Pedang Kayu Cendana

 New Picture (3)

Pedang Kayu Cendana

Oleh : Gan KH

Ebook oleh : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid 1 : Lembah mega hijau

MUSIM rontok daun-daun kuning berguguran, mega sering mendung meski jarang hujan, pada malam hari tanggal 6 bulan delapan, bulan sabit bercokol di tengah angkasa, Cahayanya yang redup menerangi jagat raya. Kentongan kedua sudah jelang. Dua puluh li dari kota Soa-tay yang terletak diperbatasan propinsi Kam-siok terdapat sebuah ceng-hun-kok, lembah mega hijau, panjang lembah kira-kira setengah li, lebarnya hanya tiga tombak. dinding gunung yang Curam menjulang tinggi dikedua samping, jalannya yang lika-liku amat berbahaya, tapi lembah sempit ini merupakan jalan raya satu-satunya yang tembus antar utara dan selatan-

Enam li dari ceng – hun – kok. terdengar derap kaki kuda yang berderap kencang, dalam remang-remang nan sunyi ini, diatas pegunungan yang terpencil lagi, maka derap kuda terdengar begitu nyata dan kumandang. Debu tampak menjulang keangkasa, dua ekor kuda tampak menerobos pesat dari ke pulan debu kuning yang bergulung-gulung itu, seekor kuda serba putih yang ditunggangi seorang laki-laki empat puluhan berwajah kereng, berwibawa dan berperawakan tegap. pedang tampak dipanggul

dipunggungnya, seorang gagah yang namanya telah menggetarkan Kangouw, pemilik dari Gi-teng-Piaukiok di Pak khia, yaitu Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping. Kawannya adalah Piausu Gi-teng-piaukiok bernama Hou Pui, setelah tugas usai di kota Kay- hong mereka menempuh perjalanan ditengah malam untuk memburu waktu pulang ke Pak-khia, supaya dimalam hari raya Tiongciu nanti mereka bisa merayakan bersama dengan segenap keluarga. Saking bernafsu Tio Kin ping jepit perut kudanya, maka kuda putihnya melaju seperti anak panah yang dikejar ke pulan debu kuning, dalam sekejap mata Hou Pui telah ditinggal seratusan tombak dibelakang.

Senyum simpul tampak menghias wajah Tio Kin- ping yang gagah dan tampan, agaknya dia bangga danpuas akan lari kuda putihnya yang dibelinya dengan harga mahal sejak masih kecil dulu. Maka dia melecut kudanya supaya berlari lebih pesat lagi, lekas sekali ceng-hun kok sudah di depan mata. Tanpa ragu dan tidak banyak pikir Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping terus bedal kudanya memasuki lembah sempit itu.

Cuaca di ceng-hun-kok agak lembab dan lebih gelap. Cahaya rembulan yang sabit dan redup hanya samar-samar melampaui celah-celah mulut dinding Curam disebelah atasnya yang tinggi, serta merta Tin Kin ping sedikit menarik kendali sehingga kudanya berlari agak lamban. “Tik, tak tik tak” tapal kuda seperti bunyi ketipung didalam lembah yang sunyi dan berdentam sampai jauh dan menimbulkan gema yang mendengung pula diujung lembah sebelah depan, sehingga merupakan paduan suara yang amat nyata bedanya dengan derap langkah kuda Tio Kin Ping. Mau tak mau Tio Kin-ping ketarik perhatiannya, habis bersuara heran dia membatin: Kecuali aku dengan Hou Pui, mungkinkah ada orang lain yang menempuh perjalanan ditengah malam ini, insan persilatan yang biasa berkecimpung di Kangouw perasaannya amat sensitip sangat peka, terutama mereka yang hidupnya bergelimang dalam kalangan Piaukiok atau expedisi, setiap saat mereka selalu meningkatkan kewaspadaan.

Oleh karena itu, Yu-Liong-Kiam Tio Kinpin juga berpikir “Tidak benar, bunyi tapal kuda ini begitu lamban dan aneh suaranya, tidak mirip seorang yang sedang buru-buru menempuh perjalanan ditengah malam didalam lembah

yang lembab dan remang-remang ini, mungkinkah dia menikmati panorama ceng-hun-kok?. jelas tidak mungkin, kalau tidak, maka pasti ada sesuatu yang janggal dan tidak beres.” Maka dia lebih memperlambat lari kudanya, serta merta dia menoleh kebelakang, tapi hanya kegelapan yang melingkupi punggungnya,jangan kata bayangan orang, suara derap kuda Hou Pui yang ditinggalkan jauh di belakangpun tidak terdengar. Hampir dua puluh tahun Yu Liong kiam Tio Kin-ping terjun dalam percaturan dunia persilatan, sudah betapa kali dia mengalami mara bahaya dalam setiap pertempuran besar kecil, berapa kali pula jiwanya tertolong dari renggutan elmaut, dia cukup setimpal diagulkan sebagai Enghlong, laki-laki gagah perkasa berjiwa ksatria, apapun berani dihadapinya dan dilawannya, belum pernah sekalipun dia mengerutkan kening. Kungfunya tinggi, tapi dia tidak sombong, belum genap dua puluh tahun dia berkecimpung di Kangouw, nama besarnya sudah mengungkuli para pendekar besar yang lain, bahwa Gi-teng Piaukiok mampu tegak sampai sekarang adalah berkat usahanya yang gigih tak kenal putus asa. sifatnya supel terbuka tangan, tapi keras hati dan jujur, kaum persilatan sama memuji dan mengaguminya, siapa yang tidak kenal Gi-teng Piaukiok dari Pakkhia, dalam setiap pembicaraan di hotel atau restoran siapapun unjuk jempol bila menyinggung pemilik Piaukiok yang masih muda usia dan berhasil memimpin usahanya dengan sukses. Belum pernah dia merasa gentar atau takut. Tapi sekarang berbeda, dia seperti mendapat firasat jelek, “tik tak tik tak” bunyi tapal kuda yang lamban dan berat, seperti menusuk Sanubarinya, sehingga dia merasa risi dan kurang enak, hatinya menjadi tegang dan merinding pula, seakan-akan ada segulung hawa dingin yang merembes kedalam tubuhnya lewat tengkuknya, sehingga dia bergidik, terutama kaki tangan menjadi berkeringat dingin-.. Diam-Diam dia menyesal, kenapa membedal kudanya yang mampu lari seribu li sehari tadi, sehingga Hou Pui jauh ketinggal dibelakang, kalau dua orang bersama, Sedikit banyak bisa saling bantu dan menambah keberanian, Secara reflek pelan-pelan Sebelah tangannya terangkat menggenggam gagang pedang dipunggungnya. Bulan Sabit seperti melonjak diangkasa raya sehingga lebih tinggi, maka cahaya dalam lembah seperti agak terang. Diam-Diam Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping tertawa geli sendiri dan mentertawakan dirinya: “Tio Kin-ping, Tio Kin ping, kau terhitung Piauthau yang sudah terkenal di kangouw, laki-laki

perkasa yang berani berbuat berani bertanggung jawab di-utara sungai besar. Kenapa sih aku hari ini, kenapa begini penakut.” Belum habis benaknya bekerja, bunyi tapal kuda didepannya mendadak berhenti, tak urung Tio Kin-ping bersuara heran, sungguh dia merasa amat heran, dia tak habis mengerti apa sebetulnya yang bakal terjadi. Dalam pada itu Tio Kin-ping sudah berada dipengkolan lembah, dipunggung kuda-nya Tio Kin-ping membusungkan dada serta membetulkan letak duduknya, kuda putihnya segera membelok mengikuti arah lekukan, tubuh Tio Kin-ping yang tegak bercokol itu seketika seperti kaku dan tidak mampu bergerak lagi.

Kira-Kira dua puluhan tombak. dibawah penerangan cahaya rembulan yang remang-remang, didepan sana berdiri seekor kuda putih pula yang tinggi tegap dan perkasa, kuda putih miliknya yang amat disayang, paling dibanggakan dan pilihan Satu diantara Seribu ternyata juga tidak lebih unggul dibanding kuda putih didepan itu.

Perbandingan antara dua kuda putih tidak perlu dirisaukan, yang mengherankan adalah orang yang duduk dipunggung kuda putih itu, pengalaman luas dan pengetahuanpun cukup banyak. tapi Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping menarik napaS dingin dan bergidik Seram mengawaSi orang ini. Dipunggung kuda putih didepan itu duduk bayangan putih yang kaku, dari kepala, badan Sampai kaki tangannyapun Serba putih. Kuda putih orangnyapun putih, keduanya berdiri diam tak bergeming lebih menggiriSkan adalah penunggang kuda putih itu tak ubahnya seperti mumi yang telah kaku dan mati sejak ribuan tahun lalu, kepalanya tampak agak miring, kedua kakinya semampai dan kaku dikedua samping, meski keadaan agak gelap. tapi warna serba putih ini tetap cukup menyolok dan menarik perhatian juga .

Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping mengawasi dengan mendelong, sementara kuda putihnya tetap melangkah dengan lambat, maju dan maju terus. Dari belasan tombak tinggal lima tombak, akhirnya jarak tinggal tiga tombak lagi, dalam jarak yang sudah dekat ini. pandangan Tio Kin-ping lebih jelas lagi, ternyata orang dipunggung kuda putih itu dari kepala sampai dtujung kaki dibalut oleh perban sutra berwarna putih, sehingga perawakannya tampak kaku, tak ubahnya seperti mumi, tapi kedua bola matanya yang

seperti “keluar” dari balutan perban itu justeru terasa dingin yang menyedot sukma orang, rona matanya jelas menunjukkan bahwa dia manusia dan bukan mayat hidup, tanpa berkesip bola mata mencorong itu menatap tajam pada Tio Kin-ping yang maju semakin dekat, dipinggir pelana tampak bergantung sebatang gendewa besar warna merah darah, sehingga perpaduan warna yang kontras ini kelihatan nyata.

Tio Kin-ping tak berani beradu pandang dengan sorot mata orang yang dingin seperti memancarkan daya magic itu, entah kenapa badannya ternyata bergidik dan merinding. Mayat gentayangan? Atau mungkinkah manusia yang dibalut perban sutra ini belum mati, dalam sekejap ini, otak Tio Kin-ping seperti beku dan tak sempat pikirkan segala keanehan yang dihadapinya, kuda tungga ngannya masih terus beranjak kedepan, namun jarak tiga tombak ini rasanya seperti tiga puluh li amat panjang, sangat jauh.

Tio Kin-Pin sampai tidak berani menarik napas besar, jantungnya seperti sembunyi dibawah kulit dan siap mencotot keluar tanpa terasa keringat dingin sebesar kacang telah berjatuhan didahinya. Sekonyong-konyong segulung hawa panas seperti merangsang sanubarinya, tiba-tiba perasaannya seperti berhenti, ingin dia menyaksikan dari dekat, manusia kaku yarg dibalut perban sekujur badannya ini masih hidup atau sudah mati ? Diam-Diam ia membatin: “Biasanya aku agulkan diri sebagai kaumpendekar, menghadapi kejadian aneh ini, mana boleh aku berpeluk tangan, jikalau dia tidak mati dan memerlukan bantuan orang lain, adalah jamak kalau aku menolongnya.” Waktu dia angkat pandangannya, ternyata tatapan tajam kedua bola mata orang yang menyala dingin tengah melotot kepadanya, kontan dia bergidik merinding pula, rasa takut seketika membayangi sanubarinya .

Selama ini belum pernah dia mengalami kejadian seganjil yang dihadapinya sekarang, namun lubuk hatinya serta merta berkeputusan bahwa hari ini, sekarang bagaimanapun dia tidak boleh mencampuri urusan orang lain, tak boleh menyentuh manusia kaku yang dibalut perban putih ini, mungkin dia akan sempat keluar dari ceng-hun kok, terhindar dari perkara malam ini, karena bukan mustahil kematian telah mengintai jiwanya. Karena giris ditatap sorot mata mayat hidup yang kaku itu, lekas Tio Kin ping menarik pandangannya dan menunduk kepala, lalu keprak kudanya

supaya jalan lebih Cepat, seolah-olah dia juga merasa dirinya jadi besi dan kaku, seperti tidak mampu bergerak. namun dia memang tidak berani bergerak.

Sang waktu seperti merambat, langkah kudanya dirasakan seperti semut berjalan, selambat keong merambat. Akhirnya dia lewat disamping kuda putih itu, terhindar dari tatapan sorot mata yang dingin berwibawa dari mayat hidup terbalut perban sutra ini, dia tidak berani menoleh, setelah menarik napas panjang, terasa lega hatinya, rasa takut yang menghantui hatinya sedikit mengendor sementara kudanya terus maju kedepan semakin cepat.

Tapal kuda putih kembali berdentam memecah kesunyian dilembah mega hijau menimbulkan gema suara nyaring dan mencekam. Secara reflek Tio Kin ping menarik kekang entah rasa kejut yang bukan main, entah karena ketarik ? Atau tidak kuasa menahan rasa kaget dan ingin tahunya, karena dentam tapal kuda yang perlahan itu seperti menggetar sanubarinya, waktu dia menoleh kebelakang, dilihatnya kuda putih itu seperti melayang seenteng mega ditiup angin lalu, sekali melompat satu tombak lebih jauhnya. Tak heran derap langkahnya terdengar lamban, berat dan nyata.

Manusia dibungkus perban putih itu jelas masih hidup, akhirnya Tio Kin ping yakin bahwa dugaannya benar, karena dia lihat mayat kaku dibalut perban itu telah merenggut gendewa besar dan memasang panah serta mulai membidik. Dengan kaget lekas Tio Kin-ping membalikkan kudanya, serta merta diapun genggam gagang pedangnya, hatinya takut, karena dia tidak tahu musuh yang dihadapinya ini betul-betul manusia atau setan penasaran yang berkuasa di lembah ini dan menuntut balas kepada manusia yang lewat disini.

Kini sudah jelas bahwa mayat hidup semacam mumi ini mengandung maksud jahat terhadap dirinya, karena dilihatnya mayat hidup itu sudah meraih gendewa dan membidikkan panahnya yang berwarna merah itu kearahnya. Begitu melihat gaya dan gerakan lompatan kuda putih lawan, Tio Kun ping seperti mendapat firasat bahwa hari ini dirinya pasti tak luput dari renggutan elmaut, meski dia tahu kuda tunggangannya sendiri adalah kuda jempol yang dapat lari seribu li sehari, karena gerakan kuda lawan adalah

sedemikian cepatnya, padahal kelihatan kuda itu hanya melompat ala kadarnya, tanpa banyak membuang tenaga, lompatan santai tapi jangkauannya ternyata cukup jauh dan meyakinkan- Serta merta Tio Kin-ping menghentikan kudanya dan siap tempur mengadu jiwa, walau rasa takut yang belum pernah dirasakan menghantui sanubarinya tapi dari pada menunggu ajal secara pcrcuma, dia siap mencoba dan berjuang dengan kepandaian pedangnya mungkin situasi tidak seburuk yang diduganya semula.

Tik tak tapak kuda, kaki depan kuda putih itu anjlok begitu ringan menyentuh bumi, seringan daon seperti kuda inipun memiliki ilmu Ginkang yang tinggi, sekali lompat jarak lebih diperpendek tinggal beberapa tombak saja, hanya suara tik tak dua kali itulah yang bergema dalam lembah, ternyata kuda putih tidak melanjutkan gerakannya samar-samar To Kin-ping melihat bayangan putih tidak jauh didepannya tanpa bergerak dan tidak bersuara pula. Dalam suasana sunyi yang mencekam, di lembah sunyi nan lembab ini, berhadapan dengan mayat hidup yang nyata dan mengerikan ini, meski Tio Kin-ping banyak pengalaman dan luas pergaulannya mau tidak mau mengkirik bulu kuduknya.

Ditengah ketegangan itu, jantungnya berdegup semakin kencang, terasa ujung panah yang merah darah itu seperti ditujukan kearah ulu hatinya, dengan kencang dia genggam gagang pedangnya, siap siaga dan menatap penuh kewaspadaan namun dia tidak berani melolos pedang, tapi juga tidak berani melepas pegangan gagang pedangnya pula. Dia merasa pandangannya seperti makin kabur, dengus napasnyapun makin memburu, keringat sudah membasahi ujung hidung dan jidatnya.

Sekonyong-konyong bayangan putih yang sembunyi ditempat gelap itu mengeluarkan ringkik tawa yang aneh, seperti lolong serigala, juga mirip pekik setan penasaran, semakin kuncup nyali Tio Kin-ping, bulu romanya pada berdiri semua. “Sret” pada saat itulah selarik sinar menyala tampak meluncur di bawah penerangan sinar rembulan, kelihatannya pelan-pelan melesat kearah Tio Kin-ping. Kelih atan lambat, tapi kenyataan panah itu melesat cepat sekali, dalam jarak dekat pula, daya luncurnyapun ternyata amat keras, kecuali bunyi

busur yang sedikit menjepret waktu anak panah dilepas, luncuran anak panah itu sendiri sedikitpun tidak mengeluarkan suara, tahu-tahu sudah membidik ulu hati.

“Sreng” sigap sekali Tio Kin-ping telah melolos pedang, dimana sinar pedangnya berkelebat dia menekan tubuh serta menurunkan tangan sembari membalik pergelangan tangan menepis sekaligus menyampok anak panah yang menyambar tiba. “Trang” benturan keras yang di sertai lelatu api memecah kesunyian di ceng-hun kok ini, kontan Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping rasakan seluruh lengannya tergetar kaku dan linu, telapak tangannya panas dan pecah berdarah, pedang mestikanya tak kuasa dipegang lagi, terpental terbang dan jatuh berkerontang diatas tanah, anak panah merah darah itu hanya sedikit tertahan dan merandek tapi daya luncur dan arahnya tidak berubah tetap mengincar ulu hati.

Bahwa pedangnya terpental lepas sementara panah musuh tetap mengincar ulu hati-nya, karuan Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping kaget dan pucat mukanya, sorot matanya terbeliak memancarkan rona yang sukar diraba, seperti bayangan elmaut yang menakutkan telah merenggut jiwanya . Itulah refteksi dari sikap seseorang bila menghadapi rasa kaget dan ketakutan disaat kematian sudah diambang mata.

Dalam sekejap itu terbayang olehnya akan rumah dan keluarganya yang hangat dan sentosa, keluarganya tengah menunggu kedatangannya untuk merayakan malam Tiongciu, dia ingin meronta, bayangan isteri dan putrinya seperti menjerit dan memekik ngeri, namun dimana darah muncrat, panah merah itu sudah menembusi ulu hatinya, “Blam” tubuhnya jungkir balik berdentam dibawah kaki kudanya, sekujur badannya mengejang dan berkelejeran sekali, akhirnya lemas lunglai, napasnya putus jiwanya melayang.

Mayat hidup yang diperban serba putih itu tetap bercokol dipunggung kudanya tanpa bergerak. sorot matanya yang kemilau itu tampak memancarkan rasa kecewa. Kematian Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping amat mengerikan, kedua bola matanya melotot besar, darah tampak mengucur deras dari dadanya, sebuah boneka kain menggeletak tak jauh disamping tubuhnya, berlepotan

darah pula, boneka kain yang pernah dia janjikan sebagai hadiah kepada putrinya yang masih kecil sepulangnya dari perjalanan ini. Tio Kin-ping mati secara penasaran dan tidak tahu siapa pembunuhnya, sudah tentu kalau dia mati tidak meram.

Derap kaki kuda yang berlari kencang berkumandang tak jauh dimulut lembah, mayat hidup dibungkus kain perban itu masih tetap tidak bergeming dari tempatnya. Lekas sekali lari kuda itu sudah dekat, suara deru senjata tajam tahu-tahu sudah mendera tiba membacok keatas kepala mayat hidup itu. Tapi di mana bayangan merah bergerak tahu-tahu mayat hidup itu sudah angkat gendewanya menangkis, “Trak” Hou Pui seperti dilanda oleh gempuran tenaga dahsyat goloknya terbang ketengah udara, “Bluk” diapun jungkir balik diatas tanah.

Kembali terpancar rasa kecewa pada lirikan mata mayat hidup kearah Hou Pui yang disampoknya jungkir balik, tiba-tiba kuda putih melompat jauh pula, suara tik tak dari lambat semakin cepat, sekejap saja sudah jauh dan tidak kelihatan lagi. Cepat Hou Pui merangkak bangun dan memburu kedekat Tio Kin-ping, melihat betapa mengerikan kematian sang majikan, tak tertahan Hoa Pui menangis gerung-gerung.

Putri malam sudah merambat lebih tinggi sehingga sebagian besar lembah menjadi terang oleh Cahayanya, hembusan angin dingin di musim rontok menderu kencang, membawa isak tangis yang memilukan. Kematian Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping, Piauthau Gi-Teng Piaukiok amat mengejutkan dan menggemparkan seluruh kota Pakkhia, dunia persilatanpun ikut geger.

Ternyata pembunuhan kejam itu tidak berhenti demikian saja, berita duka kekejaman di ceng-hun-kok terus berlangsung, sejak tanggal enam bulan delapan itu, dalam jangka satu bulan, mayat hidup berselubung perban putih itu beruntun telak membunuh empat puluh delapan jiwa dengan Cara yang sama, perduli orang yang lewat atau mereka yang meluruk kesana mau menuntut balas, semuanya jadi korban dengan jantung ditembusi anak panah.

Dari manakah asal datangnya dan kemana pula arah perginya mayat hidup yang seperti mumi itu ? Apa tujuannya main bunuh secara kejam ? Manusia jadi-jadian atau mayat hidup sungguh-sungguh ? Sejauh ini belum pernah ada orang yang bisa mengungkapkan rahasia ini. Yangj adi korban anak panah merah itu ada pendekar besar yang kenamaan di Kang-ouw, ada pula gembong penjahat atau begal besar yang merajai dunia persilatan, tapi betapapun tinggi orang-orang yang meluruk ke ceng-hun-kok, tiada satupun yang mampu mengusik seujung rambut mayat hidup itu, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi ilmu-silat mumi itu.

Kalau kekejaman itu terus berlangsung dilembah mega hijau, tapi dalam jangka waktu yang sama, tidak sedikit pula orang-orang persilatan yang selamat lewat di ceng-hun-kok. meski mereka sudah berhadapan langsung dengan mumi itu. Berita buruk itu masih terus tersiar, mereka yang jadi korban adalah muda- mudi dari keluarga sikorban yang ingin menuntut balas kematian saudara atau orang tuanya, ada pula yang menuntut balas kematian kawan karibnya.

Dari sekian banyak korban itu, akhirnya orang banyak menyadari bahwa semua orang yang mati dibawah panah murni itu semuanya bersenjata pedang. Tapi siapa berani bertaruh pada jiwa raga sendiri untuk membuktikan kebenaran kenyataan ini, maka ceng-hun-kok akhirnya diganti namanya menjadi Bong-hun-kok (lembah pelenyap nyawa), sementara mumi atau- mayat hidup yang terbalut perban itu dijuluki Toh-bing-sip-mo (mayat iblis pencabut sukma)

Lama kelamaan orang jarang yang berani lewat ceng-hun-kok. jalan raya satu-satunya yang menghubungkan utara dan selatan yang biasanya ramai menjadi sepi, memang sering terdengar suara tik tak tik tak dari derap kaki kuda yang berat dan lamban, serta gelak tawa yang mengerikan seperti jeritan pekiksetan, keCuali itu keheningan seperti mencekam seluruh lembah itu. Lembah yang sudah bertabur darah mengering, diliputi suasana magic yang sangat menakutkan.

MALAM nan sunyi, alam semesta seperti pulas dalam tidurnya, hanya deru angin di musim rontok yang tidak berhenti menghembus lalu, menjadikan suasana terasa sepi dan serba menyedihkan Hanya cahaya rembulan tampak hangat dan lembut, cahayanya yang redup secara merata menyinari jagat raya, hingga malam yang sepi menyedihkan ini diliputi kehangatan, jagat yang gelap gulita ini, diberi secercah cahaya.

Pada tegalan liar diluar kota Sia-tay, semak belukar tumbuh diantara batu-batu yang bertaburan, turun naik tidak merata. Seekor kuda perkasa tampak berlari berlompatan memecah kesunyian malam diantara tegalan yang berbatu-batu itu, dibawah cahaya yang remang-remang tampak penung gangnya bertubuh tinggi kurus. Usianya belum genap empat puluh, memelihara kumis, kedua matanya memancar terang, sebatang pedang panjang tampak digendong dibelakang punggungnya, orang ini adalah ahli pedang nomor satu didaerah utara sungai yang terkenal di Kangouw, yaitu Bok kiam-ciong-siau Pak kiong Bing.

Sejak berkecimpung dikalangan Kangouw Bok- kiam-ciong-siau Pakkiong Bing dengan sebilah pedang kayu cendana telah malang melintang di utara sungai besar, selama ini belum pernah ketemu tandingan, maka dia di anugerahi gelarahli pedang nomor satu di utara sungai besar dengan julukan Bok-kiam ciong-siau artinya pedang kayu menjulang ke awang-awang.

Pakkiong Bing memperoleh kepandaiannya dari seorang aneh yang tidak dikenal namanya, pedang kayu cendana ditangannya ini pun merupakan pedang mestika bagi kaum persilatan umumnya, kecuali digunakan sebagai senjata, apakah pedang kayu cendana ini masih ada manfaat lainnya, tiada seorangpun yang tahu, sampai pun Pakkiong Bing sendiri juga belum berhasil menyelami kesaktian pedang kayunya itu.

Watak Pakkiong Bing memang angkuh, namun sikapnya terhadap sesama kaum persilatan cukup supel dan tuIus, pengalaman luas pengetahuan mendalam, pergaulannya luas, adalah jamak kalau temannya banyak. Tetapi dia paling benci kejahatan, tidak sedikit kaum Liok-lim (begal) dari kalangan hitam yang kecundang olehnya, maka dirinya dipandang sebagai

duri didepan mata mereka, tidaklah sedikit yang berusaha melenyapkan jiwanya.

Hari ini dia buru-buru menempuh perjalanan, seorang diri menunggang kuda peliharaannya menuju tegalan diluar kota Sia-tay ini, agaknya akan ada peristiwa penting yang bakal terjadi. Bok- kiam-ciong-siau Pakkiong Bing menarik tali kekang kudanya, sinar matanya seperti kunang-kunang ditegalan yang remang-remang itu, kepalanya celingukan dan matanyapun jelilatan memeriksa sekelilingnya, akhirnya keningnya berkerut, dia membatin: “Tempat yang ditunjuk dalam undangan itu jelas adalah disini. Kenapa bayangan setanpun tidak kelihatan, memangnya mereka ingkar janji ? Yakin tidak, lalu mengapa mereka mengundangku kemari ?”

Dia menengadah melihat cuaca, perut kuda dikempitnya serta mengepraknya maju lebih jauh, tapal kudanya berdentam cukup keras diantara batu-batu gunung, langkahnya pelan tapi penuh kesiap siagaan. Tak lama kemudian Pakkiong Bing sudah melewati sebidang tanah tegalan yang turun-naik, kini berada didepan sebidang hutan bambu, hembusan angin lalu menarikan pohon bambu sehingga terdengarlah paduan suara gesekan daon-daonnya yang rimbun.

Kembali Pakkiong Bing menarik tali kekang kudanya, sorot matanya menatap dengan rasa curiga dan waspada, hatinya jadi kurang tentram, pikirnya: “Gembong iblis tua itu amat licin dan keji, banyak muslihatnya lagi agaknya… ” “Awas ” Sebuah hardikan rendah bergema dari sana, dua titik sinar dingin tampak melesat dari hutan bambu, deru luncurannya amat kencang, itulah dua biji Bok cu-gin-so. Pakkiong Bing tersentak kaget, pikirnya: “Kiranya Bok- cu-gin-so Tan Toa-pin juga datang, jelas saudara angkatnya yang mestika itu Hwe-bu-siang Lao Hin-bupasti juga tidak absen.” “Keparat kau Tou Pit lip. pandai juga kau mengatur muslihatmu, Tiang-pek-ji-gui musuhku dahulu itu juga kau pancing kemari.”

Begitu melihat daya luncuran Bok-ci-gici-so (rajutperak ibu beranak) itu, Pakkiong Bing lantas mendapat firasat bahwa permusuhannya dengan Hoat-cing (telapak berdarah) Tou Pit- lip malam ini pasti sukar dibereskan secara damai, menurut situasi yang dihadapinya sekarang, pihak lawan

pasti sudah mengatur rencana dengan segala daya upaya hendak menuntut balas sakit hatinya terhadap dirinya. Maka tanpa banyak pikir, sekali tangan terayun Pakkiong Bing pukul balik kedua rajut perak itu, serunya dengan gelak tawa temberang: “Gui-lotoa, beginikah caramu menyambut kedatangan tamu ?”

Terdengar orang menggeram didalam hutan, menyusul empat titik sinar perak menyamber keluar pula. Karuan Pakkiong Bing naikpitam, entah bagaimana dia bergerak tahu-tahu tubuhnya sudah meninggalkan pelana, tubuhnya melambung tinggi terus menubruk kearah datangnya senjata rahasia, gerak-geriknya lincah dan tangkas luar biasa. Keempat titik sinar perak itu menyambar lewat dibawah kakinya dan berkerincing jatuh diatas batu menimbulkan percikan kembang api.

Di tengah udara Pakkiong Bing sudah menghimpun tenaga, kedua tangan didorong dari depan dada, segulung angin dahsyat menerpa kedepan, pohon bambu seperti didera badai yang mengamuk sama tersapu roboh. Namun cuaca tetap remang-remang, angin lalu tetap menghembus sepoi-sepoi, pohon bambu masih menari gemulai, tapi tak tampak bayangan manusia. Mau tak mau Pakkiong Bing bersuara heran, pikirnya: “Mungkinkah pandanganku pada malam ini kabur?”

Begitu berdiri tegak pula kedua tangannya diluruskan, langkahnya lambat dan mantap maju kedepan, beberapa tombak telah di capainya, tapi pandangan Pakkiong Bing setajam kilat itu tidak menemukan bayangan seorangpun, suara sentuhan perlahanpun tak terdengar. Sekonyong-konyong tidak jauh dibelakangnya, ditempat pohon-pohon bambu yang tersapu roboh oleh pukulannya tadi, terdengar jengek tawa dingin, lalu berkata seseorang dengan nada sinis. “Jangan jual lagak disini Pakkiong Bing, kalau berani silahkan masuk lebih lanjut.”

Lenyap suaranya maka tampak sesosok bayangan orang seperti burung raksasa telah melesat terbang dari atas kepala Pakkiong Bing menutul dipucuk bambu sebelah depan terus meluncur kearah depan- Pakkiong Bing menggeram dingin, tiba-tiba tubuhnya melejit ke atas terus mengudak kemana orang tadi pergi, Tapi bayangan orang itu telah melambung pula begitu kakinya menutul pucuk bambu, jadi tidak

menunggu Pakkiong Bing sempat menginjak pucuk bambu, tiba-tiba pergelangan tangannya bergerak seraya membentak: “Turun.”

Empat bintang perak terbagi atas, tengah dan bawah menderu kencang menyambar tiba. Hebat memang kepandaian Pakkiong Bing, menghadapi bahaya tapi tidak gugup, sebelum rajut perak lawan menyerang tiba, dia sudah menarik napas, begitu ujung kaki menginjak pucuk bambu, berbareng dia menekuk tubuhnya kebelakang dengan gaya Liu-si-sui-Liong pohon meliuk mengikuti arah angin, tubuhnya jadi bergelantung kebelakang dan bergontai dua kali, tiba-tiba dia menghembuskan napas pula sambil membalik tubuh, ujung kaki menutul secepat angin lesus tubuhnya sudah melambung kedepan dengan kecepatan kilat mengudak kearah bayangan tadi.

Tiba-Tiba dilihatnya bayangan orang didepan anjlok kebawah terus lenyap dan tak keruan parannya diantara pohon-pohon bambu, Pak-kiong Bing sudah kebacut naik pitam, masa dia sudi membiarkan lawan ngacir tanpa diberi hajaran setimpal, sambil menghardik murka dia percepat daya luncuran lubuhnya, beruntun dua kali selulup timbul, dia sudah mengudak ke tempat dimana bayangan tadi lenyap.

Disini Pakkiong Bing bersuara heran pula. Selepas mata memandang, ternyata pohon-pohon bambu disini telah terpapas roboh dengan tebasan pedang tajam, seluas tiga tombak. jadi merupakan barisan bambu, tinggi bambu yang tegak kira-kira tujuh kaki, semuanya berbentuk runcing yang tajam. Ditengah barisan bambu sana berdiri seorang laki-laki bertampang beringas, bibirnya yang tebal merah darah, pipinya yang besar justru pesek, kedua kupingnya panjang lencir, tampangnya yang buruk memang luar biasa, laki-laki ini bukan lain adalah salah satu dari Tiang-pek-ji-gi, Bok cu-gin-so Tan Toa pin-

Tanpa pikir Pakkiong Bing segera melejit kedepan dengan gerakan ringan hinggap dipucuk sebatang bambu runcing lima kaki di depan Tan Toa-pin, wajahnya tampak kereng dan berwibawa, belum lagi dia sempat bersuara, ujung matanya segera menangkap gerakan empat bayangan orang yang memencar diri.

Laki-Laki terdepan bertubuh kurus pendek. bermata tunggal beralis putih, wajahnya seperti mayat hidup, dia bukan lain adalah adik angkat Tan Toa-

pin, salah satu dari Tiangpek-ji-gui pula, yaitu Hwe-busiang hao Hiu-bu. Dua orang yang lain satu putih yang lain hitam. tampangnya mirip satu sama lain, berperawakan sedang tapi berotot keras, mereka bukan lain adalah Im-yang-boan-koan Ti Bui dan Ti Bu, tokoh kalangan hitam yang terkenal paling sukar diajak kompromi.

Seorang lagi berwajah culas kaku, memelihara jenggot kambing, dia inilah kakek yang mengirim surat undangan untuk pertemuan dimalam ini, gembong iblis yang paling ditakuti dari kalangan hitam Hiat- ciang Tou Pit lip. Begitu berdiri tegak Hiat-ciang To Pit- lip segera bertolak pinggang seraya terloroh panjang seperti bunyi kokok beluk yang kesusahan, suaranya brengsek dan memekak telinga mulut tertawa tapi kulit daging mukanya tetap kaku dingin, katanya kemudian. “Pakkiong Bing ternyata kau dapat dipercaya, hari ini tibalah saatnya kita melunasi hutang piutang lama, hutan bambu ini bakal menjadi tempat pekuburanmu,” Habis berkata kembali dia terloroh-loroh. Menghadapi situasi yang cukup gawat ini Pakkiong Bing tahu bahwa hari ini terpaksa dia harus berjuang mati-matian menghadapi gembong-gembong iblis yang terkenal culas dan jahat ini. Meski tahu situasi tidak menguntungkan dirinya, tapi Pakkiong Bing yang tak pernah gentar ini tetap berpikir dengan kepala dingin. Baru saja Tou Pit-lip rampung bicara, segera dia balas mengejek.

“Lakon yang pernah kalah buat apa jual lagak temberang lagi, berapa kali aku Pakkiong Bing menaruh kebajikan kepadamu, sungguh tak nyana kalian masih tidak kapok dan bertobat, agaknya Pakkiong Bing harus merenggut jiwa kalian dengan kedua tanganku ini, baiklah kalaujalan itu yang kalian tempuh, akupun tidak perlu sungkan lagi, kalian ingin mati satu persatu ? Atau.. “

Mengingat mata adiknya yang picak karena perbuatan Pak-kiong Bing, Tan Toa-pin segera naik pitam mendengar olok-olok-nya. Bila Hiat ciang Tam Pit lip Sebelumnya sudah berpesan padanya, sejak diluar hutan tadi dia sudah akan melabrak musuhnya yang temberang ini. Maka sebelum Pakkiong Bing bicara habis, dia sudah berjingkrak gusar, bentaknya: “Pakkiong Bing, jangan kau menangnya sendiri dalam adu lidah, mar., kau

layani aku Tan Toa-pin, akan kutunjukkan kelihayanku sekarang tni, supaya kau tidak begini temberang “

Melihat seorang lawan telah terpancing kemarahannya, diam-diam girang hati Pakkiong Bing, tidak memapak tantangan lawan, dia malah menyingkir lima kaki jauhnya, lalu mengejek pula memancing suasana. “Bagus, Gui-lotoa, kau ingin menyerahkanjiwa lebih dulu, Pakkiong Bing justru tidak sudi terima, yang terang kalian lima gentong nasi ini maju bersama juga sama saja.” Begitu tubrukannya tidak mengenai sasarannya, Tan Toa-pin mencelat tinggi sambil membelokarah terus menubruk pula.

Diam-Diam Pakkiong Bing sudah ambil ketetapan untuk merobohkan lawan satu persatu, begitu Tan Toa-pin menubruk pula, dia tidak mau sungkan pula, segera pasang kuda-kuda merendahkan tubuh kedua tangan terus didorong dengan jurus Joh-cui- tam-hoa (menyibak air merogoh kembang), deru angin yang dahsyat kontan menerjang kearah Tan Toa-pin, serangannya ini ternyata telah menggunakan Jiong-jiu-hoat.

Tan Toa-pin masih terapung di udara, tahu-tahu tubrukannya disambut dengan pukulan dua tangan, karuan bukan kepalang kaget hatinya, sambil kertak gigi diapun lintangkan kedua tangan dengan jurus Ui-Liong- jut-hay (naga hitam keluar laut), secara kekerasan dia lawan gempuran lawan- Karena tubuhnya terapung dalam hal pengerahan tenaga jelas Tan Toa-pin tidak sekokoh lawannya yang telah pasang kuda-kuda, apalagi lwekang Pakkiong Bing memang setingkat lebih tinggi dari dirinya.

“Blaaar” Setelah ledakan dahsyat, tampak tubuh Pakkiong Bing menggeliat dengan sebelah kakinya mundur kepucuk bambu dibelakang baru dia kuasa kendalikan tubuhnya. Tapi Tan Toa-pin tertolak mumbul ketengak udara, seperti bola membal sejauh beberapa tombak, kedua lengannya terasa amat linu lunglai, darah bergolak dirongga dadanya, diam-diam dia mengakui kelihayan lawan- Pakkiong Bing sudah berkeputusan untuk menyikat lawannya satu persatu, maka serangannya tidak menaruh belas kasihan pula, dia insyaf bila hari ini dia tidak bertindak tegas, bukan mustahil jiwa raganya sendiri yang menjadi bulan-bulanan kelima musuhnya.

Maka begitu menguasai diri pula, segera dia melejit maju kearah Tan Toa-pin yang belum sempat pernah kan diri, dimana kedua tangannya terbuka, tangan kanan dengan jurus Hong-cian jan-hun (angin menggulung sisa mega) tangan kiri dengan tipu clok-poh-thian-kang (batupeCah langit kaget), deru angin pukulannya setajam pisau, dua jurus dilancarkan sekaligus seCara berganda. Baru saja kaki berdiri dan tubuh belum tegak, angin pukulan lawan telah mendera tiba pula, setelah merasakan kelihayan lawannya, kali ini dia sudah kapok tak berani melawan seCara kekerasan pula, tersipu-sipu dia melompat mundur sejauh mnngkin.

Tapi Pakkiong Bing tidak memberi kesempatan langkahnya setangkas kera menari dipucuk pohon, tangannyapun serabutan melancarkan pukulannya, kali ini tangan kanan bergerak dengan jurus Kuigak-kip-cau (gagak pulang ribut bersama), bayangan telapak tangannya seperti bersusun semuanya menepuk ke arah Tan Toa-pin, sementara telapak kiri tahu-tahu menyelonong kesamping mengintai kearah bambu tempat berpijak Tan Toa-pin dengan tipu Me-ja-tam hay. Setelah terpukul mabur oleh gempuran Pakkiong Bing tadi, Tan Toa-pin sudah terdesak dibawah angin, kini dicecar pula dengan gencar, kesempatan untuk ganti napaspUn tiada, karuan dia semakin keripuhan.

Kini belum lagi berdiri tegak, sebelum dia sempat mengumpulkan hawa murninya yang tercerai berai, bayangan telapak tangan lawan dengan deru anginnya yang hebat telah mengepruk batok kepalanya pula. Saking kagetnya Tan Toa-pin membuang tubuhnya kebelakang, pikirnya hendak berkelit dari samberan angin pukulan Pakkiong Bing yang dahsyat, tetapi pada saat yang sama itu, “Pletak.” Tahu tahu kakinya seperti menginjak tempat kosong, dan “Blang” dengan telak pula dadanya kena digenjot secara telak oleh pukulan lawan, ditengah jeritannya yang ngeri tubuhnya yang terpental roboh itu cecel dowel tertembus bambu-bambu runcing, matinya amat mengenaskan-

Tan Toa-pin terlalu memandang enteng lawannya, maka Pakkiong Bing yang memperoleh kesempatan menggasaknya sampai ajal hanya dalam empat jurus belaka, sang kakak dari Tiang pekji-gui yang terkenal didunia persilatan akhirnya terpukul mampus ditangannya inipun diluar dugaan Pakkiong Bing sendiri.

Waktu Bok- cu-gin-so menyergap musuh sejak diluar hutan bambu tadi, Hiat ciang Tou Pit- lip merasa kurang senang, namun setelah dipikir, mending juga, sedikit banyaknya untuk menguras tenaga dan hawa murninya Bok- kiam-ciong-siau Pakkiong Bing maka waktu Hwe-bu siang Lao Hin-bu hendak tampil membantu saudaranyapun telah dia cegah, sunggUh siapapUn tidak mendUga bahwa Tan Toa-pin bakal ajal begitu cepat dan gampang ditangan Pakkiong Bing, mati dengan tubuh tertusuk bambu runcing secara mengenaskan.

Belum lenyap jeritan Tan Toa pin yang mengerikan itu, sebuah pekik keras seperti amukan banteng gila berkumandang pula diluar arena, belum lenyap pekik keras itu bayangan orangpun telah menubruk tiba. Pakkiong Bing merasa adanya deru angin tajam yang mengancam punggung dan tengkuknya, tanpa menoleh kakinya sebat sekali telah melangkah maju serta beralih kedudukan kesebelah samping sejauh satu tombak lebih.

Kaki kanan menginjak pucuk bambu runcing sementara kaki kiri Pakkiong Bing menyapu kebelakang satu lingkar, sebat sekali tubuhnya telah berputar, bukan saja secepat kilat pula indah gemulai. Waktu dia angkat kepala, penyergap ternyata adalah Hwe-bu-siao Lao Hin-bu. Begitu sergapannya mengenai tempat kosong, sekilas ujung kaki menutul ujung bambu, badannya lantas melejit maju pula menubruk kearah Pakkiong Bing, matanya yang sudah picak satu tampak melotot gusar dan buas, tangannya memegang sebuah lempengan tembaga yang kemilau, sehingga tampangnya yang memang jelek dibawah reflek sinar tembaga kuning ditangannya itu kelihatan lebih suram menakutkan.

Dua kaki depan Pakkiong Bing, Lao Hin-bu menurunkan tubuh, sebelah kaki berpijak di pucuk bambu, sementara tubuhnya setengah jongkok, tangan kanan terbalik keatas, lempengan tembaga kuning itu seperti disodorkan kedepan, menutuk Koan-goan-hiat dibawah pusar Pakkiong Bing. Pakkiong Bing tertawa ejek. tidak berkeIit atau menyingkir kelihatannya perutnya itu sudah pasti kena tertutuk tapi mendadak Pak kiong Bing mengerutkan perut, berbareng tangan kanan membelah turun menebas pergelangan tangan kanan Lao Hin-bu, sementara jari-jari tangan kiri mencengkram kemuka Lao Hin-bu pula, dua jurus serangan yang berbeda

sekaligus dilancarkan secara berantai. Terpaksa Lao Hin-bu menarik tubuh sambil mendongak meluputkan diri dari serangan Pakkiong Bing, lengan kirinya yang menjuntai turun dibawah bambu tiba-tiba membalik ke samping terus merogoh kebawah tubuh Pakkiong Bing merogoh kemaluannya, berbareng kaki yang sebelah menendang pula lambungnya, dua gerak serangan boleh dikata dilancarkan dalam waktu yang sama, bukan saja cepat gerak-geriknyapun aneh.

Bahwa serangannya luput, kaki Lao HinBun tahu-tahu sudah menendang tiba, karuan bukan kepalang kaget Pakkiong Bing, padahal tubuhnya sedang doyong kedepan hampir tengkurap. kaki jelas tidak sempat mengerahkan tenaga untuk melejitkan tubuh keatas, jelas dalam keadaan yang kepepet begini, kalau dia tidak mengalami kerugian besar, cidera sedikit jelas tidak terhindar pula, dalam detik-detik yang kritis itulah otaknya yang encer mendadak mendapat akal, pikirnya: “Kenapa aku tidak tela’ah perbuatannya, menerima serangannya sejurus ini dengan kekerasan ?” Maka ditengah ejek tawanya, tubuhnya tiba-tiba mengkeret turun seperti orang duduk, kaki kiri melintang, dengan gaya setengah berlutut dia sambut serangan lawan

Gerakan kedua pihak sama2 tangkas dan Cepat sekali. “Plak” Dua kaki mereka beradu terus berpencar “Pletak.” Bambu dibawah kaki Lao Hin-bu ternyata peCah tak kuat menahan berat tubuhnya. Karuan tersirap kaget hati Lao Hin-bu, lekas dia tarik napas mengapungkan tubuh, kaki kanan menutul kesamping dengan gerakan Kiau-yan-hoan-sin (burung seriti membalik tubuh), dia membalik jumpalitan keluar setombak jauhnya, tubuhnya tampak limbung, setelah berganti dua kali posisi baru dia dapat menguasai dirinya pula.

Keringat dingin merembes di-jidat Lao Hin-bu, terasa kaki sampai kepaha kirinya linu dan pegal, panas dan perih iagi. Sementara Pakkiong Bing yang lebih unggul seurat telah menubruk tiba pula, jelas dalam keadaan yang sudah kepepet dengan sedikit Cidera ini dirinya bakal terjungkal pula ditangan musuh besar.

Untung Hiat-ciang Tao Pit-Iip tidak hiraukan gengsi atau nama baik sendiri, bahwa cu-bok-gin-so Tan Toa-pin telah ajal lantaran kekeliruannya, sehingga kekuatan pihak sendiri telah berkurang, ini berarti memperlemah

posisinya pula. Kini dilihatnya Pakkiong Bing hendak menggasak Lao Hin-bu pula, meski dia yakin Lao Hin-bu tidak semudah itu dikalahkan, tapi gerak-geriknya kelihatan sudah lamban dan terganggu oleh pahanya yang sedikit cidera itu.

Maka diam2 Hiat-ciang Tou Pit- lip memberi tanda kepada Im-yang- boan-koan Ti Bun dan Ti Bu, teriakan panjang yang melengking tinggi seperti menembus angkasa luar dari mulutnya yang telah ompong giginya, begitu dia pentang kedua tangannya, tubuhnya segera melejit mabur melampaui kepala Lao Hin-bu terus menyambut tubrukan Pakkiong Bing. “Blang.” Akibatnya dua bayangan orang tampak mencelat keduaarah, masing2 jatuh setombak lebih. Tampak ujung mulut Tou Pit-lip mengulum senyum sinis, namun tak tertahan dia batuk2 dua kali, agaknya dia mendapat sedikit kerugian, tapi Pakkiong Bing dapat berdiri tegak dengan bertolak pinggang wajahnya biasa saja tidak memperlihatkan perobahan apa2, tapi kedua bola matanya memancarkan dua larik cahaya terang bergantian menatap keempat lawannya.

Ti Bun dan Ti Bu beruntun telah melompat memasuki gelanggang, sementara itu Lao Hin-bu telah memperoleh kesempatan untuk mengatur napas dan mengerahkan hawa murninya pula, rasa sakit linu dipahanya telah lenyap sehingga kakinya dapat bergerak leluasa kembali. Dalam detik2 yang gawat ini suasana sedikit tegang dan sunyi, delapan biji mata memancarkan tujuh jalur sinar kebuasan menatap liar kearah Bok-kiam-ciong siau Pakkiong Bing. Tapi Pakkiong Bing tetap berdiri tegak gagah laksana gunung, bola matanya dipicing kan, ujung mulutnya seperti mengulum senyum ejek dan mencemooh lawannya.

Mendadak Tou Pit-lip membalik ke belakang. “Sret” dari punggungnya dia cabut sepasang telapak tangan yang gemerlap memancarkan cahaya kemilau. Telapak tangan itu panjangnya satu kaki, sebelah kanan kelima jarinya tergenggam mengepal, sebelah tangan yang lain jari2nya bagai cakar garuda, dibawahnya adalah gagang sepanjang empat kaki sebesar lengan bayi dengan ukiran indah, batang gagang inipun mengkilap gelap. terang terbuat dari baja murni yang berat bobotnya.

Im- yang boan-koan Ti Bun dan Ti Bu juga telah mengeluarkan senjata masing2.

Im-boan-koan Ti Bun mengeluarkan sebatang Boan-koan-pit sepanjang dua kaki warna hitam mengkilap. sebaliknya Yang- boan-koan mengeluarkan Boan koan-pit pula, tapi berwarna putih mengkilap panjangnya lima kaki lebih,jadi yang satu hitam pendek. yang lain putih panjang.

Akhirnya Pakkiong Bing seperti tidak acuh menghadapi keempat lawannya, namun dalam hati dia sudah mengeluh, sedikitpun dia tidak berani lena, pelan2 tangan kanan bergerak kebelakang, lambat2 saja dia melolos pedang cendana yang terselip dipunggungnya.

Panjang keseluruhan dari pedang cendana ini ada tiga kaki, seluruh batangnya berwarna hitam gelap. sedikitpun tidak memancarkan sinar, jadi guram dan gelap. dari batang pedang itulah tercium bau cendana yang harum menyegarkan- Kecuali hembusan angin kencang di musim rontok yang serba kerontang ini, hanya dengus napas tegang kelima orang yang siap tempur mati2an mengadu jiwa.

Se-konyong2 Hiat-ciang Tou Pit-lip menggentak sebelah telapak tangannya yang gede dan berat itu, tidak menubruk atau melompati serempak keempat orang itu mulai menggeser kaki berpindah posisi tanpa mengikuti langkah tetap atau teratur, namun setiap langkah mereka menduduki bambu runcing yang mempunyai kedudukan penting, yang jelas Pakkiong Bing yang ditengah dikepung semakin ketat.

Bok-kiam ciong-siau Pakkiong Bing mengonsentrasikan pikiran dan tenaga, pedang seperti dipeluknya, hawa murni dihimpun dipusar, lahir dan bathin bersatu padu, persiapannya sudah cukup matang untuk menghadapi rangsakan musuh, akhirnya kelihatan sikapnya adem ayem, namun hatinya insyap bahwa keempat gembong iblis yang dihadapinya ini semua bukan lawan kroco yang gampang diroboh kan, sedikit lena pasti dirinya mengundang elmaut, salah2 hutan bambu inilah tempat dirinya dikubur.

Kira2 lima kaki disekeliling Pakkiong Bing, keempat orang itu berhenti, Pakkiong Bing tetap memicing mata perhatiannya seperti hanya tertuju

diujung hidungnya, pedang masih dipeluknya disebelah kanan, kakinya bergaya seperti ayam jago mengangkat sebelah kakinya.

Mendadak Tou Pit-lip menggembor sekeras orang edan, dimana tangannya membalik, dia mendahului turun tangan, kaki kiri melangkah miring menginjak posisi lintang, tangan kiri seperti cakar itu menderu kencang merogoh ulu hati Pakkiong Bing.

Sebat sekali Pakkiong Bing menurunkan tubuh, angin kencang menyerempet batok kepalanya menyambar lewat, berbareng pergelangan Pakkiong Bing ditarik turun, ujung pedangnya mendongak keatas menusuk keurat nadi dipergelangan tangan kiri Tou Pit-lip. Tout Pit-lip angkat tangan menghindar tusukan pedang, berbareng tangan kanan membalik, dimana sinar gemerdep menyambar, jari-jari tangan senjatanya yang terkepal itu tiba-tiba menggenjot muka Pakkiong Bing. Dalam waktu bersamaan tiga orang temannya merangsak bersama, sehingga Pakkiong Bing tetap terkepung ditengah.

Sudah tentu Pakkiong Bing cukup menginsyafi situasi yang dihadapi amat kritis, begitu tusukan luput, kepalan senjata Tou Pit-lip telah menggenjot mukanya pula, maka tanpa ayal dia miringkan tubuh ke kanan, kaki menutul pula dengan gerakan Yau-ing-hing-kang, sebat sekali dia menerobos kesamping satu tombak jauhnya, sehingga dia bebas dari kepungan keempat lawannya.

Baru saja Pakkiong Bing meluruskan tubuhnya, didengarnya angin kencang telah menderu tiba pula, dari kiri kanan belakangnya, sinar putih dan bayangan hitam merabu bersama. Pakkiong Bing seperti sudah menduga akan serangan ini, sambil mengerutkan alis dia menghardik keras, tubuhnya tiba2 mendak ke bawah sambil berputar, pedang dan telapak tangan terpencar, memapas dan menyampuk ke belakang mematahkan dan memunahkan serangan dari belakang.

Telapak tangan menyampuk dan pedang membabat sembari tubuh berputar itu dilaksanakan sekaligus, sungguh bukan kepalang kecepatan dan ketangkasannya.

Yang membokong dari belakang ini bukan lain adalah im-yang-boan-koan Ti Bun dan Ti Bu, sepasang potlot mereka menyerang tempat kosong,

ternyata gerakan Pakkiong Bing lebih tangkas. Sembari berputar pedang dan tangan terpencar balas menyerang mereka, lekas im-boan koan Ti Bun menarik potlotnya yang hitam gelap itu seraya merendahkan tubuh, telapak tangan kiri terbalik, dengan jurus Kong-gi-sin-bu (sinar timbul tumbuh kabut), ujung potlotnya balas mengincar urat nadi tangan kiri Pakkiong Bing yang menyampuk ke belakang, sementara tangan kanan ditarik terus didorong, lalu dengan jurus Hwi-sing-kangwat (bintang kejora mengejar rembulan), potlot hitam gelap ditangan kanannya tahu2 menyelonong dari bawah menutuk Thiam-toh-hiat dibawah bahu. Gerak tipu dan serangan balasan yang dilakukan ternyata tidak kalah tangkas dan gesitnya. celaka adalah Yang-boan-koan Ti Bu yang terpaksa harus melompat dua kali berganti posisi pindah dua ujung bambu oleh desakan pedang kayu cendana Pakkiong Bing yang lihay itu.

Bahwa pedang cendana ditangannya mendesak mundur Yang-boan-koan, ternyata Pak kiong Bing seperti tidak hiraukan serangan Ti Hun dengan potlot hitamnya, tangkas sekali dia berkelebat kesamping meluputkan tutukan potlot Ti Bun, mendesak kearah Ti Bu.

Pedang cendana merabu dengan jurus Jay hong-jip ce (pelangi masuk sumur), bayangan pedang hitam yang melingkar dengan samberan angin berhati wangi tiba2 telah membelah kearah Ti Bu. Padahal Ti Bu baru saja menguasai diri melihat pedang Pakkiong Bing membelah tiba, kontan dia menghardik gusar, pikirnya: “Bedebah, sejurus kau memperoleh angin lantas aku dicecarnya, memangnya aku ini kaum kroco yang gampang kecundang, biar aku beri hajaran setimpal padanya supaya dia tahu kelihayanku.” Karena itu mendadak tubuhnya menubruk kebawah seperti mau rebah tengkurap. tapi tangan kanan terangkat, potlot putihnya tiba2 menusuk lengan kanan Pakkiong Bing, berbareng tangan kiri menutuk Hun-cui-hiat dilambung Pakkiong Bing.

Sejurus serangannya luput Ti Bun sekaligus memutar kekiri, gerakan semula tidak berubah, kaki kiri menginjak sebatang bambu untuk ancang2 tenaganya, potlot ditangan berbareng menutuk ke cong-hiat-hiat dibelakang kepaIa Pakkiong Bing. Beberapa gebrak adu kegesitan dlsini telah mengundang kesempatan Lao Hin-bu untuk mengudak tiba, lempengan tembaga kemilau kuning

ditangannya itu lantas mengepruk ke Thay-yang-hiat dipelipis Pakkiong Bing, serangannya ternyata tidak kalah keji dan telengas.

Bahwa serangan pedangnya tidak berhasil merobohkan lawan, kini dirinya malah dirangsak dari tiga jurus an- Karuan amarahnya memuncak. ditengah gerengan keras dari mulutnya, pedang cendana segera diputar sekencang kitiran, dengan jurus Hun-yau-sian-san (naga mengelilingi gunung dewa), berbareng kakinya menutul, sehingga tubuhnya melambung ke atas dan meluncur keluar dari samberan angin kencang serangan lawan dan turun diluar arena.

Tapi baru saja kakinya menyentuh ujung bambu runcing. didengarnya tawa ejek telah berada disampingnya, waktu dia menoleh, cahaya perak dari sebuah telapak tangan gede disertai damparan angin dahsyat tahu-tahu telah menggulung kearah dirinya.

Bahwa dengan gabungan tiga orang mengeroyoknya, ternyata masih tidak mampu merobohkan Pakkiong Bing, sehingga lawan lolos dari kepungan malah, karuan ketiga orang itu malu dan gusar bukan kepalang, serempak mereka menggerung dan berpekik seraya menubruk kemari seperti serigala yang haus darah, secara membabi buta saking gemas dan bencinya mereka merangsak dengan segala kemampuan yang mereka miliki. -oooOdwOooo-

Jilid 2 : Mayat hidup Toh bing sik mo

PAKKIONG BING terkepung pula, keempat lawannya terus berlompatan dan berkisar disekelilingnya, setiap jurus serangan mereka merupakan elmaut yang mengundang kematian bagi Pakkiong Bing, dalam sekejap. mereka sudah berhantam dua puluhan jurus. Meskipun seorang ahli pedang kenamaan yang belum pernah ketemu tandingan diutara sungai besar, ilmu pedangnya lihay dan aneh, perobahan2nya sukar dijajagi. Lwekangnya lebih unggul pula dari orang lain, tapi menghadapi keroyokan pentolanpen jahat yang rata-tata memiliki taraf kepandaian kelas satu ini, dalam waktu pendek jelas dia tidak akan mampu mengatasi keroyokan mereka, celaka malah bila dia lena atau kurang hati2, kalau tidak mati pasti juga terluka parah, oleh karena itu

Pakkiong Bing bertindak penuh perhitungan, dia tidak ke-buru2 mengejar kemenangan, terlebih penting dia memantapkan pertahanan dia memperkokoh diri, maka dalam dua puluhan gebrak ini, dia lebih banyak bertahan danpada menyerang, dengan ketenangan menguasai aksi, namun demikian keringatnyapun telah gemerobyos, lama kelamaan dia malah kerepotan melayani serangan yang menggebu tiada hentinya.

Lama- kelamaan Pakkiong Bing yang sudah mandi keringat ini semakin gelisah, dan batinnya berkata: “Menghadapi keroyokan mereka dengan kepungan seketat ini, menyergap secara gerilya begini, lama kelamaan tenagaku bisa terkuras habis, kesempatan untuk ganti napas pun tiada, kalau ber-larut2 cepat atau lambat salah2 jiwaku bisa tamat secara percuma Daripada mati konyol, lebih baik aku menyerempet bahaya, dengan gerakan kilat aku labrak mereka secara nekat, mungkin aku bisa menjebol kepungan serta merobohkan dua jiwa diantara mereka.”

Maka diam2 dia mulai kendalikan napas menghimpun tenaga, setelah yakin persiapannya memadai, sebuah gemboran keras sekeras guntur yang menggoncangkan bumi keluar dari mulut Pakkiong Bing, perawakan tubuhnya yang tinggi itu, mendadak kelihatan seperti mengkeret, ditempat tubuhnya berputar, dengan jurus Wi-Liong-patcoan (naga melingkar berputar delapan) pedang cendana menaburkan bayangan gelap yang ceplok2 menggulung dengan kekuatan luar biasa keempat penjuru. Karuan keempat pengeroyoknya sama2 menjerit kaget, karena terbawa sejurus gerakan pedang cendana yang dilancarkan Pakkiong Bing ini sekaligus telah mendesak mundur mereka, sehingga dipaksa beralih tiga-empat batang bambu.

Tangkas sekali gerakan Pakkiong Bing se jurus memperoleh peluang, segera dia mendesak lebih gencar, pedang cendana ditangannya berubah laksana damparan2 badai, jurui Tam sing-poat-te (merogoh rembulan mengeduk bumi) ini memang merupakan tipu terlihai dari permainan pedang cendana, celaka adalah Im-boankoan yang berada tepat didepannya, tanpi ampun dia tergulung oleh damparan dahsyat itu sehingga tertolak sempoyongan.

Untung ketangkasannya masih menolong jiwanya, dalam seribu kerepotan, kakinya masih sempat menutul ujung bambu, tapi sebelum dia sempat

berbuat lebih banyak. bayangan gelap laksana segumpal mega mendung tahu-tahu sudah menungkrup kepalanya. Ti Bun tahu, inilah jurus Nge-coat-sek dari ilmu pedang cendana Pakkiong Bing yang lihay sehingga dia dianugerahi jago nomor satu diutara sungai besar.

Padahal kakinya belum kokoh menginjak bambu, bayangan pedang tinggal satu kaki di atas kepala, tahu bahwa elmaut sudah hampir merenggut jiwanya, mukanya yaag memang hitam gelap seperti pantat kuali itu menunjukkan mimik yang aneh dan sukar dilukiskan, sorot matanya memancarkan bayangan kematian yang sangat mengerikan-

Dalam sekejap ini, se-olah2 dari mimik wajah yang aneh serta sorot matanya yang mengandung ketakutan dan kejut itu, se-olah2 membayangkan perasaan ruwet yang sukar dijelaskan, mungkin malah secercah sinar penyesalan akan kejahatan yang pernah dilakukannya selama hidup, Dalam waktu yang sama lolongan kalap yang keras disertai selarik sinar putih menyambar tiba, itulah Boan-koan-pit putih mengkilap datangan Ti Bu yang menutuk ke Ling-tay hiat dipunggung Pakkiong Bing.

Mati hidup seseorang, seringkali ditentukan pada daya pikirannya yang sekejap itu. tetapi ada kalanya juga ditentukan oleh sekali pikiran orang lain- Demikianlah akan jiwa Ti Bun. kalau Pakkiong Bing sekarang sedang bertempur dalam keadaan biasa, kemungkinan dia akan menarik diri menyelamatkan jiwa sendiri lebih dulu, maka jiwa Ti Bun yang sudah berada dijurang kematian, akan ditarik balik oleh sergapan Ti Bu yang kalap itu.

Akan tetapi Pakkiong Bing sudah nekat dan memperteguh keyakinan bahwa pertempuran harus cepat diselesaikan, dan ini mempercepat proses kematian Ti Bun pula ditempat ini. Sudah tentu, meski Pakkiong Bing sudah nekad untuk adu jiwa, betapapun dia tidak akan meremehkan jiwa raga sendiri untuk bertaruh satu lawan satu jiwa raganya, maka sambil kertak gigi, pedang ditangannya tetap bergerak tidak berobah, tubuhnya mendadak mendekam kedepan, miring meluputkan diri dari tusukan dari belakang.Jadi di dalam usahanya merobohkan musuh, diapun berusaha menyelamatkan diri sendiri secara untung2an-

Jeritan mengerikan lebih keras dari suara robekan baju, badan Ti Bun telah terbelah jadi dua oleh pedang cendana Pakkiong Bing, tubuhnya terpental ke-dua arah dan tertusuk bambu runcing, sementara punggung Pakkiong Bing juga tergores luka sepanjang empat dim dari pundak kiri menurun kebawah, darah segar segera meleleh keluar membasahi badannya. Tubuhnya agak limbung dan tersuruk dua langkah kedepan baru menguasai diri pula, wajahnya tetap kereng dan membeku dingin, secercah senyuman menghias bibirnya, didamping mengejek tercampur puas dan bangga.

Dia tahu, bila orang lain bertempur dalam cara seperti yang dialaminya tadi, pasti dua jiwa akan berkorban dalam waktu yang sama. Sisa tiga orang yang masih hidup terbeliak kaget menyaksikan kenekatan Pakkiong Bing, namun lekas sekali dendam membara menghantui sanubari mereka, mereka disentak sadar akan tekad bersama untuk mencincang musuh yang satu ini, terutama Lao Hin-bu dan Ti Bu yang masing2 telah kematian seorang saudaranya, bola mata mereka sudah merah membara sebuas serigala yang haus darah.

Kalau ketiga lawan itu sudah dirasuk setan gila, mereka menyerang dan melabrak dengan ganas, diantara gegap gumpitanya hardik dan caci maki mereka bertiga, diseling tawa dingin yang mengejek. deru angin pukulan dan samberan senjata tajam simpang slur, sehingga berpadu menjadikan kisaran angin lesus yang mendampar kencang, sehingga pohon-pobon bambu diluar arena terkuak seperti keterjang badai, dalam arena tiga tombak, pohon dan rumput menjadi gundul, empat bayangan tetap berlompatan selincah kecapung dipucuk bambu2 runcing, adu otot, bertanding senjata berlaga dengan sengit.

Walau Pakkiong Bing berhasil mengurangi kekuatan pihak lawan, tetapi luka dibelakang pundaknya juga tidak enteng meski tidak terlalu fatal baginya, namun situasi tidak lebih baik baginya, apa lagi dia harus menahan rasa sakit luka dipunggung dantak mampu mencegah merembesnya darah, maka dia tetap nekat melabrak ketiga musuhnya.

Dua ekor serigala yang menggila dan seekor rase yang licin dan buas, mengeroyok seekor harimau yang sudah terluka, lalu siapa bakal gugur di medan laga ? Hiat-ciang Tou Pit-lip tertawa dingin, tangan kanan yang terbalik disampuk

keluar, dengan jurus Poh- cui- tam-hoa, kelima jari yang terkepal terbuat dari baja murni itu, tahu2 sudah menggenjor ke Tam- Tiong- hiat didada Pakkiong Bing.

Kaki pasang kuda2 tubuh bagian atas doyong kebelakang menghindar jotosan senjata lawan, berbareng kaki kanan melayang menendang pergelangan tangan Tou Pit-lip. Tak nyana serangan Tou Pit-lip ini ternyata hanya gertakan belaka, begitu tubuh Pakkiong Bing doyong dan menendang, sigap se kali Tou Pit-lip sudah merendahkan tubuh sambil menurunkan Sikut, dimana sinar dingin berkelebat, membawa deru kencang, senjata tinjunya itu tertarik turun terus menghantam ke muka Pakkong Bing, sementara Boan-koan-pit Ti bu ternyata sudah menukik pula dari atas kepalanya menusuk ke-ubun2 kepalanya.

Bahwa berpijak hanya dengan sebelah kaki sementara tubuh doyong kebelakang, kala berusaha menerjang keluar, jelas usaha yang sukar dicapai, padahal didepan dirinya dihadang oleh potlot Ti Bu, untuk menerjang ke depan jelas tidak mungkin. Bila menyingkir kekiri atau kekanan juga jelas tidak bisa karena tenaga untuk dikerahkan kearah itu tidak mungkin dicapai, apa lagi umpama usahanya berhasil, letak bambu yang tumbuh secara alamiah tak teratur ini tidak bisa dibuat patokan untuk gerak langkah kakinya, disaat tubuh terjengkang kebelakang menghadap keatas, bagaimana matanya dapat melihat keadaan bambu dibawah kakinya ?

Sekali salah langkah, tubuhnya pasti ambruk dan akibatnya pasti fatal. Tapi dua macam senjata mengancam bersama, maju tidak bisa menyingkir tidak mungkin, bila menangkis dengan pedang mestika secara kekerasan, senjata lawan berbobot berat, padahal kakinya berpijak diujung bambu dengan tubuh doyong pula, dirinya pasti bisa tertindih roboh kebawah, itu berarti jiwanya bakal tamat lebih cepat dengan tubuh tertusuk belong oleh bambu runcing.

Menyingkir tidak bisa, menangkis juga celaka, mau nekat dan adu jiwa juga tidak mungkin lagi, setelah dipikir, menyingkir kesamping adalah pilihan satu2nya yang paling menguntungkan dari sekian cara untuk menyelamatkan diri, perduli apakah kakinya nanti dapat menemukan tempat berpijak dipucuk bambu runcing, paling tidak dia harus mencari

kesempatan hidup. Sudah tentu jalan pikirannya itu hanya berlangsung seperseribu detik cepatnya, begitu putusan tetap. sigap sekali Pakkiong Bing berputar mendadak kesamping, lima kaki menyingkir kekanan. “Pletak” ditengah pecahnya bambu yang nyaring, bambu dimana barusan dia berpijak telah hancur terpukul oleh senjata Tou Pit-lip dan Ti Bu.

