tanggul dengan tangan menarik kencang rantai besi itu, begitu melihat kedua Orang kawannya yang diatas kapal roboh, seketika menampilkan sikap kaget dan heran.

Demikian pula empat orang yang menyusul keatas kapal juga seketika tertegun, serempak mereka memburu maju seraya memeriksa, teriaknya : „Wah sudah mati terbokong senjata rahasia.”

Karena peristiwa yang tak terduga ini, keadaan menjadi hening, yang terdengar hanya hembusan angin lalu dan deru Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

napas mereka yang berat, sehingga teriakan kedua orang itu kedengarannya lebih seram membuat orang berdiri bulu kuduknya.

Dua orang lagi tampak mencelat mumbul dan punggung kuda meluncur kebawah tanggul dan berdiri jajar dikanan kiri lelaki yang menarik rantai besi itu. Kedua orang ini adalah lelaki berpedang dan adik besar perempuan itu. Lelaki berpedang yang menggores luka panjang didada setiap penumpang dan perempuan yang dipanggil adik besar itu agaknya bersaudara. Ketiga orang ini jelas bukan sembarang orang, di Bulim (dunia persilatan) tiga bersaudara ini juga cukup terkenal dengan julukan “Toa-ho-sam-tiau cu” (tiga saka di sungai besar) Begitu datang dengan jangkar rantainya menarik balik kapal tambang itu adalah Loji (oraag kedua) Thi Cu (saka besi), perawakannya tinggi besar. Yang dicurigai sebagai perempuan oleh petani muda itu adalah adik paling muda mereka Pi-lik cu (saka geledek), sedang saudara tua mereka adalah King thian-Cu (saka penyanggah langit) yaitu lelaki berpedang itu. Juga pemimpin dari rombongan besar orang berkerudung ini. Sepanjang sungai besar siapa tidak kenal adanya tiga saka besar di sungai besar. Kini ketiganya berdiri jajar dibawah tanggul, perawakan Pi-lik-cu meski perempnan tapi tidak kalah tinggi dari kedua saudaranya, wataknya berangasan lagi, begitu tiba disamping saudarannya dia lantas bertanya bengis : „Jiko (engkoh kedua) siapa pembunuhnya ?”

Sejak menarik kapal dengan rantainya Loji ThiCu tetap berdiri ditempatnya menghadap k arah kapal, berarti berhadapan juga dengan kedua kawannya di atas kapal itu, umpama seekor lalat terbang didepan muka mereka juga darat dilihatnya jelas, tapi bukti dan nyata bahwa dia tidak tahu menahu bagaimana kedua kawan mereka bisa menjadi korban pembunuhan gelap ini, kedua matanya melotot, namun tak mampu menjawab. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hari sudah petang, cuaca mulai gelap dua orang yang terdiri segar bugar mendadak kedapatan mati dibawah hembusan angin lalu yang dingin. Pi-lik-cu menjejak kaki tubuhnyapun mencelat keatas kapal. Kedua korban rebah telentang, kecuali mimik mereka yang kelihatan ganjil, ternyata tidak terdapat luka-luka dibadannya.

Pi-lik cu berjongkok memeriksa sejenak, mendadak dia berjingkrak berdiri pula sambil tolak pinggang, memangnya perawakannya sudah tinggi, perempuan kalau sedang berang memang kelihatan menakutkan. Pada saat itulah, terdengar pula derap lari kuda yang mendatangi, tiga ekor kuda laksana angin lesus menggnlung keatas tanggul.

Orang-orang diatas tanggul itn sudah ke lihatan bingung dan gelisah, umum sudah tahu bahwa malam hari pantang menyeberang sungai kuning. Terjadi pula pembunuhan misterius diatas kapal, sikap yang semula gugup gelisah berobah menjadi ngeri dan takut.

Sementara itu. tiga ekor kuda gagah yang mercongklang datang telah dekat, begitu kuda berhenti, ada beberapa orang diatas tanggul seketika menjerit kaget : „Kim hou-po.”

Maka sikap semua orang berobah hormat dan ramah, kedua lelaki bercorak pedagang itu segera mengkeretkan kepala, sikapnya kelihatan munduk-munduk dan takut.

Kedatangan tiga ekor knda ini menimbulkan kepulau debu, jelas tiada obahnya dengan knda-kuda lain, tapi setelah berhenti, secercah sinar mentari yang tersisa masih sempat menyinari pelana dan pidal kuda itu, tampak berwarna kuning mengkilap, ternyata terbuat dari emas murni.

Diseluruh kolong langit yang membuat pelana dari emas hanya Kim-hou-po, hanya kuda yang keluar dari Kim-hou-po, meski kuda itu seluruhnya terbuat dari emas, golongan hitam yang paling jahat dan kuasa-pun takkan berani menyentuhnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ternyata dandanan ketiga penunggang kuda yang baru datang ini berbeda, pakaian mereka kelihatan mewah, mengenakan mantel bulu rase dengan pelirit kecil emas pula. Yang berlari paling depan mendahului lompat turun, sebelum kakinya menginjak tanah, kedua tangannya sudah menepuk badan membersihkan debu yang melekat dibadannya. katanya kemudian : ,.Tan-lotoa, belum berhasil menemukan Ciong Tay-pek ?

Orang ini adalah pemuda berwajah gagah dan cakap, perawakannya tegak dan kereng. namun wajahnya justru pucat mengkilap, selintas pandang orang akan merinding dan mengkirik seram.

Melihat kedatangan ketiga orang ini Thi Cu segera berlari keatas, sambil menjawab: „Belum ketemu, malah dua saudara kita terbokong mati di smi.”

Berdiri alis pemuda cakap itu, wajahnya kelihatan menghijau, laporan Tni Cu agaknya tidak menjadi perhatiannya, pandangannya mendadak, tertuju kesembilan penumpang kapal yang digusur turun itu, katanya dingin: ”Kecuali menyebrang sungai dan mencari perlindungan ke pihak Liong-bun-pang jelas tiada tempat berpijak didaerah ini untuknya sudah kau periksa orang-orang itu ?

„Sudah kuperiksa semua,” sahut Thi Cu „Dada Ciong Tay-pek ada gambar tato sebuah kupu besar, kuatir dada mereka di tempeli sesuatu, dikulit dada mereka aku menggores luka berdarah, kenyataan tiada Ciong Tay-pek di dalamnya.”

Pemuda itu mendengus dingin perlahan hawa hijau dimukanya bertambah gelap kelihatannya tidak mirip wajah seorang hidup, selangkah demi selangkah dia menghampiri sembilan orang itu, sorot matanya setajam pisau, satu persatu dia tatap muka mereka, mendadak dia berputar serta memberi perintah:,,Buinuh semua.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seketika Toa-ho-sam-tiau-cu berdiri menjublek. Dua lelaki yang datang bersama pemuda ini segera mengiakan dari punggung kuda mereka langsung berlari kearah sembilan orang itu. Sembilan orang itu agaknya juga tahu bahwa jiwa mereka terancam seketika geger dan bubar, petani muda itu menjerit lebih dulu terus berputar dan lari, namun sinar putih berkelebat, lima jiwa seketika melayang.

Serangan kedua orang itu ternyata cekatan dan telengas, jelas kelima korbannya itu pasti mati penasaran karena tidak tahu kenapa dan oleh siapa mereka mati, sementara pedang ditangan kedua orang itu tidak berhenti meski lima jiwa lteelah binasa, „Sret,-sret” kembali pedang mereka bergeraiktiga jiwa melayang pula, setiap korbannya tergores luka besar digitok mereka, tanpa mengeluarkan suara mayatnya tersungkur kedepan, kini tinggal sipetani muda itu, agaknya saking ketakutan, semula dia sudah berlari beberapa langkah kini dia membalik tubuh, mulurnya megap-megap lidahnya juga bergerak naik turun sambil melotot kepada orang didepannya.

Satu diantara kedua orang itu sudah menyarungkan pedangnya, seorang laki melompat maju Cret” pedangnya menusuk keleher petani muda itu, petani itu tetap berdiri menjublek, pedang tajam itu menggores lehernya darah mengalir, badannya sempoyongan terus roboh tak bergerak lagi, „Trap”‘ diwaktu membalik badan pedang orang itu sudah kembali kesampingnya.

Tampak air muka Toa-ho sam-tiau-cu amat jelek dan lucu, Pi-lik cu yang berangasan segera memprotes:,,Sau-pocu, sembilan orang ini sudah kami periksa, mereka hanya lah rakyat jelata yang tidak berdosa, kenapa kau bunuh mereka?”‘

Padahal Thi Cu sudah memberi tanda kedipan mata serta menarik lengan bajunya, tapi perempuan gede ini tidak hiraukan.betapa yang dipanggil Sau tocu (tuan muda) melirik dingin kepadanya, jengcknya: „Lebih baik salah membunuh, betapapun Ciong Tay-pek tidak boleh lolos.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pi-lik-cu menggeram gusar, agaknya amarah terbakar, dia tampil selangkah, Sreng, sreng” dua bilah pedang bersilang mengadang didepannya, tabir malam telah mendatang, maka kemilau dingin di batang kedua pedang terasa dingin dan seram.

Lekas Thi-Cu dan Kiug-tian-cu orang satu lengan menarik Pi-lik cu mundur, maka kedua orang yang melolos pedang perlahan menurunkan pedang mereka. Dalam pada itu Sau pocu membalik badan menghadapi kedua orang pemilik kapal tambang, Kedua lelaki itu seketika pucat pias, teriaknya sember: „Kami sudah turun temurun” mencari nafkah disini sejak kakek, ayah dan aku tiga generasi, ketiga tuan besar ini tahu tentang kami Sikap pemuda itu tampak kaku dingin dan kejam, orang tua yang sejak tadi duduk didepan rumah memburu datang dengan langkah tertatih-tatih. Pemuda itu segera mundur beberapa langkah, hidungnya mendadak mendengus keras-keras. Agaknya dengusan napas ini merupakan komando, kedua pengawalnya itu segera berputar, pedangpun terayun.

Waktu mereka mengerjakan pedang Pi-lik-cu membentak murka, kelihatannya ingin mencegah atau merintangi, namun serangan pedang kedua orang ini memang teramat cepat, tiga jiwa seketika melayang.

Saking murka, Pi-lik-cu segera merenggut kain kerudung kepalanya terus dibuang. ke arah maka tampak wajahnya yarig kekar dengan rambut yang pendek, bentaknya: „Kenapa harus membunuh tanpa alasan?”

Pemuda itu menatap King-thian-cu Tan Cuii, suaranya sinis; ”Tan-lotoa, kau tidak ingin bekerja lagi bagi Kim-hou-po kami?”

Dalam sesingkat ini betapa buruk rona muka King-thian cu. Pi-lik-cu mewakilinya menjawab: „Siapa sudi bekerja untuk kalian? ” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hidung si pemuda kembali mendengus, lalu berucap: „Bagus.” berbareng tubuhnya melayang hinggap dipunggung kuda. Disaat itu pula kedua pengawalnya itu sudah bergerak kilat, dimana sinar pedang mereka bergerak, jeritan jeritan ngeri kumandang diudara. Bagai angin lesung kedua orang ini bergerak membundar dari dua arah yang berlawanan, belasan orang berkurudung yang datang bersama Toa-ho-sam-tiau-cu semua sudah roboh binasa.

Begitu jeritan memecah kesunyian Thi Cu lantas menggerakan tangan mengayun rantai mengepruk kearah pemuda yang men-ceplak kuda, deru samberan rautai besi yang terayun kencang itu tidak kalah derasnya dari damparan angin badai, diujung rantai juga terpasang sebuah jangkar kemilau, jelas batok kepala pemuda itu akan termakan oleh jangkar yang berbelok ini.

Tapi pemuda itu seperti tidak melihat bahwa jangkar rantai itu telah mengancam kepalanya, kuda tetap di congklang, kepala tidak bergerak, hanya perut kuda dijepitnya lebih keras hingga kuda itu melonjak jauh kedepan. Thi Cu menghardik pula, mendadak lengannya mengendap kebawah serta ditarik mundnr hingga jangkar diujung rantai ikut tertekan turun mengepruk batok kepala si pemuca.

Kini baru terlihat pemuda itu perlahan angkat kepalanya dengan malas seperti tanpa sengaja melihat cuaca. Pada hal jangkar itu tinggal satu kati diatas kepalaiiya, tampak dia menggerakan tangan menjentik sekali ke-arah jangkar, „Cring” mengeluarkan suara nyaring.

Karuan Thi Cu terbelalak, jangkar di-ujung rantainya itu beratnya ada seratus kati, di tambah tenaga yang dikerahkan, sedikitnya kekuatannya berlipat ganda, tapi pemuda itu cukup menjentik saja dengan jari tengahnya, sebelum Thi Cu sempat menarik rantai jangkarnya, mendadak terasa serumpun tenaga dahsyat melalui rantainya. menerjang dirinya. Betapa besar tenaga yang menerjang akibat selentikan jari itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

telapak tangan Thi Cu terasa pedas linu, tanpa kuasa Kelima jarinya terlepas.

Celakanya, meski rantai sudah dilepaskan tapi jangkar yang terjentik itu masih melayang balik serta melingkar laksana ular, tahu-tahu tubuh Thi Cu sudah tersubat kencang oleh rantai sendiri, jangkar itupun telak mengenai mudanya, kontan Thi Cu menjerit nceri, kepalanya remuk darahpun muncrat. Jelas Thi Cu mati seketika, namun kejadian amat mendadak kuda-kudanya masih berdiri kokoh, sehingga badannya masih berdiri tegak.

Tabir malam sudah menyelimuti jagat raya, jiwa Thi Cu sudah melayang, kepalanya sudah remuk, darah bercampur otak meleleh kebawah, badannya masih tegak sisa rantainya baru berdering jatuh memukul tanah berbatu sehingga suaranya berisik.

Setelah menjentik jangkar, pemuda itu tetap congklang kudanya, melirikpun tidak kepada Thi Cu, kira kira tiga tombak kemudian sisa rantai yang masih melayang itu baru runtuh seluruhnya dan menindih kemayat Thi Cu dan roboh binasa.

Kematian Thi Cu berlangsung dalam waktu sekejap. Sementara itu kedua pengawalnya itu juga kerjakan pedangnya secepat angin menusuk King-thian-cu, sebat sekali King-thian-ca menyuruh mundur, berbareng pedang panjang yang lencir tipis ditangannya mengeluarkan dering suara yang keras. King-thian-cu memang tidak malu sebagai ketua dan Toaho-sam-tau cu, gerak pedangnya itu begitu lincah dan enteng, di:engah kegelapan tampak menaburkan cahaya bening. Agaknya dia menyadari bahwa jiwanya terancam elmaut, maka pedangnya bergerak ganas menukik kedepan, agaknya dia tidak hiraukan lagi bahwa kedua lawannya sedang menyergapnya.

Pedang panjangnya mengeluarkan suara ribut dalam satu kali uruk, terpaksa kedua lawan menarik tangan sehingga serangan pedangnya tertarik satu kaki, maka terdengarlah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suara „Creng -trap” ternyata dua pedang kedua orang itu telah mengencet lengkat pedang panjang King-thian-cu, satu diatas yang lain dibawah, lengan seorang menyanggah yang lain meneken, sehingga pedang panjang King-thian-cu yang lemas itu melengkung seperti leter .“S“

Sambit kerahkan tenaga melawan tekanan kedua lawannya Kim-thian-cu berteriak : „Toamoa (adik besar) lekas pergi.”

Masih untung kalau tidak berteriak, teriakan itu justru menimbulkan amarah Pi-lik-cu. dengan tangan kosong dia pentang lengannya terus menubruk kearah orang itu. Tingkah lakunya yang kasar dengan pekik suaranya yang garang lebih mirip seekor gorilla yang lagi nyamuk dari pada seorang perempuan.

Melihat adiknya tidak menghiraukan ajurannya malah nekat menyerbu musuh, King thian-cu Tan Cui memekik putus harapan, disaat Pi-lik-cu hampir tiba didepan kedua orang itu, terdengar suara „Pletak” dua kali, pedang panjang King thian cu ternyata tergencet patah tiga potong oleh kedua lawannya.

Begitu pedang King-thian cu patah kedua orang segera menggeser langkah berpindah posisi, disaat badan berputar pedang mereka laksana kilat menusuk kearah Pi-lik-cu dari dua arah.

D saat saat kritis itulah, dari tempat gelap, diantara mayat-mayat yang bergelimpangan itu, mendadak mencelat sesosok bayangan, begitu cepat gerakannya, seumpama setan langsung menerjang kearah Pi-lik-cu. Berbareng dengan bergeraknya bayangan hitam itu, kedua orang yang menusuk Pi-lik-cu juga menjerit kaget : ”Ciong Tay-pek ‘”

Pada hal cuaca sudah gelap, hakikatnya sukar melihat jelas siapakah bayangan orang yang mencelat dengan tubrukan kencang itu, cuma dari bentuknya saja dapat diperkirakan, bahwa bayangan itu bukan lain adalah petani muda itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gerakan bayangan hitam itu memang teramat pesat, baru saja kedua orang itu berteriak bayangan itu sudah menekam Pi-lik-cu, Pi-lik-cu menjerit aneh, tubuhnya keterjang roboh, bayangan itupun ikut terjungkal dan bergumul, keduanya lantas megggelundung jatuh kebawah tanggul dan kecemplung ke sungai yang berarus kencang.

Karena keterjang jatuh oleh bayangan hitam itu sehingga Pi lik-cu terhindar dari tusukan pedang kedua orang itu. namun diwaktu tubuhnya bergumul dengan bayangan hitam itu. sebelum tubuhnya kecebur di air, terdengar mulutnya masih memekik dan mencaci maki.

Begitu kedua pedang mereka menusuk tempat kosong, sementara Pi-lik-cu diterjang jatuh kepinggir, kedua orang itu memburu maju, pada saat itulah King-thian cu dengan menggenggam pedang kutung memekik seram sambil menubruk, pedang buntung ditangan-pun bekerja.

Gerakan kedepan kedua orang itu juga tidak berhenti, begitu pedang buntung King-thian-cu menyerang tiba, kedua orang ini dengan dua belah pedang menggencet pula dari atas dan bawah, hebatnya kali ini pedang mereka tidak melulu menggencet sekaligus juga menusuk dan menepis miring.

Kini King thian cu sudah tiada kesempatan balas menyerang lagi, ‘”Crat Cret” beruntun dua kali, pedang kedua orang .menahan dan mengiris kulit daging King thian-cu, darah mengalir deras laksana sumber air.

Betapapun amukan King thian cu sempat merintangi gerakan kedua orang ini, maka terdengar pula “Byur”‘, jelas seseorang telah kecemplung keair. Meski berkorban dan jiwa melayang lega juga hati King-than cu bahwa sebelum ajal dia masih sempat menyelamatkan jiwa adiknya dari tusukan pedang kedua pengganas ini.

Begitu tubuh King-thian-cu menyentuh tanah, kedua orang itupun sudah melesat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid ke : 3

maju, sayang setiba mereka dipinggir tanggul di teng ah malam nan gelap ini, selarik sinar gursm tampak menjumbul sedetik dipermuka-an air. bayangan orang sudah tidak kelihatan lagi. Kedua orang itu saling pandang sejenak, seorang berkata : „Jelas semua sudah mati, kenapa masih ada yang hidup?”

Seorang lagi berkata : „Kurasa jaugan soal ini dibicarakan dengan Sau-pocu, kalau tidak bisa berabe …” walau dia tidak melanjutkan perkataannya, tapi suaranya sudah terdengar gemetar dan sumbang, dari sini dapat disimpulkan bahwa hatinya juga takut dan ngeri. Seorang lagi menarik napas, katanya : „Apakah bisa mengelabuinya ?”

Seorang yang Iagi manghela napas serta tertawa getir, katanya : „Kalau tidak mengelabui memang iya mau apa? Ciong Tay-pek lari dari benteng adalah lantaran keteledoran Sau-pocu sendiri, asal tidak kau katakan pasti tidak …” dia bicara menghadap kesungai, tapi bila ucapannya berhenti ternyata ganti tangannya yang bekerja, mendadak pedangnya terayun miring.

Kedua orang ini berdiri jajar, bahwa salah satu diantaranya mengayun pedang malam gelap gulita, tidak menduga lagi sehingga sukar menghindar, sinar pedang berkelebat lalu mendadak lenyap tak kelihatan lagi.

Sinar pedang itu mendadak lenyap bukan lantaran pengayun pedang mendadak menyarungkan pedangnya, tapi adalah pedangnya itu menusuk amblas ketubuh kawannya yang berdiri disamping. Karuan kawannya yang ditusuk itu hanya sempat menjerit pendek : ,,Kau …” suaranya juga tenggelam dalam tenggorokan. kontan tubuhnya terjungkir kedepan dan “Byur” jatuh ke surgai dan lenyap terbawa arus Perlahan penyerang gelap itu menarik napas panjang lalu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghembuskan cepat cepat, setelah membalik badan, dengan langkah berat dia meninggalkan tanggul itu, kejap lain terdengar derap lari kuda berdentam di tengah kegelapan, agaknya orang itu mencongklang kudanya kembali ke Kim-bou-po.

Agaknya orang itu merasa perlu bertindak tegas dan kejam, karena untuk menyimpan suatu rahasia bersama, cara yang paling baik adalah menutup mulutnya dan itu berarti bahwa jiwanya harus dibunuh. Hanya orang mati yang tidak akan membocorkan rahasia:

Air sungai bergulung gulung mengalir ke timur, malam makin pekat, alam semesta menjadi sunyi senyap, yang terdengar hanya gemericik arus sungai. Menjelang tengah

malam, kira-kira delapan belas li dari tempat kejadian, dipinggir sungai yang berpasir tampak seorang muncul dari dalam sungai, dengan badan basah kuyup dia merangkak ke-darat, seorang lagi juga meronta-ronta merangkak ke pinggir namun badannya terlalu lemah, badannya juga terjerembab pula ke-air dan terbawa arus, lekas orang didepan-nya maraih dan menariknya keatas. Orang yang ditarik keatas belakangan berperawakan tinggi, namun jelas dia seorang perempuan, napasnya terdengar ngos-ngosan, setelah istirahat sejenak dia meronta berdiri lalu membungkuk muntah-muntah, yang keluar dari mulutnya hanyalah air sungai yang bening, matanya sampai mendelik saking menahan napas sesak, agaknya dia ingin lekas bicara, namun air sungai yang masuk perutnya cukup banyak hingga dia megap-megap.

Perempuan ini bukan lain adalah Pi-lik-cu. Seorang yang berada disampingnya perawakannya kira-kira hampir saja, cuma lebih tegap dan kekar, keadaannya tidak lebih baik, jelas diapun ngos ngosan, namun tidak muntah-muntah, sinar bintang guram, namun samar samar terlihat bahwa orang ini adalah petani muda itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Agak lama kedua orang ini isrirahat dipinggir sungai, namun nafas belum juga reda, tapi Pi-lik-cu tidak sabar lagi, segera dia buka suara lebih dulu: “Makanya, kau ingin membunuhku tenggelam diair ?”

Petani muda itu unjuk tawa dipaksakan, katanya: “Kalau aku tidak mendorongmu jatuh ke sungai, jiwamu sekarang sudah amblas.”

Sambil melotot Pi-lik-cu masih sengal-sengal, katanya berang: “Waktu dalam sungai, kenapa kau memelukku sekencang itu, tahukah kau aku ini perawan tulen?”

Petani itu tampak tertegun, namun dia segera tertawa geli, karuan Pi-lik-cu menarik alis, “Wut” kontan tinjunya menjotos, meski serangan mendadak, namun sedikir miring

tubuh petani itu berkelit. namun jarak terlalu dekat “Bluk” tinju orang mendarat di lengan pundaknya hingga dia terjengkang jatuh diatas pasir.

Tapi peiani muda itu segera melompat berdiri sambil goyang kedua tangan, namun cengar cengir, katanya: “Baiklah, anggaplah aku yang salah. Selamat bertemu.” sembari bicara, tubuhnya sudah berputar melayang pergi “Hai tunggu.” karuan Pi-lik-cu bingung dan gelisah, “siapakah kau. Kau mampu menolong jiwaku dari ancaman sepasang pedang Thian te siang sat dari Kim hou-po, tentu tidak rendah kepandaiamu.”

Langkah si petani agak diperlambat, namun tidak membalik.sahutnya: “Buat apa kau tahu siapa aku? Selanjurnya kau harus ganti she dan tukar nama selamatkan dulu jiwa ragamu, jangan kau pikirkan urusan orang lain?”

Pi-lik-cu memburu dengan langkah lebar, kedua tangannya sibuk mengusap air di atas kepala dan mukanya, teriaknya: “Tidak bisa. Bukankah kau ini Ciong Tay-pek yang melarikan diri dari Kim-hou-po?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak pelani muda itu membalik terus menatap tajam kepada Pi-lik-cu, Pi lik-cu juga balas menatapnya. Sesaat keduanya saling pandang. akhirnya petani muda itu berkata: “ Kau keliru, bahwasanya tiada seorang bernama Ciong Tay-pek didunia ini. belum pernah terjadi, seorang yang pernah masuk ke-Kim-hou-po bisa melarikan diri dan sana.”

Pi-lik-cu tertegun sesaat lamanya, akhirnya berkata dengan garuk-garuk kepala:” Memang demikian. Tapi kami menerima perintah, katanya dua orang lelaki dan perempuan telah melarikan diri. Yang lelaki bernama Ciong Tay-pek, yang perempuan bernama Hui-sian.”

Petani itu tampak melengak, teriaknya kaget “Hah. dua orang melarikan diri?”

Mendadak Pi-lik-cu maju selangkah seraya menuding, bentaknya beringas: “Kau inilah Ciong Tay-pek.”

Petani itu angkat kedua pundaknya, katanya.: , Umpama benar aku ini Ciong Tay-pek, memangnya kau mau apa, apa kau ingin menggusurku kembali ke Kim-hou-po? Ingin mendapat pahala?’

Seketika bergetar badan Pi-lik cu, omongan petani muda ini laksana geledek yang menyamber kepala, air masih menetes turun diwajahnya yang kelihatan bingung dan bimbang, mulutnya terpentang, berdiri tegak sambil melongo. Sementara petani muda itu sudah beranjak pergi sejauh belasan langkah.

Petani muda itu tahu jelas, jaraknya dengan Pi-lik-cu sekarang cukup jauh, asal dia mau mengerahkan hawa murni dan menjejak kaki dengan kerakkan Lwekang, cepat sekali dia sudah akan menyelinap ketempat gelap, perempuan gede itu takkan bisa menemukan dirinya lagi. Bila dirinya sudah ditelan tabir malam, boleh dikata selanjutnya orang macam dirinya selanjutnya telah lenyap dari permukaan bumi, selanjutnya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang tidak akan pernah melihat lelaki beralis tebal, sikap dan tindak tanduknya polos dan jujur sebagaimana petani desa layaknya

Tapi di saat petani muda itu hampir saja membalik ke sana, mendadak didengarnya Pi lik cu menjerit tangis keras-keras-Padahal Pi-lik-cu berperawakan tinggi kekar dan kasar, sedikitpun tidak mirip perempuan, tapi setelah pecah tangisnya, terasa betapa pilu dan sedih hatinya, seperti bocah kecil saja, rasa sedih hatinya dilimpahkan pada isak tangisnya tanpa tedeng aling-aling lagi.

Karuan petani muda itu melengak, sementara tangis Pi-lik-cu semakin merawankan hati, jaraknya meski ada belasan langkah, namun dia melihat jelas air mata bercucuran dari kedua matanya. Keadaannya lebih mirip anak kecil yang tidak kebaikan permen dan sedang menangis sedih.

„Apa yang kau tangisi?” tanya petani muda.

Gelaknya pertanyaan ini malah menambah pilu tangis Pi-lik-cu, sambil terisak tangannya sibuk mengusap air mata, katanya: „Kau suruh bagaimana aku selanjutnya? Kemana aku harus pergi? Bila senang kepada siapa aku harus tertawa. Bila sedih kepada siapa aku harus merengek? Lalu bagaimana baiknya?” mengingat nasib diri selanjutnya, makin sedih lagi hatinya. Dilihatnya kedua alis tebal petani muda itu bertaut kencang tetap terisak Pi-lik-cu berkata pila: “Kalau kau benar adalah Ciong Tay-pek, sudah tentu tidak akan kutangkap dan kugusur kembali ke Kim-hou-po. Untuk apa aku kembali ke Kim hou-po? Tapi kenyataan orang-orang Kim-hou-po tidak akan memberi ampun kepadaku, lalu ke mana aku harus sembunyi?”

Kalau tadi mau merat secara diam-diam, setelan mendengar keluhan Pi-lik-cu petani muda itu malah balik menghampiri, mendadak dia bertanya: „Berapa usiamu sekarang?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pi lik-cu tetap terisak, sahutnya: „Dua puluh empat tahun.”

Petani muda itu tertawa, katanya: „Nah. kan tidak kecil, jangan lupa, kau pernah belajar Kungfu, boleh terserah kau cari seorang lelaki yang kau sukai dan menikah sama dia, berbuatlah sebagaimana seorang perempuan yang baik. betapapun lihay orang-orang Kim-hou-po juga tidak akan bisa menemukan kau lagi.”

Pi-lik-cu melenggong dengan membelalakkan bola matanya, setelah pelani muda habis bicara dia menjerit tangis lagi, katanya: “Siapa mau mengawini aku? Tadi kaupun bilang aku tidak mirip perempuan.” bicara sampai di sini mendadak dia berhenti menangis, beberapa kali dia berbangkis lalu membersihkan ingusnya, kembali tangannya sibuk menghasut air mata dimukanya, katanya tegas: „Lebih baik aku jadi binimu saja.”

Sudah tentu petani itu tidak menyangka Pi-lik-cu bakal berucap demikian, karuan dia berjingkrak seperti keselomot api telapak ka.inya, tubuhnya mencelat mundur setombak lebih teriaknya gugup: „Heh mana boleh?”

“Kenapa tidak boleh?” Pi lik-cu melotot „kalau kau tidak setuju, buat apa kau menolong jiwaku?”

Petani itu menjerit pula, mendadak dia putar tubuh teras melompat jauh kesana, gerakannya cepat dan tangkas, hanya sekejap tubuhnya sudah meluncur tiga tombak jauhnya, tapi begitu kakinya menutul bumi pula, dirasakan Pi-lik-cu sudah mengudak tiba dibelakangsiya sambil ngejar dia berkaok-kaok dengan menangis.

Karuan petani muda itu blingsatan, lekas dia tarik napas mengerahkan tenaga murni, berapa kali lompat berjangkit, tubuhnya meluncur puluhan tombak lagi, kali ini dia tidak berani menoleh, tapi suara Pi-lik-cu masih berada delapan kaki dibelakangnya,. Karuan disamping kaget dan heran, petani Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muda ini juga dongkol, mendadak dia berhenti terus membalik badan.

Dilihatnya Pi-lik cu mendadak juga berhenti matanya terbelalak, bola matanya tampak merah dan pelupuk matanya juga benjul karena menangis. Mungkin mengingat dirinya ingin menikah dengan lelaki yang satu ini, maka sikapnya sekarang tampak malu-malu kucing, meski perempuan ini kasar bila melerok eh, ternyata menggiurkan juga, karuan petani muda itu makin bingung, sesaat dia melenggong, akhirnya dia tepuk jidatnya keras keras,

Melihat petani muda memukul muka sendiri, Pi-lik cu kelihatan kaget dan kuatir:”Eeh, kenapa?”

Petani muda itu berkata” Mungkin tadi setan meraba otakku, maka aku membawamu lari. Dari mana kau belajar Ginkang, kenapa kau bisa mengejarku?”‘

Pi-lik-cu tertawa geli dan bangga, kata-nya:„Agaknya suhu tidak menipu aku, waktu dia mengajar padaku, aku masih kurang percaya.”

„Siapakah gurumu? Apa nama Ginkang-mu itu?”* tanya petani muda,

Pi-lik-cu bertolak pinggang dengan senyum bangga, agaknya bila sedih dia menangis, hati senang lantas tertawa, sedikitpun tidak kenal liku-liku kehidupan, katanya: „Ginkangku ini dinamakan Ji-ing-hut-sing (seperti bayangan mengintil bentuknya), betapa cepat kau berlari, asal dalam jarak satu tombak,aku dapat mangintil dibelakangmu dengan bebas tanpa mengeluarkan banyak tenaga”

Petani muda itu terperanjat, rona muka-nyapun berobah. Nyalinya memang besar, sengaja dia menyamar dalam bentuk lain dari wajah aslinya untuk menyelundup kedalam Kim hou-po, sudah tentu bekal kepandaian silatnya juga sudah punya dasar yang lihay, maka dia boleh terhitung seorang jago muda Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang punya asal usul tidak lumrah, pengetahuan aan pengalamannya cukup luas.

Ginkang yang dinamakan Ji-ing-hut-sing ini pernah juga mendengarnya. Karena siapa-pun asal kau termasuk kaum persilatan bila mendengar Ji-ing-hut-sing dan Thiam-gan-jong sim (ucapan manis menembus hati) dua jenis Gingkang tingkat tinggi, kepalanya pasti pusing tujuh keliling. Karena ilmu tingkat tinggi ini dimiliki oleh Kui bo ( nini iblis) Hun Hwi-nio jago nomor satu dari golongan hitam. Bila mengembangkan Ji ing-hut sing, cukup bila kau memperhatikan jarak tertentu, betapapun lawan berlari kencang, dengan enteng kau akan dapat mengintil dibelakangnya, meminjam daya luncuran lawan disebelah depan untuk menyeret tubuh sendiri. Dahulu seorang tokoh kosen yang memiliki Gin-kang tinggi tiada bandingan. Sin-heng-bu-tek (berjalan cepat tiada bandingan) dari Siok-te-seng-cun (mengkerut bumi menjadi sejengkal) yang bergelar Koay cun-cia. diakui sebagai jago Ginkang nomor satu diseluruh dunia, pernah diudak oleh Kui bo Hun Hwi nio dengan Ginkangnya Ji ing-hut-sing ini, Selama tujuh hari tujuh malam Koay cun cia berlari. Jarak yang ditempuhnya ada tiga ribu li lebih, Kiu-bo selalu mengintil dibelakangnya dalam jarak yang sama, hingga akhirnya Koay-cun cia kehabisan tenaga dan mati,peristiwa ini diketahui segala lapisan kaum persilatan. Bagaimana Pi-lik cu juga mahir Gin kang ini?

Konon Kui-bo Pun Hwi-nio berwajah cantik lagi genit, meski akhirnya usia sudah menanjak tua, tapi kegenitannya masih dapat meluluhkan iman laki-laki, berjiwa jelus, kejam dan jahat, jelas berbeda dengan Pi-lik-cu yang kasar tapi polos dan jujur ini, mana mungkin dua orang yang berbeda jiwa ini dapat menjadi guru dan murid?

Disaat petani muda melenggong. Pi-lik-cu justru amat senang, katanya;„Kau tidak percaya, boleh silakan lari lagi.”

„Aku percaya” sahut petani muda ”Siapakah gurumu?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jawaban Pi-lik-cu teramat diluar dugaan dia menggeleng dan menjawab:„Tidak tahu.”

Petani muda naik pitam, semprotnya:„Jawaban apa itu? ‘

, Kubilang tidak tahu ya tidak tahu.” seru Pi-lik-cu melotot, „kami pergi ke Kim hou

po dan bekerja di mana juga dia yang suruh, aku tidak tahu apa persoalannya”

Petani muda menehela napas, katanya “ Selanjutnya ada satu tujuan untuk kau pergi, jangan sembarang menikah dengan orang.”

„Ketempat mana ?” Pi-lik-cu girang.

“ Pergi cari gurumu. Bila kau berada disamping gurumu, tak usah kau takut berhadapan dengan orang-orang Kim-hou po “

Pi-lik-cu mengedip mata, agaknya kurang percaya, petani muda terpaksa menjelaskan pula : „Gurumu kan seorang lihay, lebih lihay dari orang orang Kim-bou-po.”

..Darimana kau tabu ?” tanya Pi-lik-cu terbalik.

Petaii muda tahu makin banyak bicara Pi-lik-cu makin kebingungan malah, maka dia balas melotot : ..Aku tahu ya tahu, kalau kau ingin hidup, pergilah cari gurumu.”

Anjurannya ini ternyata manjur, ternyata Pi-lik-cu segera mengangguk, mumpung ada kesempatan petani muda sudah menyurut mundur delapan langkah, ternyata Pi likcu tidak mendesak maju, malah berteriak keras ; , He, tadi sudah kubilang mau kawin dengan kau. kalau sekarang belum kawin, kelak juga harus kawin lho.”

„Ya. ya, kelak boleh dibicarakan lagi” lekas petani muda mengiakan. Kembali dia mundur beberapa langkah, mendadak dia putar tubuh terus berlari masuk kegelapan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah dia melesat tujuh delapan tombak jauhnya, baru dia mendengar Pi-lik-cu mendadak menjerit kaget, serunya : „Wah, celaka tiga belas, kenapa lupa kutanya dia, di mana guruku berada, wah celaka..”

Mendelu perasaan petani muda. hampir saja dia berhenti, tapi kali ini dia sudah bertekad bulat, maka kakinya terus meluncur kedepan, meski dalam hati amat menyesal, karena meskipun perawakan Pi-lik cu kasar dan besar, namun Kungfunya tidak lemah, hatinya bajik juga polos dan welas asih. Tapi mengingat dirinya bukan menipunya bila orang betul-betul kembali ketempat Kui-bo Hun Hwa nio. betapapun lihay orang-orang Kim-hou po yakin tidak akan berani mengusik tokoh kosen yang diagulkan seperti malaikat dalam dongeng. Tapi sebelum bertemu dengan Kui-bo Hun Hwa-nio, perempuan jujur seperti Pi-lik-cu bukan mustahil bisa ditipu orang celaka bila kepergok oleh orang orang Kim hou-po, resikonya tentu teramat besar.

Teringat akan hal ini, hati petani muda itu seperti ditusuk sekali. Tapi langkahnya tidak pernah kendor, soalnya dia tidak boleh berhenti, dia harus maju terus kedepan sejauh mungkin, dia ingin lekas memulihkan wajah aslinya terus pulang kerumah.

Sejak dia menyelundup kedalam Kim-hou-po sampai sekarang, kejadian seperti dalam impian belaka. Satu hal yang membuatnya amat heran adalah, bila kejadian ini hanya dalam impian dan orang yang paling susah dilupakan dalam impian itu tak lain adalah Pi-lik-cu perempuan gede yang kasar tapi jujur dan polos ini.

Dia terus genjot kecepatan larinya, hingga mencapai dua puluh Ii jauhnya, setiba di suatu tikungan mendadak dia menyelinap kedalam semak belukar. Setengah jam kemudian, seseorang tampak berjalan keluar dari semak belukar itu kelihatan wajahnya tidak mirip Ciong Tay-pek, juga berbeda denpan petani muda. Wajah orang ini lonjong, kelihatannya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersikap kereng dan berwibawa, karena itulah wajah asli dari pemuda ini.

00000O00000

Kuda itu berlari secepat angin melalui tanah tegalan yang berumput pendek terus menuju kearah timur. Dia mendekam dipunggung kuda. kepalapun terbenam dipinggir leher tertuiup bulu suri kuda tunggangannya. Jalan raya ini sudah sering dilalui, meram-pun dia tidak akan kesasar dijalan raya ini.

Bayangan sebuah gunung sudah tampak jauh didepan sana. Puncak Ki-Iian san yang tertutup salju masih disoroti cahaya mentari sehingga menimbulkan sinar reflek yang tajam. Jalan raya yang lurus ini sepanjang ke dua tepi jalan dipagari pepohonan yang mulai bersemi hijau. Debu tampak mengepul tinggi dibelakang kuda, tak lama kemudian dilihatnya dua gardu peristirahatan di kanan kiri jalan, segera dia menarik tali kendali menghentikan kuda. Dari dalam gardu di kanan kiri itu tampak berbondong keluar beberapa orang, semua bersorak senang : „Sau-cengcu sudah pulang.”

Kudanya itu masih berputar sekali, orang-orang yang menyongsong kedatangannya ini adalah wajah-wajah yang sudah amat dikenalnya, mereka adalah jago-jago kosen perkampungannya. Sekarang dia sudah pulang, maka mereka menyambut kedatangannya, hal ini tidak perlu dibuat heran, anehnya mereka tidak mungkin tahu meski dengan alasan apapun bahwa dirinya akan pulang.

Bagaimana mungkin mereka bisa menunggu dirinya di sini ? Setelah kudanya berhenti baru dia bertanya : „Siapa yang akan datang ?”

Seorang lelaki bertubuh tinggi simbar dada bermuka merah segera menjawab dengan tertawa : „Siu cengcu. ada tamu agung datang, mereka datang untuk melamar dikau “

Pemuda itu tertawa geli, omelnya: „ Jangan brengsek, siapa yang datang ?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lelaki itu berkata : „Bahwa kedua orang ini mau kemari memang d luar dugaan. Thi-jun Lojin dan Gin-koh sudi berkunjung ke Hwi-liong-ceng kita, selanjutnya bila kami berkecimpung di kangouw juga dapat membusung dada.”

Pemuda itu menarik muka, alisnya berkerut, katanya : .”Jangan meremeh diri sendiri, dikalangan kangouw Hwi-liong-ceng kita juga tidak boleh diremehkan.”

Orang banyak mengiakan, beramai-ramai mereka menariknya turun dari punggung kuda, kata seorang : ..Lekas Siau cengcu pulang dulu, ada tamu agung berkunjung, Sau-cengcu juga keburu pulang. Cengcu pasti kegirangan sekali.”

Dengan tersenyum pemuda itu ganti naik kuda lain yang masin segar dan gagah terus dibedal kearah se’atan, kira-kira enam tujuh li kemudian baru tampak pagar kayu yang tinggi berderet berkepanjangan mencapai puluhan li memagari sebuah perkampungan.

Pemuda itu langsung membedal kudanya kepintu gerbang perkampungan, belasan laki-laki kekar segera menyongsong maju, ada yang pegang kendali ada yang menarik pelana hingga kuda itu berhenti, lekas dia melompat turun dan tanya kepada seorang lelaki didepannya: “Nyo congkoan, sejak aku pergi adakah sesuatu peristiwa terjadi dalam perkampungan kita?

Nyo congkoan perawakan jangkung, kulit mukanya kuning legam, kelihatannya kurang semangat, seperti baru sembuh dari penyakit parah, namun nama besar Pe-sin Nyo-

Cu-so cukup tenar diselatan dan utara sungai besar. Bahwa tokoh seperti Nyo Cu-su juga rela menjadi Congkoan dari Hwi-liong-ceng, dapatlah dimengerti betapa besar gengsi dan kedudukan Kim jiau hwi-liong Cia Thian di-Bulim. Sementara Sau-cengcu Ciu Ing kiat, umpama tidak mahir apa-apa dan ingin berkecimpung di Kangouw juga di jamin selamat. Apalagi Siau-kim-liong (naga cilik) Cia Ing-kiat adalah alias Ciong Tay-Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pek yang berhasil menyelundup kedalam Kim hou po dan berhasil melarikan diri pula, dia pula yang menyamar jadi petani muda yang lolos dari kejaran dan menolong Pi-lik-cu pula.

Selanjutnya para pembaca harus selalu ingat, Siau-cengcu dari Hwi-liong ceng, Siau-kim-liong (naga emas cilik) Cia Ing-kiat adalah orang yang menyamar jadi Ciong Tay-pek menyelundup kedalam Kim hou-po, setelah melarikan diri dia menyamar pula menjadi petani muda yang sudah teruji kemampuannya.

Mendengar pertanyaan Cia Ing kiat, Nyo-Cu-so lantas tertawa, katanya:” Bila Sau-ceng-cu terlambat pulang sehari, mungkin bisa terjadi peristiwa besar dalam perkampungan. Agaknya Sau-cengcu sudah tahu bahwa Thi-jiau Lojin bersama Gin-koh hari ini akan kemari?”

Sambil beranjak kedalam Cia Ing kiat bertanya: “Kedua orang ini terkenal sebagai tokoh kosen yang galak dan sukar diajar bicara, selamanya jarang bergaul dengan kaum persilatan, apa mereka kemari?”

„Menurut laporan yang kami terima, kedatangan kedua tokoh lihay ini adalah untuk urusan pernikahan.”

Cia Ing-kiat mengerut alis, segera dia mempercepat langkah kedalam, tak lama kemudian sudah memasuki pendopo mereka terus menerobos kesebelah dalam, maka terdengar sebuah suara lantang berkumandang, katanya “Apa kau sudah pulang ? Aku ada di-kamar buku, lekaslah kemari saja. *

Suara lantang ini mendengung ditelinga, jelas itu adalah suara ayahnya, Cia Ing-kiat kenal betul suara ayahnya. Sebetulnya dalam Hwi-liong-ceng meski banyak jago-jago kosen, sari yang dapat bicara dengan mengirim suaranya dari dalam sampai luar tetap menggetar genderang telinga orang, kecuali Cia-cengcu sendiri tiada orang kedua. Cia lng-kiat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mempercepat langkahnya pula, Nyo Cu-so mengikuti dibelakang, langsung mereka menuju ke-kamar buku, maka terdengar pula suara Cia-cengcu yang lantang: “Nyo-congkoan, silakan, kembali.”

Cia Ing-kiat angkat alis sekilas dia tukar pandang dengan Nyo Cu-so, dia tahu biasanya sang ayah amat percaya kepada Nyo-Cu-so, lahirnya saja mereka berbeda kedudukan, satu Cengcu yang lain Congkoan, tapi mereka adalah dua sahabat intim. Jikalau tiada persoalan penting yang menyangkut urusan besar, tak mungkin Nyo Cu-so disuruh menyingkir.

Tapi Nyo Cu-so mengiakan. tanpa banyak kata segera dia putar balik keluar. Waktu Cia Ing-kiat dorong pintu, tampak seorang lelaki tua bertubuh besar tegap dan gagah, jidatnya lebar mengkilap, wajahnya merah cerah, segera bangkit dari tempat duduknya, siapa lagi kalau bukan ayah kandung nya Cia Thian

Lekas Cia ing-kiat memburu beberapa langkah hendak berlutut, tapi Cia Thian sedikit menggoyang tangan sambil kedua tangan terulur kedepan, seketika Cia Ing-kiat merasa badannya seperti ditahan, sementara daun pintu dibelakangnya telah terdorong tertutup oleh gerakan tangan ayahnya dari jauh. Selanjutnya Cia Thian berdiri diam tidak bicara atau mengeluarkan suara, dia pasang kuping memusatkan perhatian. Cia Ing-kiat tahu dalam jarak sepuluhan tombak umpama sebatang jarum dilantai juga dapat didengar oleh ayahnya. Dari sikap ayahnya Cia Ing kiat tahu bahwa persoalan cukup serius, dan sang ayah tidak ingin pembicaraan mereka dicuri dengar orang lain.

Cia Ing kiat tahu urusan agak genting, setelah menarik napas dia menyapa :„Ayah.”

Sepasang mata Cia T ia menatapnya tajam sekian saat, katanya dengan nada berat: “Ing kiat, selama ini pernah aku mengutus banyak orang untuk menyelidiki jejakmu, ku peroleh laporan bahwa kau pernah berguru dalam perguruan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jit-cap-ji-pian Toa-seng-bun diwilayah Shoa-tang, tapi selanjutnya jejakmu tak karuan parannya “

Cia Ing-kiat tersenyum, katanya : „Ayah aku berkelana setahun dua tahun diluaran juga bukan hanya sekali ini bukankah kau tidak menentang bila aku berguru kepada aliran lain “

Masam air muka Cia Thian suaranya juga kereng : ,,Bicaralah terus terang kepadaku, apa saja yang pernah kau lakukan selama ini “

Serta merta Cia Ing-kiat merendahkan suara : „Ayah, tanpa kau tanya, aku pun akan memberi tahu kepadamu . . . ” sampai di sini dia berhenti dengan bimbang, Soalnya dia tahu jelas, meskipun sekarang dirinya berdiri selamat dan segar bugar diperkampungan dan rumahnya sendiri, bila dirinya sudah bercerita, siapapun yang mendengar pasti akan kaget dan mungkin bisa gempar. Maka dia merendahkan suaranya lebih lirih : ,,Ayah. aku pernah masuk kedalam Kim-hou-po.”

Cia Iug-kiat sudah menduga setelah mendengar penjelasannya ayah pasti amat kaget namun dia tidak menduga setelah mendengar penjelasannya, ternyata ayahnya kaget setengah mati. Tampak air muka Cia Thian seketika berobih pucat lesi dan menghijau lagi. badannya sempoyongan mundur selangkah. Betapa berat langkah undurnya ini, seolah-olah rumah gedung ini hampir ambruk saja, hingga genteng terasa gemeratak rumah pun oleng. Kebetulan dibelakangnya ada sebuah kursi, langsung tubuhnya meloso lemas jatuh terduduk diatas kursi itu. Celakanya tenaga yang terkerahkan teramat besar.

“Krak” kursi besar terbuat dari kayu cendana seketika patah dan hancur. Sigap sekali Cia Thian sudah menegakkan badannya pula. Jidatnya yang lebar mengkilap seketika berkeringat dingin sebesar kacang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Ayah.” teriak Cia Ing-kiat saking kaget dan ngeri, “kaum persilatan menjajarkan Hwi-liong dan Kim-hou dalam percaturan Kangouw, umpama aku pernah pergi ke Kim-hou-po juga perlu kau …”

Sebelum Cia Ing-kiat bicara habis, Cia Thian sudah goyang tangan memberi tanda supaya dia tidak lanjutkan perkataan, lalu napasnya mendadak tersengal, seperti orang linglung dia beranjak beberapa langkah ulur tangan memegang ujung meja, namun, sorot matanya tetap menatap Cia Ing-kiat jadi kebingungan dan rikuh, sesaat lamanya dia melenggong dan tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi.

Agak lama kemudian baru Cia Thian menghela napas, katanya : „Memang Liong ceng dan Hou-po sejajar, kaum persilatan juga mengakui hal ini, tapi tahukah kau. orang-orang Kim-hou-po pasti tidak akan bcrkecim-purg di Kangouw, maka banyak orang meminjam ketenaran nama Hou-po untuk menjilat kepada Liong-ceng kita.”

Cia Ing-kiat tertawa enteng, katanya: „Keadaan dalam Kim-hou-po memang serba misterius Kungfu Sau-pocu juga teramat tinggi, namun menurut hematku juga tidak sehebat yang disiarkan di luar Bukankan buktinya aku sudah masuk ke Kim-hou po serta lari keluar pula? Malah waktu aku melarikan diri, ada pula seorang perempuan ikut lari.”

Cia Thian mendelong mengawasi putranya, tanyanya: „Siapa perempuan itu? ‘

„Dia menpenakan kedok tipis, sudah pasti memakai nama palsu juga, tapi aku kena ditipu olehnya, waktu aku sudah memperoleh Cu-boh-pit-kip seperti yang tersiar di dunia persilatan itu, tahu-tahu terebut lagi olehnya, waktu itu malam gelap, aku hanya melihat selarik senar merah berkelebat. . . . .” sampai di sini tiba-tiba Cia Ing-kiat berhenti, karena di lihatnya wajah Cia Thian semakin pucat, sampaipun warna merah diatas jidatnya itupun sekarang telah luntur, hal ini belum pernah terjadi selama ini. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berhenti sejenak Cia Ing-kiat lanytas menyambung: „Tak habis heranku, entah senjata macam apakah itu, kupikir setelah pulang hendak kutanya kepada ayah.”

Perlahan dan kelihatan lemas gerakan tangan Cia Thian. dia mengusap mukanya yang basah keringat dingin, mulutnya terkancing, kini menutup mata pula. Tampak Cia Ing-kiat tubuh ayahnya kelihatan gemetar. Sebelum ini Cia Ing-kiat juga sudah menduga bila dirinya ceritakan pengalamannya pasti ayahnya amat kaget dan heran, mungkin juga memarahi dirinya, namun tak terpikir olehnya bahwa begini akibat dari perbuatannya, ayahnya seperti menghadapi jalan kematian saja.

Baru saja dia ingin bicara, didengarnya suara ribut-ribut diluar, menyusul terdengar suara Nyo Cu-so berkata berulang kali: ..Lapor Cengcu, Thi-jan Lojin dan Ginkoh, dua tamu agung telah tiba.”

Lenyap suara Nyo Cu-so maka terdengarlah gelak tawa lantang dari dua nada yang berbeda, gelak tawa pertama bersuara serak keras memekak telinga, gelak tawa yang lain nyaring merdu bagai kelintingan. Namun paduan gelak tawa keras ini menggetar genderang telinga, sehingga suara keributan diluar tertekan karenanya.

Lekas Cia Thia menyeka keringat dimu-kanya, katanya kereng: „Ikutlah di belakangku, jangan ikut bicara.”

Cia Ing-kiat mengerut kening, terasa bahwa pulangnya kali ini keadaan sang ayah seperti kurang beres, tidak normal, tapi lantaran apa sedikitpun Cia Ing-kiat tidak tahu. Maka dia mengintil dibelakang ayahnya beranjak keluar langsung ke pendopo. Tampak Nyo Cu-so berdiri menemui dua orang lelaki dan perempuan, sikapnya amat hormat, tampang kedua laki perempuan ini ternyata juga tidak luar biasa, keadaannya juga lumrah seperti kebanyakan orang, sikapnya bebas, terutama yang perempuan sering mengeluarkan tawa yang merdu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam hati Cia Ing-kiat membatin, kedua orang ini tentu mempunyai nama besar di Bulim maka diapun tidak berani bersikap kurang hormat, dengan laku hormat dia tetap tetap berada dibelakang ayaknya. Waktu dia melirik Thi-jan Lojin ternyata berperawakan sedang, pakaiannya dari kain tenun lumayan, kecuali jenggot dibawah dagunya yang kaku seperti salju hingga kelihatan agak ganjil, anggota badannya yang lain persis dengan orang lain. Malah Gin-koh ternyata bersikap lembut dan kelihatan masih cantik, usianya sekitar empat puluhan. Ternyata pakaiannya putih perak mengkilap, entah terbuat dari kain apa, duduk tegakk dan anggun sehingga kelihatannya seperti dewi agung saja membuat orang menaruh hormat dan hidmah kepadanya.

Cia Thian sudah mendekat dan memberi hormat. Thi jan Lojin tertawa riang, katanya: ”Cia-cengcu, kedatangan kami memang sembrono, persoalan yang hendak kami bicarakan juga terasa kurang pantas.”

Sikap Cia Thian sekarang kelihatan tenang, tabah dan mantap, katanya: ” Kalian sudah kemari, urusan setinggi langit juga boleh saja dibicarakan.” jawabannya ini boleh di kata sudah memberi muka kepada Thi -jan Lojin dan Gin-koh maka kedua orang tertawa riang, kini Gin-koh yang bicara; „Cia-cengcu, bila persoalan sudah kami bicarakan, kuharap kau tidak marah dan menolak serta marah-marah.”

Cia Thian bermuka masam, katanya: „Asal orang she Cia mampu membantu, bolehlah kuterima apa keinginan kalian.”

,.Bagus, cekak aos jawabanmu.” Thi-jan Lojin memuji. Seenaknya dia angkat tangan menuding kearah Cia Ing-kiat, gerakan yang kelihatan tidak acuh ternyata menimbulkan reaksi yang luar biasa, terasa oleh Cia Ing-kiat datang segulung tenaga menindih dada, seketika bergolak darah dalam tubuhnya, hampir tak kuat dia menahan, saking kaget tanpa sadar dia menyurut mundur selangkah. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berdiri alis Cia Thian, namun sebelum dia buka suara Thi-jan Lojin sudah berkata : „Kami datang untuk meminang Siau ceng-cu.”

Sekilas Cia Thian melenggong, katanya dengan tawa lebar. .”Entah putraku ini bakal ketiban rejeki besar apa, ternyata kalian sudi menjadi comblang untuk mengikat perjodohannya. Andaikata soal jodon ini benar-benar terangkap, selanjutnya siapa pula yang berani main kayu terhadap sepasang suami isteri bahagia ini “

Gin-koh tertawa berseri, katanya : „Cia-cengcu, bahwa kami sudah kemari, apapun soal jodoh ini bukan lagi ‘andaikata’, tapi pasti dan harus jadi.*’ Gin-koh bicara dengan ramah sambil tertawa, suaranya juga lembut, namun nadanya mendesak dan memojokan.

Karuan Cia Thian mengerut kening, jikalau yang datang bukan kedua tokoh lihay yang disegani ini, mnngkin dia tidak sudi menemui atau sudah diusirnya sejak tadi. Urusan udah telanjur, meski tahu persoalan pasti rumit dan genting, namun dia pikir, putranya sudah besar, cukup umur untuk punya bini, kebetulan kedua tokoh besar dan lihay ini menjadi comblang manfaat dikelak kemudian tentu tidak sedikit, lain kenapa dia harus bersikap kasar dan menantang kehendak mereka ? Karena itu sikapnya yang semula kaku berobah terbuka, katanya: “Bicara soal jodoh sekian lama, entah siapakah pihak perempuannya ? “

Thi jan Lojin saling pandang sekejap dengan Gin-koh, maka Gin-koh angkat bicara: ,,Cia cengcu boleh tidak usah kuatir. aku pernah melihat sendiri mempelai perempuan adalah gadis rupawan yang cantik molek, tanggung sukar dicari tandingannya di-dunia.”

Cia Thian keki tapi juga mangkel, katanya : “Peduli dia itu secantik bidadari, memangnya kami tidak boleh tahu asal usulnya ?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thi jan Lojin mengelus jenggotnya yang kaku, ternyata jenggot kaku yang dielus itu bersuara berisik seperti kawat yang direntang buat sikat jamban, katanya: “Inilah persoalannya yang menyulitkan, harus maklum pihak perempuan sekarang belum ingin membeber asal usulnya.’*

Cia Thian dsn Cia Ing-kiat mengerut kening, menyuruh orang jadi comblang meminang lelaki sudah jarang terjadi, ternyata pihak peminang tidak mau menerangkan asal usulnya, bukankah teramat ganjil dan tidak lumrah?

Gin-koh berkata pula: „Masih ada persoalan kedua yang cukup pelik, pihak perempuan ingin supaya suami masuk kerumah si isteri. Maka diharap Sau-cengcu sekarang juga berangkat untuk melangsung pernikahan disana.”

Sungguh tak tahan lagi Cia Thian menahan emosinya, kedua tangan sudah menekan kursi, emosinya sudah hampir meledak, untung dia masih kuat menahan diri, wajahnya kelihatan buruk dan bengis, katanya dengan bergelak tawa : „Kalian datang dari jauh, kami menyimpan arak bagus, kenapa tak minum lebih dulu ?” mendadak dia alihkan pembicaraan, tidak menyinggung soal pernikahan lagi.

Tapi Gin-koh mendesaknya : „Cia-cengcu bagaimana dengan tugas kami sebagai comblang, kuharap kau lekas memberi jawaban.”

Dingin suara Cia Thian : ,,Gadis secantik bidadari, kenapa harus kawin dengan putraku?”

Gin-koh membuka lebar kedua tangannya, katanya lertaut : „Urusan memang berabe, nona cilik itu memang kasmaran terhadap putramu, kecuali dia siapapun tidak mau kawin. Mungkin jodoh ini memang sudah suratan takdir.”

Cia Ing-kiat berdiri d belakang ayahnya sekian lama berdiam diri sudah merasa jengkel, kini dia tidak tahan lagi segera memprotes “ ..Kalau dia ingin kawin melulu dengan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aku, kenapa tidak dipertimbangkan apakah aku sudi mengawini dia?”

Thi-jan Lojin tertawa, katanya : „Sau-cengca, bila kau sudah berhadapan dengan dia, ku tanggung kau setuju seribu prosen.”

„Baik, begitu juga boleh, suruhlah dia datang kemari.” kata Cia Ing-kiat.

Gin koh mengerut kening, katanya “Siau-cengcu, keinginanmu jelas mempersulit kami berdua, padahal dihadapan pihak perempuan kami sudah mengagulkan diri, sudah kebacut janji, begitu kami tiba di sini segera akan persilakan Sau cengcu berangkat untuk melangsungkan pernikahan d rumah pihak perempuan.”

Sungguh bukan kepalang dongkol Cia Ing-kiat, serunya : . Jikalau demikian, kurasa dia lebih pantas kawin dengan mayat, bila kalian tiba boleh segera menggotongnya pergi.”

Mendengar jawaban tegas Cia Ing-kiat. roman muka Cia Thianpun berobah Serempak Cia Thian. Thi-jan Lojin dan Gin koh berjingkrak berdiri, situasi menanjak tegang. Segera Cia Thian merebut bicara : „Kuharap kalian tidak marah, omongan putraku kurang ajar. Perjodohan ini sebetulnya harus kami terima, sayang pihak perempuan tidak pakai aturan semestinya, kurasa belum pernah terjadi peristiwa seaneh ini didunia. Maka kurasa soal jodoh ini tak usah dibicarakan lagi”,cukup obyektif omongan Cia Thian. dia tahu kedua orang didepan mata ini tidak boleh dibuat permainan, namun jawabannya cukup beralasan dan memenuhi tata krama, jelas pihak mereka takkan bisa berbuat apa-apa.

Tak nyana Gin-koh yang perempuan ini ternyata menyeringai dingin, katanya ketus :

„Tidak bisa, soal jodoh ini betapapun tidak boleh batal.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak dia berjingkrak berdiri dengan alis tegak, pakaian peraknya itu berderai seperti memancarkan cahaya yang mengalir hingga wajahnya ikut bercahaya, Cia Ing kiat yang ditatapnya seketika merinding. Kata Gin-koh tetap menatap Cia Ing-kiat dengan suara kereng ; “Jangan cerewet, sekarang juga ikut kami.” tiba-tiba dia ulur sebelah tangannya, kelima jari mencengkram bagai cakar kearah Cia Ing-kiat.

Jaraknya dengan Cia Ing-kiat ada delapan kaki, begitu jari tangan orang mencengkram dari kejauhan. Ing-kiai rasakan segulung tenaga lunak besar menggulung tiba, seiring dengan tarikan tangan Gin koh serta jari-jarinya mencengkram, tanpa kuasa Cia Ing kiat seperti disedot tenaga gaib sehingga tanpa kuasa dia tersuruk maju beberapa langkah.

Karuan kejut Cia Ing-kiat bukan kepalang, lekas ia mengendap badan sambil pasang kuda-kuda, berbareng kedua tangan menahan kederan. syukur masih sempat dia mempertahankan diri, namun daya sedot itu ternyata makin besar, sekejap lagi jelas dirinya takkan kuat lagi, pada hal kejadian berlangsung dalam sekejap ini, namun jidatnya sudah berkeringat.

Pada saat genting itu terdengar Cia Thian mengeluarkan pekik panjang, kedua tangan disodorkan bergema kedepan mendorong kearah Gin-koh. Tenaga Cia Thian sebetulnya tidak ringan, dorongan kedua tangannya menimbulkan deru angin kencang menerjang kearah Gin-koh- Gin-koh tertawa riang, tak dihiraukan keadaan Cia Ing-kiat lagi, lekas dia alihkan tangan memapak serangan Cia Thian, “Blang” mereka mengadu kekuatan pukulan. Keduanya menyurut selangkah, wajah Cia Thian seketika membara, sebaliknya sikap Gin koh tetap wajar seperti tidak terjadi apa apa, namun waktu kedua orang mundur, jubin dibawah kaki mereka gemeratak pecah puluhan banyaknya.

Diwaktu kedua orang ini tertolak mundur selangkah itulah, disebelah pendopo yang sana terdengar suara gaduh, waktu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cia Thian menoleh, sempat dilihatnya badan Cia Ing-kiat menumbuk meja menjungkir balikan kursi dan almari, ternyata badannya yang terpental itu masih mencelat mundur lebih jauh menumbuk pintu angin,ditengah suara gedobrakan badannya terlempar keluar Sebelum tubuhnya terbanting menyentuh lantai, terdengar Thi-jan Lojin memekik panjang, tubuhnya mengudak keluar dengan luncuran lurus laksana anak panah.

Jangan kira perawakannya sedang gemuk, gerak geriknya seperti lamban dan malas, tapi daya luncurannya kali ini ternyata melebihi anak panah yang dilepas dari busurnya, sebat sekali dia sudah menyusul dibelakang Cia-Ing-kiat, sebelum tubuh Cia Ing-kiat menyentuh lantai, dia sudah turun tangan, menutuk Hiat-to pelemas dipinggang, berbareng tangan yang lain menjambak terus dikempitnya dibawah ketiak teriaknya: “Nah. mempelai lelaki sudah kudapat, boleh kami kembali.'” sembari berkaok dia meneruskan lari kedepan, maka terdengarlah suara gaduh secara beruntun di waktu tubuhnya meluncur bagai tendangan bola itu, sedikitnya ada beiasan orang yang mencegat dirinya telah dilempar dengan kebutan lengan baru. Setelah Thi-jan Lojin habis melontarkan kata-katanya, nada suaranya sudah mengalun lemah, kedengarannya sudah seratusan tombak jauhnya, jelas dia sudah berlari bolos keluar perkampungan.

Ke jadian amat mendadak dan tidak terduga, meski selama hidup entah betapa banyak pertempuran besar kecil pernah dialami Cia Thian, namun menghadapi persoalan seperti sekarang belum pernah, karuan dia gugup dan bingung, sembari memekik dia melangkah hendak mengejar. Tapi baru saja tubuhnya melambung keatas bayangan perak berkelebat didepan mata, ternyata Gin-koh mencegat dengan terjangan balik malah.

Melihat putranya digondol pergi, betapa gelisah hari Cia Thian, maka dapatlah dibayangkan berapa dahsyat daya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

luncurannya, kedua orang masih terapung diudara kedua-nya mana mampu mengendalikan gerakan? Pada hal angin sudah bergolak kencang di-dalam pendopo badan kedua orang ini jelas pasti beradu. Untunglah pada saat kiitis terdengar Gin-koh cekikik tawa, tatanya : ,.Cia Thian, apakah kau juga ingin menikah lagi “

Perkataan Gin-koh mengingatkan sesuatu dalam benak Cia Thian, seketika dia menjerit keras, secara kekerasan dia memutar balik hawa murni sendiri hingga tubuhnya seperti terpelanting diudara, sebelum tubuhnya bertubrukan dengan Gin-koh tubuhnya sudah anjlok kebawah, dari sini dapatlah dinilai betapa tinggi Lwekang Cia Thian, namun dia terburu nafsu hingga daya putar balik hawa murninya teramat cepat, maka dia dipihak yang dirugikan, maka tubuhnya yang anjlok kebawah itu sudah tidak terkendali lagi, “Blam” tubuhnya jatuh di atas meja besar hingga meja itu tertindih bolong, begitu tubuhnya ambruk dibawah meja terdengar pula suara retakan keras, jubin marmar di pendopo itu pecah berantakan tertindih badannya.

Sungguh bukan kepalang amarah Cia Thian, kedua tangan bekerja, meja besar itu dipukulnya hancur berantakan, sigap sekali dia sudah berdiri pula. Namun saat itu cahaya perak berkelebat, dilihatnya Gin-koh sudah melayang keluar, di saat tubuhnya terapung diudara terdengar Gin-koh seperti menyesali diri sendiri, katanya : ,,Ai, kiranya aku ini perempuan yang tidak terpandang di mata kaum lelaki.” seperti Thi jan Lojin waktu pergi tadi, setelah berakhir ucapannya, bayanganyapun sudah jauh diluar perkampungan.

Cia Thian masih ingin mengejar, namun darah mendadak terasa mendidih, karuan kagetnya bukan main, lekas dia duduk bersimpuh mengendorkan urat syaraf dan menyalurkan hawa murni, cukup sejam lamanya baru dia membuka mata dan berdiri. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia tahu umpama dirinya sempat mengejar tadi juga takkan bisa menyandak Thi-jan Lojin dan Gin-koh, apalagi sekarang ? Namun terpikir olehnya, sia-sia diri nya menjagoi dunia persilatan sekian puluh tahun, hanya kedatangan dua tamu, rumahnya sudah dibikin porak poranda, lebih celaka lagi, putra tunggalnya juga diculik orang makin dipikir makin marah dan penasaran hingga sekujur badan gemetar.

Pada saat itulah dilihatnya Nyo Cu-so berlari datang dari luar, kepandaian Nyo Cu-so cukup tangguh, namun napasnya ternyata ngosngosan, wajahnya pucat, cukup lama dia harus mengatur napas, namun masih belum bisa bicara.

Kalau dibanding keadaan C ia Thian masih lebih tenang malah, tanyanya : „Kenapa ?”

Nyo Cu-so menyengir getir, katanya : ,,Aku mengudak mereka, jikalau Gin-koh tidak memberi kelonggaran, pasti aku tidak bisa pulang.”

Kejadian terlalu singkat dan menegangkan hingga Cia Thian tidak tahu, kapan Nyo Cu-so mengejar keluar, maka dia hanya menyengir getir saja. Nyo Cu-so berkata : , Gin-koh titip pesan, bahwa perjodohan Sau-cengcu kelihatannya ganjil dan tidak masuk akal, tapi kelak dia berani tanggung cengcu dan Sau cengcu pasti menyatakan akur dan setuju, berterima kasih kepada mereka yang menjadi comblang.”

Badan Cia Thian masih gemetar, setelah menghela napas, kepalanya menengadah dan merdelong, sepatah katapun tak terucapkan.

Waktu Cia Thian melambung diudara hendak mengejar Thi-jan Lojin tadi, tahu-tahu Gin-koh juga mencegatnya diudara, di saat badan mereka hampir bertumbukan itulah, Gin-koh memperingatkan kepadanya, maka Cia Thian lantas menjatuhkan diri ke bawah. Soalnya Gin-koh pernah menyatakan secara terbuka dihadapan umum. lelaki siapanun tidak pandang bulu, asal dia lelaki tulen, kecuali kaki dan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tangannya, bila berani menyentuh anggota tubuhnya yang lain, maka lelaki iiu harus mempersunting dirinya sebagai bini, kalau menolak maka dia harus mati di bawah tangannya.

Gin-koh juga seorang cantik molek, apa lagi dua puluhan tahun yang lalu, terhitung gadis cantik nomor satu, lelaki mana tidak senang mempersunting isteri cantik ? Tapi meski kecantikan Gin-koh tersiar luas, namun kekejamannya juga menggetar nyali setiap lelaki, pada hal setiap lelaki normal siapa tidak tergila-gila kepadanya, namun mengingat tangannya yang gapah dan hatinya yang kejam, mereka terima membujang seumur hidup dari pada kawin denan perempuan berbisa ini. Oleh karena itu meski usianya sekarang sudah hampir setengah abad dia masih tetap perawan, selama dua puluhan tahun lebih, tiada seorang lelaki pun yang berani menjamah badannya.

Dari omelan G:n- koh waktu dia tinggal pergi tadi, kedengaran suaranya sedih dan rawan, jelas sikapnya itu bukan dibuat-buat. namun keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Cia Thian masih terlongong ditempatnya, Nyo Cu-so mendekati dan berbisik:,,Cengcu, kejadian ini berlangsung didalam kampung, orang luar pasti tiada yang tahu.”

Cia Thian menghela napas rawan serta tertawa getir, Nyo Cu so berkata pula:„Ceng-cu, meski kelakuan Gin-koh dan Thi-jan Lo-jin terlalu sembrono, namun maksudnva ku kira juga baik tujuannya memang hendak merangkap jodoh San cengcu. Bukan mustahil Sau-cengcu memang bakal ketiban rejeki.”

Cia Thian menghela napas panjang, katanya menunduk:”Cu-so, tahukah kau selama mengembara, pernahkah dia melakukan sesuatu yang mendatangkan bencana?’ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nyo Cu-so melengak, katanya:,.Mungkin dia melakukan kesalahan terhadap nona lihay dari keluarga mana, maka pihak mereka tidak memberi kelonggaran padanya?”

„Bukan”Cia Thian menggeleng. Dia.sampai disini dia merendahkan suara dan mau meneruskan perkataannya, tapi mulut yang terbuka tetap melompong, karena mendadak dia melihat dalam pendopo ini kecuali dirinya dan Nyo Cu-so ternyata betambah satu orang lagi. Melihat orang asing di dalam pendopo ini sungguh kejut Cia Thian bukan kepalang kejutnya jauh lebih besar di banding rasa-kagetnya waktu melihat Thi-jan Lojin membawa lari anaknya. Karena sejak kapan orang tak dikena! ini masuk ke-rumahnya, ternyata sedikitpun dia tidak tahu. Padahal dengan bekal Lwekangnya sekarang, meski sedang bicara dengan Nyo Cu-so pikiranpun tidak tenang, tapi betapapun bila ada orang datang memasuki pendopo, meski dia masuk dari belakangnya juga akan diketahui. Dan sekarang kenyataan orang ini sudah berdiri didepannya, baru dilihatnya, padahal kapan orang tiba dirinya tidak tahu jikalau kejadiaa tidak disiang hari bolong, mungkin dia bisa berprasangka dirinya melihat setan

Karena Cia Thian menghentikan ucapannya, Nyo Cu-so segera merasakan sesuatu yang ganjil, lekas dia putar badan, melihat orang, seketika diapun terbelalak kaget.

Orang itu berdiri tegak dan kaku. pakaiannya perlente, usianya amat muda, wajahnya pucat, hampir mirip orang yang mengapur mukanya sendiri, sorot matanya memancarkan cahaya dingin, dingin dan kaku mengawasi Cia Thian.

Setelah lenyap kagetnya Cia Thian mem-bentak;„Siapakau tuan?”

Perlahan pemuda itu berkaia:„Mana Sau-cengcu Cialng kiat? Aku ingin bertemu dengan dia.”

Cia Thian amat gusar, bentaknya bengis: „Jadi kau juga mencari dia, sayang sudah terlambat, dia diculik orang.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berdiri alis pemuda itu. tanyanya mendelik:”Diculik siapa? *

,,Gin-koh dan Thi jan Lo jin, jikalau kau bisa mencarinya, akupun akan berterima kasih kepadamu”

Tetap kaku sikap pemuda itu, katanya: „Baiklah, ada beberapa persoalan ingin kutanya kepadamu, kurasa sama saja dari pada katanya dia.”

Terbeliak mata Cia Thian, otaknya menimang bagaimana dirinya harus melayani pemuda misterius yang mendadak muncul ini, sebelum dia balas bertanya, pemuda itu sudah berkata pula:, Apakah Cia Ing-kiat pernah belajar sesuatu kepada Sip-loyacu?”

“Kalau benar memangnya kenapa?” tanya Cia Thian.

„Bagus sekali,” ucap pemuda itu „diapun pernah belajar di Toa-ceng bun dengan tujuh puluh dua perobahan itu, betul tidak?”

Baru sekarang C:a Thia merasakan urusan agak gawat, seketika berobah air mukanya, sesaat dia bungkam, pemuda itu sudah berkata pula:„Betullah kalau begitu, dialah, yang sedang kucari, aku pasti dapat menemu kan dia.” lalu dia berputar hendak beranjak keluar. Lekas Cia Thian bertanya “Siapakah nama tuan. ada keperluan apa kau mencari putraku?”

Pemuda itu tidak hiraukan pertanyaannya karuan membawa marah Cia Thian hanya berselang beberapa kejap belaka, kejadian berlangsung beruntun, perkampungannya yang angker disegani orang beruntun didatangi orang, pergi datang seenak udelnya sendiri, betapa dia kuat menahan emosi? Baru dua langkah pemuda itu beranjak, cia Thian sudah menghardik sambil memburu dua langkah lebar, tangannya terulur mencengkram pundak si pemuda.

Pemuda ini muncul secara mendadak di luar tahunya lagi, untuk mencengkram pundaknya jelas bukan sepele, maka Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cengkramannya dilandasi delapan bagian tenaganya, tak nyana begitu, tangan diturunkan, jari-jari nya berhasil menangkap pundak orang, „Berhenti.” Segera dia menghardik.

Ternyata pemuda itu berhenti, pelan-pelan menoleh. Cia Thian dibelakangnya, jarak nya dekat, begitu pemuda ini menoleh dilihatnya kulit mukanya dingin, hampir menyerupai wajah mayat hidup yang sudah sekian tahun, terkubur diliang lahat.

Sekarang baru Cii Thian insaf dan menyesal, kenapa tentang putranya diculik Thi-jan Lojin dan Gin-koh dia terangkan kepada pemuda ini. Jikalau peristiwa ini sampai tersiar diluar, nama besar Hwi liong-ceng selamanya akan tersapu dari percaturan dunia persilatan.Kini setelah dia mencengkram pundak si pemuda sudah timbul keinginannya untuk menahan pemuda ini secara kekerasan namun sebagai kawakan Kangouw, dia punya jiwa besar dan pandangan obyektif, begitu orang menoleh segera dia lepas tangan dan bertanya dengan keren. „Tuan siapa?”

Pemuda itu balas menatap dingin tanpa bersuara namun sikapnya sudah jelas bahwa dia tidak sudi menjawab pertanyaan Cia Thian, malah segera membalik badan beranjak pergi pula. Karuan tak tertahan lagi amarah Cia Thian, lekas dia mencengkram pula kepundak orang. Cia Thian memiliki pengalaman luas dan pandangan tajam, dia tahu pemuda ini pasti memiliki Ginkang tinggi, begitu tangannya mencengkram pundak, orang pasti akan mencelat maju kedepan, maka sambil mencengkram dia sudah siap mengerahkan tenaga, bila (awan bergerak segera dia hendak membuntuti dibelakangnya.

Dugaannya memang tidak meleset, baru saja tandannya beigerak, tubuh si pemuda masih tegak dan bergerak, namun kakinya seperti meluncur dipermukaan salju dengan sky, betapa cepat gerakannya sungguh susah dibayangkan. Bahwa dugaannya tepat Cia Thian bersorak girang dalam hati, sambil Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggerung segera dia menjejak kaki mengudak kencang. Pemuda i tu beruntun melangkah sejauh lima kaki, mendadak berhenti. Padahal daya luncuran tubuhnya cepat luar biasa, kini mendadak mengerem diri, Cia Thian mengudak dengan bernafsu, namun dengan bekal Lwekangnya sekarang untuk menghentikan gerakannya masih sempat dan mampu. Saya meski tahu Gin-kang pemuda ini tinggi tapi dia tetap meremehkan pemuda ini, melihat lawan mendadak berhenti, bukan saja dia tidak segera berhenti malah menambah tenaga, tubuhnya terus menumbuk kebadan pemuda itu. .

Cia Thian beranggapan dengan terjangan kekuatannya yang dahsyat ini, paling sedikit pemuda ini akan terlempar beberapa tombak kedepan, jikalau Lwekangnya lemah, kemungkinan bisa terluka dalam yang cukup gawat, biarlah diberi haja an lebih dulu, baru nanti diobati dan ditanya asal-usulnya. Pada hal jarak hanya dua kaki, kejadianpun berlangsung amat cepat, maka terdengarlah “Buk,” cukup nyaring, Cia Thian sudah menumbuk pemuda itu.

Tanpa kuasa ternyata Cia Thian mengeluarkan jeritan, tubuhnya memang menumbuk

si pemuda, tapi tubuhnya seperti menumbuk dinding baja yang kokoh saja, celakanya dari tubuh lawan timbul segulung tenaga besar yang meretul (membalikkan) tenaga tumbukannya sehingga badannya seperti dipukul godam, kejadian sudah kebacut ingin menarik diri juga sudab tidak sempat lagi. Sambil menjerit ngeri.mulutnya yang terpentang itu menyemburkan sekumur darah segar, jelas kelihaian semburan darahnya itu pasti menyemprot ditubuh si pemuda, namun sedetik sebelumnya, ternyata tubuh si pemuda telah bergerak kedepan pula. gerakannya ternyata lebih cepat dari semburan darah, padahal semburan darah Cia Thiau mencapai satu tombak lebih biru tercecer diatas tanah, namun bayangan si pemuda sudah tidak kelihatan. Setelah menyemburkan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

darah, badan Cia Thian terhuyung tiga langkah baru sekuatnya berdiri.

Lekas Nyo Cu-so memburu maju memapaknya, pandangannya penuh rasa kaget dan panik. Cia Thian sendiri merasakan hawa murni dalam tubuhnya mulai luber atau buyar, seperti kuda pingitan yang terlepas, menerjang kian kemari diseluruh badan, setiap mencapai urat nadi, terasa tenaganya semakin lemah. Inilah pertanda paling bahaya bagi setiap insan persilatan, keringat sederas hujan, sekuatnya dia meronta dan melontarkan beberapa patah kata : .Aku sudah tidak kuat lagi “

Nyo Cu-so juga menyaksikan apa yang terjadi, betapa tinggi Lwekang pemuda itu, sungguh susah dibayangkan, karuan Nyo Cu-so berdiri menjublek. Kini mendengar Cia Thian menyatakan tidak kuat. karuan kagetnya bukan main, lekas dia tutuk Ling-tai-hiat dipinggang Cia Thian- Namun hawa murni latihan Cia Thian sekian puluh tahun sudah kebacut buyar, Lwekang Nyo Cu-so juga kalah setingkat, begitu dia menekan Ling-tai-hiat. telapak tangannya seketika tergetar pergi oleh terjangan arus besar sehingga tulang pergelangan sendiri terkilir. Sementara badan Cia Thian bergetar makin keras, terdengar dia menjerit ngeri pula, lalu mendesis lirih : „Habislah sudah.*’

Badannya tersungkur tujuh langkah memeluk saka besar, makin lama makin keras gemetar tubuhnya, keringatpun bertetesan, saka menyanggah rumah yang dipeluknya itupun bergoyang, genteng sampai horeg seperti ke erjang gempa.

Sementara itu jago-jago Hwi-liong-pang sudah memburu datang, menyaksikan adegan yang menggiriskan ini, semua berdiri menjublek, mata terbeliak, mulut terbuka lidah menjulur keluar. Hanya seorang yang berpikiran agak jernih segera menggembor ; „Nyo-congkoan, lekas kau berdaya menolongnya.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nyo Cu-so sudah membetulkan tulang tangannya yang terkilir, saking menahan sakit mukanya tambah pucat, badannyapun gemetar. Melihat keadaan sang Cengcu memang dia tahu bahwa Cia Thian memang sudah diambang kematian. Pada hal betapa tinggi Kungfu Cia Thian dia juga tahu jelas.

Setelah menyaksikan kejadian tadi, maka dia pun dapat menilai bahwa Lwekang pemuda tadi sungguh susah diukur. Meski anak buahnya mendesak dan berteriak-teriak, namun Nyo Cu-so sendiri tidak mampu berbuat apa-apa, dia hanya berdiri menjublek. Sementara makin gemetar makin besar tenaga Cia Thian sehingga saka yang di peluknya itu sempal.

Sekuatnya dia coba memalingkan muka memandang sekejap kearah orang banyak, jelas dia ingin bicara atau memberi pesan apa-apa, namun kecuali suara krok krok yang keluar dari mulutnya, ternyata dia sudab tidak mampu bicara lagi.

Jilid ke : 4

Keringat dingin sebesar kacang berketes-ketes membasahi sekujur badan dan lantai di bawah kakinya, dalam jangka setengah jam, keringat yang merembes ternyata berwarna merah muda, beberapa saat lagi bukan lagi keringat tapi darah segar yang merembes dari pori-pori badannya.

Badan Cia Thian terus bergetar namun makin lama makin mereda, namun sekujur badan sudah mandi darah, betapa mengerikan keadaannya sungguh susah dibayangkan kejadian hanya berlangsung beberapa kejap, namun keadaan Cia Thian berobah secara drastis, kini tubuhnya sudah tidak gemetar lagi.

Sedikitnya ada seratus orang yang hadir dalam pendopo besar ini, namun semua orang manahan napas, seperti kesurupan setan semua mendelong mengawasi Cia Thian, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setelah Cia Thian melepas pelukannya, badannya lantas tersungkur jatuh, kembali orang banyak menjerit kaget, jeritan yang ngeri namun juga duka cita.

Ditengah jeritan orang banyak itulah Nyo Cu-so memburu maju mendekat, dilihatnya bola mata Cia Thian membundar besar bola mata berdarah, diwaktu terjatuh barusan agaknya Ki-king pat meh seluruh tubuhnya tergetar putus, maka kematiannya begitu mengerikan.

ooo)0(ooo

Berita kematian Cia Thian Hwi liong-ceng Cengcu yang mendadak lekas sekali tersiar luas, Cia Thian punya nama dan terpandang dikalangan Kangouw, begitu dia meninggal yang datang melayat sudah tentu amat banyak, semuanya tokoh tokoh kosen persilatan. Tapi setelah para pelayat itu meninggalkan Hwi liong-ceng semua mendelu dan bertanya-tanya dalam hati. Pertama, kenapa seluruh penghuni Hwi liong-esng tutup mulut kalau ditanya tentang kematian Cengcu mereka, kejadian seperti amat misterius. Kedua, putra tunggal Cia Thian, Siau-kim-liong Cia Ing-kiat ternyata tidak pernah kelihatan bayangannya.

Memang demikianlah kejadian didunia persilatan, persoalan yang dirahasiakan, kejadian yang ditutup tutupi oleh pihak yang bersangkutan, justru semakin menimbulkan banyak dugaan yang makin jauh dari kenyataan sebenarnya. Dalam jangka setengah bulan, tersiar tujuh puluh alasan atas kematian Cia Thian. lebih separo dari berita yang tersiar itu menyalakan kematian Cia Thian ada sangkut pautnya dengan Gin koh dan Thi-jan Lojin, karena sebelum peristiwa tragis iiu terjadi, kedua orang ini pernah bertandang ke Hwi-liong-ceng.

Jenazah Cia Thian sudah dikebumikan, tamu-tamu sudah pulang, namun warga Hwi-Hong-ceng masih diliputi duka cita. beberapa hari sudah berselang, namun Cia Ing-kiat putra tunggal Cia Thian ternyata masih belum tahu tentang kematian ayahnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sejak dia ditutuk Hiat-to dipinggang oleh Thi jan Lojin terus digondol pergi tubuhnya dipanggul diatas pundak terus dibawa melayang keluar, jangan kata meronta berteriakpun tidak mampu, dia hanya sempat mendengar gemboran marah sang ayah, lalu bayangan perak berkelebat, ternyata Gin-koh sudah menyusul di belakang Kecepatan lari Thi jan Lojin memang luar biasa, Cia Ing-kiat yang dipanggul di pundaknya menghadap kebumi, yang terlihat bumi ternyata seperti mundur ke belakang seperti mau menggulung dirinya, sementara bayangan perak dari baju Gin-koh yang kemilau tetap membayangi disebelah belakang.

Hari itu Thi-jan Lojin dan Gin-koh seperti berlomba lari sehari suntuk, hingga hari menjelang petang baru berhenti. Tempat itu seperti di dalam hutan, di mana sudah menunggu sebuah kereta, ditanah dalam hutan tampak daun-daun pohon bercampur kembang-kembang merah yang rontok bertaburan. Cia Ing kiat seorang yang suka kelana, suka ngelayap sejak usia masih belasan tahun, dari kembang-kembang merah itu dia tahu bahwa hutan di sini adalah hutan pohon flamboyan, letak hutan ini ada dua ratusan li lebih dari Hwi-liong-ceng. maka dapatlah dibayangkan kecepatan lari Thi-jan Lojin dalam jangka setengah hari ini, tanpa berhenti memanggul badan lagi.

Setiba dipinggir kereta badan Thi jan Lojin sedikit mengendap sambil miring, tubuh Cia ing-kiat tahu tahu sudah didorong kedalam kabin kereta. Menyusul didengarnya pintu ditutup, dari pandangan gelap diluar, didapati oleh Cia Ing-kiat keadaan didalam kereta ternyata bercahaya redup dan kalem, waktu dia mendongak, diatas langit-langit kabin kereta ternyata terbagi diempat penjuru masing-masing tiga butir mutiara, jadi jumlah seluruhnya dua belas Ya bing-cu sebesar kelengkeng. cahaya temaram yang menentramkan perasaan ini dipancarkan dari dua belas mutiara itu. Sementara kabin kereta ini ternyata dilembari kasur yartg empuk beralaskan kulit binatang yang berbulu tebal, ada bantal lagi, tidur Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

didalam kabin yang empuk begini memang cukup nyaman dan menyegarkan, tapi keadaan Cia Ing kiat sekarang justru terbalik.

Dalam pada itu kereta terasa bergerak dan kuda mulai berlari. Selama dipanggul dipundak Thi-jan Lojin dan dibawa lari sepanjang dua ratus Li itu, hati Cia Ing-kiat bukan kepalang gusar dan penasaran, pikirannya timbul tenggelam, tak pernah tentram sampai sekarang perasaannya masih kalut. Entah di mana kemana dirinya akan dibawa olah Thi-jan Lojin dan Gin-koh. Tapi sekarang tersimpul dalam benaknya, bahwa tujuannya tentu amat jauh kalau dekat tidak mungkin mereka menyediakan kereta ditempat sejauh ini.

