Seri Raja Silat – Pelenyap Sukma (Seri II)

Seri Raja Silat – Pelenyap Sukma (Seri II)

Karya : Chin Hung Saduran OPA

Sumber djvu : Lavilla ecersildejavu

Convert : Dewi KZ

Editor : Cherio, Lavender, angon, Sumahan, aaa MCH

Final editor & Ebook : Dewi KZ

Tiraikasih website http://kangzusi.com/

Bagian 1

Di antara beberapa kota besar yang terdapat di daerah Selatan,

adalah kota Han Yang yang terbilang paling penting. Sebelah Timur

dari kota ini terdapat kota Bu Ciang, di sebelah Utaranya ada kota

Han Kauw. Tiga kota yang berdekat-dekatan Ietaknya ini, dahulu

merupakan kota-kota strategis yang sering menjadi rebutan para

penguasa perang dari jaman peralihan. Ratusan rumah makan

terkenal dibangun di dalam kota Han Yang belum pernah sehari

tampak kosong. Salah satu yang terbesar adalah rumah makan

Hian-kok-lauw.

Ada beberapa sebab yang menjadikan rumah makan Hian-koklauw

ini terkenal . Dengan daya tarik Lebih lezat dan lebih Istimewa,

rumah makan ini telah meletakkan dirinya dalam kedudukan rumah

makan intelek kelas satu. Hanya para pembesar atau hartawan

beruang yang dapat mengicipi keistimewaan dalam rumah makan

tersebut.

Jumlah orang2 yang dapat merasakan masakan Rumah Makan

Hian-kok-lauw asli adalah sangat terbatas. Mengingat adanya

persaingan dari banyak rumah makan, belum tentu semua

pembesar negeri atau pelancong luar kota makan di rumah makan

itu. Untuk mengimbangi kepincangan ini, pengurus rumah makan

Hian-kok-lauw spesial menyediakan bangunan2 tempat yang

terpisah, Dua ruangan khusus disediakan untuk kaum berada yang

mempunyai kantong padat, tempatnya istimewa, adalah suatu

bangunan bertingkat, letaknya di bagian atas, loteng tingkat kesatu

dan loteng tingkat kedua. Disitu, sambil menikmati kelezatan dan

keistimewaan makanan Hian-kok-lauw, para pengunjung dapat

menikmati sebagian keindahan dan kota Han Yang. Kelas ini sangat

mewah, dan diperlengkapi dengan alat yang serba luks. Sedang

untuk umum, Hian-kok-lauw menyediakan makanan laris Bakmi Ikan

dengan harga yang lebih ringan. Para tamu disini hanya diberi

kesempatan untuk duduk d tingkat paling bawah.

Hati itu, seorang pemuda tampak berkunjung di rumah makan

Hian-kok-lauw, langsung naik ke atas loteng tingkat kedua. Seperti

apa yang kita sudah kemukakan semula, loteng kesatu dan kedua

khusus untuk orang2 berada. Adapun anak muda ini berani naik ke

bagian atas tentu mempunyai kantong yang penuh dan tebal,

disertai dengan lembaran-lembaran bernilai.

Nama si pemuda Ie Lip Tiong, dia seorang jago silat yang

mempunyai kepandaian tinggi, dari roman mukanya tampak

kecerdikannya, datangnya ke rumah makan Hian-kok-lauw sudah

tentu dengan maksud tujuan tertentu. Dia memilih tempat dan

duduk di atas sebuah kursi empuk.

Seorang pelayan rumah ketika melihat kehadiran pemuda

tersebut lalu datang menghampirinya. Pelayan ini berpakaian dinas,

bersih dan rapi. Dia menyodorkan daftar menu makanan.

Ie Lip Tiong memandang sang pelayan dengan penuh perhatian,

lalu tanyanya :

“Makanan apa yang menjadi kebanggaan Hian-kok-lauw ?”

“Bakmi ikan istimewa, panggang bebek istimewa, Bistik saos

kacang polong, Babi sawit, Telor kodok, kuah sarang burung, dan

banyak lagi rupa2 makanan lainnya” Si pelayan menyebut beberapa

nama makanan yang terkenal mahal.

Ie Lip Tiong berulang kali menganggukkan kepala, dan lalu

memesan beberapa macam.

Si pelayan segera mengundurkan diri, hendak menyiapkan

pesanan sang tamu.

Dari gerak langkah kaki pelayan tersebut Ie Lip Tiong tahu,

bahwa si pelayan itu tentunya mempunyai ilmu kepandaian silat

istimewa.

Itu sudah lazim. Pada jaman2 yang teramat kacau seseorang

waajib melatih ilmu silat. Juga tak ada larangan yang tidak

membolehkan seorang pelayan rumah makan melatih ilmu silat, tapi

yang lebih menarik disini, ilmu silat yang dimiliki si pelayan tadi

bukanlah ilmu silat kampungan. Seandainya orang ini hendak

mengangkat diri, setidak tldaknya dia masih dapat mengepalai satu

regu pasukan berkuda. Ilmu silatnya bukanlah ilmu silat biasa. Maka

Ie Lip Tiong mengeluarkan tertawa dingin.

Pelayan rumah makan Hian-kok-lauw itu tidak sadar bahwa

dirinya sudah menjadi incaran orang, ia tampak masih sibuk

menyiapkan makanan.

Ie Lip Tiong meneruskan penyelidikannya.

Pada pilar bangunan itu terdapat tulisan yang berbunyi sebagai

berikut:

Khusus untuk para tamu yang hendak menikmati hidangan

istimewa.

Pada tangga loteng terdapat lain tulisan, begini kira kira

bunyinya:

Tamu yang hanya memesan bakmi kering dilarang menaiki

tangga ini.

Itulah perbedaan kelas yang terlalu menyolok mata. Ruang

bawah disediakan untuk tamu tamu biasa dengan makanan bakmi

kering yarg murah, loteng pertama dan kedua khusus untuk orang2

yang punya duit.

Ie Lip Tiong menduga tepat, dia sudah berada di tempat tujuan.

Bertepatan pada saat mata Ie Lip Tiong menatap papan yang

bertulisan ‘Tamu yang hanya memesan bakmi kering dilararg

menaiki tangga ini’, seorang tua dengan pakaiannya yang teramat

dekil, tampak muncul di tangga loteng. Begitu mesum dan kotor

orang segera mempunyai prasangka kepada manusia melarat. Dia

naik dengan cepat, begitu cepat, sehingga membarengi langkahnya,

dia sudah berada di atas loteng kedua.

Seorang pelayan lain segera menghadang pengemis itu, dengan

suaranya yang sangat kasar, pelayan itu membentak :

“Hei, tempat ini bukan disediakan untuk pengemis. Lekas turun

!”

Orang yang seperti jembel itu tampak pendelikan matanya. Dari

saku bajunya yang kumal, dia mengeluarkan lempengan uang emas,

dilempar ke depan pelayan yang menegurnya sambil membentak :

“Pentang matamu biar lebar ! Kau kira tuan besarmu tidak punya

duit buat bayar rekening makananmu disini ?!”

Mata uang mengenai pipi si pelayan. Seperti juga pelayan yang

pertama, pelayan yang memberi service kepada Ie Lip Tiong dan

mendapat perhatian pemuda itu, pelayan kedua yang mencegat

bapak raja gembel itupun memiliki kepandaian silat lumayan dia

hendak mengegos tapi tidak berhasil, hampir2 dia terjengkang ke

belakang lantaran kerasnya sambitan pengemis misterius itu. Sambil

memegangi pipinya yang terasa amat sakit, dia berteriak :

“Aaaaaa . . . . Kau hendak mengacau di rumah makan Hian-koklauw

?”

Cepat sekali, pelayan yang melayani Ie Lip Tiong menampilkan

diri. Menyaksikan kejadian itu, dia merendengi kawannya, membuat

suatu persiapan tempur. Lebih dahulu, dia memperhatikan

kawannya dan bertanya kepada sang kawan.

“Eh, Lauw Lauw, kau kenapa ?”

Pelayan yang dipanggil Lauw Lauw menuding dengan jari

tangannya.

“Dia . . . . dia . . .”

Sang tamu yang berpakaian kotor memotong pembicaraan Lauw

Lauw :

“Huh, berani dia menghina orang ? Menganggap aku orang apa ?

Kau kira aku tidak kuat bayar rekening makananmu ?!”

Pelayan ini bernama Lauw Sam, bersama-sama dengan Lauw

Lauw, menjadi pelayan rumah makan Hian-kok-lauw. Sudah belasan

tahun mereka mengabdikan diri di bidang pe rumah makanan,

mereka tahu, mereka paham dan mereka mengerti, bagaimana

harus menghadapi aneka macam orang karena mereka biasa

menghadapi orang banyak.

Orang tua yang seperti pengemis itu mempunyai pelipis yang

dalam, itulah tanda dari jago silat kelas satu. Bukan manusia yang

boleh sembarang dihina. Karena kelengahan Lauw Lauw, pipinya

mematang biru, bengkak segera.

Lauw Sam segera membungkukkan badan, memberi hormat dan

bertanya :

“Maaf. Lauw Lauw kurang berpengalaman. Makanan apa yang

tuan hendak pesan ? Silahkan duduk.”

Orang tua itu berkoar lagi dengan suaranya yang keras :

“Satu piring bakmi yang kering !”

Kerut2 di wajah Lauw Lauw dan Lam Sam tampak semakin

nyata.

Bukan ini yang diartikan bakmi kering. Bakmi kering khusus

untuk kaum tidak beruang , duduknya di bawah loteng. Bukan

disini. Berdiam beberapa detik, Lauw Sam yang lebih pandai

berbicara berkata :

“Sangat menyesal. Kami kira, tuan harus duduk di bagian

bawah.”

Orang tua yang seperti pengemis itu membesarkan bola

matanya, dengan geram membentak :

“Eh, begitu sentimen kepadaku ?”

Dengan gagah, Lauw Sam menunjuk peraturan di pintu loteng

tingkat kesatu dan loteng tingkat dua

“Silahkan tuan baca dulu petunjuk itu.”

Orang tua yang seperti jembel memandang tulisan dengan bunyi

‘Tamu yang memesan bakmi kering dilarang menaiki tangga ini’,

kedua alisnya lalu tampak dikerutkan.

“Eh, siapa yang bikin aturan seperti ini ?”

Dengan hormat yang dibuat-buat, Lauw Sam lekas berkata :

“Setiap rumah makan mempunyai peraturan dan tata tertib. Dan

inilah peraturan rumah makan kami.”

Orang tua berpakaian kotor itu menganggukkan kepalanya. Dia

tidak bicara memungut mata uang yang digunakan buat menampar

pipi Lauw Lauw tadi, dan segera membalikkan badan, meninggalkan

tangga loteng.

lnsiden itu berakhir tanpa terjadi sesuatu hal ikutan lainnya.

Di kala orang tua yang seperti jembel menggunakan mata uang

menampar Lauw Lauw, hati Ie Lip Tiong sudah girang bukan main.

Dia semula menduga, tentunya segera akan terjadi suatu

keramaian. Tapi sekarang, pudarlah harapannya. Si pengemis tua

begitu tahu diri, lantas ngeloyor turun dari atas bangunan rumah

makan Hian-kok-lauw.

Disini terdapat sedikit pelajaran baru untuk Ie Lip Tiong,

bagaimana harus menghadapi penghinaan-penghinaan yang

datangnya dari luar; Si tamu dekil menerima dua macam

penghinaan yang berlainan. Lauw Lauw menghina dia sebagai

kaum jembel yang tidak beruang, mengusir dia dari loteng rumah

makan. Inilah suatu penghinaan kecil, tapi tidak tahu aturan.

Sebagai hukuman, orang tua kotor itu telah memberi hajaran

berupa satu tamparan dengan menggunakan uang. Lain penghinaan

yang datangnya dari Lauw Sam berupa penghinaan lebih besar.

Lauw Sam melarang dia makan bakmie kering di atas loteng, inipun

penghinaan juga. Tapi adanya peraturan rumah makan yang

melarang tamu makan bakmie kering di atas loteng, telah memberi

jaminan kuat kepada Lauw Sam. Tanggung jawab lepas dari si

pelayan. Si pengemis tua tidak memukul atau menegur Lauw Sam.

Dia menerima penghinaan itu. Penghinaan itu datangnya dari

pemilik rumah makan. Dia harus langsung berhubungan dengan

orang bersangkutan. Di dalam hal ini, ialah si pemilik atau pengurus

rumah makan yang terlalu.

Orang tua yang turun dari loteng tadi mempunyai kecerdasan

otak yang cukup sempurna. Ie Lip Tiong ada niatan untuk

mengajaknya bersantap bersama sama, niatan mana segera

dibatalkan, manakala teringat akan tugasnya yang maha penting.

Demikian bayangan pengemis tua itupun lantas lenyap dari

permukaan loteng.

Makanan yang dipesan oleh Ie Lip Tiong juga sudah tersedia,

Lauw Sam pula yang membawakan makanan itu.

Selesai meletakkan piring mangkuk di atas meja, Lauw Sam

lantas hendak mengundurkan diri lagi. Saat itulah Ie Lip Tiong

menegurnya dengan suara perlahan :

“Eh, boleh aku bertanya ?”

“Ada apa ?” tanya Lauw Sam sambil menghentikan langkahnya.

“Kalian tidak memperbolehkan orang duduk di atas loteng tingkat

atas tanpa makanan khusus yang mahal, melarang orang memesan

barang santapan biasa, kukira itu tidak baik. Suatu peraturan

dengan sistem perbedaan manusia, sistim kasta. Tidakkah itu akan

mengganggu kelancaran usaha kalian?”