Tubuh Pakkiong Bing yang melintang ke samping dengan berputar setengah lingkar itu mana bisa membedakan arah bambu, kenyataan kedua kakinya menginjak tempat kosong, keruan bukan kepalang kagetnya, serasa arwah sudah terbang kesorga, dalam seribu kerepotannya, secara mentah2 dia memutar tubuhnya pula Seningga punggung keataS, jadi tubuhnya tengkurap kebawah. Dilihatnya bambu2 yang runcing Siap menusuk tubuhnya Semakin dekat, semakin besar, pandangan menjadi ber-kunang2. dikala kepala pusing tujuh keliling itulah didengarnya seorang terkekeh seram di sertai gelak tawa puas, mau tak mau Pakkiong Bing mengeluh, “Tamatlah riwayatku kali ini.”

Tiba2 rasa sakit merangsang pahanya, syukur karena rasa sakit ini telah menyentak kesadarannya dan menggugah syarafnya, sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya, secepat kilat tangan kiri Pakkiong Bing diulur menekan ke bawah berpegang pada sebatang bambu runcing, sementara perutnya sudah menempel pada ujung bambu yang lain, dadapun hanya dua dim diatas bambu runcing, syukurlah karena pegangan tangan kiri itu, dengan kekuatan lengannya dia menahan tubuh sehingga mengerem tubuhnya yang jatuh kebawah, pada detik-detik yang gawat itu, jiwanya telah ditarik balik dari renggutan elmaut.

Pakkiong Bing menggerung sekali, begitu tangan kirinya menekan dan menggentak, tubuhnya tiba2 jungkir balik terus mencelat keatas serta bersalto sekali, secara enteng kakinya berhasil berpijak pula diujung dua bambu runcing, tapi tak urungpaha kirinya kembali tergores luka oleh tajamnya bambu runcing, sepanjang satu setengah dim.

Baru saja Pakkiong Bing berdiri belum tegak. ditengah raungan gusar, tiga orang lawannya kembali mera bukan senjata seperti mau berlomba untuk merobohkan lawannya yang satu ini. Bam saja lolos dari lobang jarum, dan belum sempat Pakkiong Bing ganti napas, sudah tentu dia tidak berani ayal, lekas dia menyelinap kepinggir

dua langkah, menghindari samberan dua macam senjata, pedang dan telapak tangan segera bergerak kedua arah, dengan jurus San ing-hun-sing (bayangan gunung membedakan bentuk), tangan kiri sedikit membalik, merogoh urat nadi pergelangan tangan kanan Lao Hin-bu, sedang pedang cendana menusuk dadanya.

Lao Hin-bu berkelit sambil menusukkan tangan, lempengan tembaga di tangannya serta merta mengemplang dengan deru angin kencang kearah dada Pakkiong Bing. Dasar kepandaian tinggi Pakkiong Bing cukup tabah menghadapi resiko, tidak berkelit tanpa menghindar, dikala senjata lawan hampir menyentuh tubuhnya, tiba2 badannya berputar mengikuti arah lempengan tembaga lawan, berbareng tangan kanan menjojoh keluar balas menghantam dada Lao Hin-bu.

Bergerak memutar sambil melancarkan pukulan itu ternyata dilancarkan dengan gerakan yang masih tangkas dan kuat luar biasa. Begiru serangan luput, kepalan Pakkiong Bing mengancam dada sendiri malah, padahal Lao Hin-bu terlampau bernafsu merobohkan lawan, sehingga serangan kali ini tidak di perhitungkan, gerakan yang sudah kebacut itu jelas tidak mungkin ditarik balik, padahal sisa tenaga untuk penjagaan pun sudah ludes, apa boleh buat sebisanya lekas dia berkelit kekanan sambil melompat, “Blang” pukulan telak mengenai dada, ditengah erangan Lao Hin-bu tubuhnya terpental mumbul dengan tulang pundak pecah kena pukulan, tubuhnya yang memang melompat berkelit itu jadi seperti didorong mencelat lebih hebat, darah menyembur dari mulutnya disaat tubuhnya terapung jungkir balik, jeritan mengerikan keluar dari mulutnya menjelang jiwanya ajal tertembus bambu runcing yang telah menyambut tubuhnya, bukan saja dada belong, perurnyapun modal-madil sampai ususnya berserakan, setelah meregang jiwa, akhirnya bola matanya terbalik, kaki menjulur lemas, jiwa pun melayang.

Tapi untuk meluputkan diri dari telapak tangan Tou Pit lip, Pakkiong Bing tidak sempat perhatikan potlot Ti Bu sehingga tambur kepalanya terkelupas oleh ujung senjata lawan, lukanya memanjang dua dim. Rambut Pakkiong Bing yang semula di-ikal diatas kepala dengan tusukan sebatang jepitan batu-jade kini sudah awut2an, badan berlepotan darah pula, sehingga keadaannya seperti manusia darah yang mengerikan-

Tiga orang masih terus berhantam diatas bambu runcing, Hiat-ciang Tou Pit- lip memang manusia culas yang licin, sudah tentu dia tidak akan mempertaruhkan jiwanya untuk nekat secara membabi buta, maka dibawah tekanan rangsakan balasan pedang Pakkiong Bing dia mendapat rintangan yang tidak mungkin dapat diabaikan begitu saja, sehingga Pakkiong Bing beberapa kali lolos dari renggutan elmaut, malah dalam keadaan terdesak dua kawan sendiri kembali telah dibunuhnya. Tou Pit-lip juga tahu bahwa luka2 yang diderita Pakkiong Bing hanyalah luka luar saja jikalau hari ini mengabaikan kesempatan baik ini untuk mengganyang jiwanya, untuk menuntut balas di kemudian hari tentu lebih sukar lagi, maka dia tidak berani mengendorkan tekanan serangannya, bersama Yang- bean koan mereka menggencet Pakkiong Bing dari dua arah.

Lekas sekali tiga puluh jurus telah berselang pula, tampak tiga larik sinar putih menggubat bayangan gelap. begitu seru saling berkutat secara ketat dan memagut dengan gencar sekali. Pakkiong Bing sudah mandi keringat yang bercampur darah, tenaganya beleh dikata sudah terkuras habis, hakikatnya dia sudah tak mampu menyerang lagi, wajahnya kelihatan pucat pias, keringat dtmukanya membuat rambutnya yang awut2an lengket dengan muka dan kepalanya, bercampur darah yang masih terus mengalir keluar, sekuat tenaga dia lompat sana kelit sini, tangkis sin Hindar sana.

Tenaga murni Pakkiong Bing terkuras terlampau besar, rasanya kaki tangan bukan saja lunglai, juga terasa linu pegal. Pakkiong Bing insyaf dirinya tidak akan kuat bertahan lama, mendadak dia tertawa gelak2, tawa gelak dengan suara serak sambil menyeringai seram. Kebetulan kepalan baja senjata Tou Pit-lip yang berat itu tengah terayun balik menggenjot musuhnya dengan jurus Siang-liong-toh-cu (sepasang naga berebut mutiara).

Sementara potlot Ti Bu juga menjojoh lian-kin-hiat di pundak Pakkiong Bing. Lekas Pakkiong Bing menggeser miring sambil berputar, kaki kanan melangkah keluar sambil menginjak pucuk sebuah bambu, dengan mudah masih kuasa dia meluputkan diri dari rangsakan musuh yang gencar ini. Tetapi potlot Ti Bu yang lebih ring an ternyata lebih lincah bergerak. karena jojohannya mengenai tempat kosong, sekalian dia ayun potlotnya

itu seperti pentung dengan jurus Hing- sau- jian- kun ( menyapu ribuan bala tentara ), dengan deru kencang potlot itu menyambar tiba.

Pakkiong Bing dipaksa menarik kaki kiri sehingga tubuhnya turun terduduk. kembali sapuan potlot Ti Bu telah dihindari, tapi senjata cakar baja ditangan Tou Pit-lip ternyata telah mencengkeram datang dari kiri, kesempatan untuk ganti napas atau balas menyerang pun tiada lagi bagi Pakkiong Bing, terpaksa dia kerahkan tenaga diujung tumit, sedikit menutul tubuhnya mencelat pergi satu tombak jauhnya.

Tubuh Pakkiong Bing tampak bergontai dua kali, napaspun sempat ditariknya dalam2 Ti Bu sudah menubruk maju pula, belum kakinya menginjak pucuk bambu, sambil mendengus hina, potlot ditangannya diputar kencang, menciptakan beberapa buah lingkaran sinar gemerdep. seluruhnya merabu kedadanya Pakkiong Bing.

Mendadak terpancar secercah senyum penuh arti yang sukar dilukiskan pada wajah Pakkiong Bing, bola matanya yang separoh tertutup rambutnya yang basah oleh keringat, memancarkan sinar buas dan beringas, mendadak dia menarik napas dalam, serangan Ti Bu ternyata hanya ditatapnya saja. Dikala potlot lawan hampir saja menyentuh dadanya, mendadak tubuhnya mengkeret, disertai gemberan yang mengguntur, pedang cendana ditangannya mendadak terayun dengan jurus cun-ko-mo-hun, sesuai namanya bayangan pedang nan gelap. seketika bertebaran diempat penjuru menimbulkan damparan angin badai, terus mengulung Ti Bu yang masih terapung di tengah udara.

Ti Bu terlampau bernafsu dengan jurus serangannya yang menggunakan sepenuh tenaga, sehingga tubuhnya yang terapung itu tak kuaSa menghindar dari serangan jurus cun-ko mo-hun salah satu jurus Ngo soat-sek kebanggaan Pakkiong Bing, walau serangan itu dilancarkan setelah Pakkiong Bing dalam keadaan kehabisan tenaga, namun ilmu Ngo-coat-sek itu sendiri betapapun tak akan mungkin bisa dilawan oleh Ti Bu dengan tubuh yang masih terapung, apa lagi potlotnya sudah terlanjur di lontarkan, bukan saja tidak mampu menyingkir, juga tidak bisa menangkis pula, jelas Ti Bu bakal ajal pula dibawah pedang cendana Pakkiong Bing.

Kalau Ti Bu gugup dan ngeri, Tou Pit-lip pun tak kalah gelisahnya, bukan kerja gampang untuk mengumpulkan kawanan iblis yang dua pasang itu, ditambah dirinya, lima orang dia yakin pasti dapat melenyapkan duri didepan mata ini, Bok-kim-ciong-siau Pakkiong Bing yang pernah dua kali mengalahkan dirinya, yakin pasti akan terkubur dihutan bambu ini.

Akan tetapi datang2 Bok-cu-gin-so Tan Toa-pin telah mengumbar nafsu dan membekong musuh sehingga seluruh rencananya menjadi gagal total, dan akibatnya bukan saja tak mampu merobohkan lawan, Pakkiong Bing malah beruntun menamatkan jiwa dua orang pihaknya, bila sekarang Ti Bu juga ajal dibawah pedang Pakkiong Bing, seorang diri mana dia mampu menghadapinya .

Semakin dipikir semakin ciut nyali Tou Pit-lip. demi kepentingan dan mengejar kemenangan, sembari meraung gusar, kedua senjatanya segera dikerjakan dengan sengit mengepruk batok kepala Pakkiong Bing, pikirnya: “Bila kau melukai Ti Bu, biar jiwanyapun kuhabisi sebagai penuntut keadilan-” Jelas pedang cendana Pakkiong Bing pasti akan membunuh Ti Bu, tetapi deru angin kencang tahu2 juga sudah menindih tiba di atas kepalanya, dia insyaf bila dirinya berhasil merobohkan Ti Bu, pasti dia tak akan sempat meloloskan diri dari ancaman senjata Tou Pit-lip. tapi dia berpikir. “cepat atau lambat sama2 mati, dengan wibawa dan ketenaran nama besar Bok-kiam-ciong-siau, memangnya aku harus hengkang sebelum pertempuran ini mencapai penyelesaian, lebih baik satu persatu aku habisi jiwa merekanya, kenapa aku tidak bertindak demikian.”

Pikiran ini hanya sekilas bekerja dibenak Pakkiong Bing, maka tanpa ayal gerak pedangnya tetap pada sasaran semula, sisahawa murninya dia kerahkan dilengan kiri terus diangkat mendadak untuk menyambut telapak tangan gede serangan Tou Pit-lip. Terdengar jeritan yang mengerikan, kedua kaki Ti Bu sebatas paha telah ambil berpisah dengan raganya. “Bles” tubuhnya terlontar ke-tengah2 bambu runcing, tertusuk tembus dan jiwanyapun melayang seketika, darah muncrat. Bambu runcing hijau seluas tiga tombak itu kini ditaburi beberapa mayat dalam keadaan serba mengerikan, semuanya mampus dengan mata terbeliak dan tubuh ditembus bambu, sehingga kelihatan seram dan menakutkan dibawah penerangan cahaya rembulan yang remang2.

Tapi Pakkiong Bing sendiri juga mendehem cukup keras menahan sakit, “Krak” sebelah lengannya terkepruk remuk menjadi beberapa potong. Saking sakit, pandangan Pak kiong Bing sampai ber-kunang2, keringat dingin bercucuran sederas sumber air, sekuatnya dia menegakkan rubuh, setelah sempoyongan baru berhasil menegakkan diri. Tou Pit-lip ternyata kesima, dan gentar oleh kenekatan lawannya yang keras kepala dan tabah itu.

Mendadak, Pakkiong Bing mendongak sambil tertawa kial2, Ton Pit-lip bergidik seram dan merinding mendengar tawa buas dan beringas ini. cuaca remang2 menjadikan keadaan Pakkiong Bing yang berlepotan darah itu kelihatan lebih mengerikan, sebelah lengannya terlampir lunglai, rambut awut2an, mulut terpentang dengan rawa yang menggiriskan pula, makin besar rasa ngeri dan takut Tou Pit-lip. timbul keinginannya untuk melarikan diri, lekas hengkang dari arena yang sudah kotor dengan bau darah direngah hutan bambu ini, akan tetapi kedua kakinya seperti lengket dan kaku tidak mampu bergerak. maka dia hanya berdiri melongo dengan pandangan terbeliak Tiba2 sirna tawa Pakkiong Bing, dua jalur sinar matanya yang berkilat menembus rambut awut2an yang menutupi mukanya menatap tajam kemuka Tou Pit-lip yang sudah pucat ketakutan, pelan2 tapi pasti dia mulai mendesak kearah Tou Pit-lip.

Tou Pit-lip tersentak kaget seperti sadardari lamunannya, secara reftek, telapak tangan gede terbuat dari baja ditangan kirinya tiba2 terayun mengepruk kearah bayangan pedang yang menerjang datang itu. Tou Pit-lip memang jadi pikun sekejap oleh bayangan sendiri, bukan dia tidak tahu kelihayan Ngo-coat-sek yang dimiliki Pakkiong Bing, tahu2 dia merasa pergelangan tangannya mendadak perih dan sakit, ternyata tangan kirinya sebatas pergelangan tangan sudah tertabas kutung. Tou Pit-lip meraung gusar, sinar matanya menjadi liar dan penasaran, kepelan baja di-tangan kanannya mendadak terayun keatas terus ditimpukkan dengan setaker kekuatannya kearah dada Pakkiong Bing.

Bahwa serangannya behasil sudah tentu membuat Pakkiong Bing kegirangan, belum lagi pedang dia tarik balik, sinar perak berkelebat, kepalan gede senjata lawan tahu2 sudah menggempur dada, jarak sedemikian dekat, untuk berkelit terang tidak mungkin, karuan bukan main

kaget Pakkiong Bing, “Blang” dengan telak kepalan gede terbuat dari baja itu menggodam dadanya.

Setelah melontarkan senjatanya, Tou Pit-lip tidak berdiri diam lagi, sembari bersuit panjang, dengan langkah sempoyongan dia kabur dari tempat situ terus menerobes hutan bambu, hanya beberapa kali lompatan berjangkit dia sudah lenyap diantara rimbunnya dedaonan bambu. Pakkiong Bing tersodok mundur beberapa langkah oleh gempuran kepalan senjata baja Tou Pit- lip yang berat itu, beberapa kali dia sempoyongan hampir jatuh, terasa darah Seperti mendidih dirongga dadanya, paru2nya seperti tergetar pindah dari tempatnya semula. “Huuuuaaaaaahh” tidak tertahan dia menyemburkan darah segar se-banyaK2nya.

Pakkiong Bing tahu lukanya amat parah, untung dia memiliki Lwekang tangguh, lekas dia menarik napas menyalurkan hawa murni dari pusar, darah yang menindih dan hampir menerjang keluar mulutnya berhasil ditekannya pula. Pelan2 Pakkiong Bing menyarungkan pedangnya yang berlepotan darah, lalu dari kantong bajunya dia keluarkan sebuah botol obat tanpa dihitung sekenanya dia tuang beberapa butir terus dilempar kedalam mulut, setelah dikunyah terus ditelannya mentah2. Wajahnya basah oleh keringat dan darah, bela matanya merah memancarkan sinar beringas, dengan langkah sempoyongan dia berusaha meninggalkan tempat itu.

Beruntung meski dengan langkah limbung Pakkiong Bing bisa keluar dari hutan bambu, namun napasnya sudah sengal2 hampir putus, meski hawa murni berhasil menekan darah yang hampir menyembur keluar, namun isi perut dan dadanya memang tergoncang teramat keras sehingga Sakitnya bukan kepalang, dia tahu paru2nya mungkin pecah nan tergetar miring dari tempatnya Semula, dia tidak tahu apakah dirinya masih bisa bertahan hidup, dan berapa lamanya ? Mungkin dua hari, atau besok juga telah ajal.

Kuda hitam miliknya itu memang sudah terlatih baik, langkahnya pelan dan tidak menimbulkan goncangan sehingga sang majikan yang mendekam diatas punggungnya merasa lega, kuda itu beranjak ditegalan berbatu, rasa sakit dadanya tidak berkurang, malah semakin hebat, maka dia diamkan saja kudanya menuju kearah yang ditujunya.

Pandangannya kaku lurus kedepan, rambutnya yang terurai menutupi mimik wajahnya yang penuh dengan siksaan dan derita, hembusan angin di musim rontok yang setajam pisau tak dirasakan lagi, maklum separoh bagian kiri tubuhnya beleh dikata sudah pati rasa… lapat2 Pakkiong Bing masih bisa berpikir: “Sudah saatnya kau pulang… Pakkiong. Bing, mungkin kau akan segera mati, maka lekaslah kau pulang saja.” ternyata nalurinya masih bisa bekerja secara normal, tali kekang di tariknya sehingga kuda mulai berlari berputar arah, melampaui Sia tay terus dibedal menuju kearah ciok-muy.

Sementara itu, rembulan sudah hampii tenggelam diufuk barat, ditengah ke pulan debu yang membumbung tinggi, tampak seekor kuda hitam ditunggangi seorang yang berlumuran darah, terus membedal kearah utara. Tik tak tik tak, dentam tapal kuda yang berat dan perlahan terdengar bercampur baur dengan suaranya didalam ceng-hun-kok Mendadak Pakkiong Bing angkat kepalanya, sorot matanya menunjukkan rasa kaget dan heran, diam2 dia membatin- ” ceng hun eh, bukan, inilah Bong-hun-kok dimana Toh-bingi sip-mo yang berbentuk mumi masih mengganas”

Se-olah2 dia sudah melihat mayat hidup yang dibalut perban putih bercokol dipunggung seekor kuda, hanya dua bola matanya yang masih kelihatan dibalik perban tebal dengan memancarkan cahaya dingin tengah menatapnya lekat2. Tanpa sadar Pakkiong Bing bergidik merinding, dia kucek mata serta mengedipkannya beberapa kali, dari balik rambut kepalanya yang awut2an menutupi muka dia memandang kedepan, cuaca dalam lembah tetap guram, namun bayangan seorangpun tidak tampak didalam lembah. Tapi derap tapal kuda yang berat dan perlahan itu masih berdentam didalam lembah meski suaranya terdengar sayup2.

Serta merta Pakkiong Bing menarik tali kekang kudanya sehingga tunggangannya memperlahan larinya. “Apakah aku tetap melanjutkan kedepan? Atau memutar balik kuda kemkali kekota Sia-tay ? Lalu berkisar satu lingkaran besar pulang dari jurusan lain ? Demikian Pakkiong Bing membatin dalam hati. . Mendadak sorotan mata Pakkiong Bing yang teraling rambut kepalanya itu memancarkan cahaya keteguhan dan ketegasan keputusanya, diam2 dia

berolok pada diri sendiri. “Pakkiong Bing, jangan gentar, kau harus melanjutkan perjalanan kedepan, kau harus berani mencobanya, kau harus lekas pulang berkumpul dengan anak binimu.. “

Pada saat itulah diujung pengkolan jalan dalam lembah sana muncul seekor kuda putih- dipunggung kuda bercokol sebentuk tubuh kekar yang seluruh tubuhnya dari kepala sampai keujung kaki dibalut perban, gerak geriknya kaku dan lamban, setelah tapal kuda berdentam pula dua kali, kuda putih itu mendadak berlari sedikit kencang, kalau tak mendengar derap tapal kudanya yang menyentuh batu, orang akan menyangka bahwa kuda putih itu melesat terbang dari permukaan bumi. Tak urung Pakkiong Bing bersuara heran dalam batinnya: “Itukan Liong-ma (kuda naga), kuda naga yang jarang ditemukan selama ribuan tahun mendatang ini…”

Dalam lembah kini ada dua ekor kuda, seekor kuda putih ditunggangi oleh Toh bing-sik-mo yang sekujur badannya dibalut perban dan ditakuti oleh kaum persilatan. Sementara kuda hitam ditunggangi Pak-kiong Bing yang berlepotan darah, dengan muka beringas pucat dan rambut awut2an, jarak kedua orang semakin dekat, cuaca dalam lembah tetap guram, tapi keduanya terus saling mendekat. Akhirnya kuda putih berhenti kira2 puluhan tombak jauhnya, tetapi kuda hitam Pakkiong Bing tetap beranjak kedepan-

Terunjuk rasa heran pada sorot mata Toh bing-sik-mo yang dingin kaku itu, keadaan Pakkiong Bing yang serba mengenaskan agaknya menarik perhatiannya, keadaannya tak ubahnya seperti mayat gentayangan pula, sehingga mayat hidup yang dibuntal perban ini menampilkan cahaya simpatik yang belum pernah diperlihatkan kepada setiap korban yang dibunuhnya. Perlahan tapi pasti kuda hitam terus maju, perlahan dan perlahan semakin dekat. Perlahan tapi meyakinkan Toh-bing-sik mo mulai ulur tangan merogoh gendewa memasang anak panah merah.

Napas Pakkiong Bing terasa sesak dan tersengal, namun dia tidak mandah terima nasib, dia berusaha menghimpun hawa murni sembari menggerakkan tangan kanan yang tadi memega tali kekang kepunggung,

pelan2 dia melolos pedang cendana yang amat disayanginya dan masih berlepotan darah itu dari punggungnya.

Hembusan angin lalu membawa bau anyirnya darah, namun juga meniup seperti harumnya cendana. Dikala Pakkiong Bing pelan2 melolos pedang cendana itulah, dua bola mata simayat hidup perban putih itu tiba2 seperti mencorong menyala, rona matanya menampilkan rasa kejut dan girang tidak terkendali, seperti seorang yang tiba2 mendapatkan sesuatu yang telah sekian lamanya didambakan-

Loroh tawa aneh semacam pekik setan yang berkepanjangan menelan deraptapal kuda hitam yang ditunggangi Pakkiong Bing, lembah sunyi ini seakan tergetar oleh loroh tawanya yang dilandasi Lwekang tangguh, sehingga genderang telinga Pakkiong Bing serasa hampir meledak. suaranya mengalun tinggi bergema diangkasa raya.

Agaknya Toh-bing-sik- mo tidak sabar lagi memanah mati Pakkiong Bing seperti traktat yang pernah dia lakukan setiap kali membunuh korbannya, di tengah loroh tawanya itu kuda putih tunggangannya itu mendadak melompat jauh kedepan, hanya sekejap tahu2 sudah berada disamping Pakkiong Bing.

Loroh tawa yang mengandung ftekwensi tinggi itu seperti menyentak kesadaran Pakki ong Bing, tahu2 Toh-bing-sik- mo telah berada disampingnya, secara reflek Pakkiong Bing menggeram, pikirnya: “Turun tangan dulu lebih menguntungkan-” tahu2 tangannya bergerak. dengan menderu kencang pedang cendana membelah langsung kepinggang Toh-bing-sik- mo.

Toh-bing-sik-mo pegang gendewa merahnya dengan ibu jari,jari kelingking dan jari manis, sementara jari tengah dan jari telunjuk yang juga dibalut perban menyambut sambaran pedang cendana Pakkiong Bing serta menjepitnya bagai tanggem.

Hanya sedikit menggentak kedua jarinya, terasa oleh Pakkiong-Bing telapak tangannya panas dan pecah berdarah, pedang cendana tak kuasa dipegangnya lagi, secara mudah telah terebut oleh Toh-bing sik mo. Berbareng Toh-bing-sik mo ayun tangan kiri, dimana bayangan merah berkelebat, anak panah yang dipegangnya terus ditimpuknya, anak panah

itu meluncur dengan deru pesat yang tidak terlawankan langsung menusuk kejantung Pakkiong Bing,

Bahwa pedang terampas, tahu2 anak panah musuh telah melesat tiba pula, karuan kejut Pakkiong Bing yang sudah dalam keadaan payah ini bukan kepalang, secara reftek dia masih berusaha menyampuk dengan tangan kanan sekuat sisa tenaganya, sementara tinju tangan kirinya menggenjot kebatok kepala Toh-bing-sik- mo.

Tapi sebelum tangannya berhasil menyampok panah serta tinjunya mendarat dikepala orang tahu2 dadanya terasa sakit seperti ditusuk. diwaktu matanya terbeliak itulah dilihatnya perban diatas kepala Toh-bing-sik- mo tersapuk jatuh oleh angin pukulan tinjunya, sehingga tampak rambut orang yang panjang dan berwarna merah, rambut merah. “Bluk… ” tak kuasa Pakkiong Bing bertahan pula, dia tersungkur roboh dari punggung kuda dan tidak ingat diri.

Fajar telah menyingsing, sinar pagi telah menerangi lembah yang gelap. Hembusan angin pagi nan semilir amat menyegarkan, di-tengah erangan perlahan sehabis berkelejetan karena tubuh mengejang, per-lahan2 Pakkiong Bing siuman dalam penderitaan. Toh-bing-sik mo sudah tidak kelihatan, demikian pula pedang cendana telah lenyap entah kemana.

Huuuuaaaaahh sekumur darah segar tumpah dari mulut Pakkiong Bing, lekas dia kerahkan tenaga murni supaya darah tidak tumpah pula, sekilas dia awasi batang panah yang menancap didadanya, lama kelamaan pandanganannya menjadi terbeliak heran dan tak habis mengerti, pikirnya: “Kenapa aku belum mati ? Mungkinkah jantungku telah tergeser pindah ? Ya , betul, kiranya jantungku tergetar oleh timpukan tinju baja Hiat-ciang Tou Pit-lip yang keras itu sehingga pindah tempat.”

Loroh tawa dingin dan pekiksetan yang menggiriskan masih terkiang dalam telinganya. Aku harus menuntut balas, aku harus beritahu kepada puteraku, supaya dia merebut kembali pedang cendana, biarlah puteraku menuntut pukulan dan tusukan pedang serta tujukan panah ini.

Rasa dendam kesumat inilah yang mempertahankan semangatnya sehingga dia kuat meronta, sambil menahan segala kesakitan, pelan2 dia berdiri serta merayap naik punggung kudanya namun baru satu tombak

“Gedebuk” Pakkiong Bing terjungkal jatuh pula, kuda hitamnya mendongak sambil meringkik terus putar balik dan berdiri disamping majikannya.

Setelah mengatur napas dan menghimpun tenaga pula. Pakkiong Bing meronta pula, sekali gagal dua kali gagal, tiga kali tidak berhasil akhirnya dia bertopang pada kedua kakinya dengan tangan berpegang pada pelana, lama tapi akhirnya dia berhasil merayap ke punggung kuda pula. Kuda hitam yang gagah ini akhirnya membawa lari Pakkiong Bing yang berlepotan darah dengan sebatang panah menancap didada, keadaannya boleh di kata sudah Sekarat, namun mendekam dipunggung kudanya, mulutnya masih menggumam : “Hiat-ciang Tou Pit- lip. Tou Pit- lip. Toh-bing-sik-mo, tubuh di bungkus perban, gendewa dan panah merah dan kepalanya berambut merah… “

Sejak peristiwa itu, lembah mega hijau ini menjadi tentram dan aman- sejak saat itu pula Toh-bing-sik- mo lenyap tak karuan paran iblis pelenyap sukma yang membawa tragedi mengenaskan lama kelamaan telah dilupakan orang, entah dari keluarga yang pernah jadi korban atau kaum persilatan umumnya, waktu telah membawa lalu peristiwa besar-yang mengerikan itu dan tak pernah terngiang lagi untuk masa2 mendatang.

Nama Bong-hun-kok atau lembah pelenyap sukma lama kelamaan telah dilupakan orang, ceng-hun-kok kembali ramai dibicarakan-orang, jalan raya yang menghubungkan utara dan selatan, kembali ramai dilalui Lalu lintas. Akan tetapi kenangan pahit, dendam kesumat tetap menjalari sanubari sanak kadang para korban —oodwoo–

Sang waktu berselang tanpa terasa, hanya sekejap sepuluh tahun telah menjelang sejak peristiwa yang mengerikan itu. Waktu yang tidak terhitung pendek itu telah berselang ditengah percakapan orang banyak. Kembali pada suatu malam di musim rontok, bulan sabit bercokol juga diangkasa seperti bergantung diatas ceng-hun-kok sehingga lembah yang lembab dan gelap itu mendapat sedikit penerangan. Tik tak tik tak, derap tapal kuda yang berirama tetap. tidak cepat juga tidak lambat, bergema dalam lembah memeCah kesunyian ceng hun kok, di mulut ceng-hun-kok tampak seorang laki2 tua berambut uban membelokkan kuda tunggangannya memasuki lembah.

Tampang kakek ini pucat sadis, sorot matanya berkilat,jenggot kambingnya memutih saiju, senyuman sinis dilembari hawa nafsu yang melandasi keculasan hatinya tampak menghias diwajahnya. Tangan kirinya buntung tepat dipergelangan, gundul dan kelimis berwarna kemerahan, kakek tua ini bukan lain adalah tokoh golongan hitam yang terkenal dan paling jahat, yaitu bukan lain adalah Hiat ciang Tou Pit-lip.

Tou Pit- lip mendongak melihat cuaca, wajahnya mengulum senyum senang danpuas, seakan dia tengah dibuai kemenangan masa lalu yang menyenangkan hatinya. Setelah mendengus hidung, seorang diri ia menggumam: “Siang-to ceng Kek-pin, berani ia mencabut kumis harimau, melukai muridku serta membuat buntung lengan kanannya. Hm,jikalau malam ini jiwamu tak berhasil kurenggut, paling tidak kau harus membayar rente dengan membuat buntung kedua tangannya.”

Ditengah renungan itu kembali dia tersenyum sinis, kepalanya mendongak pula melihat cuaca, tiba2 alisnya berkerut, kembali dia membatin. “Aneh, Ngo-tok-sin-ciam Ni Sau-liang kenapa belum datang, kusuruh dia sembunyi di suatu tempat serta membokong dengan jarum beracunnya itu, supaya “

Dikala Hiat-ciang Tou Pit iip melayang lamunannya itulah, dari mulut lembah sebelah depan berkumandang langkah kuda yang dilarikan pelan2. Senyum lebar seketika menghias wajah Tou Pit- lip. namun hanya sekejap saja senyumannya sirna, mukanya kaku, tali kekangpun ditariknya, kuda dihentikan, sejenak dia memasang kuping, batinnya. “Kawan atau lawan ?”

Tiba2 langkah kuda berhenti, entah kenapa derap lari kuda yang cukup kencang itu mendadak seperti putus, suasana lembah kembali dicekam keheningan, karena bagi orang yang mendengar dan menyaksikan terasa bahwa keheningan yang mendadak ini terlalu aneh dan menarik perhatian, sukar diduga apa yang terjadi dan apa penyebabnya.

Tou Pit- lip menjublek di punggung kudanya, dia tidak tahu orang dipengkolan lembah sebelah depan entah kawan atau lawan, sebelum memperoleh kepastian dia tidak akan bergerak. dia tidak ingin jejaknya diketahui pihak sana, walau hal ini sebetulnya tidak perlu dibuat heran atau sampai mengharuskan dia bersitegang leher.

Tiba2 derap langkah kuda yang mencongklang kencang berkumandang di mulut lembah sebelah sana, semula sayup2 tapi lama kelamaan terdengar makin jelas dan dekat. Tiba2 dentam tapal kuda itu berhenti pula. ceng-hun-kok diliputi keheningan yang mencekam sanubari.

Keanehan menimbulkan rasa kejut dan waspada dibenak Tou Pit lip-— hatinya mulai tegang, dia yakin kalau bukan kawan yang datang kali inipasti lawan, namun kenapa kudanya mendadak dihentikan, serta tak terdengar pula suara apa2 ? Suasana kembali diliputi kesunyian- Ditengah kesunyian itulah terdengar sebuah benda berat jatuh gedebukan diatas tanah, disusul suara kuda yang berjingkrak kaget dan meringkik pendek. Kenapa dan apakah yang telah terjadi?

Tanpa sadar Tou Pit-lip segera keprak kudanya dicongklang kedepan menembus pengkolan, namun belum lagi dia melihat sesuatu di depannya, kupingnya telah mendengar gelak tawa aneh yang mengerikan, gelak tawa yang bergelombang dengan getaran yang cukup membuat telinga orang tuli, ceng hun- kok serasa seperti digoncang oleh gelak tawa yang bernada tinggi ini. Tou Pit- lip yang membekal Lwekang tinggi pun tak urung bergidik seram dan berdiri bulu kuduknya, Firasat buruk seketika menghantui sanubarinya, namun dalam waktu singkat dan mendesak ini, tiada tempo buat dia menggUnakan otaknya Untuk menerawang api yang terjadi didepan matanya, sementara kuda tunggangannya telah keluar dari pengkolan lembah.

Seketika Tou Pit-lip gemetar dan mengetik dipunggung kudanya, keringat dingin tidak terbendung lagi, secara reftek dia menarik tali kekang kudanya serta berdiri melongo seperti orang linglung, se-akan2 bingung apa jang harus dilakukannya. Darah tampak berceceran diatas tanah, di mana rebah miring kawan yang diundang untuk membantu dirinya dalam menghadapi musuhnya, yaitu Ngo-tok-ciam Ni Sau liang. Dadanya ditembus sebatang panah merah yang telah mengenai jantungnya, jiwanya melayang seketika.

Tak jauh disebelah belakang lagi, berdiri seekor kuda putih dan yang bercokol dipunggung kuda ternyata bukan musuh bebuyutannya yang dia tantang berduel dilembah mega hijau ini yaitu Siang-to cong Kok-ping tapi adalah mayat hidup yang tubuhnya dibalut perban kaki sampai atas kepala,

hanya sorot bola matanya yang kelihatan, ternyata mumi yang pernah menggetarkan Kangouw sepuluh tahun yang lalu dan pernah mengganas dilembah hijau ini kembali menampakkan diri dan mulai mengadakan teror pula, itulah Toh-bing sik-mo yang menyebabkan lembah mega hijau akhirnya diganti namanya lembah pelenyap sukma.

Toh-bing-sik- mo (mayat iblis merenggut nyawa) nama julukan yang membuat manusia giris dan merinding ini dicerna sekian lamanya dalam otak Tou Pit-lip yang masih kebingungan, tak tahu apa yang harus dilakukan untuk bertindak ? Atau melihat gelagat ? Kali ini dii seperti kehilangan akal sehatnya yang penuh diliputi muslihat jahat, se-olah2 jiwa raganya sudah tergenggam ditangan lawan, kecuali matanya memancarkan sinar rasa ketakutan dan minta pengampunan, boleh dikata manusia durjana ini sudah tidak mampu menguasai dirinya lagi.

Dua bola mata Toh- bing-sik-mo yang mencorong keluar dari balik sela2 perban di mukanya menatap tajam kemuka Tou Pit-lip. pelan2 dia melolos sebatang panah merah, lalu mengangkat gendewa serta memasang anak tanah itu diatas gendewa serta pelan2 menarik serta membidik. Bola mata Tou Pit- lip melotot bundar, memancarkan rasa ngeri dan ketakutan, sorot mata mohon pengampunan, sekujur badannya gemeroblos oleh keringar dingin, ingin dia rasanya turun dari punggung kudanya menyembah dan berlutut minta ampun, dia ingin meratap supaya kakek moyangnya mengampuni segala dosa yang pernah dia lakukan selama ini, namun sekujur badannya seperti lunglai, tak bertenaga, mulut sudah terpentang tetapi lidahnya kelu, suaranya tidak berbunyi.

Sungguh siksa derita yang dialami Tou Pit lip sekarang amat mengenaskan, se-akan2 dunia sudah beku dan waktu berhenti, namun kenyataan dia menyaksikan Toh bing-sik-mo sudah mulai angkat panahnya serta mulai membidik, tapi gerakan kaku itu akhirnya terhenti bola matanya yang mencorong hijau mendelik kearah Tou Pit-lip. gelak tawa seperti ringkik setan bergema lagi didalam lembah, seakan 2 dia merasa senang dan bangga menyaksikan rasa ketakutan Tou Pit-lip yang mengawasinya dengan tatapan yang harus dikasihani.

Sang waktu seperti berhenti di tengah gelombang tawa Toh-bing-sik-mo yang menggiriskan itu, dan gelak tawa itu jelas berlalu sedemikian lambat dan kaku. Tou Pit-lip tidak mampu membuka tabir kebekuan ini, sungguh

dia memang sudah tiada kemampuan lagi untuk memulihkan suasana kebiasaannya bila dia berhadapan dengan musuh yang akhirnya menjadi bulan2an dirinya seperti kucing mempermainkan tikus pada korbannya.

Kini keadaan justeru terbalik, gelak tawa Toh- bing-sik-mo serta tatapan matanya yang dingin mencorong seperti menembus pori2 kulitnya, menyelinap masuk keseluruh tubuh Tou Pit-lip. sehingga otaknya sudah berhenti bekerja. Suasana dalam lembah semakin seram dan menggiriskan, cuaca semakin guram dan hawapun basah oleh kabut yang dingin. Sekonyong-konyong suara tik tak tik tak kembali berdentam menimbulkan gema yang nyata dalam lembah.

Tou Pit lip seperti disentak oleh suara tik tak tik tak tapal kuda yang berdentam di tanah pegunungan, sehingga otaknya yang kaku dan hampir beku itu seketika berputar balik mulai sadar dan cerdik serta culas pula, kelopak matanya memicing, bola mata berputar, lekas sekali dia sudah kempit perut kudanya sambil menarik tali kekang kuda, hatinya dirasuk angan2nya untuk mengejar kehidupan yang lebih fantastik dikelak kemudian hari daripada menunggu ajal secara konyol disini, meski harapan hidup hanya seperseratus prosen belaka, betapapun dia harus merebutnya sekuat tenaga dengan segala kemampuannya pula.

Dibawah keremangan sinar rembulan, tampak selarik bayangan merah berkelebat, luncuran yang begitu cepat, tahu2 Tou Pit-lip merasakan dadanya menjadi panas dan sakit seperti ditusuk jarum, segulung tenaga besar kontan menerjang datang pula sehingga tanpa kuasa tubuhnya diterjangnya mumbul dan jatuh terguling dari punggung kudanya, darah pun muncrat dari dadanya membasahi seluruh tubuh menyirami tanah gersang didalam lembah nagahijau ini.

Sebatang panah merah telah menembus jantung, boleh dikata Tou Pit-lip sudah kehilangan kesadaran, namun dia masih tetap meronta dan meregang jiwa, biji matanya terbalik dan melotot besar, tangannya yang tinggal satu, jari2nya tampak mencakar amblas kedalam bumi, beberapa kali kedua kakinya me-nendang2, berkelejetan lalu mengejang pula, akhirnya napasnya putus dan tubuhnyapun lunglai tidak bergerak lagi. Pelan2 Toh- bing-sik-mo menurunkan kedua tangannya, dia tetap bercokol dipunggung kudanya tanpa bergeming.

Suara derap kaki kuda yang dilarikan kencang kembali bergema didalam ceng-hun-kok, lari kuda yang gugup danpesat itu semakin jelas dan dekat. Derap kuda itu terhenti setelah diakhiri dengan ringkik panjang dan suasana kembali dicekam kesunyian- Tidak jauh di pengkolan sana, seorang laki2 menunggang kuda sedang tampak melongo dipunggung kudanya sepasang golok tampak terselip di kanan kiri punggungnya, pakaiannya ketat, wajahnya tampak kaget takut dan ngeri.

Pendatang baru ini bukan lain adalah Siang-to ceng Kok-ping yang diundang Hiat Ciang Tou Pit lip untuk duel-menentukan mati hidup, Ternyata munculnya kembali Toh- bing-sik-mo telah mengakibatkan dua gembong penjahat dari aliran sesat ajal didalam lembah, teror yang pernah dilakukan Toh- bing-sik-mo sepuluh tahun lalu sekarang seperti baru terjadi kemaren sore, kini dengan mata kepala dia saksikan tragedi itu terulang, logis kalau sepasang golok ceng Kok-ping melongo dan menjublek ditempatnya.

Dia jadi lupa dimana sekarang dirinya berada, lupa untuk apa kedatangannya kemari sampaipun tindakan apa yang harus dia lakukan sekarang juga sudah tak sempat dipikir. LuCunya lagi, otaknya serasa kosong dan hampa. Pelan2 Toh- bing-sik-mo gerakkan kepalanya menoleh, sepasang matanya menatap ke arah ceng Kok-ping dengan pandangan tajam, Cukup lama dia mengamati laki2 bergaman sepasang golok ini. Sesaat kemudian dia menarik sorot matanya serta melirik kearah mayat yang menggeletak dtatas tanah, gelak tawa akhirnya terlontar pula dari mulutnya, nada tawanya yang tinggi seperti menembus langit, mengalun di angkasa dan menimbulkan gema suara yang memilukan didalam lembah, genderang telinga serasa hampir pecah.

Ceng Kok-ping merinding dan bergidik seram, kini dia teringat akanjiwa raganya sendiri, dia saksikan dua mayat yang mati secara mengerikan ditanah, nyalinya semakin ciut, rasa takut semakin menghantui sanubarinya, tanpa disadarinya pelana kudanya telah basah kuyup, Se-olah2 dia telah dibayangi oleh elmaut yang sebentar bakal merenggut sukmanya.

Akan tetapi kejadian didunia ini kadangkala memang sukar bisa dijangkau oleh pikiran sehat manusia. Pelan2 dilihatnya Toh-bing-sik-mo menaruh gendewanya disamping pelana, tali kekang ditariknya sehingga kuda putih itu membelok arah dan lekas sekali suara tik tak tik tak seperti bunyi musik yang merdu bergema didalam lembah, ternyata tanpa menoleh Toh-bing-sik-mo tinggal pergi tanpa hiraukan kehadiran ceng Kok-ping.

Sudah tentu ceng Kok-ping menarik napas lega dan diam2 bersyukur kepada Thian yang maha kuasa bahwa dirinya selamat. Pelan-pelan dia angkat kepalanya serta menyeka keringat dimukanya. Hatinya agak heran, karena suara tik tak tik tak dari derap kuda putih tunggangannya Toh- bing-sik-mo sekarang, agaknya berbeda dengan suara tik tak tik tak yang kedengaran berat, pelan dan rendah, namun lekas sekali ceng Kok-ping sudah menimbulkan rasa curiganya ini, pikirnya: “Betapapun kejadian sudah berselang sepuluh tahun, bagi seekor kuda sepuluh tahun merupakan waktu yang sudah cukup lanjut bagi usianya.” Setelah melirik pula kearah dua mayat yang menggeletak diatas tanah, ceng Kok-ping menarik napas dengan sedotan yang bergidik, lekas dia putar haluan kudanya terus dibedal-nya sekencang angin lesus, lekas sekali bayangannya telah lenyap dari lembah mega hijau.

Ceng Kek-ping telah pergi, pergi dengan jiwa raga utuh, namun kemunculan Toh- bing-sik-mo yang kedua kalinya ini secara langsung telah tersiar luas dari mulutnya, lekas sekali dunia persilatan kembali gempar. Sepuluh tahun yang lalu, dalam jangka satu bulan sejak Toh bing-sik-mo muncul, dengan gendewa dan panah merahnya, secara mudah dia telah menghabisi lima puluh jiwa orang, akhirnya dia menghilang secara aneh dan misterius.

Tapi sepuluh tahun kemudian, dikala insan persilatan mulai melupakan kenangan buruk masa lalu, tahu2 Toh-bing-sik-mo menampakkan dirinya pula, dengan dua jiwa manusia sebagai gala premire dari munculnya yang kedua, kali ini entah berapa lama dia akan mengganas, entah berapa jiwa pula yang akan menjadi korban terornya itu.

Entah untuk apa sepuluh tahun yang lalu dia muncul ? Lalu untuk apa pula kali ini Toh- bing-sik-mo muncul ? Manusia yang sengaja ingin bertindak secara misteriuskah dia ? Ataukah mayat hidup tulen yang gentayangan

dan penasaran serta ingin menuntut balas kepada para musuhnya ? Semua itu merupakan tanda tanya besar yang tidak terjawab sejauh ini, karena itu peristiwa dan lika likunya menjadikan bahan pembicaraan ramai orang banyak. Pembantaian di ceng hun kok masih terus berlangsung, namun tidak sedikit pula manusia yang lewat secara baik2 dan selamat dari lembah ini. Akhirnya khalayak ramai sadar bahwa para korban dibawah panah merah Toh bing-sik-mo, semua adalah penjahat2 yang keliwat besat kejahatannya. Perduli mereka bersenjata pedang atau golok dan gaman lainnya.

Kenapa ? Kaum pendekar sama heran dan takjub, namun jago2 golongan hitam sama kaget dan geram. Ternyata jejak Toh-bing sik-mo sukar dijajagi, untuk mencegah teror yang berkepanjangan ini, kaum pendekar sama berikrar untuk mencegah dan menghentikan pembantaian besar2an ini, namun usaha mereka sia2 meski sudah menunggu dan menunggu belasan hari tanpa berhasil memergoki atau menemukan jejaknya. Demikian pula dengan jago2 golongan hitam yang sepakat untuk mengganyangnya, mereka mengatur tipu daya, membuat jebakan dan memendam jago2 kosen mereka di ceng- hun kok, tetapi akhirnya mereka semua tertumpai habis malah.

Dan kini ceng-hun-kok kembali disebut Bong-hun-kok. kecuali bau anyir darah, hanya suasana sunyi dan kesepian melulu yang mencekam lembah sempit ini seperti diliputi kekuatan magis melulu. Setengah tahun sudah berselang dalam suasana yang tegang dan mencekam ini. Bau anyir darah semakin tebal dan memuakkan didalam lembah, derap kaki kuda yang tik tak tik tak itu masih sering berkumandang disana, suara gelak tawa seperti ringkik setan gentayanganpun masih sering bergema didalam lembah. —ooo0dw0ooo—

Jilid 3 : Ada dua Toh bing sik mo

SECERCAH cahaya mulai mengintip di ufuk timur, tabir kegelapan mulai sirna oleh datangnya sinar mata hari. Hembusan angin pagi di musim rontok terasa dingin membuat orang merinding dan berdiri bulu romanya. Hujan rintik2 membasahi jagat raya, berjatuhan merata dari angkasa tanpa bersuara, nampak angin menghembus semakin kencang.

Toh- bing-sik-mo yang tetap membalut perban diseluruh anggota badannya tampak bercokol dipunggung kuda putihnya, mumi yang serba aneh dan misterius ini berada di Bong-hun-kok. agaknya dia tidak merasakan hembusan angin dingin dimusim rontok yang mengiris kulit ini, seakan dia tidak merasakan hujan rintik2 yang telah membasahi kuyup sekujur tubuhnya. Kuda putih berdiri menunduk. tidak meringkik juga tidak menendang kakinya, Toh-bing-sik-mo juga tidak bergelak tawa, kecuali hujan rintik dan angin lalu tiada kedengaran suara apapun didalam lembah, hanya terasa bau darah yang amis itu terbawa hembusan angin lalu, keheningan yang menggelitik sanubari, suasana sepi yang menakutkan. Toh- bing sik-mo yang membalut seluruh tubuhnya itu tampak menunduk. agaknya dia merasa tawar pula, karena terdengar suara helaan napasnya yang merisaukan. Dikala seorang diri, ternyata Toh- bing-sik-mo menghela napas dan mereras diri sendiri, kenapa dan apa sebabnya ? Entah keputus-asa-an yang menggambar perasaannya, ataukah keluhan yang keluar dari sanubarinya… ? Helaan napas yang bernada ruwet ini kecuali diri sendiri, orang lain jelas takkan tahu dan dapat menyelami perasaannya. Sayup2 seperti kedengaran dia menggumam seorang diri. “sudah setengah tahun ya, sudah setengah tahun, mungkinkah… ” Lambat2 dia angkat kepalanya, bola matanya yang kelihatan dibalik perban itu, kini tidak lagi memancarkan cahaya terang menyala, tapi sorot mata yang menampilkan kerisauan, kehampaan dan kemasgulan. Se-konyong2 bola matanya terbelalak. serta jelilatan. Mungkin bakal terjadi sesuatu ? Betul juga , ditengah hujan rintik2 serta hembusan angin kencang itu, sayup2 terdengar derap lari kuda yang mendatangi. Terpancar cahaya yang penuh harapan, agaknya derap kaki kuda dimulut lembah sana memberikan setitik harapan bagi Toh-bing sik-mo. maka dia menghimpun tenaga memusatkan pikiran menunggu dengan tenang dan sabar. Memang dari luar mulut Bong-hun-kok tampak dicongklang seekor kuda, setelah berada didalam lembah, lari kuda diperlambat, Eh, kiranya seorang gadis jelita penunggang kuda yang gigih berwarna, coklat itu, tubuhnya ramping, wajahnya bulat telur, sebatang pedang tampak terselip dipunggungnya, napasnya sedikit menderu karena menempuh perjalanan jauh dan menahan hawa yang dingin ini.

Cuaca buruk tidak mengurangi ketajaman pandangan matanya yang penuh tekad dantegas, sebelah tangannya terangkat kebelakang memegang gagang pedang, diam 2 dia berdoa. “Semoga arwah ayah dialam baka memberkahi anak. supaya hari ini anak berhasil menuntut balas kematian ayah.” Sambil berdoa, dia memicing mata, seolah 2 dia membayangkan bagaimana kematian ayahnya dulu yang amat mengenaskan di dalam lembah ini. Waktu itu dia baru berusia tujuh tahun, Hari itu sepuluh tahun yang lalu dia sedang ber-main2 didepan Piaukiok^ dengan mata kepala sendiri dia saksikan Piausu HuiPiu membawa pulang jenazah ayahnya, keadaannya yang mengenaskan dan mengerikan sungguh tidak terlupakan seumur hidup ini. Sejak saat itu, peristiwa menyedihkan ini telah terukir didalam sanubarinya, diam2 dia bersumpah akan datang disuatu ketika dia harus menuntut balas kematian ayahnya. Gadis ini bukan lain adalah putri tunggal pemilik Gi teng Piaukiok yang paling besar dan terkenal dikota Pakhia, Yu-Liong-kiam Tio Kin-ping namanya Tio Swat- in- Setiba dilembah ini, tak tertahan lagi air mata ber-kaca2 dikelopak matanya, kedua tangan semampai seperti tidak bertenaga lagi, sehingga konral-kantil menyentuh buntalan bekalnya yang digantung disamping pelana. Didalam butiran air mata yang ber-kaca2 itulah terbayang pula boneka kain yang berlepotan darah oleh2 ayahnya sepulang perjalanan, dan selama sepuluh tahun ini, boneka kain berlepotan darah itu tak pernah berpisah dengannya— Boneka kain itu ibarat kematian ayahnya yang mengenaskan, setiap hari tak pernah lupa diapasti menengoknya, karena boneka kain inilah sehingga tak pernah terlupakan dalam ingatannya akan kematian sang ayah. Ibunya menangis gerung2 dan sesambatan sambil memeluk jenazah sang ayah, air matanya sampai kering dan terakhir darahlah yang mengalir dari kelopak matanya, sementara seorang pelayan dalam Piaukiok menggendong dan memeluk dirinya serta diajak menyingkir supaya dirinya tidak menyaksikan kematian ayahnya yang mengerikan. Padahal waktu paman Hou Pui kembali membawa jenazahnya kedua matanya melotot, sekujur badan berlumuran darah, sebatang panah merah menembus jantung.

“Aku harus menuntut balas Ayah, aku akan menuntut balas kematianmu.” suara ini seperti bergema dalam relung hatinya. Tio Swat- in menyeka air matanya yang mulai meleleh kebawah pipinya, dia tegakkan tubuh serta menjepit kedua kakinya, kuda di keprak berlari lebih kencang kedalam lembah. Darah bergolak. dendam mendidih didalam rongga dadanya, angin berhembus dingin hujan masih rintik2 tapi semua ini seperti tidak terasakan oleh Tio Swat-in, hanya satu pikiran yang menunjang semangat dan tekadnya dia harapkan dilembah mega hijau yang lembab dan guram ini dia bisa menemukan mayat aneh yang membungkus seluruh badannya dengan perban putih, dengan pedang yang di bekalnya dia akan cacah musuh keparat itu. Kudanya berlari kencang mengikuti liku 2 lembah yang sempit itu, sambil menahan napas Tio Swat- in pasang mata dan kupingnya, dengan penuh harapan dia maju terus menyelusuri jalanan lembah sempit yang penuh berlumuran darah ini. Sebulan yang lampau, sahabat baik gurunya Hwi-khong Loni, yaitu To-Liong-siam-si mendadak berkunjung ke ciong-lam-san, kedatangannya membawa khabar bahwa Toh- bing-sik-mo telah muncul dan mengganas pula untuk kedua kalinya di ceng hun-kok. Untuk menuntut balas, dengan bercucuran air mata Tio Swat- in berlutut di hadapan gurunya mohon diperkenankan turun gunung tekadnya amat besar meski dengan berat dia harus berpisah dengan sang guru Hwi-khong Loni yang telah mengasuh dan membesarkan dia selama delapan tahun, tanpa mampir ke-rumah untuk menjumpai dan mohon restu ibunya, Tio Swat-in langsung menempuh perjalanan keperbatasan Kiam-slok. ke lembah mega hijau yang terletak dua puluh li di luar ko ta sia-tay sebelah utara. Untuk pulang kerumah kali ini dia ingin membuat kejutan kepada sang ibu, bahwa dia telah berhasil melaksanakan cita2 selama sepuluh tahun yang diidamkan itu, sesuai apa yang diharapkan juga oleh sang ibu, berhasil menuntut balas kepada musuh besar Toh-bing-sik- mo. Kudanya terus dicongklang dalam tempo sedang, akhirnya tiba juga dipengkolan dalam lembah, mengikuti arah lembah Tio Swat -in membelokkan kudanya. Tampak seekor kuda putih yang gagah tegak berdiri disana, di-punggungnya bercokol mayat hidup yang dibalut perban menghadap kearah dirinya, hanya bola matanya yang hitam gelap mencorong benderang seperti bintang dilangit yang kelap-kelip.

Gelak tawa aneh yang bernada tinggi tiba2 bergema di dalam lembah sehingga udara lembab dan basah ini terasa bergolak. Betapapun besar nyali Tio Swat-in, betapa besar tekad dan dendamnya untuk menuntut balas, tentunya tak akan lebih berani dari gembong2 penjahat yang sudah malang melintang puluhan tahun di Kangouw. Keadaan yang tak terduga ini memang amat mengejutkan sehingga berdiri bulu kuduknya, badannya yang memang sudah basah kuyup oleh hujan mendadak terasa dingin dan tak tertahan dia bergidik, serta merta dia menarik tali kekang kudanya. Penemuan mendadak ini, entah membuat hati Tio Swat-in kaget atau girang, tetapi kenyataan yang dihadapinya ini memang teramat mendadak. Ditengah gelak tawa aneh si mumi, jantungnya seperti sudah hampir melonjak keluar, bibirnya gemetar dan matanya terbelalak. lama dia terlongong dipunggung kudanya, seakan dia terlupa untuk apa tujuan kedatangan dirinya, da npikirannya sekarang kosong, hambar dan seputih lembaran kertas. Sorot mata Toh- bing-sik-mo yang mencorong dingin itu ternyata menampilkan rasa heran dan bingung, sungguh diluar dugaannya bahwa dua tombak didepannya, yang duduk dipunggung kuda coklat ternyata adalah seorang gadis berusia delapan belas tahun, wajahnya yang molek dengan potongan badan yang menggiurkan, terutama bola matanya yang bundar jeli, begitu mempesona. Gelak tawa aneh itu seketika sirna, meski dingin sorot matanya, namun tidak mendelik penuh ancaman, dibalik tatapannya yang tetap tajam tapi lengang itu, tersembunyi rasa kecewa dan putus asa. Selama setengah tahun ini, sudah sering dia dibuat kecewa. Hening lelap kembali melingkup lembah sempit ini, namun ditengah hujan rintik dengan hembusan angin kencang didalam lembah ini, suasana ternyata sedikit demi sedikit bertambah memuncak tegang. Akhirnya Toh- bing-sik-mo menarik sorot matanya, pelan2 kepalanya tertunduk, tali kekang kuda ditariknya kekanan, kudanya mulai bergerak terus beranjak pergi dengan langkah pelan2. Tapal kuda putih agaknya dibuat khusus tebal dan berat sehingga bunyi dentam dipermukaan bumi ternyata terdengar keras, berat dan nyaring, yang terang dentam nyaring ini menimbulkan perasaan hangat disanubari Tio Swat-in, walau gemetar bibirnya tak menjadi berkurang karenanya, namun perasaan hatinya yang kosong memutih sudah mulai tumbuh warna dan bergejolak. Dari bayangan Toh- bing-sik-mo yang putih seperti terbayang olehnya

pemandangan noda-noda darah yang berlumeran disekujur badannya, darah yang membasahi seluruh tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa lagi. Kenangan lama di waktu dirinya masih kecil seketika seperti terulang kembali didepan mata. Pandangannya menjadi kabur, lembah terasa berputar, bayangan orang satu persatu seperti berkelebat didepan kelopak matanya, tapi pandangannya terakhir kembali memutih hampa dan berubah menjadi hitam gelap. Sontak darahnya mengalir kencang dan makin mendidih, mendadak dia meraung penuh kepanikan, padahal mulutnya terpentang lebar dengan mimik muka geram dan beringas tapi suaranya tidak keluar dari mulut. Mendadak dia keprak kudanya, kudanya kaget, mengangkat kaki depannya sambil meringkik terus loncat kedepan, ternyata kepandaian menunggang kuda Tio Swat-in amat mahir, di saat kudanya melompat kedepan itulah sebelah tangannya membalik ke belakang, sekali ulur dan tarik, “Sret” dering nyaring disertai sinar kemilau menyambar, pedang pusaka yang tersandang dipunggung telah terlolos, sinar pedang laksana ceplok2 kuntum kembang bertebaran diudara, ditengah deru lari kudanya pedang ditangannya itu langsung menyabet kepala Toh- bing-sik-mo. Meski kelihatan kaku tetapi gerak gerik Toh bing-sik-mo ternyata amat cekat dan tangkas, sedikit mengegos dengan mudah dia hindari bacokan pedang Tio Swat in- Tekad mengadu jiwa telah merasuk sanubari Tio Swat-in, begitu serangan pertama luput, dia tidak ayal lagi melancarkan serangan susulan, pergelangan tangan ditekan sambil menarik pedang sementara tangan kiri bergerak dengan jurus Kim-ciam-toh-wi, angin jarinya laksana anak panah menutuk ke Thay-yang hiat dipelipis Toh- bing-sik-mo. Toh- bing sik-mo kempit perut kudanya, kuda putih itu mendadak melonjak kemuka sehingga tubuhnya luput dari serangan- Tapi Tio Swat-in sudah nekat, diapun keprak kudanya mengejar, pedang pusaka ditangannya kembali bekerja, dengan jurus Hiang-cian-jan-hun cahaya dingin membawa deru kencang menerpa kearah Toh-bing-sik mo. Selama delapan tahun digembleng oleh Hwi-khong Loni, Tio Swat-in sudah mewarisi kepandaian gurunya, ditambah bakatnya dan mau rajin belajar dan giat berlatih, kekuatan luar dalamnya cukup tangguh, taraf kepandaiannya sekarang sudah terhitung kelas wahid di kalangan

Kangouw. Kini dia sudah menyerang dengan segala kemampuannya, menyerang secara gencar lagi, padahal serangan pedang dan tutukan jarinya teramat lihay dan jarang ketemu tandingan, dilandasi lwekang lagi, hebatnya bukan main- Tapi lubuh Toh-bing sik-mo yang kelihatan kaku itu kini bukan saja tidak kaku lagi, ternyata gerak-geriknya amat cekatan dan lincah, mengegos atau berkelit dengan gaya yang indah dan memadai. Tapi sejauh ini dia hanya berkelit melulu, belum pernah balas menyerang atau menangkis. Terunjuk pandangan heran dan kaget dari bola mata Toh-bing sik-mo. Memang tepat dan patut dibuat kaget dan heran, bahwa selama setengah tahun ini, belum pernah ada orang yang bernyali sebesar ini, berani bergebrak atau melabraknya malah. Apalagi bukan saja cewek ini ayu jelita, usianya yang masih muda, ternyata memiliki Kungfu sehebat dan selihay ini, adalah jamak kalau semua hal ini membuat Toh- bing-sik-mo menjadi kaget dan heran. Toh-bing-sik mo tetap berkelit dan menyingkir dari serangan gencar dan kalap lawannya yang jelita ini, dia tidak habis mengerti, kenapa cewek ini menyerbu secara membabi-buta kepadanya, pikirnya. “Mungkin kedatangannya ingin menuntut balas bagi sanak kadangnya atau untuk ayah bundanya… ” Tak pernah terbetik dalam ingatan Toh bing-sik-mo untuk balas menyerang atau melukai cewek ayu yang mempesona ini, tetapi serangan pedang orang justeru sejurus lebih lihay dan mematikan dari jurus yang semula, orang hanya merangsak belaka tanpa buka suara. Akhirnya dia kewalahan juga dibuatnya, terpaksa dia putar haluan kudanya terus dikeprak kedepan- Lekas Tio Swat-in juga memutar haluan kudanya, tampak setombak didepan sana Toh bing-sik-mo telah tegak dipunggung kudanya, tangan kanan pelan2 sudah menanggalkan gendewa yang semula digantung disamping pelananya, kedua matanya memicing, secercah cahaya dingin terpancar menatap Tio Swat in, se-olah2 memberi peringatan kepadanya: “Jangan kau menyerbu lagi bila jiwamu ingin selamat, lekas tinggalkan lembah ini, kalau masih bandel terpaksa aku bertindak tak kenal kasihan lagi.” Tapi dendam Tio Swat-in sudah membara, mati hidup sendiri sudah tidak terpikir lagi olehnya, lekas dia keprak kudanya menyerbu maju, pedangnya kembali menciptakan cahaya gemerdep mirip kuntum bunga mekar,

dengan jurus Yau-thau-pay bwe, pedang pusaka ditangannya itu laksana ular sakti yang menari, bayangan pedang dengan hawanya yang dingin tajam terus menderu dan menerpa kearah Toh- bing-sik-mo, perbawa serangan pedang ternyata amat deras dan menakjubkan. Toh-bing sik-mo tetap bertengger dipunggung kudanya, tidak berkelit atau menyingkir dimana tangannya menggentak dengan jurus Sian gai ceng-bu-siau, gendewa panjang ditangannya itu tiba2 berputar menimbulkan bayangan merah ber-lapis2, sehingga tubuhnya yang diperban itu seperti terbungkus oleh bayangan merah, padahal gendewa itu hanya berkelebat sekali laksana kilat menyambar ditengah mega terus menutuk kebatang pedang Tio Swat-in yang menusuk tiba. Melihat Toh- bing-sik-mo menyendal gendewa seketika menerbitkan bayangan merah yang ber-lapis2, sehingga seluruh tubuhnya seperti dibungkus oleh bayangan merah itu, sedemikian rapat dan ketat pertahanannya, tahu2 ujung gendewa mengetuk ke pedangnya pula, tahu untuk menarik mundur sudah tidak sempat lagi, terpaksa Tio Swat-in pegang kencang pedangnya siap untuk melawan secara kekerasan, sekaligus untuk mencoba dan mengukur sampai dimana sebetulnya taraf Lwekang Toh- bing-sik-mo. “Trak” gendewa dan pedang kebentur terus membal pula. Tubuh Tio Swat-in tampak limbung diatas kuda, benturan keras yang terjadi dalam sepersepuluh detik itu telah menyebabkan seluruh lengan kanannya linu kesemutan, hampir saja dia tidak kuat lagi bercokol dipunggung kudanya. Agaknya Toh- bing-sik-mo merasa heran dan takjup pula, pengalaman setengah tahun ini, belum pernah ada orang jago silat kosen manapun yang mampu menyambut satu atau setengah jurus serangannya. Kapan dia pernah menduga bahwa seorang gadis belia berusia belasan tahun ternyata mampu melawan ketukan gendewanya, bukan saja pedang tidak terpental lepas, dia masih kuat bertahan dipunggung kudanya. Sudah tentu Tio Swat-in sendiri juga terkejut bukan main, bentrokan sekejap itu telah berhasil mengukur Lwekang Toh- bing-sik-mo dia tahu kemampuan sendiri masih bukan tandingan lawan, tetapi tekadnya tetap membara untuk menuntut balas kepada musuh besarnya yang satu ini. Ternyata Toh-bing sik-mo tidak mengambil kesempatan untuk balas merangsak kepadanya tapi hanya menatap lekat2 dengan pandangan dingin dan peringatan, seakan dia mengharap cewek ayu ini tahu diri dan segera mundur teratur. Rasa takut dalam benak Tio Swat-in padahal tidak pernah luntur, tanpa

sadar dia melengos karena ditatap sedemikian rupa, kecuali menuntut balas tiada persoalan lain yang pernah merasuk benaknya, ya membalas dendam. Maka nalarnya bekerja tanpa komando, pelan2 dia kerahkan hawa murninya sehingga lengan yang linu kesemutan dalam sekejap telah pulih seperti sedia kala. –oOdwOo–

Se-konyong2 dia menghardik sekali, pedang pusaka di tangannya kembali menyerang dengan jurus Lui-sim tim-te, selarik dingin bagai samberan kilat membawa deru angin yang ganjil membelah kearah Toh-hing sik-mo. Toh-bing sik-mo tetap tidak bergerak dipunggung kudanya, tapi tangan kiri menepuk kuda, kuda putih itu segera mendongak sambil melangkah maju selangkah, maka dia terhindar dari tebasan hawa pedang Tio Swat- in, kembali dia membalik pergelangan tangannya, bayangan merahpun berkelebat, dengan sejurus Le-cu-cian-cian-toh, ujung gendewanya yang runcing ternyata mengeluarkan desis angin melengking, seCepat halilintar mendahului menutuk keJian-kin-hiat dipundak Tio Swat- in- Serangan pedang Tio swat- in mengenai tempat kosong, tahu2 ujung gendewa lawan telah menutuk tiba, lekas dia menikam kedepan dipunggung kuda sehingga tubuhnya merapat dengan leher kuda, pedang di tangan bergerak mengikuti gerak gerik rubuhnya, dimana lengannya ditarik dan diulur kedepan, dengan jurus Han-bwe-ro-ci, tajam pedangnya mengiris kain- kain perban yang membungkus tubuh Toh-bing-sik-mo. Tubuh Toh-bing-sik-mo tetap tidak bergerak. tetap dalam gaya semula, kaku dan seperti sukar bergerak. tapi dikala dia menekan tangan, gerakan gendewa ditangannya ternyata telah berubah menjadi tipu Ih-pau-say jian-sin, gendewa merah berubah gulungan bayangan merah seperti hendak melilit lengan Tio Swat in- Gerak permainannya ternyata begitu cepat dan tangkas, hakikatnya dua gerakan merupakan satu jurus, landasan tenaga yang disalurkan ternyata juga berubah dari kuat jadi lunak, dari lunak bisa berubah kuat pula. Dikala Tio Swat-ia mendorong ujung pedang kemuka, berbareng deru tenaga gendewa lawan telah menggulung tiba,jelas dirinya tiada kesempatan untuk melukai lawan pula lebih penting menjaga keselamatan diri sendiri, maka tersipu-sipu dia berusaha menarik senjata serta berkelit. Namun kecepatan gerakannya ternyata masih kalah cepat dari serangan ujung gendewa lawan, tahu-rahu gendewa runcing itu telah menyentuh bajunya, dia insyaf lengan kanannya ini bakal putus atau paling ringan

cacat untuk selamanya. Lalu dengan bekal apa pula kelak dia akan menuntut balas pula. Maka diam-diam dia berteriak dan meratap dalam hati: “Ayah, jangan kau salahkan aku, aku sudah berusaha sepenuh tenaga … ” Akan tetapi, kejadian didunia ini kadang kala susah diukur oleh nalar manusia biasa, pada detik yang menentukan itu, tampak sorot mata Toh-bing-sik-mo memancarkan cahaya yang ganjli, mendadak dia hentikan gerakan tangan kanan serta menekannya kebawah dan “cret” sebuah batu besar disamping sana seketika hancur menjadi korban sebagai ganti lengan Tio Swat in karena kena tuding ujung gendewanya. Padahal Tio Swat- in sudah rasakan lengannya seperti ditindih benda berat ribuan kati, sehingga di waktu lawan menghentikan gerakan serta menekannya turun kesamping, dia juga merasakan lengannya seperti ketarik keluar pula, namun tekanan itu sirna seketika. Lekas Tio swat-in menegakkan tububnya, sementara kuda tunggangannya meringkik sambil angkat kaki depannya memutar haluan kearah lain- Lekas Tio Swat-in kerahkan tenaga murninya menembus seluruh urat nadi ditubuhnya, ternyata tanpa gangguan dan mencapai klimak yang diharapkan, tahulah dia bahwa dirinya tidak cidera apa-apa. Toh-bing-sik-mo berduduk kaku di atas kudanya, sorot matanya yang dingin setajam pisau tetap menatap Tio Swat-in tanpa berkesip. tatapan peringatan untuk terakhir kali supaya jangan mengabaikan jiwa raga sendiri. Tio Swat-in melenggong, sekilas dia melerok kearah Toh-bing-sik-mo yang berada setombak disamping sana, rasa takut masih menghantui sanubarinya terhadap mayat hidup yang menyeramkan dan berkepandaian tinggi ini, dia ridak berani menatapnya, apa lagi beradu pandang dengan cahaya matanya yang berwibawa, dia kuatir rasa takut akan semakin merasuk jiwa dan hatinya, sehingga jerih payahnya selama sekian tahun di bawah gemblengan sang guru akan sia-sia. Sebetulnya dia amat berani: Konon Toh-bing-sik-mo bertangan gapah berhati culas, kenapa hari ini terhadapku dia begini lembut dan menaruh belas kasihan, jangan kau coba menanam budi atas diriku supaya aku membatalkan niatku menuntut balas kematian ayahku. Hm, jangan kau kira persoalan dapat dibereskan semudah ini. Dendam kesumat memang lebih merasuk sanubarinya dari pada rasa takut itu, maka dia kertak gigi serta keprak kudanya menerjang pula kearah Toh-bing-sik-mo. pedang ditangan kini menyerang dengan jurus Pak-hun-jut-jo,

berbareng telapak tangan kiri ikut membelah dengan tipu Liu-am-hwa bing, dua jurus secara bersusun menjadi dwi tunggal, sehingga antara hawa pedang dan angin pukulannya merupakan kekuatan gabungan yang dahsyat, bukan kepalang perbawa serangan kali ini. Lekas Toh-bing-sik-mo tarik tali kekang sehingga kudanya menyurut mundur sejauh mungkin. Sudah tentu serangan Tio Swat-in untuk kesekian kalinya gagal pula, lekas dia tarik kuda serta membelokkan arah, sinar pedang berkelebat pula, sekalian dia gunakan jurus Hu Tiou-ciang-Liong-gay. pedangnya seperti lambat tapi juga cukup cepat menabas kearah Toh-bing sik-mo. Dengan gerakan santai Toh bing sik-mo angkat gendewanya. dengan jurus cui-Liong-tio-thian-yong, dia sambut serangan pedang Tio Swat-in- Kelihatannya gerakannya kedua pihak amat lamban, namun tenaga yang dikerahkan ternyata sangat dahsyat, dikala pedang dan gendewa sudah hampir saling bentur itu. Tiba-tiba Tio Swat-in merubah gaya pedangnya dengan jurus Hwi-rim ceng-tam, sinar pedangnya berkelebat miring kekiri sementara kuda atau tubuhnya bergerak ke samping, laksana samberan kilat pedangnya sudah meluncur ketenggorokan Toh-bing-sik-mo. Satu jurus dua gerakan, yang satu cepat yang lain lambat, pertama gerakan pancingan menyusul serangan telak yang mematikan, gerak serangannya ternyata amat ganjil dan lucu serta sukar diduga. Bahwa gendewanya mengenai tempat kosong, sementara serangan pedang lawan sudah menabas tiba, karuan Toh-bing-sik-mo kaget juga dibuatnya, sekalian dia merebahkan tubuh kedepan sehingga tubuhnya hampir mendekam dileher kuda, syukur masih sempat dia meluputkan diri, namun keadaannya sudah cukup runyam Karena memandang enteng lawannya, hampir saja Toh bing-sik-mo termakan oleh pedang Tio Swat-in, karuan dia naik pitam, sorot matanya seketika mencorong gusar, gelak tawanya yang mengandung getaran dahsyat kembali berkumandang dari mulutnya. Bila orang lain mungkin sudah menjadi korban keganasan pedang Tio Swat-in, tapi Toh-bing-sik-mo memang memiliki kelebihan yang luar biasa. Ditengah kumandang gelak tawanya itu, Toh-bing sik-mo yang dibalut perban itu, tubuhnya mendadak berubah seringan asap. gerak-geriknya yang semula kaku kini ternyata indah gemulai, mumbul pelan2 terapung keatas udara, itulah Ginkang tiada taranya dari Bulim yang sudah lama putus turunan Yan-ting-bun-siang-hun. Waktu mengikuti pelajaran gurunya Hwi-khong Loni, pernah Tio Swat-in

mendengar cerita dari gurunya tentang Ginkang yang dinamakan Yan-ting-hun-Slong-hun (mega bergolak diatas awan), ternyata hari ini dia saksikan Ginkang tiada taranya itu didemonstrasikan oleh Toh-bing-sik mo, betapa hatinya takkan kaget dan ciut nyalinya, wajahnya seketika berubah pucat pasi. Dikala Tio swat-in melenggong sekejap itulah, tubuh Toh-bing-sik-mo yang mengapung mumbul keatas itu seperti merandek pula, disusul dengan perubahan gerak dengan Sin-liong-wi-khong-coan, tubuh yang terapung di tengah udara itu mendadak berputar cepat laksana gangsing, gendewa ditarikan pula dengan jurus Hun jui sik cau ang, bayangan putih terbaur dalam libatan sinar merah, dengan membawa deru kencang yang tak terbendung, laksana gugur gunung langsung menindih keatas kepala Tio Swat-in- Meski Tio Swat-in memiliki Kungfu setinggi langit, kini dia tak mampu lagi mengembangkan bakat kemahirannya karena desakkan Toh-bing sik-mo, karuan disamping rasa takut merasuk hati, hatinyapun kecewa dan putus asa, tanpa kuasa air mata telah bercucuran dari kedua matanya. Tapi Kungfu lawan yang satu ini memang hebat luar biasa, apa boleh buat terpaksa dia pasrah nasib saja? Akhirnya terbetik sebuah keinginan dalam benaknya: “Menuntut balas jelas aku tidak mampu lagi, dari pada mati konyol di tangan musuh lebih baik aku bunuh diri saja.” Maka sambil memejamkan mata segera dia angkat pedang terus menggorok leher sendiri. Hujan masih rintik-rintik, angin tetap menghembus kencang, alam semesta seakan ikut berduka cita akan tragedi yang berlangsung, mungkin juga ikut bersimpati akan nasib yang menimpa Tio Swat-in, Sang surya yang semestinya sudah menongol diufuk timur juga seperti malu-malu untuk menampakkan dirinya, sehingga cuaca dilembah mega hijaU tampak masih remang-remang lembab, bau darah yang tebal dalam lembah tetap tak tercuci bersih datangnya hujan ini. “Trang” entah apa yang terjadi, dikala Tio Swat-in angkat pedangnya sambil memejamkan mata ternyata pedangnya telah tersampuk pergi. Didengarnya sebuah helaan napas panjang dari lawannya. Dengan kejut heran Tio Swat-in membuka matanya, dilihatnya Toh bingsik-mo telah bercokol kembali dipunggung kuda putih, matanya terpejam seperti menepekur entah gerangan apa yang merisaukan hatinya? Pelan-pelan dia membelokan kudanya, tanpa angkat kepalanya lagi dia berniat tinggal pergi.

