Tamu Aneh Bingkisan Unik

Tamu Aneh Bingkisan Unik

Oleh : Qing Hong / Chin Hung

Persembahan : See Yan Tjin Djin 2006

Terjemahan Liang YL

Teks kiriman : Lavilla

Final Edit & Ebook : Dewi KZ

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

BAB 1 Membasmi Tujuh Pembunuh

Genting yang sudah pecah, kayu yang sudah lapuk, rantingranting

tampak layu dan, daun-daunan tampak berguguran. Bendabenda

yang dibakar tiada habisnya…. Tadinya di sana ada sebuah

pagoda terkenal. Pelancong dan pengunjung terus-menerus datang

memenuhi tempat itu. Sekarang pagoda itu seperti benda yang

sudah tidak terpakai lagi.

Pagar-pagar yang mengelilingi pagoda itu hilang entah ke mana,

bangunan pagodapun hanya tinggal separuh, karena bagian atas

pagoda sudah roboh. Semenjak ada kabar yang mengatakan di atas

pagoda sering muncul binatang aneh, suasana di sana jadi

bertambah sepi lagi. Sekalipun itu di pagi hari sangat sulit menemui

satu manusia di sana.

Itu semua adalah gambaran Pagoda Su Zhou Rui Guang. Tidak

ada yang tahu mengapa pagoda itu bisa berubah menjadi seperti

itu. Sepertinya setiap orang hampir melupakan keberadaan pagoda

itu.

Tapi hari ini ada seseorang yang datang ke sana. Orang itu

tampak duduk malas-malasan di tangga batu di depan pagoda yang

bangunannya hanya tinggal separuh itu. Sepertinya dia sedang

menikmati sinar matahari di musim semi, tapi bila diteliti dengan

seksama, orang itupun seperti benda yang sudah tidak terpakai.

Sedikitpun tidak memberikan kehidupan kepada pagoda itu.

Usianya sekitar 25-26 tahun, wajahnya tampan, tapi rambutnya

berantakan dan kumal. Bajunya compang camping, kalau tidak

melihat cara duduknya yang gagah dan masih terlihat sikap

angkuhnya, orang itu tidak ada bedanya dengan pengemis biasa.

Di sisinya tersimpan sebuah pedang panjang, tapi posisinya

sekarang terlihat lebih diam dari pedang yang diletakkan di sisinya.

Dia duduk menyandar di tangga batu itu, lama tidak bergerak

seperti sebuah patung manusia yang tidak bernyawa. Terlihat

seekor tikus besar tanpa rasa takut berjalan mondar mandir di

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

bawah kakinya. Bahkan tikus itu masih berani mengendus-endus

kakinya, mungkin karena tidak tercium bau manusia atau karena

tikus itu tidak pernah melihat manusia sebelumnya maka dia tidak

takut kepada orang itu, tikus itu mulai bergerak ke atas kakinya.

Dia terus melihat gerakan tikus itu, terlihat dia mulai tersenyum,

senyumnya terlihat oleh si tikus, tikus itu jadi tidak beranjak naik

dan mulai mengendus-endus lagi, tikus itu siap melarikan diri.

“Cuh!”

Dahak yang keluar dari mulutnya seperti sebuah panah yang

meluncur ke arah kepala tikus itu.

Tikus itu seperti terpanah hanya terdengar suara, “Ciut!” tikus itu

bergerak-gerak sebentar kemudian mati.

Setelah itu barulah orang itu menggerakkan tangan dan kakinya,

dan memungut tikus yang sudah mati itu dan melemparnya ke

belakang.

Ternyata di tempat duduknya tadi terlihat banyak tikus yang

sudah mati semuanya berjumlah 7 ekor, tampak gemuk-gemuk

beratnya kurang lebih ada setengah hingga satu kilogram satu

ekornya.

Mengapa dia harus membunuh tikus-tikus itu?

Dia mempunyai alasannya.

Diapun mulai mencari pasir di dekat sana kemudian menaburkan

pasir itu di atas tubuh tikus yang sudah mati, setelah itu baru dia

menguliti kulit tikus itu satu per satu hingga bersih, membuang

kepala, ekor, dan kaki tikus dengan pedangnya. Tidak lupa organ

dalam tikus itupun dibuang, dan dicuci hingga bersih di sebuah

sungai kecil yang ada di dekat sana. Di depan pagoda dia

menyalakan api, lalu diapun memanggang daging tikus yang sudah

dibersihkan lalu ditaburi dengan bumbu.

Hanya satu kalimat yang bisa menjelaskan semuanya, dia

memanggang semua tikus itu untuk menjadi santapan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Begitu ketujuh ekor tikus putih itu dipanggang hingga kecoklatan

dan mengeluarkan harum yang sedap, dari dalam pagoda dia

mengambil seguci arak, serta 8 cawan arak dari balik baju bagian

dadanya. Kemudian cawan-cawan itu disusunnya membentuk

lingkaran seperti menata di sebuah meja untuk diadakan pesta.

Setelah itu dia menatap langit dan berkata pada dirinya sendiri,

“Sudah hampir pukul 12, tamu-tamu akan segera datang.”

Baru saja dia selesai bicara dari belakangnya terdengar suara

serak sambil tertawa orang itu berkata, “Hei! Hei! Hei! Aku sudah

tiba!”

Diiringi suaranya muncul seorang pak tua dari dalam pagoda.

Pak tua itu terlihat sudah sangat tua, dia mengenakan sebuah

topi yang terlihat sangat usang, mengenakan baju berwarna abu,

alisnya pendek dan jarang. Matanya sipit, wajahnya penuh dengan

kerutan dan tampak sedikit bengkak, dia memegang sebuah tongkat

yang bentuknya aneh. Sepertinya dia tukang minum dan hidupnya

seperti tidak bersemangat.

Pemuda itu hanya melihatnya sekilas kemudian meneruskan

kegiatan memanggang tikus-tikus itu, dia bertanya, “Apakah kau

Lau Wen Sheng?”

Pak tua itu tertawa dan menjawab, “Benar!”

“Silakan duduk!”

Lau Wen Sheng tertawa dan duduk di depan ‘meja pesta’, dia

melihat ada 8 cawan arak di sana, dia bertanya, “Apakah masih ada

tamu lainnya yang akan datang?”

“Benar.”

Lau Wen Sheng tertawa, tampak giginya yang berwarna

kekuningan, “Aku mengira kau hanya mengundangku… Siapa

keenam orang lainnya?”

“Teman-temanmu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Aku tidak mempunyai teman!”

“Mereka seprofesi denganmu, menurut orang-orang walaupun

seprofesi tapi biasanya akan terjadi bentrokan, meski hal itu masih

bisa dikategorikan sebagai teman.”

Wajah Lau Wen Sheng tampak sedikit berubah, “Mereka

adalah….”

“Ren Lang, Xi Men Bao (Manusia serigala, Xi Men Bao), Tie Ci

Wei Ma Si (Landak baja Ma Si), Fu Qhi Fu Ren (Nyonya pemain

kecapi), Yin Po Po (Nenek Yin), Hong Hai Er (Anak merah), dan Bu

Kong Sheng (Biksu tidak kosong).”

Lau Wen Sheng tampak mengerutkan dahinya lalu dia bertanya,

“Apakah benar mereka akan datang?”

“Seperti dirimu merekapun pasti akan datang.”

Lau Wen Sheng mengedipkan matanya lalu bertanya, “Mengapa

kau yakin kalau aku pasti akan datang?”

Pemuda itu balik bertanya, “Lalu mengapa kau mau datang?”

“Karena aku menerima sebuah undangan, orang yang

mengundangku bukan orang terkenal, tapi namanya sangat aneh,

karena merasa aneh maka aku ingin tahu siapa orang itu.”

“Benar, keenam orang yang lainnya juga beralasan seperti itu,

mereka pasti akan datang untuk menepati undangan itu.”

Lau Wen Sheng mulai menatap pemuda itu sungguh-sungguh

lalu dia bertanya, “Xin Suan? Apakah namamu adalah Xin Suan?”

“Benar.”

“Coba jelaskan, mengapa namamu adalah Xin Suan (sedih)?”

“Hatiku selalu diliputi dengan kesedihan, karena itu aku

membutuhkan ketujuh pembunuh seperti kalian untuk

membantuku.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Hargaku membunuh orang sangat tinggi, aku takut kau tidak

akan mampu membayarku dengan harga tinggi.”

“Belum tentu.”

“Tidak ada harga, hal lain tidak perlu dibicarakan lagi.”

“Belum tentu!”

“Baiklah, katakan apa yang membuatmu sedih?”

“Kita tunggu mereka datang, setelah semuanya sudah lengkap,

aku baru akan mengatakannya.”

Lau Wen Sheng dengan dingin menatap tikus yang ditusuk

seperti sate itu dan bertanya, “Kau memanggang tikus-tikus itu

untuk menjamu kami?”

Xin Suan mengangguk, “Benar, uangku hanya cukup untuk

membeli seguci arak, aku rasa daging tikus panggang ini sangat

lezat, cocok bila ditemani dengan arak!”

Lau Wen Sheng tidak yakin kalau daging tikus adalah daging

yang enak, malah timbul perasaan tidak enak di dalam hatinya.

Karena itu dia segera berdiri dan berkata, “Kalau bukan karena kau

masih muda, aku benar-benar ingin menghajarmu!”

Setelah itu dia membalikkan badan siap berlalu dari sana.

Xin Suan tersenyum, “Sudah datang satu orang lagi, apakah kau

tidak mau bertemu atau mengobrol terlebih dulu dengan temanteman

seprofesimu?”

Lau Wen Sheng berhenti. melangkah, dia melihat ke arah utara,

tampak datang seseorang mengenakan baju berwarna merah, orang

itu melangkah dengan cepat dari arah utara.

Hanya membutuhkan waktu singkat orang itu sudah berada di

depan pagoda.

Ternyata yang datang adalah seorang anak tanpa alas kaki, tapi

bila orang itu disebut sebagai anak rasanya tidak pantas, karena bila

diteliti, sebenarnya usia orang itu sekitar 35 tahun, hanya saja

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

tubuhnya kecil dan pendek, dia tidak mempunyai kumis. Ditambah

lagi wajahnya terlihat seperti anak-anak, dan baju yang

dikenakannyapun adalah baju anak-anak berwarna merah, karena

semua penampilannya itu memberikan kesan kalau dia masih kecil.

Lau Wen Sheng segera mengurungkan niatnya untuk

meninggalkan tempat itu, dia menyapa orang yang bara datang,

“Hong Hai Er, sudah lama kita tidak bertemu!”

Hong Hai Er memberi hormat dan berkata, “Lau Wen Sheng,

mengapa kaupun bisa berada di sini?”

“Aku adalah salah satu tamunya.”

Hong Hai Er menanggapi, “Oh!” kemudian dia bertanya, “Apakah

kau adalah Xin Suan yang mengirim undangan itu?”

Xin Suan tampak asyik memanggang daging tikus itu, tapi dia

tetap menjawab, “Benar!:

Sikapnya terlihat sangat angkuh! Tapi Hong Hai Er tidak marah,

dia malah tertawa dan berkata, “Kau yang mengirim undangan itu,

apakah kau akan mengadakan perdagangan denganku?”

Xin Suan mengangguk. “Katakan perdagangan apa itu?”

“Kalau para tamu sudah datang semua, baru akan kukatakan.”

Hong Hai Er melihat ‘meja pesta’ yang ada di bawah, dia tertawa

dan bertanya, “Kau mengundang orang lain?”

Lau Wen Sheng yang menjawab, “Dia masih mengundang Ren

Lang Xi Men Bao, Fu Qin Fu Ren, Tie Ci Wei Ma Si, Yin Po Po, dan

juga Bu Kong Sheng!”

Hong Hai Er berteriak, “Ya, Tuhan! Semua pembunuh diundang.

Jika kau tidak mempunyai 300-500 ribu tail perak, mana mungkin

kau bisa membayar kami?”

Kata Xin Suan, “Bu Kong Sheng sudah datang.”

Di depan mereka muncul seorang biksu tua dengan tongkatnya.

Bu Kong Sheng!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Bu Kong Sheng berumur kurang lebih 50 tahun, dia terlihat

tampan, baik hati juga ramah. Yang tidak tahu sifat aslinya tentu

akan tertipu oleh penampilannya dan akan menganggap kalau dia

adalah seorang biksu yang baik hati.

Sikapnya memang seperti seorang biksu dengan posisi tinggi.

Begitu tiba di depan pagoda, dia menyapa Hong Hai Er dan Lau

Wen Sheng dengan sopan. Dengan satu tangan di depan dadanya

dia memberi hormat, “A Mi Ta Ba!

Sudah beberapa tahun ini kita tidak bertemu, bagaimana kabar

kalian?”

Lau Wen Sheng tertawa dan berkata, “Aku tidak seperti Anda

yang bernasib baik. Selama setahun Anda sudah mendapatkan

keuntungan sekitar 500-600 ribu tail perak, apakah benar?”

Dengan rendah hati Bu Kong Sheng menjawab, “TidakJTidak!

Aku hanya seorang biksu, aku tidak berani berbuat serakah. Aku

hanya mendapatkan keuntungan sekitar 400 ribu tail perak lebih.”

Hong Hai Er menarik nafas berkata, “Tahun kemarin aku hanya

mendapatkan keuntungan sekitar 200 ribu tail. Aku merasa heran,

jaman sudah berubah, hati orangpun ikut berubah. Mereka lebih

senang menyewa seorang biksu untuk menjadi pembunuh. Besok,

atau lusa, rasanya akupun akan mencukur rambutku hingga botak

dan menjadi biksu!”

Tiba-tiba terdengar derap langkah kuda ke arah mereka!

Hanya dalam waktu sebentar kuda itu sudah mendekati tempat

mereka. Dari jarak beberapa puluh meter, orang itu sudah

melompat dari sadelnya, dan terbang seperti seekor elang lalu

mendarat di depan mereka!

Kepala dan matanya besar. Wajahnya penuh dengan cambang.

Tingginya kurang lebih ada 7 kaki. Dari orang yang ada di sana

tingginya lebih dari satu kepala. Dia tampak kokoh seperti sebuah

pagoda!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Orang ini adalah salah satu pembunuh yang paling ditakuti

orang-orang dunia persilatan—Tie Ci Wei Ma Si.

“Tuan Ma, Anda sudah datang!”

Suaranya baru terdengar, dari belakang pagoda terdengar ada

yang tertawa kemudian muncul seorang nenek yang sedang

berjalan ke arah mereka!

Yang baru datang itu adalah Yin Po Po (Nenek Yin).

Hong Hai Er bertepuk tangan dan berkata, “Sangat baik! Tidak

disangka, tujuh orang pembunuh bisa berkumpul di sini, ini benarbenar

hari yang baik!”

“Ren Lang dan Fu Qin Fe Ren belum datang,” jelas Lau Wen

Sheng.

“Aku sudah datang!”

Suaranya terdengar seperti teriakan serigala, dari ratusan

langkah sudah terdengar!

“Tenaga dalam Xi Men Bao semakin kuat,” kata Yin Po Po.

“Terima kasih atas pujian Kakak!” Suaranya baru terdengar,

orangnya sudah muncul dengan baju hijau seperti membawa

cahaya ke depan pagoda.

Dia adalah Ren Lang, Xi Men Bao! “Hanya tinggal Fu Qin Fu Ren

yang belum datang,” kata Hong Hai Er.

Suara Tie Ci Wei Ma Si besar seperti guntur, dia berkata, “Fu Qin

Fu Ren yang paling sombong tapi selalu terlambat datang!”

“Dengar! Dia juga sudah datang!” seru Bu

Kong Sheng.

Terdengar suara kecapi sayup-sayup dari kejauhan, seseorang

dengan sosok seperti dewi terbang mendarat di depan pagoda.

Itu adalah kecapi bersenar 7!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Jika diperhatikan suara kecapi yang dipetik terdengar sangat

sedih, hanya ada kesedihan bukan kemarahan. Kesedihan tidak

akan melukai orang. Seperti seorang perempuan yang merindukan

kekasihnya!

Tie Ci Wei Ma Si melihat sekeliling dan berkata, “Perempuan itu

mulai bersikap cengeng lagi.”

Sesudah itu dia segera duduk bersila dan memejamkan mata.

Dengan penuh konsentrasi dia menolak godaan suara kecapi itu.

Lau Wen Sheng, Ren Lang, Hong Hai Er, Bu Kong Sheng dengan

cepat duduk bersila dan wajah mereka terlihat sangat serius, seperti

sedang menghadapi musuh besar yang akan datang.

Hanya Xin Suan dan Yin Po Po seperti tidak mendengar suara itu.

Mereka seperti tidak peduli.

Yin Po Po adalah seorang perempuan. Godaan seperti ini pasti

tidak akan mempan baginya. Xin Suan adalah seorang laki-laki

muda, mengapa dia tidak tergoda? Karena itu dengan kaget Y in Po

Po mendekati Xin Suan sambil mengetuk tongkatnya, “Hai, anak

muda, kau bisa menahan diri!”

“Apa yang Anda maksud?” tanya Xin Suan tidak mengerti.

Yin Po Po tertawa, “Kau masih muda tapi kau bisa menahan lagu

mesum Fu Qin Fu Ren, kau benar-benar hebat!”

Xin Suan tertawa, “Apakah lagu yang dimainkannya adalah lagu

mesum?”

“Benar! Orang yang bisa menahan godaan lagunya sudah tidak

banyak. Jika ilmu silat yang dimiliki orang itu rendah maka dia akan

seperti kerasukan setan, membuat pikiran menjadi tidak benar.”

Xin Suan mengangkat bahunya, “Aku tidak merasa kalau lagunya

aneh.”

“Coba kau dengar dengan teliti, nadanya begitu sedih, seperti

menangis. Kau adalah seorang laki-laki, apakah kau tidak

mempunyai hati mengasihani?” tanya Yin Po Po.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Aku tidak mengerti musik, jadi aku tidak tahu apa makna dari

suara kecapi itu,” jelas Xin Suan.

Dia mengangkat bahunya lagi berkata, “Kalau kecapi itu

diperuntukkan bagiku, benar-benar seperti pepatah yang

mengatakan: bermain kecapi untuk diperdengarkan kepada sapi.”

“Sepertinya terhadap nada itu kau sama sekali tidak mengerti,

pantas saja,” kata Yin Po Po.

Suara kecapi terdengar semakin nyaring.

Lagu yang dimainkan terdengar semakin sedih, seperti seorang

perempuan kesepian yang tidak bisa tidur di malam hari. Suara itu

begitu menggoda!

Lau Wen Sheng seperti sudah tidak bisa menahan godaan itu

lagi, kepala mulai mengeluarkan keringat. Wajahnya memerah,

terlihat nafsu birahinya tidak bisa dibendung lagi.

Yin Po Po tertawa, tiba-tiba dia berteriak, “Fu Qin Fu Ren, jangan

mainkan kecapimu lagi, nanti ada orang yang tidak tahan.”

Suara kecapi itu tiba-tiba berhenti!

Fu Qin Fu Ren muncul.

Dia seorang perempuan cantik.

Rambutnya yang hitam tampak bergelombang. Wajahnya

berbentuk oval, alisnya berbentuk bulat seperti Gung Chun. Matanya

bening seperti air, pinggangnya ramping, dadanya penuh, benarbenar

sangat cantik dan menggoda.

Dia memabwa sebuah kecapi bersenar 7. Dengan pelan-pelan dia

berjalan menuju pagoda itu. Sambil tertawa dia berkata, “Kakak Yin,

kau sudah datang. Maaf adik datang terlambat, harap

memakluminya.”

Lau Wen Sheng, Bu Kong Sheng, Tie Ci Wei Ma Si, dan Ren Lang

Xi Men Bao segera berdiri. Hanya Hong Hai Er merasa sedikit

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

kesulitan. Dia tidak bisa berdiri. Dengan malu dia berkata, “Fu Qin

Fu Ren, ilmumu semakin hebat. Aku….”

Fu Qin Fu Ren tampak marah dan berkata, “Kau masih menyusu!

Beberapa tahun iagi baru mencariku!”

Lau Wen Sheng tertawa terbahak-bahak.

Mata Fu Qin Fu Ren bergerak. Dia sudah melihat Xin Suan dan

tertawa, “Apakah kau adalah Xin Suan?”

Xin Suan mengangguk dan menjawab, “Benar.”

“Nama yang aneh!” kata Fu Qin Fu Ren.

“Ada yang bernama anjing hitam, anjing putih, dan kucing

belang, Xin Suan bukan nama yang aneh bukan?”

Dengan genit Fu Qin Fu Ren tertawa, ‘ Hatiku paling lemah

menghadapi hal seperti ini. Begitu membaca nama Xin Suan, aku

mengambil keputusan untuk datang ke sini. Tapi aku tidak tahu apa

kesulitanmu, apa mungkin aku bisa membantu?”

“Silakan duduk semuanya!” undang Xin Suan.

Ketujuh pembunuh itu segera mengelilingi ‘meja’ dan duduk di

sana. Xin Suan mengisi cawan-cawan itu dengan arak dan berkata,

“Kalian adalah orang-orang terkenal didunia persilatan. Hari ini

kalian telah datang ke sini dari jauh, aku merasa sangat berterima

kasih. Karena itu, aku akan bersulang untuk kalian!”

Sesudah itu dia langsung meneguk arak yang ada di cawannya

hingga habis.

Ketujuh pembunuh itu, tidak ada seorangpun yang mengikutinya

minum. Mereka hanya tersenyum melihat kelakuannya.

Xin Suan tersenyum dan berkata, “Dalam arak tidak ada racun,

kalian tidak perlu meragukannya.”

Ketujuh pembunuh itu tidak bergeming. “Mengapa kalian tidak

mau minum?” tanya Xin Suan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Karena kami tidak pernah minum arak suguhan orang lain,” jelas

Tie Ci Wei Ma Si dengan dingin.

“Mengapa?” tanya Xin Suan. “Karena kau terlalu banyak

membunuh orang,” jawab Tie Ci Wei Ma Si.

“Apa hubungan semua itu dengan minum arak?” Xin Suan

bertanya aneh.

“Orang yang memiliki dosa yang sudah bertumpuk seperti

gunung tidak boleh minum sembarang arak. Sekalipun arak itu tidak

beracun, tetap akan menjadi racun,” jelas Tie Ci Wei Ma Si.

“Kalau kalian takut setelah minum kalian akan kehilangan nyawa,

lebih baik kita makan daging panggang saja,” kata Xin Suan.

Dengan pisau belati tajam yang dikeluarkan dari balik baju

bagian dada, dia menusuk seekor tikus dan memberikannya kepada

Fu Qin Fu Ren dan berkata, “Nyonya, silakan Anda makan dulu.”

Fu Qin Fu Ren tampak mengerutkan dahinya dan berkata, “Aku

ingin muntah melihat daging itu, bagaimana mungkin aku bisa

makan daging itu?”

“Daging manusia boleh dimakan, mengapa daging tikus tidak

boleh dimakan? Aku hanya membunuh orang tapi tidak pernah

memakan daging manusia, bawa sana, bawa pergi!”

Xin Suan memberikan daging tikus itu kepada Yin Po Po, “Apakah

Po Po pernah makan daging seperti ini?”

Yin Po Po menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Bukan aku

tidak berani makan tapi aku memang tidak mau!”

Xin Suan menawarkan kepada Hong Hai Er, “Bagaimana dengan

kau?”

Dengan tertawa Hong Hai Er menjawab, “Aku makan apapun tapi

tidak makan makanan yang dimasak orang lain.”

“Apakah kau takut diracun?” tanya Xin Suan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Benar, prinsipku adalah hati boleh menjahati orang lain tapi

harus mewaspadai orang lain yang berniat jahat,” jawab Hong Hai

Er.

“Apakah benar kau tidak berniat jahat kepada orang lain?” Xin

Suan ingin tertawa.

“Benar, aku hanya membunuh, tidak pernah berbuat jahat

kepada orang lain, berbuat jahat itu adalah pelanggaran hukum,”

jawab Hong Hai Er.

Kata Xin Suan, “Itu adalah perkataan yang aneh.” Dia

membalikkan badan menatap Ren Lang Xi Men Bao, Tie Ci Wei, Bu

Kong Sheng, dan Lau Wen Sheng, lalu bertanya, “Apakah kalian

berempat ingin makan sekarang?”

Serentak keempat kepala menggeleng. Melihat mereka tidak

ingin makan, Xin Suan tidak memaksa lagi, dia berkata, “Kalian tidak

mau makan, biar aku yang makan sendiri, aku tidak mempunyai

hobi lain, kecuali makan orang seperti tikus.”

Begitu mendengar kata-katanya, wajah ketujuh pembunuh itu

langsung berubah.

Xin Suan tidak melihat mereka, dia ? sedang makan daging tikus

dengan lahap.

Tie Ci Wei dengan dingin dan dengan hawa membunuh melihat

ke arah Xin Suan, akhirnya dia tidak tahan lagi dan bertanya,

“Bocah, apa maksudmu?”

Xin Suan berlagak bodoh dan bertanya balik, “Hah? Apa?”

“Kau menjamu kami dengan ketujuh ekor tikus itu, apa

maksudmu?” tanya Tie Ci Wei dengan dingin.

Sambil makan Xin Suan menjawab, “Di daerah ini sedang dilanda

wabah tikus yang dahsyat, tikus selalu merusak makanan, dengan

memakan seekor tikus, aku merasa bisa mengurangi pengrusakan

yang dilakukan oleh tikus-tikus itu ”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Sebuah kalimat yang mengandung dua arti,” kata Lau Wen

Sheng.

“Benar, apakah kau menganggap kami adalah tujuh ekor tikus

dan ingin memakan kami?” tanya Hong Hai Er sambil tertawa.

Xin Suan tetap makan dengan nikmat lalu dia menjawab, “Alasan

yang lainnya adalah di daerah ini sedang musim kemarau, banyak

tanah menjadi kering dan para petani tidak bisa bercocok tanam

karena itu orang-orang yang kelaparan sangat banyak, aku

mempunyai daging tikus yang bisa dimakan, itupun sudah cukup

beruntung.”

Dia memakai bahasa, “Alasan yang lainnya adalah….”

Berarti dia mengakui perkataan Hong Hai Er karena itu wajah

ketujuh pembunuh itu segera berubah.

Ren Lang Xi Men Bao berdiri, dia tertawa dingin dan berkata,

“Bocah, sekarang jawab yang benar, siapa kau sebenarnya?”

“Aku adalah Xin Suan.”

Ren Lang Xi Men Bao tampak dipenuhi dengan nafsu membunuh,

“Apa benar kau adalah Xin Suan?”

Xin Suan mengangguk, “Benar, selama 10 tahun aku belajar ilmu

silat pada saat pulang ke kampung halaman aku melihat banyak

mayat bergelimpangan di bawah, sanak saudara dan keluarga tidak

ada satupun yang masih hidup, apakah kau tidak akan merasa xin

suan (sedih)?”

“Apa hubungan semua itu dengan kami?” tanya Ren Lang Xi Men

Bao.

“Memang tidak ada hubungannya…” jawab Xin Suan.

“Kalau begitu, apa maksudmu dengan mengundang kami ke

sini?” tanya Ren Lang Xi Men Bao lagi.

“Aku hanya ingin meminjam sesuatu….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Lau Wen Sheng tertawa dan berkata, “Kalau kau menyuruh kami

menyumbangkan uang untuk menolong orang-orang yang terkena

bencana, kau salah tempat!”

“Aku hanya ingin meminjam sehelai kertas dari kalian,” jelas Xin

Suan.

“Apa? Hanya sehelai kertas?” tanya Ren Lang Xi Men Bao dengan

terpana.

“Benar, itu adalah undangan,” kata Xin Suan lagi.

“Apa? Undangan?” wajah Ren Lang Xi Men Bao tampak berubah.

“Benar, bukankah bulan lalu kalian bertujuh mendapatkan

undangan dari seseorang yang sangat terkenal? Dia mengundang

kalian bertujuh bulan depan tanggal satu untuk menghadiri pesta di

rumahnya, apakah benar?”

Ren Lang Xi Men Bao terus memelototi Xin Suan dan bertanya,

“Mengapa kau bisa tahu?”

“Kau tidak perlu tahu aku mendapatkan kabar ini dari mana, bila

perkiraanku ini benar, hal ini saja sudah cukup bagiku.” kata Xin

Suan.

“Kau meminjam undangan itu untuk apa?” tanya Lau Wen Sheng.

“Untuk mencari pekerjaan,” jawab Xin Suan.

“Coba kau perjelas sedikit maksudmu,” kata Lau Wen Sheng.

Xin Suan mengangkat bahu dan menjawab, “Aku hanya ingin

tahu, bila aku membawa ketujuh undangan itu untuk bertemu

dengan orang terkenal itu, perlakuannya pasti akan lain kepadaku,

dan dia akan memberi pekerjaan padaku di sana.”

Lau Wen Sheng tertawa terbahak-bahak, “Betul! Tidak ada yang

salah. Tapi apakah kau yakin kami akan meminjamankannya

kepadamu?”

Xin Suan tertawa, “Kalau kalian tidak mau memberikannya, aku

akan mundur dan menjalankan rencana kedua…”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Lau Wen Sheng tertawa, “Apa rencana keduamu?”

“Kepala manusia,” jawab Xin Suan.

Lau Wen Sheng tertawa terbahak-bahak lagi, “Lucu! Ini sangat

lucu! Bocah, jika kau bisa memenggal kepala kami bertujuh, itu

lebih baik dibandingkan membawa 7 kertas undangan.”

Xin Suan mengangguk dan berkata, “Benar! Aku akan

memulainya dari Tuan— Apakah Tuan akan memberikan undangan

itu kepadaku?”

Lau Wen Sheng tertawa, “Lebih baik kau tanyakan saja kepada

yang lain!”

Xin Suan mengangguk. Dia memakan daging tikusnya yang

terakhir, kemudian mengambil pedang yang berada di sisinya dan

berkata, “Silakan mengikutiku!”

Dia berjalan ke sebuah tanah kosong.

Lau Wen Sheng mengikutinya sambil membawa tongkat.

Xin Suan mengeluarkan pedang dari sarungnya. Sambil

tersenyum dia berkata, “Kau dulu atau aku dulu?”

“Kau seorang angkatan muda! Jadi kau dulu!” jawab Lau Wen

Sheng sambil mengangkat tongkatnya.

Xin Suan tidak banyak bicara lagi, tangan kanannya mengangkat

pedang siap untuk menusuk. Dengan berkonstrasi penuh dia melihat

lawan, kemudian pedang terus menusuk ke arah Lau Wen Sheng!

Tubuhnya bergearak dengan cepat seperti kelinci yang sedang

berlari. Pedang panjang dengan cepat menusuk ke wajah Lau Wen

Sheng.

Dengan cepat kaki kanan Lau Wen Sheng bergeser ke belakang.

Pedang melewati sisi tubuhnya dan tongkat yang dipegangnyapun

mulai memukul ke arah kepala Xin Suan.

Ini adalah sebuah jurus yang sangat lihai.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Persamaan dari ketujuh pembunuh itu adalah setiap kali

bertarung dengan orang lain, mereka tidak akan pernah mau

menggunakan banyak jurus. Kalau bisa hanya dengan satu jurus

saja mereka bisa mematikan gerakan musuh. Karena itu Lau Wen

Sheng mengeluarkan jurus pertamanya dan ini adalah jurus yang

paling lihai.

Tapi Xin Suan bukan seperti yang dia pikirkan, hanya sebagai

orang yang tidak ternama. Sekarang terlihat badannya berputar.

Dengan lincah dia menghindari tongkat itu tapi gerakan pedang

panjang itu tidak berubah, terus menusuk ke wajahnya.

Jika ingin tahu bagaimana seseorang apakah pesilat tangguh

atau bukan, dengan melihat satu jurusnya saja, sudah pasti akan

ketahuan, begitu melihat Xin Suan bisa menghindar dan

menyerangnya dengan jurus aneh, dia sudah tahu kalau orang yang

berada di depannya bukan orang yang diperkirakannya selama ini—

orang yang tidak terkenal. Karena itu dia tidak akan menganggap

enteng musuhnya. Tongkat diangkatnya, dia menahan serangan

pedang Xin Suan yang menyerangnya. Tongkat bagian atas kembali

menyerang ke arah kepala Xin Suan. Benar-benar adalah jurus

membunuh yang aneh dan sulit untuk ditahan.

Kepala Xin Suan sedikit dimiringkan, tapi kaki kirinya diangkat..

BUK!

Pinggang Lau Wen Sheng terkena tendangan dan tanpa terasa

dia mundur 3 langkah.

Xin Suan seperti bayangan yang terus menempelnya. Pedangnya

terus berputar dan menyerang dengan jurus-jurus aneh.

Lau Wen Sheng pun tidak bertindak ceroboh. Dengan cepat dia

menghindari 3 serangan Xin Suan kemudian dia membentak. Dia

sudah mengeluarkan jurusnya yang terkuat.

Angin yang dibawa oleh tongkat, membawa daun kering yang

berada di tanah berhamburan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan dengan tenang berusaha mengatasi. Dia meloncat ke

atas, ketika berada di atas kira-kira beberapa meter jaraknya dari

tanah kemudian berputar. Pedang mulai dimainkan. Cahaya berkilau

membuat orang-orang di sana menjadi s ilau kemudian dia bergerak

ke pinggir.

Semua berlangsung hanya sebentar. Begitu Xin Suan bergerak ke

pinggir, tempat di mana dia berhenti tiba-tiba terlihat ada air merah

yang turun dari langit.

Air merah itu tidak lain adalah darah yang menyembur ke atas.

Seperti air mancur menyembur ke atas kemudian menciprat ke

mana-mana, lalu turun seperti air hujan.

BRUG!

Lau Wen Sheng roboh. Kepalanya sudah hilang. Kepala Lau Wen

Sheng berada di tangan Xin Suan.

Kepala yang terlihat masih berdarah, mulutnya terbuka lebar

seperti ingin berteriak.

Tie Ci Wei, Yin Po Po, Bu Kong Sheng, Hong Hai Er, Ren Lang Xi

Men Bao, dan Fu Qin Fu Ren melihat semua kejadian itu dengan

mata membelalak.

Dari ekspresi mereka seperti itu bisa terlihat kalau mereka tidak

mempercayai bahwa semua ini adalah kenyataan. Mereka mengira

ini semua adalah ilusi!

Benar, jika saat itu ada orang dari kalangan persilatan yang

melihat kejadian itu, merekapun pasti tidak akan percaya dengan

apa yang telah terjadi. Karena Qi Sha Shou (7 orang pembunuh) di

hati setiap orang dunia persilatan adalah orang-orang misterius dan

lihai. Mereka hanya bisa membunuh dan tidak akan terbunuh oleh

siapapun, tapi hari ini ada satu dari ketujuh pembunuh yang

kehilangan nyawanya oleh seorang yang tidak terkenal dan dalam 3

jurus, kepala Lau Wen Sheng sudah berpindah tempat!

Karena itu keenam orang yang tersisa seperti terjatuh ke wadah

es. Wajah mereka pucat. 12 mata dengan kaget melihat ke arah Xin

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Suan. Semenjak mereka mulai terkenal, mereka tidak pernah

merasa takut tapi sekarang mereka mulai merasa bulu kuduk

mereka merinding.

Xin Suan pelan-pelan berjalan ke depan mayat Lau Wen Sheng.

Dia menurunkan pedangnya. Dari balik baju Lau Wen Sheng dia

mengeluarkan undangan itu dan memasukkannya ke dalam

bajunya, kemudian berjalan kembali ke meja pesta itu lalu duduk di

sana. Kepala Lau Wen Sheng diletakkannya di atas meja pesta itu.

Dengan ujung pedang, dia menusuk lagi seekor tikus yang sudah

matang, lalu memberikan kepada Hong Hai Er den bertanya,

“Apakah kau mau memakan ini?”

Wajah Hong Hai Er tampak berubah, tapi dia berusaha

menenangkan dirinya dengan cara tertawa, “Bagaimana kalau aku

tidak mau?”

“Kalau kau tidak mau makan, akulah yang akan memakannya.”

Kemudian Xin Suan mulai memakan daging tikus itu.

Hong Hai Er melihat Xin Suan yang sedang memakan daging

tikus. Dia merasa Xin Suan seperti sedang memakannya. Dia segera

merasa tidak enak hati. Dia bertanya, “Apakah kau mengira kau bisa

memakanku?”

Xin Suan tidak menjawab. Dengan cepat dia menghabiskan tikus

panggang itu kemudian dia bertanya kepada Hong Hai Er, “Apakah

kau akan memberikan undanganmu padaku?”

“Kalau kau bisa memenggal kepalaku, kau pasti bisa mengambil

undangan itu!”

Sambil bicara diapun berdiri. Dia menurunkan sepasang roda

matahari dan bulan.

Xin Suan tertawa, dia menghabiskan arak yang berada di dalam

cawan terlebih dahulu kemudian mengambil pedangnya lalu berdiri,

kemudian dia berjalan lagi ke tanah kosong.

Hong Hai Er membawa sepasang roda bulan dan matahari lalu

mengikutinya ke tanah kosong itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Biasanya Hong Hai Er adalah orang usil dan lincah, dia sering

mengajak bergurau pada musuh yang ditemuinya. Tapi sekarang dia

seperti berubah menjadi orang lain. Dia tampak sangat serius. Dia

meletakkan dua rodanya di depan dadanya. Sepasang matanya

melihat Xin Suan. Dengan keadaan siap dia menunggu serangan Xin

Suan.

Tapi Xin Suan bertanya sambil bergurau, “Siapa dulu yang akan

mulai?”

“Siapa saja boleh,” jawab Hong Hai Er. Perkataan siapa saja

boleh baru saja diucapkan, tapi dia sudah menyerang. Sepasang

rodanya terus berputar-putar di depan Xin Suan kemudian roda

yang berada di tangan kiri menyerang perut Xin Suan.

Xin Suan tidak menghindar malah menusukkan pedangnya ke

dada Hong Hai Er.

Dilihat sekilas, cara seperti ini akan membuat kedua belah pihak

terluka. Begitu juga dengan jalan pikiran Hong Hai Er. Dia tidak

ingin mati bersama dengan musuhnya, segera dia miringkan

tubuhnya selangkah untuk menghindari tusukan pedang, kemudian

sepasang roda itu melancarkan serangan lagi.

Tubuh Xin Suan berputar membentuk setengah lingkaran,

pedangnya ikut berputar didepan dadanya tapi tidak ditusukkan.

Hong Hai Er dengan tergesa-gesa mengangkat sepasang rodanya

untuk menahan serangan pedang Xin Suan. Terdengar dua senjata

beradu. Dia menghindari gerakan pedang Xin Suan kemudian roda

mataharinya menyerang ke arah perut Xin Suan. Tapi begitu jurus

Hong Hai Er dikeluarkan, tubuh Xin Suan sudah menghilang dari

hadapannya.

Hong Hai Er terkejut, kemudian di belakang lehernya, dia

merasakan hawa pedang mendekat. Karena kaget dia jongkok. Dia

menghindar juga tidak lupa untuk tetap menyerang. Tangan kanan

menyerang ke belakang.

“Terima kasih!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pedang yang tadi menyerang ke arah leher Hong Hai Er, di

tengah-tengah malah-berhenti, arahnya berbelok, menusuk ke

bawah.

Karena itu serangan Hong Hai Er seperti hadiah yang sengaja

diantarkan kepada Xin Suan. Terdengar suara CHAT, tangan kanan

Hong Hai Er berikut roda mataharinya terputus hingga jatuh ke

tanah. Darah terus bermuncratan.

“Wuuaaah!”

Hong Hai Er berteriak dengan keras dan ambruk ke tanah.

Tapi Hong Hai Er tidak lama menahan rasa sakitnya, karena itu

begitu melihat dia akan roboh, Xin Suan sudah melancarkan jurus

lanjutannya. Ujung pedang tampak berkilau, dan kepala Hong Hai Er

segera terbang mencelat beberapa meter dari tubuhnya.

Tie Ci Wei dan yang lainnya karena kaget, secara bersamaan

mereka berdiri.

Xin Suan seperti orang senang kebersihan. Dengan cepat dia

menghindar dari hujan darah itu kemudian berjalan kembali ke

tempatnya. Dia mengambil undangan milik Hong Hai Er kemudian

memungut kepala Hong Hai Er yang terjatuh. Dia meletakkan kepala

Hong Hai Er di atas ‘meja pesta’ itu dan duduk kembali di sana.

Melihat mereka berlima, dia tertawa, “Kalian jangan tegang

seperti itu! Silakan duduk!”

Tie Ci Wei dan lainnya melotot. Mereka terpaku melihat keadaan

ini.

Dengan ujung pedangnya Xin Suan menusuk seekor tikus

panggang lagi, dan memberikannya kepada Bu Kong Sheng, “Satu

ekor ini kusiapkan untuk Biksu.”

Bu Kong Sheng marah dan berkata, “Biksu tidak boleh makan

daging!”

Xin Suan tertawa, “Apakah biksu boleh membunuh orang?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Membunuh orang belum tentu perbuatan yang jahat.”

Xin Suan mengangguk, “Masuk akal juga..apakah kau akan

memberikan undangan itu padaku?”

Bu Kong Sheng tertawa dingin, “Biksu tidak percaya kepada ilmu

sesat, karena itu aku ingin mencoba tajamnya pedangmu dengan

taruhan kepalaku!”

Xin Suan makan daging tikus lagi.

Bu Kong Sheng seperti mempunyai perasaan akan dikalahkan

oleh Xin Suan, tapi dia adalah seorang biksu jahat yang sudah

banyak membunuh dan nama besarnya dibangun selama berpuluhpuluh

tahun itu tidak mengijinkannya untuk tunduk begitu saja

kepada Xin Suan. Karena itu dia terlihat seperti biksu tegar. Dia

membawa tongkat biksunya lalu berjalan ke tanah kosong itu dan

menunggu pertarungan yang mempertaruhkan hidup dan mati

dengan Xin Suan.

Xin Suan tidak bergerak dengan tergesa-gesa. Dia masih asyik

makan daging tikus hingga habis dan minum secawan arak, dia

membersihkan mulutnya setelah itu baru membawa pedangnya ke

arah tanah kosong.

“Silakan!”

“Silakan!”

Kemudian pedang dan tongkat bergerak secara bersamaan.

Pertarungan sengitpun dimulai lagi!

Tie Ci Wei, Ren Lang Xi Men Bao, Fu Qin Fu Ren, dan Yin Po Po.

terus mengikuti gerakan Xin Suan dan Bu Kong Sheng. Tapi mereka

sudah tidak peduli apakah Bu Kong Sheng akan kalah atau menang.

Mereka hanya mengkhawatirkan keselamatan diri mereka sendiri.

Mereka sangat mengetahui bagaimana kemampuan ilmu silat Lau

Wen Sheng dan Hong Hai Er. Tapi hanya bertarung beberapa jurus

dengan Xin Suan mereka sudah mati di bawah pedang Xin Suan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Apakah mereka berempat bisa menang dari Xin Suan? Mereka

sudah tahu jawabannya.

“Apakah ada yang tahu identitas orang itu?” tanya Yin Po Po.

Aku tidak pernah mendengar tentangnya!” jawab Tie Ci Wei.

“Ilmu pedangnya sangat aneh. Aku tidak pernah melihat ilmu

pedang seperti itu,” kata Ren Lang Xi Men Bao.

“Dia seperti jatuh begitu saja dari langit, tapi mengapa dia

sengaja mencari kita?” tanya Fu Qin Fu Ren.

“Dia menginginkan undangan kita, apakah benar dia ingin

berdagang dengan kita?” tanya Yin Po Po.

“Kakak Yin, apakah kau akan memberikan undanganmu

kepadanya?” tanya Ren Lang Xi Men Bao.

“Aku belum mau pensiun dari dunia persilatan!” jawab Yin Po Po

sambil tertawa dingin.

“Benar! Lebih baik kita tidak memberikan undangan kita

kepadanya! Seumur hidup kita telah memperjuangkan nama kita,

masa kita akan menghabiskannya dalam waktu sekejap?” kata Ren

Lang Xi Men Bao.

“Melihat keadaan seperti ini, tidak memberikannya juga akan

sulit….” kata Fu Qin Fu Ren dengan nada khawatir.

Ren Lang Xi Men Bao melihat teman-temannya dan berkata, “Kita

bertujuh selalu menjalankan pekerjaan masing-masing, tidak pernah

bergabung. Apakah kali ini…”

Tie Ci Wei segera menjawab, “Kali inipun aku tidak akan

bergabung.”

“Apakah kau mempunyai keyakinan bisa mengalahkan dia?”

tanya Fu Qin Fu Ren.

“Tidak!” Tie Ci Wei menggelengkan kepala.

“Kalau begitu, kau ingin mencobanya?” tanya Fu Qin Fu Ren.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tie Ci Wei tertawa dan menjawab, “Tidak, aku juga bukan orang

yang tidak terkalahkan juga belum tentu akan menang, karena itu

jika perlu…”

“Aaahhh!”

Kata-katanya belum selesai, Yin Po Po dan Fu Qin Fu Ren sudah

menjerit.

Karena pertarungan antara Xin Suan dengan Bu Kong Sheng

sudah bisa terlihat siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Setelah memasuki jurus kesepuluh, ilmu pedang Xin Suan ternyata

lebih unggul dari Bu Kong Sheng. Dengan jurus aneh dia membacok

hingga tangan Bu Kong Sheng putus.

Bu Kong Sheng berteriak, dia menjatuhkan tongkatnya dan

segera lari,

“Kalau kau akan pergi, tinggalkan kepalamu dulu!” seru Xin Suan.

Diiringi suara bentakan, pedangpun dilemparkannya.

Pedang melesat sangat cepat seperti kilat. Hanya dalam waktu

singkat pedang itu sudah menyusul tubuh Bu Kong Sheng dan

melewati belakang lehernya.

Karena itu keadaan Bu Kong Sheng seperti seekor burung yang

sedang terbang dan terkena panah, lalu dari langit jatuh ke bumi.

Kemudian Xin Suan menenteng lagi sebuah kepala yang darahnya

masih menetes-netes, dia kembali lagi ke dekat meja pesta itu dan

kepala itu dijajarkan dengan dua kepala yang sudah dipenggal

sebelumnya.

Kemudian dia menusuk lagi seekor tikus panggang dan

memberikannya kepada Tie Ci Wei.

Tie Ci Wei belum menunggu Xin Suan bicara, dia sudah

menendang guci arak dan dia mundur!

Perhitungan dia adalah, “Kalau perlu aku akan melarikan diri!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Guci arak ditendang hingga seperti sebuah peluru yang melesat

ke dada Xin Suan.

Tapi reflek Xin Suan sangat cepat. Di luar dugaan, terlihat

badannya miring ke kanan dan tangan kirinya melayang, dia sudah

menjemput guci arak itu. kemudian tubuhnya berputar, guci itu

dilemparnya lagi.

Kali ini guci bergerak lebih cepat dibandingkan tadi. Hanya dalam

sekejap sudah berada di belakang punggung Tie Ci Wei.

Tie Ci Wei yang sudah melarikan diri dengan jarak 10 meter

lebih, begitu mendengar ada suara desingan, dia segera jongkok

kemudian menjulurkan tangannya. Guci arak yang datang ke

arahnya segera dipecahkan—

Karena guci arak itu pecah maka pecahan dan arakpun

bermuncratan, membuat seluruh kepala dan wajahnya basah oleh

arak. Dia ingin meloncat dan kabur tapi di depannya sudah ada

bayangan yang menghadang. Lehernya terasa sakit. Begitu melihat

dengan teliti, ternyata sebuah pedang sudah berada di tenggorokan

dia.

Bukan main kaget dirinya.

Begitu cepat gerakan Xin Suan.

Begitu cepat gerakan pedangnya.

Dia bukan manusia, melainkan dewa pedang.

Tie Ci Wei adalah pembunuh yang membunuh orang tanpa

mengedipkan matanya, tidak pernah merasa takut kepada siapapun

dan kepada apapun, tapi sekarang wajahnya terlihat pucat karena

ketakutan. Tubuhnyapun gemetar.

Kedua tangannya diangkat. Berarti dia tidak akan melawan.

Dengan suara gemetar dia berkata, “Aku… aku terima kekalahan ini.

Ambillah undanganku!”

Xin Suan melihatnya kemudian tertawa dengan s inis, “Ma Si, kau

benar-benar memalukan!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kepala Tie Ci Wei terus mengeluarkan keringat dingin.

“Di antara ketujuh pembunuh, kau paling tinggi, besar, dan

wajahmu penuh dengan cambang, dari luar terlihat sangat jantan,

tapi ternyata kau yang paling tidak punya harga diri!”

Dengan gemetar Tie Ci Wei berkata, “Undangannya…ada di

bajuku….”

“Aku menginginkan undangan itu dan juga menginginkan

kepalamu!” seru Xin Suan.

Wajah Tie Ci Wei segera berubah, “Kau…”

‘Kau’ belum habis kata itu diucapkan, tenggorokan sudah terbuka

lebar. Darah bermuncratan ke mana-mana. Kepalanya sudah

meninggalkan lehernya.

Xin Suan mengambil undangan dari balik bajunya. Dia kembali

menenteng kepala Tie Ci Wei dan kembali lagi ke meja pesta itu.

Tampak Yin Po Po, Fu Qin Fu Ren, dan Ren Lang Xi Men Bao berdiri

dalam satu baris, mereka seperti akan bergabung untuk melawan

Xin Suan.

Xin Suan tertawa seperti tidak melihat tingkah mereka. Dia duduk

kembali dan meletakkan kepala itu ke dalam 3 barisan kepala

manusia.

“Tolong jawab 2 pertanyaanku!” kata Yin Po Po.

“Katakan saja!” Xin Suan menjawab. “Kami bertiga bergabung

juga, sepertinya masih bukan tandinganmu karena itu aku harus

mati dengan jelas. Jika mati tanpa mengetahui apa-apa, rohku akan

penasaran.”

“Benar! Ini masuk akal!” jawab Xin Suan.

“Pertanyaan pertama siapa sebenarnya dirimu? Dan datang dari

mana?”

“Sejak dulu sebelum kau membunuh orang, apakah kau pernah

membunuh orang dengan alasan jelas?” tanya Xin Suan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Yin Po Po tidak bisa menjawab.

“Banyak orang mati di tanganmu, merekapun tidak tahu

mengapa mereka harus mati? Mengapa pada saat giliranmu akan

mati, kau malah harus tahu apa alasannya?”

Yin Po Po bengong tidak bisa menjawab.

“Lalu apa pertanyaan kedua?” tanya Xin Suan.

“Pertanyaan kedua adalah, untuk apa kau ingin mendapatkan

kepala dan undangan kami?” tanya Yin Po Po.

“Bukankah tadi aku sudah mengatakannya?” Xin Suan balik

bertanya.

“Aku tidak percaya,” kata Yin Po Po.

“Percaya atau tidak, terserah padamu,” kata Xin Suan.

“Bila kau ingin dipercaya oleh orang penting, caramu ini salah,”

jelas Yin Po Po.

“Oh ya?”

“Aku bisa mengenalkanmu padanya dan aku jamin dia akan

mempekerj akanmu, bagaimana?” tawar Yin Po Po.

“Terima kasih. Tapi aku lebih suka berusaha sendiri. Jika

mengandalkan tenaga orang lain, itu tidak cocok dengan sifatku,”

jelas Xin Suan.

“Katakan kepadaku, apakah kaupun seorang pembunuh

bayaran?” tanya Yin Po Po sambil menarik nafas.

“Benar!”

“Apakah kau membunuh demi uang?”

“Benar.”

“Lalu siapa yang menyewamu?”

“Aku sendiri.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Yin Po Po tertawa kecut, “Sepertinya kami akan mati tanpa tahu

alasannya!”

“Didunia banyak orang mati tanpa sebab, apakah kalian juga ada

pengecualian?”

Yin Po Po tampak sudah bertekad maju terus. Dia memukulkan

tongkatnya ke tanah dan berkata kepada Fu Qin Fu Ren dan Ren

Lang Xi Men Bao, “Kalian berdua, hari ini kita tidak boleh bertindak

egois. Kita berada di atas perahu yang sama dan kita harus

mendayung bersama, jika tidak kita semua akan mengalami nasib

yang sama. Ayo, semangatlah!”

0-0-dwkz-0-0

BAB 2

Di malam yang dingin datang seorang perempuan

Sebuah pagoda.

Pagoda ini adalah sebuah pagoda terkenal yang bernama Lei

Feng.

Sewaktu Pagoda Lei Feng dibangun di kaki gunung Xin Suan, dia

sedang berada di atas sebuah perahu di sebuah danau.

Pagoda Lei Feng berada di sekitar Xi Hu dan saat ini adalah

saatnya matahari terbenam.

Dia melihat keatas permukaan air danau yang berkilau dengan

bayangan Lei Feng Ta (pagoda) yang berada di permukaan danau.

Tapi melihat pemandangan itu, dia tidak tertarik, dia tidak sabar

karena perahu melaju sangat lamban. Dia terus berkata kepada

pendayung perahu itu, “Apakah perahu ini bisa melaju lebih cepat?”

Pendayung itu tertawa dan menjawab, “Tuan, naik perahu harus

perlahan-lahan baru bisa menikmati pemandangan.”

“Aku tidak bermaksud menikmati pemandangan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kalau begitu, Anda….”

“Aku hanya ingin pergi Lei Feng Ta, bukan untuk menikmati

pemandangan di sini.”

Pendayung itu hanya berkata, “Oh.” Dia segera mendayung

perahunya lebih cepat.

“Apakah di belakang Lei Feng Ta ada sebuah kuil yang bernama

Kuil Jing Chi?”

“Benar.”

“Di belakang Kuil Jing Chi terdapat Gunung Nan Ping, apakah

benar?”

“Benar.”

“Di Gunung Nan Ping itu, tinggal seseorang yang sangat terkenal,

apakah kau mengetahuinya?”

“Aku pernah mendengarnya. Dia adalah seorang Wang Ye

(keluarga raja).”

“Benar, dia berasal dari keluarga raja.”

“Apakah Tuan akan bertemu dengannya?”

“Benar. Aku membawa peti untuk diserahkan kepada Wang Ye.”

Yang dimaksud peti oleh Xin Suan adalah sebuah peti kayu yang

buatannya sangat kasar.

Dengan aneh pendayung itu bertanya, “Apa isi peti itu?”

Xin Suan tersenyum tapi tidak menjawab.

Pendayung itu tidak berani bertanya lagi, dia terus mendayung.

Kira-kira setelah setengah jam telah berlalu, perahu sudah

berhenti di kaki gunng di bawah Lei Feng Ta. Sesudah membayar

ongkos perahu, segera dia menggotong peti itu turun dari perahu

dan menuruni anak tangga berjalan ke depan.

Tidak lama kemudian dia sudah berada di bawah Lei Feng Ta.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dia benar-benar tidak menyukai pemandangan, melihat saja

tidak. Dia ke depan Lei Feng Ta. Pada saat melewati Kuil Jing Chi

lalu mendaki Nan Shan, sampailah dia di Nan Ping Shan.

Suasana gunung itu begitu sepi.

Sepanjang perjalanan menuju Nan Ping Shan, dia sama sekali

tidak menikmati pemandangan di sana. Dia berjalan kurang lebih 1

kilometer dan menempuh perjalanan berliku-liku. Tiba-tiba ada

seseorang meloncat keluar.

Ternyata dia seorang prajurit. Dia menghadang jalan Xin Suan

lalu berkata, “Adik, jangan teruskan perjalananmu!”

“Mengapa?”

“Sekitar sini adalah tempat tinggal pribadi.”

“Siapa yang tinggal di s ini?”

“Jangan banyak tanya, hayo kembali!”

“Tapi orang yang ingin kutemui berada di Nan Ping Shan.”

“Di s ini tidak ada penghuni lainnya. Cepat pergi! Pergi!”

“Tapi dia satu-satunya penghuni yang tinggal di s ini.”

“Siapa?”

“Keluarga raja.”

“Siapa kau?”

“Xin Suan.”

“Apakah kau kenal dengan Wang Ye?”

“Tidak.”

“Apakah Wang Ye setuju untuk bertemu denganmu?”

“Tidak.”

Wajah pengawal itu telihat dingin dan melambaikan tangan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Pergilah! Pergi saja! Kau harus tahu siapa Wang Ye sebenarnya

dan beliau tidak ada waktu untuk bertemu dengan orang yang tidak

penting.”

“Hari ini adalah tanggal satu Mei, bukankah Wang Ye hari ini

bersiap-siap akan bertemu dengan 7 orang yang telah

diundangnya?”

“Apakah kau adalah salah satu dari ketujuh orang itu?” wajah

pengawal itu tampak berubah.

“Tidak! Tapi aku mewakili mereka bertujuh.”

“Mengapa?”

“Aku akan menjelaskannya kepada Wang Ye.”

Selesai bicara, dia berjalan lagi. “Berhenti!”

Pengawal itu membentak dan menghalangi jalan Xin Suan. Tapi

di depan mereka tampak ada bayangan berkilau. Dia membalikkan

kepalanya untuk melihat. Xin Suan sudah berjalan di belakangnya.

Pengawal itu tampak kaget, segera dia mencabut goloknya dan

mulai mengejar. Golok itu akan membacok pundak Xin Suan dan dia

membentak, “Bocah, apakah kau cari mati!”

Tapi golok yang diarahkan untuk membacok pundak Xin Suan

tampak meleset. Xin Suan sudah ada 30 meter di depannya. Dan

terlihat Xin Suan seperti berjalan biasa, dia tidak lari. Pengawal ini

segera tahu, dia telah bertemu dengan seorang pesilat tangguh.

Tapi mengawal dan menjaga adalah tugasnya dan dia tidak bisa

mengijinkan Xin Suan naik gunung. Segera dia mengejar dan

membacok tubuh bagian belakang Xin Suan.

Tapi keadaan yang terjadi hampir sama dengan keadaan tadi,

begitu golok hampir mengenai tubuh Xin Suan, ternyata meleset

lagi, dan Xin Suan sudah berada beberapa puluh meter jauhnya dari

pengawal itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dengan santai Xin Suan naik gunung, sedangkan pengawal itu

terus mengejarnya dari belakang. T api pengawal itu tetap tidak bisa

mengejar Xin Suan dan juga tidak bisa membacok Xin Suan….

Tidak lama kemudian tampak sebuah wisma di depan mata.

Wisma itu tidak begitu besar tapi dibangun dengan sangat indah.

Dari luar terlihat seperti villa orang kaya dengan pemandangan

sangat indah di sekelilingnya.

Begitu Xin Suan tiba di depan wisma itu, tiga orang pengawal

datang menghadangnya. Salah satu dari mereka berkata, “Lao

Chen, dari mana asalnya orang ini?”

Pengawal yang mengejar sejak tadi berteriak, “Bocah ini

memaksa ingin masuk ke dalam wisma. Cepat halangi dia!”

Segera ketiga pengawal itu mengeluarkan golok dan mengelilingi

Xin Suan. Tapi hanya dalam waktu singkat Xin Suan sudah berada di

luar kepungan mereka dan pelan-pelan meletakkan peti itu. Lalu

berkata, “Cepat beritahu Wang Ye, orang yang mewakili ketujuh

pembunuh sudah datang!”

Empat orang pengawal yang mengepungnya, melihat Xin Suan

sangat sopan dan tidak tampak maksud jahat memasuki wisma,

mereka memutuskan untuk tidak menyerangnya, mereka hanya

bertanya, “Siapa kau? Apa pekerjaanmu?”

“Aku adalah pembunuh bayawan, mewakili ketujuh pembunuh

datang kemari. Aku akan berbakti kepada Wang Ye.”

Sesudah itu Xin Suan memberi hormat.

“Siapa namamu?”

“Xin Suan.”

“Apa?”

“Xin Suan artinya sedih.”

“Apakah itu memang namamu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Benar.”

“Kau ingin bertemu dengan Wang Ye kami?”

“Benar.”

“Apakah kau sudah membuat janji?”

