SENOPATI PAMUNGKAS I

 SENOPATI PAMUNGKAS I

Karya : Arswendo Atmowiloto

Source : http://lontaraemas.blogspot.com/

Episode 1

Tokoh-Tokoh

Berdasarkan Urutan Penyebutan

Sanggrama Wijaya, atau Naraya Sanggrama Wijaya, atau Raden Wijaya. Nama yang dikenal ketika mengalahkan Raja Jayakatwang, yang secara culas menguasai Keraton

Singasari dan mendepak Baginda Raja Kertanegara. Bersama dengan prajurit dan senopati yang setia, Wijaya berhasil menggempur balik pasukan Tartar dari negeri Cina. Menurut catatan sejarah, dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tanggal 15 bulan Kartika atau sekitar bulan Oktober-November 1298. Nama kebesarannya adalah Kertarajasa Jayawardhana. Nama ini menunjukkan rasa hormat terhadap leluhurnya, raja-raja Singasari.

Upasara Wulung, salah seorang ksatria hasil godokan Ksatria Pingitan. Ksatria Pingitan adalah semacam perguruan yang berusaha melahirkan ksatria sejati yang dilatih ilmu surat dan ilmu silat, atau kanuragan. Para ksatria yang terpilih, dilatih sejak lahir di Ksatria Pingitan. Menurut cerita ini, Ksatria Pingitan didirikan atas gagasan Baginda Raja Sri Kertanegara Raja Singasari yang terakhir, dengan tujuan menciptakan manusia yang selain jago silat juga mempunyai watak luhur, yang kelak diharapkan menjadi senopati utama yang melanjutkan kebesaran Keraton dan melindungi penduduk. Selama dua puluh tahun Upasara Wulung berada dalam Ksatria Pingitan, dilatih oleh Ngabehi Pandu, sebelum terjun ke medan persilatan.

Ilmu dasarnya adalah Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka. Akan tetapi mengalami

perubahan besar sejak mempelajari Bantala Parwa atau Kitab Bumi yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang serta Delapan Jurus Penolak Bumi. Bantala Parwa dianggap babon segala kitab kanuragan. Merupakan puncak berbagai sumber ilmu silat yang ada di tanah Jawa.

Gayatri, atau Permaisuri Rajapatni, salah satu dari empat putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raja Majapahit. Menjelang penyerbuan ke Daha untuk menaklukkan Jayakatwang.

Gayatri pergi bersama Upasara Wulung untuk mengetahui kekuatan lawan. Di sinilah bibit-bibit daya asmara tumbuh. Dan berpuncak saat Gayatri ditawan di atas benteng dan Upasara maju menggempur tanpa memedulikan keselamatan dirinya. Akan tetapi Menurut perhitungan dan ramalan para pendeta, Gayatri harus menikah dengan Sanggrama Wijaya, karena inilah pasangan Dewi Uma dan Dewa Siwa, yang kelak kemudian hari akan menurunkan raja terbesar. Hubungan masa lalu ini ternyata banyak membebani tapi sekaligus juga mewarnai perjalanan hidupnya.

Mpu Renteng, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bujangga Andrawina atau Ular Naga Berpesta Pora, dengan menggunakan ujung kain yang tersampir di pundaknya.

Mpu Sora, salah seorang senopati Majapahit yang berjuang sejak awal. Ilmu andalannya ialah Bramara Bekasakan, atau Lebah Hantu. Tokoh yang tangguh ini banyak mendapat dukungan untuk menjabat sebagai mahapatih. Mahapatih ialah jabatan tertinggi di Keraton sesudah raja. Namun ia sendiri merasa tidak berhak.

Pangkat yang disandang adalah adipati, semacam penguasa daerah, di Dahanapura. Tempat Kala Gemet, putra mahkota, berada.

Mpu Elam, salah seorang senopati Majapahit, yang menjadi prajurit telik sandi. Prajurit yang terpilih dalam pasukan telik sandi, atau pasukan rahasia, adalah prajurit pilihan yang tugasnya mengumpulkan semua laporan yang menyangkut keamanan. Dalam jajaran pemerintahan ditangani secara langsung oleh Mahapatih.

Dyah Palasir, salah seorang senopati muda Majapahit. Anak buah langsung Senopati Nambi, seperti juga Dyah Singlar yang bertugas menjadi prajurit pribadi Raja.

Bersama Dyah Pamasi, mereka Merupakan senopati-senopati muda yang dipersiapkan untuk menjadi pengganti. Klikamuka, tokoh yang selalu menutupi wajahnya dengan klika atau kulit kayu. Kelihatannya mempunyai hubungan dekat dengan Keraton.

Toikromo, penduduk biasa yang ingin mengangkat Upasara Wulung sebagai menantu.

Gendhuk Tri, calon penari Keraton Singasari yang menjadi anak murid Mpu Raganata

sebentar, lalu dilatih Jagaddhita. Ilmu andalannya menggunakan selendang seperti penari. Karena satu dan lain hal, seluruh darahnya teraliri racun sangat ganas. Dalam usianya yang masih belasan tahun, dan hidup di tengah pergolakan jago silat, adatnya memang rada aneh. Diam-diam sangat mengagumi Upasara Wulung, dan mencemburui setiap wanita yang mendekati Upasara.

Jaghana, salah seorang murid Perguruan Awan, perguruan yang dianggap sumber segala ilmu kanuragan di tanah Jawa. Kepalanya gundul pelontos, pakaian yang dikenakan asal menutup tubuh. Sabar dan welas asih. Namanya bisa diartikan sebagai “pantat”.

Ini cara merendahkan diri sebagai “bukan apa-apa, bukan siapa-siapa”, salah satu ciri ajaran Perguruan Awan.

Eyang Sepuh, lebih dikenal sebagai nama seorang empu yang mahasakti yang mendiami Perguruan Awan. Dari Eyang Sepuh-lah terdengar gema ajaran Kitab Bumi dengan jurus yang ampuh, yaitu Tepukan Satu Tangan. Ajaran yang sejajar dengan ajaran Budha, baik di negeri Hindia, Cina, maupun Jepun. Atau bahkan sampai ke negeri Turkana. Eyang Sepuh pula yang membuat para jago seluruh penjuru jagat datang ke Trowulan, untuk membuktikan siapa yang mewarisi ilmu sejati. Namun sejak semula, Eyang Sepuh tak pernah menampakkan diri. Hanya beberapa orang, Gayatri dan Upasara, yang pernah mendengar suaranya. Penguasaan ilmu Eyang Sepuh telah sampai ke tingkat moksa, lenyap bersama raga dan jiwanya.

Adipati Lawe, atau Ranggalawe, salah seorang senopati Majapahit yang besar jasanya. Putra Aria Wiraraja ini nama kecilnya seperti juga ayahnya, Aria Adikara. Ranggalawe, nama pemberian Raden Sanggrama Wijaya yang mungkin menjadi petunjuk kepangkatannya ketika itu. Rangga adalah jabatan yang sama dengan camat sekarang ini. Kuda hitam dan umbul-umbul bergambar kuda, menunjukkan kegagahannya ketika menjadi adipati, semacam patih penguasa suatu wilayah, di daerah Tuban. Sebutan yang lain ialah patih amancanegara, yaitu semacam kepala di wilayah luar Keraton. Patih amancanegara menunjukkan penguasaan di luar wilayah kekuasaan Keraton. Yang terbagi di daerah barat, timur, utara, maupun selatan letak Keraton.

Galih Kaliki, tokoh yang asal-usul ilmu silat dan perguruannya tidak gampang dimengerti. Senjata andalannya sebuah tongkat galih asam, bagian tengah atau hati pohon asam. Baru kemudian diketahui bahwa gaya permainannya mirip dengan ksatria pedang panjang dari Jepun. Orangnya keras, jujur, apa adanya. Dan sepanjang hidupnya kesengsem atau tergila-gila pada Nyai Demang.

Senopati Anabrang, atau Mahisa Anabrang. Salah seorang senopati zaman Keraton Singasari yang menjelajah sampai ke tlatah Melayu dan baru kembali dua puluh tahun kemudian. Melanjutkan pengabdian kepada Raja Majapahit, dengan membawa dua putri ayu yang salah satunya dipermaisurikan Baginda Raja.

Senopati Nambi, atau Mpu Nambi, salah seorang senopati Majapahit, pimpinan prajurit telik sandi, atau pasukan rahasia. Diangkat sebagai mahapatih, suatu jabatan tertinggi sesudah raja. Mahapatih menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Secara langsung membawahkan para senopati, pemerintahan sehari-hari. Secara langsung membawahkan para senopati, adipati, ataupun patih. Pengangkatannya sebagai mahapatih banyak mengundang pertentangan. Terutama dari Adipati Lawe, yang mengharapkan dirinya atau Mpu Sora yang memangku jabatan tersebut.

Wilanda, salah seorang murid Perguruan Awan yang kemudian melepaskan diri dan menjadi prajurit andalan Keraton Singasari, dan kemudian kembali lagi ke Perguruan Awan. Budinya luhur, dan menjadi pendamping Upasara sejak kecil. Ilmunya yang sulit ditandingi ialah cara mengentengkan tubuh seperti capung hinggap di ujung daun.

Kiai Sumelang Gandring, atau Mpu Sumelang Gandring, turunan seorang ahli pembuat keris yang mengembara sampai ke ujung barat tanah Jawa. Di sana meneruskan ilmunya. Seluruh muridnya berjumlah dua belas, dan semua memakai sebutan Gandring. Istimewanya ialah kedua belas Gandring ini bisa menyusun barisan yang luwes dan ampuh. Di antaranya gaya serangan Jiwandana Jiwana, atau Tembang Kehidupan.

Nyai Demang, satu-satunya tokoh wanita yang sering dinilai hanya karena mengobral asmara, serta bentuk tubuhnya yang montok. Menurut cerita, dulu istri seorang demang, pangkat setingkat Camat. Banyak para ksatria menjadi korban senyuman dan bentuk tubuhnya. Akan tetapi di balik segala daya tarik lahiriahnya, Nyai Demang selama ini tak tertandingi dalam soal kemampuannya mempelajari bahasa mancanegara. Dialah yang menjadi penyalin bahasa sewaktu pasukan Tartar mendarat.

Halayudha, salah seorang senopati Majapahit yang tak terlalu menonjol dalam peperangan. Gerak-geriknya penuh teka-teki, karena hubungannya yang sangat dekat dengan Raja Majapahit, dan kemampuannya untuk taktik yang dijalankan sangat culas, bergetah, tapi berhasil. Ilmu silatnya termasuk sangat tinggi karena ia murid langsung Paman Sepuh, ditambah berbagai ilmu yang diperoleh sendiri.

Tribhuana, putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang dipermaisurikan oleh Raden Wijaya. Sebagai putri Keraton, Tribhuana dikenal memiliki pengetahuan yang luas dan cara berbicara yang ulung dalam menangkap suasana, sehingga digelari Mahalalila. Sebagai permaisuri pertama, sebenarnya Tribhuana berhak melahirkan putra mahkota. Akan tetapi nyatanya tidak, karena Raja Majapahit memilih permaisuri yang lain.

Mahadewi, adik Tribhuana yang juga dipermaisuri oleh Raja. Mahadewi dikenal sebagai putri landasan daya asmara Baginda.

Jayendradewi, atau Permaisuri Pradnyaparamita, adik Mahadewi yang juga dipermasurikan Baginda. Tidak secantik adiknya “Gayatri”, namun kesetiaan dan keluhuran budinya menjadi contoh teladan.

Dara Jingga, putri boyongan dari Melayu yang dipersembahkan Senopati Anabrang kepada Baginda. Namun kemudian menikah dengan salah seorang bangsawan Keraton yang melanjutkan pemerintahan di tlatah Melayu.

Dara Petak, adik Dara Jingga, yang dipermaisurikan Baginda dengan gelar Permaisuri Indreswari. Disebut sebagai istri tinuheng pura atau permaisuri yang dituakan.

Menggeser kedudukan Tribhuana dan dengan demikian berarti anak keturunannya yang bakal mewarisi takhta Baginda Kertarajasa.

Dewa Maut, tadinya menjadi tokoh yang ganas, setiap kali berperang harus mencabut nyawa lawan karena daya asmara kepada gadis pujaannya bertepuk sebelah tangan.

Hidup menyendiri hanya dengan sesama kaum pria, di atas perahu yang selalu berada di Kali Brantas. Dalam salah satu pertarungan ilmunya lenyap, dan gayanya seperti kehilangan ingatan. Seluruh rambutnya putih. Gendhuk Tri dianggap “kekasihnya” yang hilang dan selalu dipanggil Tole, panggilan untuk anak lelaki. Dewa Maut hanya mau mengikuti perintah Gendhuk Tri.

Kama Kalacakra, salah seorang ksatria Jepun yang mahir memainkan pedang panjang.

Kama Kalandara, saudara seperguruan Kama Kalacakra. Dua nama yang berbeda akan tetapi artinya sama, yaitu “benih matahari”. Bila bergabung, keduanya menjadi disegani, karena bisa memindah serangan sambil berputar kencang.

Kama Kangkam, guru Kama Kalacakra maupun Kama Kalandara. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu kekuatan dengan Eyang Sepuh, memperebutkan gelar sebagai ksatria lelananging jagat, atau ksatria yang paling lelaki yang paling tak terkalahkan.

Senopati Semi, salah seorang senopati Majapahit. Salah seorang dari tujuh dharmaputra, putra istana yang mendapat perlakuan istimewa dari Baginda. Senopati lain yang termasuk dharmaputra ialah Senopati Kuti, Senopati Pangsa, Senopati Wedeng, Senopati Yuyu, Senopati Tanca, serta Senopati Banyak.

Kala Gemet, putra mahkota Keraton Majapahit, putra Permaisuri Indreswari. Sejak muda telah diangkat menjadi calon pewaris takhta dengan mengambil tempat latihan kekuasaan di Dahanapura. Ketakutan disaingi saudaranya, ia melarang saudara lain ibu menikah.

Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang, yang terbakar oleh dendam sejak kematian ayahnya di tangan Senopati Sora. Merasa pengabdian ayahnya kepada Keraton disiasiakan, Mahisa Taruna mudah dipermainkan orang lain.

Aria Wiraraja, tokoh yang dihormati dari Sumenep, Madura, inilah yang pertama kali mengulurkan tangan kepada Sanggrama Wijaya. Taktik dan strateginya jitu. Dengan kematian Lawe, putra kesayangannya, Aria Wiraraja sangat kecewa. Kemudian meninggalkan Keraton dan berdiam di Lumajang, yang membawahkan wilayah Majapahit sebelah timur.

Naga Nareswara, atau Raja Segala Naga, merupakan utusan tertinggi dari Tartar, yang masih menyimpan dendam, karena pasukannya yang mampu menaklukkan dunia dikalahkan oleh senopati-senopati Majapahit. Akan tetapi kedatangannya yang terutama untuk bertarung dengan Eyang Sepuh, dalam memperebutkan gelar ksatria lelananging jagat. Untuk membuktikan siapa pewaris suci dari ajaran yang sama sumbernya.

Kiai Sambartaka, atau Kiai Kiamat, seorang pendeta dari tanah Hindia. Datang ke tanah Jawa untuk mengadu ilmu sejati dengan Kama Kangkam, Naga Nareswara, serta Eyang Sepuh. Agaknya, lima puluh tahun lalu, para tokoh itu sudah berjanji untuk mengadakan pertempuran habis-habisan.

Paman Sepuh Dodot Bintulu, atau menyebut dirinya Bik Suka Bintulu karena menyamakan dirinya sebagai pendeta peminta-minta. Dodot Bintulu adalah nama untuk menunjukkan kesederhanaan sebagai rakyat jelata. Panggilan Paman Sepuh karena tokoh sakti ini saudara seperguruan Eyang Sepuh maupun Mpu Raganata, & yang sesungguhnya menuliskan Kitab Bumi atau Bantala Parwa bagian pertama, yaitu yang berisi Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Wajahnya hancur karena dikhianati dua muridnya yang durhaka, yaitu Ugrawe dan Halayudha. Kemunculannya kembali ke

dalam dunia persilatan untuk memenuhi undangan yang disebarkan Eyang Sepuh

lima puluh tahun yang lalu. Di mana akan berkumpul seluruh jago silat, jawara dari

jawara seluruh jagat. Salah satu gubahan ilmunya yang terkenal, selain Banjir Bandang Segara Asat yang disempurnakan Ugrawe, adalah jurus-jurus Timinggila Kurda, atau jurus-jurus Ikan Gajah Murka. Ikan gajah adalah sebutan untuk ikan paus pada masa lalu.

Kiai Gajah Mahakrura, nama lain Paman Sepuh yang dipakai oleh Halayudha, yang menggambarkan gurunya yang dianggap sebagai gajah mahabengis.

Ratu Ayu Bawah Langit, menunjukkan sebutan bahwa di seluruh kolong langit ini, dialah yang paling ayu tanpa tanding. Nama sesungguhnya Ratu Ayu Azeri Baijani, datang dari negeri Turkana. Suatu negeri yang disebut sebagai tlatah tapel wates, karena merupakan tapal batas dengan wilayah yang tak dikenal. Ratu Ayu berkelana ke tanah Jawa karena mendengar bakal ada pertemuan seluruh jago silat. Bersama para senopatinya, Ratu Ayu ingin mencari jodoh, yaitu yang bisa mengalahkannya.

Karena ia percaya bahwa bersama lelaki yang mampu mengalahkannya, ia bisa

membebaskan negerinya dan jajahan Raja Tartar. Repotnya, justru dalam pengelanaannya, tak ada yang mampu mematahkan ilmunya, yaitu Tathagati, atau ilmu Budha Wanita, yang dianggap sesat karena menyamakan sang Budha dengan wanita. Gerak langkah ilmu ini disebut Tathagata Pratiwimba atau gerakan Arca Budha yang Kaku, serupa dengan cara bergerak boneka.

Sariq, senopati utama Ratu Ayu Bawah Langit. Sariq berarti kuning, karena ketika memainkan ilmunya seakan tubuhnya berwarna kuning seluruhnya. Senopati lainnya ialah Uighur, Karaim, Wide, Chagatai, dan Kazakh. Bersama-sama mereka mampu memainkan barisan yang disebut Lompat Turkana, atau 64 Langkah Jong. Jong bisa berarti payung, bisa berarti tertutup. Barisan Lompat Turkana ini disusun sedemikian rupa, sehingga langkah ke belakang tertutup. Mereka selalu bergerak maju ke depan,

ke samping kanan, atau ke samping kiri. Konon ini merupakan permainan yang lazim di negeri Turkana.

Gajah Biru, senopati yang setia kepada Mpu Sora, baik di saat jaya maupun ketika tersisih, seperti juga: Juru Demung, Maha Singanada, gagah perkasa, wajah & penampilannya sangat mirip dengan Upasara Wulung. Hanya rambutnya dibiarkan tergerai dan sikapnya jauh lebih urakan, tak mengenal tata krama. Senopati ini termasuk dalam rombongan yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara dari Keraton Singasari (itu sebabnya masih memakai nama Singa) ke tlatah Campa, ke Keraton Caban. Untuk mengantarkan Dyah Ayu Tapasi, putri Baginda Raja, untuk dipermaisurikan Raja Campa. Senjata utamanya adalah kantar, atau tombak pendek.

Ilmunya bersumber pada Kitab Bumi, akan tetapi cara mengatur pernapasannya disebut Nawawidha, atau Mengatur Tenaga Dalam Lipat Sembilan. Jurus-jurusnya dikenal sebagai Nawagraha, atau Siasat Sembilan Bintang, yang kesemuanya berintikan kepada angka sembilan.

Pendeta Syangka, atau Pendeta Sidateka, berasal dari tanah Syangka atau Sri Langka.

Merupakan pendeta kesayangan Putra Mahkota Bagus Kala Gemet, sehingga kelak kemudian hari sang putra mahkota ini memakai gelar kebesaran sebagai Sri Sundarapandya Adiswara. Sebutan pandya berarti mengakui kebesaran dinasti Pandya

yang memerintah di Sri Langka. Sejak tata pemerintahan Keraton Sriwijaya, pendetapendeta dari Syangka mencoba menanamkan pengaruhnya, akan tetapi selalu gagal.

Sekali ini Pendeta Sidateka yang menguasai Pukulan Dingin, berhasil. Maha Singa Marutma, salah seorang senopati yang dikirim oleh Baginda Raja Sri Kertanegara ke Keraton Mon, di delta Sungai Saluen di tlatah Burma. Keraton Mon menjadi rebutan kekuasaan antara Keraton Burma dan Keraton Sukothai, dari bangsa Thai. Maha Singa Marutma kembali ke tanah Jawa mencari bantuan untuk membebaskan Keraton Mon dari serbuan Burma maupun Sukothai.

Pangeran Jenang, nama yang dimudahkan untuk menyebutkan Pangeran Che Nam, yang terdesak oleh bangsa Vietnam. Karena Keraton Campa merupakan wilayah yang dikuasai Singasari, Pangeran Jenang minta bantuan ke tanah Jawa. Hanya saja ketika

ia datang, yang memerintah bukan lagi Baginda Raja Sri Kertanegara. Oleh Bagus Kala Gemet, ditarik sebagai salah seorang pendukungnya.

Kebo Berune, oleh Upasara dipanggil dengan sebutan hormat Eyang Kebo Berune, sedangkan Nyai Demang memanggil dengan Kakek Kebo Berune. Salah seorang tokoh sakti yang hidup sezaman dan seangkatan dengan Paman Sepuh, Eyang Sepuh, maupun Mpu Raganata. Bahkan sama-sama merumuskan lahirnya Kitab Bumi. Kebo Berune hanyalah nama sebutan karena tokoh ini mengembara sampai ke tlatah Berune atau Brunei, dan baru kembali untuk bertanding menguji ilmu siapa yang paling unggul. Suatu pertemuan setiap lima puluh tahun sekali. Sayangnya, karena

cara berlatih tenaga dalam yang keliru, Kebo Berune selalu dibayangi maut, dan tak bisa bergerak. Salah satu ajiannya yang sejajar dengan ilmu Weruh Sadurunging Winarah Mpu Raganata, sejajar dengan ajian Tepukan Satu Tangan Eyang Sepuh, sejajar dengan Banjir Bandang Segara Asat Paman Sepuh, adalah Pukulan Pu-Ni yang diciptakannya. Pu-Ni sekadar untuk mengingatkan bahwa ilmu itu diciptakan di tanah Pu-Ni atau Berune atau Brunei. Konon ilmu-ilmu itu diciptakan untuk menjadi penangkal ilmu Dua Belas Jurus Nujum Bintang.

Pulangsih, atau Putri Pulangsih dalam sebutan Nyai Demang. Menurut cerita yang dituturkan Kebo Berune, Pulangsih adalah gadis yang diperebutkan oleh Mpu Raganata, Eyang Sepuh, Paman Sepuh, maupun Kebo Berune. Tokoh wanita yang masih serba samar ini memilih Eyang Sepuh yang disebut Bejujag atau si kurang ajar, namun justru pada saat itu Eyang sepuh mencampakkannya.

Penolakan itulah yang mengilhami lahirnya bagian terakhir Kitab Bumi, yang disebut Kitab Penolak Bumi, atau Tumbal Bantala Parwa. Pulangsih pastilah sebutan di antara keempat ksatria muda pada zamannya, karena arti pulangsih sesungguhnya adalah bersatunya daya asmara secara jasmani.

Cebol Jinalaya, si cebol berkulit hitam. Mewakili pemuja yang tetap mengagungkan Sri Kertanegara, sehingga menganggap bahwa bila mereka mati, bisa terus menjadi abdi Baginda Raja. Jinalaya sendiri nama yang dipakai untuk menunjukkan tempat untuk mati.

Senopati Agung Brahma, bangsawan tua yang dihormati oleh kalangan Keraton, tetapi juga jauh dari kekuasaan karena lebih suka menyepi. Kepedihan hatinya tetap tak terhibur dengan menikahi Dyah Dara Jingga, yang dengan demikian ia adalah kakak ipar Baginda. Termasuk salah seorang senopati yang dikirimkan ke seberang oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Hanya satu yang menyebabkan ia keluar dari “persembunyiannya”, yaitu terutama karena mendengar berita datangnya utusan dari Keraton Caban di Campa, di samping keruwetan yang menimpa Keraton.

KOKOK ayam jantan pagi itu tak terdengar. Cengkerik juga tak sempat memperdengarkan musik akhir. Bahkan tetesan embun belum sepenuhnya mengental, ketika tiga ekor kuda melintas dengan tergesa. Suasana desa yang tenteram, hutan rimbun yang sunyi berubah serentak dengan suara bising. Tapak kuda menderap makin cepat dan rapat menyatu dengan dengusan napas kuda kelelahan. Ketiga penunggang kuda itu pun kalau diperhatikan cermat, sudah basah kuyup oleh keringat.

Robeknya alam pagi yang damai, seakan menandai terjadinya suatu peristiwa. Peristiwa yang berbeda dari sebelumnya, setidaknya puluhan tahun terakhir ini.

Jalan setapak di desa tanpa, nama itu tak pernah terusik apa-apa. Bahkan sangat jarang sekali terdengar langkah kaki manusia. Binatang pun hanya sesekali, pada malam hari.

Akan tetapi sekali, kali ini, dipecahkan oleh rombongan tiga ekor kuda yang tergesa. Sampai di ujung jalan, mereka tak bisa sejajar lagi. Terpaksa berurutan karena jalan terhalang dahan, ranting, dan pohon tumbang. Dari bawah menguap bau tanah.

Angin sangat bersih. Menyeberangi sungai kecil yang airnya dangkal, ketiga penunggang kuda itu kemudian memacu lagi. Kalau saja di sepanjang jalan itu ada rumah, pastilah penghuninya terheran-heran. Suatu pemandangan aneh dan baru; tiga ekor kuda perkasa melintas tergesa. Bau tubuh mereka seakan asing untuk suasana sekitar yang sepenuhnya berbau daun dan tumbuh-tumbuhan.

“Benarkah ini jalannya?” tanya salah seorang penunggang kuda yang nampaknya paling muda. Namun dari nada bicaranya kentara sekali ia yang menjadi pemimpin.

Setidaknya yang paling dihormati. Bukan karena wajahnya yang bersih yang membedakannya dari kedua penunggang yang lain, juga bukan karena alis matanya yang tebal dengan sorot mata memerintah, akan tetapi terutama sekali dari sikap hormat yang diajak bicara.

“Benar, Raden Mas. Tak ada yang berubah sejak lima belas tahun lalu hamba lewat di

sini.”

Yang menjawab adalah seorang lelaki bertubuh gempal , gagah dengan kumis tebal.

Sikapnya amat sangat menghormati. Dan sekelebatan saja ketahuan bahwa jawaban ini keluar dari orang yang mempunyai ilmu.

Setidaknya dari caranya menunggang kuda yang seakan sama sekali tak menambah berat tunggangannya. Dibanding dengan bentuk tubuhnya, gerakannya sangat enteng. Bahkan ketika meloncat turun untuk memeriksa rumput dan kemudian meloncat kembali ke punggung kuda, dengan satu gerakan tak terputus, menegaskan sesuatu yang disembunyikan dengan sikapnya yang merendah.

Sebaliknya, penunggang ketiga yang berwajah sangat pucat sedemikian pucatnya sehingga kalau saja ia berhenti di air sungai dan mandi, tak akan kelihatan lagi.

Menyatu dengan warna air. Kehadirannya hanya ditandai dengan nampak gedombrangan. Kain yang dikenakan longgar di sana-sini. Nampaknya pemakainya tak peduli sama sekali. Juga tidak pada suasana sekitar. Pandangannya lurus ke arah belukar. Seakan ia sudah memperhitungkan dua tindak yang akan dilalui. Atau seperti

tak memperhitungkan apa-apa. Hanya mereka yang lama berkecimpung dalam dunia silat bisa melihat sesuatu yang luar biasa dari penunggang ketiga ini. Dari cara mengatur napasnya kelihatan bahwa simpanan tenaga dalamnya luar biasa.

Dibandingkan dua penunggang kuda yang lain, si wajah pucat ini nampak tetap segar. Berkuda sepanjang malam tanpa henti sama sekali tak mempengaruhi tarikan dan embusan napasnya. Bahkan juga tidak membuat kulitnya berubah warna.

“Kalau begitu kita sudah sampai,” kata penunggang kuda yang dipanggil Raden Mas.

“Tapi tak ada apa-apa. Hmmm, mengherankan juga. Nama besar Nirada Manggala selama ini hanya kabar murahan saja. Percuma memakai nama Perguruan Awan kalau di markasnya tak ada apa-apanya. Tidak juga sepotong batu untuk duduk, selembar daun untuk berteduh, dan secangkir teh untuk menyambut tetamu.”

“Maaf, Raden Mas,” suara si penunggang kuda kedua nampak sangat berhati-hati. Dari nadanya terasakan kekuatiran tetapi juga teguran. Kekuatiran akan suasana yang bisa mendadak berubah.

Sebagai orang yang pernah mengenal dekat Nirada Manggala, ia tahu persis bagaimana perguruan ini bukan perguruan yang bisa dikatai seenaknya.

Nama besarnya juga bukan nama kosong belaka. Kalau nama sekadar nama, mereka tak akan datang kemari. Nada teguran lembut, karena walaupun, memegang jabatan yang penting, ia tak bisa begitu saja melarang atau mempengaruhi junjungan yang dipanggil Raden Mas.

“…memang beginilah hidup mereka.”

“Seharusnya mereka tahu kita kemari. Bukan begitu, Pamanda Pandu ?”

Si muka pucat yang ditanyai sama sekali tak bereaksi.

“Ini sudah keterlaluan. Saya bisa memerintahkan agar hutan ini dibakar habis!”

Mendadak saja, sebelum ucapannya selesai, ia merasa ada yang menepuk pundaknya. Dan sebelum bisa mengerti apa yang terjadi, kuda yang ditungganginya sempoyongan.

Dengan sigap ia meloncat turun, dan langsung pasang kuda-kuda. Semuanya terjadinya dalam sekejap. Penunggang kuda yang berwajah pucat yang dipanggil Pamanda Pandu sudah turun di samping kudanya. Sementara si kumis juga sudah meloncat enteng. Begitu kakinya menginjak rumput, punggungnya menekuk dengan

sikap hormat.

“Kami utusan dan Keraton ingin bertemu dengan Eyang Sepuh yang terhormat. Nama saya Wilanda, bekas murid Nirada juga. Saya datang bersama Raden Mas Upasara Wulung, dengan Ngabehi Pandu. Kami datang menghaturkan sembah bakti kepada Eyang Sepuh dan membawa berita dari Keraton.”

Upasara serasa tak percaya pada apa yang masuk di telinga. Ini hebat! Wilanda bukan prajurit sembarangan. Ia satu-satunya yang terpilih menyertai ke Perguruan Nirada ini di antara sekian puluh pemimpin pasukan yang lain. Ilmunya juga di atas rata-rata yang terpilih. Bahkan dalam kecepatan bergerak rasanya hanya satu-dua yang bisa menandinginya. Nama Wilanda adalah gelar kehormatan karena gerak meringankan tubuhnya bagai seekor capung. Yang sanggup hinggap di tangkai tanpa menggoyang ranting. Namanya itu sendiri adalah anugerah, dari wilala yang artinya capung. Maka cukup membuat Upasara agak bengong melihat Wilanda merendahkan diri.

Dalam sekejap saja Wilanda sudah menjelaskan semua. Bahkan secara langsung sudah menyebut-nyebut sebagai utusan resmi dan Keraton. Meskipun Upasara baru menginjak usia dua belas tahun, pengalamannya boleh dikatakan segudang. Ia mendengar nama Perguruan Nirada yang banyak disebut-sebut. Namun itu semua bukan berarti harus menghormat dengan cara seperti itu. Dan sebenarnya yang lebih mengherankan lagi ialah Ngabehi Pandu pun turut turun dari kudanya.

Selama ini Upasara mengenal pamannya sebagai seorang tokoh yang bergeming oleh gempa, tak terusik oleh badai. Di Keraton, tokoh ini boleh dikata tak peduli apa-apa.

Bahkan upacara sowan kepada Baginda Raja pun tak dilakukan. Ia lebih suka menyembunyikan diri di gua pertapaannya, dan secara terus-menerus berlatih ilmunya. Paling sebentar hanya keluar dan ruangan semadinya seratus hari sekali. Itu pun sekadar menemui Upasara untuk melihatnya berlatih silat. Upasara boleh dikatakan beruntung karena ia satu-satunya yang diajari secara langsung. Ia satu-satunya murid yang menerima ajaran dari Ngabehi Pandu. Ini saja sebenarnya sudah membuat Upasara bisa malang-melintang di Keraton. Ia merasa sedikit saja yang bisa menandinginya. Dan puncak kekagumannya memang pada Ngabehi Pandu, yang menurut perhitungannya orang yang paling sakti. kalau tokoh yang dikagumi sampai perlu turun dan kudanya, itu pasti bukan basa-basi belaka. Ngabehi Pandu bukan orang yang bisa dan biasa berpura-pura.

Ataukah mereka berdua juga “dipaksa” turun dari punggung kuda,

Seperti dirinya? Tak mungkin hal itu terjadi.

Upasara melihat secara lebih jelas. Kekuatannya dipersiapkan untuk satu serangan mendadak-baik untuk menyerang atau bertahan. Kuda-kudanya kuat mantap.

Lebih heran lagi, karena yang keluar dari semak-semak adalah seorang lelaki gundul yang praktis telanjang. Hanya kain gombal sekenanya menutup di bagian bawah

selebihnya tak ada apa-apanya. Tidak juga sehelai rambut. Yang membuat Upasara gusar adalah kenyataan bahwa lelaki itu seperti tidak melirik ke arah mereka.

Bahwa di Perguruan Awan banyak hal yang ganjil, itu Sudah lama didengar. Tapi kenyataannya ternyata lebih ganjil lagi. Tak ada bangunan rumah, tak ada sambutan.

Hanya tetumbuhan liar dan seorang lelaki setengah tua yang lebih mirip binatang hutan. Upasara merasa tak bisa menahan sabarnya.

“Bapak Gundul, saya ingin bertemu dengan pemimpin Nirada Manggala. Katakan kepadanya untuk menjemput saya. Katakan Raden Mas Upasara Wulung bersama Pamanda Ngabehi Pandu dan Wilanda sendiri yang datang.

“Paman Gundul, kau dengar apa yang saya katakan?”

“Saya…,” jawab si gundul sambil menunduk hormat.

Upasara melihat Wilanda yang masih bersila seperti mengisyaratkan agar jangan kurang ajar. Tapi siapa yang peduli? Untuk apa menghormat lelaki setengah tua yang berpakaian saja tak sempurna?

“Paman Gundul, kau dengar?”

“Saya….”

Tapi selain jawaban yang diberikan, paman gundul itu tetap bergeming.

“Rupanya di perguruan ini banyak yang angkuh dan sok. Saya sudah bicara baik-baik, tapi kalian memperlakukan seperti ini. Jangan bilang anak muda berlaku kurang ajar.”

Upasara menggeser kakinya.

“Saya…”

Seumur hidup, belum pernah Upasara mendapat perlakuan hina seperti ini. Di Keraton, semua menuruti keinginannya. Apa yang diharapkan bisa terlaksana. Tak ada yang membandel seperti ini.

“Maaf, Kisanak…,” suara Wilanda tetap ramah. “Kami sudah mengenalkan diri. Bolehkah kami mengetahui nama besar Kisanak?”

“Saya… Saya bernama Jaghana, Kisanak.”

Upasara tak bisa menahan diri lagi. Ini jelas cara mempermainkan yang keterlaluan. Bagaimana mungkin pertanyaan yang baik-baik, dengan rasa hormat, dijawab seenaknya ? Bagaimana mungkin seorang bernama Jaghana yang artinya pantat?

Tanpa memedulikan lirikan mata menahan, Upasara langsung menerjang. Jaraknya masih sekitar dua tombak, akan tetap hanya dengan sekali menginjak tanah, tubuhnya sudah melayang maju ke depan Persis di depan Jaghana yang gundul, dan langsung menyerang. Dua tangan, kiri dan kanan, maju secara serentak seperti menjepit tubuh Jaghana. Ini adalah gerakan dasar dari serangan banteng. Ilmu yang diandalkan selama ini. Kedua tangannya berfungsi sebagai pengganti tanduk. Kalau saja Jaghana

bisa dijepit, kepalanya bisa retak, sebelum tubuhnya berputar dan melayang ke atas.

Kunci utama dari serangan kilat ini adalah pada kekuatan besar yang mengunci gerak lawan, dan di samping itu juga tak memberi kesempatan lawan untuk menggagalkannya. Karena Upasara yang berarti banteng sangat kuat kuda-kudanya.

Persis seperti ketiga banteng menyerbu harimau. Ilmu ini boleh dikatakan ciptaan Ngabehi Pandu sendiri, yang disesuaikan dengan sifat-sifat Upasara yang masih berdarah panas bertenaga besar seperti banteng. Selama ini selalu terbukti bahwa jurus pembukaannya selalu membuat lawannya repot. Upasara sudah memperhitungkan.

Andai terpaksa menghindar, Jaghana harus mundur, paling sedikit dua tindak. Itu juga akan menempatkan Jaghana pada posisi yang sulit, karena dua tangan Upasara akan menyusul langsung. Dan kali ini sasarannya adalah pusar. Bagai tanduk sepasang yang menemukan sasaran empuk. Pukulan ini merupakan rangkaian. Hanya beberapa jago saja yang mampu menghindar dari rangkaian pukulan berantai ini, itu pun akan mempersulit posisinya kemudian.

Dalam beberapa latihan, hanya Wilanda yang secara berturut-turut mampu menghindar. Terutama karena ilmu meringankan tubuh yang satu kelas di atasnya.

Itu pun harus mengorbankan kedudukan kuda-kuda untuk tetap berada dalam sikap bertahan.

Ngabehi Pandu menciptakan jurus yang kelihatannya sederhana ini bukan sekadar bangun dari tidur. Walau kelihatannya sederhana, perubahannya cukup rumit.

Sederhana karena gerakannya seperti kaku. Lurus menerjang dengan dua tangan sekaligus. Namun sebenarnya ini juga merupakan inti untuk menjajal kekuatan lawan.

Seperti diketahui, untuk menghadapi jurus ini hanya tersedia dua pilihan.

Menghindar mundur atau langsung menggempur. Ini berarti secara langsung beradu tenaga. Saat itu juga, si penyerang sudah bisa memperkirakan kekuatan lawan. Karena saat beradu, dua tangan yang menjotos berputar arahnya ke bawah. Cara mengatur kekuatan lawan inilah yang disebut serangan efektif. Menerjang sekaligus menakar kekuatan lawan. Dengan mengetahui secara persis kekuatan lawan, si penyerang bisa mengatur siasat.

Ngabehi Pandu menciptakan rangkaian jurus ini terutama sekali untuk menerjang lawan yang belum dikenal seberapa kekuatannya. Namun dilihat dari kuda-kudanya, jurus ini tidak sekadar menjajal untuk coba-coba, akan tetapi sudah sekaligus menggilas.

Seekor kerbau liar pernah terjungkir dan terbanting kasar di tanah ketika Upasara mempraktekkannya.

Apakah Jaghana akan terbanting seperti seekor kerbau? Itulah yang akan terjadi karena Jaghana tidak menggempur langsung dan tidak menghindar. Seakan membiarkan saja. Jaghana seperti membiarkan dirinya diserang! Upasara serta-merta mengurangi kekuatan tenaganya. Ia ingin sekadar memberi pelajaran kepada lawan dan bukan ingin menghancurkan.

Akan tetap justru di saat seperti itu, dalam sepersekian detik yang bersamaan, Upasara

merasa kakinya bergetar. Seperti kesemutan. Aneh. Padahal Jaghana hanya menggeser sedikit posisi kakinya. Ini soal tenaga dalam. Dalam sekelebatan saja Jaghana sudah bisa membaca gerak dan inti serangan. Justru dengan sekali gebrak, Jaghana membalas pada posisinya yang paling kuat. Di arah kuda-kuda. Upasara berpikir cepat.

Membatalkan serangan utama, dan balik menggeser kaki kiri untuk mengurangi tekanan lawan. Sekaligus dengan itu tangan kirinya ditarik mundur untuk menampik lawan. Tanpa menggeser tubuh, Upasara kini melancarkan serangan berikut.

Tubuhnya sedikit meloncat, dengan cara menjatuhkan diri, Upasara ingin mengetok punggung lawan dari belakang. Tubuhnya melengkung bagai plastik yang bisa berubah menjadi lebih panjang. Lawan akan mengira ia masih bertahan di tempatnya, tetapi secepat kilat ia menyerang arah belakang.

Inilah salah satu kehebatan jurus Ngabehi Pandu. Dua jenis serangan yang mempunyai sifat berbeda, bisa dilakukan secara beruntun. Meskipun sebenarnya gerakan ini pada awalnya mengandalkan kekerasan, tapi di saat yang bersamaan bisa diubah menjadi luwes. Untuk mempraktekkan gerak semacam ini sebenarnya tak diperlukan latihan yang panjang. Kekuatan utamanya justru terletak pada mengatur dan menyalurkan tenaga sesuai yang dibutuhkan.

Jaghana seperti mengeluarkan seruan pujian dari hidungnya. Lagi-lagi, seperti pada mulanya, ia seperti membiarkan punggungnya dipatuk dari belakang. Caranya menghadapi justru dengan meneruskan serangan kakinya ke depan. Sehingga tubuhnya seperti jatuh.

Upasara bersorak dalam hati. Sekuat-kuatnya badan manusia, tulang punggung bukan bagian yang boleh dibiarkan menerima pukulan. Secepat-secepatnya menjatuhkan diri, tak mungkin bisa menghindari pukulan. Memang begitu kenyataannya. Upasara merasa bahwa tangannya bukan mengenai punggung, tetapi kepala. Karena lawan menjatuhkan diri. Tetapi kepala juga sama lemahnya dalam penjagaan. Hanya saja di luar segala perhitungannya, kepala Jaghana ternyata sangat licin. Sehingga emposan tenaganya seperti makin mendorong dirinya. Tenaganya justru menyeret, seperti orang terpeleset. Tak ada jalan lain, selain menyelamatkan diri. Upasara berjumpalitan satu setengah agar bisa berdiri tegak.

Ia memang berhasil berdiri tegak. Akan tetapi ini pertanda surut. Dari menggempur, dalam satu gebrak saja sudah mundur dan bertahan. Perubahan mendadak yang secara serentak membalik situasi.

Upasara siap untuk menerima serangan. Tapi Jaghana, si pantat gundul, hanya memandang sambil tersenyum.

“Anak muda, sungguh luar biasa. Serangan yang mengagumkan. Saya tak pernah menyangka bahwa dunia sudah sedemikian majunya. Siapa mengira anak muda yang masih bau kencur ini mempunyai kepandaian luar biasa. Selamat, selamat.”

Sebenarnya apa yang diucapkan Jaghana adalah ucapan yang jujur. Sesuatu yang nampaknya melekat sebagai sikap Perguruan Awan. Mereka memang sering dikatakan hidup dengan cara yang sangat ganjil dan tak menentu, akan tetapi mereka dikenal sebagai orang-orang yang jujur. Satu kata satu perbuatan. Apa yang putih tak bakal dibilang hitam. Pujian ini juga pujian yang jujur. Akan tetapi bagaimana mungkin Upasara bisa menelan kata-kata semacam itu?

Pertama, ia seorang bangsawan yang belum pernah mendapat perlakuan begitu “kurang ajar”. Kedua, kata-kata “anak muda yang masih bau kencur” sangat menyinggung perasaannya. Ia tak menangkapnya sebagai pujian bahwa sesungguhnya anak seusianya belum tentu bisa menguasai jurus-jurus tadi dengan baik. Berarti masa depannya cukup bagus. Perbedaan latar belakang ini masih ditambah lagi bahwa Upasara tak cukup sabar.

“Kita lihat siapa yang bau kencur dan siapa yang bau bawang merah,” ujarnya keras sambil terus menyeruduk. Karena merasa kalah dalam serangan pertama, Upasara menyerang dengan tenaga penuh. Kedua kakinya memancal tanah, jotosannya mengarah ke depan. Kedua-duanya. Hanya kali ini dalam perjalanan pergelangan tangan ini berputar seperti menyerap tenaga lawan. Menyerap, memutar, dan mengarahkan pada si pemilik sendiri.

Jaghana juga menjadi berhati-hati. Ia meloncat tinggi, tidak berusaha menghindar jarak pendek atau memapaki serangan. Sambil meloncat tinggi, seperti memantul, tubuhnya berputar. Serangan balasan yang dilancarkan dengan berputar bukan hanya berbahaya bagi lawan, tapi juga berbahaya bagi diri sendiri.

Wilanda yang pernah berada dalam perguruan yang sama, sedikitnya mengetahui hal ini. Harus diakui serangan sambil berputar adalah serangan yang mengandung risiko. Lawan memang bisa bingung, mau menyerang kepala bisa keliru pantat, mau menerjang dada bisa keliru kaki. Itu pun tenaganya tak akan mengena separuhnya, karena sebagian besar sudah dinetralisir dengan gerakan berputar. Akan tetapi menyerang berputar perlu mengerahkan tenaga dalam yang kelewat banyak. Ini bukan untuk pertempuran jangka panjang. Agaknya Jaghana ingin menyelesaikan pertandingan dalam waktu singkat. Kenyataan ini saja sebenarnya sudah harus membuat Upasara merasa bangga. Tak begitu banyak kesempatan seorang ksatria semacam dia menemukan lawan yang langsung mengeluarkan langkah-langkah rahasia berikut kuncinya.

Ditilik dari sudut ini, Upasara boleh dibilang sangat beruntung. Dalam usianya yang masih muda ia boleh dikatakan bisa mengimbangi lawan yang jauh lebih tua, lebih berpengalaman, dan sudah mempunyai nama besar.

Kalau pada gebrakan pertama tadi ia dibuat bertahan, itu semata-mata karena soal pengalaman. Bukan soal perbedaan ilmu.

Menghadapi lawan yang bergulung, Upasara mengubah gerakannya. Ia tak mau mengeluarkan tenaga keras, karena bisa terseret lawan. Ia melengkungkan tubuh, meloncat terbalik, dan kemudian masuk ke dalam pusaran lingkaran.

Wilanda mengeluarkan pekik tertahan.

Ia tak menyangka sama sekali bahwa Upasara akan mengimbangi lawan dengan gerakan yang sama. Dengan saling melibat diri, berarti pengurasan tenaga secara besar. Dan kalau sedikit saja alpa, satu jari saja menyentuh bagian lunak dari wajah bisa berakibat fatal seumur hidup. Lima kali kedua tangan lawan beradu.

Suaranya terdengar bagai dua batu ditumbukkan. Upasara kaget karena tangan lawan seperti mempunyai sengat. Setiap kali beradu, ia cepat menarik tangan dan mengganti dengan sabetan kaki. Namun ini pun mengalami hal yang sama. Yang tak diketahuinya ialah bahwa agaknya Jaghana pun mengalami hal sama.

Sengatannya seperti tak bisa menusuk langsung. Beberapa bagian tenaganya bisa ditolak.

Sepuluh jurus berlalu tanpa ada yang memisah.

Tanpa ada tanda-tanda kalah.

Tanpa ada yang menyerah.

“Kisanak Jaghana, maafkan kami…” Wilanda tetap bersujud. Suara perlahan tapi mengiang.

“Upasara, cukup.” Terdengar suara mantap. Ngabehi Pandu mengucap seperti menggertak. Dan betapapun berangasan dan congkak, Upasara agaknya ada rasa takut kepada pamannya. Ia mengunci diri dan bergulung keluar satu tombak. Untuk bisa berdiri tetap, ia masih memerlukan beberapa tindak lagi.

Sementara Jaghana tetap berdiri tegak sambil tersenyum.

“Sudah kurang ajar, kalah, masih berlagak?” Pandu berteriak.

Upasara menghela napas. Lalu berjongkok menghaturkan sembah.

“Maaf, Paman Gundul. Saya terlalu lancang dan kurang ajar. Saya menerima kalah.” Dari ucapannya terkesan bahwa Upasara sebetulnya masih belum mau menyerah. Sebutan Paman Gundul menandai kedongkolannya.

“Ah, jangan terlalu merendahkan diri dan mengangkat lawan terlalu tinggi.

Nama saya memang Jaghana, tak pantas dipanggil Paman Gundul. Walaupun antara pantat dan kepala gundul tak ada bedanya. Tapi letaknya yang satu di atas dan lainnya di bawah. Silakan berdiri, anak muda.”

Ya, begitulah cara hidup Perguruan Nirada yang aneh. Bahkan untuk ngomong pantat atau gundul saja tak ada bedanya. Tak merasa risi sama sekali.

“Wilanda menyampaikan sembah bekti.”

“Saya tak bisa menerima kehormatan ini,” lalu sambil melirik ke arah Ngabehi Pandu, suaranya jadi penuh hormat. “Terima kasih atas pertolongannya. Kalau saja tidak dihentikan tadi, saya tak bisa mengelus kepala lagi. Ternyata nama besar Ngabehi Pandu terlalu kecil untuk menunjukkan hal yang sebenarnya. Terimalah salam saya.”

Wilanda maju ke depan.

“Kisanak Wilanda, rasanya baru kemarin kita berpisah. Tapi kini Kisanak sudah hidup enak mempunyai pakaian bagus dan kuda bagus. Aha, kapan lagi mengajak saudara lama ini?”

Kalimatnya setengah menyindir setengah mengalem. Sulit dibedakan.

“Kerinduan saya tak bisa diutarakan lagi. Namun kali ini, saya datang membawa perintah Baginda Raja.”

“O, jadi kalau punya pakaian dan kuda bagus harus begitu, ya? Siapa itu Baginda Raja?”

Upasara merasa darahnya mendidih lagi. Kalau tadi kurang ajar keterlaluan, sekarang ini sudah buyutnya keterlaluan. Tak ada ampunan. Maka sekarang ini tanpa bertanya ba atau bu langsung saja menerjang. Kali ini malah langsung dengan keris saktinya. Ujung keris tergetar karena menahan dendam. Yang diarah pun tak

kepalang tanggung. Tenggorokan.

Ini sebenarnya merupakan jurus pamungkas, atau jurus terakhir dari rangkaian serangan ilmu banteng yang disebut Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka.

Serangan ini biasanya hanya muncul kalau keadaan sudah betul-betul kepepet, tak ada jalan keluar sama sekali. Seperti banteng yang terluka tak ada harapan lagi.

Dengan sekali gempur, bisalah mendahului lawan, atau setidaknya mati bersama.

Dengan jurus ini semua tenaga dihimpun ke ujung keris. Sehingga bagian yang lain tidak sepenuhnya terlindungi. Kalau saat itu lawan menyobek perut atau menotok urat nadi di leher, tak ada halangan yang berarti. Akan tetapi juga dengan demikian Upasara bisa meneruskan niatnya. Kalau lawan mengurungkan niatnya, berarti Upasara terbebas dari sergapan untuk sementara.

Dan Upasara mengeluarkan jurus Banteng Terluka meskipun sama sekali tidak dalam keadaan terjepit. Wilanda mengeluarkan seruan tertahan. Langsung bersamaan dengan itu tubuhnya meloncat keras dan menubruk Jaghana. Caranya sedemikian rupa sehingga punggungnya yang dibiarkan terbuka. Dalam detik yang pendek ia ternyata tak berpikir untuk nyawanya sendiri.

Jaghana sendiri nampaknya tidak memperhitungkan bahwa seorang anak muda bisa begitu telengas dan ringan tangan untuk mengeluarkan jurus maut. Alisnya berkerut tapi tak sempat menghindar.

Hanya karena Ngabehi Pandu bergerak lebih dulu. segalanya berakhir tanpa ada yang terluka. Sebagai tokoh yang menciptakan jurus itu. Ngabehi Pandu tahu kelemahannya. Dua jarinya menghadang pergelangan tangan Upasara, dan disertai entakan tenaga dalam, keris itu terloncat dan tangan Upasara. Melesat ke udara.

Ngabehi Pandu menggerakkan tubuhnya meloncat, menyambar keris, dan sebelum kakinya menyentuh tanah ia bisa mengembalikan lagi ke sarung keris yang terselip di punggung Upasara. Suatu gerakan indah bagai tarian yang memesona. Dengan sekali gebrak, tiga gerakan berbahaya dilakukan. Menggagalkan serangan dengan melontarkan keris ke udara, menangkap, dan mengembalikan ke sarungnya yang masih dipakai pemiliknya.

Ngabehi Pandu menunduk.

“Maafkan, kami yang tua ini tak bisa mendidik anak.”

Jaghana berdiri tegak, lalu membalas hormat dan menghela napas.

“Yang tua makin arif, yang muda makin sulit dikendalikan. Anak muda, kau berbakat besar, mempunyai guru yang sungguh luar biasa. Di belakang hari nanti tanah Jawa menjadi ramai karenanya. Luar biasa. Sayang aku si pantat bulat tak bisa menyaksikan semua ini. Setelah nyawa yang tak berharga ini diselamatkan berkalikali rasanya tak pantas menjadi murid Nirada lagi.” Suaranya berubah parau. “Eyang Sepuh, mohon ampun… murid Eyang memang tak pantas berdiam di sini.” Lalu disertai helaan napas, Jaghana berlalu.

“Tunggu, Kisanak. Ada yang ingin kami ketahui.”

“Kanjeng Ngabehi, nyawa yang hina telah Ngabehi tolong. Kalau ada yang bisa saya lakukan untuk Ngabehi, mati pun saya rela melakukannya.”

“Jangan terlalu sungkan, Kisanak. Ini semua karena kesalahan kami.

Sesungguhnya kami datang untuk menemui Eyang Sepuh.”

“Sedih sekali rasanya. Untuk permintaan yang tak berarti itu saya tak bisa menjawab. Saya sendiri tak tahu di mana beliau berada.”

“Ah,” Wilanda mengeluarkan suara tertahan.

Ngabehi Pandu menghela napas. Dengan pengalaman yang sudah setua umurnya, ia tahu bahwa Jaghana tidak berdusta sama sekali.

“Satu pertanyaan lagi. Apakah dalam sebulan ini ada Tamu dari Seberang datang kemari?”

Jaghana menampilkan senyum. Senyum getir.

“Entah kenapa begitu banyak yang menanyakan hal yang sama. Hal yang saya sendiri tidak tahu. Ketika Eyang Sepuh memilih desa tanpa nama ini rasanya sudah tak ada tempat lain yang lebih sunyi. Akan tetapi nyatanya sekarang ini jadi tempat berkumpul para jagoan di seluruh jagat. Oi, tak ada lagi tempat sepi.”

Begitu selesai ucapannya, terlihat dua bayangan melesat datang. Seorang lelaki tua yang seluruh rambutnya putih nampak menjinjing kadut-kantong karung dari serat pohon-besar. Seorang lagi adalah seorang bocah, yang nampak ganjil karena wajahnya seperti merah membara. Dua manusia aneh yang berdiri berjajar aneh.

Lelaki tua berambut putih dan seorang bocah berwajah merah.

“Nah, kita di sini dulu, Tole. Mendengarkan orang bicara,” kata lelaki tua berambut putih. Yang dipanggil sebagai tole-artinya anak lelaki kecil- tidak menjawab, hanya memandang selintas. Lalu duduk di rumput.

Wilanda seperti terbangun dari tidurnya. Memang aneh, di tempat yang kelewat sunyi ini tiba-tiba datang dua orang yang namanya pernah menggetarkan Kali Brantas. Yang dipanggil Tole adalah Padmamuka, alias Padmanaba, alias si Muka Merah. Yang tua berambut perak dipanggil Niriti, alias Dewa Maut yang Kekal Abadi.

Entah dari mana mereka mendapat sebutan itu dan apa alasannya. Selama ini Wilanda tak pernah mendengar. Karena selama ini keduanya hanya beroperasi di sepanjang Kali Brantas Menurut cerita, keduanya tak pernah berada di daratan, selalu saja tengah sungai. Bahkan menurut dongeng, mereka bertempat tinggal di salah satu kedung Brantas. Pasti ada sesuatu yang luar biasa kalau sampai turun ke darat. Apalagi berada di daerah terpencil.

“Tole, mereka tidak ngomong lagi. Apa perlu kita paksa?”

“Semaumulah. Kau dewa maut yang bisa berbuat sekehendakmu. Apa susahnya memaksa orang bicara mengenai Tamu dari Seberang?”

“Tole, siapa yang kita paksa pertama?”

“Siapa saja. Lebih baik dimulai dari yang paling jelek.”

“Bagus. Bagus.” Suara Niriti berubah gembira. Kadutnya bergoyang-goyang.

“Kalian semua sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan cucuku ini. Ayo, mengaku saja. Siapa yang paling jelek harap menyembah.”

Padmamuka terkekeh.

“Kalau ditanya begitu, mereka pasti akan berebutan. Karena semuanya memang jelek. Paksa saja semua.”

“Itu juga bagus. Kalian semua sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan cucuku ini. Dan sesungguhnya, aku tak pernah menolak apa yang diminta cucuku.

Baiklah. Kalian perlu kupaksa atau langsung berterus terang di mana Tamu dari Seberang itu?”

“Agaknya Kali Brantas sudah kering. Tak ada ikan kecil lagi, sehingga nelayan sungai cari makan di darat. Pengemis pun harus menunjukkan hormat kalau meminta sesuatu. Bukannya omong besar.”

Upasara yang maju ke depan. Agaknya ia yang paling muak dengan segala kesombongan dan kecongkakan-barangkali juga karena ia memiliki sifat yang sama.

“Tole, ada yang berani berkata. Kau dengar?”

“Ya, tetapi tidak jelas maksudnya.”

“Lalu bagaimana, Tole?”

“Suruh menjilat kakiku, agar lidahnya bisa ngomong ndak ngawur.”

Niriti, si kakek berambut putih, tertawa terkekeh. “Nah, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan cucuku. Ayo lekas, jilat kakinya. Biar dewa bermurah hati hanya memotong lidah bukan nyawamu. Lakukan, tunggu apa lagi?”

“Hanya karena merasa terantuk batu pengalaman yang keras, Upasara tidak segera menyerang. Coba saja tidak mengalami peristiwa yang baru saja terjadi, ia sudah langsung menerjang.

“Soal menjilat kaki apa susahnya. Tetapi kenapa harus melakukan itu, kalau ada soal lain?”

“Tole, kau dengar siapa itu yang ngomong?”

“Maaf, namaku yang rendah adalah Wilanda. Salam hormat untuk Dewa Maut dan Padmamuka.”

“Bagus. Itu bagus. Kamu menjawab dengan baik. Apa kau dari Perguruan Mendung ini?”

Jelek-jelek Wilanda bekas murid Perguruan Nirada. Memang nirada bisa berarti awan, tetapi juga bisa berarti mendung. Namun cara si kakek merendahkan dalam sebutan cukup membuatnya panas.

“Saya hanya murid yang tak tercatat. Silakan memberi pelajaran.”

Wilanda langsung mengambil kuda-kuda memberi hormat.

Ini berarti tantangan yang resmi. Tantangan seorang ksatria. Wilanda cukup menghormati lawan untuk memulai dengan gerakan pembukaan, menghormat ke arah lawan. Kakek tua itu langsung bergelak.

“Kalian manusia darat terlalu banyak sopan santun. Buka mulut di mana Tamu dari Seberang atau bakal jadi makanan cacing.”

Niriti meluncur, dalam artian sebenarnya. Tiba-tiba saja tubuhnya tertekuk, seperti gerakan orang mau meloncat ke air. Dan benar-benar meloncat. Hanya bedanya kalau meloncat ke air, tubuhnya turun ke bawah, yang ini meluncur ke depan lurus. Kedua tangannya terbuka dan siap mencakar wajah. Wilanda menotol dengan ujung kakinya tanpa menekuk lebih dulu, atau memang tak terlihat saking cepatnya dan tubuhnya melayang ke atas. Dari atas, kedua kakinya ditekuk seakan ingin berdiri di punggung si kakek. Namun sebelum gerakan itu sempurna, bentuknya sudah diubah lagi, karena Niriti memutar kakinya. Sehingga tubuhnya menjauh dan cakar tangannya tetap mengarah ke lawan.

Meluncur bagai peloncat indah, sambil tetap menjinjing kadut besar dan dengan enak bisa memutar di tengah udara. Semua bisa dilakukan sambil tetap menyerang. Kalau Upasara yang disergap semacam itu, pasti sudah kelabakan.

Wilanda jauh lebih berhati-hati. Gaya capungnya dipertontonkan dengan indah. Tangan lawan yang mencakar dibentur keras, dan meminjam, tenaga benturan ia melayang tinggi berjumpalitan di udara, lalu turun di tanah, menotol lagi, menyerang ganti. Kakek berambut putih itu mengeluarkan suara di hidung. Kali ini kadutnya dipakai untuk memapak serangan.

Wilanda bisa menjajal kemampuan lawan. Tetapi ia cukup cerdik untuk memeras tenaga si kakek. Lagi-lagi ia meminjam tenaga kadut berputar untuk berjumpalitan, meluncur turun, menotol tanah, dan balik menyerang.

Taktik yang membuat Niriti terkesiap dan untuk beberapa kejap seperti bertempur dengan angin kosong. Namun sebagai jago kelas satu yang menguasai daerah tertentu, dengan cepat ia bisa menentukan cara untuk mengatasi. Kali ini ia menyerang dengan tenaga yang lembek, hanya dua persepuluh saja. Sehingga Wilanda tak mungkin meminjam tenaganya.

Memang ini sempat mengacau Wilanda, namun cara mengentengkan tubuhnya boleh dibilang sudah kelas satu. Sehingga meskipun tak terlalu keras, ia tetap bisa berjumpalitan, menotol tanah, dan tetap menyerang.

“Kakek tua tak tahu diri. Apa susahnya menangkap capung?”

“Bagus, Tole. Nih, aku tangkap.”

Serentak dengan itu Niriti mengayunkan karungnya dengan keras ke atas. Kedua tangannya terentang lebar, lalu menutup dengan gerakan berputar, dan langsung menyerang lawan. Wilanda tak menduga bahwa tenaga dalam si kakek sedemikian saktinya. Sehingga hawa di sekitar dada dan wajahnya jadi panas dan sesak. Lalu secara cepat hawa panas dan menyesakkan itu musnah, dan Wilanda seperti berada dalam ruang tanpa udara. Kekuatannya jadi lenyap seketika. Tak ada jalan lain kecuali mengerahkan sisa kekuatan yang tersimpan di bawah pusar.

Tubuhnya berputar pendek, seirama dengan tangan yang melingkar ke depan dengan sangat cepat. Dalam setiap ajaran silat, gerakan ini sangat umum dan mudah dikenali sebagai gerakan untuk mencari tenaga dari bumi. Hanya dengan latihan yang keras dan konsentrasi penuh, “kekuatan bumi” ini bisa dipinjam. Kalau dasarnya tidak mempunyai tenaga dalam, yang diisap adalah tenaga kosong belaka. Sebenarnya ini gerakan yang sangat efektif. Hanya saja karena merupakan gerakan umum, lawan pun melakukan. Jadi boleh diartikan siapa yang lebih dulu mengambil tenaga dari bumi.

Niriti bukannya mengambil, melainkan membuyarkan dengan sapuan kakinya. Terkurung dalam lingkaran pukulan Niriti, Wilanda mengempos kekuatannya.

Ia menekuk lutut dan melompat ke atas. Dalam keadaan biasa hal itu tak perlu dilakukan. Seakan tanpa menekuk pun bisa meloncat, Akan tetapi kekuatan ini diperlukan, karena kedua tangan Niriti tak akan membiarkan bebas.

Ini berarti adu tenaga.

Wilanda mengegos sedikit untuk melunakkan tenaga lawan, dan tubuhnya mumbul ke atas. Agaknya ini pun sudah diperhitungkan Niriti ketika melemparkan kadutnya ke atas. Bersamaan dengan itu, kadut itu bakal menimpa tubuhnya. Paling tidak ia bisa menjotos. Hanya saja kesadarannya yang tinggi menahan gerakan itu.

Berarti kadut itu berisi manusia. Astaga. Siapa pula yang berada di dalamnya? Kalau seseorang yang sedang menderita, bisa saja menjadi luka atau bahkan meninggal dunia. Jiwa ksatria Wilanda menahan pukulan itu. Akibatnya memang gerakannya jadi terganggu. Apalagi ia justru berusaha menangkap kadut itu, menyebabkan pinggangnya terbuka. Niriti bersorak dingin.

“Kena!”

Sebenarnya, sejak Niriti datang, Jaghana sudah melihat sesuatu yang aneh.

Sesuatu yang mencurigakan dari kadut. Makin jelas ketika kadut itu dilemparkan ke atas. Mendengar suara rintihan, Jaghana bahkan mengenali nada rintihannya. Tak ayal lagi ia langsung menyerbu ke arah pertempuran. Hanya saja terlambat.

Kadut itu sudah ditangkap oleh Wilanda yang pinggangnya serasa patah Namun walau begitu dalam jatuhnya, ia masih membiarkan dirinya lebih dulu.

Wilanda tetap memegang karung itu dengan sakit yang serentak menjalar ke arah perutnya.

Niriti berbalik menghadapi Jaghana yang melancarkan pukulan dan samping kiri. Dewa Maut hanya menggeser kepalanya sedikit, lalu balas menyerang. Di luar dugaan, Jaghana tidak berusaha menghindar. Malah langsung menyapu lawan dengan keras. Jika mereka membiarkan diri, keduanya akan terkena pukulan lawan. Dewa Maut mengegos ke samping. Tak urung ikat kepalanya tercongkel sedikit. Lepas, dan rambutnya yang putih terurai ke depan. Jaghana menjambak rambut itu dan menarik ke bawah sekuatnya, sementara kedua lututnya terayun ke atas. Gaya membungkuk menyebabkan punggungnya terbuka. Namun seperti tidak peduli, Jaghana terus merangsek lawan. Dewa Maut mengeluarkan seruan tertahan dan menahan benturan lutut dengan kedua tangannya. Terdengar bunyi plak yang sangat keras.

Biarpun Dewa Maut sangat hebat tenaga dalamnya, tak urung terguncang pula.

Biar bagaimanapun, kekuatan kaki Jaghana lebih tangguh dari daya tahan tangannya.

Tubuhnya terdorong ke belakang. Segenggam rambutnya lepas. Belum berdiri lurus, Jaghana sudah memutar tubuhnya dan bagai pusaran angin beliung langsung menggulung lawan.

Baru kini Upasara sadar bahwa Jaghana bukan sembarang jago. Tadi ia sudah menyaksikan dan mengalami sendiri. Baru kini Upasara sadar bahwa tadi Jaghana tidak mengeluarkan seluruh tenaganya. Kalau tadi ia diserang dengan cara seperti ini, barangkali tubuhnya sudah terlipat bagai tali pelintiran.

Jaghana adalah tokoh yang mempunyai watak sabar, pikir Upasara. Bahwa ia menjadi begitu geram dan menyerbu tanpa memikirkan keselamatan dirinya, ini pasti ada yang menyebabkan. Tak mungkin orang yang begitu ramah, sabar, dan suka tersenyum menjadi nekat tanpa sebab. Hanya saja Upasara tidak mengetahui apa yang membuat Jaghana begitu bernafsu. Mungkin ia juga tetap tak tahu, kalaupun mengetahui, bahwa isi kadut itu salah seorang dari Perguruan Awan. Dasar-dasar yang kuat dari perguruan ini adalah rasa setia kawan sesama anggota perguruan.

Bahwa dasar ini berlaku di setiap perguruan, itu tak ada yang membantah. Hanya pada Perguruan Awan, dasar ini memperoleh bentuknya, yang kadang sangat ekstrem. Seperti diketahui, dalam perguruan ini tak ada perbedaan antara murid yang satu dan yang lain. Soal ilmu dibagi rata, soal pemilikan tak ada yang mempersoalkan.

Ini barangkali bedanya dari perguruan lain. Di Perguruan Awan tak ada tingkat yang berbeda. Tak ada yang dianggap senior atau yunior. Tak ada murid ketua atau wakil atau yang biasa. Bahkan Eyang Sepuh sendiri, yang dianggap ketua, mendapat perlakuan yang sama. Mereka semua hidup di hutan secara bersama. Eyang Sepuh pun harus menanam sayur atau mencari sendiri buah-buahan. Mereka berlatih bersama dan belajar bersama.

Hal ini mudah diduga kenapa Wilanda mau mengorbankan dirinya ketika mengetahui ada saudara seperguruan yang tersimpan dalam kadut. Walaupun itu sudah lewat bertahun-tahun dan ia hidup sebagai prajurit utama di Keraton, perasaannya masih sama.

Tak ada yang lebih mulia daripada membantu sesama. begitulah kira-kira salah satu ajaran dari Eyang Sepuh. Barangkali itu pula sebabnya perguruan ini tak pernah memiliki apa-apa. Pondok secuil pun tidak. Bahkan dalam bentuk yang juga berlebihan. mereka tak memerlukan pakaian penutup tubuh semuanya diberikan pada orang lain yang dianggap memerlukan.

Ajaran yang mendarah daging ini boleh dikatakan menjadi undang-undang tak tertulis. Barang siapa merasa perlu memiliki sesuatu apa pun, walau seikat rumput untuk kepentingan sendiri, ia tak diakui lagi sebagai anggota. Wilanda dulu juga begitu. Karena merasa perlu untuk memperdalam ilmu meringankan tubuh, ia perlu mencari guru di tempat lain. Ia merasa dirinya tak pantas menjadi murid lagi, dan minta keluar dari hutan. Sejak itu beberapa kali Wilanda ganti guru, menjajal kemampuan. Perjalanan hidup mempertemukannya dengan Ngabehi Pandu yang tertarik pada tekad besarnya.

Sementara itu di tengah lapangan, Jaghana terus berputar menggulung.

Sepertinya ia akan membelitkan tubuhnya ke tubuh Dewa Maut dan mereka berdua bakal terpelintir jadi satu. Dewa Maut terdesak menghadapi gempuran habis-habisan ini. Sejak ia masuk daratan, belum pernah bertemu lawan| setangguh dan senekat ini.

Lagi pula ia baru saja menghadapi Wilanda yang dalam beberapa hal ilmunya berbeda sekali dari Jaghana. Wilanda jauh lebih mengandalkan ilmu mengentengkan tubuh.

Berkelit ke sana. membelok kemari. Sementara Jaghana sama sekali mengandalkan kekuatan menggempur. Sebagai seorang yang tergolong kelas satu, hal ini sebenarnya bukan masalah utama. Hanya saja waktunya berurutan, dan lawan yang dihadapi sekarang seperti tidak ingin memperpanjang waktu. Dalam jangka pendek saja tanpa peduli menang atau kalah. hidup atau mati.

“Hei, tahu diri dikit,” teriak Tole yang masih duduk di tanah. “Kalau berputar macam begitu kau bisa kentut. Dan aku tak suka.”

Padmamuka menggelinding maju.

Wilanda masih merasa perutnya bagai ditusuk-tusuk. Jangan kata untuk bergerak, untuk mengambil napas pun sakitnya tak tertahankan. Akan tetapi melihat Tole maju, ia tak bisa menahan diri. Dengan mengempos tenaga terakhir ia meloncat untuk mencegat gelundungan Padmamuka. Keduanya bertemu, berbenturan, dan Wilanda terbanting. Muntah darah.

Upasara mencabut kerisnya. Dalam keadaan terluka Wilanda sekilas masih melihat Upasara menghalangi gelundungan Padmanaba dengan, lagi-lagi, rangkaian jurus Banteng Keraton.

Dalam banyak hal, Upasara adalah seorang yang boleh dikatakan congkak.

Kesombongannya karena lingkungan yang memanjakan. Namun sebagai seorang ksatria yang banyak menerima ajaran silat dan biasanya ajaran seperti ini tidak berdiri sendiri, selalu dengan sikap-sikap yang lain  ia tak tega melihat Wilanda yang sudah muntah darah diserang. Pun kalau Wilanda bukan orang dekatnya, Upasara bisa maju menolong.

“Anak kecil, kau tak usah ikut.”

Padmanaba meraih pergelangan tangan Upasara dengan gaya meyakinkan.

Yakin bahwa dengan sekali gebrak ia bakal bisa merebut keris lawan. Perhitungan ini cukup beralasan. Padmamuka bisa melihat sejak pertama tadi, bahwa di antara yang hadir Upasara paling lemah. Apalagi dandanannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pendekar. Pakaian yang dikenakan terlalu bagus. Ikat kepalanya juga milik para pangeran yang biasa digunakan dalam upacara besar, mewah. Kerisnya bertatahkan intan. Gelang kakinya dibuat dari emas murni. Mana ada pendekar silat sempat berpakaian begitu necis?

Upasara sendiri memang sangat cerdik. Bahwa Ngabehi Pandu mau menerimanya sebagai murid tunggal, pasti ada alasan kuat. Ngabehi Pandu melihat bahwa Upasara mempunyai ketajaman yang luar biasa dalam membaca persoalan.

Ajaran yang diberikan Ngabehi tak pernah diulang. Sekali dengar bisa dipraktekkan dan dikembangkannya.

Menyadari dirinya sudah dibikin keok pada awal pertarungan tadi, Upasara memanfaatkan ini. Ia sengaja menyerang dengan cara yang tidak terlalu rumit.

Jebakannya berhasil. Lawan mencengkeram tangan kanannya dalam usaha merampas keris. Memang itu berhasil, akan tetapi yang tak diperhitungkan si wajah merah adalah bahwa tangan kiri Upasara bisa mengambil oper keris itu dan langsung menikam! Semua terjadi dalam satu gerakan tanpa putus. Ini merupakan rangkaian jurus Banteng Terluka, di mana Ngabehi Pandu menciptakan dari serangan banteng.

Tanduk kiri atau kanan sama saja!

Kalau yang kiri tak bisa, yang kanan akan sampai juga.

Padmamuka tak menduga bahwa “anak kecil” yang berpakaian model bangsawan pelesiran ini menguasai dengan baik perubahan secara mendadak. Cepat sekali ia mengibaskan tangan Upasara dengan maksud agar tangan Upasara sendiri yang menangkis kerisnya. Ini juga yang tak diduga olehnya. Tangan kanan Upasara memang bisa dikibaskan semaunya akan tetapi justru ini untuk menyambut keris dari tangan kiri dan sekaligus mengarah ke tengah dada. Harus diakui bahwa dalam soal bertempur, Upasara tidak memperhitungkan apakah serangannya terlalu ganas atau tidak. Pertimbangan semacam itu belum merasuk dalam dirinya. Kalau bisa menyerang, ia akan menyerang sepenuhnya. Kalau bisa menusuk dada kenapa harus dibelokkan ke arah lengan.

Ini karena Upasara masih berusia muda, di samping soal tenggang rasa, tak pernah dirasa perlu diperhatikan. Ia tak biasa mengalah. Bahkan untuk tunduk pada orang bin pun, rasanya ogah. Satu-satunya yang didengar dan dipatuhi hanya Ngabehi Pandu. Selama Ngabehi Pandu tidak melarang, ia merasa yang dilakukannya adalah benar.

Walau ilmunya lebih tinggi dan pengalamannya lebih kaya. saat ini Padmamuka tak mempunyai kesempatan untuk lolos dengan mulus. Sambil menggertak keras, ia paksa membuang tubuh sejauh mungkin. Tak urung keris lawan menyerempet baju bagian atas serta memotong kain. Kulit ari di dada teriris panjang ke bawah hingga paha! Kalau saja Upasara meloncat sekali dan menancapkan kerisnya, Padmamuka bisa berubah nama menjadi Pandumuka, alias si muka pucat karena jadi mayat.

Upasara sebenarnya tidak bermurah hati. Ia tak menyangka sama sekali lawan masih bisa lolos. Dalam perhitungannya kerisnya bakal amblas di dada lawan. Dasar cerdik, Upasara mengeluarkan suara mengejek di hidung sambil membanting kerisnya amblas ke tanah

“Hari ini aku masih bermurah hati. Kutitipkan nyawa tak berguna itu dalam dirimu. Hayo. masih bengong di situ? Kenapa tidak menghaturkan sembah dan lekas angkat kaki dari sini?”

Padmamuka memang tak tahu bahwa sebenarnya Upasara tidak bisa memperdaya dalam seketika. Keringat dingin mengucur dan wajahnya makin merah.

Ia berjongkok. Betul-betul menghaturkan sembah.

Kalau ada orang luar yang melihat kejadian ini pasti tak percaya pada apa yang dilihatnya.

“Saya mohon diri,” kata Padmamuka sambil menggelinding pergi, dalam artian sebenarnya karena tubuhnya memang bergulung menggelinding.

“Tole, aku mau tangkap mainan ini,” seru Dewa Maut yang terus mendesak Jaghana.

“Pulang….” Sayup-sayup terdengar jawaban Padmamuka. Dalam sekejap sajaternyata Padmamuka telah menggelinding jauh. Entah dengan cara bagaimana tubuhnya bisa menghindar dari onak dan duri.

“Baik, Tole. Aku tak pernah bisa membantah permintaanmu.” Lalu dengan mengibaskan tangannya, Dewa Maut mendorong lawannya mundur. Ia sendiri meloncat ke atas dan berlalu. Di tengah udara it sempat mengayunkan tangannya ke segala penjuru.

Upasara tak menduga apa-apa bila saja Ngabehi Pandu tidak bergerak sangat cepat luar bisa. Tubuhnya berkelebat, kainnya dibuka. dan dengan kain itu ia menangkap apa yang dilemparkan oleh Dewa Maut. lalu mengembalikan ke arah lawan. Dewa Maut telah berlalu, dan yang menjadi sasaran adalah pohon di kejauhan.

Upasara melongok melihat perubahan yang menakjubkan. Pohon itu seperti bergoyang. Dan daunnya yang dekat dengan tanah melayu secara perlahan.

“Iblis jahat, Tunggu…”

“Tahan,” seru Ngabehi Pandu yang kini berdiri lurus, kakinya hanya mengenakan celana sebatas lutut. Kainnya itu lalu dilemparnya jauh. Upasara baru bermaksud mengambil kain pengganti di kudanya ketika menyadari bahwa ketiga ekor kuda itu sudah lari menjauh. Berlari kencang sekali, dua di antaranya menabrak pohon hingga tunggang langgang, mengeluarkan pekikan keras, berkelojotan bangun, dan berlari terus.

Ngabehi Pandu berjalan mendekati Wilanda, memeriksa nadi dan pernapasannya.

Lalu mendekati orang yang berada dalam karung. Memeriksa, sambil mengernyitkan alisnya hingga beradu. Setelah memencet beberapa nadi, Ngabehi Pandu duduk bersila di tanah. Menempelkan telapak tangan ke dada orang yang masih mengerang perlahan itu. Erangan itu makin lama makin pelan.

Jaghana berlutut di sampingnya. Tenaganya seperti habis terkuras, dan ia sedang melakukan semadi untuk memulihkannya.

Suasana kembali sunyi. Sepi. Hanya bunyi napas teratur. Upasara melihat bahwa Wilanda masih terbaring pingsan. Ngabehi Pandu masih mengobati, dan Jaghana belum sepenuhnya bisa menguasai pergolakan tenaganya, karena masih tersengalsengal.

Kalau tadi terlambat beberapa saat saja, bukan tidak mungkin Jaghana akan mengalami jalan hidup yang berbeda.

Upasara berjaga kalau-kalau ada sesuatu yang tak diinginkan. Sementara itu otaknya berpikir keras, merangkai kejadian yang baru saja terjadi. Dewa Maut sambil meloncatpergi karena gusar, sempat melemparkan senjata rahasia, yang bisa ditangkis oleh Ngabehi Pandu. Tidak seluruhnya karena sebagian dari senjata rahasia itu mengenai kuda. Meski masih muda, secara teori Upasara telah menguasai banyak hal. Ia tahu bahwa senjata rahasia yang dilemparkan Dewa Maut mengandung bisa. Bukan sembarang bisa, karena pohon pun bisa layu secara perlahan, dan kuda jadi gila tak karuan. Lalu menabrak pohon dan nekat lari terus.

Samar-samar Upasara ingat bahwa pasangan Dewa Maut dengan Padmamuka adalah pasangan yang memang maut. Kalau mereka berkelahi tak pernah meninggalkan lawan tanpa membunuh! Itulah sebabnya gelar mereka Dewa Maut. Tak ada lawan yang pernah bertempur dengan mereka pulang dengan selamat.

Mereka berdua terkenal sakti dan juga jahat. Dewa Maut memiliki senjata rahasia yang diramu dari segala macam bisa ikan sungai. Dengan ramuan khusus yang hanya diketahuinya sendiri, ia mengambil sari pati sengat dan bisa segala hewan air. Bisa itu dimasukkan ke dalam tulang ikan. Itulah yang tadi disambitkan ke arah lawan. Orang biasa yang terkena sengatan seekor ikan saja bisa demam panas-dingin tiga hari tiga malam! Apalagi yang sudah diramu. Apalagi yang memang dibuat sedemikian rupa untuk membunuh. Entah berapa ratus, atau ribu, binatang air yang di-korbankan oleh Dewa Maut untuk meramu senjata rahasia! Ini saja sudah pertanda betapa kejamnya mereka.

Dan kalau seekor kuda terkena menjadi gatal-gatal tak karuan, pohon perlahan bisa layu, bisa dibayangkan bagaimana sakitnya jika mengenai manusia. Dan pasti juga bukan satu atau dua senjata saja. Upasara merinding. Korban yang kena itu adalah yang dicoba untuk disembuhkan Ngabehi Pandu.

Dan sekarang Ngabehi Pandu menggelengkan kepalanya.

“Kenapa tak ditolong, Kisanak?”

Yang ditolong membuka mata tersenyum. “Tidak usah, Ngabehi. Sudah terlambat. Untuk apa Ngabehi membuang tenaga percuma? Ini semua tak mengurangi rasa hormat dan terima kasih kami.”

Suaranya bening.

Jaghana menghela napas, membetulkan posisinya, dan duduk di dekat yang terluka.

“Jaghana, adikku…”

“Kakang, tenanglah. Saya akan…”

“Tak perlu. Aku memang tak tahan sakit. Ketika tadi Dewa Maut memaksakan duri ikan ke dalam mulutku, aku tak tahan rasa sakitnya.. Gatal luar biasa. Makanya kubuka semua jalan darah, dan kubiarkan semua racun mengalir. Biar aku segera mati. Adikku, jangan sedih. Kematian menjadi ada, bukan menjadi tidak ada.”

Upasara tidak sepenuhnya mengerti kata-kata yang terakhir, tapi ia tak berani mengusik.

“Tak nyana, perguruan yang dibangun Eyang Sepuh puluhan tahun lenyap begitu saja. Ah, kita belum sempat membantu orang lain. Kamu yang harus meneruskan, Adik Jaghana.”

“Kakang…”

“Dengar, adikku. Aku tak bisa bertahan lama. Tugas seluruh perguruan ini ada padamu. Sampai Eyang Sepuh bisa ditemukan kembali Usahanya tak boleh berhenti.

“Eyang Sepuh sangat luhur dan agung jiwanya. Bukankah Wilanda saja masih mau menolong sesama dan berani mengorbankan dirinya? Ia harus tetap kita akui sebagai saudara sendiri. Kita tak harus memanggilnya dengan sebutan kisanak. Ah, sebenarnya aku ingin menunggu ia siuman dan mengatakan ini. Akan tetapi aku kuatir tak bisa bertahan lama.

“Adikku…” Kalimat itu terhenti oleh batuk-batuk keras.

Upasara berlutut di samping, lalu menggeser duduknya. Tanpa sengaja ia memangku kepala yang terluka.

“Anak muda yang mempunyai masa depan hebat. Banyak ksatria yang akan menolong orang yang memerlukan. Yah, Eyang-andai masih ada akan merasa bahagia sekali. Sayang, kita tak tahu di mana Eyang… sayang, banyak yang jahat dan juga sakti. Aku dibokong, dipaksa mengaku di mana Tamu dari Seberang. Padahal kita semua tak tahu tamu yang mana… Tak kusangka sama sekali, dua tokoh kenamaan dalam dunia persilatan begitu curang. Eyang Sepuh mengatakan bahwa menolong orang lain, bahwa berbuat baik, adalah suatu kebajikan. Sesuatu yang harus dilakukan dengan rela. Bukan karena terpaksa oleh suatu ajaran. Sesuatu yang biasa. Tetapi justru yang dilakukan Eyang menjadi sesuatu yang istimewa- Istimewa kalau dibandingkan dengan perbuatan curang dan keji. Ah…”

Suaranya seperti menahan kesakitan yang lebih dalam dari sekadar mengamuknya racun dalam tubuh. Suaranya mengaduh keperihan.

Upasara melihat orang yang dipangkunya nampak mengerahkan sisa tenaga yang terakhir.

“Aku harus mengatakan ini semua, adikku. Ketika tadi Dewa Maut datang  bersama Padmamuka, mereka menanyakan Eyang. Sambil membawa bingkisan persembahan. Katanya untuk menjamu Tamu dari Seberang. Aku mengatakan apa adanya bahwa Eyang Sepuh tak ada di tempat, bahwa kita tak mempunyai Tamu dari Seberang. Aku disergap serentak, dan sebelum sadar mereka telah bisa melumpuhkanku. Dan mengatakan kalau aku tak mengatakan di mana Eyang dan di mana Tamu dari Seberang, aku akan diracuni. Kalaupun tahu, aku tak mau membuka mulut. Tapi Dewa Maut memaksa aku membuka mulut dan menyambitkan senjata rahasianya. Kemudian aku dimasukkan ke dalam karung kulit kayu. Mereka berdua ingin mempraktekkan ilmu Pasangan Ikan dengan Keong pada tubuh mereka. Lalu mereka mendengar suara pertempuran kalian dan aku dibawa kemari.

“Adikku, jangan berpikir tentang balas dendam.

“Aku kalah dan mati karena kesalahanku.

“Yang harus dilakukan adalah mencari Eyang dan meneruskan ajarannya. Itu permintaanku. Dan aku akan mati dengan tenang.

“Ngabehi Pandu…”

Ngabehi Pandu menoleh dengan wajah dingin. Tetap dingin.

“Terima kasih atas budi baik Ngabehi. Anak muda, kau mempunyai ilmu yang hebat di usiamu yang masih muda. Mudah-mudahan…”

Suara batuknya menghentikan kata-katanya.

Terhenti untuk selamanya.

Ngabehi Pandu menghela napas. Jaghana memberi hormat dengan dalam. Lalu perlahan menutup mata saudara seperguruannya, sambil berbisik di telinga. Dan rasanya air sungai pun berhenti mengalir.

Hanya helaan napas yang berat.

Selebihnya sepi. Sepi yang diam membeku.

Angin kembali bertiup seperti sediakala.

Seperti tak ada yang berubah. Seperti tak ada yang terjadi. Semua kembali ke keadaan yang tenang, damai. Suatu perkampungan-yang tak bisa dinamai kampung karena tak ada rumah satu pun-dilingkari pohon-pohon tinggi, rumput yang lebih tinggi dari lutut.

Upasara tak menemukan perubahan. Juga tidak dengan adanya kuburan seorang anggota Nirada. Karena sesuai dengan kepercayaan Perguruan Awan, mereka yang meninggal dikubur tanpa nisan tanda pengenal. Bahkan tanah di atasnya diratakan seperti semula. Rumput dan ilalang yang tercongkel dikembalikan seperti keadaan aslinya.

Suasana memang seperti sebelumnya.

Hanya manusianya yang berbeda. Wilanda masih jauh dari pulih. Ia masih mengerang perlahan. Racun dari bisa ikan sungai yang dilepaskan oleh Dewa Maut tetap menyiksanya. Ngabehi Pandu berusaha menghentikan menjalarnya rasa sakit.

Tapi ia sendiri bukan tabib. Sementara Jaghana menunggui di sebelahnya. Selebihnya sunyi yang sama.

Ini pertama kalinya Upasara turun ke lapangan. Sebelumnya ia tak pernah meninggalkan dinding Keraton. Sebagai pemuda yang lagi mekar-mekarnya, rasa hausnya memang tak bisa dibendung. Segala apa ingin ditenggak kalau bisa sekaligus.

Pengalaman ini sudah lama ditunggu-tunggu. Sejak masih bocah, Upasara tertarik mempelajari ilmu silat. Tak ada yang lebih menyita perhatiannya selain ilmu silat. Pada usia belum ada sewindu, belum ada delapan tahun. Upasara mampu tapa pati geni. Bertapa hidup tanpa api. Berada di tempat gelap selama empat puluh hari

empat puluh malam. Boleh dikata setiap harinya dilalui dengan berbagai macam pantangan. Gemblengan dari Ngabehi Pandu yang dilakukan dengan keras dan secara maraton, membuatnya sebagai ksatria yang boleh dibilang komplet. Sejak usia dua belas tahun

Upasara hanya keluar dari tempat latihannya setahun sekali. Untuk menjajal ilmunya.

Dengan para prajurit yang lain. Baik satu lawan satu, ataupun dikeroyok. Dengan lawan perwira yang biasa-biasa, sampai dengan yang pilihan. Dan setiap 33 hari sekali, Ngabehi Pandu menemuinya untuk menurunkan ilmunya. Memberikan pelajaran satu-dua jurus baru. Selebihnya mengulang yang lama.

Meskipun boleh dibilang gila silat, Upasara jemu sekali. Itu sebabnya tanpa membantah ia mengatakan sanggup. Apalagi dikawal langsung oleh Ngabehi Pandu, dan Wilanda satu-satunya perwira Keraton yang mengenal Perguruan Nirada.

Upasara boleh dibilang tak menemukan lawan yang setanding di Keraton. Akan tetapi begitu terjun ke gelanggang, ia menyadari bahwa apa yang dimiliki selama ini masih tingkat awal sekali. Boleh dikatakan, sekali pun ia belum pernah menang. Malah boleh dikata kalah. Beberapa kali, malahan ditolong oleh gurunya sendiri untuk menyelamatkan nyawa.

Sebenarnya Upasara tak perlu menggetuni dirinya sendiri. Boleh dikatakan lawan yang ditemui adalah jagoan kelas tinggi. Dewa Maut dengan Padmamuka misalnya, adalah jagoan yang tersohor. Bukan nama sembarangan. Apalagi kini sekali masuk, ia berada di Perguruan Awan yang mempunyai pengaruh begitu luas.

Namun, mudah diduga, Upasara tidak merasa puas.

Justru sebaliknya sangat mendongkol. Darahnya serasa masih berdesir panas.

Makanya, ketika yang lainnya mempergunakan kesempatan untuk beristirahat dan bersemadi, Upasara melihat sekeliling.

Menemukan kudanya yang mati kaku. Lagi-lagi korban racun Dewa Maut.

Kalau beberapa saat lalu disaksikannya sendiri kuda itu lari pontang-panting menabrak cabang dan ranting tanpa peduli, kini sudah mati kering. Mata kuda itu membelalak, badannya kaku kejang. Dari bibirnya seperti keluar ringkik yang tak selesai. Dan tak ada air liur meleleh itulah sebabnya Upasara menyebut sebagai mati kering.

Berjalan beberapa tindak lagi, tiba-tiba Upasara mendengar suara-suara.

Dengan sigap ia meloncat ke atas pohon untuk mengawasi keadaan sekitar. Tak begitu sulit memanjat pohon sampai ke ujung tanpa menimbulkan suara.

Hanya saja, begitu sampai di ujung Upasara terperanjat sekali. Ia tak pernah menduga bahwa di bagian lain dari tempatnya bertempur, kini sedang terjadi sesuatu yang lebih besar. Bagaimana mungkin ia bisa tak mengetahui?

Memang apa yang dilihat Upasara cukup membuat heran.

Di sebuah lapangan yang rada luas, tapi masih tetap dikelilingi pohon tinggi, berdiri sepuluh perwira Keraton. Dalam keadaan siap siaga dengan tombak dan tameng. Agak jauh di belakang mereka ada seorang pemimpin yang naik kuda. Kuda hitam mulus. Sekelebatan, Upasara bisa mengenalinya sebagai Senopati Suro, Kepala pasukan Keraton. Mana mungkin bisa sampai kemari lebih dulu, pikir Upasara.

Rasanya, Ngabehi Pandu memberitahukan bahwa ini tugas rahasia dari Keraton.

Boleh dikata tak ada yang tahu. Tapi nyatanya, jelas omong kosong, Karena Senopati Suro sudah mengerahkan sepuluh pengawalnya yang terbaik. Agak di belakang ada sebuah tandu tertutup. Upasara tidak bisa memastikan siapa yang ada di dalamnya.

Tapi ini pasti hebat. Ia sendiri berkuda siang-malam. Boleh dikatakan tanpa berhenti untuk makan atau mandi. Eh, toh ada rombongan lain yang juga dari Keraton serta memakai tandu. Apa bukan luar biasa?

“Kami datang dengan baik-baik. Tetapi kalau tuan rumah tak mau menyambut, jangan salahkan kami yang berlaku kurang ajar,” Senopati Suro menyepit perut kuda hitamnya. Yang seperti busur panah melesat ke depan.

Baru kini Upasara bisa melihat jelas. Ternyata di lapangan itu ada beberapa kelompok. Selain pasukan Senopati Suro juga ada tiga kelompok lain. Salah satu kelompok berjalan dengan seenaknya maju ke tengah.

“Aha, kalau negara sudah ikut campur, urusan ini bakalan ramai. Ramai sekali.

Tetapi untuk apa berkaok-kaok seperti itu. Semut bisa takut lihat kuda gagah, tetapi manusia bukanlah semut. Tak bisa ditakuti seperti anak kecil. Hai, penunggang kuda yang gagah, apa maksudmu berteriak seperti itu?”,

Upasara melengak. Benar-benar aneh dunia silat ini. Kalau di Keraton segalanya serba teratur, serba penuh tata krama, tapi kayaknya di sini tak ada aturan apa-apa. Boleh main tegur sekenanya. Siapa kira seorang yang setengah baya, berpakaian penduduk biasa, berani menggertak seorang senopati?

“Maaf, kami tak ada urusan dengan kalian. Kami ingin bertemu tuan rumah.”

“Astaga, sebagai sesama tetamu kenapa mesti berbuat kasar? Kami juga tetamu yang justru datang lebih dulu. Kenapa yang datang belakangan minta dilayani lebih dulu? Apa karena ia senopati Keraton sehingga bisa dan boleh berbuat semaunya?

“Aku tak bisa melihat cara-cara seperti ini. Kalian harus antre dengan baik.”

Dua prajurit yang di depan bereaksi. Akan tetapi Senopati Suro memberi tanda untuk bersikap tenang.

“Saya datang kemari ngemban dawuh, mengemban sabda raja, tidak ada waktu untuk bermain-main. Maaf, bisa kita lanjutkan pada kesempatan yang lain.

“Kami bukan tak kenal dengan Tiga Pengelana Gunung Semeru yang terhormat. Kami bukan tak gatal untuk menjajal nama besar, akan tetapi sekarang bukan saatnya.”

Lelaki yang disebut sebagai anggota Tiga Pengelana Gunung Semeru tertawa lebar.

“Siapa minta dilayani? Siapa minta bermain? Saya hanya bilang kalau mau bertemu dengan tuan rumah, harap pakai aturan yang benar. Kita datang lebih dulu.

Bukan begitu?”

Pertanyaannya entah ditujukan kepada siapa. Karena tak ada yang menjawab dan tak ada yang bereaksi.

Di atas pohon, Upasara merasa bergirang hati. Ia mengetahui dari Wilanda tentang tokoh-tokoh dunia silat. Tiga Pengelana Gunung Semeru termasuk yang

disegani. Terutama jika ketiganya maju secara bersamaan membentuk Barisan Trisula. Mereka ini terdiri atas tiga orang yang selalu pergi bersama-sama. Malah menurut

beberapa sumber ketiganya masih saudara kandung. Nama mereka tak terlalu sulit, karena merupakan urutan persaudaraan. Yaitu Kakang Mbarep si sulung, Panengah yang kedua, serta Wuragil yang paling berangasan sifatnya. Namun seperti pendekar yang lain, selama ini meskipun namanya pengelana, mereka sudah sejak lima tahun terakhir tak ada kabar beritanya. Karena memusatkan diri di Gunung

Semeru. Boleh dikatakan, meskipun ketiganya termasuk jagoan, akan tetapi karena lebih banyak berkutat dengan diri sendiri, pengaruhnya tak begitu terasa. Bahkan dalam kurun waktu terakhir ini boleh dikata tak ada yang membicarakan lagi.

Tetapi bagi Upasara lain soalnya. Ia sedang kesengsem untuk bermain silat.

Apalagi dari Ngabehi Pandu ia pernah mendengar tentang Barisan Trisula yang termasuk disegani. Makanya ia ingin agar terjadi bentrokan segera dengan Senopati

Suro. Namun yang terakhir ini nampaknya masih bisa menahan diri.

“Kalau yang tua tak tahu aturan, kapan lagi bisa mati dengan tenang?”

Ini baru kejutan. Kalau yang mengatakan itu seorang jago masih masuk akal. Tapi sekali ini semua yang hadir dibuat melengak. Karena yang mengatakan adalah seorang bocah yang masih bau ingus. Benar-benar bau ingus, karena di bagian bawah hidung nampak kotoran. Pakaiannya kelewat dekil. Kalau tidak betul-betul diperhatikan, agak susah membedakan dia lelaki atau perempuan. Hanya kain kembennya yang menutup sebagian dada yang memperlihatkan ciri-ciri kewanitaannya.

“Oho, ada kuntilanak mana membiarkan anaknya keluyuran seperti ini?” Suara Wuragil belum selesai, ketika si gadis kecil mengayunkan tangannya. Lembut, indah, bagai seorang sedang menari. Hanya saja Wuragil cepat menghindar dan balik menyerang. Semua yang hadir rada bercekat. Bukan karena apa, tapi karena Wuragil ternyata sangat telengas. Sekali gebrak tangannya mencowel bagian dada.

Ini jelas kurang ajar.

Walaupun tak ada aturan tertulis, semua pendekar atau jago silat tak begitu mudah mengumbar serangan yang menjijikkan. Boleh dikatakan tak bakal menyerang bagian yang melanggar kesusilaan. Maka termasuk aneh kalau Tiga Pengelana Gunung Semeru, yang selama ini punya nama baik, bisa melakukan hal yang rendah.

Tapi si gadis cilik ternyata juga bukan sembarangan, Tangan kirinya

menangkis dengan keras.

“Sudah tua masih jorok. Sungguh, mati tak pantas, hidup pun tak pantas.” Wuragil sengaja tidak menarik tangannya.

Plak. Plak.

Sekali dua tangan saling beradu. Plak kedua sungguh mengherankan. Pipi Wuragil kena ditampar! Tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang jagoan bisa kena gampar dalam sekali gebrak? Mana lagi lawannya anak kecil? Dalam satu gebrak di depan banyak tokoh kelas satu.

Cuh.

Kali ini benar-benar sial bagi Wuragil. Sudah kena gampar masih diludahi lagi.

Yang kedua juga tak sempat menghindar. Sehingga baju atasnya jadi basah.

“Aha, harum kan baunya?”

Ledekan ini juga lebih menyakitkan. Kakang Mbarep dan Panengah yang sejak tadi berdiam diri mengawasi, langsung meloncat maju dan memasang kuda-kuda.

Barisan Trisula. Namun jelas, mereka sendiri jadi kagok. Biar bagaimanapun agak repot kalau ketiganya harus mengeroyok seorang anak kecil. Menyerang jadi malu, bertahan bisa terus-menerus diperolok.

“Ayo, aku mau jajal barisan kalian. Trisula yang kalian banggakan itu macam mana. Apa cukup untuk menggaruk punggung atau tidak. Kalau ternyata tidak bisa, kalian harus turun dari Gunung Semeru. Mengotori tempat. Gunakan barisan kalian untuk meluku sawah.

“Ayo, jangan sampai aku menampar kalian satu per satu.

“Hebat dan panas kalimat si gadis cilik. Dilihat dari usianya, baru sekitar sepuluh tahun. Sebanyak apa pun pengalamannya, pastilah tetap luar biasa bisa mengenali Tiga Pengelana. Apalagi mengenali Barisan Trisula. Dan sekaligus meledek sebagai barisan untuk menggaruk punggung atau meluku sawah. Memang pada zaman itu ada alat yang digunakan untuk menggaruk punggung yang gatal. Biasanya digunakan oleh para bangsawan. Dibuat dari tanduk. Ujungnya bergigi seperti sisir.

Maka cukup keterlaluan mengumpamakan dengan alat penggaruk punggung. Sama tidak lucunya dengan mengumpamakan sebagai luku alat untuk membalik tanah seperti bajak.

Kalau Upasara terheran-heran, jago yang lain yang lebih jeli bisa melihat bahwa si gadis cilik kepandaiannya tidak terlalu tinggi. Biar bagaimana seusia itu tenaga dalamnya belum bisa menandingi Wuragil. Bahwa tadi berani bentrok tangan itu soal lain. Soal keberanian semata. Bahwa si gadis cilik tidak mengaduh atau memperlihatkan rasa nyeri, itu juga karena bandel saja. Dan soal tamparan di pipi, karena Wuragil sama sekali tak memperhitungkan bahwa setelah bentrok tangan, si gadis cilik ingusan masih meneruskan serangannya. Kini kalau terjadi duel benaran, bisa-bisa si gadis cilik jadi sungsang-sumbel. Tapi dasar si gadis cilik masih belum tahu tingginya langit dalamnya lautan, ia menantang dengan tenang saja.

Melihat yang ditantang berdiam diri, si gadis cilik tertawa bercekakakan.

“Kalau cuma tiga orang gunung yang kepandaiannya sebegini, buat apa mencari tuan rumah? Eyang Sepuh tak perlu menemui sendiri. Dengan modal dengkul begini, bagaimana bisa menyambut Tamu dari Seberang? Lebih baik kalian cepat pulang kampung di gunung bertanam jagung.”

Wuragil tak bisa menahan diri. Pertama kali karena disinggung modal dengkul. Ini sindiran yang mengena. Memang Barisan Trisula mengandalkan daya tahan dan daya serang bagian kaki. Jadi boleh dikata memang bermodalkan dengkul alias lutut. Tapi dari caranya menyebutkan, si gadis cilik bisa memojokkan. Kedua, secara langsung si gadis cilik ini sudah menyebut nama Eyang Sepuh. Bahkan dengan suara sama entengnya meneriakkan Tamu dari Seberang.

“Adik Cilik, maafkan….” Suara Kakang Mbarep atau Pembarep masih terdengar menggambarkan kesabaran. “Kami memang kurang pantas dan berlaku kurang ajar pada adik cilik. Kami ingin sowan Eyang Sepuh, adakah beliau bersedia menerima kami?”

“Adik Cilik, Adik Cilik! Memangnya aku tak punya nama?”

“Maafkan, siapa nama Adik Cilik?”

“Jagattri namaku. Nah, panggil yang baik.”

“Baik, Jagattri….”

“Enak saja memanggil seperti itu. Memangnya aku sudah setua kalian semua.

Panggil aku Gendhuk Tri.”

“Gendhuk Tri…,” suaranya tetap kalem. Bahkan terdengar akrab. Sebutan gendhuk, anak perempuan kecil, adalah sebutan yang akrab.

“Baik. Apa yang akan kautanyakan, Pembarep? Kau sudah mau mengubah cara memanggilmu. Aku akan menjawab dengan jujur. Tadi kautanyakan apakah Eyang Sepuh bersedia menerima kalian atau tidak. Bagaimana kalau jawabannya mau?”

“Kami akan sowan?”

“Kalau dikatakan tidak mau?”

“Kami akan segera angkat kaki dari sini.”

“Tak percuma kalian mendapat gelar yang bagus. Ternyata masih ada yang berharga dari manusia gunung ini. Aku akan menjawab dengan jujur. Eyang Sepuh tak bisa menerima kalian semua. Juga tak bisa menerima siapa pun. Silakan angkat kaki seperti janji kalian.”

“Anak ingusan, kau tahu apa tentang Eyang Sepuh? Siapa sudi mendengarkan omonganmu yang tak becus?”

“Wuragil ini mestinya tak usah dilahirkan di dunia, Untuk apa kalau cuma Mengotori Gunung Semeru?”

Wuragil mengangkat tangannya, Pembarep menggelengkan kepalanya. Dalam gusarnya Wuragil membuang tenaga ke samping. Pohon di mana Upasara berlindung jadi bergoyang-goyang keras. Daunnya rontok. Terpaksa Upasara melorot turun.

“Sejak kapan Eyang Sepuh tak menerima tetamu?”

“Tak ada yang memastikan. Tetapi memang agak lama.”

“Apakah Eyang Sepuh pergi bersama dengan Tamu dari Seberang?”

“Siapa yang tahu? Siapa tahu Eyang Sepuh pergi bersama Tamu dari Seberang atau tidak? Siapa tahu Tamu dari Seberang itu bakal datang atau tidak? Kenapa kalian semua mempersoalkan ini? Apa istimewanya Tamu dari Seberang sehingga kalian semua berbondong-bondong datang ke tempat sunyi ini? Kukira tadinya kalian para ksatria dan pendekar ternama. Tak tahunya seperti anak-anak yang mudah dibohongi.

Percuma nama besar kalian semua.”

Baru saja Gendhuk Tri menutup mulutnya, terdengar ringkik kuda tinggi.

Senopati Suro melayang dan sekali gebrak ia mencoba meringkus tubuh si gadis kecil.

Jarak antara Senopati Suro dan Gendhuk Tri cukup lumayan jauhnya. Tak bisa dijangkau dengan satu loncatan. Tetapi Senopati Suro meminjam tenaga kuda hitam.

Dengan sendirinya cukup untuk menjambret Gendhuk Tri. Apalagi caranya ialah dengan meluncurkan badan seolah tiduran. Dan sekali cengkeram, akan sulitlah untuk dilepaskan. Kalaupun menangkis, ia pasti sudah akan terlibat dalam pertempuran jarak pendek, karena Senopati Suro sudah berada di depannya. Kalau menghindar juga menghadapi hal yang sama. Karena begitu Senopati Suro bergerak, Senopati Joyo, Senopati Lebur, sudah mengurung. Sementara Senopati Pangastuti sudah bersiaga untuk maju ke tempat mana memerlukan bantuan.

Tiga Pengelana Gunung Semeru mengeluarkan seruan tertahan. Mereka boleh dibilang jago dalam soal baris-berbaris, dalam serangan bersama. Akan tetapi melihat kesigapan dan kecepatan bergerak, rasanya para perwira Keraton Singasari ini tak akan kalah gesit. Padahal kalau dilihat dari awal tadi, seperti tak ada persiapan khusus.

Bahkan sepertinya, Senopati Surolah yang menjadi pemimpin utama, sementara yang lain seperti prajurit biasa. Namun dalam seketika, si pemimpin atau yang dipimpin menjadi satu.

Kalau Gendhuk Tri mempunyai ilmu yang lebih tinggi lagi, rasanya masih sulit melepaskan cengkeraman.

Dalam sekejap terjadi beberapa perubahan besar.

Gendhuk Tri dengan cara yang aneh meloloskan diri. Cara yang disebut aneh, karena Gendhuk Tri secara tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke tanah, bergulung seperti bayi masih dalam kandungan. Tubuhnya memang termasuk ukuran pendek, apalagi menjatuhkan diri secara seketika. Bukan dengan merendahkan diri atau duduk, tetapi benar-benar berbaring. Mana ada jurus menghindar model begini?

Serentak dengan gerakan itu tadi, sesosok tubuh menyerbu ke tengah, Mudah diperhatikan karena sosok itu tinggi, besar, dan semua pakaiannya berwarna hitam.

Dengan gerakan kaku, tapi gerakan tubuhnya memperlihatkan kekuatan, ia langsung menggempur ke arah Senopati Suro, Senopati Joyo langsung menyambut dari kiri. Di tangannya ada kelewang pendek sementara Senopati Lebur mengayunkan gadanya.

Seakan benar-benar ingin menggebuk hancur. Tak dinyana, lelaki berpakaian hitam itu tak berusaha menghindar, tak menangkis. Ia maju begitu saja. Karena memang tak bermaksud membunuh, Senopati Joyo mengurangi tenaganya. Ia hanya ingin sekadar melukai kulit saja. Dan Senopati Lebur juga mengalihkan ayunan gadanya.

Di tempat persembunyiannya Upasara terpekik. Sebagai orang Keraton, Upasara paham betul kelebihan masing-masing perwira. Dengan senjata andalannya,

Senopati Joyo memang termasuk luar biasa. Makanya, walaupun bukan sampai mati ngenas, luka yang diakibatkannya takkan bisa dianggap enteng. Tapi ajaib. Ketika kelewang itu menyentuh bagian lengan, seperti menumbuk besi. Keras. Senopati Joyo kaget. Tapi terlambat. Lelaki berpakaian hitam itu sudah nyelonong ke depan, langsung mengangkat Gendhuk Tri, mengempit di pinggang kanan, dan berlalu.

Baru kini Upasara bisa memperhatikan dengan saksama. Lelaki itu berwajah keras. Seluruh wajahnya hampir ditutupi dengan rambut. Ikat kepalanya pun seperti tertutup rambut. Hingga kepalanya nampak aneh. Sorot matanya tajam dan keras.

Tidak menunjukkan wajah bersahabat.

“Mau ke mana, Pu’un Tua?” Tiba-tiba terdengar seruan halus.

Seorang nenek yang seluruh rambutnya berwarna putih, berdiri genit menghalang. Sikapnya sangat bertentangan dengan usianya. Nenek tua berambut putih ini tidak membawa senjata apa-apa. Hanya selendang warna-warni yang

nampak aneh sekali. Aneh karena tidak cocok dengan usianya, Yang paling gusar adalah Dewa Maut. Baginya, Padmamuka yang dipanggil Tole, adalah segalanya. Apa yang dikatakan Padmamuka akan dituruti dengan sertamerta.

Memang sebenarnya ada hubungan yang aneh antara Dewa Maut dan Padmamuka. Hubungan ini bukan rahasia lagi di kalangan dunia persilatan. Dewa Maut konon tadinya adalah pendekar biasa, tidak mempunyai sifat yang aneh. Sampai kemudian karena mengalami peristiwa yang menghancurkan cintanya. ia bersumpah

tak akan mau menginjakkan kakinya di daratan lagi. Seumur-umur hidupnya dilewati sendirian di atas perahu yang hilir-mudik di Kali Brantas. Sampai suatu ketika bertemu dengan Padmamuka. Seorang yang tersisih dari dunia karena tubuhnya yang tetap kecil dan pendek. Entah bagaimana ceritanya, Padmamuka diambil sebagai murid atau anak angkat atau cucu angkat. Diajari ilmu silat. Sedemikian kerasnya Dewa Maut mengajari sehingga lambat laun wajah si bocah aneh ini menjadi merah, dan dipanggil Padmamuka. Mungkin sekali karena pengaruh ilmu racun yang diperdalam oleh Dewa Maut.

Sejak pertemuan yang tak banyak diketahui itu Dewa Maut dan Padmamuka selalu bersama-sama. Paling hanya bertemu orang luar kalau ada nelayan yang lewat sungai. Untuk dirampas barang yang dibawanya atau diambil nyawanya. Begitulah selalu, sehingga timbul dugaan bahwa hubungan mereka berdua bukan sekadar hubungan guru dengan murid. Tetapi lebih jauh dari itu. Mengingat keduanya manusia yang segi biologisnya normal tapi sikap hidupnya suka melanggar aturan.

Apalagi keduanya tersisih dari masyarakat ramai baik karena kemauan sendiri maupun karena situasi.

Maka hubungan yang aneh-tapi-mesra antara keduanya juga tercermin dalam sikap sehari-hari secara agak berlebihan. Cara mereka menggendong satu sama lain, cara mereka memperhatikan satu sama lain.

Bisa dibayangkan kini, ketika Padmamuka menjerit, betapa murkanya Dewa Maut. Dalam keadaan seperti itu, sudah bisa ditebak. Dengan mengeluarkan teriakan

keras, Dewa Maut memutar kedua tangannya ke atas dan serentak dengan itu, dari seluruh bagian tubuhnya meluncur senjata rahasia beracun. Duri-duri beracun yang sangat diandalkan.

Upasara, untung saja, sudah mengetahui keganasan Dewa Maut. Ia memakai cara yang dipergunakan Ngabehi Pandu. Meloloskan kainnya secara seketika, dan memutar bagai payung. Bagai kitiran hidup, Upasara bergerak menyongsong ke arah serbuan duri beracun. Gendhuk Tri dengan demikian juga terlindungi. Jagaddhita

mengeluarkan pekik keras,

“Keji!”

Sambil meloncat tinggi. Senopati Suro, Joyo, Lebur, dan Pangastuti juga berjaga dengan senjata masing-masing untuk melindungi diri secara sempurna. Tiga Pengelana Gunung Semeru pun serentak saling merapatkan diri, dan mengatur pertahanan dengan gerak bertahan. Pu’un yang sejak tadi hanya berdiri kaku dan mendongak juga mengeluarkan seruan keras sambil jumpalitan. Kalau tokoh yang  terkenal dengan ilmu kebal pun harus menyingkir dengan cara seperti itu, bisa dimengerti bahwa yang disebarkan oleh Dewa Maut sangat mengerikan.

Kalau di antara mereka yang ada di tengah lapangan bisa mempertahankan diri, tidak demikian halnya dengan yang menjaga tandu. Para prajurit ini, walau bukan prajurit sembarangan. akan tetapi tak cukup bersiaga untuk diserang dengan cara hina seperti ini Lima prajurit langsung mengaduh, berteriak keras, sebelum akhirnya menjadi kejang. Mata masih melotot membayangkan rasa sakit yang tak tertahankan sebelum ajal sampai.

Tidak berhenti di sini, Dewa Maut meloncat maju. menebarkan sisa-sisa racun durinya. Sambil menjerit bagai serigala terluka. Dewa Maut berusaha membunuh Upasara dalam sekali gebrak.

Tirai yang menutup tandu terkuak sedikit dan sebatang anak panah meluncur lurus ke arah mata Dewa Maut. Di tengah udara, Dewa Maut menampik anak panah dan terus menerjang. Tapi begitu anak panah pertama berhasil ditebas, anak panah kedua menyusul. Dewa Maut menghindar ke samping, satu pukulan keras dilemparkan ke arah tandu.

Senopati Suro mengangkat kedua tangannya secara serentak memapak tangan keras Dewa Maut. Tiga Senopati yang lain juga tak tinggal diam melihat junjungannya diserang. Dalam sekejap Dewa Maut berada dalam kepungan para senopati.

“Senamata Karmuka, kenapa kau tak ikut keluar melihat suasana? Udara di dalam tandu terlalu sumpek, bukan?” Jagaddhita bersuara pelan. Arah suaranya ditujukan ke bagian dalam tandu.

“Di dalam lebih enak. Kenapa kau tak masuk saja?”

“Ah, itu undangan bagus sekali. Hanya saja aku takut kau akan mati berdiri melihat diriku. Aku tak pantas menakut-nakuti pada saat sekarang ini.”

Meskipun sedang dikerubut, Dewa Maut mendengar percakapan antara Jagaddhita dan yang sedang berada di dalam tandu. Ekor matanya melirik ke arah tandu. Kalau ada kesempatan sedikit saja, ia akan menggedor ke dalam tandu untuk memaksa penghuninya keluar.

Adat Dewa Maut memang lain dari kebanyakan orang. Ada kecongkakan yang mendarah daging. Ia tak bisa diperlakukan sebagaimana orang biasa. Selalu ingin lebih dihormati. karena merasa paling jago. Maka darahnya menjadi mendidih mengetahui ada orang yang enak-enak berada dalam tandu. Seolah memandang kelewat remeh padanya.

Bahwa nama besar Senamata Karmuka cukup dikenal. Dewa Maut tak mengingkari. Semua penduduk Singasari mengenal nama besarnya. Bagaimana tidak, kalau ia adalah laksamana perang. atau panglima perang. Senamata berarti panglima perang. Sedang Karmuka berarti busur. karena laksamana yang satu ini terkenal mahir dalam memanah.

Hanya saja ketika menangkis tadi, Dewa Maut merasa keahlian dan gelar besar lawan seperti dilebih-lebihkan.

Jagaddhita memang jeli sekali melihat anak panah meluncur, ia bisa langsung menebak. Dan melihat cara pembicaraan keduanya, memang terlihat keakraban.

Sementara itu, Padmamuka masih berbaring di tanah. Darah mengucur keras dan pundaknya. Keris Upasara masih menancap. Agaknya Padmamuka tak berani menarik keris itu. Melihat kejadian ini, Gendhuk Tri merasa tidak sampai hati. Ia bergerak maju untuk mengobati.

“Hmmm. soal luka kecil begini saja bikin ribut. Mari sini aku tolong.

“Gendhuk Tri maju dua tindak. Pu’un yang mengawasi bersiap diri.

“Ikut aku,” katanya keras sambil menyambar Gendhuk Tri. Kali ini serangan Pu’un cukup kuat menutup kemungkinan larinya Gendhuk Tri. Bahkan andai berbaring seperti tadi pun, akan tetap tertangkap. Kesepuluh jari mekar bersamaan.

Bagai cakar harimau. Gendhuk Tri menebas dengan kedua tangannya, hanya sekali ini ia tak berkutik. Langsung kena tangkap pergelangannya dan ditarik, untuk digendong lagi. Pembarep yang melihat ini turun tangan. Namun kasep. Gendhuk Tri sudah digendong, dan Pu’un meloncat pergi. Wuragil mengayunkan pedang sambil meloncat, mencoba menghadang. Tebasan pedangnya dipapak dengan jotosan keras.

Dan aneh sekali, pedang Wuragil terlepas dari tangan! Bahkan kaki Pu’un langsung menyambar dada. Wuragil hanya punya satu jalan. Berjumpalitan ke atas.

…kenapa harus bersedih hati waktu bayi temanmu adalah bidadari…

Gesit loncatan Jagaddhita, dan juga indah. Akan tetapi Pu’un telah meloncat lebih dulu. Jadi jarak antara keduanya tetap terentang jauh. Agaknya ini tak jadi soal benar bagi nenek berambut putih. Kalau ia bertekad mengejar, sampai ke ujung laut pun akan terus dikejar. Kalau buruannya masuk jurang atau mendaki gunung, ia akan terus mengikuti. Sampai bisa dekat dan untuk terus melanjutkan pertempuran.

Sampai salah satu benar-benar tak berdaya.

Pu’un yang satu ini agaknya juga menyadari kenekatan lawan. Maka ia mengerahkan tenaganya. Larinya kencang dan sebentar kemudian meninggalkan lapangan. Tepat di arah jalan masuk ke gerombolan hutan, tiba-tiba muncul seseorang yang juga menggendong orang lain di pundaknya.

Itu adalah Jaghana yang sedang menggendong Wilanda. Dua-duanya nampak kaget dengan kemunculan yang mendadak. Bedanya, Pu’un merasa yang menghadang  ini juga lawannya, maka langsung melakukan serangan. Cakar macannya kembali ke

arah tengkorak lawan. Kepala Jaghana yang licin gundul seakan mau dikelupas kulitnya. Jaghana memiringkan sedikit kepalanya, dan giginya membuka. Kali ini cakar harimau dilawan dengan gigitan Sebenarnya ini juga pemandangan yang menarik. Seorang berpakaian serbahitam dengan rambut awut-awutan sambil menggendong gadis cilik di pundaknya, melawan seorang gundul bersih yang juga menggendong seorang tua.

Dilihat sekelebatan seperti orang tua yang sedang bercanda. Hanya saja kalau diperhatikan benar, ada semacam ketegangan yang menggigit. Gadis cilik yang dipanggul Pu’un meskipun nampak tersenyum geli, pandangan matanya kosong.

Kesadarannya telah hilang. Tadi dalam mencengkeram, Pu’un sekaligus melapalkan mantera dengan mengusap wajah Gendhuk Tri. Yang kontan seperti kena sihir.

Makanya ia tertawa-tawa aneh di atas panggulan Pu’un. Sementara Wilanda tak bisa banyak bergerak karena racun dalam tubuhnya masih terasakan. Kalau tenaga dalam dan penolongan padanya tidak dilakukan segera, nasib Wilanda tak berbeda dengan prajurit pilihan yang lain. Mati seketika.

Membarengi dengan gigitan, Jaghana menyapu kaki lawan. Justru saat ini Pu’un juga mengayunkan kaki untuk menebas dengkul lawan.

Ini juga tak mengherankan. Ada beberapa persamaan mengenai asal-usul antara Perguruan Awan dan ilmu yang dimiliki Pu’un. Juga mengenai pengembangannya dititikberatkan pada gerakan kaki. Mencari kuda-kuda, memperkuat pertahanan, ataupun menyerang, hampir semua berasal dari gerakan kaki. Sebenarnya ini memang ciri khas ilmu silat daerah pedalaman. Agak berbeda sedikit dari yang berkembang di daerah pegunungan. Di sini gerak meloncat lebih mendapat tekanan. Mungkin juga karena alam dan situasi di mana ilmu dan gerakan itu lahir mempengaruhi secara langsung. Di daerah pegunungan loncatan lebih banyak dilakukan. Dilihat dari titik ini, bisa dimengerti kenapa Wuragil tadi bisa terus-menerus diungguli lawan. Keistimewaan gerakan loncat tidak diperlihatkan.

Apalagi memang gerakan mereka lebih banyak menuntut permainan bersama.

Dua kaki saling beradu keras. Jaghana mundur selangkah, tapi juga memapak

tendangan lawan dengan kaki yang sama. Dalam sekejap terjadi delapan kali

pertemuan dua kaki. Sama keras, seakan beradu tulang. Dalam delapan kali beradu,

Jaghana bergeser mundur lima kali. Pu’un hanya tiga kali. Itu pun dengan

perhitungan satu langkah digunakan untuk menyamping. Dari situ bisa ditakar bahwa

untuk adu keras lawan keras, Pu’un lebih unggul. Setidaknya dalam situasi seperti itu.

Wilanda yang berada dalam rangkulan Jaghana merasa tidak enak. Diam-diam

ia mengerahkan tenaganya. Walau rasa sakit kembali menjalar, ia tak peduli. Dengan

satu sentakan, ia melepaskan diri dari rangkulan dan melemparkan dirinya menjauh.

Wilanda, dalam keadaan terluka parah pun, masih unggul dalam soal ilmu

meringankan tubuh. Sehingga loncatannya masih jauh juga. Hanya saja Pu’un tidak

mengira kalau Wilanda membuang diri. Ia justru berjaga. Begitu melihat bayangan

melesat, disangkanya mau menerjang dirinya. Ia angkat tangan kanan tinggi-tinggi

dan langsung mencengkeram bagian pundak. Langsung dilempar ke atas untuk

terbanting keras di tanah. Pu’un memang sengaja mengerahkan delapan bagian dari

tenaganya. Hatinya bercekat ketika berhasil mencengkeram tubuh lawan. Rasanya

tidak ada perlawanan sama sekali. Akan tetapi untuk menarik pulang tenaga

dalamnya, bukan hal yang mudah. Bisa-bisa malah melukai dirinya sendiri. Pu’un

hanya mengurangi sepersepuluh tenaganya. Akan tetapi jelas bantingan itu masih

cukup untuk meremukkan tulang-tulang Wilanda. Jaghana sama sekali juga tidak

mengira bahwa Wilanda akan berbuat nekat. Perbuatan itu semata-mata dilakukan

karena ia tak ingin merepotkan orang lain. Jaghana terharu. Sama sekali ia tak

menyangka, bahwa jiwa luhur yang diturunkan sebagai sikap dasar dari Eyang Sepuh,

ternyata tak pernah berkurang dalam diri bekas murid Perguruan Awan.

Saking terpananya, Jaghana tak menyangka bahwa Pu’un telah berhasil

membetot dan mencengkeramnya.

Saat itu yang sedang melayang di udara adalah Jagaddhita. Ia sejak tadi

mengejar Pu’un sambil terus rengeng-rengeng. Hanya saja Jagaddhita tak curiga

sedikit pun bahwa Wilanda dalam keadaan sakit berat. Ketika melihat larinya Pu’un

berhasil dihadang dan disibukkan, Jagaddhita tak menyangka sama sekali kalau

ternyata yang sedang dibanting itu nyawanya sudah di ujung bibir. Dan ia memang

bertujuan untuk menyelamatkan Gendhuk Tri. Maka begitu melihat Pu’un rada bebas

dan berusaha lari, Jagaddhita langsung menyambar alis lawan. Kalau sentuhan itu

dilorotkan sedikit saja, mata lawan bisa bolong karenanya. Kalaupun mencoba

mengegos, telinga lawan bisa terpuntir karenanya. Bukan cuma daun telinganya yang

bakal somplak atau lepas, tapi seluruh sarafnya bakal putus. Kalaupun ia mengegos

mundur, rangkaian berikutnya sudah tersedia, yang akan makin menyulitkan

kedudukannya. Inilah rahasia keunggulan silat Jagaddhita. Jenis penyerangan yang

rumit dan penuh dengan variasi. Agaknya juga sengaja diciptakan khusus untuk

dimainkan oleh Jagaddhita. Disesuaikan dengan kelembutan gaya tarian. Yang dalam

setiap gerak mengandung seribu perubahan. Penyesuaian ini sangat banyak artinya.

Seperti yang dialami sendiri oleh Upasara Wulung. Dasar gerakan Banteng Ketaton

diciptakan Ngabehi Pandu untuk Upasara Wulung yang memiliki semangat dan daya

serangan kuat. Makanya, seperti menjadi gerakan yang istimewa.

Pu’un juga mengetahui kelebihan ini. Sekarang biar bagaimanapun, ia sendiri

repot dengan Gendhuk Tri yang dipanggulnya. Nampaknya Pu’un cukup cerdik.

Dalam keadaan terjepit ia menggunakan akalnya. Daripada makin keteter, Pu’un

memutar tubuhnya sambil menekuk lututnya. Itu berarti kalau Jagaddhita tak

mengubah atau tak menarik elusannya, yang menjadi sasaran adalah Gendhuk Tri

sendiri. Dalam perhitungan Pu’un, Jagaddhita tak bakal melukai Gendhuk Tri sendiri.

Toh dari sekian banyak orang, semua mempunyai dendam dan urusan dengan

Gendhuk Tri, hanya Jagaddhita yang melindungi.

Tapi justru perhitungannya meleset!

Jagaddhita ternyata jauh lebih cerdik dari Pu’un. Ia tak mengubah dan

mengurangi tenaganya. Ujung jarinya yang lentik terus melaju. Anginnya mendesir

menuju ubun-ubun Gendhuk Tri yang kini terputar ke arahnya. Dan Gendhuk Tri

sendiri dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, tak menyadari bahaya besar. Ia

tetap tertawa kosong.

Perhitungan Jagaddhita sebenarnya sama dengan perhitungan Pu’un. Hanya

saja ia menarik kesimpulan yang berbeda. Ia juga memperhitungkan bahwa Gendhuk

Tri menjadi incaran karena Gendhuk Tri mengisyaratkan tahu mengenai Eyang Sepuh

serta Tamu dari Seberang. Pu’un pastilah menghendaki Gendhuk Tri dalam keadaan

hidup. Dengan sendirinya ia akan berusaha melindungi. Itulah kesimpulan Jagaddhita

sehingga ia tak menarik serangannya. Pada saat Pu’un menyadari hal ini,

penahanannya sudah terbuka. Hanya ada dua kemungkinan. Pu’un mengorbankan

Gendhuk Tri, atau untuk sementara mengalah. Dan Jagaddhita bisa membaca bahwa

kesimpulan terakhirlah yang dipilih Pu’un. Jauh-jauh ia datang dari ujung barat, pasti

tak ingin pulang dengan tangan kosong. Justru karena sekarang ada kesempatan.

Cerdik benar Jagaddhita membaca jalan pikiran lawan. Menebak dengan tepat

dan memperoleh manfaat.

Sementara di pihak lain, Dewa Maut masih disibukkan dengan serangan

bersama para senopati. Terutama desakan kuat dari Senopati Suro yang paling

tangguh. Dalam keadaan murka, lebih banyak tenaganya terkuras. Kalau tadi ingin

segera menyerbu ke dalam tandu, sekarang harus memusatkan konsentrasi pada

lawan yang mengerubuti. Bahwa ia berada dalam posisi yang unggul, Dewa Maut

sangat yakin mengenai hal ini. Akan tetapi bahwa ia tak bisa menyelesaikan dengan

segera, ia mulai menyadari. Ia harus mengerahkan tenaga ekstra. Kalau pertempuran

ini tak segera diselesaikan, berarti tenaganya akan makin terkuras. Padahal lawan lain

yang bakal dihadapi cukup tangguh. Selain Upasara Wulung yang menjadi sumber

dendamnya, juga masih ada tokoh yang berada dalam tandu yang misterius. Belum

lagi tokoh lain, yang ia tak tahu berdiri di pihak mana. Dewa Maut mengeraskan

hatinya. Kedua tangannya bergulung bagai kitiran dengan sangat, sangat cepat.

Berusaha menerobos lingkaran penyerangan. Senopati Suro merasa arus berbalik

dalam serangan itu. Ia merasakan keras dan makin berat. Ini yang dinamakan Sampan

Membalik Arus. satu jurus simpanan yang diandalkan.

Kekuatan utama jurus ini adalah menggabungkan tenaga sendiri dengan tenaga

lawan yang datang, untuk digulung dalam satu kumparan dan dipindahkan ke arah

lawan. Makin besar daya serangan lawan. daya serang balik juga besar. Tetapi jika

lawan berusaha mengurangi tenaganya. ia akan segera tergencet.

Dewa Maut menggerakkan tangannya lebih cepat. Getaran udara yang

menekan menjadi semakin berat. Yang pertama kali terganggu adalah pernapasan

Senopati Suro, Tekanan ini bila terus berkelanjutan. Senopati Suro akan kehilangan

penguasaan diri. Gerakannya sekadar meluncur dari latihan atau hafalan yang ada dan

lebih banyak menutup diri. Bukan lagi memainkan gerakan sesuai dengan situasi yang

ada. Bukan menyerang bagian yang lemah dan memanfaatkan kekurangan lawan. Ini

memang saat-saat yang kritis.

Bagaimanapun Dewa Maut masih setingkat lebih tinggi. Di samping itu,

gerakan dan jurusnya termasuk berbeda dari yang berkembang di darat. Dewa Maut

lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya di atas sampan. Dengan sendirinya situasi

lingkungan sangat besar pengaruhnya. Maka dalam beberapa hal. variasi dan jurusnya

sulit ditebak.

Pada saat berhasil menebak pun, sudah sangat kepepet.

Ini semua masih harus ditambahkan bahwa Dewa Maut mampu

memanfaatkan situasi. Bukan sekadar menguasai jurus yang dimainkan, tetapi bisa

membaca. Biarpun ia jauh lebih lihai, cukup repot juga kalau melayani empat senopati

yang mempunyai kepandaian hampir sama. Jalan satu-satunya adalah mendesak salah

satu hingga benar-benar keteter. Dan itulah yang dilakukan oleh Dewa Maut.

“Tole. aku beresi satu demi satu.”

Ketika itu, Pu’un yang mencelos luar biasa. Ia tak nyana bahwa Jagaddhita

sama sekali tak menarik tangannya. Terpaksa ia meloncat ke depan—karena

punggungnya menghadap ke Jagaddhita—seperti pohon rubuh. Dan Gendhuk Tri

yang berada di pundaknya, dilontarkan ke atas.

Tak terlalu sulit bagi Jagaddhita untuk meraih Gendhuk Tri lewat

selendangnya. Sekali tarik, tubuh Gendhuk Tri berubah arah. Dengan satu putaran

pendek, Gendhuk Tri mendekat ke arah Jagaddhita dan langsung dipeluk dengan

enak. Jagaddhita mengucapkan mantera pendek, lalu mengusap wajah Gendhuk Tri.

Namun ternyata pengaruh sihir Pu’un. tak hilang begitu saja. Dua kali Jagaddhita

mengusap, tapi hasilnya sia-sia. Gendhuk Tri masih bengong saja dan matanya

nyalang kosong.

Sementara di tempat lain, terjadi hal yang tak terduga. Ketika terayun tadi,

tubuh Wilanda seperti bakal terempas keras. Sejak tadi Tiga Pengelana Gunung

Semeru seperti penonton saja. Sejak Wuragil dipecundangi Gendhuk Tri, mereka jadi

serba salah.

Tapi Pembarep memang memiliki sifat seorang ksatria tulen. Melihat

seseorang menderita dan mendapat perlakuan tidak adil, hatinya tergerak. Hanya saja

ia tak bisa menolong dengan tangannya sendiri karena ia belum yakin siapa yang

ditolong, termasuk lawan atau kawan. Maka dengan menyalurkan tenaga dalam, ia

menepuk pundak Panengah. Panengah sendiri, sejak tadi sudah bersiap. Maka begitu

mendapat dorongan, langsung menjejakkan kaki dengan kuat ke tanah, dan sedetik

berikutnya tubuhnya melayang, menyongsong tubuh Wilanda. Karena jaraknya yang

tak memungkinkan bisa menangkap dengan sempurna, Panengah melemparkan

tubuh Wilanda ke angkasa kembali. Dengan satu gerakan lembut, Pembarep

menangkap tanpa menggeser kakinya.