Sudah tentu Tio swat-in takkan paham apa maksud Toh-bing-sik-mo serta menyelami perasaannya, air matanya sudah bercucuran tercampur air hujan- Dia harus menuntut balas, ini sudah merupakan tekat yang tak boleh di tawar lagi, meski jiwa raga sendiri harus di korbankan pula . Menuntut balas, meski dia tahu dirinya bukan tandingannya Toh-bing-sik-mo. Tio Swat in membatin : “Mau pergi, jangan kira begini mudah, meski kau tidak mau membunuhku, aku tidak terima kebaikkanmu, kalau bukan aku yang mati, biar kau yang mampus hari ini. Sebelum aku mati, jangan harap kau bisa pergi dari sini.” Maka dia menghardik sambil mengeprak kuda: “Lari kemana?” pedang ditangan menyerang dengan jurus Kim-si-jao-hoan membelah ke tengkuk Toh-bing-sik-mo. Toh-bing-sik-mo menoleh, tampak kedua matanya menyala gusar seperti api las yang benderang, loroh tawanya berkumandang pula, nadanya jelas mengandung kemarahan, tubuhnya tampak bergeser kesamping sambil angkat gendewa dengan jurus ceng-han-hwi-joh-ing, tenaga besar yang dikerahkan ternyata luar biasa bayangan, geadewa seperti berubah ribuan banyaknya sama mengepruk ke batok kepala Tio swat-in- Memang Tio Swat-in sudah nekat adu jiwa, maka dia tidak menyingkir atau berkelit, serangan ditekuk terus membalik, sekaligus dia- menyerang pula dengan jurus Loh yap-kun-kin yang diserang kali ini adalah muka Toh-bing sik-mo. Jikalau Toh-bing-sik-mo benar-benar memukulnya dengan gendewa, umpama dia tidak mati pasti juga remuk parah oleh pedang pusakanya ini, keCuali dia benar-benar mayat hidup bukan manusia tulen. Agaknya Toh-bing-sik-mo segan mengadu jiwa, apa lagi dengan cara membabi buta dan nekat seperti kerasukan setan, tidak kenal kapok lagi. Mendadak dia jejak perut kudanya serta mengepraknya mundur berkelit. Maka merekapun bertempur saling serang dan berkutet cukup sengit. Cahaya merah dan sinar putih seperti saling lilit dan gubat didalam lembah yang mulai benderang, angin bergolak seperti ada angin lesus yang berpusar dilembah sebelah sini. Lekas sekali belasan jurus telah lalu, rasa malu, dendam dan penasaran Campur aduk dalam benaknya sehingga serangannya seperti menggila. Toh- bing-sik- mo memang kewalahan dibuatnya, namun keadaan Tio Swat-in sendiri juga sudah kepayahan, badannya yang memang basah kuyup lebih basah lagi oleh keringat, napasnyapun ngos-ngosan. Tiba-tiba Tio Swat-in menghardik pula, gaya pedangnya tiba-tiba berubah

lincah dan enteng, dengan jurus Ngo-Liong-pi-i, gerak pedangnya pelan dan mantap. batang pedangnya berubah menjadi lima jalur bayangan, dibawah tekanan tenaga murninya, pedang pusaka itupun menguarkan hawa pedang yang tajam, pedang rampak berayun setengah lingkaran membelah miring kepinggang Toh-bing-sik-mo. Bukan saja gerakannya aneh, Cepat juga lihay. Begitu melihat gaya pedang lawan, Toh bing sik-mo seperti sudah tahu bahwa jurus serangan pedang kali ini bukan jurus sembarangan, lekas dia tarik tali kekang kuda, maksudnya hendak melompat menyingkir sekaligus meluputkan diri dari serangan lihay ini. Tapi tak pernah terpikir oleh Toh-bing-sik-mo bahwa kaki depan kudanya justru terjeblos ke dalam lumpur sehingga gerak geriknya kurang leluasa, meski dia sudah tarik tali kekang dan membelokkan kepalanya kesamping, tapi gerakan kudanya sedikit merandek, padahal sinar pedang yang dingin itu sudah menyerang tiba. Sudah tentu Toh-bing sik-mo kaget, dalam detik-detik yang gawat ini, dia tidak sempat berpikir lagi, secara reftek dia angkat gendewanya mengembangkan Siang-hoan-coat, gerakan peranti membela diri disaat kritis oleh serangan musuh yang berbahaya. Dimana dia tekan pergelangan tangan, dua jurus satu gerakan, yaitu cu-pi-sam-siau-hap dan ii-bu-ngo sekalian, bersatu padu dilancarkan- Sudah jelas bagi Tio Swat-in bahwa pedangnya sudah membelah, betapapun cepat gerakan Toh-bing-sik-mo, jelas dia takan bisa berkelit lagi, sudah tentu bukan main senang hatinya. Mendadak dilihatnya orang angkat miring gendewa serta menekannya turun, seketika tubuh Toh-bing-sik-mo seperti dibungkus oleh tabir merah yang menyala, dari lingkaran cahaya itulah merembes keluar segulung tenaga lunak, pedang Tio Swat-in tanpa kuasa kena dituntun minggir sehingga tabasannya miring kesamping seperti menepis permukaan tabir merah. Karuan bukan kepalang rasa kejut Tio-Swat-in, dia tidak habis mengerti bahwa gerakan gendewa Toh bing sik mo ternyata begitu aneh menakjupkan, secara mudah ngo-hong pi-i ajaran gurunya yang paling dibanggakan telah dipunahkan demikian saja. Harus diketahui bahwa Ngo liong-pi-i ajaran Hwi khong Loni harus dilancarkan dengan landasan Lwekang yang kuar, gerakan seperti lamban tapi kenyataan pesat sekali, dikala melancarkan serangan pedang mula pertama, tenaga dalam sudah dikerahkan sehingga sekali gentak pedangnya itu berpeta menjadi lima jalur pedang, sekaligus bisa

menyerang lima Hiatto mematikan ditubuh lawan, walau bayangan pedang menjadi lima jalur, namun sekaligus mengincar kesasaran yang sama dan telak. Ngo Hong pi-i merupakan karya ciptaan Hwi-khong Loni selama puluhan tahun, hasil jerih payahnya setelah mencangkok dan mengkombinasikan ilmu pedang dari berbagai perguruan silat dan sukar dilawan atau dipunahkan. Bahwa gaya pedangnya menyelonong ke samping, sudah tentu Tio Swat-in amat kaget, tapi keajaiban gerak Siang-hoan coat yang di lancarkan Toh-bing-sik-mo ternyata tidak sampai di situ saja, tenaga lunak yang merembes keluar sehingga menggetar miring gerak pedang Tio Swat-in paling hanya setengah dari kekuatan cu-pi-sam-siaw-hap saja, dimana pergelangan tangannya sedikit menyendal pula, hun-sia-ngo-sik-lian telah dilancarkan pula, gendewa yang merah itu telah menimbulkan tabir merah, padahal tenaga amat besar, namun sedikitpun tidak menimbulkan gejolak hawa atau deru angin yang mengejutkan, yang terang Tio Swat-in merasa dirinya seperti diterjang angin badai yang deras. Bahwa pedangnya didesak minggir Tio Swat-in amat kaget, di kala rasa kaget itu belum lenyap. tabir Cahaya yang melindungi tubuh Toh bing sik-mo ternyata dalam melebar menjangkau jarak tertentu laksana segumpal lembayung yang benderang menindih kearah dirinya, tenaga murni sedemikian kokohnya, tetapi tidak membawa deru angin sedikitpun, berapa hebat, menakjupkan permainan jurus- jurus yang mendekati ajaib ini, sungguh tak pernah ada bandingannya dikolong langit ini. Terasa oleh Tio Swat- in, cahaya merah dari tabir gendewa yang berlapis- lapis itu agaknya membawa daya tarik yang memikat sanubarinya, pelan-pelan dan samar-samar semakin nyata, begitu indah mempesona. Dia tahu bila dirinya disentuh sedikit saja oleh tabir lembayung yang menyala itu, meski hanya tersentuh sedikit saja, bila tidak mati juga pasti terluka parah. Tapi dia tak mau berkelit lagi, yang benar, umpama dia nekad mau berkelit meski harus mengorbankan jiwa juga tidak mampu lagi. Sekarang tiada yang perlu dipikirkan lagi, dengan melongo dia mengawasi tabir cahaya yang mengasyikkan ini, semakin dekat dan mendesak semakin maju, dengan tenang dia menunggu elmaut akan merenggut jiwanya, seolah-olah segala kerisauan, derita dan kerawanan hatinya himpas menyeluruh. Dipinggir jurang antara mati dan hidup ini, jarang ada manusia yang bisa

bersikap secara tenang menghadapi kenyataan ini, wajar dan damai seperti Tio Swat-in- Pada detik-detik yang amat kritis serta pendek itu, sekonyong-konyong bayangan merah sirna tanpa bekas, darah pun muncrat disertai cairan putih kental pula disusul suara gedebukan jatuhnya kuda dan penunggangnya dipecomberan dalam lembah. Kejadian sungguh teramat cepat dan di luar dugaan, terdengar Tio Swat-in menghardik pula dimana pedangnya berkelebat, mendadak dia menubruk pula kearah Toh-bing sik-mo. Ternyata karena gregeten, tanpa sadar Toh-bing-sik-mo melancarkan Siang hoan-coat yang peranti melindungi badan sekaligus untuk menyerang musuh. Sudah jelas Tio Swat in sudah pasti bakal menjadi korban dari jurus cu-pi-sam siau-hap dan Hun-sia-ngo-sik-lian, tapi pada detik-detik yang menentukan itu, dilihatnya wajah Tio Swat-in yang pucat dengan air mata bercucuran, bibirnya terbuka sedikit seperti delima merekah, sorot matanya melotot membayangkan keluruhan budi dan kejujuran nan polos, sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya. Tapi dalam detik-detik yang menentukan ini sudah tiada tempo untuk mempertimbangkan lagi, lekas dia tekan dan putar pergelangan tangannya, meski jurus yang dilancarkan tak mungkin dibatalkan, namun gendewa yang sudah kecabut digerakkan itu masih sempat dituntunnya minggir dan “Plak” dengan telak mengetuk kepala kuda Tio swat in, kepala pecah darah muncrat bercampur otaknya yang hancur mumur. Tiga kali Toh-bing-sik-mo membatalkan niatnya membunuh Tio swat- in, meski korbannya ini sudah tidak mampu apa-apa dan pasrah nasib, entah apa sebabnya, dia sendiri juga tidak tahu, sudah tentu Tio Swat-in sendiri juga tidak habis herannya. Bahwa jiwanya putar balik dari neraka dan selamat tanpa kurang suaru apapun, sungguh amat ruwet perasaan Tio Swat-in, dia tidak kaget atau senang, juga tidak membenci atau makin ragukan nasib sendiri, yang terang perasaannya amat tertekan seperti ada sesuatu yang mengganjel sanubarinya, hatinya amat sedih dan rawan, badannya seperti tidak enak, dia ingin berteriak^ ingin menggembor sejadi-jadinya, ingin nangis dan mau tertawa pula, tapi tiada suara keluar dari mulurnya. Kini dia tidak perlu takut lagi menghadapi kenyataan ini, dia harus melampiaskan seluruh tumpuan perasaan harinya, sudah tentu seluruh pelampiasan gejolak hatinya itu dia salurkan pada pedang di tangannya, kepada Toh-bing-sik-mo yang dianggapnya sebagai musuh besar

pembunuh ayahnya, meski orang tiga kali membatalkan niatnya membunuh dirinya, tapi sakit hati orang tua apapun yang terjadi tak boleh di abalkan. Maka dia menghardik pula serta menubruk kearah Toh-bing-sik-mo pula, disaat tubuh terapung pedangnya berkelebat membelah kepala Toh-bing sik-mo, serangannya sudah tidak pakai aturan lagi. Perasaan Toh-bing-sik-mo agaknya amat ruwet dan ada ganjelan hati yang sUkar dikemUkakan. Deru tebasan pedang terdengar nyata namun Toh-bing-sik, mo tetap memejam mata serta menunduk kepala, hanya tangan kanan mendadak terangkat dengan jurus Ui-Liong hoan- hoan-sin, gendewa merah ditangannya kembali menciptakan selarik bayangan merah memapak kearah tebasan pedang Tio Swat-in- “Trang” benturan keras menimbulkan suara dengung panjang dari getaran batang pedang pusaka, Tio Swat-in bagai dahan pohon yang gemulai ditiup angin- Lalu, badannya Limbung dan gentayangan sejauh satu tombak lebih. Begitu melayang, jatuh setombak lebih, kembali Tio Swat-in meiengak kaget, terasa getaran yang ditimbulkan dari tangkisan gendewa lawan meski kuat ternyata lunak, sehingga dirinya tidak terluka sedikitpun, Lengan pun tidak pegal atau linu sedikitpun. Sudah tentu Tio Swat-in tidak sempat berpikir kenapa dirinya tidak kurang suatu apa, kenyataan memang dia tidak mau menggunakan otaknya, begitu kaki menyentuh bumi, melihat Toh¬bing-sik-mo memutar kudanya hendak pergi, kembali dia menggembor panjang kaki menjejak bumi tubuhnya melejit tinggi menubruk pula kearah Toh-bing-sik-mo. Toh-bing-sik-mo sudah congklang kudanya. mendengar gemborannya seketika dia menoleh dan membelokkan kudanya pula meng hadapi Tio Swat-in yang menubruk datang secara berhadapan pula. Bola matanya kini mendelik gusar, hanya bola matanya yang kentara dibelakang perbannya itu yang bisa menampilkan perasaan hatinya, nafsu membunuh seperti telah merasuk hatinya, agaknya dia membatin: “Hm, cewek yang tidak tahu diri, diberi hati merogoh ampla, beberapa kali aku batalkan niat jahatku terhadapmu, kau justru tidak insyaf malah mendesakku begini rupa, terpaksa aku… ” Tapi kejap lain, cahaya mata yang mencorong penuh nafsu itu sirna, secara diam-diam benaknya berpikir juga : “Mungkin seperti juga diriku, dia membekal dendam kesumat keluarganya. Kenapa aku harus membunuh orang ? Bukankah karena terpaksa juga.

Sekarang kalau aku juga bunuh dia, untuk apa tadi aku berulang kali mengabaikan kesempatan untuk membunuhnya?” Dikala benak Toh-bing-sik-mo bekerja itulah, Tio Swat-in sudah menubruk tiba dari tengah udara, pedangnya berputar laksana kitiran seperti ingin melindas batang lehernya. Toh-bing-sik-mo duduk kaku dipunggung kudanya, kelopak matanya terpejam, padahal Tio Swat-in tinggal lima kaki lagi diatas kepalanya, mendadak kedua telapak tangannya terbalik, satu menggapai dan yang lain menepuk. Tanpa mengeluarkan angin atau suara, tahu-tahu tubuh Tio Swat-in terlempar pergi sejauh dua tombak lebih, dorongan tenaga deras yang melempar tubuhnya mendadak terputus ditengah jalan, dan “Blang” dengan keras tubuhnya terbanting jatuh ditanah, pedangpun terlepas dari pegangannya. Bu siang ciang yang pernah menggetarkan Bulim sejak sepuluh tahun yang lalu waktu Toh-bing-sik-mo menampilkan diri, hari ini kembali menunjukkan kehebatannya dengan menggetar pergi Tio Swat- in secara enteng dan lunak. lalu ditengah jalan dia tarik tenaganya sehingga sang korban terbanting cukup kuat, dengan cara terakhir inilah baru dia sempat meloloskan dirinya. Sekilas masih sempat Toh-bing-sik-mo membuka matanya menatap kearah Tio Swat-in, akhirnya dia menarik napas dalam-dalam lalu membelokkan kudanya dicongklang pergi. Lekas Tio Swat in merangkak berduduk lalu bersimpuh mengerahkan hawa murni ke seluruh urat nadi, ternyata hawa murni berjalan lancar menembus keseluruh badan dan merembes keluar melalui pori-pori tubuhnya berubah uap putih, maka tahulah dia bahwa dirinya tidak cidera apapun, kecuali rubuhnya berlepotan lumpur karena jatuh ditanah pecomberan- Sayang Toh-bing sik-mo sudah mencongklang kudanya dan pergi jauh, duduk ditanah ya becek hatinya gundah dan ruwet, tanpa terasa air mata bercucuran- Hujan masih rintik-rintik, air lumpur bercampur darah kental kudanya yang sudah jadi mayat takjauh berada disampingnya, suasana jadi amat sunyi merawankan hati. “Tio Swat in, jangan kau biarkan musuhmu pergi, kau harus menuntut balas, ya, menuntut balas ” suara hatinya seketika mengobarkan semangatnya. Kematian ayahnya yang mengenaskan kembali terbayang dalam benaknya. Diam-diam hatinya berteriak:

“Tio Swat-in, jangan kau biarkan dia pergi, sudah sepuluh tahun kau menunggu dan sekarang memperoleh kesempatan baik ini mungkin jejaknya akan lenyap pula dari bumi ini, lalu kapan dan dengan cara apa kau harus menuntut balas kematian ayahmu supaya arwahnya tentram dialam baka ? Ibumu masih mengharap kau lekas pulang setelah berhasil menuntut sakit hati ayahmu ayo kejar, ke… ” Suara tik tak tik tak dari derap kuda putih Toh-bing-sik-mo mendadak sirap, Bong-hun-kok kembali diliputi kesunyian. Tapi darah justeru mendidih dirongga dada Tio Swat-in, seperti serigala yang haus darah, seperti banteng ketaton saja dia raih pedangnya terus mengudak kedepan kemana tadi Toh bing-sikmo melenyapkan dirinya Pandangannya remang-remang, suaranya sudah serak^ tubuhnya kotor berlepotan lumpur, air matanya sudah campur aduk dengan air hujan, tapi semua itu tidak penting, sekarang dia hanya tahu nekad dan ingin mengadu jiwa, menyandak musuh keparat Toh- bing-sikmo serta membantainya seperti mencacah cacing. Tiba-tiba dia menghentikan langkah larinya yang bergontai seperti orang mabuk, pelan-pelan dia seka air mata serta kucek-kucek mata pandangannya memang tidak kabur, kenyataan didepan mata membuatnya melongo. Cuaca tetap lembab dan guram, angin masih menghembus kencang, hujan tetap rintik-rintik. Dua ekor kuda sama tinggi tegap dan berbulU putih mulus pula sedang berhadapan sambil angkat kepalanya, dipunggung kedua kuda putih duduk dua mayat hidup dengan dandanan yang mirip pula satu sama lain, seluruh tubuh dibungkus perban, hanya kedua bola mata mereka saja yang tampak mencorong saling pandang. Dalam lembah yang guram lembah ditengah hujan angin, kedua orang sirna saling tatap tanpa mengeluarkan suara, tiada satupun yang bergerak seolah-olah mereka bukan lagi makhluk hidup yang mampu menggerakkan anggota badannya. Keheningan ini mungkin merupakan perlambang kesunyian sekejap menjelang datangnya hujan badai, perang tanding bakal terjadi duel akan menentukan siapa menang dan siapa kalah, siapa tulen dan mana yang palsu dari kedua mayat hidup yang menyerupai mumi ini. “Eh, dua Toh-bing sik-mo.” demikian teriak Tio Swat-in dalam hati. “Apakah yang terjadi, mungkinkah ?” akhirnya dia berdiri bingung.

Mendadak kedua mumi sama menegadah mengeluarkan suara loroh tawa yang berbeda memecah kesunyian, yang satu bernada sedih pilu dan penuh perasaan lega, yang lain bernada tinggi kereng seperti pekik setan- Pendek kata siapa mendengar kedua macam gelak tawa ini pasti merinding bulu kuduknya. Tiba-tiba gelak tawa kedua mumi sama-sama sirap. namun gema tawanya masih mendengung dalam lembab, hawa udara yang lembab basah ini diliputi ketegangan yang telah memuncak. Tampak kedua mumi sama-sama mengangkat tangan menanggalkan gendewa merah masing-masing, pelan-pelan meloloskan sebatang anak panah serta memasang di busurnya lalu pelan-pelan ditariknya serta membidik, kedua mumi sama-sama melotot tanpa mengeluarkan suara, agaknya mereka akan menentukan siapa tulen dan mana yang palsu dalam duel adu memanah. Ketegangan semakin memuncak dengan semakin kencangnya busur di tarik lebar. Demikian pula rasa heran Tio Swat-in semakin tebal, hatinya dag dig dug, matanya ter beliak, batinnya: “Agaknya mereka saling bermusuhan, lalu siapa kah pembunuh ayahku ? Kenapa pula mereka masing-masing sama ah, persetan biar mereka saling labrak dan bunuh membunuh, seorang yang ketinggalan hidup, lebih gampang aku membereskan dia.” “Tapi kalau yang menang dan masih hidup itu bukan musuh pembunuh ayahnya, lalu bagaimana baiknya ? Bukankah berarti aku tak berhasil menuntut balas dengan kedua tanganku sendiri ? Lalu bagaimana aku harus… ” Sudah tentu Tio Swat-in makin bingung. Tapi kenyataan justetu tidak memberi kesempatan untuk dia banyak pikir. “cret”-“cret” bunyi busur hampir berbareng melepas anak panah yang telah dibidikkan, pula larik sinar merah, yang satu kencang yang lain lambat meluncur kearah musuh laksana kilat menyamber. “Ting” tahu-tahu kedua anak panah itu terpeCah balik pula kearah datangnya masing-masing, jadi begitu dua panah saling bentur kekuatan daya luncurnya telah memental balik panah itu mundur kearah pembidiknya. sudah tentu Tio Swat-in di samping takjup merasa heran dan kaget pula, pikirnya. “Ilmu dari aliran manakah ini ? Bidikannya ternyata begitu tepat, dan lagi tenaga yang dikerahkan juga teramat padat dan keras, sungguh mengejutkan.”

Dilihatnya kedua mayat hidup sama-sama mengangkat tangannya menangkap anak panah masing-masing yang meluncur mundur. Sekonyong-konyong Toh-bing-sik-mo yang membelakangi Tio Swat in mengeluarkan suara pekik yang mengerikan, kuda mendadak dikeprak maju terus menerjang kearah Toh-bing-sik-mo didepannya, dimana tangan kiri bergerak dengan jurus Hong-jui-Cui-Liong-kak. panah merah yang runcing ditangannya menus uk ke ciat-hou-hiat diatas jidat lawan, sementara tangan kanan terbalik, dengan jurus Bong ham yau-yam-ih, sinar merah berkelebat, bayangan gendewa bersusun memberondong kemuka lawan, serangan keji cepat dan lihay dilandasi tenaga yang kuat pula. Begitu melihat jurus serangan Toh-bing-likmo ini Tio Swat-in lantas tahu bahwa Toh-bing sik-mo yang menyerang duluan ini adalah lawan yang tadi bergebrak dengan dirinya, melihat betapa indah dan lihay gerak rubuh orang diam-diam dia memuji dalam hati, diam-diam hatinya merasa simpatik terhadap yang satu ini. Bahwa Toh-bing-sik-mo yang satu ini lihay kungfunya, demikian pula Toh-bing sik-mo lawannya itu tidak kalah lihaynya. Tampak sekali berkelebat beruntun dia meluputkan diri dari dua jurus serangan lawan yang gencar. Gendewa merah ditangan kanannyapun balas menyerang dengan jurus Hiap-san-cau-hay (menggrmpUr gunung menguruk laut), damparan angin kuat menimbulkan deru angin yang keras, sehingga hujan rintik-rintik seperti tersibak jauh kesamping. Loroh tawa bergema dalam lembah, Toh-bing-sik-mo yang menyerang dahulu tadi tampak berkelebat minggir, gempuran dahsyat itu berhasil dihindarkan. Berbareng telapak tangan terbalik terus mengubah jurus serangan, Pat hong-cui-khi-siang Ngo-sekssip-hwi-hong, gendewa dan batang panah bergerak sama, kembali dia menyerang dua jurus sekaligus dengan gempuran telak. Kedua Toh hmg-sik-mo adalah jago- jago Kungfu yang paling top didunia persilatan, maka pertempuran ini berjalan amat seru dan setanding, kadang-kadang cepat tiba-tiba lamban, perobahannya tidak menentu dan sukar diraba, gendewa dan batang panah yang merah berpadu dengan bayangan tubuh mereka yang putih tampak menyolok, namun mengaburkan pandangan. Dalam sekejap lima puluh jurus telah lewat, setelah serang menyerang secara gencar itu kedudukan masing-masing sama kokoh, setapakpun tiada yang tergeser dari kedudukan semula.

Sekonyong-konyong Toh bing-sik mo yang membelakangi Tio Swat-in dan yang mendahului menyerang tadi, tampak berputar di-punggung kuda, kedua tangan terangkat tinggi diatas kepala, gendewa merah ditangannya tampak menaburkan bayangan merah berputar dua lingka dimana dia menekan pergelangan tangan, dengan jurus Ham-kong-yau-leng-tian, King-khi ping ceng-hong, kembali melancarkan dua jurus serangan sekaligus, cara dan gaya serangannya amat berbeda dengan permainan silat umumnya, anehnya kekuatannya amat besar. Tio Swat-in yang menyaksikan diluar gelanggangpun merasakan kedahsyatan dari perbawa serangan berantai ini, diam-diam dia sudah membatin dalam hati: “Nah, kali ini pasti dapat dibedakan siapa kuat dan mana bakal kalah.” Gendewa dan anak panah kelihatannya sudah hampir mengena sasaran, maka tampak Toh-bing-sik-mo yang satu tiba-tiba menjatuhkan diri hingga tubuhnya rapat dengan punggung kuda, tiba-tiba kuda tunggangannya itu berjingkrak berdiri dengan kaki belakang sambil berputar, secara mudah serangan gencar dan dahsyat itu telah dihindarkan begitu saja. Tapi sambil berkelit ternyata kedua tangannya juga tidak tinggal diam, dimana dia menggentak tangan “Sret” selarik sinar merah tahu-tahu menerjang kepala kuda lawan- Padahal serangan lawan sudah kebacut dilontarkan dengan tenaga penuh, meski serangan dan gaya tubuh itu berhasil dikendalikan tapi sudah tidak sempat mengeprak kuda untuk berkelit atau menangkis dengan tipu apapun- Darah muncrat, sebatang panah merah tampak menancap miring dikepala kuda putih kontan kaki depan kuda itu tertekuk, tubuh-nyapun terkapar jatuh tanpa meronta sedikit-pun, jiwanya melayang seketika.

Dikala kuda terpanah dan roboh terkapar tampak sesosok bayangan putih dengan disertai gerangan murka, laksana segumpal asap tiba-tiba mumbul keatas, itulah Ginkang tingkat tinggi yang sudah putus turunan sejak seratusan tahun yang lalu, Yan-heng-hun-siang-in (asap bergolak diatas mega) Setelah mencapai ketinggian maksimal di tengah udara tubuhnya yang terapung itu berputar dengan gaya yang indah terus menukik dengan jurus Sin Liong-whi-khong-coan, laksana seekor naga perkasa Langsung menubruk kearah lawan- Berapa hebat dan mentakjupkan gerakan Toh-bing-sik-mo yang satu ini,

sungguh membuat Tio Swat-in yang menyaksikan menghela napas gegetun.

Bahwa panahnya berhasil membunuh kuda lawan, cukup menggirangkan tapi juga mengecewakan, girang karena kuda tunggangan lawan telah mati, kecewa karena tujuan utama adalah penunggang bukan kudanya, tahu-tahu dilihatnya lawan melambung keatas, dimana segumpal bayangan merah laksana kobaran api dengan deru angin keras yang mengejutkan tiba-tiba telah menindih dari atas. Karuan kagetnya bukan main, tubuhnya yang baru saja tegak tersipu-sipu mendoyong kesamping sambil menarik tali kekang pikirnya hendak membawa kudanya menyingkir.

Bahwa dia bisa berkelit cepat, jiwanya selamat, tapi serangan musuh dari atas ternyata tidak kalah cepatnya, begitu kudanya berjingkrak berdiri dengan kepalanya terangkat tinggi, seketika terjadi hujan darah yang muncrat sama-sama kepala kuda di kepruk pecah oleh gendewa merah, tanpa meringkik kuda itupun terbanting roboh binasa. —oooOdwOooo—

Jilid 4 : Kepada siapa Tio Swat-in membalas dendam?

TIDAK lantaran kehilangan kuda tunggangan kedua mumi ini lantas menghentikan perkelahiannya, mereka kelihatan semakin kalap dan menyerang dengan nekad, ini dapat dibuktikan dari gelak tawa. Demikian pula bola mata mereka merah membara, agaknya terlalu besar tekad mereka untuk membinasakan lawannya. Terutama Toh-bing sik-mo yang tadi membelakangi Tio Swat-in, serangannya tampak begitu gencar dan lebih ganas, keadaannya tidak ubahnya waktu Tio Swat-in melabraknya tadi, seolah-olah Toh-bing-sik-mo lawannya itu adalah musuh besarnya yang harus dibunuhnya seketika. Tio Swat-in masih berdiri terlongong, ingin turut campur, tapi tidak tahu dari mana dia harus mulai, hasratnya pun besar untuk membunuh Toh-bing-sik-mo, tapi dia juga tahu dirinya belum mampu, namun apakah dirinya harus membuang kesempatan baik untuk menuntut balas kematian sang ayah yang penasaran sejak sepuluh tahun lalu ? Sesaat hatinya bimbang dan tak tahu apa yang harus dia lakukan- Hujan rintik makin deras, anginpun berhembus kencang. Ditengah hujan

rintik dengan hembusan angin kencang itu, dari luar lembah terdengar dua ekor kuda yang dibedal kearah sini. Tio swat-in heran, hatinya bertanya-tanya siapa yang datang dan apa akibat kedatangan pula orang lain- Lekas sekali lari kuda yang acak-acakan itu semakin dekat, diam-diam hatinya memperoleh firasat sesuatu yang luar biasa pasti akan terjadi. Dalam pada itu kedua Toh-bing-sik-mo yang lagi bertarung itu tetap berhantam dengan sengit seperti tidak mendengar kedatangan dua ekor kuda yang dilarikan kencang. Tio swat-in mawas diri, dia merasa dirinya harus menyingkir dari medan laga ini, entah mengapa indranya yang keenam seperti mendapat petunjuk bahwa derap kaki kuda yang acak-acakan ini bakal mendatangkan malapetaka yang tidak menguntungkan- Niat sudah timbul, sayang sebelum dia bertindak. air lumpur tampak muncrat, dua ekor kuda tahu tahu sudah berlari tiba, penunggangnya cukup mahir pegang kendali, setelah meringkik keras kedua kuda itu akhirnya berhenti. Diatas punggung seekor kuda bercokol seorang kakek bertubuh kurus kecil, kulit mukanya kering semu coklat, mengkilap lagi sehingga kelihatan seram, kupingnya tinggal satu, tapi sorot matanya tajam, Thay-yang-hiat tampak menonjol besar, sekilas pandang orang sudah tahu bahwa kakek kurus kecil ini seorang ahli tenaga dalam yang tangguh. Kuda yang lain ditunggangi perempuan cantik berusia tiga puluhan, alisnya lentik, matanya mengerling tajam dan pelarak pelorok, gerak-geriknya tampak genit. Mengawasi dua Toh-bing-sik-mo yang lagi berhantam sengit diatas tanah, kakek kurus kecil tiba-tiba bergelak tawa aneh, seolah-olah dia tidak ambil perhatian dan ketarik oleh kejadian didepan mata. Namun diam-diam berpikir: “Bukankah mahluk aneh bergendewa merah ini dahulu pernah bertemu sekali dengan aku diBiau-kiang dua puluh tahun yang lalu ?Jadi Toh-bing sik-mo yang terakhir ini membuat geger dunia persilatan dan mengganas di lembah ini adalah perbuatan jailnya. Selama dia hidup diBiau-kiang, sejak kapan dia masuk kewilayah Tiong toh, kenapa berdandan seperti itu, sekaligus muncul dua lagi.” Agaknya kakek kurus kecil ini jauh lebih tahu dari Tio Swan-in akan asal usul Toh-bing-sik-mo meski tidak jelas sekalinya. namun dia lebih heran dan tidak habis mengerti di banding Tio Swat-in- “Pletak” mendadak dua Toh-bing-sik-mo melompat mundur bersama,

sebelum berpijak diatas bumi, tiba-tiba selarik bayangan merah telah meluncur lepas dari tangan, kiranya gendewa patah, dan anak panah telah ditimpukkan kearah Toh^bing-sik-mo yang lain. Begitu gendewa saling bentur, tanpa kuasa tubuh mereka tergentak mundur beberapa langkah, celaka adalah gendewa milik Toh-bing sik-mo yang merangsak sengit patah menjad dua, memangnya dia sudah merasa bersenjata gendewa dan anak panah tidak mencocoki permainannya, saking marah dan penasaran, segera dia timpukkan kuningan gendewa dan panahnya. Begitu lawan berkelit disertai pekik gusar dengan menggentak kedua lengannya, maka terdengarlah suara berisik, seluruh kain perban putih yang membungkus tubuhnya peretelan putus berkeping-keping oleh getaran tenaga dalamnya, dibawah hembusan angin kencang cuilan kain-kain putih itu tertiup beterbangan- Di tengah hujan rintik, tampak berdiri seorang pemuda berwajah tampan kaku dingin,alisnya tebal, kulitnya putih, tanpa marah pun kelihatan berwibawa, apa lagi dalam keadaan angkara murka menghadapi musuhnya, sungguh sikapnya yang gagah cukup menciutkan nyali. Pemuda ini bukan lain adalah Pakkiong Yau-liong, selama setahun belakangan ini dengan sebatang ruyung lemas singa emasnya telah melalap seluruh jago- jago silat kilas tinggi diwilayah utara dan selatan sungai besar. Selama setahun ini dia menguber jejak pembunuh ayahnya. Karena Pakkiong Yau-Liong adalah putera jago pedang nomor satu di Kangpak sepuluh tahun yang lalu Bok-kiam-Tiong-siau Pakkiong Bing. Setahun yang lalu setelah menamatkan pelajarannya di Hun-seng, dia sudah mulai usaha mencari jejak pembunuh ayahnya, Musuh utamanya sudah tentu adalah Toh bing-sik-mo yang merebut pedang pusaka milik ayahnya… yaitu pedang Kayu cendana. Dari pesan ayahnya sebelum ajal, dia tahu Toh- bing-sik-mo membungkus tubuhnya dengan perban, bersenjata gendewa dan anak panah merah, dan masih ada lagi keistimewaannya rambut kepalanya merah. Setengah tahun sudah menjelang setelah dia mengembara di Kangouw, jangan kata menemikan Toh- bing-sik-mo yang membungkus tubuh dengan perban, sampaipun musuh- musuh besar ayahnya dimasa hidupnya dulu, Hiat- dan Tou Pitlip juga tak karuan parannya. -oOdwOo-

Jilid 5 : Yang palsu samaran Pakkiong Yau-Liong

Berkat kepandaian yang tiada tandingan kaum persilatan memberi julukan Kim-ni-sin-jio (ruyung sakti singa emas), sayang jejak musuh besar belum juga berhasil ditemukan, hal ini membuatnya patah semangat dan keCewa. Hidupnya jadi kelantang keluntung, namun pada setiap kesempatan tak lupa dia mencari berita. Agaknya Yang Maha Kuasa memang maha pemurah, didalam suatu kesempatan yang tidak terduga, walau jejak Toh-bing- sik- mo belum juga ditemukan, dia mendapat berita tentang Hiat ciang Tou Pit lip yang menantang musuhnya berduel di Ceng-hun-kok untuk menuntut balas kematian muridnya.

Ceng-cun-kok adalah tempat dimana Toh bing-sik-mo muncul dan mengganas sehingga lembah itu diganti namanya menjadi Bong-hun-kok. sejauh mana nama itu masih segar didalam ingatan Pakkiong Yau Liong. Entah dari mana datangnya ilham, tiba-tiba dia mendapat akal, berkeputusan untuk menyamar jadi Toh- bing-sik-mo, dengan nama Toh- bing-sik-mo dia akan membunuh siapa saja yang lewat di Ceng-hun-kok.

Caranya memang tepat dia menggunakan kelemahan watak manusia yang suka menang dan jaga gengsi untuk memancing Toh-bing-sik-mo asli keluar dari kandangnya. Sesuai yang digambarkan ayahnya tentang bentuk dan keadaannya, dia menyamar jadi Toh- bing-sik-mo, demikian pula kuda putih, gendewa besar dan anak panah merah.

Hasilnya memang cukup memuaskan, dia berhasil memanah mati Hiat-ciang Tou Pit lip malah dalam keadaan terpaksa tak sedikit pula gembong-gembong penjahat yang telah dibunuhnya juga . Maka lembah yang semua sudah direhabilitir kembali jadi Ceng-hun-kok terpaksa di robah pula menjadi Bong-hun-kok (lembah pelenyap sukma), setiap peristiwa yang terjadi dalam lembah pasti menggemparkan dunia persilatan, lalu siapa pula yang berani lewat lembah sempit itu. Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, demikian seterusnya, orang yang lewat Ceng-hun-kok semakin jarang. Tapi Pak kiong Yau-Liong menunggu dengan sabar dan tekun. Karena dia percaya perhitungannya pasti tidak akan meleset, sebelumnya dia sudah menyelidik daerah ini, bila dirinya adalah Toh- bing-sik-mo yang dahulu pernah mengganas disini, lalu mendengar seseorang menyaru dirinya melakukan pembunuhan seperti

yang pernah dia lakukan dahulu di Ceng hun-kok, dia yakin Toh- bing-sik-mo yang asli itu pasti akan meluruk datang. Karena adanya keyakinan ini maka selama ini dia masih menunggu dengan penuh harapan tak nyana dia harus menghabiskan waktu setengah tahun. Akhirnya saat yang dinantikan, dikala hujan rintik-rintik fajar menyingsing ini, setelah dia dliabrak oleh Tio Swat in, penantiannya ternyata menjadi kenyataan, perhitungannya sudah terbukti. Toh- bing-sik-mo yang tulen muncul di-depan matanya, inilah musuh pembunuh ayah nya yang diubernya selama ini. Dia menekan gejolak hatinya, melabrak Toh- bing-sik-mo seperti Tio Swat- in tadi melabrak dirinya, ratusan jurus telah lewat, usahanya masih jauh dari berhasil membunuh musuh ayahnya ini, malah gendewa dan panahnya tergetar putus, bahwa gusarnya, dikala melompat mundur, kutungan gendewa itu dia timpukkan seperti melepaskan senjata rahasia. Dikala Toh-bing sik-mo berkelit menyelamatkan diri, dengan kekuatan tenaga dalam nya dia menggetar hancur perban yang membalut seluruh tubuhnya. Persoalan sudah nyata, dia merasa tidak perlu menyaru lagi, setelah menggetar hancur perban yang mengikat kebebasannya, kini dia mengeluarkan senjatanya, dengan ruyung lemas singa emas Toh- bing-sik-mo harus di mampuskan untuk menuntut balas kematian ayahnya, sekaligus merebut balik pedang Kayu Cendana. Sepasang bola matanya merah membara, dengan tajam dia pandang Toh- bing-sik-mo, mukanya beringas diliputi hawa nafsu yang sadis. Pakkiong Yau-Liong meraung keras menimbulkan gema suara mendengung dalam lembah. Tampak tangannya terbalik sinar emaspun berkelebat, sebatang ruyung emas lemas dengan ujungnya berkepala singa disendalnya kaku lurus ke depan. Ruyung emas yang lemas itu dibawah landasan tenaga dalamnya kini menjadi kaku laksana sebatang tombak. panjangnya ada empat kaki, diujung kepala singa yang terbuka mulutnya menjulur dua ujung runcing berwarna emas dan perak perpaduan warna yang serasi sekali. Tangan kanan Pakkiong Yau-Liong diulur dan ditarik, ujung tombak bergetar memetakan sekuntum cahaya kemilau dengan putaran dua lingkar. Sebelum lenyap dua kuntum cahaya kemilau itu, tubuh Pakkiong Yau-Liong sudah berkelebat, dengan gerak Ui- Liong- hoan-hoan-seng tubuhnya tiba-tiba melejit, kelihatannya lamban

kenyataan pesat sekali menubruk kearah Toh- bing-sik-mo. Dalam waktu yang sama, sebuah lengking suara tinggi menembus angkasa, bayangan seorang dengan kecepatan luar biasa tahu-tahu menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong. Sementara itu Pakkiong Yau -Liong sedang terapung ditengah udara, tiba-tiba bayangan terasa menjadi gelap disebelah kiri, sesosok bayangan orang dengan deru angin keras menerjang kearah dirinya. Mau tak mau Pakkiong Yau-Liong terperanjat ‘Cepat amat’ demikian teriaknya dalam hati. Begitu kedua tangan menyilang Pakkiong Yau-Liong pindahkan ruyung lemasnya ketang kanan, dengan jurus Jio si-kim-yong-joh, tampak dimana tabir cahaya kemuning mengemban ruyung singa emas nya tahu-tahu menyongsong terjangan bayangan itu dengan tusukan. Pindah tangan serta melancarkan serangan tombaknya, boleh dikata dilakukan dalam sedetik oleh Pakkiong Yau- Liong, kecepatan gerak serangannya sebat sekali, tapi gerakan tubuh orang yang menerjang itupun cepat dan aneh. Baru saja ujung tombak Pakkiong YauLiong menusuk. bayangan orang tahu-tahu sudah berkisar kedepannya. Hakikatnya Pakkiong Yau-Liong tidak tahu lawan menggunakan gerakan apa-apa, karuan dalam hati dia mengeluh dan memuji. Tahu-tahu sejalur angin tajam telah menerjang lambungnya, Pakkiong Yau-Liong tidak berani ayal, lekas tubuhnya ditekuk lalu diluruskan pula dengan gaya Yan-teng hun-siang-in, tubuh yang terapung itu mendadak melejit lebih tinggi lagi hampir dua tombak. lalu dengan gaya yang tidak berobah dari ketinggian tempatnya dia menukik turun tetap menerjang kearah Toh- bing-sik-mo, gerakannya luwes indah, perobahannya pun menakjupkan. Dua orang ini sama-sama terapung diudara, masing-masing melancarkan sejurus serangan, dengan perobahan gaya dan gebrakan pula, kejadian padahal hanya singkatsaja. Pak kiong Yau-Liong mengutamakan menuntut balas pada musuh besar, bahwasanya siapa yang menyergap dirinya ditengah jalan tidak diperhatikannya, sebenarnya memang tidak sempat, yang terang tubrukkannya sudah mencapai atas Toh-bing sik-mo, kembali dia pindah ruyung lemas ketangan kiri, dikala tubuhnya bersalto, ruyung lemas itu tiba-tiba menyelonong turun dengan seringan Jiong-ce-hoan-gwa-hong, bayangan ruyung tampak berlapis- lapis disertai bintik-bintik perak yang dingin berputar mengelilingi Toh-bing-sik-mo terus menungkrup laksana

jala. Padahal serangan mematikan atau paling tidak luka parah, tetapi gaya serangan nya ternyata biasa. Dikala tusukan tombak hampir mengenai sasaran, tiba-tiba Toh-bing-sik mo merendahkan tubuh, dimana tubuhnya berkelebat, dua langkah dia menerobos kedepan, berbarengan gendewanya disendal dengan jurus Kim-hong-sik-je, bayangan gendewa bertaburan membawa deru kencang yang tajam membelah kearah Pakkiong Yau-Liong yang bergelantung di tengah udara. Bola mata Toh- bing-sik-mo memancarkan cahaya biru kemilau nan buas, ingin rasa nya dalam segebrak ini bukan saja menamatkan serangan Pakkiong Yau-Liong yang telah memancingnya keluar kandang, sekaligus membelah nya mampus. Lengking suara tadi bergema pula diangkasa, sesosok bayangan tadi dengan kecepatan kilat telah menerjang pula kearah Pakkiong Yau-Liong, belum tiba orangnya, tapi deru pukulan tangannya sudah menerjang tiba lebih dulu. Padahal tubuh Pakkiong Yau-Liong masih terapung, jadi seperti bergelantung ditengah udara, bukan saja gendewa Toh- bing-sik-mo telah membelah kearah dirinya terasa terjangan serumpun angin keras menyergap pula dari samping, menghadapi serangan bertubi-tubi yang dahsyat ini, jikalau Pakkiong Yau-Liong tidak mampus juga pasti luka berat. Tapi Pakkiong Yau-Liong memang cerdik dan cekatan, perhitungan memang sudah dia siagakan dalam menghadapi berbagai masalah dikala dirinya menyerang, resiko juga telah dipikirkan, kalau tidak mana berani dia menggunakan serangan gaya tubuh yang menghabiskan tenaga, sekaligus juga berbahaya bagi jiwa sendiri. Tampak tubuh Pakkiong Yau-Liong tahu-tahu membalik, tubuhnya jadi menghadap ke langit, dimana pergelangan tangannya dipelintir, ruyung lemasnya tetap memantek ke gendewa Toh-bing sik-mo, gerak perobahannya begitu aneh dan jarang ada, gerak geriknyapun lincah dan tangkas. ‘Trak’ suaranya cukup keras, meminjam tenaga benturan dari ruyungnya yang melengkung, sebat sekali dia bersalto pergi sejauh satu tombak, sekaligus dia telah meluputkan diri dari sergapan orang lain- Sedetik begitu kaki Pakkiong Yau-Liong menyentuh bumi, dia sudah melihat jelas siapa penyergap dirinya, itulah seorang kakek tua aneh bertubuh kurus kecil pendek. dan hanya punya satu telinga. Dengan muka beringas tampak dia berdiri bertolak pinggang, matanya menyala molotot

kepada Pakkiong Yau-Liong. Adanya ruyung lemas singa emas ditangan Pakkiong Yau-Liong, menyaksikan dua gerakan tubuh yang bergaya seindah tadi yang di demonstrasikan pemuda tanggung ini, diam-diam kakek aneh bermata juling dengan telinga tunggal ini sudah berani memastikan bahwa Pakkiong Yau Liong pasti punyahubungan erat dengan Biau-hu Suseng. Maka dia berkeputusan untuk mencari tahu seluk beluk persoalannya. Sebaliknya Pakkiong Yau-Liong heran dan tak habis mengerti, dikala musuh besar didepan mata, sudah tentu tiada waktu untuk memecah perhatian, kenapa kakek aneh ini turut campur ikut menyerang dirinya. Tetapi dia merasakan bahwa Kungfu kakek ini masih berada diatas kemampuannya sendiri, tentu punya nama dan kedudukan tinggi diBulim, tapi dalam waktu dan situasi sekarang tiada tempo dia pikirkan soal ini. Begitu ujung kaki menutul bUmi, tubuhnya bergerak menubruk pula kearah Toh-bing sik-mo. Baru saja dia bergerak, kakek kurus pendek itupun meraung pula terus menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong, Dua orang sama-sama terapung dan saling tumbuk. “Blang” bayangan mereka terpental mundur setombak jauhnya, tampak Pakkiong Yau-Liong limbung beberapa langkah baru berhasil menguasai tubuhnya, diam-diam hatinya mengeluh dan memuji, pukulan lawan memang hebat dan dahsyat. Mendelik tatapan mata kearah kakek kurus pendek. hatinya kesal, juga benci dan gusar karena kakek kurus ini berulang kali menghalangi usahanya menuntut balas. Setelah menarik napas, Pakkiong Yau-liong tekan perasaannya, katanya dengan suara rendah: “Cianpwe ini berulang kali menghalangi Cayhe. entah apa maksudnya ? Mohon penjelasan.” Kakek kurus kering bertelinga tunggal tiba-tiba terloroh sambil menengadah, dia menarik muka dan menatap Pakkiong Yau-Liong dengan sorotan mata tajam, suaranya melengking dingin: “Kau tahu siapa aku ?” Bergidik bulu kuduk Pakkiong Yau-Liong pikirnya: “Mungkinkah kakek ini adalah Tok-ni-kau-hun si Ping ji benggolan penjahat dari kalangan hitam ?” Lalu dia perhatikan perawakan orang serta tampangnya yang tepos dan matanya yang juling, terutama kupingnya yang tinggal satu akhirnya dia yakin bahwa dugaannya tidak meleset. Maka sadarlah dia bahwa urusan hari ini tidak mudah diselesaikan begitu saja.

Tok-ni-kau-hun (telinga tunggal perenggut sukma) NiPing-ji adalah gembong iblis nomor satu sejak dua puluh tahun yang lalu, sudah lama mengasingkan diri, sifatnya nyentrik kejam dan kemaruk paras ayu alias cabul, meski usianya sudah lanjut, entah dari mana datangnya nafsu yang tidak habis-habis. Kungfunya juga teramat tinggi, kaum persilatan baik golongan hitam (penjahat) maupun aliran putih (pendekar) memandangnya sebagai momok yang paling ganas, siapapun tidak berani membicarakan dia dan menyingkir jauh bila bertemu dengan dia. Dua puluh tahun yang lalu, dalam suatu duel, kupingnya kena dicopot oleh Biau-hu Suseng, dengan luka parah dia melarikan diri dan sejak itu mengasingkan diri. Mungkin memperdalam ilmu silat untuk menuntut balas sakit hatinya masa lalu. Kini Pakkiong Yau-Liong menggunakan senjata tunggal perguruan Biau-hu Suseng, yaitu ruyung lemas singa emas, mendemonstrasikan gerakan tubuh seindah itu pula, dia tahu bahwa Pakkiong Yau-Liong pasti punyahubungan erat dengan Biau-hu Suseng, demi melampiaskan dendam hatinya, sudah tentu hari ini dia tidak akan membebaskan pemuda ini. Pakkiong Yau-Liong juga tahu sebelum hari ini dia membuat penyelesaian, sukar membebaskan diri, maka dengan lantang sambil membusung dada dia menjawab: “oo, kiranya Ni-locianpwe, sudah lama kudengar nama besarmu Guruku sudah meninggal setahun yang lalu, tapi persoalan beliau dimasa hidupnya dulu, Wanpwe pasti akan menanggungnya. Tapi sekarang Wanpwe sedang menuntut balas kematian ayah, bila persoalan ini sudah selesai, pasti Wanpwe akan menyerahkan persoalan kepada Cianpwe untuk dibereskan.” Alasan yang dikemuka kan Pakkiong Yau-Liong memang cukup pantas dan masuk akal, dia yakin Tok-ni-kiu-hun meski seorang brutal juga tidak akan merintangi usahanya. Tak nyana setelah mendengar penjelasan Pakkiong Yau-Liong, terunjuk perasaan ruwet disinar matanya, lalu dia terloroh-loroh pula, tawa yang lebih aneh dan jelek dari isak tangis orang, namun suara nya yang keras berisi tenyata menimbulkan gema yang cukup keras dan lama didalam Ceng-hun-kok. tampak betapa jumawa sikapnya. Yang hadir didalam lembah ini mengkirik dan terbeliak. Agak lama loroh tawa yang jelek mengandung rasa kecewa ini lenyap suara nya, wajahnya yang kurus tepos seperti tertawa tidak menangispun tidak itu, cepat sekali telah pulih seperti sedia kala, kulit mukanya berobah

kelam mengkilap. matanya bersinar biru menatap Pakkiong Yau-Liong. Hari sudah terang, tetapi cuaca didalam Ceng-hun-kok masih terasa lembab dan guram. Hujanpun telah reda, namun ketegangan justeru memuncak. sehingga perobahan cuaca tidak terasa kan oleh mereka. Hembusan angin pagi nan dingin menghembus lalu, mereka yang berdiri kaku seperti tidak merasakan sama sekali, dua bangkai kuda yang terkapar diantara ceceran darah dan lumpur tidak dihiraukan sama sekali, suasana sunyi lengang. Sesaat kemudian baru Ni Ping-ji mendengus pendek. seperti mengigau dia berkata: “Ternyata tua bangka itu sudah mendahului aku. Hai, menguntungkan dia malah.. ” Lalu dengan melotot dia pandang Pak kiong Yau-Liong, dan katanya. “Bagus… Syukur dia menerima kau sebagai muridnya. Bila hari ini kau mampu mengalahkan sepasang tangan kosongku ini, maka permusuhan masa lalu boleh dianggap himpas. Kalau tidak IHmm,jangan katakan kalau aku berlaku kejam.” Dari penuturan gurunya Pakkiong Yau-Liong tahu bahwa Tok- ni-kau-hun orang nya susah diajak kompromi, bahwa dia sudah memberi pernyataan seperti itu, usahanya menuntut balas kematian ayahnya kepada Toh-bing sik-mo agaknya bakal menemui kegagalan. Padahal musuh besar didepan mata, namun dia tidak bis amenuntut balas, betapa gusar, penasaran hatinya. Sekilas dia melirik kearah Tio Swat-in, tapi orang tidak memberi reaksi. Sejak Pakkiong Yau-Liong menggetar hancur perban yang membelit tubuhnya, Tio Swat- in lantas berdiri menjublek. Apapun tak pernah terpikir olehnya, bahwa orang yang dilabraknya mati-matian, ternyata adalah pemuda gagah berwajah tampan yang usianya sebaya dengan dirinya. Agaknya orang membekal nasib dan riwayat yang hampir sama dengan dirinya. Diam-diam dia mereka dalam hati. Pandangannya kearah Pakkiong Yau-Liong lama kelamaan menjadi kabur dan kelabu. Tio Swat- in dibuat bingung dan risau oleh perasaan yang sukar tercetus oleh lahirnya, dia lupa apa maksud tujuannya kemari, lupa apa yang harus dia lakukan sekarang, kedua matanya memandang lengang, tapi dia tidak tahu apa yang tetjadi didepan mata, agaknya dia sedang berpikir, tapi entah apa yang berkecamuk dibenaknya, dia hanya terlongong. Tak pernah terbayang dalam benak Pak kiong Yau-Liong, dikala dirinya sudah memancing keluar musuh dan berhadapan, mendadak muncul Tok-ni-kau-hun yang menghalangi usahanya. Dalam keadaan yang kepepet ini, bila dia tidak menempur telinga tunggal perenggut sukma ini, urusan pasti

berkepanjangan. Padahal musuh besar pembunuh ayahnya didepan mata. dikala dia melabrak Ni Ping-ji bukankah Toh-bing-sik mo akan punya kesempatan kabur dari sini. Serta merta dia teringat kepada gadis yang tadi melabrak dirinya dikala dirinya masih menyamar Toh-bing-sik-mo. sukar dia meraba relung hatinya sendiri, apa yang dia harapkan sekarang, sudah tentu, yang penting supaya Tio Swat- in bantu mencegah Toh- bing-sik-mo bila orang akan melarikan diri. Bahwasanya Toh- bing-sik-mo meluruk datang dari ribuan lijauhnya kemari, sudah tentu akan membereskan persoalan dalam lembah ini sampai tuntas, sekarang Tok-ni kauhun si Ping-ji tiba-tiba turut campur, sudah tentu menguntungkan dirinya, maka dia berdiri disamping berpeluk tangan sambil menonton. Apa boleh buat, terpaksa Pakkiong Yau-Liong kertak gigi, dengan gerungan gusar ruyung lemasnya disendal melingkar, berbareng secepat terbang tubuhnya bergerak merangsak kearah Ni Ping-ji. Meski hatiamat gusar, tetapi Pakkiong Yau-Liong tahu dirinya pantang mengumbar amarah, apalagi menghadapi gembong iblis setingkat gurunya, maka sekuatnya dia mengkonsentrasikan pikiran dan semangat, diapikir dalam waktu singkat harus berhasil menggebah musuh tangguh yang satu ini, meski hanya memperoleh kemenangan setengah jurus. Dia yakin sebagai tokoh lihay angkatan tua, Ni Ping-ji pasti mematuhi janjinya sendiri. Ruyung lemas Pakkiong Yau-Liong tampak berputar-putar, setitik sirar perak kemilau dingin tiba-tiba memarak keluar, dengan jurus Tam-gan-ing-ka-seng, ujung tombak perak tahu-tahu menutuk ke Tam-tlong-hiat didepan dada Tok-ni kau-hun Ni Ping ji. Ni Ping-ji menyeringai sadis, sebat sekali tubuhnya berkelebat, dengan enteng dia menghindarkan diri. Sudah tentu Pakkiong Yau-Liong tahu bahwa Ni Ping-ji bukan lawan sembarangan, sambil menyerang dia selalu siaga, serangannya ini hanya merupakan pancingan belaka, sudah tentu dia tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya. Begitu Ni Ping-ji berkelit, ruyung lemas nya bergerak mengikuti perobahan langkah Pakkiong Yau-Liong, kali ini sinar emas yang mematuk sementara sinar perak berpantul, jurus Jiu-tian-kay-ling-ka ini membawa tenaga dahsyat mendesak kearah Ni Ping-ji. Perobahan serangannya jauh lebih cepat dan aneh. Kali ini Ni Ping-ji tidak

menyingkir atau berkelit, sorot matanya menjadi buas, mendadak dia terloroh-loroh keras memekak telinga, siapa mendengar dia mengkirik seram, tubuh gemetar. Dikala ujung tombak hampir mengenai tubuh, mendadak Ni Ping-ji membuang diri kebawah, berbareng kedua telapak tangan terbalik dengan jurus San-ing-hun-sing dua jari-jari tangan yang kurus kering tiba-tiba menyelonong kedepan, kelima jari tangan kiri seperti cakar mencengkram kebatang ruyung emas Pakkiong Yau-Liong, sementara telapak tangan kanan menepuk keperut bawah. Sekaligus Ni Ping ji melancarkan sepasang tangan kosong, bukan saja tipunya keji lagi, tangannya yang kurus kering itu ternyata mengeluarkan tenaga yang mengejutkan. Satu di antaranya kedua tangannya mengenai sasaran, bagi Pak kiong Yau-Liong fatal akibatnya. Pakkiong Yau-Liong menekan tangan menggeliat tubuh, sebat sekali tubuhnya melejit lima kaki kesamping, telapak tangan si Ping ji menyerempet pakaiannya, serambut Pakkiong Yau-Liong telambat bergerak. perutnya sudah belong atau hancur. Bahwa serangannya tidak berhasil melukai lawan malah jiwa sendiri terancam, saking kaget keringat dingin gemerobyos maka tindakan selanjutnya lebih hati- hati. Ni Ping-ji memperoleh inisiatif maka dia tidak sia-siakan kesempatan merangsek lebih gencar, Pakkiong Yau Liong dirabunya menggebu, Pakkiong Yau-Liong berkelit mundur sambil bertahan serapat dinding, namun si Ping-ji mendesak lengket dengan menaburkan telapak tangannya, dengan jurus Hau-yan-yong-ci, ditengah taburan telapak tangannya, membawa serumpun gempuran angin dahsyat menindih kepala. Baru saja kaki Pakkiong Yau-Liong menginjak bumi, pukulan lawan telah menerjang tiba, dikala jiwa terancam itulah, tiba-tiba bayangan seorang dengan rambut kotor awut-awutan, seluruh tubuh berlepotan darah, dadanya menancap sebatang panah merah dengan langkah sempoyongan tiba-tiba muncul diantara taburan telapak tangan, suara yang seram memilukan kembali bergema dipinggir telinga: “Liong-ji, Ingatlah orang yang membelit tubuhnya dengan perban, menggunakan gendewa dan panah, menunggang kuda putih, itulah Toh- bing-sik-mo dengen rambut kepala merah, bukan ayah tidak becus, soalnya ayah sudah terluka parah luka-luka ditubuhku semua karya Hiat-ciang Toh Pir lip dan kawan-kawannya,

dan lagi pedang kayu cendana milik milik ayah juga direbut oleh Toh-bing… ” Seolah-olah Pakkiong Yau-Liong mendengar deru napas ayahnya yang sengal-sengal, lalu terdengar mulutnya memuntahkan darah segar, maka bayangan darah yang merah menyala tiba tiba seperti bertaburan didepan mata Pakkiong Yau-Liong. Ayahnya, Bok-kiam-tlong siau Pakkiong Bing sejak sepuluh tahun yang lalu telah ajal dalam keadaan mengenaskan. Khayalan yang menggelitik sanubarinya hanya sekejap belaka. Tapi napas Pakkiong Yau-Liong tiba-tiba berdesah makin cepat, bola mata nya menyala gusar, diaamat benci dan dendam terhadap Toh-bing sik-mo, lebih dendam lagi terhadap Ni Ping-ji si telinga tunggal yang merintangi usahanya menuntut balas. Terasa darah seperti bergolak dirongga dadanya, tiba-tiba dia tertawa gelak-gelak sambil mendongak. itulah gelak tawa lantang yang selama setengah tahun yang lalu selalu dia perdengarkan di kala menghadapi musuh tangguh. Gelak tawa yang aneh kedengaran agak pilu dan murka pula dibanding gelak tawanya pada setengah tahun lalu. Agaknya Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji merinding juga mendengar gelak tawa Pakkiong Yau-Liong, serta merta dia hentikan telapak tangannya yang sudah siap menepuk kebatok kepala Pakkiong Yau-Liong serta menyurut mundur beberapa langkah. Gelak tawa Pakkiong Yau-Liong akhirnya sirap setelah suaranya menjadi serak. maka hadirin diam tiada satupun yang bergerak atau mengeluarkan suara. Ceng-hun-kok diliputi suasana tegang yang mencekam perasaan- Sedih, pilu dan kelihatan seram mimik muka Pakkiong Yau-Liong, orang tidak berani beradu pandang dengan bola matanya yang merah mengandung darah seperti membara, dengan tajam dia pandang Tok-ni-kau-hun Ni-Ping ji yang merintangi usahanya menuntut balas, rasanya ingin menelannya bulat-bulat. Sambil menjinjing ruyung lemas singa emas, setindak demi setindak Pakkiong Yau-Liong mendesak kearah Ni Ping-ji. Tok ni-kau-hun seperti tersedot sukmanya oleh gelak tawa Pakkiong Yau-Liong, yang di curahkan dari lubuk hatinya yang paling dalam karena dirundung kesedihan. Lama dia berdiri melongo mengawasi Pakkiong- Yau- Liong, sorot mata yang tajam dengan mimik muka yang sukar dilukiskan itupun tak berani dipandangnya pula, lekas dia melengos kearah lain, namun rasa gengsi dan pamor seolah-olah mencegah dia melakukan sesuatu yang menurunkan derajat, namun ditatap mata yang tajam nan dingin, sudah terbayang rasa jeri dalam sinar matanya.