“Tidak.”

“Kalau begitu kau tidak boleh masuk.”

Xin Suan tertawa, dari balik bajunya dia mengeluarkan 7 helai

undangan dan melempar peti itu, lalu berkata, “Kalau begitu

bawalah peti itu dan juga ketujuh undangan ini kepada Wang Ye

kalian, tentu Wang Ye kalian pasti mau bertemu denganku.”

Dengan sikap curiga para pengawal itu melihat ke arah peti dan

bertanya, “Apa isi peti itu?”

“Setelah bertemu dengan Wang Ye, kalian baru boleh

membukanya untuk melihat!”

Para pengawal itu terlihat ragu.

Xin Suan memungut sebuah batu kali lalu mengepalnya. Dengan

tenaga dalamnya dia telah menghancurkan batu ini. Serbuk batu

keluar dari celah-celah jarinya. Dia berkata, “Kalau aku bermaksud

membunuh Wang Ye, sekarangpun aku bisa langsung masuk, dan

kalian tidak akan bisa menghalangiku.”

Pada saat keempat pengawal itu melihat Xin Suan bisa

menghancurkan batu kali hanya dengan mengepalnya, mereka

merasa ketakutan dan juga merasa tidak akan bisa menghadang

jalannya, maka para pengawal itu tidak terlihat ragu lagi. Salah satu

dari mereka mengangguk dan berkata, “Baiklah, kau tunggu di sini,

aku akan melaporkannya kepada Wang Ye.”

Dia membawa ketujuh undangan dan peti kayu itu masuk ke

dalam wisma.

Belum ada seperempat jam, terlihat ada seseorang yang

penampilannya seperti seorang penasehat berjalan mengikuti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

pengawal dengan cepat menuju ke arah Xin Suan. Dia memberi

hormat lalu berkata, “Apakah kau adalah Pendekar Xin?”

“Benar, aku adalah Xin Suan.”

Pak tua itu segera berkata, “Wang Ye mengundang Pendekar Xin

untuk masuk. Silakan!”

Xin Suan segera masuk.

Dia dibawa oleh pak tua itu, berhenti di perpustakaan yang

sangat bagus. Pak tua itu mengetuk pintu. Dengan hormat dia

berkata, “Lapor Wang Ye, Pendekar Xin sudah tiba.”

Dari kamar perpustakaan terdengar suara rendah, “Suruh dia

masuk.”

Pak tua itu terlihat ragu dan berkata, “Wang Ye—”

Wang Ye sudah berkata lagi dari dalam kamar, “Tidak apa-apa,

suruh dia masuk!”

Pak tua itu membukakan pintu untuk Xin Suan dan berkata,

“Silakan!”

Xin Suan segera masuk.

Di dalam perpustakaan keadaan sangat bersih dan terang juga

sangat indah.

Wang Ye sedang berdiri melihat keluar jendela. Dia memakai

baju sutra berwarna kuning, tubuhnya tinggi dan besar. Tampak

sekali wibawa seorang raja.

Peti kayu yang diantar oleh pengawal tadi diletakkan di sisi

kanannya. Peti kayu itu sudah dalam keadaan terbuka dan bisa

terlihat ada 7 kepala manusia di dalamnya.

7 kepala manusia itu sudah dibubuhi obat pengawet maka tidak

akan menjadi busuk. Tapi ada bau tidak sedap keluar dari peti kayu

itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan berlutut, “Hamba bernama Xin Suan datang menghadap

Wang Ye.”

Wang Ye pelan-pelan memutar badannya dan berkata,

“Berdirilah, mari kita mengobrol.”

Usia Wang Ye sekitar 50 tahunan, alisnya yang panjang,

sepasang matanya terang, di bawah dagu terlihat janggut. Mungkin

sejak dia muda dia sudah hidup enak maka sekarangpun masih

terlihat muda dan tidak ada kerutan.

Xin Suan berkata, “Terima kasih Wang Ye.” Dia sudah berdiri.

Wang Ye melihatnya cukup lama dan bertanya sambil menunjuk

ke arah peti kayu itu.

“Apakah kau yang membunuh ketujuh orang itu?”

“Benar.”

“Karena apa?”

“Alasannya ada dua. Pertama, karena mereka sudah membunuh

orang terlalu banyak. Dosa mereka sudah bertumpuk. Kedua, aku

sedang membutuhkan uang dan aku ingin menggantikan mereka

mengabdi kepada Wang Ye.”

Wang Ye terdiam. Dia berjalan pelan kemudian berkata, “Apakah

kau yang membunuh mereka bertujuh?”

“Benar.”

“Bagaimana caramu membunuh mereka?”

“Tidak menggunakan racun, tidak menggunakan tipuan. Dengan

cara benar aku menghabisi mereka.”

“Benarkah kau yang membunuh mereka?”

“Kalau tidak, hamba tidak akan berani datang kemari.”

“Siapa namamu?”

“Xin Suan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Apakah itu nama samaran?”

“Benar.”

“Siapa nama aslimu?”

“Aku tidak mempunyai nama asli.”

“Tempat lahir, apakah kau tidak bisa menyebutkannya?”

“Maaf, aku tidak bisa.”

“Mengapa kau tahu aku menyewa mereka untuk bekerja di sini?”

“Secara tidak sengaja aku mendengarnya.”

“Apakah aku bisa mempercayaimu?”

“Wang Ye bisa percaya kepada mereka bertujuh. – Wang Ye pun

harus bisa percaya kepadaku.”

Wang Ye tertawa terbahak-bahak.

“Apapun yang bisa mereka lakukan, akupun pasti bisa dan aku

percaya aku bisa lebih baik dari mereka.”

Wang Ye mengangguk dan tertawa, “Karena kau telah

membunuh mereka, maka aku percaya pada kata-katamu.”

Wang Ye keluar dari kamar perpustakaan dan berkata, “Ikut

denganku!”

Xin Suan mengikutinya keluar dari perpustakaan dan masuk ke

sebuah ruang makan. Di sana terlihat meja dengan menu yang

sudah disiapkan. Ada sayur dan arak. Tidak ragu lagi di sana sudah

disiapkan sayur enak dan mahal, dimeja itu terlihat ada 8 pasang

sumpit dan 8 buah cangkir arak yang tersusun rapi. Dari sana sudah

dapat diketahui siapa saja yang diundang.

Setelah tiba di depan meja makan, Wang Ye memerintahkan pak

tua itu untuk pergi dan dengan tertawa kepada Xin Suan, “Silakan

duduk! Apakah kau tahu kalau sayur dan arak ini sengaja disiapkan

untuk siapa?”

“Aku tahu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Sayang mereka tidak memiliki rejeki untuk makan enak.”

“Apapun yang berhubungan dengan makanan aku bisa

menggantikan mereka.”

Wang Ye menepuk tangannya 3 kali, segera muncul 2 orang

perempuan cantik berjalan ke arah meja makan. Mereka memberi

hormat kepada Wang Ye.

Dan Wang Ye berkata, “Tuangkan arak!”

Kedua gadis cantik itu menuangkan arak untuk mereka. Wang Ye

mengangkat gelasnya dan berkata, “Mari kita bersulang!”

Xin Suan tidak sungkan lagi. Dia juga menghabiskan arak yang

ada di dalam cangkir

Setelah itu sambil mengobrol mereka makan dan minum.

“Apakah kau tahu mengapa aku ingin menggunakan jasa ke

tujuh pembunuh itu?”

“Aku hanya tahu sedikit.”

“Coba katakan!”

“Mereka sangat jahat dan sadis. Mereka bisa melakukan apapun.”

“Kau salah.”

“Oh ya?”

“Aku memilih mereka karena mereka sudah terlalu banyak

membunuh. Sampai mereka terbunuhpun mereka tidak akan merasa

harus ada yang disesalkan.”

“Oh begitu?”

“Apakah kau tahu untuk apa aku menyewa mereka?”

“Biar aku sedikit menebak.”

“Katakan saja!”

“Untuk membunuh orang.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kau salah.”

“Oh ya?”

“Aku menyewa jasa mereka untuk mengantarkan Biao (barang

antaran).”

“Apakah Wang Ye membuka kantor Biao?”

“Tidak, aku mempunyai sebuah benda penting yang harus

diantar ke Jin Ling, karena aku takut akan dirampok di tengah jalan

maka aku memutuskan untuk menyewa jasa mereka dan

mengantarkan Biao itu.”

“Mengapa Anda tidak menitipkannya saja pada kantor Biao?”

“Mereka tidak akan sanggup.”

“Apakah karena lawan yang dihadapi terlalu kuat?”

“Benar.”

“Bagaimana dengan orang pemerintahan?”

“Mereka lebih-lebih tidak bisa.”

“Kalau benda itu begitu penting, mengapa tidak mencari

pendekar-pendekar untuk mengantarkannya? Dan Anda tidak perlu

memilih ke tujuh pembunuh yang dosanya telah bertumpuktumpuk.”

“Bukankah tadi aku sudah menjelaskan bahwa tugas ini sangat

berbahaya, orang yang mengantarkan Biao ini hanya 10% nya saja

yang mempunyai peluang hidup, karena itu aku merasa kalau

memang harus ada yang mati biarlah orang itu saja, mereka orang

dari aliran sesat, seperti yang kau katakan tadi, tujuh pembunuh

yang mempunyai dosa bertumpuk-tumpuk.”

“Apakah Wang Ye tidak takut kalau mereka akan bersekongkol

dengan orang lain?” ,

“Maksudmu dengan kata lain mereka akari mencurinya dariku?”

“Benar.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Tidak mungkin, walaupun benda itu sangat penting, tapi tidak

akan ada gunanya bagi mereka, tidak bisa dimakan juga tidak bisa

dijual.”

“Mereka bisa menjualnya kepada pihak lain!”

“Tidak mungkin, karena aku sudah berjanji dengan mereka,

berapapun yang mereka minta aku akan memberikannya.”

“Oh….”

“Apakah sekarang kau sudah mengerti dengan maksudku?”

“Hanya ada satu hal yang tidak kumengerti…benda apakah itu?”

“Walaupun pertanyaan ini diajukan oleh ke tujuh pembunuh itu,

akupun tidak akar memberitahukannya kepada mereka!”

“Oh….”

“Apakah kau sudah mengambil keputusan untuk menggantikan

posisi mereka?”

“Ya, aku sudah memutuskannya.”

“Aku akan memberitahumu sekali lagi, dari semua orang yang

mengantarkan barang ini hanya 10% saja yang bisa bertahan

hidup.”

“Tidak masalah.”

“Apakah kau yakin kau bisa menuntaskan tugas ini?”

“Apakah aku bisa menyelesaikannya dengan baik atau buruk

tidak ada seorangpun yang bisa menjaminnya, aku hanya bisa

menanyakan bagaimana kalau ternyata aku gagal melaksanakan

tugas ini?”

“Aku tidak akan menyuruhmu untuk mengganti rugi, karena pada

saat itu kau sudah mati.”

Xin Suan merasa membutuhkan minum, dia mulai minum segelas

demi segelas. Wang Ye tahu saat itu dia sedang berpikir, karena itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Wang Ye pun tidak banyak bicara, lalu diapun mulai memakan sayur

yang tersedia sambil menunggu Xin Suan bicara.

Xin Suan berturut-turut minum 5 cangkir, setelah itu dia baru

berkata, “Bagaimana cara memperhitungkan honornya?”

“Berapa yang kau inginkan?”

“Walaupun Wang Ye telah mengatakan berapapun yang kuminta

Wang Ye akan membayar sesuai dengan permintaanku, tapi tentu

ada batasnya bukan?”

“Itu sudah pasti.”

“Sebenarnya berapa jumlah yang akan Wang Ye bayar kepada ke

tujuh pembunuh itu?”

“Tadinya aku akan membayar mereka sebanyak 100 ribu tail

perak untuk dibagikan kepada mereka bertujuh.”

“Kalau begitu aku mengajukan 100 ribu sebagai honorku.”

“Aku tahu kau mempunyai ilmu yang sangat tinggi, tapi untuk

melakukan pekerjaan ini kau membutuhkan asisten.”

“Aku mempunyai teman.”

“Benda yang harus kau antar sangat besar, dan harus diantar

dengan kereta, apakah kau mempunyai kereta?”

“Tidak.”

“Kalau begitu aku akan menyiapkan sebuah kereta kepadamu,

hanya ada satu hal yang kuperingatkan kepadamu, kau tidak boleh

membuka benda itu. Kalau tidak aku tidak akan membayar

honormu.”

“Aku hanya tertarik pada uang 100 ribu tail perak itu saja.”

“Benda itu tersimpan di dalam peti besi, begitu sudah tiba di Jin

Ling, bila aku menemukan ada bekas peti itu dibuka, kau tidak akan

mendapatkan honornya, selain itu kau harus dihukum!”

“Anda boleh tenang saja, Wang Ye.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Aku akan membayarmu sebanyak 1.000 tail perak dulu untuk

ongkos perjalanan, dan 100 ribu tail akan kubayar setelah kau

menyelesaikan pekerjaan ini.”

“Bagaimana kalau aku mati?”

“Kau tidak akan mendapatkan apapun.”

“Kalau aku membereskannya dengan sempurna, Lapi tidak

mendapatkan honor…”

“Jangan sembarangan bicara, aku adalah adik raja, bagaimana

aku bisa menipu rakyatku sendiri.”

“Bila barang telah diantar sampai Jin Ling, kepada siapa aku

harus menyerahkannya?”

“Berikan saja kepadaku, aku akan menunggumu di sana.”

“Kapan aku harus berangkat?”

“Bagaimana kalau besok?”

“Baiklah!”

“Di mana temanmu?”

“Dia akan bertemu denganku di tengah perjalanan nanti.”

“Baiklah, apakah masih ada pertanyaan lain?”

“Apakah aku boleh tahu siapa yang akan menjadi lawanku?”

“Aku tidak bisa mengatakannya, tapi bila di tengah perjalanan

nanti ada yang berniat merampokmu, mereka pasti pendekarpendekar

nomor satu, mereka pasti disewa oleh lawanku, karena itu

kalau kau bertarung dengan mereka, jangan pedulikan nyawa

mereka lagi!”

0-0-dwkz-0-0

Sebuah kereta keluar dari Hang Zhou dan berjalan ke arah barat

laut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kereta tidak terlihat baru dan tidak ada keistimewaan lainnya,

kereta itu seperti kereta biasa.

Yang menjadi kusir adalah Xin Suan sendiri.

Pakaiannyapun seperti pakaian kusir biasa.

Dengan lancar dia mengendarai kereta itu.

Menurut perkiraan Xin Suan, malam ini kereta akan tiba di Wu

Kang dan dia akan menginap di kota itu.

Sewaktu dia membunuh ke tujuh pembunuh itu dia terlihat

sangat santai, tapi sekarang ternyata beban pikirannya terasa

sangat berat, karena dia sadar kali ini keadaannya tidak akan sama

seperti pada saat dia membunuh ke tujuh pembunuh itu, semua

dilakukan dengan begitu mudah.

Uang 100 ribu tidak mudah didapatkan.

Satu hal yang pasti dia tidak takut membunuh. Dia malah takut

barang itu tidak akan bisa tiba di Jin Ling dan dia tidak akan

mendapatkan honor yang telah dijanjikan Wang Ye.

Pada saat meninggalkan Hang Zhou hari sudah siang, sekarang

adalah musim panas, maka udara juga terasa sangat panas.

Walaupun terasa panas tapi sepanjang perjalanan terlihat warnawarna

hijau pohon, air sungai mengalir. Bumi yang luas ini dipenuhi

kehidupan.

Tapi bagi para pemakai jalan mereka tidak tahan dengan hari

yang begitu panas. Walaupun Xin Suan tidak merasa lelah tapi dia

butuh berhenti untuk beristirahat sebentar.

Xin Suan berhenti di sebuah jalan di dekat kebun arbei, laiu

diapun turun dari kereta. Kemudian dia berjalan ke belakang kereta

dan membuka tutup kereta dan dia mengeluarkan sebuah ember.

Tapi sorot matanya melihat ke atas kereta.

Di dalam kereta itu ada sebuah barang penting.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Barang itu tersimpan di dalam peti besi. Peti itu tingginya 4 kaki

masih terlihat baru, di luar masih terlihat gembok besi yang

mengunci peti itu.

Benda apakah yang tersimpan di dalam peti itu?

Mengapa Wang Ye rela mengeluarkan uang 100 ribu tail perak

untuk menyewa jasa orang dan mengantarkan benda itu sampai ke

Jin Ling?

Xin Suan sebenarnya merasa aneh dan ingin tahu apa alasan

sebenarnya, dia ingin tahu apa sebenarnya yang tersimpan di dalam

peti itu? Tapi dia tidak berniat membukanya, karena bila

keingintahuannya terusik dia akan kehilangan uang 100 ribu tail

perak.

Dia hanya menatap peti itu beberapa kali, setelah itu dia

menutup kembali peti itu dengan kain, dia mengambil air yang

berada di parit kecil yang ada di sisi jalan dan memberi minum

kudanya.

Dari belakang kereta muncul seseorang.

Orang itu adalah seorang pengemis tua, bajunya penuh dengan

tambalan, di pundaknya tergantung sebuah tas besar, tangannya

memegang tongkat yang terbuat dari bambu, langkahnya cepat dan

mantap!

Xin Suan melihatnya kemudian dia mengangkat ember berisi air

untuk diberikan kepada kudanya.

Pengemis tua itu tiba di hadapan Xin Suan tiba-tiba dia berkata,

“Tuan, apakah Anda akan pergi ke Wu Kang?”

Xin Suan mengangguk.

Pengemis tua itu tertawa dan berkata, “Akupun akan pergi ke Wu

Kang, apakah aku boleh ikut dengan kereta Tuan sampai di Wu

Kang?”

“Tidak boleh.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pengemis tua itu tetap tertawa dan berkata, “Sudahlah kalau

Tuan tidak mengijinkannya tidak apa-apa, memang yang disebut

pengemis di mana-mana selalu dihina. Kalau ketiga teman yang

berada di belakang meminta bantuan kepadamu, kau pasti akan

langsung menyetujuinya.”

Setelah berkata seperti itu dia melanjutkan perjalanannya lagi.

Dia berjalan sangat cepat.

Karena takut terjadi sesuatu bila dia terus berada di kebun arbei

itu selain itu dia hanya seorang diri, kalau terjadi sesuatu itu hanya

akan merugikannya saja maka dia segera menyusul pengemis tua

itu. Dia keluar dari kebun arbei dan menemukan sebuah tempat

luas.

Tapi di belakang sudah muncul tiga orang yang mencurigakan,

sepertinya mereka adalah pedagang, usia mereka sekitar 50-60

tahun. Tapi begitu Xin Suan melihat mereka dia sudah langsung

tahu siapa mereka sebenarnya. Karena pada saat mereka berjalan

sudah tidak terlihat sedang berjalan lagi melainkan mengejar kereta

Xin Suan.

Xin Suan tahu dia tidak akan bisa menghindar lagi, karena itu dia

memutuskan untuk memperlambat laju kereta kudanya dan siap

menghadapi ketiga orang itu.

Ketiga orang yang mengenakan baju pedagang itu sudah berada

di belakang kereta, salah satu dari mereka yang berbibir tebal

berkata, “Hai Tuan kecil! Ijinkan kami menumpang keretamu!”

Xin Suan menghentikan keretanya dan berkata, “Maaf, tidak

bisa!” Xin Suan terus melihat ketiga pak tua itu, tangan pak tua

berbibir tebal itu sudah memegang keretanya dan berkata, “Kereta

seperti ini tidak membawa banyak barang, mengapa kau tidak

mengijinkan kami menumpang keretamu?”

Xin Suan turun dari keretanya dan berdiri di hadapan ketiga pak

tua itu, sambil tertawa dia berkata, “Mengapa kalian bertiga tidak

bicara jujur saja?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pak tua berbibir tebal itu tertawa terbahak-bahak dan menjawab,

“Aku merasa aneh, mengapa di kereta ini hanya ada Adik saja?”

Dengan tenang Xin Suan menjawab, “Karena Wang Ye

mengharuskan seorang prajurit pandai dan tangkas, jadi tidak

membutuhkan banyak orang, karena itu dengan adanya aku, itu

saja sudah cukup.”

Pak tua itu tertawa lagi, “Apakah kau adalah Wu Xing Jian

(Pedang Tanpa Wujud) Ke Gu She?”

Xin Suan balik bertanya, “Apakah harus Wu Xing Jian Ke Gu She

yang baru pantas mengantarkan bingkisan ini?”

Pak tua itu menjawab, “Benar! Katanya dia adalah angkatan yang

paling menonjol ilmu silatnya, berani membunuh dan juga berani

mati!”

“Tapi aku bukan dia,” kata Xin Suan.

“Sungguh aneh, apakah Wang Ye tidak memberitahumu bahwa

tugas ini sangat berbahaya, bahkan nyawamu bisa melayang?”

tanya pak tua itu.

“Wang Ye hanya mengatakan hal yang lebih serius dari yang

Tuan ucapkan tadi bahwa hanya 10% yang bisa bertahan hidup,”

kata Xin Suan.

“Lalu mengapa kau mau saja menerima tugas seberat ini?” tanya

pak tua itu sambil tertawa.

“Karena aku juga berani membunuh dan siap untuk mati, selain

itu ilmuku lebih tinggi dari dia,” jawab Xin Suan.

Pak tua itu tertawa terbahak-bahak dan berkata lagi, “Aku lihat

kau hanya seorang bocah bodoh yang tidak tahu apa-apa!”

“Apakah kau datang untuk mengajakku bertengkar?” tanya Xin

Suan.

Wajah pak tua itu berubah dan dia tertawa dingin, “Aku lihat kau

masih muda, lebih baik kau tinggalkan kereta ini dan pergi dari sini!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan segera mengambil pedang dari keretanya, lalu diapun

berkata, “Rencanaku malam ini harus sudah tiba di Wu Kang, harap

kalian jangan mengganggu perjalananku, kalau mau mengajakku

berkelahi, ayo akan kulayanil”

Pak tua berbibir tebal itu tertawa s inis dan berkata, “Baiklah, aku

akan mengantarkanmu ke jalan kematian!”

Segera dia memasukkan tangannya ke pinggang dan mencabut

sebuah pisau.

Pisau itu tidak mengkilat, berwarna kehitaman.

Xin Suan juga mengeluarkan pedang dari sarungnya, dia segera

siap bertarung.

Pak tua itu memberi isyarat kepada kedua temannya.

Setelah itu dia baru berjalan ke arah Xin Suan, dengan nada

dingin dia bertanya, “Apakah kau akan menyebutkan namamu?”

“Tidak perlu. Aku yakin aku akan tetap hidup, lebih baik Tuan

yang menyebutkan nama untuk bersiap-siap, siapa tahu Tuanlah

yang akan mati.”

“Bila aku sudah mengeluarkan senjataku, kau pasti tidak akan

berani bertarung denganku,” kata pak tua itu dengan tertawa sinis.

Kata-katanya belum habis, pisaunnya sudah menyerang ke dada

Xin Suan.

Tidak ada gerakan persiapan, tapi jurus yang dikeluarkan sangat

cepat dan sudah mencapai tahap tertinggi.

Begitu melihat, Xin Suan sudah tahu bahwa pak tua itu adalah

jago silat tangguh berilmu silat tinggi. Dia memang terkejut tapi

gerakannya tidak terlihat gugup, dia segera mencabut pedangnya

untuk menahan serangan pak tua itu

Pak tua itu memang sengaja ingin encoba ilmu silat Xin Suan,

melihat Xin Suan berhasil menahan serangannya, pak tua itu tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

mengubah jurusnya. Dan pisau pak tua itu terus menusuk,

terdengar dua senjata beradul

Terdengar suara CIIINGG, tubuh Xin Suan tergetar dan tanpa

terasa dia terdorong mundur 1 langkah ke belakang, pak tua itu

juga ikut tergetar hingga mundur 3 langkah.

Wajah pak tua itu tampak berubah, dia berkata, “Bocah, kau

benar-benar berilmu!”

Cahaya pisau tampak berkilauan, sekarang dia menebas ke

bagian bawah tubuh Xin Suan.

Xin Suan meloncat beberapa meter ke atas, seperti seekor elang

terbang melewati kepala pak tua itu dan secepat kilat dia telah

mendarat di atas kereta!

Ternyata kedua teman pak tua ketika melihat temannya sedang

bertarung dengan Xin Suan, mereka berusaha masuk ke dalam

kereta dan akan membawa kereta itu pergi dari tempat itu.

Baru saja kereta akan bergerak Xin Suan sudah menyergap

seperti prajurit langit mendarat ke bumi, dan di tengah-tengah

udara dia menyerang bagian kepala mereka dengan pedangnya!

Kedua orang tua itu yang satu bersenjatakan pecut baja,

sedangkan yang lainnya menggunakan sepasang golok bulan dan

matahari. Mereka melihat ke arah Xin Suan yang menyerang dari

atas, segera salah seorang pak J-ia memainkan pecutnya untuk

menahan gan Xin Suan, dan senjata mereka segera beradu, dan

tampak bayangan orang yang beterbanganl

Xin Suan seperti tergetar akibat bentrokan senjatanya, dia terus

melayang setinggi 6-7 kaki, kemudian dengan posisi miring dia

turun dengan kencang dari jarak beberapa puluh meter.

Kedua pak tua yang berada disebelah kiri dan kanan melihat

gerakan Xin Suan dengan wajah pucat!

Ternyata pada saat mereka bertarung tadi mereka sudah

mendapat luka, pak tua yang menggunakan pecut baja tampak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

pundaknya tergores, sedangkan pak tua yang memakai sepasang

golok bulan dan matahari, tangan kanannya terlihat berdarah!

Mereka seperti tidak percaya dengan ilmu silat Xin Suan yang

begitu lihai, karena itu mereka hanya bisa melihat Xin Suan dengan

terpana dan lupa menyerang.

Pak tua berbibir tebal itu walaupun merasa terkejut tapi begitu

melihat Xin Suan sudah mendarat, gerakan kaki dan tangannya

tidak berhenti, segera dia menyerang Xin Suan dengan pisaunya,

dia sekaligus melancarkan 3 jurus serangan berturut-turut kepada

Xin Suan!

JING! JING! JING!

Xin Suan memainkan pedangnya secepat kilat, kemudian diapun

bersiul panjang, tubuhnya melayang. Kemudian berputar di udara

dan segera memancarkan sinar pedang berkilauan yang membuat

orang yang melihatnya merasa pusing!

“Aahhhh!”

Pak tua berbibir tebal itu berteriak, tubuhnya terpelanting dan

jatuh beberapa meter jauhnya, dan tubuhnya terus bergetar

mundur.

Begitu di teliti ternyata kepalanya sudah tersabet seperempat

bagian” dan cairan otaknya tampak berceceran, tentu saja dia tidak

akan bisa hidup lebih lama lagi.

Pak tua yang memakai senjata pecut baja itu ternyata ingin

menggunakan kesempatan yang ada, dia malah melarikan kereta,

tapi begitu dia melihat temannya terluka parah, diapun hanya bisa

bengong.

Akhirnya semua berakhir seperti itu, sama sekali diluar

dugaannya, mereka hanya bisa terpana seperti orang idiot.

Xin Suan mendekat dan dengan dingin berkata, “Jangan bengong

saja, sekarang silahkan kalian bergabung menyerang!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kedua pak tua itu segera turun dari kereta, pak tua yang

bersenjatakan golok tampak gentar, dia membentak, “Bocah!

Sebutkan namamu!”

“Xin Suan, hati yang dipenuhi Xin Suan!”

Pak tua bersenjatakan golok itu berkata, “Baiklah! Nanti kita akan

bertemu lagi!”

Setelah itu dia memberi isyarat kepada temannya yang

bersenjatakan pecut dan diapun meninggalkan Xin Suan begitu saja.

Pak tua bersenjatakan pecut itu tidak berani berdiam lebih lama

lagi di sana, diapun mengikuti temannya pergi, dalam waktu s ingkat

mereka sudah menghilang.

Xin Suan memasukkan pedang ke dalam sarungnya lalu diapun

menaiki keretanya dan meneruskan perjalanan.

Hari mulai gelap tidak lama kemudian sampailah dia di kota Wu

Kang, di sisi jalan dia membeli sedikit makanan dan membawa

keretanya ke sebuah tanah kosong di dekat sebuah kuil dan di sana

diapun makan makanan yang telah dibelinya tadi.

Dia tidak ingin tinggal di penginapan karena bila dia menginap di

sana dia akan terpisah dengan barang antaran itu. Melihat apa yang

telah terjadi siang tadi, dia sadar orang yang berniat merampas

benda pusaka itu tidak akan jauh dari posisinya, karena itu satusatunya

cara supaya dia tidak kehilangan benda pusaka itu adalah

dengan selalu berada di sisi benda itu.

Setelah makan, ternyata hari sudah semakin gelap.

Kuil itu dibangun di sebuah jalan yang sepi. Setelah hari gelap

orang yang berlalu lalang di sana semakin sedikit, karena itu tidak

ada yang memperhatikan kereta kudanya.

Sebenarnya ini hanya berlaku untuk orang biasa, sekarang ada

seseorang yang berjalan menghampirinya. Ternyata dia adalah

pengemis tua yang tadi ditemuinya di tengah jalan dan berniat

menumpang kereta Xin Suan!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dengan bantuan tongkat bambunya dia berjalan selangkah demi

selangkah mendekati kereta, begitu melihat Xin Suan yang sedang

berada di atas keretanya, dia pura-pura kaget dan berkata, “Oh,

ternyata Kau, kita bertemu lagi di s ini.”

Xin Suan tersenyum dan berkata, “Manusia yang masih hidup

pasti akan sering bertemu!”

“Apa yang Anda lakukan di s ini?” tanya pengemis tua itu.

“Menginap,” jawab Xin Suan.

“Apakah kau tidak mempunyai uang untuk menginap di sebuah

penginapan?”

“Benar!”

“Sepertinya kau lebih miskin dari seorang pengemis sekalipun,

seperti juga aku!”

“Benar!”

Pengemis itu menunjuk ke arah kuil dan berkata, “Di dalam kuil

kita bisa menginap, mengapa kau tidak masuk saja ke dalam?”

“Aku tidak menyukai kura-kura dan ular!”

“Tapi kalau malam hari akan banyak nyamuk di sini, dan mereka

akan menggigitmu!”

“Kalau nyamuk-nyamuk itu menggigitku, aku akan memukul

mereka hingga mati,” Xin Suan mengeluarkan kedua tangannya.

Pengemis tua itu tertawa terbahak-bahak, “Bicara memang

mudah, kita lihat buktinya nanti!”

“Pergilah, aku mau tidur.” Pengemis tua itu pergi sambil tertawa.

Baru saja Xin Suan memejamkan matanya….

“Ta! Ta! Tal”….

Tiba-tiba penjaga malam memukul kayu dan dari jauh terdengar

suaranya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Diiringi suaranya terlihat cahaya lampion dari kejauhan, yang

mendekati tempat Xin Suan, akhirnya dia berhenti di depan pintu

kuil.

Dilihat dengan teliti ternyata orang itu adalah seorang tukang

mie.

Orang itu menurunkan pikulannya di depan kuil dan berjalanjalan

di sekitar sana.

Akhirnya dia melihat kereta Xin Suan.

Dia memukul kayunya dan bertanya, “Tuan, apakah Tuan mau

membeli mie?”

Xin Suan menggelengkan kepalanya.

Tukang mie itu ternyata perawakannya sangat kurus, dia melihat

Xin Suan, dan tetap bertanya, “Aku masih mempunyai sedikit

pangsit, apakah Tuan mau?”

Xin Suan sekali lagi menggelengkan kepalanya.

Sewaktu tukang mie itu membalikkan tubuhnya, tiba-tiba

terdengar suara FENG, dari lengan bajunya dia melepaskan

sebatang panah kecil!

Seharusnya dengan jarak yang begitu dekat sangat sulit untuk

menghindar tapi Xin Suan sudah bersiap dari tadi, tampak tangan

kanannya terangkat sedikit, seperti s iap menyambut anak panah itu

dengan tangannya. Kemudian tubuhnya bergerak seperti harimau

menerkam dan memukul tukang mie itu!

Tubuh tukang mie tampak sempoyongan, kemudian terdengar

bunyi tulang kepala retak, kedua matanya tampak melotot dan

diapun ambruk begitu saja!

Tiba-tiba Xin Suan merasa sedikit menyesal, dia baru teringat bila

sudah membunuh sangat sulit untuk membereskan mayatnya,

kedua alisnya tampak berkerut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tapi dengan cepat dia sudah memikirkan cara untuk mengatasi

mayat tersebut, dia melihat ke sekelilingnya, tidak ada orang yang

mengetahui perbuatannya, segera dia menggendong mayat itu dan

dimasukkannya ke dalam kereta.

Dia berencana akan membiarkan mayat itu semalaman di dalam

kereta, besok baru akan dibuang di sebuah tempat terpencil.

Pasti ini bukan cara yang terbaik, tapi cara ini adalah cara yang

paling sederhana, asalkan tidak ada yang mengetahuinya, semua

bisa dilakukan.

Dia kembali ke keretanya, lalu memejamkan mata untuk

beristirahat sejenak.

Setelah kurang lebih setengah jam beristirahat, dia mulai

merasakan ada bahaya yang akan menghampirinya, dia bersiap-siap

akan pergi dari sana.

Tapi ternyata sudah terlambat!

Terdengar suara ribut dari arah jalan sebelah sana, kemudian

datanglah 3 orang polisi diiringi dengan gerombolan orang.

Setelah Xin Suan melihat, diapun marah, “Kurang ajar! Aku tahu

mereka akan melakukan semua ini!”

Di dunia ini yang paling menyebalkan bagi setiap orang adalah

peraturan dan hukum negara, sekalipun orang itu adalah pesilat

tangguh, orang miskin, atau orang jahat, dia tidak akan mau

mengambil resiko melawan hukum negara. Apa yang dirasakan oleh

Xin Suan sekarang adalah perasaan seperti itu. Kalau dia ingin

membawa kereta itu pergi dari sana, dia harus membunuh ketiga

polisi itu terlebih dulu, tapi apakah dia bisa membunuh mereka?

Tentu saja dia tidak akan bisa. Kalau dia tidak bisa

melakukannya, semua akan menyulitkannya.

Karena itu sekarang dia merasa serba salah.

Ketiga polisi itu sudah berada di hadapannya, salah satu dari

mereka bertanya, “Siapa namamu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Apakah ada yang salah?” tanya Xin Suan.

“Ada yang melapor ke kantor kami, katanya kau telah membunuh

seseorang di sini,” jawab polisi itu.

“Siapa yang melaporkannya?” tanya Xin Suan.

“Jangan urus siapa yang melapor, aku hanya tanya, apakah

benar kau telah membunuh orang di sini?” polisi itu mulai

membentak.

“Aku membela diri lalu membunuhnya, apakah itu salah?”

Segera polisi itu mengambil borgol dan memasangkannya ke

tangan Xin Suan.

“Tunggu dulu!”

Di antara kerumunan orang itu muncul seorang pengemis tua,

sambil tertawa dia berkata, “Aku bisa menjadi saksi, dia tidak

membunuh orang!”

Dengan serius polisi itu bertanya, “Kau mengatakan apa tadi?”

Pengemis itu berkata lagi, “Sejak tadi aku berputar-putar di

daerah sini, dan aku tidak melihat dia membunuh orang.”

“Aku melihatnya membunuh.” Seorang laki-laki keluar dari

kerumunan orang dan berkata, “Aku melihatnya dengan jelas,

setelah membunuh orang dia memasukkan mayatnya ke dalam

kereta itu.”

Pengemis tua itu tertawa terbahak-bahak, “Aku kira siapa,

ternyata hanya seorang gila.”

Pengemis tua itu berkata lagi, “Pak polisi, mengapa kalian

percaya begitu saja pada kata-kata orang ini, dia adalah orang gila.”

“Sembarangan bicara, kau yang orang gila!” seru laki-laki

setengah baya itu sambil marah-marah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dia lalu berkata pada polisi itu, “Pak polisi, kalau kalian tidak

percaya, coba kalian geledah keretanya di dalamnya pasti ada

mayat orang yang telah dibunuhnya.”

Polisi itu segera berjalan ke belakang kereta membuka tirainya

dan melihat ke dalam. Dia membalikkan badannya dan langsung

menampar laki-laki setengah baya itu, dengan marah dia berseru,

“Kurang ajar! Kau benar-benar orang gila!”

Laki-laki setengah baya itu hanya terpaku dan bertanya, “Pak

polisi, apa salahku? Mengapa Anda memukulku?”

Polisi itu malah mendorongnya dan membentak, “Cepat pergi!

Tadi aku sedang asyik minum arak, kau tiba-tiba datang melapor

yang bukan-bukan, kalau kau bukan orang gila, aku sudah

memotong lidahmu!”

Laki-laki setengah baya itu mundur 3 langkah dan berkata,

“Aneh, ini sangat aneh! Tadi aku jelas melihatnya dia membunuh

dan memasukkan mayat itu ke dalam kereta—”

Segera dia meloncat ke belakang kereta membuka tirainya,

setelah dilihat dengan teliti wajahnya langsung berubah!

Ternyata di dalam kereta tidak ada mayat!

Polisi itu tertawa dingin dan bertanya, “Apa yang akan kau

katakan kepada kami?”

Laki-laki itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia

berteriak, “Aku benar-benar melihatnya membunuh, dia pasti

menyembunyikannya di suatu tempat! Pak polisi, suruh dia buka

peti itu—”

Xin Suan dengan cepat lari ke belakang kereta, dengan cepat dia

memegang nadi di pergelangan tangan orang itu dan tertawa

dingin, “Bagaimana kalau kita bertaruh?”

“Apa?” tanya laki-laki setengah baya itu dengan bengong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Aku akan membuka peti ini, kalau memang ada mayat di

dalamnya, aku akan memberikan kepalaku kepadamu, tapi kalau

tidak ada mayat, kepalamu harus kau berikan kepadaku!”

Sambil berkata seperti itu tangan Xin Suan memencet nadi

tangan laki-laki itu.

Karena sakit laki-laki itu berteriak dan berkata, “Pak polisi, lihat

dia akan membunuhku!”

Polisi itu berkata, “Lepaskan dia, biarkan dia pergi!”

Xin Suan mendorongnya pergi dan membentak, “Cepat pergi!

Apakah kau tidak mendengar perintah polisi ini?”

Laki-laki setengah baya itu dengan cepat meninggalkan tempat

itu dan Xin Suan berkata pada polisi, “Maaf, tidak kusangka malah

terjadi hal seperti ini….”

Polisi itu menunjuk peti besi itu dan bertanya, “Apa isi peti itu?”

Xin Suan melihat sekeliling baru menjawab, “Bagaimana kalau

kita ke sana untuk mengobrol lebih lanjut?”

Xin Suan menarik polisi itu menjauh dari keretanya dengan wajah

serius dan suara kecil dia berkata, “Apakah Anda akan memeriksa

peti itu?”

“Benar,” jawab polisi itu.

“Kalau Anda menginginkan kematian, aku akan membuka peti itu

untuk Anda,” kata Xin Suan

“Apa maksud perkataanmu?” tanya polisi itu.

“Peti besi itu milik Wang Ye, beliau yang menyuruhku

mengantarkan besi itu ke suatu tempat.”

“Wang Ye?”

“Wang Ye yang tinggal di Xi Hu Nan Ping Shan!”

“Ada hubungan apa antara kau dan Wang Ye?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Aku adalah orang yang disewa Wang Ye untuk mengantarkan

Biao ini!”

Polisi itu melihatnya dan berkata, “Jangan-jangan kau sedang

mencoba untuk menakut-nakutiku?” tanya polisi itu.

“Kalau Anda tidak percaya, aku akan memberikan peti ini kepada

Anda tapi kalau sampai hilang, Anda yang harus bertanggung

jawab!”

Setelah berkata seperti itu Xin Suan membalikkan badan dan siap

berlalu dari sana.

Polisi itu merasa takut, segera dia menghalangi Xin Suan dan

berkata, “Kakak, jangan berbuat seperti itu kepadaku, mari kita

bicarakan masalah ini pelan-pelan.”

“Kalau Anda percaya kepadaku, tolong usir orang-orang itu,

suruh mereka jangan menggangguku lagi,” pinta Xin Suan.

Polisi itu mengangguk setuju dan berkata, “Baik, baiklah! Aku

akan mengusir mereka.”

“Kecuali hal itu, aku minta Anda bertiga malam ini membantuku

menjaga kereta ini, dan jangan biarkan seorangpun mendekati

kereta ini,” pinta Xin Suan lagi.

Tentu saja polisi itu langsung menyetujui permintaan Xin Suan,

dan polisi itupun mengusir orang-orang yang mendekati keretanya,

dan dia memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada kedua

temannya, dan mereka bertiga segera berpencar, dari tempat

masing-masing mereka menjaga kereta itu.

Dengan tenang Xin Siian kembali ke keretanya, dia duduk di

bangku kusir dan langsung tidur.

0-0-dwkz-0-0

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Hari kedua siang. Kereta dijaga dengan ketat oleh tiga orang

polisi. Setelah keluar dari kota Wu Kang kereta itu terus berjalan ke

arah barat laut.

Tempat kedua yang akan dituju adalah Wu Xing.

Perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih 45 kilometer,

membutuhkan perjalanan selama satu hari.

Kalau di tengah perjalanan nanti tidak terjadi sesuatu, Xin Suan

bisa menginap di kota Wu Xing.

Tapi bahaya yang ditemui Xin Suan semakin bertambah, baru

saja kereta keluar dari kota Wu Kang, setelah menempuh perjalanan

sejauh 7-8 kilometer, telah terjadi sesuatu pada Xin Suan.

Seorang penunggang kuda tiba-tiba muncul dari dalam hutan dan

menghalangi laju kereta Xin Suan.

Penunggang kuda itu berusia sekitar 40 tahunan, dia sangat

tampan, berbaju putih dan berkuda putih, gerakannyapun sangat

luwes.

Melihat keadaan ini Xin Suan langsung menghentikan keretanya.

Begitu kereta berhenti, Xin Suan bertanya, “Apakah aku harus

membayar uang lewat?”

Si baju putih tersenyum malah bermaksud sebaliknya!

“Memberiku uang?” tanya Xin Suan aneh.

“Benar!” si baju putih mengangguk.

“Baiklah, aku memang sedang berniat akan menyumbang untuk

daerah yang terkena musibah, Tuan pasti sudah pernah mendengar

bahwa sekarang sedang musim kemarau panjang, kemarau telah

menyebabkan tanah kering dan pecah-pecah, karena itu banyak

orang kelaparan—”

Si baju putih tidak menunggu sampai Xin Suan selesai bicara, dia

sudah menyela, “Aku akan menyumbang sebanyak 30 tail perak!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Aku mewakili orang-orang yang terkena musibah itu

mengucapkan terima kasih kepada Anda… Mana uangnya?” tanya

Xin Suan.

“Asalkan kau mau membawa kereta ini dan mengikutiku sampai

di ujung sana, menurunkan barangnya, kau akan mendapatkan

30.000 tail perak,” kata si baju putih sambil tersenyum.

“Kalau uang 30.000 tail saja tidak cukup.”

“Aku akan menambahkan 30.000 tail perak lagi.”

Xin Suan menggelengkan kepala.

“Bagaimana kalau 70.000 tail?”

Xin Suan tetap menggelengkan kepala.

Si baju putih tertawa dingin, “Berapa jumlah yang dibenkan

Wang Ye?”

“100 ribu tail perak.”

“Kalau begitu aku akan menambahkan 20.000 tail perak!”

“Bila ditambah 10 kali lipat mungkin aku akan goyah.”

“Maksudmu aku harus memberimu 1.200.000 tail?”

“Benar, kalau aku mempunyai uang sebanyak itu, aku tidak

peduli apakah dia Wang Ye atau bukan.”

Si baju putih tampak mengerutkan dahinya lalu berkata, “Xin

Suan, ambisimu terlalu besar, itu tidak baik!”

“Tempat yang terkena bencana begitu luas, orang yang

mengalami musibahpun sangat banyak, uang sebanyak 1.200.000

tail seperti secangkir air yang disiram ke tanah,” jawab Xin Suan.

“Sudahlah, kita tidak perlu membicarakan tentang orang yang

terkena musibah. Ini untuk yang terakhir, aku akan memberikan

200 ribu tail kepadamu, bagaimana?”

Xin Suan menggelengkan kepalanya lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Tidak tahu diri, kau harus tahu, kami hanya ingin mendapatkan

benda yang ada di dalam peti itu, aku rasa kau tidak akan sampai di

Jin Ling!”

“Kalau Anda sudah selesai bicara, minggirlah, aku mau lewat.”

“Apakah kau tidak menimbang lebih lanjut?”

“Tidak perlu.”

“Baiklah, kita akan bertemu lagi di depan!” Segera si baju putih

memutar kudanya dan berlalu dari sana.

Xin Suan membawa keretanya berjalan lagi.

Pada saat Wang Ye mengatakan honornya adalah 100 ribu tail,

dia sadar bahwa barang yang akan dibawanya adalah barang yang

sulit dibawa. Sejak kemarin hingga saat ini, orang yang ingin

merebut barang itu selalu muncul, Xin Suan sudah tidak merasa

aneh, yang pasti dia tidak akan merasa takut, karena dia sudah ada

persiapan sebelumnya.

Tapi entah mengapa sekarang hatinya terasa berat, karena dia

tahu bahwa si baju putih tadi adalah sejenis orang yang sulit

dihadapi.

Kereta baru saja berjalan setengah kilometer—

Dari s isi jalan muncul lagi seseorang.

Ternyata orang itu adalah si pengemis tua!

Begitu dekat dengan kereta diapun naik dan dengan tegang dia

bertanya, “Bagaimana perasaanmu?”

“Baik!”

“Apakah kau tidak merasa tubuhmu tidak nyaman?”

“Tidak.”

“Aneh!”

“Ada apa sebenarnya?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Apakah kau tidak mengenal orang berbaju putih tadi?”

“Tidak!”

“Dia adalah Qian Shou Du Shu Sheng; Jin Ju! (Pelajar beracun

bertangan seribu)”

“Ternyata dia….”

“Apakah kau pernah mendengar namanya?”

“Benar, kalau tidak salah dia adalah ahli senjata rahasia.”

“Dia juga pandai menggunakan racun.”

“Menurut kabar senjata rahasianya yang paling lihai adalah Wu

Xing Duo Ming Zhen (Jarum tanpa wujud perengut nyawa). Senjata

jarumnya lebih kecil dari bulu sapi, pada saat ditembakkan, mata

kita tidak dapat melihat wujud jarum itu….”

“Benar…” jawab si pengemis tua itu.

“Apakah jarum itu beracun?”

“Pasti ada racunnya.”

“Bagaimana dengan orang yang sudah terkena racun Wu Xing Du

Zhen (Jarum tanpa wujud)

“Kalau racun itu tidak segera diobati, satu jam kemudian seluruh

tubuh orang itu akan kejang-kejang kemudian meninggal.”

“Apakah kau bisa menawarkan racun itu?”

Pengemis tua itu tertawa dan menjawab, “Aku sudah tahu

sepanjang perjalananmu pasti akan menemui bahaya dan mungkin

akan menemukan hal aneh, karena itu aku sudah menyiapkan

segala sesuatunya termasuk Jie Du Dan (Obat penawar racun) yang

bisa menawarkan segala jenis macam racun.”

“Tolong berikan sedikit kepadaku.”

Pengemis itu terpaku, “Untuk apa?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Sekarang aku merasa tidak enak badan, ingin muntah, pusing,

dan berkunang-kunang.”

Begitu si pengemis melihat wajahnya terlihat wajah Xin Suan

sangat pucat, segera dia mengeluarkan sebuah botol kecil dan

mengeluarkan sebutir obat berwarna hijau kepada Xin Suan dan

berkata, “Cepat minum obat ini!”

Setelah minum obat penawar itu Xin Suan berkata, “Dia memang

pantas disebut Qian Shou Du Shu Sheng, sampai sekarang aku tidak

tahu sejak kapan aku terkena Wu Xing Duo Ming Zhen miliknya!”

Segera pengemis itu memeriksa seluruh tubuhnya dan berkata,

“Jarum beracun itu harus segera dikeluarkan dari tubuhmu, kalau

tidak nyawamu tidak akan tertolong….”

“Sewaktu dia pergi, aku melihat dia melambaikan tangan,

mungkin saat itulah dia melepaskan jarum itu ke arahku.”

“Nanti kalau kau bertemu dengannya lagi, kau harus lebih

memperhatikan gerak-geriknya… Nah, ternyata ada di sini!”

Dia mengeluarkan jarum itu dari tangan Xin Suan, jarum itu

sangat kecil dan lebih lembut dari sehelai rambut hitam, dia

memperlihatkan jarum itu kepada Xin Suan.

Setelah Xin Suan melihatnya dia mengangguk lalu memuji, “Dia

bisa mengatur tenaga untuk menembak jarum sekecil ini, orang itu

bukan orang sembar angan.”

“Ilmu silatnya lebih tinggi dari ketujuh pembunuh itu, dan lebih

rumit beberapa kali lipat dari mereka, kau harus berhati-hati bila

berhadapan dengannya.”

Xin Suan mengangguk, “Kepalaku masih terasa pusing, rasa

mualnya juga belum hilang, apakah obat penawarnya manjur?”

“Sepertinya tidak akan menjadi masalah, sebentar lagi kau tentu

akan muntah, setelah muntah kau akan—”

Kata-kata pengemis itu belum selesai, Xin Suan sudah muntah,

cia terus muntah-muntah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pengemis itu mengambil alih tali kekang kudanya dan berkata,

“Lebih baik kau beristirahat dulu di dalam kereta, biar aku yang

mengendarai kereta ini.”

Tapi Xin Suan tidak mengijinkannya, dia berkata, “Lebih baik kau

turun di sini saja, atau kau lebih baik secara diam-diam

membantuku.”

“Aku tidak bisa meninggalkanmu.”

“Mengapa?”

“Hari ini aku muncul di depan umum identitasku sudah terbuka,

lawan sudah tahu kalau kita sejalan, kalau aku berpisah denganmu

sekarang, aku pasti akan terbunuh.”

“Oh….”

“Aku tidak seperti dirimu mempunyai ilmu silat tinggi dan bisa

mengalahkan setiap musuh yang menyerang.”

“Kalau begitu kau tinggal saja di dalam kereta,”

Pengemis itu melemparkan tasnya ke dalam kereta dan bertanya,

“Apakah kau sudah merasa agak baikan?”

‘Ya, keadaanku sudah lebih baik dibandingkan tadi.”

“Qian Shou Du Shu Sheng sangat mahir menggunakan senjara

rahasia dan juga sangat kejam, dia mengatakan akan bertemu

denganmu di depan sana, itu tentu bukan sekedar bergurau.”

“Aku tahu itu.”

“Apakah kau sanggup mengalahkannya?”

“Untuk masalah bertarung, kau tidak perlu merasa khawatir, tapi

untuk masalah lain aku tidak berani menjaminnya.”

“Kemarin ada tiga orang pak tua, tukang mie, lalu ada Qian Shou

Du Shu Sheng. Mereka semua sejalan, tapi siapakah dalang di

belakang mereka?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak

tahu, Wang Ye tidak mengatakannya….”

Dia seperti teringat sesuatu dan tersenyum, “Tangan terampil

dan pengemis aneh, ternyata kau adalah si tangan terampil dan

pengemis aneh itu!”

“Ada apa?” pengemis itu sedikit terpana.

“Aku teringat pada kejadian semalam di kuil itu, kau bisa mencuri

mayat yang kusimpan di dalam kereta, dan aku tidak merasakan

kalau kau yang memindahkannya, kau benar-benar hebat!”

Pengemis itut tertawa, “Kecuali ilmu mencuri ayam, aku tidak

mempunyai keahlian lainnya.”

“Dengan mempunyai keahlian seperti itu, sudah cukup.”

“Apa maksudmu?”

“Tidak, aku hanya berharap jangan sampai kau pun mempunyai

niat untuk mendapatkan peti besi itu!”

“Apakah kau tidak percaya kepadaku?”

“Kita adalah teman, susah ataupun senang kita hadapi bersama,

apakah hanya karena ada persoalan berbagi uang maka baru bisa

menjadi teman?”

Pengemis tua itu berpikir sebentar lalu menggelengkan

kepalanya, “Kita tidak bisa bersahabat, kalau ada uang baru bisa

berbagi!”

“Oh ya?” Xin Suan tertawa.

“Aku hanya seorang pengemis, tidak mungkin mempunyai uang

banyak juga tidak menginginkan banyak uang, kalau aku ingin kaya,

aku tidak akan menjadi pengemis.”

“Kalau begitu, kau tidak tertarik pada peti besi itu?”

“Kalau aku tertarik, sekarang juga aku tidak akan

melepaskannya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Mengapa?”

“Karena aku tidak cukup memenuhi syarat.”

“Apa maksudmu?”

“Dilihat dari segi manapun Qian Shou Du Shu Sheng lebih kuat

dari aku si pengemis ini, karena itu aku tidak akan berkhayal yang

muluk-muluk.”

“Apakah kau tidak ingin mengetahui apa isi peti besi itu?”

“Bukankah saat kau akan berangkat kau sudah menjelaskannya

kepadaku, kecuali kau sendiri yang membuka peti untuk melihatnya,

aku tidak ingin tahu isi peti itu.”

“Apakah kau hanya menginginkan uang 100 ribu tail perak saja?”

“Benar, kalau aku sudah mendapatkan uang 100 ribu tail perak,

aku bisa memberikan uang itu untuk menolong orang yang terkena

musibah. Kita mempunyai tujuan yang sama, tidak ingin melihat

orang-orang yang berada di kampung halaman mati kelaparan.”

Xin Suan berkata, “Aku mempunyai ide, kalau aku berhasil

mendapatkan uang sebesar 100 ribu tail, kita sumbangkan 50 ribu

untuk para korban bencana alam, sedangkan 50 ribu sisanya kita

bagi dua, bagaimana?”

“Sudahlah Dik, walaupun ilmu silatku tidak sekuat dirimu tapi

jembatan yang telah kulewati lebih banyak dibandingkan dirimu,

jangan mencari tahu tentang diriku.”

Xin Suan tertawa terbahak-bahak.

Satu jam telah berlalu, kereta sudah berada di Gunung Mo Gan,

pengemis tua melihat ke sekeliling tempat itu dan berkata,

“Sepertinya Qian Shou Du Shu Sheng akan muncul disini.”

“Mengapa kau bisa tahu?”

“Karena daerah ini jarang dilewati orang, kalau keadaan tidak

menguntungkan baginya, dia bisa melarikan diri masuk ke dalam

hutan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Tapi aku kira sekarang ini dia tidak akan berani mengajakku

bertarung.”

“Benar, mungkin—Hai, apa itu?”

Xin Suan mengikuti pandangan pengemis itu.

Ternyata yang ditunjuk oleh pengemis itu adalah sebuah orangorangan

sawah!

Tapi orang-orangan itu tidak dipasang di tengah sawah,

melainkan dipasang di tengah jalan yang tidak terlalu jauh jaraknya

dari mereka!

Xin Suan segera mengurangi kecepatan keretanya dan berkata,

“Bukankah itu adalah orang-orangan sawah?”

“Benar, apa maksudnya diletakkan di tengah jalan seperti ini?”

Xin Suan tertawa dingin, “Qian Shou Du Shu Sheng benar-benar

bertingkah macam-macam, aku akan ke sana untuk melihat.”

Dia memberikan tali kekang kudanya kepada pengemis aneh itu,

lalu dia turun dari kereta berjalan ke arah orang-orangan itu.

Tapi tangan si pengemis itu sudah menarik lengan Xin Suan dan

menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak, pada saat seperti

sekarang ini lebih baik kau jangan sampai meninggalkan kereta.”

“Apakah kau mengira dia sengaja memancingku turun dari

kereta?”

“Mungkin saja!”

“Apakah kau takut dia akan merampok peti itu?”

“Bukan, aku takut kau akan terkena tipuannya.”

“Tapi kita tetap harus memindahkan orang-orangan itu supaya

kereta kita bisa lewat.”

“Kita akan berjalan kesana bersama-sama.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan tetap membawa keretanya ke sana, kira-kira tinggal 10

meter lagi dari orang-orangan itu, dia baru menghentikan

keretanya.

Orang-orangan itu memakai sebuah topi usang.

Bajunya berwarna hitam dan sudah kumal, terlihat sobekan ada

di mana-mana. Tubuh bagian bawahnya terbuat sebuah kayu dan

menancap di tanah. Dari luar tidak terlihat ada sesuatu yang aneh.

Mereka saling memandang, lalu dengan nada aneh Xin Suan

bertanya, “Apakah ada sesuatu yang berbeda pada orang-orangan

sawah ini?”

Pengemis aneh itu mengelilingi orang-orangan itu kemudian dia

mengerti dan melambaikan tangannya ke arah Xin Suan.

“Bagaimana?” tanya Xin Suan.

Pengemis itu berbisik kepada Xin Suan.

Xin Suan terlihat mengangguk dan berkata, “Baiklah, biar aku

yang mengerj akanny a.”

Dia kembali ke kereta dan mengambil pedangnya, dia mencabut

pedang itu dari sarungnya, kemudian dia menusukkan pedang itu ke

arah orang-orangan sawah.

Dia membelah orang-orangan itu dari atas, setelah itu dia

melayang balik, sisa bagian bawah dari orang-orangan itu keluar

berbagai senjata rahasia.

Senjata-senjata rahasia itu berupa panah pendek, paku, dan

jarum berwarna hitam. Senjata itu keluar seperti hujan dan

meluncur ke sekeliling tempat itu.

Xin Suan dan pengemis itu seperti tidak mempunyai persiapan,

mereka secara bersama-sama berteriak kemudian ambruk ke tanah.

Pengemis tua itu roboh dan dia merintih, tubuhnya terlihat

kejang-kejang dia terus berkata, “Mataku…mataku….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Matanya tidak bisa dibuka, sepertinya matanya telah terkena

jarum hitam yang beracun itu.

Tubuh Xin Suan pun terlihat kejang-kejang, dia masih berusaha

untuk berdiri tapi ambruk lagi ke bawah, aWiirnya dia tidak bergerak

lagi.

“Ha! Ha! Ha!” sebuah tawa terdengar dari balik gunung, terlihat

sesosok bayangan terbang dari hutan tidak lama kemudian dia

sudah berdiri di jalan itu.

Orang itu tidak lain adalah Qian Shou Du Shu Sheng.

Tawanya terdengar sadis, dia melihat Xin Suan dan pengemis tua

yang sudah terkapar di bawah, dia berkata, “Kalian berdua tidak

usah pura-pura mati, orang yang terkena senjataku dalam waktu

satu jam tidak akan mati begitu saja.”

Memang benar Xin Suan masih hidup dia berusaha mengangkat

kepalanya melihat lawan yang akan dihadapinya dan dia marah,

“Kau…kurang ajar!”

Qian Shou Du Shu Sheng tertawa dan berkata, “Kalau kau

marah-marah lagi, aku akan memotong lidahmu!”

Xin Suan masih marah, “Bedebah! Ternyata kau lebih busuk dari

seekor anjing buduk!”

Qian Shou Du Shu Sheng mulai marah, segera dia mengambil

pedang dan menusuknya ke mulut Xin Suan.

Xin Suan masih memegang pedangnya, dia mengangkat pedang

dan berputar. Qian Shou Du Shu Sheng tergetar mundur 3-4

langkah ke belakang.

Qian Shou Du Shu Sheng kaget dan berteriak, “Bocah, kau masih

mempunyai tenaga untuk bertarung?”

Xin Suan langsung meloncat bangun dia tertawa, “Aku bukan

hanya mempunyai tenaga untuk bertarung tapi juga mempunyai

tenaga untuk membunuh!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Qian Shou Du Shu Sheng benar-benar kaget, wajahnya tampak

berubah.