Akhirnya Cia Ing-kiat menyadari keadaan seperti dirinya mau ribut atau banyak pikiran juga percuma. maka lambat laun keadaan menjadi tenang, Hiat-tonya tertutuk hingga tubuhnya tidak mampu berderak, namun dia masih bebas mencurahkan hawa murni, berulang kali dia kerahkan tenaganya untuk menjebol Hiat-to yang tertutuk. Beruntun lima hari dia rebah didalam kabin, hakikatnya kereta berkuda ini tidak pernah berhenti, didalam kereta yang tertutup rapat, ada kalanya Cia Ing-kiat mendengar suara percakapan ramai seperti ditengah pasar atau dijalan raya sebuah kota yang penuh sesak, sering juga dia mendengar gemericiknya air mengalir jelas kereta manyebrangi sungai, lapat-lapat terasa oleh Cia Ing-kiat bahwa kereta ini menuju kearah selatan, namun sampai kapan kereta ini baru akan berhenti, susah dia mengetahui.

Hari keenam usahanya ternyata tidak sia-sia, setelah dia mengerahkan hawa murni berulang kali, Hiat-to yang tertutuk lambat laun dijebolnya satu persatu, karuan bati Cia Ing-kiat girang setengah mati, maka dia lebih giat mengerahkan tenaga dan berusaha sekuat tenaga, kira-kira satu jam kemudian seluruh Hiat-to yang tertutuk ditubuhnya sudah berhasil dibebaskan seluruhnya. Segera Cia-Ing-kiat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjingkat duduk, tindakan yang di lakukan setelah tubuhnya bisa bergerak bebas adalah ulur tangan mendorong pintu kereta

Pintu ternyata tidak dikunci atau digembok dari luar, sekali dorong ternyata terbuka, namun Cia Ing-kiat lekas menutupnya pula. hanya mengintip dari celah celah yang dibuatnya sedikit, dia tidak mau segera lompat keluar, karena dia tahu tangannya belum pulih seperti sediakala, kaki tangan juga masih pegal setelah tidur tak berkutik sekian hari. Didapatinya kereta sedang laju ditengah jalan raya besar, sayang jalan ini tidak terawat atau mungkin sudah jarang orang lewat jalan ini sehingga jalan ini ditaburi rumput rumput liar, keadaan di sini sepi, tiada tampak bayangan orang disekitarnya.

Pintu kereta berada disamping, kebetulan dia bisa mengintil kearah depan, maka dilihatnya yang pegang kendali ternyata adalah Thi-jan Lojin seorang saja. Tampak pula oleh Cia-Ing-kiat empat kuda penarik kereta ternyata semua kuda jempol, kuda pilihan diantara ribuan ekor kuda kuda yang paling baik, bahwa kuda bagus begini dibuat menarik kereta, sungguh harus dibuat sayang.

Senang hati Cia Ing-kiat melihat hanya Thi-jan Lojin yang mengiringi perjalanan dirinya, meski tahu kepandaian sendiri jelas bukan tandingan Thi-jan Lojin, namun satu lawan satu betapapun dirinya masih bisa berusaha mololoskan diri, dari pada pihak sana ketambah seorang Gik-koh pula.

Seteiah menarik nafas dan beristirahat beberapa lamanya, kereta sudah berlari, cukup jauh, kaki tangan juga sudah normal, perlahan dia mendorong pintu bila cukup tubuhnya menyelinap keluar, segera dia melompat jauh keluar, begini badan menyentuh tanah terus menggelundung pula beberapa kali.

Sementara kereta kuda itu masih terus berlari kedepan, hanya sekejap jaraknya sudah delapan tombak lebih, baru Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja Cia Ing-kiat merasa senang, baru saja dia mau melompat berlari, mendadak dilihatnya bayangan perak laksana lembayung meluncur dari atas kereta, bayangan perak seorang laksana seekor burung aneh berputar diudara, meluncur laksana panah menukik miring kearahnya. betapa pesatnya, baru saja Cia Ing-kiat berdiri, Gin-koh ternyata sudah berdiri didepannya.

Pada saat itu pula didepannya Thi-jan Lojin membentak nyaring seraya menarik tali kekang, keretapun berhenti seketika.

Begitu berdiri tegak dan melihat Gin-koh sudah didepannya, maka dia hanya bisa tertawa getir saja. Didengarnya Gin koh berkata: “He kau mau lari menghindari pernikahan ini, ya, tidak boleh, jikalau kau pergi, kami berdua sebagai comblang bagaimana harus memberi pertanggung jawab kepada pihak mempelai perempuan?”

Meski gusar namun Cia Ing-kiat tak bisa berbuat apa-apa, katanya menyengir kecut “Kalau aku bisa lari, betapapun memang lebih baik.”

Merdu tawa Gin-koh, katanya “Maklum karena kau belum melihat calon isterimu. Bila kau sudah melihat binimu, kuhajar pantatmu serta mengusirmupun tanggung kau tidak mau pergi”

Tergerak hati Cia Ing-kiat. Gin-koh dan Thi-jan Lojin adalah jago kosen yang disegani dalam Bulim, bahwa hari ini mereka rela menjalankan tugas sebagai comblang, jikalau pihak yang menyuruh tidak memiliki Kungfu lebih tinggi dari mereka, maka mungkin kedua orang ini sudi melaksanakan tugas rendah ini? Maka segera dia menjengek dingin “Kiranya nama besar kalian hanya kosong belaka, ada juga orang yang kalian takuti.”

Terangkat Kedua alis lentik Gin-koh, namun wajahnya masih berseri tawa, katanya: “Anak bagus, sekarang Jangan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau memancing amarahku, lekas naik kereta, atau ingin kututup Hiat-tomu serta kubopong naik ke-kereta?”

Insaf betapapun dirinya takkan bisa melarikan diri, dari pada di tutuk Hiat-tonya, terpaksa Cia Ing-kiat menghampiri kereta serta masuk kedalamnya.

Ternyata Gin-koh mengawalnya ketat hingga dipinggir kereta. Thi Jan Lojin tertawa besar, katanya: “Boleh diuji. Dalam jangka enam hari kau mampu menjebol tutukan Hiat-toku. beberapa hari ini kau tidak merasa lapar, kini setelah bergerak bebas, sebentar juga perutmu akan berontak, lekas naik kereta, didepan kita mencari makanan.”

Mending tidak bicara soal makan atau lapar, begitu disinggung Thi-jan Lojin, seketika perut Cia Ing-kiat betul-betul ketagihan. Seketika dia rasakan kaki tangan lemas, mata berkunang. Lelaki gagah macam apapun takkan kuat menahan lapar, sebetulnya Cia Ing-kiat masih ingin bicara, namun karena kelaparan segala persoalan tidak terpikir lagi olehnya. Kali ini Thi jan Lojin tidak lagi menutuk Hiat-tonya, tapi Ing-kiat diseretnya naik kedepan duduk disampingnya yang pegang kendali, Gin koh melompat pula keatas kereta, kereta mulai bergerak.

Cia Ing kiat benar-benar kelaparan, dalam hati dia berdoa semoga lekas tiba disebuah kota maupun dusun yang penduduknya menjual makanan, celakanya kereta ini menyusuri jalan pegunungan yang sepi dan jauh dari kota, selepas mata memandang puluhan li tidak terlihat ada rumah penduduk atau asap. Syukur beberapa jam kemudian, jauh didepan terlihat ada beberapa gubuk dipinggir jalan, didepan sebuah gubuk diantaranya dipasang sebuah barak, beberapa orang desa duduk berkerumun didalam barak itu istirahat. Begitu tiba didepan barak itu Thi-jan Lojin menghentikan kereta terus berseru lantang: “Ada makanan apa, lekas siapkan untuk kami.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lekas Cia Ing-kiat melorot turun serta masuk ke dalam barak, kue-kue dan hidangan yang tersedia di sini ternyata berminyak dan warnanya juga kotor, dalam keadaan biasa jelas Cia Ing-kiat tak mau makan, namun sekarang dirasakan lezat dan enak luar biasa, Thi-jan Lojin mengikuti Cia Ing-kiat dan dan duduk disampingnya. Sementara Gin-kob tetap bersimpuh diatas kereta orang-orang desa itu nama melenggong, semua bingung dan saling pandang melihat kelakuan aneh perempuan yang satu ini.

Cia Ing-kiat tidak peduli keadaan sekelilingnya, yang penting sekarang adalah mengisi perut sekenyangnya. Namun baru setengah jalan dia mengisi perut, didengarnya lari kuda mendatangi, tiga ekor kuda tampak dibedal kencang kearah sini dan berhenti didepan barak.

Cia Ing-kiat belum sempat angkat kepala, didengarnya seorang berkata dengan dengan suara: “Kenapa jalan setan seburuk ini yang dipilih, hayolah turun dulu istirahat sejenak.” di susul langkah orang memasuki barak.

Baru sekarang Cia Ing kiat sempat melihat tiga orang berjalan masuk jajar, dua kurus satu gemuk, bila hal dalam barak hanya tersedia sebuah meja di mana Cia Ing-kiat dan Thi-jan Lojin sudah duduk di sana, tapi begitu masuk sigemuk lantas membentak..”Minggir “

Cia Ing-kiat sedang mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya, waktu dia angkat kepala dilihatnya gendut yang mengusir mereka ini bermuka gembrot jelek dan bengis, umumnya orang gemuk berwajah lamah dan kalem, tapi lain si gendut ini, hanya sekilas Cia Ing-kiat metihat wajahnya, dia lantas menunduk jijik, karuan sigendut berjingkrak gusar, tangannya sudah terayun, untung seorang temannya yang kurus keburu mencegah: “Toako, jangan sembrono, coba lihat, bukankah beliau adalah Thi-jan Cianpwe?”

“Cuh ” Thi jan Lojin berludah… “beginilah tingkah laku kalian biasanya, enyah” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bukan lagi bengis, tapi rona muka si gendut tampak menyengir lucu seperti babi yang mencium tahi bebek, sambil munduk-munduk dia mundur kebelakang, tiga orang ini sudah berada dipinggir kuda mereka, namun tidak berani berlalu, sikap mereka tampak lucu dan runyam, akhirnya mereka mematung diam diluar barak.

Cia Ing-kiat tertawa geli dalam hati, dalam hati dia membatin, kebesaran nama Thi-jan Lojin memang terbukti, ketiga orang ini memang bukan jagoan, bahwa mereka juga sepatuh ini maka dapatlah dirasakan betapa besar pengaruhnya didaerah ini. Tapi kejap lain Cia Ing-kiat terasa gregeten sendiri, dibawah pengawalan Thi-jan Lojin bersama Gin-koh, betapapun dirinya tiada harapan untuk meloloskan diri, kenapa dirinya harus merasa senang malah ? Selera makannya seketika lenyap, sumpit diletakan, habis minum segera dia berdiri. Thi-jan Lojin merogoh kantong meletakan sekeping uang perak diatas meja terus berlalu. Waktu lewat didepan ketiga orang itu, mereka munduk munduk memberi hormat, seorang yang kurus berkata menjilat : “Berapa lama kau orang tua meninggalkan Hwi-liong-ceng ? Cia Thian setan tua itu tidak tahu diuntung, berani dia bergebrak dengan kau orang tua, seumpama telur membentur batu layaknya.”

Mendengar orang ini kurangajar terhadap ayahnya. Lia Ing-kiat amat gusar, namun sebelum dia bertindak. Thi-jan Lojin sudah bersuara : “He, kejadian di Kangouw, cepat benar tersiar.”

“Memang,” ucap orang itu membusung dada…”pihak Hwi-liong ceng plinitat plinitut tiada yang mau menjelaskan namun kejadian justru tersiar semakin luas.”

Thi-jan Lojin tertawa, katanya : “Berita yang tersiar di Kangouw itu kurang benar, aku dengan Cia cengcu pada hal tidak atau belum pernah gebrak, kami malah sahabat baik, kedatanganku ke sana menjadi comblang untuk pernikahan Cia-sauceng-cu, dia inilah Cia-sau cengcu.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seketika berobah air muka ketiga orang itu, bila Thi-jan Lojin bicara habis, mimik mereka kelihatan lucu, mulut terbuka lidah menjulur, sepatah kata tak mampu bicara lagi.

Cia Ing-kiat maju beberapa langkah, tanyanya kereng : “Apa saja yang telah kalian dengar ?”

Ketiga orang itu saling pandang, tapi tidak berani bicara.

Thi-jan Lojin berkata : “Hayolah, kita harus melanjutkan perjalanan.”

Salah seorang kurus diantara tiga orang itu agaknya tidak tahan lagi, mendadak dia bertanya : “Sau-cengcu, apa kau tidak tahu?”

Cia Ing-kiat curiga, tiba-tiba dia membalik serta menyerbu ke depan si kurus serta menjambak baju didepan dadanya, namun si kurus ini ternyata memiliki kepandaian lumayan, badan mengegos miring dia meluputkan diri dari cengkraman Cia Ing-kiat, serunya : “Sau-cengcu, bukankah ayahmu sudah meninggal”

Cia Ing-kiat masih ingin mengejar, tapi mendengar ucapan si kurus seketika dia berdiri tertegun, kupingnya seperti disambar geledek, hampir saja ia tidak kuat berdiri.

Pada saat itulah, Gin-koh yang sejak tadi bersimpuh diatas kereta mendadak membentak : “..Membual.” berbareng sinar perak berkelebat, “plak, plok” dua kali, dua pipi si kurus telah digampar secara telak.

Tamparan Giu-koh cukup berat sehingga kedua pipi lelaki kurus itu bengap. kini bentuk wajahnya tidak kalah lebar dibanding temannya yang gendut itu, namun alisnya berdiri mata mendelik, agaknya dia penasaran, namun serta melihat yang memukul dirinya berdiri serba perak didepannya, alis yang tegak berdiri seketika lunglai, katanya dengan suara sengau : “Siapapun tahu bahwa Cia-cengcu dari Hwi liong-Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ceng telah meninggal, malah kami bertemu dengan beberapa kawan yang pulang dari melayat ke sana.”

“Bagaimana kematiannya ” tanya Thi-jan Lojin.

Ketiga orang itu gelagapan.

“Katakan.” tardik Thi-jan Lojin mendelik gusar.

Suara itu berpadu : “Barusan sudah kami katakan, kejadian . . . setelah kalian berdua . bertandang ke Hwi-liong ceng.”

Jawaban tiga orang ini agak ngelantur, namun stapapun dapat menangkap ke mana arti perkataannya, secara tidak langsung mereka mau bilang bahwa Hwi-liong-ceng Cia-cengcu mati dipukul oleh Thi-jan Lojin dan Gin-koh. Begitu mendengar berita kematian sang ayah, kepala Cia Ing-kiat sudah hampir meledak, pandangan berkunang-kunang, meski masih- berdiri tapi badannya masih limbung, baru sekarang dia tenang, maju menghampiri.

Bola mata melotot kearah Gin-koh, karena waktu dirinya dipanggul Thi-jan Lojin hanya Gin-koh seorang yang masih melayani ayahnya den kenyataan waktu itu ayahnya belum mati. Kejadian masih segar teringat dalam benak Cia Ing-kiat, meski cepat gerakan keluar Thi-jan Lojin, tapi masih sempat Cia Ing-kiat menyaksikan ayahnya yang hampir bertubrukan diudara dengan Gin-koh jikalau sekarang Cia Thian sudah mati, lalu siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan Gin-koh ?

Setangkah demi selangkah dia menghampiri, wajah Gin-koh dan Thi-jan Lojin tampak kalau mereka berdiri sigap tidak bergerak, sementara tiga Orang itu menyurut mundur dengan lutut goyah langkah gemetar-Bila Cia Ing-kiat sudah semakin dekat baru Gin-koh angkat kepala serta membentak : “bocah bodoh, apa yang sedang kau pikir?”

Berat napas Cia Ing-kiat, bola matanya seperti memancarkan bara yang menyala, Gin-koh ditatapnya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beringas. Gin-koh membentak pula : “Kami sebagai comblang, walau Cia cengcu mungkin tidak setuju, yakin kelak dia akan berterima kasih kepada kami akan pernikahan putranya ini. mana mungkin kami berbuat sesuatu yang merugikan dia?”

Beringas muka Cia Irg kiat, hardiknya : “Kau dengar bukan, apa yang dikatakan ketiga orang itu “

Salah seorang dari ketiga orang itu segera menjerit : “Setiap otang di jalanan berkata demikian, urusan tiada sangkut pautnya dengan kami.”

Mendadak Cia Ing-kiat memekik aneh, “Wut” di mana tangannya terayun, kontan dia memukul muka Gin-koh. Bekal kepandaian Cia Iug-kiat sekarang jelas bukan tandingan Gin-koh. namun hatinya sedang di rangsang emosi, maka tindakannya sudah di luar kesadarannya. Berdiri alis Gin-koh. sebelum tangan Cia Ing-kiat mengenai wajahnya, sebelah tangannya terangkat, gerakannya lembut dan enteng, pergelangan tangan Cia Ing-kiat disampuknya perlahan serta ditariknya kesamping. Kontan Cia Ing-kiat menjerit kesakitan, keringat dingin membasahi jidatnya- Sambil meringis Cia Ing-kiat mundur, tangan kiri memegang tangan kanan yang menjuntai lemas Jelas gerakan menepis enteng dari tangan Gin-koh barusan telah membuat tulang pergelangan tangan Cia Ing-kiat terkilir.

Baru dua langkah Cia Ing-kiat mundur, Thi-jan Lojin sudah memburu maju menangkap pundak Cia Ing-kiat serta membalikan tubuh, dengan tangkas kedua tangannya bekerja, memegang lengan dan telapak tangan terus dibetotnya “Krak” kembali Cia Ing-kiat melolong kesakitan, syukur tulang pergelangannya tersambung pula.

Thi-jan Lojin lantas berkata : “Sau-cengcu, kami berdua selamanya tidak perlu membela diri akan perbuatan yang pernah kami lakukan, tapi kau harus yakin bahwa kematian ayahmu bukan kami yang membunuhnya.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dua kali disiksa kesakitan dipergelarkan tangannya hampir saja Cia Ing kiat jatuh pingsan, apalagi setelah dia menerima berita duka Kematian ayahnya, betapapun hati takkan bisa tenang dan berpikir dengan kepala dingin. Namun setelah mendengar pertanyaan Thi-jan Lojin, tergerak juga hatinya.

Menurut kebiasaan sepak terjang Gin-koh dan Thi-jan Lojin, apapun komentar orang terhadap perbuatan mereka selamanya tidak pernah membantah atau mendebatnya, itu menandakan bahwa mereka tidak pernah gentar menghadapi segala persoalan. Apalagi persoalan kecil didepan mata. Akan tetapi sekarang, Thi jan Lojin merasa perlu menyangkal dihadapannya secara serius, apakah maksudnya ?

Hwi-liong-ceng memang disegani di kalangan Kangoaw, namun kedua orang ini juga tidak perlu takut terhadap kebesaran nama Hwi-liong ceng, bahwa sikap mereka sekarang masih agak segan dan sungkan terhadap dirinya tentu ada sebabnya, dan sebab itu lantaran dirinya sekarang digondol untuk melangsungkan pernikahan, jadi persoalan lebih jelas lagi bahwa pihak perempuan tentu mempunyai kekuatan yang cukup menciut nyali mereka. Makin dipikir benak Cia Ing kiat semakin ruwet, kecuali memburu napas sepatah katapun dia tidak bicara.

“Gin-koh,” seru Thi-jan Lojin “melihat gelagatnya, kami harus balik ke Hwi-liong-ceng untuk melihat kenyataannya.”

Gin-koh menyeringai, katanya: “Apa gunanya balik ke sana? Lekas kita antar orangnya dan serahkan kepada yang berkepentingan. Bila pernikahan sudah berlangsung, pihak perempuan sudah menjadi besan, urusan yang menyangkut Cia cengcu memangnya tidak mereka usut? Apa sih sangkut pautnya dengan kami ?”

“Betul, memang demikian.” ujar Thi-jan Lojin. Diakhir katanya jempolnya mendadak memijat Toa-pau hiat di bawah iga Cia Ing-kiat, berbareng tangan yang lain memeluk pinggangnya terus dikempit seketika Cia Ing-kiat mendehem Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berat tenggorokan, di mana Thi jan Lojin menggerakan tangan, tubuh Cia-Ing-kiat dilemparnya “Blang” menumbuk pintu kereta dan tubuhnya terbanting diatas kasur empuk dalam kabin.

Sigap sekali seperti berlomba saja Thi-jan Lojin dan Gin-koh melesat bersama, yang satu tetap menjadi sais yang lain duduk diatas kereta, ditengah ringkik kuda kereta itu telah dilarikan kedepan. Setelah kereta tidak terlibat lagi baru ketiga orang itu menghela napas lega, seperti siuman dari mimpi, satu sama lain saling pandang, keringat dingin menyebabkan pakaian mereka lengket ditubuh. Terutama sigemuk keringatnya paling banyak, sambil mengusap keringat, napasnya masih ngos-ngosan, katanya: “Sungguh menyesal, kami bertiga sebagai Hong teng-sam-say (tiga singa dari sungai timur) juga cukup punya nama, Heh, dinilai keadaan tadi, lebih baik pulang saja mengasuh anak.”

Dua temannya yang kurus juga manggut manggut dengan muka cemberut, kini mereka masuk kebarak dan duduk dengan sopan dan tidak sekasar tadi, wajah mereka masih pucat, tubuhpun masih ingin gemetar, sekian lamanya mereka lupa pesan makanan. Para pembaca harap maklum, Hong-tang-sim-say adalah begal besar dari golongan hitam, jelas mereka memiliki kemahiran yang berbeda, namun bila taraf mereka dibanding Gin-koh dan Thi jan Lojin jelas masih terpaut sangat jauh. Dengan lesu mereka lalu minta makanan padanya, namun selera makan sudah hilang, maka sekedarnya saja mereka mengisi perut yang semula memang sudah lapar, namun makanan apa dan bagaimana rasanya yang masuk keperut mereka sama sekali tidak diperhatikan. Setelah merasakan kenyang meski tiada separo piring yang mereka makan, siap berangkat pula, mendadak mereka melihat seseorang berjalan masuk dengan langkah gemulai.

Begitu melihat orang ini kembali Ho tang- sam-say melenggong. Jalan raya yang berada di pegunungan dipagari Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hutan lebat ini jarang dilewati orang, orang ini tidak menunggang kuda entah dari mana dan bagaimana dia datang kemari. Pada hal jalan penuh debu, namun pakaiannya kelihatan resik, sepasang sepatunyapun tidak kelihatan berdebu seperti baru keluar pintu saja, usianya masih muda, bentuknya sih genteng, namun rona mukanya putih pucat seperti kelabur kapur.

Baru saja katiban pulung, maka Ho-teng-sara-say uring-uringan, namun melibat orang ini mereka juga hanya melirik saja tidak bersuara atau menegornya. Tapi pemuda itu justru langsung menghampiri mereka. Suaranya dingin tidak sopan lagi: “Dijalan raya ini, adalah kaliau melihat Gin-koh dan Thi-jan Lojin”

Ho tang-sam-say melenggong. si gendut mendengus kasar, katanya: “Baru saja lewat, jikalau larimu lebih cepat dari binatang, boleh kau menyusulnya.”

“Apa maksud perkataanmu ?” tanya pemuda pucat sambil menatap si gendut.

Sigendut tertawa geli sendiri, katanya : “Arak bagus, tuan besarmu tidak ingin cari perkara, agaknya kau ingin mengusik aku, maksudku bila kau lebih cepat dari binatang …”

Sigendut bicara sambil menggerakan kaki tangan, mendadak lengan baju si pemuda seperti disendal naik keatas mengusap muka sigendut, terasa oleh si gendut mukanya seperti dielus oleh tekanan angin keras hingga napaspun sesak, tersipu dia menyurut mundur, namun lengan baju orang bagi pisau baja yang tajam luar biasa, seketika dia rasakan sebelah pipinya kesakitan, sambil menjerit dia mendekap pipi yang kesakitan, terasa lekat dan basah, waktu dia angkat tangannya ternyata muka dan telapak tangan berlepotan darah, ternyata daging pipinya yang gembrot telah teriris hilang oleh kebasan lengan baju si pemuda. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Biasanya si gendut suka berlaku kejam terhadap setiap korbannya, tapi kali ini tak urung dia menjerit-jerit, tiba-tiba pandangan gelap. ‘Bluk’ tubuhnya yang besar itu ambruk semaput.

Tanpa hiraukan korbannya pemuda itu putar tubuh terus beranjak keluar. Dua singa kurus yang lain terperanjat melihat sigendut menjadi korban, sambil meraung mereka menubruk bersama dari kanan kiri mencengkram pundak. Tapi begitu jari mereka menyentuh pundak si pemuda, segulung tenaga dahsyat memukul balik sehingga cengkraman mereka terpental kesamping betapa hebat tenaga yang tersalur di pundak si pemuda, ternyata kedua singa kurus ini sampai mencelat keatas menjebol barak

Pemuda itu tidak berhenti, langkahnya tenang, bila dia sudah berada dijalan raya, kedua singa kurus itu juga sudah menggelundung jatuh ditanah, kecuali bola mata mereka yang, bergerak, badan ternyata lunglai tak bertenaga. Dari keadaan mereka dapat dibayangkan, tulang belulang badan mereka sudah remuk.

Tidak lama sigendut semaput, pelan-pelan dia sudah siuman lagi, melihat keadaan temannya seketika dia mengkirik ketakutan, tanpa hiraukan mati hidup kedua rekannya segera dia angkat langkah seribu. Selanjutnya Ho tang sam -say lenyap dari percaturan Kangouw, namun beberapa minggu kemudian, sering muncul seorang gendut gila yang separo mukanya terkelupas dagingnya dibeberapa bandar sepanjang sungai besar. Setiap melihat orang membawa senjata, segera dia membujuk orang itu supaya tidak bermain silat, berbahaya salah salah jiwa bisa melayang, namun tiada orang yang menghiraukan ocehannya.

Sekarang mari kita ikut perjalanan Cia Ing-kiat yang rebah didalam kereta , sekaligus kereta itu dikaburkan sejauh delapan puluh li, setelah hari petang baru berhenti, karena Hiat-tonya tertutuk maka dia tidak mampu bergerak, dalam Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beberapa jam ini. pikirannya tidak karuan, sungguh dia kehabisan akal. tak tahu apa yang harus dilakukan.

Setelah kereta berhenti, walau hari sudah petang, namun daun pintu sudah jebol maka dia bisa melihat kereta ini berhenti didalam hutan. Didengarnya Gin koh yang berada di-atap kereta tertawa, katanya “..Ginkang tuan sungguh hebar, sepanjang jalan ini kau dapat mengejar dengan ketat” jelas dia sedang bicara kepada seseorang.

Meski pikiran sedang ruwet, namun mendengar perkataan Gin koh, kaget juga hati nya. Kereta berlari sekencang itu, seseorang dapat menyusul bukan suatu yang perlu dibuat heran, karena tidak sedikit kaum persilatan yang lihay Kungfunya. Pada hal Gin-koh duduk diatap kereta, pakaian peraknya yang khas itu. jago silat mana yang tidak mengenalnya, tapi orang ini toh berani menyusul datang, hal inilah yang membuat Ing-kiat heran.

Maka dari tempat gelap sana seorang balas bertanya : “Sau cengcu dari Hwi-liong-ceng, bukankah berada ditangan kalian?”

Ing-kiat hanya mendengar suara tidak melihat orangnya, namun suara dingin ini masuk ketelinganya, seketika dia bergidik ngeri, seolah-olah ditempat gelap dia melihat seraut wajah pucat lesi, seketika tubuhnya seperti kecemplung kekubangan salju suara itu adalah suara Sau-pocu dari Kim-hou po yang sudah dikenalnya, rasa takut seketika merangsang sanubarinya. Bahwa dirinya menyelundup ke Kim-hou-po dan lari keluar pula adalah kejadian yang amat dirahasiakan, kecuali ayahnya seorang pasti tiada orang ketiga yang tahu, namun kenyataan Sau-pocu Kim-hou-po ini telah mengejar dirinya. Karena tubuh Cia Ing-kiat tidak dapat bergerak, maka dia mendengar Gin-koh mengiakan-

Kedua kali Sau-pocu Kim-huo po berbicara, suaranya sudah berada disamping kereta : “Aku ingin tanya beberapa patah kata kepadamu.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tampak oleh Cia Ing-kiat bayangan perak berderai, agaknya Gin-koh sudah melompat turun dari atas kereta sementara tak jauh didepan Gin koh, didalam keremangan malam tampak seraut wajah pucat. Berdetak jantung Cia Ing-kiat, didengarnya Gin-koh bertanya:, “Tuan siapa; siapa gurumu?”

Cia Ing-kiat tahu. pertanyaan yang diajukan ini sudah terlalu umum dikalangan kangouw tapi pertanvaan sejenis keluar dari mulut Gin koh, jelas bobotnya berbeda ini pertanda pula bahwa Gin koh juga tahu bahwa orang ini bukan jago sembarang jago, maka nada pertanyaannya cukup prihatin, padahal Gin-koh yang berwatak kaku berangasan ini mana mau bersikap sopan dan bertanya secara wajar?

Cia Ing-kiat berusaha memalingkan muka melirik keluar, dalam kegelapan sekujur badan Gin-koh seperti dibungkus cahaya perak kemilau, wajah Sau-pocu dari Kim-hou po yang pucat lesi itu kelihatan seram dan menakutkan dibawah pancaran sinar reflek baja

Tampak Sau-pocu menggerakkan ujung mulutnya, lalu berkata:”Tak usak tanyalah, apakah Cia Ing-kiat berada dalam kereta? ” sembari bicara tangannya bergerak jarinya menuding kearah kereta, saat itulah mendadak pergelangan tangan Gin-koh terbalik, jari jari tangannya yang halus lembut laksana sutra gemulai laksana daun pohon pengebas ke pergelangan tangan lawan seperi pemain musik yang mengebas suara gitar,

Siang tadi tulang pergelangan tangan Cia Ing-kiat juga dikebas hingga terkilir oleh gerakan gemulai jari jari Gin-koh ini-Tapi lain pula kejadian kali ini, jelas jari-jari Gin-koh tepat mengenai pergelangan tangan orang tapi Sau-pocu seperti tidak merasakan sama sekali, katanya lebih lanjut:”Kalau betul dia ada didalam suruhlah dia keluar menjawab beberapa patah pertanyaanku,” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gerakan tangan Gin koh ringan seperti melayang, gerakan tangan mengkilir tulang yang dilakukan Gin-koh ini boleh dikata tiada tandingan di Kangouw, namun kali ini jarinya seperti mengebas batu karang yang sudah lama terendam dibawah air dan lumutan, keras tapi licin, kuku jari sendiri terasa kesemutan malah, Hal ini belum pernah terjadi sejak Gin-koh mahir menggunakan ilmunya keruan hatinya bercekat, serta merta dia berteriak: “Thi-jan…”

Thi jan tetap duduk ditemparnya memegang tali kendali, maka dia melihat jelas segala kejadian meski Gin-koh tidak memanggilnya juga dia sudah siap bertindak, sebat sekali dia sudah melompat turun, begitu kaki menyentuh tanah dia bergelak tawa, katanya: ”..Dalam dunia persilatan muncul pula seorang kosen seperti dirimu, ternyata kami tidak tahu menahu, sungguh cupat pandangan kami.”

Tangan Sau pocu tetap menuding kedepan, katanya:”Aku ingin becara beberapa patah kata dengan Cia Ing-kiat.”

Thi jan Lojin dan Gin-koh adalah jaso silat kelas wahid, barusan Gin koh sudah menjajal kemampuan anak muda ini, meski hati tidak jeri, namun dia tahu bila betul-betul bergebrak, belum tentu dirinya bisa menang. Maka Gin-koh merobah sikap, katanya dengan cekikikan: “Cia saupocu adalah menantu baru orang, ada urusan apa tuan ingin tanya dia?” diam diam dia memberi tanda kepada Thi-jan Lojin. Maka Thi-jan Lojin mundur selangkah, tangannya yang digendong dibelakang menutuk balik kebelakang kearah kereta, sejalur angin meluncur kebelakang membentur tubuh Cia Ing-kiat hingga Hiat-tonya yang tertutuk terbuka.

Diwaktu Hiat-to tertutuk karena ketakutan sekujur badan basah kuyup oleh keringat dingin, kini selelah Hiat-tonya terbuka, terbuka, bukan saja kedinginan diapun menggigil. Sementara Gin-koh dan Thi-jan Lojin tetap berhadapan dengan Sau-pocu, agaknya mereka bersiaga sepenuh perhatian. Didengarnya Thi jan Lojin berkata: “Sau-pocu, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saudara ini mencarimu ingin tanya sesuatu hal, apa kau mengenalnya?”

Lekas Cia Ing-kiat tenangkan hati terpaksa dia mengeraskan kepada melorot turun dari dalam kereta, sahutnya: “Aku tidak mengenalnya.”

Begitu dia berdiri tegak serangkum angin silir seketika menyampuk mukanya, Sam-pocu dari Kim-hou-po ternyata bergerak lincah laksana kupu menari dan menyelinap, tahu-tahu tubuhnya menjeblos dari celah berdiri antara Gin koh dan Thi jan Lojin dan berdiri didepannya. Reflek Thi-jon Lojin dan Gin-koh juga cukup cepat, segera mereka sudah membalik badan tapi mimik muka mereka kelihatan lucu menggelikan.

Maklum mereka berdiri jajar sejauh dua kaki berhadapan dengan orang, dengan bekal kepandaian mereka berdua, jangan kata manusia, seekor lalatpun jangan harap bisa menyelinap dari celah-celah mereka. Tapi dengan kemampuan mereka yang hebat, kenyataan pemuda ini telah menyelinap kebelakang mereka, Bagaimana orang bergerak juga tidak terlihat jelas, hanya merasa angin sejuk menerobos. Tahu-tahu orang sudah berhadapan dengan Cia Ing-Hiat, sungguh kejadian luar biasa, dan sekaligus telah menyapu bersih pamor mereka sebagai angkat tua yang berkepandaian tinggi, tak heran bila mimik muka mereka sedemikian lucu.

Timbul hasrat Cia Ing-kiat menyurut mundur, namun baru pundaknya bergerak. Sam-pocu sudah ulur tangan memegang urat nadinya, betapa cepat gerakan tangannya sungguh cepat luar biasa, seketika Cia Ing-kiat lemas lunglai, tenaga tidak mampu dikerahkan, didengarnya Sau-pocu berkata; “Serahkan”

Bergidik tubuh Cia Ing kiat, giginya sampai beradu, beberapa kali dia meronta baru bisa bersuara: “Apa…apa yang diserahkan?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Saat itulah Thi-jan Lojin membentak: “He, kau bilang hanya tanya beberapa patah kata, kenapa turun tangan?”

Walau urat nadi Cia Ing-kiat kena dipegang, tapi Sau pocu. tidak menggunakan tenaga besar, namun Thi-jan Lojin tidak tahu bahwa Cia Ing-kiat ketakutan akan bayangannya sendiri sehingga tubuhnya menggigil, suara gemetar, namun dia kira Sau-pocu memencet urat nadinya dengan tenaga dalam sehingga keadaannya kelihatan payah.

Sau-pocu anggap tidak dengar akan bentakan Thi-jan Lojin, katanya setelah tertawa dingin beberapa kali: “Ciong Tay pek jangan pura pura pikun dihadapanku.”

Thi-jan Lojin saling pandang sekejap dengan Gin koh berkata: “Apa kau tidak keiiru mengenali orang Dia bukan Ciong Tay-pek, tapi Sau-congcu dari Hwi-long ceng bernama Cia Ing-kiat.”

Cia Ing-kiat juga berseru: “Kau panggil apa terhadapku “

Dingin setajam pisau tatapan bola mata Sau-pocu, seperti menyelidik wajah Cia Ing-kiat. Kini Cia Ing-kiat malah lebih tenang, karena dia sudah tahu bahwa Sau-pocu juga tidak yakin bahwa dirinya betul adalah Ciong Tay-pek, asal dirinya tetap mungkir, orang pasti apa boleh buat. Maka badannya tidak gemetar lagi, kini wajahnya memperlihatkan sikap marah, serunya : “Kau ini pikun, sebetulnya siapa yang kau cari dan ada urusan apa ?”

Sau-pocu membentak bengis : “Kau pernah belajar tata rias di Jit cap ji-pian Toa-seng bun. Betul tidak ?”

Tersirap darah Cia Ing-kiat. “Ya, kenapa?” tapi segera dia menjawab.

“..Setelah tamat belajar tata rias, ke mana saja kau selama ini?” Sau-pocu bertanya pula.

Cia Ing-kiat marah, serunya : “Kau ini siapa, kenapa aku harus memberitahu kepadamu ” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Katakan” bentak Sau-pocu sambil memperkeras pegangan tangannya.

Terasa segulung tenaga besar merembes masuk lewat urat nadinya menerjang jantung dan paru paru. tak tertahan mulutnya terpentang dengan jeritan melengking. Reaksi Gin koh dan Thi jan Lojin teramat cepat, sebat sekali mereka maju selangkah, Thi jan Lojin turun tangan lebih dulu. “Plak” jari-jari tangannya sudah menekan pundak Sau-pocu. Gerak menekan ini kelihatannya biasa saja. pada hal dilandasi kekuatan dalamnya kalau orang biasa ditindih tenaga sebesar ribuan kati pasti tidak akan kuat menahannya, kaki lemas dan pasti berlutut. Tapi Sau pocu yang satu ini tetap berdiri tegak malah menoleh, katanya dingin : “Kalian tidak mudah belajar silat apa lagi sampai setua ini, nama besar juga sudah punya di Kangouw jangan hanya karena mempertahankan gengsi, latihan Kungfu selama puluhan tahun terhanyut ludes tanpa bekas.”

Walau merasa kaget terhadap Kungfu anak muda ini, apalagi dengan bekal pengalaman dan pengetahuan mereka selama ini ternyata tidak tahu asal usulnya, Gin-koh dan Thi-jan Lojin memang merasa masgul dan heran, padahal usianya masih begini muda, tapi memberi peringatan cukup pedas, mana kuat mereka menahan perasaan hati? Maka Thi-jan Lojin bergelak tawa, hawa murninya di kerahkan, maka tekanan tangannya dipundak Sau-pocu juga bertambah besar.

Tapi kecuali mengerut kening Sau-pocu tetap tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

Apapun Thi jan Lojin memang tokoh bukan sembarang tokoh, jago- silat yang berpandangan obyektif, dalam keadaan tegang begini, lawan masih kelihatan biasa saja, maka dia insaf, bila tidak lekas lepas tangan dirinya bakal mengalami rugi yang cukup fatal, maka lekas dia kendorkan tenaga dun mengangkat tangan. Sayang sekali meski dia ingat akan hal ini. tapi sudah terlambat, baru sedikit tangannya terangkat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sau-pocu sudah membalik seraya mengebas telapak tangannya, betapa ringan seperti melayang saja gerak tangannya, namun begitu melihat gaya tangan orang wajah Thi-jan Lojin yang merah itu seketika menjadi pucat. terdengar dia menjerit keras : “Kasihanilah.” “Plak” tangan orang juga menepuk pundaknya

Pukulan ini kelihatan enteng, waktu kena pundak Thi-jan Lojin suaranya juga tidak keras. Tapi akibat dari pukulan ini justru teramat bebat, siapapun pasti menjiblek kaget.

Terdengar Thi-jan Lojin meraung seperti binatang buas yang terluka, badannya mendadak mencelat terbang “Blang” menumbuk seekor kuda. kuda Itu meringkik kesakitan roboh tak bernapas lagi. Sementara badan Thi-jan Lojin masih menelat terbalik kebalik kuda sambil ulur tangan berpegang kereta, pikirnya supaya dirinya tidak terguling sungsang sumbel pula, tak nyana kereta ikut tertarik terbalik, tubuhnya masih juga terlempar kebelakang menumbuk pohon sebesar paha, pohon itupun patah seketika baru dia kuasa berdiri, namun juga masih terhuyung lagi tiga tindak.

Disebelab sana. Gin-kob juga menyurut mundur beberapa langkah. Dia mundur bukan lantaran didampar angin pukulan, tapi dia amat kaget dan pesona melihat akibat dari pukulan tangan San pocu. Demikian pula Cia Ing kiat, hatinya tidak karuan rasanya.

Betapa tidak, Giu-koh dan Thi-jan Lojin mempunyai ketenaran dan kewibawaan besar di Bulim, masuk Hwi liong ceng menculik orang secara paksa untuk menikah secara sepihak, seperti tiada orang lain yang lebih unggul dan gagah dari mereka, tapi sekarang seperti bocah umur tiga tahun, kalau Thi-jan Lojin dihajar kalang kabut, tapi Gin koh jago lihay juga menyurut ketakutan, mimik mukanya kelihatan lucu dan runyam.

Setelah berdiri tegak Thi jan mengelus dada dan kendalikan napas, sesaat lamanya baru dia kuasa bersuara : “Terima Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kasih akan belas kasihanmu. Terima kasih akan belas kasihanmu.”

Melirik pun tidak Sau-pocu, kepadanya, pandangannya menatap Gin-koh sikap Gin-koh tetap runyam, katanya : “Apa kehendakmu “

Bergerak ujung mulut Sau-pocu, seperti tersenyum tidak tersenyum, katanya : “Aku hanya ingin membawanya pergi.”

Thi-jan Lojin sudah menghampiri perlahan, melibat pernyataan Sau-pocu segera ia berhenti dan saling toleh dengan Gin-koh, sikap mereka serba susah Gin koh yang sudah terkenal jahat dan licin ini ternyata berseri tawa dan merendah : “Harap tuan maafkan terus terang kami disuruh oleh fihak yang berkepentingan untuk membawa Sau-cengcu dari Hwi-liong-ceng ini, untuk mencapai tujuan memerlukan lima hari lagi. Dengan bekal kepandaian tuan tadi, bila sudah ditempat tujuan secara terbuka kau menuntut kepada mereka kurasa juga bukan soal yang menyulitkan.”

San pocu mendengarkan dengan cermat, Gin-koh bicara habis, dia lantas, tanya : “Pihak siapa yaug berkepentingan?”

Gin-koh geleng kepala : “Maaf, kami tidak berani menjelaskan.”

Sm-pocu mendengus, katanya: “Siapa sabar main teka teki dengan kalian?” sembari bicara sebelah tangannya bergerak membalik mencengkram kerah Cia Ing-kiat. Jarak mereka ada delapan kaki, waktu tangannya mencengkram balik tubuhnya tidak bergerak, maka cengkramannya ini jelas tidak tercapai pada sasaran.

Tapi pada saat jari-jarinya terkembang kebelakang lalu mendadak ditebuk dan meremas, kontan Cia Ing Kiat merasa segulung tenaga besar menerjang dada sehingga tubuhnya terjengkang kebelakang, namun hanya sedikit tenaga besar itu berubah menjadi daya sedot yang lebih besar dari dorongan semula, tubuhnya seperti digantol besi saja, tanpa kuasa dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

senak maju lima langkah, kejap lain terasa dadanya perih, ternyata Sau-pocu sudah mencengkram dadanya.

Dalam waktu yaug sama terdengar Gin-koh berteriak : “Kalau kau merebut secara paksa terpaksa kami adu jiwa dengan kau.”

Karena dada tercengkram ternyata Cia-Ing-kiat kehilangan tenaga, jantungnya seperti ditusuk jarum sakitnya, hampir saja dia tidak knat lagi, mulutnya megap-megap karena napas sesak, kupingnya masih mendengar teriakan Gin-koh, sinar perak berkelebat, ternyata Gin-kon nekat menerjang. Dari sanmping terdengar pula Thi-jan memekik : “Gin-kon, jangan.” menyusul terdengar pula “Seerrr”, terasa oleh Cia Ing-kiat tubuhnya seperti dilempar terbang keatas

Begitu cepat kejadian berlangsung sehingga dia tidak sempat mendengar suara lainnya lagi, yang jelas dia melihat bayangan perak menerjang lewat dibawah kakinya, agaknya Gin-koh tak kuasa kendalikan gerakannya masih terus menerjang kedepan baru sekarang Cia Ing-kiat sadar bahwa dirinya masih di-cengkram Sau-pocu dan dibawa mencelat tinggi keudara.

Sambil menjinjing tubuh seorang besar, lompatannya masih dapat mencapai dua tombak tingginya, terhindar dari sergapan Gin-koh lagi, betapa tinggi Ginkangnya, sungguh susah dibayangkan.

Dalam sekejap ini Cia Ing-kiat sudah membulatkan tekadnva, bahwa dia pantang mengaku pernah masuk ke Kim-hou-po meski dirinya disiksa dengan cara apapun, karena dia insaf sekali dia mengaku, jiwanya mungkin sukar dipertahankan lagi. Disaat Ing-kiat membulatkan tekadnya ini, gerakan Siau pocu mulai anjlok kebawah. namun sebelum menyentuh tanah langsung melesat kencang ke-depan.

Kecuali deru angin dipinggir telinganya, Ing-kiat mendengar pekik suara Gin-koh dan bentakan Thi-jan Lojin, namun hanya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekejap saja sudah tak terdengar lagi karena jarak sudah makin jauh. Jantung Ing-kiat seperti kuda yang berlombang kencang, entah berapa jauh dirinya dibawa lari sekencang angin lesus, akhirnya “Bluk” tubuhnya terbanting keras, suara apapun tak terdengar lagi.

Cia Ing-kiat berusaha membuka mata, didapati dirinya nenggeletak di tanah.

Sian-po cu berdiri didepannya. Sebetulnya Kungfu Cia Ing-kiat tidak rendah, hanya jatuh begitu sebetulnya tidak sampai menjerit kesakitan, tapi waktu menyengkelit dan membanting tubuhnya entah Sim-pocu menggunakan Jong jiu-hoat apa. begitu tubuh menyentuh bumi seketika Cia Ing kiat rasakan sekujur badannya seperti luluh dan lunglai, tulangnya seperti protol. rasa sakit yang menusuk tulang sungguh sukar ditahan lagi, disamping menjerit-jerit tengorokannya juga mengeluarkan suara rendah seperti binatang buas yang menggerung kelaparan, ada hasratnya mengerahkan hawa murni untuk meugatasi rasa sakit ini hakikatnya dia seperti orang lumpuh yang tidak mampu mengerahkah tenaga sedikitpun, jelas ada beberapa Hiat-to penting di tubuhnya yang tertutuk oleh cengkraman tangan orang tadi.

Meski tubuh sudah berkeringat dingin dan gemetar saking menahan rasa sakit, tapi Cia-Ing-kiat masih kertak gigi, katanya dengan suara gemetar: “Kau……kau tanpa sebab. ..begini…” dia tidak manpu meneruskan perkataannya. Sebetulnva dia sudah siapkan rangkaian kata hendak memaki orang, namun hanya dua patah kata terlontar dari mulutnya, seketika dia menjerit-jerit pula. Selama setengah jam Cia Ing-kiat tersiksa, dia sendiri tidak habis mengerti, bagaimana dia kuat bertahan selama ini.

Setengah jam kemudian rasa sakit badannya mulai buyar, namun siksa derita seperti bergelombang itu sungguh membuatnya lemas dan lemah seperti kapas, badan basah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kuyup oleh keringat dingin, walau rasa sakit berangsur hilang, tapi napasnya masih sengal-sengal.

Didengarnya suara Siau-pocu yang dingin kaku berkata pula: “Han kin-joh-kut-jiu yang kulancarkan barusan hanya mengerahkan satu bagian tenaga, sekarang akan ku tumbah satu bagian lagi. apa kau ingin mencobanya ? “

Sungguh seperti terbang arwah Cia Ing-kiat mendengar ancaman orang, pada hal baru saja dia kertak gigi menelan air liur. siksa kesakitan setengah jam tadi belum lagi lenyap seluruhnya, mana kuat disiksa lebih parah lagi. Karuan hatinya ciut dan ngeri, teriaknya: “Jangan……… jangan turun tangan.”

Sau pocu tertawa dingin, katanya: “Tadi sudah kukatakan,akhirnya juga meski ngaku, kenapa lebih suka disiksa lebih dulu.”

Napas Cia Ing-kiat masih memburu, sudah timbul hasratnya ingin bicara terus terang saja supaya dirinya tidak tersiksa begini rupa, namun sekilas benaknya berpikir pula, akhirnya dia kertak gigi. katanya: “Sungguh aku tidak tahu persoalan apa yang kau ingin aku katakan,”

Siau-pocu tertawa dingin, sejalur angin lembut langsung menerpa mukanya, ditengah gelap dia seperti Siau-pocu mengebas lengan baju sehingga wajahnya seperti diusap sekali tapi tenapa usapan itu terasa lembut dan menimbulkan rasa linu dan gatal, tapi juga nyaman segar.

Tengah Ing-kiat keheranan, kenapa kebasan tenaga orang seringan ini mendadak dia teringat bila ilmu Hun-kin-joh-kut-jiu diyakinkan mencapai taraf tinggi, setiap kali turun tangan dapat membuat lawan lemas dan gatal, rasa gatal yang tak tertahankan itu mampu membuat seseorang menjadi gila.

Terbayang akan hal ini, serasa terbang arwah Cia Ing-kiat dari badan kasarannya, ditengah pekik suaranya yang keras, tubuh-nya mendadak mumbul keatas. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi tubuhnya hanya mumbul satu dua kaki, rasa gatal yang dimulai dari mukanya lekas sekali sudah menjalar keseluruh badan Cia Ing-kiat angkat tangan menggaruk kemuka sendiri, namun kedua tangannya lemas lunglai tak bertenaga, umumnya rasa sakit bisa ditahan, namun rasa gatal sungguh tak bisa ditahan lagi. Seorang kesatria atau pahlawan gagah umpama tangan buntung kaki putus juga takkan menjerit kesakitan, namun rasa gatal itu seperti timbul dari tulang sumsum, laksana ribuan semut yang merambat bersama kesekujur badan, menggigit dan menggerogoti tubuhnya, betapa hebat siksaan seperti ini sungguh sukar ditahan oleh manusia manapun.

Cia Ing-kiat pernah mendengar cerita, dahulu dengan Hun-kin-joh-kut-jiu (cara menyilang tulang cari memelintir urat) Go-bi-siang ki (sepasang orang aneh dari Go-bi) menghukum seorang maling cabul yang kelewat jahat dari golongan hitam, dikala rasa gatal tak tertahan lagi, kedua tangan maling cabul itu menggaruk dan mencakar sekujur badan sehingga kulit daging sendiri digaruknya sampai cecel duwel sehingga kelihatan tulangnya, isi perut kedodoran darah kering akhirnya meninggal.

Namun sekarang Cia Ing-kiat rela mati secara demikian, karena keadaannya sekarang lemah dan lunglai tidak mampu mengerahkan tenaga sedikitpun untuk menggaruk dan mencakar kulit daging sendiri juga tidak mungkin.

Kalau kedua tangan tidak mampu menggaruk padahal rasa gatal itu makin lama makin gatal, aKhirnya tenggorokannya mengeluarkan suara “ah, uh” yang menakutkan badannya meringkel dan kelojotan. semula dia kira bila dirinya meringkel rasa gatal itu akan tertahan, atau agak mending, tak nyana semakin dia menekuk kaki dan badan rasanya makin gatal, apa boleh buat terpaksa Cia Ing-kiat meluruskan badan dan kaki tangan, secara kekerasan dia melonjak keatas. Entah bagaimana jadinya, yang jelas badannya melenting mumbul Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dua kaki tinggi nya, “Elang” dengan keras tubuhnya terbating lurus dan datang sehingga raja gatal di campur rasa kesakitan yang luar biasa.

Begitulah secara beruntun Cia Ing – kiat meringkel lalu meluruskan tubuh lagi sehingga badannya melejit mumbul mirip ikan yang jatuh ketanah dan berkelojotan karena kehausan, makin kerap tubuhnya jatuh terbanting diatas lantai yang pecah dan gumpil hingga kulit badannya lecet berdarah, agaknya dia tersiksa terus begitu sampai tenaga habis darah kering sampai mati.

Penderitaan yang dialaminya sekarang mungkin lebih parah dari ikan yang meninggalkan air, napasnya sampai ngos-ngosan, ke dua bola matanya melotot besar seperti hampir menclat keluar dari pelupuknya, tenggorokan masih terus mengeluarkan suara tidak genah, sekujur badai basah kuyup oleh keringat dingin, sehingga lantai sekitarnya-lama kelamaan menjadi basah seperti disiram air.

Rasa gatal itu memang susah ditahan, karena kedua tangan tidak mampu menggaruk, maka tubuhnya terus berkelojotan naik turun, siksaan ini teramat berat sehingga otaknya tak sempat memikirkan persoalan lain.

Bila dia bisa menenangkan diri pasti otak nya bisa berpikir secara tenang,dari pada tersiksa demikian rupa, lebih baik mati saja, maka bukan mustahil dia akan menceritakan duduk persoalan sebenarnya. Setengah jam lamanya Cia Ing Kiat berkelojotan naik turun hingga tenaganya betul-betul habis, akhirnya dia hanya rebah terlentang tak bisa bergerak lagi, syukur rasa gatal itu-pun sudah makin berkurang, selama semasakan air lamanya baru Cia Ing-kiat menenangkan perasaan dan pernapasannya, kini rasa gatal itu sudah lenyap seluruhnya, tapi dirinya seperti baru lolos dari pintu neraka, setelah merangkak keluar, rebah ditanah tak mampu berkutik lagi. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam keadaan selemah itu, diam-diam Ciang Ing-kiat tidak percaya pada dirinya, bahwa setelah mendalami siksaan seberat itu, dirinya masih kuat bertahan. Lama dia mendekam sambil mengatur napas, selama itu tak mendengar suara Siau-pocu, di kala dia angkat kepala melihat keadaan sekitarnya, mendadak segulung tenaga terasa mengebas mukanya pula.

Tenaga lunak itu cukup membuatnya membalik badan saja. hakikatnya tidak menimbulkan luka atau sakit sedikitpun namun Cia Ing-kiat sudah ketakutan sendiri terbayang oleh dua kali siksaan tadi begitu badan terdorong terlentang seketika dia menjerit ngeri:”Baiklah aku katakan. Aku katakan.” suaranya gemetar, badan bergulingan kakinya tembok, kembali napasnya sengal sengal.

Dari tempat gelap sana, suara Siau-pocu terdengar dingin:”Sudah kuperingatkan sejak tadi, ketahuilah, tiada seorangpun yang kuat menahan Hun-kin-jin-kut yang kulancarkan”

Wajah Cia Ing-kiat mendempel lantai, setelah mengalami dua kali siksaan, tekadnya tadi sudah goyah dan sekarang dia berpikir lain, jiwa ksatrianya sudah tak berbekas lagi pada dirinya, keadaannya lebih mirip anjing liar yang dikuliti orang menggeletak lemah pasrah nasip belaka.

Sesaat kemudian suara Siau-pocu kumandang pula dikegelapan: “Cara bagaimana kau bisa masuk ke Kim_hou-po? Setelah di Kim-hou po, bagaimana pula kau tahu seluk beluk rahasia didalam perbentengan. Lekas katakan.”

Pelan pelan Cia Ing kiat memaling muka wajah Siau-pocu yang pucat ternyata tak jauh disebelahnya.wajah mirip muka setan yang terapung diudara. setelah bergidik baru dia berkata dengan suara sengau:”Aku…….. kudengar didalam Kim-hou-po ada sebuah benda pusaka dinamakan. . . ” sampai di sini. mendadak terbayang bahwa akhirnya dirinya juga akhirnya mati, seketika seperti di iris-iris sanubarinya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Katakan lebih lanjut.” seru Siau poca nadanya penuh ancaman.

Cia Ing kiat manggut-manggut, kuatir orang turun tangan keji pula, dengan napas ngos-ngosan dia melanjutkan: “Sebelumnya aku membuat persiapan matang, pertama meguru Tay-seng-bun mempelajari tata rias, dengan menyamar sebagai Ciong Tay-pek aku pura pura masuk ke dalam Kim-hou-po,”

Siau pocu tertawa dingin. katanya;”Kenapa waktu kau masuk ke Kim-hou-po aku sudah tahu, betapa banyak orang-orang yang memiliki Kungfu jauh lebih tinggi dari kau, setelah diperingati, yang pertama kali semua memadamkan niatnya untuk melarikan diri dari Kim-hou-po, kenapa kau justru tidak takut?”

Cia Ing-kiat tertawa getir, “kenapa kau tidak takut, kenapa timbul hasratnya masuk ke Kim hou-po serta berusaha melarikan diri pula, hal ini dia sendiripun susah memberi keterangan. Sudah tentu masih segar dalam ingatannya, keadaan setelah dirinya diperingatkan yang pertama kali dalam beberapa hari itu, bukankah dirinyapun dalam keadaan orang-orang lain didalam Kim-hou-po, siap tinggal di Kim-hou-po seumur hidup sampai ajal mendatang?

Namun ada sedikit perbedaan dirinya dengan orang lain. yaitu dia bersua dengan perempuan yang juga mengenakan kedok iui. Maka dengan napas tersengal dia berkata: “Aku, .. . bertemu seorang perempuan, dia , . . . memberitahu kepadaku di mana dapat menemukan pusaka.”

Siau-pocu kelihatan melenggong sejenak, namun nada suaranya tetap dingin: “Agaknya kau mau bicara jujur, perempuan yang kau maksud, apakah yang mengenakan kedok jelek itu?”

Setelah disiksa dua kali Cia Ing-kiat betul-betul sudah kapok lahir batin, kuatir orang tidak percaya akan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keterangannya, mungkin dirinya disiksa lagi, kini mendengar Siau-pocu mengatakan dirinya sudah bicara jujur, hatinya amat senang, lekas dia berkata pula: “ya, ya. Mana berani aku mengelabui kau.”

“Jangan banyak omong, selanjutnya apa yang kau Lakukan?” desak Siau-pocu dingin.

“Malam itu juga aku turun tangan sesuai petunjuknya, tak nyana begitu aku menemukan pusaka itu , perempuan itu mendadak muncul merebut pusaka itu dari tanganku, melihat ada kesempatan maka sekalian aku melarikan diri keluar dari Kim-hou-po”

“hhmm,” siau-pocu menggeram, “kapan kejadian itu?”

Cia Ing-kiat menarik napas, katanya: “Tanggal lima belas bulan lalu . . “.

Sampai di sini mendadak, dia teringat malam ini tanggal 14 bulan 3, sinar bulan menyorot masuk lewat lobang besar diatap kuil, maka dia menambahkan: “Dengan hari ini tepat satu bulan”

Jilid ke : 5

“Waktu itu aku sendiri ikut mengejarmu sampai di dermaga, waktu itu kau menyamar orang macam apa ” tanya Siau-pocu.

“Aku menyamar petani muda, di jalan aku seret seorang pelacur yang kuupah sebagai isteri, mereka yang mengejar dan menggeledahku terkibul semuanya.”

Siau-pocu tertawa dingin : “Bukan saja Thian te-siang-sat-jiu kau kibuli, kaupun menolong Li-pi-lik “

Cia Ing-kiat memejam mata tak berani bersuara, diam-diam hatinya bersedih memikirkan nasib Li pi-lik ditinggal ditengah jalan itu. Kalau Siau-pocu bisa menemukan jejaknya, maka Li-Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pi-lik tentu sudah mengalami nasib jelek ditangannya, maka dengan napas memburu dia bertanya, “Dia . . . dia bagaimana “

Cia Ing kiat kira Siau-pocu akan tertawa mengejek karena pertanyaannya, lalu menceritakan bagaimana dirinya menyiksa dan membunuhnya, tak nyana Siau-pocu hanya mendengus tanpa buka suara.

Cia Ing-kiat tertawa lebar kewajah orang yang pucat itu, tampak wajah pucat yang mirip setan ditengah kegelapan itu makin mumbul keatas, jelas dia sedang berdiri, Sekuat tenaga Cia Ing-kiat meronta berusaha berdiri pula. pada hal dia tahu Siau pocu pasti sudah siap membunuhnya, namun tenaga sedikit pun tak kuasa dikerahkan, akhirnya dia menjerit dengan nada meratap : “Kau berjanji hendak membunuhku selekasnya, jangan kau ingkar janji”

Tiba-tiba didengarnya Siau pocu mengeluarkan suara aneh yang tersendat di dalam tenggorokannya, menyusul sepasang bola matanya terpejam, wajah pucat yang membulat telor itu seketika tanpa sinar mata yang menghijau terang hingga kelihatannya lebih seram.

Badan Cia Ing-kiat sendiri masih gemetar, dengan terlongong dia saksikan perubahan mulai terjadi diwajah yang pucat putih itu, seperti es batu yang ditaruh didalam air, dalam sekejap warna pucat itu hanya tinggal bagian hidungnya saja. akhirnya warna hidungnyapun tak kelihatan lagi, keadaan ini sungguh amat ganjil dan aneh, Cia Ing-kiat menyaksikan perobahan ini dengan bulu kuduk berdiri, dia tidak tahu apakah yang telah terjadi.

Setelah selebar wajah Siau-pocu lenyap, maka terdengar suara “Buk” seorang jatuh cukup keras ditanah, menyusul terdengar dengus napas berat berat dan memburu seperti babi hendak disembelih tak jauh disamping badannya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disaat perobahan terjadi pada wajah Siau pocu. Cia In kiat tidak tahu apa yang terjadi pada diri orang, setelah mendengar tubuh orang ambruk baru dia sadar, agaknya wajah pucat itu memang terlalu putih sehingga kelihatan diiengah kegelapan, namun begitu terjadi perobahan pada wajahnya maka mukanya itupun lenyap kegelapan. Tapi Cia Ing-kiat tidak tahu lagi apa yang telah terjadi, namun harapan mencari hidup seketika timbul dalam benaknya, terasa olehnya bahwa kesempatan melarikan diri telah tiba saatnya sekarang juga.

Entah dari mana datangnya tenaga begitu timbul hasratnya melarikan diri, mendadak dia bertopang tangan harus melompat bangun berdiri, namun kedua lututnya masih goyah, kaki juga amat enteng sehingga tubuh menggigil, namun setelah istirahat sebentar, dia yakin dirinya pasti mampu lari dari tempat ini.

Napas berat ditampat gelap itu makin keras dan kerap, suaranya mirip pompa angin tungku lalu didengarnya suara Siau-posu yang tersendat berat : “Kau . . .jangan pergi . . . kau .. .”

Cia Ing-kiat memang mendengar sesuatu jatuh tak jauh disampingnya setelah wajah pucat Siau pocu lenyap ditelan kegelapan, namun tak pernah terpikir oleh Ing-kiat bahwa yang jatuh itu adalah Siau-pocu dari Kim hou po Karena sejak dia memperoleh peringatan pertama di Kim hou po dulu sampai sekarang, sebab jelas diketahui bahwa Kungfu Siau-pocu teramat tinggi, jago-jago silat kelas tinggi atau para ketua suatu aliran dan perguruan ternama juga belum tentu dapat menandinginya. Tapi dengus napas dan suara yang terputus tadi jelas adalah suara Siau-pocu dan ini membuktikan yang jatuh memang dia.

Kalut pikiran Cia Ing-kiat, namun yang terpikir sekarang adalah melarikan diri, kalau terlambat tentu dirinya bisa celaka. Maka dia coba menggerakan kakinya, selangkah dua Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

langkah meski lutut goyah kaki gemetar masih kuat juga dia maju dua langkah lagi, namun malam gelap pekat didalam kuil itu, entah kakinya tersantuk apa, seketika dia jatuh terguling mencium lantai.

Cia Ing-kiat merasa perlu menghimpun tenaga, maka dia tinggal rebah diam sesaat lamanya, setelah dirasa napasnya tenang dan tenaga mulai timbul, kaki tangan bekerja merambat kearah pintu kuil, setelah berada diluar pintu baru dia merangkak berdiri, namun tak kuat melangkah lebih jauh. terpaksa dia menggelendot didaun pintu mengatur napas.

Deru napas ditempai gelap itu ternyata makin tak karuan, keadaannya seperti amat tersiksa, namun Ing kiat pikirkan keselamatan diri sendiri, tubuhnya basah dan kotor, sekuatnya dia dorong batu penindih daun pintu, lalu menarik daun pintu, angin silir segera menghembus masuk, lekas Cia Ing-kiat menerobos keluar dengan langkah sempoyongan, akhirnya tersungkur jatuh pula merangkak dua tiga kali lalu mendekam lemas dingan napas tetap memburu.

Kalau Cia Ing-kiat tidak diburu keinginan lekas melarikan diri sehingga pikirannya terlalu tegang, setelan beristirahat sejenak sebetulnya dia bisa lari dengan leluasa, soalnya dia ketakutan oleh bayangannya sendiri bahwa dia bisa melarikan diri dari hadapan Siau pocu, setelah sekian lama mendekam ditanah, mulai dia meronta bangun sebelum melangkah pergi, tak tertahan dia menoleh kebelakang.

Ruang kuil tadi gelap gulita, setelah dia membuka pintu cahaya rembulan sedikit menyorot masuk kedalam. Maka dilihatnya seorang meringkel memeluk lutut diatas lantai, keadaan orang ini benar-benar mirip trenggiling, badannya masih kelihatan kelejetan lagi. keadaannya mirip dirinya waktu tersiksa tadi. Cia Ing-kiat tanpa sengaja menoleh kebelakang. namun setelah melihat lebih jelas, dari pakaiannya, walau tidak kelihatan wajahnya, dia tahu orang yang meringkel Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan napas menderu seperti knalpot itu pasti adalah Siau-pocu dari Kim-hou-po.

Sungguh tak habis heran hati Cia Ins-kiat dia tidak tahu apa yang terjadi, pada saat itulah dia mendengar suara ratapan Siau-pocu yang terputus-putus : “..Kau . . . jangan pergi . . . kali ini . . . aku . . . penyakitku . . . kumat lebih . . . lihay, obat . . . penawar . . . berada di . . dalam . . . kantong . . . bajuku …”

Siau pocu yang meringkuk itu seperti berusaha menggerakan kepala menoleh kemari namun getaran tubuhnya sekeras itu hingga tulang, tulang sekujur badannya berbunyi keretekan. Betapapun Cia Ing kiat adalah seorang yang cerdik dan pandai, meski keadaan sendiri juga masih payah, namun setelah melihat dan mendengar suara Siau-pocu, segera dia jelas duduk persoalannya.

Dia menduga Siau pocu pasti mengidap suatu penyakit aneh yang sering kumat menyiksa dirinya, walau Kungfunya biasa amat tinggi, namun bila penyakit itu kumat, otaknya seakan-akan lumpuh total, tenaga menggerakan tangan merogoh keluar obat penawar dari dalam kantong sendiri pun tidak mampu.

Terpikir pula oleh Cia Ing-kiat, bila penyakit aneh ini sudah kumat sehebat itu, jikalau tidak lekas minum obat penawarnya, salah-salah jiwanya bisa direnggut elmaut. Bila Siau-pocu Kim-hou po mampus, berarti dirinya tidak akan menghadapi musuh tangguh yang berbahaya ini. Demi keselamatan dan kepentingan sendiri, maka dia berputar hendak beranjak pergi.

Didengarnya suara Siau-pocu memekik seram dan mengerikan: “Lekas kemari.”

Entah kenapa Cia Ing-kiat berjingkat mendengar teriakan setengah meratap ini, hatinya sungguh kalut, untuk menolong Siau pocu mudah saja tinggal dia ulur tangan, kalau Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membiarkan orang mati tersiksa oleh penyakit sendiri juga gampang saja asal tinggal pergi, namun dia sudah mengambil keputusan bagaimana dia harus mengambil keputusan.

Kembali Siau-pocu mengerang hebat, tanpa kuasa Cia Ing-kiat membalik tubuh, dilihatnya tubuh Siau-pocu meringkuk semakin kencang dengan tubuh bergetar keras, sekujur badannya mengeluarkan suara keretekan seperti piring pecah, hanya sekilas Cia Ing-kiat melenggong, segera dia melangkah lebar masuk kedalam kuil.

Diluar dia masih bimbang, tapi begitu berada didalam kuil, langkahnya tidak ragu-ragu lagi, cepat dia memburu maju serta berjongkok disamping tubuh Siau-pocu, tampak selebar mukanya ternyata merah membara, mata terpejam, kedua tangan bersilang mendekap dada, maka untuk merogoh obat menawar didalam kantong bajunya Cia Ing kiat harus menarik kedua tangannya itu, namun waktu dia pegang lengan orang, ternyata tangan orang, kaku keras laksana besi, ditarik Juga tidak bergeming.

Apa boleh buat terpaksa Cia-Ing kiat kerahkan tangannya, sekali jambret dia tarik robek baju didepan dada Siau-pocu. lalu dari bawah ketiaknya dia merogoh kedalam bajunya. Tapi begitu tangannya merogoh kedalam dekapan kedua tangan orang seketika dia tertegun karena tangan yang terulur masuk itu manyentuh daging kenyal dan padat, Cia Ing-kiat memang perjaka yang belum pernah menyentuh perempuan, apapun dia tahu bahwa yang disentuhnya itu pasti bukan badan seorang laki-laki.

Maka dilihatnya wajah Siau-pocu makin merah dan jengah, keadaannya jelas lebih payah maka dia tidak berani ayal, segera jari-nya merogoh lebih jauh lalu mencomot keluar sebuah botol porselin kecil, peduli dia laki atau perempuan, setelah tutup botol di buka dia pegang dagu Siau-pocu serta memencet mulutnya hingga terbuka, beberapa butir pil warna hijau didalam botol porselin itu dia tuang kedalam mulutnya, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

setelah mengurut, dia memijat pula leher dan pelipisnya baru dia berdiri dan mundur beberapa langkah.

Cia Ing kiat mundur mepet dinding, dengan menggelendot dinding dia berdiri menentramkan pikiran dan pemanasannya. Dalam keadaan kritis menolong orang barusan hakekatnya Cia Ing kiat tidak memikirkan sebab dan akibatnya, kini setelah pikiran sedikit jernih, baru dia menyadari kemungkinan dirinya telah bertindak salah.

Setelah menelan beberapa butir pil hijau tadi, tenggorokan Siau pocu mengeluarkan suara aneh pula, goncangan tubuhnya mulai mereda, tubuh yang meringkuk kaku itu mulai lemas dan kaki menjulur turun tangan-pun terkulai, kejap lain dia sudah rebah terlentang dengan meluruskan kaki tangan. Di bawah penerangan cahaya rembulan yang menyorot masuk disamping sana. kelihatan wajahnya yang merah darah itu mulai pudar, pelupuk matanya pun bergerak-gerak rona mukanya yang pucat kembali seperti semula, kedua matanyapun sudah terbuka.

Melihat Cia Ing kiat berdiri mepet dinding lekas dia melejit bangun dengan gerakan tangkas, tubuhnya terus menyurut mundur ketempat gelap sana sambil membelakangi Cia Ing-kiat, bila dia menoleh Cin Ing-kiat hanya melibat rona mukanya yang pucat pula.

Waktu Siau-pocu berjingkrak berdiri barusan Cia Ing-kiat sudah berniat kabur, namun niatnya terpaksa dia batalkan karena gerak gerik orang ternyata lebin cekatan dan lincah, dia insaf dirinya takkan bisa lolos meski melarikan diri.

Begitulah ditempai gelap Siau-pocu saling pandang dengan Cia Ing-kiat. sesaat kemudian terdengar Siau pocu berkata : “Waktu aku masih kecil, ayahku diperdayai orang, sejenis obat beracun dicampur didalam Jit-sek-leng-ci dan diminumkan kepadaku.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cia Ing Kiat menunggu perkembangan dengan jantung berdebar, kaki tangan berkeringat dingin, entah mujur atau bakal celaka nasib sendiri sukar diramalkan, setelah Siau pocu buka suara menceritakan asal mula penyakitnya itu, legalah hatinya.

Merandek sejenak Siau pocu meneruskan ceritanya “Sejak itu meski Iwekangku berlipat ganda lebih maju, tapi setiap sebulan sekali racun dalam tubuhku ikut pasti kumat dengan berbagai cara dan upaya ayahku berusaha menawarkan racun itu. namun tidak berbasil menawarkannya, hanya mampu membuat obat sebagai penawar sementara, setiap kali penyakit ini kumat, bila minum obat bikinan beliau baru aku terhindar dari siksa derita.”

Agak lama baru Cia Ing-kiat bersuara dengan bibir gemetar : “Orang yang mencelakaimu itu ternyata amat kejam.”

Dua kali Siau pocu tertawa tawa. katanya : “Waktu kau melarikan diri dari Kim-hou-po malam itu, kebetulan penyakitku sedang kumat, kalau tidak jangan harap kau bisa melarikan dirimu ?”

Mendengar orang menyinggung urusan dirinya, berdebar jantung Cia Ing-kiat tapi didengarnya Siau-pocu berkata pula : “Kau pergilah dalam keadaan seperti dirimu, ternyata masih sudi menolong aku, memang harus dipuji dan patut dihargai, pergilah.”

Baru sekarang Cia Ing-kiat benar-benar menghela napas lega, terasa badannya mendadak menjadi segar dsn enteng. Namun setelah tahu dirinya telah bebas, dia tidak ingin buru-buru malah, katanya tertawa sambil mengawasi Siau-pccu : “Kungfumu setinggi itu, jarang ada tandingan, tapi aku juga tidak menduga bahwa kau adalah seorang perempuan.”

“Tidak lekas kau enyah.” sentak Siau-pocu, mendadak sikapnya beringas, “jangan kau mengundang amarahku untuk membunuhmu.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudah tentu Cia Ing-kiat berjingkat, tanpa sadar dia melangkah pergi dua tindak, namun mulutnya membantah: “Aku terpaksa harus mengambil obat dalam kantongmu, kan bukan salahku.” sembari bicara dia sudah melangkah keluar. Tapi Siau-pocu mendadak memanggilnya : “Kembali.”

Cia Ing kiat melenggong. dia berdiri lalu membalik pelan pelan, dilihatnya Siau pocu seperti sedang memikirkan sesuatu, Cia Ing Kiat menunggu diam pula, setelah termenung sesaat lamanya, baru didengarnya Stau-pocu berkata : “Baiklah, kau pergi saja jangan kau ceritakan tentang diriku kepada orang lain.”

Lekas Cia Ing kiat mengiakan. lalu menambahkan: “Pusaka yang ada di dalam Kim hou po memang kenyataan direbut orang, harap kau percaya kepadaku.”

Siau pocu menunduk, katanya : “Umpama berada ditanganmu, juga tidak menjadi soal, aku tidak akan menuntut kepadamu, lekas kau pergi.”

Cia Ing-kiat masih kebingungan sesaat lamanya baru melangkah keluar kuil, baru beberapa langkah terasa sesosok bayangan orang berkelebat membawa kesiur angin melesat keluar, hanya sekejap bayangannya sudah lenyap dikegelapan

Cia Ing kiat berdiri terlongong didepan pintu kuil. kejadian yang dialami barusan, seperti impian buruk belaka. Cia Ing-kiat memejam mata, namun bayangan wajah Siau-pocu yang pucat lesi itu seperti terpampang didepan matanya, muka orang biasa tak mungkin bisa seputih itu, mungkin karena bekerjanya kadar racun jahat dalam tubuhnya sehingga menimbulkan perobahan di kulit wajahnya. Terbayang pula, bahwa selama Kim hou-po berdiri mungkin dirinya orang pertama yang mampu melarikan diri dari Kim-hou-po tetap segar bugar, disamping rasa duka dan lara, terasa senang dan terhibur pula hatinya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lalu terpikir pula olehnya, sejak meninggal Kim-hou-po. Jit-sing-to (golok Tujuh bintang) itu selalu dia sembunyikan, sekarang setelah Siau pocu tidak mengusut perkaranya maka dirinya bebas menggunakan golok itu. Jit-sing-to akan muncul pula di kalangan Kangouw betapapun kepandaian sendiri masih terbatas, bila ayahnya……..'”

Teringat pada sang ayah yang telah meninggal, seketika hatinya sedih, dia menarik napas panjang lalu melangkah kedepan tanpa tujuan hingga terang tanah, untung akhirnya dia tiba disebuah kota kecil, tanpa pilih dia memasuki sebuah hotel lantas masuk kamar dan tidur, sehari semalam sebelumnya keadaannya teramat payah dan tersiksa, maka sehari ini dia tidur dengan nyenyak, dalam hati sudah mengambil keputusan, setelah bangun dan kondisi badan segar lagi segera akan berangkat pulang ke Hwi-liong-ceng.

Menjelang petang baru Cia Ing-kiat bangun tidur, setelah menggeliat terasa semangat segar, rasa sakit hilang tenaga penuh, hanya perutnya yang kelaparan segera dia panggil kacung. Tapi begitu dia berteriak seketika mulutnya ternganga, matapun terbelalak seperti bingung dan tak percaya akan apa yang dilihatnya.

Pagi tadi kabut masih tebal, cuaca remang-remang dia masuk ke hotel, jelas hotel ini kecil sederhana, tapi sekarang setelah dia bangkit duduk di atas ranjang, sinar mentari sudah menyorot masuk dari jendela berukir, kerai menjuntai, tak jauh di tengah ruang dialas meja tertaruh sebuah hiolo yang masih mengepulkan asap wangi, dirinya rebah diatas pembaringan besar berukir dari gading gajah, pajangan serba mewah,perabotnya juga antik. Seingatnya Hwi-liong-ceng yang dibangun ayah sudah cukup kaya dan mewah, namun dibanding kamar di mana dia berada sekarang, bedanya masih jauh. Tapi heran Cia Ing-kiat duduk melongong sambil kucek-kucek mata, namun kenyataan dirinya memang berada dikamar mewah ini. Pada saat itulah langkah lembut terdengar Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diluar, keraipun tersingkap, tampak seorang gadis jelita berusia tujuh belasan melangkah masuk lalu berdiri diambang pintu meluruskan kedua tangan, katanya hormat: “Siau-cengcu ada pesan apa “

Cia Ing-kiat segera melompat berdiri dari atas ranjang, bola matanya terbeliak katanya: “Tempat apakah ini ?”

Gadis jelita itu seorang pelayan, dia tertawa cikikik sambil mendekap mulut setelah ditanya beberapa kali oleh Cia Ing-kiat baru dia menjawab: , “Siau cengcu, kalau sudah datangnya tentramkan saja hatimu, buat apa banyak tanya segala?”

Cia Ing-kiat tidak puas akan jawabannya, segera dia melangkah keluar, pelayan itu juga tidak menghalanginya, diluar ternyata sebuah serambi panjang yang berpagar serba ukiran, diluar pagar adalah tanah berumput yang subur menghijau ditaburi kembang-kembang liar yang tak diketahui namanya, beberapa ekor merak berbulu putih laksana salju sedang mengembangkan sayap dan bulu serta ekornya berjalan mondar mandir sambil pasang aksi.

Cia Ing-kiat melompati pagar berlari diatas rerumputan yang masib basah oleh air embun, puluhan langkah kemudian dia membalik badan, tampak gedung mungil di mana barusan dia tidur ternyata berbentuk begitu indah artistik, dibawah pancaran cahaya pagi. sungguh laksana dialam dewa saja. Tanah berumput ini ternyata tidak terlindung pagar atau tombak, selepas mata memandang seperti tidak berujung pangkal, di kejauhan tampak gunung gemunung yang sambung menyambung seperti gajah beriring, ini membuktikan bahwa gedung di mana dia tinggal sekarang dibangun diatas sebuah puncak gunung yang lebih tinggi dari mega.

Dalam sesingkat ini Cia Ing-kiat belum menyadari sebetulnya apa yang telah terjadi atas dirinya, maklum pengalamannya selama beberapa hari ini memang teramat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ganjil dan misterius, tapi menghadapi kejadian pagi hari ini, kembali dia dibuat lebih bingung pula. Waktu dia membalik pula, pelayan cantik itu juga sudah keluar dari kamar, lekas Cia Ing-kiat menghampiri meraya berkata :”Tempat apakah ini, bagaimana aku bisa berada di sini?”

Pelayan itu tertawa, katanya : “Waktu Siau cengcu datang, kau tidur amat pulas aih.”

Cia Ing kiat maklum, meski dirinya tidur pulas juga tak mungkin dipindah tempat tanpa dirinya menyadari, dia yakin dikala dirinya tidur seseorang telah menutuk Hiat-to penidurnya, bukan mustahil dirinya pingsan selama beberapa hari. Makin di pikir makin bingung, pelayan itu mengawasinya dengan mimik tawa tidak tertawa, Ing-kiat segera menghampirinya, secepat kilat mendadak dia mencengkram pergelangan tangannya, ternyata pelayan ini diam saja. begitu jari-jarinya mercengkram lantas kerahkan tenaga lebih keras, tapi begitu dia menarik pelayan itu kedekatnya, terasa pergelangan tangan orang selicin belut, hanya sekali sekali sendal tangannya telah terlepas dan menyurut mundur. Karuan Cia Ing-kiat kaget, bahwa pelayan ini begini lihay maka pemilik rumah ini pasti memiliki kepandaian yang tidak rendah. Setelah menarik napas, dia berkata pula: “Sebetulnya tempat apakah ini?”

Pelayan itu tetap tak mau bicara pada saat itulah dari serambi sana mendadak kumandang suara merdu lincah searang gadis lain, “Cici jelaskan saja, kan tidak apa-apa? Memangnya takut dia melarikan diri?”

Maka muncullah seorang gadis lincah berusia lima belasan dengan langkah gemulai dan tangkas, hanya sekali berkelebat sudah tiba didepan Cia Ing-kiat. wajahnya masih bersifat kanak-kanak, matanya lebar menatap Cia Ing kiat, katanya: “Tempat ini adalah salah satu dari tiga puluh enam villa Hiat-lui kiong, gunung ini dinamakan Thian lo-hong” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suaranya merdu nyaring, lalu dia menuding tangan kearah bayangan gunung didepan nan jauh. “Yang kau lihat itu adalah Ko le-kong-san.”

Cia Ing-kiat terlongong ditempatnya, mulutnya bungkam, sesaat dia berdiri bingung tak tahu apa yang harus dikatakan. Tadi sudah terpikir bahwa mungkin dirinya bukan tidur hanya satu dua hari, namun sudah beberapa hari atau sudah berminggu lamanya, pada hal letak Ko-le-kong-san ada puluhan ribu li dari Tionggoan, perjalanan merupakan waktu beberapa bulan lamanya. Hiat-lui-kiong itu apa dia tidak tahu dan belum pernah dengar.

Seperti orang linglung Cia Ing kiat berdiri sambil mengawasi kedua gadis didepan-nya kedua gadis itu cekikikan geli, akhirnya Cia Ing-kiat tertawa getir, katanya: “Bagaimana aku bisa berada di sini? Apakah aku dalam mimpi? “

Gadis yang lebih muda agaknya lebih cerewet segera dia menanggapi “Kuatir dijalan kau berontak dan melarikan diri, maka Gin-koh dan Thi-jan Lojin membuatmu tidur hingga sampai di sini.”

Mendengar nama Gin-koh dan Thi-jan Lojin baru Cia Ing-kiat sadar duduk persoalannya agaknya kedua laki perempuan inilah yang menculiknya kemari sejak dari rumahnya tempo hari. dengan alasan pernikahan, pada hal siapa pihak perempuannya tidak dijelaskan sehingga menimbulkan urusan berbuntut panjang, maka dia menduga sekarang dirinya sudah berada di rumah pihak keluarga perempuan. Namun hatinya masih setengah bimbang, setelah tenang pikirannya dia bertanya: “Siapakah majikan di sini?”

Kedua pelayan jelita didepan Cia Ing-kiat seketika tertawa geli, gadis yang lebih muda malah tertawa lebih keras, katanya: “Coba lihat, menurut Gin koh dan Thi-jan Lojin, waktu dia diajak kemari katanya tidak sudi, sekarang ingin tahu dan mau bertemu dengan majikan malah.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dongkol dan geli juga hati Cia Ing-kiat. katanya keras: “Tanpa juntrungan tahu-tahu aku berada di sini, apa salahnya kalau aku harus berhadapan dengan majikan kalian?”

Gadis yang lebih muda membelalak mata, katanya: “Biar kuberitahu kepadamu, keadaanmu sekarang masih lemah, seperti orang sakit, maka kau diharuskan beristirahat secukupnya memulihkan kesehatan, bila roman mukamu sudah kelihatan gagah dan tenaga dalampun sudah pulih baru boleh kau menemui majikan kami.”

Cia Ing-kiat hanya tersenyum kecut, namun dalam hati merasa kaget, karena setelah disiksa dua kali didalam kuil, Siau-pocu apakah dirinya terluka dalam atau tidak dia sendiri tidak tahu. Maka dia coba menarik napas pelan-pelan lalu mengerahkan hawa murni, celakanya begitu hawa murni dikerahkan sekujur badan seketika seperti dicocoki ribuan jarum, saking kesakitan dia gertak gigi, muka pucat keringat bercucuran. Disamping kesakitan hatinyapun amat kaget karena, tanda-tanda ini memang jelas bahwa dirinya terluka dalam yang amat parah.

Cia Ing-kiat menjublek tanpa bicara maka gadis yang lebih kecil itu berkata. “Nah betul tidak? Sudah percaya? Lekaslah kembali kekamar dan istirahat memulihkan kesehatan?”

Selama hidup kapan Cia Ing-kiat pernah dilayani dengan sikap seperti ini, apa lagi yang main suruh hanya seorang pelayan cilik namun pikirannya ruwet, maka dia tidak hiraukan sikap kasar gadis ini. dengan menunduk dia beranjak balik kedalam kamar lalu duduk lesu.

Begitu dia menjatuhkan pantatnya diatas kursi, ” Buk ” sebuah benda jatuh diatas meja sampingnya, waktu Cia Ing-kiat menoleh, itulah serenteng lembaran bambu tipis yang dijalin dengan benang sutra sebanyak ratusan lembar, mungkin terlalu sering dipegang lembaran bambu tipis ini tampak mengkilap. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali gadis yang lebih muda yang buka suara:”Majikan bilang Kungfumu terlalu rendah yang kau pelajari terlalu banyak ragamnya pula, maka kau harus belajar dari permulaan pula, delapan belas lembar bambu ini berisi pelajaran ilmu Khi-kang dari aliran Iwekeh tingkat tinggi, kau boleh mempelajarinya dengan rajin.” habis bicara dengan cekikik tawa dia tarik temannya terus beranjak keluar.

Tergerak hati Cia Ing-kiat, segera jemput rentengan bambu itu serta diperiksa dengan teliti, setiap lembar bambu tertera enam gambar orang dengan dandanan orang Biau, ukirannya begitu jelas dan indah seperti hidup, cuma gayanya saja yang agak aneh dan sukar dibayangkan sebelumnya. Sambil lalu Ing-kiat periksa delapan belas lembar bambu itu dengan bekal kepandaiannya sekarang hakikatnya dia tidak tahu pelajaran ilmu dari golongan atau aliran mana yang tertera didalam lembaran bambu ini apalagi hatinya sedang gundah, maka susah hatinya belajar sesuai petunjuk gambar diatas lembaran bambu ini. maka dia hanya mondar mandir didalam kamar sambil menggendong tangan.

Tidak lama kemudian kedua pelayan itu datang pula, kali ini membawa hidangan pagi, bila tutup mangkok dibuka, isinya ternyata sejenis bubur warna hitam seperti kecap, bau pedas menyerang hidung, entah makanan apa terbuat dari apa pula. Perut Cia-Ing-kiat memang sudah keroncongan, tapi menghadapi makanan serba hitam kental seperti bubur bukan bubur, betapapun sukar ditelan rasanya, terpaksa sambil mengernyit kening dan memejam mata dia mencobanya, padahal sikap kedua pelayan ini seperti menghidangkan semangkok makanan yang paling lezat didunia ini, melihat Cia Ing-kiat menggaresnya dengan main telan saja, mereka kelihatan agak penasaran.

Beruntun beberapa hari Cia Ing kiat hidup dalam suasana terkekang seperti dikuasai saja, makanya yang disantapnya setiap hari juga barang yang sama, maka diapun tidak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pedulikan apa pelajaran ilmu dalam lembaran bambu tipis itu, cuma dia tidak lupa latihan menurut ilmu dan cara yang pernah dipelajarinya, namun makin hari perasaan hatinya makin ruwet, rasa sakit ditubuhnya juga semakin bertambah malah.

Hingga hari ketujuh, baru Cia Ing-kiat mulai menaruh perhatian terhadap rentengan bambu tipis iiu, sekarang dia lebih cermat dengan memusatkan pikiran lagi sehingga lapat-lapat terasa adanya sesuatu manfaat dari gambar gambar yang tertera disini, lalu dia mencontoh gayanya satu persatu hingga selesai, beruntun dia meniru dua kali, ternyata terjadi perubahan yang diluar dugaan dalam tubuhnya, karuan hatinya girang sekali.