Maka tanpa disadari, ditelapak tangan, di atas jidatnya, keringat dingin telah bercucuran. Pakkiong Yau-Liong mendesak makin dekat, tinggal lima kaki lagi, jarak lima langkah dapat terjangkau, walau sang waktu terus pergi, tapi bagi Ni Ping ji seperti berlangsung terlalu lama, langkah Pakkiong Yau-Liong juga terasa semakin lambat. Tio Swat- in masih menjublek. seolah olah dia tidak sadar dan ikut memperhatikan apa yang terjadi didepan mata, tidak melihat juga tidak mendengar. Disana Toh- bing-sik-mo menyaksikan dengan pandangan heran dan kaget. Sementara perempuan yang bercokol dipunggung kuda, yang datang bersama Tok-nikau-hun Ni Ping-ji juga menampilkan perasaan yang sukar di raba, entah senang, sedih, gugup, penasaran dan sebagainya. Dongan langkah berat Pakkiong Yau-Liong terus mendekati Ni Ping-ji, lebih dekat dan lebih dekat… Rasa takut yang menyelimuti sanubari Ni Ping-ji juga semakin besar secara reftek timbul keinginan untuk angkat langkah seribu, namun kaki seperti sudah berakar dibumi tak kan mampu digerakkan. Akhirnya pelan-pelan Pakkiong Yau-Liong angkat ruyung tombaknya pelan tapi ruyung itu sejengkal lebih dekat, terus menusuk keulu hati Ni Ping-ji. Sekonyong-konyong angin dingin menghembus lalu, Ni Ping-ji tersentak sadar seperti disengat kala, mendadak dia menggember sekali, sebat sekali tubuhnya dibanting kesamping terus bersalto setombak jauhnya. Sungguh dia tidak habis mengerti, kaget dan heran akan kelakuannya sendiri yang seperti kena sihir tadi. Maka rasa panasaran hatinya lantaran kelakuan bedohnya tadi dia tunjukkan kepada Pakkiong Yau-Liong. Dihadapan ratusan jago-jago silat dari golongan hitam maupun putih, Biau-hu Su-seng telah membuatnya malu dan terluka parah, sehingga dia harus mengundurkan diri dari percaturan kangouw, kejadian masa silam kembali terbayang didepan mata, maka dia lebih malu dan murka. Maka dia bertekad akan membunuh Pakkiong Yau-Liong, bukan sekali tusuk atau tabas dengan senjata tajam menghabisi jiwanya tapi menyiksanya dengan berbagai cara yang paling biadab, biar dia mati pelan-pelan ditengah penderitaan. Perasaan Ni Ping-ji sekarang tak ubahnya bocah yang dianiaya seorang dewasa, rasa dendam membara dirongga dadanya tapi sukar terlampias. begitu mundur ujung kakinya sudah menjejak disertai gemberan keras, tubuhnya melesat terbang secepat kilat menerkam kearah Pakkiong Yau-

Liong. Dengan jurus Cui-song-loh-hoa gerakan angin jarinya laksana gunting, menutuk ke Thian-toh-hiat dileher Pak kiong Yau-Liong. Pakkiong Yau Liong berseru heran, agak nya diapun tersentak dari lamunannya, tampak dia maju selangkah dengan memiring tubuh, telapak tangannya menepis naik terus ditekan turun dengan jurus Jun-lui-siu-boh-cu, angin telapak tangannya membabat, jari-jari tangannya cakar garuda mencengkram urat nadi tangan kanan Ni Ping-ji, berbareng sinar emas berkelebat, ruyungnya menusuk dengan jurus Mo-ay-boan-ping san, ruyungnya lemas laksana tombak baja, dengan deru angin mendesis menusuk batok kepala Ni Ping-ji yang setengah gundul. Serangan mantap tenaga penuh langkah kakipun tangkas, sasaran tepat waktunya pun persis. Baru saja Tok ni-kau-hun Ni Ping-ji menutuk dengan tangan kanan, telapak tangan dan tombak Pakkiong Yau-Liong telah balas merangsak, tak pernah dia pikir bahwa dalam usia semuda ini Pakkiong Yau- long ternyata telah memiliki taraf kepandaian setinggi ini, agaknya kepandaian Biau-hu Suseng telah diwariskan kepadanya semua. Dibanding dirinya dalam masa setanggung itu, kepandaiannya masih jauh ketinggalan- Mau tidak mau dia kagum dalam hati. Maka rasa dendam, iri dan siriknya bertambah besar, tekadnya hendak membunuh Pakkiong Yau-Liong lebih besar lagi, sebelum musuh muda ini terbunuh, jiwanya yang angkuh ini rasanya belum puas. Tok- ni-kau-hun bergerak sambil mengerjakan kedua tangannya, dengan jurus Peh-hoa slok-ih kedua telapak tangannya berputar terus menggempur kearah Pakkiong Yau-Liong. Hebat memang kepandaian Pakkiong Yau-Liong gerakannyapun teramat cepat dan lain dari biasanya, begitu sasarannya luput, sebelum Ni Ping-ni balas menyerang, dia sudah tarik gerakannya serta melangkah miring kesamping, di mana ujung ruyung nya berputar laksana sekuntum kembang, dengan jurus Thian-kjat-sian-coa be, ujung tombak diujung ruyungnya mengeluarkan deru kencang, tipu serangan kali ini memang kelihatan lebih lihay dan ganas. Baru saja tangan Ni Ping-ji bekerja, lawan sudah berkelit pergi, serangan kedua pihak tampaknya kencang padahal kendor, lambat kenyataan cepat, tahu-tahu ujung senjata lawan sudah menyerang tiba, karuan kagetnya bukan kepalang. Sebat sekali sebelum senjata Pakkiong Yau-Liong mengenai tubuhnya dia sudah mundur lima kaki. Mau tidak mau Ni Ping-ji takjub menghadapi kelihayan lawan, sambil meraung sekeras singa mengamuk tubuhnya melambung tinggi keatas,

ditengah udara mulutnya memekik keras pula sehingga genderang telinga seperti hampir pecah. Tampak tubuhnya meringkel terus membalik laksana meteor jatuh, seperti kilat dari atas dia menyambar kearah Pakkiong Yau-Liong. Itulah jurus Yam-mi-bik-jiu salah satu jurus dari ilmu Kou-hunsek yang pernah merajai golongan hitam dimasa jayanya Ni Ping-ji waktu masih malang melintang di Kangouw. Setelah dikembangkan perbawanya memang luar biasa, kecepatan geraknya sunggah sukar dibayangkan. Mundur, melejit, membalik tubuh terus menukik turun, terjadi hanya diwaktu Pak kiong Yau-Liong baru saja menarik balik serangannya setelah luput menyerang sasarannya. Begitu ruyungnya menusuk tempat kosong Pakkiong Yau-Liong menekan lengan menarik serangan, tiba-tiba terdengar gemberan keras melengking, tahu-tahu pandangan gelap. tampak Tok- ni- kau hun Ni Ping-ji seperti roda berputar saja tiba-tiba menerjang turun dari atas dengan kaki tangan bekerja bergantian menimbulkan bayangan ribuan tangan dan kaki, sekaligus menerjangnya dengan kekuatan dahsyat. Padahal pandangan Pakkiong Yau-Liong teramat tajam, tapi bagaimana musuh menyerang ternyata tidak dilihatnya jelas, karuan dia mengeluh. Tanpa perdulikan serangan yang ditarik belum menyeluruh, dikala tubuhnya masih miring itulah mendadak dia gunakan Sia-kia nso-ou diau, tubuhnya tiba-tiba melompat keatas seperti ada pegas dibawah kakinya, tubuhnya sudah menerjang keluar dari jangkauan serangan kaki dan tangan Ni Ping-ji Gerak menghindar Pakkiong Yau-Liong boleh dikata sudah teramat cepat, namun orang lebih cepat lagi. Terdengar “Bret” pakaian dipundak Pakkiong Yau-Liong tercakar sobek sebagian, pundaknya merah membekas lima jalur jari tangan berwarna merah. Beruntung Pakkiong Yau- Liong berhasil melompat setombak lebih, namun demikian tidak utung keringat dingin telah membasahi jidatnya, baru sekarang dia benar-benar menyadari bahwa Ni Ping-ji. benggolan iblis yang merajai golongan hitam memang mempunyai kepandaian sejati. Karena rasa sakit dipundaknya, membuat pikiran Pakkiong Yau-Liong jernih sejernih-jernihnya. Pelan-pelan dia menarik napas dalam, mata nya menatap tajam, pelan-pelan ruyung lemas ditangannya terangkat lurus, dengan sepenuh perhatian dia nantikan rangsakan lawan, dia sudah siap mengatasi aksi lawan dengan ketenangan lahir batin untuk mengadu jiwa dengan Tok ni-kau-hun Ni Ping ji.

Bahwa Pakkiong Yau-Liong mampu menyelamatkan jiwanya dari Yan- mi- bik-jiu jurus mematikan Kau-huncoat-sek yang paling dibanggakan ini. Ni Ping-ji mendelik kaget dan takjub, tapi kejadian hanya dalam sekejap saja, lekas sekali perasaannya itu sudah lenyap dari sorot matanya. Kembali Ni Ping-ji terkial-kiai dengan suara nya yang batuk-batuk amat tak enak didengar kuping, padahal tertawa, tetapi tawanya lebih mirip menangis, seluruh rubuh gemetar hampir melonjak-lonjak. Itulah sikap yang menghina, tingkah yang sombong dan tekebur, dengan tawa menggila aneh itu dia mau memperlihatkan keangkuhannya bahwa dia tidak pandang sebelah mata kepada lawannya yang masih muda ini. Adalah Pakkiong Yau-Liong sebaliknya memejam mata, berdiri tegak setengah tertunduk sedikitpun dia tidak terpengaruh oleh gelak tawa orang. Setelah menghentikan gelak tawanya, wajah Ni Ping ji tampak membesi hijau, ujung mulutnya menyeringai sadis. Pelan-pelan dia angkat tangan, pelan-pelan membuka jari-jarinya, dimana tadi dia mencengkram pakaian dan kulit daging Pakkiong Yau-Liong. Angin menghembus kencang, sobekan kain yang berlepotan darah tertiup jatuh kedepan kaki Tio Swat- in- Mulut Tio Swat- in yang mungil merekah bergerak-gerak. tapi dia tetap berdiri terlongong. Tadi dia tersentak sadar oleh gelak tawa Pakkiong Yau-Liong yang menyedihkan, tetapi lekas sekali lahir batinnya kembali tersedot ke alam bebas lainnya pula, suatu perasaan yang sukar diutarakan dengan kata-kata bersemayam dalam relung hatinya, sehingga dia mengawasi dengan penuh perhatian, entah mengapa dan dari mana datangnya, dalam sanubarinya timbul rasa simpatik yang mendalam terhadap Pak kiong Yau-Liong, seolah-olah dia telah menyelami banyak tentang pribadinya. Gelak tawa Pakkiong Yau-Liong yang memilukan tadi, secara langsung menyuarakan isi hatinya pula, melampiaskan dendam dan kerawanan hatinya, maka timbul gema suara yang seirama didalam lubuk hatinya, tanpa sadar perhatiannya begitu besar terhadap perjaka yang satu ini, sudah tentu keselamatan sang-pemuda menjadi pula perhatiannya. Setelah membuang sobekan kain ditangannya Tok- ni-kau-hun Ni Ping ji segera menubruk pula kearah Pakkiong Yau-Liong. Sebelum Ni Ping-ji tiba didepannya, Pakkiong Yau-Liong juga sudah memapak maju, dimana tangannya berputar ruyung lemas mendadak tegak lurus menciptakan tiga kuntum cahaya emas, sekaligus mematuk keluar dengan jurus Lian-cu yau-ping-gwe, ditengah pusaran cahaya emas, tampak sinar perak melonjak

keluar menyongsong tubrukan Ni Ping-ji. Serangan ini cukup keras dan keji, tenaga nyapun kuat, namun sedikitpun tidak menimbulkan deru angin- Serangan keras Pakkiong Yau-Liong memang terlalu mendadak, sasaran ujung tombaknyapun tepat dan telak bila mengenai sasaran, gayanyapun indah mempesona. Ni Ping-ji bukanlah lawan lemah sambil mendehem sekali gerak tubuhnya tiba-tiba merandek terus miring kekiri, dengan Yan-ing-heng-kang, tubuhnya menerobes kepinggir lima kaki, maka dia terhindar dari tusukan tombak ruyung lawan- Bahwa tubrukannya tidak berhasil menyergap lawan, malah jiwa sendiri nyaris direnggut tombak lawan, karuan Ni Ping-ji naik pitam, begitu kaki menyentuh tanah, dengan Plan to-be-hoan, mendadak dia tarik tubuhnya secara mentah-mentah, tangan bekerja mengikuti gerak tubuh, kali ini dia robah serangan dengan jurus Jiu-hong loh-yap. sesuai namanya anginnya menderu bagai hujan bayu, kekuatan dahsyat menerpa kearah Pakkiong Yau-Liong. Agaknya Pakkiong Yau-Liong sudah siaga menghadapi serangan lawan, meski sepasang telapak tangan Ni Ping-ji menyerang tiba, kelopak matanya pun tidak bergerak. padahal damparan angin kencang itu hampir membuatnya susah bernapas. Namun tubuhnya tiba-tiba doyong kepinggir sehingga tubuhnya lurus menempel tanah, dimana ruyung lemas nya ditariknya, sinar emas yang menyiiau mata berkelebat. Sesekali menyerang dengan dua gerakan Jam-bu-ui-ho-tiang dan Som-kiau-bik-gwe-hwi. Sinar kemilau itu berkembang sedahsyat gugur gunung, selincah ular sakti pula menggulung kearah Ni Ping-ji. Bahwasanya serangan Tok- ni-kau-hun Ni Ping-ji sudah dilancarkan sekuat tenaga dan mencapai titik tenaga yang penghabisan, namun Pakkiong Yau-Liong mendadak menjatuhkan diri serta balas menyerang dengan sejurus dua gerakan, bukan saja lihay dan cepat, serangannyapun aneh dan berbeda dengan permainan ilmu silat umumnya. Karuan Ni Ping-ji tersirap kaget sampai mukanya berubah pucat, untuk menarik serangan dan berkelit jelaS tidak mungkin lagi, dalam detik-detik gawat ini jelaS dia bakal kecundang oleh tombak diujung ruyung Pakkiong Yau Liong. Tio Swat- in yang menyaksikan diluar gelanggang masih terlongong, tapi sorot matanya memancarkan sorak gembira, sayang tenggorokannya seperti tersumbat sehingga dia tidak kuasa bersuara.

Toh- bing-sik-mo tetap terlongong di tempatnya, sorot matanya yang dingin beku menatap tanah didepan kakinya, sorot matanya tidak menampilkan perasaan apa-apa. Demikian pula perempuan yang tetap bercokol dipunggung kuda tetap tidak bergerak atau memberikan reaksi apapun, sorot matanya memancarkan cahaya ruwet yang sukar di selami. Kecuali kedua orang yang lagi baku hantam ditengah arena, tigaorang diluar gelanggang berdiri kaku seperti patung, tidak bersuara pula. Ditengah keheningan itulah, sebuah pekik keras seperti menembus angkasa. Insyaf berkelit sudah tidak keburu lagi, dikala terdesak itulah Ni Ping-ji mendadak mendapatkan akal, mengikuti gerak tubuhnya, mendadak dia kerahkan tenaga diujung kakinya, tahu-tahu tubuhnya melejit lewat dari atas cahaya tombak emas dan perak Pakkiong Yau-Liong. “Cret” tak urung celananya tertusuk belong dan sobek. Begitu Pakkiong Yau-liong menekan tangan sambil menarik. ditengah perpaduan cahaya emas dan perak tampak sinar darah muncrat, ternyata kaki Ni Ping-ji tertusuk belong dan tergores panjang beberapa dim oleh ketajaman tombak emas Pakkiong Yau-Liong. Sebat sekali Pakkiong Yau-Liong telah melejit bangun, dia kira Ni Ping-ji tidak akan menjilat ludahnya sendiri, sebagai tokoh silat tinggi yang sudah ternama pasti menepati janji Maka dia tidak akan menarik panjang persoalannya dengan Tok niO-kau-hun Ni Ping-ji, tanpa bicara langsung dia menubruk kearah Tohbing-sik mo yang masih berdiri dipinggir. Adalah diluar tahunya bahwa Ni Ping-ji sudah bertekad hendak membunuhnya, karena memandang enteng lawan, kakinya malah terluka oleh Pakkiong Yau-Liong, sudah tentu gusar dan penasaran membakar hatinya, tak ingat janji tak hiraukan gengsi, sambil menggerung kembali dia menubruk dengan sengit. Baru saja tubuh Pakkiong Yau-Liong bergerak setengah lingkar, ditengah gerungan gusar lawan, bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Ni Ping-ji telah menerjang pula kepadanya. Pakkiong Yau-Liong mendengus gusar pula, pikirnya: “Siapa nyana benggolan iblis yang sudah ternama di Kangouw juga tidak hiraukan aturan dan ingkar janji.” Secara keras dan cepat dia tarik balik tubuhnya yang sudah bergerak setengah lingkar, dimana tubuhnya bergerak tombaknyapun ikut menyapu kearah Ni Ping ji. Meski dibakar amarah, namun Tok ni-kau hun Ni Ping-ji tidak berani

gegabah, tampak dia mengembangkan kelincahan tubuhnya, laksana air mengalir dan mega mengambang, serangan telapak tangannya berantai tidak putus-putus membawa kekuatan dahSyat laksana gugur gunung. Pakkiong Yau-Liong diserang Secara menggebu. Ruyung lemas tombak singa pakkiong Yau-Liong berputar membUngkus tubuhnya, seperti tabir cahaya telah mengelilingi sekujur badan, sering pula tombaknya bergerak balas menyerang setiap ada kesempatan- Walau Lwekang Ni Ping-ji tinggi, tetapi pertahanan Pakkiong Yau-Liong ternyata juga ketat dan kuat, dia tidak mengutamakan menang, yang penting adalah bertahan dan selamat, maka dalam waktu dekat jelas Ni Ping-ji tidak akan mampu merobehkan dia apa lagi mau membunuhnya . Tampak sinar emas gemerdep. bayangan orang menari-nari dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan mata, kelihatan lambat kenyataan cepat. Setelah cepat kenyataan lamban, sering menimbulkan gelombang dan pusaran hawa yang dahsyat, sehingga penonton bergidik dingin dan merinding, raungan tawa yang keras pun seperti hampir menggetar pecah genderang kuping orang. Hanya sekejap seratus jurus telah berselang. Hari sudah betul-betul terang tanah, namun lembah mega hijau masih diliputi cuaca guram dan lembab. Hujan sudah reda, tetapi angin dingin masih menghembus kencang dengan deru yang memilukan. Tiga orang diluar gelanggang masing2 terlongong tidak bergerak. mereka seperti tidak merasakan dinginnya hembusan angin, tidak merasa bahwa hujan sudah reda, haripun sudah terang tanah, sudah tentu tidak mereka sadari pula bahwa anyirnya darah sudah memenuhi lembah mega hijau. Hanya satu yang menjadi perhatian mereka, yaitu dua orang yang lagi berlaga ditengah arena, jantung mereka ikut berdebur regang, perasaan mereka berbeda namun sama menonton dengan melotot tanpa berkesip. Sepasang telapak tangan Tok ni-kau-hun Ni Ping ji bertaburan sederas badai mengamuk. Setiap peluang tidak diabaikan, sekujur badan Pakkiong Yau-Liong menjadi incaran tipu yang mematikan. Pakkiong Yau-Liong sudah bertempur satu babak lebih dulu melawan Tohbing-sik-mo, berjuang untuk menuntut balas kematian ayahnya, maka dalam melabrak Toh-bing-sik-mo tadi boleh dikata dia sudah mengerahkan segala kemampuannya, dan untuk mencapai keinginan itu, sekarang dia harus merobohkan dulu Tok-ni-kau-hun Ni Ping ji, dendam membara pula didalam rongga dadanya setelah Ni Ping-ji tidak menepati janji, itu berarti usaha menuntut balas akan menghadapi rintangan yang Cukup berat,

sebelum musuh gurunya yang satu ini ditamatkan riwayatnya, sukar bagi Pak kiong Yau-Liong membunuh Toh-bing sik-mo. Rasa pedih dan kebencian menopang rasa dendamnya, sehingga dia bertempur tidak kenal lelah, entah dari mana datangnya semangat yang tidak kunjung padam, ingin rasanya dia menghancur leburkan tubuh Ni Ping-ji si kakek kurus pendek yang tidak tahu malu ini, baru setelah itu dia akan mengunyah tubuh dan menghisap darah segar Toh-bing-sik-mo, supaya arwah sang ayah dialam baka bisa istirahat dengan tentram. Akan tetapi Pakkiong Yau-Liong sendiri juga menginsyafi dirinya adalah manusia biasa, cepat atau lambat tenaganya akan terkuras habis, bila semangat tempur masih menyala, tidak lain karena dendam kesumat masih menyaIa dalam rongga dadanya, padahal tenaga sudah mulai menyurut, rasa capai telah menghantui sanubarinya, gerak geriknya telah terasa sendiri tidak selincah dan segesit tadi, beberapa kali hampir saja jiwanya terenggut oleh serangan lawan- Sudah tentu Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji benggolan iblis yang pengalaman ini sudah melihat titik kelemahan Pakkiong Yau-Liong. Mendadak dia menggeram terus tertawa kial-kial dengan nada suara yang menusuk hati. Gema suaranya memekak telinga tidak enak didengar namun hadirin termasuk Pakkiong Yau Liong sendiri merasakan nada tawanya mengandung rasa puas dan bangga serta sadis. Bola mata Pakkiong Yau-Liong sudah merah membara, sambil berteriak ruyung lemas ditangannya tiba-tiba berkelebat disertai cahaya perak yang bergetar, beruntun dia lancarkan dua jurus Tam-tho-Giok lun-hun dan Liong ih gin-hankok, tenaga disalurkan pada senjatanya namun gerak ruyungnya ternyata tidak menimbulkan deru senjata sedikitpun, dari atas, tengah dan bawah sekaligus menusuk kearah Ni Ping-ji. “Huuuaaaa” mendadak Ni Ping-ji memekik, ujung tombak jelas sudah hampir mengenai badannya, mendadak tubuhnya melenting setombak keatas, untung masih keburu dia meluputkan diri dari dua jurus serangan tombak Pakkiong Yau-Liong. Ditengah udara tubuhnya seperti berhenti sejenak. lalu menukik dengan mengembangkan telapak tangannya yang kurus tinggal kulit pembungkus tulang laksana cakar burung, sekaligus diapun balas menyerang dengan jurus Ban-toh-jun hoa, sesuai namanya telapak tangannya berobah seperti kuntum bunga yang mekar di musim semi bertaburan membawa sambaran angin menerjang kebatok kepala Pakkiong Yau Liong serta mencakar mukanya. cepat lagi aneh dan telak.

Dua jurus serangan dilancarkan bersama, bukan saja tidak berhasil menjatuhkan lawan, tahu-tahu pandangan Pakkiong Yau-Liong seperti teraling apa-apa sehingga menjadi gelap. belum telapak tangan tiba deru angin kencang dan tajam telah menampar kemukanya, cepat kuat dan aneh. Untuk berkelit jelas tidak keburu lagi, dalam keadaan mendesak serupa itu tiada kesempatan untuk berpikir, tanpa sadar mulutnya menggembor seperti singa mengamuk, mendadak dia menjatuhkan tubuh, berbareng pergelangan tangan berputar, dia dipaksa melancarkan Siang hoa n- coat, jurus khusus untuk melindungi tubuh dari serangan lawan, cu-pit-tam-siau-hap dan Hun-bur-ngo-sek-lian-

Tampak cahaya emas dan bayangan perak kembali membungkus rapat sekujur badan Pakkiong Yau-Liong, hujan lebatpun tidak akan tembus, ruyung lemas diputar sekencang itu, tidak menimbulkan deru angin, sebaliknya menimbulkan daya kekuatan yang luar biasa merembes keluar dari pertahanan tabir cahaya kemilau itu, meski perlahan tapi pasti mengandung kekuatan keras dan lunak. sehingga kekuatan dahsyat dari luar sukar menerjang masuk karena telah punah oleh kekuatan lunak yang menahannya atau kekuatan keras itu dilawan keras serta didorong minggir kelain arah, hebat dan aneh memang ilmu yang dikembangkan Pak kiong Yau-Liong ini.

Sudah tentu Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji tahu bahwa Pakkiong Yau-Liong tengah mengkembangkan Siang hoan-coat yang diwarisi dari Biau-hu Suseng, dulu dengan bekal ilmunya ini Biau-hu Suseng belum pernah menderita kalah melawan siapapun, tak pernah disangka bahwa dalam usia semuda ini ternyata Pakkiong Yau-Liong juga telah mewarisi ilmu guru nya yang hebat itu. Padahal untuk mengembangkan Siang- hoan-coat orang harus memiliki ketahanan tenaga yang hebat serta land asan Lwekang dari ajaran murni, bila latihan sudah mencapai taraf sempurna keadaan seperti apa yang diperlihatkan oleh Pakkiong Yau- Liong sekarang, sayang latihannya belum begitu matang, namun demikian Ni Ping ji sudah heran, kaget dan jera. -oooOdwOooo-

Jilid 6 : Tok-ni kau-hun Ni Ping ji menang

SELAMA dua puluh tahun, Tok-ni kau-hun Ni Ping ji giat berlatih dan banyak mencipta ilmu khusus untuk melawan dan memecahkan Siang- hoan-coat itu, jerih payahnya ternyata tidak sia-sla, meski dia tidak yakin dirinya mampu memecahkan ilmu lawan, tapi dia yakin latihannya pasti ada hasilnya. Sayang dalam waktu yang terdesak ini, tidak sempat dia menggunakan ilmu simpanannya itu. Sudah tentu diapun segan mengadu sepasang tangannya dengan tombak lemas Pakkiong Yau-Liong yang dilandasi tenaga lwekang yang hebat.

Tidak menggembor, tapi mendadak dia tarik napas dalam, seluruh kekuatan tenaganya dia salurkan ketelapak tangan, mendadak dia menggempur dengan Bik-khong-ciang kearah ruyung lemas lawan- Walaupun usahanya dilakukan tergesa-gesa dan dalam tempo yang sangat singkat, tapi gempuran telapak tangannya ternyata cukup mengejutkan- Kekuatan dahsyat Bik-khong ciang yang dilancarkan Ni Ping-ji ternyata sirna ditelan tenaga serangan ruyung lemas Pakkiong Yau Liong yang lambat tapi kuat itu, beruntung tubuhnya yang terapung itu berhasil meminjam daya pantul dari benturan keras itu melayang pergi sebelum jurus kedua Siang hoat coat Pak kiong Yau Liong sempat dilancarkan, dengan enteng dia melayang turun setombak jauhnya. Diam-diam dia melelet lidah dan mengucap syukur dalam hati.

Dalam waktu sekejap ini, baru Pakkiong Yau-Liong memperoleh peluang ganti napas. Bahwa serangannya tidak membawa hasil, kalau reaksi dirinya kurang cekatan, jiwa sendiri malah terancam oleh senjata lawan, karuan saja Ni Ping-ji semakin berkobar amarahnya. Padahal, dalam sekejap ganti napas ini, Pakkiong Yau Liong sendiri pun merasa kaget dan heran, karena Ni Ping-ji mampU membebaskan dirinya dari dua jurus Siang hoan-coat yang dilancarkan- Menerawang situasi yang dihadapi, Pak kiong Yau-Liong insyaf bahwa untuk mencapai keinginan menuntut balas kematian orang tuanya, harapannya terlalu kecil, walau umpama Ni Ping ji ditengah jalan maU mengUndUrkan diri dalam percaturan adU tenaga dan otot ini, Pakkiong Yau-Liong maklum tenaganya sekarang sudah banyak terkuras, sisa tenaga yang ada sekarang tidak akan cukup kuat umuk melabrak Toh-bing sik-mo pula.

Jelas betapa sedih dan penasaran hatinya, sungguh sukar dilukiskan. Karena dendam dan penasaran tidak terlampias, saking gegetun air matanya serasa hampir bercucuran. Pada saat itulah, setelah maklum perkembangan situasi yang dihadapi, NiPing-ji bertekad bulat, maka tanpa mengeluarkan suara dengan mendelik buas, dia mendorong kedua tangan dari depan dada, segumpal tenaga dahsyat terbit diantara kedua tangannya yang menyilang itu terus melandai kearah Packiong Yau-Liong. Memangnya Pakkiong Yau Liong sudah nekad, dalam gusarnya diam-diam dia berkeputusan juga : “Baiklah, biar aku adu jiwa dengan kau.” Pakkiong Yau-Liong tidak ragu lagi, mendadak dia pasang kuda-kuda, lutut ditekuk kedua ibu jari tangannya menggantol ruyung lemas, kedua telapak tangan terbalik lurus menghadap kedepan serta, pelan-pelan didorong ke depan, tenaga lunak yang tidak kelihatan diam-diam timbul dari telapak tangannya. Walau kelihatannya tidak sedahsyat damparan gempuran Ni Ping-ji, tapi kekuatan dorongan Pak kiong Yau-Liong mengandung dua unsur tenaga keras dan lunak. sehingga merupakan jalinan kekuatan yang tangguh juga , apalagi Pakkiong Yau-Liong sudah bertekad adu jiwa, maka diapun menggempur dengan seluruh kekuatannya, dapatlah dibayangkan betapa besar kehebatannya. “Plak” suara benturan tidak keras, tampak Ni Ping-ji tergentak mundur setombak lebih, mulutnya terbuka menggelak tawa aneh Pak kiong Yau-liong seperti digentak keras, tubuhnya sempoyongan beberapa langkah, kedua lengannya terasa lemas pegal, ruyung lemasnya terpental lepas dari pegangan- Kalau Tok ni-kau-hun NiPing-ji bergelak tawa, adalah Pakkiong Yau-Liong amat pilu dan hilap. Bibirnya gemetar, mulutnya terpentang ingin menggembor melampiaskan penasaran hati, namun kerongkongan terasa kering, lidah kelu suaranya tertelan kembali. Tanpa memberi peluang, ditengah gelak tawanya Ni Ping-ji sudah merangsak pula. makin meledakama rah Pakkiong Yau-Liong, ada niat mengerahkan seluruh kekuatan Lwekang-aya mengadu kekuatan biar gugur bersama musuh. Dia sudah siap menggempur, sayang dalam pandangannya yang berkaca-kaca air mara, tiba-tiba muncul pula adegan mengerikan yang tidak pernah terhapus dalam ingatannya yaitu bayangan berlepotan darah dengan rambut kepala awut awutan, sebatang panah menancap tembus di dadanya.

Maka luluhlah semangatnya, diam diam dia membatin : “Pakkong Yau-Liong, jangan terlalu emosi dan diburu oleh perasaan hati menghadapi persoalan genting ini, bila salah langkah ceng-hun-kok adalah tempat kuburmu maka ayahmu yang dia lam baka tidak akan mati dengan meram. Sudah sepuluh tahun aku menanti, apa bedanya tertunda pula beberapa hari ? Selama gunung tetap menghijau, kenapa kuatir kehabisan kayu bakar, situasi hari ini tidak menguntungkan, kenapa kau tidak berusaha meloloskan diri saja?” itulah keputusannya setelah dia sadar dan berhasil menekan rangsangan nafsunya ingin menuntut balas, walau keputusan ini sendiri amat mengetuk sanubarinya, tapi dalam keadaan seperti sekarang dia sudah tiada jalan atau pilihan lain- Sebelum Ni Ping-ji menubruk tiba, dia sempat berjongkok meraih senjata, berbareng kakinya menggenjot dengan gaya IHun-pih-loh yan-heng, tubuhnya mencelat jauh kepinggir hinggap dibawah dinding lembah, tanpa ayal kembali tumitnya menutul bumi, tubuhnya lantas melejit mumbul, melayang seringan asap dengan punggung menempel dinding terus melesat terbang keatas. Mendadak tubuhnya bersalto sekali, kini menghadap kedinding, kaki tangan bekerja sama seperti orang manjat pohon layaknya, kaki menotol tangan menarik, tubuhnya melenting lebih pesat lagi menuju kebatu gunung yang agak menonjol keluar dari dinding curam itu. Itulah Ginkang kelas tinggi Yan-teng-hun siang-in. Begitu mencapai dinding tubuhnya seperti lengket terus meluncur pula keatas. begitulah beberapa kali menotol dan tangan bekerja, tubuhnya bergerak diatas dinding yang curam dan licin setinggi lima puluhan tombak telah dicapai dengan mudah. Bahwa Pakkiong Yau-Liong sudah hampir dikalahkan total, sudah tentu Ni Ping-ji amat senang, kini melihat Pakkiong Yau Liong melarikan diri dengan cara yang luar biasa ini, sudah tentu tidak rela dia membiarkan orang merat, apalagi ruyung lemas Pakkiong Yau-Liong telah meninggalkan tanda mata dipahanya. Beruntun Ni Pingji memekik pendek. secepat terbang tubuhnyapun memburu kearah dinding, begitu kaki tangan menempel dinding segera dia kerahkan tenaga dalam, sekali bergerak tubuhnya segera merambat naik secepat panah meluncur, gerak-geriknya mirip cecak yang mengejar mangsanya. Ni Ping-ji memang mengembangkan Pia-hau-kang (ilmu cecak) dengan landasan tenaga dalamnya. Lekas sekali NiPing-ji juga sudah mencapai pucuk dinding dan melompat berdiri diatas jurang Selepas matanya

memandang tampak dua puluhan tombak diarah barat bayangan seseorang tengah berlari kencang seperti dikejar setan- Maka dengan pekik yang mengerikan segera dia mengudak dengan Ginkangnya yang tinggi Pada saat itulah di dalam lembah terdengar beberapa kali hardikan, serta merta Ni Ping ji merandek dan memutar balik, dia teringat kepada nyonya muda yang datang bersamanya itu. Nyonya cantik yang direbutnya dengan kekerasan beberapa hari yang lalu, betapapun dia segan meninggalkannya begitu saja. Dia tahu bila daya obat yang diminumnya sudah punah, nyonya ini akan meninggalkan dirinya dengan rasa dendam yang tidak terlampias. Karena dia maklum, kecuali dendam hakikatnya nyonya ini tidak pernah menaruh cinta terhadapnya, meski sudah beberapa hari ini mereka tidur seranjang. Maka dia berpikir: “Pakkiong Yau Liong sudah kehabisan tenaga, lari juga tidak akan bisa jauh, biar aku menaruhnya disuatu tempat aman dulu putar balik membuat perhitungan kepadanya.” Ni Ping-ji sudah membenci Pakkiong Yau Liong ketulang sumsumnya, dendam gurunya telah dia limpahkan kepada Pakkiong Yau Liong, maka dia sudah berkeputusan, Pakkiong Yau-Liong harus dibekuk hidup,hidup, baruperlahan-lahan dia akan menyiksanya sampai mati. Hardikan nyaring kembali berkumandang dari dasar lembah. Dengan terlongong Tio Swat-in menyaksikan pertempuran ditengah gelanggang, rona mukanya selalu berobah mengikuti perkembangan pertempuran ditengah arena. Untuk sementara dia lupa akan tujuan kedatangannya, karena didalam waktu yang tidak singkat ini, entah mengapa nalurinya seperti telah diliputi khayal yang tidak mampu dia sendiri mengemukakan, keselamatan sipemuda yang tengah menyabung nyawa ditengah arena menjadi perhatiannya yang utama. Sudah tentu Tio Swat- in sendiri tidak tahu, kenapa timbul perasaan aneh dalam benaknya. Akhirnya dia menyaksikan pemuda yang tadi menyaru Mumi dan beberapa kali memberi peluang kepada dirinya telah kabur melesat terbang keatas dinding jurang. Setelah bayangan orang telah lenyap dari pandangan matanya, baru dia menarik napas lega. begitu tertunduk perasaannya seketika hambar, seperti kehilangan apa-apa. Tekanan batin yang mengendor, menyebabkan pikirannya lebih jernih, dalam sekejap ini, suatu pikiran mengetuk sanubarinya, seketika dia sadar akan kehadiran dirinya didalam lembah ini, baru sekarang dia menyadari dirinya terlongong setengah hari tanpa guna didalam lembah yang becek.

sementara musuh pembunuh ayahnya Toh-bing-sik-mo tampak tidak jauh disana. Segera dia angkat kepala serta menatap dengan sorot dingin, ternyata Toh-bing-sik-mo juga tengah menatapnya. Maka adegan yang mengerikan itu kembali terbayang dikelopak matanya. darahnya seketika mendidih, hawa amarah meledak dirongga dadanya, bibirnya gemetar, air matanyapun berlinang. Tatapan dingin yang mengandung sinar hijau itu memang menggiriskan hatinya, tapi selama sepuluh tahun ini dia sudah mengecap penderitaan dan kesengsaraan hidup, keluarga berantakan, ayah bunda gugur, sanak saudara tidak diketahui parannya, dalam hatinya sudah timbul satu tekad yang membara, kekuatan yang amat besar, balas dendam, itulah suara yang bergema direlung hatinya, tidak pernah putus gema suara yang menuntut dirinya untuk berusaha menuntut balas. Maka sambil menghardik nyaring segera dia menubruk kearah Toh bing-sik mo, dengan jurus Hwi-ngo-kip to, dikala tubuhnya terapung diudara dia sudah melolos pedang serta memutarnya sehingga menerbitkan deru kencang menerjang kearah Toh bing sik-mo. Serangan mendadak ini menimbulkan reaksi kaget dan heran dari sorot mata Toh-bing sik-mo. Apalagi yang menyerang adalah gadis belia yang berusia tujuh belasan- Hanya bergerak lembut Toh- bing-sik- mo sudah mundur beberapa kaki, pandangannya tetap heran dan tak habis mengerti. Sudah tentu Tio Swat-in tidak hiraukan sorot mata orang, luput serangan pertama dengan suaranya yang serak kembali dia menghardik, kini serangan berubah jurus Boan-ciang-ci ki, pergelangan tangan ditekan pedang menyusup keatas senjatanya menyontek ketiak Toh-bing sik-mo. Bukan saja tidak menangkis, Toh- bing-sik, mo juga tidak balas menyerang, dia hanya menyingkir kepinggir, gerak geriknya seringan daun melayang. Pedangnya menusuk tempat kosong, kembali tubuh Tio Swat-in bergerak mengikuti gaya pedang nya, kali ini langkahnya tampak lincah dan pedangpun bergetar, dengan jurus Ih-sing-coan gwe (bintang pindah mengitari rembulan) sinar pedangnya membentuk sekuntum kembang yang bertaburan, diiringi desis tajam yang dingin, secepat kilat menggulung kearah Toh- bing-sik- mo, serangannya kali ini memang lebih lihay dan mengejutkan. Melihat gaya pedang Tio Swat-in makin ganas, rasa heran dalam sorot matanya makin besar, lekas dia menjejak kaki mundur setombak jauhnya.

Bahwa Toh- bing-sik- mo tiga kali memberi peluang kepadanya, Tio Swat-in sendiri juga heran dan tidak mengerti. Pikirnya: “Kenapa dia mengalah tiga jurus kepadaku? Apakah mumi yang satu ini juga palsu ?” Apakah Toh bing sik-mo yang didepan-nya ini palsu atau tulen? Apa pula maksud kehadirannya di sini, kecuali dia sendiri, sudah tentu Tio Swat in tidak mungkin tahu. Meski heran tapi Tio Swat-in tidak kapok. dia sudah bertekad untuk melabrak musuh yang satu ini. Dia yakin kali ini dugaannya pasti tidak akan salah seperti tadi. Begitu menyendal pedang kembali dia memburu maju. Sekonyong-konyong loroh tawa yang bergelombang menimbulkan perasaan dingin bergema didalam lembah. orang akan bergidik dan merinding mendengar loroh tawanya yang aneh dan khas. Serta merta Tio Swat-in tekan perasaan dan niatnya yang sudah hendak menerjang, mengawasi Toh-bing sik-mo yang tengah berloroh tawa. Ditengah loroh tawanya Toh bing-sik-mo mendadak menubruk sambil angkat gendewa merah sehingga menimbulkan getaran bayangan yang bersusun, lincah dan secepat angin menindih kepalanya dengan tekanan dahsyat. Tlo Swat in dipaksa berkelit kesamping serta balas menyerang dengan sengit. Ditengah pertempuran mereka yang seru, Terdengar derap tapal kuda yang dilarikan pergi. sekilas Ni Ping-ji masih sempat menoleh kearah dua orang yang lagi berhantam, segera dia bawa nyonya muda itu meninggalkan lembah ini. Tio Swat-in seperti tidak mendengar atau melihat mereka pergi, pedang mestika ditangannya terus merabu dengan deras dan lihay, serangan bertubi yang ganas dan sengit. Hari memang sudah terang tanah, tapi langit masih mendung, cuasa masih dingin dan lembab. ceng-hun-kok masih guram dan remang-remang, hembusan angin kencang membawa bau anyir yang memuaikan. Tlo Swat-in masih terus menubruk, menendang, melabrak dengan senjatanya, seperti serigala kelaparan yang ingin melalap mangsanya saja, tapi kecuali keringat yang gemerobyos meski hawa teramat dingin, jangan kata melukai atau merobohkan Toh- bing-sik- mo, seujung rambut lawanpun tidak mampu disentuhnya. Sebaliknya dia merasa letih dan kehabisan tenaga, napas nya sengal-sengaL Sembari menyerang dengan sengit diam-diam dia berdoa, mengharap bantuan arwah ayahnya dari alam baka supaya dia bisa membunuh musuh besarnya ini. Maka dia putar pedangnya dan menyerang berantai dengan

jurus tipu yang lihay dan mematikan, serapat jala sederas hujan Toh- bing-sik- mo diceCarnya dengan hebat. Tetapi kepandaian Toh-bing-sik mo memang teramat tinggi bagi Tio Swat-in, ditengah tatapan dingin lawan, ditengah gelak tawanya yang bernada sinis, setiap serangan Tio Swat-in kalau tidak gagal, luput pasti kandas ditengah jalan. Karuan Tio Swat-in makin gugup dan gelisah, ditambah lagi rasa dendam dan kesedihan yang tidak terhingga, dalam keadaan serba payah seperti sekarang bertambah pula tekanan lahir batinnya. Kematian ayahnya yang mengenaskan terbayang kembali dalam matanya. Betapa ibunya menjerit meratap dan sesambatan, air matanya kering sehingga mencucurkan darah, suaranya serak dan akhirnya lunglai ia tak sadarkan diri. Darah ayahnya seperri masih mengucur dari luka-lukanya, darah masih mengalir dari bola mata ibunya Bola matanya yang melotot merah berlinang air mata, Tio Swat in mengamuk. menggembor dan memeklk seperti ingin melampiaskan segala derita lahir dan batin ini, dan ini bukan lagi rengek aleman, bukan gerak gemulai, suaranya sudah serak lidahnya kelu tapi dia masih berjuang membabi buta. Tiba-tiba Toh-bing sik-mo terloroh-loroh pula, gendewa dltangannya mendadak berputar dengan getaran keras lalu mendadak menutuk keluar seperti ular memagur, bayangan merah gendewanya menimbulkan damparan angin kencang menindih kearah Tio Swat-in secara bergelombang. Amarah sudah membakar dada Tio Swat-in, dendam tidak terlampias lagi, karuan hati nya serasa hancur, wajahnya nan halus cantik sudah pucat, kotor oleh keringat dan lumpur bercampur dengan air mata. Tlo Swat-in sudah tidak hiraukan keselamatan jiwa sendiri, kini dia tidak main kelit pula, dengan jurus Hwi-yan-toh lin (burung belibis hinggap dihutan), tiba-tiba pedangnya menyelinap masuk ke tengah lapisan bayangan gendewa merah lawan terus menusuk ulu hati Toh- b ing-s ik- mo. Ternyata Toh bing-sik mo kaget dan menyurut mundur oleh serangan Tio Swat-in yang mendadak dan nekad ini, hakikatnya ini bukan lagi main silat dengan usaha membunuh lawannya tapi lebih mendekati adu jiwa. Tapi pada detik yang gawat itu, untuk menyelamatkan diri tiada kesempatan bagi Toh- bing-sik mo untuk berpikir, buru-buru dia tarik serangan dan

melompat mundur setombak lebih. Walaupun dia tidak berhasil melukai Tio Swat-in, untung dia sendiri berkelit secara tangkas, sehingga kedua pihak tidak mengalami cidera. Bahwa serangannya yang nekad berhasil mendesak mundur Toh-bing-sik- mo, sudah tentu Tio Swat-in yang mengira dirinya memperoleh peluang baik tidak mengabaikan begitu saja, sambil menghardik segera dia menubruk pula dingin pedang teracung miring menimbulkan gulungan sinar berkembang, ternyata menginsyafi musuh teramat tangguh, Tio swat-in melancarkan Nga-Liong-puh “Seeeerr” batang pedangnya seperti berobah menjadi lima batang, bersamaan merangsak tiga sasaran atas, tengah dan bawah, mengincar lima Hiat-to besar ditubuh Toh- bing-sik- mo. Baru saja kaki menyentuh tanah, tutukan pedang Tio Swat-in sudah menyerang tiba pula. Kembali sorot matanya menyala menampilkan rasa kaget dan herannya pula, tapi juga seperti amat marah. Sekilas tampak bola matanya berputar memancarkan sinar buas, mendadak dia menjatuhkan diri, gendewa ditangannya menimbulkan tabir merah mengepruk kearah pedang lawan yang menusuk kelima Hiat-to nya. “Trak” tidak keras, maka tampak selarik sinar mencelat terbang danjatuh berkerontangan. Ternyata pedang Tio Swat-in telah diketuknya teriepas dan jatuh ditanah. Tio Swat in merasakan seluruh lengannya pegal dan linu, saking kagetnya, tahu-tahu Yu-bun-hiat didepan dada seperti disentuh sesuatu benda. Itulah ujung gendewa Toh bing-sik- mo yang mengancam jalan darahnya. Toh-bing sik-mo berdiri didepannya, bola matanya yang menonjol diantara balut perban dikepalanya tampak memancarkan cahaya dingin tapi mengandung rasa puas dan bangga, Tio Swat-in ditatapnya lekit-Iekat. Bila dia kerahkan sedikit tenaganya menyodokkan gendewanya, jiwa Tio Swat-in akan melayang seketika. Tapi Toh- bing-sik- mo tidak bergerak. kaku seperti mumi tulen, hanya bola matanya saja yang bergerak menatap tajam Tio Swst-in tanpa berkesip. Mati…bagi mereka yang sudah bertekad gugur dimedan laga adalah sesuatu yang tidak perlu ditakuti, namun dalam keadaan seperti sekarang, siapapun akan merasa rawan dan pilu. Demi menuntut balas kematian ayahnya Tio Swat-in memang tidak hiraukan mati hidup sendiri. Tapi dalam keadaan terancam seperti ini, ingin mati tidak mati, ingin hidup juga masih merupakan tanda tanya, mau tidak mau bercucuran keringat dingirnya, telapak tangannyapun basah oleh

keringat dingin- Tekadnya memang besar, tidak takut mati, tapi sekarang dia justru insyaf dan tidak ingin mati Tiba-tiba suatu pikiran berkelebat dalam benaknya, tubuhnya mendadak menjengkang mundur, pikirnya mau membebaskan diri dari ancaman gendewa Toh bing-sik- mo, namun Toh-hing-sik mo tidak kalah tangkasnya langkahnya lebih enteng pula, ujung gendewa tetap mengancam Yu-bun-hiat didepan dadanya, ternyata tenaga masih tetap mantap. tidak tambah juga tidak berkurang. Beberapa kali Tio Swat-in berusaha tapi tetap gagal, harapan meloloskan diri jelas sudah kandas dan tidak mungkin lagi. Menerawang keadaan dirinya, sungguh pedih dan luluh perasaannya, diam-diam dia lantas berpikir: “Kalau hidup sudah tiada harapan, biarlah aku mati lebih cepat saja.” Maka tidak lagi berkelit mundur mendadak^ dia malah menerjang maju menumbukkan tubuhnya kearah ujung gendewa. Sayang sekali, agaknya Tohbing-sik mo dapat menangkap jalan pikirannya, waktu dia mundur tadi Toh- bing-sik- mo tetap mengincarnya dengan ancaman ujung gendewa di Hiat-to mematikan didepan dada. Sekarang dia menerjang maju, ternyata Toh-bing sik-mo yang mundur selangkah malah. Ingin hidup tidak bisa mau mati juga tidak tercapai, sungguh Tio Swat-in kecewa dan akhirnya putus asa. Sorot mata Toh- bing-sik-mo yang dingin kelihatan lebih senang dan bangga, maka dia menengadah sambil terloroh tawa pula, Tio Swat-in yang sudah putus asa meski air mata masih bercucuran, Tapi dia sudah amat tentram dan tenang malah, tiada yang dia pikirkan lagi, matanya mengawasi gendewa yang mengancam didepan dadanya, akhir nya pelan-pelan dia memejam mata. Ceng-hun-kok tetap guram dan lembab, diliputi suasana sedih dan seram, kini ditambah rasa hambar dan putus asa. Malam telah larut, tabir kegelapan menyelimuti alam semesta, suasana hening lelap. Enam li jauhnya dari ceng-hun-kok, ditengah gunung terdapat sebuah gua, malam nan gelap menjadikan gua itu lebih pekat. Sekonyong konyong tawa aneh mengalikan memeCah kesunyian malam, sehingga malam yang dingin terasa seram. Dari jauh gelak tawa itu terdengar masih lirih, tapi cepat sekali sudah makin dekat dan keras, dari keras makin jauh dan lirih, akhirnya lenyap ditelan tabir malam. Gua dilamping gunung itu ternyata dihuni manusia. Helaan napas rawan berkumandang di dalam gua. Tengah malam yang sudah larut, dialas pegunungan yang belukar, dalam gua yang pekat lagi, setelah mendengar

tawa aneh yang mengiriskan itu, tanpa terasa penghuni gua itu menarik napas panjang. Siapakah penghuni gua itu? Dia bukan Iain adalah Pakkiong Yau Liong yang semula menyaru Toh- bing-sik- mo sehingga kaum persilatan jeri dan takut kepadanya. IHelaan napas rawan tadi melampiaskan rasa gegetun dan dongkolnya bahwa usahanya setengah tahun ini ternyata sia-sia. Toh- bing-sik- mo yang dipancingnya itu sudah keluar kandang dan berada di- depan mata, tapi dia belum bisa menuntut balas kematian ayahnya sehingga cita-cita sepuluh tahun terbengkalai begitu saja. Gregetan dan gemas pula bahwa Ni Ping-ji si gembong iblis yang ternama ternyata tidak tahu malu, ingkar janji merintangi usahanya melabrak musuh besar. Rasa sesal kini menyelimuti sanubarinya, dia menyesali diri sendiri kenapa siang tadi dia melarikan diri, dia menyesal tidak memegang teguh hasil jerih payahnya selama setengah tahun ini, dan Toh bing sik-mo ungkang-ungkang menyaksikan dirinya bergebrak dengan Ni Ping-ji dan sekarang entah sudah lari ke-mana, entah kapan dia baru akan bisa menemukan jejaknya . Dendam tetap akan dituntut, entah kapan pasti akan datang suatu ketika cita-citanya harus tercapai. Bukan hanya Toh- bing-sik-mo saja, demikian pula Ni Ping-ji – kakek kurus pendek yang punya telinga tunggal itu. Kecuali itu seolah-olah dia merasakan seperti ada sesuatu yang harus diperhatikan juga, perasaan yang belum pernah timbul dalam sanubarinya sebelum mi. Dia berpikir, dan meraba-raba namun dia sendiri tidak tahu dan tidak memperoleh jawaban. Angin malam ribut diluar gua, tiada rembulan tiada bintang, didalam gua ini dia sudah sembunyi selama setengah tahun lamanya, dalam waktu-waktu mendatang dia harus meninggalkan gua ini, maka perasaannya menjadi haru, hambar dan rawan. Malam ini dia merasa kesunyian, karena kuda putih yang telah menemaninya selama setengah tahun telah gugur dalam menunaikan baktinya dimedan laga. Makin banyak yang dipikir, makin ruwet pikirannya, tanpa Sadar akhirnya dia terkial-kial seperti biasanya bila dia hendak mencabut nyawa orang dilembah mega hijau, tawa itu sudah menjadi kebiasaannya selama setengah tahun ini. Akhirnya tanpa sadar dia menghela napas pula. Mendadak loroh tawa lain yang keras berkumandang, ditengah malam gelap seperti hendak menyobek tabir malam, bukan saja bernada keras dingin, gelak tawa itupun mengandung getaran aneh yang tercampur rasa

serang dan puas. lenyap gema suara itu, didepan gua berkelebat sesosok bayangan orang disertai larikan sinar emas dan perak secepat kilat menerjang keluar. Begitu Pakkiong Yau-Liong turun dimulut gua, bola matanya jelilatan menyapu sekelilingnya, mulutnya bersuara heran, padahal gema tawa itu masih terkiang di kupingnya, tapi di luar tidak kelihatan ada bayangan orang. Pakkiong Yau-Liong mendengus sekali, lalu terkial-kial pula lebih keras, dari gelak tawa orang tadi, dia sudah tahu siapa yang datang, maka dia pun memperdengarkan suara tawanya yang khas menantang musuh keluar dari sembunyiannya. Waktu tidak memberi kesempatan berpikir, belum berhenti dia tertawa, tiba-tiba bayangan berkelebat, dari atas belakangnya, sesosok bayangan tiba-tiba menukik turun dengan tubrukan kencang membawa tekanan tenaga dahsyat. Gesit sekali gerakan Pakkiong Yau-Liong menyingkir setombak lebih, begitu dia membalik tubuh dilihatnya orang yang menyergap adalah Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji. Dalam kegelapan dua orang berdiri berhadapan, keduanya menginginkan merobohkan lawan sesingkat mungkin, namun kedua nya tiada yang mau bersuara atau bergerak secara sembrono, karena sekali salah langkah, fatal akibatnya. Pakkiong Yau-Liong kendalikan pernapasannya, menunggu dengan tenang,jikalau Ni Ping-ji melejit pula menubruk kearah dirinya dia sudah siap menggempur dengan seluruh kekuatan- Ni Ping-ji pun berdiri tegak mengempos semangat dan menghimpun tenaga di kedua telapak tangannya, jikalau Pakkiong Yau-Liong bergerak diapun akan menyergap dengan serangan mematikan. Pikiran kedua orang sama tujuanpun tak berbeda. Maka keduanya saling pelotot dan berdiri tenang saling tunggu dan menunggu, entah sampai kapan mereka harus menunggu. Tanpa terasa waktu terus berlalu, namun ketegangan Semakin memuncak. keduanya masih terus saling melotot tanpa berkedip. Kecuali deru angin sekelilingnya sunyi senyap. seakan-akan tiada kehidupan makhluk lainnya didunia ini. Tiba-tiba sebuah gemboran galak dan pekik gusar memecah kesunyian alam semesta, sehingga burung-burung yang hinggap diatas pohon sama kaget beterbangan- Ditengah gema suara kedua orang, dua sosok bayangan orang saling terjang kedepan dengan kecepatan dan kekuatan

dahsyat. “Pyaaar” ditengah udara keduanya mengadu pukulan menimbulkan ledakan keras menggetar udara dan bumi, keduanya terpental mundur sejauh satu tombak lebih. Pakkiong Yau Liong meraung dingin, suaranya rendah berat Sebaliknya Ni Ping ji bergelak tawa pula dengan nada menghina dan mencemooh, saking keki Pakkiong Yau-Liong terbayang adegan pagi tadi, di mana mencengkram luka pundaknya, polah lawan yang merintangi usaha menuntut balas… bola matanya mendelik, rona mukanya berobah makin merah padam, napasnyapun makin memburu karena emosi telah membakar hatinya. Rasa sedih, benci dan penyesalan beruntun mengelitik sanubarinya, keresahan hatinya sukar terlampias, laksana gelombang pasang berbagai perasaan itu menggebu lubuk hatinya sehingga dia merasa seperti terbelenggu karena nya. Maka timbullah berbagai khayalan didepan mata, suara kosong memekak telinga, bayangan gelap berkelebat bergantian dalam benaknya, itulah bayangan ayahnya yang sengsara nan menderita, itulah jerit dan pekik ayahnya disaat meregang jiwa. Bagai terjadi suatu ledakan, mendadak pandangannya menjadi gelap. darah seperti mengilir cepat sekali, suatu arus yang tak terlukiskan besar dan bentuknya seperti hendak menerjang dari kerongkongannya kepalanya sudah mandi keringat, telapak tanganpun basah, bukan oleh keringat dingin, tapi keringat panas yang membangkitkan semangat juangnya. Sekonyong-konyong terasa jalur angin kencang menerjang kearah dirinya, dengan kaget sigap sekali Pakkiong Yau-liang kerkelit ke samping lima kaki jauhnya. Ternyata Ni Ping-ji tetap berdiri ditempatnya tanpa bergerak. hanya hembusan angin pegunungan saja yang lalu, karuan Pakkiong Yau-Liong merasa malu dan menyesaL Ni Ping ji terbahak-bahak^ suaranya melengking menusuk telinga, nadanya menghina dan mencemooh. Karuan Pa kk ong Yau-Liong naik pitam, sambil menjerit tiba-tiba dia menyerang dengan kecepatan meteor jatuh. Di mana pergelangan tangannya berputar, cahaya emas dan perak bertaburan, dengan jurus Lui-tian-sui-king yau, deru anginnya semacam pisau, ujung tombak emas dan perak memantul dengan putaran seperti gelang ketika menggulung kepala NiPing-ji dari kanan kiri. Terbeliak mata Ni Ping-ji menyaksikan serangan Pakkiong Yau-Liong, tiba-

tiba dia berjongkok, tidak mundur malah mendesak maju selicin belut tubuhnya telah menyusup pergi dari bawah kedua kaki Pakkiong Yau-Liong, lalu sebat sekali tubuhnya membalik balas menyerang dengan jurus Thian-hin-kay-thay. kedua telapak tangannya bergerak secepat kilat menimbulkan putaran angin dahsyat bagai gugur menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong. Begitu mengayun senjata sambil menerjang maju Pakkiong Yau Liong lantas kehilangan jejak lawannya, diam-diam dia insyaf bahwa dirinya tengah terancam bahaya, betul juga sebelum kakinya menyentuh tanah, dibelakang telah melanda angin dahsyat yang mematikan. Dalam detik-detik yang gawat ini, amat berbahaya bagi Pakkiong Yau-Liong yang masih terapung diudara, untuk berkelit jelas tidak mungkin, apa lagi mau menangkis. Tapi perjuangan hidup dan usaha menuntut balas menunjang tekad bulatnya, secara reftek mengikuti terjangan agin dari belakang langsung dia menjatuhkan diri kedepan “Plak” tak urung Pak kiong Yau Liong harus tersungkur delapan langkah. Pundak terasa panas, darah seperti hendak menyembur dari dadanya. Kali ini Pakkiong Yau Liong memang gegabah dan terburu nafsu sehingga serangannya gagal malah dia sendiri yang kecundang pula, pundak belakang terpukul telak oleh Ni Ping-ji, mungkin nasib memang sudah menentukan bahwa dirinya takkan bisa terhindar dari kesulitan. Namun Kungfu Pakkiong Yau-Liong memang cukup tangguh berkat gemblengan gurunya, lekas dia menarik napas mengempos semangat kendalikan darah yang mendidih di rongga dada, dengan segenap sisa kekuatannya dia mengkonsentrasikan diri mengawasi Ni Ping-ji, segala keruwetan tersingkir dari benaknya, diam-diam dia kerahkan tenaga murninya supaya pundaknya yang terpukul hilang rasa pegal dan linu. Seperti kucing yang sedang mempermainkan tikus saja, Ni Ping-ji terbahak bahak pula dengan menengadah. Sebaliknya Pakkiong Yau-Liong tidak terpengaruh sedikitpun, kelopak matanya sedikit terpejam, pengalaman telah menyadarkan kesalahannya, kali ini dia tidak berani sembarangan lagi, padahal pundak yang kena pukulan lawan cukup berat dan fatal akibatnya, tapi tekad dan keyakinan masih dipeluknya kencang, dia percaya masih mampu memberikan perlawanan yang berarti, dan bukan mustahil dirinya nanti akan dapat merobohkan lawannya. Sirap tawanya mata Ni Ping-ji tiba-tiba memancarkan sinar liar, ujung mulutnya memantulkan senyum sinis, selangkah demi selangkah dia menghampiri kedepan Pakkiong Yau Liong. Pakkiong Yau-Liong masih

setengah terpejam matanya, seperti seorang padri yang lagi samadi, seolah-olah dia tidak perduli akan situasi yang mengancam jiwanya, tidak merasakan ketegangan yang tengah dihadapinya. Kewajaran dan ketenangan Pakkiong Yau-Liong justru membuat Ni Ping-ji bimbang dan tertegun, empat langkah didepan Pakkiong Yau Liong dia berdiri, meski dalam hati dia sudah memikirkan suatu cara keji untuk menyerang lawannya, tapi menghadapi pemuda gagah yang membekal kungfu yang luar biasa ini, ternyata Ni Ping-ji tidak berani gegabah, padahal barusan dia berhasil melukai lawan. Maka keduanya berdiri berhadapan tidak menunjukkan aksi, keduanya tidak berani ceroboh, terutama Pakkiong Yau-Liong. Malam kelam nan sunyi, hanya terdengar lambaian pakaian mereka yang tertiup angin- Ketegangan terus memuncak. laksana bahan peledak yang tinggal menunggu waktu saja, sekali disentuh pasti meledak dengin dahsyat, tapi siapapun tiada yang berani menyentuhnya . Ruyung lemas singa emas Pakkiong Yau-Liong memancarkan cahayanya yang gemerdep. demikian pula sinar mata Ni Ping-ji memantulkan sinar yang sukar dilukiskan. Terbayang olehnya kejadian dua puluh tahun yang lalu, kejadian yang tak pernah terlupakan selama hidupnya, kenangan masa lalu yang menyedihkan, tanpa terasa otaknya meraba dan menggagap kejadian masa silam. Di kala dirinya berdiri diatas kedua lututnya, tawa hina dan tatapan mencemooh itu, seperti terulang kembali didepan mata, pemilik pertama ruyung lemas singa emas itu yang dahulu menghadiahkan kehancuran nama dan rasa malu yang tak terhingga di hadapan sekian banyak tokoh-tokoh persilatan, dia mendapat penghinaan dan siksaan batin yang teramat besar dan mendalam selama hidup, hingga tiada muka berkecimpung dipercaturan dunia persilatan pula,jangan kata mau menjagoi dalam kalangan hitam. Sejak inilah dia menyembunyikan diri di suatu tempat yang bentuknya menyerupai sumur kira-kira dua ratus li disebelah utara ceng-hun-kok, Kekalahan dua puluh tahun yang lampau telah terukir dalam sanubarinya, maka dia mempersiapkan diri, dikala latihannya telah mencapai taraf yang dapat di ketengahkan dia bersumpah untuk menuntut balas kekalahannya dahulu. Hari ini, pada suatu kesempatan yang kebetulan, tiba-tiba dia melihat

ruyung lemas singa emas dimiliki oleh pemuda berkepandaian tinggi, dari mulut sipemuda baru dia ketahui bahwa biang keladi kesengsaraan dan penderitaannya selama dua puluh tahun kehidupannya itu ternyata telah mampus. Maka dendam kesumat yang bersemayam dalam tubuhnya selama dua puluh tahun ini dia limpahkan kepada Pakkiong Yau-Liong. Ruyung lemas dengan sinarnya seperti menantang saja, sehingga amarah Ni Ping-ji semakin memuncak. Terasa olehnya Pakkiong Yau-Liong seperti sedang berobah dan berobah bukankah yang berdiri dihadapannya sekarang adalah Biau-hu Suseng yang sedang mengulum senyum hina? Dengus yang keras keluar dari hidung Ni Ping-ji, kembali ujung mulutnya mengulum Senyum sinis. Pelan-pelan sepasang tangannya yang panjang kurus kering terangkat dan lurus didepan dada. Seiring dengan gerakan Ni Ping-ji, Pakkiong Yau Liong juga pelan-pelan membuka matanya yang terpejam, ruyung yang dipegangnya juga pelan-pelan terangkat bergelantung diatas kepalanya, sikapnya tetap tenang, wajahnya tidak menunjukkan perasaan hatinya. Disertai gerengan pendek mendadak Ni Ping-ji menekuk sikut terus mendorong kedua telapak tangannya dengan jurus Kim – ban-song-ti (mengantar ikan dibaki emas), ditengah jalan kedua telapak tangannya berkembang, jari-jarinya laksana cakar, sementara jari jarinya menekuk terus menuding menimbulkan lima jalur angin laksana gunting menCengkram pundak Pakkiong Yau- Liong . Sikap Pakkiong Yau-Liong tidak berobah, matanya terbuka lebar menyorotkan sinar dingin, ruyung lemas yang tergantung diatas kepala mendadak tegak lurus dan kencang, begitu pergelangan tangan bergerak. dengan jurus Ui-hoa kay ce-hoan, dibarengi kelebatnya cahaya emas ruyung lemasnya menggulung kearah kedua tangan Ni Ping-ji. Lekas Ni Ping ji menarik, kedua tangan meluputkan diri dari serangan lihay Pakkiong Yau-Liong, kedua tangan berputar terus mendesak maju hendak balas menyerang dengan gerakan berantai, Tiba-tiba terasa pandangannya menjadi terang, diantara taburan sinar emas dan perak, seperti ada beberapa ekor singa membawa tenaga hebat laksana kilat menubruk kepadanya. Saking kagetnya, tidak sempat balas menyerang, lekas Ni Ping-ji menutul kaki, sebat sekali dia mundur setombak lebih, beruntung dia masih sempat menghindar, namun keringat dingin sudah membasahi kuduknya, cara

berkelitnyapun kelihatan serba runyam. Ni Ping-ji tak berani memandang enteng lawannya, dari dalam bajunya, dia mengeluarkan sebatang pentung tembaga merah panjang satu kaki, sambil menghentak serta diacungkan maka berkibarlah selembar panji segitiga yang tersulam dari benang sutra hitam di atas kain perak. Itulah Kau-hun ling ki yang dahulu pernah menggetarkan nyali kaum persilatan dikala Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji malang melintang di kangouw. Tetap menudingkan ruyung lemas singa emas yang kaku oleh tenaga dalam Pakkiong Yau-Liong, mulutnya terkekeh-kekeh dengan nada monoton. Ni Pingji naik pitam, sambil menggerung dia menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong, di saat rubuhnya terapung, tangan kanan membalik dan “Beerr” panji segitiga dengan sulaman hitam itutelah dikeprukkan kebatok kepala Pak kiong Yau-Liong, perbawa serangan panji kecil ini ternyata dahsyat sekali. Lekas Pakkiong Yau-Liong berkelit kekiri, ruyung lemahnya balas menyerang dengan jurus Kang hong- ni-koh- hong, kadang-kadang lemas tiba-tiba kaku ruyung singa itu menyabet ke-arah Ni Ping-ji. Kembali Ni Ping-ji menggerung, seperti orang gila tangannya berputar dengan To-kian kim-cian (menggulung balik kerai emas). Kau hun-ling-ki (panji perenggut sukma) secepat kilat menggulung kearah ruyung Pakkiong Yau Liong yang menyabet datang. Berbareng tangan kiri dengan jurus ou in-bit-pu (mega mendung makin tebal) taburan telapak tangannya tiba-tiba seraburan menepuk ke batok kepala Pak kiong Yau-Liong. Serangannya telak, keras dan tidak memberi ampun. Baru saja Pakkiong Yau Liong menyabetkan ruyungnya, Ni Ping-ji sudah balas menyerang dengan jurus yang berlainan dengan tangan kiri sekaligus, satu menyerang yang lain mematahkan serangannya, karuan Pakkiong Yau-Liong kaget, lekas dia mendekam kebawah, berbareng tumitnya menutul, hingga tubuhnya menerobos pergi lima kaki jauhnya. Diam-diam Pakkiong Yau-Liong berpikir: “Ni Ping-ji telah keluarkan senjatanya, beruntun dua jurus sudah susah kuhadapi, untuk mengalahkan dia agaknya teramat susah bagi diriku.” walau mengakui keunggulan lawan, tapi Pakkiong Yiu- Liong tidak punyaniat untuk segera menyingkir, pengalaman siang tadi telah diresapinya, meski gugur dimedan laga, dia tidak akan melakukan perbuatan yang bodoh dan memalukan itu, karena itu akan menambah rasa sesalnya.