Pengemis itu juga meloncat bangun, mereka sama sekali tidak

terluka oleh senjata rahasia itu!

Ternyata semua hanya akal-akalan mereka untuk memancing

Qian Shou Du Shu Sheng keluar dari tempat persembunyiaimya.

Setelah sadar bahwa dia tertipu, Qian Shou Du Shu Sheng segera

mencoba melarikan diri dari sana. Tapi Xin Suan dan pengemis tua

itu segera mengepungnya, Xin Suan tertawa dan berkata, “Aku

dengar ilmu pedangmu lumayan tinggi, bagaimana kalau kita

bermain beberapa jurus?”

Qian Shou Du Shu Sheng melihat pada pengemis tua yang

berada di belakang Xin Suan dan bertanya, “Bertarung dengan

dirimu saja, atau dengan kalian berdua?”

“Tentu saja denganku saja,” jawab Xin Suan.

Qian Shou Du Shu Sheng sepertinya tidak mengenal Xin Suan,

setelah mendengar bahwa mereka akan bertarung satu lawan satu

akhirnya dia mengangguk setuju dan berkata, “Baiklah, kalau aku

menang bagaimana?”

“Peti besi ini akan kuberikan kepadamu,” kata Xin Suan.

“Baik, mari kita mulai bertarung!” kata Qian Shou Du Shu Sheng.

Segera Xin Suan melancarkan serangannya, jurusnya terlihat

sangat biasa dan gerakannya sangat lambat, bahkan seperti tidak

bertenaga.

Begitu melihat pedang Xin Suan sudah berada di depannya, dia

segera membentak dan dengan cepat pedangnya menghadang

gerakan pedang Xin Suan. Kemudian dia membalas dengan cepat.

Sinar pedang tampak berkilau seperti jaring, mereka sudah

bertarung sebanyak 10 jurus lebih, kemudian Qian Shou Du Shu

Sheng mencoba melarikan diri dari sana, tapi Xin Suan terus

mengejarnya dari belakang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tampak pundak Xin Suan terluka dan ada noda darah di sana.

Qian Shou Du Shu Sheng tidak terluka sama sekali, wajahnya

tersenyum, dengan sorot mata penuh kemenangan dia melihat Xin

Suan.

Tapi keadaan seperti itu hanya bertahan sebentar.

Wajahnya tiba-tiba berubah, tawa kemenangannya sudah tidak

tampak lagi, sebagai gantinya adalah wajah kejang dan kesakitan.

“Roboh!” kata Xin Suan.

Ternyata Qian Shou Du Shu Sheng menuruti perkataannya,

kedua lututnya menekuk, dia berlutut dan roboh.

Kemudian dari perutnya mengalir darah seperti mata air!

Ternyata lukanya lebih parah dari Xin Suan malah luka ini sangat

vital. Setelah roboh Qian Shou Du Shu Sheng mencoba menarik

nafas panjang, tampaknya dia sudah tidak bernyawa lagi.

“Ilmu pedang orang ini lumayan bagus….” kata pengemis tua itu.

“Benar, semenjak aku turun gunung, dia adalah musuh terkuat

yang pernah kutemui.”

“Bagaimana dengan lukamu?”

“Luka ringan, tidak apa-apa.”

Pengemis tua itu memberikan sebutir obat penawar racun.

“Pedangnya tidak mungkin tidak beracun, lebih baik kau minum

obat ini untuk berjaga-jaga.”

Xin Suan meminum obat itu.

“Masalah yang datang semakin banyak,” kata pengemis tua itu.

Xin Suan terpaku, “Masalah apa?”

Pengemis tua itu menunjuk ke belakang dengan tongkat

bambunya, “Kuda kita terkena senjata rahasia dan racunnya mulai

menyebar.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan melihat mulut kuda itu mengeluarkan buih putih sangat

banyak, tampaknya kuda itu tidak mampu untuk berdiri lagi. Xin

Suan mengerutkan dahi, “Sekarang, bagaimana?”

“Obat penawarku tidak berguna untuk seekor kuda.”

“Jadi kuda itu tidak akan bertahan hidup?”

“Benar, hidupnya tidak akan lama.”

Kata-katanya belum selesai kuda itu sudah berlutut dan roboh

begitu saja.

“Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan kalau tidak ada kuda….”

kata Xin Suan.

Pengemis tua itu membawa mayat Qian Shou Du Shu Sheng dan

berkata, “Aku akan coba mencari….”

“Di mana ada kuda?”

“Orang ini tadi menunggang kuda putih, mungkin dia

mengikatnya di dekat sini.”

“Benar, ayo kita cari!”

Pengemis aneh itu membawa mayat Qian Shou Du Shu Sheng

masuk ke dalam hutan….

Xin Suan membersihkan darah yang berceceran kemudian dia

menarik kuda yang sudah mati masuk ke sisi hutan itu.

Pada saat dia kembali ke keretanya, terlihat pengemis tua itu

membawa seekor kuda putih keluar dari dalam hutan—kuda itu milik

Qian Shou Du Shu Sheng.

Dan merekapun bisa melanjutkan perjalanan.

Pengemis aneh itu menarik nafas dan berkata, “Tampaknya

untuk mendapatkan 100 ribu tail ini benar-benar sangat sulit….”

“Karena sulit didapatkan, maka pekerjaannya juga pasti pantas.”

“Ini baru hari kedua, dan yang mati sudah ada 3 orang, masih

ada sisa 7 hari perjalanan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kita pasti akan sampai di tempat tujuan.”

“Aku mempunyai firasat, orang yang muncul berikutnya, pasti

ilmu silatnya lebih hebat lagi.”

“Mungkin saja.”

“Mungkin pengemis ini tidak akan sampai di Jin Ling dan tidak

akan sempat melihat uang yang berkilauan….”

“Jangan patah semangat.”

“Bila pengemis ini tidak sampai di tujuan tidak apa-apa, tapi

untukmu jangan sampai gagal.”

“Aku juga mempunyai firasat kalau kita akan berhasil!”

“Apa alasanmu?”

“Di daerah Lu Bei, karena telah terjadi kemarau panjang banyak

orang yang mati kelaparan, roh-roh mereka yang sudah mati tentu

tahu kalau kita akan menolong teman-temannya yang masih hidup,

bahkan sampai rela menjual nyawa kita sendiri, mungkin roh-roh ini

akan membantu kita melewati berlapis-lapis cobaan dan bahaya.”

Pengemis itu tertawa dan mengangguk, “Semoga seperti itu!”

Dari dalam kantong kainnya dia mengeluarkan arak dan

meneguknya, kemudian dia berkata, “Coba kita tebak….”

“Menebak apa?”

Si tangan terampil pengemis aneh itu berkata, “Apa kira-kira isi

peti besi ini? Mengapa Wang Ye sampai mau mengeluarkan uang

100 ribu tail perak untuk menyewa jasa seseorang mengantarkan

barang ini? Mengapa banyak orang persilatan yang menginginkan

benda ini dan mencoba merebutnya?”

“Jangan coba-coba untuk menebaknya.”

“Oh ya?”

“Ini masalah kerajaan, kita tidak mungkin bisa menebaknya.”

“Apa? Kerajaan?” tanya si tangan terampil pengemis tua itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan mengangguk.

Dengan kaget pengemis itu bertanya, “Kau menganggap peti besi

itu….”

“Kalau kau menyuruhku menebak, aku hanya menebak peti besi

itu berisi dokumen penting dan dokumen itu bisa menghancurkan

seseorang. Dan orang itu adalah orang penting di kerajaan!”

0-0-dwkz-0-0

Pada malam hari kereta sudah tiba di kota Wu Xing.

Baru saja memasuki kota itu, kereta mereka dihadang oleh

seorang pak tua, dia bertanya, “Apakah Anda adalah Xin Suan?”

Xin Suan mengangguk, “Benar.”

Pak tua itu dengan suara kecil berkata, “Wang Ye ada perintah

untuk Anda dan menyuruhmu supaya membawa kereta ini

menginap di Shue Jia Fei Yuan.”

Xin Suan masih menjalankan keretanya dan bertanya,

“Mengapa?”

Pak tua itu berjalan mengikuti kereta itu dan menjawab, “Beliau

hanya memberi perintah itu saja.”

“Apakah Wang Ye menungguku di Shue Jia Fei Yuan?”

“Malam ini pukul tiga, Wang Ye akan tiba di sini,” jawab pak tua

itu.

“Siapa kau?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Di mana letak Shue Jia Fei Yuan?”

“Di sebelah barat kota ini, kalau kau bertanya pada orang, pasti

banyak yang tahu.”

“Baiklah!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pak tua itu mengeluarkan sepotong batu giok dan

memperlihatkannya kepada Xin Suan, “Lihatlah!”

Xin Suan melihatnya dengan membolak-balikkan batu itu

kemudian dia mengembalikannya kepada pak tua itu dan berkata,

“Aku mengerti, sekarang aku akan membawa kereta ini ke Shue Jia

Fei Yuan.”

Pak. tua itu mengambil kembali gioknya dan pergi dari sana.

Tanya pengemis itu kepada Xin Suan, “Apakah kau percaya

kepadanya?”

Xin Suan mengangguk.

“Mungkinkah ini hanya akal licik lawan, saja!”

“Batu giok itu membuktikan bahwa ini bukan suatu akal-akalan.”

“Apa alasanmu berkata seperti ini?”

“Sewaktu meninggalkan Hang Zhou, Wang Ye sempat

memperlihatkan giok itu, kalau di tengah perjalanan ada yang

memberikan petunjuk harus disertai dengan bukti batu giok itu,

batu giok itu membuktikan semua perkataannya adalah benar,

sebaliknya bila tidak ada batu giok berarti keterangannya palsu.”

“Oh! Kira-kira apa yang akan ditunjukkannya padamu?” tanya

pengemis itu.

“Aku juga tidak tahu..

Tidak lama kemudian kereta itu sudah tiba di kota sebelah barat,

sepanjang jalan Xin Suan bertanya pada orang-orang, “Permisi, ke

mana jalan menuju Shue Jia Fei Yuan?”

Dengan roman aneh pejalan kaki itu melihatnya, setelah itu dia

baru menunjukkan sebuah jalan kecil dan berkata, “Dari jalan itu

kau masuk ke sana kemudian masuk gang kedua.”

Dengan sikap curiga dia bertanya, “Apakah kalian akan pergi ke

Shue Jia Fei Yuan?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Benar!” jawab Xin Suan.

Orang itu menggelengkan kepalanya dan berlalu dari sana.

Dengan aneh pengemis itu bertanya,

“Mengapa… apa..”

“Kita harus ke sana sekarang.”

Setelah itu Xin Suan menjalankan keretanya masuk ke jalan kecil

itu.

Setelah memasuki gang kedua, benar saja terlihat ada sebuah

pintu utama Fei Yuan (Taman rusak). Pintunya terlihat sudah usang

dan lapuk, tapi tertutup rapat. Sepertinya sudah lama tidak dibuka.

Shue Jia Fei Yuan adalah sebuah taman milik orang kaya, di

taman itu terdapat gunung buatan, kolam teratai, pepohonan, dan

juga padepokan. Pemandangan di sana seharusnya indah tapi

sekarang tampak padepokannya sudah ambruk, gunung buatan

sudah dipenuhi dengan rumput liar, kolam teratai sudah mengering.

Di bawah terlihat daun-daun yang berserakan dan sudah

mengering.

Sebuah taman yang terlihat seram, seperti sarang setan!

Pengemis tua itu gemetar karena merasa dingin, sekarang dia

tahu sebabnya mengapa orang-orang tadi menatap mereka dengan

roman aneh.

“Apakah disini tempat tinggal setan?”

“Benar.”

“Apakah kau pernah melihat setan?”

“Belum pernah.”

Xin Suan tersenyum dan berkata, “Akupun belum pernah

melihatnya, malam ini tampaknya kita bisa melihatnya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dia melambaikan tangan menyuruh pengemis itu membawa

keretanya masuk dan pintupun ditutupnya kembali. Kemudian dia

berjalan ke arah taman.

Mungkin taman itu sudah lama tidak diurus, rumput liar tumbuh

di mana-mana, daun kering bertumpuk setinggi satu kaki. Di sini

tidak terlihat taman yang bersih!

Begitu kereta berhenti di depan sebuah rumah, Xin Suan

memberikan isyarat dan pengemis itupun menghentikan kereta, dan

berkata, “Rumah ini masih lumayan bagus, lebih baik kita menginap

di s ini malam ini.”

Pengemis itu turun dari kereta melihat keadaan sekelilingnya,

dengan nada sedih dia berkata, “Taman ini sangat luas berarti

pemilik rumah dan kebun ini pasti orang yang sangat kaya.”

“Tapi sekarang keadaannya sudah seperti ini, pepatah

mengatakan : bunga tidak bisa mekar selalu, orangpun tidak akan

selalu kaya, pepatah itu ternyata benar,” kata Xin Suan.

Kata pengemis itu sambil tertawa, “Di dunia ini ada orang yang

tidak takut jatuh miskin, apakah kau tahu siapa orang itu?”

“Orang miskin.”

Pengemis itu mengangguk, “Benar, apalagi bagi seorang

pengemis, dia tidak takut keluarganya akan menjadi miskin.”

“Mungkin itu adalah alasannya mengapa kau lebih memilih untuk

menjadi pengemis?”

“Tidak, keluargaku selama 3 generasi sudah menjadi pengemis,

aku hanya meneruskan usaha ayahku.”

Xin Suan tertawa, “Tapi kau adalah seorang tetua Gai Bang dan

mempunyai posisi sangat tinggi di Gai Bang, mungkin suatu hari kau

juga akan jatuh!”

Pengemis itu tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Tidak,

siapapun yang menginginkan kedudukanku, aku akan langsung

memberikannya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan menatap langit dan berkata, “Hari mulai gelap,

sebaiknya kau keluar untuk membeli makanan, sudah lama kita

tidak minum!”

Pengemis itu mengangguk, “Baiklah, tapi kalau pengemis tidak

ada di sini, kau harus berhati-hati, jangan sampai ditangkap oleh

setan!”

Sambil tertawa dia berjalan keluar dari taman. Dari dalam kereta

Xin Suan mengeluarkan pedangnya dan masuk ke dalam rumah itu.

Rumah itu sudah tua dan kondisinya sudah bobrok, tidak ada

perabot rumah yang masih utuh, dan di mana-mana terlihat kotoran

tikus, tempat itu benar-benar sangat kotor.

Xin Suan mengelilingi ruang lantai satu, kemudian ke tingkat dua,

tangga lotengnya juga terlihat sudah lapuk, setiap kali menginjak

anak tangga pasti akan keluar bunyi berderit, seperti menginjak

tikus saja.

Setelah melihat keadaan ruangan di lantai dua, tampaknya

tempat itu dulu adalah kamar Nona Shue, karena masih bisa terlihat

sisa keindahan kamar itu, dan di kamar itu masih ada balkon, dari

sana bisa menikmati pemandangan di luar.

Setelah melihat keadaan kamar itu, Xin Suan berjalan ke arah

balkon, di sana dia tidak menemukan ada sesuatu yang aneh. Dari

atas loteng dia terus melihat keretanya.

Malam semakin larut.

Di Shue Jia Fei Yuan dia menantikan tibanya malam, dan suasana

di sana bertambah’ seram.

Sebenarnya letak rumah itu ada di dalam kota, di kiri dan kanan

tempat itupun ada tetangga. Tapi di dalam sini seperti berada di

dunia lain, dunia setan.

Di taman tidak terdengar suara apapun. Siapapun yang berada di

tempat seperti itu pikiran pertamanya adalah tempat setan.

Sekarang Xin Suan seperti berada di dunia itu, tapi dia tidak merasa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

takut karena dia merasa selama hidupnya dia tidak pernah berbuat

salah atau merugikan orang lain. Orang yang tidak pernah berbuat

salah, jalannya akan lurus-lurus saja, dan setan juga tidak akan

menyerang orang yang lurus.

Dia berdiri dengan diam selama setengah jam, tiba-tiba dia

mendapat perasaan tidak enak dan berkata pada dirinya sendiri,

“Apakah telah terjadi sesuatu pada pengemis itu?”

Benar saja, dia baru sadar bahwa pengemis itu sudah pergi

setengah jam yang lalu dan sampai sekarang belum kembali. Dan

tidak ada kabar beritanya, dia pergi ke toko untuk membeli

makanan tidak membutuhkan waktu begitu lama!

Apa yang telah terjadi? Apakah dia jatuh ke tangan musuh?

Terpikir sampai di sana, Xin Suan tampak mengerutkan alisnya, dia

takut telah terjadi sesuatu, persoalan seperti ini tidak bisa

diselesaikan dengan ilmu silat, kalau sampai lawan menculik

pengemis itu dan dijadikan sandera, dia akan merasa kesulitan!

Sewaktu dia sedang berpikir begitu, tiba-tiba dari arah kebun

terdengar seseorang menarik nafas, suara itu ternyata suara

seorang perempuan.

Di tempat dan suasana seram seperti itu, tiba-tiba terdengar

suara tarikan nafas, benar-benar membuat bulu kuduk siapapun

akan merinding.

Bulu kuduk Xin Suan sekarang mulai merinding, dia membentak,

“Siapa?!”

Setelah tarikan nafas itu terdengar, suasana kembali menjadi

hening.

Xin Suan sangat terkejut, tapi dia kembali menenangkan dirinya,

dia mencari sumber suara tadi, tapi tidak terlihat ada yang aneh di

sana. Tiba-tiba dia terpikir. “Apakah pengemis tua itu mencoba

bergurau denganku?”

Dia berteriak, “Tangan trampil pengemis aneh, apakah itu

dirimu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tidak ada yang menjawab.

Xin Suan mengangkat bahu dan tertawa, ma akan pergi dari

sana, tapi pada saat dia membalikkan kepalanya, hatinya berdebardebar,

semua bulu kuduknya merinding.

Karena saat itu dia melihat sosok bayangan seorang perempuan.

Seorang perempuan yang mengenakan baju berwarna putih dan

berambut panjang.

Dia terb’hat sangat cantik, usianya sekitar 30 tahun, dia berdiri

dengan diam di dekat gunung buatan!

Dia sedang tersenyum!

Sepertinya dia sudah lama berdiri di sana dan secara diam-diam

melihat Xin Suan dengan lama!

Xin Suan membentak, “Siapa kau!”

Tubuhnya terbang, melewati pagar lalu mendarat, kemudian dia

lari ke tempat perempuan itu.

Setelah berada di depan perempuan itu, tiba-tiba perempuan itu

lari dan bersembunyi di balik gunung buatan itu. Xin Suan segera

menghentikan larinya, dia mengeluarkan pedang dari sarungnya.

Dia berada dalam keadaan waspada, selangkah demi selangkah

mendekati gunung buatan itu—

Setelah melihat ke balik gunung buatan itu, dia terpaku.

Ternyata perempuan berambut panjang Jtu sudah tidak ada di

sana. Di mana dia bersembunyi?

Di belakang gunung buatan itu hanya ada beberapa pohon Yang

Liu, dan di sebelah gunung itu ada kolam teratai dan sebuah

jembatan kecil tapi perempuan berambut panjang itu tidak ada!

Dalam keadaan bingung Xin Suan naik ke atas gunung buatan dia

melihat ke sekeliling tempat itu, taman tetap terlihat sepi seperti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

tadi. Tidak ada bayangan seorangpun di sana. Dia menghembuskan

nafas panjang dan berpikir, “Apakah di sini benar-benar ada setan?”

Dia selalu curiga kepada setan, dia lebih banyak tidak percaya

dari pada harus percaya bahwa setan itu ada. Dan dia memang

tidak takut kepada setan. Dia selalu merasa bila orang itu berdiri

dengan tegak, setan manapun tidak akan berani mendekati orang

itu. Tapi sekarang ini rasa percaya dirinya mulai goyah.

Kalau perempuan berambut panjang itu manusia, dia pasti

mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi, tapi dia tidak

percaya bahwa seorang perempuan bisa mempunyai ilmu

meringankan tubuh begitu tinggi dan hampir menyerupai seorang

dewi.

Karena itu alasan yang masuk akal adalah perempuan tadi adalah

setan perempuan yang bermukim di taman ini!

Dia mengerutkan dahinya, hatinya mulai terasa berdebar-debar,

karena dia sadar bahwa setan adalah makhluk tidak berwujud dan

tidak akan bisa dikalahkan dengan ilmu silatnya.

“Mengapa pengemis tua itu belum kembali?”

Dia berharap pengemis itu segera kembali bukan karena dia

butuh teman tapi dikarenakan pengalaman hidup pengemis itu

sangat banyak, dia pasti mempunyai cara untuk menghadapi setan

perempuan itu.

Waktu itu dia sedang berpikir.

“Heehhh!”

Terdengar lagi suara tarikan nafas dari sebelah kiri, Xin Suan

langsung menoleh untuk melihat, dia melihat di balkon tempatnya

berdiri tadi ada sosok perempuan berambut panjang dan berbaju

putih, dia sedang berdiri di sana dan dia adalah perempuan tadi!

Tapi wajahnya sudah tidak terlihat cantik lagi. Wajahnya penuh

dengan darah, seperti wajah setan yang menakutkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Karena Xin Suan sudah bersiap terlebih dahulu, pada saat melihat

wajah menakutkan itu dia tidak takut.

Dia sudah bertekad untuk mencari tahu siapa sebenarnya

perempuan seperti setan itu, apakah benar dia adalah setan atau

manusia, lalu dia segera terbang dari gunung buatan ke arah balkon

ke tempat perempuan itu berdiri.

Jarak dari gunung buatan ke balkon itu sekitar 12 meter, dalam

jarak yang begitu jauh dia terbang dengan cepat ke arah balkon,

tapi setan perempuan berambut panjang itu pada saat melihat Xin

Suan terbang ke arahnya dia langsung masuk ke dalam kamarl

Xin Suan segera terbang ke atas balkon dan tanpa ragu dia

masuk ke dalam kamar—

Matanya segera mencari, tapi kamar itu kosong, setan

perempuan berambut panjang itu sudah menghilang lagi!

Xin Suan melihat dari depan jendela usang, jendela tertiup angin

dan bergoyang-goyang.

Dia segera mendekat ke jendela itu dan ingin melihat keluar, dia

melihat setan perempuan itu sedang berdiri di sebuah pohon Yang

Liu yang berada di bawah loteng.

Berdiri di sebuah cabang pohon dan mengikuti goyangan pohon

yang tertiup angin.

Melihat keadaan seperti itu dia merasa kaget, dia telah melihat

ilmu meringankan tubuh perempuan itu. Kalau dia bukan setan

berarti dia adalah seorang pesilat tangguh yang sulit dihadapi.

Xin Suan menarik nafas panjang, dia berkata, “Nona, kalau Anda

mempunyai maksud tertentu datang ke sini katakan saja, jangan

berpura-pura menjadi setan dan mengejutkanku.”

Setan perempuan itu tidak menjawab juga tidak bergerak. Dia

hanya melotot menatap Xin Suan, darah yang keluar dari matanya

di bawah cahaya bulan tampak menakutkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dia melihat Xin Suan tapi tidak menjawab, segera xin Suan

meloncat melalui jendela dan menghampiri setan itu.

Kejadiannya terulang seperti tadi sebelum Xin Suan mencapai

tempat perempuan itu, tubuh setan perempuan itu seperti

tenggelam dan menghilang.

Setibanya Xin Suan di pohon Yang Liu itu, sambil terus mencari

dia hanya menemukan pohon Yang Liu yang bergoyang-goyang

tertiup angin, tidak terlihat bayangan setan itu. Xin Suan berpikir,

“Dia benar-benar mempunyai ilmu yang tinggi, aku berharap dia

adalah setan sungguhan….”

Alasan Xin Suan berharap kalau oerempuan itu adalah setan

sungguhan karena bila dia setan sungguhan Xin Suan tidak akan

mati. Tapi kalau perempuan itu adalah pesilat tangguh, nyawanya

akan terancam.

“Heehh!”

Tiba-tiba dari arah taman terdengar desahan nafas lagi, dengan

cepat Xin Suan maju sepuluh langkah untuk melihat. Terlihat setan

perempuan itu berada di sebuah pohon pisang, wajahnya tampak

sudah berubah, sekarang tampak wajahnya yang cantik lagi.

Dia tersenyum kepada Xin Suan, senyumnya sangat manis.

Xin Suan tertawa dingin dan berkata, “Kau tidak bisa menakutnakutiku,

mengapa tidak segera memperkenalkan dirimu saja?”

Perempuan itu tidak bergerak dan tidak menjawab, tawanya

terlihat manis.

Xin Suan tidak ingin mengejarnya lagi, dia memungut sebuah

batu sambil tertawa dia berkata, “Kalau kau adalah setan

sungguhan, kau tidak akan takut kepada sambitan batu ini!”

Setelah itu Xin Suan melemparkan batu itu.

Batu itu dengan cepat melesat, hanya dalam waktu singkat sudah

berada di depan setan perempuan itu. Sepertinya setan itu takut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

kepada batu yang dilempar oleh Xin Suan. Dia menggeser tubuhnya

dan dia langsung bersembunyi di belakang pohon pisang.

Xin Suan tertawa terbahak-bahak, dia membalikkan badannya

dan pergi dari sana.

Xin Suan sudah tahu kalau perempuan rtu bukan setan

melainkan manusia. Xin Suan juga tahu kalau perempuan itu

mencoba memancingnya menjauhi dari keretanya. Karena itu dia

segera tersadar dan cepat-cepat kembali ke keretanya.

Dia melihat keretanya masih ada, dengan cepat dia membuka

tirai kereta, peti besi itu masih ada. Dia segera naik ke atas kereta

dan duduk bersila.

Dia sudah mengambil keputusan, dia akan melawan setan itu

dengan diam, apapun yang bergerak tidak akan dilayani. Apalagi

terhadap pancingan perempuan itu. Yang terpenting adalah dia

akan menjaga peti besi itu supaya tidak direbut oleh siapapun.

Benar saja, cara ini berhasil, kurang lebih 15 menit kemudian

tanpa diundang setan itu datang sendiri.

Dia muncul di balkon tingkat kedua rumah itu.

Xin Suan melihatnya dan tertawa, “Apakah kau sudah kehabisan

akal?”

Setan perempuan itu menjawab, “Kau benar-benar sangat

berani, setiap kali aku berpura-pura menjadi setan aku berhasil

membuat orang ketakutan setengah mati.”

Xin Suan berkata, “Aku adalah orang yang sangat miskin, kau

harus tahu tentang itu. Orang miskin tidak akan takut kepada

setan.”

Setan perempuan berambut panjang itu berkata, “Kau tidak

miskin, sebentar lagi kau akan mempunyai uang 100 ribu tail

perak.”

Xin Suan tertawa terbahak-bahak, “Kalau begitu kau adalah salah

satu dari mereka yang mengincar peti itu juga bukan?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Benar!”

“Apakah kau masih menginginkannya?”

“Kalau aku membuka harga bagaimana?”

“Sudah ada yang berani mengeluarkan harga 120 ribu tail perak,

kau berani mengeluarkan berapa?”

Perempuan berambut panjang itu berkata, “Jadi erang tidak

boleh serakah, Qian Shou Du Shu Sheng mengatakan akan

memberimu 120 ribu tail perak, itu belum tentu. Wang Ye yang

katanya akan memberikan 100 ribu tail pun belum tentu.”

“Apakah kau bisa dipercaya?”

Perempuan berambut panjang itu mengangguk dan menjawab,

“Benar, aku akan segera membayarmu 50 ribu tail perak sekarang

juga.”

0-0-dwkz-0-0

BAB 3

Kuda langit berjalan di atas langit Pedang seperti pelangi

Xin Suan tertawa, “Mengapa harganya menjadi turun ya?”

“Bukan harganya yang turun, tapi kalau Tuan mau mendapatkan

uang 100 ribu tail perak dari Wang Ye, kau akan menemui jalan

penuh dengan darah, apakah kau yakin bisa membawa perjalanan

ini dengan selamat dan mengantarkan peti besi ini sampai di Jin

Ling?” tanya perempuan itu.

“Aku ingin mencobanya.”

“Kau jangan terlalu percaya diri, bagaimanapun kami harus

mendapatkan peti besi itu!”

“Aku juga tidak ingin kehilangan uang 100 ribu tail perak itu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Aku katakan kepadamu, bila kau mengantarkan peti besi itu

sampai di Jin Ling, maka akan banyak orang yang terkena musibah,

mengapa kau tidak mau mengumpulkan sedikit pahala saja?”

“Mengapa bisa membuat banyak orang terkena musibah?”

“Aku hanya bisa memberitahukan sedikit, tidak bisa

menjelaskannya secara mendetil.”

“Aku juga ingin memberitahu padamu, bila aku berhasil

mendapatkan uang 100 ribu tail, aku bisa menolong banyak orang.”

“Menolong orang dari bencana alam, bukankan cukup dengan

uang 50 ribu tail perak….”

“Dengan uang lima juta tail perakpun tidak akan pernah cukup!”

“Kalau begitu, kau hanya membawa uang 100 ribu tail perak

bertujuan menolong orang yang terkena bencana, bukankah itu

seperti meneteskan setetes air di sebuah padang pasir yang luas?”

“Aku akan berusaha semampuku.”

“Masalahnya kau tidak akan mendapatkan uang 100 ribu tail

perak pada saat kau masih hidup!”

“Aku akan mempertahankan hidupku.”

“Apakah kau ingin menjadi pejabat?”

“Apa maksudmu?”

“Bila kau melepaskan peti besi itu kepadaku, aku akan menjamin

selain mendapatkan uang 50 ribu tail itu, kau masih akan

mendapatkan sebuah jabatan di pemerintahan.”

“Terima kasih. Aku tidak mempunyai bakat menjadi pejabat!”

Perempuan itu terus menatapnya, kemudian menarik nafas dan

berkata, “Kau memang keras kepala, sebelum melihat peti mati kau

tidak akan meneteskan air mata.”

“Benar!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kemudian dari balik baju bagian dadanya perempuan itu

mengeluarkan sebuah benda seperti bola yang terbuat dari kain, dia

berkata, “Aku akan memberikan benda ini kepadamu!”

Kemudian dia melemparkan bola itu ke bawah balkon.

Xin Suan menyambutnya, begitu hampir tiba di tangannya, dia

terpikir akan sesuatu, segera dia meninggalkan kereta dan meloncat

menjauh.

Benda bulat seperti bola itu terjatuh di atap kereta dan terdengar

suara PENG, suaranya terdengar seperti petasan yang meledak,

muncul asap kuning dan menyebar ke mana-mana.

Xin Suan tahu bahwa asap kuning itu bisa menyebabkan orang

mati, segera dia meloncat lagi sejauh sepuluhan meter.

Tapi asap kuning itu terus bergulung-gulung di depannya, dia

meloncat lagi beberapa puluh meter.

Begitu asap kuning itu menyebar sekitar 20 meter, asap berputar

dan naik ke atas. Di bawah sinar bulan terlihat seperti api, dengan

perlahan naik ke atas langit.

Waktu itu Xin Suan melihat ada 2 bayangan dengan cepat

mendekati kereta, tampaknya mereka akan mengambil peti besi

yang ada di dalam kereta. Segera Xin Suan mengeluarkan dua buah

pisau kecil dari pinggangnya lalu diapun melemparnya.

Mungkin karena tegang kedua orang yang wajahnya ditutup itu

tidak merasakan ada pisau yang menyerang ke arah mereka, begitu

pisau sudah berada di depan mereka, tidak bisa berkelit lagi—

“Ahhh!!”

“Waaahhh!”

Dua suara itu bersamaan keluar, dan kedua orang itupun secara

bersama-sama ambruk ke tanah.

Xin Suan tidak menyangka kalau kedua orang itu begitu mudah

dibereskan, dia merasa sangat senang, tapi tiba-tiba dia merasa di

atas kepalanya ada angin yang berhembus, kemudian terlihat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

cahaya putih seperti kilat menyerangnya. Xin Suan merasa sangat

terkejut, segera dia berguling-guling untuk menghindar.

“Terima jurus pedangku!”

Dari dalam kegelapan, hanya terdengar suara seorang

perempuan yang berkata seperti itu, berikutnya disusul dengan

cahaya pedang yang terus datang dan menyerangnya.

Xin Suan tidak bisa bangun untuk melawan, dia hanya bisa

mengangkat pedangnya dari bawah untuk bertahan, tangan

kanannya seperti seekor ular yang melingkar, sehingga pedangnya

ikut berputar—

“Heeee!”

Karena gagal perempuan itu mengeluarkan suara ‘Heee’,

kemudian tubuhnyapun melayang terbang, kakinya menginjak

ranting dan diapun meluncur seperti sebuah anak panah, berputar

di udara lalu menghilang begitu saja.

Dari atas pohon tiba-tiba jatuh sejumput rambut, mungkin pada

saat dia bertarung dengan Xin Suan, rambutnya berhasil tertebas

oleh pedang Xin Suan. Karena sudah melihat jurus pedang Xin Suan

dengan mata kepalanya sendiri, dia tahu diri dia bukan tandingan

Xin Suan dan dia segera mundur dari sana.

Xin Suan merasa ilmu meringankan tubuh perempuan itu sangat

tinggi, membuat dia teringat pada seseorang, segera Xin Suan

melayang ke atas dahan pohon dan berteriak,

“Xian Niang Nian Cai Xia! Apakah kau adalah Dong Hai Xian

Niang, Nian Cai Xia?” (Dewi laut timur).

Xian Niang Cai Xia (Dewi Cai Xia) adalah seorang perempuan

aneh dari kalangan persilatan, katanya dia sering naik sampan kecil

dan bermain di laut yang luas, dan dia mempunyai ilmu silat di

mana tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya.

Kalau perempuan tadi memang benar adalah Dong Hai Xian

Niang Nian Cai Xia, Xin Suan merasa bersalah, karena menurut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

orang-orang, Cai Xia adalah seorang perempuan yang sangat baik,

dia sering menolong orang-orang yang berada di seberang samudra.

Dan dia juga adalah seorang pendekar perempuan yang pantas

untuk dihormati.

Tapi sekarang perempuan itu sudah pergi entah ke mana!

Xin Suan berdiri di dahan pohon untuk melihat lebih jelas, tapi

perempuan itu tidak tampak lagi, terpaksa Xin Suan pun turun dari

pohon dan berkata pada dirinya sendiri, “Kalau perempuan tadi

memang benar adalah Dong Hai Xian Niang Nian Cai Xia, mengapa

dia melakukan hal ini? Apakah benar keadaan yang sedang terjadi

seperti yang dikatakannya tadi? Begitu peti besi itu tiba di Jin Ling

maka akan mencelakakan banyak orang, sehingga dia ingin

merampas peti besi ini? Apakah semua itu sekedar untuk menolong

banyak orang?”

Xin Suan berpikir dengan lama, kemudian tampak dia

menggelengkan kepalanya, dan berkata lagi, “Siapa yang benar dan

siapa yang salah suUt diketahui, lebih baik aku menjalankan tugasku

saja!”

Asap kuning sudah tidak terlihat, keadaan di sana sudah bersih,

dan dia kembali lagi ke keretanya, naik ke atas kereta dan duduk

bersila di sana.

Secara otomatis dia teringat kembali kepada pengemis tua itu,

lalu dia menarik nafas, “Kemungkinan 80% dia jatuh ke tangan

musuh, anehnya mengapa mereka tidak menggunakan dia untuk

mengancamku?”

Baru saja berpikir seperti itu, dari belakang terdengar suara

langkah kaki, dari suara itu dapat diketahui bahwa yang datang

sekitar 7-8 orang.

Jantung Xin Suan berdetak, “Ada yang datang lagi!”

Sebuah lampion terlihat bersinar dari dalam rumah, dari cahaya

itu dapat diketahui orang yang datang berjumlah 8 orang, 7 orang

pengawal dan seorang adik raja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Orang itu tidak lain adalah Wang Ye yang datang dari Nan Ping

Shan. Dia mengenakan baju berwarna merah, walaupun dia

berdandan seperti rakyat biasa tapi wibawanya sebagai keluarga

kerajaan tetap terasa.

Ketujuh pengawal itu walaupun berpakaian mewah tapi dari

wajah mereka terlihat kalau mereka adalah para pesilat tangguh.

Setelah kedelapan orang itu tiba di balkon, Wang Ye tidak

melihat Xin Suan yang ada di dalam kereta, dia berteriak ke arah

balkon, “Xin Suan, apakah kau ada di dalam?”

Xin Suan menjawab dari arah kereta, “Hamba berada di sini.”

Xin Suan berada di atap kereta, Wang Ye terlihat terkejut dan

berkata, “Ternyata kau berada di sana, hayo cepat turun!”

Xin Suan tidak segera turun, dia malah berkata, “Wang Ye

datang terlalu awal!”

Wang Ye tampak terpaku dan hanya bisa berkata, “Oh?”

“Menurut berita yang kudengar, Wang Ye akan datang malam ini

pukul 3, sedangkan sekarang baru pukul 1 malam.”

Wang Ye tertawa, “Benar, rencanaku memang datang pukul 3

malam, malah datang terlalu awal—turunlah sekarang!”

Xin Suan berdiri, lalu dengan ringan dia terbang dan mendarat,

dia memberi hormat, “Wang Ye datang dengan terburu-buru ke sini,

pasti ada hal yang sangat penting dan mendesak!”

“Benar, ada perubahan….” Dari balik baju bagian dadanya dia

mengeluarkan sehelai cek dan memberikannya kepada Xin Suan,

“Ambillah!”

Xin Suan tidak menerimanya dia malah bertanya, “Apakah ini?”

“Honormu, 100 ribu tail perak,” jawab Wang Ye.

“Wang Ye sendiri yang mengatakan setelah tiba di Jin Ling, uang

itu baru akan diberikan, mengapa sekarang sudah memberikannya

kepadaku?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kau tidak perlu mengantarkan peti itu sampai di Jin Ling lagi!”

kata Wang Ye.

“Mengapa?” tanya Xin Suan.

“Kau tidak perlu tahu alasannya, setelah, mendapatkan uang ini,

pergilah!” r,

Xin Suan tersenyum dan berkata, “Wang Ye ingin membawa peti

besi itu ke Jin Ling, sepertinya hal ini sudah lama direncanakan.

Mengapa sekarang rencana itu tiba-tiba bisa berubah? Apakah ada

kesulitan?”

Wang Ye marah dan berkata, “Kau tidak perlu tahu apa

alasannya.”

Xin Suan tersenyum dengan berlama-lama melihat Wang Ye,

setelah itu dia mengambil cek tersebut dan dia melihat angka yang

tertera di atas cek, dia tertawa, “Mengapa cek ini tidak diberi

stempel?”

“Tidak usah, bawa saja cek ini ke bank, kau pasti akan segera

mendapatkan uang 100 ribu tail perak.”

Xin Suan masih tetap tersenyum, “Belum tentu….”

Sambil bicara Xin Suan merobek cek itu menjadi serpihan kecil

dan dilempar ke bawah.

Wang Ye tampak marah, “Apa-apaan kau?”

Xin Suan tersenyum, “Cek ini palsu, untuk apa aku

mengambilnya?”

“Kata siapa cek ini palsu?”

Xin Suan tertawa terbahak-bahak, “Cek ini adalah cek kosong,

Anda juga bukan Wang Ye yang sebenarnya!”

Wang Ye tampak terpaku kemudian diapun tertawa terbahakbahak,

“Bocah, kau sangat pintar.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kemudian tubuhnya tampak bergoyang-goyang dan diapun

meloncat beberapa meter tingginya lalu membentak, “Saudara-

Saudara, laksanakan sekarang!”

Ketujuh pengawal itu dengan cepat mengepung Xin Suan.

Kemudian mereka mengeluarkan senjata masing-masing, ada

golok, pedang, pecut, bajak, pentungan, pena, dan lainnya.

Begitu melihat dengan teliti bagaimana wajah mereka, terlihat

wajah mereka yang bengis dan perilaku mereka tidak sopan,

tampaknya mereka adalah para perampok yang sudah

berpengalaman.

Xin Suan berdiri dengan tenang dan terus menatap mereka dia

tertawa, “Apakah kalian ingin bertarung?”

Orang yang membawa pedang berkata, “Kami adalah Ping Ming

Qi Lang.”

“Apakah yang kalian maksud adalah Yun Meng Ping Ming Qi

Lang?”

“Benar!”

“Aku sudah lama mendengar nama besar kalian.”

“Katanya namamu adalah Xin Suan.”

“Benar!”

“Kau baru terjun ke dunia persilatan?”

“Benar.”

Pengawal berbaju merah itu berkata, “Kau baru berkecimpung di

dunia persilatan, tapi sudah berani mati.”

“Orang yang berani mati yang baru bisa terkenal di dunia

persilatan,” jawab Xin Suan sambil tersenyum.

“Tapi sayang, malam ini kau harus mati dan cita-citamu tidak

akan tercapai.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Apakah kau adalah Lao Da Ping Ming Qi Lang, Qiu Qiu An?”

tanya Xin Suan.

“Benar!”

“Kalian datang ke sini karena disewa untuk bertarung atau kalian

disewa untuk beromong-omong?”

Qiu Qiu An tertawa, dia mengangkat ujung pedangnya dan

mendekatkannya ke jantung Xin Suan, dengan lama ujung pedang

itu mengarahkan ke jantung Xin Suan, tiba-tiba dia seperti terbawa

angin dan mulai menyerang Xin Suan.

Bertarung dalam jarak 5-6 kaki orang harus menunggu dan

waspada dalam menyerang, karena musuh akan bisa berbalik

menyerang. Tapi Lao Da Ping Ming Qi Lang berbeda dengan orang

lain. Setelah jarak yang tersisa sekitar 5-6 kaki lagi, dia masih saja

tenis menyerang dan tidak berhenti melangkah.

Seakan-akan Xin Suan adalah musuh bebuyutannya dan dia siapsiap

mati bersama dengan Xin Suan.

Ini adalah keistimewaan dari Ping Ming Qi Lang, setiap kali

bertarung dengan musuh, mereka tidak peduli dengan hidup dan

mati mereka, karena itulah mereka mendapat julukan Ping Ming Qi

Lang (Tujuh laki-laki berani mati).

Hal yang paling menakutkan adalah sewaktu Lao Da menyerang

dengan pedang sedangkan Lao Er, Lao San, dan yang lainnya ikut

menyerang. Tujuh macam senjata sekaligus dikeluarkan, mereka

seperti ingin mencincang Xin Suan menjadi daging halus.

Ketujuh orang mengepung satu orang dan saat itu Xin Suan

menjadi bulan-bulanan mereka, mereka mengepung dan semakin

merapat.

Pada saat ketujuh macam senjata Ping Ming Qi Lang hampir

mengenai tubuh Xin Suan, tiba-tiba Xin Suan bersiul, kemudian

terlihat lingkaran pedang yang berkilau—

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Terdengar suara senjata yang berdentang dan beradu, Ping Ming

Qi Lang seperti air yang berceceran, dan terbang ke segala penjuru,

tapi Xin Suan hanya diam seperti gadis pemalu, lalu bergerak

secepat kilat, dia seperti bayangan yang menempel di tubuh Lao Da

Qiu Qiu An, sewaktu tubuh Qiu Qiu An masih berada di udara,

dengan pedangnya Xin Suan bergerak ke atas. “Wah!”

Qiu Qiu An berteriak kesakitan, tubuhnya sudah terbelah menjadi

dua dari atas kepala hingga ke kaki, setelah terbelah menjadi dua,

terlihat organ dalam Qiu Qiu An yang masih tampak berdenyut!

Ping Ming Oi Lang adalah orang-orang berani mati selama

puluhan tahun merajalela di dunia persilatan, sekarang kelompok

mereka sudah kehilangan satu nyawa anggotanya, sekarang mereka

baru tahu apa yang disebut dengan kematian, ternyata sangat

menakutkan, melihat Lao Da Qiu Qiu An dari keadaan hidup-hidup

terbelah menjadi dua, lalu mereka melihat darah yang keluar seperti

air mancur, mereka berenam menjadi terpaku.

Xin Suan tertawa dingin dan bertanya, “Siapa lagi yang berani

mati menghadapiku, ayo maju!”

Lao Er Nan Kun dengan sedih melihat mayat Lao Da yang

wajahnya terlihat kram dan penuh dengan kemarahan. Dia

mengeluarkan suara raungan yang sangat besar dan mulai

menyerang Xin Suan lagi.

Kali ini dia sudah tidak ingat lagi pada hidupnya sendiri, dia

sudah bertekad harus mati bersama-sama dengan Xin Suan.

Keganasan dan kebengisan Lao Er cukup membuat hati Pin Ming

Qi Lang bergetar, tapi walaupun Xin Suan masih berusia sekitar 20

tahun lebih, karena lahir dari keluarga yang miskin, dia sudah

merasakan pahitnya hidup di dunia, ditambah telah berlatih ilmu

silat selama 10 tahun lebih di gunung, tubuhnya sangat kuat, dan

sifatnyapun terlihat tenang, tidak mudah terpancing emosi. Maka

walaupun terjadi sesuatu padanya atau ada kejutan di hadapannya,

dia tetap menghadapinya dengan tenang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Melihat Lao Er Nan Kun dengan marah terus menyerangnya, dia

tidak ikut emosi, sebaliknya dia bisa melihat lowongan serangan Lao

Er Nan Kun, begitu golok Nan Kun hampir mengenai wajahnya, dia

memiringkan tubuhnya dan pedang yang masih tergenggam erat di

tangannya dikeluarkan secepat kilat lalu ditusukkannya di pinggang

Nan Kun.

Sewaktu Nan Kun menebas ternyata tidak mengenai sasaran, dia

langsung merasakan pedang Xin Suan yang panjang berada di

Pinggangnya.

Dia merasa sangat terkejut, segera dia menurunkan goloknya

bermaksud menghalangi pedang Xin Suan, tapi semua itu sudah

terlambat, terdengar suara PUSH, pedang Xin Suan sudah menusuk

ke pinggangnya, diapun berteriak, kepalanya menunduk, kemudian

tubuhnya terasa lemas, kedua lututnya langsung menekuk.

Wajahnya pucat seperti kertas, keringatnya keluar dengan deras

seperti air hujan.

Xin Suan menarik pedang dari pinggang Nan Kun dan berkata

kepada lima orang yang tersisa, “Cepat tolong dia, mungkin

nyawanya masih bisa diselamatkan.”

Kelima orang yang tersisa melihat Xin Suan begitu gagah dan

berilmu silat tinggi, sekali pedang digerakkan nyawa seseorang akan

melayang. Sifat ganas dan bengis mereka sudah hilang entah ke

mana, mereka berlima hanya bisa saling memandang, Lao San Gao

Peng berteriak, “Xin Suan, katakan siapa namamu sebenarnya!”

Dengan dingin Xin Suan menjawab, “Sekarang aku menggunakan

nama Xin Suan, berarti Xin Suan adalah namaku, kalau kalian ingin

mengetahui identitasku, lihatlah ini!”

Tiba-tiba dia melemparkan pedang panjangnya ke udara, pedang

itupun berputar di udara, lalu segera turun dengan lurus, Xin Suan

membuka mulutnya dengan lebar, dia membiarkan pedang

panjangnya masuk ke dalam mulut dan terus masuk ke dalam perut.

Dia benar-benar menelan pedangnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gao Peng dan keempat saudaranya melihat semua kejadian itu,

terlihat wajah mereka berubah dan berteriak, “Tian Shan Tuan Jian

Xian (Dewa Tian San menelan pedang)!”

Kemudian reaksi mereka seperti melihat setan yang menakutkan,

segera mereka membopong mayat Lao Da Qiu Qiu An dan

memapah Lao Er Nan Kun lalu segera melarikan diri dari sana.

Hanya Wang Ye palsu saja yang tidak lari dari sana, dengan

tenang dia berdiri di balkon.

Xin Suan diam-diam memutar tubuhnya menghadap orang itu,

dia berteriak, “Apakah Wang Ye masih akan memberikan petunjuk?”

Sambil tertawa licik Wang Ye palsu itu berkata, “Benar!”

“Hamba ini s iap mendengarkan,” kata Xin Suan.

“Apakah kau sudah bertekad tetap akan mengantarkan peti besi

ini ke Jin Ling?”

“Benar,” jawab Xin Suan.

“Apakah tidak ada yang bisa mencegahmu?”

“Benar!”

“Sampai temanmu sendiripun tidak bisa mencegahmu?”

“Temanku juga tidak akan bisa mencegah sepak terjangku.”

“Demi kebersihan kukumu dan membahayakan nyawa temanmu,

apa begitu menurutmu?”

Begitu mendengar perkataan itu, Xin Suan tahu bahwa pengemis

itu ternyata jatuh ke tangan musuh, hatinya langsung terasa berat,

dia bertanya, “Apakah temanku yang Tuan maksud itu adalah si

pengemis tua itu?”

“Betul!”

“Dimana sekarang dia berada?”

“Perlu kau ketahui, dia masih hidup, dan itu sudah cukup.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan tampak berpikir sebentar, tiba-tiba dia tertawa dan

berkata, “Maksud Tuan, ingin menukar peti besi itu dengan nyawa

pengemis itu?”

“Betul!”

“Baiklah, silahkan Tuan bisa membawanya kemari.”

Wang Ye tidak menyangka kalau tawarannya akan dengan cepat

disetujui, dia malah merasa aneh, “Apakah kau setuju untuk

mengadakan petukaran?”

Xin Suan mengangguk.

“Lebih baik aku perjelas lagi, aku akan memberikan pengemis tua

itu dan kau akan menukarnya dengan peti besi itu, betul seperti

itu?”

“Benar.”

“Seorang laki-laki bila sudah mengeluarkan kata-kata, tidak boleh

menariknya kembali!”

“Itu sudah pasti!”

Wang Ye palsu itu terlihat sangat senang dan berkata, “Baiklah,

kau tunggu sebentar di sini, aku akan segera membawa pengemis

itu ke s ini.”

Baru saja dia selesai bicara, dia sudah meloncat pergi.

Kira-kira setengah jam kemudian, tampak dia membopong

pengemis tua itu ke tempat Xin Suan. Dia datang bersama dengan

dua laki-laki tegap dan tampak bengis.

Dia meletakkan si pengemis itu ke bawah dan berkata, “Aku

sudah menyerahkan pengemis ini dan kuletakkan dia di sini.”

Xin Suan melihat pengemis itu tidak bisa bergerak, dia bertanya,

“Bagaimana dirinya?”

“Tidak apa-apa, kami hanya menotoknya, bila sudah dibuka

totokannya tidak akan terjadi apa-apa,” jelas Wang Ye palsu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Sambil tersenyum dia berkata, “Apakah sekarang kami bisa

membawa kereta itu pergi?”

“Kalian hanya boleh membawa peti besi itu saja.”

“Apakah kau ingin mempermainkan kami?”

“Kau tidak mengatakan menginginkan peti besi itu berikut

dengan keretanya.”

Sambil tertawa dingin Wang Ye itu berkata, “Baiklah, kami hanya

akan membawa peti besi itu.”

Kemudian dia membalikkan badan dan memberi kode kepada

kedua laki-laki tegap dan bengis itu.

Mereka berdua segera menaiki kereta lalu menurunkan peti besi

itu.

Peti itu ternyata sangat berat dan sewaktu diturunkan, kedua

laki-laki itu langsung merasa kelelahan.

Xin Suan tersenyum, “Karena peti besi itu aku telah membunuh

banyak orang, tapi kalian dengan cepat dan mudah bisa

mendapatkannya.”

“Berarti kau adalah orang yang setia kawan dan demi teman kau

rela mengorbankan semuanya,” kata Wang Ye sambil tertawa

senang.

“Sekarang berikan pengemis tua itu kepadaku!”

“Tidak usah terburu-buru, setelah peti besi itu berhasil digotong

keluar dari kereta, aku baru akan melepaskan pengemis tua itu!”

Kemudian dia melambaikan tangannya memberi kode kepada

kedua laki-laki itu supaya bergerak lebih cepat dan membawa peti

besi itu dari sana.

Dengan cepat mereka keluar dari taman itu.

Wang Ye palsu ternyata takut kalau Xin Suan akan menghadang

kedua laki-laki itu, dia berdiri dengan lama di depan Xin Suan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

setelah kedua laki-laki itu berjalan menjauh, dia baru tertawa sambil

terbang, “Aku memberikan pengemis tua itu kepadamu, sekarang

aku permisi dulu!”

Hanya dalam waktu singkat dia sudah menghilang di dalam

kegelapan taman. Xin Suan tidak mengejar mereka, dia membuka

totokan nadi pengemis tua itu. Pengemis tua itu berkata sambil

menarik nafas, “Kali ini aku telah menyusahkanmu!”

“Tidak apa-apa, kau tunggu saja di sini, aku akan merebutnya

kembali,” jelas Xin Suan.

Satu kali meloncat dia segera berlalu dari taman itu.

0-0-dwkz-0-0

Pukul dua dini hari, sebuah kereta usang membawa rumput

keluar dari kota bagian selatan. Kusir kereta itu mengenakan baju

seperti seorang petani.

Walaupun kereta itu membawa satu kereta penuh dengan

rumput, tapi hal ini terasa sangat aneh, tapi untung jalanan sangat

sepi, tidak ada pejalan kaki di sana maka tidak ada yang

memperhatikan keretanya.

Setelah keluar dari kota, kereta dipacu dengan cepat.

Tiba-tiba kuda yang menarik kereta itu seperti dihalangi oleh

sesuatu sehingga kaki kuda itu terangkat tinggi-tinggi dan terus

meringkik.

Kusir itu terkejut dan membentak, “Siapa?”

“Aku!”

Suara itu sangat dingin.

Orang itu ternyata adalah Xin Suan, tangannya memegang kereta

membuat kereta itu tidak bisa berjalan!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Begitu si kusir melihat dengan jelas bahwa orang itu adalah Xin

Suan, segera dia berkata, “Xin Suan, apakah kau akan mengingkari

janjimu?”

“Tidak!” Xin Suan tertawa dingin.

Kusir itu dengan marah berkata, “Kalau kau tidak melanggar

janji, mengapa kau menghalangi jalanku?”

“Aku menginginkan peti besi itu,” jawab Xin Suan.

Dari dalam tumpukan rumput muncul dua orang, yang satu

adalah laki-laki tadi sedangkan yang satu lagi adalah Wang Ye

palsu!

Wang Ye palsu meloncat keluar dari tumpukan rumput, dia

mengeluarkan sebuah Pedang kecil, dengan marah dia berkata,

“Bocah, apakah kau bicara seperti kentut?”

Laki-laki itu sudah menyiapkan senjata, siap untuk bertarung.

“Apakah kau menganggap bahwa aku telah melanggar janjiku

sendiri?”

“Bukankah seperti itu?”

“Ada dua hal yang tidak sama di sini!”

“Apakah itu?”

“Setuju untuk menukar sandera itu adalah salah satunya,

merebut kembali peti besi adalah hal yang lain!”

“Apa alasanmu?”

“Peti besi itu bukan milik kalian, tapi kalian merebutnya dariku,

sekarang aku akan mengambilnya kembali.”

“Benar-benar kurang ajar!” seru Wang Ye palsu.

“Dan satu lagi, sewaktu menukar sandera di Shue Yuan, aku

belum berjanji tidak akan merebut kembali peti besi itu.”

“Apakah kau akan merebutnya dengan paksa?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Bukan merebut dengan paksa, tindakanku lebih sopan dari

kalian.”

Wajah Wang Ye palsu itu terlihat merah dan berkata, “Kau masih

muda dan juga mempunyai ilmu silat tinggi. Kau harus menyayangi

nyawamu sendiri!”

“Anda tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku,” kata Xin Suan.

Tiba-tiba Wang Ye palsu dengan ramah berkata, “Apakah kau

adalah murid Tian Shan Tuan Jian Xian?”

“Benar.”

“Aku pernah bertemu dengan gurumu satu kali.”

“Sembar angan mengatakan mengenal guruku, tidak akan ada

gunanya.”

Wang Ye palsu itu tertawa dan berkata, “Apakah kau tahu siapa

aku ini?”

“Aku tidak ingin tahu.”

“Kau tidak ingin tahu, tapi aku harus memberitahukannya

kepadamu, nanti gurumu akan menyalahkanku karena tidak

memiliki perasaan.”

“Anda tidak perlu mengkhawatirkan guruku yang sudah

meninggal.”

“Apakah gurumu sudah meninggal?” Wang Ye palsu itu terpaku.

“Sudah tiga tahun yang lalu.”

“Aku kira kau pasti sering mendengar gurumu menyebut Pan

Long Da Xia, Huo Ru Feng?” tanya Wang Ye palsu.

“Apakah Tuan adalah Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng?” Xin Suan

merasa sedikit terkejut.

Wang Ye palsu itu mengangguk.

“Aku dengar selama hidupnya Pendekar Besar Huo sangat jujur

dan adil, mengapa sekarang melakukan hal seperti ini?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kapan aku telah melakukan hal yang memalukan?”

Wang Ye palsu itu terlihat sedikit marah.

“Menculik pengemis tua, memaksaku menyerahkan peti besi itu,

bukankah itu adalah perbuatan yang memalukan?”

“Aku melakukan semua ini karena aku tidak ingin

membunuhmu.”

“Dari Hang Zhou sampai di sini, yang Menginginkan kematianku

sangat banyak, mengapa Pendekar Besar Huo begitu peduli

kepadaku?”

Wang Ye palsu itu mengerutkan dahi, dia mulai tidak sabar dan

berkata, “Kelihatannya kau tetap bersikukuh, bukankah semalam

Dong Hai Xian Niang Cai Xia sudah mengatakan alasannya

kepadamu? Apakah kau masih belum mengerti juga? Kalau peti besi

ini diantar sampai di Jin Ling, akan banyak orang yang terbunuh!”

“Kalau aku tidak mengantarkan peti besi ini, akan lebih banyak

orang yang mendapatkan bencana!”

“Bagaimana penjelasanmu?” Wang Ye palsu itu terlihat sedikit

terkejut.

“Ini adalah firasatku, sekarang sepertinya situasi aman bila ada

orang yang ingin memberontak, itu bukan hal yang baik. Jelaskan

kepadaku, mengapa jika peti besi ini tidak sampai di Jin Ling, bisa

menghindari bencana, bukankah itu lebih baik?”

“Apa yang kau katakan?!” Wang Ye palsu itu mulai marah.

“Aku bicara berdasarkan bukti.”

Wajah Wang Ye palsu itu terlihat mulai dingin, tapi sorot matanya

terlihat tajam, seperti tidak ada toleransi lagi bagi Xin Suan.

Tampaknya dia harus membereskan semuanya hanya dengan jalan

bertarung.

Xin Suan memegang pedangnya, posisinya sudah siap siaga,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Semenjak dia tahu bahwa lawannya adalah Pan Long Da Xia, Huo

Ru Feng, dia sadar bahwa malam ini akan terjadi pertarungan

sengit, maka diapun sudah siap sejak awal.

Sebelum dia lulus belajar ilmu silat, gurunya Tian Shan Tuan Jian

Xian pernah berkata, “Di dunia persilatan banyak pesilat, satusatunya

orang yang tidak boleh kau ganggu adalah Pan Long Da

Xia, Huo Ru Feng!”

Sekarang dia telah bertemu dan bertarung dengan orang yang

dimaksud gurunya.

Tapi Xin Suan tidak merasa takut, dia percaya dia tidak akan

kalah dari Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Dengan dingin Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng melihatnya, lalu

bertanya, “Apakah kau sudah siap?”

“Silakan Tuan menyerang dulu.”

“Apakah kau menyuruhku mengeluarkan serangan dulu?”

“Kalau Anda tidak mau, tidak apa-apa, aku yang akan

memulainya dulu!”

Pedang diletakkan di depan dadanya kemudian diapun berputar,

dia menusuk ke depan!

Pan Long Da Xia mana mungkin akan memberikan kesempatan

bagi pedang Xin Suan mendekatinya, begitu pedang Xin Suan

mendekat, dia sudah melambaikan pedangnya yang lemas dan

menggulung pedang Xin Suan, lalu ditekannya ke bawah.