Diatas delapan belas lembar bambu tipis itu tertera seratus delapan gaya intisari pelajaran latihan Khikang dari aliran Lwekeh, satu gaya demi satu gaya Cia Ing-kiat mempelajarinya, terasa setiap hari dia memperoleh kemajuan yang cukup baik, saking tekun mempelajari ajaran Khikang ini. tanpa terasa tiga bulan sudah berselang, di puncak gunung itu tak pernah terjadi perobahan cuaca, hawa tetap sejuK seperti musim semi. Cia Ing-kiat rasakan Lwekang sendiri sekarang telah memperoleh kemajuan yang cukup baik, maka selama tiga bulan ini dia betah dan kerasan hidup disini, hubungannya dengan kedua pelayan itupun sudah intim, cuma kalau ditanya siapa nama mereka, yang besar mengaku bernama Toa-kui (setan gede) yang kecil bernama Siau-kui (Setan cilik) apa boleh buat selanjutnya Cia Ing-kiat memanggil mereka dengan sebutan itu.

Dalam jangka tiga bulan Cia Ing kiat selesai pelajari Khikang yang tertera diatas rentengan bambu tipis itu, waktu itu sudah menjelang tengah malam, Cia Ing-kiat menggerakan tangan dan kaki badan terasa segar dan bersemangat, maka dia melangkah keluar rumah. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sejak pertama kali siuman dirumah ini dulu sampai sekarang belum pernah timbul hasratnya untuk turun gunung, kini dengan langkah berlenggang kakinya berjalan kepinggir sebuah ngarai. Cuaca cerah bulan sedang memancarkan cahayanya yang benderang, tampak gumpalan mega bergulung di bawah kakinya, pandangan matanya hanya bisa mencapai tujuh kaki jauhnya, tapi ciptaan alam yang dilihatnya sudah serba serbi.

Menyusun pinggir ngarai Cia Ing kiat jalan-jalan sambil menggendong tangan, mendadak dilihatnya didepan sebuah pohon raksasa yang dahan besarnya menjorok keluar, diatas dahan pohon ini terikat akar rotan yang besar menjulur turun kebawah. Tergerak hati Cia Ing-kiat. Selama tiga bulan diatas puncak ini, walau hidupnya cukup enak dan tentram tidak kekurangan, namun siapa pemilik rumah ini tidak pernah diketahui, ini pertanda orang bermaksud baik terhadap dirinya, namun hidup dikuasai orang begini juga tawar rasanya, kenapa aku tidak turun kebawah melihat keadaan yang sebenarnya ? Puncak ini dikelilingi dinding curam tiada jalan untuk naik turun, mungkin hanya akar pohon inilah jalan satu-satunya untuk turun kebawah gunung

Maka tanpa banyak pikir Ing-kiat segera maju ke sana serta lompat bergantung serta melorot kebawah berpegang akar rotan besar itu. Baru beberapa tombak tubuhnya sudah ditelan gelombang mega yang bergulung-gulung, seolah-olah dirinya hidup dalam lingkungan dewa saja. sekelilingnya tidak terlibat jelas. Begitulah selama bebeiapa kejap dia sudah melorot ratusan tombak kebawah, baru kedua kakinya menyentuh bumi, sekilas dia celingukan, meski di sini mega juga bergolak, namun samar amar dia dapat meneliti sekitarnya, dirinya searang berdiri diatas sebuah panggung batu kecil.

Tengah dia berpikir bagaimana dirinya harus bertindak lebih lanjut, mendadak didengarnya disebelah kiri ada suara Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

percakapan orang. Cepat Cia Iing-kiat melompat kesamping kanan menyembunyikan diri dtbelakang sebuah batu besar.

Suara percakapan itu makin jelas dan dekat, itulah percakapan Toa kui dan Siau kui, terdenger Siau-kui sedang berkata “Sungguh aneh, kemaren kami masih bisa menangkap delapan puluhan ekor, kenapa hari ini seekor-pun tidak tampak ? Mungkin ada orang tahu manfaatnya lalu naik kemari mencurinya?”

Lain terdengar suara Toa-kui berkata: “Mungkin juga sudah lari semuanya”

Siau-kui mendengus, katanya: “Hm. mana mungkin, Ki-thian hiang yang ditanggalkan majikan selalu dapat memancing kedatangannya, hari ini hasil kita cuma sedikit terpaksa hidangan harus dicatut untuk dia.”

Cia Ing kiat mencuri dengar pembicaraan mereka dibelakang batu. lekas sekali kedua gadis ini sudah tak jauh dari tempat sembunyinya, waktu dia mengintip dilihatnya Siau-kui memegang sebatang rotan, diatas rotan inilah direnteng delapan ekor binatang mirip kepiting tapi bukan kepiting, seperti kala jengkang tapi juga bukan, setiap ekor sebesar kepelan tangan, kedua sisi tubuhnya tumbuh rambut kasar berwarna-warni dengan kaki dan cakarnya yang berjumlah puluhan seperti kaki klabang binatang aneh itu kelihaian masih hidup karena kailnya yang banyak kemerahan itu bergerak gerak dengan meneteskan liur kental berbau amis, bentuknya yang jelek menjijikan sekali.

Melihat jelas binatang-binatang aneh yang menjijikan ini, seketika Cia Ing-kiat terbayang selama tiga bulan ini dirinya makan bubur yang dibuat dari daging binatang menjijikan ini rasa mual merangsang hatinya, tak tahan mulutnya menguak seperti orang hampir muntah.

Sudah tentu suaranya mengejutkan Toa kui dan Siau-kui, serempak mereka membentak: ” Siapa ?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tahu tak bisa sembunyi lagi dengan tangan mendekap mulut Cia Ing kiat berdiri dari tempat sembunyinya. tangannya menuding rentengan binatang diatas rotan itu, ingin bicara tapi urung karena dirangsang bau amis dan hampir tumpah lagi.

Siau kui justru angkat tangannya yang memegang rotan di mana binatang menjijikan itu direnteng, katanya: “Alah, aksi. Memangnya kau kira binatang ini tidak enak ? Tidak tahu diri.”

Cia Ing-kiat makin merinding, setelah melihat jelas bentuk binatang. Pada saat itulah ditengah gumpalan mega tak jauh dipinggir sana seseorang tiba tiba tertawa dingin, katanya: “Memang bocah tidak tahu diri. Haha ha.”

Mendengar tawa dingin serta perkataan ditengah mega itu, Cia Ing kiat melenggong, dilihatnya Toa-kui dan Siau-kui berobah air mukanya, sejak berkenalan dan bergaul rapat dengan kedua cewek jelita ini, selalu dalam keadaan riang gembira, belum pernah dia melihat sikap kedua cewek yang serius, takut dan kuatir.

Waktu Cia Ing kiat memandang kearah datangnya suara, tampak ditengah gnmpalan mega yang bergulung pergi datang itu samar samar kelihatan bentuk sesosok bayangan putih, perawakannya tinggi kurus, warna mega putih kelabu, sementara orang Itu juga mengenakan pakaian serba putih, wajahnya tidak kelihaian, hanya terlihat tubuhnya seperti terombang-ambing mengikuti bergolaknya mega yang turun naik dan melebar.

Disaat Cia Ing kiat terlengang, suara dingin orang itu kumandang pula: “Katak bintang seratus kaki ini adalah salah satu dari empat puluh sembilan binatang ajaib yang dikenal aliran To, beruntun kau telah memakannya tiga bulan, sekarang malah anggap binatang ini menjijikan apa tidak lucu dan menggelikan ?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebelum sadar apa yang terjadi mendadak terasa oleh Cia Ing kiat segulung angin dingin merasuk tulang telah melanda dari arah belakang, didengarnya Toa-kui dan Siau kut menjerit kaget, waktu Cia Ing-kiat menoleh dilihatnya bayangan putih yang remang-remang itu sedang menerjang kearah dirinya.

Gerakan bayangan putih yang menimbulkan gelombang hawa dingin ternyata membawa gumpalam mega yang bergolak. Hakikatnya Cia Ing-kiat tidak tahu siapa orang ini, namun selama bergaul tiga bulan dengan kedua cewek yang diketahui berkepandaian tinggi ini. ternyata menjerit kaget dan ngeri, maka dia menduga bayangan putih itu pasti musuh tangguh yang bermaksud jahat, secara retflek dia menepuk sebelah tangannya.

Ternyata lawan seperti tidak merasakan tepukan tangannya, bayangannya tetap menerjang maju. hanya sekejap Ing-kiat rasakan sejalur hawa dingin telah meresap keulu hati. Kejadian berlangsung secepat kilat, waktu dia menunduk dilihatnya tiga jari kurus kering seperti cakar burung ternyata telah mengancam urat nadi dipergelangan tangannya.

Karuan kejut Cia Ing kiat bukan kepalang, lekas dia tarik tangan, diluar dugaan ketiga jari tangan itu juga segera ditarik mundur, agaknya tujuan orang hanya memunahkan tekanan pukulan telapak tangan yang barusan.

Sekarang baru Ing kiat melihat jelas wajah bayangan putih yang remang-remang tadi orang berdiri tiga kaki dimukanya. wajahnya putih tanpa darah, tulang pipinya menonjol, matanya cekung, namun bola matanya bersinar hijau, tampangnya memang menakutkan, melihat Cia Ing-kiat berdiri tegak gemetar, diapun berdiri diam tidak bergerak. Pada saat itulah Toa-kui dan Siau kui menghardik bersama terus menubruk datang dari belakang jari runcing mereka masing-masing mencengkram pundak kanan kiri orang itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sergapan Toa-kui dan Siau-kui boleh dikata amat lihay, ternyata orang ini tetap berdiri santai mengawasi Cia Ing-kiat, tidak berkelit atau menangkis, “Plak, plak” dua kali tangan Toa-kui dan Siau-kui hampir berbareng mencengkram kedua pundak orang itu. Cia Ing-kiat menyaksikan dengan jelas, jari runcing kedua cewek yang berkuku panjang itu telah mencengkeram masuk kepundak kurus orang itu, dari sini dapat dinilai betapa tinggi dan besar tenaga yang dikerahkan kedua cewek jelita ini. Akan tetapi pada saat itu pula mendadak si baju putih mi menjengek dingin, berbareng kedua pundak dinaikan keatas, seperti orang bersikap apa boleh buat menaikan kedua pundaknya.

Ternyata gerakan menaikan kedua pundak orang ini menimbulkan gelombang tenaga yang cukup dahsyat, karena hawa dingin seketika menyampuk muka Cia Ing-kiat, tanpa kuasa dia tergentak mundur selangkah, belum lagi dia berdiri tegak didengarnya suara “Krak, krak” yang cukup ramai seperti bunyi tulang pecah atau patah, tampak tangan Toa-kui dan Siau-kui yang mencengkram pundak orang terpental pergi, seketika itu juga jari mereka sudah membengkak besar menghijau, jelas hanya mengangkat pundak orang iiu sudah bikin tulang-tulang jari kedua cewek ini patah dan remuk.

Kejadian mendadak diluar dugaan lagi, belum sempat Cia Ing-kiat menyaksikan bagaimana keadaan Toa-kui dan Siau-kui setelah tangan mereka patah, tampat orang itu mendadak menyodok dengan kedua sikutnya ke belakang, di tengah benturan “Duk, duk,” Toa-kui dan Siau kui seperti dilempar kebelakang ditelan gumpalan mega. namun darah segar yang menyembur dari mulut mereka tampak berhamburan.

Orang itu tetap berdiri tenang mengawasi Cia Ing-kiat tanpa peduli bagaimana nasib kedua cewek jelita itu. katanya sinis : “Kuampuni jiwa kalian berdua, lekas pulang dan laporkan kejadian di sini.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ditengah gumpalan mega terdengar jeritan Toa-kui dan Siau-kui yang ketakutan, agaknya setelah terluka Cukup parah mereka segera melarikan diri naik keatas gunung.

Wajah dingin orang itu mengunjuk sedikit senyuman, matanya masih mengawasi Cia Ing-kiat sekian saat lalu tertawa lebar mengunjuk barisan giginya yang hitam, katanya : “Apakah kau ini menantu baru dari mahluk tua aneh itu ?”

Cia Ing-kiat melenggong, tak tahu bagaimana harus menjawab, selama tiga bulan di Thian-lo-ong, dia hanya tahu tempat itu merupakan salah satu villa Hiat-lui-kiong. lalu siapa majikan atau pemilik sebenarnya sampai sekarang dia tidak jelas, ‘mahluk tua’ yang dimaksud orang ini mungkin adalah pemilik tempat ini, lalu kenapa dirinya dianggap menantu orang segala.

Terdengar orang Itu berkata pula dingin : “Kebaikan apa sih yang kau miliki, .kenapa mahluk tua itu menaksirmu ?”

Cia Ing-kiat sudah tenangkan hati katanya : “Tuan siapa ? Sungguh aku tidak tahu apa maksud ucapan tuan”

Mendadak orang itu bergelak tawa sambil mendongak, gerak geriknya tadi ringan dan lincah seperti setan gentayangan, namun loroh tawanya ternyata lantang berisi seperti pekik naga. gumpalan mega disekitarnya seperti tersibak oleh getaran nada tawanya, jantung Cia Ing-kiat juga seperti dipukul godam, sebelum Ing kiat sempat menyadari apa yang terjadi, tahu tahu orang itu sudah ulur tangan pegang pergelangannya, katanya : “Marilah ikut aku saja.”

Sudah timbul niat Ing kiat berontak, namun gerak gerik orang itu teramat cepat, begitu putar tubuh terus melompat jauh ke-depan. Pada hal tempat mereka berpijak adalah sebuah panggung batu yang kecil, begitu melompat ke sana, tubuh Cia Ing-kiat terseret maju terjun ke bawah.

Karuan Cia Ing kiat kaget dan takut, tidak lagi berontak dia malah balas pegang lengan orang itu dengan kencang, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

begitulah tubuh mereka terus meluncur menerobos gumpalan mega makin meluncur kebawah makin cepat, dalam sekejap mereka sudah mencapai ratusan tombak, tampak tangan kiri orang itu meraih sebatang akar rotan besar yang melintang terus berayun kesamping sehingga daya luncuran tubuh mereka tidak sepesat tadi.

Saking ketakutan badan Cia Ing-kiat basah kuyup oleh keringat dingin, badan gemetar napaspun memburu. Setelah menangkap rotan dan bergelantung seperti tarzan orang itu melirik Cia Ing kiat sekejap, katanya sambil menggeleng : “Bukan saja penakut, ternyata kau juga goblok setengah mati, kalau kau jatuh mampus dari atas. memangnya aku bisa hidup, masakan soal sepele begini juga dibuat takut. Mahluk tua itu pasti salah menilaimu.”

Karuan merah jengah muka Cia Ing-kiat. Biasanya dirinya disanjung dan dipuji, kalau bukan gagah pemberani juga serba cakap dan pintar, kapan pernah dicaci begini rupa, darah panasnya seketika terbakar, katanya membantah : “Siapa bilang aku penakut ? selama beberapa tahun ini, siapa yang mampu masuk ke Kim-hou-po lalu melarikan diri pula dengan selamat seperti diriku?”

Sambil mendengar omongan Cia Ing-kiat orang itu mengedip mata. mendadak dia lepas tangan kirinya, kontan tubuh mereka yang melurcur iiu anjlok kebawah, Cia Ing-kiat tidak menduga kejadian teramat mendadak lagi, tanpa kuasa dia menjerit kaget dengan gelagapan.

Orang itu tertawa bingar, katanya : “Nah masih berani bilang kau ini bukan penakut” habis perkataannya kakipun sudah hinggap dibumi. Cia Ing-kiat menunduk malu, tak berani dia membanggakan diri lagi. Perlahan orang itu angkat tangannya menepuk empat kali dikanan kiri pundaknya. Semula Ing-kiat kaget dan waspada, setelah tahn orang tidak bermaksud jahat maka dia berdiri melenggong saja. Orang itu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berkata pula :”Jangan takut, akan kubawa kau menonton sebuah keramaian.”

Kecuali tertawa getir, Cia Ing – kiat tak banyak komentar, orang itu berkata pula : “Kabarnya kau pandai tata rias, dengan kemahiranmu itu beberapa bulan yang lalu kau berhasil melarikan diri dari Kim-hou-po apa betul ?”

Diam diam bercekat sanubari Cia Ing-kiat, terhadap orang aneh ini dirinya tidak tahu menahu, sebaliknya orang tahu jelas asal usul dirinya, sebelum dia berbicara, orang itu sudah berkata : “Nah, sekarang buktikan kemampuanmu, robahlah aku menjadi seorang nenek, dan kau harus menjadi seorang kakek, didalam tontonan yang ramai nanti, kami bisa menyaksikan lebih leluasa.”

Sesaat kemudian baru Cia Ing-kiat berkata : “Untuk bermake-up tidak sukar, cuma bahan bahan rias aku tidak bawa, hanya di kota besar baru bisa di beli. Dipegunungan belukar begini, bagaimana …”

“Tidak jadi soal. kau ikut aku saja”

Sembari bicara orang aneh itu terus melangkah pergi, sesaat Cia Ing-kiat melenggong tapi segera dia memburu dibelakang orang. Selama tiga hari dia menempuh perjalanan dengan orang aneh ini dialas pegunungan belukar, selama ini bentuk, sikap dan tingkah taku orang aneh ini tidak berobah, namun Cia Ing-kiat tidak lagi merasa orang menakutkan, malah terasa bahwa orang ternyata amat ramah dan simpati.

Bergaul selama tiga hari tidak sedikit pengalaman yang diserap Cia Ing kiat oleh kejadian yang dialaminya ataupun cerita orang aneh ini yang serba serbi. namun setiap kali menyinggung pemilik villa di Thian-lo-hong, orang aneh ini sengaja tak mau jawab, namun dia menganjurkan supaya Cia Ing-kiat giat memperdalam ajaran Khikang yang dimuat diatas delapan belas bambu tipis itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selama tiga hari ini mereka memburu binatang, beberapa kali Cia Ing-kiat saksikan orang aneh ini menangkap burung, memburu harimau, atau menangkap kijang untuk tangsel perut, dari pergaulan selama tiga hari ini. Ing-kiat yakin kepandaian orang aneh ini pasti tidak lebih rendah dari Siau-pocu Kim-hou-po.

Magrib hari itu. Cia Ing kiat yang mengintil dibelakang orang aneh sudah menempuh perjalanan di jalan raya, lalu lintas mulai ramai, orang-orang yang hilir’ mudik ada orang Han dan orang Biau, makin maju kedepan makin ramai, waktu hari sudah gelap mereka tiba di sebuah kota besar. Kota besar ini berada di pinggir sebuah sungai besar pula, perumahan penduduk di sini megah, tinggi dan benderang, pertanda bahwa kota ini cukup makmur, ternyata kota besar ini tidak kalah ramai dan bersih dari kota-kota besar di Tionggoan.

Begitu masuk kota orang aneh itu lantas menarik krah bajunya yang tinggi lebar hingga menutupi setengah mukanya, dengan menunduk berjalan didepan, Ing-kiat yang di belakang merasa heran, pada hal Kungfunya tinggi entah apa yang dia takuti. Tengah menerawang, mendadak didengarnya suara kuda dilarikan dari depan, penunggang kuda terdepan adalah seorang tua bermuka ungu, di kiri kanan pinggangnya bergantung sepasang roda emas yang bergigi, sekilas pandang roda emas bergigi ini, seketika Cia Ing kiat kaget setengah mati.

Melihat senjata orang Cia Ing-kiat lantas tahu bahwa laki-laki muka ungu ini adalah Jit-gwat-kim lun. Cin Thian sip Cin-loenghiong, tokoh Bulim diutara sungai besar yang teramat disegani kaum persilatan. Semasa ayahnya masih hidup, hubungannya dengan tokoh besar ini amat intim. Cin Thian-sip berwatak angkuh dan tinggi hati. ilmu silatnya tinggi, kekebalan tubuh yang diyakinkan sudah mencapai taraf ketujuh, sejauh ini belum pernah ketemu tandingan. Kota besar ini memang makmur, namun dengan Tionggoan entah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

betapa jauhnya, entah untuk keperluan apa sekarang dia berada di sini ?

Karena heran dan ingin tahu baru saja Cia Ing-kiat buka mulut hendak menyapa mendadak tangannya terasa dipencet kesakitan, orang aneh itu pegang pergelangan tangannya serta berbisik- “Jangan bersuara meski ketemu kenalan baikmu, nanti kau takkan bisa menonton keramaian. “

Cia Ing-kiat urung bicara dia mandah diseret maju beberapa langkah oleh orang aneh itu dilihatnya beberapa penunggang kuda dibelakangi Jit gwat-kim-Iun adalah murid-murid Cin Thian sip. beberapa diantaranya punya hubungan baik dengan dirinya. Lekas sekali rombongan berkuda itu sudah lewar dan pergi jauh.

Timbul niat Cia Ing kiat membantah perintah orang aneh, sementara itu mereka berada didepan sebuah restoran besar, kebetulan seseorang dengan langkah sempoyongan beranjak keluar dari dalam. Perawakan orang ini pendek, pakaiannya juga dari kain kasar, kakinya telanjang tapi kelihatan putih bersih, sikapnya kelihaian angkuh seperti dunia ini milikku sendiri.

Melebat orang ini, bukan saja kaget Cia-Ing-kiatpun heran, lekas dia menunduk kepala. Orang ini bukan lain adalah Oh-sam Siansing, pendekar aneh dari Say-jwan. Beberapa tahun yang lalu Oh-sam Siansing pernah bertandang ke Hwi-liong-ceng, secara paksa dia hendak angkat Hwi liong cengcu Cia Thian sebagai murid. Pada hal kedudukan dan kebesaran nama Cia Thian didunia persilatan sudah cukup disegani, mana mau diangkat murid olehnya, karena tiada persesuaian paham, maka terjadilah perang mulut dan diakhiri baku hantam, Cia Thian kalah dan tunduk lahir batin, akhirnya dia rela mengangkat orang sebagai guru, tapi Oh-sam Siansing justru menganggapnya bodoh kurang bakat lalu tinggal pergi begitu saja. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Peristiwa itu tidak diketahui orang luar, tahun itu Cia Ing-kiat berusia enam belas, sebelum Oh-sam Siansing pergi, dia pernah memberi petunjuk kepada cucu muridnya ini, kini mendadak Cia Ing-kiat melihat ‘Sukong’-kakek gurunya ini, betapa hatinya takkan terkejut? Dengan menunduk dia melangkah puluhan langkah kemudian baru berani menoleh, dilihatnya Oh-sam Siansing masih berjalan dengan langkah lebar, mendadak dilihatnya dari samping menerobos seorang laki-laki berpakaian sastrawan terus menepuk pundak Oh-sam Siansing.

Tepukan itu ditujukan kepundak Oh-sam Siansing, tapi Cia Ingkiat malah yang terkejut, entah siapakah sastrawan yang bernyali besar ini? Berani mengusik Oh-sam Siansing? Setelah kedua orang itu berhadapan dan membalik tubuh baru Cia Ing-kiat melenggong. Sastrawan ini berpakaian jubah hijau, usianya sekitar lima puluhan, berwajah persegi kuping besar, sepasang tangannya panjang, jari-jarinya juga lencir panjang putih, diantara kedua alisnya tumbuh tujuh titik tahi lalat merah, matanya yang meram melek tampak memancarkan sinar gemerdep. Ing-kiat kenal orang ini, asal mulanya dia murid Bu-tong.

Suatu ketika diusir dari perguruannya, belakangan dia mendirikan aliran dan menciptakan sendiri Bo to kiam-boat, Si-toa-tiang-Io Bu-tong pay yang terkenal sekaligus dikalahkan olehnya, maka murid-murid Bu-tong mau menjunjungnya sebagai pemimpin mereka, tapi dia malah bergelak tawa terus tinggal pergi, belakangan namanya terkenal sebagai Pak-to Suteng, pendekar aneh di Bulim yang disegani. Adalah pantas kalau tokoh setaraf Pak-to Suseng berani menepuk pundak On-sam Siansing. Setelah menelan air liurnya, Cia Ing-kiat berkata lirih: “Tokoh-tokoh Bulim sebanyak ini kenapa kumpul di sini? ” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang aneh itu mendengus, katanya: “Sudah kukatakan akan ada keramaian, memangnya aku ngapusi kau? Nah, lihat tuh didepan, siapa yang datang?”

Cia Ing kiat angkat kepala memandang kedepan. seketika merinding bulu kuduknya, tampak yang mendatangi adalah seorang laki-laki besar, kulit badannya seperti besi, pakaiannya serba hitam menunggang seekor kuda hitam berbulu mulus mengkilap, kudanya pelan pelan. Laki laki besar ini berewokan, matanya besar bundar anehnya bola matanya yang besar melotot itu seperti terbuat dari beling hitam, tanpa ada warna putihnya. Sebelumnya belum-pernah Cia Ing-kiat melihat orang ini, namun pernah dengar namanya, aki laki ini bukan lain adalah begal tunggal yang malang melintang tak pernah meninggalkan korban hidup dikalangan Kang ouw, Tai giam-ong Utti Gu.

Dengan jantung berdebar Cia Ing-kiat berdiri terlongong sejenak, orang aneh itu segera menariknya kesamping Utti Gu. Hati Ing-kiat tidak habis mengerti, keramaian apa yang bakal terjadi di sini, namun dinilai orang orang yang dilihatnya tadi semua adalah benggolan Bulim yang terkenal, maka dapat dibayangkan bahwa keramaian yang akan terjadi ini pasti merupakan peristiwa besar yan akan menggemparkan dunia.

Cia Ing kiat menurut saja diseret orang aneh itu menyusuri jalan raya diantara kerumunan orang banyak yang hilir mudik, tak lama kemudian, sebuah kereta mendatangi dari arah depan. Didepan kereta dihiasi sebuah ikan emas warna emas panjang lima kaki yang kemilau, kedua sisi kereta diapit masing masing empat orang berseragam ketat dengan pakaian renang, mereka jelas adalah orang Liong-bun-pang yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan besar disepanjang sungai besar dengan organisasinya yang serba misterius, dari iringan kereta yang dikawal ketat ini, pertanda bahwa Pangcu dari Liong-bun-pang sendiri pasti telah datang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Harus dimaklumi bahwa Liong-bun-pang mempunyai kedudukan yang amat kokoh dan besar di Bulim, hal ini dapat dibuktikan di-waktu Cia Ing-kiat melarikan diri dari Kim-hou-po tempo hari, orang – orang Kim-hou-po yang mengejarnya sampai didermaga itu mengira dia sudah menyebrang sungai lari kepihak Liong bun-pang. Bagi organisasi yang berani menentang dan melawan Kim-hou-po sudah tentu adalah organisasi yang amat disegani. Sayap Liong-bun pang sudah tersebar luas. aksi mereka serba rahasia, siapa pejabat Pangcu mereka sejauh ini masih merupakan ranasia, tiada kaum Bulim yang tahu, banwa dia dapat memimpin dan menguasai organisasi yang begitu besar, pasti dia seorang tokoh kosen yang luar biasa.

Begitu rombongan kereta itu lewat, sepanjang jalan raya yang ramai sesak ini, menjadi sepi dan orang-orang persilatan yang berada di sepanjang jalan Ini menyingkir ke pinggir, jelas tiada orang yang berani mencari perkara dengan pihak Liong bun-pang.

Cia Ing-kiat menarik napas panjang, dia mandah saja diseret orang aneh memasuki sebuah gang kecil. Tampak oleh Ing-kiat di ujung gang duduk mendeprok ditanah dua orang yang membelakangi dinding, seorang buntung kakinya sebatas lutut, tampangnya aneh. sebarang tongkat hitam disampingnya berdiri mepet dinding, biji matanya tampaK terbalik entah apa yang sedang diawasi. Seorang lagi adalah laki-laki picak, kedua tangannya sedang menggosok dua butir batu yang mengkilap halus sehingga mengeluarkan suara ramai.

Melihat kedua orang ini Cia Ing-kiat tertawa getir, dari keadaan dan dandanan kedua orang ini dia tahu bahwa mereka adalah Thian lam-sian jian (seorang cacad dari Thian-lam) yang sudah kesohor didunia.

Orang aneh tetap menggandeng tangan Cia Ing-kiat maju kedepan. waktu tiba disamping kedua orang ini, di dengarnya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

si picak berkata: “Tongkat, siapakah yang lewat barusan, Ginkangnya amat bagus.”

Laki-laki buntung tetap membalik mata sahutnya: “Siapa tahu. dalam mataku tiada seorang manusiapun yang normal.”

Cia Ing-kiat terperanjat, orang aneh yang menggandengnya ini berilmu tinggi maka mau dan di cemooh dan disindir orang. sesuatu mungkin bisa segera teijadi. Tak nyana orang aneh tetap menyeretnya kedepan hingga beberapa langkah.

Sipicak seperti sengaja mencari perkara, katanya pula: “Tongkat, coba dengar, orang anggap kami bukan manusia, perkataanku tadi berarti sia sia belaka, sungguh sial “

“..Memangnya ” sabut si buntung. Jangan kira kakinya buntung sebelah tapi gerak geriknya ternyata cepat luar biasa, sebelum kata nya habis diucapkan, tongkatnya sudah menutul bumi, tubuhnya mumbul mepet dinding terus meluncur kedepan seperti anak panah yang terlepas dan busur, daya luncur tubuhnya menerbitkan deru angin kencang, sehingga Cia Ing-kiat tersuruk maju kedepan menumbuk orang aneh.

Sedikit sebelum tubuh kaki buntung ini melesat lewat disamping orang aneh dan Cia Ing-kiat, dari atas dinding mendadak seorang berkata dingin: “Jago-jago kosen dari berbagai tempat sudah kumpul, tiada satupun yang mencari perkara, kalian dua tua bangka cacad ini justru melakukan perbuatan yang memalukan di sini.”

Cia Ing-kiat sudah angkat kepalanya, tapi pegangan orang aneh mengencang, tahu-tahu dirinya sudah digeretnya pergi keluar dari gang sempit ini. Hakikatnya Ing-kiat tidak sempat lihat siapa yang buka suara diatas tembok, tapi begitu keluar dari ruangan itu kupingnya masih sempat mendengar tongkat besi sibuntung mengetuk tanah dengan suara duk. duk yang berat dari sini dapat disimpulkan bahwa orang yang bersuara di-atas tembok pasti seorang yang kosen pula. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setiba dijalan raya, orang anah seret Ing kiat melok kekanan, agaknya dia hapal akan jalanan di kota besar ini, tak lama kemudian mereka tiba didepan sebuah hotel kecil dari kelas rendahan. mereka langsung masuk, kacung hotel menyamhut dan bicara dengan bahasa Biau yang tidak dimengerti orang Ing-kiat. Akhirnya mereka dibawa ke-belakang dan menempati sebuah kamar sempit, dalam kamar hanya ada sebuah dipan, baru kaki melangkah masuk bunyi nyamuk yang mendengung sudah membikin kuping merasa gatal, seolah-olah kamar ini sarang nyamuk saja.

Cia Ing kiat berkata dengan tawa nyaring: “Kenapa tidak cari hotel yang lebih baik?-“

Orang aneh tertawa, katanya: “Boleh, setelah kau merias wajahku.”

“Baiklah. ” ucap Cia Ing-kiat .” biar aku keluar membeli bahan-bahan keperluan.”

“Tidak boleh,” ujar orang aneh, “kutemani kau di sini. bahan bahan apa yang diperlukan boleh kau membuat sebuah daftar suruh kacung hotel pergi membeli di toko.”

“Biar aku sendiri yang memilih dan membeli kan tidak jadi soal?” bantah Ing-kiat.

Dingin suara Orang aneh: “Tidak boleh ya tidak boleh, apa yang kau perlukan tulis saja diatas kertas.”

Apa boleh buat Cia Ing-kiat menulis sebuah daftar diatas kertas yang sudah disiapkan kacung hotel serta menyerahkan daftar keperluan itu kepada kacung. orang aneh merogoh keluar sekeping uang perak diberikan kepada si kacung pula, bergebas kacung ini berlari keluar.

Untuk membuang waktu Ing kiat mondar-mandir dalam kamar, kamar itu bukan saja sempit juga pendek, maka dia hanya melangkah tiga empat langkah sudah berada didepan orang aneh, meski tahu orang segan bicara dengan dirinya, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

namun setiap kali dia berputar didepan orang selalu dia bertanya: “Untuk keperluan apakah orang-orang gagah sebanyak itu kumpul di sini.”

Orang aneh itu kalau tidak melirik ya melotot saja tanpa bicara.

“Lalu siapakah sebenarnya ?” tanya Cia Ing-kiat pula

Orang itu tetap melotot, akhirnya berkata dingin : “Jangan kau banyak urusan, tontonlah saja keramaian yang menarik nanti.”

Dongkol hati ing-kiat. segera dia balik ke sana tiba-tiba benaknva tergerak, suatu pikiran terbayang dalam otaknya, tak tahan dia ingin bergelak tawa, namun dia hanya tersenyum saja, katanya : “Tadi kau bilang, sebentar kau minta aku merias kau menjadi seorang nenek, begitu ?”

“Betul, bila aku menyamar nenek tua, umpama samaranku konangan juga orang susah menduga akan diriku ” ucap orang aneh.

Dalam hati amat geli, namun Ing kiat berkata : “Kalau aku yang mendandani kau jadi nenek reyot, mana mungkin konangan orang lain?” sembari bicara dia memejam mata serta membayangkan seraut wajah perempuan tua. Waktu berada di Kim hou po dia pernah terkejut waktu melibat raut muka seorang nenek, karena nenek itu bukan lain adalah jago kosen dari aliran sesat yang terkenal dengan Im sik ciang, pukulan beracun yang paling top didunia ini. Konon setiap hari dia selalu berdampingan dengan mayat-mayat busuk yang beracun, siapa mendengar napasnya pasti ngeri dan segan, maka Cia Ing-kiat berkeputusan, nanti akan merobah wajah orang aneh Ini menjadi nenek yang pernah dilihatnya di Kim-hou-po itu.

Jilid ke : 6 Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mondar mandir dalam kamar kecil itu selama setengah jam. baru tampak kacung hotel pulang membawa sebuah buntalan besar. Setelah kacung diminta menyiapkan lentera, baskom dan sebuah anglo lalu disuruh keluar maka Cia Ing-kiat mulai mengembangkan kepandaian tata rias yang pernah dipelajarinya dari Tay-seng bun. Hauya satu jam Cia Ing-kiat menyibukan diri dalam menangani wajah orang, orang aneh itu kini telah dirobahnya menjadi seorang nenek beruban, dipipi sebelah kiri terdapat sebuah codet merah seperti kelabang, sebuah taring menonjol keluar diujung mulut kanan, mukanya yang pucat mirip mayat hidup amat mengerikan.

Menghadapi hasil karyanya sendiri mau tidak mau timbul rasa ngeri dalam benak Ing-kiat bila membayangkan keseraman si nenek yang satu ini, orang aneh itu kini sudah menjadi nenek yang berwajah mayat, seolah-olah bila orang mengulur jarinya saja. dirinya bisa mampus seketika oleh racun jahat. Konon Im-sik-ciang menimbulkan rasa gatal lalu membusuk dan luluh bagi setiap korban yang terkena pukulannya.

Hu-lo Popo (nenek mayat) adalah tokoh besar yang terkenal di Tionggoan, setelah Ing-kiat merias orang aneh ini menjadi nenek terkenal ini, dia kuatir orang akan ber-cermin dan tahu samaran dirinya adalah nenek yang ditakuti itu. tapi setelah memegang kaca dan bercermin kekanan kiri orang aneh ini malah berkecek mulut memuji, agaknya dia tidak kenal atau belum pernah melibat Hu-lo Popo.

Dalam hati Cia Iig-kiat bersorak dan geli. pikirnya : “Sekian banyak jago jago silat terkenal di Tionggoan kumpul di sini di antaranya yakin tidak sedikit yang kenal atau mungkin musuh besar Hu-lo Popo, pada hal orang aneh ini mengira setelah dirinya menyamar jadi .nenek, dirinya akan bebas dari segala urusan karena tidak dikenal siapa pun, keramaian memang pasti akan terjadi.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selanjutnya Cia Ing-kiat berdandan pula merobah wajah sendiri menjadi seorang kakek setelah mereka berganti pakaian, orang aneh itu berkata dengan suara berobah persis seorang nenek : “Baiklah, sudah cukup, kini mari kami saksikan sekedar tontonan gratis lebih dulu, dua hari lagi baru bisa menyaksikan keramaian besar ” sembari bicara dia terbungkuk-bungkuk dengan langkah terserok membuka pintu lalu melangkah keluar, gerak gerik dan tingkah lakunya memang mirip sekali seorang nenek tua yang lemah. Cia lng-kiat ikut dibelakangnya. Sudah tentu kacung dau pemilik hotel berdiri menjublek keheranan seperti melihat setan disiang hari. namun akhirnya mereka tahu duduk persoalan setelah menemukan uang dan sisa keperluan yang digunakan mereka didalam kamar.

Tanpa bersuara Cia Ing kiat ikuti saja langkah orang aneh yang sudah menyamar nenek tua ini, setelah menyasuri beberapa jalan raya, akhirnya mereka tiba di gang sempit di mana tadi Thiam-lam-siang jan berada, kedua orang itu sudah tidak kelihatan, sengaja Ing-kiat mendongak keatas tembok, orang aneh yang didepan seperti tahu apa yang sedang dia pikir, katanya : “Yang bersuara tadi adalah majikan dari tujuh puluh dua puncak di Tong-ting, Kim-kan-sian-khek.”

Mencelos hati Cia Ing-kiat, katanya : “Sungguh lihay.”

“..Lihay apa. beruntung dia mendapat tempat baik. memimpin banyak orang mendapat nama besar lagi, pada hal kepandaiannya tidak seberapa. Nanti sebentar, kurasa akan datang beberapa jago kosen yang benar-benar memiliki Kungfu tinggi, malah ada yang sudah meyakinkan Lwe-keh-lo-khi sampai taraf kelima.”

Cia Ing-kiat tersirap, Lwe-keh-lo-khi bila diyakinkan sampai taraf ke lima katanya sakti mandraguna, konon dalam Bu ini sekarang yang mampu mencapai latihan ketaraf lima hanya delapan orang, seorang diantaranya adalah seorang raja dari negeri Persia, mungkinkah dia juga akan datang. Dua orang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lagi adalah Hwesio dan Nikoh. konon usia mereka sudah mendekati seratuh tahun, jarang berkecimpung di Bulim Lima orang lagi kabarnya adalah Kwi-bo (induk setan) Hun Hwi-ni, Kim-hou Pocu, Hu-gu Siangjin dari Hu-gu-san di Holam Kay pang Pangcu dan Hong-tiang Siau-lim-si Pun-sian Siancu. jumlah kenyataan yang mampu meyakinkan Iwekhe-lo-khi mungkin tidak hanya delapan orang saja. namun cukup dua atau tiga orang diantara delapan orang ini hadir di sini, maka tontonan yang akan berlangsung memang patut disaksikan.

Sambil menimang-nimang Ing kiat terus mengintai dibelakang orang. Mereka menyusuri jalan raya menuju kesebuah restoran besar, dari kejauhan restoran itu sudah kelihatan terang benderang, bayangan orang banyak berkerumun memenuhi restoran besar itu, didepan pintu juga berkerumun banyak orang, setelah dekat tampak delapan belas lelaki bertubuh kekar berbaris dikiri kanan, dua laki-laki yang lain dengan pakaian mewah sedang menyambut para tamu yang berkerumun di luar.

Sebelum bertindak lebih jauh, orang aneh sudah memberi peringatan : “Jangan sembarang omong.”

Cia Ing-kiat mengangguk lalu menginiil dibelakangnya orang-orang yang berkerumun ini semua adalah kaum persilatan, ada yang kenal tapi lebih banyak yang masih asing, mereka maju satu persatu memperkenalkan dirinya kepada kedua laki-laki pakaian perlente yang menyambut mereka itu.

Begitu orang aneh menyibak orang banyak maju kedepan, orang-orang yang berkerumun itu segera mundur kesamping memberi jalan, wajah mereka kelihatan berobah pucat, ada yang gusar melotot, ada pula yang siap melolos senjata, agaknya orang aneh heran dan tak tahu kenapa sikap mereka sekasar itu, langkahnya tetap munduk-munduk seperti nenek tua lazimnya, sungguh hampir tak tahan Cia Ing-kiat menahan rasa gelinya. Hanya dia saja yang maklum kenapa orang-orang tua ada yang jeri dan takut, ada pula yang melotot Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gusar dan siap melabraknya, karena orang-orang itu anggap orang aneh ini sebagai Hu-lu lopo yang jahat kejam, bukan mustahil tidak sedikit sanak kandang mereka yang pernah menjadi korban keganasan nenek tua ini.

Semula kedua laki-laki penyambut tamu itu bersikap ramah dan sopan, namun tutur kata mereka menunjukan sifat angkuh dan tinggi hati, begitu orang aneh dan Ing-kiat tiba didepan restoran, keadaan yang semula ramai seketika menjadi sepi. Alis kedua laki-laki perlente itupun terangkat tinggi, dengan sikap terpaksa mereka maju mendekat serta bertanya: “Apakah kalian membawa undangan?”

Dengap meniru suara nenek tua orang aneh itu berkata: “Apakah harus punya undangan baru bisa hadir dalam keramaian ini? Apakah majikanmu tidak keterlaluan ?”

Kini bukan lantai bawah saja yang keadaannya menjadi sepi. lantai kedua pun menjadi lengang, tidak sedikit yang melongok ke-bawah ingin tahu apa yang terjadi dibawah. Sudah tentu yang paling tegang adalah Cia-Ing kiat, baru sekarang dia insaf permainannya bakal membawa resiko besar. Namun untuk menjelaskan kepada orang aneh sudah tiada kesempatan.

Didengarnya salah seorang lelaki perlente berkata: “Bukan majikan kami keterlaluan, soalnya siapa yang membawa undangan adalah tamu agung kita, umpama satu dengan yang lain ada permusuhan besar, di sini siapa-pun dilarang turun tangan supaya majikan tidak kerepotan dibuatnya?”

Orang aneh itu tetap tidak menyadari keadaan dirinya, katanya dengan tertawa malah:”Tuan tidak perlu kuatir, nenek tua tidak punya permusuhan dengan siapapun yakinlah tiada orang yang akan mencari perkara dengan nenek tua renta seperti aku ini.”

Sudah tentu pernyataan orang aneh ini menimbulkan berbagai reaksi di wajah hadirin. sikap mereka bukan saja Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aneh juga lucu. Maklum Hu lo Popo sudah terkenal sebagai perempuan iblis yang jahat, kaum persilatan berbagai golongan tiada yang tidak bermusuhan dengan dia namun sekarang dia menyatakan tidak punya permusuhan dan tidak akan mencari setori sudah tentu hadirin amat heran dan bingung.

Hanya kedua laki-laki perlente itu yang tidak melupakan tugasnya, katanya dengan sikap dingin:”Kalau demikian, baiklah silahan masuk.” sembari bicara sorot mata mereka yang tajam mengawasi Cia Ing kiat.

Diam-diam berdiri bulu kuduk Cia Ing-kiat, maksud semula hanya untuk mempermainkan orang aneh ini sungguh tak terbayang bahwa perkembangan ternyata diluar dugaan karena kejadian berarti mempersulit dirinya sendiri, sekarang dia bersama orang aneh ini, bila musuh tangguh melabraknya, bukan mustahil dirinyapun akan dilabrak orang karena dianggap sekomplotan, betapapun tinggi kepandaian orang aneh ini, mungkin takkan sempat melindungi dirinya. Demi keselamatan jiwa raganya secara reflek Ing-kiat ulur tangannya hendak menarik orang aneh, saat itu juga orang aneh sudah membalik sebelah tangannya memegang pergelangan tangannya katanya: “Marilah peristiwa besar di Bulim yang jarang terjadi kenapa tidak ikut menonton keramaian.”

Ing-kiat diam saja meski hati mengeluh diseret orang aneh kedalam restoran. Kedua lelaki itu terpaksa menyingkir memberi jalan, maka orang aneh dan Cia Ing-kiat masuk kedalam. mendadak diatas tangga terdengar suara langkah berat dibarengi gerungan keras, tiga orang laki perawakan besar dan kasir memburu turun menghadang di depan mereka.

Bobot setiap lelaki besar ini ada ratusan kati, waktu memburu turun betapa besar tenaga yang dikerahkan sehingga tangga loteng berdentam seperti digetar Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gempa,orang orang yang semula memang berdiri ditangga sama menjerit dan melompat menyingkir, cepat sekali ketiga orang itu sudah mencegat didepan orang aneh, yang ditengah menggerung aneh, sambil angkat tangannya mengayun sebatang Kim-kong-kan (gada kupingnya) terus mengepruk kepala.

Gada kuning ini sebesar paha berat lagi. tenaga laki-laki raksasa kuat pula maka gada yang terayun itu mengeluarkan deru suara keras “He, apa kehendakmu?” sembari bicara dia angkat sebelah tangannya mencengkram keatas, gada besar yang terayun menderu itu ternyata berhasil ditangkapnya.

Pada saat yang sama, dua laki raksasa di kanan kiri itu juga serempak menyerang dengan gada kuningan yang sama besar dan beratnya, betapapun cekatan gerak gerik orang aneh, jalan mundur sudah terjaga oleh dua gada lawan terpaksa dia menjerit aneh, tubuhnya mendadak menegak dengan getaran yang keras, getaran keras ini seperti menimbulkan perobahan di tubuhnya karepa mendadak tubuhnya seperti melar satu kaki lebih tinggi dan kekar, “Blak, bluk” dua gaoa kuningan itu dengan telak menghantam kanan kiri pingganggnya.

Begitu gada kedua laki laki raksasa menyambar sebat sekali Cia Ing kiat sudah melompat mundur, tak urung dia tersapu mundur beberapa tindak, dengan mendelong dia awasi gada besar berat itu menghantam pinggang orang aneh, diam-diam hatinya mengeluh, maklum badan siapa kuat menahan pukulan gada berat yang mampu menghancurkan batu gunung itu?

Tapi kejadian selanjutnya benar-benar diluar dugaannya, begitu gada mengenai pinggang orang aneh. kedua laki-laki raksasa itu malah menjerit aneh, tubuhnya terjengkang mundur, gada mereka mencelat terbang, telapak tangan pecah terdarah.

Dalam waktu yang sama orang aneh mendorong tangannya kedepan. hanya perlahan saja tapi laki-laki raksasa yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengemplang dengan gada itu telah ditolaknya jumpalitan Katanya; “Sama sama mau melihat keramaian, umpama aku tidak punya undangan, kenapa kalian bertindak sekasar ini?”

Belum habis dia bicara,orang-orang yang berdiri diatas tangga sama menjerit, ternyata kedua gada yang mencelat terbang itu jauh kearah tangga. Ditengah jeritan kuatir orang banyak itulah, mendadak berkelebat sesosok bayangan orang dari atas meluncur kebawah. gerak gerik orang ini kelihatan wajar dan santai, orang banyak melihatnya jelas, namun gerak luncurnya ternyata amat pesat, tampak dia angkat kedua tangannya dengan mudah kedua gada besar yang berputar ditangkapnya. Cia Ing-kiat juga sudah melihat jelas orang yang meluncur turun dari atas loteng menangkap kedua gada itu bukan lain adalah Oh-sam Sian-sing.

Sementara itu ketiga laki-laki raksasa itu juga sudah terdiri jajar, dengan bola mata terbelalak mereka mengawasi orang aneh Oh-sam Siansing menghampiri mereka serta memberi tanda dengan anggukan kepada tampang ketiga raksasa ini amat garang dan buas, tapi terhadap Oh-sam Siansing mereka berlaku sangat hormat. sambil menunduk segera mereka menyingkir.

Suasana masih bening, hadirin masih merasa tegang, orang aneh itupun mengawasi Oh-sam Siansing dengan pandangan heran dan kagum, karena orang mampu menangkap kedua gada besar yang berputar kencang itu tanpa Iwekang tinggi tak mungkin Oh sam Siansing mampu menangkapnya, dari sorot matanya Cia Ing-kiat menduga orang aneh agaknya juga juga tidak kenal siapa Oh-sam Siansing ini.

Oh sam Siansing kembalikan gada kuningan itu kepada pemiliknya, katanya: “Lain kali jangan sembarangan bertindak, jagalah nama baik Siau-lim-pay kalian.”

Ketiga laki-laki raksasa itu mengiakan. Oh-Sam membalik dan tertawa, katanya: “Sudah lama tidak ketemu, Lwekangmu sudah maju pesat, tak heran kau berani keluyuran pula.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang aneh itu melenggong, tanyanya: “Kau mengenalku?”

Oh sam tertegun, sesaat dia bingung tak tahu kenapa Hu-lo Popo bertanya demikian atau orang sengaja pura-pura pikun? Segera dia tertawa besar, katanya “Orang-orang di sini siapa yang tidak mengenalmu?”

Orang aneh itu melenggong pula, tanyanya: “Lalu siapakah aku? “

Oh-sam Siansing mengerut kening bahwa Oh-sam Siansing sudah menampilkan diri, maka hadirin yang menaruh dendam kepada Hu lo Popo ingin rasanya mengganyangnya saja, namun mereka lahu kepandaian sendiri terlalu jauh dibanding Oh sam Siansing, kalau orang tua ini memuji Hu-lo Popo maka siapa berani bertindak lebih dulu, maka hadirin hanya berani memaki dan melotot saja.

Mendengar caci maki orang banyak, orang aneh mematung sejenak, sikapnya heran dan tak habis mengerti, tapi mendadak dia menoleh melirik kepada Cia Ing-kiat. Tampak oleh Cia Ing-kiat mimik orang aneh ini seperti tertawa tidak tertawa, ujung mulutnya menjengkit turun, karuan jantungnya berdebar-debar entah untung atau rugi yang akan dialaminya namun telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin.

Akhirnya orang aneh menoleh kedepan pula serta berkata setelah menghela napas “Anggaplah aku yang setua ini masih ditipu orang tanpa sadar, kalian yang punya pertikaian dengan nenek tua seperti aku ini, boleh maju membuat perhitungan sekarang juga,” perkataannya dilontarkan kepada hadirin, tapi sepasang matanya menatap kepada Oh-sam Siansing.

Oh-sam Siansing menyeringai dingin, katanya: “Kau juga ditipu orang, agaknya memang sudah tiba saatnya kau memperoleh ganjaran setimpal. Baiklah, bagaimana kau ingin bergebrak, boleh katakan saja.”

Orang aneh tertawa, katanya “Boleh terserah bergerak…. siapakah nama tuan?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disaat kedua orang ini berbicara keadaan sekeliling sunyi senyap, hadirin mencurahkan perhatian mengikuti perkembangan selanjutnya, maka pertanyaan terakhir orang aneh seketika menimbulkan reaksi yang ramai diantara hadirin.

Tanya nama gelaran bagi kaum persilatan adalah hal biasa, tapi insan persilatan mana yang tidak kenal Oh-sam Siansing, bahwa Hu-lo Popo yang terkenal ini juga tanya she dan namanya, adalah jamak kalau hadirin menjadi gempar.

Tak nyana Oh-sam Siansing hanya tertawa tawa, katanya: “Cayhe (aku yang rendah) she Oh bernama Sam.”

“Oh” orang aneh itu bersuara dalam mulut, “Begini saja, tadi tanpa sebab aku digebuk dua kali oleh ketiga kerbau dungu itu, sekarang bagaimana kalau giliranmu kugebuk, terhitung adil tidak?”

Oh-sam Siansing mengangkat alis. kata nya kemudian: “Ya, adil.”

Maka keadaan kembali sunyi, orang aneh itu membalik tangan, terulur kearah seorang Tojin kurus yang berdiri paling dekat, di belakang punggung Tojin kurus ini terselip sebatang kebut, gerak tangan kebelakang si orang aneh dengan jari mencengkram ini membuat Tojin kurus itu tertegun, orang aneh itu sudah tertawa dan berkata: “Tolong pinjam kebut Totiang sebentar.” belum habis dia bicara, Tojin kurus itu merasa segulung tenaga sedot telah menariknya kedepan hingga tanpa kuasa tubuhnya terseret maju selangkah.

Secara reflek tangannya meraba kebelakang punggung, seketika dia menjerit kaget, ternyata kebut senjatanya itu sudah berpindah ke tangan orang aneh.

Betapa cepat gerak tangan orang aneh ini, meluruh hadirin tiada yang melihat jelas, karuan semua terbeliak. Tak sedikit hadirin yang kenal Tojin kurus ini, dia bukan lain adalah Ketua Pek-hoa-khoan di Pek-hoa ciu Hud-hun Tojin, terhitung Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seorang tokoh kosen juga. namun hanya sekejap kebut atau gacoannya yang sudah terkenal dengan sebutan Pek-hoa-hud ini dalam sekejap telah dirampas orang. Kejadian seperti sulapan saja, orang aneh itu segera mengacung kebut sambil minta maaf kepada Hud-hun Tojin.

Tampak dimana tangannya terangkat, kebut dengan bulu lemas sepanjang tiga kaki itu mendadak tegak berdiri seluruhnya, laksana sekuntum kembang teratai yang mendadak mekar, entah terbuat dari apa, bulu kebut itu bersinar mengkilap.

Bagi orang lain kejadian ini hanya dianggap tontonan ajaib, tapi bagi Hud-hun Tojin justru merupakan kejadian yang fatal, bukan saja menjatuhkan pamor juga merendahkan derajatnya, karuan badannya basah oleh keringat dingin, mukapun pucat menahan gejolak perasaannya. Pada hal dengan Pek-ha hud ini dia sudah latihan empat puluh tahun lamanya, namun untuk bertindak seperti orang aneh, sekali gentak benang benang kebutnya lantas tegak berkembang, selama hidup ini jelas takkan mungkin mampu melakukan.

Harus dimaklumi benang kebut yang terbuat dari benang perak ini, lemas lembut dan enteng, tenaga dalam sukar disalurkan ke-atasnya, tapi orang aneh ini hanya sekali sendal telah mampu membuatnya berkembang laksana kembang teratai. Jelas Hu lo Popo mampu mengerahkan tenaga dalamnya sehebat itu, jangan kata orang lain kaget, Oh-sam Siausing sendiri juga berobah air mukanya, dengan serius dia mempersiapkan diri.

Mendadak tangan orang aneh diulur pula lebih maju, ribuan benang yang berkembang di ujung kebutan itu mendadak melingkup pula seperti payung, enteng dan lemas mengebut kepinggang Oh-sam Siansing.

Walau benang kebut itu sudah mengencang jadi satu, namun benang tetap benang, lemas dan lunak, gerakan orang anehpun lamban seperti tidak bertenaga, namun Oh-sam Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siansing mendadak menarik napas dalam, jubah panjang di badannya yang longgar itu mendadak melembung seperti balon mengeluarkan desiran suara halus seperti layar berkembang ditiup angin badai.

Kejap lain benang kebut itupun sudah menyabet badan Oh-sam Siansing, umumnya benang lemas setiap kali mengenai benda apapun takkan mengeluarkan suara apapun, namun kejadian kali ini justru berbeda, begitu benang kebut itu mengenai jubah Oh-sam Siansing yang melembung itu seketika mengeluarkan suara keras seperti bunyi tambur. Bunyi tambur ini begitu keras dan tidak terduga pula oleh orang banyak, tidak sedikit diantaranya yang berjingkrak sambil menutup kuping.

Di tengah bunyi keras itulah tampak badan Oh-sam Siansing bergoyang gontai perlahan, untung orang aneh itu segera menarik tangan serta berseru memuji : “Kepandaian bagus.”

Ternyata merah muka Oh-sam Siansing, tanpa bicara segera dia membalik terus beranjak ke atas loteng.

Seenaknya orang aneh membuang kebut di tangannya keatas. Hud-hun Tojin berdiri melongong dengan perasaan hampa, terasa latihannya selama ini hanya sia-sia belaka, karena hari ini tanpa berkelahi dirinya sudah terjungkal habis-habisan, meski melihat kebut miliknya itu dilempar balik, tapi dia hanya berdiri mendelong diam saja seperti orang linglung hingga kebutnya itu jatuh di atas lantai.

Ternyata hadirin juga berdiri melongo kecuali belasan orang yang benar-benar top kepandaiannya, selebihnya mengunjuk rasa heran dan tidak mengerti, mereka tidak tahu kenapa mendadak Oh sam Siansing putar tubuh tinggal pergi tanpa bicara sekejappun. Karena menurut pandangan umum, dengan kekuatan Lwekeh-lo-khi Oh-sam Siansing dia mampu menahan sabetan kebut orang aneh, keadaan jelas seimbang, jadi tiada pihak yang kalah atau menang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah Oh-sam Siansing naik keloteng baru orang aneh itu tertawa serta menantang: “Nah. masih ada kawan mana ingin memberi petunjuk ?” beruntun dia tanya tiga kali namun tiada reaksi.

Untunglah pada saat itu, dari arah sungai diseberang restoran ini berkumandang tetabuhan musik yang merdu. Dua lelaki perlente itu segera berkaok lantang : “Tuan-tuan tamu harap siap naik keatas kapal.”

Segera orang aneh berseru : “Betul kami pun harus lekas naik kapal.”

Cia Ing-kiat menyurut mundur, tapi sekali ulur tangan orang aneh itu sudah menangkapnya serta diseretnya naik ketangga.

Seperti tidak sadar Cia Ing-kiat ikut main keatas loteng, ternyata bagian yang menghadap kesungai tidak berdinding, hanya dipagari kayu ukiran, selayang pandang panorama dipermukaan sungai tampak jelas. Sebuah kapal besar tampak sedang berlaju ke-arah restoran berloteng ini, obor tampak menerangi kapal besar yang bertingkat dua itu, tetamu busik mengalun dari atas kapal. Hanya sekejap kapal besar itu sudah dekat, dari buritan kapal “wut” meluncur segulung tambang sebesar jari kelingking. Panjang tambang kecil ini adalab lima tombak, ujungnya dipasang gantola besi, “Trak” dengan tempat gantolan itu menancap dipagar loteng kapal tidak maju lebih dekat malah mulai menyurut kebelakang, seningga tambang kecil itu ketarik kencang dan lurus, namun pagar loteng itu amat kokoh, kuat menahan tarikan kapal besar yang tentunya sudah menurunkan sauh.

Belasan orang bekerja serempak menurunkan beberapa jangkar, sehingga kapal itu tidak bergeming walau terbawa oleh arus di-tengah sungai. Ternyata kecuali jangkar itu puluhan pendayung juga siap bekerja, padahal kapal sebesar itu, daya layu air juga cukup deras, kalau para pendayung kapal yang tidak kelihatan itu tidak memiliki tenaga dan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terlatih baik tak mungkin mereka kuat menahan kapal sebesar itu ditengah arus yang deras itu.

Diam-diam mencelos hati Cia Ing-kiat, entah siapa pemilik kapal besar itu, bahwa dia mampu mengundang sekian banyak orang orang kosen tentu orang itu seorang kosen yang disegani.

Tengah Cia Ing kiat melamun, tampak delapan lelaki gagah dengan seragam biru muda berdiri didua samping lalu tarik suara bersama: “Silakan para tamu naik kekapal.”

Jarak kapal itu dari loteng restoran ada lima tombak, hanya tambang kecil itu sebagai penghubung, namun mereka berteriak lantang mempersilakan para tamu naik ke atas kapal, jelas hendak menguji Kungfu para tamu yang diundang. Belum habis teriakan kedelapan orang itu, tampak dua orang sudah melompati pagar, mereka bukan lain adalah kedua orang cacad yang bertemu dengan Cia Ing-kiat digang sempit kotor dalam kota tadi.

Sambil melompat keluar kedua orang cacad itu berseru : ” Orang cacad kurang leluasa bergerak adalah pantas kalau kami berjalan lebih dulu.” sambil mengoceh mereka sudah naik keatas tambang, diatas tambang kecil itu mereka berjalan seperti terbang, hanya sekejap sudah berada diatas kapal, delapan orang diatas kapal serempak membungkuk menyambut kedatangan mereka.

Menyusul tampil seorang bertubuh kecil pendek, keadaannya serba aneh, berpakaian serba merah seperti api, mulut lancip tulang pipi menonjol, serunya sambil melompat keatas: “Mumpung diundang untuk menyaksikan keramaian, kenapa harus disia-siakan kesempatan baik.” sambil mengoceh orang aneh inipun bergerak lincah mumbul keatas, sekali lompat dua tombak, bila tubuhnya aujlok kebawah, ujung kakinya menutul diatas tambang, tubuhnya lantas melesat pula kedepan lebih jauh, bila sekali diulang pula-maka diapun sudah turun diatas kapal. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebagian besar tamu-tamu yang hadir diatas restoran kenal orang aneh ini, dia adalah Hwe-pian hok (kelelawar api) Ji Gi, tokoh lihay dari aliran sesat, Ginkang yang diperlihatkan didepan umum tadi memang luar biasa.

Setelah Hwe-pian hok, menyusul beberapa orang sudah menyebrang kesana lewat tambang yang terentang kencang itu, akhirnya orang aneh itu menarik Cia Ing-kiat dan berkata: “Mari sekarang giliran kami naik keatas kapal, mencari tempat baik untuk melihat panorama disungai.”

Begitu ditarik tanpa kuasa Cia Ing-kiat ikut melesat kedepan, tepat kedua kaki orang aneh menginjak tambang, tubuhnya berpantul dua tombak kedepan, karena dipegang orang aneh walau dia berdiri jajar dengan orang aneh itu, namun kedua kakinya terapung ditengah udara, setelah dua tombak meluncur kedepan, kebetulan mereka berada ditengah tambang, didengarnya orang aneh itu berkata lirih:”Bocah kurang ajar berani kau mempermainkan aku ya,”

Berdebar jantung Ing kiat. katanya gugup “Siapa suruh kau main sembunyi, asal-usul-pun kau rahasiakan kepadaku?”

Mendadak orang aneh itu tertawa panjang, suaranya mengguntur tangannya yang memegang lengannya mendadak dilepas. Kontan Cia Ing kiat menjerit kaget, badannya sudah melorot kebawah jatuh ketengah sungai. Tinggi tambang itu ada setombak lima enam kaki dari permukaan air, begitu tubuhnya anjlok kebawah, lekas Cia Ing-kiat menarik napas serta memancal kedua kaki sehingga tubuhnya terangkat beberapa kaki. sayang Ginkangnya belum terlatih sempurna, hanya sekali mumbul tak kuasa meneruskan gerakan selanjutnya, maka tubuh yang mumbul itu kembali meluncur kebawah. Bukan Cia-Ing-kiat saja yang menjerit kaget waktu tubuhnya meluncur kebawah, orang-orang diatas kapal dan diatas restoran juga bersuara kaget, padahal tak sedikit diantara mereka adalah orang-orang kosen. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kejadian hanya sekejap saja, mendadak tampak badan orang aneh itu mengendap turun kebawah, Padahal dia berdiri lurus diatas tambang, tambang ditarik kencang dan lurus oleh kapal, begitu badan orang aneh itu mengendap kebawah. bukan tambang putus, atau pagar restoran patah, tapi kapal besar itu ketarik maju tujuh kaki, sehingga tambang itu melengkung turun, orang aneh itu itu tetap berdiri diatas tambang, sekali raih, kebetulan dia samber lengan Cia Ing-kiat yang sudah meluncur ke permukaan air seperti nelayan meraih ikan dalam jalanya.

Dikala kapal terseret maju tujuh kaki karena orang aneh mengendap turun terjadilah keributan ditingkat terbawah dari kapal besar, para pendayung berteriak kaget dan gempar, serempak puluhan dayung bergerak sehingga kapal menyurut mundur pada posisi semula, sementara itu orang aneh itu sudah mengempit Cia Ing-kiat meluncur kedepan seperti tidak terjadi apa apa, pertunjukan Ginkangnya yang mempesona orang dianggap sepele saja, kejap lain dia sudah melompat turun diatas gladak. Entah berapa banyak orang menyaksikan pertunjukan yang mendebarkan barusan sesaat suasana menjadi hening, semua terpesona dan melongo.

Jikalau ujung gantolan tambang kecil itu tidak tertancap dipagar layu diatas loteng, tapi terikat diatas batu besar yang kokoh, dengan tenaga dalam yang hebat, mungkin tidak sedikit hadirin yang berkepandaian tinggi mampu mengendap turun sehingga tali melengkung kapal terseret maju, tapi tali tambang itu hanya menancap dipagar yang mungkin bisa somplak roboh atau patah, pagar tidak bergeming, kapal besar itu malah yang terseret kedepan, betapa hebat cara penggunaan tenaga dalamnya sungguh mengagumkan dan belum pernah terjadi selama ini.

Begitu mendarat diatas gladak, langsung orang aneh menuntun Cia Ing-kiat masuk ke dalam kabin, sekelilingnya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masih sunyi, sesaat kemudian baru terdengar seorang ngakak dan berseru.”Syukur hari ini benar benar terbuka mataku.”

Ditengah pujian orang diatas kapal sini, tampak Pak-to Miseng sudah melangkah keluar dari balik pagar, sebelah kakinya menginjak tambang, melihat gayanya dia seperti sengaja berjalan dengan kaki satu dan berlompatan seperti anak kecil yang bermain petak petak namun hanya sekejap dia sudah berada ditengah tambang.

Pada saat itulah mendadak seorang tertawa dingin, katanya:”Apa-apaan melucu yang tidak lucu.”

Pak-to Suseng sebetulnya terus melompat kedepan, bila mendengar jengeknya sinis ini segera dia berhenti tapi tidak membalik badan.

Orang banyak menoleh kearah datangnya suara, tampak seorang pemuda dengan pakaian perlente dengan wajah yang amat pucat sudah melesat terbang hinggap diatas tambang. Begitu cepat dan enteng gerakan pemuda ini, hanya sekali berkelebat tubuhnya meluncur dari restoran tahu-tahu hinggap dua kaki dibelakang Pak-to Suseng, setelah berdiri kembali dia berkata sinis : “Harap memberi jalan.”

Pemuda pucat ini muncul secara mendadak, tiada yang kenal siapa dia sebenarnya karuan hadirin melongo. Hanya Cia Ing-kiat yang sudah diseret kedalam kabin oleh orang aneh itu berdebar jantungnya setelah melihat pemuda ini. karena dia bukan lain adalah Siau-pocu dari Kim hou-po.

Setelah Cia Ing kiat mencari tempat duduk didalam kabin bersama orang aneh hidangan segera disuguhkan, orang aneh itu terus sibuk gegares makanan didepan matanya, bila Cia Ing kiat saksikan Siau-pocu muncul, orang aneh mendadak berkata “Pak-to Suseng kau pernah melihatnya, kenapa kau masih begini ketakutan kepadanya ” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tersirap darah Cia Ing kiat. dia tidak habis mengerti, bagai mana orang aneh ini tahu kalau hatinya takut? Sesaat selelah hatinya tenang baru dia menjawab: “Siapa bilang aku takut.”

Ujung mulut orang aneh bergerak melengkung keaias, kepalang menoleh keluar-Waktu itu Pak-to Suseng tetap berdiri tanpa membalik tubuh, katanya tertawa ramah “Ya, jalanku lambat.silakan tuan jalan lebih dulu.” habis bicara mendadak tubuhnya miring ke-pinggir, telapak kaki masih menempel tambang sementara tubuhnya sudah melintang miring disejajar dengan permukaan air sungai.

Dalam keadaan demikian, bila di belakang ada orang hendak mendahului jalan, secara mudah orang akan melangkah lewat, barusan Siau-pocu minta jalan, maka dia segera menyiigkir memberi jalan.

Seluruh penonton, entah yang berada di kapal besar atau diloteng restoran semua menahan napas dengan jantung berdebar, semua ingin melihat bagaimana pemuda muka pucat akan menghadapi situasi yang serba sulit ini. Karena banyak hadirin tahu, badan Pak-to Suseng miring berarti sudah memberi jalan, tapi bila pemuda ini lewat disamping Pak-to Suseng, namun tidak mengalami cedera oleh serangan Pak to Suseng, jelas kejadian yaug tidak mungkin terjadi. Maka hadirin menunggu bagaimana si pemuda akan menghadapi serangan Pak-to Suseng nanti.

Dalam kalangan Bulim sudah terlalu sering dan merupakan kejadian logis bila terjadi bentrokan hanya karena persoalan kecil yang tak berarti, setiap insan persilatan pesti pernah mengalami suka duka seperti itu. Pada hal kedua orang ini sama-sama berada diatas tambang kecil, bagaimana mereka akan bergebrak ?

Disaat seluruh penonton membelalak dengan pandangan takjup, didalam kabin kapal besar, orang aneh menyentuh lengan Cia Ing-kiat dengan ujung sikutnya, katanya perlahan : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

“Siapakah nona yang berdandan laki-laki itu ? Dia keracunan secara aneh.”

“Mendengar keracunan dan berdandan laki-laki.” sungguh kejut Cia Ing-kiat bukan kepalang. Siau-pocu dari Kim-hou-po memang benar adalah gadis yang berdandan laki-laki bahwa dia keracunan merupakan rahasia, boleh dikata hanya dirinya saja yang tahu. bagaimana orang aneh ini bisa tahu ?

Sebelum Cia Ing-kiat menjawab, tampak Siau pocu diatas tambang sudah merangkap tangan dan berkata dingin : “Terima kasih.” sembari bicara kakinya melangkah setapak kaki kanannya sudah melangkahi kedua kaki Pak-to Suseng yang menginjak miring diatas tambang, tapi kaki kiri masih ketinggalan di belakang Pada saat itulah, tubuh Pak-to Suseng yang melintang miring diatas lambang itu mendadak mencelat mumbul keatas-Perobahan terjadi amat cepat, kejadian hampir berbareng dengan langkah setapak Siau-pocu, kenyataan bentrokan tak bisa dihindari lagi, tampak kedua alis Siau-pocu terangkat, “Blang” benturan keras terjadi, tubuh Pak-to Suseng menumbuk tubuh Siau-pocu dengan keras.

Sungguh mengejutkan bunyi dari benturan tubuh kedua orang ini, seumpama dua balok besar yang kosong tengahnya dipalu keras dengan martil raksasa, disusul tubuh keoua orang mencelat minggir kekanan dan kekiri.

Belum sempat para penonton bersorak memuji, tampak tubuh kedua orang sudah membal balik keatas pula dan “Blang” terjadi benturan lebih keras dari benturan yang pertama.

Setelah benturan kedna, tubuh mereka kembali tertolak balik kedua arah, tampak wajah Pak-to Suseng mendadak berobah merah seperti diselubungi kabut tebal.

Dua orang menyelinap keluar dari balik pintu kabin diatas kapal besar, sambil meluncur mereka berteriak: “Diharap para tamu tidak bentrok dan saling bermusuhan di sini” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suara kedua orang yang melesat keluar ini yang satu melengking tinggi yang lain sember serak dan rendah, namun suara mereka berpadu menembus mega. Maka hadirin segera melihat jelas kedua orang yang meluncur keluar ini laki dan perempuan, yang laki adalah Thi-jan Lojin, yang perempuan bukan lain adalah Gin koh.

Tapi baru saja mereka melesat keluar, belum habis mereka bicara, diatas tambang sudah terdengar “Blang” sekali lagi, untuk ketiga kalinya Pak-to Suseng dan Siau pocu beradu, suara benturan ketiga itu ternyata menekan teriakan Thi-jan Lojin dan Gin-koh yang kumandang itu.

Akibat dari benturan keras yang ketiga kali ini tubuh Pak to Suseng tampak mencelat miring keatas, kakinya lepas dari jajakan tambang. Dikala tubuhnya terapung di-udara, muka yang membara merah seketika berobah pucat, jelas didalam benturan adu kekuatan tenaga dalam diatas tambang itu dia terluka cukup parah.

Pak to Suseng terkenal diseluruh jagat, tiada insan persilatan yang tidak segan dan kagum kepadanya, ternyata didalam adu kekuatan tenaga dalam sekali ini dia kecundang oleh seorang lawan yang berusia muda belia, karuan penonton terpesona dan kaget terbeliak.

Tubuh Pak-to Suseng meloncat miring delapan kaki, tubuhnya meluncur turun, jelas bakal kecemplung sungai. Maka terdengarlah dua suitan panjang yang nyaring dari arah loteng restoran, suara suitan ini bagai pekik bangau sakti diangkasa, dua sosok bayangan menubruk kearan Pak-to Suseng yang sudah terguling kebawah, begitu tangan mereka meraih, seorang satu lengan mereka pegang tangan pak-to Suseng.

Daya luncuran kedua orang ini ternyata cukup kuat, meski ditengah udara sudah memegang lengan Pak-to Suseng, tubuh mereka masih terus meluncur kedepan laksana meteor mengejar rembulan. Kejadian sesingkat kilat menyambar Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diangkasa, setelah ketiga orang itu meluncur turun dan hinggap diatas gladak kapal baru hadirin malihat jelas, kedua orang penolong Pak-to Suseng seorang adalah Oh-sam Siansing. seorang lagi bertubuh kurus lencir dipunggungnya terselip sebatang tombak trisula terbuat dari emas yang mengkilap. Panjang Kim-ki atau tombak trisula ini ada tiga kaki, namun berbeda dengan senjata umumnya, gagang dan ujung tombak yang tiga sula itu ternyata teramat kecil dan lembut, besarnya kira kira sama dengan dupa, kelihatannya sekali bentur patah, hakikatnya tidak setimpal untuk dibuat gaman.

Tapi begitu orang ini muncul, banyak orang lantas mengenalnya, terutama tombak tri sula yang terbuat dari emas itu merupakan gaman terlihay dan tiada bandingannya dari berbagai jenis senjata diluar kalangan yang ada dikolong langit ini, entah betapa banyak jago kosen Bulim yang pernah di-kalahkan oleh senjata ampuh ini. orang ini bukan lain adalah majikan tujuh puluh dua pucak di Tong thian yang terkenal dengan julukan Kun ki-sian-khek.

Begtu Oh-sam Siansing dan Kim-kin sian-khek berhasil memapah Pak-to Suseng, segera mereka ulur sebelah tangan menekan dada Pak-to Suseng, yang lain menekan punggungnya, serempak mereka bergerak menghampiri Thi-jan Lojin dan Gin-koh. Tersipu Thi-jan Lojin dan Gin-koh membalik tangan mendorong daun kabin sambil menyurut mundur memberi jalan, sehingga ketiga orang ini langsung melangkah kedalam kabin.

Setelah benturan ketiga, wajah Pak to Suseng yang membara seketika menjadi pucat badan dan mencelat, maka hadirin tahu bahwa dia pasti terluka parah. Apakah Oh-sam Siansing dan Kim-ki-sian-kek mampu menyembuhkan luka luka dalamnya, hadirin tiada yang berani memastikan.

Kejadian ini ternyata menimbulkan kegemparan, orang-orang yang sudah siap berderet dipinggir pagar siap Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyebrang lewat tambang tanpa berjanji menyurut mundur kebelakang. Agaknya mereka cukup tahu diri, bila mereka ikut naik kapal dan tiba ditempat tujuan, entah peristiwa apa pula yang bakal terjadi, insaf kepandaian sendiri tidak becus, kuatir jiwa keserempet bahaya, mundur teratur adalah cara yang terbaik.

Maklum kejadian beruntun adalah Oh-sam Siansing bergebrak dengan Hu-lo Popo, kelihatannya Oh-sam Siansing kecundang. kini seorang pemuda yang tidak dikenal ternyata mampu melukai Pak-to Suseng yang tangguh ini, lalu siapa berani tanggung, bila kejadian selanjutnya tidak lebih mengejutkan ?

Disaat kegaduhan terjadi diatas restoran, Siau-pocu dari Kim hou-po sudah beranjak keatas gladak Thi-jan Lojin dan Gin-koh pernah merasakan sendiri betapa lihay pemuda ini tapi mereka juga tidak tahu asal usulnya.

Sekilas kedua orang ini saling pandang, lalu dengan seri tawa mereka menyongsong maju Gin-koh menyambut: ” ternyata tuan juga ingin ikut keramaian, tapi sepantasnya tidak membuat onar di sini, mohon sudilah memberi muka kepada tuan rumah,”

Siau pocu mendengus, ia tanya: “Aku minta dia memberi jalan, dia boleh menolak, kenapa setelah menyingkir malah membokong aku ?”

Bungkam mulut Thi jan Lojin dan Gin-koh, mereka tak bisa membantah, sementara Siau-pocu melangkah maju lewat depan mereka.

Cia Ing-kiat yang duduk bersama orang aneh dalam kabin, belum lagi sempat menjawab pertanyaan si orang aneh, namun kejadian diluar dugaan beruntun telah berlangsung.

Begitu Thi-jan Lojin dan Gin-koh muncul, hati Cia Ing-kiat sudah heran, kenapa urusan di sini bersangkut paut pula dengan kedua orang ini? Dari sikap dan nada bicara mereka Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lagaknya sebagai wakil tuan rumah, lalu siapakah “tuan rumahnya” . Sekilas terasa oleh Cia Ing kiai,adanya mereka samar-samar dalam benaknya, tapi begaimana sebetulnya persoalan ini? Dia tidak mampu menjelaskan.

“Lekas katakan,” orang aneh mendesak dengan suara lirih, “siapakah nona ini? ” matanya melirik tajam

Cia Ing-kiat sudah buka mulut, tapi dia waktu angkat kepala, dilihatnya Siau-pocu sudah melangkah masuk. Cia Ing-kiat terlongong dikursinya, Siau-pocu menekuk wajahnya yang pucat, langsung dia beranjak menghampiri dirinya.

Meja di mana Cia Ing-kiat dnduk berhadapan dengan orang aneh sisi sebelahnya mepet dinding kabin, kebetulan meja ini cukup untuk duduk tiga orang, setiba didepan meja, lengan baju Siau-pocu mengebas sekali menyeret mundur kursi lalu berduduk.

Bukan saja jantung Cia Ing-kiat berdetak keras, orang aneh itupun menampilkan rona heran dan tanda tanya dalam sorot matanya. Celakanya Siau-pocu melirikpun tidak kepada orang aneh, sepasang bola matanya yang bening seperti dapat menembus isi hati orang yang dipandangnya mengawasi Cia Ing-kiat.

Jantung Cia Ing-kiat seperti hendak mencelat keluar, telapak tangan basah oleh keringat dingin, sesaat lamanya Siau-pocu mengawasinya, lalu berkata: “Agaknya Lwekangmu sudah mendapat banyak kemajuan.”

Semula Cia Ing-kiat menyangka karena dirinya sudah merias muka dalam bentuk lain.

Siau-pocu belum tentu mengenal dirinya, namun setelah mendengar pujian orang, rasa takut semula bertambah ngeri, tubuhnya dingin seketika, katanya dengan tertawa dipaksakan: “Apa iya, Aku sendiri kok tidak tahu.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau-pocu menatap Cia Ing-kiat sekian lama pula, sekian lama dia tidak bersuara.

Sementara itu keributan masih berlangsung disebrang, diloteng restoran suara orang saling bentak. Ternyata anak buah Liong-bun-pang yang memikul tandu sedang berusaha menyebrangi tambang kecil juga, naga-naganya Pangcu Liong-bun-pang yang misterius iiu tetap tak mau keluar menunjukan tampangnya.

Dibelakang tandu Liong-Pun Pangcu, tak sedikit pula orang-orang Bulim yang beruntun naik kekapal, ada yang melompat berjangkit, ada yang melesat terbang ada pula yang jalan pelan-pelan seperti pemain akrobatik. Hati Cia Ing-kiat sedang kalut, maka dia tidak berhasrat memperhatikan keadaan di luar,

Karena tatapan mata Siau pocu yang dingin setajam pisau mengawasi dirinya.

Hanya orang masih bersikap tak acuh dan berulang dia cengar cengir, tapi Siau-pocu tidak pernah menoleh kepadanva. Mendadak Orang aneh berkata: “Nona, orang yang dahulu mencelakai kau sungguh seorang yang culas dan kejam.”

Tergetar sekujur badan Siau-pocu, mendadak dia menoleh dengan tatapan mendelik, desisnya: “Siapa kau?”

Orang aneh itu membentang kedua tangan tanpa menjawab pertanyaannya, Karuan berobah pucat muka Siau-pocu, mendadak tangannya terulur, dengan tiga jari tangannya dia sudah menindih pergelangan tangan orang aneh, sorot matanya berkilat dingin cukup menakutkan.

Melihat Siau pocu mendadak bertindak, gerakannya laksana samberan kilat, karuan Cia Ing-kiat kaget sekali. Tidak sedikit jago kosen yang hadir di sini, namun dinilai taraf kepandaian mereka, kedua orang ini adalah yang paling top, bila kedua Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jago top ini bergebrak didalam kabin, yakin kapal ini bisa dibikin hancur lebur

Waktu Siau pocu menekan pergelangan tangan orang aneh, tangannya sedang pegang sumpit dan terulur hendak menyumpit sekerat daging, tangannya seketika terhenti di udara, namun sikapnya tetap wajar, katanya: “Jangan bergebrak di sini, aku ingin menjelaskan.”

Jari Siau-pocu tetap mengancam urat nadi dipergelangan tangan orang aneh, Cia Ing-kiat tahu. urat nadi lawan sudah terancam, dirinya berada diatas angin, sudah tentu Siau-pocu tidak mau menarik balik jarinya, kata siau-pocu dingin: “Dari mana kau tahu kalau aku keracunan ?”

Orang aneh itu tertawa, katanya : “Bila yang menaruh racun dulu aku. dua tahun yang lalu kau sudah mati dengan tubuh kering, pasti takkan bisa hidup sampai sekarang. Orang yang meracuni kau belum mahir menggunakan racunnya, tapi juga sudah lumayan maka kuduga orang itu adalah Tocu (pemilik pulau) Hek-kiau-to di lautan timur, betul tidak ?”

Mengikuti penjelasan orang aneh, rona muka Siau-pocu ikut berobah setelah orang aneh selesai bicara, Siau-pocu segera lepas tangan dan menurunkannya dibawab meja.

Orang aneh berkelak tawa, tangan yang terhenti ditengah udara langsung bergerak maju menyumpit sekerat daging menjangan langsung dia jejalkan ke mulut lalu dikunyah dengan lahap, baru daging tertelan tangannya sudah sibuk meraih cangkir serta meneguk arak, padahal daging menjangan dalam mulutnya belum ditelannya habis, namun mulutnya sudah mengoceh kurang jelas : “Aneh pada hal kau baru genap dua puluh. Hek-kiau-to cu, umpama belum mati, sekarang sedikitnya sudah berusia delapan puluh. ada permusuhan apa dia dengan kau “

“Dia sudah mati.” ujar Siau-pocu tandas. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang aneh mengangguk, katanya: “Pernah kudengar, selama hidupnya Hek-kiau tocu hanya membenci satu orang, orang itu dibencinya sampai ketulang sungsum, nona cilik, apa kau kau adalah………”

“Cukup tak usah dilanjutkan,” segera Siau-pocu menukas sambil berjingkrak berdiri.

Orang aneh mendongak mengawasi Siau-pocu, katanya perlahan: “Kalau demikian, baiklah aku memanggilmu nona Lui, pasti tidak salah lagi.”

Sekian saat Siau pocu berdiri menjublek, akhirnya dia manggut, katanya sambil duduk: “Aku bernama Lui Ang Ing”

Orang aneh angkat kedua alisnya, kembali dia minum arak dengan lahap tanpa ber-bicara lagi.

Kabin kapal itu amat besar dan luas, penuh meja kursi yang kini sudah diduduki orang mereka sibuk berbincang persoalan masing masing, hanya beberapa meja disekitar mereka yang masih kosong belum diduduki orang.

Maklum siapa yang tidak gentar berhadapan dengan Hu-lo Popo, maka tiada orang berani duduk didekatnya apalagi di tengah mereka ketambah Siau-pocu yang kosen dari berhasil membikin Pak-to Suseng terluka parah. Karena itu percakapan ini diantara orang aneh dengan Siau pocu orang lain tiada yang mendengarkan. Hanya Cia Ing-kiat saja yang mendengar jelas seluruhnya.

Cia Ing-kiat tidak bisa menimbrung bicara, karena apa yang dibicarakan ada yang dia tahu, tapi ada juga yang tidak diketahui. Hek-kiau to cu yang diucapkan orang aneh hakikatnya belum pernah didengar oleh Cia Ing kiat, entah tokoh macam apakah dia ?

Tapi dari percakapan ini, Cia Ing-kiat lebih tahu banwa orang aneh ini berpengalaman dan luas pengetahuan, hanya sekali pandang lantas tahu orang keracunan, keracunan jenis Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

apa pula, diapun tahu siapa yang melakukan kejahatan, dari sini dia menebak pula asal-usul Siau pocu.

Setelah asal usulnya terbongkar, ternyata Siau-pocu memberitahu namanya kepada orang aneh.

Agak lama orang aneh melenggong, lalu dia mendesis suara mengulang nama Siau pocu, katanya:”Lui Ang-ing. eh. ayahmu memberikan nama ini kepadamu, ternyata memang mengandung maksud yang mendalam.”

Lu Ang ing hanya menarik alis tanpa bersuara. Mumpung ada kesempatan Cia Ing-kiat, segera menyeleiuk: “Nona Lui.”

Lui Ang-ing menoleh, katanya: “Kenapa kau membuat kelakar ini kepada Cianpwe ini ?”

Cia Ing-kiat serba runyam. Tapi orang aneh itu berkata: “Tidak jadi soal, memangnya aku tak tahu apa? Jangan salahkan dia.”

Lekas Cia Ing-kiat berkata: “Kalau aku tidak merobah dia jadi Hu-lo Popo, yakin nona Lui juga pasti tidak akan kenal padaku, betul tidak?”

Lui Ang-ing tidak menjawab, hanya alisnya bertaut.

Orang aneh berkata: “Nona Lui, sejak empat puluh tahun yang lalu, aku pernah bertemu sekali dengan ayahmu. Aneh. setelah ayahmu diracun orang. kenapa dia tidak mencariku? Atau dia tidak bisa menemukan aku?”

Waktu orang aneh melontarkan kata-katanya sikapnya tetap wajar, tapi Lui Ang ing sudah berobah air mukanya, teriaknya tertahan

“Jadi kau, kau……”hanya tiga patah kata saja yang terlontar dari mulutnya.

Orang aneh itu masih tetap gares hidangan diatas meja, katanya ; “Ayahmu pasti pernah mencari aku. Sayang sekali waktu itu akupun dicelakai orang, jiwaku sendiri juga Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diambang maut, sudah tentu dia takkan bisa menemukan aku.”

“Betul,” ucap Lui Ang-ing, “sembilan kali beliau masuk kepedalaman Biau-kiaug-mencari jejakmu, tapi selalu gagal”

Orang aneh angkat kepala, katanya :

“Sebetulnya umpama dia menemukan aku juga tak berguna, keadaanmu sekarang cuma sering berabe, jiwamu jelas takkan putus seketika “

Sikap Lui Ang-ing kelihatan prihatin dan masgul. dia angkat kepala melihat cuaca diluar jendela, hatinya kelihatan rawan dan sebal.

Sebetulnya masih banyak orang yang berjubel diatas restoran, tapi mereka tidak berminat naik keatas kapal. Dua laki-laki bersama menyendal lalu menarik tambang bersama, gantolan yang menancap diatas pagar disebrang terlepas dan mencelat balik maka puluhan penggayuh serempak bekerja dibawah satu aba-aba. Kapal besar itu melaju dipermukaan air mengikut arus sungai. Lekas sekali kapal itu sudah jauh meninggalkan kota tadi.

Lui Ang-ing dan orang aneh tiada yang buka suara, Cia Ing-kiat juga kehabisan bahan untuk ajak mereka bicara, terpaksa dia memandang panorama disepanjang perjalanan.

Sungai ini memang besar dan luas makin jauh makin besar, seolah olah kapal mereka sedang berlayar ditengah lautan, hanya beda nya air disini kuning keruh, arus air disini juga jauh lebih lamban, sementara kapal terus maju mulai membelok kekiri mengikuti dinding karang yang curam dan tinggi.

Dinding karang itu kelihatannya dekat, namun setelah kapal itu menikung, kini mulai memasuki sebuah selat yang diapit dua dinding karang yang terjal. Padahal waktu itu sudah menjelang fajar. Ditengan keremangan cuaca tampak dinding Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

karang itu penuh ditumbuhi akar rotan yang belit membelit hingga mirip pohon beringin besar bergelantung setinggi ratusan tombak hingga menyentuh air sepintas pandang tak ubahnya sebuah air terjun raksasa yang menakjupkan pandangan.