Maka tanpa ragu segera dia menjejak kaki, tubuhnya mumbul seringan asap. ditengah udara setelah tubuhnya mencapai ketinggian maksimal, tiba-tiba dia menukik turun, ruyung emasnya membawa tarikan cahaya panjang laksana pelangi menubruk kearah Ni Ping ji. Melihat Pakkiong Yau-Liong melambung keudara, Ni Ping-ji. tahu orang tengah mengembang Ginkang paling tinggi yang dinamakan Yan-tenghun siang in dikombinasikan dengan gerakan tubuh Sin-Liong- wi-khong-coan sehingga tubuhnya mampu bergerak serta menukik balik dari udara. Insyaf serangan lawan teramat lihay, tanpa ayal lekas dia menyingkir lima kaki meluputkan diri dari serangan Pak kiong Yau Liong. Begitu Pakkiong Yau-Liong mencapai bumi dan belum sempat mengganti gerakan untuk melanjutkan serangan susulan, sebat sekali Ni Ping-ji sudah melompat majU seraya mengerjakan tangan, dengan jurus Liong-toh-seng, Kau-hun- ling- king menggulung keluar dengan gerakan gelap yang menepuk ke dada Pakkiong Yau-Liong. Gerak-geriknya ternyata amat lincah, maju mundur dilaksanakan dengan enteng serta aneh. Belum lagi mempersiapkan diri, tiba-tiba dilihatnya lawan sudah berkelit, maka begitu kaki menyentuh bumi Pakkiong Yau-Liong sudah menekan tubuh merobah posisi, dengan jurus Kim-poh-koan-to-gu, ruyung lemasnya bergetar laksana gelombang samudra yang mendebur, batang ruyung menjadi kaku dan serong menusuk kelambung Ni Ping-ji dari samping.

Serangan kedua orang dilancarkan hampir bersamaan, jaraknya juga dekat, siapa bisa sempat berkelit menyelamatkan diri diri serangan lihay lawan, lawan pasti berhasil dirobohkan. Sedetik sebelum serangan kedua pihak mengenai sasaran, keduanya samsa-sama membentak. berbareng pula keduanya berusaha mengerem gerakan sambil mengegos miring, sehingga keduanya sama-sama luput dari serangan lawannya. Dalam jangka sesingkat itulah, terdengar Ni Ping ji mendehem sekali, telapak tangannya yang kiri menyerang dengan jurus Tam-yang-ki-but (merogoh kantong mengambil barang), telapak tangannya yang kurus kering itu menimbulkan deru angin yang kencang, secepat kilat menggenjot keperut Pakkiong Yau-Liong.

Dikala berkelit Ni Ping-ji masih mampu melancarkan serangan yang mematikan, karuan Pakkiong Yau Liong tersirap kaget, padahal ruyung lemas kebacut menyerang, pundak kiri sudah terluka pula, menangkis

dengan tangan kiri juga tidak mungkin, sehingga pertahanan bagian depannya tetbuka lebar, di saat-saat yang menentukan mati hidupnya ini, Pakkiong Yau-Liong tidak hiraukan luka luka dipundaknya lagi, tiba-tiba menjengkang tubuh ke belakang sambil menjejak sehingga tubuhnya melesat kebelakang setinggi dua kaki sejajar dengan bumi. Tubuh yang meluncur sejajar dengan bumi mendadak bergerak dengan gaya Biau-kim-it-si-ki, secara kekerasan tubuhnya itu mendadak bisa menegak pula berdiri. Tak urung keringat telah bertetesan dari jidatnya.

Gerakan Tiam Iik-king-hwe-hwe disusul Biau-kim-it-ci-ki adalah ciptaan Biau-hu Su-seng bukan saja gerakannya sukar dilaksanakan, ternyata gayanya kelihatan lemah gemulai dan indah sekali, namun bila dikembangkan terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Untuk mengembangkan gerakan tubuh ini bukan saja harus memiliki latihan Lwekang yang sudah sempurna, harus memiliki Ginkang yang tinggi pula, karena prakteknya harus mengerahkan seluruh kekuatan, dikala tubuh celentang lurus dan meluncur lalu dirobah dengan gaya Biau-kim-it-ci-ki harus dilandasi tenaga dalam yang kuat sehingga tubuh dengan sendirinya bisa merobah gerakan menjadi tegak. sudah tentu untuk mencapai seluruh gerakan itu amat makan tenaga… Karena terpaksa Pakkiong Yau-Liong mengembangkan gerak tubuh itu dengan seluruh kekuatannya, sehingga luka- luka dipundaknya tergetar pecah dan mengalirkan darah pula, Sakitnya seperti menusuk ulu hati, sehingga tak tertahan keringat dingin berucuran.

Sambil kertak gigi dia menarik napas panjang, seluruh hawa murni dalam tubuhnya lekas dipusatkan, maksudnya untuk mencegah sakit dan darah tidak mengalir terlalu banyak keluar dari luka- luka dipundaknya. Namun tiba tiba terasa kerongkongannya anyir, segulung hawa menyembur naik dan tak tertahan lagi dia menyembur darah segar. Pakkiong Yau-Liong merasa longgar malah setelah segumpal darah tertumpah, namun napasnya malah memburu dan makin lemah. Ni Ping ji terkial-kial melihat sipemuda muntah darah, lengking tawanya menggetar genderang telinga, memecah kesunyian bergema diatas pegunungan. Di kala angin malam menghembus datang, tubuh Ni Ping-ji yang kurus kering itu tiba-tiba menyongsong maju dengan pekik setan yang mengerikan menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong.

Noda darah masih meleleh diujung mulut Pakkiong Yau Liong, wajahnya pucat pasi, sebelum tubrukan Ni Ping-ji tiba, dia menggeser langkah memapak kesamping, ruyung lemasnya bekerja dengan dua jurus Saling Susul lagi ditengah arena, Senjata mereka ternyata Ban-jong-an-cing-seng dirobah menjadi cap- hekjui-bu plan, bintang dingin bertaburan di lingkaran Cahaya emas, dua jurus bergabung menjadi satu, dengan kekuatan dahsyat memapak serangan Ni Ping-ji.

Mendadak Ni Ping-ji meraung, tubuhnya berputar dua kali, tangan dibawah kaki diatas, panji perenggut sukma ditangannya tiba-tiba berkelebat dengan jurus Hong- coat-sip- yau, gagang panji yang terbuat dari tembaga itu menderu dengan kekuatan besar menggulung kearah cahaya ruyung Pakkiong Yau-Liong Itulah jurus terlihay dari Kau-hun-coat-sek Ni Ping-ji yang paling diagulkan- Tampak begitu bayangan hitam membentur cahaya emas kemilau, tubuh Ni Ping-ji mendadak anjlok kebawah. Dua orang berhadapan pula seperti ayam jago sedang berlaga ditengah arena, senjata mereka ternyata saling gubat.

Mata Ni Ping-ji melotot, pelan-pelan tubuhnya merendah, otot dilengan kanannya nampak merongkol, mengerahkan setaker tenaganya mendadak dia menarik ke belakang. Demikian pula Pakkiong Yau-Liong merendahkan tubuh, kakinya pasang kuda-kuda, tangan kanan menekan pinggang memegang kencang gagang ruyungnya, dia tidak mengejar kemenangan syukur kalau kuat bertahan dan senjata tidak terlepas dari tangan, kuda-kudanya memang sekokoh gunung. Diatas senjata mereka yang bergubat itulah kedua orang ini mengadu kekuatan tenaga dalam, sedikit lena atau kurang perhitungan, bukan saja senjata terampas, akibatnya teramat fatal, jiwa bisa lenyap seketika.

Maka kedua orang ini tak ada yang berani pecah perhatian, masing-masing mengerahkan Lwekang yang diyakinkan sambil menatap tajam setiap perobahan lawan. Terasa hembusan angin lalu membawa kabur ketegangan yang mencekam ini. Sang waktu merambat pelan seperti keong, malam nan sunyi semakin kelam dan larut, dalam kesunyian seolah dapat mendengar debur jantung mereka, deru napas semakin berat dan memburu.

Lambat laun dengus napas Pakkiong YauLiong makin keras dan cepat, jantungnya pun seperti berdegup makin besar sehingga deburannya makin cepat, keringat bertetes-tetes diatas kepala dan mukanya. Senjata yang tergubat dan menegang itu, lambat-lambat tapi pasti berkisar makin mendekati Ni Ping-ji. Sekonyong-konyong Ni Ping-ji menghardik keras, tangan kiri menekan lengan kanan kontan Pakkiong Yau-Liong merasa tekanan di atas ruyungnya bertambah besar, insyaf dirinya tak kuasa mengendalikan tubuhnya pula, bila dia tidak segera melepas senjatanya. Diam-diam dia mengeluh dalam hati “Pakkiong Yau-Liong, mungkinkah hanya begini saja.”

Dikala detik detik yang menentukan kalah menang bakal terjadi, tiba-tiba gelak tawa aneh menggelegar diudara, tawa yang mengerikan itu memecah kesunyian malam. Sesosok bayangan orang mendadak melambung dengan kecepatan kilat melesat dari atas kepala Ni Ping-ji. Ni Ping-ji sudah yakin bahwa Pakkiong Yau-Liong sudah pasti dapat dikalahkan, serta merta rasa senangnya membuat dia sedikit lena, lekas dia kerahkan tenaga lebih besar ke- lengan kirinya yang menekan lengan kanan, pikirnya: “coba saja, apakah kau masih kuat bertahan….”

Pada saat itulah kupingnya hampir pekak mendengat gelak tawa aneh yang keras, kontan Ni Ping-ji merasa tenaga tarikkannya mendadak seperti kosong, pertahanan lawan blong dan tahu-tahu Pakkiong Yau-Liong melesat lewat diatas kepalanya, berbareng panji perenggut nyawa ditangannya seperti tersendal pula, maka ruyung lemas Pakkiong Yau-Liong yang menggubat panjinya pun terlepas terbawa terbang. Mimpipun Ni Ping-ji tidak pernah menduga bahwa pada detik-detik yang gawat itu Pakkiong Yau Liong masih mampu meminjam daya tarikannya meluncur terbang sambil membebaskan lilitan ruyungnya pada panji kecilnya.

Saking gugup dan gusarnya, mendadak dia menjejak bumi, tubuhnya melambung sambil berputar arah mengudak kearah Pakkiong Yau-Liong, gerak geriknya selincah kera segesit tupai. Pergelangan tangan berputar dengan jurus Liu-sing-kan-gwe (bintang Sapi mengejar rembulan), sedang tembaga panji kecilnya itu menderu kencang menutuk ke Giok-Sim-Hiat dibelakang batok kepala Pakkiong Yau-Liong.

Baru saja kaki menyentuh tanah, angin kencang sudah mengincar kepala, tanpa berkelit atau memutar badan, Pakkiong Yau-Liong mengayun tangan kebelakang dengan jurus Lik-yap-wiji-yan, cahaya emas berkembang disertai pantulan sinar perak menyabet urat nadi tangan kanan Ni Ping ji. Ni Ping-ji menjerit murka, matanya mendelik buas, tangan kanan ditekan miring dengan jurus Gwe-lng-llng-ho (sinar rembulan menerangi kembang), kelima jarinya terkembang bagai cakar, secepat kilat mencengkram kebatang ruyung Pakkiong Yau Liong yang menyabet tiba. Bahwa serangannya luput, Pakkiong Yauliong sudah siap melompat pergi, tapi tiba-tiba terasa rayungnya mengencang, ujung ruyungnya ternyata sudah terpegang oleh Ni Ping-ji, karuan kaget dan tertegun Pakkiong Yau-Liong, sedetik dikala dia tertegun itulah dilihatnya bayangan hitam dan sinar kuning berkelebat kontan Jian kiat-hiat dipundak kanannya tertutuk oleh gagang panji perenggut sukma Ni Ping-ji. Kontan pandangan Pakkiong Yau- Liong menjadi gelap. tanpa kuasa “Bluk” Pakkiong Yau-Liong tersungkur jatuh tak sadarkan diri.

Tawa Ni Ping-ji menggetar langit menggoncang bumi, gema suaranya seperti mendengung dialam bebas. Ditengah keremangan tampak Ni Ping-ji merenggut kuduk Pakkiong Yau-Liong terus dibawanya lari bagai terbang, hanya sekejap bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan- Alam semesta kembali menjadi hening, tabir malam masih menyelimuti jagat raya, angin menghembus lalu. Ditengah kegelapan hanya tercium anyirnya darah, sekeliling sunyi senyap, meski keadaan tenang tiada suatu gerakan, tapi siapa pun akan merinding berada di tempat yang seseram ini. Apalagi ditengah kegelapan sana terdengar pula helaan napas yang rawan, penuh derita dan siksa. -oooOdwOooo-

Jilid 7 : Lolos dari siksaan keji jatuh ke jurang

BAU AMIS, apek dan kelembaban merangsang hidung. Tidak tahu sekarang siang atau malam. Karena tempat itu tak pernah kena sinar matahari, tak pernah melihat redupnya cahaya rembulan- Hanya kegelapan melulu yang dihadapi dan terbentang di depan mata, kegelapan yang tidak berujung pangkaL Disini tak pernah dia menghirup

hawa segar, hanya bau kotor saja yang lelalu menyesakkan rongga dadanya.

Tidak pernah hujan tiada angin, hawapun rasanya beku, seperti tiada kehidupan lagi. Mungkin di mana adalah sebuah rumah, atau penjara di bawah tanah ? Mungkin juga bukan rumah atau penjara, tapi berada di neraka. Dalam kesunyian ditempat gelap itu, mendadak berkumandang gelak tawa aneh, gelak tawa yang lebih seram dari jerit setan atau pekik dedemit, di dalam kedelapan yang dingin dan mencekam ini, lima jari sendiri tidak kelihatan, siapa tidak akan merinding dan berdiri bulu kuduknya. Suara berkedut berkumandang sekejap. lalu tampak secercah cahaya menembus ketempat gelap itu, tampak sesosok bayangan berkelebat masuk. yang menyelinap kemari adalah seorang nyonya muda berusia tiga puluhan, berwajah cantik anggun membawa lamplon merah, diri alisnya yang berkerut nampak hatinya seperti dirundung banyak kegelisahan-

Dibelakangnya ikut masuk seorang kakek. kurus pendek, kupingnya tinggal satu, dia bukan lain adalah Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji Dengan sorot mata jalang Ni Ping-ji menatap kearah dinding segera dia mengulum senyum puas dan sadis. Selangkah demi selangkah kedua orang ini maju menghampiri makin dekat. Dibawah penerangan lamplon yang guram, tampak di atas dinding bergantung menempel dinding seorang laki-laki yang berambut kusut masai dengan muka pucat kurus.

Kepalanya tertunduk lunglai, dua rantai sebesar ibuj ari kaki menembus tulang pundaknya dan terpantek di atas dinding, kaki tangannya terpentang lebar seperti melekat di dinding. Pakaiannya yang sudah koyak-koyak sudah tidak kelihatan warnanya, keadaannya begitu mengenaskan karena tersiksa. Setiba dibawah dinding, Ni Ping-ji menatap tajam penuh perhatian, seperti seorang seniman yang lagi asyik menikmati karyanya sendiri, lalu bergelak tawa kial-kiaL

Pelan-pelan akhirnya dia menekan sebuah tombol yang menonjol di dinding sisi kiri, maka terdengar sutra gemerincing, pelan-pelan orang yang tergantung diatas tembok melorot turun, namun kedua kaki orang itu agaknya sudah tidak kuasa menyanggah berat seluruh tubuhnya yang

sudah kerempeng tinggal kulit pembungkus tulang, tubuhnya terus meloso jatuh terduduk. punggUngnya menggelendot di dinding.

Ni Ping-ji mendehem sekali lalu maju dua langkah, sekali renggut dia jambak rambut kepala orang itu sehingga kepalanya yang tertunduk lunglai jadi menengadah. Dengan seksama dia awasi muka orang itu, siapa lagi kalau bukan Pakkiong Yau-Liong. Mulutnya tergagap, bibirnya gemetar, napasnya juga sudah senin kemis, matanya guram setengah terpejam. Hanya berselang setengah bulan, ternyata keadaannya sudah begitu mengerikan oleh siksaan Ni Ping-ji yang keluar dari batas perikemanusiaan. “Keparat ” damprat Ni Ping-ji. “Jangan pura pura modar. Masih ada siksaan yang lebih nikmat belum kau rasakan, tahu ?”

Melihat muka Pakkiong Yau-Liong yang kurus tinggal kulit pembungkus tengkorak, melihat sinar matanya yang redup, kembali Ni Ping-ji terkial-kial puas dan senang, begitu dia melepas renggutannya, kepala Pakkiong Yau-Liong terkulai pula. Diam-diam dia membatin: “Dua hari ini kenapa kau tidak mengamuk tidak mencaci maki… ” Tiba-tiba suatu pikiran berkelebat dalam benaknya, sambil tertawa menyeringai dia menatap muka Pakkiong Yau-Liong, akhirnya dia membuka suara: “Keparat, hari ini akan kusampaikan sebuah berita gembira patut di rayakan. Bukankah kau hendak menuntut balas kematian bapakmu ? Bukankah kau hendak mencari Toh-bing-sik-mo ? Nah, biar kuberi tahu kepadamu, dia berada diBiau-kiang, bukankah berita ini cukup menggembirakan ?”

Dalam keadaan setengah sadar, lapat-lapat Pakkiong Yau-Liong mendengar sebutan Toh-bing-sik-mo, pelan-pelan dia angkat kepalanya matanya memancar sinar aneh, bibirnyapun gemetar, namun hanya sebentar saja, kepalanya tertunduk lunglai lagi. Ni Ping-ji terkial-kial pula, lalu berkata: “Ayolah tertawa keparat, silahkan pergi keBiau-kiang mencari Toh-bing-sik-mo, tuntutlah sakit hati bapakmu.” Lalu jarinya menutuk ke Siau-yau-biat dipinggang Pakkiong Yau-Liong.

Kial tawa Ni Ping-ji yang menggila membuat tawa Pakkiong Yau-Liong yang terpingkel-pingkel kelelap. suaranya serak dan semakin lirih, tubuhnya

mengejang dan gemetar. Tawa Ni Ping-ji sudah berhenti, tapi Pakkiong YauLiong masih terpmgkel pingkel.. suaranya semakin lirih dan pelan, akhirnya berhenti, tapi tubuhnya makin gemetar, darah mulai meleleh dari mulutnya^

Ni Ping-ji tertawa dingin. Wajah perempuan yang menenteng lamplon menampilkan perasaan yang sukar dilukiskan, seperti kasihan, simpatik dan penderitaan- Bukan hanya sekali ini dia menyaksikan adegan seperti ini, tapi dia tidak berani menentang atau memperlihatkan reaksinya, maklum nasibnya sekarang tidak lebih baik dari Pakkiong Yau-Liong, kalau Pakkiong Yau-Liong tersiksa badaniah, tapi dia tersiksa batinnya.

Perempuan ini bukan lain adalah yang bercokol diam karena pengaruh obat bius Ni Ping ji sejak di ceng-hun-kok tempo hari. Ternyata belum puas juga Ni Ping-ji menyiksa tawanannya. Dia tepuk sekali di dada Pakkiong Yau-Liong, tubuhnya tidak lagi mengejang atau gemetar, tidak tertawa pula, namun mukanya tiba-tiba mengkerut, matanya yang terpejam terbuka sedikit, gignya gemertak menahan sakit yang luar biasa, tubuhnya seperti di tusuki ribuan jarum, setiap sendi tulangnya seperti hampir copot, keringat dingin membasahi sekujur badannya. Rasa sakit memang sukar ditahan, dia ingin menjerit, meratap. menangis atau meraung, menyesali nasib dirinya.

Selama setengah bulan ini dia telah disiksa oleh Ni Ping-ji setengah mati, badannya sudah kurus tinggal kulit pembungkus tulang ingin hidup tidak bisa, ingin mati- juga sukar. Pakkiong Yau-Liong tahu, setelah dirinya kenyang merasakan siksaan ini, akhirnya juga pasti mati, tapi didalam hati kecilnya masih mengharapkan munculnya suatu keajaiban, karena dia masih ingin hidup, banyak tugas belum dibereskan.

Hatinya dendam, benci dan penasaran, namun semua perasaan itu akan turut terkubur bersama jiwanya yang tak akan lama hidup, dia maklum sekujur tubuhnya sudah pati rasa, otaknyapun sudah berhenti bekerja. Hanya satu yang masih bersemayam dalam sanubarinya, yaitu harapan untuk lolos dari tempat laknat ini, lolos dengan selamat dan hidup, karena dia belum menunaikan tanggUng jawab yang masih dipikulnya, sadah tentu terhadap Tok-ni kau-hun Ni Ping ji diapun akan membuat

perhitungan tersendiri pula, tapi semua ini hanya akan tercapai apabila keajaiban muncul dan membebaskan dirinya dari segala penderitaan ini.

Tiba-tiba Ni Ping ji terkial-kial pula, dari dalam lengan bajunya dia mengeluarkan beberapa batang bambu kecil kecil dan runcing. Mulutnya menyungging seringai sadis pula, matanya semakin liar mengawasi Pakkiong Yau-Liong yang tergantung diatas rantai. Ni Ping-ji memegang sebatang bambu kecil dengan mendelik tiba-tiba dia tusukkan bambu kecil itu di tengah jari tangan Pakkiong Yau-Liong.

Rasa sakit seperti menusuk sanubari, saking kesakitan sekujur tubuh Pakkiong Yau-Liong mengejang, bola matanya yang guram terbeluik, tubuhnya kaku lalu jatuh pingsan Darah segar tampak meleleh dari ujung bambu yang amblas setengah di tengah kuku jarinya setetes, dua tetes dan seterusnya membasahi tanah.

Perempuan yang terblus menenteng lampion pun sampai terbeliak menyaksikan siksaan sadis ini, matanya mendelong mengawasi darah yang menetes dari jari Pakkiong Yau-Liong-Ujung bibirnya tiba-tiba gemetar, napasnya memburu, jantungnya berdetak lebih sepat kebencian sudah bersemayam dalam benaknya, penderitaan orang lain seperti juga penderiaannya sendiri, itulah manusia, manusia yang masih punya perasaan cinta kasih terhadap sesama, padahal pikirannya terbius oleh perbuatan kotor Ni Ping ji, namun sorot matanya tiba-tiba memancarkan cahaya terang, menandakan keteguhan hatinya setelah mengambil suatu keputusan, pelan-pelan dia membalik tubuh sambil menyeka air matanya yang tidak tertahan lagi.

Cahaya lampion yang guram tampak terlalu redup untuk menerangi ruangan yang gelap pekat ini, kepekatan yang menyiarkan bau amis dan anyir yang memualkan. Agaknya Ni Ping-ji masih belum puas juga melihat hasil karyanya, kembali dia memungut sebatang bambu, pelan-pelan ditusuk kan pula ke jari Pakkiong Yau-Liong yang lain- Rasa sakit membuat sadar Pakkiong Yau-Liong dari pingsannya, sekujur tubuhnya bergeringgingan, lalu kelejeran, mukanya yang sudah pucat tepos menampilkan rasa kesakitan yang luar biasa, bola matanya yang melotot berwarna merah darah, darah kembali menetes dari ujung bambu membasahi lantai di bawah kakinya.

Rasa sakit memang tidak tertahankan lagi, mulut Pakkiong Yau-Liong megap-megap. namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya, tubuhnya masih terus mengejang, namun keringat tidak lagi keluar. Hanya giginya yang gemerutuk sehingga menjadi paduan suara yang mengerikan dengan bunyi darahnya yang menetes.

Kecuali itu suasana di dalam ruang batu itu seperti beku, Ni Ping-ji tersenyum sadis, siksaan yang mengerikan yang dia lakukan agaknya belum juga mengetuk perasaannya, belum juga memuaskan hatinya, dengan tatapan kejam dia awasi keadaan Pakkiong Yau-Liong yang mengenaskan, mengawasi jari orang yang tertancap bambu serta darah yang mengalir setetes demi setetes. Kecuali ujung mulutnya yang menyeringai sadis, muka Ni Ping-ji tidak menampilkan perasaan apa-apa, sifat kemanusiaannya agaknya sudah beku. Kembali diambilnya sebatang bambu, ditusuknya pula jari Pakkiong Yau-Liong ditangan yang lain, ditusuk dan bambu itu amblas pelan-pelan-

Rasa sakit kembali menyadarkan Pakkiong Yau-Liong dari pingsannya, tapi kembali dia pingsan pula karena kesakitan itu, gemetar tubuhnya kian keras sehingga rantai yang membelenggu tulang pundak, kaki tangannya berbunyi gemerincing.

Darah masih terus menetes, namun Pakkiong Yau Liong sudah tidak mampu merintih lagi meski rasa sakit menyiksa dirinya. Ni Ping-ji tertawa lagi dengan suaranya yang tinggi rendah menyentak jantung pendengarnya. Dalam kesakitan yang luar biasa, entah dari mana datangnya tenaga mendadak Pak kiong Yau-Liong meronta sekali lalu jatuh lunglai lagi tak ingat diri, tubuhnya setengah tergantung di atas dinding, matanya melotot mulutnya terbuka, darah mengalir keluar.

Rantai yang di sebelah kiri ternyata lepas dari badan Pakkiong Yau-Liong mengeluarkan suara berisik membentur dinding serta bergontai pergi datang. sebatang tulang tampak menongol keluar dari pundak Pakkiong Yau-Liong, tulang pundak kirinya yang terbelenggu rantai ternyata putus karena goncangan tubuhnya tadi. Darah memancur dari pundaknya membasahi tubuh, kulit dagingnya seperti tercacah, mengerikan.

Ni Ping-ji menggerung sekali, lalu dengan mendelik gusar dia menatap muka Pakki ong Yau-Liong. Sesaat kemudian dia mencabut bambu yang

menancap diujung jari Pakkiong Yau-Liong, dari dalam kantongnya dia mengeluarkan bubuk obat serta membubuhi pundak dan jari-jari Pakkiong Yau-Liong dengan puyer putih lalu membalut luka- luka nya. Akhirnya dia keluarkan pula sebuah botol kecil dan menuang dua butirpil terus menekan dagu Pakkiong Yau-Liong dengan kekerasan sehingga mulut Pakkiong Yau-Liong terpentang, lalu dia jejalkan dua pil tadi.

Disinilah letak kekejaman Ni Ping-ji, dia sudah menyiksanya sedemikian rupa, tapi dia belum menginginkan korbannya segera mampus. Ni Ping-ji menekan, pula tombol di dinding kiri, bunyi gemerincing kembali bergema didalam ruangan itu, rantai bergerak Pakkiong Yau-Liong digantungnya pula diatas dinding. Setelah daun pintu yang berat berderit lalu menutup, keadaan kembali menjadi gelap.

Entah berselang berapa lama kemudian, di tengah rasa kesakitan yang masih menyiksa dirinya pelan-pelan Pakkiong Yau-Liong siuman dari pingsannya, pelan-pelan dia angkat kepalanya, mulutpun mulai mengeluarkan rintihan perlahan, itulah berkat khasiat kedua butir pil tadi. Rasa sakit di pundak dan jari-jarinya sungguh tak akan tertahankan oleh siapapun, tubuhnya seperti kosong, hampa tidak berjiwa atau bersukma lagi, rasanya seperti linu, tapi bukan sakit juga bukan pegal, pendek kata bagaimana perasaan yang tercampur aduk sukar dilukiskan.

Selama setengah bulan ini setiap hari dia disiksa dengan berbagai cara oleh Ni Ping-ji, sebetulnya tubuhnya sudah pati rasa, namun setiap kali dikala napasnya sudah kempas-kempis, Ni Ping ji selalu memberi minum pil kepadanya sehingga dia tidak mati, dengan pil obat mujarab yang bisa menambah darah sekaligus mempertahankan jiwa Pakkiong Yau-Liong namun dengan berbagai cara paling keji pula dia menyiksa Pakkiong Yau-Liong.

Selama setengah bulan ini, dia sudah mengalami siksaan lahir batin, siksaan badaniah yang terutama sampai hari ini, tenaga yang menjerit atau merintih juga sudah tiada lagi. Keadaannya sudah tidak segagah, setampan serta selincah setengah bulan yang lalu, Pakkiong Yau-Liong yang sudah menggetarkan Kangouw sejak tahun yang lalu, kini tinggal kulit membungkus tulang saja lagi, keadaannya yang mengenaskan, meski setanpun merasa kasihan bila melihatnya, apalagi manusia, kecuali merinding siapapun tak akan tega

menyaksikan keadaannya. Padahal keadaannya sudah kempas-kempis, jangan kata ingin mempertahankan hidup tenaga untuk mencari kematian juga tidak ada lagi.

Dalam kegelapan, ditengah bau amis dan anyirnya darah sendiri, tanpa terasa dia menghela napas panjang, rintihan kembali keluar dari mulutnya. Tiba-tiba bunyi berkerit yang menusuk pendengaran menyentak lamunannya, dibawah penerangan redup, tampak sesosok bayangan semampai memasuki kamar batu ini, dengan langkah enteng langsung dia mendekati dinding, secara gopoh dia menekan tombol sehingga Pakkiong Yau-Liong yang tergantung diatas dinding dikerek turun.

Pakkiong Yau Liong kaget dan heran, dengan terlongong dia mengawasi perempuan di depannya. Nyonya muda yang cantik berusia tiga puluhan, wajahnya menampilkan senyum manis, rasa tegang terbayang di wajahnya, sekilas dia melirik kepada Pakkiong Yau-Liong sambil tersenyum. Demi melampiaskan kebencian, karena tidak tega menyaksikan Pakkiong Yau-llorg yang tersiksa, akhirnya dia nekad dan berkeputusan, tanpa memperdulikan segala akibatnya nanti, dia berusaha hendak menolong dan membebaskan Pakkiong Yau-Liong.

Lekas dia membebaskan rantai yang membelenggu kaki, tangan dan pundak Pakkiong Yau Liong, tidak perduli perbedaan laki perempuan, pelan-pelan dia angkat tubuh Pakkiong Yau-liong dan terus menggendongnya, dengan langkah enteng dia beranjak keluar dan ditelan kegelapan- Dalam keadaan sadar setengah sadar, Pakkiong Yau Liong tahu dirinya digendong orang. Tiba-tiba hembusan angin dingin yang menusuk tulang, membuat tubuh Pakkiong Yau-Liong menggigil, seketika dia sadar dari pingsannya. Segera dia menarik napas dalam, menghirup napas segar, syukurlah bahwa Thian Yang Maha Kuasa telah memberi kesempatan kepadanya untuk melihat kebesaran alam semesta ini, meski keadaan jagat raya diselimuti tabir gelap.

Harapan hidup kembali bersemi didalam sanubarinya. Setelah sadar apa yang terjadi, sayang dia tidak kuasa bersuara untuk menyampaikan rasa

terima kasih, tiada tenaga menolak kebaikan orang lagi, namun setulus hati dia amat berterima kasih, haru dan senang. Perempuan yang menggendongnya msih terus berlari secepat angin, akhirnya mereka tiba didataran yang banyak batunya, agaknya perempuan itu bersyukur bahwa usahanya berhasil maka dia mengendorkan langkahnya.

Dia bersyukur bahwa rencananya selama beberapa hari ini ternyata berhasil dengan baik. Setelah istirahat sejenak kembali dia tancap gas pula lari sekuat tenaganya, agaknya besar tekadnya untuk membawa Pakkiong Yau Liong kesuatu tempat yang aman- Sayang napasnya semakin memburu, langkahnya juga semakin berat dan perlahan- Dia betul-betul letih dan kehabisan tenaga, didepan sebuah hutan akhirnya dia berhenti, pelan-pelan dia sudah berjongkok hendak menurunkan Pakkiong Yau-Liong, ingin beristirahat.

Tiba-tiba gelak tawa dingin yang keras berkumandang dari dalam hutan, seketika perempuan itu berjingkat mundur dengan tubuh gemetar, bergegas dia angkat Pakkiong Yau-Liong terus dibawa lari pula sekencang memburu angin, padahal dia insyaf harapan untuk menyelamatkan diri sudah tidak mungkin lagi.

Sambil menggendong Pakkiong Yau- Liong dia lari terus diantara batu batu gunung yang berserakan, namun setelah gelak tawa tadi, sekelilingnya sunyi senyap. tak terdengar suara apapun dibelakangnya. Akhirnya langkahnya makin lambat lagi, dengan lengan bajunya dia menyeka keringat dijidatnya, kegelapan membentang tidak berujung pangkal didepannya. setelah dia menerobos lewat diantara celah-celah dua batu besar, dia maju lagi beberapa langkah, akhirnya dia bersuara kaget dan mengeluh dalam hati, ternyata lari tanpa arah ini telah membawa dirinya tiba dipinggir jurang, keadaan segelap ini, maka sukar diketahui berapa dalamnya jurang dibawah sana Setelah menarik napas, pelanpelan dia membalik tubuh, seketika dia memekik kaget dengan muka berobah, entah kapan Ni Ping-ji yang berwajah kurus tepos, dingin kaku dan buas telah berdiri dibelakangnya sejauh dua tombak.

Sambil tetap menggendong Pakkiong Yau-Liong dia berdiri melenggong, Ni Ping-ji menatapnya lekat-lekat, begitu benci dan sadis, sorotnya seperti

hendak menelan bulat-bulat. Selangkah demi selangkah dia maju menghampiri.

Perempuan itu seperti mendengar detak jantungnya sendiri, keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dia melihat betapa buas sorot mata Ni Ping ji, terbayang betapa mengerikan siksa derita yang dialami Pakkiong Yau Liong umpama harus mati juga harus mati secara wajar. “Biarlah aku mengadu jiwa dengan kau.” Demikian perempuan ini berkeputusan dalam hati, pelan-pelan dia menurunkan Pakkiong Yau-Liong.

Meskipun tegang, namun dia masih tersenyum dengan perasaan yang melegakan, sekejap dia menatap Pakkiong Yau-Liong sepenuh perasaannya. Betapa sedih dan harunya hati Pakkiong Yau Liong, penasaran dan gegeran pula, sayang keadaan diri sendiri begini payah, dia tidak mampu berbuat apa-apa. Dikala Pakkiong Yau-Liong terlongong, tiba-tiba perempuan itu menghardik dengan suara penuh kebencian, terus menubruk kearah Ni Ping-ji.

Ni Ping-ji menggerung gusar, sambil menyeringai dia sambut terjangan si perempuan dengan tamparan kedua tangannya, dimana segulung angin melandai. “Blang.” Tubuh perempuan itu seperti menumbuk dinding kaca tubuhnya yang meluncur itu berhenti sekejap di tengah udara, tahu-tahu tubuhnya mencelat balik jungkir balik dan jatuh terbanting menumbuk batu pula, kepalanya pecah membentur batu,jiwanya melayang seketika. Dengan seringai dingin NiPing-Ji memandang kearah mayat perempuan yang dibunuhnya, tanpa berperasaan pelan-pelan dia memutar tubuh dan menoleh, sorot matanya yang dingin beralih kearah Pakkiong Yau-Liong yang duduk dipinggir jurang dan tak mampu bergerak itu.

Lolong tawa keluar dari mulut Ni Ping-ji pula, suaranya seperti menembus mega menyusup lembah, siapa tidak merinding mendengar tawanya yang tajam memekak telinga. Gelak tawa itu terus berkumandang di udara dan bergema di dasar lembah, sungguh tidak terperikan sedih hati Pakkiong Yau-Liong.

Menyaksikan kepala yang pecah, mayat yang.menggeletak tidak bernyawa, orang yang lagi bertolak pinggang dan mengakak kesenangan serta menggila, muka yang kurus tepos, telinga yang tinggal satu, manusia laknat macam Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji. Mendengar gelak tawa lawannya yang masih bergema ditengah udara, perasaan Pakkiong Yau-Liong seperti diiris-iris, sedih nya bukan main, apalagi melihat kepala perempuan yang mumur, perempuan yang berusaha menolong dirinya, dia tidak kenal siapa dla, siapa namanya dimana tempat tinggalnya, bagaimana bisa berada disamping Ni Ping-ji, namun sekarang sudah ajal dalam keadaan yang begitu mengenaskan.

Diam-diam Pakkiong Yau-Liong menyesali nasibnya sendiri, kenapa takdir seperti sengaja mempermainkan nasibnya sehingga dia mengalami siksa derita sekejam ini ? Kenapa pula dalam keadaan yang sudah serba mengenaskan itu perempuan asing yang berusaha menolong dirinya harus ikut berkorban, malah jiwanya mangkat lebih dulu, bagaimana dia harus membalas kebaikannya ?

Gelak tawa aneh yang bergelombang di udara itu lebih memekak telinga lagi, siapa-pun akan mengkirik dan merinding mendengar nada tawa yang mengerikan itu. Dengan sorot matanya yang dingin Ni Ping-ji menatap Pakkiong Yau-Liong yang duduk tidak jauh di bibir jurang, Pakkiong Yau-Liong yang sudah tidak menyerupai manusia lagi, bukan saja tidak mampu melawan, tenaga untuk bergerak pun sudah ludes, tubuhnya lunglai, maka seringai Ni Ping-ji lebih lebar, lebih sadis.

Dalam hati dia mengumpat: “Pandai juga kau menghasut orang untuk menolong jiwamu. IHm, sekali terjatuh ketanganku lagi, coba saja rasakan siksaanku yang akan datang” Demikian batin Ni Ping ji sambil melangkah mendekati Pakkiong Yau-Liong. Jangankan membela diri, Pakkiong Yau-Liong yang sudah tersiksa begitu rupa betul-betul mati kutu, tenaga menggerakkan kaki tanganpun sudah tiada, bagaimana dia bisa melawan atau melarikan diri. Dalam keadaan demikian terpaksa Pakkiong Yau-Liong hanya memejamkan mata saja membiarkan musuh laknat ini menyeret dirinya pulang serta disiksa setengah mati, siksaan yang dikat batas peri kemanusiaan-

Langkah Ni Ping-ji yang berat semakin dekat, suasana terasa semakin tegang, berat seberat tambur yang ditabuh dengan suaranya yang gaduh, serasa semakin sesak napas Pakkiong Yau-Liong mendengar derap langkah orang. Melihat betapa lucu dan kasihannya pak kiong Yau-Liong yang sudah mirip domba kecil tinggal dicaplok harimau, seringai Ni Ping-ji semakin telengas, mulutnya terbuka lebar, menampilkan tawa puas dan terhibur.

Lambat tapi pasti langkah Ni Ping-ji semakin dekat dan akhirnya berhenti tak jauh didepan Pakkiong Yau-Liong. Mengawasi Pak kiong Yau-Liong dibawah kakinya, sekali raih Pakkiong Yau-Liong yang tidak mampu melawan ini akan dijinjingnya dan diseret pulang, kembali Ni Ping-ji terkial-kiaL Tawanya lebih jelek dari pekik setan danjerit dedemit, nada suaranya seperti menusUk genderang kuping Pakkiong Yau-Liong.

Entah darimana datangnya pikiran itu, mendadak Pakkiong Yau Liong mendapat ilham dari pada mati konyol dan tersiksa, lebih baik mati kenapa aku tidak mencari jalan kematian yang sempurna ? Serta merta kepalanya sedikit miring, matanya mengerling kebawah jurang yang gelap gulita tidak kelihatan dasarnya. Mendadak bola mata Pakkiong Yau-Liong melotot sebesar jengkol, ditengah gema tawa Ni Ping-ji yang masih mengalun di dasar lembah tiba-tiba dia menarik napas dalam, entah dari mana datangnya kekuatan, dengan setaker sisa tenaganya dia menjatuhkan tubuhnya terus menggelundung kejurang.

Kontan Pakkiong Yau-Liong merasa dirinya sepeti terombang-ambing di tengah angkasa, melayang ditengah kegelapan tanpa arah tujuan, mendadak kepalanya seperti di tumbuk sesuatu sehingga pusing dan pingsan tidak tahu apa-apa lagi.

Ni Ping-ji masih menengadah dan tertawa kial-kial, tapi mendadak tenggorokannya seperti tersumbat apa-apa sehingga gelak tawanya terputus, mulutpun melongo dan mata mendelik heran. Buru-buru dia mendekati bibir jurang dengan mimik wajah yang aneh, dalam hati dia agak gegetun, batinnya: “Menguntungkan keparat itu.”

Masih sempat dilihatnya tubuh Pakkiong Yau liong jungkir balik dua kali diangkasa terus melayang makin cepat kebawah. Tapi tiba-tiba dilihatnya bayangan hitam berkelebat dari samping kiri, laksana kilat menyambar

bayangan hitam ini berhasil meraih tubuh Pak kiong Yau-Liong terus dibawa melayang turun kedepan anjlok kedasar jurang, hanya beberapa kali lompatan bayangan yang menangkap Pak kiong Yau-Liong itu telah lenyap tak karuan paranny a . Heran dan kaget Ni Ping-ji dibuatnya, kulit mukanya yang kurus tepos tampak berkerimut beberapa kali, seringai sadis diujung mulutnyapun sirna seketika.

Kini mimiknya bukan lagi menampilkan rasa kecewa, tapi menyesal, dia menyesali dirinya sendiri kenapa tadi ceroboh tidak bertindak tegas saja, sehingga Pakkiong Yau-Liong yang sudah mendekati jurang kematian menggelundung kebawah jurang dan seCara kebetulan ada orang dibawah telah menggondolnya pergi.

Dengan perasaan heran, kaget bercampur gegetun pandangannya lanang mengawasi tabir kegelapan dibawah jurang, kemana bayangan hitam yang menggondol Pakkiong Yau-Liong tadi menghilang, akhirnya dia sadar sesal tak berguna, dengan menggeleng kepala kembali dia tertawa dingin, ujung mulutnya menyeringai sadis pula.

Dengan penuh kebencian mulutnya menggumam: “Hari masih panjang, asal dia tetap hidup, kelak masih ada waktu untuk mencarinya. Ni Ping-ji tetap akan bisa menyiksamu lagi sehingga kau mati tak akan terkubur lagi. IHm demikian pula orang yang hari ini menolongnya, diapun tidak akan terlepas dari siksaanku.” Begitu memutar tubuh dia sudah berniat tinggal pergi, tapi tiba-tiba dia mengerutalis, langkah kakinya yang sudah bergerak ditarik kembali.

Pikirnya “Eh, bukankah aku sudah memberitahukan kepadanya bahwa Toh-bing-sik-mo sudah kembali ke Biau-kiang ? jikalau dia masih hidup suatu ketika pasti akan meluruk ke Biau-kiang menuntut balas pada Toh-bing-sik-mo. Hahaha.. kenapa tidak aku menunggunya saja di Biau-kiang.” Tampak matanya terbeliak. sekali bergerak hanya beberapa kali tubuhnya berkelebat dengan lompatan berjangkit, bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan. ooo00dw00ooo

Sekarang mari kita kembali ke ceng hun-kok. Ditengah kekeh tawa Toh-bing-sik mo yang aneh, Tio Swat- in yang putus asadan mendelik

mengawasi gendewa merah ditangan Toh-bing sik-mo pelan-pelan akhirnya memejam mata. Untunglah di kala hatinya berputus asa itu suatu pikiran lain mendadak berkelebat didalam benaknya. Mata yang telah terpejam mendadak terpentang pula, seluruh kekuatan dia kerahkan dikedua tangan, mendadak menepuk dengan serangan dahsyat menyerang kepada Toh-bing-Mk-mo yang masih mengancam dirinya dengan ujung gendewa merahnya. Toh-bing-sik-mo agak lena karena terlalu riang bahwa Tio Swat-in telah dibuatnya tidak berkutik, sungguh tak pernah dia bayangkan bahwa Tio Swat-in bakal bertindak senekad ini, sedikit melenggong itulah, tepukan kedua telapak tangan Tio Swat in dengan deru angin kencang telah menerjang tiba.

Dalam keadaan tidak siaga dan jiwa terancam begini, meski Toh-bing-sik-mo memiliki kepandaian lihay, juga susah meluputkan diri dari serangan Tio Swat- in. Dalam detik-detik yang berbahaya itu, demi menyelamatkan diri, tiada pilihan lain, terpaksa sigap sekali dia berkelit kesamping terus melompat mundur sejauh mungkin. Karena terlalu bernafsu dia kerahkan tenaga terlalu besar Tio Swat- in sampai tersuruk maju dua langkah baru berdiri tegak pula. walau usahanya tidak berhasil melukai Toh-bing-sik-mo, tapi ancaman gendewa lawan telah berhasil disingkirkan-

Bola mata Toh-bing-sik-mo yang kelihatan dibalik perban yang membungkus tubuhnya tampak memancarkan cahaya dingin buas, mendadak dia terkekeh pula dengan nada tawa yang lebih seram, gelak tawanya kembali didalam lembah mega hijau. Ditengah kekeh tawanya itu, tubuh Toh-bing-sik-mo yang bergerak kaku itu tiba-tiba menerkam kearah Tio Swat- in-

Dikala tubuh Toh-bing sik mo menerkad maju itulah, mendadak dari samping terdengarlah sebuah hardikan nyaring dengan volume suara mantap berisi, sesosok bayangan tampak berkelebat keluar dari balik batu besar tak jauh disamping Tio swat- in, menyongsong terkaman Toh-bing-sik mo. Dua bayangan orang sama cepat dan tangkasnya, keduanya bertemu dan

berhantam ditengah udara “Pyar” tampak keduanya terpental balik dan melayang jatuh setombak lebih.

Mendengar hardikan dan melihat bayangan kelabu tadi, seketika Tio Swat-in terbeliak girang, hampir saja mulutnya berteriak mengawasi bayangan kelabu yang terdorong mundur, tapi suaranya urung keluar dari mulutnya setelah melihat dikhawatirkan tidak kurang suatu apa. Yang menyergap Toh-bing–ik-mo dari samping dan menyelamatkan Tio Swat-in, ternyata bukan lain adalah Hwi-khong sini, guru Tio Swat-in yang telah mengasuh, membimbing dan membesarkan dia selama sepuluhan tahun, baru sebulan dia berpisah dengan sang guru. Dikala Tio Swat-in terbeliak kesenangan sehinggi suaranya yang sudah serak tidak mampu bersorak girang itu, sesosok bayangan lain tiba-tiba tampak melesat pula dari arah datang nya Hwi- khong Sinni tadi, begitu cepat dan lincah gerakan bayangan orang ini, sebelum Tio Swat-in melihat jelas, tahu-tahu bayangan itu sudah hinggap di sampingnya. Baru kini dia melihat jelas pendatang ini adalah Tok-Liong sianli, sahabat kental gurunya.

Pundak Tio Swat-in segera ditepuk-tepuk ringan sambil tersenyum ramah, pandangannya cukup menghibur perasaan Tio Swat-in yang sebelum ini sudah tidak karuan. Ternyata sejak Tio Swat-in turun gunung tanpa persiapan yang matang, Hwi-khong Sinni semakin kuatir, kebetulan teman baiknya Tok-Liong-sian-li berkunjung ketempatnya, setelah diperbincangkan mereka mengkhawatirkan keselamatan Tio Swat-in-

Walau Tio Swat in sudah memperoleh warisan Hwi-khong Sinni, betapapun Lwekangnya masih cetek. pengalaman juga masih hijau, konon Toh-bing-sik-mo memiliki Lwekang tangguh dan berkepandaian tinggi dan keji, bukan mustahil bukan saja Tio Swat-in tidak berhasil menuntut balas, salah-salah jiwa sendiri ikut berkorban secara percuma, maka setelah dirundingkan akhirnya Hwi-khong Sinni berkeputusan mengajak Tok-Liong sian li turun gunung menyusul ke ceng-hun-kok. Waktu mereka tiba, tadi kebetulan Tio Swat-in tengah terancam gendewa merah Toh-bing-sik-mo, jiwa raganya boleh dikata sudah terbelenggu ditangan Toh-bing-sik-mo. Dalam keadaan segawat itu, terpaksa mereka sembunyi dibelakang batu tidak berani beraksi, khawatir sedikit gerakan

yang mencurigakan, jiwa Tio Swat-in bisa menjadi korban oleh gendewa Toh-bing sik-mo, maklum gendewa yang telah mengancam dada itu cukup disodokkan sedikit, jiwa Tio Swat-in pasti melayang seketika.

Mereka ikut tegang dan mengkhawatirkan keselamatan Tio swat-in sehingga berkeringat dingin. Terutama Hwi-khong Sinni, disamping khawatir diapun gugup setengah mati, namun apa yang dapat dia lakukan? Terpaksa mereka menunggu perkembangan selanjutnya, mereka sudah slap bertindak begitu memperoleh sedikit peluang, jiwa Tio Swat-in harus diselamatkan dari ancaman Toh-bing-sik-mo, meski bila terpaksa biar terluka parah sekalipun. Sungguh tak pernah mereka bayangkan bahwa dalam menghadapi detik-detik kematiannya itu, Tio Swat in berani bertindak senekad itu, entahlah bagaimana datangnya ilham, mendadak dia menyerang dengan Bik-khong-ciang kepada Toh-bing-sik-mo. Untuk menyelamatkan diri, ternyata Toh-bing-sik-mo berhasil dipukul mundur setombak jauhnya. Saking gusar ditengah kekeh tawanya kembali Toh-bing-sik-mo menubruk kearah Tio Swat-in- Namun Hwi-khong sinni tidak tinggal diam, sekali melejit dia melampaui kepala Tio Swat-in menyongsong tubrukan Toh-bing-sik-mo dengan pukulan telapak tangan. Betapapun perobahan dengan kedatangan gurunya membuat hati Tio Swat-in terhibur dan lega, akhirnya dia menarik napas lalu menghela panjang. Rasa tegangnya seketika pudar, sudah tentu kekuatan yang dikerahkanpun pelan-pelan buyar. Akan tetapi dendam kesumat masih membara dalam benaknya, tekadnya masih menyala untuk menuntut balas kematian orang tuanya. Kembali Toh-bing-sik-mo terpukul mundur oleh serangan telapak tangan Hwi-khong Sinni. Dengan kaku dia berdiri, matanya melotot gusar, perobahan yang mendadak ini membuatnya kaget dan heran, dengan seksama dia awasi dua wanita yang baru muncul serta menyelamatkan jiwa Tio Swat in ini. Tiba tiba Tio Swat-in melompat kepinggir sana meraih pedang mestikanya yang tadi terpukul jatuh oleh gendewa Toh-bing-sik-mo Dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa, dia siap melabrak Toh-bing sik mo. Sayang diwaktu tubuhnya terbungkuk memungut pedang mestikanya itu mendadak pandangannya menjadi gelap. sekujur tubuhnya tiba-tlba seperti lunglai tak punya tenaga sedikitpun, malah tanpa kuasa tubuhnya menggigil dan sempoyongan dua langkah, untung telah mengerahkan

hawa murni dan menarik napas sehingga pikirannya kembali jernih. Mau tidak mau Tio Swat-in membatin. “Apa sih yang terjadi atas diriku… ? Kenapa mendadak kepalaku pening dan pandanganku gelap. belum pernah hal ini terjadi, mungkinkah aku… ” sepetti diketahui Tio swat in meluruk ke cenghun-kok dengan bekal dendamnya yang tak terlampias, setelah tak berhasil mengalahkan Pakkiong Yau Hong yang waktu itu masih menyamar sebagai Toh bing-sik-mo, akhirnya dia melabrak Toh-bing-sik-mo yang sesungguhnya dan kena dikalahkan total, dalam sedihnya, badan basah kuyup lagi oleh hujan, setelah bertempur mati-matian, kehabisan tenaga lagi. Luka hatinya belum lagi sembuh, ditambah rasa duka karena tidak berhasil menuntut balas, tanpa disadarinya dia sudah terserang angin dan badannya mulai demam, begitu kedatangan gurunya, rasa lega dan dada lapang, baru sekarang dia menyadari keadaan dirinya. Namun dasar bandel, sekuatnya dia pegang pedang mestika, sambil menenteng senjata dia menghampiri Toh-bing-sik-mo. Toh-bing-sik-mo terkekeh-kekeh pula dengan nada gila, matanya mendelik mengawasi Tio Swat-in- Agaknya Hwi-khong Sinni juga sudah menyadari keadaan Tio Swat-in yang agak ganjil, umpama dalam keadaan normal, dia jelas bukan tandingan Toh-bing-sik-mo, apalagi dalam keadaan sekarang, sudah tentu sang guru tidak bisa berdiam diri membiarkan muridnya mencari kematian ? Tapi diapun menyelami perasaan Tio Swat-in, tekadnya terlalu besar untuk menuntut talas, namun waktu masih panjang, keselamatan muridnya lebih di-utamakan, maka dia menghadang didepan Tio Swat-in sambil berkata sambil tertawa: “Serahkan kepadaku, setelah kurobehkan dia, boleh nanti kau turun tangan membunuhnya . . . ” Tlo Swat-in mengerling penuh haru dan terima kasih kepada Hwi-khong sinni (gurunya), memang dia insyaf bahwa dirinya sudah tak akan mampu berbuat apa-apa lagi, mengangkat pedang nya sendiripun dia sudah merasa payah, mana mungkin melabrak Toh-bing-sik mo yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari dirinya. Walau sekuatnya dia masih mampu berdiri dengan mengerahkan sisahawa murninya, tapi kepala berat kaki enteng, seluruh tubuh pegal linu dan lunglai Ucapan Hwi-khong sini merupakan hiburan yang menentramkan gejolak hatinya. Hwi-khong sinni menggerakkan tangan memberi tanda pada Tok-Liong-

sian-li supaya dia menjaga Tio Swat-in- Pelan-pelan dia membalik badan, dari dalam lengan bajunya yang longgar dia mengeluarkan sebatang kebut panjang satu kaki, lalu menatap Toh-bing sik-mo yang berdiri tak jauh didepannya. Dari bentrokan dua kali tadi Hwi-khong Sinni tahu bahwa kepandaian Toh-bing-sik-mo yang tinggi, maka sedikitpun dia tidak berani memandang enteng, dia sudah siap menempurnya dengan seluruh kemampuannya untuk bantu sang murid menuntut balas kematian ayahnya. Sebelum reda kekeh tawa Toh-bing-sik-mo, sambil menghardik tiba-tiba Hwi khong Sinni berkelebat, secepat kilat dia sudah melancarkan serangan kepada Toh-bing-sik-mo, berbareng tangan kanan bekerja, dengan jurus jun-hong-tek-gi, kebutnya menaburkan bayangan kelabu, dengan segulung angin kencang mengeprak kepala Toh-bing-sik-mo. Lenyap kekeh tawa Toh-bing-sik-mo, tiba-tiba bayangan putih berkelebat, dengan mudah dia mengegos, berbareng gendewanya menukik dengan sasaran urat nadi Hwi-khong Sinni, sementara tangan kiri menjojoh keluar, ditengah jalan dua jari tengah dan telunjuknya yang terbungkus perban itu secepat kilat menutuk Jian-kin-hiat Hwi-khong sinni. Hwi-khong sinni memang tidak menganggap ringan musuh nya, jurus jun-hong-tek-gi (angin musim semi mendapat arti) memang hanya gerak pancingan, diwaktu Toh-bing-sik mo mengegos itu, dia sudah menekan tangan memiringkan tubuh, sekaligus diapun meluputkan diri dari serangan balasan Toh-bing–ik,-mo yang lihay. Disaat berkelit Hwi-khong Sinni sudah mengincar pertahanan didepan dada Toh-bing sik-mo yang terbuka, maka tidak mundur dia justru menyelinap maju, sekaligus dia gunakan jurus jui-tu-tan-ham (lengan mengebut hawa dingin), kebutnya mengencang runcing, secepat kilat menusuk ke Seng-kay-hiat ditengah lambung Toh-bing-sik-mo, gerakannya lincah serangannya telak dan tepat lagi. Begitu serangan luput tahu-tahu ujung kebut lawan sudah mengancam perutnya sendiri, Toh-bing-sik-mo menekuk ping gang sambil menarik gendewa, kelima jari tangan kiri bagai cakar menggunakan jurus siong-kian hwi-cwao (s umber air diselokan gunung), bayangan telapak tangan putih bertaburan membawa deru angin yang mengiris kulit. Laksana samberan kilat mencengkram keujung kabut Hwi-khong Sinni yang menutuk tiba. Setelah mengadu kekuatan ditengah udara dua kali tadi, Toh-bing-sik-mo yakin lwekangnya sendiri masih lebih tinggi dari Hwi-khong Sinni, maka kali ini dia berani tanpa berkelit tangannya mencengkram keujung kebut lawan

yang menutuk tiba. jikalau lawan tetap mempertahankan serangan dan tidak merobah posisi, sementara dirinya tidak mampu membendung serangan lawan maka dirinya selanjutnya tidak akan mampu merenggut sukma orang pula. Tapi jikalau dia mampu menangkap kebut Hwi-khong Sinni, berarti mematahkan serangan lawan dan senjata Hwi-khong Sinni bakal terampas, ini berarti ancaman jiwa pula bagi Hwi-khong Sinni. Hwi-khong sinni mendengus sekali, pikirnya: “Buat apa aku mengadu jiwa denganmu?” pikiran bekerja, tanganpun bergerak^ menarik kebut berbareng dia mengeluarkan tangan kiri menyerang dengan jurus Hun-gi-jiu-ting telapak tangannya menyelonong keluar dari dalam lengan bajunya, membawa kesiur angin yang membisingkan telinga membelah kelambung Toh- bing-sik- mo. Perobahan serangan Hwi-khong sinni bukan saja cepat juga aneh dan mendadak, tak pernah terpikir dalam benak Toh-bing-sik-mo bahwa Hwi-khong sinni mengabaikan kesempatan paling baik yang sukar diraihnya, mendadak menarik serangan merobah gerakannya malah, berbareng dikala cengkraman jarinya luput, lalu tiba-tiba membalik balas menyerang pula. Saking kejut Toh-bing sik mo tidak sempat mengerjakan kakinya lagi, lekas dia menekuk pinggang menjengkang badan ke belakang, berbareng kaki menutuk bumi dengan gerakan Ki- hong- loh- yap (angin lesus menyapu daon) tubuh nya bersalto dua kali mundur kebelakang setombak jauhnya, untung masih sempat dia meloloskan diri dari serangan maut Hwi-khong sinni yang lihay dan mendadak ini. Begitu kaki menginjak tanah, Toh-bing sik-mo naik darah, sebat sekali sambil meraung tiba-tiba tubuh nya melejit keatas tetus bersalto pula, tangan kanan terbalik gandewa merah ditangannya menjojoh dengan jurus Jiu-ltn sip-ciau (sinar surya didalam hutan), bayangan gendewa merahnya membawa sejalur kekuatan dahsyat menindih kearah Hwi-khong Sinni. Gerak-gerik Toh-bing-sik-mo meski kelihatan kaku ternyata gesit dan tangkas, maju mundurnya setangkas tupai saja, dikala Hwi-khong sinni merobah posisi mengganti serangan, dia sudah menggunakan ketangkasannya merangsak dengan hebat. Belum seluruh serangan Hwi-khong sinni ditarik balik, tahu-tahu Toh-bing-sik-mo sudah merangsak maju pula secepat meteor jatuh, dalam keadaan kepepet, jelas tidak mungkin bagi Hwi-khong Sinni untuk menangkis atau mematahkan setangan lawan, umpama di paksakan juga akibatnya pasti

fatal. Tapi Hwi-khong sinni sudah bertekad untuk bertempur secara mantap dan tenang, setiap lobang kesempatan tidak akan diabaikan untuk menyergap musuh merebut kemenangan sudah tentu dia tidak mau mengadu kekuatan secara kekerasan, apalagi posisi sendiri lebih ringan, tujuh puluh prosen dirinya bakal dirugikan. Maka tanpa ayal lekas dia menggeser langkah berpindah kedudukan, seiringan kupu kupu menari dia menyelinap mundur setombak jauhnya. Berhasil mendesak musuhnya Toh-bing sik-mo terkekeh pula, nada tawanya kedengaran amat sombong dan takabur, suaranya mendengung di udara bergema dalam ceng hun-kok. Tio Swat-in yang sudah lemah kondisinya menjadi semakin payah mendengar kekeh tawa yang mengiriskan, hakikatnya dia tidak melihat apa yang telah terjadi diarena pertempuran, pandangannya terasa gelap dan memutih, berbagai bayangan seperti berkelebatan dipelupuk matanya. Akhirnya dia mendelong sambil berdiri limbung, bertopang pada pedang panjangnya. darah serasa mendidih dalam dadanya, kepalanya pusing tujuh keliling. Namun dasar bandel dan keras kepala dia tetap bertahan berdiri berusaha mengempos semangat dan mengumpulkan hawa murni, dia insyaf bila usahanya gagal maka dirinya akan ambruk dan jatuh sakit untuk jangka panjang. Dengan penuh perhatian Tok-liong-sianli menyaksikan pertempuran, dia heran bahwa Toh-bing-sik-mo ternyata memiliki kepandaian yang luar biasa, khawatir Hwi-khong Sinni keCundang maka dia mempersiapkan diri memberi bantuan bila perlu. Begitu kaki menyentuh tanah kembali tubuh Toh-bingsik- mo bergerak kaku menubruk kearah Hwi-khong sini yang berkelit mundur. Hwi-khong menjengek dingin, sebelum lawan menubruk tiba, dia miringkan tubuh sambil menggeser langkah kedepan, berbareng pergelangan kanan berputar, kebutnya menyerang dengan jurus Hing hun-yu-kok (mega mengembang didasar lembah) dengan desing angin yang kencang menggulung kearah Toh- bing-sik- mo. Tubuh Toh-bing-sik-mo yang masih terapung itu ternyata bisa merandek dan membalik, gendewa merahnya diulur kedepan depan jurus Gwe-jui -san-ya (rembulan doyong di tegalan liar), bayangan merah berkelebat mengepruk batok kepala Hwi-kiong Sinni. Bersama dengan itu tangan kiri tegak membelah dengan jurus Gik,san-

wan-ciau (rembulan menerangipucuk gunung) menabas keleher Hwi-khong Sinni. Hwi-khong Sinni memiringkan tubuhnya sambil doyong kebelakang meluput diri dari keprukan gendewa, sementara tangan kanannya setengah tergenggam balas menyerang dengan jurus Kong gi-beng-goat (sinar memancar kabut timbul) dari samping dia berusaha mencengkram urat nadi pergelangan tangan kiri Toh-bing-sik-mo. Kebut ditangan kanan sekaligus terayun dengan setangan Tiang-siu-biau-hiang (lengan panjang menyibak harum) dengan deru angin keras balas menampar muka Toh-bing-sik-mo, dua jurus serangan dilancarkan bersama. Lekas Toh bing-sik- mo menurunkan lengan membalik gendewa, dengan tangkas dia berkelit, lalu dengan jurus Jiu-khang-ce tiau (kehilangan biduk di muara luas), bayangan gendewanya berlapis-lapis, kembali Hwi-khong Sinni dirabunya dengan gencar. Maka Nikoh tua yang berjubah kelabu ini harus mengembangkan Ginkang dan ketangkasan gerak tubuhnya berhantam melawan Toh-bing-sik-mo yang digubat perban sekujur badannya. ceng-hun-kok masih guram dan beCek serta licin, tapi kedua orang ini memang memiliki ketangkasan luar biasa, gerak-gerik mereka tetap gesit dan lincah saling serang dan berkutet sengit. Betapapun kepandaian Toh- bing-sik mo memang setingkat lebih tinggi, namun dalam waktu singkat dia belum mampu meroboh kan Hwi-khong Sinni. Meski Hwi-khong sinni berpedoman dengan bertempur mantap dan tenang, lunak mengalahkan keras dan sikap diam melawan aksi lawan, setiap peluang pasti menyergap lawan, namun dia pun tidak mampu melukai apalagi merobohkan Toh-bing-sik-mo. Cepat sekali, enam puluh jurus telah lewat. Walau belum dapat merebut kemenangan, lama kelamaan Hwi-khong sinni semakin bingung dan gerak-geriknya agak lamban dan makan tenaga. Dengan tegang, tanpa sadar Tok-Liong-sianli selangkah demi selangkah maju mendekati arena. Dia khawatir bila Hwi-khong Sinni kalah cepat dan tertawan oleh musuh, sehingga seluruh perhatiannya dia curahkan atas keselamatan Hwi-khong Sinni, melupakan Tio Swat-in yang dipasrahkan kepadanya. Agaknya Toh-bing-sik-mo juga tahu bahwa Hwi-khong Sinni sudah kepayahan melawan dirinya, maka serangannya semakin gencar dan lihay,

seperti hujan badai saja dia incar Hwi-khong Sinni dengan berbagai serangan gendewa dan telapak tangan. Tiba-tiba Toh-bing-sik-mo tampak membalik dengan putaran jungkir balik, kaki di atas kepala dibawah, tubuhnya lurus tegak^ tangan kanan berputar dengan jurus Lui-sin-tin ce (malaikat guntur menggetar bumi) gendewa merahnya membawa kesiur angin dan membisingkan telinga, laksana gugur gunung saja menindih kepala Hwi-khong Sinni. Bukan saja serangan keji, gerak-geriknya cepat dan aneh pula, maka dapat dibayangkan betapa berbahaya serangan ini. Hwi-khong Sinni terkesiap kaget, lekas dia melesat mundur, namun “Bet” tak urung pakaian dipundaknya tergantol sobek oleh ujung gendewa lawan, goresan merah tampak diatas pundaknya. Baru kaki menyentuh tanah dan belum sempat memperbaiki posisi, kekeh tawa yang memekakkan telinga seperti hampir memecah genderang telinganya, tanpa memberi kesempatan Toh-bing-sik-mo telah menubruk tiba pula dengan rangsekan yang menggebu. Saking murka kali ini Hwi-khong Sinni tidak berkelit lagi, dilihatnya Toh-bing-sik-mo telah menubruk datang, kontan dia menyendal kebutnya, dengan jurus Ngo-Liong-pi-gi (lima naga membanting cakar), serangan yang mengejutkan, kebutnya menimbulkan lima jalur satu kekuatan angin kencang masing-masing melesat mengarah lima Hiat to besar di dada Toh-bing sik-mo, lima jalur angin laksana anak panah, bila tersambar pasti belong dan jiwapUn melayang. Inilah jurus serangan ilmU kebut ciptaan Hwi-khong Sinni yang dipelajarinya selama belassan tahun. Dengan Ngo-Liong-pi-gi yang dibanggakan ini, entah berapa jago-jago silat yang pernah dia kalahkan- Sebetulnya Toh-bing-sik-mo sudah merasakan kelihayan jurus serangan ini waktu melawan Tio Swat-in tadi, cuma tadi Tio Swat-in menyerang dengan pedang, kini Hwi-khong Sinni sendiri yang melancarkan pula dengan kebutnya. Lwekang nya lebih tinggi, latihan lebih matang pula, maka perbawa jurus ini sudah tentu lebih lihai dan menakjubkan- Tahu Ngo-Liong-pi-gi tak boleh dilawan, lekas Toh-bing-sik-mo melorot turun sambil miring tubuh terus berkelit mundur.