Baru sekarang Upasara yakin bahwa mereka yang berkumpul di lapangan ini,

masing-masing memiliki kelebihan utama. Meskipun hanya satu gebrakan. apa yang

ditunjukkan oleh Pembarep dan Panengah cukup hebat. Kerja sama yang sangat

terpadu. Seolah hanya satu kehendak saja.

Pembarep merasa tubuhnya menerima rasa hangat yang aneh. Datang dan

pergi, dan tercium bau amis. Baru ia sadar bahwa tubuh yang digendongnya

menderita keracunan yang ganas.

“Dewa Maut, kami mohon obat pemunah untuk saudara ini.” suaranya tetap

kalem dan lembut ketika menurunkan tubuh Wilanda. Wuragil-lah yang lebih dulu

menyerang ke arah Dewa Maut.

“Kakang Mbarep, biar Adik yang mengambil sendiri.”

Panengah juga langsung menyusun serangan dari arah yang berlainan. Dewa

Maut yang tengah mencecar Senopati Suro jadi terdesak untuk sementara. Kalau tadi

ia berpikir sudah bisa menaklukkan Senopati Suro, kini jadi lain. Pinggangnya jadi

sasaran telak. Tangan kirinya diadu dengan tangan Wuragil sambil membalikkan

tangan lawan ke arah serangan Pembarep. Dengan memindahkan tenaga, tekanan ke

arah Senopati Suro jadi berkurang banyak. Dengan sigap Senopati Suro membebaskan

diri dari tekanan, menghirup udara sangat banyak di dadanya, memusatkan

perhatiannya, dan balas menyerang.

Sebenarnya walau Dewa Maut berilmu tinggi, ia tak mungkin menghadapi

keroyokan empat senopati dan dua pengelana dari Semeru secara sekaligus. Justru

karena kedua kelompok lawan yang dihadapi bisa menyusun serangan berantai yang

rapi. Dan terutama sekali susah ditembus. Hanya karena dua kesatuan, jadi untuk

sementara Dewa Maut masih bisa bertahan. Kalau tadi ia berniat menyerang ke dalam

tandu, kini pusat perhatiannya dialihkan untuk menghadapi lawan sambil melihat

suasana

Dan di lain pihak, Upasara mendekati Padmamuka. Ia merasa salah. karena

kerisnya mengenai Padmamuka. Dalam hatinya. Upasara mempunyai penilaian yang

berbeda antara Padmamuka dan Dewa Maut. Meskipun keduanya terkenal sama-sama

jahat, tapi tetap berbeda kadarnya. Mungkin kalau Upasara tahu latar belakangnya

jadi lebih yakin. Bahwa Dewa Maut mengalami kekecewaan yang besar dalam

hidupnya karena orang lain. Sementara Padmamuka, sejak lahir ia sudah merasakan

ketidakadilan dunia pada dirinya. Cacat tubuhnya terbawa sejak lahir. Kalau

hubungannya sangat erat dengan Dewa Maut, itu karena Dewa Maut-lah yang sangat

memperhatikan dirinya.

Namun tanpa mengetahui latar belakang ini pun. Upasara bisa menimbang

sendiri. Bahwa sejak penampilan pertama. ia mendapat kesan bahwa Padmamuka

menampilkan sikap yang memelas. Di balik wajahnya yang kemerahan, di balik

senyum bayinya. seperti menyembunyikan suatu penderitaan.

“Mari, saya bantu untuk melepaskan.”

Padmamuka memandang Upasara. Seperti menimbang-nimbang. Tapi sorot

mata pemuda itu begitu polos. Mata itu menunduk mendekat. Dengan menotok jalan

darah di punggung, Upasara berusaha menghentikan muncratnya darah dan sekaligus

mengurangi rasa sakit. Baru kemudian, mencabut kerisnya dengan satu tarikan.

Padmamuka mengeluarkan erangan pendek. Upasara mengeluarkan sesuatu dari

gembolannya. Sejenis bubuk isika, yang diramu dari sejenis rumputan sebangsa

ilalang. Upasara menaburkan bubuk isika ke luka Padmamuka.

“Sebentar akan mengering.”

Bahwa seorang jago silat membawa jenis obat-obatan bukan hal yang aneh.

Apalagi perjalanan ini sudah direncanakan, sehingga Upasara sudah mempersiapkan

segala keperluannya. Yang agak aneh adalah sikap Upasara. Tadi baru saja bertempur

soal mati-hidup. Sekarang malah membantu lawan dengan pengobatan.

Cara berpikir begini bukannya tidak masuk di akal Dewa Maut. Sejak melihat

Upasara mendekat dan mencabut keris, mendengar Padmamuka mengaduh, dan

Upasara menaburkan bubuk, Dewa Maut berubah pikirannya-Pastilah itu sebangsa

obat pengurang rasa sakit. Maka dengan serta-merta Dewa Maut kembali

mempraktekkan loncatan simpanan. Seperti orang yang terjun ke sungai. Tubuhnya

meluncur setengah membelok bagai bentuk buah pisang.

Upasara sama sekali tidak menduga. Tidak menduga bakal diserang, dan tidak

menduga serangan lawan bisa sampai ke arahnya. Jaraknya masih jauh, namun

sentilan tangan mengeluarkan desis tipis. Tak ada waktu buat menghindar. Satusatunya

cara adalah menenggelamkan kepalanya. Tapi serangan lawan tertuju ke arah

pundaknya.

Upasara menahan rasa sakit dengan mengatupkan gerahamnya. Ia tak mau

mengeluarkan rintihan atau aduhan. Mencoba menghindar beberapa tindak, seluruh

tubuhnya bagian kiri terasa kaku. Langkahnya limbung. Dan ternyata Dewa Maut

tidak terhenti dengan satu serangan. Begitu menjejak tanah. sudah langsung mengirim

serangan beruntun. Upasara membalik. Satu tangan terangkat untuk menerima

pukulan dari Dewa Maut. Memang bukan tandingannya. Bahkan dalam keadaan

paling siap pun Upasara bukan tandingan Dewa Maut. Karena ini soal mengadu

tenaga dalam. Yang bisa melukai dari dalam. Jika tidak hati-hati, akibatnya bisa fatal.

Cacat seumur hidup. Dan bagi kaum persilatan, adalah sesuatu yang paling

mengerikan kalau tak bisa bermain silat lagi.

Upasara memang tak bisa memilih jalan lain. Kecuali kalau ia melemparkan

tubuhnya dengan pancalan kaki satu, dan itu akibatnya bisa terguling-guling. Itu pun

pasti akan terkejar lagi. Tapi mana mungkin Upasara memilih cara menghindar

bergulingan seperti anjing kena pukul? Kalah atau menang tak jadi soal benar. Mati

atau hidup itu soal kedua. Yang penting kehormatan tetap terjaga. Jiwa ksatria

Upasara lebih kuat.

Sambil mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya ia himpun tenaganya. Tangannya

terlepas dan terayun lurus.

Dewa Maut tersenyum dalam hati. Bibirnya menyeringai. Sejak pertama tadi ia

memang mengincar Upasara. Kini kesempatan untuk melumatkannya.

Namun sebelum ia melanjutkan pukulan, Dewa Maut menggeser tubuhnya,

sebelah tangannya digerakkan ke belakang dan berteriak gusar. Sebatang anak panah

kena disampok keras olehnya. Sementara satu tangan lagi beradu keras dengan

Upasara.

Dewa Maut hanya mempergunakan empat persepuluh tenaganva untuk diadu,

namun enam persepuluh untuk menyampok anak panah yang menjurus ke arah

tenggorokannya. Karena menyampok panah lebih diperhatikan daripada pukulan

Upasara.

Akibatnya sungguh tak terduga!

Anak panah itu ternyata tak sehebat yang ia duga. Bisa disampok dengan

mudah. Sementara benturan tenaga keras menumbuk dari tangan Upasara. Jotosan

tangan Upasara sangat keras dan menyentak. Itu barangkali bedanya dengan tenaga

dalam mereka yang telah berpengalaman. Pada tingkat Dewa Maut, penyaluran

tenaga dalam tidaklah menyentak seperti yang dilakukan Upasara. Biasanya

bergelombang yang makin lama makin besar. Karena kalau mengerahkan sepenuh

tenaga. dan lawan lebih dahsyat, bisa habis-habisan. Betul-betul bakal terluka dalam.

Rontok semua isi dada dan perutnya.

Bagi Upasara, serangan ini pukulan terakhir. Karena tak mungkin bisa

menghindar dan tak mungkin menyusun serangan berikutnya.

Dada Upasara merasa sesak sekali. Panas luar biasa. Pandangannya jadi kabur.

Tumpuan kekuatan dengan satu bagian yang kaku tak mampu menyangga tubuhnya.

Upasara bagai tertekuk. Ditahankan hatinya untuk bisa berdiri, tapi tetap tak mampu.

Tubuhnya terguling.

Yang diderita Dewa Maut tak kurang parahnya. Gempuran tenaga dalam

Upasara mampu menerobos ke ulu hatinya. Terasa sangat nek. Setelah bertempur

sekian lama, tenaga Dewa Maut terkuras cukup banyak. Kim hanya dengan tenaga

kurang dari separuh yang dipergunakan. bisa jebol pertahanannya.

“Kalian semua setan busuk. Main keroyokan kayak anjing kampung.” Belum

selesai omelannya, bibirnya berwarna merah karena darah.

Sementara itu dari tandu keluar seorang lelaki yang tinggi. Pakaian

kebangsawanannya begitu indah dan menawan. Wajahnya tak begitu kelihatan

karena memakai irah-irahan. atau hiasan berbentuk mahkota.

“Menghadapi sesama anjing kampung. apa pedulinya main keroyok atau tidak.”

“Percuma kau bernama panglima besar. Percuma kau laksamana Keraton

Singasari, kalau beraninya menyerang dari belakang.” Dewa Maut menghapus cairan

merah dari mulutnya. Sebagian rambutnya yang putih terkena semburan.

“Sekarang ini semuanya ada di sini, biar mereka menyaksikan siapa yang jantan dan

siapa yang busuk. Ayo majulah, Panglima.”

“Kau tahu, aku tak peduli tata krama. Bagiku membunuhmu saat sakit atau

jaya apa bedanya? Kau tahu apa bedanya aku dianggap panglima besar atau manusia

busuk? Kau tahu itu. Semua tahu itu. Senamata Karmuka bukan orang gagah.

Senamata Karmuka orang busuk yang menjadi kentut Baginda Raja. Penjilat besar,

itulah gelarku sebenarnya. Nan, kau masih belum puas. Ayo maki sekali lagi.”

“Pantas Keraton jadi sumpek. Isinya cuma cecunguk macam begini. Hah.

Sungguh tidak nyana. Tadinya aku mengira penjilat besar adalah nama main-main.

Hanya karena tidak berani dikirim ke mana-mana dan lebih suka menjadi kentut,

makanya gelar itu kauterima. Tak tahunya memang begitu.”

“Sudah cukup puas? Kalau sudah, aku akan membunuhmu, agar kau mati

dengan sedikit rasa lega.”

Kini boleh dikata semua pertempuran berhenti. Tinggal Senamata Karmuka

yang sedang mendesak Dewa Maut. Semua perhatian tertuju ke arah mereka berdua.

Termasuk Jagaddhita yang merasa bingung karena Gendhuk Tri masih belum juga

bebas dari pengaruh sihir Pu’un.

Kalau orang lain dicaci seperti itu, pastilah sudah murka. Akan tetapi Senamata

Karmuka biasa. Tertawa juga tidak, murka juga tidak. Kalem saja. Gelar penjilat besar,

kentut besar, sudah lama jadi bahan pembicaraan. Bukan hanya di kalangan Keraton,

tetapi juga meluas ke masyarakat Singasari.

Cemooh itu terdengar sejak Baginda Raja Sri Kertanegara banyak mengirimkan

pasukan ke luar Jawa. Iringan demi iringan diberangkatkan. Para senopati dikirim ke

berbagai penjuru tanah Jawa dan ke negeri seberang.

Para senopati yang tingkatnya seperti Senamata, boleh dikatakan semua sudah

dikirim ke luar Keraton. Akan tetapi Senamata Karmuka ini lain. Boleh dikatakan ia

tak pernah meninggalkan Keraton. Ketika terjadi pemberontakan besar, Senamata

Karmuka lebih suka berjaga dalam batas dinding Keraton. Kalau para pemberontak

lari ke luar, itu bukan urusannya lagi. Bahwa Baginda Raja yang gemar mengirim

ekspedisi tidak mengirimkan Senamata Karmuka, itulah awal dugaan adanya

penjilatan besar. Cemoohan seperti kentut, karena sebenarnya justru untuk meledek.

Kentut pun setelah keluar akan menjauh terbawa angin. Sementara Senamata masih

saja ada di sekitar Keraton.

Kalau sekarang ini Senamata Karmuka sampai berada di Perguruan Awan, ini

boleh dikatakan sudah luar biasa. Apalagi disertai dengan empat senopati yang lain.

Pastilah ada peristiwa yang dianggap penting sekali dan segi keselamatan negara.

“Ayo keluarkan semua yang ingin kaukatakan. Aku masih memberi

kesempatan sampai hubungan dua. Dua saja, tidak tiga.

Dewa Maut menyurut dua tindak.

Mengumpulkan tenaga dalam. Memusatkan konsentrasi. Tapi ternyata susah

dikendalikan. Buyar entah terserap ke mana. Sebagian perhatiannya terserap ke rasa

sakit.

“Bangsat tua.”

“Dua…”

“Ayo bunuh aku. Biar dunia menyaksikan…”

“Satu…”

Senamata Karmuka mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Seperti mau

menepuk nyamuk. Tapi semua sadar bahwa tepukan itu bisa mencabut nyawa.

“Tunggu, Kisanak…” Terdengar suara lembut. Jaghana maju ke depan sedikit,

memberi hormat dengan menganggukkan kepala. “Kalau saya boleh mengajukan

suatu usul, dan kalau Kisanak masih mempunyai waktu untuk mendengarkan…”

“Apa urusannya orang itu denganmu?”

“Semua manusia adalah saudara kandung. Semua titah Dewa Yang Menguasai.

Lebih dari itu, Niriti adalah tamu saya. Seperti juga kalian semua yang terhormat.

Sungguh tak enak hati saya melihat tetamu harus mati di sini. Maaf, Kisanak, saya

Cuma orang dusun yang kurang mengerti tata krama.”

“Hmmm, jadi kau dari Perguruan Awan?”

“Saya tak berani mengatakan ini. Saya hidup di dusun ini. Nama saya Jaghana.”

Lagi-lagi Jaghana memberi hormat dengan menganggukkan kepalanya.

Senamata Karmuka mendongakkan kepalanya.

“Seumur hidupku belum pernah aku mengabulkan permohonan orang lain

yang bertentangan dengan kemauanku sendiri. Lalu untuk apa sekarang aku harus

berbuat lain?”

Nada suaranya tetap menggambarkan kecongkakan yang luar biasa. Caranya

mengangkat wajah benar-benar menggambarkan pribadi yang tinggi hati.

“Kematian, seperti juga kelahiran adalah milik Penguasa Tunggal. Kita adalah

hambanya yang kecil dan hina, sama sekali tak berkuasa untuk campur tangan.”

“Hmmm. Baguslah itu, Kisanak. Aku memang hanya bisa berbuat hina dan

kecil. Membunuh manusia yang telah melukai orang lain yang sedang ditolong.

Katakan apakah ini juga campur tangan kehendak Dewa yang kausebut-sebut?”

“Saya minta maaf untuk itu. Kesalahan adalah sifat manusia, kekeliruan bisa

kecil bisa besar. Bisa sekali bisa berulang kali. Akan tetapi, jika kita merasakan udara

pagi, berarti kita sadar.”

“Itu juga bagus. Tapi aku tetap mau membunuhnya. Kecuali kalau dengan satu

serangan ia bisa membalas, ini sudah nasib baiknya. Kalau dalam satu serangan ini

bahkan bisa melempar racun tikusnya, itulah nasib baikku. Apakah aku tidak cukup

adil?”

“Kisanak… Maukah Kisanak membantu saya? Saya mempunyai satu masalah yang tak

pernah bisa saya selesaikan. Mohon Kisanak memberi petunjuk.*’

Tiba-tiba saja Jaghana bersila di tanah. Helaan napasnya tertahan di dada. Matanya

tertutup rapat. Satu tangan terangkat ke atas, sedang tangan kiri tetap di alas lutut.

Hanya tangan kanan itu yang sedikit tergetar, selebihnya seluruh anggota badan

seperti kosong tak berisi.

Pu’un melongo. Ia tak menyangka sama sekali sikap Jaghana menjadi demikian

hormat. Dan caranya memberi hormat sama persis dengan yang biasa dilakukannya.

Tanpa terasa Pu’un pun mengambil sikap yang sama.

“…Kisanak,” suara Jaghana tetap lembut, namun semua yang ada di lapangan bisa

mendengar jelas dan empuk. “Ada satu keluarga yang semua matanya buta. Seorang

suami dengan istrinya, dan dua mertua perempuan. Yang satu ibu si suami, yang satu

ibu si istri. Pada suatu hari mereka berjalan bersama. Si suami buta ini menemukan

barang di jalan. Barang terbungkus itu ketika dibuka isinya adalah tujuh buah mata.

Maka si suami pun memakai dua, si istri memakai dua. Satu diberikan pada

mertuanya, satu lagi diberikan pada ibunya sendiri. Dan masalahnya tinggal satu

mata. Kisanak, kepada siapa seharusnya mata itu diberikan? Kepada ibunya sendiri,

ataukah kepada mertuanya?”

Yang hadir melengak.

“Kenapa jumlahnya cuma tujuh?” Wuragil berteriak gusar. Jagaddhita, walau

merasakan keanehan, akan tetapi tidak mengeluarkan pertanyaan. Ini memang

semacam teka-teki yang biasanya menjadi bagian dari tanya-jawab keagamaan.

Konon, cara menanyakan dan cara menjawabnya dengan sikap seperti yang

ditunjukkan oleh Jaghana dan Pu’un. Sebenarnya juga, ketika Upasara Wulung

menangkap lemparan keris dengan dua tangan tadi, sudah membuat Pu’un heran

setengah mati. Itu persis juga dengan gerakan Tepukan Satu Tangan. Gerakan murni

yang diajarkan dengan tanya-jawab seperti ini. Seperti sekarang ini, hanya

menengadahkan satu tangan saja.

Kalau Pu’un terheran-heran, bisa dimengerti. Karena ia jarang bahkan tak pernah

berkelana. Jarang bersua dengan lawan yang ilmu silatnya bermacam-macam—

namun rasa herannya justru berlipat manakala merasa ilmu silatnya yang murni ada

yang menyamai secara persis. Padahal ini merupakan gerak dasar.

Lain dengan Jagaddhita. Sejak lepas dari Keraton, Jagaddhita selalu berkelana. Ia juga

mendapatkan guru yang bersifat aneh, tapi sangat luas pengetahuannya. Baru

sekarang ia ingat salah satu bagian yang dulu diceritakan. Mengenai ilmu Tepukan

Satu Tangan. Menurut si empunya cerita, ilmu itu datang dari Jambu Dwipa atau

tanah India. Akan tetapi mengalami proses perkembangan yang sangat berbeda; baik

di tanah Kaisar Matahari, Jepang, atau di negara turunan dewa, Cina. Di kedua negara

itu perkembangannya menjadi sangat jauh berbeda. Walau kemungkinan pada

akarnya masih bisa ditemukan persamaan. Jagaddhita masih ingat kalimat gurunya,

“Angin ada di mana-mana. Dhita. Di bukit di sawah, di laut, di dalam gua. Di luar

tubuh dan di dalam tubuh. Tetapi keberadaannya menjadi berbeda-beda. Angin bisa

sejuk. bisa membuat badan sakit, dan bisa menjadi badai. Itulah intisari Tepukan Satu

Tangan. Ilmu itu sedemikian sederhananya, sehingga semua orang yang paling bodoh

pun bisa mengerti artinya. Tapi juga sedemikian sulitnya, sehingga semua orang yang

paling pandai pun tak mampu menguasai sepenuhnya. Sejak lama para empu di jagat

raya ini gandrung mempelajari.

“Di negeri mana pun, di keraton mana pun, terjadi perebutan dalam mencari

keaslian ilmu itu. Dan tak ada yang mengetahui. Yang menemukan merasa tak berhak

mengatakan. Yang tidak menemukan merasa berhak menyalahkan dan mencaci

bahwa itu semua kabar bohong. Yang menemukan ujungnya saja, merasa berhak

berteriak bahwa dialah yang telah menguasai.

“susah, susah.”

“Rama Guru, kalau itu ajaran silat. kenapa para raja di semua negeri ikut ribut

mencarinya? Ataukah ada wahyu sejati?”

“Susah, susah.”

“Siapa yang bisa menjawab? Siapa yang membawa kabar? Siapa sebenarnya

Tamu dari Seberang itu? Tak ada yang tahu pasti. Hanya kabar burungnya tersiar

bahwa dalam suatu kurun masa tertentu, murid tunggal Tamu dari Seberang ini

muncul. Tamu dari Seberang ini semacam Ratu Adil yang ditunggu masyarakat.

“Kalau pihak Keraton—tidak di India, tidak di Jepang, tidak di Cina—

mempersoalkan, itu karena dianggap Tamu dan Seberang bakal memberikan wahyu.”

“Rama Guru, apakah kita semua menjadi bodoh? Kenapa percaya wahyu itu

berasal dari seseorang dan bukan dari Penguasa Tunggal jagat raya ini? Apakah…”

“Ah… kau tak tahu apa-apa. Bagaimana mungkin kau mengatakan dirimu

sebagai selir terkasih Kertanegara kalau tidak tahu bahwa raja itu pun mempersoalkan

Tamu dan Seberang? Dhita…”

Saat itu sebenarnya Dhita sudah sedikit berdamai dengan Rama Gurunya yang

masih selalu menyembunyikan identitas sebenarnya. Berdamai setelah mengetahui

bahwa Rama Guru memang menyebut nama raja junjungannya dengan enteng saja.

Dan memanggil nama Jagaddhita seperti Baginda Raja dulu memanggilnya.

“Bahkan raja yang kaujunjung setinggi langit itu pun pasti selalu memasang

kuping dengan teliti, kapan Tamu dari Seberang datang. Ia tak mau kehilangan

takhtanya.

“Ia mau Tamu dari Seberang datang padanya. Ia yang paling berkuasa pun

masih ragu. Setidaknya masih perlu berjaga-jaga.

“Dhita, kaukatakan dirimu selir terkasih, masa tidak tahu sejarah yang

diceritakan, bahwa dulu Tamu dari Seberang telah datang ke tanah Jawa, menemui

seorang bromocorah bernama Ken Arok?”

“Kalau mengenai Baginda Raja Ken Arok pendiri Keraton, semua juga

mengetahui tanpa perlu mendengar langsung dari Baginda Raja.”

“Lalu apa bedanya kalau semua juga percaya? Apa bedanya Raja dengan rakyat

jelata dalam hal ini? Yang mengancam Keraton bukanlah Tamu dari Seberang, tetapi

Penghuni dari Dalam. Itu yang rajamu tidak mau melihat!”

Kalau sudah berbicara mengenai hal ini, Rama Guru menjadi murka luar biasa.

Bisa selama berminggu-minggu tak mengeluarkan suara lagi. Dan kemudian

menghilang entah ke mana. Lalu muncul lagi, dan memberikan pelajaran kepada

Jagaddhita. Di antara pelajaran yang diberikan itu disinggung juga mengenai

pertanyaan seperti yang diutarakan Jaghana.

Maka kini dengan cukup berdebar-debar Jagaddhita menunggu jawaban

Senamata Karmuka.

Senamata Karmuka menatap ke arah langit. Seakan silaunya matahari tak

menjadi penghalang. Lalu, dengan suara rendah, sambil menahan napas, Senamata

Karmuka bersuara pelan, sangat pelan.

“Suwung”

Terdengar helaan napas bersamaan. Napas berat dari Jaghana dan Pu’un secara

bersamaan. Keduanya dengan cara bersamaan memberi hormat kepada Senamata dan

lalu berdiri kembali.

Kini, giliran Upasara yang merasa bingung. Ini agak aneh. Jaghana menahan

gempuran terakhir pada Dewa Maut dari Senamata, lalu mengeluarkan teka-teki. Dan

Senamata menjawab dengan kata: suwung. Lalu terdengar helaan napas berat secara

bersamaan, dan Jaghana serta Pu’un seperti menyilakan Senamata melakukan

kehendak matinya.

Aneh karena Upasara tidak melihat bahwa Senamata bisa menjawab teka-teki

mata ketujuh harus diberikan kepada siapa.

Suwung itu bisa berani kosong, hampa, sunyi, sepi, Lalu apa hubungannya

dengan teka-teki yang dilontarkan?

“Kisanak yang bernama hebat Dewa Maut, saya tak bisa menghalangi atau

menahan lagi. Barangkali begitulah takdir yang harus dijalani.” Dewa Maut meludah

ke tanah.

“Ini baru namanya sandiwara yang paling buruk. Kalian mau main keroyok,

silakan. Kalian mau membunuhku, lakukan saja. Kenapa pakai sandiwara teka-teki

segala macam? Kau kira aku Dewa Maut akan menyembah kalian untuk

memperpanjang umur?”

“Barangkali Senamata yang budiman akan mengampuni Kisanak, kalau

Kisanak mau mengobati Dimas Upasara.”

Upasara memang masih merasa sebagian tubuhnya kaku. Bagian sebelah kiri

susah digerakkan. Beberapa kali dicoba dengan meneroboskan hawa dan pusar, tapi

seperti menembus dinding batu yang keras.

“Untuk apa? Bocah itu telah melukai cucuku dan aku melukainya. Siapa yang

masih utang?”

“Omong kosong. Aku justru telah menolongnya.” teriak Upasara gusar. “Akan

tetapi jangan harap kau bisa menyentuh kulitku untuk menyembuhkan. Dengan

sekali tiup Pamanda Pandu akan menyelesaikan ini semua. Sekarang pun, kalau kau

maju, aku siap meladenimu. Jangan hanya karena sekali gempur, kau sudah mengaku

kalah. Niriti atau Dewa Maut hanyalah nama kosong belaka. Sebelum ini kudengar

kabar, kau tak bakal meninggalkan lawan tanpa membunuh. Tapi sepagi ini saja sudah

dua pertempuran yang kautinggalkan seperti tikus kampung. Masihkah kau punya

hati lelaki untuk tetapi memakai gelarmu?”

“Bocah ingusan, omonganmu besar. Tak layak kau jadi murid Ngabehi Pandu

yang bisanya cuma membisu. Kalah atau menang dalam pertempuran bukan hal yang

aneh. Kau akan segera mengalami juga. Tetapi kau sungguh kurang ajar mengatakan

aku omong kosong.

“Kau merasa jago dengan mengobati Padmamuka. Itu tandanya kau masih

ingusan. Darah diri tole-ku yang paling cakep berbeda dengan darah kalian semua.

Karena ia melatih ilmu khusus mengenai bisa dan racun ikan sungai. Sehingga ketika

bubuk rumput kauberikan, itu ibarat racun dalam tubuhnya. Kerismu melukai, itu tak

menimbulkan soal. Hanya caramu mencabut yang sembrono menyebabkan ia

teracuni, dan parah.

“Nah, sekarang kau bilang aku omong kosong?”

Upasara melengak. Ia tak menyangka bahwa tubuh Padmamuka berbeda

dengan kebanyakan orang. Dalam tubuh yang hampir seluruhnya beracun, obat

malah menjadi racun baginya.

Hilang dan rasa kejutnya. Upasara menunduk. Ia mengacungkan jempolnya

dengan hormat.

“Maafkan kekeliruan saya. Padmamuka.”

Padmamuka meringgis.

“Memang pintar murid Pandu bisu ini. Bicaranya…”

Belum selesai bicara, Dewa Maut sudah diserang. Bagi Upasara tak bisa orang

merendahkan Ngabehi Pandu begitu saja. Apalagi dengan menyebut bisu segala

macam. Meskipun tenaganya belum disalurkan sempurna. Upasara tak bisa menahan

diri.

Dewa Maut juga tidak menduga sama sekali kalau dalam keadaan seperti itu.

Upasara berusaha menyerang. Cari mati juga bukan begitu caranya, pikirnya sekilas.

Anak muda ini benar-benar berangasan, tak bisa diinjak bayang-bayangnya.

Senamata yang lebih dulu bergerak. Tangan kirinya meraup pundak kiri

Upasara dan membetotnya.

“Kalau sudah kubilang aku yang akan membunuhnya, kau jangan turut

campur.”

Pundak Upasara seperti tersengat. Ia kaget. Berusaha untuk

mengumpulkankan tenaga sebagai reaksi spontan. Akan tetapi terobosan tenaga

Senamata begitu keras. Dan sorot mata keras Senamata seperti tak ingin dibantah.

Upasara memang cerdas. Ia segera menangkap maksud Senamata. Kau jangan

turut campur, dengan cepat diartikan bahwa ia tak usah melawan tenaga yang masuk.

Benar saja. Rembesan tenaga Senamata bisa leluasa, dan dalam beberapa kejap saja

rasa kaku di bagian tubuh sebelah kiri berkurang.

Senamata mengibaskan tangannya. Upasara terdorong ke belakang agak jauh,

terpaksa berjumpalitan. Benar juga. Bahkan dalam mendorong pun Senamata

memakai perhitungan yang pasti. Sehingga Upasara terpaksa berjumpalitan dan ini

membuat darahnya mengalir lebih cepat. Diam-diam Upasara berterima kasih dalam

hati.

Senamata sendiri setelah selesai mendorong Upasara, tangannya meraih busur

beserta anak panahnya sekaligus dari seorang prajurit. Dengan ketenangan yang

dimiliki, kepala Dewa Maut yang dibidik. Sebelum lawan sadar, anak panah itu sudah

melesat.

Wuragil berseru tertahan. Ia tak menyangka bahwa kekejaman Senamata yang

didengar selama ini benar-benar ada buktinya. Masakan seorang tokoh seperti

Senamata, seorang laksamana, tega membunuh lawan yang terluka dengan membidik?

Berbeda dengan Wuragil, Pembarep mengawasi jalannya panah dengan

waspada. Benar juga perhitungannya. Panah hanya beberapa senti di atas kepala Dewa

Maut, dan langsung lurus ke arah semak. Disusul anak panah kedua dan ketiga.

Dari balik semak terdengar teriakan merintih. Seperti ada orang yang terluka.

Disusul teriakan keras, dan tiga bayangan meloncat ke tengah lapangan. Yang lebih

menarik ternyata bukan tiga bayangan itu saja. Melainkan munculnya puluhan

prajurit dari balik setiap semak. Ternyata sekitar lapangan telah dikepung. Di

kejauhan terdengar sangkakala ditiup keras, lalu terdengar sorak-sorai yang luar biasa

gegap-gempitanya. Dari arah timur malah muncul umbul-umbul, bendera yang

sengaja dikibarkan tinggi-tinggi.

Jagaddhita bisa melihat jelas, akan tetapi seperti tak percaya. Di antara

rombongan yang membawa bendera itu, ada bendera dengan warna dasar kuning dan

simbol lingkaran seekor harimau muda. Itu berarti tanda pengenal seorang pangeran.

Simbol umbul-umbul dengan gambar harimau adalah gambar resmi Keraton

Singasari. Bila pinggiran dilapisi warna emas, itu berarti Baginda Raja sendiri. Akan

tetapi siapa yang datang ini? Siapa yang mengerahkan begitu banyak pasukan ini?

Memang selama ini dalam Keraton banyak sekali jumlah pangeran. Namun

dari sekian banyak ini, tidak semua pangeran berhak mengibarkan umbul-umbul

sendiri.

Hanya beberapa nama saja yang diizinkan mengibarkan dan memiliki umbul-umbul

seperti itu. Yaitu pangeran yang telah mendapat didikan siasat perang dan

mempunyai daerah tertentu sebagai daerah kekuasaannya. Dulu pun, Baginda Raja Sri

Kertanegara memiliki. Karena saat menjadi pangeran pati atau putra mahkota,

Baginda Raja telah memiliki wilayah sendiri, yaitu Daha. Sehingga beliau berhak

memakai umbul-umbul bergambar harimau. Sampai dengan ketika dinobatkan

sebagai raja, Sri Kertanegara masih menggunakan simbol harimau.

Jagaddhita menduga ada sesuatu yang tidak beres. Kalau mereka prajurit dari

Keraton, pastilah Senamata Karmuka mengetahui hal ini. Setidaknya tahu rencana

pengepungan ini. Nah, kalau ini bukan rombongan dari Keraton Singasari, lalu dari

mana? Dan apa maksudnya datang dengan barisan lengkap dengan peralatan perang

seperti ini?

Pembarep menghela napas. Kedua tangannya bergerak. dan Panengah serta

Wuragil mendekat ke arahnya. Pu’un yang sejak tadi berdiam diri, juga mengambil

posisi Dewa Maut mendekat ke arah Padmamuka tanpa ada yang memedulikan.

Senamata Karmuka mendongak ke langit. Pandangannya tertuju ke atas, akan tetapi

suaranya ke arah samping, perlahan.

“Jaga dirimu baik-baik. Kejadian ini tak bisa diramalkan. Jangan pedulikan

orang lain. Ingat, jaga diri baik-baik.”

Upasara menunduk hormat

“Terima kasih, Pakde,…”

Sementara itu kepungan sudah makin rapat. Ternyata bukan hanya puluhan,

akan tetapi sudah ratusan. Benar-benar luar biasa. Tempat yang begitu sunyi tiba-tiba

menjadi medan laga yang paling menentukan.

Senamata Karmuka mendekat kembali ke arah tandu. Senopati Suro, Joyo,

Lebur, Pangastuti bersiap-siap melindungi, dengan sisa beberapa prajurit yang masih

ada.

Dari semua yang ada di lapangan, hanya Jaghana dan Wilanda yang

bergeming. Yang satu seperti tidak peduli. yang lainnya sedang sakit

Tiga orang meloncat pertama tadi, berdiri tegak. Mengawasi sekeliling. Dilihat

dari pakaian yang dikenakan. jelas ketiganya bukan prajurit sembarangan. Dilihat dari

cara meloncat yang enteng dan sangat pegas. Ilmu mereka juga tidak sembarangan.

Jagaddhita mengenali mereka sebagai Kawung Sen, Kawung Benggol, dan

Kawung Ketip. Ketiganya dikenal sebagai pemimpin Kelana Bhayangkara. Nama

ketiga pendekar ini pernah mencuat ketika terjadi pemberontakan Cayaraja yang

terkenal. Ketiga bhayangkara Inilah yang berhasil menembus Keraton Singasari yang

terkenal dijaga rapih. Dalam pemberontakan berdarah yang habis-habisan itulah

ketiganva tak bisa dikalahkan. Hanya karena ampunan Baginda Raja, ketiga kawung

dibiarkan bebas.

Mereka meninggalkan Keraton setelah pemberontakan berhasil dipadamkan.

Akan tetapi korban dari pihak Keraton tidak sedikit. Banyak senopati yang terbaik

gugur.

Sejak pemberontakan itu ketiga kawung ini menghilang dari peredaran.

Siapa sangka sekarang muncul lagi dengan membawa sekian banyak prajurit

yang siap perang?

“Atas nama Raja Muda Gelang-Gelang, harap kalian semua berlutut

menerima titah.”

Kini baru Jagaddhita sadar. Bahwa rombongan pasukan yang datang mengepung

adalah prajurit dari Gelang-Gelang, yang dipimpin Raja Muda Jayakatwang.

Jagaddhita selama ini mendengar kabar angin bahwa Raja Muda Gelang-Gelang

sedang menghimpun kekuatan besar. Akan tetapi selama ini ketaatan dan kesetiaan

kepada Keraton Singasari tak pernah diragukan oleh Baginda Raja sendiri.

Jagaddhita sedikit tenang hatinya, namun kewaspadaannya dipertinggi. Ia menarik

Gendhuk Tri yang masih terbengong-bengong. Bahkan kemudian meloloskan

selendangnya dan memakainya sendiri.

“Hanya ada satu matahari yang menerangi bumi ini. Hanya ada satu raja yang berhak

memerintah. Maafkan, kalau Prajurit Suro tidak memenuhi peran.”

“Selama masih ada pengampunan, gunakan kesempatan. Kalau sudah terlambat tak

bisa diulang lagi.” Terdengar suara nyaring, cempreng sangat tinggi. Dalam barisan

muncul seorang lelaki, ada benjolan di bagian punggung. Hidungnya juga tertekuk.

Sepasang matanya kecil bagai biji gabah. Pakaiannya luar biasa indah. Di belakangnya

seorang prajurit siap memayungi: Tangan kanannya diangkat ke atas.

Ketiga kawung itu mundur ke belakang. Lalu gerakan tangan itu berubah menjadi

lingkaran pendek. Serentak dengan itu, barisan prajurit yang mengepung membentuk

barisan lagi. Barisan yang tadinya bergerombol, dalam sekejap sudah berbaris lapis.

Berkeliling, lalu di bagian belakangnya berjajar rapi susun sepuluh. Membentuk

seperti kalajengking. Barisan belakang ini merupakan ekor kalajengking. Yang setiap

saat, sesuai dengan aba-aba, akan berubah menjadi bala bantuan di mana diperlukan.

Benar-benar ekor yang berbisa.

“Apakah kalian mau menjajal sengatan kalajengking sebelum bertekuk lutut?”

“Ular busuk, siasat perang itu hanya untuk menakut-nakuti anak kecil. Kau

mencurinya dari Keraton, untuk apa kau pamerkan kemari?”

“Senopati Suro kau masih jadi prajurit biasa yang menjaga kamar tidur?

Sayang, sayang sekali. Kepandaianmu tidak terlalu menonjol akan tetapi kesetiaanmu

bolehlah. Hanya sayang. Orang seperti kamu itu pantas menjadi Senamata. Aku

tawarkan pangkat itu padamu”

Senopati Suro tertawa bergelak. Nyaring dan keras suaranya. Terbawa oleh

gusar yang bergolak.

“Ular busuk, kau kira kau ini siapa? Menawari pangkat segala macam.

Kau kira setiap orang bisa seperti kamu ini, mengangkat dirinya sendiri dan kemudian

memamerkannya?”

Upasara kini merasa seluruh tubuhnya kembali seperti semula. Dengan

istirahat beberapa saat ia bisa menghimpun tenaganya. Ia merasa siap. Hanya saja kini

ia merasa tidak ingin bertindak sembrono. Setidaknya nasihat Senamata tadi berhasil

mengerem keinginannya untuk langsung menyerbu ke lapangan.

Sebenarnya ini saat yang paling ditunggu oleh Upasara. Selama ini ia hanya

mendengar tokoh yang sekarang dijumpai secara langsung. Dari penuturan Ngabehi

Pandu, gurunya, tokoh ini disebut-sebut sebagai gabungan dari jago silat yang sakti,

akal licik dan culas, ahli siasat perang, pandai berbicara, dan berkuasa.

Nama sebenarnya tak bisa dipastikan yang mana. Ia sendiri menyebut dirinya

sebagai Pujangga Pamungkas. Artinya pujangga terakhir, atau pujangga yang

menyelesaikan segalanya. Oleh Senopati Suro tadi dikatakan sebagai ular busuk. Ular

raksasa yang busuk, dalam bahasa kuno disebut sebagai bujangga. Ini nama ejekan

untuk pujangga. Tetapi ia juga dipanggil sebagai Lembu Ugrawe. Lembu, sebagai

orang yang masih keturunan raja. Ugrawe, jelas adalah sebutan yang sangat

berlebihan. Ugra artinya puncak, ujung, dahsyat, menakutkan. Sedang we artinya

matahari. Sehingga sebutan puncak matahari bagi dirinya sendiri kedengarannya

sangat berlebihan. Ia juga menyebut dirinya sendiri sebagai Panji Wacanapati, alias

turunan bangsawan tinggi yang ahli berbicara.

Namun siapa pun nama dan gelarnya, ia termasuk tokoh yang disegani karena

ilmu silatnya yang diberi nama Sindhung Aliwawar. alias Angin Topan. Menurut

Ngabehi Pandu, selama ini belum ada tokoh yang mampu mengimbangi Sindhung

Aliwawar. “Mungkin hanya Eyang Sepuh yang bisa mengimbangi. Tapi Eyang Sepuh

sudah lama menyembunyikan dirinya di Perguruan Awan dan tidak berniat turun ke

dunia lagi. Sehingga sulit untuk ditentukan siapa yang lebih unggul.”

Apa yang berkelebat dalam bayangan Upasara tak jauh berbeda dengan apa

yang dipikirkan Jagaddhita. Ia pun mendengar nama besar ilmu Sindhung Aliwawar

hanya dari penuturan Rama Guru.

“Dibandingkan dengan Rama Guru, ilmu siapa lebih hebat?”

“Ilmu siapa saja sama hebatnya. Tapi manusia busuk itu memang tak bisa

diperkirakan. Rama Gurumu ini pernah bertempur dengannya. Akan tetapi itu sudah

lama berlalu. Dulu saja masih sulit ditentukan pemenangnya; Apalagi sekarang.

Katanya ilmunya maju pesat. Entah apa maunya Dewa Penguasa jagat ini, sehingga

ada manusia seperti itu diciptakan di dunia.”

Baru sekarang Jagaddhita melihat sendiri, tokoh congkak yang paling banyak

disebut-sebut.

“Aku memang mengangkat diriku sendiri, Prajurit Kecil Suro. Karena siapa

lagi yang. mampu memberi gelar padaku?

“Hari ini kalian semua berkumpul di sini, sehingga mudah untuk menyelesaikannya.

Tak usah mencari jauh-jauh. Apakah kalian mau berlutut dan minta pengampunan

dari Raja Muda Gelang-Gelang, atau memilih mati?

“Aha. rupanya kau yang menyebar kabar bahwa akan ada Tamu dari Seberang di

Perguruan Awan ini. Aha, akal licik.” Jagaddhita berseru heran, dan menyadari bahwa

mereka yang datang ini masuk dalam perangkap yang dipasang Panji Wacanapati.

“Akal licik apa, kalau kalian semua termakan? Untuk menangkap tikus busuk juga

diperlukan umpan kecil yang busuk. Untuk mendatangkan seorang wesya, kan tidak

perlu memakai umpan seorang pendeta?”

Jagaddhita mengeluarkan suara tertahan.

Selendang sampai bergetar. Ia tak nyana bakal dimaki sebagai wesya atau sundal. di

arena begitu luas. Seumur-umur ia selalu membanggakan diri sebagai selir Baginda

Raja. Itu adalah kehormatan terbesar yang membuat hidupnya berarti. Mana mungkin

sekarang ia dianggap sebagai sundal begitu saja?

“Hehehe, kau marah kupanggil sebagai wesya? Kalau bukan, siapa anak kecil itu?

Bisakah kautunjukkan siapa bapaknya? Hehehe, mungkin kau pun tidak mengenali

lagi siapa bapaknya. Bahkan kau pasti tidak berani mengakui bahwa akulah bapak

anak kecil itu.”

Kawung Benggol meloncat ke samping. Ia bersiap kalau Jagaddhita langsung

menyerang.

“Untuk apa aku meladeni ucapanmu yang memang busuk itu?”

“Kalau kau bisa menjawab siapa bapak anak itu, aku akan mengampunimu. Mengingat

kemesraan yang pernah kauberikan padaku.”

“Oho, rupanya Bapak Ugrawe masih ingat kejadian Syiwaratri yang lalu. Sungguh

suatu kenangan yang manis.”

Jagaddhita benar-benar kepepet hingga tak bisa menjawab sepatah kata pun. Bagi

yang mengenal Ugrawe, mungkin menduga bahwa ucapannya main-main belaka.

Meskipun juga tidak sepenuhnya bohong. Tetapi Kawung Benggol seperti memberi

tekanan bahwa ada suatu peristiwa asmara terjadi pada Syiwaratri. Syiwaratri, atau

malam Syiwa, adalah malam hari bulan purnama, tanggal empat belas, yang dianggap

malam kudus bagi Dewa Syiwa.

Melihat Jagaddhita berkumat-kamit tapi tak bisa mengeluarkan kalimat, Kawung

Benggol makin keras tawanya.

“Baiklah, kalau kau sendiri tak menentukan siapa bapak anak kecil ini. Tapi untuk

yang masih berada dalam kandunganmu itu, aku bersedia mengakui. Setidaknya bisa

kudidik menjadi prajurit kelak.”

Ugrawe mendengus ringan.

Lupakan sejenak urusan hawa nafsu. Sekarang saat membicarakan negara.” Lalu

kembali mendongak ke udara. “Aku telah mengundang kalian semua datang kemari.

Kecuali yang berada dalam tandu, semua yang ada di sun bisa memperoleh

pengampunan.

“Jika kalian semua mau berlutut dan menghaturkan sembah kepada Raja Muda

Gelang-Gelang yang sebentar lagi memerintah di tanah Jawa ini, kalian bisa

memperoleh kedudukan.

“Kalau menolak, tanah ini akan diratakan.”

Pembarep menggeser kakinya.

“Nama besar yang selama ini terdengar di penjuru angin. bukan nama kosong

belaka. Hari ini sungguh suatu kehormatan besar saya bisa bertemu. Entah saya harus

menyebut gelar yang mana….”

“Kakang Mbarep. kau terlalu merendah diri. Aku tahu kaulah yang menguasai

Gunung Semeru. Kalau kau ingin bicara, katakan apa maumu. Aku sudi memberi

ampunan kepada semua saja, kecuali yang berada di dalam tandu. Kentut satu itu tak

ada gunanya.”

Senopati Suro menggeram keras. Menerjang bersama kuda hitamnya, dibarengi

teriakan nyaring. Senopati Joyo, Lebur, dan Pangastuti pun serentak bergerak. Adalah

suatu hinaan yang luar biasa kepada Baginda Raja yang tak bisa diterima oleh mereka.

Bahwa Senamata Karmuka dibilang kentut atau lebih dari itu, tak akan menjadi soal.

Akan tetapi sebutan itu sebenarnya ada embel-embelnya. Senamata Karmuka dikenal

sebagai laksamana yang setia kepada Baginda Raja. Selalu berada di dekat Baginda

Raja. Sehingga dikatakan sebagai kentut. Tapi ini juga diartikan oleh mereka yang

tidak menyukai Baginda Raja untuk mengatakan Baginda Raja adalah kotoran.

Hubungan “kentut dengan kotoran”, adalah hubungan yang sangat dekat. Maka bisa

dimengerti kalau Senopati Suro murka.

Kali ini, empat senopati tangguh maju secara serentak. Dari empat penjuru

langsung mengurung. Kawung Benggol yang sudah bersiaga, langsung memapak

Senopati Suro. Tidak kepalang tanggung. Kawung Benggol meloncat ke atas punggung

kuda. Satu tangan menjitak ke arah kepala. satu tangan merebut kendali kuda. Meski

ilmunya tidak termasuk kelas satu, Senopati Suro juga bukan jagoan yang baru lahir.

Apalagi bersatu di atas kuda hitam yang sudah merupakan bagian dari tubuhnya.

dengan mendadak saja Senopati Suro menyepit perut kuda dan menarik keras tali

kekangnya. Kuda hitam yang tengah meluncur, tiba-tiba berhenti mendadak. Kedua

kaki depan terangkat ke atas. Dan Kawung Benggol yang sudah berada di atas harus

berhadapan dengan tendangan kuda. Meliuk dan samping, Kawung Benggol memutar

gerakan tubuhnya. Kim dua tangan langsung mencekik ke arah Senopati Suro. Tapi

senopati yang punya banyak pengalaman ini menjatuhkan tubuhnya ke samping.

Dengan cepat berputar di bawah perut kuda! Lewat bagian bawah! Dengan tetap

menyepit perut kuda, kaki Senopati Suro menjadi poros untuk berputar.

Dengan sangat cepat sudah muncul lagi. Dan tubuh Kawung Benggol yang

menubruk ruang kosong bisa dipukul dari belakang. Sebenarnya itu juga tidak perlu.

Karena justru Senopati Lebur sudah mengayunkan gadanya dari samping.. Tak ampun

lagi Kawung Benggol harus menangkis dengan dua tangan kosong.

Di pihak lain, Kawung Ketip berteriak gusar dan mengayunkan rantainya, sementara

Kawung Sen yang bersenjatakan jala juga menerjang dengan jala tertebar. Dalam

sekejap saja pertempuran sudah berlangsung seru. Kalau pada terjangan pertama,

Senopati Suro boleh dibilang unggul, kini mereka berempat harus memusatkan

perhatian seluruhnya; Itu pun belum mencapai ke arah Ugrawe.

“Baik. Kalau kalian memilih pertempuran.”

“Tunggu,” teriak Jagaddhita nyaring. Ia langsung meloncat menghadang

Ugrawe yang siap memberi aba-aba untuk serangan total. Jagaddhita mencoba

menghadang. Salah satu cara hanyalah dengan mendesak Ugrawe. Karena ia berpikir

bahwa posisi lawan jauh lebih menguntungkan. Sedangkan Ugrawe sendiri, masih

teka-teki siapa yang bisa menghadapi dengan imbang. Barangkali hanya Senamata

Karmuka yang bisa menghadapi. Itu pun belum tentu bisa menang. Kalaupun bisa,

diperlukan pertempuran yang lama dengan kemungkinan besar dua-duanya luka

parah. Sementara pihak lawan terdiri atas banyak sekali pasukan. Seratus bisa dibikin

binasa, yang lain masih ada. Sedangkan di pihaknya sendiri, mereka’ tidak merupakan

kesatuan dengan tujuan yang sama. Sementara beberapa orang sudah terluka. Dewa

Maut, Padmamuka, Wilanda tak bisa berbuat apa-apa. Pu’un juga tak bisa diharap.

Belum dihitung bahwa Gendhuk Tri bisa membahayakan dirinya sendiri.

“Kau mau bergabung bersama kami?”

“Tentu, kalau kau bisa mengalahkan kami secara ksatria.”

“Hehe, kau kira aku begitu bodoh? Di sini jelas sekali aku menang pasukan.

Dengan mengandalkan mereka ini saja, kalian semua bakal bisa diringkus. Untuk apa

aku pedulikan tata krama? Untuk apa perlu mengalahkan kalian seorang demi

seorang?”

“Licik. Kau sengaja memancing kami datang ke Perguruan Nirada ini, dan

menunggu kami bertempur….”

“Licik itu apa? Mulia itu apa? Aku ingin mengembalikan takhta kepada yang

berhak. Kenapa kau tidak menyebut Ken Arok licik? Kenapa kamu tidak mengatakan

Ken Arok menurunkan raja-raja perampok di tanah Jawa ini?

“Hanya rakyat kecil yang tak tahu apa-apa mempersoalkan licik atau mulia.

Hanya mereka yang tak tahu yang bisa menuntut macam-macam. Aku sudah berbaik

hati untuk mengampuni. Akan tetapi kalian memilih jalan bunuh diri. Aku hormati

pendirian kalian. Keraton yang akan kubangun nanti tidak membutuhkan pendekarpendekar

seperti kalian.

“Makanya, sekarang ini juga, yang ada di sini dan tak menganggap raja kepada

Raja Muda Gelang-Gelang, akan kubasmi.”

Ugrawe menarik suara dari hidung dengan keras. Lalu tangannya bergerak,

meraup bendera kecil di tangan salah satu prajurit. Cara meraupnya tanpa

meninggalkan tempat. Hanya mengandalkan tenaga mengisap. Dan prajurit yang

memegang bendera seperti terperanjat, tapi tahu-tahu apa yang dipegang sudah lepas

dari tangannya.

Jagaddhita terkesima. Pameran tenaga dalam yang luar biasa. Penguasaan yang

sempurna. kagetnya berubah ketika dari gerakan bendera ini, diikuti suara genderang

dan sangkakala, gerak pasukan berubah. Kalau tadi menunggu saja, kini semua

bersiap. Barisan panah yang mengepung sudah langsung memasang anak panah di

busur dan siap membidik.

Satu gerakan lagi dari Ugrawe, terjadilah keroyokan massal.

Jagaddhita meloncat ke belakang. Mendekati Gendhuk Tri, dan sekali gerakan

mendudukkan Gendhuk Tri dalam gendongan. Dua pasang selendangnya dilepaskan.

Siap untuk melindungi diri dan menyerang.

“Tugas lebih penting ada di Keraton. Kembali!”

Terdengar teriakan menggeledek sangat keras. Ujung-ujung pohon jadi

bergoyang karenanya. Sisa-sisa burung yang masih bertahan di ujung ranting bagai

disentakkan. Sebagian sempat terbang, sebagian kecil yang lain jatuh ke tanah.

Teriakan itu ternyata untuk memerintah keempat senopati yang masih

berkutat dengan ketiga kawung. Senopati Suro-lah yang pertama menyentak kuda

hitamnya dan sekali lagi menerobos maju, sepertinya mau menerjang lurus ke depan.

Kuda hitamnya meringkik panjang, memutar badannya, dan kaki belakangnya

menyentak dengan keras.

Kawung Sen, yang paling rendah kepandaiannya dibanding kakak-kakak

seperguruannya, tetapi juga paling ganas, bukannya menyingkir. Ia memasang kudakuda

untuk menangkap tendangan kuda! Keras lawan keras! Senopati Suro memukul

lewat udara dengan keras sambil meloncat ke atas. Pukulan dari atas lebih sulit

ditangkis kalau tengah menangkis tendangan kuda. Tetapi Kawung Sen cukup sebat.

Begitu menangkap dua kaki kuda sekaligus, kekuatannya dikerahkan dan serentak

dengan itu tenaganya dipusatkan, dan badan kuda itu seperti berputar arahnya!

Hebat tenaga Kawung Sen ini. Kalau ia menangkap ekornya-ia bisa melakukan

itu kalau cukup cerdik-dan membetotnya. sehingga kuda jadi kehilangan

keseimbangan, masih bisa dimengerti. Akan tetapi ini langsung main tangkap kaki

dan mengayunkannya.

Senopati Suro berhasil mundur. Diikuti oleh ketiga senopati yang lam.

Bersama para prajurit mereka melindungi tandu. Keempat prajurit mengangkat tandu.

Ketika itulah aba-aba penyerangan diberikan oleh Ugrawe. Serentak dengan

itu, puluhan anak panah terbang berurutan, teriakan para prajurit, tombak, pedang,

obor api, ringkik kuda terdengar bersamaan. Dan dengan satu tutulan sangat ringan,

Ugrawe langsung memimpin pertempuran sendiri. Yang diserbu pertama kali adalah

tandu.

Upasara meloncat maju ke arah Wilanda yang masih duduk di tanah. Kainnya

dilepaskan dan diputar sangat kencang untuk memayungi dirinya dan Wilanda.

Pandangannya masih sempat melihat bagaimana Ugrawe menyerbu ke arah tandu.

Kalau yang lainnya menggunakan ilmu meringankan tubuh, Ugrawe berbuat lain. Ia

berlari di alas kepala para prajurit Gelang-Gelang. Caranya meloncat dari satu kepala

ke kepala yang lain, nampak enak sekali. Padahal jaraknya tidak sama. Yang luar biasa

adalah bahwa nampaknya para prajurit sendiri yang diinjak kepalanya merasa tidak

dibebani apa-apa. Geraknya tidak terhalang karenanya.

Sisa prajurit Keraton Singasari dengan sigap menahan dan segera terjadi

pertempuran.

“Mundur jauh.” Senopati Suro memerintahkan dengan suara keras. Ia sendiri

langsung maju memapak. Dengan dua tombak rampasan dari kiri-kanan, ia langsung

menusuk ke depan. Senopati Lebur sekali lagi mengayunkan gadanya dengan menebas

dari samping. Senopati Joyo yang menggunakan gada menggebuk dari arah yang

berlawanan. Dua pedang pendek di tangan Senopati Pangastuti menghunjam ke arah

badan lawan.

Dari satu gebrakan yang dilakukan secara bersamaan, banyak sekali perbedaan

dan sifat-sifat penyerangan. Walau dasar gebrakannya sama, akan tetapi tombak,

gada, dan pedang pendek berbeda sifatnya. Ugrawe memperdengarkan suara ejekan di

hidung, dengan tangan kosong ia menangkis dua gada yang datang bersamaan. Lalu

membiarkan bagian pinggangnya ditusuk oleh tombak Senopati Suro.

Terdengar suara keras, dua gada terlepas ke udara!

Bahwa ilmu kebal bisa untuk menahan diri sudah banyak yang tahu. Tapi ilmu

yang dipamerkan Ugrawe memang luar biasa. Dua gada yang diayunkan dua senopati

tangguh ditangkis oleh tangan kosong. Satu tombak yang membentur pinggangnya

dibiarkan saja. Hanya ketika Senopati Pangastuti menusuk pendek, Ugrawe

menghindarkan diri-. Menggeser kedua kakinya ke belakang lalu meloncat di kepala

salah satu prajurit untuk pijakan, langsung menyerbu ke arah para prajurit yang

membawa lari tandu.

Senopati Joyo sempat kaget karena gadanya terlepas dari tangan kanan. Namun

tangan kirinya masih sempat menangkap dan mengayunkan ke belakang. Senopati

Lebur juga mengayunkan dengan cara yang sama. Begitu juga Senopati Suro

mempergunakan dua tombak untuk mengayunkan tubuhnya. Bagai peloncat dengan

galah, tubuhnya menyerbu ke arah bayangan Ugrawe yang berkelebat. Cepat sekali

Senopati Suro bergerak, akan tetapi Ugrawe bergerak lebih cepat lagi. Dua prajurit

yang membawa tandu bisa direnggut bahunya dan dengan sekali gebrak, dua tubuh

itu terlontar ke dalam tandu.

“Kentut bau, keluar. Sambut kedatangan pencabut nyawamu…”

Belum selesai kalimatnya, Senopati Suro sudah datang. Dua tombak

dilemparkan dengan keras dari udara. Tombak yang tadi dipakai untuk meminjam

tenaga melompat, kini dipakai untuk menyambit. Tanpa menoleh ke belakang,

Ugrawe menggerakkan tangan ke belakang. Dua tombak diraup sekaligus! Lalu

ditimpukkan balik. Senopati Suro tak kepalang herannya. Kalau ia mendengar Ugrawe

tokoh yang disegani, tidak juga sehebat ini. Hanya kebetulan dua gada senopati yang

melayang menolong dari kemungkinan luka parah. Dua gada menyampok dua

tombak- Begitu hinggap di tanah, Senopati Suro harus melepaskan diri dari keroyokan

para prajurit Gelang-Gelang. Meskipun mereka ini prajurit terdidik, akan tetapi

tingkat kepandaiannya masih jauh di bawah para senopati. Hanya saja karena

jumlahnya banyak dan seperti bertarung kesetanan, memerlukan waktu untuk

menghadapi. Dan sementara itu terjadi, Ugrawe sudah membunuh dua pembawa

tandu yang lain.

Senopati Pangastuti menggerung pendek. Berbeda dari senopati yang lain,

Pangastuti tidak meloncat maju atau menyambitkan pedang pendeknya. Ia menerjang

tanpa tergesa.

Dan justru anehnya, Ugrawe selalu melengos setiap kali menghadapi serangan

Senopati Pangastuti. Tidak langsung menghadapi keras lawan keras. Ugrawe

menyamping. Dengan mengempos kekuatannya, dua tangannya bergerak bersamaan,

menjulur ke depan, lalu tiba-tiba dibalikkan lagi. Tenaga mengisap! Tandu seperti

bergoyang-goyang sebelum terangkat ke atas, dan dengan kecepatan tinggi tandu

terus terangkat ke atas. Ugrawe berseru keras. Satu tangan terbuka menahan. Dan

seperti ada tenaga penghubung, tandu itu tertahan di angkasa. Satu tangan bergerak

melontarkan pukulan. Terdengar suara “brak” keras sekali. Tandu hancur berkepingkeping.

Akan tetapi tandu ternyata kosong!

Ke mana Senamata Karmuka? Tipu daya apa yang dikeluarkan. keempat

senopati pun berusaha melindungi?

Ugrawe berteriak keras. Sekali lagi ia meloncat di antara kepala prajurit

Gelang-Gelang. Kali ini arah dan sasarannya bukan menyerbu ke arah musuh akan

tetapi kembali ke tempat semula. Pikiran Ugrawe cepat bekerja: pada situasi seperti

ini, Senamata Karmuka pasti lebih dulu menyerang ke arah pusat. Ia berarti langsung

menyerang ke arah kemah Raja Muda Gelang-Gelang. Ini merupakan salah satu cara

untuk menghentikan pertempuran dengan cepat. Karena kalau pucuk pimpinan

tertinggi ditawan, apa lagi yang bisa dilakukan. Maka Ugrawe langsung menuju tandu

utama. Barisan prajurit pengawal utama dilewati begitu saja.

Di depan tandu, Ugrawe berjongkok menghaturkan sembah.

Tirai tandu terkuak sedikit.

“Ada apa, Paman Guru?”

Ugrawe menyembah untuk kedua kalinya.

“Junjungan dalem, Senamata Karmuka untuk sementara bisa meloloskan diri.

Harap Paduka tidak keluar dari tandu.”

Tirai tandu tertutup lagi.

Ugrawe menghaturkan sembah. Berdiri lagi. Matanya mengawasi sekeliling.

Ke arah pengawal utama. Mendadak saja tangan Ugrawe bergerak. Salah seorang

pengawal seperti terisap ke depan. Tubuhnya bergerak maju tanpa bisa dikuasai.

Ugrawe menyentak keras. Tubuh itu melayang ke arah Ugrawe dan dengan sentakan

berikutnya, tubuh itu terbanting ke tanah. Pandangannya melotot, dan napasnya

telah putus. Ugrawe bisa membunuh tanpa menyentuh.

Pengawal utama yang lain berteriak kaget.

“Kentut itu pasti menyusup kemari. Kalau ada yang sedikit mencurigakan,

akan kubunuh kalian semua.” Ugrawe menatap sekitar.

Para prajurit utama jadi bergetar hatinya. Wajah mereka pias. Dalam masalah

seperti ini, Ugrawe memang selalu langsung bertindak cepat. Masih sekarang ini mau

menjelaskan alasannya.

Sementara itu Pembarep mulai terjun ke arena peperangan. Begitu melihat Upasara

bergerak melindungi Wilanda, Pembarep langsung meloncat maju. Ia menutup

serangan, sekaligus juga serangan ke arah Padmamuka dan Dewa Maut.

“Anakmas Upasara, biar aku yang tua di sini.”

“Sembah bekti, Paman….”

“Bergabunglah bersama Jagaddhita. Paman tua ini masih bisa mengajak mereka

mundur.”

Panengah dan Wuragil juga berbaris bersama. Ketiganya menjadi perisai utama.

Wilanda digotong oleh Jaghana dan Padmamuka digotong oleh Dewa Maut.

Keduanya berjalan mundur, sementara Tiga Pengelana Gunung Semeru melindungi

dalam bentuk lingkaran.

Upasara melejit maju ke depan, menghindari bantuan prajurit Gelang-Gelang yang

terus maju merangsek. “Bibi…*

“Wulung ..,” sambut Jagaddhita, yang tiba-tiba akrab dengan Upasara. “Kalau kau bisa

kembali ke Keraton, sangat baik sekali. Serahkan semua ini pada bibimu….”

Empat ujung selendang Jagaddhita bergerak bersamaan ke arah empat penjuru, dan

empat prajurit lawan langsung terjungkal dengan memegangi matanya. Sekali lagi

bergerak, empat lagi memegangi matanya. Dari sana mengalir darah.

“Cari jalan lain, Wulung. Jangan pedulikan yang lain.” Kawung Ketip berteriak

pendek sambil menerjang ke arah Jagaddhita dan mengayunkan rantainya. Sekali

sebat rantainya menggulung, melipat, dan sekaligus menyentak dua ujung selendang

Jagaddhita. Karena selendang itu masih dililitkan di tubuhnya, tak urung Jagaddhita

tertarik ke depan. Tapi justru dengan itu, dua ujung selendang yang lain menusuk ke

arah Kawung Ketip. Berubah bentuk selendang menjadi semacam tombak, Kalau lurus

menusuk. Dengan tangan kiri Kawung Ketip berusaha menangkap dua ujung

selendang sekaligus. Dan juga membetotnya. Karena dua tangan sudah digunakan

bersama, Kawung Ketip tak mungkin menahan serangan berikut dan dua tangan.

Yang serta-merta mengarah ke bagian jakun sedikit ke atas. Kawung Ketip adalah

pemimpin ketiga kawung. Bahwa ia paling jago, sudah banyak yang mengetahui.

Bahwa Jagaddhita berusaha menggebrak dengan jurus-jurus yang berbahaya, juga bisa

dimaklumi. Melawan seorang pemberontak, tokoh-tokoh Keraton memang tak kenal

kata kasihan atau ampunan.

Melihat serangan begitu nekat, Kawung Ketip mengerahkan seluruh tenaga

dan membetot luar biasa. Tubuh Jagaddhita terayun ke udara. Inilah yang tak

diperhitungkan oleh Kawung Ketip. Kelebihan Jagaddhita justru mempermainkan

antara tenaga yang keras dan tenaga yang lemah. Gerakan selalu bisa diubah dengan

sekehendak hatinya. Senjata selendang warna-warni juga bukan sekadar hiasan.

Dalam pertempuran, selendang itu jika terkena sinar matahari memantulkan aneka

cahaya yang aneh. Yang bisa mempengaruhi konsentrasi lawan. Namun lebih dari itu

semua, selendang ini juga bisa diloloskan dengan sekehendak hatinya. Ketika ditarik

tadi, Kawung Ketip menduga bisa menguasai lawan. ternyata hanya selendang saja

yang bisa dibetot. Selebihnya. tubuh Jagaddhita terus menerjang ke arahnya. Kawung

Ketip menangkis dengan pergelangan tangan. Satu sentilan halus cukup membuat

pergelangan Kawung Ketip kesemutan, dan Jagaddhita merampas kembali

selendangnya. Sekali lagi keempat selendang berkibar di udara sebelum menutup

wajah Kawung Ketip. Kawung Ketip mengimbangi dengan ayunan rantai ke arah

pinggang. Kalau sabetan mengenai sasaran, dengan sekali sentak. Jagaddhita bakal

menjadi boneka mainan yang dibanting hancur.

Diam-diam Jagaddhita memuji kegesitan lawan. Dalam menghadapi serangan,

ternyata Kawung Ketip tidak berusaha bertahan sepenuhnya. Justru bertahan dengan

balik menyerang.

Sementara keduanya masih terlibat dalam pertandingan, Gendhuk Tri jadi tak

ada yang mengawasi. Gadis kecil ini masih terbengong-bengong tak bereaksi, ketika

Pu’un datang kepadanya dan langsung mengepit. Belum sempurna kakinya menotol

bumi, Kawung Benggol sudah datang menyapunya. Kawung Benggol dalam gebrakan

pertama kena dipecundangi Senopati Suro, sehingga kedua tangannya kena pukulan

gada senopati yang lain. Makanya kini melakukan serangan dengan kaki.

Pu’un tak menghindar. Justru memapaki kaki dengan kaki. Dua tulang beradu

keras. Lalu disusul dengan dua-tiga tendangan berikutnya. Pu’un terus merangsek

maju. Ketika Kawung Benggol terdesak, Pu’un tidak melanjutkan serangan, akan

tetapi melarikan diri ke arah lain. Bagi Pu’un tujuannya hanya satu. Mendapat

keterangan mengenai Tamu dari Seberang.

Ia tak terlibat dengan masalah pemberontakan apa segala. Maka juga tak berniat

membunuh lawan. Asal bisa memperoleh Gendhuk Tri sudah lebih dari cukup.

Pu’un tidak menduga justru ketika ia melompat itulah ia masuk dalam

perangkap. Karena Kawung Sen sudah menebarkan Jala.

“Oho, mau ke mana kau, orang hutan?”

Jala itu terbuat dari tenunan sutra yang ulet. Maka begitu kena dijala, Pu’un

tak bisa bergerak. Ia benar-benar seperti seekor burung besar yang terjerat. Tak bisa

bergerak apa-apa.

Kawung Sen menendang bagian pantat sambil tertawa-tawa.

“Gadis itu bagianku. Bukan bagianmu.”

Pu’un tak bisa berbuat sesuatu apa.

“Lihat. Aku akan mengencingimu. Biar kau mandi di sini.”

Kalau ini benar-benar terjadi, entah di mana lagi Pu’un bakal menatap dunia.

Sebagai pendekar yang diandalkan dari asalnya, sebagai seorang ksatria, mana bisa

dimandikan di tempat terbuka seperti ini dengan air kencing?

Mati dalam pertempuran, bukan soal. Kalah dalam pertandingan, masih bisa

diterima. Akan tetapi dihina seperti ini, sungguh sangat memalukan. Pu’un berpikir

untuk menggigit putus lidahnya. Lebih baik mati sebelum dihina. Kalau bisa, ia akan

mengetok kepalanya sendiri. Tetapi diringkus dalam jala, menggerakkan jari pun sulit.

Dan Kawung Sen benar-benar membuka kainnya.

Tapi urung. Karena telinganya mendengar desir yang keras menuju ke arah

bagian tubuhnya yang sangat peka. Tangannya bergerak menangkap ke arah desiran

dan dengan cepat mengembalikan ke arah sumber suara. Upasara menangkap dengan

giginya.

Yang dilemparkan tadi adalah kancing baju, yang dilepas dari surjan yang

dikenakan.

“Baik kalau kau juga ingin dimandikan.” Kawung Sen mengerahkan tenaga dan

mulai melancarkan pukulan. Upasara berdehem kecil. Ia sama sekali tak gentar

menghadapi Kawung Sen, yang baru saja membuktikan kekuatan tenaganya

membalikkan seekor kuda. Pukulan yang datang disambut dengan dua tangan yang

berusaha menjepit. Kawung Sen mengganti dengan gerakan sapuan kaki, akan tetapi

sekali ini Upasara tak menggeser kakinya. Dua tangan yang terjulur lurus berubah jadi

menjepit ke arah kepala.

“Nekat juga anak kecil ini,” teriak Kawung Sen.

“Yang begini masih perlu mandi sendiri.”

Keduanya berhadapan. Berdiri sama tegak. Di antara ketiga kawung, Kawung

Sen paling suka berlagak dan memamerkan kekuatan. Sikap yang rada congkak ini

sama dengan Upasara Wulung. Jenis permainan keduanya dengan cara menyerang

juga sama. Pola menyerang yang sama-sama terbuka.

“Ini baru hebat. Sekarang aku ketemu lawan. Sayang usiamu masih muda.

Kalau kau mati sekarang, kapan lagi aku mempunyai mainan?”

“Sama saja, jika kau mati dulu, aku tak bisa memandikanmu.”

“Boleh juga mulutmu. Siapa gurumu?”

“Kawung Sen, dengarlah baik-baik agar kau tak kecewa kukalahkan. Guruku

adalah majikan utama Lembu Ugrawe. Ketika Lembu Ugrawe masih ingusan dan

hampir mati karena kelaparan, salah seorang pelayan guruku menolong nyawanya.

Nah, kini kau sudah cukup mendengar?”

“Bagus. Bagus. Aku suka lelucon seperti ini. Mari kita jajal lagi. Kau pakai jurus

apa itu tadi?”

“Dalam sekejap melihat, mestinya kau sudah tahu. Masakan pakai bertanya

segala macam.”

“Wah, ini repot. Kalau menghafal nama jurus, siapa yang bisa ingat? Setiap

orang bisa memberi nama sendiri-sendiri. Tapi kalau dilihat dari gerakanmu, jelas kau

berasal dari Keraton Singasari. Kau mungkin tidak tahu bahwa aku sudah masuk ke

Keraton.”

“Tentu aku ingat. Masakan kau lupa siapa yang memberi ampunan padamu

ketika itu?”

“Boleh juga. Makin lama lidahmu makin tajam.”

“Lembu Ugrawe belajar bicara dari mana kalau tidak dariku, sehingga berani

membuka mulut lebih lebar?

“Sebenarnya aku enggan melawan tukang jala. Tentu karena kau yang maju

kemari, apa boleh buat.”

Upasara mencabut kerisnya.

“Aku tidak suka kau main keris. Tangan kosongmu tadi aneh. Itu yang lebih

menarik. Ayolah, kau jajal dengan tangan kosong yang menjotos lurus. Soal keris kita

lupakan.”

Upasara melirik ke arah Pu’un dan Gendhuk Tri.

“Baik, aku buang senjata ini.”

Upasara melemparkan kerisnya ke tanah. Yang dituju adalah pinggiran jala.

Keris itu mengenai simpul hingga amblas ke tanah. Tapi, barangkali belum bisa

memutuskan tali jala.

“Tak mungkin kau bisa memutuskan jala itu. Dibakar pun tak bisa.”

“Tapi tak adil kalau kau tidak memakai senjata.”

“Kau sendiri bakal menyerang dengan tangan kosong. Justru tidak adil kalau

aku memakai senjata.”

“Justru menjadi adil. Aku tertarik dengan gerakan jala, sedang kau tertarik

tangan kosong. Makanya cukup adil kalau kau- menyerang dengan jala dan aku

menghadapi dengan tangan kosong. Kita bisa mendapatkan jawaban rasa ingin tahu.”

“Tapi jalaku cuma satu.”

“Lepas saja lebih dulu. Apa susahnya untuk menangkap lagi? Bukankah dengan

sekali tebar kau bisa menangkapnya?”

“Masuk akal juga.”

Kawung Sen langsung mencabut keris Upasara dan mengembalikan. Tak

memedulikan bahwa Upasara bisa menusuk dengan sekali sabet. Tapi Upasara tidak

melakukan itu. Ia menunggu.

Dengan sekali sentak di bagian simpul, jala itu melebar lagi. Dan sekali kebut,

Pu’un serta Gendhuk Tri terbebas dan jerat.

“Ayo sekarang kita mulai.”

“Baik. silakan mulai.”

Tidak adil. kau yang muda menyerang lebih dulu.”

“Tidak adil juga. Kalau begitu kita hitung sampai tiga. Kita sama-sama

menyerang.”

“Boleh juga.”

Sementara Upasara bersiap dengan hitungan, begitu juga Kawung Sen, Pu’un

berdiri tegap. Di kepalanya berputar seribu satu pikiran. Ia merasa jago, dan

sesungguhnya memang jago, akan tetapi sekali kena jala, tak bisa bergerak. Bahkan

hampir saja mendapat kehinaan total. Tak habis pikir bagaimana justru sekarang

Upasara Wulung yang tak dikenal membebaskan ia.

“…tiga”

Sebat sekali Kawung Sen menebarkan jala. Upasara bukan menghindar dengan meloncat mundur, sebaliknya ia malah maju. Dengan dua pukulan lurus seperti tanduk banteng. Harus diakui bahwa dalam soal pertempuran seperti ini, Upasara jauh lebih cerdik dari Pu’un yang jalan pikirannya sederhana. Upasara boleh dikata mengenal segala macam rangkaian serangan yang banyak macam ragamnya. Serta mempunyai persiapan bagaimana menghadapi. Dengan melihat bahwa sekali gebrak, Pu’un bisa dijerat, Upasara tak akan meladeni dengan menghindar. Ruang gerak yang luas makin memungkinkan jala lawan meringkus dirinya. Maka sebagai gantinya, Upasara mendesak maju. Jalan pikirannya adalah bahwa lawan tak mungkin memainkan jala dalam jarak dekat. Kecuali kalau ingin menjala dirinya sendiri

“Apa nama jurus ini?”

“Menutup Langit”

“Kau tidak tanya aku?” Sambil terus berbicara keduanya terlibat dalam pertempuran.

“Apa?”

“Banteng Ngore.”

Kawung Sen berteriak seperti disengat kala. Tak pernah dalam hidupnya ada nama begini aneh. Banteng Ngore? Jurus apa pula ini? Soal gerakan banteng, ia yakin. Penamaan itu tepat. Akan tetapi dengan tambahan ngore, jadi lain sekali. Kawung Sen menarik pulang jalanya, sementara tubuhnya sendiri melayang ke atas. Pegas sekali sentakannya. Sekilas saja, ia bisa berada di atas jala yang siap mengurung Upasara.


Episode 2

Kalau tadinya Upasara meminta lawan menggunakan jala, itu semata-mata

taktik agar Kawung Sen melepaskan Gendhuk Tri dan Pu’un. Tetapi tidak mengira

sama sekali bahwa Kawung Sen jam” luar biasa. Jala itu sudah menyatu dengan

dirinya. Tak ubahnya Senopati Suro dengan kudanya.

Upasara sempat melihat bagian ujung simpul jala, Bagian itulah yang langsung

direbut lebih dulu. Jadi kalaupun kena jala, tak mungkin bisa dijerat.

“Boleh juga.”

Kawung Sen mengedut jalanya, hingga jadi menyimpang dan bergulung bagai

tambang. Upasara bisa menduga arah gerakan lawan. Sebelum jala tertebar ia lebih

dulu meloncat di antara prajurit Gelang-Gelang. Ia pasti akan merepotkan Kawung

Sen. Ia toh bakal repot menjala salah seorang di antara begitu banyak orang. Dengan

cerdik Upasara menggunakan prajurit Gelang-Gelang untuk perisai.

“Awas leher. Ini serangan banteng yang mengutamakan menyerang secara

total. Dua tangan ini berfungsi sebagai tanduk. Tapi mesti diperhatikan juga bagian

lambung. Serangan ini variasinya cuma sekitar lambung ke atas. Jangan dilawan,

hadapi dengan kekuatan yang lebih besar.

“Bagus.

“Awas yang berikutnya. Punggung sebelah kanan. Bedanya dengan banteng,

mereka binatang yang tak mungkin mengubah letak tanduk. Pada manusia bisa. Ouit,

kenapa kaki saya yang diserang. Kaki banteng adalah kuda-kuda yang terkuat-

“Bagus, tarik. Ganti yang lain. Ayo gunakan jala. Kekuatanmu di jala. Tanpa

jala sama saja tidak bertempur. Seperti bohong-bohongan saja. Tebarkan.”

Bagi Upasara bertempur sambil berbicara bukan hal yang sulit. Ia bisa

memecah perhatian dengan baik. Apalagi memang kelebihannya justru dalam

berbicara. Dalam sepuluh gebrakan berikutnya, Kawung Sen tercecer. Hanya bisa

menangkis sambil terus mundur.

“Awas Banteng Noleh.”

Persis seperti banteng menengok, Upasara memutar dua tangan dengan

gerakan kaku. Dalam bingungnya Kawung Sen menjajal tenaganya untuk diadu.

Dalam saat yang bersamaan, lututnya kena digempur. Tanpa bisa berdiri lagi, Kawung

Sen tertekuk ke depan. Usahanya terakhir ialah menjerat lawan dengan jala. Di atas

angin, Upasara bisa membalikkan gerakan jala itu menutup dirinya sendiri.

Kawung Sen terkurung dalam jala.

“Nah, bagaimana kalau kau kumandikan?”

“Bagus, aku menyerah kalah. Tetapi bagaimana mungkin ada jurus Banteng

Ngore?”

“Ada saja. Justru itu yang menarik. Selama ini kau pasti hanya mengenal Bango

Ngore, Gagak Ngore, atau paling jauh Jaran Kore. Memang hanya sejenis burung yang

bisa menisik bulu-bulunya. Tetapi banteng kan juga bisa!”

“Bagaimana mungkin?”

Upasara melepaskan jala.

Kalau badannya gatal, banteng cukup menolehkan kepalanya.

‘Bagus. Bagus. Hari ini aku tambah pelajaran lagi.

“Kita akan bertemu lagi. … , , ,.

Upasara berjalan ke depan. Kawung Benggol menyerbu, menghadang di

“Biarkan dia, Kakang,” suara Kawung Sen terdengar berat. “Biarkan

Upasara berlalu.” . . .

Kawung Benggol menggertakkan kakinya ke tanah, saking kesalnya. Upasara tidak

memedulikan. Ia terus berjalan ke depan. Para prajurit Gelang-Gelang tak ada yang

berani mengganggu. Hanya saja satu bayangan berkelebat masuk.

“Hehehe… kau belum menjelaskan ilmu Kerbau Gendheng. Dan aku sudah

bilang, siapa pun yang tak mau menyembah harus mati.”

Ugrawe mengayunkan tangan. Gerakannya lurus, lalu turun ke bawah dan

ditarik masuk.

Sekejap Upasara merasa berdiri di atas pasir yang ditelan laut. Tanah di

bawahnya seperti bergerak. Tenaga mengisap yang sangat kuat. Upasara merasa tak

bakal bisa mengeluarkan tenaga untuk melawan. Sama tak mungkinnya untuk

menghindar lari. Dua-duanya akan menyebabkan ia kehilangan keseimbangan badan

dan membuat ia masuk dalam pusaran lawan.

Upasara meloncat sedikit. Lalu tubuhnya turun kembali dan tetap tegak di atas

kedua kakinya.

“Maju.”

Ugrawe mengulangi gerakannya.

Upasara memantul kedua kalinya, kali ini dengan memutar badannya. Bagai

gasing. Lalu turun kembali dengan tersenyum.

Dua kali Ugrawe mengeluarkan ilmunya, tetapi Upasara bisa menjawab

dengan manis. Padahal semua ini hanya dimungkinkan karena Upasara memiliki

kejituan dalam menjawab gerakan menyerang Ugrawe. Ketepatan inilah yang

sebenarnya tadi menolong Upasara dalam menundukkan Kawung Sen.

“Upasara, kau mau membantah perintahku?”

“Dalam dunia ini, siapa berani membantah Pujangga Pamungkas? Bahkan Raja

Muda Gelang-Gelang pun tak akan berani. Bahkan sejarah pun tak berani mengatakan

yang lain. Kalau Pujangga Pamungkas mengatakan Ken Arok menurunkan raja

rampok, siapa yang berani membantah?

“Bahwa kini Raja Muda Gelang-Gelang ingin mengembalikan takhta kepada

yang lebih berhak, kepada darah priyayi, siapa yang membantah?”

“Hehehe, tak nyana lidahmu tajam sekali. Ketahuilah, anak ingusan, hari ini

aku akan meratakan Keraton Singasari.

“Apa susahnya? Sekarang pun sudah bakal rata. Adalah percuma kau

menamakan dirimu Pujangga Pamungkas, kalau ternyata tak berani mengakui

sendiri”

Perhitunganmu terlalu rumit. Dengan prajurit sebanyak ini, kalian sudah bisa

masuk Keraton. Dengan Raja Muda Gelang-Gelang berada di depan, pintu Keraton

akan terbuka. Dan pemberontakan yang dulu bisa diulangi dengan hasil yang

sempurna.

“Kenapa kau terlalu kuatir? Begitu kau bisa memancing semua ksatria ke

Perguruan Awan, niatmu sudah terlaksana. Kenapa berpikiran kerdil dengan

membunuh kami semuanya? Perwira satu dibunuh, esoknya akan ada dua. Ksatria

mati satu, esoknya bakal muncul yang lain.

“Membunuh seekor burung, tidak bisa merebut hutan. Karena burung telurnya

banyak, dan tetap tak berani untuk merebut hutan. Seekor harimau tua yang

terbunuh, seluruh isi hutan bakal tunduk.”

Dengan cerdik sekali Upasara mencoba melempar umpan mengenai strategi

Ugrawe yang ingin merebut takhta Keraton. Burung adalah perumpamaan untuk

prajurit atau senopati. Sedang harimau adalah perumpamaan untuk Baginda Raja.

Semua penduduk mengetahui bahwa Baginda Raja sering diumpamakan sebagai

harimau, si raja hutan.

“Harimau sudah tua dan gering. Untuk apa dirisaukan dan ditakuti? Tetapi

dengan meratakan hutan, akibatnya akan lain. Semut dan anai-anai pun akan menjadi

musuhnya.”

Ugrawe mengerutkan keningnya. Jeli sekali anak muda ini. Tidak mungkin

berita rahasia dari Adipati Wiraraja kepada Jayakatwang bisa diketahui anak semuda

ini, apa pun pangkat dan kedudukannya dalam Keraton Singasari.

Bahkan di dalam Gelang-Gelang pun mungkin tak ada tiga yang mengetahui

secara persis isi surat itu. Surat itu adalah surat yang kelewat rahasia. Ditulis dalam

tembang, penuh dengan perumpamaan. Raja Muda Gelang-Gelang memang

menyerahkan kepada Ugrawe untuk ikut membaca. Surat rahasia Adipati Wiraraja

dari Sumenep memberi isyarat bahwa ini adalah saat yang tepat untuk berburu.

Seorang pemburu ksatria, adalah seorang yang tepat memilih sangat. Sangat artinya

waktu. Dan sekarang ini, tak ada yang menjaga hutan selain harimau tua. Selebihnya

hewan kecil, dan tanah tandus. Dalam surat Adipati Wiraraja itu yang dianggap

harimau tua adalah Mpu Raganata. Pujangga Keraton yang masih dianggap batu

karang yang perlu diperhitungkan.

Senopati yang lain sama sekali tak masuk perhitungan. Bahkan Senamata Karmuka

pun tidak terlalu dianggap. Karena dalam banyak hal, Baginda Raja tidak begitu

menyukai kesetiaan yang ditunjukkan Senamata Karmuka. Dan sesungguhnya,

Baginda Raja Singasari tidak sependapat dengan siapa pun. Termasuk Mpu Raganata!

Memang ada sedikit penafsiran yang keliru. Di sini, Upasara mengumpamakan

Baginda Raja sebagai harimau. Sedang yang diperebutkan hutan itu sendiri.

“Tahu apa kau tentang hutan?”

“Sebagai orang yang dibesarkan di tengah hutan, saya tahu mengenai

segala yang hidup di dalamnya. Tentang harimau atau binatang kecil

lainnya.”

“Hehehe, kau tahu sekarang sudah saatnya berburu?”

Upasara merinding melihat sorot mata Ugrawe yang seperti mau menelannya

bulat-bulat tanpa mengunyah.

“Setiap saat adalah saat yang baik bagi pemburu yang siap,” suaranya menjadi

sangat rendah. Antara terdengar dan tidak. Sebenarnya Upasara merasa sangat sedih.

Karena apa yang dikatakan menggambarkan kenyataan yang sebenarnya.

Ugrawe berpikir mendengar nada sedih. Ia tak pernah menyangka bahwa

dalam hidupnya bakal bertemu seorang pemuda yang masih muda usianya akan tetapi

mempunyai kecerdikan dan kepandaian yang bisa diandalkan. Caranya bisa

mengalahkan Kawung Sen menunjukkan bahwa Upasara mempunyai kelebihan yang

secara tepat dimanfaatkan.

Ugrawe mencoba dengan melontarkan pertanyaan.

“Cah bagus, bocah bagus, kau mempunyai bakat sebagai pemburu.”

Mata Upasara berkilat. Ia tidak menyembunyikan perasaan geramnya. Kalau ia

tiba-tiba menerima tawaran kerja sama, diangkat sebagai barisan “pemburu”, Ugrawe

pasti mengetahui taktiknya ini. Justru karena menebak, Upasara menunjukkan wajah

sengitnya.

“Saya lahir dan dibesarkan di hutan ini, bagaimana mungkin saya menjadi

pemburu?” Lalu disertai tarikan napas pendek. “Saya mungkin bisa membantu. Akan

tetapi mengharapkan saya menjadi pemburu, lebih sulit dari membunuh.”

“Kuhargai keberanian dan kesetiaanmu. Cah bagus, dalam hutan kaukatakan

ada harimau tua. Tinggal harimau tua. Ataukah ada binatang buas yang lain?”

“Harimau tua si raja rimba hanya dijaga harimau tua yang tidak sependapat

dengannya. Memang kalau harimau si raja hutan mendengar nasihat harimau tua

yang empu, pemburu tak akan sempat merebut. Tetapi itulah kenyataan. Itulah

takdir.”

“Aku menanyakan binatang buas yang lain.”

“Apa artinya seekor atau dua ekor binatang buas yang lain kalau ia tak berada

di sarangnya?”

“Setua-tuanya harimau, cakarnya masih keras juga.”

“Itulah kalau sempat mencakar. Kalau pemburu sudah dikenal sang harimau,

apa susahnya mengelus ekor atau kumisnya?”

“Bagaimana caranya mengelus?”

“Aku tak percaya padamu.”

“Ayo, ikut.”

Sekali ini Ugrawe tidak memaksa. Ia berjalan lebih dulu. Meloncat ke depan.

Upasara ikut meloncat, namun ia harus menutul tanah dua kali untuk bisa menjaga

jarak.

Sampai di depan tenda, Ugrawe menghaturkan sembah.

“Mohon Baginda berkenan menerima hamba.”

“Masuklah, tanpa perlu basa-basi di saat seperti ini, Paman Guru.”

Ugrawe menghaturkan sembah lagi. Upasara menunduk, memberi hormat,

tapi tidak bersila menyembah. Keduanya hampir seiring masuk ke dalam tandu.

Tadinya Upasara menduga Raja Muda Gelang-Gelang berada dalam tandu—yang

cukup sempit. Akan tetapi tandu itu ternyata hanya merupakan pintu saja. Karena

bagian belakangnya bisa disingkapkan, dan keduanya berjalan masuk. Ke dalam suatu

tenda. Diam-diam Upasara memuji tempat rahasia yang tidak pernah diduganya.

Seperti antara tandu dan kemah tidak ada hubungannya. Upasara juga memuji Raja

Muda Gelang-Gelang yang mampu mengirim suara berjarak. Hingga seolah suara itu

muncul dari tandu.

Sampai di kemah Upasara turut menghaturkan sembah. Ini bukan karena

Upasara memperajakan Raja Muda Gelang-Gelang. Ini semacam adat-istiadat kepada

seorang raja muda. Kalaupun Raja Muda Gelang-Gelang berada di Keraton Singasari

dan ia disuruh menemui, ia akan melakukan hal yang sama.

“Bagaimana, Paman Guru?”

“Maafkan hamba, Baginda. Ada seorang anak muda yang tahu bagaimana cara

berburu harimau. Ia ingin menghaturkan sendiri rencananya kepada Baginda.”

Raja Muda Gelang-Gelang menepukkan tangannya dan para pengawal utama

pergi. Setelah diberi perintah untuk mendongak, barulah Upasara melihat siapa yang

dihadapi. Seorang raja muda yang tampan. Badan dan wajahnya sangat terjaga.

Bahkan sampai dengan mata serta alisnya. Kalau dilihat sekilas sulit membayangkan

bagaimana seorang raja muda yang begini tampan, yang seluruh tubuhnya seperti tak

pernah tersentuh debu dan panas matahari, mampu mengirim suara.

“Ceritakan, anak muda, siapa pun namamu.”

“Hamba hanya berani mengatakan kepada Raja Muda.”

“Aha, Paman Guru ini lebih tahu dari saya.”

“Maafkan, Raja Muda. Kami baru saja bertemu tadi.”

Ugrawe menghaturkan sembah.

“Biarlah hamba mengundurkan diri. Mau melihat suasana di luar.” Sambil

menghaturkan sembah, Ugrawe memusatkan tenaganya di tangan. Sampai tergetar.

Ini berani kalau Upasara membuat gerakan mencurigakan sedikit saja, tangan itu akan

terayun.

Upasara merasakan getaran itu. Ia tak mau bertindak bodoh. Ia tak akan

menyerang begitu saja. Meskipun Ugrawe telah pergi dari kemah, getaran udaranya

masih terasa.

“Katakan. anak muda.”

“Apa jaminan hamba setelah mengatakan rencana?”

“Walau aku belum raja penuh, kata-kataku sama berharganya dengan seorang raja.

Tak nanti aku menarik ucapanku. Kau akan selamat sampai akhir hayatmu.” “Sembah

nuwun…”

Belum selesai ucapan terima kasih, tiba-tiba terdengar teriakan keras. Angin

badai mengguncang tenda. Sampai menimbulkan gempa. Raja Muda Gelang-Gelang

meraih tombak di belakang kursi dengan sigap. Upasara bersiap. Belum sepenuhnya

bisa memasang kuda-kuda, tenda telah jebol terangkat ke atas, terbang bersama angin.

Sungguh tenaga yang luar biasa.

Bersamaan dengan itu terdengar deru angin keras. Teriakan prajurit yang

terkena sapuan.

Upasara baru melihat dengan jelas. Lembu Ugrawe sedang memutar kedua

tangan bersilangan sambil tubuhnya terus berputar keras. Yang terlihat hanya

gumpalan angin puting yang bergulung keras. Sementara dalam jarak dua tombak

salah seorang prajurit sedang meloncat mencoba menembus pusaran angin.

“Mati kau!”

Teriakan Ugrawe bagai geledek dan guntur sekaligus. Upasara tak bisa melihat

jelas apakah pukulan itu dua tangan ditepukkan atau apa, karena terlindung oleh

getaran angin yang sangat keras. Prajurit Gelang-Gelang meloncat tinggi sekali, ke

atas pohon, dan kemudian meluncur turun dengan sebat. Tujuannya menyerang ke

arah Raja Muda Gelang-Gelang.

Upasara berteriak dalam hati. Ia sama sekali tak menyangka yang menyamar

sebagai prajurit itu orang yang sangat dikenalnya! Ngabehi Pandu! Itu satu-satunya

gaya Ngabehi Pandu yang selalu diunggulkan. Hanya Wilanda yang bisa

menyamainya.

“Senamata busuk, tak akan lolos lagi kau!”

Badai angin terus melanda. Bayangan prajurit itu menyerbu masuk. Dua

tangan beradu sangat keras. Begitu saling menyentuh, Ugrawe mengganti belitan

berikut jotosan dan belum lurus sudah berubah lagi. Menjotos ke arah dada lagi,

ditangkis, ke arah wajah, ditangkis, ke arah selangkangan, ditangkis, ke arah dada,

ditangkis, ke arah dada lagi, ditangkis, ke arah dada lagi, ditangkis.

Entah berapa puluh kali dua-duanya mengadu tenaga keras. Partai keras—

sangat keras.

Hanya saja kenapa Ugrawe meneriakkan nama Senamata Karmuka dan bukan

Ngabehi Pandu? Bukankah itu Ngabehi Pandu?

Sejenak Upasara tak bisa mengerti siapa yang tengah bertempur didepannya. Ia

memang mendengar bahwa Senamata Karmuka dan Ngabehi Pandu adalah dua

bersaudara. Akan tetapi selama ini yang dikenal di dunia luar adalah Senamata

Karmuka. Ngabehi Pandu hanya dikenal di kalangan para pesilat. Dua saudara itu

sangat berbeda sifatnya. Ngabehi Pandu digelari si mayat bisu, sedang Senamata

Karmuka justru sebaliknya.

Sangat mungkin sekali ini adalah Senamata Karmuka. Karena setahu Upasara,

Ngabehi Pandu tak perlu menyamar sebagai prajurit segala.

“Angin kentut masih lebih keras dari ini. Aku maju lagi.”

Ugrawe menyerbu. Pukulannya yang menyerbu. Menyapu ke tanah, dan

terasa betotan yang luar biasa. Tangan yang satunya mengemplang dari atas. Belum

selesai sepenuhnya, gerakan diubah. Tangan yang sebelumnya menarik, lalu berbalik.

Yang tadinya menghantam, jadi menyedot. Putaran pergantian begitu mendadak

keras, dan terpatah-patah.

Gemuruh suaranya. Tanaman pendek di sekitar tercerabut beserta akar, dan

tanahnya ikut terbang, berputar di udara, dan kembali lagi. Lalu bagai disuntak

mendesak ke depan.

Ketika melawan Dewa Maut, Upasara merasakan betapa dahsyat ilmu

Membalik Arus Sampan, yang mempunyai dasar gerakan yang kurang-lebih sama.

Juga dalam mengatur tenaga. Akan tetapi yang disaksikan ini jauh lebih perkasa dari

itu.

Namun Upasara tak mau membuang waktu percuma. Siapa pun yang dihadapi

Ugrawe—Ngabehi Pandu atau Senamata Karmuka—ada di pihaknya. Dan dengan

keberanian besar berani menyerbu langsung ke dalam tenda. Sasarannya pastilah Raja

Muda Gelang-Gelang. Ini saat yang baik.

“Maaf…”

Upasara meloncat ke arah Jayakatwang, yang langsung memutar tombak.

Miring sabetan tombak yang ujungnya diberi bunga-bunga hiasan. Tangan kanan

Upasara berusaha menangkis persis di bawah ujung yang runcing, sementara tangan

kiri merebut bagian tangkai. Dalam gerakan pertama Upasara tidak ingin langsung

menyerang, akan tetapi berusaha memperdayakan. Maka ketika Jayakatwang

langsung menarik mundur tombaknya, Upasara sudah bersiap untuk mengubah

tangannya, agar tak tergores. Yang membuatnya agak was was adalah desis dingin dari

ujung tombak. Pertanda tombak pusaka yang linuwih, pusaka yang memperlihatkan

kelebihan setiap geraknya. Dengan menggeser kaki ke depan, Upasara tetap dalam

posisi merebut tombak. Kali ini yang dicengkeram adalah tangan Jayakatwang. Hebat

juga Raja Muda Gelang-Gelang ini Telapak tangannya membuka dan baik menangkap

tangan Upasara. Tinju Upasara seperti mau digenggam. Upasara menggunakan

sikunya untuk menyentil gagang tombak dan jotosannya diubah menjadi tangan kiri.

Plak. Terdengar suara keras. Gagang tombak bergoyang. Dua tangan beradu keras.

Jayakatwang justru maju ke depan. Mengarah ke leher lawan. Upasara memancal

tubuhnya dan kaki dan kini mulai menunjukkan bagian terakhir dan Banteng

Ketaton. Leher digerakkan miring sehingga pukulan lawan akan mengenai pundak,

akan tetapi serta-merta dengan itu tombak lawan dapat direbut. Tinggal membalik

arahnya kepada Jayakatwang sendiri.

“Maaf.” Lagi Upasara mengeluarkan seruan keras. Tombak bisa digenggam erat,

Hanya saja Upasara tidak memperhitungkan bahwa tombak itu ternyata bisa

dipatahkan di tengah. Upasara hanya memegang bagian ujung, sementara sisanya

justru untuk menusuk—ada pula bagian yang lancip. Menjadi dua buah tombak.

Tombak yang dipegang Upasara bisa menangkis, akan tetapi pundaknya bakal kena

sasaran. Akan tetapi Jayakatwang tidak bertindak maju, ia malah meloncat mundur.

Sedetik Upasara menduga bahwa lawan merencanakan serangan berikut, makanya ia

setengah menunggu. Akan tetapi ternyata Jayakatwang lebih suka tidak melibatkan

diri dalam pertempuran secara langsung. Cukup dengan menggerakkan tangannya,

puluhan prajurit langsung mengepung.

“Tangkap hidup-hidup semuanya.”

Belum prajurit itu maju, desir angin panas bergulung-gulung memadati

ruangan. Upasara tak habis pikir ketika merasa sedotan tenaga dalam Ugrawe sudah

berhasil menindihnya. Dua kali tadi Upasara berhasil menghindari gerak-gerak

sederhana Sindhung Aliwawar. Tapi sekali ini merasa darahnya digojlok habishabisan.

Rasanya darahnya mengalir tak karuan, bertubrukan di dinding-dinding

pembuluhnya. Belum bisa menguasai diri sepenuhnya, bayangan Ugrawe sudah

meloncat ke arahnya.

Bersamaan dengan bayangan Ugrawe bayangan lain masuk ke dalam lingkaran

angin ribut, dan langsung menyerang. Di tengah udara kedua bayangan itu memukul,

ditangkis, ditangkis, memukul, dan ketika turun lagi ke tanah, saling menjejak, dan

kembali ke atas lagi.

Ugrawe memang luar biasa. Justru ketika berada di atas, ia menghimpun

seluruh tenaganya dan seperti mendorong gunung, kedua tangannya terdorong ke

depan. Angin dahsyat mengimpit dengan keras, bagai gelombang laut yang

mengempas. Upasara meloncat mundur dan terdorong angin hingga tiga tombak.

Kakinya tak bisa berdiri tegak. Jatuh tergeletak. Dengan sigap ia bangun, menghadapi

keributan prajurit yang mendesak.

Luar biasa. Justru karena sebagian tenaga itu telah dapat ditangkis. Secara

kedudukan, Ugrawe lebih lemah. Karena ia berada di tengah udara. Nyatanya ia

terdorong mundur. Sambil berjumpalitan, sebelum kakinya menyentuh tanah,

pukulan berikutnya sudah susul-menyusul.

Kemah menjadi porak-poranda.

Daerah sekitar Ugrawe seperti tanah kosong. Prajurit yang mencoba

mendekat, terseret pusaran angin dan terpental. Kalau kemudian jatuh ke tanah tak

bisa bangkit lagi.

Ugrawe menyentak keras. Merampas bendera dan menggerakkan ke kanan, ke

atas. Barisan pun berubah. Kini semua bergerak ke arah Ugrawe. Menyerbu ke satu

titik.

Upasara melawan arus prajurit yang menyerbu ke arahnya. Ia berusaha

membuka terobosan, akan tetapi selalu saja terdesak mundur kembali. Terpaksa

mengurung diri dengan kerisnya.

“Anak yang tak tahu diuntung, terimalah kematianmu!”

Suara Ugrawe sangat dekat di punggung Upasara.

“Jangan takut.” Terdengar teriakan dingin yang sama kerasnya. Pu’un berdiri

menghadang.

“Pu’un, hari-hati!”

Teriakan Upasara tak berguna. Ugrawe telah memutar kedua tangannya di atas

kepala. Angin puting beliung tercipta, dan dengan seruan keras putarannya tertumpah

ke arah Pu’un. Pu’un menggeram seperti seekor harimau. Ia justru masuk ke dalam

pusaran angin.

Terdengar suara dingin Ugrawe, dua buah tangan yang berputar di udara,

meliuk ke arah Pu’un. Yang langsung datang menyambut. Dua tangan beradu, dan

dalam sekejap tubuh Pu’un seperti terpelintir, ikut berputar. Ugrawe terus memutar

tubuh Pu’un di udara. Disertai gelak yang memekak ia melemparkan tubuh ke atas.

Sebelum tubuh menyentuh tanah, kaki Ugrawe menendang bagian dada, leher, dada

lagi, dan leher lagi.

Begitu jatuh di atas tanah, Ugrawe meloncat ke atas dan mendarat tepat di

dada Pu’un.

Ketika Ugrawe menyerbu tadi, prajurit jadi terbelah. Tak ada yang berani

mendekat. Kesempatan ini digunakan Upasara untuk meloloskan diri. Ia menerobos

dan dengan cepat meninggalkan pertempuran. Masih mendengar teriakan keras Pu’un

sebelum yang terakhir ini mengembuskan napas penghabisan.

“Wulung, jangan pedulikan. Lakukan tugasmu.”

Jagaddhita meloncat mendampingi. Bayangan Ugrawe berkelebat masuk.

Jagaddhita mengangkat seorang prajurit untuk dilemparkan ke arah Ugrawe. Yang

langsung ditangkap dan dibanting. Tak sempat kaget dan berpikir lagi, si prajurit telah

meninggal dunia.

Jagaddhita menggunakan prajurit yang bisa dipegang sebagai senjata. Akan

tetapi Ugrawe tak memikirkan keselamatan prajuritnya sendiri. Setiap lemparan yang

datang ditangkis dengan tangan dan tendangan.

Sembilan nyawa prajurit secara berurutan jadi korban main lempar-lemparan.

Dengan keras Ugrawe melempar balik setiap umpan yang datang. Pada korban yang

kesembilan, Ugrawe mengubah. Ketika dilempar lagi, ia bukan menolak seperti

biasanya. Melainkan menangkap dan membalikkan. Tapi yang melayang ke depan

bukan tubuh prajurit, melainkan tubuhnya sendiri. Dua telunjuknya terjulur ke

depan, sementara ketiga jari yang lain tertekuk ke dalam. Seperti mau mencungkil

mata Jagaddhita.

Jurus ini berbeda dengan jurus yang selalu diunggulkan sebelumnya. Ugrawe

kini menyerbu Jagaddhita dengan totokan dua jari yang menggunakan tenaga dalam

yang penguasaannya mirip dengan tenaga dalam Jagaddhita. Dua jari yang terulur ini,

satu berisi tenaga yang sesungguhnya dan satu lagi berisi tenaga biasa. Kelebihan

pengaturan tenaga ini. lawan menjadi bingung untuk menentukan di jari yang mana

tenaga sesungguhnya tersimpan.

Sebenarnya itu tidak menjadi soal benar, andai bukan Ugrawe yang

memainkan. Toh perbedaan jarak antara jari yang satu dan yang kedua sangat dekat.

Apalah artinya kalau tinggal menyampok saja. Namun, meskipun jaraknya dekat, daya

pancarnya berbeda. Satu jari diangkat ke atas, bisa mengarah ke mata. Satu jari lain

ditundukkan ke bawah, bisa menotok ke arah pinggang.

Lebih menyulitkan lagi, karena Ugrawe menggunakan empat jari dua tangan

yang menyerang serentak. Menghadapi pertempuran jarak pendek, Jagaddhita

keteter. Lima jurus berikutnya, kakinya sudah terlalu sulit untuk mengatur

pertahanan. Dan dalam sekejap saja ia sudah terkurung. Tinggal waktu saja.

Berada pada titik kritis, Jagaddhita memancing dengan serangan balik. Dua jari

tangan kanan dibiarkan menelusup ke depan, ia membarengi dengan sentilan ke arah

jakun. Ugrawe berseru dingin. Ia terus menerjang. Kalau tipuan yang sama

pernah dipraktekkan Jagaddhita kepada Pu’un, kali ini ternyata hasilnya berbeda.

Justru Ugrawe tidak memedulikan sentilan ke arah jakunnya. Tangan kiri meraup ke

depan, angin berdesir dari samping, langsung menghantam tangan Jagaddhita.

Mengira kecolongan, Jagaddhita mencoba menarik balik tangannya.

Duk!

Tubuh Jagaddhita bergoyang. Tersurung mundur tiga tindak.

Ugrawe meloncat maju sekali lagi. Jagaddhita meloncat ke atas sambil berbalik.

Ia melancarkan pukulan dengan punggung menghadap ke arah lawan. Tanpa

memedulikan serangan lawan, Ugrawe terus menjotos.

Duk.

Kali ini tubuh Jagaddhita terayun dan terbanting di tanah.

“Ayo menyanyi lagi tentang waktu kecil temanmu adalah bidadari. Sekarang

diganti, waktu mati temanmu adalah cacing busuk.”

Tangan kiri Ugrawe berputar satu lingkaran sementara tangan kanan terbuka

telapaknya. Sekali terayun, Jagaddhita tak bakal bisa menghindar. Kemungkinan

paling kecil hanya bisa menangkis dengan sisa tenaganya.

Upasara sudah meloncat beberapa tombak jauhnya. Akan tetapi ia merasa tak

tega melihat adegan yang mengerikan. Untuk menolong sudah tak mungkin. Bahkan

kalau ingin melemparkan kerisnya pun rasanya hanya sedikit artinya. Bisa

merepotkan Ugrawe tetapi tetap tak menolong Jagaddhita. Upasara menjilat bibirnya.

“Jangan kuatir, Bibi, aku akan menunaikan tugas terakhir. Kematian bukanlah

akhir. Kehidupan bukanlah awal. Yang muda bisa mati, yang tua lebih lama.”

Upasara melakukan sembah, lalu berbalik.

Ugrawe menganggap bahwa Upasara adalah yang paling cerdik dari semua

yang hadir. Perhatiannya sempat terpecah juga dengan kata-kata yang diduga

mempunyai sayap lain.

Siapa yang dimaksudkan dengan yang tua?

Apakah hal ini menyinggung Eyang Sepuh?

“Anak muda, soal mati-hidup bibimu ini hanya soal kapan aku membalik

telapak tangan. Hiburanmu tak akan berguna.”

“Ugrawe, kau selalu berhitung sangat teliti dan rapi. Kau sudah menang. Untuk

apa ragu lagi? Aku sekadar mengacau perhatianmu. Agar kau tak seketika membunuh

Bibi. Mungkin dengan begitu akan ada pertolongan datang. Kenapa kau menduga

Eyang Sepuh bisa meloloskan diri dan bakal melaporkan hal ini ke Keraton? Sampai

sekarang pun kita sama-sama tidak tahu di mana Eyang. Apakah masih bersembunyi

di sini, ataukah sudah berada di Keraton, ataukah sedang ditawan lawan yang entah

dari mana, atau justru menemui Tamu dari Seberang. Ugrawe, kau boleh

merencanakan tipu daya macam-macam. Mengundang para pendekar kelas satu

kemari, dengan umpan Tamu dari Seberang. Dan kenyataannya kau berhasil

mengundang semuanya. Aku mengatakan semuanya, meskipun kau sendiri hanya

membawa Kawung Bersaudara dan mengandalkan prajurit-prajurit yang lain.

“Satu hal kau lupakan, bahwa umpan yang kausodorkan berdasarkan

perhitungan yang matang. Dan perhitungan itu, memang memungkinkan bahwa

Tamu dari Seberang akan datang. Siklus datangnya persis saat-saat sekarang ini.

Bahwa yang dituju adalah Perguruan Awan, itulah satu-satunya tempat yang

memungkinkan.

“Ugrawe, tidak sadarkah bahwa yang kauanggap jebakan, itu sebenarnya bisa

terjadi? Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin Pu’un yang dari ujung barat tanah

Jawa bisa datang kemari pada waktunya?”

“Aku senang caramu bicara. Kau sangat cerdik. Lebih cerdik dari muridmuridku.

Tapi mana mungkin aku terkecoh dengan akal bulusku sendiri? Tamu dari

Seberang tak pernah ada. Ken Arok zaman dulu hanya membuat kisah itu untuk

memantapkan Kehadirannya. Ia mencari persamaan dengan dewa-dewa sebagai

nenek moyangnya. Ia mencari darah biru. Tapi sesungguhnya ia perampok besar,

bromocorah yang bisa naik takhta. Dan semua keturunannya adalah keturunan

perampok besar. Yang hanya akan menghancurkan, yang hanya akan merampok

tanah Jawa. Termasuk Kertanegara.”

“Tugasmu mulia, Ugrawe. Kau ingin mengembalikan takhta di tanah Jawa ini

kepada darah biru, darah para dewa. Hanya saja kenapa kau melakukan seperti kerja

para perampok?”

“Ini urusanku. Itu tanggung jawabku sendiri.”

Telapak tangan Ugrawe bergetar.

“Jagaddhita, hari ini terimalah kematianmu. Sudah kukatakan, Upasara hanya

memperpanjang waktu saja. Langit pun tak bisa membantumu.

Jagaddhita bangun dengan susah. Rasa nyeri dua pukulan seperti meremukkan

isi tubuhnya.

“Kau salah perhitungan, Ugrawe. Gendhuk Tri bisa menolong Bibi….”

Ugrawe meleletkan lidahnya. Hingga menyentuh kumisnya.

“Anak ini sudah kena sirep Pu’un. Tak akan ada yang membebaskannya.”

“Kau cerdik, akan tetapi salah perhitungan. Pu’un telah membebaskan

pengaruh sihirnya. Gendhuk Tri, kau bisa menyerang Ugrawe seketika.”

Teriakan Upasara mengguntur. Memang, dalam perhitungan hanya Gendhuk

Tri yang bisa menyelamatkan Jagaddhita. Pertama karena ia tak diduga bakal

menyerang secara tiba-tiba. Kedua, posisinya sangat dekat dengan Ugrawe dan

Jagaddhita, tanpa dicurigai.

Dengan memberi komando, Upasara mengharap Gendhuk Tri segera

bertindak. Upasara menduga bahwa Gendhuk Tri sudah dibebaskan pengaruh

sihirnya oleh Pu’un. Karena keduanya sudah diringkus bersama di dalam jala Kawung

Sen.

Ternyata perhitungan Upasara meleset.

Gendhuk Tri menoleh ke arah Upasara, akan tetapi. tak bereaksi. Sinar

matanya masih kosong saja.

“Gendhuk… sekarang!”

Ugrawe mengelus kumisnya.

Jagaddhita terhuyung ke belakang.

Suasana sekeliling terasa hening mencekam. Upasara menggertakkan

gerahamnya.

Jagaddhita menerawang pasrah.

kenapa harus bersedih hati..

waktu kecil tontonanmu adalah bidadari…

Mendadak terjadi perubahan. Gendhuk Tri seperti tersadar, dan mencabut

patrem dan setagennya, langsung meloncat ke arah Ugrawe. Pusat perhatian Ugrawe

memang sepenuhnya tertuju kepada Jagaddhita. Ia tak mengira sama sekali bahwa

Gendhuk Tri bakal meloncat langsung ke arahnya. Meloncat dan mendaki tangan

Ugrawe. Begitu berada di atas, patrem Gendhuk Tri menyabet ke bawah dengan cepat

sekali. Irisan tajam mengarah ke wajah!

Berteriak pun Ugrawe tak sempat. Tangan kanan yang dipakai pancalan,

ditarik mundur. Berikut tangan kiri berusaha menutup wajah. Tenaga terkumpul di

tangan sedemikian kuat, sehingga arah patrem melenceng ke kiri. Tak urung,

menyambar, daun telinga Ugrawe kena diiris. Darah muncrat membanjir, Ugrawe

melontarkan tubuhnya ke belakang dan dua tangannya kini menyambar ke atas.

Gendhuk Tri tidak menarik mundur serangan kedua, malah berusaha melompat maju

lagi. Dengan cara berjumpalitan di angkasa.

Upasara meloncat maju bersamaan dengan gerak Gendhuk Tri tadi,

menyambar tubuh Gendhuk Tri dan membawa lari. Perhitungan Upasara tepat dan

menentukan. Karena saat itu Ugrawe sudah melontarkan pukulan andalannya. Bumi

seperti tergetar. Menggandeng Gendhuk Tri, Upasara meluncur sambil tangan kirinya

menyambut uluran tangan Jagaddhita. Dalam sekejap ketiga tubuh melayang ke arah

jauh.

Walau dalam keadaan terluka, ilmu meringankan tubuh Jagaddhita masih bisa

diandalkan. Dengan empat kali loncatan, mereka telah terbebas dari serangan

Ugrawe.

Sementara itu Ugrawe tidak langsung menyerbu. Ia memegangi telinganya

yang telah. somplak. Darah yang mengucur segera dihentikan dengan memijit urat di

dekat pelipis. Lalu tangannya merampas bendera dan memberi komando untuk

serbuan total. Kini seluruh prajurit menyerbu ke arah satu jurusan.

Bagi Upasara, Gendhuk Tri, dan Jagaddhita tak terlalu sulit untuk meloloskan

diri. Akan tetapi di depan berdiri Kawung Benggol yang menunggu. Dengan tetap

bergandengan tangan, ketiganya melabrak lawan. Menduga lawan bakal mengeroyok,

Kawung Benggol yang sudah terluka tangannya tak berani adu keras lawan keras. Ia

menarik pukulannya. Kesempatan ini digunakan Upasara untuk terus menerobos

maju.

“Gendhuk, kau tak apa-apa?”

“Entahlah,” jawab Gendhuk Tri. “Kadang aku seperti mengantuk.”

“Masih mengantuk?”

Tak ada jawaban.

Upasara menggeleng lembut. Ternyata pengaruh sihir Pu’un masih sangat

kuat. Belum bisa dibebaskan sepenuhnya. Hanya waktu Jagaddhita mendendangkan

tembang yang dikenal tadi, ingatannya pulih normal. Kini masih bengong kembali.

Di arena yang lain, Kawung Ketip beserta puluhan prajuritnya menyerbu ke

arah rombongan yang dilindungi oleh Tiga Pengelana Gunung Semeru.

Wilanda terhuyung-huyung, sementara Dewa Maut mencoba menjaga

Padmamuka yang kelihatannya makin berat. Obat bubuk yang ditaburkan dalam

badannya ternyata menjadi racun yang keras. Dewa Maut tak tahan. Ia bopong

Padmamuka dan mencoba mencari jalan sendiri.

“Jangan keluar dari lingkaran,” Panengah berteriak memberi peringatan. Ia

sendiri mengubah tempatnya, mencoba mendampingi Dewa Maut. Pembarep dan

Wuragil segera mengikuti gerak Panengah, agar bentuk lingkaran sebagai payung

tetap kuat.

Apa yang dikuatirkan Panengah memang terjadi. Begitu menerobos ke luar, Dewa

Maut sudah langsung terkurung. Kawung Ketip menyabet kaki Dewa Maut, yang

langsung menjadi limbung karenanya. Tubuhnya bergerak-gerak, Padmamuka sendiri

lepas dari bopongannya. Tubuhnya jatuh ke tanah, dan Kawung Ketip menendang

keris.

Terdengar teriakan mengaduh perlahan, tubuh Padmamuka membal ke atas.

“Toleee…” Dewa Maut menjerit, berusaha bangkit. Akan tetapi luka dalam

membuatnya makin parah. Darah segar muntah dari bibirnya, Sebagian berwarna

gelap. Belum bisa berdiri lurus, Kawung Ketip sudah melontarkan pukulan

berikutnya.

Dewa Maut tak berkelit, tak menghindar. Tujuannya hanya satu, mendekat ke

arah Padmamuka. Kena senggol angin pukulan saja, Dewa Maut langsung terguling.

Tubuhnya jatuh bagai pisang ditebang. Rubuh seketika. Tangannya mencoba

menggapai ke depan, tetapi seperti memegang udara kosong.

Jaghana yang melihat Kawung Ketip mencoba menerjang lagi, cepat sekali

menggulung dirinya. Masuk ke dalam perkelahian. Kawung Ketip bersiap, tapi

seketika ia terseret arus berputar. Tak ada jalan lain. Ia ikut berputar masuk dalam

lingkaran.

Kalau saja Upasara sempat mengamati dengan teliti, ia bisa mengerti bahwa

kini yang dimainkan Jaghana adalah permainan sepenuhnya. Bukan seperti ketika

menghadapi Upasara tadi. Pesat bagai gasing, Jaghana berputar melipat. Makin lama

putarannya makin sempit, sehingga jarak keduanya makin dekat, makin dekat, makin

lekat, dan akan saling menempel.

Kawung Ketip bukan jagoan sembarangan. Ia dulu, bersama dua adiknya,

termasuk yang menyerbu sampai ke dinding Keraton Singasari. Ilmunya tidak

sembarangan. Apalagi selama menyembunyikan diri ini, Kawung Ketip makin

memperdalam. Hanya saja sekarang ini yang dihadapi adalah lawan yang sekelas

dengannya. Sebelum ia mengembangkan ilmunya, sudah terpancing jenis permainan

lawan. ilmu berputar memang bukan ilmu yang bisa dipelajari dengan mudah. Mana

lagi ia membuat kesalahan fatal, yang baru diketahui kemudian. Ketika menendang

tubuh Padmamuka tadi, secara tidak langsung ia terkena racun. Kakinya yang untuk

menendang mulai terasa kesemutan. Itu tentu saja menghambat kemampuan

geraknya.

Sebaliknya Jaghana justru sedang berusaha melipat habis. Telapak tangannya

berputar, sementara tubuhnya sendiri terus berputar. Merasa bahwa lawan makin

tertekan, Jaghana mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Kawung Ketip berusaha membetot lawan. Bagian yang diserang di arah

selangkangan. Melihat lawan begitu licik, Jaghana menjadi lebih kuat. Tangan lawan

ditangkap, sementara tubuhnya terus berputar. Kali ini Kawung Ketip benar-benar

turut berputar sambil berpegangan. Satu tangan lagi mencoba menyodet lubang

hidung. Jaghana menangkap pula. Lengkaplah kini. Dua tangan berpegangan, saling

menggempur dengan menyalurkan tenaga dalam. Kawung Ketip berusaha, sementara

terus berputar mengangkat lututnya. Lagi-lagi yang diarah adalah selangkangan.

Risikonya bukan tidak ada. Kuda-kudanya menjadi agak timpang. Akan tetapi

kalau sodokannya mengena, Jaghana bakal habis di sini. Paling tidak bakal ada yang

pecah kena sodokan lutut. Tapi justru Jaghana melihat kelemahan lawan. Begitu kaki

lawan terangkat, satu kaki langsung menyapu. Keras, cepat, dan menebas. Kena gaet

satu kakinya, Kawung Ketip mengeluarkan suara tertahan. Gempuran kaki Jaghana

bukan hanya sangat keras, tetapi membuat ngilu sampai ke sumsum. Tak tahan,

Kawung Ketip berusaha mencengkeram lawan dengan kencang, seperti mau

memencet urat nadinya.

Jaghana justru merasa bagian bawah lawan tak ada perlawanan sama sekali.

Gempuran kaki berubah menjadi semacam gaetan, dan ketika disentakkan, Kawung

Ketip melayang di angkasa.

Wuragil berseru keras sambil meloncat dan mengayunkan pedangnya. Tiga

kali menebas, tiga-tiganya bisa mengenai tubuh lawan. Sebelum tubuh Kawung Ketip

menyentuh tanah, sudah terpisah menjadi tiga potong.

Kawung Benggol tak menduga bahwa kakak sulungnya begitu cepat bisa

ditaklukkan lawan. Dalam geramnya ia mengayunkan rantai panjang, menyerang

Wuragil dari belakang. Di tengah udara, Wuragil membalikkan tubuhnya, menyabet

rantai lawan. Pedangnya bisa dilihat. Kawung Benggol menyentakkan. Meskipun

sebenarnya dua tangan, dan terutama kakinya, terluka, akan tetapi tenaganya cukup

kuat. Apalagi dibandingkan dengan Wuragil yang masih berada di angkasa. Pedang

Wuragil bisa terlepas. Dalam sentakan berikutnya, Kawung Benggol melepaskan

libatan, dan pedang itu berbalik meluncur ke arah pemiliknya.

Pembarep meloncat ke atas, sementara Panengah langsung memasang kudakuda.

Ternyata Pembarep naik ke atas pundak Panengah. Di atas bahu Panengah,

Pembarep mengayunkan tangan, dan menangkap pedang. Sementara itu, Wuragil

melayang turun dengan aman.

Hebat gerakan Trisula ini!

Karena begitu menyentuh tanah, Wuragil langsung ganti memasang kudakuda.

Melihat Kawung Benggol menyerbu masuk, Panengah meloncat. Dengan

Pembarep masih berada di pundaknya, ia meloncat maju dan hinggap di pundak

Wuragil!

Kini Tiga Pengelana Gunung Semeru berdiri tegak lurus satu sama lain.

Menjulang ke atas. Inilah yang disebut Semeru Manjing Langit, atau Gunung Semeru

Bersatu dengan Langit. Ini salah satu dari tiga jurus berantai andalan dari Gunung

Semeru. Konon jurus ini merupakan jurus yang berintikan penyerahan diri kepada

kekuasaan Yang Mahatinggi. Semeru Manjing Langit adalah sinonim dari Curiga

Manjing Warangka, atau Keris Kembali ke Sarungnya. Dalam pengertian Jawa ini

mengandung falsafah penyerahan diri secara total. Sering disebut-sebut sebagai

bersatunya umat manusia dengan Sang Maha Pencipta.

Pada Tiga Pengelana Gunung Semeru, jurus ini akan mencapai hasil maksimal

jika di antara ketiga ksatria bisa menyatukan pikiran. Seolah-olah hanya satu pikiran

tiga badan. Berdasarkan latihan bersama yang memakan waktu lama, kemungkinan

ini bisa tercapai. Walau ketiganya memiliki perangai yang berbeda, akan tetapi ketika

menghadapi lawan bisa satu kehendak. Seperti ketika Wuragil turun ke bawah tadi, ia

langsung memasang kuda-kuda, dan Panengah langsung hinggap di pundak Wuragil.

Sementara Pembarep tetap bertengger di atas.

Kalau tidak ada saling pengertian, gerakan itu tak bisa terwujud dengan

sempurna. Karena walau Wuragil sudah berdiri memasang kuda-kuda di depan, tidak

selalu kedua ksatria yang lain akan melakukan jurus Semeru Manjing Langit.

Tergantung pada situasi yang dihadapi.

Dan Wuragil cukup tanggap. Melihat Kawung Benggol meloncat tinggi, ia

langsung memasang dasar dari jurus andalan. Dan rupanya Panengah pun melihat

jalan keluar yang sama, sehingga langsung meloncat ke atas pundak. Kalau saat itu

Pembarep melihat kemungkinan yang tidak sama, ia bisa memilih gerakan tersendiri.

Tapi agaknya justru sekarang ini melihat satu titik penyelesaian yang sama!

Tak alang kepalang kagetnya Kawung Benggol! Ia sudah meloncat ke atas.

Yang dihadapi adalah tiga orang yang berdiri secara lurus satu sama lain. Sempat

tergetar hatinya, Kawung Benggol merasa makin tak bisa memusatkan pikiran. Mau

menyerang bagian yang mana. Bagian atas atau bagian tengah. Tak ada pilihan selain

harus menggempur semuanya. Dan ini dirasa tak menguntungkan. Kawung Benggol

tak sempat menutup diri sepenuhnya ketika tangan Pembarep menyentuh pundaknya

dan menekan ke bawah, sementara siku Panengah menyodok dada. Dua sodokan yang

masuk secara telak. Kawung Benggol belum bisa sepenuhnya merasakan rasa pedih

dan ngilu, ketika Wuragil menusukkan tombak yang diraup dari tanah.

Bagai sate besar, tubuh Kawung Benggol tertahan pada tombak, yang oleh

Wuragil disentakkan kembali ke atas. Dan Kawung Benggol melayang ke atas.

Panengah bisa menambahi dengan beberapa pukulan. Akan tetapi agaknya Pembarep

tidak tega. Ia lebih dulu mengulurkan tangan, merampas tubuh Kawung Benggol dan

melemparkan ke tengah prajurit yang datang menyerbu. Ia sendiri langsung turun,

disusul oleh Panengah) dan ketiganya membentuk barisan menahan serbuan. Bagi

Wuragil semua tadi adalah kesempatan untuk memamerkan kemampuannya. Sejak

datang ia kena dipecundangi, dan belum sedikit pun bisa memperlihatkan

kepandaiannya. Maka begitu Kawung Ketip dan Kawung Benggol menyerbu, ia

menyambut dengan gairah.

Berbeda dengan Pembarep yang paling tenang. Ia tak berniat jahat. Bahkan

kalau mungkin tak ingin membunuh lawan.

Namun Kawung Benggol tak bisa bertahan lama, Tubuhnya terlempar dengan

tombak masih menancap. Dua sodokan siku Panengah telah mengacaukan sistem

pernapasannya. Maka begitu berdentam di tanah, ia hanya berkelojotan sebentar lalu

terbaring untuk selamanya.

Ketiga Pengelana Gunung Semeru memasang barisan rapat. Setiap serbuan bisa

dihalau, meskipun dengan demikian mereka terpaksa bekerja sangat keras. Jaghana

juga turut menahan dari samping kiri, agar masih mempunyai ruang tersisa.

Rombongan Upasara juga mulai bergabung. Mereka terdesak dan terus

mundur.

Mendadak terdengar sangkakala ditiup sangat nyaring. Pasukan Gelang-

Gelang yang berada di depan tak masuk menyerbu- Bertahan. Sementara lapisan

ketiga di belakangnya, semua memasang anak panah yang ujungnya dibakar. Agak

jauh di tengah, Ugrawe berdiri di atas papan yang diangkat tinggi-tinggi.

“Panah api…”

Teriakan Ugrawe disusul dengan ratusan anak panah berapi menderu bagai disiram

dari langit. Beberapa bisa disampok, beberapa berbenturan sendiri. Namun tak urung

semua terdorong mundur dan makin mundur.

“Awas, beracun. Jaga pernapasan.”

Pembarep lebih dulu menutup diri.

Kedudukan memang makin sulit. Ratusan anak panah yang secara terusmenerus

dilepaskan adalah anak panah berapi. Bahaya sesungguhnya bukan berasal

dari api itu, melainkan berasal dari api yang padam. Asapnya akan mengeluarkan

sejenis bau yang menusuk hidung. Sebenarnya justru karena baunya yang sangit,

seperti kain terbakar, mudah cara menghindarinya. Hanya saja karena jumlahnya

kelewat banyak, asap tak bisa dihindari. Kalau panah tidak ditebas, apinya juga

menyulitkan.

Jagaddhita yang berjalan sempoyongan mulai merasa betapa ganasnya bau itu.

“Celaka, kita bisa habis di sini.”

Senopati yang lain sama sekali tak masuk perhitungan. Bahkan Senamata Karmuka

pun tidak terlalu dianggap. Karena dalam banyak hal, Baginda Raja tidak begitu

menyukai kesetiaan yang ditunjukkan Senamata Karmuka. Dan sesungguhnya,

Baginda Raja Singasari tidak sependapat dengan siapa pun. Termasuk Mpu Raganata!

Memang ada sedikit penafsiran yang keliru. Di sini, Upasara mengumpamakan

Baginda Raja sebagai harimau. Sedang yang diperebutkan hutan itu sendiri.

“Tahu apa kau tentang hutan?”

“Sebagai orang yang dibesarkan di tengah hutan, saya tahu mengenai

segala yang hidup di dalamnya. Tentang harimau atau binatang kecil

lainnya.”

“Hehehe, kau tahu sekarang sudah saatnya berburu?”

Upasara merinding melihat sorot mata Ugrawe yang seperti mau menelannya

bulat-bulat tanpa mengunyah.

“Setiap saat adalah saat yang baik bagi pemburu yang siap,” suaranya menjadi

sangat rendah. Antara terdengar dan tidak. Sebenarnya Upasara merasa sangat sedih.

Karena apa yang dikatakan menggambarkan kenyataan yang sebenarnya.

Ugrawe berpikir mendengar nada sedih. Ia tak pernah menyangka bahwa

dalam hidupnya bakal bertemu seorang pemuda yang masih muda usianya akan tetapi

mempunyai kecerdikan dan kepandaian yang bisa diandalkan. Caranya bisa

mengalahkan Kawung Sen menunjukkan bahwa Upasara mempunyai kelebihan yang

secara tepat dimanfaatkan.

Ugrawe mencoba dengan melontarkan pertanyaan.

“Cah bagus, bocah bagus, kau mempunyai bakat sebagai pemburu.”

Mata Upasara berkilat. Ia tidak menyembunyikan perasaan geramnya. Kalau ia

tiba-tiba menerima tawaran kerja sama, diangkat sebagai barisan “pemburu”, Ugrawe

pasti mengetahui taktiknya ini. Justru karena menebak, Upasara menunjukkan wajah

sengitnya.

“Saya lahir dan dibesarkan di hutan ini, bagaimana mungkin saya menjadi

pemburu?” Lalu disertai tarikan napas pendek. “Saya mungkin bisa membantu. Akan

tetapi mengharapkan saya menjadi pemburu, lebih sulit dari membunuh.”

“Kuhargai keberanian dan kesetiaanmu. Cah bagus, dalam hutan kaukatakan

ada harimau tua. Tinggal harimau tua. Ataukah ada binatang buas yang lain?”

“Harimau tua si raja rimba hanya dijaga harimau tua yang tidak sependapat

dengannya. Memang kalau harimau si raja hutan mendengar nasihat harimau tua

yang empu, pemburu tak akan sempat merebut. Tetapi itulah kenyataan. Itulah

takdir.”

“Aku menanyakan binatang buas yang lain.”

“Apa artinya seekor atau dua ekor binatang buas yang lain kalau ia tak berada

di sarangnya?”

“Setua-tuanya harimau, cakarnya masih keras juga.”

“Itulah kalau sempat mencakar. Kalau pemburu sudah dikenal sang harimau,

apa susahnya mengelus ekor atau kumisnya?”

“Bagaimana caranya mengelus?”

“Aku tak percaya padamu.”

“Ayo, ikut.”

Sekali ini Ugrawe tidak memaksa. Ia berjalan lebih dulu. Meloncat ke depan.

Upasara ikut meloncat, namun ia harus menutul tanah dua kali untuk bisa menjaga

jarak.

Sampai di depan tenda, Ugrawe menghaturkan sembah.

“Mohon Baginda berkenan menerima hamba.”

“Masuklah, tanpa perlu basa-basi di saat seperti ini, Paman Guru.”

Ugrawe menghaturkan sembah lagi. Upasara menunduk, memberi hormat,

tapi tidak bersila menyembah. Keduanya hampir seiring masuk ke dalam tandu.

Tadinya Upasara menduga Raja Muda Gelang-Gelang berada dalam tandu—yang

cukup sempit. Akan tetapi tandu itu ternyata hanya merupakan pintu saja. Karena

bagian belakangnya bisa disingkapkan, dan keduanya berjalan masuk. Ke dalam suatu

tenda. Diam-diam Upasara memuji tempat rahasia yang tidak pernah diduganya.

Seperti antara tandu dan kemah tidak ada hubungannya. Upasara juga memuji Raja

Muda Gelang-Gelang yang mampu mengirim suara berjarak. Hingga seolah suara itu

muncul dari tandu.