Lauw Sam menggoyangkan kepala, lalu memberi keterangan.

“Rumah makan kami adalah rumah makan kelas satu. Di kota

Han Yang ini, rumah makan kami telah mendapat kedudukan paling

baik. Setiap orang yang pernah memasuki rumah makan kami, tentu

akan di puji2 sebagai hartawan kaya raya. Pokoknya orang akan

memberi penilaian lain kepada setiap tamu yang keluar dari rumah

makan Hian-kok-lauw. Karena rumah makan Hian-kok-lauwnya

sendiri sudah menjadi lambang kejayaan bagi warga kota Han Yang.

Untuk menjadikan seseorang sebagai hartawan, atau orang yang

dijunjung tinggi, banyak sekali yang memasuki rumah makan kami

dengan kantong kosong. Untuk mencegah terjadinya pencampur

gaulan kantong penuh yang asli dan kantong penuh yang palsu,

rumah makan kami mengeluarkan peraturan ini.

Hanya khusus untuk kaum berada yang dapat menikmati loteng

tingkat satu dan loteng tingkat dua. Bagi mereka, cukup puas

memakan bakmi kering di ruang bawah saja.”

Ie Lip Tiong menganggukkan kepalanya.

“Sangat masuk diakal” katanya.

Lauw Sam bertanya lagi : “Tuan masih membutuhkan makanan

lain ?”

“Untuk sementara cukup dulu,” kata Ie Lip Tiong. “Eh …. orang

tua yang tadi balik lagi.”

Lauw Sam menoleh ke arah tangga loteng, dan betul saja, orang

tua yang sangat kotor seperti jembel itu balik kembali. Tidak seperti

tadi, sekarang langkahnya diayun begitu tenang setapak demi

setapak bagai sedang menghitungi tangga loteng yang cukup

banyak, tapi nyatanya dengan cepat dia sudah berada di atas loteng

tingkat pertama.

Lauw Sam yang pernah mengusir orang itu kini dia balik lagi,

dengan sikap gagah lantas menghadangnya; seraya membentak

keras :

“Hei, sudah kukatakan. Orang yang cuma memesan bakmi kering

dilarang menaiki tangga ini. Masihkah kau tidak mengerti kata

peraturan rumah makan kami ?”

Orang itu mengayun tangannya. plok . . . terdengar suara yang

garing dia menggaplok pipi si Lauw Sam.

“Aaaa……” Lauw Sam berteriak.

“Berani kau pukul orang ?”

“Mengapa tidak ?” Orang itu membawakan sikapnya yang galak.

“Sebagai seorang pelayan, kau wajib berlaku hormat. Tamu adalah

raja, seorang langganan wajib diberi pelayanan. Dan untuk

kekurangan ajaranmu ini, kau harus mendapat tamparan.”

Lauw Sam hendak menempur orang ini, tapi merasa segan kalau

mengingat betapa hebat ketangkasan yang sudah diperlihatkan

orang tua itu kepadanya tadi. Belum tentu dia dapat menjatuhkan

orang itu. Maka dengan rasa penasaran yarg tidak terhingga, dia

cuma bisa berteriak :

“Kau memesan bakmi kering. menurut peraturan, hanya boleh

duduk di ruang bawah. Aku cukup baik sudah memberi tahukan

adanya peraturan ini dan menyuruh kau turun juga dengan baik

baik ada kesalahan apa yang telah kuperbuat ?”

Orang tua itu tampak menghardiknya :

“Apa kau tahu, kalau aku hendak memesan bakmi kering !”

Lauw Sam lebih penasaran lagi. Dia berteriak dengan semakin

keras suaranya:

“Barusan, kau ada memesan bakmi kering , bukan ?”

“Tadi, memang. Tapi itu waktu aku datang pertama kali. Aku tadi

memang pernah meminta makanan bakmi kering. Tapi sekarang

tidak. Aku baru datang, belum pesan apapun” Tanpa menunggu

debatan Lauw Sam, orang tua ini sudah menggeser sebuah kursi

dan menggabrukkan pantatnya di kursi itu keras sekali.

Dia menggebrak meja, dengan lagak pembesar negeri yang

sangat galak berteriak:

“Mana pelayan yang mendapat tugas menyiapkan menu

makanan ?”

Lauw Sam tidak bergerak dari tempatnya, dengan tidak kalah

angkuhnya, dia berteriak:

“Sebutkan, santapan apa yang kau mau ?”

Lauw Sam adalah pelayan rumah makan kelas satu,

kedudukannya dan cara2 berpakaiannya tidak kalah dari pedagang

eceran. Karena itu, dia berani bertindak sewenang wenang. Tentu

saja, berwenang untuk mengusir para tamunya yang tidak beruang.

Orang tua itu tampak semakin marah, menggebrak meja lebih

keras.

“Kepada seorang tamu kau harus berlaku hormat ? Gunakanlah

kakimu, lekas kemari !”

Lauw Sam masih ragu2, haruskah dia menantang tamu jembel

yang aneh ini? Mengusir atau melayaninya ?

Seorang laki-laki kurus kering menampilkan diri, dan segera

nemberi perintah:

“Lauw Sam, turuti kemauan semua tamu kita !”

Adapun laki laki kurus kering ini, adalah kasir dari rumah makan

Hian-kok-lauw, entah sejak kapan, tahu2 dia sudah berada di loteng

tingkat kedua dari rumah makan itu.

Lauw Sam seperti mendapat firman raja, tidak berani

membangkang perintah ini dengan membungkukkan badan

menghampiri tamu anehnya.

“Tuan hendak memesan apa ?” tanyanya dengan laku hormat

sekali.

Orang tua yang seperti jembel memonyongkan mulut.

“Coba kau sebut dulu beberapa rupa makanan dari rumah makan

kalian yang paling mahal.”

Lauw Sam segera mengoceh panjang,

“Makanan kami terkenal dengan Bistik saos kacang polong, babi

sawit, telor kodok, kuah sarang burung……”

“Setiap macamnya satu porsi !” potong orarg tua itu. “Dan harus

cepat !”

“Baik”

“Jangan lupa, tambah dua kati arak simpanan !” berkata lagi

tamu itu.

Tanpa berani berayal lagi Lauw Sam cepat2 menjalankan

perintah.

Sampai disini, keramaian berakhir. Kasir rumah makan juga

sudah meninggalkan tempat kejadian.

Ie Lip Tiong tenang2 saja meneruskan makannya.

Tontonan keramaian berakhir pada babak pertama. Di kala kasir

rumah makan Hian-kok-lauw hendak turun dari loteng atas. Tiba2,

terdengar suara hiruk pikuk, datangnya dari bangunan bawah. Itu

adalah suara orang ribut2. Tidak sedikit jumlah orang yang datang

terbukti dari suaranya yang seper ti gelombang pasang.

Terdengar suara seorang pelayan yang membentak orang2 itu :

“Hei, kalian jangan naik ke loteng atas.”

Teriakan ini tidak berhasil menekan kegaduhan suara orang

banyak.

“Mengapa ?” terdengar seorang, mencoba melawan.

“Kami ada membawa uang.” berteriak seorang yang lain.

“Jangan tidak pandang kami kaum pengemis, heh !” suara ini

kedengaran geram sekali;

“Pukul saja !”

Bercampur baur terdengar suara orang banyak, pelayan rumah

makan Hian-kok-lauw merasa kewalahan buat membendung arus

manusia ini, mereka hanya mampu berteriak-teriak.

“Loteng tingkat kesatu dan loteng tingkat kedua cuma buat

tamu2 yang hendak memesan hidangan istimewa, tidak disediakan

untuk kalian ! Kalau kalian hendak memesan bakmi kering, duduklah

di bagian bawah,”

Para pengacau itu semakin gaduh terdengar suaranya.

“Siapa bilang kami mau makan bakmi kering ?” teriak seorang.

“Kami hendak memesan makanan2 istimewa !” Berteriak seorang

lainnya.

“Lekaslah kita naik ke atas !”

“Hayo, serbu !”

Terdengar derap langkah kaki yang ramai, pedulu-dulu mereka

menaiki tangga loteng, di tengah jalan mereka bersampokan

dengan si kasir rumah makan Hian-kok-lauw.

“Berhenti !” hardik si kasir dengan suara keras. Tapi tidak

berhasil, dia malah lantas jatuh terguling maka dengan begitu,

sebentar saja penuhlah loteng tingkat kesatu dan kedua dengan

puluhan orang. Mereka terdiri dari kaum pengemis yang berpakaian

compang camping dan sangat kotor.

Beberapa orang tamu yang sedang menikmati kelezatan

makanan Hian-kok lauw, menyaksikan datangnya rombongan kaum

pengemis ini, tahu bahwa segera akan terjadi kekacauan yang lebih

hebat, maka buru2 pada angkat kaki meninggalkan rumah makan

itu.

Di dalam sekejap mata tamu2 sudah bersih dari ruangan rumah

makan. Hian-kok-lauw, hanya tinggal Ie Lip Tiong dan orang tua

berpakaian dekil yang masih tetap duduk di tempatnya dengan

tenang2 saja.

Puluhan kaum pengemis menarik kursi dan meja, dengan suara

yang gaduh, mereka menggebrak2 meja sambil memanggil2

pelayan.

“Hei, mana pelayan rumah makan ?!”

“Mana menu makanan !”

“Bistik komplit yang istimewa !”

“Hayo mana pelayanan Hian-kok-lauw yang terkenal memuaskan

itu ?”

Para pelayan rumah makan saling pandang belasan kaum

pengemis adalah anggota Kay pang yang tidak boleh diganggu

gugat. Entah dengan alasan apa, hari ini mendadak mereka

mengacau rumah makan Hian-kok-lauw.

Kasir Hian-kok-lauw bangun berdiri, dihadapinya kaum pengemis

itu dan berteriak :

“Siapa yang mengepalai rombongan ini ? Hayo lekas keluar !”

Kaum pengemis itu berteriak2 :

“Kami datang buat mengicipi makanan Hian-kok-lauw, bukan

hendak mengadakan pemilihan umum. Tidak ada yang menjadi

kepala disini !”

Kasir tersebut menjengek perlahan, lalu katanya :

“Untuk mengacau di sesuatu tempat, hendaknya kalian buka dulu

mata kalian biar lebar: Hian-kok-Iauw bukan tempat pelepas

kemarahan. Bukan tempat yang cocok buat kalian mengacau, tahu ?

Hayo segera turun semua.”

Seorang pengemis tua yang rupanya menjadi kepala rombongan

ini, lalu menampilkan diri.

“Eh,” Katanya. “Sejak kapan adanya peraturan baru yang tidak

memperbolehkan orang duduk di kursi Hian-kok-lauw ?”

Kasir itu menatap tajam pengemis tua yang baru berkata tadi.

“Heh, heh, …” “Jadi rupanya kau yang mengepalai rombongan ini

? Katakanlah, apa maksud tujuan kalian ?”

“Kami hendak menikmati lezatnya santapan istimewa dari rumah

makan Hian-kok-lauw, lain tidak !” berkata pengemis tua itu.

“Bah ! Tentunya ada orang yang memberi petunjuk di belakang

kalian. Katakanlah, siapa dia ?” Si kasir Hian-kok-lauw membentak

semakin nyaring suaranya.

Si pengemis tua mengeluarkan uang perak. diperlihatkannya

kepada kasir itu seraya katanya :

“Inilah yang memberi petunjuk kepada kami untuk datang ke

rumah makan Hian-kok-lauw. Kau sudah tahu?”

Kasir itu marah besar. Dia berteriak keras :

“Pergi ! Enyah! Semua enyahlah lekas dari tempat ini ! Hari ini

Hian-kok-lauw tidak menjual makanan.”

“Eh, kalau begitu kalian terlalu tidak pandang mata kepada kami

kaum pengemis !”

Kekuatan yang berada di belakang rumah makan Hian-kok-lauw

juga berupa suatu kekuatan yang besar. Adanya pengacauan kaum

pengemis itu membangkitkan hawa amarah si kasir, segera dia

mengeluarkan tantangan :

“Kami tidak takut kepada kaummu !”

Belasan pengemis yang berada di tempat itu segera bangkit dari

tempat duduk mereka, suatu tantangan untuk kaum pengemis.

Mereka sudah bersiap-siap hendak merusak rumah makan ini.

Tiba tiba……

Orang tua kumal menggapaikan tangannya ke arah para pelayan

: “Eh, mana makanan yang kupesan ?”

Pelayan itu sedianya sudah mau membawa makanan yang telah

siap dimasak itu, tapi adanya kekacauan dengan sendirinya telah

menangguhkan pengiriman. Tentu saja dia tidak tahu bahwa orang

tua berpakaian kumal inilah yang menjadi biang kerok. Mendapat

teguran tadi, segera lari, tentu saja dengan menyertai makanan

yang sudah dipesan.

Si kasir berkata, bahwa hari itu, Hian-kok-lauw tidak

menyediakan makanan, dan di depan mata mereka, pelayan rumah

makan lari terburu2 dengan makanan yang masih mengepulkan

asap. Lagi2 terjadi kegaduhan, mereka bersorak sorai ramai sekali.

“H a a a . . . . Pembohong besar . . . Lihat, apa itu yang tersedia

di atas piring kalau bukan makanan ? Berani kau mengatakan Hiankok-

lauw tidak menjual makanan ?”

“Betul. Pukul saja si krempeng ini !”

“Hajar…..”

Terdengar suara pring pring prang prang, meja kursi

diterbalikkan piring dan mangkuk beterbangan. Keadaan seluruh isi

Hian-kok-lauw menjadi kacau.