Diatas pohon-pohon rotan itu hidup beratus ribu kera atau orang hutan berbulu emas, mereka tampak santai bergelantung dan berlompatan dari dahan yang satu kedahan yang lain agaknya mereka sedang menunggu terbitnya sang surya ambil berceloteh. Cepat sekali sinar surya yang pertamapun menyorot kepucuk selat, bulu kera yang emas itu menjadi kelihatan menyolok ditengah sinar mentari, pemandangan yang indah menakjupkan mempesona Cia Ing kiat.

Soalnya pemandangan didepan mata memang amat ganjil dan menakjupkan, maka kapal besar itu dicekam kesunyian, semua tertarik oleh pandangan yang serba aneh dan ganjil tanpa terasa kapal telah laju puluhan tombak kedepan meninggalkan selat, laju kapal lebih cepat lagi. sekarang baru diantara penumpang menjerit kaget, karena bila kapal ini tidak segera dihentikan akan menumbuk dinding karang yang menghadap didepan.

Padahal jarak kapal dengan dinding karang didepan tinggal beberapa tombak saja mereka yang berhati gugup dan bernyali kecil sudah lompat berdiri dan menjadi ribut semula siap melompat keluar mencapai akar-akar rotan bila kapal ini betul-betul menabrak karang dari pada terjungkal jatuh kedalam air, kemungkinan jiwa melayang menjadi umpan ikan.

Untunglah pada saat yang pening itu salah seorang penyambut tamu herusia setengah umur itu berteriak lantang:”Harap para tamu duduk tenang tidak ribut.”

Mereka yang sudah berdiri tengah beradu pandang, kera-kera bulu emas diatas rotan menjadi ribut dan berceloteh Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

serta manjat lebih tinggi, kapal sudah menyentuh akar rotan yang menyerupai tirai menyentuh air, namun tidak terjadi tabrakan yang keras seperti diduga orang banyak, haluan kapal malah sudah menembus kedalam dan hanya sekejap meluruh kapal sudah menyelinap kedalam pandangan mendadak menjadi gelap, ternyata kapal sebesar itu seluruhnya sudah masuk kedalam sebuah gua raksasa.

Baru sekarang orang banyak sadar bahwa mereka memang terlalu berkuatir tanpa alasan.

Ternyata diatas dinding karang itu terdapat sebuah lobang raksasa, namun mulut lobang di rambati penuh akar rotan hingga menyerupai kerai yang tumbuh secara alam, pada hal mulut gua amat tinggi lebar, jangan kata hanya sebuah kapal, sekaligus tiga kapal besar yang sama masuk kedalamnya juga bisa laju berjajar.

Di sana sini orang menghela napas lega, mereka yang berdiri duduk kembali, kapal besar ini laju lebih cepat didalam gua, hanya sekejap bila menoleh kebelakang, mulut gua itu menjadi kecil, kapal sudah ratusan tombak jauhnya, tapi melihat kedepan keadaan gelap gulita, seperti tidak berujung. Lampu gantung sudah dipasang diatas kapal hingga keadaan seterang siang hari, tampak lucu dan aneh-aneh mimik muka hadirin.

Diam diam Cia Ing-kiat memperhatikan, sejak naik kekapal ini, hakikatnya tiada seorangpun yang pernah menyapa atau menoleh kearah mereka bertiga, agaknya mereka sengaja menyingkir atau menjauhkan diri, jelas mereka takut kena perkara, Pada hal jago-jago silat yang benar-benar kosen juga tidak berada dalam kabin ini. Maka Cia Ing-kiat hanya tertawa getir dalam hati, kalau suruh dia memilih, dia lebih senang semeja dengan Oh-sam Siansing atau Pak-to Suseng, celakanya sekarang dia tak bebas dan tak mungkin bisa menyingkir dari hadapan orang aneh dan Lui Ang ing. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Karena tiada bahan bicara Cia Ing-kiat hanya menunduk atau sekali tempo melongok keluar, namun diam-diam terasa olehnya, sorot pandangan Lui Ang-ing agak ganjil bila mengawasi dirinya. Dalam setengah malam ini hatinya sudah tak karuan rasanya, siapa sebetulnya orang aneh ini, dia tak perlu memikirkannya lagi, tapi kenapa Lui Ang-ing juga datang?

Keadaan Kim-bou-po serba misterius, banyak hal-hal yang menakutkan di sana seperti baru saja dialaminya. Apalagi bila dia terbayang betapa dirinya disiksa dengan Hun-kin-jo-kut-jiu oleh Lui Ang-ing dibiara bobrok tempo hari, mau tidak mau dia tetap bergidik seram, tulang tulang tubuhnya seperti copot berkeretekan

Sekarang orang misterius yang menakutkan itu berada disampingnya, walau dia yakin orang tidak bermaksud jahat lagi, tapi kenapa orang justru memilih tempat disampingnya?

Makin lama Cia Ing kiat makin risi, seperti duduk diatas jarum, terbayang akan kematian sang ayah, terbayang sebelum dirinya menyelundup kedalam Kim-hou-po, selalu dia berkecimpung di Kangouw sebagai Siau cengcu Kim liong ceng, di mana dia berada selalu mendapat sambutan dan pujian yang layak, waktu itu dia beranggapan dunia memang besar tapi juga begini saja, sekarang bila mengenang masa lalunya, sungguh pengalaman dirinya dulu terlalu kerdil dan cupat- Tanpa terasa Cia Ing-kiat tertawa getir sendiri. Tengah dia melamun itulah, mendadak terkiang sebuah suara lirih lembut tapi juga hangat mesra berkata: “Apa yang kau pikirkan?”

Cia Ing-kiat melenggong. waktu dia angkat kepala, tampah wajah Lui Ang ing yang pucat dekat sekali jaraknya, sepasang matanya yang bening tajam tengah menatap dirinya. Sejat tahu Lui Ang ing adalah seorang gadis, perasaan Cia Ing kiat selalu tak karuan dan ganjil, ingin dia menyingkir dari tatapan orang, tapi jantung yang berdebar keras menyebabkan dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

blingsatan, maka jawabannya-pun tergagap: “Tidak apa-apa …. aku sedang berpikir …. akan ke mana kapal ini?”

Lui Ang ing menghela napas perlahan, mulutnya menjengkit, seperti tertawa tidak tertawa, namun rona mukanya yang pucat itu kelihaian berobah sabar dan bersemu merah

Pada saat itulah orang aneh menjawab pertanyaan Cia Ing-kiat: “Segera juga sampai ke tujuan, tak usah gelisah.”

Mumpung ada kesempatan Cia Ing-kiat alihkan pandangannya kearah orang aneh. Pada saat itu, beberapa orang dihaluan kapal terdengar berseru gembira, waktu Cia Ing-kiat menoleh, tak jauh didepan sudah kelihatan cahaya lerang. Cahaya surya menyorot masuk lewat sebuah lobang besar diatas gua, pemandangan berobah dan berbeda.

Laju kapal besar semakin lambat tak lama kemudian kapal sudah bermandikan cahaya surya.Ternyata lobang besar diatas gua itu merupakan celah gunung yang berbentuk lonjong, panjangnya ada puluhan tombak.

Diatas dinding karang terdapat ratusan undakan batu buatan manusia, tidak sedikit orang berlari turun menyusuri undakan batu karang itu, mereka terdiri laki perempuan, pakaiannya bercorak sama. tapi yang perempuan disebelah depan, dibawah cahaya matahari yang berderang, Cia Ing kiat melihat jelas, dua orang yang berlari paling depan bukan lain adalah Toa kui dan Siau-kui, dua gadis remaja yang hidup beberapa bulan di Thian-lau-hong bersama dirinya, belakangan dttengah kabut pegunungan mereka dilukai orang aneh hingga muntah darah dan lari terbirit-birit. .

Begitu melihat Toa-kui dan Siau-kui, seketika timbul rasa simpati Cia Ing-kiat teriaknya kaget: ” Ha, jadi di sini adalah Hat . . . .” dari cerita Toa-kui dan Siau-kui dia tahu bahwa majikan mereka adalah pemilik Hiat-lui-kiong. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid ke : 7

Tapi baru kata ‘Hiat’ sempat diucapkan mendadak terasa pinggang kesemutan sekujur badan seketika lunglai, maka mulut pun mengejang tak mampu bersuara. Sekilas sempat diliriknya orang aneh tengah menarik tangannya yang menutuk pinggangnya dari jarak tertentu.

Padahal jarak jari orang aneh dengan Hiat-to pelemas dipinggangnya ada tiga kaki tapi dari jarak sekian dia menutuk, dirinya sudah tak mampu berkutik lagi.

Cia Ing-kiat tahu Kungfu orang aneh atau Lui Ang-ing beratus kali lebih tinggi dibanding dirinya, maka dia tidak merasa heran, sebelum rasa linu ditubuhnya hilang, didengarnya orang aneh berkat dengan tekanan berat: “Harus selain ingat jangan banyak mulut, ikuti saja apa yang kami lakukan, tanggung kau akan melibat tontonan ramai.”

Diwaktu orang aneh bicara, terasa oleh Cia Ing kiat Lui Ang-ing juga tengah memandangnya. Maka hatinya semaki ruwet. Karena dugaannya sekarang benar, kapal ini tengah menuju Hiat-lui-kiong. Walau dia belum tahu siapa penghuni Hiat lui-kiong, tapi dia tahu bahwa Hiat-lui-kong ada hubungan yang luar biasa dengan dirinya.

Sejak kedatangan Gin-koh dan Thi-jan Lojin ke Hwi-liong keng melamar dirinya, lalu menculik dirinya secara terang-terangan selama ini pengalaman Cia Ing-kiat memang serba aneh dan ganjil, sukar di kisahkan dalam waktu singkat, namun sebab musabab dari peristiwa ini adalah pihak Hiat lui-kiong hendak mengawinkakn putrinya dengan dirinya pada hal Cia Ing kiat tidak pernah mendengar keterangan sedikitpun tentang calon istri dan keluarganya yang jelas Toa-kui dan Siau kui sering menggoda waktu dia disekap di Thian lau -hiong, maka sedikit banyak dia sudah punya gambar bahwa majikan Hiat-Iui-kiong yang memaksa dirinya kawin dengan putri. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dan sekaiang tanpa disadarinya, dirinya berada di Hiat-lui-kiong.

Hiat lui kiong mengundang jago jago kosen sebanyak ini, gelagatnya hendak merayakan sesuatu yang menggembirakan, kalau betul undangan ini untuk menghadiri pernikahan putrinya, padahal dirinya sebagai mempelai laki-laki menyamar jadi seorang kakek bercampur ditengah para tamu bukankah kejadian teramat lucu dan menggelikan?

Waktu Cia Ing-kiat angkat kepala, dilihatnya orang aneh tengah menatapnya juga, agaknya dia tahu jalan pikirannya, dengan menyengir lebar oraag seperti menggoda dirinya.

Dalam pada itu kapal besar itu sudah berhenti, orang-orang yang berlari turun dari undakan batu berdiri menjadi dua baris, Toa-kui dan Siau-kui sebagai pimpinan barisan, setiap orang berdiri disatu undakan demikian seterusnya makin tinggi.

Berbareng Toa-kui dan Siau-kui mengayun tangan, dari tangan mereka meluncur segulung tali beraneka warna diujung tali terikat gantolan besi meluncur kearah kapal besar,’ Trak, trak” kedua gantolan itu menancap atas gladak. kembali kedua gadis itu mengayun tangan, ujung tali yang lain terikat sebuah gelang kuning kemilau, tepat memasuk kedalam tonggak batu dipinggir sana. Maka Toa-kui dan Siau-kui tarik suara bersama:” Hiat-lui kiong menyambut para tamu dengan kehormatan, persilakan para tamu mendarat.’

Kalau para tamu naik keatas kapal menyebrangi tambang, kalau sekarang mereka harus mendarat lewat tali berwarna itupun tidak perlu dibuat heran. Tanpa diminta kedua kali, berbondong para tamu keatas kapal satu persatu melesat terbang diatas tali itu orang-orang yang hadir adalah jago jago silat kosen. maka mereka pamer kemahiran sendiri-sendiri diatas tali untuk mendarat. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disaat pendaratan berlangsung, diatas puncak tetabuhan musik terdengar mengalun merdu.

Melihat orang aneh dan Lui Ang-ing tidak bergerak, maka Cia Ing-kiat juga diam saja belum ada setengah jam, dalam kabin kapal besar itu tinggal mereka bertiga. Tapi dari kabin tinqkat bawah, orang masih belum selesai mendarat.

Tak berselang lama, terdengar beberapa kali suara holobis kuntul baris dari kabin tingkat bawah, ternyata beberapa anggota Li-ong-bun-pang yang memikul tandu telah beranjak naik terus menyebrang juga lewat tali berwarna itu, cepat sekali mereka sudah tiba dibawah undakan batu, padahal tandu itu dipikul dari depan dan belakang, jelas takkan bisa dipikul naik keatas.

Maka Toa-kui dan Siau kui beradu pandang,serunya bersama: ‘ Jalan pegunungan licin dan curam, mohon Liong-bun pangcu turun dari tandu naik keatas gunung.’

Para pemikul tandu seperti tidak mendengar seruan mereka, mereka tetap maju kedepan sambil mendengus bersama, empat yang didepan langsung menaiki undakan, begitu yang didepan naik diundakan, tandu itu seperti hampir terguling saja, tapi empat orang di-belakarg serempak pegang atap tandu, delapan laki laki kekar melangkah secepat terbang, tandu dibiarkan melintang, lekas sekali mereka sudah beranjak keatas.

Kaum persilatan tahu bahwa Liong bun-pang Pangcu amat misterius, asal-usul atau indentitasnya amat dirahasia, bila tidak terpaksa pasti tak mau muncul di muka umum. Seolah-olah sudah menjadi tradisi dalam kalangan mereka, setiap Pangcu yang pernah muncul didepan umum akhirnya pasti mati tak karuan parannya, karena itu jarang ada kaum persilatan yang tahu siapa pejabat Pangcu Liong bun-pang yang sekarang, dalam keadaan seperti sekarang, orang dalam tandu tetap tidak mau keluar, hingga menambah suasana lebih seram dan menimbulkan perasaan yang tidak karuan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah rombongan Liong hui-pang berada diatas undakan. maka muncullah Oh-sam, Siansing bersama Pak-to Suseng yang melesat berjajar kearah undakan, sikap mereka kelihatan serius dibelakang mereka muncul pula Thiam-lam-siang jan. Baru sekarang orang aneh berdiri dan berkata: “Sekarang giliran kami.”

Lui Ang-ing manggut, dihadapan kedua orang ini hakikatnya Cia Ing kiat tidak punya pendirian, karena kedua orang ini berdiri, terpaksa dia ikut berdiri. Walau Kungfunya tidak terlalu baik, namun tali berwarna untuk menyebrang ini sebesar kepelan bayi, untuk menyebrang keundakan batu kukan soal sulit bagi dirinya, maka dia beranjak keatas undakkan diapit oleh orang aneh dan Lui Ang-ing.

Senyum manis Toa kui dan Siau-kui menyambut mereka, agaknya mereka tidak kenal dirnya lagi, tahu kalau dirinya bersuara mungkin bisa menimbulkan banyak urusan dengan majikan Hiat-lui-kiong, maka Cia Ing-kiat diam saja, pura-pura tidak kenal mereka juga.

Undakan batu itu ada ratusan menjurus kepuncak, makin tinggi makin benderang, lama kelamaan Cia Ing kiat melongo. Waktu tinggal di Thian-lou-hong, Cia Ing-kiat sudah merasa letak puncak itu melampaui mega, kini setiba dipuncak, lautan mega juga berada disebelah bawah, selepas mata memandang puncak-puncak gunung kelihatan seperti gundukan tanah melulu. Bila dia membalik arah, puncak gunung ini ternyata datar dan lapang, berbagai jenis kembang dan rerumputan serba aneh ditanam subur, pohon tua mencakar langit, anehnya diatas itulah dibangun sebuah istana yang megah, seluruh bangunan bewarna merah sesuai batu-batu gunung yang terdapat dipuncak itu.

Kelihatannya sebuah puncak gunung telah dikerjakan oleh tangan-tangan ahli, dipacul ditatah dan dipahat pula hingga menjadi sebuah istana besar yang kelihatan angker tak heran Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bahwa istana besar itu merupakan gugusan gunung tunggal, kalau tidak menyaksikan sendiri siapa mau percaya.

Undakan batu yang dibuat tangan-tangan ahli melingkar naik keatas puncak, para tamu sedang menyusuri undakan itu naik keatas. Cia Ing kiat bertiga berada dipaling belakang Ternyata kecuali istana megah itu, didepan istana juga terdapat sebuah lapangan luas, gunung ini agaknya memang bertanah merah, maka lapangan halus didepan isiana itupun serba merah legam. Didepan istana di tanah lapangan itu beberapa orang sibuk menyambut para tamu, bila makin dekat maka mereka melihat tak jauh didepan pintu gerbang istana di pinggir lapangan berdiri sebuah batu pilar yang lebar dan tebal, diatas batu besar inilah berukir tiga huruf ”Hiat-lui-kiong” dengan gaya kuno, warna batu besar ini ternyata lebih legam dari tanah sekitarnya seperti sering disiram oleh darah.

Istana itu tampak megah dan angker, tapi juga seram membuat orang merinding, para tamu meranjak kedalam sambil menahan napas serta menunggu adegan-adegan aneh.

Mengikuti langkah orang banyak Cia Ing-kiat bertiga memasuki istana itu. akhirnya mereka tiba disebelah balairung yang besar, semua perabot yang ada di sini semua terbuat dari batu gunung setempat, maka selayang pandang pemandangan serba merah, seolah olah mereka masuk ke alam sebuah kotak raksasa yang terbuat dari darah yang sudah beku siapapun merasa risi dan tak renang.

Dalam balairung terdapat banyak batu-batu persegi yang tersebar di berbagai sudut, begitu masuk tamu tamu itu sudah lantas mencari tempat duduk sendiri-sendiri tanpa menunggu tuan rumah keluar menyilahkan mereka duduk. Orang aneh sambil tersenyum menghampiri sebuah batu lantas duduk. Orang-orang yang semula sudah duduk tak jauh disekitarnya lantas berbangkit dan pindah ternpat hingga beberapa saja kursi batu disekitar mereka kosong tanpa dihuni. Orang aneh melotot sekilas kepada Cia Ing kiat, dia hanya tersenyum getir Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja. Lekas sekali seluruh tamu yang berada dikapal sudah masuk kedalam balairung tampak Toa-kui dan Siau-kui juga memasuki balairung langsung melangkah kesebelah dalam.

Tidak lama setelah Toa-kui dan Siau-kui masuk kedalam. maka terdengar tambur dipukul keras dari istana yang cukup jauh. namun pukulan tambur itu makin keras dan berat, sehingga hadirin merasa risi, pukulan tambur itu seperti memukul pula dalam relung hati mereka.

Tak lama kemudian Thi jan Lojin dan Gin-koh muncul dari dalam, serunya sambil merangkap tangan : ”Majikan akan segera keluar, biasanya majikan jarang menemui tamu, kedatangan kalian boleh dikata merupakan kesempatan yang sukar diperoleh.”

Bermacam macam reaksi para hadirin setelah mendengar sambutan Gin-koh, ada yang merasa wajar, ada pulayang merasa kurang senang. Lain pula sikap Cia Ing-kiat yang kelihatan kaget dan heran, karena tamu-tamu yang tadi dalam balairung ini seluruhnya orang kosen. tapi nada sambutan Gin koh kedengarannya seperti ditujukan kepada angkatan muda yang baru mencari pengalaman dalam percaturan Bulim

Tapi Cia Ing-kiat juga tahu bahwa Gin-koh sendiri juga bukan tokoh sembarangan. bahwa dia sudi menjadi pesuruh yang harus pergi datang melakukan perbuatan yang serba janggal, maka dapat dibayangkan bahwa majikan Hiat lui kiong pasti seorang yang luar biasa. Di saat Gin-koh bicara, suara tambur ditabuh makin gencar, seorang laki-laki baju hitam yang sejak tadi duduk dipojok bola balairung mendadak berdiri, teriaknya lantang : ,,Siapa sebetulnya majikan Hiat-lui-kiong. manfaat apa yang akan diberikan kepada kami, kenapa tidak lekas keluar, masih main teka teki segala.”

Laki laki baju hitam ini pernah dilihat Cia Ing kiat dikota kecil itu. dia bukan lain adalah Thi-giam-lo Utti Ou, begal tunggal yang kenamaan jahat. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Terangkat alis Gin-koh, katanya : „Tuan tak usah terburu nafsu, sebentar juga majikan pasti keluar.”

Utti Ou mengawasi Gin-koh, katanya dengan tertawa : ”Manfaat apa yang akan ddiberikan oleh majikanmu, aku tidak kepingin, aku hanya ingin .. . hanya ingin……”

Sampai di sini dia tetap menatap Gin-koh sikapnya tampak kikuk dan malu-malu. Laki-laki kekar kasar dan beringas, terkenal jabat dan kejam lagi, mendadak didepan umum menunjukan sikap yang lucu begini, sungguh merupakan kejadian yaug menggelikan. Walau merasakan tatapan Utti Ou agak ganjil, namun Gin-koh tak bisa meraba jalan pikirannya, dengan tersenyum dia berkata: ”Tuan ingin omong apa boleh terus terang saja.”

Seketika Utti Ou berseri kegirangan, mulutnya terpentang lebar hingga jambang bauk selebar mukanya berdiri kaku, giginya yang ptiih bagai siung serigala tampak menggiriskan, tampangnya yang jelek tak ubahnya setan dedemit ditengah kuburan.

Setelah cengar cengir dia menuding Gin-koh, lalu katanya dengan sikap serius : „Coba lihat, aku hitam legam sekujur badan, kau sebaliknya seluruh tubuh perak kemilau, apakah kami berdua bukan pasangan yang amat setimpal ? Bagaimana kaiau kau menjadi isteriku.”

Pernyataan gamblang ini membikin hadirin melongo. Kalau ditengah suara tambur yang gencar hadirin sedang menunggu tuan rumah keluar, sekarang perhatian mereka tertuju kearah Utti Ou lalu menoleh kearab Gin koh pula, tiada seorangpun yang bersuara ternyata hadirin tiada yang merasa geli dan tertawa. Karena mereka juga sadar bahwa pernyataan Utti Ou betul-betul serius, bukan main-main.

Bagaimana watak Gin-koh juga diketahui orang banyak, maka hadirin menduga Utti Ou bakal ditabrak dan dicaci maki, meski tinggi kepandaian Thi giam lo, bila membikin jengkel Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dan malu Gin-koh, rasakan saja siksaannya. Umpama hatinya juga naksir ke pada begal tunggal ini namun dihadapan umum betapa dia mau menerima begitu saja lamarannya?

Hadirin menunggu reaksi Gin-koh, hingga mereka tidak sabar bahwa suara tambur sudah berhenti. Alis Gin-koh tampak bertaut bibirnya bergetar, sebelum dia buka suara mendadak sebuah suara lembut welas asih dari seorang nyonya tua kumandang dari dalam: Gin-koh, masa remajamu kau sia siakan sampai sekarang masih belum menikah. Syukurlah sekarang ada orang yang melamar dirimu, sungguh menyenangkan dan patut diberi selamat ” suaranya tidak keras atau bemada tinggi, namun seluruh hadirin mendengar seluruhnya

Pertama nenek tua ini menyebut nama Gin-koh kedengarannya masih jauh. namun dalam sekejap sudah dekat sekali, namun sang nenek belum juga muncul hadirin hanya melihat munculnya dua baris gadis gadis remaja yang jelita, pakaian mereka seragam putih panjang menyentuh lantai, rambut digelung di kedua sisi kepala, langkahnya lembut gemulai.

Hadirin memperhatikan suara si nenek hingga tidak memperhatikan munculnya dua baris gadis-gadis jelita itu. Hanya Cia Ing-kiat yang menaruh perhatian, dilihatnya kedua barisan gadis gadis ayu itu kembali dipimpin oleh Toa-kui dan Siau-kui, tapi dandanan mereka sudah berbeda dengan tadi.

Dua baris gadis-gadis jelita itu berjumlah dua puluh empat orang, mereka sudah berbaris dipinggir pintu, mendadak segelung angin keras mendesak tiba hingga hadirin serempak berdiri. Hanya orang aneh dan Lui-Ang-iug yang tetap duduk. Cia Ing-kiat juga hanya mengangkat pantat saja, lalu duduk pula. Saat itulah bayangan seorang berkelebat, seorang nenek perawakan tinggi lebih tinggi dari setiap laki laki yang hadir didalam balairung, rambut ubanan wajahnya bersih walas asih alispun memutih, tangannya memegang sebatang tongkat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

panjang enam kaki sebesar lengan bocah tengah beranjak keluar.

Kecuali perawakan yang tinggi, nenek ini tak ubahnya seperti nenek lainnya, hanya tongkat ditangannya itu bentuknya memang aneh, kelihatannya berwarna merah tua entah terbuat dari logam apa, kepala tongkat dihiasi kepala setan yang diukir sedemikian rupa hingga kelihatan seram.

Begitu nenek itu muncul, hadirin tertegun diam, dengan senyum ramah, nenek itu menyapu pandang keseluruh hadirin. Seluruh hadirin berdiri kecuali tiga orang yang tetap duduk tapi sedikitpun dia tidak ketarik kepada ketiga orang ini, seolah-olah tidak melihat. Lalu dengan seri tawa manis, dia berkata pula kepada Gin-koh :„Gin-koh. apa yang kau ucapkan tadi memang sesungguhnya.”

Gin-koh, berdiri menjubluk, sikapnya sukar diraba. Sebaliknya Utti Ou yang berdiri tak jauh di ebelah sana seketika tertawa lebar, kelihatannya amat senang.

Nenek itu angkat kepala memandang Utti Ou, katanya tersenyum : „Agaknya kau berminat mempersunting Gin-koh, dihadapan sekian banyak kawan Bulim, kuharap kau tidak bermain-main, kenapa masih berdiri saja tanpa bicara?”

Dengan tertawa lebar seperti kera kegirangan mendapat buah Utti Ou garuk garuk kepala, lalu gosok telapak tangan, kaki tangan seperti gatal, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Begitu muncul nenek ini lantas sibuk merangkap perjodohan Utti Ou dengan Gin-koh padahal kedua orang ini cukup punya nama dikalangan Kangauw bila kenyataan mereka terangkap mejadi suami isteri memang merupakan berita besar yang menyegarkan perasaan dalam Bulim, maka suara bisik-bisik hadirin terdengar di sana sini. Memangnya wajah Utti Ou sudah hitam seperti arang, kini wajah hitam itu bersemu merah kelihatannya menjadi amat ganjil. Sementara Gin-koh menunduk kepala tanpa bicara. Iblis perempuan yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sering membuat kaum persilatan pusing kepala ini. Ternyata bersikap malu-malu kucing seperti gadis remaja, memang jarang terjadi dalam kalangan Kangouw perjodohan dari dua insan yang sudah lanjut usia masih malu-malu segala.

Utti Ou masih garuk-garus kapala, tak tahu bagaimana dia harus bertindak maka diantara kerumunan hadirin seorang berteriak:” Maling hitam, kalau kau dapat mempersunting Gin-koh sebagai isteri, sungguh setimpal dan menyenangkan, hayo lekas serahkan tanda mata”

Hadirin tertawa gemuruh mendengar istilah “setimpal ‘ yang diucapkan orang itu. Perlu diketahui Thi-giam lo Utti Ou berilmu silat-tinggi, berangasan dan tidak tahu aturan, suka bertindak sembarangan, kaum persilatan tidak sedikit yang dibuat pusing olehnya, jikalau dia menjadi Gin-koh isteri maka sang bini akan selalu mengaturnya sehingga dia tidak bertindak sewenang-wenang lagi. hal inilah yang dinyatakan setimpal dan menyenangkan.

Ditengah gelak tawa hadirin, tampak Utti-Ou membalik mata lalu melotot, serunya lantang: ”Serahkan ya serahkan, memangnya aku takut apa ?”

Mendengar ucapan yang banyol ini, Gin-koh yang tunduk kepalapun tak tertahan ikut cekikikan geli, diliatnya Utti Ou sudah meraba-raba pinggang, ditengah suara berisik Utti Ou mencopot sebatang ruyung besi tujuh puluh dua ruas, setiap ruas panjang setengah kaki.

Semula banyak hadirin mengira Utti Ou hanya berpura-pura dan mau menggoda Gin-koh atau mencari alasan untuk melabraknya karena suatu persoalan pribadi, kini setelah dia mencopot ruyung besi, maju dua langkah dengan kedua tangan dia haturkan kepada Gin-koh, baru hadirin betul-betul melongo, tiada yang curiga bahwa manusia hitam ini hanya berkelakar saja. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maklum ruyung besi milik Utti Ou merupakan salah satu pusaka dunia persilatan.kalau tidak dibelit dipinggangnya, mungkin sudah dirampas atau dicuri orang, maklum ruyung besi dibuat dari Hiantiat yang diperolehnya di Tian-lam, Utti Ou pandang ruyung besinya ini lebih berharga dari jiwa raga sendiri.

Kalau Hiantiat dibikin senjata tajam, tajamnya luar biasa, dibeli ribuan emas juga tidak boleh, kaum persilatan memandangnya sebagai barang pusaka, kebanyakan orang setelah mendapat besi besi murni pasti membikin golok atau pedang, tapi Utti Ou ternyata untuk bikin ruyung yang runcing tanpa tajam sisinya boleh dikata manfaat Hian-tiat yang besar telah disia-siakan. Tapi dengan ruyung lemasnya ini Utti Ou sudah malang melintang diutara dan selatan betapa banyak jago-jago kosen yang di kalahkan dan terbunuh olehnya, sering dia membanggakan senjata ampuhnya ini.

Ternyata Gin-koh juga berdiri melongo, Utti Ou berdiri didepannya. mata mereka saling nandang sejenak, namun sepatah kata-pun tak terucapkan. Disarhping kikuk merekapun malu pula. Akhirnya Gin-koh angkat tangan pelan-pelan mengelus ruyung besi itu, katanya : „Inilah senjatamu yang ampuh hingga kau terkenal, mana boleh aku menerimanya ?”

Turun naik biji leher Utti Ou, akhirnya dia ngomong secara nakal : „Seluruh tubuhku bakal menjadi milikmu, memangnya aku harus kikir mempertahankan senjataku ?”

Karuan haairin terpingkel-pingkel, wajah Gin-koh juga jengah seperti kepiting direbus tanpa bicara mendadak dia putar tubuh terus berlari masuk secepat angin. Utti Ou menggembor keras, segera dia mengudak.

Tapi hanya dua langkah, mendadak dengan tertawa si nenek melintangkan tongkatnya menghadang Utti Ou.

Dasar kasar dan dungu. Utti Ou tidak tahu kenapa mendadak Gin-koh berlari pergi karena gugup segera dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memburu, betapa kencang daya gerakannya, seumpama sebuah menara yang mendadak ambruk.

Tapi si nenek hanya seenaknya angkat tongkatnya melintang, tak kelihatan dia menggunakan tenaga, tampak tubuh Utti Ou seperti menumbuk dinding dan tertolak mundur, beberapa langkah.

Dasar dungu Utti Ou makin gusar dan gugup, karena dicegat hingga tertolak mundur, dia makin murka, sambil menghardik sekeras guntur, tangannya menggentak ruyung lemas di angannya diayun untuk mengepruk batok kepala si nenek.

D tengah seruan kaget para hadirin, si nenek kelihatan tetap tersenyum manis, tongkat ditangannya terangkat ke atas. “Plak” ruyung besi itu telah ditekannya, Utti Ou menarik ruyung sekuatnya hendak menyapu tak nyana mendadak mendengar suara gemerincing,ruyung besi murninya itu mendadak mencelat lepas dari cekalannya.

Perubahan terjadi mendadak dan singkat padahal hadirin menyaksikan dengan mendelong, tapi tiada satu pun yang melihat jelas bagaimana nenek tua melucuti senjata Utti Ou. Utti Ou sendiri juga bingung dan heran, hanya terasa segulung tenaga lembut yang kuat mendadak menerjang tiba tahu-tahu tangannya tergetar kesemutan maka ruyung besi itupun mencelat terbang dari cekalannya.

Anehnya setelah terlepas dari cekalan Utti Ou, ruyung panjang itu tidak meluncur keatas, namun diudara membelok selincah ular sakti terus melurcur kedalam pintu ke mana tadi Gin-koh berlari masuk, hanya sekali berkelebat lantas lenyap tak karuan parannya. Karena kehilangan senjata maka Utti Ou berdiri menjublek ditempatnya tanpa bersuara.

Terdengar nenek itu berkata dengan ter senyum : „Jargan kuatir, dihadapan sekian banyak orang, sudah tentu Gin-koh malu menerima tanda mata. sekarang aku sudah wakili dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menerima tanda matamu, maka perjodohan kalian boleh serahkan kepadaku.”

Utti Ou masih melenggong. setelah mendengar penjelasan si nenek segera dia tertawa lebar pula. Sekali mengulap tangan, empat laki-laki pakaian ketat melangkah maju lalu mengapit Utti Ou berjalan kedalam.

Maka suasana balairung menjadi ramai lagi oleh pembicaraan hadirin. Orang aneh itu berkata periahan: ”Kungfunya makin lama makin tinggi, kelihatannya sudah mencapai taraf membolak balik saluran hawa murni, tingkat yang paling sukar diyakinkan.?”

Lui Ang-ing mengangguk, katanya: Kukira demikian.”

Tak tahan Cia Ing kiat bertanya :”Siapakah sebenarnya nenek tua ini?”

Lui Ang-in memandangnya, katanya:” Dia hendak memaksa kau menjadi menantunya, masa kau tidak tahu siapa dia?”

”Itulah yang dinamakan celaka dua belas.” ujar Cia Ing-kiat tersenyum pahit.

Lui Ang-ing menatap Cia Ing-kiat, katanya: ”Konon putri Kui bo Hun Hwi-nio cantik molek bak putri raja. tiada bandingan diseluruh negeri, bukankah rejekimu besar dapat mempersunting gadis jelita.”

Lui Ang-ing bicara setengah berbisik, tapi waktu Cia Ing kiat mendengar dia menyebut ”Kui bo Hun Hwi-nio” seperti mendengar guntur disiang hari kagetnya, seketika kepala pusing mata berkurang kaki tangan menjadi lemas, kalau waktu itu dia berdiri mungkin sudah roboh terkulai.

Tiga puluhan tahun yang lalu Kui bo Hun Hwi-nio sudah merajai Bulim, waktu pertama kali berkecimpung di dunia persilatan usianya baru delapan belas, namun betapa banyak kaum persilatan baku hantam lantaran memperebutkan cintanya, sampaipun tokoh-tokoh ternama yang biasa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengagulkan diri sebagai jago yang di senani dari aliran lurus juga tidak sedikit yang tergila-gila padanya, tidak sedikit diantara mereka rela menyerahkan segala miliknya termasuk ilmu silat perguruan yang pernah di yakinkan, maka tak heran bila Kungfunya semakin lihay, sekaligus dia menguasai belasan Kungfu, hal ini belum pernah terjadi dalam kalangan Bulim, bahwa seorang mampu meyakinkan belasan macam ilmu secara menyeluruh, meski kejadian sudah puluhan tahun berselang, tapi Cia Ing-kiat juga tahu ketenarannya.

Waktu dirinya diculik Thi jan Lojin dan Gin-koh, pernah dia menduga, siapa gerangan tokoh kosen yang mampu menundukan kedua orang ini untuk dijadikan pesuruh. Bagaimanapun dia paras keringat, tetap tak teringat pida Kui-bo Hun Hwi-nio.

Ing kiat tahu nenek ini adalah orang aneh pertama dalam Bulim. Kui-bo Hun Hwi nio, namun hatinya masih juga heran dan tak habis mengerti, tokoh setinggi Kui nio, kenapa mau menyerahkan putrinya kepadanya.

Selama setengah tahun ini pengalaman Cia Ing-kiat cukup luas, pandangan pun terbuka, dia tahu Kim-Liong ceng yang didirikan ayahnya hakikatnya tidak berarti apapun dalam percaturan Kangouw, sebagai Siau-cengcu dari Kim-liong-ceng juga tiada harganya berkecimpung di Kangouw, apalagi dibanding putri Kui-bo Hun Hwi nio. majikan Hiat lui-kiong yang disegani. Lama dia terlongong, bila dia tersentak sadar, dengan suara kering dia bertanya; „Dia …. kenapa ingin mengawinkan putrinya dengan aku?”

Perkataan Cia Ing-kiat diucapkan dengan suara perlahan, jelas bahwa pertanyaan itu dia tujukan kepada Lui Ang ing. tapi dia tidak memperoleh jawaban, waktu dia angkat kepala baru disadari bahwa keadaan balairung ini teramat sepi, tampak Kui bo Hun Hwi-nio memiringkan tubuh memandang kebelakang kerai mutiara dipintu samping, dibelakang kerai terdengan langkah lembut yang mendatangi dengan cepat. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kejap lain kerai tersingkap, rraka pandangan hadirin mendadak terang terbeliak, seorang nona cantik bak bidadari sudah melangkak masuk.

Nona cantik ini berusia sekitar dua puluh lima, wajahnya bukan saja rupawan juga bercahaya, begitu cantiknya hingga orang tak berani menatapnya lekat, siapapun yang melihatnya meski hanya sekilas, napas seketika sesak, demikian pula Cia Ing kiat menjublek ditempatnya.

Dibelakang gadis cantik ini muncul pula seorang perempuan, tapi perawakannya tinggi besar, kaki tangan kasar, sekali pandang Cia lng-kiat kenal, perempuan ini bukan lain adalah salah saru dari Sam-tiau-cu yang berkuasa disungai bessr, yaitu Li-pi-lik.

Berdebar jantung Cia Ing kiat, begitu melihat Li-pi-lik, rasa sesal seketika membayangi sanubarinya, rasa simpati pun timbul dalam relung hatinya. Diatas tanggul tempo hari perempuan kasar dia tinggal begitu saja, sekarang dia tidak perlu takut perempuan gede ini mengenainya, namun hampir saja dia bersuara memanggilnya.

Kedua gadis ini beranjak masuk berdampingan, namun sorot mata seluruh hadirin tertuju kcwajah sicantik jelita, hingga balairung sebenar dan dihadirin sekian puluh orang, tapi sunyi senyap. Ditengah keheningan itulah mendadak Lui Ang-ing mengeluarkan dengus hidung yang cukup keras

Dengus hidung itu sebetulnya tidak keras, namun dalam keadaan hadirin menahan napas, kedengarannya menjadi amat menyolok, Li-pi-lik menoleh lebih dulu menatap kearah sini, begitu melihat wajah Lui Ang-ing, seketika berobah air mukanya, sikapnya kelihatan gugup dan takut, mendadak dia menjerit serta berteriak: „Suhu, tolong, musuhku itu telah datang.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hampir saja Cia Ing-kiat tertawa geli mendengar tingkah Li-pi-lik, setelah berpisah beberapa bulan watak perempuan gede ini ternyata tetap tidak berobah.

Seluruh hadirin kaget oleh teriakan Li-pi-lik, Kui-bo Hun Hwi-nio juga menoleh arah Cia Ing-kiat bertiga, sorot matanya setajam kilat, begitu bentrok dengan pandangan orang Cia Ing-kiat seperti kena stroom, sekujur badan menjadi dingin, demikian pula rona muka Lui Ang-ing juga kelihatan lebih pucat

Hanya sekiias Kui-boHun Hwi nio menoleh lalu melengos, bentaknya: „Jangan omong kosong yang hadir dalam Hiat lui-kiong hari Ini semua adalah tamu-tamu agung dan terhormat, berani kau gembar gembor, biar kuhukum kau dibelakang

Li-pi-lik menyurut kebelakang, wajahnya masih kelihatan takut, jelas sikapnya kurang senang mendengar bentakan Kui-bo Hun Hwi-nio, dia masih ingin membantah, untung gadis juwita disampingnya lekas menarik lengan bajunya, bibirnya yang sudah bergerak tak jadi di ucapkan.

Hadirin tahu yang dituding Li-pi-lik sebagai musuhnya adalah Lui Ang-ing Waktu menyebrang tambang Lui Ang-ing pernah bikin Pak-to Suseng luka parah, gerak geriknya memang menimbulkan perhatian orang banyak, sekarang hadirin lebih prihatian lagi, karena tiada yang tahu asal usulnya, meski tinggi Kungfunya, tapi berani dia bermusuhan dengan Kui-bo Hun Hwi-nio, rneluruk kesarang musuh lagi.

Cia Ing kiat benar-benar seiba risi dan canggung, pada hal sorot mata hadirin di tujukan kepada Lui Ang-ing. tapi dia merasa dirinya menjadi sasaran, dengan sendirinya dia jadi risi bahwa samarannya tidak cukup untuk menyembunyikan wajah aslinya

Pada saat itulah, didengarnya si jelita mendekati Kui bo Hun Hwi-nio serta bertanya: ”Ma, bagaimana?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Panggilan ”Ma” berarti ibu kembali mengejutkan Cia Ing-kiat. Timbul satu umpama dalam benak Cia Ing kiat setelah tahu bahwa Kui-bo Hun Hwi nio yaag akan menarik dirinya menjadi mantu, yaitu bahwa putri Hun Hwi-nio pasti searang gadis jelek rupa dan cacad badan, karena tidak laku kawin, maka dirinya yang menjadi bulan-bulanan untuk di jadikan culikan.

Padahal dari mulut Lui Ang-ing sebelumnya dia sucah mendengar pujiannya terhadap putri Hun Hwi-nio yang dikatakan cantik molek, rejekimu besar segala. Waktu itu dia kira Lui Ang ing sengaja menyindir karena dia sudah tahu kejelekan calon istrinya. Tapi sekarang sudah kenyataan bahwa gadis ayu jelita ini adalah putri tunggal Kui-bo Hun Hwi-nio.

Gadis molek secantik bidadari, tidak mungkin tidak laku kawin lalu kenapa dia menaksir dirinya?

Ruwet pikiran Cia Ing-kiat. dengan mendelong dia awasi sicantik, dari wajahnya nan molek ingin dia menemukan jawaban. Padahal tatapannya tanpa berkedip merupakan tingkah kurang ajar, apalagi yang dipandang gadis ayu anak Kui-bo. untung sebagian besar tamu yang hadir adalah laki laki, merekapun terbelalak tak berkedip, maka orang lain takkan memperhatikan kelakuannya.

Terdengar Kui-bo Hun Hwi-nio tertawa lebar, katanya: “Tidak takut kau ditertawakan orang, kenapa terburu nafsu? Aku pasti membereskan persoalanmu.”

Ternyata gadis cantik itu tidak kelihatan malu, tawanya semakin lebar dan genit, maka Kui bo berkata kearah orang banyak:”Inilah putri tunggal Hun Lian, sejak kecil tumbuh dewasa diatas gunung, tidak tahu adat kesopanan, harap hadirin maklum.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah Kui bo memperkenalkan anaknya, suasana balairung kembali menjadi sepi lengang Tanpa canggung Hun Lian mengangguk kepada hadirin sambil tertawa ramah.

Kui-bo Hun Hwi-nio berkata pula: ”putriku sudah mengikat jodoh, kalian sudi memberi muka sudi berkunjung ke Hiat-lui-kiong, sudah tentu juga untuk hadir dan ikut minum arak bahagia pernikahan putriku ini. Tapi dengan siapa putriku akan menikah, yakin hadirin belum tahu.”

Dihadapan sekian banyak orang Kui bo membeber soal jodohnya, tapi Hun Lian tidak kelihatan malu atau rikuh, hanya pipinya ber semu merah hingga kemolekannya lebih mempesona. Suasana ribut dan bisik-bisik dalam balairung seketika sirap pula.

„Calon menantuku adalah putra tunggal Thi-jiau kim-long (naga emas cakar besi) Cia Thian, pemilik Kim-liong-ceng yang terkenal didaerah Tionggoan. yaitu Siau Kim-liong Cia Ing-kiat.”

Padahal Cia Ing kiat berada dalam balairung juga, namun dia tahu hanya Lui Ang-ing dan orang aneh dua orang saja yang tahu dirinya, orang lain hanya tahu dia adalah seorang tua bermuka kuning yang bermata sipit, tindak tanduknya kelihatan malas dan. lamban. Maka suasana menjadi ramai dan para tamu yang memberi selamat dan pujian tidak sedikit yang mengaku sebagai sahabat baik Siau-kim liong, ada pula yang mengatakan dia telah angkat saudara segala.

Waktu Cia Ing kiat melirik ke sana orang yang mengaku kenalan baik atau saudara angkat dengan dirinya paling juga hanya pernah bertemu sekali, namun dia memang punya teman baik, umpamanya Jit-gwat-kim-lun murid ketujuh dari Cin Thian si yang hadir juga disitu, tapi teman baiknya ini malah diam saja namun sikapnya kelihatan heran dan bingung. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sudah rentu Cia Ing-kiat segan untuk, berdebat atau mentertawakan orang-orang yang membual ini. Soalnya hatinya sedang dirundung tanda tanya besar. Kiranya sekian banyak orang sekaligus kumpul di Hiat-lui-kiong, apa benar untuk menghadiri pesta pernikahan putri Hun kwi-nio?

Bahwa Kui bo Hun Hwi nio mengundang sekian banyak jago-jago silat dari berbagai penjuru untuk menghadiri pesta pernikahan putrinya memang tidak perlu dibuat heran,, karena selama hampir tiga bulan, Cia Ing-kiat disekap diatas Thian-lau hong, kejadian selanjutnya, betapapun Kui bo tidak pernah menduga sebelumnya dari sini dapat diduga bahwa Kui bo sudah menyebar undangan jauh sebelum tiga bulan yang lalu.

Tapi setelah Toa kui dan Siau-kui pulang ke Hiat lui kiong dengan luka muntah darah terpukul orang aneh, semestinya sudah diketahui oleh Kui-bo. Kalau peristiwa telah terjadi di Thian-lau-hong dirinya sudah terbelenggu dalam cengkramannya. berarti pesta pernikahan ini tidak akan dihadiri mempelai pria, bagaimana upacara bisa berlangsung?

Sikap dan tindak tanduk Kui-bo seperti tidak atau belum tahu terjadinya perobahan, seolah-olah dengan mudah sembarang waktu dia bisa mempersilakan calon mantunya keluar, umpama Toa-kui san Siau-kui sejauh ini, masih mengelabui sang majikan, rasanya mereka tidak bernyali sebesar ini. karena hal itu tak mungkin bisa dirahasiakan lagi. Apakah Toa-kui dan Siau-kui sekongkol dengan Thi-jan Lojin an Gin-koh untuk menukar seorang lain yang dikatakan sebagai Cia-Ing-kiat?

Berbagai dugaan dan persoalan berkecamuk dalam benak Cia Ing-kiat. Waktu dia melirik kearah Hun Lian, tampak wajahnya yang cantik halus semekar kembang dimusim semi laki laki mana yang tidak berdetak jantungnya setelah melihat keayuanya. Mendadak timbul pikiran aneh dalam beriaknya, kalau orang lain sampai mempersunting gadis ayu ini sebagai bininya, selama hidup ini tak kan menyesal, maka dirinya pasti Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan menyesal selama hidup karena mengabaikan kesempatan sebaik ini. Tanpa sadar dia sudah hampir beidiri.

Sejak jaman dulu daya tarik perempuan memang amat be ar Cia Ing kiat adalah laki-laki muda, berdarah panas adalah jamak kalau dia begitu bernafsu, waktu timbul keinginannya berdiri hakikatnya, tidak terpikir olehnya apakah Kui-bo benar-benar mau mengawinkan putrinya kepada dirinya, yang terpikir dalam benaknya hanya ingin mempersunting gadis jelita ini hidup rukun sampai tua, kesempatan baik ini jangan diabaikan.

Tak nyana baru pundak bergerak, bahwasanya belum sempat dia berdiri, kembali terasa pinggang linu kesemutan, seluruh tubuh lemas seperti terpaku diatas kursi tanpa bisa bergerak lagi.

Terasa sorot mata Lui Ang-ing yang tajam tengah meratapnya dingin hingga dia bergidik tanpa kedinginan. Walau batinnya gundah nan tak karuan, namun Cia Ing-kiat tahu, pasti orang aneh yang menutuk pinggangnya dari jarak jauh.Tubuhnya merinding dan bergidik karena dia merasakan sorot mata dingin Lui Ang-ing mengandung isi hati yang ingin dan belum sempat dinyatakan secara gamblang kepadanya.

Sesaat lng-kiat duduk mematung sambil melongo, pikirannya ruwet lagi, tak tahu bagaimana baiknya.

Didengarnya Kui-bo berkata pula:,.Sebetulnya Cia siau cengcu sudah diundang kemari oleh Thi-jan Lojin dan G n koh, selama ini menetap divilla Hiat-lui kiong kita yang berada di Thian lau-hong, namun beberapa hari yang lalu, dia diculik orang…….”

Waktu memberitakan kejadian yarg kurang menyenangkan ini, wajah Kui-bo masih berseri ramah, nada suaranyapun lembut, seolah-olah cerita yang dia kisahkan tiada sangkut paut dengan dirinya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berbeda adalah reaksi para hadirin waktu mendengar ‘dia diculik beberapa hari yang lalu’, rona muka mereka berobah, seperti tidak percaya akan berita yang mereka dengar ini. Betapa hebat kemampuan Kui-bo. ternyata ada orang berani dan mampu menculik calon mantunya, sungguh kejadian yang sukar dibayangkan.

Mendengar cerita ibunya Hun Lian yang berdiri disebelah tampak murung dan masgul Pandangan Cia Ing-kiat tetap tertuju kepadanya, tiba-tiba tergerak hatinya, mulut nya terbuka ingin berteriak, namun suaranya seperti tertelan kembali kedalam tenggorokan, sebenarnya dia ingin bilang; ”Aku ada di sini, tidak diculik orang.”

Tapi baru saja mulut terbuka, sekilas dilihatnya pula pandangan dingin Lui Ang-ing sedingin ujung pisau, sehingga suaranya tertelan kembali, padahal bila dia berani nekad suaranya masih keluar dari tenggorokan.

Tengah dia kebingungan dan gugup mengawasi Lui Ang-ing. suara lirih bisikan Lui Ang ing terkiang pula dalam telinganya : „Siou cengcu, apakah sudah kau pikirkan benar-benar?” Padahal bibir Lui Ang ing tidak kelihatan bergerak, jelas dia bicara lewat perutnya yang dikerahkan dengan Lwe-kang tinggi.

Tersirap hati Cia Ing-kiat, katanya melenggong :”Kenapa aku harus berpikir ?”

Jawaban inipun seperti lngauan yang lirih, kuping sendiri hampir tidak mendengarnya, tapi Lui Ang-ing mendengar cukup jelas maka terdengar jawabannya : „Memangnya kau sudah melupakan adegan dalam biara bobrok itu ?”

Bergetar perasaan Cia Ing kiat, sudah tentu dia tidak pernah melupakan kejadian dalam biara bobrok itu, tanpa diperingatkan sebelum dia berkeputusan hendak berdiri tadi, benaknya juga sudah membayangkan kejadian itu, karena itulah, hatinya tadi bergetar lantaran persoalan ini. Cuma Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekarang Lui Ang-ing membeber kejadian itu secara langsung. Maksudnya sudah gamblang yaitu waktu Cia Ing kiat merogoh obat menjamah payudara dan badannya.

Bahwa Lui Ang-ing menyinggung persoalan lama. entah apa maksudnya? Tujuannya sudah gamblang, yaitu Lui Ang ing pandang peristiwa itu teramat penting bagi masa depannya, maka dia merasa perlu memberi peringatan kepada Cia Ing-kiat supaya tidak menikah dengan gadis lain.

Setelah paham liku-liku persoalannya, berdebar jantung Cia Ing-kiat, perlahan Lui Ang ing sudah melengos kearah lain wajahnya yang pucat seperti menampilkan perasaan hambar. Tapi dipandang dari arah samping sikapnya yang teguh dan keyakinan yang tebal, siapapun akan bergidik dibuatnya.

Hadirin masih berduduk bingung, pandangan tertuju kearah Kui-bo, semua menunggu penjelasannya lebih lanjut. Maka Kui-bo menyambung, tetap tersenyum : „Sudah tentu kalian ditang dari jauh, janji yang akan saya berikan pasti tak akan kujilat kembali”

Dalam Hiat lui-kiong terdapat Hiat lian (teratai darah) yang tumbuh seratusan tahun, siang nanti sudah akan mekar, semua yang hadir akan memperoleh bagiannya secara rata.”

Sampai di sini Kui-bo merandek sejenak maka dari pojok balairung sana mendadak kumandang sebuah suara : ”Bagus sekali, Cia-siaucengcu tiada di sini. lalu bagaimana upacara pernikahan ini akan berlangsung ?” suaranya rendah berat, seperti dilontarkan dari belakang sesuatu benda tebal.

Hadirin menoleh kearah datangn a suara pembicara tidak kelihatan, tapi dipojok sana menggeletak sebuah tandu besar, suara keras berat itu kumandang diri dalam tandu. Hadirin juga tahu yang berada dalam tandu besar itu bukan lain adalah Liong bun-pang Pangcu. sindikat terbesar disungai Ui-ho, asal usui ketuanya amat dirahasiakan, sepak terjangnya pun amat misterius. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kui-bo menoleh kearah tandu, katanya kalem : ”Ucapan Pangcu memang betul. Tapi aku sudah tahu siapa yang menculik Cia-siaucengcu, malah aku juga tahu orang itu membawa Siau-cengcu putar balik ke Hiat-lui-kiong pula, sekarang juga hadir dalam balairung ini.”

Bukan saja kalem, waktu melontarkan kata katanya Kui bo masih bersikap ramah tanpa diburu emosi sedikitpun. Tapi sikap hadirin justeru sebaliknya, maka terjadilah keributan dan suara kaget, atau bergesernya meja kursi. Kecuali tokob silat yang betul-betul kosen boleh dikata sebagian besar yang hadir sudah berdiri.

Bahwa Kui-bo sudah membeber persoalan ini secara terbuka, urusan boleh dikata cukup genting, maklum siapa mampu dan berani menentang Kui-bo, maka dapat dibayangkan kalau Kungfunya tentu amat tinggi, pada hal Kui-bo yang diusik tentu tidak akan memberi kelonggaran padanya, bila Kui bo bergebrak dengan dia, celaka kalau dirinya keserempet atau ketiban pulung. Karena memikirkan keselamatan sendiri maka para hadirin berdiri dan menyingkir.

Kegaduhan ini hanya sebentar, cepat sekali keadaan tenang kembali.

Cia lng-kiat tetap duduk dikursinya, pikirannya masih ruwet, diam diam mengeluh dalam hati, bahwasanya dia tidak tahu “melihat tontonan ramai” yang dimaksud oleh orang aneh adalah hadir dalam pesta pernikahan yang diadakan di Hiat-lui-kiong ini. Kini setelah tahu persoalannya, dirinya menjadi sandera dan tak mampu berbuat apa apa.

Setelah suasana tenang kembali. Kui-bo melanjutkan pidatonya dengan tersenyum : ”Kalian tak usah gelisah, sebagai tamu tamu undangan Hiat-lui-kiong. tiada alasan aku mengejutkan kalian dalam urusan yang tiada sangkut pautnya ? Selamanya aku tegas membedakan budi dan dendam, mungkin Cia-siaucengcu belum tahu, kenapa putriku menaksir dia dan ingin menikah dengan dia. pada hal bagaimana Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keadaan pntriku hadirin sudah melihatnya sendiri, jikalau Cia-siau cengcu berpendapat putriku tidak setimpal menjadi jodohnya, cukup asal dia bersuara sekali saja, walau pembatalan perjodohan ini menimbulkan rasa dendam, namun perhitungan boleh dilakukan dikemudian hari”

Cia Ing-kiat sudah membuka mulut hendak berteriak pula, namun Lui Ang-ing sudah menoleh serta melotot kepadanya, tatapan matanya seperti mengandung tenaga besar yang tak kelihatan menekan kata-kata Cia Ing-kiat yang sudah siap dilontarkan.

Terdengar Kui bo berkata lebih jauh : ”Peduli dia rela atau menolak, diharap Cia-siaucengcu bersuara, kalau tetap diam saja sengaja menghina dan mengabaikan peringatanku, maka urusan tak berani aku menanggungnya lagi.”

Saking gugup keringat dingin sudah membasahi tubuh Cia Ing-kiat, sejak melihat Hun Lian. hatinya sudah menaksirnya, kini didesak oleh Kui-bo namun dia juga takut melihat tatapan tajam Lui Ang-ing hingga sepatah katapun tak kuasa dia lontarkan, apa lagi pinggang tertutuk oleh orang aneh hingga tak mampu bergerak.

Tengah Cia Ing-kiat putus asa. terdengar sebuah suara tua serak dan kuat berkata : , Cia Ing kiat adalah putra kenalan baikku, kulihat dia tidak berada didalam balairung ini, apakah Kui bo tidak keliru?”‘

Kui-bo menoleh kearah suara, yang bicara ternyara adalah Jit-gwat kim-lun (roda emas mata hari rembulan) Cin loenghiong, dengan tersenyum dia berkata: „Siau-cengcu pernah berguru didalam Tayseng-bun yang mahir merobah bentuk muka orang tujuh puluh dua macam, maka kepandaiannya menyamar boleh diagulkan, tenturya Cin-loeng-hiong juga sudah tahu, dengan kemahirannya menyamar dia pernah menyelundup ke Kim-hou po lalu melarikan diri pula, dari sini dapat dibuktikan betapa lihay samarannya. ‘ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Makin kecut perasaan Cia lng-kiat mendengar Kui-bo mengorek rahasianya dimuka umum, pada hal dia mengira kejadian dirinya menyelundup kedalam Kim-bou-po serta berhasil melarikan diri tidak diketahui orang, tak nyana hal ini sudah menjadi rahasia umum.

Bahwa jejaknya akhirnya konangan dan kecandak oleh Siau-pocu yang bernama Lu Ang-ing adalah logis, karena didalam Kim-hou po Lui Ang-ing pernah melihat dirinya dan bergebrak pula, tapi Kui-bo Hui Hwi-nio tak pernah menginjak Tionggoan. letak Hiat-Ini-kiong ribuan li jauhnya, dari mana dia tahu akan peristiwa ini? Walau Li-pi-lik berada di sini, tapi perempuan gede ini jujur polos lugu lagi, mana mungkin dia tahu rahasia dirinya ?

Tengah Cia Ing-kiat memutar otak. didengarnya Li-pi-lik berteriak juga: ”Ciong Tay-pek, hayo berdiri dan keluar ? Aku ingin bicara dengan kau,”

Seperti diketahui dalam bagian depan cerita ini, Ciong Tay-pek adalah nama samaran Cia Ing-kiat waktu dia menyelundup ke Kim hou-po. Kini Li pi-lik gembar gembor dengan suara mengguntur, semakin deras cuguran keringat dingin Cia Ing-kiat. Walau sikap Kui-bo kelihatan masih berseri tawa namun hadirin sudah melihat bayangan kabut hitam ditengah kedua alis matanya.

Hadirin insaf bila urusan tiada perkembangan yang diharap, apa yang akan terjadi di sini. Ada sementara tamu yang sudah menoleh kearah tandu dipojok balairung sana agaknya tidak sedikit yang menduga bahwa Cia Ing kiat sembunyi didalam tandu sengaja tidak mau keluar.

Kabut hitam ditengah alis Kui-bo makin tebal, seri tawanya sirna dan mukanya berganti kelam. Disaat suasa memuncak tegang itulah mendadak Lui Ahg-ing berdiri pelan-pelan, katanya kalem : ,,Siau cengcu dari Kim-liong-ceng menyelundup kedalam Kim-hou-po kita, berhasil melarikan diri pula, aku sedang mencari jejaknya, maka perlu kuanjurkan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepada Kui bo. pernikahan putrimu hari ini lebih baik dibatalkan saja.”

Begitu Lui Ang-ing berdiri, Li-pi-lik lantas melompat mundur sembunyi kebelakang Kui-bo Hun-Hwi-nio, kedua tangannya memegang baju Kui bo, sikapnya kelihatan amat takut. Berdiri alis Kui-bo. sekenanya sebelah tangan mengebas kebelakang. Kelihatannya kebasan lengan bajunya enteng dan seenaknya saja. tapi Li-pi-lik seketika menjerit kaget menyurut setapak kebelakang.

Kejadian berlangsung dalam waktu yang sama, baru saja Li-pi lik menyurut mundur, Lui Ang-ingpun habis bicara.

Seperti tertawa tidak tertawa Kui-bo mengawasi Lui Ang-ing, sebelum dia buka suara mendadak Oa-sam Siansing yang duduk dipinggir sana tertawa dingin beberapa kali. jengeknya : ”O. kiranya begitu.”

Sebelum naik keatas kapal Oh-sam Siansing pernah adu kekuatan dengan Lui Ang-ing dan dikalahkan, pada hal betapa luas pengetahuannya, ternyata dia tidak tahu dan bagaimana asal usul pemuda muka pucat yang lihay ini, baru sekarang dia tahu bahwa pemuda ini dari Kim-hou-po.

Kim-hou-po sudah terkenal diseluruh jagat, pertanyaan Lui Ang-ing tadi secara langsung sudah membeber asal usul dirinva, sekaligus menyatakan bila Cia-siauccng-cu muncul, diapun akan membuat perhitungan padanya. Padahal berada didalam Hiat lui-kiong, tapi seberani ini dia menyatakan maksud kedatangannya.

Kui-bo tertawa dingin, katanya: ”Perjodohan putriku sudah bukan rahasia lagi,mana boleh perjodohan ditunda atau dibatalkan segala?””

”Nona Hun secantik ini, memangnya kuatir dia tidak bisa mercari kekasih lain? “jengek Lui Ang ing. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kui bo menarik muka, suaranya juga tidak seramah tadi: “Apa yang tuan katakan hanya mencari onar belaka maka usulmu takkan kuterima, Menurut hematku, bukan Cia-siaucengcu menolak perjodorian ini. tapi bila dia diancam dan disiksa, maka sulit aku mengatakan.” Huruf” kan” diucapkan lebih keras, mendadak tangannya terayun terus menuding kearah Cia-Ing-kiat.

Kontan Cia Ing-kiat merasa datangnya sejalur angin kencang menyampuk muka, badan yang kaku linu seketika mengendur, dia tahu Hiat to yang ditutuk orang aneh telah dituding bebas oleh tudingan Kui-bo jarak jauh. Memangnya sejak tadi dia siap berdiri, begitu Hiat to bebas segera dia berjingkrak berdiri, serunya:

“Aku………”

Hanya sepatah kata yang sempat diucapkan. Mendadak Lui Ang ing membalik sebelah tangannya menekan kedadanya, telapak tangan nya tepat menekan Hoa-kay-hiat. Pada hal Hoa-kay hiat adalah salah satu Hiat-to mematikan, bila tertutuk, umpama kepandaian Cia-Ing-kiat lebih tinggi dari Lui Ang-ing juga takkan mampu berbuat apa-apa. Apalagi kepandaiannya amat terbatas, jauh dibawah Lui-Ang-ing, maka begitu Hiat to tertutuk, dia tak mampu bersuara lagi.

Pada saat itulah didengarnya Hun Lian memekik sekali, dimana tangan terbalik, hanya pergelangan tangan saja yang bergerak, ” Ser” selarik benang merah laksana kilat meluncur kemuka Lui Ang-ing.

Perobahan terjadi dalam waktu singkat, begitu melihat benang merah melesat dari tangan Hun Lian. seketika Cia Ing-kiat sadar dan terang duduk persoalannya, seketika terbayang kejadian didalam Kim-hou-po.

Di bawah petunjuk perempuan misterius dalam Kim-hou-po itulah, Cia Ing-kiat berhasil menemukan Po-tiok-pit-kip yang disembunyikan dalam dinding, namun buku itu akhirnya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terebut oleh seutas benang yang membelitnya dan dibawa kabur oleh perempuan misterius itu, karena gagal mendapatkan pusaka itu, sekias Cia Ing-kiat melarikan diri. Selama ini dia bertanya-tanya siapa perempuan yang merebut pusika bambu itu dari tangannya, baru sekarang dia tahu perempuan itu ternyata putri Kui-bo, yaitu Hun Lian yang cantik ini. Sekarang lebih jelas pula, kenapa dari ribuan li jauhnya Thi jan Lojin dan Gin-koh meluruk kerumahnya serta menculik dia karena diperintah Kui-bo.Ternyata sebab musabab dari peristiwa ini bersumber sejak pertemuan mereka didalam Kim-hou-po.

Baru saja Cta ing-kiat rasakan sekujur tubuhnya terkekang cleh tenaga lunak yang merembes dari telapak tangan Lui Ang-ing. Sementara benang merah ditangan Hun Lian sudah melesat tiba, benang merah itu amat lembut, namun daya luncurnya ternyata amat kencang, hingga mengeluarkan desing suara yang tajam.

Kedua alis Lui Ang-ing tampak berdiri, telapak tangannya menepuk kee lakang, samar-samar kelihatan ditengah telapak tangannya ada tanda gelap yang gemerdep, seperti telapak tangannya entah memegang benda apa, sayang gerakannya teramat cepat hingga hadirin tiada yang melihat jelas benda apakah yang berada ditelapak tangannya. “Plak, plak” tepukan telapak tangan Lui Ang-ing tepat menyampuk pergi luncuran benang merah. Akibat benturan keras itu. gerakan tangan Lui Ang-ing sedikit merandek, bagi yang bermata tajam bisa melihat lebih jelas bahwa ditelapak tangannya seperti menempel sebuah benda segi enam yang menyerupai batu jade bewarna hijau gelap menyerupai sebuah medali, medali ini amat tipis dan melekat ditelapak tangannya.

Begitu benang merah disampuk pergi, dari dalam tandu kumandang suara serak berat itu : „Bagus. Lok-hun sin-san ling salah satu dari tiga pusaka milik Go-tiok Taysu ternyata Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muncul pula dikalangan Kangouw, sungguh membuka pandanganku.”

Yang bersuara dalam tardu sudah tentui adalah Liong-bun Pangcu, namun sebagian besar hadirin bingung dan tak tahu aoa maksud seruannva. demikian pula Cia Ing-kiat. siapa itu Go-tiok Taysu, apa pula Lok-hun-sin-san-ling segala belum pernah deagar, mungkin medali ditangan Lui Ang-ing itulah yang dimaksud, namun di mana letak keanehannya, sukar diraba.

Dalam beberapa patah seruan Liong bun Pangcu ini, kejadian terjadi perobahan. Benang merah ditangan Hun Lian memang berwarna menjolok, begitu benang merah itu ditepuk pergi oleh telapak tangan Lui Ang-ing, ujungnya seketika berobah menjadi hitam hangus, malah warna hitam hangus ini terus menjalar naik lebin panjang. Panjang benang merah itu ada dua tombak, dalam sekejap warna hitam hangus itu sudah menjalar setombak. Sebelum orang banyak tahu apa yang terjadi, mendadak Kui-bo menghardik keras, selarik sinar berkeiebat sinar yang benderang menyolok pandangan itu hanya sekali samber bagai kilat lantas lenyap.

Hadirin hanya melihat sinar terang berkelebat ditengah hardikan Kui-bo. siapapun tak tahu apa yang terjadi, mereka hanya menduga bahwa Kui-bo sudah turun tangan. “Plak” setelah sinar terang itu sirna, ujung benang ditangan Hun Lian bagian yang telah hitam putus dan jatuh diatas tanah, sementara sisanya yang masih merah telah di tarik balik oleh pemilihnya.

Bagian cambuk hitam yang jatuh kelantai itu seketika mengepulkan asap hijau. Lekas Kui bo menekan kebawah dengan telapak tangannya mereka yang duduk disebelah depan merasakan samberan angin keras, asap hijau yang mengepul keatas itu seketika tertindih turun meresap kedalam lantai lenyap tak berbekas. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Waktu angkat kepalanya pula Kui bo Hun hwi nio mendesis tajam : ”Telengas benar kau turun tangan.”

Lui Ang-ing menyeringai dingin, kata-nya : ..Urat punggung Ang-soa coa ditangan putrimu itu menyentuh badan orang jiwa melayang seketika, kalau tidak menyerang dengan racun mengatasi racun, memangnya kalian harus mendapat untung?”

Memang sudah lama Kui Bo Hun Hwi-nio menetap di Biau-kiang, Ang-soa-coa adalah salah satu jenis ular yang paling jahat di pedalaman yang belukar, dengan kemampuannya Kui-bo berhasil menangkap dan membetot urat punggungnya untuk senjata putrinya.

Tapi dari jawaban Lui Ang-ing, hadirin menduga medali ditangannya itu agaknya jauh lebih lihay, hingga kadar racun diatas medalinya itu mampu merembes diurat ular warna merah itu untuk menyerang balik lawan. Untung Kui-bo bertindak secara cepat, benang merah itu diputuskan, kalau tidak Hun Lian tentu sudah celaka.

Medali itu bernama Lok-hun-sin san-ling seperti yang telah dibeber oleb Liong-bun Pangcu, katanya milik Go-tiok Taysu dari satu diantara tiga pusakanya, tapi bagaimana asal usul sebetulnya, jarang orang tahu, maka hadirin hanya menduga-duga belaka.

Hun Hwi-mo maju beberapa langkah, katanya : „Hadirin diharap menyingkir agak jauh, saudara ini datang dari Kim-hou-po, Lok hun-ling yang dipegangnya itu amat beracun, bila bergerak supaya tidak terserempet bahaya.”

Bergegas hadirin berdiri lalu menyingkir mundur, Oh-san Siansing yang kosenpun tak terkecuali, setelah meja kursi juga disingkirkan, maka terbukalah sebuah arena yang cukup luas ditengah baiatrung. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kui bo tertawa dan berkata Cia Ing-kiat yang berada di belakang Lui Ang-Ing. “Aku tidak akan menyalahkan kau, tak usah takut. ”

Cia Ing-kiat hanya menyengir getir sekilas dia melirik kepada orang aneh, dilihatnya orang ini duduk diam tidak bergerak. Perasaan Cia Ing-kiat makin tidak tenang, jelas sebentar lagi Kui bo akan bergebrak melawan Lui Ang-ing. Bila kedua jago tangguh ini berhantam pasti mengejutkan langit menggetar bumi. Tapi pihak mana yang lebib tinggi Kungfunya, sudah tentu Cia Ing kiat tak berani memastikan, tapi dia percaya bila orang aneh juga membantu, meski Kui-bo amat tangguh juga pasti bukan tandingan.

Yang jelas Cia Ing kat amat mengharap Kui-bo memperlihatkan kesaktiannya, menggebah pergi Lui Ang-ing dan orang aneh ini. Bahwa Cia Ing-kiat punya pikiran demikian adalah selaras dengan keinginannya berdiri tadi hendak mengumumkan siapa dirinya. Adalah logis kalau sekarang dia mengharap Lui-Ang ing dan orang aneh lekas pergi supaya dirinya bisa segera melangsungkan pernikahan dengan Hun Lian.

Ketegangan mencekam hadirin, siapa yang tidak ingin menyaksikan kepandaian Kui bo tokoh yang dimasukan dalam legenda oleh kaum persilatan ini apa benar memiliki kung fu sejati? Bagaimana dia akan menjatuhkan Siau-pocu dari Kim-hou-po yang terkenal juga.

Lui Ang-ing berdiri tak bergerak, rona mukanya tetap pucat, sikapnya seperti tak acuh, diam-diam Cia Ing-kiat melirik kearah orang aneh, orang inipun bersikap tak acuh duduk santai seperti tidak terjadi apa apa seperti tiada maksud ikut turun tangan.

Dengan tajam Hun hwi-mo menatap Lui Ang-ing sambil menyeringai dingin, bagi yang berkepandaian agak rendah, mendengar tawa dingin Hun Hwi-nio, hatinya amat risi dan sebal, agaknya Lui Ang-ing juga tahu menghadapi Kui bo yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memiliki kepandaian luar biasa tidak boleh diremehkan, meski kelihatan dia berdiri seenaknya, padahal dia sudah mempersiapkan diri. Seumpama busur yang ditarik makin tegang, demikian perasaan hadirin semua menunggu terjadinya perubahan yang menggemparkan.

Perobahan secara mendadak memang telah terjadi, namun kejadian ini berada diluar dugaan hadirin pula.

Disaat Kui-ho sudah berhadapan dengan Lui Ang ing. Angin lesus besar mendadak timbul dipojok balairung sana. sebuah benda hitam besar seketika melesat muncul keudara, hadirin yang beranjak dekat merasakan sambaran angin puyuh ini sedemikian kerasnya hingga piring mangkok diatas meja juga tersapu jatuh berantakan, benda hitam besar itu mumbul empat tombak tingginya lalu meluncur turun kearah kiri. Bukan saja besar benda hitam ini juga membawa deru angin keras, ditambah daya luncurnya yang kencang, hingga hadirin belum sempat melihat benda hitam apakah itu. Tapi tidak sedikit jaga-jago kosen yang hadir dalam balairung ini, meski kejadian secara mendadak mereka yang melibat jelas seketika berteriak kaget. Kini banyak hadirin sudah melibat jelas benda hitam besar yang mumbul ditengah sambaran angin puyuh ternyata adalah sebuah joli besar,

Jilid ke : 8

Joli ini jelas milik Liong-bun Pan cu, ternyata kedelapan pemikulnya itu sekaligus melompat tinggi keatas.. Bila hadirin melihat jelas, sementara Joli sudah meluncur turun menindih kearah sebuah meja, maka seorang telah ditungkrup didalam tandu, terdengar suara mengeluh perlahan didalam tandu. Baru orang banyak melihat jelas orang yang di-tungkrup tandu besar ini bukan lain adalah laki-laki tua yang semeja dengan Lui Ang-ing dan Hu-lo Popo. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Harus dimaklumi bahwa hadirin tidak tahu siapa laki laki tua itu, namun pembaca tentu sudah menduga, bahwa laki-laki tua ini adalan samaran Cia Ing-kiat. Kejadian berangsung secepat itu, baru saja Cia Ing-kiat merasa angin besar menindih turun, tahu tahu pandangan gelap, tubuhnya sudah terjaring kedalam tandu, kejap lain urat nadinyapun sudah terpegang seorang.

Gerak gerik delapan pemikul tandu ternyata amat lincah dan cekatan, begitu joli berhasil menjaring Cia Ing-kiat, delapan orang satu gerakan, ditengah samberan angin puyuh, mereka langsung menerjang kearah luar. Jeritan kaget terpacu dengan bentakan gusar tampak orang aneh itu mengayun kedua tangannya. „Plak, plak” dua kali tamparan telak memukul dua kepala orang pemikul joli. Kontan batok kepala, kedua pemikul joli remuk dan melerak penyok, hingga bola matanya mencotot keluar dan bergandung di-pinggir hidung, sudah tentu keadaannya amat mengerikan, padahal jiwa mereka melayang seketika.

Delapan pemikul tandu ini empat didepan empat dibelakang setelah dua terpukul mampus pemikulnya tinggal enam orang, empat didepan dua dibelakang, tampak daya laju tandu besar ini tidak terhambat karenanya, luncurannya masih secepat anak panah, hadirin hanya melihat bayangan berkelebat tahu-tahu tandu besar itu sudah melesat keluar dari balairung.

Dua pemikul tandu yang sudah mati itu ternyata masih ikut melangkah delapan langkah kedepan, agaknya gerakan serempak delapan orang itu terlalu cepat sehingga jiwa yang melayang seketika itu masih belum menghentikan gerakan mereka, delapan langkah kemudian baru mereka terjungkal jatuh, Sekali menghardik orang aneh itu melompat terbang mengudak kedepan, disaat tubuh orang aneh terapung diatas tandu, baru kedua orang yang dipukulnya mati itu roboh. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kejadian hanya sesingkat kilat menyambar, tahu tahu tandu sudah meluncur keluar dikejar orang aneh.

Dari dalam balairung orang banyak masih sempat melihat dipikul enam orang, tandu itu sudah meluncur keundakan batu. Sementara orang aneh menuiuk kaki ditanah, laksana burung besar tubuhnya melambung keatas lalu menukik kebawah dengan tubrukan kilat. Betapa hebat dan lihay gerakannya sungguh jarang terlihat.

Gerakan kedua pihak teramat cepat, walau jago-jago kosen banyak terdapat dalam balairung, sampai Kui-bo Hun Hwi-nio sendiripun tidak sempat bertindak,

Dia orang aneh hampir mencapai pucuk tandu dari dalam tandu mendadak meledak bentakan nyaring, hadirin kenal betul bentakan nyaring Liong-bun Pangcu, mendadak ,.Crot” dari atas tandu menyemprot keluar sejalur panah air, begitu meluncur di-udara lantas muncrat, sehingga daya jangkaunya lebih luas, ke manapun orang aneh berkelit pasi tak luput dan semprotan air itu.

Orang banyak yang berada dalam balairung seketika mengendus bau amis busuk, jelas air yang menyemprot itu beracun jahat. Padahal orang aneh itu sedang menubruk kebawah, begitu disemprot air, terdengar dia menggerung sekali, entah bagaimana tubuhnya melenting hingga mumbul lebih tinggi lagi.

Dalam sekejap ini tandu itu sudah melesat delapan tombak jauhnya. di udara orang aneh bersalto beberapa kali, setelah semprotan air beracun itu jatuh menyentuh lantai didepan pintu baru diapun meluncur turun pula.

Semprotan air hitam itu mengeluarkan asap kelabu dan suara bakar waktu menyentuh lantai. Setelah asap kelabu itu lenyap ditiup angin, tampak lantai di mana kecipratan air itu berlobang kecil dalam. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang banyak tidak mengira kalau air hitam itu beracun sejahat itu. Bila orang aneh itu hinggap diatas tanah, tandu itupun sudah meluncur kebawah lewat undakan, terdengar bentakan dan jeritan semakin jauh, orang-orang Hiat lui-kiong yang coba menghadang tiada satupun yang selamat.

Makin lama bentakan dan jeritan itu makin jauh. Mendadak Kui-bo mengeluarkan suitan panjang, serunya : ..Menerima tidak dibalas kurang hormat. Selanjutnya Liong-bun-pang kalian pun jangan harap bisa tent ram jangan menyesal akan perbuatan yang tercela hari ini.”

Suara Kai-bo keras kumandang hingga terdengar sampai jauh. Maka terdengar jawaban Liong bun Pangcu dari kejauhan di-bawah sana : ..Selalu kami siap menyambut kedatangan kalian Cia-siaucengcu berada di tempatku pasti mendapat pelayanan sewajarnya.”

Kedengarannya suara Liong bun Pangcu sudah belasan li jauhnya, karena orang bertindak cepat diluar dugaan lagi hingga Kui-bo tidak sempat bertindak, apalagi Cia Ing-kiat jatuh ketangan mereka, apalagi dia dapat menilai kedelapan pemikul tandu itu walau tampangnya biasa saja, tapi Ginkang mereka ternyata mirip dengan kepandaian Tay-bok-sin-eng (elang sakti dari padang pasir) Ling It cu yang menjagoi jagat dengan Thi-hun-ceng itu, hal ini membuat hatinya agak jeri, tahu dikejar juga takkan kependak, meski hati amat gusar, dia tidak berani sembarang bertindak, apalagi kalau tidak berhasil merebut balik Cia Ing-kiat diri sendiri yang akan malu.

Di bawah puncak adalah sungai, Liong-bun-pang datang dari perairan, anggotanya mahir permainan dalam air. bila mereka sudah tiba dibawab gunung, jelas dirinya takkan bisa menyandaknya lagi. maka dia hanya menggertak dengan suaranya, diluar dugaan jawaban Liong bun Pangcu menyatakan bahwa Cia Ing kiat sudah berada di-tangannya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jawaban Liong bun Pangcu menimbulkan reaksi yang menghebohkan dalam balairung, sudah tentu reaksi paling keras datang dari Kui-bo Hun Hwe-nio.

Sejak muncul pertama kali tadi Kul-bo meiihat Hu-lo Popo, pada hal dia tahu orang ini bukan Hu-lo Popo asli, tapi samaran seorang yang memiliki Kungfu jauh lebih tinggi dari Hu-lo Popo, disamping diapun sudah mengenali Mau-po cu Kim-nou-po, maka terhadap laki-laki tua yang satu itupun dia juga menaruh sedikit perhatian. Tapi mimpipun tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa laki-laki tua yang tidak menyolok ini adalah Cia Ing-kiat.

Kui-bo tidak tahu berdasar apa Liong-bun Pangcu tahu bahwa Laki-laki tua ini adalah samaran Cia Ing-kiat, maka waktu musuh bertindak, dia tidak berusaha mecegah jelas bahwa Liong bun Pangcu berpandangan lebih tajim dari dirinya.

Setelah suara Liong bun Pangcu lenyap, tampak orang-orang Hiat-lui-kiong yang bertugas diluar berlarian datang berdiri di luar pintu, sikap mereka tampak gusar dan takut. Sementara orang aneh itupun pelan-pelan berputar kembali.

Kui-bo menyeringai dingin, katanya : „Jadi kau adanya.” ucapannya ditujukan kepada orang aneh.

Orang aneh angkat pundak sambil membuka kedua tangan, katanya : „Akhirnya kau kenali juga diriku.”

”Dari Thian Iau-hong kau menculiknya, dua muridku kau lukai juga. Sekarang dia di gondol orang dari sampingmu pula, bagaimana kau harus memberi pertanggungan jawab?”

Nada ucapan Kui-bo meski kalem dengan tersenyum, namun orang banjak tahu, bahwa hatinya amat gusar dan penasaran. Kembali hadirin melenggong oleh perobahan yang terjadi diluar dugaan. Hu li Popo yang bicara dengan Kui-bo. kedengaran berobah suaranya menjadi orang lain. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah tertawa kering duakali. orang aneh berkata ”Jangan kau memancing aku, orang diculik dari sampingku, sudah tentu kuwajibanku untuk merebutnya kembali, tapi setelah kutemukan, dia tetap berada ditanganku.”

Kui-bo maju dua langkah, sorot matanya bersinar tajam, orang aneh mengangkat tubuh nya lebih tinggi, terdengar tulang-tulang tubuhnya berbunyi keretekan, mendadak perawakannya menjadi bertambah besar satu kaki. Kembali hadirin bersuara kaget, memang mereka tidak tahu siapa yang menyaru jadi Hu-lo Pnpo, tapi ilmu hebat tiada taranya dari aliran Hud yang dinamakan Lip te-seng hud, banyak yang pernah mendengarnya

Tapi sejak Tat-mo Cosu menurunkan ilmunya setelah menghadap dinding belasan tahun, hanya ada tiga orang yang berhasil meyakinkan ilmu ini. Dua orang adalah pimpinan tertinggi Siau lim-si, mereka sudah lama meninggal. Tiga puluh tabun yang lalu. dalam Siau lim-si muncul seorang jenius, belum genap empat puiuh usianya, ternyata sudah menjadi wakil pimpinan Tat-mo-wan, Kungfunya melampaui orang-orang yang lebih tinggi tingkatannya, dia pun berhasil meyakinkan Lip-te-seng hud. Namun bagaimana akhirnya dari nasib padri sakti ini, orang-orang Bulim tiada yang tidak tahu, karena dihari tuanya dia terpelet oleh seorang perempuan iblis, dalam semalam beruntun dan melanggar tujuh pantangan perguruan, akhirnya dia diusir dan dipecat dari Siau-lim-si sejak itu jejaknya tfck kelihatan.

Peristiwa ini dulu pernah menggemparkan dunia, karena peristiwa yang memalukan ini Siau lim-si pernah ditutup untuk umum dalam jangka yang tak terbatas. Siapakah sebenarnya iblis perempuan itu, seorang padri sakti yang sudah tinggi pendidikan agama-nyapun bisa terpelet oleh kecantikannya. Peristiwa ini banyak ceritanya, satu dengan lain berbeda, namun tiada orang yang benar benar tahu latar belakang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sesungguhnya. Yang terang sejak peristiwa itu, tiada orang pernah melihat padri sakti itu,

Sekarang hadirin mendadak menyaksikan badan Hu-li Popo melar lebih tinggi, demontrasi Lwekang tinggi dari aliran Hud in sungguh mengejutkan semua orang. Tapi yang paling besar takutnya adalah Kui-bo Hun Hwi nio.

Menghadapi orang aneh yang badannya mendadak melar. Kui-bo Hun Hwi-nio seperti melihat setan yang menakutkan, mulut terbuka mata terbeliak, jari tangannya menuding orang aneh dengan gemetar, sepatah katapun tak mampu diucapkan.

Begitu tubuhnya melar bahan make-up dimuka orang aneh itupun ngelotok dan rontok, dalam sekejap pulihlah dia dalam wajah aslinya sendiri, tampak selembar mukanya berkerut keriput, karena tubuhnya melar betapa kereng dan gagah perbawanya sayang mukanya yang penuh keriput itu seperti lesu dan cemberut seolah-olah selama hidupnya selalu mengalami pahit, getir kehidupan yang luar biasa.

Jari tangan Kui bo yang menuding mungkin bergetar keras, mendadak suara melengking gemetar tercetus dari mulutnya:”Kau, ternyata kau.”

Orang aneh itu menghela napas panjang tubuhnya yang melar pelan-pelan mengkeret lagi seperti semula, katanya:”Memangnya siapa kalau bukan aku?” Lalu dia membalik menggapai kepada Lui Ang-ing:.”Marilah kita pergi.”

Lui Ang-ing mengiakan, sebat sekali dia meluncur dari samping orang aneh, orang aneh ini.juga sudah beranjak pelan-pelan, sikap Lui Ang-ing kelihatan tegang mengintil dibelakang orang.

”Jangan pergi.” mendadak Kui-bo Hun Hwi-nio menghardik dengan suara nyaring. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berapa keras hardikan Kui-bo, hingga hadirin merasa telinganya pekak, ada yang genderang teliannya pecah, sehingga kupingnya mendenging sekian lamanya. Tapi orang aneh itu seperti tidak mendengar, langkahnya tetap beranjak kedepan. Kui-bo bersuit panjang, kedua tangannya mendadak terayun telapak tangan yang semula putih mendadak berobah merah darah, terutama kuku jarinya berobah ungu begitu tangan terayun badan-nyapun meluncur kedepan, jari-jarinya mencengkram kepunggung orang.

Cengkraman Kui-bo Hun Hwi-nio padahal ditujukan kepunggung orang aneh, tapi orang-orang dalam balairung menjadi ribut, Kaiena serangan ini bukan lain adalah Hwi-in jiau hun salah satu dari tujuh ilmu tunggal Kui-bo yang lihay, hadirin banyak yang tahu kehebatan ilmu cengkraman ini. Betapa pun cepat gerakan lawan, umpama berhasil meluputkan diri, tapi bila kuku jari Kui-bo berhasil menggores luka kulit badanmu racun diatas kukunya itu akan bekerja dibadan musuh, berarti jiwanya tak tertolong lagi

Tadi betapa santai gerakan Lui Ang-ing waktu menyampuk benang merah Hun Lian, tapi sekarang dia tak berani ayal segera mendahului melayang keluar. Bila kesepuluh jari Kui-bo bak cakar elang itu hampir mengenai sasarannya, orang aneh itu baru putar badan berdiri tegak tak bergerak, sorot matanya memancarkan cahaya tajam mengawasi Kui-bo Hun Hwi-nio. Dalam sedikit itu, kedua tangan Hun Hwi-nio yang mencengkram tiba dengan kecepatan luar biasa itu mendadak terhenti ditengah udara. Sepuluh kuku jarinya yang panjang, terpaut satu kaki didepan muka orang aneh, tapi ujung mata dan bibir nya tampak kedutan, matapun terbelalak entah apa yang terpikir dalam benaknya.

Sekejap orang aneh menatap Kui-bo lalu memejam mata, katanya : „Kau sudah tahu siapa aku, masih berani kau hendak menyerangku ? Sumpahmu dulu belum kulupakan, tak segan aku bertindak boleh kau pikir-pikir lagi.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Apa maksud ucapan orang aneh, hakikatnya hadirin tidak ada yang tahu. Tapi Kui-bo Hun Hwi-nio amat maklum, tampak kulit mukanya semakin pucat dan mengejang ditengah pekikannya yang beringas, sepuluh jarinya mendadak mencakar turun.

Jarak sedekat itu. cakaran dilancarkan dengan pekik yang bernafsu lagi, sudah tentu serangannya hebat dan dahsyat. Tampak orang aneh tetap berdiri tak bergerak, begitu jari-jari Kai-bo menyerang tiba tubuhnya mendadak meluncur mundur beberapa kaki. Mengikuti badan lawan yang mundur makin jauh, kedua lengan Kui bo ternyata juga bisa mulur makin panjang, cakar tangannya serabutan mengincar muka orang aneh. baiu sekarang orang aneh terpaksa menggelakan tangannya.