Tapi deru angin pukulan telapak tangan yang dahsyat tahu-tahu telah memapak dari belakang Toh-bing-sik-mo. Penyerangnya adalah Tok-Liong sian li, sejak tadi dia memang sedang menunggu kesempatan baik untuk menyergap musuh dan membekuknya, maka dia tidak hiraukan lagi

peraturan dunia persilatan atau menjaga gengsi segala, kebetulan Toh-bing sik-mo mencelat mundur membelakangi dirinya, maka dia yang sejak tadi sudah siap segera menggencet dari arah yang berlawanan dengan Hwi-khong Sinni.

Toh-bing-sik-mo berusaha menyelamatkan diri, tapi begitu merasa dari belakang ada serangan pula, segera dia insyaf arah yang ditempuhnya salah, diam-diam dia mengeluh dalam hati. Dalam gugupnya lekas dia menjatuhkan diri kesamping berbareng gendewanya bekerja menangkis serangan gencar serta lihay Hwi-khong Sinni.

Tapi dalam sedetik itu kebut Hwi-khong sinni yang berpencar menjadi lima jalur itu tiba-tiba bergabung pula menjadi satu, dengan gaya serangan sama tetap menutuk kearah Toh -bing-sik-mo. Kontan Toh-bing-sik-mo merasa lengan kanannya terserempet miring oleh tusukan kebut Hwi-khong sinni, sehingga perban yang membalut lengannya pecah dan berhamburan, gendewa yang dipegangnya hampir saja terlepas dari pegangan. -ooOdwOoo-

DENGAN meraung gusar mendadak Toh bing-sik- mo menjejak kaki menerjang keatas, setelah terluka dia tidak berani bertempur lebih lama lagi, secepat angin tubuhnya meluncur keluar dari ceng hun-kok. Sembari mengayun langkah sempat juga dia menoleh, bola matanya yang tidak terlindung perban tampak memancarkan sinar kebencian dan dendam. “Lari kemana.” hardik Hwi-khong Sinni, sudah siap dia mengudak- “Bluk” Tapi suara jatuh gedebukan membuat Hwi-khong Sinni mengerem gerakannya seketika, begitu dia menoleh tersirap darah Hwi-khong Sinni, dilihatnya Tio swat-in sudah terkapar di lumpur beCek, Tok-Liong sian-li berseru kaget, buru-buru mereka memapah Tio-Swat in tanpa menghiraukan Toh-bing-sik-mo pula.

Wajah Tio Swat-in tampak merah, sebelah kiri kotor kena lumpur, matanya terpejam, badannya terasa panas. Hwi-khong Sinni saling pandang sekejap dengan Tok-Liong-sian-li, mereka tidak habis mengerti apa yang terjadi pada gadis belia ini. Lekas Tok-Liong sian li bopong Tio Swat-in terus memberi tanda kepada

Hwi-khong Sinni: “Hayo pergi.” Lalu dia mendahului lari keluar ceng hun kok, menempuh arah yang berlawanan dari Toh-bing-sik mo. Hwi-khong Sinni mengintil dibelakangnya dengan perasaan hambar dan bingung, lekas sekali mereka telah pergi jauh dan tidak kelihatan pula.

Ce- hun- kok kembali tenang dan sepi, namun suasana tetap rawan dan mengerikan, dua mayat kuda dengan CeCeran darah yang memualkan. Sejak peristiwa ini, Toh-bing-sik-mo yang pernah menggetarkan dikalangan kang-ouw dan mengganas di ceng-hun-kok tidak pernah muncul dan ditemukan jejaknya lagi. Dalam sebuah bilik yang sederhana, Hwi-khong Sinni dan Tok-Liong-sian-li tengah berdiri di depan ranjang, mereka mengawasi Tio Swat-in yang rebah tidak sadarkan diri dengan bingung dan resah, badan Tio Swat-in panas dingin, pingsan lagi.

Tapi di samping mereka berdiri seorang laki-laki tua berusia hampir enam puluh, sambil membungkuk laki-laki ini sedang memeriksa nadi Tio Swat-in, dengan teliti dia memeriksa mata Tio Swat- in pula. Rambut dan jenggot laki-laki ini sudah beruban,jenggotnya panjang menyentuh dada, dia bukan lain adalah suami Tok-Liong-sianli, Ih-hiap (Tabib pendekar) Siangkoan Bu yang terkenal di kalangan Kangouw.

Pelan-pelan Siangkoan Bu masukkan tangan Tio Swat-in ke dalam kemul, sambil menegakkan badan dia mengawasi Hwi khong Sinni dan Tok-Liong-sian-li istrinya lalu menghela napas, katanya: “Dalam keadaan sedih dan haru dia terlalu banyak mengerahkan tenaga sehingga hawa murninya ludes, dalam kondisi lemah itu dia terserang demam lagi, keadaannya memang cukup prihatin, tapi tidak perlu dibuat khawatir, namun untuk menyembuhkan penyakitnya harus makan waktu panjang, malah… ” Hwi-khong Sinni bingung, tanyanya: “Malah bagaimana, apakah ada persoalan pelik?”

Jilid 8 : Perjalanan ke Biau-kiang

Hwi-khong Sinni dipandangnya lekat-lekat baru Siangkoan Bu berkata: “Sebagai tabib yang terkenal di Kangouw selama puluhan tahun. Swat-in muridmu terserang penyakit dan sudah kau serahkan kepadaku, maka aku akan berusaha menyembuhkan dia, yakinlah akan kukembalikan Swat-in

yang segar- bugar kepadamu, tapi tentunya kau juga tahu, bagi kaum persilatan seperti kita,jarang jatuh sakit, tapi sekali sakit untuk menyembuhkan juga bukan soal sepele tapi bukan aku suka mengagulkan diriku, setelah pasien berada di tanganku, apa lagi jarang ada tabib lain yang bisa mengungkuli diriku di kalangan Kang ouw, percayalah dia akan segar – bugar dalam waktu sebulan.” Setelah menghela nafas, Siangkoan Bu ber berkata pula. “Maksudku tadi yalah, untuk menyembuhkan Swat-in, sekarang aku masih memerlukan dua jenis obat yang lebih penting tapi tidak jadi soal, tiba saatnya aku akan pergi mencarinya.” Mendengar penjelasan Siangkoan Bu, IHwi khong Sinni mengiakan sambil manggut-manggut, tiba tiba dari luar tampak berlari masuk seorang gadis berusia enam belasan. Begitu melihat Tok-Liong-sian li segera dia berteriak riang: “Ma, kau sudah pulang, aku minta ikut kau larang beberapa hari ini .. ” Sambil merengek dia menubruk kedalam pelukkan ibunya Tok-Liong-sian-li, tiba-tiba dia melihat Tio Swat-in yang rebah di kemul di-ranjang serta Hwi-khong Sinni disamping ibunya, sesaat dia mengawasi bingung bergantian lalu bertanya kepada ibunya: “Ma, bukankah ini cici swat-in? Kenapa dia?” Tok-Liong-sian-li menghela napas, katanya: “Cici Swat-in mendadak jatuh sakit. ” Belum habis Tok-Liong-sian-li bicara, putrinya sudah menyela: “Cici Swat-in sakit, biar aku mengobatinya.” lalu dia mendekati ranjang. Lekas Tok-Liong sian li menariknya, katanya: “Jangan sembrono, anak Ceng, memang nya kau mampu menyembuhkan apa. Hayo beri hormat kepada Supek.” Sekilas Siangkoan Ceng melirik ibunya, dengan cemberut perlahan-lahan dia berputar menghadap Hwi-khong Sinni yang tengah mengawasinya dengan tersenyum simpul, segera dia berlutut dan menyembah, serunya: “Kepada Supek. terimalah sembah sujud Ceng-ji.” “Ah jangan, tidak usah menyembah… ” ujar Hwi-khong Sinni sambil memapah Siangkoan Ceng bangun, sejenak dia menatap Siangkoan Ceng lalu berkata: “Ceng-ji, dua tahun lebih aku tidak melihatmu, kini kau sudah besar, malah lebih cakap dan cantik lagi, aku jadi pangling kepadamu.” Siangkoan Ceng tertunduk malu sambil menggoyang pundak. rengeknya aleman: “Supek. kenapa kau juga menggodaku.. ” Dengan tertawa Siangkoan Bu bangun dari pinggir ranjang, katanya: “Mari

kita duduk di luar, biar yang sakit istirahat, aku akan meracik obat.” Terpaksa Tio Swat-in merawat penyakitnya dirumah Siangkoan Bu. Di bawah pengob atan Siangkoan Bu yang ahli, dibantu oleh Hwi-khong Sinni dan Tok-Liong-sian-li yang selalu menjaga dan merawatnya, demikian pula Siangkoan Ceng yang selalu menghiburnya dengan cerita dan bernyanyi, lambat laun penyakit Tio Swat-in ada kemajuan. Setengah bulan kemudian, Tio swat-in masih merasa lemah tak punya tenaga, sukar mengerahkan hawa murni untuk samadhi, tapi dia sudah mampu duduk dan beberapa langkah, seminggu lagi keadaannya sudah seperti orang biasa. Cepat sekali sebulan telah berselang tanpa terasa. Hari itu mendadak Siangkoan Bu berkata: “Hampir tiba saatnya Swat-in harus ganti obat, hari ini juga aku akan berangkat mencari beberapa jenis obat yang tiada persediaan lagi padaku, sebelum aku pulang, Swat-in tetap minum obat yang kuracik itu, setelah aku pulang dan membuat racikan baru, tanggung dalam jangka sepuluh hari kesehatannya sudah akan pulih seperti sedia kala.” Lalu dia berpaling kepada Tio swat-in : “Tetap pada nasehatku semula, jangan terlalu sedih, penyakitmu timbul karena kau tidak bisa mengekang emosi, ingat carilah kerja ringan yang membangkitkan semangat dan meriangkan hati. oh, ya, dua hari lagi mungkin kau akan merasa lebih segar, mungkin sudah bisa latihan samadi, sisa hawa dingin yang masih bersemayam dalam tubuhmu bisa kau usir keluar, tapi kau harus ingat,jangan gegabah dan mencoba secara serampangan, kau harus maklum, hawa murnimu memang sudah ludes, sebulan lebih kau tidak pernah samadi, bila di paksakan salah-salah bisa fatal akibatnya, bukan saja kau tidak berhasil mengusir hawa dingin itu, malah tenaga yang sudah pulih sedikit itu bisa buyar dan mendatangkan kesukaran lagi.” Dengan pandangan haru dan terima kasih Tio Swat-in menatap kepada Siangkoan Bu, tabib yang welas asih, dan penuh kasih sayang ini, dia hanya mengangguk kepala, Siangkoan Bu segera keluar terus berangkat. Siangkoan Bu menjelajah pegunungan, dimana dia kira ada obat, kesitu dia mencari, dengan ketelitian dan ketekunannya dia mencari bahan-bahan obat yang diperlukan sudah tentu sekalian diapun memetik daon-daon obat-obatan yang kebetulan ditemukan. Lekas sekali beberapa hari telah berselang. Hari itu Siangkoan Bu memasuki sebuah lembah dipegucungan Ceng-king san, di tengah malam yang dingin baru dia berhasil menemukan bahan-bahan obat yang diperlukan, jadi bahan-bahan obat yang diperlukan sudah lengkap

seluruhnya, dengan rasa senang segera dia berlompatan sambil lari mengembangkan Ginkang mau meninggalkan lembah dingin itu pulang kerumah. Tiba-tiba gelak tawa seram berkumandang dari atas jurang dan mengalun ditengah malam gelap ini bergema didalam lembah, kontan Siangkoan Bu menghentikan langkah sambil bersuara heran. Karena ketarik, dan ingin tahu apa yang terjadi, segera dia putar haluan, melesat terbang kearah datangnya suara. Tawa aneh itu masih berkumandang dari atas jurang. Di kala Siangkoan Bu mencapai suatu ketinggian dan hinggap di atas batu cadas yang menonjol, begitu dia mendongak, kebetulan dilihatnya sesosok bayangan orang jungkir balik melayang jatuh dari atas. Sebagai tabib tugas nya mendong jiwa orang, dalam keadaan gawat ini Siangkoan Bu tidak pikir panjang lagi, tanpa peduli siapa yang jatuh segera dia samber bayangan jatuh itu terus dibawa lompat jauh beberapa kali lenyap dibawah sana. Tanpa sengaja tabib pendekar Siangkoan Bu telah mendong jiwa Pakkiong Yau-Liong yang nekad menerjunkan diri kedalam jurang karena terancam oleh Tok-ni-kau-hun Ni Ping ji yang kejam dan telengas itu. Mungkin ajal Pakkiong Yau-Liong memang belum saatnya, setelah disiksa sedemikian rupa dan nekad ingin bunuh diri terjun kejurang, secara kebetulan dia justru ditolong oleh Siangkoan Bu. Setelah membawa lari Pakkiong Yau-Liong cukup jauh, dibawah sebuah pohon dia berhenti serta menurunkan Pakkiong Yau-Liong yang kurus tinggal kulit membungkus tulang, maklum setelah disiksa sedemikian rupa keadaannya memang amat mengenaskan, dia masih pingsan- Bau apek. amis yang memualkan merangsang hidung Siangkoan Bu, keadaan orang yang ditolongnya ini memang teramat menyedihkan, sesaat lamanya Siangkoan Bu menjublak kaget ditempatnya. Rambut Pakkiong Yau Liong terurai panjang, kusut masai, kulit mukanya membesi hijau, tulang dipundak sebelah kiri menongol keluar, luka-lukanya mumur, pakaiannya dekil dan sobek tak karuan, berlepotan darah, sepuluh jarinya melepuh besar berwarna biru, darah masih meleleh dari mulutnya, mata nya cekung, bibirnya pecah-pecah kering, keadaannya mirip mayat hidup, siapapun tidak tega melihat keadaannya. Bau yang kurang sedap merangsang hidung Siangkoan Bu dari badan Pakkiong Yau-Liong. Cinta kasih kepada sesamanya adalah sifat manusia, apalagi Siangkoan Bu sebagai Tabib pendekar yang sudah memperoleh

nama harum di kalangan Kangouw. Lekas dia memeriksa keadaan Pakkiong Yau-Liong, luka-luka disepuluh jarinya, luka-luka dipundak dengan tulang nya yang parah, denyut nadinya yang sudah teramat lemah, seperti jantungnya akan berhenti berdetak sewaktu-waktu. Siangkoan Bu yakin bahwa orang yang tidak dikenalnya dengan keadaan tubuh yang mengenaskan inipasti mengalami siksaan yang luar biasa, malah kehilangan darah terlalu banyak sehingga keadaannya teramat lemah. Bertaut alis Siangkoan Bu, beberapa kali dia menghela napas sambil geleng-geleng mengingat nasib orang yang tersiksa sesadis ini, tak pernah terbayang dalam ingatannya bahwa di dunia ini ada juga manusia sekejam dan setelengas ini, menyiksanya begini rupa. Maka dia berkeputusan untuk menolong orang asing ini, malah dia sudah berjanji, untuk mencurahkan segenap kemahirannya, dengan tekun merawat dan mengobati sampai sembuh. Dari kantongnya dia keluarkan botol obat lalu menjejalkan dua butir Kui-goan-sia-tan kemulut Pakkiong Yau-Liong. Dengan hati-hati dia membopong Pakkiong Yau-Liong yang pingsan terus dibawa pulang. Layap-layap Pakkiong Yau liong mulai sadar, pelan-pelan setelah agak lama kemudian dia membuka pelupuk matanya. Samar-samar tampak olehnya sinar rembulan menyorot masuk dari jendela, didapatinya dirinya rebah diatas ranjang empuk di dalam kamar sederhana yang bersih, rasanya nyaman dan nikmat. Pakkiong Yau-Liong merasa dirinya dalam impian, maka dia menggumam: “Di manakah aku ini, tidak mirip diakhirat.” Tiba-tiba dia mendengar cekikik tawa geli yang lirih tapi merdu. Lekas Pakkiong Yau-Liong berpaling, matanya yang masih redup dan samar-simar terbuka lebar, tampak diambang pintu berdiri seorang gadis belia berusia enam belasan, berwajah bundar telur, tubuh nan semampai dengan gaun panjang serta baju sari menjuntai pula, cantiknya seperti bidadari, gadis ayu ini sedang mengawasi dirinya dengan senyumnya yang manis. Gadis ini bukan lain adalah putri tunggal Siangkoan Bu dengan Tok-Liong-sian-li yaitu Siangkoan Ceng. begitu sorot matanya bentrok dengan pandangan Pakkiong Ytu-Liong, lekas dia melengos dengan wajah merah malu, maklum gadis pingitan yang belum pernah keluar rumah,jarang bergaul lagi, lekas ia berlari keluar. Pakkiong Yau-Liong makin bingung dan heran, batinnya: “Jelas disini

bukan akhirat, lalu tempat apa?” tengah berpikir, tiba-tiba terasa luka-luka di tubuhnya sudah dibalut dan diobati, rasa sakit telah lenyap. dengan haru hatinya berteriak: “Apakah aku belum mati…” dia meronta hendak bangun, tapi sendi-sendi tulangnya terasa linu seperti ditusuk jarum, badanpun lunglai tak bertenaga, dia mendapatkan rambutnya yang tersisir rapi wajahnya tercuci bersih, pakaiannyapun telah diganti, Maka dia yakin bahwa dirinya telah ditolong orang. Pakkiong Yau-Liong bingung, tak tahu apakah perasaannya sekarang senang atau berduka? Hambar atau rawan? Pendek kata dia sudah yakin bahwa dirinya masih hidup, suatu ketika kelak dia masih mampu mencari Toh bing sik-mo untuk menuntut balas, demikian pula membalas siksaan Tok-ni-kau-hun Ni ping-ji, bukan melulu untuk dirinya, juga menuntut bagi perempuan tidak berdosa yang ajal karena berusaha menolong dirinya. Tiba-tiba di luar didengarnya langkah mendatangi, maka masuklah Tabib pendekar Siangkoan Bu sambil tersenyum ramah. begitu Siangkoan Bu tiba dipinggir ranjang, sebelum orang bersuara Pakkiong Yau-Liong sudah berusaha bangkit dan berkata: “Cianpwe ini tentu orang yang telah menolong jiwa Pakkiong Yau-Liong, budi pertolongan Cia npwe atas pertolongan kali ini, aku… ” Sebelum Pakkiong Yau liong berkata habis Siangkoan Bu sudah menekan Pakkiong tidur lagi, sebelah tangannya digoyang mencegah dia banyak bicara. Katanya. “Tak usah rikuh atau sungkan, kondisi badanmu teramat lemah, kau harus banyak istirahat cukup lama.” Pakkiong Yau-Liong ditekan tidur pula, mendengar perkataan orang, mulut yang sudah terbuka urung bicara, tak tahu bagaimana dia harus menghaturkan terima kasih. Dengan tertawa Siangkoan Bu berkata: “Kalau dibicarakan mungkin kau bukan terhitung orang luar, waktu aku menukar pakaianmu tadi, kutemukan ruyung lemas singa emas senjata tunggalmu itu, kukira kau punya hubungan erat dengan Biau-hu Suseng.” Pakkiong Yau-liong manggut2, katanya. “Betul beliau adalah guru Wanpwe yang berbudi luhur.” “Nah, betul dugaanku,jadi kau bukan orang luar lagi. Saat aku memanggilmu Hian-tit saja. Aku bernama Siangkoan Bu, waktu mudaku meski tidak kental hubunganku dengan gurumu, tapi gurumu pernah memberi bantuan berharga sehingga aku berhasil menyempurnakan diri, entah bagaimana keadaannya sekarang?”

Pakkiong Yau-liong menghela napas, lalu katanya: “Sayang beliau sudah meninggal setahun yang lalu.” Siangkoan Bu melengak, akhirnya menghela napas panjang. Tiga puluh tahun yang lampau, waktu itu Siangkoan Bu masih bujangan dan baru saja terjun diBulim, belum ada setahun dia sudah mendapat nama dan diagulkan para pengagumnya, masih muda mendapat kedudukan terhormat, adalah jamak kalau Siangkoan Bu menjadi tinggi hati. Dalam suatu pertemuan dengan kaum persilatan, mereka membicarakan Biau-hu Suseng, tokoh lihay yang mendapat julukan jago nomor satu di seluruh Bulim masa itu, sudah tentu Siangkoan Bu kurang senang bahwa seseorang lebih tinggi, lebih besar namanya dari dirinya, sejak hati itu diam-diam dia berupaya untuk menjajal kepandaian Biau-hu Suseng siapa lebih unggul di antara mereka. Maka kemana-mana dia pergi mencari jejak Biau-hu Suseng, karena usahanya tidak berhasil dia menyiarkan tekad hatinya di hadapan umum, bahwa dia ingin bertanding melawan Biau-hu Suseng. Malah dia menentukan waktu dan tempatnya. Sudah tentu aksinya menimbulkan kegemparan diBulim, kaum persilatan dari aliran putih atau golongan hitam sama memperbincangkan berita besar ini, orang banyak ingin tahu dan menyaksikan pertandingan besar dari dua jago pendekar yang sama sama mempunyai reputasi baik dan besar dikalangan persilatan, yang ditentukan Tabib pendekar Siangkoan Bu telah tiba. Eatah betapa banyak pendekar, orang-orang gagah dan gembong-gembong penjahat yang ternama datang kekota Pakkhia. Waktu yang ditentukan adalah tanggal sembilan bulan Sembilan malam menjelang hari raya cong yang, mereka akan bertanding di Koh-Siok bok dibiara pintu barat kota, Pakkhia. Siapa tidak ingin menyaksikan duel dua Harimau yang erkepandaian tinggi. Seorang adalah Tabib pendekar Siangkoan Bu yang belum genap setahun menggetar dunia persilatan, lawannya adalah Biau-hu Suseng yang diakui sebagai jago nomor satu diseluruh jagat oleh selapisan kaum persilatan. Tanggal 9 bulan sembilan malam, bulan sabit di atas largit menerangi Koh-jiok boh sepuluh li diluar pintu barat kota Pak khia, letaknya diujuug hutan bambu yang rimbun dan rungkut. Di tengah Koh-Siok-boh terdapat sebidang tanah lapang seluas tiga puluhan tombak, dimana penuh sesak manusia yang berjubel,jumlahnya

ada ratusan orang. Mereka adalah kaum persilatan yang ingin menyaksikan pertandingan, suasana masih ribut oleh pembicaraan ramai dari hadirin yang masing-masing menjagoi orang yang diagulkan, tidak sedikit pula yang bertaruh dari nilai keCil sampai jumlah yang laksaan tail banyaknya. Tapi tunggu punya tunggu, tidak terasa hari sudah menjelang kentongan kedua, bukan saja Biau-hu Saseng tidak muncul, malahan Tabib Pendekar Siangkoan Bu yang menyiarkan berita tentang pertandingan inipun tidak kelihatan bayangannya. Ditengah keributan orang banyak. sang waktu terus berlalu, hadirin jadi menebak-nebak. apa yang bakal terjadi, bulan sabit sudah semakin doyong kebarat kentungan ketiga sudah jelang. Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melesat terbang dengan kecepatan luar biasa, hanya sekejap bayangan itu sudah meluncur keatas Ko-tiok-boh, kecepatan geraknya dan gayanya yang gemulai indah mengejutkan seluruh hadirin, dengan pandangan mendelong mereka mengawasi pendatang ini. Yang berdiri ditengah gelanggang adalah seorapg pemuda berusia dua puluh tahunan, berwajah tampan, gagah, berpakaian ringkas, kancing putih berderet didepan dada, itulah pakaian yang peranti dibikin khusus bagi kaum pesilat, pemuda tampan ini menggendong pedang lima kaki dipunggungnya, gerak-geriknya begitu menarik sehingga perhatian seluruh hadirin ditujukan kepadanya, suara ribut sirap seketika. Yang datang ini bukan lain adalah Siang koan Bu. Pandangannya yang jumawa menyapu pandang keseluruh hadirin, dengan senyum lebar menghias wajahnya, segera dia merangkap kedua tangan menjura keempatpenjuru, dengan suaranya yang lantang berbicara: “cayhe (aku yang rendah) Siangkoan Bu, entah apa kemampuanku, sehingga tuan-tuan sekalian sudi datang dari tempat jauh, biarlah setelah pertandingan nanti usai, akan kuhaturkan banyak terima kasihku akan kehadiran tuan-tuan.” Nada bicaranya terasa sombong, sikapnya juga jumawa, tidak sedikit yang menggeleng sambil menghela napas. Habis bicara Siangkoan Bu membusung dada, sorot matanya semakin Cemerlang, katanya lantang sambil berputar tubuh: “Kentongan ketiga sudah tiba, Biau-hu Suseng yang kutantang kemari seharusnya sudah datang,jikalau dia sudah berada di antara hadirin, silahkan keluar memberi petunjuk, supaya hadirin tidak terlalu lama menunggu.”

Tapi ratusan hadirin tiada Satupun yang bergerak. tiada yang bersuara, SuaSana menjadi hening Siangkoan Bu menyapu hadirin pula dengan sorot tajam, ditunggu beberapa kejap tetap tiada sambutan, apa boleh buat, diba-wah tontonan orang banyak terpaksa Siangkoan Bu mundur kesamping. Bulan sabit sudah semakin doyong kebarat, hadirin mulai bisik-bisik lagi, kentongan ketiga sudah lewat. Siangkoan Bu yang menyingkir kepinggir makin tidak enak perasaannya, pikirnya: “Mungkinkah dia tidak mendengar atau menerima tantanganku yang kusebar luaskan dikalangan Kangouw? Ah tidak mungkin ? Sejak bulan empat sampai sekarang ada lima bulan lamanya, setiap kaum persilatan yang berkecimpung dikalangan Kangouw tiada yang tidak tahu akan tantanganku kepada Biau-hu Suseng, mana mungkin dia tidak tahu menahu tentang tantangan duelku itu ? Kalau dia mendengar, sebagai jago top yang disanjung puji, pesilat nomor satu dijagat ini, apapun yang terjadi, mana berani dia mengabaikan tantanganku dan tidak berani muncul didepan umum. Begitulah batin Siangkoan Bu dengan lamunannya, hadirin masih bisik-bisik, suasana seketika ribut, yang bertabiat kasar malah ada yang mengumpat caci, namun tidak sedikit pula yang diam-diam tinggal pergi. Kentongan keempat. Bagi mereka yang tidak punya kerja dan tertarik akan pertandingan masih menunggu dengan penuh harapan, padahal yang berlalu sudah setengah lebih. Hadirin tahu Biau-hu Suseng bukan orang yang takut menghadapi persoalan, dalam keadaan seperti ini, siapapun meski menyadari Kungfu sendiri bukan tandingan Siangkoan Bu juga pasti berani mempertaruhkan jiwa raga menempur Siangkoan Bu, apalagi Biau-hu Suseng yang diagulkan sebagai jago nomor satu di seluruh Bulim. Hembusan angin malam nan dingin menggontai hutan-hutan bambu sehingga mengeluarkan suara lirikan yang mengerikan, hadirin kedinginan dan mengkirik juga oleh suasana yang seram ini. Kalau hadirin masih ada yang sabar menunggu, adalah Tabib Pendekar Siangkoan Bu tidak betah lagi, dia tahu bahwa Biau-hu Suseng memperoleh julukan setinggi itu tentu memiliki kepandaian yang sejati. Kalau kenyataannya memang demikian, tidak mungkin dia jeri menghadapi dirinya, lalu kenapa dia tidak memenuhi tantanganku ? Pasti dia meremehkan diriku, dia tidak mau datang karena dla menghina dan mengecilkan arti tantanganku. Entah dari mana datangnya pikiran tidak sehat itu, yang jelas hati

Siangkoan Bu sudah mulai dirundung pikiran yang kacau. Akhirnya dengan gusar dia membanting kaki. tiba-tiba dia berkelebat melompat ketengah arena pula serunya lantang sambil angkat kepalanya: “Biau-hu Suseng tidak mau datang memenuhi tantanganku, mungkin karena Kungfuku masih terlalu rendah, maka dia tak sudi memberi petunjuk kepadaku. Maaf kepada hadirin bahwa kedatangan kalian sia-sia, maka sudilah menerima maafku ini.” Lalu dia menjura keempat penjuru, habis itu dia membusung dada pula, serunya: “Tapi mohon bantuan hadirin supaya menyampaikan kepada Biau-hu Suseng bila ketemu, katakan kepadanya sejak hari ini sebelum aku berduel dengan dia menentukan siapa hidup siapa mati dengan dia, aku bersumpah tak akan bercokol dibumi ini.” kata-katanya tandas dan tegas, agaknya tekadnya sudah teguh, habis bicara segera dia meninggalkan tempat itu. Diantara hadirin yang ikut kecewa dan siap-siap pergi, tiba-tiba seseorang menghela napas panjang, sekejap tampak sinar matanya memancar, tapi lekas sekali sudah sirna tak berbekas, sekali berkelebat tahu-tahu dia sudah melompat kesamping Siangkoan Bu, sambil menjura dia menyapa kepada Siangkoan Bu. “Siangkoan Siauhiap. sudah lama Lo-han mendengar Kungfumu lihay dan jiwamu yang pendekar, hari ini sudah ku bUktikan sendiri. Bahwa kau sudah berada di sini, maka Lo-han yang tidak berguna ini ingin mohon petunjukmu sejurus setelah hadirin pergi seluruhnya, entah Siauhiap (pendekat muda) sudi memberi petunjuk kepada Lo-han (aku orang tua).” Siangkoan Bu serba salah, tapi sikap dan cara orang tua dihadapannya ini begini tulus dan sungguh-sungguh, dia jadi bimbang dan ragu-ragu, sekilas dia melirik orang tua ini. Orang tua itu tidak sungkan lagi katanya lagi: “Siauhiap tidak usah bimbang aku sudah tua, kaki tanganku sudah tidak selincah masa muda dulu, tapi aku masih mampu berkelahi. Nah, sambutlah pukulanku.” Tiba-tiba kedua tangan melintang didepan dada, tangan kanan berputar satu lingkar, tangan kiri menyodok keluar dari tengah menepuk dada Siangkoan Bu. Gayanya aneh, serangannya lucu, hakikatnya bukan serangan seorang pesilat yang mahir Kungfu, namun telapak tangan yang disodok maju perlahan ternyata mengandung tenaga berat dan besar. Masih ada belasan orang yang ketinggalan, jadi urung meninggalkan tempat itu, mereka membatalkan niat semula mau pergi, dari kejauhan mereka menonton dengan keheranan-

Siangkoan Bu berpikir: “Kakek tua ini kenapa tidak tahu aturan ?” sembari berpikir sudah timbul niatnya hendak balas menyerang tapi suatu pikiran lain berkelebat dalam benaknya: “Kalau Siangkoan Bu menanggapi tantanganmu, menangpun aku tetap malu, lebih celaka lagi kaum persilatan akan mentertawakan diriku, dikatakan aku hanya berani menganiaya seorang kakek belaka.” karena itu ketika tangan, yang bergerak dan terangkat itu lekas ditarik pula, berbareng kakinya bergerak secepat kilat dia meluputkan diri dari tepukan lawan- Ternyata kakek ini tidak tinggal diam, mendapat angin dia malahan mendesak lebih lanjut, tangan yang menepuk kedepan tetap menjulur lurus bergerak mengikuti gerak-gerik Siangkoan Bu, sementara telapak tangan yang lain ikut menepuk pula secara bergantian-Kali ini bukan saja serangannya aneh, jurus serangannya juga amat mengejutkan. Apapun Siangkoan Bu tidak pernah menyangka bahwa kakek tua ini bisa merobah permainan secepat dan selihay ini, yang diincarpun sasaran yang mematikan, saking kaget dan meraung gusar, sebat sekali dia memiringkan tubuh sambil menyingkir kesamping. Untung masih sempat meluputkan diri dari serangan kedua tangan sang kakek. Agaknya amarah Siangkoan Bu terbakar, kini dia tidak hiraukan akibatnya pula, tangan kanan segera bergerak dengan Thian-hing-kay-thay (langit terbentang membuka bukit) telapak tangannya menampar ke muka si kakek. Serangan balasannya ternyata tak kalah lihay tenaganya malah kuat dan besar. Sudah jelas kakek tua ini bakal pecah batok kepalanya oleh pukulan telapak tangan Siangkoan Bu. Tapi, tampak kakek tua itu seperti terlalu besar menggunakan tenaganya sehingga serangannya tak mampu ditarik balik langkahnya tersuruk maju sehingga dia jatuh terjerembab, secata kebetulan dia selamat dari tepukan telapak tangan Siangkoan Bu. Pelan-pelan kakek itu merangkak duduk lalu berbangku sambil menghela napas, katanya menjura kepada Siangkoan Bu : “Siauhiap memang lihay Kungfunya, aku orang tua amat kagum.” lalu dia menunduk dan menggumam sendiri. “Maklum sudah tua, tak berguna lagi.. ” Geli campur jengkel juga Siangkoan Bu dibuatnya mendengar gumam orang. Biau-hu Suseng tidak datang telah membuatnya keki dan tidak redam panas penasarannya, namun dia tidak ingin ribut-ribut, sekali berkelebat dia melesat pergi dengan gerak tubuh laksana mengejar angin. Orang-orang yang ingin melihat keramaian itu pun, segera hengkang dari tempat itu. Tinggal kakek tua itu saja yang masih geleng-geleng sambil

menghela napas, lalu berdiri terlongong. Angin tetap berhembus, daon-daon bambu melambai, dahannya yang bergesek masih mengeluarkan suara kerikan yang mengerikan. Mendadak kakek tua itu melompat berdiri, lalu mencopot kedok yang menutupi mukanya, demikian pula rambut palsu diatas kepalanya. Maka kakek tua yang semula ubanan kini berobah menjadi laki-laki gagah, tampan berusia empat puluhan, dia bukan lain adalah Biau hu Suseng jago silat nomor satu yang diakui dunia persilatan. Sejenak Biau-hu Suseng geleng-geleng kepala lalu mengerutkan kening, sekejap mengawasi telapak tangan sendiri, akhirnya dia menjejak tanah, tubuhnya seringan asap melenting kepucuk pohon bambu, dengan sekali pantulan tubuhnya kembali melesat tujuh tombak jauhnya . Itulah Ginkang kebanggaan Biau-hu Suseng yang sudah terkenal dikalangan persilatan, namanya Yanteng-hua siang-in (asap bergolak diatas mega). Hanya beberapa kali lompatan, lekas sekali bayangannya telah lenyap dari pandangan mata. Setelah meninggalkan Koh-tiok-boh langsung Siangkoan Bu kembali ke Pakkhia dengan kecepatan Ginkangnya, karena Biau-hu Suseng hatinya amat kecewa dan hambar, heran tapi juga benci serta gegetun lagi, segala perasaan campur aduk dalam hatinya. Layap-layap dia merasa aneh akan tingkah laku kakek tua yang ingin menjajal kepandaiannya tadi, namun hatinya sedang kacau maka dia tidak pikirkan kejadian tadi. Lekas sekali dia sudah memasuki pintu barat kota Pakkhia, langsung kembali kehotelnya. Pelan-pelan dia mendorong daon jendela terus melompat masuk. Dia tarik napas dalam-dalam lalu menggeliat, badannya amat capai dan lesu, tanpa buka pakaian dia sudah siap merebahkan diri keatas ranjang. Mendadak dia menjerit kaget, mukanya berobah pucat seketika, matanya pun terbeliak. cahaya rembulan menyorot masuk dari jendela yang masih terbuka, dengan jelas dia melihat diatas meja di kamarnya menggeletak tiga buah kancing putih yang menindih secuil kertas putih pula.Bahna kejutnya Siangkoan Bu membatin. “Bukankah itu kancing bajuku?” lalu dia menunduk memeriksa bajunya, dia kehilangan tiga buah kancing. Bahna gusar dia renggut ketiga buah kancing dan lampiran kertas itu serta membebernya, tinta tulisan dalam kertas ini masih belum kering seluruhnya, dimana dia membaca: “Ditujukan kepada Siangkoan Siauhiap yang terhormat. Bukan soal mudah untuk memperoleh gelar “Pendekar”,

untuk menghancurkan nama baik justru segampang membalik telapak tangan, segala sesuatunya harap dipikirkan lebih matang sebelum bertindak, janganlah bekerja mengikuti adat atau di buru nafsu melulu. Salam dari Biau-hu Suseng.” Luluh hati Siangkoan Bu dengan lesu dia menunduk kepala, meski gusar dan malu, tapi dia menyadari kekhilafan dan kebodohan sendiri, hatinya jadi maklum, dengan bekal Kungfunya sekarang, ternyata dia bukan tandingan Biau-hu Suseng yang menyamar kakek tua dan berhasil mencopot tiga buah kancing bajunya tanpa dia sendiri menyadari. Demikian pula Ginkang sendiri yang rasanya sudah tinggi juga bukan apa-apa dibanding Ginkang Biau-hu Suseng, buktinya orang bisa tiba lebih dulu sempat tulis surat segala. Maka sadarlah Siangkoan Bu bahwa kaUm pendekar di kalangan Kangouw yang berkepandaian tinggi memang tidak terhitung banyaknya, dengan kemampUannya sekarang, di banding dengan Biau-hu Suseng, ternyata masih jauh sekali, mau tidak mau peristiwa ini telah menjadikan Siangkoan Bu patah semangat. Syukurlah pikirannya masih sehat, setelah redahawa amarahnya, dia maklum dan menyelami usaha baik Biau hu Suseng untuk menginsyafkan dirinya, maka tak terlukiskan betapa haru dan terima kasihnya terhadap budi luhur dan jiwa besar Biau-hu Suseng yang telah mempertahankan karier dan nama baiknya, sejak itu meski tidak pernah ketemu lagi, tapi dalam sarubarinya amat mengagumi dan menaruh hormat setinggi-tingginya tethadap Biau-hu Suseng. Sejak peristiwa itu untuk beberapa lamanya dia melanglang-buana mencari jejak Biau-hu Suseng, bukan ingin menantang duel lagi, tapi untuk mengikat persahabatan, mohon petunjuk dan menyatakan terima kasihnya akan budi kebaikannya. Tapi telah puluhan tahun sampai sekarang, tidak pernah dia bertemu lagi dengan Biau-hu Suseng, namun bahwa Biau-hu Suseng telah mempertahankan reputasinya dikalangan Kangouw, selama hidup tak akan terlupakan olehnya. Kini dari badan pemuda yang ditolongnya ini dia mendapatkan senjata khusus yang dahulu dia sering dengar adalah gaman Biau-hu Suseng yang tunggal, maka tahulah dia bahwa pemuda yang sudah sekarat dan harus di tolongnya ini pasti punya hubungan erat dengan Biau-hu Suseng yang dipujanya dulu. Sudah tentu bukan kepalang senangnya hati Siangkoan Bu, tak nyana

setelah Pakkiong Yau-Liong ditolongnya hingga siuman, setelah tanya jawab berlangsung, baru dia tahu bahwa Biau-hu Suseng yang dipujanya itu ternyata sudah meninggal dunia, betapa hatinya takkan rawan dan pilu ? Namun secara tak langsung dia sudah menolong murid Biau-hu Suseng, berarti suatu imbalan juga bagi kebaikan Biau-hu Suseng dulu kepadanya, maka dia berkeputusan untuk berusaha semaksimal mungkin menolong pemuda yang sudah kronis keadaannya itu sebagai imbalan budi kebaikan Biau-hu Suseng atas pemuda yang satu ini. Setelah menghela napas, dia berkata: “Tanpa terasa tiga puluh tahun telah berselang, sungguh tak nyana bahwa beliau telah meninggal, Hian-tit (keponakan), bolehlah kau merawat luka-lukamu disini dengan tenang. Anggaplah tempat iniseperti rumahmu sendiri, entah bagaimana Hian-tit bisa mengalami nasib seburuk ini ” Tanpa terasa Pakkiong Yau Liong menarik napas panjang, maka dia tuturkan seluruh pengalamannya kepada tuan penolongnya ini. Tiba-tiba Siangkoan ceng melangkah masuk sambil membawa semangkok obat yang masih panas mengepulkan asap putih, sekilas dia pandang Pakkiong Yau-Liong, lalu berkata lirih kepada Siangkoan Bu: “Ayah, obatnya sudah kumasak.” Maka sejak hari itu Pakkiong Yau-Liong menetap dirumah Tabib sakti atau Siangkoan Bu, meski hati merasa rikuh, tapi apa boleh buat, karena kondisi badannya memang teramat lemah dan dia perlu perawatan yang teliti. Berkat pengobatan Siangkoan Bu yang telaten dan cermat, meski keadaan Pakkiong Yau-Liong teramat parah, sebulan kemudian kesehatannya sudah memperoleh banyak kemajuan- Malam telah larut, bunga salju tampak bertaburan diangkasa. Rebah diatas ranjang, entah mengapa Pakkiong Yau Liong tidak bisa pulas, hatinya risau, dia menghela napas panjang. Dendam kesumat, budi pertolongan, entah kapan baru dia bisa membalasnya, walau kesehatannya sudah sembuh, tapi dia masih merasakan kondisi badannya masih teramat lemah, lebih prihatin lagi karena Kungfunya sudah sekian lama terbengkalai. Tiba-tiba sebuah pikiran menggelitik sanubarinya, pelan-pelan dia menyingkap selimut dan mengenakan baju lalu beranjak perlahan-lahan keluar rumah. Diluar kamarnya adalah sebuah pekarangan kecil dalam lingkungan rumah besar, air dalam empang sudah membeku dan dilapisi salju, beberapa

pucuk pohon sakura tampak mekar dan mengeluarkan bau harum semerbak. Salju masih terus melayang-layang di angkasa, hawa sedingin ini, semua orang tentu sudah tertidur lelap. suasana hening lelap. Tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong menggigil kedinginan, hembusan angin lalu membawa harum bunga ternyata tidak kuat lagi ditahannya, tapi tanpa hiraukan keadaan sendiri dia melangkah ketengah pekarangan. Di tengah taburan kembang salju, pelan-pelan Pakkiong Yau-Liong mengerahkan hawa muminya, lalu dia mulai menggerakkan tubuhnya pelan-pelan, Kungfunya memang sudah lama terbengkalai, maka dia merasa perlu untuk mulai latihan lagi, tapi baru dua tiga jurus, napasnya sudah mulai memburu, terasa betapa berat dia menggunakan tenaga, tetapi dengan tersenyum dia tetap latihan seorang diri. Entah kenapa perasaan lama kelamaan menjadi longgar, hatinya riang dan gembira. “Bluk” tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong tersungku rjatuh ditanah bersalju. Dalam waktu sekejap itulah, sesosok bayangan tampak berkelebat memburu kesamping Pakkiong Yau-Liong terus memapahnya bangun. Seketika hidung Pakkiong Yau-Liong di-rangsang oleh bau yang menyegarkannya, jelas bukan harumnya kembang sakura, tapi bau wangi yang tidak bisa dia bayangkan, karena bau wangi itu seolah-olah membuatnya mabuk dan menimbulkan rasa romantis. Pakkiong Yau-Liong menarik napas serta mengaturnya pelan-pelan, lalu dia angkat kepalanya dan seketika dia berdiri melenggong. orang yang memapahnya bangun ternyata memiliki seraut wajah nan molek. terutama sepasang bola matanya yang bening, seperti mata yang bisa berbicara saja, bola mata yang sudah terukir dalam sanubarinya dan tak akan terlupakan selama hidup, Dia bukan lain adalah gadis cantik yang pernah dilihatnya malah melabraknya dengan sengit waktu di ceng-hun kok saat Pakkiong Yau-Liong menyamar Toh-bing-sik-mo, yaitu Tio Swat-in, gadis berbakti yang ingin menuntut balas kematian ayahnya. Sesaat Pakkiong Yau-Liong menatapnya lekat-lekat, beberapa kali mulutnya terbuka, tapi hanya kuasa mengucapkan separah kata. “Kau… ” Dia mengangguk perlahan, ujung bibir-nya yang mungil mengulum senyum manis, senyum yang menggiurkan. pada detik itulah tanpa terasa empat tangan saling genggam, meski gemetar tapi makin kencang dan erat. Dua sejoli yang mengalami nasib sama, penderitaan yang sama pula,

sehingga berpadulah perasaan yang sukar dilukiskan itu serta menarik rasa simpati satu dengan yang lain- Dan kini nasib mempertemukan mereka pula ditengah malam hujan salju ini, segala sesuatunya seperti sudah diatur, betapa murni dan tulus, serta agung tali asmara telah memadu hati mereka, sama-sama meresap dalam lubuk hati mereka yang paling dalam. Entah bahagia atau malapetaka bakal menimpa mereka dalam menghadapi hari-hari yang bakal menjelang ini? Nasib tidak mungkin dijangkau oleh manusia dan tidak bisa diramaikan sebelumnya, siapapun tak akan perduli juga tidak mau memikirkannya didalam suasana yang semesta ini, karena semua itu hanya akan memeras keringat dan merisaukan hati belaka. Lekas sekali musim dingin telah berlalu, musim semi nan indah permai dan sejuk telah tiba. Pagi itu sang surya memancarkan cahaya nan cemerlang menerangi jagat raya, suasana hangat menjalar dalam sanubari setiap insan kehidupan didunia ini. Dua bayangan orang tampak bergerak dipegunungan Ai-lo-san diwilayah In-lam, mereka meluncur dari dalam hutan menuju kearah timur. Seorang pemuda berusia dua puluh satu, walau badannya kelihatan agak kurus, tapi tampangnya kelihatan gagah dan ganteng. Temannya adalah seorang gadis belia berusia tujuh belasan, punggung mereka menggendong pedang, sehingga tampak betapa perkasa dan gagah mereka. Mereka bukan lain adalah Pakkiong Yau-Liong dan Tio swat- in-Wajah mereka kelihatan kotor berdebu, pakaian lusuh, kelihatan amat lelah secelah melakukan perjalanan jauh. Kira-kira dua bulan yang lalu, meski kesehatan Pakkiong Yau-Liong belum sembuh seluruhnya, tapi tekad menuntut balas membakar hatinya, meski Siangkoan Bu sua mi isteri menahan serta membujuknya, tapi tekad Pak klong Yau-Liong sudah teguh, maka mereka mohon diri dan berpisah dengan tuan penolong mereka, tanpa menghiraukan perjalanan jauh meluruk ke Biau-kiang hendak mencari jejak Toh-bing-sik-mo untuk menuntut balas kepada musuh besar mereka bersama. Kini mereka sudah berada di Ai lo-san daerah suku Biau, tidak jarang mereka mencari tahu kepada penduduk setempat, sayang karena bahasa yang tidak sama sehingga sukar mereka berkomunikasi dengan orang-orang yang ditanyai. Belasan hari sudah lalu, kelompok demi kelompok, gua demi gua sudah mereka jelajahi, tapi sukar mereka menemukan jejak Toh-bing-sik-mo sulit pula mendapat keterangan dari mulut orang-orang Biau.

Kini mereka sudah tiba diperbatasan yang membatasi kehidupan suku suku Biau yang masih liar dengan suku Biau yang sudah mengenal hidup baru bermasyarakat dengan dunia luar, di daerah suku Biau yang terisolir ini, hakikatnya Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat- in asing sama sekali, mereka hanya tahu menjelajah dan menjelajah dari utara ke selatan, dari barat kembali ketimur, mencari dan mencari terus tidak kenal lelah, tak pernah mereka berputus asa, walau sejauh ini mereka belum memperoleh berita apapua atau menemukan jejak musuhnya. Keyakinan teguh menghayati mereka, kalau ucapan Ni Ping-ji dapat dipercaya, mereka percaya pasti suatu hari mereka dapat menemui musuh besar mereka Toh bing-sik mo. Setelah menarik napas panjang, mereka duduk istirahat dibawah dinding batu yang berada dlpinggir hutan. Pakkiong Yau-Liong menurunkan buntalan rangsum, tanpa bicara bersama Tio Swat-in mereka makan sekenyang2-nya lalu membuka kantong air serta meneguk air dengan nikmatnya, namun mereka hanya terbatas minum tiga teguk, kantong air merekapun telah kosong. Saking lelahnya mereka jadi malas bergerak. perut sudah kenyang, rasa dahaga juga teratasi, biarlah sebentar lagi baru mencari sumber air. Maka mereka merebahkan diri dibawah dinding yang sedikit lekuk kedalam, istirahat dengan santai.

Tio Swat-in tidur miring disamping Pakkiong Yau-Liong, dengan senyum manis dia mengawasi Pakkiong Yau-Liong, pelan-pelan dia memejamkan bola matanya yang bundar besar. Angin sepoi-sepoi terasa semilir dan sejuk. rasanya nyaman dan menyegarkan. Pakkiong Yau- Liong rebah celentang, kedua telapak tangannya menjadi bantal, matanya lurus keangkasa mengawasi gumpalan mega dilangit. Tapi tak ada hasratnya mengikuti perobahan cuaca, perobahan gumpalan mega yang tidak menentu itu.

Otaknya kini sedang berpikir tentang tugas dan beban yang dipikulnya belum tercapai terasa betapa berat dan sukar tugas yang dipikulnya, maklum Toh-bing sik-mo atau Tok-ni-kau hun Ni Ping-ji adalah musuh besar yang sukar dihadapi. Tapi ..tiba-tiba alisnya bertaut, sorot matanyapun memancarkan sinar khawatir dan rawan- Bila angin musim semi yang membawa harumnya kembang menghembus

lalu membuat badannya yang sudah letih ini seperti luluh dan lunglai saja, maka tanpa disadarinya wajahnya telah mengulum senyum. Terbayang betapi indah masa depan bersama Tio Swat-in yang kini berada di sampingnya, akan dicari suatu tempat yang bagus membelakangi gunung dipinggir sungai hidup tentram dan bahagia, lepas dan keramaian dunia, hidup rukun sampai tua. ah, betapa bahagia, begitu asyik, manis dan mesra. Waktu dia menoleh mengawasi Tto Swat-in, pelan-pelan dia genggam jari-jari Tio Swat in, lalu memejamkan mata. Perjalanan beberapa hari ini memang memakan tenaga dan menguras seluruh kekuatan mereka, istirahat di tempat sejuk dengan pemandangan seindah danpermai ini, tanpa merasa mereka tidur berpelukan dengan nyenyak. Entah berapa lama mereka tertetap. tiba-tiba suara aneh melengking tajam menggugah Pakkiong Yau-Liong dari mimpinya.

Secara reflek Pakkiong Yau-Liong berjingkrak duduk, dilihatnya Tio Swat-in mendekap mulut dengan gaya setengah tidur menatap ke sela-sela dinding gunung dua tombak disebelah kanan, seekor binatang aneh tengah melata keluar kearah mereka. Ternyata hari sudah menjelang senja, sang surya masih memancarkan cahayanya yang terakhir sebelum kembali keperaduannya. Tampak binatang aneh itu panjang empat kaki, bentuk mirip katak tapi berkaki enam, seluruh badannya dihiasi bintik-bintik hijau yang benjol-benjol, kepalanya persegi, bola matanya sebesar tinjU, memancarkan cahaya merah, ekornya pendek cuma setengah kaki tampak bergerak pergi datang, dengan tatapan tajam katak puru itu tengah mengincar mereka. Semakin dekat moncongnya yang besar berwarna merah darah terbuka lebar mengeluarkan suara aneh yang membisingkan, lidahnya yang merah panjang menjulur keluar masuk menyemburkan uap putih, bau amis yang memualkan merangsang hidung.

Tidak sedikit binatang aneh beracUn yang pernah mereka saksikan, tapi bentuk aneh dari binatang yang satu ini sungguh teramat ganjil, tanpa merasa mereka merinding dan berdiri bulU kudUknya. Pakkiong Yau-liong tahu bahwa binatang aneh ini pasti beracun jahat. Ternyata binatang aneh dengan kepala persegi empat bermata tunggal ditengah dengan benjolan hijau yang bertaburan di tubuhnya ini bernama

Hwe-to-tan-toh (katak puru beracun api), binatang beracun yang jarang ada dan sukar terlihat, racunnya teramat jahat sekali. Seribu tahun baru Hwe-tok-tan-toh bersetubuh sekali dan menelorkan sekitar lima puluhan telor, habis bersetubuh katak puru yang jantan pasti mati saking kenikmatan dan kehabisan tenaga, sementara yang betina pasti melalap habis bangkai sang jantan, lalu mencari suatu tempat yang lembab mengeram dua tahun, setelah telurnya menetas maka katak puru betina inipun matilah. Yang jelas katak puru ini hanya bisa hidup seribu tahun, mungkin yang jantan bisa hidup lebih lama lagi, tapi itu pun ditentukan keadaan dan lingkungannya.

Begitu telur keluar dari rahim induknya terkena angin maka telur itu pun menetas panjang setengah kaki, namun lima puluhan katak puru yang baru menetas itu pasti akan saling bunuh dan caplok hingga tinggal seekor saja yang masih hidup, Seratus tahun baru katak puru bertambal besar satu kaki panjangnya, dari benjol-benjol daging kasar diseluruh tubuhnya itulah racun jahatnya menguap keluar, binatang atau manusia bila terkena racunnya, dalam jangka sehari kalau tidak terobati, jiwa pasti melayang.

Bila katak puru sudah beusia delapan ratus tahun lebih sukar dihadapi, semburan hawa putih dari mulutnya membawa kadar racun yang jahat, dalam jarak satu tombak dapat melukai orang, hawa panas yang keluar dari badannya, menyebabkan enam tombak disekitar badannya mendekam, tetumbuhan tiada yang bisa hidup subur, semuanya mati kekeringan. Racun katak puru juga dinamakan racun api, manusia atau binatang yang terkena racun api, badannya akan terbakar dan akhirnya mati kering, begitu ganasnya racun itu bekerja dalam jangka sehari sang korban pasti mati dengan badan menjadi abu, tulang-belulangpun tidak ketinggalan lagi. Bila usianya sudah mencapai seribu tahun katak puru betina didesak oleh kebutuhan lahiriahnya, secara alamiah badannya akan mengeluarkan bau yang aneh, bila tertiup angin kadar baunya bisa mencapai ratusan li jauhnya. Begitu mencium bau aneh ini, katak puru jantan akan segera meluruk datang meski menghadapi rintangan apapun.

Kalau sekaligus datang dua atau tiga ekor, ketiganya akan bertarung sampat mati, dan pemenangnya akan memiliki si betina.

Bila dalam jangka setahun tidak berhasil mengundang katak puru jantan, maka bau aneh itu masih terus keluar hingga habis sendiri, itu berarti berakhir pula hidup katak puru betina. Karena seringnya terjadi perebutan dan bunuh membunuh, dituntut oleh keperluan lahiriah pula, maka katak puru ini memang sudah jarang ada dan sukar ditemukan, boleh dikata termasuk binatang aneh yang sudah hampir punah di dunia ini. Secara tidak terduga, hari ini Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in memergoki binatang aneh yang ganas di hutan liar yang tidak pernah diinjak maausia ini, mungkin memang sudah ditakdirkan mereka harus menghadapi petaka ini. katak puru itui masih terus mengeluarkan suara aneh, asap putih masih terus menyembur dari mulutnya, lidah merah sepanjang satu kaki terus mulur masuk. bola matanya yang bundar tepat ditengah kepalanya yang persegi melotot semakin besar. Sesaat Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat in sama-sama kaget dan melenggong oleh binatang aneh yang tiba-tiba muncul ini. Saking kaget dan takutnya, serta merta Tio Swat-in menegakkan badan seraya melolos pedang ditangan.

Tapi pada detik yang sama, katak puru masih delapan kaki di depan mereka tiba-tiba menggerakkan kepalanya yang persegi, dimana keenam kakinya memancal, secepat kilat tubuhnya sudah melesat lurus menerjang kearah Tio Swat-in yang sudah melolos pedang. Bukan kepalang kaget Tio Swat-in lekas dia berkelit sambil miring kesamping, pedang pusaka ditangannnya secara reftek menabas dengan sembilan bagian tenaganya kearah perut katak puru yang menerjang tiba. Dalam waktu yang sama, tampak sinar emas gemerdep dalam waktu singkat itu Pakkiong Yau-Liong juga sudah mengeluarkan tombak lemasnya, dengan jurus Le-cu kian-kian-toh menusuk ke tenggorokan katak puru, bukan saja serangannya sangat cepat, aneh, tenaga yang dikerahkan juga cukup besar. -ooOdwOoo-

Jilid 9 : Racun katak puru

PEKIK suara katak puru makin keras dan gencar, tubuhnya tiba-tiba mengendap turun secara tepat menghindar dari tusukan tombak Pakkiong Yau-Liong yang ganas, sementara ekornya yang setengah kaki itu tiba-tiba mengipat. “Trang” entah bagaimana tahu-tahu pedang Tio Swat-in kena ditangkisnya terpental kepinggir. Disamping kaget Tio Swat-in batu insyaf pula bahwa katak puru ini ternyata lihay, ekornya tidak mempan senjata tajam pula, tenaga kipasan ekornya ternyata mampu menangkis pedangnya hingga hampir dia tidak kuat memegang senjatanya pula. Bahwa tusukan tombaknya luput, diam-diam Pakkiong Yau-Liong juga kaget, sungguh tak diduganya bahwa binatang yang kelihatan bergerak lamban ini ternyata bisa bergerak setangkas ini, kalau ekornya tidak mempan senjata, maka kulit badannya yang benjol-benjol kehijauan itu mungkin juga kebal.

Hanya segebrak saja Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in lantas insyaf bahwa binatang dengan bentuk aneh dan ganjil ini teramat sukar dihadapi. Sekali kurang hati- hati, bukan mustahil awak sendiri bisa celaka dan melayang jiwanya. Karena menubruk tempat kosong, katak puru mengeluarkan suara semakin keras dan membisingkan, begitu menyentuh tanah, ke enam kakinya ternyata bergerak lincah dan mencelat membalik tubuh, langsung menubruk pula kearah Tio Swat-in-

Kembali Tio Swat-in menyingkir seraya menggerakkan pergelangan tangan, dimana sinar dingin berkelebat, pedangnya telah membelah pula kearah katak puru yang menubruk datang. Dikala pedangnya berputar itu, benaknya berpikir: “Kelihatannya binatang ini tak mempan senjata, lalu kesasaran mana pedangku harus kutujukan ?” Karena sedikit bimbang ini gerak-gerik sedikit merandek. Hanya terpaut sedetik saja, katakpum itupun sudah menubruk tiba dengan bau amis yang memualkan merangsang hidung, ekornya tegak kaku terus menyapu ke arah Tio Swat-in-

Gerak perobahan katak puru kali ini ternyata lebih cepat dan tangkas, serangannyapun terlalu mendadak dan sukar diduga pula, betapapun Tio Swat-in tidak menyangka bahwa binatang aneh ini masih mampu merobah gerakan balas menyerang pula. Dalam detik-detik kritis ini, jelas Tio Swat-in takkan mampu menyelamatkan diri dari sabetan ekor katak puru. Sudah tentu hal ini sangat mengejutkan Pakkiong YauLiong, mendadak dia gerakkan tombaknya terus menusuk sekuatnya kearah katak puru.

Dia pikir dengan tenaga tusukan tombak nya paling tidak dapat mendorong mundur binatang aneh yang masih terapung diudara, sehingga Tio Swat- in punya kesempatan meluputkan diri dari sabetan ekor lawan- Lwekang sudah dikerahkan sehingga tombak lemasnya itu tegak lurus menusuk kedepan, sekilas dilihatnya bola mata tunggal yang mencorong merah itu, tergerak hatinya, kalau sekujur badannya kebal senjata, maka bola mata sebesar tinju itu pasti tempat paling lemah yang mematikan- Kontan dia menekan tangan sehingga ujung tombaknya berputar mengincar bola mata katak puru, serangan secepat kilat. Gerak serangan yang berobah secepat kilat serta mendadak ini sungguh lihay dan mengejutkan-

Agaknya katak puru juga insyaf bahwa lawan telah tahu letak kelemahannya, tiba-tiba dia mengkeretkan kepala, tak sempat menyerang orang dengan gugup dia membalikkan badan terus mencelat mundur. Tapi daya tusukan tombak Pakkiong Yau-li-oog keras dan cepat, “Trak” tombaknya masih sempat menusuk batok kepalanya, walau tidak melukai, tetapi tenaga tusukan yang besar berhasil melempar katak puru itu jatuh setombakjauhnya. “Blang” badannya jatuh terbalik dengan perut meghadap kelangit.

Tapi sigap sekali katak puru telah mencelat berdiri pula diatas kakinya, sorot matanya kelihatan gusar menatap Pakkiong YauLiong, mulutnya menjerit pula dengan suaranya yang membisingkan, seolah-olah menantang dan ingin adu jiwa dengan Pakkiong Yau-li-ong. Tapi katak puru juga tahu bahwa kedua orang lawannya ini tidak mudah dirobohkan, titik kelemahan sendiri juga telah diketahui lawan, meski mulut terus berceloteh dan lidah merahnya masih mulur masuk. kini dia mulai menyemburkan hawa putih, kedua kaki depannya terangkat seperti mencakar-cakar, namun tidak berani bertindak gegabah pula.

Setelah disergap dua kali oleh katak puru, Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in insyaf bahwa binatang berbisa ini sukar dihadapi, sedikit meleng bisa celaka akibatnya, terutama Tio Swat-in, di samping jijik hatinya pun merasa takut, maka dia tidak berani lena. Diam tak bergerak mereka bersiaga serta mencari akal cara bagaimana mengalahkan binatang berbisa ini. Tanpa bersuara akhirnya dua orang dan satu binatang berhadapan saling pandang dan menunggu kesempatan untuk membinasakan lawannya.

Satu hal yang tidak menguntungkan Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in, setiap kali angin menghembus datang, selalu membawa bau amis yang memualkan, sehingga menimbulkan rasa tegang yang memuncak. Sang surya telah mulai terbenam, tabir malam sudah mulai menyelimuti mayapada. Bulan sabit sudah mulai bertengger dipucuk pohon, sehingga kegelapan alam semesta ini menjadi remang remang. Tapi bola mata katak puru ternyata masih mencorong terang.

Benjol-benjol tubuhnya yang berwarna hijau seperti mengandung pospor memancarkan sinar gemerdep hijau, kini mulutnya mulai memekik-mekik pula, suaranya tetap keras bernada tinggi. Karena bersiaga dengan sepenuh semangat dan perhatiannya, keringat tampak menghias jidat Tio Swat- in, karena terlalu sering mencium bau yang memualkan, lama kelamaan dia merasa kepalanya pusing. Tapi sedikitpun dia tidak berani lena, tetap bersiaga dan waspada. Demikian pula keadaan Pakkiong Yau-Liong, lambat laun kepalanya juga mulai pusing.

Diam-diam Pakkiong Yau-Liong menghela napas, batinnya: “Sayang kondisiku sekarang jauh lebih lemah, Lwekang juga tidak setangguh dulu, lalu buat apa kami membuang waktu dan banyak menghabiskan tenaga, bila kurang hati-hati bukan mustahil jiwa sendiri yang melayang percuma ? Bila bisa pergi kenapa tidak menghindar saja?” Maka diam-diam Pakkiong Yau-Liong menarik ujung baju Tio Swat- in serta memberi kedipan mata.

Sayang Tio Swat in yang tumplek seluruh perhatian mengawasi binatang aneh itu, tidak menyadari atau mengerti apa maksud isyarat Pakkiong Yau-Liong. Apa boleh buat terpaksa Pakkiong Yau-Liong menarik lengannya serta diajak menyurut mundur selangkah demi selangkah. Akan tetapi katak puru sedikitpun tidak memberi kelonggaran, kalau

mereka mundur dia justru maju mendesak, sorot matanya kelihatan berobah lebih aneh dan tajam, suaranya juga lebih keras dan menusuk telinga.

Kini Tio Swat-in sudah sadar apa maksud Pakkiong Yau-Liong, begitu Pakkiong Yau-Liong menghardik lekas dia lantas menjejak kaki sekuatnya, bersama Pakkiong Yau-Liong kedua orang ini mencelat mundur beberapa tombak jauhnya. Tapi pada waktu yang sama, katak puru juga menggerakkan kepalanya, “Wut” dengan membawa angin amis yang memualkan, seCepat kilat katak puru melesat kearah mereka berdua. Kali ini katak puru sudah siap dan menghimpun kekuatan sejak tadi, maka daya luncur sungguh Cepat sekali, jauh lebih pesat dari terkaman yang terdahulu. Begitu mendorong pundak Tio Swat-in, tanpa berjanji mereka menCelat berpencar ke kanan kiri.

Ternyata daya luncur katak puru tiba-tiba seperti berhenti ditengah udara, ditengah udara tubuhnya mendadak bisa berputar seperti menari, dengan kepala sebagai titik berat badannya, maka terciptalah sebuah lingkaran bulat warna hijau seluas delapan kaki, deru sambaran anginnya kencang sekali, kekuatannyapun lebih mengejutkan, ekornya yang setengah kaki itu tiba-tiba menyabet pula, laksana gugur gunung saja melanda kearah mereka.

Kembali Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in terperanjat, untung mereka cukup tangkas, tanpa ayal keduanya lantas lompat menghindar pula. Hanya sekejap katak puru ternyata mampu mendesak dan membuat kerepotan dua jago kosen Bulim untuk menghindar dengan gerakan gugup dan pontang-panting, bahwasanya bukan saja terdesak, kesempatan balas menyerangpun tidak mampu lagi. Akan tetapi serangan berantai katak puru ternyata tidak terhenti sampai disitu saja, luar biasa memang mahluk aneh ini, ditengah udara kembali dia berputar dua lingkaran dengan daya luncur yang tetap kencang, begitu melihat kedua lawan menyingkir pula, bebas dari jangkaUan serangan kabut hitam yang disemburkan dari mulutnya.

Akhirnya habis juga daya luncuran katak puru, tubuhnya berdentam diatas tanah berbatu namun sigap sekali dia sudah membuat ancang-ancang pula sambil berceloteh dengan suara yang membisingkan, sekonyong-konyong

ekor pendeknya itu menggelegar menghantam tanah, kontan badannya melenting keatas terus melejit mumbul pula menubruk kearah Tio Swat-in-Baru saja kaki Tio Swat-in menyentuh bumi, suara bising dibelakang mendadak memekak telinga pula, hatinya lantas berfirasat jelek akan keadaan awak sendiri, maka didengarnya suara “Plak” yang nyaring menimbulkan kepulan debu, mahluk aneh itu telah menubruk serong pula kearahnya secepat kilat. “Hiiiiaaaaat” Tio Swat-in membentak gusar sambil menggetar pergelangan tangan, pedang mestikanya terbalik, dengan tepat dia incar bola mata katak puru, terus menusuknya dengan penuh kebencian.

Serangan pedang Tio Swat-in cepat lagi ganas, namun tubrukan katak puru juga tidak kurang hebatnya, mau tidak mau Tio Swat-in berpikir: “coba kali ini dapatkah kau lolos dari pedangku? ” Tetapi diluar tahunya bahwa kata puru panjang empat kaki ini, meski belum mampu menyemburkan asap melukai lawan, tapi usianya juga sudah mencapai empat ratusan tahun, badannya kebal, gerak-geriknya Cukup tangkas lagi, mana semudah itu dia lukai. Kelihatannya tusukan pedang itu pasti mengenai sasaran, diam-diam Tio Swat-in sudah kegirangan, maka dia salurkan seluruh tenaganya keujung pedang.

Akan tetapi dilain detik detik berbahaya itu, katak puru ternyata dapat menggelengkan kepalanya yang segi empat itu, seCara kebetulan dapat meluputkan matanya dari tusukan pedang Tio Swat-in, semenrara tubuhnya tetap meluncur kedepan tanpa berubah menerjang ke dada Tio Swat-in-Jangan kata dada kena digigit, umpama badan keserempet saja bila sampai keluar darah dalam jangka tiga jam jiwa pasti melayang dan sehari kemudian sekujur badan akan hangus menjadi abu.

Ujung pedang Tio Swat In hanya serambut saja menyelonong lewat dari samping bola mata katak puru, sementara katak puru itu tetap meluncur kearahnya. Karuan saking kaget dan ngeri berobah pucat muka Tio Swat-in, keringat tampak bertetes diatas jidatnya. Dalam menusukkan pedangnya tadi Tio Swat-in yakin serangannya pasti berhasil maka dia kerahkan seluruh tenaganya, sehingga tubuhnya ikut tersuruk kedepan dan tak mungkin bisa menarik diri pula, celakanya lagi

badannya seperti sengaja diserahkan ke mulut katak puru, kontan dia merinding dan ngeri, diam-diam hatinya mengeluh: “celaka..”