Beberapa diantaranya malah sudah hendak menerjang si kasir

kurus kering itu.

Tiba2 melesat satu bayangan, gesit sekali datangnya orang ini,

dalam sekejap disitu telah bertambah seorang berpakaian mewah,

potongan badannya tinggi besar, dia menghadang di depan kasir

rumah makan, menghadapi pengemis2 itu, dengan merangkapkan

kedua tangannya lebih dulu memberi hormat kepada semua

pengemis itu.

“Segala sesuatu dapat diselesaikan secara damai, jangan kalian

mengambil sesuatu tindakan yang terlalu lancang “

Rangkapan kedua tangan laki2 tinggi besar ini memberi tekanan

yang hebat membuat beberapa orang pengemis jatuh terjungkang.

Itulah tekanan suatu tenaga dalam tingkat tinggi !

Adanya demontrasi orang ini tentu saja lantas mengejutkan

semua pengacau, para pengemis diam tidak berkutik. Keadaan di

ruangan itu sementara dapat ditenangkan kembali.

Maka laki2 tinggi besar tadi memandang kasirnya :

“Apa sebetulnya yang telah terjadi ?” Dia mengajukan

pertanyaan.

Sang kasir lantas menceritakan sebab musabab dari terjadinya

huru hara disitu, dia bercerita dengan tangannya bergerak gerak

pada akhirnya dia mendekatkan mulutnya, ke telinga orang

berpakaian mewah itu, mengucapkan beberapa kata perlahan,

matanya mengerling ke arah orang tua berpakaian dekil yang duduk

tidak jauh dari Ie Lip Tiong, Dapatlah dikira kira, tentunya sang kasir

sedang memberi pengaduan tentang adanya si pakaian dekil

kepadanya.

Laki2 tinggi besar dengan pakaian mewah adalah pengurus

rumah makan Hian-kok-lauw. Namanya Pak Gendut Lauw Can Cun.

Memiliki ilmu kepandaian tinggi, secara tak langsung, dia adalah

pemimpin perkumpulannya untuk cabang kota Han Yang.

Menerima laporan kasirnya, Lauw Can Cun tampak segera

menganggukkan kepala tanda mengerti, apa yang menyebabkan

sampai terjadinya keonaran.

Dengan wajah yang membuat suatu senyuman palsu, Lauw Can

Cun berkata kepada rombongan pengemis :

“Kepada semua saudara pengemis di kota ini, aku Lauw Can Cun

memperkenalkan diri, sebagai pengurus rumah makan Hian-koklauw.

Aku wajib menjaga ketenangan dan keamanan rumah makan.

Langkah kalian yang merusak dan menerjang meja dan kursi tidak

dapat dibenarkan. Barusan aku ada sesuatu urusan, jadi terpaksa

tidak bisa berada di dalam perusahaan untuk sementara. Atas

kelancangan dan kekurang ajaran para pembantuku, dengan ini aku

Lauw Can Cun meminta maaf. Sungguh menyesal, sampai terjadi

bentrokan yang seperti ini. Sebagai hari perkenalan, Hian-kok-lauw

memberi kesempatan kepada kawan kawan pengemis untuk

mendapat servis istimewa. Hari ini, Hian-kok-lauw khusus hendak

melayani kawan2 dari kaum pengemis. Silahkan, silahkan, silahkan

memilh makan. Kami tidak memungut rekening. Hari ini, Hian-koklauw

terbuka untuk umum bebas makan dan gratis.

Adapun maksud dan tujuan kaum pengemis sampai terjadinya

huru hara di rumah makan Hian-kok-lauw ini ialah karena hendak

makan dan minum gratis. Dengan sendirinya, janji Lauw Can Cun

yang mengatakan tidak akan memungut bayaran segera masuk ke

dalam lubuk hati mereka.

Tentu saja rombongan itu diam bungkam.

Malu untuk meneruskan keonaran. Masing masing mengatur

tempat duduk, membenarkan letak duduknya meja kursi yang sudah

terbalik balik tadi.

Beberapa pelayan maju menyodorkan menu makanan.

Terjadi lagi sedikit kegaduhan, mereka pada berebutan memilih

makanan makanan yang seumur mereka belum pernah

mengecapnya.

Pengemis tua yang mengepalai rombongan ini meneriaki kawan

kawannya:

“Jangan berisik. Tidak perlu memusingkan diri. Tolong saja

sediakan makanan yang sama dengan tuan itu.”

Dia menunjuk makanan yang ada di meja orang tua berpakaian

dekil.

Maka, di dalam waktu yang amat singkat pelayan pelayan sudah

membawakan makanan khas Hian-kok-lauw.

Untuk manusia biasapun belum tentu dapat menikmati masakan2

Hian-kok-lauw. Apalagi kaum pengemis gelandangan yang hidupnya

sengsara, mengimpipun mereka belum pernah dapat

membayangkan, kalau hari ini bakal mendapat banyak makanan

lezat dengan gratis lagi, maka mereka melahap setiap makanan

dengan rakus sekali.

Menyaksikan kerakusan mereka, Lauw Can Cun hanya tersenyum

geli. Dia malah memberi perintah kepada pelayannya untuk lekas

menyediakan arak, sementara itu ia diam diam sudah mendekati Ie

Lip Tiong, mengajak si pemuda bercakap cakap.

“Saudara ini rupanya agak merasa terganggu bukan ?” Katanya,

“Maaf, disini aku meminta maaf. Mari kita menenggak arak

perkenalan.” Ternyata Lauw Can Cun mulai menaruh curiga, dengan

cara ini, dia hendak membuktikan betul tidaknya Ie Lip Tiong

merupakan salah seorang dari komplotan pengacau rumah makan.

Ie Lip Tiong telah membikin persiapan, dia membawakan gerak

gerik seorang yang sudah hampir mabuk, menerima tawaran toas

itu dia segera menyambutnya dengan kata2,

“Bagus. Arak bagus. Kuterima baik salam arak perkenalan.”

Dia mengangkat tinggi cawan araknya.

Lauw Can Cun memegang keras cawan dengan cepat membentur

cawan Ie Lip Tiong.

“Mari kita keringkan secawan arak ini !” Dia berkata. Benturan

tadi disertai dengan tenaga dalamnya.

Berbareng dengan datangnya cawan orang itu, Ie Lip Tiong

dapat merasakan adanya benturan tenaga yang teramat kuat,

bagaikan dipukul oleh benda ratusan kati, tubuhnya terjengkang

roboh.

“A a a a y a. . . . ,” Hanya kata2 ini saja yang dapat keluar dari

mulutnya,

“Ha, ha . . .” Lauw Can Cun tertawa. Dia meraih tubuh Ie Lip

Tiong yang hampir menyentuh tanah dengan gerakan cepat. Tuan

ini sudah mabuk rupanya !”

Dengan sangat hati-hati, dia mendudukkan le Lip Tiong. Dia

selesai membikin percobaan, anak muda ini ternyata tidak

berkepandaian menurut dugaanya. Inilah putusannya yang salah.

Ie Lip Tiong bersyukur kapada kecerdasan otaknya yang dapat

bertindak cepat. Dia berhasil melepaskan diri dari kecurigaan Lauw

Can Cun. Disamping rasa girangnya, Ie Lip Tiong juga terkejut atas

tenaga dalam yang dimiliki oleh Lauw Can Cun, kekuatan si pemilik

rumah makan Hian-kok-lauw ini jauh berada di atas 10 jago Sangleng

The chung. Bukan makanan empuk baginya.

Ie Lip Tiong meragukan keselamatannya orang tua berpakaian

kumal, dapatkah meloloskan diri dari kekejaman Lauw Can Cun.

Seperti menguji kekuatan Ie Lip Tiong-Lauw Can Cun mendekati

si orang tua dekil mengacungkan cawan arak dan berkata:

“Maaf. . Maaf. .” Karena keterlambatanku, para pelayan yang

tidak mempunyai mata itu melanggar kehormatanmu. Dengan ini

aku Lauw Can Cun mengucapkan maaf.”

Orang tua dekil mempeletek sebelah matanya dengan

menunjukkan sikapnya yang tidak memandang mata, dia berkata :

“Apa ? Hendak mengadu cawan ?”

Mengangkat cawan araknya, orang tua itu membentur cawan

Lauw Can Cun.

Tiingggggg…….

Terjadi sedikit keanehan, kedua cawan itu tidak pecah. Tapi hasil

dari benturan kedua tenaga raksasa membuat tubuh Lauw Can Cun

yang tinggi besar melayang ke atas ruangan rumah makan,

langsung meluncur ke belakang, cepat sekali, tubuh itu membentur

tembok bangunan.

Lauw Can Cun tidak berhasil menekan kekuatan orang tua

berpakaian dekil, dia terlempar jatuh, tanpa mempunyai kekuatan

untuk bangun kembali.

Para pengemis bertepuk tangan, mereka memuji kekuatan

jagonya.

Ie Lip Tiong yang terkejut, dia tidak dapat menduga asal usul

orang tua berpa kaian dekil, tapi yang jelas, bukanlah jago dari

kaum pengemis.

Di saat itu, orang tua berpakaian dekil sudah meletakkan cawan,

dia memainkan sumpitnya diputar begitu rupa, tiba2 slep, tampak

gerakannya bagai sedang menjepit di tengah udara yang tidak ada

apa2nya, terarah dan ditujukan ke tempat Lauw Can Cun terjatuh.

Dengan geram dia membentak :

“Bangun !”

Lagi2 terjadi keanehan. Begitu patuh Lauw Can Cun kepada

perintah itu, tubuh nya lantas terlihat lompat bangun. Mengikuti

perputaran sepasang sumpit si orang tua berpakaian dekil, dari

jauh, tubuh besar itu juga terputar putar di tengah udara, lalu

perlahan lahan melayang layang dengan ringan, seolah olah benda

kapas saja.

Kepandaian yang sangat menakjupkan !

Tepuk sorak para pengemis yang barusan terdengar riuh

mendadak terhenti, Terpesona mereka agaknya.

Demikianpun keadaan Ie Lip Tiong, hampir dia tidak percaya

kepada kenyataan yang terbentang di depan matanya. Wajahnya

berubah menjadi pucat. Inilah ilmu kepandaian hebat, tidak

mungkin dia dapat memadainya. Ilmu kepandaian si orang tua dekil

masih jauh berada di atas dirinya.

Manakala orang tua berpakaian dekil itu menjatuhkan Lauw Can

Cun, Ie Lip Tiong segera coba mengingat ingat nama-nama para

ketua partai yang ada. Dia rnenduga kepada salah satu dari ketua

partai. Tentu saja, mengingat ilmu kepandaian yang begitu hebat,

kedudukan orang tua ini dengan sendirinya bukan biasa lagi.

Tentunya merupakan salah satu orang dari sekian banyak ketua

partai yang sudah mengasingkan diri.

Sebelum menemukan jawaban, lagi2 Ie Lip Tiong dikejutkan

olehnya. Tidaklah disangka sama sekali, bahwa orang tua ini

memiliki ilmu kepandaian yang begitu hebat. Dia dapat

menggunakan sepasang sumpit, menarik tubuh orang yang terpisah

jauh. Tidak satupun dari para ketua partai yang memiliki ilmu

kepandaian seperti dia. Dan Dua Belas Duta Istimewa Berbaju

Kuning pun bukan pula tandingannya.

Mungkinkah salah satu dari Dua Belas Raja Silat Sesat?

Ie Lip Tiong masih memikirkan asal usul si orang tua berpakaian

kumal itu, tiba2 tampak orang tersebut menggerakkan sepasang

sumpitnya, digoyangkannyai sebentar dan menunjuk ke arah

dimana Ie Lip Tiong sedang duduk, ini berarti bahwa dia hendak

melemparkan tubuh Lauw Can Cun ke tempat meja Ie Lip Tiong.

Betul saja, tubuh Lauw Can Cun yang berputar di udara itu diam

sejenak dan berhenti, kemudian meluncur ke arah pemuda she Ie

yang masih tenang2 duduk.

Mudah diterka, apa yang menjadikan tujuan orang tua

berpakaian dekil itu. Dia rupanya hendak mengetahui dasar ilmu

kepandaian Ie Lip Tiong. Adanya pemuda she Ie yang tidak mau

menyingkir dari tempat keributan besar tentu saja telah menarik

perhatiannya.

Adanya penyerbuan puluhan pengemis yang memenuhi ruangan

loteng tingkat kesatu dan tingkat kedua dari rumah makan Hiankok-

lauw telah mengejutkan semua orang. Semua yang ada di atas

loteng segera menyingkir jauh2 hanya Ie Lip Tiong sendiri yang

masih duduk terus, malah menyaksikan keramaian hingga selesai.

Tentu saja menarik perhatian orang tua dekil itu. dan sekarang dia

hendak menguji kepandaian si pemuda.

Tubuh Lauw Can Cun melayang dengan cepat, lebih cepat lagi

adalah gerakan Ie Lip Tiong yang membuang dirinya ke lantai

rumah makan. Tidak lupa ia mengeluarkan jeritan ngeri,

“Aaaaa . . . “

Buummm …. Tubuh Lauw Can Cun yang gemuk itu jatuh di atas

meja Ie Lip Tiong, merusak semua piring mangkuk, mematahkan

kaki meja kemudian jatuh di lantai.

Orang tua berpakaian dekil mengeluarkan suara seram, lalu

tampak dia mengeluarkan sebuah panji kecil berwarna hitam, pada

panji itu ada terlukis seekor naga dengan kedua mata yang tumbuh

di sebelah kiri kepala.