Hakikatnya tiada orang melihat bagaimana orang aneh turun tangan, terdengar suara “Tas, tas, tas…” sepuluh kati, secepat kilat tubuh Kui bo kini yang tertolak mundur sepuluh langkah, seiring dengan suara “Tas, tas,” itu beberapa benda entah apa berjatuhan diatas lantai.

Kui-bo mundur cepat dengan kekuatan yang luar biasa, hingga dua meja kursi yang ditumbuknya hancur berantakan, untung hadirin sudah menyingkir sejak tadi, tiada satupun cidra.

Setelah Kui-bo mundur cukup jauh baru hadirin melihat jelas, jari jainya masih terkembang namun kuku-kuku jarinya sepanjang dua tiga dim diujung jarinya sudah patah semua berserakan diatas lantai. Tidak mungkin Kui-bo memutus kuku sendiri, dari hasil gebrak sejurus ini, membuktikan bahwa orang aneh berhasil menjentik putus sepuluh kuku Kui bo.

Kalau demikian kenyataannya, maka berita yang tersiar luas dikalangen Kangouw tentang Hud cam-hoa biau-ci dari aliran hud didunia barat menjadi kenyataan, dan hanya ilmu jari menjentik kembang itulah yang memiliki kesaktian yang luar biasa, seperti juga dengan Lip-te-seng-hud tadi, keduanya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

adalah Kungfu taraf tinggi dari aliran Hud-bun yang tiada bandingannya. Dari sini dapat puta disimpulkan bahwa orang aneh ini agaknya dari aliran Hud?

Mau tidak mau orang menduga bahwa orang aneh ini kemungkinan besar adaiah padri sakti yang dahulu diusir dan dipecat dari Siau-iim-si dulu. Dari nada percakapan mereka, kedengarannya orang aneh ini memang sudah lama kenal dan punya pertikaian dengan Kui-bo Hun Hwi nio. Maka orang akan menduga lebih lanjut bahwa iblis perempuan yang memelet padri sakti itu hingga dia melanggar tujuh pantangan perguruannya itu bukan lain adaiah Kui-bo Hun Hwi-nie.

Hadirin masih celingukan bingung, dalam waktu singkat sukar mereka menemukan jawaban dari perkembangan yang lebih lanjut, terdengar Hun Lian menjerit keras: ” Bu. bu.” sambil berteriak Hun Lian memburu kearah sang ibu serta memeluknya, Hun Hwi-nio juga balas memeluknya.

Lekas sekali orang aneh sudah membalik dan melangkah pergi. Lui Ang-ing mendekati lalu melangkah bersama keluar balairung.

Jago-jago yang hadir tiada yang merasa kaget dan jeri, mereka kabur setelah didepan umum Hun Hwt-nio kecudang, bila sifat gilanya kumat, bukan mustahil dia bertindak jahat terhadap para tamunya, maka mereka menyesal kenapa hari ini berada di sini.

Tampak Kui-bo Hun Hwi-nio masih melotot gusar, napasnya sengal sengal sambil kertak gigi, kulit mukanya masih kedutan, seringainya amat seram menakutkan. Siapa tidak giris dan merinding melihat tampang Kui-bo yang benar sesuai julukannya (induk setan).

Tapi hanya sekejap, setelah telapak tangannya menepuk tiga kali dipunggung putrinya, dia dorong Hun Lian mundur, wajahnya sudah berobah seperti semula, penuh senyum dan ramah perobaban terjadi hanya waktu singkat, keadaannya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

seperti dua orang yang berbeda. Sambil tertawa dia mengebas lengan baju, kutungan kuku jarinya yang berserakan dilantai digulungnya semua.

Lalu katanya lantang: ”perobahan tak terduga terjadi atas pernikahan putri tunggalku ini, terpaksa soal jodohnya kita kesampingkan dulu.”

Beberapa orang yang merasa lega seperti mndapat pengampunan saja, mumpung urusan tidak berlarut panjang, lekas mereka berdiri serta berkata : „Kalau demikian baiklah kami mohon diri saja.”

Seperti tidak terjadi apa-apa, Hun Hwi-nio berkata: ”Kenapa buru-buru, bukankah pernikahan Gin-koh. dengan Thi giam ong masih bisa dilangsungkan dan dimeriahkan, demikian pula janji yang pernah kuucapkan, tetap takkan berobah. untuk ini mohon hadirin menunggu dengan sabar.”

Jago-jago yang hadir saling adu pandang semua tak bisa mengimbil keputusan, maka beberapa tokoh kosen seperti Oh-sam Siansing Pak-roSuseng dan lain lain menjadi sasaran pertanyaan mereka, jelas secara tidak langsung mereka sudah terangkat menjadi pimpinan orang banyak.

Jago-jago kosen ini semua menerima kartu nndangan baru mereka mau datang ke Hiat-lui-kiong, dalam undangan dicantumkan janji oleh tuan rumah bagi yang datang akan diberi sebuah biji teratai darah yang berusia seratus tahun. Konon biji teratai darah itu hanya sebesar kacang ijo. kasiatnya dapat menambah tenaga, amat berguna bagi kaum persilatan. Pesta pernikahan ini merupakan pertemuan besar kaum persilatan yang belum pernah terjadi belasan tahun, yang hadir juga pasti jago-jago kosen.

Dia mulai berangkat naik kapal sampai didalam balairung ini, kejadian demi kejadian, perobahan terus berlangsung semakin tegang, hingga hadirin semakin tidak tentram ingin tinggal pergi tanpa hiraukan biji teratai segala, namun Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gelagatnya Hun Hwi-nio tidak akan mengidzinkan mereka pergi, maka kebanyakan orang menjadi bimbang. Mereka mengharap Oh-sam Siansing yang terpandang diantara mereka bisa memberikan keputusan mereka pasti akan mendukungnya, setelah beradu pandang dengan Pak-to Suseng, maka Oh sam Siansing berkata dengan tertawa ; „Urusan intern tuan rumah tak berani kami orang luar turut campur, apalagi harus mengganggu, sungguh tidak enak jadinya “

„Tidak jadi soal. Kejadian hari ini pasti akan kuselesaikan dengan baik, kalian tidak usah kuatir “

”Baiklah, kami terima saja kehendak tuan rumah.” ucap Oh-sam Siansing.

Jago jago kosen yang lain sependapatan dengan Ob-sam Siansing, maka mereka sambut keputusan ini dengan tepuk tangan riuh, suasana yang tadi tegang kini berobah riang pula. Hanya Hun Lian yang mengerut alis, menunduk kepala sambil cemberut tanpa bersuara.

Jago-jago kosen yang hadir dalam Hiat-lui-kiong ini berpendapat. Oh sam Siansing punya kepandaian, pengalaman yang luas, kedudukannyapun diagungkan, mengikuti langkahnya pasti takkan keliru. Tapi kehidupan Bu-im memang serba jahat, culas dan telengas, liku-likunya sukar diraba, setiap orang pasti punya rasa egois, bukan mustahil demikian pula sifat Oh sam Siansing? Kungfu Oh sam Siansing memamg amat tinggi, tapi bagi seorang yang pernah meyakinkan Khi kang aliran Lwekeh, makin tinggi Lwekangnya, keinginan mencapai tahap yang lebih tinggi juga makin besar dan makin sukar. Bagi yang bakat sendiri kurang memadai, bila mencapai taraf tertentu, boleh dikata akan terhenti, meski betapapun kau giat dan rajin latihan juga takkan berguna jadi suatui mu bukan tergantung dari lati uan meiulu, meski latihan lebih kerap dan menggembleng diri Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekalipun juga tidak akan mencapai kemajuan kalau bakatmu sendiri memang terlalu tidak becus.

Oh sam Siansing dan Pak-to Suseng selama dua tanun ini sudah giat berlatih, namun mereka merasakan, tidak mencapai kemajuan sedikitpun. sebetulnya taraf kepandaian yang sudah mereka capai cukup memuaskan, namun sifat manusia memang tidak kenal puas. sehingga sering terjadi huru-hara lantaran ingin mengejar kepuasan belaka.

Padahal betapa tinggi kepandaian dan kedudukan kedua orang ini. bahwa mereka jauh-jauh menepati undangan itu. tidak lain karena ingin mendapat biji teratai untuk bantu mencapai latihan mereka. Makin tinggi Lwekang sipemakai makin besar manfaatnya. Bila kedua orang memperoleh bentuan biji teratai, maka tidak sukar untuk menembus jalan untuk yang selama ini menghambat kemajuan mereka. Maka janji Kui-bo akan memberi biji teratai itu betul-betul merupakan daya tarik luar biasa sehingga mereka lupa daratan.

Selama ini kedua orang ini menyangka kemampuan mereka sudah jarang ketemu tandingan, umpama gagal memperoleh biji teratai juga tidak jadi soal. Sayang sekali sebelum naik keatas kapal beruntun kedua orang ini sudah kecundang, tanpa menampilkan diri Liong-bun pangcu mampu menggondol orang dari depan mata orang banyak, betapa hebat permainan Siau-pocu dari Kim-hou-po, dua kali demonstrasi ilmu aliran hud oleh orang aneh, membikin orang banyak pusing berkunang-kunang, ini menandakan bahwa diluar langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai. Seumpama Kim-bo Hun Hwi mo menjilat ludah dan ingkar janji, mereka juga tidak akan berpeluk tangan. Ternyata Kim-bo Hun-Hwi,nio masih bersikap ramah dan menyatakan akan menepati janji, sudah tentu kedua a-rang ini merasa akur. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Celaka adalah orang-orang gagah lain yang tidak tahu maksud pribadi kedua tokoh yang egois ini, karena mereka tidak pergi, yang lain-lain juga mengikuti jejaknya. Diluar sadar mereka, kehadiran mereka di Hiut-Lui-kiong ini akhirnya akan menimbulkan tragedi yang mengenaskan dalam kalangan bulim.

Waktu Cia lng kiat masih berada di balairung dia kira Kui-bo Hun Hwi nio sudah mengenal dirinya setelah Li-pi-lik berkaok memanggil nama samarannya, ternyata dugaannya meleset. Hal ini baru dia sadari setelah Liong bun Pangcu bertindak, tahu-tahu dirinya sudah tertutuk Hiat-to dan di gondol pergi dalam tandu.

Meski Hiat-to tertutuk namun Cia Ing-kiat masih sadar dan mata juga bisa melibat dalam tandu gelap gulita, terasa tandu sedang bergerak secepat terbang, kegaduhan terus berlangsung diluar, tapi apa yang terjadi dia tidak tabu.

Ruang tandu tidak begitu besar, terasa oleh Cia Ing kiat, Liong bun Pangcu berada di depannya. Tapi keadaan gelap, bahwasanya dia tidak bisa melihat tampang Liong-bun Pangcu, Terasa tandu meluncur makin cepat kebawah. tapi Liong bun Pangcu tenang-tenang duduk santai, katanya : „Jangan takut, apapun ditempatku ini lebih baik di banding dibawah cengkraman tua bangkotan itu dan ditangan siluman perempuan Kim-hou-po itu.”

Karena Hiat to tertutuk. mengerahkan tenagapun tidak mampu, maka mulutpun tak bisa bicara. Sehabis Liong-bun Pangcu bicara tandu mendadak seperti mumbul keatas. lalu meluncur turun pula, seolah-olah para pemikul tandu melompat tinggi bersama lalu anjlok kebawah pula.

Dalam sekejap itu Cia Ing-kiat tidak tahu berapa daiam tandu itu anjlok kebawah mendadak terdengar bunyi air, maka daya luncur tdndu berhenti, menyusul suara air dikayuh. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau Cia Ing kiat berada diluar tandu pasti dibuat melongo dan kaget, sekaligus dia membuktikan kenapa Liong bun Pangcu selalu sembunyi d dalam tandunya.

Ternyata tandu besar ini serba guna, waktu menerjang keluar dari balairung tadi atap tandu bisa menyemburkan air hitam tengkorak yang beracan dari Se ek, sepanjang jalan menuruni undakan batu tak sedikit pula Am-gi yang melesat keluar merobohkan musuh. Bila pencegatnya makin besar jumlahnya, ternyata keenam pemikul tandu langsung melompat turun dari ngarai yang terjal dan tinggi.

Ngarai itu tingginya dua puluhan tombak lebih, orang-orang Hiat-lui-kiong yang melihat tandu itu melayang dari atas ngarai mereka kira mereka hendak bunuh diri. Tak nyana bila tandu itu masih terapung tiga tombak diatas air, kanan kiri tandu mendadak menjulur keluar dua papan lebar panjang hingga daya luncur kebawah banyak tertahan, akhirnya dengan ringan jatuh di permukaan air.

Sigap sekali enam pemikul tandu sudah mencelat keatas papan Lalu melolos pengayuh, bila orang orang Hiat-lui-kiong mengejar turun dan membidik dengan panah mereka sudah meluncurkan tandu itu cukup jauh tak terkejar lagi.

Di dalam tandu Cia Ing-kiat seperti di atas perahu tak lama kemudian terasa segulung tenaga menerjang dada. rasa sesak seketika longgar, segera dia menegakkan badan terdengar Liong bun Pangcu berkata ; ”Jangan banyak gerak, arus sungai amat deras, kalau kecemplung ke air, tidak boleh dibuat main-main.”

Cia Ing-kiat mendengus sekali, katanya; „Kalau kau kecemplung memang bukan main-main, tapi bagi diriku lebih baik dari pada kau sekap didalam sini.”

Liong bun pangcu terkekeh tawa katanya ..Bukan sekali ini kau menjadi sandera orang jangan kuatir, aku pasti tidak akan menyakiti kau.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cia Ing-kiat menegakan badan, katanya: ”Kungfuku rendah, tidak membekal rahasia besar kaum Bulim. kau berani melawan beberapa jago kosen yang lihay itu meringkusku kemari, apa tujuanmu ?”

„Sudah tentu lantaran putri Kui-bo ingin kawin dengan kau. Kau harus tahu Kui-bo hanya punya seorang putri mestika, kalau putrinya ingin memetik rembulan. Kui bo juga akan mengambilnya, kau jatuh ketanganku, boleh dikata barang bisa dipakai sesuai kebutuhan”

Membara amarah Cia Ing-kiat mendengar komentar orang, namun dia tahu mengumbar adat juga tidak berguna. maka dia menekan gejolak hatinya.

Terdengar Liong bun Pangcu berkata pula: ”Kali ini Kui bo meminjam alasan menikahkan putrinya, mengundang banyak jago jago kosen ke Hiat-lui kiong dengan janji akan memberi sebutir biji teratai, padahal aku yakin dia punya maksud tertentu yang jahat, sayang mereka tidak menyadari telah tertipu”

Cia Ing-kiat hanya memikirkan posisi sendiri, bagaimana meloloskan diri, bahwasanya apa yang diusapkan oleh Liong bun Pangcu tidak didengarnya sama sekati.

Liong-bun Pangcu masih terus mengoceh: ,,Kui-bo punya ambisi besar untuk menguasai dunia, maka dapat diduga, dalam kalangan Kangouw kelak, kecuali Kim hou po dunia akan dikuasai oleh kekuatan Hiat-lui kiong. Sebagai Pangcu dari Liong hun pang betapapun aku harus memikirkan masa depan Liong-bun pang. biar kita tiga pihak saling berlomba”

Mendengar sampai sini baru mendadak Cia Ing kiat mendengus hidung, katanya: , Enak saja kau berpikir, betapa banyak kaum persilatan yang berkepandaian tinggi, terutama dari jago-jago muda aliran besar kenapa kau hanya bilang tiga pihak belaka” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong-bun Pangcu terloroh-loroh, katanya: ,.Selama beberapa tahun terakhir ini, jago-jago kosen dari golongan lurus maupun aliran sesat secara mendadak telah lenyap tak karuan parannya, lalu ke mana mereka pergi?”

Tergerak hati Cia Ing kiat, segera dia teringat akan pengalamannya di Kim hou-po, katanya: ”pergi …. ke Kim-hou po.”

Liong-bun Pangcu tertawa lebar pula, katanya: „Kalau kukatakan, aku mempunyai daftar nama-nama jago-jago kosen dari berbagai aliran besar kecil yang berada didalam Kim hou-po, kau percaya tidak?”

Tanpa pikir Cia Ing kiat menjawab:”Tidak percaya.”

”Kau tidak percaya” jengek Liong bun pangcu tertawa dingin ”lantaran tiada orang bisa keluar Kim hou po dengan leluasa, apa lagi menyampaikan berita kepadaku, begitu? ‘

Cia Ing-kiat sadar bahwa dirinya berada ditempat gelap namun dia menganggukan kepala.

Ternyata Liong-bun Pangcu seperti melihat gerakan kepalanya, segera dia tertawa pula. katanya: ”Mungkin kau hanya tahu burung dara pos dapat membantu manusia mengantar berita. Maka kau pasti tidak tahu disuatu pulau dilautan teduh sebelah timur, tanahnya hitam subur, di sana ada sejenis burung kecil sebesar ibu jari kaki kecepatan terbangnya luar biasa. Didalam Kim-hou-po ada agen yang kutanam di sana, dengan burung kumbang itulah, dia sering memberikan informasi kepadaku”

Cia Ing-kiat menarik napas panjang, dalam pendengarannya apa yang diucapkan Liong bun Pangcu seperti dengan dan hayalan belaka, setelah melenggong sesaat dia berkata ”Bagaimana kau tahu adanya jenis burung kecil yang pandai membantu manusia ini?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Jejakku tersebar luas diseluruh dunia. Dunia yang kalian maksud hanya dari Kun-lun-san sampai laut timur, keselatan Lam-hay, utara adalah padang pasir. Memangnya siapa tahu kecuali itu dalam jarak yang lebih jauh masih ada dunia lain.”

Tersir p darah Cia Ing-kiat, serunya: „Jadi kau…“

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya; „Memangnya kau tidak merasa bahasa Hanku agak kaku dan logatku tidak sama dengan nada ucapanmu ?”

Tanpa sadar Cia Ing-kiat mengangguk kepala, pada saat itulah pandangannya men-dadak menjadi terang, jelas tampak oleh Cia Ing kiat didepannya duduk seorang aneh. perawakannya tinggi besar luar biasa, rambutnya bewarna kuning emas dan kriting, kedua matanya cekung, hidungnya besar membetet, dagunya ditumbuhi jambang bauk yang lebat, juga kuning emas, namun kulit badannya justru putih seperti susu, lebih aneh lagi seluruh lengan hingga punggung telapak tangannya ditumbuhi bulu panjang bewarna kuning emas pula, hingga sekilas pandang apalagi dalam kegeiapan susah dibedakan dia manusia atau binatang.

Cia Ing-kiat terlengong sekian saat tak mampu buka suara.

Liong bun Pangcu malah tertawa, katanya : ,,Jangan kuatir, seperti engkau, akupun-manusia biasa bukan mahluk aneh, tapi betapa besar dunia ini, suku bangsa manusia teramat besar, pengetahuanmu sendiri yang terlalu cupat. jarang melihat maklum kalau merasa heran.”

Walau hati kaget dan heran, namun melibat sikap orang ramah, maka Cia Ing-kiat coba memancing “Jadi kau……kau datang dari mana ”

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya: “Ku-jelaskanpun kau tidak akan mengerti, ketahuilah, sudah lama aku meninggalkan rumah, belajar kepandaian di Thian-tiok, yang kupelajari adalah ilmu tingkat tinggi secabang dengan aliran Tat-mo Cosu, bermukim di Tiongkok sudah puluhan tahun.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sampai di sini cerita Liong bun Pangcu, cahaya benderang di dalam tandu mendadak sirna. Waktu cahaya mendadak benderang tadi. perhatian Cia Ing-kiat tertuju kepada bentuk Liong-bun Pangcu yang aneh dan ganjil, mata tidak sempat dia perhatikan dari mana datangnya sinar benderang itu.

Karuan hatinya serba bingung dan gundah, sesaat dia tak mampu bersuara.

Liong-bun Pangci bertanya pula: “Sekarang, yakin kau sadari percaya bahwa aku bukan membual ?“

Cia Ing kiat menarik napas, katanya:”Tapi jago iago yang ada di Kim hou-po. kukira takkan bisa menimbulkan onar lagi dikalangan kanguow“

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya: “‘Seorang bila sudah meyakinkan Kungfu, seumpama ulat didalam perutmu bagaimana juga kau takkan bisa mengabaikannya demikian saja’.”

Bergetar perasaan Cia Ing kiai mendengar komentar Liong-bun Pangcu, namun bila dipikirkan secara teliti, komentarnya itu memang mengandung kebenaran. Keadaan jago-jago dalam Kim hou-po memang kurang wajar, mereka seperti terkendali dan tunduk oieh kewibawaan sang Pocu dan Siau pocu sehingga semua hidup tertekan, bila Kim hou-Pocu punya ambisi mengkoordinir jago jago lhay itu. Diam diam Cia Ing-kiat merinding, katanya: „Lalu orang macam apa sebetulnya Kim-hou Pocu, apa kau tahu?“

Liong bun Pangcu menjengek dingin. katanya : „Kau sudah tahu dan kenal putrinya, memangnya kau tidak tahu ?”

Tersirap darah Cia Ing kiat, Lui Ang-ing adalah Sau pocu dari Kim-hou po. hal ini sudah gamblang dan tak perlu disangsikan iagi, sekarang Liong-bun Pangcu berkala demikian, maka Kim-hou Pocu pasti seorang she Lui. tapi setahu Cia Ing-kiat belum pernah dia dengar ada seorang tokoh Bulim she Lui yang pernah menjagoi dunia persiiatan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menilai situasi di Kim-hou-po, maka dapat dibayangkan bahwa Kungfu sang Pocu masih jauh lebih tinggi dibanding Kui-bo Hun Hwi-nio dan orang aneh itu, kalau tidak, sekian banyak jago-jago silat dari golongan hitam maupun putih, begitu masuk Kim hou-po lantas tunduk dan patuh ? Maka dapatlah dibayangkan bahwa Kim hou Pocu adalah tokoh besar Bulim. sepantasnya namanya cukup menggetar dunia persilatan, namun kenapa kenyataan tak terkenal.

Maka terbayang oleh Cia Ing-kiat akan orang aneh itu, betapa tinggi Kungfu orang aneh itu, namun bagaimana asal usul dan siapa namanya, ternyata jarang orang tahu ? Maka dari sini dapat disimpulkan, bahwa seseorang yang terkenal didunia persilatan belum tentu dia jago besar sejati, jago kosen tulen mungkin berdiri d hadapanmu, namun kau tidak tahu atau tidak mengenalnya.

Cia Ing-kiat menghela napas, katanya setelah merenung sekian saat : .Kungfuku rendah. Kim-hou Pocu punya ambisi apa, tiada sangkut pautnya dengan aku, lalu apa gunanya kau menculikku?”

Liong bun Pangcu gelak-gelak, katanya : „Bersama putri Kui-bo, didalam Kim hou-po kau sudah mencuri satu benda, betul tidak?”

Cia Ing-kiat tertawa getir, ujarnya : Betul tapi benda itu tak berada ditangan-ku, sudah direbut oleh nona Hun.”

„Betul, karena itu maka aku menculikmu kemari, akan kutunggu Hun Lian kemari membawa benda itu, untuk barter dengan dirimu “

Cia Ing-kiat geli dan dongkol, katanya; „Benda itu dinamakan Tiok-kip-pit lo. dalam lembaran rangkaian bambu itu terdapat catatan diskusi Kungfu dan dua puluh satu jago top dunia dipuncak Kun-lun puluhan tahun yang lalu. kaum persilatan bila sempat mempelajari ilmu yang tercatat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

didalamnya kungfunya akan maju lipat ganda, mana mungkin dia membarter diriku dengan benda itu ?“

,,Kukira sulit diduga,“ucap Liong-bun Pangcu, „Seorang gadis bila mencintai seorang jejaka, dia rela berkorban jiwa apalagi hanya mengorbankan benda yang tak berarti itu.”

Masgul hati Cia Ing-kiat, maka dia tutup mulut. Ternyata Liong-bun Pangcu juga tidak bersuara lagi. kira-kira satu dua jam kemudian, mendadak tunduk terasa bergetar Setelah itu berhenti sejenak, menyusul tandu ini seperti mendarat, mulai bergerak pula turun naik seperti dibawa lari diatas pikulan.

Gundah hati Cia Ing-kiat. dia tidakhabis mengerti, kenapa Hun Lian jatuh cinta kepadanya, padahal sebelum ini belum pernah terbayang olehnya bahwi Hun Lian adalah gadis secantik itu, disaat perasaannya timbul tenggelam itulah, dia hanya memikirkan satu hal. yaitu, bila dia bisa menjalin perjodohan dengan Hun Lian, suami isteri meyakin kan ilmu yang tercatat didalam Tiok-kip-pit-po, maka hidupnya ini tak perlu menyesal. Namun sekarang dirinya jatuh di-tangan Liong bun Pangcu, dari perawakan dan tampangnya yang aneh, jelas bahwa Liong-bun Pangci pasti bukan orang Tionghoa namun kepandaiannya hebat, susah dirinya loios dari belenggunya, terpaksa dia menunggu Hun Lian untuk menolong dirinya.

Cia Ing-kiat sedang berangan angan, sementara tandu terus laju kedepan, kepekatan dalam tandu menambah perasaan Cia Ing-kiat gundah gulana, saat itulah mendadak dia mencium yang harum semerbak, harum yang menyegarkan badan, namun rasa kantuk segera merangsang dirinya pula, kejap lain sekujur badan sudah lemas, lalu dia meringkel lemas dan tertidur pulas, tidak sadarkan diri lagi.

0oo0

Kini kami kembali ke Hiat lui kiong Tak lama kemudian suasana bertambah ramai dalam balairung, suara musik dan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nyanyian menyambut keluarnya Utti Ou yang beranjak keluar dengan pakaian penganten yang baru, dipapah oleh sepasang pengapit, langsung menuju kepelaminan.

Setelah berdandan tampak Thi-giam-ong Utti Ou bersikap kikuk dan malu-malu. sikapnya seperti risi dan tak tenang duduk, namun demi mempersunting Gin Koh sebagai isterinya terpaksa dia menahan diri.

Tak lama kemudian Gin koh juga keluar, sudah tentu sudah mengenakan pakaian pengantin juga, kepalanya ditutupi selembar kain merah, dipapah keluar oieh dua gadis jelita.

Hadirin semuanya tokoh-tokoh Bulini yang berkepandaian tinggi, tiada satupun di-antara mereka yang tidak merasa geli dan lucu bahwa kedua gembong iblis berlainan jenis ini, secara kilat telah menjadi suami isteri. Sementara pelayan Hiat-lui-kiong mulai menghidangkan berbagai masakan yang enak dan luar biasa, arak harum nomor satu tidak ketinggalan, hadirin makan minum riang gembira, kejadian yang menegangkan tadi sudah dilupakan sama sekali.

Sekian jam lamanya pesta pernikahan ini berlangsung, mendadak terdengar suara tambur ditabuh gema tambur mengejutkan seluruh hadirin, baru sekarang mereka sadar bahwa Kui-bo dan putrinya entah sejak kapan meninggalkan ruang perjamuan, disaat hadirin celingukan itulah mendadak semua mengendus bau wewangian yang harum sekali, semangat mereka seketika menyala hingga semua menegakkan tempat duduknya, suasanapun bening.

Lekas sekali suara tambur berhenti, tampak Kui bo Hun Hwi-nio berdampingan dengan putrinya Hun Lian berjalan masuk. Kedua tangan Hun Lian membawa sebuah nampan dari baiu pualam sepanjang tiga kaki, dialas nampan itu terdapat dua puluhan kuntum kembaug teratai sebesartinju bewarna merah setiap kuntum teratai terdapat dua belas biji buah teratai, bau harum semerbak itu datang dari nampan pualam itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berseri cerah roman muka seluruh hadirin, agaknya Kui-bo Hun-hwi nio dapat dipercaya, dia akan menepati janji membagi biji teratai kepada tamu-tamu yang hadir.

Kui-bo Hun Hwi-nio dan Hun Lian berdiri ditengah ruangan, suasana hening lelap, maka suara Hun Hwi-nio terdengar jelas dan nyata: „Hadirin sekalian. Teratai darah hanya berbuah enam puluh tahun sekali, sekarang sudah saatnya buahnya matang, terima kasih akan kehadiian dalam pesta perjamuan ini, bersama ini setiap hadirin kuhaturi sebutir biji teratai, yakin perjamuan ini tetap meriah.”

Mendadak terdengar suara percikan yang perlahan namun ramai dan cukup panjang dari atas nampan, ternyata teratai diatas nampan itu satu persatu mulai mengering terus merekah, biji tertiai berjatuhan diatas nampan dan bergelinding kian kemari. Hadirin melihat jelas biji teratai itu sebesar kacang, semuanya bulat berwarna kehijauan gelap dilingkari jaiur benang warna merah, diantara hadirin tidak sedikit yang luas pengalaman namun sebelum ini mereka hanya pernah dengar, belum pernah saksikan sendiri.

Ternyata setelah biji teratai berjatuhan baru harum tadi semakin tebal, karuan hadirin seperti berlomba saja mengendus-endus sekuatnya, karena baru harum ini mendatangkan gairah dan semangat, dari sini dapat mereka rasakan bahwa berita yang mengatakan bahwa teratai darah adalah bahan utama untuk menambah tenaga bagi seorang pesilat agaknya memang benar.

Semula ada sementara hadirin merasa kecewa dan putus asa setelah terjadinya perobahan yang tidak diharapkan. Liong-bun Pangcu menculik calon mantu tuan rumah, pesta perkawinan ternyata masih tetap berlangsung dengan Utti Ou dan Gin-koh sebagai penganten-nya kini setelah melihat Hun Hwi-nio betul-betul keluarkan biji teratai baru lega dan senang hati mereka, yang duduk dibelakang malah menyesal kenapa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

leher sendiri tidak bisa mulur untuk bisa melihat lebih jelas ratusan biji teratai didalam nampan.

Kui-bo Hun Hwi-nio tetap mengulum senyum,katanya: “Lion-ji, haturkan biji teratai kepada para tamu, pertama kau haturkan dulu kepada sepasang mempelai.”

Dengan pakaiannya yang lembut melambai Hun Lian bergerak lincah dan enteng, hanya sekali melejit sudah melompat kedepan Utti Ou, lekas Utti Ou ambii sebutir langsung dimasukan kedalam mulut. tanpa dikunyah langsung ditelan, katanya dengan mata mendelik: “Bagaimana rasanya belum kucicipi, marilah sebutir lagi,” sambil bicara tangannya terulur lagi”tapi Hun Lian sudah menyingkir hingga tangan Utti Ou meraih tempat kosong.

Karuan hadirin bersorak geli, ada yang berseloroh: “Seperti babi tak pernah makan apel. mendapat rejeki langsung dicaplok saja, sudah tentu tiada rasanya ada pula yang berseru: “Ah, kenapa kalian bisa diapusi Dia sengaja membadut untuk memperoleh bagian lebih banyak.”

Di tengah sorak sorai hadirin. Gin-koh juga ambil sebutir langsung dimasukan kemulut Selincah kupu Hun Lian sudah berkelebat pula kearah lain, dimulai dari ujung timur dia bergerak menuju kebarat, dimana dia lewat para tamu ulur tangan mengambil sebutir, semua langsung dimasukan kemulut, ada yang langsung ditelan ada pula yang dikunyah dengan lahap, namun banyak diantaranya setelah menelan biji teratai lantas duduh bersimpuh, namun ada pula yang berdiri atau jungkir balik, maklum yang hadir adaiah jago-jago kosen yang mempelajari berbagai aliran Lwe-kang, dalam latihan sudah tentu mempunyai cara dan gayanya sendiri, dalam waktu singkat ada yang dadanya turun naik, napasnya menderu seperti knalpot, ada pula yang bermuka pucat lalu merah darah. Yang paling tenang hanya Oh sam Siansing dan Pak-to Su-seng, mereka memejam mata samadi seperti Hwisio menyepi, uap putih mulai mengepul seperti mercu dari kepala Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mereka. Walau keadaan mereka sedikit berbeda, namun itu hanya karena cara latihan yang berbeda, yang terang daiam sekejap ini, mereka sudah mendapat kemajuan yang luar biasa dalam latihan Kungfunya.

Sementara itu Hun Lian sudah berada didamping Hun Hwi-nio. sekali mengebas degan lengan baju, sisa puluhan butir biji teratai diatas nampan telah digulungnya kedalam lengan baju, Hun Lian melenggong, pandangannya penuh tanda tanya kearah ibunya.

Dengan pandangan tajam bengis Kui-bo menyapu pandang semua hadirin, lambat na-munpasti mulai tampak perobahan mimik mukanya, lambat-lambat terbetik secerah senyuman diujung mulutnya, sebaliknya rasa kuatir dan bingung diwajah Hun Lian bertambah tebal katanya periahan:’ Ma, jika ada yang tidak setuju……..”

Kontan Kui-bo meliriknya tajam, katanya: ,,Tutup mulutmu Sudah tentu aku punya akal, tak usah kau banyak mulut.”

Hun Lian menghela nafas lalu menunduk kepala, Kui bo angkat sebelah tangannya, empat orang segera menggotong sebuah kursi besar berukir dan berat ditaruh dibelakang Kui-bo Hun Hwi-nio Kui bo langsung duduk bertengger diatas kursinya, diapun memejam mata seperti samadi.

Kira kira satu jam kemudian, ada sementara tamu yang sudah usai dengan semadinya, mereka mulai bergerak, semua mengunjuk rasa lega dan senang, tidak lama lagi seluruh hadirin sudah pulih seperti sediakala maka ramailah saara ucapan terima kasih kepada Kui-bo yang dianggap baik hati.

Kui bo hanya tersenyum tanpa memberi komentar akan keramahan hadirin, setelah suara ramai sirap baru Kui bo buka mata dan berkata perlahan: .Hadirin sekalian, Kecuali untuk menghadiri pesta pernikahan puteriku, kuundang kalian untuk merundingkan satu kerja besar yaing menyangkut hidup mati kaum persilatan, nanti aku mohon pendapat dan usul kalian.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hadirin segera tutup mulut dan mendengar pidato Kui-bo mereka saling pandang dan tidak tahu kemana juntrung ucapannya, namun mereka sudah mendapat bantuan sebutir biji teratai, umpama segan mendengar juga terpaksa harus mendengarkan penuh perhatian.

Kedua tangan Kui-bo diletakan di andaran kursi besarnya, kelihatan sikapnya seperti ratu saja layaknya, dengan lantang dia. melanjutkan pidatonya: „Kebesaran Kim hou-po yakin hadirin sudah pernah mendengar, tentu kalian juga tahu bahwa putriku pernah menyelundup ke Kim-hou-po, syukur dia berhasil meloloskan diri pula, kaiian pasti tidak menduga, betapa banyak jago-jago dari golongan yang berada di Kim hou-po”

Hadirin mulai mengerut alis, yang hadir semuanya adalah jago-jago Bulim yang datang dari Tionggoan. Kebesaran Kim hou-po merupakan tenaga misterius dalam pandangan orang-orang persilatan di Tionggoan, Umurnnya kaum persilatan menghindar diri bila diajak bicara tentang Kim-hou po, kuatir ketiban bencana atau kesulitan. Tapi dalam pidatonya jelas Kui-bo Hui Hwi-nio hendak memancing pendapat umum untuk membicarakan Kim hou-po.

Disaat Kui bo merandek sebentar, terdengar seorang menyeletuk:”Kim-hou-po menutup pintu terjaga ketat dan keras, kecuali pihak sendiri minta perlindungan kedalam benteng. selamanya belum pernah dengar orang mereka membuat onar diluar. peduli amat dengan mereka?”

„Kalau tuan berpendapat demikian, kukira keliru sekali.” jengek Kui-bo, „menurut apa yang diketahui oleh putriku, Kim hou-po Pocu selamanya tak pernah unjuk diri, segala urusan ditanggulangi oleh Sau-pocu dan Thi-an-te siang-sat-jiu Tadi Sau-pocu berada disini, beium lama dia pergi, bagaimana Kung funya kalian juga sudah menyaksikan, dari gelagatnya dapat kita simpulkan,bahwa Kim hou-po jelas akan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memperalat jago.jago kosen itu untuk merajai dunia persilatan.”

Makin tak karuan perasaan hadirin mendengar nada ucapau Kui bo, terasa oleh mereka bahwa Kui-bo masih punya tujuan lebih besar yang akan dan belum diutarakan.

Sudah puluhan tahun Kui bo Hun Hwi-nio berkuasa didarah luar terpencil ini, sejak meninggalkan Tionggoan, sampai sekarang belum pernah dia menginjak langkahnya di Tionggoan, umpama benar Kim hou-po pocu atau Sau Pocu punya ambisi sebesar itu, boieh dikata tiada sangkut pautnya dengan dirinya yang jauh berada ditempat belukar ini. kenapa dia bersikap serius dalam membicarakan soal ini? Umpama kata Kui-bo bermaksud baik memberi peringatan kepada mereka, urusan tiada sangkut paut dengan dirinya, lalu kenapa sikapnya begitu serius?

Maka hadirin berbisik-bisik. Perlahan Kui-bo berdiri dan berkata pula : „Hadirin sekaitan, kami bisa mengadakan pertemuan ini, terhitung memang ada jodoh. ada sebuah permintaan ingin aku ajukan kepada kalian, entah sudi tidak menyetujui.”

Hadirin diam menunggu pidatonya lebih lanjut, namun satu sama lain beradu pandang, tiada yang tahu apa kehendak Kui-bo. Terdengar Kui-bo melanjutkan : „Sekarang jago-jago kosen yang ada di Hiat-lui-kiong kutanggung takkan kalah banyak dibanding Kim hou po, sekian banyak orang kumpul jadi satu memang jarang terjadi, kesempatan baik ini kurasa jangan dibuang percuma, bagaimana kalau hari ini juga kami sumpah setia bersama untuk memilih dan angkat seorang Bengcu. berjuang berdampingan untuk melawan Kim hou-po, entah bagaimana pendapat kalian ?”

Pidato Kui-bo diucapkan secara datar seperti orang omong seenak udelnya saja, tapi hadirin seluruhnya tokoh-tokoh silat yang kosen. sudah tentu mereka tahu dan merasakan kemana kiblat perkataannya, jikalau mereka bertindak sesuai Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang dikatakan Kui-bo. maka pertumpahan darah besar-besaran bakal terjadi dalam Bulim

Maklum jago jago yang hadir dalam balairung ini hampir berjumlah dua ratus orang hampir termasuk inti kekuatan kaum persilatan di Tionggoan, padahal betapa banyak jago-jago silat yang ada di Kim-hou-po, walau belum diketahui, tapi selama beberapa tahun ini jago-jago silat besar dan kenamaan yang mendadak lenyap tak karuan parannya tak terhitung banyaknya, berapa jumlahnya hadirin kira-kira bisa membayangkan.

Umpama rencana Kui bo terlaksana dengan seluruh kekuatan jago jago yang hadir di Hiat-lui-kiong ini menyerbu ke Kim-hou-po, peduli pihak mana yang menang, korban jiwa jelas pasti terjadi, itu berarti kaum persilatan akan banyak dirugikan, dan kemungkinan terbesar adaiah kedua pihak gugur atau hancur bersama, bagaimana mereka mau melakukan tindakan yang tidak patut dipuji ini ?

Disaat hadirin kaget dan melenggong, terdengar Pak-to Suseng menghela napas, katanya : ,,Kui-bo, banyak terima kasih pemberian biji terataimu, tapi persoalan yang kau ajukan itu sukar kami menerimanya, malah perlu kuanjurkan batalkan saja niatmu dan jangan laksanakan secara kekerasan atau paksaan.”

Sikap Pak-to Suseng ramah dan lembut beberpa patah katanya justru dilontarkan dengan nada keras dan kaku. Thi-giam-ong adalah orang pertama yang menyokong : , Kui-bo. walau kau menjadi comblang pernikahanku, tapi usulmu itu tidak bisa kuterima.”

Menyusul teriakan Thi-giam-lo empat puluhan orang serempak berseru : „Harap Kui-bo maafkan, kami tak bisa menerima usulmu.”

Maka ramailah seruan hadirin yang menolak usul Kui-bo. Ternyata Kui-bo tetap berdiri santai, sedikitpun tidak marah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendengar maksudnya ditentang, terutama teriakan Thian-lam-siang-jan paling keras dan tajam : ”Teratai darah sudah kami telan, untuk apa kita tinggal di sini lebih baik bubar saja.”

Seketika seruan Thian lam siang jan mendapat applus yang ramai dari hadirin tampak Thian-lam siang-jan sudah mempelopori gerakan ini, hanya sekejap mereka sudah melesat kepintu gerbang Walau banyak yang merasa sungkan, tapi tidak sedikit pula yang mengikuti jejak Thian-Iam siang-janf berbondong-bondong mereka beranjak keluar.

Baru sekarang Kui-bo Hun Hwi-nio berkata kalem, namun suaranya ditekan dengan tenaga dalamnya : ,,Harap kalian tunggu se bentar, tunggu dulu hingga penjelasan selesai kami kalian mau pergi atau tetap tinggal di sini terserah pilihan kalian sendiri.”

Terpaksa Thian-lam-siang-jan menghentikan aksinya diambang pintu, biji matanya yang jelalatan mendelik tak sabaran, sikapnya seperti berang dan ogah, namun mereka menuggu ditempat itu. Sudah tentu orang-orang dibelakangnya terpaksa ikut menghentikan langkah.

Terdengar Kui bo berkata : „Kalian tahu sejak lama aku hidup di Biau kiang. bahwa aku pernah belajar dibawah didikan Sam-boa Niocu. kukira jarang ada orang tahu”

Bahwa Kui bo mendadak merobah arah bicaranya, sudah tentu hadirin keheranan pula, hanya seorang mendadak memekik kaget dan ngeri, waktu hadirin menoleh kearab datangnva suara, tampak orang ini besar kepala badan kecil, pertumbuhan badannya amat ganjil dan lucu, ada juga hadirin yang kenal dia sebagai Liong bin Siangjin dari Liong-bin-si yang terletak dipinggir timur Thian ti di Hun lam Kungfu Liong-bin tidak, begitu tinggi, namun pergaulannya dalam Bulim amat luas, supel dan banyak bersahabat, jiwanya jujur. Sering terjadi petikaian antar perguruan dalam Bulim, bila dia mengajukan diri melerai pertikaian ini, cukup beberapa patah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

katanya urusan akan beres dan damai. Peduli jago silat dan gotongan putih atau aliran hitam tiada yang menghormati dirinya. Maklum selama puluhan tahun ini dia bertindak secara jujur dan lurus.

Kini Liong-kin Siangjin mendadak menjerit takut dan ngeri, sudah tentu hadirin mengkirik, yang kenal segera maju bertanya : ,Ada apa Siangjin?”

Dengan muka pucat Liong bin Siangjin menuding Kut-bo Hun Hwi-nio, sesaat lamanya baru dia mengeluh sekali lagi lalu memekik : „Habislah kita semuanya.”

Pekik suaranya seperti meratap minta ampun, siapapun yang mendengar akan merinding dibuatnya, tiada hadirin yang tidak merasa seram, tampak sambil memekik Liong-bin Siangjin berjingkrak berdiri hingga meja didepannya di terjang terbalik jauh ke-depan. Dengan langkah sempoyongan dia memburu kedepan Kui-bo, lalu mencengkram lengan Kui-bo serta membentak beringas : Kau . . . mencampur ulat apa didalam makanan kita ?”

Mendengar Liong-bin Siangjin menyebut ‘ulat’, baru dua ratusan jago-jago silat itu sadar dan menjerit kaget semua, kini baru -rereka teringat orang macam apa sebenarnya Sam-hoa Niocu.

Dalam daerah Biau-kiang dengan penduduknya yang masih serba primitif, cara melepas ulat adalah merupakan kepandaian atau senjata mereka untuk membela diri, kepandaian ini sudah merupakan tradisi yang turun temurun sejak ribuan tahun Sam hoa Niocu adalah kependekan dari Kim hoa Niocu Gin hoa Niocu dan Thi-hoa Niocu. Didaerah Biau-kiang ada empat ratus tujuh puluh lebih gua, semua menyembah Sam-hoa Niocu sebagai ekepandaian Sam hoa Niocu menggunakan ulat juga berbeda satu dengan yang lain. setiap orang hanya diajari satu macam, bukan soal gampang untuk memperoleh julukan Sam-hoa Niocu, generasi demi generasi terus diturunkan, tadi Kui-bo Hun Hwi-nio pernah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bilang, diwaktu mudanya dia pernah berguru kepada Sam-hoa Niocu, semula orang banyak tidak tahu atau tidak ingat macam apa sebenarnya Sam hoa Niocu, tapi setelah Liong bin Siangjin menjerit ngeri dan menyebut tentang ulat, baru hadirin sadar.

Hun Hwi-nio tertawa lebar, katanya: „Betul, aku memang menggunakan ulat tanpa bentuk, tapi bukan kucampur dalam makanan, tapi kucamour didalam biji teratai yang sudah menjadi idaman kalian.”

Kepandaian Sam hoa Niocu menggunakan ulat memang hebat luar biasa, banyak ragamnya, ulatnyapun terdiri berbagai jenis, ragamnya tidak kurang ratusan macam, sebagian besar hadirin datang dari Tionggoan, sudah tentu jarang yang tahu seluk beluknya, jarang yang tahu apa sebenarnya ‘ulat tanpa bentuk’ itu, namun Kui bo sudah menjelaskan bahwa didalam biji teiatai yang mereka telan tadi sudah dicampur ulat, itu berarti seluruh hadirin sudah pecundang diluar sadar mereka, serempak mereka menjerit gusar serta merubung maju kearah Kui-bo

Di tengah keributan itu suara Liong-bin Siangjin paling menonjol: „Kenapa kau berbuat sekeji ini, lekas berikan obat penawarnya.”

Kui-bo Hun Hvvi no menjengek dingin, katanya: „Tujuanku tidak lain supaya kalian bersatu padu menghadapi Kim hou-po”

Kontan Thian-lam-siang jan menjerit beringas: ”Berikan obat penawar.” belum habis bicara bayangan mereka sudah melejit ke-udara melewati kepala orang banyak mencakar kearah muka Hun Hwi-nio.

Betapa cepat dan tangkas gerakan dan serangan keji mereka, orang pasti sukar percaya bahwa kedua orang ini tanpa daksa malah cengkraman mereka langsung mengincar Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

muka dan leher Hun Hwi-nio yang mematikan. Sebat sekali tubuh Hun Hwi-nio berkelit mundur.

Diluar dugaan serangan ganas dan cepat Thian lam-sisng jan itu ternyata hanya gertak ambel belaka, baru saja Kui-bo menyurut mundur, di mana kedua tangan mereka menekuk, kontan Hun Lian menjerit kaget, hakikatnya kesempatan menyingkir tiada, tahu-tahu sudah dibekuk Thian tam-siang-jan dari kiri kanan Dengan jurus kiri kerbau kanan kuda salah satu tipu dari Siu-lo cap-jit-sek-nak-hiat hoat mereka mencengkram Hiat-tu pelemas dikanan kiri pinggang

Begitu berhasil membekuk Hun Lian, segera Thian-lam-siang-jan berteriak:”Jangan takut, putrinya berada ditangan kami, memangnya berani dia tidak menyerahkan obat penawar.”

Disaat Thian lam-siang-jan beraksi, ada beberapa jago kosen yang lain juga bergerak, maka terdengarlah deru angin yang ribut disertai suara ,Plak plok” yang ramai, dari depan Hun Hwi-nio menangkis pukulan Oh sam Siansing, dari kiri menyambut serangan Pak-to Siansing, sementara tubuh atas menjengkang kebelakang menyambut pukulan Cin-loyacu, sebat sekali tubuhnya sudah berputar, dengan sikutnya dia menyodok Thi-giam-ong Utti Ou hingga mempelai laki-laki ini jatuh terjangkan kedalam pelukan Gin-koh

Gin koh membimbing Utti Ou berdiri, teriaknya: ”Kui-bo, jangan kau berdosa terhadap seluruh orang dalam jagat ini.”

Dalam sekejap Kui bo Hun Hwi nio sekaligus menyambut serangan empat jago kosen, ternyata para pengeroyoknya tiada yang unggul meski hanya seurat, malah disaat Gin-koh buka suara, tubuh Hun Hwi-nio sudah melambung tinggi, pada hal orang banyak merubung maju berarti mengepungnya di tengah. ke manapun dia menyingkir tetap dijadikan sasaran pukulan orang banyak, kepandaian Kui-bo memang hebat luar biasa, hanya sekali lompatan tubuhnya ternyata meluncur keatas belandar. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Utti Ou berteriak: „Kau pandai Ginkang memangnya orang lain tidak mampu?”

Utti Ou berteriak demikian karena dia sendiri tidak mahir dalam bidang ini, saat mana Gin-koh sudah menarik krudung muka, membanting perhiasan diatas sanggulnya, mencopot pakaian manten, bagian dalam ternyata dia tetap mengenakan pakaian serba perak, sekali menjejak tubuhnya meluncur lurus seperti roket hingga diatas belandar pula

Tidak sedikit yang mengikuti jejak Gin-koh, dalam sekejap itu sedikitnya ada dua puluh orang melompat keatas belandar. Dengan menjinjing Hun Lian di tangan kiri Thian-lam siang-jan juga melambung pergi menuju sepojok ruangan, gerakan mereka teramat cepat, pada hal Kungfu Hun Lian cukup tinggi, tapi dikempit kedua orang ini sedikitpun dia tidak mampu meronta. Thian-lam-siang-jan langsung berdiri mepet dinding, jelas kuatir Kui-bo menyergap mereka menolong putri kesayangannya ini,

Jilid ke : 9

Dalam keadaan gawat ini, Hun Lian boleh dikata satu-satunya orang yang dapat menolong dan membebaskan mereka, jikalau Hun Lian direbut lagi oleh ibunya, maka kecuali tunduk dan patuh akan perintah Kui-nio, mereka tiada pilihan lain.

Keributan yang terjadi kali ini lebih besar dari tadi. Begitu berada diatas belandar Kui-bo lantas memperdengarkan kekeh dingin yang menyeramkan, sekali bergerak entah bagaimana tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang dahan pohon dahan pohon ini melingkar-lingkar mirip akar pohon tua. Orang orang yang sudah lompat keatas belandar juga tahu kelihayan Kui bo apalagi mereka sudah terkena urat maka tiada yang; bertindak secara gagabah mereka mengawasi dengan pandangan curiga dan penuh tanda tanya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dari pojok ruangan Thian lam siang-iau membentak : ”Lekas serahkan obat penawarnya, bila kami kerahkan tenaga jiwa putrimu melayang seketika”

Kui bo yang duduk diatas belandar, kembali dia menjengek dingin: „Baik.”‘ serempak dia ayun tangan, maka dua bintik sinar bintang emas dengan mendengung melesat keluar dari dahan pohon, daya luncuran dua bintik terang itu sungguh cepat luar biasa, hingga tak terlihat jelas oleh siapapun, arahnya ke tempat Thian-Iam siang jan, orang banyak menduga senjata rahasia lihay namun gaya luncurannya seperti binatang hidup.

Kejadian laksana kilat menyambar, di-tengah seruan kaget orang banyak kedua titik bintang itu sudah melesat kemuka Thian-lam siang-jan, kedua orang cacat ini juga menduga Kui bo menyerang dengan senjata rahasia, dalam hati mereka masih merasa geli, dikiranya Kui-bo sudah, kebingungan karena putrinya dijadikan sandera, maka menimpukan senjata rahasia, padahal dengari bekal kepandaian mereka, memangnya takut diserang Am-gi?

Pikiran kedua orang cacat ini ternyata berpadu, serempak mereka kerahkan tenaga, lalu mengebas dengan lengan baju kearah dua bintik sinar yang menerjang tiba. Dengan bekal Lwekang kedua orang ini. mesti hanya kebasan lengan baju juga tidak kalah keras dari sampukan senjata berat, umpama Am-gi itu. dilempar dengan kekuatan dahsyat juga pasti bisa dikebasnya jatuh.

D saat lengan baju mereka mengebas itulah kedua bintang-bintang itu mengeluarkan dengung suara lebih keras, tiba-tiba mumbu ke atas, ditengah udara berputar setengah lingkar terus menukik kebatok kepala Thtan am sang jan begitu cepat sambaran kedua bintik sinar ini, sebelum Thian Iam lang-jan sempat angkat kepala, kedua bintik sinar itu sudah hinggap dimuka mereka. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Karuan bukan kepalang kaget Thian lam -siang-jan, namun dalam sekejap itu pula, muka dimana kedua bintik sinar itu menyentuh terasa linu pedas, namun tidak menimbulkan efek sampingan apapun, karunan mereka tertegun. Baru sekarang orang banyak melihat jelas kedua bintik bintang yang melesat terbang kemuka Thian lam-siang-jan ternyata benda hidup. Benarnya seperti biji asam, tumbuh sayap kecil warna kuning dengan tubuh berwarna kuning emas, bentuknya mirip kumbang, saat itu kedua binatang kecil ini berhenti sambil menggetar kedua sayapnya.

Thian-lam-siang-jan melengak sekilas saja, tanpa janji keduanya angkat tangan terus menebuk „Plak”, muka sendiri digampar nya namun kedua kumbang emas itu juga ketepuk mati, waktu mereka membuka telapak tangan, mulut mendengus, serunya:„Hm, begini saja kemampuanmu?”

„Ya,” sahut Kui-bo Hun Hwinio dengan tawa dingin, ”tapi sudah lebih dari cukup.”

Hakikatnya hadirin tiada yang tahu apa maksud perbuatan Kui-bo, tapi mendadak mereka mendengar Thian lam-siang-jan mencak-mencak seraya berteriak-teriak aneh. Jengek tawa Kui-bo sudah cukup membuat orang banyak merinding, namun teriakan Tbian-lam siang jan sekarang lebih menggiriskan, bukan saja tajam dan mengerikan seumpama jarum menusuk kegenderang kuping, siapa takkan bergetar hatinya mendengar jeritan yang menyayat bati. sampaipun Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng yang berkepandaian tinggi juga tidak terkecuali.

Kejadian lebih lanjut lebih mengejutkan lagi, Thian-lam-siang-jan lepaskan tangannya yang menelikung tangan Hun Lian, agaknya Hun Lian sudah menduga bahwa peristiwa ini bakal terjadi, begitu dirinya bebas, dengan mengerut alis lekas dia melompat pergi.

Dalam pada itu Thian-lam-siang-jan sedang mencekik leher sendiri, dari tenggorokannya mengeluarkan suara serak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rendah seperti babi yang dicekik lehernya, mimik muka mereka amat kesakitan dan menderita luar biasa. Tubuh mereka sudah menyurut mepet dinding, berdiripun sudah tidak kuat lagi, pelan-pelan roboh tersungkur dikaki tembok, lalu meronta-ronta dan berkelejetan, kedua tangan mencekik leher makin keras, lambat laun kedua bola mata pun makin melotot besar.

Tak ada hadirin yang tidak merasa takut dan ngeri melihat nasib kedua orang cacat ini, maka tiada yang berani bergerak lagi, hanya suara aneh yang keluar dari tenggorokan Thian lam-siang-jan masih terdengar makin lemah, hadirin menjublek diam.

Maka Kui bo berkata dengan nada dingin: “Kalian sudah kena “ulat tanpa bentuk” yang beracun, tiada obat penawar untuk menolong jiwa orang yang terkena ulat tanpa bentuk, namun bila kalian tidak membikin aku marah, dan tunduk akan perintah dan kehendakku, pasti ulat itu tidak akan bekerja. Tapi sekali kalian membangkang dan menentang kehendakku, bila aku melepas Kim hong (kumbang emas), bila tubuh kalian terantup. maka ulat dalam tubuh itu akan mengamuk, kalian akan tersiksa selama tujuh hari tujuh malam baru binasa.”

Sudah tentu ciut nyali para hadirin, apalagi Thian lam siang jan sudah menjadi contoh, tampak tubuh kedua orang ini seperti makin mengerut, hingga tulang mengecil kulit daging justru melembung, keringat tampak membasahi sekujur badan, keadaan mereka sudah tidak menyerupai manusia.

Betapapun lihay dan luas mengalaman seluruh hadirin, mereka adalah manusia biasa, melihat keadaan yang mengerikan ini, walau kejadian bukannya menimpa diri sendiri, tapi mereka juga seperti ikut tersiksa, bila teringat dalam tubuh sendiri juga sudah kena ulat beracun ini, bukan mustahil nasib sendiri juga akan seperti itu bila tidak tunduk perintah kui bo Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perubahan drastis terjadi pula pada tubuh Thian-lam-siang jan, tadi tubuh mereka mengkeret, sekarang ternyata melar dan makin membengkak besar, terutama bagian muka mereka, saking besar melarnya hingga, mata, hidung mulut dan kuping sudah tidak bisa dibedakan lagi. demikian kuat kepalanya, rambutnya mulai rontok mirip ikan gelembung yang kering kepanasan.

Kui-bo tertawa dingin, katanya: “Kalian sudah saksikan sendiri? Siapa bekerja dengan aku, bila berhasil pasti banyak manfaat yang akan kalian peroleh, siapa berani menentang kehendakku, kedua orang ini sabagai contohnya.”

Melihat betapa mengerikan siksa derita yang dialami Thian-Iam-siang-jan, siapa yang tidak mengkirik dan merinding, semua mandi keringat, tiada yang berani bercuit lagi.

Sesaat kemudian baru Oh sam Siansing buka suara : „Kui-bo, tadi kami saksikan, laju terbang kumbang emas memang amat kencang, tapi jikalau kami menyingkir jauh, yakin kau takkan mampu berbuat apa-apa.”

Kui-bo terloroh-loroh bengis, kalau tadi dia bersikap ramah dengan senyum welas asih tapi sekarang sikapnya berobah sebuas binatang, loroh tawanya membuat merinding seluruh hadirin, katanya sadis: „Kumbang emas yang kupelihara kebetulan klop dengan jumlah kalian, jadi satu orang satu kumbang, kumbang yang satu berjodoh dengan ulat yang ada didalam tubuh kalian, umpama kalian berada ditempat yang ribuan jauhnya juga suatu ketika mereka akan menemukan jejak kalian, siapa diantara kalian mau mencobanya, boleh silakan pergi saja, yakin belum jauh kalian pergi, kumbang yang kulepaskan sudah pasti menyandak kalian”

Banyak hadirin merasa lega mendengar ucapan Oh-sam Siansing, namun setelah didebat Kui-bo kembali kuncup harapan mereka. Apalagi kulit daging Thian lam siang-jan sudah hampir pecah, entah kenapa kini mulai menyusut lagi, kecuali bola mata mereka yang masih bergerak, sekujur badan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah lemas seperti tak bertulang lagt, keadaannya betul-betul tidak mirip manusia lagi.

Ditengah seringai buas Kui-bo mendadak dia membentak : ”Seret keluar”

Dua jago kosen dari Hiat ling kiong mengiakan terus melangkah lebar kepojok sana, sekali ayun mereka melepas seutas tali kecil lembut laksana laso membelit kaki Thian lam siang jan terus diseret keluar. Kontan mereka menjerit dan merintih kesakitan seperti usus dipelintir atau isi perut diremas, tubuh mereka sudah hampir telanjang karena pakaian sudah koyak-koyak waktu badan mereka melar tadi.

”Kukira sudah cukup.” ujar Kui-bo, „dibawah pimpinan Oh-sam Siansing dan Pak to Suseng, kalian boleh berangkat lebih dulu, berhenti dua puluh li diselatan Kim-hou po menunggu kedatanganku. Bila aku tiba di sana. siapa diantara kalian yang melarikan diri. hehe, awas rasakan sendiri akibatnya.” beruntun dia tetawa dingin tiga kaki, tawa sadis, tawa yang kejam, tiada hadirin yang tidak merinding. Mimpipun mereka tidak mengira, hanya karena loba sebutir biji teratai, mereka harus mengalami nasib seburuk ini. Maka orang banyak merubung Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng, menunggu komandonya, sekaligus ingin tahu bagaimana reaksi kedua tokoh besar ini.

On-sam Siansing dan Pak-to Suseng saling pandang sekejap, Oh-sam Siansing bergelak tawa, katanya lantang: ”Memang salah kita sendiri terlalu ceroboh, kini kejadian sudah terlanjur, apa pula yang bisa kita lakukan kecuali menurut kehendaknya ?”

Pak-to Suseng mengebas kedua lengan bajunya, meminjam daya kebasan ini tubuhnya melesat mundur kebelakang, serunya : ”Hayolah beiangkat.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau kedua orang ini tidak mau menelan kerugian didepan mata, orang lain mana berani menolak, dengan muka cemberut pelan-pelan mereka bergerak keluar.

Lekas sekali sebagian besar hadirin sudah beranjak keluar, hanya Utti Ou dengan bola matanya yang melotot bundar mengawasi Kui bo. agaknya dia masih membandel Kui-bo tertawa katanya: „Kalian masih kemanten baru aku tidak akan suruh kalian menempuh perjalanan jauh, maka kutugaskan kalian berjaga di Hiat-lui-kiong saja.”

Utti Ou menoleh dan mengedip kepada Gin-koh, Gin-koh lantas berseru melengking : „Kui bo, kami berbakti kepadamu, dari ribuan li jauhnya menculik Cia saucengcu kemari, ternyata aku dan Thi-jan juga tak terhindar dari muslihatmu, apa langkahmu tidak terlalu.”

Kui-bo menyeringai, katanya „Aku tidak boleh pilih kasih, aku harus menegakkan kewibawaan, jikalau kau setia kepadaku Lwekangmu akan bertambah maju, memangnya tidak baik?”

Padahal Gin-koh dan Thi-jan Lojin memang sudah menghamba kepada Kui-bo. perintah Kui-bo kapan berani mereka menentang, maka kejadian itu sebetulnya tidak membawa perobahan bagi mereka. Tapi kalau dulu mereka bekerja secara sukarela, sekarang justru dipaksa oleh keadaan, jelas titik tolak persoalannya berbeda cukup jauh.

Sesaat lamanya Gin-koh kehabisan akal, waktu dia angkat kepala dilihatnya Utti Ou tengah mengawasinya dengan kasih mesra senyumannya mirip laki-laki bloon, tanpa sadar ia menghela napas, apa boleh buat terpaksa dia ikut menanggung nasib yang sama.

Rombongan besar Oa-sam Siansing sudah turun kebawah dan tiba dipinggir sungai. Orang-orang Hiat lui kiong suduh menyiapkan kapal besar, orang banyak diantara keluar perairan kebetulan ada angin buritan maka kapal maju tanpa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

makan banyak tenaga, enam puluh li kemudian kapal berlabuh, orang banyakpun mendarat

Sepanjang jalan rombongan jago-jago silat sebanyak hampir dua ratus ini seperti kawanan anjing yang keok dimedan laga, tiada yang bergairah bicara, bukan saja lesu merekapun patah semangat. Setelah semua mendarat kapalpun bertolak balik, semua berkumpul dipinggir hutan merubung sepuluhan jago jago yang paling top diantara mereka, mulailah mereka berdebat dan bicara mengajukan pendapat masing-masing. Liong-bin Siangjin adalah orang pertama yang angkat bicara : ”Kuharap kalian jangan punya pikiran ingin mengadu untung, dulu pernah kudengar cerita orang bahwa Sam-hoa Niocu dari Biau kang ada mengajarkan puluhan atau mungkin seratus jenis cara memelihara dan melepas ulat beracun, diantaranya ulat tanpa bentuk bila kumat adalah yang paling mengerikan. Kecepatan terbang kumbang emas itu juga amat kencang, apa yang diucapkan Kui bo memang bukan gertak sambel.”

Seorang berkata : ”Lalu bagaimana ? Memangnya kita harus tunduk dan patuh pada perintahnya? Mengempur Kim-hou po ?”

Liong-bin Siangjin menghela napas panjang, katanya : ”Kecuali diantara kita ada orang yang mappu mencari bongkot akar pohon tempat Kui bo memelihara kumbang emas itu, lalu di masukan kedalam peti besi yang rapat serta membakarnya sampai mati, kalau tidak terpaksa kita harus menjalankan perintahnya.”

Liong-bin Siangjin bicara dengan sikap serius dan nada tertekan, seluruh hadirin juga mendengarkan dengan prihatin. Tapi Pak-to Suseng berkata : „Siangjin, jangan kau berkelakar, memangnya siapa yang bisa turun tangan mencuri bongkot akar pohon itu ?”

Hadirin saling pandang lalu tertawa getir. Liong bin Siangjin berkata : „Pak to, jangan kau kira aku menggoda kalian, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hanya ada seorang mampu melaksanakan tugas berat ini. hanya dia pula yang dapat menolong kita semua.”

Karuan pernyataan Liong-bin Siangiin mendapat tanggapan serius para hadirin. Maklum Kungfu Liong biu Siangjin memang biasa saja, namun dia terpandang dan punya wibawa diantara kaum persilatan, adalah logis kalau dia memiliki kelebihan yang orang lain tidak punya, bahwa selamanya dia tidak pernah berkelakar atau membual adalah salah satu ciri kelebihannya, maka timbul setitik harapan dalam benak orang banyak, semua menunggu penjelasan Liong-bin Siangjin.

Liong-bln Siangjin berkata : ,,Orang itu adalah nona Hun Lian”

Hadirin menunggu dengan tegang, mereka kira Liong-bin Siangjin akan menampilkan seorang tokoh lihay yang cukup mengejutkan, kini mendengar calon penolong mereka adalah Hun Lian, semua orang lantas menyengir tawa. Beberapa orang yang berhati lemah terbayang selanjutnya mereka harus hidup dibawah orang serta terbelenggu kebebasannya, maka pecahlah isak tangis mereka.

Lekas Liong-bin Siangjin membujuk: “Saudara-saudara dengar dulu penjelasanku. Memang Kui bo pasti menjaga ketat dan menyimpannya secara rahasia agar kumbang emas itu tidak tercuri orang betapapun dia ketat menjaga dan mencurigai orang lain pasti tidak akan curiga kepada putri tunggalnya sendiri, apakah ucapanku tidak benar?”

„Beuil, apapun dia tidak akan curiga kepada putri sendiri. Tapi Hun Lian adalah putrinya, memangnya dia mau berkiblat keluar, membela orang lain memusuhi ibunya sendiri ? Sudahlah, jangan kau singgung lagi soal ini.” demikian debat Oh-sam Siansing.

„Oh-sam, umumnya gadis yang dewasa hatinya pasti berkiblat kepada orang lain,hanya ada satu orang yang dapat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menunjuk dan menaklukan Hun Lian untuk melakukan akalku itu.”

”Siapa?” beramai ramai orang banyak bertanya.

”Siapa lagi, sudah tentu Cia Ing kiat, Sau-cengcu Kim-liong ceng.”

Hadirin terbeliak dan akur akan akal ini, walau sebagian besar orang-orang ini masih menyangsikan ucapan Liong-bin Siangjin, walau harapan itu terlalu jauh, namun setitik harapan sekalipun tidak salah untuk diraihnya. Apalagi orang banyak juga tahu, Hun Lian kenal Cia Ing-kiat di Kim-hou-po, kalau Kui-bo bisa suruh orang menculik Cia Ing-kiat kemari serta hendak mengawinkan putrinya kepadanya, sudah tentu Hun Lian sudah jatuh cinta kepada pemuda itu.

Tapi orang banyak juga tahu Cia Ing-kiat diculik pula oieh Liong-bun Pangcu, pada hal Liong-bun Pangcu terkenal misterius, jejaknya tidak diketahui, siapa dan bagaimana asal-usulnya juga tiada yang tahu. sejauh ini kaum persilatan belum ada yang tahu di mana letak markas pusat Liong-bun pang, lalu kemana mereka harus menemukan jejak Cia Ing-kiat? Maka orang banyak-kembali menj idi lesu. Oh sam Siansiu menghela napas, katanya: “Sekarang tiada jalan sama sekali kita patuh akan perintah Kui-bo, mempersiapkan diri ketempat yang ditentukan oleh Kui-bo, jumlan kita sekian banyak, supaya tidak menarik perhatian orang, kalian harus berpencar dan dibagi beberapa rombongan, terserah bagaimana kalian akan berangkat. Perlu kuperingatkan, apa yang diucapkan Liong-bin Siangjin bukan main-main, maka sepanjang jalan peduli menghadapi apa, jangan kalian menunda diri hingga terlambat, kalian harus bertanggung jawab kepada raga sendiri.”

Mungkin baru pertama kali ini Oh sam Siansing bicara secara s Kaum persilatan memang hidup diujung golok dan pedang, tapi seseorang tidak mudah untuk menghabisi jiwa sendiri, maka hadirin tiada yang membantah, semua berjalan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersama teman yang dikenalnya baik, seperti datangnya mereka teras berpencar. Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng berangkat paling akhir,namun mereka juga tidak banyak bicara.

000)0(000

Setelah hujan lebat malam harinya, sejak pagi hingga lohor mentari semakin terik. Jalan raya menuju kesungai tak jauh di selatan Kim-hou-po sudah berderu dan kering kerontang, dermagapun retak-retak. Dermaga ini bukan lain adalah tempat penyebrangan waktu Cia Ing-kiat menyamar jadi Ciong Tay-pek merarikan diri dari Kim-hou-po dulu, didermaga ini kecandak para pengejarnya, waktu itu dia menyamar pula jadi petani muda sehingga lolos dari pengawasan Thian-te-siang-sat dan Toa-ho-sam-cu

Sejak perintiwa tragis itu, tiada orang berani menyebrang sungai dari dermaga ini sehingga tempat ini makin terbengkelai,gubuk pendek di mana kakek anak dan cucu bertiga yang memiliki kapal tambangan itu bertempat tinggal kini sudah ambruk sebagian, sekitarnya ditumbuhi rumput liar, jalanan yang tembus kearah dermaga ini pun sudah menjadi semak belukar.

Tengah hari itu terik mentari memang luar biasa, hingga orang merasa sesak bernapas, ditengah arus sungai yang bergulung-gulung tampak sebuah perahu kecil meluncur cepat menuju kedaratan Pemegang galah di atas perahu adalah seorang yang berperawakan tinggi besar dengan kain hitam mengke-rudung kepala, diburitan perahu ada dua ekor kuda berbulu putih salju, disebelah laki-laki berkerudung ini duduk seoraug gadis remaja yang mengenakan cadar deugan kain hitam mengikat sanggul, walau tak kelihatan raut mukanya, tapi dari perawakannya yang ramping semampai dapat dibayangkan bahwa gadis ini pasti cantik rupawan.

Lekas sekali perahu sudah menepi, pemegang galah agaknya cukup mahir mengendali perahu, dalam jarak tiga Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tombak sebelum perahu menyentuh daratan, jangkar yang terikat rantai sudah dilempar keatas daratan jangkar amblas kedalam tanah, laki-laki itu lantas menarik ramai hingga perahu lebih cepat merapat, gadis yang duduk dtujung perahu segera berdiri, setelah membetulkan sanggulnya dia menurunkan cadarnya, maka tampak wajahnya yang ayu jelita, gadis ini bukan lain adalah Hui Lian, putri Kui bo Hun Hwi-nio pemilik Hiat-lui-kiong.

Pemegang galah bambu itu ternyata beralis tebal, juga seorang perempuan, siapa lagi kecuali Li pi-lik. begitu perahu menepi Hun Lian mendahului lompat kedarat. dengan mulut cemberut Li-pi-lik seperti dirundung persoalan, dia ikut naik kedarat sambil menuntun kedua ekor kuda itu.

Hun Lian langsung menceplak kepung-gung kuda. katanya : „Berapa jauh tempat ini dengan Kim-hou-po ?”

„Hanya tiga puluhan li, rombongan orang itu mungkin sudah berada didepan.”

Bercokol dipunggung kuda Hun Lian mengawasi arus sungai yang bergolak deras, katanya : ”Lalu di mana sebetulnya Liong-bun-pang mendirikan pangkalannya ”

Li pi lik tertawa getir, sesaat baru menggeleng kepala. Hun Lian berkata kurang gembira.Kau sebagai salah satu dari tiga saka sungai besar ini. padahal Liong-bun-pang juga beroperasi disekitar sungai, apa betul kau tidal tahu letak markas mereka?”

Mulut Li-pi-lik tetap cemberut lalu geleng kepala tiba-tiba Hun Lian mendengus, katanya gemes;” Jangan kau banyak pikiran.”

Agaknya Li-pi-lik sudah sekian lama memendam perasaan yang tak terlampias mendadak dia berteriik;„Aku bukan banyak pikiran. Kau hanya bertemu muka dua kali didalam Kim-hou-po. aku sebaliknya pernah dipeluk didalam air dan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dibopong naik keatas darat, sudah selayaknya kalau aku lebih merindukan dia dari pada engkau.”

Hun Lian melotot, desisnya dingin”.,,Berani kau bilang begitu lagi, selamanya jangan kau bertemu lagi dengan aku.”

Bibir Li-pi-lik sudah terbuka, namun dia urungkan omongan yang hampir terlontar segera diapun melompat kepurugung kuda serta mengepraknya pergi. Lekas Hui Lian juga larikan kudanya, kedua kuda putih ini dibedal tanah gersang hingga menimbulkan kepulan debu tinggi dibelakang.

Jalan raya sejajar dengan sunrai yang menuju keutara ini ternyata sepi lengang ke cuali mereka berdua yang menunggang kuda tiada manusia atau binatang lain dijalan raya ini. Kini Hun Lian larikau kudanya disebelah depan Li pi-lik disebelah belakang. Kanan kiri jalan hanya ditumbuhi beberapa pucuk pohon yang jarang-jarang rasanya tiada tempat untuk orang sembunyi disana, maka Hun Lian tidak pernah melirik kiri atau kanan. kuda terus dilarikan dengan kencang. Li pi-lik masih ikut d belakangnya Disaat mereka melewati pula beberapa gerombol pohon mendadak sebatang pohon d sebelah kanan tak jauh disebelah depan pelan-pelan roboh melintang dijalan, menyusul selarik sinar berlebat, Li-pi-lik merasa sejalur angin kencang membawa sebuah benda menungkrup ke atas rapalnya.

Kejadian mendadak secara tidak terduga lagi, lagi pula Li pi-lik tidak perhatikan sebelum dia melihat jelas, namun hidung sudah mengendus bau amis, sebelum dia sempat berteriak lehernya tiba tiba seperti dijirat, lalu tubuhnya terangkat mumbul.

Padahal Li-pi-lik bukan kaum lemah, tapi perobahan ini terjadi secara cepat, disaat tubuhnya terangkat mumbul itu sempat didengarnya kuda tunggangannya masih lari ke-depan, namun kejap lain dia merasa dada terasa dingin, tenaga merontapun belum sempat dia kerahkan dia sudah tidak ingat apa-apa lagi Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara batang pohon yang barusan ambruk ketengah jalan itu kini telah tegak berdiri pula, ternyata dahan pohon merekah dan bolong bagian tengahnya ditempat yang itu tampak sembunyi satu orang, orang ini berperawakan tinggi kurus, jikalau saat itu dia sedang menarikan kedua tangannyaa, sepintas lalu orang akan menyangka dia patung kayu, bukan manusia hidup

Tampak tangan kirinya memegang sebuah gelang besi, dia tas gelang besi diikat tali lemas, diujung tali itu, terpasang sebuah jaring tembaga, kepala Li-pi lik sudah terjaring rapat, darah tampak mengalir dari pinggir jaring yang menjirat kencang sementara tangan kanan juga memegang seutas tali, tali itu tertarik mengencang mencabut sebatang pisau runcing dari dada Li-pi lik.

Tubuh Li-pi-lik sudah menggeletak ditanah rumput, sekali sendal tangan kiri, jaring benang baja itu terlepas dan mencelat mumbul keudara menaburkan darah segar. Agaknya Li-pi-lik sudah ajal dengan leher terjirat dan dada tertusuk pisau, agaknya dia mati penasaran maka kedua matanya mendelik besar. Tapi pembunuh itu tidak hiraukan mayatnya, kepalanya, terangkat memandang jauh kedepan.

Orang kurus kering ini bertindak secara cepai dan cekatan, kematian Li pi-lik hanya berlangsung dalam sekejap. tanpa mengeluarkan suara terus roboh ketanah. Selesai membunuh Li pi lik, sementara Hui Lian masih terus mencongklang kudanya sejauh tiga puluhan tombak, gelagatnya dia tidak tahu bahwa lawan asmaranya ini sudah menemui ajal secara penasaran di tangan musuh yang tidak dikenal.

Maklum kuda tunggangan Li-pi-lik masih terus berlari d belakang. Orang kurus itu menggerakkan kedua tangan, jaring baja dan pisau runcing diujung talinya itu segera dia simpan dan diikat dipinggang terus mengembangkan Ginkang meluncur kedepan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sungguh sebat gerakan orang kurus ini, begitu dia meluncur kedepan, ternyata menimbulkan deru angin yang menggulung ke-pinggir hinggi debu pasir dijalan raya beterbangan, lekas sekali dia sudah menyusul tiba, sekali enjot kaki .dengan enteng dia hinggap di punggung kuda yang tadi dinaiki Li-pi lik. Pelan pelandia tepuk tengkuk kuda, kuda itu segera mempercepat larinya hingga jaraknya lebih dekat dibelakang Hun Lian.

Setelah mendengar ucapan Li-pi-lik yang blak blakan tadi. mungkin Hun Lian merasa dongkol dan masgui maka dia tidak pernah menoleh lagi meski mendengar lari kuda di belakangnya menyusul makin dekat, karena dia tidak nenduga bahwa Li-pi-lik sudah mati, penunggang kuda sudah ganti orang lain yang juga mengancam jiwanya

Kuda itu dibedal makin kencang dan jarak juga makin dekat, kini tinggal lima kaki di belakang Hun Lian, tampak orang kurus itu mendekam tubuh kedepas, dari punggung kuda itulah dia menjulurkan jarinya langsung menutuk ke Sin tong hiat dipunggung Hun Lian.

Serangan orang kurus ini teramat cepat dan lihay, dalam keadaan tidak siaga dan tidak menduga, sepantasnya serangannya pasti kena sasaran dengan telak. Tapi Kungfu Huin Lian tidak bisa dibanding kepandaian Li pi-lik. begitu orang itu menuding dengan tutukannya yang keras, Hun Lian lantas merasakan adanya gejala tidat beres dibelakang firasat mengatakan bahwa seseorang membokong dirinya dari belakang, maka secara reflek dia mendoyong badan kepinggir.

Dalam waktu sesingkat itu susah dia menduga siapa gerangan yang membokong dirinya, maka dia menduga karena keki dan dendam mendadak timbul maksud jahat Li-pi-lik hendak membunuh dirinya, maka begitu dia mendoyong tubuh kepinggir sekaligus dia membentak : ”Ingin mampus kau.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Serangan itu amat cepat, ternyata gerakan menghindar Hun Lian lebih cepat lagi, “ser” tutukan jari nyerempet lewat dipinggang Hun Lian Baru sekarang Hun Lian melihat jelas pembokong dirinya ternyata adalah jari-jari angan yang kurus kering seperti cakar burung, jarinya panjang luius dan runcing. jelas ini bukan jari-jari Li-pik-li, baru sekarang dia tersirap kaget.

Dengan mendoyong tubuh kepinggir tubuhnya masih bergelantung di punggung kuda, kuda juga masih mencongklang kedepan begitu merasa gelagat jelek, secara reflek tangannyapun menepuk balik kearah cakar kurus kering itu. Begitu tutukan luput orang itupun segera menarik tangan, namun pada saat itu pula tubuh Hu Lian sudah meninggalkan punggung kuda. melebat miring keluar ditengah udara tuhunnya berputar seratus delapan puluh derajat baru kakinya hinggap ditanah, bentaknya : „Siapa kau ?”

Ternyata gerakan orang kurus iui juga amat tangkas, hampir dalam waktu yang sama diapun meninggalkan punggung kuda langsung menubruk. Begitu cepat tubrukan orang hingga Hun Lian tidak sempat melihat jelas tampang lawannya, cuma dia melihat bayangan orang yang bertubuh kurus kering tinggi langsung menubruk kearahnya. Kaiuan hati Hun Lian kaget tercampur gusar, dite-

Tigah hardikannya pergetangan tangan terbalik selarik benang merah kontan melesat kedepan.

Benang merah ini pernah dipaksa balik oleh Sin-san lng Lui Ang-ing waktu masih di Hiat-lui-liong tempo hari, Kui-bo Hun Hwi-nio pernah memotongnya separo, namun panjangnya masih ada lima enam tombak, apalagi benang merah ini adalah senjata ampuh yang sejak kecil dibuat mainan oleh Hun Lian, begitu dia kerahkan tenaga benang merah itu bisa mengencang lurus seperti kawat, maka kali ini bayangan orang itu langsung ditusuknya dengan benang merah yang tegak kencang, dengan serangannya ini Hun Lian yakin dirinya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berada dipihak unggul, diluar dugaan, disaat sinar merah berkelebat itu, bayangan orang itu mendadak juga melejit keatas udara.

„Plok” karena saluran tenaga dalam Hun Liau benang merah itu menjadi kaku lurus dan menusuk bolong baju bagian bawah orang, namun karena orang itu melayang keatas maka bajunya yang bolong tampak koyak besar.

Gerakan orang kurus ternyata cepat luar biasa, begitu tubuh melambung tanganpun bergerak, Hun Lian rasakau tubuhnya ditindih satu benda kemilau yang berat. Pada bal dia masih bercokol dipunggung kuda, sejak merasakan dirinya dibokong orang, dia sudah mendapat firasat bahwa orang ini tidak gampang dilayani, maka diapun sudah waspada, begitu jaring baja itu menungkrup turun, tubuhnya lantas miring dan meluncur minggir keluar. Sebelum kakinya menyentuh tanah, jaring baja itu jatuh dipunggung kuda maka kuda iiu yang terjirat serta meringkik kesakitan, darah tampak muncrat dari tubuh sang kuda.

Sudah tentu Hun Lian terperanjat, pengalamannya berkecimpung di Kangouw bukan cetek, namun senjata macam apa sebetulnya jaring baja yang tajam ini, ternyata dia belum pernah tahu atau melihatnya. Sejauh peristiwa ini berlangsung dia belum sempat melihat siapa pembokong dirinya, maklum dalam keadaan gawat begini sudah tentu tak sempat dia pikirkan hal ini, ditengah udara tubuhnya bersalto, begitu kaki menyentuh bumi kontan dia menimpuk tiga buah senjata rahasia yang bersinar kemilau kearah musuh.

Sejak kecil Hun Lian sudah dididik oleh sang ibu, kepandaian silat Kui-bo Hun Hwi-nio teramat tinggi. Hampir mencangkok seluruh inti ilmu silat berbagai perguruan lain senjata rahasia yang dipelajari juga mendapat warisan keluarga Tong di Sujwan, malah setiap am-gi yang digunakan sudah dia bubuhi atau direndam racun yang diraciknya sendiri. Tiga biji teratai besi yang ditim-pukan Hun Lian sekali ini juga Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beracun jabat. Waktu menimpukan senjata rahasia, Hun Lian melihat lawan masih terapung diudara, tapi begitu tiga biji teratai besi meluncur dengan desis suaranya yang nvaring, tampak orang itu seketika melorot jatuh terus bergulingan di tanah, sebilah pisau terbang tahu-tahu melesat dari tangan kiri orang itu bagai kilat mengincar tenggorokan Hun Lian.

Tampak oleh Hun Lian pisau terbang lawan diikat benang lemas, secara reflek Hun Lian juga mengayun benang merahnya Tidak menangkis atau membelit pisau terbang, tapi arah benang merah Hun Lian untuk menggubat benang dibelakang pisau terbang lawan, begitu benang saling sentuh, seperti ular saja benang merah Hun Lian lantas menggubat kencang.

Gebrak serangan menyerang ini berlangsung dalam waktu singkat dan cekat sekali, kesempatan ganti napaspun hampir tiada, Hun Lian tabah hati karena senjata rahasia yang dibawa cukup banyak, walau dia tahu lawan masih bersenjata jaring baja yang tajam, pada hal benda apa dan bagaimana bentuknya dia tidak tahu, namun dirinya harus waspada menghadapinya, sekarang dia merasa perlu menggubat pisau terbang lawan, paling tidak untuk cari kesempatan mengelabui orang macam apa sebetulnya lawannya ini.

Berhasil menggubat benang pisau terbang lawan, Hun Lian lantas menarik mundur tangannya. Ternyata dalam waktu yang sama orang itu juga menarik tangan, maka benang dan tali kedua orang saling tarik menjadi kencang.

Terpaksa orang itu menghentikan gerakannya, Hun Lian baru melihat jelas tampang orang, kedua matanya cekung, tubuhnya kurus tinggi seperti genter kulit badannya hitam coklat tulang pipinya menonjol, rambutnya ikal lebat, melihat tampangnya jelas dia bukan oiang bangsa Han. Hun Lian langsung membentak : „Siapa kau ?”

Disaat Hun L an membentak orang itu-pun berteriak aneh, tapi apa maksud teriakan orang Hun Liau tidak tahu. Hun Lian Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

disuruh berangkat dulu untuk mengatur orang-orang gagah yang sudah berangkat bergerombol ke Kim-hou-po, tak pernah terpikir olehnya disaat dirinya hampir mencapai tujuan, ditengah jalan muncul jago kosen yang aneh ini hendak membunuh dirinya Karuan amarahnya terbakar, sambil tetap menarik benang beruntun tangan yang lain terayun beberapa kali puluhan senjata rahasia bertahuran dari tangannya. Semua mengundang dikala meluncur diudara, dlbawah sinar matahari tampak puluhan senjata rahasia yang bertahuran itu seluruhnya berbentuk bundar seperti uang tembaga yang bolong tengahnya, tipis dan tajam pinggirnya ditingkah sinar matahari memancarkan kemilau hijau tua.

Gaya timpukan Hun Lian boleh dikata menggunakan gaya serangan yang paling top dari kepandaian menimpuk senjata rahasia, dinamakan Boan-thian-say kim ci (menabur uang ketengah udar ) menurut kebiasaannya, bila empat puluh sembilan keping uang emas di timpukan, paling celaka juga pasti ada satu keping yang mengenai sssaran. Apalagi empat puluh sembilan keping mata uang emas itu semua beracun cukup sekeping saja dapat menamatkan jiwa orang. Begitu mata uang emas bertaburan dengan suara mendengung, wajah orang itu mengunjuk rasa heran dan aneh, seperti orang linglung yang lupa menyelamatkan jiwa. dalam keadaan tertegun, jelas tubuhnya akan menjadi sasaran empuk empat puluh sembilan keping mata uang iiu.

Pada saat gawat itulah, dari belakang pohon tak jauh dipinggir jalan mendadak kumandang gerungnn keras, bayangan seorang laksana setan berkelebat maju. kecepatan gerak tubuhnya sungguh luar biasa, langsung menerjang kearah orang aneh yang berdiri melongo itu. Watau cepat terjangannya. namun empat puluh sembilan mata uang mas itupun sudah membrondong tiba, bayangan yang menubruk maju itupun menimbulkan pusaran angin kencang hingga pakaiannya me-lambai keatas. Dalam sekejap ada dua puluhan mata uang emas itu berjatuhan diatas badan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bayangan itu. namun terdengarlah suara Trang, tring”, seluruh mata uang yang menyentuh tubuhnya semua terpental jatuh berhamburan.

Sigap sekali bayangan yang menubruk tiba ini ulur tangannya, dengan dua jari tangannya dia menjepit tali hingga putus, berbareng tangan yang lain memukul balik hingga orang aneh yang tertegun itu dipukulnya jungkir balik kebelakang.

Kejadian berlangsung dalam waktu singkat, be gtu badan kedua orang ini jungkir baiik beberapa kaki jauhnya, sisa mata uang ejias timpukan Hun Lian baru berjatuhan diatas tanah sederas hujan ja uh dipermukaan empang menimbulkan kepulan debu.

Dalam keadaan yang sudah terdesak mendadak lawan kedatangan bantuan hingga jiwa orang itu diselamatkan, melihat mata uang emas sendiri juga tidak mempan diatas badan penolong itu, diam-diam Hun Lian terkejut dia tahu pendatang baru ini pasti memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari orang aneh semula yang menyergap dirinya, satu lawan atu dirinya belum tentu kuat melawan apalagi lawan kedatangan tenaga baru, sudah tentu Hun Lian merasa waswas Begitu kedua orang itu jungkir balik dan mata uangnya berhamburan di-tanah, Hun Lian segera mengempos semangat terus melayang mundur.

Kedua pihak mundur tiga tombak, bila Hun Lian berdiri tegak memandang kearah depan sementara kedua orang itupun sudah berdiri pula.