Akan tetapi perjuangan hidup tetap bersemi dalam benaknya, hal ini secara reflek menyentak otaknya sehingga tubuhnya kuasa dimiringkan kepinggir, walau dia tahu betapapun cepat gerakkannya, jelas dirinya tak akan sempat meluputkan diri lagi. Pada detik-detik gawat itulah mendadak sebuah gerungan gusar menggelegar, tampak dengan mata melotot, rona wajahnya memperlihatkan betapa teguh dan besar keyakinannya, mendadak dia ulur kelima jari tangan kirinya, secepat kilat menangkap ekor katak puru.

Waktu katak puru menggabu ekornya di atas tanah terus melesat kearah Tio Swat-in, ternyata Pakkiong Yau-Liong juga sudah menyelinap maju, Cuma katak puru menyerang Tio Swat-in, badannya kebal lagi, meski gugup Pakkiong Yau-Liong jadi bingung untuk turun tangan-Kini melihat bahaya mengancam jiwa Tio Swat-in, bila dia tidak lekas bertindak, katak puru akan melukai kekasihnya, maka tanpa pikir segera dia tangkap ekor katak puru, kedua kaki pasang kuda-kuda terus membetot sekuat-kuatnya.

Betapa besar betotan Pakkiong Yau-Liong tenaga yang dikerahkan mampu menarik benda ribuan kati, sehingga katak puru yang menerjang kearah Tio Swat-lot terapung di udara dan kena ditariknya mundur beberapa kaki, sementara sigap sekali Tio Swat-in sudah berhasil kebelakang satu tombak lebih. Bahwa serangannya tsk berhasil tahu-tahu ekornya, dipegang oleh Pakkiong Yau Liong, di kala tubuhnya terbetot mundur dan masih terapung di atas udara itu, mulutnya menjerit-jerit pula sambil berontak menekuk dan meluruskan tubuhnya, agaknya tindakan Pakkiong Yau-Liong telah membakar sifat liarnya.

Terasa goncangan besar menggetar seluruh lengan Pakkiong Yau-Liong hampir tidak kuasa dia memegang kencang ekor binatang beracun itu. Mendadak katak puru meliuk badan serta melintir balik ke atas, mulutnya mencaplok ketangan Pakkiong Yau-Liong yang memegang ekornya. Karuan Pakkiong Yau-Liong kaget, betapapun dia tidak kira bahwa mahluk aneh ini bisa meronta sedemikian rupa, dalam keadaan serba susah ini, betapapun sebetulnya Pakkiong Yau-Liong tidak akan membebaskan

pegangan, maka dia menghentak tombak lemasnya menusuk kebola mata katak puru yang menyalip.

Semua ini terjadi dan berlangsung dikala Tio Swat-in kebelakang dan berhasil menguasai dirinya pula. Mulutnya terlongo, bola matanya yang jeli bening terbelalak namun memancarkan sinar buram dan kuatir. Pedang masih dipegang, namun sekujur badan terasa dingin dan kuyup oleh kering sesaat dia berdiri mematung. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa situasi bisa berobah segawat ini, bukan saja katak puru tidak mempan senjata, ternyata mampu meronta dan balas menggigit, dalam keadaan tidak menguntungkan ini, jelas Pakkiong Yau-Liong bakal d rugikan.

Namun kecuali melenggong dan gugup setengah mati, dalam waktu sesingkat ini, apa pula yang bisa dia lakukan? Jangan kata tak mungkin membantu, otaknya juga seperti beku tak mampu mencari akal untuk mengatasi situasi yang gawat ini, padahal dia berdiri dalam jarak setombak. mampu berbuat apa dirinya… ? Dalam detik-detik yang akan menentukan aku mati atau kau yang mampus itulah. Kalau tidak berada dalam keadaan kepepet betapapun katak puru tidak boleh disentuh atau di tabrak. Tampak kepalanya seperti memagut naik, mumpung Pakkiong Yau-Liong masih pegang ekornya, dan dijinjing keatas, mendadak tubuhnya membalik.

Sejak disiksa dan diperlakukan sebagai binatang oleh Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji dalam penjara batu itu, kondisi badan Pakkiong Yau-Liong terlalu lemah dan kosong, walau Siangkoan Bu telah menyembuhkan luka-luka Pakkiong Yau-Liong dengan obat-obat mujarab tapi keadaannya sekarang belum sesehat badannya setahun yang lalu. Getaran katak puru yang meronta karena tergantung di udara terasa menambah berat beban tangannya yang telah kerahkan setaker tenaganya, padahal hampir terlepas pegangannya. Kini dia harus menusukkan tombak lemasnya pula, berhasil atau tidak serangannya, betapapun telah mengkorting tenaga tangan kirinya.

Maka begitu katak putu meronta dan menyendal, Pakkiong Yau-Liong merasa lengannya tergetar keras, telapak tangannya seketika sakit luar biasa, tahu-tahu katak puru sudah terlepas dari pegangannya dan melesat

terbang kesana, ekornya yang kaku panjang setengah kaki tampak berlepotan darah. Dari samping Tio Swat in melihat jelas semua kejadian ini, sebat sekali dia melompat kesamping Pakkiong Yau-Liong, suaranya panik dan gemetar selirih semut: “Kau ” langsung dia pegang tangan kiri serta memeriksa luka-luka telapak tangannya.

Hanya sekejap Pakkiong Yau-Liong sudah merasa seluruh lengan kirinya kaku, termasuk telapak tangannya kesakitan luar biasa, panas seperti dibakar, rasa gatalpun tak tertahankan lagi. cepat Pakkiong Yau-Liong menarik tangan kirinya menghindar dari pegangan tangan Tio Swat-in yang sudah diulur.

Pakkiong Yau-Liong tahu gelagat teramat buruk bagi dirinya, karena perasaan sakit dan panas ini luar biasa, jelas bukan rasa sakit biasa bila kulit leCet saja. “Racun… ” dalam hati dia menjerit, dia insyaf bahwa dirinya telah keracunan-Untunglah dasar Lwekang Pakkiong Yau-Liong cukup tangguh dan berakar, lekas dia menghimpun hawa murni mengerahkan tenaga menutup jalan darah badannya supaya racun tidak menjalar lebih tinggi, katanya sambil mengawasi Tio Swat-in: “Tidak apa-apa, hanya lecet sedikit. Aku sudah mendapat akal bagaimana menghadapi binatang keparat ini… “

Sudah tentu Tio Swat-in tak percaya perkataan Pakkiong Yau-Liong, namun sebelum Pakkiong Yau-Liong habis bicara, katak puru telah membalik badan terus menggelinding sekali, bagai sebongkah batu saja mendadak menindih turun dari tengah udara “Minggir Swat-in” seru Pakkiong Yau-Liong, tidak mundur dia malah mendesak maju, tangan kanan terbalik, tombak singanya di ulur lurus sekeras toya, langsung mengepruk keatas katak puru yang menerjang tiba. “Plak” seperti tongkat memukul batu saja tombak Pakkiong Yau-Liong ternyata mental dan melengkung, tapi katak puru juga terpukul jatuh setombak jauhnya. “Blang” punggung menyentuh tanah, perut menghadap kelangit, beberapa kali dia harus meronta dengan kaki mencakar batu dia berhasil membalikkan badannya.

Begitu berdiri pula pada posisinya semula, katak puru mulai menyemburkan uap putih dari mulutnya, lidahnya kelihatan lebih mengerikan, ekor dan kepalanya bergoyang-goyang, mulutnya mengeluarkan suara ramai yang membising telinga, bola matanya yang menyala-nyala kelihatan lebih galak menatap Pakkiong Yau Liong, sesaat dia tidak bergerak. agaknya sudah jeri menghadapi lawan yang lihay ini.

Pakkiong Yau-Liong tahu bahwa dirinya sudah keracunan, maka dia tidak ingin Tio Swat-in yang masih segar bugar ini ikut celaka bersama dirinya, maka dia bertekad dengan sisa tenaganya sendiri untuk adu jiwa dengan katak puru beracun ini. Sambil membaling-baling kan tombak lemasnya, Pakkiong Yau-hong tatap katak puru yang juga mendelik gusar itu serta beranjak maju setindak demi setindak. Sambil menjerit katak puru menegakkan keenam kakinya, siap menerkam Pakkiong Yau-Liong menyerang. Dari pihak yang diserang Pakkiong Yau-Liong nekad balas menyerang, sayang napasnya sudah sengal-sengal, keringat telah membasahi jidatnya.

Bentuk katak puru sekarang juga lebih mengerikan dan mendirikan bulu roma, sinar hijau dan benjol-benjol kulit badannya kelihatan lebih nyata, demikian pula jeritan suaranya menandakan rasa ketegangan yang memuncak. Pakkiong Yau-Liong terus maju makin dekat, katak puru tetap menggeleng kepala menggoyang ekor. Lebih dekat, napas Pakkiong Yau Liong juga lebih memburu, sementara jerit suara katak puru lebih tajam, bengis dan galak memekak telinga. Sekonyong-konyong kaki katak puru yarg enam itu bergerak selincah belut memutar datar, secepat roda menggelinding tiba tiba menerjang kedua kaki Pakkiong Yau-Liong. Yang diserang sudah siaga, baru saja tombaknya hendak ditimpukkan, mendadak sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya. Sambil menggerung gusar mendadak Pakkiong Yau-Liong menjejak bumi, tubuhnya melejit beberapa kaki tingginya, katak puru sudah melesat tiba dibawah kakinya, mendadak dia kerahkan tenaga ribuan kati pula secara kekerasan menurunkan tubuhnya pula. Maksud Pakkiong Yau-flong dengan berat badan dirinya hendak menginjak punggung katak puru lalu dengan tenaga Jian-kin-tui memantek si katak ditanah supaya tidak mampu bergerak syukur bisa menindihnya mati

sehingga lawan tidak mampu mengganas pula, untuk menghadapi atau membunuhnya tentu tak periu banyak membuang tenaga lagi. Akal Pakkiong Yau-Liong memang bagus, namun begitu serangan, karena beberapa kali kena dipukul lawan, sudah tentu kali ini dia tidak semudah yang dahulu kena dia kali lawannya pula. Mendadak badannya mengegol terus menegakkan badan, kepala yang persegi itupun ikut tegak berdiri sambil membuka mulut lebar-lebar memagut ke kaki Pakkiong Yau-Liong yang menginjak turun. Gerakan kedua pihak cepat dan keras, mendadak pula, dalam detik detik sesingkat ini, keadaan Pakkiong Yau-Liong betul-betul amat bahaya. “Blaam.” sebuah bentakan nyaring pendek. dibarengi selarik sinar terang menyamber kearah titik kelemahan katak puru, yaitu bola mata mungil yang merah menyala itu. Ternyata meski jantung berdebar debar dan tegang mendadak melihat keadaan Pakkiong Yau-Liong yang berbahaya ini, betapa tak kan gugup hatinya? Bahna gugupnya tanpa pikir kontan dia timpukkan pedang mestika mengincar matanya. Sesaat sebelum pedang mustika Tio Swat-in mengenai sasaran, semprotan darah mendadak beterbangan diudara, sehingga bau amis yang memenuhi udara terasa lebih tebaL Kiranya pada detik¬detik yang menentukan itu, sebelum kedua kakinya dicaplok katak puru yang terpentang lebar, saking kaget, timbul akalnya. Sekenanya kedua kakinya saling pancal sehingga gerakan tubuhnya seperti tertahan dan bergantung diudara, tubuhnya sejajar dengan tanah, sementara tombaknya ditusukkan lurus kebawah tepat masuk ketenggorokkan katak puru. Dalam waktu sesingkat kilat berkelebat itu, kejadian terlalu mendadak pula, betapapun lincah dan gesit katak puru juga tak mungkin meluputkan diri lagi. Begitu darah muncrat dari mulutnya yang lebar, pedang mestika Tio Swat-in secara telakpun telah amblas menembus mata tunggalnya. Luka ditambah luka, saking kesakitan katak puru mengamuk dan meronta sejadi-jadi, batu yang berserakan disapu dan digulung beterbangan, sungguh dahsyat kekuatan katak puru disaat meregang jiwa. Ditengah suara gaduh dimana katak puru sedang berguling-guling, sesosok tubuh tampak terpental jumpalitan dan “Blang” terbanting keras ditanah. Ternyata Pakkiong Yau-Liong masih terapung diudara, begitu katak puru, meronta bergulingan, jelas dia tidak mungkin menyingkir atau

mengundurkan diri, di saat tubuhnya melayang turun tubuhnya ditumbuk oleh badan katak puru yang sedang meronta hingga terlempar setombak jauhnya. Lambat laun rontaan katak puru makin lemah dan melayanglah jiwanya setelah kehabisan darah dan tenaga. Dengan gugup dan gelisah Tio Swat-in berdiri disamping Pakkiong Yau-Liong yang duduk ditanah. Karena ditumbuk katak puru, hawa murni yang telah dikerahkan dalam tubuh Pakkiong Yau-Liong menjadi buyar, kadar racun yang tertahan dilengan seketika merembes kedalam badan. Kini dia merasakan sekujur badan lunglai, kerongkongan kering dan gatal, seolah-olah dia berada diatas tungku yang menyala baranya, panas badannya sukar tertahan lagi. Bulan sabit lebih tinggi, bayangan pohon laksana setan gentayangan. Setelah terjadi kegaduhan, kini keadaan kembali tenang dan sunyi. Dibawah sinar bulan sabit yang remang-remang, bangkai katak puru tampak menggeletak mengerikan, benjolan hijau ditubuhnya sudah tidak memancarkan sinar mengkilap lagi, demikian bola matanya belong sudah belong tertusuk pedang. Darah berceceran mengenangi tubuhnya, binatang beracun ini takkan bisa mengganas pula. Tapi bau amis badan dan darahnya sungguh memualkan. Tio Swat-in seperti kehabisan akal, dengan gelisah dia hanya bisa mengawasi Pak-klong Yau-Liong yang tersiksa, namun perasaannya seperti ditusuki ribuan jarum, jauh lebih baik menderita dari Pakkiong Yau Liong yang dicintainya ini, tiba-tiba dia teringat akan obat mujarap yang diberikan oleh Siangkoan Bu menjalang pemberangkatan mereka tempo hari. Lekas dia turunkan buntalannya serta membalik-balik isinya, akhirnya ditemukan sebotol Hiat-tok-san, lekas dia ambil kantong air dan siap mencekok puyer pemunah racun itu ke mulut Pakkiong Yau-Liong. Tapi kantong air ternyata telah kosong, karuan rasa gugup dan gelisahnya bukan main-“Air, air. Berikan aku air.” ditengah deritanya Pakkiong Yau-Liong, menjerit dengan suara sengau, tubuhnya mengejang dan kelejetan. Hampir pecah kepala Tio Swat-in saking gugup, rasa sesal mengeduk hati, kenapa tadi tidak selekasnya dia mencari sumber dan mengisi kantong airnya yang sudah kosong, lalu bagaimana sekarang dia harus mencekok puyer ini kemulut Pakkiong Yau-Liong? Pikiran Pakkiong Yau-Liong masih sadar meski rasa panas menjalar keseluruh tubuh, teraba darah ditubuhnya seperti mendidih, kulit

dagingnya sudah hangus, bela matanya merah dan melotot besar. Napasnya mendesau, lidah menjulur panjang keluar mulut, kulit mukanya berkerut merut, tubuhnya terus berkelejetan-saking tak tahan dia masih berusaha menjerir minta air. Pikirannya semakin kabur, mendadak dia mendengak sambil terkial-kial, gelak tawa aneh yang sudah biasa dia kumandangkan waktu di ceng-hun-kok dulu Mendengar nada tawa yang mengerikan ini Tio Swat-in sampai menggigit ngeri dan merinding. Tapi lekas dia tenangkan diri dan pusatkan pikiran, pikirnya: “Apakah aku harus tetap menjaganya disini? Atau lekas pergi cari air? MinUm obat membutuhkan air, keadaan Pakkiong Yau Liong yang mengering juga memerlukan air, maka lebih penting sekarang aku harus mencari air dan selekasnya kembali.” Akhirnya dia berkeputusan mengambil air, karena tanpa air, umpama dia tetap menunggu disamping Pakkiong Yau-Liong juga takkan dapat mengatasi keadaan yang fatal ini. Maka dia mendekatkan mulutnya dipinggir telinga Pakkiong Yau-Liong, katanya perlahan: “Kau tunggu dan tahan sekuatnya, aku akan cari air, sabarlah aku akan segera kembali.” Agaknya Pakkiong Yau-Liong amat tersiksa dan menderita keliwat batas, namun hatinya masih jernih, sekuatnya dia angkat kepala mengawasi Tio Swat-in dengan bola matanya yang melotot merah, lalu manggut sekali. Dengan berlinang air mata sekilas Tio Swat-in tatap Pakkiong Yau-Liong terus menyambar kantong air berlari pergi secepat terbang. Pakkiong Yau-flong seperti digembleng dalam siksa derita, namun sekuatnya dia kertak gigi menahan sakit dan panas, walau Tio Swat-in pergi membawa secercah harapan, apa lagi Pakkiong Yau-Liong masih muda, betapapun dia tidak rela meninggalkan dunia fana ini, karena masih banyak tugas yang belum sempat dia bereskan. Akhirnya siksa panas dan gatal itu tak tertahankan lagi, Pakkiong Yau-Liong meronta berguling-guling sambil menjerit-jetit, kedua tangannya mencengkram tanah, mencengkram dan mencengkram sampat amblas kedalam bumi. Tawa anehnya masih berkumandang, tapi tidak sekeras tadi, tubuhnya makin terus berguling hingga mencapai sela-sela batu darimana tadi katak puru keluar. Tubuh Pakkiong Yau-Liong tiba-tiba melonjak keatas, kepalanya terangkat, tampak wajahnya yang kurus itu kelihatan merah darah, lebih jelek lagi. Sela-sela batu gunung itu cukup lebar dan gelap. tapi disebelah dalam yang gelap sana tampak suatu benda putih sebesar tinju memancarkan cahayanya.

Mahluk apa pula yang menghuni sela-sela batu ini? Tubuhnya bergetar keras, kini dia tidak mampu menguasai diri sendiri, dia tahu bahwa jiwanya sudah diambang maut, sebentar lagi juga akan mati, kuatir Tio Swat in lekas kembali dan melihat keadaannya yang mengenaskan, atau kuatir Tio Swat-in celaka oleh mahluk jahat lainnya, maka dia berpikir. Jiwaku sudah dekat ajal, keracunan sehebat ini takkan mungkin sembuh, lebih baik dengan sisa tenagaku yang sudah tiada harapan hidup ini, sebelum Tio Swat-in kembali, aku telah membunuhnya pula.” Maka sekuatnya dia tahan sakit sambil menyeret tombak lemasnya dia merangkak kedalam sela-sela batu. Tiba-tiba hidung Pakkiong Yau-Liong yang diserang bau amis seperti mencium serangkum bau wangi semerbak. bau wangi yang dingin seketika membawa rasa segar badannya yang panas terbakar, siksa derita tiba-tiba menjadi berkurang. Maka dia lebih giat merambat, merambat makin dekat sinar putih yang tak bergerak di sela-sela batu sana. Pada hal dia sudah berada dipojok sela-sela batu gunung, sinar putih dalam kegelapan itu sudah dilihatnya jelas. Sekuatnya Pakkiong Yau-Liong angkat kepala dan membuka lebat matanya, sinar putih itu tidak mirip mata binatang, lalu benda apakah yang bisa memancarkan sinar putih dalam tempat segelap ini? . Sayang pandangan mata sudah kabur hingga tak kuasa dia melihat jelas benda apakah itu. Meski derita masih merayapi sekujur badan, tapi dia terus merambat dan merambat. Mendadak segulung hawa panas yang tak tertahankan lagi menerjang keluar dari pusarnya terus meledak dan menerjang keseluruh anggota badannya. Dibawah gempuran hawa panas didalam tubuh, Pakkiong Yau-Liong yang sudah sekarat bertambah parah lagi, kepalanya serasa pecah, setelah kelejetan beberapa kali, tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong terkulai semaput. Karena keracunan katak puru yang membakar badan, keadaan Pakkiong Yau Liong sekarang berada diambang kematian pula^ Sedetik Pakkiong Yeu-Liong semaput oleh penderitaan yang luar biasa, serangkum hawa wangi tiba tiba menghembus lewat, kontan Pakkiong Yau-Liong merasa sekujur badannya semilir dingin seperti habis mandi dalam empang es. sekuat tenaga dia kerahkan tenaga menegakkan badan serta menarik napas sedalam-dalamnya. Sekarang dia sudah yakin bahwa benda yang mengeluarkan bau harum ini, merupakan obat mujarap untuk menyembuhkan keracunan badannya. Apa

lagi setelah dia memenuhi paru-parunya dengan hawa wangi itu, pandangannyapun bertambah terang, maka dilihatnya di atas sela-sela dinding batu sana berpancar sinar putih, itu bukan mata sesuatu makhluk, tapi adalah. ah susah dia melihat jelas dalam jarak sedekat ini. Bau harum itu kembali merangsang hidung di kala hembusan angin dingin lalu, ternyata semangat tambah bergairah, maka lebih besar keyakinannya bahwa bau harum itu keluar dari benda yang memancarkan sinar putih itu. Betapa girang hati Pakkiong Yau-Liong. seperti si kafir yang kepanasan ditengah padang pasir mendadak melihat oase, sekuatnya dia kerahkan tenaga merangkak maju. Bau harum makin tebal, kini Pakkiong Yau-Liong sudah dekat di bawah sinar putih itu, untunglah makin bau harum makin tebal dan tenaga serta pikirannya-pun lebih jernih dan kuat. Rasa sakit kepanasan dan gatal yang menyiksa sekujur badannyajauh berkurang, sehingga dia dapat merangkak lebih kuat dan cepat. Kini dia sudah jelas benda yang memancarkan sinar putih di atas dinding itu adalah sesuatu benda kecil yang bentuknya seperti orok kecil berwarna putih mulus laksana salju. Sebuah pikiran tiba-tiba menggelitik hatinya : “Ya kong-ci bukankah Ya-kong-ci yang pernah disinggung Suhu dulu? Sungguh beruntung dirinya mendapat anugerah sebesar ini untuk memetik obat dewa yang mandraguna ini. Benda bersinar berwarna putih mulus berbentuk seperti orok ini dan mengeluarkan bau harum memang benar adalah Ya-kong-ci (rumput sinar malam). Umumnya dimana terdapat suatu benda sakti, pasti ditunggu oleh binatang buas atau beracun-Demikian pula Ya-kong-ci adalah merupakan obat mujarab yang susah didapat di dunia. Ya-kong-ci terdapat dua jenis, jenis pertama berbentuk seperti anak kecil, jenis lain berwarna merah bentuknya seperti kelinci. Yang berbentuk orok dapat memancarkan sinar putih, bentuk seluruhnya berwarna putih, sebaiknya yang berbentuk kelinci seluruhnya merah juga memancarkan cahaya merah. Sejak bersemi sampai berkembang Ya-kong-ci harus tumbuh selama tiga ratus tahun dan dari berkembang sampai berbuah memerlukan waktu seratus tahun pula, malah setelah berbuah memerlukan waktu enam puluh tahun pula baru bUahnya dapat memancarkan cahaya, disaat bercahaya itu adalah saatnya bUah itu sudah matang, namun Ya-kong ci yang sudah matang ini hanya kuat bertahan dua bulan satelah dua bulan buahnya

akan rontok. pohonnya yang kecilpun akan kuyu dan kering berarti tidak berguna pula. Ya-kong-ci yang berbentuk orok dan Ya-kong-ci yang berbentuk kelinci kecuali sama-sama dapat menawarkan ratusan jenis racun, ternyata khasiat lainnya satu sama lain berbeda. Bagi orang yang berjodoh menemukan Ya-kong ci mirip kelinci serta memakannya, maka usianya akan bertambah tiga lipat, badannya kebal terhadap segala jenis racun, selama hidup takkan terserang penyakit apapun. Sebaliknya Ya-kong ci berbentuk orok kecuali memiliki khasiat seperti yang ada pada Ya-kong-ci mirip kelinci, ternyata masih dapat meringankan menambah kuat pula, bila seorang pesilat yang memakannya, Lwekangnya akan bertambah lipat ganda dan mencapai tingkat yang paling top. Sekarang Pakkiong Yau-Liong ketiban rejeki disaat dia meregang jiwa, dikala jiwanya sudah diambang maut telah ditolong oleh rumput sinar malam, maka sekuatnya dia merangkak dan merambat berdiri, dengan susah payah syukur dia berhasil meraih Ya-kong-ci. Beg itu Ya kong-ci terpegang sekujur badan merasa segar, apa lagi hidungpun dirangsang bau harum itu sehingga air liurnya ber-tetesan, begitu mulut terpentang kontan dia caplok buah mulus seperti orok itu. Sari buah yang manis mengalir seketika kedalam kerongkongan terus tertelan kedalam perut, seketika terasa betapa nikmat dan segar badannya. Pakkong Yau-Liong menyedot sekuatnya berulang-ulang , hingga sari buah Ya-kong-ci terhisap habis seluruhnya, cahaya putih yang memancar dari Ya-kong-ci sudah lenyap. demikian dahan dan daon Ya-kong-cipun seketika mati dan kering. Hawa harum menjalar sekujur badan sehingga pori-porinya mengeluarkan keringat hitam dan bacin, sekali setelah hawa harum ini mengitari seluruh tubuhnya, mendadak rasa mual merangsang, kontan dia membuka mulut menyemburkan segumpal darah kental hitam, inilah air beracun yang baunya menusuk hidung. Racun katak puru beleh dikata sudah terdesak keluar seluruhnya dari dalam badannya, bukan saja sembuh perasaan Pakkiong Yau-Liong malah lebih segar dan sehat. Tiba-tiba diajadi teringat kepada Tio Swat in yang pergi mencari air, pikirnya: “Sudah hampir satu jam dia pergi, kenapa belum kunjung pulang? ” Lekas dia jemput tombak singa emasnya terus berlari keluar menuju kepinggir hutan sana. Mendadak dikejauhan didengarnya pekik kaget dan ngeri yang nyaring,

Pakkiong Yau li ong kenal itu suara Tio Swat-in, saking kaget lekas dia enjot kaki, tubuhnya melenting dengan kecepatan panah meluncur. Hanya beberapa kali lompatan berjangkit Pakkiong Yau-Liong menjadi kegirangan, ternyata gerak-geriknya sekarang tambah enteng dan cepat, hampir dia tidak percaya akan keajaiban yang terjadi pada diri sendiri. Maka dia menambah tenaga berlari sekencang angin lesus kearah datangnya saara. Hanya beberapa kali menggerak kan kaki lima puluh tombak telah dicapainya. Sekonyong-konyong loroh tawa aneh yang bernuda sumbang seperti ringkik burung bantu kumandang dari sana.jaraknya sudah tidak jauh lagi didalam hutan, Pakkiong Yau-Liong merinding mendengar gelak tawa aneh yang menggiriskan-Karena kuatir akan keselamatan Tio Swat-in, meski kaget dan merinding tapi gerak langkah Pakkiong Yau Liong tidak kendor malah makin pesat, beruntun dua kali lompat jangkit pula mendadak Pakkiong Ysu-Liong mengerem luncuran tabuhnya. Tampak didepan sebuah hutan, Tio Swat in berdiri melongo, tak jauh didepannya berdiri seorang nenek peyot bertubuh kecil bungkuk dengan wajah yang menakutkan tengah tertawa latah sambil mendongak. Mendadak nenek peyot buruk rupa itu menghentikan tawanya, bola matanya yang sipit mencorong hijau menatap Tio Swat-in lekat-lekat, katanya dengan suara melangsing dingin: “Genduk ayu, kau sudah terkena hawa racunku, ketahuilah barang siapa berani mengambil air dari sumber abadiku, siapapan tidak terkecuali harus membayar dengan jiwanya.” Lalu bertolak pinggang serta berkata pula: “Tapi aku Tok-gian-po punya satu kebiasaan yaitu siapa pun yang sudah terkena hawa racunku, akan kuberitahukan kepadanya cara untuk mengobatinya: pertama, harus makan Ya-kong-ci, obat mujarab yang paling diimpi kau setiap insan Bulim, tapi dalam masa hidupmu yang tinggal setengah tahun ini, kukira kau takkan mungkin bisa memperoleh Ya-tong-ci, kedua yaitu dengan kayu cendana yang sudah berusia ribuan tahun, setelah dipanggang setiap hari harus digosok-gosokkan ke sekujur badan, beruntun selama tiga puluh enam hari, kadar racun dalam tubuhmu baru bisa disembuhkan. Untuk menemukan kayu cendana ribuan tahun sudah tentu juga teramat sukar, tapi baiklah sekarang aku memberi petunjuk padamu, yaitu sebatang pedang kayu cendana yang ada satu-satunya di dunia ini sekarang kebetulan berada didaerah Biau kiang ini.” Saking puas dan bangga tiba-tiba kepalanya yang kecil beruban geleng-geleng sambil mencak-mencak seperti anak kecil. Mendadak bola matanya

mengerling sigap. dia membalik serta mendelik ke arah Pakkiong Yau-Liong yang berdiri dua tombak disamping. bentaknya: “Anak bagus, berani kau mencuri dengar pembicaraanku di samping. Mau apa kau kemari?” Waktu mendengar uraian Tok-giam po (nenek beracun dari neraka) ini, diam-diam Pakkiong Yau Liong sudah maklum, kenapa Toh-bing sik-mo menimbulkan huru-hara membunuh puluhan jiwa kaum Bulim diTionggoan, semua korbannya bersenjata pedang lagi, sudah jelas bahwa dia sedang berusaha mencari dia merebut-pedang kayu cendana milik ayahnya, untuk memunahkan racun ditubuhnya. Kini Tio Swat-in juga terkena racun jahat Tok giam-po yang sukar disembuhkan juga , karuan hatinya gusar dan sedih pula, ke-dua jenis obat mujarab yang diterangkan tadi telah dilihatnya, tapi sekarang pedang kayu cendana belum berhasil direbut kembali, sementara Ya-kong ci telah ditelannya bulat-bulat. Namun Pakkiong Yau Liong mampu mengendalikan emosinya, katanya kalem: “Aku adalah temannya.” Walau suara Tok-giam-po bernada tinggi sember, “kau adalah temannya, syukurlah, uraianku tadi tentu kau sudah mendengarnya pula, dengan Ginkangmu yang tinggi, kedatanganmu tidak kuketahui, untuk merebut pedang kayu cendana memusnahkan racun ditubuhnya tentu tidak jadi persoalan. Tapi perlu kujelaskan kepadamu, jangan kau biarkan tubuhnya tertiup angin lama-lama, kalau melalaikan pesanku, paling lama jiwanya hanya bertahan tiga hari. semoga kalian tahu diri.” “Tidak boleh tertiup angin? Tak heran Toh-bing-sik-mo. membalut sekujur badannya macam mumi,” demikian batin Pakkiong Yau-Liong. Dilihatnya Tok-giam-po membalik tubuh sambil terkial-kial hendak pergi. “Berhenti” mendadak Pakkiong Yau Liong menghardik. Tok giam-po menarik tubuhnya yang sudah berputar, mulutnya yang sudah ompong tampak menyeringai seram, sorot matanya yang kehijauan tampak menyapu Pakkiong Yau-Liong jengeknya^ “Berhenti? Hm, apa kehendakmu? ” Tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong mendongak sambil tertawa latah, itulah gelak tawa kebiasaannya yang sering dia kumandangkan di-ceng-hun-kok dulu, nadanya dingin menggejolak sehingga yang mendengit merinding di buatnya. BelUm lagi gema tawanya lenyap Pakkiong Yau-Liong sudah berkata sambil menyeringai: “Kau sudah melukai orang dengan racun lalu mau pergi seenak udelmu. Ketahuilah, urusan tidak segampang yang kau kira, jiwamu

harus kau serahkan untuk menebus jiwanya bila tidak tertolong.” Lenyap suaranya sekali berkelebat tubuhnya sudah menubruk kearah Tok-giam-po, belum kakinya menginjak bumi, tombak lemas singa emas sudah melingkar dengan jurus Liok yak-wi-ji-bu. tampak kemilau tombak emasnya menaburkan cahaya kuning membawa deruan keras menggulung kearah Tok-giam-po. “Hihihi.” Tok-giam-po mendengus dingin sambil berkelit mundur setOmbak jauhnya, hatinya kaget dan membatin: “Bocah semuda ini ternyata memiliki Lwekang dan Ginkang setangguh ini. Kurang ajar, berani bertingkah terhadapku.” Bahwa serangannya gagal menambah angkara murka Pakkiong Yau-Liong, sambil menggerung sebelum kakinya menyentuh bumi secepat kilat dia mengudak pula kesana, tombak lemasnya menyapu miring dengan jurus beng-ham-yam-ih (cahaya dingin melampaui sayap belibis), kembali deru angin, kencang menyabet kepinggang Tok-giam-po. Betapa cepat gerak gerik serta ganas serangannya, jelas kondisi Pakkiong Yau-Liong, sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan waktu dia masih malang melintang dilembah mega hijau. Diancam sabetan tombak lawan, Tok-giam-po memang agak terdesak dan kerepotan, lekas dia menggeser miring, berbareng dengan jurus Jik-ih-hing-ang sementara tangan kanan bergerak dengan jurus Tam-sing-poat-te dua jurus dilontarkan sekaligus di tengah jalan bergabung menjadi serangan gabungan yang aneh dan dahsyat, kekuatan serangannya ternyata tidak kalah besar dan ganas. Didaerah suku Biau ini bukan saja Tok giam-po dipandang sebagai malaikat atau setan yang menakutkan, penduduk setempatpun amat takut dan tunduk. sampaipun Toh-bing sik-mo yang memiliki kungfu setinggi itu pun agak jeri tak berani memusuhinya, bukan saja jiwanya sempit, wataknya eksentrik, Kungfunya memang lihay dan tangguh, sudah mencapai tingkat sempurna, apalagi dia menguasai dan pandai menggunakan hawa racun yang orang lain tidak tahu cara bagaimana dia menyerang musuhnya. Bila tiga jam yang lalu Pakkiong Yau-Liong harus menghadapi dia, meski dia punya nyawa rangkap dua belas juga sudah melayang seketika, jelas bukan tandingan Tok-giam-po. Bahwa sabetan tombaknya luput, tahu-tahu kedua telapak tangan Tok giam-po sudah balas menggencet dari kanan kiri, gerak-geriknya aneh, serangannya lihay lagi, lebih hebat lagi tenaganya amat dahsyat, mau tidak mau Pakkiong Yau-Liong tersentak kaget, telapak tangan nenek peyot

justru menepuk tiba disaat Pakkiong Yau-Liong terkejut itu. Setelah menelan Ya-kong-ci meski Pakkiong Yau-Liong sempat mengeluarkan hawa murni memanfaatkan khasiat obat mujarab itu, sehingga daya kerja obat itu menimbulkan manfaat yang lebih besar tapi Lwekang dan Ginkangnya ternyata sudah melompat maju beberapa lipat, jadi untuk menghindar dari gencetan sepasang tangan Tok-giam-po bukan soal sulit bagi dirinya. Namun dalam detik yang menentukan itu, serta merta dia merasakan dirinya tak mungkin dapat meluputkan diri dari tepukan lawan, padahal waktu begitu mendesak. tiada pilihan lain, akhirnya dia nekad. “Biar aku adu jiwa dengan kau.” secara reflek tangannya membalik sambil menekan pergelangan, tenaga disalurkan kedua telapak tangan terus menyongsong ke telapak tangan Tok-giam-po yang menepuk tiba. “Pyaaar” ledakan keras memekak telaga, disaat kedua telapak tangan kedua pihak saling bentur itu, getaran tangannya menimbulkan samberan angin lesus yang membumbung keangkasa, dahan-dahan pohon tersambar patah dan daonpun sama rontok. Dua-duanya sama tergentak mundur lima langkah. Bulat mata sipit Tok giam-po mengawasi pemuda yang berusia likuran tahun dihadapannya, sudah puluhan tahun selama dia malang melintang didunia Kangouw belum pernah ada tokoh tangguh manapun yang berani dan mampu melawan pukulan tangannya, tapi Pakkiong Yau-Liong yang masih muda ini ternyata mampu menandingi kedua tepukan telapak tangannya, dirinya tergentak mundur lima langkah lagi, karuan darahnya tersirap. Setelah benturan keras tadi Pakkiong Yau-Liong rasakan lengannya pegal, telapak tangannya panas seperti keracunan katak puru tapi diam-diam dia mengeluh dalam hati. Tapi hanya sekejap seretan dirinya sempoyongan mundur dan hawa hangat timbul dari pusar mengalir ke seluruh badan, rasa pegal lengannya seketika lenyap. rasa panaspun tak terasa lagi.

Tergesa-gesa Pakkiong Yau-liong menghimpun seluruh hawa murni untuk melawan tepukan sepasang telapak tangan Tok giam-po, diwaktu tenaga murni bekerja dan tergetar keras oleh beradunya pukulan tadi sehingga khasiat Ya-kong-ci menyebar keseluruh sendi sendi tulang dan urat syarafnya, diluar sadarnya, Lwekang Pakkiong Yau-Liong telah bertambah pula setingkat dalam waktu sekejap itu. Begitu berdiri tegak, bukan saja rasa pegal dan panas dilengannya sudah lenyap. terasa badan segar

semangat menyala, maka perasaan Pakkiong Yau Liong lebih mantup, pikirnya: “Gelagatnya meski Kungfu Tok giam-po amat tinggi, dia masih belum mampu mengalahkan aku.” hidungnya mendengus ejek, matanya melotot gusar menatap Tok-giam-po, pelan-pelan dia mengikat tombak lemasnya dipinggang, ujung mulutnya mengulum senyum sinis yang menghina.

Melihat Pakkiong Yau-Liong malah menyimpan senjatanya, sepertinya akan menghadapi dirinya dengan tangan kosong, Tok-giam-po menjadi aseran karena dirinya merasa dihina dan diremehkan, mendadak dia meraung bagai singa mengamuk menubruk kearah Pakk tong Yau-Liong, tubuh masih terapung kedua tangan sudah didorong lurus kedepan menimbulkan angin badai yang melanda kedada Pakkiong Yau-Liong, perbawa serangannya memang mengejutkan. Pakkiong Yau-Liong sudah siap berkelit, tapi benaknya memperoleh suatu keinginan, “Kenapa aku tidak coba melawannya sekali pukulan pula secara kekerasan? ” demikian pikirnya. Maka dia tidak berkelit atau menyingkir, matanya dipicingkan sikapnya tak acuh seperti tidak melihat pukulan Tok-giam-po yang menyerang tiba.

Sudah tentu amarah Tok-giam-po lebih memuncak. tenaga ditambah daya pukulan di pusatkan, batinnya. “Biar kau tahu kelihayanku,” tadi dia hanya menggunakan tujuh puluh prosen kekuaannya, kini dia kerahkan setaker tenaganya, hawa udara seperti bergolak dalam sekejap ini sehingga menimbulkan deru angin bagai amukan badai yang mengakibatkan gugur gunung menerpa kearah Pakkiong Yau-Liong.

Sedetik sebelum serangan lawan mengenai badannya, mendadak Pakkiong Yau-Liong mendelikkan mata, sebar sekait dia menekuk lutut sehingga tubuhnya mendak kebawah, berbareng kedua tangannya terbalik naik dengan jurus Kong-cui-cui-Liong-kak (angin kencang meremuk tanduk naga), begitu telapak tangannya menyongsong kedatangan pukulan Tok giam-po.

Terjadi ledakan dahsyat pula, angin kencang bercerai berai kesegala penjuru, tubuh Tok-giam-po yang kurus kering dan pendek itu seperti kapas yang didera angin badai saja melayang ditengah udara, tampak kaki memancal meluruskan tubuh terus melayang turun setombak jauhnya, wajahnya tampak berUbah hebat, keringat membasahi

kening, jelas Sekali dalam adu pukulan untuk kedua kali ini nenek peyot bertubuh kurus kering ini kena dirugikan oleh Pakkiong Yau-Liong, malah kemungkinan Sudah terluka dalam.

Hanya dua langkah Pakkiong Yau-Liong mundur sudah kuasa menguasai diri, mulutnya mengulum senyum kemenangan, sorot matanya setajam sembilu menghujam ulu hati lawan, selangkah dua langkah dia mendekat ke depan Tok-giam po. Tok-giam-po kendalikan napasnya yang mendesau, berdiri menjublek. sorot matanya menampilkan rasa ngeri, jeri dan tegang. Ternyata kekuatan pukulan Pakkiong Yau-Liong telah menggoncangkan seluruh pertahanan kekuatan Lwekangnya sehingga darahnya seperti mengalir balik, selama hidupnya kapan dia pernah terpukul mundur setombak lebih, betapa hatinya takkan jeri dan peCah nyalinya? .

Akan tetapi betapapun dia adalah seorang kosen yang memiliki Lwekang tangguh, Cepat dia sudah kerahkan tenaga murninya sehingga darah yang bergolak berhasil dituntunnya. Kembali kejalan normal, namun kepala sedikit pusing, seluruh sendi tulangnya seperti hampir Copot, terutama isi perutnya nyeri dan sakit, dia tahu bahwa dianya sudah terluka dalam yang Cukup parah, tapi keCuali sorot matanya yang menampilkan rasa kaget dan jeri, mimik mukanya tetap wajar dan tenang.

Namun Pakkiong Yau Liong sudah mendesak maju pula. Desau napasnya menjadi tambah berat dan cepat mengikuti setiap langkah Pakkiong Yau-Liong yang semakin dekat, diam-diam hatinya menerawang sudah timbul tekadnya begitu Pakkiong Yau Liong dekat dia akan menggunakan hawa racun, sehingga Pakkiong Yau Liong keracunan oleh bisa jahat yang sukar didapat obatinya. Pakkiong Yau Liong makin dekat, detak jantung Tok-giam-po juga makin-kencang, keringat dingin membasahi mukanya juga semakin membanjir keluar berketes-ketes. -ooOdwOoo-

Jilid 10 : Tidak mempan terkena racun

MENDADAK Tok-giam-po merogoh keluar Sebatang bumbung bambu panjang satu kaki dari lengan bajunya, seperti seruling saja langsung dia

meniupnya sekali, maka menyemburkan serangkum bubuk putih dari bumbung bambu itu tersebar luas tertiup angin melanda kearah Pakkiong Yau-Liong. Terdengar Tio Swat-in menjerit dari samping dengan suara yang parau: “Awas, itulah hawa beracun ” Tapi kabut putih itu telah mengurung seluruh tubuh Pakkiong Yau-Liong. Karuan Tio Swat-in berdiri menjublek disamping, kecuali gugup, hakikatnya dia tidak mampu berbuat apa-apa. Tok-giam-po tertawa gelak-gelak kepuasan dan senang. Tapi gelak tawanya mendadak putus seperti tenggorokannya mendadak keselak, bola matanya melotot bundar, mimik mukanya tampak ngeri membayangkan ketakutan sekujur badan bergetar keras.

Ternyata Pakkiong Yau-Liong tak kurang suatu apa-pun meski sekujur badannya sudah terserang oleh hawa beracun yang di tiupnya dari bumbung bambunya, seperti tidak merasa apa-apa dia tetap melangkah maju perlahan-lahan menembus kabut putih, dan kini sudah berada didepan matanya. Ternyata hawa racun yang di tiup Tok-giam-po dalam jangka dua jam keadaan seperti biasa, kecuali tidak beleh ketiup angin, keadaannya tetap seperti orang biasa, tapi bila orang sudah kena kadar racun itu, bila racun sudah tersedot dan merembes kedalam badan, sipenderita pasti kehilangan tenaga dan seluruh badan lemas lunglai.

Tapi Pakkiong Yau Liong ternyata seperti tidak merasa apa-apa, seringai dingin malah menghias mulut, sorot matanya nun lebih tajam. Mimpipun Tok-giam-po tak pernah membayangkan bahwa hawa racun miliknya yang lihay hari ini tak mempan terhadap Pakkiong Yau Liong yang baru saja telah menelan sebutir Ya-kong-ci, obat mujarab yang selalu diimpikan setiap insan persilatan, tubuhnya sudah kebal terhadap beratus jenis racun. Betapa hati Tok-giam-po takkan kaget, takut dan ngeri?

Mendadak Pakkiong Yau-Liong mendengus sekali, kedua tangan terangkat lalu didorong pelan-pelan, segulung angin dahsyat, keras tapi lunak melesat kearah Tok-giam-po yang berdiri menjublek karena kaget dan ketakutan. Dengan gelagapan mendadak Tok-giam-po menyadari bahwa jiwanya terancam elmaut, segulung tenaga dahsyat tahu-tahu sudah menekan

dadanya sampai susah bernapas. Sontak Tok-giam-po tahu apa yang bakal terjadi bila dirinya bertindak lama-lama, demi mempertahankan hidup secara reftek dia bergerak kilat menyingkir kesamping. Tapi dikala dia berkelit itulah “Blang” kontan dia rasakan ulu hatinya seperti dipalu godam, tanpa kuasa mengendalikan tubuh, badannya terpukul terbang jungkir balik, “Hua-ah” di tengah udara mulutnya terbuka menyemburkan darah segar dan “Bluk” badannya menumbuk sebatang pohon sebesar pelukan, kembali Tok-giam-po meraung sekali, tubuhnya roboh terkulai. Pelan-pelan tapi pasti tubuh besar itu terNyata bergerak tumbang dan akhirnya roboh dengan suara yang gemuruh, ternyata pohon besar patah dahannya oleh tumbukan badan Tok-giam-po yang kurus peyot itu. Tampak darah masih mengalir dari mulut Tok-giam-po, kedua matanya terbalik memutih, beberapa kali kakinya berkelejetan lalu kepalanya terkulai lemas, jiwapun melayang. Tok-giam po yang dipandang malaikat atau setan di daerah Biau-kiang dan amat ditakuti penduduk setempat serta disegani kaum Bulim kini sudah tamat riwayatnya. Mengawasi mayat Tok-giam-po canpa merasa Pakkiong Yau-Liong menyeringai dingin, dengan langkah lebar cepat dia menghampiri Tio Swat-in-Mendadak terdengar sorak sorai yang riuh dari sekeliling hutan, karuan Pakkiong Yau-Liong kaget dan siaga. Disaat dia melongo itulah dari dalam hutan melompat seorang Biau yang tangan kanannya mengangkat tinggi sebatang tombak mengkilap. Dibelakangnya merubung maju lima puluhan orang-orang Biau yang bermuka seram dan bengis, semua bersenjata tombak panjang yang gemerdep. tangan kiri mereka memegang tameng yang terbuat dari anyaman menjalin. Dalam waktu singkat Pakkiong Yau Liong dan Tio Swat-in sudah terkepung rapat ditengah orang-orang Biau itu, dibawah cahaya bulansabit, tombak panjang mereka yang mengkilap tampak menggiriskan dan menyilaukan mata. Tio Swat-in terkena racun, kini keadaannya sudah lemas lunglai, mendadak dikepung orang-orang Biau lagi. karuan mukanya pucat pasi. Pakkiong Yau Liong memeluk Tio Swat-in serta menyapu pandang kepada orang-orang Biau yang mengepung diSekelilingnya, bentaknya murka: “Kalian mau apa? ” Lenyap bentakan Pakkiong Yau Liong, laki-laki Suku Biau yang jadi

pemimpin mereka mendadak memekik keraS lalu menancapkan tombaknya kearaS tanah, Serempak Sinar gemerdep berkelebat, serempak lima puluhan orang-orang Biau itu juga menancapkan tombak mereka ke tanah. Pemimpin orang Biau itu kembali memberi aba-aba, mendadak seluruh orang Biau itu menekuk lutut menyembah mengikuti pimpinannya, mulut mereka mengoceh entah apa yang dikatakan. Walau tidak tahu arti celoteh mereka, tapi melihat kelakuan mereka Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in tahu bahwa mereka tidak bermaksud jahat, legalah hati mereka. Tapi mereka berdiri bingung dan tidak habis mengerti, sebetulnya apakah yang telah dan akan terjadi? Mendadak pemimpin orang Biau itu berdiri pula, tangan dan kaki bergerak menuding menggaris serta kaki menendang sambil mulut mengoceh sekian lamanya, di hadapan Pakkiong Yau-Liong, sehabis bicara lalu menarik lengan Pakkiong Yau-Liong. Walau tidak paham apa yang dikatakan orang, tapi dari gerak-gerik tangan dan mimik mukanya, Pakkiong Yau Liong tahu maksud mereka hendak mengajak dirinya ikut mereka. Pakkiong Yau-Liong tetap tidak bersuara, jawabannya hanya menggeleng kepala. Ternyata pemimpin orang Biau tidak kuasa menarik Pakkiong Yau-Liong, melihat dia geleng-geleng kepala, tahu dia tidak mau ikut maka dia berlutut dan menyembah pula diikuti anak buahnya, mulut mereka mengoceh pula. Sambil menyembah, Seolah-olah memohon kepada Pakkiong Yau Liong supaya sudi ikut dengan mereka. Sekilas Pakkiong Yau-Liong melirik Tio Swat-in, batinnya: “Sekarang dia keracunan hebat, perlu tempat untuk istirahat, gelagatnya orang-orang Biau ini tidak bermaksud jahat, biarlah aku ikut pergi bersama mereka saja, maka dia membimbing pemimpin orang Biau sambil mengangguk. Pemimpin orang Biau seketika berjingkrak girang sambil memekik-mekik, lalu dia membalik bicara beberapa patah kepada anak buahnya. Maka tempik-sorak orang-orang Biau itu makin keras sambil menari-nari, girangnya bukan main-Empat orang segera menggotong mayat Tok-giam-po, yang lain merubung Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in serta menggiringnya kedalam hutan dengan langkah cepat. Bila fajar menyingsing rombongan mereka pun telah menempuh perjalanan jauh melampaui puncak gunung dan tiba didepan gua-gua yang dihuni oleh suku Biau itu. Beberapa orang yang menggotong mayat Tok giam-po ternyata sudah sampai lebih dulu.

Di depan sebuah gua besar tampak seorang Biau muda bertubuh kekar dan berotot kekar memimpin ratusan orang Biau menyambut kedatangan mereka. orang Biau muda gagah ini adala Tong-cu atau kepala gua suku Biau mereka. Untunglah seorang tabib kelilingan bangsai Han yang sering mondar-mandir di wilayah orang-orang Biau bantu menterjemahkan percakapan kedua pihak sehingga komunikasi mereka cukup lancar, mereka saling berjabatan tangan dengan ramah dalam suasana riang dihimbau gelak tawa, Pakkiong Yau-Liong baru paham apa yang terjadi setelah diberi penjelasan oleh tabib kelilingan. Ternyata sebuah empang yang merupakan sumber air jernih di wilayah Biau-kiang ini telah diduduki oleh Tok-giam-po serta dipandangnya sebagai daerah terlarang untuk siapa pun, siapapun dilarang mengambil air dari empang yang terletak tidak jauh dari kediamannya, bagi siapa yang melanggar pantangannya, maka dia akan menyebul hawa beracun kepada pelanggar itu sehingga mati keracunan tanpa terobati. Hal ini pernah pula menimpa Toh-bing sik-mo pada puluhan tahun yang lalu, demi mencari Pedang Kayu cendana seperti yang dijelaskan oleh Tok-giam-po, maka Toh-bing-sik-mo meluruk ke Tionggoan, supaya selamat badannya dia balut seperti mumi dan menimbulkan malapetaka bagi kaum persilatan di Tionggoan, lokasi kejahatannya yaitu di ceng-hun kok. Kini demi menolong dirinya, Tio Swat-in mencari air dan terkena pula hawa beracun Tok giam-po. Memang tidak sedikitjiwa yang sudah melayang oleh kekejian Tok-giam-po hanya orang meminum seteguk atau mengambil sekantong air jernih diempangnya itu. Dan yang jadi korban melulu penduduk setempat, sampai-pun pemimpin tua mereka juga mati dalam keadaan yang mengenaskan. Adalah logis kalau orang-orang Biau amat dendam dan membencinya, tetapi karena Kungfu Tok-giampo amat tinggi, orang orang Biau yang tidak pandai silat itu sudah tentu menjadi korbannya secara konyol. Toh bing sik-mo yang memiliki Kungfu setinggi itu pun bukan tindingannya, maklumlah kalau kematian Tok-giam-po amat menyerangkan hati mereka. Tok-giam-po merupakan setan malaikat atau momok yang menakutkan, bahwa Pakkiong Yau-Liong mampu membunuhnya, sudah tentu Pakkiong Yau-Liong dipandang lebih hebat bagaikan malaikat dewata yang diutus Thian untuk menolong para umatnya. Maka mereka berkeras mengundang Pak kiong Yau-Liong mampir ke-gua mereka, sebagai tanda penghargaan dan terima kasih mereka kepada

Pakkiong Yau-Liong bersama Tio Swat-in, mereka disambut meriah oleh kepala suku dan seluruh orang Biau yang menghuni gua di samping gunung. Sejak hari itu Pakkiong Yau-Liong serta Tio Swat-in menempati sebuah bilik didalam gua batu, kepala suku dan orang-orang Biau cukup ramah dan sopan, mereka dilayani segala kebutuhan, tanpa terasa dua hari Sudah berlalu. Pakkiong Yau-Liong amat getol menuntut balas kepada Toh-bing-sik-mo, merebut Pedang Kayu cendana untuk memunahkan kadar racun dalam badan Tio Swat-in-Maka malam kedua, dia titipkan Tio Swat-in kepada kepala Suku lalu meninggalkan tempat itu dengan diam-diam. Bulan bergantung dicakrawala, malam kelam penuh kabut. Di daerah Biau yang terkenal angker, liar dan banyak binatang buas dan berbisa ini, tampak bayangan seorang dengan kecepatan yang sukar dipercaya tengah berlari kencang. Dia bukan lain-adalah Pakkiong Yau Liong yang sudah menelan Ya kong-ci dan tengah mengerahkan tenaga berlari dan berlompatan, tenaganya seperti tak habis-habis sejak Lwekangnya bertambah berlipat ganda sejak menghisap sari Ya-kong-ci. Kini dia tengah menjelajah alas pegunungan diBiau kiang yang belukar, dalam waktu sesingkat mungkin besar hasratnya menemukan jejak permukiman Toh-bing-sik-mo, di-samping menuntut balas kematian ayahnya, Pedang Kayu cendanapun harus direbutnya untuk menolong jiwa Tio Swat-in-Tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong mengendorkan larinya, wajahnya menampilkan mimik heran dan kaget. Dilihatnya jauh di depan dalam jarak seratusan langkah, sesosok bayangan tengah berlari kencang pula kearah timur, karuan Pakkiopg Yau-Liong heran, siapa pulakah yang berlari-la ri dimalam hari dalam hutan belantara ini, maka timbul hasratnya untuk mengejar kesana. Maka lalu dia kembangkan Ginkangnya, tubuhnya meluncur secepat meteor mengejar rembulan, kearah bayangan yang meluncur di depan-Sudah tentu yang diharapkannya orang di depan itu adalah Toh-bing-sik-mo, supaya dirinya tidak berjerih payah mencarinya ubek-ubekan, seCepatnya pula menunaikan tugas. Tapi setelah jarak semakin dekar, diam-diam hatinya agak kecewa, karena dalam jarak puluhan langkah matanya sudah melihat jelas bayangan didepan itu bukan Toh-bing-sik-mo yang membalut tubuhnya dengan perban. Tapi dia menghibur diri dengan pikiran begini: “Sudah belasan

tahun Toh-bing-sik-mo merebut Pedang Kayu cendana, kadar racun ditubuhnya tentu sudah dihisap habis dan tuntas oleh khasiat Pedang Kayu cendana dan sekarang tidak perlu lagi membungkus badannya dengan perban supaya terlindung dari tiupan angin. Tapi setelah jarak lebih dekat lagi, dia benar-benar amat keCewa. Kini jarak tinggal lima puluh langkah, namun sejak minum Ya-kong-ci pandangan mata Pakkiong Yau-Liong ternyata teramat awas dan tajam, dibawah sinar rembulan yang remang-remang dalam jarak sejauh itu ternyata dia mampu melihat jelas bahwa bayangan didepan itu bukan Toh-bing-sik-mo, malah juga bukan seorang laki- laki. Kalau bukan laki-laki tentu adalah perempuan, rasa aneh dan ingin tahu tiba-tiba merongrong perasaannya, dia ingin tahu siapa perempuan yang berani keliaran seorang diri di malam selarut ini dihutan belantara ini. Maka dia kembangkan kedua lengannya seperti burung terbang saja beruntun beberapa kali lompatan, dengan enteng dia sudah mengudak semakin dekat, sekali menjejak kaki tubuhnya melambung tinggi melampaui bayangan itu terus hinggap didepannya. Bayangan itu menjerit kaget karena munculnya Pakkiong Yau-Liong secara mendadak, lekas dia mengerem tubuhnya. Tapi lekas sekali dia sudah menubruk kearah Pakkiong Yau Liong seraya berteriak kegirangan: “Yau-Liong Koko. Akhirnya aku menemukan kau.” Rasa kejut dan heran menjalari mimik muka Pakkiong Yau-Liong, serunya: “Lho, kau Siau-ceng.” Bayangan yang berlari kencang dan diudak Pakkiong Yau Liong ini ternyata bukan lain adalah Siangkoan ceng, anak perawan Tabib Pendekar Siangkoan Bu. Siangkoan ceng berjingkrak aleman sambil menarik lengan Pakkiong Yau-Liong, katanya: “Yau-Liong Koko, berapa susahnya aku mencari kalian-” Pakkiong Yau Liong tersenyum menghadapi kebinalan gadis aleman ini, katanya lembut, “Sungguh tak kuduga bakal bertemu kau disini. Eh, apa kau datang seorang diri? ” Cemberut bibir Siangkoan ceng, katanya: “Aku minta ikut, ayah dan ibu melarang, kalianpun, tak mau mengajak aku, terpaksa malam kedua seorang diri diam-diam aku minggat dari rumah, memangnya apa yang bisa kalian lakukan, seorang diri akupun bisa menyusul kemari.” Pakkiong Yau-Liong menghela napas sambil geleng kepala, katanya. “Siau-

ceng, kenapa kau membawa adatmu sendiri, anak sudah besar tidak boleh nakal, bukankah ayah ibumu akan gugup dan kebingungan setengah mati? ” Siangkoan ceng melerok sambil memonyongkan mulut, katanya menatap Pakkiong Yau-Liong. “Perduli amat, aku ingin ikut kalian-Siapa suruh mereka melarang.” Sejak Pakkiong Yau-Liong ditolong Siang koan Bu dan dirawat sampai sembuh dirumahnya, Siangkoan ceng amat telaten membantu ayahnya mengobati pasien yang satu ini, lama kelamaan timbul rasa Cinta di dalam benaknya kepada pasien ayahnya yang ganteng ini, maklum usianya masih keCil, hidup terpencil di-pengasingan, jauh dari kehidupan masyarakat, maka dia sendiri tidak tahu kenapa perasaan hatinya selalu risau dan ingin selalu berdekatan dengan Yau-Liong Koko, sehari tidak melihat perjaka yang dikasihinya, hatinya terasa risau dan sedih. Betapapun Siangkoan ceng masih muda dan tidak tahu artinya cinta, diapun tidak perduli apa sebabnya, setiap timbul hasrat ingin bertemu dengan Pakkiong Yau-Hong, maka tanpa tedeng aling-aling dia lantas mencarinya dan mengajaknya ngobrol panjang lebar, tiada ikatan apapun yang membatasi gerak-gerik dan sikapnya. Namun Pakkiong Yau-Liong juga amat sayang dan ramah kepadanya, sesayang seorang kakak kepada adiknya. Melihat Pakkiong Yau-Liong geleng kepala sambil menghela napas, mendelik mata Siangkoan ceng, katanya : “Kenapa kau menghela napas? Semula kukira kau amat baik dan sayang kepadaku, mana tahu kau juga melarang aku ikut, padahal aku juga pernah meyakinkan Kungfu, kau takut aku bakaL.. ” tiba-tiba bola matanya berputar lalu bersuara heran, tanyanya: “Liong Koko, kenapa hanya kau seorang diri, mana enci Swat-in?” Pakkiong Yau-Liong menghela napas, lalu dia tuturkan kejadian Tio Swat-in terkena hawa beracun Tok-giam-po. Siangkoan ceng terbelalak kaget, serunya: “Apa betul, mari lekas kita Cari Toh bing sik-mo merebut kembali Pedang Kayn cendana untuk menghisap racun di tubuh cici Swat-in ” tangan Pakkiong Yau-Liong ditariknya terus hendak menyeretnya pergi. Tetapi Pakkiong Yau-Liong malah memegang lengannya serta menariknya, katanya per lahan: “Nanti dulu Siau-ceng, kau dengar dulu.” Berkedip bola mata Siangkoan ceng mengawasi Pakkiong Yau Liong, dia berdiri diam memasang kuping, tapi tiada suatu suara apa pun yang di dengarnya, dengan binpung dan heran dia lantas mengomel kepada

Pakkiong Yau-Liong: “Liong ko, dengar apa? Tak ada yang kudengar.” Pakkiong Yau-Liong segera menarik Siangkoan ceng, “Mari ikut aku.” katanya. Sedikit bergerak seCepat kilat tubuhnya sudah melesat terbang. Siangkoan ceng melelet lidah, dam-diam dia bersorak dan memuji: “cepat amat.” lekas dia pun gerakkan kakinya mengudak dengan kencang sekuat tenaga. Betapapun dia sudah kerahkan seluruh tenaga dan mengembangkan Ginkang, dalam sekejap dia sudah ketinggalan lima puluhan langkah. Sekarang dia telah mendengar suara yang diperhatikan Pakkiong Yau-Liong, yaitu gelak tawa yang mendengung diangkasa, tidak mirip tawa manusia, lebih tepat kalau dikatakan pekik tangis setan atau lolong serigala yang kelaparan, karena gelak tawa latah itu amat menusuk kuping, apa lagi ditengah malam dalam hutan belantara lagi, mendengar gelak tawa latah ini Siangkoan ceng jadi mengkirik. Tapi Pakkiong Yau-Liong makin jauh, sudah seratusan langkah meninggalkan dirinya di belakang, meski takut, tetapi demi menyusul Pakkiong Yau-Liong, Siangkoan ceng masih memperCepat langkahnya kearah selatan-Lwekang Pakkiong Yau Liong memang melompat maju berlipat ganda, sehingga pendengarannya jauh lebih tajam dari orang lain, sayup, sayup dia mendengar gelak tawa yang amat dikenalnya. Begitu mendengar gelak tawa yang menggiriskan ini, lantas terbayang oleh Pakkiong Yau-Liong akan bayangan pendek kurus kering dari seorang kakek botak yang menyeringai sadis didepan matanya, lalu terbayang pula seraut wajah Cantik seorang perempuan yang mati seCara mengenaskan sambil mengulum senyum kebebasan. Itulah bayangan dan gelak tawa Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji yang menyiksa dirinya serta perempuan tak dikenal yang berusaha menolong dirinya hingga akhirnya dia sendiri berkorban jiwa . Maka bara dendam seketika membakar sanubarinya, tanpa hiraukan Siangkoan ceng apakah dia mampu menyusul dirinya, seCepat kilat dia meluncur kearah datangnya suara. dalam sekejap ratusan tombak telah dicapainya, mendadak bola mata Pakkiong Yau-Liong memancarkan cahaya amarah yang memuncak. Tampak didepan dalam jarak lima tombak, seorang kakek kurus pendek yang hanya memiliki sebelah telinga, siapa lagi kalau bukan Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji. Mukanya yang sadis sedang menyeringai dengan pandangan buas tengah menatap seorang laki-laki yang berlepotan darah sekujur badannya, langkahnya limbung menyurut mundur, tapi kakek

botak pendek ini masih mendesaknya dengan ancaman elmaut. Mendadak Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji menengadah sambil mengeluarkan loroh tawanya yang menusuk kuping, katanya.kemudian: “orang she Go^ tempo hati aku ampuni jiwamu, ternyata berani kau meluruk datang kesini mencari permusuhan dengan aku. Betul binimu sudah kugagahi dan mampus pula ditanganku, memangnya kau mau menuntut balas? Hayo-lah maju.” Laki-laki She Go yang berlepotan darah dengan badan penuh luka-luka, sekuatnya dia mempertahankan dirinya, wajahnya yang pucat tampak gusar, bentaknya. “orang she Ni, jangan takabur, meski jadi setan aku tetap akan mengudak sukmamu manusia rendah melebihi binatang.” sehabis bicara mulutnya terpentang memuntahkan darah segar, wajahnya semakin pucat, bola matanya pun mendelong kaku, napasnya mendesau satu-satu, gelagatnya takkan kuat lagi mempertahankan diri. “Kalau demikian ” demikian jengek Ni Ping-ji menyeringai sadis. “Biarlah orang she Ni mengantarkan keberangkatanmu biarlah kau jadi setan membuat perhitungan dengan aku.” Ni Ping-ji sudah bergaya siap menubruk orang she Go dengan serangan mematikan. Pada saat itulah gelak tawa keras memekak telinga tiba-tiba berkumandang dalam alas pegunungan, nadanya dingin tajam serta mengancam, loroh tawa penuh dendam yang tak terlampias, telinga Ni Ping-jipekak rasanya, dengan kaget dia menoleh, lima tombak disana dilihatnya Pakkiong Tau-Ilong berdiri sambil bertolak pinggang, lenyap gelak tawanya, tampak meluncur datang pula seorang gadis berusia tujuh belasan, berdiri di samping Pak kiong Yau-Liong. “orang she Ni.” desis Pakkiong Yau-Liong. “Jangan kau kira segampang udelmu kau bisa mengganas pula di depanku.” Ni Ping-ji bergilir terkial-kial, katanya: “Bocah sekarat, baru sekirang kau datang. Sudah lama aku menunggumu, akhirnya kau mengantar kematianmu juga .” Habis bicara bola matanya mengerling lalu menatap Siangkoan ceng, mulutnya menggumam: “Ah, kebetulan sekali, tumben hari ini aku sedang ketagihan, dua persoalan bisa kubereskan sekaligus, setelah bercapai lelah pulang aku bisa menghibur diri dengan genduk jelita ini.” Siangkoan ceng tahu Ni Ping-ji sedang menyinggung dirinya, karuan dia naik pitam, kontan dia berludah sebaL Ni Ping-ji seperti tidak mendengar dan tidak memperhatikan reaksinya,

mengawasi Pakkiong Yau-Liong tangannya menuding laki-laki she Go katanya: “Nah, biar kuperkenalkan laki-laki itu adalah suami dari perempuan yang dulu berusaha menolongmu itu. berani dia meluruk kemari hendak menuntut balas kematian bininya, tapi kali ini aku tidak akan bertindak sekejam dulu kepadamu, karena kau membawa hadiah genduk seCantik ini untukku.” Lalu sambil mengelus jenggot kambingnya, matanya mengawasi Siangkoan ceng seperti menikmati barang yang pilihannya, lalu katanya pula dengan sikap kurang ajar: “Waduh hebatnya Kelihatannya masih perawan tulen, sudah setua ini Ni Ping-ji, ternyata masih juga mendapat rejeki besar.” Sebelum Pakkiong Yau-Liong memuncak amarahnya, Siangkoan ceng sudah tidak tahan lagi, hardiknya gusar: “Anjing kurap tidak tahu malu, coba saja kalau tidak kupotong lidahmu.” sembari memaki pedangpun dilolos teras menerjang kearah Ni Ping-ji. Amarah Pakkiong Yau Liong juga sudah berkobar, tak nyana Siangkoan ceng mendahului bertindak. baru saja dia hendak mencegah dan menarik mundur Siangkoan ceng, mendadak ujung matanya menangkap bayangan laki-laki she Go yang berdiri limbung itu tersungkur jatuh. Bagaimana juga dia tak tega membiarkan orang sekarat, lekas dia memburu maju memapahnya, maklum isteri orang pernah menyerempet bahaya berusaha menolong jiwanya, akibatnya jiwa sendiri melayang perCuma. Pakkiong Yau-Liong juga maklum taraf kepandaian Siangkoan ceng sudah mendapat warisan kepandaian ayahnya, sementara waktu masih Cukup kuat menghadapi Ni Ping-ji, maka dia merasa perlu memberikan pertolongan lebih dulu kepada laki-laki she Go.. Tiba-tiba laki-laki she Go mengejang lalu meronta sekuatnya, darah segar menyembur pula dari mulutnya. Mukanya pucat berkerut-kerut, napasnya mendesau dan tinggal satu-satu, Pakkiong Yau Liong tahu jiwanya takkan tertolong lagi, maka dia memapah serta menggoncang tubuhnya perlahan seraya memanggil “Go-heng Go heng ” Terbeliak biji mata orang she Go pandangannya buram mengawasi Pakkiong Yau-Liong, bibirnya gemetar, suaranya lirih terputus-putus. “Aku aku sudah tidak kuat lagi semoga kau kau pandang isteriku, tolong balaskan sakit hati kami.” darah kembali menyembur dari mulutnya, setelah berkelejetan pula beberapa kali, napasnya putus.