“Siapa yang tidak kenal dengan panji kebesaranku ?” Dia

bergeram lagi.

Ie Lip Tiong belum menyantelkan dirinya dengan Co Khu Liong.

Dia terkejut di dalam hati. Tapi tidak perlu khawatir akan

keselamatan dirinya.

Berbeda dengan Ie Lip Tiong, keadaan Lauw Can Cun

sesungguhnya sangatlah mengenaskan. Dia merayap bangun,

memben tur-benturkan kepalanya pada lantai rumah makan,

dengan suara gemetar lalu berkata :

“Maafkan Lauw Can Cun yang tidak mempunyai mata, sehingga

tidak mengenali Co Khu Liong cianpwe yang mulia. Dengan ini Lauw

Can Cun menerima salah.

Si Raja Bajingan Co Khu Liong mengeluarkan suara dingin :

“Kau belum pernah bertemu dengan aku, tentu saja tidak kenal

kepadaku. Mana bisa kau dipersalahkan ? Kau tidak salah.”

“Terima kasih . . . . Terima kasih . .” Lagi2 Lauw Can Cun

membentur benturkan kepalanya kepada lantai.

Wajah si Raja Bajingan Co Khu Liong semakin keren.

“Lauw Can Cun.” Dia langsung memanggil nama si pengurus

rumah makan Hian-kok-lauw.

“Berani kau menyalah gunakan kekuasaan yang diserahkan

kepadamu ?”

Sekali lagi wajah Lauw Can Cun berubah menjadi pucat. Dengan

sujut dia tetap berusaha hendak membela diri.

“Lauw Can Cun mengurus Hian-kok-lauw dengan sungguh2

malah sekarang sudah menjadi rumah makan ini sebagai rumah

makan terbesar di kota Han Yang, belum pernah Lauw Can Cun

menyalah gunakan kekuasaan yang dipercayakan. Bila ada sesuatu

kesalahan, Lauw Can Cun bersedia menerima hukuman.”

“Huh !” Co Khu Liong berdengus. Menunjuk ke arah merek

bertulisan. Tamu yang hanya memesan bakmi kering dilarang

menaiki tangga loteng ini. “Peraturan ini bukankah dibuat juga

olehmu ?”

Lauw Can Cun tidak berani membantah dalam hal ini, dia

membenarkan pertanyaan itu.

“Ya, tapi hal ini boanpwe terpaksa melakukannya demi untuk

menjaga kepentingan perusahaan, tidak sedikit dari para bergajul2

di kota Han Yang yang . . . .”

“Aku tahu,” potong Co Khu Liong. “tak perlu kau memberi

keterangan yang panjang lebar. Ringkasnya, kau hendak menambah

penghasilan Hian-kok-lauw, bukan ?”

“Inilah yang menjadi tujuan utama Lauw Can Cun.”

“Bagus.” Co Khu Liong memuji “Kau pandai mengurus

perusahaan. Berapa banyak keuntungan yang sudah kau kumpulkan

?”

“Untuk tahun ini saja, Lauw Can Cun sudah berhasil

mengumpulkan keuntungan sebanyak ratusan ribu tail perak, semua

sudah dibukukan atas nama majikan yang ada pada Rumah

Keuangan Kim tauw san Ciam Chung,”

Rumah Keuangan di jaman dahulu mempunyai fungsi yang sama

dengan Bank pada jaman sekarang. Rumah Keuangan Kim tauw

san Ciam Chung boleh diartikan sama dengan Bank Kim tauw san

Ciam Chung.

Co Khu Liong mengeluarkan suara dari hidung, lalu katanya lagi :

“Dan, kau pribadi juga tentunya sudah berhasil menggaruk

sabagian, bukan ?”

Badan Lauw Can Cun gemetaran.

“Tidak . . . Tidak . . . Lauw Can Cun mana berani . . . .” Dia

membela diri. “Semua sudah dibukukan, Co locianpwe boleh saja

periksa pembukuan Hian-kok-lauw.”

Co Khu Liong masih tidak mau percaya. Dia menoleh ke arah Ie

Lip Tiong.

“Hei. anak muda ….?” Panggilnya dengan nada keren. Tentunya

kau tahu, berapa yang baru kau bayar atas rekening makananmu ?”

Ie Lip Tiong membungkukkan badan.

“Delapan tail perak.” jawabnya.

Co Khu Liong berdengus keras, menoleh ke arah Lauw Can Cun.

Dengan dingin dia mengadakan teguran:

“Berapakah harganya yang telah ditetapkan oleh majikanmu

untuk makanan2 seperti itu ?”

Wajah Lauw Can Cun mendadak pucat pasi, dengan badan yang

menggigil keras, dia menjawab :

“Seharusnya empat tail perak. Tapi mengingat adanya . . . . “

“Aku tidak mau tahu semua persoalan lain !” bentak Co Khu

Liong “Pendeknya jawablah secara terus terang, berapa banyak

uang hasil korupsi yang sudah kau gelapkan ?”

Lauw Can Cun mendapat ujian yang terberat. Dia belum

mempunyai rencana lain untuk mengelakkan pertanyaan ini.

“Hmm,” Co Khu Liong berdehem: “Di depanku, ada lebih baik

kalau kau berterus terang saja !”

“Cianpwe telah melakukan perjalanan jauh, tentunya sudah

lelah.” Lauw Can Cun coba mengalihkan persoalan. “Mari istirahat

dulu, biarlah disana saja boanpwe akan ceritakan angka-angka yang

cianpwe kira perlu diketahui.”

Co Khu Liong mengeluarkan suara dari hidung ;

“Hmm ……. Disinipun sama saja. Sebab sudah ada kabar

selentingan mengenai kecurangan yang kau perbuat, maka

majikanmu mengutus aku suruh menyelidiki kemari. Dan seperti apa

yang diberitahukan orang, betul saja kau ada main di dalam rumah

makan Hian-kok-lauw ini. Kukira tidak perlu aku harus mengecek

penbukuanmu lagi. Hayo, bersiap-siaplah ikut aku pergi.”

Kemana meraka akan pergi ? Inilah yang diharapkan Ie Lip

Tiong, oleh sebab itu ia memasang kuping lebih tajam.

Co Khu Liong membebaskan orang tawanannya, dia membentak

Lauw Can Cun.

“Lekas bersiap-siap, sebentar lagi kau harus meninggalkan kota

Han Yang !”

Kemudian, menghadapi rombongan pengemis, orang tua

berpakaian dekil itu memberi perintah :

“Nah, sekarang kalian boleh tunggu aku di tempat yang sudah

kujanjikan.”

Rombongan pengemis itu seperti setan kelaparan, adanya

keramaian dan semua demonstrasi barusan tidak mengganggu

jalannya perpaduan gigi mereka, sementara telinga mereka bekerja

mengikuti acara cerita. mulut merekapun tanpa berhenti terus

dikerjakan mengganyang habis semua makanan makanan yang

tersedia di atas meja.

Itu waktu, sebagian besar dari para pengemis itu sudah kenyang

makan. Mendengar teriakan sang Raja Bajingan, berderet mereka

angkat kaki, meninggalkan rumah makan Hian-kok-lauw, Hingga

dalam sekejap mata, tempat itu telah menjadi sunyi sepi. Beberapa

orang yang berada disana tidak berani bernapas keras keras.

Waktu tiba giliran Ie Lip Tiong harus meninggalkan rumah makan

itu, dia memanggil pelayan dan berteriak;

“Pelayan mana perhitunganku?”

Tidak satu pelayanpun yang berani menerima uang si pemuda.

Semua mata ditujukan kepada Co Khu Liong dan Lauw Can Cun

dengan bergantian, tentu saja mereka ragu ragu. Berapa yang

harus mereka terima dari tangan Ie Lip Tiong? Tidak ada yang

berani maju, mengingat selisih perbedaan harga yang ditetapkan

oleh perusahaan dan harga patokan yang ditetapkan oleh Lauw Can

Cun yang terlalu besar.

Si Raja Bajingan Co Khu Liong tertawa, dia mengeluarkan

putusan :

“Tidak usah terima uangnya. Biar aku yang mentraktir.”

Ie Lip Tiong lekas2 mengucapkan terima kasih, katanya :

“Merepotkan cianpwe saja”

Dia memberi hormat dan hendak meninggalkan tempat itu.

Tubuh Co Khu Liong bergerak, tiba2 saja sudah berada di

samping Ie Lip Tiong dengan merendengkan jalannya dengan

pemuda itu si Raja Bajingan berkata :

“Boleh kita bicara sebentar ?”

Ie Lip Tiong tidak berani menolak permintaannya kali ini.

“Cianpwe ada petunjuk apa untukku ?” sambil berkata dia

menganggukkan kepala.

“Mari kau ikut aku.” ajak Co Khu Liong dan lantas menyeret

tangan Ie Lip Tiong.

Mengetahui bahwa selisih ilmu kepandaiannya yang tidak

mungkin dapat memadai si Raja Bajingan, Ie Lip Tiong harus

mencari jalan lain. Dia membiarkan dirinya digandeng oleh orang

tua itu.

Co Khu Liong menyeret Ie Lip Tiong meninggalkan rumah makan,

melalui lorong lorong jalan yang sepi, mereka menuju ke arah luar

kota. Beberapa kuburan tampak di kedua sisi jalan, kini mulailah

mereka memasuki daerah kuburan.

Ie Lip Tiong mendapat firasat buruk, dia hendak melepaskan diri

dari kekangan orang tua itu, tapi tidak ada jalannya. Cengkeraman

Co Khu Liong begitu keras, kewaspadaan orang itu begitu tinggi,

ilmu kepandaian silatnya juga luar biasa sekali. Suatu hal yang amat

mustahil, bila dia dapat melarikan diri dari samping si Raja Bajingan.

“Cianpwe hendak membawa boanpwe kemana ?” tanya Ie Lip

Tiong.

“Maukah kau mengerjakan sesuatu ?” balas tanya Co Khu Liong.

“Mengerjakan sesuatu ? Apa maksud ucapan cianpwe ini ?” Ie Lip

Tiong belum mengerti akan maksud tujuan orang dari sebab itu ia

bertanya demikian.

“Ng ! Dan kau akan segera dapat menarik beberapa rupa

keuntungan darinya “

“Apa yang harus boanpwe lakukan ?”

“Mudah sekali. Tapi harus menggunakan kepintaran otakmu. Hei

anak muda, tahukah kau siapa aku ini sebetulnya ?”

“Cianpwe adalah kawan baik dari rnajikan pengurus rumah

makan Hian-kok-lauw yang bernama Lauw Can Cun tadi. Bukankah

begitu ?”

“Namaku Co Khu Liong” Si Raja Bajingan memperkenalkan diri,

“Pernah dengarkah kau nama ini ?”

“Aaaaaaa , . . . “ Co Khu Liong cianpwe ? jadi cianpwe adalah

salah seorang dari dua belas Raja Silat Sesat yang ternama itu ?”

“Heeee . . . heee . . . hee . . . . “ Co Khu Liong tertawa. Kau tidak

takut kepadaku ?”

“Mengapa harus takut ?” sahut Ie Lip Tiong. “Boanpwe tidak

melakukan sesuatu kesaLahan apapun !”

“Bagus ! Sudah kau saksikan tadi, bukan? Bagaimana

ketakutannya Lauw Can Cun begitu tahu siapa aku. Tidak berani dia

berkutik sedikitpun. Apa kau tidak merasa heran ?”

“Sebelumnya, boanpwe memang agak bingung. Tapi kemudian,

setelah mengetahui hubungan cianpwe sebagai kawan majikannya.

Rasa heran itu lenyap begitu saja dengan sendirinya !”

“Ilmu kepandaian Lauw Can Cun sangat tinggi, kau tentu dapat

membuktikan sendiri.”

“Tapi mana mungkin dapat memadai ilmu kepandaian cianpwe ?”

“Hm, ilmu kepandaian sebegitupun sudah cukup dapat merajai

rimba persilatan.”

“Boanpwe mulai ketarik.”

“Terus terang kukatakan kepadamu, bahwa majikan Lauw Can

Cun berkepandaian lebih tinggi berlipat lipat dari aku. Dia ada

memiliki banyak cabang perusahaan misalnya perkebunan teh,

persewaan kuda, Rumah Keuangan, Rumah Makan dan macam

macam lagi cabang2 perusahaan lainnya. Pangurus2 dari

perusahaan2 itu tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kulihat, kau

berkepandaian cukup lumayan, maukah kucalonkan untuk

memimpin salah satu anak cabang perusahaannya ?”

“Sangat menarik sekali” Berkata Ie Lip Tiong “Begitu besar

kekuatannya, seperti kekuatan partai ternama saja.”

“Kekuasaannya lebih besar dari setiap partai yang ada dewasa

ini,” Berkata Co Khu Liong.

“Lebih besar dari partai yang ada sekarang ? Kalau begitu

tentunya merupakan partai baru. Apakah nama partai itu?”

“Pernah dengar nama partai Raja Gunung ?”

Ie Lip Tiong menggoyangkan kepala.

“Nah, untuk memasuki partai, kau wajib melakukan sesuatu.”

“Apa yang harus boanpwe lakukan?” Ber tanya Ie Lip Tiong. Dia

sudah menduga kepada sesuatu yang buruk.

“Nah itu dia mereka datang.” Berkata Co Khu Liong.

“Tunggu ! akan kuselesaikan dahulu satu urusanku ini.”

Disana sudah berbaris rombongan pengemis yang tadi mengacau

di rumah makan Hian-kok-lauw. Mereka berjajar rapi di depan

sebuah makam yang megah. Itulah makam seorang pemimpin yang

sudah lama dilupakan orang.