Laki laki kurus tinggi berkulit coklat itu sedang bicara dengan suara keras, sikap dan mimiknya menunjukan bahwa dia amat marah, tapi apa yang diucapkan Hun Lian tidak tahu. Bila dia melihat orang ke jua yang baru datang, rasa kejutnya bertambah besar. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau laki-iaki kurus tinggi berkulit coklat itu kelihatan bukan bangsa Tionghoa, namun bangsa Persia, Arab atau Eropa atau India sudah pernah Hun Lian melihatnya. Tapi orang yang baru datang ini betul-betul ganjil dan belum pernah dilihatnya. Perawakan orang ini juga tinggi besar, rambutnya kuning emas berkilauan ditingkab matahari hingga mirip sutra emas yang mengkilap. Demkian pula brewoknya berwarna kuning emas gelap, hidungnya besar, bola matanya bewarna biru kulit badannya puiih bersemu merah, anehnya diapun sedang bicara seperti orang kurus tinggi coklat itu, sambil bicara tangannya bergerak-gerak hingga tampak bulu tangan dipunggung telapak tangannya juga warna emas.

Hun Lian belum pernah melihatnya sudah tentu dia tidak mengenalnya bahwa orang ini bukan lain adalah pejabat Liong-bun-pang Pancu yang sebarang asalnya dari Barat, menghadapi keperkasaan orang aneh ini Hun Lian sampai berdiri kesima.

Tampak Liong-bun Pangcu seperti berdebar sengit dengan orang kurus tinggi, wajahnya juga kelihatan marah, akhirnya Liong-bun Pangcu menoleh dan berkata: ”Nona Hun tentu kaget, Cayhe Liong-bun Pangcu.” Pada hal bentuk orarig jauh berbeda dengan bangsa Han kita, tapi begitu buka suara dia fasih berbahasa Han dengan lancar.

Begitu orang buka suara Hun Lian lantas kenal suara orang ini memang mirip suara yang pernah didengernya di Hiat-lui-kiong tempo hari, suara yang bicara dari dalam tandu, waktu itu mimpipun orang banyak takkan menduga bahwa Liong-bun-pang Pangcu ternyata adalah manusia berbentuk aneh seperti mahluk yang menakut

Pembaca sekarang tentu sudah tahu bahwa suku bangsa didunia ini terdiri beribu macam ras yang berbeda, makluk masa itu kehidupan masih serba primitif, sejak jaman dulu daratan Tiongkok tertutup oleh bangsa lain, hingga tidak tahu adanya lain ras kecuali bangsa Tionghoa mereka, maka di sini Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perlu kami jelaskan bahwa Liong-bun-pang Pangcu berasal dari Eropa barat, dinegerinya dia terhitung laki-laki gagah ganteng, tapi bagi pandangan orang-orang Tionghoa masa iiu, seperti Hun Lian umpamanya, laki-laki berambut merah bermata biru ini dianggapnya manusia setengah binatang, masih untung kalau Hun-Lian yang kenal huruf pandai membaca ini hanya beranggapan demikian, tapi orang lain mungkin Liong-bun Pangcu bisa dianggap lutung emas atau siluman.

Hun Lian menyeringai dingin, dia tahahkan hati, katanya: ”Kenapa aku harus takut terhadapmu?”

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya” ”Kepandaian menimpuk senjata rahasia nona Hun barusan sungguh amat lihay, kejadian ini kurasa hanya karena salah paham, pada hal aku hanya mohon bantuan saudara ini berunding dengan nona Hun, tak kira tabiatnya terlalu berangasan, tanpa bicara dia menyerang nona Hun malah.”

Laki-laki kurus tinggi itu seperti tahu apa yang diucapkan Liong-bun-pang Pangcu, dengan wajah penasaran dia mendengus geram.

Mendengar penjelasan Liong-bun Pangcu, Hun Lian malah naik pitam, serunya: ”Jangan ngomong seenak udel nu sendiri, tahukah kau seorang murid, guruku sudah dibunuhnya?’”

Liong-bun Pangcu seperti terkejut, segera dia menoleh dan bertanya dengan bentakan bengis kepada laki laki kurus tinggi. Apa yang diucapkan Liong-bun Pangcu, Hun Lian juga tidak paham, namun sikap orang tinggi kurus seperti amat murka dan tidak terima, kedua orang ini lantas ribut dan bertengkar.

Mungpung kedua orang ini bertengkar sebetulnya Hun Lian mau tinggal pergi saja, di-saat dia bimbang itulah, kejadian telah bero-bah, makin bertengkar kedua orang ini makin Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ngotot, sama-sama murka, ”Wut” mendadak Liong-bun Pangcu layangkan tinjunya kemuka laki-laki kurus, pukulan lurus dan lugu seperti tidak mengandung jotosan lihay

Lekas laki-laki kurus mengegos, samhil menggerung dia balas munyendal jaring baja di tangannya mengepruk ke batok kepala Liong-bun Pangcu. Kembali Liong-bun Pangcu menggerung, tinjunya yang lain kontan menjotos kearah jaring baja orang ”Tang” jotosannya kena telak.

Hun Lian melihat jelas begitu terpukul jala baja itu lantas mendekuk gepeng, celakanya jala baja. Yang gepeng ini terpukul balik menerjang kearah dada tuannya. Laki-laki kurus itu memekik keras sambil melompat mundur tali yang dipegang dibuang terus lari sipat kuping.

Gerak gerik laki-laki kurus tinggi ini boleh dikata amat cepat dan tangkas, namun kecepatan jala baja yang dekuk terpukul Liong bun Pangcu itu lebih kencang lagi, baru saja laki-laki kurus membalik tubuh dan berlari bebsrapa langkah, jala bajanya itu sudah menumbuk punggungnya, kontan dia menjerit pula dengan nada aneh. Darah-pun man emour dari mulutnya. Sambil berteriak aneh, darah berhamburan tubuhnya masih tersungkur maju menumbuk pohon besar di pinggir jalan Sesaat baru dia membalik badan perlahan lalu berdiri menggelendot pohon, napasnya empas empis, wajahnya yang berkulit coklai gelap kini berobah pucat menakutkan. Tampak jarinya terangkat menuding Liong-bun Pangcu seperti hendak omong apa, mendadak Liong-bun Pangcu menghardik keras kearahnya.

Jarak Hun Lian dengan Liong-bun Pangcu ada enam tombak, namun hardikan Liong-bun Pangcu sungguh sekeras guntur hingga genderang kupingnya seperti hampir pecah, sekian saat masih mendengung sakit. Celaka adalah laki laki kurus itu. Mendadak tubuhnya mengejang kaku lalu pelan-pelan roboh terjerembab dipinggir jalan, darah masih beibamburan dari mulutnya, setelah terluka parah, akhirnya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia mati kaget dan terputus seluruh urat nadi badannya oleh hardikan Liong-bun yang mengguntur.

Segera Liong bun Pangcu membalik, wajahnya masih tampak gusar, menuding mayat laki laki kurus, dia berkata kepada Hun Lian: „Coba saksikan nona Hun.dia bertindak sesuka hatinya, berani bermusuhan dengan nona Hun, maka aku membunuhnya.”

Sergapan laki-laki kurus tadi amat cepat dan lihay, Hun Lian dibuat kerepotan, untung dia mahir menggunakan senjata rahasia baru lawan balik d desaknya, maka dia dapat mengukur sampai dimana taraf kepandaiannya. Tapi dalam segebrak saja ternyata dia sudah mampus ditangan Liong-bun Pangcu maka dapat dibayangkan betapa tinggi kepan daian Liong-bun Pangcu, hardikan mengguntur Liong-bun Pangcu tadipun membuat perasaan Hun Lian bergolak, jantung seperti hampir copot, sampai sekarang masih berdebar-debar, katanya:,,Ya, aku sudah melihatnya.”

”Mohon nona Hun ikut aku untuk bertemu dengan Cia-saucengcu ”pinta Liong-bun Pangcu.

Menyinggung nama Cia Ing-kiat, berdebar pula jantung Hun Lian, teriaknya tertahan ”Di …. dimana dia sekarang?’’

Liong-bun Pangcu tersenyum : ”Baik-baik saja, dia amat merindukan kau,”

Tanpa sadar Hun Lian menghampiri beberapa langkah. Maka. Liong bun Pangcu lantas berkata:. ”Ikutlah aku.”

Habis bicara tubuhnya lantas meluncur kedepan. Ternyata Hun-Lian membuntuti dibelakangnya. Waktu lewat dipinggir mayat laki laki kurus tinggi itu, kaki Liong bun Pangcu menendang hingga jala tembaga itu mencelat terbang delapan tombak jauhnya jatuh keselokan dipinggir jalan

Tampak oleh Hun Lian waktu jala bundar itu melayang diudara dibagian dalamnya seperti dipasang banyak duri atau Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pisau tajam yang bergerak, sayang hanya sekilas pandang hingga tidak begitu jelas. Sudah tentu tak pernah terpikir oleh Hun Lian, bila laki-laki kurus tinggi ini tidak mati ditangan Liong bun Pangcu senjatanya yang ampuh dan jahat itu mungkin sudah berkembang dan mengganas serta merenggut banyak jiwa manusia tak usah menunggu tiga ratus tahun kemudian, disaat dynasti Jing bertahta, baru senjata ini dikenal orang dan menggemparkan kalangan persilatan, yaitu Hiat te-cu yang telah merenggut entah berapa banyak jago-jago silat di Tionggoan.

Dengan Ginkaog tinggi Hun Lian. Menguntit dibelakang Liong-bun Pangcu, lekas sekali mereka sudah tiba dipinggir sungai. Keadaan disini sepi lengang, tiada bayangan seorangpun di sini, setiba dipinggir sungai Liong-bun Pangcu bersiul panjang dan pendek suaranya nyaring menjulang tinggi eniah sampai berapa jauhnya, maka dari iemak-se muk tak jauh dipinggir sungai sana muncul bayangan beberapa orang. Cepat sekali bayangan orang itu sudah meluncur tiba sambil memikul sebuah tandu, tidak asing bagi Hun Lian. Melihat tandu yang telah dilihatnya di Hiat. Lui Liong, waktu itu memikul tandu ada delapan orang, dua diantaranya terpukul mati oleu Hu-lo Popo, namun pemikul tandu sekarang tetap delapan orang, dua orang yang mati sudah dicari gan tinya.

Bila tandu sudah berhenti didepan Liong bun Pangcu, dia berkata dengan tertawa: „Silakan naik ketandu ”

Secara otomatis pintu tandu terbuka, waktu Hun Lian memandang kedalam pajangan tempat duduknya amat mewah dengari dinding yang dilembari beludru hijau, luas-nya cukup untuk duduk empat orang. Hun-Lian bimbang, maka dia bertari ya:”Dan kau?”

Liong-bun Pangcu seperti tahu maksud hati Hun Lian, dengan gelak tawa dia berka-ta:„Aku akan mengintil dibelakang tandu.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bahwa jawaban Liong-bun Pangcu secara blak-blakan dan sering ini sungguh diluar dugaan Hun Lian. Dia sudah menunduk hendak melangkah sedalam tandu, tapi baru satu kakinya bergerak, mendadak didengarnya Liong-bun Pangcu membentak : ..Siapa hayo keluar.”

Bentaknya ini mendadak dan keras laksana gunrur, Lwekang Hun Lian sudah setaraf kelas satu, tak urung dia berjingkrak kaget dan pekak telinganya. Tahu bahwa perobahan akan terjadi pula, lekas dia membalik badan, maka dilihatnya seluruh rambut emas Liong bun Pangci turun naik seperti berombak, kelihatannya amat ganjil sepasang matanya yang biru memancarkan cahaya terang, tubuhnya sedikit jongkok kedua tangan lurus kedepan lantas menepuk deras.

Arah ke mana dia mendorong kedua telapak tangannya terdapat segundukan tanah liat dalam jarak dua setengah tombak tinggi nya juga hanya lima enam kaki, Kelihatannya seperti dinding tanah yang sudah ambruk.

Kejadian hanya sekilas saja sikap dan kelakuan Liong-bun Pangcu kelihatan kereng buas dan menakutkan segalak singa yang mengamuk, dorongan kedua telapak tangannya menimbulkan gemuruh angin yang melanda kedepan, walau yang digempur hanya segunduk tanah, tapi Hun Lian dan delapan pemikul tandu tak urung tersibak minggir, pakaian mereka berderai. Tertiup angin kencang.

”Bumm” gundukan tanah yang terpukul itu mendadak meledak, tanah liat mencelat berhamburan keudara, dari bawah gundukan yang terpukul roboi berhamburan itu mendadak menongol satu orang. Padahal deru pukulan Liong bun Pangcu tidak berhenti begitu saja, hamburan batu dan tanah yang’ melayang diudara berjatuhan dibadan orang ini, hingga rambut kepalanya yang awut-awutan kotor tertiup angin pukulan menutupi mukanya. Tampak jidatnya lebar, bentuk wajahnya lonjong, walau rambut yang kusut tidak karuan menutup mukanya yang pucat, namun bentuk Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

badannya kelihatan membawa wibawa yang menakutkan. Padahal betapa deras samberan angin pukulan Liong-bun Pangcu, tapi orang itu berdiri tegak melawan angin bergelak tawa lagi.

Begitu orang ini menongol dari bawah tanah Liong-bun Pangcu sudah menarik kedua tangannya, berdiri tegak siaga. Orang itu tertawa lalu berkata : „Dapat melihat ujud asli Liong bun Pangcu, adalah kejadian yang menggem birakan.”

Begitu orang ini buka suara, seketika Hun Lian tercengang. Orang ini dia belum pernah melihat, namun suaranya cukup dia kenal adalah suara Hu lo Popo yang pernah didengarnya di Hiat lui-kiong.

Setelah Liong-bun Pangcu menculik Cia Ing kiat, Hu-lo Popo berbincang dengan Kui-bo Hun Hwi-nio serta membuat tubuhnya melar, hingga orang banyak tahu bahwa dia bukan Hu lo popo yang asli, namun siapa dia sebetulnya tiada seorangpun yang tahu.

Terutama Hun Lian, sejak percakapan orang ini dengan ibunya yang mengandung rahasia itu, dia sudah menaruh perhatian terhadap orang aneh ini, namun sejak kejadian itu berulang kali dia tanya kepada ibunya, namun sang ibu tidak mau memberi penjelasan malah marah dan melarang dirinya bicara tentang hal itu lagi, maka rasa curiga dan ingin tahunya makin tebal, kini dia mendengar suara orang ini mirip orang aneh yang menyamar Hu lu Popo maka hatinya kaget bercampur girang.

Terdengar Liong-bun Pangcu tertawa dingin, jengeknya : „Kungfu tuan memang hebat, namun kenapa seperti tikus sembunyi d bawah tanah.”

Orang aneh itu membelakan kedua matanya, sikapnya tidak marah, katanya : ..Pangcu, aku ingin bicara dulu dengan nona Hun Lian .ini.’’ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Entah kenapa mendengar permintaan orang aneh, mendadak Liong bun Pangcu menerjang dengan tubrukan kilat. Aksinya amat mendadak, rambut emasnya tampak kaku berdiri. Di mana dia ayun kedua tangannya menggempur seperti seekor orang hutan yang mengamuk hendak mencabik mangsanya.

Orang aneh itu juga menggembor aneh, kedua tangannya juga terayun. Betapa cepat gerakan Liong-bun Pangcu dengan ketajaman mata Hun Lian ternyata tidak mampu melihat jelas bagaimana kedua orang ini saling labrak, terdengar kedua orang sama-sama menggembor pula sekali lalu bayangan mereka tertolak mundur beberapa langkah,orang aneh itu berseru nyaring : ”Bagus baru sekarang aku tahu dilipat langit masih ada langit, orang pandai yang lebih pandai.”

Liong-birn Pangcu juga memuji : „Ternyata memang hebat, tidak sia-sia aku datang keTiong-tho (maksudnya Tiongkok).’’

Dari percakapan kedua orang ini Hun Lian menyimpulkan dalam segebrak baku hantam barusan, kedua pihak sama-sama merasakan kehebatan Kungfu lawannya, maka kedua pihak saling memuji.

Setelah mengucapkan pujiannya sebat sekali Liong-bun Pangcu melesat mundur ke-belakang, kemudian Hun Lian rasakan segulung tenaga besar mendesak dirinya, hakikatnya dia tidak sadar apa yang terjadi, tahu tahu tubuhnya sudah terdesak mundur, pandangan seketika menjadi gelap, dia rasakan dirinya seperti jatuh kedalam tandu. Kejap lain terasa tandu sudah terangkat terus melesat pergi bagai terbang.

Gerak gerik Liong bun Pangcu memang teramat cepat dan tangkas, begitu Hun Lian terdesak masuk kedalam tandu dia sendiri juga menyelinap masuk terus menutup pintu, sementara kedelapan pemikul itu tanpa diperintah sudah angkat tandu terus lari bagal terbang, hanya sekejep sudah puluhan tombak dicapai. Orang aneh itu tetap berdiri ditempatnya. Ternyata tidak mengejar, pada hal tandu makin Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jauh dan sudah tiga puluhan tombak, tandu dipikul menyusuri pinggir Sungai. Pada saat itulah dan semak rumput dipinggir sungai sebelah depan muncul bayangan seorang Ternyata yang mencegat adalah Lui Ang ing, begitu berdiri tangannya lantas terayun maka meluncurlah belasan batang akar alang-alang, dipingir sungai memang banyak terdapat alang alang , siapapun bisa memetik atau mencabut sesuka hatinya, tapi akar alacg alang yang ditimpukan kali ini dilembari tenaga dalam Lui Ang-ing yang hebat luar biasa, maka daya luncurnya yang cepat dengan kekuatannya tidak kalah dari lembing besi.

Pada hal tandu sedang melaju kencang kedepan, Lui Ang-ing muncul secara mendadak menyergap secara keji pula, jarak hanya setombak lebih, maka empat pemikul tandu disebelah depan seketika menjerit ngeri, leber, dada atau perut tiada satupun yang luput dari tusukan alang alang yang tajam itu.

Bahwa empat pemikul didepan roboh binasa, namun empat pemikul yang di belakang tidak tahu. Mereka masih menggenjot langkah dengan kencang sehingga tandu doyong kedepan dan jungkir balik, sehingga empat pemikul tandu dibelakang ikut terangkat ke atas dengan teriakan yang kaget.

Gerakan Lui Ang-ing memang teramat cepat, begitu tandu terbalik, tangannya sudah mencomot pula akar alang-alang didekat kakinya terus ditimpukan keudara, namun daya luncur alang-alang itu mendadak sirna tergulung oleh lengan baju Liong-bun Pangcu yang mendadak menerobos keluar dari dasar tandu. Ditengah udara Liong bun Pangcu pentang kedua cakar tangannya sambil menubruk kearah Lui Ang-ing.

Pada saat genting inilah orang aneh itu berteriak dari kejauhan : „Awas.”

Wajah Lui Ang-ing kelihatan pucat pias, disaat Liong-bun Pangcu menubruk dengan kecepatan kilat menyambar, dia tetap berdiri tegak tak bergeming, padahal daya tubrukan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong bun Pangcu membawa deru angin puyuh yang hebat sekali telah membelit tubuhnya, tapi dia tetap tak bergerak, hanya tangannya terangkat pelan-pelan, telapak tangannya terkembang kearab Liong-bun Pangcu yang menubruk tiba.

Kalau tubrukan Liong-bun Pangcu laksana guntur menggelegar, sebaliknya gerakan Lui Ang-ing justru amat lambat, seolah-olah dia terbelenggu oleh pusaran angin puyuh yang dibawa oleh tekanan tubrukan Liong-bun Pangcu sehingga gerak genknya berat tertunda. Tapi disaat Liong-bun Pangcu hampir menubruk Lui Ang ing. Kedua tangan Lui Aug-ing juga terbentang hingga nampak sebentuk medali segi tiga dari batu jade warna hijau pupus.

Begitu medali hijau ini muncul ditelapak tangan Lui Ang-ing, terdengar Liong-bun Pangcu mengeluarkan gemboran keras, tubuh yang menubruk dengan kecepatan kilat menyambar itu mendadak seperti direm dan ditahan suatu tenaga besar yang tidak kelihatan, tubuhnya terhemti ditengahi udara lalu melorot turun. ”Bluk” kedua kaki menyentuh bumi Dalam detik itulah telapak tangan Lui Ang-ing yang menepuk kedepan itu telah menyelonong kemuka Liong-bun Pangcu, sambil mengerang tertahan tampak tubuh Liong-bun Pangcu mengegos kepinggir terus melompat kepinggir

Tepukan Lui Ang-ing seperti melayang dan enteng, temponya juga tepat disaat Liong-bun Pangcu tepat menyentuhkan kedua kaki kebumi maka serangan ini boleh dikata amat tepat dan telak, namun gaya dan cara Liong-bun Pangcu menyelamatkan jiwa ternyata juga indah dan mempesona

Begitu Liong-bun Pangcu mengegos ke-pinggir, tubuh Lui Ang-ing yang semula tersaruk kedepan itu mendadak tertahan tegak lalu menepuk balik secara,terbalik. Gaya pukulan telapak tangan ini lebih aneh lagi, karena tubuhnya masih bergerak kedepan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun telapak tangannya justru menepuk kebelakang, sebetulnya serangan cara begini apalagi yang dijadikan sasaran tokoh kosen seperti Liong bun Pangcu. Serangan itu sebetulnya amat berbahaya dan bisa berakibat fatal. Bahwa Lui Ang-ing berani menempuh bahaya, jelas dia sudah bertekad memang karena telapak tangannya memegang medali batu jade hijau itu. Waktu medali jade hijau ini muncul di Hiat-Iui kiong tempo hari, hanya Liong-bun Pangcu saja yang membongkar asal usulnya, sudah tentu dia tidak berani melawan, menangkis atau pantang kena serangan lawan.

Betul juga, walau serangan Lui Ang-ing itu bisa membahayakan jiwa sendiri, tapi Liong-bun Pangcu sendiri menjerit aneh malah, sebat sekali tubuhnya melayang keluar kalangan sejauh tiga tombak, setiba diatas tanggul sungai dia tetap mengeluarkan teriakan-teriakan aneh. Begitu tepukan telapak tangannya luput, sebat sekali Lui Ang-ing sudah mengudak dengan ketat.

Pada saat itulah tampak orang aneh itu membentang kedua tangannya meluncur ke depan, teriaknya : .”Jangan kejar.”

Kedatangan orang aneh amat gesit, maka keempat pemikul tandu segera berdiri jajar lalu menyongsong orang aneh dengan pukulan serempak. Tapi orang aneh seperti tidak merasa dicegat langkahnya tetap terayun lurus kedepan. Maka terdengar suara tumbuk-an keras dua kali, empat pemikul nu semula berdiri jajar adu pundak, tapi dua yang di tengah ketumbuk lebih dalu hingga menjerit ngeri, tubuhnya melayang keudara seperti layang-layang yang putus benangnya, terlempar tinggi jungkir balik diudara lalu terbanting delapan tombak jauhnya dan Byur, byur, keduanya tercebur kesungai menimbulkan gelombang diarus sungai yang deras itu.

Ternyata daya luncuran orang aneh tidak terhambat karena tumbukan ini, memangnya dia menerjang sambil membuka kedua tangannya, begitu tubuh menumbuk dua pemikul. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekaligus tangan kanan kirinya mencengkram leher dua pemikul yang lain. Seketika melotot biji mata kedua pemikul tandu hingga tampangnya amat mengerikan. Meski kedua tangan mencengkram dua tubuh manusia, gerakan orang aneh tidak tertunda sedikitpun, agaknya dia melihat adanya gelagat yang gawat sehingga gerakannya seperti amat gugup dan tergesa-gesa.

-ooo-dw-ooo-

Jilid 10

Sementara itu Lui Ang-ing sedang me-ngudak Liong-bun Pangcu yang aneh berkaok-kaok, begitu kedua pemikul itu jatuh ke air. dari pinggir sungai mendadak muncul kepala belasan orang, semua berpakaian ketat warna hitam dari kulit ikan hiu, tangan masing-masing memegang sebuah bumbung kemilau kuning, begitu muncul dipermukaan air mereka tidak naik kedarat, namun mem bidikan bumbung tembaga ditangan mereka kearah Lui Ang-ing, dibawah komando salah seorang diantaranya, belasan bumbung tembaga itu serempak menyemprotkan panah-panah air dengan daya luncuran yang keras.

Begitu di tembakan belasan jalur panah air itu simpang siur saling tindih dan silang menyilang menyerupai jaring yang rapat, semuanya meluncur kearah Lui Ang-ing. Begitu melihat orang ini muncul dari air, Lui Ang-ing sudah tahu bahwa lawan sudah siaga sebelumnya, tapi beruntun dia menggunakan cara nekad berhasil memukul mundur Liong-bun Pangcu, maka sikapnya kurang serius menghadapi perkembangan selanjutnya, dia pikir kalau Liong-bun Pangcu yang lihay juga dipukulnya mundur dan merat, umpama pibak Liong-bun pang banyak mengerahkan tenaga juga takkan mampu berbuat banyak kepada dirinya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah puluhan panah air disemprotkan kearah dirinya baru dia merasa kaget. Semprotan air hitam yang beracun ini begitu kencang, baiupun bisa kesemprot bolong, hal ini sudah pernah dia saksikan sendiri wakiu di Hiat-lui-kiong, udara seluas empat lombak sudah terjaring oleh semprotan airhitam musuh, selusuhnya meluruk kearah dirinya, betapa dia takkan kaget dan ngeri ? Saking takut danbingung dia berdiri melongo tak tahu apa yang harus dilakukan. Untung pada saat genting itulah orang aneh membentak keras : ”Berdiri saja jangan bergerak.”

Sejak Lui Ang ing bergebrak dengan Liog bun Pangcu, orang aneh ini sudah dua kali memberi peringatan kepadanya, bukan Lui Ang-ing tidak me.idengar, namun dia memang sengaja tidak pedulikan peringatannya, kini setelah dirinya menghadapi elmaut. dalam detik-detik yang menentukan ini baru dia mematuhi seruan orang aneh, berdiri tegak tidak bergerak, namun kepala mendongak mengawasi semprotan air sederas hujan dengan baunya yang amis memualkan, jelas ke manapun dirinya takkan bisa menyingkir atau selamat dari ancaman elmaut ini.

Sejak kecil Lui Ang-ing dibesarkan di Kim hou po, biasanya dia berkuasa dan selalu memerintah orang lain, kapan pernah mengalami ancaman bahaya seperti ini, se-

ketika keringatnya gemerobios. Sebetulnya kejadian ini berlangsung dalam waktu singkat, namun Lui Ang ing seperti mengalaminya dengan tekanan batin dan lahir yang cukup panjang.

Seraya memberi peringatan orang aneh lempar tubuh dua orang pemikul yang ter-cen kram mati itu keatas kepala Lui Ang-ing dengan luncuran kencang hingga menimbulkan sampukan angin keras.

Kebetulan saat itu Lui Ang-ing sedang mendongak, deru angin yang dibawa luncuran tubuh kedua pemikul tandu itu berhasil menyapu panah-panah air beracun hingga tersibak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keempat penjuru. Sementara orang aneh itu sudah menerobos kesamping Lui Ang-ing, sekali ulur dia meraih tubuh Lui Ang-ing lalu dibawanya menggelundung ke-pinggir. Dalam waktu yang sama. Liong bun Pangcu menjejak kaki sekuatnya hingga tubuhnya mercelat tinggi melampaui tingginya sembaran panah-panah air itu.

Tubuhnya terapung begitu tinggi melampaui semburan air beracun, disaat tubuhnya melesat itulah sekalian tangannya menepuk dua kali kebawah kejap lain tubuhnya sudah turun dipinggir joli-

Fada saat yang sama kebetulan Hun Lian sedang menampakan dirinya dari dalam joli, maka Liong bun Pangcu segera menarik tangannya, tahu-tahu tubuhnya sudab melesat kedepan.

Semburan air beracun warna hitam yang berhamburan diudara itu, karena tepukan tangan Liong-bun Pangcu sehingga seluruhnya tertekan turun kebawah dengan daya laju lebib cepat,,yang terdengar lebih dulu adalah suara “Pak. pak,”, mayat dua pemikul joli yang dilempar oleh orang aneh jatuh terbanting lebih dulu, menyusul hujan lebat dari semburan air hitam itu menyiram tanah dau sekujur badan kedua mayat itu.

Air hitam yang mengenai benda apapun seketika mengeluarkan suara “Ces, ces lalu mengepul asap hijau, orang aneh dan Lui Ang-ing menggelundung jauh di tanah, begitu cepat gerakan mereka, tapi air hitam yang paling dekat hanya berjarak beberapa kaki saja, sungguh berbahaya keadaan mereka.

Setelah belasan tombak jauhnya baru orang aneh dan Lui Ang-ing melompat bangun. Sementara itu hamburan air hitam itu-pun sudah jatuh seluruhnya, tampak Liong-bun Pangcu bersama Hun Lian sudah melesat tiba dipinggir sungai, sekali menjejak batu dipinggir sungai tubuhnya terapung lagi ke-udara, saat itulah ditengah sungai muncul dua puluhan orang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

baju hitam yang menyung-gi sebuah rakit yang terbuat dari kulit kerbau, cepat sekali rakit kulit ini terbawa arus deras.

Berdiri diataa rakit kulit itu Liong bun Pangcu bersera dengan suara bagai genta : “Selamat bertemu.’*

Detak jantung Lui Ang-ing belum berhenti, waktu dia meneliti, belasan orang baju

hitam yang menyemprotkan air hitam tadi sudah lenyap entah ke mana.

Dengan santai orang aneh itu mengintil dibelakang Lui Ang-ing, sekaligus mereka lari sejauh tiga puluhan li, baru Lui Ang-ing berkata : “Hampir tiba di Kim-hou-po.”

Daerah ini adalah tanah tegalan yang bergunduk tinggi, tanahnya kuning berdebu, selepas mata memandang, dikejauhan tampak bayangan gunung yang remang-remang, jaraknya masih sekitar enam puluhan li, orang aneh itu menganggukan kepala, katanya : ,,Entah rombongan Oh-sam Siansing ditempai mana menunggu kedatangan Kui-bo?”

Lui Ang-ing menyeringai dingin tanpa bersuara, agaknya rombongan orang-orang kosen iiu tidak dalam perhatiannya.

Maka orang aneh ltn tersenyum, katanya: .Jangan kau pandang enteng mereka, mereka sudah terkekang oleh perintah Kui-bo, demi mempertahankan hidup, urusan apapun yang harus mereka lakukan pasti bekerja dengan nekati dan adu jiwa, jago libay sebanyak itu. apakah Kim-hou-po mampu melawan mereka ?”

Lui Ang-ing berwatak angkuh, segar dia raenjengek dingin : “Kim-hou-po tidak perlu dibantu siapapun. tadi kau menolongku, aku amat berterima kasih, tapi jangan kau salah sangka bahwa Kim-hou po bakal kalah tanpa bantuanmu.”

Orang aneh juga bersikap tak acuh, katanya tertawa : „Sungguh mirip ayahmu di waktu muda dulu, agaknya dugaanku tidak keliru.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lui Ang ing lirik sekejap kearah orang aneh, katanya : „Sering ayah berkisah tentang seluk Deluk tokoh Bulim. rasanya beliau tidak pernah menyinggung kau orang tua.”

Orang aneh itu tertawa, katanya: „Apakah kau masih meuaruh curiga terhadap Kungfuku “

Lui Ang-iug geleng kepala, katanya : “Bukan curiga, cuma asal usulmu . . . “

Orang aneh angkat sebelah tangannya mencegah kelanjutan omongan Lui Ang-ing, kerut merut dimukanya memang sudah banyak, kini seperti bertambah banyak lagi, sikapnya cemberut seperti orang kesusahan. Sikapnya ini memberi jawaban, bahwa dia tidak senang menyinggung atau membicarakan riwayat hidup sendiri. Sesaat lamanya baru dia berkata perlahan: , Lui pocu belum tentu tahu asal usul seluruh tokoh-tokoh ko-sen di dunia ini, siapakah Liong-bun Pangcu itu. mungkin ayahmu juga tidak tahu.”

Lui Ang-ing menyeringai, katanya: ,,Kau terlalu meremehkan kemampuan ayah. sejak lama sudah dia jelaskan kepadaku, laksaan li didunia barat terdapat sekelompok suku bangsa, gagah dan garang, pandai berlayar dilautan, konon dinamakan Wi-kian-jin. Waktu beliau berkelana menjelajah dunia, pernah dia bertemu dengan seorang suku bangsa Wi kian ini. Kungfu orang ini amat tinggi, kemungkinan besar sekarang dia menjabat Liong-bun Pangcj itulah.”

Orang aneb mengangguk sambil menghela napas, entah apa maksud sikapnya ini. SambU bicara kedua orang ini terus melaju kedepan, beruntun mereka sudah naik turun puluhan gunduk tanah tinggi, tak jauh dide-pan sudah kelihatan tegak berdiri sebuah ngarai, dia tas ngarai terdapat sebuah benteng besar, di bawah pancaran sinar surya yang cemerlang, walau jarak masih cukup jauh tapi dua ekor harimau emas diatas pintu gerbangnya yang mengkilap sudah kelihatan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

„Bagus, sungguh megah dan angker.” demikian puji orang aneh tertawa, langkahnya tidak jadi lambat, lak lama kemudian, mereka sudih mtlampaui beberapa deret rumah dibawah bukit langsung memanjang keatas ngarai, lekas sekali mereka sudah tiba dipinta gerbang Kim-hou-po.

Begitu tiba d:depan pintu Lui Ang ing menuditg keatas dengan jari tangannya, tubuhnya lantas melejit miring keatas. kelihatannya gerak tubuhnya amat gemulai dan lamban, tapi dapat meluncur tinggi dan hinggap diatas tembok benteng.

Begitu berdiri tegak diatas benteng Lui Ang-ing lantas menoleh kebawah, didengarnya orang aneh dibawah menghardik perlahan, tahu tahu tubuhnya sudan melebat dibela -kangnya. Lui Ang-ing tidak menoleh lagi, langsung dia melesat kedepan, tembok benteng Kim-hou-po tebalnya ada satu setengah tombak, setelah meluncur puluhan tombak mendadak Lui Aug ing menghentikan langkah, tampak didepannya mendadak menjeplak sebuah papan besi setebal satu kaki, maka muncullah sebuah lobang persegi, Lui Ang-iag langsung melompat kedalam lobang.

Bila Lui Ang-ing hinggap di dalam pusat benteng, orang aneh itupun sudah melayang turun. Walau didalam dinding, tapi pajangan di sini ternyata tidak kalah menterengnya

dari sebuah kamar istana Dua orang segera menyambut, meski menjura kepada Lui Ang ing tapi dua orans ini menatap orang aneh, agaknya mereka heran dan curiga.

Ternyata Lui Ang-ing tidak balas menghormat, katanya: , Ada kejadian apa dalam benteng,”

„Tiada kejadian apa apa,” sahut kedua orang, „anak-anak penurut semuanya.”

terangkat alis Lui Ang-ing, katauya* ,.Memangnya mereka berani tidak menurut? Kalian boleh keluar, aku akan menghadap Pocu.’ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua orang itu masih mengawasi orang aneh. ingin bicara tapi urung, akhirnya berkata: Siau pocu bukankah aturan Pocu . .”

Seperti tahu apa yang akan diucapkan kedua orang itu, segera Lui Ang ing mendengus, katanya: „Aku sudah tahu. Menurut aturan Kim-hou-po, siapapun dilarang mem-bawa orang tua kemari.”

Sikap kedua orang itu tampak gugup, katanya: ,,Ya, kami menang tidak pantas banyak mulut “.”

Sekembali kcdalam Kim-hou-po, sikap Lui Ang-ing ternyata amat angkuh dan angker, sebelum orang bicara habis dia sudah menukas sambil mengulap largan: ,.Lekaslah pergi. Aku akan menghadap Pocu, buat apa kalian cerewet?”

Kedua orang ini masing-masing bertubuh kurus tinggi, tengkorak mukanya dibungkus Kulit kering, namun kedua Thay-yang-hiatnya lernyua menonjol besar, bila bicara benjolan dikedua pelipisnya ini sampai bergoyang turun naik, seperti ada katak dibalik kulit keringnya iiu, jelas Khi kang dari aliran Lwekeh yang diyakinkan sudah mencapai taraf yang tigggi- Bentuk seorang yang lain lebih aneh lagi, mukanya kuning seperti malam, tampangnya mirip orang yang sudah mati. Namun sepalang bola matanya memancarkan cahaya benderang, tegak berdiri kokoh dan kuat, sekilas pandang, siapanun akan tahu bahva dia juga seorang kosen kelas wahid.

Tapi sikap kedua orang ini justru amat hormat dan munduk-munduk kepada Lui Ang-ing, begitu Lui Ang-ing mengulap tangan suruh mereka pergi, mereka lantas mengiakan terus mundur sambil membungkuk. Begitu Lui Ang-ing beranjak kedepan, orang aneh segera membutmi dibelakangnya.

Begitu Lui Ang-ing dan orang aneh lewat kedepan, kedua orang yang hanya menyingkir kesamping ini juga lantas Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengintil dibela-kang mereka, puluhan langkah kemudian mereka tiba didepan sebuah lobang yang menjurus kebawah, undakan batu terbuat dari batu putih, undakan putih menjurus turun panjang berbelak belok, entah berapa dalamnya gua bawah tanah ini. Lui Ang-ing menuruni tangga bersama orang aneh, demikian pula kedua orang itu.

Undakan yang menjurus kebawah ini ber putar seperti ular raksasa, ratusan langkah ke mudian baru terlihat ujungnya, mereka d ha dang sepasang daun pintu emas. Tinggi kedua daun pintu emss ini ada deiapan kaki, kelihatannya seluruhnya terbuat dari emas murni, diatas pintu terukir dua ekor harimau gagah yang siap menerkam. Setiba didepan pintu Lui Ang-ing berdiri tegak lalu berseru; „Yah aku sudah pulang.” agaknya sejak tadi dia sudah mempersiapkan diri, maka begitu buka mulut suaranya terdengar jernih runcing, mengalun tinggi dan kuat sampai terdengar jauh. Beberapa kejap kemudian, baru mendengar suara jawaban dari dalam pintu:,,Masuklah,”

Seiring dengan suara .masuklah’ kedua daun pintu yang terbuat dari emas murni itu perlahan bergerak mundur kebelakang, didalam gelap pekat, apapun tidak kelihatan.

Pintu sudah terbuka tapi Lui Ang-ing tidak masuk, katanya “Yah, aku membawa pulang seorang, katanva adalah kenalanmu yang lama, dia tahu siapa yang menaruh racun ditubuhku dia hilang punya cara untuk menawarkan racun dalam tubuhku, maka a-ku membawanya kemari.” perkatannnya dilontarkan kedalam pintu menimbulkan gema suara lagi. agaknya dibalik pintu adalah sebuah iorong panjang.

Tapi setelah Lui Ang-ing habis bicaradan menunggu sekejap, ternyata tiada jawaban dari dalam. Lui Ang-ing yang berdiri dide-pan pintu sikapnya kelihatan amat tegang. Orang aneh me idadak bergelak tawa, katanya: “Saudara Lui sahabat lamamu yang dahulu berkumpul di Hou hun hong di Cin nia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah datang, apakah kau tidak sudi menerima ke-da tanganku?”

Begitu orang aneh bersuara, dua orang di belakangnya tampak mundur dengan mata terbeliak kaget,air mu k a pun berobah.

Perkataan orang aneh yang dilonta-kan dengan tekanan tenaga dalam menimbulkan gema suara yang keras dan lama dilorong panjang itu. cukup lama kemudian baru terdengar suara jawaban dari dalam sana: , Ma-suklah”

Sepasang alis Lui Ang ing berdiri, lalu melangkah lebar kedalam, orang aneh berada dibelakangnya Begitu mereka melangkah masuk, daon pintu emas itu segera menutup sendiri, keadaan dalam lorong menjadi gelap gulita. Agaknya Lui Ang-mg sudi»h apal jalanan di sini, langkahnya tetap hingga ratusan langkah kemudian baru membelok sekail, didepan tampak cahaya terang, maju lagi beberapa langkah, tampak mereka memasuki sebuah pendopo besar.

Panjangan pendopo ini lebih mentereng dan serba antik, bayangan tubuh seorang berperawakan tinggi kekar duduk membelakangi, mereka, makin maju sinar terasa makin padang, ternyata dilangit-langit pendopo dipasang kaca krital yang besar lebarnya dua tombak persegi, keadaan diatas kaca kristal dapat terlibat dengan jelas, kelihatannya berada didasar sebuah empang, berbagai jenis ikan tampak berenang bebas di-dalam air, malah tampak jelas pula beberapa kail menjuntai turun didalam air menunggu ikan mencaploknya. Bayangan orang yang memegang joran dipinggir empang juga kelihatan samar-samar, semua duduk diam tidak bergerak seperti boneka kayu. dipandang dari bawah pemandaugan kelihatan aneb serba ganiil.

Perlu pembaca ketahui, empans diatas yang ie lihat oleh orang aaeb dari bawah ini, adalah empang di mana Cia Ing-kiat pernah mancing ikan waktu dia menyelundup kedalam Kim hou po dulu, mungkin mimpi-pun tak pernah diduga Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

olehnya bahwa dasar empang itu terbuat dari kaca kristal, dibawahi kaca kristal ini terdapat sebuah pen-dopo di mana Kim-hou-po cu menetap. Biia berdiri dipinggir empang dan memandang kedalam air, karena timbulnya sinar reflek, sudah tentu tak terlihat keadaan dibawah

Disaat orang aneh mendongak keatas, Lui Ang ing iangsung mendekati orang yang duduk membelakangi merata itu, katanya :

”Yah. perjalananku keluar kali ini”sampai di sini jaraknya dengan orang itu tinggal tiga kaki, tampakorang itu mendadak berdiri, tanpa membalik badan tiba tiba tangannya bergerak kebelakang, sinar kilat menyambar, sebilah bidik yang gemerdap tahu-tahu menusuk kedada Lui Ang-ing.

Kejadian diluar dugaan ini betul-betul cepat berlangsung dan mendadak, sejak masuk tadi Lui Ang-ing sudah kebat kebit karena dia pulang membawa orang luar, berarti sudah melanggar pantangan ayahnya, walau dia tahu diri adalah anak tunggal kesayangan ayahny salah tetap salah dan haru mendapat hukuman, sambil maju hatinya sedang mencari akal bagaimana dia harus menjelaskan duduk persoalannya supaya hukuman atas dirinya cukup ringan saja, apalagi sejak kecil dirinya sudah keracunan, be-tao besar jerih payah ayah nya dalam usaha me nyembuhkan dan menawarkan racun ditubuh-nya, kapan dia pernah menduga bahwa kejadian seperti ini bakai terjadi ?

Bila Badik sudah menusuk tiba baru Lui Avg ing merasa gelagat jelek, namun jarak, sedekat ini. mana bisa berkelit? Tubuhnya hanya mengegos sedikit, namun badik sudah ambias empat dim kedalam tubuhnya.

Kejadian mendadak, Lui Ang-ing sudah tertusuk, namun tidak sampai menimbuikan suara berisik orang aneh itu sedang mendongak kemas namun sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, segera dia merasakan adanya gejala kurang benar, segera dia membentak : „Ada apa ‘ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lenyap suaranya, tubuhnya Lui Ang ingpun sudah roboh. Menyusul ‘Wut” mendadak pandangan menjadi gelap, segumpal mega hitam langsung menungkrup kearah orang aneh

Kungfu orang aneh ini amat tinggi, jikalau dalam keadaan tidak siaga, meski Lui Ang-ing disergap secara mendadak, orang aneh itu tetap masih bisa menarik dan menolongnya, pasti tidak akan terluka oleh musuh. Begitu melihat Lui Aug ing roboh, segera dia tahu perobohan gawai telah terjadi, betapapun cepat serangan lawan, hendak melukai dia jelas tidak gampang lagi.

Sementara bayangan gelap itu sudah- menyerang tiba, dalam sesingkat ini orang.aneh belum sempat perhatikan benda apa yang menyerang dirinya, segera dia membentak keras sambil menggentak kedua tangan, dilandasi tenaga dalamnya, angin pukulan melanda bagai gelombang pasang.

Pukulan yang mengandung hawa murni, aliran Lwekeh ini tiada bentuknya tapi mengandung kekuatan besar merupakan taraf tertinggi dari ilmu Lwekang, tenaga dalam yang dilontarkan sesuai keinginan hati, bayangan hitam yang menindih turun dan atas itu tinggal dua kaki saja diatas kepalanya, seketika tertahan dan mumbul pula oleh pukulan orang aneh Baru sekarang orang aneh aneiihat jelas yang menindih turun bagai segumpal mega hitam ini, ternyata adalah jala bundar dengan garis tengah lima kaki.

Gerakan orang yang menusuk Lui Ang-ing ternyata cepat luar biasa, begitu orang aneh angkat kedua tangannya, selarik sinar gemerdep sudah menyelonong tiba pula, sebilah pedang sudah menusuk dadanya. Serangan mendadak dan tak terduga pula. namun orang aneh sempat mengkeret tubuh sambil mundur hingga pedang menusuk lewat di amping tubuhnya. Kini orang aneh melihat jelas wajah pembokongnya ini, mukanya ion-jong sempit, alis tebal, mata besar, tapi bola Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

matanya lebih banyak putihnya dari pada yang hiiam, pokoknya tampangnya Serba ganjil.

Begitu beradu muka dengan pembokong ini, orang aneh lantas mendengus gusar, karena sekali pandang dia sudah kenal orang ini, jelas bukan kenalan ayahnya, yaitu Kim-hou-po-cu atau ayah Lui Ang-ing, tapi orang ini adalah tokoh jahat yang buas dan pernah menggemparkan Bulim, golongan hitam atau aliran putih sama ingin mengganyangnya, dari daerah Kanglam pernah menggrebeknya bersama hingga orang lari kelay-bok, sejak peristiwa itu, gembong jahat ini lenyap dari percaturan dunia persilatan, yaitu Sin cong Lou Thing.

Pedang panjang ditangan orang itu tergetar keras memetakan belasan kuntum kembang gemerdep, jurus pedang yang membingungkan ini sukar diraba arah juntrungnya dalam sekejap telah menyerang delapan jurus, tapi orang aneh kembangkan kegesitan tubuhnya, satu persatu dia luputkan diri dari serangan pedang lawan.

Tujuh jurus serangan pedang telah usai, baru jala bundar itu jatuh diatas tanah. Waktu berkembang diudara benang baja itu sebesar jari kelingking anak kecil berwarna coklai gemerdep. entah teranyam dari apa, kelihatannya tiada sesuatu yang istimewa tapi begitu jatuh menyentuh lantai, ternyata mengeluarkan suara “Crak, crak”, diatas benang-benang kasar itu ternyata tersembunyi banyak duri-duri kecil tajam sebesar jarum panjang setengah di m, semuanya amblas ke dalam lantai yang bertegel keras.

Setelah menghindari delapan jurus serangan lawan, baru orang aneh sempat membentak : „Lou Thing, kiranya kau.”

Pedang orang itu tampak meraodek, bola matanya yang kecil bundar berputar jeli-latan, sorot matanya tajam menatap orang aneh, setelah melihat jelas wajahnya seketika berobah air mukanya, semula dia sudah nekat hendak menirukan pedangnya, tapi di engah jalan mendadak berhenti hingga pedangnya teracung kaku ditengahi udara Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Oranc aneh mengeram gusar ‘Ternyata memang kau.”

Suara Lou Thing terdengar ganjil: Kau….masiH mencampuri urusan bulim?”

Orang aneh terbawa dingin, sentaknya: “Mana Lui-pocu? “

Mendadak Lou Thing terbahak-bahak,di-tengah kumandang tawanya, pedang panjang ditarikan kencang, lapisan sinar pedang beribu banyaknya menerjang bersama orangnya, betapa hebat dan keji seangannya, sungguh luar biasa.

Orang aneh itu bersiul panjang, dua tangan dikebas.keluar, menilai Lwekang orang aneh ini, tenaga kebasannya ini cukup merobohkan sebuah batu raksasa, tapi daya terjangan Lou Thing ternyata tidak terhambat atau menjadi lambat, terdengar ‘Cret, cret,’ dua kali, di mana sinar pedangnya berkelebat, dua lengan baju orang aneh telah terpapas berhamburan.

Menyusul sinar pedang terhenti ditengah lalu didorong menusuk tenggorokan orang aneh tapi pada saat itu pula, orang aneh menghardik, ujung pedang yang gemerdep hanya beberapa senti didepan lehernya, diwaktu dia menghardik biji lehernya boleh dirasa sudah menyentuh ujung pedang, namun Lou Thing mendadak berdiri kukuh tak bergerak. Berdiri hanya sekejap Lou Thing masih memegang lurus pedangnya, tapi mendadak dia menyurut mundur belangkah, lalu selangkah lagi.di-saat mundur selangkah darah, mendadak merembes dari tujuh indranya, karuan tampangnya kelihatan sangat menakutkan, waktu melangkah kedua kakinya, darah malah mencu-cur. Bila langkah ketiga, seluruh tubuhnya men dadak jadi lunglai, ‘ Trang” pedang panjang yang dipegangnya jatuh, menyusul orangnya juga meloso roboh, bukan roboh tumbang tapi senyum badainya mendadak mengkeret pendek berobah jadi setumpuk.separo kepalanya malah terbenam diatas tumpukan kulit-badan-nya, darah masih mengalir dari kedua matanya, sungguh bukan kepalang seram dan mengerikan keadaannya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hanya orang aneh saja yang tahu akibat yang dialami Lou Thing. Wakiu dia mendorong kedua telapak tangannya, Lou Thing masih angkat pedangnya menusuk tanpa pikirkan keselamatan jiwa sendiri, walau sekuatnya dia mampu menerjang dekat, namun kekuatan tenaga dalam dari pukulan dahsyat orang a neh ternyata menggetar pecah seluruh urat nadi, sendi tulang dan tulang-tulangnyapun remuk, kaiena itulah sekujur badannya meng-keret jatuh menjadi setumpuk daging manusia yang.tidak normal sebagai mayat lazimnya.

SejakLou Thing menyergip Lui Ang-ing hingga orang yang belakangan ini terluka parah, sampai dia sendiri tergetar mampus oleh tenaga dahsyat orang aneh. kejadian berlangsung teramat cepat dan singkat.

Begitu Lou Thing mampus, sebat sekali orang aneh memburu Kearah Lui Ang-ing. tampak Lui Ang-ing rebah di lantai sambil mendekap luka-lukanya, ternyata dia masih sadar, tidak jatuh pingsan, melihat orang ancn mendekatinya, bibirnya bergerak sekian lama baru kuat berbicara dengan lemah : „Aku . . . bagaimana ayahku ? Kenapa terjadi peristiwa ini ?”

Mendengar pertanyaan Lui Ang-ing, seketika tenggelam perasaan orang aneh.

Bahwa didalam Kim hou-po terjadi peristiwa ini, kemungkinannya hanya satu yaitu Kim-hou pocu sudah binasa ditangan Lou Thing. Lalu Lou Thing menyamar sebagai Kim-hou Pocu, bila Lui Ang-ing berbasil dibunuhnya, maka Kim-hou-po selanjutnya akan berada ditangan kekuasaannya.

Sebetulnya muslihat jahat Lou Ih n amat sempurna dan pasti berhasil, tapi tak pernah dia duga bahwa kali ini Lui Ang-ing pulang membawa satu orang, malah kepandaian si ai orang yang saiu ini teramat tinggi, maka hanya segebrak saja ytnawanya-pun ikut amblas. Malah mati dengan cara yang mengenaskan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Badik masih menancap didada Lui Ang-ing sambil bicara dia berusaha mencabut badik itu, lekas orang aneh mengegah gugup : ,.Jangan kau sentuh.” beruntun dua jari tangannya bekerja menutuk tujuh Hiat-to didada Lui Ang ing. darah segera berhenti mengalir, dengan penuh perhatian baru dia pegang gagang badik sementara tangan yang lain menekan dada, pelan-pelan dia mencabut badik i’u, cepat sekali tangan yang lain segera menekan luka-luka.

Waktu badik tercabut rasa sakit merangsang dada Lui Ang-ing hingga tak terasa dia merintih kesakitan, untung begitu tangan orang aneh menekan dadanya, sebu-lung hawa hangat segera merembes kedalam tubuhnya, rasa sakit mulai berkurang,dengan lunglai dia rebah sambil memejam mata sambil mengatur napasnya yang tersengal.

Tangan orang aneh masih lerns menekan dada Lui Ang ing, wajahnya yang semula pucat lambat laun tampak semua merah, merah jengah. Sebetulnya wajah Lui Ang-ing amat cantik, soalnya kulit mukanya teramat pucat sehingga orang yang melihatnya menjadi gi-ris. ditambah sikapnya yang kaku dingin, orang makin takut dan ngeri bila beradu pandang dengannya. Wajah yang semula pucat kini berobah jengah, karuan amat menggiurkan, sementara tangan orang aneh itu me nekan dada. melihat perobahan muka erang seketika dia sadar lalu menarik tangannya.

Luka-luka Lui Ang-ing amat dalam cara kerja orang aneh teramat cepat dan cekatan, begitu badik tercabut, segera dia tekan luka-lukanya riiigga darah tidak membanjir keluar kecambah tenaga dalam o ang aneh ya me rebes Setubuhnya le at telapak tangannya menolak balik darah segar yang sudah hampir mencucur keluar, serta mekuntunnya hing ga berputar ke sekujur badan Lui Ang ing maka rona muka Lui Ang-ing lekas berobah semu merah. Padahal usaha rertolorgan ini be lum selesai, tapi mendadak orang aneh menarik tangan, Lui Ang ing juga merintih, ma ka darah membanjir keluar pula, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah tentu Lui Ang-ing tidak tahu kenapa orang aneh ini menarik tangannya, sepalang matanya mengerhng tajam wajahnya, sikapnya priha tin dan mohon bantuan. Melihat darah mem banjir pula dari luka-luka Lui Ang-ing, cepat orang aneh ulur tangannya hendak mene kan pula, tapi tangannya gemetar dan berhenti di tengah udara, seperti antara telapak tangan nya dengan dada Lui Ang-ing tertahan sesu atu benda yang tidak kelihatan, malah mimik wajahnya juga menampilkan mimik aneh ra sa derita dan sikap yang tertekan.

Napas Lui Ang-ing tersengal lagi, katanya lemah: ,Kau .. kenapa kau … lepaskan?”

Seperti orang kesurupan raut muka orang aneh mendadak mengkeret dan menggigil.

Sudah tentu heran dan bingung Lui Ang-ing dibuatnya, pada hal luka lukanya amat perah, bicara denga i keras,mn tak mampu, tenggorokannya terasa anyir, darah seperti hampir tumpah dari mulutnya, sambil tersengal dia berkata: ”Kau .. kalau tidak lekas . turun tangan . . . aku “. pasti mati , . . benar tidak?”

Tampak bergetar sekujur badan orang aneh. namun telapak tangannya masih Kaku diudara, sementara saking tidak kuat menahan rasa sakit, Lui Ang-ing semaput.

Para pembaca, perlu kiranya sekarang kita paparkan asal usul orang aneh ini.

Sebetulnya dia seorang padri agung dari Siau-lim-si, usia belum genap tiga puluh, tapi sudah mempunyai kedudukan tinggi di biara suci itu. Dahulu Kui bo Hun Hwi-nio pernah mengembara ke Tionggoan, entah betapa banyak jago-jago kosen Bulim yang tergila gila kepadanya, Kui bo Hun Hwi-nio memang berparas cantik jelita, berkepandaian tinggi lagi, dasar perempuan genit dia banyak menimbulkan huru hara di mana-mana, mengadu biru sesama kaum persilatan, sudah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentu tidak sedikit pula ilmu tunggal berbagai perguruan yang berhasil dipelajari jago-jago silat yang kepincut kepadanya, ternyata belum puas juga, akhirnya dia meluruk ke Siau-lim-si dan menemui padri agung Tay-ci Siansu yang menduduki ketua Tat-mo-wan di Siau-iim- si.

Sebagai padri agung Tay-ci Siansu ber-welas asih walau sekali pandang dia sudah tahu bahwa Hun Hwi-nia bukan perempuan baik, maka dalam sepuluh gebrak dia sudah memukul Hun Hwi-nio luka parah, namun dia tidak turun tangan secara keji, sebaliknya hati tidak tega dan berusaha menyembuhkan luka-luka Hun Hwi nio malah.

Waktu itu diapun menekan dada Hun Hwi-nio dengan sebelah telapak tangannya, sungguh tak nyana, terjadinya sentuhan kulit badan antara dua insan yang berbeda ini telah menimbulkan tragedi yang mengenas-kan wajah Hun Hwi-nio memang cantik luar biasa, genit dan jalang pula, dibawah rayuannya Tay ci Siansu tak kuasa menguasai hawa nafsunya, sehingga terjadilah peristiwa aib yang memalukan.

Selama sebulan Tay-ci Siansu dan Hun Hwi-nio bergelimang dalam kehidupan sebagaimana suami isteri didalam Siau lim-si, selama sebulan itu luka-luka Hun Hwi-nio sudah lama sembuh, malah tidak sedikit ilmu tunggal Sau-lim pay yang diperahnya.

Sayang kejadian Tay-ci Siansu menyembunyikan perempuan dalam biara serta menurunkan ilmu sakti perguruan kepada orang luar akhirnya terbongkar. Sejak Siau-lim si dibangun ratusan yang lalu, belum pernah terjadi peristiwa memalukan seperti ini. Maka seluruh padri dalam biara besar dikumpulkan, diadakan sidang kilat, semula para Tiang-lo dan padri agung seria Ciangbunjin Siau-lim pay membujuknya supaya insaf dan bertobat, namun Tay ci Siansu sudah kebacut cinta dengan Hun Hwi-nio sudah tentu dia menolak bujukan dan nasehat, sehingga terjadilah pertengkaran yang makin memuncak, ratusan padri yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berangasan memprotes supaya Tay ci Siansu dihukum berat atau dipecat dari jabatannya, sudah tentu Tay-ci menolak sehingga terjadilah perkelahian sengit, Tay-ci Siansu membela mati-matian keselamatan Hun Hwi-nio, tidak sedikit padri-padri Siau lim si yang jadi korban, terpaksa kedua orang ini melarikan diri, jauh meninggalkan Siau – lim – si dan menghilang jejaknya.

Peristiwa itu terjadi didalam biara Siau lim sebetulnya tidak diketahui orang luar. dirahasiakan lagi. seluruh penghuni Siau-lim si sudah berjanji dan dilarang membocorkan peristiwa memalukan ini. Tapi ada ribuan padri dalam biara agung itu, tidak semuanya dapat mematuhi aturan atau larangan, mana mungkin rahasia ini tetap dipertahankan oleh mulut-mulut yang suka usil, lambat laun rahasia irtipun mulai tersiar luas dika-langan Kangouw. Tapi bila ditanyakan langsung kepada padri Siau hm-si mereka selalu menjawab tidak tahu. maka bagaimana sebetulnya duduk persoalan, orang luar tetap tidak jelas, mereka hanya anggap Hun Hwi-nio yang cantik genit dan centil itu telah memikat seorang padri agung Siau lim si hingga padri yang satu ini melanggar tujuh pantangan perguruannya lalu diusir keluar perguruan.

Setelah meninggalkan Siau-lim-si, Tay ci Siansu lantas memelihara rambut kembali menjadi orang preman, serta menggunakan gelar Lian-hun Kisu sebagai penyataan langsung betapa besar rasa cintanya kepada Hun Hwi-nio, seumur hidup tidak akan luntur Berdasar Kungfunya yang tinggi dalam jangka setengah tahun, nama Lian hun Kisu sebetulnya dapat menjulang tinggi di Bulim. Sayang tujuan Hun Hwi nio menyelundup ke Siau lim serta memikat Tay-ci Siansu adalah untuk mencuri belajar Kungfu Siau hm si, serelah meninggalkan Siau lim st, maka kumailah sifat liarnya, dasar jalang dia tidak betah tinggal lama bersama Lian-hun Kisu, sepuluh hari setelah mereka menetap disuatu tempat yang sudah disepakati bersama untuk tempat tinggal mereka untuk selamanya, diam-diam Hun Hwi-nio minggat tanpa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pamit. Sudah temu bukan kepalang sakit, penasaran dan sedih hati Hun lian Kisu, dipuncak Hoa-san dia menangis tujuh hari tujuh malam serta menyesali nasib dan perbuatannya, sejak kejadian itu dia tidak pernah muncul lagi didunia ramai, tiada orang tahu di mana jejaknya.

Setelah meninggalkan padri agung yang dianggapnya goblok ini. Hun Hwi nio lantas menyingkir jauh kepedalaman kearah Biau di-Tibet karena kualir jejaknya dikuntit Tay ci, syukur berbulan hingga bertahun tahun kemudian dirinya bisa hidup tentram mengikuti segala keinginannya, maka dia mendirikan Hiai-lui-kiong serta menjadi orang yang paling berkuasa dan disegani didaerah terpencil ini. Setelah puluhan tahun lamanya, baru didalam Hiat lui-kiong itulah mereka bersua kembali, tapi yang perempuan sudah menjadi nenek jelita, yang laki juga sudah berobah jadi kakek keriput dengan wajah yang selalucemberut.

Orang aneh itu gelar imannya adalah Tay ci, setelah kembali preman menggunakan gelar Lian-hun K.isu, namun orang yang selalu dikanang dan dicintainya juga tidak perlu diperhatikan atan dikenang lagi,maka dia membuang segala gelar dan nama, selanjutnya menggunakan Bu-bing sansing. Setelah Hun-Hwi nio minggat, selama hampir tiga puluh tahun dia masih hidup merana dia mereras diri. selama itu tak pernah dia bergaul dengan perempuan. Wajahnya yang penuh keriput itu ke-lihatannya seperti berusia tujuh atau delapan puluh, pada hal saat itu dia baru berusia lima puluhan. Semula dia tidak sadar waktu telapak tangan mendekap dada Lui Ang-ing, namun setelah melihat merah jengah dimuka-nya keadaan ini mirip waktu dia menolong Hun Hwi-nio diSiau-lim-si dulu. maka getaran sanubarinya saat itu sungguh takkan bisa diresapi orang lain, setelah tangannya terangkat apapun sudah dia menekannya pula, pada hal luka luka Lui Ang-ing amat parah dan jatuh semaput. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu semaput warna jengah diwajah Lai-Ang-ing seketika lenyap, wajahnya kembali pucat dengan darah yang terus mengalir dari luka luka didadanya Sambil mengawasi orang sudah tentu Bu-bing Siansing tahu, bila dirinya masih bimbang dan tidak segera memberikan pertolongan luka-luka Lui Ang-ing’ pasti tidak tertolong dan jiwa bisa amblas. Tapi dia juga takut terulang lagi impian buruk yang pernah terjadi tiga puluhan tahun yang lalu.

Telapak tangannya hanya setengah kaki diatas dada Lui Ang ing, namun sukar diturunkan lagi. Keringat sudah berteiesan dari jidatnya, perasaannya seperti ditusuk-tusuk sembilu, mendadak dia mendongak sambil menggembor keras serta kesetanan. Begitu keras dan hebat gemborannya ini sehingga Lui-Ang ing yang pingsan sampai terjaga bangun.

Begitu dia membuka mata, dadanya lantas turun naik dengan cepat, matanya ‘ mena. tap Bu bing Siansing dencan pardangan harap-harap cemas, mulut sudah tidak manpu bersuara.

Bu-bing Siansing jug; balas menatapnya, sesaat kemudian baru dia menarik napas la’u berkata tertaha’n : ,.Aku tak bisa menolongmu, lau harus tahu . . . kalau aku me-Hviongmu, apakah yaag akan terjadi ?”

Napas Lui Ang ing makin berat, suaranya lembah dan te putus-putus : ,,Aku tak mau mati , . . aku ingin hidup. . . usiaku masih muda …apapun aku ingin hidup mohon kan …”

Bu bing Siansing memejam mata. keringat bertetesan dari jidatnya, mendadak dia membuka mata, sorot matanya memancar sinar terang, segera dia ulur tangan dengan ujung kukunya yang panjang dia merobek pakaian Lui Ang-ing didepan dada tanganpun lantas menekan.

Seketika Lui Ang-ing merasakan dada menjadi hangat nyaman o’eh merembesnya segulung hawa panas yang bergerak ikut mengalirnya darah, rasa sakit seketika lenyap, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keadaannyapun makin lelap seperti pulas tapi juga setengah sadar. Entah berselang berapa lamanya, mendadak ditangkapnya bentakan suara Bu-bing yang keras : „Salurkan hawa murni.'”

Tersentak semangat Lui Ang ing, segera dia membuka mata, namun rasa kaget membuatnya dia meronta hendsk bangun, maklum gadis suci manapun disaat dalam keadaan setengah sadar, bila mendadak mendapatkan dirinya berada dalam pelukan seorang laki laki, apa lagi pakaian bagian dada terbuka lebar serta tangan lelaki menekan dada yang terbuka ini, pasti melonjak kaget dan takut.

Tapi beberapa Hiat to didada Lui Ang-ing sudah tertutuk oleh Bu-bing Siansing, badannya tak mampu bergerak, karuan saking gugup dan malu selebar mukanya be-robah merah, air matapun berlinang.

Dengan kereng Bu-bing Siansing membentak pula: „Kerahkan hawa murni, semula aku tak mau menolongmu, tapi kau sendiri yang menuntut kepadaku.”

Mendengar suara orang, apa yang terjadi atas dirinya seketika disadari oleh Lui Ang-ing, jantungnya berdebar, lekas dia memejam mata serta mengerahkan hawa murni sesuai petunjuk orang. Cukup lama kemudian me dadak dia merasa tekauan didadanya me-ngendor, beberapa Hiat-to yangtertutuk juga telah terbuka lagi, lekas dia bangun berduduk, tapi kedua pundaknya ditekan Bu-bing Siansing. waktu Lui Ang ing menoleh dilihatnya pandangan Bu-bing Siansing amat aneh. mimik mukanyapun ganjil sekali

Sudah tentu mengkirik hati Lui Ang-ing, baru saja dia. hendak buka suara, mendadak Bu-bing Siansing menjentikan jari telunjuk tangan kanan, serbuk hijau dari obat mujarab buatannya seluruhnya dibubuhkan d luka luka Lui Ang-ing. Darah sudah berhenti, luka-luka itupun sudah rapat mengering, setelah dibubuhi serbuk hijau itu, seketika rasanya dingin dan lenyap rasa sakir Bu-bing Siansing bergegar Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berdiri lalu memutar tubuh, kedua tangan menekan dinding tubuhnya tampak menggigil seperti menekan gejolak perasaannya.

Lekas Lui Ang-ing duduk serta merapatkan pakaiannya menutupi dada, waktu dia mendongak, tampak cahaya kuning yang mulai redup, jelas hampir satu hari mereka berada dalam pendopo ini. Kondisinya memang tidak sekuat semula, namun untuk jalan sudah cukup kuat. bagian luka-lukanya tinggi segaris hitam yang sudah mengering. Setelah berdiri Lui Ang-ing beranjak kesebelah ping gir serta menyingkap kerai, masuk kepintu samping.

Sesaat kemudian waktu Bu-bing Siansing membalikan tubuh, kebetulan beradu pandang dengan Lui Ang-ing yang beranjak keluar, wajahnya seketika bersemu merah, sambil menunduk Lui Ang ing berkata : ,,Ayah sudah meninggal, jenazahnya ada di-dalam.”

Bu-bing Siansing seperti tidak mendengar ucapannya, mendadak dia putar tubuh begitu cepat dan kuat dia berputar sehingga menimbulkan getaran angin, Lui Ang ing yang masih lemah kondisinya seketika terhuyung mundur, napas seperti tertekan oleh getaran angin itu. bila dia sudah menenangkan diri, Bu-bing Siansing sudah melesat ke dalam lorong dan tidak kelihatan bayangannya, beberapa kejap kemudian terdengar suara “Blam, blum” beberapa kali. Lui Ang-ing berdiri diam tak bergerak, kejap lain didengarnya teriakan Bu-bing Siansing : „Buka pintu, buka pintu. Biar aku keluar.”

Gema suara Bu-bing Siansing sekeras guntur memekak telinga menimbulkan gelombang suara yang bertalu-talu. Lui Ang-ing maju beoerapa langkah berpegang pada meja bundar di depannya, sambil menunduk dia menghela napas, setelah menemukan jenazah ayahnya lantas dia maklum apa yang telah terjadi, bahwa Kim-hou Pocu telah mati pasti telah terjadi pemberontakan atau cup didala-n benteng harimau emas ini, salah satu dari biang keladi pemberontak ini Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyusul kedalam pendopo ini siap membunuh dirinya pula. Bahwa usaha mereka gagal, sudah tentu komplotan pemberontak yang lain takkan mau membuka pintu melepas mereka keluar. Pintu emas ilu amat tebal, kalau sudah disumbat dari luar jelas mereka takkan bisa keluar.

Bu-bing Siansing masih terus menggem-breng pintu dan berteriak-teriak minta dibukakan pintu, setengah jam lamanya baru dia berhenti.

Lui Ang-ing masih berdiri ditempatnya, beberapa kejap kemudian, dilihatnya Bu-bing Siansing keluar dari lorong dengan langkah berat dan lemas, -sesaat dia mengawasi Lui Ang-ing, lalu katanya dengan napas memburu : ,,Lekas buka pintu, biar aku keluar.”

Perlahan Lui Ang-ing menggeleng kepala, katanya : Jikalau kedua daon pintu emas

itu dlpalang dari luar, siapapun takkan bisa membukanya dari dalam.”

Mendadak Bu-bing Siansing memburu maju lalu mencengkram lengan Lui Ang-ing teriaknya beringas : „Pasti ada jalan keluar lainnya di sini, lekas tunjukan biar aku membukanya, aku harus segera berpisah dengan kau.”

Lui Ang-ing menghela napas lalu me-nunouk kepala.

Bergetar tubuh Bu-bing Siansing. kata nya gemetar :,.Tidak jalan keluar lainnya?”

Perlahan Lni Ang-ing mengangguk. Se-ketika Bu-bing Siansing berjingkrak mundur mendadak dia jejak kaki. tubuhnya melompat tinggi dua tombak serta mendorong kedua tangannya ke atas,,Biang, biang” dua kali dia memukul keatas kaca kristal dilangit-langit pendopo itu.

Kaca kristal itu tebalnya tiga kaki, meski kungfu Bu-bing Siansing setinggi langit juga tak mampu memukulnya pecah apa lagi hancur. Tapi pukulan dahsyat itu dilontarkan dari Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebelah bawah, getaran pukulannya ternyata menimbul kan pergolakan dalam air diatas empang itu buih buih menyembur ke atas sahingga menyemprot tinggi keluar permukaan air.

Dipinggir empang saat mana ada beberapa orang sedang mengail, mendadak air memancur keluar dengan daya muncrat yang ke ras dari dalam air. siapapun melihat dengan jelas. Tapi orang orang yang sudah berada didalam Kim-hou-po seperti tidak ambil peduli terhadap kejadian disekelilingnya semburan air itu membasahi pakaian mereka, na mun orang-orang itu tidak bergerak di tempat duduknya, melirikpun tidak.

Setelah Bu-bing meluncur turun’ Lui Ang ing tertawa getir, katanya:,,Kami takkan bisa keluar dari sini rangsum yang tersedia di-sini juga tidak banyak menurut perkiraan

aku tiada orang menolong kami keluar, pa ling lama kami bisa bertahan hidup satu bulan.”

Dengan mendelong Bu-bing Siansing ma sih mengawasi Lui Ang ing, nona cantik yang pucat ini mendadak tertawa cekikikan kata nya:.,Coba kau pikir, mungkinkah ada orang menolong kami? Kalau mereka sudah bertekad merebut Kim hou-po, jelas punya tujuan tertentu, apakah kami boleh keluar?”

Perasaan Bu-bing Siansing agaknya sudah tenang, dia hanya tertawa menyengir.

Lui Ang-ing tertawa ewa, aatanya:„Seseorang bila tahu hidupnya hanya tinggal satu bulan saja, apakah yang harus dia lakukan?’*

Bu-bing Siansing masih tak bersuara, Lui Ang-ing menghentikan tawanya, lalu menghela napas, katanya:,.Sekarang hanya ada kau dan aku di sini, akupun tak bisa keluar. Siapakah kau sebetulnya sudikah kau memberi tahu kepadaku?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perlahan Bu-bing Siansing menarik knrsi lain doduk. katanya setelah menarik napas : „Semula aku seorang Hwesio. aku mencukur gundul rambutku di Siau lim-si “

Lui Ang ing berjingkat kaget teriaknya : ,,He. jadi yang dipelet Hun Hwi-nio dulu . . . * sampai di sini dia berhenti, tampak Bu-bing Siansing mengangguk kepala, maka Lui Ang ing meneruskan dengan suara lirih : “MangKanya diwaktu kau menolongku tadi. kau bimbang? Kau.. “ mendadak dia menggigit bibir terrtawa cekikikan, katanya menuding arah kerai bambu sana. “Didalam sana ada sumber air hidup, tadi aku sudah mencuci noda noda darah, entah obat mujarab apa yang kau gunakan mengonati lukaku, luka-lukaku tinggal segaris hijau, bisa hilang tidak.”

Napas Bu-bing Siansing memburu lagi. Lui Ang-ing terus mendekatinya, katanya : „Kami takkan lama hidup, apa pula yang kau kuatirkan ?”

Bu bin Siansing membuka kedua tangannya, Lui Ang Ing makin dikat. Akhirnya Bu Ling Siansing menghela napas panjang, orang orang yang bertugas d luar pintu emas itu juga mendengar nelaan napas lega ini.

oooo)0(oooo

Arus sungai bergulung-gulung, rakit kulit itu hanyut terbawa arus yang deras dan, terombang ambing- Btrdiri diatas raut selepas mata memandang Hun Lian tidak melihat ujung pangkal, gelombang air yang kuning butek seiiap saat seperti hendak menelan dirinya, tubuhnya bergoyang gontai diatas rakit, beberapa kali dia hampir terjungkal jatuh, untung Liong-bun Pangcu disebelahnva beberapa kali memapah dan memegang lengannya.

Setiap kali tangan orang menjamah tubuhnya, jantung Hun Lian lantas berdebar keras, waktu pertama kali melihat tampang Liong-bun Pangcudia anggap orang ini bukan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

manusia, tapi sebagai manluk aneh Kini selelah ditegasi, meski bola matanya biru.

rambutpun kuning emas tapi jelas bentuknya tak berada dengan manusia umumnya, cuma hidungnya lebih besar dan mancung. Manusia yang satu ini malah bersikap amat ramah dan bormat. maka rasa takumya lambat laun lenyap tak berbekas. Oleh karena itu setiap kali Liong-bun Pangcu ulur tangannya memapah tubuhnya supaya tidak kecemplung kesungai, maka jantungnya berdebar-debar.

Rakit kulit iru terus laju dengan pesat hiugga tujuh delapan li jauhnya, terdengar suitan dari arah darat, belum lenyap suitan itu bergema diudara, tampak segulung tambang besar melambung tinggi keud&ra meluncur kearah rakit dari semak rumpuk dipinggir aungai sana. Liong-bun Pangcu segera ulur tangannya mengangkap ujung tali lekas sekali tali itu ditarik sehingga rakit itnpun terseret minggir. Begitu dekat Liong bun Pangcu menoleh kearab Hun Lian, Hun Lian tahu orang ingin membantu dirinya lompat keatas darat, maka dia bersenyum dan berkata : “Tak usahlah.”‘ dengan enteng segera dia melompat keatas tanah.

Lione bun Pangcu ikut melomnat di-belakangnya. baru saja mereka mendarat, sebuah tandu besar dipikul delapan laki-laki sudah menyongsong datang bagai terbang.

Bentuk joli ini mirip dengan yang rusak diptnggir sungai tadi, lebih aneh lagi, delapan pemikul tandu meski wajahnya berbeda, namun gerak terik mereka ternyata sama sa u dengan yang lain, tak terasa Hun Lian melirik kearah Liong-bun Pangcu. Dengan tertawa Liong-bun Pangcu berkata : ,,Tandu yang mirip ini seluruhnya aku punya tujuh buah sudah tentu ada lima puluh enam orang yang kulatih dsngan baik, kalau satu rusak bukankah aku harus membuat lagi dan melatih beberapa orang pula ‘

Hun Lian mengganguk, dia sendiri menjadi heran dan tidak mengerti, kenapa d ha Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

riapan Liong-bun Pan;cu dia menjadi pendiam dan alim. Pada hal wataknya periang dan supel, waktu didalam Kim hou po hanya sekali dia berkenalan dengan Cia Ing-kiat. walau dia tahu Cia Ing kiat yang di kenalnya ini tidak dengan wajah aslinya, namun dia juga maklum karena diri sendiri juga berkedok untuk menyelundup kedalam Kim hou-po, bahwa orang setujuan dengan cari yang sama menyelundup kedalam Kim-hou po, naka timbullah rasa simpatik dan anggap orang sebagai teman baik sendiri.

Hun Lian meninggalkan Kim-hou-po bersama Cia Ing kiat namun Kungfu Hun Lian dibanding Cia Ing kiat jelas berbeda amat jauh. begitu meninggalkan Kim hou-po Lui Ang-mg lamas kehilangan jejaknya, malah Cia Ing kiat yang harus mengalami berbagai peristiwa yang mendebarkan, dengan susah payah baru dia berhasil melarikan diri Tapi sejauh mana secara diam-diam Hun Lian terus menguntit jejaknya tanpa disadarinya

setiba di H at lui-kiong, Hun Lian lantas ribut dengan ibunya, minta kawin dengan Cin Ing kiat..

Hun Hwi-nio serdiri dilahirkan didae-rah Biau kang anak blasteran dari ayah Ban ibu suku Btau. Hun Lian sendiri juga tidak tahu siapa ayah kandungnya, malah she juga ikut ibunya. Menurut adat suku Biau bila perempuan mulai kasmaran dan pingin kawin, selamanya tidak pernah malu-malu dan sungkan, tabiat anaknya jaga diketahui oleh Hun Hwi-nio, maka sang ibu tidak merasa heran, maka dia mengutus Thi-jan lojin bersama Gin-koh meluruk jauh ke Kim-liong ceng bicara tentang perjodohan ini. Bahwa sekarang Hun Lian kelihatan alim dan malu-malu kucing memang kelihatan janggal malah, hal ini Hun Lian sendiri juga merasakan, hatinyapun beran dan tak habis mengerti, karena keheranan tanpa merasa beberapa kali dia melirik serta memperhatikan Liong-bun Pangcu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu joli besar itu tiba didepan mereka, Liong-bun Pangcu lantas berkata : ,,Silakan nona Hun.”

Hun Lian menjadi bimbang, dia ikut Liong bun Pangcu karena orang berjanji akan membawanya menemui Cia Ing-kiat, namun dalam waktu sesingkat ini perasaannya ternyata berobah, bertemu atau tidak dengan Cia Ing-kiat hakikatnya tidak perlu lagi dengan dirinya, lebih penting dia bisa lebih lama berada disamping Liong-bun Pangcu. Pikirannya agak kalut, teringat akan per-obaban perasaannya, seketika jengah mukanya, bola mata Liong bun Pangcu yang biru sedang menatapnya, mendadak dia berkata lirih : “Nona Hun, aku sering menjelajah dunia, belum pernah kulihat nona secantik dirimu.”

Makin jengah muka Hun Lian, sesaat dia melenggong tak tahu apa yang harus di ucapkan, segera Liong-bun Pangci maju selangkah membuka pintu joli menyilakan Hun naik lebih dulu baru dia ikut masuk kedalam tandu.

Lekas sekali joli udah bergerak seperti terbang, dalam joli gelap gulita, perasaan Hun Lian semakin kalut, jantung berdebar, ternyata Liong-bun Pangcu tidak bersuara, disaat dia kebingungan, didengarnya Liong-bun Pangcu berkaia: „Nona Hun, nama asliku adalah Antario Posing, selanjutnya kau boleh panggil aku Anta saja.”

Terasa oleh Hun Lian, tutur kata orang cukup sopan dan lembut, enak didengar lagi, walau orang hanya memberitahu namanya, tapi seperti mengandung maksud mendalam ysng tertentu, seketika detak jantungnya makin kencang, sesaat kemudian baru tcrceius suara dari mulutnya: „An pangcu. ‘

Ternyata Liong-bun pangcu tidak bersuara lagi, sesaat lagi baru dia bersuara perlahan: Sudah sampai.” suaranya lirih, namun joli segera berhenti. Lalu dia berkata pula: „Setelah turun dari tandu, boleh kau terus dan mendorong gordyn kuning, dibalik pintu itulah Cia siaucengcu sedang menunggu kau, maaf aku, masih ada urusan lain.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Timbul perasaan hambar dalam benak Hun Lian. Kedatangannya ini memang ingin bertemu dengan Cia fng-kiat, tapi sekarang, dia malah ia segan dan tidak ingin bertemu dengan Cia Ing kiat lagi-

Setelah melenggong sekejap baru tersipu dia mengiakan serta berdiri, pelan-pelan dia buka pintu lalu melangkah keluar, setelah turun dari joli, masih ingin dia menoleh ke-belakang, tapi pintu joli sudah tertutup, delapan orang pemikul tandu itu sudah berderak pergi.

Hun Lian tenangkan diri, sekilas dia periksa keadaan sekitarnya, tak urung hatinya kaget. Tempat di mana Hun Lian sekarang berdiri berada di persimpangan dua lorong lorong ini terbuat dari dinding batu raksasa tingginya hampir dua tombak, langit-langit lorong ini berbentuk me’engkung setengah bundar. Diatas batu-batu dinding itu banyak diukir orang-orang yang lagi berperang, setiap gambar begitu indah dan hidup, bentuk-nyapun memper, seiiap lima tombak terdapat satu obor, api menyala terang sehingga lorong gelap ini kelihatan lurus, panjangnya mungkin ada beberapa li, kelihatannya seperti kuburan kuno yang lama terpendam didalam tanah.

Sejenak Hun Lian berdiri bimbang, sementara joli itu sudah tidak kelihatan, terpaksa Hun-lian beranjak lebih jauh kesebelah dalam, kira-kira satu li jauhnya, akhirnya dia menemukan sebuah pintu batu yang disebelah luarnya ditutup gordyn kuning, pintu batu itu seperti sudah tumbuh secara alamiah menempel gunung.

Sejak Hun Lian berdiri bimbang diluar pintu, lalu ulur tangan mendorong pintu, kelihatannya pintu batu itu tebal dan berat, tak nyana sedikit dorong sudah berderak dan membuka, begitu dia melangkah masuk lantas didengarnya suara Cia Ing-kiat membentak gusar: ‘Siapa yang datang? Apa tujuan kalian mengurung aku di sini.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hun Lian melenggong, batinnya: “Sekali dorong pintu ini terbuka, kenapa. Cia Ing-kiat tak bisa keluar sendiri?” sekali berkelebat dia menerobos masuk, dilihatnya muka Cia Ing-kiat beringas gusar sedang angkat tangan hendak memukul, tapi sedetik itu, Cia Ing sudah melihat jelas yang menerobos masuk adalah Hud Lian, rasa gusar seketika berobah kaget dan girang, lekas dia memburu maju seraya berteriak’ ‘ Nona Hun-“”

Begitu berhadapan dengan Cia Ing-kiat, timbul rasa sesal dalam bsnak Hun Lian, semula dia hanya tersenyum saja, lalu sapanya: “Cia siau-cen;. cu.”

Sekilas Cia Ing-kia melengong lalu katanya: ‘Nona Hun, kenapa kau kemari?”

Hun Lian tertunduk, sahutnya: “An pangcu jang membawaku kemari. ‘

Agaknya pertanyaan Cia Ing-kiat dilontarkan sambil lalu, tanpa menunggu jawabannya dia sudah maju.selanskah serta pegang tangan Hun Lian. Tubuh Hun Lian bergetar, namun dia tidak meronta atau menyingkir. Begitu memegang tangan Hun Lian, perasaan Cia Ing-kiat lantas hangat seperti melayang, napasnyapun menjadi sesak, katanya: ‘Lekas kami berusaha lari, setelah berhadapan dengan ibumu, biar beliau yang memberi putusan…..”

Belum habis Cia Ing-kiat bicara, tahu-tahu Hun Lian meronta mundur malah, katanya: “Waktu diruang besar Hiat-lui-kiong tempo hari, kenapa kau tidak berani menampilkan diri?”

Mendengar nada orang marah dan menyalahkan dirinya, Cia Ing-kiat jadi gugup, katanya gelisah: “Hari itu aku diapit dua orang, yaitu Sao-pocu K.im-hou-po, seorang lagi entah siapa, aku tidak tahu asa -u ulnya, Kungfunya amat tinggi….”

„Kau berani menyelundup ke Kim hou-po. apa lagi yang kau takutkan” jengek Hun-Lian. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bukan soal takut, soalnya Hiat-toku ter-tutuk, tak mampu bergerak, jadi bukan aku tak berani menampilkan diri.”

Hun Lian menghela napas, katanya: “Jikalau kau ada maksud, waktu berangkat Hiat-lui-kiong, sebetulnya tak perlu kau menyamar. ‘

Cia Ing-kiat bungkam seribu basa tak mampu membela diri.

—ooo0dw0ooo–

Jilid 11

Waktu Cia Ing kiat dipaksa ikut orang aneh pergi ke Hiat-lui-kiong, hakikatnya belum pernah melihat dan tidak tahu orang macam apa sebetulnya Hun Lian calon isteri nya, apalagi gara-gara Kui-bo mengutus orang menculik dirinya untuk dikawinkan dengan putrinya sehingga ayahnya meninggal dunia, maka timbul rasa dendam dan kurang senang terhadap Kui-bo, namun sete’ah menyaksikan sendiri Hun Lian adalah gadis jelita, hatinya betul-betul kepincut dan selama inipun selalu kasmaran, kini berhadapan langsung, dia sudah anggap dirinya sebagai calon suami Hun Lian, namun walau tutur kata Hun Lian lemah lembut dan ramah, namun nadanya penuh tegoran, karuan mulutnya bungkam. Setelah melongo sekian saat baru dia berkata pula : „Kejadian . . . sudah lewat, buat apa disinggung Iagi ?”

Hun Lian angkat kepala, sepasang matanya menatap tajam wajah Cia Ing kiat, bati nya ruwet pikiran kalut, akhirnya dia ber-keputusan, katanya perlahan : „Ya, betul, bagiku persoalan ini juga sudah lalu. Tidak perlu dibicarakan lagi “

Cia Ing-kiat melonjak kaget, segera dia paham apa maksud perkataan Hun Lian, sesaat hatinya kaget dan gusar, berhadapan dengan nona secantik ini sungguh dia ingin bicara ramah dan sopan, namun sebagai seorang laki-laki Sejati, dia punya harga diri, malu untuk memohon cinta kepada seorang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perempuan, maka dia bergelak tawa, katanya : „Syukurlah kalau begitu. Semula kau yang meminangku, kenapa sekarang berobah begini,”

Hun Lian menghela napas, katanya: „Jika kau lidak menyalahkan undakanku, aku rela melakukan sesuatu untukmu demi menebus kesalahanku.”

Bukan kepalang gusar Cia Ing-kiat, katanya sambil menjura: ..Terima kasih akan kebaikanmu noua Hun. kukira tidak usahlab.” perkataannya bernada menyindir, umpama orang pikun juga akan tertusuk perasaannya, seketika pucat dan hijau wajah Hun Lian, saking gregetan tak labu apa yang harus dilakukan, padahal tadi dia bicara setulushati.

Cia Ing-kiat melengos sambil mendongak lalu terkekeh dingin, sudab tentu tidakk karuan perasean Hun Lian, perlahan dia membalik badan. Cia Ing kiat tabn bahwa Hun Lian membelakangi dirinya juga, maka persoalan mereka boleh terhitung putus dan berakhir sampai di sini, tiada kompromi lagi tentang perjodohan merekr

Dalam hal ini Cia Ing-kiat dipihak yang dirugikan, hatinya amat gusar dan penasaran karena merasa dipermainkan dan dihinai hingga membaralah rasa gusar dironggadada namun dia juga tahu semua ini terjadi lantaran kungfu sendiri yang tidak becus, jikalau Ilmu silatnya tinggi, pasti tidak akan terjadi hal hal yang memalukan dan mengenaskan ini.

Disamping gusar rasa benci menjalari hatinya pula, mendadak dia membalik, dilihatnya Hun Lian sudah tiba didepan pintu kesempatan baik ini sebetulnya pantang diabaikan untuk turun tangan, namun Cia Ing-kiat juga tahu, kungfu Hun Lian jauh diatas dirinya, bila sergapannya gagal, jiwa sendiri pasti celaka.

Diambang pintu Hun Lian berhenti lalu berkata: ”Bagaimana juga, bila kau ada urus an, aku pasti bantn kau menyelesaikan.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cia Ing-kiat hanya menyeringai dingin, nada tawanya runcing.