Xin Suan merasa ada sebuah gunung besar yang menekan ke

tubuhnya, dia kaget lalu segera memutar tubuhnya, dia menarik

Pedangnya kemudian mundur.

Baru saja dia menarik pedangnya, matanya melihat ada kilauan

pedang, kilauan Pedang itu siap membelah bahunya!

Kali Xin Suan merasa dia benar-benar bertemu dengan lawan

tangguh, walaupun perasaannya sedikit tegang tapi sekaligus juga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

membangkitkan perasaan ingin menangnya. Dia segera membentak

dan tubuhnya berputar, dia bisa menghindari pedang lawan,

mengikuti gerakan tubuhnya, diapun menyerang tubuh bagian

bawah lawan.

Gerakan tubuhnya sangat cepat dan lincah, pedang lemas milik

Pendekar Besar Pan Long baru saja melewati sisi pundaknya,

pedang panjang Xin Suan sudah berada di kaki Pendekar Pan Long!

Pendekar Pan Long tertawa terbahak-bahak, kedua kakinya

dibuka, pedang lemasnya dibalikkan, dia sudah menyerang ke wajah

Xin Suan!

Pedang lemas itu sangat tipis tapi setiap kali bergerak selalu

bersuara, gerakan pedangnya lincah seperti Liong dan selalu

berubah-ubah, perubahan gerakan senjata itu sulit ditebak.

Xin Suan pun tidak mau kalah, tubuh bagian atasnya berusaha

menghindar, kakinya menendang ke perut bawah lawan, caranya

menghindar dan menyerang pada saat bahaya adalah untuk

mencari kemenangan cepat, bila menggunakan serangan pada saat

yang tidak tepat, malah akan membahayakan dirinya sendiri.

Pendekar Pan Long tidak menyangka pada saat mulai bertarung dia

menggunakan jurus yang begitu berbahaya, semuanya berlangsung

dengan tiba-tiba membuatnya tidak mempunyai cara lain untuk

menghadapi lawannya, terpaksa kedua kakinya diluruskan lalu

meloncat setinggi 5 kaki, kemudian di tengah udara, pedang

lemasnya dimainkan kembali. Pedang itu mengarah kepada kepala

Xin Suan- Serangan ini benar-benar sangat … berbahaya!

Mereka berdua bertarung di tengah jalan, masing-masing

mengeluarkan jurus yang aneh dan hebat. Pedang dimainkan

seperti pelangi, benar-benar membuat orang menjadi pusing dan

berkunang-kunang.

Pertarungan ini berlangsung selama setengah jam, kedua orang

itu seperti tidak bisa dipisahkan, selalu rapat dalam bertahan dan

menyerang!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kedua laki-laki tegap tadi karena belum pernah melihat

pertarungan yang begitu sengit mereka hanya bisa berdiri terpaku

dan bingung.

Begitu bertarung 40 jurus lagi tiba-tiba Xin Suan meloncat sejauh

beberapa meter, sambil tertawa dia berkata, “Pendekar Huo, dalam

keadaan seperti ini, apakah kau bisa membawa peti besi itu pergi

dari s ini?”

Maksudnya adalah keadaan ilmu silat mereka yang seimbang,

untuk apa diteruskan lagi pertarungan ini?

Sebenarnya dia ingin berhenti hanya karena merasa lelah dia

mengambil kesempatan untuk beristirahat sebentar.

Pendekar Besar Pan Long tertawa dan menjawab, “Bagaimana

dengan kau sendiri?”

“Kalau Anda mau meneruskan pertarungan, akupun akan sulit

membawa pergi peti besi itu, tapi Anda adalah pendekar terkenal di

dunia persilatan, kalau berita mengenai Pendekar Pan Long

merampok peti besi milik Wang Ye, bukankah peristiwa itu akan

memalukan Tuan sendiri?”

Mata Pendekar Besar Pan Long mengeluarkan hawa membunuh,

dia tertawa, Tidak akan ada seorangpun yang tahui”

“Mengapa tidak akan ada seorangpun yang tahu?”

“Karena mulai malam ini di dunia persilatan tidak akan ada orang

yang bernama Xin Suan lagi!”

Baru saja selesai bicara, dia sudah mendekati Xin Suan, dia mulai

menyerang dengan pedang lemasnya.

Terpaksa Xin Suan harus berhati-hati memegang pedang pada

saat bertarung.

Dia tahu bahwa Pendekar Pan Long ilmu pedang ataupun

tenaganya lebih kuat dari dirinya, tapi dia mencoba untuk tetap

percaya bahwa dia masih mempunyai kesempatan untuk menang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Sewaktu gurunya Tian Shan Tuan Jian Xian memberitahu

kepadanya tentang Pan Long Da Xia, dia mengajarkan sebuah jurus

kepadanya, gurunya berharap dengan jurus ini dia bisa

mengalahkan jurus-jurus Pan Long Da Xia, tapi jurus itu belum ada

kesempatan untuk dikeluarkan, walaupun tadi terjadi pertarungan

yang begitu sengit, tapi jurus itu tetap sulit dikeluarkan.

Pertarungan kedua sudah dimulai lagi, dia lebih memusatkan

konsentrasinya, dia berharap ada kesempatan untuk mengeluarkan

jurus andalannya.

Tapi jurus-jurus Pan Long Da Xia sangat rapi, seperti gelombang

dahsyat selapis demi selapis dikeluarkan tidak terlihat ada celah

sama sekali.

Mereka sudah bertarung sebanyak 80-90 jurus, pendekar Pan

Long mulai tidak sabar, tiba-tiba dia bersiul dan dia meloncat tinggi,

di tengah udara dia bersalto kemudian turun dengan cepat, pedang

lemas yang masih dipegangnya sudah tidak berbentuk seperti

pedang lagi, melainkan berbentuk seperti bola api besar yang turun

dan siap menutupi Xin Suan.

Xin Suan sudah melihat jurus yang siap membunuhnya, hatinya

bergetar, segera dia berlutut, memiringkan rubuhnya dan

mengangkat pedangnya—

Kedua pedang itu beradu lagi, terdengar suara sangat keras!

Xin Suan merasakan pundaknya sakit, dia sadar bahwa bahunya

telah terkena pedang lawannya, dengan cepat dia berguling-guling

beberapa puluh meter jauhnya.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tidak ingin melepaskan

kesempatan yang ada, kembali dia mengejar, Xin Suan yang belum

berdiri dengan benar, Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng sudah

menusuk.

“Hei!”

Xin Suan membentak, kemudian dia mengangkat pedangnya

dengan sekuat tenaga untuk menahan serangan pedang lemas

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

lawannya, kemudian Xin Suan maju lagi, posisinya hampir

bertabrakan dengan Pan Long Xia, Huo Ru Feng.

“PENG!”

Telapak kiri Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dijulurkan dan diapun

menepuk dada Xin Suan. Menggetarkan Xin Suan hingga mundur

beberapa langkah. Setelah itu Xin Suan baru bisa berdiri dengan

tegak.

Kali ini Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tidak mengejar Xin Suan

lagi, sepertinya Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng menemui kesulitan,

wajahnya terlihat kram! Bagaimana dengan keadaan Xin Suan

sendiri?

Pundak bagian kanannya Xin Suan menjadi merah, dia terluka

lagi oleh tusukan pedang Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, darah

masih terus mengalir, tapi anehnya adalah di tangannya terlihat ada

sebuah pisau kecil! Pisau itu berlumuran darah! Ternyata jurus

ajaran gurunya telah berhasil melukai lawannya!

Jurus yang diajarkan oleh gurunya. Jurus itu tidak terlalu

istimewa tapi membuat orang tidak siap menghadapinya.

Siapa yang menyangka pada saat bertarung dengan sengit, tibatiba

bisa muncul sebuah pisau kecil?

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng yang hanya memperhatikan jurusjurus

pedang Xin Suan, dan memperhatikan bagaimana menghindari

jurus pedang Xin Suan. Dalam mimpipun dia tidak pernah

membayangkannya bahwa Xin Suan tiba-tiba bisa mengeluarkan

pisau dan menggores kulit perutnya!

Walaupun goresan itu tidak sampai membuatnya mati, tapi telah

membuatnya kehilangan semangat untuk bertarung lagi. Dia sadar

kalau dia terus bertarung dia pasti tidak akan menang, mungkin

malah bisa mati.

Dia melihat luka yang digores oleh Xin Suan di bagian perutnya

kemudian dia menarik nafas, “Mengapa kau bisa terpikirkan jurus

ini?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Ini adalah jurus pisau,” jelas Xin Suan.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tertawa kecut, “Benar!”

“Apakah sekarang aku bisa membawa peti besi itu pergi?”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng hanya bisa mengangguk.

“Termasuk dengan kereta itu?”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng kembali mengangguk.

Kedua laki-laki tegap itu sudah siap menghalangi Xin Suan.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berkata, “Kalian bukan

tandingannya, biarkan dia pergi!”

Sebenarnya kedua laki-laki itu tidak percaya diri, begitu

mendengar perkataan Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, mereka

segera mundur.

Xin Suan naik ke atas kereta dan dia melarikan kereta itu kembali

ke kota.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berteriak. “Xin Suan, kita pasti

akan bertemu lagi!”

Xin Suan menjawab, “Baiklah, aku pasti akan menunggumu!”

0-0-dwkz-0-0

Pada saat kereta kembali ke Shue Jia Fei Yuan waktu sudah

menunjukkan pukul 4 dini hari. Pengemis tua itu melihat

kedatangan Xin Suan, dia merasa sangat senang dan berkata, “Kau

berhasil merebut keretanya kembali!”

Xin Suan mengangguk, “Benar!”

“Bagaimana caranya?”

Lalu Xin Suan menjelaskannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pengemis itu berkata, “Ya Tuhan, ternyata dia adalah Pan Long

Da Xia, pantas hanya dengan lengan bajunya saja dia bisa

membereskanku dan aku langsung tidak bisa bergerak saat itu.”

“Apakah kau memiliki obat luka?” tanya Xin Suan.

“Ada, duduklah, aku akan membantumu menempelkan obat

itu….”

Dia mengeluarkan obat itu dari dalam tasnya dan dia mulai

mengobati Xin Suan.

“Apakah Wang Ye asli tidak jadi datang?” tanya Xin Suan.

“Kau mengira kalau Wang Ye akan datang bukan?” tanya

pengemis tua itu.

“Kalau begitu di s isi Wang Ye ada pengkhianat,” kata Xin Suan.

“Oh ya?”

“Di malam seperti tadi, pada saat kereta memasuki kota ada

seorang pak tua yang mengeluarkan giok yang pernah diperlihatkan

oleh Wang Ye, aku pernah melihat giok itu di kediaman Wang Ye,

kalau pak tua itu tidak memperlihatkan. giok itu kepadaku, aku tidak

akan tertipu dengan mudah.”

“Berarti giok itu telah dicuri, di sisi Wang Ye pasti ada

pengkhianat,” kata pengemis tua itu.

“Mungkin di depan sana jalan kita akan lebih mudah,” kata Xin

Suan.

“Mengapa bisa seperti itu?”

“Aku percaya, tidak ada seorangpun yang lebih lihai dari Pan

Long Da Xia.”

“Benar juga, itu adalah suatu bukti yang kuat.”

“Tapi, sekarang aku malah menjadi bingung, aku tidak tahu

apakah kali ini tugasku mengantarkan barang ini adalah benar atau

salah….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Maksudmu kau bingung s iapa yang salah di s ini? Dan ingin tahu

siapa yang benar?”

Xin Suan mengangguk.

Pengemis itu tertawa, “Ingat! Kita hanya bertugas mengantarkan

benda ini, siapa yang salah dan siapa yang benar, kau tidak perlu

tahu dan tidak perlu bertanya-tanya.”

“Tapi masalahnya sampai-sampai Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng

dan Dong Hai Xian Niang, Cai Xia sendiri yang turun tangan

membantu lawan kita berarti peti ini tidak boleh diantar sampai ke

Jin Ling….”

“Apa kau sekarang kau ingin melepaskan tanggung jawabmu?”

“Tidak….”

“Lebih baik kau jangan terlalu banyak berpikir, kalau benda yang

ada di dalam peti besi itu memang tidak pantas untuk diantar ke Jin

Ling, maka resiko selanjutnya ditanggung oleh Wang Ye sendiri,

bukan kau dan aku!”

Xin Suan mengangguk.

Pengemis itu sudah selesai menutupi luka Xin Suan, diapun

bertanya, “Apakah peti besi itu berada di dalam tumpukan rumput

itu?”

“Benar, tolong pindahkan peti itu ke kereta kita, setelah itu kita

harus segera berangkat.”

“Apakah kau pernah memegang peti itu sebelumnya?” tanya

pengemis itu.

“Kalau kita memegangnya sebentar— bagaimana menurutmu?”

tanya Xin Suan.

Pengemis itu hanya tertawa tapi tidak menjawab. Dia sudah naik

ke atas kereta dan bertanya, “Apa ada yang salah di s ini?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Jahe tua pasti selalu lebih pedas, walaupun kau berhasil

mengalahkan Pan Long Da Xia, tapi kau telah tertipu oleh rubah tua

itu!” seru pengemis tua itu.

“Apakah benda itu palsu?” tanya Xin Suan dengan terkejut,

dengan terburu-buru dia naik ke atas kereta dan dengan teliti

melihat ke dalam tumpukan rumput. Wajahnya segera berubah!

“Benar, peti besi itu besarnya sama persis dengan yang asli, tapi

ini bukan peti yang asli.”

Berarti peti itu telah ditukar!

Berarti Pan Long Da Xia sudah tahu kalau Xin Suan pasti akan

merebut kembali peti besi itu, maka diapun sengaja menukarnya

dengan yang palsu.

Dengan marah Xin Suan berkata, “Seharusnya aku membunuh

rubah tua itul”

Tapi sikap pengemis tua itu tetap tenang, dia tersenyum, “Tidak

apa-apa, masih ada kesempatan untuk merebut kembali peti yang

asli.”

Dengan marah Xin Suan berkata, “Sekarang kita tidak tahu

mereka bersembunyi di mana, mana mungkin ada kesempatan

untuk merebut kembali peti itu!”

Pengemis tua itu menepuk-nepuk pundak Xin Suan dan tertawa,

“Adik, kali ini kau mencariku untuk bekerja sama, dan tindakanmu

sangat tepat, walaupun ilmu silatku tidak setinggi dirimu tapi aku

mempunyai banyak ide.”

“Apakah kau mempunyai ide bagaimana caranya untuk merebut

kembali peti besi itu?”

“Aku tanya kepadamu, kalau sudah menemukan peti yang asli,

apakah kau akan membuka peti itu lalu mengambil isinya atau kau

akan sekaligus mengambil semuanya beserta dengan petinya lalu

dibawa ke sini?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan tampak berpikir kemudian dia berkata, “Kalau

dalangnya tidak datang bersama dengan Pan Long Da Xia, aku kira

Pan Long Da Xia tidak akan berani membuka peti itu, dia akan

menyerahkan benda itu beserta dengan petinya kepada si dalang.”

“Coba kau tebak, siapa dalangnya? Orang dunia persilatan atau

orang kerajaan?” tanya pengemis itu.

“Pasti pejabat kerajaan,” jawab Xin Suan.

“Kalau dalangnya adalah pejabat kerajaan, dia tidak akan datang

bersama dengan Pan Long Da Xia, dengan begitu Pan Long Da Xia

akan menyerahkan peti itu kepada orang itu?”

“Sepertinya memang seperti itu,” kata Xin Suan.

“Kalau begitu, semuanya akan lebih mudah, kalau perkiraanku

tidak salah sebentar lagi Pan Long Da Xia akan ke sini dan mencari

kita berdua.”

“Untuk apa dia mencari kita?”

“Untuk mengambil obat penawar.”

“Apa? Apa maksudmu….”

Dengan senang pengemis itu tertawa, “Kau tahu akupun sama

seperti dirimu sangat berharap bisa mendapatkan uang 100 ribu tail

perak, dengan tujuan membantu orang-orang yang terkena bencana

alam di kampung halamanku, supaya tujuan ini tidak meleset satusatunya

cara adalah kita menjaga agar peti besi ini tidak dirampok,

orang jujur selalu berkata, ilmu silatmu sangat tinggi, tapi kau tetap

tidak bisa bertahan terhadap banyak serangan….”

Dengan tidak sabar Xin Suan berkata, “Jangan berputar-putar

lagi, cepat katakan apa yang telah kau perbuat kepadanya?”

Pengemis tua itu tertawa, “Di dalam peti besi itu aku telah

membubuhkan racun, racun itu tidak berwarna dan tidak berbau,

tapi begitu terkena racun itu tangan akan menjadi busuk, terakhir

akan menyebar ke seluruh tubuh dan perlahan-lahan akan mati.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Mengapa kau tidak memberitahukan masalah ini kepadaku?”

“Kau orang yang sangat lurus, kalau aku memberitahumu dulu,

kau pasti tidak akan setuju, karena itu terpaksa aku

membohongimu.”

“Apakah kau tidak takut kalau akupun bisa terkena racun?”

“Aku tahu kau tidak akan memegang peti besi itu, sekalipun kau

terkena racun itu aku pasti akan segera memberikan penawarnya.”

“Apa nama obat itu?”

“Aku sendiri yang meramu dan membuatnya, aku belum memberi

nama, bagaimana kalau dinamakan Ma Feng Nu (ma feng=kusta,

nu=perempuan)? Apakah nama ini bagus menurutmu?”

Xin Suan tertawa, “Mengapa harus diberi nama Ma Feng Nu?”

“Orang yang terkena Ma Feng Nu akan mengalami penyakit

seperti kusta, maksudnya adalah seperti itu.”

“Kau mengira Pan Long Da Xia pasti akan kembali ke sini dan

meminta obat penawarnya kepadamu?”

“Belum tentu juga, kalau dia tidak sayang kepada nyawanya

sendiri, dia tidak akan datang ke sini, akupun tidak bisa berbuat

apa-apa, tapi…-”

Dia tertawa lagi, “Dia adalah seorang pesilat pedang, kalau

tangannya busuk dia tidak akan bisa memegang pedang lagi, dia

pasti akan merasa sedih, apakah benar menurutmu?”

Kata Xin Suan, “Kalau aku terkena racun itu, aku akan

membiarkan dagingku menjadi busuk sekalian.”

“Kau adalah kau, dia adalah dia, kalian tidak sama.”

Xin Suan menatap langit dan berkata, “Hari hampir terang, kita

ke loteng itu untuk beristirahat.”

Mereka naik ke atas loteng, membersihkan lantainya dan siapsiap

untuk beristirahat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tidak lama kemudian haripun mulai terang.

Xin Suan merasa sangat khawatir, dia terus menerus menghela

nafas.

Pengemis tua itu sepertinya sangat kelelahan, dia berkata,

“Jangan terus menarik nafas, tidurlah dulu!”

Xin Suan tidak bisa tidur dan berkata, “Kalau mereka tidak

datang untuk mengambil obat penawarnya, apa yang harus kita

perbuat?”

“Kalau begitu anggap saja kita gagal dan kita tidak jadi menerima

uang 100 ribu tail perak.”

“Tapi aku tidak mau kehilangan uang 100 ribu tail perak begitu

saja…,” kata Xin Suan.

“Akupun sama seperti dirimu, di dunia ini bila kita melakukan 10

pekerjaan, 8-9 mungkin tidak akan sejalan dengan keinginan kita,

apa boleh buat!”

“Berat peti besi itu kurang lebih 150 kilogram, kalau digotong

tentunya akan mengalami kesulitan, karena itu harus menggunakan

kereta kuda….”

“Benar!” jawab pengemis itu. “Walaupun menggunakan kereta

kuda mereka tidak akan bisa berjalan dengan cepat, aku perkirakan

kereta itu masih dalam radius 40 kilometer….”

“Benar…,” jawab pengemis tua itu.

“Radius 40 kilometer ditempuh dalam waktu setengah hari, kita

bisa menyusulnya, apakah kau tahu jalan mana yang mereka

tempuh?” tanya Xin Suan.

“Ini sedang kupikirkan!” jawab pengemis itu.

Xin Suan menarik nafas lagi.

“Jangan terus menarik nafas, ikutlah aku menjadi pengemis,

kalau kau menjadi pengemis dalam waktu tiga tahun—”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kata-katanya belum selesai, di luar taman terdengar ada yang

berteriak, “Xin Suan, hay, keluar!”

Itu adalah suara Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Xin Suan merasa sangat senang, dia segera bangun dan berjalan

keluar, tapi pengemis tua itu menarik tangannya dan dengan suara

kecil dia berkata, “Jangan terburu-buru, biar aku yang mengatasi hal

ini!”

Dia berbaring lagi.

Xin Suan tahu kalau pengemis tua itu akan melakukan sesuatu

kepada Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, karena itu dia kembali

berbaring.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tidak melihat Xin Suan keluar dari

taman, dia berteriak lagi, “Xin Suan, hayo keluar!”

Suaranya terdengar seperti orang panik.

Pengemis tua itu tetap tidak meladeni teriakan Pan Long Da Xia,

Huo Ru Feng.

Terdengar Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berkata, “Celaka,

sepertinya mereka telah meninggalkan tempat ini!”

Seorang laki-laki berkata, “Tidak mungkin karena keretanya

masih ada di sini.”

“Coba kau cari dia,” kata Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

“Aku?” tanya laki-laki itu.

“Apakah kau takut?” tanya Pan Long D a Xia, Huo Ru Feng.

Dengan gagap laki-laki itu menjawab, “Tidak…aku kira mereka

tidak berada di loteng itu, kalau ada mengapa mereka tidak

mendengar?”

“Coba kau ke atas untuk melihatnya!” Perintah Pan Long Da Xia,

Huo Ru Feng.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Baiklah, aku akan mencoba mencarinya….” Laki-laki itu seperti

tidak berani membantah perintah Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Terdengar suara, “Hei!” laki-laki itu sudah berada di balkon—dia

adalah salah satu dari kedua laki-laki tegap yang pernah ditemui Xin

Suan!

Sekali meloncat dia sudah berada di balkon dan melihat ada

pengemis tua itu dan Xin Suan yang sedang berbaring di lantai, dia

terkejut dan segera berteriak kepada Pan Long Da Xia, Huo Ru

Feng, “Pendekar Huo, mereka ada di sini!”

Dengan sikap malas-malasan pengemis itu bangun dan

menyalahkan laki-laki tegap itu, “Kurang ajar, apakah kau tidak bisa

mengecilkan suaramu? Aku baru tertidur dan kau sudah ribut-ribut

hingga membuatku terbangun!”

Laki-laki itu sangat takut kepada Xin Suan, melihat Xin Suan baru

bangun dari tidurnya, dia segera berlari ke bawah loteng.

Pengemis tua itu pura-pura berjalan ke arah balkon melihat ke

bawah, sambil menguap dia berkata, “Oh…aku kira ada siapa,

ternyata adalah Pendekar Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng! Ada apa?

Apakah Pendekar yang sudah mendapatkan peti besi dan masih

belum merasa puas? Apakah Anda mau mengambilnya kembali dari

kami?”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng sangat marah dan berteriak, “Di

mana Xin Suan? Cepat suruh dia menemuiku!”

“Semalam saudaraku merasa sangat lelah, dia kurang tidur,

apakah ada pesan yang ingin Tuan sampaikan? Katakan saja

kepadaku biar aku yang akan menyampaikannya nanti,” kata

pengemis itu.

Kemudian pengemis tua itu tertawa dan berkata lagi,

“Sebenarnya yang harus kalian cari adalah aku, walaupun ilmu silat

saudaraku lumayan tinggi tapi dia bukan orang yang tahu

segalanya, aku lebih pintar darinya dalam soal penyakit.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng adalah orang dunia persilatan dan

pengalamannya sudah banyak. Begitu mendengar perkataan

pengemis itu dia sudah tahu bahwa racun yang dibubuhkan di peti

besi itu adalah si pengemis itu yang mengoleskannya, dengan

marah dia berkata, “Baiklah, aku cari kau saja, cepat berikan obat

penawarnya!”

Si pengemis itu berlagak bodoh, dan bertanya, “Obat penawar?

Obat penawar apa?”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng marah dan berkata, “Jangan

pura-pura, cepat berikan obat penawar racun yang telah kau

oleskan di peti itu, bila kau tidak mau memberikannya, kau akan

kucincang menjadi daging cincang!”

“Apakah Pendekar Pan Long terkena racun?”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dengan marah mengeluarkan

sepasang tangannya dan berkata, “Lihat, semua ini adalah hasil

perbuatanmu!”

Sepasang tangan itu tampak hitam dan basah, sudah terlihat

tanda-tanda akan membusuk!

Setelah melihat keadaan itu, si pengemis itu malah tertawa

terbahak-bahak dan berkata,

“Kalau tangan Pendekar Besar Huo membusuk, kelak bagaimana

bisa menggunakan pedang lagi? Tapi tak apalah, penyakit kecil

seperti ini aku jamin bisa ditangani, hanya saja…. Aku adalah

pengemis yang sangat miskin, bagaimana kalau kita merundingkan

sesuatu dulu?”

Dengan tegas Pan Long Da X’\a, Huo Ru Feng berkata, “Kalau

kau menginginkan uang aku akan memberikannya, kalau kau

menginginkan peti besi itu, jangan harap aku akan

memberikannya!”

Pengemis tua itu tertawa lalu berkata, “Kalau begitu, kita tidak

usah meneruskan pembicaraan ini lagi.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Wajah Pendekar Huo tampak berubah dan diapun berkata lagi,

“Jadi kau tidak mau memberikan penawarnya?”

Dengan tegas pengemis tua itu berkata.. “Tidak ada peti besi, hal

lainnya tidak perlu dibicarakan lagi!”

“Apakah kau benar-benar sudah bosan hidup?”

“Aku hanya seorang pengemis, aku tidak akan mati di tanganmu

karena aku mempunyai beberapa alasan, pertama tanganmu sedang

sakit dan kelihatannya cukup serius, kedua goresan senjata tajam di

perutmu masih belum sembuh karena itu kau tidak akan bisa

bertarung dengan baik, alasan ketiga adalah saudaraku tidak akan

berpangku tangan begitu saja kalau aku dibunuh.”

Dia membalikkan kepalanya dan berkata kepada Xin Suan,

“Saudaraku, apakah perkataanku benar?”

Dengan pelan Xin Suan menjawab, “Benar! Siapa yang berani

menghinamu, pedangku tidak akan mengijinkan orang itu

melakukannya!”

Wajah Pendekar Pan Long berubah lagi dia membentak, “Xin

Suan, keluar kaul”

Xin Suan dengan pelan keluar, “Pendekar Huo, Anda ingin

memberikan petunjuk apa?”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dengan marah berkata, “Aku

tanya kepadamu, kalian begitu ngotot ingin mengantarkan peti besi

itu apa maksud di balik semua itu?”

“Tentu saja untuk mendapatkan uang.”

“Apakah tidak ada alasan lain?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu, aku akan memberikan uang 100 ribu tail perak

kepadamu!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan tertawa dan menggelengkan kepala, “Pendekar Huo,

Anda adalah seorang yang sangat pengertian, Anda sudah tahu

kalau orang persilatan pasti akan selalu menepati janjinya!”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berkata, “Aku sudah

memberitahumu kalau peti besi itu sampai di Jin Ling, pasti akan

banyak orang yang menjadi korban, apakah kau tega melihat akan

banyak korban yang berjatuhan?”

“Aku juga akan memberitahu kepada Anda, kalau peti besi ini

tidak sampai dengan tepat di tempat tujuan, korban yang jatuh

akan lebih banyak lagi.”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng melotot, tiba-tiba dia menarik

nafas dan berkata, “Xin Suan, mengapa kau tidak mau mengerti?”

“Sekarang aku mempunyai sebuah cara Yang bagus, Anda

kembalikan peti besi itu kepadaku dan aku akan mengantarkan peti

itu ke Nan Ping Shan dan mengembalikannya kepada Wang Ye.

Bagaimana?”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng terpaku, “Apa maksudmu?”

“Maksudku adalah aku akan mengantarkan peti itu sampai di Jin

Ling, supaya bisa mendapatkan uang 100 ribu tail perak, kalau tidak

aku akan melepaskan pekerjaan ini dan mengantarkan kembali peti

ini kepada Wang Ye, aku tidak akan memberikan peti besi itu

kepada kalian, kalau kalian menginginkan peti besi ini, kalian bisa

menunggu peti itu tiba di tempat Wang Ye dan kalian bisa merebut

kembali peti itu.”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tampak berpikir dan berkata, “Itu

tidak mungkin.”

“Mengapa?” tanya Xin Suan. “Karena bila peti besi itu sudah

berada di Wisma Nan Ping, kami tidak akan mempunyai kesempatan

unutk merebutnya.”

“Mengapa?” tanya Xin Suan. Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng

hanya menggelengkan kepalanya tapi tidak menjawab.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kalau Pan Long Da Xia tidak setuju dengan ideku, kita tidak

akan mencapai kata sepakat,” kata Xin Suan.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tampak berpikir, tiba-tiba dia

tertawa dan berkata, “Baiklah, biarlah tanganku menjadi busuk dan

hancur saja” Dia membalikkan badannya dan membentak kepada

kedua laki-laki itu, “Ayo, kita pergi dari s ini!” Dia berjalan keluar dari

taman itu.

Kedua laki-laki itu terlihat sangat cemas dan berkata, “Pendekar

Huo, kami tidak ingin tangan kami membusuk dan hancur.”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng berhenti melangkah dan dengan

pelan dia membalikkan kepalanya, tertawa dingin, “Apakah kalian

ingin menukar peti besi itu dengan obat penawarnya?”

Kedua laki-laki itu secara bersama-sama mengangguk, “Benar!

Kami harap Pendekar Huo bisa mengerti kondisi ini, kami tidak

mendapatkan hasil yang banyak, tidak pantas karena hal ini maka

tangan kami menjadi cacat.”

Pengemis tua itu tertawa dan berkata, “Bukan hanya akan terjadi

pada sepasang tangan kalian, terakhir racun itu akan menjalar ke

seluruh tubuh dan lama kelamaan badan kalian akan hancur lalu

kalian akan mati.”

Hati kedua laki-laki itu bertambah kacau, segera mereka

meminta-minta kepada Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, “Kami harap

Pendekar Huo bisa mengerti kondisi kami!”

Dengan marah Pan Long D a Xia, Huo Ru Feng berkata, “Tidak

disangka Lu bersaudara begitu takut mati!”

Ternyata kedua laki-laki itu adalah Lu bersaudara yang terkenal

di Si Zhuan, nama mereka adalah Lu Tong dan Lu Shuen,

mendengar penghinaan Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng, wajah Lao

Da Lu Tong menjadi merah dan dia berkata, “Pendekar Huo, mati

ada dua macam cara, yang satu berat seperti gunung sedangkan

yang satunya lagi ringan seperti bulu, hanya karena sebuah peti

kami harus sampai kehilangan nyawa, apakah itu pantas!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kalau kalian Lu bersaudara sudah tahu apa isi peti besi itu,

maka kalian pasti akan beranggapan bahwa kalian memang pantas

untuk melakukannya!”

“Benda apa yang ada di dalam peti itu?” tanya Lao Da Lu Tong.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tampak berpikir sejenak, tapi dia

tetap menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak bisa

memberitahukan rahasia ini.”

Lao Er Lu Shuen tertawa kecut dan berkata, “Pendekar Huo, aku

kira benda apapun yang tersimpan di dalam peti itu, kami tidak

pantas bila harus sampai mati!”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng marah dan berkata, “Kalau

begitu, mengapa kalian mau menerima tawaran itu?”

Lao Er Lu Shuen menjawab, “Awalnya kami dua bersaudara tidak

tahu bahwa tugas ini akan begitu sulit dan kami setuju untuk

membantu Anda, tapi tidak pernah setuju untuk…”

Pendekar Pan Long bertambah marah lagi dia membentak,

“Jangan teruskan perkataan kalian! Aku tidak akan membiarkan

kalian mengkhianatiku dan menyerahkan peti besi itu kepada

mereka!”

Lao Er Lu Shuen tertawa, “Kalau kami tidak menuruti kata-kata

Anda, apa yang Anda lakukan?”

Mata Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng mengeluarkan cahaya

kemarahan dan dia bertanya, “Apakah kalian sudah bulat

mengambil keputusan ini?”

Lao Er Lu Shuen menjawab, “Benar, kami sudah sepakat.”

Pendekar Pan Long segera berjalan mendekati kedua bersaudara

Lu itu, tiba-tiba tampak cahaya pedang keluar dari pinggangnya,

cahaya itu bergerak secepat kilat ke arah Lu Shuen!

Lu Shuen sama sekali tidak memiliki persiapan, karena dia tidak

menyangka akan terjadi hal seperti itu, dia tidak menyangka kalau

Pendekar Pan Long akan membunuhnya, karena itu dia tidak bisa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

menghindari serangan Pendekar Pan Long. Kepala Lu Shuen

terlepas dari lehernya dan jatuh menggelinding!

Lu Tong kaget dan membentak, “Huo Ru Feng, kau benar-benar

kejam!”

Melihat adiknya terbunuh, segera dia menyerang ke arah Pan

Long Da Xia.

Dia ingin menyerang Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tapi ilmu

silatnya tidak setinggi Pan Long, baru saja dia mendekat, pedang

lemas milik Pendekar Pan Long sudah menusuk ke jantungnya.

“Aduh!”

Terdengar suara teriakan dan diapun roboh, tidak bernafas lagi!

Dua bersaudara Lu mati seketika, Xin Suan dan pengemis tua

yang tadinya ingin menolong Lu Tong pun sudah tidak sempat.

Mereka menyaksikan kedua bersaudara Lu mati di tangan Pan Long

Da Xia, mereka hanya bisa terpaku.

Setelah membunuh dua bersaudara Lu, Pan Long Da Xia segera

berlari keluar dari taman.

Xin Suan tahu kalau Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng akan

melarikan diri, segera dia meloncat dari balkon dan berteriak, “Cepat

kejar”

Tubuhnya bergerak seperti burung walet yang sedang terbang,

keluar dari taman.

Pengemis tua mengikutinya dari belakang.

Mereka mengikuti Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng keluar dari

Shue Jia Fei Yuan, dari jauh mereka melihat Pendekar Pan Long

berlari ke atas genting, Xin Suan ingin mengejar tapi pengemis itu

melarangnya dan berkata. “Jangan kejar lagi, mengikuti dia dari

belakang saja itu sudah cukup!”

Xin Suan mengerti apa yang dimaksud oleh si pengemis itu,

karena itu diapun mengurungkan niatnya untuk mengejar Pan Long

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Da Xia, Huo Ru Feng, dan bersama-sama dengan pengemis tua

menguntit dari belakang.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng lupa kalau dia takut dikuntit oleh

Xin Suan, dengan ilmu meringankan tubuh yang begitu

mengejutkan orang, dia lari seperti sebuah anak panah!

Hanya dalam sekejap dia sudah berada di bawah tembok

perbatasan kota, kemudian diapun meloncat dan sudah berada di

atas dinding.

Hanya dalam waktu singkat sosoknya sudah menghilang.

Xin Suan dan pengemis tua itu masih terus mengejarnya dari

belakang.

Karena hari masih siang, maka penglihatan mereka sangat jelas,

mereka berusaha menjaga jarak sekitar 100 meter hal ini dilakukan

supaya gerakan mereka tidak diketahui oleh musuh.

Pendekar Pan Long sudah berlari sekitar 1 – 2 kilometer, dia tiba

di sebuah hutan, dia hanya terlihat ragu-ragu sebentar, masuk ke

dalam hutan lalu menghilang.

Xin Suan berteriak, “Cepat, kita kejar dia!”

Tapi pengemis tua itu menarik tangannya sambil tertawa dia

berkata, “Jangan kejar, jangan terkena tipuannya….”

Xin Suan terpaku, “Tipuan apa?”

Pengemis tua itu tersenyum dan menjawab, “Kelihatannya dia

sudah tahu kalau kita menguntitnya dari belakang, maka dia masuk

ke dalam hutan, tujuannya tidak lain adalah mengubah posisi,

membuat posisi kita dari gelap menjadi terang, membuat posisinya

yang terang menjadi gelap!”

“Kalau kita tidak mengejarnya, kita akan kehilangan jejaknya!”

Kata pengemis tua itu, “Menurut perkiraanku, sebentar lagi dia

pasti akan keluar dari dalam hutan.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan tidak percaya, “Semua perkiraan harus didasarkan pada

bukti, sekarang bukti apa yang kau miliki?”

Jawab pengemis itu, “Buktiku masih ada di kota, dia pasti akan

kembali ke kota.”

“Mengapa kau tahu bahwa peti besi itu masih ada di kota?”

“Semenjak mereka merampok besi itu, kau sudah

memperkirakannya sejak kemarin malam. Pada malam itu mereka

keluar dari kota, dan kaupun bisa mengetahui mereka berjalan

melewati pintu utara, karena itu kau keluar dari kota dan menunggu

mereka di sana, berapa lama kau menunggu mereka?”

“Kurang lebih 45 menut.”

“Kalau begitu, apakah mereka dalam waktu 45 menit membawa

peti besi yang asli keluar dari kota kemudian kembali lagi ke kota

untuk membawa keluar peti palsu?”

“Tidak mungkin,” jawab Xin Suan. “Karena itu peti besi yang asli

masih berada di kota dan sekarang dia melarikan diri keluar kota

dengan tujuan supaya dia terlepas dari kuntitan kita, tapi dia pasti

akan kembali lagi ke kota.”

“Itu masuk akal,” jawab Xin Suan. “Dan dia tidak akan lama di

sana, karena tangannya mulai membusuk, dia harus bisa mengatur

keadaan sebelum semua tangannya membusuk, peti besi itu harus

sudah sampai di tangan si dalang.”

Xin Suan mengangguk. “Jalan ini adalah jalan menuju kota,

sebaiknya kita tunggu di s ini, dia pasti akan lewat sini.”

“Baiklah, kita tunggu di s ini!” Mereka menunggu selama setengah

jam, tapi tetap tidak terlihat Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng keluar

dari hutan.

Xin Suan mengerutkan dahi dan berkata, “Kali ini, sepertinya

perkiraanmu salah!”

“Tunggulah sebentar lagi!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kalau kita menunggu lagi, dia tidak akan terkejar.”

“Tapi dia pasti akan tetap kembali ke kota.”

“Kalau dia sudah menyerahkan peti besi itu kepada orang lain,

bagaimana?”

“Tidak akan!”

“Tapi aku yakin pasti terjadi hal seperti itu.”

Kata-kata Xin Suan cukup masuk akal, maka si pengemispun

menjadi tidak percaya diri, dia bertanya, “Kalau begitu, sekarang

kita harus bagaimana?”

“Apakah di kota Wu Xing ada murid-murid Gai Bang?”

“Mungkin aku bisa mencari beberapa orang.”

“Kalau begitu kau segera kembali ke kota dan carilah mereka,

mintalah bantuan ke penginapan untuk mencari tahu, aku akan

masuk ke dalam hutan itu untuk melihat-lihat, nanti kita tetap akan

bertemu kembali di Shue Yuan, bagaimana?”

“Baiklah!” jawab si pengemis.

Segera dia berdiri dan bersiap akan pergi dari sana.

Tapi tiba-tiba Xin Suan menarik tangan si pengemis dan

menyuruhnya menunduk dia berkata. “Lihat, ternyata akhirnya dia

keluar juga!”

Sewaktu pengemis itu akan keluar dari hutan ternyata ada

seseorang yang keluar dari hutan, orang itu tidak lain adalah Pan

Long Da Xia, Huo Ru Feng!

Pengemis itu merasa sangat senang dan berkata, “Ternyata aku

tidak salah tebak!”

Xin Suan merasa sangat senang dia tertawa, “Dia sudah terkena

racun, tapi masih begitu tenang.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Begitu Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng keluar dari hutan, dia

berlari ke arah Xin Suan dan pengemis tua itu bersembunyi.

Sepertinya dia akan kembali ke kota.

Xin Suan dan pengemis itu segera masuk ke dalam semaksemak,

terdengar suara kelepak baju yang tertiup angin, suara itu

dari semak-semak di mana mereka bersembunyi. Begitu mereka

melihat ternyata Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng sudah berlari

menuju kota.

0-0-dwkz-0-0

Melewati 3 rintangan Membawa pulang si cantik

Setelah kembali ke kota, tampak Pan Long Da Xia berputar-putar

di jalan-jalan kota juga gang-gangnya. Setelah tahu tidak ada orang

yang menguntit di belakangnya, dia memasuki sebuah penginapan,

mungkin disana dia sudah memesan kamar, begitu masuk ke

penginapan itu, segera ada seorang pelayan yang datang

menyambutnya, berkata sambil tersenyum, Tuan Huo, Anda sudah

kembali.”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng hanya menyahut, “Ya!” dan

segera bertanya, “Apakah ada yang mencariku?”

“Tidak ada, bukankah dua Tuan yang datang ke sini, juga ikut

pergi dengan Tuan?”

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng menyahut, “Oh!” lalu dia berkata

lagi, “Aku lapar dan ingin makan, tolong nanti antarkan makanan ke

kamarku.”

“Baiklah, aku akan segera menyiapkan makanan untuk Tuan.”

Si pelayan berlalu dari sana untuk menyiapkan makanan.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng segera masuk ke dalam kamar,

melihat peti besi yang kemarin dibawanya masih tersimpan dengan

baik, dia merasa lega. Pintu ditutupnya dengan rapat kemudian dia

duduk di sisi tempat tidur.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tapi hanya sebentar dia telah mengerutkan dahinya karena dia

merasakan kalau sepasang tangannya mulai membusuk, rasanya

panas seperti ada api yang membakar….

Dia membuka sepasang tangannya ternyata di tengah-tengah

telapaknya sudah mulai membusuk, garis tangannya sudah tidak

terlihat jelas, dia berkata, “Racun apa ini, begitu cepat reaksinya?”

“Itu adalah racun Ma Feng Nu (perempuan kusta)!”

Diiringi suara itu, Xin Suan membuka pintu dengan tenaga besar

dan masuk ke dalam kamar!

Pan Long Da Xia berteriak dengan kaget dan berkata, “Kau—”

“Benar, ini aku, Pendekar Huo, sandiwara ini sepertinya harus

berakhir sampai di s ini!”

Tangan Pan Long Da Xia masuk ke pinggangnya, dia ingin

mencabut pedang lemasnya tapi begitu telapak tangannya terkena

pedang dia merasakan sakit yang tidak tertahankan.

Xin Suan menggelengkan kepala dan berkata, “Sudahlah,

Pendekar Huo, tidak perlu menghabiskan tenaga lagi!”

Tubuh Pendekar Huo sudah menghalangi Xin Suan di depan peti

besi itu dan berkata, “Kalau kau menginginkan peti besi ini, kau

harus membunuhku dulu!”

Xin Suan tersenyum dan berkata, “Tidak perlu harus sampai

seperti itu, Anda sendiri tidak akan bisa mempertahankan dan

melindungi peti besi itu lagi.”

“Kurang ajar kau, Xin Suan! Aku benar-benar tidak mengerti

mengapa Tian Shan Tuan Jian bisa memiliki murid yang tidak

berkeperi-kemanusiaan seperti dirimu!”

“Anda salah, guru menerimaku menjadi muridnya karena dia tahu

kalau aku mempunyai sifat seperti itu, karena guruku sendiri

mempunyai sifat tidak peduli kepada orang lain, maka beliaupun

bisa menelan pedang, maka beliau juga ingin mencari murid seperti

dirinya untuk meneruskan ilmu menelan pedangnya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dari balik bajunya dia mengeluarkan dua butir obat dan berkata,

“Ini adalah obat penawarnya, setengah diminum sedangkan

setengahnya lagi dioles, setelah mengambil obat ini, pergilah dari

sini!”

Dengan tegas Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng menjawab, “Jangan

harap!”

“Kau benar-benar tidak tahu diri!” Xin Suan mengerutkan dahinya

dia merasa aneh.

“Aku Huo Ru Feng tidak akan bertekuk lutut di depan siapapun!”

“Ini sudah bukan masalah bertekuk lutut atau tidak, semua ini

karena Anda sudah tidak mampu lagi.”

“Selama aku masih hidup, jangan harap kau bisa mengambil peti

besi inil”

Xin Suan menarik nafas dan berkata, “Sifat Pendekar Huo sangat

keras dan juga lurus, aku kagum kepada Anda, hanya saja kita

memiliki Tuan yang berbeda, maka akupun tidak mau namaku

tercemar….”

Dia meletakkan dua butir obat penawar itu di atas meja dan

berkata, “Temanku sudah membawa kereta ke depan penginapan,

harap Pendekar Huo jangan mengganggu perjalananku lagi!”

Sorot mata Xin Suan sangat dingin, dia menunggu keputusan

terakhir dari Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tetap berdiri di depan peti besi itu

dan dengan serius berkata, “Bunuhlah aku dulu baru kau bisa

membawa peti besi ini!”

Segera Xin Suan menjawab, “Siap!” tangannya mengeluarkan

pedang dan siap menusuk.

Tapi Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng sama sekali tidak berusaha

untuk menghindar, kelihatannya dia sudah siap mati bersama

dengan peti besi itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Melihat Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tidak melawan, pedang

Xin Suan yang hampir sampai di tubuh Pan Long Da Xia, Huo Ru

Feng segera dibelokkan arahnya, dan dengan tangannya dia

memukul tulang rusuk Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Perubahan yang terjadi begitu cepat dan aneh juga tidak

disangka-sangka, tapi Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng tetap berdiri

dan tidak bergerak!

Terdengar suara PENG tangan Xin Suan sudah memukulnya, dan

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng langsung pingsan!

Nadi di bagian bawah dada, di bagian kiri adalah hati, sedangkan

bagian kanan adalah paru-paru, biasanya kalau dipukul dalam waktu

satu hari orang itu pasti akan mati, tapi Xin Suan dengan tepat bisa

memperhitungkan semuanya, hingga Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng

hanya pingsan saja.

Segera dia membopong Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng ke

ranjangnya, dua butir obat itu dihancurkan dan dimasukkan ke

dalam teh, setelah diaduk dengan rata, separuh teh itu dicekok

masuk ke dalam mulut Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dan

separuhnya lagi dioleskan pada kedua tangannya yang mulai

membusuk.

Kemudian Xin Suan merobek handuk menjadi dua bagian untuk

membungkus kedua telapak tangan Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng.

Setelah selesai melakukan pekerjaannya dia mengangkat peti besi

dan membawanya.

Begitu keluar dari kamar, ternyata pelayan yang datang

membawakan sayur dan nasi masuk ke dalam kamar, dia terpaku

dan berkata, “Tuan, Anda….”

“Temanku sedang sakit, dia berpesan kepadaku untuk

membawakan peti besi ini, letakkan saja makanannya di atas meja,

setelah itu pergilah dari kamar ini jangan mengganggu dia dulu!”

Dengan langkah besar dia keluar dari kamar, pengemis tua sudah

menunggu di depan penginapan beserta dengan keretanya. Dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

memasukkan peti besi itu ke dalam kereta, tiraipun diturunkan,

setelah itu Xin Suan naik ke atas kereta dan berkata, “Ayo, kita

pergi dari sini!”

Setelah keluar dari kota Wu Xing, pengemis tua itu baru berkata,

“Bagaimana keadaan Pan Long Da Xia?”

Xin Suan menceritakan apa yang telah terjadi tadi, akhirnya dia

menarik nafas dan berkata, “Sekarang, aku menyesai telah

menerima pekerjaan ini!”

“Jangan merasa menyesal, kita terima pekerjaan mengantar

barang ini dengan tujuan untuk menolong orang!”

“Memang maksud kita seperti itu, tapi….”

“Aku merasa, bila mendapatkan uang 100 ribu tail perak dengan

tujuan menolong orang yang terkena bencana, itu sangat besar

artinya!”

“Tapi….”

“Jangan ada tapi-tapi lagi, kita melakukan semua ini asal tidak

mencelakakan orang, itu saja sudah cukup!”

Xin Suan terdiam.

“Kau pernah mengatakan, kita tidak perlu mengetahui mana

yang benar dan mana yang salah dalam perebutan kekuasaan di

kerajaan, walaupun Pan Long Da Xia adalah orang yang pantas

dihormati tapi diapun belum tentu benar.”

Pelan-pelan Xin Suan berkata, “Aku mencium sesuatu yang

harum, harum apakah itu?”

Pengemis tua itu tertawa dan menjawab, “Itu adalah sayur asin

dan 10 buah bakpao daging, ada di belakang tempat dudukmu!”

0-0-dwkz-0-0

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Hari itu kereta berjalan dengan lancar sejauh 25 kilometer,

setelah tiba di kota Chang Xing, hari sudah sore, mereka hanya

beristirahat sebentar sambil memberi makan kuda mereka, setelah

itu mereka segera melanjutkan perjalanan lagi.

Kota berikutnya adalah kota Yi Xing jaraknya dari kota Chang

Xing adalah sekitar 50 kilometer. Mereka berencana pada hari kedua

siang, harus sudah tiba di kota Yi Xing, menginap satu hari di sana

setelah itu baru melanjutkan perjalanan.

Tapi rencana tidak berjalan sesuai dengan perkiraan.

Begitu malam tiba kereta berhenti di depan jembatan, mereka

melihat ternyata jembatan itu telah terputus!

Lebar sungai di bawah jembatan itu sekitar 50 meter dan airnya

sangat deras, tampaknya jika ingin menyebrangi sungai juga tidak

akan bisa.

Jembatan itu terbuat dari kayu, sekarang jembatan itu rusak.

Apakah dirusak oleh seseorang atau memang roboh sendiri, tidak

ada yang tahu. Karena di tengah-tengah jembatan tidak ada papan

pengumuman yang memberitahu bahwa kereta tidak akan bisa

melintasi jembatan itu.

Orang yang tidak bisa menyebrangi sungai itu ada sekitar 8

orang, 5 di antaranya adalah pejalan kaki, sedangkan 3 orang

lainnya adalah dua orang penggotong tandu, dan seorang yang

duduk di atas tandu. Mereka tampak sedang berunding

menggunakan cara apa mereka bisa menyebrangi sungai itu.

Xin Suan naik ke jembatan yang sudah terputus itu, dia melihatlihat

keadaan di sana, jembatan itu hanya putus sepanjang 15-16

kaki, kalau tidak membawa kereta, orang bisa dengan mudahi

meloncatinya tapi sekarang yang terpenting adalah bagaimana

menyebrangkan kereta itu, dia bisa menyebrang sekalipun tidak

akan ada gunanya.

Diapun tidak mempunyai ide bagaimana caranya supaya bisa

menyebrangi jembatan itu, dia membalikkan badan lalu berjalan ke

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

depan jembatan dan bertanya kepada para pejalan kaki yang

sedang berkumpul di sana, “Mengapa jembatan ini bisa rusak?”

Ada yang menjawab, “Tidak tahu, tadi s iang sewaktu aku datang

dari sebelah sana, keadaan di sini masih baik-baik saja, tapi

sekarang jembatan ini bisa terputus begitu saja.”

Xin Suan kembali bertanya, “Apakah kau adalah orang daerah

sini?”

“Benar,” jawab orang ini.

“Berapa dalamnya sungai itu?”

“Kurang lebih 10 kaki,” jawab orang itu.

“Apakah di sekitar sini ada jembatan lainnya?” tanya Xin Suan.

“Tidak ada,” jawab orang itu.

“Apakah di sini ada perahu penyebrang?” tanya Xin Suan lagi.

“Tidak ada,” jawab seorang tua.

“Lalu kita harus bagaimana sekarang?” tanya Xin Suan

kebingungan.

“Benar, keadaanku paling parah, ibuku sedang sakit dan aku

pergi ke kota untuk membeli obat, sekarang aku tidak bisa kembali.

Hhehhh!” keluh orang itu.

“Tempat yang terputus kurang lebih ada 15-16 kaki, apakah

kalian sanggup meloncatinya?” tanya Xin Suan.

Orang-orang di sana secara bersamaan menjawab, “Tidak, kami

tidak sanggup meloncat begitu jauh.”

“Apakah kalian sedang terburu-buru ingin penyebrang ke sana?”

tanya Xin Suan.

“Benar! Sekarang hari mulai gelap, kami ingin pulang tapi

jembatan terputus.”

Seorang nenek tua berkata, “Kalau kalian tidak mau menyebrang

tidak apa-apa, tapi aku tetap harus menyebrang ke sana!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan melihat nenek itu memakai baju begitu mewah dan

bertanya, “Apakah Nenek adalah orang yang tadi berada di atas

tandu?”

“Benar! Aku adalah dukun beranak, aku harus menyebrang ke

sebelah sana untuk membantu orang bersalin, sekarang aku harus

bagaimana?” tanya nenek tua itu kebingungan.

Begitu Xin Suan mendengar bahwa si nenek harus menyebrang

untuk membantu kelahiran anak, diapun ikut merasa cemas dan

berkata, “Ini adalah hal penting, apakah aku boleh menggendong

Nenek supaya bisa menyebrang ke sebelah sana?”

Nenek tua itu dengan marah menjawab, “Anak muda, kau jangan

terlalu sombong, kau sendiripun tidak bisa menyebrang, sekarang

kau malah harus menggendongku!”

“Aku bisa meloncat ke seberang sana, coba Nenek perhatikan

baik-baik….” kata Xin Suan.

Xin Suan kembali lagi ke jembatan yang terputus, hanya sekali

melakukan lompatan kecil, dia bisa menyebrang ke sana, dan

dengan cepat dia kembali ke tempat semula lalu tertawa,

“Nenek sudah melihat sendiri, apakah Nenek mau kugendong

dan kusebrangkan?”

Nenek tua itu tetap menggelengkan kepalanya dan menjawab,

“Tidak, kalau sampai jatuh ke sungai, bagaimana?”

Xin Suan berkata pada orang-orang yang ada di sana, “Siapa

yang mau kugendong untuk menyebrangi sungai ini?”

“Coba kau gendong aku dulu, karena ibuku sedang sakit dan dia

harus segera minum obat.”

“Baiklah, kau naik ke atas punggungku!” kata Xin Suan.

Benar saja, Xin Suan dan orang itu berhasil menyebrangi sungai

dengan selamat dan dia berkata pada orang itu, “Cepatiah pulang,

ibumu sedang menunggu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Orang itu merasa sangat berterima kasih, dengan cepat dia

berlalu dari sana.

Xin Suan kembali ke tempat dukun beranak tadi dan berkata,

“Nenek, Anda tidak perlu merasa khawatir sekarang!”

Dukun beranak itu tetap menggelengkan kepalanya dan berkata,

“Aku tidak mau!”

“Mengapa?”

Dengan seius nenek itu menjawab, “Kau adalah laki-laki

sedangkan aku perempuan!”

Xin Suan tertawa, “Nenek, Anda sudah berusia 60 tahun lebih,

apakah—-”

Dukun beranak itu melotot dan berkata, “Apakah karena aku

berusia 60 tahun lebih maka kau boleh bertindak sembarangan?”

Xin Suan mengangkat bahunya dan berkata, “Baikiah, kalau

Nenek tidak mau menyebrang tidak apa-apa, sebenarnya aku

mengkhawatirkan keadaan ibu yang akan bersalin itu.”

Jawab dukun beranak itu, “Membantu orang bersalin memang

sangat penting tapi menjaga nama baik juga sangat penting!”

Xin Suan tidak mau meladeni lagi si nenek, maka dia bertanya

kepada yang lainnya, “Apakah kalian masih ada yang ingin

kugendong untuk menyebrang?”

Akhirnya semua orang berhasil disebrangkan, hanya tersisa si

dukun beranak itu beserta dengan dua penggotong tandunya.

Xin Suan kembali ke keretanya dan bertanya kepada si pengemis

tua, “Biasanya idemu sangat banyak, apakah sekarang kau tahu

bagaimana caranya menyebrangi sungai ini?”

“Ada.”

“Bagaimana caranya?”

“Membuat jembatan baru lagi.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan marah dan berkata, “Aku tidak mempunyai waktu untuk

bergurau!”

“Akupun tidak ada waktu untuk main-main.”

“Apakah kau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk

membuat jembatan itu?”

“Kira-kira setengah jam saja sudah cukup.”

“Apakah kau bisa bermain sulap?”

Pengemis itu tertawa terbahak-bahak dan menjawab, “Tidak

bisa, sebenarnya ini masalah sangat sederhana, asalkan kau mau

kembali ke kota membeli beberapa papan tebal setelah itu

menyusunnya di atas jembatan itu, maka kitapun bisa menyebrang.”

Xin Suan menjawab, “Sebenarnya ini adalah ide yang bagus, tapi

apakah kau tahu mengapa jembatan ini bisa putus?”

“Tentunya dirusak oleh seseorang.”

“Benar, kalau sekarang aku kembali lagi ke kota untuk membeli

papan, bukankah musuh akan mengambil kesempatan ini untuk

merebut peti besi itu, sebenarnya ini adalah akal-akalan mereka

saja!”

“Kita berdua bisa secara bersama-sama membawa kereta ini

kembali ke kota.”

“Benar juga, terpaksa kita melakukan hal seperti itu.”

Sewaktu dia akan menaiki kereta, dukun beranak itu tiba-tiba

berkata, “Bocah, coba kau ke sini sebentar!”

“Ada apa, Nek?” tanya Xin Suan.

Dukun beranak itu menghembuskan nafas dan berkata, “Setelah

dipikir-pikir, aku kira lebih baik aku menyebrang saja, coba kau

gendong aku untuk menyebrang ke sana!”

“Apakah setelah menyebrang Nenek akan berjalan kaki ke

tempat orang bersalin itu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Sepertinya memang harus seperti itu.” jawab nenek itu

“Kalau begitu, silakan Nenek naik ke atas punggungku.”

Kemudian dengan cepat Xin Suan sudah menyebrang ke bagian

sebelah sana.

Tapi baru saja kedua kakinya mendarat di bagian sebelah sana,

Xin Suan terjatuh dan tidak bisa bergerak. Pengemis itu terkejut dan

berteriak, “Xin Suan, ada apa?”

“Ternyata diriku sangat berat, hingga temanmu ini tidak kuat

menggendongku!”

Diiringi suara itu tubuhnya sudah loncat dan menyebrangi sungai

itu, ternyata dia adalah seorang nenek yang mempunyai ilmu silat

tinggi!

Wajah pengemis itu tampak berubah, dia berteriak sambil

membawa turun tongkatnya, “Nenek jahat, ternyata kau sendiri

yang memutuskan jembatan ini!”

Kedua penggotong tandu itupun ternyata bukan penggotong

tandu biasa, dari balik tandu mereka mengeluarkan senjata masingmasing,

senjata mereka adalah dua buah golok, di kiri dan kanan,

mereka siap membacok si pengemis. Wajah mereka dipenuhi

dengan hawa membunuh, dan berkata, “Pengemis busuk, kau juga

harus mati mengikuti jejaknya!”

Mereka menyerang dari kiri dan kanan. Tongkat pengemis itu

dimainkan dan dipukul, pukulan itu mengenai pundak mereka

berdua, pengemis itu membentak, “Pergi! Kemampuan ilmu silat

kalian masih jauh!”

Kedua penggotong tandu itu karena sudah terkena pukulan si

pengemis, mereka mundur beberapa langkah.

“Kalian mundur, biar aku yang membereskan dia,” kata si dukun

beranak itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Begitu mendekati pengemis itu, kesepuluh jarinya sudah

dijulurkan, kukunya sangat panjang, jarinya berbentuk seperti

cakar, siap mencakar ke wajah pengemis tua?”

Pengemis tua itu mundur beberapa meter, dia terkejut melihat

tangan si nenek, katanya, “Apakah Anda adalah Gui Zhao, Liu Shi

Gu (Cakar setan)

Kuku Liu Shi Gu panjang, lancip, dan berwarna hitam serta

tampak kotor, sepertinya kuku itu sudah diolesi oleh racun. Kuku itu

terlihat sangat seram dan menakutkan.