“Aaaaa . . . . . Ie Lip Tiong berteriak kaget. “Kau memberi

perintah kepada mereka untuk menunggu disini?”

“Betul.” Co Khu Liong menganggukkan kepalanya. “Aku hendak

memberi persen atau serupa hadiah kepada mereka.”

“Dan memaksa mereka agar tidak menguwarkan cerita yang

terjadi di rumah makan Hian-kok-lauw barusan?”

“Nah, kaupun memiliki kecerdasan otak yang lumayan juga.” Co

Khu Liong memuji “Bagaimanakah pendapatmu untuk

menyelesaikan perkara ini?”

“Satu persatu, mereka disuruh bersumpah, agar tidak

membocorkan rahasia.”

“Hmmm. . . , keenakan!” Co Khu Liong mengeluarkan suara dari

hidung.

Di saat itu, dia sudah menghadapi rombongan pengemis tadi.

Rombongan pengemis itu melihat adanya sang pencipta

keonaran yang mempunyai banyak uang, tentu saja sangat

menggirangkan hati mereka. Serentak mereka bersorak.

Raja Bajingan Co Khu Liong berdiri di hadapan mereka, dengan

disunggingkan senyuman buatan, dia angkat bicara :

“Jumlah kalian 38 orang. Tidak satukah yang ketinggalan ?”

Pengemis tua yang mengepalai rombongan itu menampilkan diri,

dia buru2 menjawab:

“Betul. Tidak satupun yang ketinggalan.”

“Bagus. Kini aku hendak memberi persen dan kalian harus

berjanji tidak akan membocorkan apa yang sudah terjadi barusan.”

Dengan hormat, pengemis tua memberikan janjinya :

“Kami berjanji, tidak akan menceritakan kejadian di atas loteng

rumah makan Hian-kok-lauw barusan. Siapa yang melanggar janji

ini biarlah dia mati disambar geledek.”

“Bagus !” Co Khu Liong berkata. “Silahkan kalian berbaris rapi,

agar lebih mudah aku membagi-bagikan hadiah.”

Rombongan pengemis itu berbaris rapi, membuat setengah

lingkaran di depan makam bagus seorang pemimpin yang telah

dilupakan orang.

Co Khu Liong mulai menghitung jumlah pengemis itu, tiba2 dia

menunjukkan rasa herannya yang jelas.

“Eh”, serunya, “kenapa jadi lebih seorang? Berapakah jumlah

kalian yang datang ke rumah makan Hian-kok-lauw tadi ?”

“Tiga puluh delapan orang.” Berkata si pengemis tua.

“Tapi sekarang disini ada tiga puluh sembilan orang,” kata Co

Khu Liong dalam rupa heran.

Si pergemis tua yang mengepalai rombongan pengemis

melepaskan diri dari barisan, dia muai menghitung jumlah anak

buahnya. Dan seperti apa yang dikatakan oleh Co Khu Liong disitu

benar saja telah bertambah seorang. Bilamana mereka datang ke

rumah makan Hian-kok-Iauw berjumlah tiga puluh delapan orang,

kini jumlah itu meningkat menjadi tiga puluh sembilan orang.

Kemarahan pengemis tua itu naik memuncak, dia membentak :

“Hei. siapa yang tidak ikut gerakan tadi harus bersifat jantan,

lekaslah tinggalkan tempat ini !”

Tidak satupun dari tiga puluh delapan pengemis yang berbaris

disitu yang mau melepaskan diri dari barisannya.

Si pengemis tua bergeram lagi :

“Kurang ajar ! Ee, coba kalian bantu aku, periksa siapa yang baru

menyelundup masuk ?”

Mereka hanya saling pandang, cara inipun tidak berhasil

memisahkan si penyelundup.

Si pengemis tua berjingkrak2, 38 pengemis yang berbaris,

beserta dirinya menjadi 39 orang. Adanya tambahan seorang ini

akan menghilangkan sedikit rejeki mereka. Bagaimana dia tidak

marah benar?

Co Khu Liong lantas maju.

“Sudahlah.” Dia berkata “Tidak menjadi soal. Tiga puluh sembilan

orang ? Bagus-Akan kuberi hadiah yang merata, tanpa seorangpun

yang menerima lebih sedikit. Kelebihan seorang inipun akan kuberi

hadiah juga, sebab yang kukhawatirkan cuma kalau sampai kurang

seorang saja, sebab bisa bikin berabe aku. Nah, lekaslah sekarang

kalian berbaris lagi !”

Si pengemis tua balik ke dalam barisannya.

Raja Bajingan Co Khu Liong juga sudah lantas merogoh sakunya.

Tampak dia menggenggam sesuatu, dan tiba2, begitu cepat sekali,

dia menyebarkan benda dalam genggamannya, hingga hanya

terlihat sinar berkeredep2, dibarengi jeritan ketiga puluh sembilan

orang itu, tidak satupun yang luput dan kekejaman tangannya. Pada

bagian ulu hati mereka kemudian terlihat ada tertancap sebatang

jarum perak. Semua pengemis itu jatuh bergelimpangan dalam

waktu yang bersamaan.

Suatu pembunuhan massal !

“Aaaaa . . . .” Ie Lip Tiong berteriak.

“Kau membunuh mereka ?”

Tubuh Ie Lip Tiong melesat, dia hendak melarikan diri.

Gerakan Ie Lip Tiong sudah cukup cepat tapi gerakan Co Khu

Liong lebih cepat lagi. Begitu gerakan susulan ini melesat, dengan

mudah, dia sudah berhasil dapat mencengkeram tangan si pemuda.

“Jangan lari.” Dia mengancam.

“Aku . . . . Aku . . . . Aaaaa . . . .” Tiba2 tubuh Ie Lip Tiong

menjadi lemas, seolah-olah orang kena bokongan serangan gelap.

Derap napasnyapun lantas terhenti.

Bagian 2

Raja Bajingan Co Khu Liong mengadakan pembunuhan massal.

Dia menutup 39 jiwa para pengemis dengan jarum peraknya yang

berbisa. Setelah itu, Ie Lip Tiong melarikan diri. Dia marah; hanya

satu kali lompatan, dia berhasil menangkap kembali. Tapi sangat

disayangkan, di kala itu, entah mengapa, napas si pemuda

mendadak terhenti, tubuhnya lemas, tentu saja ada apa-apa yang

tidak beres.

Co Khu Liong dengan cepat melemparkan tubuh Ie Lip Tiong. Di

tempat ini sesungguhnya terdapat banyak gangguan, tapi dia tidak

dapat melihat jelas, dari mana datangnya penyerangan gelap yang

merenggut jiwa orang tawanannya, Karena itu, dia melejitkan diri,

lompat melesat tinggi sekali, sesampai di atas dia segera

mememeriksa keadaan de sekitar daerah kuburan itu, tapi tidak

seorangpun yang tampak ! Heran !

Saat itulah tiba2 terdengar Co Khu Liong mengeluarkan seruan

tertahan, satu gumpalan pasir tampak melayang ke arahnya,

datangnya dari bawah. Diamati debu dan pasir yang berterbangan

itu, terdapat juga dengungan senjata rahasia, 6 buah hui-to atau

golok terbang lantas mengancam jalan darah di tubuh Co Khu

Liong.

Co Khu Liong diserang orang secara menggelap.

Sebagai salah seorang dari 12 Raja Silat Sesat, Co Khu Liong

berkepandaian sangat tinggi. Di dalam keadaan yang seperti itu, dia

belum dapat membedakan, senjata macam apa sebetulnya yang

dipakai untuk menyerang dirinya. Kekuatan tangannya memang

hebat, huit ! Dia memukul pasir dan sen jata2 rahasia yang

menyerang dirinya.

Datangnya serangan gelap begitu cepat, 6 batang hui to

terpecah dalam 6 jurusan. Co Khu Liong berhasil menahan serangan

gumpalan pasir dan 5 batang golok terbang, tapi dia tidak dapat

mengelakkan sebilah yang datangnya paling belakangan, begitulah

plep ! Pantatnya telah dijadikan sarang pisau terbang itu.

Co Khu Liong menggeram lagi dan meletik tinggi, lebih hebat dari

!engkungan udang yang terbang dari dalam air, menjauhi tempat

berbahaya itu.

Mencari suatu tempat yang agak aman, Co Khu Liong meletakkan

kakinya. Dia membikin pemeriksaan.

“Hei!” Dia berteriak. Dan kini dia dapat melihat jelas siapa yang

telah membokong dirinya tadi, itulah bukan lain dari pada perbuatan

anak muda yang baru saja dia tangkap le Lip Tiong, “Kau ? !. . . .”

“Ha, ha, ha, ha…..” Ie Lip Tiong tertawa “Kau kena kutipu !”

Ternyata, mengetahui sulit untuk melepaskan dirinya dari

kekangan raja silat itu, Ie Lip Tiong menggunakan tipu daya.

Seolah2 mendapat serangan gelap, dia berteriak dan menutup

pernapasannya membawakan sikap seperti orang sudah mati, dia

menggelejot pada tubuh orang. Dan dia berhasil, Co Khu Liong

melepaskan pegangannya. Di saat itu, dia meraup pasir, menyerang

si Raja Bajingan. Tidak lupa, dia juga mengirim 6 bilah pisau

terbang.

Salah satu dari hui-to itu berhasil bersarang di bagian bebokong

orang.

“Hmmm . . . Hmmm . . . .” Co Khu Liong merasa ditipu mentah2

“Tidak kusangka, ilmu kepandaianmu setinggi ini.”

“Atas pujian Co Khu Liong cianpwe, aku mengucapkan banyak

terima kasih.” Ie Lip Tiong yang ingin mencari jalan untuk

melepaskan diri dari si raja silat ini, sekali lagi harus memutar otak

cepat.

“Sebutkan namamu !” Co Khu Liong membentak keras.

“Ha, ha, ha, ha . . . .”

“Tidak kusangka, kau telah mengintil lama. Tentunya sebelum

dari rumah makan Hian kok lauw, bukan ?”

“Tidak perlu kusangkal.”

“Bagus. Masih ada orang yang berani menantang aku ?”

“Selalu siap sedia.” sahut Ie Lip Tiong yang rupanya sudah jadi

besar kepala karena telah berhasil membokong tokoh silat yang

biasanya didewa-dewakan ini.

Co Khu Liong menengadahkan kepala, mengeluarkan pekikan

panjang yang agak mirip dengan suara lolongan serigala, tubuhnya

lalu tampak meluncur ke atas, dari sana dia merentangkan sepasang

tangannya, dengan sepuluh jari yang seperti cakar setan, menerkam

Ie Lip Tiong. Begitu galak lakunya dia, tak ubahnya seperti iblis

yang hendak menerkam mangsanya.

Menyaksikan stand lawan demikian bagus, Ie Lip Tiong jadi agak

gentar juga. Ternyata, hui to terbang yang nancap di tubuh orang

tua itu tidak mengganggu kelancaran geraknya,

Pemuda ini bergerak cepat, menggeser kaki, dengan tipu Kauw

Cu Tauw-tho atau Kera Kecil Mencuri Buah Tho, menyerang

pinggang Co Khu Liong.

Sebagai salah satu dari 12 Raja Silat Sesat Co Khu Liong kebal

kepada totokan biasa. Ia membiarkan saja pinggangnya di arah

lawan, masih meneruskan usahanya yang hendak mengkeremas

anak muda itu.

Ie Lip Tiong segera mengetahui akan adanya Kabut Hijau It-bok

Cin Khie yang mengitari bagian bagian tubuh Co Khu Liong, dia tahu

juga tidak mungkin akan berhasil, dan itu waktu, bila membiarkan

dirinya jatuh ke tangan musuh, pasti tidak akan ada obatnya untuk

menolong diri.

Langkah terbaik untuk rentetan cara menghadapi Co Khu Liong

adalah melarikan diri!

Cepat sekali, Ie Lip Tiong menarik tangan yang sudah terjulur

keluar, dibetotnya ke samping, menarik berat badannya, begitulah

dia berganti posisi, melayang lagi, meluncur kaki, dia ngiprit pergi.

Co Khu Liong menubruk tempat kosong, menyaksikan larinya

sang lawan, dia mengeluarkan gerengan. Cepat sekali, diapun

mengejarnya.

“Monyet kecil, kemana hendak kau lari!” sambil mengancam dia

terus membayangi arah perginya si pemuda.

Mereka berada di daerah kuburan, menggunakan pelindung2 itu,

Ie Lip Tiong main petak.

“Jangan takut.” Si pemuda mengejek. “Aku tidak akan lari.”

“Berhenti kau!” bentak Co Khu Liong.

“Bila kau berhasil menyandak, tentu aku akan segera berhenti.”

Ie Lip Tiong tanpa mengurangi kecepatan geraknya terus lari

bagaikan terbang.

Berulang kali Co Khu Liong menerkam lawan itu, tapi tidak

berhasil. Ie Lip Tiong terlalu gesit. Menerkam lagi. Lolos juga,

hampir dia menarik baju anak muda itu. Karena menahan rasa

kemarahannya yang dipermainkan, Co Khu Liong tidak berhasil

menguasai dirinya. Karena itu, dia menemukan kegagalan.

Dua orang berlari larian di sekitar daerah kuburan itu. Sering juga

Ie Lip Tiong menyembunyikan diri, Co Khu Liong harus memakan

waktu lama menemukannya.

Luka di paha juga mengganggu gerakan Co Khu Liong, darah

mulai mengetel jatuh. Dia terlalu banyak mengeluarkan tenaga,

maka memperbesar luka itu.