Seperti ngeri mendengar jengek dingin Cia Ing-kiat, lekas Hun Lian merapalkan pintu, dibalik pintu dia berdiri memejam mata sambil menahan gejolak perasaannya.

Sesaat lagi mendadak didengarnya suara gedobrakan dibalik pintu, agaknya saking malu dan gusar Cia Ing-kiat mengamuk merusak prabot, memangnya pikiran sendiri juga kalut, maka dia tidak pikirkan kenapa Cia Ing-kiat tidak memburunya keluar. Lama dia berdiri sambil menunduk, waktu kakinya bergerak sambil angkat kepala, maka dilihat nya Liong-bun Pangcu sudah ba diri tak jauh didepannya, terasa sepasang bola mata yang biru laut tengah menatap dirinya, seperti sudah meroboh isi hatinya, seketika jengan selebar mukanya, lekas dia menunduk pula.

Didengarnya Liong-bun Pangcu berkata lembut : „Jangan bersedih, putusanmn memang betul.”

Bergetar badan Hun Lian. tanyanya ”Kau sudah tahu?”

Liong-bun Pangcu tertawa rikuh, katanya! ”Suara Cia-ciau cen Cu sekeras itu sudah tentu kudengar seluruhnya.”

Hun Lian menghela napas Sambil tunduk kepala, dirasakan Liong bun Pangcu mendekati dirinya. Waktu dia angkat kepala pula Long-bun Pangcu Sudah berada didepan matanya, jantungnya berdebar lebih keras, didengarnya Liong-bun Pangcu berkata:”Kenapa kau berani ambil putusan demikian?”

Tanpa sadar Hun Lian geleng kepala, dia tidak bi8a menjawab, hatinya bingung walau dia perempuan Biau yang tidak terlalu kukuh akan adat kuno tapi sebagai seorang perempuan malu juga mengorek isi hati seri diri kepada orang luar, setelah mematung sekian saat- baru dia berkata:”Tidak, “, apa-apa tolong antara aku keluar?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong-bun Pangcu mengangguk, katanya; „Boleh saja,”

Hun Lian ingjn menyingkir dari tatapan Liong-bun Pangcu, tapi setiap dia angkat kepala bola mata biru itu selalu menatap tubuhnya sehingga jantungnya berdenyut lebih keras, terpaksa dia jalan sambil menunduk.

Liong-bun Pangcu berjalan diisisinya, lorong itu sebetulnya tidak begitu panjang, tapi Hun Lian merasa terlalu lama tak sampai di-ujungnya juga, perasaan seorang gadis amat tajam, dari sorot pandangan Liong-bun Pangcu, dia seperti sudah meraba apa yang dipikirkan dan lantaran dia sudah meraba maksud orang maka jantungnya berdetak lebih keras.

Setiba dimulut lorong baru Hun Lian berhenti, Liongbun Pan cu juga berdiri serta berhadapan, katanya: ‘Nona Hun, aku datang dari laksaan li jauhnya, suksesku yang terbesar akan aku berkenalan dengan engkau.”

Hun Lian makin resah tak tahu bagaimana menjawab, pada saat itulah Liongbun Pangcu ulur tangannya memegang tangan Hun Lian, seketika menggigit tubuh Hun Lian, namun Liong bu n Pangcu hanya pegang perlahan saja lalu lepas pula pegangannya, senyumannya mengandung permohonan maaf. Di-saat Hun Lian masih berdiri linglung. Liongbun Pangcu sudah melangkah lebar, terpaksa Hun Lian mengikuti dibelakang.

Cukup lama mereka berjalan pula menyusuri lorong yang lain, akhirnya Hun Lian tidak tahan kesepian, tanyanya: “Tempat apakah disini?”

Liongbun Pangcu berhenti. lalu menjelaskan: ‘Konon dulu adalah kuburan seorang raja, sampai sekarang sudah ribuan tahun lamanya. Semula kuburan kuno ini ada tujuh pintu keluar masuk, enam yang lain sudah ditutup jadi tinggal satu saja, di sini banyak perangkap dan jebakan, seluruhnya dijaga dan diawasi tujuh jago kosen dari Liong bun pan kami.”

„Buat apa jelaskan hal ini kepadaku?” tanya Hun Lian- Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong bun Pangcu tertawa, katarma: “A-ku kuatir setelah ibumu berhasil menduduki Kim hou-po, lalu meluruk kepadaku, maka ingin aku minta bantuanmu supaya menyampaikan kepada ibumu kalau dia punya maksud demikian, lebih baik batalkan saja, kalau keras kepala, dia tidak akan memperoleh hasil apa-apa.”

Hambar hati Hun Lian mendengar keterangan Liong-bun Pangcu, katanya setelah ter-longong sejenak: “Jadi itulah tujuanmu kau bawa aku kemari?” Entah kenapa mendadak hatinya menjadi sedih, merasa dikibulin, hampir saja dia mencucurkan air mata, tapi sekuatnya dia tahan supaya air matanya tidak menetes keluar.

Liong-bun Pangcu melengak, lalu menghela napas, katanya: “Semula memang demikian maksudku, tapi sekarang ……. sekarang………aku justru……”

Melonjak pula jantung Hun Lian, diam-diam dia melirik dan perhatikan sikap Liong-bun Pangcu. tampak orang menggosok kedua tetarak tangan seperti ingin melimpahkan isi hati. namun sukar bicara, akhirnya menghela napas saja.

Kecewa kembali merangsang sanubari Hun Lian, badan menjadi dingin seperti kecem p urtg jurang yang dalam, ingin dia menggapai dan menangkap .sesuatu namun tiada yang dapat ditangkapnya, begitu dia buka suara,nada-nyapun berobah ketus: “Bawa aku keluar.”

Liong-bun Pangcu menatapnya lekat, bibirnya sudah bergerak namun urung bicara lagi, bukan kepalarig sedih Hun Lian, namun dia tahan titik air mata yang hampir mengalir.

Pada saat itulah tampak seorang baju hitam laksana kilat meluncur datang, begitu cepat gerak-geriknya, begitu berhenti didepan Liong-bun Pangcu lantas angkat sebelah tangannya, ternyata diatas jari telunjuk yang diangkatnya itu hinggap seekor burung kecil dengan warna yang indah segar, begitu kecil burung ini hanya sebesar ibu jari orang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Liong-bun Pangcu lantas mencibir bibir bersiul rendah, burung kecil itu segera terbang kearah Liong bun Pangcu dan hinggap diatas tangan Liong.bun Pangcu.

Dengan tangan yang lain Liong bun Pangcu genggam burung kecil itu lalu menyingkap bulu dibawah perutnya melolos segulung kertas kecil, sekali ayun tangan, burung kecil itu terbang balik kearah sibaju hitam, orang itu menjura homat sekali kepada Liong-bun Pangcu terus putar badan berlari pergi pula. Sementara itu Liong-bun Pangcu sudah membeber gulungan kertas kecil itu.

Kertas itu tipis dan lemas besarnya hanya setengah telapak tangan, tapi kertas blanco tanpa sebuah huruf pun.

Sejak melibat bmung kecil sebesar ibu jari Hun Lian sudah keheranan, kini melihat kertas yang dibawanya itu blanco lagi, karuan dia makin bingung dan tidak habis mengerti.

Liong bun pangcu membeber kertas itu ditelapak tangannya yang gede. lalu tertawa kepadu Hun Lian, katanya: ”Ada berita dari Kim-hou po. Situasi yang terjadi didalam Kim-hou-po agakrya amat menguntungkan ibumu, harap nona tunggu di sini sebentar.”

Sambil omong dia ulurkan telapak tangannya kedepan, telapak tangan yang semula putih lambat laun berobah merah, jelas dia kerahkan tenaga dalamnya, maka kertas putih yang semula blanco itu mulai kelihatan ada huruf tulisannya, hanya sekejap tampak kertas kecil putih itu penuh ditulisi huruf kecil berwarna kuning gosong, namun Hun Lian tidak bisa membaca apa yang tertulis diatas keatas itu. Setelah membaca isi surat itu, rona muka

Liong-bun Pangcu tampak serius serta menghela napas panjang.

Seperti diketahui ibu Hun Lian yaitu Kwi-bo Hun Hwi mo dengan akal licik telah menanam ulat beracun tanpa nama ditubuh para jago kosen sebanyak itu. tujuannya akan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memperalat tenaga sekianjago silat kosen itu untuk menggempur Kim nou-po. Maka waktu dia mendengar Liong bun Pangcu bilang ada berita dari Kim-hou-po dia hanya berdiri btngung dan cetengah percaya, namun dia a-mat prihatin, tanyanya “Bagaimana?”

Liong bun Pangcu angkat kepala, katanya: “Ada perobahan besar didalam Kim-hou-po, Sau-pocu dan jago kosen itu sudah kembali kedalam benteng……..”

Hun Lian angkat tangannya menukas perkataannya: “Sebelum ada berita ini, kami sudah bisa menduganya.”

„Betul, tapi perobahan justeru terjadi Setelah mereka kembali kedalam benteng.”ujar Liong-bun Pangcu, “Sejak lama aku sudah menanam seorang agenku didalam Kim hou-po. dua hari yang lalu aku sudah mendapat kabar, bahwa ada beberapa gembong silat disana bersekongkol hendak membunuh Kim-hou pocu. gelagatnya peristiwa ini sekaiang menjadi kenyataan.”

Hun Lian kaget, katanya: ‘ Peristiwa apakah yang terjadi setelah Lut Ang ing pulang?”

Liong bun Pangcu geleng kepala, katanya: “Aku sendiri juga tidak tahu Berita ini hunya mengatakan setelah Lui Ang-ing dan orang kosen itu pulang kedalam benteng langsung menghadap kepada Pocu. Tempat tinggal Pocu ada dibawah empang bejat..-…”

„O.” Hun Hian bersuara heran dan kaget. Maklum dia pernah menyelundup keda-lam Kim-hou-po, tak pernah terbayang olehnya bahwa empang besar yang banyak dihuni ikan-ikan mas besar itu dibawahnya ternyata ada pendopo dan menjadi temppt tinggal sang Pocu, mungkin banyak orang yang setiap hari memancing ikan dipinggir empang juga jarang yang tahu akan rahasia ini.

Hai ini hanya dibatin dalam hati Hun Lian, tidak, dia nyatakan langsung kepada Liong-bun Pangcu. Tapi Liong-bun Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pantcu seperti tahu bahwa cirinya memaklumi sesuatu, maki dia bertanya : ..Nona Hun. ksu pernah menyelundup ke Kim hou po, mungkin tidak pernab kau ketahui bahwa didasar empang itu ada dunia lain.’

Hun Lian hanya menganguk kepala.

Liong-bun Pangcu berkata pula- „Setelah kedua orang ini masuk tak pernah keluar pula, sementara dan lorong di bawah tanah didasar empang itu beberapa kali terdengar suara gaduh yang aneh. beberapa orang yang berkomplot memberontak tampak gngup dan gelisah, kelihatannya mereka berhasil mengurung ocu Sau pocu dan orang aneh itu didasar empang itu.”

Hun Lian menarik napas dalam, sesaat lamanya dia tak kuasa bica a, entah hatinya kaget atau girang. Pada hal ibunya sedang mengerahkan tenaga besar hendak menyerbu dan menduduki benteng macam emas itu, bila didalam benteng teriadi perobahan berarti situasi menguntungkan ibunya. Akan tetapi Hun Lian sendiri juga tahu seluk beluk dalam Kim hou-po. harus diakui bahwa tidak sedikii jago jago kosen dunia persilatan yang berada didalam benteng itu, selama itu mereka boleh dikata sudah putus hubungan dengan dunia luar, selanjutnya pasti tidak akan membuat perkara atau onar, tapi jikalau mereka tidak dikendalikan oleh Pocu atau Sau pocu, bila dihasut dan diadu domba oleh sementara anasir, maka huru hara mungkin takkan bisa dihindari lagi.

Akan tetapi berita yang diterima oleh Liong-bun Pangcu tadi, sebenarnya juga bukan kenyataan seluruhnya.

Bagaimana duduk persoalan sebenarnya. Oran» orang yang berada didalam Kini ou-po sendiri yakin juga tiada yang tahu jelas atau menguasai situasi. Habis bicara Liong-bun Pangcu lantas me emas lembaran kertas itu, bila telapak tangannya dibentang pula. tampak gulungan kertas ditangannya sudah teremas hancur menjadi bubuk beterbangan ditiup angin, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

katanya: „Nona Hun, ibumu sudah tak jaub dari Kim-hou-po, apa perlu kuatar ku kesana?”

Hambar perasaan Hun Lian, tapi dia tahu banyak urusan yang harus dia kerjakan, sementara dia harus berpisah dulu dengan Liong bua Pangcu, maka dia berkata : „Tak perlu, cukup asal kau antar aku keluar dari sini saja.*’

Liong-bun Pangcu juga tidak banyak bicara lagi, segera dia menggerakan langkah, dengan cepat dia berlari kedepan, Gmkang-nya memang tinggi, tapi Hun Lian juga kembangkan Ginkangnya maka sementara dia masih dapat mengikuti langkah orang, setelah mengitari banyak lorong yang barlika liku, akhirnya mereka tiba depan sebuah pintu besi yang besar.

Didepan pintu berdiri dua orang batu raksasa, perawakannya gede sikapnya garang dan gagah, dandanan dan sikapnya mirip pejuang jaman kuno, Liong-bun Pangcu langsung maju medckat lalu mengayun tangan, beruntun dia memukul delapan kali dengan gerakan kilat didelapan tempat yang berbeda diatas papan pintu besi itu, lalu dia pegang gelang besi serta menariknya aengan mengerahkan tenaga.

Hun Lian tahun bahwa kungfu Liong-bun Pangcu amat tinggi, namun melihat orang waktu menarik daon pintu besi ini selebar mukanya sampai merah padam, maka dapat dibukitkan bahwa pintu besi ini disamping tebal juga amat berat.

Pintu besi hanya tertarik dua kaki lebarnya lantas Liong-bun Pangcu berhenti serta mengganti napas panjang, sekilas dia menolth serta memberi tanda, sekilas bimbang segera Hun Lian ikut menyelinap masuk.

Keluar dari pintu besi itu mereka man-jat lorong yang menjurus k atas, kedua sisi sepanjang lorong ini berderet orang-orang yang berdiri tegak, melihat orang lewat tapi mereka berdiri kaku tidak bergerak sedikitpun, bila keluar dari Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lorong yang miring ini tampak cahaya surya sudah doyong kebarat, tanah tegalan yang menguning kelihatan bertahuran cahaya emas, ditengah tegalan itulah didapatinya banyak orang-orang baiu dan kuda-kuda batu yang sudah rusak dan berserakan.

Sebelum berlalu sempat Hun Lian menoleh mengamati mulut gua di mana barusan dirinya keluar, ternyata itulah sebuah gua belukar yang amat kotor, penuh ditumbuhi semak dan rumput jalar, jikalau bukan ke luar dari sebelah dalam, dari luar orang tidak akan tahu bahwa dibalik akar-akar pohon jalar itu ada gua yang Tersembunyi, terutama kaum persilatan juga tidak akan menyangka bahwa maskar pusat Liong-bun-psng berada didalam kuburan kuno yang serba rahasia dan banyak perangkapnya.

Liong-bun Pangcu tetap berdiri didepan gua, tidak maju lebih jauh, cahaya mentari menyinari rambut kepalanya yang kuning emas hingga kelihatan mengkilap dan lebib semarak.

Hanya sekejap Hun Lian menoleh lantas mengembangkan Ginkang berlari dengan pesat, setelah dia meluncur puluhan tombak, baru dia mendengar kumandang suara Liong-bun Pangcu yang lembut ; „Nona Hun, jagalah dirimu baik-baik. Selamat jalan.”

Kedengarannya suaranya dilontarkan di-belakaugnya, seperti Liong-bun Pangcu berbisik dibelakang telinganya, tapi Hun Lian tahn Liong-bun Pangcu pasti ma ih bertda didepan gua tanpa bergerak meski setspak sekalipun, namun suaranya lembut dan jelas karena orang bicara sambil mengerahkan tenaga dalamnya.”

Hun Lian tidak tahu bagaimana perasaan hatinya, yang terang batinya hampa dan masgul maka dia mempercepat langkab melesat lebih kencang kedepan. Tak lama kemudian hari sudah mulai petang, bila tabir malam sudah menyelimuti jigat perasaan Hun Lian semakin bingung dan risau, kecuali berlari dan lari secepat angin seolah-olah sukar dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menghilangkan perasaan hambar yang masih terus menghantui sanubarinya.

Bila hari sudah betul-betul gelap, Hun Lian semakin gelisah karena dia tidak tahu dirinya sekarang berada di mana, sekeluar dari gua tadi dia langsung ayun langkab lari fnerti dikejar setan, hakikatnya tidak menentukan arah, yang jelas dia hanya ingin buru buru meninggalkan tempat itu. Tapi kenapa dia ingin buru-buru meninggalkan tempat iru, hatinya tidak bisa memberi jawaban, mungkin lantaran kecewa, tapi kenapa kecewa ? Apa yang membuatnya kecewa ?

Malam ini tiada bulan tak kelihatan bintang, terpaksa Hun Lian berlari naik ke gundukan tanah tinggi, sejenak dia berdiri menyeka keringat, selepas mata memandang dunia hitam pekat melulu, akhirnya di arah utara dilihatnya tujuh titik sinar lampu yang bergoniai dan bergerak menuju kearah barat, tujuh titik sinar lampu itu seperti berbaris dan bergerak secara lambat, gelagatnya ada orang yang mencentel lampu lampion dengan genter dan menempuh perjalanan, tapi sin&r lampion amat benderang, sehingga dilihat dari kejauhan tampak menyolok sekali. Melihat ketujuh titik sinar lampu itu seketika Hun Lian berjingkrak girang dan menghela napas lega, dia tahu tujuh titik sinar lampu itu adalah cahaya lampion minyak hitam bi atan Hiat-lui-kiong mereka, maka dia yakin ada orang sendiri didaerah sini.

Tanpa ayal Hun Lian kembangkan Gin-kang meluncur kearah tujuh titik sinar lampu itu. cepat sekali jarak sudah semakin dekat, dibawah cahaya benderang ketujuh lampion minyak itu. ada tujuh laki-laki perawakan besar berjalan lurus sambil memegang galah panjang mengerek ketujuh lampion merah itu, mereka memang para kacung dari Hiat-lui-kiong.

Hun Lian langsung melayang tuiun di depan mereka serta menegur ; „Apa yang kalian lakukan di sini ?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu melihat Hun Lian, ketujuh kacung seketika keplok kegirangan, dengan berseri mereka menyapa bersama: ,,Tuan putri,sungguh susah kami mencarimu.”

Berkerut alis Hun Lian, katanya: „Siapa suruh kalian mencariku?”

“Sudah tentu majikan, melihat kau tikak muncul seteiah waktu yang dijanjikan tiba, kami temukan pula jenazah Li-pi-Iik, siapa yang tidak gelisah menguatrkan dirimu?”

Hun Lian hanya tertawa nyengir saja, perjalanan kentara bersama Li-pi lik kali ini demi mencari Cia Ing kiat tapi idelah bertemu pemuda yang semula dipujanya, hatinya menjadi rawan dan masgul malah, gara-gara kasmaran sehingga Li-pi-lik berkorban percuma

Celakanya begitu bertemu denian Liong-bun pangcu dan selama dimarkas Liong-bun Pang ternyata dia melupakan cintanya terhadap Cia Ing-kiat, terbayang betapa besar perobaban hatinya, sungguh dia sendiri tidak habis mengerti. Setelah melenggong sesaat lamanya, maka dia bertanya: , Ibu di mana? ‘

Ketujuh orang itu berkata serempak:

“Mari ikut kami.” sembari bicara masing-masing merogoh. kantong menseluarkan sebatang roket panah terus ditimpukan kendara, terdengar desir suara disertai -muncratnya lelatu api, ketujuh roket panah itu menjulang tinggi keudara lalu meledak bersama diangkasa memancarkan cahaya jambon hijau dan kuning.

Maka ketujnh kacung iiu memberi penjelasan: „Majikan amat gelisah dan kuatir akan keselamatan noia, biar beliau tahu bahwa kami sudah menemukan dirimu dengan selamat.”

Hun Lian tidak memberi tanggapan, dia hanya mengangguk kepala, maka ketujuh kacung itu lantas melesat kedepan menuju ke-timur Lekas sekali mereka memasuki sebuah selat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sempit, makin kedalam tampak bayangan orang, diatas dinding gunung atau diatas ngarai dijaga ketat, selat sempit yang diapit dinding karang yang curam begini, siapapnn jangan harap dapat menerobos masuk kedalam selat secara kekerasan.

Panjang selai sempit ini ada puluhan tombak, makin kedalam makin lebar, batu batu gunung bertahuran, api unggun berkobar dibeberapa tempat, banyak orang berkerumun disekitar api unggun. Begitu masuk kedalam selat, Hun Lian lantas melihat ibunya duduk diatas batu besar bentuk persegi, di bawah batu api unggun menyala besar, cahaya api menyinari wajahnya. Dibawan batu dan mengelilingi api ungun duduk banyak orang, mereka adaiah anak buah Hiat-lui-kiong.

Hun Lian langsung menuju ke empat duduk ibunya, setiba dia dipinggir batu suasana lembah ini sedemikian sunyi, hanya kobaran api yang menjilat kayu raja mengeluarkan suara letusan yang lirih. Sekilas Hun Lian meiirik ke kiri kanan, kearab jago j go silat Buiim itu, wajah mereka tampak- kaku dan mcmbcsi, jelas hati mereka amat berang, namun karena jiwa mereka tergengga n ditangan Kui-bo, apa boleh buat, terpaksa mereka tunduk.

Kui-bo Hun Hwi nio buka suara lebih dulu: „Ke mana saja kau ini?”

Hu Lian menunduk, katanya: „Aku diundang Liong-bun Pangcu, berkunjung ke markas mereka.”

Didalam situasi yang bakal terjadi perobahan besar seperti ini, sebagai putri Kui bo yang berkuasa di Hiat-iui-kiong, bahwa dia berkunjung ke markas besar Liong-ban-pang sepantasnya merupakan kejadian yang cukup menggemparkan, mereka yang mendengar berita mengejutkan ini pantasnya kaget dan menunjukan reaksi. Tapi keayataan orang-orang yang hadir semua diam tanpa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memberi reaksi sedikitpun. Hanya Kui bo saja yang angKat alis, katanya: „Untuk apa kau ke sana? ‘

”Liong bun Pangcu mengundangku untuk menengok Cia Ing-kiat. ‘

Kui-bo mengangguk dan menggerakan kaki, sebelum dia bicara lekas Hun Lian menambahkan: „persoalan yang lain selanjutnya tak usah kau bicarakan lagi,”

Dengan sorot pandangan heran Kui-bo menatap Hun Lian, kejap lain tiba-tiba dia tertawa, katanya: „Bukankah sejak mula sudah kuka-takan kepadamu, bocah itu apa sih baiknya, kau justru kasmaran kepadanya , .”

H«n Lian membanting kaki, katinya gemas: .Jangan bicarakan lagi . …”

„Baiklah,” ucip Kui-bo, „besok pagi pagi, kita akan menggempur Kim-hou-po.”

Hun Lian melenggong, katanya- “Ma, didalam Kim-hou-po telah terjadi perobahan.’

Kui-bo Hun Hwi-nio menyeringai, katanya „Peduli terjadi perobahan apa, besok pagi, kami akan menggempur Kim-hou-po.” sampai di sini dia angkat kepala serta meninggikan suara berseru: „Tan-thocu. persiapan sudah lengkap belum?”

Seorang lelaki yang berpakaian lnsuh segera berdiri dan menjawab: „Sudah siap seluruhnya.”

Hun Lian ingin bicara, namun isi hatinya belum sempat dituangkan, Kui-bo sudah angkat bicara lebih dulu. Waktu dia lirik laki-laki lusuh ini, seingatnya dia pernah melihat laki-laki ini sebagai anggota Kaypang (kaum pengemis) disekitar dirinya juga banyak laki-laki yang berpakaian serupa dirinya, banyak tambalan, disebelah samping kanan bertumpuk buntalan-buntalan persegi sepanjang satu kaki, Hun Lian tidak tahu barang apa buntalan persegi itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara itu, Oh-sam Siansing, Pak-to Suseng dan lain-lain tampak bersikap prihatin Besok pagi-pagi akan menyerbu Kim-hou-po, Kui-bo Hun Hwi-nio sudah mengumumkan secara terbuka. Maka penyerbuan besar-besaran itu akan merupakan pertempuran darah yang bakal menjatuhkan banyak korban dikedua pihak. Sepatutnya jago-jago kosen kaum persilatan yang biasanya amat perkasa dimedan laga, bersikap tegang dan bersemangat, tapi kenyataan sikap mereka sekurang seperti tidak tahu menahu atau tidak ambil perhatian sedikitpun.

Terdengar Kui-bo Hun Hwi-nio tertawa dingin dua kali, katanya : ,,Aku tahu kalian tidak rela bertempur, namun apa boleh buat harus maju kemedan laga, maka kuanjurkan kepada kalian yang tahu diri dan pandai melihat gelagat, berjuanglah sekuat tenaga, aku yakin kalian akan terus bertahan hidup, siapa yang ingin lekas mati, coba bersuara.”

Jago-jago kosen- disekitar batu batu itu tiada satupun yang bersuara. Dalam silua yang serba ganjil ini, perasaan Hun Lian amat tidak enak, setelah memberikan ancamannya Kui-bo Hun Hwi-nio lantas duduk sa-madi memejam mata tanpa bersuara sepatah katapun, agaknya dia sudah mulai menyalurkan hawa murni menghimpun tenaga dan semangat uniuk persiapan pertempuran besok pagi. Tak lama kemudian tampak segulung uap putih mulai mengepul diatas kepalanya.

Lama kelamaan Hun Lian merasa risi berdiri di situ, segera dia celingukan, tampak di pinggir api unggun sana Liong-bin Siangjin tengah menggeleng-geleng kepala, sebelah tangannya menggapai kepada dirinya.

Hun Lian bimbang dan curiga, tapi akhir nya dia beranjak kearah Liong bin Siangjin baru saja dia tiba didepan Liong-bin Siangjin tiba-tiba orang berkelebat mundur menyelinap kebelakang sebuah batu besar, ternyata Hun Lian mengikuti dengan langkah kalem, maka dilihatnya bayangan beberapa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang bergera , delapan jago kosen ternyata ikut menyelinap kebelakang batu raksasa itu serta mengepung Hun Lian.

Baru sekarang Hun Lian tersirap kaget, namun sekilas pikir hatinya lega dan yakin dirinya takkan di apa apakan karena merasa sudah terkena racun ulat yang semayam dalam tubuh mereka, bila mereka menunjukan gerakan yang tidak senonoh hingga mengejutkan Kui-bo atau ibunya, jiwa mereka pasti amblas seketika, maka mereka pasti takkan berani berbuat kurang ajar kepada dirinya. Maka legalah bati Hun Lian setelah berpikir demikian.

Liong-bin Siangjin segera berkata kepadanya : „Nona Hun, ada satu persoalan kami ingin mohon bantuaumu “

Otak Hun Lian encer, sebelum Liong-bin Siangjin bicara, melibat gelagat dia sudah tahu, apa maksud mereka merubung dirinya.

Sebelum menjawab Hun Lian ulur lehernya melongok kearan Kui-bo Hun Hwi-to samadi, melihat ibunya tetap tidak menun-jukan reaksi apa-apa. bara dia berkata : ..Kalian barus maklum untuk persoalan itu aku tak mampu berbuat apa-apa. Ibu pernan belajar langsung dari Sam boa Niocu. ulat racun itu memang tiada penawarnya kecuali obat buatannya sendiri, aku sendiri belum pernah diajarkan.”

Liong-bin Siangjin tertawa getir, katanya : ..Nona Hun, aku tahu ulat .teracun itu tiada obat penawarnya, namun Kui-bo punya Sebumbung kumbang berbisa yang mampu merenggut jiwa kira semua, nona Hun . ,” Sebelum Lion -bin Siangjin bicara habis, Hun Lian sudah goyang kedua tangan, sudah tentu Liong-bin Siangjin dan para jago kosen yang hadir saling pandang, lalu katanya pula : ..Kita pasti tidak akan minta bantuan nona Hun secara percuma, bila nona sudi membantu fkami, dengan gabungan tenaga kita beramai, yakin dapat menemukan jejak Cia-saucengcu serta menyerahkan kepada mu.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sedih dan pilu lati Hun Lian setelah mendengar syarat yang diajukan Liong-bin Siangjin. namun hampir saja tak kuat dia menahan rasa gelinya, lama juga dia berdiri menjublek, lalu berkata penuh penyesalan : „Tak usahlah. persoalanku dengan Cia-sau cengcu sudah tidak perlu dibicarakan lagi. di dalam markas besar Liong-bun-pang aku sudah bertemu dia dan putuskan hubungan selanjutnya.”

Besar harapan para jago kosen itu atas bantuan Hun Lian yang lagi kasmaran kepada Cia sau cengcu, umumnya gadis suku Biru memang lebih tegas dalam memilih jodoh, bila dia sudah menaksir seorang laki-laki, kalau bukan laki-laki itu tidak mau menikah dengan lelaki lain, maka mereka yakin dapat membujuk Hun Lian untuk membantu bila mereka berjanji untuk bantu merangkap perjodohan mereka, sungguh tak nyana bahwa Hun Lian mengeluarkan pernyaraan yang memencilkan harapan mereka bersama, karuan mereka berdiii menjublek putus harapan, walau tiada yang menangis gerang – gerung, tapi semua bermuka pucat pasi.

Hun Lian adalah gadis yang berhati bajik dan bijaksana, jiwanya jauh berbeda dengan ibunya, melihat mereka dirunding kesedihan, hatinya tidak tega, maski jago jago kosen ini tamak sebutir biji teratai darah, sehingga mereka terjebak oleh kelicikan ibu nya, tapi kejadian gara-gara oleh Hun Lian juga, maka dia menghela napas, katanya : ”Sebetulnya kejadian ini tidak akan mengancam jiwa kalian bila mau tunduk atas perintah ibu, apaiagi aku dengar d dalam Kim-hou-po juga telah terjadi pemberontakan, betapapun banyak jago mereka, kalau tanpa pimpinan tentu tidak sukar kita menggempur Kim hou-po.”

Maksud Hun Lian hendak membujuk dan menentramkan hati jago-jago kosen itu, namun melihat sikap mereka, seperti tidak mendengar anjurannya, semua tunduk kepala lalu menyingkir satu persatu tanpa bersuara, hanya Liong bin Sianjing saja yang ma sih berdiri didepannya, bibirnya sudah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bergerak hendak bicara, namun batal, akhirnya diapun menyingkir tanpa bicara lagi.

Hun Lian celingukan, ratusan jago kosen tersebar luas didalam lembah, ada yang duduk, berdiri ada juga yang sudah mendengkur, namun semua bersikap Kaku dan terlongong mengawasi api unggun, dibawah jilatan cahaya api tampang mereka tak ubahnya batu-batu gunung yang berserakan Itu.

Ingin Hun Lian membantu mereka, namun bila terbayang bila ibunya marah, betapa menakutkan mimik dari tindakannya, di sendiri juga bergidik seram, apapun dia tak berani mencuri bumbung itu dari badannya.

Api masih terus menyala dan ranting kering bertambah sehingpa api unggun berkobar makin besar, kira-kira satu jam kemudian, tampak Kui-bo Hun Hwi-nio mendadak membuka mata, sorot matanya tajam jelilat-an, tidak marah tapi menunjukkan wibawanya yang garang, siapapun tak berani beradu pandang dengan dirinya.

Begitu membuka mata Kui-bo Hun Hwi nio lantas beriak ; “Tan – thancu, dibawah pengawalan Oh sam Siansing, Pak-to Suseng dan Liong-bin Sianjing bertiga, kalian berangkat dulu dan pendam semua bahan peledak itu dikedua sisi pintu gerbang Kim-hou-po.

Laki-laki berpakaian lusuh dan banyak tambalan itu segera berdiri sambil mengia-kan. Baru sekarang Hun Lian tahu bahwa untaian segi empat itu adalah bahan peledak, agaknya Tan-thocu adalah seorang ahli membuat dinamit.

Terdengar Kui bo Hun Hwl-nio berteriak : „Lekas berangkat.”

Teriakannya ini menggunakan kekuatan tenaga dalam suaranya keras menggetar lembab mengguncang bumi, menimbulkan gema uara yang mendengung diudara. Sebetulnya jago-jago kosen yang hadir dalam lembah itu, satupun tiada yang menjadi tandingan Kui-bo Hun Hwi-nio bila Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bertanding satu lawan satu, namun bukan tandingan masih bisa melarikan diri, supaya Kui-bo tidak petingkah dan bersimaharaja Tapi mereka tahu jiwa mereka tergenggam di angan Kui-bo, meski hati amat berang mendengar bentakan kasar Kui- bo Hun Hwi-nio, namun Oh-sam Siansing, Pak-to Suseng dan Liongbin Siangjin tiada yang berani membangkang, lekas mereka berdiri.

”Setelah menunaikan tugas, tunggulah aku dijalan tembus yang menuju ke Kim-hou-po,” demikian seru Kui-bo Hun Hwi-nio “b la ada diluar benteng menghadapi rintangan, babat dan ganyang saja seluruhnya habis perkara.”

Oh sam Siansing bertiga diam saja, Tan thocu segera masukan buntalan-buntalan di namit itu kedalam sebuah karung lalu beranjak keluar lembah.

Setelah keempat orang ini keluar dari lembab dan lewat selat sempit itu, kira-kira beberapa li kearah utara, baru Liong-bin Siangjin buka suara: „Keadaan kita sekarang apa bedanya dengan dicacah hancur oleh musuh ”

Tan-thocu menyeringai getir, katanya „Memangnya apa yang bisa kita lakukan ?”

Oh-sam Siansing saling pandang sekejap dengan Pak to Suseng, Pak-io Suseng segera berkafa : „Dunia sebesar ini, namun kemana kita bisa menyembunyikan diri.”

Mendadak Oh-sam Siansing menegakkan badan, seluruh tulang belulang tubuhnya mengeluarkan suara keretekan, jelas menandakan bahwa hatinya amat geram dan penasaran, sesiai apa yang dikatakan Tan-thocu barusan, memangnya mau apa meski bati amat berang ?

Tan-thocu berkata : ,,Ayolah jangan membuang waktu, tidak sedikit jago jago kosen yang bertugas d luar Kim-hou-po, kita perlu membuang banyak tenaga untuk menunaikan tugas ini.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Oh-sam Siansing bertiga mendengus bersama, segera mereka bergerak lebih cepat ke arah depan, lekas sekali dan kejauhan mereka sudah melihat tembok benteng yang bercokol tinggi diatas bukit tandus. Beberapa rumah petak tak jauh dibawab benteng kelihatan memancarkan cahaya kelap kelip, dua kepala harimau emas diatas pintu itu tampak mengilap ditingkah sinar bulan.

Tempat di mana Oh sam Siansing berempat berada sekarang, adalah tanah tegalan tak jauh di sebel ah utara Kim-hou po dimana dulu Cia Ing kiat menyembunyikan diri di-tanah galiannya selama tiga hari menyelidik keadaan Kim-hou po Sejenak mereka ber-henti, dari kejauhan mereka mendengar derap lari kuda, hanya sekejap lari kuda sudah mcacongklang makin dekat malam remang-remang, tampak seekor kuda putih berlari kencang, dipunggungnya mendekam satu orang, gelagatnya sedang memburu waktu atau ingin menyampaikan kabar penting fcmgga kuda dibedal sekencang itu.

Lekas sekali kuda dan penunggangnya sudah membedal dekat, agaknya penunggang kuda mendadak sadar bahwa d d pan ada orang mencegat segera dia menarik tali kendali menghentikan lari kuda serta berduduk menegakkan badan. Oh sam Stansmg berempat melibat jelas, penunggang kuda ini bukan lain adalah Cia Ing-kiat. Dahulu Oh sam Siansing pernah mertamu ke Kim-long-ccng dan bersahabat dengan ayahnya, sudah tentu dia j iga kenal Cia Ing-kiat. Sebagai jago silat iop anp disegani kaum persilatan umumnya, beberapa hari ini dia harus tunduk dan patun akan perintah Kui-bo Hun Hwi-nio, betapa dougkol dau penasaran hatinya sungguh tak terlampias begitu melihat Cia Ing-kiat, terbayang gara-gara pemuda ini sehingga nasibnya serba mengenaskan begini, kini jiwanya terbelanggu di tangan majikau Hiat lui kiong Saking gusar, penasaran beberapa hari ini seketika meledak sambil menghardik bagai guntur menggelegar dia angkat terus mencengkram. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu melibat ada orang mencegat, Cia Ing kiat sudah menghentikan kudanya, jaraknya dengan Oh sam Siansing ada dua tiga tombak jauhnya. Cengkraman Oh-sam Siansing sudah tentu tak bisa mencapai dirinya, apalagi orang juga tidak menubruk maju. Tapi di tengah hardikan gusarnya itu, Cia Ing kiat seperti dikemplang palu kepalanya, hatinya kaget, badan tergeliat, serumpun tenaga lunak yang kuat mendadak mendera tiba, karuan kuda putih tunggangannya berjingkrak kaget berdiri dengan kaki belakang, karena tidak bersiaga Cia Ing-kiat terperosok jatuh dari punggung kuda.

Begitu terguling beberapa kali di tanah, Oh-sam Stansing sudah menggerung geram memburu datang sambil melompat terapung, mirip seekor burung raksasa tubuhnya menukik dengan tubrukan sengit kesra b Cia Ing-kiat. Kebetulan Cia Irg kiat berhenti menggelundung dan kebetulan menegadah keatas, dilihatnya tubuh Oi-sam Stansing sudah berada diatas kepalanya, matanya mencorong murka, kedua telapak tangannya sedang bergerak menepuk kebawah, karuan serasa copot arwahnya saking takut dan ngeri, mulutnya hanya sempat menjerit: „Oh. . .”

Tapi hanya sepatah kata yang sempat keluar dari mulutnya. Ternyata O’n sam Siansing menubruk dengaa mengerahkan kekuatan hawa murninya,sekujur badannya seperti terbungkus baja yang tidak kelihatan ikut menindih turun, betapa bebat kekuatan Lwe-kangnya sehingga Cia Ing-kiat me asi berat ditindih dan dada sesak, sudah tentu dia tak kuat meneruskan perkataannya.

Dalam kesdaan gawat itulah, mendadak sempat dia mendengar dua bentakan orang, menyusul bayangan dua orang ikut melesat tiba. Rebah dia tas tanah, hakikatnya Cia Ing-kiat tidak sempat mengikuti apa yang terjadi, terasa tenaga hebat yang menindih tubuhnya itu mendadak sirna tak berbekas, tapi tubuhnya terbawa arus perpaduan dua jalur Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kekuatan hebat sehingga tubuhnya terguling lagi beberapa kaki jauhnya.

Bila dia sudah menenangkan hati, tampak Oh-sam Siansing berdiri tegak ditanah, Pak-to Suseng dan Liong- bin Siangjin berdiri agak jauh di kanan kirinya. Tak-to Suseng masih kuat menguasai keseimbangan badannya, tapi Lion bin Siangjin tampak memburu napasnya, wajahnya agak pjcit, jelas tenaga dalamnya menghadapi perlawanan yang kokoh dan tangguh sehingga napasnya sengal-sengal.

Cia Ing-kiat tidak sempat menduga apa yang telah terjadi, lekas dia melompat berdiri lalu menyurut mundur delapan langkah pula. didengarnya Pak-to Suseng berseru: „Oh-sam, ada sangkut paut apa persoalan ini dengan bocah ini?”

Masih beringas muka Oh-sam Siansing, bentaknya: ”Jikalau bukan para gara permainan patgulipat bocah ini dengan cewek bangsat itu, mungkinkah Kui-bo menelorkan rencana jahat ini sehingga kita semua tertipu di Hiat-lui-kiang.”

Liong-bin Siangjin menghela napas, katanya: ,,Sudahlah, jangan kau menyalahkan orang lain, kenapa tidak salahkan diri kita sendiri yang terlalu tamak,”

Pak-to Suseng ikut tertawa getir, katanya: „Ya, memang harus sudah kita duga sejak mula memangnya siapa tidak tahu pribadi Kui-bo Hun Hwi-nio yang licik dan jahatf kalau kita tidak tamak, nasib ini tidak seje lek sekarang.”

Oa-sam Siansing berdiri menjublek, keringat membanjir dijidatnya, jelas hatinya amat menyesal dan malu, seperti ingin sembunyi didalam lobang bawah tanah saja.

Sudah tentu Cia Ing-kiat tidak habis herannya, sejak dia diculik Liong bun Pangcu dari Hiat lui kiong hingga dia disekap dalam markas L ong bun pan , berapa kali dia berusaha melari an diri, namun selalu he-hasil diringkus kembali oleh jago-jago Liong-bun-pang, hingga Liong-bun Pangcu me nberitahu kepadanya bahwa dia akan membawa Hun Lian kemari baru Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hatinya merasa tentram dan tidak memberontak lagi dalam sel.

Ternyata Liong-bun Pangcu memang tidak menjilat ludahnya Hun Lian memang datang, tapi habis ] ertemuan itu justru amat mengecewakan hatinya, gusar, benci dan penasaran lagi. 5etelah Hun Lian pergi, segera dia menerjang keluar, diluar dugaan kali ini dia tidak mengalami halangan.

Sudah tentu sejak dia diculik dari Hiat-lui-king, apa yang terjadi selanjutnya dia tidak tahu menahu, kini mendengar percakapan ketiga jago silat top ini, baru dia menyimpulkan bahwa mereka pernah dirugikan didalam Hiat-lui-kiong, setelah tenang perasaannya, baru Ing-kiat berkata perlahan: Para Cianpwe, apa yang terjadi di Hiat-lui-kiong?”

Begitu dia ruka suara, sorot mata Oh-sam setajam kilat dingin menyapu pandang kearah dirinya, seketika Cia Ing-kiat bergidik dibuatnya. Pak-to Suseng tidak perduli akan pertanyaannya, sementara Liong – bin Siangjin mengulap tangan, ucapnya: „Enyahlah kau.”

Meski heran dan curiga, namun terbayang betapa kejam tubrukan Oh-sam Sian sing tadi, mengkirik bulu kuduknya, sambil tnengiakan tersipu Cia Ing-kiat mundur ke belakang, sebelum dia memutar tubuh hendak pergi’ tiba-tiba Liong bin Siangjin berteriak : „Tunggu dulu,”

Cia Ing kiat berdiri dan menoleh, dilihatnya Liong bin Siangjin mengawasi dirinya denian tersenyum getir seperti apa boleh buat, lalu katanya ;.’Biasanya perempuan suku Biau amat khusus dalam memilih jodoh-cintanya tidak gampang berobah. tapi Hun Lian bilang hubungannya dengan kau sudah putus, apakah yang terjadi coba kau jelaskan.”

Seketika berkobar amarah Cia lng-kiat harga dirinya seperti direndahkan, dengan merah dia berkata ”Buat apa bicara tentang perempuan seperti itu, siapa tahu kenapa dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memutar balik persoalan yang terang ayahku gugur lartaran perbuatannya, aku tidak akan memberi ampun kepadanya.”

Sebetulnya kematian Cia Ing kiat terbunuh ditangan Lui Anging, hal ini sejauh itu tidak diketahui oleh Cia Ing-kiat, tapi-dosa kesalahan ini sekarang justeru dia jahitkan dipundak Hun Lian. maka amarahnya tidak tertahankan.

Liong bin Siangjin menghela napas gege tun. sebetulnya dia masih ingin merujukan hubungan Cia Ing-kiat dengan Hun Lian. setelah mendengar langsung pernyataan Cia-Ing-kiat dia tahu soal jodoh ini sudah tidak mungkin diharapkan lagi, terpaksa dia me-ngulap tangan.

Cia Ing-kiat menghela napas, katanya; „Siangjin, bila kau ketemu budak busuk itu, tolong sampaikan kepadanya, orang she Cia tidak sudi menerima budi kebaikan apapun band rinya Lioi g bin menggeleng kepalanya pelan-pelan bahwasanny dia tidak perhati kan apa yang diucapkan Cia Ing-kiat selanjutnya. Tapi Tan thocu yang berada dise-belahnya tergerak hatinya setelah mendengar pernyataan Cai ing kiat,segera dia mendahului maju kudepan Cia ing kiat. katanya:,,Cia sau-cengcu, bukankah soal jodoh ini diajukan oleh Kui-bo sendiri?”

Kembali mendidih amarah Cia Ing-kiat dengan geram dia mendengus saja, walau tidak memberi reaksi apa-apa lagi, namun dalam ban dia membatin, mending kalau soal jodoh ini diajukan langsung oleh Kui-bo tapi kenyataan adalah Thi jan Lojin dan Gin-koh atas perintah Kui-bo meluruk kerumahnya serta merebut dirinya dari tangan sang ayah. Agaknya peristiwa ini tidak banyak diketahui orang. Tadi kalau hal ini dibicarakan dengan orang lain sungguh memalukan juga menurunkan gengsi ayahnya almarhum, sebagai anak muda yang suka merang dan berdarah panas, namun Cia Ing-kiat masih bisa menguasai diri dan tutup mulut saja.

Segera Tan thocu berkata pula:,Jadi nona Hun bilang putus hubungan segala, artinya perjodohan itu batal?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cia Ing-kiat mendongak kepala sambil menggendong kedua tangan, maksudnya tidak ingin membicarakan soal jodoh ini lebih lanjut. Tapi Tan-thocu berkata pula:„Cia-sau-cengcu tadi kau bilang tidak sudi menerima budi kebaikan nona Hun, setelah membatalkan pernikahan ini nona Hun merasa menyesal kepadamu, maka dia menyajikan suatu bantuan demi kepentinganmu?”

Mendengar pertanyaan Tan-thocu, Oh-sam Siansing, Pak-to Suseng dan Liong bin Siangjin yang sudah siap pergi serempak putar balik merubung kedepan Cia Ing-kiat, pandangan keempat gembong silat ini menatap Cia Ing-kiat.

Sebetulnya Cia Ing-kiat sudah segan membicarakan soal ini, tapi melihat sikap empat orang ini seperti ingin tahu seluk beluk persoalannya, sedikit banyak timbul rasa- takut dalam hatinya, maka dia berkata ,,Ya, benar, dia bilang merasa salah dan mungkin terhadapku maka dia bersedia melakukan sesuatu meski betapapun sulit persoalan yang kuajukan pasti takkan ditolak olehnya . . . ” sampai di sini dia berhenti sejenak, dia bicara tetap mendongak sehingga tidak perhati kan sikap kegirangan keempat orang yang mendengar penjelasannya, pikirnya penjelasan ini hanya untuk menjaga gengsi sendiri, maka dia bicara lebih lanjut •, ”Hm, perempuan jalang seperti dia, memangnya kapan aku pernah merindukan dia, bahwa dia sendiri yang membatalkan soal jodoh ini, kebetulan sekali malah, memangnya siapa sudi mohon bantuannya segala.”

Begitu dia habis bicara, mendadak terasa pergelangan kedua tangannya dipegang kencang orang dengan berjingkat dia menoleh kiranya Pak to Suseng dan Liong bin Siang-ji-i sudah dekat di kanan kirinya, kedua orang ini yang memegang erat tangannya, karuan Cia Ing-kiat tersirap kaget, teriak-rya : „Kalian mau apa ?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

,,Cia sau cengcu” tukas Liong- bin Siangjin ,,kami mohon bantuanmu, tolong kau menuntut nona Hun untuk menolong kita.”

Karuan Cia ing-kiat berdiri bingung. Ternyata sikap Oh sam Siansing, Pak-to Suseng dan Liong-bin Siangjin berobah seratus delapan puluh derajat, kalau tadi mereka bersikap kereng dan penasaran, sekarang roman muka mereka berseri lebar dan ramah malah PaK-to Suseng berkata : „Soal ini memang perlu dijelaskan dari permulaan supaya Cia-sau-cengcu tahu duduk persoalannya.”

Maka Liong bin Siangjin berkata : ..Cia-sau-cengcu, setelah kau dibawa pergi Liong-bun Pangcu . , . . ” begitulah sifat manusia, bila kau ingin mohon bantuannya maka tutur katanya juga berobah ramab dan sopan, pada hal Cia Ing-kiat diculik Liong bun Pangcu, tapi Liong bin Siangjin bilang dibawa pergi. Sudah tentu Cia Ing-kiat amat senang menghadapi pembahan sikap mereka tanpa bersuara dia mendengar penjelasan Liong-bin Siangjin

Sudah tentu berdebar jantung Cia Ing-kiat meudengar cerita Liong-bin Siangjin. Tapi melibat sikap Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng yang serius dan prihatin, dia yakin cerita itu memang betul, peristiwa ini jelas merupakan pukulan lahir batin yang memalukan mereka, maka Ing kiat masih menelaah persoalan ini tanpa bicara. Maka Pak-to Suseng campur bicara : „ ..Maksud kami ingin mohon bantuanmu supaya menuntut balas kebaikan nona Hun, mencuri bumbung kumbang milik ibunya itu.”

Cia Ing-kiat menarik napas dalam, sebelum dia bicara, Oh-sam Siansing yang sejak tadi diam saja mendadak ikut bicara .Bila kau berhasil n enunaikan tugasmu ini dengan baik, berarti kau sudah menolong jiwa ratusan orang, jelasnya kita juga tidak akan membiarkan kau bekerja secara percuma, raiusan jago-jago silat itu semua memiliki kepandaian khusus perguruannya, setiap orang bila mengajar tiga jurus Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepadamu, maka hidupmu selanjutnya tanggung tak kan kapiran.”

Pernyataan Oh-sam Siansing menambah debar jantung Cia Ing kiat lebih keras. Memang, jikalau jago jago silat kosen sebanyak itu, setiap orang mengajar tiga jurus kepada nya, memang selama hidupnya ini pasti takkan kapiran. Setelah melenggong sekian lama baru Cia Ing-kiat berkata : „Tapi di sini hanya ada kalian berempat, bagaimana maksud orang lain …”

„Orang lain aku yang tanggung, mereka pasti setuju dan patuh akan usulku.” demikian tukas Oi-sam Siansing.

Mengawasi Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng, Cia Ing-kiat membatin, dengan gabungan kekuatan kedua orang, jago lihay mana didunia ini yang mampu menandingi mereka, maka dia yakin persoalan ini sudah pasti, katanya perlahan: ..Di mana nona Hun sekarang, biar kucoba.”

Liong-bin Siangjin berkata : idalam lembah tak jauh dari sini. lebih batk kau bisa memancingnya keluar dari lembah, dan hati-hati jangan sampai diketahui Kui-bo.”

,,Tidak jadi soal, aku bisa merias diri menjadi bentuk lain, Kui-bo pasti tidak akan mengenali diriku.” sahut Cia Ing-kiat.

Tan-tho-cu berkata : „Urusan cukup genting, sebelum terang tanah, Kui-bo sudah akan mengerahkan seluruh kekuatan mulai menggempur Kim-hou-po, lebih baik kau bisa membereskan tugasmu sebelum fajar, bantuanmu amat besar artinya bagi kita semua.”

„Baiklah,” ucap Cia Ing-kiat, „ segera aku pergi mencarinya.” habis bicara Cia Ing-kiat berlari ke sana lalu mencempUk ke-punggung kuda serta dibedal kencang kearah selaian, di punggung kuda dia keluarkan sebuah kedok muka terus dikenakan, sementara kudanya berlari kencang menuju ke selat yang ditunjuk serta menyelinap kedalam. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru beberapa langkah dia berjalan, lantas didengarnya didinding selat sebelah atas seorang menegurnya : „Siapa kau ?”

Cia Ing-kiat angkat kepala, dikeremang-an malam, dilihatnya seorang berdiri tegak mepet dinding karang, tidak kelihatan di mana kedua kakinya berpijak, mirip cicak saja orang itu mendempel ditengah dinding karang yang rata itu.

Cia Ing-kiat menghentikan langkah serta menjawab : ,,Oh sam Siansing mengutusku kemari.”

Sorot mata orang ini dingin tajam, dari atas kebawah dia mengawasi Cia Ing kiat, pandangan penuh selidik ini membuat Cia Ing-kiat mengkirik merinding. Makin dipan dangsemakin risi, untunglah mendadak orang itu tertawa dingin lalu mengulap tangan, tubuh yang mendempel dinding karang itu merambat lurus keatas makin tinggi.

Cia Ing-kiat seperti masih ingat wajah orang ini pernah dilihatnya di Hiat-lui-kiong kini dia sudah tahu segala seluk beluk persoalannya, maka boleh diduga bahwa orang ini juga pasti sudah terkena niat beracun, walau tidak berani memberontak atau menentang secara terang-terangan, tapi umpama melihat ada spion musuh menyelundup kemari juga tidak akan mau bekerja sepenuh hati. Tanpa bicara segera Cia Ing-kiat melesat kedaiam selat, di dekat mulut selat dia mencari tempat gelap serta menyembunyikan diri lalu melongok kedepan.

Tampak banyak oraug didalam lembah, semua tiduran dibawah. diatas batu, sikap nya lesu dan loyo seperti tawanan yang sudah sekian lama tidak diberi makan, tiada semangat sedikitpun. puluhan api unggun menyala diberbagai tempat, tepat ditengah lembah Kui-b) duduk bersimpuh diatas batu, matanya terpejam, jelas sedang samadt. Hun Lian juga duduk dibatu tak jauh dipinggir ibunya, kepala tunduk entah soal apa yang sedang dipikirkan, sikapnya tampak memelas. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Timbul rasa iba dalam hari Cia Ing-kiat namun bila terbayang betapa dirinya dibuat malu dan sudah banyak berkorban secara sia-sia karena cewek yang satu ini, rasa benci dan penasaran seketika merasuk sanubarinya pula, pikirannya menjadi ruwet, sesaat lamanya dia berdiri mematung ditempat nya Cukup lama dia mendekam dibelakang batu, sekian lamanya itu, orang-orang d dalam lembah itu ternyata tidak banyak yang bergerak, keadaan di sini kira-kira hampir mirip dengan apa yang pernah dia saksikan di Kim-hou-po tempo hari.

Maka Cia Ing-kiat berpikir : „Umpama aku berjalan terang-terangan masuk ke lembah pasti tiada yang memperhatikan diriku.” maka dia segera maju bebeiapa langkai, dengan menegakkan badan ternyata tiada reaksi dari sekian banyak orang, nyalinya makin besar maka dia beranjak lebih lanjut, bila dia sudah berada didepan Hun Lian, baru gadis jelita ini angkat kepala mengawasinya sejenak, Cia Ing-kiat mengenakan kedok muka sudah tentu Hun Lian tidak bisa mengenalnya.

Makin dekat perasaar Cia log kiat makin gundah, dia tahu bila dia mengajukan permohonan kepada Hun Lian, berarti dia sudah menerima budi kebaikannya sesuai yang telah dijanjikan orang kepada dirinya, maka selanjutnya jangan mengharap cewek ini merujuk kembali hubungan asmara mereka, celakanya harga dirinya dalam sanubari cewek ini mungkin sudah tidak berharga sc-peserpun, orang pasti menilai dirinya sebagai manusia rendah yang tamak keuntungan melulu.

Tapi bila dia terbayang imbalan yang dijanjikan beberapa jago silat kosen kepada nya, hatinya menjadi gatal lagi, akhirnya dia kertak gigi sirta berbisik perlahan : „Nona Hun, aku ingin bicara dengan kau.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Terbeliak bola mata Hun Lian yang jeli bundar, sebening kaca pandangannya menatap dirinya, begitu Cia Ing-kiat buka suara,

Hun Lian segera kenal suaranya, seketika badannya bergetar, namun segera dia berbangku.

Lekas Cta Ing-kiat putar bidan lalu berlalu. Hun Lian mengin.ul dibelakangnya, terus menuju keluar selat dan berhenti diba-wah dinding karang yang cnram itu. jaraknya dengan tempat duduk Kui-bo cukup jauh yakin percakapan di sini takkan terdengar olehnya, Cia Ing-kiat putar badan, sesaat dia berdiri melongo tenggorokan seperti disumbat, rangkaian kata ying sudah dipersiapkan diujung mulut kini tak kuasa diucapkan, yang menahan mulutnya melontarkan rankaian kata yang sudah dikarangnya sudah tentu adalah harga diri, didamping malu diapun merasa segan.

Hun Lian masih menatapnya, melihat mulutnyt megap-megap akhirnya dia yang buka suata lebih dulu : ,,Adakah persoalan yang ingi-i minta bantuanku?”

Cia Ing-kiat segera angkat kepala. Hun Lian menghela napas katanya perlahan : „Aku pernah janji kepadamu untuk melakukan satu pekerjaan, asal aku bisa melakukan, aku pasti menerima permintaanmu, katakan saja “

Cia Ing-kiat masih merasa berat juga mengutarakan maksudnya, maka Hun Lian berkata pula : „Setelah aku menunaikan janjiku, persoalan lama pasti takkan menjadi ganjalan sanubariku lagi.”

—ooo0dw0ooo–

Jilid 12

Hun Lian berterus terang, bicara blak-blakan, mungkin karena hatinya bajik dan bersih, apa yang dipikir lantas diutarakan, namun apa yang diucapkan bagi pendengaran Cia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ing-kiat sudah tentu amat menusuk perasaannya, hampir saja meledak amarahnya, untung janji imbalan Oh-sam Siansing dan lain-lain lebih merangsang hatinya, tentang melampiskan rasa dongkol dan dendam kelak masih banyak kesempatan, kenapa harus dirisaukan sekarang? Maka dia telan penasaran hatinya, setelah tertawa kering, baru dia berkata: „Permintaanku gampang dilaksanakan, asal kau mau pasti dapat kau kerjakan. Ibumu memiliki bumbung bambu, bumbung, itu…..”

Seketika Hun Lian menjerit tertahan, untung dia lekas mendekap mulutnya, dia sadar dalam keadaan seperti ini, suaranya pantang didengar oleh Kui-bu, lekas dia menoleh ke sana, uniung dia sempat mengerem suara dan mendekap malu t orang yang paling nekatpun tidak tertarik perhatiannya, sudah temu Kui bo yang berada lebih jauh tidak mendengar suaranya, den an mu a tegang beringas dia bertanya: „Untuk apa kau minta bumbung itu?”

Cia ingkiat hanya menarik napas panjang tanpa memberi jawaban. Hun Lian berkata pula: „Kumbang beracun dalam bumbung itu sebetulnya tidak berbahaya, orang biasa bila duengat juga takkan binasa, paling hanya membekak saja, tapi bagi yang sudah terkena ulat beracun . . ,” sampai di sini Hun Lian berhenti’ agaknya dalam sekejap ini dia maklum apa maksud Cia Ingkiat menuntut bumbung kumbang itu, maka dia menambahkan dengan suara lirih: „Orang lain yang suruh kau minta kepadaku?”

”Tidak, keinginanku sendiri” sahut Cia Ing-kiat.

Berkerut alis Hun Lian, perlahan dia tunduk kepala serta menepekur, beberapa kali Cia Ing-kiat tertawa dingin katanya: ”Pernikahan yang kau kehendaki sendiri boleh kau batalkan sesuka udelmu sendiri, maka janjimu yang kau lontarkan didalam markas Liong-bun pang itupun boleh saja kau jilat kembali, anggap saja aku tidak pernah menuntut apa-apa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepada ku.” habis bicara Cia Ing-kiat putar badan terus melangkah pergi.

Hun Lian segera memburu seraya berseru tertaaaa: „Tunggu sebentar.”

Cia Ing kiat berhenti tanpa membalik, Hun Lian berkata gelisah: „Jangan kau kira aku ini perempuan plinplan yang suka ingkar janji “

Memangnya amarah sudah membakar hati Cia Ing-kiat, dengan kertak gigi dia mendesis: ,,Enak juga didengar.”

Hun Lian menarik napas dalam, katanya: ..Baiklah, kuterima permintaanmu, tunggulah aku diluar selat, begitu berhasil segera akan kuserahkan kepadamu.”

Mendengar Hun Lian menerima permintaannya dan janji akan menyerahkan kepada dirinya, hati Ing-kiat girang bukan main-Pada hal dia tahu modal Kui-bo Hun Hwi-nio untuk menggepur Kim-hou-po adalah tenaga jago jago kosen dunia persilatan itu, bumbung kumbang ditangannya itu adalah alat pemeras untuk mengancam jiwa mereka bila tidak mau bekerja sesuai perintahnya, maka bumbung berisi kumbang berbisa itu dipandangnya lebih berharga dari harta benda, untuk mencurinya, bagi Hun Lian, meski putri kandung sendiri juga bukan soal mudah Tapi Hun Lian berani berjanji bagaimana bekerja, sukses atau gagal adalah urusannya. Walau hati senang, namun lahir Cia Ing-kiat tetap dingin, katanya: Baik, akan kutunggu diluar, bila. bumbung itu sudah kau serahkan baru aku man percaya kau bukan orang yang suka menjilat ludahnya sendiri.” dengan langkah lebar segera dia tinggal pergi. Hun Lian mengawasi bayangan punggungnya, hatinya hambar dan mendelu.

Semula dia merasa menyesal terhadap Cia Ing – kiat, tapi sekarang rasa sesal ini sudah lenyap, tapi berobah menjadi pandangan hina. Hal ini memang sudah dalam dugaan Cia Ing-kiat. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah menjublek beberapa saat baru perlahan Hun Lian kembali kesamping Km-bo, di saat bicara dengan Cia Ing-kiat tadi, beberapa kali dia melirik kearah Kui bo syukur ibunya tetap duduk bersimpuh tak bergerak, tapi begitu Hun Lian tiba d samping ibunya, Kui-bo lanlas membuka mata dan bertanya: „Siapa yang ajak kau bicara diluar tadi? ‘

Hun Lian terperanjat, jantungnya melonjak, sesaat dia gelagapan tak tahu bagaimana harus menjawab.

Untung Kui-bo t«dak mendesak lebih lanjut, malah mengajurkan : „Kulihat langkah orang itu berat gentayangan, Kungfunya rendah, selanjutnya jangan kau bergaul dengan orang seperti cia.’

Hun Lian menghela napas lega, segera dia mengiakan dengan suara rendah. Pada hal dalam hati dia tengah merancang akal, bagaimana dia harus turun tangan, sudah tentu dia tahu sampai dimana taraf kepandaian silat ibunya, bila mencurinya secara diam-diam jelas tidak mungkin, lalu bagaimana baru bisa bumbung kumbang itu berada ditangannya? Atau berusaha supaya ibunya mau serahkan bumbung itu kepada dirinya ? Dasar otaknya encer segera dia berkata: „Bu, dalam penyerbuan ke Kim-hou-po besok, tentunya kau sendiri juga terjun kemedan lega bukan ?”‘

„Em,” Kui-bo bersuara rendah dalam tenggorokan lalu katanya : „Biar mereka menjadi pelopor barisan, bila Kim-hou-po sudah tergempur, sudah tentu aku sendirian turun tangan.”

Mumpung ada kesempatan segera Hun Lian berkata : „Tidak sedikit jago jago kosen di dalam Kim hou po apa lagi oran aneh yang datang bersama Lui Ang in waktu mereka berkunjung ke Hiat lui kiong tempo hari . .

Sampai disini Hun Lian bicara, mendadak Kui bo Hun Hwi-nio menoleh dan menatapnya, soror matanya tampak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mencorong tajam, Karuan Hun Lian mengkirik dan ber gidiK seram dan tak berani melanjutkan perkataannya.

Nsda perkataan Kui bo mengandung amarah : ..Memangnya kenapa kau kira aku tak mampu merebut Kim-hou-po ‘

”Bukan demikian, aku …. maksudku . . bila bertarung, bukan mustahil bisa kesalahan tangan, bumbung kumbang itu kau bawa dan disimpan dalam saku, kukira tidak leluasa.” setelah mengutarakan isi hatinya Hun Lian berdebar kuatir wajahpun merah, bahwa dia bicara tidak sesuai dengan kebersihan satm-bari. sejak dibesarkan ibunya sampai sekarang baru sekali ini terjadi.

Pada hal Hun Lian juga maklum, umpama keinginan tercapai, bila peristiwa ini berakhir, perbuatannya pasti terbongkar oleh sang ibu, disaat murka, hukuman apa yang akan dijatuhkan ibunya kepada dirinya sungguh tak berani dia membayangkan. Tapi sekuatnya dia menahan diri supaya mimik wajahnya tidak memperlihatkan sikap gugup gelisah dan kuaur

„Em,” Kui-bo angkat alis sambil mendehem pula dalam tenggorokan. lalu katanya : „Betul, hal ini belum pernah kupikirkan. baiknya kau saja yang menyimpan bumbung kumbang ini.”

Mimpipun Hun Lian tidak pernah duga bahwa kejadian semudah i 11 tercapai, sesaat dia berdiri melongo tak mampu bicara, lidahnya seperti Kelu. tan tahu nagaimana dia arus bicara. Sudah tentu Kui bo tidak rnengira bahwa hati sang putri srdah berkiblat kepada orang, lain, maka dia tertawa riang malah, katanya: ”Coba lihat, kau ketakutan begini rupa, hanya persoalan sepele, umpama ada sementara oiang tahu berusaha merebut bumbung kumbang ini, bila bumbung ini pecah jiwanya sendiri yang akan mampus lebih dulu, takut apa?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seperti ditusuk sembilu sanubari Hua Lian, hampir tak tertahan dia ingin berlutut dan memeluk kedua kaki sang ibu mohon pengampunannya dan menangis sepuas hati.

Maklum tujuannya menipu sang ibu. sebaiknya sang ibu memperhatihan keselamatan dirinya betapa hatinya takkan menyesal dan bertobat ?

Jikalau Kui-bo menunda beberapa kejap lain baru mengeluarkan bumbung yang disimpannya mungkin situasi bisa berobah secara drastis tapi sembari bicara Kui bo mengeluarkan bumbung itu disertai diserahkan langsung kepada Hun Lian.

Begitu memegang bumbung itu, terasa oleh Hun Lian, kumbang yang berada dida-lam bumbung seperti berontak hingga menimbulkan getaran halus dari sayapnya yang bergerak, maka dia memegang bumbung itu lebih kencang, dalam hati dia membatin : ,,Apapun yang terjadi, yang penting aku selesaikan dulu tugasku.”

Begitu dia simpan bumbung itu kedalam bajunya, dilihatnya sui-bo suaah memejam mata serta mengulap tangan suruh dia menyingkir. Jantung Hun Lian berdebar keras, mundur selangkah segera dia melangkah pergi pnluhan tindak, di sini dia berdiri pula sekian lama, melihat Kui-bo tidak memberikan reaksi apa-apa baru perlahan dia putar tubuh dan mulai beranjak pergi dengan langkah perlahan, menjelang mendekati mulut selat mendadak dia menarik napas lalu menjejak kaki, beruntun beberapa kali lompatan ia sudah meluncur keluar selat.

Sekelnar dari selat sempit itu Hun Liari masih berlari kencang setengah li jauhnya keorah utara, ditempai yang gelap dibawah sebuah pohon, dilihatnya bayangan seorang, setelah lebih dekat baru jelas bahwa orang itu adalah Cia Ing-kiat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hun Lian tidak mau maju terlalu dekat, dalam jarak tertentu dia menghentikan langkah, suara Cia Ing-kiat yang dingin berkumandang : „Apa mungkin secepat ini kau berhasil mengambilnya?” nadanya seperti tidak percaya bahwa Hun Lian bisa mencuri bumbung itu secepat ini maka dia kira kedatangannya ini hanya untuk membatalkan janjinya saja.

Sudah tentu sikap Cia Ing-kiat justru menimbulkan kesan buruk dan memualkan bagi Hun Lian, segera dia balas bersuara dengan nada tak kalah dinginnya : ,,Ya, memang sudah berhasil.”

Kelihatannya Cia Ing kiat berjingkat kagei, segera dia melompat datang, Hun Lian sudah meroboh keluar bumbung itu, langsung dilemrar kearah Cia Ing-kiat yang kebetulan melompat datang, lekas Cia Ing-kiat meraih bumbung itu lalu mendekatkan bumbung kepinggir telinganya strta mendengarkan sejenak, seketika wajahnya mengunjuk tawa senang.

Sebetulnya Hun Lian sudah ingin tinggal pergi, betapapun dia seorang gsdis yang bajik maka dia berkata : „Awas, bila tutup bumbung itu terbuka, entah berapa banyak jiwa akan menjadi korban.” habis memberi pesan, hatinya dirangsang rasa sedih dan kasihan, maka cepat dia berlari pergi.

Mengawasi bayangan Hun Lian yang meluncur pergi, hati Cia Ing-kiat menjadi mendelu namun rasa senang lebih merasuk pikirannya, segera dia putar badan berlari kesetanan.

Makin lari makin kencang, makin kencang hati makin senang, tak lama kemudian, Kim-bou-po sudah kelihatan tak jauh didepan. Saat itu sudah lewat tengah malam, Cia Ing-kiat langsung meluncur kearah benteng yang tegak diaias gundukan tanah tandus itu, tampak Oh sam Siansing, Pak to Suseng, Liong-bin Siang jin dan Tan-thocu masih berada diatas ngarai, gulungan tambang panjang melilit pinggang Tan tocu tubuhnya sudah tergantung diudara dan sedang melorot Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kebawah, sementara tambang-dipinggangnya terus berputar dan mulur makin panjang.

Sebelum keempat orang ini meluncur tiba dibumi, dari kejauhan mereka sudah melihat Cia Ing-kiat yang sedang meluncur datang, tiga tombak lebih masih terapung di udara, mendadak Pak-to Suseng dan Oh-sam Siansing bersalto kebelakang, tubuhnya meluncur turun dengan menukik celeniang laksana burung, di mana kesiur angin menderu sebat dan enteng sekati kedua orang ini meluncur turun dan hinggap dikedua sisi Cia Ing-kiat.

Melihat pertunjukan Ginkang setinggi itu Cia Ing-kiat berjingkat kaget, batinnya ” ”Kungfu orang ini sedemikian tinggi, bila kuserahkan bumbung kumbang beracun itu kepada mereka, umpama mereka ingkar janji. Spa yang bisa dilakukan dirinya. Waktu berlari kencang tadi bahwasanya bal ini ak: pernah dia pikirkan, tujuannya banya ingin selekasnya menyerahkan bumbung itu kepada pihak yang berkepentingan, namun dalam waktu sesingkat ini timbul sifat egoisnya, terpaksa dia harus memikirkan kepentingan pribadinya juga.

Sebetulnya Cia Ing-kiat terhitung pendekar muda yang punya pambek besar dan berjiwa luhur, jadi bukan pesilat yang tidak dipercaya oleh kaum persilatan atau orang yang jiwa sempit Tapi sejak dia tidak pedulikan gengsi sendiri, lalu meugajukan permohonan bantuan kepada Hun Lian, wataknya yang agung sudah mulai luntur, maklum biasanya sukar bagi seseorang yang akan melakukan perbuatan yang dirasa memalukan namun untuk melaksanakan kedua kalinya jauh lebih mudah dan perasaanpun lak tertekan. Demikian pula perasaan Cia Ing-kiat sekarang, dia anggap apa yang dilakukan adalah logis.

Begitu hinggap ditanah Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng serempak bertanya: “Secepat ini kau berhasil? ” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Serta merta Cia Ing-kiat tertawa riang dan bangun, sekarang obrolan keluar dari mulutnya secara lancar, sedikitpundia tidak merasa rikuh atau kikuk- “Mana mungkin semudah itu, tapi nona Hun sudah berjanji kepadaku untuk membantu sekuat tenaga.”

Ol sam Siansing dan Pak-to Suseng mengunjuk rasa kecewa, katanya: “Lalu kalau dia berjanji akan menyerahkan bumbung kumbang itu?”

„Wah, sulit dikatakan, kuharap kalian a-jak berunding orang-orang lain bila mereka sudah bersumpah berat pasti tidak akan meng ingkari janjinya kepadaku, aku akan kembali ke stia mendesaknya supaya lebih cepat bekerja’

Pak-to Suseng mengerut aJis, Oh-sam Siansing mengunjuk rasa gusar, katanya: “Kalau kami sudah berjanji kuatir bila kami akan ingkar, soalnya seluruhnya terkekang oleh muslihat Kui-bo, dalam keadaan berpencar lagi, mana mungkin mengadakan ikrar bersama, bila hari terang tanah, kita bakal dipaksa menggempur Kim-bou-po. tingkah apa pula yang a-kan kau lakukan?”

Cia Ing kiat mengkirik menghadapi a-marah Oh-sam Siansing, namun rasa jeri seketika lenyap, katanya dingin: “Setelah berhasil menggempur Kim-hou po, kesempatan pasti akan ada.”

Tengah bicara Liong-bin Siargjin dan Tan-thocu juga sudah menghampiri. Melihat Oh-sam Siansing masih bersungut gusar, lekas Liong-bin Siangjin mengedip mata kepadanya, katanya: ‘ Arja yang diucapkan Cia-sau cengcu juga ada benarnya, kami pasti aken bekeja dan berusaha sekuat tenaga, tapi sebaliknya bila Cia sau cengcu sudah berhasil, kuharap kaupun tidak mempersulit dan mempermainkan kita.”

Diam-diam mencelos hati Cia Ing-kiat, dalam hati dia mengumpat rase tua yang licin ini, namun dia bersikap wajar, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

katanya bersungut marah malah: ‘Kenapa kau bilang begitu, jikalau kalian tidak percaya boleh kau geledah tubuhku.”

Empat jago silat ini saling pandang, waktu sedemikian singkat, keberhasilan Cia Ing-kiat tidak terduga bakal berlangsung dalam waktu sependek ini, empat orang ini tidak menduga bahwa urusan ternyata berjalan lancar sesuai rencana, apalagi harapan mereka satu-satunya terletak dari bantuan Cia Ing-kiat, sudah tentu mereka tidak berani bertindak kasar serta memaksanya. Maka Liong-bin Siang jin berkata pula Aku hanya menegaskan saja, tak usah kau menganggapnya serius. Hari menjelang fajar, kau harus menyingkir agak jauh bila pintu gerbang Kim hou-po diledakan. pertempuran besar bakal terjadi, bila aku terjepit ditengah adu jiwa ini, tiada manfaatnya bagi kau.”

Apa yang diucapkan Liong-bun Siangjm memang kenyataan, namun bagi pendengaran Cia Ing-kiat amat menusuk perasaan, je.las o-rang anggap rendah kepandaian sendiri yang, tidak becus, karuan mukanya merah padam, hatinya amat gusar, namun dia tahan emosi yang hampir meledak, dengan kaku dia mengiakan lalu berlalu tanpa pamit.

Sambil berjalan pikirannya Pmbul leng-am, mendadak satu pikiran merangsang benaknya, sekilas dia menoleh keaiah empat jago top persilatan yang berada diiengah gelap itu, seketika jantungnya berdebar keras. Walau secara mendadak hal itu menggelikan sanubarinya, orang lain pasti tiada yang tahu. namun begitu jantungnya berdebar, Cia Ing-kiat kuatir jejaknya diketahui orang lain, maka dia ingin mencari tempacuntuk menyembunyikan diri. Kira-kira setengah li dia berlari kearah utara, kebetulan ditemukan sebuah gua. lekas dia menyelinap masuk. Gua ini gelap gulita, setelah berada di tengah gelap baru Cia Ing-kiat merasa lega dan tentram, tapi jantungnya masih berdebar keras. Karena pikiran yang menggelitik hatinya itu menyangkut persoalan bcs&r, dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sendiri heran dan ngeri kenapa pikiran ini bisa merangsang sanubarinya.

Yang terpikir olehnya adalah, bumbung kumbang itu berada ditanganya berarti dia menggengga jiwa ratusan jago-jago silat itu, mati hidup mereka berada diiangamiya.

Ratusan jago jago silat itu memang jeri terhadap Kungfu Kui bo Hun Hwi-nio. tapi Kui bo sendiri bukan menundukan mereka dengan kepandaian silatnya, tapi karena dia memiliki bumbung kumbang yang bisa mereng gut jiwa jago-jago silat itu maka mereka dipaksa untuk menyerbu ke Kim-hou-po. Umpama bumbung kumbang itu terjatuh ditangan bocah kecil, jago jago top persilatan yang ratusan jumlahnya itupun harus menyembah ke-kepada nya,

Walau Oh-sam Siansing menjajinkan akan memberi imbalan tiga jurus ilmu tunggal dari perguruan masing-masjng, namun untuk mempelajari tiga jurus dari ilmu ratusan jago silat itu paling cepat makan waktu sepuluh tahun, bila sekarang dirinya mampu menundukkan mereka dan ratusan jago jago silat itu tunduk akan perintahnya, bukankah lebih baik lebih manjur dan menguntungkan?

Hal ini membuat hati Cia Ing kiat gundah gulana, namun juga senang dan bersama ngat, jantungnya dag dig dug, dalam jangka sesingkat ini teramat banyak persoalan yang dipikirkan dan harus dipecahkan, semua merangsang benak dan menunggu penyelesaisn secara merdadak. Perlahan dia menarik napas panjang lalu menen ram kan hati, lalumu lai mencerna persoalan tahap demi tahap. ‘ Pada saat ini fajar telah menyingsing.

Begitu cahaya mentari muncil diufuk timur, dua kepala harimau emas diatas pintu gerbang Kim-hou-po mencorong kemerdip bila orang mau memperhatikan, akan melihat sedikit keganjilan dari keadaan biasa karena dikedua sisi pintu gerbang kini bertambah dua gundukan tanah, tapi kalau tidak diperhatikan orang tidak tahu bahwa dibawah gundukan tanah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

itu terpendam dinamit, itulah buah karya Tan thocu diwaktu masih gelap tadi, Sementara pintu gerbang Kim-hou-po ma s h tertutup rapat. Setiap kali pintu gerbang m terbuka, hanya ada orang masuk, tak per nah terjadi ada orang keluar dan pintu ger bang itu, memang tak pernah ada orang keluar dari Kim-hou-po, hal ini sudah diketahui umum secara meluas.

Cuaca makin terang, namun suasana ma sih sepi lengang d depan pintu gerbang Kim hou-po. Semeniara dijalan raya yang menuju kearah Kim-hou-po, dalam jarak satu li, keadaan ternyata riuh ramai, ratusan orang berderap bersama menjadi ban aa panjang, debu mengepul inggi diangkasa. Barisan ini dipimpin Kui bo, Hun Lian berada dipaling akhir, setiap langkah maju kedepan, perasaan Hun Lian makin tenggelam.

Diantara sekian banyak orang, hanya dia saja yang tahu, pada hakikatnya Kui-bo sekarang sudah tidak punya kekuatan untuk mengendalikan jago-jago silat ko ea itu. Bila rahasia ini sampai bocor, jelas pasti akan menimbulkan banyak keributan yang tidak berani dia bayangkan, sudah tentu orang orang itu akan bubar seketika, Kui-bo akan marah dan bukan mustahil menjadi gila, celaka adalah dirinya yang akan ketimpa akibat nya.

Betapapun jago jago kosen itu tiada yang tahu, mereka terus maju mengikuti langkah Kui-bo,tunduk tanpa suara.

Diam-diam Hun Lian mengharap urusan lekas meledak saja, bila barisan jago jago silat ini sudah mulai menggempur Kim-hou-po baru orang banyak itu timbul niat jahatnya maka dapat dia bayangkan betapa berbahaya posisi Kui-bo saat itu, Tanpa sadar telapak tangan Hun Lian berkeringat dingin, sengaja dia memperlambat langkahnya hingga ketinggalan dibelakang, namun tembok benteng Kim-hou-po yang tinggi kokoh itu sudah kelihatan d depan sana pintu gerbangnya yang besar dan angker juga sudah muncul didepan matanya.

Kira-kira lima puluh langkah didepan pintu, gerbang Kim-hoa-po, barisan btsar itu berhenti, ternyata tiada reaksi Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sedikitpun dari pihak Kim-hou-po seolab-oloh penghuni benteng itu tidak tahu apa yang terjadi diiu ar. sepi dan lengan, berdiri paling depan a ri barisan jaga-jago kosen itu Kui-bo Hun-Hwi-nio mendadak bersuit panjang, suaranya mengalun tinggi, kokoh kuat seperti dapat menembus batn menyusup bumi, bergema di tengah udara menimbulkan getaran gelombang yang memekak telinga, disaat sultannya masih bergema diangkasa, Kui-bo mulai angkat bicara:,,Lui-pocu silakan keluar dan jawab pertanyaanku. ‘

Kata katanya dilontarkan kearah pintu gerbang bagai gelombang pasang suaranya mengalun kedepan, sehingga daun pintu gerbang yang tebal itu seperti terpukul palu besar hingga mengeluarkan dengung suara keras.

Tapi setelah gema suara Kui-bo semakin lirih dan akhirnya lenyap, keadaan Kim-hou-po masih tetap hening lelap, tetap tiada suara atau reaksi sedikitpun, karuan wajah Kui-bo berubah kelam dan masam, itengah seringai tawanya, perlahan dia mengulap sebelah tangan sambil bersuara rendah berat: „Mundur.”

Ratusan orang serempak mundur enam puluhan langkah, jaraknya ada ratusan langkah dari pintu gerbang Kim-hou-po. Maka Kui-bo kembali bersuit nyaring, tapi setelah suitan kali ini sirap dia tidak angkat bicara lagi. Tidak lama setelah sirna suara suitan kedua, terdengarlah desis suara ramai di kanan kiri yang timbul dari bawah tanah mengeluarkan percikan kembang api yang bergerak cepat maju kearah pintu gerbang Kim-hou-po. Kepulan asap putih juga bergerak seiring bunyi desis percikan api itu, hanya sekejap jaraknya tinggal tiga kaki lagi dari p-ntu geibpng Kim-bou-po.

Pada genting itulah mendadik Kui-bo memberi aba-aba : ”Tengkurap semua.”

Sebelum orang banyak menjatuhkan dirinya rebah ditanah seluruhnya, ledakan dahsyat yang menggoncang bumi terdengar dua kali berturut, begitu dahsyatnya seperti letusan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gunung merapi. Seberapa orang yang terdepan meski sudah mendekam ditanah, tak urung ada yang tergetar mencelat m umbul beberapa senti. Karuan bukan kepalang kejut dan ngeri jago-jago silat kosen itu, walau sebelumnya mereka sudah tahu dan siap siaga namun tak pernah terbayang dalam benak mereka bahwa ledakan dynamit yang dipasang dikedna sisi pintu gerbang Kim-hou-po itu sehebat itu. Waktu semua orang angkat kepala memandang kedepan ditengah kepulan asap tebal yang membumbung tinggi keudara diseling berkelebatan cahaya kuning kemilau ternyata kedua daun pintu gerbang Kim-hou-po yang kokoh tebal itu juga mercelat tinggi keudara oleh ledakan dahsyat itu.

Konon kedua daun pintu gerbang Kim-hou po itu terbuat dari emas murni, maka dapat dibayangkan betapa beratnya daun pintu sebesar dan setebal itu, umpama bukan terbuat dari emas murni seluruhnya, berat kedua daun pintu itu juga pasti ada laksaan kati, ternyata kedua daun pintu berat dan tebal itu mencelat keudara, maka dapatlah dibayangkan betapa dahsyat kekuatan ledakan kedua dynamit tadi. Kecuali kedua daun pintu yang mencelat terbang keudara itu sudah tentu masih ada pula pecahan batu bata pasir dan debu yang muncrat ke mana-mana, jago jago silat itu masih merebahkan diri tanpa bergerak, maka runtuhan debu dan batu itu berjatuhan ditubuh mereka.

Namun jago-jago kosen itu termasuk tokoh silat kelas wahid Bulim, maka mereka tidak tinggal diam. ada yans mengebas lengan baju, ada yang menjetik jari ada pula yang memukul atau menampar dengan telapak tangan sehingga batu batu yang berhamburan itu dipukulnya mental ketempat lain.

Dengan pandangan mendelong jago-jago kosen itu dengan takjup mengawasi kedua daon pintu emas itu mencelat terbang dua puluhan tombak tingginya, lalu melayang dan berputar turun sepuluhan tombak diluar pintu gerbang, „Biang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

blung”, daon pintu yang tebal dan berat itu melesak amblas dipermu-kaan batu sedalam dua kaki.

D saat orang banyak tersirap kaget dan takjup, tiba-tiba Kui-bo Hun Hwi-nio memberi aba aba lalu mendahului menerjang ke-depan, terpaksa jago-jago kosen yang lain lain ikut bergerak maju. Kui-bo suruh beberapa orang menerjang masuk kedalam rumah dipinggir benteng, pintu rumah papan itu sekali tendang telah roboh, beberapa jago menerobos masuk, kejap lain seorang dalam penghuni rumah itu telah terdesak keluar hendak melarikan diri. begitu melompat keluar orang ini lantas menjejak tanah tubuhnya melambung keatas wuwungan rumah, begitu kedua telapak tangan didorong kedepan. pukulannya mengeluarkan deru angin kencang Ada belasan orang jago dibawah komando Kui-bo sendiri berdiri didepan rumah, namun mereka tak sempat mencegah aksi seorang ini hanya Utti Ou saja, meski orangnya gendeng dalam keadaan genting ini ternyata otaknya bekerja secara cerdik, ditengah bentakannya, segera melompat maju memeluk sebatang saka besar, begitu kerahkan tenaga saka itu ditariknya serta dicabut, maka terdengarlah suara gemuruh, atap genteng segera runtuh berhamburan

Karena wuwungan runtuh orang yrng berada diatap rumah sudah tentu ikut terjungkal jatuh, namun dengan sigap begitu kaki

menginjak tanah, segera dia menerobos di-aniara hamburan genteng dan kayu. tubuhnya melejit mumbul pula membawa pusaran angin kencang sehingga genteng yang berhamburan disekitar badannya tersibak menyingkir, kekuatannya memang luar biasa, laksana semburan air deras yang menyemprot dari sumber bawah tanah saja, tubuhnya melenting kencang.

Gerak gerik tubuh orang ini bukan saja gesit lagi tangkas dan cepat, tapi yang mengepung dirinya juga terdiri jago-jago kelas wahid, disaat tubuhnya jatuh dan melejit mumbul itulah, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terdengar Kui-bo Hun Hwl-nio mengeluarkan siulan keras, di mana kedua tangannya terkembang, tampak sekujur pakaiannya mendadak melembung bergetar, rambutnya yang sudah ubanan tampak berhamburan, laksana seekor burung raksasa tubuhnya meluncur miring langsung menubruk kearah orang itu, kedua telapak tangan didorong dengan sepenuh tenaga. Pada hal jarak Hun

Hwi-nio dengan oraag itu ada pulu’nan rrmbak betapapun tinggi Lwekang Hun Hwi-nio pukulannya takkan mungkin mencapai jarak sejauh itu, tapi saat itu rumah itu sedarg roboh, genteng dan kayu sedang berhamburan, satu tombak dalam jangkauan angin pukulannya, genteng dan pecahan kayu itu seperti disapu angin puyuh dibrondong kearah orang itu, karuan dia seperti d hujan ribnan senjata rahasia.

Terapung diudara orang itu mengebas dengan kedua lengan bajunya, batu bata, genteng dan pecahan kayu yang melesat ke-arahnya berhasil dihalau ronto<, namun tak urung ada beberapa pecahan genteng yang mengenai tubuhnya juga, sehingga tubuh yang melejit mumbul itu sedikit terhambat gera-kaunya, bukan lagi melesat keatas, tubuhnya malah melorot turun.

Begitu tubuh orang ini melorot jatuh, ada dua puluhan orang dari berbagai penjuru serentak merubung datang sehingga dia terkepung rapat tak mampu lari kearah manapun. Pada saat itu pula Kui-bo Hun Hwi-nio d i tengah siulannya melesat diatas kepa la orang banyak, hinggap diatas puing rumah yang barusan ambruk. Kejadian berlangsung dalam sekejap mata, orang itu hanya setapak lebih cepat dari Kui-bo hinggap diatas puing-puing tembok» begitu kaki menyentuh tanah, tubuhnya lantas berputar, menerjang kedua arah, namun dua tiga puluhan orang sudah mengepungnya, mana mung m dia bisa melarikan diri ? “Biang, Plak” dua kali dia adu pukulan dengan para Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pencegain>a, tubuhnya terpental balik, pada saat itulah Kui-bo meluncur tiba, jari tangannya lantas menceng-kram.

Centkraman Kui-bo ini mirip orang ulur tangan meraih barang, gerakan biasa yang sederhana saja. namun kenyataan diudara, bertaburan bayangan telapak tangannya, bayangan orang itu terbungkus rapat, entah mengandung betapa banyak probahan dan variasi, jelas orang itu takkan mampu lolos dari cengkraman mautnya.