Nenek tua itu tertawa dan berkata, “Baru sekarang kau tahu

kalau aku adalah Gui Zhao Liu Shi Gu, sayang sudah terlambat.”

Pengemis tua itu sangat takut kepada cakar setannya, segera

tongkatnya menyapu ke arah kedua kaki Liu Shi Gu.

Gui Zhao Po Po, Liu Shi Gu mengangkat kaki kirinya, menendang

tongkat bambu si pengemis, kemudian telapak tangannya terbuka

dan kelima jarinya menekuk dan menyentil—-

Lima buah benda kecil keluar dari kukunya dan dilepaskan ke

wajah dan dada si pengemis.

Tapi sebelumnya si pengemis sudah ada persiapan, pada saat

melihat jarinya dilipat kemudian dibuka, kakinya sudah siap untuk

meloncat. Begitu jari-jarinya membuka, tubuh si pengemis sudah

seperti seekor ikan terbang yang meloncat jauh, dan dia bisa

menghindari jurus Gui Zhao Kai Hua (Cakar setan membuka bunga).

Jurus Gui Zhao Kai Hua adalah sebuah jurus yang sangat

menakutkan, senjata rahasia yang tersimpan di balik kuku yang

bernama Tan Hun Zhu (Mutiara meminta nyawa). Tan Hun Zhu

sangat kecil hanya sebesar biji kacang hijau, tapi pada saat disentil,

butiran itu akan hancur dan bubuknya akan mengeluarkan bau

wangi, jika lawan menghisap bau wangi itu, mereka akan segera

pingsan dan roboh. Senjata ini sangat jarang dipakai oleh Gui Zhao

Po Po tapi sekali dipakai, 100% pasti akan berhasil.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Sekarang dia sekaligus menyentil 5 butir Tan Hun Zhu, dia siap

mencabut nyawa si pengemis tua itu. Untung saja si pengemis

terhadap serangan Gui Zhao Po Po sudah tidak asing lagi, dan dia

sudah mengetahui jurus dan teknik Gui Zhao Po Po, maka diapun

bisa menghindari, tidak sampai pingsan dan roboh.

Gui Zhao Po Po sangat menyayangi senjata rahasianya,

prinsipnya sekali dia menyentil Tan Hun Zhu harus bisa mengenai

musuh dan melumpuhkannya, sekarang dia melihat si pengemis

bisa menghindar, dia marah dan membentak, “Pengemis bau, aku

jarang gagal dalam membunuh, malam ini kau harus mati!” sambil

berkata dia sudah menyerang pengemis tua itu.

Pengemis tua itu tidak mau melayaninya, dia kembali meloncat

jauh, kemudian lari ke jembatan dan dengan cepat menggendong

Xin Suan—

“Mau ke mana kalian?”

Gui Zhao Po Po seperti bayangan yang terus menempel dan

mengikuti mereka terus, meloncat dari jembatan yang sudah putus,

kedua telapak tangannya menyerang ke punggung si pengemis.

Tiba-tiba si pengemis membalikkan tangan dan memukul dengan

tongkatnya, terdengar suara PAK, pukulan itu mengenai

pergelangan tangan Gui Zhao Po Po, kemudian pengemis itu

membawa Xin Suan meloncat masuk ke dalam sungai.

Mungkin si pengemis bisa berenang begitu masuk ke dalam air

dia langsung menghilang.

Gui Zhao Po Po tidak bisa berenang, begitu melihat mereka kabur

kedalam air, dia hanya bisa marah dan berteriak, “Cepat kejar! Hayo

kalian berdua turun dan tangkap mereka!”

Kedua penggotong tandu palsu itu menyahut dan dengan

tergesa-gesa terjun ke dalam air, tapi begitu masuk ke dalam air,

mereka baru ingat kalau mereka tidak bisa berenang, segera

mereka berteriak, “Shi Gu, kami tidak bisa berenang! Tolong!

Tolong….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Mereka berdua menggapai-gapai dan berpelukan, karena mereka

berdua ingin menjadikan teman mereka sebagai tempat untuk

pegangan, semakin mereka bergerak mereka semakin tenggelam,

akhirnya mereka benar-benar tenggelam terbawa oleh arus sungai

yang deras.

Dengan kaget Gui Zhao Po Po berteriak, “Ada apa dengan kalian?

Cepat naik! Cepat… cepat!”

Gui Zhao Po Po sekarang tampak kebingungan.

Kedua orang itu tidak terapung lagi, mereka sudah terbawa oleh

arus air.

Dia terpaku lama melihat semua itu, kemudian dia menghibur

diri, “Sudahlah, di dunia ini banyak pembantu lain, aku semakin

tidak suka dengan mereka, kalau mereka mati aku bisa mencari

yang lain!”

Dia segera kembali ke kereta membuka tirai dan melihat peti besi

itu, sambil tertawa senang dia berkata, “Hilang satu, tapi mendapat

pengganti yang lain.”

Sambil tertawa dia naik ke atas kereta dan membawa kereta itu

pergi.

0-0-dwkz-0-0

Bab 4

Pengemis tua itu keluar dari dalam air, kira-kira jarak dari

jembatan putus itu kurang lebih 150 meter, dia membuka totokan

Xin Suan, kemudian menelungkupkan Xin Suan ke bawah dan

menekan punggungnya. Membuat air yang berada di dalam perut

Xin Suan keluar semua. Akhirnya Xin Suan sadar kembali. Melihat

matanya terbuka, si pengemis berkata, “Hayo cepat bangun, tidak

ada waktu untuk beristirahat!”

Xin Suan bangun dan bertanya, “Apakah tadi aku sempat

pingsan?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Betul! Aku terpaksa membawamu terjun ke dalam air, karena

situasi sangat mendesak….”

Dia menceritakan kejadian tadi, akhirnya dia menarik nafas dan

berkata, “Aku kira Gui Zhao Po Po, Liu Shi Gu, pasti telah membawa

peti itu pergi.”

Dengan tidak senang Xin Suan berkata, “Kau harus bertarung

dengannya, jangan lepaskan kereta itu dibawa lari!”

“Tidak! Ada pepatah yang mengatakan : Selama gunung masih

menghijau, tidak perlu khawatir tidak ada kayu bakar. Aku harus

menolongmu dulu, baru mencari cara untuk merebut kembali peti

besi itu, kalau hanya mengandalkan diriku sendiri, rasanya tidak

akan berhasil.”

“Asal kau bertahan melawannya, aku bisa membuka totokanku

sendiri, kita tidak perlu takut kepadanya.”

Pengemis itu tertawa kecut dan berkata, “Sudahlah! Jangan

mengomel lagi, kita harus cepat kembali untuk melihat keadaan

yang telah terjadi.”

Sewaktu mereka kembali ke jalan di dekat jembatan, kereta

mereka sudah tidak ada di tempatnya. Si pengemis marah dan

berkata, “Nenek tua yang jahat, dia benar-benar serakah, ternyata

kereta itu juga dibawanya!”

“Itu lebih baik!”

“Lebih baik?” pengemis tua itu terpaku.

“Benar! Dia membawa keretanya, kita bisa mencarinya dengan

melihat jejak roda kereta yang tertinggal,” jelas Xin Suan sambil

tersenyum.

Pengemis tua itu mendengar penjelasan Xin Suan, segera dia

melihat di permukaan jalan yang licin itu ada jejak roda kereta, dia

merasa sangat senang dan berkata, “Benar! Kita ikuti saja jejak roda

ini!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Sambil berjalan Xin Suan bertanya, “Sebenarnya Gui Zhao Po Po

itu perempuan seperti apa?”

“Dulu dia adalah seorang perempuan genit, dan hatinya sangat

kejam, galak seperti harimau, ilmu silatnya juga sangat tinggi.

Apalagi jurusnya yang bernama Gui Zhao Kai Hua sangat lihai, aku

saja tidak bisa mengalahkannya!”

“Seperti apa lihainya jurus Gui Zhao Kai Hua?”

Pengemis tua itu menceritakan khasiat dan kehebatan dari Tan

Hun Zhu kepada Xin Suan.

“Apakah bau wangi itu bisa membuat orang menjadi mabuk?”

“Benar! Lebih lihai dari bau wangi biasa, bahkan kehebatannya

lebih hebat beberapa kali lipat. Bila kau menghirup sedikit saja maka

kau akan segera mati.”

“Ini tidak terlalu sulit bagi kita, begitu melihat dia mulai bergerak,

kita bisa dengan cepat menahan nafas!”

Pengemis itu tampak menggelengkan kepalanya dan berkata,

“Itu tidak akan ada gunanya, karena wangi-wangian itu pada saat

terkena baju, harus menunggu satu jam baru bisa hilang wanginya,

apakah kau bisa menahan nafas selama satu jam lamanya?”

“Kalau begitu hal ini benar-benar menakutkan, menurutmu

apakah aku bisa menang darinya?”

“Dalam hal ilmu s ilat kemampuannya lebih rendah dari Pan Long

Da Xia, ingin mengalahkan dia rasanya bukan menjadi masalah,

hanya saja serangan Tan Hun Zhu sulit dihindari.”

Sambil mengobrol mereka terus mengikuti jejak roda kereta yang

ternyata sudah keluar dari jalan besar dan masuk ke daerah

terpencil, di depan mereka hanya terlihat kegelapan, Xin Suan

berkata, “Sepertinya Gui Zhao Po Po tidak membawa keretanya ke

kota, tapi kearah mana dia berjalan?”

“Kalau arahnya tidak berubah, kereta itu akan tiba di Dong Ting

Hu (danau Dong Ting),” jawab si pengemis itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Apakah Gui Zhao Po Po tinggal di sana?”

“Dia sering keluar masuk daerah sini, apakah dia tinggal di sana,

aku sendiri tidak tahu.”

Mereka berdua terus mengikuti jejak roda, untung malam itu

terang bulan, maka sekeliling mereka terlihat lebih jelas.

Mereka terus mengejar, di tempat yang letaknya beberapa puluh

meter dari mereka, terdengar tawa seorang perempuan.

Xin Suan berhenti melangkah dan bertanya, “Apakah itu adalah

suara Gui Zhao Po Po?”

“Sepertinya memang dia, hayo cepat kita ke sana untuk melihat!”

ajak si pengemis.

Baru saja mereka berjalan beberapa puluh langkah, mereka

melihat ada sebuah kereta. Kereta itu sedang berhenti, terdengar

Gui Zhao Po Po sedang bicara dengan seseorang yang ada di dalam

kereta, “Pendekar Huo, aku tidak menyangka kau begitu pelit,

biarkan aku membuka peti ini untuk melihat isinya.”

Pan Long Da Xia menjawab, “Liu Shi Gu, kita adalah orang

terkenal, kita harus bisa menepati janji, lebih baik kau bawa 10 ribu

tail perak ini dan pergi dari s ini!”

Xin Suan dan pengemis tua mendengar kata-kata itu, mereka

merasa aneh, mereka tidak tahu mengapa Pan Long Da Xia bisa

begitu cepat tiba di tempat itu. Dan tahu bahwa peti besi itu sudah

dirampas oleh Gui Zhao Po Po bahkan tahu bahwa tempatnya

adalah di sini.

Terdengar Gui Zhao Po Po tertawa, “pendekar Huo terlalu

menganggap remeh kepadaku, walaupun aku tidak kaya tapi aku

tidak mau uang 10 ribu tail ini!”

“Kalau begitu, mengapa semalam kau setuju untuk membantuku

merebut kembali peti besi itu?” tanya Huo Ru Feng.

Mendengar percakapan ini Xin Suan baru mengerti, dia segera

berbisik kepada si pengemis, “Ternyata Huo Ru Feng yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

menyuruh Gui Zhao p0 Po membantunya, sekarang karena Gui Zhao

Po Po menginginkan semuanya, dia tidak mau menyerahkan peti itu

kepada Pendekar Huo!”

Pengemis tua itu mengangguk, diapun berbisik kepada Xin Suan,

“Kita jangan keluar dulu, mungkin mereka akan bertarung, bisa saja

kedua-duanya terluka.”

Terdengar Gui Zhao Po Po tertawa lagi, “Pendekar Huo, kita

sudah lama berkelana di dunia persilatan, kau jangan

menganggapku anak kecil, mana mungkin?”

“Sejak kapan aku menganggapmu anak kecil?”

“Barang yang ada di dalam peti besi itu sangat sangat berharga,

tapi kau malah membayarku 10 ribu tail perak saja, bukankah rtu

sama seperti menipu anak berumur 3 tahun?”

“Kau salah, barang yang ada di dalam peti besi ini bukan emas

ataupun barang perhiasan lainnya.”

“Aku tidak percaya, kalau barang yang ada dalam peti besi itu

tidak berharga lebih dari 10 ribu tail perak, mana mungkin kau akan

membayarku hanya 10 ribu tail?”

“Memang benar barang itu harganya lebih dari 10 ribu tail tapi itu

bukan emas atau perhiasan, kau mendapatkannyapun tidak akan

ada gunanya.”

“Kalau begitu, biarkan aku membuka peti itu untuk melihat

isinya, kalau bukan emas atau perhiasan, aku akan

mengembalikannya lagi padamu, bagaimana?”

“Tidak! Kau tidak boleh membukanya!”

“Kalau begitu aku tidak butuh uang 10 ribu tail itu. Kau pergi

saja!”

“Apakah kau menginginkan peti besi itu?”

“Betul!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Liu Shi Gu, kau jangan keterlaluan. Apakah kau kira aku tidak

sanggup membunuhmu?”

“Ilmu pedang Pendekar Huo sudah sangat terkenal, tapi bila kau

mau membunuhku harus menunggu beberapa hari lagi. Sekarang ini

apakah tanganmu bisa memegang pedang?”

“Untuk menghadapimu tidak perlu menggunakan pedang. Jika

kau ingin terus bertahan dengan keinginanmu, silakan!”

Kata-katanya baru selesai, dia sudah loncat dari kereta dan

mendarat di padang rumput.

Gui Zhao Po Po tertawa dan berkata, “Baiklah! Akupun ingin

mencoba jurus-jurus dari Pendekar Huo!”

Di bawah sinar bulan terlihat kedua tangan Pendekar Pan Long

dibalut dengan kain putih. Sepertinya racun yang mengenai

tangannya sudah berhasil ditawarkan. Karena tangannya sudah

mulai membusuk maka sekarang dia tidak bisa memegang apapun.

Tapi ilmu silatnya sangat tinggi. Ilmu silatnya bukan hanya

mengandalkan sepasang tangannya.

Sekarang begitu dia mendekati Gui Zhao po Po, sikapnya terlihat

serius dan berwibawa. Sedap otot di tubuhnya seakan-akan bisa

membunuh musuh.

Kedua telapak tangan Gui Zhao Po Po menjaga di bagian dada

dan siap siaga.

Walaupun Gui Zhao Po Po menginginkan peti besi itu tapi bukan

berarti dia tidak takut kepada Pan Long Da Xia. Jika bukan karena

kedua tangannya dibalut, mungkin Gui Zhao Po Po tidak akan berani

melawannya seperti sekarang.

Pan Long Da Xia berkata, “Silakan kau yang terlebih dulu

mengeluarkan serangan!”

“Baik, maafkan aku!” seru Gui Zhao Po Po.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tubuh Gui Zhao Po Po bergerak, kelima jarinya yang berbentuk

seperti cakar membawa angin besar dan siap mencakar wajah Pan

Long Da Xia. Pan Long Da Xia tidak bergerak, dia hanya tertawa dan

berkata, “Bertarung denganku jangan menggunakan jurus macammacam!”

Serangan Gui Zhao Po Po tadi memang adalah jurus tipuan.

Tujuannya hanya mengacaukan penglihatan dan konsentrasi lawan.

Begitu tahu siasat Gui Zhao Po Po, Pendekar Pan Long segera

mengubah jurusnya.

Tangan kanan Gui Zhao Po Po melayang, kedua jarinya menotok

ke tulang rusuk kanan pan Long Da Xia.

Ini adalah jurus yang sangat lihai dan JUrus ini adalah jurus

untuk membunuh orang.

Pan Long Da Xia tidak menghindar, juga tidak menyerang. Begitu

kedua jari Gui Zhao Po Po hampir mengenai tubuhnya, dia baru

mengangkat lutut untuk menahan jari Gui Zhao Po Po, setelah itu

dia mengangkat kaki kanannya dan siap menendang ke dada Gui

Zhao Po Po.

Tendangan itu merupakan serangan yang sangat lihai dan

tarafnya sangat tinggi.

Gui Zhao Po Po segera menghindar kemudian dengan telapak

tangannya dia berusaha menahan tendangan lawan. Dia tertawa

dan berkata, “Kasihan! Kekuatannya Pendekar Huo hanya bisa

menendang karena tangannya sudah cacat!”

Kata-kata Gui Zhao Po Po belum selesai, telapak tangan kiri Pan

Long Da Xia datang membawa angin kencang dan telapaknya

memukul ke belakang leher Gui Zhao Po Po.

Pukulan ini mengandung tenaga yang sangat besar. Gui Zhao Po

Po terkejut karena dia sama sekali tidak menyangka kalau Pan Long

Da Xia masih bisa menggunakan tenaga telapaknya. Dengan cepat

dia menundukkan kepala. Tangannya terangkat untuk menahan. Gui

Zhao Po Po tergetar dan mundur beberapa langkah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pan Long Da Xia tidak mengambil kesempatan untuk menyerang.

Dia hanya berkata, “Liu Shi Gu, aku beri kesempatan terakhir

kepadamu, apakah kau tidak menginginkan lagi uang 10 ribu tail

perak?”

Gui Zhao Po Po tertawa, “Sekarang yang aku inginkan hanya

kepalamu!”

Kata ‘kepala’ baru saja diucapkan, Gui Zhao Po Po seperti seekor

harimau bergerak, kedua telapak tangannya dibuka dan dia terus

enyerang.

Kedua telapak tangannya dibuka, semua jurus cakarnya

dikeluarkan.

Gerakan cakarnya kelihatan seperti tidak teratur dan kacau, tapi

semua adalah jurus-jurusnya yang aneh yaitu 38 Jurus Cakar setan,

pan Long Da Xia adalah pesilat terkemuka di dunia persilatan. Ilmu

silatnya boleh dikatakan sudah sangat matang dan tinggi, tapi

karena kedua telapak tangannya mulai membusuk, maka gerakan

kedua telapaknya tidak begitu lincah lagi. Karena itu ketika jurus

yang seharusnya menggunakan telapak untuk menyerang, selalu

dihindarinya atau menggantikannya dengan kaki. Walau begitu, dia

tetap bisa menahan serangan Gui Zhao Po Po yang keras, dia tidak

tampak terdesak sama sekali.

Hanya dalam waktu singkat 38 Jurus Cakar setan, telah habis

dilancarkan oleh Gui Zhao Po Po, tapi serangannya sama sekali tidak

bisa membuat Pendekar Huo terlukai.

“Apakah kau masih ingin terus bertarung?” tanya Pan Long Da

Xia dengan dingin.

Tiba-tiba tubuh Pan Long Da Xia berputar. Sikunya secepat kilat

menyodok. Terdengar, PENG!

Pundak kiri Gui Zhao Po Po tersikut, dia melayang dan terjatuh.

Kali ini Pan Long Da Xia tidak memberi kesempatan lagi kepada

Gui Zhao Po Po. Dia segera mendekat dan menendang Gui Zhao Po

Po yang masih melayang di udara.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tapi tiba-tiba tampak ada asap berwarna merah muda

menghadang didepannya, Pan Long Da Xia pernah mendengar kalau

di dalam kuku jari Gui Zhao Po Po tersimpan senjata racun yang

sangat lihay yang disebut Tan Hun Zhu, dia tidak pernah melihatnya

dan tidak mempunyai bayangan sama sekali akan terjadi serangan

seperti itu. Begitu terkena sodokan, Gui Zhao Po Po belum sempat

mendarat, tapi Gui Zhao Po Po masih bisa mengeluarkan senjata

Tan Hun Zhu. Pada saat merasa kalau dia harus menghindar, semua

itu sudah terlambat.

Terlihat Pan Long Da Xia terpaku. Dia seperti kehilangan rohnya

kemudian pelan-pelan tubuhnya tersungkur ke depan. Akhirnya

roboh!

Gui Zhao Po Po meloncat ke bawah kemudian tertawa terbahakbahak,

“Huo Ru Feng, sekarang aku akan mengantarkanmu

pulang!”

Tangan kanannya baru saja diangkat dan berniat akan menebas.

“SETT!”

Sebuah pisau datang dan mengenai telapak tangan bagian

belakang Gui Zhao Po Po hingga menembus keluar dari telapaknya.

“Aduh!” Gui Zhao Po Po berteriak kesakitan. Dia segera

berjongkok. Tangan kirinya memegang tangan kanannya yang

terkena pisau dan berteriak dengan marah. “Siapa yang diam-diam

telah menyerangku, cepat keluar!”

Xin Suan muncul.

Melihat Xin Suan yang datang, wajah Gui Zhao Po Po segera

berubah dan berkata,

“Ternyata kau…”

Xin Suan tersenyum, “Betul! Ini aku!”

Pengemis tua itupun ikut keluar dari balik semak-semak. Sambil

tertawa dia berkata, “Hei nenek genit, masih ada aku!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tangan kanan Gui Zhao Po Po terluka oleh pisau Xin Suan. Dia

tahu dia tidak sanggup bertarung lagi. Melihat Xin Suan dan

pengemis tua itu datang, dia segera mundur. Dengan marah dia

berkata, “Nyawa seorang pengemis benar-benar panjang, kau tidak

dibawa oleh setan air!”

Pengemis tua itu tertawa dan berkata, “Mata setan air sangat jeli,

dia tidak mau menangkapku karena aku adalah seorang pengemis

yang miskin.”

Melihat telapak tangannya yang terluka oleh pisau, wajah Gui

Zhao Po Po menjadi pucat. Dia menarik nafas dan berkata, “Kalau

tahu akan terjadi seperti ini, harusnya sejak tadi aku menerima 10

ribut tail dari Huo Ru Feng!”

“Betul. Makanya jadi orang jangan terlalu serakah!” kata

pengemis.

Sambil menahan sakit Gui Zhao Po Po berkata, “Mohon ijinkan

aku mengambil cek 10 ribu tail dari badan Huo Ru Feng, dan kalian

boleh membawa kereta itu pergi! Bagaimana?”

“Tidak bisa!” jawab Xin Suan.

“Aku hanya mengambil uangnya, apa hubungannya dengan

kalian?” tanya Gui Zhao Po Po.

“Kalau bukan karena usiamu sudah tua, sudah sejak tadi aku

membunuhmu, hayo cepat Pergi sekarang juga!”

Gui Zhao Po Po menarik nafas dan berkata, “Hitung-hitung aku

sedang sial, ayam tidak bisa dicuri, beras untuk memancing ayam

malah hilang….”

Sambil berkata seperti itu dia langsung pergi tapi tiba-tiba dia

membalikkan tubuhnya. Tangan kirinya diangkat, kelima jarinya

tampak siap menyentil, 5 butir Tan Hun Zhu keluar dari kukunya

dan dia tertawa, “Lihatlah! Ini jimatku!”

Sejak awal Xin Suan dan pengemis sudah berhati-hati dalam

menghadapi Gui Zhao Po Po. Melihat dia membalikkan tubuh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

dengan tiba-tiba, mereka berdua langsung meloncat ke pinggir

sejauh 10 meter lebih.

Di tempat mereka berdiri tadi terlihat asap berwarna merah

muda. Begitu meletus, asap segera menyebar ke mana-mana.

Hingga radius kurang lebih 15 meter. Xin Suan dan pengemis tua itu

meloncat lebih jauh lagi untuk menghindari serangan asap berwarna

merah muda itu.

Gui Zhao Po Po melihat serangan terakhinya tetap tidak bisa

membuat mereka berdua bertekuk lutut. Segera dia membalikkan

tubuh dan dengan cepat sudah menghilang di dalam kegelapan.

Melihat dia melarikan diri, Xin Suan dan pengemis tua itu tidak

mengejar, karena tujuan mereka adalah merebut kembali peti besi

itu. Sekarang tujuan mereka sudah tercapai, mengejar musuh bukan

hal yang penting lagi bagi mereka.

Asap sudah tertiup oleh angin malam hingga menyebar dan

menjauh, mereka berdua baru berani mendekati kereta. Xin Suan

naik ke dalam kereta untuk melihat keadaan peti besi. Dia berkata,

“Huo Ru Feng terkena asap beracun, jika tidak ditolong apakah dia

bisa sadarkan sendiri?”

“Bisa, kira-kira satu jam lagi dia akan sadar.”

“Kalau begitu, mari kita pergi sekarang juga,” kata Xin Suan.

“Apakah kita akan membiarkan dia begitu saja di sini?” tanya

pengemis itu.

“Bukankah tadi kau mengatakan kalau dia akan sadar satu jam

lagi?”

“Bagaimana kalau Gui Zhao Po Po kembali lagi?”

“Betul juga! Jika Gui Zhao Po Po kembali, Huo Ru Feng pasti

akan mati. Sekarang kita harus bagaimana?” tanya Xin Suan.

“Pindahkan saja dia ke tempat lain supaya Gui Zhao Po Po tidak

bisa mencarinya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan setuju dengan ide si pengemis, segera dia

menggendong Pan Long Da Xia dan berjalan kira-kira ratusan

langkah, lalu meletakkan dia di balik semak-semak, kemudian Xin

Suan berkata, “Sekarang kita kembali dulu ke kota uuntuk membeli

papan dan menyambung jembatan yang putus itu.”

“Aku rasa sekarang hari sudah terlalu malam, untuk kembali ke

kota dan membeli Papan bukan hal yang mudah, lebih baik kita

mencari papan di sekitar sini, bagaimana?” tanya si pengemis.

“Dari mana kita bisa mendapatkan Papan?” tanya Xin Suan.

Pengemis tua itu menunjuk ke arah selatan dan menjawab, “Di

sana adalah hutan, kita bisa melihat apakah di sana ada pohon yang

bisa ditebang dan papannya bisa digunakan untuk menyambung

jembatan yang putus?”

Xin Suan mengangguk, mereka membawa kereta ke arah hutan,

begitu mendekati hutan, mereka baru tahu itu bukan hutan kayu

melainkan hutan bambu. Pengemis tua itu menganggap bambupun

bisa digunakan untuk membuat papan jembatan, maka merekapun

mulai menebang puluhan batang bambu untuk membuat papan

jembatan. Kemudian bambu-bambu itu dinaikkan ke atas kereta,

dan kereta kembali ke jembatan tadi….

Begitu tiba di jembatan itu, mereka mulai memasang bambubambu

itu di bagian yang terputus. Bambu pendek dipasang secara

simetris. Setelah mengira-ngira papan penyambung jembatan yang

putus itu bisa menahan beban sebuah kereta, Xin Suan segera

menurunkan peti besi dan berkata, “kau bawa kereta melintasi

jembatan, aku yang akan menggotong peti besi ini.”

Akhirnya kereta dengan selamat bisa melewati jembatan itu.

Xin Suan duduk dengan tangan yang masih terbungkus oleh

handuk, dia menghindari telapak tangannya terkena peti besi itu,

kemudian dia menaikkan peti besi itu ke atas pundaknya, selangkah

demi selangkah dia berjalan menyebrangi jembatan, akhirnya

diapun dengan selamat tiba di seberang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kemudian dia meletakkan peti besi itu ke dalam kereta dan

mereka siap meneruskan perjalanan.

Pengemis tua itu menarik nafas panjang dan berkata, “Setelah

selesai mengantarkan barang ini sepertinya kita bisa membuka

kantor Biao.”

“Benar! Sepertinya semua kantor Biao tidak akan ada yang

mengalami perjalanan seperti kita, melewati perjalanan begitu sulit,

kalau kita dengan lancar bisa mengantarkan barang ini sampai ke

tempat tujuan, tentunya kita akan merasa bangga,” kata Xin Suan.

“Apakah kita akan bertemu lagi dengan hal aneh lainnya?”

“Walau bagaimanapun kita harus bisa mengatasi kesulitan yang

akan terjadi, semua ini untuk mendapatkan uang 100 ribu tail.”

0-0-dwkz-0-0

Hari kedua, siang hari. Mereka tiba di kota keempat yaitu kota Yi

Xing.

Mereka merasa lelah, dan berniat ingin menginap semalam di

kota itu. Setelah mendapatkan penginapan mereka segera

memindahkan peti besi itu ke dalam kamar dan berpesan kepada

pelayan supaya mengantarkan sayur dan nasi ke kamar mereka.

Mereka tidak ingin meninggalkan peti besi itu begitu saja.

Sewaktu hari mulai malam, mereka bersiap naik ke ranjang untuk

tidur—

TOK! TOK! TOK!

Ternyata ada seseorang yang mengetuk Pintu!

Xin Suan segera bertanya, “Siapa?”

“Aku.”

Suara itu ternyata suara seorang perempuan, suara itu terdengar

manis dan jernih!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan merasa aneh dan bertanya, “Kau mencari siapa?”

Gadis itu menjawab, “Aku mencarimu!”

Xin Suan dan pengemis itu saling bertukar pandang keheranan

dan bertanya lagi. “Siapa kau?”

Gadis itu menjawab, “Shui Xian Hua.”

Xin Suan baru saja berkelana di dunia persilatan dan sebelum ini

dia tidak pernah mendengar nama Shui Xin Hua, dia memberi sorot

bertanya kepada si pengemis, pengemis itu mendekat dan berbisik

kepada Xin Suan, “Shui Xian Hua adalah perempuan paling cantik di

dunia persilatan—Aku tebak kau pasti akan mendapatkan nasib

bagus!”

Begitu mendengar bahwa gadis itu adalah gadis tercantik di

dunia persilatan, hati Xin Suan berdebar-debar dan bertanya, “Nona

mencariku, apakah Nona tahu siapa aku?”

Sambil tertawa Shui Xian Hua menjawab, “Bukankah namamu

adalah Xin Suan?”

“Ada keperluan apa Nona mencariku?”

“Apakah kau tidak akan membukakan pintu supaya aku bisa

masuk?” Shui Kian Hua tertawa manis.

Xin Suan segera dia membuka pintu dan melihat Shui Kian Hua

berdiri di depan pintu kamarnya, dia merasa jantungnya berdegup

dengan kencang, dia berpikir, “Benar! Ternyata dia adalah gadis

yang sangat cantik!”

Usia Shui Xian Hua kurang lebih 20 tahun, wajahnya lonjong,

matanya besar, bulu matanya sangat panjang, rambutnya panjang,

bola matanya hitam dan sangat jernih, matanya seperti bisa bicara,

dadanya membusung, pinggangnya kecil, benar-benar membuat

seorang laki-laki menjadi mabuk dan tidak bisa menahan diri!

Matanya yang indah tampak berputar, tawanya membuat jantung

orang berdebar-debar, suaranya seperti burung kenari yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

berkicau lalu berkata, “Apakah kau tidak akan mempersilakan aku

masuk ke dalam kamar?”

Xin Suan bukan pohon dan rumput, tanpa terasa dia sudah

berkata, “Silakan masuk!”

Sambil melangkah perlahan diapun masuk ke dalam kamar,

langkahnya ringan dan indah. Semua kecantikan seorang

perempuan sepertinya sudah terwakili olehnya.

Segera Xin Suan menarik sebuah kursi dan berkata, “Silakan

duduk!”

Shui Kian Hua pun duduk, wajahnya seperti sekuntum bunga

yang baru saja mekar, sangat cantik dan indah.

Walaupun Xin Suan tertarik dengan kecantikan Shui Xian Hua,

tapi dia tetap bersikap waspada, sambil tertawa Xin Suan bertanya,

“Apakah musuhku yang menyuruhmu datang ke sini?”

Dengan terbuka Shui Xian Hua menjawab, “Tebakanmu benar.”

“Apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?”

Shui Kian Hua menatap ke arah si pengemis lalu bertanya,

“Apakah kita bisa bicara empat mata saja?”

“Pengemis tua itu bukan orang terkenal ada persoalan apa

katakan saja sekarang!” kata Xin Suan.

“Tidak! Aku hanya akan bicara padamu saja, secara pribadi!”

jawab Shui Xian Hua.

Xin Suan mengerutkan dahi tampak berpikir.

Shui Xian Hua tertawa dan berkata, “Ilmu silatku berada di

bawahmu, akupun tidak bisa berbohong ataupun melukai orang

dengan racun seperti Gui Zhao Po Po, apa yang perlu kau

khawatirkan?”

Xin Suan merasa kalau dia adalah seorang laki-laki sejati, mana

bisa dia takut kepada seorang perempuan? Segera dia membalikkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

tubuhnya dan berkata kepada si pengemis, “Bisa tolong tinggalkan

kami sebentar?”

Pengemis itu tertawa dan menjawab, “Baiklah, kali ini biar kau

yang mengatasinya sendiri, aku akan menunggu di luar.”

Setelah itu diapun keluar dari kamar.

Shui Xian Hua melihat pengemis itu keluar dari kamar, pintupun

ditutupnya dan berkata, “Kuncilah pintu itu!”

Xin Suan menurut dan mengunci pintu kamar, lalu dia berkata,

“Seharusnya namamu diubah menjadi bunga mawar (mei gui) saja.”

“Mengapa?” Shui Xian Hua tertawa.

“Karena bunga mawar banyak yang liar.”

“Apakah kau menganggap aku liar?” tanya Shui Xian Hua sambil

tertawa.

“Aku hanya bisa melihat saja!”

“Apakah kau tidak menyukai perempuan liar?”

“Sebaliknya aku menyukai perempuan yang sedikit liar.”

“Apakah benar?”

“Ya.”

“Aku takut kau tidak akan berani.”

“Mengapa kau bisa berkata seperti itu?”

“Karena aku lebih liar dari bunga mawar, keliaranku tidak akan

membuatmu bertahan!”

“Aku tidak akan mengecewakanmu!”

“Apakah kata-katamu bisa dibuktikan?”

“Boleh saja!” kata Xin Suan sambil mengangguk.

Shui Xian Hua berdiri dan mulai membuka bajunya Xin Suan

terkejut dengan mata melotot dia bertanya, “Kau mau apa?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Shui Xian Hua tetap membuka bajunya dengan tertawa dia

menjawab, “Kenapa? Apakah kau takut? Bukankah tadi kau

mengatakan tidak akan mengecewakanku?”

Wajah Xin Suan memerah tapi dia tetap bertahan dan menjawab,

“Baiklah, aku akan mencobanya”

“Nah itu baru seorang laki-laki sejati!”

Shui Xian Hua masih tetap membuka bajunya, dia menganggap

Xin Suan adalah suaminya, dia sama sekali tidak merasa malu!

Hanya dalam waktu singkat baju yang melekat di tubuhnya

sudah terlepas semua.

Tubuhnya putih seperti giok putih, begitu lembut. Dia berdiri di

depan Xin Suan, lehernya benar-benar indah tidak bisa terlukiskan

dengan kata-kata.

Tapi Xin Suan masih berusaha menahan diri, dengan serius Xin

Suan berkata, “Untuk apa kau melakukan semua ini?”

Dengan ringan Shui Xian Hua berjalan ke arah ranjang kemudian

diapun berbaring di atas ranjang itu, katanya, “Sekarang

buktikanlah kepadaku!”

Jantung Xin Suan berdebar dengan kencang, rasanya jantungnya

seperti dibakar oleh api, tapi dia tetap berusaha menahan dirinya

supaya tidak meledak, dengan suara rendah dia bertanya, “Apakah

kau melakukan semua ini hanya karena menginginkan peti besi itu?”

Mata Shui Xian Hua tampak terpejam tapi dia masih bicara,

“Sekarang kita tidak sedang membicarakan tentang peti besi,

sekarang aku sedang membutuhkanmu….”

Dengan sekuat tenaga Xin Suan menggigit bibirnya dan berkata,

“Sepertinya kau bukan seorang gadis genit, mengapa kau

melakukan semua ini?”

Dengan pelan Shui Xian Hua menjawab, “Anggaplah ini sebagai

rejekimu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Tidak, kalau kau melakukan semua ini karena peti besi itu,

usahamu akan sia-sia!”

Tiba-tiba Shui Xian Hua marah dan berkata, “Sudah kukatakan

tadi, jangan bicarakan tentang peti besi itu!”

“Kalau begitu, untuk apa kau melakukan semua ini?”

“Jangan terus bertanya, asalkan kau melakukan apa yang

seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki, itu saja sudah cukup!”

Xin Suan mendekat, kedua matanya menelusuri tubuh telanjang

Shui Kian Hua yang indah, hatinya terus berperang, akhirnya Xin

Suan menarik nafas panjang dan berkata, “Kau benar-benar cantik,

aku benar-benar berharap kau adalah istriku….”

“Asal kau mengatakan, ‘aku mau menikah denganmu’ maka aku

pasti akan menjadi istrimu.”

Xin Suan duduk di sisi ranjang, membelai rambut panjang Shui

Kian Hua, kemudian dengan pelan dia berkata, “Semenjak aku

berkelana di dunia persilatan, baru satu tahun ini, aku sudah

bertemu dengan pesilat-pesilat tangguh dan mengalami berliku-liku

perjalanan, aku belum pernah kalah ataupun bertekuk lutut di

hadapan orang lain….”

“Bagaimana kali ini?”

“Kali ini aku mengaku kalah.”

Xin Suan naik ke tempat tidur, dia adalah seorang laki-laki tulen,

tiba-tiba Shui Xian Hua menghalanginya dan berkata, “Tidak perlu

terburu-buru.”

“Mengapa?” Xin Suan terpaku.

“Aku ingin bicara dulu….”

“Bicara mengenai apa?”

Kedua tangan Shui Kian Hua yang putih sudah memeluk Xin Suan

dan menarik tubuhnya, pelan-pelan dia bertanya di telinga Xm

Suan, “Apakah kau benar-benar menyukaiku?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tubuh Xin Suan terasa terbakar, kedua matanya sepertinya bisa

mengeluarkan api, dia terus bicara, “Benar dan itu sudah pasti!”

Shui Xian Hua tidak mau Xin Suan mendapatkan keinginannya

dengan cepat, dengan mata yang indah dan genit dia bertanya,

“Apakah benar kau akan memperistriku?”

“Benar! Benar!”

“Kalau begitu kau harus memberiku sebuah hadiah.”

“Kau menginginkan apa?”

“Uang 100 ribu tail perak!”

“Jangan bercanda!”

“Aku tidak bercanda!”

“Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu.”

“Kalau tidak ada uang sebanyak itu, benda seharga 100 ribu tail

perakpun boleh kau berikan!”

Kepala Xin Suan seperti disiram air dingin, pikirannya segera

terfokus dan bertanya, “Bukankah tadi kau mengatakan tidak ingin

membicarakan tentang peti besi?”

Shui Xian Hua tertawa dan menjawab, “Aku ingin tahu apakah

kau benar-benar suka kepadaku dan berniat untuk memperistriku?”

“Apakah kau tidak sadar bahwa permintaanmu ini keterlaluan?”

“Tidak! Karena aku mempertaruhkan kebahagiaanku seumur

hidup.”

“Kalau aku memberikan peti besi itu, apa yang akan kau

lakukan?”

“Setelah kau memberikan peti besi itu, akan kubuang peti itu ke

sungai, setelah itu kemanapun kau pergi aku pasti akan selalu

mengikutimu.”

“Kalau begitu kau menginginkanku?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Aku menginginkan suami yang tidak ikut campur dengan

masalah dunia persilatan dan tidak selalu dikejar-kejar oleh orang

lain!”

“Baiklah, biarkan aku berpikir dulu!”

“Benar, pikirkanlah dengan baik dan matang.”

Xin Suan tampak berpikir, tapi tangannya tidak bisa diam,

tangannya mulai meraba-raba tubuh Shui Xian Hua dengan pelan….

Tubuh Shui Xian Hua mulai bergetar dan merintih,

“Jangan…jangan….”

Tapi Shui Xian Hua tidak menolak rabaan Xin Suan, dia sudah

mabuk dan kalah oleh rabaan Xin Suan.

Jiwanya serasa melayang, melayang, dan berteriak,

“Jangan…jangan…jangan!”

Tiba-tiba dia memeluk Xin Suan dengan erat seperti ingin

menggencet Xin Suan sampai mati dan berkata, “Cepatlah, cepat….”

Xin Suan melihat keadaan menjadi seperti itu, dia segera

memberontak dan keluar dari pelukan Shui Xian Hua, dan

mengenakan bajunya kembali.

Mata Shui Xian Hua yang besar tampak melotot lalu dia bertanya,

“Ada apa denganmu?”

“Aku merasa kita bukan suami istri maka kita tidak boleh

melakukan hal ini….”

Shui Xian Hua marah dan berkata, “Kalau kau pergi dari sini,

kubunuh kau!”

Kemudian dia menarik Xin Suan dan memeluknya dengan erat.

0-0-dwkz-0-0

Hujan telah berhenti dan awan hitampun sudah menghilang,

mereka berdua berbaring dengan diam. Tidak ada seorangpun yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

berniat bicara. Setelah merasa cukup beristirahat Xin Suan bangun

untuk memakai baju.

Dengan pelan Shui Xian Hua bertanya, “Apakah kau sudah

memikirkannya?”

“Sudah!”

“Bagaimana keputusanmu?”

“Maaf, aku tidak bisa mengikuti permintaanmu!”

“Apa? Kau tidak akan memberikan hadiah untukku?”

Pelan-pelan Xin Suan berkata, “Walaupun kau sudah bukan

perawan lagi, tapi bila kau berubah menjadi perempuan baik-baik,

aku tetap akan memperistrimu.”

“Bagaimana dengan peti besi itu?”

“Kau menginginkan suami atau peti besi itu?”

Shui Kian Hua marah dan berteriak, “Tubuhku sudah kuberikan

kepadamu kau masih tetap tidak mau melepaskan peti besi itu, kau-

—”

Xin Suan juga marah dan berkata, “Kau menginginkan suami

atau peti besi itu?”

“Aku menginginkanmu tapi aku tidak mau kau selalu menghadapi

bahaya!”

“Aku tidak menganggap kalau aku selalu berada dalam bahaya.”

“Apakah sepanjang perjalananmu kemarin ini bukan termasuk

bahaya?”

“Tapi aku bisa selamat melewati semuanya.”

“Kau jangan terlalu percaya diri, aku katakan kepadamu, kalau

kau tidak mau melepaskan peti besi itu, kau tidak akan bertahan

hidup sampai di Jin Ling.”

Xin Suan tersenyum, “Sepanjang perjalanan kemarin aku sudah

melewati dua peristiwa yang paling menyulitkan, pertama adalah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng dia adalah pesilat nomor satu dunia

persilatan, tapi akhirnya aku bisa lolos darinya. Sedangkan yang

satunya lagi adalah kau, di dunia ini hal yang menyulitkan adalah

menghadapi perempuan cantik, tapi akhirnya aku bisa lolos juga.

Apakah masih ada bahaya lainnya?”

Shui Xian Hua tampak melotot dan berkata, “Kau—-”

“Aku katakan sekali lagi, apa yang telah terjadi hari ini menjadi

tanggung jawabku, kalau kau mau menikah denganku, akhir tahun

di bulan November, tunggulah aku di Penginapan An Fu di kota Ji

Nan—aku hanya akan berkata sampai di sini, sekarang kenakan

bajumu dan pulanglah!”

Shui Xian Hua terus melihatnya, air matanyapun menetes, lalu

dia berkata, “Kau…benar-benar orang yang tidak punya perasaan!”

Xin Suan mengangguk.

Shui Xian Hua menangis dan berkata, “Aku benci kepadamu.”

Sambil mengenakan bajunya, Shui Xian Hua masih terus

menangis, dia berkata, “Aku beritahu kepadamu, aku pasti akan

membalas dendam kepadamu!”

Xin Suan menggelengkan kepalanya dan berkata, “Lebih baik

jangan kau lakukan, bila kau membalas dendam, malah kau yang

akan rugi.”

0-0-dwkz-0-0

Hari kedua, kereta keluar dari kota Yi Xing dan mereka

melanjutkan perjalanan

Pada sore hari mereka sudah tiba di kota Piao Yang, mereka

beristirahat sebentar di kota itu, kemudian melanjutkan perjalanan

lagi….

Malam hari kereta tiba di sebuah kuil. Kuil itu bernama Tian

Wang. Mao Shan sudah terlihat dari kejauhan, pengemis tua itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

menarik nafas dan berkata, “Kalau kita berjalan sehari lagi maka

kita akan tiba di Jin Ling.”

Xin Suan dengan senang menjawab, “Benar!”

Pengemis tua itu tertawa sambil berkata, “Ada pepatah yang

mengatakan: pahlawan sulit melewati perempuan cantik, tapi kau

bisa melewatinya, tampaknya jalan ke depan nanti kita tidak akan

mengalami kesulitan lagi.”

“Belum tentu, aku lihat setiap bahaya bisa muncul di depan kita,”

kata Xin Suan.

“Tidak, tidak akan ada bahaya lagi!”

“Semakin mendekati kesuksesan, maka hal yang ditemuipun

semakin berbahaya, kita harus tetap waspada.”

“Tapi aku menganggap akal-akalan mereka sudah habis, dan

mereka tidak mempunyai cara lain lagi.”

“Aneh, mengapa kau menjadi begitu optimis?” tanya Xin Suan.

Pengemis itu tertawa lalu melihat ke kiri dan ke kanan, katanya,

“Kita sudah berjalan selama 3 jam, bagaimana kalau kita berhenti

dulu untuk beristirahat?”

Xin Suan mengangguk, segera dia menghentikan keretanya di sisi

jalan dan dari dalam kereta dia megeluarkan rumput untuk memberi

makan kudanya.

Pengemis itu dari dalam tasnya mengeluarkan beberapa bakpao

dan berkata, “Makanlah bakpao ini, aku membelinya di Piao Yang!”

“Aku tidak merasa lapar, kau sendiri saja yang makan,” kata Xin

Suan.

“Mengapa kau tidak merasa lapar?”

“Aku sudah makan cukup kenyang di Piao Yang tadi.”

“Tapi sekarang sudah 3 jam lewat dari Piao Yang.”

“Oh….” jawab Xin Suan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Makanlah beberapa buah, bakpao ini sangat enak.” Pengemis itu

memberikan bakpaonya kepada Xin Suan. Terpaksa Xin Suan

memakan satu bakpao.

Sambil makan pengemis itu bertanya, “Sepanjang perjalanan tadi

kau jarang bicara, apakah kau merindukan Shui Xian Hua?”

Xin Suan mengangguk.

“Apakah kau merasa dia menarik?”

“Benar, dia benar-benar si cantik dari dunia persilatan, membuat

laki-laki rindu kepadanya.”

“Tapi sayang, dia bukan seorang gadis yang baik.”

“Dia baik, walaupun dia menggunakan tubuhnya untuk

memikatku tapi dia bukan perempuan genit dan sembarangan.”

Pengemis itu tertawa dan berkata, “Aku rasa, kau semakin

tertarik kepadanya!”

“Benar, aku harap dia bisa menikah denganku,” Xin Suan

mengangguk.

“Sudahlah, walaupun dia cantik, tapi dia bukan gadis yang baik.”

“Akupun bukan orang yang baik!”

Pengemis itu memberikan sebuah bakpao lagi kepada Xin Suan

dan berkata, “Makanlah satu lagi.”

Xin Suan mengambil satu dan memakannya lagi.

“Mengapa kau menganggap kalau kau bukan orang baik-baik?”

“Demi uang 100 ribu tail perak aku sudah membunuh banyak

orang supaya tujuanku tercapai apapun tega kulakukan.”

“Tapi kau melakukannya demi orang yang terkena bencana, itu

bukan kesalahanmu.”

“Demi menolong orang, tapi membunuh orang sepertinya….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Orang yang kau bunuh adalah orang-orang jahat, dapat

dikatakan kau membantu masyarakat membasmi orang jahat di

dunia persilatan!”

Xin Suan tertawa dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Pengemis itu memberikan sebuah bakpao lagi dan berkata,

“Makanlah!”

Baru saja dia akan memasukkan bakpao ke dalam mulut, tibatiba

wajah Xin Suan berubah, dia bertanya, “Kenapa ya?”

Pengemis tua itu terpaku dan bertanya, “Ada apa?”

Xin Suan memegang perutnya dan berkata, “Aneh, mengapa

perutku tiba-tiba saja menjadi sakit?”

Pengemis tua itu terkejut dan berkata, “Mengapa bisa seperti

itu?”

Xin Suan mengerutkan dahi dia jongkok ke bawah dan berteriak,

“Perutku sakit… sepertinya aku telah terkena racun.”

“Apa kau keracunan? Mengapa bisa terkena racun? Apakah

bakpao ini beracun? Tidak, tidak mungkin kalau bakpao ini beracun,

aku juga memakannya, mengapa aku tidak merasakan apa-apa?”

Karena sakit Xin Suan sampai jatuh ke bawah dan bergulingguling,

kemudian merintih, “Aku…bukankah tadi aku sudah

mengatakan, semakin mendekati kesuksesan, maka… akan semakin

berbahaya….”

Pengemis tua itu melihat dia roboh, wajahnya tertawa dengan

licik dan berkata, “Perkataanmu memang benar!”

Xin Suan tertawa kecut dan berkata, “Musuh yang paling

menakutkan adalah…musuh dalam selimut.”

“Apa maksudmu?”

Xin Suan menahan sakit dan berkata, “Jangan pura-pura,

Pengemis! Kau yang membubuhkan racunnya!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pengemis tua itu tertawa terbahak-bahak, “Xin Suan, maaf

seumur hidupku aku belum pernah melakukan kejahatan, tapi

godaan uang 100 ribu tail itu terlalu besar buatku.”

“Susah bisa dipikul bersama, senang tidak bisa dihadapi bersama,

kata-kata ini sama sekali tidak salah….”

Pengemis itu tertawa sinis, “Kata-katamu tidak benar, kau akan

menyerahkan uang 100 ribu tail untuk menolong orang yang

terkena bencana, mana boleh mengatakan kita senang bersamasama

menghadapinya?”

“Kau…kau benar-benar pintar, kau menunggu sampai hari ini

baru…baru meracuniku.”

”Benar, kalau tidak begitu mana mungkin aku sanggup

menghadapi orang-orang yang berilmu silat tinggi?”

Kelihatannya Xin Suan sudah tidak bisa menahan rasa sakit lagi,

tiba-tiba dia berteriak dan berguling-guling di tanah.

Pengemis itu berjalan ke kereta, dari dalam kereta dia mengambil

pedang dan berkata, “Kau adalah orang baik, aku tidak tega

melihatmu tersiksa…..”

Sambil bicara seperti itu dia mengangkat pedang panjang itu, dia

ingin membebaskan rasa sakit Xin Suan. Xin Suan segera berguling

ke pinggir dan berkata, “Pengemis, aku sama sekali tidak

menyangka kau adalah orang yang sudah melihat uang segera

melupakan teman!”

Pengemis itu tertawa dan menjawab, “Benar, aku sendiripun

tidak menyangkanya, tapi aku tidak rela kalau uang 100 ribu tail

perak itu diberikan kepada orang lain, selama hidupku aku sangat

miskin, sekarang aku ingin menikmati hidup.”

Pedang siap ditusukkan ke arah Xin Suan.

Xin Suan berguling ke sisi lagi.

Pengemis itu melihat sudah dua kali dia tidak berhasil mengenai

sasaran, dia mengerutkan dahinya dan berkata, “Aku beritahu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

kepadamu, kau pasti akan mati, daripada sakit seperti itu terus

menerus dan menyiksamu, lebih baik biarkan aku membantumu

melepaskan diri dari rasa sakit itu.”

Kata-katanya selesai dan dia menusuk lagi.

Xin Suan meloncat dengan sekuat tenaga dengan nada memohon

dia berkata, “Jangan bunuh aku, bagaimana kalau 100 ribu tail itu

semua menjadi milikmu?”

Pengemis itu tertawa dan berkata, “Aku tidak akan

membunuhmu, tapi kau tetap harus mati!”

Xin Suan berusaha bangun dan berkata, “Ingatlah selama

beberapa bulan ini kita adalah teman, berikanlah…aku obat

penawarnya!”

Pengemis itu tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Kau bergurau

bukan? Kalau aku memberikan obat penawar kepadamu, bukankah

sama dengan aku mengangkat batu dan memukul kakiku sendiri?”

Hawa membunuh si pengemis terasa meningkat, dia mengangkat

pedang dan siap untuk menusuk, tapi sudah beberapa kali tidak bisa

mengenai sasaran, dia mulai marah, “Bocah tengik, kau sudah mau

mati, tapi masih sulit dihadapi!”

Pengemis itu menyerang lagi!

Xin Suan terus berguling-guling di bawah tapi itupun hanya

beberapa kali! Sepertinya sekarang dia sudah tidak bisa menghindar

lagi—

“PUSH!”

Tiba-tiba Xin Suan membuka mulut dan makanan yang tadi

dimakannya disemburkan keluar dari mulutnya, makanan itu seperti

panah keluar dari mulutnya dan menyembur ke wajah si pengemis.

Si pengemis berteriak dan menutup wajahnya lalu diapun

mundur beberapa langkah! Wajahnya seperti terbakar api, tangan

dan kakinya terus bergerak-gerak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tiba-tiba Xin Suan bergerak dengan lincah, dia meloncat dan

tertawa, “Pengemis, akhirnya aku bisa mengenali s ifat aslimu!”

Tubuh si penngemis bergetar dengan cepat dia membersihkan

wajahnya dari muntahan Xin Suan, dia melihat Xin Suan masih

seperti biasa, tidak terlihat ciri-ciri kalau dia terkena racun. Dia

kaget dan berteriak, “Kau—-”

Xin Suan tertawa dingin, “Benar, aku tidak terkena racun, dua

bakpao yang kumakan tadi ada di wajahmu!”

Wajah si pengemis tampak pucat dan bertanya, “Kau memakai

tenaga dalammu untuk menahan racun itu?”

“Benar!”

Si pengemis itu hanya bengong lalu dia bertanya, “Mengapa kau

bisa tahu kalau aku membubuhkan racun di bakpao itu?”

“Tadinya aku tidak tahu, tapi kau terus menerus menjelaskan

tidak akan ada gangguan lagi dan nada bicaramupun berbeda dari

biasanya. Selain itu kau terus menerus menyuruhku makan bakpao,

aku langsung tahu bahwa kau mempunyai rencana jahat kepadaku.”

Xin Suan menarik nafas dan berkata lagi, “Tadinya aku mengira

kau bisa dipercaya, tidak disangka kaupun tidak tahan dengan

godaan uang 100 ribu tail perak. Hal ini benar-benar membuatku

sakit hati!”

Wajah si pengemis menjadi merah dan dia tertawa kecut sambil

berkata, “Entah kau percaya atau tidak sebelumnya aku tidak

pernah melakukan hal yang jahat….”

“Aku percaya.”

“Aku selalu hidup susah tapi hidupku sangat tenang, tapi

mengapa… Hheehh! Sepertinya aku memang sudah tua, aku sudah

tidak berguna lagi, maka timbul keinginan serakah dari dalam

hatiku!”

“Kau menginginkan uang 100 ribu tail perak, selain itu kaupun

ingin membunuhku!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pengemis itu tertawa kecut dan berkata, “Kalau aku tidak

membunuhmu mana mungkin aku bisa mendapatkan uang itu?”

“Orang lain berniat membunuhku, itu tidak aneh, tapi kau sendiri

juga ingin membunuhku, benar-benar membuatku sedih!”

“Sekarang kau tidak perlu bersedih lagi.”

“Tidak, aku masih merasa sangat sedih!”

“Aku bisa membuatmu tidak merasakan sedih.”

“Tidak, selamanya aku tidak akan bisa melupakan peristiwa ini.”

“Walaupun aku harus mati, apakah kau tetap tidak akan bisa

melupakannya?”

“Aku tidak akan membunuhmu!”

“Tapi aku akan membunuh diriku sendiri!” Setelah bicara seperti

itu pedang yang masih dipegangnya ditusukkannya ke perutnya

sendiri.

Xin Suan terpaku dan hanya berkata, “Kau—-”

Sambil tertawa pengemis itupun roboh

0-0-dwkz-0-0

Kereta berjalan lagi, hari hampir subuh, kereta sudah hampir tiba

di Ju Rong. Di kota itu Xin Suan beristirahat selama setengah hari

lalu berangkat lagi….

Sepanjang perjalanan tidak terjadi sesuatu. Hari kedua siang,

kereta sudah tiba di Jin Ling dan perjalanan sangat lancar!

Setelah kereta tiba di sebuah perempatan jalan, Xin Suan baru

teringat bahwa dia tidak tahu ke mana dia harus menyerahkan

barang bawaannya, karena itu dia berhenti di sisi jalan.

Hari itu saat dia menerima barang itu dari Wang Ye dia pernah

bertanya, “Kalau barang antaran sudah tiba di Jin Ling, harus

diserahkan kepada siapa?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Serahkan langsung kepadaku, aku akan menunggumu di sana!”

Sekarang Xin Suan sudah tiba di Jin Ling, mengapa dia belum

melihat kedatangan Wang Ye?

Sewaktu Xin Suan sedang berpikir, ada seorang gadis muncul di

hadapannya. Ternyata gadis itu adalah Shui Xian Hua!

Xin Suan melihat Shui Xian Hua, hatinya bergetar dan bertanya,

“Shui Xian Hua, kau…. Mengapa kau bisa berada di sini?”

Shui Xian Hua tertawa, “Apakah kau merasa aneh?”

“Aku berharap kau tidak mempunyai keinginan untuk mengambil

peti besi ini lagi walaupun di sini termasuk wilayah ibu kota, kalau

perlu aku akan tetap membunuhmu.”

“Aku datang bukan untuk merampok peti besi itu.”

“Lalu untuk apa kau datang ke sini?”

“Aku ingin memberitahumu satu hal.”

“Apa?”

“Aku sudah mengambil keputusan untuk menikah denganmu.”

Xin Suan tertawa, “Apakah benar perkataanmu itu?”

“Benar!”

“Mengapa bisa seperti itu?”

“Karena kau adalah pemuda hebat di antara orang-orang yang

pernah kutemui.”

Xin Suan tertawa dan berkata, “Akupun harus memberitahu

sesuatu.”

“Katakan saja.”

“Hari ini mungkin aku bisa mendapatkan uang 100 ribu tail perak

sebagai honorku, aku sudah mengambil keputusan, dengan uang ini

aku akan membelikan beras dan keperluan lainnya lalu

mengirimkannya ke Shan Dong untuk menolong orang-orang yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

terkena bencana. Kalau kau mau menikah denganku karena uang

100 ribu tail ini, kau salah besar!”

“Mungkin kau belum tahu, aku Shui Xian Hua adalah gadis kaya

di dunia persilatan, harta bendaku paling sedikit bernilai 500 ribu tail

perak, karena itu honormu yang sebesar 100 ribu tail perak tidak

ada artinya bagiku!”

“Oh ya?”

“Aku ingin menikah denganmu karena kau adalah seorang

pemuda berbakat dan menonjol, aku tidak mau kehilangan

kesempatan ini.”

“Kata-katamu benar-benar membuatku terkejut.”

“Apakah kau tidak percaya kepadaku?”

“Sedikit.”

“Dengan cara apa aku bisa membuatmu percaya?”

“Ceritakan dengan jelas, apa alasan yang membuatmu berubah

pikiran?”

“Waktu itu aku telah mengorbankan tubuhku untuk ditukar

dengan peti besi itu, aku melakukan semua ini karena diperintahkan

oleh Pan Long Da Xia, aku pribadi tidak menginginkan peti besi itu.”

“Untuk membantu orang lain, apakah kau tidak merasa apa yang

telah kau korbankan itu terlalu banyak?”

“Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku…tidak tahu,

mengapa aku tidak bisa membunuhmu. Mungkin ini adalah….”

“Terakhir bagaimana?”

“Terakhir aku berpikir dengan lama. Aku ingin pergi ke

Penginapan An Fu di Ji Nan dan menunggumu, tapi itu harus

menunggu beberapa bulan lagi, karena itu aku sengaja ke Jin Ling

supaya bisa bertemu langsung denganmu.”