Bukan kepalang sedih dan pilu Pakkiong Yau Liong, pelan-pelan dia angkat telapak tangannya mengusap muka orang yang sudah meninggal sehingga bola matanya yang terbelalak terpejam, katanya rawan: “Tenteramlah kalian dialam baka. Aku bersumpah akan menuntut balas bagi kalian.” Lalu dia turunkanjenazah yang dipapahnya dan dibaringkan lurus diatas tanah, sambil menggerung gusar dia melejit ketengah arena, di mana Siangkoan ceng tengah mencecar Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji dengan pedangnya. Melihat Pakkiong Yau-Liong menubruk datang, lekas Ni Ping-ji berkelebat mundur setombak.jengeknya dingin: “Ha, satu orang mana mampu melawanku, kalian boleh maju bersama. Hm, umpama tambah dua lagi juga akan sia-sia, mengantar kematian saja.” Hampir meledak rasanya dada Pakkiong Yau-Liong saking gusar, mendengar ejekan Ni Ping-ji, saking marah dia malah tertawa besar, bentaknya bengis: “orang she Ni, kematian didepan mata masih berani kau besar mulut” lalu dia menoleh pada Siangkoan ceng. “Kau minggir saja, saksikan bagaimana aku membereskan dia” Siangkoan ceng dengan sebilah pedang mestikanya sudah melabrak Ni Ping-ji puluhan jurus, bukan saja tidak mampu melukai lawan, ujung baju orang pun tidak kuasa disen tuhnya, beberapa kali malah dia terdesak dan hampir saja dicakar dan dijamah, dia tahu kepandaian sendiri terpaut jauh dibanding lawan, maka dia manggut lantas mundur kesamping. Pakkiong Yau-Liong tidak banyak bicara lagi, sambil membentak secepat kilat dia menubruk kearah Ni Ping-ji, pergelangan tangan berputar dia lancarkan jurus Yam-jiu-jiu-yau-loh (angin musim semi merontokkan daon, lima jarinya bagai cakar dilandasi tenaga kuat yang tak terlukiskan dahsyatnya mencakar ke muka Ni Ping-ji. Betapa cepat dan besar tenaga yang digunakan, betul-betul membuat Ni Ping ji kaget setengah mati, bekal Lwekang Pakkiong Yau-Liong sekarang memang jauh lebih tangguh di banding beberapa bulan yang lalu waktu lawannya ini menjadi bulan-bulanannya. Meski-kaget Ni Ping-ji masih mampu mengimbangi kecepatan lawan, namun gerakannya seperti dipaksakan baru berhaSil menghindar dari cakaran Pakkiong Yau-Liong, Sebat sekali tangan kanannya bekerja dengan jurus Ban-toh-jun-hoa (selaksa bunga musim semi), dia kerahkan sembilan puluh prosen tenaganya balas menepuk ke dada Pakkiong Yau Liong. Pakkiong Yau Liong mendengus rendah, telapak tangannya terbalik naik seperti orang bercermin, dia gunakan jurus Thian-kiat-siat-joh-he (naik

kuda pelesir dijalan raya), gerakannya membawa deru angin dahsyat menangkis telapak tangan Ni Ping ji yang menyerang datang. Menghadapi pukulan Pakkiong Yau-Liong yang dilandasi kekuatan raksasa, mana berani Ni Ping-ji menangkis, lekas-dia tarik serangannya serta menggeser langkah, cukup tangkas juga dia menyingkir. Walau kaget dan heran menghadapi kemajuan ilmu Pakkiong Yau-Liong, namun dia yakin bahwa Lwekangnya masih setingkat lebih tinggi dari lawan mudanya, pengalaman tempurnya lebih membesarkan keyakinannya pula bahwa dirinya masih mampu merobohkan musuh yang satu ini. Diwaktu berkelit itulah tangan kanannya menggunakan jurus Pek-hoa-Siok-ih (seratus kembang mandi air hujan) tangan kiri menggunakan tipu Ban-ce-jun-yan (kabut musim semi memenuhi sumur) dua jurus dikombinasikan untuk menyerang secara beruntun. Tampak bayangan telapak tangannya bertaburan membawa deru angin tajam laksana gugur gunung melanda kearah Pakkiong Yau-Liong. Pakkiong Yau-Liong menggereget, melihat sepasang tangan lawan menyerang datsng, mendadak dia miringkan badan, sebelah telapak tangannya menepuk. bukan saja gerakan tubuhnya tangkas langkah kakinyapun sebat luar biasa, tempo yang diperhitungkan juga tepat, demikian pula tenaga yang disalurkanpun amat besar, sungguh sukar dilukiskan betapa lihay serangan balasannya. Saking kaget berobah air muka Ni Ping-ji, sebisanya dia menarik diri ke belakang, di waktu angin pukulan Pakkiong Yau-Liong menerpa mukanya, mendadak dia menjatuhkan diri ke belakang lalu menggelinding setombakjauh nya, begitu melentik berdiri pula diam-diam hatinya mencelos dan berucap syukur daIam hati. Untung dia bisa melihat gelagat dan bertindak cepat, namun gerakannya juga cukup runyam meski berhasil lolos dari serangan maut Pakkiong Yau-Liong, tak urung rambut kepalanya yang tak seberapa tersapu rontok oleh angin tajam pukulan lawan, kepala yang sudah botak menjadi gundul kelimis. Dibawah tatapan mata Pakkiong Yau-Liong yang membiru tajam, keringat dingin terasa melengket pakaiannya, Ni Ping-ji tahu untuk lari jelas tidak mungkin, terpaksa dia harus adu jiwa dengan Pakkiong Yau-Liong dengan segala kemampuannya. Pelan-pelan dia mengeluarkan senjata tunggalnya dari dalam lengan bajunya, yaitu Kau-hun-ling-ki (bendera pencabut sukma), tangan terangkat dan bergetar, panji kecil segitiga itu tampak berkibar, di tengah

gerungan gusar, mendadak dia menjejak kaki, tubuhnya melenting tiga tombak tingginya ditengah udara betsalto sekali, dengan kaki diatas kepala dibawah dia menukik turun menubruk kearah Pakkiong Yau-Liong. Kau-hun-ling ki warna hitam ditangannya membawa larikan hitam dengan suara melengking tajam menggulung kepala Pakkiong Yau-liong. Tidak kepalang tanggung Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji sudah mengembangkan ilmu Kau-hun-coat-sek kebanggaannya yang jarang dikeluarkannya, dengan jurus Yam bi-bikjiu (asap membius pohon) dia bertekad adu jiwa dengan Pakkiong Yau-Liong. Tidak berkelit atau menyingkir Pakkiong Yau-Liong malah melompat keatas memapak di udara, begitu tangan terangkat dia gunakan Jun-liu-siu-boh-ju (guntur musim semi menyamber saka), kembali lima jarinya berkembang bagai cakar mengeluarkan jalur-jalur angin tajam, secara berani dia mencengkeram kegagang Kou-hun-ling ki Ni Ping-ji. Melihat Pakkiong Yau-Liong berani melawan bahaya, memapak serangannya yang ganas ini dengan serangan balasan secepat kilat, tak kepalang kagetnya hati Ni Ping-ji, rona mukanya berobah seketika. Dalam kelangsungan secepat kilat ini, untuk menarik diri sudah tidak sempat lagi bagi Ni Ping-ji, mendadak terasa pergelangan tangannya kesakitan, ternyata Kou-hun-Ing-ki telah terampas oleh Pakkiong Yau-Liong. Walau kaget dan heran serta tidak habis mengerti mengapa selang beberapa bulan ini kepandaian silat Pakkiong Yau Liong bisa tambah maju selihay ini, tapi dalam waktu sesingkat ini mana sempat otaknya bekerja, hanya “LARI” itu saja yang sempat terekam didalam benaknya, Begitu kaki menyentuh tanah, sehat sekali tubuhnya sudah berkelebat menerobos jauh kesana terus angkat langkah seribu. “Berhenti orang she Ni ” hardik Pakkiong Yau Liong dengan nada dingin-Gema bentakannya seperti menjulang keangkasa, namun dinginnya seperti datang dari jurang bersalju. Ni Ping-ji sampai bergidik ngeri, entah kenapa dalam waktu sesingkat ini otaknya seperti beku, Sesaat dia berdiri terbelalak oleh bentakan Pakkiong Yau-Liong yang berwibawa. Pakkiong Yau-Liong maju beberapa langkah, desisnya sambil menatap Ni Ping-ji: “orang she Ni, kau hanya pikir melarikan diri, memangnya gaman mestikamu ini tidak kau hiraukan lagi. Sambutlah” Dibarengi bentakannya tangan kanan mengipat, bayangan hitam lantas menyambar, dengan mengeluarkan suara mendebet panji hitam cilik itu

melesat memecah udara meluncur kearah lambung Ni Ping-ji. Setelah merasa disambar angin kencang baru Ni Ping-ji tersentak sadar, namun untuk berkelit sudah terlambat. “Bles” gagang panji panjang satu kaki itu ternyata amblas seluruhnya menembus lambungnya. “Huuaaaa.” pendek mulut Ni Ping-ji memekik rendah, kedua tangannya memegang panji yang menusuk perut, badannya bergetar keras, darah mulai membasahi kedua tangannya. Bola matanya melotot sebesar jengkol, kulit mukanya merah membara seperti rempelo, keringat berketes-ketes. “Huaaiiit.” sekuat tenaga mendadak dia mencabut sendiri gagang panji yang menusuk perutnya, da rah menyembur, gagang panji berlepotan darah diangkat didepan mukanya, usus kedodoran, betapa serem dan mengerikan, Pakkiong Yau-Liong sampai melengos tidak tega menyaksikannya . Bola mata Ni Ping-ji yang melotot itu memancarkan sinar buas, mendadak dia menjejak kaki, menerjang maju seraya memekik panjang, suaranya serak dan parau, meskipun sudah sekarat dia masih tetap menerjang ke arah Pakkiong Yau-Liong. Tapi hanya lima langkah dia menerjang kedepan, “Bluk” badannya tersungkur mencium tanah, Kedua tangannya menekan perut, kedua kakinya mancal-mancal, agaknya rasa sakit amat menyiksanya. Pakkiong Yau-Liong menyeringai dingin, segera dia menghampiri Siangkoan ceng yang berdiri melenggong. Dengan tatapan minta belas kasihan masih kuat Ni Ping-ji bersuara: “Manusia dilahirkan sebagai mahluk yang kenal belas kasihan, apa kau tega melihat keadaanku yang sudah sekarat ini, mati tidak hidup, pun sukar, aku harus meronta-ronta dalam siksa derita seperti ini? Kumohon kepadamu, mohon tamatkan saja jiwaku selekasnya” suaranya makin lemah dan betul-betul amat mengenaskan. Pakkiong Yau-Liong sudah menghentikan langkah, tapi bayangan masa lalu dikala dirinya disiksa diluar perikemanusiaan dulu menimbulkan rasa dendam yang tidak terperikan. Dengan menyeringai dia tatap Ni Ping-ji, desisnya: “orang she Ni, tentu kau tidak pernah memikirkan nasibmu bakal seburuk hari ini bukan? Hm, bayangkanlah betapa kejam kau menyiksa aku dulu, maka sekarang boleh kau nikmati sendiri betapi besar dosa-dosa perbuatanmu masa lalu, inilah yang di namakan hukum karma.” tanpa perdulikan jerit rintih Ni Ping-ji yang meregang jiwa dia melangkah pergi.

Selama hidup Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji memang sudah keliwat takaran berbuat kejahatan, betapa banyak jiwa orang terenggut di tangannya, akhirnya dia mati juga oleh senjatanya sendiri yang peranti buat mengganas dulu, cukup lama dia harus berguling-guling menahan sakit, merintih-rintih sesambatan menyesali dosa-dosanya sampai kehabisan tenaga dan darah baru jiwanya melayang, mati tanpa kubur. Sinar surya yang hangat menyemarakkan cuaca pagi nan cerah dan segar, burung berkicau dan menari dipucuk pohon, selepas mata memandang alam permai menghijau, alam semesta diliputi kehidupan damai tentram. Dibawah beberapa pucuk pohon raksasa tua, Pakkiong Yau-Liong duduk berendeng dengan Siangkoan ceng, mereka sedang makan rangsum yang dibawa Siangkoan ceng. Gadis jelita ini makan dengan lahap. sebaliknya Pakkiong Yau-Liong sukar menelan apapun yang dikunyahnya. Bayangan Toh-bing-sik-mo menggejolak perasaannya, keinginan membalas dendam merasuk sanubarinya, lebih penting lagi merebut Pedang Kayu cendana antuk menolong Tio Swat-in-Namun daerah liar penuh hutan belantara seluas ini, sukar berkomunikasi dengan penduduk setempat lagi, bagaimana mungkin dia bisa cepat menemukan Toh-bing-sikmo yang bersenjatakan panah merah dan berambut merah pula? “Liong-koko.” tiba-tiba Siangkoan ceng menatap lebar pada Pakkiong Yau-Liong. “Kenapa kau tidak makan? ” Mengawasi Siangkoan ceng yang memperhatikan dirinya, Pakkiong Yau-Liong tertawa tawa, katanya perlahan-“Aku tidak ingin makan, perutku tidak lapar.”

Siangkoan ceng menarik muka, katanya “Sudah saatnya kenapa tidak makan, aku tak percaya kau tidak lapar, baiklah biar kusuapi kau.” tiba-tiba direbutnya makanan di tangan Pakkiong Yau-Liong, menggeser pantat terus duduk dipaha Pakkiong Yau-Liong. Karuan Pakkiong Yau-Liong keripuhan, serunya sambil goyang tangan: “siau ceng, jangan nakal. Aku toh bukan anak kecil, slapa suruh kau menyuapi aku, duduklah sendiri, biar aku makan sendiri.” Tapi Siangkoan ceng membandel, katanya: “Kenapa? Kau malu? Waktu kau sakit dan merawat luka di rumahku, bukankah sering aku menyuapi kau, sekarang sudah tidak sakit, lalu tidak membutuhkan tenagaku lagi bukan? Baiklah kau makan sendiri.” Pakkiong Yau-Liong buka mulut mau bicara, tiba-tiba Siangkoan ceng menjejalkan makanan yang dipegangnya kedalam mulut Pak kiong Yau-

Liong. Lekas Pakkiong Yau-Liong merogoh keluar makanan kering dalam mulutnya serta geleng-geleng, katanya tertawa: “Siau-ceng, baiklah kau duduklah sendiri, aku akan makan-Sudahlah.”

Siang koan ceng tetap merengek aleman katanya: “Tidak. biar aku duduk disini, lebih enak dan nyaman.” Pakkiong Yau-Liong tertawa getir, katanya mengawasi Siang koan ceng: “Siau-ceng, anak perawan sebesar dirimu tidak baik duduk diatas paha seorang laki-laki, bila dilihat orang tentu malu dan mungkin akan menjelekkan nama baikmu.” Siang koan ceng malah bertolak pinggang katanya jenaka: “Biarlah mereka bicara iseng, menjelekkan namaku juga persetan, yang terang kau tak berbuat tidak senonoh, kita tak melakukan perbuatan yang memalukan-Apalagi di tengah hutan belantara, kecuali kau dan aku, mana mungkin ada… ” Mendadak Pakkiong Yau Liong mendorong Siang koan ceng seraya berseru gugup, “Siau-ceng ada orang datang.”

Terpaksa Siang koan ceng duduk diatas batu, matanya terbeliak Celingukan, mana ada bayangan orang, maka dia mengepal tinju serta mengancam: “Bagus ya, kau pandai ngapusi orang, ayo bilang apa hukumanmu.” Tanpa bicara Pakkiong Yau-liong menuding kebelakang Siangkoan ceng dengan tertawa. Lekas Siangkoan ceng menoleh kebelakang, Pakkiong Yau liong berbangkit dari duduknya, tampak dua bayangan orang meluncur datang dan hinggap didepan mereka, karuan Siangkoan ceng berjingkrak kegirangan, teriaknya: “Ayah, ibu, kalian juga datang.” Kedua pendatang ini bukan lain adalah tabib pendekar Siangkoan Bu dan ibu Siangkoan ceng, yaitu Tok-liong-sian-li.

Siangkoan Bu menuding Siangkoan ceng sambil mengomel. “Kau bocah binal ini memang nakal, seorang diri berani minggat menempuh perjalanan jauh dengan hanya sedikit sangu, aku sudah menduga kau pasti menyusul kemari, untung sepanjang jalan kau tidak ditipu orang. Sekarang melihat kau sudah bertemu dengan Yau-liong Kokomu dan Cicimu Swat-in.” mendadak tidak melihat Tio Swat-in, Siangkoan Bu bertanya heran, lalu tanya-nya: “ceng-ji, dimana Cici swat-in? ” Maka Siangkoan ceng lalu menuturkan apa yang dia tahu dari keterangan

Pakkiong Yau-liong menjelaskan kepada ayahnya. Mendengar Tio Swat-in keracunan, Tok liong-sian-li mengerut kening, katanya. “Ada kejadian begitu, apa benar hawa racun itu begitu lihay, kecuali Ya-kong-ci dan Pedang Kayu cendana tidak mungkin terobati? “

Siangkoan Bu sitabib sakti manggut, katanya : “Kukira benar, kalau tidak buat apa jauh-jauh Toh-bing-sik-mo meluruk datang ke Tionggoan dan mengganas untuk merebut Pedang Kayu cendana itu? ” lalu dia berpaling kepada Pakkiong Yau liong kemudian bertanya “Mungkin Hian-tit sudah berhasil mencari tahu kabar tentang Toh-bing-sik-mo? ” Pakkiong Yau-liong memandang Siangkoan Bu sekilas, lalu menunduk sambil menghela napas, lalu menggelengkan kepala. “Ooo.” ujar Siangkoan Bu sambil tertawa. “Kukira ini bukan kebetulan, tapi banyak kejadian di dunia ini memang sering kebetulan-” Mendadak Pakkiong Yau liong angkat kepalanya, tanyanya: “Lopek, maksudmu kau sudah tahu tempat tinggal Toh-bing-sik-mo?

Siangkoan Bu mengangguk. katanya: “Dulu waktu muda mengembara sambil menjual obat, beberapa kali aku pernah kelayapan di-Biau-kiang ini, maka aku bisa sedikit bahasa Biau, Sepanjang jalan ini aku mencari tahu jejak ceng-ji serta kabar Toh-bing sik-mo yang menggunakan gendewa dan panah merah, siapa tahu jejak ceng ji tidak kutemukan, dari mulut seseorang malah kudengar tentang Tok-bing-sik-mo.”

Sejenak Siangkoan Bu ganti napas kemudian melanjutkan bicaranya: “Konon seorang lakl-laki yang membawa gendewa dan panah merah sering mondar-mandir didaerah ini, maka sengaja kami menuju kesini. Kupikir bila diam2 kami tidak berhasil menemukan ceng-ji, paling juga pasti dapat bertemu dengan kalian, kami sudah putar kayun sehari semalam, syukurlah akhirnya kutemukan kau dan ceng-ji, tadi aku kira kau sudah tahu bahwa Toh bing-sik-mo berada disekitar sini” Siangkoan ceng berjingkrak girang mendengar keterangan ayahnya, katanya. “Kalau tahu Toh bing sik-mo berada disekitar sini, kenapa tidak lekas kita cari tempat tinggalnya? “

Siangkoan Bu tertawa, katanya. “Untuk mencapai tujuan kita perlu punya tekad dan kesabaran, teguh tak kenal lelah dan pantang mundur, kira-kira tiga li dari sini kami sudah menemukan sebuah gua yang terang dan bersih, disana sudah kami siapkan rangsum dan air minum, kupikir marilah

kita pulang ke gua itu istirahat sekedarnya baru kita jelajahi daerah sekitarnya, andaikata Toh-bing-sik mo betul berada di daerah ini, aku yakin kita pasti dapat menemukan dia. Hian-tit, bagaimanakah pendapatmu? ” Pakkiong Yau-liong menjura pada Siangkoan Bu, katanya: “Pendapat Lopek memang betul, marilah kita berangkat.” Maka berempat mereka putar balik kearah datangnya semula menuju kegua yang di maksud Siangkoan Bu, sambil jalan mereka bicara panjang lebar, dan berkelakar, jarak tiga li lekas sekali telah dicapai. Mendadak Pakkiong Yau-liong memberi tanda ulapan tangan sambil mendesis lirih. “Didepan adi orang, kalau tidak salah ada dua orang, atau paling banyak tiga orang.”

Siangkoan ceng sudah tahu dan menyaksikan sendiri betapa tinggi dan tangguh kepandaian Pakkiong Yau-liong sekarang, maka di-samping kagum dia pun tunduk lahir batin, tapi Siangkoan Bu dan Tok-liong-sianli agak sangsi dan curiga, terutama Siangkoan Bu, sebagai kawakan di Kangouw, walau Kungfunya setingkat dibawah guru Pakkiong Yau-liong, tapi Pakkiong Yau-liong… Tapi hanya sekejap rasa sangsinya lenyap. diam-diam dia amat kagum dan memuji kepada pemuda ini, karena sekarang diapun sudah mendengar langkah orang, malah lekas sekali terlihat olehnya dalam jarak delapan puluhan tombak didepan tampak dua bayangan orang berlari mendatangi Pakkiong Yau-liong berkata pula: “Kedua orang ini memanggul dua buntalan besar pasti orang Biau yang bertempat tinggal tak jauh dari sini, Lopek paham bahasa Biau tolong kau mencari tahu kepada mereka, mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang kita harapkan.” Siangkoan Bu mengangguk. katanya: “Hian-tit memang lihay sekarang, bukan saja kuping dan matamu luar biasa, Kungfumu sekatang juga sudah berlipat ganda, daya pikirmu amat cermat pula, sungguh patut dipuji.”

Lekas sekali kedua orang Biau yang memanggul buntalan gede itu sudah makin dekat, kedua orang ini berjalan beriringan satu didepan yang lain di belakang, laki-laki yang dibelakang ternyata memiliki tenaga raksasa, seorang diri ternyata mampu menggendong tiga buntalan besar seperti yang digendong laki-laki didepannya, bukan saja napasnya tak terengah, langkahnya ternyata masih tegap dan tidak lelah sedikitpun, bagi seorang ahli, selintas pandang akan tahu bahwa laki-laki Biau ini pasti pernah meyakinkan ilmu silat.

Diwaktu Siangkoan Bu meluncurkan tubuhnya ke depan dan turun didepan mereka, sebat sekali Pakkiong Yau-liong juga melambungkan tubuhnya keatas meluncur ke arah laki-laki Biau yang melarikan diri. Belum lagi tubuhnya menyentuh tanah, tangan Pakkiong Yau-liong sudah menjulur dan menangkap orang Biau yang berusaha melarikan diri, begitu kaki menginjak tanah, sebat sekali dia sudah membalik badan, tangannya menjinjing orang Biau yang bertubuh kekar seperti elang mencakar anak ayam saja lagaknya, enteng seperti membawa kapas. Tangkas sekali begitu badannya bergerak dia sudah meluncur turun didepan mereka bertiga.

Pakkiong Yau-liong membanting orang Biau tawanannya ketanah terus menjura kepada Siangkoan Bu: “Lopek. Siau tit sudah bekuk orang Biau ini, gelagatnya dia punya hubungan dengan Toh bing sik-mo, bukan mustahil malah muridnya, tolong Lopek tanyakan kepadanya.” Siangkoan Bu tertawa gelak-gelak. katanya: “Hian-tit memang hebat, mungkin kepandaian gurumu Biau-hu Suseng juga begitu pula. Siangkoan Bu hari ini benar-benar terbuka matanya.” Tersipu-sipu Pakkiong Yau liong merendahkan diri, Siangkoan Bu tertawa lebar, katanya: “Pendapat Hian-tit memang kurasa tidak salah, orang ini pasti punya hubungan kental dengan Toh-bing-sik-mo, orang Biau yang satu tadi bilang, dia memang diminta bantuannya untuk membawakan rangsum dan keperluan sehari-hari ketempat cui-hun-jik-cin yang menggunakan gendewa dan panah merah, bila kami punya urusan boleh ikut dia kesana, tapi sebelum dia sempat memberikan penjelasan lebih lanjut, bocah ini ternyata telah menabok kepalanya hinggi remuk dan binasa seketika.”

Kini orang Biau yang tadi melarikan diri tidak mampu lari lagi, hakikatnya dia sendiri bingung bagaimana tahu-tahu dirinya bisa tertawan dan tidak mampu bergerak lagi, dia insyaf mau lari jelas tidak mungkin lagi. Siangkoan Bu sudah mengajaknya bicara, panjang lebar dengan bahasa Biau, tetapi dia duduk diam ditanah sambil melotot gusar kepada Siangkoan Bu, melihat sikapnya jelas bahwa usaha Siangkoan Bu sia-sia, orang tidak mau memberikan penjelasan sepatah kata pun.

Maka Siangkoan Bu berkata dengan tertawa: “Bocah ini keras tulangnya, dia menantang mau sembeleh atau menusuknya mampus silahkan, jangan

harap dia mau memberi keterangan-” demikian Siangkoan Bu menjelaskan, lalu dia berjongkok dan ajak bicara pula dengan ramah dan kalem. Tetapi orang Biau ini membisu seribu basa, bagaimana juga Siangkoan Bu membujuknya sampai ludahnya kering, dia tetap tidak mau bicara lagi. Akhirnya hilanglah kesabaran Siangkoan ceng, dampratnya gusar: “orang buruk, agaknya dia minta disiksa biar tahu kelihayan kami baru mau bicara.” sambil bicara Siangkoan ceng sudah maju menghampiri. Agaknya orang Biau itu tahu apa yang akan dilakukan oleh Siangkoan ceng, seketika dia mendelik buas, dia tahu hari ini dirinya bakal mengalami nasib jelek, bahwa dirinya akan disiksa, lebih baik mengadu jiwa saja.

Sambil menggerung murka mendadak dia berjingkrak berdiri tangan kanannya lantas bergerak dengan jurus Ih-sing-hoan-gwat (bintang pindah rembulan berputar), Cukup kuat juga serangannya hingga gerak tangannya menimbulkan deru angin, langsung menampar ke muka Siangkoan ceng. Siangkoan ceng tidak pernah menduga lawan berani menyerangnya malah, jarak kedua orang cukup dekat lagi, saking kagetnya lekas Siangkoan ceng menurunkan tubuh terus melompat mundur, untung masih sempat dia meluputkan diri dari tamparan orang, saking kaget keringat dingin membasahi wajahnya.

Saking gusar Siangkoan ceng tidak ayal lagi, di tengah hardikan nyaring kedua telapak tangan naik turun terus disorong lurus ke depan dengan jurus Jui-su-tam-ham (lengan baju menahan hawa dingin), bayangan telapak tangannya membawa deru angin kencang balas menyerang, gerakannya Cepat dan tepat pula.

Orang Biau itu juga nekad dan mengadu jiwa, tanpa hiraukan serangan telak Siangkoan ceng, sekaligus dia robah gerakannya dengan jay-hong-jip-ce (pelangi masuk sumur), tubuhnya miring menurunkan pergelangan tangan menepuk kebatok kepala Siangkoan ceng. Tanpa menghiraukan keselamatan jiwa sendiri, melawan dengan jurus serangan mematikan untuk gugur bersama, sudah tentu Slang koan ceng tersirap darahnya, dalam keadaan mendesak ini jalan satu satunya memang gugur bersama. Dalam keadaan gawat dan kritis itulah, mau tidak mau Siangkoan Bu dan Tok-liong-siao-li menjerit panik mengkhawatirkan keselamatan putrinya, tapi mereka tahu dengan bekal kepandaian mereka sekarang, meski

berusaha menolong juga sudah terlambat. -oooOdwOooo-

Jilid 11 : Patut dikenang dan dirindu (tamat)

TIBA-TIBA sebuah hardikan menggelegar disertai berkelebatnya sesosok bayangan menerjang ketengah dua orang yang lagi serang menyerang adu jiwa itu. Ditengah rasa kaget Siangkoan ceng yang sudah terbeliak itu, tiba-tiba terasa segulung tenaga lunak mendorong pundaknya hingga dia sempoyongan pergi lima langkah, sementara orang Biau itu menjerit sekali, langkahnya berat sempoyongan tujuh langkah dan “Duk.” jatuh tersungkur di tanah. Pakkiong Yau liong berdiri tolak pinggang, sambil mendengus dia awasi orang Biau itu dengan pandangan setajam sembilu, orang Biau ini lekas menunduk tidak berani adu pandang. Saking gusar tiba-tiba Pakkiong Yau-Hong memburu maju kedepan orang Biau itu serta mencengkram baju depan dadanya. Orang Biau itu mendelik gusar, gerahamnya gemerutuk gemas, tiba-tiba dia meraung seperti singa kelaparan, tubuhnya mendadak meronta, kaki tangan bekerja tanpa hiraukan keselamatan menubruk kearah Pakkiong Yau-liong, serangan mendadak ini memang mengajak lawannya mati bersama. Hebat kepandaian Pakkiong Yau-liong, tubuhnya mendadak jungkir balik keatas turun di belakang orang, secepat kilat jari tangannya telah menutuk Siau-yau-hiat dipinggangnya. Orang Biau itu tertutuk jatuh terus pentang mulutnya tertawa keras dan keras seperti orang gila. Pakkiong Yau-liong berdiri tolak pinggang, dia biarkan sejenak orang Biau itu bergulingan sambil tertawa tidak putus-putus sampai kehabisan tenaga dan napas, setelah yakin siksaan cukup berat, tiba-tiba dia angkat kakinya menendang punggung orang, katanya: “Buktikan saja, apakah kau tetap kuat membandel, bagaimana cukup belum kau tertawa, nah, setelah cukup boleh kaujawab pertanyaanku.” lalu dia membalik menghampiri Siang koanBu. Siangkoan Bu dan isterinya berserta putrinya betul-betul kagum dantunduk akan kelihayan Pakkiong Yau-liong, bukan saja dia mampu memunahkan

jurus serangan lawannya yang mengadu jiwa, diapun telah menyelamatkan Siangkoan ceng, kini menutuk hiat-to tertawa orang pula, menutuk hiat-to sebetulnya tidak perlu dibuat heran, tapi bagaimana dan kapan Pakkiong Yau-liong menutuk Hiat to orang Biau? Hakikatnya mereka bertiga tiada yang melihat. Dan kini mereka duduk disamping sambil menonton orang Biau itu yang terus tertawa, gelak tawa yang tak kuasa dihentikan sendiri, semula suaranya memang lantang, namun lama-kelamaan sember, lalu serak dan lemas kehabisan tenaga, napasnya sengal-sengal seperti mobil yang kehabisan bensin, lambat laun gelak tawa itu bcrobah menjadi isak tangis yang memilukan, darah sudah meleleh diujung mulutnya, matanya sudah terbalik, badannya mulai kelejetan. Tok-liong sian-li dan Siangkoan ceng tidak tega, Siangkoan Bu juga menghela napas, baru saja dia menggerakkan mulut, mau bicara, tiba-tiba terdengar sebuah tawa dingin bernada rendah, disusul bayangan orang berkelebat dari pucuk pohon meluncur di hadapan mereka. Karena memperhatikan tawanannya serta ketarik oleh loroh tawa yang mirip orang menangis dari orang Biau itu, sehingga Pakkiong Yau-liong yang sudah menghisap Ya-kong-ci pun tidak menyangka akan kedatangan orang yang tidak mengeluarkan suara. Karuan mereka berjingkrak kaget, empatpasang mata menatap kearah orang yang baru muncul ini. Disamping orang Biau yang terrutuk Hiat-tonya, berdiri seorang laki-laki yang mengikat kepalanya dengan sutra putih, tapi tubuhnya tidak terbalut pakaiannya lucu setengah Biau setengah Han, didepan dadanya tergantung sebuah tengkorak manusia. Tidak membawa gendewa atau anak panah. Hanya bola matanya yang kelihatan dari kain sutra yang membungkus kepalanya itu, mendelik gusar kepada mereka berempat, jengeknya : “Sungguh tak nyana kaum pendekar dari Tionggoan yang mengagul diri berjiwa kesatria ternyata juga melakukan tindakan serendah ini hanya untuk mengorek keterangan mulutnya.” Lalu dia menendang sekali ke tubuh orang Biau itu, gelak tawanya yang serak lemah seketika berhenti, ternyata tendangannya itu telah membebaskan tutukan Hiat-conya, padahal dia tidak menunduk mata pun tidak melirik, tapi gerak kakinya ternyata tepat membebaskan tutukan orang. Disamping kaget serta girang Pakkiong Yau-liong berempat juga heran dan bingung, sesaat mereka mengawasi orang yang berdandan aneh dengan sutra putih membungkus kepala ini. Gerakan kakinya yang tepat

menendang Hiat-to hingga bebas tutukannya, maka mereka yakin bahwa orang ini pasti Jik-cian-cui hun yang ditakuti orang-orang Biau dan sering muncul didaerah ini. Walau orang ini membungkus kepalanya dengan kain sutra putih, apakah Jik-cian-cui-hun ini adalah Toh-bing-sik-mo yang belasan tahun yang lalu pernah mengganas di ceng-hun-kok dan merebut Pedang Kayu cendana itu? Mereka tidak berani memastikan, jikalau tidak benar, kenapa kepalanya dibalut kain? Sebaliknya kalau betul dia orangnya. Tiba-tiba Pakkiong Yau-Uong teringat sebelum ayahnya meninggal, bukankah pernah diberitahu bahwa rambut kepala Toh-bing sik-mo berwarna merah? Waktu Tio Swat-in terkena racun, Tok-giam-po pernah memperingati kau supaya, badannya tidak tertiup angin, dan mungkin karena balut kepalanya dahulu tersamber pedang ayahnya hingga kepalanya dalam sekejap itu terkena angin sehingga hawa beracun dikepalanya sampai sekarang masih belum berhasil dipunahkan, untuk menjaga supaya kadar racun tidak menamatkan jiwanya, maka dia merasa perlu tetap membungkus kepalanya dengan kain sutra serapat mungkin-Karena rekaannya ini maka Pakkiong Yau liong yakin bahwa laki-laki berdandan setengah Biau setengah Han, dengan menggantung hiasan tengkorak didepan dadanya adalah Toh bing sik-mo yang sedang dicarinya itu. Pakkiong Yau-liong maju selangkah lalu bergelak tawa: “Inilah yang dinamakan merusak sepatu besi dicari tidak ketemu, tahu-tahu diperoleh tanpa membuang tenaga. Saudara, aku Pakkiong Yau-liong bukan sehari dua minggu mencarimu.” Laki-laki yang berjuluk Jik-cian-cui-bun diBiau-kiang ini memang benar adalah Toh-bing-sik-mo yang pernah mengganas di Tiong goan belasan tahun yang lalu, dengan dingin dia mengejek: “Tidak kukira kalian bisa meluruk keBiau-kiang, sebagaituan rumah adalah jamak kalau aku menyambut kalian sepantasnya.” Lalu dia membentak orang Biau dibawah kakinya.: “Barang tidak berguna, tidak lekas enyah dari sini ” dan setelah mengawasi orang Biau itu pergi lintang-pukang, mendadak dia mendongak serta tertawa besar dengan nada yang tidak asing lagi bagi Pakkiong Yau-liong, gelak tawa yang menggiriskan pendengarannya. Di tengah gelak tawa orang inilah tiba-tiba Pakkiong Yau liong seperti terbayang akan ayahnya Bok-kiam-tlong-siau Pakkiong Bing yang pulang kerumah dalam keadaan luka parah dan keadaannya yang mengenaskan sebelum ajal, lalu terbayang pula kepada Tio swat-in yang terkena hawa

beracun Tok-giam-po dan menunggu penyembuhan dari Pedang Kayu cendana, tanpa terasa air mata berkaca-kaca dikelopak matanya, namun bara dendam semakin berkobar dirongga dadanya, tiba-tiba dia membentak berat. “Sudah tiba saatnya dendam kesumat diantara kita harus diselesaikan-Pedang Kayu cendana yang kau rebut dari tangan ayahku juga harus kau kembalikan.” “Ah, itu mudah.” jengek Toh-bing sik-mo. “Asal kau mampu saja. Tapi kurasa urusan tidak semudah yang kau kira.” Pakkiong Yau-liong tidak banyak bicara lagi, sambil meraung gusar dia langsung menubruk kearah Toh-bing-sik-mo, pergelangan tangan berputar dengan jurus Liong-hi-gin-hin-kok (ikan naga menyelinap ke lembah dalam), dengan membawa deru kekuatan dahsyat menerjang kearah Toh-bing-sik-mo. Begitu Pakkiong Yau-liong melontarkan serangannya, bola mata Toh-bing-sik-mo seketika terbelalak heran dan kaget, betapa Cepat gerakan dan sengit serangannya sungguh sukar diperCaya, maka dia membatin: “Tak heran muridku sekonyol itu.” Namun dia tidak ayal, sebat sekali dia melejit ke atas, tubuhnya melesat mundur setombak. Pakkiong Yau-liong sudah bersabar belasan tahun, kesempatan baik pernah terabaikan sekali di ceng-hun-kok dulu, sekarang mana dia mau memberi kelonggaran lagi pada musuh besar laknat ini, sedikit menutul bumi tubuhnya sudah melambung keatas laksana burung walet, itulah Ginkang Yan-theng-hua-siang in (asap bergolak ditengah mega) yang tiada taranya, ditengah udara tubuh yang terapung itu berguling mengembangkan gerakan sin-liong-Wi-khong-coan (naga sakti berguling dan membalik diudara) yang hebat pula, menukik turun dengan terjangan dahsyat kepada Toh-bing-sik-mo. Dua gerakan dikombinasikan sekaligus dalam satu serangan, kecepatannya seumpama kilat meny amber dari langit. Baru saja Toh-bing-sik-mo menyentuh bumi, tenaga raksasa yang dahsyat sudah menindih kepalanya dari atas, karuan kagetnya sampai mengucurkan keringat dingin, tak sempat perhatikan serangan, menyelamatkanjiwa lebih penting, kontan dia menjatuhkan diri terus menggelinding pergi dengan gerakan keledai malas bergulingan, sekuatnya dia berusaha menyelamatkan diri. Karena gerakan menggelundung yang cukup keras, hingga goncangan itu melepas ikat kepalanya sehingga rambut panjangnya yang merah seperti

rumput kering itu terurai sembrawut, Pakkiong Yau-liong juga hanya berhasil mencomot kain sutra ikat kepalanya. Pakkiong Yau-liong bertolak pinggang sambil mengakak malah, nada tawanya bergema di udara menyedot sukma menggetar nyali. Wajah Toh-bing-sik-mo tampak pucat menghijau, wajahnya kelihatan kaget dan ngeri, ditengah gelak tawa Pakkiong Yau-liong mendadak dia melejit terbang secepat angin lesus berusaha melarikan diri kesemak hutan- “Lari kemana? ” hardik Pakkiong Yau-liong dengan gusar. Secepat kilat diapun me-ngudak kearah Toh-bing sik-mo yang pecah nyalinya dan berusaha melarikan diri. Begitu kaki menyentuh tanah, Pakkiong Yau-liong sudah membayangi dirinya dibelakang, dimana kedua telapak tangannya didorong perlahan lurus kedepan, dengan jurus Je cu-kian-kian-toh (mutiara pelan-pelan disemburkan), taburan telapak tangan yang mengandung dampatan angin kencang laksana gugur gunung menggulung kepunggung Toh-bing-sik-mo. Dimana terpancar bayangan kematian yang mengerikan disorot mata Toh-bing-sik-mo, tapi kedua telapak tangan Pakkiong Yau liong sudah menyentuh-bajunya, betapapun berkelit juga dia tak akan bisa lolos dari gempuran telapak tangan lawan, sedetik lagij iwanya pasti mampus dengan badan tergetar remuk oleh tenaga pukulannya. Tahu jiwanya hari ini tidak akan lolos dari ancaman elmaut, diam-diam Toh-bing-sik-mo sudah mengeluh dalam hati. Sekilas sebelum kedua telapak tangan Pa kkiong Yau-liong mendarat dipunggung orang bola matanya berputar, suara pikiran berkelebat didalam benaknya, secara mentah-mentah mendadak dia angkat kedua tangannya, namun tetap didorong kedepan dengan tenaga sedikit dikendorkan-“Biang” Toh-bing-sik-mo yang berlari kencang itu terlempar lebih kencang pula, mencelat dua tombak jauhnya dan “Bluk” jatuh terbanting ditanah. Dua kali Pakkiong Yau liong menubruk sambil melontarkan pukulannya, jangan kata melawan, menangkispun Toh-bing-sik-mo tidak mampu lagi, nyalinya sudah pecah, kini dalam usahanya melarikan diri, pundaknya terpukul pula hingga jatuh terbanting keras. Betapapun jiwa lebih berharga dari segaia benda di dunia ini, kalau tidak belasan tahun lalu tak perlu dia jauh jauh meluruk keTiong goaa merebut Pedang Kayu cendana tanpa memperdulikan akibatnya. Sambil menahan sakit Toh-bing-sik-mo merangkak bangun, tanpa ayal lagi

lekas dia angkat langkah seribu kabur dari situ. Padahal hasrat Pakkiong Yau-liong menuntut balas kematian ayahnya begitu besar, selama belasan tahun ini teramat dia mengemban cita-cita dan ingin selekasnya tercapai, kenapa pada detik-detik yang menentukan itu, sengaja dia menyerongkan pukulannya sehingga Toh-bing-sik-mo hanya kesakitan pundaknya dan membiarkannya melarikan diri? Tiga bayangan orang melesat datang dan berdiri disamping Pakkiong Yau-liong, Siang koan ceng berseru gugup: “Koko Yau- liong kenapa tidak kau ” Pakkiong Yau-liong menghela napas berat, ujarnya: “Dia tidak membawa gendewa dan panah merah, sudah tentu tidak membawa pula Pedang Kayu cendana, andaikata dia mampus ditanganku, kita akan kesulitan juga mencarinya bukan? Sakit hati jelas tetap aku tuntut kepada nya, sepuluh tahun lebih aku sudah menunggu, apa pula bedanya mengulur waktu lagi untuk beberapa kejap? Ayolah kita kejar.” Maka mereka berempat mengudak kearah Toh-bing-sik-mo yang sudah lari ratusan langkah disebelah depan. Diam-diam Siangkoan Bu mengangguk, batinnya: “Gelombang sungai yang di belakang memang mendorong yang didepan, patah tumbuh hilang berganti, Pakkiong Yau liong yang mengemban tugas keluarga untuk membalas sakit hati orang tuanya, memang patut dipuji pambeknya, sedetik sebelum dia berhasil membunuh musuh, ternyata otaknya masih juga dapat memikirkan persoalan secermat itu, soal Kungfu sudah gamblang, aku Siangkoan Bu jelas bukan apa-apa dibanding dia.” Sang surya sudah doyong kebarat, burung-burung sudah kembali pulang kesarangnya, kehidupan dunia terasa damai dan tentram. Tetapi di hutan belantara diBiau-kiang yang jarang dijelajah manusia biasa, tampak empat bayangan orang, dalam jarak tertentu tengah mengayun langkah secepat terbang mengudak kencang bayangan seorang lain disebelah depan yang lari kesetanan. Sang surya makin kelam, sebelum kembali keperaduannya, masih juga dia memancar cahaya terakhir yang kemuning cerah. Diantara celah-celah dinding selebar delapan kaki, dua orang Biau yang berperawakan tinggi kekar pundak lebar tengah berjaga sambil celingukan. Tiba-tiba bayangan seseorang tampak berlarian kencang mendatangi, dalam sekejap bayangan itu sudah berkelebat menyelinap masuk kecelah-celah dinding gunung itu. Kedua orang Biau yang berjaga dipintu lembah berteriak kaget. “Suhu,

kau… kau terluka? ” Napas Toh-bing-sik-mo naik turun, sahutnya sesaat kemudian: “Tidak apa-apa. Lawan terlalu tangguh, kalian berjagalah baik-baik, mungkin-.. ” lalu dia berlari kencang kedalam. Dalam jarak ratusan tombak tampak meluncur bayangan empat orang kearah sini, tampak mereka merandek sejenak. celingukan ke sana kemari diluar hutan sana, tapi lekas sekali sudah berlari kearah bukit karang disebelah depan, di mana kedua laki-laki Biau berjaga dimulut lembah. Dari jauh kedua orang Biau sudah melihat keempat orang itu, maka dengan rasa tegang mereka mendekam di tanah sambil mengawasi gerak-gerik mereka. Salah seorang memungut sebutir batu terus dilempar jauh ke belakang, “Trak” batu itu jatuh menggelinding di tanah. Diwaktu batu jatuh di tanah dan mengeluarkan sedikit suara itulah, keempat bayangan orang itu telah meluncur kedinding karang. Terdengar Pakkiong Yau-liong berkata: “Pasti di sini.” lalu dia mendahului menyelinap batu ke celah dinding selebar delapan kaki itu. Kini kedua orang Biau yang berjaga dimulut dinding itu tak bisa tinggal diam, segera salah seorang membentak: “Berhenti ” serempak keduanya melompat keluar menghadang didepan Pakkiong Yau-liong. Pakkiong Yau-liong menyeringai, desisnya^ “Memangnya kalian ingin mampus. Kalau tahu diri lekas enyah dari sini” sembari bicara dia melangkah lebar masuk ke dalam lembah. Sudah tentu kedua orang Biau menggerung gusar, serempak mereka melolos golok melengkung, dimana sinar berkelebat membawa suara bising, langsung membelah kepinggang Pakkiong Yau-liong. . Pakkiong Yau-liong mendengus sekali, ke dua telapak tangannya menari dengan jurus Wi-lan-siang-khi-hap (dua cuaca bergacung cerah), membawa tenaga keras tapi lunak yang luar biasa, masing-masing menepuk kearah ke dua orang Biau itu. “Plak.. . Plok” dua kali ruara nyaring di sertai jeritan terus suara gedebukan bersama senjata tajam yang berkeromang jatuh dibatu. Kedua orang Biau itu seperti diseruduk kerbau badannya mencelat jauh menumbuk dinding, tanpa dapat mengeluarkan suara lagi tubuhnya meloso jatuh tak berkutik lagi, jiwanya melayang seketika. Sempat Pakkiong Yau Hong menoleh, melihat tiga orang dibelakang sudah ikut masuk segera dia melejit tinggi menyelinap kecelah dinding karang. Ternyata dibalik dinding adalah sebuah tanah lapang yang ditaburi rumput

pendek. sebuah gubuk bertingkat dua tampak berdiri membelakangi dinding gunung dua tombak jauhnya. Dari gubuk bertingkat dua itu tiba-tiba tampak berlompatan turun bayangan enam orang, mereka berdiri berpencar dikanan kiri, tak lama muncullah seorang yang berdandan setengah Biau setengah Han, rambut panjang merah, memegang gendewa danpanah merah, dengan langkah tegar dia berdiri didepan pintu, siapa lagi kalau bukan Toh-bing sik-mo. Mulutnya menyeringai sadis, Tampangnya yang bengis dengan rambut riap-riapan memang amat menakutkan, terutama sorotan matanya yang biru menatap Pakkiong Yau-liong. Lambat-lambat dia mengangkat tangan kanan, melolos gendewa dipunggung, pelan-pelan pula memasang anak panah diatas busurnya serta ditariknya sedikit demi sedikit. Busur akhirnya terpentang penuh, disertai dengusan pendek, maka terdengarlah tali busur menjepret, anak panah merah melesat kencang tanpa mengeluarkan suara mengincar ulu hati Pakkiong Yau-liong. Pakkiong Yau-liong memicing mata, berdiri diam tak bergerak. seolah-olah tidak melihat datangnya anak panah bidikan Toh-bing-sik-mo yang melesat kencang itu. Panah terus meluncur pesat kelihatannya sudah hampir menyentuh bajunya baru mendadak Pakkiong Yau-liong membelalakkan mata nya, secepat kilat tangannya menyamber, di mana tangannya naik turun, anak panah bidikan Toh-bing-sik-mo ternyata telah berhasil di jepit diantara jari tengah dan jari telunjuknya. Akan tetapi dalam sedetik itu pula, bidikan panah yang kedua telah menyerang tiba pula. Kembali Pakkiong Yau-liong menggerakkan tangan kanannya pula Seperti semula, panah kedua kembali berhasil dijepit oleh jari nya. Mendadak bayangan merah berkelebatan simpang-siur, ternyata bidikan ketiga Toh-bing sik-mo menggunakan gaya Boan-thian-hoa (kembang memenuhi langit), belasan batang anak panah dibidikkan sekaligus, maka bayangan merah yang melesat berseliweran itu sederas hujan tebat berpencar dari berbagai penjuru meluruk kesatu sasaran, berarti Pakkiong Yau liong diberondong hujan panah. Ditengah jeritan kaget dan khawatir tiga orang, terdengar Pakkiong Yau-liong menggeram gusar, kedua tangan terkembang dengan jurus Jit-gwat-wi-lian-pi (surya rembulan berputar), anak panah ditangannya tiba-tiba bergetar laksana dinding merah mengeluarkan lapisan tenaga kuat yang

luar biasa mendesak ke luar. Itulah jurus siang-hoan-coat Pakkiong Yau-liong yang paling ampuh. Hanya satu jurus saja tapi sebatang panah merah ditangannya ternyata bergerak secepar kilat dilandasi kekuatan dahsyat lagi, satu persatu panah musuh yang melesat tiba kena di disampuknya jatuh setombak jauhnya. Bola mata Pakkiong Yau-liong sudah kelihatan beringas dan buas, dengan lekat dia menatap Toh-bing-sik-mo yang masih memegang gendewa dan berdiri torlongong ditempatnya. Sungguh dia tidak habis mengerti kenapa hujan panahnya juga tidak berhasil membinasakan lawan mudanya ini. Mendadak gelak tawa yang mengandung tekanan suara yang berftekwensi tinggi bergema dialas pegunungan sehingga bumi serasa bergetar, dari lembah yang lebih dalam sana berkumandang pulalah alunan gema suaranya yang berkepanjangan-Mata Toh bing-sik-mo masih memancarkan kobar anamarah yang penasaran, namun ujung mulutnya tampak bergetar. Di tengah alunan gema gelak tawanya yang sayup, sayup sampai dikejauhan sana, Pakkiong Yau-liong meaundukkan kepala, diam-diam dia berdoa: “Semoga arwah ayah dialam baka membantu anak menuntut balas kepada musuh besar sekarang juga .” Mendadak Pakkiong Yau-liong angkat kepalanya, matanya berlinang air mata, raut mukanya dilembari hawa membunuh yang tebal, dengan haru dan sengit dia membentak: “Toh-bing-sik-mo, sekarang tibalah saatnya kematianmu. Nah, kukembalikan panahmu.” Tampak kedua tangan Pakkiong Yau-li ong bergerak berbareng, sinar merah berkelebat, dua batang anak panah ditangannya dia timpukkan kearah Toh-bing-sik-mo mengincar jantungnya. Toh-bing-sik-mo berjingkat dari lamunannya, namun timpukan panah Pakkiong Yau-liong tak kalah cepat dari bidikan panahnya tadi, dalam sekejap itu, untuk berkelit juga sudah tidak sempat lagi. Mimik Toh-bing-sik-mo tampak ngeri dan dibayangi ketakutan, kedua matanya terbeliak besar, secara reftek dia masih berusaha menangkis dengan gendewa nya, sekuat tenaga dia mengepruk panah yang menyamber kejantungnya itu. “Pletak” saking bernafsu dia menangkis tak nyana gendewanya terpanah patah dan tak kuasa pula dia memegangnya sehinggi mencelat terbang, panah merah timpukan Pakkiong Yau-liong memang agak merandek. tapi sebatang lagi tetap meluncur tepat mengincar ulu hati Toh-bing sik-mo. “Uuuuaaaaaah” lolong panjang yang mengerikan menggetar langit dan bumi, siapa pun pasti merinding mendengarnya.

Dua batang panah menancap didada Toh-bing sik-mo. Ternyata Toh-bing-sik-mo memang teramat kuat, meski badannya sudah doyong kebelakang, kedua tangan masing-masing hendak membetot keluar panah yang menancap didada dengan tatapan dendam penuh kebencian kepada Pakkiong Yau-liong, lambat-laun dia tidak kuat lagi berdiri diatas kedua kakinya, sekali menggeliat langkahnya teras sempoyongan kepinggir menabrak lankan (pagar loteng) badannya lantas terjungkal jatuh dari tingkat kedua, “Blang” terbanting keras, kakinya masih kelejetan beberapa kali lalu tidak bergerak untuk selamanya. Namun kedua matanya tetap terbeliak besar, agaknya dia mati penasaran. Lama Pakkiong Yau-liong menjublek sambil mengawasi Jik-cian-cui-hun dengan mendelong, Toh-bing-sik-mo musuh besar pembunuh ayahnya, iblis laknat yang mengganas di Tionggoan kini sudah tamat riwayatnya, tanpa terasa berkaca-kaca bola matanya. Sesaat kemudian dia berlutut dan mendongak serta berdoa keatas: “Arwah ayah disorga terimalah sembah sujudku, hari ini anak tidak berbakti telah menunaikan pesanmu sebelum ajal, menuntut balas kepada musuh besar, semoga ayah tentram disisi Thian Yang Maha Kuasa.” Dalam sekejap ini suasana hening hikmat dan mengharukan-Siangkoan Bu bertiga yang sejak tadi menonton disamping tak tertahan juga berlinang air mata. Entah berapa lama kemudian, baru Pak kiong Yau-liong berdiri mengusap air mata, mendadak tubuhnya melompat tinggi laksana kilat meluncur keatas gubuk tingkat kedua. Keenam suku Biau yang berjaga didepan-pintu serempak mundur selangkah, mereka mengawasi dengan siaga dan was-was, namun keringat sudah membasahi jidat mereka, sorot mata yang kaget dan takut, memancarkan pula rasa mohon pengampunan. Pakkiong Yau-liong hanya menyapu pandang kepada mereka sekejap. tanpa membuat reaksi langsung dia melangkah masuk kedalam rumah. Bola matanya yang tajam menjelajah keadaan sekeliling rumah yang remang-remang, akhirnya ditemukan diatas dinding tergantung sebilah pedang berbentuk aneh, Pakkiong Yau-liong yakin itulah Pedang Mestika Kayu cendana milik ayahnya dulu. Dengan rasa senang dan lega lekas dia maju mendekat serta mengulurkan tangannya yang gemetar menanggaikan Pedang Kayu cendana dari atas dinding. Dengan perasaan haru sesaat dia perhatikan pedang mestika ditangannya,

mendadak dia pegang gagang pedang serta melolosnya, sinar tajam berkelebat, Pedang Kayu cendana telah dicabutnya. Serangkum bau cendana wangi segera memenuhi kamar gubuk ini, perasaan Pakkiong Yau-liong menjadi haru, tapi hidungnya menjadi sesak karena ingusnya meleleh, tanpa terasa air mata pun bercucuran namun perasaannya disamping haru juga riang gembira. Waktu dia membalik badan beranjak ke depan pintu, sekali berkelebat tubuhnya melesat turun ke tanah pula. Siangkoan Bu bertiga lekas menyambutnya dengan senyum lebar, kata Siangkoan Bu kepada Pakkiong Yau-liong dengan tersenyum. “Selamat Hian-tit, syukurlah kau berhasil menuntut balas dan merebut kembali Pedang Kayu cendana.” Saking haru naik turun biji leher Pakkiong Yau-liong, betapa riang dan besar terima kasihnya pada ketiga orang dihadapannya ini, sesaat dia tak mampu mengeluarkan suara, tenggorokannya serasa tersumbat. Siangkoan Bu menepuk enteng pundak Pakkiong Yau-liong, katanya: “Marilah Hian-tit, Swat-in Sutit sedang menunggu kabar gembiramu, dengan Pedang Kayu cendana ini, kau harus lekas menawarkan racun ditubuhnya.” Tanpa mengeluarkan suara Pakkiong Yau-liong manggut-manggut, bergegas mereka meninggalkan tempat itu keluar dari lembah sempit danpendek itu berlari kearah utara. Bintang-bintang bertaburan dilangit biru hari ternyata sudah menjelang kentongan ke tiga. Angin lalu berhembus semilir, dari bawah beberapa pucuk pohon yang besar hanya ketimpah seCerCah rembulan sabit, terdengar beberapa kali rintihan, rintihan kesakitan yang amat menyiksa. Seorang gadis dengan muka pucat menghijau tanpak rebah tak bertenaga dibawah pohon besar itu, keadaannya tampak payah dan tersiksa sekali. Gadis ini bukan lain adalah Tio Swat-in yang terkena hawa beracun Tok-giam-po dan ditinggal dan dititipkan kepada ketua gua orang Biau, padahal tubuhnya tidak boleh terkena angin dan harus banyak istirahat didalam gua. Waktu Pakkiong Yau-liong meninggaikan dirinya seCara diam-diam, Tio Swat-in jadi kesepian, dirinya seperti terpencil ditempat asing ini. Walau dalam sehari penuh orang Biau meladeni dia dengan telaten, sayang untuk berkomunikasi satu sama lain serba susah, maka terasa tingkah kasar orang-orang Biau ini apa pula faedahnya bagi diri sendiri?

Dibawah sinar pelita dia pandang bayangannya sendiri hingga malam semakin larut tetap tidak bisa pulas, sudah tiga hari dia berada dalam gua orang-orang Biau ini, dalam tiga hari ini, kecuali dua jam kemudian setelah terkena hawa beracun Toksgiam-po dia amat kesakitan dan lunglai, sekarang dia rasakan dirinya segar bugar seperti orang biasa. Namun setelah ditinggal pergi Pakkiong Yau-liong, hatinya jadi gundah, tak bisa tentram. Dia sendiri tidak habis mengerti kenapa dan apa sebabnya timbul pikiran ruwet yang menggejolak sanubarinya, dia merasa takpantas seorang diri dia menyembunyikan diri di dalam kamar, membiarkan Pakklong Yau-liong seorang diri menempuh bahaya menuntut balas sakit hati orang tuanya dan merebut Pedang Kayu cendana untuk menawarkan raCun didalam tubuhnya. Tio Swat-in tahu meski Pakkiong Yau-liong telah menghisap sari Ya-kong-ci tanpa sengaja, Lwekangnya sudah maju berlipat ganda, tapi bila dia sampai mengalami sesuatu petaka Dengan haru diam-diam dia berteriak dalam hati: “Aku harus mencarinya dan berdampingan mengganyang musuh, ya aku harus selalu mendampinginya, entah mati atau hidup aku harus ikut dan berada disampingnya.” Maka dia menulis sepucuk surat yang dia tindih dibawah pelita, ditengah malam yang sunyi diam-diam dia meninggalkan gua permukiman orang Biau. Malam dingin, angin semilir Tio Swat-in menarik napas panjang. Semula tidak dirasakan apa-apa, tapi setelah dia menempuh perjalanan Cukup jauh, setelah sekian lama dirinya terkena angin, keadaan dirinya semakin berobah, perasaannya amat tersiksa. Tio Swat-in berpikir: “Mungkinkah hembusan angin lalu betul-betul membuyarkan kadar racun dalam tubuhku? ” Tapi dia tetap bertahan dan tidak hiraukan perobahan badannya, sekuat tenaganya dia masih terus mengayun langkah. Tapi rasa kesakitan semakin tak tertahankan lagi, kulitnya seperti diiris-iris, mukanya terasa kasar dan tebal, isi perutnyapun seperti dipelintir dan dibetot, akhirnya dia tidak tahan lagi tersungkur jatuh di bawah pohon besar itu. Dialas belantara yang liar dan jarang dijelajah manusia dalam wilayah Biau-kiang ini Tio Swat-in rebah telentang menahan siksa memandangi bulan sabit diangkasa raya, sungguh memekikpun langit tak akan memberi reaksi, menjeritpun bumi tidak akan membantunya .

Tanpa terasa dia merogoh keluar sebuah boneka kain dari dalam sakunya, boneka kain yang berlepotan noda hitam, noda darah yang kering dan hitam setelah belasan tahun lalu, air mata berlinang, kejadian masa lalu kembali terbayang di depan mata nya. Tak kuasa akhirnya dia merintih dan berguling-guling meregang jiwa. Hanya munculnya keajaiban sajalah yang dia harapkan, padahal siksaan dalam tubuhnya ternyata semakin menghebat, dia pun merasakan kondisinya semakin parah dan lemah. Tio Swat-in tahu jiwanya sudah dekat ajal, elmaut sebentar lagi akan menjemput dirinya. Tiba-tiba empat bayangan orang tampak meluncur bagai terbang, dua puluhan tombak dari pohon besar dimana Tio Swat-in rebah sekarat, satu diantara bayangan itu adalah seorang pemuda yang memegang sebilah pedang pusaka seperti mendengar suara rintihan yang menyayat hati, tampak dia merandek dan lalu menghentikan langkahnya. Tiga bayangan orang yang lain segera ikut berhenti. Serangkum angin menerpa halus kemukanya, pemuda yang pasang kuping itu mendadak berobah hebat air mukanya, secepat kilat dia melejit kearah dari mana datangnya rintihan dan hinggap dibawah beberapa pucuk pohon besar itu. Tio Swat-in sudah dalam keadaan setengah sadar, pandangannya sudah buram, keadaannya benar-benar telah kritis dan napasnya tinggal satu-satu, pelan dia membuka matanya raut wajah pucat yang menahan derita mengunjuk secercah senyum pahit, keajaiban yang diharapkan akhirnya timbul dan menjadi kenyataan, lapat-lapat dilihatnya seseorang berdiri di-depannya, siapa lagi kalau bukan Pak kiong Yau-liong jang amat dirindukan? Dengan gemetar bibirnya yang sudah memutih kering bergetar megap-megap. suaranya lirih seperti bunyi nyamuk: “Koko Yau-liong akhirnya kau kembali di sampingku.” Betapa sedih dan luluh hati Pakkiong Yau-liong, tapi dalam sekejap ini diapun maklum apa yang telah terjadi, apakah dia bisa menyalahkan Tio Swat-in? Tidak mungkin, matanya berkaca-kaca. mendadak dia berjongkok serta meremas jari-jari tangan Tio Swat-in yang mulai kaku dan dingin, katanya haru dengan setengah meratap: “Betul, adik Swat-in, aku sudah berada disampingmu. Marilah aku sudah berhasil menuntut balas sakit hati kita dan merebut kembali Pedang Kayu cendana ” Dengan lemah Tio Swat-in mengangguk katanya perlahan: “Terima kasih,

kaupun telah membalaskan sakit hati ayahku. Sayang Pedang Kayu cendana sekarang sudah tidak berguna lagi untukku.” berhenti sejenak pelan dia menoleh kearah Siangkoan Bu suami isteri yang berdiri termangu. “Kalian juga datang sungguh aku amat senang bisa bertemu pula dengan kalian-Adik ceng kemarilah kau, ada pesan yang ingin kusampaikan kepadamu.” Lekas Siangkoan ceng maju berjongkok dipinggir Tio Swat-in, dengan tangannya yang gemetar Tio Swat-in memegang dan menarik tangan Siangkoan ceng, lalu ditaruhnya diatas punggung tangan Pakkiong Yau-liong yang di pegangnya pula, dengan berlinang air mata dia tersenyum lalu berkata perlahan: “Sekarang aku ingin mohon kalian mau berjanji satu hal kepadaku, apakah kalian mau menerima permintaanku.” Tanpa berjanji Pakkiong Yau-liong dan Siangkoan ceng mengangguk perlahan-Dengan tersenyum Tio Swat in memandang mereka satu persatu lalu berkata: “Aku tahu selama ini adik ceng amat baik dan kasih sayang kepada koko Yau-liong, demikian pula koko Yau-liong juga sayang dan melindunginya seperti adik sendiri, maka aku harap setelah kalian pulang ke Tionggoan, harus segera menikah, aku yakin paman dan bibi tentu setuju akan usulku ini.” Disaat Pakkiong Yau-liong dan Siangkoan ceng sama-sama melenggong malu, Siangkoan Bu dan Tok-liong-sian li manggut-manggut sambil berlinang air mata, saking terharu mereka tak kuasa berucap sepatah kata pun-Tio Swat-in mengulurkan tangannya mengambil boneka kain disamping tubuhnya, katanya pula perlahan: “Inilah oleh-oleh ayah ku di waktu aku kecil dulu, sudah belasan tahun tidak pernah berpisah dari badanku, biarlah kuberikan kepada kalian sebagai kado pernikahan kalian dari aku.” Tidak terlukiskan betapa sedih dan pilu hati Pakkiong Yau liong dan Siangkoan ceng dengan berlinangan air mata mereka pandang Tio Swat-in dengan nanar, namun tiada yang mengulur tangan menerima boneka kain itu. Terpejam mata Tio Swat-in, mulutnya menggereger, muka mengerut seperti menahan sakit yang luar biasa, matanyapun memicing, dengan suara lirih hampir tidak terdengar lagi dia berkata. “Bukankah kalian sudah berjanji kepadaku? Kenapa tidak mau menerima kado ku? “

Pakkiong Yau-liong saling pandang dengan Siangkoan ceng, lalu keduanya sama-sama mengulurkan tangannya menerima boneka kain dari tangan Tio Swat-in yang gemetar. Pada saat itu pula tangan yang gemetar itu sudah lunglai, matanya yang memicing juga pelan-pelan terpejam. Tio Swat-in yang senasib sepenanggungan bersama Pakkiong Yau liong, dalam sekejap ini wajahnya menampilkan senyuman cerah, puas bangga dan senang ditengah kerumunan empat orang yang pecah tangisnya mangkatlah jiwanya. Tio Swat-in sudah mati. Dan yang masih hidup seperti Pakkiong Yau-liong yang bergelar Kim-ni-loan-jio (tombak singa emas) amat sedih, hatinya beku. -oooOdwOooo- Tanpa terasa musim rontokpun telah datang, daon-daon mulai berguguran, angin meniup kencang membawa debu ditanah yang gersang. Udara lembab, mega mendung, angin musim rontok menghembus kencang. Dijalan raya yang menuju kepropinsi Ho pak. dua puluhan li dari ging-thay pelan-pelan mendatangi sebuah kereta ditarik seekor kuda memasuki ceng-hun-kok. Kereta kuda akhirnya berhenti dilembah mega hijau, dari dalam kereta beranjak turun seorang pemuda kurus tinggi berwajah tampan dan gagah. Wajahnya kelihatan lesu dan diliputi kesedihan, seorang diri dia berjalan mondar-mandir.

Apakah pemuda itu sedang menikmati panorama didalam lembah? Tidak. dia sedang mencari dan berusaha menemukan sesuatu miliknya yang hilang. Ya boleh dikata dia telah kehilangan sesuatu yang pernah menjadikan kenangan abadi dalam benaknya didalam ceng-hun-kok ini. Dia sedang menemukan kenangan masa lalu yang pernah dialaminya disini, meski bukan pengalaman manis, tapi pengalaman sekejap itu memang patut dia kenang dan dia rindukan. Mendadak dia berhenti, kepalanya tertunduk seperti menepekur, rona mukanya sering berobah, kadang-kadang tersenyum penuh arti dan ada kalanya dia menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hembusan angin rontok ternyata membawa taburan hujan rintik, tetapi pemuda itu seperti tidak merasakan bahwa dirinya sudah basah oleh air hujan, dia tetap berdiri tegak menenggelamkan diri dalam renungannya. Dari dalam kereta turun pula seorang gadis jelita berperawakan ramping

berisi, pelan-pelan dia menghampiri dan berdiri disamping sang perjaka serta menarik bajunya pelan. Pemuda itu seperti tersentak sadar, lekas dia melihat cuaca lalu menoleh kepada si gadis dengan tertawa sambil mengusap air hujan dimukanya dia menarik si gadis kembali kedalam kereta. Keretapun bergerak. kudapun telah mengayun langkah nya. “Tik tak tik tak. ” tapal kuda berdentam dan menimbulkan gema suara yang nyaring didalam lembah, semakin lama makin jauh kereta itu meninggalkan ceng-hun-kok, namun si pemuda yang ganteng itu sering melongokkan kepalanya keluar memandang ke-arah ceng-hun-kok dengan perasaan berat.

TAMAT Semarang, 25 Januari 1970.

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s