Tak terduga pada saat itulah mendadak tubuh orang itu mendadak anjlok kebawab, pada hal dia berdiri d atas tumpukan puin , sehingga tubuhnya amblas dan terpendam di tengah guguran tembok dan kayu,, dengan sendirinya cengkraman Kui-bo mengenai tempat kosong, karuan orang banyak melongo heran, namnn setelah melihat kenyataan apa yang terjadi hampir saja orang banyak tergelak tertawa. Ternyata sekujur badan orang itu melesak amblas ditengah puing-puing hanya kelihatan kepalanya saja yang masih menongol diluar, sehingga badannya tak mampu berkutik lagi; siapapun dapat membekuknya dengan mudah, gerak tubuhnya yang lincah dan tangkas serta indah tadi tak berguna lagi. Bahwa cengkraman tangannya luput semula Kui bo Hun Hwi-nio juga melongo, namun setelah melihat apa yang terjadi, tak urung diapun meraba geli juga.

Baru sekarang orang banyak melihat jelas tampang orang ini, ternyata kepalanya gundul plontos, tapi jelas dia bukan Hwesio, kulit mukanya tampak kasar bcwarna n-crah gelap, kedua matanya bundar kecil hidung-nya besar seperti terong, bibirnya tebal mulutnya lebur, biji matanya jehlatan kek nen kiri. sukar ditebak berapa usianya.

Betapa luas pengalaman dan pandangan Kui bo, namun sebelum ini rasanya belum pernah dia melihat tokoh lihay ini, maka bendiri sambil bertolak pinggang dia mengejek dingin: „Sekarang, kau mampu lolos ?”” Jago jago kosen yang mengepungnya juga merubung maju, beberapa orang yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tadi menggrebek kedalam -rumah itu juga sudah berlompatan keluar, salah seorang segera memberi keterangan : ,,Waktu kami masuk dan melibatnya didalam rumah tadi, dia sedang menulis, entah apa yang ditulisnya.” sambil bicara dia keluarkan selembar kertas tipis lemas yang dilempit kecil langsung diserahkan kepada Kui-bo Hun Hwlnio. Hun Lian berada dipinggir ibunya, msllhat lem-pitan kertas tipis ini, tergerak batinya, bila Kui-bo membeber kertas tipis itu, tanpa kuasa Hun Lian menjerit tertahan.

Ternyata tulisan hitam diatas kertas hitam itu melingkar lingkar seperti cacing kering, hakikatnya mereka tiada yang tahu dan bisa membaca huruf-huruf aneh ini. Tapi huruf sejenis ini pernah Hun Lian melihat-nya, yaitu waktu dia berada d markas besar tong bun pang Maka jelas bagi Hun Lian, bahwa orang gundul ini pasti adalah jago kosen Liong-bun-pang yang sengaja ditanam didalam Kim-hou-po sebagai agen oleh Liong-bun Pangcu

Sekilas Kui-bo melirik kepada putrinya lalu angkat kepala mengawasi orang banyak, tanyanya: „Siapa dapat membaca huruf buru aneh ini?” sembari bicara dia angkat kertas itu serta memperlihatkan tulisan diatas kertas itu kepada orang banyak. Tapi tiada seorangpun yang bersuara.

Kui-bo mendengus hidung lalu melangkah maju setapak, sebelah kaki terangkat menginjak batok kepala orang itu yang gundul. Nyawa orang gundul ini boleh dikata sudah diambang pintu akhirat, bila Kui-bo kerahkan tenaga pasti jiwanya melayang seketika, tapi wajahnya sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut atau ngeri, hanya sepasang bola matanya yang kecil bundar berputar lebih cepat, kelihatannya gugup.

”Siapa kau?” bentak Kui-bo gusar „Apa yang telah terjadi didalam Kim-hou-po ? Terangkan sejujurnya.”

Kui-bo Hun Hwi-nio bertanya dengan muka bengis, maka orang Itu segera membuka lebar mulutnya mengeluarkan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suara ‘ Ah, ah, uh, uh,. Begitn dia membuka mulut urang banyak segera melihat bahwa lidah orang ini ternyata sudah dipotong, karuan mereka bersuara kaget maklum siapapun bila lidah terpotong pasti tak mampu bicara.

Kui bo Hun Hwi-nio juga melenggong, kaki yang menginjak kepala orang segera diturunkan.

Lekas Hun Lian berkata : „Ma. orang ini bukan anggota Kim-hou-po tapi agen rahasia Liong-bun Pangcu yang ditanam di Kim hou-po untuk mengirim kabar kepadanya”

”Dari mana kau tahu?” tanya Kui bo Hun Hwi-nio.

”Dimarkas besar Liong-bun pernah aku melihat kertas dan tulisan sejenis ini, orang ini mengadakan kontak dengan pimpinannya menggunakan seekor burung kecil, jadi burung kecil itulah alat komunikasi dua arah yang mereka gunakan.’

Kui-bo Hun Hwi-nio menggeram gusar sebelah kakinya digajlokan dipingir kepala orang itu betapa kuat tenaga kakinya hingga puing tembok dipinggir kepala orang itu mendekuk dalam, ternyata badan orang gundul inipun tergetar mumbul ke atas. sekali raib dan tarik badan orang n segera berdiri kaku diatas puing.

Dengan dingin Hun Hwi-nio berkata : ”Bagus. Liong bun Pangcu mengutus seorang agennya yang sudah dipotong lidahnya, bila tetangkap musuh juga takkan dapat mengaku dan membocorkan rahasia, tapi dia punya’ tangan, pasti dapat menulis,”‘ sembari bicara Kui-bo Hun Hwi nio mendelik kepada orang gundul didepannya, tapi orang iiu membuka lebar mulutnya seperti ingin berteriak atau bicara.

Liong-bin Siangjin yang berada disam-ping tiba-tiba berkata : „Walau bisa menulis tapi tulisannya huruf asing, tiada orang kita yang bisa membaca tulisannya.”

Setelah tahu orang ini anak buah Liong-bun Pangcu, entah kenapa dalam sanubari Hun Lian timbul rasa kasihan dan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

simpati kepadanya, segera dia menimbrung : ,,Ya betul, bukan saja tak bisa bicara, tulisannya juga tak bisa dibaca, apa gunanya, bebaskan saja.”

,,Cerewet.” sentak Kui-bo Hun Hwi-nio menarik muka, „umpama dia tidak tahu seluk beluk Kim bou-po, pasti tahu ke daan Liong-bun pang mereka, siapa bilang dia tiada gunanya, mana boleh dibebaskan ?”

Seketika berdetak jantung Hun Lian, ingin dia membelanya, tapi takut ibu bagaimana dia harus bicara, karuan hatinya menjadi gundah, sementara habis bicara Hun Hwi nio sudah ulur tangan mencengkram urat nadi orang itu, beruntun dia tutuk pula be betapa Hiat-to di dada dan dipun gungnya sekali dorong dia sorong orang kearah Gin koh, katanya : „Kuserahkan orang ini kepada mu, bila dia melarikan diri, kau harus bertanggung jawab.”

Gin koh tertawa getir, sambil membalik dia mencengkram lalu didorong pula kepala gundul itu dia dorong pula kearah Utti Ou

Sekian hari ini. harya Utti Ou yang baru menikah saja yang menunjukan rasa gembira dan bahagia, nada hal jago-jaso koien vang lain prihatin akan nasib hidup mereka agaknya setelah mendapat bini, laki-laki, kasar ini tak peduli ulat beracun yang mengeram dalam tubuhnya lagi.

Melihat Ginkoh dororp orang gundul kerahnya, seger Utti Ou ulur tangan menangkap kuduk kepala gundul itu serta berkata : Jangan kuaur, pasti takkan lolos,” lalu dia jinjing tubuh orang terus dipanggulnya.

Sementara itu, Hun Hwi-nlo sudah memberi aba-aba kepada orang banyak lalu dia tarik suara berseru : , Kalau masih ada orang didalam Kim-hou po, kuajurkan lekas keluar saja, jikalau sampai kubekuk dan kuseret keluar, jiwa kalian akan hancur lebur.” Betapa hebat tenaga dalamnya, rangkaian katanya dilontarkan dengan tekanan keras dan tinggi jago Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jago kosen yang hadir tidak sedikit yang memiliki Lwekang tinggi, namun tidak sedikit yang berobah rona mukanya. Setelah sirap gema suara Kui-bo keadaan menjadi hening lelap, maka Kui-bo Hun Hwi nio pimpin barisan besar im maju lebih jauh. ternyata mereka tidak memperoleh rintangan atau gangguan apapun, ditengah keheningan itulah, mendadak mereka dengar seperti ada suara aneh yang kumandang dari dasar empang disebelah depan sana.

Kedengarannya suara iiu adalah suitan keras panjang yang menggetarkan bumi , cuma terbenam didalam bumi sehingga kedengaran nya seperti petasan yang melempem karena kena air, maka beramai orang banyak memburu kearah empang besar itu, tapi air empang tenang, ikan mas didalam empang juga berenang santai dan sewajarnya, mana ada bayangan orang ?

Gerak gerik Kui-bo Hun Hwi-nio paling cepat, begitu suara itu berkumandang segera dia melompat tinggi, beberapa kali lompatan sudah mendahului hinggap dipinggir empang, orang banyak ikut merubung maju.

Semula suara itu sayup-sayup sampai, namun lama kelamaan makin jelas dan terang, kini orang banyak lebih jelas bahwa suaranya memang kumandang dari dasar em pang, karuan seluruh hadirin melengak heran saling pandang, suitan panjang itu Lr-osih terus berbunyi hingga setengah jam lamanya, lalu terdengar pula suara percakapan orang dari bawah, pembicara jelas menggunakan tekanan Lwekang tinggi, sayang mereka teraling sebuah empang hingga yang berada diatas tidak begitu jtlas mendengarnya.

Ternyata orang dibawah itu berkata. ”Kui bo, kalau kau ingin bertemu dengan aku, lekas masuk kelorong bawah tanah, kutunggu kau dibawah sini.”

Meski hebat Kwekang orang yang berbicara, namun karena teraling sebuah empang berlapis kaca kristal lagi, orang lain tidak begitu jelas apa yang diucapkan, namun lain dengan Kui-Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bo, Lwekangnya juga tinggi, dia menangkap jelas apa maksud ucapan dibawab seketika berobah air mukanya, orang orang yang berada disebelahnya mengkirik merinding melihat perobahan mimik mukanya.yang bernyali malah menyurut mundur.

Dengan muka beringas segera Kui bo membentak bengis. ,, Kiranya kau tua bangka yang belum mampus, kenapa kau yang menggelinding keluar menemui aku?” Kui bo juga melontarkan perkataannya dengan tekanan Lwekang tinggi, kekuatan iya mamau membuat retak batu raksasa namun setelah dia melontarkan tantangannya, keadaan dasar empang menjadi sepi malah, tiada reaksi a-tau jawaban sama sekali.

Agak lama kemudian, orang banyak baru mendengar helaan napas panjang, lalu suara itu berkumandang pula: ”Kalau aku bisa keluar, memangnya aku tidak akan naik ke-atas menemui kau?

Kui-bo Hun Hwi-nio melengak, mendadak dia tertawa besar, katanya : „Setan tua kiranya kau terkurung dibawah empang ini?” suara tawanya seperti bunyi kokok beluk di tengah malam sunyi, kedengarannya bernada sumbang dan mengerikan. Belum berhenti Kui-bo terloroh tawa, dibawah terdengar suara “Biang, blung” dua kali, seperti ada seorang dengan sekuat tenaga memukul suatu benda keras, menyusul air dalam empang mendadak bergolak dan muncrat naik seperti semburan air mancur, dan sini dapat diba yangkan betapa hebat tenaga pukulan dibawah empang itu.

Kui-bo Hun Hwi-nio masih terus tertawa besar hingga se engah jam lamanya, baru dia berkata bengis kepada orang banyak : ..Kuras air dalam empang ini.”

Sudah tentu orang banyak tidak tahu apa maksud Kui-bo Hun Hwi-nio ingin menguras air empang besar ini, namun meresa tahu kumbang beracun ditangan Kui-bo sembarang waktu dapat menamatkan jiwanya, mereka tiada yang tahu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bahwa bumbung kumbang itu kini sudah jatuh d tangan Cia Ing-kiat, mengira mati hidup mereka masih berada ditangan Kui-bo mana berani mereka membangkang. Untung mereka berkepandaian tinggi, bukan kerja beiat secara gotong ro-yong menguras air dalam empang ini.

Setelah memberikan perintahnya, Kui bo menggapai tangan kepada Hun Lian. maka ibu beranak ini segera beranjak kedalam rumah.

Maka ramailah kerja keras puluhan jago silat kosen itu menguras air atau mengeduk parit supaya air mengalir keluar, meski peralatan pacul dan sekop tidak ada, tapi mereka menggunakan golok pedang atau gaman apa saja yang bisa mereka gunakan, bila cuaca sudah mulai gelap air dalam empang iiu pun sudah terkuras menjadi kering.

Bila empang itu sudah kering baru orang banyak melihat jelas, dasar empang ini ternyata terbuat dari kaca kristal, dibawah kaca kristal ada bayangan orang bergerak, tapi hanya dua orang saja. Anak buah Hia -lui-kiong segera lari melapor kepada kui-bo maka kejap lain Kui bo sudah datang dan berdiri dipinggir empang.

Dibawah kaca kristal tampak sinar pelita rrunyala, seraut wajth orang mendongak memandang keatas, dibawah penerangan cahaya api, orang banyak dia as melihat jelas, orang dibawah kaca kristal itu adalah seorang tua, wajahnya kelihatan kereng ber wibawa. namun welas asih, namun seorang yang lain berdiri agak jauh ditempai gelap, hingga tidak kelihaian jelas.

Pembaca tentu sudan tahu. bahwa dua orang d bawah kaca kristal itu bukan lain adalah Bu bing Siansing dan Lui Ang-ing. Terkurung didasar empang, mereka yakin takkan ‘-isa keluar, ajal mereka tinggal menunggu waktu saja, pada hal mereka sudah beberapa kali berkaok-kaok m tna to’onp. tapi penghuni Kim-hou-po ternyata berpeluk tangan, nada yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memberi pertolongan-meski tenggorokan Bu bing Siansing hampir pecah juga sia-sia.

Mereka yakin terkurung dibawah tanah akhirnya pasti akan ajal, setiap manusia bila jelas menghadapi buntu, tahu jiwa sendiri takkan hidup lama lagi, maka segala perbuatan juga berani ia dilakukan, sesuatu yang biasa tidak berani dilakukan, sekarang sudah, bebas dari batas perilaku, agama dan kepercayaan, adat isiiadatpun tak dihiraukan lagi demikianlah yang dilakukan Bu-bing Siansing dan Lui Ang-ing, meski usia mereka terpaut amat jauh. patut menjadi kakek dan cucu. betapapun mereka adalah laki perempuan, dalam menghadapi jalan kematian, apa pula yang takut mereka lakukan ?

Didasar empang yang terputus hubungan dengan atas, sudah temu mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di Kim-hou-po. Hari kedua bayangan orang yang biasa mancing atau mo dai mandir diatas empang ternyata tidak kelihatan laji, bayangan seorangpun tidak terlihat, berbeda dengan keadaan biasanya, tengah mereka keheranan suara Kui-bo sayup-sayup sampai terdengar dari atas. menyusul Terdengarlah ledakan dahsyat yang menggoncang bumi. tidak lama lagi, suara Kui-bo teraba lebih dekat disertai derap langkah orang banyak semakin dekat. Lekas Bu bing Siansing bersuara, maka bermunculan lan bayangan Kui bo Hun Hwi-nio dan orang banyak diseketiling empang, tapi orang ora g ini jelas bukan penghuni Kim-hou-po semula.

Bila air empang terkuras kering, kini ke dua pihak hanya terbatas oleh kaca kristal saja. maka pandangan terlibat lebih jelas.

Selama dua hari bermain cinta dengan Lui Ang-ing, walau mereka terkurung dibawah tanah menunggu ajal saja, namun ke adaan Bu-bing Siansing justru kelihatan lebih bergairah, lebih bot seperti waktu muda di saat pat-gulipat dengan Hun Hwi-nio di Siau limsi dulu. wajahnya yang penuh keriput dan pucat kini tampak cerah bercahaya, semangat menyala, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keriput mukanyapun hampir tak terlihat lagi. Maka orang-orang diatas agak pangling melihat wajah yang ke reng berwibawa ini.

Walau banyak yang pangling tapi jago-jago kosen itu masih kenal baik suara Bu-bing Siansing. tahu bahwa dia adalah orang aneh yang pernah membikin ciut yah Kui-bo Hun Hwi-nio waktu masih berada di Hiat lui-kiong tempo hari, maka waktu melihat Kui-bo melayang datang banyak d antaranya mundur memberi jalan kepadanya.

Tampak oleh kui-bo. Bn-bing Siansing berdiri tegak sambil angkat obor ditanganya cahaya obor menyinari wajahnya, tampak merah cerah dan gagah, kelihatan jelas dan amat dikenal o’ebnya. Seketika rona mukanya tampak kaget dan tercengang namun hatinya sekejap berobah pula menjadi kelam dan sinis, berapa kati dia terkekeh dingin, bola ma an a mencorong hijau seperti pandangan Dracila yang haus darah

Sudah beberapa hari lamanya orang banyak bergaul dengan Kui-bo, bukan tidak pernah mereka melihat Kui bo murka, namun rona muka yang diperlihatkan sekarang justru jauh lebih menakutkan dari biasanya, karuan orang orang banyak berdetak tegang, mereka yang berdiri agak dekat segera mun dur dan menyingkir lebih jauh.

Lama Kui-bo berdiri dipinggir empang sambil menrtap kebawah, sesaat kemudian mendadak dia terkial-kial, suaranya seperti lolong serigala, lalu bertanya:,,Kenapakah kau?’

Setelah air empang kering, maka suara Bu bing Siansing dari bawah terdengar jelas katanya:,.Singkirkan dulu kaca kristal ini, biar aku keluar, nanti kami bicara lebih lanjut.”

Mendadak Kui-bo mencak mencak seperti joget kera, tingkah tata lakunya amat aneh dan lucu entah senang atau marah yang terang sambil berjoget mulurnya berceloteh tak karuan, suaranya bikin orang banyak merinding dan seram. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sikap Bu-bing Siansing tampak berobah hebat, mendadak dia membentak sekeras geledek. Walau dia berada didasar empang ter-paut kaca kristal yang tebal namun bentakan keras ini be ul b tul laksana halilintar hingga kuping orang banyak merasa pekak, menyusul tampak Bu-bing Siansing melompat keatas sambil mendorong kedua tangan ”Blang” dengan dansyat dia menggempur kaca kristal tebal itu.

Kui-bo sedang berjoget dipinggir empang, mimpipun tak mengira bahwa Bu-blng Siansing yang tersekap dibawah bakal menyerangnya. Kekuatan pukulan Bu-bing Siansing sudah disaksikan orang banyak tadi waktu air empang muncrat laksana air mancur sehingga air seisi empang itu bergolak mendidih, jelas bahwa Khi-kang aliran Lwekeh yang dilatihnya sudah mencapai taraf yang paling tinggi. Demikianlah sekarang dia memukul pula dengan ilmu Kek san bak gu (dibalik gunung memukul kerbau).

Orang banyak termasuk Hun Lian tidak tahu apa arti Kui-bo yang mendadak berjoget dan berdendang, hanya Bu-bing Siansing saja yang maklum, betapa senang bati Kui-bo Hun Hwi-nio setelah tahu dirinya terkurung dibawah tanah dan tiada harapan keluar lagi. maka dapatlah diduga babwa perempuan jalang yang jahat ini pasti tidak berpeluk tangan begitu saja, meski dirinya tak mampu keluar, orang akan berusaha mencelakai jiwanya secepat mungkin, joget Kui-bo justru membakar amarahnya, maka pukulan Kek san-bak-gu dilontarkan sekuat tenaga, kebetulan sasaran pukulannya berada aiba-wah kaki Kui-bo. ”Blang” celoteh Kui-bo mendadak berhenti, tubuhnya mencelat tertiang keudara oleh daya pukulan Bu bing Siansing yang tersalur lewat kaca krisial di bawah kakinya.

Orang banyak menyaksikan dengan jelas, tubuh Kui-bo mendadak mumbul setombak enam kaki dengan kaki tangan terpentang lebar, bukan lantaran cia melompat keatas tapi Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terpental oleh pukulan dahsyat Bu bing Siansing. Setelah jungkir balik ditengahi udara baru Kui-bo memekik.

Pukulan Bu bing Siansing memang tidak terduga dan menyebabkan Kui-bo terpental mumbul keudara namun untuk melukai masih be’um mampu, begitu tubub Kui-bo jungkir balik Kui-bo kembangkan ketangkasan Ginkangnya. dengan gaya indah segera dia menukik turun, kira-kira seteag h tombak menjelang enyentuk tanah tubuhnya terbalik pula hingga kakinya turun lebih dulu ‘ B lu m begitu kakinya menyentuh kaca kristal terdengarlah getaran yang keras meng goncang bumi, ternyata daya luncurnya kebawah laksana gugur gunung dahsyatnya. Orang-orang yang berdiri disekitar empang juga nira akan goncangan yang cukup keras dibawah kaki mereka.

Begitn berdiri tegak pula Kui-bo terloroh-loroh latah, serunya: ..Bagaimana aku tidak mampu keluar ? Biar kami saksikan kau mampus lemas, biar kau mati kelaparan.” kulit daging muka Kui-bo tampak ber erut-merut, bibirnya kedutan, sorot matanya tampak penuh kebencian, Hun Lian tak pernah melihat sikap ibunya yang menakutkan ini, seketika mengkirik dibuatnya, “Ma ‘ teriak’ nya ngeri.

Kui bo segera membalik badan, bentaknya; „Lekas bawa kemari hidangan yang lezat arak wangi. panggang ayam dan babi, cari seorang tukang bor, bikin sebuah lobang kecil diatas kacara kristal ini, biar dia pun mencium betapa sedap hidanganku pagi ini.”

Disaat Kui-bo memberikan perintahnya. Hun Lian memandang kebawah, dilihatnya Bu bing Siansing sudah mundur kepinggir, di sana terdapat sebuah pintu kecil, dipinggir pintu ada bayangan orang berkebebat, walau hanya sekilas pandang, tapi Hun Lian sudah melihat jelas bayangan orang itu. bukan lain adalah Lui Ang-ing. Maka Hun Lian segera berteriak: „Lui Ang-ing, Kim bou-po Sau-pocu juga berada didalam.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar teriakan Hun Lian orang banyak merubung maju dan melongok ke bawah pula, namun Bu bing Siansing dan Lui Ang ing sudah menyelinap masuk kebalik, pintu kecil itu. Dari atas bayangan mereka sudah tidak kelihaian.

Sikap Kui-bo kelihatan tidak tenang, matanya jelilatan, bibirnya komat kamit.

Hun Lian mendekat dan tanya berbisik : „Ma, siapakah orang itu, kenapa kau membencinya sedemikian rupa ?’*

Kui-bo diam saja, hanya angkat kepala lalu menggeleng Orang banyak tiada yang tahu apa yang dipikir oleh Kui-bo, semua menunggu perkembangan selanjutnya, hingga suasana hening lelap. Ditengah kesunyian itulah tampak bayangan seorang meluncur tiba, langkahnya agak berat, jelas kepandaian silat dan Ginkang orang ini masih kepalang tanggung, begitu dia mendekat orang banyak sudah tahn kedatangannya, namun tiada orang ambil perhatian padanya, setelah dekat yang menghadap keluar sda beberapa orangyang me ngenalnya berseru: “He. Cia-sau cengcu.”

Yang baru datang memang Cia Ing-kiat, begitu melihat pemuda ini jantung Hun Lian seketika berdetak keras. Kui-bo sendiri juga menoleh serta memandangnya dengan tatapan heran penuh tanda tanya. Maklum Kui-bo pernah mengutus Gin koh dan Thi-jan Lojin me-luruk ke Kim liong ceng menculik Cia Ing-kiat namun selama ini dia belum pernah melihat tampangnya, betapa tinggi kepandaiannya. Sejauh ini diapun tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan putrinya dengan Cia Ing-kiat, maka begitu Cia Ing-kiat mendekat segera dia menyambut dengan pertanyaan: ”Jadi kau inilah, apakah kau melarikan diri dari Liong-bun-pang”

”Tidak,” sahut Cia Ing kiat geleng kepala. Sembari bicara kepalanya celingukan a-khirnya matanya menatap kearah Oh-sam Sian sing, serunya dengan nada berat: ‘Oh-sam Siansing,akan kutunjukan sesuatu kepadamu.” sembari bicara dia merogoh keluar bumbung bambu hijau terus diacung Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tinggi diatas kepala, bumbung bambu hijau mengkilap berisi kumbang beracun itu mirip terbuat dari batu jade. Waktu di Hiat-lut-kiong orang banyak pernah melihat dan tahu bumbung bambu hijau ini berisi kumbang beracun yang menjadi ancaman jiwa mereka, ki.ii diacung tinggi di-tangan Cia Ing-kiat, sudah tentu banyak mengenalnya. Terutama Oh-sam Siansing yang tahu seluk beluk persoalannya, serentak dia berjingkrak girang bersama Pak to Suseng dan Liong-bin Sianjjin.

Begitu Cia Ing kiat angkat bumbung kumbang itu seketika pucat muka Hun Lian badan pun gemetar dan menyurut mundur beberapa langkah. Dengan tatapan melotot sekilas Kui-bo menoleh kepadanya. Sigap sekali mendadak Kui bo mencelat maju, tubuhnya menubruk kearah Cia Ing-kiat.

Tapi jaraknya cukup jauh, meski cepat tubrukannya. Tapi Oh sam Siansing dan Pak-to Suseng juga sudah siaga, bersama Liong-bln Siangjin serentak mereka sudah melompat menghadang. Gerakan Liong bin Siangjin sedikit terlambat, maklum kepandaiannya memang jith lebih rendah, tapi dia sempat berteriak „Hayolah para saudara, lekas kalian ganyang Kui-bo, bumbung kumbang itu sudah tidak berada ditangannya.”

Perobahan ini sungguh tak terduga juga amat fatal bagi Kui-bo.

Sebelum Liong bin Siangjin selesai berteriak, terdengar duakali benturan keras

„Plak, plok”, Oh-sam Siansing dan Pak to Suseng kontra Kui-bo adu pukulan dengan satu lawan dua ternyata Kui-bo tidak lebih asor, ketiganya terpental jauh dari udara. Disaat kaki mereka menginjak tanah. Liong-bin Siangjinpuu sudah selesai memberi peringatan kepada orang banyak, seketika sambutan gegap gumpita. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selama beberapa hari ini, hidup jago-jago kosen itu boleh dikata amat tertekan, selalu dibayangi langit mendung, rasa penasaran selama ini tak icrlampia kini setelah ta hu ancam jiwa mereka tak berada diangan Kui bo lagi, serempak meiela berteriak dengan paduan suara yang menggemparkan, serempak mereka merubung maju dari berbagai jurusan, Saat itu Kui-bo memangnya berada diatas kaca kristal atau didasar empang bersama Hun Lian. maka dia terkepung oleh or ng banyak,

Dalam pada itu Cia Ing-kiat lompat kepucuk sebuah gunungan yang tak jauh dari empang serta mengacung tinggibumbung bam-bu. Disaat orang banyak merubung maju mengepung Kui-bo Oh Sam siansing segera berseru: „Bagi beberapa orang untuk melindungi keselamatan Cia-sau-cengcu”

Betapapun tinggi kungfu Kui bo, menghadapi kerumunan sekian banyak jago-jago kosen ini tak urung hatinya jeri dan tersirat darahnya, apalagi bumbung kumbang pengendali jiwa mereka sudah tidak berada dita-ngannya, mendengar aba-aba Oh-sam Siansing segera dia gerakkan tangan menyambit dua larik sinar geinerdep kearah Cia Ing-kiat. Begitu pesat luncuran dua larik sinar putih itu bukan saja mengeluarkan desing suara tajam, hakikatnya orang banyak tidak melihat jelas jenis apa senjata rahasia yang disambitkan Kui bo.

Berdiri diatas gunungan, Cia Ing-kiat menyaksikan jelas Kui-bo sudah terkepung rapat hatinya agak lega dan terhibur, namun serta mendengar betapa bebat gemboran sekian banyak orang yang naik pitam ingin mengganyang Kui bo. tak urung mengkirik juga bulu kuduk Cia Ing-kiat, maklum dalam hati dia ada maksud memegang bumbung bambu itu untuk mengendalikan jago jngo kosen itu, disaat dia melenggong itulah, dua larik sinar gemerdep melesat datang, karuan dia menjerit kaget, namun tetap berdiri tanpa menyingkir saking kesima. Bukan Cia Ing-kiat tidak ingin menyelamatkan jiwa, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tapi selama hidup kapan dia pernah menghadapi adegan yang menegangkan seperci ini, sehingga dia menjublek seperti orang linglung. Untung setelah mendengar seruan Oh-sim Siansing tadi, ada delapan orang segera melompat mundur kearah Cia Ing-kiat, meski mereka tergolong jago kosen, namun gerak gerik mereka jelas kalah cepat dengan luncuran dua senjata rahasia Kui-bo terdengar delapan orang itu berteriak bersama, seoiang diantaranya segera mengayun seutas cemeti lemas panjang dua tombak kearah Cia Ing kiat, seorang lagi juga mengayun tangan, sebatang Kim-ci-pian (ru-yung uang emas) dengan deru angin kencang meluncur diudara juga.

Kim-ci pian yang Htimpukan ini terbuat dari kepingan uang emas yang sengaja digosok mengkilap dan tajam bagian pinggirnya serta direnteng dengan benang emas pula, begttu ruyung lemas ini ditimpukan. laksana naga emas yang terbang diudara, langsung memapak kearah sambitan senjata rahasia Kui bo, daya luncur senjata rahasia kedua pihak kencang dan deras. ..Cring, cring” dua senjata rahasia Kui-bo dengan telak menerjang Kim ci-pian. Seketika Kim ci-pian putus menjadi tiga potong diudara, kepingan mata uang emas seketika berhaburan diudara menjadikan pemandangan yang aneh menakjup-kan. Ternyata timpukan Kui bo memang kuat sekali, kedua senjata rahasianya tidak terhalang meski beradu dengan Kim ci-pian diudara, daya luncurnya masih cukup pesat meski apak berkurang, baru sekarang o:ang banyak melihat jelas, senjata rahasia timpukan Kui bo ternyata dua bilah Lu yap-to setipis kena’. Setelah kebentur Kim-ci-pian, meski tetap meluncur kedepan tapi dua bilah Liu-yap-to ini sudah melenceng arahnya ,,Trap, trap” keduanya menancap amblas samrai gagangnya digunungan karang yang keras.

Pada saat itulah, cemeti lemas panjang itupun telah menyapu tiba dibawah kaki Cia Ing k at, sedikit sendal dan tarik ujung cemeti segera membelit betis Cia Ing-kiat, begitu merasa kaki terbelit, baru saja Cia Ing-kiat menjerit kaget, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendadak tubuhnya sudah terangkat naik keudara oleh sendalan tenaga orang yang memegang cemeti.

—ooo0dw0ooo–

Jilid 13 Tamat

Ditengah udara Cia Ing-kiat sempat melihat pemegang cemeti panjang ini adalah seorang kakek tua kurus kecil, kalau tidak menyaksikan sendiri, apapun dia tidak mau percaya bahwa kakek kurus sekecil ini ternyata memiliki tenaga raksasa dan mampu memainkan cemeti sepanjang ini begitulihay.

Kakek tua kurus kering ini adalah ahli waris keluarga Tong jaman ini satu-satunya. Tong keh pian-hoat memang tiada tandingan dlkolong langit, Tong-lojl sudah meyakinkan ilmu cemetinya ini selama puluhan tahun sudah tentu hasilnya luar biasa.

Tampak oleh Cia Ing kiat disaat tubuhnya masih terapung diudara dan mulai melorot turun, beberapa orang sudah melompat dari berbagai arah kearab dirinya, sebelum tubuh Cia Ing-kiat terjatuh berantai orang-orang itu ulur tangan memegang lengannya, ada yang memegang pinggang, sehingga dia terjatuh tanpa kurang suaiu apa.

Sebelum Cia Ing-kiat berdiri tegak, ada beberapa orang berserabutan ulur tangan hendak merebut bumbung yang dipegangnya.. Setelah terjadi perobahan yang tak terduga barusan, jantungnya masih berdebar tegang, hakikatnya dia takkan mampu melawan bila jago jago kosen itu mengeroyok serta merampas bumbung ditangannya, namun dasar otak nya encer, dalam keadaan kepepet itu mendadak dia membentak: „Stop kalian ingin mampus y a ?’

Karena bentakannya, tangan yang sudah terulur itu ssketika berhenti diudara tak berani bergerak lagi. sambil Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggenggam bumbung bsmbuitu dengan kedua tangan Cia-Ing-kiat membentak bengis: “Siapa berani bergerak, bila kumbang beracun terlepas, bukan aku yang ketimpa akibatnya.”

Lekas orang-orang itu menurunkan tangan serta mundur selangkah. Pada saat yang sama terdengar seruan Oh sam Siansing dari pinggir empang: “Jangan sentuh bumbung itu.”

Sementara itu setelah menimpukan dua belah Lui-yap-to, Kui-bo tidak menghentikan gerakannya, dia insaf lawan terlalu banyak kalau tidak menyergap lebih dulu, hari ini nasibnya bisa celaka di sini, namun pengepungan juga sudah bergerak, mereka sudah keba-cut benci kepada iblis perempuan yang jahat ini, seorang laki-laki kekar berewok menggerung sekeras guntur terus menerjang maju seraya mengayun toya tembaga sebesar paha mengemplang kepala Kui-bo. Hebat memang kepandaian km bo setelah merobohkan beberapa orang, segera tangannya terbalik menangkap toya tembaga yang mengemplang kepalanya. Tepat d’saat tangannya menangkap ujung toya, “Ser ,ser, ser.” dari kiri kanan dan belakang liga batang pedang menusuk tiba bersama.

Betapa tinggi Kungfu Kui bo disaat menghadapi bahaya inilah dia memperlihatkan ke-lihayan, sebelum jelas siapa penyerangnya, namun mendengar gerak pedang lawan, dia sudrh tahu bahwa yang menyerang dirinya a-dalah Tiam-jong sam kiam.

Tiam-jong-kiam hoat mengutamakan gerak enteng yang lincah, perobahannya tak da-pat dijajagi, sudah lama terkenal bahwa Tiam-jong sam kiam terdiri tiga saudara seperguruan yang meyakinkan bersama ilmu pedang gabungan ini selama puluhan tahun, letak Tiam-jong sam tidak jauh dari Biau-kiang, tempat semayam Kui-bo di Hiat-Iui kiong, maka dia tahu jelas betapa lihay Tiam-jong-kiam-boat, disamping kaget marah pula hatinya, begitu mengencang jari jari tangannya, dia pegang toya yang dipegangnya ditarik sedikit lalu didorong Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kedepan, terdengar “krak” sekali, laki laki gede itu pegang kencang toyanya yang hendak dirampas lawan, tak nyana lawan kerahkan tenaga menyodok balik malah sehingga tulang pergelangan tangannya patah, menyusul “Duk” ujung toya telak menyodok batok kepalanya pula hingga pecah dan meleleh keluar otak darahnya. Bola matanya-pun melotot keluar, kematiannya sungguh mengerikan.

Membunuh seorang lagi tampang Kui bo Han Hwi-nio tampak makin beringas, serangannya juga lebih kejam, sebat sekali dia berputar, terasa hawa pedang menyentuh tubuh, tiga redarg musuh menyerempet le-wat diplnggir tubuhnya. Ketiga penyerangnya berjenggot putih berjubah pertapaan, mereka memang bukan lain Tiam-jong-sam-kian adanya. Begitu serangan luput Tiam-jong-sam-kian menggetar pedang sehingga menimbulkan lapisan bayangan pedang yang kemilau, Kui-bo seperti terkurung didalam jala sinar pedang yang bertaburan menung krup dari atas sehingga Kui-bo tak mampu melompat keatas.

Padahal pengepung Kul-bo Hun Hwi nio hampir seratus orang banyaknya, karena Tiam jong sam kian sudah tampil kedepan mengembut Kui-bo, maka jago-jago lain kurang leluasa campur tangan. Maka orang banyak hanya berkaok-kaok menambah semangat tempur Tiam-jong-sam-kian belaka, kalau otang lain menghadapi teriakan-teriakan yang begitu ribut dan menakutkan pasti pecah nyalinya. Tapi lain halnya bagi Kui bo Hun Hwi-nio. gembong iblis perempuan yang keliwat kejam dan jahat ini, melihat dirinya ditindih oleh jala sinar pedang Ttam jong-sam-kiam. mendadak dia mengendap tubuh sambil membalik sebelah telapak tanean menenuk miring keatas “Plak” dengan telapak tangannya memukul lambung Loji dari salah satu Sam-kiam

Betapa dahsyat tenaga pukulan telapak tangan kui bo ini, karuan tubuh Loji mencelat terbang keudara dan ambruk satu tombak jauhnya. Satu diantnr tiga jago pedang yang sudah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mahir menggunakan barisan pedang roboh, maka permainan barisan pedang Loioa dan Losam menjadi kacau balau. Begitu menegakkan tubuh kedua tangan Kui-bo bergerak bersama, maka terdengar kedi a orang pengeroyoknya menjerit kaget, tahu tahu pedang mereka sudah direbut oleh Kui-bo Hun Hwi-nio

Serangan yang dilancarkan Kui-bo barusan adalah jurus Siang-liong-jut-hay (sepasang naga keluar laut) merupakan salah satu jurus tunggal ajaran murni Siau-lim-pay yang terdiri tujuh puluh dua jurus Kim-na-jm hoat. ilmn yang berhasil dipelajarinya dari Bu-bing Siansing di waktu Hwesio muda itu kepincut dan terpelet oleh mulut manisnya dulu. Berhasil merampas pedang lawan, sekali berputar arah dua pedang rampasannya segera ditimpukan kepada pemiliknya, belum lagi lenyap jeritan kaget kedua orang itu, pedang sndah tembus menusuk leher, jiwa melayang seketika. Hebat memang kepandaian Kui-bo Hun Hwi-nio, kecepatan gerak tubuhnya memang luar biasa, sebelum tubuh kedua korbannya roboh, mendadak dia uienggentak kedua lengan, gagang pedang berhasil dipegang, pedang tercabut terus diayun balik kebelakang, dua batang pedang sekaligus meluncur kebelakang mengincar Loji yang sedang merangkak bangun setelah terpukul mabur tadi.

Barn saja orang banyak kaget dan merasa ngeri, Loji sudah menjerit ngeri, darah pun muncrat, Loji atau orang kedua dari Tiam-jong sam-kiam tertembus dua batang pedang didada dan perutnya, tnbuhnya yang sudah mulai tegak berdiri terbanting roboh pula, hanya sekejap Tiam-jong sam-kiam sudah ajal ditangan Kui-bo.

Kematian empat orang beruntun ini lebih mengerikan dari korban yang jatuh lebih dulu, betapa cepat dan kejam serangan Kui-bo sungguh belum pernah ada selama ini, karuan sebagian besar jago-jago kosen itu menjadi patah semangat dan jeri, yang semula berkaok-kaok, karena ciut Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

nyali nya seketika bungkam dan menyurut mundur. Hanya sekejap situasi telah berobah drastis, kepungan terhadap Kui-bo menjadi kendor dan terpencar, Sementara itu Cia Ing-kiat masih berdiri diatas gunungan dengan beberaoa jago kosen yang berusaha melindunginya, mereka menyaksikan dengan jelas apa yang barusan, terjadi.

Air empang itu semula ada setombak dalamnya setelah air empang terkuras kering, banyak orang sudah melompat turun didasar empang yang bentuknya hampir sebuah wajah raksasa. Kui-bo justru terkurung didasar empang yang licin itu,

Disaat kritis itulah mendadak terdengar jeritan kaget nyaring dianiara rombongan o-rang banyak menyusul dua bayangan orang melambung tinggi melampaui kepala orang banyak meluncur keiengah empang hingga tak jauh didepan Kui-bo, kedua orang ini ternyata Pak-to Sunseng yang berjubah longgar berkibar seorang lagi adalah Hun Lian. Pak-to Suseng tampak mercengkram urat nadi Hun Lian lengannya ditelikung dibelakang punggungnya, sementara tangan yang lain mengancam Toa cui-hiat ditengkuk Hun-Lian Orang banyak maklum bila Pak-to kerahkan tenaganya, tulang leher Hun Lian pasti ter-remas patah atau hancur, jiwanya takkan ter tolong lagi, kecrali Kui-bo Hun Hwi-nio sendiri yang tertegun kaget, orang banyak juga berdiri menjublek.

Begitu melompat turnn Pak-to Suseng dorong Hun Lian maju beberapa langkah pula lalu bentaknya beringas:.,Hun Hwl-nio masih berani kau mengganas?”

Tampak membesi hijau muka Kui-bo Hun hwi nio kulit mukanyatampak kedutan, ram butnya yang sudah nbanan tanmpak menggelembong seperti ditiup angin, sorot matanya memancaikan sinar buas dan penuh kebencian. jelas hatinya murka sekali

Kungfu Pak to Suseng amat tinggi, apa lagi dia tahu lawan sudah tidak memegang bumbung kumbang Kui-bo takkan mengancam jiwanya, dalam keadaan terjepit lagi, umpama Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hun Hwi-nio memiliki kepandaian setinggi langit juga jangan harap mampu menjebol kepungan jago-jago silat sebanyak ini. Tapi melihat rona muka Kui bo yang bero-bah begini seram menakutkan, tak urung bergetar juga perasaan Pak- to Suseng disamping ngeri diapun merinding.

Sementara waktu kedua pihak berhenti bergerak, semua orang menunggu bagaimana reaksi Kui-bo setelah melihat putrinya dijadi kan sandera. Belasan jago yang berdiri diatas gunungan tambah waspada menjaga keselamatan Cia Ing-kiat, siaga dari sergapan Kui bo Hun Hwi nio yang bukan mustahil masih mengincar jiwa Cia Ing-kiat yang menjadi Mang ke adi perobahan situasi sehingga diri nya kini menjadi sasaran kemarahan orarg banyak.

Perobahan drastis ini tak pernah terbayaig oleh Hun Lian, bahwa ibunya menjadi sasaran kemarahan orang banyak menjadikan hati Hun Lian amat sedih sekali. Sebetulnya, menilai taraf Kungfu Hun Lian, betapapun Pak-to Suseng takkan mampu membekuknya sekali bergebrak, namun sejik me lihat Cia Ing-kiat muncul serta mengacungkan bumbung bambu berisi kumbang beracun tadi. rasa bencinya bukan kepalang sehingga dia kehilangan akal, apalagi ditatap pandang an Kui bo sang ibunda yang biasanya amat sayang kepadanya, terasa olehnya betapa gu sar ibunya, sehingga dia berdiri kebingungan disaat dia menjublek itulah Pak-to Suseng menyergap mencengkram pergelangan tangannya serta menyeretnya kehadapan Km b o

Mengawasi sang ibu, dilihatnya betapa gusar da penasaran serta berci sorot sang ibu. seperti diiris-iris hati Hun L an, sedih bukan main. teriaknya tertahan;” Ma.”

Semula tatapan Kui-bo tampak murka jelilatan lagi, terasa oieh Hun Lian, kulit daging sendiri kedutan, tak tertahan air mata bercucuran.

Tapi jahe yang tua memang lebih pedas dalam sekejap ini sikap Kui-bo ternyata sudah wajar gejolak perasaanya sudah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mered emosinya berhasil ditekan, rambut ubanan yang berdiri bergelombang tadi sudah menjuntai lemas, kini wajahnya malah tersenyum simpul, seolah-olah tiada terjadi sesuatu apa pun, terdengar dia berkata tawar, ,Pak to Suseng, bukankah kau terhitung jago kelas wa bid dalam Bulim?”

Merah jengah muka Pak-to Suseng mendengar olok-olok Kui bo, memang Fak-to Suseng juga tahu bahwa tindakannya hari ini memang tidak patut dipuji. Tapi dia juga sadar, keadaan ini harus tetap dipertahankan dan tidak boleh kendor, Kalau sedikit lena maka akibatnya akan fatal sekarang maupun kelak kemudian, untung jago-jago yang hadir semua membenci perempuan jalang ini, mereka tetap berdiri dipihaknya. Maka dia menyeringai dingin, jengeknya : „Ya, dibanding perbuatan kejimu yang licik itu, aku tetap lebih asor dari kau.”

„Haha.” Kui bo ngakak, „baiklah, kami ibu dan anak biar pulang saja ke Hiat-lui-kiong selanjutnya aku berjanji takkan menginjak Tionggoan lagi, bagaimana ?”

Kui-bo tabu situasi mcmojokan dirinya bertindak lunak, dia tahudirinya harus memberikan imbalan dan berkorban cukup besar maka sebelum orang mengajukan syarat dia sudah blak-blakan lebih dulu. Sudah tentu Pak to Suseng melengak dibuatnya. sebelum dia menjawab, di tengah kerumunan orang banyak seorang telah berteriak : „Jangan percya obrolan rase tua yang licin ini.”

Sikap Kui bo Hun Hwi-nio tampak berubah kereng, serunya keras : „Pak-to Suseng, bagaimana pendapatmu T’

Pak-to Suseng menyeringai, katanya : „Menurut pendapatku, perbuatanmu yang terkutuk ini memang patut dihukum mampus”

Kui-bo Hun Hwi-nio keplok tangan beruntun tiga kali, serunya : .Baiklah, nenek tua ini tak mau menyerah secara percuma, hayolah siapa maju lebih dulu.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Waktu Pak-to Suseng mencengkram Hun Lian dan dijadikan sandera d depan Kui-bo, orang banyak melihat jelas perobahan rona muka Kui bo. menandakan bahwa hatinya amst kaget, yakin dia ta’ckan berani bertindak, lagi, sungguh tak nyana dalam sekejap ini sikapnya telah berobah pula seperti tak tarjadi apa-apa. Pada hal Hun Lian dijadikan sandera didepan hidungnya, tapi sikapnya seperti tidak menyaksikan kejadian ini. Sambil keplok mulutnya berk&ok-kaok, mendadak tubuhnya melesat mir ng keatas. ditengah udara kedua kakinya menendang beruntun, betapa tangkas, enteng dan lincah gerakannya, terdengar “Duk, duk” dua kali, dua orang yang berdiri paling dekat telah kena tendangannya, ditengah rintihan lirih mereka, jiwa seketika melayang, namun jazadnya masih berdiri tidak bergerak. Sc-bat sekali Kui-bo Hun Hwi-nio telah ulur kedua tangannya pula mencengkram leher mereka “Krak, krak” dua kali suara pula, miang leher mereka telah dipelintirnya patah, sehingga kepalanya seperti mendadak amblas kedalam lehernya, karuan ke i taatnya disamping aneh dan mengerikan, juga seram menakutkan.

Meminjam daya tekanan Jiatas batok kepala kedua korbannya, kembali Kui-bo melambung keudara setinggi dua tombak, di e ngah udara tubuhnya bersalto beberapa kali, lalu meluncur kearah gunungan, yang dikembangkan memang Ginkang lihay, yaitu delapan belas jumpalitan ditengah mega).

Betapa cepat gerakan Kui-bo, hanya sekejap dua jiwa melayang lagi ditangan Kui-bo, begitu tubuhrya melenting miring dia meluncur keluar dari dasar empang, kecepatan gerak tubuhnya laksana hembusan angin puyuh saja, walau Pak-to Suseng membekuk

Hun Lian namun mengingat kedudukan dan gengsinya, apapun dia tidak berani membunuh Hun Lian, bahwasanya sikap Kui-bo seperti tidak ambil peduli, seolah olah tak terjadi apa-apa atas putrinya, maka Hun-Lianyang disandera tidak berguna lagi. Tampak ditengah jumpalitan tubuh Kui-bo, angin Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menderu laksana pusaran angin lesus, tubuh Kui-bo berputar jumpalitan membawa deru angin kencang, maka puluhan jago jago ko-scn itu segera menyongsong kedepan. Tapi gaya delapan belas kait jumpalitan ditengah mega ini tak mungkin dilatih sempurna tanpa membekal Lewekang tangguh, bila seseorang berhasil meyakinkan Ginkang ini, maka perbawanya sungguh luar biasa.

Maklum ilmu Ginkang yang satu ini dapat membuat orang meluncur kencang kedepan sambil bersalto, kecuali harus mengerahkan tenaga pernapa:an, kedua tangan juga harus memukul secara beruntun kc-bumi, meninju daya pantul pukulun telapak tanran sehingga tubuhnya terapnng tidak sampai melorot kebawah, setiap bersalto harus memukul dua kaki ketanah, maka Hoan hun ha cap-lak ciang (tiga puluh enam pukulan membalik mega) merupakan ilmu pukulan telapak tangan yang paling top didunia ini. Karena tepukan tangan yang gencar dan deras itulah sehingga jago-jago kosen yang berusaha mencegat dan menubruk maju tak mampu mendesak maju mendekati tubuh Kui bo, sehingga Kui-bo yang sudah bersalto berulang kali sambil meluncur kedepan itu sudah mendekati gunungan. Maka jago-jago kosen yang berada didasar empang berkaok-kaok mengejar keluar, namun gerakan mereka mana mampu mengejar Kui-bo?

Ada delapan belas jago silat yang berusaha mencegat aksi Kui-bo, namun semua gagal, sarupun tiada yang mampu m~nyen tuh ujung bajunya, melihat betapa lihay dan cepat permainan salto Kui bo Hun Hwi-nio meluruk kearah dirinya. Cia Ing-kiat sampai pesona dan goyah kedua lututnya, hampir saja dia terjungkal jatuh kebawah

Hanya sekejap jarak Kui-bo tinggal satu tombak dari gunungan, dua kali jumpalitan lagi orang pasti sudah menubruk tiba, maka terdengarlai jago-jago yang berjaga diatas gunungan membentak serempak, terutama be.itakat h Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

am Siansing paling keras, di mana bayangan orang berkelebat, dia sudah mendahului memapak maju.

Tenaga pukulan Hoan – in sha-cap lak-ciang setiap pukulannya bertambah lebih kuat, maklum pukulan dilancarkan dari tengah udara, kalau tenaga pukulan tidak diperkeras, tubuh bisa melorot kebawab. maka pukulan yang bertambah kuat itu supaya tubuh meluncur secara datar. Saat mana Kui-bo sudah melontarkan tiga puluh pukulan, Ob-sam Siansing tahu betapa lihay tenaga pukulan lawan, namun kalau tidak segera memapak maju, bila Kui bo merebut naik keatas gunungan, bila Cia Ing-kiat lerbekuk oleb orang, entah derita apa yang bakal dialami berbagai pihak, maka sambil bersuit dia menerjang maju.

Betapa dahsyat tenaga Lwekang Oh sam Siansing, begitu menubruk maju dia sudah kerahkan setaker tenaganya, pada hal pukulan tiga puluh enam jurus membalik mega Kui-bo juga saatnya paling tangguh, tampak dua bayangan orang yang terapung setinggi delapan kaki saling terjang diudara, maka terjadilah ledakan keras laksana ledakan dua balon rnk asa, maka Oh saru Siansing dan Kui-bo tertolak balik dan anjlok kebawah.

Begitu kaki manyentuh bumi Oh-sam Siansing tak kuasa berdiri tegak, beruntun dia terhuyung delapan langkah, waktu mundur baru dua langkah, ada beberapa orang maju memapahnya, tapi daya mundur Oh-sam Siansing ternyata kuat sekali sehingga orang-orang yang memapahnya tak kuat berdiri an ikut terdorong jatuh terduduk, masih mending keadaan Oh-sam Siansing, orang-orang yang memapahnya itu ternyata pucat pasi, darah mengalir dari hidung dan kuping serta mulut, jelas mereka tergetar luka dalam.

Demikian juga Kui-bo Hun Hwi-nio,setelah kakinya menginjak bumi sekuatnya dia menahan badan, tapi hanya sekejap saja, menyusul dia terhuyung mundur tiga langkah. Hal ini membuktikan akhir dari adu pukulan kedua jago Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bangkotan ini, Kui bo berada diatas angin, sementara darah tampak merembes diujung mulut Oh-sam Siansing, jelas dia sudah terluka dalam yang cukup parah. Untung Kui-bo tidak merangsak lebih lanjut, bila ditambah sejurus serangan lagi jiwa Oh sam Siansing pasti amblas.

Sayang musuh terlalu banyak. Kui bo hanya berjuang mati- matian seorang diri, begitu dia teruiyung mundur beberapa orang sudah menyergap dari berbagai arah penyer-gap terdekat dan menyerang lebih dulu adalah dua orang kate yang bersenjata sebatang gada segi delapan.

Karena bertubuh kate dan buntak, kedua orang kembar ini menggelinding maju ke-belakang Kui bo. mendadak tubuhnya mencelat keatas sambil mengayun gada besinya, Bluk bluk” dua gada mereka dengan telak memukul tuiggung Kui bo, dari suara pukulan gadt beii itu, sehingga tubuh Kui bo tampak bergetar dan tersuruk maju beberapa langkah sambil menjerit keras mengerikan sambil menyelonong kedepan itulah tangannya meraih balik kebelalang, begitiu cepat cengkraman jari tangannya, dengan tepat kedua gada lawan berhasil ditangkapnya, me-nyusul tangannya menggencet turun kebawah kedua kate pemilik gada besi itu belum sempat membuang senjatanya, tahu-tahu Hun Hwi-nio sudah mengerahkan tenaga sehingga mereka tertekan turun ketanah.

”Bluk bluk’ laksana bola raksasa ribuan kati yang jatuh dari angkasa, badan kedua orang kate ini tertekan turun menyentuh bumi sehingga tanah melesak dibagian bawah badan mereka, sementara tubuh buntak mereka seperti terbenam didalam bumi. tak mampu bergerak lagi, ternyata mereka dibanting mampus oleh Kui-bo Hun Hwi-nio.

Setelah adu pukulan dengan Oh-sam Siansing, hakikatnya Kui-bo “belum berdiri tegak tahu-tahu punggung terpukul telak oleh gada kedua kate buntak ini, namun hanya sekali raih dan tekan kedua pembokongnya ini sudah dibantingnya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mampus dalam segebrak betapa hebat dan gagah perkasa tindakannya, sungguh mengerikan, saruan jago-jago kosen yan lain mengkirik nyalinya meski tahu keadaan Kui-bo Hun Hwi-nio juga pasti sudah payah, namun tampangnya yang beringas dengan tindakannya yang kejam membuat pecah nyali orang banyak.

Mendadak Kui-bo Hun Hwi-nio membalik badan, tampak kulit mukanya berkerut kedutan, kelihatannya seperti ingin tertawa besar, namun begitu dia membuka mulut yang keluar ternyata semburan darah segar. Seiring dengan semburan darah dari mulutnya, kakinya menjadi goyah hingga tubuhnya sempoyongan beberapa langkah, namun sekuatnya dia bertahan mengendalikan tubuh sehingga tidak terjungkal roboh.

Karuan jago-jago kosen yang mengepungnya bersorak girang, terutama Liong – bin Siangjin tarik suara berteriak: “Kui-bo, jangan kau memaksa diri, menyerah saja.”

Dengan lengan bajunya Kui-bo Hun Hwi-nio menyeka noda darah diujung mulutnya, lalu terkekeh tawa besar serunya: “Majulah bersama, sebelum nenek tua ini ajal, aku pantang menyerah.” jelas dia sudah terluka dalam yang cukup parah, namun masih keras kepala.

Pak-to Suseng sudah melepas cengkraman tangannya diurat nadi Hun Lian, lekas Hun-Lian menyikir orang-orang didepannya terus mendesak maju kedepan serta memburu kearah ibunya, langsung dipeluknya. Tapi Hun Hwi-nio menjengek sengit serta mendorong pergi Hun Lian, Hun Lian tertolak mundur selangkah sambil menjerit: “Ma.”

„Jangan panggil aku ibu.” hardik Hun-Hwi-nio beringas sadis, “Jikalau kau masih anggap aku ibumu, tak pantas kau serahkan bumbung milikku itu kepada orang lain.”

Pandai berdebatpun Hun Lian tak mampu membela diri, apalagi dalam situasi yang mendesak begini, tiada kesempatan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memberi pen jelasan kepada ibunya. Terpaksa dia celingukan, lalu menatap Cia Ing kiat yang dikerumuni orang banyak, sorot matanya dilembari rasa kebencian yang keliwat batas

Terdengar seorang berteriak dianiara kerumunan orang banyak: “Memberantas kejahatan harus tuntas, kalau sekarang tidak mengganyangnya, tunggu kapan lagi?”

Seruannya ini mendapat sambutan tampik sorak sorai, enam orang segera menerobos keluar, seorang yang menerjang paling depan bergaman golek besar berpunggung tebal, dengan deru angin kencang terayun diuda.a sebelum orangnya tiba.didepan Hun Hwi-nio, ro-lok berat dan tebal itu sudah diputar sekencang kitiran, hanya sekejap bayangan tubuh berpadu dengan sinar golok terus membacok batok kepala.

Hun Lian menghardik gusar, dimana tangannja bergerak, benang merah segera meluncur keluar dari bawah menggulung keatas , Tapi benang kecil lemas itu ternyata mampu menahan bacokan golak sebesar dan seberat itu, hingga golok itu seperti tertahan oleh daya pantul tenaga besar.

Kalau serangan golok disebe ah sini tertahan sejenak, sementara lima orang yang lain sudah menubruk tiba serempak menyerang kepada Hun hwi nio.

Dikeroyok oleh empat lawan yang menyerang dirinya sereaipaK, ternyata Hun hwi nio tetap berdiri diam tak bergerak, bahwasanya bukan dia ingin bergerak melawan, namun kenyataan dia sudah tidak mampu bergerak.

Ternyata setelah adu pukulan dahsyat dengan Oh sam Siansiug, walau diapun terluka parah, tapi bila dia mendapat kesempatan setengah jam untuk bersamadi menyembuhkan diri, dengan ketangguhan Lwekangnya luka lukanya bisa sembuh dan sehat dalam sekejap mata. Sayang baru saja dia terluka dalam, punggungnya sudah dipukul gada pula oleh Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kedua kate kembar tadi. Walau saudara lembar katepun berhasil dibunuhnya, tapi luka dalamnya bertambah parah, jangan kata melawan, tenaga angkat tanganpun sudah tidak mampu dilakukan lagi.

Bagi pesilat ke as tinggi yang meyakinkan Lwekarg tingkat tinggi paling pantang dalam kondisi seperti yang dialami Kui-bo Hun hwi nio sekarang, apalagi tokoh selihay Kui-bo. keadaan yang payah ini seketika terlihat oleh orang banyak karena keadaan yang dialami Kui-tio sekarang adalah Jau-bwe-jip-mo hawa murni dalam tubuhnya tidak lagi berjalan normal sehingga menimbulkan kelumpuhan total disekujur badan. Kecuali terjadi suatu keajaiban, seluruh urat nadi dalam tubuhnya yang buntu berhasil dijebol sehingga hawa murni berjalan lancar kembli seperti biasa, kalau keadaan makin parah, jelas selama hidup dia akan menjadi seorang tanpa daksa.

Untunglah jago jago kosen yang mengepungnya tidak bertindak lebih jauh, dari luari kalangan meidsdak Hun Lian berteriak: ,Ma.” sambil menarikan benang merah ditanganya, tiga senjata musuh berhasil disampuknya jatuh, nanun tak urung sebatang pedang masih menyelonong kedepan “Bles” ujung sedang menusuk amblas pundak kanan Kui-bo.

Betapa tangguh kepandaian Kui-bo, akhirnya juga terjungkal olen keroyokan jago-jago lihay itu, apalagi Hun Lian . Melihat ibunya terfuka, karuan hatinya amat gugup, sedikit lena tiga jago dari Bu-tong-pay telah mencegat dan melibatnya dalam serangan gencar bingga tak sempat dia menyerbu ke sana membela ibunya

Sementara itu, jago Kocg tong-pay yang bersenjata pedang setelah menusuk luka pun-dak Kui-bo, pedangnya kini menyerang pula menusuk keulu hatinya. Untunglah pada saat itu karena lemah dan lunglai Kui bo meloso jatuh terduduk sehingga tusukan pedang itu menceng, namun ahli pedang ini juga seorang lihay, mendadak pedangnya bergetar turun serta Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

meringis miring kepinggir jelas kali ini Kui-bo takkan mampu menyelamatkan diri pula, lehernya terancam babatan pedang lawan.

Untunglah disaat gawat itu, mendadak kumandang paduan suara orang holobis kun-tul baris yang mendatangi dengan cepat, bukan saja cepat suara holobis kuntul baris itupun keras dan berisi sehingga jago-jago silat yang lagi bersitegang leher itu melengak kaget dan heran, menyusul sebuah lengking suitan panjang bergema mengalun tinggi memekak telinga, maka tampak delapan lelaki memikul tandu sedang berlari kencang bagai terbang. Begitu dekat delapan pemikul tandu itu beriompat serempak keudara, disaat tandu terapung itulah. dari dalam tandu mendadak melesat bayangan seorang menukik turun kebawah, begitu cepat gerakan orang ini, sebelum orang banyak melihat jelas, orang itu sudah hinggap disamping Kui-bo serta ulur Sebelah tangannya, dengan telak dia menjepit ujung pedang jago Kong-tong-pay yang membabat leher Kui bo, ,.Ampunilah dia.” lenyap suaranya tandu itu pun sudah meluncur turun di tengah arena. Tepat sekali tubuh Kui bo ternyata terkurung di dalam tandu, betapa cepat, cekatan dan tepat gerak gerik delapan orang ini, sungguh menakjupkan sekali.

Melihat tandu besar ini muncul, orang banyak sudah tahu yang datang adalah Liong bun Pantcu. Tapi sejauh ini belum pernah ada orang melihat jelas bagaimana tampang Liong bun Pangcu sesungguhnya, kini mereka melihat penolong Kui-bo yang menjepit pe dang jago Kong-tong-pay itu ternyata adalah seorang laki-laki tinggi besar berkulit putih bola mata biru, hidung besar seperti betet. rambutnya merah, demikian pula bulu badannya juga merah emas. kapan jago-jago silat yang hadir pernah melihac tampang manusia seaneh ini, karuan semua menyurut kaget sambil terbeliak heran.

Jago Kong-tong-pay yang menyerang Kui-bo dengan pedang itu adalah Lu Gun-pui Lulo enghiong yang bertempat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tinggal di kota Kilin dalam wilayah Sioatang sebagai ahli pedang namanya sudah menggetarkan dunia persilatan, tapi begitu anjlok turun Liong bun Pangcu berhasil menjepit ujing pedangnya, Lu Gun-pui sudah kerahkan se-taker tenaga menarik pedang, tapi lawan tetap berdiri santai seperti tidak mengerahkan tenaga sedikitpun, namun jago pedang ini tak berhasil malah selebar mukanya merah padam. Untunglah sebelum dia kerahkan sisa tenaganya menarik lagi, Liong-bun Pangcu sudah melepas jepitan tangannya sambil mendorong ujung pedang, katanya : „Simpanlah pedangmu.”

Karuan Lu Ban-pul melengak dan terbelalak, bagi orang lain yang menyaksikan tampak Liong bun Pangcu hanya me dorong perlahan ujung pedang yang dijepit kedua jarinya, pada hal Lu Gun-pui masih kerahkan tenaga meski tidak sekuatnya menarik pedang, seketika dia rasakan segulung tenaga besar menerjang dirinya, untunglah hanya tenaga ltnaic, meski dia terhuyung tapi tidak, sampai terjungkal jatuh, namun sebagai jago kosen dia insyaf bahwa lawan menaruh belas-, kasihan kepada dirinya, kalau orang bermaksud kej , kalau tidak mampus oleh getaran tenaga lawan, tentu dirinya sudah terluka dalam yang parah.

Apapun Lu Gun-pui adalah jago kawak-an yang berpengalaman luas, mengingat dtrl sendiri tidak kecundang, pada hal sekian banyak jago yang hadir, hanya dirinya saja yang mampu mulukai Kui-bo, hal ini rasanya patut dibanggakan, mata sambil ngakak segera dia mundur seraya menyarungkan pedang.

Liong-bun Pangcu menjura keempat penjuru, serunya : ”Cayhe Liong-bun Pangcu datang dan laut kutub utara.” lalu dia menuding ke arah tandu serta menyambung : „Kui bo Hun Hwi nio sudah Jay-hwe- jip-mohon kalian tidak mendesak dan mempersulit dirinya lagi ?”

Delapan pemikul tandu segera siap memikul tandu pula Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam pada itu Oh sam Siansing masih bersemadi menyembuhkan luka dalam, tiga jago kosen bersimpuh dibelakangnya. setiap Orang ulur telapak tangannya mendempel pinggang pinggir, punggung dan dada, agaknya mereka sedang bantu menyembuhkan luka-lukanya dengan menyalurkan teniga murni kedalam tubuh On sam Siansing. Maka pandangan para jago tertuju k arah Pak-to Suseng.

Dengan dingin Pak to Suseng berkata : „Belum pernah kami dengar bahwa Liong bun-pang berserikat atau punya hubungan apapun dengan Hiat-Iui-kiong bukan?” sindiran yang lihay, secara tidak langsung dia tanya berdasar apa dia berani turut campur dan menolong Kui-bo.

Sekilas Liong-bong Panecu meiirik Hui Lian yang berdiri disamping sambil menunduk, tubuhnya tampak gemetar, maka bola, matanya yang biru itu seketika memancar terang, katanya: „Aku adalah sahabat baik nona Hun, kumohon kalian sudi membebaskan ibunya.”

Berkerut alis Pak-to Suseng, sudah tentu dia tahu bahwa Kui-bo Hun Hwi nio memang sudah lumpuh karena tidak mampu menangkis atau balas menyerang, untuk selanjutnya jelas tidak akan mampu berbuat jahat lagi, kejadian masa lalu biarlah anggap selesai sampai di sini. sebagai orang yang terpandang d antara sekian jago jago yang hadir, yakin dirinya dapat mengambil keputusan mutlak, sekaligus mengulur tali persahabatan dengan Liong-bun Pangcu

Disaat Pak-to Suseng menepekur itulah, mendadak didengarnya Cia Jng-kiat berteriak: „Tidak boleh, Kui bo yang laknat itu harus dimampuskau, demikian pula marusia bulu emas inipun jangan dibiarkan pergi.”

Padahal kungfu setiap hadirin semua lebih tinggi dari Cia Ing-kiat, meski mereka tidak pandang sebelah mata padanya, namun mendengar teriakannya, serempak menoleh kesana Tapi otak Oa Ing-kiat cukup cerdik dia tahu bahwa seruannya tidak diindahkan, karuan hatinya tambah geram, segera Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan kedua tangan dia angkat bumbung kumbang diatas kepala serunya pula dengan beringas: „Siapa tidak tunduk kepadaku, biarlah jiwanya melayang.”

Melihat bumbung kumbang ditangan Cia log-kiat itu, baru hadirin terbelalak kaget dan menggeram gusar. Liong.bin Siangjin tak jauh didepan Cia Ing-kiat segera dia mem-bentak:„Jangan petingkah.” sebat sekail sebelah tangannya terulur mencengkram ke urat nadi pergelangan tangan Cia Ing kiat, sec ra tidak terduga dia hendak merampas bumbung kumbang ditangan Cia Ing-kiat, Tapi Cia Ing kiat tahu diri. kepandaiannya rendah, tidak gampang mengendalikan jago-jago kosen sebanyak ini, maka dia sudah mempersiapkan diri, setelah berteriak tadi, segera dia menggeser kaki pindah kedudukan, karuan cengkraman Liong-bin Siang jin mengenai tempat kosong tangkas sekali Cia Ing-kiat sudah menyingkir setombak jauhnya, lalu berteriak pula lebih beringas:”Siapa berani mendekati aku biar kubuka tutup bumbung ini”, otot hijau dijidatnya tampak merongkol keluar, tampang nya tampak seram dan buas. orang banyak tahu bahwa ancaman bukan main-main, karuan hadirin beradu pandang tanpa bergerak tiada yang berani bertindak.

Pak to Suseng maju beberapa langkah katanya:,,Cia-sau-cengcu. Kau bantu- kami membebaskan bencana besar ini, kita amat berterima kasih kepadamu, lekas serahkan bumbung itu kepadaku, kami pasti menepati janji itu kepadamu.”

„Jangan cerewet.'” sentak Cia Ing-kiat, “dalam waktu setengah jam. kalian harus bunuh mahluk merah ini.”

Karuan Pak to Suseng tertegun, dilihatnya jari jari Cia Ing kiat sudah bergerak membuka sumbat bumbung bambu hijau itu. meski hanya sekejap sumbat bumbung itu ditutupkan kembali, namun terdengarlah dua suara mendegung terbang diudara, ternyata ada dua ekor kumbang beracun sempat lolos dari dalam bumbung terbang diudara. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jago jago kosen itu seluruhnya sudah terkena ulat beracun, waktu di Hiat lui kiong tempo hari mereka jugi sudan saksikan sendiri betapa mengerikan akibat seorang yang terkena sengat kumbang beracun ini. Begitu melihat dua ekor kumbang lolos terbang, karuan semua berteriak kaget dan berobah air mukanya, seperti menghadapi duniak amat layaknya’ yang berpikir jernih beramal me-lompat menyingkir, tapi ada pula yang terpesona dilemparnya tanpa bergerak.

Baru saji Cia Ing kiat merasa senang dan puas, mendadak didengarnya suara hardikan nyaring, tampak Hui Lian melompat tinggi keudara, berbareng benang merah di tangannya berputar melingkar diudura, dengan iecutan yang tepak dan linay “Tar, tar*’ dua kail, kumbang yang lagi terbang satu lingkar itu berhasil dipukulnya mampus dengan benang merah.

Kedua kumbang tadi sudah terbang di-atas kepala dua jago, jaraknya tinggal dua kaki saja, untunglah Hun Lian bertindak cepat, bila kedua kumbang hitam itu terpukul jatuh didepan kaki kedua jago kosen itu, tampak tubuh mereka menggigil, keringat gemerobios, muka pucat.

Agaknya tindakan Hun Lian diluar dugaan Cia Ing kiat melihat kedua ekor kumbang itn terpukul mampus, sesaat dia melengong, maka didengarnya Pak-to Suseng dan Liong-bun Siangjin berseru bersama: “Cia sau ceng-cu, persoalan bisa dirundingkan, harap kau tidak bertindak semberono.”

Maklum meski hanya dua ekor kumbang, tapi jiwa semua jago yang hadir boleh di kata terancam elmaut meski Hun Lian berhasil menyelamatkan jiwa mereka.tapi bila Cia lng-kiat naik pitam dan nekad melepas seluruh kumbang yang berada dida ain bambu itu, kalau dua ekor masih berhasil dibnnuh oleh benang merah Hun Lian, kalau jumlahnya banyak, jelas orang banyakpun sukar memberantasnya dalam waktu singkat, beberapa jiwa pasti berkorban. Apa yang diteriakan Pak-to Suseng dan Liong-bin Siangjin juga terpikir dalam benak orang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

banyak, namun perasaan mereka tidak setenang kedua orang ini, sehingga tak kuasa bersuara.

Melihat Hun Lian membunuh kedua kumbang beracun itu. disamping kaget, Cia Ing-kiat juga amat gusar, mendengar teriakan Pak-to Suseng dan Liong bun Siangjin lagi, dia tahu orang banyak masih jeri kepadanya, baru saja dia buka mulut, mendadak didengarnya. Hun Lian menghardik sekali lagi, bayangan berkelebat- sementara benang merah juga melingkar-lingkar diudara menungkrup kepalanya.

Benang merah Hun Lian pernah putns hampir separo waktu berkelahi melawan Lui-Ang-ing di Hiat-lui kiong tempo hari, tapi panjangnya masih ada setombak lebih, memangnya mahir bermain laso. Maka permainan benang merah Hun Lian juga amat menak-jupkan. gemuruh deru anginnya membingungkan Cia Ing kiat, seperti sebuah payung merah terbang dia as kepalanya dan hampir menindih dirinya.

Mendadak Cia Ing-kiat berteriak aneh, sambil menarik napas mengerahkan hawa murni, mendadak dia menjejak kaki, tubuhnya jungkir balik kebelakang, tapi disaat tubuhnya terapung itulah “Cret” benang merah Hun Lian mendadak telah membelit perge-langan tangannya.

Tenaga yang digunakan Hun Lian diujung benang masnya lunak dan kuat begitu pergelangan tangan te lilit benang merah, kontan Cia Ing-kiat rasakan seluruh lengannya lemas lunglai, tanpa kuasa kelima jarinya membuka hingga kumbang yang dipegangnya terlepas dari pegangan dan jatuh ketanah. kembari hadirin menjerit kaget dan kuatir. Untunglah gerak-gerik Hun Lian sebat luar biasa, baru saja bumbung itu melayang jatuh, tubuhnya yang masih terapung diudara mendadak anjlok kebawah seraya menyendal pergelangan ujung benang merahnya selincan ular sakti mendadak melepas lilitan diperga-langan tangan Cia Ing-kiat terus menyambar, tubub dan melilit bumbung itu, kembali dia menyendal tangan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

maka bumbung itu mencelat naik keatas, sekali raih dia berhasil menangkapnya.

Sudah tentu gusar dan penasaran Cia Ing-kiat bukan kepalang, bahwa Hun Lian merampas bumbung itu dari tangannya, sekaligus juga merampas segala harapannya pula, sekilas terbayang olehnya waktu dirinya berhasil mengambil Po-tiok-pit-kip dari tembok benteng Kim-hou po dulu. buku ajaran silat itupun terampas oleh benang merah yang dilakukan oleh Hun Lian, dendam lama bertambah sakit hati didepan mata, karuan amarah Cia Ing-kiat tak terbendung lagi, lekas dia melompat mundur lalu berdiri di atas gunungan.

Dalam pada itu, setelah memegang bumbung, tubuh Hun Lian masih terapung di udara dan sedang melayang turun. Mendadak Cia Ing-kiat memekik panjang, dua kakinya memancal. tubuhnya lantas menerkam turun, di tengah udara dia mencabut sebilah golok pendek langsung menusuk dada Hun Lian. Maksud tujuan Cia Ing kiat saat itu boleh dikata teramat jahat dan keji dia tau, kungfu sendiri bukan tandingan Hun Lian. maka dia nekad menyerang secara membabi buta dengan harapan Hun Lian akan ayun cambuknya menghajar dirinya yang masih terapung diudara. Sudah terteka dalam perhitungannya, bila Hun Lian balas menyerang, bambu yang terbelit diujung benang cambuk merah itu pasti akan jatuh, itu berarti bumbung itu akan pecah beramatan, sementara ratusan kumbang beracun yang terisi dida lin bumbung akan terbang bebas, jago kosen sebanyak ini seluruhnya akan terenggut jiwanya.

Bila pikiran manusia dihinggapi maksud jahat, maka mimik wajahnya akan berobah beringas dan seram. Demikianlah keadaan Cia Ing-kiat saat ini. Tindakannya ini di luar dugaan oiang banyak, gerakannya tangkas dan cepat lagi apalagi orang banyak tadi melompat mundur agak jauh, untuk mencegah perbuatan Cia Ing kiat tak keburu lagi Sementara Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hun Lian sedang melorot turun, tampak sinar putih berkelebat meny rang dada, karuan dia berteriak ngeri : ”Tolong aku.”

Sebat sekali dia membalik tangan, maka bumbung diujung benang cambuknya tersendal terbang kedepan, menyusul ujung cambuknya terayun pula kedepan dengan lingkaran yang membulat sehingga golok pendek Cia Ing-kiat tergulung benang dan tersendal lepas dari pegangan.

Langkah Hun Lian jelas diluar dugaan Cia Ing-kiat, namun daya luncur tusukannya memang keras sekali, meski golok pendek tergulung lepas oleh benang cambuk lawan, namun Ing-kiat sudah tak kuasa mengendalikan luncuran tubuhnya lagi, lekas dia menepuk balik dengan telapak tangan, namun sebelum tepukan telapak tangan mengenai sasaran, ujung benang cambuk Hun Lian sudah menghajar punggungnya, “Tar” sakitnya bukan main hingga Ing-kiat menggembor keras. Pada saat itulah didengarnya suitan keras panjang, bayangan merah berkelebat dan jumpalitan turun hinggap dita-nah, tampak tangannya sudah memegang bumbung kumbang itu, siapa lagi kalau bukan Liong-bun Pangcu.

Jarak Liong-bun Pangcu memang paling dekat, mendengar teriakan Hun Lian, melihat bumbung itu melesat terbang lagi, maka Liong-bun Pangcu segera bertindak, satu kaki

Sebelum bumbung itu membentur gunungan, Liong bun Pangcu keburu ulur tangan menangkapnya, sekali jumpalitan pula dia sudah melompat balik ketempat semula.

Segala perobahan terjadi dalam waktu singkat dan tak terduga, karuan orang banyak berdiri menjublek dengan lemas.

Tubrukan Cia Ing-kiat tadi jelas bermaksud adu jiwa. dua kali permainan cambuk Hun Lian lupa bukan pertunjukan yang menakjubkan, namun karena bumbung kum-bang itulah sehingga seluruh hadirin berdiri pesona dan tegang, perasaan mereka seperti bergantung diudara dan sembarang waktu, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bisa terjungkal mampus saja, setelah bumbung itu jatuh ditangan Liong-bun Pangcu baru mereka menghela napas lega. Tapi rasa lega inipun hanya sekejap saja karena mereka insaf, dari pada ditangan Liong-bun Pang cu yang lihay dan tangguh, lebih baik bumbung itu tetap berada ditangan Cia Ing-kiat yang lugu. cetek pengalaman dan rendah kepandaiannya, lalu siapa diantara jago – jago yang badir mampu merebut bumbung itu dari tangan Liong bun Pangcu? Mengingat keselamatan jiwa mereka masih terancam juga maka jantung mereka dag dig dug tidak tentram, namun suasana justru sepi lengang.

Hun Lian juga insaf betapa genting situasi yang dihadapinya ini, bila salah langkah bencana besar bakal menimpa seluruh insan persilatan umumnya, maka sekuatnya dia tenangkan diri, katanya : „Pangcu, bumbung kumbang yang mengancam jiwa orang ini tolong di hancurkan saja.”

Liong bun Pangcu melengak, katanya : ” Bumbung ini dapat membantu kau, seluruh jago-jago silat yang hadir di sini akan tunduk oleh perintahmu, kau tega memusnahkan bumbung ini”

Hun Lian tertawa ewa. katanya : ,,Siapa ingin menguasai mereka?’

”Bagus’ spontan Liong bun Pangeu berseru memuji. Mendadak dia membanting kaki kanan , Duk , bila dia angkat pula kaki kanannya, tanah di mana barusan kakinya menginjak telah berlobang sedalam satu kaki lebih, segera dia lempar bumbung di tangannya kedalam lobang, dengan ujung kaki lalu dia menguruk lobang itu dengan batu dan tanah, lalu diinjak injak serta diratakannya.

Baru sekarang orang banyak menghela napas lega. separo diantaranya sudah mandi keringat saking tegang. Bila angin pegunungan menghembus lalu, baru mereka sadar karena kedinginan. Dibawah pimpinan Pak to Suseng, beberapa jago kosen segera menimbun” mau kearah Hun Lian serta menjura Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepadanya, kaianva : .Nona Hun, budi kebaikanmu takkan kami lupakan selama hidup.”

Hun Lian tersipu-sipu, katanya : ”Mohon kalian tidak: mempersulit ibuku saja.’

Liong bin Siangjin menghela napas, ujarnya : „Permusuhan ini sudah tentu tuntas sampai di sini. Nona Hun. bila kelak kau me-merlukan bantuan kami, tolong beri kabar Saja.” sebetulnya ucapan Liong bin Siangjin hanya basa basi belaka, maklum dalam keadaan seperti itu adalah logis kalau dia menyampaikan pernyataan itu sebagai tanda terima kasih.

Tak nyana Liong bun Pangdu yang berada d sebelahnya justru serius, katanya keras: „Bila nona Hun ingin bantuan orang lain, sudah jelas akulah yang akan melakukan.”

Dalam waktu singkat orang banyak tidak tahu apa maksud perkataan Liong bun Pangcu, semua menatapnya dengan heran. Tampak Liong-bun Pangcu membalik setengah badan, pertama .dia menegakkan badan lalu menekuk pinggang membungkuk sembilan puluh derajat sambil meltntangan tangan didepan dada lalu diturunkan keluar, bila dia berdiri tegak pula sebelan tangannya sudah menggandeng lengan Hun Lian.

Sudah tentu orang banyak tidak tahu cara penghormatan sesuai adat orang barat, semua memandang tergolong dan berkecek mulut, sementara Hun Lian menunduk malu dengan muka jengah, namun orang banyak tahu betapa lega, riang dan senang hatinya.

Sambil menggandeng lengan Hun Lian. Liong bun Pangcu maju beberapa langkah lalu mengulap tangan, delapan pemikul tandu serempak bergerak maju kedepan, tetap meng gandeng lengan Hun Lian, Liong-bun Pangcu bergerak disebelah belakang, hanya sekejab bayangan mereka sudah lenyap diluar benteng. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perlahan Cia Ing-kiat meronta berdiri, semula dia kira orang banyak akan menghajar dirinya, dengan rasa kaget, gusar dan takut dia mengawasi orang-orang di sekitarnya tubuhnya tampak menggigil.

Diluar dugaan orang banyak tiada yang menghiraukan diri, seolah olah mereka tidak melihat kehadiran dirinya ditengah mereka, setelah hati merasa lega, ramailah percakapan mereka, sesama teman ngobrol serta beranjak pergi dengan bergandeng tangan, ada juga yang lewat didepan Cia Ing-kiat, mereka hanya melirik dengan pandangan hina, karuan malu dan dongkol Cia Ing-kiat bukan main, kalau ada lobang mungkin dia sudah lari sembunyi, hanya sekejap jago jago kosen itu sudah meninggalkan Kim-hou po.

Cia Ing-kiat masih terlongong sekian lamanya, keringat membasahi sekujur badan sesaat !agi baru dia mendengar seruan Bu-bing Siansing dari bawah kaca kristal : „Apa kah orang-orang itu sudah pergi?”

Sekilas Cia Ing-kiat melirik kebawah serta menegakkan badan tanpa bersuara, maka Bu-bing Siansing berkata pula ‘ ”Keluar kan kami, kalau kau ingin mengusai Kim-hou po, akan kuserahkan benteng ini kepadamu, bagaimana?”

Bergetar badan Cia Ing-kiat mendengar tawaran ini, didengarnya Bu-bing Siansing berkata pula : „Seluruh penghnni Kim-hou-po pergi secara tergesa-gesa, pasti tidak sedikit harta benda yang masih ketinggalan, kau hanya kerja sambil lalu saja, hasilnyapnn besar, kenapa tidak lekas kau lakukan permintaanku?”

Perlahan Cia Ing-kiat mendekati pinggir empang la!u melongok kebewah, dilihatnya Bu-bing Siansing sedang mendongak kearas di bawah kaca kristal, Cia Ing-kiat hanya tersenyum getir, maklum dia tahu kepandaian sendiri rendah, Lwekang masih cetek, umpama bersuara juga takkan terdengar dari bawah, maka dia hanya menjawab dengan gerakan tangan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Agaknya Bu-bing Siansing tahu maksudnya, segera dia berkata : „Masuklah dari pintu kecil yang terletak ditembok benteng sebelah barat, geserlah meja bundar kekanan lelu tarik kebelakang, mulut lorong akan terbuka dibawah dipan, masuklah kedalam lorong itu sejauh dua puluh tombak kau akan dihadang dua daon pintu besar dan tebal, di atas pinru dipasang palang balok besar, cukup asal kau turunkan palang pintu itu, kami akan bisa keluar.’

Cia Ing hiat manggut – manggut tanda mengerti, namun dia masih berdiri menjublek sekian lamanya, baru perlahan membalik badan, langkahnya lambat dan lemas tak bersemangat.

Keadaan dalam benteng sudah cukup apal bagi Cia Ing-kiat yang pernah menetap beberapa hari di Kim hou-po, kedatangannya tempo hari dengan semangat besar demi memikul tugas rahasia yang dibebankan kepada dirinya oleh sang ayah, kedatangannya menempuh bahaya, kalau tempo hari keadaan dalam benteng dalam suasana hening tenang, demikian pula sekarang cuma bedanya sekarang hanya dirinya seorang, maka sukar dia melukiskan bagaimana perasaan hatinya. Rencana semalam yang muluk-muluk ternyata gagal total, untung jago-jago kosen itu anggap sepele dirinya, kalau tidak tentu dirinya sudah diganyang dan dihajar habis habisan Sekarang dia masih hidup tanpa kurang suatu apa namun dipandang dan dilirik sehina itu, sungguh hatinya meidelu dan sedih.

Meski perlahan namun akhirnya dia tiba didepan pintu yang ditunjuk oleh Bu-bing Siansing, dia bekerja sesuai petunjuk, setelah memasuki lorong gelap, dia memang dihadang sepasang pintu marmer besar dan tebal, pintu marmer yang dihiasi ukiran emas ini memang dipalang sebuah balik besar, tak heran dengan kemampuan Bu bing Siansing yang luar biasa tak mampu menjebol pintu berat ini serta lolos keluar.

Agaknya Ba-bing Siansing sudnh tak sabar menunggu dibelakang pintu, begitu mendengar langkah kakinya segera berterink dari dalam: „Betul tidak dipalang pintu besar? Apa kau kuat menurunkannya?”

Perlahan Cia Ing-kiat mendekat serta berkata kalem : „Ya, akan kucoba,” dengan kedua tangan dia kerahkan seluruh tenaga mengankat ujung sebelah palang pintu itu, ditengah bentakannya yang bergema d dalam lorong, balok besar itu hanya terangkat setengah lalu jatuh dltempatnya pula hingga mengeluarkan suara gemuruh, percobaan Cia Ing-kiat yang pertama ternyata gagal, diluar dugaannya, balok kayu besi ini ternyata berat luar biasa, maka dia beristirahat sejenak menentramkan napas sambil menghimpun tenaga, setelah yakin tenaganya terkerahkan dia berjongkok pasang kuda-kuda, kedua tangan menyanggah keatas, kembali dia membentak sambil mendorong keatas, begitu palang pintu terangkat dia menggeser langkah lalu melompat pergi, maka palang pintu besar itupun jatuh menggelegar menimbulkan getaran dahsyat di dalam lorong, mendadadak Cia Ing-kiat bergelak tawa.

Ditengah gelak tawa Cia Ing-kiat itulah perlahan daon pintu besar itu tedorong terbuka, Bu-bing Siansing melangkah keluar bersama Lui Ang-ing, Cia Ing-kiat masih terus ber gelak tawa sambil melangkah pergi.

Bu-bing Siansing memburu maju seraya berseru : , Kau sudah menolong kami keluar, kecuali Kim hou-po, imbalan apa pula yang masih kau inginkan, boleh kau katakan saja”

Cia Ing-kiat berhenti sambil membalik perlahan, tawanya berhenti, sejenak dia menatap kedua orang ini, lalu berkata : „Apapun tidak kuinginkan”

Berkerut alis Lui Ang-ing, katanya : .Jangan sungkan, katakan aaja apa kehendak mu ” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cia Ing kiat membusung dada serta angkat kepala, katanya : „Lui-sau-pocu, sebagai pemilik benteng ini, pasti kau masih ingat bagaimana keadaan di Kim hoj-po tempo hari? Seluruh penghuni benteng ini hidup dalam suasana tenang tentram, tiada hasrat atau punya keinginan, hidup bersahaja dalam keheningan, begitulah keadaanku, sekarang, aku ingin hidup seperti mereka dulu.”

Lui Ang mg melengak, katanya : ,,Apa kau masih ingin kelana di Kangouw …”

Belum habis Lui Ang-ing bicara, Cia ing-kiat sudah mengulap tangan, katanya : „Tidak, jikalau ada orang ingin membalas kepadaku, sejak tadi aku sudah mampus ditangan mereka.” lalu dia melangkah keluar benteng.

Bila Lui Ang-ing dan Bu-bing Siansing juga beranjak keluar dari Kim-hou-po, hari sudah menjelang magrib, tampak Cia Ing-kiat masih berdiri diianah tandus dikejauhan sana, berdiri kaku melamun ditelan tabir malam.

Sejak peristiwa itu, Kim-pou po akan terbuka untuk umum, siapa pun boleh keluar masuk secara bebas, namun sikap Cia Ing-kiat, justru mendambakan kehidupan yang tentram seperti orang orang yang terbelenggu didalam Kim-hou-po, apa yang terjadi di-dunia ini, seolah-olah sudah tiada sangkut pautnya dengan dirinya lagi.

TAMAT

—ooo0dw0ooo–

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s