“Oh….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kau masih tidak percaya?”

“Setengah percaya setengah tidak.”

“Aku tahu, kau masih belum bisa percaya sepenuhnya kepadaku,

tapi bila kita sudah benar-benar menikah, aku akan membuktikan

perasaanku.”

“Bagaimana caramu membuktikannya?”

“Pertama. Aku akan pergi ke penginapan dan menunggumu di

sana, setelah kau menyerahkan barang itu kau bisa mencariku.

Kedua, kalau honormu sebesar 100 ribu tail perak kau belanjakan

untuk menolong orang yang terkena bencana, aku akan

menyumbangkan 100 ribu tail perak sebagai tambahan.”

“Apakah benar?”

Shui Xin Hua mengangguk.

“Baiklah, tunggulah aku di penginapan.”

Shui Xin Hua tertawa dan masuk ke penginapan yang ada di

depan jalan.

Melihat Shui Xin Hua masuk ke dalam penginapan, Xin Suan

merasa sangat senang, diam-diam dia berpikir, “Mengapa bisa

seperti itu? Di mana letak kebaikanku? Apa yang dia suka dari

diriku? Apakah ini adalah anugrah dari Tuhan?”

Tiba-tiba datang seseorang menunggang kuda, lalu berhenti di

depannya. Orang itu memakai baju prajurit, dia melihat kereta Xin

Suan dan bertanya, “Apakah kau adalah Xin Suan?”

Xin Suan mengangguk dan menjawab, “Benar!”

“Apakah peti besi itu sudah ada di sini?”

“Benar.”

Segera prajurit itu berkata, “Silakan ikuti aku.”

“Apakah Tuan adalah….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Prajurit itu berkata, “Aku diperintahkan oleh Wang Ye untuk

menjemput Anda, cepat ikuti akui”

Dia sudah berjalan di depan. Xin Suan membawa keretanya

mengikuti dari belakang, sambil bertanya, “Permisi, sekarang Wang

Ye berada di mana?”

“Di rumah Wang Ye sendiri,” jawab prajurit itu.

“Di mana letak rumah Wang Ye.”

“Dekat Jin Zhuan Men.”

Kecurigaan Xin Suan mulai mereda, dengan tenang dia mengikuti

prajurit itu dari belakang. Kurang lebih 30 menit kemudian mereka

tiba di Jin Zhuan Men, berhenti di depan sebuah rumah mewah.

Prajurit itu turun dari kuda dan berkata, “Harap Anda menunggu

sebentar di sini, aku akan melapor dulu.”

Xin Suan mengangguk, prajurit itu masuk, kira-kira

seperminuman teh, prajurit itu baru keluar dan berkata, “Bawalah

kereta itu masuki” Xin Suan membawa keretanya masuk dan

berhenti di depan sebuah rumah yang bentuknya seperti istana. Di

depan rumah itu berdiri seorang pak tua. Xin Suan mengenalnya,

dia adalah orang yang tempo hari ditemui di Nan Ping Shan, dan

orang yang mempertemukan dia dengan Wang Ye. Xin Suan tahu

bahwa orang itu adalah orang terdekat Wang Ye. Dia turun dari

kereta dan langsung memberi hormat. Pak tua itu tertawa dan

berkata, “Xin Suan, aku kagum kepadamu, kau benar-benar

mempunyai kekuatan yang hebat!”

“Terima kasih untuk pujian Anda, Tuan adalah….”

Pak tua itu menjawab, “Aku bermarga Xu, aku adalah penasihat

Wang Ye.”

“Ternyata Anda adalah Penasihat Xu, sewaktu di Nan Ping Shan

aku belum mengenal Tuan, aku mohon maaf.”

“Tidak perlu merasa sungkan, apakah benda itu sudah sampai?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Benar! Ada di dalam kereta.”

“Baiklah, tolong diturunkan!”

“Wang Ye berada di mana?”

“Pagi ini raja memanggilnya ke istana.”

“Oh….”

Penasihat Xu tertawa dan berkata, “Tenanglah, Wang Ye

memerintahkan kepadaku untuk mencarimu, honormu sebesar 100

ribu tail sudah dipersiapkan untukmu.”

Mendengar perkataan Penasihat Xu, Xin Suan segera

menurunkan peti besi itu dari kereta.

Racun yang dioleskan di peti besi itu sudah dibersihkan semenjak

pengemis tua itu mati.

Penasihat Xu menuruni tangga, berjalan mendekati peti besi itu

dan berkata, “Apakah peti ini pernah dibuka?”

“Tidak pernah, Penasihat Xu boleh memeriksanya kalau tidak

percaya dengan omonganku.”

Penasihat Xu tertawa dan berkata, “Tidak Perlu, sebenarnya peti

besi itu tidak berharga, dibuang ke jalanpun tidak akan ada yang

mau!”

“Apakah benar?”

Penasihat Xu tertawa, “Benar, kalau kau mau aku akan

membukakannya supaya kau bisa melihat isinya.”

“Oh ya?”

Dari balik baju bagian dada Penasihat Xu, dia mengeluarkan

sebuah kunci dan membuka gembok besar itu, kemudian sambil

tertawa dia berkata, “Bukalah!:”

“Apakah boleh?”

“Sudah pasti boleh!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Sewaktu Xin Suan akan membuka peti itu, tiba-tiba dia

mengurungkan niatnya dan berkata, “Tidak, yang membuatku

tertarik adalah honornya, bukan isi peti ini.”

“Apakah kau tidak ingin tahu apa isi peti ini?”

“Kalau aku melihat isi peti ini aku tidak dapat mengambil

honornya….”

Penasihat Xu tertawa terbahak-bahak, “Tidak akan, kalau kau

masih merasa khawatir, aku akan memberikan honornya dulu

kepadamu.”

Dari dalam lengan bajunya, Penasihat Xu mengambil selembar

cek dan berkata, “Ini adalah uang 100 ribu tail, kau bisa

mencairkannya di bank Jing Shan di kota bagian barat.”

Dengan teliti Xin Suan melihat cek itu, sepertinya tidak ada

masalah, dia menyimpan di balik bajunya kemudian bertanya,

“Kapan Wang Ye akan pulang?”

“Aku tidak tahu, sekarang semua sudah selesai, kaupun tidak

perlu bertemu dengan beliau lagi!”

“Kalau begitu aku pamit dulu.”

Xin Suan memberi hormat dan naik ke atas kereta. Penasihat Xu

tiba-tiba memanggil, “Xin Suan!”

“Apakah Anda masih ada petunjuk lain?”

Penasihat Xu menunjuk peti besi itu dan bertanya, “Apakah benar

kau tidak mau melihat isi peti besi itu?”

“Aku tidak tertarik.”

“Kau menjaga benda ini dengan nyawamu, apakah benar kau

tidak ingin tahu?”

“Tanpa melihatnyapun aku sudah tahu apa isinya.”

“Oh ya? Coba kau katakan apa isinya?”

“Dokumen, apakah benar?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Penasihat Xu tertawa terbahak-bahak, “Bukan! Bukan!”

Xin Suan terpaku, “Bukan?”

“Bukan.”

“Kalau bukan dokumen, pasti suatu barang bukti bukan?”

“Juga bukan.”

“Perhiasan?”

“Lebih-lebih bukan.”

Xin Suan merasa aneh dan bertanya, “Kalau begitu apakah isinya

adalah mayat?”

Penasihat Xu tetap menggelengkan kepalanya, “Mayat tidak akan

berharga 100 ribu perak!”

Karena merasa aneh akhirnya Xin Suan membuka tutup peti itu,

begitu melihat benda ada di dalam peti, wajahnya berubah dan

berteriak, “Ini—”

Ternyata benda yang ada di dalam peti itu benar-benar bukan

barang berharga. Benda itu hanya tanah berwarna kuning.

Sebuah peti yang dipenuhi dengan tanah Wang Ye memberikan

honor 100 ribu tail hanya untuk mengantar benda ini, ada apakah

sebenarnya di balik semua kejadian ini?

Orang-orang yang muncul sepanjang perjalanan berusaha

merebut peti besi ini apakah semua itu hanya karena tanah kuning

ini?

“Tidak mungkin, di bawah tanah ini pasti ada benda lainnya!”

Terpikirkan hal itu, Xin Suan segera membalikkan peti besi itu

dan menumpahkan semua tanah kuning itu keluar dari peti, begitu

melihat hasil perbuatannya, dia lebih terpaku lagi.

Karena di dalam tanah itu tidak ada benda apapun, semua hanya

tanah berwarna kuning.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Melihat wajah Xin Suan begitu terkejut, Penasihat Xu tertawa

terbahak-bahak.

Xin Suan terpaku, akhirnya diapun ikut tertawa kecut dan

berkata, “Sekarang aku sudah mengerti.”

“Kau sudah mengerti?”

“Benar, ini hanya akal-akalan saja, benar kan?”

“Benar.”

“Sedangkan barang yang aslinya sudah sampai di tempat

tujuan?”

“Benar!”

Xin Suan mengangkat bahu dan berkata, “Wang Ye memang

banyak akal, aku benar-benar kagum kepada beliau.”

“Ini adalah rencana yang kususun untuk Wang Ye.”

“Ternyata seperti itu, ternyata ini adalah rencana yang disusun

oleh Penasihat Xu?”

“Benar.”

“Kalau ini adalah rencana Penasihat Xu, aku ingin mengeluarkan

kemarahanku dulu.”

“Apa?” baru saja kalimat ini selesai diucapkan, dagu Penasihat Xu

sudah terkena pukulan, dan Penasihat Xu melayang ke tempat

jauh….

0-0-dwkz-0-0

Xin Suan membawa keretanya kembali ke penginapan di mana

Shui Xian Hua menginap.

Dengan cepat seorang pelayan keluar untuk menyambutnya lalu

bertanya, “Tuan, Anda hanya sekedar beristirahat atau mau

menginap?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Aku belum pasti, aku ingin mencari seorang seorang gadis yang

bernama Shui Xian Hua.”

“Oh, dia ada di kamar nomor lima, apakah Anda ingin menyuruh

Nona itu keluar?”

“Boleh, tolong panggilkan dia keluar.”

Hanya dalam waktu singkat Shui Xian Hua sudah keluar.

Dia tertawa seperti sekuntum bunga, “Apakah urusanmu sudah

selesai?”

“Benar!”

“Di mana uang 100 ribu tail perakmu?”

“Ada di dalam kereta.”

“Benarkah beliau memberikannya Padamu?”

“Kalau beliau tidak memberikannya Padaku, aku akan

membunuhnya!”

“Peti besi itu….”

“Jangan bicarakan tentang peti besi itu lagi!”

“Apakah kau tahu apa isi peti besi itu?”

“Aku tahu!”

“Apakah itu?”

“Kelicikan.”

“Apa?”

“Kelicikan.”

“Kau tertipu?” Shui Xian Hua tertawa.

“Tidak, aku tetap mendapatkan uang 100 ribu tail, tujuan

semulaku memang hanya ingin mendapatkan uang 100 ribu tail itu.”

“Apakah kau tidak mau masuk?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kalau kau mau, aku ingin segera meninggalkan tempat ini, pergi

dari kota ini untuk mencari udara bersih.”

“Lalu bagaimana?”

“Mengikuti rencana semula.”

“Di mana kau akan membeli beras dan makanan?”

“Beli di sepanjang Ji Nan pun tidak apa-apa.”

“Aku akan menambahkan 100 ribu tail perak, mungkin dengan

sejumlah uang itu bisa menolong banyak orang.”

“Sebisa mungkin kita tolong mereka.”

Shui Xian Hua mengeluarkan uang dan memberikan kepada

pelayan supaya dia membayarkan biaya penginapan. Kemudian

diapun naik ke atas kereta dan berkata, “Ayo kita pergi!”

Kereta sudah keluar dari Jin Ling mereka berjalan menuju tempat

yang lebih jauh dan lebih sulit.

Xin Suan menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Udara di luar

kota lebih bersih daripada udara di dalam kota.”

“Apakah ada yang membuatmu kesal?”

“Ya….”

“Bukankah tadi kau mengatakan tujuanmu hanya mencari uang

100 ribu tail? dan sekarang tujuanmu sekarang sudah tercapai.”

“Benar!”

“Kalau begitu mengapa kau masih belum merasa puas?”

“Tidak, aku sudah merasa puas.”

“Jangan berbohong, aku bisa melihat situasi hatimu, saat ini

hatimu sedang tidak enak!”

Xin Suan melihatnya dan berkata, “Coba kau tebak, mengapa

hatiku tidak enak?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kau merasa telah diperalat oleh orang lain, dan merasa telah

melakukan hal bodoh, apakah tebakanku benar?”

“Aku sudah memukulnya.”

“Apakah setelah memukulnya kau bisa melampiaskan kekesalan

hatimu?”

“Sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi!”

“Apa isi peti itu?”

“Sudah kukatakan itu adalah sesuatu licik!”

“Apakah isi peti itu adalah benda yang tidak berharga?”

Xin Suan tidak menjawab.

“Wang Ye itu tidak mengerti tentang dirimu, kalau beliau tahu

kau sanggup mengantarkan peti itu sampai di Jin Ling, dia tidak

perlu menggunakan cara seperti ini.”

Xin Suan mengerutkan dahi dan berkata “Shui Kian Hua, kalau

kau terus bawel, aku akan mengusirmu turun dari kereta!”

Shui Xian Hua tertawa dan berkata “Baiklah, aku tidak akan

bicara lagi, tapi mungkin ada satu hal yang membuatmu ingin tahu.”

“Tentang apa?”

“Seseorang yang lainnya yang Wang Ye pakai.”

“Kau mengatakan apa tadi?”

“Kau harus tahu, Wang Ye memang mempunyai peti besi yang

harus diantar sampai ke Jin Ling, beliau menyewamu dan juga

menyewa orang lain untuk mengantarkan peti yang asli.”

“Siapakah orang itu?”

“Wu Xing Jian Ke Gu Shi!” Xin Suan terpaku kemudian dia

tertawa terbahak-bahak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kata Shui Xian Hua, “Jangan tertawa ini adalah hal yang

sebenarnya, Wang Ye benar-benar telah memberikan barang aslinya

kepada Gu Shi, dan menyuruh yang mengantarkannya”

Xin Suan tetap tertawa terbahak-bahak.

0-0-dwkz-0-0

BAB 5

Pedang tanpa tandingan

Kata Shui Xian Hua, “Wang Ye menganggap Wu Xing Jian, Ke Gu

Shi (Pendekar pedang tanpa wujud, Ke Gu Shi) mempunyai ilmu

silat lebih tinggi dibandingkan dengan dirimu, maka bingkisan yang

asli dijaga dan diantar olehnya, karena Gu Shi memang seorang

pendekar terkenal sedangkan kau hanya seorang pemuda yang

tidak memiliki nama.”

Suara tawa Xin Suan berubah menjadi rendah dan dia bertanya,

“Bagaimana kau bisa mengetahui hal ini?

“Dua hari yang lalu, kami baru mendapatkan kabar sebenarnya.”

“Kami?” tanya Xin Suan sambil mengerutkan dahinya.

“Benar, yang termasuk kami di sini adalah Pan Long Da Xia, Huo

Ru Feng dan puluhan teman lainnya, dan aku adalah salah satu dari

mereka.”

Sambil tertawa dingin Xin Suan berkata, “Sepertinya kau tidak

benar-benar mau menikah denganku, kau masih tetap

menginginkan peti besi itu bukan?”

“Dua keinginan itu tetap ada, aku memang benar-benar ingin

menikah denganmu sekaligus juga ingin merebut peti besi itu dari

tanganmu.”

Dia membalikkan badan dan dengan serius memandang Xin Suan

lalu berkata, “Xin Suan, sebenarnya kau yang orang seperti apa?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Apakah di dalam hatimu kecuali uang sejumlah 100 ribu tail, tidak

ada hal yang lainnya?”

Xin Suan terpaku, dengan bingung dia bertanya, “Apakah kau

ingin meminta sesuatu kepadaku?”

“Benar,” jawab Shui Xian Hua dengan tegas.

“Aku tidak mengerti.”

“Apakah kau akan mendengar perkataanku ?”

“Baiklah, katakan saja.”

“Sekarang aku tanya padamu, apakah kau berasal dari suku

bangsa Han?”

“Benar.”

“Sekarang kau hidup di bawah kekuasaan suku bangsa apa?”

Wajah Xin Suan bergetar dan dengan suara kecil dia menjawab,

“Suku bangsa Man Zhou.”

“Benar, sekarang jarak kematian raja terakhir Dinasti Ming sudah

berlangsung selama 60 tahun lebih, banyak orang sudah melupakan

sebenarnya dia berasal dari suku bangsa apa.”

“Benar, aku sendiripun jarang memikirkan hal ini.”

“Pantas, sebelum kau berkelana di dunia persilatan, waktumu

pasti dihabiskan untuk berlatih ilmu silat dan kau tidak memiliki

waktu untuk memikirkan hal lain.”

“Benar, memang seperti itu.”

“Tapi di dunia persilatan banyak orang yang ingin menggulingkan

Dinasti Man Qing lalu mendirikan kembali Dinasti Ming, mereka tidak

peduli dengan hidup dan mati mereka sendiri, apakah dia untung

atau rugi, mereka terus melakukan hal ini.”

“Siapakah otak semua gerakan ini?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Sekarang aku tidak bisa memberitahumu, yang ingin

kusampaikan kepadamu adalah bahwa kami sedang melakukan

sebuah rencana, kalau sukses, keadaan akan berubah.”

“Teruskan ceritamu.”

“Raja sekarang sudah tua, dia sudah tidak bisa lebih lama lagi

menguasai kerajaan, menurutmu, setelah dia wafat, siapa yang

berhak untuk menjadi raja selanjutnya?”

“Aku tidak tahu.”

“Raja mempunyai banyak putra, sekarang mereka terbagi

menjadi 3 kelompok, yang satu adalah kelompok pangeran ke-2,

didukung oleh pangeran ke-3, yang satu lagi adalah kelompok

pangeran ke-8, didukung oleh pangeran-ke 1, ke-9, ke-10, dan ke-

14. Sedangkan yang satunya lagi adalah kelompok pangeran ke-4,

didukung oleh pangeran ke-13 dan ke-17, di antara kelompokkelompok

itu, pangeran ke-8 lah yang paling kuat, tapi kami melihat

pangeran ke-4 lah yang paling memiliki harapan. Karena pangeran

ini sangat pintar dan berbakat, beliau bukan orang sembarangan.

Kalau posisi raja diduduki olehnya, maka keadaan akan menjadi

kacau.”

“Mengapa dia tidak disingkirkan saja?”

“Kami sudah beberapa kali mencobanya tapi selalu saja gagal. Di

satu pihak, istana sangat sulit dimasuki pihak luar, di pihak lain ilmu

silat pangeran ke-4 sangat tinggi, membunuh pangeran ke-4 bukan

hal yang mudah.”

“Kalau begitu, apa rencana kalian selanjutnya?”

“Berdasarkan hasil perundingan, kami akan membantu pangeran

ke-14 untuk merebut posisi raja.”

“Bukankah pangeran ke -14 mendukung pangeran ke-8?”

“Benar, tapi kami ingin membantu beliau mendapatkan posisi

raja.”

“Apa maksudmu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Pangeran ke-14 sangat lemah juga tidak berguna, dia tidak

memiliki pendirian, bila beliau menjadi raja, kerajaan Man Qing akan

kacau, kita baru memiliki kesempatan untuk memberontak.”

“Apakah kalian yakin dia bisa berhasil?”

“Benar, raja sangat menyukai pangeran ke-8, karena itu raja

memerintahkan pangeran ke-8 menjadi jenderal dan menguasai

banyak prajurit, dan dengan jasa-jasanya, dia akan mendapatkan

banyak dukungan, itu artinya raja memiliki maksud tertentu, ingin

memberikan kedudukan raja kepadanya.”

“Bagaimana dengan pangeran ke-14, seperti apakah dia?”

“Dia tidak mempunyai ambisi, tapi setelah kami terus

mendorongnya, beliau baru mengambil keputusan untuk tidak

mendukung pangeran ke-8 dan bermaksud mendirikan kelompok

sendiri.”

“Apakah beliau tahu tujuan kalian?”

“Tentu saja tidak tahu.”

“Sekarang rencana kalian sudah mencapai tahap mana?”

“Tadinya semua berjalan dengan lancar, tapi karena ada yang

membocorkan rahasia kami dan diketahui oleh mata-mata pangeran

ke-4, akhirnya catatan pangeran ke-14 jatuh ke tangan mata-mata

pangeran ke-4.”

“Catatan mengenai apa?”

“Semua daftar orang-orang yang mendukungnya.”

“Dalam peti besi itu berisi daftar nama orang-orang itu?”

“Benar.”

“Setelah pangeran ke-4 mendapatkan daftar nama itu, apa yang

akan terjadi nantinya?”

“Dia akan melaporkan semuanya kepada raja dan menuduh

pangeran ke-14 berniat memberontak dan menggulingkan kerajaan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dia juga akan menangkap orang-orang yang namanya tertulis di

dalam daftar itu.”

“Bagaimana dengan Wang Ye yang tinggal di Hang Zhou….”

“Dia adalah pangeran ke-13. Semenjak mata-mata pangeran ke-4

berhasil mendapatkan daftar nama itu, dia lari dan bersembunyi di

wisma pangeran ke-13. Kami sudah beberapa kali berniat untuk

mencuri tapi tidak pernah berhasil. Pangeran ke-13 takut daftar

nama itu akan direbut kami, maka dia menyewa orang Untuk

mengantarkan daftar itu ke ibukota, lalu Memberikannya kepada

pangeran ke-4.”

“Tapi Jin Ling bukan ibukota!”

“Benar, pangeran ke-13 menyuruhmu mengantarkan peti besi itu

ke Jin Ling hanya untuk menutupi keadaan sebenarnya, setelah au

berangkat, dia menyuruh Wu Xing Jian Ke, Gu Shi secara diam-diam

berangkat ke utara membawa daftar nama itu. Ternyata kami baru

mengetahuinya dua hari yang lalu.”

“Sekarang kita harus bagaimana?”

“Tentu saja kita harus merebut kembali daftar nama itu dari Gu

Shi!”

“Daftar nama itu sudah jatuh ke tangan pangeran ke-13, apakah

dia tidak menyuruh agar memperbanyak daftar nama itu?”

“Mungkin saja, karena itu orang-orang kami dengan ketat

mengepung wisma itu? Siapapun yang masuk dan keluar dari wisma

itu tidak akan kami lepaskan.”

“Dimana sekarang Wu Xing Jian Ke Gu Shi berada?”

“Katanya sekarang dia ada di kota Huai Yin.”

“Apakah orang-orang kalian sudah mengejarnya sampai ke

sana?”

“Benar, kami saling memberi kabar dengan bantuan merpati pos

kepada Guan Shi Shuang Xiong (Sepasang laki-laki marga Guan)

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

yang ada di Propinsi Shan Dong, menyuruh mereka dengan segala

cara menghalangi Gu Shi, tapi aku yakin Guan Shi Shuang Xiong

tidak mungkin bisa menahannya, orang yang mengejarnya juga

tidak akan sanggup melawan Gu Shi….”

“Siapa yang mengejar ke sana?”

“Dong Hai Xian Niang Nian Cai Xia dan Jin Dao Wang (Raja golok

emas) Hong Jiu.”

“Di mana Pan Long Da Xia?”

“Kedua tangannya yang membusuk belum sembuh.”

Xin Suan menghentikan keretanya di sisi jalan, diam-diam dia

berpikir, setelah itu baru berkata, “Apakah kau berharap aku pergi

ke sana untuk menghadapi Gu Shi?”

Shui Xian Hua mengangguk, “Benar, maksud Pendekar Huo

adalah bila kau membutuhkan honor sebesar 100 ribu tail perak,

aku akan memberikannya kepadamu.”

Xin Suan dengan pelan berkata, “Aku tidak membutuhkan uang

100 ribu tail, aku hanya membutuhkan seekor kuda yang bagus dan

sehat!”

Shui Xian Hua merasa sangat senang, segera dia turun dari

kereta dan melambaikan tangannya, dalam waktu singkat terlihat

ada seekor kuda datang beserta dengan penunggangnya, dan dia

membawa seekor kuda yang lain, dengan cepat datang ke arah

mereka.

Melihat keadaan itu Xin Suan tertawa dan berkata, “Sepertinya

kau sudah mempersiapkan semua ini, hanya menunggu aku setuju

saja!”

“Benar, karena waktunya sudah sangat mendesak.”

Dari dalam kereta Xin Suan mengeluarkan sebuah peti besi yang

kelihatan berat dan berkata, “Aku sudah menukar uangnya dengan

emas….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Sulit membawannya bila naik kuda, serahkan saja kepada

orang-orang kami.”

Xin Suan tampak begitu tenang dan berkata, “Menyerahkannya

kepada orang kalian?”

Dari baju bagian dadanya Shui Xian Hua mengeluarkan selembar

cek dan memberikannya kepada Xin Suan sambil berkata, “Ini

adalah cek seharga 100 ribu tail, kau bisa menukarnya antuk

mengambil uang di Ji Nan.”

Xin Suan melihat cek itu kemudian berkata, “Baiklah, emas yang

ada di dalam peti besi ini menjadi milik kalian.”

Orang yang membawa kuda sudah sampai di depan mereka.

Shui Xian Hua berkata kepada si penunggang kuda itu, “Wang

Yong, bawalah kereta ini, di dalam kereta ada peti besi, serahkanlah

kepada Pendekar Huo.”

Segera penunggang kuda itu turun dan membawa kereta itu

pergi. Shui Xian Hua membawa dua ekor kuda yang dibawa oleh

Wang Yong dan salah seekor kuda itu diberikan kepada Xin Suan

sambil berkata, “Mari kita berangkat sekarang!”

Setelah menaiki kudanya, mereka segera memacu kudanya

supaya berlari dengan kencang.

0-0-dwkz-0-0

Seekor kuda putih yang gagah berlari dengan cepat. Kuda itu

sedang berlari di sebuah jalan kecil di Shan Dong.

Penunggangnya adalah seorang pemuda berusia kira-kira 27

tahun. Alisnya panjang, matanya seperti ular, hidungnya seperti

paruh burung, dan mengenakan baju putih. Di pinggangnya terselip

sebuah pedang panjang yang dimasukkan ke sebuah sarung yang

terbuat dari kulit ular.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Sewaktu kuda sedang berlari dengan cepat tiba-tiba meluncur

sebuah panah dari hutan dan diarahkan ke perut kuda putih itu.

Kuda itu meringkik kemudian kaki depannya diangkat tinggitinggi

dan hanya dalam waktu sebentar kuda itu langsung ambruk

ke tanah.

Pemuda berbaju putih itu bergerak dengan lincah, begitu kaki

depan kuda itu terangkat, dia sudah melepas sadel dan seperti

sebuah awan putih dengan ringan meloncat turun dari kudanya.

Menghadapi perubahan secara tiba-tiba ini dia sama sekali tidak

merasa kaget atau takut, dia tampak tenang seperti tidak pernah

terjadi sesuatu. Dia menghampiri kuda putihnya dan melihat ada

anak panah yang menancap di perut kuda itu, dia menggelengkan

kepalanya dan berkata, “Sungguh sayang….”

Kemudian dia berjongkok dan mengelus kepala kudanya.

Kuda putih yang dielus kepalanya oleh pemuda itu langsung

bergetar tubuhnya, kedua matanya membuka dengan besar

kemudian mati.

Pemuda itu berjongkok dengan diam, melihat kuda putihnya

sudah mati, agak lama dia baru mencabut panah itu. Dia

membalikkan tubuhnya dan tangannya tampak melempar sesuatu—

Panah bergerak secepat kilat masuk kembali ke dalam hutan.

“Aduh!” dari dalam hutan terdengar ada yang berteriak

kesakitan.

Begitu panah dilempar, diapun ikut meloncat, terlihat pemuda itu

sudah masuk ke dalam hutan dan menghilang.

Hanya sekejap.

Hu!!

Sesosok bayangan keluar dan terbang keluar dari dalam hutan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tidak! Bukan terbang tapi dilempar keluar dari dalam hutan,

seperti melempar suatu benda berat kemudian terjatuh dengan

bunyi berdebum ke bawah.

Kemudian pemuda berbaju putih itu menyusul keluar dari dalam

hutan, kembali ke jalan tadi, kakinya menginjak orang yang tadi

dilemparnya.

Orang itu seorang laki-laki berbadan tegap.

Tapi dilengannya terlihat ada sebuah panah yang menembus

tangannya.

Yang paling membuatnya tidak tahan adalah kaki yang menginjak

dadanya, kaki itu menekan dadanya sehingga sulit baginya untuk

bernafas.

“Aduh… aduh.. .aduh….”

Laki-laki tegap itu seperti seekor sapi yang siap disembelih, kaki

dan tangannya terus bergerak-gerak, dari tenggorokannya keluar

suara rintihan yang memilukan!

Pemuda berbaju putih itu menatap langit dan dengan dingin

berkata, “Kau bukan perampok biasa, cepat katakan siapa kau

sebenarnya?”

Laki-laki berbaju tegap itu tidak mau menjawab.

Kaki pemuda itu semakin keras menginjak dadanya.

“Aduh… aduh… aduh….”

Suara laki-laki itu semakin besar dan semakin memilukan, wajah

coklatnya sekarang berubah menjadi pucat seperti kertas!

Pemuda berbaju putih itu mengurangi jnjakannya dan berkata,

“Kuberi kesempatan bicara dan ini adalah terakhir kalinya!”

Tapi laki-laki itu malah menjawab,

“Bunuh saja aku!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pemuda berbaju putih itu berkata, “Tentu saja aku akan

membunuhmu, tapi mati ada beberapa macam, ada yang mati

dengan cepat, ada yang mati dengan tidak nyaman, kau mau

mencoba yang mana?”

Laki-laki itu berkata, “Bocah, lakukan saja!”

Pemuda berbaju putih itu tersenyum dan berkata, “Baiklah!”

Tangannya terarah ke belakang pundaknya dan mencabut

pedangnya yang panjang, dia meletakkan pedang di telinga kiri lakilaki

tegap itu, lalu memotong telinga tersebut.

Sakit sebentar dengan sakit yang berlangsung lama beda

rasanya, dibandingkan pada saat telinganya dipotong, ini adalah

cara menyiksa yang paling kejam!

Tubuh laki-laki itu gemetar karena menahan sakit, teriakannya

seperti seekor babi yang disembelih.

Akhirnya telinga itu terlepas dari tempatnya.

Kemudian pemuda itu meletakkan lagi pedangnya di telinga

kanan laki-laki tegap itu, dia tertawa dan berkata, “Kapan kau akan

bicara katakan kepadaku.”

Kemudian dia siap memotong telinga satunya lagi.

Laki-laki tegap itu sudah tidak tahan dan dia berkata, “Baiklah,

aku akan memberitahumu!”

“Katakan sekarang!:

“Tolong geser kaki dan pedangmu, baru aku akan bicara.”

Kaki digeser dan pedangpun disimpan.

Laki-laki itu membalikkan badan dan berkata, “Margaku Guan,

namaku adalah Ren….”

“Kau adalah Lao Er dari Guan Shi Shuang Xiong?”

“Benar.”

“Apakah di antara kita ada dendam?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Tidak.”

“Tapi mengapa kau berbuat seperti itu kepadaku?”

“Karena kau pantas mati!”

Kata-katanya baru selesai, kedua tangannya sudah menyerang ke

tubuh bawah pemuda berbaju putih.

Ini adalah serangan antara hidup dan mati.

Tapi sayang, baru saja telapaknya mengenai tangan pemuda itu,

kepalanya sudah terlepas, melayang membawa darah yang

berceceran seperti air hujan!

Ini adalah akibat tebasan pedang panjang milik pemuda berbaju

putih itu, gerakan pedangnya benar-benar cepat, hanya sempat

terlihat kilauan pedang, kepala Guan Ren sudah berpindah tempat

dan di permukaan pedang sama sekali tidak terlihat ada noda

darahnya.

Tapi kedua tangan dan kesepuluh jari Guan Ren masih

mencengkram bagian bawah tubuh pemuda itu, walau kepalanya

sudah melayang tapi kedua tangannya masih dengan erat

mencengkram alat vital pemuda berbaju putih itu.

Cengkraman itu membuat pemuda berbaju putih itu kesakitan

wajahnya tampak pucat, dia tertawa dingin, kakinya terangkat dan

menendang ke dada Guan Ren, menendangnya ke tempat yang

jauh.

Sesudah semua dibereskan, dengan mata dingin pemuda itu

melihat ke sekeliling, kemudian dia memasukkan pedangnya ke

dalam sarung dan pergi….

Menjelang malam pemuda berbaju putih itu sudah tiba di kota

Chi Yang, dan memasuki sebuah penginapan.

“Pelayan, aku ingin memesan sebuah kamar yang paling bagus.”

“Ya. Ya.”

“Bantu aku untuk mencari sesuatu.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Ya, silakan Tuan katakan.”

“Ini ada uang 50 tail perak, bantu aku untuk mencari seekor kuda

yang bagus, besok aku akan menggunakannya!”

“Ya. Ya.”

“Apakah kau tahu di mana tempat tinggal Guan Shi Shuang

Xiong?”

“Guan Shi Shuang Xiong?”

“Apakah kau tidak tahu?”

“Aku tidak pernah mendengar nama itu.”

“Dua bersaudara Guan sangat terkenal di Slni, mengapa kau bisa

tidak tahu?”

“Aku benar-benar tidak tahu.”

“Kalau begitu tolong cari tahu alamat mereka di mana, aku akan

memberikan uang kepadamu!”

“Ya, ya, baiklah Tuan. Terima kasih.”

Dengan cepat dia mendapatkan kamar utama, kemudian diapun

mandi di dalam kamar, makan, kemudian naik ke atas ranjang siap

untuk tidur….

Pagi-pagi, setelah sarapan, pelayan masuk ke dalam kamarnya

dan menyapa, “Selamat pagi, Tuan.”

Pemuda berbaju putih itu menyahut dan bertanya, “Di mana

kudaku?”

Pelayan menjawab, “Sudah ada di depan baru saja sampai,

sekarang sedang menunggu Tuan di luar, kudanya sehat dan kuat.”

“Di mana alamat Guan Shi Shuang Xiong?”

“Di Meng Shan bagian barat, bernama Desa Guan.”

“Di mana letak Meng Shan?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Dari s ini Tuan berjalan ke arah timur, kira-kira dalam waktu satu

hari akan bisa sampai di sana.”

Pemuda itu mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas meja,

berkata, “Ambillah!”

Pelayan itu sudah bekerja selama puluhan tahun di penginapan

itu, baru pertama kalinya dia bertemu dengan seorang tamu yang

begitu royal, dia memang berharap mendapatkan uang yang besar,

tapi dia tidak berani langsung mengambilnya, karena itu dia merasa

sangat tidak tenang, tangannya tampak berputar-putar dan berkata,

“Tuan, ini…terlalu banyak, kuda anda hanya seharga 45 tail perak,

aku malah harus mengembalikan s isa uangnya!”

“Sisa uang itu untuk membayar sewa kamar, uang yang ada di

atas meja bisa kau ambil-”

Kata-kata pemuda itu membuat pelayan tidak berani menolak

lagi, sebenarnya pelayan itu tidak berani mengambil, tapi sewaktu

tangannya terulur untuk mengambil uang itu, pemuda itu tiba-tiba

berkata, “Tapi….”

Segera pelayan itu menarik tangannya kembali dan bertanya,

“Apakah Tuan masih ada pesan lain?”

Pemuda berbaju putih itu tampak berpikir sebentar, dengan

dingin dia berkata, “Apakah alamat pemberianmu bisa dipercaya?

Kalau salah aku malah akan terkena masalah di sana.”

Wajah pelayan itu tampak sedikit pucat tapi dia tetap berkata,

“Alamatnya tidak salah, Tuan.”

Pemuda itu segera bersiap-siap berangkat, begitu keluar dari

kamar dia bertanya, “Aku akan berangkat sekarang, mana kudaku?”

Segera pelayan memasukkan uangnya dan dengan cepat keluar

dari kamar, dia berjalan di depan.

Setelah pemuda itu berada di depan penginapan, datanglah

pelayan itu sambil membawa kudanya dengan tersenyum pelayan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

itu bertanya, “Tuan, apakah Anda merasa cocok dengan kondisi

kuda ini?”

Pemuda itu tidak menjawab, tapi dia Segera meloncat ke atas

kuda.

Hari kedua, siang. Dia sudah tiba di Meng Shan bagian barat,

berhenti di depan sebuah rumah. Pelayan itu tidak salah di atas

rumah itu tertulis ‘Rumah Keluarga Guan’.

Pemuda itu turun dari kuda dan mengikat kudanya di sebuah

pohon.

Ada seorang pelayan yang keluar menghampirinya dan memberi

hormat, dengan sopan dia bertanya, “Permisi, apakah Tuan

adalah….”

Dengan dingin pemuda itu menjawab, “Apakah di sini adalah

tempat tinggal Guan Shi Shuang Xiong?”

Pelayan itu menjawab, “Benar, siapa nama Tuan? Ada keperluan

apa Tuan datang kemari?”

Dengan dingin pemuda itu berkata, “Aku ingin bertemu dengan

Guan Yong.”

“Silakan Tuan menyebutkan marga dan nama Tuan, biar aku bisa

melapor.”

“Namaku adalah Gu Shi!”

“Gu…apa?”

“Wu Xing Jian Ke Gu Shi!”

Pelayan itu tampak terkejut dan berkata, “Harap Tuan menunggu

sebentar.” Segera dia masuk kc dalam rumah.

Hanya dalam waktu sebentar datang dua laki-laki setengah baya

keluar dari rumah itu, yang satu wajahnya mirip dengan Guan Ren,

sedangkan yang satunya lagi gagah dan wajahnya dipenuhi dengan

cambang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dengan cepat mereka berjalan ke depan pintu dan bersamasama

memberi hormat kepada Wu Xing Jian Ke Gu Shi, dengan

ramah salah satu dari mereka berkata, “Aku tidak tahu kalau

Pendekar Gu akan datang ke sini, aku minta maaf!”

Wu Xing Jian Ke Gu Shi sangat angkuh, dia tidak membalas

memberi hormat, dengan dingin dia bertanya, “Di antara kalian

berdua siapa yang bernama Lao Da Guan Shi Shuang Xiong?”

Laki-laki yang wajahnya mirip dengan Guan Ren segera

menjawab, “Aku adalah Lao Da.”

Dia menunjuk laki-laki yang wajahnya penuh dengan cambang,

“Dia adalah adikku Guan Ren’.”

Wu Xing Jian Ke, Gu Shi terkejut dan bertanya, “Apa?”

Jawab Guan Yong, “Ini adikku Guan Ren.”

Wu Xing Jian Ke Gu Shi terus melihat ke arah Guan Ren

wajahnya diliputi dengan keanehan dan bertanya, “Kau memiliki

berapa orang adik?”

Jawab Guan Yong, “Teman-teman dari dunia persilatan yang

kenal denganku pasti tahu bahwa aku hanya mempunyai seorang

adik.”

Wu Xing Jian Ke, Gu Shi mengerutkan alisnya dan berkata

dengan dingin, “Ini sangat aneh….”

Guan Yong bertanya, “Mengapa Pendekar Gu merasa aneh?”

“Kemarin saat aku berada di Chi San aku telah membunuh

seseorang dan dia mengaku kalau namanya adalah Guan Ren!”

Guan Yong tertawa dan berkata, “Mungkin hanya secara

kebetulan marga dan namanya sama.”

Wu Xing Jian Ke Gu Shi berkata lagi, “Tidak, dia dengan jelas

mengatakan bahwa dia adalah Guan Shi Shuang Xiong, Lao Er Guan

Ren.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Guan Yong tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Sangat lucu,

kami Guan bersaudara walaupun hanya mempunyai sedikit nama

tapi kami bukan pesilat tangguh tidak disangka ada yang

memalsukan nama Guan bersaudara!”

Guan Ren tertawa dan bertanya, “Pendekar Gu, apakah orang

yang telah memalsukan namaku telah membuat Anda marah?”

Wu Xing Jian Ke Gu Shi mengangguk dan berkata, “Dia

melepaskan panah ke perut kudaku dan kudaku mati.”

Tanya Guan Ren, “Mengapa bisa terjadi seperti itu?”

Wu Xing Jian berkata dengan dingin, “Dia menghalangiku—”

Tiba-tiba dia tidak melanjutkan kata-katanya, dia berjalan ke

arah pohon dan membuka ikatan tali kudanya.

Tanya Guan Yong, “Apakah Pendekar Gu akan pergi?”

Wu Xing Jian Ke Gu Shi mengangguk.

Kata Guan Yong, “Pendekar Gu sudah jauh-jauh datang ke sini,

silakan mampir dulu ke rumahku untuk sekedar minum teh.”

Wu Xing Jian Ke menjawab, “Terima kasih.”

Guan Yong tertawa dan berkata, “Kami dua bersaudara sangat

mengagumi Pendekar Gu, sekarang Pendekar Gu telah datang

kesini, pada kesempatan yang langka ini kami mengundang anda

mampir untuk sekedar minum bersama dengan kami, apakah Tuan

bersedia?”

Jawab Wu Xing Jian “Aku masih ada keperluan lain.”

“Kami tidak akan menghabiskan waktu Anda terlalu lama.”

Wu Xing Jian berubah pikiran, dia kembali lagi ke tempat mereka

dengan tersenyum berkata, “Baiklah, aku akan mengganggu waktu

kalian sebentar.”

Guan Yong segera tertawa dan berkata, “Silakan!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Wu Xing Jian Ke Gu Shi berjalan masuk ke kediaman keluarga

Guan, rumah keluarga Guan besar, mungkin kamar-kamarnya

berjumlah 30 lebih. Anehnya rumah itu tampak sepi hanya terlihat

beberapa orang saja.

Wu Xing Jian Ke Gu Shi sambil berjalan sambil melihat-lihat

keadaan rumah keluarga Guan Yong, dia bertanya, “Mengapa tidak

ada orang di sini?”

Guan Yong balik bertanya, “Apa?”

Jawab Wu Xing Jian Ke Gu Shi, “Orang yang kumaksud!”

Guan Yong tertawa, “Rumah kami tidak terlalu banyak orang,

semuanya hanya berjumlah 12 orang.”

Tanya Gu Shi, “Apakah tidak ada istri?” Guan Yong menjawab,

“Tidak ada!” Wu Xing Jian Ke Gu Shi tertawa dan tidak berkata apaapa

lagi.

Mereka bertiga berada di ruang tamu dan duduk di sana. Pelayan

datang membawakan teh. Guan Yong berpesan agar pelayan

menyiapkan makan siang, kemudian dia mengangkat cangkirnya

dan berkata, “Pendekar Gu, silakan diminum tehnya.”

Dia minum terinya dulu, ini adalah peraturan dunia persilatan,

artinya teh itu tidak beracun.

Kemudian Wu Xing Jian Ke Gu Shi pun ikut minum seteguk, lalu

dia duduk menyandar ke belakang kursi sambil tersenyum, “Sangat

aneh, aku merasa Guan Ren yang kubunuh lebih pantas menjadi

adikmu!”

Guan Yong tertawa, “Begitukah?”

Kata Guan Shi, “Biasanya saudara kandung itu wajahnya lebih

mirip….”

Dia menunjuk Guan Ren yang ada di depannya dan berkata,

“Adikmu ini sama sekali tidak mirip denganmu!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Guan Yong tertawa terbahak-bahak, “Apakah Pendekar Gu curiga

kalau aku telah menipu Anda dengan adik palsu?”

Gu Shi tersenyum tapi tidak berkata apa-apa, sepertinya dia

memang mengakui kecurigaannya.

Guan Yong tertawa lagi, “Kalau kemarin adikku telah terbunuh

oleh Pendekar Gu, walaupun aku tidak mempermasalahkannya, tapi

aku tidak akan mempersilakan Pendekar Gu masuk untuk minum

teh bersama “Seliris dengan kami.”

Gu Shi tertawa dan berkata, “Masuk akal!”

“Karena itu orang yang telah dibunuh oleh Pendekar Gu itu pasti

bukan adikku.”

Gu Shi tetap tersenym tapi tidak menjawab.

“Apakah Pendekar Gu tidak percaya?” tanya Guan Yong.

“Aku percaya.”

“Walaupun ilmu silat kami tidak terlalu tinggi tapi sifat kami tidak

berputar-putar, kalau Pendekar Gu berniat berteman dengan kami,

hal ini akan membuat kami merasa bangga,” kata Guan Yong.

“Temanku tidak banyak, yang paling akrab hanya ada satu…”

kata Guan Shi.

“Siapakah dia?” tanya Guan Yong.

“Aku sendiri,” jawab Gu Shi.

Guan Yong terpaku, kemudian sambil tertawa dia berkata,

“Pendekar Gu pandai bergurau, bila tidak mempunyai teman,

hidupmu di dunia ini menjadi tidak berarti!”

“Tapi aku hidup dengan senang,” jawab Gu Shi.

Guan Yong merasa obrolan mereka menjadi tidak terarah, segera

dia mengganti topik pembicaraan, “Pendekar Gu ada perlu apa

datang ke Shan Dong?”

“Aku hanya kebetulan lewat sini saja,” jawab Gu Shi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Anda akan pergi ke mana?”

“Aku akan ke ibu kota.”

“Aku dengar ilmu pedang Pendekar Gu sangat lihai, tidak

disangka ternyata Anda masih begitu muda!”

“Anda terlalu memuji.”

Tiba-tiba Guan Ren bertanya, “Akhir-akhir ini dunia persilatan

telah muncul seorang anak muda hebat, apakah Pendekar Gu

pernah bertemu dengannya?”

“Siapakah dia?”

“Xin Suan,” jawab Guan Ren.

Gu Shi menggelengkan kepala dan menjawab, “Aku tidak pernah

mendengar tentangnya.”

“Menurut orang-orang, ilmu pedangnya sangat menakutkan,

pedangnya telah membunuh 7 orang pembunuh dari golongan

hitam.”

“Ke tujuh pembunuh itu selain sadis, ilmu silat mereka tidak ada

apa-apanya bila dibandingkan dengan pemuda itu,” jelas Gu Shi.

Guan Ren tertawa dan berkata, “Masih ada satu lagi orang yang

terkenal, mungkin Pendekar Gu pernah mendengar namanya.”

“Siapakah dia?”

“Pan Long Da Xia, Huo Ru Feng,” jawab Guan Ren.

Sambil tertawa sombong Gu Shi berkata, “Di dalam pikiranku,

Pan Long Da Xia bukan orang terkenal!”

“Ilmu silat Pendekar Gu sangat tinggi, kalau digunakan dengan

tepat bisa berguna untuk dunia persilatan,” kata Guan Yong sambil

tertawa.

“Aku hanya tertarik pada satu macam benda—uang!” kata Gu Shi

dengan pelan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Maksud Pendekar Gu, asalkan ada uang apapun akan Anda

lakukan?” tanya Guan Yong sambil tertawa.

“Benar!” Gu Shi mengangguk.

“Kalau begitu, ternyata Pendekar Gu pun seorang….” kata Guan

Yong dengan ekspresi sedikit sedih.

Jawab Gu Shi, “Pembunuh dan juga pengantar Biao.”

“Kalau begitu kali ini Pendekar Gu pergi ke ibukota karena disewa

untuk melakukan suatu bisnis?” tanya Guan Yong.

“Benar!”

“Apakah kami bisa mendengar sedikit ceritanya?” tanya Guan

Yong.

“Tidak, tapi Anda boleh membeli barang yang ada di tanganku,

asalkan cocok harganya, aku akan menjualnya.”

Mata Guan Yong langsung terlihat bersemangat, “Apakah

Pendekar Guan Yong membawa barang berharga?”

“Benda itu berupa daftar nama.”

“Daftar nama apa?”

“Di dalamnya tercatat nama-nama pemberontak, kalau aku

menyerahkannya kepada raja, mereka pasti akan mati.”

“Oh….” kata Guan Yong.

“Aku akan menjual daftar nama ini dengan harga 100 ribu tail

perak, apakah Tuan mau membelinya?”

Guan Yong menggelengkan kepalanya, “Aku tidak

membutuhkannya.”

Gu Shi tersenyum dan berkata, “Kalau Anda membeli daftar

nama ini, bisa menolong banyak orang, termasuk Anda sendiri.”

Wajah Guan Yong tampak berubah dan bertanya, “Apa maksud

Pendekar Gu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gu Shi tertawa dan menjawab, “Anda sangat tidak beruntung,

kemarin aku melihat daftar nama itu dan ternyata nama Anda dua

bersaudara tercantum di dalamnya!”

Guan Yong segera berdiri, wajahnya tampak berubah, sepertinya

dia mulai tidak tenang.

Waktu itu datang seorang pelayan memberitahu, “Tuan,

makanan sudah siap dihidangkan.”

Guan Yong berusaha menahan gejolak hatinya, dan berkata,

“Tuan Gu, ikutlah denganku…”

Belum habis kata-katanya, Gu Shi sudah tertawa, “Guan Yong,

Anda benar-benar bisa menahan diri, aku telah membunuh adikmu,

kau masih bisa mengundangku makan, apa maksudmu?”

Kedua alis Guan Yong tampak berkerut dan berkata, “Pendekar

Gu, Anda salah, adikku sekarang berdiri di depanmu!”

Gu Shi tertawa lagi dan berkata, “Kita tidak sedang

membicarakan adikmu, hari ini aku telah datang ke sini, aku tidak

mau pulang dengan tangan kosong. Daftar nama yang ada di

tanganku apakah benar Anda tidak mau membelinya?”

Dengan serius Guan Yong berkata, “Harganya terlalu tinggi. Aku

tidak sanggup membelinya!”

Gu Shi tertawa dan berkata lagi, “Aku kira harga itu tidak terlalu

tinggi, 100 ribu tail perak bisa membeli beratus-ratus nyawa, harga

itu malah terlalu murah menurutku!”

Tiba-tiba Guan Yong menarik nafas panjang dan berkata,

“Pendekar Gu, apakah Anda adalah suku bangsa Han? Kalau kau

masih memiliki s ifat perikemanusiaan, jangan lakukan hal ini!”

“Jangan banyak bicara, apakah kau mau membelinya atau tidak?”

Gu Shi tertawa dingin.

“Sepuluh ribu tail perak, kami hanya sanggup membayar

sejumlah itu, selebihnya kami tidak sanggup!” kata Guan Yong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gu Shi berdiri dan bertanya, “Untuk terakhir kalinya aku tanya,

apakah benar Anda tidak mau membalas dendam adikmu?”

Sikap Guan Yong menjadi serius lagi, dia seperti berusaha

menahan gejolak hatinya, tapi kali ini dia tidak berhasil

menahannya. Wajahnya mulai terlihat marah dan sedih, kedua

matanya melotot dia berteriak seperti suara gunung api meletus,

“Bocah tengik, jujur bicara, hari ini kau sudah memasuki kediaman

keluarga Guan, jangan harap bisa keluar hidup-hidup dari sini!”

Kata-katanya baru selesai dia sudah berlari ke depan pintu dari

balik pintu dia mengambil sebuah pentungan besi lalu dengan gagah

dia berdiri di depan pintu!

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, “Akhirnya kau sudah tidak bisa

bertahan lagi! Ha ha ha! Kau kira aku mudah ditipu? pergi ke ruang

makan untuk menerima jamuan makan siangmu? Apakah kau kira

dengan arak beracun kau bisa meracuniku? Ha ha ha….”

Guan Yong melotot dan berkata, “Kau adalah seekor anjing yang

sudah terkena penyakit, hari ini aku harus membalaskan kematian

adikku, aku harus membasmi orang jahat dari dunia persilatan!”

Laki-laki yang memalsukan identitas Guan Ren pun sudah

mengeluarkan pecut bajanya dan siap untuk bertarung.

Wajah Gu Shi dipenuhi dengan hawa membunuh, dia tertawa

dan berkata, “Aku tidak mengerti, menurut daftar nama itu, tertulis

beberapa nama pendekar ternama, mengapa mereka tidak datang

sendiri malah menyuruh kalian yang hanya kucing-kucing tidak

berguna?”

Guan Yong tidak menjawab, sekarang keinginannya hanya satu

yaitu membunuh musuh yang ada di depannya, dan berharap

pentungan besi itu bisa memukul Gu Shi sampai tubuhnya hancur

lebur.

Dengan perlahan Gu Shi mengeluarkan pedangnya dan berkata,

“Hati-hati, aku akan mengeluarkan jurus pedangku!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Guan Yong mengangkat pentungan besinya dia sudah memasang

pcsisi siap bertarung.

Laki-laki bercambang itupun mulai memutar pecut bajanya sambil

menunggu pertarungan dimulai.

Dengan tertawa sinis Gu Shi melihat tingkah laku mereka,

wajahnya terlihat angkuh dan kejam, dia berdiri sebentar, kemudian

berteriak seperti binatang, pedang panjangnya tampak berkilau—-

Hanya dalam sekejap Guan Yong hanya melihat kilauan pedang

dan kilauan itu datang seperti gelombang yang menggulung, tapi

sejak awal dia sudah memutuskan untuk bertarung hingga titik

darah penghabisan. Maka dia tidak merasa takut dan tidak akan

mundur lagi, diapun mengeluarkan suara seperti guntur, pentungan

besi itu terus bertahan dan menyerang!

“CING!”

“TANG!”

Dua suara itu saling beradu, terlihat Guan Yong mundur, tubuh

bagian belakangnya menabrak daun pintu sehingga membuat

ruangan itu bergetar.

Di dahinya terlihat luka pedang sepanjang 2 inch, darah keluar

dari luka itu dan mengalir ke wajahnya!

Laki-laki bercambang itu melihat semua kejadiannya, dia terkejut,

dia takut kalau Gu Shi akan mengejar Guan Yong lagi.

Segera dia membentak, “Lihat jurusku!” Dia sudah memainkan

pecutnya dan diarahkan kepada kedua bahu Gu Shi.

Gu Shi hanya tertawa, tubuhnya berputar dan tiba-tiba dia

jongkok, membalikkan tangannya dan membentak, “Putus!”

Wu Xing Jian! (pedang tanpa wujud). Benar-benar Wu Xing Jian.

Terlihat cahaya pedang melewati pinggang laki-laki bercambang itu,

darah segera muncrat dari pinggangnya! Kemudian tubuh laki-laki

bercambang itu terpotong menjadi dua, tidak lama diapun roboh,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

tubuh bagian atas dan tubuh bagian bawah terpisah menjadi dua

bagian, darah keluar seperti air mancur!

Pedang panjang milik Gu Shi tetap terlihat bersih, sama sekali

tidak ada noda darah.

Guan Yong terpaku, matanya menjadi merah, dia berteriak, “Kau

sungguh kejam!”

Diiringi teriakannya, dia sudah bergerak seperti orang gila

menyerang Gu Shi dengan pentungan besinya, memukul ke kiri dan

ke kanan!

Dengan mudah Gu Shi mengangkat pedangnya menahan

serangan Guan Yong, tiba-tiba dia tertawa dan berkata, “Pergi!”

Terdengar suara BUK, pinggang Guan Yong terkena tendangan

Gu Shi dan terbang ke tempat jauh.

Gu Shi tidak segera mencabut nyawa Guan Yong, pedang

panjangnya malah disimpan, dia tertawa, “Guan Yong, aku akan

membiarkanmu hidup, supaya kau bisa memberitahu semua hal ini

kepada Huo Ru Feng, buian ini pada tanggal 15 siang, aku akan

menunggu dia di Ji Nan di rumah makan Tian Xiang, kalau dia

membutuhkan daftar nama ini, bawalah uang sejumlah 100 ribu tail

perak!”

Setelah itu dia pergi dari sana.

Guan Yong berusaha berdiri tapi mungkin karena luka dalamnya

terlalu berat, baru saja melangkah, dia sudah jatuh tersungkur dan

memuntahkan banyak darah.

Gu Shi hanya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, kau masih

bisa bertahan hidup 3-4 bulan lagi.”

Guan Yong mengangkat kepalanya dan berteriak, “Saudarasaudara,

laksanakan rencana kedua kita!”

Gu Shi sudah masuk ke dalam ruangan, mendengar kata-kata ini

dia segera berhenti melangkah, dia menolehkan kepalanya lalu

tertawa dingin, “Kau masih memiliki rencana apa?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kata-katanya baru selesai, terdengar suara panah, lalu disusul

dengan suara FUSH! FUSH! FUSH! Mendekatinya—-

Hanya dalam sekejap panah api ditembakkan ke dalam ruangan.

Gu Shi terkejut, dia segera bersembunyi di balik pintu.

“CHA!”

“CHA!”

“CHA!”

Puluhan anak panah api masuk ke celah-celah pintu, ada yang

masuk ke dalam ruangan ada yang tertancap di depan pintu. Api

mulai membakar pintu.

Mungkin karena di luar ruangan telah disiram minyak tanah

terlebih dahulu, maka kobaran apipun langsung menjalar, pintu

keluar sudah tertutup oleh kobaran api yang besar!

“CHA!”

“CHA!”

“CHA!”

Datang lagi anak panah api dan menancap di dinding ruangan,

api segera membakar ruangan. Ruangan tamu sudah terbakar!

Walau ilmu silat Gu Shi sangat tinggi tapi tubuhnya tetap terdiri

dari daging dan darah. Dia tetap takut kepada api yang berkobar.

Dia melihat ke sekeliling dan dia telah terkurung oleh api, wajahnya

tampak berubah, dia tertawa dingin, “Guan Yong, kau tidak takut

mati dan berniat mati bersama-sama denganku!”

Guan Yong tertawa dan menjawab, “Benar! Guan Shi Shuan

Xiong orang apa, kau seharusnya sudah tahu!”

Dengan dingin Gu Shi berkata, “Kepala boleh putus, tapi keadilan

harus tetap dijaga, aku kagum kepadamu! Tapi kau terlalu naif,

apakah dengan cara seperti ini kau merasa bisa membuatku mati?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Jawab Guan Yong, “Ruangan ini sudah disiram dengan banyak

minyak, dan di sekeliling ruangan inipun sudah disiram minyak

tanah, kecuali kau mempunyai ilmu sihir kau baru bisa lolos, kalau

tidak kau pasti akan mati!”

Gu Shi melihat keluar ruangan, benar saja di luar sudah seperti

lautan api, dan tidak bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh

keluar dari ruangan ini. Hatinya langsung terasa berat, tapi dia

segera terpikirkan satu cara untuk melepaskan diri, dia berkata

dengan dingin, “Kau benar, aku memang mempunyai kemampuan

sihir!”

Dia mengeluarkan pedang panjangnya lagi, dan berkata, “Tapi

aku berubah pikiran, sebelum aku keluar dari sini. aku akan

membunuhmu dulu!”

Dia berjalan mendekati Guan Yong. “BRAK!”

Tiba-tiba tempat di mana Guan Yong jatuh tadi terbalik, mungkin

itu adalah papan yang bisa dibalikkan. Begitu papan itu terbalik,

Guan Yong sudah menghilang dari sana!

Dan posisi papan sudah kembali seperti semula.

Gu Shi sama sekali tidak terpikir mengapa bisa terjadi seperti itu,

dia marah dan berteriak, segera dia lari ke papan itu, dia terus

menusuk papan tadi dengan pedangnya.

Papan yang bisa terbalik itu, di luarnya adalah batu bata

sedangkan di dalamnya adalah lempengan baja, dengan cara

apapun papan itu tidak bisa dibuka ataupun digali.

Sekarang api besar sudah mengelilingi ruang tamu, asap tebal

sudah memenuhi ruangan itu, udara panas membuat Gu Shi sesak

nafas. Dia tidak berani lama-lama di sana, segera dia membalikkan

badan dan mengayunkan pedangnya, dengan cepat dia memotong

kaki meja. Memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Lalu dia

mengangkat meja itu dengan sekuat tenaga dia melempar meja itu

ke atas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“HONG!” suara itu sangat keras, meja itu terlempar dan telah

membuat langit-langit rumah berlubang. Genting pecah dan kayukayu

berhamburan seperti hujan kayu, meja jatuh mengikuti

serpihan kayu itu.