Sampai di kemah Upasara turut menghaturkan sembah. Ini bukan karena

Upasara memperajakan Raja Muda Gelang-Gelang. Ini semacam adat-istiadat kepada

seorang raja muda. Kalaupun Raja Muda Gelang-Gelang berada di Keraton Singasari

dan ia disuruh menemui, ia akan melakukan hal yang sama.

“Bagaimana, Paman Guru?”

“Maafkan hamba, Baginda. Ada seorang anak muda yang tahu bagaimana cara

berburu harimau. Ia ingin menghaturkan sendiri rencananya kepada Baginda.”

Raja Muda Gelang-Gelang menepukkan tangannya dan para pengawal utama

pergi. Setelah diberi perintah untuk mendongak, barulah Upasara melihat siapa yang

dihadapi. Seorang raja muda yang tampan. Badan dan wajahnya sangat terjaga.

Bahkan sampai dengan mata serta alisnya. Kalau dilihat sekilas sulit membayangkan

bagaimana seorang raja muda yang begini tampan, yang seluruh tubuhnya seperti tak

pernah tersentuh debu dan panas matahari, mampu mengirim suara.

“Ceritakan, anak muda, siapa pun namamu.”

“Hamba hanya berani mengatakan kepada Raja Muda.”

“Aha, Paman Guru ini lebih tahu dari saya.”

“Maafkan, Raja Muda. Kami baru saja bertemu tadi.”

Ugrawe menghaturkan sembah.

“Biarlah hamba mengundurkan diri. Mau melihat suasana di luar.” Sambil

menghaturkan sembah, Ugrawe memusatkan tenaganya di tangan. Sampai tergetar.

Ini berani kalau Upasara membuat gerakan mencurigakan sedikit saja, tangan itu akan

terayun.

Upasara merasakan getaran itu. Ia tak mau bertindak bodoh. Ia tak akan

menyerang begitu saja. Meskipun Ugrawe telah pergi dari kemah, getaran udaranya

masih terasa.

“Katakan. anak muda.”

“Apa jaminan hamba setelah mengatakan rencana?”

“Walau aku belum raja penuh, kata-kataku sama berharganya dengan seorang raja.

Tak nanti aku menarik ucapanku. Kau akan selamat sampai akhir hayatmu.” “Sembah

nuwun…”

Belum selesai ucapan terima kasih, tiba-tiba terdengar teriakan keras. Angin

badai mengguncang tenda. Sampai menimbulkan gempa. Raja Muda Gelang-Gelang

meraih tombak di belakang kursi dengan sigap. Upasara bersiap. Belum sepenuhnya

bisa memasang kuda-kuda, tenda telah jebol terangkat ke atas, terbang bersama angin.

Sungguh tenaga yang luar biasa.

Bersamaan dengan itu terdengar deru angin keras. Teriakan prajurit yang

terkena sapuan.

Upasara baru melihat dengan jelas. Lembu Ugrawe sedang memutar kedua

tangan bersilangan sambil tubuhnya terus berputar keras. Yang terlihat hanya

gumpalan angin puting yang bergulung keras. Sementara dalam jarak dua tombak

salah seorang prajurit sedang meloncat mencoba menembus pusaran angin.

“Mati kau!”

Teriakan Ugrawe bagai geledek dan guntur sekaligus. Upasara tak bisa melihat

jelas apakah pukulan itu dua tangan ditepukkan atau apa, karena terlindung oleh

getaran angin yang sangat keras. Prajurit Gelang-Gelang meloncat tinggi sekali, ke

atas pohon, dan kemudian meluncur turun dengan sebat. Tujuannya menyerang ke

arah Raja Muda Gelang-Gelang.

Upasara berteriak dalam hati. Ia sama sekali tak menyangka yang menyamar

sebagai prajurit itu orang yang sangat dikenalnya! Ngabehi Pandu! Itu satu-satunya

gaya Ngabehi Pandu yang selalu diunggulkan. Hanya Wilanda yang bisa

menyamainya.

“Senamata busuk, tak akan lolos lagi kau!”

Badai angin terus melanda. Bayangan prajurit itu menyerbu masuk. Dua

tangan beradu sangat keras. Begitu saling menyentuh, Ugrawe mengganti belitan

berikut jotosan dan belum lurus sudah berubah lagi. Menjotos ke arah dada lagi,

ditangkis, ke arah wajah, ditangkis, ke arah selangkangan, ditangkis, ke arah dada,

ditangkis, ke arah dada lagi, ditangkis, ke arah dada lagi, ditangkis.

Entah berapa puluh kali dua-duanya mengadu tenaga keras. Partai keras—

sangat keras.

Hanya saja kenapa Ugrawe meneriakkan nama Senamata Karmuka dan bukan

Ngabehi Pandu? Bukankah itu Ngabehi Pandu?

Sejenak Upasara tak bisa mengerti siapa yang tengah bertempur didepannya. Ia

memang mendengar bahwa Senamata Karmuka dan Ngabehi Pandu adalah dua

bersaudara. Akan tetapi selama ini yang dikenal di dunia luar adalah Senamata

Karmuka. Ngabehi Pandu hanya dikenal di kalangan para pesilat. Dua saudara itu

sangat berbeda sifatnya. Ngabehi Pandu digelari si mayat bisu, sedang Senamata

Karmuka justru sebaliknya.

Sangat mungkin sekali ini adalah Senamata Karmuka. Karena setahu Upasara,

Ngabehi Pandu tak perlu menyamar sebagai prajurit segala.

“Angin kentut masih lebih keras dari ini. Aku maju lagi.”

Ugrawe menyerbu. Pukulannya yang menyerbu. Menyapu ke tanah, dan

terasa betotan yang luar biasa. Tangan yang satunya mengemplang dari atas. Belum

selesai sepenuhnya, gerakan diubah. Tangan yang sebelumnya menarik, lalu berbalik.

Yang tadinya menghantam, jadi menyedot. Putaran pergantian begitu mendadak

keras, dan terpatah-patah.

Gemuruh suaranya. Tanaman pendek di sekitar tercerabut beserta akar, dan

tanahnya ikut terbang, berputar di udara, dan kembali lagi. Lalu bagai disuntak

mendesak ke depan.

Ketika melawan Dewa Maut, Upasara merasakan betapa dahsyat ilmu

Membalik Arus Sampan, yang mempunyai dasar gerakan yang kurang-lebih sama.

Juga dalam mengatur tenaga. Akan tetapi yang disaksikan ini jauh lebih perkasa dari

itu.

Namun Upasara tak mau membuang waktu percuma. Siapa pun yang dihadapi

Ugrawe—Ngabehi Pandu atau Senamata Karmuka—ada di pihaknya. Dan dengan

keberanian besar berani menyerbu langsung ke dalam tenda. Sasarannya pastilah Raja

Muda Gelang-Gelang. Ini saat yang baik.

“Maaf…”

Upasara meloncat ke arah Jayakatwang, yang langsung memutar tombak.

Miring sabetan tombak yang ujungnya diberi bunga-bunga hiasan. Tangan kanan

Upasara berusaha menangkis persis di bawah ujung yang runcing, sementara tangan

kiri merebut bagian tangkai. Dalam gerakan pertama Upasara tidak ingin langsung

menyerang, akan tetapi berusaha memperdayakan. Maka ketika Jayakatwang

langsung menarik mundur tombaknya, Upasara sudah bersiap untuk mengubah

tangannya, agar tak tergores. Yang membuatnya agak was was adalah desis dingin dari

ujung tombak. Pertanda tombak pusaka yang linuwih, pusaka yang memperlihatkan

kelebihan setiap geraknya. Dengan menggeser kaki ke depan, Upasara tetap dalam

posisi merebut tombak. Kali ini yang dicengkeram adalah tangan Jayakatwang. Hebat

juga Raja Muda Gelang-Gelang ini Telapak tangannya membuka dan baik menangkap

tangan Upasara. Tinju Upasara seperti mau digenggam. Upasara menggunakan

sikunya untuk menyentil gagang tombak dan jotosannya diubah menjadi tangan kiri.

Plak. Terdengar suara keras. Gagang tombak bergoyang. Dua tangan beradu keras.

Jayakatwang justru maju ke depan. Mengarah ke leher lawan. Upasara memancal

tubuhnya dan kaki dan kini mulai menunjukkan bagian terakhir dan Banteng

Ketaton. Leher digerakkan miring sehingga pukulan lawan akan mengenai pundak,

akan tetapi serta-merta dengan itu tombak lawan dapat direbut. Tinggal membalik

arahnya kepada Jayakatwang sendiri.

“Maaf.” Lagi Upasara mengeluarkan seruan keras. Tombak bisa digenggam erat,

Hanya saja Upasara tidak memperhitungkan bahwa tombak itu ternyata bisa

dipatahkan di tengah. Upasara hanya memegang bagian ujung, sementara sisanya

justru untuk menusuk—ada pula bagian yang lancip. Menjadi dua buah tombak.

Tombak yang dipegang Upasara bisa menangkis, akan tetapi pundaknya bakal kena

sasaran. Akan tetapi Jayakatwang tidak bertindak maju, ia malah meloncat mundur.

Sedetik Upasara menduga bahwa lawan merencanakan serangan berikut, makanya ia

setengah menunggu. Akan tetapi ternyata Jayakatwang lebih suka tidak melibatkan

diri dalam pertempuran secara langsung. Cukup dengan menggerakkan tangannya,

puluhan prajurit langsung mengepung.

“Tangkap hidup-hidup semuanya.”

Belum prajurit itu maju, desir angin panas bergulung-gulung memadati

ruangan. Upasara tak habis pikir ketika merasa sedotan tenaga dalam Ugrawe sudah

berhasil menindihnya. Dua kali tadi Upasara berhasil menghindari gerak-gerak

sederhana Sindhung Aliwawar. Tapi sekali ini merasa darahnya digojlok habishabisan.

Rasanya darahnya mengalir tak karuan, bertubrukan di dinding-dinding

pembuluhnya. Belum bisa menguasai diri sepenuhnya, bayangan Ugrawe sudah

meloncat ke arahnya.

Bersamaan dengan bayangan Ugrawe bayangan lain masuk ke dalam lingkaran

angin ribut, dan langsung menyerang. Di tengah udara kedua bayangan itu memukul,

ditangkis, ditangkis, memukul, dan ketika turun lagi ke tanah, saling menjejak, dan

kembali ke atas lagi.

Ugrawe memang luar biasa. Justru ketika berada di atas, ia menghimpun

seluruh tenaganya dan seperti mendorong gunung, kedua tangannya terdorong ke

depan. Angin dahsyat mengimpit dengan keras, bagai gelombang laut yang

mengempas. Upasara meloncat mundur dan terdorong angin hingga tiga tombak.

Kakinya tak bisa berdiri tegak. Jatuh tergeletak. Dengan sigap ia bangun, menghadapi

keributan prajurit yang mendesak.

Luar biasa. Justru karena sebagian tenaga itu telah dapat ditangkis. Secara

kedudukan, Ugrawe lebih lemah. Karena ia berada di tengah udara. Nyatanya ia

terdorong mundur. Sambil berjumpalitan, sebelum kakinya menyentuh tanah,

pukulan berikutnya sudah susul-menyusul.

Kemah menjadi porak-poranda.

Daerah sekitar Ugrawe seperti tanah kosong. Prajurit yang mencoba

mendekat, terseret pusaran angin dan terpental. Kalau kemudian jatuh ke tanah tak

bisa bangkit lagi.

Ugrawe menyentak keras. Merampas bendera dan menggerakkan ke kanan, ke

atas. Barisan pun berubah. Kini semua bergerak ke arah Ugrawe. Menyerbu ke satu

titik.

Upasara melawan arus prajurit yang menyerbu ke arahnya. Ia berusaha

membuka terobosan, akan tetapi selalu saja terdesak mundur kembali. Terpaksa

mengurung diri dengan kerisnya.

“Anak yang tak tahu diuntung, terimalah kematianmu!”

Suara Ugrawe sangat dekat di punggung Upasara.

“Jangan takut.” Terdengar teriakan dingin yang sama kerasnya. Pu’un berdiri

menghadang.

“Pu’un, hari-hati!”

Teriakan Upasara tak berguna. Ugrawe telah memutar kedua tangannya di atas

kepala. Angin puting beliung tercipta, dan dengan seruan keras putarannya tertumpah

ke arah Pu’un. Pu’un menggeram seperti seekor harimau. Ia justru masuk ke dalam

pusaran angin.

Terdengar suara dingin Ugrawe, dua buah tangan yang berputar di udara,

meliuk ke arah Pu’un. Yang langsung datang menyambut. Dua tangan beradu, dan

dalam sekejap tubuh Pu’un seperti terpelintir, ikut berputar. Ugrawe terus memutar

tubuh Pu’un di udara. Disertai gelak yang memekak ia melemparkan tubuh ke atas.

Sebelum tubuh menyentuh tanah, kaki Ugrawe menendang bagian dada, leher, dada

lagi, dan leher lagi.

Begitu jatuh di atas tanah, Ugrawe meloncat ke atas dan mendarat tepat di

dada Pu’un.

Ketika Ugrawe menyerbu tadi, prajurit jadi terbelah. Tak ada yang berani

mendekat. Kesempatan ini digunakan Upasara untuk meloloskan diri. Ia menerobos

dan dengan cepat meninggalkan pertempuran. Masih mendengar teriakan keras Pu’un

sebelum yang terakhir ini mengembuskan napas penghabisan.

“Wulung, jangan pedulikan. Lakukan tugasmu.”

Jagaddhita meloncat mendampingi. Bayangan Ugrawe berkelebat masuk.

Jagaddhita mengangkat seorang prajurit untuk dilemparkan ke arah Ugrawe. Yang

langsung ditangkap dan dibanting. Tak sempat kaget dan berpikir lagi, si prajurit telah

meninggal dunia.

Jagaddhita menggunakan prajurit yang bisa dipegang sebagai senjata. Akan

tetapi Ugrawe tak memikirkan keselamatan prajuritnya sendiri. Setiap lemparan yang

datang ditangkis dengan tangan dan tendangan.

Sembilan nyawa prajurit secara berurutan jadi korban main lempar-lemparan.

Dengan keras Ugrawe melempar balik setiap umpan yang datang. Pada korban yang

kesembilan, Ugrawe mengubah. Ketika dilempar lagi, ia bukan menolak seperti

biasanya. Melainkan menangkap dan membalikkan. Tapi yang melayang ke depan

bukan tubuh prajurit, melainkan tubuhnya sendiri. Dua telunjuknya terjulur ke

depan, sementara ketiga jari yang lain tertekuk ke dalam. Seperti mau mencungkil

mata Jagaddhita.

Jurus ini berbeda dengan jurus yang selalu diunggulkan sebelumnya. Ugrawe

kini menyerbu Jagaddhita dengan totokan dua jari yang menggunakan tenaga dalam

yang penguasaannya mirip dengan tenaga dalam Jagaddhita. Dua jari yang terulur ini,

satu berisi tenaga yang sesungguhnya dan satu lagi berisi tenaga biasa. Kelebihan

pengaturan tenaga ini. lawan menjadi bingung untuk menentukan di jari yang mana

tenaga sesungguhnya tersimpan.

Sebenarnya itu tidak menjadi soal benar, andai bukan Ugrawe yang

memainkan. Toh perbedaan jarak antara jari yang satu dan yang kedua sangat dekat.

Apalah artinya kalau tinggal menyampok saja. Namun, meskipun jaraknya dekat, daya

pancarnya berbeda. Satu jari diangkat ke atas, bisa mengarah ke mata. Satu jari lain

ditundukkan ke bawah, bisa menotok ke arah pinggang.

Lebih menyulitkan lagi, karena Ugrawe menggunakan empat jari dua tangan

yang menyerang serentak. Menghadapi pertempuran jarak pendek, Jagaddhita

keteter. Lima jurus berikutnya, kakinya sudah terlalu sulit untuk mengatur

pertahanan. Dan dalam sekejap saja ia sudah terkurung. Tinggal waktu saja.

Berada pada titik kritis, Jagaddhita memancing dengan serangan balik. Dua jari

tangan kanan dibiarkan menelusup ke depan, ia membarengi dengan sentilan ke arah

jakun. Ugrawe berseru dingin. Ia terus menerjang. Kalau tipuan yang sama

pernah dipraktekkan Jagaddhita kepada Pu’un, kali ini ternyata hasilnya berbeda.

Justru Ugrawe tidak memedulikan sentilan ke arah jakunnya. Tangan kiri meraup ke

depan, angin berdesir dari samping, langsung menghantam tangan Jagaddhita.

Mengira kecolongan, Jagaddhita mencoba menarik balik tangannya.

Duk!

Tubuh Jagaddhita bergoyang. Tersurung mundur tiga tindak.

Ugrawe meloncat maju sekali lagi. Jagaddhita meloncat ke atas sambil berbalik.

Ia melancarkan pukulan dengan punggung menghadap ke arah lawan. Tanpa

memedulikan serangan lawan, Ugrawe terus menjotos.

Duk.

Kali ini tubuh Jagaddhita terayun dan terbanting di tanah.

“Ayo menyanyi lagi tentang waktu kecil temanmu adalah bidadari. Sekarang

diganti, waktu mati temanmu adalah cacing busuk.”

Tangan kiri Ugrawe berputar satu lingkaran sementara tangan kanan terbuka

telapaknya. Sekali terayun, Jagaddhita tak bakal bisa menghindar. Kemungkinan

paling kecil hanya bisa menangkis dengan sisa tenaganya.

Upasara sudah meloncat beberapa tombak jauhnya. Akan tetapi ia merasa tak

tega melihat adegan yang mengerikan. Untuk menolong sudah tak mungkin. Bahkan

kalau ingin melemparkan kerisnya pun rasanya hanya sedikit artinya. Bisa

merepotkan Ugrawe tetapi tetap tak menolong Jagaddhita. Upasara menjilat bibirnya.

“Jangan kuatir, Bibi, aku akan menunaikan tugas terakhir. Kematian bukanlah

akhir. Kehidupan bukanlah awal. Yang muda bisa mati, yang tua lebih lama.”

Upasara melakukan sembah, lalu berbalik.

Ugrawe menganggap bahwa Upasara adalah yang paling cerdik dari semua

yang hadir. Perhatiannya sempat terpecah juga dengan kata-kata yang diduga

mempunyai sayap lain.

Siapa yang dimaksudkan dengan yang tua?

Apakah hal ini menyinggung Eyang Sepuh?

“Anak muda, soal mati-hidup bibimu ini hanya soal kapan aku membalik

telapak tangan. Hiburanmu tak akan berguna.”

“Ugrawe, kau selalu berhitung sangat teliti dan rapi. Kau sudah menang. Untuk

apa ragu lagi? Aku sekadar mengacau perhatianmu. Agar kau tak seketika membunuh

Bibi. Mungkin dengan begitu akan ada pertolongan datang. Kenapa kau menduga

Eyang Sepuh bisa meloloskan diri dan bakal melaporkan hal ini ke Keraton? Sampai

sekarang pun kita sama-sama tidak tahu di mana Eyang. Apakah masih bersembunyi

di sini, ataukah sudah berada di Keraton, ataukah sedang ditawan lawan yang entah

dari mana, atau justru menemui Tamu dari Seberang. Ugrawe, kau boleh

merencanakan tipu daya macam-macam. Mengundang para pendekar kelas satu

kemari, dengan umpan Tamu dari Seberang. Dan kenyataannya kau berhasil

mengundang semuanya. Aku mengatakan semuanya, meskipun kau sendiri hanya

membawa Kawung Bersaudara dan mengandalkan prajurit-prajurit yang lain.

“Satu hal kau lupakan, bahwa umpan yang kausodorkan berdasarkan

perhitungan yang matang. Dan perhitungan itu, memang memungkinkan bahwa

Tamu dari Seberang akan datang. Siklus datangnya persis saat-saat sekarang ini.

Bahwa yang dituju adalah Perguruan Awan, itulah satu-satunya tempat yang

memungkinkan.

“Ugrawe, tidak sadarkah bahwa yang kauanggap jebakan, itu sebenarnya bisa

terjadi? Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin Pu’un yang dari ujung barat tanah

Jawa bisa datang kemari pada waktunya?”

“Aku senang caramu bicara. Kau sangat cerdik. Lebih cerdik dari muridmuridku.

Tapi mana mungkin aku terkecoh dengan akal bulusku sendiri? Tamu dari

Seberang tak pernah ada. Ken Arok zaman dulu hanya membuat kisah itu untuk

memantapkan Kehadirannya. Ia mencari persamaan dengan dewa-dewa sebagai

nenek moyangnya. Ia mencari darah biru. Tapi sesungguhnya ia perampok besar,

bromocorah yang bisa naik takhta. Dan semua keturunannya adalah keturunan

perampok besar. Yang hanya akan menghancurkan, yang hanya akan merampok

tanah Jawa. Termasuk Kertanegara.”

“Tugasmu mulia, Ugrawe. Kau ingin mengembalikan takhta di tanah Jawa ini

kepada darah biru, darah para dewa. Hanya saja kenapa kau melakukan seperti kerja

para perampok?”

“Ini urusanku. Itu tanggung jawabku sendiri.”

Telapak tangan Ugrawe bergetar.

“Jagaddhita, hari ini terimalah kematianmu. Sudah kukatakan, Upasara hanya

memperpanjang waktu saja. Langit pun tak bisa membantumu.

Jagaddhita bangun dengan susah. Rasa nyeri dua pukulan seperti meremukkan

isi tubuhnya.

“Kau salah perhitungan, Ugrawe. Gendhuk Tri bisa menolong Bibi….”

Ugrawe meleletkan lidahnya. Hingga menyentuh kumisnya.

“Anak ini sudah kena sirep Pu’un. Tak akan ada yang membebaskannya.”

“Kau cerdik, akan tetapi salah perhitungan. Pu’un telah membebaskan

pengaruh sihirnya. Gendhuk Tri, kau bisa menyerang Ugrawe seketika.”

Teriakan Upasara mengguntur. Memang, dalam perhitungan hanya Gendhuk

Tri yang bisa menyelamatkan Jagaddhita. Pertama karena ia tak diduga bakal

menyerang secara tiba-tiba. Kedua, posisinya sangat dekat dengan Ugrawe dan

Jagaddhita, tanpa dicurigai.

Dengan memberi komando, Upasara mengharap Gendhuk Tri segera

bertindak. Upasara menduga bahwa Gendhuk Tri sudah dibebaskan pengaruh

sihirnya oleh Pu’un. Karena keduanya sudah diringkus bersama di dalam jala Kawung

Sen.

Ternyata perhitungan Upasara meleset.

Gendhuk Tri menoleh ke arah Upasara, akan tetapi. tak bereaksi. Sinar

matanya masih kosong saja.

“Gendhuk… sekarang!”

Ugrawe mengelus kumisnya.

Jagaddhita terhuyung ke belakang.

Suasana sekeliling terasa hening mencekam. Upasara menggertakkan

gerahamnya.

Jagaddhita menerawang pasrah.

kenapa harus bersedih hati..

waktu kecil tontonanmu adalah bidadari…

Mendadak terjadi perubahan. Gendhuk Tri seperti tersadar, dan mencabut

patrem dan setagennya, langsung meloncat ke arah Ugrawe. Pusat perhatian Ugrawe

memang sepenuhnya tertuju kepada Jagaddhita. Ia tak mengira sama sekali bahwa

Gendhuk Tri bakal meloncat langsung ke arahnya. Meloncat dan mendaki tangan

Ugrawe. Begitu berada di atas, patrem Gendhuk Tri menyabet ke bawah dengan cepat

sekali. Irisan tajam mengarah ke wajah!

Berteriak pun Ugrawe tak sempat. Tangan kanan yang dipakai pancalan,

ditarik mundur. Berikut tangan kiri berusaha menutup wajah. Tenaga terkumpul di

tangan sedemikian kuat, sehingga arah patrem melenceng ke kiri. Tak urung,

menyambar, daun telinga Ugrawe kena diiris. Darah muncrat membanjir, Ugrawe

melontarkan tubuhnya ke belakang dan dua tangannya kini menyambar ke atas.

Gendhuk Tri tidak menarik mundur serangan kedua, malah berusaha melompat maju

lagi. Dengan cara berjumpalitan di angkasa.

Upasara meloncat maju bersamaan dengan gerak Gendhuk Tri tadi,

menyambar tubuh Gendhuk Tri dan membawa lari. Perhitungan Upasara tepat dan

menentukan. Karena saat itu Ugrawe sudah melontarkan pukulan andalannya. Bumi

seperti tergetar. Menggandeng Gendhuk Tri, Upasara meluncur sambil tangan kirinya

menyambut uluran tangan Jagaddhita. Dalam sekejap ketiga tubuh melayang ke arah

jauh.

Walau dalam keadaan terluka, ilmu meringankan tubuh Jagaddhita masih bisa

diandalkan. Dengan empat kali loncatan, mereka telah terbebas dari serangan

Ugrawe.

Sementara itu Ugrawe tidak langsung menyerbu. Ia memegangi telinganya

yang telah. somplak. Darah yang mengucur segera dihentikan dengan memijit urat di

dekat pelipis. Lalu tangannya merampas bendera dan memberi komando untuk

serbuan total. Kini seluruh prajurit menyerbu ke arah satu jurusan.

Bagi Upasara, Gendhuk Tri, dan Jagaddhita tak terlalu sulit untuk meloloskan

diri. Akan tetapi di depan berdiri Kawung Benggol yang menunggu. Dengan tetap

bergandengan tangan, ketiganya melabrak lawan. Menduga lawan bakal mengeroyok,

Kawung Benggol yang sudah terluka tangannya tak berani adu keras lawan keras. Ia

menarik pukulannya. Kesempatan ini digunakan Upasara untuk terus menerobos

maju.

“Gendhuk, kau tak apa-apa?”

“Entahlah,” jawab Gendhuk Tri. “Kadang aku seperti mengantuk.”

“Masih mengantuk?”

Tak ada jawaban.

Upasara menggeleng lembut. Ternyata pengaruh sihir Pu’un masih sangat

kuat. Belum bisa dibebaskan sepenuhnya. Hanya waktu Jagaddhita mendendangkan

tembang yang dikenal tadi, ingatannya pulih normal. Kini masih bengong kembali.

Di arena yang lain, Kawung Ketip beserta puluhan prajuritnya menyerbu ke

arah rombongan yang dilindungi oleh Tiga Pengelana Gunung Semeru.

Wilanda terhuyung-huyung, sementara Dewa Maut mencoba menjaga

Padmamuka yang kelihatannya makin berat. Obat bubuk yang ditaburkan dalam

badannya ternyata menjadi racun yang keras. Dewa Maut tak tahan. Ia bopong

Padmamuka dan mencoba mencari jalan sendiri.

“Jangan keluar dari lingkaran,” Panengah berteriak memberi peringatan. Ia

sendiri mengubah tempatnya, mencoba mendampingi Dewa Maut. Pembarep dan

Wuragil segera mengikuti gerak Panengah, agar bentuk lingkaran sebagai payung

tetap kuat.

Apa yang dikuatirkan Panengah memang terjadi. Begitu menerobos ke luar, Dewa

Maut sudah langsung terkurung. Kawung Ketip menyabet kaki Dewa Maut, yang

langsung menjadi limbung karenanya. Tubuhnya bergerak-gerak, Padmamuka sendiri

lepas dari bopongannya. Tubuhnya jatuh ke tanah, dan Kawung Ketip menendang

keris.

Terdengar teriakan mengaduh perlahan, tubuh Padmamuka membal ke atas.

“Toleee…” Dewa Maut menjerit, berusaha bangkit. Akan tetapi luka dalam

membuatnya makin parah. Darah segar muntah dari bibirnya, Sebagian berwarna

gelap. Belum bisa berdiri lurus, Kawung Ketip sudah melontarkan pukulan

berikutnya.

Dewa Maut tak berkelit, tak menghindar. Tujuannya hanya satu, mendekat ke

arah Padmamuka. Kena senggol angin pukulan saja, Dewa Maut langsung terguling.

Tubuhnya jatuh bagai pisang ditebang. Rubuh seketika. Tangannya mencoba

menggapai ke depan, tetapi seperti memegang udara kosong.

Jaghana yang melihat Kawung Ketip mencoba menerjang lagi, cepat sekali

menggulung dirinya. Masuk ke dalam perkelahian. Kawung Ketip bersiap, tapi

seketika ia terseret arus berputar. Tak ada jalan lain. Ia ikut berputar masuk dalam

lingkaran.

Kalau saja Upasara sempat mengamati dengan teliti, ia bisa mengerti bahwa

kini yang dimainkan Jaghana adalah permainan sepenuhnya. Bukan seperti ketika

menghadapi Upasara tadi. Pesat bagai gasing, Jaghana berputar melipat. Makin lama

putarannya makin sempit, sehingga jarak keduanya makin dekat, makin dekat, makin

lekat, dan akan saling menempel.

Kawung Ketip bukan jagoan sembarangan. Ia dulu, bersama dua adiknya,

termasuk yang menyerbu sampai ke dinding Keraton Singasari. Ilmunya tidak

sembarangan. Apalagi selama menyembunyikan diri ini, Kawung Ketip makin

memperdalam. Hanya saja sekarang ini yang dihadapi adalah lawan yang sekelas

dengannya. Sebelum ia mengembangkan ilmunya, sudah terpancing jenis permainan

lawan. ilmu berputar memang bukan ilmu yang bisa dipelajari dengan mudah. Mana

lagi ia membuat kesalahan fatal, yang baru diketahui kemudian. Ketika menendang

tubuh Padmamuka tadi, secara tidak langsung ia terkena racun. Kakinya yang untuk

menendang mulai terasa kesemutan. Itu tentu saja menghambat kemampuan

geraknya.

Sebaliknya Jaghana justru sedang berusaha melipat habis. Telapak tangannya

berputar, sementara tubuhnya sendiri terus berputar. Merasa bahwa lawan makin

tertekan, Jaghana mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Kawung Ketip berusaha membetot lawan. Bagian yang diserang di arah

selangkangan. Melihat lawan begitu licik, Jaghana menjadi lebih kuat. Tangan lawan

ditangkap, sementara tubuhnya terus berputar. Kali ini Kawung Ketip benar-benar

turut berputar sambil berpegangan. Satu tangan lagi mencoba menyodet lubang

hidung. Jaghana menangkap pula. Lengkaplah kini. Dua tangan berpegangan, saling

menggempur dengan menyalurkan tenaga dalam. Kawung Ketip berusaha, sementara

terus berputar mengangkat lututnya. Lagi-lagi yang diarah adalah selangkangan.

Risikonya bukan tidak ada. Kuda-kudanya menjadi agak timpang. Akan tetapi

kalau sodokannya mengena, Jaghana bakal habis di sini. Paling tidak bakal ada yang

pecah kena sodokan lutut. Tapi justru Jaghana melihat kelemahan lawan. Begitu kaki

lawan terangkat, satu kaki langsung menyapu. Keras, cepat, dan menebas. Kena gaet

satu kakinya, Kawung Ketip mengeluarkan suara tertahan. Gempuran kaki Jaghana

bukan hanya sangat keras, tetapi membuat ngilu sampai ke sumsum. Tak tahan,

Kawung Ketip berusaha mencengkeram lawan dengan kencang, seperti mau

memencet urat nadinya.

Jaghana justru merasa bagian bawah lawan tak ada perlawanan sama sekali.

Gempuran kaki berubah menjadi semacam gaetan, dan ketika disentakkan, Kawung

Ketip melayang di angkasa.

Wuragil berseru keras sambil meloncat dan mengayunkan pedangnya. Tiga

kali menebas, tiga-tiganya bisa mengenai tubuh lawan. Sebelum tubuh Kawung Ketip

menyentuh tanah, sudah terpisah menjadi tiga potong.

Kawung Benggol tak menduga bahwa kakak sulungnya begitu cepat bisa

ditaklukkan lawan. Dalam geramnya ia mengayunkan rantai panjang, menyerang

Wuragil dari belakang. Di tengah udara, Wuragil membalikkan tubuhnya, menyabet

rantai lawan. Pedangnya bisa dilihat. Kawung Benggol menyentakkan. Meskipun

sebenarnya dua tangan, dan terutama kakinya, terluka, akan tetapi tenaganya cukup

kuat. Apalagi dibandingkan dengan Wuragil yang masih berada di angkasa. Pedang

Wuragil bisa terlepas. Dalam sentakan berikutnya, Kawung Benggol melepaskan

libatan, dan pedang itu berbalik meluncur ke arah pemiliknya.

Pembarep meloncat ke atas, sementara Panengah langsung memasang kudakuda.

Ternyata Pembarep naik ke atas pundak Panengah. Di atas bahu Panengah,

Pembarep mengayunkan tangan, dan menangkap pedang. Sementara itu, Wuragil

melayang turun dengan aman.

Hebat gerakan Trisula ini!

Karena begitu menyentuh tanah, Wuragil langsung ganti memasang kudakuda.

Melihat Kawung Benggol menyerbu masuk, Panengah meloncat. Dengan

Pembarep masih berada di pundaknya, ia meloncat maju dan hinggap di pundak

Wuragil!

Kini Tiga Pengelana Gunung Semeru berdiri tegak lurus satu sama lain.

Menjulang ke atas. Inilah yang disebut Semeru Manjing Langit, atau Gunung Semeru

Bersatu dengan Langit. Ini salah satu dari tiga jurus berantai andalan dari Gunung

Semeru. Konon jurus ini merupakan jurus yang berintikan penyerahan diri kepada

kekuasaan Yang Mahatinggi. Semeru Manjing Langit adalah sinonim dari Curiga

Manjing Warangka, atau Keris Kembali ke Sarungnya. Dalam pengertian Jawa ini

mengandung falsafah penyerahan diri secara total. Sering disebut-sebut sebagai

bersatunya umat manusia dengan Sang Maha Pencipta.

Pada Tiga Pengelana Gunung Semeru, jurus ini akan mencapai hasil maksimal

jika di antara ketiga ksatria bisa menyatukan pikiran. Seolah-olah hanya satu pikiran

tiga badan. Berdasarkan latihan bersama yang memakan waktu lama, kemungkinan

ini bisa tercapai. Walau ketiganya memiliki perangai yang berbeda, akan tetapi ketika

menghadapi lawan bisa satu kehendak. Seperti ketika Wuragil turun ke bawah tadi, ia

langsung memasang kuda-kuda, dan Panengah langsung hinggap di pundak Wuragil.

Sementara Pembarep tetap bertengger di atas.

Kalau tidak ada saling pengertian, gerakan itu tak bisa terwujud dengan

sempurna. Karena walau Wuragil sudah berdiri memasang kuda-kuda di depan, tidak

selalu kedua ksatria yang lain akan melakukan jurus Semeru Manjing Langit.

Tergantung pada situasi yang dihadapi.

Dan Wuragil cukup tanggap. Melihat Kawung Benggol meloncat tinggi, ia

langsung memasang dasar dari jurus andalan. Dan rupanya Panengah pun melihat

jalan keluar yang sama, sehingga langsung meloncat ke atas pundak. Kalau saat itu

Pembarep melihat kemungkinan yang tidak sama, ia bisa memilih gerakan tersendiri.

Tapi agaknya justru sekarang ini melihat satu titik penyelesaian yang sama!

Tak alang kepalang kagetnya Kawung Benggol! Ia sudah meloncat ke atas.

Yang dihadapi adalah tiga orang yang berdiri secara lurus satu sama lain. Sempat

tergetar hatinya, Kawung Benggol merasa makin tak bisa memusatkan pikiran. Mau

menyerang bagian yang mana. Bagian atas atau bagian tengah. Tak ada pilihan selain

harus menggempur semuanya. Dan ini dirasa tak menguntungkan. Kawung Benggol

tak sempat menutup diri sepenuhnya ketika tangan Pembarep menyentuh pundaknya

dan menekan ke bawah, sementara siku Panengah menyodok dada. Dua sodokan yang

masuk secara telak. Kawung Benggol belum bisa sepenuhnya merasakan rasa pedih

dan ngilu, ketika Wuragil menusukkan tombak yang diraup dari tanah.

Bagai sate besar, tubuh Kawung Benggol tertahan pada tombak, yang oleh

Wuragil disentakkan kembali ke atas. Dan Kawung Benggol melayang ke atas.

Panengah bisa menambahi dengan beberapa pukulan. Akan tetapi agaknya Pembarep

tidak tega. Ia lebih dulu mengulurkan tangan, merampas tubuh Kawung Benggol dan

melemparkan ke tengah prajurit yang datang menyerbu. Ia sendiri langsung turun,

disusul oleh Panengah) dan ketiganya membentuk barisan menahan serbuan. Bagi

Wuragil semua tadi adalah kesempatan untuk memamerkan kemampuannya. Sejak

datang ia kena dipecundangi, dan belum sedikit pun bisa memperlihatkan

kepandaiannya. Maka begitu Kawung Ketip dan Kawung Benggol menyerbu, ia

menyambut dengan gairah.

Berbeda dengan Pembarep yang paling tenang. Ia tak berniat jahat. Bahkan

kalau mungkin tak ingin membunuh lawan.

Namun Kawung Benggol tak bisa bertahan lama, Tubuhnya terlempar dengan

tombak masih menancap. Dua sodokan siku Panengah telah mengacaukan sistem

pernapasannya. Maka begitu berdentam di tanah, ia hanya berkelojotan sebentar lalu

terbaring untuk selamanya.

Ketiga Pengelana Gunung Semeru memasang barisan rapat. Setiap serbuan bisa

dihalau, meskipun dengan demikian mereka terpaksa bekerja sangat keras. Jaghana

juga turut menahan dari samping kiri, agar masih mempunyai ruang tersisa.

Rombongan Upasara juga mulai bergabung. Mereka terdesak dan terus

mundur.

Mendadak terdengar sangkakala ditiup sangat nyaring. Pasukan Gelang-

Gelang yang berada di depan tak masuk menyerbu- Bertahan. Sementara lapisan

ketiga di belakangnya, semua memasang anak panah yang ujungnya dibakar. Agak

jauh di tengah, Ugrawe berdiri di atas papan yang diangkat tinggi-tinggi.

“Panah api…”

Teriakan Ugrawe disusul dengan ratusan anak panah berapi menderu bagai disiram

dari langit. Beberapa bisa disampok, beberapa berbenturan sendiri. Namun tak urung

semua terdorong mundur dan makin mundur.

“Awas, beracun. Jaga pernapasan.”

Pembarep lebih dulu menutup diri.

Kedudukan memang makin sulit. Ratusan anak panah yang secara terusmenerus

dilepaskan adalah anak panah berapi. Bahaya sesungguhnya bukan berasal

dari api itu, melainkan berasal dari api yang padam. Asapnya akan mengeluarkan

sejenis bau yang menusuk hidung. Sebenarnya justru karena baunya yang sangit,

seperti kain terbakar, mudah cara menghindarinya. Hanya saja karena jumlahnya

kelewat banyak, asap tak bisa dihindari. Kalau panah tidak ditebas, apinya juga

menyulitkan.

Jagaddhita yang berjalan sempoyongan mulai merasa betapa ganasnya bau itu.

“Celaka, kita bisa habis di sini.”

Wilanda, yang paling lemah daya tahannya, sudah langsung terduduk. Jaghana duduk

di belakangnya.

Sementara itu hujan panah makin keras, dan asap mulai tercium di manamana.

“Kisanak Jaghana…” Suara Jagaddhita sangat lemah.

“Biar rata dengan tanah, saya akan berada di sini.”

“Apakah orang luar boleh melangkahi Lawang Sewu?”

Jaghana menghela napas.

“Kau telah mengetahui hal itu, kenapa masih perlu minta izin?”

“Maafkan, Kisanak Jaghana, kalau saya terlalu lancang.”

“Tidak. Tidak ada lancang, tidak ada tidak lancang. Kalau dahulu dibangun

untuk keselamatan negara, sekarang inilah saatnya.”

“Di mana?”

“Satu kanan, dua kiri, bintang selatan bertiup pelan.”

Jagaddhita menggertakkan giginya.

“Wulung…”

Upasara menoleh.

“Papah Bibi…”

Upasara maju, membopong Jagaddhita. Satu tangan lain menggandeng

Gendhuk Tri. Tapi Gendhuk Tri mengibaskan tangan. Ia berjalan sendiri.

Mendampingi.

Mereka mundur ke bagian belakang sekali. Beberapa kali Upasara menyampok

anak panah yang terus menyerbu.

Sampai di deretan pohon-pohon besar bagian belakang yang rapat, Jagaddhita

mendongak mengawasi langit.

“Wulung… kau melihat ada gua di belakangmu?”

“Tidak ada.”

“Bagus. Masuk ke dalam. Lima puluh tindak ke kanan, seratus tindak ke kiri.

Mulai!”

Upasara masih bingung akan tetapi mengikuti perintah Jagaddhita. Ugrawe di

kejauhan memerintahkan pasukan panah menyerbu maju.

“Jangan ada satu pun yang bisa lolos.”

Teriakannya disusul bayangan tubuhnya menuju ke depan. Ketiga Pengelana

Gunung Semeru memapaki dan segera terjadi pertempuran. Jaghana menghadang

serbuan prajurit yang lain. Korban makin banyak berjatuhan, tetapi serbuan makin

gencar. Bagai air bah yang tak menghiraukan apa yang menghadang.

Jagaddhita bersorak. Upasara berhenti. Mengamati sekitar. Tak ada tandatanda

gua di belakangnya. Karena memang tak ada bukit kecil.

“Pelan saja. Tekan bagian ujung rumput itu.”

Upasara mengerahkan tenaganya. Bergeming.

“Pelan. Pelaaan saja.”

Upasara menekan ke tanah. Perlahan ia salurkan tenaganya. Karena tak ada

tanda batu-batuan atau pohon, ia menekan sekenanya. Mendadak, ada bagian tanah

yang hancur. Seperti menjadi pasir. Makin lama makin lebar.

“Upasara, masuk.”

“Yang lainnya?”

“Jangan pedulikan. Ayo masuk…” Jagaddhita menggerung keras. Ia turun dari

bopongan, dan mendorong Upasara masuk. Satu tangan menarik Gendhuk Tri dan

mendorong ke arah lubang. Ia sendiri kemudian menjatuhkan dirinya. Upasara

merasa tubuhnya terbang sedetik, lalu terguling dan terbanting-banting. Disusul

pekik Gendhuk Tri, dan tubuh Jagaddhita sendiri.

Jagaddhita merangkak masuk lebih ke dalam gua, diikuti oleh Gendhuk Tri

dan Upasara. Berjalan menelusuri terowongan tiga tindak, Jagaddhita seperti kejang.

Dengan menggigit keras bibirnya, Jagaddhita berusaha terus merangkak. Rasa sakit

dari pundaknya makin menyiksanya. Dengan menggertak semangatnya, Jagaddhita

memaksakan diri sampai pada suatu cekungan. Tanpa bisa menahan dirinya lagi,

Jagaddhita jatuh tertelungkup.

Gendhuk Tri menjerit sambil menggoyang tubuh Jagaddhita. Upasara

memeriksa badan Jagaddhita yang ternyata makin panas. Keringat sudah membasahi

seluruh tubuh Jagaddhita, bercampur dengan darah. Rambutnya yang putih sudah

berubah lengket dengan darah yang membeku. Sementara itu sayup-sayup suara

pertempuran masih terdengar. Sesekali jeritan menyayat di antara beradunya senjata.

Jagaddhita berusaha duduk. Punggungnya bersandar ke dinding. Gendhuk Tri

yang biasanya tak begitu peduli, kini pucat pasi.

“Wulung…” Suara Jagaddhita terdengar menggeram. “Teruslah menelusuri

terowongan ini. Ikuti saja. Kira-kira waktu yang digunakan untuk menanak nasi, kau

akan bisa keluar dari sini. Keluar dari desa ini. melewati sungai besar, kau akan segera

menuju jalan utama menuju Keraton.”

Jagaddhita meloloskan cincin di jarinya.

“Meskipun kau orang Keraton dan bisa dengan enak keluar-masuk, bawalah

cincin ini. Bagaimanapun keadaannya Keraton saat ini, dengan cincin ini kau bisa

masuk ke sana.

“Tanda pengenal yang kau miliki bisa menjadi pembunuhmu bila saat ini

Keraton dikuasai lawan. Cincin ini akan mengantarkan kau ke dalam.”

Upasara Wulung menerima dengan perasaan masih bingung.

Dan kemudian, dengan satu gerak sangat cepat, tangan kanan Jagaddhita

menampar pipinya sendiri. Plak. Keras sekali. Dari bibirnya mengalir darah segar.

“Mbakyu…,” teriak Gendhuk Tri kaget.

Upasara Wulung membelalakkan matanya. Ia tak menyangka bahwa

Jagaddhita akan menampar mulutnya sendiri hingga berdarah. Lalu tangan yang

selesai untuk menampar dimasukkan ke mulut. Mencari-cari. Ketika keluar lagi,

tangan itu ternyata memegang dua buah gigi. Masih basah oleh darah dan ludah.

“Temui Ingkang Sinuwun, Baginda Raja. Ingkang Sinuwun akan terpaksa

menemuimu jika kau perlihatkan gigi ini. Dua buah gigi berlapis emas ini, dulu

beliaulah yang menyarankannya.

“Wulung, apa kau jijik?”

Upasara Wulung menerima dengan perasaan masih kacau.

“Segeralah berangkat. Apa pun juga yang terjadi, kau harus masuk Keraton,

dan sowan Ingkang Sinuwun. Katakan kejadian ini. Wulung, berangkatlah sekarang.”

Bibir Upasara bergetar keras. Ini benar-benar tak masuk dalam akalnya.

Bagaimana mungkin seseorang mencabut giginya, dua buah, dengan paksa, sebagai

tanda pengenal? Bagaimana mungkin seorang Baginda Raja yang demikian berkuasa

dan besar pernah meminta seorang Jagaddhita untuk memasang gigi emas?

Pengalaman Upasara dalam soal asmara memang masih terlalu polos. Ia tak

paham walau sekuku hitam soal liku-liku asmara. Bahwa Baginda Raja mempunyai

selir sekian puluh, ia tahu persis. Bahwa Baginda adalah lelaki terpilih di antre semua

wanita yang ada di Singasari, itu tak dibantahnya. Akan tetapi bahwa seorang yang

begitu terhormat pernah menjalin asmara dengan cara ganjil, itu susah masuk di

dalam pikirannya.

Jagaddhita menghela napas panjang. Tak mungkin dalam waktu sekejap ini

menceritakan hubungan pribadinya dengan Baginda Raja. Mungkin juga ketika

Jagaddhita meninggalkan Keraton, Upasara Wulung belum tahu banyak. Dan tak

pernah mendengar cerita.

“Berangkatlah sekarang, Wulung.”

“Tidak, Bibi… Saya tak mungkin meninggalkan Bibi sendirian di sini. Luka Bibi

masih gawat, sementara setiap saat lawan bisa menyerbu ke dalam terowongan. Mana

mungkin saya meninggalkan Bibi saat ini?”

“Wulung, kau ternyata sama tololnya dengan kerbau. Bikin malu keluarga

Keraton saja.

“Dengar. Saat ini Keraton Singasari sedang dalam ancaman bahaya terbesar.

Bahaya dari dalam. Kehinaan yang luar biasa sedang terjadi. Tuhan akan mengutuk

sampai hari kiamat.

“Tetapi, sebelum kutukan itu datang, mungkin kita semua tak melihat Keraton

lagi. Nah, selagi masih ada kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi bahaya,

mengapa tidak kita usahakan?

“Wulung, jangan pikirkan keselamatan diriku. Aku sudah terlalu tua. Kalau

sisa hidupku ini bisa menjadi darma bakti kepada Baginda Raja dan Keraton…”

Napas Jagaddhita tersengal-sengal.

Rasa nyeri kambuh dengan hebatnya. Tetapi lebih daripada rasa nyeri di

pundaknya, luka lama terobek kembali. Luka indah yang disembunyikan jauh di

dalam hati sanubarinya.

Ia hanyalah rakyat biasa. Ayahnya seorang abdi dalem bagian- karawitan. Pada

usia enam tahun, ia belajar menari. Pada usia delapan tahun, tepat sewindu, ia

diizinkan belajar di dalam Keraton. Belajar menari. Saat itu Baginda Raja Kertanegara

belum naik takhta. Akan tetapi secara tidak resmi telah memegang tampuk

pemerintahan. Sebagai pangeran pati, putra mahkota, Kertanegara sangat

memperhatikan masalah kesenian.

Sejak itulah secara resmi ia menjadi penari Keraton. Dengan nama resmi

Jagaddhita. Ketika Baginda Raja berkenan mengambilnya sebagai selir kesayangan,

Jagaddhita hanya mempunyai satu tujuan dalam hidupnya: berbakti sepanjang

hidupnya kepada yang telah memberi harga diri.

Sejak itu pula Jagaddhita hanya berpikir satu hal: membahagiakan Baginda

Raja. Dengan segala kemampuan dan pengobatan tradisional, Jagaddhita selalu

menjaga agar tubuh dan penampilannya selalu sempurna, selalu membahagiakan

Baginda Raja.

Suatu malam yang sunyi, Baginda Raja bertanya kepadanya.

“Dhita, sekian lama kita berdua, aku tidak melihatmu hamil.”

“Mohon ampun, Sinuwun. Ampunilah tindakan hamba yang cubluk yang

kelewat bodoh ini. Hamba tak berhak menerima winih, benih, dari Ingkang

Sinuwun.”

“Kenapa, Dhita? Semua selirku ingin mendapatkan anak keturunanku. Kenapa

kau tidak mau?”

“Hamba yang cubluk ini hanya berpikir dan menyerahkan segalanya demi

kebahagiaan Sinuwun. Apa artinya kepentingan hamba pribadi. Maafkan,

Sesembahan, bukannya hamba tidak berharap. Bidadari di surga pun berharap bisa

menjadi penyambung keturunan Ingkang Sinuwun. Tetapi hamba cukup puas dan

bahagia dunia-akhirat bisa membuat Sinuwun bahagia.”

“Apa yang kau lakukan?”

“Maafkan hamba, Sinuwun,”

Baginda Raja mendengarkan penuturan Jagaddhita bahwa ia pergi kepada

tukang pijat Keraton. Bahwa ia telah diurut sedemikian rupa sehingga tubuhnya tak

mungkin bisa mengandung. Ini memang berbau seks, akan tetapi itulah yang

dilakukan Jagaddhita, demi kepuasan orang yang paling dihormati.

“Ah! Kau tak usah berbuat seperti itu.”

“Hukumlah hamba yang cubluk ini.”

“Dhita, Dhita… kau benar-benar memberikan kebahagiaan dunia. Aku tak

bakal bisa melupakanmu. Ratusan selir bergilir menanti perintahku, tetapi kau lain.

Aku ingin kau menyimpan gigi emas di bagian belakang gigimu. Biarlah kita berdua

saja yang tahu.

“Dhita, sebenarnya kau tak perlu berkorban seperti itu.”

Itulah asal mulanya Jagaddhita melapisi giginya di bagian rahang dengan emas,

Bisa dibayangkan betapa sakitnya ketika tadi Jagaddhita mencoba paksa mencopotnya.

Namun semua ini dilakukan oleh Jagaddhita dengan segala kerelaan dan keikhlasan

yang tulus.

Pemujaan Jagaddhita adalah pemujaan yang tulus ikhlas. Ia tidak berambisi

apa-apa. Tidak juga sebagai selir terkasih. Atau bahkan berpikir untuk diangkat

sebagai prameswari, permaisuri, yang kesekian. Tak setitik pun terpikir ke arah itu.

Juga tidak setitik pun berpikir bahwa dengan itu ia bisa menyimpan harta benda.

Ketika terjadi malapetaka di Keraton dengan diguntingnya rambutnya,

Jagaddhita meninggalkan Keraton tanpa membawa bekal apa-apa. Kecuali cincin yang

melekat di jarinya dan dua buah gigi emas yang tersembunyi.

Dalam manekung pada Tuhan, Jagaddhita menyerahkan dirinya. Tadinya ia

berpikir untuk bunuh diri. Namun jiwa besar Baginda Raja menebas pikiran ke arah

itu. Kalaupun ia bakal mati dengan telanjang dan berdiam diri, itu atas kehendak

Tuhan, bukan keinginannya bunuh diri.

Jagaddhita memasuki hari keempat, membiarkan dirinya telanjang di tengah

hutan. Antara pingsan dan sadar. Setelah melewati masa-masa dimanjakan di Keraton.

secara tiba-tiba ia menempuh perjalanan yang panjang. Tanpa makan, minum, atau

istirahat. Tidak juga menghirup air hujan yang jatuh ke bibirnya.

Ketika itulah ia melihat bayangan mendekat. Jagaddhita tak tahu apakah yang

mendekat itu malaikat mau mengambil nyawanya, ataukah binatang buas mau

memakan dagingnya, atau bayangan dalam mimpinya.

“Seumur hidup aku kenyang melihat wanita telanjang, tapi di tempat seperti

ini sungguh tak pernah kuperkirakan.” Bayangan itu ternyata manusia

yang bisa berkata.

“Nah, jika kau masih ingin terus telanjang tanpa malu, aku akan

menikmati sampai puas.”

Jagaddhita bergeming. Ia memang sudah tak bisa berbuat apa-apa. Dan tak

tahu bahwa kemudian tubuhnya ambruk ke rumput. Dan dibiarkan semalaman, dan

esoknya diberi makan buah-buahan.

“Nah, sebelum kau mati, ceritakan siapa namamu.”

Jagaddhita menemukan dirinya terbaring di karang, dalam suatu gua.

Tubuhnya ditutupi daun-daunan.

“Saya tidak punya nama. Semua tak perlu.”

“Ini baru menyenangkan. Kau patah hati karena suamimu kawin lagi? Atau

anakmu kawin dengan orang yang tidak kau sukai? Suamimu jadi penjudi?”

Jagaddhita tak menjawab. Tak kuasa apa-apa, ketika lelaki yang berwajah tua

itu memeras air jeruk dan menyuapinya. Lalu meninggalkan. Esoknya muncul lagi.

“Belum mati?”

“Kenapa Rama menolong saya?”

“Bagus, setiap kali aku bertanya, kau juga bertanya. Aku bertanya, aku butuh

bertanya karena aku suka orang yang nglalu, orang yang berniat bunuh diri seperti

kamu.”

Lalu ditinggal pergi.

Jagaddhita mulai memakai kain yang diberikan orang itu, yang selalu datang

pada pagi hari.

“Bagus, sekarang kau mau cerita?”

“Siapa nama Rama?”

Begitulah selama dua minggu, keduanya bertemu pada pagi hari untuk saling

melontarkan pertanyaan. Minggu kedua, Jagaddhita melihat Rama sedang berlatih

silat.

“Mari kuajari kau satu gerakan yang paling mustahil. Tapi setiap kali kau harus

menceritakan dirimu.”

“Rama, apa perlunya mempelajari gerakan itu? Tanpa dipelajari pun bisa.”

Rama jadi berjingkrakan.

“Kalau kau bisa menirukan gerakku, kuangkat kau jadi muridku. Bagaimana?

Begitu selesai bicara, Rama melihat takjub. Jagaddhita menirukan secara persis

gerakan yang ditunjukkan Rama.

“Rama Guru, apakah gerakan saya salah?” Rama Guru membelalak.

“Dewa pun perlu belajar gerakan itu dua bulan. Bagaimana mungkin kau bisa

menirukan dengan sekali lihat? Kau pasti mengakaliku! Tidak, aku tak mau dipanggil

Rama Guru.

“Kecuali… kecuali kalau gerakan ini kautirukan dengan persis”

Rama Guru membuat gerakan, dimulai dengan dua gerakan tangan Yang satu

menusuk ke depan, lalu ditarik ke belakang. Sebelum tarikan penuh, tangan

sebelahnya menusuk ke depan, yang juga berbelok ke arah bawah, disusul dengan dua

gerakan kaki sekaligus, seperti tangan bertepuk. Dengan meloncat hal itu bisa terjadi.

Hanya saja, ketika tubuhnya turun kembali, satu tangan menyangga tubuh sebelum

menyentuh tanah, dan dua kakilah yang digunakan untuk menendang. Cara

menendang ke depan dengan berbalik mirip gerakan tangan. Satu maju, ditarik, dan

diganti kaki kedua yang arahnya berbelok, lalu disusul, atau lebih tepat diganti

dengan tusukan tangan.

Belum selesai gerakan itu, Jagaddhita sudah bisa menirukan. Hanya saja ketika

menjatuhkan diri dengan jungkir berbalik dan disangga dengan satu tangan,

penyanganya tidak kuat. Sehingga tubuhnya terbanting ke rumput dan tangannya

sakit sekali. Akan tetapi gerakan kakinya tetap sama. Gerakan susulan dengan tangan

terganggu karena tangan Jagaddhita sangat sakit.

“Lhadalah… siapa suruh aku berjanji mengangkat murid segala?”

“Rama Guru yang berjanji, bukan saya.”

“Katakan dari mana kau mengintip aku latihan?”

“Baru saja. Rama Guru sendiri yang mengajari.”

Bagi Rama Guru ini tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin dengan

sekali melihat bisa menirukan secara persis?

Sebenarnya bagi Jagaddhita tak ada yang aneh. Tak ada yang mustahil. Juga

ketika ditunjukkan gerakan yang makin sulit, Jagaddhita bisa menirukan secara persis.

Bahkan kemudian merangkaikan gerakan ke satu dengan gerakan kedua, dengan

gerakan ketiga, dan seterusnya. Lalu menyambung dengan gerakan semula.

Memang tidak aneh bagi Jagaddhita. Sejak kecil ia mengenal tarian. Dan

hidupnya semata-mata untuk berlatih gerakan menari. Dasar-dasar semua gerakan

tangan dan kaki ia kuasai dengan baik. Berdasarkan ketajaman matanya, ia bisa

menghafal dengan mudah. Kecuali gerakan-gerakan yang, menurut ukurannya, tidak

terlalu tepat. Seperti gerakan mengangkang atau gerakan mengangkat tangan lebih

tinggi dari bahu. Gerakan semacam ini agak tabu untuk seorang wanita. Kurang susila.

Kalau seorang guru tari yang paling kenamaan mengajarkan ini pada

Jagaddhita sebelum rambutnya dipotong, Jagaddhita lebih suka mati daripada berbuat

tidak susila. Akan tetapi sekarang ini, pikiran susila atau tidak, mencerminkan

kewanitaan atau tidak, bukan masalah lagi. Telanjang pun ia tak akan peduli lagi

apakah ini memalukan atau tidak.

Demikianlah berminggu-minggu Rama Guru mengajari berbagai gerakan, dan

Jagaddhita menirukan dengan sempurna.

“Kau bisa menirukan dengan baik, tapi tak ada gunanya. Kau tak punya tenaga

sama sekali. Percuma saja.”.

“Kalau itu bisa dilatih, apa susahnya, Rama Guru?”

Sampai enam bulan purnama, Jagaddhita melatih pernapasan dan cara

menghimpun tenaga. Rama Guru selalu datang dan pergi. Kadang melatih, kadang

langsung mengajak bertempur. Namun selama itu tak pernah saling mengenal.

Jagaddhita tak mengenal siapa yang mengajari dan Rama Guru juga tak mengenal

siapa yang diajari. Dua tahun berlalu dengan cepat. Jagaddhita makin pesat. Ia lebih

mantap dan lebih lama mengimbangi Rama Guru.

“Selama ini aku main panggil kau dan saya saja. Dengan apa kau kupanggil?”

“Saya bisa dipanggil dengan apa saja.”

“Selama ini kau dipanggil apa?”

“Jagaddhita.”

“Lhadalah… namamu terlalu bagus. Siapa yang memberi nama seperti itu?”

“Ingkang Sinuwun…”

Tak diduga tak dinyana, Rama Guru berteriak gusar dan langsung

menghantam pohon asam. Belum puas dengan satu pukulan Rama Guru menyerang

secara beruntun, dan kemudian menendangnya .hingga pohon itu rubuh

mengeluarkan suara keras.

“Kausebut nama itu, kubunuh kau!”

“Nama itu anugerah Ingkang Sinuwun. Kalau mau bunuh silakan, Rama Guru.”

Jagaddhita tak menyangka bahwa Rama Guru benar-benar mengayunkan

tangannya dan sebongkah batu jadi retak karenanya. “Rama Guru, saya tak bisa

menjawab yang lain.”

“Ketahuilah bahwa raja itu tak perlu kau ucapkan. Apalagi dengan rasa hormat

seperti itu. Ia…”

Kim ganti Jagaddhita yang murka. Ia sama sekali tak rela sesembahannya,

priyagung yang paling dihormati dan dikagumi dipanggil “ia” begitu saja.

“Mulai hari ini Jagaddhita tak perlu berguru kepada Rama lagi. Kalau Rama mau

mengambil semua ilmu yang ada, silakan.”

“Kau goblok.”

“Benar, Rama Guru.”

“Kau edan.”

“Benar, Rama Guru.”

“Ia itu…”

Jagaddhita langsung menyerang. Tiga jurus cuma, ia sudah ditelikung.

Tubuhnya dikempit dengan dua kaki Rama Guru yang sekaligus menginjaknya.

“Dhita, kau masih penasaran?”

“Panggilan itu hanya diucapkan Ingkang Sinuwun.”

Rama Guru tertawa lucu. Lalu mengumandangkan nama “Dhita, Dhitaaaa”

berulang kali hingga jemu.

“Dhita, aku mau lihat kau bisa apa. Aku bisa berteriak, bisa memanggilmu

seperti ia memanggilmu. Apa hebatnya rajamu itu?”

“Lalu apa hebatnya Rama Guru kalau cuma bisa menirukan?”

Rama Guru meludah ke tanah.

Lalu bersuara pelan, seperti kepada dirinya sendiri, “Barangkali Penguasa

Tunggal sedang mengujiku. Sekian lama aku meninggalkan Keraton, sekian lama aku

membenci dan bersumpah tak mau mendengar suara menyebut namanya. Tak

tahunya sekarang masih tetap harus kudengar sebutan raja dengan embel-embel yang

memalukan. Dan orang yang menyebut itu memanggilku sebagai Rama Guru.

“Dunia tidak adil.”

Lalu Rama Guru pergi lama sekali:

Jagaddhita berlatih sendiri. Setengah tahun ia berlatih sendiri dengan segala

ketekunannya. Semua waktu yang ada dihabiskan untuk terus-menerus berlatih.

Jagaddhita memang tak memikirkan hal yang lain. Makan ia bisa mengambil buahbuahan,

minum dan mandi tak menjadi soal. Pakaian pun selama masih ada yang

dikenakan, sudah lebih dari cukup. Satu-satunya keinginannya: bisa merubuhkan

pohon asam dan menghancurkan batu seperti yang dilakukan Rama Guru. Kalau ia

sudah menguasai itu… bisa membalas dendam.

Rama Guru ternyata muncul lagi. Dan melihat ketekunan serta ketaatan

Jagaddhita yang dahsyat. Hasratnya menyala-nyala. Sehingga ia melatih lagi, dan

lebih bersungguh-sungguh. Hubungan antara guru dan murid yang sangat ganjil.

Mereka berdua membicarakan banyak hal dengan akrab. Tapi kalau sudah membelok

ke arah pembicaraan mengenai Baginda Raja dan atau ia, menemui jalan buntu. Duaduanya

tersinggung, dan pertempuran tak-bisa dihindarkan.

Makin lama Jagaddhita makin bisa mengimbangi Rama Guru. Makin tahun

makin lama bertahan, dan beberapa kali pula Jagaddhita mampu balas menyerang.

Sesungguhnya ini cara belajar yang efektif. Karena ketika uji coba atau latihan, semua

dipraktekkan dengan sungguh-sungguh. Jagaddhita bisa melukai lengan Rama Guru.

Sebaliknya ia sendiri beberapa kali mengalami patah tulang. Atau bahkan muntah

darah.

“Dan sekarang kau bisa membalas dendam. Berangkatlah. Siapa yang akan kau

balas?”

Barulah Jagaddhita menerangkan asal-usulnya. Dan ia berangkat ke Keraton.

dan kemudian kembali lagi tanpa hasil. Ia tak jadi membalas dendam.

“Tidak jadi?”

“Rama Guru, izinkanlah saya berbakti pada Rama Guru, kepada Keraton,

kepada Baginda Raja….”

“Kau mau jadi prajurit?”

“Berbakti pada Keraton tidak selalu harus menjadi prajurit.”

“Keraton? Negara? Selama rajamu itu yang memerintah, selama itu pula masih

akan berantakan tak karuan.”

“Rama, bukankah kewajiban kita untuk berbakti pada Raja Keraton, yang

berarti berbakti pada negara? Baginda Raja sangat besar, sangat jembar, sangat luas

pandangan Baginda Raja….”

“Aku tak mau berbicara soal itu lagi. Kau sudah gila. Tak bisa dibuat waras lagi.

Pergilah. Kutunggu di sini setiap malam purnama di akhir tahun.”

Begitulah Jagaddhita mulai berkelana. Mulai terjun dalam dunia persilatan.

Sekali setahun ia kembali ke tempat semula untuk bertemu Rama Guru.

Menceritakan pengalaman, melatih, bertempur, dan berakhir dengan hal yang sama.

Bertahun-tahun kejadian itu terus berulang. Jagaddhita makin matang. Bukan hanya

dalam penguasaan ilmu silat akan tetapi juga pengalaman hidup.

Sampai suatu ketika Rama Guru membawa seorang anak kecil, yang dipanggil

Gendhuk Tri.

“Ia bisa kau pakai untuk latihan. Ajari terus seperti aku mengajarimu. Dhita,

dua tahun lagi pergilah ke Perguruan Awan. Di Sana akan ada Tamu dan Seberang.

Kalau tamu itu benar datang, lihat apa yang terjadi. Laporkan kepadaku. Mulai hari

ini aku akan sibuk sekali.”

Itulah asal mulanya Jagaddhita datang ke Perguruan Awan.

Dan sekarang, Jagaddhita merasa tak bisa menyanggupi semua perintah Rama

Gurunya. Jagaddhita menghela napas. “Wulung…” Upasara masih ragu.

Sebentar lagi aku akan mati. Juga yang lainnya. Tetapi jika kau bisa

memberitahukan ke Keraton bahwa Raja Gelang-Gelang akan kraman, akan mbalela,

akan memberontak, dan akan berkhianat, rasanya masih ada artinya.

“Makin cepat makin baik.

“Kau masih tunggu apa lagi?”

“Bibi…”

“Kalau kau tak berangkat, aku akan mati dengan sedih sekali.”

“Gendhuk Tri…”

Jagaddhita menggeleng. “Tidak. Kau jangan bawa dia. Perhatianku akan

terpecah. Biarlah Gendhuk Tri di sini bersama aku. Kepada Rama Guru aku berjanji

mengajari. Mungkin masih ada sisa beberapa saat. Sesuai dengan janjiku.

“Kalau Gendhuk Tri ikut bersamamu, ia akan memperlambat perjalananmu.

Padahal kau tak boleh terlambat. Kalau pasukan Gelang-Gelang mencapai Keraton,

sejarah Singasari akan lain.”

Upasara Wulung berpikir sendiri. Cepat ia melaksanakan jalan pikirannya.

Tangan kiri menarik Gendhuk Tri dan mulai merangkak ke luar.

“Maafkan Bibi, Gendhuk Tri saya ajak…”

Tiga rangkakan. Gendhuk Tri menggigit tangan Upasara keras sekali. Dalam

kagetnya Upasara melepaskan cekalannya.

“Siapa sudi ikut kamu?”

Benar-benar tak tahu bahaya, pikir Upasara. Ia berusaha menangkap Gendhuk

Tri yang sulit menghindar karena terowongan sangat sempit.

“Aku akan buka kainku kalau kau menarikku.”

Gendhuk Tri bukan hanya sesumbar. Ia benar-benar mengangkat dan

melepaskan kainnya. Tak ada jalan lain bagi Upasara selain memalingkan wajahnya.

Begitu berpaling pantatnya ditendang Gendhuk Tri sambil tertawa mengikik. Dan

Upasara tak punya pilihan selain terus merangkak maju.

Gua itu panjang dan gelap. Beberapa kali Upasara terantuk. Blangkonnya jatuh

entah di mana. Kadang ia terpaksa benar-benar merayap seperti ular, kadang

merangkak seperti anjing, kadang setengah laku ndodok, sikap hormat kalau mau

sowan di Keraton.

Upasara mengerahkan tenaganya. Kalau banyak orang mau mengorbankan diri

untuk memberi laporan ke Keraton, untuk berbakti pada Keraton, kenapa ia harus

ayal-ayalan? Secara jelas ia masih mendengar suara teriakan di mulut gua. Rasanya

beberapa prajurit sudah memasuki gua.

Sebentar lagi pasti menemukan tempat Jagaddhita dan Gendhuk Tri. Dan

kedua orang itu pasti akan berusaha menghambat jalan masuk. Upasara tidak mau

mati percuma. Ada dendam yang bergelora dalam dadanya. Dendam pribadi dan

dendam kepada Ugrawe serta pengkhianatan Jayakatwang.

Desakan ini semua makin mengeras dalam diri Upasara.

Dan ia berjalan, merangkak, merayap makin cepat. Makin tidak memedulikan

dirinya sendiri. Gua itu makin lama makin gelap. Seperti tak ada ujungnya. Upasara

terus merayap, merangkak, berjalan. Tujuannya hanya satu. Ke arah depan.

Barangkali akan ditemukan cahaya. Dan kemudian memacu tenaga sekuatnya untuk

bisa lebih dulu sampai ke Keraton!

JAGADDHITA melepas kepergian Upasara dengan rasa bahagia. Terdengar helaan

napasnya yang panjang, berat dan sangat melelahkan.

“Gendhuk Tri, apakah kau takut mati?” Suara Jagaddhita sangat perlahan. Rasa

masih sakit muncul setiap kali ia mengerahkan sedikit tenaga. Akhirnya Jagaddhita

bersandar ke dinding batu. Terasa tak tersisa lagi tenaganya. Kepalanya juga

menyandar sepenuhnya.

“Gendhuk Tri. apa kau takut mati?”

Sinar mata polos Gendhuk Tri memantulkan cahaya.

“Bagaimana aku tahu Mbakyu? Aku belum pernah mati.”

“Sebentar lagi akan kau rasakan. Akan kita rasakan bersama. Bagaimana

rasanya sekarang ini?”

“Aku sendiri tak tahu.”

“Inilah yang dinamakan nasib. Inilah takdir. Kita hanya tinggal menjalaninya.

Aku tidak mengenalmu, Tidak mengenal asal-usulmu. Tapi apakah penting kita saling

bercerita kalau sebentar lagi mati?

“Sejak Rama Guru menyerahkanmu kepadaku aku merasa kau bagian dari diriku. Aku

menyukaimu. Perawan seperti kaulah yang diharapkan muncul di Keraton. Baginda

Raja akan sangat bangga mempunyai rakyat sepertimu. Berani, ganas dan maju ke

depan. Sayang sekarang ini keadaannya tidak memungkinkan Baginda Raja bertemu

denganmu.”

“Mbakyu kenapa selalu bercerita tentang kematian.”

“Sebab itulah yang akan segera terjadi. Gua ini akan diketemukan. Jika bangsat

Ugrawe itu menemukan, ia akan menyerbu masuk. Satu-satunya yang bisa kita

lakukan adalah membuat mati bersama. Setidaknya melukai seperti tadi. Tapi bangsat

itu kelewat licik. Ia bisa menyuruh menimbuni lubang dan itu berarti kita terkubur

hidup-hidup di sini.”

“Kalau Kangmas Wulung bisa keluar dari sini, apa susahnya kita keluar?

“Segera setelah Mbakyu bisa menahan rasa sakit, kita melalui jalan yang

dilewati Kangmas Wulung.”

Dalam gelap Jagaddhita tersenyum.

Ingin sekali tangannya mengelus kepala Gendhuk Tri

“Gua ini dinamakan Lawang Sewu, alias Pintu Seribu. Banyak sekali jalan

masuk, banyak sekali jalan keluarnya. Akan tetapi jalan keluar yang sesungguhnya

hanya satu. Yaitu yang dilalui. Setelah itu tak mungkin bisa dilalui lagi. Ini adalah gua

yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya dipakai sekali saja.”

“Aku belum pernah mendengar nama gua seaneh ini.”

“Gua Lawang Sewu dahulu dipersiapkan olah Mpu Raganata yang kesohor.

Untuk menjebak lawan yang akan menyerbu ke Keraton Singasari. Perguruan Awan

ini sengaja dibangun di sini, karena sesungguhnya inilah benteng yang paling ketat di

luar dinding Keraton. Eyang Sepuh sengaja mendirikan Perguruan Awan di sini

bukannya tanpa perhitungan.

“Jika lawan akan menyerbu ke Singasari, pastilah akan melalui Perguruan

Awan. Dan di sinilah akan terjadi perang habis-habisan. Ada dua kemungkinan.

Perguruan Awan menang atau kalah. Jika menang, lawan bisa dihalau mundur dan

tak akan menjadi persoalan.

“Jika lawan menang, para ksatria akan melarikan diri lewat Gua Lawang Sewu

ini dengan harapan lawan akan mengejarnya. Dan lawan itu akan terkubur di sini.

Karena setiap lorong yang baru saja dilewati, tanah-tanahnya akan berguguran

menutup dengan sendirinya. Dan mereka tak mungkin bisa maju lagi. Ini akan

dimulai di tengah gua. Sehingga pengejarnya tak akan bisa mundur lagi.

“Kalau kita tadi mengikuti Upasara Wulung, kita mungkin akan selamat.

Tetapi itu percuma. Karena aku sudah tidak kuat lagi.

“Itulah sebabnya tadi kutanyakan apakah kau tidak takut mati.”

“Lawang Sewu adalah perangkap yang dahsyat. Hebat sekali yang bernama

Raganata itu.”

“Hush… kau tidak boleh menyebut namanya begitu saja.” Kalau Jagaddhita

masih cukup tenaganya, mungkin ia akan langsung menempeleng Gendhuk Tri. Atau

paling tidak akan menjewer hingga Gendhuk Tri kesakitan dan menyembah Mpu

Raganata.

“Di dunia ini. yang mampu mengimbangi jiwa besar Baginda Raja, hanyalah

Mpu Raganata. Kedua junjungan ini ibarat panglima perang dan saisnya. Akan tetapi,

siapa nyana, jika sekarang bangsat Ugrawe memorak-porandakan semua rencana

besar ini?”

“Mbakyu, aku belum mengerti. Kalau Lawang Sewu ini ciptaan yang

terhormat Mpu Raganata, bagaimana mungkin Mbakyu bisa mengerti?”

“Meskipun aku sangat dekat dengan Baginda Raja, tak bakal Baginda Raja

memberitahu soal ini.”

“Dari mana Mbakyu mengetahui hal ini?”

“Dari Rama Guru.”

“Rama Guru?”

Suara kaget Gendhuk Tri membuat Jagaddhita juga kaget.

“Kenapa kau seperti kaget?”

“Siapa sebenarnya Rama Guru?”

“Astaga, kau tak mengenalnya?”

“Tidak.”

“Bagaimana kau bisa diajak Rama Guru untuk dipertemukan denganku?”

Gendhuk Tri duduk bersila. Tangannya bermain dengan pasir tanah.

“Aku berada di Keraton, ingin belajar menari. Akan tetapi kemudian

diambil oleh Rama Guru. Dibawa berkeliling. Diajari ilmu silat, dan

kemudian dipertemukan dengan Mbakyu. Lalu Mbakyu ajak berkelana,

berlatih, dan menuju daerah ini.”

“Hmmmmmmm, aku sudah menduga bahwa Rama Guru mempunyai

hubungan yang erat dengan Keraton. Sangat erat. Tapi entahlah, hubungan apa. Rama

Guru sendiri tak pernah bersedia menjelaskan. Pastilah hubungan antara dendam dan

pemunah yang berlebihan. Hmmmmmmm, sungguh sulit diduga.

“Sampai mati pun kita tak akan mengenali

“Heh, Gendhuk Tri, kau juga tidak tahu siapa Rama Guru?”

Gendhuk Tri menggeleng.

“Bagaimana ia mengajakmu pergi?”

“Aku sudah bilang tadi. Mbakyu mendengarkan apa tidak?”

Dalam situasi yang kebat-kebit begini, Gendhuk Tri ternyata masih keras

kepala.

“Aku sudah bilang mau belajar menari. Datang ke Keraton dan kemudian

bertemu dengan Rama Guru dan ia ternyata mengajari aku ilmu silat. Lalu

membawaku pergi.”

“Kau tak tanya kenapa?”

“Rama Guru bilang, aku tak boleh jadi klangenan Baginda Raja.”

Darah Jagaddhita berdesir keras. Klangenan adalah istilah yang diperhalus dari

gendhak, atau penghibur. Agaknya Rama Guru kuatir kalau nanti Gendhuk Tri

nasibnya sama dengan Jagaddhita!

“Aku bilang bahwa aku tak mau jadi klangenan. Aku mau jadi penari.”

“Hush, kau tak boleh bicara seperti itu. Apa pun kehendak Baginda Raja, itu

harus kita junjung tinggi. Kita ini punya darah dewa mana, sehingga harus berkata

tidak kalau Baginda Raja menghendaki?

“Kalau…”

Suara Jagaddhita terhenti. Matanya menjadi buas. Dua buah bayangan

menyuruk masuk. Gendhuk Tri bersiap untuk menghadapi. Tapi bayangan tubuh itu

tak bereaksi apa-apa. Jatuh begitu saja.

Sekilas Jagaddhita masih bisa mengenali bahwa bayangan yang dilemparkan ke

dalam adalah Padmamuka dan Pu’un yang sudah menjadi mayat! Belum hilang kaget

mereka berdua, suasana berubah menjadi gelap total. Terdengar teriakan dan

hamburan tanah.

Gendhuk Tri merapat ke arah Jagaddhita.

Jagaddhita memeluk lembut.

“Mereka mulai menimbuni mulut gua.”

“Ya,” suara Jagaddhita lembut.

“Mereka mengubur kita hidup-hidup dan dua bangkai ini.” Kau takut mati?”

“Aku takut gelap.”

“Kalau begitu kau harus bunuh diri. Agar tidak mengalami ketakutan. Kalau

aku masih mempunyai tenaga simpanan, aku akan membunuhmu. Agar kau tak usah

ketakutan. Tapi aku sendiri…”

Tubuh Jagaddhita bergoyang-goyang. Ketika akan berusaha duduk tadi rasa

sakit kembali menggigit seluruh tubuhnya bagian belakang.

Gendhuk Tri merangkul Jagaddhita, lalu menyeret ke depan. Dalam gelap ia

menyuruk maju beberapa tindak.

“Apa yang harus kita lakukan, Mbakyu?”

“Suaramu gemetar. Sungguh sayang, kau harus mengalami ketakutan seperti

ini sebelum mati.”

“Siapa bilang aku takut mati? Aku takut gelap. Aku… aku… juga takut mayat.”

“Hmmmmmmm, tapi bagaimana mungkin melenyapkan mayat itu? Apa kita

harus memakannya? Itu satu-satunya jalan untuk menyambung hidup kita,

sementara.”

Gendhuk Tri bergidik. Mendadak ia lepaskan rangkulannya, dan Jagaddhita

terbanting di tanah.

“Kau sudah gila, Mbakyu. Mana mungkin kita makan mayat?”

“Habis, apa kita harus mati kelaparan dan ketakutan melihat mayat?”

“Pokoknya aku tak mau makan mayat. Paling tidak di sini ada ular atau

kelabang atau tikus atau hewan tanah yang lain. Itu masih lebih nikmat dari mayat

ini.”

Gendhuk Tri merangkak maju.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Mengubur mereka.”

“Astaga. Benar-benar goblok. Kita sendiri sudah terkubur, untuk apa bersusah

payah mengubur?”

“Sebentar lagi mayat itu berbau. Aku tak mau bau itu.”

“Gendhuk Tri…”

Gendhuk Tri terhenti.

“Hati-hati. Jangan sentuh dengan tanganmu. Mayat itu mengandung racun keras.

Padmamuka adalah biangnya racun. Semua darah dan kulit pori-porinya beracun.

Kau bisa mati karenanya.”

“Mbakyu… Mbakyu…Tadi bilang kita bakal mati. Kalau mati kena racun atau

kelaparan, apa bedanya?”

Meskipun demikian. Gendhuk Tri mengindahkan kalimat Jagaddhita. Ia

menggali tanah sekitarnya dengan patrem. Sampai berkeringat dan tersengal-sengal.

Semua dilakukan dalam gelap. Hanya berdasarkan perkiraan saja. Baru kemudian

menggulingkan kedua tubuh itu ke dalam satu liang, dan kemudian menimbuni

dengan tanah.

Waktu yang digunakan untuk menggali dan menimbun kembali cukup lama.

Sehingga Gendhuk Tri tersengal-sengal dan kehabisan tenaga.

“Nah, kini kalian berdua bisa beristirahat dengan tenang. Kalian pasti tak

mengira aku telah menguburkan kalian dengan baik. Mudah-mudahan arwah kalian

tahu cara berterima kasih dan menunjukkan pada kami jalan keluar. Setidaknya

bangkai kalian tidak terlalu busuk dan mengganggu kami. Tapi tetap cukup busuk

untuk mengundang ular tanah dan aku bisa menyantap.”

“Gendhuk Tri…”

“Sudah selesai, Mbakyu…”

“Kau belum mati?”

“Hampir,”

“Tidak. Kita belum bakal mati. Lawang Sewu ini ternyata masih

memungkinkan kira bernapas. Setidaknya…”

“Apa, Mbakyu?”

“Tidak. Dari mana kita bisa keluar?”

“Kalau kita bisa bertahan di sini. Kita bakal keluar dari pintu kita masuk tadi.

Gua ini kan buntu di depan, tapi arah kita datang tadi kan masih terbuka. Hanya

ditutup dari luar. Kalau kita bisa mengorek sedikit demi sedikit, kita bisa keluar.”

“Mana mungkin Ugrawe meninggalkan begitu saja?”

“Ugrawe atau neneknya atau kakeknya, apa susahnya menghadapi. Kalau ia tak

ada di situ justru aku yang akan mencarinya. Kupingnya yang sebelah akan

kuputuskan juga.”

Diam-diam Jagaddhita memuji ketabahan dan semangat tinggi Gendhuk Tri.

Benar kau-katanya tadi: Baginda Raja memerlukan perawan yang seperti ini, Kalau

para wanita mampu berperan seperti Gendhuk Tri—dan bukan sekadar puas menjadi

selir—sejarah Keraton Singasari akan lain sekali.

Tapi sayangnya, pikir Jagaddhita, mungkin saat berbakti itu sudah tak ada lagi.

“Awas sebelah kiri…” Suara Jagaddhita memperingatkan Gendhuk Tri. Walau

ia terluka parah, kemampuannya mendengar desisan halus binatang masih sempurna.

“Ah, ular ini ternyata lebih cepat datangnya. Dagingnya bisa dimakan,

darahnya bisa diminum.”

Jagaddhita mendengar bunyi gerak cepat dan suara cekikikan. Sepertinya bisa

menangkap hidup-hidup. Akan tetapi selebihnya tak bisa apa-apa. Jagaddhita ingin

mengeluarkan suara, tetapi tenaganya telah musnah. Antara sadar dan tidak, dalam

gelapnya gua yang pekat ia melihat warna-warna-warni-warni, seperti suasana

upacara di Keraton.

“Sembah dalem…” Suara itu hanya terdengar dalam hati Jagaddhita.

Ia sendiri terbaring lemah, tak bisa berbuat sesuatu. Warna-warna-warniwarni

itu berubah menjadi senyuman Baginda Raja. Jagaddhita merasa aman, damai,

tenteram, tenggelam….

PASAR BANYU URIP di desa Banyu Urip merupakan pasar yang terbesar di simpang

jalan menuju Keraton Singasari. Setiap lima kali sehari, di hari pasaran, suasana

menjadi sangat ramai. Sejak pagi-pagi, masyarakat sekitar berdatangan untuk menjadi

penjual atau pembeli atau dua-duanya sekaligus.

Meskipun disebut sebagai pasar dan paling ramai, keramaian itu sangat

terbatas. Hanya ada dua bangunan dibuat dari bambu, beratapkan daun. Seperti juga

bangunan-bangunan rumah yang ditemukan sepanjang jalan. Pada hari kedua dalam

perjalanan, Upasara Wulung menyaksikan masyarakat pedesaan hidup dalam keadaan

tenteram dan damai. Sawah yang luas, hutan-hutan yang masih kelewat lebat,

sepenuhnya memantulkan suasana alam. Sepi tapi damai. Sungguh berbeda dengan

hiruk-pikuk Keraton. Dalam dua hari melakukan perjalanan, sejak keluar dari Lawang

Sewu, Upasara hanya berjumpa beberapa kali dengan penduduk yang berjalan di jalan

setapak.

Suasana masyarakat belum ramai. Jalan setapak yang agak lebar pun tak banyak dilalui

gerobak yang ditarik sapi. Kusir gerobak menegur ramah, dan menyilakan Upasara

untuk ikut menumpang.

“Mari, Anakmas, beristirahatlah sebentar. Barangkali Anakmas ingin minum

seteguk air tawar.”

Upasara menatap wajah sais gerobak. Wajah yang jujur, polos, dengan

pancaran kebahagiaan dan niat berbuat baik. Upasara menjadi tidak enak dalam hati.

“Biarlah, Paman, hamba berjalan. Rasanya kaki hamba masih bisa meneruskan

langkah.”

“Ah, sungguh tak enak. Gerobak Paman memang tak pantas. Kenapa saya

begini tolol menawarkan diri?”

“Maaf,” Upasara menjadi kikuk. Dan ia naik ke gerobak. Di bagian depan.

Dalam dua hari perjalanan, Upasara berubah banyak. Penampilannya tidak lagi mirip

ksatria dari Keraton. Ia bertelanjang dada, seperti umumnya orang desa. Juga tidak

mengenakan ikat kepala. Satu-satunya yang agak mewah hanyalah kain yang

dikenakan. Meskipun sudah kotor, sobek di sana ini tapi masih memperlihatkan

bahwa dulunya bukan kain yang murah. Namun secara keseluruhan, penampilan

Upasara tak jauh berbeda dengan penduduk setempat. Telapak kakinya juga

mengesankan sudah pecah-pecah.

“Paman bernama Toikromo….”

“Maafkan hamba, Paman Toikromo. Seharusnya hamba memperkenalkan diri

terlebih dulu. Maafkan hamba yang tak kenal sopan-santun. Upasara berusaha

memberi hormat dengan menunjukkan ibu jari ke arah Toikromo, sambil menunduk.

“Nama hamba Upa, berasal dari gunung. Hamba ingin nyuwita ke Keraton. Siapa tahu

di sana membutuhkan tenaga pencari rumput….”

Upasara merasa kurang enak jika harus berbohong. Menghadapi wajah yang

polos, hatinya terganggu. Maka ia menyebutkan bahwa namanya Upa. Upa juga

berarti sebutir nasi. Nama yang biasa dipakai rakyat desa. Ia tidak mungkin

menyebutkan nama lengkapnya, kecuali kalau ingin membangkitkan pertanyaan

lainnya yang lebih jauh. Dengan menyebutkan ingin nyuwita, ingin mengabdi ke

Keraton, hal ini mengurangi kecurigaan. Karena di zaman itu menjadi kelaziman

utama mengabdi ke Keraton. Sedikit pemuda yang tertarik untuk melanjutkan hidup

sebagai petani. Kalaupun menjadi petani, itu adalah petani Keraton, dan namanya

nyuwita juga. Apakah pekerjaan yang dilakukan menjadi penari, pesinden, penabuh

gamelan, pencari rumput untuk kuda, itu soal lain.

“Paman dulu juga ingin nyuwita tapi tak bisa diterima. Jadinya Paman bekerja

sendirian, sebagai pengantar barang. Sekadar mencari sesuap nasi dan setetes air.

“Kalau mau ke Keraton, kita bisa sama-sama ke Pasar Banyu Urip.”

“Terima kasih sekali, Paman Toikromo. Hamba telah banyak merepotkan.”

“Ah, jangan merasa begitu. Paman merasa gembira mempunyai teman. Tiga

hari ini Paman berjalan sendirian. Hanya bercakap dengan Seta….”

Upasara tak bisa menyembunyikan rasa herannya.

“Ini, sapi-sapi Paman….”

Upasara tersenyum. Dalam hatinya merasa heran juga. Mereka mempunyai

nama sederhana untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. tetapi untuk nama binatang

peliharaannya cukup bagus.

“Pasar ramai sekali, Paman?”

“Ya, akhir-akhir ini. Selesai mengantarkan barang ini, Paman juga akan

mengantarkan barang lainnya.

Upasara melirik ke bagian belakang. Tumpukan kotak-kotak kayu. Dilihat dari

gerak dua ekor sapi yang berat. bisa diduga isinya sangat berat. Dan itu hanya

mungkin jika di dalam kotak itu berisi… besi. Dan itu berarti senjata!

“Diantar ke Gelang-Gelang, Paman?”

Tidak. Paman dari Sana.”

“Kemarin ini juga ada gerobak menuju ke sana.”

“Ah, mungkin itu saudara Paman juga. Hanya kami yang mempunyai gerobak

semacam ini. Lima-limanya dipakai semua. Ramai sekali. Belum pernah seramai ini.

“Kalau Anakmas gagal nyuwita, carilah Paman. Anakmas bisa bekerja

pada Paman.”

“Terima kasih, terima kasih sekali, Paman Toikromo. Hamba akan segera

sowan Paman.”

“Paman juga punya anak gadis. Anakmas sudah kawin?”

Wajah Upasara merah. Menunduk gelisah. Perkelahian mati-hidup ia bisa

menghadapi dengan tenang. Akan tetapi ditanya secara telak begini, apa yang bisa

dilakukan? Ini benar-benar pembicaraan terbuka.

“Paman, orang seperti hamba siapa yang bersedia mengambil menantu?” “Sama

juga. Kalau sudah menjadi abdi dalem, siapa mau mempunyai mertua kusir gerobak?”

Toikromo tertawa bergelak.

Gerobak itu mencapai Pasar Banyu Urip menjelang tengah hari. Upasara

membantu menurunkan peti-peti. Meskipun Toikromo mengatakan tak usah. Benar

dugaan Upasara bahwa tumpukan peti itu berisi tombak, keris, pedang, gada, serta

perisai. Suatu persiapan yang besar-besaran.

Dari Pasar Banyu Urip, peralatan itu akan diangkut oleh gerobak yang lain.

Sebenarnya di pasar ini Upasara berharap bisa membeli dua ekor kuda. Ia

masih menyimpan gelang emas yang tadinya dipakai di kaki. Setidaknya itu bisa

ditukarkan dengan dua ekor kuda yang bisa digebrak menuju Keraton. Makin cepat

makin baik. Kalau mengandalkan kekuatan kaki, bisa-bisa sampai sepuluh hari belum

sampai. Dulu saja ketika berangkat ke Perguruan Awan melalui jalan pintas,

memakan waktu tiga hari tiga malam berkuda penuh.

Namun harapan sia-sia. Tak ada bayangan seekor kuda atau kerbau atau sapi

yang ditambat. .

“Kenapa, Anakmas?”

“Biasanya ada kuda yang dijual.”

“Biasanya memang ada. Sekarang belum sampai di sini sudah laku. Bahkan

yang masih dalam kandungan sudah dipesan. Haha, Paman ini orang bodoh. Tapi

semenjak Baginda Raja, yang menjadi sesembahan masyarakat, mengirim pasukan ke

negeri seberang, masyarakat jadi makmur. Perang malahan membuat dagangan laku.

Haha, Paman ini orang bodoh tidak mengerti apa-apa.”

Memang, pikir Upasara. Kalau mengerti persoalan sebenarnya, tidak mungkin

tertawa selepas ini. Paman Toikromo mi, seperti juga yang lain, mana mungkin

memedulikan siapa yang membeli? Yang diketahui cuma satu. Pihak Keraton. Tapi

apakah itu Keraton Singasari atau Gelang-Gelang ataupun yang lainnya, mana mereka

memedulikan?

“Mungkin Anakmas akan bisa diterima menjadi prajurit.”

“Pangestu Paman.”

Toikromo bergerak lagi.

Dua belas tumpukan peti bisa dipindahkan dalam waktu singkat. Biasanya

memakan waktu sampai malam. Itu pun harus ditangani beberapa orang. Akan tetapi

Upasara sanggup mengangkat sendirian. Kalaupun berdua dengan Toikromo,

Toikromo seperti memegang papan yang enteng.

Dua orang prajurit yang mengawasi, maju ke arah Toikromo.

“Anakmu cukup kuat, Pak Kromo.”

Toikromo menghaturkan sembah. Upasara juga menghaturkan sembah. Dalam

hatinya tersenyum geli. Mana mungkin ia harus menyembah prajurit biasa-biasa

seperti ini? Senopati Suro pun memberi hormat lebih dulu!

“Hamba hanya kuat makan, Raden….”

Upasara sengaja mengucapkan sebutan raden dengan keras. Tak peduli pantas

disebut raden atau tidak, prajurit itu tersenyum lebar.

“Kami sedang mencari tenaga untuk mengangkut barang. Kalau kau bersedia,

aku bisa mempekerjakanmu.”

“Anak ini memang ingin nyuwita….”

“Asal tidak bertingkah.”

“Maafkan hamba, Raden Prajurit….”

Toikromo berbisik, “Anakmas, ini peruntungan bagus. Siapa sangka kamu

langsung diterima?”

“Semuanya karena pangestu Paman.”

“Tapi jangan lupa, Paman masih ingin bermenantukanmu.”

Prajurit itu mengeluarkan suara di hidung, sehingga Toikromo buru-buru

terdiam tak bergerak. Malah suara napasnya pun tak terdengar.

“Tunggu di sini, malam nanti akan kujemput.”

Upasara menghaturkan sembah. Dua prajurit itu berlalu tanpa memperhatikan

Upasara. Dengan lirik matanya, Upasara melihat arah berlalunya dua prajurit.

Telinganya masih mendengar percakapan dua prajurit itu.

“Enak kita. Kalau ada kuli seperti itu.”

“Lebih baik begitu. Kan tidak lucu kalau kita prajurit harus mengangkut

barang seperti itu. Kalau kita cepat. kita bisa naik pangkat. Siapa tahu dapat persen

dan bisa kawin lagi?”

Menunggu malam hari, Toikromo-lah yang paling sibuk. Ia mengajak Upasara

mandi di belik, si sebuah sendang kecil. Dan meminjami sisir, serta memberi bedak.

“Wajahmu tampan, Anakmas.”

“Sudahlah, Paman”

Sebenarnya Upasara ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun merasa tak

enak jika ia meninggalkan begitu saja. Ia kuatir jika dua prajurit itu menuduh Pak

Toikromo mempermainkan mereka. Akibatnya bisa runyam semuanya. Makanya,

Upasara ingin penolongnya berlalu dulu dan ia akan mencari kesempatan baik untuk

meloloskan diri. Di samping itu, ia juga ingin menggunakan saat yang sebentar untuk

beristirahat dan memulihkan tenaganya.

Tetapi Toikromo ternyata menunggu sampai Upasara diambil dua prajurit itu

baru berlalu. Setelah mengadakan perpisahan sederhana, Upasara mengikuti dua

prajurit itu.

Masuk ke dalam bangunan rumah yang agak megah. Dindingnya dari anyaman

bambu. Demikian juga bagian lantai rumah. Jadi bukan dari tanah biasa.

“Besok pagi mulai bekerja. Malam ini kau beristirahat di sini.”

“Sembah dalem, Raden….”

Salah seorang dari prajurit itu mengeluarkan duit receh terkecil dan

melemparkan ke tanah.

“Ini buat beli tembakau.”

Dahi Upasara berkerut.

Sungguh tersiksa rasa congkaknya untuk memungut duit yang dilemparkan

dengan cara seperti itu, dan ini dilihat oleh prajurit-prajurit yang lain.

“Maaf, Raden. Hamba tidak menisik dengan tembakau….”

Upasara bergeming, tidak mengambil duit.

“Pakailah untuk makan.”

“Maaf, hamba sudah diberi oleh Bapak….”

Prajurit itu menggertakkan giginya.

“Kalau kuperintah mengambil, jangan berbuat yang lain.”

Upasara menghaturkan sembah. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil

recehan ketika prajurit itu menyungkil dengan tombaknya. Kepingan mata uang itu

melayang ke atas, dan ditangkap dengan sebelah tangan. Upasara menjadi gusar.

“Hah!” teriaknya kaget.

Namun bersamaan dengan teriakan kaget dan mulut terbuka, Upasara mengirimkan

tenaganya, sehingga kepingan logam itu jadi melenceng. Si prajurit menangkap angin.

Kepingan duit logam itu jatuh kembali ke tanah.

Prajurit yang lain menertawakan.

Ditertawakan, seperti itu prajurit yang congkak ini jadi merah-padam. Tetapi

ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan tak menduga ini ulah Upasara. Hanya geramnya

dilampiaskan ke Upasara.

“Pungut duit itu. Ikut aku. Kuajari caranya menisik tembakau.”

“Baik, Raden.”

Upasara memungut duit dan mengikuti prajurit di depannya.

“Jangan sekadar memanggil Raden. Panggil aku Raden Sukra. Ini pelajaran

kalau ingin menjadi calon prajurit.”

“Nama hamba Upa….”

“Siapa yang menanyaimu? Tugasmu hanya menjawab pertanyaan dengan

kalimat: ‘Sendika dawuh, Raden Sukra'”

“Sendika dawuh, Raden Sukra.”

Sambil menahan rasa dongkol yang sudah sampai di leher, Upasara mengikuti

Prajurit Sukra. Ada yang menahan Upasara untuk langsung menyikat Prajurit Sukra.

Pertama karena ia ingin mengetahui persiapan apa yang terjadi di tempat ini. Ini

cukup beralasan karena Upasara melihat adanya panji-panji atau umbul-umbul yang

sama dengan yang dikibarkan di dalam tenda Raja Muda Gelang-Gelang. Matanya

sempat melihat ke dalam bangunan rumah.

Di bawah penerangan obor yang dinyalakan dari ujung tangkai pohon kelapa

yang diremukkan dari beberapa jurusan, beberapa prajurit utama berkumpul.

Semuanya duduk di bawah. Menghadap kursi yang masih kosong.

“Hei. Jangan longak-longok begitu. Jongkok.”

Kali ini Prajurit Sukra bukan hanya berkata, akan tetapi langsung menarik

pundak Upasara dan menyeretnya ke tanah. Upasara mengikuti bantingan, hingga

tubuhnya seperti dilontarkan ke depan. Ia bisa melihat lebih jelas kini. Sebelum

Prajurit Sukra maju kedua kalinya. terdengar langkah kaki memasuki bangunan

utama. Semua prajurit langsung tunduk dan menghaturkan sembah. Kesempatan ini

digunakan oleh Upasara. Dengan mengambil batu kerikil kecil, ia menimpuk ke arah

Prajurit Sukra dan badan Sukra menjadi kaku.

Tentu saja di saat semua menunduk, kehadiran Prajurit Sukra jadi menarik

perhatian.

Begitu yang memegang pimpinan melirik ke arah Prajurit Sukra, semua

menahan napas.

“Prajurit mana yang tak tahu adat itu?”

Bersamaan dengan itu tangan ksatria yang berada di tengah ruangan

menuding. Upasara menduga bahwa sebuah tenaga lurus menghantam ke arah

Prajurit Sukra. Upasara tak mau berisiko. Ia menyambitkan batu kerikil untuk

membebaskan kekakuan Prajurit Sukra. Soalnya kalau orang mengetahui bahwa

Prajurit Sukra berdiri kaku karena tertotok jalan darahnya, bisa buyar semua

rencananya. Maka ketika tenaga dan jari telunjuk itu menyentuh Prajurit Sukra, yang

terakhir ini sempat mengaduh. Matanya membeliak dan tubuhnya terjatuh ke depan.

Ksatria di depan itu meraupkan tangannya, dan Prajurit Sukra seperti

melayang di udara. Lalu dengan satu tolakan tangan yang itu juga. tubuh Prajurit

Sukra terlempar jatuh ke belakang. Tak terdengar suara mengaduh.

Upasara menahan ludah yang hampir tertelan. Satu gebrakan yang keras dan

ganas. Kalau melawan prajurit biasa. seorang yang mempunyai kepandaian tertentu di

atasnya bisa mempermainkan. Itu bukan hal yang aneh.

Yang membuat Upasara bertanya-tanya dalam hati ialah gerakan ksatria itu. Tak

ubahnya gerakan yang dipertontonkan oleh Pujangga Pamungkas, Ugrawe.

Siapa ksatria ini?

Dilihat dari usianya, masih sepantaran dengan Upasara. Tapi dilihat dan

pangkat dan jabatan, jelas ia pemimpin dalam pasukan ini. Dilihat dari kemampuan

dan tenaga yang dipergunakan, jelas susah ditentukan di mana tingkatnya.

“Sembah dalem, Gusti Rawikara….”

Rawikara melambaikan tangan. Para prajurit yang menghaturkan sembah

tetap menunggu. Akan tetapi agaknya yang ditunggu tidak segera duduk di kursi yang

telah disediakan.

Rawikara berarti sinar matahari. Kini, pertanyaan Upasara agak terjawab

sedikit dengan gerakan yang didemonstrasikan tadi. Pantas saja gerakannya seperti

Ugrawe. Ataukah ksatria ini murid Ugrawe? Kalau benar begitu, jelas banyak tokoh

yang tangguh bergabung dengan pasukan Gelang-Gelang.

“Bagaimana dengan penjagaan?”

“Sembah dalem, Gusti….” Seseorang menghaturkan sembah. “Sampai hari ini

belum ada yang melalui jalan di depan.”

“Meskipun demikian, jangan sampai lengah. Kita mendapat tugas untuk

mengamati jalan di Banyu Urip. Karena ini satu-satunya jalan utama menuju ke

Keraton Singasari dari Perguruan Awan.

“Siapa pun yang lolos dari sana, akan melalui jalan ini.”

Diam-diam Upasara bersyukur. Di luar perhitungannya sendiri, ia bisa lolos

dari pengawasan. Kalau saja ia muncul sendirian di pasar, pasti ia sudah ditanyai

dengan berbagai pertanyaan dan akan sangat repot. Untung saja ia muncul bersama

Toikromo yang sudah dikenal baik para prajurit di sini. Sehingga tidak menimbulkan

kecurigaan sedikit pun. Bukan tidak mungkin selama ini Toikromo ditemani oleh

keponakan atau anaknya. Hanya saja karena banyaknya gerobak yang dimiliki semua

dipakai untuk mengangkut, jadi hari ini Toikromo terpaksa mengangkut sendirian.

“Meskipun tugas utama kita menghimpun kekuatan, akan tetapi baru saja ada

berita dari Perguruan Awan, bahwa Senamata Karmuka sempat lolos. Tetapi ia tak

akan pernah mencapai Keraton Singasari.

“Tidak, selama kita masih di sini.

“Aku menginginkan semua menjalankan tugas dengan baik. Jangan mencoba

menyepelekan tata tertib yang berlaku.”

Secara serentak para prajurit menghaturkan sembah.

“Semua yang diundang ke Perguruan Awan bisa diselesaikan. Sebagian

ditawan, sebagian dibunuh, dan sebagian dikubur hidup-hidup.”

Upasara menggertakkan gerahamnya. Ia teringat akan nasib Jagaddhita dan

Gendhuk Tri.

“Hanya mayat Senamata Karmuka yang belum ditemukan. Boleh dikatakan

tugas pertama berhasil sempurna. Tinggal melaksanakan dua tugas berikutnya. Kalau

ini sudah terlaksana, kita akan melihat tanah Jawa kembali diperintah oleh yang

berhak. Kembali diperintah titisan dewa dan bukan turunan para perampok.”

“Sembah dalem, Gusti….”

Rawikara mengeluarkan suara mendesis.

“Tetapi tetap ada yang membuat ganjalan. Maharesi Ugrawe dilukai sedikit,

tapi tak menjadi soal. Akan tetapi yang menjadi soal ternyata di antara kita sendiri ada

yang berkhianat.”

Sejak meninggalkan Perguruan Awan, Upasara tak tahu apa yang terjadi. Baru

sekarang ini semua keterangan bisa diperoleh. Akan tetapi yang jauh lebih menarik

perhatiannya ialah ternyata Maharesi Ugrawe—begitulah Rawikara menyebutnya—

yang menjadi pucuk pimpinan prajurit Gelang-Gelang, mempunyai tiga rencana

sekaligus. Pertempuran hancur-hancuran dan habis-habisan di Perguruan Awan

hanyalah salah satu dari tiga rencananya.

Betapa dahsyat tipu muslihatnya!

Tiga rencana dilaksanakan secara serentak.

Tidak percuma semua gelar yang diangkat dan dianugerahkan untuk dirinya

sendiri. Ugrawe memang luar biasa. Jago silat kelas utama, sekaligus ahli siasat perang

yang memegang komando sendiri.

Dalam hati Upasara menduga bahwa dua rencana yang lain pasti tak akan

dikatakan di pertemuan ini. Pertemuan ini terlalu terbuka untuk menjelaskan tugas

rahasia. Inilah tugas Upasara untuk bisa mengetahui.

Pasti juga bukan hal mudah. Akan tetapi jika ia berhasil mengendusnya, bukan

mustahil semua rencana bisa digagalkan. Dan ini berani keselamatan Keraton bisa

dipertahankan.

Hanya saja kalimat terakhir Rawikara membuatnya sedikit bergidik. Kalau

dikatakan ada yang berkhianat, apakah Rawikara mengetahui kehadiran dirinya?

“Tak perlu kuatir. Aku sendiri telah menangkap pengkhianat itu.”

Tangannya melambai. Persis gerakan Ugrawe. Upasara menghimpun

tenaganya. Namun ternyata ucapan itu tidak ditujukan kepada dirinya. Ucapan itu

ditujukan kepada sekelompok prajurit yang menyeret maju seseorang yang telah

diikat erat sekujur tubuhnya.

Upasara bisa segera mengenali bahwa yang diikat erat itu adalah… Kawung

Sen! Apakah karena dalam pertempuran lalu Kawung Sen membebaskan dirinya,

maka sekarang dianggap pengkhianat? Upasara menahan getaran di tangannya. Ia

berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berbuat sembrono.

“Inilah pengkhianat itu. Dan kalian semua akan melihat bagaimana aku

menghukumnya, karena Maharesi Ugrawe telah menyerahkan hal ini padaku.

“Hoho, sejak kemarin dulu aku selalu dikatakan pengkhianat. Tetapi apa

sebenarnya dosaku?”

“Kawung Sen, kau masih bertanya? Kan tahu siapa aku? Kau tahu kenapa

Maharesi Ugrawe menyerahkan persoalan ini padaku? Karena aku bisa menyiksa

manusia dan setan untuk mengaku.”

“Itu aku sudah tahu. Semua juga tahu. Bahkan kalau disuruh menyiksa ayahmu

sendiri, kau akan menjalankan perintah gurumu.”

Kini lebih jelas. Maharesi Ugrawe memang benar guru Rawikara. Tapi siapa

yang disebut sebagai ayah? Mungkin Jayakatwang sendiri?

“Aku tak pernah berkata lain. Aku selalu memegang janjiku. Nah, Kawung

Sen, mengingat jasa baikmu dahulu ketika menyerbu Keraton Singasari, mengingat

pengorbanan saudara-saudaramu, katakan di mana kau sembunyikan Kartika Parwa

dan Bantala Parwa”

“Hoho, jadi itu dosaku?” Kawung Sen bergelak. Hanya itu yang bisa dilakukan

dengan bebas, karena menggerakkan ujung jari pun agaknya tak mungkin. Kedua

tangan dan kakinya diikat, dan itu pun saling dikaitkan. Tubuhnya terbaring di lantai

yang dialasi anyaman bambu. “Semua orang juga tahu, untuk apa aku mencuri kitab

bulukan itu. Pasti untuk mempelajari, untuk kubaca pelan-pelan, kuhafalkan. Agar

aku bisa mengalahkan Ugrawe yang merasa menguasai segala macam soal matahari,

rembulan, bintang dan langit, serta bumi. Untuk apa dipersoalkan lagi. Ayolah paksa

aku. Siksa aku. Biar aku mengaku.”

Dari jawaban Kawung Sen yang tetap berani, Upasara tak bisa menebak

arahnya ke mana. Karena jawaban itu sudah jelas. Kalau seorang dituduh mencuri

suatu kitab, jelas untuk dipelajari, Apa lagi selain itu. Rangkaian jawabannya juga

benar. Ugrawe dikenal menguasai ilmu angin puyuh yang dahsyat karena berhasil

menggabungkan berbagai unsur kitab-kitab yang ada. Seperti yang dinamakan sebagai

kitab mengenai bintang, Kartika Parwa, dan kitab mengenai bumi, Bantala Parwa.

Bahwa dua kitab itu penting, mudah dimaklumi. Sama mudahnya memaklumi bahwa

Ugrawe memang menyimpan berbagai kitab pusaka. Akan tetapi bahwa Kawung Sen

dituduh mencuri, agak janggal. Terutama sekali dari jawaban Kawung Sen.

“Ayo lakukan. Tak bakal ada yang menyalahkanmu. Kau putra Raja Muda

Gelang-Gelang. Gurumu adalah Maharesi Ugrawe. Apa susahnya?

“Tapi ketahuilah, Rawikara. Kau sama bodohnya dengan aku atau Ugrawe.

Kenapa untuk soal sekecil ini saja aku harus diseret kemari dari Perguruan Awan?

Kenapa Ugrawe sendiri tak bisa menyelesaikannya? Kenapa aku harus dituduh?

Semua orang juga tahu bahwa Kawung Sen adalah orang yang paling bodoh di antara

kawung yang lain. Karena Kawung Sen tak mengerti baca dan tulis,

“Lalu untuk apa kalian semua menjerat aku seperti ini?”

Upasara baru mengerti sekarang ini bahwa Kawung Sen tidak mengerti baca

dan tulis. Agak mengherankan, akan tetapi hal itu memang bisa saja terjadi.

“Sayang benar. Ayahmu bercita-cita jadi Baginda raja. Gurumu jadi paman

negara. Tapi kau putranya, muridnya yang terkasih diberi pekerjaan yang tak ada

artinya. Tidak sadarkah bahwa kau diperolok-olok?”

Rawikara mengedipkan matanya.

“Dalam tugas besar ini aku memang cuma menjadi penjaga jalan dan

menyiapkan alat-alat perang. Aku tak kebagian tugas penting. Tetapi apa pun tugas

yang diberikan oleh Maharesi akan kulakukan dengan baik.

“Aku tahu kaulah yang mengambil kitab itu. Pertanyaanku: Kepada siapa kau

serahkan kitab itu?”

“Mudah sekali jawabannya. Kepada orang yang bisa membaca dan mau

mengajariku.”

Belum pernah Upasara melihat peristiwa yang tak masuk akal ini. Bagaimana

bisa seorang seperti Kawung Sen yang pernah dianggap berjasa dan dianggap senopati

kemudian dituduh mencuri kitab? Bagaimana mungkin ia diseret begitu jauh untuk

dipertemukan dengan Rawikara?

Tetapi memang Ugrawe tokoh yang serba aneh dan serba ganjil. Segala apa

yang dilakukan serba tak menentu. Di satu pihak bisa memerinci suatu gebrakan besar

dan bukan hanya satu. Akan tetapi di lain pihak, perincian itu termasuk yang tak

perlu dilakukan.

Upasara, walau baru sekali bertukar kalimat, menyadari bahwa Ugrawe mudah

kacau pikirannya. Seperti ketika diingatkan bahwa ia malah mencari musuh baru

dengan mengadakan pertempuran habis-habisan dengan niat membunuh semua yang

ada di Perguruan Awan. Atau seperti yang dilihat sendiri oleh Upasara. Semua lawan

bisa dihadapi dengan mudah dan bisa dikalahkan, akan tetapi rasanya Ugrawe tak

berani bentrok dengan Senopati Pangastuti. Penglihatan Upasara yang tajam bisa

seketika menemukan titik kosong dalam masalah ini.

Anehnya hal seperti ini ternyata tertular kepada Rawikara, muridnya.

Mengancam Kawung Sen di depan para prajurit dalam suatu ruang terbuka lebar.

“Bagus. Berikan kepadaku dan nanti aku ajari kamu.”

“Mana boleh begitu. Itu sama saja menyuruh aku mengakui. Dan bagiku,

pantangan besar mengakui apa yang tak kulakukan.”

“Atau begini saja. Kau ambil dulu kitab itu, kauberikan padaku, lalu

kukembalikan, dan kau mengajariku, begini?”

Kawung Sen bergelak.

Dan masih bergelak, ketika Rawikara mengangkat tubuhnya lalu

melemparkannya ke atas. Sebat sekali gerakannya, dengan melemparkan bagian ujung

talinya sehingga terikat di salah satu tiang.

Tubuh Kawung Sen jadi terayun-ayun di udara.

“Begitulah cara mati yang paling hina. Tubuhnya tak menyentuh tanah.

Rawikara tertawa.

Tangannya mengambil salah satu cawan tanah dan diguyurkan ke tubuh

Kawung Sen.

“Dengan air gula aren ini, semua semut akan menggigitmu. Itulah cara

mati yang lebih sengsara lagi.”

Tiga cawan air gula aren, ditambah dengan botol yang lain. Sehingga air gula

aren itu meleleh ke tanah. Sebagian ditumpahkan ke bagian wajah. Sebagian lagi

dioleskan lewat tiang rumah. Memberi jalan semut-semut yang akan menyerbu wajah

Kawung Sen.

“Mati karena digigit semut. Aha.”

Kali ini Kawung Sen tidak berani membuka mulut. Wajahnya menjadi pucat.

“Sekarang kalaupun kau mengaku, aku takkan membebaskanmu.”

Dengan gerakan kilat, Rawikara meloncat ke tengah ruangan. “Kalau sampai

besok tak ada seekor semut datang padamu, kau akan kubebaskan. Rakyatku, dengar

apa kata gustimu ini, yang tak pernah menelan ludah yang sudah disemburkan.”

“Sembah dalem, Gusti….”

“Sekarang kalian semua bubar dari sini. Meneruskan pekerjaan jaga.”

“Sembah dalem, Gusti….”

Rawikara nampak puas. Ia berjalan ke bagian belakang dan menghilang. Para

prajurit yang tadinya duduk bersila tak berani bergerak kini berdiri. Melihat Kawung

Sen yang terayun di udara.

“Kalau ada yang berani menertawakanku, akan kucabut nyawanya begitu aku

dibebaskan. Kalau aku mati, akan kucekik lehernya. Sebagai hantu aku bisa

melakukan itu.”

Beberapa prajurit undur ketakutan.

Upasara bergerak lebih dulu. Ia masuk ke kemah bagian dapur. Koki yang

sedang tidur ditepuk urat di pundaknya. Ia mencari garam. Diremukkan dalam

genggaman tangan sehingga menjadi debu yang halus. Kemudian dengan cepat ia

kembali ke tempat Kawung Sen digantung,

Melihat seorang prajurit ada yang berani mendekat, Kawung Sen siap untuk

mengancam lagi.

“Kutandai kau dan akan kubunuh… eh… kau…”

“Sssst terus memakiku.” Suara Upasara lemah sekali agar tak terdengar yang

lain. “Aku menaburkan garam di sekitar tiang. Sehingga tak mungkin ada semut

datang. Jangan takut, sampai besok pagi semut tak akan datang. Dan kau bebas.”

“Bagus….”

“Sssttt, terus memakiku.”

“Mana mungkin-…”

“Ayo….”

Upasara menaburkan untuk kedua kalinya. Warna garam yang sudah menjadi

bubuk itu tak terlihat di antara cairan air gula aren.

“Maaf aku tak bisa menunggu lama. Aku harus pergi.”

Tanpa menunggu jawaban, Upasara berlalu dalam gelap. Ia menuju salah satu

penjagaan. Dua penjaga tak menaruh curiga sedikit pun. Sebelum keduanya bereaksi,

Upasara telah membungkam mulut mereka. Lalu menyeret, menaikkan ke punggung

kuda. Kuda itu dituntun agak jauh.

Di tempat yang agak sepi, dua prajurit itu diletakkan di tanah.

“Dua jam lagi kalian akan bebas. Kalian bisa kembali ke rumah besar itu. Kalau

kalian cerita ada dua ekor kuda hilang, kalian bisa dipenggal. Maka lebih baik purapura

diam saja. Tidak perlu memberi laporan.”

Upasara mencemplak kudanya, dan segera bergegas. Sengaja ia tidak

mengambil jalan di perempatan dekat pasar. Ia berputar lewat jalan berbukit di dekat

sungai. Dari sana kedua kudanya dipacu sekencang mungkin. Satu kuda dinaiki, satu

lagi untuk pengganti. Dengan demikian Upasara berharap bisa lebih cepat sampai di

Keraton. Meskipun kuda yang dipilih bukan kuda seperti yang dibawa dari Keraton

atau seperti yang dinaiki Senopati Suro. namun cukup kuat juga. Karena memang

dipersiapkan untuk berperang. Toh begitu Upasara mempersiapkan dua>duanya.

Setiap waktu yang digunakan untuk menanak nasi, Upasara pindah dari punggung

satu ke punggung lainnya. Tanpa istirahat, tanpa berhenti lebih dulu.

Gelap malam diterjang terus. Upasara mengandalkan ketajaman kuda untuk

menerobos jalan malam. Jalan setapak yang kadang menikung sangat tajam, masuk ke

dalam celah-celah pepohonan, muncul di antara semak-semak. Hanya bintang di

langit yang menjadi pedoman.

Bagi Upasara makin jauh jalan yang ditempuh, berani makin dekat ke Keraton.

Ia akan berusaha menghabiskan separuh malam untuk terus berkuda. Makanya dua

kuda terus dipaksa hingga meringkik-ringkik.

“Esok jika matahari mulai terbit, aku tak bisa mengendarai secepat ini. Karena

pasti akan menarik perhatian penduduk. Kalau mereka barisan dari Gelang-Gelang,

sia-sialah usahaku selama ini. Besok aku mulai berjalan biasa, kecuali kalau melewati

hutan. Makanya, kudaku, ayo sekarang saatnya. Kalian dijuluki binatang yang tidak

mempunyai pusar, berani tak kenal lelah. Ayo tunjukkan kelebihan kalian.”

Upasara terus memacu, hingga kuda-kuda itu benar-benar kelelahan. Saat itu

langit mulai sedikit terang. Upasara menghentikan kudanya, meloncat turun, dan

membiarkan kudanya melepaskan lelah sambil merumput. Ia sendiri memilih tempat

yang agak terlindung untuk beristirahat, sekaligus semadi untuk mengatur tenaganya.

Udara pagi yang dingin makin berkurang. Samar-samar mulai terlihat keadaan

sekeliling. Dan ketika Upasara memperhatikan keadaan sekitar, ia tak percaya apa

yang dilihat. Tak masuk akal sama sekali!

Karena di kejauhan ia melihat gerobak sapi milik Toikromo! Tak masuk akal.

Pun andai Toikromo tokoh silat kelewat sakti, ia tak mungkin bisa membawa

gerobaknya melayang di angkasa.

Akan tetapi yang dilihat adalah benar-benar gerobak sapi milik Toikromo.

Bukan dalam mimpi. Dan jaraknya dari tempatnya berlindung tak lebih dari lima

ratus meter.

Begitu Upasara melihat suasana sekitar, ia tahu bahwa dirinya telah masuk

perangkap dan melakukan pekerjaan sia-sia selama setengah malam suntuk. Berapa

tidak, kalau nyatanya ia masih berada di sekitar Pasar Banyu Urip!

Jagat Dewa Batara! Jadi selama setengah malam ini aku cuma berputar-putar

tidak karuan di sekitar tempat ini. Sungguh luar biasa. Benar-benar iblis Sakti

Ugrawe.

“Upasara, kenapa kau begitu tolol?” Upasara menepuk jidatnya sendiri. Suara

hatinya berkecamuk dan bertanya-jawab sendiri.

“Ugrawe telah mengatur segalanya. Dengan menyerbu habis ke Perguruan

Awan, ia menutup jalan di Banyu Urip ini. Bahkan jalan di sekitar tempat ini pun

telah dibuat sedemikian rupa, sehingga bakal menyesatkan. Kalau seseorang seperti

aku, yang tak begitu mengenal daerah ini, mencoba menerobos, pasti hasilnya sia-sia.

Akan bermuara kembali ke Pasar Banyu Urip.

“Pastilah Ugrawe telah memerintahkan Rawikara untuk mengatur desa ini.

Jalan lama dihilangkan, jalan baru dibuat. Dan itu hanya melingkar-lingkar saja.

Setengah malam aku berkuda, tapi hasilnya kembali ke tempat semula.

“Inilah serangan yang sempurna dan dahsyat. Ah, mudah-mudahan Senamata

Karmuka dan Ngabehi Pandu bisa meloloskan diri dari jalan siluman ini. Kalau tidak,

percuma juga. Mereka akan tertangkap di sini juga.

“Ugrawe begitu yakin akan bisa menyapu bersih sampai rata semua yang hadir

di Perguruan Awan. Ternyata rencananya sangat rapi sekali. Dan betapa dahsyatnya,

kalau ini salah satu dari tiga rencana yang dilakukan.

“Ilmu silatnya sudah setinggi langit. Kecerdikannya juga luar biasa. Ditambah

penguasaan strategi peperangan seperti ini, Ugrawe benar-benar ancaman luar biasa

bagi Keraton.

“Aku bukan tandingannya dalam peperangan. Apalagi dalam mengatur strategi

seperti ini. Entah bagaimana aku bisa meloloskan diri dari sini dan bisa menuju ke

Keraton. Agaknya keinginan Bibi Jagaddhita tak akan terkabul.”

Berpikir begitu Upasara jadi lesu. Semangatnya hilang separuh. Ia menghela

napas.

“Satu kesempatan meloloskan diri telah buntu. Aku harus mencari tahu lebih

banyak dulu, sebelum bisa lolos dari sini.”

Upasara berjalan biasa, menuju ke arah Toikromo, yang sangat gembira

melihatnya.

Langsung menyambut dengan wajah yang sangat riang.

“Bagaimana, Anakmas, bisa diterima?”

“Mudah-mudahan….”

“Semalam penuh Paman menunggu di sini. Kalau saja diizinkan masuk ke

rumah itu pasti Paman sudah masuk. Tapi prajurit galak-galak. Paman menunggu di

sini.”

“Apakah pagi ini Paman akan berangkat lagi?”

“Ya, mengambil kiriman berikutnya.”

“Dari Gelang-Gelang?”

“Ya.”

“Paman bisa ke sana sendiri?”

“Bisa. Paman selalu lewat jalan yang sama.”

“Tahukah Paman bahwa di tempat ini banyak jalan yang diubah?”

Toikromo mendehem dan berdecak-decak. Perasaan bangga terpancar dari

wajahnya

“Paman tahu para prajurit itu membuat jalan palsu. Dan menutup jalan aslinya

dengan pohon-pohon serta belukar palsu. Tapi mana mungkin bisa mengelabui

Paman?”

“Kalau begitu Paman tahu jalan ke Keraton Singasari?”

Toikromo terdiam sejurus. Lalu menggeleng.

“Jalan utamanya telah ditutup sama sekali. Dipersiapkan lama. Tak mungkin

bisa dilalui gerobak atau kuda. Semua jalan telah ditutup.”

Dada Upasara menjadi panas, Hatinya juga panas.

“Hanya Gusti yang tahu. Kecuali kalau kembali ke Gelang-Gelang lebih dulu.

Baru dari sana masih bisa ditemukan jalan lain. Tetapi harus berputar sangat jauh.

Heh, Anakmas, kalau pasuwitan-mu diterima di sini untuk apa harus ke Keraton?

Bukankah di sini sama saja?”

Belum Upasara menjawab, dari bangunan rumah terdengar teriakan dan suarasuara

manusia sangat banyak. Upasara mengikuti Toikromo mendekat, hingga batas

yang diizinkan.

Ternyata asal suara itu dari diturunkannya tubuh Kawung Sen.

Rawikara berdiri tegak.

“Seperti setiap kalimat yang keluar dari bibirku pasti terjadi. hari ini

kamu bebas.”

Rawikara memberi tanda. Beberapa prajurit membebaskan tali pengikat di

tubuh kawung Sen.

“Terima kasih. Aku suka sikap ksatria.” Suara Kawung Sen tetap keras.

Tidak tercermin tanda-tanda keloyoan darinya.

Rawikara mengangguk.

“Mulai hari ini, Kawung Sen adalah senopati kita. Kalian para prajurit

harus menghormati seperti menghormati senopati.”

Rawikara membimbing tangan Kawung Sen.

Para prajurit menunduk, sebagian bersila menghaturkan sembah. Juga

yang di luar dinding bersila.

Kawung Sen mengangguk-angguk puas

“Hari ini aku ingin makan enak, mandi dengan enak, dan minum madu

sepuasnya.”

Tubuhnya langsung melesat ke depan. Meluncur ke arah tanah, kakinya

menutul, dan balik kembali berjumpalitan dengan gagah. Ia menuju ke bagian

Samping, mengambil jala, dan berjalan menuju sungai di bagian belakang bangunan

rumah. Dua prajurit mengiringinya. Disusul seorang prajurit yang membawakan

pakaian.

“Kau tidak becus membawakan,” bentak Kawung Sen di luar.

“Biarlah hamba yang membawakan,” kata Upasara sambil menghaturkan

sembah.

Kawung Sen menoleh ke arah Upasara dan matanya membelalak.

“Kau…”

“Hamba memang belum resmi diterima sebagai prajurit. Hamba ingin

mengabdi kepada Paduka.”

Upasara mengedipkan sebelah matanya. Ia masih sangsi Kawung Sen bisa

diajak bersandiwara.

“Baik. Mulai sekarang kau menjadi prajurit. Ayo bawakan pakaianku.”

Upasara menghaturkan sembah. Menerima pakaian dari prajurit Gelang-

Gelang dan mengikuti langkah Kawung Sen. Yang langsung menuju ke tengah

sendang. Membuka semua pakaiannya dan langsung berendam. Menyibakkan air

sepuasnya.

Dua prajurit yang mengiringi diusir jauh-jauh. Diancam akan dipecat jika

berani mendekat.

Tinggal Upasara sendiri.

“Ayo mandi di sini.”

Tanpa pikir panjang, Upasara menanggalkan pakaiannya. Ia menyimpan

cincin, gigi emas Jagaddhita, dan gelang kaki yang terbuat dari emas di bawah

tumpukan pakaiannya. Lalu dengan telanjang bulat masuk ke dalam air.

“Hebat. Hebat. Akal sehat. Garam itu betul-betul menolak semut. Kau telah

menyelamatkan nyawaku. Kau hebat, Upa….”

“Ya, panggil saja aku Upa. Ingat, kita harus tetap bersandiwara sebagai prajurit

dan senopati”

“Bagus. Boleh juga. Aku senang sandiwara begini. Tetapi kenapa kau

menolongku sekali lagi? Bukankah aku pantas mati karena aku memang mencuri

kitab-kitab itu? Tapi sampai mampus mereka tak akan tahu di mana aku

menyimpannya.”

Aku tahu. Kau menyimpan dalam jalamu. Jala itu terdiri atas dua lapis. Dan kau

menyimpan di tengahnya.”

Kawung Sen membelalak untuk waktu yang lama.

“Jadi kau melihatnya waktu aku mencurinya? Aku kesal! Sebal! Mereka selalu

meremehkanku. Hanya karena aku tidak bisa membaca dan menulis.

Sumpah, siapa pun yang menghina seperti itu, akan kubunuh. Setidaknya kucelakai

Juga Ugrawe.

“Makanya ketika ia tak tahu, peti bukunya kubuka dan kuambil dua buah

bukunya. Baru tahu dia sekarang.

“Hoho, baru tahu bahwa Kawung Sen tak bisa direndahkan oleh siapa saja.

Tidak akan pernah.”

“Kenapa kitab itu dicuri?”

“Sudah kubilang aku kesal, Upa.”

“Pastilah kitab itu sangat berarti sehingga Ugrawe sampai tega membunuhmu

bila perlu.”

“Ya, bagi yang mengerti.” Suara Kawung Sen jadi menyesali dirinya sendiri.

“Bagiku lebih berarti air sungai ini. Aku memang bodoh. Kenapa kakak-kakakku bisa

membaca, sedang aku tidak? Uh, aku sungguh sangat bodoh sekali. Paling bodoh.

Otakku bebal. Sangat bebal”

Kawung Sen meninju air hingga tersibak.

“Itulah sebabnya kepandaianku tak bisa maju. Selama ini hanya Kakang Ketip

yang memberitahu secara lisan. Tanpa bantuan itu, aku tak bisa maju. Sayang Kakang

Ketip telah tiada. Kakang Benggol juga telah tiada. Uh, kenapa aku tidak mati digigiti

semut saja?”

“Selama ada aku, kenapa harus mati digigit semut? Aku bisa membacakan isi

kitab itu padamu.”

Kawung Sen bersila di dasar sungai hingga air sampai di dagunya. Ia

menghaturkan sembah.

“Dewa di langit, hari ini Kawung Sen menghaturkan sembah buat Kakang

Upa….”

Upasara hampir tertawa lepas.

Ia berusaha menahan diri sekuatnya.

“Adik, aku bersedia menerimamu. Asal hanya kita berdua dan dewa di langit

yang tahu hal ini.”

“Aku, Kawung Sen yang hina ini, bersumpah, kalau membocorkan rahasia ini,

biarlah mati digigit seribu semut!*

“Baik, baik.”

“Ayolah kita pelajari sekarang juga.”

“Mana mungkin?”

“Kenapa tidak? Dari dulu aku sudah senopati. Senopati itu tak punya pekerjaan

kalau tidak perang. Dan tak bakal diganggu orang lain. Hanya Rawikara yang berhak

memanggilku Ayolah, Kakang. sekarang kita mulai.

Kawung Sen meloncat naik, meraih jala. Meneliti, dan mengeluarkan

lempengan klika, atau kulit kayu yang sangat tipis.

“Bacakan.”

Tidak enak di sini. Kita cari tempat yang lebih aman di tengah hutan. Adik

tahu jalan yang dipalsukan?”

Tanpa mengelap tubuh, Kawung Sen memakai celananya. Demikian juga

Upasara. Lalu keduanya bergerak dengan cepat ke tengah hutan. Menuruni dua

lembah, melewati bukit kecil berputar, mereka berdua sampai ke tanah lapang.

“Ini jalan yang ditutup itu.”

Upasara melihat, bahkan di siang hari pun jalan itu tak mungkin bisa dikenali.

Tanpa bantuan Kawung Sen, Upasara tak akan bisa menemukan jalan yang

sebenarnya.

“Adik, sebenarnya kakangmu ini ada tugas istimewa di Keraton Singasari. Jadi

Kakang akan bacakan sekali, lalu ingat-ingat dengan baik.”

“Mana mungkin?”

“Harus mungkin. Karena Kakang harus segera ke Keraton.”

“Apa susahnya kita ke Keraton sama-sama? Selama dalam perjalanan, Kakang

bisa membacakan kitab itu.”

Upasara berpikir sebentar. Bersama dengan Kawung Sen akan banyak

manfaatnya. Setidaknya kalau di tengah jalan ada bahaya dari senopati Gelang-Gelang

yang lain, Kawung Sen bisa menyelesaikan.

“Baik, mari kita segera berangkat. Tapi ingat, kepergian Kakang dan hubungan

kita tak boleh ada yang tahu.”

Kawung Sen menghaturkan sembah dengan kaku. Kawung Sen memang tidak

terbiasa dengan adat-istiadat. Upasara menepuk pundak Kawung Sen, dan keduanya

mulai berjalan.

Upasara berjalan sambil membuka lempengan klika pertama.

“Ini Kartika Parwa, atau Buku Bintang, disebut juga Dwidasa Nujum Kartika

atau Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Jurus-jurus ini diciptakan berdasarkan gerak dan

pengaruh serta nama-nama bintang.

“Jurus pertama, disebut Lintang Sapi Gumarang. Pusat tenaga yang dikerahkan

adalah tenaga yang disebut tenaga Kasa- Tenaga berasal dari arah utara dan selatan,

serangan ke arah kanan dan ke arah kiri. Pengaruhnya membuat samar, seperti berada

dalam bayang-bayang amun-amun, atau fatamorgana.”

“Tunggu, Kakang. Mana aku mengerti tentang Kasa segala macam?”

“Kasa adalah perhitungan bulan pertama. Jadi tenaga yang dikerahkan, tenaga

dalam yang digunakan, harus mengandung keadaan bintang saat musim yang

pertama. Tenaga itu seperti yang dimiliki oleh hujan yang jatuh pertama kali. Hujan

pertama menyebabkan benih tumbuhan jadi, belalang dan hewan terbang dari

sarangnya, embun putih keluar, langit mulai terang, tanah mulai terlihat, batu bersih.

Makanya kalau merasa sombong dan pongah, jurus ini akan luput, jurus ini tidak

mencapai sasaran.

“Ingat baik-baik, Adi.