“Monyet kecil,” Co Khu Liong berteriak lagi. “Berani kau diam

disitu ?”

“Mengapa tidak ?” Betul-betul Ie Lip Tiong berhenti.

Co Khu Liong girang dia lompat terbang.

Ie Lip Tiong menggeser dirinya ke samping, lagi2 lari jauh ke

belakang.

Co Khu Liong terjingkrak jingkrak. “Hei, takut kepadaku ?

Mengapa melarikan diri ?” Dia berteriak.

“Disinilah letak keunggulanku, mengapa tidak boleh lari ?” Ie Lip

Tiong menggoda semakin riang. Dia lari lagi. “Lari itu memang !”

“Keunggulan kentutmu.” Co Khu Liong meneruskan

pengejarannya.

“Aha,” Ie Lip Tiong tertawa,“Tidak ada hui-to yang bersarang di

pantatku, maka mudah untuk mengeluarkan kentut. Tidak seperti

dirimu, masih dapatkah kau mengeluarkan hawa busuk di perut ?”

Perut Co Khu Liong dirasakan mau meledak, dia memiliki ilmu

kepandaian yang jauh di atas lawan itu, tapi begitu sulit untuk

menangkapnya, inilah yang menyebabkan dia marah sekali.

Berulang kali dia menggeram, menubruk si pemuda.

Mereka berputar di sekitar makam itu. Berputar lagi dua kali, Ie

Lip Tiong tertawa:

“Ha, ha,………Betul . . . . . Berputar lagi belasan kalipun sudah

cukup.”

Menangkap kata kata Ie Lip Tiong seperti itu, wajah Co Khu

Liong berubah. Dia menghentikan pengejarannya dia membentak :

“Monyet kecil, kau menggunakan hui to beracun ?”

Ie Lip Tiong menggoyang goyangkan kepalanya,

“Jangan takut.” Dia berkata. “Tidak ada racun pada golok

terbangku”

Co Khu Liong bergelar Raja Bajingan tentu saja mempunyai

aneka tipu bajingan yang serba komplit. Sering kali menggunakan

tipu-tipu yang jahat mencelakakan orang, Hari ini dia agak lengah,

sehingga dihajar oleh hui to Ie Lip Tiong, hui to masih bersarang di

pahanya. Segera terbayang golok terbang yang mengandung racun.

Semakin tegas keterangan lawan yang menyatakan tidak

mengandung racun, semakin tebal pula kepercayaannya, bahwa

golok terbang itu sudah ditaburi racun.

Kejadian ini dihubungkan dengan kenyataan, tidak mungkin Ie

Lip Tiong dapat menandingi ilmu kepandaiannya, mengapa dia tidak

melarikan diri ? Apakah yang ditunggu oleh si monyet kecil itu, bila

bukan menunggu bekerjanya racun yang sudah menyertai golok

terbang bersarang di paha ?

Aha- kepercayaan Co Khu Liong semakin tebal. Untuk menolong

diri sendiri dari gangguan racun musuh. Dia menghentikan

pengejarannya, membalikkan badan dan lari pulang ke arah kota:

Dia meninggalkan Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong mengeluarkan elahan napas panjang, dia berhasil

menggunakan tipu itu mengusir lawannya. Menunggu sampai

bayangan Co Khu Liong jauh betul, baru dia meninggalkan tempat

pembunuhan massal itu.

Raja Bajingan Co Khu Liong telah kembali di kota Han Yang,

cepat2 dia membubuhi luka di pahanya dengan obat anti racun.

Memeriksa sebentar golok terbang itu, betul2 tidak ada yang

membahayakan. Di dalam hati, dia mengutuk Ie Lip Tiong habis

habisan.

Lauw Can Cun sudah menunggu di kamar bukunya, komplit

dengan semua catatan-catatan keuangan rumah makan Hian-koklauw.

Co Khu Liong mendatangi pengurus rumah makan itu.

Tangannya menarik alat hitung, sambil mencocokkan catatan2 yang

telah tersedia, dia mulai membikin pemeriksaan.

Itu waktu, Ie Lip Tiong juga kembali ke rumah makan Hian kok

lauw. Dia tahu pasti, rumah makan inipun termasuk salah satu

cabang perusahaan dari si Raja Gunung, dia tidak dapat melepas

prakasa2 yang ada.

Mengintip dari suatu tempat yang agak jauh, Ie Lip Tiong dapat

mengikuti semua gerak gerik Co Khu Liong.

Itu waktu, Co Khu Liong sedang memusatkan semua

perhatiannya kepada catatan2 pembukuan rumah makan Hian-koklauw.

Dia tidak tahu, bahwa sepasang mata yang tajam terus menerus

mengikutinya.

Suara alat penghitung berketak ketuk cepat. Ternyata, bukan

saja pandai bermain silat, Co Khu Liong juga pandai menggunakan

alat pencari uang itu. Gemelitiknya biji biji alat hitung begitu nyaring

sekali, seolah mengetuk hati Lauw Can Cun yang mendampingi si

petugas pemeri ksa pajak.

Semakin lama, gerakan tangan Co Khu Liong semakin cepat,

sedari tadi, karena adanya luka yang terdapat di paha, dia tidak

duduk di kursi yang disediakan untuknya, berdiripun tidak

mengganggu kelancaran kerjanya.

Dengan sikapnya yang sangat hormat, Lauw Can Cun berkata :

“Co Khu Liong Cianpwe, tentunya kau lelah sekali, kursi sudah

tersedia di belakangmu.”

“Aku tidak suka duduk.” Berkata Co Khu Liong dingin. Dia

meneruskan hitungannya.

“Cianpwe tidak minum ?” Berkata lagi Lauw Can Cun. “Air itu

sudah mulai menjadi dingin.”

Co Khu Liong melirik ke arah gelas di samping sisinya, dan

menoleh ke arah Lauw Can Cun, dengan adem dia berkata :

“lnilah tawaranmu yang ketiga kalinya, agar aku mau meminum

air ini. Mungkinkah air obat yang mengandung racun ?”

“Oh . . . Bukan . . . bukan . . .” Badan Lauw Can Cun gemetaran.

“Siapakah yang berani meracuni cianpwe. Inilah air khusus

kusediakan kepada cianpwe, suatu tanda kehormatan dan patuhku

kepadamu.”

“Bagus. Kau sangat berbakti.” Berkata Co Khu Liong “Tunggulah

sampai aku selesai membikin perhitungan ini.”

“Baik . . . Baik . . . Baik . . . . .”

Terdengar lagi suara kletak kletiknya alat hitung itu. Jari2 Co Khu

Liong memain dengan lincahnya, begitu cepat sekali, dia membalik

balik lembaran catatan, tanpa menggunakan tangan yang

menghitung angka-angka pembukuan. Di dalam sekejap mata, dia

sudah selesai mencocokkan pembukuan rumah makan Hian-koklauw.

Menutup buku itu, memeriksa angka yang tercatat pada alat

penghitung, Co Khu Liong memandang ke arah Lauw Can Cun.

“Keuntungan bersih rumah makan berjumlah 578.381 tail perak.

Tapi perhitunganku mencatat angka yang berada di atas 1.200.000

tail perak. Dimanakah selisih angka yang ada ini ?” Co Khu Liong

mengadakan teguran.

Geleduk . . . Lauw Can Cun menjatuhkan dirinya, dia

meminta pengampunan, membentur benturkan kepalanya sampai

ke lantai.

Co Khu Liong tertawa dingin. “Kau sudah mengakui

kesalahanmu?” Dia bertanya.

“Boanpwe telah melakukan kesalahan besar, Harap

pengampunan cianpwe”

“Bangun !” Co Khu Liong memberi perintah.

Lauw Can Cun tidak berani membangkang perintah itu, dia

bangun kembali dengan badan yang masih gemetaran, seolah-olah

orang baru direndam di dalam air yang dingin sekali.

“Katakan,” Bentak lagi Co Khu Liong, “Dimana kau simpan uang

yang sudah kau korupsi ?”

Lauw Can Cun mengeluarkan uang kertas, diserahkan kepada Co

Khu Liong dan berkata :

“Hanya ini yang dapat kupersembahkan kepada cianpwe.”

Fungsi uang kertas di masa itu tidaklah jauh bedanya dengan

cheque pada jaman sekarang. Kertas yang diberikan oleh Lauw Can

Cun kepada Co Khu Liong adalah uang kertas dari Rumah Keuangan

Kim sam tauw Ciam-chung.

Co Khu Liong memeriksa uang kertas dari Rumah Keuangan Kim

san tauw Ciam-chung itu, angka yang tertulis adalah tiga ratus ribu

tail perak.

“Hm …” terdengar suara dengusannya yang tidak sedap

didengar. “Hanya angka seperti inikah yang hendak menolong

selembar jiwamu ?”

Dari kata2 ini, sudah terbukti bahwa Co Khu Liong bersedia

menerima uang sogokan. Hanya jumlah uang itu masih belum dapat

memuaskan dirinya.

Atas ketidak puasannya Co Khu Liong kepada angka 300.000 tail

perak tentu mengejutkan Lauw Can Cun. Tapi, pengurus rumah

makan Hian kok lauw boleh menjadi girang. Atas kesediaan tokoh

setengah dewa itu yang dapat disogok dengan uang. Cepat Cepat

dia merogoh saku lagi mengeluarkan lain lembaran uang kertas dari

Rumah Keuangan Kim tauw san Ciam-chung. Diserahkan lagi

kepada orang tua berpakaian dekil itu.

“Kecuali dua lembar uang kertas Kim tauw san Ciam-Chung ini,

boanpwe tidak mempunyai lain simpanan lagi.”. Dia berkata dengan

setengah menangis.

Co Khu Liong menerima uang kertas itu, meriksa angkanya dan

lagi2 tulisan dengan jumlah 300.000 tail perak. Wajahnya agak

ramah sedikit, menyimpan dua lembar uang kertas tadi dan

berkatalah ia sambil tertawa :

“Tidak ada simpanan lain ?”

“Sungguh mati.” Lauw Can Cun mengangkat sumpah. “Boanpwe

tidak mempunyai simpanan lain lagi selain itu semua.”

“Hee, hee, hee, hee, . . . . Kau menyimpan 600.000 tail perak di

Rumah Keuangan Kim tauw san Ciam chung, berapa banyakkah

bunga yang kau makan dari Rumah Keuangan ini? Dimana uanguang

tersebut ?”

“Cianpwe, “ Lauw Can Cun meratap. “Ketahuilah, bahwa

boanpwe dan keluarga harus memakan nasi. Uang itu digunakan

untuk menutup ketekoran sehari-hari.”

“Heeee, hee, hee, . . . . Baiklah.”

Co Khu Liong menganggukkan kepala. “Akupun tidak tega untuk

menguras semua hartamu. Biarlah, kau boleh bebas menggunakan

semua uang itu !”

Lauw Can Cun menjadi girang.

“Cianpwe bersedia menyimpan rahasia ini sehingga tidak

diketahui oleh Bapak Raja Gunung?”

“Legakanlah hatimu.” Berkata Co Khu Liong “Kecuali memuji

kegesitanmu di dalam mengurus Hian kok lauw, aku tidak nanti

akan menyebut soal keuangan rumah makan.”

Lauw Can menjatuhkan dirinya, berulang kali dia mengucapkan

terima kasih.

“Bangun !” Perintah Co Khu Liong. “Lekas kau persiapkan semua

perbekalan, ambil uang yang ada padamu dan lekas bikin persiapan

untuk kita pulang ke markas.”

“Aaaa . . . .” Lauw Can Cun berteriak.

“Jangan takut. Inilah perintah si Raja Gunung.” Berkata Co Khu

Liong. “Markas kita membutuhkan uang kontan. Usaha kita untuk

menghancurkan Su hay tong sim-beng mengalami kegagalan.”

“Aaaaa ….. “

“Hal ini bukan berarti hendak ditutup rumah makan Hian kok

lauw untuk selamanya, Co Khu Liong memberi keterangan

selanjutnya, tapi untuk memberi laporan, kau harus turut aku

pulang ke markas, tentu saja dengan membawa uang hasil

keuntungan. Tugasku untuk mengawal, bukan buat mengambil alih

kekuasaanmu. Kau yang menyerahkan uang2 itu kepadanya. Dan

untuk sementara, Hian kok lauw boleh diserahkan kepada

pembantumu.

Tiada alasan bagi Lauw Can Cun untuk menolak perintah ini.

Meninggalkan Hian kok lauw berarti meninggalkan sumber

rejekinya, ini sama pula artinya buang kesempatannya untuk

mengeduk keuntungan sebesar besarnya. Tapi apa daya, ini suatu

perintah ! Dan sebagai seorang anggauta partai yang taat kepada

perintah, dia tidak dapat menolak.

“Eh, kau mempunyal kenalan piauw kiok ?” Tiba2 Co Khu Liong

mengajukan pertanyaan.

Piauw kiok berarti perusahaan pengangkutan. Fungsinya

perusahaan pengangkutan atau piauw kiok ini sama saja dengan

pengawal keamanan. Di jaman the forces of low, kekuasaan berarti

peraturan, siapa yang berkuasa, dialah yang berwenang untuk

menentukan sesuatu. Rampok dan begal berkeliaran di gununggunung,

para pembesar negeri yang pandainya hanya memeras

rakyat jelata, tidak mempunyai itu kemampuan untuk menumpas

mereka. Maka perusahaan piauw kiok itu sangat dibutuhkan sekali.

Para piauwsu atau jago jago pengawal perusahaan itu adalah

pelindung keamanan jiwa dan harta, bagi mereka yang berani

membayar jumlah2 tertentu.