Dia mengangkat lagi meja itu lalu melemparnya kembali ke atas,

terdengar suara HONG lagi, atap rumah berlubang lebih besar.

Begitu meja itu turun lagi dia menyambutnya lalu melemparnya

lagi, kali ini meja keluar dari lubang itu kemudian terjatuh di atap

rumah. Dia segera meloncat melalui lubang itu dan mendarat di

atap rumah.

Gu Shi melihat ke sekelilingnya, ruangan tamu tampak sudah

terkepung oleh kobaran api. Terlihat di bawah masih banyak minyak

tanah dan membuat api berkobar semakin besar, lidah apinya

bahkan sudah mencapai 3 meter lebih!

Dari luar dinding terlihat masih banyak orang yang terus

menyiram minyak ke dalam kobaran api….

Gu Shi tertawa dingin dia mengangkat meja itu dan dengan

sekuat tenaga melemparnya lagi.

Begitu meja itu dilempar, dengan Menggunakan ilmu

meringankan tubuh yang tinggi yaitu Ba Bu Zhan, dia meloncati

papan meja itu, dia seperti naik ke awan lalu terbang keluar dinding.

“Lihat! Dia berhasil keluar dari sana!”

“Ahh….”

Pelayan yang sedang menyiram minyak ke dalam api, melihat Gu

Shi menaiki papan meja lalu melayang keluar, mereka terus

berteriak.

Hanya dalam sekejap papan meja itu sudah melayang keluar

melalui tembok api, Gu Shi yang berdiri di atas papan meja itu tidak

terluka sama sekali. Dia bersiul panjang kemudian mendarat,

terjadilah peristiwa pembunuhan besar-besaran.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pelayan-pelayan itu bukan lawannya, hanya dalam waktu s ingkat

sudah terlihat 7-8 orang terbunuh, pelayan lainnya tampak

ketakutan, akhirnya mereka melarikan diri.

Gu Shi mengejar salah satu pelayan, dari belakang mencakar

punggungnya, kemudian mengangkat pelayan itu dan

membantingnya, lalu dengan pedang dia menunjuk ke dada si

pelayan itu, dia bertanya, “Cepat katakan, di mana Guan Yong

sekarang?”

Pelayan itu tampak ketakutan, wajahnya pucat, tubuhnya

gemetar, dengan gugup dia berkata, “Aku…aku…tidak…tidak tahu!”

?

Wajah Gu Shi terlihat tawa kejam, dia berkata, “Kalau kau

mengatakan sekali lagi tidak tahu, aku akan membunuhmu!”

Pelayan itu tampak lebih gemetar lagi dan berkata, “Baiklah,

kau…kau mau membunuhku, bunuh saja aku!”

Gu Shi melihat pelayan itu begitu ketakutan, tapi pelayan itu

bersikukuh tidak mau memberitahu, dia tertawa dan berkata,

“Apakah kau tidak takut mati?”

Pelayan itu menjawab, “Aku…aku takut mati tapi kalau harus

mengatakan di mana Ketua bersembunyi, itu…pasti tidak akan

kulakukan!”

Gu Shi tertawa dan berkata, “Kau benar-benar seorang pelayan

yang setia!”

“Ketua kami sangat adil dan baik, memandang

kami…memandang kami seperti saudara kandung, tentu saja kami

siap mati demi beliau!” kata pelayan itu.

“Baiklah, aku akan membantumu mempercepat kematianmu

demi dia!” kata Gu Shi.

Sewaktu pedang Gu Shi akan menusuk, di belakangnya ada yang

bicara, “Gu Shi, mengapa kau membuat perhitungan dengan

seorang pelayan?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gu Shi membalikkan kepalanya untuk melihat siapa yang bicara,

di belakangnya berdiri seorang pak tua yang gagah dan seorang

perempuan cantik, dia tahu kalau mereka pasti orang terkenal,

karena itu dia segera melepaskan pelayan keluarga Guan, lalu

dengan dingin bertanya, “Apakah Anda berdua adalah orang-orang

dari keluarga Guan?”

Pak tua gagah itu kurang lebih berumur 65 tahun, wajahnya

terlihat berwibawa, dia mengenakan baju mewah. Di pinggangnya

terselip sebuah golok.

Dia adalah seorang pesilat terkenal!

Perempuan cantik itu kurang lebih berusia 27 tahun, walaupun

kulitnya tidak begitu putih tapi mata dan giginya indah. Tubuhnya

bergerak dengan ringan, kepalanya terbungkus kain hijau, dan

mengenakan baju berwarna biru tua. Anehnya di pundaknya terselip

sebuah dayung!

Pak tua itu mulai bertanya, “Aku adalah Hong Qiu dijuluki Jin Dao

Wang (Raja golok emas).”

Gu Shi hanya menyahut, “Oh!” wajahnya tersenyum dan berkata,

“Ternyata Anda adalah Tetua Hong yang terkenal itu, maafkan aku!”

Walaupun dia memanggil tetua tapi sikapnya tetap sangat

sombong, bahkan dia tidak menganggukkan kepalanya untuk

memberi salam, lalu dia melihat perempuan cantik itu dan bertanya,

“Siapakah nona ini? Aku yakin nona inipun bukan sembarangan

orang.”

Perempuan itu tertawa dan menjawab, “Oh, aku bernama Nian

Cai Xia, aku adalah seorang perempuan yang hidup susah di laut.”

Gu Shi bertanya, “Apakah Nona adalah Dong Hai Xian Niang Nian

Cai Xia?”

Nian Cai Xia mengangguk, “Benar!” Dengan aneh sekaligus

tertarik dia bertanya, “Mengapa Nona Nian yang terbiasa hidup di

laut sekarang datang ke darat?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Nian Cai Xia tertawa dan menjawab, “Aku tidak ingin hidup

kesepian!”

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, “Apakah Nona tidak takut nanti

tidak cocok dengan kehidupan di darat?”

Nian Cai Xia tertawa, “Sampai saat ini aku merasa baik-baik

saja.”

“Apakah kalian berdua datang mengunjungi Guan Shi Shuang

Xiong?” tanya Gu Shi.

“Tidak, kami datang sengaja mencarimu,” jawab Nian Cai Xia.

“Ada keperluan apa mencariku?” tanya Gu Shi

“Untuk merundingkan suatu masalah,” jawab Nian Cai Xia.

“Apakah semua itu karena daftar nama yang tersimpan di dalam

tubuhku?” tanya Gu Shi.

“Benar.”

“Dalam daftar nama itu sepertinya tidak ada nama kalian

berdua….”

“Daftar nama itu dibuat satu tahun yang lalu, sekarang daftar

nama itu sudah bertambah lagi,” jelas Nian Cai Xia.

“Mengapa kalian bisa tahu kalau aku berada di sini?”

“Orang-orang kami sangat banyak, bila kami mencurigai

seseorang, kami bisa mengamati semua gerakan orang itu.”

“Kalau begitu, mengapa kalian membiarkan aku berjalan

beberapa hari ini dengan selamat?”

“Karena kami tertipu oleh Wang Ye, dengan akalnya dia berhasil

menipu kami, kami mengira peti besi yang dibawa oleh Xin Suan

adalah benda yang kami inginkan, beberapa hari yang lalu kami

baru tahu kalau kami ternyata sudah tertipu.”

“Apakah kalian bertekad akan mengambil kembali daftar nama

itu?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Benar.”

“Apakah kalian memiliki uang sejumlah 100 ribu tail?”

“Apakah kau akan menjual daftar nama itu dengan harga 100

ribu tail?”

“Benar!”

“Kau terlalu besar mulut!”

“Aku sudah menghitung nama-nama yang tercatat di dalam buku

itu, semuanya berjumlah 357 orang, dengan mengeluarkan uang

sejumlah 100 ribu tail dan bisa menolong 357 nyawa, bukankah

harga itu sangat pantas?”

Nian Cai Xia tertawa, “Bila kami menyerahkan uang 100 ribu tail,

apakah kau sanggup membawanya pergi?”

“Uang 100 ribu tail memang sangat banyak, dengan puluhan

keretapun tidak sanggup membawa semuanya, karena itu kalian

tidak perlu membayarku dengan uang, tapi dibayar dengan

perhiasan mahal.”

“Kami tidak memiliki perhiasan.”

“Pangeran ke-14 sanggup membayarnya.”

“Gu Shi, kau terlalu banyak tahu,” Nian Cai Xia mengerutkan

dahinya.

“Benar, apakah kalian berdua sanggup mengalahkanku?” tanya

Gu Shi sambil tertawa.

“Kau adalah seorang pemuda yang berbakat dan menonjol, kami

tidak ingin membunuhmu, kami berharap kau bisa berubah menjadi

pendekar beraliran lurus, dan bergabunglah dengan barisan kami.”

“Terima kasih, aku hanya tertarik pada uang,” jawab Gu Shi.

“Kalau kami membayarmu sedikit lebih banyak, bagaimana?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Maaf, hargaku tidak bisa dikurangi lagi.” Nian Cai Xia menarik

nafas dan berkata, “Kelihatannya kau dan Xin Suan sama-sama

bandel, sama-sama keras dan tidak mau menurut.”

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, “Bocah yang bernama Xin Suan

itu mana bisa disamakan dengan diriku? Kalau dia sama seperti

diriku, mengapa Wang Ye meminta dia yang mengantar peti besi

yang tidak berharga sama sekali?”

Dengan serius Nian Cai Xia berkata, “Pikirkanlah sebentar

mengenai harga yang kutawarkan, harga itu sudah lumayan tinggi,

cukup untuk bekal bagimu seumur hidup!”

Gu Shi menggelengkan kepalanya dan berkata, “Wang Ye

memberiku honor sebanyak 1.20 ribu tail perak, kau masih

menyuruhku mengganti 20 ribu tail perak?”

“Hitung-hitung ini untuk berbuat amal.”

“Aku tidak pernah berbuat baik untuk mengumpulkan pahala.”

“Katanya ilmu pedangmu sangat lihai, begitu berkelana di dunia

persilatan belum pernah terkalahkan tapi kau harus ingat, di luar

sana masih banyak orang, di atas langit masih ada langit, apakah

kau mengira tidak ada yang sanggup mengalahkanmu?”

“Aku sudah bertemu dengan banyak pesilat tangguh di dunia

persialatan ini, hanya dengan Pan Long Da Xia saja aku belum

pernah bertarung, katanya dia adalah pesilat tertangguh sekarang.

Karena itu aku siap bertemu dengan dia sekarang, tapi aku sudah

memberitahu Guan Yong supaya dia menyampaikan kepada Huo Ru

Feng, bulan ini pada tanggal 15 siang, aku akan menunggunya di Ji

Nan di rumah makan Tian Xiang, kalau dia bisa mengalahkanku, itu

tidak apa-apa, kalau tidak dia harus menyiapkan uang 100 ribu tail

perak-—”

Jin Dao Wang Hong Qiu tiba-tiba berkata, “Bocah, kau terlalu

sombong, untuk membereskanmu aku kira tidak perlu Pendekar Huo

yang turun tangan!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dengan wajah sinis Gu Shi tertawa dingin, “Maksudmu kau Jin

Dao Wang Hong Qiu saja sudah cukup untuk menghadapiku?”

“Benar,” jawab Jin Dao Wang Hong Qiu.

“Aku memang sedang menunggu kata-katamu ini—hayo

keluarkanlah golokmu!”

Jin Dao Wang Hong Qiu sudah mencabut goloknya!

Golok itu memang sebuah golok emas buatannya sangat bagus

dan indah. Di bawah sinar matahari terpantul cahaya berwarna

emas.

Gu Shi memuji dan berkata, “Sebuah Jin Dao yang bagus, apakah

ini senjatamu yang terkenal itu?”

“Jin Dao ini sudah membunuh banyak orang jahat,” jelas Jin Dao

Wang Hong Qiu.

“Jika begitu bagaimana kalau kita bertaruh?” tantang Gu Shi.

“Tidak perlu bertaruh, hari ini bila bukan aku yang mati pasti kau

yang akan mati!”

“Kalau aku mati di bawah Jin Dao milikmu, kalian boleh

mengambil daftar nama yang ada di tubuhku tapi kalau kau kalah

atau mati di bawah pedangku, aku menginginkan golok emasmu.”

Hong Qiu mengangguk, “Boleh! Mari kita mulai!”

Gu Shi mengangkat pedang itu setinggi dadanya, kemudian dari

jarak jauh mengukur posisi jantung Hong Qiu, setelah itu dia

meluncur ke arah Hong Qiu.

Jin Dao Wang Hong Qiu sudah siap siaga.

Kira-kira berjarak 5 kaki lagi dari Hong Qiu, tiba-tiba pedang yang

dipegangnya digetarkan tiga kali oleh Gu Shi, kemudian dia

langsung menusuk ke arah Hong Qiu dan membentak, “Sambutlah!”

Jin Dao Wang Hong Qiu tidak menyambut, dia hanya mundur 2

langkah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gu Shi tertawa dingin dia maju selangkah, pedang digetarkan 3

kali lagi. Getaran pedang terlihat seperti bunga, lalu menggulung

maju dan menyerang ketiga nadi Hong Qiu dibagian dada.

Sekarang Hong Qiu baru menggerakkan goloknya, kelihatannya

dia hanya bergerak di tempat. Kemudian tubuhnya berputar, golok

emasnya segera diangkat.

“TING!”

Suara emas yang berdenting terdengar, tiga bunga pedang

sudah tidak terlihat, golok Hong Qiu sedang diarahkan ke leher Gu

Shi.

“Ilmu golok yang bagus!” teriak Gu Shi.

Tiba-tiba dia memiringkan tubuhnya, pedangnya sudah menebas

ke arah perut Hong Qiu, gerakannya sangat cepat!

Secara otomatis gerakan Hong Qiu pun ikut cepat, dia mundur 3

kaki dari tempat tadi, kemudian maju lagi dan menyerang Gu Shi

dengan 3 serangan.

Dengan pedangnya Gu Shi menahan serangan golok Hong Qiu

tapi diapun dengan cepat membalas dengan 5 jurus ilmu pedang Gu

Shi yang dijuluki Wu Xing Jian, ini benar-benar Masuk akal karena

dari jurus kesatu hingga kelima, diselesaikan hampir dalam waktu

bersamaan, benar-benar sangat cepat sehingga orang-orangpun

tidak bisa melihat dengan jelas!

Setelah Hong Qiu berhasil menahan serangan 3 jurus pedang Gu

Shi, dia menjadi tidak percaya diri menerima jurus-jurus berikutnya

dari Gu Shi. Maka dengan terpaksa dia mundur.

Gu Shi mengambil kesempatan ini untuk maju terus, dia terus

menyerang, pedang yang digerakkan karena jurus yang dikeluarkan

terlalu cepat sudah tidak terlihat bentuk pedangnya lagi. Hanya

terlihat kilauan pedang yang berputar-putar seperti menari dan juga

seperti naga yang sedang bermain di langit.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Hong Qiu bukan orang biasa, ilmu goloknya sudah terkenal di

dunia persilatan selama beberapa puluh tahun. Pesilat tangguh yang

dia temui sudah sangat banyak, dia tidak pernah dikalahkan. Tetapi

hari ini dia sudah melihat bagaimana kemampuan ilmu pedang dari

Gu Shi yang sangat misterius dan aneh. Ilmu pedangnya sangat

sulit dilawan, bisa dikatakan setiap jurus yang dikeluarkan Gu Shi

sangat berbeda dengan jurus pedang biasa. Setiap jurusnya

membuat orang susah menduganya, dan membuat orang tidak

sempat untuk bertahan.

Karena Gu Shi terus menyerang, dia mulai kewalahan dan

terpaksa terus mundur.

Tapi dia adalah orang yang sangat terkenal, walau dipaksa untuk

terus mundur sebenarnya hatinya merasa sedih. Dia mulai

membalas dengan sekuat tenaga dan tidak memikirkan lagi hidup

dan matinya.

Tenaga dalamnya sangat kuat. Jurus golok yang dikeluarkan

mulai teratur, goloknya dengan cepat kembali ke posisi yang benar.

Gu Shi sangat licik, melihat Hong Qiu mulai mengeluarkan jurusjurus

keras, dia malah berusaha untuk menghindar….

Cara seperti itu berlangsung selama 15 menit, mungkin karena

Hong Qiu sudah tua atau mungkin karena tenaga yang dikeluarkan

terlalu besar dia mulai tidak bisa bertahan, dahinya mulai

mengeluarkan banyak keringat.

Gu Shi melihat kesempatannya sudah datang, segera dia balas

menyerang dengan cepat, pedang menusuk, menebas, dan

membacok, semua jurus anehnya dikeluarkan.

Tiba-tiba terdengar suara Gu Shi yang aneh, “Lepas!”

“TANG!”

Golok emas Hong Qiu tampak melayang ke atas langit dengan

ketinggian kurang lebih 15 meter.

Wajah Hong Qiu segera berubah dan dia mundur dengan cepat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gu Shi tidak mengejar, dia menjulurkan tangannya untuk

menyambut golok emas yang akan jatuh dari langit, dia tertawa dan

berkata, “Terima kasih atas golok pemberianmu, berat golok ini

paling sedikit 10 kilogram lebih.”

Hong Qiu mendengar kata-kata Gu Shi, dia sangat marah, nadinadi

hijau di dahinya tampak bertonjolan, dia berteriak, “Bocah! Aku

mengaku kalah, sekarang akan kuberikan nyawaku padamu!”

Setelah itu dia menyerang sekuat tenaga.

Tapi Gu Shi terus meloncat untuk menghindar, dia tertawa,

“Tidak, kalau aku membunuhmu, golok emas ini menjadi tidak

berharga!”

Maksud Gu Shi adalah bila Jin Dao Wang Hong Qiu adalah orang

terkenal dunia persilatan, goloknya ibarat nyawa keduanya,

sekarang setelah Gu Shi berhasil mendapatkan goloknya tapi tidak

menginginkan nyawanya, ini merupakan penghinaan terbesar dalam

hidupnya!

Benar, bagi seseorang yang sangat terkenal di dunia persilatan

lebih baik kehilangan nyawa dari pada mendapat malu, karena itu

dia merasa sedih, dan juga panas, dia berteriak, “Jangan lari!”

Sewaktu dia akan menyerang, tiba-tiba wajahnya berubah warna,

matanya tampak melotot, mulutnya menganga, kedua tangannya

menekan dada, kemudian nafasnya menjadi kencang dan kasar,

kemudian diapun roboh!

Dong Hai Xian Niang Nian Cai Xia yang melihat keadaan Hong

Qiu, dia merasa kaget, segera dia berlari menghampiri Hong Qiu,

memeluk kedua bahunya dan bertanya, “Tetua Hong, bagaimana

keadaanmu?”

Kedua mata Hong Qiu tampak terpejam, dia pingsan.

Nian Cai Xia terus menggoyang-goyang tubuh Hong Qiu dan

berteriak, “Tetua Hong! Tetua Hong! Bagaimana perasaanmu

sekarang?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tapi Hong Qiu tidak menjawab.

Gu Shi tertawa, “Penyakit jantungnya kambuh, mungkin dia tidak

akan bisa hidup lebih lama lagi.”

Setelah berkata seperti itu dia s iap pergi dari sana.

Nian Cai Xia berteriak, “Gu Shi, tunggu!”

Gu Shi berhenti melangkah, dia tertawa, “Apakah Nona juga ingin

bertarung denganku?”

“Aku tidak mempunyai waktu untuk bertarung denganmu, tapi

kita bisa menentukan waktu perjanjian!”

“Baiklah, aku pasti akan menepati janji!”

“Bulan ini tanggal 12, pada malam hari pukul 12, kita bertemu di

Gunung Zhu Lai.”

“Untuk apa?” tanya Gu Shi.

“Mungkin saat itu aku bisa mengumpulkan uang sejumlah 100

ribu tail, tapi aku tetap ingin bertarung denganmu, kalau aku kalah

aku akan memberikan uang itu kepadamu!”

“Baiklah, kita sepakat,” kata Gu Shi.

Tubuhnya bergerak dan dia sudah pergi dari sana.

Pada saat melihat dia meninggalkan kediaman keluarga Guan,

Nian Cai Xia baru melihat Hong Cdu. Hong Qiu masih tidak sadarkan

diri, dia menjadi bingung.

Rumah sudah terbakar dan yang tertinggal hanya puingpuingnya,

api yang masih berkobar kemungkinan bisa menjalar ke

rumah lainnya, mungkin para pelayan yang melihat Gu Shi sudah

pergi, maka merekapun mulai berdatangan untuk memadamkan api.

Nian Cai Xia bertanya kepada salah satu pelayan, “Bagaimana

keadaan Ketua Guan Yong?”

Pelayan itu menjawab, “Luka Ketua sangat berat, sekarang beliau

berada di ruang bawah tanah.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Nian Cai Xia menunjuk Hong Qiu yang tergeletak di bawah, dan

bertanya, “Tetua Hong sejak tadi tidak sadarkan diri apakah ada

tempat baginya supaya bisa beristirahat?”

“Ada, di belakang ada sebuah kamar, di sana sangat aman,

apakah aku perlu menggendong Tetua Hong ke kamar itu?” tanya si

pelayan.

“Baiklah, setelah membawa Tetua Hong, bawalah aku untuk

bertemu dengan ketua kalian…. Hhhehhhl Tidak disangka Wu Xing

Jian Ke Gu Shi ternyata lebih sulit dihadapi dibandingkan Xin Suan.”

0-0-dwkz-0-0

Bulan 7 tanggal 11.

Dong Hai Xian Niang Nian Cai Xia datang sehari lebih awal ke Zhu

Lai Shan.

Dia tidak mengumpulkan uang sebesar 100 ribu tail, dia telah

berjanji untuk bertemu Gu Shi di gunung ini, karena itu dia berharap

seseorang bisa membantunya.

Orang itu tinggal di Zhu Lai Shan namanya adalah Tuan Zhu Lai.

Nama Tuan Zhu Lai tidak begitu terkenal. Orang persilatan yang

kenal dengannyapun tidak begitu banyak, tapi orang yang

mengenalnya pasti pesilat tangguh dunia persilatan.

Begitu pesilat-pesilat tangguh itu membicarakan tentang Tuan

Zhu Lai, mereka pasti akan merasa kagum, karena Tuan Zhu Lai

memang mempunyai ilmu silat yang tinggi.

Tuan Zhu Lai tidak terkenal di dunia persilatan, karena dia

memang tidak mau ikut campur dengan masalah dunia persilatan,

dia hidup bertani di Gunung Zhu Lai, selain bertani, kegiatan lainnya

adalah minum arak, selain kedua hal tadi, meski langit runtuh juga

dia tidak akan peduli.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Rumahnya hanya rumah gubuk, pagar bambu mengelilingi rumah

itu, di depan rumah ada sebuah taman bunga. Sedangkan di

belakang rumah adalah kebun sayur dan sawah.

Dong Hai Kian Niang, Nian Cai Xia telah tiba di tempat itu. Hari

sudah hampir sore, dia masuk ke dalam gubuk, tapi Tuan Zhu Lai

tidak ada di sana, karena itu dia keluar lagi untuk mencari Tuan Zhu

Lai.

Dia sangat mengenal keliidupan Tuan Zhu Lai, kalau tidak berada

di gubuk berarti dia berada di pondokan itu.

Benar saja Tuan Zhu Lai sedang bermain catur bersama dengan

seoranng pendeta tua.

Umur Tuan Zhu Lai belum begitu tua, kurang lebih 50 tahun.

Matanya besar dan alisnya tampak kasar. Sikapnya terlihat tenang,

sekali melihatnya orang akan segera menaruh hormat kepadanya.

Dia adalah seorang pesilat yang menyembunyikan diri.

Sedangkan yang sedang bermain catur dengannya adalah

seorang pendeta yang berusia kurang lebih 70 tahun, rambutnya

putih, wajahnya bersih. Terlihat seperti seorang dewa yang turun

dari langit.

Mereka berdua duduk di pondokan itu dan sedang berkonsentrasi

bermain catur. Begitu Dong Hai Xian Niang, Nian Cai Xia berdiri di

depan mereka, mereka baru sadar ada orang yang mendekati

mereka.

Melihat Nian Cai Xia datang, Tuan Zhu Lai merasa senang dan

terkejut, dia berdiri dan berteriak, “Cai Xia— mengapa kau bisa

datang kemari?”

Nian Cai Xia tersenyum dan bertanya, “Apakah aku tidak boleh

datang kemari?”

Tuan Zhu Lai merasa sangat senang dan menjawab, “Tentu kau

boleh datang! Kau boleh datangi Memang ini saat yang sedang

kutunggu-tunggu!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Kemudian dia berkata pada pendeta tua itu, “Hidung sapi, kita

lanjutkan permainan catur ini besok!”

Kata pendeta tua itu, “Aku sudah kalah 2 kali, kali ini

kelihatannya aku akan menang, tapi kau malah menghentikan

permainannya, apa maksudmu?”

“Apakah kau tidak melihat ada tamu yang datang?” kata Tuan

Zhu Lai.

“Ada tamu datang, persilakan dia masuk ke pondokan, apa

sulitnya?”

“Tamuku adalah Dong Hai Kian Niang, Nian Cai Xia yang sering

kuceritakan.”

Pendeta menjawab, “Oh!” Dia tersennyum dan berkata,

“Ternyata dia adalah saudara sepupumu yang selalu kau rindukan.

Baiklah, baiklah hari ini aku memaafkanmu, kita teruskan permainan

catur kita besok lagi!”

Tuan Zhu Lai berkata pada Nian Cai Xia, “Cai Xia, kemarilah!

Temuilah pendeta tua ini, beliau adalah Yi Cheng Zi yang terkenal

itu, kakak seperguruan dari Ketua Wu Dang.”

Nian Cai Kia meletakkan dayungnya yang terbuat dari besi dan

memberi hormat kepada Yi Cheng Zi, “Sudah lama aku mendengar

nama besar Pendeta. Baru hari ini berjodoh bertemu dengan Guru,

aku benar-benar merasa sangat beruntung.”

Tuan Zhu Lai menepuk-nepuk kursi yang terbuat dari batu sambil

tertawa berkata, “Cai Xia, duduklah di sini!”

Kata Nian Cai Kia, “Aku ada keperluan pribadi yang ingin

kusampaikan kepadamu….”

“Tentang apa?” tanya Tuan Zhu Lai.

Nian Cai Kia melihat Yi Cheng Zi dan terdiam.

“Yi Cheng Zi bukan orang luar, ada apa? Katakan saja,” kata

Tuan Zhu Lai.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Wajah Nian Cai Xia sedikit memerah, “Aku tahu, tapi…. Aku

hanya ingin mengatakannya padamu saja.”

Yi Cheng Zi segera bediri dan berkata, “Baiklah, kalian mengobrol

saja dulu, aku akan berjalan-jalan.”

Dia keluar dari pondokan itu.

Tuan Zhu Lai segera bertanya, “Cai Xia, ada apa?”

Nian Cai Xia menarik nafas dan menjawab, “Sepertinya sudah 7-8

tahun kita tidak bertemu.”

“Semenjak kau marah dan mengusirku, aku tidak mempunyai

harapan lagi.”

“Kalau sekarang aku mengatakan aku Mau menikah denganmu,

apakah kau masih Mau menerimaku?”

Dengan senang Tuan Zhu Lai mengangguk dan berkata, “Tentu

saja aku mau, kecuali denganmu, aku tidak mau menikah dengan

perempuan lain!”

“Tapi aku mengajukan sebuah syarat, bantu aku untuk

membereskan satu memecahkan persoalan ini.”

“Jangankan satu, seribu persoalan juga aku akan membantumu

untuk membereskannya.”

“Jangan terlalu cepat setuju, karena hal ini adalah hal yang

paling kau benci.”

“Tentang apa?”

“Membunuh seseorang.”

Tuan Zhu Lai menarik nafas dan berkata, “Cai Xia, aku benarbenar

tidak mengerti, mengapa kau selalu mengurusi hal-hal yang

tidak ada hubungannya denganmu?”

Nian Cai Xia marah dan berkata, “Sudahlah, kalau kau tidak mau,

jangan nasehati aku.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tuan Zhu Lai berkata, “Kalau 7-8 tahun lalu kau setuju menikah

denganku, sekarang kita pasti sudah mempunyai banyak anak dan

hidup bahagia—”

Belum selesai perkataan Tuan Zhu Lai, Nian Cai Xia sudah

bersiap akan pergi dari sana.

Segera Tuan Zhu Lai menarik nafas dan berkata, “Jangan pergi,

Cai Xia. Kau menyuruhku membunuh siapa?”

“Wu Xing Jian Ke, Gu Shi,” jawab Nian Cai Xia.

“Siapakah dia?”

Ternyata walaupun ilmu silat Tuan Zhu Lai sangat tinggi tapi dia

jarang berkelana di dunia persilatan, maka nama Gu Shi yang

terkenalpun dia tidak tahu.

Selama hidup Tuan Zhu Lai, yang paling dia rindukan adalah rasa

cintanya kepada Nian Cai Xia. Dan cintanya sangat dalam. Tapi

sifatnya yang tenang dan tidak senang berkelana berbeda dengan

sifat Nian Cai Xia, karena itulah dia selalu gagal menikah dengan

Nian Cai Xia. Walaupun begitu dia tetap mencintai Nian Cai Xia!

“Mengapa kau bisa menaruh dendam kepada Gu Shi?”

“Aku tidak mempunyai dendam pribadi dengannya.”

“Kalau tidak ada dendam pribadi mengapa aku harus

membunuhnya?”

“Tidak ada dendam pribadi, tapi dendam masa.”

“Apa yang telah terjadi?”

Nian Cai Xia menceritakan semuanya kepada Tuan Zhu Lai.

Setelah selesai mendengar cerita Nian Cai Xia, dahinya tampak

berkerut dan menarik nafas, “Aku sudah mengerti! Tapi…. Hhehh!

Kau seorang perempuan, mengapa ingin—-”

“Kau mulai memberi nasehat lagi!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Baiklah, aku tidak akan bicara lagi! Tapi hanya karena ingin

membunuh Wu Xing Jian Ke, Gu Shi, kau baru mau menikah

denganku, sepertinya….”

Dengan dingin Nian Cai Xia berkata, “Benar, secara kasarnya aku

sedang memperalatmu, tapi aku tidak akan memaksa. Kau boleh

menolaknya.”

Tuan Zhu Lai bepikir cukup lama, kemudian dia menarik nafas

lagi dan berkata, “Cai Xia, jujur kukatakan, tadi Pendeta Yi Cheng Zi

sudah melihat nasibku melalui wajah, dia mengatakan nasibku di

tahun ini tidak bagus, kalau tidak menghindar, mungkin tahun ini

nyawaku bisa terancam….”

“Baiklah, aku tidak akan membuatmu sampai kehilangan nyawa,

tidak usah bicarakan hal ini lagi!”

Tuan Zhu Lai tertawa kecut dan berkata, “Sejak jaman dahulu

manusia pasti akan mati, aku bukan menyayangi nyawaku tapi demi

membunuh Gu Shi, kau baru mau menikah denganku, ini benarbenar

membuatku merasa tidak enak hati!”

Nian Cai Xia marah dan berkata, “Aku bilang jangan bicarakan hal

ini lagi, biar aku sendiri yang membereskannya!”

“Apakah kau sudah berjanji dengannya dan besok bertemu di

sini?”

“Benar! Sebelum malam tiba kau boleh tinggalkan tempat ini, aku

akan merninjam pondokan ini!”

“Orang ini bisa mengalahkan Jin Dao Wang, Hong Qiu, aku rasa

kau tidak akan bisa melawannya….”

“Manusia pasti akan mati, hal ini sudah berlaku dari dulu sampai

sekarang, hanya saja kita harus meninggalkan sedikit nama!”

Tuan Zhu Lai menarik nafas lagi, “Dinasti Ming sudah hancur

beberapa puluh tahun yang lalu, walaupun kalian mempunyai

semangat tinggi, yaitu ingin mengembalikan kejayaan Dinasti Ming,

tapi aku lihat rasanya tidak akan berhasil!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Karena banyak orang seperti dirimu maka tanah air kita selalu

dijajah oleh bangsa lain, kau adalah seorang laki-laki, apakah kau

tidak merasa malu?”

Tuan Zhu Lai mengerutkan dahinya, “Aku hanya orang biasa,

hanya bisa menjaga diri sendiri!”

Nian Cai Xia tertawa dingin, “Sudah bertahun-tahun lewat tapi

kau masih tetap seperti ini, apakah kau tahu alasanku tidak mau

menikah denganmu?”

Tuan Zhu Lai tertawa kecut, “Lemah, tidak berguna, setiap hari

hanya bisa minum arak dan bermain catur, apakah benar

pendapatku?”

“Benar! Kau adalah laki-laki paling tidak berguna!”

Tuan Zhu Lai marah dan berkata, “Kau berani sekali lagi bicara

seperti itu, aku akan….”

Nian Cai Xia malah maju dan berkata, “Kau mau apa?”

Tuan Zhu Lai mundur dan berkata, “Baiklah, baikah, aku akan

meminjamkan pondokan ini kepadamu, aku akan pergi!”

Dia keluar dari pondokan dan pergi dari sana.

Baru saja beberapa langkah berjalan, dia membalikkan kepalanya

dan berkata, “Kau berjanji bertemu dengannya besok di s ini, malam

ini kau tidur saja di gubukku.”

“Terima kasih.”

“Walaupun aku tidak setuju, tapi kita adalah saudara, karena aku

adalah kakak sepupumu sedangkan kau adalah adik sepupuku!”

“Kau orang baik, aku tidak pantas menjadi adik sepupumu,

hubungan antar saudara kita hanya sampai di sini saja.”

Tuan Zhu Lai marah dan berkata, “Mana boleh seperti itu, benarbenar

tidak tahu aturan!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Nian Cai Xia juga marah dan mengusir, “Pergi! Pergi! Aku tidak

mau melihat mukamu lagi! Pergi kau!”

Tuan Zhu Lai marah dan dia segera pergi.

Setelah Tuan Zhu Lai pergi, Nian Cai Xia dengan tidak

bersemangat duduk dan mulai menangis, dia marah, “Laki-laki tidak

berguna! Seumur hidup jangan harap aku mau menikah

denganmu!”

Langitpun seperti dia tampak tidak bersemangat karena tiba-tiba

suasana menjadi mendung.

Dia bersandar pada tiang pondokan, tidak bergerak, sepertinya

dia sudah tertidur.

Tak lama kemudian hari menjadi gelap, bulan tergantung di atas

langit.

Diam-diam Tuan Zhu Lai datang ke sana Satu tangan membawa

keranjang berisi nasi dan sayur, sedangkan satu tangan lagi

membawa selimut, diam-diam dia masuk ke dalam pondokan, dia

melihat Nian Cai Kia tertidur, dia meletakkan keranjang berisi

makanan di atas meja yang terbuat dari batu. Kemudian

menyelimuti Nian Cai Xia.

Sebenarnya Nian Cai Kia belum tertidur, dia membuka matanya

dan berkata dengan dingin, “Ada apa?”

Tuan Zhu Lai tertawa dan berkata, “Angin malam sangat dingin,

kalau tidak diselimuti, nanti kau akan masuk angin.”

Nian Cai Xia menendang selimut itu jauh-jauh dia berteriak, “Biar

aku kedinginan sampai mati, juga tidak ada hubungannya

denganmu!”

Tuan Zhu Lai merasa malu, tapi dia berusaha tertawa dan

berkata, “Jangan marah lagi! Kakakmu sudah membawakan

makanan untukmu, bagaimanapun kau harus makan.”

Nian Cai Xia memungut dayungnya yang terbuat dari besi dan

dengan galak berkata, “Cepat bawa lagi makanannya! Aku tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

mau makan makanan pemberianmu, walau harus mati kelaparan akj

tetap tidak sudi memakannya!”

Tuan Zhu Lai menarik nafas dan berkata, “Usiamu sudah tidak

muda lagi, mengapa sifatmu masih seperti itu?”

Nian Cai Xia mengangkat dayungnya dan menjawab, “Cepat

bawa kembali, kalau tidak aku akan menyerangmu dengan dayung

ini!”

Tuan Zhu Lai ikut marah dan berkata, “Kau tidak mau makan,

bagaimana besok bisa bertarung dengan Gu Shi?”

“Ini tidak ada hubungannya denganmu!” seru Nian Cai Xia.

Tuan Zhu Lai terdiam dan mengangkat keranjang makanan,

memungut selimut yang terjatuh dan berkata, “Baiklah, besok kalau

kau berhasil dikalahkan oleh Gu Shi, aku akan merasa sangat

senang!”

Nian Cai Xia marah dan berniat memukulnya.

Tuan Zhu Lai sudah lari dari sana.

Nian Cai Xia berteriak, “Lin Wo Ming! Aku peringati dirimu, kalau

kau datang mengganggu lagi, aku akan membunuhmu!”

Tuan Zhu Lai bertanya, “Apa maksudmu? Ada pepatah yang

mengatakan : walaupun naga kuat tapi dia tidak akan mengganggu

ular yang berada di tempatnya. Pondok ini aku sendiri yang

membangunnya, apakah kau ingin mengambil alih?”

“Benar,” jawab Nian Cai Xia. Tuan Zhu Lai marah dan berkata,

“Benar-benar perempuan tidak tahu diri! Benar-benar kurang ajar!”

Dia pergi dengan marah lalu menghilang di kegelapan malam,

Nian Cai Xia meletakkan kembali dayungnya, dia bersandar kembali

ke tiang pondok dan meneteskan air mata, lalu berkata, “Orang

tidak berguna, seharusnya aku melupakan laki-laki semacam dia,

bagaimana mungkin aku boleh menikah dengannya….” Malam

semakin larut. Sekeliling pondok tampak gelap dan sepi, sepi seperti

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

tenggelam di dalam laut yang dalam, suara jengkerikpun tidak

terdengar.

Nian Cai Xia duduk dengan diam, tidak lama kemudian dia masuk

ke alam mimpi.

Begitu dia terbangun hari sudah menunjukkan pukul 4 dini hari,

pada saat membuka mata dia sangat terkejut.

Karena di depannya telah duduk seseorang!

Dia adalah Wu Xing Jian Ke, Gu Shi!

Dengan tersenyum dia melihat Nian Cai Xia yang baru terbangun,

dia segera tertawa dan berkata, “Benar-benar pemandangan bagus

dan indah, melihat cara tidurmu!”

Nian Cai Xia meloncat bangun, langsung mengambil alat

dayungnya dan siap memukul.

Tapi Wu King Jian Ke dengan cepat meloncat keluar dari serbuan

Nian Cai Xia. Dia tertawa terbahak-bahak, “Jangan terburu-buru,

hari belum terang!”

Dengan marah dan dengan nada dingin Nian Cai Xia berkata,

“Hei marga Gu, jujur bicara tidak ada uang 100 ribu tail, yang ada

hanya nyawaku!”

Wu King Jian Ke, Gu Shi tertawa, “Aku tahu karena aku telah

memperhitungkan sebelumnya!”

Nian Cai Kia keluar dari pondokan kemudian sambil membawa

dayungnya dia berteriak, “Kalau begitu, kita mulai bertarung

sekarang!”

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, “Tidak perlu terburu-buru,

sabarlah! Kau tidak mencari seseorang untuk membantumu?”

“Tidak!”

“Tapi aku lihat di sekitar sini ada sebuah gubuk dan di dalam

gubuk itu ada seorang pendeta tua serta seorang laki-laki entah dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

tinggal di sana atau tidak. Mereka sedang minum arak, kalau aku

tidak salah tebak ilmu silat mereka sangat tinggi.”

“Tenanglah! Mereka tidak akan ikut campur.”

“Tapi kau tahu kan kalau kau tidak mencari seseorang untuk

membantu, kau tidak akan bisa melawanku!”

“Belum tentu!”

“Jangan keras kepala, lebih baik kita ngobrol dulu, aku bukan tipe

orang yang tidak berperasaan, walaupun aku menyukai uang, tapi

aku juga tertarik pada perempuan….”

Alis Nian Cai Xia terangkat dan tertawa “Maksudmu, kau tertarik

padaku?”

Gu Shi mengangguk, “Benar, kalau kau mau menemaniku tidur,

aku tidak akan membunuhmu, bagaimana?”

Nian Cai Xia tidak marah malah tertawa, “Kedengarannya seperti

anjing gila yang sedang menggonggong!”

Gu Shi juga tidak marah dia malah tertawa terbahak-bahak, “Kau

terlalu sungkan sebenarnya aku lebih menakutkan dari seekor anjing

gila, aku adalah seekor serigala!”

“Aku sengaja datang untuk membasmi serigala!”

Sambil bicara dayungnya sudah dikeluarkan dan menyerang ke

pinggang Gu Shi.

Gu Shi meloncat beberapa meter, di atas dia mencabut

pedangnya, ujung pedangnya mengenai dahi Nian Cai Xia, ada

cahaya seperti jatuh dari langit!

Nian Cai Xia berputar, dayungnya diangkat ke atas, pedang

panjang Gu Shi beradu dengan dayung Nian Cai Xia. Dia meloncat

setinggi 3 meter lagi—-

Nian Cai Xia berniat melancarkan serangan lagi, tapi terlihat ada

api terang berbentuk payung, seperti lingkaran dan menutupi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

kepalanya, Nian Cai Xia terkejut dan segera menggeser kakinya ke

sisi.

Tapi baru saja dia melangkah beberapa kaki, api terang itu terus

mengikutinya dan semakin mendekat!

Lingkaran terang itu tidak lain adalah cahaya pedang Gu Shi,

sepertinya Gu Shi sedang ingin bermain-main dengan Nian Cai Xia,

pedang dimainkan ke kiri dan ke kanan, dan selangkah demi

selangkah semakin mendekat, tapi Gu Shi tidak menyerang.

Nian Cai Xia terus mundur beberapa puluh langkah ketika melihat

cahaya pedang terus mendekatinya dan menyerang. Nian Cai Xia

marah dan membentak dengan sekuat tenaga dia menggoyang

dayungnya, dia sudah masuk ke dalam lingkaran cahaya itu.

“TING! TING! TING!”

Pada saat senjata beradu, dayung Nian Cai Xia seperti bertemu

dengan kekuatan besar, dia segera terbanting ke sisi dan

dayungnya terbang ke langit!

Gu Shi tertawa terbahak-bahak, dia mendekat dengan ujung

pedang, dia menotok Nian Cai Xia dan tertawa, “Nona Nian,

berbaringlah dengan posisi yang bagus!”

Pada saat tubuh Nian Cai Xia terlempar ke bawah, pedang Gu Shi

tepat menotok nadi Nian Cai Xia, tapi tangan Nian Cai Xia bergerak

dengan lincah, pada saat tubuhnya terpelanting ke bawah dua

sudah berguling ke depan untuk menghindari serangan Gu Shi.

Nian Cai Xia berguling-guling di bawah sejauh beberapa meter,

tiba-tiba tangannya bergetar, dia menembakkan sebuah pisau kecil.

“PUSH!”

Pisau kecil itu dengan cepat melesat hanya dalam sekejap sudah

berada di depan dada Gu Shi.

Gu Shi berteriak, pedang panjangnya dlayunkan

“TING!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Pisau tergetar dan terbang ke atas.

Pada kesempatan ini Nian Cai Xia melompat ke atas dan

membentak, “Terimalah 3 jurusku lagi!”

Tangannya bergetar, 3 buah pisau kecil sudah dikeluarkan dari 3

arah dengan cepat.

“TING! TING! TING!”

Diiringi suara itu, dua buah pisau berhasil ditahan oleh pedang

Gu Shi dan terbang ke lain arah, sedangkan pisau ketiga siap

mengenai mulut Gu Shi!

“Aduh!”

Dia berteriak dan jatuh telentang.

Nian Cai Xia merasa sangat senang, dia tahu kalau pisaunya

berhasil menembus tenggorokan Gu Shi, tapi ketika diperhatikan

wajah Gu Shi ternyata tampak penuh dengan roman tawa, pisau

kecil itu ternyata tidak menembus tenggorokannya, melainkan

digigitnya.

0-0-dwkz-0-0

BAB 6

Menentukan yang terbaik di Gunung Zhu Lai

Begitu melihat lawannya tidak terluka, dengan gerakan cepat

Nian Cai Xia mundur—

“PUSH!” pisau kecil itu ditiup dan melesat seperti sebuah anak

panah, pegangan pisau kecil itu sudah menotok nadi Nian Cai Xia.!

Dalam mimpipun Nian Cai Xia sama sekali tidak menyangka kalau

dia akan bertemu dengan kejadian seperti ini. Karena itu dia tidak

sempat untuk menghindar lagi. Matanya terasa gelap dan diapun

roboh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gu Shi meloncat dan tertawa, “Nona Nian, aku dengar kau masih

perawan, malam ini aku ingin membuktikan apakah kabar itu benar

atau hanya gosip belaka.”

Baru saja dia maju selangkah dengan niat untuk memeluk Nian

Cai Xia, di belakangnya terdengar sebuah suara dingin, “Bocah!

Berlakulah sopan sedikit!”

Gu Shi membalikkan badannya untuk melihat siapa yang bicara,

dengan dingin dia berkata, “Kalian berdua hanya dua pesilat yang

bersembunyi di gunung, untuk apa ikut campur?”

Orang yang berdiri di depan Gu Shi adalah Pendeta Yi Cheng Zi

dan Tuan Zhu Lai!

Wajah Tuan Zhu Lai sangat dingin, “Apakah kau adalah Wu Xing

Jian Ke Gu Shi?”

Gu Shi tertawa dengan sombong, “Benar! Apakah kau sudah

diberitahu oleh Nian Cai Xia sebelumnya?”

Tuan Zhu Lai mengangguk. “Apakah kalian mempunyai marga

yang sama?” tanya Gu Shi sambil tertawa.

“Pendeta ini bernama Yi Cheng Zi, dia adalah kakak seperguruan

ketua Wu Dang,” jelas Tuan Zhu Lai.

Sikap Gu Shi masih seperti biasanya, dia tersenyum dan berkata,

“Kalian benar-benar orang terkenal, beruntung aku bisa bertemu

dengan kalian.”

“Aku hanya orang biasa, kebetulan tinggal di Gunung Zhu Lai,

karena itulah orang-orang menyebutku sebagai Tuan Zhu Lai.”

“Kalau kau bukan orang terkenal, minggirlah!” kata Gu Shi.

Gu Shi menganggap kalau Yi Cheng Zi adalah orang yang

dicarinya, segera dia berkata kepada Yi Cheng Zi, “Pendeta adalah

kakak seperguruan ketua Wu Dang, aku yakin ilmu silat Anda pasti

tinggi.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Yi Cheng Zi tersenyum dan berkata, “Tidak juga, selama hidupku,

aku hanya senang minum arak dan bermain catur.”

“Pendeta terlalu rendah hati, aku sudah lama ingin meminta

petunjuk dalam bidang ilmu s ilat, hari ini aku telah bertemu dengan

Pendeta, aku benar-benar sangat beruntung, apakah sekarang aku

boleh meminta petunjuk?”

“Apakah Tuan Muda datang dari Mi Zhong?” tanya Yi Cheng Zi.

Wajah Gu Shi tampak berubah, matanya tampak berkilau dan dia

bertanya, “Bagaimana Pendeta bisa tahu?”

Yi Cheng Zi meunujuk Tuan Zhu Lai dan berkata, “Tadinya aku

tidak tahu, Tuan Zhu Lai telah melihat ilmu pedangmu dan

memberitahuku.”

Mendengar hal itu Gu Shi mulai memperhatikan keberadaan Tuan

Zhu Lai. Dia melihat Tuan Zhu Lai kemudian dengan aneh dia

berkata, “Kau hanya orang yang tidak ternama, mengapa kau bisa

tahu ilmu pedang Mi Zhong?”

Dengan ringan Tuan Zhu Lai menjawab, “Selain mengetahuinya,

10 tahun yang lalu aku pernah bertarung dengan seorang jago s ilat

dari Mi Zhong.”

Wajah Gu Shi tampak berubah lagi, “Siapakah nama pesilat Mi

Zhong itu?”

“A Nan Duo,” jawab Tuan Zhu Lai.

Gu Shi terpaku.

Tuan Zhu Lai tersenyum, “Apakah Adik mengenal A Nan Duo?”

Mata Gu Shi tampak berkilau dia tidak menjawab malah balik

bertanya, “Sewaktu kalian bertarung, apakah kau kalah?”

“Benar!” jawab Tuan Zhu Lai.

Wajah Gu Shi terlihat seperti melepas beban berat, dia tertawa,

“Ilmu pedang Mi Zhong bukan ilmu pedang sembarangan,

perkumpulan mana yang sanggup mengalahkannya?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dengan ramah Tuan Zhu Lai menjawab, “Waktu A Nan Duo

berkelana di Zhong Yuan, dia berhasil mengalahkan semua pesilat

tangguh di Zhong Yuan, waktu itu aku masih muda dan masih

mempunyai adat tidak mau kalah, maka aku mencarinya dan

mengajaknya bertarung, walaupun kami telah bertarung sehari

semalam, tapi aku tetap kalah satu jurus darinya.”

Gu Shi terpaku lagi dan berteriak, “Oh….kalian bertarung sehari

semalam, akhirnya kau kalah satu jurus dari guruku?”

Tuan Zhu Lai terus melihatnya dan berkata, “Ternyata kau adalah

murid A Nan Duo, pantas ilmu pedangmu sangat tinggi.”

Dia menarik nafas dan berkata, “Waktu itu gurumu berkelana di

Zhong Yuan, walaupun dia tidak terkalahkan tapi sikapnya sangat

baik dan tidak sombong, juga belum pernah melakukan hal yang

memalukan….”

Wajah Gu Shi memerah tapi dia segera tertawa, “Apakah Tuan

sedang mencoba mengajarku?”

“Aku tidak berani, Adik sudah mendapatkan ilmu asli dari Mi

Zhong seharusnya kau merasa puas dan bisa dihormati banyak

orang.”

“Kau sedang mencoba melarangku?” Gu Shi tertawa dingin.

“Ini hanya sekedar nasihat, bukan larangan,” kata Tuan Zhu Lai.

Gu Shi melihatnya dan tertawa lagi, “Aku tidak percaya pada

semua kata-katamu tadi.”

“Oh ya?”

“Kalau kau bertarung dengan guruku sehari semalam, kau pasti

orang terkenal dan banyak dikenal orang. Tapi Tuan Zhu Lai’, baru

pertama kali aku mendengar nama ini!”

“Kalau Adik tidak percaya, ya sudah!” kata Tuan Zhu Lai tertawa

kecil.

“Aku ingin membuktikannya!” Gu Shi tertawa licik.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Boleh saja,” jawab Tuan Zhu Lai. Dia mengambil dayung besi

milik Nian Cai Xia dan meletakkannya di depan dada, kemudian

berkata, “Silahkan mulailah!”

Kata-kata dan sikap Tuan Zhu Lai sangat terpelajar dan tenang,

sama sekali tidak terlihat cemas atau terbawa emosi. Semua itu

memberikan kesan kalau ilmu silatnya sangat dalam dan tidak bisa

ditebak!

Gu Shi merasa sedikit takut. Semenjak pertama kalinya berkelana

di dunia persilatan, dia selalu menang dalam setiap kali

pertarungan. Dia sudah mengalahkan banyak pesilat tangguh. Di

Zhong Yuan dia sangat sombong dan menganggap kalau dia tidak

terkalahkan. Karena itu di depan Tuan Zhu Lai dia tidak mau terlihat

lemah dan siap bertarung untuk menentukan kalah dan menang.

Pelan-pelan dia memegang pedang dan memasang kuda-kuda

jurus Zhu Jing Tian. Matanya bersorot tajam!

Sikapnya seperti sebuah busur yang ditarik kencang, setiap saat

siap mengeluarkan serangan dasyat!

Tapi Tuan Zhu Lai seperti tidak melihat Gu Shi. Kedua tangannya

memegang dayung besi, sedikitpun tidak bergerak!

Yang satu terlihat sombong dan dipenuhi dengan hawa

membunuh, sedangkan yang satu lagi terlihat sangat tenang. Benarbenar

pemandangan yang jarang terlihat!

Mereka saling memandang. Gu Shi tidak mempunyai kesempatan

untuk menyerang. Dia tampak seperti sangat marah. Tiba-tiba dia

maju selangkah, kedua kakinya membentuk kuda-kuda. Kedua

tangannya memegang pedang dan siap menyerang!

Tapi Tuan Zhu Lai tetap tersenyum dan berkata, “Itu adalah

jurus Lao Ji Fu Li, apakah benar?”

Gu Shi mendengar bahwa Tuan Zhu Lai bisa menyebut nama

jurus-jurusnya dengan baik, hatinya bergetar. Segera dia mengganti

dengan jurus lain. Punggungnya diluruskan, kaki kirinya sedikit

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

dilipat. Pedang panjangnya diangkat tinggi-tinggi, seperti ingin

melemparkan pedangnya kepada lawan.

Sorot mata dan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan hawa

membunuh!

Tuan Zhu Lai tersenyum dan berkata, “Itu jurus Qian Long Tai

Chong. Berikutnya adalah jurus Po Yun Jian Re, apakah benar?”

Sekarang Gu Shi benar-benar bergetar dan berteriak,

“Kau…mengapa kau bisa mengetahui nama jurus dalam ilmu

pedang Mi Zhong?”

Tuan Zhu Lai tertawa, “Dulu sewaktu gurumu masuk ke Zhong

Yuan, di antara para pesilat tangguh yang ditemui gurumu, hanya

aku saja yang bisa bertahan sehari semalam lamanya. Begitu sudah

tahu siapa yang bakal menang dan siapa yang bakal kalah, gurumu

tidak menganggapku sebagai musuhnya. Kami tetap minum

bersama dan mengobrol 3 hari 3 malam lamanya. Otomatis diapun

memberitahukan nama jurus-jurus ilmu pedang dari perkumpulan

kalian, karena itu aku bisa mengetahui nama jurus-jurus pedang

kalian.”

Gu Shi mengerutkan dahi. Dia merasa maju susah, mundurpun

sulit.

Lawan yang ada di depannya sekarang pernah bertarung dengan

gurunya dan bisa bertahan selama sehari semalam, dia pasti

mempunyai ilmu silat tinggi, keadaannya adalah lawannya sudah

mengetahui dan mengenali ilmu silatnya sedangkan dia tidak

mengetahui ilmu silat lawannya, kalau mereka benar-benar

bertarung, apakah dia bisa mempunyai kesempatan untuk menang?

Gu Shi tampak berpikir sejenak akhirnya dia mengambil

keputusan, keadaan ini sangat sulit untuk meraih kemenangan.

Maka dia segera mengubah sikapnya. Dia menyimpan pedangnya

dan berkata, “Tuan mengenal guruku, aku tidak bisa bertarung

dengan Tuan. Aku pamit dulu!”

Dia memberi hormat dan pergi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tuan Zhu Lai segera berkata, “Adik, jangan pergi dulu! Aku ingin

bertanya sesuatu padamu!”

Tapi Gu Shi seperti tidak mendengar panggilannya. Dengan cepat

dia berlari, hanya dalam waktu singkat dia sudah menghilang di

dalam pandangan mata.

Tuan Zhu Lai seperti tidak tenang. Dia melihat Yi Cheng Zi dan

bertanya, “Hidung kerbau, menurutmu apakah aku harus

menyuruhnya kembali?”

“Untuk apa mengejar dan menyuruhnya kembali?” tanya Yi

Cheng Zi.

Tuan Zhu Lai menunjuk Nian Cai Xia yang terluka dan masih

pingsan tergeletak di bawah. Dia berkata, “Dia ingin aku merebut

kembali catatan nama-nama yang ada di tangan Gu Shi. Jika aku

tidak membantunya, dia tidak akan….”

Yi Cheng Zi tersenyum, “Dia tidak akan mau menikah denganmu,

apakah benar?”

“Benar!’

Yi Cheng Zi tertawa sambil menarik nafas, “Apapun yang akan

terjadi, kau tidak membuat semua ini menjadi masalah. Hanya saja

kau sulit melawan cinta!”

Tuan Zhu Lai melotot dan berkata, “Aku bukan biksu juga bukan

pendeta, mengapa aku tidak boleh menikah?”

Dia berkata lagi, “Apalagi menurut Nian Cai Xia, daftar nama

yang ada di tangan Gu Shi berhubungan dengan beberapa ratus

nyawa orang hidup. Walaupun biasanya aku jarang mengurusi halhal

seperti ini, tapi sekarang aku harus mengurusi hal ini.”

Kata Yi Cheng Zi, “Masuk akal juga! Cepat kejar!”

“Baiklah. Kau bantu aku mengurus Nian Cai Kia. Aku akan

mengejar bocah itu untuk mendapatkan daftar namanya.”

Setelah itu dia meloncat dan pergi ke arah Gu Shi berlari tadi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Yi Cheng Zi berjalan menghampiri Nian Cai Kia. Dengan teliti dia

memeriksa keadaannya. Melihat Nian Cai Kia masih tidak sadarkan

diri segera dia mengeluarkan sebutir butir obat dan dimasukkan ke

dalam mulut Nian Cai Kia.

Obat milik Yi Cheng Zi berasal dari resep rahasia partai Wu Dang.

Obat ini khusus dibuat untuk mengobati luka dalam. Begitu masuk

ke dalam mulut, obat itu akan segera mencair. Khasiatnya

berlangsung dengan cepat, karena itu hanya dalam waktu sebentar

Dong Hai Kian Niang mulai sadarkan.

Begitu dia sadar, dia segera duduk. Yi Cheng Zi melarangnya

bangun dan berkata, “Nona Nian, jangan bangun dulu. Walaupun

Nona sudah makan obat dariku, tapi tubuhmu tetap harus dipijat

sebentar, setelah itu keadaan Nona baru aman.”

Karena itu Nian Cai Kia menurut dan berbaring lagi. Dia melihat

ke kiri dan ke kanan, kemudian bertanya, “Dia pergi ke mana?”

Tanya Yi Cheng Zi kepada Nian Cai Kia, “Apakah yang kau cari

adalah Tuan Zhu Lai?”

“Tidak. Aku sangat kecewa kepadanya. Yang aku tanyakan

adalah Wu King Jian Ke Gu Shi,” jawab Nian Cai Kia.

“Gu Shi sudah pergi,” jelas Yi Cheng Zi. “Apakah Pendeta yang

telah menolongku?” tanya Nian Cai Xia.

Yi Cheng Zi menggelengkan kepalanya lalu tertawa, “Tidak. Tuan

Zhu Lai yang telah menolong Nona. Aku tidak mempunyai

kemampuan ilmu silat begitu tinggi.”

Setengah percaya Nian Cai Kia bertanya, “Apakah dia berhasil

mengalahkan Wu King Jian, Ke Gu Shi?”

“Bisa dikatakan benar, bisa dikatakan tidak….” jelas Yi Cheng Zi.

Nian Cai Kia menjadi bingung dan bertanya, “Apa yang telah

terjadi?”

“Gu Shi takut kepada Tuan Zhu Lai, sebelum bertarung dia sudah

mengaku kalah.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Yi Cheng Zi menceritakan apa yang telah terjadi tadi kepada Nian

Cai Kia.

Nian Cai Xia menarik nafas dan berkata, “Aku sudah tahu kalau

dia sanggup mengalahkan Gu Shi. Yang membuatku benci

kepadanya adalah dia sangat takut tersangkut dengan masalah

besar dan menganggap dia adalah orang baik….”

“Tuan Lin tidak senang mencampuri urusan orang lain, dan

tindakannya adalah benar, dia bukan takut. Harap Nona bisa

mengerti keadaannya. Bila Nona bisa mengerti tentangnya, kalian

akan saling mengerti.”

“Maksud Pendeta, aku harus menurut kepadanya?” tanya Nian

Cai Xia.

“Ini….” kata Yi Cheng Zi.

“Sudah berapa lama dia mengejar Gu Shi?”