“Jurus kedua, disebut Lintang Tagih. Pusat tenaga yang dikerahkan tenaga

Karo. Tenaga yang diambil adalah tenaga dari- utara, di mana pun adik berdiri. Gerak

tenaga besar bagai lumbung padi. Pengaruhnya memberi

140

ketenangan si penyerang, tapi membuat kacau yang diserang Tenaga yang dikerahkan

adalah tenaga Karo, yang artinya tenaga ketika tetumbuhan mulai bersemi, tenaga

cacing bertelur, belalang menetas, pohon besar berkeringat mulai berbunga, serangan

pelan tapi terus mengalir. Biarkan tenaga panas di luar akan tetapi tetap dingin di

dalam.

“Jurus ketiga, disebut Lintang Lumbung. Pusat tenaga yang dikerahkan tenaga

Katiga. Pusat kekuatan berada di kaki, seperti akar yang merayap masuk ke tanah dan

berangkulan di dalamnya. Serangan di Luar bagai bumi yang bersih, tapi di dalam

tetap bergolak.

“Jurus keempat, disebut Lintang Jaran, atau Bintang Kuda. Pusat tenaga dan

arah utara, bergelombang datangnya. Gerak tenaga bagai menumpahkan hujan dan

sekaligus petir. Memakai sifat tenaga Kapat. Yaitu sifat perpaduan, seperti perpaduan

antara binatang jantan dan betina yang berkaki empat, seperti binatang bersayap yang

mulai menggerakkan sayapnya, seperti tenaga daun berebut tempat tumbuh di atas.

Perubahan tenaga kalau ke selatan membawa angin, kalau ke utara membawa hujan.

Jurus ini bisa membuat kematian mendadak kalau bisa mengenai secara telak.

“Jurus kelima, disebut Banyak Angrem, atau Angsa Mengeram. Pusat tenaga

seperti musim Kalima. Tenaga air sama dengan tenaga angin. Pusat tenaga yang

diambil dari utara dan barat. Kalau menyerang dengan tenaga air, tanpa tenaga angin.

Kalau menyerang dengan tenaga angin, tanpa tenaga air. Hasilnya lebih berlipat

ganda. Kekuatan utama adalah penggunaan tenaga kasar.

“Jurus keenam, disebut Lintang Gotong Mayit, atau Bintang Menggotong

Mayat. Satu-satunya tenaga yang dikerahkan dari arah barat. Besar, keras, dan harus

cepat. Jurus ini dipengaruhi musim Kanem, atau keenam. Jurus ini akan menghasilkan

manfaat seperti memetik buah-buahan. Jangan terpengaruh oleh suara dari lawan,

atau gerakan lawan. Sebab apa yang nampak adalah palsu. Lawan sudah terpengaruh

untuk bisa bertahan. karena seperti mengantuk.

“Jurus ketujuh, disebut Lintang Bima Sekti. Pusat tenaga musim Kapitu atau

musim ketujuh. Tenaga dari arah barat. Besar, cepat, dan berulang-ulang secara

bergelombang. Tenaga seperti membuat pohon melengkung, tapi tidak sampai rubuh.

Menyerang bagian kaki tidak untuk menjatuhkan melainkan membuat bumi yang

diinjak amblas. Kunci utama adalah gelombang serangan yang terus-menerus.

“Jurus kedelapan, disebut Lintang Wulanjar. Pusat tenaga dan arah perpaduan

antar barat dan selatan, menghajar tapi tanpa tenaga. Ibarat bunyi petir tanpa hujan.

Tenaga ditarik ke dalam. Sehingga kekuatan di atas dan di bawah sama rata. Antara

akar dan daun sama warnanya. Tak ada penyerangan, kalau bisa berdiam diri.

“Jurus kesembilan, disebut Lintang Wuluh. Pusat tenaga dari selatan persis.

Pengerahan tenaga seperti bunyi cengkerik dan belalang, sifat serangan dingin.

Merontokkan serangan berbunga dari lawan. Semakin. berbunga-bunga serangan

semakin rontok. Tujuan utama serangan perut dan dada. Bagian kaki tak akan terkena

telak, tetapi akan menyulitkan kuda-kuda lawan. Bagaimanapun lawan bergerak,

perut dan dada yang digunakan untuk bernapas menjadi sasaran utama.

“Jurus kesepuluh, disebut Lintang Waluku. Pusat tenaga diambil dari antara

selatan dan timur, cepat sifat serangannya. Terutama untuk menyerap tenaga lawan,

seperti sifat bumi menyerap hingga kering, seperti ibu menyerap tenaga ke dalam

kandungan. Lawan akan kehilangan keseimbangan dan kehabisan tenaga.

“Jurus kesebelas, juga disebut Lintang Lumbung. Sama dengan jurus ketiga.

Pusat tenaga diambil dari timur-selatan, keras sifatnya. Sangat keras. Segala tenaga di

atas tanah hancur, seperti tercerabutnya rumput dari tanahnya tercongkel, tenaga

didasarkan pada hewan kaki empat akan terguling rubuh, tenaga meloncat seperti

burung terbang akan hancur sayapnya, rasa dingin akan menyerang lawan ke bagian

tulang, tenaga di tengah dari lawan akan mati terhenti dan sia-sia.

“Jurus kedua belas, disebut juga Lintang Tagih. Memakai kekuatan musim

Saddha. Tenaga diambil sebelah timur. Sasaran terakhir adalah membunuh tanpa

meninggalkan mayat, mengambil nyawa tanpa terasa, seperti mengguncang pohon

merontokkan semua daun, pohon tetap berdiri tapi sudah mati. Bumi terbelah, tapi

batangnya tak runtuh. Tenaga panas dan dingin menjadi satu. Menyerang dan

bertahan menjadi satu. Khusus untuk jurus terakhir ini bisa terus diulang dan diulang

tanpa perubahan, tidak usah melalui jurus pertama,”

Kawung Sen seperti tak bernapas. Mendengarkan penuturan Upasara yang

membaca sambil terus berjalan, Kawung Sen mengerahkan seluruh kemampuannya.

Daya tangkapnya melalui lisan memang selama ini jauh lebih hebat dari dua kawung

yang lain. Hal ini tidak terlalu istimewa, karena sebenarnya Kawung Sen memang

lebih menonjol dalam hal mengingat-ingat. Soalnya ia tak bisa mengulangi dengan

membaca.

Namun karena Upasara membaca terus-menerus, tak urung Kawung Sen

menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sulit. Sulit sekali, Kakang.”

“Kelihatannya justru mudah sekali.”

“Kau tidak main-main, Kakang?”

“Tidak. Kita ini sangat senang dengan ilmu silat. Bagaimana mungkin aku

main-main?”

“Aku bisa menghafal apa yang kaukatakan. Setidaknya separuh bagian aku

tahu. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mengerti?”

“Kuncinya ialah pengetahuan kita tentang musim. Tentang letak serta

kedudukan bintang. Ini termasuk ilmu pranata mangsa, mengenai-musim. Siapa pun

yang telah menciptakan dan menuliskan Kartika Parwa ini, pasti seorang tokoh yang

luar biasa luas ilmu pengetahuannya.

“Adik, menurut pendapatku ini bukan sekadar cara penyerangan dan

memberitahukan gerak-gerak saja, melainkan terutama pada pengaturan tenaga.

Sedang mengenai geraknya bagaimana sama sekali tak ditulis di sini. Menurut Adik

bagaimana?”

“Mana aku tahu, Kakang. Aku ikut saja.”

Upasara menghela napas.

“Untuk membuktikan mengenai cara memusatkan tenaga, kita harus berlatih.

Tetapi sayang sekarang bukan waktu yang baik.” Upasara berhenti, menggulung

kembali klika kayu, menyembah, dan mengembalikan kepada Kawung Sen.

“Simpanlah, Adik.”

“Percuma, Kakang. Aku tak bisa membaca. Bawa sajalah.”

Upasara menggeleng.

“Tidak. Adik yang mendapatkannya. Adik pula yang harus menyimpannya.

Aku telah berbuat kurang ajar membacanya. Mudah-mudahan empu yang

menuliskan ini mau mengampuniku.”

Upasara duduk, bersemadi, dan menghaturkan sembah.

Kawung Sen memperhatikan, dan kemudian mengikuti jejak Upasara.

Tanpa terasa matahari telah menggelincir di arah barat. Kawung Sen mencari

buah-buahan, mengumpulkan, dan mulai menyantapnya. Ia juga mencari sarang

tawon dan memeras, serta meminum madunya. Upasara mendapat bagian yang sama.

Sejenak setelah beristirahat.

“Kakang, masih ada satu kitab lagi. Lebih pendek. Bantala Parwa. Kalau

Kakang mau membacakan, aku akan membuatkan api.”

“Baiklah. Akan kubacakan semua untuk Adik. Setelah itu kita berpisah di sini.

Aku akan meneruskan perjalanan, dan Adik kembali ke Rawikara agar tidak

menimbulkan kecurigaan.

“Rasanya aku bisa meneruskan perjalanan sendiri.”

Sementara Kawung Sen sibuk mengumpulkan kayu kering, Upasara

beristirahat. Pikirannya bergelut antara tugas yang harus disampaikan ke Keraton dan

kesempatan yang masih tersisa. Sementara Kawung Sen hanya terpusat pada apa yang

baru saja dibacakan oleh Upasara.

“Kakang Upasara, sungguh suatu kemurahan dewa di langit bahwa kita bisa

bertemu dengan cara seperti ini. Aku tak menyangka sedikit pun bahwa kita bisa

menjadi kakak-adik seperti sekarang ini.

“Sayang, Kakang ada urusan penting di Keraton. Kalau tidak kita akan bisa

bersama-sama terus. Ah, mungkin nanti setelah urusan Kakang selesai kita akan bisa

berkumpul terus. Bukan begitu, Kakang?”

Upasara berusaha tersenyum.

“Untuk mengatakan terus terang, tidak tahu saat seperti itu bisa terjadi. Urusan di

Keraton bukan urusan sepele yang bisa segera diselesaikan. Entah bisa terjadi atau

tidak. Entah kapan.

“Adik Kawung Sen, kenapa dulu Adik menyerang ke Keraton?”

“Sudah tentu aku menyerang ke Keraton. Kakek moyangku, tiga turunan ke

atas, adalah pengabdi setia Baginda Raja sejak masih di Tumapel. Lalu tanpa ba dan

bu, kami semua tidak dianggap lagi. Ayahandaku, Kawung Kencana, tidak

mempunyai jabatan apa-apa lagi.

“Ayahanda Kawung Kencana meninggal karena sakit hati. Tetapi kami bertiga

bersaudara memutuskan untuk mbalela. Kami mempunyai banyak teman yang juga

dipecat, dipindahkan, diturunkan pangkatnya. ”

“Kakang Upasara, apakah kami keliru?”

“Entahlah, aku tak bisa mengerti masalah seperti ini. Hanya saja cara

memberontak itu mungkin tak bisa dibenarkan.”

“Kami semua merasa malu. Merasa hina. Sejak Baginda Raja mengampuni

kami, rasanya kami tak mempunyai harga diri lagi-. Ke mana pun kami pergi, kepada

siapa pun kami bertemu, pandangan mereka ini sangat merendahkan.

“Dendam kami makin besar sekali. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa

suatu hari aku akan membalas dendam. Sampai kemudian Maharesi Ugrawe mengajak

kami bergabung.”

“Serba susah. Kalau Baginda Raja dulu tidak mengampuni, mungkin akan lain

jalannya sejarah. Adik Kawung Sen, sekarang ini kau masih ingin membalas dendam?”

“Ya, Kakang.”

“Jika aku prajurit Keraton, kau akan bertempur denganku?”

“Tidak mungkin. Tetapi aku tetap akan menyerbu ke Keraton. Dan memaksa

Baginda Raja mengumumkan bahwa kami bukan orang yang bersalah. Bahwa kami

mbalela, kami memberontak, karena kami tidak dimanusiakan lagi:

“Kakang Upasara, bagi kami sekeluarga pangkat tinggi atau bukan tak jadi soal

benar. Tetapi kehormatan, harkat diri sebagai manusia, perlu dipulihkan. Kakang

akan bisa mengerti kalau Kakang mengetahui bagaimana Ayahanda secara tiba-tiba

digeser kedudukannya. Ayahanda begitu berduka sehingga membiarkan tubuhnya

tersiksa oleh batinnya. Sampai meninggalnya, sejak digeser, Ayahanda tak berbicara,

tak minum, tak makan, tak bergerak.

“Kakang bisa mengerti?”

Upasara, sekali lagi, berusaha tersenyum. Hatinya memang terpukul oleh

penuturan Kawung Sen. Ini bukan pertama kali telinganya mendengar kekecewaan

mendasar sejak Baginda Raja melakukan penggantian besar-besaran di lingkungan

pejabat Keraton.

“Adik Kawung Sen, banyak para pendekar yang bergabung dengan Ugrawe.

Akan tetapi kenapa Ugrawe hanya mengajak adik bertiga ke Perguruan Awan?

Bukankah terlalu riskan mengandalkan jumlah para prajurit saja?”

“Soal itu aku tak tahu, Kakang.”

“Apakah Adik mendengar bahwa Ugrawe menyusun kekuatan yang lain, di

mana para pendekar juga berkumpul?”

“Ya, tapi aku tak tahu.”

“Begini. Ketika Adik ditawan oleh Rawikara, aku mendengar bahwa Ugrawe

mempunyai tiga rencana. Penyerbuan ke Perguruan Awan adalah salah satu rencana.

Masih ada dua rencana lain. Apakah Adik mengetahui?”

Kawung Sen menunduk sedih.

“Aku memang bodoh, Kakang.”

Upasara mengetahui bahwa Kawung Sen tidak berdusta mengenai hal ini.

“Adik, aku tahu. Rencana Ugrawe adalah menyerbu ke Keraton.

Menumbangkan Baginda Raja. Akan tetapi jebakan apa, atau tipu muslihat apa, aku

sama sekali tidak mengetahui.”

Wajah Kawung Sen berubah gembira.

“Hoho, jangan kuatir, Kakang. Begitu aku mengetahui, aku akan segera

memberitahu Kakang.”

“Akan banyak gunanya.” Lalu disambung dengan suara perlahan, “Kalau belum

terlambat. Setelah usaha itu berhasil kita semua juga akan mengetahui.”

“Ah, dari tadi kita bicara tidak jelas. Bagaimana kalau kita pelajari lagi kitab

itu?”

Kawung Sen memberikan klika berikutnya. Upasara menghela napas.

Pandangan matanya menatap percikan api.

“Sekarang ini aku tak tahu bagaimana nasib paman dan teman-teman yang

berada di Perguruan Awan….”

“Hoho… kalau hal itu aku tahu. Kakang mau mendengarkan?”

Kawung Sen mengisap udara kuat-kuat. Seakan ingin memenuhi seluruh isi

dadanya dengan udara. Seperti mengumpulkan semua kemampuannya untuk

mengingat kejadian yang lalu.

Sejak Kawung Sen melepaskan Upasara, ia masih bersama dengan Kawung

Benggol. Itu adalah saat Ugrawe mengajak Upasara masuk ke dalam tenda Raja Muda

Gelang-Gelang. Lalu ketika terjadi keributan besar, Kawung Sen terlibat lagi di bagian

lain. Bersama dengan dua kawung yang lain, ia melibatkan diri dalam pertempuran.

Juga saat-saat Padmamuka meninggal dunia, dan dua kawung yang lain

menyusul.

“Bagaimana dengan Paman Wilanda?”

“Yang mana itu? Yang gundul. Oh, ilmu hebat. Ia yang paling bisa bertahan

dengan tenaga dalamnya ketika yang lain mulai dipengaruhi racun asap.”

“Paman Wilanda yang sedang menderita luka.”

“O, ia langsung ditawan. Diringkus. Begitu juga Tiga Pengelana Gunung

Semeru. Setelah terpengaruhi racun asap, tak terlalu sulit menawan mereka.

Ugrawe sendiri bisa membereskan mereka. Tapi lucu, Kakang, Ugrawe kehilangan

telinganya. Daun telinganya hilang. Hoho, itu yang menyebabkan Ugrawe murka luar

biasa. Hebat sekali Gendhuk Tri. Di jagat ini hanya ia yang bisa melukainya!”

“Semuanya bisa ditawan?”

“Bisa. Tiga Pengelana Gunung Semeru, Dewa Maut, Wilanda, dan akhirnya

orang gundul yang hebat itu. Hebat dia, Kakang. Pukulannya juga aneh. Ia

menggunakan satu tangan untuk menangkis dan melawan Maharesi Ugrawe.

Pertempuran paling lama. Tapi akhirnya bisa diringkus juga.”

“Kalah tenaga dalamnya?”

“Aku yang meringkus, Kakang. Aku jala. Tinggal menyeret saja.”

Kawung Sen menunjukkan wajah duka. “Tapi susah. Orang gundul itu tak mau

kuajak bicara. Tak mau kuajak bertanding seperti Kakang. Ya sudah.

“Namun yang membuatku jengkel, karena Maharesi Ugrawe menganggap aku

paling bodoh, paling tak mengerti situasi. Ini keterlaluan sekali. Ia boleh jengkel

karena daun telinganya hilang. Tapi mana mungkin menghinaku. Makanya, aku

ambil kitabnya dari peti. Di sana ada beberapa bundel. Aku mengambil dua.

Kusimpan dalam jala. Tapi karena orang yang berada di tempat penyimpanan itu

hanya aku, akulah yang diringkus.

“Dan segera dikirim ke Banyu Urip.

“Aku sudah bersumpah lebih baik mati daripada harus mengakui sebagai

pencuri kitab.”

“Kenapa Adik dikirim ke Banyu Urip?”

“Karena akan diadili oleh Rawikara.”

“Kenapa Ugrawe sendiri tak melakukan itu?”

“Sehabis pertempuran itu—sehabis mengubur Kakang Kawung Ketip dan

Kakang Benggol, sehabis menjebloskan mayat Pu’un dan Padmamuka ke dalam gua…”

Upasara tanpa terasa mengeluarkan seruan tertahan.

“Ah!”

“Kenapa, Kakang?”

“Kenapa Padmamuka dan Pu’un dilemparkan ke dalam Gua Lawang Sewu?”

“Aku tak tahu nama gua itu. Maharesi menyuruh melemparkan dua mayat itu,

dan menimbuni dengan tanah, batu, dan meninggalkan beberapa prajurit untuk

menjaga mulut gua.”

“Ugrawe tidak menyerbu masuk?”

“Tidak. Ia bilang tak tahu rahasia gua. Ia tak mau berisiko. Makanya ditimbun

saja.”

Upasara sadar kini. Bahwa Ugrawe tak mau mengambil risiko untuk menyerbu

masuk dalam gua. Makanya ia sengaja menutup. Tapi sebelum itu, melemparkan

mayat Pu’un dan Padmamuka. Perhitungan Ugrawe pastilah mayat itu akan

membusuk. Pastilah ini akan merepotkan yang bersembunyi di dalam gua. Sudah jelas

sangat berbahaya. Karena seluruh tubuh Padmamuka sebenarnya adalah gumpalan

racun yang kelewat ampuh! Karena, tubuh Pu’un pun mengandung unsur-unsur gaib

yang tak dikuasai. Unsur-unsur yang bisa membahayakan juga.

Sungguh licik Ugrawe. Dan perhitungannya sangat tepat.

Siapa pun yang berada dalam gua itu. Mengingat hal itu, Upasara menjadi

sedih. Pertemuan dengan Jagaddhita sangat singkat. Begitu juga dengan Gendhuk Tri.

Namun dalam hatinya, Upasara menghormati keduanya. Dan merasa akrab dengan

Gendhuk Tri. Ia menyesali kenapa meninggalkan Gendhuk Tri di dalam gua!

Mestinya ia terus memaksa agar Gendhuk Tri ikut dengannya!

Upasara tak bisa menceritakan bahwa Jagaddhita, Gendhuk Tri, masih

tertinggal dalam Gua Lawang Sewu.

Melihat Upasara berduka, Kawung Sen jadi merasa bersalah.

“Katakan, Kakang, apa yang bisa kulakukan?”

“Para pendekar utama telah ditawan. Kini lapanglah jalan Ugrawe untuk

mencapai maksudnya.”

“Kakang, kalau Kakang menginginkan para pendekar yang ditawan itu

dibebaskan, aku bisa mengusahakannya.”

“Tak begitu mudah. Ugrawe tak akan melepaskan pengawalan.”

“Mereka akan dikirim ke Banyu Urip. Rawikara yang akan mengurusi.”

“Ugrawe, ke mana ia?”

“Kembali ke Kediri.”

Upasara mengernyitkan dahinya. Apa yang dilakukan Ugrawe di Kediri?

Kenapa tidak langsung menyerbu ke Keraton Singasari? Kenapa malah ke Kediri?

Dunia kelewat luas, dan aku ini tak bisa menduga sedikit pun. Kalau Ugrawe secara

buru-buru pergi ke Kediri, pasti ada sesuatu yang direncanakan. Tidak mungkin kalau

sekadar berobat atau apa. Ini berani, bukan penyerbuan langsung ke Keraton yang

menjadi langkah berikutnya. Berani juga, perhitungan Senamata Karmuka dan

Jagaddhita meleset.

Memang dengan menutup jalan di Banyu Urip, Ugrawe membuntu kemungkinan

lolosnya satu orang ke Keraton. Menutup kemungkinan Keraton mengetahui kejadian

di Perguruan Awan. Tapi ternyata itu tidak berani Ugrawe dan pasukannya lebih dulu

menyerbu ke Keraton.

“Apakah Ugrawe bersama rombongan Raja Muda Gelang-Gelang?”

“Ugrawe berangkat lebih dulu. Raja Muda akan menyusul kemudian.”

“Adik Kawung, kau tahu apa yang akan dilakukan Ugrawe?”

“Mana aku tahu, Kakang? Aku sudah diikat.”

Paling tidak, untuk sementara Keraton masih aman, pikir Upasara. Ugrawe

ternyata tidak langsung menyerbu. Juga sangat tidak mungkin ketika Ugrawe pergi ke

Kediri, pasukannya akan menyerbu sendiri. Ugrawe pasti akan terlibat dalam

penyerbuan dan berada di garis paling depan.

Nah, kalau bukan menyerbu langsung, rencana apa yang dipersiapkan di

Kediri?

Sepersepuluh rencana Ugrawe bisa kutebak, aku sudah merasa beruntung, kata

hati Upasara. Makin dikenal tokoh satu ini, makin terasa kebesarannya.

“Kakang, aku bisa pergi ke Kediri untuk mengetahui rencana Maharesi

Ugrawe. Kalau Kakang memerintahkan, tak nanti adikmu ini membantah.”

Itu juga bisa, pikir Upasara. Kawung Sen bisa leluasa di sana. Namun Upasara

juga memperhitungkan bahwa Kawung Sen tak akan mendapatkan banyak

keterangan. Meskipun Kawung Sen termasuk salah satu senopati yang diunggulkan,

tetapi dalam masalah-masalah pelik dan rahasia, ia tak pernah diikutsertakan. Pastilah

Ugrawe sudah mengetahui bahwa jiwa Kawung Sen mudah goyah. Tokoh ini sangat

angin-anginan. Ambisinya dalam pertempuran berbeda banyak. Bagi Kawung Sen,

masalah penyerbuan ke Keraton lebih didasarkan pada masalah pribadi.

Kawung Sen menunggu.

Upasara melihat klika yang berisi Bantala Parwa sejenak. Lalu menggulung

kembali, dan menyerahkan kepada Kawung Sen.

“Tidak ada gunanya.”

“Masa?”

“Kitab ini bukan berisi pelajaran ilmu silat. Ini mengenai uraian Tumbal

Bantala Parwa. Artinya cara menjawab jurus-jurus atau ilmu mengenai bumi. Tanpa

membaca Bantala Parwa, kitab ini tak ada artinya.”

“Aku memang goblok, Kakang. Coba aku tahu. Aku bisa mengambil duaduanya.

Tapi mana mungkin aku tahu? Aku tak bisa membaca. Aku mengambil

sekenanya.

“Hoho, tapi bagaimana Kakang bisa langsung menentukan tak ada

gunanya?’

“Klika ini berjudul Tumbal Bantala Parwa, artinya Kitab Penolak Bumi. Berarti

sebelum ini sudah ada Bantala Parwa, atau Kitab Bumi. Barangkali setelah

menciptakan Bantala Parwa, empu yang sama ini menciptakan Tumbal Bantala

Parwa. Untuk melengkapi atau mengoreksi kekurangan dalam kitab sebelumnya.

“Bagi yang telah mempelajari Bantala Parwa, kitab ini sangat berguna sekali.

Akan tetapi bagi yang belum mengetahui, sama sekali tidak ada gunanya.”

Kawung Sen sangat kecewa.

“Adik, aku sama sekali tidak berdusta.”

“Kakang Upasara, mana mungkin aku berani mencurigai Kakang?”

Kawung Sen membuang klika kedua. Dalam satu ikat hanya terdiri atas satu

lembaran.

“Kakang, barangkali masih ada gunanya. Kalau kita bertemu dengan Ugrawe

yang memainkan jurus Bumi, bukankah kita bisa mengatasi?”

“Memang. Tapi, apa itu jurus Bumi tak disebutkan di sini sama sekali.” Upasara

mengambil klika yang dicampakkan. Membukanya dan membaca.

“Aku mulai dengan baris pertama.

“Tumbal Bantala Parwa, atau Kitab Penolak Bumi. Catatan terakhir bagi Bantala

Parwa. Terdiri atas tujuh catatan, sebagai berikut:

“Untuk jurus Manik Maya Sirna Lala, mempergunakan telapak tangan terbuka,

seperti dua paruh itik, tenaga ada di sudut.

“Untuk jurus Sri Saddhana, mempergunakan tenaga isi yang dibungkus,

seumpama pisang biji. Sumber tenaga dari utara-selatan.

“Untuk jurus Sekar Sinom, mempergunakan tenaga yang terpancing ke luar

oleh lawan, ibarat biji asam yang membuka sendiri karena sudah tua. Sumber tenaga

dari selatan.

“Untuk jurus Glagah Kabungan, mempergunakan tenaga panas di tengah

untuk kuda-kuda. Sumber tenaga dari cara mengatur napas.

“Untuk jurus Kawula Katuban Bala, mempergunakan tenaga dua kaki

terbenam, seumpama buah ketela. Sumber tenaga dari arah utara-timur.

“Untuk jurus Sigar Penjalin, mempergunakan tenaga dingin di tengah untuk

kuda-kuda. Sumber tenaga dari cara mengatur napas.

“Untuk jurus Asu Angelak, mempergunakan tenaga runcing di setiap sudut.

Sumber tenaga tidak disebutkan di sini.

“Untuk Singa Meta, mempergunakan tenaga diam di tengah. Sumber tenaga

dari pengaturan napas terbuka tapi…”

Upasara menggeleng.

“Bahkan catatan ini pun tidak selesai….”

Kawung Sen mengangguk-angguk.

Lalu menggeleng-geleng.

“Benar-benar mustahil untuk bisa mempelajari. Kalau mengenai Kartika Parwa

saja sulit dicernakan, bagaimana mungkin kalau hanya mendapatkan kunci jawaban?

Itu pun belum selesai.

“Dengan cara bagaimana Ugrawe itu bisa mempelajarinya, sehingga ilmunya

demikian tinggi?”

“Satu hal yang selalu menyertai setiap lahirnya jurus-jurus ilmu silat. Jurusjurus

itu tidak pernah lahir dengan sendirinya. Ada dasar pemikiran yang menyertai.

Jurus-jurus Banteng Ketaton yang diwariskan Ngabehi Pandu padaku juga diilhami

dari gerakan seekor banteng terluka.

“Dari sifat-sifat itulah kemudian diubah, disesuaikan dengan kemampuan kita.

Ngabehi Pandu pernah menuturkan hal ini. .

“Ugrawe bisa mempelajari dengan baik kalau ia mengetahui mengenai sifatsifat

bumi. Setidaknya sifat-sifat yang disebut dalam nama jurus-jurus tersebut.

“Kakang bisa mengetahui?”

“Tidak begitu pasti. Mungkin…” Upasara berdiam diri. “…mungkin sekali.

Tetapi tidak. tidak. Apa hubungannya?”

“Apa yang Kakang katakan?”

“Manik Maya Sirna Lala ialah keadaan bumi di mana tanah di sebelah timur

rendah dan tanah di sebelah barat lebih tinggi. Keadaan ini sangat tidak baik. Tidak

bisa langgeng.

“Sri Saddhana adalah keadaan yang terbalik. Bumi di sebelah timur lebih tinggi

daripada sebelah barat. Tidak baik dipakai untuk latihan, karena ini bisa

menyebabkan luka berat.

“Salah-salah malah menyebabkan kehilangan kawan latihan.

“Sekar Sinom, keadaan bumi di mana sumber air di sebelah selatan, dan

dikepung oleh tenaga lain. Banyak keuntungan akan tetapi… akan tetapi jurus ini tak

banyak berguna jika kita tidak bisa menerima kenyataan bakal kehilangan kasih.

“Glagah Kabungan, keadaan bumi lebih tinggi di bagian selatan dan rendah di

bagian utara.

“Kawula Katuban Bala, kebalikan dari Glagah Kabungan. Jika bumi dikepung

oleh gunung.

“Sigar Penjalin, jika bumi dikepung air.

“Asu Angelak, jika tak ada tenaga di sebelah timur, atau tenaga yang patah. Ini

keadaan bumi yang siap mengamuk.

“Singa Meta, jika keadaan bumi diterobos air secara terus-menerus, tetapi ia

tetap kering.”

Seumur-umur Kawung Sen belum pernah mendengar penjelasan seperti ini.

Selama ini ia berlatih silat mengikuti petunjuk kakak-kakaknya. Menirukan gerakan,

mengatur pernapasan, mengulang lagi, tanpa ada penjelasan seperti yang dikatakan

Upasara.

“Mungkin jurus-jurus itu menggambarkan sifat-sifat bumi yang tadi. Tapi

bagaimana penerapannya, tetap tak bisa dimengerti.”

“Tak apa, Kakang. Lupakan saja.”

Justru sebaliknya. Upasara merasa ditantang. Hatinya seperti dibakar. Tak

mungkin sama sekali, ia tiba-tiba saja berkata seperti yang diucapkan oleh Kawung

Sen. Untuk melupakan begitu saja hal-hal yang ada hubungannya dengan ilmu silat.

Kawung Sen memang tak bisa membayangkan cara hidup Upasara Wulung.

Bahkan kalau diceritakan masa lampaunya, mungkin sulit menerima, meskipun jelas

ia mudah -percaya.

Upasara melewati masa kecilnya berbeda sekali dengan anak-anak sebaya. Juga

berbeda dengan sentana dalem, atau kerabat Keraton. Sejauh ingatan Upasara, ia

belum bisa berjalan ketika berada dalam suatu ruangan yang biasa dipakai untuk

berlatih silat. Setiap harinya yang dilihatnya adalah para prajurit, para pendekar

berlatih jungkir balik, memukul, melatih senjata, berlatih napas, dan membaca buku.

Sejak masih kanak-kanak sekali, Upasara sama sekali tak mengenal siapa ayah dan

siapa ibunya. Ia juga tak menanyakan hal itu, karena pada pikirnya hal itu tak perlu

diketahui. Sampai dengan usia enam tahun, Upasara melewati waktunya dalam

ruangan luas yang sengaja dibangun untuk latihan. Bersama dengan dua puluh lima

anak sebaya. Setiap harinya, baik siang ataupun malam, mereka berlatih silat,

membaca buku, berlatih lagi, membaca buku, berlatih, membaca. Para guru datang

silih berganti. Pada usia sewindu, untuk pertama kalinya ia diajak keluar dari dinding

Keraton. Melihat sawah yang luas, gunung yang tinggi, sungai deras, dan pasar. Tetapi

kemudian mengeram diri lagi.

Sejak itulah ia mulai dilatih khusus oleh Ngabehi Pandu. Yang

memberitahukan mana kitab yang harus dibaca, perlu dibaca. Mana yang harus

dilatih hingga mahir, mana yang perlu diketahui.

Bagian yang ditempati Upasara adalah sebuah sudut Keraton. Suatu ruangan

yang luas, tempat berlatih silat. Dan beberapa rumah yang dijadikan tempat tinggal.

Dari sanalah Upasara mengenal dunia. Dari rumah yang ditinggali dan di tempat

latihanlah Upasara menghabiskan masa kanak-kanaknya. Sampai usia dua belas tahun,

ia diajak mengembara lagi. Ngabehi Pandu mengajaknya pergi ke hutan, dan

memperkenalkan beberapa isi hutan.

Tiga bulan Upasara berdiam di hutan. Berlatih di sungai, di atas tebing, di atas

pohon. Mencoba hidup dari hasil hutan yang bisa ditangkap. Setelah itu masuk

kembali ke dalam Keraton.

Kembali berlatih. Membaca semua kitab yang ada. Mengenai cara bernapas,

mengatur pemerintahan, ilmu bumi, nama raja, tata cara, adat-istiadat, dan tentu saja

sejarah Keraton sendiri.

Sampai usia lima belas tahun, Ksatria Pingitan—begitulah sebutan untuk

mereka yang berada dalam ruangan tersebut—tinggal tiga orang. Dan sejak itu

Ngabehi Pandu secara khusus melatih sendiri secara maraton. Melatih membaca,

menghafal, berkelahi, ilmu negara, dan segala ilmu pengetahuan yang ada.

Tapi sejak itu, Upasara mulai longgar. Ia diizinkan pergi ke luar Keraton, jika

memang menghendaki Upasara mencoba, akan tetapi kemudian kembali lagi. Baginya

dunia di luar dinding Keraton sangat ganjil. Bahkan suasana dalam Keraton sendiri tak

membuatnya senang. .

Upasara hanya mencintai ruang di mana ia sejak kecil dibesarkan.

“Baginda Raja membuat dalem pingitan ini sengaja untuk melatih para ksatria.

Agar kelak menjadi senopati yang linuwih,” demikian ujar Ngabehi Pandu suatu

ketika.

“Kau terpilih di sini sampai akhir hayatmu.”

“Terima kasih, Paman.”

“Segala apa yang terjadi di luar dinding Keraton bisa kau pelajari di sini. Cara

menanam padi atau mengubur mayat pun bisa kau pelajari. Kau memang disiapkan

untuk menjadi senopati, yang kelak kemudian hari akan menjunjung nama Keraton.

Menjelang usia delapan belas, Upasara setiap 35 hari sekali menjajal ilmunya.

Dengan para senopati yang lain. Ia mengenal mereka hanya dalam latihan belaka.

Termasuk di dalamnya adalah Senopati Suro, Joyo, Lebur, dan Pangastuti. Baik

sendiri-sendiri maupun menghadapi keroyokan mereka.

Maka boleh dikatakan Upasara sama sekali tak mengenal kehidupan dinding Keraton

secara langsung. Ia mengetahui dari buku-buku. Baginya tak ada yang bisa

mengalahkan kecintaannya untuk membaca buku dan menembang.

Maka ketika membaca Kartika Parwa dan Bantala Parwa, dengan segera

Upasara bisa melakukan. Dan untuk memecahkan isi kitab itu adalah tantangan besar.

Selama ini tak ada kitab pusaka di Keraton yang tak dipahami. Kitab-kitab itu

mempunyai sifat yang sama. Harus bisa dipahami dengan beberapa syarat tertentu.

Tidak asal menghafal dari yang tertulis.

“Adik, mari kita jajal jurus Lintang Sapi Gumarang. Tidak perlu dibuka lagi

catatan itu. Aku masih bisa menghafal.

“Di sini tidak diterangkan gerakan, karena hanya menyebutkan pengaturan

tenaga belaka. Maka sangat boleh jadi, gerakan apa pun tak menjadi soal. Asal

pengerahannya seperti yang dimaksudkan.”

Upasara berdiri.

Di tengah malam, hanya kena pantulan api dari kayu. Ia mengambil sikap

sempurna, menghormat dalam dengan menghaturkan sembah.

“Hamba yang rendah ini, Upasara Wulung, minta berkah pangestu. Maafkan

segala kelancangan hamba mempelajari ilmu para sepuh.”

Lalu dengan serta-merta mengumpulkan tenaga dari ujung-ujung hidung.

Udara disedot masuk, naik ke atas ke ubun-ubun, turun lewat tulang belakang, dan

dikumpulkan di pusar. Ditahan sekuatnya, sehingga arus tenaga yang bergelora itu

terasa menggerakkan semua urat dan saraf, membuka semua jalan darah. Baru

kemudian kedua tangannya terangkat ke atas dari samping, hingga pangkal telapak

tangan menyentuh ketiak. Kuda-kuda tetap mengangkang seperti seorang

menunggang kuda. Perlahan kedua tangannya bergerak sesuai dengan yang dihafal.

Tenaga dikerahkan dari arah utara dan selatan. Seirama dengan penyaluran napas,

tangan kanan dan kiri digerakkan ke arah kanan dan kiri. Pusat perhatian tertuju di

satu titik di depan, akan tetapi yang ada dalam bayangan adalah tetesan hujan

pertama, loncatan belalang, luncuran burung, tumbuhnya benih padi. Merasa

konsentrasinya kuat, Upasara melemparkan tenaganya ke depan.

Bupb!

Kayu api di depannya terpental semuanya. Api menjadi padam seketika,

keadaan menjadi gelap. Cabang kayu yang tadi dipakai untuk api, baru beberapa saat

kemudian terjatuh di tanah. Saking tinggi terlemparkan!

Kawung Sen berjingkrakan.

“Bagus, kau berhasil, Kakang.”

Upasara membuyarkan tenaga dalamnya.

“Tidak. Tanpa jurus itu pun aku bisa melakukan.”

“Lalu?”

“Ada yang belum bisa kupahami. Cara mengambil sumber tenaga inti masih

belum bisa kuketahui. Dalam kitab disebutkan sebagai tenaga musim Kasa. Musim

pertama. Itu juga bisa disebut tenaga Kartika. Musim pertama itu mempunyai sifat

belas kasih.

“Aha, mungkin itu sebabnya kenapa dalam kitab itu disebutkan kalau

mempunyai rasa pongah dan sombong, tidak mencapai sasaran.”

“Coba lagi.”

“Kita coba sama-sama.”

Kawung Sen berjingkrakan. Ia berdiri sejajar, berjarak tiga tombak. Keduanya

mulai bergerak. Upasara mengulangi gerakan tadi untuk menghimpun tenaga. Sedang

Kawung Sen, karena latar belakang silatnya berbeda, mengambil tenaga dengan

menggerakkan kedua tangan setengah lingkaran di depan tubuh. Lalu dalam saat yang

bersamaan, keduanya melemparkan tenaga ke depan.

Terdengar suara keras. Dua pohon sekaligus bergoyang. Pohon di depan

Upasara rontok sebagian besar daunnya. Sedang pohon di depan Kawung Sen somplak

beberapa cabangnya.

“Hoho… aku bisa. Aku bisa.”

Upasara memusatkan konsentrasi. Ia mulai dengan jurus Lintang Tagih.

Tenaga mengambil dari utara. Tenaga bergulung, dan bergelombang besar, dan

Upasara memusatkan seluruh daya cipta kepada dirinya, tidak memedulikan arah

pukulan. Membiarkan tenaga dingin tetap berada di dalam, dan tenaga panas

menyembur ke luar.

Krak!

Kini pohon di depan Upasara tercabut seakarnya.

Pohon di depan Kawung Sen rontok semua daun dan cabangnya.

“Adik, jurus kedua ini hanya mengerahkan tenaga luar, tenaga panas. Sebagian

tetap disimpan.”

“Kenapa begitu?”

“Inilah inti musim Karo. Musim kedua yang juga disebut Pusa. Jangan terlalu

lama menahan tenaga di dalam. Gerakan harus dilakukan dengan cepat. Jauh lebih

cepat dari jurus pertama.”

“Dasar ilmu silat kita berbeda. Bagaimana Kakang bisa menjelaskan itu? Apa

ditulis di situ?”

“Tidak. Tetapi kalau dilihat hasilnya, aku bisa menumbangkan pohon, sedang

Adik tidak. Padahal tenaga dalam Adik jauh lebih besar dariku. Adik memiliki latihan

dan pengendalian yang lebih berpengalaman.

“Hanya cara mengaturnya yang keliru.

“Kita ulangi jurus satu dan dua, dengan sasaran pohon yang lain.

“Mulai!”

Benar apa yang dikatakan Upasara. Pohon di depan Upasara sudah tumbang

dan terlempar. Baru kemudian pohon di depan Kawung Sen bergoyang perlahan

sebelum akhirnya rubuh.

“Astaga. Kenapa bisa begitu?”

“Waktu yang digunakan untuk pengerahan tenaga. Pada jurus pertama, karena

pengaruh Kasa, waktunya lebih lama. Umur Kasa adalah 41 hari. Sedang Karo hanya

23 hari. Jadi hampir separuhnya. Waktu Karo sama juga dengan waktu Dhestha atau

jurus kesebelas yang dipengaruhi Padrawana. Usianya juga 23 hari.”

“Bagus, bagus. Boleh juga. Bagaimana dengan musim yang lain? Aku tak

pernah mengerti berapa umur bulan yang ketiga dan seterusnya.”

“Musim ketiga disebut Manggasri, berumur 24 hari, musim keempat disebut

Sitra, berumur 25 hari. Musim kelima disebut Manggakala, berumur 27 hari. Musim

keenam disebut Naya dihitung 43 hari. Demikian juga musim ketujuh disebut Palguna

berusia 43 hari.”

“Susah, susah, Kakang. Kenapa setiap bulan, setiap musim umurnya berbedabeda?”

“Entahlah, Adik, bagaimana para leluhur menemukan perhitungan ini. Tetapi

musim Kasa dihitung mulai terbitnya matahari ketika mulai condong ke selatan.

Musim Naya, dihitung sejak matahari terbit ke arah selatan persis. Musim Palguna,

ketika matahari terbit mulai condong ke utara. Sedangkan musim kedua belas, yang

terakhir disebut Asuji, dihitung dari matahari terbit persis di utara. Dan panjangpendeknya

umur musim mempengaruhi jurus yang dimainkan.”

“Bagaimana mungkin matahari agak ke selatan atau di selatan persis, agak ke

utara atau di utara persis. Seumur-umur matahari terbit dari timur.”

“Tidak persis begitu. Adakalanya agak ke utara dan agak ke selatan. Adik, para

leluhur kita telah lama memperhitungkan ini semua dengan arah angin, hujan, ombak

laut, ketika para senopati Keraton dikirim ke Melayu. Dengan dasar yang sama pula

kini diciptakan dalam ilmu silat. Berbahagialah Adik menemukan ilmu ini.”

“Tidak, Kakang yang membuat terang.”

“Adik bisa berlatih sendiri. Setidaknya dari Kartika Parwa. Mungkin suatu hari

kelak, kita bisa belajar bersama-sama lagi.”

“Kakang akan melanjutkan perjalanan?”

“Tugas Keraton….”

“Sudahlah, Kakang. Pertolonganmu tak akan pernah kulupakan. Mudahmudahan

dewa di langit membalas semua budi baik Kakang. Kalau aku mengetahui

rencana Maharesi Ugrawe, aku akan segera melaporkan padamu.”

“Nuwun….”

Upasara mengangguk. Kawung Sen melompat memeluk Upasara. Lalu cepat

melepaskan kembali.

“Aku sungguh tidak sopan.”

“Adik Kawung Sen, selamat tinggal.”

“Kakang Upasara, selamat jalan.”

Upasara segera berlalu. Meskipun tidak menoleh ia tahu bahwa Kawung Sen

masih berdiri di tempatnya, sampai ia menghilang di kegelapan malam.

Dan malam itu Upasara terus melanjutkan perjalanan. Hingga dini hari.

Setelah beristirahat sejenak, ia melanjutkan perjalanan kembali. Menjelang senja,

sampailah ia di batas kota.

Upasara mulai berhati-hati. Sekali lagi ia menyamar sebagai penduduk biasa.

Malah ia memakai caping lebar sekali yang telah butut. Dengan perasaan aman,

Upasara melangkah ke dalam desa.

Sebuah desa perbatasan yang cukup ramai, pikir Upasara. Apalagi menjelang

senja begini masih banyak orang lalu-lalang. Setahuku, di luar Keraton tak pernah ada

kegiatan begitu matahari tenggelam. Ataukah ada sesuatu yang terjadi?

Dugaan Upasara tidak meleset.

Orang yang berlalu-lalang ini menuju satu tempat. Yang dituju adalah

lapangan yang diterangi banyak obor yang mulai dinyalakan. Ada panggung luas, di

belakangnya dihiasi patung besar, serta umbul-umbul. Kelihatan kegiatan baru akan

dimulai.

Upasara melirik sebentar. Berniat meneruskan perjalanan ketika terdengar

sorak-sorai keras. Terpaksa kakinya berhenti melangkah. Pandangannya _. tertuju ke

tengah panggung.

Dan kecele. Karena panggung tetap kosong melompong.

Dalam herannya, Upasara menegur seorang yang sebaya dengannya.

“Ada apa, Kisanak?”

Yang ditegur memandang heran ke arah Upasara.

“Untuk apa datang kemari kalau tak tahu kegiatan apa?”

“Maaf, saya benar-benar tidak tahu. Apakah akan ada pertandingan silat?”

“Ini sudah malam ketujuh dari Sayembara Mantu. Bisa jadi kalau kamu ikut

dan menang, bisa memboyong putri Cina. Ha… ha… ha.”

Dari caranya tertawa, jelas Upasara ditertawakan.

“Majulah segera, siapa tahu nasibmu baik. Kami semua sudah tidak sabar

menunggu siapa pemenangnya.”

Sayembara Mantu, adalah sayembara untuk dipilih menjadi menantu. Upasara

mengetahui bahwa ada cara-cara seperti itu. Agaknya terlalu banyak calon sehingga

perlu diadakan sayembara. Hanya yang mengherankan, kenapa yang dipilih adalah

putri Cina?

Upasara tahu bahwa dahulu pernah ada utusan dari negeri Cina yang datang ke

Baginda Raja. Konon, raja dari negeri Cina terdiri atas para jagoan yang luar biasa.

Namun mereka bisa diusir pergi. Malah utusannya dicoreng wajahnya dengan tulisan.

Sejak itu mereka pulang balik ke negerinya minta bala bantuan. Akan tetapi Upasara

juga mendengar berita bahwa tidak semua utusan pulang kandang. Beberapa jagonya

yang kesohor masih tinggal di sekitar pantai.

Siapa nyana sekarang berani mendirikan tempat pertemuan yang terbuka dan

mengadakan Sayembara Mantu?

Kalau benar ini malam ketujuh, berarti sudah lebih dari sepasar kegiatan ini

diadakan setiap malam. Dan jaraknya dari Keraton tak terlalu jauh. Sehingga pastilah

pihak Keraton telah mendengarnya. Pasti juga tak ada larangan dari Keraton, karena

nyatanya kegiatan ini masih terus berlangsung.

Bagi Upasara tidak menjadi soal benar hal semacam ini. Ia sama sekali tak

tertarik mencari pasangan. Dalam otaknya belum ada masalah seperti itu. Akan tetapi

bahwa kegiatan ini diadakan oleh kelompok yang pernah diusir dari Keraton,

memang agak mencengangkan.

Seingat Upasara, Ngabehi Pandu pernah menceritakan bahwa dalam utusan

Meng-ki terdapat seorang ahli silat yang ilmunya kelewat tinggi. Yang harus

diperhitungkan benar-benar.

Upasara tidak bertanya lebih jauh saat itu. Akan tetapi mengingat bahwa gurunya

memuji, ia jadi penasaran. Setahunya, gurunya hanya menyebut-nyebut beberapa

nama yang termasuk luar biasa. Yang pertama adalah Eyang Sepuh dari Perguruan

Awan. Ia menduduki tempat teratas. Hanya saja sudah sejak lama Eyang Sepuh ini

mengasingkan diri dan membina Perguruan Awan. Sehingga tak diketahui lagi.

Menurut Ngabehi Pandu, kemampuan Eyang Sepuh tak bisa diukur lagi. “Bagaimana

bisa diukur kemampuannya kalau selama ini Eyang Sepuh belum ada yang bisa

mengalahkan? Bahkan murid-muridnya masih termasuk kelas tinggi. Di dunia ini,

hanya Eyang Sepuh yang tak terkalahkan selama pertandingan.”

Yang kedua adalah Mpu Raganata. Mahapatih Keraton yang dianggap mampu

menandingi siapa saja, dalam soal apa saja. Baik dalam pertempuran satu lawan satu,

baik dalam mengatur siasat perang, maupun dalam strategi, serta membaca maksud

lawan. Salah satu ilmu andalannya disebut sebagai Weruh Sadurunging Winarah, atau

Tahu Sebelum Terjadi. Rangkaian jurus-jurus ini oleh Ngabehi Pandu disebut sebagai

penangkis segala jurus. Karena Mpu Raganata mampu membaca apa yang dipikirkan

lawan. Tahu ke mana gerakan dan serangan lawan. Sehingga dengan mudah bisa

mengalahkan lawan-lawannya.

“Eyang Sepuh belum pernah terkalahkan. Paman Ngabehi, dibandingkan

dengan Mpu Raganata yang menguasai Weruh Sadurunging Winarah, siapa yang

lebih unggul?”

“Susah dibuktikan. Tapi Mpu Raganata selalu menolak bertanding dengan

Eyang Sepuh. Beliau mengatakan bukan tandingan Eyang Sepuh. Mungkin justru

dengan ilmunya itu Mpu Raganata mengetahui bahwa ia tak bisa mengungguli Eyang

Sepuh.”

Yang ketiga disebut-sebut adalah Ugrawe. Terutama karena ilmunya Sindhung

Aliwawar yang beraneka ragam, dan sulit dipelajari oleh lawan.

Sejak Eyang Sepuh tak lagi terjun ke dunia, dan Mpu Raganata tergeser dari

pusat kekuasaan, hanya Ugrawe yang bisa malang-melintang.

Baru kemudian, Ngabehi Pandu bercerita tentang tokoh keempat. Yaitu

panglima utama dari negeri Cina, yang dikenal dengan Mojin, atau Bok Mojin.

“Mojin mewarisi ilmu gulat yang luar biasa yang dikembangkan dari negeri

asalnya, negeri padang pasir Mongolia. Dipadu dengan kecepatan gerak bangsa Cina

yang ditaklukkan, Mojin benar-benar luar biasa.”

Saat itu Ngabehi Pandu tidak menyebut-nyebut Mahisa Anengah Panji

Angragani yang menggantikan kedudukan Mpu Raganata.

“Jauh di bawah itu, jumlahnya banyak sekali.”

“Termasuk Paman?”

“Aku bukan apa-apa.”

“Pakde Senamata Karmuka?”

“Pakdemu itu juga bukan apa-apa.”

Saat itu Upasara seperti tak bisa menerima apa yang dikatakan gurunya.

Bagaimana bisa terjadi, Ngabehi Pandu tetap dikatakan bukan apa-apa? Selama ini

Upasara mengetahui bahwa Ngabehi Pandu tak pernah bisa dikalahkan dalam

Keraton!

Kalau benar begitu, pastilah empat tokoh yang telah disebutkan tadi sangat

luar biasa.

Upasara sendiri belum pernah menyaksikan jurus-jurus dan ilmu Eyang Sepuh.

Ngabehi Pandu hanya memberikan dasar-dasar sumber gerak sebagai tambahan

pengetahuan. Mengenai Mpu Raganata, Upasara pernah bertemu. Walau tidak sedang

memperlihatkan ilmunya, Upasara bisa merasakan perbawa dan kehebatan sorot mata

Mpu Raganata. Hanya dalam hatinya Upasara kurang hormat karena ketika itu Mpu

Raganata seperti meremehkan kehadiran Upasara.

Saat itu ia sedang berlatih keras bersama Ngabehi Pandu, tiba-tiba sebuah

bayangan menyeruak masuk. Upasara tidak mendengar desiran angin, tidak

mendengar suara kaki, akan tetapi tiba-tiba melihat seorang tua dengan pakaian putih

berdiri di depannya.

Ngabehi Pandu langsung memberi sembah dengan hormat sekali. Upasara

mengikuti.

“Ngabehi…”

“Sembah dalem, Begawan….”

“Hmmmmmmm, ini hasilmu melatih Ksatria Pingitan?”

“Nun inggih. Hamba sama sekali tak berbakat. Mohon petunjuk, Begawan.”

“Susah, susah. Keinginan Keraton adalah menciptakan seorang ksatria tulen.

Sejak lahir tak tahu apa-apa selain ilmu silat. Dilatih sejak lahir ceprot. Dikurung

secara istimewa. Hmmmmm, tak tahunya hasilnya hanya sebegini. Saya dengar

banyak sekali yang tak bisa mewarisi ilmu Keraton.”

“Nun inggih, hanya tinggal satu orang. Yang lainnya menjadi prajurit.”

“Hmmmmm, susah. Susah. Tinggal satu saja seperti ini.”

“Hukumlah hamba yang tidak becus ini.”

“Bukan salahmu. Mereka memang tidak punya darah ksatria. Dipaksa seperti

apa ya susah. Sekalinya cacing tak bisa dipaksa menjadi naga.”

Upasara yang terus menunduk sejak tadi, tak terasa mengangkat dagunya.

“Tapi anak muda ini boleh juga. Matanya berani menatapku. Besok kalau

sudah pantas, aku ingin sekali melihatnya.”

Darah Upasara mendidih.

Sejak itu ia berlatih makin keras. Lebih keras dari biasanya. Namun Mpu

Raganata tak pernah muncul kembali. Setiap kali Upasara menanyakan, Ngabehi

Pandu menggelengkan kepalanya.

“Itu bukan urusanmu. Beliau mempunyai urusan lain lebih banyak. Urusanmu

mewarisi ilmu Keraton.”

Sejak itu Upasara tak pernah bertemu lagi. Kini, ia ingat lagi karena ia teringat

kepada Mojin.

“Jangan-jangan Mojin…,” kata Upasara pelan.

“Heh, kamu kenal juga nama itu?”

“Maaf, hamba hanya mendengar bahwa yang harus dikalahkan bernama Bok

Mojin….”

“Semprul… kamu ini ngerti apa? Kiai Sangga Langit tak perlu turun tangan

untuk mencari menantu. Cukup membiarkan kamu melawan pemenang dan itu

sudah cukup untuk menjadi suami putri Cina.”

Bulu kuduk Upasara bergidik. Hebat benar jika Mojin yang digelari Kiai

Sangga Langit benar-benar ada di sini. Jelas ini bukan sayembara sembarangan.

Tapi kenapa mengadakan sayembara di tapal batas Keraton? Kenapa tidak di Keraton

sekalian atau di Gelang-Gelang atau di Kediri? Ini aneh, pikir Upasara. Ia banyak

membaca kitab-kitab dan segala macam peraturan, akan tetapi toh kejadian seperti ini

masih sulit dimengerti.

Kalau Kiai Sangga Langit berani muncul ke permukaan, pasti ada seseorang

yang berdiri di belakangnya. Sayembara Mantu ini sendiri pasti bukan tak ada apaapanya.

Selama ini boleh dikata, anak gadis yang memiliki sesuatu yang luar biasa,

akan di-sowan-kan ke Keraton atau mendapat panggilan ke Keraton. Kalau-kalau

Baginda Raja berkenan. Nah, kalau putri Cina terkenal karena keayuannya, kenapa

tidak langsung di-sowan-kan ke Keraton?

Mata Upasara seperti dicolok. Di pentas muncul seorang wanita yang sangat

menarik. Dahinya lebar, rambutnya yang berombak dibiarkan terurai hingga

mencapai pantat. Pandangannya galak sekali. Bibirnya tipis, sedikit berwarna merah.

Yang lebih menarik lagi adalah bentuk dadanya yang montok besar, dengan kemben

yang lekat. Kainnya terbuka sedikit di bagian kaki.

“Saya Demang Wangi mengucapkan selamat datang kepada para ksatria di

seluruh tanah Jawa. Ini adalah malam terakhir pemilihan menantu. Akan kita ketahui

bersama siapa yang berhak mempersunting Dyah Muning Maduwani….

“Akan tetapi seperti malam kemarin, Kiai Sangga Langit tetap memberi

kesempatan bagi peserta yang ingin menjajal keberuntungan….”

Suaranya enak, seperti mengelus telinga. Ada nada bisik-bisik yang

menggelitik. Apalagi ketika mengakhiri kalimatnya dengan menyungging senyum

serta menunggu reaksi, membuat lelaki di samping Upasara berdecah-decah.

Demang Wangi, setahu Upasara adalah salah seorang jago silat yang disegani

juga. Sebenarnya yang bergelar Demang Wangi adalah seorang lelaki. Tetapi entah

kenapa malam ini yang muncul adalah perempuan yang mengobral senyum.

Entah apa pula hubungannya dengan Kiai Sangga Langit atau juga Dyah

Muning Maduwani. Kalau ditilik dari namanya, Dyah Muning Maduwani adalah

putri Cina yang disayembarakan. Dyah memang sebutan terhormat untuk gadis.

Sedang Muning, bisa jadi kependekan atau nama yang diluweskan dari Mo dan Ing

atau sejenis dengan itu. Maduwani sekadar julukan untuk menggambarkan

keayuannya seperti madu. Dan wani yang juga berarti berani, mengandung

pengertian tersendiri. Maduwani, bisa juga berarti sangat bermadu, atau menonjol

kemaduannya.

“Bagaimana?”

“Bagaimana kalau saya melamar Demang Wangi saja?” Tiba-tiba terdengar

suara dari arah timur. Suaranya cukup keras dan gemanya seperti lebah berdengung.

“Kenapa bicara di tempat gelap, kalau di sini disediakan tempat terang? Silakan

maju, biar saya bisa berkenalan.”

Terdengar suara tawa berkekeh, disela batuk lunak, ketika satu sosok bayangan

masuk ke dalam arena. Bayangan seorang lelaki yang badannya tinggi tegap, dengan

jidat sangat lebar. Di tangannya tergenggam tongkat berwarna gelap. Tongkat itu

kelihatannya sangat berat sekali, mengilap di sekujur batangnya, sehingga

membalikkan sinar api.

Upasara tahu siapa tokoh yang memakai tongkat dari galih pepohonan. Atau

dibuat dari tengah batang pohon. Galih Kaliki! Mengilatnya tongkat itu konon karena

selalu dilap dengan darah korban yang kena kemplangannya.

“O, kiranya Kakang Galih Kaliki yang menginginkan saya.”

“Jauh sebelum kau menjanda, aku sudah menginginkan dirimu. Dan kau tahu

itu, Nyai Demang. Hari ini aku datang untuk melamarmu.”

Nyai Demang Wangi tersenyum menggoda.

“Aha, saya sudah tua. Janda yang tak laku. Kenapa pula Kakang menginginkan

saya? Kalau Kakang bisa memperoleh Dyah Muning Maduwani, dengan sendirinya

saya akan menjadi pelayan Kakang.

“Baiklah kalau Kakang juga akan mengikuti sayembara ini.”

Galih Kaliki menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Aku cuma ingin dirimu. Bukan yang lain. Apakah ia bidadari atau ular

naga apa peduliku. Bicaralah terus terang, Nyai Demang. Kau bersedia atau tidak.

Kalau bersedia, aku akan mengemplang siapa pun yang menghalangi. Kalau tidak, aku

akan menunggu lagi.

“Perkara lain kita bicarakan nanti. Biarlah para ksatria yang hadir di sini

menjadi saksi. Bahwa aku Galih Kaliki melamarmu.”

Suaranya keras, nadanya tegas.

Upasara mengenal dari penuturan bahwa Galih Kaliki termasuk tokoh yang

aneh. Bahwa semua tokoh persilatan mempunyai sifat aneh, itu sudah dengan

sendirinya. Akan tetapi Galih Kaliki termasuk yang paling aneh, karena ia tak bisa

dengan begitu saja dimasukkan ke dalam golongan hitam atau putih. Apakah ia

memusuhi atau setia kepada Keraton, tidak bisa begitu saja dipastikan. Bahkan asalusul

perguruannya juga aneh. Selama ini tak diketahui.

Lebih aneh lagi sifatnya seperti yang ditunjukkan sekarang ini. Secara

demonstratif ia melamar Nyai Demang, justru di saat bukan Nyai yang

disayembarakan.

“Saya kira tukang kayu ini salah alamat. Untuk apa ia tampil ke panggung ini?”

“Bayi mana berani bersuara dalam gelap seperti ini?”

“Aku, Bagus Respati dari Keraton Singasari.” Terdengar jawaban ringan dan

sesosok tubuh melayang dengan indah. Wajah yang tampan, bersih, dengan pakaian

mewah—kedua kakinya dihiasi dengan gelang emas— melemparkan senyum tinggi.

Titik-titik berlian di hulu kerisnya memantulkan sinar balik dengan terang sekali.

Titik-titik berlian yang sebesar biji kacang.

Upasara kenal baik dengan Bagus Respati. Dulu, Bagus Respati adalah Ksatria

Pingitan juga. Seperti dirinya ini. Hanya kemudian memilih jalan sendiri karena

secara khusus diundangkan beberapa guru kepadanya. Sejak berpisah lima tahun yang

lalu, Upasara tak pernah bertemu lagi. Baru kali ini sempat melihat dari jarak jauh.

“Apa hubunganmu dengan Keraton, cah bagus?”

“Aku adalah putra Yang Mulia Mahisa Anengah Panji Angragani, mahapatih

Keraton Singasari, tangan kanan Baginda Raja Kertanegara.”

“Jadi kau ingin berebut denganku soal Nyai Demang? Mari kujajal dulu.

Apakah masih tercium bau pupuk bawangmu atau tidak.”

Galih Kaliki langsung mengambil posisi.

Bagus Respati menggelengkan kepalanya.

“Kalau kau menjadi peserta sayembara, aku akan melayani. Karena malam ini

aku adalah pemenang terakhir.

“Kalau kau menginginkan Nyai Demang, aku tak mau meladenimu. Malam ini

juga akan kuboyong Dyah Muning Maduwani.”

Bagus Respati berbalik ke arah penonton.

“Karena aku tidak mau main curang, aku akan memberi kesempatan terakhir.

Siapa yang masih mengikuti sayembara, silakan maju.

“Aku tidak mau menakuti. Akan tetapi sayembara ini hanya ditentukan

pemenangnya setelah lawannya tak bisa bangkit lagi. Jangan salahkan aku kalau

terlalu keras. Silakan kalau ada yang mau mencoba.”

Suasana menjadi hening.

Upasara berniat meninggalkan lapangan.

Tapi kakinya terasa berat melihat senyum Nyai Demang.

“Ternyata peserta yang lain lebih suka mengundurkan diri. Kalau memang

tidak ada…” suaranya tertahan, seperti menunggu ada yang mengusulkan sesuatu,

“…kalau memang tak ada… memang tak ada?”

Mendadak perhatian terserap ke panggung sebelah kiri. Serombongan orang

berjalan masuk sambil memanggul tandu. Upasara melihat bahwa bentuk tandu yang

sekarang ini agak istimewa. Penuh dengan hiasan warna-warni. Warnanya juga

beraneka ragam.

Tandu itu diletakkan di pinggir sebelah kiri.

Bagian depan yang tertutup kain tiba-tiba menyibak. Serentak dengan itu

terdengar decak kagum, dan para penonton berdesakan. Dari dalam tandu terlihatlah

bayangan seorang gadis. Rambutnya panjang, hitam, disanggul sempurna. Seluruh

tubuhnya ditutupi dengan kain sutra putih yang ujungnya diberi hiasan bunga merah

muda.

Kulitnya putih—sangat putih sekali. Terutama di bagian wajah, dan lehernya

yang jenjang.

Yang membuat Upasara kagum adalah tenaga dalam untuk membuka tirai

penutup. Tirai yang dibuat dari sutra itu membuka, dan ujungnya tetap menunjuk ke

atas. Tertahan di tengah udara.

Mata yang sipit menatap ke arah panggung.

“Karena telah berada di atas panggung, mengapa tidak turut serta?”

Untuk pertama kalinya Upasara merinding. Suaranya sangat halus, merdu, dan

menyentuh. Walaupun bibirnya bergerak sangat pelan sekali.

Galih Kaliki mendengus keras.

“Aku datang tidak untuk melamarmu. Aku tak suka kamu.”

Galih Kaliki membuang muka. Bagus Respati menjejak panggung dan

tubuhnya melayang.

“Orang dusun tak tahu tata krama, bagaimana kau bisa menghina begitu

busuk? Jangan panggil aku Bagus Respati kalau tak bisa menyingkirkanmu.”

Meskipun dalam keadaan murka, Bagus Respati masih memperingatkan lebih

dulu. Kedua tangannya menarik dua keris—satu dari belakang yang diketahui oleh

penonton, satu lagi entah dari mana. Dua keris itu tergetar mengeluarkan bau amis.

Galih Kaliki menyambar tongkatnya, dan langsung menerjang. Tongkat hati

kayu mengemplang dari atas. Yang diarah langsung batok kepala lawan. Dengan

memiringkan kepalanya, Bagus Respati menarik tubuhnya ke samping. Gerakan

kakinya sangat lincah dan bagus—Upasara diam-diam memuji kagum. Karena dengan

gerakan kaki itu Bagus Respati bisa memiringkan tubuhnya, menghindar, dan dalam

langkah berikutnya yang bersambungan sudah berada dalam jarak dekat. Kedua

kerisnya bagai sepasang gunting: Sekali tusuk bakal membuat dua luka. Dengan

variasi gerakan yang ada: Dua bisa menjadi empat, empat bisa menjadi delapan. Dalam

sekejap seperti ada 32 ujung keris yang datang dan pergi, dengan tusukan tempat yang

berbahaya.

Galih Kaliki seperti menyapu semuanya. Ia maju terus, menggempur dengan

tongkat hati kayu. Gebrakan sapuan tongkatnya hanya satu: Batok kepala lawan.

Kalaupun menyabet ke bawah, akhirnya langsung ke atas lagi. Mencongkel dari

bawah. Menggebuk dari samping pun arahnya tetap jidat.

Dengan cara menyerbu seperti ini, Bagus Respati tak bisa mempraktekkan

kelebihannya. Ia tak bisa memamerkan kelebihannya bermain dengan indah. Karena

sebelum satu jurus selesai separuh, sudah harus diubah dari awal, atau ditarik

mundur. Galih Kaliki terlalu merangsek maju.

“Ayo pamerkan ilmu menggelitik ini.”

Namun meskipun Galih Kaliki kelihatan sesumbar, ayunan tongkatnya selalu

menemui tempat kosong. Cara bergerak Bagus Respati memang rapi dan tangguh.

Perubahan gerak kakinya sangat luar biasa. Sebentar merandek maju, ditarik mundur

ke samping, dan tahu-tahu sudah berada dalam jarak yang jauh lagi.

Dalam sepuluh jurus pertama, Galih Kaliki jadi repot. Beberapa kali

tongkatnya ditarik mundur—tertarik dengan sendirinya, karena serbuan kaki lawan

yang merepotkan. Sementara Bagus Respati juga tak bisa maju sepenuhnya. Setiap kali

memperoleh peluang, ia tak bisa menggunakan dengan baik. Karena angin dari

tongkat Galih Kaliki sudah terasa di ubun-ubunnya.

Lima jurus lagi telah berlalu, tanpa ada yang berani memastikan pihak mana

yang lebih unggul.

Sebenarnya kalau pertempuran diteruskan hingga jurus kelima puluh, Bagus

Respati bisa berada di atas angin. Bagaimanapun juga gerakan kakinya makin terarah

dan tetap rapi. Sementara Galih Kaliki harus terus mengeluarkan tenaga ekstra keras.

Jenis pukulan dan serangannya menuntut tenaga besar. Jadi biar bagaimanapun

kuatnya, makin lama akan makin keteter. Makin terkuras.

Tapi Bagus Respati tak sabar menunggu. Selama mengikuti sayembara ini, ia

telah mengalahkan empat lawan. Semuanya di bawah sepuluh jurus—dan semuanya

tewas dengan enam belas tusukan di satu tempat. Korban pertama, tertusuk di bagian

leher. Korban kedua, sama juga. Korban ketiga di bagian dada kiri. Dan korban

keempat… semuanya di bagian wajah.

Semua dikalahkan dengan cara yang sama. Posisi kuda-kudanya makin lama

makin kedodoran. Dan ketika suasana menjadi kritis, yang dibenahi lebih dulu adalah

bagian penjagaan. Saat itulah Bagus Respati melancarkan serangan kilatnya. Dua keris

bergerak bersamaan!

Memang Galih Kaliki yang dihadapi sekali ini jauh berbeda. Namun dengan

cara yang sama, Bagus Respati bisa mendesak. Hanya saja setelah lewat dua puluh

jurus, masih bisa bertahan dengan kuat dan tetap berbahaya, Bagus Respati tidak

sabaran.

Ia mempercepat serangan kaki, setiap kali Galih Kaliki beringsut, tempat yang

barusan diinjak ganti diinjak. Tak peduli Galih Kaliki mundur ke samping kiri atau

kanan. Bahkan kalau mencoba maju, Bagus Respati berusaha mengambil posisi yang

ditinggalkan.

Dengan cepat kedua tubuh yang tengah bertempur jadi berputar-putar. Dari

ujung kiri panggung ke kanan, pindah lagi ke tengah, minggir lagi. Bagus Respati bisa

makin keras mendesak, karena ayunan tongkat Galih Kaliki bisa dikenali. Keraslembut

tenaga serta sasarannya terlalu monoton.

Upasara yang menonton di pinggir panggung hanya bisa kuatir dalam hati.

Dalam perhitungannya, Bagus Respati memang sangat pesat kemajuannya. Sebagai

sama-sama Ksatria Pingitan—dulunya—Upasara melihat kepesatan Bagus Respati

bukan hanya dalam soal ilmu silat, tetapi juga dalam membaca kemampuan lawan.

Sementara itu justru sebaliknya dengan Galih Kaliki. Tokoh aneh yang tak dimengerti

asal-usulnya ini, dalam sepuluh jurus pertama sungguh mengagumkan. Ayunan

tongkatnya betul-betul berhasil menekan lawan dengan berat. Sehingga lawan tak

sempat berkembang permainannya. Didikte dengan keras. Arah dan sasarannya juga

maut. Ubun-ubun. Tenaganya yang tidak kecil. Sehingga untuk ditangkis hampir

tidak mungkin. Hanya bisa dihindari. Akan tetapi terasa juga tekanan itu tidak makin

berat, tetapi malah melonggar di sana-sini.

Terutama karena gerakan pengulangannya

Maka perlahan, Galih Kaliki menjadi jatuh di bawah angin. Bagus Respati

memperhitungkan bahwa peluang untuk mengeluarkan pukulan— atau lebih tepat

tusukan—terakhir yang menentukan.

Agaknya Bagus Respati melihat kesempatan itu ketika ayunan tongkat Galih

Kaliki berputar sedikit. Dengan sebat ia menyepak ke arah paha lawan untuk

meminjam tenaga, dan pada saat yang bersamaan tubuhnya melayang ke atas. Dengan

kedua keris seperti mencari kutu. Bergerak cepat, bergantian arahnya, seperti

menyerang leher, dagu, telinga, mata, dari arah bawah.

Upasara mengeluarkan seruan tertahan!

“Tahan….”

Terlambat. Tubuh Bagus Respati telah melayang ke atas dan dari ujung

kerisnya terlihat warna merah. Tapi Galih Kaliki tidak sekadar memukul angin.

Putaran tongkatnya dari menyerang kepala menjadi sodokan keras. Tak urung dada

Bagus Respati kena disodok. Tubuh Bagus Respati melayang ke bawah. Jatuh di

panggung.

Tetapi dengan bergulingan, Bagus Respati mampu berdiri kembali. Dadanya

masih terasa sakit sehingga jalannya terhuyung-huyung. Sementara Galih Kaliki

masih berdiri tegak. Tapi ada goresan dari dada ke atas. Goresan yang mengalirkan

darah segar.

“Ayo maju lagi!” teriak Galih Kaliki keras sambil menyerbu tanpa

memedulikan bahwa darah yang mengalir makin banyak. Ayunan tongkat ditangkis

dengan dua buah keris. Saking kerasnya satu keris terlempar ke tengah udara. Galih

Kaliki mengulang kembali serangannya.

Kalau tadi gerakan monoton yang berulang agak merugikan dirinya, sekarang

justru berarti sekali. Sebelum Bagus Respati bisa mengerahkan tenaganya secara

sempurna, lawan sudah mengemplang lagi!

Upasara yang berdiri di bagian pinggir hanya melihat satu kemungkinan:

Bagus Respati bakal melemparkan kerisnya, dan Galih Kaliki tak akan memedulikan

tapi terus mengemplang. Akibatnya jelas. Galih Kaliki akan mati seketika dan ubunubun

Bagus Respati akan hancur luluh berantakan. Upasara bisa menebak gerakan

Bagus Respati karena dasar gerakan dalam memainkan keris sama dengan yang

dipelajari. Yang berbeda hanya variasi kecilnya.

Maka Upasara melayang maju ke depan. Ia memegang dua pundak orang di

kanan-kirinya. Sebelum mereka ini tahu apa yang terjadi, tenaga mereka telah

dipinjam Upasara. Di tengah udara, Upasara melemparkan capingnya dengan sepenuh

tenaga. Perhitungan tak banyak berbeda.

Caping itu berputar keras sekali. Menyelip di antara Bagus Respati dan Galih

Kaliki. Sekaligus “menelan” keris Bagus Respati. Tenaga luncuran keris itu meluncur

terbawa pusaran caping. Dan dalam melayang ke atas caping itu mengenai

pergelangan tangan Galih Kaliki. Sehingga tongkatnya tak bisa dikuasai lagi arahnya.

Malah terlepas dari tangannya. Upasara menyambar tongkat itu sambil melayang

turun.

Lalu dengan berjongkok, menghaturkan sembah ke arah dua orang yang saling

menjauh. Galih Kaliki baru menyadari bahwa caping itu telah menolong nyawanya

dari luncuran keris. Sebaliknya Bagus Respati juga menyadari bahwa ubun-ubunnya

telah dibebaskan dari bentuk yang mengerikan.

“Maafkan, Paman Galih, maafkan, Kakang Respati….” Upasara menghormat

sekali lagi. Lalu mengembalikan kedua pusaka ke pemiliknya masing-masing.

“Siapa kau?” Nyai Demang bergerak maju. “Kenapa kau berani kurang ajar?

Tidak tahu bahwa dalam sayembara ini pemenangnya harus bisa mengalahkan lawanlawannya?

Kalau kau mempunyai sifat ksatria, bukan begitu caranya.

“Sebutkan namamu sebelum terlambat.”

“Nama saya Upa, putra Bapak Toikromo. Saya memang kurang ksatria. Akan

tetapi kelancangan saya terutama karena dalam Sayembara Mantu ini harus ada

pemenangnya. Kalau keduanya tewas, Dyah Muning bakal menjadi janda sebelum

mempunyai suami.

“Lagi pula, dalam hal ini sudah ada pemenangnya. Bagus Respati. Sedang

Paman Galih menghendaki Mbakyu Demang.”

Hebat kata-kata Upasara. Nyai Demang sedetik berubah parasnya. Warna

merah meronai wajahnya. Baru sekarang ini ada yang memanggilnya mbakyu, alias

kakak perempuan. Dan bukan nyai. Dalam sedetik itu Nyai Demang merasa sepuluh

tahun lebih muda.

Tapi Nyai Demang dalam detik berikutnya malah berubah geram.

“Anak desa yang sombong. Apa kau kira kau begitu jago sehingga bisa berbuat

sesukamu?”

“Maafkan saya, Mbakyu Demang. Usia kita mungkin tak jauh berbeda, akan

tetapi saya tidak mengerti tata krama. Saya memang anak desa.”

Lagi Upasara melemparkan umpan yang berbisa. Siapa saja juga bisa melihat

dengan mudah, bahwa usia Nyai Demang jauh di atas Upasara yang nampak masih

segar. Tapi Upasara sengaja melemparkan kalimat itu.

Nyai Demang tergetar hatinya.

Akan tetapi penampilannya justru lebih galak.

“Huh. Siapa sudi mempunyai adik seperti kamu? Anak desa, ketahuilah bahwa

dalam Sayembara Mantu, siapa pun yang masuk ke dalam gelanggang adalah peserta

sayembara. Maka bereskanlah lawan yang lain dan kau akan memperoleh Dyah

Muning Maduwani.”

Upasara melengak. Ia tak menyangka bakal disebut sebagai calon.

“Tidak bisa. Saya telah mempunyai istri….”

Nyai Demang tertawa cekikikan. Juga para penonton. Cara Upasara

mengucapkan kata istri, sangat janggal sekali. Apalagi Upasara sendiri lalu terlihat

salah tingkah.

“Anak dusun, kalaupun kau telah mempunyai istri tidak menjadi penghalang.

“Maka kalau kau bisa mengalahkan lawan-lawan yang masih ada di panggung

sekarang, kamu akan menjadi pemenang.”

Upasara menunduk. Memberi hormat kepada Bagus Respati.

“Kakang Respati, silakan menjemput calon mempelai putri.” Lalu berbalik ke

arah Galih Kaliki. “Paman, silakan mengambil Mbakyu Demang.”

“Anak dusun Upa, siapa suruh kau jadi makcomblang seperti ini? Saya bilang

lawanlah mereka, kalau kau ingin menjadi pemenangnya?”

“Jelas tidak ksatria, Mbakyu. Dan bukankah sifat itu yang Mbakyu kutuk

barusan?”

Bagus Respati menahan rasa sakit di dadanya. Terasa ulu hatinya seperti

ditindih beban yang berat sekali. Ia bisa mengenali bahwa Upasara adalah teman

dekat di Pingitan. Akan tetapi karena Upasara sendiri tidak mau memperkenalkan

diri, Bagus Respati tidak memperlihatkan bahwa ia mengenali.

Galih Kaliki merasa sangat perih. Luka yang menyayat mulai menimbulkan

gatal-gatal.

Upasara mendekati Bagus Respati, dan membimbingnya ke tengah. Diam-diam

ia berusaha menyalurkan tenaga, sambil memencet nadi dibagian punggung. Bagus

Respati merasa sedikit lebih enak. Makanya tanpa diminta pun ia menyerahkan

bubuk pemunah gatal.

Upasara sendiri lalu mendekati ke arah Nyai Demang, sambil menyerahkan

bubuk dalam bungkus daun pisang.

“Mbakyu bisa membantu Paman Galih. Kalau saya bisa salah menaburkan.”

Galih Kaliki tersipu-sipu.

“Terimalah hormatku, Upa….”

“Paman terlalu merendahkan diri.”

“Pertolongan dan kebaikanmu tak akan kulupakan.”

“Saya tak berani menerima, Paman.”

Galih Kaliki nampak merasa gembira ketika Nyai Demang menuntunnya.

Namun baru tiga tindak langkahnya terhenti. Tirai sutra terbuka, dan kembali

terdengar suara halus.

“Siapa pemenangnya?”

Upasara tergetar mendengar suara yang begitu merdu di telinganya.

“Aku pemenangnya,” jawab Bagus Respati tegas.

“Bawa saya pergi.”

Tirai tertutup lagi.

Dari samping panggung, tanpa terdengar suara apa pun, bergerak satu

bayangan. Tanpa memperdengarkan suara berisik. Bahkan, sepertinya, obor di pinggir

lapangan pun tak bergerak karena angin.

Nyai Demang yang lebih dulu memberi hormat.

Upasara menjilat bibirnya. Sebagian ludahnya tersendat. Jago mengentengkan

tubuh yang selama ini dikenal adalah Wilanda. Yang bisa bergerak dan meloncat

bagai capung. Namun dibandingkan dengan tokoh yang baru muncul ini,

kelihatannya Wilanda masih dua kelas di bawahnya.

Upasara memperhatikan dengan cermat. Seorang lelaki yang badannya tegap.

Sangat tegap. Daging di lengannya menonjol seperti paha. Otot-ototnya terlihat jelas.

Di bawah topi bulu binatang yang aneh, sepasang mata sipit mengawasi panggung.

Dadanya licin, dengan otot-otot keras. Licin, sehingga seperti diminyaki. Mengenakan

celana yang komprang sebatas lutut. Kakinya juga memperlihatkan kekukuhan yang

luar biasa. Sedikit di atas mata kaki dibalut dengan bulu binatang—yang agaknya

berasal dari bulu binatang yang dikenakan sebagai topi.

Kalau melihat bentuk tubuh yang kokoh bagai tukang gulat, sungguh luar

biasa ilmu mengentengkan badannya.

Lelaki bertopi itu mengeluarkan suara aneh.

Nyai Demang berbalik ke arah Upasara.

“Kiai Sangga Langit belum menganggap Sayembara Mantu selesai. Masih ada

satu pertandingan lagi. Siapa yang keluar dari tempat ini sebagai pemenang pertama,

baru boleh membawa pergi putrinya.”

Upasara mengertakkan giginya. Ini ternyata yang disebut-sebut sebagai Kiai Sangga

Langit! Pantas saja Ngabehi Pandu memuji dan meletakkan dalam kedudukan yang

terhormat.

Kalau benar Kiai Sangga Langit turun tangan sendiri, siapa yang bisa

melawannya?

“Paman, tanyakan kepada siapa Kiai menantang? Karena ia tak bisa bicara

langsung dengan kita—dan melalui perantaraan Mbakyu Demang— kita pun melalui

perantaraan Paman.”

“Aku senang sekali. Itu peran bagus untukku,” teriak Galih Kaliki.

Nyai Demang menerjemahkan ke arah Kiai Sangga Langit. Kiai Sangga Langit

menyeringai, berbicara, dan Nyai Demang kembali menerjemahkan.

“Kepada orang asing yang berada di atas panggung.”

“Aneh. Dua tokoh utama sedang dalam keadaan terluka. Saya sendiri tidak

berminat, untuk apa melayani Kiai Sangga Langit?”

“Kalau tidak mau melayani, akan dipaksa. Kalian bertiga boleh mengeroyok.”

“Paman Galih, tolong katakan padanya bahwa kita yang biasa hidup di tanah

subur, lain dengan mereka yang dibesarkan di padang pasir. Kita ksatria yang merasa

tidak gagah kalau main keroyok.

“Kalau modalnya cuma ilmu mengentengkan tubuh, katakan bahwa di sini

seekor nyamuk bisa melakukan itu—tanpa perlu dipamerkan.”

Nyai Demang terbata-bata menerjemahkan. Agaknya merasa kurang enak

harus mengatakan secara persis apa yang diucapkan Upasara.

“Anak dusun Upa, Kiai Sangga Langit tidak mengada-ada. Sayembara Mantu

ini terdiri atas dua bagian. Bagian yang pertama ialah siapa yang berdiri terakhir di

panggung dianggap sebagai pemenang. Dalam sayembara ini, kalau ada yang terluka,

atau meninggal, tidak akan menjadi masalah di belakang hari. Sejak awal itu sudah

dijelaskan.

“Bagian yang kedua, ialah Kiai Sangga Langit sendiri yang akan menguji

dengan suatu permainan. Kalau bisa lulus, pemenang terakhir berhak atas Dyah

Maduwani.

“Kalau segalanya telah menjadi jelas, kau tidak akan menuduh bahwa ini

hanya akal-akalan saja.”

Meskipun bercekat, Upasara tak mau kalah bicara.

“Kalau keinginannya hanya main-main, cukup aku anak dusun yang

menghadapi. Tak perlu seorang putra mahapatih yang terhormat, tak perlu seorang

pendekar sejati.”

Kata-kata Upasara ada benarnya. Karena kini Bagus Respati tengah bersila di

panggung. Berusaha memusatkan seluruh tenaga dalamnya untuk mengusir rasa sakit.

Kalau pencetan Upasara tadi berhasil mengurangi, bukan berarti ia telah

tersembuhkan. Beberapa aliran jalan darahnya masih macet.

Juga Galih Kaliki. Meskipun ia mendapat bubuk pemunah yang dibuat dari

ilalang, tidak berarti racun dalam tubuhnya telah bebas. Bagian luar memang tak akan

dirembeti. Akan tetapi yang sudah terbawa aliran darah sulit ditahan. Terpaksa Galih

Kaliki pun duduk bersila untuk memusatkan konsentrasi.

Tinggal Upasara sendirian.

“Bagi Kiai Sangga Langit tak menjadi masalah siapa pun yang akan

menghadapi. Sendirian atau keroyokan. Permainan ini hanya dimainkan seorang saja.

Pikiran boleh meminta bantuan siapa saja.

“Hanya saja, kalau gagal mengatasi permainan ini, tergantung Kiai Sangga

Langit, apakah ia akan memberi ampunan atau tidak.”

“Mbakyu Demang, kau bisa mengerti suara aneh. Kau bisa menerjemahkan

dengan bagus. Terimalah rasa kagum saya yang bahasanya sendiri masih belepotan

tidak keruan.

“Mbakyu sudah tahu, kira-kira jenis permainan apa? Biarlah saya yang tak

berharga ini menjajalnya.”

Nyai Demang tersenyum manja. Upasara melengos. Ia tak berani menatap

secara langsung.

“Anak dusun, kau akan segera mengetahui.”

“Tunggu dulu, Mbakyu Demang. Dalam sayembara ini ada yang tidak adil.

Dalam perang tanding, pemenangnya ditentukan dengan mengalahkan lawan secara

mutlak. Saya baru tahu ternyata malam-malam kemarin sudah ada korban berjatuhan.

Kini masih ada jenis permainan. Kalau gagal, apakah hanya sekadar menggantungkan

nasib pada kebaikan hati Kiai Sangga Langit? Sedangkan hadiah bagi pemenangnya

tak seberapa.”

“Anak dusun, kau benar-benar keras kepala. Bagaimana mungkin Dyah

Muning Maduwani kaubilang hadiah tak seberapa?”

“Tidak. Katakan bahwa saya sama sekali tak menghendaki Dyah Muning

Maduwani. Paman Galih juga tidak. Bagus Respati jelas telah mendapatkannya.

“Permainan akhir ini hanya berlaku untuk saya. Kalau saya bisa memecahkan,

saya berhak atas satu permintaan. Kalau saya gagal, itu urusan saya dengan Kiai

Sangga Langit. Tak ada hubungannya dengan Bagus Respati dan Paman Galih Kaliki.

Kalau syarat ini tidak diterima, saya akan turun panggung. Kalau Kiai Sangga Langit

akan menahan saya, biarlah kita selesaikan berdua saja.”

Nyai Demang memoncongkan bibirnya. Kagumnya bangkit seketika. Anak

dusun yang mengaku tak kenal tata krama ini jelas cerdik luar biasa. Tapi lebih dari

semua itu sifat ksatrianya sangat utama. Ia menghadapi sendirian risiko yang bakal

diterima. Ia tak mau melibatkan Bagus Respati atau Galih Kaliki. Bahkan menganggap

persoalan Bagus Respati dan Galih Kaliki sudah selesai. Sudah mendapatkan haknya!

Padahal bukankah dalam saat seperti ini, kemungkinan untuk mendapatkan

semuanya itu ada padanya?

Bukankah kalau nanti bisa memecahkan persoalan, ia bisa mempersunting

Dyah Muning Maduwani—impian sekian banyak lelaki?

Agak janggal sifat anak dusun ini, pikir Nyai Demang. Kalau Galih Kaliki tidak

menghendaki Maduwani, itu bisa dimengerti. Sejak Nyai Demang masih kecil, masih

jadi istri orang, Galih Kaliki memang selalu mengejarnya. Sejak awal tak tergiur oleh

Maduwani.

Kenapa anak dusun ini menolak kesempatan emas?

Ataukah, ataukah… Nyai Demang gemas. Ataukah anak dusun ini sudah

mempunyai “Nyai Demang” yang lain—seperti Galih Kaliki. Itu satu-satunya alasan

terkuat. Hmmmmm, bahagialah wanita yang mempunyai kekasih seperti anak dusun

ini. Wajahnya jatmika, tenang, dan bersih berwibawa; penampilannya jujur serta

polos. Ah, siapa wanita yang begitu bahagia hidupnya?

Kiai Sangga Langit bersuara pelan, sehingga lamunan Nyai Demang buyar.

Nyai Demang mengatakan persyaratan apa yang diminta oleh Upasara. Kiai Sangga

Langit bertanya apa yang bakal diminta Upasara.

“Tak nanti saya minta Kiai Sangga Langit bunuh diri atau pulang ke negaranya

atau mengajari ilmu silat. Saat ini saya tidak berpikir untuk menghinanya. Kalau ia

cemas apa yang saya minta, apakah ia juga sudah bersiap bahwa saya bisa

memecahkan permainannya?”

Selesai Nyai Demang menerjemahkan, Kiai Sangga Langit melompat ke atas

arena. Mengangkat kedua tangan dengan cara sedikit menghormat. Lalu berteriak

nyaring.

Bagian tengah panggung itu masih terdiri atas tanah berbatu-batu yang

diratakan. Di beberapa tempat yang agak pinggir ditambahi dengan papan. Tanah

berbatu-batu cukup keras juga, dan justru tempat itulah yang dipilih Kiai Sangga

Langit.

Sehabis berteriak menghimpun tenaganya, kakinya melangkah dengan tumit

untuk berpijak. Sehabis satu langkah tubuhnya berputar. Dan tanah di bawahnya

menjadi berlubang besar. Menganga.

Upasara menyedot udara keras-keras.

Ini baru namanya demonstrasi tenaga dalam yang dahsyat. Membuat tanah berlekuk

hanya dengan menginjaknya. Dalam sekejap terlihat sembilan pasang lekukan yang

dalam. Rapi berpasangan.

Di masing-masing ujung ada lubang yang sangat besar, lebih besar dari

sembilan lekukan yang berpasangan.

Belum hilang kagetnya, Upasara melihat Kiai Sangga Langit meloncat dengan

cara berjumpalitan, berlingkaran menuju pinggir panggung. Dari sisi paling tepi

tubuhnya meloncat ke atas, menuju pohon asam. Ringan sekali tubuhnya melayang,

bagai kupu-kupu raksasa.

Hanya saja ketika menyentuh pohon, kakinya menendang kuat. Seketika

pohon asam tergetar dan daunnya rontok. Berikut buahnya!

Sehabis menendang, tubuhnya melayang lagi, meraup buah asam yang berjatuhan,

lalu kembali menendang pohon dengan keras, dan menangkap kembali guguran buah

asam.

Beberapa penonton malahan bubar. Terasa ada yang mengerikan.

Upasara merasa lehernya tegang. Ini benar-benar pameran pengendalian yang

luar biasa. Tenaga keras ketika membuat lekukan di tanah, tenaga keras ketika

menendang pohon, tapi juga sekaligus pameran kelembutan dengan tubuh melayang

menyambut buah asam.

Pantas dan tepat Ngabehi Pandu memujinya!

Kiai Sangga Langit melompat kembali ke tengah arena. Bibirnya seperti

tersenyum penuh kemenangan. Tangannya bergerak meskipun tetap terkepal.

Tangannya bergerak-gerak dalam diam. Seperti memeras buah asam. Memang

itulah yang dilakukan. Dalam sekejap kulit buah asam berikut buahnya berhamburan

ke tanah bagai bubuk. Sedang biji asam yang hitam dilemparkan ke dalam lubang.

Setiap lemparan, sembilan biji masuk ke dalam lubang. Begitu terus-menerus diulangi.

Hingga delapan belas lubang itu masing-masing berisi sembilan biji asam!

Upasara tahu bahwa dalam dunia ini ada ilmu Bokor Sewu. Yaitu cara latihan

setiap malam harus bisa menghancurkan seribu buah bokor— sejenis buah-buahan

yang kulitnya sangat keras. Hanya dengan memencet saja hingga hancur. Tapi yang

diperlihatkan Kiai Sangga Langit lebih dari itu. Biji asam yang biasa disebut klungsu

itu masih utuh.

“Anak dusun, inilah permainan itu.

“Kau sudah siap?”

“Yang begini anak-anak juga bisa melakukan. Permainan lakon semacam ini

apa susahnya?”

Lakon atau congklak memang biasa menjadi mainan dalam Keraton. Upasara

merasa lega, karena paling tidak mengenal cara permainan itu. Namun ia juga sadar,

bahwa dalam permainan itu ada sesuatu yang harus dilakukan.

“Kiai Sangga Langit di negaranya tadinya adalah imam negara yang sangat

dihormati. Beliau datang ke tanah Jawa bersama Meng-ki, yang telah diusir. Karena

secara keprajuritan beliau bukan anggota resmi, beliau bisa tinggal di sini. Merasa

sayang meninggalkan tanah Jawa begitu saja, padahal di sini banyak jago silat dan

permainan.

“Salah satu permainan yang dikenal adalah permainan lakon. Menurut Kiai

Sangga Langit, permainan ini datang ke tanah Cina lewat permainan yang dibawakan

oleh Tat Mo Tosu. Imam Besar Tat Mo adalah pendiri Shao Lin yang sangat terkenal

hingga sekarang ini. Imam Besar atau Imam Agung Tat Mo menjalankan ajaran

Budha.

“Salah satu ajaran yang diketahui oleh Kiai Sangga Langit adalah Sembilan Jalan

Budha. Sembilan jalan itu ditunjukkan oleh sembilan lubang dalam lakon. Bagian

yang menghadap ke arah kamu, adalah bagian yang kau jalankan. Sedang bagian yang

dihadapi Kiai Sangga Langit adalah miliknya.

“Kau mengerti, anak dusun?”

“Cukup jelas, Mbakyu. Saya siap bertanding.”

“Tidak. Kiai Sangga Langit tidak menghendaki bertanding. Kiai Sangga Langit

hanya menghendaki kau memainkan lakon itu. Dalam satu langkah tanpa henti.

Kalau kau bisa memasukkan separuh biji yang kau miliki ke dalam lumbung, kau

dianggap berhasil memecahkan.

“Modal yang menjadi milikmu adalah sembilan biji kali sembilan. Atau 81 biji.

Nah, kalau kau sekali jalan bisa memperoleh 41 biji, kau sudah dianggap menang.

Karena itu berarti kau sudah bisa menempuh separuh dari Sembilan Jalan Budha.

Perjalanan berikutnya tak terlalu menentukan.

“Kalau kau sekali jalan hanya bisa mendapatkan empat puluh biji, kau gagal.

Kau tak disinari oleh sifat Budha. Berarti kau kalah.

“Seperti dalam semua permainan lakon, kau harus memulai dari bagianmu

sendiri. Mulai dari lubang sepuluh hingga delapan belas. Setiap kali biji asam yang

kaumainkan masuk lumbung, kau harus mulai dari bagianmu sendiri.

“Apa bisa mulai sekarang?”

Upasara menatap ke langit. Untuk memainkan lakon tidak terlalu Sulit. Anak

kecil pun bisa. Akan tetapi untuk mendapatkan biji paling sedikit 41, bukan hal yang

mudah.

Kalau saja ada Ngabehi Pandu, mungkin bukan hal yang sulit. Tidak, Ngabehi

Pandu pun belum tentu bisa memecahkan rahasia dalam waktu cepat. Hanya Mpu

Raganata yang mampu! Ya, Mpu Raganata memiliki Weruh Sadurunging Winarah,

yang bisa untuk menguasai segala jenis permainan atau jurus-jurus baru.

Hanya Mpu Raganata!

Tapi sejauh ini Upasara baru bertemu sekali saja. Upasara hanya mengenal dari

penuturan Ngabehi Pandu. Ia pernah sangat penasaran dan menanyakan apa

sebenarnya ilmu Weruh Sadurunging Winarah itu, dan kenapa gurunya selalu

membanggakan itu?

“Ilmu itu sendiri tak diberi nama apa-apa. Hanya disebut sebagai Weruh

Sadurunging Winarah. Saya pernah berguru mengenai hal itu, akan tetapi sulit

memahaminya. Mpu Raganata hanya memakai perbandingan: Bahwa bila kau

menjadi katak, kaulah yang seharusnya menutupi liang. Bukan liang itu yang

menyelimuti dirimu. Tapi kau tak bisa mengatakan ini ilmu Kodok Ngemuli Leng,

Katak Menyelimuti Liang, meskipun itu yang dikenal. Dalam dunia silat selalu

dikenal nama yang seram-seram untuk memperhebat. Tapi kita terjebak lagi. Terjebak

dalam nama jurus, yang padahal itu adalah bungkus. Padahal itu adalah leng, liang,

bukan kodok, katak.

“Ngabehi, kita sekarang ini duduk berhadapan. Kalau kutanya kita di mana,

kau bisa menjawab di ruang pendopo. Itu betul secara wadag, secara fisik. Tapi salah,

sebab bukan itu yang wigati, yang penting. Yang benar ialah ruang pendopo ini

berada dalam diri kita.

“Setiap kali kita harus tanggap ing sasmita, peka kepada isyarat. Dengan

mengembalikan ke ilmu katak tadi. Katak tidak berada dalam liangnya. Liang itu

berada dalam katak.

“Ketika kau menciptakan jurus-jurus Banteng Ketaton, aku bisa menebak

bentuk kasarnya. Kalau kaupamerkan satu jurus saja, pembukaan, aku bisa menebak

ke arah mana serangan.

“Ngabehi, ketika Baginda Raja banyak mengirimkan para senopati ke tanah

seberang, saya sama sekali bukan tidak menyetujui. Saya ini apalah dibandingkan

Baginda Raja yang menerima wahyu.

“Tapi marilah kita lihat. Kau bisa melihat bahwa Raja Muda Gelang-Gelang

sedang menghimpun kekuatan. Ketika ini terdengar oleh Baginda Raja, malahan saya

dituduh mencari perkara dengan menebarkan bibit pertengkaran. Baginda Raja sama

sekali tak percaya bahwa Raja Muda Gelang-Gelang berniat kraman. Selama ini

makanan, pakaian, rumah, kehormatan diberikan padanya atas kebaikan Baginda

Raja.


Episode 3

“Kedurhakaan yang paling keji pun tak akan seperti itu.

“Nah, inilah yang kumaksudkan dengan ilmu katak itu. Kalau Baginda Raja

melihat dari pandangannya saja, mengukur dari pribadi Baginda Raja, memang tidak

mungkin. Akan tetapi akan berbeda hasil akhirnya, jika saja Baginda Raja

menempatkan dirinya sebagai Raja Muda Gelang-Gelang.

“Susah, susah, tapi juga mudah.

“Tak ada yang luar biasa. Aku bukan nujum, bukan ahli ramal. Dengan

perasaan pun bisa. Semua manusia menerima kodrat bisa memainkan Weruh

Sadurunging Winarah asal mau melatihnya,

“Dasarnya cuma satu. Kekosongan pikiran diri sendiri, dan menjadi apa yang

dipikirkan. Kalau kau ingin tahu apa yang dilakukan Raja Muda Gelang-Gelang, kau

harus membebaskan dirimu sendiri. Kau harus mengosongkan dirimu, sehingga bisa

menyelimuti Raja Muda Gelang-Gelang. Menguasai Raja Muda Gelang-Gelang dan

tahu apa yang akan dilakukan. Pada saat yang bersamaan kau menjadi dirimu dan

mengalahkannya.

“Kita berdua bisa berlatih mengosongkan pikiran. Tetapi kamu terlalu sungkan

denganku, Ngabehi. Kau tak akan pernah bisa mengalahkanku. Dalam pertandingan

satu lawan satu, semua langkahmu mudah kutebak. Karena kau terlalu menghormat

padaku, pun andai aku telah berbuat jahat—amat jahat padamu.

“Di seluruh dunia ini hanya Eyang Sepuh yang sama sekali tak berani kulawan.

Membayangkan bertanding pun tak pernah terpikirkan. Karena aku tak berani. Aku

kalah dalam mengosongkan pikiran lawan Eyang Sepuh.

“Ngabehi, apakah kita akan berlatih?”

Saat itu Upasara merasa kelewat penasaran. Begitu seringnya Mpu Raganata

disebut-sebut dengan sangat hormat. Dan Mpu Raganata sendiri menyebut-nyebut

Eyang Sepuh. Upasara ingin sekali menjajalnya sendiri!

Tapi justru karena rasa gusarnya dulu, ia jadi terus teringat. Beberapa kali

Ngabehi Pandu membicarakan apa yang dibicarakan dan kadang berusaha

memecahkan bersama.

Kini Upasara berniat menghadapi beberapa petunjuk tidak langsung itu.

“Mpu Raganata, maafkan hamba….”

Upasara menghaturkan sembah dengan khidmat. Menarik napas dalam-dalam.

Memulai.

Pertama, mengangkat biji asam di lubang sepuluh. Itulah memang permainan

awal. Sehingga dengan demikian akan berakhir di lumbung, dan ia bisa memulai lagi

sesukanya.

Lalu memulai lagi mengangkat biji asam di lubang delapan belas. Yang

sekarang berisi sepuluh biji. Yang pertama masuk lumbung, lalu masuk lubang satu,

dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, dan berakhir di lubang sembilan—yang

kini isinya menjadi sepuluh. Diangkat lagi, dimasukkan lubang sepuluh, sebelas, dua

belas, tiga belas, empat belas, lima belas, enam belas, tujuh belas, delapan belas, satu

demi satu, dan kembali berakhir di lumbung. Langkah ketiga tak terlalu sulit. Dari

lubang delapan belas, tinggal memasukkan ke lumbung.

Kini berarti lumbungnya sudah berisi empat.

Baru empat, dari paling tidak harus bisa mencapai 41 biji.

Kiai Sangga Langit berdehem kecil. Langkah kelima memang mulai

mengandung komplikasi. Kalau tadi bisa dengan mudah dihitung, ia harus sangat

cermat. Keliru satu biji saja, bisa-bisa hancur berantakan.

Nyai Demang menahan napas.

Ia mengenal permainan lakon ini dengan baik.

Kalau Upasara mulai dari lubang sepuluh, seperti permulaan tadi— memang

secara berhitung kasar bisa begitu, sebelum langkah kesembilan belas ia harus mati.

Ini berarti lumbungnya baru terisi sepuluh. Tambah yang ada di depannya, karena

ditembak, isinya belum mencapai 25.

Ternyata Upasara mulai dari lubang kesebelas sebagai langkah kelima. Lubang

kesebelas isinya sebelas, berakhir di lubang tiga yang isinya menjadi sebelas juga, dan

berakhir di lubang ketiga belas yang isinya tiga belas, dan ini akan berakhir di lubang

ketujuh yang isinya dua belas. Dari sini berakhir di lumbung lagi. Selamat!

Berarti kini Upasara menyimpan enam biji di lumbung!

Sampai di sini, Nyai Demang masih bisa memainkan. Karena perkembangan

biji asam di setiap lubang masih bisa diperhitungkan.

Akan tetapi mulai langkah kesembilan, variasi makin banyak. Kini hampir

semua isi dalam lubang sudah tak ada yang sembilan biji lagi! Perubahan ini tak boleh

dihitung lebih dulu. Hanya berdasarkan ingatan saja.

Nyai Demang dikenal sangat cerdas dalam menganalisa dan belajar soal seperti

ini. Dan ia membanggakan dirinya, karena ia bisa berbicara dengan Kiai Sangga

Langit. Banyak kesalahan dalam menangkap arti bisa terjadi, akan tetapi secara

keseluruhan ia bisa mengetahui artinya!

Tapi untuk memulai langkah kesembilan dari lubang mana, bukan hal mudah.

Kalau Upasara mulai dari lubang sebelas, dalam tiga langkah berikutnya ia akan mati.

Tapi bukan Upasara kalau ia memilih lubang sebelas untuk dimainkan. Dalam

banyak hal yang berhubungan dengan angka serta cara hitung-menghitung, Upasara

seperti menemukan hafalan lama. Selama dua puluh tahun ia dikurung untuk hal-hal

seperti ini. Menghafal, berhitung luar kepala, mempraktekkan. Sehingga

dibandingkan orang lain, Upasara sudah belajar mengenai hal ini selama dua puluh

tahun. Dan tak pernah tersentuh oleh kegiatan lain.

Upasara mulai langkah kesembilan dari lubang tujuh belas. Dan di langkah

kesembilan belas, ia masuk lumbung lagi. Langkah dua puluh tinggal menaikkan dari

lubang tujuh belas. Di langkah kedua puluh, Upasara telah mengumpulkan dua belas

biji.

Langkah ke-21, Upasara mulai lubang enam belas. Pikirannya sederhana,

karena dari lubang enam belas berisi dua puluh biji, dan dengan demikian akan

menutup seluruh putaran, dan ia tak akan mati langkah.

Demikianlah dengan kecerdikan dan perhitungan matang, Upasara terus

memainkan biji asam. Kiai Sangga Langit berdecak pelan, mengawasi dengan cermat.

Sampai dengan langkah ke-34, Upasara sudah memasukkan ke dalam lumbung

sebanyak 22. Bagi Nyai Demang itu sudah suatu prestasi yang hebat.

Tapi untuk angka yang ditentukan Kiai Sangga Langit, itu masih separuh.

Sampai di sini Kiai Sangga Langit berjalan mendekat. Siapa pun tahu bahwa

kini langkah yang paling menentukan.

Upasara mendongak ke arah langit.

Bibirnya berkumat-kamit menghafalkan angka di dalam lubang.

“Lubang kesepuluh berisi 25, lubang kesebelas berisi enam, lubang kedua belas

berisi dua belas, lubang ketiga belas berisi lima belas, lubang keempat belas berisi

enam, lubang kelima belas berisi lima, lubang keenam belas berisi empat, lubang

ketujuh belas tidak ada isinya alias kosong, lubang kedelapan belas berisi enam.

“Aha, dari mana aku harus mulai?

“Di depan lubang kesatu berisi tiga, lubang kedua berisi delapan, lubang ketiga

berisi sembilan, lubang keempat berisi satu, lubang kelima berisi tiga, lubang keenam

berisi 25, lubang ketujuh berisi sepuluh, lubang kedelapan berisi dua, lubang

kesembilan tidak ada isinya alias kosong.

“Yang menjadi petaka yang mematikan bukan hanya lubang kesembilan dan

lubang ketujuh belas. Tapi adalah perubahannya. Mulai dengan lubang kelima belas,

keenam belas, ketujuh belas sama dengan bunuh diri dalam langkah pertama. Mulai

dari lubang kedelapan belas, menguntungkan karena panjang. Akan tetapi itu

berakhir di lubang keenam dan mengambil isinya sebanyak 25. Akan tetapi berarti itu

dibagi rata. Susah untuk nembaknya.

“Langkah lainnya penuh risiko.

“Susah sekali.”

Upasara merenggangkan tangannya. Menggeliat. Lalu memandang ke atas lagi.

“Ini kesempatan saya mengambil yang terakhir. Entah bisa panjang atau tidak.

Tak mungkin bisa berakhir di lumbung lagi. Tak apa.

“Kalau bisa nembak yang terbesar, itu sudah cukup.”

Upasara menggerakkan lubang kesepuluh yang berisi 25 biji. Langkahnya

berakhir di langkah ke-41, akan tetapi ia berhasil menyikat biji di depan lubang ketiga

belas. Berhasil menyikat lubang di depannya. Isinya paling banyak, yaitu 28 biji.

Dengan lumbungnya yang sudah berisi 26, semuanya berjumlah 54 biji!

Upasara meloncat ke atas, dan tertawa bergelak.

Nyai Demang berusaha menghitung, akan tetapi Upasara mendiktekan jumlah

yang ada.

“Katakan kepada Kiai Sangga Langit. Kalau ia ingin meneruskan permainan,

jumlah akhir nanti tak akan pernah bisa dimenangkannya. Kalau tidak percaya,

silakan jajal.”

Nyai Demang jadi ragu.

Kiai Sangga Langit memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya.

Tubuhnya tetap tegak. Lalu mengganti dengan menyembah.

“Anak muda, sungguh luar biasa. Imam Tat Mo akan sangat bahagia di nirwana

sana. Tak sangka, hari ini ada yang bisa memecahkan permainan yang usianya ratusan

tahun dengan sekali gebrak. Luar biasa, luar biasa. Selamat, selamat…,” Nyai Demang

menerjemahkan per kata. “Kini kau sudah menang mutlak. Nah, katakan apa

permintaanmu.”

Upasara menggeleng.

“Jangan terlalu memuji. Sebenarnya saya yang rendah ini kebetulan bisa

menghitung di luar kepala. Itu saja.

“Mengenai permintaan saya, sampai saat ini saya belum mempunyai

permintaan apa-apa. Lupakan saja. Sembah hormat kembali untuk Kiai Sangga

Langit.”

“Karena anak muda tak meminta apa-apa, apakah Kiai Sangga Langit boleh

meminta sesuatu?”

“Asal saya bisa memenuhi, akan saya lakukan.”

“Kiai Sangga Langit hanya minta anak dusun menyebutkan asal-usul, nama

perguruan, agar di belakang hari bisa mengundang.” Upasara menghela napas. Berat.

Kegirangan yang melonjak tinggi ketika merampungkan permainan tadi jadi

sirna.

“Saya telah mengatakan sesungguhnya. Saya biasa dipanggil Upa. Nama

perguruan saya tidak perlu disebutkan karena sudah lama bubar—sudah sejak lama.

Mengenai asal-usul, saya sendiri tidak tahu. Saya menyebut Bapak Toikromo, karena

beliau pernah menolong saya.”

“Istri, saudara…”

“Istri saya belum berani memiliki, karena saya masih luntang-lantung seperti

ini. Saudara… saya tak pernah tahu. O, tidak, saya mempunyai saudara angkat. Ia

seorang senopati dari Gelang-Gelang. Kami baru saja saling mengangkat saudara. Agak

susah saya menyebutkan, karena kami saling berjanji untuk tidak membuka kepada

orang lain.

“Kiai Sangga Langit, masih adakah yang Kiai minta?”

Selesai Nyai Demang menerjemahkan, sekali lagi Kiai Sangga Langit memberi

hormat dengan dua cara.

Ketika itu Bagus Respati mulai membuka matanya. Bersamaan dengan Galih

Kaliki. Keduanya berdiri dan melihat Kiai Sangga Langit sedang memberi hormat

kepada Upasara. Upasara membalas dengan menundukkan badannya.

“Kiai Sangga Langit mempunyai beberapa hadiah, kalau kau mau

menerimanya. Sebuah kitab mengenai ajaran Budha yang bisa digunakan untuk

mempertajam keluhuran budi, apakah kau mau menerima?”

“Terima kasih, Nyai Demang, apa gunanya kitab itu kalau saya tidak bisa

membaca?”

“Aku akan membacakan untukmu.” Kembali sinar mata yang genit mencubit

perasaan Upasara.

“Kalau begitu biarlah Nyai Demang yang menerima. Dan mempelajari. Saya

masih ada urusan di dusun, mohon pamit.”

Upasara berbalik ke arah Galih Kaliki.

“Paman Galih, maafkan semua kelancangan saya. Saya mohon pamit. Jangan

lupa mengundang saya ke perkawinan nanti.”

Galih Kaliki tertawa bergelak.

“Kau masih muda, gagah, dan sedikit congkak. Aku, Galih Kaliki, suka

padamu. Selamat, anak muda.”

Upasara berbalik ke arah Bagus Respati.

“Kakang Raden Mas…”

“Terima kasih, Upa… Tak akan pernah kulupakan kebaikanmu. Datanglah ke

dalem kepatihan.”

Upasara menghaturkan sembah. Lalu perlahan berjalan turun dari panggung.

Nyai Demang meloncat maju.

“Apakah kamu juga akan berlalu kalau saya mengharap tinggal barang

sebentar?”

Upasara menunduk. Tak berani menatap mata Nyai Demang.

“Buku silat yang dihadiahkan Kiai Sangga Langit adalah buku pilihan. Juga di

negerinya sendiri. Sungguh kurang enak kalau kamu menolak begitu saja.”

Upasara mengangguk.

“Kita mengadakan makan malam bersama, dan setelah itu kamu bisa pergi ke

mana saja. Menjumpai kekasihmu….”

“Saya akan tinggal sebentar, Mbakyu….”

Malam itu juga diadakan perjamuan sederhana. Bagus Respati hanya

menikmati sebentar, lalu berpamitan untuk pergi keesokan harinya. Ia akan segera

berangkat bersama Dyah Muning dan mempersiapkan upacara.

Galih Kaliki menepuk-nepuk pundak Upasara.

“Pergilah bersama Nyai Demang. Ia akan membacakan isi kitab itu padamu.”

Upasara merasa kikuk.

“Di dunia ini semua lelaki pasti tertarik kepada Nyai Demang. Baik diam-diam

atau terang-terangan. Akulah yang paling tergila-gila. Aku menyadari ini ketololan

yang luar biasa. Tapi aku suka terseret arus perasaan seperti ini. Indah sekali. Anak

muda, kamu beruntung malam ini.”

“Paman Galih, karena Paman menganggap saya sebagai keluarga sendiri,

kenapa kita tidak bersama-sama mendengarkan apa yang dikatakan Nyai Demang?”

Dalam suatu tenda, malam itu Kiai Sangga Langit menjelaskan beberapa bagian

yang diterjemahkan oleh Nyai Demang. Upasara berusaha mendengarkan dengan

segenap perhatian. Hanya saja beberapa kali perhatian tertuju pada gerak bibir Nyai

Demang. Benar juga kalau semua lelaki tertarik kepada Nyai Demang. Cukup

beralasan kalau Galih Kaliki, meskipun sudah menyadari ketololannya, masih tetap

tergoda. Nyai Demang memang mempunyai daya tarik, dan bisa memanfaatkan

kelebihan ini.

“Buku ini mengandung ajaran cara melatih pernapasan. Intinya lebih berguna

untuk menjaga agar badan tetap sehat, panjang umur, dan memperoleh kebahagiaan.

Kiai Sangga Langit mendapatkan dari orang-orang Cina. Agak bertentangan dengan

ilmu Mongol yang mengandalkan kekerasan. Namun cara melatih pernapasan ini

ternyata mempunyai manfaat besar. Terbukti dari jago-jago di daratan Cina yang

makin tua justru makin perkasa.”

Setelah larut, Upasara meminta diri. Sekaligus pamitan besok pagi akan

menemui ayahnya, Pak Toikromo. Ia kembali ke tenda. Bagi Upasara yang penting

bisa istirahat dan besok pagi melanjutkan perjalanan.

Maka setelah bersemadi, Upasara mulai berbaring.

Galih Kaliki yang berada di sampingnya sudah langsung mendengkur.

Mungkin karena capek, mungkin karena tadi minum tuak secara berlebihan.

Baru memejamkan mata sekejap, Upasara mendengar satu gerakan. Desir angin

yang lain. Sebagai seorang yang terlatih, Upasara melihat ada sesuatu yang tidak beres.

Gerakan mengentengkan tubuh dengan perlahan, mencurigakan di larut seperti ini.

Apalagi bukan gerakan satu orang. Upasara bangkit. Lalu berjalan perlahan keluar dari

tenda.

Sesaat masih melihat dua bayangan berkejaran. Cepat sekali Upasara meloncat

ke arah dua bayangan. Belum lama mengejar, dua bayangan itu sudah terlibat dalam

pertempuran. Upasara tahu bahwa bayangan yang dikejar adalah Nyai Demang.

“Kalau berani kurang ajar padaku, ayo kita jajal di sini.”

“Perempuan murahan, untuk apa kamu menolakku? Jangan paksa aku

melakukan itu dengan kekasaran. Kita nikmati malam yang indah ini.”

Suara yang satunya seperti dikenal oleh Upasara. Hanya saja tidak begitu jelas, karena

memakai kain yang dikerudungkan menutup seluruh tubuh.

“Majulah kalau kamu memang ksatria.”

“Aku juga laki-laki yang bisa menaklukkanmu. Malam ini. Dan aku ingin

menjadi orang senewen seperti Galih Kaliki. Ayo, Nyai Demang, kita bermain-main

sebentar.”

Bayangan berkerudung itu langsung menyerang Nyai Demang. Nyai Demang

menghindar. Dalam beberapa saat keduanya sudah terlibat dalam pertempuran.

Meskipun Nyai Demang termasuk unggul, namun masih setingkat di bawah

penyerangnya. Kelebihan Nyai Demang ternyata lebih bersifat teori. Gerak

pukulannya tepat, bagus, dan mengena. Akan tetapi tenaga pendukungnya tidak

cukup membantu. Sehingga dengan mudah ditangkis. Melewati sepuluh jurus, Nyai

Demang sudah di bawah angin.

Lima jurus berikutnya, kaki Nyai Demang kena serampang, dan tubuhnya

terbanting. Dengan satu tangan menotok ke arah pinggang, penyerang berkerudung

itu berhasil memeluk Nyai Demang.

“Apa lagi?”

Nyai Demang menggigit bibirnya. Kakinya yang lepas berusaha menendang

dari belakang. Sekali lagi, dengan mudah bisa disampok. Dan ketika pegangan

dilepaskan, tubuh Nyai Demang terbanting ke tanah.

Upasara tidak merasa perlu turut campur, sebenarnya. Akan tetapi merasa

kurang enak melihat Nyai Demang diperlakukan dengan kasar. Maka Upasara

melompat ke tengah.

Bayangan berkerudung melihat Upasara.

“Oh, kamu, Upasara.”

Upasara melengak.

Baru ia sadar siapa yang dihadapi.

“Kang Bagus Respati… maaf, mengganggu masalah pribadi… saya kira…”

Upasara segera berbalik membuang wajah.

“Haha… di dunia ini masih ada lelaki sejujur kamu. Betul-betul luar biasa….”

Tanpa menoleh kiri-kanan Upasara terus kembali ke tenda. Melihat Galih

Kaliki masih tidur mendengkur. Ah, apakah pikirannya akan berubah jika melihat apa

yang dilakukan Nyai Demang? Entahlah. Upasara tidak mau berpikir lebih jauh.

Hanya ia merasa bersalah mencampuri urusan Nyai Demang dengan Bagus Respati.

Mereka berdua ternyata memang lagi “bermain-main”.

Tokoh macam apakah Nyai Demang itu?

Tak bisa masuk di benak Upasara. Hanya saja sejak melihat kejadian itu,

Upasara tidak begitu tertarik lagi dengan Nyai Demang. Hanya saja Upasara juga tidak

mengerti bagaimana sikap Bagus Respati sebenarnya. Setelah memperoleh putri Cina

dalam sayembara, kenapa masih mengejar Nyai Demang?

Upasara melanjutkan perjalanan, dengan beberapa pikiran yang masih

mengganggu. Akan tetapi ia tidak memedulikan. Pikiran itu terbuang dengan

sendirinya. Karena memang sejak masih bayi tak pernah terlibat dengan keusilan.

Harapannya cuma satu: menyampaikan berita ke Keraton!

Selewat fajar, Upasara sampai di Keraton.

Ia merasa bingung karena tak tahu harus menghubungi siapa. Ngabehi Pandu

tak ada di tempat. Senamata Karmuka juga tak bisa dihubungi.

Maka ketika ia mengatakan akan sowan kepada Baginda Raja, prajurit penjaga hanya

melengak saja.

“Kami mengetahui dirimu, anak muda. Kamu dari Ksatria Pingitan. Kamu

membawa tanda untuk masuk ke Keraton. Akan tetapi untuk bisa melihat bayangan

Baginda Raja, apakah kamu mempunyai alasan untuk itu?”

“Dengan paksa atau baik-baik saya akan sowan kepada Kanjeng Sinuwun.”

Mendengar jawaban itu para prajurit bersiap dan mengurungnya.

Upasara mendongak.

“Kalau kalian memaksa terus, akan terjadi sesuatu yang tidak kalian inginkan.”

Upasara bertindak maju. Dengan membawa cincin Keraton, Upasara bisa terus

melangkah maju ke dalam.

Para prajurit tak ada yang berani menyerang. Hanya sekadar berjaga.

Sampai di balairung, tempat menghadap, Upasara duduk bersila.

Upasara tetap tidak bergeser. Ia terus bersila di balairung, tertunduk, sama

sekali tak beringsut. Dari pagi hingga tengah hari sampai menjelang petang. Beberapa

pengawal utama tak berani menegur atau mengusik, hanya mengawasi dari kejauhan.

Ketika penerangan Keraton dinyalakan, dan bayangan tubuh Upasara

bergerak-gerak, ketika itulah terdengar langkah kaki memasuki balairung. Beberapa

pengawal berjalan membentuk barisan di sebelah kiri dan kanan. Bersila di bawah.

Beberapa saat kemudian sebuah langkah ringan menuju ke tengah. Semua yang hadir

menghaturkan sembah.

Upasara tetap menunduk.

“Anak muda yang keras kepala, apakah kau Ksatria Pingitan?”

Barulah tangan Upasara bergerak, menghaturkan sembah yang khidmat. Sorot

matanya tetap menunduk. Akan tetapi sempat menangkap sosok tubuh yang gagah

perkasa, yang dadanya telanjang dan berbulu. Dengan kalung panjang berbentuk segi

tiga. Melingkari leher secara terbuka, dan bertemu sedikit di atas pusar. Kain yang

dikenakan sangat bagus, dan ujung keris menonjol dari belakang. Ditopang dengan

sepasang kaki yang bersih kukuh, ditumbuhi bulu-bulu keriting. Rambutnya digelung

di atas kepala, memberi kesan sangat gagah.

“Nun inggih… saya yang rendah bernama Upasara Wulung,” suaranya penuh

rasa hormat, “…saya menghaturkan sembah bekti, Mahapatih yang mulia.”

Mahisa Anengah Panji Angragani seperti berdecak bibirnya.

“Apa maksudmu memaksa diri bersila di sini?”

“Saya mohon izin Mahapatih yang mulia untuk sowan kepada Baginda Raja.

Hanya dengan perkenan Mahapatih yang mulia, saya yang rendah bisa sowan di

hadapan Baginda Raja, penguasa tunggal Keraton.”

Kembali terdengar decakan suara di bibir.

“Sudah lama kudengar makin banyak pemuda yang berbuat kurang ajar dan

ugal-ugalan. Hari ini aku menemukan sendiri. Upasara, apakah karena kau merasa

bekas Ksatria Pingitan, sehingga bisa begitu mudah meminta izin untuk sowan

Baginda Raja?

“Ksatria Pingitan sudah lama dibubarkan, karena hanya memboroskan keuangan

Keraton. Sudah tidak ada artinya lagi. Pun andai masih ada, kau tak bisa leluasa

mengajukan usul seperti itu.

“Apakah ada sesuatu yang luar biasa sehingga merasa perlu sowan Baginda

Raja?”

“Maafkan hamba, Mahapatih yang mulia. Maafkan kelancangan hamba, dan

ketidaktahuan akan tata krama ini. Keberanian dan keinginan hamba hanya didasari

bahwa ada sesuatu yang harus hamba sowan-kan kepada Baginda Raja.

“Maafkan, Mahapatih yang mulia.”

“Sesuatu itu apa? Aku akan mempertimbangkan.”

Upasara menghaturkan sembah.

“Katakan.”

Upasara menunduk.

Pundaknya merunduk menuju satu titik di tanah.

Ludahnya seperti tak bisa ditelan.

Apakah ia harus memberi laporan kepada Mahapatih Panji Angragani

mengenai kejadian di Perguruan Awan? Menurut pesan Jagaddhita, ia harus

menyampaikan langsung kepada Baginda Raja. Akan tetapi, untuk bisa sowan, ia tak

bisa menghindar dari Mahapatih.

Apakah ia harus memperlihatkan dua buah gigi emas Jagaddhita? Apakah ini

cukup berarti bagi Mahapatih? Tetapi jika ia tidak mengatakan… Terlambat.

Mahapatih sudah berdecak lebih keras.

“Upasara. Sungguh lancang! Bagaimana mungkin kau tidak menghormati

dengan berdiam diri seperti itu? Bahkan Baginda Raja mempercayaiku untuk menjadi

mahapatih. Untuk menjadi bahu kanan Baginda Raja. Apa yang kausembunyikan

dariku, pasti akan kuketahui.

“Akan kulihat apakah kau masih berusaha duduk di situ, atau menunggu aku

memerintahkan untuk menendangmu.”

“Ampun, Mahapatih yang mulia. Sama sekali tak terpikir oleh hamba yang

rendah ini untuk tak menghormati Paduka. Mahapatih yang mulia adalah sesembahan

kawula, Mahapatih yang mulia adalah bahu kanan Baginda Raja yang terpercaya,

akan tetapi saya ingin menyampaikan secara pribadi.”

Terdengar decak kecil.

“Aku tak punya waktu banyak, Upasara. Kalau kau mau mengatakan, sekarang

saatnya. Para pengawal ini adalah pengawal Keraton yang tak perlu diragukan lagi

kesetiaannya.”

“Maaf, Mahapatih. Masalah ini ada sangkut-pautnya dengan peristiwa di

Perguruan Awan.”

“Hmmmmm.”

“Juga mengenai rombongan Raja Muda Gelang-Gelang, serta pasukan yang

dipimpin langsung oleh Maharesi Ugrawe. Mohon Mahapatih yang mulia

menyampaikan kepada Baginda Raja.”

Terdengar tawa menggeledek.

Para pengawal sempat kaget.

Darah Upasara berdesir sangat cepat.

“Dewa Batara… kukira tentang gempa yang dahsyat atau matahari berbalik

arahnya. Tak tahunya tentang urusan begitu sepele. Kalau urusan membunuh nyamuk

saja harus di-sowan-kan kepada Baginda Raja, kapan Baginda Raja ada waktu untuk

memuja Penguasa Tunggal di jagat ini?

“Ketahuilah, Ksatria Pingitan. Baginda Raja saat-saat ini sedang bersemadi. Tak

bisa diganggu gugat, tak bisa di-sowan-i siapa saja. Dan mengenai kekuatiranmu,

Baginda Raja sudah mengetahui jauh lebih dulu. Kuhargai sepenuhnya keberanianmu,

tetapi itu tak ada gunanya.

“Nah, sekarang kembalilah. Mulai sekarang jangan menyebut-nyebut sebagai

Ksatria Pingitan lagi, karena sebutan itu sudah dibubarkan. Kembalilah ke desamu,

jadilah petani yang baik.

“Aku telah bermurah hati menemuimu.”

Mahapatih mengibaskan tangannya.

“Ampunilah saya yang cubluk, bodoh, ini. Peristiwa di Perguruan Awan sangat

memilukan. Saya yang rendah ini berada di sana….”

“Aku adalah mahapatih. Aku menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Aku

telah mengetahui dari telik sandi, dari pasukan rahasia, bahwa beberapa pendekar

akan mengadakan pertemuan untuk memberontak kepada Keraton. Itu sebabnya

Baginda Raja menugaskan Raja Muda Gelang-Gelang untuk menumpas sampai habis.

Sampai rata dengan tanah. Aku sendiri yang memerintahkan Senopati Suro, Joyo,

Lebur, Pangastuti untuk memimpin pasukan Keraton. Di samping beberapa prajurit

pilihan yang lain.

“Kau berada di sana dengan siapa?”

“Saya diajak Ngabehi Pandu dan Pamanda Wilanda….”

“Hmmmmm, sok tahu.”

“Beberapa dari prajurit Keraton ditawan oleh Maharesi Ugrawe. Ngabehi

Pandu masih belum ditemukan, demikian juga Senamata Karmuka….”

Kembali terdengar tawa menggeledek.

“Lancang sekali omonganmu.

“Anak lancang. Ajaib sekali. Apa yang diajarkan Ngabehi lancang itu sehingga

Ksatria Pingitan begitu kurang ajar dan ngawur?

“Bagaimana mungkin kaukatakan kalau Senamata Karmuka itu hilang? Selama

ini Senamata Karmuka tak pernah meninggalkan Keraton!

“Omongan edan apa ini?”

“Seribu ampun, Mahapatih yang mulia, saya melihat sendiri….”

“Cukup! Aku tak pernah bicara ngawur. Semua prajurit di Keraton bisa

menilai. Bisa mengatakan apakah aku berdusta. Selama ini Senamata Karmuka berada

di Keraton. Ia tak ikut ke Perguruan Awan. Aku tidak memerintahkan ke sana. Juga ia

hadir dalam pasowanan agung di Keraton. Seluruh pejabat di Keraton melihatnya.

Bagaimana mungkin kau edan-edanan seperti itu?

“Bocah kecil, aku tak menyangka kalau kau berani berdusta di depanku. Ketika

dalam Sayembara Mantu aku mendengar namamu disebut putraku, aku menyangka

kau adalah ksatria yang hebat. Mewarisi keberanian Keraton. Tak tahunya cuma

tukang dusta.

“Tidak adil jika aku tidak menghukummu, walau kau telah menyelamatkan

putraku.

Prajurit, tangkap dia.”

Tiga prajurit memberi hormat, dan langsung menelikung Upasara.

Upasara mendongak.

“Saya hanya menyampaikan pesan ini. Kalau saya sengaja berdusta, saya

pastilah melakukan suatu kebodohan yang tiada taranya. Saya hanya memberi laporan

seperti yang saya lihat.

“Sebelum Mahapatih menjatuhkan hukuman, perkenankanlah saya memohon

sesuatu.”

Terdengar decak lidah.

“Di dalam lipatan kain, ada dua buah gigi emas. Bukan senjata rahasia, bukan

barang penuh bisa atau ilmu gaib. Saya mohon Mahapatih yang mulia berkenan

menghaturkan kepada Baginda Raja.”

Seorang prajurit pengawal membuka lipatan kain dan memperlihatkan dua

buah gigi emas.

“Untuk apa kaukatakan itu?”

“Ini permintaan Bibi Jagaddhita, bekas penari Keraton. Saya berjanji untuk

menyampaikan, apa pun yang terjadi. Kalau besok saya tak sempat melihat matahari

lagi, saya tidak mengecewakan arwah Bibi Jagaddhita.

“Untuk kemuliaan Mahapatih menghaturkan dua buah gigi emas ini, saya

menghaturkan nyawa saya yang tak berharga ini.”

“Masih ada juga jiwa ksatriamu. Memuliakan tugas. Memegang janji. Itulah

sifat ksatria sejati. Itulah ciri utama ksatria Keraton Singasari yang besar.

Kepandaianmu tidak rendah.

“Sayang kau banyak bermimpi.

“Prajurit, penjarakan dia.”

Upasara diseret.

“Satu hal lagi, Mahapatih… yang mulia, Raja Muda Gelang-Gelang tidak

memadamkan pemberontakan, malah sebaliknya. Maharesi Ugrawe mempunyai dua

rencana lain untuk merebut takhta….”

Tapi tubuhnya telah terseret jauh. Dan Mahapatih telah meninggalkan

balairung.

Tubuh Upasara seluruhnya diikat. Kaki dan tangan, serta badannya diikat erat

pada sebuah tonggak, di ruang bawah tanah.

Dulu Upasara mengetahui ruangan itu digunakan untuk menawan para

penjahat yang berbahaya. Hanya para penjahat yang bakal dihukum mati di tempat

itu. Cara pelaksanaan hukuman mati juga tak jauh berbeda. Dibakar hidup-hidup atau

diberikan kepada seekor harimau yang menjadi klangenan, atau kesayangan, Baginda

Raja.

Untuk itu semua hanya diperlukan waktu lima hari. Jika dalam waktu lima

hari Mahapatih tidak berkenan membicarakan masalahnya, dengan sendirinya ia

harus menjadi makanan seekor harimau! Dalam keadaan biasa, Upasara bisa melawan

dan mempertahankan diri. Akan tetapi dalam keadaan terikat erat, seekor nyamuk

yang hinggap di pipi pun tak bisa diusir. Apalagi selama lima hari itu, ia tak dibiarkan

meneguk setetes air atau sesuap nasi, atau juga satu kalimat.

Para prajurit penjaga tak diperkenankan berkata. Ini semua untuk

menghindarkan dari rencana para tersangka mempengaruhi atau mencoba melarikan

diri.

Upasara Wulung mengetahui hal ini. Siapa sangka sekarang ini dirinya yang

menjadi penghuni penjara? Siapa sangka ia begitu susah melarikan diri akan tetapi

malah ditertawakan? Siapa sangka kalau pengorbanan Jagaddhita tak berarti apa-apa?

Upasara termasuk cerdas. Jalan pikirannya cemerlang untuk menangkap suatu

masalah yang tak diperhitungkan. Namun kali ini benar-benar mati kutu. Tak bisa

memperkirakan kejadian apa yang sebenarnya berlangsung. Baik di Keraton, di

Perguruan Awan, atau juga di tempat lain.

Rasanya serba tak menentu dan tak jelas ujung-pangkalnya. Yang disangka

terang-benderang di siang hari, ternyata gelap-pekat tak bisa dimengerti.

Upasara mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, sejak awal Sejak ia

diperam selama dua puluh tahun sebagai Ksatria Pingitan. Suatu usaha untuk

melahirkan para prajurit dan bangsawan teladan. Usaha ini agaknya menimbulkan pro

dan kontra, sehingga resminya dibubarkan. Beberapa ksatria kembali kepada

orangtuanya masing-masing, seperti juga Bagus Respati. Karena dirinya tak

mengetahui harus kembali ke siapa, Upasara Wulung terus bersama Ngabehi Pandu.

Sampai suatu ketika diajak serta ke Perguruan Awan.

Bertemu dengan para pendekar kelas satu. Terjadi perselisihan paham

mengenai Eyang Sepuh serta Tamu dari Seberang. Sampai kemudian munculnya

Maharesi Ugrawe dengan prajurit Gelang-Gelang. Dan terjadi petempuran habishabisan.