Co Khu Liong menanyakan perusahaan pengawal keamanan itu.

“Boanpwe kenal kepada Sun hong Piauw-kiok, Lauw Can Cun

memperkenalkan nama salah satu perusahaan pengangkutan di

kota Han Yang.

“Bagus, Lekas kau panggil kasirmu ! Kulihat dia boleh juga

diserahkan tugas memelihara rumah makan. Beritahu kepadanya,

bahwa kau harus pulang ke markas dan segala tugas harus

dipegang dengan baik. Kemudian, segera kau pergi ke Rumah

Keuangan Kim tauw san Ciam Chung, minta dari Rumah Keuangan

itu uang kontan, besok pagi2 kita berangkat.”

Lauw Can Cun ragu2.

“Mengambil semua uang kontan ? . . . “ Dia memandang orang

tua yang sudah menguras uang simpanannya. “Kim tauw san ciam

chung bukan Rumah Keuangan kecil. Tapi untuk menyediakan uang

kontan sebanyak itu, dalam kelonggaran waktu satu malam, kukira

agak sulit.”

“Yarg hendak kuambil hanya 500.000 tail perak milik

perusahaan,” Berkata co Kha Lio,ig. “Bukan 1.100.000 tail perak.”

“Uang 600.000 tail perak yang cianpwe miliki itu tidak hendak

diambil sekalian ?” Liaw Can Cun masih sayang kepada 600.000

yang sedang diobligasikan kepada Rumah Keuangan Kim tauw-san

Ciam chung.

“Tidak !” Sahut Co Khu Liong tegas. “Uangku itu masih hendak

kubungakan kepada Rumah Keuangan.”

Sedikit banyak, otak dari kedua orang itu masih mempunyai

persamaan persamaannya. Uang adalah benda yang menjadi

kejaran utama.

“Baiklah,” Akhirnya berkata Lauw Can Cun, “Segera akan

boanpwe hubungi Sun hong Piauw kiok.”

“Kau tahu, bagaimana kau harus berbicara kepada pengusaha

piauw kiok itu ?” tanya Co Khu Liong.

“Tentu tidak menyebut nama markas besar kita” sahut Lauw Can

Cun. “Dimanakah kita harus menaruh uang uang itu ?”

“Katakan saja kota Su shia di propinsi Wan Tiong.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Nah, kau boleh segera mengatur sesuatu yang ada

hubungannya dengan keberangkatan kita.”

“Cianpwe . . . .”

“Ng . . . . . . . Ada usul lain ?”

“Boanpwe kira, tidak baikkah kita mengawal saja uang itu

dengan tenaga kita sendiri?”

“Jumlah uang tidak sedikit, memakan tempat yang sangat

menyolok mata, berap banyakkah orangmu yang dapat

mengadakan pengawalan ?” tanya Co Khu Liong.

“Pegawai Hian-kok-lauw berjumlah belasan orang, ilmu

kepandaian mereka boleh juga diandalkan. Mereka boleh dipercaya,

khusus mendapat didikan boanpwe.” Lauw Can Cun memberi

keterangan.

“Si Raja Gunung tidak memberi perintah harus ditutup rumah

makan Hian-kok-Lauw. Berani kau membubarkan diri?”

Lauw Can Cun tidak mengemukakan usul lain. Betul betul dia

takluk kepada si Raja Bajingan ini.

“Nah, pergilah selesaikan tugasmu.” Berkata Co Khu Liong

akhirnya, menampak Lauw Can Cun dibuat bungkam oleh kata

katanya.

Lauw Can Cun memberi hormat, dia meminta diri, membalikkan

badan siap meninggalkan si Raja Bajingan.

“Tunggu dulu!” Tiba tiba Co Khu Liong memanggilnya kembali.

“Cianpwe ada perintah lain?” Lauw Can Cun harus taat kepada

perintahnya, sebab orang tua ini adalah pengawal khusus yang

dipercayakan oleh si Raja Gunung.

“Kau sudah membikin penjagaan di sekitar Rumah Makan Hiankok-

lauw ini?”

“Tidak.” Lauw Can Cun menjawab dengan terus terang. “Sampai

dengan saat ini. Orang2 belum ada yang tahu hubungan Rumah

makan Hian kok lauw dengan partai Raja Gunung. Maka itu kami

tidak mengadakan penjagaan khusus, yang mana malah mungkin

akan menarik perhatian orang kepada keadaan kita.”

“Bagus. Tapi hari ini terjadi pengecualian. Lekas beri perintah

kepada beberapa orangmu yang dapat dipercaya, mereka harus

segera meronda. Beri laporan kilat bila menemukan sesuatu yang

dicurigai.”

“Baik.”

“Kukira, malam ini kita bakal mendapat kunjungan musuh.”

“Kunjungan musuh ?” Lauw Can Cun, agak heran. “Dari mana

bisa mendadak datang musuh yang cianpwe maksudkan itu ?”

Co Khu Liong malu menyebut kejadian di makam pemimpin yang

sudah lama dilupakan orang, teringat kejadian itu, pahanya juga

mendidih kumat sakitnya. Dengan mengulapkan tangan dia

membentak :

“Jangan banyak tanya ikutilah apa yang kuperintahkan !”

Lauw Can Cun tidak mengajukan pertanyaan lain, dia buru2

meminta diri dan lantas keluar dari kamar itu.

Mendahului gerakan Lauw Can Cun, satu bayangan melesat dari

wuwungan rumah, orang ini bukan lain daripada Ie Lip Tiong

adanya.

Di kala Lauw Can Cun memberi perintah kepada orang2nya untuk

membikin penjagaan, bayangan Ie Lip Tiong sudah jauh dari rumah

makan itu.

Langsung Ie Lip Tiong mendatangi perusahaan pengantar Sun

hong Piauw kiok.

Sun hong Piaiw kiok adalah perusahaan pengangkutan yang

cukup ternama, pemimpin perusahaannya adalah anak murid Oeysan-

pay. Di kala ayah Ie Lip Tiong menjabat ketua partai tersebut,

perusahaan ini mendapat kemajuan pesat, itulah jaman kejayaan

Sun-hong Piauw kiok

Terjadinya drama pertengkaran 5 partai besar dan Oey san pay

mengakibatkan binasanya ayah Ie Lip Tiong, disusul dengan

putusan Su hay tong sin beng yang memecat keanggautaan Oeysan-

pay. Runtuhlah keja yaan Oey-san-pay. Sedari saat itu. Ie Lip

Tiong hidup menyembunyikan diri mengganti nama, mengubah

wajah, menetap di kota Tiang An. Terjelmalah tokoh ajaib dari

perusahaan Boan chiu Piauw kiok, si Pedang Yang Menaklukkan

Rimba Persilatan It kiam tin bu-lim Wie Tauw.

Demikian kisah ringkas dari Ie Lip Tiong si pemuda yang sejak

pertama membuka cerita ini, sampai terakhir dia berhasil mencuci

diri dari fitnahan Pembunuh Gelap.

Si Pembunuh Gelap adalah Su khong Eng dari partai Raja

Gunung.

Demikian jatuh bangun partai Oey san pay.

Sun hong Piauw-kiok yang berada di bawah pimpinan Pendekar

cambuk Gunung Leng San Pian mengikuti gelombang pasang itu,

dia adalah murid Oey-san-pay, perusahaannya jaya manakala Oey

san pay jaya, dia pun runtuh tatkala Oey san pay mengalami

kehancurannya.

Di saat itu, Ie Lip Tiong mendatangi rumah si Pendekar cambuk

Gunung Leng San Pian, seorang pegawai tampak sedang melenggut

ngantuk di depan pintu perusahaannya.

Ie Lip Tiong mendekati orang itu dan mengajukan pertanyaannya

:

“Cong-piauw-tauw kalian, Pendekar cambuk Gunung Leng San

Pian ada di rumah?”

“Ada.” Orang itu tersentak bangun dari Iamunannya “Ada urusan

apa tuan dengan Cong piauw tauw kami ?”

“Tolong beritahukan kedatanganku kepadanya.”

“Bagaimana sebutan tuan yang mulia ?”

“Katakan saja, bahwa It kiam-tin bu-lim Wie Tauw dari kota

Tiang An hendak bertemu muka dengannya.”

“Oh, . . . . “ Orang itu terlompat bangun “Tuankah yarg bernama

It kiam tin bu-lim Wie Tauw?”

Di kala Ie Lip Tiong menggunakan nama It kiam tin bu lim Wie

Tauw, nama ini telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Tak

seorangpun yang tidak pernah mendengar ceritanya, termasuk juga

orang ini. Tentu sa ja dia terkejut, ternyata tokoh yang digembargemborkan

orang itupun hanya manusia belaka.

“Tolong beritahu lekas kedatanganku kepada majikan kalian”

Berkata Ie Lip Tiong alias It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw.

Orang itu segera lari masuk, memberi tahu tentang kedatangan

tokoh ajaib dari kota Tiang-an itu:

Tidak lama, seorang tua berwajah hitam keluar dari ruangan

dalam. Inilah Pendekar cambuk Gunung Leng San Pian. Langsung

orang ini menghampiri Ie Lip Tiong, setelah memberi hormat lalu

berkata :

“Aku adalah pemimpin perusahaan Sun-hong Piauw kiok Leng

San Pian. Bagaimanakah panggilan nama tuan yang mulia ?”

“Aku It-kiam tin bu-lim Wie Tauw.” Sahut Ie Lip Tiong cepat.

“Dapatkah tuan membuktikan bahwa tuan betul2 adalah yang

bernama It kiam tin-bu-lim Wie Tauw?” Leng San Pian belum

pernah bersua dengan tokoh ajaib ini, maka pertama2 dia

mengajukan pertanyaan seperti tadi.

Itu waktu, Ie Lip Tiong masih berada di dalam penyamaran,

maka Leng San Pian tidak mengetahui bahwa dirinya sedang

berhadapan dengan sang ketua muda.

Ie Lip Tiong tertawa.

“Pernah dengar tentang keistimewaan Boan chiu Piauw kiok ?”

Dia menatap wajah Leng San Pian.

Perusahaan Boan-chiu Piauw-kiok di kota Tiang An adalah

perusahaan yang pernah menggemparkan dunia. Perusahaan itu

berada di bawah pimpinan Ie Lip Tiong.

“Boan chlu Piauw-kok dapat memecahkan segala macam perkara

yang sulit2 dan ajaib.” Berkata si Pendekar cambuk Gunung Leng

San Pian. “Dan tuan sebagai pemimpin perusahaan luar biasa itu,

tentunya mempunyai keistimewaan yang luar biasa pula; Dapatkah

tuan menyebut asal usul kami ?”

Mendapat pertanyaan lain, mungkin Ie Lip Tiong dapat dipersulit.

Tapi untuk menjawab pertanyaan di atas, dia hanya tertawa besar.

“Ha, ha, ha, ha . . . .” Katanya. “Kau bernama Leng San Pian,

dengan nama gelar Pendekar cambuk Gunung, Kau adalah murid

kedua dari Perdekar Bintang cemerlang Lam Thian To. Kau

mempunyai seorang suheng yang bernama Mo Jiak Pin, dengan

gelar kependekaran Tangan Pengejar Maut. Kau mendapat didikan

langsung di atas gunung Oey-san. Setelah menamatkan pelajaran,

kau turun gunung dan kawin dengan seorang gadis yang bernama

Sim Sie. Satu tahun kemudian, kalian melahirkan putra yang

pertama, lalu naik ke atas gunung Oey-san dan memohon restu

ketua pemimpin partai Oey-san-pay. Di saat itu, ketua Oey-san-pay

di jabat oleh Ie Im Yang Ketua partai Ie Im Yang memberi nama

kepada putramu itu. Nama yang diberikan olehnya adalah Leng Su

Hong, ‘Su Hong’ berarti ‘Kekal dan abadi untuk seluruh jaman’,

itulah nama putramu. Dan dengan doa restu itu, kau membuka

perusahaan Sun hong Piauw kiok di kota Han Yang demikian riwayat

hidupmu, yang dapat kau pertahankan sehingga saat ini. Betulkah

begitu ?”

Semakin lama, mulut Leng San Pian terbuka semakin lebar.

Nama cemerlang dari si tokoh ajaib It-kiam tin bu lim Wie Tauw

betul2 dapat dibuktikan. Sekarang dia tidak meragukan lagi bahwa

dia betul2 sedang berhadapan dengan Pendel»r Penakluk rimba

Persilatan, It kiam tin Bu lim Wie Tauw.

Tentu saja Ie Lip Tiong dapat bercerita dengan panjang lebar,

karena dia adalah ketua muda dari partai Oey san pay. Untuk

menghidupkan kembali partai tersebut, dia mempunyai buku

catatan tentang semua anak murid dari partainya.

Tentang Pendekar Bintang cemerlang Lam Thian To yang

menjadi guru Leng San Pian, tokoh ini hampir berkorban di markas

besar Su hay tong sim beng di gunung Lu san. Itu waktu Ie Lip

Tiong harus menjalani hukuman pancung kepala, dia dituduh

sebagai pembunuh gelap. Lima partai besar tidak becus membekuk

si Pembunuh Gelap yang asli. Mereka menjatuhkan putusannya

yang salah. Ie Lip Tiong diberi ‘merek’ Pembunuh Gelap. Karena itu

wajib dihukum mati. Beruntung datang laporan yang mewartakan

masih adanya kejadian2 pembubuhan gelap di beberapa tempat itu

waktu Ie Lip Tiong sudah kehilangan kepalanya, tentu saja kepala

orang lain.