“Hampir 15 menit berlalu.”

“Kalau dia bisa membunuh Gu Shi dan mendapatkan daftar nama

itu, aku akan menikah….”

Yi Cheng Zi tertawa dan berkata, “Kata-kata Nona Nian sangat

tidak tepat. Laki-laki dan perempuan harus saling mencinta, tidak

boleh ada prasyarat apapun.”

“Aku tahu, tapi apa yang kuminta kepadanya bukan urusan

pribadi. Membunuh Gu Shi dan merebut kembali daftar nama itu

adalah hal yang harus dilakukan setiap orang!”

“Betul! Karena itu Tuan Zhu Lai langsung mengejar Gu Shi!”

“Menurut Pendeta, apakah Gu Shi bisa terkejar?”

“Aku tidak tahu, tapi aku mengganggap Tuan Lin bisa

mengejarnya atau tidak, ini adalah urusan kedua.”

“Mengapa harus ada hal kedua?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Yang penting Tuan Lin bisa memenuhi permintaan Nona,

bukankah itu sudah cukup?”

“Tidak. Dia harus bisa merebut kembali daftar nama itu hal itu

baru bisa membuktikan….”

“Permintaan Nona terlalu banyak!”

“Permintaanku tidak banyak. Dia sanggup melakukan

permintaanku.”

“Aku harus jujur kepadamu, jika Tuan Lin bertarung dengan Gu

Shi, belum tentu dia bisa menang!”

Nian Cai Xia terpaku. “Belum tentu bisa menang?”

“Betul. Tadi Tuan Lin mengatakan kepada Gu Shi bahwa dia

pernah bertarung dengan gurunya sehari semalam, akhirnya dia

kalah satu jurus dari gurunya. Kata-katanya bukan kenyataan. Dulu

Tuan Liu pernah bertarung dengan A Nan Duo. Hanya dalam 100

jurus lebih dia sudah kalah.”

Nian Cai Xia terpaku, “Oh….”

“Begitu Gu Shi mendengar Tuan Lin pernah bertarung dengan

gurunya, A Nan Duo sehari semalam, karena takut maka dia tidak

berani bertarung dengan Tuan Zhu Lai. Sebenarnya jika mereka

benar-benar bertarung, Tuan Lin belum tentu bisa menang karena

jurus pedang Mi Zhong terlalu lihai sampai sekarang belum ada

yang sanggup mengalahkannya.”

“Oh….” ucap Nian Cai Xia.

“Hal yang diberitahukan Tuan Lin setelah dia mengetahui

identitas Gu Shi, dia memberitahukan semuanya kepadaku. Dia

berencana menakut-nakuti Gu Shi. Kalau tidak berhasil, baru dia

akan bertarung. Dia sangat mencintai Nona Nian. Demi Nona Nian,

dia rela bertarung dengan mempertaruhkan nyawanya sekalipun,”

kata Yi Cheng Zi.

Nian Cai Xia terharu hingga meneteskan air mata, “Kalau begitu,

aku sudah salah tafsir kepadanya.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Nona Nian tidak perlau merasa bersalah karena hal ini. Jika

Tuan Lin bisa merebut kembali daftar nama itu dan Nona Nian tidak

menyalahkannya, itu sudah cukup!”

Nian Cai Kia meneteskan air mata dan mengangguk, “Betul, jika

dia sudah berusaha, aku tidak akan menyalahkannya lagi.”

“Apakah Pendeta berniat menyusulnya? Kalau dia bertarung dan

kalah, mungkin Pendeta bisa membantunya,” mohon Nian Cai Kia.

Yi Cheng Zi berpikir sebentar, kemudian mengangguk, “Baiklah,

aku akan memapah Nona Nian supaya bisa beristirahat di pondok

setelah itu baru aku akan menyusulnya ke sana.”

Yi Cheng Zi memapah Nian Cai Kia ke pondokan dan

membaringkannya di sana. Segera dia menyusul Tuan Zhu Lai….

Tidak lama kemudian hari mulai terang.

Nian Cai Xia yang sedang berbaring di pondokan, mencoba

mengurut sendiri lukanya. Setelah beberapa lama dia mulai merasa

lebih baikan. Dia mencoba untuk duduk, tapi sepasang matanya

dengan cemas melihat ke arah Yi Cheng Zi pergi tadi. Dia juga

menunggu dengan cemas…

Dia menunggu hingga matahari sudah terbit.

Tampak Yi Cheng Zi menggendong Tuan Zhu dengan cepat dan

berlari ke pondokan!

Nian Cai Kia melihat keadaan itu, hatinya berdebar-debar hampir

pingsan. Dengan tergesa-gesa Nian Cai Kia keluar dari pondokan.

Dengan suara bergetar dia berteriak, “Wo Ming! V/o Ming!

Bagaimana keadaanmu?”

Hanya sebentar, Yi Cheng Zi menggendong Tuan Zhu Lai dan

mendekati tempat Nian Cai Kia. Wajah Nian Cai Xia sangat pucat

dan bertanya, “Dia…apakah dia sudah mati?”

Dengan serius Yi Cheng Zi menjawab, “Belum, tapi lukanya

sangat berat….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Dengan pelan Yi Cheng Zi meletakkan Tuan Zhu Lai ke lantai.

Sekarang Nian Cai Kia baru bisa melihat luka Tuan Zhu Lai. Ternyata

dia terluka di bagian dada. Lukanya selebar 5 sentimeter. Lukanya

menganga dan terlihat tulangnya yang berwarna putih. Noda darah

memenuhi dadanya!

Tapi Tuan Zhu Lai sangat sadar. Dia malah menghibur Nian Cai

Kia, “Jangan takut Cai Kia, aku tidak akan mati….”

Dari balik dadanya Yi Cheng Zi mengeluarkan sebuah pil dan

memasukkan ke dalam mulut Tuan Zhu Lai. Dia juga bertanya

kepada Nian Cai Kia, “Apakah Nona Nian membawa obat luka luar?”

“Ada!” jawab Nian Cai Kia. Dia memberikan obatnya kepada Yi

Cheng Zi kemudian Yi Cheng Zi membubuhkan obat itu di atas luka

Tuan Zhu Lai. Dia membuka ikat pinggangnya untuk membungkus

dada Tuan Zhu Lai.

Setelah pertolongan pertama selesai, Yi Cheng Zi menarik nafas

panjang dan berkata, “Untung dia tidak melukai organ bagian dalam

tubuhmu. Bila hanya luka luar dalam beberapa hari akan sembuh.”

Air mata Nian Cai Xia terus menetes. Dia berkata, “Wo Ming,

maafkan aku! Maafkan aku!”

Tuan Zhu Lai malah menjawab dengan ringan, “Tidak apa-apa.

Maaf juga, aku tidak bisa merebut kembali daftar nama itu.”

“Tidak apa-apa, kau sudah berusaha, ini sudah cukup bagiku!”

“Si hidung kerbau datang terlambat, kalau tidak aku pasti bisa

merebut kembali daftar nama itu.”

“Maksudmu…?” tanya Nian Cai Xia. “Bocah itu juga terkena

pukulanku, lukanya lumayan berat!”

“Apakah dia terkena pukulanmu?”

“Sewaktu aku mengejarnya supaya dia menyerahkan daftar nama

itu, dia tidak setuju. Karena itu kami bertarung, kira-kira

berlangsung 200 jurus. Aku menggunakan cara yang berbahaya

untuk memenangkan pertarungan, tidak disangka malah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

mendapatkan hasil sebaliknya, aku terkena tusukan pedang di

bagian dada. Tapi dia juga terkena pukulanku dan muntah darah!”

“Setelah itu bagaimana?”

“Dia kabur!”

“Apakah dia bisa kabur jauh?”

“Aku tidak tahu. Walaupun aku menyerangnya sampai dia

muntah darah tapi aku kira dia tidak akan mati. Ilmu tenaga dalam

perkumpulan Mi Zhong sangat tinggi. Dengan mencari tempat dan

beristirahat selama beberapa hari, dia akan cepat pulih kembali.”

“Benar-benar disayangkan….” kata Nian Cai Xia.

“Sekarang kalian berdua sudah terluka. Kita kembali dulu ke

gubuk untuk beristirahat, setelah itu baru merencanakan strategi

yang lain!” kata Yi Cheng Zi.

Mereka bertiga kembali ke gubuk Tuan Zhu Lai. Karena terlalu

banyak mengeluarkan darah, Tuan Zhu Lai mulai tidak kuat

berjalan. Begitu tiba di gubuknya, dia segera naik ke ranjang dan

berbaring di sana.

Setelah minum obat dari Yi Cheng Zi luka Nian Cai Xia sudah

lebih baik. Dia sudah bisa berjalan-jalan di kamar dan mengurus

Tuan Zhu Lai. Membantunya mengganti baju yang dipenuhi dengan

darah dan membersihkan darah dari badannya. Nian Cai Xia

mengurus Tuan Zhu Lai dengan penuh perhatian dan kasih sayang.

Mereka seperti sepasang suami istri!

Yi Cheng Zi tahu, banyak yang ingin mereka ceritakan dan

berbagi, maka dengan sikap penuh pengertian diapun menjauhi

mereka.

Sambil memberi minum Tuan Zhu Lai, Kian Cai Xia dengan penuh

perhatian bertanya, “Lukamu pasti sangat sakit?”

“Sedikit sakit, tapi tidak apa. Kau sendiri bagaimana?”

“Aku tidak apa-apa.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tuan Zhu Lai memegang tangannya. Dengan senang dia berkata,

“Cai Xia, kita terlambat beberapa tahun…”

“Betul, tapi tidak apa-apa, waktu masih sangat panjang. Aku…

aku ingin menikah denganmu. Begitu lukamu sembuh, kita akan

menjadi sepasang suami istri, apakah kau mau?”

Wajah Tuan Zhu Lai menjadi merah karena gembira. Dia berkata,

“Ini adalah hal yang paling kuinginkan! Aku…Hhhehh! Aku mengira

seumur hidup tidak akan mempunyai kesempatan kedua lagi!”

Dengan penuh kasih sayang Nian Cai Xia berkata, “Semua

salahku. Aku terlalu egois.”

“Tidak. Akupun bersalah, aku terlalu takut. Setelah aku sembuh,

aku akan mengikutimu dan meninggalkan tempat ini. Kita bersamasama

berkelana ke dunia persilatan dan melakukan hal-hal yang

berarti bagi sesama manusia.”

“Baik, akupun akan mengikutimu!” kata Nian Cai Xia.

Sewaktu mereka sedang gembira bercerita, tiba-tiba Yi Cheng Zi

dari luar kamar berkata, “Nona Nian, ada tamu yang datang!”

Nian Cai Kia kaget. Segera dia berdiri dan bertanya, “Siapakah

mereka?”

Yi Cheng Zi yang berada di luar menjawab, “Aku tidak kenal

mereka. Mereka terdiri dari seorang laki-laki dan seorang

perempuan, mereka ingin bertemu denganmu!”

Dengan terkejut Nian Cai Kia mengerutkan dahi. Dia berkata

pelan-pelan kepada Tuan Zhu Lai, “Kau berbaring saja, aku akan

melihat siapa yang datang.”

Tuan Zhu Lai berusaha bangun dan berkata, “Aku akan ikut

denganmu!”

Melihat Tuan Zhu Lai yang memaksa, terpaksa Nian Cai Xia

memapahnya turun dari ranjang, dan mereka bersama-sama keluar

dari kamar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Begitu melihat mereka keluar, Yi Cheng Zi berkata, “Mereka ada

di luar. Kelihatannya mereka tidak bermaksud jahat, mungkin

mereka adalah teman-teman Nona Nian.”

Nian Cai Kia baru ingat dan berkata, “Betul juga! Sebelum aku ke

sini, aku pernah memberitahu kepada teman-temanku kalau aku

akan datang ke sini, mungkin mereka datang untuk membantuku.”

Begitu keluar dari gubuk dan melihat ke luar pagar, Nian Cai Kia

dengan senang berteriak, “Ternyata kau, Shui Kian Hua!”

Ternyata seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berdiri di

luar pagar adalah Xin Suan dan Shui Kian Hua!

Nian Cai Kia mengenali Xin Suan. Dengan kaget dan aneh, Nian

Cai Kia bertanya kepada Xin Suan, “Xin Suan! Kau….”

Shui Kian Hua tertawa, “Kakak Cai Kia, aku akan

memperkenalkannya padamu, dia adalah…”

Begitu menunjuk Xin Suan, wajahnya sudah penuh dengan tawa

dan berkata, “Orang yang kalian marahi habis-habisan, sekarang

menjadi suamiku!”

Mata Nian Cai Kia terbelalak. Dengan senang dia bertanya,

“Apakah benar, kau berhasil mengalahkannya?”

“Bukan mengalahkannya, tapi kami saling mencintai dan

menyayangi lalu kamipun menjadi suami istri.”

Xin Suan tertawa, “Nona Nian, sewaktu berada di taman Fei, aku

telah berbuat kurang ajar padamu, aku mohon maaf!”

Dia memberi hormat kepada Nian Cai Xia. Nian Cai Xia sedikit

tidak percaya dan berkata, “Apakah benar kalian sudah menjadi

suami istri?”

“Benar. Diapun setuju untuk membantu kita merebut kembali

daftar nama itu.”

Nian Cai Xia menarik nafas dan berkata, “Kalian terlambat. Jika

kalian datang lebih awal satu jam lalu, keadaan ini sangat bagus!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tanya Shui Xian Hua, “Apakah Wu Xing Jian Ke Gu Shi sudah

melarikan diri?”

“Betul. Hhhehhl Sulit diceritakan dalam waktu yang singkat….”

Nian Cai Xia memperkenalkan Tuan Zhu Lai dan Yi Cheng Zi

kepada mereka. Setelah berbincang-bincang merekapun masuk ke

dalam gubuk. Dia menceritakan semua yang telah terjadi kepada

mereka. Setelah mendengar cerita Nian Cai Xia, Shui Xian Hua

segera berkata kepada Xin Suan, “Bocah itu terluka, dia pasti tidak

akan bisa lari jauh. Kita masih bisa mengejarnya. Menurutmu

bagaimana?”

Xin Suan mengangguk, “Benar, kami minta tolong kepada

Pendeta Yi Cheng Zi supaya bisa membawa kita ke tempat di mana

bocah itu berhasil dilukai. Kami akan mengikuti tetesan darahnya

supaya bisa mengejarnya segera.”

Kata Yi Cheng Zi, “Aku ingin sekali membawa kalian ke tempat

itu, tapi menurut Tuan Zhu Lai, walaupun bocah itu terluka dalam

tapi dia masih mempunyai tenaga untuk bertarung.”

Artinya dia takut kalau Xin Suan dan Shui Xian Hua tidak sanggup

melawan Wu Xing Jian Ke Gu Shi. Kalau tidak berhati-hati mereka

bisa terbunuh.

Tuan Zhu Lai tidak tahu bagimana kemampuan Xin Suan. Dia

berkata, “Betul, bocah itu masih mempunyai sisa tenaga untuk

melawan. Kalian berdua tidak perlu tergesa-gesa. Biar aku sembuh

dulu…”

Nian Cai Xia tahu bagaimana sifat Xin Suan, dia memotong katakata

Tuan Zhu Lai. “Wo Ming, kau belum mengenal Tuan Xin. Dia

mempunyai kekuatan untuk membereskan orang itu!”

Tuan Zhu Lai menggelengkan kepala, “Tidak! Aku bukan

meremehkan Adik Xin. Bocah itu adalah murid perkumpulan Mi

Zhong yang dipimpin oleh Ketua A Nan Duo. Jurus pedang Mi Zhong

sangat lihai. Setahuku, dunia persilatan di Zhong Yuan belum ada

yang bisa mengalahkannya, maka….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Shui Xian Hua tertawa, “Ada pepatah mengatakan : orang boleh

berilmu tinggi, tapi pasti ada yang lebih tinggi darinya. Gunung yang

tinggi pasti akan ada yang lebih tinggi lagi. Aku tidak percaya tidak

ada orang yang tidak bisa mengalahkan Gu Shi!”

Tapi Tuan Zhu Lai dengan serius berkata, “Aku bukan menakutnakuti

kalian. Ilmu pedang orang itu benar-benar sangat lihai. Kalian

berdua tidak akan sanggup melawannya!”

Xin Suan tersenyum dan berkata, “Maksud Tetua Lin adalah, ilmu

pedang bocah itu tidak ada yang sanggup mengalahkannya?”

“Betul!” jawab Tuan Zhu Lai.

“Belum tentu, aku pernah mendengar ada seseorang yang ilmu

pedangnya sangat lihai dan setaraf dengan ilmu pedang Mi Zhong,”

jelas Yi Cheng Zi.

“Siapakah dia?” Tuan Zhu Lai bertanya. “Tian Shan Tun Jian

Xian!” jawab Yi Cheng Zi.

“Aku belum pernah mendengar nama itu!” kata Tuan Zhu Lai.

“Dalam satu tahun 365 hari, ada berapa hari kau meninggalkan

Gunung Zhu Lai?” Yi Cheng Zi tertawa.

Tuan Zhu Lai ikut tertawa dan berkata, “Benar! Aku hanya orang

gunung, benar-benar jarang mendengar kabar tentang dunia

persilatan. Sebenarnya siapakah Tian Shan Tun Jian Xian itu?”

“Katanya ilmu pedang Tian Shan Tun Jian Kian sangat lihai.

Begitu pedang keluar dari sarung pedang, hawa pedangnya saja

bisa mengambil kepala orang dengan jarak 100 langkah lebih,” jelas

Yi Cheng Zi.

“Kalau memang benar seperti itu, Tian Shan Tun Jian Kian bisa

bersaing dengan Mi Zhong Jian Fa—apakah sekarang dia tinggal di

Tian Shan?” tanya Tuan Zhu Lai.

“Mungkin saja,” jawab Yi Cheng Zi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Benar, dia berada di Tian Shan di lembah Mei Hua. Tapi satu

tahun yang lalu dia sudah meninggal!” kata Xin Suan tiba-tiba.

Yi Cheng Zi terpaku dan bertanya, “Mengapa Tuan Xin bisa

tahu?”

“Karena aku adalah muridnya!” jawab Xin Suan.

Dengan kaget Yi Cheng Zi berteriak, “Ternyata Tuan adalah

murid Tian Shan Tun jian Kian!”

“Benar, tapi aku tidak sepintar guru karena itu aku hanya

menguasai sepersepuluh dari ilmu guruku!”

Yi Cheng Zi meloncat dari duduknya dan berkata, “Ayo! Aku akan

membawa kalian berdua ke sana. Jika bertemu dengan bocah itu,

Tuan Kin pasti bisa mengalahkannya dan bisa merebut kembali

daftar nama itu!”

0-0-dwkz-0-0

Kira-kira setengah jam kemudian, Yi Cheng Zi sudah membawa

Xin Suan dan Shui Kian Hua ke bawah gunung Zhu Lai. Yi Cheng Zi

menunjuk noda darah yang berceceran dan berkata, “Aku melihat

Tuan Zhu Lai terkuka di sini. Noda-noda darah ini adalah darah milik

Tuan Zhu Lai. Ada juga muntahan darah dari Wu King Jian Ke Gu

Shi.”

“Apakah sewaktu Pendeta sampai di s ini, bocah itu sudah pergi?”

tanya Xin Suan.

Yi Cheng Zi mengangguk, “Benar, tadinya aku ingin mengejar,

tapi aku takut Tuan Zhu Lai terlalu banyak mengeluarkan darah,

maka dengan berat hati aku melepaskannya dan aku membawa

Tuan Zhu Lai kembali ke gubuknya.”

Xin Suan maju beberapa langkah. Dia melihat di tanah ada

beberapa tetes darah lagi. Dia berjongkok untuk melihat lebih jelas

dan berkata, “Darah ini milik bocah itu…melihat darah ini

tampaknya dia masih berada di gunung ini….”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Benar, dia terkena pukulan Tuan Zhu Lai dan muntah darah,

berarti luka dalamnya lumayan berat. Orang yang sudah terluka

dalam tidak akan berani terus berlari. Dia akan mencari sebuah

tempat untuk mengobati luka dalamnya,” kata Shui Xian Hua.

Xin Suan mengangguk. Dia berdiri dan berkata kepada Yi Cheng

Zi, “Aku akan mengikuti jejak darah ini untuk mencarinya Pendeta,

silakan Anda pulang dulu.”

“Baiklah, Tuan Zhu Lai dan Nona Nian masih terluka, aku akan

pulang untuk menemani mereka—jika kalian berdua tidak berhasil

menemukan Gu Shi, apakah kalian akan kembali untuk bertemu

kembali dengan Nona Nian?” tanya Yi Cheng Zi.

“Tidak, Gu Shi berjanji akan pergi ke kota Ji Nan, ke rumah

makan Tian Xiang dan menunggu Pan Long Da Xia di sana. Jika aku

tidak berhasil menemukannya di sini, aku akan pergi ke Ji Nan

supaya bisa bertemu dengannya,” jawab Xin Suan.

Yi Cheng Zi mengangguk setuju. Segera dia kembali ke rumah

Tuan Zhu Lai lagi.

Begitu Yi Cheng Zi pergi, Xin Suan berkata kepada Shui Xian Hua

dengan tertawa, “Sayang, apakah kau pernah berburu?”

“Belum pernah,” jawab Shui Xian Hua. “Sewaktu aku masih di

Tian Shan untuk berlatih ilmu silat, aku sering berburu,” jelas Xin

Suan.

“Lalu apa hubungannya?” tanya Shui Xian Hua sambil tertawa.

“Karena sering berburu, maka aku mengetahui bagaimana sifat

binatang dan bisa menebak di mana tempat persembunyian

mereka.”

“Tapi hari ini yang kita cari adalah manusia bukan binatang.”

“Manusia lebih mudah dicari dibandingkan binatang,” jawab Xin

Suan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Sudahlah jangan menganggap semua ini terlalu mudah. Jika kita

benar-benar menemukan dia, aku baru setuju dengan

perkataanmu.”

Xin Suan melihat keadaan msekeliling gunung kemudian

menunjuk ke arah utara dan berkata, “Menurutku dia berlari ke arah

sini, ayo kita cari ke sana!”

Mereka berdua berjalan ke arah utara. Betul saja, baru saja

mereka berjalan beberapa langkah, mereka menemukan muntahan

darah di tanah. Dengan senang Shui Xian Hua berkata, “Tuan yang

baik, kau memang pintar!”

Xin Suan terus berjalan lagi. Sepanjang jalan dia menemukan

banyak noda darah tapi begitu memasuki hutan, noda darah tidak

terlihat lagi. Dia melihat ke sekeliling. Dengan tersenyum dia

bertanya, “Coba kau tebak dia berlari ke arah mana?”

“Pasti masuk ke dalam hutan!”

“Salah!”

“Salah?”

“Dia tahu ada orang yang bakal mengejarnya. Setelah sampai di

sini, orang yang mengejarnya pasti akan menganggap kalau dia

masuk ke dalam hutan, karena itu dia malah berjalan ke tempat

sebaliknya….”

Xin Suan menunjuk gunung yang dipenuhi dengan bebatuan dan

berkata, “Kita pergi ke sana untuk mencarinya.”

Karena itu mereka berjalan memutar dan mencari ke arah

gunung. Gunung yang berbentuk seperti sungai kecil mempunyai

lebar kira-kira 6 meter. Di sebelah kanan adalah hutan dan dataran

tinggi. Di sebelah kiri adalah jurang yang terjal, disungai itu terlihat

ada air mengalir. Pemandangannya sangat indah.

Begitu Shui Kian Hua masuk ke dalam sungai, dengan penuh

kecurigaan dia berkata, “Sepertinya sungai ini tidak bisa digunakan

untuk bersembunyil”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Kita cari dulu baru bicara,” kata Xin Suan.

Mereka meloncat ke atas sebuah batu besar. Mereka terus

mencari sepanjang jalan. Kira-kira setengah kilometer dari sana, di

sebuah tempat di kelokan sungai, di hutan yang ada di sebelah

kanan tampak lebih lebat. Sedangkan di sebelah kiri, posisi jurang

semakin terjal.

Sepasang mata Xin Suan yang tajam tampak berkilau. Dengan

teliti dia mencari di jurang yang berada di sebelah kiri. Dia menafsir,

kalau Wu King Jian Ke Gu Shi sekarang ini bersembunyi di sini dan

berada di dalam hutan yang berada di sebelah kiri jurang, bukan di

hutan sebelah kanan.

Jurang yang tinggi itu memiliki batu berlapis-lapis. Bentuknya

seperti sekat yang sengaja didirikan, terlihat sangat indah.

Mereka terus berjalan lagi sejauh beberapa puluh meter. Di

sebuah batu besar, tiba-tiba Xin Suan berhenti. Wajahnya dipenuhi

tawa dingin dan berkata, “Sayang, kita telah berhasil menemukan

dia!”

Shui Kian Hua melihat ke sekeliling dan berkata, “Dimana dia?”

Xin Suan menunjuk batu besar itu dan berkata, “Lihat, batu itu

ada noda darah!”

“Benar, di atas batu itu ada muntahan darah!”

Dengan semangat Shui Kian Hua berkata, “Sangat baik. Dia

bersembunyi di dalam sungai ini!”

“Mungkin dia ada di atas sana.”

“Apakah dia ada di balik batu besar itu?”

“Benar!”

“Kau yang naik atau aku?”

“Aku saja yang naik.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan meloncat naik ke atas dinding jurang kemudian

selangkah demi selangkah naik lagi ke posisi lebih atas. Kira-kira

setelah naik 30 meter, dia berhenti. Di sebelah batu besar itu dia

berkata dengan dingin, “Gu Shi, apa kau berada di dalam sana?”

“Xin Suan.”

Dari balik batu besar muncul kepala Gu Shi. Wajahnya pucat.

Dengan aneh dia bertanya,

“Xin Suan?”

Xin Suan mengangguk. Wu King Jian Ke Gu Shi dengan senang

berkata, “Kau datang karena diperintahkan oleh Wang Ye untuk

membantuku bukan?”

“Otakmu masih bisa berpikir dengan lincah!” Xin Suan tersenyum.

Dengan senang Wu King Jian Ke Gu Shi berkata, “Ini sangat

mudah dibayangkan. Walaupun sebenarnya aku tidak membutuhkan

orang untuk membantu….”

“Kau salah, aku datang bukan untuk memb antumu!”

“Kalau begitu…untuk apa kau datang?” wajah Gu Shi berubah.

“Aku menginginkan daftar nama itu.”

“Maksudmu, kau masih menginginkan 100 ribu tail perak lagi?”

Gu Shi tertawa dingin.

“Benar.”

Gu Shi tertawa dingin berkata, “Xin Suan, kau sangat bodoh. Kau

sudah mendapatkan 100 ribu tail perak, mengapa tidak bersenangsenang?”

“Orang selalu merasa tidak cukup. Aku juga semacam itu.”

“Kalau begitu, mungkin kau tidak bisa menikmati 100 ribu tail

perak lagi!”

“Kau terluka?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Benar, aku ceroboh telah terkena pukulan Tuan Zhu Lai. Tapi

kau tenang saja, aku masih sanggup membunuh.”

“Tidak, aku sudah melihat keadaanmu yang sama sekali tidak

bisa bertarung.”

“Apakah kau mau mencobanya?”

“Bukan sekarang. Aku menunggu luka dalammu sembuh dulu,

baru akan bertarung denganmu.”

“Mengapa?” Gu Shi terkejut.

“Aku tidak senang mengambil keuntungan. Sewaktu sedang

berada dalam bahaya dan aku ingin kau mendapat kekalahan dan

benar-benar bisa diterima di dalam hatimu!”

“Kau benar-benar bodoh!” kata Gu Shi.

“Mungkin. Kadang-kadang aku juga melakukan hal bodoh,” kata

Xin Suan.

“Mengapa kau bisa tahu kalau aku berada di sini?”

“Dong Hai Xian Niang memberitahu bahwa kau sudah terluka.

Aku menebak kau pasti bersembunyi di gunung ini untuk

memulihkan keadaanmu yang terluka. Karena itu aku mencari ke

sini.”

Gu Shi menjulurkan kepala dan melihat ke bawah. Shui Xian Hua

sedang berdiri di sungai itu. Wajah Gu Shi berubah dan bertanya,

“Siapakah dia?”

“Istriku, Shui Xian Hua.”

“Shui Xian Hua menjadi istrimu?”

“Kami baru menikah.”

“Dalam daftar nama itu tercantum namanya!”

“Benar. Karena itu aku menginginkan daftar nama itu jika kau

rela menyerahkannya padaku. Setelah mendapatkannya, aku akan

segera pergi dari s ini.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Tidak! Tidak bisa! Tapi aku akan memberimu sedikit

keuntungan. Aku bisa menghapus n amannya dari daftar nama itu.”

Xin Suan menggelengkan kepala, “Tidak, aku menginginkan

daftar nama itu seluruhnya.”

Gu Shi tertawa dan berkata, “Aku mengerti. Kau sudah

dipengaruhi mereka!”

“Tidak. Aku hanya membantu mereka mengambil kembali daftar

nama itu. Jika mereka membayarku 100 ribu tail lagi, aku pasti akan

menerimanya. Karena sekarang ini di Shan Dong sedang mengalami

kekeringan, banyak penduduk di sana yang kelaparan dan perlu

dibantu.”

Gu Shi melihat ke bawah dan bertanya, “Mengapa Nian Cai Xia

tidak ke sini?”

“Dia sedang mengurus dan merawat Tuan Zhu Lai. Kau tenang

aja, walaupun datang beberapa orang lagi, yang akan bertarung

denganmu hanya ada satu orang…itulah aku!”

Mata Gu Shi tampak berkilau. Dia tertawa licik dan berkata,

“Apakah benar kau akan menungguku sampai sembuh setelah itu

baru bertarung?”

“Benar. Semua orang mengatakan kalau ilmu pedang dari

perkumpulan Mi Zhong tidak ada tandingannya. Aku tidak percaya

dan aku ingin mencobanya.”

“Aku sedang berobat dengan tenaga dalam, mungkin 1-2 hari

lagi baru sembuh.”

“Tidak apa-apa, aku bisa menunggumu.”

“Sewaktu aku sedang mengobati sendiri dengan tenaga

dalam….”

“Aku tidak akan mengganggumu.”

“Kau janji?”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan mengangguk dan berkata, “Aku akan menunggumu di

bawah, jika kau menganggap kau sudah bisa bertarung, turunlah

aku akan menyambutmu.”

Setelah selesai bicara, Xin Suan membalikkan badannya dan

turun. Setelah sampai di sungai itu, dengan bingung Shui Kian Hua

bertanya, “Kau tidak jadi bertarung dengan Gu Shi?”

“Aku menunggu dia sembuh dulu dari luka dalamnya setelah itu

kami baru akan bertarung.”

“Apakah kau gila?” Shui Kian Hua dengan kaget berkata.

“Semua orang mengatakan kalau ilmu pedang Mi Zhong tidak

terkalahkan. Aku akan membuat semua orang mengerti, kalau ilmu

pedang dari perguruan ku juga tidak lebih jelek daripada ilmu

pedang Mi Zhong!”

“Kau ceroboh. Yang kita mau adalah buku daftar nama itu,

bukan…”

Xin Suan menempelkan telunjuknya ke mulut dan berkata,

“Tutup mulutmu. Jika banyak bicara, aku akan mengusirmu!”

Shui Kian Hua marah dan berkata, “Baik, baik, aku benar-benar

buta karena telah menikah dengan orang yang begitu ceroboh!”

Xin Suan tertawa dan berkata, “Ayo! Kita pergi ke hutan yang di

ada depan sana.”

Di menarik Shui Kian Hua dan meloncat ke depan. Shui Kian Hua

terus membalikkan kepalanya untuk melihat dan dengan cemas dia

bertanya, “Apakah kau tidak takut kalau dia akan kabur?”

“Sifatnya sama seperti diriku, dia tidak akan kabur….”

Xin Suan menariknya masuk ke dalam hutan. Mereka memilih

sebuah tempat di mana mereka bisa mengawasi Gu Shi.

Shui Kian Hua menarik nafas, “Benar-benar seperti sebuah

lelucon. Dengan susah payah kita mencarinya, tapi sekarang kita

harus menunggunya sembuh baru bertarung!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tiba-tiba Xin Suan menarik dan menindihnya, kemudian

tangannya sudah mulai menggerayangi tubuh Shui Kian Hua.

Shui Kian Hua memberontak dan berkata, “Kau mau apa?”

“Tempat ini tidak ada siapapun….” Xin Suan tertawa.

0-0-dwkz-0-0

Hari semakin gelap.

Shui Xian Hua berada dalam pelukan Xin Suan. Dengan suara

kecil dia berkata, “Hari sudah gelap, malam ini—”

“Malam ini ldta menginap di sini.”

“Kita akan makan apa?”

“Makan kelinci panggang.”

“Mana ada kelinci liar di sinir?”

“Kau nyalakan api dulu, aku akan menangkap kelinci liar untuk

dipanggang.”

Shui Xian Hua sibuk mencari kayu bakar. Dia menyalakan api.

Begitu api menyala dengan besar, Xin Suan sudah kembali. Dia

membawa seekor kelinci dan menyerahkan kelinci itu kepada Shui

Xian Hua dan berkata, “Bawalah kelinci ini ke dalam sungai, belah

dadanya. Semenjak kita menikah, kau belum pernah memasak

untukku!”

Shui Xian Hua memelototi Xin Suan tapi dia tetap membawa

kelinci itu untuk dibersihkan, kemudian membawanya kembali untuk

dipanggang.

Tidak lama daging kelinci sudah matang.

“Sayang tidak ada arak di sini,” kata Xin Suan.

“Di rumah Tuan Zhu Lai ada. Aku akan pergi untuk

mengambilnya, bagaimana?” tanya Shui Xian Hua.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“Tidak perlu.”

“Aku juga ingin minum. Aku akan minta ke sana!”

Xin Suan menariknya supaya kembali duduk dan berkata,

“Duduklah, jangan mempunyai pikiran ingin kabur!”

“Apa?” Shui Xian Hua tertawa.

“Kau ingin memberitahu Dong Hai Xian Niang supaya dia datang

dan menangkap Gu Shi. Kau kira aku tidak tahu?”

“Kau benar-benar orang yang selalu menaruh curiga!”

Xin Suan mengeluarkan pisau kecil lalu membagi daging kelinci

itu menjadi 3 bagian. Dia memilih yang terbaik untuk Shui Xian Hua

dan berkata, “Makanlah!”

Dengan cepat Shui Xian Hua menghabiskan daging kelinci itu.

Xin Suan memakan potongan yang lain kemudian dia berdiri dan

berkata, “Aku akan mengantar potongan daging kelinci ini untuk Gu

Shi.”

Shui Xian Hua mengerutkan dahi dan berkata, “Dia bukan

saudara kandungmu, mengapa kau begitu memperhatikan dia?”

“Jangan cerewet!”

Xin Suan keluar dari hutan kemudian meloncat lewat sungai dan

naik ke atas tebing dan sampai di tempat persembunyian Gu Shi.

Dia berteriak, “Gu Shi, aku datang untuk mengantarkan makanan

untukmu.”

Tapi Gu Shi tidak keluar. Dari balik batu besar dia menjawab

dengan dingin, “Katanya kau tidak akan menggangguku!”

“Aku datang untuk mengantarkan daging kelinci untukmu. Jika

perut lapar, luka sulit disembuhkan.”

“Aku tidak lapar!”

“Tidak ada racun di dalamnya, kau tenang saja!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gu Shi menjulurkan kepalanya untuk melihat Xin Suan. Tiba-tiba

dia tertawa lepas dan berkata, “Kau orang yang bisa dijadikan

sahabat. Tapi aku beritahu kepadamu, begitu kita bertarung,

tanganku tidak bermata dan aku tidak akan memberimu

kesempatan untuk kabur.”

“Akupun sama seperti itu.”

Gu Shi mengulurkan tangannya dan berkata, “Baiklah, lemparkan

saja ke sini!”

Xin Suan melempar daging kelinci itu. Dia segera membalikkan

badannya dan pergi.

Tapi Gu Shi berteriak, “Tunggu!”

“Apa yang masih kau butuhkan?”

“Aku tidak membutuhkan apa-apa, aku hanya ingin

memberitahumu, besok aku bisa bertarung denganmu.”

“Luka dalammu sepertinya sangat berat, lebih baik tunggu satu

hari lagi sampai lukamu sembuh total.”

Dengan mantap Gu Shi berkata, “Besok pagi!”

“Baik, aku akan mengikati kemauanmu!”

Xin Suan kembali ke tempat semula, duduk di sisi perapian dan

mulai makan daging kelincinya.

“Apakah dia mau menerima makanan pemberianmu?” tanya Shui

Kian Hua.

Xin Suan mengangguk.

“Apakah dia mengatakan sesuatu?”

“Dia mengatakan kalau besok pagi dia sudah bisa bertarung

denganku.”

“Apakah kau yakin bisa menang?”

“Tidak, tapi kau tenang saja. Aku tidak akan membuatmu

menjadi janda.”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Setelah kenyang makan daging kelinci dan pergi ke sungai kecil

itu untuk mencari air minum, dia kembali lagi ke tempatnya

kemudian duduk bersila dan berkata, “Mulai sekarang kau jangan

menggangguku. Aku ingin duduk diam ….”

Sesudah itu dia memejamkan matanya seperti seorang biksu tua

yang sedang bersemedi, tidak bicara juga tidak bergerak.

Shui Kian Hua tahu Xin Suan sedang mempersiapkan tenaganya

supaya bisa bertarung dengan Wu King Jian Ke Gu Shi besok” pagi,

maka diapun duduk di pinggir tidak mengganggu semedi suaminya.

0-0-dwkz-0-0

Waktu baru menunjukkan pukul 5 dini hari, bumi dan langit

masih gelap. Wu King Jian Ke Gu Shi sudah turun dari tempat

persembunyiannya. Dia berdiri di atas sebuah batu besar yang ada

di sungai itu.

Dia menarik nafas panjang kemudian dengan dingin berkata, “Xin

Suan, waktunya sudah tiba!”

Xin Suan membuka kedua matanya, pelan-pelan berdiri dan

keluar dari hutan lalu berkata, “Hari belum juga terang, mengapa

harus terburu-buru?”

“Aku ingin sebelum matahari terbit sudah bisa turun dari gunung

ini,” Gu Shi tertawa dingin.

“Baiklah, apakah kau yakin rencanamu bisa tercapai?” Xin Suan

tersenyum.

Dia sudah berjalan ke arah sungai dan berdiri di sebelah timur

kemudian mencabut pedangnya!

Shui Xian Hua adalah perempuan yang berpengalaman di dunia

persilatan, tapi hari ini dia melihat Xin Suan dan Gu Shi, dua orang

pemuda terkuat di dunia persilatan sedang berdiri saling

berhadapan, hatinya terus bergetar. Dia merasa seperti akan terjadi

gunung meletus dan bumi terbelah menjadi dua.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Karena itu dia berdiri di sisi sungai dan dengan cemas

menunggu.

Wu Xing Jian Ke Gu Shi berdiri di atas batu besar. Dia diam

dengan lama melihat Xin Suan, setelah itu dia baru mencabut

pedangnya. Sudut mulut terlihat tawanya yang bengis. Pelan-pelan

dia berkata, “Kau boleh menyerang dulu!”

Xin Suan sangat tenang. Pedang diletakkan secara simetris di

depan dadanya. Dia tersenyum dan berkata, “Mengapa kau tidak

turun?”

Wu Xing Jian Ke Gu Shi segera meloncat turun dari batu dan

maju 3 langkah. Wajahnya tetap terpeta tawa sadis dan dia

bertanya, “Apakah seperti itu saja sudah cukup bagimu?”

“Ya,” Xin Suan mengangguk.

Di dalam sungai banyak batu besar atau batu yang lebih kecil,

tapi tempat di mana mereka berdiri agak datar, cocok sebagai

tempat untuk bertarung.

Dua orang dengan 4 mata saling memandang. Walaupun

disekeliling masih sangat sepi tapi udara di sana dipenuhi dengan

aura tegang dan siap membunuh!

Xin Suan seperti belum ingin bergerak dulu karena itu dia diam

dan berdiri.

Gu Shi menunggu. Melihat Xin Suan lama tidak mengeluarkan

serangan, dia sedikit tidak sabar dan berkata, “Aku sudah

mengatakan sebelum matahari terbit, aku sudah harus turun dari

sini. Jika kau tidak mau menyerang dulu, aku yang akan mulai

menyerang!”

Xin Suan dengan tenang menjawab, “Jangan merasa sungkan!”

Wajah Gu Shi mulai muncul hawa membunuh. Dia mengangkat

pedang panjangnya dengan kuat.

Pedang panjang itu terbuat dari bahan baja yang bagus dan

kuat. Begitu dia mengangkat dengan tenaga besar, pedang baja itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

terlihat seperti pedang ringan, dan mengeluarkan suara WUSH

WUSH WUSH!

Xin Suan tetap berdiri diam dan tidak bergerak. Dia seperti

sebuah gunung batu.

Gu Shi maju selangkah, pedang diletakkan di depan dengan

posisi menyerang.

Xin Suan tetap tidak bergerak.

Gu Shi tertawa dingin dan berkata, “Terimalah seranganku 1”

Pedang berkilau, cahaya bersinar ke segala arah. Hanya sebentar

ujung pedang Gu Shi sudah berada di depan tenggorokan Xin Suan!

Tiba-tiba Xin Suan tertawa, tubuhnya mulai bergoyang seperti air

mengalir dan seperti awan beriak. Dengan lincah dia menghindar

sejauh 3 kaki kemudian dengan cepat kembali ke tempat semula.

Pedang diangkat dan diputar tampak ada cahaya yang memancar!

Hanya sebentar kilauan pedang itu seperti meledak dengan cepat

juga berubah menjadi titik-titik bintang, mennghampiri wajah Gu

Shi.

“Ilmu pedang yang bagus!”

Gu Shi berteriak. Diiringi teriakannya, dia berjongkok, kemudian

pedangnya diangkat. Pedang seperti ular yang menjulurkan

lidahnya. Dia menyerang 3 kali lagi.

TING, TING, TING!

Dua pedang saling beradu seperti petir.

Xin Suan menahan serangannya sebanyak 3 kali. Dia juga mulai

membalas. Pedang panjangnya terus menyerang.

Setiap jurus pedang yang keluar seperti petir yang terus terus

meledak!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gu Shi tidak mau mengalah. Pedangnya terus berubah-ubah

seperti naga yang sedang bermain. Dalam suara TING, TING itu, dia

bisa mencairkan serangan Xin Suan….

Dua belah pihak bermain pedang semakin cepat juga semakin

ganas, seperti 2 ekor naga yang sedang berkelahi di langit. Kilauan

pedang menusuk mata!

Mereka sudah bertarung 50 jurus lebih kemudian tampak kedua

pihak berpisah dan masing-masing melompat jauh.

Xin Suan kembali ke posisi timur.

Gu Shi tetap berada di sebelah barat.

Mereka beristirahat sebentar kemudian 4 mata itu saling menatap

lagi. Mata memandang, kaki mulai bergeser. Mereka siap bertarung

memasuki babak kedua.

Satu kaki bergeser ke kanan, satu kaki bergeser ke kiri tapi

masing-masing sedang mencari lowongan dari lawannya….

“Hei!”

Gu Shi berteriak. Dia mulai menyerang lagi. Pedang diangkat dan

diputar. Segera langit dipenuhi oleh bintang. Bintang ini terbang

menutupi kepala Xin Suan!

Xin Suan mundur sedikit, tubuhnya setengah berjongkok. Kedua

tangannya memegang pedang. Dengan gaya memancing, dia

menggetarkan pedang 2 kali dengan cepat.

Kedua getaran pedang itu menimbulkan pemandangan aneh.

Seperti burung merak yang sedang membuka ekornya, sangat

indah!

“Ting, ting!”

Ada suara kecil berbunyi, keluarlah titik-titik api. Serangan Gu Shi

yang aneh tidak tampak lagi!

Xin Suan mengambil kesempatan ini untuk menyerang.

Pedangnya bergerak seperti belut terus berjalan ke depan!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Gu Shi dengan cepat mundur 3 langkah, tiba-tiba dia

mengeluarkan jurus aneh lagi. Pedang terus berputar menjadi 5 titik

bintang terang, menyerang pada 5 titik nadi bagian dada Xin Suan.

Kelima titik bintang begitu muncul bentuknya seperu cakar naga,

keluar dengan cepat dan aneh. Tapi memberi kesan sangat ringan

dan. Membuat orang tidak bisa menebak mana titik bintang yang

asli dan mana yang tipuan.

Xin Suan tahu bagaimana lihainya jurus ini, dia segera berlari

keluar dari lingkaran itu.

Ternyata Gu Shi mengeluarkan jurus pedang Mi Zhong pada

bagian membunuh orang, nama jurusnya adalah Shen Long Tan

Zhao (Naga sakti menjulurkan cakar). Dulu Xin Suan pernah

mendengar dari gurunya nama jurus pedang Mi Zhong yaitu Shen

Long Jiu Shi (Sembilan jurus naga sakti). Jurus yang paling lihai

bernama Shen Long Tan Zhao. Jurus ini pernah mengalahkan

pesilat-pesilat tangguh di Zhong Yuan. Sampai sekarang belum ada

yang sanggup memecahkan jurus ini. Jurus ini adalah jurus yang

paling lihai di dunia persilatan dari golongan ilmu pedang.

Tian Shan Tun Jian Xian pernah mencari tahu cara

menanggulanginya beberapa tahun yang lalu. Dia berharap bisa

mendapatkan cara untuk mencairkan jurus Shen Long Tan Zhao ini.

Tapi pada akhirnya dia tetap tidak bisa menemukan cara

mencairkannya, karena itu dia berpesan kepada Xin Suan, jika

bertemu dengan jurus ini cara yang terbaik adalah segera lari dari

sana, jangan memaksa harus menyambut atau menahan jurus ini.

Karena itu begitu melihat lawannya mengeluarkan jurus Shen

Long Tan Zhao, dia segera lari untuk menghindar.

Walaupun dia lari dengan cepat, tapi begitu dia berlari kira-kira

ada 6-7 meter, dia melihat baju bagian dadanya sudah berlubang.

Dia menghembus nafas dan bergidik ngeri.

Gu Shi mengira begitu jurus Shen Long Tan Zhao dikeluarkan,

jurus ini akan membuat Xin Suan terluka berat, tapi ternyata jurus

itu ternyata hanya sanggup mencakar hingga sobek baju Xin Suan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

bagian dada. Dia merasa kaget dan berkata, “Bocah! Kau benarbenar

membuatku kagum!”

Xin Suan menenangkan hatinya. Dia tertawa ringan dan berkata,

“Jangan sombong! Jurus Shen Long Tan Zhao bukan jurus yang

paling dasyat!”

“Bagaimana kalau kau mencobanya lagi?” tanya Gu Shi tertawa

dingin.

“Silakan!” jawab Xin Suan.

Gu Shi benar-benar marah. Dengan sekuat tenaga dia meloncat

keluar. Dengan marah, dia mengangkat pedangnya kemudian jurus

Shen Long Tan Zhao dikeluarkan lagi.

Pada waktu itu terlihat 5 titik bintang terang lagi!

Xin Suan tidak berani menyambut atau menahan. Dia lari lagi dan

terus berlari ke sisi.

Gu Shi sangat marah dan berkata, “Bocah, jika kau seorang yang

berilmu, sambutlah jurus ini!”

Begitu Xin Suan lari kurang lebih 4 meter, tiba-tiba dia maju dan

berkata sambil tertawa, “Terimalah satu jurusku!”

Terlihat sinar pelangi pedang membawa suara yang besar,

menggulung ke depan Gu Shi. Tiba-tiba dia meloncat lagi ke atas,

tubuhnya bergerak seperti naga yang sedang berputar. Posisi kepala

di bawah dan kaki berada di atas kemudian dia membuat cahaya

pedang lagi, seperti air terjun yanng menyiram kepala Gu Shi!

Gu Shi tidak mau menghindar. Mulutnya mengeluarkan suara

keras. Dia berjongkok dan membuat posisinya menjadi telungkup.

Tapi tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya, pedangpun menusuk ke

atas.

“TING! TING!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Suara keras yang bisa membuat telinga menjadi tuli. Mungkin Gu

Shi mencairkan jurus Xin Suan pada saat kurang tepat. Dia

berguling kira-kira beberapa meter.

Xin Suan sudah turun. Dia tidak mengambil kesempatan ini untuk

mengejar. Dia hanya tertawa dan berkata, “Sekarang apakah kita

sudah impas?”

Wajah Gu Shi berubah dia benar-benar menjadi sangat marah.

Ternyata pundak kanannya telah tergores oleh pedang Xin Suan.

Kebetulan tidak melukai kulit maupun dagingnya.

Tapi Gu Shi tetap sangat marah, karena ini adalah pertama

kalinya dia gagal. Semenjak dia berkelana di dunia persilatan, dia

mengira ilmu pedang miliknya tidak terkalahkan di dunia persilatan.

Sekarang dia baru tahu semua tidak seperti itu. Dia baru tahu

ternyata di dunia ini masih ada seorang lawan kuat. Dia sangat tidak

suka hal ini!

Pelan-pelan dia berdiri, hawa membunuh di wajahnya semakin

menebal. Kedua matanya bersorot ganas seperti binatang buas.

Xin Suan tahu akan terjadi lagi pertarungan hebat, tapi dia tidak

gentar ataupun takut. Dengan konsentrasi penuh dia melihat

pedang Gu Shi. Sikapnya sangat tenang.

Gu Shi dengan dingin berkata, “Aku punya ide.”

“Aku siap mendengarnya.”

“Hari ini kita jangan berhenti dari pertarungan ini, kita bertarung

hingga salah seorang dari kita telah menjadi mayat!”

“Sejak tadi aku memang sudah merencanakan hal ini,” kata Xin

Suan.

Gu Shi tertawa, kakinya mulai bergeser dan siap menyerang.

Posisi Xin Suan tetap seperti tadi tidak berubah. Dia tetap tidak

mau menyerang dulu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Tiba-tiba Gu Shi berteriak. Pedang diangkat dan sekaligus

mengeluarkan serangan berturut-turut 10 jurus lebih. Cahaya

pedang yang digetarkan seperti dewi langit yang sedang menabur

bunga, seperti terbang selapis demi selapis.

Xin Suan tidak menyerang dengan tergesa-gesa. Dia mengambil

posisi bertahan, kemudian sejurus demi sejurus dia mulai

memecahkan ilmu pedang Gu Shi….

Mereka bertarung ratusan jurus lagi, tapi kedudukan mereka

tetap seimbang, tidak ada yang kalah juga tidak ada yang menang.

Shui Kian Hua yang masih berdiri di sisi hutan melihat pertarungan.

Dia lupa dengan ketegangannya. Dia hanya melihat dengan mata

membelalak, seperti mabuk dan terbius.

Sebab ilmu pedang Xin Suan dan Gu Shi benar-benar sangat

tinggi. Jurus-jurus yang mereka gunakan banyak yang belum

pernah dilihat Shui Kian Hua.

Hanya sebentar, puluhan jurus sudah berlalu lagi. Langit sebelah

timur mulai terlihat terang.

Tidak lama kemudian matahari pagi mulai terbit dan bersinar

dengan cahaya sangat terang.

Tiba-tiba Xin Suan mulai merobah dari bertahan menjadi

menyerang dengan hebat, seperti angin yang meniup awan. Setiap

jurus terlihat sangat hebat. Setiap jurusnya penuh dengan hawa

membunuh!

Jika yang ada di hadapannya bukan Gu Shi, serangan yang

begitu dasyat seperti ini pasti tidak akan bisa ditahan. Tapi Gu Shi

bukan orang biasa, dia tetap bertahan sejurus demi sejurus

mengatasi serangan Xin Suan.

Tiba-tiba Xin Suan tertawa panjang. Jurus Tui Chuang Wang Yue

(Mendorong jendela melihat rembulan) sudah dilancarkan.

Gu Shi tertawa dingin, dengan jurus Shen Long Pai Wei (Naga

sakti menggoyang ekor) dia mencoba menahan serangan Xin Suan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

“TANG!” dua pedang saling beradu, dan segera mengeluarkan

percikan api.

Reflek Gu Shi bergerak cepat. Pedang panjang itu naik dan

menggambar sebuah lingkaran. Dia seperti melempar sebuah

lingkaran api ke kepala Xin Suan.

Kepala Xin Suan dimiringkan. Dia mengeluarkan jurus Ki Niu

Wang Yue (Badak melihat rembulan). Dengan pedangnya secara

simetris memotong pinggang Gu Shi.

Mereka berdua sama-sama mempunyai semangat tinggi dan

tenaga yang tiada habisnya, mereka terus mengeluarkan jurus yang

semakin lama semakin aneh. Setiap serangan dari berbagai jurus

dilakukan sambil berjaga diri, semuanya dilakukan dengan lengkap

dan setiap jurus penuh dengan nafsu membunuh yang tebal.

Gerakan tubuh mereka baik meloncat atau berjongkok, gerakannya

seperti angin.

Matahari terlihat separuh, cahaya berwarna kuning membuat

keadaan remang-remang, sulit untuk melihat….

Karena Gu Shi menghadap ke timur, maka kedua matanya tanpa

bisa dihalangi terus memandang matahari yang bersinar

menyilaukan. Karena itu matanya lama-lama menjadi pedas, sulit

dibuka.

Dia adalah orang pintar. Begitu melihat posisinya tidak

menguntungkan, segera dia meloncat ke sisi. Dia berusaha

mengubah posisi berdirinya.

Tapi Xin Suan sama sekali tidak memberi kesempatan

kepadanya. Dia seperti bayangan terus menempel, tidak memberi

kesempatan bagi Gu Shi mengubah posisi.

Xin Suan sanggup melakukannya.

Gu Shi melihat Xin Suan menyerangnya dengan akal seperti itu,

dia marah. Dia berteriak sekuat tenaga dan ilmu pedangnya

berobah. Pedang dimainkan seperti jala cahaya berwarna biru juga

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

seperti kumpulan serangga yang menutupi langit dan bumi,

terdengar suara pedang yang keras.

Dia menyerang dengan sekuat tenaga, serangannya benar-benar

membuat orang gentar. Tapi hasil serangannya malah sebaliknya,

karena dia menghadap matahari. Kilauan cahaya matahari membuat

penglihatannya menjadi berkurang. Dia memainkan pedang seperti

jala, tapi penglihatannya semakin terganggu.

Tapi begitu dia menyerang dengan dasyat, jurus ini membuat Xin

Suan merasa kesakitan pada saat menahannya. Begitu dia

menerima puluhan jurus, Xin Suan mulai merasa kewalahan, maka

dia bertekad melakukan suatu serangan berbahaya dan berharap

bisa berhasil….

TANG!

Tiba-tiba pedang Xin Suan tergetar dan melayang ke atas. Gu Shi

tidak menduga bisa membuat pedang Xin Suan terlepas, bisa

mendapatkan hasil seperti ini benar-benar membuat dirinya senang

sehingga gerakannya sedikit lambat. Tapi sebelum dia mengambil

kesempatan untuk melanjutkan gerakannya membunuh..

Tiba-tiba sebuah tendangan yang tidak di duga dan tidak bisa di

hindari melayang kearah dadanya, BUG!

Jantungnya telah terkena tendangan itu!

Tendangan ini adalah siasat yang disusun Xin Suan. Bisa

dikatakan tendangan ini telah menghabiskan seluruh tenaganya.

Gu Shi berteriak. Kedua matanya membelalak dengan besar.

Wajahnya pucat, pedang yang masih dipegangnya segera terjatuh.

Kedua tangannya gemetar memegang dadanya, kemudian dia

berlutut dan akhirnya roboh ke bawah.

Kepalanya menunduk!

Awalnya ketika Shui Xian Hua melihat pedang Xin Suan terlepas

dan melayang, dia merasa kaget, arwahnya seperti terbang

karenanya. Begitu melihat Gu Shi terkena tendangan hingga jatuh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

berlutut, dia baru terbangun dari rasa kagetnya dan meloncat-loncat

karena kegirangan. Dengan senang dia berteriak, “Xin Suan! Kau

menang. Akhirnya kau menang!”

Sambil berteriak, dia berlari ke sana.

Xin Suan memungut pedangnya dan memasukan kembali ke

dalam sarung. Dia berpesan, “Periksalah badannya, apakah buku

daftar nama itu masih ada?”

Shui Xian Hua melihat Gu Shi berlutut sambil menundukkan

kepalanya dan tidak bergerak lagi. Dia menganggap Gu Shi masih

ada tenaga untuk membunuh, dia merasa sedikit takut dan tidak

berani mendekat untuk memeriksa keberadaan daftar nama itu.

Xin Suan tersenyum dan bertanya, “Kenapa?”

“Apakah kau tahu, ulat mati tapi tidak membeku. Walaupun dia

terluka, tapi aku tetap tidak bisa melawannya!” kata Shui Xian Hua.

“Jangan takut, dia sudah mati,” Xin Suan tertawa.

“Mati?” Shui Xian Hua berseru dengan kaget.

“Kalau dia tidak mati, itu namanya sihir.”

Setengah percaya setengah tidak dengan berhati-hati, Shui Xian

Hua mendekati Gu Shi. Dia mendorong Gu Shi, tapi segea dia berlari

dengan cepat ke samping.

Gu Shi yang tadi didorong oleh Shui Xian Hua, roboh ke sisi.

Sekarang Shui Xian Hua baru bisa melihat keadaannya. Wajah Gu

Shi tampak sudah tidak bernyawa, mulutnya masih terus

mengeluarkan darah.

Benar, Gu Shi sudah mati!

Shui Xian Hua menghembuskan nafas panjang dan segera

memeriksa tubuhnya. Dengan cepat dari balik dada Gu Shi, Shui

Xian Hua mendapatkan buku daftar nama itu.

Dia melihat sebentar dengan senang berkata, “Betul! Ini adalah

buku daftar namanya!”

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

http://dewi-kz.info/

Xin Suan menarik nafas dan berkata, “Sebenarnya aku adalah

orang yang mengantarkan barang ini, tapi sekarang aku malah

menjadi orang yang merampok barang ini. Pangeran ke-13 pasti

tidak menyangka telah terjadi perubahan seperti ini….”

Shui Xian Hua terus tertawa dan berkata, “Kau sudah berbuat

kebaikan, kau sudah menyelamatkan beratus-ratus nyawa orang!’

Xin Suan mengangkat bahunya dan berkata, “Aku berharap ada

yang membayarku 100 ribu tail perak lagi.”

Shui Kian Hua menyimpan buku daftar nama itu. Dengan tertawa

berkata, “Kau sudah beruntung mendapatkan 100 ribu tail perak,

aku juga- telah menyumbang 100 ribu tail, apakah kau masih

merasa tidak puas?”

“Kalau ditambah 100 ribu tail lagi, aku bisa menolong lebih

banyak orang.”

“Baiklah, aku akan bicara lagi kepada Pan Long Da Kia. Aku kira

dia akan dengan senang hati membantumu.”

“Sudahlah, menolong orang seperti menolong kebakaran. Aku

tidak mau lama-lama diam di sini. Sekarang mari kita kembali dulu

ke rumah Tuan Zhu Lai. Serahkan buku daftar nama itu kepada Nian

Cai Kia. Nanti dia akan memberikannya kepada Pan Long Da Kia.

Sekarang kita segera pergi ke Shan Dong untuk menolong orang

yang terkena bencana di sana!”

Dengan senang Shui Kian Hua berkata, “Baiklah, mari sekarang

kita cepat ke sana!”

Dia memegang tangan Xin Suan. Mereka berdua berpegangan

tangan keluar dari jalur sungai itu dan kembali ke tempat tinggal

Tuan Zhu Lai.

Matahari pagi sudah sangat tinggi. Bumi sudah menggeliat

bangun dari tidurnya…!

Tamat

Bandung. 21 Nopember 2006 Salam hormat

(See Yan Tjin Djin)

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s