Upasara melihat sendiri hadirnya Senamata Karmuka. Bahkan bercakap-cakap

secara langsung.

Tapi baru saja Mahapatih mengatakan bahwa Senamata Karmuka tak pernah

menginjakkan kaki ke luar Keraton.

Ini aneh.

Lalu siapa yang diketahui? Jelas bukan orang lain. Tapi kalau begitu siapa yang

di Keraton? Jelas juga bukan orang lain. Kalau iya, pasti Mahapatih mengenali. Jadi

siapa sebenarnya Senamata Karmuka? Ataukah Senamata Karmuka mempunyai ilmu

yang bisa hadir di dua tempat yang berbeda secara serentak? Upasara pernah

mendengar ilmu semacam itu, namun belum pernah melihat secara langsung.

Yang juga aneh: Pasukan Gelang-Gelang yang secara langsung dipimpin oleh

Raja Muda Jayakatwang. Benarkah pasukan ini mau memadamkan pemberontakan?

Kalau tidak, memang agak mustahil bisa bergerak begitu leluasa. Akan tetapi bila mau

memadamkan pemberontakan, kenapa Maharesi Ugrawe mencoba menyapu bersih

semua yang hadir di situ? Taruhlah ada dendam pribadi antara Maharesi Ugrawe dan

Senamata Karmuka atau Ngabehi Pandu, tak nanti mereka akan bertindak sembrono.

Dan lagi secara jelas Ugrawe melontarkan kecamannya tentang Baginda Raja yang

dikatakan sebagai turunan perampok, maka harus digulingkan dari takhtanya. Sangat

gamblang bahwa Raja Muda Gelang-Gelang akan memberontak. Tetapi mengapa

justru kenyataan malah berbalik? Kenapa malah disangka Raja Muda Gelang-Gelang

yang menumpas pemberontakan para pendekar?

Strategi Ugrawe dengan melenyapkan jalan utama dan menggantikan dengan

jalan palsu di Banyu Urip, jelas untuk memutuskan hubungan Perguruan Awan

dengan Keraton. Bahwa prajurit Gelang-Gelang menghimpun banyak senjata secara

rahasia, ini juga persiapan yang tidak ingin diketahui pihak Keraton.

Bagaimana mungkin yang begini ini malah dikatakan membantu Keraton?

Kalau ini semua merupakan bagian dari rencana Ugrawe, ia benar-benar luar

biasa. Kepada pihak Keraton ia menyusun laporan seakan para pendekar mau

memberontak, sehingga ia mendapat restu untuk menyikat habis. Padahal maksudnya

melenyapkan mereka agar kelak di kemudian hari tidak membantu pihak Keraton.

Karena, meskipun hidup bebas, para pendekar sangat hormat dan bekti kepada

Baginda Raja serta kepada Keraton. Lalu kepada para pendekar, Ugrawe melemparkan

isu bahwa Tamu dari Seberang akan muncul.

Para pendekar bisa dipancing karena Ugrawe dengan cerdiknya melemparkan

berita akan datangnya Tamu dari Seberang.

Semua berjalan sempurna. Karena pihak Keraton sendiri agaknya sama sekali

tidak mencurigai. Utusan yang dipimpin oleh Senopati Suro lebih berfungsi sebagai

saksi belaka. Sehingga kalaupun rombongan ini bisa disikat habis, tak bakal ada

gunjingan.

Hanya saja masih ada yang tidak diduga oleh Ugrawe. Ngabehi Pandu serta

Senamata Karmuka ikut hadir. Entah intrik apa yang sedang berkecamuk dalam

Keraton, sehingga kedua saudara itu muncul di gelanggang, tanpa restu dari Keraton.

Kalau kedua tokoh itu sempat meloloskan diri, pastilah akan lain hasil dari rencana

busuk Ugrawe.

Ini berarti, masih ada tiga orang yang bisa lolos. Yaitu dirinya sendiri, Ngabehi

Pandu, serta Senamata Karmuka. Ngabehi Pandu tidak ketahuan hutan rimbanya.

Entah berhasil lolos atau tidak. Sementara Senamata Karmuka, bagi Upasara masih

merupakan teka-teki. Tapi kini ia tak bisa berbuat banyak. Malah bisa jadi mati secara

menyedihkan. Dibakar hidup-hidup atau jadi santapan harimau!

Kenyataan ini membuat Upasara merasa sangat nelangsa, sangat menderita dan

kesal. Rangkaian kejadiannya begitu ganjil, tapi seperti terjalin menjadi satu.

Pemunculan Kiai Sangga Langit dengan Sayembara Mantu, ternyata juga mendapat

restu dari Mahapatih. Setidaknya Mahapatih membiarkan Kiai Sangga Langit unjuk

gigi. Malah secara resmi melibatkan para pembesar Keraton.

Satu-satunya harapan Upasara adalah dua buah gigi geraham Jagaddhita. Ia

berharap Mahapatih menyampaikan gigi tersebut kepada Baginda Raja, dan Baginda

Raja berkenan untuk mengetahui asal-usulnya. Saat itu ia bisa bercerita panjanglebar.

Kalau Baginda Raja sudah mendengar secara langsung, Upasara akan mati

dengan tenang. Ia tidak penasaran lagi. Pun andai Baginda Raja hanya mendengar dan

lebih mempercayai apa yang dikatakan Mahapatih!

Soal diikat berdiri dan tak bisa bergerak, bagi Upasara tidak menjadi soal

benar. Jangan kata cuma lima hari. Empat puluh hari empat puluh malam secara

terus-menerus Upasara sanggup. Berada dalam ruang gelap tanpa melihat seberkas

sinar pun, tanpa menyentuh air dan atau makanan tak jadi soal benar. Akan tetapi jika

berakhir lain—di perut seekor macan, sungguh tidak enak. Sungguh bukan cara mati

seorang ksatria.

Mudah-mudahan Baginda Raja terbuka sedikit perhatiannya. Itulah harapan

yang terakhir.

Jika saja Upasara mengetahui bahwa Mahapatih Panji Angragani sama sekali

tidak tertarik soal gigi, ia lebih menderita lagi. Mahapatih yang jijik melihat dua buah

gigi segera menyingkirkan begitu saja tanpa peduli.

Setelah kembali ke kepatihan, ia sama sekali tidak mengingat soal gigi. Namun

memang tergerak sedikit oleh kehadiran Upasara. Justru karena Upasara memberi

laporan yang sangat tidak masuk akal: Senamata Karmuka terlibat dalam penyerbuan

ke Perguruan Awan.

“Banyak cara berdusta. Kenapa Upasara mengatakan secara tolol bahwa

Karmuka datang ke Perguruan Awan? Kalau ia berdusta dengan cara lain, ada

beberapa bagian yang bisa dipercaya.

“Entahlah, apakah di saat yang damai seperti ini akan muncul gelombang dan

amukan badai?”

Tak urung malam itu juga Mahapatih memanggil Senamata Karmuka ke dalem

kepatihan. Yang segera menghadap, menghaturkan sembah di ruang dalam.

“Karmuka, pasti engkau kaget kupanggil malam hari begini.”

“Sebagai prajurit, sebagai bawahan, saya siap menerima hukuman atas setiap

kesalahan yang saya lakukan, Mahapatih.”

“Hmmmmm. Aku memanggil tidak untuk memberi hukuman atau menaikkan

pangkatmu secara mendadak. Tidak juga aku menanyakan tugas pengamanan di

Keraton. Untuk yang terakhir ini, aku percaya sepenuhnya kepadamu.”

“Beribu terima kasih atas kepercayaan Mahapatih.”

“Malam ini kau kupanggil kemari karena aku kangen padamu. Itu yang

pertama. Yang kedua, rasanya kita sudah lama tidak berduaan sambil minum teh.

Sedangkan hal yang ketiga, tidak penting benar. Aku ingin tahu, apa yang kau ketahui

tentang Upasara Wulung.”

“Upasara Wulung dulunya Ksatria Pingitan,” jawab Senamata Karmuka cepat

sekali. “Termasuk anak muda yang merupakan bibit unggul di antara 25 yang

dikumpulkan dalam pendidikan Keraton Singasari.

“Kebetulan saya diserahi memegang pimpinan pengelolaan itu oleh Baginda

Raja sesembahan rakyat Jawa.”

“Ya, tapi rencana itu bubar, kan?”

“Mahapatih, semua itu karena kesalahan saya yang tidak becus apa-apa.”

“Itu susahnya, Karmuka. Baginda Raja berharap akan lahir ksatria yang bisa

meneruskan kejayaan Keraton. Tapi nyatanya susah. Putraku sendiri, akhirnya

kutarik dan kuserahkan kepada para empu yang lain.

“Sudahlah, kita lupakan itu. Tapi bagaimana dengan Upasara ini?”

“Bocah itu seterusnya di bawah pengawasan adik saya, Ngabehi Pandu, karena

tak mempunyai keluarga lagi. Hatinya baik, kemauannya keras.”

“Waras atau tidak?”

“Saya tak berani memastikan. Mahapatih yang bijak lebih tahu hal ini.”

“Memang. Memang aku lebih tahu, Karmuka. Dari putraku Bagus Respati aku

mendapat laporan bahwa Upasara menyelamatkan jiwanya dalam Sayembara Mantu.

Aku hargai itu. Kalau perlu akan kuberi hadiah besar.

“Hanya saja ia membikin perbuatan onar. Kau sudah dengar bahwa katanya ia

bertemu denganmu di Perguruan Awan?”

“Saya belum mendengar, Mahapatih.”

“Kau bertemu dengannya?”

“Tidak pernah, Mahapatih.”

“Apakah Upasara mempunyai hubungan langsung dengan Baginda Raja? Ia

membawa cincin Keraton.”

“Saya tidak tahu, Mahapatih.”

“Cincin yang dibawanya memang berasal dari Baginda Raja. Cincin pengenal

di Keraton. Tidak palsu. Akan tetapi dari mana ia memperolehnya?

“Kalau kau tidak tahu, berarti ia tidak menerima langsung dari Baginda Raja.

Kamu—dan adikmu—yang secara langsung mengawasi.

“Karena ia berbuat kurang ajar dan lancang, aku menghukumnya. Sekarang ia

berada di gua bawah tanah.

“Apa pendapatmu, Karmuka?”

“Saya kurang tahu. Mahapatih lebih bijak dari saya.”

“Karena aku tidak tahu asal-usulnya secara pasti, dan kau juga tidak, kita tak

perlu menyayangkan. Lebih baik kehilangan daripada tidak yakin ia bakal setia

kepada Keraton. Bagaimana pendapatmu?”

“Apa yang Mahapatih utarakan sangat tepat sekali.”

“Karmuka?”

“Siap menerima titah, Mahapatih.”

“Aku berpikir lain. Ia masuk ke Keraton dengan membawa tanda pengenal

cincin. Di dalam Keraton ini, bahkan putraku saja tidak memiliki. Pastilah ia

mempunyai hubungan dengan orang dalam sini. Dan kehadirannya pasti diketahui.

Aku ingin melihat apakah ada yang akan membebaskannya atau tidak.

“Pada saat itu aku akan menjebaknya. Apakah aku terlalu mengada-ada?”

“Terima kasih atas kepercayaan Mahapatih saya diizinkan mendengarkan

rahasia ini.”

“Kalau Baginda Raja mempercayaimu, mana mungkin aku berahasia

denganmu? Baiklah, Karmuka, kembalilah beristirahat.”

Senamata Karmuka memberi hormat, menundukkan kepalanya, dan berlalu.

Seorang prajurit mengawal keluar dari ruangan dalam.

Sejenak Mahapatih termenung di kursinya. Lalu menghela napas.

Sebelum tarikan napas dikeluarkan, dari balik senthong, atau kamar di

belakang ranjang tidur, muncul seorang kakek tua. Tangannya memegang biji-bijian

yang diuntai dengan rambut.

Mahapatih berdecak.

“Karmuka itu masih kuat. Langkah-langkahnya, cara mengatur napas tetap

unggul. Aku tak menyangka tenaga dalamnya masih begitu hebat, Mahisa. Dalam

menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, sama sekali tak ada perubahan.

Sungguh luar biasa.”

Kakek tua itu menggelengkan kepalanya.

“Dilihat dari perhitungan kelahiran, Senamata Karmuka mempunyai

ketenangan yang lebih. Ia mampu mengendalikan perasaan, menyimpan apa yang

dipikirkan. Sulit ditentukan apakah Karmuka mempunyai hubungan langsung dengan

Upasara atau tidak. Kalau dilihat sejarah dan awal berdirinya Ksatria Pingitan, tak

mungkin Upasara anak turunan rakyat biasa. Hanya keluarga dekat, kerabat Keraton,

yang diperkenankan dipilih. Namun ketika semua dikembalikan kepada masingmasing

orang tua, Upasara tetap dilatih olehnya.

“Padahal kalau masih ada hubungannya dengan Upasara, Karmuka pasti

tergetar mendengar rencanamu. Tapi nyatanya, suaranya datar saja. Tak dipengaruhi

perasaan. Kini tinggal melaksanakan rencana kita selanjutnya.”

“Itulah yang saya pikirkan, Paman Waisesa Sagara. Paman adalah penasihat

utama saya, yang bisa melihat jarak jauh, yang bisa meramal kejadian yang akan

datang. Dengan mengatakan apa yang akan kita lakukan, apakah Karmuka tidak

berniat menolong Upasara?”

“Ia akan menolongnya. Pasti,” Waisesa Sagara menganggukkan kepalanya. Bijibijian

di tangannya bergerak cepat. “Akan tetapi terlambat. Malam ini juga, Upasara

harus dilenyapkan. Tak usah menunggu lima hari.

“Ketika Bagus Respati menceritakan tentang Upasara, aku sudah

memperhitungkan. Ketika ia berada di balairung Keraton, aku sudah melihat sendiri.

Berdasarkan perhitungan kedatangannya, arah datangnya, bentuk mukanya, potongan

tubuhnya: baik telinga, hidung, mulut, rambut, dan terutama sekali matanya, aku

memperhitungkan kelak di kemudian hari Upasara Wulung bakal menjadi saingan

utama Bagus Respati. Malah kalau dilihat peruntungannya, nilai dasar Upasara

Wulung lebih dua buah. Bagus Respati mempunyai nilai peruntungan sebelas, sedang

Upasara Wulung tiga belas.

“Rezekinya tidak sebaik Bagus Respati, akan tetapi perhitungan masa depannya

sungguh luar biasa. Kelewat bagus. Soal jodoh agak ruwet.”

Mahapatih berdecak.

Ia bukannya tidak tahu bagaimana menghitung dan meramalkan nasib

seseorang. Akan tetapi selama ini percaya penuh bahwa perhitungan Waisesa Sagara

tidak pernah meleset sedikit pun.

Sejak ia mengabdi kepada Keraton, Mahapatih selalu mendengarkan nasihat

Waisesa Sagara. Salah satu ramalannya yang paling menakjubkan ialah ketika Waisesa

Sagara mengatakan bahwa, “Sebuah bulan buta bersinar keemasan jatuh ke

pangkuanmu. Dalam waktu lima hari mulai hari ini, kau harus bersiap-siap menerima

anugerah besar. Siapkan dirimu sebaik-baiknya. Keramas rambutmu sebersihbersihnya,

cuci badanmu paling bersih, jaga kulit tubuhmu, jangan lupa tersenyum.”

Ajaib. Tiga hari kemudian Baginda Raja memanggilnya dan menganugerahi

jabatan mahapatih. Sesuatu yang tak pernah berani diimpikannya! Bahkan dalam

berdoa pun ia tak berani membayangkan jabatan yang mulia tersebut. Jabatan yang di

tangan kanan dan kiri menentukan merah-hijaunya Keraton Singasari.

Akan tetapi siapa berani mengimpikan jabatan itu? Saat itu Mpu Raganata

adalah tokoh besar yang tak diragukan lagi. Baik soal kanuragan atau ilmu silat, soal

tata pemerintahan, maupun cara mengatur strategi. Bertahun-tahun Mpu Raganata

membuktikan cara mengendalikan pemerintahan.

Hubungan Mpu Raganata dengan Baginda Raja sangat dekat sekali. Tak pernah

beranjak dari sisi Baginda Raja.

Memang saat itu Baginda Raja mengadakan pergeseran besar-besaran.

Sejumlah besar para bangsawan ditanggalkan pangkatnya. Kalau tidak diturunkan,

juga dibuang ke daerah terpencil. Namun tak pernah terpikir bahwa Baginda Raja

bakal menggeser Mpu Raganata. Dari seorang mahapatih yang berkuasa penuh,

menjadi semacam penasihat Baginda Raja— yang tak mempunyai kekuasaan langsung

ke bawah!

Waisesa Sagara telah meramalkan hari baiknya. Hari yang kelewat baik!

Sejak itu pula Waisesa Sagara diangkat menjadi penasihat pribadi dalam,

hampir, segala hal. Tak pernah ada suatu tindakan yang dilakukan Mahapatih

Angragani tanpa persetujuan Waisesa Sagara. Mengenakan motif kain batik,

melangkah pertama ke luar rumah, makan, dan menemui seseorang, atau sowan ke

Keraton, semuanya berdasarkan saran Waisesa Sagara.

Juga ketika Mahapatih Angragani membubarkan Ksatria Pingitan. Saat itu

Waisesa Sagara melihat bahwa ada kemungkinan para ksatria yang dipingit kelak di

kemudian hari akan menimbulkan malapetaka. Manakala mereka hanya mengenal

satu tuan saja: Senamata Karmuka.

“Seekor anjing yang sejak kecil hanya mengenal satu tuan, kelak di kemudian

hari bakal menyerang siapa saja atas perintahnya. Bubarkan saja.”

“Bagaimana dengan Bagus Respati?”

“Cari guru yang lain. Dengan demikian apa yang diperoleh tidak sama dengan

yang diperoleh yang lainnya. Bagus Respati akan memiliki kelebihan.”

“Akan tetapi Baginda Raja menghendaki diadakannya Ksatria Pingitan.”

“Apa susahnya? Laporkan pada hari Budha nanti, bahwa pengelolaannya mulai

tidak terarah. Bahwa hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan pengeluaran kas

Keraton. Bahwa sebenarnya ada yang lebih bagus. Yaitu dilatih secara langsung.

“Dengan demikian, mulai sekarang ini seluruh kekuasaan ada pada dirimu.

Senamata Karmuka tidak mempunyai anak buah lagi, selain beberapa prajurit

pengawal utama. Itu pun masih di bawah komandomu.

“Saat ini sebenarnya seluruh kekuasaan sudah berada di dalam genggamanmu.

Kamu bisa mulai memperkuat diri. Melanjutkan tradisi Baginda Raja untuk

menyingkirkan yang tak menyokong kekuasaanmu.

“Hanya sedikit ganjalannya. Karmuka, telanjur menjadi Senamata. Dan

hubungannya dengan Baginda Raja sangat istimewa, sehingga agak susah digeser.

Akan tetapi selama kau bisa terus mengawasi gerak-geriknya, selama kau selalu

menyadarkan bahwa kau menjadi atasannya, Karmuka tak akan bisa berbuat banyak.”

“Mengenai Mpu Raganata?”

“Praktis beliau tak memegang komando apa-apa. Kalau terjadi sesuatu, beliau

tak bisa memerintahkan, tanpa menggunakan tanganmu atau tangan Baginda Raja.

Lagi pula kini sudah lanjut usia.

“Bagi Mpu Raganata, yang selama ini aktif bergerak dalam pemerintahan,

hanya menunggu ajal saja kalau tidak lagi menjabat apa-apa. Kaulihat sendiri dalam

beberapa kali pasowanan agung, beliau tidak muncul.

“Tak perlu disingkirkan. Beliau akan tersingkir sendiri. Kalau itu terjadi secara

mutlak dan resmi, kaulah yang memegang kendali pemerintahan, atas tanganmu

sendiri.”

Mahapatih kembali berdecak.

“Pamanda Waisesa, bagaimana kalau ternyata Upasara adalah lembu peteng

Baginda Raja?”

Lembu peteng adalah istilah untuk menyebut anak tidak resmi, atau anak

gelap. Memang lembu peteng sangat banyak jumlahnya. Di antara mereka ini, banyak

yang tidak diakui secara resmi, akan tetapi mendapatkan kehormatan dan jabatan,

tetapi lebih banyak lagi yang kemudian dilupakan.

“Sangat tidak mungkin. Kalau benar, mana mungkin selama ini Baginda Raja

tidak menanyakan? Selama ini nyatanya tak pernah terucapkan atau tertanyakan oleh

Baginda Raja. Itulah tadi sebabnya aku menduga Upasara adalah anak gelap Karmuka.

Hanya karena caranya bernapas tetap teratur ketika hal itu disinggung aku jadi ragu.”

“Akan tetapi dari mana ia memperoleh cincin Keraton?”

“Ia menyebutkan dari Bibi Jagaddhita. Kamu sendiri tahu bahwa dulu banyak

sekali selir Baginda Raja. Puluhan atau bahkan ratusan jumlahnya. Salah satu bernama

Jagaddhita. Dan kamu mendengar sendiri ceritanya.

“Taruh kata Jagaddhita dulu mempunyai hubungan yang sangat istimewa

dengan Baginda Raja. Akan tetapi itu sudah lama berlalu. Jagaddhita telah lama

meninggalkan Keraton. Tak nanti Baginda Raja masih akan mempertanyakan. Mana

mungkin Baginda Raja mengingat salah satu selir yang telah pergi di antara puluhan

yang lain? Prameswari utama saja bisa-bisa lupa.

“Hanya yang membuat sedikit ganjalan ialah bahwa beberapa ksatria telah

mengenai Upasara. Ia sempat muncul dalam Sayembara Mantu. Sehingga hilangnya

bisa menimbulkan pertanyaan.”

“Itu tak menjadi soal, Paman Waisesa. Kalau saya mengatakan bahwa Upasara

Wulung berbuat kurang ajar, menghina Baginda Raja, siapa yang berani

mempersoalkan? Malaikat pun tak akan berani turun dari langit untuk menanyakan

hal itu.”

“Kau benar. Jadi apa masalahnya?”

“Tetapi tetap menjadi pertanyaan: Apakah Upasara Wulung harus dibunuh?”

“Jawabannya tetap: Perlu dibunuh. Dilihat dari perhitungan hari dan saat ia

ditangkap serta tempatnya ditangkap, Upasara bisa meloloskan diri. Dengan

mempersingkat waktu penahanan, nasibnya akan lain. Walau menurut perhitungan

waktu ditangkap ia bisa lolos, kalau malam ini juga dihabisi, tak akan menjadi soal.

Nasib yang ditetapkan oleh langit bisa kita ubah.”

Mahapatih menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.

“Satu-dua nyawa, apa artinya? Sekarang ini kau harus yakin bahwa siapa pun

yang berdiri di dekatmu bakal membantumu. Kalau ia meragukan sedikit saja, perlu

disingkirkan. Ingatlah, jabatan mahapatih bukanlah jabatan sederhana. Dan di

Keraton ini terlalu banyak pendapat. Sejak Baginda Raja mengadakan pergeseran,

sejak kamu memegang kekuasaan, banyak yang berusaha menggugatmu. Setiap

kesempatan akan mereka pergunakan, kamu lebih dulu bertindak. Jangan menunggu

sampai mereka siap.

“Sebenarnya apa yang meragukanmu?”

Mahapatih mengangguk. Menepuk tangannya.

Waisesa Sagara menyelinap ke balik tirai tempat tidur, kembali ke senthong.

Arya Bangkong dan Arya Genggong masuk ke dalam dengan laku ndodok. Keduanya

bersila dan menghaturkan sembah bersamaan.

“Hamba menunggu titah, Mahapatih….”

“Bangkong, malam ini kauawasi Senamata Karmuka. Kerahkan prajuritmu

yang terbaik. Mata-matai, apa pun yang ia lakukan. Kalau ia menemui seseorang,

kalau ia melakukan sesuatu, segera laporkan padaku. Juga kalau ia berada dalam

kamar, laporkan dengan siapa ia menghabiskan malam. Saat apa pun, kau melaporkan

padaku. Semua kekuasaan untuk mengambil tindakan, kuserahkan sepenuhnya

padamu.”

“Hamba laksanakan perintah, Mahapatih.”

“Genggong, malam purnama nanti, kau ambil tawanan di penjara bawah tanah.

Tak perlu dilepaskan dari ikatan. Bawa ke kandang Sardula. Adakan persembahan

malam ini juga. Semua kekuasaan dan wewenang ada padamu jika ada yang

menghalangi.

“Kalau sampai gagal, kepalamu menjadi ganti.”

“Hamba laksanakan perintah, Mahapatih.”

“Jangan menunda waktu, berangkatlah sekarang ini.”

Arya Bangkong dan Arya Genggong menghaturkan sembah secara bersamaan.

Bersamaan dengan kibasan tangan Mahapatih, keduanya berjalan setengah merangkak

ke luar setelah menghaturkan sembah. Di luar, sekali lagi menghaturkan sembah,

baru berdiri.

Keduanya berpandangan.

“Kakang Bangkong…”

“Adik Genggong, kita laksanakan perintah. Tak ada waktu buat berbicara.”

“Silakan, Kakang.”

“Silakan, Adik.”

Di regol, pintu depan, keduanya berpisah. Arya Bangkong segera memilih lima

prajurit utama untuk memata-matai rumah Senamata Karmuka. Mereka dengan

segera menuju rumah Senamata Karmuka, dan memerintahkan penjaga utama untuk

beristirahat. Arya Bangkong sendiri yang menggantikan berjaga. Sampai melihat

Senamata Karmuka masuk peraduan dan mendengar dengkur tidurnya. Meskipun

demikian, Arya Bangkong tetap menunggui di depan pintu.

Sementara itu Arya Genggong menuju ruangan bawah tanah dengan empat

prajurit utama. Dengan kampak sebagai senjatanya, ia segera mengayunkan untuk

memutuskan tiang pengikat. Tubuh Upasara yang masih terikat jatuh ke tanah. Sekali

lagi Arya Genggong meyakinkan ikatan tangan, kaki, badan. Kemudian

memerintahkan untuk mengangkut.

Dalam usungan, Upasara merasa bahwa usahanya sia-sia. Di luar

perhitungannya bahwa malam ini ia akan diumpankan harimau. Berteriak atau

mengoceh tak ada gunanya. Ia dibawa melalui lorong gelap, yang berakhir di ujung

sebelah timur Keraton. Seluruh badannya dilumuri dengan boreh, atau bedak, yang

baunya membangkitkan nafsu makan harimau.

Kandang harimau Keraton itu terletak di sebelah timur penjara bawah tanah.

Di atas sebidang tanah yang dipagari besi. Letaknya sendiri jauh di bawah permukaan

tanah. Ada dua cara memberi makan harimau kesayangan Baginda Raja. Dengan

melemparkan dari atas sekali, dari Keraton, atau dari sebelah terowongan penjara

bawah tanah.

“Anak muda, siapa pun namamu, apa pun pangkatmu, atas perintah Mahapatih

kau akan dipersembahkan ke Sardula. Kalau masih ada kalimat terakhir, katakanlah.”

Upasara merasa tawar hatinya.

Toh tak mungkin ia menjelaskan seluruh duduk perkaranya. Tak mungkin

Arya Genggong mengubah putusan Mahapatih.

“Paman, lakukanlah tugasmu.”

Arya Genggong sejenak terperanjat. Ia sama sekali tidak menduga bahwa

kalimat itu yang akan keluar dari anak muda yang bakal mati. Bukan sekali-dua ia

menjadi jagal utama. Bukan sekali-dua ia menggiring para penjahat untuk

diumpankan ke harimau. Bukan sekali-dua kampaknya sendiri memutuskan leher

penjahat. Akan tetapi baru sekarang ini, ada kalimat yang begitu bagus dan

menyentuh.

Tetapi hanya sejenak.

Segera ia menjalankan tugasnya. Hatinya telah membatu. Hanya ada satu yang

diketahui: Menjalankan tugas. Melakukan perintah. Tak peduli apakah perintah itu

sesuai dengan jalan pikirannya atau bertentangan.

Segera ia memberi perintah.

Dua prajurit memukul pagar besi dengan keras. Bau boreh yang ditebarkan

serta bunyi besi, membuat bayangan bergerak dari kegelapan.

Mata Upasara melihat seekor harimau keluar dari semak kegelapan. Belum

Upasara melihat jelas, ia merasa tubuhnya dilemparkan ke depan. Dan pintu kandang

ditutup kembali.

Kandang tempat harimau Keraton itu cukup luas sebetulnya. Kalaupun mereka

tak tergesa, tak nanti harimau itu bisa menyerbu ke arah pintu kandang. Akan tetapi

demi amannya, mereka melontarkan begitu saja.

Di tengah udara, Upasara berusaha memindahkan berat tubuhnya agar

tubuhnya tidak jatuh dengan menghadap ke bawah. Ia berhasil akan tetapi seluruh

tangannya terasa sakit sekali. Dari jarak lima tombak, ia melihat harimau menggeram

ke arahnya.

Kematian tak pernah ditakuti. Selama ini ia tak pernah memikirkannya.

Namun sekali ini, Upasara tak menyerah begitu saja. Ia mengerahkan tenaganya.

membalikkan tubuhnya, berikut tiang yang diikat bersama. Dengan bergulingan, ia

bukan saja bisa menjauh, akan tetapi mulutnya bisa meraup kerikil kecil dengan

giginya. Masih ada satu perhitungan. Dengan kerikil itu ia bisa membidik ke arah

kepala harimau.

Inilah satu-satunya harapan untuk menunda kematian.

Dan itu yang dijalankan. Begitu harimau melompat mendekat, Upasara

menembakkan kerikil. Karena tergesa, kerikil itu hanya menyerempet telinga

harimau. Dan ini malah berakibat sebaliknya. Harimau menjadi buas, meraung. Kain

di tubuh Upasara diseret oleh harimau. Diseret ke dalam gelap.

Arya Genggong mengawasi dengan obor di tangan. Tapi tak melihat apa-apa

lagi. Hanya mendengar auman harimau yang menggerung.

“Kecuali badannya terbuat dari besi, bocah itu tak akan bisa melihat matahari

esok pagi. Sudah agak lama Sardula tidak dapat makanan manusia. Sekarang ini

saatnya.

“Anak muda, mudah-mudahan di alam baka kau mendapat pengampunan.”

Arya Genggong menghela napas. Lalu memerintahkan prajurit-prajuritnya

menunggu sampai fajar nanti. Ia sendiri mengawasi dari kejauhan. Keras hatinya

mendengar jeritan, teriakan yang menyayat, serta auman harimau. Pastilah harimau

itu melalap perut dan isinya lebih dulu. Kalau meremukkan kepala, pasti tak akan

terdengar jeritan menyayat seperti itu.

Malam itu bulan di langit pucat.

Sangat pucat sekali.

Bau anyir darah tercium.

KEESOKAN harinya, setelah semalam melihat sendiri harimau Keraton berlumuran

darah, Arya Genggong melaporkan kepada Mahapatih. Arya Genggong menceritakan

secara lengkap seluruh urutan kejadian.

Mahapatih mendengarkan tanpa bereaksi.

Saat itu juga Arya Bangkong memberikan laporan bahwa Senamata Karmuka

tidak beranjak dari kamarnya. Sampai pagi ini masih ada prajurit yang ditugaskan

untuk mengamati.

“Lakukan terus, sampai aku memerintahkan mencabut perintah.”

“Sendika dawuh, Mahapatih.”

“Genggong, kau temui anakku Bagus Respati. Katakan bahwa perkawinannya

dengan Maduwani tak usah dirayakan besar-besaran di Keraton. Aku tidak setuju hal

itu. Maduwani hanya salah satu selir baginya. Aku tak ingin punya menantu dia.

“Jangan coba mengemukakan hal itu padaku lagi.” Mahapatih berdecak dan

melambaikan tangannya, sebelum berlalu.

“Ini tugas yang berat,” kata Arya Genggong perlahan setelah suasana sepi.

“Bagaimana aku harus menyampaikannya. Raden Mas Bagus Respati sama kerasnya

dengan ayahandanya.”

“Adik Genggong, sebagai prajurit kita harus menjalankan perintah. Itulah yang

menyelamatkan nyawa kita hingga hari ini. Kalaupun kita mati karenanya, kematian

kita karena menjalankan perintah. Itulah harga terpenting dari diri kita sebagai

prajurit.

“Dengan sikap seperti ini, apakah Adik Genggong masih ragu?”

“Kakang Bangkong, kenapa kita juga yang harus melakukan ini? Sebagai

prajurit, dalam bayangan saya adalah berperang. Mengabdi kepada Keraton dengan

darah. Memberikan nyawa dan kehidupan untuk kemuliaan Keraton. Bukan menjadi

pesuruh urusan yang sama sekali tidak bersifat ksatria semacam ini.”

“Prajurit tidak memilih tugas. Kalau sekarang ini saya ditugaskan menjaga

kaputren atau memandikan harimau, akan saya lakukan juga.”

“Terima kasih atas petunjuk Kakang.”

“Saya selalu mengulang pengertian itu. Karena saya pun merasa kurang enak

harus memata-matai Senamata Karmuka. Sesuatu yang menyakitkan hati saya sendiri.

Tapi saya akan menjalankan perintah itu. Apa pun juga perintah Mahapatih. Hanya

Baginda Raja yang berhak mengubah. Selama Baginda Raja tidak memerintahkan

yang lain, tak menjadi soal.

“Adik, kita masih ingin menikmati kebahagiaan, pangkat, dan harta yang kita

peroleh dari pekerjaan kita. Selama kita belum bosan hidup, kita masih akan terus

menjalankan perintah.”

“Terima kasih banyak, Kakang.”

“Silakan, Adik.”

“Silakan, Kakang.”

Arya Genggong menuju ke bagian samping dalem kepatihan. Jaraknya hanya

beberapa ratus meter saja. Langsung ia menghadap Bagus Respati dan mengutarakan

apa yang menjadi keputusan Mahapatih.

Bagi Arya Genggong, hubungannya dengan Bagus Respati boleh dikatakan

sangat akrab. Hubungan antara seorang paman dan keponakannya. Bukan hanya

dalam kata-kata. Sejak Respati belum lahir, Arya Genggong dan Arya Bangkong sudah

mengabdi kepada Mahapatih. Sejak kecil Respati sudah diasuh oleh Arya Genggong.

Hubungan mereka agak renggang sebentar ketika Respati masuk ke Ksatria Pingitan.

“Saya hanya menyampaikan dawuh Ramanda.”

Respati menggebrak meja, hingga meja berukir dari kayu jati yang utuh itu

somplak bagian pinggirnya.

“Aku tak tahu apa maksud Ayah. Dilarang atau tidak, direstui atau dikutuk,

aku tetap akan mempersunting Miming Maduwani. Sampaikan ini kepada Ayah.”

“Anakmas…”

“Paman Genggong, aku sudah dewasa. Aku bisa menentukan sendiri apa yang

seharusnya kulakukan. Dalam Sayembara Mantu, aku sama sekali tidak meminta

bantuan Ayah. Bahkan kepada Paman Genggong dan Paman Bangkong, aku tidak

minta bantuan. Dyah Muning Maduwani kurebut dengan tanganku sendiri.

“Sejak kecil aku tak pernah merepotkan Ayah. Aku hidup di sini dari hasil

karyaku sendiri. Tidak mengemis pada Ayah.”

“Anakmas… Ayahanda bukannya melarang. Hanya Ayahanda tidak berkenan

bila Dyah Muning Maduwani dipermaisurikan.”

“Omong kosong. Kalau yang ini hanya sebagai selir, kepada siapa lagi aku

mencari yang lebih? Paman Genggong tahu sendiri bahwa ketika diadakan Sayembara

Mantu, seluruh ksatria Keraton, para raden mas, para gusti mengadu nyawa. Dan aku,

biar bagaimana juga, keluar sebagai pemenangnya. Katakan, Paman, apakah itu tidak

pantas untuk dirayakan?

“Ini juga bukan sembarangan. Bukan asal perempuan. Dyah Muning

Maduwani adalah putri Kiai Sangga Langit. Kalau aku memperlakukan putrinya

dengan baik-baik, Kiai Sangga Langit tak akan curiga kepadaku. Justru sebaliknya.

Kepercayaannya berlipat. Saat itu ada kemungkinan aku diangkat menjadi muridnya.

Berhasil mempelajari ilmu silatnya.

“Dengan kemampuan ini saja, di seluruh Keraton ini siapa yang bisa

menandingiku?

“Aku tidak sembarangan, Paman. Aku cukup bisa berpikir dewasa dan jauh ke

depan, walau aku tidak memiliki penasihat Kakek Tua Waisesa Sagara. Aku tak perlu

dukun semacam itu.

“Apakah hal yang begini saja Ayah tidak bisa mengerti?”

“Anakmas…”

“Jangan mencoba menasihatiku, Paman. Sampaikan kepada Ayah. Katakan apa

yang kukatakan. Bahwa aku, Bagus Respati, tetap akan mempersunting Dyah Muning

Maduwani. Pesta tetap akan kurayakan di dalam ksatrianku sendiri.

“Kalau Paman merasa berat, aku akan menghadap Ayah sendiri. Tanyakan

kapan Ayah bersedia menerimaku.

“Paman bisa melihat sendiri. Sekarang ini rombongan Kiai Sangga Langit

sudah berada di sini. Kalau ia mendengar hal ini, kalau ia mengetahui perlakuan Ayah

kepadaku, di mana aku harus menegakkan kepala?

“Aku kan bukan anak kecil yang bisa diusir dan diperintahkan begitu saja.

Tidak, Paman. Sebagai seorang ksatria, sebagai seorang lelaki, aku tak mau

dipermalukan. Apa pun hukuman Ayah, aku akan menerima sebagai ksatria.”

Tak urung berita mengenai pertentangan ayah dan anak ini menjalar. Dari

sekitar dalem kepatihan, berita ini menjalar ke luar. Nyai Demang melepaskan burung

merpati yang membawa rahasia ke markas Rawikara di Banyu Urip. Dari sana laporan

yang sama diteruskan ke Gelang-Gelang.

Berita ini disampaikan kepada Maharesi Ugrawe, yang hari itu juga

menghadap Raja Muda Gelang-Gelang.

“Susah. Susah. Saya tidak menghendaki perkembangan setajam ini. Meskipun

ini baik, akan tetapi bisa merusak rencana Sinuwun.

“Semua sudah berjalan sesuai dengan rencana, kenapa tiba-tiba harus terjadi

sifat keras kepala Respati? Susah, susah. Saya tidak memperhitungkan bahwa di

Keraton masih ada anak berani kepada ayahnya.”

“Bagaimana kalau pesta perkawinan Respati diadakan di sini saja?”

Maharesi Ugrawe menghaturkan sembah.

“Sungguh Sinuwun sangat bijaksana. Dengan memindahkan perjamuan di sini,

sebagian besar ksatria Keraton akan berada di sini. Dan Keraton akan kosong. Saat

itulah kita melancarkan serangan terakhir. Kita bisa mengatur sedikit rencana, agar

bisa memancing senopati lebih banyak.”

“Semua saya serahkan kepada Paman Guru.”

“Beribu terima kasih atas kepercayaan Sinuwun. Ketika saya menyerap para

pendekar ke Perguruan Awan sebagai langkah pertama, ketika saya mengadakan

Sayembara Mantu untuk menyerap para ksatria dan bangsawan sebagai langkah

kedua, dan rencana terakhir menyerbu Keraton, saya sudah yakin bahwa Dewa Yang

Maha Benar berada di pihak kita.

“Tindakan dan perjuangan kita untuk mengembalikan takhta kepada yang

berhak direstui oleh Dewa Penguasa Jagat.

“Sinuwun, atas perkenan Paduka, saya akan mulai mengadakan persiapan.

Sekarang ini para pendekar yang tersisa berada dalam tawanan kita. Sekarang ini para

bangsawan dan ksatria sudah banyak yang terluka. Ketika sebagian terbesar datang

kemari untuk mengadakan pesta, kita harus menyerbu ke Keraton. Saat itu, sejarah

kembali kepada jalan yang sebenarnya.

“Masalah kecil hanyalah soal Kiai Sangga Langit.”

“Menurut Paman Wiraraja, setelah peristiwa ini selesai, Kiai Sangga Langit

baru diselesaikan. Ia sendirian dan Paman Guru bisa menghadapinya.”

“Akan segera saya laksanakan, Sinuwun.”

Maharesi Ugrawe segera mengirimkan berita ke desa Banyu Urip. Burung

merpati yang sama terbang balik.

Hanya saja burung merpati ini sebelum sampai ke kandangnya di Banyu Urip

terjerat oleh Kawung Sen ketika ia tengah berlatih jurus-jurus Kartika Parwa.

Ketika menebarkan Jala sambil berloncatan itulah Kawung Sen menangkap

merpati.

“Kena!” teriaknya kegirangan. Sewaktu burung merpati itu diambil,

perhatiannya tertuju pada sesobek kain kecil di kaki. Kawung Sen memaki panjangpendek.

Percuma juga. Ia tak bisa membaca.

Akan tetapi walau tidak bisa membaca, Kawung Sen bukannya tidak mengerti

bahwa burung merpati itu pasti kiriman dari Maharesi Ugrawe. Dan ia teringat akan

Upasara—kakangnya! Budi baiknya dan keinginannya mengetahui rahasia tiga

gerakan yang dilancarkan Ugrawe. Kawung Sen menyalin sekenanya, sebisanya. Lalu

melepaskan burung itu kembali. Ia sendiri, dengan salinan tulisan itu langsung

berangkat ke Keraton Singasari, melewati hutan buatan.

Bagi Kawung Sen menuju ke Keraton tidak masalah. Perjalanan itu bisa

ditempuh dengan nyaman dan lancar. Akan tetapi dari segi persoalan pribadi

termasuk berat juga. Ia dikenal sebagai pemberontak Keraton. Pemberontak yang

pernah menyelusup masuk Keraton. Pernah menyerbu Keraton hingga berada dalam

dinding. Namanya sangat buruk di Keraton. Kini ia harus masuk ke sana kembali

dengan risiko dikenali. Bisa-bisa sebelum masuk sudah harus ditelikung.

Namun Kawung Sen sudah memperhitungkan hal ini. Hubungannya dengan

Upasara akrab secara lahir dan batin. Entah mengapa ia merasa sangat hormat sekali.

Selama ini yang mengasihi dan memperhatikan hanya dua saudara kandungnya—

Kawung Benggol dan, terutama, Kawung Ketip. Mereka berdualah yang mengajari.

Yang memberitahu soal kitab-kitab. Keduanya sudah meninggal. Dan kemudian

Upasara-lah yang menggantikan peran itu. Lebih dari sekadar saudara, Upasara

memberikan sesuatu yang sangat diperlukan tanpa merendahkan diri. Kawung Sen

tidak merasa paling bodoh jika berhadapan dengan Upasara. Justru karena Upasara

tidak pernah menyinggung soal tidak bisa membaca dan menulis. Bagi orang biasa,

mungkin hal ini bukan sesuatu tindakan yang terlalu istimewa. Tapi bagi Kawung Sen

pribadi seperti melindungi cacatnya. Apalagi sikap Upasara dinilai sangat ksatria oleh

Kawung Sen. Upasara bisa menghina dengan mengencingi tapi toh tidak

melakukannya. Upasara bisa membiarkan ia mati dikeroyok semut, tapi toh Upasara

malah menolong.

Maka putusan Kawung Sen untuk mencari Upasara ke Keraton mempunyai

alasan yang kuat.

“Kalau aku harus mati karena menyampaikan hal ini, tak menjadi soal. Toh

sebelum ini pun aku sudah mati kalau tidak ditolong Kakang Upasara. Kalau sebagai

adik aku tak berbakti kepada kakaknya, bagaimana aku bisa merasa diriku lelaki?”

Mantap sekali Kawung Sen menuju pintu gerbang Keraton. Kepada prajurit

yang menjaga, Kawung Sen bersikap hormat.

“Tolong sampaikan kepada Upasara Wulung bahwa adiknya ingin bertemu

dengannya. Sangat penting sekali.”

Tentu saja para prajurit yang menjaga gerbang jadi kaget. Mengira bahwa yang

ditemui orang gila.

“Siapa itu Upasara Wulung?”

Pertanyaan ini tidak mengada-ada. Upasara Wulung bukan nama yang populer

di dalam Keraton. Hanya beberapa nama tertentu yang mengetahui.

Ganti Kawung Sen yang melengak. Kalau tidak mengingat bahwa ia tak ingin

membuat gara-gara, pasti prajurit itu sudah dijerat dan dikencingi.

“Upasara adalah kakak saya.”

“Apakah ia seorang prajurit?”

“Mana aku tahu?”

“Hei, jangan bicara sembarangan. Jangan mengganggu kami yang sedang

menjalankan tugas. Hukumannya berat sekali.

“Kau bilang mau menemui Upasara, tapi ditanyai apakah Upasara prajurit atau

bukan malah menjawab: Mana aku tahu. Di seluruh dunia ini yang bernama Upasara

banyak sekali. Di semua hutan juga banyak yang disebut banteng hitam.”

Upasara Wulung memang berarti banteng hitam.

“Astaga. Kalian prajurit biasa saja berani bertingkah. Upasara adalah utusan

dari Keraton. Ia orang penting. Kalian bisa dipecat kalau tak mengetahui siapa dia.”

“Kau boleh menggertak. Aku sudah bertugas di sini puluhan tahun. Tak pernah

kudengar nama Upasara Wulung sebagai demang, lurah, akuwu, mantri praja, bupati,

atau prajurit.”

“Baiklah. Kau yang memaksa aku bertindak kasar.”

Berhenti suaranya, Kawung Sen mengayunkan dua tangannya. Dua prajurit itu

jelas bukan tandingannya. Dengan sekali gebrak saja dua bahu bisa dicengkeram.

Ditambahi sedikit saja, dua prajurit itu menjerit kesakitan.

“Katakan atau kupatahkan tangan kalian.”

Belum ada jawaban, Kawung Sen menggertak dan dua prajurit itu berteriak

kesakitan. Masing-masing menjerit dan tangannya terkulai. Ini malah mengundang

prajurit-prajurit yang lain serentak mengepung Kawung Sen. Dikepung belasan

prajurit, Kawung Sen malah tertawa lebar.

“Kalian ini cicak-cicak yang tahu kucing. Aku tanya baik-baik malah kalian

paksa menggunakan tenaga. Ayo, siapa yang ingin patah tulangnya, silakan maju.

Ayo, maju, jangan menunggu.”

Sebat Kawung Sen menggebrak maju. Sekali loncat dua tangan bisa

disentakkan. Sekejap saja prajurit yang mengepung menjerit kesakitan. Sebagian

berlari melaporkan ke dalam.

Dengan gagah Kawung Sen melangkah ke dalam.

Mendengar kegaduhan, Arya Genggong menuju ke pelataran. Melihat seorang

lelaki memanggul jala berjalan seenaknya, ia langsung menyongsong.

“Sebentar, Kisanak. Ada perselisihan bisa dilerai. Ada silang-sengketa bisa

dibicarakan. Kenapa Kisanak berlaku kasar di Keraton?”

Kawung Sen terbahak.

“Keraton atau kuburan apa bedanya? Siapa yang berlaku kasar? Yang mulai

atau yang mengikuti? Kalian para prajurit yang hidup untuk sesuap nasi mengerti apa

tentang negara?

“Apa pangkatmu berani tanya segala macam?”

Arya Genggong melengak.

“Kalau memang tak mau diatur jangan salahkan aku.” Tapi belum sempat Arya

Genggong bisa menyerang barang dua-tiga jurus, tubuhnya telah terdorong mundur.

Bagai diempos angin dahsyat. Bagai disapu ombak.

Dengan sekali gebrak!

Apakah Kawung Sen dalam waktu sekejap saja telah menjadi sangat lihai?

Apakah Arya Genggong bisa disapu dengan sekali gebrak?

“Bisa… bisa… ilmu… ilmu ini bisa dipakai. Ayo maju lagi. Biar aku bisa latihan

sepuasnya.”

Kawung Sen mempraktekkan beberapa bagian dari Bantala Parwa. Dan

ternyata sangat jitu! Kawung Sen sendiri tak tahu persis jurus mana yang digunakan,

dan menjadi rada heran. Kok bisanya begitu cepat membuat lawan tercecer. Satu hal

yang tak disadari baik oleh Kawung Sen dan Arya Genggong adalah kenyataan bahwa

mukjizat ini terjadi secara kebetulan. Jurus-jurus dalam Bantala Parwa. memang

untuk mematahkan perlawanan yang mengganas. Kalau dalam praktek dulu Kawung

Sen tak merasa puas, bisa dimaklumi. Karena tak ada tenaga yang menyerang ke

arahnya. Dan kini, Arya Genggong menyerang ke arahnya. Ada tenaga yang bisa

dibalikkan. Tenaga Arya Genggong menghantam dirinya sendiri. Akibatnya memang

telak, karena ditambah tenaga Kawung Sen!

“Ayo, maju lagi.”

Kawung Sen berlagak sendirian. Tak ada yang berani menyerang. Bahkan

mendekati pun tidak. Dengan gagah Kawung Sen melangkah ke dalam Keraton.

Tanpa peduli.

Mendengar keributan yang tak terselesaikan, Patih Angragani melangkah ke

luar. Begitu melihat Kawung Sen, Patih Angragani mendecakkan bibirnya. Dengan

tiga kali gerakan tangan, semua prajurit pilihan telah mengepung.

“Bagus. Ini sambutan terhormat. Siapa kamu, orang gede?”

“Pangkat itu anugerah. Gede itu hanya perasaan. Siapa pun namamu, apa

pangkatmu, untuk apa kamu mengacau kemari?”

“Namaku Kawung Sen. Aku datang kemari mau menemui kakakku, Kakang

Upasara.”

Patih Angragani merasa aneh. Bukan dari cara bersilatnya, tetapi mendadak

Kawung Sen menanyakan Upasara Wulung.

“Upasara Wulung sudah tak ada di tempat ini. Tak ada gunanya kamu cari.

Kalau ada persoalan, katakan segera. Kalau mau mengacau, aku akan menghadapimu.”

“Bagaimana kamu yakin Upasara tak ada di tempat ini? Kakangku itu tak

pernah bohong dalam hidupnya. Ia bilang ke Keraton. Dan di Jawa ini ada berapa

Keraton?”

“Aku telah memerintahkan untuk membunuh mati Upasara Wulung.”

Belum selesai perkataan Patih Angragani, Kawung Sen melontarkan jalanya.

Bersamaan dengan geraknya, para prajurit pilihan dari sisi kiri-kanan, depan-belakang

langsung menyerbu ke arahnya. Tusukan, sabetan, dan gempuran menjadi satu. Patih

Angragani sendiri menggeser sedikit kedudukan kakinya, kedua tangannya bergerak

cepat. Satu mencabut keris satu lagi mendorong ke depan.

Jala Kawung Sen yang tertebar menyampok sekian banyak senjata yang tertuju

ke arahnya. Tak bisa disendal dengan sekali betot. Jadinya malah terjadi tarikmenarik.

Ketika itulah angin pukulan Patih Angragani menjotos ulu hatinya. Sebat

Kawung Sen menyentak jalanya, tapi tetap tertahan. Tak ada jalan lain, jala dilepaskan

dan dengan tangan kosong memapaki serangan. Satu lagi dari jurus Bantala Parwa

muncul. Dua benturan tenaga keras. Patih Angragani tergusur mundur, tapi dengan

cepat maju kembali. Kali ini gerakan tangannya lebih cepat, dan yang bergerak lebih

dulu adalah prajurit pilihan. Langsung menghadang di depan Kawung Sen. Benturan

tenaga begitu dahsyat tak terhindarkan. Dua prajurit pilihan langsung terjungkal.

Sebelum menyentuh lantai pendopo, nyawa mereka sudah berpulang.

Kalau saja Kawung Sen sudah menguasai cara mengatur tenaga, dengan sekali

gebrak lebih banyak lagi korban berjatuhan.

Patih Angragani kaget. Sebelum ia sempat menghindar, tubuh Kawung Sen

sudah menggelundung ke depannya. Benar-benar menggelundung. Bagi Kawung Sen

yang mempunyai sifat angin-anginan, tak begitu peduli. Harus menyerang dengan

cara ksatria atau cara semaunya. Menggelundung, mengencingi, menggigit tak jadi

bahan pertimbangan. Kini pun demikian.

Dalam sekejap, Patih Angragani telah sibuk dengan usaha mempertahankan

diri. Menyerang sekenanya. Justru di saat seperti itulah tenaganya berbalik ke

arahnya. Kawung Sen bisa menangkis tikaman keris, dan memegang tangan Patih

Angragani. Sekali kena pelintir, para prajurit yang mengepung pun undur ketakutan.

Takut kalau-kalau melukai junjungannya.

“Aha, masih mau menyembunyikan Kakang Upasara?”

Luar biasa. Tokoh nomor dua di Keraton Singasari dipencet oleh seorang

seperti Kawung Sen!

“Panggil Kakang Upasara atau kupatahkan tangan ini jadi tangkai daun

singkong.”

Biarpun dalam cengkeraman bahaya, walaupun dalam keadaan yang tak

menguntungkan, Patih Angragani bukan seorang pengecut.

“Aku sudah bilang bahwa Upasara Wulung telah mati. Atas perintahku. Mau

patahkan tangan silakan, mau bunuh lakukan saja.”

“Baik kalau itu yang kamu kehendaki.” Kawung Sen mendongak. Menghimpun

tenaga.

“Kakang Upasara, aku tak bisa membalas budi baikmu. Di surga sana, biarlah

orang ini menjadi pelayanmu, menjadi kuda tungganganmu.”

Arya Bangkong secara tiba-tiba meloncat maju. Gerakannya memang tidak

terlalu cepat, tetapi dengan memusatkan seluruh tenaga dalam mampu membuat

Kawung Sen harus memperhitungkan juga. Sejak tadi Kawung Sen tidak menduga

bahwa di antara para prajurit pilihan terdapat seorang yang kepandaiannya di atas

rata-rata. Arya Bangkong yang berdiam diri sejak tadi melihat bahwa kini saatnya

bertindak. Tanpa menghiraukan keselamatan pribadi, Arya Bangkong menyerang

habis-habisan. Kawung Sen memang bisa mematahkan tangan Patih Angragani,

namun harus secepatnya menangkis serangan. Dan menurut perhitungan lumrah,

Kawung Sen akan menangkis serangan lebih dulu. Dan itu memang yang dilakukan.

Kedua tangan Arya Bangkong yang maju bersamaan ditangkis dengan tangan kiri.

Dua benturan tenaga yang kelihatan sekilas tidak imbang. Kawung Sen seperti

terdesak. Padahal memang sengaja menarik tubuh lawan ke depan. Serampangan kaki

yang kuat membuat tubuh Arya Bangkong mencelat ke udara. Disusul dengan satu

pukulan keras, tubuh Arya Bangkong terlempar ke arah tiang utama.

Langsung ambruk dan tidak bangun lagi.

“Percuma kalian semua melawan. Tak bakal berumur panjang. Hanya dengan

membawa kemari Kakang Upasara kalian akan selamat. Kalau tidak, Keraton ini akan

kubakar sempurna!”

Dalam keadaan terluka, Arya Genggong menunjukkan kesetiaan yang tinggi.

Tubuhnya menggelinding maju. Akan tetapi sekali kena sepak, tubuh itu mental.

Terguling jauh.

Keadaan sungguh gawat.

Patih Angragani berada dalam bahaya.

Mendadak muncul bayangan yang berkelebat datang.

“Tahan, Dimas.”

Semua yang hadir terperanjat. Juga Patih Angragani. Karena sama sekali tak

menyangka bahwa yang muncul adalah Upasara Wulung!

“Kakang!”

“Lepaskan Mahapatih, Dimas….”

Kawung Sen melepaskan cekalannya. Wajahnya nampak beringas karena

sangat gembira. Dengan mata terbuka dan mulut memamerkan tawa lebar, Kawung

Sen memburu ke arah Upasara Wulung.

Saat itu di luar perhitungan siapa pun, Patih Angragani mencabut kerisnya dan

langsung menusuk lambung Kawung Sen. Darah muncrat. Tubuh Kawung Sen

menjadi limbung karenanya.

“Kau…”

Tusukan keris kedua kalinya terayun.

Upasara Wulung berdiri, akan tetapi terlambat!

Kawung Sen memegangi perutnya. Dua tusukan dari arah belakang kena

sangat tepat. Dan sementara itu para prajurit pilihan sudah langsung menyerbu.

Upasara mengembangkan tangannya untuk menangkis serangan yang datang sambil

melindungi Kawung Sen.

“Tahan,” teriak Upasara gusar.

Kawung Sen rebah ke tanah.

Upasara merangkul.

Perasaan gusar, amarah, dendam, bergejolak membanjir dan membuntu. Sulit

dibayangkan kemurkaan yang telah sampai puncaknya. Adalah di luar pikirannya

bahwa Patih Angragani akan menusuk dari belakang. Padahal sebelumnya begitu

terancam jiwanya.

“Dimas…” Suara Upasara Wulung terdengar serak menyayat. Air matanya

kering sebelum keluar. Bibirnya gemetar. Seluruh wajahnya keruh.

“…Dimas…”

Berada dalam pangkuan Upasara Wulung, Kawung Sen merasa tenteram.

Wajahnya berusaha menyembunyikan keperihan.

“Kakang… ada surat… Kakang bisa baca… saya bodoh… Kakang…”

Upasara merangkul erat.

Waktu berjalan begitu singkat untuk saling mengenal. Saling mengangkat

saudara, dan kini harus berpisah dalam pelukan. Upasara mengheningkan cipta.

Menutup mata Kawung Sen. Lalu meletakkan kepala Kawung Sen ke lantai pendopo.

Ketika kemudian mendongak, wajahnya tetap muram.

Patih Angragani tetap berdiri teguh.

“Umurmu panjang… Ksatria Pingitan…. Siapa yang menolongmu?”

“Mahapatih yang mulia… hamba menyayangkan kematian Dimas Kawung

Sen… hamba menyayangkan Mahapatih yang mulia tidak melaporkan kepada Baginda

Raja… semuanya sia-sia….”

Upasara Wulung berdiri. Mengambil jala Kawung Sen. Membuka di bagian

simpul, membuka surat. Sekelebatan saja. Lalu mendongak ke langit.

“Dewa Yang Menguasai Jagat… hari ini adikku Kawung Sen sowan

kepadamu…. Dewa memanggil dengan cara yang mulia….” Upasara Wulung menoleh

ke Patih Angragani. “Dimas Kawung Sen menyampaikan berita. Berita dari Mpu

Ugrawe kepada Raja Muda Gelang-Gelang dan para senopatinya. Perencanaan

penyerangan ke Keraton.

“Entahlah, Mahapatih mau mendengar atau tidak.”

Upasara membungkuk. Menggendong mayat Kawung Sen. Di bagian wajah

ditutupi dengan kainnya sendiri. Lalu berjalan ke luar.

“Akan pergi ke mana kamu?”

“Mengubur Dimas Kawung Sen sebagaimana layaknya seorang ksatria.

Menghadang kedatangan prajurit Gelang-Gelang. Keraton harus tetap dipertahankan

dari keangkaramurkaan.”

Patih Angragani berdecak.

“Tak begitu gampang datang dan pergi.

“Upasara, aku adalah pemegang perintah mewakili Baginda Raja. Kalau kamu

ingin pergi, silakan. Kamu masih hidup, itulah takdir. Akan tetapi katakan siapa yang

menolongmu….”

“Mahapatih yang mulia… percuma semua gelar itu kalau tak bisa melihat

kenyataan. Dalam Keraton ini bukankah Baginda Raja yang paling berkuasa? Siapa

lagi yang bisa menolong hamba kalau bukan Baginda Raja sendiri?”

Jawaban Upasara membuat Patih Angragani melengak.

Para prajurit yang mengepungnya mundur.

Lima tindak Upasara Wulung melangkah, Patih Angragani berteriak.

“Anak kecil bisa kamu dustai, tapi pasti bukan aku. Kamu datang dan

kulemparkan ke kandang harimau, Baginda Raja saja tak tahu. Bagaimana bisa

menolongmu?

“Para prajurit… tangkap! Mati atau hidup.”

Upasara menjejakkan kakinya. Melayang ke atas. Sambil membopong mayat

Kawung Sen, kaki Upasara hinggap di dinding bagian atas.

“Para prajurit, Keraton sedang diancam kehancuran. Benar atau tidak yang

kukatakan, biar Baginda Raja yang mengambil keputusan.”

Tubuh Upasara memantul lagi. Meloncat ke balik dinding.

“Kejar!”

Sehabis memberikan perintah, Patih Angragani kembali ke dalem kepatihan.

Semua prajurit utama dikerahkan. Semua prajurit disiagakan. Yang berada di rumah

panggil.

“Usut! Siapa yang menyelamatkan Upasara. Tangkap Senamata Karmuka. Penjarakan

dia.

“Kalau sampai besok belum ketemu siapa bangsatnya, semua akan dihukum

pecat.”

UPASARA menguburkan Kawung Sen di luar dinding Keraton.

Di tempat yang sepi. Lalu berdoa.

Berlutut agak lama.

Sampai bulan purnama muncul. Baru Upasara Wulung sadar sejak tadi ada

bayangan yang mengawasi.

“Maafkan hamba… Eyang Raganata….”

“Inilah takdir dewata.

“Semua bisa diperhitungkan, tapi semua bisa terjadi. Itulah yang namanya

takdir.” Mpu Raganata berdiri tegak. Seolah berbicara dengan rembulan di langit.

“Sewaktu kamu ditangkap, aku sudah menduga bahwa akhirnya kamu akan

dimasukkan ke dalam sarang Sardula. Maka aku lebih dulu ke sana, dan mengambil

gigi harimau itu. Dan bisa menyelamatkanmu.

“Aku berusaha menyembunyikanmu. Tetapi Kawung Sen datang dan akhirnya

kamu harus keluar juga. Semua ini, kalau bukan takdir, apa namanya?

“Baginda Raja terlalu mulia. Terlalu tinggi angan-angannya. Angan-angan

seorang raja gung binathara, raja besar, seharusnya begitu. Raja besar bagai rembulan.

Tinggi, agung, dan menyinari.

“Tetapi di bawah ada karang, ada pohon-pohon yang begitu bodoh menutup

sinar rembulan.

“Segala peringatan tak ada gunanya.”

Upasara menunduk.

“Sayang, kamu masih terlalu muda, Wulung… dan kamu terlalu berbakat.

Hidup ini akan makin susah bagi yang muda, berbakat, dan mempunyai pengabdian.”

“Maafkan hamba, Eyang… Bukankah Eyang masih bisa menyampaikan hal ini

kepada Baginda Raja?”

Mpu Raganata tidak mengangguk, tidak menggeleng.

“Aku bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa. Saat ini pun kalau Baginda Raja

mempercayaiku, sudah terlambat. Di dalam Keraton sendiri terpecah belah tak

menentu. Aku sudah bisa memperhitungkan. Bahwa Ugrawe akan mempercepat

serbuannya, begitu melihat ada sesuatu yang tak beres. Begitu ada yang bocor—

seperti dibawa Kawung Sen, Ugrawe akan mengerahkan pasukannya.

“Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan apa-apa.

“Tetapi aku adalah bagian dari Keraton. Apa pun yang terjadi aku akan

kembali ke Keraton. Angragani bisa menangkap aku. Bisa apa saja. Tetapi itulah

bagianku.

“Wulung, kamu menyingkirlah.

“Sebelum fajar besok, sebelum kita beranjak dari sini, barangkali pasukan

Jayakatwang sudah menyerbu. Menyingkirlah, cucuku. Hari depan masih bisa

kauraih.”

Mendadak Mpu Raganata membanting kakinya dengan geram.

“Wulung, kamu tuli apa bisu.

“Kalau masih mempunyai rasa hormat sedikit kepada orang tua ini, pergilah.

Berangkatlah sekarang juga. Makin jauh makin baik.”

Upasara Wulung menghaturkan sembah.

“Eyang yang dihormati secara tulus oleh para kawula… apakah ada perbedaan

antara seorang yang tak berkepandaian apa-apa dengan seorang empu dalam membela

Keraton?

“Bukankah semua mempunyai kewajiban yang sama?”

Mpu Raganata makin berjingkrakan. Memang aneh. Di satu saat berdiam diri.

Di saat yang lain berbicara dengan lembut, seakan berbisik kepada yang rahasia. Di

saat lain marah dengan membanting kakinya. Di saat berikutnya malah berloncatan.

“Kamu itu masih ingusan, Wulung. Kamu tahu apa tentang kewajiban?

Ngabehi Pandu itu sama tololnya dengan kerbau dungu. Nasihatnya tak usah kamu

hiraukan.

“Jangan merasa bisa menolong Keraton. Negara ini terlalu besar. Dan kamu ini

bukan siapa-siapa. Lebih buruk dari apa-apa. Jangan ngomong ngawur. Negara tak

tertolong olehmu. Segera minggat. Tolong jiwamu sendiri.”

“Kalau hamba bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa dalam pengertian yang

lebih tak berarti, untuk apa pergi jauh? Toh tak akan ada gunanya.”

Mpu Raganata menggelengkan kepalanya.

“Seumur hidupku ini, baru sekarang aku menjumpai orang yang isi kepalanya

lumpur. Lumpur keras. Tak bisa berpikir sedikit pun.

“Wulung, kalau kamu mau menyelamatkan diri, masih ada sedikit kesempatan.

Prajurit-prajurit Keraton pasti mencarimu. Dan sebentar lagi pun pasukan Gelang-

Gelang akan mencarimu.

“Kalau aku bisa bertemu Ngabehi Pandu, ia akan kukuliti. Karena dialah yang

berdosa membuat kamu seperti ini.

“Jangan salahkan aku yang tua ini tak memberi nasihat padamu.”

Selesai berkata Mpu Raganata menghilang.

Tinggal Upasara sendiri. Menghadapi gundukan tanah. Tanah yang masih

mengeluarkan bau tubuh Kawung Sen.

Inilah perjalanan panjang yang diperoleh. Dari serbuan gencar Perguruan

Awan, terlunta-lunta di Banyu Urip, tapi tak ada hasilnya. Bahkan sambutan yang

menyenangkan pun tidak. Dan bahkan, kini saudara angkatnya Kawung Sen turut

menjadi korban.

Bukan soal meloloskan diri. Kalau itu yang ingin dilakukan, ia sejak lama bisa

meloloskan diri. Tak perlu bersusah payah ke Keraton!

Kalau sekarang meloloskan diri, apa artinya?

Bagi Upasara ini bukan pertanyaan yang mengada-ada. Sebagai seorang yang

sejak kecil tak mengenal siapa orangtuanya, Upasara hanya mengenal Keraton.

Mengenal negara sebagai orangtuanya, tanah airnya, sekaligus bagian utama dari

dirinya. Bagi Upasara Wulung, inilah nilai satu-satunya. Kalau sekarang harus

meninggalkan dengan cara melarikan diri, siapa yang bisa memaafkan

kepengecutannya?

Sedikit atau banyak, apa-apa atau bukan apa-apa, masih ada yang bisa

didarmabaktikan kepada Keraton.

Mendapat ketetapan itu, Upasara menjadi tenang.

Ia beristirahat sejenak.

Berdoa lagi di makam Kawung Sen.

Sampai fajar.

Kemudian Upasara menyamar dan kembali ke jurusan Keraton. Ia tak berani

muncul di tempat yang banyak dikunjungi orang. Karena memang dirinya dicari-cari.

Ia tak mempunyai teman siapa-siapa.

Upasara menangkap pembicaraan yang didengar secara selintas. Bahwa

Baginda Raja akan mengadakan pesta keagamaan. Bahwa Senamata Karmuka kini

ditahan. Bahwa Patih Angragani mengadakan sapu bersih bagi prajurit yang dicurigai

tidak setia. Mereka yang diperkirakan mempunyai hubungan dengan lolosnya

Upasara langsung mendapat hukuman.

Sementara itu Bagus Respati dengan nekat mengadakan pesta perkawinan

secara besar-besaran.

Pada saat itulah prajurit Gelang-Gelang datang ke Keraton.

Raja Muda Jayakatwang sendiri berada di depan. Diapit oleh Ugrawe dan Kiai

Sangga Langit! Dengan seluruh pasukannya lengkap bersenjata.

Benar dugaan Mpu Raganata! Ugrawe akan menyerang lebih cepat dari dugaan

siapa pun.

Di depan gerbang Keraton, Raja Muda Gelang-Gelang memerintahkan para

prajuritnya mengibarkan panji-panji. Disusul oleh terompet dan genderang. Ugrawe

memimpin prajurit langsung mengepung.

“Kalau Baginda Raja bersedia datang menghaturkan sembah kepada aku, Raja

Muda Gelang-Gelang, aku akan mengampuninya. Jika tidak, takhta yang bukan

haknya harus kembali kepadaku!

“Patih Angragani, sampaikan hal ini kepada Baginda Raja.

“Kalau tidak, akan kubuka gerbang sekarang juga.”

Sewaktu ancaman itu disampaikan, Patih Angragani sangat murka. Seluruh

prajuritnya yang pilihan disiapkan. Dalam sekejap semua telah bersiap.

Patih Angragani keluar menyambut.

“Kamu keliru. Jayakatwang, kamu anak bawang. Anak ayam tak bisa melawan

garuda. Anjing kecil yang dipelihara tak akan kuat melawan harimau.

“Akulah panglima perang. Akulah senopati utama Keraton Singasari.

Hadapilah aku lebih dulu.”

“Hahaha….” Ugrawe tertawa bergelak. “Sungguh tolol manusia satu ini. Kamu

tak punya apa-apa lagi. Prajuritmu cuma beberapa gelintir. Para ksatria sudah

kubasmi di Perguruan Awan. Bantuan dari raja muda di sekitar tak akan datang,

karena semua jalan keluar sudah ditutup. Pasukanmu yang terbesar sedang

mengadakan pesta di kediaman kami. Bagus Respati sedang berfoya-foya, bermimpi

menjadi pengantin. Pengantin yang celaka.

“Angragani, kamu tak punya kesempatan. Bahkan untuk meminta ampun telah

terlambat. Panggil dukunmu, dan aku akan menyuruhmu menjilati pantat kuda.”

“Kamu terlalu omong besar!”

“Kupuji sedikit kegagahanmu. Tapi itu terlambat. Dalam penyerbuan ke

Perguruan Awan, kami sedikit keliru. Ada yang lolos. Sekarang ini tak mungkin lagi.”

Ugrawe menyembah ke arah Raja Muda Gelang-Gelang.

“Izinkanlah hamba mengembalikan takhta, Raja Muda….”

Jayakatwang mengangguk.

Dan penyerbuan besar-besaran pun terjadilah. Prajurit pilihan dari Keraton

Singasari mencoba mengadakan perlawanan. Akan tetapi gelombang pasukan yang

dipimpin oleh Ugrawe bagaikan gelombang menyapu pasir pantai. Ugrawe sendiri

memimpin langsung pertempuran di tengah. Dari sayap kiri muncul Rawikara

memimpin penyerbuan. Dari sayap kanan, Kiai Sangga Langit melabrak siapa saja.

Patih Angragani sendiri tak sempat masuk ke dalam ketika dengan geram

Ugrawe, dengan pukulan Sindhung Aliwawar, membuatnya rubuh. Di tengah

berkecamuknya pertempuran, Upasara Wulung menerjang masuk dari belakang.

Lewat bawah tanah tempat kandang harimau, Upasara masuk ke dalam Keraton.

Masuk ke dalam bagian utama Keraton. Di depan pintu, Mpu Raganata berdiri.

Seorang raja adalah penguasa

Mati dan hidup, itu biasa…

Seorang raja adalah penguasa yang bijaksana

Tak seharusnya meninggal di dalam pesta…

Upasara baru mengerti bahwa Mpu Raganata mencoba menyadarkan Baginda

Raja yang masih berada di ruangan dalam.

Seorang raja, seharusnya bijaksana

dalam perang dalam ranjang

Seorang raja, seharusnya

tidak meninggal dalam pakaian pesta…

Pintu terbuka.

Baginda Raja keluar. Langkahnya tetap gagah berwibawa. Pandangannya tetap

tajam, keras, dan menguasai.

“Paman tak usah bernyanyi dua kali.

“Aku raja yang tahu di mana harus beristirahat. Aku tahu bahwa pengkhianat

yang paling busuk, manusia yang paling hina di dunia, adalah seorang yang membalas

budi kebaikan dengan pengkhianatan.

“Jayakatwang, temuilah aku. Tataplah aku kalau berani.”

Di ruangan dalam Keraton, pertempuran tak seimbang pun terjadi. Ugrawe

menyerbu masuk, bersama dengan Kiai Sangga Langit, dan Rawikara serta para

pendekar. Baginda Raja mempertahankan diri bersama dengan Mpu Raganata yang

terus-menerus melindungi. Upasara berusaha untuk merangsek maju, akan tetapi

setiap kali terdesak mundur.

Ugrawe telah merencanakan penyerbuan dengan jitu. Dengan memancing

para ksatria berkumpul di Perguruan Awan. Lalu menyikat habis. Dengan Sayembara

Mantu, para bangsawan pun disikat habis. Keraton Singasari diisolir dari bantuan

sekitarnya. Situasi dalam Keraton dibikin keruh. Saat itu kemudian ia menyerbu.

Dalam penyerbuan itu pun Ugrawe telah memakai perhitungan. Begitu mendobrak

masuk—dengan membawa Raja Muda Gelang-Gelang, pintu gerbang akan dibuka—

langsung mengadakan bumi hangus. Segala benda dirusak, dibakar, dihancurkan.

Terus melabrak hingga ke ruang dalam.

Pada suasana pesta, persiapan tak akan sepenuhnya. Dengan keperkasaan

ilmunya, ditambah kelicikan yang luar biasa, kini tinggal mengambil langkah

terakhir.

Mpu Raganata bertarung dengan gagah berani. Sendirian, tokoh tua ini

melindas siapa pun yang berusaha mendekat. Namun serbuan makin lama makin

kuat. Kiai Sangga Langit sendiri langsung terjun ke medan pertempuran. Ugrawe juga

menggunting dari sisi lain.

Menghadapi dua keroyokan, Mpu Raganata makin keteter. Apalagi Mpu

Raganata berusaha mati-matian untuk melindungi Baginda Raja. Sehingga

perhatiannya terpecah. Bertarung habis-habisan Mpu Raganata akhirnya terdesak

mundur.

Upasara mencoba bergabung. Dengan Banteng Ketaton ia menyerbu masuk.

Kiai Sangga Langit langsung memapaki.

Satu demi satu prajurit Keraton jatuh berguguran. Hujan anak panah makin

mengganas. Ugrawe sendiri kemudian melontarkan bubuk racun sehingga tanpa

peduli prajuritnya sendiri atau prajurit lawan bisa disapu bersih. Ia sendiri dengan

Kiai Sangga Langit dan Rawikara telah membekali diri dengan obat pemunah.

Sehingga terbebas dari pengaruh racun!

Upasara merasa dadanya tertekan keras. Rasa sakit yang dulu menyerang ulu

hatinya makin membuatnya sesak. Mpu Raganata pun terdesak. Tinggal waktu saja.

Dan memang itulah yang terjadi.

Baginda Raja terluka, tersungkur. Raja diraja Keraton Singasari, raja yang

berpandangan luas, gugur di keratonnya sendiri. Mpu Raganata mulai sempoyongan

karena tubuhnya dipenuhi dengan anak panah.

Upasara sendiri sudah sempoyongan.

Ugrawe tak bisa melupakan Upasara.

“Ini bagianku,” teriaknya lantang. Kedua tangan berputar di atas kepala.

Langsung menyerang.

Dalam keadaan biasa pun, Upasara bukan tandingan Ugrawe. Maka kali ini

hanya bisa memasrahkan diri. Tapi sedetik itu, Mpu Raganata meloncat tinggi dan

menahan gempuran. Akibatnya, tubuh Mpu Raganata terpental jauh. Ugrawe sendiri

terlempar tiga tombak. Hingga punggungnya menghantam dinding yang langsung

jebol!

Benturan tenaga maha dahsyat!

Hanya saja Ugrawe bisa bangkit kembali. Sementara Mpu Raganata tetap

rebah.

“Empu…”

“Eyang…”

“Sudah saya bilang, kamu lebih baik lari. Di belakang hari masih bisa

melawan.”

Ugrawe berdiri di depannya. Kiai Sangga Langit bersiap. Rawikara menghunus

pedangnya.

“Upasara… hari ini kamu akan mati di tanganku. Selesailah sudah seluruh

kisahmu.”

Upasara Wulung berdiri tegap.

“Majulah bersama. Keroyoklah.”

“Kami tak peduli keroyokan atau tidak. Kalau bisa merebut takhta Keraton,

orang lain yang puas. Tapi membunuhmu, aku yang paling puas. Akulah orang paling

sakti di jagat raya….”

“Siapa berani begitu sombong? Bukankah aku sudah memotong telinganya?”

Suara siapa lagi kalau bukan suara Gendhuk Tri?

Bocah yang masih memakai kemben dengan rambut terurai itu berjalan

masuk. Dalam kepungan dua pendekar besar dan seorang seperti Rawikara, Gendhuk

Tri ternyata tak gentar. Berjalan di antara mayat-mayat yang berserakan, di antara

simbahan darah, ternyata tak membuat kalimatnya berubah.

“Dewa mengirimmu kemari untuk mati bersama.”

“Memang aku sengaja kemari. Cuma susah masuk tadi. Di luar terlalu banyak

orang.” Suara kenesnya tetap menggema.

Gendhuk Tri melihat sekeliling.

Melihat ke Upasara.

Dan kepada Mpu Raganata.

“Rama Guru, kenapa kamu di situ?”

Baru sekarang Upasara sadar bahwa Rama Guru yang disebut-sebut itu adalah

Mpu Raganata! Jadi Jagaddhita dan Gendhuk Tri termasuk murid langsung Mpu

Raganata! Pantas saja Mpu Raganata tahu banyak hal! Pantas saja Rama Guru begitu

membenci raja tetapi sekaligus juga memuja!

“Kamu luka, Rama Guru….”

Mpu Raganata berusaha duduk.

“Aku ngantuk, anak manis.”

“Mbakyu mati karena dikubur hidup-hidup orang-orang ini… aku disuruh

kemari. Rama Guru, orang-orang ini akan kuhabisi. Yang satu itu pernah kupotong

telinganya.”

“Bagus. Bagus. Tak percuma jadi muridku….” Suara Mpu Raganata makin

lemah.

Rawikara merasa paling panas. Resi Ugrawe adalah guru yang sangat dikagumi.

Mana mungkin dihina begitu saja? Mana mungkin seorang bocah awut-awutan

mengatakan telah memotong telinga mahagurunya? Ini kesempatan buat membalas

dendam!

Pedang Rawikara bergerak cepat. Gendhuk Tri mengegos pendek, pergelangan

tangannya bergerak cepat. Mencengkeram tangan Rawikara. Kalaupun tangan itu bisa

ditarik kembali, mata Rawikara membelalak. Tubuhnya menjadi hitam seketika. Dua

tindak saja, langsung tubuhnya tersungkur!

Meninggal seketika.

Ugrawe melangkah mundur.

Kiai Sangga Langit mengerutkan keningnya.

Ilmu hitam apa pula ini? Sekali sentuh langsung menyebarkan racun?

Bahkan Rama Guru pun takkan bisa menerangkan dengan cepat. Hanya

Upasara yang tahu. Karena ia bersama Gendhuk Tri di dalam gua. Ia mendengar cerita

bahwa mayat Padmamuka dan Pu’un dimasukkan ke dalam gua! Dua tubuh yang

sangat beracun! Dan racun itulah yang berpindah ke tubuh Gendhuk Tri. Gendhuk

Tri sendiri tak mungkin keracunan karena sebelumnya telah kena ilmu sirep Pu’un!

Boleh dikatakan semua kejadian luar biasa ini terjadi secara kebetulan. Semua

memang ulah Gendhuk Tri sendiri. Sejak ia muncul dan memamerkan diri dengan

omongan Tamu dari Seberang, ia diincar. Salah satu yang mengincarnya adalah Pu’un

yang menggunakan ilmu sirep. Bahkan Jagaddhita sendiri tak berhasil membebaskan

ilmu yang aneh ini.

Ketika Gendhuk Tri dan Jagaddhita terkubur dalam lubang gua, keadaannya

sangat menyedihkan. Sepeninggal Upasara Wulung, mereka berdua cuma bisa pasrah.

Jagaddhita dalam keadaan terluka parah, Gendhuk Tri masih terkena pengaruh sirep

Pu’un. Kejadian menjadi lebih buruk lagi ketika mayat Pu’un dan Padmamuka

dimasukkan ke dalam gua.

Hal ini didengar oleh Upasara. Bisa diduga ini semua memang rencana

Ugrawe. Agar mereka yang masih tersisa, bisa bertahan dalam gua yang ditimbun

kalaupun bisa bertahan, akan mati terkena racun dahsyat Padmamuka.

Memang itulah yang terjadi. Mayat Padmamuka dan Pu’un menggembung,

membusuk. Dan mengeluarkan gas beracun kuat ketika tubuh yang menggembung itu

pecah. Kejadian ini terjadi pada setiap mayat. Hanya bedanya, gas yang keluar

sekarang ini adalah gas maha racun. Bisa dibayangkan kalau sekujur tubuh

Padmamuka sendiri sebenarnya gumpalan dari racun sepenuhnya. Upasara

mengetahui secara langsung bagaimana hebatnya racun dalam tubuh Padmamuka

yang mengalir dalam setiap tetes darahnya. Bahkan obat pun menjadi racun bagi

tubuhnya yang penuh racun! Dan mengenai Pu’un dengan ilmu yang misterius, dalam

banyak hal sama gawatnya.

Gumpalan asap dari tubuh kedua tokoh beracun inilah yang diisap oleh

Gendhuk Tri dan Jagaddhita. Gendhuk Tri bisa bertahan karena telah mempunyai

dasar yang diberikan oleh Pu’un. Sedangkan Jagaddhita tak bisa bertahan. Begitu asap

racun terisap ia merasa kesadarannya hilang dalam waktu cepat. Sebelum meninggal

Jagaddhita berpesan agar Gendhuk Tri menyusul ke Keraton.

Dan Gendhuk Tri masuk ke dalam Keraton di saat yang genting. Bahwa ia bisa

leluasa masuk, itu karena memang kepandaiannya cukup tinggi. Bahwa racun dalam

ruangan tak mempengaruhi dirinya, karena dalam tubuhnya sendiri sudah mengalir

berbagai racun.

Makanya ketika Rawikara kena tergores pergelangan tangannya, usianya tak

bisa dipertahankan lagi.

Kiai Sangga Langit menggeram pendek. Tubuhnya yang perkasa meloncat ke

depan. Gendhuk Tri meloncat menghindar. Tetapi tenaga dorongan lawan sangat

kuat. Beberapa kali Gendhuk Tri berusaha maju, akan tetapi seperti berhadapan

dengan tembok kuat. Kiai Sangga Langit sendiri agaknya tak mau menjamah tubuh

Gendhuk Tri. Ia bertempur menjaga jarak. Pukulan jarak jauh.

Upasara bangkit kembali.

“Ini bagianku, Gendhuk,” seru Upasara sambil memapak maju. “Kamu

selesaikan si tua itu.”

Upasara masih berpikir untuk menghadapi dengan strategi kilat. Dalam

beberapa hal, Upasara mengerti gerakan Kiai Sangga Langit. Pernah mengenal. Juga

secara teori mempelajari apa yang dilisankan oleh Nyai Demang. Jadi untuk

sementara bisa mengimbangi. Sementara Ugrawe akan dibikin repot oleh Gendhuk

Tri.

Akan tetapi bukan Ugrawe kalau menyerah begitu saja.

Sekali lagi Ugrawe mengibaskan tangannya ke atas.

“Ratakan seluruh Keraton.”

Perintahnya segera disambut dengan teriakan dan gemuruh keras. Puluhan

prajurit menyerbu masuk. Mengeroyok dengan membabi buta. Anak panah, api,

tombak, pedang bagai hujan yang dituang dari langit-langit.

Tak ada pilihan lain. Upasara meloncat mundur. Bersama dengan Gendhuk Tri

melarikan diri lewat bagian bawah Keraton.

Pekik kemenangan terdengar di mana-mana.

Raja Muda Gelang-Gelang telah berhasil mengalahkan Baginda Raja dengan

gilang-gemilang. Tak ada lagi sisa perlawanan.

Berakhirlah pula sebutan Keraton Singasari. Raja Jayakatwang yang

menaklukkan Keraton Singasari memang masih menyebutnya Keraton. Akan tetapi

sebagai keraton bawahan, yang diperintah langsung dari Daha, Kediri.

Untuk selanjutnya, keraton yang sama pun disebut Keraton Daha, karena

dianggap oleh Raja Jayakatwang sebagai bagian dari kebesaran Daha. Kebesarannya.

Berakhirnya Keraton Singasari bukan hanya ditandai dengan berakhirnya

nama dan diucapkan dengan nama baru, akan tetapi juga membawa perubahan yang

lain.

SEMENTARA itu, Upasara Wulung bersama dengan Gendhuk Tri melanjutkan

perjalanan. Menghindari usaha pencarian besar-besaran. Keduanya berjalan bersama,

menempuh perjalanan dari satu desa ke desa yang lain.

“Selama Kakang tidak ada luka, racun saya tidak akan masuk ke tubuh

Kakang.”

“Gendhuk… entah kapan kita bisa selalu bersama-sama. Makin lama kita

makin tersudut. Satu-satunya harapan adalah mencari Bagus Respati. Putra Patih

Angragani ini bisa diharapkan tampil.

“Ayolah kita cari dia.”

Perhitungan Upasara adalah bahwa dengan Bagus Respati perlawanan bisa

lebih diorganisir. Apalagi Bagus Respati sendiri adalah menantu Kiai Sangga Langit.

Hubungan darah secara langsung ini akan membuat gerakan yang dilakukan

terlindungi.

Namun justru perhitungan Upasara meleset besar!

Ketika mengetahui di mana Bagus Respati berada, Upasara mengendap

mendatangi tempat tersebut. Bersama Gendhuk Tri mereka masuk ke dalem

kepatihan yang berada di luar dinding Keraton.

Yang menyambut kedatangan mereka adalah penjagaan yang luar biasa

rapatnya. Malam hari Upasara meloncati dinding dan masuk ke dalam ruangan. Akan

tetapi begitu tubuhnya melayang masuk, dalam sekejap saja telah dikepung rapat.

“Cocok semua perhitungan, kamu akan datang kemari,” terdengar suara merdu

mendayu. Hati Upasara guncang. Ia pernah mendengar suara yang sangat merdu itu.

Siapa?

Seorang lelaki, tampan, putih wajahnya, menatap ke arahnya.

“Kamu pasti datang kemari, Upasara. Senang bertemu kembali denganmu.”

Upasara menggelengkan kepalanya.

“Kamu Dyah Muning… suaramu tetap merdu.”

“Ya, akulah mempelai wanita yang diperebutkan. Aku sengaja menyamar

sebagai wanita untuk memancing kalian para bangsawan berbunuhan. Sayang kamu

tak mau menjadi ‘suamiku’. Kalau kamu bersedia, masalahmu sudah selesai.”

“Kalian memang busuk.”

“Kami ingin balas dendam. Kebetulan Ugrawe memberi kesempatan ini.

Apakah kamu masih mau menanyakan nasib Bagus Respati?”

Upasara tak bisa membayangkan bagaimana kejadian yang dialami Bagus

Respati. Pada saat masuk pelaminan sebagai pengantin, mengetahui bahwa yang

ditemui adalah seorang lelaki! Yang sengaja menjebaknya.

“Hanya ada satu perintah dari Ugrawe yang belum terselesaikan. Yaitu

membunuh atau menangkapmu hidup-hidup. Terserah kamu mau menyerahkan diri

atau aku memaksamu.”

Gendhuk Tri langsung beraksi. Dengan berjumpalitan ia menyerbu maju.

Agaknya berita bahwa Gendhuk Tri menyimpan racun telah terdengar luas. Sehingga

para penyerang melakukan serangan jarak jauh. Upasara sendiri bisa memaksa lawan

mundur, akan tetapi tak bisa mendesakkan kemenangan.

Mengingat lawan terus mendesak tanpa peduli, Upasara dan Gendhuk Tri

terpaksa melakukan penyerangan mati-matian. Korban terus berjatuhan, akan tetapi

lawan juga terus bertambah.

Sampai fajar pertempuran terus terjadi.

Sampai “si suara merdu” memerintahkan prajuritnya untuk mundur dan

meminta bantuan. Saat itulah Upasara dan Gendhuk Tri meninggalkan pergi.

Bergandengan.

Selama itu pula pencarian terus-menerus dilakukan. Suasana Keraton yang kini

dipenuhi pesta pora kemenangan tak pernah mengendurkan usaha pencarian atas

Upasara dan Gendhuk Tri.

Tak ada bayangan mereka berdua.

Beberapa anggota sandi melaporkan mereka muncul di satu tempat, tapi ketika

diserbu tak ketahuan rimbanya.

Sebagian kecil mengatakan mereka sering melihat sepasang manusia— satu

lelaki muda dan satu bocah perempuan—di Perguruan Awan. Tetapi tak ada yang

memastikan apakah mereka Upasara dan Gendhuk Tri atau bukan. Tak ada yang

memastikan apakah mereka itu bayangan saja atau benar-benar manusia.

Tak ada. Sampai waktu yang agak lama.

di lautan asmara

gelombang rindu menyapu

pada batu karang kesetiaan

tersisa pasir penantian

di pantai kemesraan

membadai kenangan

menjilati bersama pasang laut

mencumbu lumut birahi

meniti buih

saat purnama

kau tiba

karena begitulah

aku garam putih

tak mungkin pisah

dari laut birumu

TULISAN itu terpahat di dinding benteng Keraton.

Yang luar biasa adalah pahatan itu pada bagian dinding yang paling tinggi. Dan

cara menuliskannya terbalik. Jadi saat penulis memahatkan dengan tubuh menghadap

ke tanah!

Ini sungguh luar biasa. Dinding Keraton yang didiami Raja Jayakatwang

berada dalam pengawalan yang ketat. Tak sembarang hewan terbang bisa melintas di

sekitarnya. Dinding benteng Keraton itu sendiri tegak berdiri sekitar empat meter

dari tanah. Susunan batu bata direkat erat dengan tanah liat yang telah mengeras,

karena untuk menyatukan diperlukan perasan buah aren. Pengorbanan yang besar

karena biasanya dipakai untuk gula, sebagai pemanis. Makanya bukan hanya lengket,

tapi juga mengilat.

Ternyata, tanpa diketahui sebelumnya, tulisan itu sudah ada di situ. Lolos dari

pengamatan.

Mula pertama diketahui oleh penjaga pintu gerbang yang melihat ada sesuatu

yang salah dalam pandangannya. Ada sesuatu yang rusak di bagian atas dinding

benteng Keraton. Barulah-kemudian diketahui bahwa itu suatu coretan. Lebih

mengejutkan lagi bahwa ternyata tulisan yang bisa dibaca.

Untuk bisa membacanya, orang harus memanjat dinding, berada di atasnya,

dengan bertiarap menghadap ke tanah, sejajar dengan dinding.

Lebih keheranan lagi, ternyata si pemahat dinding agaknya mempunyai

perhitungan yang matang. Tulisan itu akhirnya akan terbaca oleh masyarakat ramai.

Karena persis di depan dinding benteng Keraton ada kubangan air hujan. Di musim

penghujan seperti ini, air penuh. Air itulah yang menelan bayangan tulisan di

dinding. Meskipun si pembaca harus mengeja dari kanan ke kiri. Sebenarnya ini pula

yang menyebabkan seluruh masyarakat ramai memperbincangkan!

Pembicaraan berkembang ke arah tak menentu. Semuanya ditambahi bumbu.

Sebagian mengartikan bahwa itu sekadar perbuatan orang gila. Menuliskan

sajak percintaan di dinding benteng Keraton. Sebagian lagi—secara diam-diam,

mengartikan sebagai akan munculnya pembalasan.

Tak bisa dipungkiri. Bahwa sejak Jayakatwang, Raja Muda Gelang-Gelang,

naik takhta di Singasari dengan menyingkirkan Baginda Raja Kertanegara, banyak

sekali perubahan yang terjadi. Sebagai senopati utama yang menjadi tangan kanan

Raja Jayakatwang, Ugrawe melakukan pembersihan umum. Sisa-sisa bangsawan yang

menjadi pengikut Kertanegara disikat habis. Atau mereka yang dicurigai akan

membangkitkan kekuasaan lama, disingkirkan. Beberapa pejabat memenuhi tempat

penahanan. Selebihnya diselesaikan dengan hukuman mati di alun-alun utama.

Ugrawe yang naik pamor, bersama dengan Kiai Sangga Langit bagai sepasang tangan

dan kaki yang jauh lebih kejam dan lebih berkuasa dari Raja Jayakatwang. Apalagi

Ugrawe memegang komando secara langsung.

Dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari Ugrawe-lah yang

memerintahkan ini dan itu. Mulai dari pemilihan prajurit utama sampai dengan

menunjuk siapa yang harus dihukum mati hari ini.

Pemerintahan Jayakatwang sedang menanamkan fondasi kekuasaan baru.

Dengan cara yang keras. Dalam keadaan memegang semua posisi yang menentukan,

Ugrawe bisa mematahkan setiap usaha untuk mengacaukan pemerintahan. Walaupun

gangguan masih muncul, akan tetapi dianggap tak mengganggu roda pemerintahan.

Ugrawe telah merencanakan dengan dahsyat sebelum merebut takhta Keraton

Singasari. Beberapa ksatria telah dikumpulkan ke Perguruan Awan untuk

dilenyapkan—dengan cara apa saja. Para bangsawan yang ada di sekitar Keraton telah

dipancing untuk mengikuti Sayembara Mantu, dengan memperebutkan Dyah Miming

Maduwani, yang ternyata adalah seorang lelaki, putra dan sekaligus murid Kiai

Sangga Langit. Sebagian lain dipaksa untuk berpihak dengannya. Sebagian yang lain

lagi malah sudah mengikuti jejak, untuk langsung berpihak.

Dalam perhitungan Ugrawe, tak mungkin ada lagi yang pantas diperhitungkan.

Artinya yang setakar dengan kemampuannya.

Dalam kamus Ugrawe, semua lawan utama sudah dilenyapkannya.

Maka tak urung kerutnya bertambah ketika menyaksikan sendiri pahatan di dinding

benteng Keraton.

“Sungguh hebat. Di saat seperti ini masih ada yang berani mati berbuat onar.

Nyawa siapa yang telah begitu gerah?

“Aha, sekian lama istirahat ada juga permainan baru.”

Walaupun kelihatan tetap tenang, senopati yang tinggi dan misalnya yang

bergerak karena tiupan angin ini tak urung berpikir keras juga.

“Selama ini semua jago, semua pendekar, semua ksatria telah berhasil

kukalahkan. Meskipun apa yang dicoretkan di dinding lebih merupakan demonstrasi

kepandaian yang sesungguhnya, akan tetapi jelas bukan orang sembarangan.

“Di saat lalu, hanya tokoh sejajar dengan Mpu Raganata yang bisa melakukan

itu dengan enteng tanpa mungkin diketahui orang lain. Akan tetapi dalam

penyerbuan ke Keraton, empu tua itu telah terbunuh.

“Memang ia dikenal juga sebagai Rama Guru yang mempunyai sekian banyak

siswi di dunia—dan salah satu yang berhasil melukai telingaku— namun rasanya

selama ini tak ada yang begitu tinggi ilmunya. Kecuali Jagaddhita yang telah terkubur.

Gendhuk Tri, kalaupun maju pesat, tak mungkin bisa melakukan itu. Tulisannya

sangat bagus, dan huruf-hurufnya juga bagus. Pastilah seorang yang cukup terpelajar.

Ada satu tokoh lagi. Yang bernama Upasara Wulung. Ia sangat cerdas, penuh bakat,

elok, dan bersifat ksatria. Mempunyai pendidikan Keraton yang baik. Namun,

kalaupun ia bisa menulis seperti itu, masih juga harus diperhitungkan bahwa caranya

mengentengkan tubuh tak semudah itu. Ini menunjukkan kelasnya yang sudah prima.

“Kalau tak salah, dulu di Keraton Singasari ada seorang prajurit yang paling

tinggi ilmu meringankan tubuhnya. Ia digelari sebagai capung dan bernama Wilanda.

Ia satu-satunya orang yang bisa melayang di angkasa. Akan tetapi bahkan sejak

pertempuran di Perguruan Awan, ia sudah terluka parah. Hanya malaikat penyembuh

yang mampu mengembalikan kekuatannya. Dan malaikat itu tak pernah ada.

“Satu-satunya kemungkinan adalah munculnya seorang ksatria baru. Tak bisa

tidak. Dalam dunia persilatan yang begini luas, sangat mungkin sekali lahir keajaiban.

Boleh jadi ini pertanda bakal ramai lagi.

“Merebut Keraton, menggulingkan raja, lebih mudah dibandingkan mengurusi

para ksatria. Hmmmmm, ilmu silat ada yang tinggi, ada yang tertinggi. Tapi para

ksatria semua merasa tinggi tak bisa dikalahkan.

“Kejadian ini sendiri tak seharusnya merampas perhatianku. Aku harus lebih

keras berlatih. Agar suatu hari, kalau Kiai Sangga Langit ingin berbuat yang tidaktidak,

aku bisa mengatasi.”

Sebagai seorang panglima perang, Ugrawe tak begitu kuatir. Ia merasa

kekuasaannya cukup besar dan bisa menguasai keadaan dengan baik. Akan tetapi

sebagai seorang jago silat, perhitungannya agak sedikit berbeda. Sebagai jago silat

kesohor yang merasa dirinya nomor satu, Ugrawe tak mau melihat tumbuhnya jago

lain yang bisa menjadi saingannya di belakang hari.

Meskipun puncak kekuasaan bagi dirinya telah tercapai, akan tetapi pada

dasarnya Ugrawe adalah seorang jago silat. Kebanggaan yang memenuhi rongga

dadanya bukan pangkat dan kekuasaan, melainkan keunggulan silatnya.

Itulah sebabnya, ia memperhitungkan kehadiran Kiai Sangga Langit.

Bagi Ugrawe kehadiran Kiai Sangga Langit masih menyimpan teka-teki. Ia

yang aslinya bernama Bok Mo Jin adalah seorang pendeta yang termasuk kelas tinggi

di daratan Cina. Ilmunya bukan hanya berbeda, tetapi juga menunjukkan kelebihan

yang luar biasa. Bahwa Kiai Sangga Langit tak mau pulang kembali, itu juga karena

ambisi darahnya sebagai pesilat. Untuk sementara urusan negara bisa ditunda. Karena

ingin mengeduk lebih banyak lagi. Bersama dengan Bok Mo Ing yang menyamar

sebagai Dyah Muning Maduwani. Mo Ing cukup jago. Belum pernah bertemu secara

langsung, akan tetapi dengan Pangeran Muda Rawikara kelihatan seimbang. Bagi

Ugrawe ini perlu diperhitungkan. Rawikara adalah muridnya secara langsung dan

adalah putra Raja Jayakatwang. Mempunyai keleluasaan luar biasa dan digembleng

sendiri secara keras. Akan tetapi kenyataannya belum tentu bisa mengungguli Mo Ing

dengan mutlak. Ini saja menjadi pertanda bahwa Kiai Sangga Langit bukan

sembarangan.

Apalagi bagi mereka berdua lebih banyak waktu untuk terus-menerus berlatih

ilmu silat, mempertajam indriawi, dan memperdalam tenaga dalam. Sementara

Ugrawe harus disibukkan dengan urusan pemerintahan.

Tadinya Ugrawe menduga bahwa tulisan di dinding Keraton ini ulah Kiai

Sangga Langit, kalau mengingat ilmunya yang tinggi. Akan tetapi agak mustahil,

karena Kiai Sangga Langit tidak begitu paham huruf serta bahasa setempat. Yang lebih

mungkin adalah Mo Ing. Anak muda ini dengan cepat dan fasih menguasai bahasa

sehari-hari, dan bisa lebih cepat lagi mempelajari dari berbagai kitab. Sangat mungkin

sekali adalah Mo Ing, mengingat ia bisa leluasa berada dalam Keraton, atau keluyuran

di sekitarnya. Dan kehadirannya tak mencurigakan jika pun suatu ketika berada di

dinding Keraton atau bahkan berada di dalam Keraton sekalipun.

Kesimpulan terakhir ini membuat Ugrawe merasa lebih senang. Jika benar Mo

Ing yang melakukan, ini berarti intrik dari dalam. Bukannya tidak membahayakan,

akan tetapi bisa dengan cepat dikuasai.

Ugrawe memanggil Rawikara untuk menemuinya di depan senopaten utama.

Tempat kediaman resmi senopati utama, panglima angkatan perang Keraton.

“Ada persoalan mendadak apa yang menyebabkan Pujangga Terakhir

memanggil hamba?” sembah Rawikara dengan hormat.

“Pangeran Anom yang akan menguasai jagat di kemudian hari, saya ingin

menghaturkan sesuatu. Harap Pangeran Anom tak tersinggung….”

Ugrawe walaupun resminya adalah guru Rawikara, akan tetapi secara

kebangsawanan masih tetap di bawah Rawikara. Biar bagaimanapun, Rawikara adalah

putra mahkota raja yang sedang berkuasa. Sedang Ugrawe hanyalah panglima perang,

yang statusnya tetap sebagai abdi.

Maka dalam pembicaraan sehari-hari, keduanya nampak saling menghormat.

Ugrawe menempatkan diri sebagai seorang prajurit yang siap menerima perintah,

sedangkan Rawikara menempatkan dirinya sebagai seorang murid. Hubungan

semacam ini mungkin membuat Kiai Sangga Langit heran dan sulit mengerti. Akan

tetapi memang tatanan dan adat-istiadat kebudayaan Jawa mencerminkan sikap

merendah untuk posisi dirinya.

“Silakan, Bapa Guru, hamba menunggu….”

“Pangeran Anom telah melihat apa yang menjadi pokok persoalan sekarang

ini. Yaitu ada tulisan di dinding benteng Keraton. Apakah Pangeran Anom

mempunyai dugaan siapa yang melakukan ini?”

“Hamba tak cukup pengetahuan, Bapa Guru. Tetapi kalau dilihat dari

kemampuan yang diperlihatkan, jelas bukan sembarangan. Pemahatnya mempunyai

pengetahuan sastra yang tinggi, kemampuan mengentengkan tubuh yang luar biasa,

dan mengenal seluk-beluk Keraton dengan baik.

“Hamba ingin menebak Mo Ing, akan tetapi ini hanya dugaan bodoh yang bisa

keliru.”

“Pangeran Anom mempunyai wawasan yang luas dan tajam. Itu sangat

diperlukan sebagai calon pemegang kekuasaan tinggi di belakang hari.

“Saya mempunyai dugaan yang sama. Akan tetapi agak sulit untuk

menjebaknya. Raja tidak berkenan untuk melakukan tindakan ke dalam.”

Raja Jayakatwang semenjak naik takhta, memang lebih banyak kelihatan

berdiam diri. Menahan emosi, dan menghabiskan waktunya buat bermenung.

Sungguh berbeda dari ketika merebut Keraton. Walau dulu ada warna kebimbangan,

akan tetapi pada saat mengambil keputusan, Raja Muda Gelang-Gelang ini tak

bimbang dan ragu. Akan tetapi justru setelah berhasil merebut takhta dan

menyingkirkan Baginda Raja Kertanegara, Raja Jayakatwang seperti merasa bersalah.

Pembantaian besar-besaran, banjir darah di Keraton, korban yang berjatuhan,

agaknya di luar perhitungannya. Rasa bersalah ini demikian keras menghantui dan

menekan pikirannya. Sehingga usaha pembersihan lawan-lawan politik pun tak

sekeras yang diusulkan Ugrawe.

Juga mengenai tulisan di dinding benteng Keraton, Raja Jayakatwang tidak

ingin mempersoalkan lebih panjang.

“Kita mesti berhati-hati, Paman…. Kekuatan kita sudah berkurang banyak.

Banyak senopati kita yang hilang. Kalau kita harus mengurangi lagi kekuatan yang

ada, apakah ini tidak akan memperlemah?”

“Sabda Raja adalah hukum,” sembah Ugrawe. “Kami semua akan menjalankan

sepenuh hati.”

“Lakukan pengusutan, dan laporkan hasilnya. Jangan bertindak terlebih

dahulu….”

Ketentuan ini membuat Ugrawe tak bisa menjalankan aksinya untuk

mendatangi rumah Kiai Sangga Langit dan mengobrak-abrik isinya. Satu-satunya

yang bisa dilakukan adalah menunggu hasil pengusutan. Ini bertentangan dengan cara

kerja Ugrawe yang biasanya. Ia akan mengatur rapi seteliti mungkin untuk suatu

rencana besar—seperti juga penyerbuan ke Keraton. Akan tetapi untuk hal-hal yang

praktis, Ugrawe akan mengesampingkan tata cara yang merepotkan: Ugrawe bisa

bertindak tanpa perlu menghiraukan perasaan orang lain.

Pada saat menunggu itulah terjadi peristiwa baru.

Tulisan yang sama dipahat di dinding benteng Keraton, terukir kembali. Kali

ini bukan pada tempat yang keras dan tinggi, akan tetapi pada tempat yang empuk

dan rendah.

Keempat sapi putih kebanggaan Raja Jayakatwang, tubuhnya penuh dengan

tulisan yang sama!

Rawikara langsung menuju tempat penyimpanan sapi-sapi Keraton.

Ini adalah sapi kebanggaan yang dipelihara dengan kelewat hati-hati. Yang

dijaga ekstra hati-hati oleh pengawal pribadi Raja. Karena sapi-sapi ini selain

pengangkut kereta kebesaran juga merupakan klangenan Raja. Binatang yang sangat

disayang dan dibanggakan.

Ternyata di punggung binatang itu ditoreh dengan senjata.

Keempat-empatnya.

Punggung dan perut yang putih berleleran darah—sebagian sudah mengering.

Dan tulisannya bisa dibaca jelas. Di lautan asmara, gelombang rindu menyapu…

Rawikara mengertakkan gerahamnya.

“Hukum pancung semua penjaga yang bertugas semalam. Tak ada ampunan

bagi yang lalai. Mustahil mereka tak mendengar teriakan, tak mendengar sapi

melenguh atau apa-apa.

“Seekor nyamuk pun bisa membuat gusar sapi klangenan Raja. Apalagi seluruh

tubuhnya dicacah seperti ini.”

Pemeriksaan kepada para penjaga memang tidak memberikan hasil. Mereka

berjaga, tidak mengantuk, dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Meskipun tidak berada dalam satu bangunan dengan Keraton Utama, akan tetapi

kandang sapi-sapi itu berada di dalam kompleks Keraton. Yang cukup jauh dari

dinding sebelah luar. Kalau orang luar bisa leluasa gentayangan ke dalam, ini berarti

bisa berbuat sesuatu yang lain lagi. Yang lebih berbahaya.

“Tindakan onar ini memancing perhatian. Untuk memberi kesan bahwa kita

lemah,” kata Rawikara setengah berteriak di antara prajurit-prajurit pilihan. “Kalau

kalian semua memang lemah, katakan mulai sekarang. Tak akan menjadi prajurit lagi.

“Saya sendiri bisa menghukum pancung kalian semua. Mulai saat ini, tak ada

lagi kejadian seperti ini.”

Rawikara begitu beringas dan meluap kalimatnya.

Akan tetapi justru ia menjadi sasaran. Keesokan harinya pintu gerbang

bangunan yang didiami mendapat coretan yang sama bunyinya. Lebih kurang ajar lagi

karena coretan itu dibuat dengan tongkat kasar yang bagian ujungnya dileleti kotoran

manusia.

“Memang aku yang membuat,” terdengar teriakan keras, gagah, dan menggemuruh.

“Kalian semua mengepung aku untuk apa? Aku datang kemari, mencoret, untuk

menunjukkan bahwa aku menyimpan laut yang berisi asmara, gelombang rindu, batu

karang penantian, dan lumut birahi yang sedang tumbuh.

“Kalau kamu katakan di mana Nyai Demang, masalah sudah selesai. Selama

kamu sembunyikan kekasihku, pakaian Raja Jayakatwang pun akan kuolesi dengan

kotoranku.”

Lelaki yang berpakaian serampangan, memegang tongkat besar dari galih

pohon asam itu tertawa. Melihat dengan sorot mata remeh kepada mengepungnya.

“Ayo tangkap aku. Kalian diperintahkan untuk menangkap aku hidup-hidup,

kan? Coba saja. Bisa apa tidak.

“Telah seratus hari aku mencari Nyai Demang. Katakan sekarang juga, Galih

Kaliki menunggu di sini. Tidak menunggu bulan purnama, tidak menunggu buih

melambung.”

Galih Kaliki memutar tubuhnya.

Langkahnya lebar sekali.

“Nyai Demang, di mana kamu? Jangan sembunyi. Aku tak sabar lagi,

Nyai….”

Disertai tawa ngakak, Galih Kaliki meloncat maju ke depan. Tujuh prajurit

pilihan dengan cepat menghadang. Tongkat hati pohon asam terayun dari bawah ke

atas. Menyampok senjata yang ditujukan padanya. Galih Kaliki memang tak kenal

kompromi, atau memakai taktik. Tenaga yang dipakai sedemikian kerasnya sehingga

bentrokan tenaga menimbulkan bunyi keras. Dari sisi kiri-kanan, dua ujung tombak

menyerang ke arah lambungnya. Galih Kaliki memindahkan tongkat ke tangan kiri

langsung mengemplang kepala. Tanpa memedulikan sodokan dari kanan. Cepat dan

keras. Terdengar bunyi keras. Pergelangan tangan dua prajurit patah, luluh terkulai.

Galih Kaliki menghindar tusukan dari kanan, dengan memutar tubuhnya. Kedua

kakinya menendang senjata lawan. Bertumpu pada sabetan tangan kiri, tubuhnya

meloncat ke depan.

Berdiri dalam jarak dua tombak dari Rawikara.

Rawikara mengeluarkan suara dingin dari hidungnya. Walaupun Galih Kaliki

cukup kuat, akan tetapi dilihat selintasan saja ilmu mengentengkan tubuhnya bukan

yang prima. Sehingga, kecil kemungkinannya ia yang menulis di dinding benteng

Keraton atau yang mencacah punggung sapi.

“Kamu pangeran hidung belang itu? Kembalikan Nyai Demang….”

Ujung tongkat yang bau, bercampur lelehan darah, menuding langsung ke wajah

Rawikara!

Rawikara tak bisa dipandang enteng. Meskipun sebutannya masih pangeran

Anom, ia adalah pangeran pati, putra mahkota. Yang kelak menggantikan takhta. Di

depan para prajurit, dituding dengan tongkat kotor semacam itu, darahnya naik

melewati ubun-ubun. Lebih membuatnya jengkel lagi karena ia disebut sebagai

hidung belang. Ini jelas tak masuk akalnya. Ia merasa jauh dari perbuatan itu.

Meskipun tidak semurni yang diharapkan, Rawikara bukan tipe pengejar wanita

seperti Bagus Respati.

Tetapi memang yang paling menusuk perasaannya adalah cara Galih Kaliki

meremehkannya. Selama ini Rawikara merasa dirinya agak tersisih. Dalam

penyerbuan ke Keraton Singasari boleh dikata ia dianggap masih hijau. Bahkan oleh

Ugrawe sendiri ia tak dipercaya ke garis depan. Dalam pembunuhan habis-habisan di

Perguruan Awan, ia tak disertakan. Disuruh mengurusi bagian pertahanan. Bukannya

tidak penting, akan tetapi toh tetap bukan di barisan depan.

Sedikit-banyak ini mengurangi kebanggaannya. Kurang membuat hormat para

prajurit. Bahwa mereka menghormati, jelas tak terbantah. Akan tetapi apakah mereka

betul menghormati tulus karena kelebihannya, itu masih perlu dibuktikan. Maka

Rawikara melihat kesempatan yang baik untuk membuktikan diri.

“Mundur semua. Biar aku yang menghadapi sendiri.”

Kedua tangan Rawikara mengibas.

“Galih Kaliki, sebelum menjadi terlambat, katakan apa maumu membuat onar

di Keraton?”

“Sudah kubilang sejak pertama. Aku mencari Nyai Demang.”

“Kalau cuma itu urusanmu, kenapa harus berbuat seperti pencuri?”

“Ah, yang di dinding itu bukan urusanku. Soal sapi juga bukan urusanku. Aku ini

manusia kasar. Bisaku cuma main kotoran. Serahkan Nyai Demang, atau kubikin rata

batok kepalamu.”

“Banyak tempat bisa dicari, kenapa harus masuk ke dalam Keraton?”

“Ke mana lagi kalau bukan kemari. Putri sundal yang mengaku jadi lelaki…

aduh, sampai terbalik… Lelaki sundal yang mengaku sebagai putri itulah yang bikin

gara-gara. Kalau ia ada di sini, masa Nyai Demang ada di tempat lain. Nah, kita sudah

bicara banyak. Mau bertempur atau tidak?”

Mendadak terdengar jawaban dengan suara yang tinggi.

“Enak saja memaki orang. Apa hak kamu merendahkan diriku?”

Masih terdengar nada merdu. Memang itulah Mo Ing yang tubuhnya putih,

sehingga kelihatan jelas.

“Nah, Pangeran… aku tak ada urusan sama kamu. Kecoak putih ini urusanku.”

Galih Kaliki menggeser tongkatnya. Berpindah ke tangan kanan. Dipegang

erat. Kaki kiri maju ke depan. Kaki kanan terangkat di ujung telapak. Berat badan

condong ke depan. Pandangan matanya menyiratkan kegeraman.

“Awas.”

Bersamaan dengan itu, tongkat Galih Kaliki mengayun ke depan, seperti

menebas. Gerakannya memang kaku dan lurus. Mo Ing tetap berdiri. Hanya

mengangkat kedua kakinya dengan gerakan meloncat pendek. Kentara sekali bahwa

Mo Ing menganggap serangan Galih Kaliki sebagai serangan enteng. Kedua tangan Mo

Ing masih tetap bersidekap di depan dada.

Dilihat sepintas Galih Kaliki memang kelihatan bukan tokoh yang disegani.

Apa yang ditunjukkan, baik gerakan maupun tenaga yang diatur, sangat sederhana.

Tidak terlalu banyak kembangan, tidak banyak variasi. Seolah hanya mengikuti gerak

yang sudah pakem. Akan tetapi justru di sinilah sebenarnya kekuatan Galih Kaliki.

Sampai saat ini, belum diketahui asal-usul Galih Kaliki. Baik nama perguruan,

maupun siapa yang mengajari. Lebih menambah baur lagi karena pemunculannya

selalu ada kaitannya dengan Nyai Demang. Selalu mengejar-ngejar Nyai Demang.

Maklum saja kalau Mo Ing menganggap enteng.

Dalam satu gebrakan, Galih Kaliki menekuk pergelangan tangan. Tongkat

yang menyapu tiba-tiba arahnya berbelok menjadi tegak lurus ke atas. Tidak

memerlukan lengkungan. Kaku tertekuk ke atas dan menyodok! Inilah kekuatan

utama gerakan patah dan kaku.

Mo Ing tak memberikan tubuhnya disodok dari bawah begitu saja. Berat

badannya jatuh ke satu sisi. Cepat sekali. Untuk menjaga kalau Galih Kaliki mengubah

serangan, tangan kanannya menyampok keras. Mengembuskan tenaga panas.

Galih Kaliki ternyata tidak mengubah arah tongkatnya. Sehingga Mo Ing

dengan mudah bisa menangkap.

Galih Kaliki tertawa ngakak.

“Bagus… bagus… kamu wong bagus, punya gerakan bagus. Enak baunya?”

Tanpa disadari Mo Ing memegang ujung tongkat. Yang diolesi kotoran. Keruan

saja wajah yang putih berubah menjadi merah padam. Tongkat disentakkan keras.

Kalau tadi merasa bisa mengatasi lawan dengan satu gerakan saja, kini justru merasa

bisa dikerjain.

Mo Ing meraih dua pedang di pinggangnya.

Matanya menyipit. Dua kakinya bergeseran dengan cepat, merangsek maju.

Galih Kaliki tetap tak bergerak. Begitu dua pedang secara langsung menusuk ke

arahnya, Galih Kaliki menangkis keras. Lagi-lagi tenaga keras.

Terdengar suara berdengung, benturan senjata. Galih Kaliki menggenggam kembali,

memutar di tengah, dan maju merangsek. Mo Ing memundurkan kakinya, dan dengan

kuda-kuda yang cepat kakinya melangkah mengisi kekosongan. Kuda-kudanya

memang rapi, kuat, dan kukuh. Galih Kaliki terpaksa memundurkan kakinya.

Tongkat yang dipegang di tengah kadang berganti ke ujung, dan terus-menerus

menyambar. Dari sekian sambaran yang paling berbahaya ternyata kemplangan dari

atas. Karena pada saat ujung tongkat mengarah ke batok kepala, rasanya seperti

takkan berubah arah. Tak peduli dengan tusukan pedang lawan. Seakan percaya

bahwa tongkatnya akan lebih dulu menghantam batok kepala, sebelum pedang lawan

bisa menggores kulitnya.

Ini yang merepotkan Mo Ing, dan sekaligus menjadi pertempuran yang

menarik. Mo Ing bisa mendesak Galih Kaliki dengan serangan kaki yang kuat, akan

tetapi setiap kali memapak maju, harus mundur lagi untuk menjaga kepalanya.

Dalam sekejap keduanya terlibat dalam pertempuran yang panjang.

Bagi Mo Ing sebenarnya penggunaan tenaga kuat tak menjadi masalah. Ia

masih mempunyai darah Mongol, di mana tenaga sebagai andalan juga menjadi ciri

khasnya. Hanya saja dalam perjalanan hidupnya di negeri Cina, variasi silat dengan

gerakan tangan lebih banyak mempengaruhi. Sebenarnya ini merupakan kelebihan

untuk mengacaukan perhatian lawan. Kalau yang dihadapi bukan Galih Kaliki.

Karena justru tipe permainan Galih Kaliki tak mengenal kompromi. Lawan main

bagus atau tidak, ia akan terus mengemplang saja. Lawan menunjukkan permainan

menarik atau tidak, sodok terus.

Sepuluh jurus telah berlalu.

Rawikara menggelengkan kepalanya.

“Mo Ing, mundur saja. Kalau tak bisa menangkap seorang penggali kotoran,

lebih bagus pulang saja. Di rumah bisa kau bersihkan tanganmu.”

Kentara sekali bahwa Rawikara tidak menganggap Mo Ing terlalu tinggi. Dari

kalimatnya terlihat jelas justru Rawikara seperti merendahkan.

Mo Ing terpancing panasnya.

“Kalau takut, aku dari tadi ada di pinggir.”

Mo Ing balas menyindir Rawikara. Dengan begitu Rawikara seperti dikatakan

penakut, karena dari tadi tidak langsung turun ke gelanggang.

Dalam keadaan seperti ini Galih Kaliki jelas memperoleh keuntungan.

Menghadapi tokoh yang rada aneh satu ini, tak bisa memecah konsentrasi

seenaknya. Galih Kaliki tak bisa dipandang dengan sebelah mata. Ayunan tongkatnya

makin berat, makin memberat dengan kesiuran angin yang mantap. Tongkat di

tangannya berubah menjadi senjata pemukul yang dahsyat. Gerakan maju Mo Ing jadi

tertahan. Dua pedang yang berkelebat dari arah kanan dan kiri seperti mau

menggunting, dipatahkan dengan keras. Galih Kaliki maju terus. Tongkatnya

menyambar dari atas ke bawah.

Lagi-lagi Mo Ing berusaha menghadang. Kali ini Mo Ing lebih taktis. Satu pedang

kanan diangkat sedikit ke atas. Untuk menangkis. Sedang pedang di tangan kiri

digerakkan cepat untuk mencuri tusukan.

Kalau ini terjadi, Galih Kaliki boleh memegang dadanya yang tertusuk dalam.

Soalnya, walaupun pedang kanan tak bisa menahan sepenuhnya kemplangan

tongkat, namun tetap tak membuat Mo Ing remuk kepalanya. Ia juga sudah

mengambil ancang-ancang dengan memiringkan kepalanya. Paling sial hanya

pundaknyalah yang masih mungkin kena kemplang. Tapi pedang kirinya sudah akan

menghentikan gerakan lawan.

Mo Ing memang ingin menghentikan serangan secepatnya.

Agar bisa membuktikan bahwa ia bisa menguasai lawan lebih cepat dari

perkiraan Rawikara. Agar membungkam komentar Rawikara.

Perhitungan ini banyak benarnya. Tapi satu hal yang tak pernah diperkirakan

oleh Mo Ing ialah bahwa tipe permainan silat Galih Kaliki lain daripada yang lain.

Selama main gebrakan mencapai lima belas jurus, Mo Ing unggul dengan kuda-kuda

yang mantap. Geseran kaki secara teratur bisa mengukuhkan posisinya. Hampir

semua lawan Galih Kaliki selalu menemukan peluang terbaik untuk menyerang dari

bagian bawah. Dulu Bagus Respati, putra Patih Mahisa Anengah Panji Angragani pun

melihat lubang pertahanan yang lemah di bagian bawah. Padahal justru inilah yang

agaknya dirasa menjadi soal bagi Galih Kaliki.

Justru pada saat lawan merasa sangat aman dan kuat di bagian bawah, kaki

Galih Kaliki menggempur mantap kuat. Kaki kanan mengentak lurus dengan gerakan

menyelentak, gerakan merupakan sepakan kaki kuda. Tenaganya sangat besar. Yang

diarah adalah tempurung kaki. Mo Ing tak akan bisa sekadar menggeser, karena justru

slentakan jaran, tendangan kuda, ini jauh dari jangkauannya. Satu-satunya jalan

adalah membuang diri jauh ke belakang. Atau memilih kemungkinan lain. Tetap

menangkis tongkat di atas, menusuk dengan pedang yang lain, dan menggeser kaki

sebisanya.

Dalam pertempuran semacam ini, Mo Ing belum tentu menderita lebih berat

daripada Galih Kaliki. Kerugian fatal bisa berada di kedua belah pihak.

Mo Ing pernah menyaksikan pertempuran antara Galih Kaliki dan Bagus

Respati. Sehingga mengetahui bahwa serangan Galih Kaliki memang maut. Bukan

hanya serangannya yang membahayakan lawan, tetapi juga seperti tak memedulikan

keselamatan dirinya sendiri. Dalam pertempuran waktu lalu, Galih Kaliki dan Bagus

Respati sama-sama nekat. Hanya kebetulan karena ada tokoh lain melerai secara jitu,

keduanya terhindar dari kematian. Meskipun mengakibatkan keduanya terluka parah.

Mengetahui cara lawan, Mo Ing mengubah permainannya dengan cepat.

Dalam sepersekian detik, tusukan dan tangkisan diubah menjadi sodetan ke arah

wajah. Gerakan pedang menjadi lebih cepat dari datangnya kemplangan tongkat. Mo

Ing sadar ini sekadar memecah sedikit perhatian, karena yang penting adalah

meloloskan diri dari slentakan jaran. Mo Ing tak mau sekadar membuang tubuhnya ke

belakang, ia mengayun, menjatuhkan tubuh di lantai dengan punggungnya dan kedua

pedangnya menebas dari kiri dan kanan dengan gerakan miring.

Galih Kaliki telanjur dalam posisi seperti terjun. Memerlukan waktu untuk

mengubah gerakannya dalam seketika. Tapi bukan itu yang dipilih. Tongkat andalan

yang berwarna cokelat kehitaman terus menyapu ke bawah. Berhenti dengan suara

keras menghantam lantai. Dalam perjalanan menghunjam ke lantai, berhasil menyapu

dua pedang sekaligus. Tubuh Galih Kaliki berputar bagai kitiran, tertarik oleh gaya

luncur kedua kakinya yang menendang ke arah luar.

Jadilah pemandangan menarik. Mo Ing berputar dengan punggung menempel

lantai, sementara Galih Kaliki berputar di atasnya dengan tangan memegang tongkat

sebagai sumbu. Keduanya berputar dalam arah yang berlawanan.

Mo Ing terpancing dengan serangan berikut. Begitu putaran punggung makin

cepat, kedua pedang menyodet ke atas. Akan sulit bagi Galih Kaliki mengelak. Akan

tetapi saat itu Galih Kaliki sudah meluncur turun. Dahsyat sekali. Tongkat

menyampok satu pedang hingga terpental jauh. Sementara pedang yang satu terlepas

karena tangan Mo Ing kena diinjak. Persis di pergelangan tangan!

Sekali getok, Galih Kaliki bisa menjebloskan ujung tongkat ke kepala Mo Ing.

Atau menggempur dada.

Rawikara tak pernah menduga bahwa pertempuran bisa berakhir begitu cepat!

Ia tak menganggap Galih Kaliki terlalu rendah. Akan tetapi juga sama sekali

tak menduga bisa menyelesaikan pertempuran dengan begitu singkat dan mendadak!

Ini semua terjadi dalam gerakan turun tubuh Galih Kaliki yang tepat!

Menyampok pedang, menginjak pergelangan, dan menguasai keadaan secara penuh.

Mo Ing dikalahkan secara sempurna.

“Ayo katakan, di mana Nyai Demang?”

Tergeletak di lantai, wajah Mo Ing berubah pias.

“Kamu boleh bunuh aku. Aku sudah kalah. Untuk apa memaksa mengatakan

yang sudah kau ketahui?”

Galih Kaliki mendongak sedih.

“Pergilah kalau kamu memang tidak tahu.”

Lembut, tenang, Galih Kaliki berjalan minggir. Meninggalkan Mo Ing yang

tergeletak di lantai. Mo Ing menyambar pedang dan dengan cepat sekali menusukkan

pedang. Ke arah tubuhnya!

Dengan mengeluarkan jeritan tertahan, Mo Ing rebah ke lantai.

Kejadian berlangsung sangat singkat.

Bersamaan dengan itu, satu bayangan melayang, dan mengangkat tubuh Mo

Ing ke dalam panggulan, sekaligus melepaskan pedang dari tubuh Mo Ing, menotok

jalan darah. Semua dilakukan dalam seketika.

Kiai Sangga Langit berdiri gagah.

Mengangguk ke arah Galih Kaliki, lalu menoleh kepada Rawikara dengan

sudut mata. Lalu menjejakkan kakinya, memancal lantai, dan melayang melewati

kerumunan.

Kiai Sangga Langit seperti menyalahkan Rawikara. Karena Rawikara-lah yang

berdiri paling dekat dengan Mo Ing. Sebenarnya kalau mau, bisa menahan tusukan

pedang. Pun andai tusukan itu ditujukan ke arah Galih Kaliki. Akan tetapi Rawikara

sengaja membiarkan saja. Tidak peduli siapa yang akan kena tusuk. Bagi Rawikara

tidak penting benar siapa yang bakal tertusuk!

Tapi yang membuat Rawikara merasa gusar adalah pandangan mata Kiai

Sangga Langit. Sorot mata yang tak terucapkan itu bukan sekadar menuduh bahwa.

Rawikara tak ambil peduli. Bukan sekadar membiarkan, akan tetapi justru sengaja

memperlakukan dengan cara yang hina.

Kiai Sangga Langit melihat, dalam sekelebatan saja, bahwa gerakan yang

didemonstrasikan untuk menjebak tadi adalah gerakan yang sering diperagakan oleh

Ugrawe. Bagian dari ilmu andalannya!

Rawikara sendiri setengah tak percaya.

Mana mungkin dari gerakan dasar Sindhung Aliwawar yang memakai tenaga

putaran sebagai angin puting beliung diperagakan orang lain. Selama ini Ugrawe

sendiri mempraktekkan dengan gerakan tangan. Satu tangan bergerak di atas kepala,

menggebah, dan satu putaran tangan lagi menarik dengan sedotan! Dengan demikian

lawan akan terhantam di bagian atas tubuhnya, dan diseret di bagian bawah

tubuhnya!

Galih Kaliki justru mempraktekkan dengan gerakan kaki.

Yang dikombinasikan dengan tangan. Tangan menyampok ke arah luar kaki

menekan ke bawah. Cara mengatur tenaga dalam seperti ini—dengan cara yang

bertentangan—boleh dikatakan menjadi ciri khas ilmu andalan Ugrawe. Selama ini

tak ada orang ketiga yang mempelajari. Karena cara pernapasan yang luar biasa sulit

untuk mengendalikan tenaga yang berlawanan arah dan pemakaiannya. Hanya

Ugrawe, melatih sendiri, dan Rawikara sebagai murid.

“Bagus sekali. Satu gerakan yang luar biasa. Boleh saya mengetahui nama

gerakan tadi dan dari perguruan mana?

“Barangkali kita bisa berbicara lebih leluasa.”

“Aku tidak butuh urusan seperti itu, Pangeran. Kalau kamu berikan Nyai

Demang, baru itu namanya menjawab keperluanku kemari.”

Rawikara mendongak ke atas langit.

“Kalau hanya itu urusannya, mari kita jemput Nyai Demang.”

“Tunggu!” teriak Galih Kaliki gusar.

“Ada apa lagi? Katanya mau ketemu Nyai Demang, tetapi sekarang pakai alotalotan

segala.”

“Siapa suruh kamu bilang hanya itu. Soal Nyai Demang bukan soal hanya itu.

Soal yang besar. Cabut kembali kata-kata itu!”

Rawikara mengangguk.

“Maafkan kalau ini menyinggung perasaan. Saya mengira sesuatu yang tak bisa

saya lakukan. Tetapi mungkin saya bisa menolong. Selama ini Nyai Demang ada di

sini. Dalam keadaan aman. Nyai Demang menjadi penerjemah Kiai Sangga Langit

yang baru saja mengangkat Mo Ing. Kita bisa ke sana bersama-sama.”

Rawikara merenggangkan kedua tangannya. Menyilakan Galih Kaliki berjalan

bersamanya.

Ini adalah salah satu strategi Rawikara. Baginya Galih Kaliki seperti sengaja

diciptakan untuk menjelaskan masalah yang ingin diketahui. Pertama kali tentang

tulisan asmara di dinding. Kedua tentang asal-usul perguruan Galih Kaliki. Ketiga bisa

menjadi kunci untuk membuka rahasia yang ada di dalam kediaman Kiai Sangga

Langit. Maka Rawikara membalik penampilannya. Kalau tadi merasa perlu

menghadapi keras sama keras, kini harus menghadapi dengan kelembutan.

Sebagai murid langsung Ugrawe, Rawikara juga menuruni sifat-sifat Ugrawe.

Malah sedikit lebih cerdik, atau licik. Dalam hati Rawikara mulai curiga kepada

Ugrawe. Gurunya ini memang luar biasa saktinya. Ilmunya tak ada yang melawan.

Dengan kekuasaan besar di tangannya, boleh dikatakan setiap saat bisa mengubah

jalannya sejarah Keraton. Apalagi kalau ternyata telah menyiapkan bibit baru sebagai

muridnya. Sebelum semua berkembang tak terkendalikan, ia bisa mengambil alih

inisiatif. Agar tak bisa didikte oleh Ugrawe.

Maka jalan yang diambil adalah berdamai dengan Galih Kaliki. Untuk

mengorek keterangan lebih banyak. Rawikara tahu bahwa Galih Kaliki memang ugalugalan

dan kasar penampilannya. Akan tetapi sifatnya jujur dan tak mempunyai

prasangka yang aneh-aneh. Dari keinginannya yang mengabaikan kepentingan lain,

hanya sekadar mencari tahu Nyai Demang, hal ini sudah memberikan bukti kuat.

Maka rombongan pun menuju ke kediaman Kiai Sangga Langit.

“Nyai Demang, ini aku, Pangeran Anom Rawikara… membawa seorang

sahabat yang ingin menemuimu. Maukah kamu keluar barang sebentar?”

Tak ada jawaban.

“Nyai Demang, kalau Nyai tak mau keluar, biarlah aku yang masuk ke dalam.

Maaf kalau kurang menghormati Kiai Sangga Langit, si pemilik rumah. Aku sudah

minta izin baik-baik.”

Pintu terbuka.

Kiai Sangga Langit berdiri di tengah pintu.

Kukuh, bergeming.

“Kiai Sangga Langit…”

Tangan Kiai Sangga Langit mengibas.

Terdengar suara nyaring dari dalam. “Hari ini Kiai Sangga Langit tak mau

menerima tamu. Ia akan mengobati Mo Ing. Harap datang lain waktu.”

“Nyai Demang… itu suaramu. Akulah garam yang tak bisa dipisahkan dari laut

birumu.”

Galih Kaliki meloncat, menerobos masuk. Kiai Sangga Langit mengangkat

sebelah tangan. Dalam meloncat Galih Kaliki mengayunkan tongkat dengan keras

sekali.

“Minggir kamu, hantu sawah….”

Kiai Sangga Langit tak menggeser tangannya. Sebat sekali mengangkat tongkat

yang terayun ke arahnya. Dengan memusatkan tenaga, tongkat itu bisa digenggam

dan dipelintir keras. Tubuh Galih Kaliki jadi ikut berputar. Ngilu menyerang seluruh

saraf tangannya. Tak bisa ditahan lagi, terpaksa Galih Kaliki melepaskan

pegangannya. Sebagai gantinya, kaki Galih Kaliki menyepak keras, jurus slentakan

jaran yang perkasa. Kiai Sangga Langit tetap tak menggeser kakinya, hanya mengubah

tangannya yang kini memegang tongkat untuk menangkis. Galih Kaliki, seperti

diduga, tak menarik kakinya. Tapi mencungkil ujung tongkat. Tongkat berputar ke

arah wajah Kiai Sangga Langit, yang mengeluarkan suara dingin dari bibirnya,

menangkis ke luar. Tongkat terayun, dan dengan berjumpalitan Galih Kaliki bisa

menangkapnya. Berdiri di tempatnya semula.

Satu gebrakan yang luar biasa. Galih Kaliki tidak kehilangan muka dalam serangan

ini. Meskipun ia harus jungkir-balik tidak kepalang tanggung. Kedudukan masih

sama, akan tetapi jelas bahwa Galih Kaliki setidaknya berada tiga tingkat di bawah

Kiai Sangga Langit.

Rawikara sejenak ragu bertindak.

Saat itu mendadak terdengar gong kecil dipukul ringan. Semua kegiatan

terhenti mendadak. Seorang prajurit menghaturkan sembah sambil berjongkok.

“Maaf. Baginda Raja berkenan memanggil Pangeran Anom.”

Panggilan dari Raja, tak bisa ditawar sedikit pun. Rawikara mengangguk.

“Saya akan menghadap sekarang juga,” katanya lembut kepada prajurit. Lalu

menoleh ke arah Galih Kaliki.

“Saya merasa bahagia kalau setelah menerima dawuh Raja kita masih bertemu

lagi. Soal Nyai Demang…” Suara Rawikara berubah agak tinggi. “Nyai, saya meminta

Nyai menemui… saya meminta dengan segala kerendahan hati. Di belakang hari

utang budi ini akan selalu saya ingat.”

Terdengar jawaban dari dalam rumah.

“Saya mau menerima saat bulan purnama, seperti yang dijanjikan.”

“Baik kalau begitu,” teriak Galih Kaliki manggut-manggut. Lalu duduk di

depan pintu. “Pangeran, kamu masuk ke dalam Keraton karena ada urusan. Aku akan

menunggu di sini sampai bulan purnama.

“Kalau hantu sawah itu mau bikin gara-gara, aku masih bisa menghadapi.”

Rawikara tak mempunyai pilihan lain. Ia mengangguk dan segera berlalu.

Masuk ke dalam Keraton. Menyembah, berjongkok, dan kemudian mengambil

tempat agak di sudut. Ugrawe ternyata telah duduk di situ pula. Yang agak

mengherankan Rawikara ialah, bahwa ada suatu bayangan tubuh yang duduk

khidmat di dekat singgasana Raja Jayakatwang. Seorang lelaki tua, yang menunduk

dan tangannya tak pernah berhenti memegang biji-biji tasbih. Dia adalah Waisesa

Sagara. Rawikara tidak terlalu mengenal siapa Waisesa Sagara. Yang diketahui

hanyalah: Ia satu-satunya pejabat Keraton semasa pemerintahan Baginda Raja

Kertanegara yang sekarang masih mempunyai posisi tinggi dan jabatan utama. Malah

boleh dikatakan naik pangkat. Kalau dulu menjadi penasihat rohani dan sekaligus

dukun peramal Mahapatih Panji Angragani, orang kedua di Keraton Singasari,

sekarang malah penasihat rohani orang nomor satu di Keraton!

Baik Rawikara maupun Ugrawe tak berani mempersoalkan atau mengungkit

masalah ini kepada Raja Jayakatwang. Karena ini merupakan hak pribadi seorang raja

untuk memilih pembantu terdekatnya.

Bagi Rawikara, ketidaksukaan Ugrawe pernah tercetus walaupun tidak

langsung. Namun kemudian, Rawikara menyadari bahwa Ugrawe mempunyai

perhitungan sendiri. Bahwa pengaruh Waisesa Sagara tak akan menjadi besar, selama

ia tidak diberi kekuasaan apa-apa. Selama Waisesa Sagara hanya berurusan dengan

tasbihnya dan mulut yang terus-menerus berkomat-kamit.

Terdengar gong dipukul pelan.

Serta langkah kaki yang ringan sekali.

Ugrawe, Rawikara, Waisesa Sagara segera menghaturkan sembah dengan

menunduk seakan ingin mencium lantai. Sampai Raja Jayakatwang duduk di

singgasana dan mengeluarkan suara perlahan. Ketiganya mendongak. Sedikit sekali.

Sunyi di ruang pertemuan.

Hanya ada mereka berempat. Terasa betapa ruangan menjadi sangat luas dan

diisi oleh angin yang diam tak bergerak.

“Hari ini aku memanggil Paman Ugrawe dan putraku, karena kalian berdualah

yang menjalankan roda pemerintahan sehari-hari.

“Aku tak bisa menunggu sampai esok atau bahkan nanti….”

Suaranya menggantung, seperti tak menemukan lanjutan.

Ugrawe tetap menunduk, akan tetapi pikirannya bekerja keras. Raja

Jayakatwang memanggil dirinya dan Pangeran Anom Rawikara. Sedangkan Waisesa

Sagara tidak termasuk yang dipanggil. Ini berarti kehadirannya dalam pertemuan

sudah otomatis.

Dari cara berbicara, Ugrawe merasa bahwa Raja Jayakatwang seperti benar-benar

kehabisan semangat.

“…Sebentar lagi aku berada di singgasana ini selama seratus hari. Masih saja

belum hilang bayangan yang mengerikan. Mayat-mayat berjatuhan, banjir darah,

erangan orang-orang yang kuhormati secara lahir-batin.

“Kadang aku berpikir sendiri, apakah tindakan yang kulakukan bukan suatu

kekeliruan yang bakal dikutuk anak-cucuku besok? ”

Tidak, seharusnya tidak.

“Aku mendengarkan apa yang dikatakan Paman Ugrawe, Pujangga

Pamungkas, yang ahli dalam berbagai hal. Aku mendengarkan saran terbaik dari

Paman Wiraraja di tanah Madura. Aku mendengarkan saran Patih Mandarang. Aku

merasa di pihak yang benar. Meluruskan kembali sejarah raja-raja di tanah Jawa yang

menguasai dunia. Mengembalikan ke jalan yang lurus, yang direstui dewa. Bahwa

seorang raja yang menguasai jagat, menjadi panutan, menjadi contoh dalam

kehidupan. Seorang raja adalah wakil Penguasa Jagat beserta isinya, seluruhnya. Dan

seorang yang semacam ini tidak bisa kalau yang duduk adalah keturunan perampok,

seorang pencuri, yang mengambil alih secara paksa.

“Aku mendapat wangsit, mendapat petunjuk dari Penguasa Jagat untuk

meluruskan kembali keturunan raja-raja.”

“Jalan inilah yang kutempuh.

“Dan hanya jalan ini yang kutempuh.

“Makanya, kepada Paman Ugrawe aku menganjurkan agar segala pertumpahan

darah, segala balas dendam dihapuskan. Yang sudah ya sudah. Gelombang laut pun

ada saatnya untuk surut kembali.

“Pertumpahan darah dan pembunuhan, balas dendam, bukan tujuanku. Bukan

tujuan kita semua.

“Apakah aku bicara keliru?”

“Sama sekali tidak, Sinuwun. Segalanya benar adanya, seperti yang di-wangsitkan

Dewa Yang Mahatinggi,” sembah Ugrawe.

“Tepat sekali, Sinuwun,” sembah Waisesa Sagara.

Rawikara memberi hormat yang dalam.

Raja Jayakatwang mengambil napas lega.

“Hari ini aku akan memberikan pengampunan kepada semuanya. Untuk secara

resmi, pihak Keraton tidak akan mengusut, menghukum, menindak kejadian masa

lampau. Justru sebaliknya. Aku akan mengajak siapa saja yang mau bekerja, yang mau

mengabdi kepada Keraton. Inilah saat membangun kembali masa kejayaan Keraton.

“Adalah mustahil. Kalau almarhum Baginda Raja Sri Kertanegara yang justru

keturunan perampok bisa mengibarkan panji-panji kebesaran sampai ke tepi samudra

jauh, aku justru tidak bisa berbuat apa-apa. Apakah yang berdarah biru kalah dengan

darah perampok?

“Aku telah memutuskan ini.

“Bagaimana pendapat Paman Ugrawe?”

Ugrawe menghaturkan sembah.

“Keputusan Sinuwun adalah keputusan yang memberikan warna yang

cemerlang, pijakan yang kukuh, gambaran nyata dari suatu jiwa yang amat besar.

Dalam sejarah raja-raja yang hamba pelajari belum pernah ada penggambaran sikap

begitu mulia. Semua ini demi keagungan Keraton.

“Dewa Maha tunggal mendengar maksud baik hati Sinuwun.”

“Setelah basa-basi yang menyenangkan ini, apa yang akan Paman katakan?”

Ugrawe menghaturkan sembah kedua kalinya.

“Baginda lebih arif dan bijak, mana hamba berani menyembunyikan

kebodohan hamba.

“Tanpa mengurangi kebesaran jiwa Baginda, izinkanlah hamba menghaturkan

apa yang hamba rasakan. Mohon seribu maaf jika kurang berkenan.”

“Katakan, Paman.”

“Maksud luhur Baginda bisa disalahgunakan, jika melihat situasi sekarang ini.

Hamba kuatir jika sekarang ini Baginda mengatakan itu, para pembangkang dan

mereka yang menginginkan kembalinya takhta Keraton ke tangan yang lain, akan

merasa mendapat angin.

“Apakah Baginda tak ingin menunda barang satu purnama lagi?”

“Bulan depan atau sekarang apa bedanya? Makin cepat kita membangun

kembali, rasanya makin baik. Kalau tidak, kita hanya berkubang sekitar masalah balas

dendam. Seakan urusan kita hanyalah membunuh orang lain yang kebetulan berbeda

pendapat dengan kita.

“Berapa kuburan lagi yang diperlukan untuk itu?”

Suara Raja Jayakatwang bergelombang.

Tapi diakhiri dengan suara yang lembut.

“Rawikara putraku… lebih baik pada kesempatan ini kamu berdiam diri saja.

Aku memanggilmu agar kamu mendengar lebih banyak.

“Putraku, sesungguhnya nasibmulah yang membuat aku banyak merenung

mengenai apa yang seharusnya kulakukan sekarang ini.

“Kehidupan dari kematian, menjelaskan bahwa seharusnya ada kehidupan

baru dalam alam pikiran.

“Putraku, kamu tahu maksudku?”

“Sembah dalem… Rama….”

“Ketika kita menyerbu Keraton habis-habisan, ketika itulah kamu terluka

parah dan kemudian dinyatakan meninggal dunia karena terkena racun Gendhuk Tri,

siswi terakhir Mpu Raganata.

“Tubuhmu telah terbaring, membiru seluruhnya.

“Kamu sendiri tak ingat. Tak tahu. Bahwa aku menangis di sampingmu. Pada

saat itu Mpu Raganata yang telah terbaring karena luka parah, karena seluruh

tubuhnya penuh dengan luka, merangkak mendekatimu. Memeriksa nadimu,

memeriksa pernapasanmu. Dan mengatakan bahwa untuk suatu ketika, nyawamu

masih bisa diselamatkan. Tak ada yang percaya. Bahkan Paman Ugrawe yang sangat

kukagumi juga menggelengkan kepalanya. Tetapi Mpu Raganata mengatakan,

‘Kematian ialah sesuatu yang tak bisa diubah. Tapi sebelum mati, masih banyak

kejadian yang bisa ditangani oleh manusia. Dalam diri anak muda ini, bertempur

darah yang racunnya tak bisa dikuasai. Ia kalah. Tapi masih bisa diselamatkan.

Seluruh darahnya dipompa ke luar, dan darahnya diganti dengan darah yang murni,

darah yang diberikan secara suka rela.

“‘Karena hanya racunnya yang mematikan darah, belum mematikan hidupnya.

“‘Beberapa bagian tubuhnya yang dalam, sudah terluka, akan tetapi bisa

disembuhkan dengan pengobatan biasa.’

“Dan Mpu Raganata menyalurkan darah ke dalam tubuhmu, putraku. Setelah

menguras habis semua darah beracun dari tubuhmu.

“Betapa mulia seorang Mpu Raganata.

“Pujangga Ugrawe menyatakan bahwa hal itu dilakukan karena Mpu Raganata

ingin menebus dosa. Racun itu berasal dari tangan siswinya, muridnya. Secara moral,

Mpu Raganata berkewajiban untuk menyembuhkan, mencuci nama baiknya. Karena

Mpu Raganata selama hidupnya tak pernah mempelajari ilmu racun.

“Tetapi ternyata tidak. Mpu Raganata tak tahu siapa yang dilukai, siapa yang

melukai. Beliau yang sudah sangat sepuh, yang memerlukan tenaga untuk hidupnya

sendiri, lebih suka menolong orang lain.

“Ketika aku bertanya sambil berlutut di depannya, Mpu Raganata

tersenyum, ‘Kalau kamu bisa berbuat baik bagi orang lain, apakah harus

kautanyakan sesuatu? Kalau kamu bisa berbuat baik, lakukanlah. Itu wajar.'”

Raja Jayakatwang menutup matanya. Menahan guncangan yang

menggemuruh dalam dada.

“Kenapa aku selalu mengulang cerita semacam ini?

“Karena aku bersyukur bahwa putraku lolos dari kematian. Namun lebih luhur

dari semua itu, tindakan nyata Mpu Raganata. Kalimatnya begitu indah, begitu luhur,

begitu suci: Kalau kamu bisa berbuat baik pada orang lain, lakukanlah. Itu wajar.

“Adakah kata keramat yang lebih hebat dari ini?

“Aku bukan seorang resi. Aku bukan orang bijak. Aku tak tahu, apakah

memberi ampunan ini suatu perbuatan baik atau sesuatu yang wajar, tetapi aku ingin

melakukan. Paman Waisesa Sagara, bagaimana?”

Waisesa Sagara menyembah.

“Hari ini hari terbaik dalam tiga bulan mendatang.”

Raja Jayakatwang mengangguk.

“Hari ini akan kukatakan.

“Paman Ugrawe bisa mulai melaksanakan. Semua tahanan, tanpa kecuali,

dibebaskan. Semua kecurigaan dihilangkan.

“Kita akan mulai membangun kejayaan Keraton yang sesungguhnya!”

Ugrawe, Rawikara, menunduk, menghaturkan sembah.

“Perintah Raja kami junjung tinggi.”

“Baik. Mudah-mudahan ini mencuci tangan kita yang terlalu berdarah.”

Lama setelah Raja Jayakatwang meninggalkan tempat pertemuan, Ugrawe

masih tetap berdiam diri. Demikian juga Rawikara.

Waisesa Sagara sudah pergi meninggalkan, mengikuti Raja.

“Aku telah mendengar laporan dari Patih Mandarang malam tadi,” suara

Ugrawe terpatah-patah. “Bahwa ada utusan dari tanah Madura diterima menghadap

langsung. Patih Wiraraja mengajukan usul-usul mengenai kebijaksanaan yang baru.

“Pangeran Anom telah mendengar sendiri bahwa Raja berkenan menuruti

nasihat Wiraraja.”

“Bapa Guru, tak ada alasan lain, kita melaksanakan titah Raja.”

“Ya, biarlah aku sendiri yang membebaskan para tahanan di Perguruan Awan!”

Rawikara termenung.

“Saya merasa bersalah. Andai Mpu Raganata tidak menolong saya, barangkali

akan lain.”

“Jangan kecil hati, Pangeran Anom. Ini semua bukan kesalahan Pangeran. Ini

karena jiwa besar Raja, sesembahan kita. Menangkap peristiwa itu sebagai karunia

dewa. Raja kita sangat menyayangimu, Pangeran. Baik-baiklah memberi laporan

kepada Sinuwun, aku akan segera berangkat ke Perguruan Awan.”

Rawikara menghaturkan sembah.

“Ada apa lagi, Pangeran?”

“Tidak ada apa-apa, Bapa Guru….”

“Wajah Pangeran masih menyembunyikan sesuatu.”

Rawikara mengatakan bahwa ia melihat Galih Kaliki ternyata bisa

menunjukkan salah satu gerakan yang intinya sama dengan Sindhung Aliwawar. Jurus

utama puting beliung dengan pembagian tenaga menolak dan mengisap itu ternyata

bisa dimainkan.

“Galih Kaliki? Aku tak pernah mendengar nama itu. Dan aku tak yakin ada

yang bisa mempelajari. Aku akan berangkat sekarang juga.”

“Bapa Guru benar-benar akan membebaskan semua tawanan ?”

“Ya. Aku akan membebaskan, sesuai dawuh, sesuai perintah Raja. Yang tidak

kujanjikan, yang tidak ada dalam perintah Raja, ialah aku membebaskan semua dalam

keadaan sebagaimana adanya. Aku akan menjajal ilmuku untuk menghabiskan semua

ilmu silat mereka. Jika pukulan Banjir Bandang Segara Asat berhasil, Kiai Sangga

Langit akan menggigit jari. Pangeran Anom boleh mengikuti jika ingin menjajal juga.”

Ini adalah kesempatan terbaik.

Selama ini sangat susah melatih pukulan Banjir Bandang Segara Asat, Banjir

Bah Laut Kering. Ini merupakan jurus yang amat sulit untuk dilatih. Terutama sekali

bukan karena sulit mempraktekkan gerak, akan tetapi sulit memilih siapa yang

menjadi sasaran.

Banjir Bandang Segara Asat mengisyaratkan adanya banjir besar yang menjadi

bah, akan tetapi di saat yang sama laut menjadi kering. Jenis pukulan yang khas dari

rangkaian Sindhung Aliwawar, yang serba bertentangan. Rangkaian yang

bertentangan antara tenaga menolak dan mengisap.

Yang khas dari jurus Banjir Bandang Segara Asat ialah jurus ini merupakan

jurus yang paling keras dari sifat menolak dan mengisap. Dalam jurus ini, pesilat akan

mengirimkan pukulan ke arah lawan dengan tenaga penuh, dan sekaligus mengisap

habis! Sehingga lawan yang terkena pukulan ini kehilangan kekuatan tenaga

dalamnya. Seumpama laut, ia dikeringkan, dan tenaganya diisap menjadi banjir di

daratan!

Pukulan Banjir Bandang Segara Asat tak menjadi masalah besar jika bisa dilatih

sekenanya. Akan tetapi, pukulan ini tak bisa dipakai sembarangan. Kalau menghadapi

lawan yang lebih kecil tenaga dalamnya, atau lebih lemah, bisa-bisa malah

membahayakan diri. Soalnya tenaga gempuran begitu besar, sehingga hampir

sepenuhnya tenaga dalam dikerahkan. Kalau yang ditarik hanya kecil sekali, tenaga

sendiri bisa membalik dan melukai.

Akibatnya bisa fatal.

Ibarat kata bunuh diri.

Itulah sebabnya, untuk melatih pukulan ini diperlukan lawan yang kira-kira

setanding. Makin setakar kekuatan tenaganya, makin menguntungkan. Karena dalam

sesaat tenaga dalam yang dimiliki bisa berlipat.

Selama ini Ugrawe dan Rawikara telah mempelajari secara teori. Dan

memainkan tanpa tenaga dalam. Namun selalu masih ada dorongan untuk

mengujinya. Dalam pertempuran yang sesungguhnya, Ugrawe sendiri belum pernah

mempraktekkan. Karena masih merasa gamang.

Para tawanan di Perguruan Awan bisa dijadikan latihan yang menarik.

Yang memenuhi syarat.

Mereka adalah ksatria-ksatria yang mempunyai nama besar. Yang terlatih

dengan baik. Setidaknya ada nama-nama besar seperti Jaghana, si gundul yang

mewarisi ilmu Perguruan Awan sendiri. Tenaga dalamnya boleh diandalkan.

Kemampuannya sudah diakui. Juga masih ada Dewa Laut yang kurang-lebih memiliki

jenis pukulan yang sama. Masih ada tiga Pengelana Gunung Semeru, tiga bersaudara

yang bila digabung ilmunya cukup tinggi.

Menghadapi lawan seperti ini sangat membangkitkan gairah pertempuran.

Karena ketika bertanding, dipaksa mengeluarkan semua simpanan yang ada. Tanpa

disadari kedua pihak mengeluarkan ilmu yang sesungguhnya. Dan justru itulah yang

diharapkan dari latihan semacam ini!

Mengisap laut sampai kering dan membuat banjir daratan!

Rawikara terkesima. Ia merasa dirinya cerdik, akan tetapi ternyata dalam

masalah mempelajari ilmu silat serta menemukan cara berlatih, gurunya masih luar

biasa. Dan ini semua dilakukan tanpa perlu harus melawan perintah Raja!

“Benar kata Waisesa Sagara… Hari ini hari terbaik. Kita tak harus menunda

waktu. Pangeran Anom, hamba menunggu pertimbangan Pangeran.”

“Sebaiknya saya menyertai Bapa Guru….”

“Atau soal Galih Kaliki masih menjadi ganjalan?”

“Untuk sementara tidak. Biarlah Keraton sepi barang sehari-dua hari.”

Dengan diam-diam Ugrawe menyiapkan pasukannya. Maka iringan pun

berjalan dengan diam-diam. Inilah perjalanan yang aneh. Menuju ke Perguruan Awan

kembali. Pusat perguruan silat, sumber yang membuat barometer ilmu yang ada

sekarang ini. Sejak Eyang Sepuh mendirikan perguruan, hingga namanya menyebar

ke seluruh penjuru mata angin, Perguruan Awan menjadi sumber munculnya ksatriaksatria

baru, pendekar-pendekar yang mencapai tingkat yang patut diperhitungkan.

Justru karena di perguruan itu tidak semua menyelesaikan hingga tamat serta menjadi

penghuni di situ seumur hidup. Justru mereka yang putus di tengah jalan, karena

tidak sesuai lagi, menjadi warna yang dominan dalam kehidupan masyarakat dunia

silat.

Perjalanan yang aneh. Kalau dulu Ugrawe dan rombongan datang untuk

sekadar menghancurkan. Kini bukan hanya itu, akan tetapi untuk memindahkan

tenaga dalam mereka. Kalau ini berhasil, Ugrawe benar-benar tiada tandingannya.

Bahkan Eyang Sepuh pun takkan mampu mengimbangi. Barangkali hanya tokoh

legendaris seperti Tamu dari Seberang yang bisa menandingi. Akan tetapi tokoh

misterius itu saat ini belum pernah muncul. Belum ada yang mengaku pernah

bertemu dengannya!

Kiai Sangga Langit masih memeriksa nadi Mo Ing, ketika mendengar suara

yang melangkah tergesa.

Tangan Mo Ing tetap dipegang ketika berbicara ke arah Nyai Demang.

“Nyai mendengar suara langkah tergesa?”

“Tidak… ya… tidak… tidak begitu jelas.”

“Aku merasa ada sesuatu yang sangat penting dan mendadak. Sepertinya

Ugrawe sendiri yang pergi.

“Kurasa ada sesuatu yang akan dilakukan. Kalaupun ada hubungannya dengan

perintah Raja, ini tetap sesuatu yang rahasia.

“Nyai, aku minta pertolongan. Mo Ing harap dijaga baik-baik. Untuk

sementara Galih Kaliki tak akan banyak mengganggumu. Aku akan mengikuti

Ugrawe pergi. Usahakan seolah aku masih di sini.”

Sebelum kalimat terakhir lenyap, tubuh Kiai Sangga Langit yang tinggi besar

telah meninggalkan tempat. Dalam tarikan satu napas saja, tubuh yang tinggi besar

dan kelihatan berat bisa pindah tanpa menimbulkan kesiuran angin keras.

Kiai Sangga Langit menunjukkan kelebihannya ketika mengikuti secara diamdiam.

Perjalanan dari Keraton menuju Perguruan Awan bukan perjalanan yang

gampang. Melalui jalan sepi, yang sedikit bunyi-bunyian saja terdengar. Tetapi ilmu

mengentengkan tubuh dan membaca jejak Kiai Sangga Langit sangat tinggi. Sehingga

dengan mudah bisa mengikuti tanpa diketahui.

Perguruan Awan sendiri masih seperti pertama kali diciptakan. Sebuah hutan

yang lebat, lapangan di sana-sini, semak yang tinggi, rendah, gua-gua yang

tersembunyi. Dari bentuk luarnya tak ada bedanya. Hanya saja, sebagian terbesar guagua

itu dijadikan tempat penahanan para ksatria.

Sejak penyerbuan habis-habisan, para ksatria yang terkena racun sebagian besar bisa

ditawan. Sementara dipindahkan ke berbagai tempat, sebelum akhirnya diangkut ke

Perguruan Awan. Dimasukkan ke dalam gua di bawah tanah. Dikumpulkan menjadi

satu.

Dan setengah dibiarkan mati atau hidup.

Ujung terowongan dijaga sangat kuat, sementara batu-batu bongkahan

ditumpuk bersama dengan ujung tombak dan anak panah beracun yang selalu dalam

keadaan siap ditembakkan.

Berada di dalam gua, dalam keadaan nyaris tanpa sinar matahari, para ksatria

mencoba bertahan. Yang paling menderita adalah Dewa Maut. Bukan karena luka

dalam tubuhnya masih menggerogoti. Hal ini bisa dengan mudah diatasi karena

cukup waktu untuk melatih tenaga dalam. Tapi jelas sekali manusia yang biasa hidup

di atas air sepanjang sisa usianya, sejak mengasingkan diri, paling menderita. Karena

Dewa Maut juga tak bisa melatih ilmu racunnya yang ganas. Di mana bisa mencari

ikan yang beracun kalau berada dalam gua bawah tanah?

Tiga Pengelana Gunung Semeru, yang terdiri atas tiga bersaudara Pembarep,

Panengah maupun Wuragil, meskipun biasa berdiam di atas gunung, masih bisa

berlatih. Bahkan dalam bulan-bulan terakhir Barisan Trisula yang menjadi andalan

mengalami kemajuan yang berarti. Seperti sudah diketahui unsur Barisan Trisula

adalah menyatukan pikiran dari tiga orang. Dengan selalu berada dalam tempat yang

sama.

Satu-satunya yang bertahan dalam keadaan yang sama ialah Jaghana. Bukan

hanya karena tubuhnya tetap gemuk, atau kepalanya tetap pelontos. Sikapnya yang

rendah hati, memberikan kekuatan batin dan menular kepada rekan-rekannya.

Jaghana tetap menolak memakan binatang tanah. Ia mencari akar-akar tumbuhan

yang sedang tumbuh. Mempertahankan hidup seperti itu.

Jaghana pula yang mulai usaha mencari makanan sendiri, ketika kiriman dari

atas kadang datang kadang tidak. Jaghana membuka terowongan baru. Sering kali

gagal karena kemudian tanahnya ambruk.

“Gua bawah tanah ini disebut Lawang Sewu, Pintu Seribu. Sudah

direncanakan sedemikian rupa sehingga tanah yang lembek tidak dibuatkan

terowongan. Sehingga kalau kita mencoba menerobos mencari jalan keluar selalu

akan sia-sia. Kalau melalui jalan biasa, di depan sudah ditunggu kawanan musuh.

“Tetapi kita tak berhenti dengan berdiam diri. Inilah yang saya harus lakukan.

Maafkan kebodohan ini, akan tetapi biarkanlah saya selalu mencoba.”

Jaghana pula yang merawat Wilanda.

“Kakang, saya telah berkhianat pada Perguruan Awan dengan meninggalkan

kebahagiaan dan ketenteraman untuk mengabdi kepada nafsu. Saya sungguh tak

pantas diperhatikan dengan cara seperti ini.”

“Eyang Sepuh tak pernah membedakan anggota atau bukan anggota.

Perguruan Awan yang dibangun Eyang Sepuh untuk menolong sesama, karena kita

semua saudara dan anggota.

“Dalam keadaan sakit dan terluka, Adimas telah banyak menolong orang lain.

Itulah tanda bahwa keinginan Eyang Sepuh masih tersimpan dalam diri Adimas.

Jangan terlalu sungkan.”

Begitulah, Jaghana melatih tenaga dalam Wilanda secara perlahan.

Merawatnya seperti merawat bayi yang baru lahir. Kekerasan hati dan tekad Jaghana

dalam mengobati Wilanda dan Dewa Maut, membuat Pembarep tergugah hatinya.

Kalau tadinya mereka berhadapan sebagai musuh, dalam nasib yang sama, nyawa dan

kesehatan masing-masing menjadi urusan bersama. Silih berganti Pembarep, Jaghana,

Panengah, mengobati Wilanda dan Dewa Maut berganti-ganti.

Begitulah waktu terus berjalan.

Tak bisa dihitung berapa lama waktu sudah berlalu. Mereka tak pernah

melihat sinar matahari dan bulan purnama. Tak tahu ada hujan atau banjir, atau

musim kering yang panjang.

Sampai suatu ketika, entah pagi entah malam, sesosok bayangan masuk sambil

menggendong karung.

“Makan yang banyak. Di situ ada daging, ada sayur yang segar. Ada jagung, ada

tembakau. Ada bacaan yang bagus.”

Pembarep lebih dulu maju ke depan, memberi hormat.

“Terima kasih. Akan tetapi sebelum kami bisa menerima kenikmatan ini,

berilah kami kesempatan untuk mengenal Paduka yang baik hati.”

“O, Pembarep,” terdengar suara yang nyaring tinggi. “Aku sudah tahu cacing

dalam perutmu memberontak keras sekali. Mana ada makanan seperti yang kubawa

ini? Tetapi kamu masih basa-basi. Takut kuberi racun? Hehe, itu masih lebih baik.

Bukankah lebih enak merasakan sesuatu yang nikmat sebelum mati, daripada tak

pernah merasakan sekali juga?”

“Siapa kamu yang berani omong besar?” Dewa Maut berdiri gagah. “Ugrawe

sendiri tak berani turun kemari. Menyuruh anak ingusan seperti ini.”

Bayangan yang ada di depan mereka menggerakkan kepalanya.

“Dewa Maut, adatmu masih seperti anak kecil saja. Pantas saja Padmamuka

suka padamu. Kamu memang masih tetap kekanak-kanakan.”

Disinggung mengenai hubungannya dengan Padmamuka, Dewa Maut

langsung bereaksi cepat. Tubuhnya meluncur dengan kedua tangan terjulur ke depan.

Gua ini terlalu sempit untuk menghindar. Tapi bayangan yang menutupi wajahnya

dengan daun pisang itu tidak berkelit. Malah mengangkat kedua tangan untuk

memapak, sambil meniup dengan keras.

Aneh, mendadak Dewa Maut berhenti. Hidungnya kembang-kempis.

Lebih aneh lagi, lalu menunduk dan menyembah.

“Tole… arwahmu datang, kangen padaku?”

Tole adalah sebutan Dewa Maut untuk Padmamuka, si cebol yang wajahnya

seperti bayi. Teman berlatih seumur-umur dengan Dewa Maut, yang malah dikatakan

hubungan mereka berdua bukan sekadar hubungan teman lagi. Tak ada yang

membuktikan sendiri, akan tetapi kecurigaan semacam itu cukup beralasan, kalau

mengingat dalam jarak waktu yang panjang keduanya hidup bersama di atas perahu.

“Tole apa?”

“Kamu Tole, kan?”

“Enak saja kamu ngomong. Tole-mu itu pendek, cebol, biarpun manis. Lihat,

aku cukup tinggi.”

“Sangat tidak mungkin kamu bukan Tole. Bau tubuhmu, bau mulutmu sama

persis.”

“Padmamuka itu muridku. Tahu tidak? Maka kamu harus menghaturkan

sembah padaku.”

Mata Dewa Maut membelalak. Rambutnya yang putih seluruhnya, beriapan,

nampak menambah kesan lucu. Kocak sekali. Mulutnya melongo tak mengerti.

Kalau tahu persis mengenai Padmamuka, tak menjadi masalah. Akan tetapi

bau tubuh bisa sama, itu baru luar biasa. Mungkinkah gurunya? Bisa jadi. Tapi sama

sekali tak masuk akal. Karena guru Padmamuka adalah dirinya sendiri. Dewa Mautlah

yang mendidik sejak ditemukan.

“Kalau kamu gurunya, siapa aku?”

“Kamu juga muridku. Masa lupa. Hayo menyembah. Kalau tidak, aku tidak

akan memberimu ikan sungai.”

Dewa Maut serbasalah. Ia sebenarnya tokoh yang mempunyai gelar tinggi.

Kedudukannya dalam dunia persilatan termasuk kelas atas. Puluhan tahun merajalela

di Bengawan Solo hingga Brantas, tak ada yang mengusik. Tak ada yang berani. Gelar

Dewa Maut menunjukkan bahwa ia tak pernah membiarkan lawan yang bertempur

dengannya pergi dalam keadaan hidup.

Adalah di luar dugaan bahwa sekarang ini bisa dipecundangi dengan cara yang

menggelikan.

Bahkan ketika bayangan itu mengikik geli, Dewa Maut belum sadar

sepenuhnya bahwa dirinyalah yang ditertawakan.

Sebenarnya keadaan Dewa Maut sendiri sedang guncang. Kesadarannya sudah

berubah banyak. Perpisahannya dengan Padmamuka sangat menghancurkan

kekerasannya. Tak terlalu sulit dibayangkan. Padmamuka selalu bersamanya, lalu

tiba-tiba meninggal di depan matanya. Tanpa bisa menolong. Justru karena ingin

menyelamatkannya. Betapa menyesal, karena saat itu Dewa Maut sedang luka parah.

Dalam keadaan kurang seimbang kewarasannya harus terbenam di dalam gua

bawah tanah selama beberapa bulan.

Segala impian, gagasan, dan pikirannya selalu ke Padmamuka. Kini tak

disangka tak dinyana, ada bayangan yang mengaku guru Padmamuka. Keruan saja ia

jadi blingsatan.

Dalam bingungnya Dewa Maut benar-benar menunduk, dan menghaturkan

sembah.

“Bagus, kumaafkan segala kesalahanmu.

“Nah, sekarang aku tak bisa lama-lama di sini. Aku sengaja masuk kemari

untuk mengirimkan makanan, dan mungkin sedikit bacaan. Sekaligus

memberitahukan bahwa ada kejadian penting. Dalam satu-dua hari ini Raja

Jayakatwang akan membebaskan kalian semua.

“Tidak menjadi penting, karena hal ini ada embel-embelnya. Ugrawe yang

busuk itu akan datang kemari. Itu berarti ia tak sekadar membebaskan kalian. Pasti

ada apa-apanya.

“Sudah itu saja. Saya mau kembali lagi.”

Bayangan itu berbalik.

Jaghana menghela napas.

“Terima kasih, Gendhuk Tri… atas pemberian ini semua.”

Bayangan itu berhenti bergerak, dan membalik.

“Paman Jaghana kenal aku?”

Pembarep memandang lebih jelas. Tak salah lagi, itulah Gendhuk Tri. Jelas

sekali sekarang ini. Meskipun pakaiannya awut-awutan dan rambutnya beberapa

dibiarkan tergerai.

“Anak yang manis, anak yang baik budi, yang bersedia memberikan nyawanya

untuk memberitahukan bahaya kepada orang lain, apakah bisa dilupakan?”

Dasar Gendhuk Tri, ia bukannya senang ketika dipuji secara tulus oleh tokoh

seperti Jaghana, malah berteriak,

“Siapa sudi mengorbankan nyawa untuk kalian?”

Jaghana menghela napas.

“Dewa Agung yang mengatur jagat seisinya memberimu anugerah hebat.

Gendhuk Tri, hanya kamu dan Upasara yang bisa lolos dari Lawang Sewu. Tetapi

ketika kamu lolos dulu, bukankah seluruh isi gua menutup, karena tanahnya longsor?

“Kini kamu bisa masuk kembali. Bukankah itu pun berarti tanah yang kamu

lewati longsor dan menutup jalan keluar? Bukankah itu berarti kamu mengorbankan

nyawamu sendiri untuk kami?

“Dewa Yang Mahaagung, begitu besar dan mulia jiwamu, Gendhuk….”

Pembarep, Panengah, dan “Wuragil hampir bersamaan menghela napas

kagum.

Wuragil dan Panengah boleh dikatakan pernah dilecekin oleh Gendhuk Tri.

Pembarep juga kena sedikit. Memang, hampir semua tokoh di dunia persilatan yang

bertemu dengan Gendhuk Tri pernah dipecundangi.

Sedikit-banyak mereka merasa keki. Kesal. Apalagi sikap Gendhuk Tri, anak

gadis yang bau kencur ini, sleboran semacam itu. Ugal-ugalan seenaknya sendiri

dalam mengolok-olok orang yang jauh lebih tua.

Akan tetapi mendengar penuturan Jaghana, semua yang mendengar sangat

terharu. Tak pernah terpikirkan bahwa seorang anak kecil seperti Gendhuk Tri rela

masuk ke dalam gua Lawang Sewu dengan kemungkinan tak bisa keluar lagi, hanya

untuk memberitahukan kemungkinan bahaya!

Pembarep menekuk lututnya, diiringi Panengah dan Wuragil. Wilanda juga

menekuk lututnya memberikan hormat.

“Hei, jangan tolol. Kalian sudah tua bangka begini melakukan apa?” Gendhuk

Tri membuang penutup wajahnya dengan kesal. “Kalian kira kalau menghormat

seperti itu, aku mau ganti menghormat. Jangan berharap tinggi. Ayo kalian makan

semua makanan itu.”

“Terimalah rasa hormatku,” kata Wilanda perlahan.

“Aku tak punya waktu. Aku mau pergi.”

Jaghana menghela napas.

“Pergi ke mana, anak manis…?”

“Siapa bilang aku anak manis. Kamu yang gundul itu juga tak akan manis

biarpun seluruhnya diberi manisan.”

Gendhuk Tri masih saja berteriak-teriak dengan gusar.

“Marilah duduk di sini, seadanya… kita makan bersama… sambil berbicara.”

Pembarep mengangsurkan tangan untuk membimbing.

“Adik manis…”

“Jangan panggil dengan cara itu. Aku punya nama sendiri.”

“Gendhuk Tri…”

“Dari dulu aku nggak suka dipanggil itu. Hanya Kakang Upasara yang boleh

memanggil itu. Kalian hanya boleh menyebut Jagattri. Dari dulu sudah kuumumkan

begitu. Dasar kalian bandel semua. Pantas saja Ugrawe yang sudah rongsokan bisa

menjebak kalian.

“Begini masih mau bilang sebagai ksatria atau pendekar. Kucing pun tak mau

menyebut kalian ini ksatria, meskipun dibayar dengan daging burung perkutut.”

“Jagattri… apa sebenarnya maksud Ugrawe datang kemari?”

“Apa lagi kalau bukan mau menyiksamu? Menyiksa kalian semua?”

Dewa Maut menatap Gendhuk Tri, menggelengkan kepalanya sendiri.

Termenung lagi.

“Kamu bukan tole-ku?”

“Tole-mu sudah berada dalam tubuhku. Kalau kamu masih mencintainya,

sekarang boleh mencintaiku.”

Ngawur saja omongan Gendhuk Tri. Tanpa memedulikan perasaan Dewa Maut

yang memang sedang terombang-ambing. Gendhuk Tri secara sengaja

mempermainkan hubungan antara Dewa Maut dan Padmamuka. Dalam banyak hal

memang sangat beralasan sekali kalau Gendhuk Tri mengaku Padmamuka masuk ke

dalam tubuhnya. Secara tidak langsung memang begitulah adanya. Racun lama yang

tersimpan dalam tubuh Padmamuka telah mengental semua sari patinya, dan terisap

secara tak sengaja oleh Gendhuk Tri. Tidak pula berlebihan kalau dikatakan bahwa

bau tubuh dan napas Gendhuk Tri terasa seperti bau Padmamuka.

Dan Dewa Maut mendadak berjingkrakan gembira sekali. Menari-nari,

menggerakkan kedua tangannya.

“Jagat raya, Dewa Yang Maha-Apa-Saja, ternyata kauhidupkan kembali toleku.

Aku tak bersyukur, tak berterima kasih, karena memang itu sudah menjadi

pekerjaanmu.

“Kalau bukan Kamu, siapa yang bisa?”

Saking gembiranya, Dewa Maut menubruk Pembarep, merangkul dan

menciumi, juga Panengah dan Wuragil, serta Wilanda. Sampai giliran Jaghana, Dewa

Maut berhenti.

“Kamu lain kali saja.”

Pembarep menjadi sangat prihatin melihat perubahan sikap Dewa Maut.

Wilanda berdehem kecil.

“Gendhuk Tri… kamu mengatakan mengenai Upasara Wulung. Apakah

momonganku itu baik-baik saja?”

Wajah Gendhuk Tri berubah kusut.

“Ia tetap selamat dari penyerbuan di Perguruan Awan ini?”

Dari nada suaranya, kentara sekali bahwa Wilanda sangat memperhatikan

Upasara Wulung.

“Kakang Upasara mau selamat atau tidak, kenapa ditanyakan padaku? Biar saja,

itu urusannya sendiri. Mau selamat atau mau sekarat, itu urusannya. Kakang Upasara

itu hatinya jahat. Sangat jahat.”

Wilanda tersenyum bahagia. Ini berarti Upasara dalam keadaan selamat. Lolos

dari penyerbuan massal. Sesuatu yang sangat menguatirkan hatinya, karena sejak

berpisah, Wilanda tak mengetahui kabar beritanya, dan tak bersama-sama dalam

tahanan.

“Kakang Upasara sangat jahat. Waktu sama-sama terkubur di dalam gua, ia

melarikan diri sendirian. Meninggalkan aku. Untung aku bisa keluar. Mengajak

bersama menyerbu Keraton untuk membebaskan Baginda Raja dan Rama Guru. Kami

lari bersama, berkelana bersama, lalu tiba-tiba saja Kakang pergi!”

“Pergi?”

“Katanya mau kawin. Jahat banget!”

Gendhuk Tri menggedrukkan kakinya dengan sebal. Dewa Maut membelalak.

Teriakannya nyaring, “Tole Gendhuk Tri, siapa berani kurang ajar padamu? Aku akan

menghajarnya hingga habis, akan kukuliti tubuhnya hingga tinggal tulangtulangnya.”

Gendhuk Tri ganti membelalak.

“Siapa suruh kamu yang tua bangka itu menguliti? Sebelum kamu menyenggol

tubuhnya, aku sudah akan menguliti bulu-bulu tubuhmu.”

Memang aneh. Dalam gua bawah tanah yang tak mempunyai kemungkinan

keluar, masing-masing masih ribut dengan persoalan sendiri. Dewa Maut menjadi

dewa linglung dan Gendhuk Tri ternyata bukan sekadar mempermainkan, akan tetapi

juga dipermainkan sendiri oleh perasaannya. Wilanda hanya terdiam karena belum

sepenuhnya sembuh. Jalan pikirannya berjalan cepat: bahwa ada suatu peristiwa yang

menyebabkan Upasara Wulung dan Gendhuk Tri berpisah. Kalau ditilik dari gusarnya

Gendhuk Tri, ini ada hubungannya dengan soal asmara. Malah ada nada cemburu dari

suaranya. Agak sulit masuk akal, akan tetapi itu bukannya tidak mungkin.

Tiga Pengelana Gunung Semeru hanya memandang semua yang terjadi dengan

perhitungan sendiri. Sementara yang tetap paling tenang adalah Jaghana. Duduk

bersila bagai sesosok patung Budha.

“Gendhuk Tri… lebih baik kamu sedikit bersembunyi. Ugrawe sebentar lagi

akan datang kemari. Ia paling murka denganmu.”

“Justru sekarang ini aku ingin menghadapi, kenapa harus sembunyi?”

“Betul, Tole, jangan sembunyi. Aku yang tua ini masih bisa membereskan siapa

pun yang mengganggumu.”

Pembarep maju sedikit.

“Apa yang dikatakan Kangmas Jaghana ada benarnya. Ugrawe bukan hanya

tinggi ilmu silatnya, akan tetapi sangat licik. Kita harus mengatur siasat. Kalau

Ugrawe tidak pernah menduga Gendhuk Tri ada di sini, ia bisa tetap sembunyi. Dan,

setidaknya, kita bisa melawan bersama-sama. Gendhuk Tri masih bisa meloloskan

diri.”

“Aku datang kemari dengan tekad mantap. Lebih baik aku mati daripada

melihat Kakang Upasara kawin. Kenapa kalian menghalangi?

“Ugrawe, pujangga busuk, ayo masuk kemari. Ini aku sudah siap untuk

mencopot telingamu yang sebelah.”

Teriakan Gendhuk Tri keras sekali hingga gua menggelegar. Menggemakan

suaranya dengan keras. Terdengar jawaban tertawa pendek dan dingin. Disusul

dengan masuknya sinar matahari. Lubang yang ditutup batu dan senjata telah

disingkirkan. Ugrawe sendiri melangkah masuk diiringi oleh Rawikara dan beberapa

prajurit pilihan. Tegap dan lebar langkahnya. Berhenti pada jarak dua tombak,

Ugrawe mengelus misainya.

“Pangeran Anom, itulah gadis nakal yang telah hampir membunuh Pangeran

Anom.”

Pandangan Rawikara bentrok dengan Gendhuk Tri.

Keduanya seperti kaget. Rawikara sama sekali tak menyangka akan bertemu

begitu cepat dengan Gendhuk Tri, yang telah meracuni hingga hampir mati. Gendhuk

Tri mengerutkan kening tak menduga bahwa Rawikara ternyata masih segar bugar.

“Hari ini Raja Jayakatwang berkenan mengampuni kalian semua di sini,

kecuali satu orang itu. Gendhuk Tri. Ia tak dapat pengampunan karena tak bersalah.

Hanya masih ada urusan dengan kami berdua.

“Silakan keluar dari gua, dan berterimakasihlah kepada raja kita yang welas

asih.”

Ugrawe memberikan jalan. Rawikara juga minggir. Para prajurit yang berjaga

menyingkir. Sehingga terbuka jalan yang luas, lebar. Menuju ke kebebasan. Tapi

justru tak ada seorang pun yang bergerak.

“Jadi kalian menolak anugerah Raja? Bersiap-siap sajalah.”

Tiga Pengelana Gunung Semeru mengambil sikap bersiap.

“Kami telah bersama-sama di dalam gua, dalam gelap dan dingin. Kalau

diberikan kesempatan menghirup udara bebas, biarlah semua keluar. Atau semuanya

tidak keluar.”

“Bagus, aku suka ketotolan semacam ini. Kalian pikir itu sikap patriot sejati.

Mendasari jiwa setia kawan. Itulah ajaran terburuk dari ksatria yang tersesat. Dalam

hidup ini, majulah kalau bisa maju. Jangan menunggu yang lain. Karena kalian sudah

memutuskan untuk menolak perintah Raja, aku tak perlu sungkan lagi.”

Ugrawe mengibaskan tangannya.

Tangan kanan terangkat ke udara, tangan kiri berputar di bagian dada.

“Biarlah aku Jaghana yang menerima kehormatan pertama,” Jaghana

menggelinding maju. Benar-benar seperti menggelinding karena bentuk tubuhnya

yang bulat.

Jaghana menunjukkan sikap seorang ksatria sejati dalam tindakan. Tanpa

banyak bicara ia langsung menghadang sendirian. Sebab, jika para ksatria main

keroyok, mana ada keberanian untuk menatap matahari lagi?

Bahwa Ugrawe diakui sebagai jago nomor satu, Jaghana juga menyadari.

Bahwa Ugrawe setingkat di atas Jaghana, bukan alasan untuk main keroyok. Soal

kalah-menang atau bahkan mati-hidup adalah urusan nomor sekian. Seorang ksatria

tak boleh melakukan perbuatan hina, yang lebih berat akibatnya dibandingkan suatu

kekalahan dalam pertandingan.

Pembarep mengangguk hormat.

“Karena kalian juga datang bersamaan dengan sama-sama mengemban titah

Raja Muda Gelang-Gelang, saya pun ingin menyambut satu per satu.”

Pembarep tetap menyebut Raja Jayakatwang sebagai Raja Muda Gelang-

Gelang. Seakan tidak mau mengakui kedudukannya yang paling terhormat saat ini.

Itu cukup untuk membuat Rawikara menggebrak maju. Dengan posisi awal yang

sama, Rawikara menggerakkan kedua tangan bersamaan. Satu tangan bergerak di

tengah udara dan memukul, satu tangan di dada untuk menarik tubuh lawan.

Pembarep menerobos maju, dengan tangan kosong. Tanpa memedulikan

kesiuran angin, ia menjotos ke arah dagu lawan. Pembarep memang dalam keadaan

yang lapar tanding. Selama dalam penahanan, ia hanya berdiam dan berlatih saja.

Belum menemui lawan untuk benar-benar mempraktekkan. Maka serangan Rawikara

langsung disambut dengan gairah besar.

Ketika dua prajurit pengawal bersiaga di samping Rawikara, Panengah

dan Wuragil punya alasan kuat buat bergabung. Dalam ruang yang sumpek, gerakangerakan

pendek lebih tepat. Ini agak mengurangi kelebihan Tiga Pengelana, yang

biasa bermain di udara terbuka. Apalagi ilmu silat mereka merupakan ciri khas ilmu

pegunungan, yang lebih mengandalkan loncatan daripada serangan kaki. Meskipun

demikian, Tiga Pengelana Gunung Semeru dengan mudah menekan Rawikara. Karena

ilmu mereka bertiga merupakan gabungan yang mutlak diperlukan. Bukan sekadar

tambahan tenaga seperti Rawikara dan prajuritnya.

“Tole, kita ikut main?”

“Tenang saja,” jawab Gendhuk Tri tak peduli. “Aku masih ingin melihat

pertempuran kampungan ini. Kalau aku turun tangan, sekali kena tanganku, mana ada

yang bisa bernapas kembali?”

“Itu bagus, Tole… itu bagus… Kita tonton saja.”

Meskipun diucapkan secara berkelakar, apa yang dikatakan Gendhuk Tri ada

benarnya. Ugrawe, dan terutama Rawikara, sangat menyadari hal ini. Mereka akan

dibuat repot menghadapi sumber racun ganas ini. Sekali saja kena cengkeram atau

berhasil dilukai, tak ada lagi kesempatan untuk melawan. Dan dalam ruang yang

begini pendek, hal itu sangat mungkin sekali terjadi. Apalagi Gendhuk Tri seperti tak

memedulikan keselamatan dirinya.

Satu-satunya jalan ialah melukai dari jarak jauh. Tapi juga tak bisa

sembarangan. Gendhuk Tri, meskipun dalam usia yang masih belasan dan nampak

ingusan, adalah murid langsung Rama Guru alias Mpu Raganata. Ditambah adatnya

yang liar, ia menjadi monster yang menakutkan.

Jaghana masih menunggu. Ia tak membuka serangan lebih dulu.

Wilanda tetap duduk dengan sinar mata menyala. Ingin terjun dan melibatkan

diri, apa daya tak mempunyai kemampuan.

“Baiklah. Hari ini kalian semua dapat pengampunan. Termasuk Gendhuk Tri.

Hanya saja di belakang hari, jangan salahkan saya kalau kita bertemu lagi.” Ugrawe

mendongak ke atas. “Hanya dalam hati masih bertanya-tanya, bagaimana Gendhuk

yang pintar ini bisa masuk kemari?”

“Tolol kamu ini,” teriak Gendhuk Tri.

“Tolol kamu ini,” kata Dewa Maut mengulangi.

“Aku masuk kemari dengan mudah, dan bisa keluar dengan mudah, karena

akulah yang membuat Lawang Sewu ini. Masakan kamu tidak tahu.”

“Benar. Tole yang membuat Lawang Sewu. Aku sendiri membuatnya… eh, aku

sendiri melihatnya.”

“Perjalananku kemari pun serba rahasia, bagaimana mungkin diketahui orang

lain?”

“Kamu lupa, Ugrawe yang bertelinga satu! Yang menyuruhku kemari adalah

orang yang merindukanku. Yang menuliskan guritan katresnan, sajak cinta, itulah

yang menyuruhku. Ia menulis guritan katresnan karena rindu padaku. Aku baru mau

menemuinya jika ia sudah menuliskan di jidatmu itu.”

Wajah Ugrawe berubah merah sepenuhnya. Tiba-tiba tubuhnya membalik,

kedua tangan mendorong ke depan. Angin puyuh, panas, menyorong ke depan,

menyesakkan napas.

Di saat yang hampir bersamaan, dorongan dari tangan kiri berubah menjadi

putaran, dan menjadi tenaga yang mengisap. Dengan menurunkan tangan kiri ke

bawah, tenaga mengisap ini menjadi daya serap yang hebat.

Kalau lawan memusatkan pikiran dan tenaga untuk mengadu tenaga di atas,

dengan demikian bagian bawah menjadi kosong. Inilah yang termakan. Rangkaian

dasar Sindhung Aliwawar ini mempunyai variasi yang banyak sekali. Dan bisa

berubah dalam seketika.

Jaghana tetap mempertahankan sikap berdiri, kedua tangan terangkap seolah

menyembah, di depan dada. Hanya dengan cepat badannya berputar, mengikuti

tenaga dorongan dan isapan sekaligus. Gendhuk Tri tertawa mengikik, ia biarkan

tubuhnya terseret maju, seolah meluncur dengan kaki lebih dulu. Kedua tangan

terulur ke depan, menjambret sekenanya. Dewa Maut juga langsung bereaksi. Ia

menggempur tenaga di atas dengan cara meluncur. Melawan dorongan yang ada.

Tanpa diisap pun ia akan maju ke depan. Karena ilmunya memang ilmu yang

dikembangkan untuk melawan arus air sungai.

Yang terlontar ke belakang adalah Wilanda. Yang bertahan secara sia-sia.

Gempuran hawa panas membuatnya susah bernapas.

Dalam satu gebrakan, semua bereaksi dan pertempuran terjadi dalam ruang

yang begitu sempit. Ugrawe mengegos tak berani menyambut sambaran Gendhuk Tri.

Meloncat mundur untuk menangkis serangan Dewa Maut dan sekaligus menepiskan

gulungan tubuh Jaghana.

Ugrawe memang tak mau berisiko sedikit pun. Ia lebih suka mengambil jalan

yang menguntungkan. Menerobos ke belakang. Sambil menarik tubuh Rawikara ke

arah luar gua.

Gendhuk Tri tertawa mengikik, dan meloncat ke atas dengan cara yang sama.

Begitu tubuhnya keluar dari bawah tanah, dua tombak beruntun menyambar ke

arahnya. Tanpa mengalami banyak kerepotan, Gendhuk Tri menangkap dua ujung

tombak yang diarahkan kepadanya dan menyentakkan keras, sekaligus membalikkan

arah tombak. Terdengar dua jeritan bersamaan. Gendhuk Tri turun dan berdiri di

pinggir mulut lubang ke bawah tanah.

“Ayo semua naik.”

Dewa Maut yang menyusul pertama kali. Sekali genjot, tubuhnya melayang

tinggi di angkasa. Rawikara meloncat menyambut tubuh Dewa Maut. Sekali ini

dengan mantap Rawikara menjajal jurus Banjir Bandang Segara Asat. Putaran tangan

dan tubuhnya bagai awan panas yang keras. Dewa Maut masih tertawa ketika

menyambut tangan Rawikara. Hanya saja kemudian terasa guncangan dalam ulu

hatinya yang menyesakkan. Lalu seperti diaduk isi perutnya. Hanya beberapa kejap,

tubuhnya lalu meluncur masuk kembali ke bawah tanah. Pada saat itu Jaghana telah

mumbul ke atas, sehingga tubuh mereka bertubrukan. Jaghana membopong tubuh

Dewa Maut dan tetap membawa ke atas.

Jaghana sudah dua kali membawa tubuh jatuh dari atas. Dan dua-duanya

membuatnya terkejut. Karena orang yang dibopong seperti tak mempunyai tenaga

lagi. Bagai sebongkah daging saja.

Pembarep muncul dari permukaan sambil menggendong Wilanda, disusul

Panengah dan Wuragil. Yang terakhir ini kembali menjadi sasaran Rawikara yang

melakukan loncatan yang sama.

“Bagus,” teriak Ugrawe gembira melihat Wuragil berusaha menangkis.

Lekatnya dua tangan, disusul jeritan, dan tubuh Wuragil jatuh kembali ke bawah.

Pembarep yang tengah melayang, melemparkan pelan tubuh Wilanda ke Panengah,

dan ia sendiri meluncur turun kembali. Begitu kakinya menotol tanah di dasar gua,

langsung mumbul kembali sambil membopong Wuragil. Yang terasakan hanyalah

badan yang tak bereaksi, menggigil dengan gigi gemeretuk.

Belum hilang kagetnya, Pembarep melihat bahwa Ugrawe sudah meneriakkan

kalimat keras sambil terbang ke arah Jaghana. Jurus yang sama, Banjir Bandang Segara

Asat yang bergemuruh. Dua telapak tangan Jaghana membuka ke depan, menyambut

pukulan Ugrawe. Tenaga Jaghana adalah tenaga lembek, tapi akan menjadi kuat jika

lawan berkeras. Sepersekian detik Ugrawe kaget juga, akan tetapi dengan mengempos

seluruh tenaga di pusat, dorongan tangan kanan menjadi golakan dahsyat, sementara

tangan kirinya mengisap luar biasa. Jaghana membelalak, untuk pertama kalinya.

Tanpa mengeluarkan jeritan, tubuhnya meluncur turun. Jatuh tak bergerak-gerak

lagi.

Ugrawe mengibaskan tangannya untuk mengendalikan pergolakan dalam

tubuhnya.

Angin panas bergolak bagai mendidih dalam tubuhnya.

Dalam waktu sekejap saja, Dewa Maut, Wuragil, dan Jaghana telah dibuat tak

berdaya.

Betul-betul ilmu yang luar biasa.

Pembarep meletakkan bopongannya. Bersiap. Kalau biasanya memakai senjata

pedang, kini menghadapi dengan tangan kosong. Gendhuk Tri baru menyadari bahwa

malapetaka itu sudah datang. Terlambat menolong!

Kini praktis tinggal dirinya, Pembarep, dan Panengah yang bertahan.

Rawikara kembali bergulung, meloncat tinggi ke angkasa, menerjang ke arah

Panengah. Gendhuk Tri tak membiarkan lawan bereaksi seenaknya, cepat meloncat

tinggi ke udara, membarengi dengan gempuran. Ia ingin menjajal pukulan yang ajaib.

Rawikara tak mengira bahwa Gendhuk Tri yang akan menyongsongnya. Kalau

tadinya takut kena racun, kini Gendhuk Tri menjawab dengan telapak membuka.

Alias beradu tenaga dalam, bukan untuk melukai bagian kulit luar.

Namun dalam detik yang bersamaan Ugrawe menolak tubuh Rawikara hingga

terlempar jauh. Ia sendiri berjumpalitan di angkasa, turun kembali dengan gagah.

“Berbahaya, Pangeran, tubuhnya penuh dengan racun.”

Keringat dingin mengalir dari tubuh Rawikara. Ia masih bertanya-tanya,

apakah benar racun dalam tubuh si bocah kecil itu demikian ganas tak terhalangi.

Panengah juga mengeluarkan keringat. Lebih dingin.

Bukan karena racun yang menakutkan. Tetapi setiap kali Rawikara atau

Ugrawe menggebrak, dengan satu pukulan saja lawan langsung kehilangan segala

tenaga. Bahkan untuk bergerak menghindari serangan berikutnya sudah tak mungkin.

Pembarep yang lebih waspada merasakan bahwa lawan menguasai ilmu iblis

yang luar biasa ganasnya.

Semuanya serba sia-sia. Setelah bertahan dalam gua bawah tanah sekian lama,

setelah Gendhuk Tri menerobos masuk untuk memberitahukan bahaya, ternyata

tetap terlambat. Ternyata Ugrawe tetap bisa melaksanakan niatnya. Melumpuhkan

semuanya.

Bagi Pembarep tidak ada pilihan lain untuk menghadapi. Ia bersiap. Berjaga

agar tidak terjadi penyedotan tenaga dalam. Ini hanya bisa dilakukan jika kedua

tangan tidak bentrok. Namun ini pun sangat sulit, untuk tidak disebutkan sebagai

tidak mungkin.

“Adik Panengah, hati-hati.”

“Siap, Kakang.”

“Gendhuk Tri, hari ini tugas kita bertiga untuk memberantas segala keganasan

dan kelaliman.”

“Mereka tak akan berani maju.”

Belum selesai kalimat Gendhuk Tri, Ugrawe menggulung tubuhnya. Berputar

dengan dahsyat dan meluncur ke arah depan. Dua tangan terentang arah kiri dan

kanan. Pembarep meloncat sangat tinggi, dengan kaki menendang ke arah tengkuk

lawan. Panengah tak mau kalah cepat. Dengan sigap ia meloncat sambil merampas

senjata para prajurit sekenanya untuk menusuk pinggang Ugrawe.

Ugrawe meraup tombak yang tertuju ke arah pinggangnya, dan dengan

memakai kekuatan pelanting tubuhnya melayang ke atas. Sama tinggi, dan

menggempur Pembarep. Di atas angin, Pembarep menekuk tangannya. Siku kanan

dan kiri menghantam ke arah dada Ugrawe. Terdengar teriakan aduh yang keras.

Bukan Ugrawe yang mengaduh, akan tetapi Pembarep yang terjengkang. Siku

tangannya seperti membentur karang baja yang melentingkan tenaga panas yang

menerobos masuk ke dalam saraf tangannya.- Di lain pihak, Panengah pun terbetot

tenaganya sehingga seperti terbanting. Baru ketika kedua kakinya menjejak dan

memasang kuda-kuda lagi, ia bisa berdiri tegak.

Ugrawe meloncat maju. Kedua tangan berputar di atas kepala. Satu bergerak ke

depan dengan berputar, satu lagi menarik ke belakang dengan berputar. Gendhuk Tri

berteriak nyaring sambil maju bergulung. Kedua tangannya terjulur dengan jari-jari

yang berkembang. Siap mencakar apa saja. Sedikit saja lawan bisa dilukai, racun dari

sekujur tangannya akan merembes tak terbendung ke arah lawan. Masuk terseret

darah yang mengalir.

Ugrawe tentu tak membiarkan kulit atau pakaiannya tersentuh Gendhuk Tri.

Tenaga mengisap dan mendorong diubah menjadi tenaga mendorong sepenuhnya.

Tubuh Gendhuk Tri yang meluncur ke arahnya ditolak dengan tenaga keras, panas,

dan menyentak.

Untuk sementara serangan Ugrawe ke arah Pembarep dan Panengah gagal,

akan tetapi Gendhuk Tri juga tak bisa mendesak maju. Malah beberapa kali arah

pukulannya melenceng karena arus tenaga panas dari Ugrawe makin menyesakkan.

Bertarung dalam penjagaan jarak, Gendhuk Tri tak bisa berbuat banyak. Malah

menjadi keteter karenanya. Ugrawe mempunyai peluang untuk melancarkan

serangan satu-dua ke arah Panengah. Pukulan kosong jarak jauh membuat Panengah

meloncat menghindar, dan pada saat yang bersamaan Rawikara meloncat ke atas.

Masuk ke dalam pertempuran.

Pembarep yang sudah terluka dalam, masih memiliki tenaga. Ia tak

membiarkan adiknya begitu saja dihajar musuh. Dengan sisa tenaga yang ada,

Pembarep ikut meloncat. Darah merah mengalir dari kedua tepi bibirnya. Kedua

tangannya terentang. Rawikara justru dengan gagah menyambut dua pukulan

sekaligus!

Akibatnya berat!

Pembarep langsung ambruk, muntah darah, dan pingsan seketika.

Tenaga dalamnya yang sudah terluka, menganga lebih dahsyat.

Panengah justru habis tenaganya karena terisap!

Rawikara berdiri dengan gagah.

“Hari ini Dewa Yang Agung menakdirkan seluruh ksatria menyerahkan

tenaganya secara terhormat. Bapa Guru, racun ganas macam apa yang ada di tubuh

gadis ingusan ini, biar saya mencicipi.”

Dengan tenaga yang bergolak dahsyat, Rawikara seolah mabuk dengan

gumpalan tenaga yang mendesak-desak. Maka tak bisa menahan diri untuk tidak

menyalurkan dengan gempuran.

Dikeroyok dua jago utama, guru dan murid, Gendhuk Tri terdesak dalam

waktu singkat. Jelas bahwa ilmu silat Gendhuk Tri bukan tandingan Ugrawe. Belum

ada takaran untuk bisa diperbandingkan. Meskipun gaya dan jurus Gendhuk Tri aneh

dan tidak wajar, akan tetapi variasi demi variasi bisa dibaca oleh Ugrawe dengan

tepat. Keunggulannya hanyalah karena Ugrawe tak bisa melukai secara langsung.

Gendhuk Tri berlari, jungkir balik bagai penari yang kesetanan. Selendangnya

sudah sobek di beberapa ujungnya. Rambutnya terurai lepas, kedua tangan dan kaki

mencakar ke sana-kemari.

Dilihat selintasan justru Gendhuk Tri seperti bola mainan yang begitu lemah.

“Tak ada aturan lagi. Mengaku sebagai panglima perang terbesar, mengangkat

diri sebagai pujangga pamungkas, tak tahunya hanya pengeroyok murahan. Ini baru

namanya kabar yang perlu didengar oleh belalang dan angin. Guru yang nomor satu,

yang lebih hebat dari sinar matahari, bersama dengan muridnya… main-main sepenuh

tenaga dengan seorang anak perempuan yang bahkan belum disunat.”

Suara yang dikeluarkan oleh sosok tubuh yang tinggi, kurus, seperti

melengkung.

“Tenang saja, Pakde. Saya bisa mengencingi mereka. Ini malah bagus,” jawab

Gendhuk Tri dengan suara keras.

Rawikara memutar tubuh, dengan satu jejakan tubuh langsung melayang ke

angkasa. Kedua tangan berputar ke atas, tangan kiri turun di pusar. Banjir Bandang

Segara Asat langsung dipakai dalam gebrakan pertama.

Tubuh yang diserang mengeluarkan teriakan keras. Sama-sama meloncat ke

atas dan memapaki serangan Rawikara. Tak ada benturan tenaga yang keras. Tak ada

tepukan yang mengeluarkan suara, ketika dua tangan beradu. Hanya tubuh keduanya

melayang turun ke tanah. Kaki lelaki yang dipanggil Pakde itu masih bisa terangkat,

menyepak Rawikara yang berusaha menangkis. Tubuhnya terpental jauh. Tubuh

Pakde menyentuh tanah dan mumbul kembali ke atas. Sebelum tubuh Rawikara jatuh

mengenai tanah, bisa diungkit dengan ujung kaki, Hingga membal ke atas dan

disambut dengan pukulan mencengkeram ke arah pundaknya.

Rawikara mengeluarkan jeritan kesakitan. Tubuhnya terbanting ke tanah.

Tak bangun lagi.

Dalam sekejap saja, pertempuran yang benar-benar maut terjadi. Banjir

Bandang Segara Asat memang jurus maut yang paling ganas. Kali ini juga terbukti.

Tenaga dalam Rawikara yang sudah berlipat tetap kalah oleh Pakde, hingga akibatnya

sangat fatal. Cengkeramannya tetap menghancurkan tulang pundak, yang bagi

seorang jago silat merupakan segala pusat gerakan di tangan.

“Ngabehi Pandu, jadi kamu masih hidup?”

Teriakan Ugrawe, membuat Pakde yang kurus tinggi itu tak bereaksi.

“Sebelum kamu bisa membunuhku, apakah aku mau mati lebih awal?”

“Pakde, jangan layani omongannya….”

“Gendhuk Tri … aku segan mengeroyoknya. Biarlah kau beri aku kesempatan

untuk menyerap kembali tenaga para ksatria yang dirampok olehnya.”

Ugrawe bercekat juga. Meski tidak tahu-menahu tentang nama jurus, Ngabehi

Pandu mengetahui prinsip-prinsip dasarnya. Ngabehi Pandu memang satu-satunya

tokoh yang lolos dari serangan habis-habisan di Perguruan Awan. Yang menjadi guru

Upasara Wulung.

“Sungguh bahagia hari ini aku bisa bertemu denganmu, Ngabehi Pandu.

Tak kunyana, bahwa kini kamu bisa banyak bicara. Kiranya kamu pula yang selama

ini menyaru sebagai Senamata Karmuka. Pantas kamu bisa mengelabui semuanya.

“Perguruan Awan ini menjadi saksi, siapa di antara kita berdua yang lebih

terang dari matahari. Di jagat ini hanya ada satu matahari, tak pernah ada matahari

kembar. Bersiaplah, Pandu.”

Suasana sunyi.

Ugrawe berhadapan dengan Ngabehi Pandu. Sementara korban yang lain tak

bisa bergerak. Gendhuk Tri juga berdiri lurus, mengatur pernapasan.

Ini baru pertempuran tingkat di atas tinggi.

Pertempuran yang sempurna.

Gendhuk Tri berharap saat ini ada Kakang Upasara.

Setidaknya akan mendengar sendiri teka-teki yang masih menghantui dirinya.

Seperti diketahui, tahun yang lalu Upasara Wulung bersama dengan Ngabehi Pandu

dan Wilanda datang ke Perguruan awan. Karena menurut berita di situ akan datang

Tamu dari Seberang, seorang tokoh misterius yang konon membawa wangsit siapa

yang bakal menjadi raja di tanah Jawa.

Mitos tentang Tamu dari Seberang memang sudah lama mengakar dalam

masyarakat sejak Ken Arok naik takhta. Konon sebelum naik takhta, ada berita yang

dikatakan oleh Tamu dari Seberang. Akan tetapi sekali ini adalah muslihat Ugrawe

untuk menyikat semua ksatria Singasari yang dikuatirkan akan membantu Baginda

Raja Sri Kertanegara.

Saat itu kemudian berhasil disergap oleh Ugrawe dan pasukan dari Gelang-

Gelang yang dipimpin langsung oleh Raja Muda, saat itu, Jayakatwang.

Dalam pertempuran itu terlihat munculnya Senamata Karmuka, senopati

terpercaya Keraton Singasari. Hanya saja ketika Upasara kembali ke Keraton untuk

mengabarkan hal ini, omongannya dibantah keras. Malah Upasara dianggap berdusta.

Karena selama ini Senamata Karmuka tak pernah meninggalkan Keraton. Tak pernah

menjauh dari bayangan tubuh Baginda Raja.

Upasara tentu saja tidak mengerti. Bahwa saat itu Ngabehi Pandu, yang adalah

saudara kandung Senamata Karmuka, menyamar sebagai Senamata Karmuka.

Sebaliknya, Ugrawe bisa mengetahui cepat. Kalau saat itu Ugrawe bisa mengetahui

cepat. Kalau saat itu Ugrawe bertempur dengan Senamata Karmuka, dan merasa

bahwa ilmu andalan Senamata Karmuka yaitu dalam membidik dengan anak panah

tak terlalu hebat.

Sekarang baru jelas bahwa itu semua dilakukan oleh Ngabehi Pandu!

Gara-gara inilah Upasara Wulung hampir saja meninggal dunia. Karena

dianggap mendustai Panji Angragani, mahapatih Keraton Singasari. Upasara dihukum

dengan cara tubuhnya diberikan sebagai santapan harimau kesayangan Baginda Raja.

Untunglah saat itu ditolong secara diam-diam oleh Mpu Raganata!

“Ngabehi, aku menghormatimu sebagai ksatria sejati. Kamulah tulang

punggung Keraton Singasari yang tak banyak bicara. Sebagai sesama pendekar, aku

memberi kesempatan padamu meminta sesuatu padaku, kalau kamu tak bisa melihat

matahari lagi.”

Congkak dan tinggi nadanya, akan tetapi di balik itu Ugrawe juga

memperlihatkan bahwa ia seorang ksatria. Setidaknya masih merasa sebagai pendekar

yang menepati janji.

“Hmmmmm, aku tak berani meminta apa-apa.”

“Ngabehi, aku tahu tak begitu mudah mengalahkanmu. Akan tetapi kamu

harus sadar bahwa yang kamu hadapi sekarang ini adalah pujangga pamungkas. Orang

bijak paling akhir. Cepat atau lambat kamu pasti kalah. Maka sebelum mati, katakan

apa permintaanmu. Akan kubuktikan bahwa aku bisa tetap menyandang gelar

pendekar sejati seperti kamu.

“Apakah kamu meminta aku membebaskan Gendhuk Tri?”

“Enak saja kalau bicara. Dengar, Pendeta busuk bertelinga satu. Kalaupun aku

bisa hidup dari belas kasihanmu, aku lebih suka jadi hantu penasaran seumur hidup.

Tak nanti Pakde-ku yang gagah bakal mengemis sesuatu yang begitu hina.

“Lebih baik kamu sendiri yang berpesan. Apakah kamu ingin dikubur

telanjang atau dikubur dengan tambahan satu telinga dari seekor anjing.”

Ugrawe tertawa bergelak.

“Di jagat ini ternyata ada lidah yang begitu tajam dan ganas, sehingga semua

senjata di dunia ingin memotongnya.

“Ngabehi, kalau merasa tak ada permintaan, ayolah kita mulai.”

“Kapan saja bisa. Tetapi kenapa kamu selalu main curang? Kenapa teman

dekatmu kamu sembunyikan?

“Aku jadi bertanya-tanya, apakah tanpa kebusukan kamu tidak pernah merasa

menjadi manusia hina?”

Ugrawe merasa dikalahkan dalam satu langkah.

Pendengaran jarak jauh dan keahlian membaca dengus napas yang dimiliki

Ngabehi Pandu memang luar biasa. Sedikit dengus yang berbeda pun bisa dirasakan.

Selama ini memang dalam dunia persilatan lebih dikenal pamor Senamata Karmuka.

Ngabehi Pandu hanya dikenal di kalangan terbatas. Akan tetapi para pendekar

menyadari bahwa Ngabehi Pandu sebenarnya jauh lebih tangguh.

Sekarang ini baru bisa dibuktikan.

“Aha, aku memang dikenal sebagai ular busuk. Tapi dalam soal keroyokan, aku

masih percaya kekuatanku sendiri. Justru tadinya kukira temanmu. Maka kubiarkan,

karena aku tak gentar menghadapi keroyokan secara sembunyi-sembunyi.

“Sahabat licik, keluarlah.”

Tangan Ugrawe menggebrak keras. Kesiuran angin panas menggetarkan

dedaunan dan pepohonan yang jaraknya lima-enam tombak. Kesiuran angin itu

mengenai tempat yang kosong.

Ngabehi Pandu tertawa pendek.

“Bukan di situ, Ugrawe.”


Episode 4

Kali ini Ugrawe benar-benar terkesiap. Hatinya kaget. Sangat jelas pendengarannya di

tempat mana orang itu bersembunyi. Akan tetapi di luar dugaannya, bahwa ia tak ada

di tempat itu.

Mana mungkin pendengarannya bisa salah?

“Pakde maklum saja. Ugrawe cuma punya satu daun telinga.”

Belum pernah Ugrawe dikalahkan begitu telak.

Ugrawe mengernyitkan keningnya. Mendadak tubuhnya berputar dan kedua

tangannya terentang lebar. Tenaga hawa panas menyambar sekitar lapangan. Dengan

cara seperti ini, siapa pun yang berada di balik pepohonan bakal kena sambar

tenaganya. Beberapa batang pohon malah retak. Sebagian patah cabangnya, rontok

daunnya, sebagian lagi tumbang.

Tapi tetap tak ada bayangan muncul.

Ugrawe lebih bercekat lagi. Jangan-jangan Ngabehi Pandu main gila. Sengaja

mempermainkan karena memang tak ada orang yang bersembunyi.

Lama suasana masih sepi, sampai kemudian terdengar suara yang serak dan

parau, bersamaan munculnya dua bayangan berpakaian serbahitam.

“Cara menyambut tetamu yang penuh sopan santun manusia belahan timur.

Kami dua manusia dari ujung barat tanah Jawa bernama Pu’un Pamor dan Pu’un

Wahana, khusus datang kemari untuk membalas dendam kematian saudara kami.

Siapa yang merasa membunuhnya, hari ini kami akan melunaskan.”

Bisa dimengerti kalau bicaranya begitu tegas dan apa adanya, karena mereka

datang dari daerah masyarakat di ujung barat. Gendhuk Tri bisa mengenali dari

pakaiannya, dan caranya yang mirip-mirip dengan Pu’un yang telah tewas. Agaknya

mereka rekan sesama perguruan, walau mengatakan saudara—karena semua dianggap

bersaudara—yang datang untuk menuntut balas.

“Pu’un dan Pu’un,” teriak Gendhuk Tri. “Kedatangan kalian berdua sungguh

tepat sekali. Dewa yang di langit memberi petunjuk. Orang yang kalian cari ada di

sini. Pu’un yang kalian cari memang sudah mati dikubur hidup-hidup.”

Pu’un Pamor dan Pu’un Wahana menghadap ke arah Gendhuk Tri. Kedua

kakinya membuka bersamaan, dengan tubuh condong ke depan.

“Siapa yang melakukan itu?”

“Orangnya ada di sini. Entah dia berani mengakui atau tidak.”

Ugrawe meringis.

Gendhuk Tri memang merupakan lawan yang selalu bisa memojokkan. Kini ia

dihadapkan pada pilihan yang sulit. Memang dulu Pu’un meninggal dalam

penyerbuan habis-habisan di Perguruan Awan. Langsung atau tidak, dialah yang

bertanggung jawab. Untuk menghadapi Ngabehi Pandu saja harus konsentrasi penuh,

kini sudah muncul dua Pu’un yang mestinya ilmunya tak bisa dibilang sembarangan.

Dengan satu kalimat saja, mereka berdua sudah ditarik ke dalam kelompok yang harus

dihadapi!

“Yang mana?”

“Pu’un, di dunia ini ada lelaki, dan ada binatang. Kalau berani menjawab

dialah lelaki, kalau tidak ia memang binatang.”

“Kamu bicara tidak jelas. Katakan atau kubunuh.”

Aneh adatnya, akan tetapi Pamor dan Wahana sudah langsung menubruk

dengan gerakan harimau. Dua tangan terulur bersamaan, mencakar, dan tubuhnya

meluncur dari enjotan kaki. Persis dua ekor harimau yang menerkam secara

bersamaan. Gendhuk Tri sama sekali tak menduga bakal diserang seperti itu.

Mengegos pun tak sempat. Dalam sekejap kedua tangan dan kakinya sudah terpegang

oleh lawan.

“Katakan lelaki mana yang membunuh saudaraku. Kalau tidak kamu yang akan

menemani saudaraku.”

Bukan ancaman kosong kalau dilihat gaya dan sikap hidup mereka berdua

selalu langsung apa adanya.

“Kalian pikir bisa memaksa aku? Mau bunuh bunuhlah. Kalian sendiri yang

membunuh saudara kalian untuk kedua kalinya!”

Pu’un Pamor bercekat.

Mengawasi Gendhuk Tri dengan terheran-heran. Secara aneh terasa bahwa

aliran darah Gendhuk Tri agak ganjil. Juga bau tubuhnya, mengingatkan bau tubuh

mereka sendiri.

Memang. Gendhuk Tri pernah kena aji sirep Pu’un sebelumnya. Juga ilmu

tenaga dalam Pu’un telah tertukar dan masuk ke dalam tubuhnya.

“Jadi kamu jelmaan Pu’un Elam?”

Pu’un Wahana melepaskan secara bersamaan dengan Pu’un Pamor. Berganti

dengan merangkul Gendhuk Tri sambil tertawa riang.

Gendhuk Tri berdiri tegak.

Kalau tadi bisa mempermainkan Dewa Maut, sekarang dua Pu’un, dua jagoan

yang datang dari jauh, juga kena kibul.

“Pu’un Elam telah memberikan jiwanya padaku. Rohnya ada dalam diriku.

Untung kalian berdua cepat menyadari tidak keliru lawan. Aku sendiri akan

menuntut balas atas kematian Pu’un Elam. Akan tetapi lawan itu terlalu licik.

Sekarang kalian berdua datang membantuku. Ayo tunggu apa lagi?”

“Yang mana?”

“Dari wajahnya sudah ketahuan. Yang normal telinganya dua. Ini cuma satu.

Aku baru bisa memotes telinganya untuk membalas dendam. Membalaskan dendam

Pu’un Elam. Tapi satu telinga ditukar nyawa, belum lunas.

“Masih tanya mana yang telinganya cuma satu?”

Pamor dan Wahana mendongak ke atas.

Kedua tangannya terangkap di dada.

“Dewa Langit, tenanglah arwah saudaraku. Kami berdua akan menyusul ke

sana kalau gagal. Kalau berhasil, akan menyusulkan arwah si pembunuh, agar saudara

kami Elam tenang adanya.”

Selesai bicara, tanpa mengambil napas tambahan, langsung menubruk ke arah

Ugrawe. Ugrawe telah bersiap. Begitu kedua tubuh menerkam ke arahnya, Ugrawe

memutar tubuhnya. Dua kakinya melayang ke depan sementara tangannya

menyangga tubuh. Dengan mengerahkan tenaga tendangan, terkaman harimau

dihadapi. Pamor mengeluarkan erangan tinggi. Merangkul kaki yang datang. Wahana

juga melakukan hal yang sama. Dalam saat yang gawat itu, Gendhuk Tri melayang

dekat. Kedua kakinya menyapu tangan Ugrawe yang menjadi penyangga tubuhnya.

Ugrawe tetap berusaha bertahan. Dua kaki dibetot paksa masih ditahan. Adu

kekuatan masih berimbang. Satu tangan dipakai menyangga juga masih bisa. Kini satu

tangan untuk memapaki tendangan Gendhuk Tri.

Gendhuk Tri tertawa mengejek.

Kaki yang mau ditangkap Ugrawe ditarik ke atas, ganti kaki lain menginjak

leher. Suara ejekannya seakan yakin bahwa kali ini Ugrawe akan terkecoh. Karena

Gendhuk Tri mengubah gerakan yang elok dalam sekejap. Dengan dasar penari,

gerakan kaki Gendhuk Tri memang hidup sekali.

Posisi Ugrawe memang serbasalah. Dengan disangga satu tangan dan dua kaki

dipeluk Pu’un yang nekat, kekuatannya terbatas. Tapi ia adalah jagonya jago yang

menggelari dirinya dengan berbagai sebutan luar biasa. Dan ini bukan sebutan omong

kosong.

Ugrawe mengerahkan kekuatan lewat satu tangan yang menyangga. Seluruh

tenaga dientakkan, kedua kakinya mengayunkan keras. Tubuhnya melayang secara

terbalik. Dengan Pu’un Pamor dan Pu’un Wahana turut melayang ke atas, karena tak

mau melepaskan pegangannya. Sementara tenaga tolakan dari tangan Ugrawe

mendesak Gendhuk Tri hingga terlempar.

Empat tubuh melayang di angkasa.

Ngabehi Pandu berdehem kecil sambil mengeluarkan teriakan pendek.

“Awas, Gendhuk.”

Pendek suaranya, tubuhnya melayang dan menempel rapat ke arah tubuh

Ugrawe. Tangan Ngabehi Pandu menangkap Gendhuk Tri yang terlempar, akan tetapi

kedua sikunya sempat menghajar Ugrawe. Telak di ulu hati. Gendhuk Tri sendiri,

begitu merasa aman dalam pegangan Ngabehi Pandu, langsung mencakar wajah

Ugrawe.

Goresan kuku membuat tubuh Ugrawe menggigil. Begitu jatuh di tanah,

Pamor dan “Wahana langsung bisa meringkusnya.

“Kalau Ugrawe tak mau melepaskan siksaan para ksatria yang dilukai, biar aku

bereskan sekarang juga!” teriak Gendhuk Tri.

Ugrawe paling merasa ngeri dengan Gendhuk Tri, sumber dari segala sumber

racun yang ganas dan sulit dikendalikan.

Kini melihat Gendhuk Tri bersiap menerjang ia hanya pasrah menunggu nasib.

“Tunggu. Tak baik kalau menyerang lawan yang terbelenggu. Itu bukan sifat

seorang ksatria.” Ngabehi Pandu menggerakkan tangannya.

“Kalau ingin menyelesaikan pertempuran, biarlah aku yang akan menghadapi

sendirian.”

Ugrawe sendiri merasa kagok. Karena di dunia ini ternyata masih ada seorang

yang bersikap ksatria. Tetap ksatria walau dicurangi.

Dari balik gerombolan pohon, terdengar helaan napas panjang. Dua bayangan

masuk ke dalam lapangan.

Satu orang bisa segera dikenali sebagai Kiai Sangga Langit yang perkasa. Satu

orang lagi tak bisa diduga siapa. Karena gerak-geriknya masih asing. Hanya kalau

dilihat dari segi pakaian yang dikenakan, tak berbeda dari Kiai Sangga Langit. Malah

lebih lengkap dengan pakaian panglima perang.

Kiai Sangga Langit mengeluarkan kalimat pendek.

Ngabehi Pandu berbalik, memberi hormat kepada Kiai Sangga Langit, dan di

luar dugaan bisa menjawab apa yang dikatakan Kiai Sangga Langit.

“Ini bukan ksatria atau tidak ksatria. Terima kasih untuk sebutan orang gagah.

Saya tak berhak gelar terhormat dari keraton kalian.”

“Sungguh berbudi. Bahkan bisa berbicara dalam bahasa kami.”

“Dengan banyak salah, karena selama ini saya hanya mempelajari dari buku.

Perkenalkan, saya Ngabehi Pandu.”

“Nama besar itu sudah lama kami dengar. Saya Bok Mo Jin atau Sangga Langit,

dan ini saudaraku, Panglima Sih Pi yang bergelar Naga Wolak-Walik.”

Naga Wolak-Walik membungkukkan tubuh sambil merangkapkan kedua

tangannya. Ngabehi Pandu balas menghormat dengan jempolnya, dan badan ditekuk.

Naga Wolak-Walik adalah gelar yang luar biasa di negeri Cina. Di mana seorang

pendekar biasanya mempunyai gelar tertentu yang menggambarkan kelebihannya.

Dengan sebutan Naga Wolak-Walik bisa diartikan naga yang mempunyai dua kepala.

Di ekornya pun ada kepalanya. Untuk menggambarkan betapa dahsyatnya. Satu

kepala saja sudah dahsyat, apalagi kembar dan bolak-balik. Apalagi diperkenalkan

sebagai panglima perang.

“Saya merasa dapat kehormatan besar dengan keterusterangan Naga Wolak-

Walik. Akan tetapi kenapa Kiai Sangga Langit menyembunyikan kemampuan untuk

bisa memahami bahasa kami? Apakah bahasa kami sedemikian rendahnya sehingga

tak berhak untuk dibicarakan?”

Kiai Sangga Langit menarik keningnya. Berkerut. Alisnya yang tebal seakan

bersatu.

“Sebagai seorang imam agung yang banyak mempelajari buku dan

berpengetahuan luas, sangat muskil sekali tak bisa mempelajari. Kenapa Kiai harus

selalu berlindung di balik Nyai Demang?”

Kiai Sangga Langit tertawa lebar.

“Sungguh cerdik sekali,” suaranya menurun, lalu berganti dengan bahasa yang

dimengerti seisi lapangan, kecuali Naga Wolak-Walik.

“Sekali bertemu, Ngabehi Pandu bisa menelanjangiku. Sungguh di tanah Jawa

ini begitu banyak orang cerdik pandai. Maka Kaisar Mulia yang menguasai atap dunia

di daratan Cina sulit sekali mengalahkan.

“Benar-benar luar biasa.

“Aku hargai kejujuran dan keterusterangan Ngabehi Pandu. Di negeri kami,

kamu pantas mendapat sebutan orang gagah.”

“Terima kasih atas gelar kehormatan ini. Kini para pemuka sudah muncul di

Perguruan Awan. Entah apa pula maunya. Kalau memang ada yang bisa saya lakukan,

akan saya lakukan.”

Di balik kata-kata Ngabehi Pandu tersirat suatu tantangan besar. Kiai Sangga

Langit berdecak kagum. Kini boleh dikata semua kartu telah dibuka. Semua batu telah

disingkirkan, hingga udangnya kelihatan. Apa yang dikatakan Ngabehi Pandu

merupakan tantangan terbuka: Kalau memang masih ada urusan, itu bisa diselesaikan.

Dan Ngabehi Pandu siap untuk menghadapinya! Itu bisa berarti perang tanding.

Kiai Sangga Langit mendongak ke arah langit.

“Aku selalu merasa diriku seorang ksatria, seorang pendekar yang berkelana ke

ujung penjuru dunia untuk mengetahui luasnya langit. Puncak-puncak gunung

dingin, padang kembara yang panas, telah aku jalani. Kini, di tanah yang subur aku

menemukan sarang ilmu silat yang sesungguhnya. Sehingga ketika semua rombongan

datang dan dihina rajamu, aku masih bertahan di sini.

“Tetapi aku tetap seorang imam negara. Aku diperintah oleh kaisar kami yang

menguasai jagat. Hari ini aku menjadi prajurit yang menjalankan tugas untuk

membalas dendam kepada raja yang telah menghina kaisar kami. Naga Wolak-Walik

dan rombongannya sudah tiba untuk membalaskan penghinaan ini.”

“Sudah sepantasnya saya mewakili untuk menyambutnya. Sebab yang

meremehkan kaisar kamu adalah raja saya. Kita harus berbahagia, karena kita masingmasing

masih mempunyai sesuatu yang harus dipertahankan, yaitu kehormatan.

“Kiai Sangga Langit, saya telah siap.”

Ngabehi Pandu menggeser kakinya. Memilih tempat agak di tengah. Ke

tempat yang lebih lapang. Berdiri dengan gagah. Kiai Sangga Langit meloncat pendek,

mengambil kuda-kuda.

Naga Wolak-Walik bersiap.

“Karena ini pertempuran antara utusan kaisar dan prajurit raja, saya tak bisa

berdiam diri,” kata Naga Wolak-Walik. “Kalian yang ada di sini, bersiaplah.”

Ngabehi Pandu menerjemahkan kalimat Naga Wolak-Walik.

Gendhuk Tri meringis. “Kaisar-kaisar macam apa yang kalian sebut itu aku tak

tahu. Tetapi kalau kalian berdua mau sesumbar, boleh menjajal dulu kami. Pamor,

Wahana, ayo, ini ada tugas menarik.”

Sementara semua bersiaga, Ugrawe berusaha mengumpulkan tenaga dalam

untuk menghentikan menjalarnya racun di wajahnya. Dirasakan bahwa pelan-pelan

bagian dari wajahnya yang kena cakar Gendhuk Tri mulai membeku. Mulai

kehilangan rasa.

Tapi ada yang lebih bercekat dalam hatinya. Belum ada setahun yang lalu, ia

datang ke Perguruan Awan ini untuk membasmi semua ksatria. Tidak tahunya justru

sekarang barisan kaisar Mongol datang untuk melakukan hal yang sama. Kalau

panglima perangnya sudah turun ke daratan, bisa dipastikan bahwa sekitar tempat ini

telah dikepung rapat.

Betul-betul pahit.

Sejarah berulang, dengan dirinya kini menjadi korban.

Perguruan Awan bakal menjadi saksi kembali. Pertumpahan darah yang tak

ada habisnya. Pertumpahan darah dan pembasmian yang habis-habisan.

Kekuatiran Ugrawe memang menurut perhitungan. Karena sayup-sayup

terdengar suara ringkikan kuda dan pasukan yang bergerak. Tak bisa tidak inilah

prajurit pilihan yang datang dari Mongolia dan daratan Cina yang dibawa Naga

Wolak-Walik.

Melihat kemungkinan buruk, Ugrawe mulai menggeser tubuhnya. Surut ke

belakang, dan berusaha perlahan menghilang. Karena kedatangan pasukan Tartar ini

akan menyulitkan kedudukannya.

Kiai Sangga Langit meloncat maju dengan kedua tangan kukuh siap merangkul

dan meremukkan punggung Ngabehi Pandu. Gaya serangan gulat Mongol yang paling

diandalkan. Dalam satu loncatan, Sangga Langit telah menutup semua ruang gerak

menghindar. Memang hebat. Dua kemungkinan yang bisa diambil oleh Ngabehi

Pandu. Satu, meloncat ke belakang. Kedua, menghindar dengan meloncat ke atas.

Kalau yang pertama dilakukan ia sudah kalah satu tindak dan tercecer. Kalau

meloncat akibatnya bisa fatal. Sangga Langit siap untuk meraup kaki atau tubuh dan

menekuk bagai melipat kain.

Ngabehi Pandu bukan tokoh sembarangan. Ia justru memasang kuda-kuda.

Dua tangan bergerak sekaligus memapak. Bukan memapaki jotosan, akan tetapi

menekuk siku. Secara berturut-turut menyodok dada, perut, lambung, dada, ulu hati.

Lima gerakan secara berurutan dengan kedua tangan. Sangga Langit menangkis

kelimanya. Benturan tenaga tak terhindarkan. Duk-duk-duk-plak-plak, sementara

kedua kaki masing-masing juga saling menyepak, menendang, dan menangkis.

Berkutat dalam jarak pendek, keduanya tak bisa melemparkan jurus-jurus maut. Tapi

benturan dan empasan tenaga dalam cukup menyita dan menguras.

Satu hal yang bisa dilihat adalah kenyataan bahwa Sangga Langit sampai

sekian jurus belum juga merangkul lawan untuk dilibas habis. Sementara Ngabehi

Pandu juga tak bisa meloloskan pukulan dengan mulus. Selalu bisa ditangkis.

Naga Wolak-Walik yang dikeroyok oleh Pu’un Wahana dan Pu’un Pamor

melayani dengan tenang. Bahkan seperti setengah mengambil hati. Hanya yang

membuatnya bercekat ialah serbuan mendadak dari Gendhuk Tri. Sebagai panglima

perang yang berpengalaman luas, Naga Wolak-Walik merasa jeri dengan bau tubuh

yang keluar dari badan Gendhuk Tri. Penciuman Naga Wolak-Walik menjadi risi

karena mengendus sesuatu yang sangat berat.

Sewaktu pertempuran makin meningkat, suara rombongan mendekat makin

jelas.

Yang tak diduga oleh Ugrawe, justru rombongan ini adalah rombongan dari

Keraton. Secara resmi dipimpin oleh Sagara Winotan dan Jangkung Angilo. Dua

pejabat tinggi Keraton yang membawa pengawalan lengkap. Lebih dahsyat lagi dalam

rombongan ini juga dikibarkan umbul-umbul, atau bendera Keraton. Ini berarti kedua

menteri ini merupakan utusan resmi Raja Jayakatwang.

Jangkung Angilo, yang memang bertubuh jangkung itu, meloncat tinggi dari

kudanya. Melihat sekeliling. Sebagian besar tergeletak tak berdaya, sebagian justru

sedang bertempur. Melihat bahwa salah seorang korban adalah Rawikara, Jangkung

Angilo segera menyiapkan pasukannya.

“Orang asing, kalau kalian datang sekadar mengumbar nafsu besar, hari ini

kami akan menutup mulutmu.”

Naga Wolak-Walik meloncat tinggi ke angkasa dengan gagah. Melepaskan

kerubutan.

Sangga Langit berusaha berkelit menghindar dari sergapan Ngabehi Pandu,

akan tetapi setiap kali kena libatan.

“Para menteri yang terhormat, kami terpaksa membereskan manusia-manusia

pengacau,” teriak Sangga Langit.

“Raja Jayakatwang telah memberikan pengampunan. Kalau Kiai Sangga Langit

mematuhi perintah Raja, harap minggir!

“Bagi kami persoalannya jelas. Siapa yang membantah adalah musuh yang

harus dimusnahkan.”

Naga Wolak-Walik, sebaliknya malah meloncat maju. Empat lapis prajurit

yang berdiri di depan Jangkung Angilo dilewati dengan enteng. Sebagai panglima

perang, ia bisa menghadapi barisan prajurit dengan tenang karena tahu cara-caranya.

Naga Wolak-Walik hafal bagaimana mengatasi kerumunan atau barisan prajurit.

Jangkung Angilo tak menduga bakal diserbu secara mendadak. Segera mencabut

kerisnya. Tanpa berkelit, Naga Wolak-Walik maju merampas. Pergelangan tangan

Jangkung Angilo langsung kena tekuk, tubuhnya bisa tertarik maju. Masuk ke dalam

dekapan Naga Wolak-Walik yang dengan cepat membanting ke tanah. Naga Wolak-

Walik sendiri kemudian melesat lagi dan menyerbu ke arah Sagara Winotan. Sagara

Winotan menyambar dua tombak sekaligus dan memapaki. Dua tusukan ke arah

lambung. Terdengar bunyi “trang” yang keras. Ternyata Naga Wolak-Walik

mengenakan pakaian lapis yang mampu menahan tusukan benda tajam. Dua

tangannya keras mencengkeram ke arah tenggorokan lawan. Tapi Sagara Winotan

bukan sembarang menteri. Melihat tusukan andalannya seperti menyentuh benda

keras, kedua tangan siap menangkis serangan ke arah tenggorokan. Dua tangan

membuka kuat, sekaligus tubuhnya melayang ke atas. Naga Wolak-Walik seperti

menangkap angin. Akan tetapi mungkin benar juga gelarnya—naga berkepala dua,

bisa melihat dari bagian belakang. Naga Wolak-Walik juga segera memutar dan

tubuhnya melayang di angkasa. Melewati barisan prajurit. Lagi-lagi siap untuk

merangkul.

Ilmu andalan Sagara Winotan bukanlah ilmu bertempur di udara. Justru

julukan Sagara yang berarti laut, lebih mengandalkan pertempuran di bawah. Karena

kekuatannya terletak pada gerakan kaki, yang bisa berputar bagai gelombang.

Padahal justru sekarang ini terjadi duel di udara!

Sagara Winotan kena dirangkul, dan tubuhnya dibawa amblas ke bawah. Saat

itu tak ada prajurit yang bisa melakukan gerak menolong karena tak tahu mana

kawan mana lawan. Bahkan sebagian besar seperti terpesona. Akan tetapi di saat yang

begitu kritis, mendadak sebilah keris meluncur deras dari bawah. Seperti membelah

dua tubuh yang lengket.

Perhitungan pelempar keris cukup luar biasa. Dari desis keris terasakan hawa

dingin yang menandai bukan keris sembarangan. Dari arah bidikan sangat jelas sekali

bahwa pembidiknya adalah seorang yang lihai dan pintar. Karena bidikan itu tak bisa

diterima dengan pakaian lapis anti senjata yang melindungi. Karena sasarannya bukan

dipaser dari depan, melainkan dari bawah.

Tak ada jalan bagi Naga Wolak-Walik selain melepaskan rangkulannya.

Daripada dimakan keris. Dengan sendirinya Sagara Winotan lepas dari cengkeraman

juga. Keris yang meluncur ke atas tiba-tiba membelok, dan meluncur turun.

Bersamaan suatu bayangan meloncat untuk menangkap kembali.

“Kakang Upasara…”

Teriakan Gendhuk Tri yang nyaring dan tinggi sekali.

Bayangan yang menahan keris tadi memang Upasara Wulung. Yang berdiri di

tanah dengan gagah. Dadanya terbuka. Hanya mengenakan kain di bawah, tak

ubahnya seperti prajurit yang lain.

“Kakang jadi kawin atau tidak?”

Itulah Gendhuk Tri!

Dalam suasana yang begitu gawat, yang dipersoalkan pertama kali adalah soal

apakah Upasara Wulung jadi kawin atau tidak. Bukan soal keselamatan orang lain,

termasuk Sagara Winotan atau Jangkung Angilo. Bukan soal Keraton, dan kenapa

Upasara ikut dalam barisan Keraton.

“Tentu saja belum. Masakan ada pengantin baru keluyuran. Kemarilah,

Gendhuk….”

Gendhuk Tri tertawa ngikik sambil meloncat maju, bagai terbang.

Selendangnya berkembang. Dan hinggap di sisi Upasara sambil memegangi tangan

dengan manja.

“Saya kira Kakang sudah kawin dengan anak Pak Toikromo itu.”

“Tidak. Sebelum kawin kan harus bekerja dulu.”

“Ya, tapi kenapa pilih jadi prajurit Jayakatwang? Kan dulu kita berada dalam

kelompok Baginda Raja Kertanegara.”

Nyeplos seenak isi hatinya sendiri. Bagi yang mendengar bisa tersinggung.

Masakan begitu enak bicara sembarangan tentang Jayakatwang, padahal menyebut

Toikromo saja pakai Pak? Tapi mana Gendhuk Tri peduli soal itu?

“Nanti akan aku ceritakan. Sekarang ini, masih ada soal lain. Gendhuk Tri,

adik kecil, kamu tambah ayu….”

“Ya, tapi aku bukan anak kecil lagi.”

“Ya, kamu tambah gede.”

“Kakang, Ngabehi Pandu juga ada di sini. Itu… lagi bermain-main dengan

Sangga Langit yang jelek.”

Wajah Upasara berubah. Rona merah, riang, mewarnai.

Bisa dibayangkan, bahwa selama dua puluh tahun Upasara diasuh secara

telaten oleh Ngabehi Pandu. Dan dalam suatu pertempuran mereka tercerai tanpa

tahu mati-hidupnya. Maka kini Upasara langsung menunduk dan menyembah.

Lalu berdiri kembali dengan gagah.

Naga Wolak-Walik sejak tadi berdiri kukuh memperhatikan. Kini ia berada

dalam kepungan yang siaga.

Satu komando dari Sagara Winotan atau Jangkung Angilo, maka para prajurit

akan menjadi barisan penyerang yang ganas.

“Terima kasih, anak muda,” kata Sagara Winotan perlahan. “Pertolongan-mu

sangat berarti sekali. Telah menyelamatkan jiwaku.”

“Kebetulan hamba berada di dekat Paduka Menteri.”

Upasara menghormat perlahan.

“Siapa namamu, dan apa maumu datang-datang langsung menyerang?”

Ditanya begitu Naga Wolak-Walik hanya celingukan saja.

Berteriak dalam bahasa yang tak dimengerti.

“Saya datang…,” teriak Kiai Sangga Langit mumbul ke atas, bersamaan dengan

tubuh Ngabehi Pandu.

Begitu sampai jarak dekat dengan Sagara Winotan, Kiai Sangga Langit segera

membungkuk.

“Maaf kalau kami mengganggu perjalanan pejabat tinggi Keraton sebagai

utusan resmi Baginda Raja. Kami tak bermaksud menghalangi perjalanan pejabat

resmi.”

“Bahasamu fasih sekali, Kiai. Saya hanya mengemban tugas Baginda Raja untuk

menyebarkan perdamaian. Tak ada gunanya pertumpahan darah.”

“Maafkan saya. Juga teman saya yang menyusul saya kemari untuk kembali ke

negeri asal.”

Sagara Winotan menghela napas.

“Atas perkenan dan kemurahan Baginda Raja, silakan mundur.”

Kiai Sangga Langit membungkuk hormat.

Lalu memandang ke arah Upasara.

“Anak muda, sejak pertemuan terakhir ilmumu maju pesat. Terimalah

hormatku.” Lalu balik ke arah Ngabehi Pandu. “Orang gagah nomor satu, sayang kita

tak bisa melanjutkan permainan anak-anak ini. Di lain waktu, kita pasti bertemu lagi.”

Ngabehi Pandu berdiri teguh.

Tak menjawab tak bereaksi.

Hanya wajahnya sedikit berubah ketika Gendhuk Tri menyeret Upasara

Wulung datang mendekat ke arahnya.

“Sujud dan hormat saya….”

“Sejak kapan kamu menjadi prajurit pemberontak?”

“Sejak membaca tembang di dinding benteng Keraton.”

Ngabehi Pandu maju, mengusap rambut Upasara Wulung.

Dalam percakapan pendek itu, terbukalah semuanya. Bahwa sebenarnya

Ngabehi Pandu-lah yang mencoretkan tulisan di dinding benteng Keraton. Pantas

bisa leluasa masuk ke dalam benteng Keraton, dan menulis terbalik. Kalau bukan

tokoh yang ilmunya tinggi dan tahu seluk-beluk Keraton, memang tak mungkin.

Ngabehi Pandu, biar bagaimanapun, adalah orang Keraton Singasari. Baginya

kebesaran Singasari dengan Baginda Raja Sri Kertanegara adalah satu-satunya. Maka

ia cukup berang melihat Upasara Wulung bergabung dengan dan sebagai prajurit

Gelang-Gelang yang kini menduduki Keraton. Akan tetapi jawaban Upasara

melegakan Ngabehi Pandu, karena ternyata Upasara menyadari hal ini.

Dalam satu-dua patah kata, keduanya sudah mengerti posisi masing-masing.

Meskipun dalam sikap jelas berbeda. Ngabehi Pandu sama sekali tak

memandang sebelah mata kepada utusan resmi Raja Jayakatwang. Ia tak menunduk,

tak memberi hormat, tak menyapa. Selesai mengusap rambut Upasara Wulung,

langsung berlalu begitu saja. Kalau tadi membela mati-hidup soal Keraton dalam

menghadapi orang luar, kini masalah ke dalam jadi berbeda sekali.

Sagara Winotan tak terlalu memedulikan. Ia memerintahkan agar diberikan

prioritas pengobatan bagi Rawikara dan Jangkung Angilo, sebelum rombongan

melanjutkan perjalanan. Tiga Pengelana Gunung Semeru, Dewa Maut, Wilanda juga

mendapat perawatan. Akan tetapi, kondisi Wilanda dan Dewa Maut sangat payah

sekali.

Sore hari rombongan berangkat lagi.

Gendhuk Tri tak pernah lepas dari lengketnya bergayut di tubuh Upasara

Wulung.

“Bagaimana Kakang bisa urung kawin?”

“Ya, itu memang seharusnya begitu.”

“Kakang menyukai anak Pak Toikromo?”

“Entahlah. Aku sendiri tak terlalu memedulikan.”

“Kenapa dulu Kakang lari meninggalkanku?”

“Aku hormat kepada orang lugu yang baik, yang pernah menyelamatkan

diriku. Pak Toikromo begitu ingin bermenantukan aku. Aku sendiri tak mempunyai

sanak keluarga, jauh atau dekat. Tawaran itu tak bisa kutolak. Daripada terus

mengembara tak tentu, hanya akan menyengsarakanmu.

“Tetapi ketika ke rumah Pak Toikromo, terjadi perubahan besar. Aku ditemui

Raden Sanggrama Wijaya. Salah seorang kerabat utama Keraton Singasari, yang akan

melarikan diri ke tanah Madura. Aku diminta ikut menemui Adipati Wiraraja. Maka

kami pun berangkat cepat-cepat.”

“Siapa Raden Sanggrama Wijaya?”

“Dulu juga pernah masuk latihan di Ksatria Pingitan. Nama kebesaran beliau

adalah Naraya Sanggrama Wijaya. Ketika Ksatria Pingitan dibubarkan, Raden Wijaya

kembali menjadi putra bangsawan. Sedang aku kembali menjadi anak asuh Ngabehi

Pandu.”

“Urusan apa ke tanah Madura?”

Upasara mendongak mengawasi langit.

“Kakang tak mau cerita padaku?”

“Ini persoalan yang rumit dan aneh. Adipati Wiraraja menyarankan kita semua

mengakui kebesaran Raja Jayakatwang. Dengan demikian penyerbuan, pemburuan

pengikut Baginda Raja Kertanegara tak akan dilanjutkan lagi. Pertumpahan darah bisa

dihindarkan.

“Kalau Raden Wijaya mau mengakui kebesaran Raja Jayakatwang, ia akan

menjadi simbol penyerahan kita semua. Sebab Raden Wijaya-lah yang masih dekat

hubungannya dengan Baginda Kertanegara. Yang paling dekat.

“Untuk menghindarkan pertumpahan darah, untuk mengurangi korban, dan

demi masyarakat semua, persyaratan itu diterima. Hari ini, utusan Raja Jayakatwang

akan menjemput Raden Wijaya sebagai penunjuk jalan.”

“Kakang, aku tak mau tahu urusan negara. Keraton mana, rajanya siapa, apa

peduliku? Jangan gusar dulu, Kakang. Bagiku Baginda Kertanegara memang hebat,

tetapi kalau ia benar-benar hebat, bukankah tak akan ada pemberontakan? Bukankah

tak akan begini jadinya?

“Semua ini omong kosong belaka. Yang namanya pembesar, yang namanya

pendekar, yang katanya membela Keraton, yang mendapatkan pangkat dan

kehormatan, juga bertindak semaunya.

“Aku cukup kenyang dengan itu.

“Tak ada yang benar!”

“Rama Guru juga tidak benar?”

“Ya,” teriak Gendhuk Tri mengejutkan. “Aku mau mengabdi ke Keraton

dengan baik. Sebagaimana seorang anak desa yang dipanggil. Siapa sangka aku malah

diculik, diajari ilmu silat, dan dibiarkan terombang-ambing seperti sekarang ini?

“Kini seluruh tubuhku penuh dengan racun. Tak ada yang mau mendekati.

Semuanya ngeri dan tak mau kusentuh.

“Bukankah aku akan lebih bahagia kalau tetap tinggal di Keraton? Menjadi

selir kesekian ratus Baginda Raja, dan tak tahu-menahu balas dendam semacam ini?”

“Pun, seandainya Keraton diratakan Raja Jayakatwang?”

“Pun andai lebih dari itu. Kakang pikir mereka akan membunuhku?

Menyiksaku? Paling akan menjadikan aku selir. Aku tak punya urusan balas dendam.”

“Gendhuk, adik kecil… kalau semua hanya mengurusi dirinya sendiri, apa

jadinya kita ini?

“Kalau Baginda Raja Kertanegara hanya mengurusi dirinya sendiri, beliau tak

akan mengirim utusan ke luar. Tak akan menggeser para pimpinan yang dianggap

merintangi. Tak akan mencapai kebesaran sebagai manusia.”

“Tapi kan juga tak akan tumpah darah seperti ini. Kakang, seorang raja bisa

mati sekali setelah hidup bersenang-senang lama sekali. Tetapi yang seperti aku ini,

seperti Pak Toikromo itu, berkali-kali sengsara sampai ke anak-cucu tanpa mengerti.”

Upasara memandang lekat Gendhuk Tri.

Seakan tak percaya bahwa kalimat itu bisa diucapkan seorang anak kecil.

Sebagai murid langsung Mpu Raganata, memang tak mungkin Gendhuk Tri

mendengar banyak hal.

“Masih selalu lebih baik berbuat sesuatu untuk tanah air daripada tidak

berbuat sama sekali. Aku dibesarkan dalam tradisi ini. Dan begitulah yang terbawa

sampai sekarang.”

“Untuk apa, Kakang?”

“Untuk kesempurnaan pengabdian pada Raja, pada Keraton, pada Dewa yang

menciptakan kita semua.

“Inilah arti hidup.”

“Kakang kira semua orang seperti Kakang? Lihatlah sekitar Kakang. Aku

mendengar nama besar Eyang Sepuh dari Perguruan Awan yang dahsyat. Semua

tokoh silat memujinya. Tetapi kenapa dalam soal begini besar, begini menentukan

soal runtuh dan jayanya Keraton, beliau tetap tak muncul?

“Tokoh macam apa pula itu?”

Upasara terdiam.

Menghela napas.

“Kita tak berhak menilai dengan cara kurang ajar seperti itu. Eyang Sepuh

adalah tokoh luhur yang dihormati semua orang.”

“Ah. Itu sudah kuno. Buktinya tidak ada. Kalau Kakang tetap mau membela

dia, terserah. Tetapi aku tidak. Aku, Gendhuk Tri ini, lebih hebat dari Eyang Sepuh.

Aku melawan Ugrawe yang jahat. Nah, mana lebih hebat?”

Tuduhan dan pernyataan Gendhuk Tri, kalau dirasakan ada benarnya. Tetapi

juga terasa sangat kasar sekali. Hanya bagi Gendhuk Tri, omongan seperti ini tak

menjadi beban.

Latar belakang dan kekecewaannya begitu besar. Terpisahkan dari Jagaddhita,

seluruh tubuhnya terkena racun yang menyebabkan disingkiri semua orang, satusatunya

yang bisa dekat dengannya hanya Upasara Wulung—itu pun memperhatikan

kepentingan yang lain.

Hari kedua perjalanan mereka sampai di Jung Biru.

Suatu daerah di sisi timur Perguruan Awan.

Gendhuk Tri sebenarnya kesal dengan upacara tetamuan yang baginya penuh

basa-basi membosankan. Akan tetapi karena Upasara Wulung ada di sana, malah agak

berperanan, maka ia pun mencoba mengikutinya.

Hanya saja ketika pandangannya menyapu keliling, sinar matanya bentrok

dengan pandangan seorang gadis yang sangat ayu sekali. Gadis itu sedang mencuri

pandang ke arah Upasara.

Bagi Gendhuk Tri, sepasang sorot mata ayu gadis yang berpakaian kebesaran

itu jauh lebih menarik perhatian daripada omongan basa-basi yang terlalu banyak

bunga kata dan tangan menyembah.

Hanya saja, untuk sementara Gendhuk Tri tak bisa berkutik. Ia berada di

dalam ruang pertemuan, yang begitu banyak orang tak bergerak. Semua pusat

perhatian tertuju kepada tiga orang yang duduk di kursi utama. Naraya Sanggrama

Wijaya, yang elok rupawan dengan rambut panjang melengkung berombak.

Pandangan matanya tajam, akan tetapi nampak lembut sekaligus. Dadanya bidang,

terbuka, memperlihatkan kulit yang sangat halus.

Di depannya berdiri Sagara Winotan serta Jangkung Angilo. Suara Sagara

Winotan terdengar keras dan lantang, ketika memegang bendera yang dibawa dari

Keraton Daha. Semua hadirin duduk di lantai dan melakukan sembah.

“Atas nama Baginda Raja Jayakatwang, atas kemurahan hati Raja di Keraton

Daha, Naraya Sanggrama Wijaya diterima pasuwitannya.. Diterima pengabdiannya.

Dan diampuni segala kesalahan, ada ataupun tidak. Dasar pertimbangan Baginda Raja

adalah untuk memberi ampunan kepada mereka yang bisa berbakti kepada Keraton.

“Naraya Sanggrama Wijaya diterima, karena masih mempunyai darah murni

Keraton Singasari yang benar. Sanggrama Wijaya diterima karena keturunan langsung

Dyah Lembu Tal, dan adalah cucu Narasingamurti.

“Semoga pengampunan ini diterima….”

Seluruh isi ruangan melakukan sembah.

“Anugerah kedua, Nayara Sanggrama Wijaya dikabulkan permintaannya untuk

membuka hutan Tarik, sebagai tempat perburuan Baginda Raja Jayakatwang. Sebagai

tanda kesetiaan, tanah Tarik hanya diizinkan untuk daerah perburuan, jika Baginda

Raja Jayakatwang sewaktu-waktu ingin pesiar. Untuk itu semua, pengawasan hutan

Tarik diserahkan kepada Sagara Winotan, yang berhak menentukan penggunaannya

atas nama Baginda Raja Jayakatwang.

“Mengenai tenaga untuk membuka, Adipati Aria Wiraraja dari tanah Madura

akan membantu.

“Demikian sabda Baginda Raja….”

“Sembah nuwun…” seru sekalian punggawa sebagai ucapan terima kasih.

Gendhuk Tri makin tak tahan saja.

Perlahan ia mulai meninggalkan ruang pertemuan ketika acara jamuan makan.

Langsung ke bagian di mana barisan putri-putri berkumpul.

Namun ia dihalangi oleh tiga prajurit yang menjaga.

“Sekali kucakar kamu bakal mampus tujuh turunan,” kata Gendhuk Tri.

“Kenapa kamu menghalangi aku?”

“Kami semua ditugaskan menjaga putri kedaton.”

Gendhuk Tri menarik suara di hidung. Putri kedaton adalah sebutan bunga

Keraton. Dan ini artinya putri seorang raja. Kalau begitu yang melirik Upasara

Wulung ini pasti putri-putri Raja.

Gendhuk Tri jadi sadar. Dulu di Keraton Singasari, ia rasanya bahkan pernah

menjadi pelayan keempat putri itu. Tak pelak lagi, mereka berempat adalah putri

Baginda Raja Sri Kertanegara.

“O, jadi mereka ini Tribhuana, Mahadewi, Jayendradewi, serta Gayatri?”

“Maaf, kami tak biasa mendengar sebutan lancang seperti itu.”

Gendhuk Tri justru senyum meledek.

Sebelum prajurit mengambil tindakan, Gayatri yang paling ayu dan sayu

pandangannya datang mendekat.

“Adik manis, silakan… kamu mau bertemu siapa?”

Suaranya lembut, mendayu, penuh keakraban.

“Aha, jadi kamu yang bernama Gayatri atau dikenal sebagai Dewi Rajapatni,

putri kesayangan Baginda Raja Sri Kertanegara?”

Wajah Gayatri berubah sepersekian kejap, menjadi sangat sedih. Helaan

napasnya pun membuat Gendhuk Tri harus memuji bahwa Gayatri merupakan

jelmaan yang sempurna dari seorang wanita.

“Soal Ramanda, tidak usah kita bicarakan. Adik manis, mari kita makan

bersama-sama, di bagian belakang.”

Gendhuk Tri menggeleng.

Walau sikap mencibirnya berkurang.

“Aku cuma mau tahu kenapa kau melirik Kakang Upasara.”

“O, jadi dia yang bernama Upasara Wulung?”

Gendhuk Tri merasa menyesal mengatakan nama lelaki yang dikaguminya.

“Kamu baru tahu sekarang. Aku sudah tahu sejak dulu.”

“Ya, aku mendengar kabar bahwa seorang lelaki, asal didikan dari Ksatria

Pingitan, bernama Upasara Wulung, mempunyai adik manis. Jadi kamu yang bernama

Jagattri? Yang ikut perang tanding ketika Keraton diserbu?”

“Ya, akulah orangnya.”

Gayatri merangkul manis.

Lembut.

“Terima kasih, adik manis. Baru sekarang aku sempat mengucapkan rasa

terima kasih kepada penolong yang terhormat. Ketika adik manis dan Kakang Upasara

membela Baginda Raja, pada saat itulah kami mempunyai waktu untuk meloloskan

diri. Sungguh tak nyana, hari ini bisa berjumpa. Adik manis, tolong sampaikan terima

kasih kami berempat kepada kakangmu.”

Gendhuk Tri melengos.

“Tak bakal aku menyampaikan ucapan itu.”

“Kenapa? Apa salahku?”

“Kakang Upasara adalah kakangku sendiri. Orang lain tak boleh ikut melirik.

Apalagi bicara padanya.”

Gayatri tersenyum. Tetap lembut.

“Maafkan kalau begitu. Aku mencabut kembali ucapan itu.”

Gendhuk Tri merasa amblas ke dalam jurang yang dalam.

Karena justru Gayatri seperti menerima seluruh sikap bengal yang dilakukan.

Kalau Gayatri melawan dalam kata-kata, Gendhuk Tri siap untuk berteriak. Tak

peduli dengan keadaan sekitar. Akan tetapi ternyata sikap mengalah Gayatri

melembekkan semua kekerasan hatinya.

“Hari ini, saya secara pribadi juga menyampaikan terima kasih kepada utusan

Naraya Saggrama Wijaya, yang bernama Upasara Wulung. Karena ia telah

menyelamatkan diri saya. Dan terutama menyelamatkan kebesaran nama Baginda

Raja Jayakatwang,” suara Jangkung Angilo terdengar ke seluruh ruangan.

Upasara Wulung menghaturkan sembah.

“Berbahagialah Raden mempunyai pembantu ksatria seperti dia. Saya ingin

membawanya ke Keraton kalau Raden Wijaya relakan.”

“Apa yang Paduka Menteri katakan dan kehendaki, selama bisa kami

laksanakan, akan kami laksanakan. Hanya saja Upasara masih terlalu muda untuk

mengerti sopan santun Keraton.”

Jelas sekali dari kalimat ini, Raden Wijaya menyatakan penolakan dengan

sangat halus.

“Kelak kalau sudah sedikit mengerti adat-istiadat Keraton, kami akan

menyowankan, membawa, ke Keraton Daha.”

Yang membuat Gendhuk Tri makin kesal ialah bahwa meskipun melirik

sedikit, akan tetapi Gayatri ternyata mempunyai perhatian ketika nama Upasara

Wulung disebut-sebut.

Untuk memperlihatkan bahwa dirinya lebih dekat, Gendhuk Tri maju

mendekati Upasara Wulung. Langsung duduk di sebelahnya.

Tindakan Gendhuk Tri ini secara tidak langsung mendukung apa yang

dikatakan Raden Wijaya.

Pertemuan di Jung Biru berakhir larut malam, setelah disajikan beberapa

tarian. Upasara sendiri kemudian menuju tempat peristirahatan. Menemui Wilanda

yang masih terbaring, Tiga Pengelana Gunung Semeru, Jaghana, serta Dewa Maut.

Dengan bantuan para tabib yang dipilih, rasa sakit memang berkurang banyak,

akan tetapi tak membuat tokoh-tokoh silat ini pulih kembali.

“Satu-satunya yang bisa membuka kunci tenaga dalam ini adalah Ugrawe

sendiri,” kata Jaghana lembut. “Anakmas tak perlu bersusah payah. Kami semua

dikalahkan dalam pertempuran secara ksatria.”

“Pukulannya sangat jahat sekali, Paman.”

“Pukulan itu sendiri tak ada jahat dan tak ada baik.”

Dewa Maut terbatuk keras.

“Apa benar jenis ilmu pukulan seperti itu tak ada duanya di jagat ini? Sehingga

hanya Ugrawe sendiri yang menguasai?”

“Ada, muridnya, Rawikara. Tetapi ia pun kini terluka oleh pukulan yang

sama.”

“Aku tak percaya,” teriak Dewa Maut. “Aku tak percaya di jagat ini ada ilmu

yang begitu khusus dan tak dimengerti orang lain. Aku tak percaya. Ya, Tole, apa

yang kukatakan benar atau tidak?”

“Rasanya benar. Tetapi entahlah, aku tak mau mikir soal itu,” jawab Gendhuk

Tri.

“Bagus, bagus sekali. Aku juga tak mau mikir soal itu.”

Gendhuk Tri mulai sadar bahwa Upasara Wulung mulai sibuk dengan urusan

Keraton. Urusan negara! Yang lebih membuat jengkel lagi bagi Gendhuk Tri adalah

bahwa itu semua membuat Upasara Wulung berada dalam Keraton, dan ini berarti

bakal ketemu Gayatri!

Sebagian yang dikuatirkan Gendhuk Tri ada benarnya.

Dini hari Raden Wijaya sudah mulai dengan pertemuan khusus para

pembantunya. Ada sekitar dua puluh prajurit yang mengelilingi. Mulai dari Dyah

Pamasi, Dyah Singlar, Dyah Palasir sampai dengan yang digelari empu, yaitu Mpu

Tambi, Mpu Sora, Mpu Renteng, Mpu Elam, Mpu Sasi. Bersama dengan Upasara

Wulung mereka semua duduk di lantai.

“Ada prajurit baru, yang kalian semua sudah mengenal. Aku mempercayai

karena ia dulunya di Ksatria Pingitan. Namanya Upasara Wulung. Murid langsung

yang terhormat Ngabehi Pandu.

“Kalian semua yang berkumpul di sini adalah diriku sendiri. Mati, jaya, dan

runtuhnya semua kemungkinan yang akan datang di tangan kalian. Jika Dewa yang

menguasai jagat merestui, aku tak akan melupakan kalian semua.

“Tapi perjalanan kita masih panjang sekali. Selama ini Tarik telah kita buka.

Akan tetapi masih ada klilip, ada kotoran di pelupuk mata. Pengawasan dari Menteri

Sagara Winotan. Kita akan berusaha agar bagian-bagian dalam dari tlatah Tarik tak

diketahui oleh beliau.

“Masalah kedua yang sampai kini masih merupakan ganjalan terbesar adalah

bahwa sekarang ini di sekitar Tuban sudah datang prajurit Tartar yang jaya. Ini bukan

klilip di pelupuk mata, akan tetapi ini masalah yang besar. Sejauh keterangan yang

kita peroleh, mereka membawa tiga panglima perang. Naga Wolak-Walik, Naga

Kembar atau Ike Meese, dan Naga Murka atau Kau Hsing. Ilmu perang mereka sangat

hebat. Ditambah dengan Kiai Sangga Langit, mereka betul-betul luar biasa. Hanya

kelas Ngabehi Pandu saja yang secara perorangan bisa menghadapinya. Sementara kita

ini semua masih harus belajar banyak. Kalau saja Eyang Sepuh dan Mpu Raganata

masih ada, rasanya tak bakal jadi masalah utama.”

Suasana hening.

“Sesembahan kami tinggal Paduka Raden Wijaya,” sembah Mpu Ranggalawe.

“Kami semua hanya bisa membaktikan diri dengan nyawa, karena itu satu-satunya

milik kami yang bisa dipertahankan saat ini. Dan itulah yang akan kami berikan,

Raden.”

Semua yang hadir menghaturkan sembah.

“Aku sama sekali tak meragukan kesetiaan kalian. Justru aku mempercayai

secara luar-dalam.

“Tetapi pengorbanan kita terlalu besar. Bisa jadi kita akan rontok sebelum

bertarung. Sebelum pertempuran yang sesungguhnya dengan prajurit sesat yang kini

di Keraton Daha. Mpu Ugrawe sendiri masih merajalela dengan pukulan yang

menurut kabar bernama Banjir Bandang Segara Asat.

“Tanpa satu siasat, rasanya kita akan runtuh sebelum bisa berdiri.

“Hmmmmm, sebagai panutan aku seharusnya tak mengatakan hal ini, tetapi

kita memang memerlukan seorang seperti Mpu Raganata.”

“Maaf, Sesembahan, bagaimana dengan Pamanda Aria Wiraraja?”

“Selama ini posisinya sulit. Sebelum perang terbuka dengan genderang,

Pamanda Wiraraja harus tetap berdiam diri.”

Raden Wijaya menghela napas.

“Upasara, kamu berjaga di Tarik. Sore nanti saya bersama Paman Ranggalawe

dan Paman Sora akan mencoba melihat suasana di perkemahan Tartar. Sudah lama

aku tidak menggunakan trisula.”

Trisula Muka adalah tombak berujung tiga yang menjadi senjata andalan

Raden Wijaya. Dengan ilmu andalan Kerta Rajasa Jaya Wardhana, yang merupakan

ilmu meniru pancaran sinar matahari yang dahsyat. Yang mengubah gelap menjadi

terang, kekacauan menjadi kemakmuran dan ketenteraman dengan kejayaan.

Ilmu yang diperdalam dengan berbagai unsur berdasarkan kepada apa yang

diajarkan oleh Mpu Raganata, yaitu bagian dari Weruh Sadurunging Winarah. Ilmu

yang mengandalkan kekuatan tenaga dalam, kekuatan batin yang bersih. Unsur-unsur

yang muncul seperti kerta, berarti mengembalikan segala kejahatan menjadi

kebaikan. Mengubah serangan lawan yang jahat menjadi tawar. Unsur rajasa,

mengubah gelap menjadi terang dengan cara menggempur, seperti juga sifat matahari.

Unsur jaya, mencapai kemenangan dengan tombak Trisula Muka. Sedangkan unsur

wardhana adalah unsur kekuatan dalam, yang intinya disarikan dari berbagai aliran

tenaga dalam dari berbagai agama dan kepercayaan. Kekuatan yang lahir adalah

kekuatan seperti lahirnya butir padi dari berbagai unsur tanah.

Secara langsung, Upasara Wulung belum pernah melihat kehebatan

penggunaan Trisula Muka. Akan tetapi mengingat kemelut yang meruntuhkan

Keraton Singasari lalu, bisa diduga bahwa Raden Wijaya cukup mempunyai ilmu

tinggi. Ditambah pengawal pribadi yang begitu tegar, rasanya memang tak bisa

dipandang biasa.

“Upasara, tugasmu yang utama menjaga seluruh padepokan ini. Pertama dari

gangguan kenakalan, kedua dari pengawasan Jangkung Angilo dan Sagara Winotan.

Seluruh wewenang selama aku tinggalkan ada di tanganmu.”

“Saya akan mencoba sebisanya.”

Menjelang dini hari, rombongan Raden Wijaya berangkat.

Tinggal Upasara Wulung yang mendiami gedung utama. Bersama para dyah

dan empu yang menjaga di bagian luar.

Bagi Upasara Wulung, soal menjaga dan berjaga adalah soal yang biasa.

Meskipun terasa bahwa penunjukan wewenang yang diberikan padanya termasuk

sangat istimewa. Mengingat ia seorang yang belum cukup lama dikenal langsung.

Akan tetapi kepercayaan besar yang diberikan justru menumbuhkan kepercayaan

dalam diri Upasara.

Yang membuatnya sedikit kikuk adalah karena ia juga harus menjaga bagian

kaputren. Yang lebih menggelisahkan lagi ialah karena keempat sekar kedaton

mengundang untuk makan siang bersama.

Bahwa hal itu biasa dilakukan oleh Naraya Sanggrama Wijaya bukan sesuatu

yang mengejutkan. Bahwa para pengawal pribadi juga turut makan bersama, tidak

menjadi soal. Bahwa yang menyediakan makanan adalah para dayang, juga memang

keharusannya begitu.

Akan tetapi Upasara Wulung jadi merasa serbasalah.

Wajahnya merah seluruhnya.

Ujung hidungnya seperti buah merekah.

“Kakang Upasara,” sapa Tribhuana, “kami menghaturkan selamat datang di

dusun Tarik ini. Kami tak bisa melayani lebih dari yang bisa kami sediakan.”

“Ini sudah lebih dari cukup, Gusti Ayu….”

“Kenapa masih memakai sebutan itu?”

“Sulit bagi hamba mengubah sebutan itu. Hamba adalah rakyat biasa yang dulu

bisa bernasib baik ditolong bergabung dalam Pingitan.”

“Ah, memang tak ada yang bisa melupakan kebesaran Kanjeng Rama Prabu.

Selama ini kekuatan kita masih lemah. Para ksatria dan pendekar justru masih sakit.

Apa mungkin, sebelum seribu hari nanti, Kanjeng Rama Prabu melihat Keraton yang

kembali tenang?”

Sejak itu, setiap siang hari merupakan siksaan tersendiri bagi Upasara Wulung.

Kalau menghadapi Tribhuana, justru Upasara banyak belajar mengenai liku-liku

Keraton. Dalam hati Upasara memuji bahwa putri Keraton yang satu ini jauh lebih

istimewa dari semuanya. Mempunyai keinginan yang kuat sekali untuk mengetahui

masalah-masalah politik.

Yang benar-benar membuat Upasara mati kutu ialah kalau harus menghadapi

Gayatri. Entah kenapa dadanya jadi berdebar, jantungnya berguncang, dan makannya

jadi serbasalah. Rasanya menelan buah sawo pun tak bisa.

Walau hampir selalu keempat putri menyertai, disertai dayang-dayang yang

meladeni, tapi juga ada saat khusus Gayatri begitu dekat dalam pembicaraan.

“Kakang Upasara, bagaimana kabarnya Gendhuk Tri?”

“Ia selalu baik, Gusti Putri… Hanya nakal.”

“Gendhuk Tri sangat mengharapkan Kakang.”

“Rasanya begitu.”

“Kakang juga merasa begitu?”

Guncangan darah di pembuluh tubuh seperti tak terkendalikan.

Upasara membuang jauh-jauh pikirannya sendiri.

“Gendhuk Tri sangat manis sekali. Ayu. Dan bisa main silat. Betul-betul wanita

yang sempurna.

“Saya ingin bisa seperti itu, akan tetapi tak mungkin.”

“Gusti Ayu bisa kalau mau.”

“Kakang Upasara mau melatih?”

“Saya tidak berhak… tidak berani. Empu-empu yang lain lebih bisa.”

“Kakang Prabu Wijaya mempercayai Kakang Upasara….”

“Ya, tapi bukan soal berlatih.”

“Maafkan saya, Kakang. Kalau Kakang sudah terikat dengan Gendhuk Tri.”

Upasara merasa menjadi sangat kikuk.

Tak bisa berucap.

Gayatri menghela napas.

“Saya makin iri saja kepada Gendhuk Tri.”

“Maaf, Gusti Putri… hamba tak bisa melatih. Bukan soal Gendhuk Tri. Ia adik

hamba… begitulah kira-kiranya.”

Gayatri menghela napas kedua kalinya.

“Kalau ada yang harus saya sesali karena saya ini putri Baginda Raja, adalah

karena dengan demikian apa yang bisa saya lakukan menjadi terbatas. Semua

menganggap seolah masih selalu putri raja yang berkuasa, putri yang harus disanjung

dan tak boleh membersihkan sebutir debu pun.

“Tapi inilah takdir yang harus saya terima.

“Dan ini tak akan berubah, kalau tak ada yang berani mengubah.”

Upasara menunduk.

Tak berani memandang.

Sejak itu lebih suka tidak makan siang. Tidak makan malam. Bahkan juga tidak

melatih diri. Pikirannya hanya terganggu bayangan Gayatri. Yang dalam

bayangannya terlalu sempurna sebagai dewi, sebagai bidadari. Alangkah tolol diriku

ini, Upasara menyalahkan dirinya. Sejak kapan aku begini kurang ajar mengharapkan

yang mustahil?

Upasara merasa dirinya menjadi manusia yang tak berguna.

Kenapa justru ia memikirkan Gayatri? Kenapa justru ia memikirkan kata-kata

yang bersayap yang bisa diartikan memberi harapan?

Upasara mulai memusatkan diri untuk bergabung dengan para pendekar yang

masih menderita kesakitan.

Di antara mereka hanya Jaghana yang masih kelihatan tetap tenang. Selalu

berusaha memulihkan tenaga dalamnya dengan jalan bersemadi, mengatur napas.

Walau di akhirnya selalu menggelengkan kepala.

“Benar-benar ganas luar biasa. Ilmu Ugrawe mempunyai perkembangan yang

makin menunjukkan titik-titik tanpa akhir. Makin berbahaya. Jika ini terus

dikembangkan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, barangkali tak akan

pernah ada lagi yang mampu mengimbanginya.”

“Pak Gundul, kamu ini begitu sengsara. Selama ini ia jeri kepadaku, buat apa

gegetun?” teriak Gendhuk Tri lantang.

“Benar, Tole, kita berdua akan mencincangnya,” kata Dewa Maut tanpa peduli

keadaan dirinya sendiri.

“Banjir Bandang Segara Asat adalah satu tahapan akhir dari semua jurus yang

dikenal Sindhung Aliwawar yang luar biasa. Akan tetapi jurus ini juga membuka

tahap lain, yang bisa mencapai puncaknya lagi.

“Dengan kekuasaan dan kelicikan yang dimiliki, Ugrawe akan terus melaju.”

“Bukankah Mpu Ugrawe sedang terluka?”

Jaghana memandang Upasara.

“Ya, tetapi ia bisa dengan cepat memulihkan tenaganya. Bahkan Rawikara pun

bisa segera dipulihkan. Asalkan ada korban yang dipindahkan tenaga dalamnya.

“Dengan mengatur seberapa tenaga dalam yang diisap, Rawikara akan bisa

disembuhkan. Sekarang ini masih lemah, jadi bisa dipakai tenaga dalam pada tingkat

permulaan untuk memukulnya. Dengan demikian tenaganya berpindah. Rawikara

mempunyai modal. Begitu seterusnya, makin lama makin meningkat. Ini berarti akan

segera pulih dan berlipat ganda.

“Aku bilang dengan akal liciknya, dengan kekuasaan yang dimiliki, ia bisa

melakukan itu.”

Mendadak Upasara menghaturkan sembah.

Bersujud.

“Saya yang rendah tak bisa melihat cahaya ini. Kalau Mpu Ugrawe bisa

melakukan, kenapa kita tidak?

“Banjir Bandang Segara Asat intinya adalah memindahkan tenaga lain ke

dalam diri kita. Bisa juga memindahkan tenaga kita ke dalam diri orang lain.

Seumpama kata membuat banjir di daratan dengan mengeringkan laut.

“Paman Jaghana, bersiaplah….”

Jaghana melengak. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Upasara akan

melakukan itu. Akan mengirimkan tenaganya sendiri untuk diserap orang lain.

Memberikan tenaga dalamnya sendiri.

Bagi Upasara tak terlalu sulit karena bisa memperkirakan tenaga Jaghana.

Sehingga pemindahan tenaga itu tak akan melukainya.

“Jangan gegabah….”

“Saya tahu. Paman Jaghana akan menolak. Paman Pembarep akan menolak.

Akan tetapi ini satu-satunya cara untuk memulihkan tenaga Paman semua.

“Paman semua adalah ksatria sejati, pembela kebenaran. Saat ini Keraton

sedang dalam bahaya besar. Baik dari rencana Baginda Jayakatwang maupun dari

negeri Tartar. Paman semua jauh lebih berguna dari saya. Maaf, maafkan saya… kalau

memaksa….”

“Anakmas…,” Wilanda bersuara lemah. “Sampai mati pun saya akan menyesali

tindakan ini. Sudah jelas sekarang Anakmas Upasara jauh lebih diperlukan.”

“Tidak ada artinya satu Upasara dibandingkan dengan Paman semua, para

ksatria sejati. Seperempat tenaga dalam pulih, Paman akan bisa terus

mengembangkan. Dan dalam waktu singkat kita mempunyai banyak ksatria.”

“Tidak bisa. Saya akan menolak.”

“Maaf, saya akan memaksa.”

Bagi Upasara bukan sesuatu yang sulit untuk memaksakan tenaga dalam. Yang

ditolong sekarang ini tak mungkin bisa menolak.

“Tidak bisa. Tetap tidak bisa,” kata Pembarep. “Jangan lakukan itu, Upasara.

Kamu sekarang dipercaya Sanggrama Wijaya. Mana mungkin orang yang dipercaya

jadi loyo?

“Tugas Keraton masih besar bagimu.”

“Paman akan segera menggantikan.”

Wilanda menggelengkan kepalanya.

“Anakmas, sesembahan saya sejak kecil. Kalau Anakmas memaksakan itu,

Anakmas akan menyesal. Karena begitu saya mempunyai tenaga, saya akan

membunuh diri.”

“Saya juga,” kata Pembarep.

“Kami semua akan membunuh diri di depanmu.”

Sejenak Upasara menahan napas. Tak menyangka sama sekali bahwa niatnya

menolong ditolak dengan cara seperti itu.

Bisa-bisa malah hancur semuanya.

“Saya percaya, itu tak akan pernah terjadi. Saya mempercayai sikap jiwa besar

para ksatria. Tak nanti akan menyia-nyiakan nyawa begitu saja.”

Dengan keputusan mantap, Upasara mulai bersila.

Memusatkan konsentrasi.

Mendadak terdengar suara lembut.

“Saya tak pernah menyangka ada manusia di dunia ini yang begitu jahat dan

kejamnya.”

Upasara bergeming, kalau saja suara itu bukan suara yang mampu mengusik

jiwanya. Benar juga! Ketika matanya terbuka dan helaan napas terdengar, ia melihat

wajah Gendhuk Tri yang berubah dongkol. Siapa lagi yang mampu mencemberutkan

wajah Gendhuk Tri secara seketika selain Gayatri?

“Kejam apanya?” teriak Gendhuk Tri. “Di seluruh kolong langit ini, biar

ayahmu yang raja atau kamu sendiri, tak ada sekuku hitam dibanding Kakang

Upasara. Kakang Upasara adalah yang paling mulia. Mengorbankan tenaga dalamnya

sendiri untuk orang lain.

“Nah, yang begini masih kamu sebut kejam?”

“Ugrawe kejam karena sifatnya seperti itu. Akan tetapi Upasara jauh lebih

kejam, karena ia mengembangkan ilmu jahat itu.”

“Cuh. Kamu ngerti apa? Bedak-pupur kamu tahu. Tapi soal ilmu silat,

menggerakkan tangan lebih tinggi dari bahu saja kamu belum pernah. Melangkah

lebih besar dari kainmu saja tak mungkin.”

“Tetapi aku tak sekejam Kakang Upasara. Dengan memberikan tenaga dalam

kepada Paman Jaghana, Paman Dewa Maut, Paman Wilanda, Paman Pembarep, dan

yang lainnya, di kemudian hari paman ini semua akan terus-menerus mencari korban.

“Terus-menerus mencari korban baru.

“Sampai akhirnya harus bertarung di antara mereka sendiri. Apakah ini tidak

kejam dan jahat? Apakah ini tidak menanamkan benih kejahatan dan kekejaman di

esok hari?”

Lembut nadanya, perlahan iramanya, akan tetapi terasa masuk dan mengena.

Untuk sesaat Upasara tak bisa mengatakan satu patah kata pun.

“Pada saat sekarang ini tak ada yang menghalangi Kakang. Tak ada yang bisa.

Saya sendiri tak bisa menghentikan kemauan jahat dan kejam yang dianggap mulia

ini.

“Semua terserah Kakang sendiri.”

Jaghana memuji kepandaian Gayatri.

Pembarep menghela napas.

“Ilmu Banjir Bandang Segara Asat memang ilmu yang luar biasa ganasnya. Tapi

bukan berarti tanpa kelemahan. Semua ilmu silat, makin kuat, makin tangguh, makin

kuat makin tangguh pula kelemahannya. Banjir Bandang hanya mengembangkan

salah satu bagian dari sifat-sifat ilmu silat yang sesungguhnya. Dengan demikian, ada

bagian lain yang tak bisa dikembangkan. Karena terlalu menyerang, pertahanannya

pasti berkurang. Udara yang dilontarkan terlalu banyak. Dalam titik itu, sebelum

tenaga mengisap bekerja, kita bisa mencuri ketika itu.

“Itulah salah satu kelemahan Banjir Bandang….”

Mendadak Jaghana menghaturkan sembah.

“Gusti Putri… saya tidak menyangka akan bertemu Gusti Putri….” Suaranya

memelas, penuh rasa hormat yang tulus. Demikian juga Wilanda.

Bahwa Gayatri bisa menguraikan dengan jelas mengenai jurus Banjir Bandang,

bisa mengundang heran. Karena tak ada yang menyangka ia akan bisa berbicara

sefasih itu. Tetapi bahwa Jaghana dan Wilanda menyembah dengan sangat hormat,

lebih mengherankan lagi.

“Sungguh tak nyana, hamba masih mendapat berkah untuk mendengarkan.

Sungguh tak nyana….”

Jaghana menyembah lagi.

“Apakah ada titah lain, Gusti Putri?”

Gayatri menghela napas.

“Awan di langit bergerak dengan sendirinya, tak usah dipaksa-paksa. Angin

dini hari akan menggerakkan sendiri.”

Jaghana dan Wilanda menyembah secara bersamaan.

Gendhuk Tri pun menjadi terkesima.

“Kami akan berusaha….”

Itu saja jawabnya. Dan sejak memberi jawaban itu Jaghana lalu bersila,

bersemadi bersama dengan Wilanda. Sampai Gayatri meninggalkan tempat, tetap

bergeming.

Sampai akhirnya Upasara pun turut meninggalkan tempat.

Dengan beberapa pertanyaan dalam hati. Apa arti kata-kata Gayatri yang

begitu besar pengaruhnya bagi Wilanda dan Jaghana? Apa hubungannya dengan

jawaban Gayatri dan sikap mereka terus bersemadi mati raga?

“Saatnya akan datang untuk saya ceritakan semuanya, Kakang. Saya berjanji

untuk tidak mengatakan sesuatu.”

“Gusti berjanji kepada siapa?”

“Kalau saya katakan, berarti saya melanggar janji.”

“Kakang Prabu?”

“Kenapa selalu itu yang Kakang bicarakan?”

“Saya tak mempunyai dugaan lain.”

“Semua merasa bahwa kami berempat adalah calon istri Kakang Prabu Wijaya.

Tak meleset sedikit pun. Memang begitulah seharusnya menurut aturan. Akan tetapi

bukankah belum terlambat? Sebelum ada janur kuning tanda peresmian, semua bisa

terjadi.

“Kakang Upasara….” Suara Gayatri menjadi perlahan sekali, tertutup oleh suara

tarikan napas yang menggemuruh. “Apakah layak seorang wanita menawarkan

kesempatan kepada seorang pria? Apakah tidak membuat wanita itu menjadi sangat

rendah di mata pria tersebut?”

Upasara bergeming.

“Jawablah, Kakang. Bila ada wanita mengatakan seperti itu, apakah wanita itu

lebih rendah dari seekor cacing?”

“Hamba tak berani mengatakan… Hamba tak mengerti harus bagaimana…

Semuanya begitu tiba-tiba dan tak pernah hamba bayangkan. Kehormatan besar ini,

entah dengan cara bagaimana hamba bisa menyadari.”

“Tentang cacing yang rendah?”

“Hamba yang lebih jahat dan lebih kejam dari cacing, tak bisa memberi-kan

penilaian, Gusti….”

Upasara menyembah hormat.

“Kalau semua nanti bisa terjadi… hamba tak tahu dengan cara apa mensyukuri

anugerah Dewa Yang Mahaagung….”

Ketika akhirnya Raden Sanggrama Wijaya datang kembali, Upasara mendapat

tepukan di pundak.

“Tak sia-sia kupercayakan Tarik padamu, Upasara….”

“Hamba menjalankan tugas sebisanya. Selebihnya para prajurit sendiri yang

menjalankan tugas dengan baik.”

“Ya, akan tetapi kita tetap berada dalam bahaya. Karena kita berlomba dengan

waktu. Cepat atau lambat senopati Daha, Sagara Winotan dan Jangkung Angilo, akan

mengetahui apa yang kita persiapkan. Jika ini diketahui, habislah riwayat kita.

“Sementara pasukan negeri Tartar sungguh luar biasa. Prajurit yang benarbenar

tangguh, tersusun rapi, dan bukan nama kosong belaka bahwa mereka telah

menaklukkan banyak negeri seberang.

“Aku tak tahu mana yang harus kupilih. Menggempur Keraton Daha

secepatnya ataukah menyingkirkan pasukan Tartar.

“Dua-duanya sangat berat.

“Tapi aku memilih yang kedua. Dengan bantuan prajurit Keraton Daha,

prajurit Tartar akan kusingkirkan. Dengan begitu kepercayaan Baginda Jayakatwang

akan membesar. Dan itulah saat terbaik untuk merebut takhta. Bagaimana

pendapatmu, Upasara? Hanya kamu yang belum kudengar.”

Upasara menghaturkan sembah.

“Hamba tak begitu tahu mengenai strategi. Gusti Putri Gayatri barangkali bisa

lebih memberikan penjelasan….”

Raden Sanggrama Wijaya mengerutkan alisnya. Beberapa detik cuma.

“Itu aku bisa menanyai sendiri. Aku ingin mendengarkan pendapatmu.”

“Maafkan, Raden. Menurut saya lebih mudah menggempur Keraton Daha

dibandingkan prajurit Tartar. Para senopati di Keraton Daha telah kita ketahui

kekuatannya. Dan lebih banyak rakyat yang mendukung kita.”

Sanggrama Wijaya tersenyum.

Upasara menjadi kecil.

“Perhitunganmu ada benarnya. Keraton lebih lemah. Akan tetapi

perhitunganku lain. Kita harus menggempur Tartar dulu. Dengan cara ini, kita

membangkitkan perlawanan seluruh masyarakat. Para ksatria, para pendekar yang

selama ini bersembunyi—seperti Ngabehi Pandu, akan keluar dari sarangnya. Mereka

akan bangkit membela tanah airnya.

“Lalu kita belokkan untuk menggempur Keraton. Aku sedang menunggu

persetujuan Paman Wiraraja. Perhitunganku sederhana: kita bermusuhan dengan

Keraton. Akan tetapi dibandingkan dengan Tartar, kita jelas harus lebih memusuhi

Tartar.

“Nah, bagaimana dengan keteranganku ini?

“Cukup jelas?”

Upasara menyembah.

“Tadi kamu menyebut Gayatri… Kenapa kautunjuk dia untuk melihat strategi?

Kurasa agak salah alamat. Bukan Gayatri yang selama ini ingin mengetahui masalah

strategi.

“Tetapi kenapa kau usulkan, Upasara?”

“Hamba salah bicara. Maaf, Raden.”

“Katakan, jangan takut-takut.”

“Gusti Putri Gayatri ternyata diam-diam mempunyai pengetahuan yang luas.

Juga dalam ilmu silat. Setidaknya Paman Jaghana dan Paman Wilanda kini sedang

berusaha menawarkan pengaruh pukulan Banjir Bandang atas petunjuk Gusti Putri.

“Barangkali pengetahuannya…”

Raden Sanggrama Wijaya menggeleng.

“Aku tidak percaya. Gayatri tidak mengetahui masalah itu. Tak mungkin.

Karena aku mengenalnya. Tetapi sifatku adalah selalu memberi kesempatan. Upasara,

kuangkat kamu menjadi senopati hari ini secara resmi. Kalau selesai persoalan ini,

kamu bisa menagih padaku. Dan tugasmu yang pertama adalah kembali ke Keraton

Daha. Melalui Kiai Sangga Langit, kamu bisa melihat kelemahan prajurit Tartar.

Kudengar namamu disebut dengan hormat oleh Kiai Sangga Langit.

“Kalau kamu menganggap Gayatri bisa memberimu petunjuk, kuizinkan ia

ikut serta denganmu. Dan seluruh tanggung jawab ada di pundakmu.”

Geledek besar pun tak akan mengguncangkan Upasara seperti sekarang ini!

Berangkat ke Keraton Daha dengan putri yang mengguncangkan saraf-saraf

yang paling peka?

Sesaat Upasara lupa untuk menghaturkan sembah. Menunduk bergeming.

Raden Wijaya segera menyusun kekuatan.

Para prajurit dari tlatah Madura yang mulai berdatangan, menyamar sebagai

petani, menjadi nelayan di sepanjang Kali Brantas sambil memata-matai. Bagi Raden

Wijaya agaknya tidak perlu memusingkan dengan pikiran kenapa kemudian Aria

Wiraraja berbalik membantunya. Pada masa Baginda Raja Kertanegara, Aria Wiraraja

merasa disingkirkan. Ia berpihak kepada Raja Muda Gelang-Gelang, Jayakatwang.

Akan tetapi agaknya kehancuran Keraton Singasari serta cara-cara Jayakatwang

menghancurkan, membuatnya sadar. Bahwa pilihannya keliru. Apalagi ketika Raden

Wijaya dan rombongannya melarikan diri dari Keraton dan terlunta-lunta.

Aria Wiraraja adalah ahli strategi yang ulung. Bermain di belakang layar.

Seketika itu pula jatuh keputusannya untuk membela Raden Wijaya, yang dianggap

akan bisa mengembalikan citra Keraton. Ia mudah dan bisa diterima oleh Raja

Jayakatwang ketika mengusulkan untuk memberi pengampunan kepada Raden

Wijaya, asal yang terakhir ini membuat tanda penyerahan. Dan Aria Wiraraja

mengatur semua ini.

Kini setelah merasa tiba saatnya, Aria Wiraraja mengirim prajuritnya untuk

bergabung. Sungguh suatu liku-liku yang Ugrawe pun tak mampu mengendusnya.

Raden Wijaya merasa mendapat bantuan sepenuhnya.

Maka, dibuat dua rencana sekaligus. Pertama mengadakan persiapan, dan yang

kedua mengirim telik sandi, atau tugas rahasia ke Keraton. Tugas inilah yang

diberikan kepada Upasara Wulung.

Upasara meminta pamit kepada para pendekar yang masih menderita. Sejak

pertama Wilanda dan Jaghana tetap bergeming. Seakan mati raga. Kepada Pembarep,

Panengah, Wuragil, Dewa Maut, kedua Pu’un, Upasara menceritakan tugasnya.

Hanya ketika tiba giliran Gendhuk Tri, Upasara menjadi bingung. Karena tidak

berhasil menemukan.

Dalam perjalanan, Gayatri mengingatkan hal ini.

“Pasti ada apa-apanya dengan adik manis yang bandel ini,” kata Gayatri yang

memakai pakaian lelaki.

“Entahlah, Gusti….”

“Selama Kakang masih memanggil dengan sebutan itu, sama juga membuka

rahasia.”

“Maaf, Gay….”

“Adik manis Gendhuk Tri kelihatannya kurang suka kita jalan bersama.

Sebetulnya tak ada salahnya ia diajak.”

“Kita harus berangkat segera.”

Dalam perjalanan, mereka berdua menukar dua kuda pada tempat-tempat

tertentu. Ternyata pengaturan pasukan di sepanjang Kali Brantas sangat rapi dan teliti.

Boleh dikatakan mereka berdua tak menemukan kesulitan sedikit pun. Di setiap

tempat yang ditentukan telah disediakan dua ekor kuda segar, berikut makanan

sekadarnya. Mereka yang mengganti kuda melakukan tanpa bertanya satu patah kata

pun.

“Raden Wijaya memang hebat.”

“Dalam hal mengatur seperti ini Kakang Prabu memang luar biasa. Tapi

kenapa kamu mengajakku?”

Upasara merah wajahnya.

“Kalau yang ada di jagat ini hanya kita berdua, akankah kamu selalu malumalu?”

“Hmmmmm.” Upasara menghela napas panjang. “Saya tak menyangka bahwa

Raden Sanggrama Wijaya akan memberikan izin begitu cepat. Bahkan hanya kita

berdua yang disuruh berangkat.”

“Kamu menyesal, Kakang?”

“Tidak, Gus… tidak, Gay. Saya merasa bahagia sekali.”

“Tahukah kamu kenapa Kakang Prabu memberi izin aku berangkat

bersamamu?”

“Karena Kakang… Karena Raden Wijaya mengetahui saya mengharapkan itu?”

“Ada benarnya. Akan tetapi hanya separuh. Kakang Prabu sangat

mengharapkan kembalinya takhta. Apa pun akan diberikan untuk merebut kembali

Keraton Daha. Jangan kata cuma aku—bersama tiga saudariku, akan diberikan.

“Kakang Upasara, itulah yang kadang membuatku bimbang. Aku sudah

ditakdirkan menjadi putri seorang raja. Dan sekarang ini, lelaki yang paling pantas

mendampingiku adalah Kakang Prabu.

“Akan tetapi, sesungguhnya Kakang Prabu mengawiniku sebagai bagian dari

kebesaran seorang calon raja. Sebagai yang paling berkuasa. Yang paling tinggi.

Kakang, itulah nasib yang selalu kukatakan.”

“Apa ruginya mendampingi seorang seperti Raden Wijaya?”

“Tak ada, Kakang. Kakang Prabu jauh lebih tampan darimu, darah birunya

murni. Kekuasaan besar dengan persiapan dan masa depan yang disinari bulan

kebesaran.

“Akan tetapi aku merasa, aku hanya sebagian dari kebesarannya itu. Seperti

juga tombak pusakanya, seperti para senopatinya, seperti kuda-kuda kesayangannya.”

“Juga ketiga saudarimu?”

“Bahkan kalau putri-putri yang melarikan diri sepuluh, semuanya akan

diambil oleh Kakang Prabu. Sebagai pertanda kebesarannya. Tidakkah kamu

merasakan yang kurasakan, Kakang?”

“Rasanya bisa. Tetapi apakah itu mungkin? Saya tak mempunyai darah biru.

Saya hanya bagian yang kecil dari sekian banyak prajuritnya, yang merasa dendam

kepada Raja Jayakatwang.”

“Kalau kamu berani, kamu bisa, Kakang. Aku tak pantas mengatakan ini, akan

tetapi aku akan mengangguk bila Kakang menarikku. Seperti juga ajakan perjalanan

ini.”

Upasara memandang wajah Gayatri.

Ketika Gayatri balik memandang, Upasara menunduk. Bibirnya bergetar.

“Setelah semua urusan ini selesai, saya akan mengatakan langsung kepada

Raden Wijaya.”

Upasara mengempit perut kudanya dan melarikan lebih kencang. Gayatri

tersenyum, lalu menyusul. Sebagai putri Keraton, soal menunggang kuda bukan hal

yang istimewa. Apalagi putri Baginda Raja Kertanegara yang mempunyai keleluasaan

dan pandangan jauh ke depan.

Tanpa terasa, malam hari mereka masuk ke dalam Keraton. Melewati gerbang.

“Yayi Gay… malam ini saya akan menyelusup masuk. Sebaiknya Yayi

menunggu di luar.”

“Kalau aku tak boleh masuk, untuk apa aku diajak kemari?”

“Saya tak mengharapkan rambut Yayi tercerabut karena bahaya yang mungkin

datang. Saya mengusulkan mengajak Yayi karena saya ingin berdekatan. Karena Yayi

bisa memberi nasihat kepada Paman Jaghana dan Wilanda….”

“Itu soal lain, Kakang. Aku hanya mengulangi kata-kata yang diucapkan di tepi

telingaku.”

“Siapa tokoh yang begitu sakti? Apa mungkin roh Eyang Raganata?”

“Aku mengenalnya, setidaknya sebutannya. Akan tetapi aku tak boleh

mengatakan kepada siapa pun.”

Upasara memberi salam hormat.

“Maafkan saya telah lancang. Saya tidak memaksa Yayi… Sekarang Yayi

menunggu di dalam rumah itu. Kakang akan menemui Kiai Sangga Langit.”

Belum selesai ucapannya, tubuh Upasara lenyap dari pandangan. Kadang

Gayatri tak mengerti akan sikap Upasara. Ada dorongan begitu kuat dari Upasara

untuk mendekatinya, akan tetapi juga ada keinginan untuk segera menghindari.

Kadang bisa bicara urut, panjang, kadang berdiam diri saja. Hanya kalau dipancingpancing

baru keluar ucapannya.

Upasara memang merasa jengah. Ingin dekat, ingin menatap, tetapi hatinya

selalu menjadi sangat gelisah. Pikirannya tak menentu. Upasara sering menyalahkan

dirinya sendiri karena soal ini. Seperti ketika melewati dinding benteng bagian dalam

yang terukir “di lautan asmara”, Upasara merasa kata-kata itu secara khusus diciptakan

untuknya. Untuk menggambarkan kerinduannya kepada Gayatri!

Upasara langsung menuju ke tempat tinggal Kiai Sangga Langit.

Baru mau melangkah masuk ketika terdengar suara kasar.

“Aha, aku menunggumu.”

Upasara terkesiap. Baru terdengar helaan napasnya. Ternyata Galih Kaliki yang

menyambutnya.

“Dewa mempertemukan kita, saudaraku,” kata Galih Kaliki, seperti sedang

mabuk.

“Terimalah sungkem dari keponakan atau adik atau saudara ini.”

“Aha, kau suka basa-basi. Ayo sini, menikmati indahnya surga.”

Upasara baru sadar bahwa Galih Kaliki benar-benar dalam keadaan mabuk.

Mabuk berat.

Memang itulah cara yang dipakai Nyai Demang. Agar Galih Kaliki tidak

berbuat kurang ajar, Nyai Demang memberinya arak terus-menerus. Selama beberapa

hari Galih Kaliki berada dalam keadaan mabuk, pingsan, mabuk, tertidur, mabuk lagi.

Upasara mengeryitkan keningnya. Ia tak menyangka sama sekali bahwa Nyai Demang

yang tubuhnya montok dan suka main mata itu ternyata berhati keji.

“Untung kamu datang kemari. Majulah, Upa… apa pun yang akan kita lakukan,

si tua bangka ini tak akan tahu.”

“Mbakyu Demang…”

“Aku tahu, Upa. Kamu juga mengharapkan….”

“Saya…”

“Aku terlalu tahu tentang lelaki. Sorot mata lelaki yang bagaimanapun, aku

bisa mengetahui. Aku hidup di antara sorot mata seperti itu. Kenapa? Kamu malu?

“Galih Kaliki tak akan mengetahui apa-apa.”

“Benar, saudaraku. Aku tak tahu apa-apa. Apa yang kuketahui tak ada. Begitu,

Nyai?”

“Mbakyu Demang, saya datang untuk menemui Kiai Sangga Langit.”

“Ada urusan apa?”

“Ada sesuatu yang akan saya katakan.”

“Dia akan kuberitahu kalau malam ini kamu menemaniku. Kenapa kamu

begitu jual mahal, Upa? Di jagat ini semua lelaki mau menyembah, mau menjadi

budak untuk bisa berdekatan denganku. Kenapa kamu sok gagah?”

“Bukan begitu, Mbakyu. Pada kesempatan lain, saya akan mengatakan semua.

Malam ini akan menemui Kiai Sangga Langit.”

Wajah Nyai Demang berubah merah.

“Seumur hidup, inilah pertama kalinya aku ditolak. Galih Kaliki, ambil

tongkatmu. Ayam kampung ini perlu dihajar.”

Galih Kaliki meraih tongkat hati pohon asam, langsung dipukulkan ke arah

Upasara. Dalam keadaan mabuk dan limbung, pukulannya tetap keras dengan penuh

tenaga. Upasara menggeser badannya. Dua tangan secara terkepal mencoba merebut.

Mengenai angin kosong, tongkat Galih Kaliki berbalik. Tegak. Menghajar secara

mendatar. Upasara justru menyongsong maju.

Nyai Demang tak percaya bahwa dalam satu gebrakan tongkat pusaka Galih

Kaliki bisa dipegang Upasara. Walau dalam keadaan sangat mabuk, Galih Kaliki jelas

bukan tokoh sembarangan! Ataukah dalam sekejap Upasara sudah meloncati tahapan

yang luar biasa dalam ilmu silat?

“Kena!” Justru Galih Kaliki yang berteriak.

“Kena, Nyai. Ayamnya kena.”

“Kena gundulmu. Kamu memang lelaki tak berguna.”

Upasara melepaskan genggamannya.

Galih Kaliki menarik kepala tongkatnya. Jalannya sempoyongan.

“Pukul sendiri kepala kamu. Itu ayamnya!”

Galih Kaliki menghantam kepalanya sendiri! Upasara lebih dulu meloncat

maju menahan arah pukulan ke kepala Galih Kaliki. Di luar dugaan, Galih Kaliki

memutar tongkatnya menghindar, kini dipakai mengemplang kepalanya sendiri dari

samping. Tak ayal lagi, Upasara meluncur ke atas. Tubuhnya terbang secara terbalik,

dengan kaki di atas.

Dua tangan sekaligus menahan ayunan tongkat.

Galih Kaliki menggeser agak turun. Kini yang diarah jakunnya sendiri.

Terjadi pemandangan yang ganjil. Galih Kaliki yang bertubuh besar dengan

gerakan aneh mencoba memukul kepalanya sendiri, sementara justru Upasara

berusaha mencegah.

Tiga gerakan aneh Galih Kaliki berhasil digagalkan oleh Upasara. Bahkan

seakan dengan mudah sekali Upasara menebak gerakan tongkat Galih Kaliki.

“Hah!”

Sekali renggut, tongkat hati pohon asam itu berpindah ke tangan Upasara.

“Tak berguna!” teriak Nyai Demang.

“Tunggu,” kata Upasara perlahan. “Ada sesuatu yang menarik. Coba kita ulangi

lagi. Paman Galih mencoba memukul kepala seperti tadi, dan…”

“Oho, enak saja. Siapa kamu, berani memerintah aku untuk membunuh diri?”

“Mbakyu Demang, bagaimana kalau saya meminta Mbakyu agar Paman Galih

Kaliki mengulangi perbuatannya tadi.”

“Dengan syarat!”

“Saya akan terima, Mbakyu.”

Nyai Demang tersenyum. Tubuhnya bergoyang.

“Galih… sekarang kemplang sendiri kepalamu seperti tadi. Pergunakan semua

jurus dan ilmu yang kamu miliki. Upa, kamu sudah siap?”

Upasara memusatkan perhatian setelah memberikan tongkat. Begitu Galih

Kaliki mulai bergerak, ia pun bergerak mengimbangi. Kembali pemandangan aneh

terlihat. Kali ini Galih Kaliki mengeluarkan semua ilmunya. Mendesak,

berjumpalitan, dan Upasara terus-menerus mengimbangi. Sesekali terdengar seruan

tertahan. Teriakan Nyai Demang, karena batok kepala Galih Kaliki seperti bakal

menjadi bubur. Tapi toh pada saat terakhir bisa disentil kembali. Hingga arahnya

melenceng.

Galih Kaliki mengempos seluruh tenaganya, hingga akhirnya berjalan

sempoyongan.

Upasara sendiri berhenti karena keringatnya membanjir luar biasa. Diam-diam

muncul keringat dinginnya. Permainan yang barusan dilakukan sungguh berbahaya.

Meleset satu gerakan saja, nyawa taruhannya.

Upasara termenung. Ia seperti menemukan sesuatu yang belum jelas benar di

kepalanya. Sesuatu yang seperti sangat dikenal, sangat mudah diketahui. Nyatanya,

tadi dengan mudah bisa menghalau gerakan-gerakan Galih Kaliki yang selama ini

paling aneh. Gerakan-gerakan itu sama sekali bukan asing baginya. Akan tetapi, di

mana ia mempelajari gerakan Galih Kaliki?

Upasara masih termenung. Tak sadar bahwa Nyai Demang datang mendekat ke

arahnya. Dan mengelap keringat Upasara dengan selendangnya.

Yang tak diketahui oleh Upasara ialah justru saat itu secara diam-diam Gayatri

melihatnya!

Bagi Gayatri tak ada kesulitan apa-apa untuk masuk ke bagian dalam Keraton.

Sebagai putri Kertanegara, bagian dari Keraton sama dikenal dengan jarinya sendiri.

Adalah di luar perkiraannya bahwa ia melihat Upasara sedang dilap

keringatnya oleh Nyai Demang. Dengan pandangan mata genit Nyai Demang!

Sementara Upasara sendiri tertegun tak bergerak menghindar.

“Upa, kamu memang luar biasa. Mbakyumu senang sekali. Nah, sebelum

mbakyumu ini mengajukan permintaan sesuai dengan syarat, apakah kamu mau

mengajukan sesuatu? Kamu akan meminta sesuatu?

“Jangan malu, Upa, katakan saja.”

Nyai Demang mengelus rambut Upasara.

Mengelus dada Upasara yang bidang.

“Aneh, rasanya saya telah mengenal….”

“Masa kamu lupa sama mbakyumu ini?”

“…telapak tangan keduanya terbuka, membentuk paruh itik. Kekuatan ada di

sudut…”

“Aha, kalau yang begitu bisa kita lakukan, Upa. Mau sekarang? Di sini?”

“…tenaga biji pisang. Terbungkus tapi ada. Tenaga utara-selatan…”

“Pisang? Tenaga pisang? Boleh saja.” Nyai Demang makin genit.

Gayatri memalingkan wajahnya. Perlahan ia menjauh. Terdengar helaan napas

yang panjang, dalam dan berat. “Kenapa aku harus mengharap dari seorang

gelandangan seperti Kakang Upasara? Sekali gelandangan tetap gelandangan.

Barangkali dewa di langit maha bijaksana. Sehingga di dunia ini ada yang dididik

sebagai ksatria keraton dan gelandangan yang tak tahu adat sopan santun. Belum

kering bibirnya mengatakan keinginan untuk mengambilku, di depan mataku sendiri

melakukan tindakan yang begitu tak senonoh.”

Gayatri berjalan ke pinggir.

Mendadak tubuhnya merapat ke dinding. Dalam waktu sekejap puluhan

prajurit sudah mengepung rapat. Bersenjata lengkap. Bahkan di tengah melayang

turun seakan dari langit.

Tak salah lagi itulah Ugrawe.

Kumisnya yang panjang melengkung, dagunya yang mendongak dengan

kecongkakan, tak bisa ditebak orang lain.

“Upasara, Nyai Demang, dan pemabuk Galih Kaliki, ternyata kalian

menantangku untuk mengambil tenaga kalian. Bersiaplah, satu lubang cukup untuk

kalian bertiga.”

Upasara masih berdiri tepekur.

Tidak menyadari bahwa kepungan sudah rapat sekali. Dengan Ugrawe yang

berdiri di tengah, dan Rawikara sebelah kanan. Di belakang sedikit Sagara Winotan

serta Jangkung Angilo. Selebihnya adalah para senopati pilihan yang mengawal

Keraton.

“Satu lubang untuk mengubur tiga bangkai ini sudah cukup. Upasara, beberapa

kali kita bertemu. Ternyata nasibmu baik, karena kau ditemani setan cilik beracun.

Hari ini, tak ada yang menghalangiku untuk menarik tenaga dalammu yang masih

murni.”

Ugrawe mendengus.

“Nyai Demang, kamu sungguh tak tahu diri. Diberi tempat, makan, bukannya

menunjukkan rasa hormat malah main gendak-gendakan mengumpulkan lelaki di

sini. Siapa menyuruh kalian berlatih silat di sini? Mana kiai yang berkhianat

menurunkan ilmunya kepada Upasara itu?

“Hari ini aku, Ugrawe, Pujangga Pamungkas, pujangga terakhir yang terbesar,

terpaksa menyalahi titah Raja dalam soal pengampunan.”

Ugrawe menggebrakkan tangannya. Sepuluh prajurit terpilih maju secara

serentak. Tiga orang malah meloncat lebih dulu. Nyai Demang menangkis sambil

melayang ke atas. Galih Kaliki meraup tongkat dan menangkis sambil maju.

Kepalanya masih tetap dikuasai arak secara penuh, akan tetapi begitu melihat

bayangan Nyai Demang bergerak, ia pun mengikuti.

Rawikara menyambar dua pedang dan ikut menerjang ke tengah pertempuran.

Saat itu dari dalam ruangan Mo Ing yang masih terluka karena tusukannya

sendiri beberapa waktu yang lalu berjalan terhuyung-huyung. Mendengar suara ribut,

ia bangun. Tubuhnya masih lemah. Cara berjalannya masih gontai.

Sementara Rawikara sendiri, dengan pukulan andalan Banjir Bandang Segara

Asat telah bisa mengembalikan tenaganya. Seperti yang diduga Jaghana, Rawikara

memang mempergunakan tenaga-tenaga prajurit untuk diambil alih. Untuk

dipindahkan ke dalam tubuhnya.

Mo Ing mengeluarkan seruan tertahan melihat bayangan Rawikara menebas

ke arahnya. Secara spontan tangan terangkat untuk menangkis. Ternyata Rawikara

tidak menarik pedangnya. Terdengar pekikan dan darah muncrat. Saat itulah Upasara

tersadar dari lamunannya. Dengan cepat, tubuhnya bergerak. Tangannya menangkis

tebasan pedang Rawikara. Caranya sama seperti Mo Ing menangkis. Hanya kini

tenaga yang tersalur berbeda. Dan Rawikara melepaskan pedangnya untuk

menyelamatkan diri. Satu pedang lagi dilemparkan bagai tombak. Bahwa Upasara

bakal menghindar, Rawikara sudah mengetahui hal itu. Karena melepaskan kedua

pedang termasuk dalam rencana untuk segera melancarkan pukulan andalan.

Rawikara sangat mengincar tenaga dalam Upasara.

Aneh sekali. Upasara tidak berusaha menghindar dengan menjauhkan diri.

Tidak juga melakukan pukulan. Ia justru seperti bergerak sendiri. Tubuhnya

melenggok, dadanya menggelombang, dan kedua tangan membuka. Saat yang

ditunggu oleh Rawikara untuk melancarkan serangan. Upasara tidak langsung

menyerang dengan membalas, tetapi juga menunggu. Seperti bergerak sendiri, dengan

berat tubuh ke arah selatan.

Plak. Duk.

Dua tangan bertemu. Tenaga terobosan yang menggempur dari Rawikara

menerjang, mendesak. Sesaat Rawikara mengeluarkan sorot mata mengejek. Tangan

kirinya menggunakan tenaga menarik. Menguras tenaga dalam Upasara.

Mendadak seperti terdengar bunyi “pletak” dan Rawikara terjungkal.

Mulutnya mengeluarkan darah. Tangannya teracung ke atas. Sebelum sempurna

teracung tubuhnya telah terbanting.

Ugrawe mengeluarkan teriakan mengguntur, kedua tangan menyapu

bersamaan. Serentak dengan itu semua prajurit menerjang. Dalam sekejap keroyokan

terjadi. Mo Ing menjadi korban, sementara Galih Kaliki juga terdorong oleh tenaga

pukulan Ugrawe.

Dengan perkasa Ugrawe melayang di angkasa. Kedua tangan dan kakinya

bergerak melebar. Sekali kena tendang, Galih Kaliki terpental. Dalam gerakan yang

sama, masih satu gerakan, Nyai Demang juga tersapu kedua kakinya. Sempoyongan

ketika menghindar dan langsung disibukkan oleh tusukan pedang para prajurit.

Dalam putaran itu Ugrawe mencakar Upasara sekaligus.

Upasara masih bengong. Ketika cakaran itu mendekat dengan bau amis, baru

sadar. Akan tetapi terlambat. Cakaran itu berubah menjadi pukulan dengan telapak

tangan.

Bek.

Enteng suaranya. Tapi Upasara terpental hingga ke tiang. Tiang yang kukuh

menjadi bergetar.

Dahsyat sekali pukulan Ugrawe. Dalam satu gebrak, tiga lawan yang tangguh

terpukul mundur. Galih Kaliki memang sedang mabuk, dan Upasara dalam keadaan

kurang siap, akan tetapi ini jelas menunjukkan prestasinya. Penguasaan Sindhung

Aliwawar yang luar biasa.

Kalau sesaat tadi dengan gemilang Upasara bisa memukul rubuh Rawikara,

kini sebaliknya. Dalam satu jurus ia telah dibuat keok. Berbeda dengan Upasara,

Ugrawe tidak terhenti di situ. Ia menerjang maju.

Upasara berdiri tegak. Ia maju memapak ketika serangan terarah kepada Nyai

Demang yang terjatuh tanpa bisa bergerak.

“Cari mati kamu!”

Siku Ugrawe masuk ke dada Upasara. Dua tangan Upasara yang terkepal dan

menjaga, dengan mudah diterobos. Sebelum Upasara menguasai dirinya, kaki Ugrawe

menjebol pertahanannya.

Sia-sia Upasara melayang, karena kali ini pinggangnya justru dicengkeram.

Sekali sentak tubuh Upasara terlempar ke atas mengenai atap. Jebol sampai di atasnya.

Gayatri menjerit. Tapi jeritannya tertutup teriakan para prajurit yang kini

meringkus Nyai Demang serta Galih Kaliki. Gayatri menjerit karena merasa bahwa

keadaan Upasara menjadi sangat buruk karena berusaha membela Nyai Demang.

Ugrawe sendiri langsung menjejakkan kakinya dan tubuhnya melayang ke

atas, melalui jebolan yang dilewati tubuh Upasara.

Dalam keadaan melayang jatuh di genteng kayu, Upasara merasa bahwa

dadanya kelewat sakit dan pinggulnya sangat nyeri. Ugrawe bukan hanya sakti tetapi

juga kasar sekali.

Pikirannya masih kacau. Masih terpusat kepada bagaimana secara agak aneh, ia

bisa menebak jurus-jurus Galih Kaliki. Demikian juga jurus Rawikara. Padahal kalau

dilihat, apa yang dilakukan Ugrawe tak berbeda jauh. Tetapi kenapa justru yang

terakhir ini bisa dibuat keok? Kalau hanya soal perbedaan tenaga dalam, hanya juga

tak secepat ini!

Tidak dalam satu-dua gebrakan!

Agaknya ini pula yang membuat Ugrawe bertanya-tanya dalam hati. Makanya

ia tak memulai menyerang dengan pukulan andalan, melainkan dari bagian tengah.

Dan buktinya, Upasara yang dihadapi seperti Upasara yang ketika pertama ditemui.

Tak begitu mengejutkan. Malah boleh dikata seperti banteng tanpa tanduk, karena

kini tidak memainkan keris.

Muncul dari lubang atap, Ugrawe langsung menggeliat tubuhnya. Kakinya

menendang ke arah dada Upasara. Dan tubuh Upasara terpental jatuh ke tanah.

Tanpa ampun lagi Upasara langsung bisa diringkus.

Dengan gagah, berwibawa, dan senyum kemenangan, Ugrawe melayang turun

kembali.

“Sebelum kubunuh, katakan siapa yang mengajarimu jurus Sekar Sinom itu.”

Pikiran Upasara bagai disinari oleh kilat.

“Sekar Sinom tadi?”

Seketika Upasara menjadi ingat semuanya. Kini semua menjadi jelas. Apa yang

dipraktekkan tadi adalah bagian yang dipelajari dari klika atau kulit kayu yang

berjudul Tumbal Bantala Parwa. Atau Kitab Penolak Bumi! Itu adalah kitab yang dulu

dibawa lari oleh Kawung Sen! Kitab yang dicuri dari perbendaharaan Ugrawe.

Ataukah kitab yang dibacakan oleh Nyai Demang? Upasara tidak bisa mengingat jelas.

Dulu kejadiannya hampir beruntun.

Sekarang jelas. Begitu tadi melihat Galih Kaliki menyerang dirinya sendiri,

Upasara justru teringat jurus-jurus Tumbal. Jurus yang menjadi penangkis jurus

tersebut! Selama ini Upasara telah melihat permainan silat Galih Kaliki, akan tetapi

tak pernah mengetahui jurus apa sebenarnya. Hanya ketika Galih Kaliki

menggunakan jurus itu untuk dirinya sendiri, Upasara seperti terbuka matanya. Dan

itu pula sebabnya ia begitu mudah menebak arah serangan Rawikara. Bahkan rasanya

ia tak usah melawan. Sekadar mengikuti gerakan tubuh yang terjadi dengan sendiri

begitu lawan menyerang!

Yang pertama adalah jurus Manik Maya Sirna Lala. Yang membuka dua

telapak tangan dengan kekuatan di sudut. Sedangkan yang disebut sebagai Sekar

Sinom tadi adalah jurus ketiga. Pukulan dari Rawikara menghantam dirinya sendiri,

karena dalam jurus Sekar Sinom, Upasara mempergunakan tenaga dalam biji asam.

Biji asam akan membuka sendiri pada saat sudah tua. Kulitnya pecah, biji keluar.

Tenaga itulah yang dipakai untuk melawan Rawikara, karena Rawikara-lah yang

mematangkan!

“Tumbal Bantala adalah buku yang mudah diperoleh. Untuk apa hal itu

ditanyakan?”

“Kamu tetap bermulut lebar. Bagaimana kamu bilang Tumbal Bantala Parwa

buku yang mudah diperoleh? Buku itu merupakan lanjutan dari Bantala Parwa, atau

buku silat berdasarkan kekuatan bumi. Seorang ksatria tak akan merendahkan diri

untuk mempelajari ilmu perguruan lain. Kamu sungguh memalukan. Hina.”

“Siapa yang mencuri apa? Apakah Paman Ugrawe merasa lebih berhak dari

Kakang Galih Kaliki dalam soal Bantala Parwa?”

Ugrawe terkesiap.

Ia memang tak pernah menyangka bahwa dasar-dasar gerakan tongkat yang

patah itu mempunyai kemiripan dengan gerak-gerak yang dilatih dalam Sindhung

Aliwawar. Ugrawe sudah menduga akan hal ini. Akan tetapi masih sedikit bimbang.

Sindhung Aliwawar menitikberatkan pada kekuatan memukul, sementara Galih

Kaliki justru mempergunakan tongkat. Tetapi kalau dipikir-pikir memang mirip.

Maka gerakan tongkat Galih Kaliki terasa aneh. Karena kurang mempergunakan

pergelangan tangan, sebagaimana biasanya mereka yang berlatih menggunakan

senjata.

“Pemabuk gila itu tak mengerti apa-apa mengenai Bantala Parwa.”

“Terserah mau mengakui atau tidak.”

“Dari mana kamu mempelajari kitab utama itu? Serahkan klika itu padaku.”

“Sayang yang menulis buku itu telah mengambilnya sendiri. Kalau berani

mengambil, kenapa tidak minta kepada orang yang bersangkutan?”

Ugrawe menyipitkan matanya.

“Nyai Demang, di mana kiai cabul itu?”

“Tanya pada anaknya.”

Ugrawe bergerak ke arah Mo Ing.

“Bangsat tanpa kelamin. Di mana bapak atau moyangmu itu? Dari mana kalian

mencuri pusaka leluhurku?”

Mo Ing dalam keadaan sekarat. Bekas luka dari Rawikara beberapa waktu lalu

belum hilang. Apalagi kini tangannya telah putus. Antara mati dan hidup ia dicaci

seperti itu. Dengan mengeraskan hati, Mo Ing menguatkan tenaga untuk meludahi

Ugrawe.

Ugrawe tak menduga bakal diludahi wajahnya.

Tak sempat menghindar lagi.

Plak. Tangan Ugrawe bergerak cepat. Seketika tulang tengkorak Mo Ing retak.

Darah menciprat ke seluruh tubuh Ugrawe. Lalu Ugrawe mengambil kain Mo Ing dan

melap tubuhnya. Sekaligus melap wajahnya yang kena semburan ludah.

“Upasara, masihkah kamu bertahan untuk menyimpan rahasia buku itu?”

“Tak ada untungnya saya menyimpan.

“Tetapi saya minta Empu tidak melakukan sesuatu kepada Nyai Demang dan

Kakang Galih Kaliki. Mereka tak ada hubungannya dengan saya dan masalah ini.”

Ugrawe mengibaskan tangannya.

“Itu soal kecil. Tetapi bahwa kamu mau menukar nyawamu untuk wanita

genit ini, itu baru luar biasa.”

Dengan satu kibasan lagi, Nyai Demang dan Galih Kaliki dibebaskan.

Di kegelapan, Gayatri tak bisa menahan jatuhnya air mata. Kini makin jelas

bahwa Upasara lebih suka mengorbankan nyawanya sendiri untuk menolong Nyai

Demang.

Gayatri tak pernah mengerti bahwa Upasara tidak terlalu memikirkan masalah

tersebut. Jalan pikirannya sederhana. Bahwa mereka berdua terlibat dalam masalah

ini gara-gara kehadirannya. Dan kini Upasara mau menanggung sendiri akibat

perbuatannya.

“Cukup puas?”

“Terima kasih.”

“Ada lagi yang ingin kamu bebaskan?”

Gayatri menunggu Upasara mengucapkan namanya.

Tetapi ternyata Upasara menggelengkan kepalanya.

“Serahkan kitab itu padaku.”

“Sekarang ini masih dibawa oleh Kiai Sangga Langit.”

Ugrawe menahan gejolak dalam dadanya. Upasara bukan orang yang suka

berbohong. Itu Ugrawe tahu. Apalagi Upasara mengucapkan dengan biasa-biasa.

Tanpa maksud menjelekkan atau mencari kambing hitam.

Sesungguhnya Upasara juga tidak merasa berbohong sepenuhnya! Apa yang

dikatakan adalah mendekati kebenaran. Karena Upasara berpikir bahwa tokoh lain

yang bisa dihubungkan dengan soal segala macam kitab hanyalah Kiai Sangga Langit.

Imam dari negeri Tartar itu paling getol mempelajarinya. Dan memberikan ilmu

kepada orang lain.

Kawung Sen dulu juga mencuri. Tetapi pada dasarnya karena ingin

memperolok saja. Tidak punya niatan untuk mempelajari dan mencuri. Hanya karena

kesal dengan ulah Ugrawe. Kawung Sen sendiri buta huruf.

Jadi kalau Ugrawe pernah merasa kehilangan, Kiai Sangga Langit-lah satusatunya

orang yang mempunyai kemungkinan untuk mengambil.

“Untuk sementara aku pegang omonganmu. Kalau sampai meleset, kamu tahu

akibatnya.”

“Sekarang pun saya siap untuk menerima akibatnya.”

Ugrawe tersenyum.

Sifat liciknya muncul.

“Kenapa kamu mencari Kiai Sangga Langit?”

“Karena ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Selain Tumbal Bantala

Parwa, Kiai Sangga Langit pernah menceritakan kitab silat yang berdasarkan bintang.

“Yaitu Dwidasa Nujum Kartika, atau Dua Belas jurus Bintang. Saya berusaha

untuk menerangkan bagian yang tak diketahui untuk berlatih bersama.”

Apa yang dikatakan oleh Upasara sangat tepat!

Ugrawe memang kehilangan kitab itu. Yang ketika itu dicuri oleh Kawung

Sen! Dengan menyebutkan judulnya saja, Ugrawe teringat koleksinya yang hilang!

Ugrawe cerdik dan licik, akan tetapi tak mengira bahwa dulu Upasara-lah yang

membacakan kitab itu bagi Kawung Sen.

“Aku percaya semua yang kaukatakan. Nah, karena kamu telah

mempelajarinya, dan aku kehilangan kitab itu, sekarang kau ajari aku.”

“Begitu gampang dan hina mempelajari ilmu silat orang lain?”

Ugrawe memandang ke bulan.

“Kitab itu justru pusaka leluhur kami yang hilang dicuri. Bagaimana mungkin

dituduh mencuri ilmu orang lain?”

“Bagaimana saya bisa mempercayai omongan ini?”

“Baik. Mulai sekarang kamu berada di sini. Aku akan mengatakan satu jurus

ilmu yang ada dalam Dua Belas jurus Bintang. Kamu menyebutkan salah satu juga.

“Kalau aku bohong, pasti salah menyebutkan.

“Begitu juga sebaliknya.

“Saat Kiai Sangga Langit datang, aku akan mengatakan bahwa ia imam busuk

yang mencuri ilmu silat perguruanku.

“Bagaimana dengan tawaran ini?”

Ugrawe tersenyum dingin. Tawaran yang terlalu bagus.

Sesaat melihat sorot mata Upasara, Ugrawe benar-benar merasa kecolongan.

Mana mungkin ksatria seperti Upasara akan memberikan ilmu silat kepada dirinya?

Taktiknya ini hanya sekadar untuk meloloskan Galih Kaliki dan Nyai Demang! Tak

bisa lain.

Ugrawe merasa tertipu. Kesal. Ia selalu keliru, karena justru mengukur sifatsifat

Upasara sebagai manusia biasa.

“Aku tahu tipu muslihatmu, Upasara,” kata Ugrawe dengan nada tinggi. “Tapi

sengaja kuberikan kesempatan kepada Galih Kaliki dan Nyai Demang busuk itu pergi.

Yang kuharapkan adalah menyobek-nyobek tubuhmu. Soal mereka berdua sangat

mudah dihadapi.”

Ugrawe langsung menggempur. Dengan penuh keyakinan diri, Upasara

meloncat maju untuk menghadapi.

“Aku tak berdusta. Akan kuberikan Dwidasa Nujum Kartika. Kalau bisa

menghadapi semuanya, berarti masih perlu belajar. Kalau bisa menghentikan pukulan

sebelum dua belas jurus ini selesai, bisa menguasai ilmu itu.”

Upasara langsung memapak dengan jurus Lintang Sapi Gumarang. Dengan

mengisarkan kedua kaki, arah tenaga diambil dari utara-selatan. Upasara memapak

maju dengan getaran tenaga musim Kasa, musim pertama. Gerakan dan dorongan

tenaga yang sama dengan embun baru menetes, genjotan binatang yang meloncat dari

sarangnya.

Ugrawe seperti didorong habis. Tersapu dan mendadak menjadi mundur.

Bagi Upasara, menghafalkan jurus-jurus yang sama sekali baru tak terlalu sulit.

Modal utama yang dimiliki ialah kemampuan mengonsentrasikan pikiran. Dalam hal

begini, barangkali Upasara tiada tandingannya. Memusatkan pikiran sudah dilatih

sejak ia lahir.

Upasara tak mau memperhitungkan Ugrawe yang mundur, ia menerjang maju,

bagai tenaga buah padi yang tumbuh. Lintang Tagih, tenaga luar yang panas

mengancam, akan tetapi tetap dingin di dalam.

Ugrawe berseru kaget. Ia bukannya tak bisa mengimbangi. Akan tetapi sangat

terpesona. Di satu pihak ingin menjajal, tetapi di lain pihak ingin mengetahui ilmu

yang dimainkan Upasara. Ugrawe menangkis serangan atas, dan mendadak tubuhnya

terbanting.

Ini adalah jurus Lintang Lumbung, jurus ketiga. Kekuatan utama di kaki,

seperti kekuatan akar yang baru tumbuh. Menusuk apa saja yang menghalangi.

Terbanting ke atas tanah, Ugrawe segera menggulung dirinya. Bagai putaran

angin ribut. Melonjak tinggi ke angkasa. Dua tangannya berputar berusaha

menggagalkan serangan berikut.

Tapi Upasara malah menarik diri.

“Tiga jurus saja sudah keok. Untuk apa diteruskan?”

Ugrawe melayang turun. Tangannya mengibas. Seluruh prajurit mengepung.

“Upasara, aku datang,” terdengar suara Kiai Sangga Langit. “Sungguh

berbahagia, aku bisa menemui seorang ksatria dalam jiwa dan tindakan. Karena

mereka main keroyok, aku akan membelamu.”

Dalam sekejap, pertempuran berubah menjadi keroyokan. Para senopati

Keraton tak ragu lagi menyerang dari segala jurusan. Upasara merasa bahwa tubuhnya

belum pulih akibat tendangan Ugrawe, merasa was was dengan tenaganya kalau

dipakai terus-menerus.

“Kiai, saya masih ada urusan….”

Tubuhnya melayang ke arah luar.

“Aku ikut!”

Dua tubuh terbang ke angkasa bagai dua ekor burung. Kiai Sangga Langit yang

bertubuh gede bisa melayang dengan enteng, bagai burung gagak. Sedangkan Upasara

bagai burung garuda. Perkasa, mengagumkan, dengan dua tangan terentang. Sebuah

tombak yang diarahkan kepadanya diraup dengan lembut. Bahkan ketika hinggap di

benteng sisi luar, langsung mengukir tulisan. Di bawah tulisan mengenai “lautan

asmara”.

Gay, kutunggu

Di pelabuhan

di saat kapal

melabuhkan Kerinduan

Memang termasuk luar biasa. Dalam keadaan melayang, Upasara masih bisa

mencoretkan kata-kata. Ingatannya kepada Gayatri membuatnya tak bisa

meninggalkan begitu saja. Harapan Upasara, Gayatri akan membaca tulisan yang

sengaja dibuat besar-besar, untuk segera kembali ke Kali Brantas.

Karena situasinya tidak memungkinkan bagi Upasara untuk mencari Gayatri.

Kalau saja Upasara tahu bahwa Gayatri ikut masuk ke dalam Keraton dan melihat

semuanya, hasilnya akan lain!

Turun di tanah, Upasara segera bergegas menjauh.

Di depan Kiai Sangga Langit, yang ternyata lebih unggul, sudah menunggu.

“Banyak ksatria kujumpai dalam perjalanan ini, tetapi kamu tetap lain. Sejak

pertemuan pertama dulu aku sudah jatuh hati padamu. Kalau ada waktu baik, aku

akan memberikan seluruh ilmuku padamu.”

Keduanya tetap berlari kencang. Jauh meninggalkan para pengejarnya.

“Aku menjelajah dunia karena mau menyebarkan ilmu yang kumiliki. Seperti

ajaran yang kuperoleh selama ini. Aku bukan prajurit. Meskipun kesalahanku yang

utama, aku mau diangkat menjadi imam negara.

“Sekarang aku menemukan bakat besar. Bagaimana, Upasara?”

“Tiada ucapan terima kasih yang bisa saya ucapkan. Akan tetapi sekarang saya

masih ada tugas. Saya harus kembali ke desa Tarik. Kesempatan lain, Kiai.”

“Untuk apa ke sana, sebentar lagi tempat itu rata dengan tanah.”

Upasara kaget.

Tanpa terasa tubuhnya jadi bergoyang.

“Para pembesar Tartar tak mau menunggu lebih lama. Saya tak bisa

menyalahkan. Mereka diutus oleh Kaisar untuk membalas dendam. Dan itu

dijalankan. Kita bisa lain, Upasara.

“Mari kita lepaskan segala urusan ini. Kita berlatih bersama, dan melanglang

jagat. Mensyukuri hidup sebagai ksatria. Untuk apa kita meributkan diri soal takhta?”

“Saya tak bisa melepaskan masalah Keraton lebih dulu. Kiai, marilah kita

memilih jalan sendiri-sendiri.”

“Selama ini begitu banyak yang menyembah untuk berguru padaku. Tetapi

kamu berani menolak.”

Kiai Sangga Langit berhenti.

Upasara juga berhenti.

“Tak ada yang bisa menolakku, Upasara.”

“Saya tidak menolak. Akan tetapi kalau kita hanya memperhatikan masalah

pribadi, apa jadinya kita ini?

“Kiai juga terpaksa berperang dengan Ngabehi Pandu, soal membela nama

negara.”

“Itu hanya alasan agar aku bisa menjajal kemampuannya.”

“Kalau itu yang juga dipakai alasan untuk menjajal kemampuan saya, saya akan

meladeni. Hanya bagi saya alasannya adalah karena Kiai menghalangi jalan saya

pulang ke desa Tarik.”

Kiai Sangga Langit menggeleng.

“Mari kuantar ke Tarik. Dari sana, setelah tanah itu rata, segala dendam ini

tertumpahkan, kita berlatih silat.”

Aneh sekali perangai Kiai Sangga Langit ini, pikir Upasara. Ia untuk pertama

kali mengetahui bahwa di jagat ini ada orang yang begitu kesengsem, begitu tergilagila

oleh ilmu silat. Dan semata-mata demi ilmu itu sendiri.

Tapi pikiran Upasara lebih terpusat mengenai rencana penghancuran tempat

pertahanan di desa Tarik. Kalau pasukan Tartar menyerbu, benar seperti yang

dikatakan Kiai Sangga Langit: bumi bakal rata.

Maka, Upasara memusatkan tenaga untuk berlari sekencang mungkin. Ia

kemudian mengambil kuda. Membalap sepenuh tenaga.

Akan tetapi begitu masuk daerah Tarik, hati Upasara kecut juga. Seluruh

daerah sudah dikepung rapat. Tak ada bagian yang tersisa.

Naga Wolak-Walik dengan perkasa berada di tengah lapangan. Dua tombak

yang ujungnya mengibarkan bendera dipegang dengan teguh. Gagah. Nyaris

sempurna. Naga Murka berada di dekatnya. Sementara Naga Kembar siap dengan abaaba

untuk menggempur.

Di bagian depan, Raden Sanggrama Wijaya serta seluruh pengikutnya sudah

pula bersiap-siap untuk mati mempertahankan tanah negerinya.

Keduanya dalam keadaan siap tempur. Walau kekuatan kurang seimbang.

Prajurit Tartar begitu sempurna mengepung, dengan persenjataan yang bukan alangkepalang.

Sementara Raden Sanggrama Wijaya seperti mengumpulkan prajurit dan

pengikutnya seadanya. Bahkan Wilanda yang nampak masih sakit ikut duduk di

tanah. Dari semangat bertempur, tak bisa diukur mana yang lebih luhur. Kedua

pasukan siap untuk perang habis-habisan.

“Bagaimana? Kami tak mau menunggu lebih lama lagi. Siapkan pemimpin

tertinggi kalian dan kami bawa sebagai tawanan kepada kaisar kami. Kalau tidak,

semua yang menentang akan dikubur tanpa lubang,” teriakan Naga Murka lantang

sekali.

“Tunggu sebentar, ini utusanku datang,” teriak Raden Wijaya mengguntur.

“Tak ada lagi yang perlu ditunggu.”

Naga Murka siap untuk memberi aba-aba. Akan tetapi pandangannya tertuju

dengan masuknya Upasara serta Kiai Sangga Langit. Keduanya berjalan bersamaan,

tidak menunjukkan tanda-tanda bermusuhan.

Upasara maju menghaturkan sembah kepada Raden Wijaya.

Mendadak telinga Upasara berdenging.

“Upasara, kalau sejak tadi kamu tidak berduaan, aku sudah ingin membisikimu.

Kepungan ini tak bisa dilawan. Jangan ceroboh. Wijaya berusaha melawan

sepenuhnya. Kalau kalian mendengar cerita Tamu dari Seberang, inilah tamu itu.

Inilah yang akan membawa berdirinya Keraton yang lebih bersih, lebih berwibawa,

di kelak kemudian hari.”

Raden Wijaya memandang Upasara.

“Bagaimana? Apakah Keraton Daha…”

“Baru saja saya mendengar bisikan Eyang Sepuh. Inilah Tamu dari Seberang

yang akan…”

Raden Wijaya mengangguk. Bersitan satu kalimat saja sudah lebih dari cukup.

Daya tangkap untuk menghubungkan berbagai persoalan hanya terjadi dalam waktu

sepersekian detik.

Raden Wijaya maju ke tengah.

“Para Dewa Naga yang datang jauh-jauh. Kami adalah prajurit Keraton

Singasari. Prajurit sejati yang lebih suka mati untuk membela kebenaran. Kalau

kedatangan para Dewa Naga kemari untuk membalas dendam, sekarang kita bisa

bekerja sama.

“Utusanku, Upasara Wulung, baru pulang dari bertarung di Keraton Daha. Di

sanalah orang-orang yang menghina kaisar para Dewa Naga.

“Akan tetapi jika para Dewa Naga ingin melawan kami, kami semua siap

melayani.”

Naga Wolak-Walik memandang ke arah Kiai Sangga Langit.

Mereka berbicara sekejap.

“Baik, kata-katamu bisa dipercaya. Kebetulan Bok Mo Jin, Kiai Sangga Langit,

baru saja menyaksikan sendiri.

“Kalau begitu, hari ini seluruh pimpinan penyerbuan Daha di bawah komando

kami.”

Peperangan besar antara pasukan Tartar dan prajurit Wijaya berubah menjadi

perundingan.

Baru kemudian para prajurit Tarik menjadi lebih heran lagi. Karena memang

kekuatan pasukan Tartar bukan main-main. Mereka sengaja dikirim untuk

menaklukkan sebuah kerajaan.

Naga Kembar langsung memberi komando. Ia membagi pasukan besar itu

menjadi tiga. Ia sendiri akan memimpin gempuran dari arah timur. Naga Murka akan

menggempur dari wilayah barat. Pasukan Raden Wijaya membantu dari arah

belakang.

“Semua tanpa kecuali di bawah komando. Kita menyerang lewat Kali Brantas,”

teriak Naga Kembar lantang.

“Bagaimana dengan strategi jika pihak lawan juga melakukan serangan yang

sama?”

Naga Murka tertawa.

“Itu bagianku. Selama ini akulah jenderal perang yang tak bisa ditipu lawan.

Dari peta yang ada, mereka hanya mungkin unggul di bagian tenggara dan barat. Dan

di situlah aku berada akan melindas habis mereka.

“Siapa yang tidak mematuhi komandoku, akan kucincang sendiri.”

Hari itu juga semua pasukan bergerak langsung. Tanpa menyembunyikan diri.

Bendera ditarik tinggi-tinggi. Sementara laporan yang diterima oleh Ugrawe sedikit

terlambat. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa prajurit Tartar menggempur

langsung. Tanpa memedulikan ba dan bu. Ugrawe mengerahkan perlawanan yang

gagah berani. Delapan hari delapan malam, ia terus memimpin di barisan terdepan.

Dalam pertempuran yang dahsyat, Ugrawe memperlihatkan dirinya sebagai

panglima perang yang ulung. Hanya saja karena lawan lebih kompak, perlahan-lahan

Ugrawe terdesak mundur juga. Di benteng Keraton, panglima yang gagah berani ini

tak bisa menghadapi keroyokan Naga Wolak-Walik dan Naga Kembar serta Naga

Murka sekaligus.

Bertarung sejak dini hari, sebelum matahari sepenggalah, tubuh Ugrawe sudah

berlumuran darah, terdesak mundur. Dua tangan, kaki, bagian telinga meneteskan

darah.

Naga Kembar berteriak mengguntur dan menyapu dengan kedua tangan.

Ugrawe berusaha menahan gempuran, akan tetapi tubuhnya terbetot dan terlontar ke

bagian dalam. Begitu menghantam tanah, Gendhuk Tri berjingkrakan di sebelahnya.

Sebelah kakinya menginjak Ugrawe.

Dewa Maut yang tertawa terbahak jadi ikutan.

“Kita apakan, Tole?”

“Kita bikin panggang? Dagingnya kurang enak. Ikat saja.”

Sebenarnya justru ulah Gendhuk Tri ini yang menyelamatkan nyawa Ugrawe.

Karena kehadirannya di medan pertempuran membuat orang jeri, takut terluka dan

ketularan racun.

Dewa Maut sendiri sudah mulai pulih beberapa bagian tenaga dalamnya.

Setelah Jaghana dan Wilanda bisa mengembalikan sebagian kekuatannya dengan

wejangan yang disampaikan lewat Gayatri, mereka menemukan inti memulihkan

tenaga dalam yang diambil.

Kini, tanpa kecuali, mereka ikut menggempur Keraton Daha.

Menurut penanggalan modern yang kita kenal sekarang ini, tanggal 20 Maret

1293, Keraton Daha jatuh. Naga Murka yang memimpin serbuan dengan serta-merta

menduduki Keraton dan sekaligus menawan Raja Jayakatwang serta Rawikara.

Di tengah keributan pesta kemenangan, Raden Wijaya mengumpulkan semua

pengikutnya.

“Upasara, kalau benar Eyang Sepuh yang membisikimu mengenai mitos Tamu

dari Seberang, apa yang harus kita lakukan sekarang ini?”

“Hamba tak tahu, Raden. Eyang Sepuh tak muncul lagi. Hanya pada saat kritis

beliau muncul. Ketika memberitahukan mengenai pukulan Banjir Bandang kepada

Gusti Gayatri, dan kedua…”

“Soal Gayatri, jangan terlalu diurusi. Sekarang masalahnya justru lebih besar.

Cepat atau lambat para Dewa Naga akan memaksa kita sebagai tawanan untuk dibawa

ke negeri Tartar.

“Soal Raja Daha, aku sendiri tak rela, apalagi kita sendiri. Tak bakal kita

menyerah begitu saja.

“Baginda Raja Kertanegara saja mengangkat senjata. Masa kita anak-cucunya

menyerah?

“Tapi untuk mulai penyerangan saat ini, kita agak sulit. Mungkin kalau

pertempuran tidak di Keraton, bisa kita ambil alih. Pasukan Paman Wiraraja telah

siap.”

Sanggrama Wijaya segera memerintahkan para pengikutnya untuk berkumpul.

Ia sendiri memimpin untuk menemui Naga Wolak-Walik dan Naga Kembar. Wijaya

dengan cerdik menghindar dari Naga Murka. Satu-satunya panglima perang yang

begitu penuh kecurigaan—yang sebenarnya memperlihatkan strategi yang ulung.

“Kami mengucapkan syukur dan rasa terima kasih yang dalam,” kata Nyai

Demang menerjemahkan kalimat Raden Wijaya. “Kebesaran pasukan Tartar memang

pantas sekali memenangkan ini.

“Rasa syukur ini akan kami wujudkan, sesuai dengan janji kami, untuk

mempersembahkan tanda kehormatan kepada Baginda Raja Kaisar. Kami minta izin

untuk membuat persiapan di tanah Tarik, di Majapahit.”

“Tidak usah terlalu sungkan,” kata Naga Kembar. “Tanpa disebutkan, kami

memang yang terbesar di jagat raya ini. Persiapkan persembahan tanda tunduk

kepada kaisar kami.”

Raden Wijaya tak menunggu lama. Hari itu juga memerintahkan untuk

berangkat. Upasara menjadi kagok.

“Raden, saat ini Gusti Putri Gayatri masih berada dalam tawanan. Karena sejak

semula Gusti Putri terjebak dalam Keraton. Apa tidak sebaiknya kita bebaskan lebih

dulu?”

Raden Wijaya mengentakkan kakinya.

“Upasara, kamu ksatria besar. Tapi itu sebabnya kamu tidak akan pernah

menjadi pemimpin. Di saat situasi begini menentukan soal mati-hidup, kamu masih

memikirkan seorang gadis. Di seluruh tanah Jawa ini, yang kecantikannya melebihi

Gayatri tak bisa dihitung. Nah, apakah kamu masih mempertimbangkan itu

dibandingkan keselamatan kita semua?”

“Hamba yang membawa dia, Raden.”

“Kamu yang membawa. Akan tetapi itu semua atas perintahku. Selama kamu

masih menjadi prajurit, kamu harus memenuhi perintahku. Perintahku sekarang ini,

kita kembali ke desa Tarik, ke Majapahit.”

Rombongan Raden Wijaya berangkat saat itu juga. Dengan pengawalan lebih

dari dua ratus prajurit Tartar.

Naga Murka menunjukkan kemarahan yang luar biasa ketika mendengar

lolosnya Raden Wijaya.

“Demi Kaisar yang menguasai langit. Bagaimana mungkin kalian berdua

mengaku jenderal perang, kalau membiarkan musuh melarikan diri?

“Apakah seorang yang mempersiapkan persembahan dan upeti perlu

membawa prajuritnya? Ini sama dengan persiapan perang.”

Naga Wolak-Walik juga kaget.

“Rasanya tak mungkin. Di dalam tawanan ini masih ada Raja Daha dan

putranya. Juga ada seorang putri bernama Gayatri. Mana mungkin mereka

membiarkan tawanan di tangan kita kalau mereka mengangkat senjata?”

“Justru karena itu.

“Tak bisa dibiarkan. Siapkan pasukan. Kalau kalian mabuk kemenangan karena

bisa membalas dendam, aku sendiri yang akan turun tangan mengejar. Jangan sampai

mereka menjadi kuat.

“Di tanah Jawa ini semua serba aneh. Para jagoan dan ksatria begitu banyak.

Kita tak menyangka bahwa seorang Ugrawe bisa menahan serbuan kita selama

delapan hari!

“Dan yang seperti Ugrawe mungkin banyak jumlahnya, kita sama sekali tak

mengerti.

“Siapkan pasukan.”

Kekuatiran Naga Murka tak meleset sedikit pun. Karena di tengah perjalanan,

Raden Wijaya dengan mendadak menghentikan pasukannya.

Dengan satu kibasan tangan, pengikutnya menyingkir ke bagian lain.

“Saya, Naraya Sanggrama Wijaya, pemimpin prajurit Majapahit, dengan ini

mengambil alih kepemimpinan seluruhnya. Kalian para prajurit Tartar, bisa memilih

dua jalan.

“Yang pertama, kembali ke negeri asal. Yang kedua, kita menentukan, siapa

yang lebih berhak memerintah di tanah leluhur kami.”

Para pengikut Raden Wijaya memuji bahwa dalam saat terakhir, lawan masih

diberi kesempatan untuk menentukan pilihan.

Pertempuran itu sendiri berlangsung singkat. Raden Wijaya ikut terjun

langsung ke medan pertempuran. Dengan Jaghana, sebagian dari Pengelana Gunung

Semeru, serta para senopatinya, dengan mudah mengalahkan pasukan Tartar yang

melawan. Apalagi rombongan para prajurit Madura sudah ikut datang bergabung.

Sebelum senja tiba, seluruh prajurit Tartar bisa dikalahkan. Sebagian bisa

dibekuk, ditawan, sebagian terbunuh, dan sebagian kecil lainnya melarikan diri.

Raden Wijaya mengesampingkan semua perhitungan lain. Kini seluruh

prajurit diperintahkan untuk langsung kembali menggempur Keraton Daha.

“Kebangkitan Keraton di tangan kita semua. Para prajurit sekalian, inilah

saatnya kita membaktikan diri pada tanah, pada bangsa, dan negara. Tak ada pilihan

lain.

“Saya bukan tidak tahu saat ini Baginda Jayakatwang, Rawikara, Gayatri,

Gendhuk Tri, serta Dewa Maut, dan sejumlah ksatria yang lain masih berada dalam

tawanan. Akan tetapi, kalau kita tidak mau mengorbankan diri, siapa yang akan

berkorban?

“Kalau saat ini saya berada di Keraton sebagai tawanan, saya tetap

memerintahkan untuk menyerbu.

“Sekarang, atau kesempatan itu tak pernah datang.”

“Maaf,” kata Jaghana sambil menyembah. “Apakah Raden tidak

mempertimbangkan bahwa korban yang akan jatuh lebih banyak lagi?”

“Paman Jaghana. Hari ini saya bersabda untuk meneruskan pertempuran. Siapa

yang takut berkorban lebih baik menyingkirkan tubuhnya dari sisiku. Saya sendiri

bisa menjadi korban. Tetapi saya memilih jalan ini. Saya tak pernah ragu sedikit pun.”

“Barangkali kita bisa menunggu…”

“Tidak, Paman Jaghana. Saya tahu bahwa barangkali Eyang Sepuh, tokoh

pepunden, tokoh pujaan kita semua, akan memberikan bisikan. Tapi kalau beliau akan

melakukan, pasti sudah dilakukan sekarang ini.

“Ini memang bukan tindakan yang harus diambil oleh seorang yang berbudi

luhur seperti Eyang Sepuh. Ini tindakan yang harus diambil Raden Wijaya.

Penyerangan kita kepada prajurit Tartar yang mengawal tak akan dibenarkan oleh

Eyang Sepuh. Tetapi saya yang bertanggung jawab.

“Saya yang melakukan. Sebab saya tidak bisa mengasingkan diri dan memuja

ilmu jati diri seperti Eyang Sepuh.

“Masing-masing mempunyai tugas sendiri.

“Saya tak bisa bersembunyi dan hanya berbisik saat-saat menentukan. Saya

manusia biasa.

“Tanpa mengurangi rasa hormat, rasa terima kasih kepada Eyang Sepuh, kita

berangkat sekarang. Mudah-mudahan beliau merestui keberangkatan kita.”

Dengan genderang perang yang ditabuh bertalu-talu, prajurit berangkat dari

tlatah Majapahit. Ribuan mengikuti dengan gagah perkasa. Kedua belas senopati

utama Raden Wijaya memimpin di barisan depan. Mereka inilah yang sejak awal

pertama turut berlari dari Keraton Singasari ketika digempur pasukan Jayakatwang.

Mereka inilah yang mengadakan siasat penyerangan total di Canggu, tempat prajurit

Naga Murka mengadakan pesta kemenangan.

Bangkitnya keperkasaan, terlibatnya seluruh penduduk untuk memerangi

prajurit Tartar, memberontak bagai air bah. Selama ini mereka agak segan bertempur

di antara para prajurit sendiri, biar bagaimanapun Jayakatwang masih mempunyai

hubungan saudara. Dengan prajurit Tartar, mereka lebih sigap dan lebih total.

Naga Kembar terlambat menyadari ketika seluruh pasukan praktis bisa

dikalahkan. Ia menuju Keraton Daha, dan di sanalah terjadi pertempuran berikutnya.

Tak ada sebulan prajurit Tartar dengan gagah menduduki Keraton, tapi kini harus

mempertahankan.

Naga Murka memimpin sendiri pertempuran. Ia berdiri di tempat yang tinggi,

diapit oleh Naga Wolak-Walik dan Naga Kembar. Di sampingnya, nampak Raja

Jayakatwang dan Rawikara sebagai tawanan, serta Gayatri.

“Kalau kalian terus menyerang, orang-orang ini akan mati lebih dulu!”

Teriakan mengguntur menghentikan semua gerakan prajurit.

“Tak ada yang menghentikan. Tetap serbu!” teriak Raden Wijaya mengguntur.

Naga Murka kaget melihat bahwa ternyata pertempuran tak bisa dihentikan.

Dua tangannya bergerak, ke arah Jayakatwang dan Rawikara. Ketika tangan mau

bergerak kembali, sebuah bayangan meluncur dari tanah. Gesit, sangat cepat.

Sungguh luar biasa. Bagai anak panah dilepaskan dari busurnya dengan kekuatan

penuh.

Langsung berdiri dengan gagah, di bagian utama benteng.

Dengan dua keris di tangan kanan dan kiri, Upasara siap untuk bertempur

antara mati dan hidup.

Satu bayangan lain melesat tinggi. Kiai Sangga Langit muncul. “Awas, jangan

bunuh bocah itu. Itu calon murid yang akan kupersembahkan kepada Kaisar. Kaisar

sangat menyukai pemuda seperti ini.”

Belum selesai omongan Kiai Sangga Langit, bayangan lain melesat. Disusul

bayangan kedua dan ketiga.

Ngabehi Pandu yang lebih dulu tiba, disusul oleh Jaghana serta Ranggalawe. Di

atas benteng yang sempit, berdiri para ksatria utama.

“Kiai, pertempuran kita belum selesai,” kata Ngabehi Pandu mulai membuka

mulut. “Kita tak ada urusan dengan pertempuran ini. Meskipun kehadiran kita tak

bisa dibebaskan dari pertempuran ini.”

Di bawah, Raden Wijaya sangat memuji Ngabehi Pandu. Yang memilih lawan

tangguh. Apa pun alasan Ngabehi Pandu, dengan menyibukkan lawan tangguh, akan

mengurangi pengaruh tekanan lawan.

Kiai Sangga Langit berteriak mengguntur, dan langsung menyerbu. Ngabehi

Pandu mengeluarkan semua ilmunya. Menghadapi dengan kekerasan pula. Pukulan

dibalas dengan pukulan. Seruan tertahan terdengar setiap kali keduanya bergulung.

Ranggalawe sendiri langsung menyerbu ke arah Naga Wolak-Walik yang dengan

cerdik mengincar Jaghana. Meskipun kelihatan luar biasa cara mengentengkan tubuh,

akan tetapi mudah dikenali bahwa Jaghana belum sembuh benar. Naga Kembar yang

menyambut serangan Ranggalawe.

Upasara pun terjun langsung ke arah pertempuran. Dua kerisnya bagai tanduk

banteng yang terluka, menyodet ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah. Naga Murka,

yang paling jagoan, hanya mengeluarkan suara meledek.

“Jangan salahkan aku kalau calon putra Kaisar mati di tanganku.”

Dalam medan yang begitu sempit, agak susah mengembangkan permainan. Di

satu pihak Kiai Sangga Langit dan Ngabehi Pandu bertarung mati-matian. Keduanya

bergulung bagai satu tubuh. Tak bisa dipisahkan. Tak bisa diketahui siapa lebih

menguasai siapa.

Sementara Jaghana seperti mudah ditebak mulai berada di bawah angin.

Ranggalawe kelihatan lebih unggul. Namun dari semua ini, Upasara yang jelas paling

menguatirkan. Karena ia paling muda dan justru menghadapi lawan yang paling

tangguh.

Semua jurus Banteng Ketaton atau Banteng Terluka telah dikeluarkan dengan

penuh tenaga, akan tetapi ujung kerisnya belum bisa menyerempet lawan. Malah

dengan sapuan kaki, Naga Murka mampu membuat Upasara terlontar mundur. Dua

gebrakan lagi, Upasara sudah tak bisa menginjak puncak dinding bagian atas.

Tubuhnya melorot turun.

“Kena!”

Di tengah angkasa, Upasara merasakan tendangan kaki yang mengarah ke

wajahnya. Dengan nekat Upasara menggunakan tenaga lawan untuk meloncatkan

tubuhnya ke atas. Ia memang berhasil. Akan tetapi dengan demikian Naga Murka bisa

menyikat habis.

Karena kedudukan Naga Murka jauh lebih kuat untuk melancarkan serangan

berikut. Sementara Upasara agak kedodoran karena tak mampu mengontrol tubuhnya

secara utuh.

Saat itulah Gayatri menjerit. Menguatirkan Upasara. Mendadak Upasara

melirik. Sekelebatan melihat sinar mata, bentrok, dan merasa bahagia. Inilah saat

terakhir, usaha untuk menolong putri idamannya mendapat balasan.

Tapi ternyata belum berakhir. Karena mendadak Ugrawe menggerung keras

dan maju ke tengah pertempuran.

Sebetulnya Ugrawe dan Gendhuk Tri serta Dewa Maut termasuk yang

ditawan. Hanya saja karena Gendhuk Tri menyimpan racun dahsyat, tak ada yang

berani menyentuh atau mencelakai. Selama ini pula Gendhuk Tri lebih mirip seorang

penawan, karena ia yang menawan Ugrawe. Yang sejak dikalahkan para Dewa Naga

tak bisa berkutik.

Melihat pertempuran yang sangat menguatirkan Upasara, perhatian Gendhuk

Tri terpecah. Saat itulah digunakan oleh Ugrawe yang selalu bisa memanfaatkan

situasi. Tubuhnya melayang, menyongsong ke arah Naga Murka. Dua tangan beradu

keras. Tubuh Ugrawe terdesak mundur. Ia mengangkat tangan kanan, memutar

tangan kiri. Sambil meneriakkan seruan mengguntur, maju menggempur. Banjir

Bandang Segara Asat yang dahsyat dimuntahkan dengan sepenuh tenaga. Dalam

kondisi yang prima, Ugrawe bisa berbuat banyak. Ia menguasai tenaga dalam secara

sempurna. Tetapi dalam keadaan terluka, memang tak bisa menggunakan secara

penuh. Namun bentrokan yang timbul cukup dahsyat dan menggelegar. Naga Murka

terbanting ke samping benteng. Ugrawe sendiri jatuh dan muntah darah.

Upasara menyerbu ke arah Ugrawe, menyangga tubuh Ugrawe.

“Aku bukan pahlawan. Aku sekadar bergerak saja. Siapa pun bisa menjadi

lawanku.” Suaranya melemah. “Aku tahu kunci ilmu silat di dunia ini. Kuncinya ada

pada Tumbal Bantala. Aku terlambat menyadari… Kamulah yang tahu kunci itu….”

Ugrawe masih berusaha bertahan, akan tetapi satu muntahan lagi tak bisa

menahan keinginannya. Badannya masih hangat, akan tetapi nyawanya telah

melayang!

Upasara menggeram.

Jaghana telah dikalahkan. Bahkan kini Gendhuk Tri sedang berusaha menahan

serbuan Naga Wolak-Walik. Ngabehi Pandu masih terus berkutat dengan Kiai Sangga

Langit.

Upasara melihat ke bawah. Seluruh pertempuran terhenti. Mereka

menyaksikan para pendekar di atas benteng yang bertarung mati-matian. Naga Murka

sudah berdiri kembali.

Upasara melirik ke arah Gayatri, tersenyum, dan sambil menghela napas

panjang menahan gejolak dalam hatinya. Apa yang bisa dilakukan? Ilmunya kalah

jauh oleh Naga Murka. Maksud untuk menolong sia-sia. Malah melibatkan beberapa

pendekar dan jatuh pula sebagai korban.

Bersiap pun terlambat.

Karena Naga Murka menyerbu ke arahnya.

Dalam sepersekian detik, dalam sepersekian kejap, Upasara jadi ingat Ngabehi

Pandu yang mendidiknya sejak lahir, persahabatannya dengan Kawung Sen, dengan

Galih Kaliki, rasa tertariknya pada Nyai Demang, lalu begitu merindukan Gayatri, Pak

Toikromo yang ingin mengambilnya menantu, Gendhuk Tri yang begitu

memperhatikan dirinya, bisikan Eyang Sepuh yang tak mau turun ke gelanggang.

Sementara itu pukulan Naga Murka sudah mendekat. Kesiuran angin sangat

tajam membabat tubuhnya. Seperti mengiris lehernya, mematikan urat-urat

tubuhnya.

Melihat untuk yang terakhir kalinya pun tak sempat!

Kosong. Sepersekian kejap yang tersisa adalah kekosongan. Hawa panas makin

menekan, mendesak ke dalam tubuh, membuatnya beku, susah bernapas.

Dewa Yang Mahakuasa, saya kembali padaMu.

Teriakan batin Upasara bagai jeritan kesakitan tapi juga sekaligus rasa syukur,

penyerahan total.

Di bawah, Raden Wijaya dan seluruh pengikutnya mengikuti jalannya

pertempuran dengan rasa was was. Kalau Ngabehi Pandu masih belum diketahui

hasilnya, Jaghana jelas sudah dikalahkan. Gendhuk Tri mengambil alih. Walau

kelihatan unggul, Ranggalawe belum diketahui, juga belum bisa memastikan

kemenangan. Sementara, kini justru serangan maut Naga Murka sedang mengincar

Upasara yang seperti tak bereaksi.

“Kakang…”

Yang terdengar keras adalah teriakan pahit Gendhuk Tri. Suaranya menyayat.

Gayatri juga mengucapkan kata itu, akan tetapi lebih lirih.

Upasara tak mendengar apa-apa. Hanya merasa getaran aneh yang

membuatnya setengah sadar dan tidak. Ketika pukulan Naga Murka meremas ulu hati,

Upasara justru tidak menghindar. Tubuhnya seperti melorot turun, seakan bagian

pinggang ke bawah tak ada tulang penyangga.

Naga Murka kecele. Pukulannya seperti mengenai karung kosong, seperti

mengenai gua melompong. Tak bisa ditarik mundur, tubuh Naga Murka tersedot ke

depan. Upasara menghindar. Kedua tangannya yang bebas bisa mengetok batok

kepala atau leher bagian belakang. Namun, sekali lagi, justru Upasara seperti tak

berusaha menghajar. Malah kakinya surut ke arah samping. Naga Murka mencelos

beberapa saat. Tapi ia adalah jagoan. Punya pengalaman segudang. Jenderal perang

yang paling tangguh. Melihat bahwa lawan tak melanjutkan serangan, Naga Murka

memutar tubuhnya, membalik. dan tendangan kaki kirinya mengarah lambung.

Saking cepatnya gerakan seketika ini tak sempat terdengar jeritan dari siapa

pun.

Keras lontaran hawa, mendekap panas. Upasara terkurung dalam tonjokan

udara membara. Dengan wajah tetap kosong dan tatapan seperti tertuju ke titik yang

maha jauh, Upasara tak menggeser tubuhnya. Hanya sikutnya tertekuk, tertarik ke

bawah. Siku jelas tak akan unggul kena benturan kaki, yang ditendangkan sekuat

tenaga.

“Celaka…”

Naga Murka merasa pahanya menjadi ngilu, kaku, tak bisa digerakkan. Kalau

tadi tendangannya seperti yang pertama, mengenai ruang kosong, kini sentuhan siku

Upasara tepat mengenai urat pahanya. Kaku seketika. Tenaganya tersumbat. Tak bisa

digerakkan. Padahal saat itu Upasara terus bergerak, kedua tangannya terjulur. Naga

Murka menyampingkan wajahnya. Dan terasa amis di bibirnya.

Separuh alisnya somplak, darah mengucur. Juga dari bagian hidung.

Naga Murka menjadi panas-dingin. Sungguh tak terduga. Upasara yang tadinya

memperlihatkan kekuatan utama dengan memainkan sepasang keris, kini mempunyai

gerak yang mengandalkan tenaga dalam yang nyaris sempurna.

Upasara melangkah menjauh, tubuhnya masih menggeliat seperti seorang

penari. Dalam keadaan semacam itu, satu gerakan saja sudah cukup untuk menghabisi

Naga Murka.

Akan tetapi Upasara Wulung berdiri kaku seperti menunggu. Mengetahui

bahaya mengancam, Naga Kembar dan Naga Wolak-Walik berusaha membebaskan

diri dari tekanan. Mereka berdua secara serentak melemparkan dua senjata andalan,

memotong dari sisi kanan dan kiri.

Kembali terjadi pemandangan yang aneh.

Bagian pinggang ke bawah seperti tak bertenaga. Tubuh Upasara memendek,

sangat pendek sekali. Dua senjata berbenturan, pada saat itu tubuh Upasara

memanjang kembali. Kembali dengan gerakan limbung, tangan Upasara mengulurkan

tinju. Gerakan pertama tidak tertuju ke arah Naga Kembar ataupun Naga Wolak-

Walik. Seperti memukul udara kosong.

Naga Wolak-Walik justru meloncat mundur. Berdiri di ujung benteng yang

lain. Salah setengah kaki saja, tubuhnya anjlok ke bawah.

Naga Murka menurunkan kakinya yang kejang. Ia tak tinggal diam, merangsek

maju. Mencoba memeluk tubuh Upasara, dan siap untuk meremukkan seluruh

tulangnya. Sebagai pegulat yang mampu mengerahkan tenaga dalamnya, Naga Murka

yakin bisa menembus tenaga kosong yang didemonstrasikan Upasara.

Upasara Wulung ternyata tidak menghindar. Tidak juga memendekkan tubuh.

Kedua tangannya terentang, dan kembali ke posisi semula, dalam sikap menyembah.

Tetapi justru dengan gerakan ini, tolakan tenaganya begitu keras, sehingga Naga

Murka terdorong. Hanya karena tubuhnya tertahan Gayatri yang diikat dan berdiri

kaku, tak sampai terguling ke bawah.

“Bok Mo Jin, kamu pengkhianat! Sejak kapan kau ajari dia jurus Jalan Budha?”

Teriakan Naga Murka menunjukkan kecemasan yang tinggi.

Mendadak pertempuran di bagian lain terhenti.

Kini seluruhnya menjadi senyap.

Kiai Sangga Langit berdiri kukuh. Di sudut bibirnya mengalir darah. Ngabehi

Pandu demikian juga. Malah kedua kakinya terhuyung-huyung. Naga Wolak-Walik

bersiap, tapi pasti. Naga Kembar mengambil posisi bertahan. Sementara itu,

Ranggalawe mengatur kuda-kuda, siap untuk melancarkan serangan. Jaghana berdiri,

disangga oleh Gendhuk Tri.

Upasara Wulung berdiri kukuh.

Tegak.

“Aku juga bisa. Aku juga bisa,” teriak Galih Kaliki di bawah, sambil berputar

menirukan gerak Upasara Wulung.

Bahwa Upasara bisa membalik situasi secara mendadak memang sangat

mengejutkan. Tak terkecuali Ngabehi-Pandu yang menjadi gurunya. Ia sama sekali

tak menyangka bahwa Upasara Wulung bisa memainkan secara nyaris sempurna, apa

yang selama ini dikenal sebagai Tepukan Satu Tangan! Apa yang oleh Naga Murka

disebut sebagai jurus Jalan Budha. Apa yang bisa ditirukan dengan baik oleh Galih

Kaliki.

Tuduhan Naga Murka bukannya mengada-ada. Karena yang ditunjukkan

Upasara Wulung barusan adalah gerakan yang sulit dipahami. Gerakan yang selama

ini hanya dipelajari oleh Kiai Sangga Langit sebagai imam negara! Juga tidak terlalu

meleset kalau Ngabehi Pandu seperti mengenali. Atau bahkan Galih Kaliki bisa

menirukan geraknya dengan sempurna.

Apa yang sebenarnya terjadi, tak bisa diterangkan oleh Upasara sendiri.

Semuanya berkecamuk menjadi satu. Bisikan Ugrawe mengenai Tumbal Bantala

masih terngiang. Dan itulah gerakan yang muncul begitu saja.

Gerakan ini seperti diketahui, dipelajari oleh Upasara Wulung sambil lalu, ketika

Kawung Sen mencuri kitab itu dari perbendaharaan Ugrawe. Upasara tidak tertarik

mempelajari, karena ketika itu sadar bahwa Kitab Penolak Bumi atau Tumbal Bantala

Parwa adalah buku yang mengajarkan cara-cara menolak serangan bumi. Apa artinya

kalau jurus mengenai bumi tak diketahui? Upasara bersama Kawung Sen lebih suka

mempelajari Kartika Parwa atau Buku Bintang.

Hanya saja, Upasara baru sadar apa yang dipelajari ketika melihat Galih Kaliki

mencoba membunuh dirinya. Gerakan Galih Kaliki mengingatkan kepada sesuatu

yang bisa untuk menangkis. Dan ternyata gerakan itu kena! Bahkan ketika itu Upasara

Wulung menyadari bahwa gerakan-gerakan Galih Kaliki dengan tongkat galih pohon

asam sama dengan pukulan tangan kosong Ugrawe. Maka dalam gebrakan awal bisa

mengalahkan Ugrawe. Hanya ketika pikirannya bercabang, ketika mau memainkan

gerakan Banteng Ketaton, bisa dilukai.

Demikian juga ketika melawan Naga Murka. Jurus-jurus dalam Banteng

Ketaton yang cukup sempurna bisa cepat dikalahkan Naga Murka.

Bahwa Naga Murka menduga Kiai Sangga Langit mengajari Upasara bukannya

tanpa alasan. Kiai Sangga Langit sendiri bukan tak pernah mengatakan jurus-jurus

atau cara latihan napas itu. Setidaknya pernah menurunkan lewat Nyai Demang!

Yang tak disadari oleh siapa pun adalah bahwa sebenarnya Kiai Sangga Langit

sendiri belum melihat pemecahannya bagaimana cara memainkan jurus Jalan Budha.

Ia hanya tahu teorinya! Itu bukan semata-mata hadiah. Akan tetapi siapa tahu

Upasara bisa memecahkan rahasianya. Seperti diketahui, Upasara bisa memecahkan

cara main congklak yang merupakan inti ilmu tersebut.

Upasara, di luar dugaan, bisa menguasai itu semua. Karena memang ilmu itu

pada dasarnya mengandalkan pikiran kosong. Suwung, sunya, sepi. Dalam keadaan

pasrah tadilah tenaga itu muncul.

“Budha maha welas-asih. Hari ini, aku melihat cahaya dan petunjukmu.” Kiai

Sangga Langit menunduk berusaha memberi hormat. Akan tetapi tubuhnya jatuh ke

bawah. Tak bergerak.

Ngabehi Pandu tertawa pendek. Akan tetapi sebelum tawanya selesai,

tubuhnya jatuh ke bawah juga! Dalam duel yang berjalan sekian lama, kedua-duanya

telah terluka dalam.

Upasara Wulung menjadi getir hatinya melihat gurunya jatuh. Konsentrasinya

buyar.

“Kakang, sikat mereka semua,” teriak Gendhuk Tri.

Naga Murka meloncat turun sambil berteriak mengguntur, “Semua kembali ke

kapal!”

Naga Wolak-Walik mengikuti turun, disusul Naga Kembar. Dan semua

prajurit Tartar mundur secara teratur. Pertempuran di bawah kembali bergolak.

Hanya kali ini prajurit Tartar terus didepak mundur.

Perlahan-lahan mereka terus terdesak.

Di atas benteng, Upasara membebaskan ikatan Gayatri, lalu bersamaan dengan

Gendhuk Tri, Dewa Maut, Jaghana, Ranggalawe melayang turun.

Medan pertempuran telah bergeser ke utara. Prajurit Tartar makin terdesak ke

arah pelabuhan.

Upasara Wulung berlari kencang, mengangkat Ngabehi Pandu. Lalu membawa

ke tempat sepi. Menunduk. Sendirian.

Air matanya membeku.

Pundaknya berguncangan menahan duka.

“Sudah, Kakang….” Suara Gendhuk Tri seperti tak terdengar.

“Betul, Tole, Kakang tak usah berduka. Toh Ngabehi Pandu mati dalam

senyum. Sudah melihat kamu menang. Kamu memang jagoan.”

Itu tak menghibur Upasara Wulung. Juga pesta kemenangan yang dirayakan

secara besar-besaran. Kini seluruh Keraton telah dikuasai secara mutlak. Pasukan

Tartar telah dibuang ke laut. Didesak hingga ke kapal-kapalnya yang segera dilarikan

ke laut. Kembali ke negeri asalnya.

Sungguh suatu akhir yang tak menggembirakan. Para prajurit kelas satu yang

berhasil menaklukkan separuh belahan bumi, yang tak terhalangi lajunya selama ini,

justru bisa dipecundangi oleh prajurit-prajurit yang tadinya tidak diperhitungkan

sama sekali. Utusan pertama untuk menaklukkan dibuat tak bermuka oleh Baginda

Raja Sri Kertanegara. Kemudian tiga jenderal perang yang paling tangguh, dengan

armada yang paling tangguh, kembali pulang dengan tangan hampa dan kekalahan.

Walaupun kepulangan kali ini dengan harta karun dari Keraton yang bisa dirampas,

akan tetapi tetap tak menghapus aib yang begitu besar. Untuk pertama kalinya Kaisar

Langit dan Dewa-Dewa Naga dibuat tak berdaya.

Luapan kegembiraan tak membuat Upasara tersenyum sedikit pun. Kembali

wajah duka membebani. Seakan kematian Ngabehi Pandu membuatnya putus

harapan. Upasara mulai mengenal kasih sayang, mulai mengenal dunia dari Ngabehi

Pandu. Akan tetapi kini, ia kehilangan. Satu demi satu orang yang dihormati, yang

menjadi bagian dari keluarga, gugur di medan pertempuran. Sejak Kawung Sen,

Jagaddhita, Mpu Raganata, dan Ngabehi Pandu.

Penghargaan resmi dari Sanggrama Wijaya berupa gelar resmi sebagai senopati

pamungkas—tidak berarti senopati terakhir, melainkan senopati yang bisa

menyelesaikan tugas dengan tuntas, tak menggoyahkan hatinya. Juga hadiah berupa

tanah luas.

Pada suatu malam Raden Wijaya memanggilnya sendirian.

Ketika itu Keraton Majapahit mulai dibangun kembali. Sebagian besar pusakapusaka

Keraton Daha yang dipindahkan telah diberi tempat tersendiri. Di tempat

seperti itulah Upasara Wulung dipanggil menghadap.

“Senopati Wulung, jasamu sangat besar. Terutama di hari-hari terakhir.

Di ruang ini ada segala pusaka yang bisa kamu ambil, kamu pilih. Apakah semua ini

masih kurang?”

“Terima kasih, Raden. Hamba merasa senjata pusaka ini akan lebih berarti di

tempat ini.”

“Aku bukannya tidak tahu apa yang kauharapkan. Gayatri, putri Baginda Raja

Sri Kertanegara. Aku bukannya tidak mau memberikan, Senopati Wulung.

“Namun kamu tak bisa melawan kodrat. Menurut perhitungan para resi, para

pendeta, Gayatri dan diriku ditakdirkan seperti Dewa Uma dengan Syiwa.

“Dari Gayatri-lah kelak akan diturunkan raja-raja besar, yang tak ada

bandingannya selama beberapa keturunan.

“Begitulah perhitungan para pendeta yang bijak.

“Jika menjadi jodohmu, itu menghalangi kodrat. Mengubah sejarah

kegemilangan masa yang akan datang.

“Senopati Wulung, pilihlah putri yang lain. Gayatri tidak seorang diri. Ia

mempunyai tiga saudari. Kamu bisa memilih salah satu.”

Upasara menunduk, tidak menjawab.

“Aku mendengar laporan, bahwa utusan dari Pamalayu sebentar lagi akan tiba.

Mereka membawa putri ayu, berkulit putih, memancarkan cahaya surga.

“Kamu bisa memilih salah satu, senopatiku, pahlawan perangku.”

Upasara menghaturkan sembah.

“Hamba tak cukup berharga untuk itu semua, Raden….”

“Hari ini kamu masih bisa memanggilku Raden. Sebentar lagi kamu akan

memanggilku Baginda Raja. Namun, Senopati, dengarlah. Apa yang kukatakan tak

pernah kutarik pulang. Siapa pun yang kamu minta, akan kuberikan. Asal bukan

Gayatri, karena kita semua akan menyalahi kodrat!”

Apakah banyak artinya janji itu? Upasara Wulung tak tahu. Bahkan Kiai

Sangga Langit pun dulu masih mempunyai satu janji dengan dirinya. Tapi belum

sempat dipenuhi, Kiai Sangga Langit sudah meninggal dunia.

Dalam kehampaan hati, Upasara Wulung secara diam-diam meninggalkan

Keraton Majapahit. Menelusuri hutan, melalui rawa dan sungai, hingga akhirnya

kembali ke Perguruan Awan.

Melihat semua bekas yang masih bisa menggetarkan hatinya—walaupun

secara nyata seolah tak ada yang berubah.

“Eyang Sepuh yang menuntunmu ke tempat ini,” kata Jaghana perlahan sambil

menyembah. Demikian juga Wilanda. Upasara Wulung menjadi jengah.

“Eyang Sepuh yang membisiki Anakmas agar berada di tempat ini. Untuk

membangun kembali perguruan ini. Di sini tinggal kami berdua.”

“Paman Jaghana dan Paman Wilanda, saya memang ingin beristirahat di sini.

Akan tetapi soal membangun perguruan…”

Wilanda menghaturkan sembah.

“Anakmas, kalau bukan Anakmas yang secara langsung mendapat bisikan

Eyang Sepuh, siapa lagi yang pantas memimpin Perguruan Awan ini?”

“Jangan menyembah seperti itu, Paman.”

Mendadak Jaghana dan Wilanda berdiri dan tertawa terbahak-bahak. Keras

membahana.

Lalu keduanya bersujud.

“Eyang Sepuh, sungkem pangabekti. Eyang masih selalu bersama kami.”

Upasara baru sadar. Bahwa dengan meminta tidak saling menyembah berarti

dirinya masuk ke dalam peraturan Perguruan Awan. Di mana di sini memang tidak

ada aturan untuk saling menghormati secara formal.

Upasara tak bisa menerangkan lebih jauh. Tetapi juga tak bisa menolak. Karena

memang hanya di tempat inilah hatinya merasa tenteram. Tak timbul keinginan

melihat Keraton Majapahit dan mendatangi upacara besar-besaran, tak ingin melihat

keraton lama di mana di dindingnya pernah dipahatkan kalimat janji dengan Gayatri.

Sejak saat itu Upasara Wulung berdiam di Perguruan Awan. Mulai

menghabiskan waktu dengan Jaghana dan Wilanda. Hidup dari buah-buahan, dari

menanam dan merawat tumbuhan yang ada. Kadang kala melatih pernapasan secara

bersama-sama.

Selama ini yang sering datang adalah Gendhuk Tri serta Dewa Maut— malah

kadang berdiam lama. Juga Galih Kaliki dan Nyai Demang. Biasanya mereka

berkumpul bersama, berbicara lama sekali. Dari sore hingga sore hari lagi. Berlatih

bersama.

Namun dari luar, hutan itu seperti tak tersentuh manusia. Mereka terlalu kecil

dibandingkan dengan alam yang gagah perkasa. Di mana ujung dedaunan mencapai

langit, dan akarnya terhunjam dalam ke tanah.

Satu-satunya tanda bahwa hutan itu berpenghuni manusia ialah bila suatu

ketika ada angin lirih, seperti terdengar tembang, senandung tanpa kata-kata,

memberi gambaran ombak yang bergulung ke pantai berlumut….

Utusan Asmara

LANGIT di Keraton Majapahit membersitkan campuran warna merah kekuningkuningan.

Saat menjelang terbenamnya matahari, suasana sangat sepi. Mereka yang

bekerja sepenuh hari beristirahat. Tak ada anak-anak yang bermain, baik di

perumahan penduduk maupun di dalam Keraton.

Sore hari saat candikala, saat matahari membiaskan sinar merah-kuning,

adalah saat untuk hening. Saat pergantian siang dengan malam yang ditandai dengan

firasat alam. Berbeda dengan pergantian hari yang biasa, candikala dianggap

mempunyai makna bisa mendatangkan bahaya. Karena, menurut kepercayaan itu

adalah saat Batara Kala, dewa yang bertubuh raksasa, sedang mencari mangsa. Siapa

saja yang masih berada di luar rumah akan ditelan.

Tapi suasana yang tengah dirasakan Baginda Raja Sanggrama Wijaya bukan

hanya karena cahaya surya yang sebenarnya sangat indah itu.

Yang membuat Baginda Raja gundah adalah masih adanya batu-batu yang

terasa mengganggu kesempurnaan kekuasaannya. Batu kecil, karena batu-batu besar

telah berhasil disingkirkan. Dengan prajuritnya yang setia, Baginda Raja berhasil

membebaskan kekuasaan dari Baginda Jayakatwang. Batu besar yang lebih perkasa,

yaitu pasukan Tartar yang pernah dan masih menguasai seluruh jagat raya, berhasil

disingkirkan. Bersama dengan para senopati yang pilihan, pendekar-pendekar Tartar

bisa dibubarkan, didesak ke pinggir laut dan pulang ke kandangnya.

Sejak itu, desa Tarik diubah menjadi pusat kegiatan. Keraton Majapahit mulai

didirikan. Benteng yang kuat, gapura yang indah dan kokoh bisa didirikan.

Pembagian kekuasaan untuk para pembantu utama sudah dipersiapkan. Sebagai raja

yang baru, Baginda Raja sudah menyusun sejumlah pangkat dan kebesaran yang siap

untuk dianugerahkan.

Sampai di sini tak ada masalah yang berarti.

Kecuali tentang satu orang. Yaitu Upasara Wulung, ksatria Pingitan didikan

zaman Baginda Raja Kertanegara, yang diangkat menjadi senopati. Diangkat sebagai

salah satu panglimanya ketika mengusir lawan dalam pertempuran antara mati dan

hidup. Itulah sebabnya Baginda Raja memberi sebutan sebagai senopati pamungkas,

senopati terakhir. Tetapi bisa juga berarti senopati yang menyelesaikan tugas.

Sebagai seorang yang berdarah ksatria dan berasal dari lapisan tengah sebelum

naik takhta, Baginda Raja Sanggrama Wijaya mengenal balas budi. Semua senopati,

prajurit yang berjasa, diberi ganjaran atau hadiah yang sesuai dengan jasa

pengabdiannya. Bahkan prajurit dalam pangkat yang paling rendah pun menerima.

Kecuali satu orang.

Yaitu Upasara Wulung. Yang setelah pertempuran besar-besaran lebih suka

kembali ke Perguruan Awan. Dan sejak masuk kembali ke daerah hutan itu, tak

pernah muncul lagi. Dua kali Baginda Raja mengirimkan utusan resmi. Akan tetapi

jangan kata mendengar jawaban, bertemu dengan orangnya atau bayangannya saja tak

bisa.

“Tak mungkin bocah itu tak tahu datangnya utusan resmi,” kata Baginda Raja

pelan kepada Gayatri, salah seorang permaisurinya.

“Ia tahu, dan ia menunjukkan sikap menolak kepada utusanku. Bocah Pingitan

itu lupa bahwa yang ditentang sekarang ini adalah perintah seorang raja yang bisa

membalik dunia seperti membalik telapak tangan.

“Aku memanggilmu karena kamu tahu bocah itu.”

Gayatri menunduk, memandang lantai Keraton.

Hatinya masih berdesir. Masih tersisa kenangan ketika bersama dengan

Upasara Wulung menyelinap ke dalam Keraton Daha. Dan saat Upasara Wulung

bertarung antara mati dan hidup untuk membebaskannya. Lebih dari itu,

diketahuinya bahwa ksatria itu menaruh hati padanya. Hanya karena menurut

perhitungan para pendeta dirinya adalah pasangan Baginda Raja, seperti pasangan

Dewa Wisnu dan Dewi Sri, Upasara Wulung mengundurkan diri.

Sebagai permaisuri seorang raja, Gayatri sudah sejak semula menutup semua

kenangan dan ingatan pada diri Upasara Wulung. Tak ada keinginan sedikit pun

untuk membuka hari lampau, karena setiap kali tanpa sengaja nama itu disebut,

darahnya masih tetap mengalir lebih kencang.

“Bocah Pingitan itu,” suara Baginda Raja sedikit meninggi ketika menyebut

sebagai bocah, dan bukan ksatria, “masih menyimpan dendam kekanak-kanakan

karena kamu.

“Aku sudah berjanji memberikan apa saja padanya, kecuali kamu. Akan tetapi

ia tetap bocah yang tak tahu bagaimana menikmati hasil perjuangannya sendiri. Ia

memilih berada di hutan seolah mau menjadi dewa.

“Ia boleh mengaku berjasa. Nyatanya memang demikian. Akan tetapi sekali ini

aku tak bisa membiarkan ia menolak panggilanku. Itu berarti menentang panggilan

seorang raja. Tak ada ampunan bagi seorang yang berani menentang raja.”

Gayatri tetap menunduk.

Lurus pandangannya ke bawah.

Desir darahnya masih menggetar.

“Aku memanggilmu karena aku ingin kamu datang ke Perguruan Awan dan

mengatakan bahwa aku memanggilnya, memerintahkan ia sowan, menghadap

padaku. Bahwa aku akan memberikan pangkat tertinggi padanya sebagai mahapatih.

“Bersiaplah.

“Besok pagi-pagi sekali kamu berangkat.”

Gayatri menghaturkan sembah dengan menunduk hormat.

“Aku telah mengangkat para mantri, para bupati, para senopati. Akan tetapi

tetap terbuka kemungkinan untuk menjadi mahapatih, menjadi tangan kananku.

“Akan kulihat apakah kepalanya masih keras menerima tawaranku, menerima

kedatanganmu.

“Sebelum matahari terbit besok, kamu sudah berada dalam perjalanan.”

“Sendika dawuh, Gusti.”

Gayatri menghaturkan sembah. Walau ia termasuk permaisuri, akan tetapi

seorang raja tetap seorang raja yang harus dihormati sebagai raja, bukan hanya sebagai

suami. Gayatri tetap menghaturkan sembah, dan menyebut sebagai Gusti, kependekan

dari Gusti Prabu.

Gayatri menunggu sampai Baginda Raja meninggalkan tempat. Baru kemudian

bergerak perlahan. Menyadari bahwa sesuatu yang besar akan terjadi dalam beberapa

hari ini. Sesuatu yang lebih menggetarkan hatinya dibandingkan ketika pertama kali

menyusup ke dalam Keraton Daha bersama Upasara Wulung. Padahal waktu itu jelas

memang menguatirkan, karena soal mati dan hidup.

Sekarang ini seharusnya ia merasa sedikit terhibur. Bukankah ia akan bertemu

dengan seorang lelaki, benar-benar seorang lelaki yang pernah mengguncangkan

jiwanya? Upasara Wulung seorang lelaki biasa, bukan seorang raja. Bukan seorang

pangeran. Bukan juga seorang bupati. Gelar kehormatan yang disandang hanyalah

senopati. Suatu gelar kehormatan yang bisa diperoleh setiap prajurit.

Akan tetapi Upasara Wulung memang sepenuhnya seorang lelaki. Gagah,

mempunyai jiwa ksatria, seorang prajurit sejati yang hanya tahu satu hal: berbakti

kepada Baginda Raja, yang berarti mencintai Keraton, yang juga berarti mencintai

tanah tumpah darahnya. Upasara begitu lugu, begitu jujur mengabdi, begitu tulus

menjalankan darma baktinya.

Ini semua yang membuatnya makin gelisah ketika akhirnya selepas tengah

malam Gayatri masuk ke dalam tandu, dipanggil para prajurit yang telah siap. Saat

itulah Gayatri mendengar sendiri dari Mpu Renteng dan Mpu Sora yang mengawal.

Bagi Gayatri, Mpu Sora dan Mpu Renteng mempunyai hubungan yang lebih erat.

Bukan karena kebetulan kedua tokoh itu adalah dua di antara sekian orang

kepercayaan Baginda Raja, akan tetapi karena Mpu Renteng dan Mpu Sora sering

mengatakan sesuatu secara berterus terang.

“Paman, katakan padaku, apa sebenarnya maksud Baginda Raja memanggil

Kangmas Upasara?”

Mpu Renteng dan Mpu Sora menyembah dengan hormat. Keduanya naik kuda

di sebelah kanan dan kiri tandu.

“Seperti yang diperintahkan Baginda.”

“Apakah itu yang sesungguhnya, Paman?”

“Itulah yang sesungguhnya, Permaisuri.

“Baginda Raja saat ini kesulitan memilih siapa sesungguhnya yang berhak

menjadi mahapatih. Hamba melihat kelebihan Baginda melihat ke depan. Sekarang

ini kalau di antara kami yang diangkat, bisa menjadi bobot pertengkaran. Hamba,

Tambi, Renteng, Sasi, Nambi, tumbuh secara bersama. Agak sulit menerima tiba-tiba

salah seorang dari kami menjadi mahapatih. Kami terlalu tahu kurang dan juga

lebihnya.”

“Apakah Paman akan menerima jika Kangmas Upasara yang diangkat

Baginda?”

“Kami akan menerima, karena itulah titah Baginda Raja. Akan tetapi lebih dari

itu, Upasara pantas menyandang kehormatan itu. Walau masih muda, jasanya besar

sekali. Kami semua mengakui, dan menerima.”

Terdengar helaan napas dari dalam tandu.

“Kalau Baginda berkehendak memberi anugerah pangkat yang begitu tinggi,

mengapa disertai ancaman? Mengapa Baginda bisa menjadi murka?”

Kali ini ganti Mpu Sora dan Mpu Renteng menghela napas bersamaan.

Kekuatiran Baginda Raja

HELAAN napas yang bersamaan menunjukkan kecemasan yang sama. Mpu Renteng

juga berusaha menenteramkan kegelisahan batinnya. Apa yang diutarakan Mpu Sora

sepenuhnya benar. Masalah pengangkatan mahapatih Majapahit sekarang ini masalah

yang paling pelik. Upasara Wulung bisa menjadi jalan tengah yang menyelamatkan.

Akan tetapi kekuatiran yang diutarakan Permaisuri Gayatri juga ada benarnya.

Mpu Renteng dan Mpu Sora dalam hati was was karena tak bisa sepenuhnya

memperkirakan cara bertindak Baginda Raja. Pengalaman masa lampau bersama-sama

sejak melarikan diri dari Keraton Singasari ketika Raja Muda Jayakatwang menyerbu,

membuat mereka sepenuhnya hormat dan menyatu. Dalam keadaan terlunta-lunta,

berjalan sampai ke tlatah Madura, selalu bisa seperasaan. Begitu juga ketika mulai

menggempur Raja Jayakatwang di Daha.

Akan tetapi sedikit timbul keraguan ketika dalam saat-saat yang menentukan

Baginda Raja tega membiarkan beberapa prajurit yang masih menjadi tawanan.

Baginda Raja tetap memerintahkan penyerbuan. Juga ketika prajurit Tartar kemudian

digempurnya. Mpu Renteng menganggap ada sesuatu yang tak bisa diduga dalam

tindakan Baginda Raja. Biar bagaimanapun, jiwa ksatria Mpu Renteng dan Mpu Sora

tak bisa menerima begitu saja cara menyingkirkan pasukan Tartar.

“Mereka musuh kita. Harus kita musnahkan. Dengan siasat. Ini bukan

kelicikan atau sifat ksatria. Kita harus memenangkan pertempuran yang paling

menentukan ini. Kalian adalah prajurit, dan aku yang memikirkan strategi. Aku yang

bertanggung jawab kepada Dewa yang Menguasai Langit dan Bumi.

“Busuk atau tidak kulakukan, aku yang bertanggung jawab. Kalian tidak akan

pernah mengerti. Ini urusan pemerintahan. Ini urusan seorang raja!”

Itulah yang dulu didengar langsung dari Baginda Raja.

Penjelasan yang diterima saat itu. Akan tetapi setelah beberapa saat

dipertimbangkan, setelah Keraton Majapahit mulai dibangun, dan segala hasil

dinikmati, kecemasan baru mulai merambat.

Kalau hal ini dihubungkan dengan pemanggilan Upasara Wulung, Mpu

Renteng juga melihat sesuatu yang selama ini agaknya disembunyikan oleh Baginda

Raja.

Atau paling tidak, tidak diungkapkan oleh Baginda.

Yaitu tersiarnya berita di luaran bahwa selama ini Upasara Wulung dilupakan

oleh Baginda Raja. Bahwa berita pembicaraan di masyarakat itu tidak benar, Mpu

Renteng dan Mpu Sora tahu secara pasti. Bukan Baginda Raja yang melupakan, akan

tetapi Upasara sendiri yang menolak.

Namun ada juga yang dirasakan, bisa benar dan bisa tidak. Yaitu bahwa di

belakang hari Upasara Wulung bisa menjadi ganjalan yang berbahaya. Sejak

pertempuran penghabisan dulu, Upasara mengasingkan diri di Perguruan Awan.

Sepenuh waktunya dipakai untuk merenung, untuk bersemadi.

Inilah yang berbahaya. Saat ini Upasara telah mulai memperdalam ilmu yang

sangat luar biasa, yaitu Tepukan Satu Tangan. Ilmu yang masih tetap dianggap gaib,

karena selama ini tidak ada yang mengetahui secara persis. Bahkan ilmu itu yang oleh

para pendeta Tartar, para pendekar Mongolia, dianggap sebagai Jalan Budha.

Ilmu yang baru sebagian saja dilihat oleh Mpu Renteng dan Mpu Sora sewaktu

Upasara Wulung melabrak habis Naga dari Tartar yang saat itu tak tertandingi.

Ilmu yang luar biasa, karena mereka semua para jago silat seperti mengenali,

akan tetapi juga seperti tidak. Dan kalau benar saat ini Upasara Wulung sedang

memperdalam ilmunya Tepukan Satu Tangan yang bisa terdengar lebih nyaring dan

lebih bertenaga dari dua tangan, bisa dibayangkan bagaimana jika Upasara benarbenar

telah menguasai ilmu tersebut.

Upasara akan menjadi tokoh yang tak bisa diramalkan, dan sulit dicari

tandingannya. Di zaman dahulu masih ada Mpu Raganata yang perkasa, masih ada

Eyang Sepuh yang kini tak diketahui tempat dan bayangannya, akan tetapi sekarang

ini Upasara betul-betul tak menemukan lawan yang setanding.

Dalam perkiraan Mpu Renteng, kalau Baginda kuatir, itu cukup beralasan.

Karena memang sejak mendiang Baginda Raja Kertanegara, kedigdayaan adalah

sesuatu yang mempunyai makna mendalam. Baginda Raja Sri Kertanegara-lah yang

secara resmi menentukan bahwa nilai-nilai kedigdayaan, kesaktian, adalah nilai

seorang lelaki yang sesungguhnya. Hanya yang kuat dan sakti yang akan memerintah

seluruh jagat dan isinya.

Kehadiran Upasara Wulung bisa menjadi ganjalan di belakang hari. Maka,

menurut perkiraan Mpu Renteng dan Mpu Sora serta beberapa senopati, Baginda Raja

berusaha menarik Upasara Wulung ke pihak Keraton. Dengan anugerah pangkat

mahapatih, Upasara tak akan melawan di kemudian hari. Upasara Wulung,

sebaliknya, akan berbakti sepenuhnya.

Kalau ternyata Upasara Wulung menolak, bukan tidak mungkin Baginda akan

mengangkat tangan untuk melenyapkan. Sekarang adalah saat yang tepat, sebelum

Upasara Wulung tumbuh menjadi besar dan berakar.

Pastilah Baginda Raja mempunyai telik sandi atau pasukan rahasia yang

mengetahui apa yang tengah terjadi sekarang ini. Dugaan Mpu Renteng ialah prajurit

telik sandi di bawah pimpinan Mpu Nambi yang mampu menyusupkan anak buahnya

ke Perguruan Awan. Mpu Renteng bisa mengetahui sedikit-sedikit dan mendengar

bahwa sesungguhnya Upasara Wulung saat ini tengah berada dalam situasi yang

menentukan. Upasara berada dalam situasi yang sangat menentukan dalam

mempelajari Tepukan Satu Tangan. Bagian yang menentukan apakah ia bakal berhasil

menguasai ilmu tersebut atau gagal sama sekali.

Mpu Nambi mendapat laporan dari prajuritnya yang menurut cerita mendapat

kabar tersebut dari Dewa Maut. Salah seorang tokoh yang semasa jayanya jago dalam

bidang racun yang tiada tandingannya. Hanya saja kemudian seluruh tenaga

dalamnya musnah serta terganggu jiwanya.

Dewa Maut termasuk yang bisa keluar-masuk ke dalam Perguruan Awan

bersama dengan Gendhuk Tri—gadis remaja yang seluruh tubuhnya dipenuhi dengan

racun.

Mereka inilah, di samping beberapa murid Perguruan Awan, yang masih tetap

mengadakan pertemuan secara tertentu.

Sesungguhnya, ini yang dikuatirkan Baginda.

Kalau sampai Upasara berhasil menghimpun para ksatria pilihan dan kemudian

mbalela, atau memberontak kepada Baginda. Upasara bagai harimau yang tumbuh

sayap.

Bahwa Upasara akan sangat membahayakan seluruh ketenteraman Keraton,

Mpu Renteng bisa mengerti dan bisa menerima. Akan tetapi nalarnya mengatakan

bahwa sangat tidak masuk akal bahwa Upasara Wulung akan mbalela.

Akan tetapi Mpu Renteng dan Mpu Sora tak bisa mengutarakan pendapatnya,

karena Baginda tak pernah menanyai. Sungguh tak masuk akal kalau tiba-tiba saja

mereka mengutarakan pendapatnya. Ini suatu sikap kurang ajar yang tak bisa

dimaafkan, tak ada ampunan sama sekali.

Yang mencemaskan adalah bahwa Baginda lebih mempercayai Mpu Nambi

untuk memecahkan masalah di Perguruan Awan. Dan kemudian menjatuhkan

putusannya.

Seperti sekarang ini.

Mengirim utusan untuk menjemput Upasara.

Mpu Renteng bisa mengerti kalau misalnya saja Baginda memerintahkan para

senopati pilihan untuk memaksa Upasara. Lepas dari pertimbangan benar atau tidak—

akan tetapi bukankah yang diperintahkan Baginda Raja selalu benar?—ini

menunjukkan sifat ksatria.

Akan tetapi Baginda justru mengutus Permaisuri Gayatri. Seorang wanita yang

sama sekali tidak terlibat dalam percaturan Keraton. Bahkan mungkin sama sekali

tidak tahu, seperti pertanyaan yang baru saja didengar.

Hanya karena Permaisuri Gayatri dulu pernah mempunyai perasaan tertentu

terhadap Upasara, maka kini hal itu yang dipakai sebagai senjata untuk memaksa

Upasara Wulung.

Mpu Renteng sempat bertanya-tanya dalam hati ketika menerima titah dari

Baginda.

“Kawal Permaisuri.”

“Sendika dawuh,” jawabnya sambil menyembah bersamaan dengan Mpu Sora.

“Kupercayakan ini kepada kalian berdua. Bertindak atas namaku untuk

berbuat apa saja demi perintahku.”

“Sendika dawuh, Gusti.”

“Ingat. Apa pun yang terjadi, kalian berdua hanya memberikan laporan

kepadaku.”

Baginda juga memerintahkan untuk membawa prajurit-prajurit pilihan.

Bahkan Dyah Palasir dan Dyah Singlar yang selama ini diandalkan untuk menjadi

pemimpin prajurit pribadi diikutsertakan.

Dyah Palasir termasuk senopati muda yang mendapat kepercayaan langsung

dari Baginda. Dari angkatan muda, Dyah Palasir-lah satu-satunya yang mendapat

pangkat sejajar dengan bupati.

Mpu Sora pun yakin bahwa tugas yang dijalankan kali ini bukan tugas

sembarangan. Ada cara halus dengan membawa Permaisuri Gayatri. Tetapi juga ada

cara tertentu yang bisa serta-merta diambil jika ada sesuatu yang dianggap perlu.

Dyah Palasir pasti telah memilih prajurit-prajurit pilihan yang paling tangguh

dan paling setia kepadanya. Ini berarti perjalanan ke Perguruan Awan bisa mengubah

sejarah Keraton.

Prajurit Telik Sandi

PERGURUAN AWAN masih seperti ketika diciptakan.

Awan dan angin masih terasa purba. Bahkan tanahnya masih selalu terkesan

basah. Tak ada yang berubah.

Perguruan Awan, atau juga disebut Nirada Manggala, sebenarnya tak jauh

berbeda dari hutan-hutan yang lain. Gerombolan pepohonan yang membentuk pagar

alam. Tak terlalu istimewa, karena di sini juga tak ada tanda-tanda yang menjadi batas

wilayahnya. Satu-satunya pertanda memasuki daerah Perguruan Awan hanyalah

sebuah alun-alun yang luas. Sebuah lapangan yang tak ditumbuhi pohon-pohon besar.

Tanah kosong itu dianggap masyarakat sekitar sebagai batas wilayah yang

dikeramatkan. Yang membuat penduduk sekitar enggan untuk memasuki, apalagi

mengusik tanaman yang ada. Sepotong daun yang mengering akan dibiarkan

membusuk dan menjadi pupuk. Irama alam sepenuhnya terjaga sempurna.

Rombongan yang dipimpin Mpu Sora dan Mpu Renteng sampai di pinggir

alun-alun. Dyah Palasir segera memerintahkan membuat pondokan sederhana yang

dibangun dari kayu-kayu yang sudah disiapkan, dengan atap ilalang yang dibawa dari

Keraton.

Tak ada pepohonan yang diusik. Tak ada tetumbuhan dan Cengkerik yang

diubah letaknya. Bahkan bentuk bangunan pondokan itu dibuat sedemikian rupa

sehingga menyatu dengan alam sekitar. Seakan bagian dari belukar menjalar.

Di pondok itu Permaisuri Gayatri bertempat tinggal. Pada jarak sepuluh

tombak, para prajurit berjaga-jaga. Ada yang khusus memasak, memasak air untuk

Permaisuri. Selebihnya menunggu.

Hanya Mpu Sora dan Mpu Renteng yang berada di sekitar pondok, dan tetap

berdiam diri. Hanya mengeluarkan jawaban kalau ditanya secara langsung.

Permaisuri tak bisa menahan diri ketika malam tiba, dan suara binatang hutan

mulai terdengar.

“Paman Sora dan Paman Renteng.”

“Sembah dalem, Gusti.”

“Sampai kapan kita menunggu?”

“Sampai hamba mendengar titah Permaisuri. Kalau Permaisuri menitahkan

untuk masuk ke dalam, kita semua akan masuk ke dalam hutan.”

“Kalau saya meminta kita kembali ke Keraton?”

Mpu Sora dan Mpu Renteng menyembah hormat.

“Hamba menerima titah Baginda Raja untuk mengantarkan Permaisuri

menemui Senopati Pamungkas.”

Jawaban yang tetap menghormat. Menempatkan diri sebagai orang bawahan.

Akan tetapi juga sekaligus suatu ketegasan bahwa mereka harus bisa menjalankan

tugas. Menemui Senopati Pamungkas.

Ini berarti berpantang pulang sebelum tugas dijalankan.

“Saya mengerti, Paman.

“Hanya saya tidak mengerti apakah Kangmas Upasara mengetahui saya berada

di sini.”

“Mestinya begitu, Permaisuri.”

“Kalau begitu, kenapa Kangmas tak mau menemui?”

Mpu Renteng tak bisa menjawab. Juga Mpu Sora. Bahkan kalaupun

mempunyai jawaban, barangkali sulit sekali diutarakan. Karena tugas ke Perguruan

Awan ini masih mengandung misteri yang belum terungkapkan.

Adalah sangat mungkin sekali Upasara Wulung tak mau menemui. Bukan

tidak mungkin menolak muncul, justru karena Baginda Raja mengutus Permaisuri

Gayatri untuk menemui.

Baik Mpu Sora maupun Mpu Renteng sedikit-banyak mengenal Upasara

Wulung. Senopati muda yang diangkat sebagai senopati perang dalam saat yang

menentukan. Yang kemudian memilih kembali ke tengah hutan di saat kemenangan

dirayakan. Hanya yang mempunyai hati batu alam mampu menyatukan keinginan,

mampu mendengarkan suara hatinya sendiri.

Mpu Sora tidak melihat bahwa tindakan Upasara suatu tindakan yang benar,

namun jelas menunjukkan suatu keyakinan yang utuh.

“Bagaimana kalau Kangmas Upasara tidak mau menemui saya?”

“Pasti menemui, Permaisuri. Begitulah perkiraan Baginda.”

“Perkiraan Baginda,” Permaisuri Gayatri meninggikan suaranya. “Apa

perkiraan Paman berdua?”

“Apa yang diperkirakan Baginda adalah perkiraan hambanya juga.”

“Ya, selalu begitu jawaban Paman.

“Akan tetapi, apakah Paman yakin Kangmas Upasara berada di hutan ini?

Bagaimana kalau ia sedang pergi? Bagaimana kalau sedang sakit?”

“Kalau sedang pergi, hamba tak tahu harus mencari ke mana. Kalau sedang

sakit, hamba juga tak tahu harus mencari obat ke mana. Hamba hanya menjalankan

perintah.”

“Paman, saya pun hanya menjalankan perintah. Titah Baginda Raja, penguasa

tunggal atas mati dan hidup kita sekalian. Tetapi saya ini orang bodoh, Paman.

“Bodoh sekali dan tak mengerti sedikit pun masalah Keraton. Mbakyu

Tribhuana, yang digelari mahalalila karena keunggulannya bisa mengetahui maksud

Baginda, jauh sebelum diperintah sudah mengetahui maksudnya. Mbakyu Mahadewi

yang paling dikasihi Baginda, juga bisa mengetahui. Mbakyu Jayendradewi yang

paling setia, bisa mengerti. Tetapi saya ini sama sekali tidak mengetahui apa-apa.

“Paman, katakanlah sejujurnya. Apakah maksud Baginda memanggil Kangmas

Upasara?”

“Sejauh hamba yang bodoh ini mengetahui, tak lain dan tak bukan seperti

yang disabdakan. Ingin mengangkat Senopati Pamungkas menjadi mahapatih

Majapahit. Menjadi tangan kanan Baginda.

“Semua pengikut Baginda telah mendapatkan kehormatan dan anugerah, akan

tetapi…”

“Apakah tidak ada maksud lain?”

“Tidak, Permaisuri.”

“Mengapa mendadak sekali?”

Mpu Sora menggeleng lemah.

Namun hatinya sempat oleng. Hanya karena penguasaan perasaannya sudah

sampai tingkat tinggi, perubahan perasaan itu bisa disembunyikan.

Mpu Sora dan juga Mpu Renteng bukan tidak mendengar kabar dari prajurit

telik sandi, atau prajurit rahasia yang pekerjaannya menyusup dan mencari kabar dari

wilayah yang tak terduga.

Mpu Sora mendengar bahwa Upasara Wulung saat ini sedang mempelajari

bagian yang paling menentukan dari ilmu Tepukan Satu Tangan. Bagian yang konon

akan menentukan apakah si pelatih bisa menguasai ilmu tersebut, atau justru

sebaliknya. Ia bakal dihancurkan oleh ilmu tersebut, dan akan menjadi cacat seumur

hidup.

Prajurit telik sandi yang dipimpin Senopati Nambi mendapat kabar ini dari

salah seorang penghuni Perguruan Awan yang bernama Dewa Maut. Tokoh tua yang

seluruh rambutnya putih ini yang paling bisa dihubungi. Menurut cerita, dulunya

Dewa Maut adalah tokoh sakti dengan penguasaan atas semua racun Kali Brantas.

Hanya saja kemudian kehilangan ingatan, sehingga kelakuannya seperti anak kecil.

Dari Dewa Maut inilah tercium bahwa Upasara Wulung kini sampai ke tingkat yang

menentukan.

Dan justru pada saat seperti inilah, Baginda Raja memerintahkan untuk

menemui Upasara. Dengan perhitungan bahwa dalam keadaan yang genting ini,

Upasara akan terdesak. Kalau ia memilih untuk meneruskan latihannya dan tak ingin

terganggu, ia akan menerima jabatan tersebut.

Kalaupun menolak, berarti Upasara telah ditawari. Ini berarti ia akan turut menjaga

Keraton. Dan janji seorang ksatria, akan dibela sampai mati.

Kalau dihubungkan dengan titah Baginda Raja untuk mengambil tindakan

yang diperlukan, hal ini sangat masuk akal. Mpu Sora dan Mpu Renteng diberi

wewenang penuh untuk mengambil tindakan apa pun. Hal ini juga diperkuat dengan

kehadiran Dyah Palasir.

Berarti pula Upasara akan digempur saat itu juga. Sebelum kekuatan

menggalang persatuan dan ilmunya makin sulit ditandingi. Baginda tak ingin melihat

ganjalan menjadi besar. Sekarang ini memang saat yang paling menentukan.

“Paman…”

“Sembah dalem.”

“Apakah benar saat ini tidak ada yang pantas mendapat anugerah pangkat

menjadi mahapatih?”

“Senopati Pamungkas yang paling pantas menerima kebesaran ini, Tuanku

Permaisuri.”

Jawaban Mpu Renteng mempunyai dua arti.

Pertama, seperti yang diutarakan bahwa Upasara Wulung memang pantas

menerima jabatan agung ini. Meskipun masih sangat muda, akan tetapi telah

membuktikan diri sebagai pengabdi yang kesetiaannya tak perlu diragukan. Di

samping itu juga yang ilmu silatnya paling tinggi. Setidaknya dengan satu atau dua

jurus Tepukan Satu Tangan bisa membuyarkan lawan.

Kedua, karena sesungguhnya Upasara merupakan jalan keluar yang terbaik.

Pengangkatan Upasara akan diterima oleh berbagai pihak. Oleh semua senopati,

semua patih yang ada.

Mpu Renteng sadar bahwa Baginda Raja sekarang ini menghadapi situasi yang

barangkali lebih sulit dari ketika merebut Singasari, dari ketika mengusir pasukan

Tartar, lebih sulit dari ketika memutuskan untuk mengawini keempat putri Sri

Baginda Raja Kertanegara.

Justru karena kini menghadapi tangan dan kakinya sendiri.

Serangan Tengah Malam

BAGINDA RAJA harus memilih yang terkuat untuk menduduki kursi sebagai

mahapatih, menjadi amangkubumi. Yang berarti jabatan yang lebih tinggi dari semua

patih atau senopati terkemuka. Yang berarti juga bahwa salah seorang dari

senopatinya akan berada di atas yang lainnya. Padahal justru ketika berjuang dulu,

semuanya sama pangkat dan kedudukannya.

Untuk jabatan patih, atau juga adipati amancanegara, hal ini tidak menjadi

masalah. Keraton Majapahit dibagi atas lima wilayah, yaitu sebelah barat, timur,

selatan, utara, serta tengah. Masing-masing akan dipimpin oleh seorang patih atau

adipati amancanegara. Seperti juga wilayah utara yang kini diserahkan kepada

Ranggalawe, putra Aria Wiraraja yang gagah berani. Bahkan setelah menjadi adipati

pun tetap memakai nama Ranggalawe, nama yang disandang ketika masih berpangkat

rangga dalam keprajuritan.

Memang setelah semua mendapat jabatan dan pangkat, timbul pertanyaan

yang tak terucapkan. Siapa yang bakal diangkat Baginda sebagai mahapatih? Yang

berarti membawahkan semua adipati dan atau para patih ini?

Mpu Renteng sadar diri dan sama sekali tidak bermimpi akan menduduki

jabatan sebagai pelaksana Keraton.

Ada tiga nama yang bisa dipilih Baginda Raja. Ini menurut perhitungannya

sendiri, yang barangkali tak berbeda jauh dengan senopati atau adipati yang lain.

Pertama, pastilah Ranggalawe, yang sekarang sebetulnya lebih tepat disebut

Adipati Lawe. Senopati yang gagah berani dan mempunyai ilmu yang cukup tinggi.

Perlawanan merebut Singasari dibuktikan dengan luka dan pengorbanan yang tinggi.

Dan lagi Adipati Lawe adalah putra Aria Wiraraja dari Madura. Yang sejak lama

menunjukkan kesetiaan tanpa tanding. Yang sejak semula berpihak kepada Baginda

Raja. Bahkan prajurit dari Madura yang dikirim Aria Wiraraja-lah yang pertama kali

membuka hutan, membakar belukar. Para prajurit itulah yang pertama kali membuat

rumah dan membangun sawah. Adalah wajar jika Baginda mengangkat Adipati Lawe

sebagai mahapatih.

Kelemahan Adipati Lawe hanyalah kurang bisa mengekang perasaan. Apa

yang ingin dikemukakan langsung dikatakan. Adipati Lawe seolah masih hidup di saat

perjuangan merebut Singasari dahulu. Seakan masih hidup di medan perang, yang

menuntut penyelesaian seperti hukum-hukum perang. Namun halangan yang

terutama adalah karena adanya Mpu Sora.

Pilihan kedua, Mpu Sora. Tokoh yang bijak, mampu mengekang perasaan, dan

secara sempurna menguasai ilmu Bramara Bramana, atau ilmu Sengatan Lebah

Seorang Pendeta. Gabungan antara tenaga keras dan kearifan seorang pendeta. Ilmu

dari tlatah Madura ini hanya Mpu Sora yang mumpuni, menguasai luar dalam. Dan

Mpu Sora masih terhitung paman Adipati Lawe. Sehingga kalau mengikuti tata cara,

Mpu Sora-lah yang lebih pantas dibandingkan keponakannya.

Pilihan ketiga, Mpu Nambi. Dalam banyak hal sama seperti juga Mpu Sora.

Akan tetapi jabatan utama Mpu Nambi adalah pemimpin utama para prajurit telik

sandi. Prajurit rahasia yang mendapat tugas utama dari Baginda Raja. Sebagai

pemimpin telik sandi, tentu Mpu Nambi paling mengetahui segala rahasia Keraton,

dan paling sering serta dekat berhubungan dengan Baginda. Senopati telik sandi, yang

karena tugasnya bisa mengetahui segala hal yang terjadi di dalam dan di luar Keraton.

Bahkan diikutsertakannya Dyah Palasir menunjukkan kekuasaan ini. Dyah Palasir

dari prajurit pengawal pribadi yang garis komandonya di bawah pimpinan telik sandi.

Mpu Renteng bisa mengerti kalau untuk permasalahan ini, Permaisuri Gayatri

tak merasakan perlunya menemui Upasara Wulung. Yang bagi Baginda Raja hanya

ada dua kemungkinannya. Bergabung ke Keraton atau ditumpas.

“Paman Sora, mengapa Kangmas Upasara memilih berdiam di hutan ini?”

“Maafkan hamba, Permaisuri. Maafkan kalau hamba yang bodoh ini mencoba

lancang bercerita.”

“Paman Sora, janganlah terlalu sungkan.”

“Maaf, Permaisuri, bukan hamba sungkan. Akan tetapi sesungguhnya hamba

hanya tahu sedikit.

“Hutan di depan ini dinamakan Perguruan Awan. Dahulunya tempat

bertemunya para ksatria dari seluruh penjuru jagat. Di sini pada waktu tertentu yang

telah ditetapkan, para ksatria datang untuk saling menguji kesaktiannya. Menentukan

siapa yang paling sakti mandraguna, siapa yang ilmunya paling unggul.”

“Kalau tidak salah, Perguruan Awan ini sendiri juga mempunyai guru dan

murid, Paman.”

“Sesungguhnya, Permaisuri lebih mengetahui dari hamba.

“Perguruan Awan ini memang sebuah nama perguruan silat. Hanya saja

berbeda dari perguruan silat yang lain, di sini tak ada sebutan guru atau siswa, semua

belajar bersama. Bagi mereka yang masuk perguruan ini, hidup sebagaimana

tetumbuhan dan hewan yang ada. Hanya mengambil yang dibutuhkan.”

Permaisuri Gayatri mengeluarkan seruan tertahan.

Sekelebatan pikirannya melayang ke arah Upasara. Apakah pemuda tampan

dan lugu itu juga hidup dengan cara seperti itu?

“Kalau hanya tempat berkumpul para ksatria untuk berperang tanding, kenapa

Baginda sangat memperhatikan?”

“Permaisuri lebih mengetahui dari hamba yang bodoh.

“Dulu kala ada dongengan, raja-raja baru akan didengar kabarnya dari Nirada

Manggala. Mulai zaman Ken Arok, leluhur Keraton Singasari yang mulia. Ketika itu

menurut cerita nenek moyang, ada seorang pendeta muncul dan mengatakan bahwa

akan lahir raja. Ini berarti, garis keturunan penguasa yang sekarang akan terputus

oleh penguasa yang baru. Seperti kemudian terbukti, Tuanku Permaisuri, pakuwon

yang diperintah oleh Tunggul Ametung diganti oleh keturunan Ken Arok.

“Pada saat Baginda Raja Sri Kertanegara yang bijaksana-luhur-gagah-perwira

berkuasa, ada kabar akan datang lagi Tamu dari Seberang yang akan mewartakan

lahirnya penguasa baru. Dan kenyataannya memang Raja Muda Jayakatwang

memutuskan garis keturunan Baginda Raja Sri Kertanegara yang mulia.”

“Paman, bukankah Baginda Raja sekarang ini juga keturunan yang sama?

Bukankah saya ini putri Sri Baginda Kertanegara?”

“Dewa dari segala Dewa berkenan mengembalikan takhta kepada yang berhak,

Tuanku Permaisuri. Hanya selingan Raja Muda Jayakatwang menjadi pertanda bukti

apa yang dikatakan Tamu dari Seberang.”

“Ah, Paman sungguh luas pengalamannya.”

“Hamba tak pantas menerima sanjungan.”

“Paman, guru dari Perguruan Awan yang dijuluki Eyang Sepuh tak pernah

kelihatan. Saya pernah dibisiki oleh Eyang Sepuh mengenai Tamu dari Seberang itu

adalah pasukan Tartar. Sehingga kemudian pasukan inilah yang dipakai menyerang

Keraton Singasari.

“Tapi saya sendiri tak pernah melihat beliau.”

“Rasanya sampai sekarang ini belum ada yang berani mengaku bertemu Eyang

Sepuh.”

“Paman, apakah kalau Kangmas Upasara menjadi guru di Perguruan Awan ini,

akhirnya juga seperti Eyang Sepuh? Kita hanya mengenai namanya? Apakah itu

termasuk ilmu sakti yang Paman katakan?”

Jawabannya adalah gerakan seketika secara bersamaan.

Mpu Sora meloncat ke belakang, melindungi Permaisuri Gayatri, sementara

Mpu Renteng meloncat ke depan. Ujung kainnya, yang disampirkan di pundak,

berubah menjadi seekor ular yang mendesis. Kelebatan warna putih di tengah

kelamnya malam.

Sungguh suatu gerakan yang indah memesona, dan sekaligus juga berbahaya.

Dalam satu tarikan napas, Mpu Renteng mengeluarkan jurus andalan dari ilmu

Bujangga Andrawina, atau Ular Naga Berpesta Pora.

Dari keadaan bersila, menunduk, tiba-tiba berubah menjadi loncatan, dan juga

menyerang. Hal yang sama dilakukan Mpu Sora yang menyadari keadaan cukup

gawat.

Gawat karena tiba-tiba saja kedua empu sakti ini menyadari tekanan angin

yang berada dalam jarak sepuluh tombak. Dan dalam seketika sudah ada dua

bayangan yang menyerang langsung.

Ini luar biasa.

Pondok mereka agak terpencil di antara para prajurit yang mengawal, akan

tetapi boleh dikatakan di tengah lapangan. Dan tanpa tanda-tanda yang

mencurigakan, ada serangan mendadak. Ini berarti para prajurit di bawah Dyah

Palasir bisa ditaklukkan, tanpa menimbulkan kecurigaan.

Berarti penyerangnya yang kini muncul dalam dua bayangan betul-betul

menguasai ilmu yang tidak sembarangan.

Mpu Sora nggragap, atau terkesiap.

Apalagi ketika mendengar Mpu Renteng mengaduh.

Nggragap-nya. Mpu Sora bukan karena Mpu Renteng bisa dikalahkan.

Meskipun termasuk senopati pilihan, akan tetapi dalam dunia persilatan, selalu ada

ilmu yang lebih sakti. Yang membuat Mpu Sora nggragap adalah karena dalam

gebrakan pertama Mpu Renteng sudah bisa ditaklukkan.

Bujangga Andrawina bukan ilmu sembarang ilmu. Tingkat Dyah Palasir pun

tak akan bisa memahami andai diajari selama satu tahun. Mpu Renteng mampu

menguasai dengan baik. Sabetan ujung kain yang disampirkan di pundak adalah

gerakan menyapu semua serangan lawan. Mementahkan gempuran. Sementara

serangan yang sesungguhnya adalah jari-jari tangan yang memagut, menggigit kuat.

Sepuluh jari Mpu Renteng akan berubah seakan menjadi lima kepala ular yang

memagut secara bersamaan.

Tapi ternyata bisa dirubuhkan dalam satu gebrakan.

Belum satu jurus.

Penghuni Perguruan Awan

MPU SORA makin menyadari bahwa dua penyerang yang menutupi wajahnya

dengan klika, atau kulit kayu, bergerak sangat cepat. Tanpa menunggu tarikan napas

berikutnya, Mpu Sora menarik kaki sedikit ke belakang, dengan dua tangan bersilang

di depan dada. Tubuhnya berputar.

Kedua penyerang seperti menunggu serangan.

Akan tetapi justru Mpu Sora tidak langsung menyerang.

Karena menyadari bahwa tugas utamanya ialah menjaga Permaisuri Gayatri.

Bagi seorang yang menjunjung tinggi pengabdian, tugas adalah nomor pertama dan

sekaligus nomor terakhir. Rasa gusar bisa diatasi dengan tetap mencoba bertahan,

bukan menggempur. Memang ini agak bertentangan dengan ilmu yang

dikembangkan dari tlatah Madura, yang mengandalkan gebrakan pertama sebagai

gempuran.

Apalagi Mpu Sora mengeluarkan jurus Bramara Bramantya atau Lebah Marah.

Sekumpulan lebah yang marah selalu berusaha mengejar lawannya sampai ke sudut

yang tak memungkinkan lagi.

Akan tetapi kali ini, Mpu Sora berputar di tempat. Dua penyerang bergerak

bersamaan. Dari sisi kiri dan sisi kanan. Mpu Sora membuka kedua tangannya dengan

sangat cepat, dan dengan sangat cepat pula menarik kembali, menutup di depan dada.

Terdengar dua benturan keras.

Mpu Sora bisa membandingkan bahwa penyerang di sebelah kiri tak sekuat di

sebelah kanan. Sengatan lima kanan dan lima kiri bisa dimentalkan, akan tetapi

dengan demikian bisa mengukur tenaga lawan. Sesuatu yang sangat penting untuk

membuat serangan berikutnya.

“Hmm. Percuma saja kita hanya disuguhi Bramara Bramantya.”

Mpu Sora berusaha menahan darah yang mendidih sampai ke ubun-ubunnya.

Pada usia yang bukan muda lagi, Mpu Sora masih tetap memperlihatkan asal-usulnya.

Lahir dan dibesarkan di daerah yang keras adat- istiadatnya. Daerah di mana sapi

biasa dipacu, bukan digerakkan perlahan untuk menyeret gerobak.

Hinaan itu sangat kena, kalau maksudnya membuat gusar.

Jurus Lebah Marah diganti seenaknya menjadi Lebah Bingung. Meskipun

dalam ucapan hampir mirip, antara bramantya dengan Bramantya, akan tetapi artinya

berbeda.

Bingung lebih bisa diartikan sebagai tak bisa menguasai diri.

Akan tetapi Mpu Sora justru merasa makin berhati-hati. Lawan yang dihadapi

bukan hanya serba tak terduga, akan tetapi juga sekaligus menunjukkan pengetahuan

yang luas. Bisa langsung menduga asal-usul ilmu silatnya. Bahkan bisa mengetahui

sampai ke nama jurusnya.

Mpu Sora menunggu kesempatan. Begitu penyerang di kanan menarik napas

ketika mengucapkan kata-kata hinaan, seketika itu Mpu Sora membuka kedua

tangannya. Cepat. Bayangan di samping kanan menghindar dengan gerakan ke arah

samping, seperti bergoyang. Akan tetapi sasaran utama Mpu Sora justru kepada

penyerang dari kiri. Yang meskipun kelihatannya lebih lemah, akan tetapi posisinya

lebih berbahaya. Lebih dekat meraih ke arah Permaisuri!

Tubuh condong ke kanan, akan tetapi kaki menggaet yang kiri. Dan begitu

mengenai sasaran, Mpu Sora menarik sekerasnya. Tenaganya dipakai untuk

memantulkan tubuhnya ke atas. Sambil mengeluarkan desis nada

tinggi.

Lawan di sebelah kiri terseret, tertarik, akan tetapi dengan menggelundungkan

diri bisa segera berdiri kembali. Mpu Sora memang tidak bermaksud terus menyerang.

Ia lebih mementingkan penjagaan Permaisuri. Serangan yang dilancarkan ialah

dengan mendesis mengeluarkan suara seribu lebah secara bersamaan. Kalau ada lebah

di sekitar hutan, pasti akan segera berdatangan. Mpu Sora bisa memakai mereka

sebagai pembantu untuk menggebrak lawan. Yang kedua, desisan yang berasal dari

jurus Bramara Bekasakan atau Lebah Hantu ini bisa mengganggu konsentrasi lawan.

Bagi yang tidak biasa, suara berdesis seolah di pinggir telinga bisa menyesatkan

pemusatan pikiran.

Yang tak diduga oleh Mpu Sora ialah justru Permaisuri Gayatri yang pertama

kali terkena!

Permaisuri Gayatri yang tadi mundur, berdiri limbung.

Tubuhnya bergoyang.

Kedua tangannya berusaha menutupi daun telinga, akan tetapi tubuhnya lebih

dulu jatuh ke tanah.

Bagi Mpu Sora memang tak ada pilihan lain. Kalau ia ragu, lawan yang begitu

tangguh bisa menjatuhkan dalam waktu sekejap. Dengan mendesiskan Bramara

Bekasakan ia melukai Permaisuri Gayatri. Akan tetapi Mpu Sora bisa

memperhitungkan bahwa nanti ia dapat menyembuhkan.

Lebih baik lawan diselesaikan lebih dulu.

Daripada tak ada yang bisa dirampungkan. Lawan tetap tak bisa dikuasai, dan

Permaisuri Gayatri malah bisa dikuasai.

Dua penyerang mengeluarkan suara dingin. Kemudian maju menerjang.

“Ambil Permaisuri Rajapatni.”

Perintah dari penyerang di sisi kanan dituruti oleh penyerang sebelah kiri.

Akan tetapi, mana mungkin Mpu Sora melepaskan begitu saja. Justru desisannya

meninggi, dibarengi dengan kedua tangan ke arah penyerang kiri. Kaki kiri

mengencang ke belakang.

Inilah jurus Bramara Braja atau Lebah Topan.

Dalam sekejap Mpu Sora mengeluarkan semua jurus andalannya. Termasuk

Lebah Topan yang selama ini jarang diperlihatkan. Karena jurus ini meminta

pengerahan tenaga sangat besar. Terutama dari daerah pulung ati, bagian antara perut

dan dada. Memang pengerahan kekuatan dalam dari daerah itu sangat memeras, akan

tetapi Mpu Sora tak bisa berbuat lain.

Mpu Sora berharap bahwa Mpu Renteng bisa kembali membantu. Atau

setidaknya salah satu dari prajurit Dyah Palasir.

Mpu Sora mencelos.

Sama sekali tak menduga justru penyerang dari sebelah kanan yang menerobos

masuk dan langsung membopong Permaisuri Gayatri! Penyerang sebelah kiri

meloncat untuk menghindar. Penutup wajahnya teraup dan hancur. Bisa dibayangkan

kalau sengatan Mpu Sora sempat menyentuh kulit atau tulang.

“Lain kali kita bertemu lagi. Untuk melihat ilmu Bramara Brakithi.”

Mpu Sora sama sekali tak peduli dicaci ilmunya sebagai jurus Lebah Semut.

Akan tetapi keselamatan Permaisuri lebih penting. Mpu Sora membalik gerakan

tubuhnya dan langsung menerjang ke arah penyerang yang tadi di sebelah kanan.

Serangan terbuka yang tak memedulikan kalau-kalau dibokong dari penyerang

sebelah kiri yang kini berada di bokongnya, di belakangnya.

Penyerang kanan yang kini membopong Permaisuri Gayatri malah

mengangsurkan tubuh yang digendongnya. Mpu Sora menarik serangannya dan saat

itu penyerangnya menghilang dalam gelap. Begitu tubuh Mpu Sora melayang, satu

bayangan lagi menyerbu ke arahnya. Mpu Sora menangkis dan bayangan itu jatuh ke

tanah dengan suara mengaduh yang berat.

Dyah Palasir!

Ternyata Dyah Palasir yang muncul dan terkena pukulan Mpu Sora. Ambruk

ke tanah dan dalam sekejap bagian yang terkena pukulan melepuh seperti kena

sengatan ratusan lebah di satu tempat.

Mpu Sora tak mau membuang waktu. Satu tutulan berikutnya, kakinya sudah

melayang. Akan tetapi tak ada bayangan di depannya. Hanya daun-daun yang

bergerak perlahan. Mpu Sora mencoba menajamkan pendengarannya, akan tetapi

tetap tak bisa menangkap suara yang lain.

Lenyap seketika.

Seperti ketika datang.

Mpu Sora menghela napas. Lalu dengan dua kali menutul tanah, kembali ke

pondokan. Mengeluarkan ramuan bunga untuk mengobati Dyah Palasir. Mpu Sora

sendiri langsung menemui Mpu Renteng yang masih menggeletak.

Mpu Sora menunduk.

“Permaisuri…”

“Kita kejar bersama.”

Mpu Sora mengurut bagian leher. Tepat sekali serangan lawan. Ke arah bagian

yang paling lemah dan tak terlindungi dalam jurus Bujangga Andrawina. Bagian yang

juga sukar ditembus karena saat itu justru Mpu Renteng sedang menerjang.

Setelah diurut, Mpu Renteng mengembalikan tenaganya.

Mpu Sora memandang ke arah kegelapan.

“Kakang Sora, mari kita jemput Permaisuri ke dalam.”

“Saya kira begitu lebih baik daripada kita menunggu.”

“Kedua penyerang itu sungguh luar biasa. Saya bisa ditekuk seketika dalam

gebrakan pertama. Tapi kalaupun masih bisa memberikan nyawa yang tak berharga

ini, saya akan menyertai Kakang.”

Dyah Palasir setengah merangkak mendekati.

“Hamba bersalah….”

Mpu Sora menggeleng lemah.

“Upasara Wulung sudah menguasai ilmu iblis. Semua prajurit seperti kena

tenung.”

Mpu Renteng memandang Dyah Palasir.

Yang dipandang darahnya berdesir.

“Upasara?”

“Kalau bukan Upasara yang menguasai ilmu Jalan Iblis, siapa lagi?”

Utusan Tanpa Tuan

MPU SORA kembali menggeleng lembut.

Tangannya bergerak perlahan.

“Palasir, siagakan semua prajuritmu. Saya akan mencari Permaisuri ke dalam.”

Tanpa menunggu jawaban, Mpu Sora melesat ke dalam hutan. Diikuti oleh

Mpu Renteng. Sekejap keduanya sudah menyusup sampai ke tengah. Seakan ingin

menjelajah, ingin membalik setiap daun, mencabut akar pepohonan.

“Kakang Sora…”

Mpu Sora memperlambat langkahnya.

“Benarkah Upasara yang menculik Permaisuri?”

“Maaf, saya tak sependapat dengan ksatria yang bermulut kotor.”

Mpu Renteng bisa menangkap maksud ucapan Mpu Sora. Yang menilai Dyah

Palasir bermulut kotor dengan menyebutkan ilmu Jalan Iblis. Karena selama ini yang

dikenal sedang dipelajari Upasara Wulung adalah Jalan Budha. Bisa dimengerti kalau

Mpu Sora menjadi tersinggung. Akan tetapi tadi tetap bisa menahan diri untuk tidak

memarahi atau menunjukkan sikap kurang senang.

“Kakang Sora, saya sependapat dengan Kakang.

“Kalau Upasara, ia tak perlu memakai topeng klika. Kalau ingin bertemu

Permaisuri, tak perlu menculik.”

“Itulah yang saya pikirkan.

“Rasanya bukan Upasara Wulung.”

“Akan tetapi ilmunya sungguh luar biasa. Seakan bisa membaca tepat serangan

saya. Dan menyerang bagian yang terlemah. Seakan benar-benar ilmu yang bisa

menangkis segala serangan.”

“Teka-teki yang sulit.

“Dari mana datangnya dan dengan cara apa masih sulit ditebak. Caranya

mengetahui serangan kita—bahkan bisa mengetahui jurus saya—itu pertanyaan yang

lain lagi.

“Teka-teki karena seperti bukan ilmu yang sama sekali tidak kita kenali.

“Apalagi tadi menyebut nama Permaisuri Rajapatni.”

“Kalau begitu berarti orang dalam?”

“Entahlah.”

“Kalau orang dalam, apa maksudnya, Kakang? Ingin menjatuhkan nama kita di

depan Baginda Raja?”

Mpu Sora mendongak.

Memandang daun-daun yang menutupi langit.

“Saat ini saat yang subur untuk mencurigai satu sama lain. Saya berharap kita

tidak masuk ke dalam perangkap pikiran yang nista, yang menjijikkan.”

“Maafkan adikmu yang picik, Kakang.”

“Jangan salah terima.

“Saya hanya tak ingin kita terseret arus pertikaian yang sekarang muncul. Saya

percaya sepenuhnya padamu. Kalau tidak, saya akan bertanya-tanya, apakah mungkin

seorang Mpu Renteng bisa dikalahkan dalam satu gebrakan? Sungguh tak masuk akal,

bukan? Sebaliknya, saya pun bisa dicurigai mengapa sampai gagal menjaga

Permaisuri.”

“Kakang Sora sungguh bijak.”

Mereka berdua meneruskan perjalanan dengan berdiam. Akan tetapi setelah

sekian lama berputar-putar, tak menemukan satu bayangan pun.

Akhirnya mereka berdua berhenti di tengah.

Mpu Sora bersila.

Mpu Renteng bersila di sebelahnya.

“Malam ini, kami berdua, Sora dan Renteng, datang mengganggu Perguruan

Awan. Kami menyadari kekeliruan ini, tetapi kami tak bisa berbuat lain. Mohon

penghuni bersedia meluangkan waktu menerima kami.”

Perlahan suaranya, namun menggeletar.

Diam-diam Mpu Renteng memuji penguasaan tenaga dalam yang sempurna.

Lama menunggu.

Mpu Renteng memuji tata cara Mpu Sora yang tidak mengulangi sapaannya.

Sekali saja sudah cukup.

Hanya binatang malam yang menyambut gema.

Selebihnya sepi.

Baru kemudian terlihat sebuah bayangan mendekat.

Mpu Renteng sedikit bercekat, karena melihat bayangan yang aneh. Baru

setelah agak dekat, Mpu Renteng mengetahui bahwa yang tadi kelihatan aneh adalah

bayangan seorang yang masih kecil, masih pendek tubuhnya, hanya rambutnya yang

terurai beriap-riap.

Bayangan itu berhenti pada jarak lima tombak.

“Maafkan kami, Putri Ayu Tri.”

Bayangan itu memang bayangan Gendhuk Tri. Yang tak banyak berubah

semenjak Mpu Sora mengenal dulu. Seorang gadis yang baru tumbuh. Dengan rambut

yang kini diurai.

“Huh, siapa menyuruh Paman memanggilku dengan sebutan Putri Ayu Tri?

Aku bukan putri, dan aku tidak ayu.”

Mpu Sora mendongakkan wajahnya.

Tersenyum sebagai seorang bapak kepada anaknya.

“Syukur kamu bermurah hati mau datang dan masih mengenali kami.”

“Siapa bilang aku bermurah hati? Kebetulan aku lewat dan kalian berteriak

seenak perut sendiri, seolah ini bukan rumah orang.

“Siapa bilang aku mengenali kalian? Bagiku semua orang Majapahit sama saja

bentuk wajahnya.”

Mpu Sora berdiri.

“Sampaikan salamku, salam kami, kepada Anakmas Upasara.”

“Baik. Sudah?”

Mpu Renteng tak begitu mengenal Gendhuk Tri. Dalam hati menebak-nebak

bagaimana mungkin anak gadis yang masih begini bocah—meskipun barangkali

usianya sudah dua belas atau tiga belas tahun—bisa begitu kurang ajar sikapnya.

Akan tetapi Mpu Renteng cukup kenyang pengalaman bahwa dalam dunia

silat akan lebih banyak lagi ditemui sifat-sifat yang tidak biasa.

“Yang kedua, kami ingin minta tolong mencari tahu di mana Permaisuri

Gayatri berada.”

Gendhuk Tri membuang wajah.

Sedikit-banyak Mpu Sora tahu bahwa kalimat itu membuat Gendhuk Tri tidak

suka. Mpu Sora mengetahui bahwa hubungan Gendhuk Tri dan Upasara Wulung

sangat dekat sekali. Selalu bersama-sama. Hanya tertunda sementara sewaktu Upasara

bertemu dengan Gayatri. Sejak itu Gendhuk Tri tak pernah mau melirik sedikit pun.

Mpu Sora mengetahui bahwa ini semua seperti kecemburuan kecil-kecilan, yang biasa

terjadi pada gadis seusia Gendhuk Tri. Namun Mpu Sora tak bisa menemukan kata

lain.

“Cari saja sendiri.

“Masa senopati dari Majapahit yang kondang tak bisa?”

“Karena penculiknya lari ke dalam hutan, kami ingin minta izin.”

“Tak perlu izin. Karena kalian juga ikut memiliki hutan ini. Aku cuma

numpang tidur, bukan memiliki.”

Mpu Sora mengangguk.

“Terima kasih kami diizinkan….”

“Siapa bilang mengizinkan. Aku bilang tidak perlu izin.”

Mpu Renteng mendehem kecil.

“Mau bicara, bicara saja langsung. Tidak usah pakai dehem kecil-kecilan.”

“Namaku Mpu Renteng.”

“Aku tidak peduli kamu empu atau bukan.”

“Aku datang menjalankan tugas Baginda untuk mengantarkan Permaisuri

Gayatri menemui Upasara Wulung.”

Gendhuk Tri tertawa.

Keras.

“Lalu, kalian berdua menuduh aku menculik Gayatri? Karena aku tak suka

padanya? Kalian jelas keliru. Kalau aku tak suka pada orang, aku sungguh tak peduli.

Mau nungging mau jumpalitan, tak ada urusannya denganku.

“Cukup puas?”

“Cukup,” jawab Mpu Sora. “Bagaimana kalau aku menemui Anakmas Upasara?”

“Boleh saja. Cari sendiri. Aku masih banyak urusan.”

Gendhuk Tri baru mau membalikkan tubuh ketika terdengar suara-suara di

kejauhan. Mpu Sora dan Mpu Renteng memiringkan kepala ke arah datangnya suara.

“Binatang kampungan mana yang bikin ribut ini semua? Ini saat buat tidur.

Bukan bikin perkara.”

Belum habis suaranya, Gendhuk Tri sudah melesat masuk ke dalam hutan.

Selendangnya berkibaran, dan meninggalkan bau yang sangat amis.

“Racun yang mengeram dalam tubuh anak itu betul-betul ganas. Pada jarak

yang begini jauh, saya hampir tak tahan.”

“Kita tengok ke sana.”

Mpu Sora dan Mpu Renteng menuju ke arah datangnya suara.

Ke bagian yang dekat alun-alun.

Ternyata suara-suara itu berasal dari beberapa prajurit yang mengelilingi

seorang lelaki sudah berumur. Berada di tengah lingkaran, lelaki setengah umur itu

diikat kedua tangannya.

“Bunuh saja sekarang.”

Mpu Sora lebih kaget lagi karena ternyata mengenali Dyah Pamasi ada di

antara para prajurit. Ini berarti ada utusan resmi dari Keraton. Karena Dyah Pamasi,

seperti juga Dyah Palasir, resminya bertugas di Keraton. Pasti tidak begitu saja

meninggalkan Keraton. Tapi siapa yang mengutus dan apa yang terjadi?

Taktik Menjebak Harimau

APA yang disaksikan Mpu Renteng dan Mpu Sora membuat mereka bertanya-tanya

dalam hati.

Kalau sampai para prajurit pilihan yang merupakan prajurit kawal Baginda

keluar dari Keraton, dan ini tanpa diketahui Mpu Sora yang juga ditugaskan ke

Perguruan Awan, pasti termasuk tugas yang wigati, sangat penting.

Lagi pula prajurit yang dipimpin Dyah Pamasi bergerak secara terangterangan.

Mereka bahkan menyalakan obor dan membuat suara gaduh.

Lelaki yang setengah umur itu dalam pandangan Mpu Renteng adalah

penduduk biasa. Bukan seorang ksatria atau jago silat. Cara bergerak ataupun

mengatur napas tanpa pengendalian.

Akan tetapi, meskipun penduduk biasa, Dyah Pamasi merasa perlu mengawasi

dan memberi komando secara langsung.

“Kakang Sora, apakah tidak lebih baik kita meneruskan mencari Permaisuri?”

“Agaknya ada perkembangan lain yang memaksa kita menyaksikan sebentar.”

“Saya tidak mengerti, Kakang.”

“Saya pun belum mengerti. Tetapi kalau rombongan Pamasi sekarang muncul,

pasti sejak lama berada di sekitar tempat ini. Nyatanya mereka sama sekali tidak

begitu peduli dengan hilangnya Permaisuri. Tak mungkin Palasir tidak bercerita.

Tetapi Pamasi lebih suka mengurusi orang tua yang bisa diselesaikan oleh satu

prajurit.”

Mpu Renteng mengangguk dalam.

Kakinya bergerak maju.

“Pamasi…”

Dyah Pamasi memberi sembah hormat.

“Siapa nama lelaki tua ini, dan apa salahnya sehingga seluruh prajuritmu

menangkap?”

“Kami sedang melakukan perjalanan keliling melihat suasana keamanan.”

Mpu Renteng mengernyitkan alisnya. Tugas pengamanan tentunya tidak

sejauh ini meninggalkan Keraton.

“Di desa Karang Asem kami diracuni oleh seorang ini yang mengaku bernama

Toikromo. Hukuman bagi pembunuh seorang prajurit adalah…”

Mendadak terdengar pekikan nyaring.

“Apa benar orang itu bernama Toikromo?”

Itu suara Gendhuk Tri.

Tubuhnya tetap kecil. Rambutnya terurai, kain kemben sebatas dada nampak

lebih jelas dalam cahaya obor. Selendang berkibar, seperti mengisyaratkan bisa

disabetkan setiap saat.

Pamasi menggerakkan tangannya, dan seketika itu juga semua prajurit

membentuk lingkaran Supit Urang, atau Sepit Udang.

Mpu Renteng mundur dua tindak.

Ternyata semua prajurit dalam keadaan siap tempur.

“Aku tanya apakah benar ia bernama Toikromo? Apa kalian semua tuli dan

bisu sekaligus?”

Dyah Pamasi memberi hormat kepada Mpu Renteng sekilas, lalu berbalik

menghadapi Gendhuk Tri.

“Siapa kamu dan apa urusanmu campur tangan?”

Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya, bagai seorang penari melakukan

seblakan. Kibasan yang lembut, enteng. Namun Dyah Pamasi merasakan getaran yang

kuat menerpanya. Dan juga bau amis busuk yang menyengat.

“Kamu sudah datang kemari, pasti sudah tahu siapa aku. Prajurit sebodoh

kamu untuk apa dipekerjakan?”

Gendhuk Tri tersenyum mengejek sambil melangkah maju. Dua prajurit yang

berada di depan berusaha menahan dengan tombaknya. Gendhuk Tri sama sekali tak

memperhatikan. Selendangnya mengibas ke arah dua ujung tombak, melibat, dan

dengan sentakan lewat pinggang, dua tombak itu melayang. Dua prajurit itu

tersungkur.

Dyah Pamasi mencabut kerisnya.

“Aku peringatkan kamu, jangan sampai menyentuh kulitku, atau tersentuh

kulitku. Malaikat dan segala hantu pun tak bisa menolongmu.”

“Jangan memaksa aku bertindak kasar.”

Mpu Sora meloncat maju.

Tangannya mengibas ke arah Dyah Pamasi.

Baik Mpu Sora maupun Mpu Renteng mengetahui bahwa Gendhuk Tri tidak

main-main. Apa yang dikatakan bisa terjadi. Menyentuh kulit Gendhuk Tri, apalagi

sampai melukai, bisa berarti maut. Karena saat itu pasti Gendhuk Tri sudah bisa

melukai. Dan dengan tubuh yang menyimpan segala jenis racun, Pamasi tak akan

tertolong jiwanya.

Mpu Sora tahu bahwa Gendhuk Tri memiliki racun dalam tubuhnya.

Sedemikian kuat racun itu sehingga sampai sekarang belum ada yang bisa

menyembuhkan. Konon racun itu terserap sendiri ke dalam tubuhnya, dari beberapa

tokoh silat yang tadinya menggunakan senjata racun. Termasuk dari Dewa Maut,

yang sekarang jadi tidak mempunyai tenaga lagi.

“Pamasi, di hutan ini tak boleh berbuat gegabah.

“Ini bukan tempat yang baik untuk melaksanakan hukuman. Lebih baik kita

mencari tempat lain.”

Meskipun dongkol, Pamasi menghaturkan sembah sambil mengangguk.

“Tunggu, kamu belum menjawab pertanyaanku.

“Jawab dulu, apakah benar lelaki itu Toikromo?”

“Kalau iya, kamu mau apa?”

“Aku mau kamu minta maaf padanya, melepaskan sekarang juga, meminta

maaf lagi sambil menjilat kakinya. Kalau Pak Toikromo memberimu ampunan, aku

cuma mau potong telingamu. Kalau tidak, kamu tinggal pilih. Mati perlahan, atau

yang thek-sek, langsung.”

“Kamu apanya Toikromo?”

“Aku baru mengenal sekarang.”

“Kamu tahu kesalahannya?”

“Apa pun kesalahannya, lepaskan sekarang.”

Mpu Sora jadi merasa serbasalah. Ia menyuruh Pamasi menahan diri, akan

tetapi ternyata Gendhuk Tri merangsek maju.

Kalau ia membiarkan saja, berarti membiarkan Pamasi menanggung malu. Biar

bagaimanapun, itu tak boleh terjadi. Pamasi adalah prajurit Keraton, sama dengan

dirinya.

Kalau ia melarang Gendhuk Tri, masalahnya akan berkembang ke arah

pertarungan. Gendhuk Tri pasti tak akan mundur.

Mpu Sora sama sekali tidak gentar menghadapi Gendhuk Tri. Walau tubuhnya

dipenuhi racun yang bisa menular, mana mungkin Mpu Sora menjadi jeri?

Mendadak terbersit sesuatu dalam pikirannya.

Dyah Pamasi agaknya sengaja memamerkan cara menghukum Toikromo.

Justru untuk mengundang perhatian penghuni Perguruan Awan. Agar mereka

muncul.

Jadi ini seperti taktik memasang “jebakan harimau”. Seperti kebiasaan para raja

jika ingin berburu harimau. Yang menjadi umpan adalah manusia yang dimasukkan

ke dalam sangkar jebakan. Harimau akan datang mendekat, dan saat itulah ditikam

beramai-ramai. Memang dengan demikian mengorbankan nyawa manusia—bila

terlambat, akan tetapi memang diperlukan umpan yang berarti untuk tangkapan yang

lebih berarti.

Nah, kalau Toikromo ini sebagai umpan jebakan, tak sulit menduga siapa yang

dianggap “harimau”. Pasti Upasara Wulung!

Taktik ini sesuai kalau diingat bahwa yang sekarang dikerahkan adalah prajurit

pilihan dari Keraton. Dan memang saat ini Baginda Raja ingin memancing Upasara

Wulung keluar dari sarangnya!

Kalau ini benar, Mpu Sora masih tetap bertanya-tanya. Siapa yang memasang

perangkap ini? Bukankah Baginda sudah memerintahkan pendekatan melalui

Permaisuri Gayatri?

Apakah Baginda menitahkan dua perintah sekaligus, agar terjamin

pelaksanaannya?

Masuk akal, walau bisa dipertanyakan.

Yang lebih pelik lagi jika rombongan Dyah Pamasi ini tidak mendapat

perintah langsung dari Baginda. Akan tetapi dari seseorang yang pastilah mempunyai

pengaruh besar terhadap Baginda. Seseorang yang dekat itu sangat mungkin sekali

Mpu Nambi, pemimpin prajurit telik sandi. Kalau benar begitu, Mpu Nambi memang

luar biasa.

Taktiknya memasang umpan Toikromo sangat berhasil!

Nyatanya Gendhuk Tri menjadi begitu geram.

Mpu Sora sejauh ini tidak mengetahui apa hubungan lelaki penduduk desa

biasa dengan Upasara Wulung. Dan nyatanya Mpu Nambi—kalau benar dia—

mempunyai perhitungan yang matang. Mampu memilih umpan yang terbaik.

Yang tak diketahui oleh Mpu Sora ialah bahwa sesungguhnya Gendhuk Tri juga tak

pernah mengenal Toikromo! Makanya tadi bertanya lebih dulu.

Meskipun tak mengenal, Gendhuk Tri mendengar hubungan antara Toikromo

dan Upasara Wulung. Dulu sewaktu Upasara Wulung menyusup ke Keraton Singasari,

yang baru saja dikuasai Raja Muda Jayakatwang, ditolong oleh penarik pedati

bernama Toikromo. Penduduk desa yang lugu ini tertarik kepada Upasara Wulung,

dan berniat mengambil menantu. Toikromo sama sekali tak mengetahui siapa

sesungguhnya pemuda yang ikut membonceng pedatinya.

Gendhuk Tri mendengar perkawinan putri Toikromo dengan Upasara

Wulung. Malah ketika Upasara Wulung menghilang, Gendhuk Tri menduga jadi

menikah.

Maka dengan disebutnya nama Toikromo cukup mempunyai arti bagi

Gendhuk Tri. Apalagi kini dalam keadaan bahaya.

Tembang Dini Hari

GENDHUK TRI bisa mudah mengenal Toikromo walau Pamasi hanya menyebutkan

satu kali.

Sepanjang hidupnya, Gendhuk Tri tak banyak mengenal nama orang. Boleh

dikatakan ia hanya berhubungan dengan sedikit nama dan sedikit orang. Sejak kecil,

bahkan sebelum ingat benar siapa orangtuanya, ia sudah dititipkan di dalam Keraton.

Untuk dilatih menjadi penari Keraton. Ia diculik dari Keraton oleh seseorang yang

sama sekali tak dikenalnya, dan baru kemudian menjadi gurunya. Yang baru

belakangan diketahuinya sedikit adalah asal-usul gurunya, yaitu Jagaddhita, salah

seorang penari Keraton Singasari, kekasih Baginda Raja Sri Kertanegara. Demikian

juga hubungannya dengan Mpu Raganata yang perkasa, yang ternyata juga gurunya.

Sejak itu Gendhuk Tri berkelana atau belajar ilmu silat. Sampai akhirnya

merasa mempunyai seorang kakak, seorang lelaki yang dikagumi, yaitu Upasara

Wulung.

Apa yang menjadi perhatian Upasara Wulung, dengan sendirinya menjadi

perhatian Gendhuk Tri.

Hanya karena adatnya sejak kecil tak banyak mengenal tata krama, sikapnya

berbeda dari kebanyakan orang pada usianya.

“Anak Tri,” kata Mpu Sora perlahan. “Kita bisa membicarakan dengan tenang.

Saya menjamin bahwa Pak Toikromo tak akan menderita sedikit pun tanpa

sepengetahuanmu.”

“Aku tak peduli. Aku mau ia dilepaskan sekarang juga.”

“Sebentar lagi pagi datang. Kita bisa saling bicara dengan tenang.”

“Oho, kok enak ya?

“Bukankah komplotan kalian ini yang bikin perkara malam hari?”

Mpu Renteng pun merasa Gendhuk Tri sangat kurang ajar!

Mpu Sora sudah merendahkan diri dan bicara dengan bahasa halus. Akan

tetapi ditanggapi dengan sikap seadanya, tanpa sopan santun sedikit juga, nada

bicaranya tetap sengit.

Kalau Mpu Sora menahan diri, bukan karena semata-mata jiwanya lebih

dewasa. Mpu Sora mengetahui bahwa Toikromo adalah umpan yang tak boleh

dilepaskan begitu saja. Tetapi menahan dengan membabi buta bisa menimbulkan

persoalan baru, yang memperkeruh suasana yang ada.

Kalau tidak hati-hati menangani, bisa bubrah semuanya.

Sejak menginjak Perguruan Awan, terjadi berbagai peristiwa saling susul.

Serangan dua pendekar yang menutupi wajahnya karena takut dikenali. Yang

ternyata mengetahui situasi dengan baik. Sehingga bisa menculik Permaisuri. Siapa

mereka, dan apa maksud mereka, masih tetap gelap.

Hal ini juga bisa dikaitkan dengan munculnya Dyah Pamasi dan tawanannya

yang bernama Toikromo. Pasti bukan kebetulan kalau Dyah Pamasi menemukan

Toikromo yang akan meracuni prajurit. Alasan yang kurang masuk akal anak kecil

sekalipun! Yang menjadi persoalan, siapa yang mengirim mereka? Kalau tadinya Mpu

Sora menduga ini semua dari Mpu Nambi, bisa diragukan sendiri. Kenapa bukan

menyuruh senopati yang lebih tangguh? Kenapa Dyah Pamasi? Bukankah Dyah

Palasir bisa ditugaskan khusus untuk ini daripada sekadar menemaninya?

Makin diurai, makin banyak tanda tanya.

“Di jagat ini ada begitu banyak nama Toikromo. Apakah ini benar-benar

Toikromo yang ingin Anak Tri bebaskan?”

Cerdik sekali Mpu Sora membuat Gendhuk Tri ragu.

“Mana aku tahu?”

“Kalau begitu…”

“Kalau begitu bebaskan dia lebih dulu.”

Gendhuk Tri bertolak pinggang.

“Kalau ternyata keliru, ya ikat lagi.”

Episode 5

Tangan kiri Gendhuk Tri bergerak. Selendangnya mengibas. Dyah Pamasi berdiri

menghadang. Kibasan selendang ditangkis, dan ia mencabut keris dalam waktu yang

bersamaan.

Ujung selendang memang tertangkis, arahnya berubah. Akan tetapi, kembali

bergerak maju. Menutupi keris Pamasi. Dengan satu sentakan, Gendhuk Tri berusaha

membetot. Tubuhnya melayang ke atas, berputar di udara.

Pamasi tersedot, sehingga tubuhnya ikut melayang ke atas. Karena enggan

melepaskan pegangan kerisnya, sambil melayang tangan kirinya menyodok pinggang

Gendhuk Tri. Hanya saja karena tubuh Gendhuk Tri berbeda dari wanita dewasa,

jadinya tonjokan ke arah dada.

Gendhuk Tri menangkis dengan berusaha menggenggam tangan Pamasi.

Semua terjadi di tengah udara.

Mpu Renteng menahan napas. Ia secara khusus mempelajari memainkan ujung

kain dengan penyaluran tenaga. Tak jauh berbeda dari Gendhuk Tri. Untuk ini

memerlukan latihan yang cukup lama. Maka cukup mengherankan bahwa Gendhuk

Tri yang masih bocah ini bisa memainkan tenaga yang disalurkan lewat selendang.

Kalau Mpu Renteng mengetahui Gendhuk Tri termasuk murid Mpu Raganata,

barangkali rasa kagumnya bisa berkurang.

Enteng Gendhuk Tri melayang turun, dengan ujung selendang masih melibat

keris Pamasi. Seorang prajurit yang mencoba maju terpelanting kena sabetan tangan

Gendhuk Tri.

Wajahnya tergores luka.

Sebelum matanya bisa membelalak sempurna, ajalnya sudah sampai!

Racun dari segala racun!

Seakan merambat lebih cepat daripada aliran darah.

Pamasi nggragap juga. Ia mengetahui bahwa Gendhuk Tri menyimpan racun

dalam tubuhnya, akan tetapi di luar dugaannya bahwa racunnya begitu ganas.

Sudah barang tentu kalau yang terkena goresan Dyah Pamasi, racun itu tak

akan menjalar begitu cepat. Pamasi mempunyai daya tolak dari dalam yang lebih

kuat.

Tapi ini membuat Pamasi sempat goyah.

Mengetahui kekuatan di tangan Pamasi maju-mundur, Gendhuk Tri

mengentak sekali lagi.

“Lepas!”

Gendhuk Tri menyendal lagi, dan kali ini ketika tubuhnya mencelat ke atas,

keris itu benar-benar terlepas dari tangan Pamasi. Pamasi mengikuti tarikan dan

sekali lagi ikut melambung. Keris memang terlepas, akan tetapi ketika turun bisa

disambar kembali dengan sentuhan sikunya.

Begitu turun di tanah, Pamasi berdiri di depan Toikromo.

“Kamu punya racun sehingga aku tak berani menyentuh. Tapi kamu juga tak

berani menyentuhku.”

“Kamu kira aku takut maju?”

Mpu Sora menahan napas.

Kalau sama-sama nekat, pertumpahan darah tak bisa dicegah. Tapi terlambat

untuk bertindak.

“Gendhuk, ke mana saja kamu main?”

Terdengar suara yang lembut, dingin, dan enak di telinga. Gendhuk Tri

tertawa.

“Ini ada permainan menarik, Pak Gundul.

“Ayolah kemari, daripada mengeram terus.”

Yang dipanggil Pak Gundul memang benar-benar gundul, bertubuh gemuk

bulat. Tak sehelai rambut pun tumbuh. Pakaian yang dikenakan juga asal menempel

saja.

Mpu Sora dan Mpu Renteng memberi hormat dengan membungkukkan

badannya.

“Maaf, Kisanak Jaghana….”

“Saya yang seharusnya minta maaf. Maaf, saya tidak tahu kalau ada tamu

begini banyak. Gendhuk Tri, kemarilah sebentar.”

“Tidak mau.”

“Kalau aku yang meminta juga tidak mau?”

Sesosok bayangan tinggi besar datang. Gagah dengan rambut yang diikat kain

secara serampangan. Di tangannya tergenggam tongkat yang mengilat.

Mpu Sora mengangguk hormat.

Berarti dugaannya benar. Toikromo adalah umpan yang tepat untuk menjebak

keluarnya harimau. Kini boleh dikatakan sudah kelihatan ekor

dan kakinya.

Yang baru muncul adalah Galih Kaliki. Dan jika Galih Kaliki, Jaghana, serta

Gendhuk Tri sudah keluar, berarti semua tokoh penting yang mengeram di dalam

Perguruan Awan sudah terpancing. Tinggal Upasara Wulung! Yang pasti akan muncul

juga kalau suasana makin panas.

Meskipun tidak setuju cara Pamasi, diam-diam Mpu Sora mengakui bahwa

cara menekan Toikromo menyebabkan isi hutan keluar.

Mpu Renteng menghitung sendiri. Dari yang diketahui, mereka yang masih

berada di dalam adalah Wilanda, yang mempunyai ilmu terbang capung. Namun

beberapa saat lalu tenaga dalamnya terluka, sehingga tidak terlalu berbahaya. Juga

Dewa Maut, yang untuk sementara muncul atau tidak, tak akan mengubah situasi.

Juga Nyai Demang yang konon banyak membuat lelaki tergila-gila padanya.

“Di mana Kakang?”

“Sebentar lagi,” jawab Jaghana.

“Masih ingin nembang sambil melihat matahari?”

“Gendhuk Tri, jangan bicara sembarangan.”

“Sembarangan apanya? Bagi kalian Kakang adalah guru. Tapi bagiku Kakang

adalah Kakang.

“Kalian mau apa?”

Mpu Sora dan Mpu Renteng saling pandang secara tak sengaja.

Benar! Upasara Wulung bakal muncul bersama fajar.

Angin Asing, Angin Pesisir

UNTUK sementara keadaan menjadi lega.

Mpu Sora menduga bahwa jika fajar datang dan Upasara Wulung muncul,

segala persoalan bisa selesai.

Namun di saat embun masih mengental, yang muncul bukan Upasara Wulung.

Melainkan bayangan yang bergerak sangat cepat. Berupa rombongan berkuda.

Yang berada di depan seorang lelaki gagah, berdiri di atas punggung kuda.

Dengan umbul-umbul atau panji-panji berupa bendera kecil hitam bergambar kepala

kuda. Siapa lagi kalau bukan Adipati Lawe?

Mpu Sora mengenali panji pengenal keponakannya. Apalagi caranya

menunggang kuda hitam legam dengan berdiri tegak di atas punggung. Begitu

mendekat ke lapangan, tubuh gagah di atas pelana kuda itu melayang ke atas, dan

turun di tanah tidak menimbulkan suara. Tangannya yang kukuh dilingkari gelang

hitam diukir kepala kuda bergerak sangat lugas. Menyentak tali pengikat tangan dan

kaki Toikromo. Dan kaki kirinya bergerak seperti mengatur langkah, akan tetapi

sambil menendang tiang di mana Toikromo terikat.

Kayu yang berasal dari pohon itu mencelat ke atas, dan turun tepat di atas

kepala Adipati Lawe. Yang justru mengangkat tangannya. Tidak meninju atau

melemparkan ke atas, akan tetapi menyambut bagian di bawah siku. Kayu itu

mengeluarkan suara detakan, seakan ranting kering yang terinjak.

Mpu Sora sedikit berubah wajahnya.

Adipati Lawe tak pernah berubah. Atau malah bertambah. Sikapnya selalu

menggebrak pada pemunculannya pertama. Dibandingkan dengan setengah tahun

lalu, Adipati Lawe memperlihatkan kemajuan dalam mengolah tenaga. Batang pohon

menjadi retak hanya dengan diterima sebelah tangan. Keretakan batang pohon itu

disebabkan oleh derasnya jatuh ke bawah dan membentur benda keras. Bukan karena

Adipati Lawe sengaja memecahkan.

“Bagus. Bagus. Ini tontonan yang menarik.”

Galih Kaliki berteriak nyaring. Tongkat galih asem dipegang erat-erat,

sementara kepalanya mengangguk-angguk. Tangannya menjadi gatal ingin menjajal.

Bisa dimengerti kalau Galih Kaliki yang bereaksi pertama.

Dalam banyak hal Galih Kaliki mempunyai persamaan. Ia juga berbadan tinggi

besar, kukuh, adatnya keras, kurang bisa basa-basi. Lebih dari itu, dasar-dasar ilmu

silatnya juga mengandalkan tenaga luar. Makanya seperti menemukan teman yang

sangat cocok dan diharapkan.

“Sungguh bukan lelaki jantan kalau berlindung di balik sifat perempuan. Kalau

ingin memaksa Upasara keluar dari balik semak, untuk apa menyiksa lelaki tua?”

Tandas bicaranya, keras nadanya. Adipati Lawe tak pernah mengatakan merah

kalau yang dimaksudkan merah muda. Tak akan menyebut ular sebagai cacing besar.

Juga tak akan memedulikan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tidak memberi sembah

hormat lebih dulu kepada pamannya atau kepada Mpu Renteng.

Langsung ke pokok persoalan.

“He, orang pesisir yang keringatnya bau asin, jangan buka mulut sembarangan.

Sejak kapan kamu meremehkan wanita? Kamu pikir kamu dilahirkan dari kuda

jantan?”

Gendhuk Tri yang tersinggung dengan perumpamaan sifat perempuan itu.

Adipati Lawe memandang ke arah Gendhuk Tri. Tangan kanannya teracung

ke angkasa.

“Tongkring!”

Pengikut yang datang bersama kaget. Ucapan tongkring dari Adipati Lawe

tidak mempunyai arti apa-apa, pun andai dicari dalam kamus yang paling kuno.

Ucapan ini menjadi pertanda bahwa sang adipati dari pesisir sedang meluapkan segala

emosinya. Dalam keadaan murka besar, kata itu pula yang terucapkan.

Kalau para pengikutnya menduga junjungannya murka besar, juga masuk akal.

Senopati perang yang garang, bagaimana mungkin dicerca oleh seorang bocah dengan

sindiran keringatnya bau asin, dan lahir dari seekor kuda jantan.

“Aku tidak bermaksud mengatai kamu, Gendhuk Tri. Maaf.”

Mpu Renteng tak menduga bahwa Adipati Lawe bisa mengucapkan maaf

secara terbuka.

Tapi Gendhuk Tri melengos.

“Mana mungkin kamu berani mengatai aku? Kamu mengatai perempuan,

bukan aku. Kalau kamu berani mengatai diriku, aku paksa kamu menggendong

kudamu.”

“Aha, rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara galak. Kamu baik-baik

saja selama ini?”

“Aku baik atau buruk, apa hubungannya dengan kamu?

“Jangan kira dengan membebaskan Toikromo kamu bisa sesongaran seenak

perutmu.”

Dikatakan sesongaran atau mengobral kesombongan, Adipati Lawe malah

tertawa lebih keras. Wajahnya berseri menunjukkan rasa puas.

“Kalau begitu, aku ingin bertanya bagaimana kabarnya kakangmu?”

Gendhuk Tri terhibur dan merasa senang karena Upasara Wulung disebut

sebagai “kakangmu”. Berarti dirinya dianggap sangat dekat. Kakangmu, bisa berarti

kakakmu, tetapi juga bisa berarti kakak istimewamu!

“Jauh-jauh dari pesisir kamu datang hanya untuk menanyakan kabar Kakang?”

Pertanyaan itu sebenarnya juga terucapkan Mpu Sora dalam hati. Kenapa

keponakannya ini mendadak menyusul ke Perguruan Awan? Angin apa yang

mendorongnya?

Meskipun Mpu Sora tahu keponakannya ini sering kali bertindak tanpa

berpikir panjang, akan tetapi pasti bukannya tanpa alasan kuat kalau sampai ia

muncul.

Karena ini berarti ia meninggalkan Kadipaten Tuban. Wilayah pesisir utara

yang penguasaannya diserahkan ke dalam tangannya. Adipati Lawe, yang sebenarnya

tetap lebih suka menyebut dirinya Ranggalawe, adalah patih amancanegara. Patih

yang mewakili Keraton Majapahit untuk satu daerah tertentu.

Kalau sampai menyempatkan diri muncul, ini berarti kabar mengenai Baginda

Raja akan mengangkat Upasara Wulung sebagai mahapatih sudah sejak lama

menyebar. Karena diperlukan waktu untuk datang ke Perguruan Awan. Diperlukan

waktu yang lebih lama daripada kalau berangkat dari Majapahit.

Apa sebenarnya maksud kedatangannya?

Mpu Sora sempat agak was was. Putra Aria Wiraraja yang satu ini secara lugas

dialiri darah Madura. Kalau ia tidak setuju dengan pengangkatan Upasara, ia akan

menyuarakan secara terbuka. Walau itu berarti menentang Baginda Raja.

Sungguh suatu sikap yang sangat berbahaya.

“Aku sengaja datang dari pesisir yang anginnya asin untuk menemui

kakangmu. Aku bukan datang untuk pelesir.

“Kalau aku datang untuk menemui kakangmu, aku tidak suka memaksa lewat

orang lain. Suruh kakangmu itu keluar atau hutan ini kuratakan jadi sawah.”

“Bagus.

“Tapi bagaimana kalau kita bermain sebentar, Lawe? Rasanya sudah lama juga

aku tidak melatih tongkat bobrok ini. Sejak pertempuran dengan orang Tartar itu kita

tak pernah bertempur betulan. Selama ini hanya main-main saja.”

“Aku terima tantanganmu, Galih.”

“Bagus, di mana kamu pilih tempatnya?”

“Di sini juga pantas.” Jaghana membungkuk.

“Masih banyak waktu untuk gebuk-gebukan. Kita ini jelek-jelek tuan rumah.”

Wajah Galih Kaliki berubah kesal.

“Jaghana, kamu ini bagaimana. Aku kan tuan rumah yang baik. Ada ksatria

datang, aku suguhi ilmu.

“Lawe, kita cari tempat lain saja.”

Kalau Galih Kaliki memanggil Jaghana dengan sebutan nama langsung, itu

berbeda dengan ketika memanggil Adipati Lawe. Dengan Adipati Lawe, Galih Kaliki

kira-kira seumur. Dengan Jaghana jelas kalah tua. Akan tetapi ini tidak menunjukkan

kekurangajaran. Ini lebih menunjukkan kesejajaran tingkat.

Bagi Mpu Sora, yang sedikit-banyak mendengar keanehan tata cara Perguruan

Awan, hal ini tidak aneh.

“Lawe, anakku,” kata Mpu Sora lembut. “Kalau Kisanak Jaghana ingin

menerima kita, kenapa kita ribut-ribut?”

Adipati Lawe mengangguk hormat.

Mundur dua tindak.

“Maafkan kekurangajaran anak saya dan seluruh pengiringnya.”

Jaghana ganti membalas membungkuk tubuhnya.

“Kisanak Mpu Sora, jangan membuat kami merasa makin sungkan. Kamilah

sesungguhnya yang lebih pantas meminta maaf.”

Gendhuk Tri tertawa mengikik.

“Wah ini baru tata cara orang tua. Soal siapa yang bersalah saja rebutan.” Lalu

membalik ke arah Adipati Lawe.

“He, Adipati Pesisir, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu

mencari Kakang?”

“Aku mau bilang agar kakangmu mau menjadi mahapatih.”

Mpu Sora bernapas lega.

Temyata Adipati Lawe justru mempunyai jalan pikiran yang sama.

Tapi Gendhuk Tri malah membanting kakinya ke tanah.

“Kamu tak pantas meminta Kakang mau menerima atau tidak.”

Senopati Pamalayu

GANTI Adipati Lawe yang membanting kakinya ke tanah.

Telapak kakinya amblas ke dalam sebatas kemiri. Meskipun tanah di

bawahnya bukan tanah keras, akan tetapi membuat kaki amblas hingga tungkai

memperlihatkan keunggulannya.

“Aku tak mau berdebat dengan perempuan.

“Mau atau tidak, aku tetap akan memaksanya.”

Gendhuk Tri memandang ke langit.

Menganggap enteng tantangan Adipati Lawe.

“Dasar perempuan, cerewetnya tak bisa hilang.”

Kedua tangan Gendhuk Tri mendekat ke arah selendang.

“Mungkin benar aku cerewet.

“Tetapi aku tetap lebih jantan daripada kamu. Aku tidak membawa rombongan

begitu banyak sehingga Keraton menjadi kosong. Kalianlah yang tak pernah berubah.

Prajurit Majapahit ternyata dari dulu suka main keroyokan.

“Kamu kira kami semua ini gentar?

“Kalau ingin merasakan cakaranku, silakan maju secara keroyokan.”

Mpu Sora sadar bahwa kata-kata Gendhuk Tri ditujukan kepada rombongan

yang baru datang. Berbaris secara teratur dan langsung mengambil tempat yang

kosong, mengurung pertemuan.

Dalam cahaya yang mulai terang oleh alam, Mpu Sora tidak segera mengenali

bahwa ternyata rombongan prajurit yang baru datang memang prajurit dari

Majapahit. Yang dipimpin langsung oleh Senopati Anabrang!

Mpu Renteng yang mengenali pertama tak bisa menahan rasa herannya.

Bibirnya mengeluarkan desis perlahan. Ini benar-benar ganjil.

Begitu banyak rombongan dari Keraton. Pertama rombongannya sendiri

dengan Permaisuri Gayatri. Kedua rombongan Dyah Pamasi dengan tawanan

Toikromo. Kemudian disusul Adipati Lawe dengan prajurit yang datang dari pesisir.

Dan kini rombongan yang dipimpin Senopati Anabrang.

Jelas bahwa dirinya, Dyah Pamasi, maupun Senopati Anabrang tak mungkin

bergerak tanpa perintah yang datang dari atas. Ini berarti ada tugas.

Yang menjadi pertanyaan: Siapa yang menitahkan ini semua? Apakah juga

Baginda Raja? Kalau benar begitu, kenapa tidak menyatu sejak semula?

Dugaan Mpu Renteng membuat perasaannya menjadi kebat-kebit.

Baru sekarang ini begitu banyak tugas yang sama, akan tetapi ternyata tidak

saling mengetahui. Mpu Renteng bisa melihat wajah Senopati Anabrang yang heran

dan bertanya-tanya. Berarti ia juga tidak menduga.

Senopati Anabrang bukan sembarang senopati. Begitu banyak senopati pilihan,

akan tetapi Senopati Anabrang tetap mempunyai tempat tersendiri. Ia termasuk

panglima yang terhormat, dan disegani oleh Baginda Raja.

Senopati Anabrang dengan para prajurit pilihan pada masa Baginda Raja Sri

Kertanegara sudah menaklukkan tlatah Melayu. Bahkan ketika kembali membawa

dua putri ayu sebagai tanda kemenangan.

Senopati Anabrang pula yang kemudian menghaturkan dua putri ayu ke

hadapan Baginda Raja Kertanegara, sebagai tanda pengabdiannya. Sekaligus

pengakuan bahwa Baginda Raja Kertanegara adalah penerus tradisi besar dari Keraton

Singasari.

Pengakuan ini membuat kemenangan tersendiri bagi Baginda Raja. Hingga

Senopati Anabrang dan para prajuritnya mempunyai beberapa keistimewaan.

Senopati Anabrang tidak di bawah senopati atau juga adipati yang lain. Pangkatnya

sama dengan para adipati yang lain. Sama seperti patih yang lain. Hierarki

kekuasaannya di bawah garis langsung Baginda.

Akan tetapi, rasanya tidak mungkin kalau Baginda Raja mengirim beberapa

senopati secara sendiri-sendiri. Namun sebenarnya, lebih tidak mungkin lagi Senopati

Anabrang bergerak sendiri.

Kalau begini bisa berarti rombongan yang lain pun akan muncul. Rombongan

lain dari Keraton!

Dalam hati Mpu Renteng mulai curiga. Bibit kecurigaan yang ditepis oleh

kebijakan Mpu Sora ternyata tak hilang tuntas. Masih menyelinap dugaan bahwa Mpu

Nambi-lah yang mengatur semua ini. Karena hanya Mpu Nambi-lah yang bisa

berhubungan langsung dengan Baginda. Karena Mpu Nambi yang mengepalai prajurit

telik sandi, sehingga tahu tentang segala liku-liku keamanan dan ketertiban Keraton.

Andai benar Mpu Nambi yang mengatur, apa maksudnya? Apa maksud-nya

membiarkan Keraton kosong tak terjaga?

Mpu Renteng melirik Mpu Sora yang tegak bergeming. “Saya utusan dari

Keraton Majapahit, Mahisa Anabrang minta izin pemilik Perguruan Awan untuk

beristirahat. “Sungkem dan segala puji bagi para sesepuh.”

Mpu Sora, Mpu Renteng, Adipati Lawe menjawab dengan membungkukkan

tubuh.

Cara Senopati Anabrang membawakan diri sangat tepat. Ia meminta izin

kepada Perguruan Awan, akan tetapi juga tidak menanggalkan rasa hormat kepada

adipati yang lain, yang secara kepangkatan sejajar dengan dirinya.

“Aku berikan izin membuat pondokan di sini, asal kamu serahkan perempuan

yang ayu, yang kulitnya putih, pada Galih Kaliki.”

Jelas Gendhuk Tri berolok-olok.

Senopati Anabrang sama sekali tidak mengenal Gendhuk Tri. Sewaktu ia

berangkat ke Melayu, Gendhuk Tri barangkali masih calon penari. Maka kalimat

Gendhuk Tri membuatnya mengertakkan geraham.

Gendhuk Tri malah mendesis.

Mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya.

Mana mungkin Gendhuk Tri mempertimbangkan bahwa sebagai senopati yang

pernah menjelajah ke tanah seberang, adat Senopati Anabrang menjadi lebih keras

karena hantaman ombak dan badai.

“Tunggu. Aku tidak mau menerima. Bagiku hanya ada satu wanita. Dan aku

sudah, hampir, memiliki.”

Senopati Anabrang yang tak mengerti duduk perkaranya jadi merasa

menghadapi manusia-manusia yang tak keruan jalan pikirannya. Tak terlalu lama

meninggalkan dusun kelahirannya, ternyata terjadi perubahan yang tak

terbayangkan!

Bukan hanya Keraton yang pindah ke Kediri, pindah lagi ke Singasari, dan kini

pindah lagi ke Majapahit. Akan tetapi juga manusia-manusia yang ditemui. Perasaan

asing ini wajar mengingat Senopati Anabrang banyak menghabiskan waktunya di

tlatah seberang yang jauh berbeda adat budayanya.

Mpu Renteng sendiri merasa bahwa ada dua arah yang bertentangan.

Satu pihak adalah pihaknya sendiri. Yang mengemban tugas Keraton sehingga

nampak tegang dengan satu urusan utama.

Di pihak lain, penghuni Perguruan Awan yang membicarakan masalah

pribadi. Ribut tak menentu, atau berdiam diri seperti Jaghana.

“Tak kunyana, Perguruan Awan yang mulia dan agung kini dihuni makhluk

yang rendah akal budinya.”

“Cocok!” teriak Gendhuk Tri. “Termasuk kamu yang sekarang menjadi

penghuninya.”

Sret.

Senopati Anabrang mencabut pedang panjang dari pinggang kiri dan kanan.

Kilatan yang terpantul membuktikan bahwa itu bukan sembarang pedang, dan

terawat dengan sempurna.

Bret.

Gendhuk Tri meloloskan selendangnya.

Matanya mengeluarkan sorot tantangan.

“Aku mau tahu, prajurit macam apa yang membawa panji Singasari ini.”

Berkelebat bayangan selendang Gendhuk Tri, langsung menggulung kedua

pedang Senopati Anabrang. Yang dengan tenang dan dingin membiarkan begitu saja.

Baru ketika Gendhuk Tri mengerahkan tenaga, Senopati Anabrang menyentak keras.

Kedua pedangnya terlepas dari genggamannya. Akan tetapi arahnya lurus ke arah

dada Gendhuk Tri.

Suara serangan yang tiada duanya.

Dalam gebrakan pertama sudah menunjukkan kelasnya bahwa Baginda Raja

Sri Kertanegara tidak keliru memilihnya sebagai utusan.

Galih Kaliki mendecak.

Gendhuk Tri memakai cara lama dengan menjatuhkan tubuhnya. Akan tetapi

dengan demikian selendangnya terseret ke belakang karena terdorong oleh ayunan

pedang. Dan ketika Gendhuk Tri berusaha menarik, pedang itu membalik. Menusuk

dari arah belakang.

Semua terjadi dalam kecepatan tarikan selendang.

Gendhuk Tri menyadari bahaya dari bagian belakang. Karena tubuhnya berada

di tanah, gerakannya menjadi leluasa.

Saat itu Galih Kaliki, kalaupun ingin menolong telah terlambat.

Jaghana yang sejak tadi mengawasi, menghela napas berat.

Gendhuk Tri menggulung tubuhnya ke arah depan. Mengeluarkan semua

kemampuannya untuk menjadikan tubuhnya bagai kapas didera angin. Sehingga

bergerak bersama dengan pedang lawan.

Akan tetapi dengan demikian tubuhnya mengarah kepada Senopati Anabrang.

Yang dengan mudah bisa menghajar. Dengan pukulan tangan kosong pun, Gendhuk

Tri bisa menderita. Tusukan dua pedang dari belakang, dan pukulan dari depan.

Gendhuk Tri mengeluarkan tangannya, memeluk.

Gawat!

Darah Telah Tumpah

APA yang dilakukan Gendhuk Tri seakan tindakan nekat.

Tetapi siapa pun yang menyadari posisinya, tak bisa berbuat lain. Gawat

dijawab dengan gawat. Maut dijawab dengan maut.

Dengan memeluk lawan, Gendhuk Tri hanya mempunyai satu pilihan. Luka

berat bersama atau bahkan mati bersama!

Karena tusukan pedang yang terayun kencang dari belakang tak mungkin

dihindari. Pun dengan memeluk kencang Senopati Anabrang, tidak berarti serangan

pedang itu buyar. Hanya ia bisa balas menghancurkan.

Ilmu silat Gendhuk Tri tergolong ilmu silat berbahaya. Walaupun kelihatan

lembut elok bagai gerakan penari, namun jurus-jurusnya mengandung keampuhan

yang dalam. Bisa dimengerti karena jurus-jurus itu diciptakan langsung oleh Mpu

Raganata almarhum. Jawara kelas dunia.

Di tangan Gendhuk Tri yang miskin pertimbangan, ilmu itu menjadi sangat

telengas.

Ini bisa dimengerti, karena Gendhuk Tri tumbuh langsung dalam berbagai

pertempuran yang sama ganasnya. Gendhuk Tri menyaksikan betapa Dewa Maut

menjadi kehilangan seluruh tenaga dalamnya dan hidup bagai orang linglung.

Gendhuk Tri melihat bagaimana gurunya, Jagaddhita, terkubur hidup-hidup di dalam

Gua Lawang Sewu. Dan banyak pertempuran berdarah yang pada saat gebrakan sudah

melangkah ke titik antara mati dan hidup.

Ditambah lagi keadaan tubuh Gendhuk Tri yang lain dari para pendekar

lainnya. Gendhuk Tri secara tidak sengaja telah mengisap berbagai jenis racun nomor

satu. Baik racun dari Dewa Maut, maupun asap tubuh Pu’un dari Banten yang

terkubur di bawah tanah Gua Lawang Sewu. Dalam keadaan seperti ini, memang

setiap gerakannya berarti maut.

Ditambah dalam keadaan yang terdesak, Gendhuk Tri benar-benar

mengesankan serangan ganas untuk mati bersama tanpa penyesalan! Inilah yang

gawat!

Senopati Anabrang, yang kenyang pengalaman menghadapi saat-saat genting,

menyadari bahwa jiwanya terancam. Ibarat kata, nyawanya sudah bertengger di

ujung bibir. Satu langkah pendek berarti lenyap dari tubuhnya.

Adalah di luar dugaannya bahwa Gendhuk Tri akan menubruknya. Sebab pada

saat selendang terdorong ke belakang oleh sepasang pedang, Gendhuk Tri bisa

melepaskan saja selendangnya. Atau menahan dengan akibat selendangnya tertembus

dan sobek. Bukan menyendal balik.

Tapi itulah justru sifat Gendhuk Tri.

Sembrono kata-kata yang keluar dari bibirnya, ganas apa yang digerakkan

tangannya, maut tak membuatnya bertekuk lutut. Bagi Gendhuk Tri, lebih baik

punggungnya ditembus dua pedang daripada melepaskan selendangnya Atau

membiarkan selendangnya tersobek! Itu pantang.

Gendhuk Tri tak mengenal istilah kalah atau menyerah.

Mati lebih bermakna baginya.

Maka begitu keadaan mendesak, Gendhuk Tri menubruk Senopati Anabrang

dengan kedua tangan siap mencengkeram.

“Tongkring!”

Teriakan Adipati Lawe menunjukkan bahwa ia pun tak menduga akan

berakhir dengan serangan yang langsung meminta korban. Bagi Adipati Lawe soal

serangan maut bukan hal yang baru. Tetapi walau ia suka mengumbar tenaga, tetap

bukan begini caranya.

Dua gebrakan pertama sudah merupakan serangan akhir.

Yang namanya Gendhuk Tri benar-benar keras kepala luar-dalam, pikirnya

bingung.

Yang segera menggeser kakinya adalah Mpu Sora dan Jaghana. Keduanya siaga

untuk bergerak pertama jika ada sesuatu yang masih bisa ditolong keluar dari

kemelut.

Senopati Anabrang menggerung keras. Tonjokan tenaga ke depan diubah ke

samping. Sekuatnya dan sekenanya. Tubuh Gendhuk Tri oleng sedikit, namun

cengkeramannya sempat menggores leher dan dada.

Darah menetes.

Sekejap sudah menjadi berwarna biru kehitam-hitaman!

Gendhuk Tri sendiri tak terbebas begitu saja. Olengan tubuhnya membuat satu

pedang hanya menggores rambut dan daun telinganya. Yang satu lagi menyobek

pundaknya.

Tanah mulai terang.

Bekisar, ayam hutan, sudah berkokok, terbang dari pohon ke pohon.

Jaghana meloncat menyambut tubuh Gendhuk Tri. Dalam keadaan biasa,

Gendhuk Tri akan mengibaskan tubuh Jaghana. Sekarang ini pun berusaha begitu.

Akan tetapi tenaganya seperti tak bisa diatur. Saraf-saraf bagian tubuhnya sebelah kiri

menimbulkan rasa ngilu. Dengan mengertakkan gigi pun, Gendhuk Tri tetap tak bisa

menahan rasa sakit.

Luka itu cukup dalam, memutus beberapa urat dan bisa jadi mengenai tulang

pundak. Tulang yang menentukan seorang jago silat menggerakkan tangannya. Jika

tulang itu sampai patah atau tergores, akibatnya bisa cacat seumur hidup. Paling

ringan, Gendhuk Tri tak akan bisa memainkan tangannya sebelah kiri.

Ganas dan mengenaskan.

Senopati Anabrang sendiri merasa nyeri yang menggigit pada leher dan

pundaknya yang menjadi kaku. Bahwa dalam sekejap darahnya sendiri berubah

menjadi racun yang menghanguskan kulit dan daging, membuat semangatnya lepas.

Mpu Sora segera menjilat beberapa bagian tubuh Senopati Anabrang. Sebagai

seorang yang juga menggunakan jenis pukulan sengatan mengandung racun, Mpu

Sora tak segera berani memberikan obat penawar. Ia sendiri mampu menciptakan

pukulan yang mengandung sengatan lebah. Akan tetapi racun yang dihadapi ini dari

jenis yang lain sama sekali. Salah-salah bisa berakibat lebih gawat.

Tindakan Mpu Sora tepat sekali.

Andai Mpu Sora membubuhkan atau mengoleskan obat penawar seperti yang

dilakukan kepada Dyah Palasir, barangkali Senopati Anabrang tak tertolong lagi.

Senopati Anabrang sendiri langsung duduk. Memusatkan konsentrasi untuk

menghimpun tenaga batinnya. Untuk membendung menjalarnya rasa sakit dan

ambrolnya pemusatan pikiran.

Yang terakhir itu justru paling sulit dilakukan.

Karena secara tiba-tiba menyadari bahwa begitu mudah dikalahkan oleh

seorang bocah yang bahkan tak bisa menggelung rambutnya!

Ia adalah senopati utama. Panglima yang dipercaya Baginda Raja Singosari

yang gagah perkasa. Ia adalah panglima yang menaklukkan ombak laut dengan gagah,

yang masuk ke Melayu tanpa tergores kulit kehormatannya.

Betapa nista kalau hari ini harus ambruk di tangan Gendhuk Tri!

Gendhuk Tri tidak mempunyai beban bahwa ia seorang senopati atau tokoh

yang terhormat. Akan tetapi tetap masih merasa gondok karena pundaknya bisa

disobek, sebagian rambutnya terpotong.

Suasana berubah.

Mpu Sora dan Jaghana tidak terjun ke medan pertempuran dan menolong yang

terluka, akan tetapi Galih Kaliki mencekal tongkatnya dan mengayunkan ke udara.

Ini berarti tantangan.

Dan Galih Kaliki, walau bertubuh kasar dan geraknya tak terkendalikan, masih

tetap menunjukkan seorang ksatria. Jiwa ksatria itu yang menyebabkan ia memutar

tongkat galih asam di tengah udara. Sebagai pembuka. Dan tidak langsung

menyerang.

Adipati Lawe meraup dua tombak di kiri dan di kanan.

“Aku di sini, Galih.”

“Bagus.”

Tongkat Galih Kaliki mengincar Adipati Lawe. Keras gerakannya, mantap

pukulannya mengarah ke batok kepala. Adipati Lawe menyabetkan kedua tombaknya

untuk menyongsong.

Traak!

Dua tombak patah dan somplak menjadi beberapa bagian. Adipati Lawe tetap

maju mendesak. Empat pukulan dilepaskan secara berturut-turut, sementara kakinya

menyapu Galih Kaliki.

“Ini juga bagus!”

Galih Kaliki memutar tongkatnya turun. Ia mengadu benturan kaki, sambil

mematahkan serangan di atas dengan tongkatnya. Diam-diam Adipati Lawe memuji

kekuatan lawan. Tulang gares-nya, tulang lututnya, seperti membentur pelat baja.

Seakan membentur punggung pedang yang sangat tebal. Ia yang mengandalkan ilmu

keras, merasa menemukan lawan yang seimbang.

Namun karena tongkat lawan selalu mengarah ubun-ubunnya, Adipati Lawe

tak bisa menjajal kerasnya tulang kaki. Ia meloncat mundur, dan mulutnya bersuit

keras. Kuda hitam kesayangannya mendekat dan Adipati Lawe mengambil rantai

yang ujungnya dibanduli bola besi bulat.

Ini baru seimbang!

“Bagus.”

Bertarung jarak dekat kurang menguntungkan Adipati Lawe yang bertangan

kosong, sementara Galih Kaliki membawa tongkat. Dengan senjata rantai yang

panjang dan bisa ditarik mundur atau terulur, Adipati Lawe menemukan dirinya.

Kalau ia mundur tadi, juga berarti kalah setindak.

Memegang rantai, Adipati Lawe kembali menggertak maju. Ini memang

senjata andalannya. Rantai ini disebut sendiri sebagai benang atau kata lain dari lawe.

Dan inilah asal nama sebutannya.

“Darah telah tumpah. Prajurit Majapahit, bersiaplah.”

Itu aba-aba dari Mpu Nambi!

Berarti ia datang sendiri!

Memindah Gunung, Mewarnai Langit

KEHADIRAN Mpu Nambi mengubah kesiagaan seluruh prajurit Majapahit. Kalau

tadinya serba ragu karena tak ada yang memberi perintah, sekarang jelas.

Tadinya memang sempat bingung. Prajurit yang dibawa Dyah Pamasi pun ikut

terombang-ambing. Karena Dyah Pamasi tidak meneriakkan aba-aba. Dyah Pamasi

sendiri merasa kurang sreg, kalau ia berbuat lancang, karena di situ ada Mpu Sora dan

Mpu Renteng yang lebih tinggi jabatannya.

Maka dengan kalimat pendek, seluruh prajurit Majapahit bersiaga tanpa

kecuali. Satu aba-aba tambahan, mereka akan menggempur maju. Lautan api tak bakal

membuat mereka ngeri.

Prajurit Majapahit adalah prajurit pilihan. Prajurit yang lahir dari perjuangan

dan dibesarkan dalam medan pertempuran. Hampir semua yang berada di alun-alun

sekarang ini pernah mengalami pertumpahan darah. Kebersamaan, setia kawan,

terjelma dari perjalanan hidup dan nasib yang sama. Prajurit Majapahit tergembleng

dalam tradisi senasib-sepenanggungan.

“Darah telah tumpah. Prajurit Majapahit, bersiaplah,” adalah komando yang

dulu sering diteriakkan.

Apa pun persoalan yang ada di antara mereka, kalau panggilan membela nama

baik Majapahit, hanya satu yang berada dalam batin. Membela kehormatan. Mati

sebagai prajurit sejati akan dijalani dengan semangat tinggi.

Mpu Sora menunduk.

Kembali kecemasan meremas-remas di sekujur pembuluh darahnya. Belum

lama ia menduga bahwa Mpu Nambi-lah yang mengatur berbagai rombongan. Sebagai

pemimpin bagian telik sandi, hal itu tentu memungkinkan.

Akan tetapi ternyata perkiraannya meleset!

Bukan Mpu Nambi yang mengatur semua ini.

Kalau ia yang mengatur, tak perlu muncul sendiri.

Mpu Sora cukup mengenal cara kerja telik sandi. Kalau ia menggunakan

tangan lain, jangan sampai tangan sendiri bergerak. Makin tidak dikenali

tindakannya, makin berhasil. Itu kunci gerak bagian telik sandi.

Akan tetapi sekarang ini justru secara terang-terangan Mpu Nambi tampil

sendiri.

Berarti keadaan memang memaksa ia keluar.

Seekor macan hanya akan keluar dari sarangnya pada pagi hari kalau hutan

terbakar.

Ini arti kehadiran Mpu Nambi saat ini.

“Membela nama dan kehormatan Keraton adalah cara berbakti yang terbaik.

Hari ini aku, Mpu Nambi, utusan resmi Baginda Raja, ingin menemui Upasara

Wulung.

“Aku datang dengan persiapan perang.

“Kalau tak bisa diajak bicara baik-baik, jangan salahkan kenapa rumput

berwarna merah.”

Pongah sikapnya, jemawa kata-katanya.

Walau bibirnya memperlihatkan senyum, akan tetapi Mpu Nambi menarik

bibirnya ke bawah. Penuh kepercayaan diri dengan cara merendahkan lawan.

Adipati Lawe, yang tengah bertempur dengan Galih Kaliki, menarik

mundur “benangnya”.

Hatinya boleh panas mendengar Mpu Nambi yang ternyata lebih sesongaran

darinya, nafsu bertempurnya boleh meninggi melawan Galih Kaliki, akan tetapi

ternyata Adipati Lawe tetap berjiwa prajurit. Begitu Mpu Nambi mengambil

kepemimpinan pada saat genting, serta-merta Adipati Lawe tunduk.

Jaghana menggendong Gendhuk Tri, melangkah tenang.

“Matahari telah datang. Segala telah terang. Mana yang pohon, mana yang

manusia.”

“Aku tidak mengenal bahasa langit. Katakan apa maksud Paman Jaghana.”

“Matahari telah datang. Segalanya telah terang. Senopati Majapahit bisa

melihat sendiri apakah kami menyembunyikan sesuatu.”

“Kalau Paman Jaghana memilih jalan kekerasan, kami dibesarkan dengan cara

itu. Paman mengalami sendiri sewaktu bersama kami.”

“Pun, andai bisa memilih, kami tak akan memilih apa-apa.

“Kalau hidup hanya sementara, kenapa merasa berat melepaskan yang ada

dalam genggaman?”

Sikap Jaghana jelas.

Tantangan Mpu Nambi tak akan ditolak!

Kepungan prajurit pilihan tak membuat Jaghana gentar. Tak membuatnya

lebih bersiap diri, atau berusaha meletakkan Gendhuk Tri di tempat yang lebih aman.

Tidak memberi aba-aba kepada Galih Kaliki untuk bersiaga.

Mpu Renteng tahu bahwa tindakan Jaghana sama sekali bukan didasarkan

pada kesombongan, atau menganggap enteng lawan. Juga bukan sikap takut tidak

melihat jalan keluar yang lain.

Apa yang ditunjukkan oleh Jaghana merupakan sikap dasar Perguruan Awan.

Mereka tak akan berdebat soal siapa benar siapa salah, siapa menang siapa bakal kalah.

Mereka tak akan menghindari bahaya yang datang, walau tidak mencari.

Kalau saat itu Mpu Nambi memerintahkan penyerangan, Jaghana masih akan

tetap menggendong Gendhuk Tri. Dan berusaha mempertahankan diri.

Mendadak Gendhuk Tri bergerak. Kepalanya miring. Sayup-sayup terdengar

tembang kidungan:

Kenapa harus memindah gunung,

kalau hanya mencari tempat bermenung

kenapa harus mewarnai langit

kalau hati lagi pahit

kenapa mengaduk tanah

kalau perasaan lagi gundah

biar saja air mengalir ke muara

karena ia tahu sumbernya

biar saja asap menemui awan

mereka dilahirkan berdampingan….

Semua yang berada di lapangan mendengar kidungan yang lirih. Bukan hanya

Gendhuk Tri. Akan tetapi bagi Gendhuk Tri, itu kidungan yang biasa ditembangkan

oleh Upasara pada saat fajar.

Kalau sekarang terdengar, rasanya tidak sesuai lagi. Karena sinar matahari

sudah terasakan.

Dan yang membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya ialah karena nada suara

kidungan itu berbeda. Gendhuk Tri tahu persis bahwa itu bukan kidungan Upasara

Wulung.

Akan tetapi siapa yang bisa begitu fasih mengucapkan?

Kalau tidak dalam keadaan terluka dan susah bergerak, Gendhuk Tri sudah

akan mencaci habis.

Tapi Gendhuk Tri juga merasa bahwa Jaghana yang menggendongnya

bergetar.

“Akhirnya kamu datang juga!” teriak Mpu Nambi.

Namun sekejap kemudian teriakan kesombongannya berubah. Yang mendekat

ternyata sesosok tubuh yang wajahnya tertutup oleh klika.

“Klikamuka,” terdengar Dyah Palasir mendesis.

Mpu Renteng melirik Mpu Sora. Benar, yang muncul ini adalah Klikamuka

yang menculik Permaisuri Gayatri.

Hanya kini muncul sendirian.

Mpu Sora mengenali sebagai penyerang yang muncul dari sebelah kanan. Mpu

Sora membalas lirikan Mpu Renteng. Bukan karena kini mengenali penculik

Permaisuri, melainkan karena desisan Dyah Palasir.

Ini berarti Dyah Palasir pernah mendengar, mengenal, atau mengetahui

Klikamuka. Sesuatu yang sama sekali tak terucapkan. Mpu Sora jadi ingat sewaktu

akan mengejar Klikamuka, tubuhnya bertabrakan dengan Dyah Palasir.

Kalau tadinya menduga ini terjadi tanpa sengaja, sekarang pikirannya berubah.

Bukan tidak mungkin Dyah Palasir sengaja memberi kesempatan kepada Klikamuka.

Namun tetap ruwet.

Kalau benar begitu, apa hubungan Klikamuka dengan Dyah Palasir? Atau lebih

jauh lagi dengan Keraton? Bukankah Mpu Nambi yang merupakan pimpinan telik

sandi pun masih menduga-duga siapa yang muncul?

Klikamuka muncul dari arah matahari terbit.

Wajahnya tertutup oleh sinar dari belakang.

“Aku mendengar Keraton baru dibangkitkan. Tembok bata disusun. Aku

mendengar para ksatria berbagi pangkat dan kemewahan.

“Aku mendengar di tanah itu tumbuh pohon kelapa berjajar dari pantai ke

pantai.

“Tapi apa yang kulihat hanyalah klendo.”

Dengan tajam Klikamuka mengumpamakan yang hadir bukan buah kelapa,

melainkan hanya ampas kelapa yang telah diperas minyaknya!

Mpu Nambi boleh membanggakan diri karena bisa mempermainkan kalimat,

akan tetapi Klikamuka ternyata lebih cerdik.

“Kalian datang jauh-jauh dari Keraton hanya membuang keringat yang

mengotori langit. Jadi air pun membuat rumput tak berwarna hijau. Untuk apa

mencari Upasara dengan cara seperti ini?

“Untuk apa kalian merepotkan diri dengan anak muda yang merasa sakti

ketika bersembunyi? Yang merasa menjadi kura-kura ketika melindungi kepalanya?

Ini titipan dari Rajapatni.”

APA yang dilakukan Klikamuka benar-benar telengas.

Dengan mengayunkan tangannya, dua buah cundhuk atau hiasan rambut

Permaisuri Rajapatni menancap di jidat salah seorang prajurit yang tak

sempat menjerit.

“Itu milik Permaisuri Rajapatni. Bagaimana bisa dibuang sembarangan?”

Belum habis kalimatnya, Klikamuka menarik tangannya. Tanpa menyentuh

prajurit yang rubuh ke tanah, cundhuk itu kembali ke tangannya. Bagian yang kena

darah merah dan titik-titik putih dibersihkan dengan telapak

tangan.

Suatu pertunjukan yang gila-gilaan. Tetapi juga mencengangkan.

Mpu Sora dan Mpu Renteng sudah menjajal kelihaian Klikamuka. Walau Mpu

Sora dan Mpu Renteng berbeda dalam menilai lawan, akan tetapi kesan yang bisa

sama ialah bahwa Klikamuka memang sangat luar biasa. Mpu Renteng bisa digebrak

satu kali dan tengkuknya kena. Mpu Sora kena terpancing dan dikenali jurus

andalannya.

Kini mendemonstrasikan tenaga dalam yang hebat. Kalau hanya melemparkan

cundhuk hingga menancap di jidat, bukanlah sesuatu yang istimewa. Akan tetapi bisa

menarik kembali tanpa menyentuh, itu baru pengendalian yang luar biasa. Menurut

cerita, ilmu yang mempergunakan udara serta angin sebagai tenaga penarik hanya

dimiliki mereka yang sudah mumpuni, yang sudah betul-betul menguasai secara

sempurna. Hingga berjalan di atas air pun bukan persoalan berarti.

Itu yang baru dipamerkan oleh Klikamuka.

Bagi Jaghana, apa yang lebih mengejutkan lagi ialah bahwa Klikamuka bisa

menghafal kidungan Tumbal Bantala Parwa, atau Kitab Penolak Bumi. Sejauh ini tak

ada yang benar-benar bisa memiliki atau mendapatkan kitab tersebut.

Upasara Wulung dulu secara tidak langsung mendapatkan dari Kawung Sen

yang mencuri dari Ugrawe. Kini keduanya sudah tidak ada, sehingga tak bisa dilacak

siapa saja yang pernah mengenal atau mempelajari kitab rahasia tersebut.

Maka cukup mengherankan bahwa Klikamuka, yang selama ini tak dikenal,

begitu muncul sudah menunjukkan bagian-bagian yang penting. Dari gaya bicara

mengenai “bukan kelapa melainkan ampas”, jelas menunjukkan bahwa Klikamuka

pernah mempelajari.

Jaghana sedikit-banyak mengetahui, karena kitab itu sebetulnya merupakan

kitab babon. Atau induk segala kitab yang sekarang dipakai sebagai pedoman untuk

perkembangan ilmu silat.

Memang Tumbal Bantala Parwa bukan satu-satunya. Bahkan dari namanya

bisa diketahui bahwa sebenarnya telah ada Kitab Bumi, atau Bantala Parwa. Karena

Tumbal Bantala Parwa diciptakan secara khusus untuk melawan ajaran di dalam Kitab

Bumi yang dianggap sangat berbahaya.

Kitab ketiga adalah yang paling dikenal luas, yaitu Dwidasa Nujum Kartika

atau Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Kitab ini paling dikenal karena secara jelas

menggambarkan cara-cara menyerang, memukul, dan menjatuhkan lawan,

berdasarkan gerakan-gerakan bintang di langit. Dwidasa Nujum Kartika lebih

menarik bagi para ksatria, terutama karena berisi petunjuk-petunjuk yang langsung

bisa dilatih.

Ini berbeda dari Tumbal Bantala Parwa yang isinya justru hanya kidungan,

tembang yang tidak secara langsung berhubungan dengan gerakan atau jurus tertentu.

Tidak ada petunjuk bagaimana menggerakkan atau menahan kaki, tangan, otot, atau

mempergunakan senjata. Tidak juga cara bagaimana mengatur pernapasan, sesuatu

yang selalu ada pada semua kitab silat!

Namun Tumbal Bantala Parwa banyak dicari para ksatria dari segala penjuru

kiblat. Justru karena kitab ini konon mempunyai persamaan dengan kitab-kitab yang

ada di belahan dunia lain. Bagian-bagian tertentu dari kitab ini banyak persamaannya

dengan yang berasal dari India, yang dikenal dengan ilmu Tepukan Satu Tangan,

sementara di belahan negeri Tartar dikenal dengan ilmu Jalan Budha.

Bagaimana sebuah kitab yang berisi tembang bisa menunjukkan persamaan

dari berbagai penjuru budaya yang saling berbeda, Hindu, Budha, tak bisa diterangkan

oleh mereka yang pernah mendengar. Hanya saja ada persamaan pendapat, barangkali

pada masa yang lalu, berasal dari sebuah kitab yang sama sebagai sumber utama.

Sehingga sekalipun sudah menyebar jauh dan muncul dengan nama yang berbeda

bagai langit dengan bumi, intinya tetap sama.

Sebagai pengikut setia dan lama Perguruan Awan, Jaghana secara langsung

mendengar sendiri dari Eyang Sepuh. Ia mendengar bahwa oleh Eyang Sepuh

beberapa ilmu dari Tumbal Bantala Parwa dinamakan ilmu Tepukan Satu Tangan,

yang menghasilkan gema suara lebih keras, lebih merdu, dari tepukan dua tangan.

Hanya saja di masa masih mengajar secara langsung, Eyang Sepuh sendiri tidak

berminat untuk menurunkan apa yang dipelajari.

“Ini bukan ilmu yang bisa dipelajari setengah-setengah, atau sepertiga, atau

bahkan kurang dari satu kalimat pun. Tetapi begitu kita mempelajari sampai akhir,

kita akan menjadi tumbal. Kita harus rela mengorbankan segalanya untuk bukan apaapa.

“Tepukan Satu Tangan bisa terdengar tanpa suara, bagai cahaya tanpa dilihat,

bagai rasa tanpa dikecap, tanpa disentuh, bagai ada walau sebenarnya tak ada, tapi

ketika diadakan, menjadi dusta. Aku tidak berharap kalian semua melatihnya, karena

cukup aku sendiri yang menjadi tumbal bumi?

Itu kalimat terakhir Eyang Sepuh sebelum akhirnya lenyap tanpa bekas. Dan

sejak itu tak ada seorang pun yang berani mengaku bertemu Eyang Sepuh.

Maka aneh kalau sekarang Klikamuka bisa menghafal dengan enteng.

“Kamu kira kami takut padamu?

“Aku tahu kamu Upasara Wulung yang sedang menyembunyikan diri.”

Klikamuka mengeluarkan tawa pendek.

Andai tanpa penutup wajah, barangkali tawa itu nadanya seperti Upasara

Wulung.

Kini Gendhuk Tri pun bimbang. Kalau tadi kidungan terdengar sumbang,

bukan karena Klikamuka tak bisa menembang dengan baik. Melainkan karena getaran

suaranya tertahan oleh kulit kayu.

“Apa yang dikatakan seseorang, selalu mengenai dirinya. Karena kamu biasa

bersembunyi, maka kamu juga menuduh orang lain menyembunyikan sesuatu.

“Apa untungnya mencurigai telik sandi”

Mpu Nambi maju selangkah.

Tubuhnya berdiri gagah.

“Klikamuka, sungguh aku tak mengenalmu. Dan kamu mengenaliku dengan

baik. Katakan terus terang apa maumu.”

“Hmm, kalian semua tak berterus terang.

“Bagaimana memaksa aku berterus terang? Aku berdiri di tempat terang,

kalian semua bisa melihatku.”

“Bagus, bagus. Aku mulai menyukai permainan ini,” kata Galih Kaliki.

“Kamu tak akan mengerti.

“Karena kamu hanya mengerti satu permainan. Yaitu menyanjung Nyai

Demang. Yang memang wanita luar biasa. Banyak lelaki membuktikan kehebatan

Nyai Demang.”

Cara menghina yang membuat Galih Kaliki menyambar tongkatnya.

“Berputar ke atas tidak mengarah pundak, pastilah ubun-ubun. Menyerang

ubun-ubun dengan berputar, pastilah ubun-ubun. Tongkat berat, ubun-ubun lunak.

Tenaga di ujung, pastilah ubun-ubun. Itulah cara mengolah Sekar Sinom.”

Galih Kaliki melengak.

“Dewa jagat.

“Aku sendiri tak tahu bahwa ini harus begini dan bernama begini. Dari mana

kamu bisa mengetahuinya?”

Apa yang dikatakan Galih Kaliki memang senyatanya. Ia selalu jujur dalam

menghadapi orang.

“Sekar Sinom tak banyak berguna pada saat jurus pertama kamu mainkan. Inti

tenaga jurus ini adalah tenaga seperti yang dimiliki biji asam yang lepas dari kulit

buahnya. Berarti itu tenaga yang dipaksa. Kalau kamu mempergunakan pada jurus

ketiga, tenaga akan luar biasa. Kalau tidak, dan aku akan menghancurkan ubunubunmu,

tinggal membalik arah tongkatmu.

“Seharusnya justru tidak mempergunakan tongkat, karena kemampuannya

masih cethek, masih dangkal. Kamu belum bisa mempergunakan tongkat sebagai

bagian dari tangan.”

Klikamuka berdehem kecil.

“Bagus, bagus. Aku perlu belajar apa lagi?”

Klikamuka menggeleng.

Tubuhnya berbalik.

“Belajar menjadi pengabdi yang baik. Tongkat atau lawe bukan tangan yang

baik.”

“Tongkring?”

Adipati Lawe menjerit keras.

Ia yang merasa tersindir. Bukan karena sebutan lawe, akan tetapi dikaitkan

dengan “pengabdian yang baik”. Bukankah itu sama dengan menabok mukanya dan

mengatakan ia bukan pengabdi Keraton yang baik? Yang meninggalkan kadipaten

tanpa izin untuk datang ke Perguruan Awan?

Siapa gerangan Klikamuka sebenarnya? Yang tahu seluk-beluk jurus ilmu silat,

mengenai Keraton, seperti mengenali kakinya?

Kidung Pamungkas

KLIKAMUKA menjauh, tidak memedulikan Adipati Lawe sedikit pun.

“Aku tak bisa melayani kalian satu per satu.

“Hanya ketahuilah bahwa sebentar lagi matahari tambah tinggi. Bumi

Majapahit akan makin panas karena ternyata kesetiaan kalian semua adalah kesetiaan

pamrih, kesetiaan karena mengharapkan sesuatu yang rendah.

“Untuk apa kalian semua, para senopati yang tadinya prajurit biasa, sekarang

meributkan siapa yang akan menjadi mahapatih? Kenapa lalu menjadi masalah hidup

dan mati? Sehingga kalian semua merasa bisa tegak berdiri kalau Upasara yang

diangkat? Kalian semua tak ada yang merasa dikalahkan?

“Betapa piciknya kalian semua, para senopati terkemuka.

“Betapa kelirunya kalian menganggap Upasara Wulung sebagai senopati yang

hebat. Upasara tak lebih dari sebuah upa, setitik nasi.

“Ia merasa jago dan tak tergoyahkan, meskipun seorang Toikromo yang pernah

menyelamatkan hampir saja mati terbunuh sia-sia. Meskipun seorang permaisuri yang

dicintai hilang tanpa bekas.

“Upasara Wulung tepat sekali disebut Senopati Pamungkas. Bukan senopati

yang menyelesaikan perkara, akan tetapi seorang senopati yang telah berakhir.

“Ia tak akan peduli bumi yang diinjak dan didiami menjadi bara atau lumpur,

asal ilmunya tegak menjulang langit.

“Nah, apakah kalian tidak melihat ini?”

Klikamuka berjalan. Tangannya mengambil sebatang tombak yang patah.

Dengan gerakan lunak, patahan tombak itu disambitkan ke arah pohon besar.

Amblas tak terlihat ujungnya.

Di mata Mpu Renteng, segala apa yang dilakukan oleh Klikamuka serba luar

biasa. Segala apa yang dikatakan Klikamuka serba tak terduga. Akan tetapi ia tak

membiarkan pergi begitu saja.

“Kisanak Klikamuka, antara kita berdua masih ada urusan yang belum

diselesaikan.”

“Lupakan saja, kalau yang dimaksudkan Permaisuri Rajapatni. Tak ada yang

akan menangisinya. Baginda Raja juga tidak, karena masih ada tiga saudara

perempuan Rajapatni yang tak kalah ayunya. Masih ada dua permaisuri baru dari

tlatah Melayu.

“Kenapa kamu yang repot?”

“Tugas adalah tugas. Berbakti adalah bertanggung jawab.”

Klikamuka tertawa.

“Tak dinyana, di antara sekian banyak kadal yang melata, ada yang masih

memiliki jiwa ksatria.”

“Kembalikan Permaisuri!”

“Apa ada gunanya? Ilmu Lebah Bingung temanmu itu telah menyengsarakan.”

Mpu Sora bergerak maju.

“Dosaku tak bisa dihapus. Aku telah berbuat salah. Akan tetapi kalau Kisanak

mau berbaik hati…”

“Kalau tidak, mau apa?”

Klikamuka meloncat mengambil tongkat Dyah Palasir. Dengan mengertakkan

geraham, bagian depan diremas. Bagai adonan lumpur di tangan Klikamuka.

Tanpa terasa semua prajurit mundur satu tindak.

Klikamuka membuang potongan tombak ke dekat Mpu Sora.

“Kalau tidak bisa menemukan Permaisuri Rajapatni, kamu mau bunuh diri?

Pakai kayu, jangan pakai besi.”

Kini Mpu Nambi-lah yang nggragap.

Kalau tadi ia menduga Klikamuka adalah Upasara Wulung, kini dugaannya

diakui keliru jauh. Karena Klikamuka mengetahui perihal intrik-intrik Keraton.

Secara gamblang diteriakkan mengenai persaingan di antara para adipati, di antara

para patih.

Mpu Nambi merasa malu.

Justru sebagai pimpinan prajurit telik sandi, ia sama sekali tak mengetahui

sedikit pun tentang Klikamuka. Tak pernah mengetahui bahwa di dalam wilayahnya

ada seorang tokoh yang benar-benar luar biasa.

Mendadak Klikamuka berhenti.

Tubuhnya berbalik.

Gendhuk Tri berusaha lepas dari Jaghana.

Dari tengah hutan muncul dua bayangan yang segera bisa dikenali. Yang satu,

dengan cara meloncat enteng adalah Wilanda. Sedang yang di sebelahnya berjalan

mendampingi tenang, walau tidak kelihatan menggerakkan kakinya.

“Kakang!”

Gendhuk Tri tak bisa menahan dirinya.

Memang yang muncul adalah Upasara Wulung.

Mpu Nambi menggigit bibirnya. Tak lebih dari setahun, atau malah setengah

tahun, ia tak berjumpa dengan Upasara Wulung. Baru sekarang ini bisa melihat lebih

jelas.

Masih tetap biasa.

Seorang lelaki, memperlihatkan usia muda, dengan dada yang bidang tapi

kulitnya sangat lembut. Pandangan matanya tajam. Hanya rambut yang disanggul

tanpa ikat kepala memberi kesan lebih tua.

Itulah Upasara Wulung!

Tidak nampak aneh dan luar biasa. Tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa

kini ia tengah menguasai ilmu yang paling dicari-cari. Sikapnya sangat sederhana,

tidak seperti Adipati Lawe yang meloncat turun dari kuda, tidak seperti Klikamuka

yang menutupi wajahnya.

Upasara Wulung tak beda dengan Dyah Pamasi atau Dyah Palasir atau bahkan

para prajurit!

“Ke mana saja kamu ini?”

Teguran Galih Kaliki lebih memperlihatkan hubungan seorang kakak dengan

adiknya. Walau secara umum diketahui Upasara Wulung menjadi pemimpin

Perguruan Awan, namun tata cara guru-murid tidak mengikat sama sekali.

“Menunggu matahari, Kakang Galih,” jawab Upasara sambil memandang

sekeliling.

Lalu menunduk memberi hormat yang dalam, menyembah.

“Kehormatan besar bagi pohon dan isinya, hari ini para pembesar Majapahit

yang agung berkenan menginjakkan kakinya kemari.

“Maafkan, kami tak biasa menerima tetamu. Dan mungkin juga tak akan

terbiasa.”

Diam-diam Adipati Lawe terkesan oleh sikap Upasara yang biasa-biasa. Jauh

dari bayangannya bahwa yang ditemui adalah Upasara yang menjadi aneh, menjadi

serba rahasia.

Ternyata biasa-biasa.

“Anakmas Upasara,” kata Mpu Sora lembut. “Sejak kita bertemu pertama kali,

kami selalu membuatmu repot. Sungguh ini bukan cara persahabatan yang baik.

“Tetapi agaknya memang Anakmas yang ditakdirkan Dewa untuk berkorban

bagi kami semua.

“Rasanya kami tak perlu mengulang, bahwa kami secara sendiri-sendiri dan

bersama-sama mengemban dawuh Baginda Raja. Mengiringkan Anakmas menghadap

Baginda Raja.”

Upasara mendongak.

“Maafkan, para senopati agung.

“Baru saja saya bersama Paman Wilanda menyaksikan matahari terbit.

Anugerah Dewa Mahaagung yang menciptakan keindahan abadi tanpa merusak yang

disinari.

“Saya tak bisa sowan.”

Mpu Nambi mengangkat tangan kanannya. Bersama dengan kibasan tangan,

mendadak semua prajurit kembali mengambil posisi mengurung. Tak ada yang

ketinggalan.

“Saya tahu saya bersalah.

“Akan tetapi saya tak ingin merusak ketenteraman yang ada. Tak ingin

mengotori kursi Keraton.

“Tadi saya berbincang dengan Paman Wilanda, bekas senopati Singasari yang

kini berdiam di tempat yang sangat membahagiakan ini.

“Paman Wilanda tak diganggu untuk kembali bertugas di Keraton, karena kini

tak mempunyai tenaga dalam dan kemampuan bersilat. Hanya bisa berlari-lari kecil.

“Saya sudah memutuskan akan mengikuti jejak Paman Wilanda.”

Seluruh lapangan menjadi sunyi.

Klikamuka nampak menahan dadanya yang naik-turun.

Mpu Nambi nampak sangat tegang.

Jaghana menunduk lesu.

Agaknya kearifannya yang membuat paling cepat menangkap maksud Upasara.

Wilanda berjongkok, seperti tak kuasa menahan guncangan hatinya.

“Apa yang diharapkan dari saya selama ini adalah anggapan bahwa saya

mempunyai dan menguasai ilmu Tepukan Satu Tangan. Ada benarnya. Maka dengan

ini saya akan kembalikan semua yang ada dalam diri saya.

“Sebagian dari kitab-kitab itu ada di sini.”

Upasara membuka buntalan yang dibawa Wilanda.

“Sebagian berada dalam tubuh saya.

“Keduanya akan saya serahkan kepada para senopati yang lebih mengetahui

tugas. Agar dengan demikian, di kelak kemudian hari tak ada lagi permasalahan yang

mengganjal. Agar di kelak kemudian hari tak ada alasan untuk menyesali Perguruan

Awan.

“Saya persilakan.”

Sirna, Sirna Sempurna

UPASARA bersila.

Kedua kakinya ditekuk. Tubuhnya sedikit membungkuk.

Kedua tangan dirangkapkan, saling menindih, dengan telapak tangan

menengadah.

Sunyi.

Angin tak bergerak.

Dari kejauhan Klikamuka melihat pemandangan yang ganjil. Tubuhnya

menggigil tanpa terasa.

Di suatu lapangan yang luas, deretan prajurit dalam keadaan siap tempur

tengah mengepung seorang lelaki muda yang justru duduk bersila. Yang menyilakan

untuk diapa-apakan.

Awan menyingkir sempurna.

Langit bersih tanpa warna.

Upasara menunggu.

Wilanda tak berani memandang, tak berani melirik. Ia dibesarkan di

Perguruan Awan. Ia salah seorang murid Perguruan Awan, sebelum akhirnya

berbakti pada Keraton Singasari sebagai prajurit. Sewaktu berita ada Tamu dari

Seberang, Wilanda-lah yang menjadi penunjuk jalan. Ia berangkat mengiringi

Upasara Wulung yang untuk pertama kali meninggalkan ksatrian, bersama dengan

Ngabehi Pandu, gurunya.

Di sinilah terjadi perang tanding habis-habisan antara tokoh-tokoh kelas satu.

Berbagai peristiwa menyeret Wilanda hingga akhirnya diterima kembali sebagai

warga Perguruan Awan. Sampai kemudian, Upasara Wulung memilih tempat tersebut

dan dianggap sebagai pemimpin.

Sedih, pedih, dan batin Wilanda merintih.

Sejak mengasingkan diri ke dalam Perguruan Awan boleh dikatakan Wilanda

selalu bersama-sama Upasara Wulung. Nyai Demang dan Galih Kaliki kadang datang

dan pergi, begitu juga Gendhuk Tri dan Dewa Maut.

Hanya dirinya dan Jaghana yang paling sering bersama-sama. Wilanda jadi

lebih mengerti segala perasaan Upasara Wulung yang mencoba hidup sebagaimana

alam. Menanam buah-buahan, merawat tetumbuhan, menolong binatang yang

terluka, dan hanya mengambil buah untuk makan, sejauh yang diperlukan. Sejak

masuk hingga sekarang Upasara membiarkan rambut dan kukunya tumbuh, dan tak

mengganti pakaiannya.

Pada saat-saat tertentu, Upasara mengajak Wilanda dan Jaghana melatih

pernapasan bersama. Membaca Tumbal Bantala Parwa secara bersama, dan melatih

pula secara bersama. Memang begitulah cara hidup dalam Perguruan Awan.

Walau resminya Upasara Wulung adalah pemimpin, Jaghana dan Wilanda

tidak menyediakan buah-buahan khusus untuk Upasara, tidak juga perlakuan khusus

yang lain. Mereka bersama-sama seperti alam, tidak saling mengguru dan memurid.

Cara hidup seperti ini, dalam pandangan Wilanda, sama sekali tak menjadi

gangguan bagi Upasara. Bahkan Upasara bisa menikmati. Ini yang membuat Wilanda

dan Jaghana merasa tenteram. Hanya saja, kadang masih terlihat Upasara seperti

termangu sendirian.

Kadang mendongak ke arah langit, seakan mencari sesuatu yang bisa

menjawab kegelisahannya.

Selama itu, Upasara tidak pernah membuka percakapan ke arah zaman

Singasari. Tidak juga ke arah Keraton Majapahit. Dua kali Nyai Demang datang dan

bercerita bahwa Keraton Majapahit kini mulai dibangun. Banyak pesta, banyak cerita.

Upasara mendengarkan sambil tersenyum.

Hanya Nyai Demang dan Gendhuk Tri yang bisa menggoda dengan cerita

mengenai Gayatri.

Tapi Upasara tak menunjukkan tanda-tanda tertarik mendengarkan.

Waktunya, secara keseluruhan, digunakan untuk menikmati, untuk menyatu dengan

alam. Melihat kupu-kupu, mengamati Cengkerik, menyatu dengan mata air, di selasela

mencoba memahami Tumbal Bantala Parwa. Sesekali Upasara menyenandungkan

kidung, dan membicarakan bersama.

Sebulan sebelum peristiwa ini, Upasara pergi sendirian. Hal yang bisa terjadi,

karena masing-masing anggota bebas memilih tempat tinggal di sekitar Perguruan

Awan. Mereka tak punya tempat resmi, tak punya tempat bertemu secara pasti.

Wilanda secara kebetulan bertemu kembali ketika Upasara menyaksikan

matahari terbit.

“Indah sekali, Paman.”

“Bagi yang bisa mengerti, Raden.”

Wilanda masih memanggil seperti ketika berada di Ksatria Pingitan Singasari.

“Ah, untuk menikmati karya Dewa Penguasa Jagat, tak diperlukan bisa

mengerti atau tidak.

“Paman, rasanya saya ingin menikmati dan menyatu dengan sinar itu.”

Wilanda bertanya-tanya dalam hati apa maksud Upasara Wulung ketika itu.

“Kita akan lebih menyatu jika kita tidak mempunyai beban. Selama ini kita

selalu merasa perlu mempelajari ilmu silat, ilmu surat. Kita tak bisa menikmati secara

tuntas, kita tak bisa hanyut. Kita hanya setengah-setengah merasakan saat kita tak

berlatih.

“Barangkali satu-dua hari ini tiba saatnya untuk menyatu dengan sinar itu,

sejak terbit sampai tenggelam, sampai tengah malam.

“Sinar itu selalu ada, juga di malam hari.

“Sinar matahari itu juga indah di siang hari.”

Ternyata inilah maksud Upasara yang sebenarnya.

Mau melepaskan kembali ilmunya. Mau menghancurkan tenaga dalam,

kekuatan batin yang selama ini dilatih. Upasara adalah didikan Ksatria Pingitan, yang

didirikan zaman Baginda Raja Sri Kertanegara yang sengaja mendidik sejak lahir.

Mendidik ke arah olah keprajuritan. Dengan bibit sejak lahir, akan terciptalah suatu

ketika nanti prajurit yang benar-benar tangguh. Dan Upasara tergembleng selama dua

puluh tahun. Dalam perjalanannya kemudian, Upasara banyak menemukan ilmu lain.

Di antaranya sempat mempelajari Tumbal Bantala Parwa yang menggegerkan, serta

Dwidasa Nujum Kartika.

Akan tetapi justru ini yang akan dimusnahkan.

Karena ternyata menjadi gangguan bagi Upasara.

Karena di luar kemauannya, intrik Keraton menyeret dan menyebut-nyebut

namanya.

Dengan melepaskan semua ilmunya, Upasara tak ada bedanya dengan pemuda

desa yang lainnya. Tak ada bedanya dengan Toikromo! Itulah yang dipilih.

“Maaf, Senopati Anabrang,” bisik Upasara lirih sambil mengulurkan telapak

tangannya.

Senopati Anabrang yang masih dipapah Mpu Sora tak bisa mengelak. Seketika

hawa panas menerobos masuk ke dalam tubuhnya.

Sungai mengalir, tak menahan air

batuan hanya bersentuhan

tidak mendorong tidak menahan

jadilah sungai

batuan hanya bersentuhan

tidak mendorong tidak menahan

tidak hanyut, walau bisa berlumut

jadilah batu

tidak mendorong tidak menahan

tidak hanyut walau bisa berlumut

lumut tak takut air

jadilah lumut!

Kidungan Upasara terdengar merdu. Enak, nyaman, menenteramkan. Senopati

Anabrang mendekat seperti terpikat. Memusatkan pikiran dan menjadi sungai tak

menahan gelombang panas yang masuk ke dalam tubuhnya, menjadi batu yang

kukuh, menjadi lumut yang tak mencurigai kekuatan tenaga dalam Upasara.

Dalam waktu tak terlalu lama, luka yang tadinya berwarna hitam kebiruan

mengering, dan berubah warnanya. Kini sudah mendekati warna cokelat tua.

Berarti racun yang berada di sekitar luka sudah terusir.

“Gendhuk Tri, mari” sini. Kakang ingin melihatmu.”

Jaghana membawa Gendhuk Tri yang meronta sebisanya. Darah mengucur

dari seluruh tubuhnya.

“Tidak, Kakang.

“Aku akan mendendammu seumur hidup ditambah tujuh turunan kalau

Kakang lakukan itu padaku.”

Gendhuk Tri memberontak. Pengerahan tenaga membuat lukanya robek dan

tubuhnya ambruk.

Upasara berdiri. Kedua kakinya mengangkang sedikit, seperti menunggang

kuda. Kedua tangannya ditekuk, dengan telapak menghadap ke atas, di depan

dadanya. Perlahan turun bersamaan dengan tarikan napas yang makin lama makin

dalam, makin dalam, seakan semua udara alam disedot ke dalam. Kedua tangan itu

naik kembali ke atas.

“Kakang…”

Kedua tangan itu menempel di tubuh Gendhuk Tri, yang berkelojotan dan

memuntahkan darah berwarna kebiru-biruan.

Sirna itu sempurna…

Pada Awalnya Adalah Sirna

Upasara kembali bersila.

Tak ada suara.

Klikamuka yang berada di tempat agak jauh melihat pemandangan yang sama.

Semua prajurit berada dalam keadaan siap siaga. Mengepung seorang lelaki muda,

yang bersila. Di tempat agak jauh Jaghana memangku Gendhuk Tri.

Terdengar kidungan lirih:

Pada awalnya adalah sirna

pada akhirnya juga sirna

dari sirna kembali ke sirna

sirna itu sempurna

sirna itu tak ada

sempurna itu sirna

tak ada itu sirna

sirna itu kosong

pada awalnya adalah kosong

menyongsong ke arah kosong

berakhir pada sirna

sirna itu biasa

biasa itu sempurna

sirna itu sirna

sirna…

Mpu Renteng merasakan getaran yang dahsyat menyayat. Seakan udara sekitar

dipenuhi oleh tenaga menggelegar yang tak terlihat. Barangkali kawanan burung yang

terbang di atas lapangan akan jatuh menggelepar.

Itu saat yang paling menentukan.

Upasara akan memusnahkan tenaga dalamnya!

Ilmu yang dimiliki akan dihancurkan. Kidungan itu mengantarkan kepada

tahapan sirna.

sirna

sirna

sirna

sempurna

kosong

biasa

sirna

sirna

sirna

Galih Kaliki memandang ke arah lain. Ia tak tahu harus berbuat apa. Wilanda

seperti lenyap. Tak terasa kehadirannya. Wilanda yang menyadari bahwa Upasara

mulai menghimpun kekuatannya sejak lahir. Sejak hari pertama dilahirkan, Upasara

sudah dimasukkan ke Ksatria Pingitan, suatu tempat di mana bayi-bayi dididik dalam

kanuragan, dalam soal ilmu silat dan ilmu surat. Agar di kelak kemudian hari menjadi

prajurit yang unggul. Baginda Raja Sri Kertanegara yang menancapkan tonggak

keperkasaan untuk masa yang akan datang.

Selama dua puluh tahun Upasara boleh dikatakan tak mengenal hal lain selain

ilmu silat dan ilmu surat. Tak mengenal kehidupan masyarakat biasa, tak mengenal

kehidupan masyarakat Keraton. Apalagi ia kemudian ditangani langsung oleh

Ngabehi Pandu, tokoh kampiun yang disegani.

Akan tetapi sekarang justru akan dilenyapkan.

Mpu Renteng sendiri sejak lama mendengar Kitab Penolak Bumi yang

kesohor. Akan tetapi baru sekarang ini mendengar sebagian kidungannya yang isinya

seperti tak lebih dari tembang yang nyaman dinyanyikan:

Sirna itu kembali ke tanah

tanah itu lumpur

lumpur itu air

sirna itu kembali ke air

air itu tanah

tanah itu hidup

air itu hidup

hidup itu sirna

ke mana air mengalir

jawabnya tepukan satu tangan

ke mana angin bertiup

jawabnya tepukan satu tangan

kalau hujan dari tanah ke langit

tepukan satu tangan

kalau sirna

tepukan satu tangan….

Upasara mengangkat tangan kirinya, naik, bergetar, pergelangan tangannya

berputar, telapak tangannya menghadap ke depan, bergerak lurus ke depan,

menggeletar ketika makin lama makin lurus.

Uap putih berkumpul di sekitar tubuh Upasara. Udara tiba-tiba menjadi

dingin. Tak ada awan yang menutupi sinar matahari, tetapi cahayanya serasa terang

tanah.

Seiring dengan kata “tepukan satu tangan”, tangan kiri Upasara lurus ke depan.

Terdengar seruan tertahan.

Tubuh Upasara naik ke atas, berhenti di tengah udara, masih dalam keadaan

bersila!

Begitu tangan ditarik kembali, tubuhnya ambruk.

Sirna!

Mpu Sora, Mpu Renteng, dan Mpu Nambi tanpa terasa menyebut Gusti secara

bersamaan.

Apa yang mereka saksikan adalah perjalanan yang luar biasa dari seorang

ksatria yang paling disegani, yang paling diperhitungkan, menjadi manusia biasa.

Upasara tak lebih dari seorang Toikromo.

“Gusti Dewa segala Dewa, maha mengetahui apa yang terjadi pada diri

hambanya.”

Mpu Sora meraupkan kedua tangan ke wajahnya. Mendekat. Memandang

Upasara secara lekat.

Biar bagaimana, Adipati Lawe dulu berada di ujung medan perang dengan

panglima Tartar. Termasuk yang berada di atas benteng melakukan pertarungan matihidup

bersama-sama.

“Adimas…”

Upasara membuka matanya.

Adipati Lawe merangkul. Akan tetapi karena tergetar oleh tenaga yang kuat,

Upasara meringis.

“Maaf, Adimas….”

Adipati Lawe mengubah rangkulannya.

“Adimas tetap lelaki jagat.”

Kalimat berikutnya tak keluar, walaupun tersendat.

Jaghana menunduk.

“Biarkanlah kami semua beristirahat.”

Mpu Nambi memberi aba-aba agar para prajurit seluruhnya menyingkir.

Siapa pun yang diutus ke Perguruan Awan boleh menarik napas lega.

Setidaknya pertumpahan darah yang tidak dikehendaki tak terjadi. Dengan caranya

sendiri Upasara Wulung mencari jalan keluar. Penolakan kepada tawaran Baginda

Raja dengan cara menjadi manusia biasa.

Senopati Anabrang membungkuk hormat.

Ia paling merasa tertolong jiwanya. Di sat terakhir sebelum membuang tenaga,

Upasara telah menyelamatkan. Entah, tanpa bantuan Upasara, racun dalam tubuhnya

bisa terusir atau tidak.

Mpu Nambi juga maju membungkuk hormat dan menyalami. Dan merasa

kaget sendiri karena ternyata tenaga dalam Upasara betul-betul telah musnah. Sekejap

nuraninya seperti dipelintir. Akan tetapi dengan cepat Mpu Nambi mengalihkan

pikirannya.

Jalan itu yang ditempuh Upasara! Dipilih sendiri tanpa dipaksa!

Terdengar suara Klikamuka.

“Ambil Tumbal Bantala Parwa. Hanya seorang raja yang berhak memiliki. Aku

tak butuh kidungan untuk bunuh diri.”

Mpu Nambi menyembah kitab yang ditulis pada klika kayu, sebelum

memasukkan ke dalam buntalan dan menyerahkan kepada Dyah Palasir.

“Kakang Sora, Kakang Renteng, kita bersama kembali ke Keraton. Rasanya

terlalu jauh kita membuat Perguruan Awan terganggu.”

“Silakan Kakang Nambi berangkat lebih dulu. Kami berdua masih perlu

mencari Permaisuri.”

Mpu Nambi mengerutkan keningnya.

“Baginda bisa murka….”

“Kami berdua menanggung akibatnya,” jawab Mpu Sora dan Mpu Renteng

bersama-sama.

“Kakang jangan salah terima. Saya tak akan melaporkan hal itu. Bahkan saya

akan ikut membantu.”

“Terima kasih, Kakang Nambi.

“Tugas di Keraton masih banyak.”

Mpu Nambi menghela napas, mengangguk, dan segera berlalu.

Mendadak Mpu Nambi berbalik.

“Upasara, kembalikan Permaisuri.”

Tangannya bergerak, dan seketika seluruh prajurit menyerbu.

Kematian Kedua

Mpu Sora, Mpu Renteng, Senopati Anabrang melengak.

Mereka sama sekali tidak mengira bahwa Mpu Nambi memberi aba-aba

serangan menjapit seperti kepiting. Dari semula para prajurit dalam keadaan siap

tempur. Maka begitu ada aba-aba langsung menggasak.

Situasi jadi berubah.

Dalam sekejap sabetan pedang, tusukan tombak, tukikan keris menghujani

Upasara. Reaksi Upasara masih seperti ketika mempunyai ilmu silat. Kedua tangannya

terangkat. Akan tetapi kecepatan dan kekuatan tenaganya sudah tak ada. Sehingga

dadanya kena sodok tombak dan langsung terguling. Tangan yang menangkis terlalu

lambat dibandingkan kecepatan para prajurit. Dyah Pamasi sendiri menendang keras,

sehingga tubuh Upasara terlontar ke atas.

Jaghana sama sekali tak menduga serangan yang begitu keji. Dalam situasi di

mana ia masih menggendong Gendhuk Tri yang dalam keadaan setengah hidup,

setengah mati, ia tak bisa bergerak leluasa. Ini hanya akan membuat Gendhuk Tri

menderita luka berat di dalam.

Karena dalam tubuh Gendhuk Tri masih bertarung tenaga dalam yang

diberikan oleh Upasara dengan racun yang mengeram dalam tubuhnya!

Akan tetapi melihat Upasara yang terluka dilemparkan ke angkasa, Jaghana

menjejakkan kakinya. Tubuhnya mental ke atas, satu tangan mengempit Gendhuk Tri

dan menjaga agar tidak tergetar sedikit pun, sementara tangan lain menangkap tubuh

Upasara.

Hanya saja Jaghana kewalahan. Karena tubuh Upasara yang jatuh ke tanah

seperti karung mati. Tidak memberi reaksi seperti seorang jago silat!

Jaghana memang menyaksikan sendiri Upasara yang menghancurkan tenaga

dalamnya. Akan tetapi ternyata tetap sulit menyadari bahwa kini benar-benar telah

menjadi manusia biasa. Sehingga tangan yang untuk menyangga seperti diseret ke

bawah. Jaghana tetap menyangga dan menjaga agar baik tubuh Gendhuk Tri maupun

Upasara tidak tergetar.

Jaghana mengorbankan dirinya.

Punggungnya menghantam tanah, dengan semua getaran dipendam dalam

dadanya! Menghancurkan tenaganya sendiri!

Akibatnya, begitu jatuh telentang tak bisa bergerak lagi.

Sementara Wilanda hanya bisa mengelak serbuan yang datang dengan

meloncat ke sana-kemari, tanpa bisa memberi balasan yang berarti. Satu-satunya yang

bisa bergerak bebas adalah Galih Kaliki. Hanya saja reaksinya tak bisa cepat

menangkap situasi yang begitu kejam.

Tak masuk akal bagi Galih Kaliki, bahwa Upasara yang telah mengorbankan

semua miliknya, masih diserang secara mendadak. Tak masuk akal bagi seorang yang

begitu jujur hatinya dan lugas jalan pikirannya!

Ketika menyadari, sudah terlambat. Dan ia repot digempur oleh Dyah Pamasi

dan Dyah Palasir secara bersamaan. Unggul atau tidak unggul tak bisa ditentukan

dalam sesaat.

“Tongkring!

“Hentikan semua ini!”

Adipati Lawe berteriak mengguntur. Rantai di tangannya bergerak bagai

putaran angin yang menyingkirkan semua senjata yang mengarah kepada Upasara

Wulung.

“Tongkring!

“Ajaran setan belang mana bersikap begini hina?”

Semua prajurit mundur dan menghentikan serangan.

Adipati Lawe menurunkan Upasara dan Gendhuk Tri di tanah. Untuk

sementara Jaghana masih belum bisa bergerak. Tangannya masih lurus ke atas dengan

tubuh telentang.

“Hari ini kita semua kembali!”

Pandangan mata Adipati Lawe menatap tajam ke arah Mpu Nambi.

Mpu Nambi balas menatap.

Mpu Sora menyadari bahwa pertentangan telah terobek.

Adalah suatu peraturan tidak resmi dalam keprajuritan, bahwa yang berhak

memberi komando adalah senopati yang pangkat dan derajatnya paling tinggi. Tak

bisa dibantah. Hanya satu senopati yang berhak memerintah!

Dalam hal ini pangkat dan derajat Adipati Lawe tidak di bawah Mpu Nambi.

Akan tetapi juga tidak di atasnya. Mereka sama-sama berpangkat patih. Adipati Lawe

adalah patih amancanegara, sedangkan Mpu Nambi patih di dalam. Pangkat yang

sama yang juga disandang oleh Mpu Sora, Mpu Renteng, atau Senopati Anabrang.

Mereka semua ini tanpa kecuali hanya tunduk kepada Baginda Raja, sebelum

ada yang menjabat sebagai mahapatih, atau patih amangkubumi.

Adalah suatu peraturan yang tidak resmi dalam keprajuritan, bahwa yang

berhak memberi komando pada derajat yang sama adalah yang mengambil prakarsa

pertama. Dan patih yang sederajat tidak boleh memotong garis yang telah dibuat.

Apalagi di depan para prajurit! Kalaupun mereka berselisih pendapat, Baginda Rajalah

yang berhak memutuskan mana yang diturut.

Dalam hal ini, Adipati Lawe memotong perintah Mpu Nambi!

Dalam hal begini, Mpu Nambi bisa melaporkan kepada Baginda Raja, bahwa

Adipati Lawe membangkang! Melanggar disiplin keprajuritan. Untuk ini sangsinya

cukup berat!

Nyatanya Adipati Lawe memilih cara dianggap sebagai pembangkang!

Mpu Nambi menarik napas keras.

Kalau ia memberi aba-aba penyerangan, prajurit telik sandi yang dipimpinnya

bisa bertarung dengan prajurit Kadipaten Tuban yang dipimpin Adipati Lawe.

Mpu Nambi t