Bukan kepala Ie Lip Tiong yang asli. Atas kelihaian guru Ie Lip

Tiong, jago ini sudah diasingkan ke lain tempat. Itulah kesalahan

Gabungan Persatuan Su-hay tong sim-heng. Pendekar Bintang

Cemerlang yaitu guru Leng San Bian beserta tiga anggauta Oey-sanpay

lainnya mendapat kebebasan. Pendekar Bintang cemerlang Lam

Thian To benci kepada masyarakat yang berlaku tidak adil, dia

mengasingkan diri di tempat sepin dan akhirnya mati mereras.

Adapun tentang Pendekar Tangan Pengejar Maut Mo Jiak Pin.

Yakni saudara seperguruan yang lebih tua dari Pendekar cambuk

Gunung Leng San Pian, setelah ayah Ie Lip Tiong Ie Im Yang

binasa, pernah mengikuti sang ketua muda. Dia membantu usaha

Boan-chiu Piauw kiok di kota Tiang An. Tentang jago itu, Ie Lip

Tiong tahu lebih jelas lagi. Mo Jiak Pin mendapat tugas untuk

mengumpulkan anak buah Oey san pay yang berceceran, siap

membangun, dan memperkuat Oey-san-pay dalam bentuk baru,

Oey san pay yang lebih kuat dan lebih jaya dari Oey-san-pay

terdahulu.

Dan mengenai putra Leng San Pian yang diberi nama Leng Su

Hong. Waktu itu Ie Lip Tiong sedang mendampingi ayahnya. Di

hadapan Ie Lip Tiong lah Ie Im Yang memberi doa restu itu. Tentu

saja si jago muda masih ingat benar peristiwanya.

Rasa takutnya Pendekar cambuk Gunung Leng San Pian segera

memuncak. seolah berhadapan dengan hantu jejadian yang mati

penasaran, dengan bulu tengkuk bangun gemerinding dia berteriak

:

“Kau . . . Kau . . . siapa ?”

“Sudah kukatakan, bahwa aku adalah It kiam-tin bu-lim Wie

Tauw dari kota Tiang An”

“Toch tidak mungkin mengetahui semua riwayat hidupku dengan

begitu jelas, dan begitu terperinci.”

“Jadi kau sudah lupa kepada keajaiban Boan-chiu Piauw kiok ?”

“Ak. . aku . . . akuuu . . .” Hampir Leng San Pian tidak dapat

bicara lagi.

“Boleh aku masuk ke dalam ?” Ie Lip Tiong memandang orang

itu.

Leng San Pian masih dirundung oleh rasa bingung yang tidak

terhingga, dicampur rasa takut kepada keajaiban itu. Lupalah dia

menjawab pertanyaan sang ketua muda.

Mendekati orang itu, Ie Lip Tiong berkata :

“Aku Ie Lip Tiong.”

Leng Tiang Hong semakin takut, sukmanya hampir saja copot

dari raganya. Ingin rasanya dia melarikan diri, tapi tak kuasa, juga

sudah keburu ditarik tangannya oleh Ie Lip Tiong.

“Jangan takut, aku belum mati.” Berkata si pemuda.

Seperti apa yang sudah terjadi. Ie Lip Tiong diberitakan sudah

mati di bawah pancungan golok algojo Duta Istimewa Berbaju

Kuning Nomor Empat Cang Ceng Lun, dan peristiwanya terjadi di

atas gunung Lu san, di markas besar Gerakan Gabungan Su hay

tong sim beng. Tentu saja orang tidak tahu, bahwa orang yang mati

itu adalah pengganti tubuh Ie Lip Tiong.

“Kau . . . . . Kau . . . . .” Leng San Pian seolah olah sedang

mengenang kembali wajah sang ketua muda, “Kau belum mati ?”

Ie Lip Tiong merusak wajah penyamarannya, dengan cepat

berkata:

“Nah, perhatikanlah betul2. Belum lupa sekali bukan kau

denganku ?”

“Aaaaaa . . . Kau . . . .”

“Jangan sebut namaku!” kata Ie Lip Tiong lekas. “Kita bicara di

ruang dalam.”

Pendekar cambuk Gunung Leng San Pian terlompat girang,

segera dia berteriak :

“Su Hok, lekas tutup pintu! Siapa saja yang menanyakan aku,

bilang aku sedang berpergian atau tidak ada. Mengerti ?”

Su Hok adalah nama dari pegawai penja ga pintu itu.

“Hamba mengerti.” Dan Su Hok segera menjalankan perintah

majikannya,

Leng San Pian mengajak Ie Lip Tiong memasuki kamarnya, disini

Ie Lip Tiong mencuci muka, mengembalikan wajah aslinya.

“Kongcu,” Berteriak Leng San Pian girang. “Bersyukur aku kepada

Tuhan, ternyata kau masih diberkahi umur panjang.”

Ie Lip Tioog tertawa. Diceritakannya bagaimana kejadian

pemasungan Ie Lip Tiong palsu itu dapat terjadi di atas gunung Lu

san, sehingga dia bisa bebas dari bahaya.

“Bersyukur aku kepada Tuhan !” bergumam lagi Leng San Pian

“Akhirnya partai kita masih mempunyai kesempatan untuk bangkit

kembali.”

“Dengar baik2 pesanku,” kata Ie Lip Tiong. “Sebentar lagi akan

kedatangan tuan pengurus rumah makan Hian kok lauw, dia hendak

mengantar barang berharga keluar daerah, itulah berupa uang

perak semua. Dia membutuhkan pengawalan, dia akan datang

untuk meminta bantuanmu jangan kau tolak permintaannya sekali

ini.”

Lagi2 Leng San Pian tertegun. “Dari mana kongcu tahu bakal

terjadi semua itu ?”

“Lekas kau beritahu kepada Su Hok,” kata Ie Lip Tiong

menyimpang dari pertanyaan Leng San Pian, “supaya jangan sampai

mengganggu kelancaran kerjanya. Setelah itu nanti akan kuberitahu

lagi awal dari ceritaku tadi,”

Leng San Pian segera lari keluar, memberi pesan kepada sang

pegawai, dan dia masuk kembali ke dalam dengan lekas.

Ie Lip Tiong menceritakan adanya keramaian di atas rumah

makan Hian kok lauw, dan terakhir bakal adanya pengiriman uang

uang kontan dengan jumlah besar.

“Bagaimana ?” Ie Lip Tiong mengakhiri ceritanya. “Bersediakah

kau menerima tugas sekali ini ?”

“Harus kuterima.” Sahut Leng San Pian cepat.

“Kongcu hendak menyamar menjadi seorang piauwsu Sun hong

Piauw kiok ?”

“Tentu saja!” Ie Lip Tiong lantas menganggukkan kepalanya,

“Yang penting, karena adanya kejadian ini, mau tidak mau

perusahaan Sun hong Piauw kiokmu ini di kemudian hari terpaksa

harus ditutup. Relakah kau mengorbankan perusahaanmu ?”

“Untuk itu bagiku tidak menjadi soal.” Leng San Pian menepuk

dada. “Perusahaan yang seperti ini sudah tidak ada artinya lagi.

Sedari Oey san pay dikeluarkan dari keanggautaan Gabungan

Kesatuan Su hay tong sim-beng, hanya dalam tempo tiga bulan,

beruntun terjadi pembegalan-pembegalan, dan mulai saat itulah,

jarang ada langganan yang mau meminta bantuan Sun hong Piauwkiok.”

“Keadaan perusahaanmu akhir-akhir ini tentu sangat

mengenaskan.” kata Ie Lip Tiong.

“Lebih dari pada itu. Satu bulan lagi berlangsung seperti ini,

tanpa adanya penerimaan order baru, perusahaan Sun hong Piauw

kiok pasti akan gulung tikar.”

“Bagus. Putusanku semakin bulat kalau begitu kita harus

ganyang uang itu.”

“Apa ? !” Leng San Pian berteriak.

“Jangan kau kaget. Co Khu Liong dan Lauw Can Cun itu

mendapatkan uang itu bukan secara halal. Itulah uang dari partai

Raja gunung. Pernah kau dengar tentang nama partai Raja Gunung

? Suatu partai jahat, partai yang mengerjakan usaha pembesetan

kulit manusia, dikeringkan dan digunakan lagi untuk memalsukan

orang. Usahanya sangat luas, termasuk usaha perkebunan teh,

pabrik2 besar, persewaan kuda dan buku2; rumah makan dan

rumah keuangan, judi2 resmi dan judi2 liar, tidak satupun dari

usaha2 itu yang lepas dari incarannya. Memang sangat luar biasa.

Bila disalurkan ke arah yang benar, partai ini sebentar saja pasti

jaya. Sayang langkah2 dari partai Raja Gunung menyimpang dari

ajaran Tuhan. Semua orang2nya lebih mementingkan kantong

sendiri, menjayakan bangsa dewek, tanpa mau tahu kesukaran

bangsa2 lain. Melakukan perbuatan2 yang terkutuk. Kita wajib

membasmi nya. Sebab kalau kita biarkan uang itu jatuh ke dalam

tangan mereka, berarti secara tak langsung kita telah membantu

usaha komplotan durjana itu”

Leng San Pian masih belum dapat diberi pengertian, dia masih

agak sulit dibujuk.

“Dengar,” Berkata lagi Ie Lip Tiong. “Memang bukan kejadian

yang patut dibanggakan untuk melakukan perampokan itu. Sulit

diterima bagi seorang usahawan yang dipaksa menjadi garong di

lereng gunung. Tapi kau harus ingat, kita tidak dapat ber peluk

tangan begitu saja. Diam dan membiarkan mereka merajalela, atau

segera menumpasnya. Cuma itu dua pilihan yang bisa kita ambil.”

“Baiklah kalau begitu.” Pendekar cambuk Gunung akhirnya

mengambil juga ketegasannya, kita boleh kerjakan menurut rencana

tadi !”

“Sudah kau perhitungkan untung ruginya langkah ini ?”

“Tidak ada sesuatu yaag perlu disayangkan oleh Sun-hong Piauw

kiok. yang kusayangkan adalah kau, seorang calon ketua partai

akhirnya terpaksa harus melakukan suatu penggarongan. Hal ini

dapat mengganggu nama baik seluruh anggauta Oey san-pay

secara tak langsung.”

“Jangan takut. Gerakan Gabungan Kesatuan Su hay-tong-simbeng

berada di belakang kita.”

“Hahh . . . .”

“Partai Raja Gunung adalah musuh utama semua umat golongan

kesatria. Sebagai perintis kebebasan dan kemakmuran. Su-hay

tong-sim beng tidak akan membiarkan anggauta-anggauta Partai

Raja Gunung melakukan aksi2 yang bersifat merugikan lain orang.

Dengan atau tanpa cara, kita harus memusnahkannya.” Kemudian

diceritakan pula oleh Ie Lip Tiong tentang kedudukan dirinya

sebagai Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor Tiga Belas. Setelah

berhasil menangkap si Pembunuh Gelap Su khong Eng setelah

berhasil mengubrak abrik cabang perusahaan partai Raja Gunung,

setelah berhasil membekuk dedengkot partai Raja Gunung Ai Tong

Cun, setelah berhasil menyelamatkan jiwa bengcu Su hay tong simbeng,

setelah mendapat persetujuan semua partai yang ada dalam

markas besar gerakan besar itu, secara resmi, Ie Lip Tiong lalu

diangkat menjadi Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor Tiga Belas.

Usaha Ie Lip Tiong yang hendak menumpas gerakan tukang

beset kulit manusia inipun, adalah dasar atas instruksi Su hay tong

sim-beng pula.

Setelah mendengar semuanya, Leng San Pian tidak ragu2 lagi

untuk melakukan perampokan uang komplotan jahat itu.

“Kongcu tahu, berapa banyakkah uang yang mereka hendak

percayakan kepada Sun-hong Piauw kiok ?” tanya Leng San Pian

minta keterangan lagi.

“Lima ratus ribu tail perak.”

“Huah ! Begitu banyak ?”

Usaha partai Raja Gunung bukan hanya rumah makan saja.

Kukira komplotan itu sedang membutuhkan banyak uang. Menarik

uang Hian kok-lauw berarti menarik keuntungan dari semua usaha

mereka, besar kemungkinannya, jumlah itu dapat ditambah.”

“Bagaimanakah kita harus merampas jumlah uang sebesar itu ?”

“Tujuan mereka adalah kota Su shia di propinsi Wan tiong, itulah

tempat penerimaan mereka. Kukira, kita harus merampas di

tengah jalan. Daerah mana yang paling mudah dan cocok untuk

melakukan perampasan itu?”

“Ng…..” Berpikir sebentar, Leng San Pian lalu berkata “Tempat

yang paling cocok adalah gunung Wan-San.”

“Bagus. Kita mengambil alih semua uang uang itu di gunung Wan

san.” Ie Lip Tiong segera memberi putusan.

“Di pihak musuh ada seorang bajingan Co Khu Liong, dengan

tenaga kita beberapa orang ini,mungkinkah dapat

mengalahkannya?” Leng San Pian mengutarakan kekuatirannya,

“Soal ini boleh kau serahkan sepenuhnya kepadaku.” kata Ie Lip

Tiong. “Sudah kurencanakan untuk meminta bantuan tenaga.

Segera kusurati Su-hay tong sim beng agar mereka segera

mengirim beberapa Duta Istimewa Berbaju Kuning.

Barisan Duta Istimewa Berbaju Kuning adalah inti kekuatan Suhay

tong-sim-beng jumlah mereka 13 orang. Setiap orang memiliki

ilmu kepandaian yang sangat tinggi, setiap orang mempunyai

kecerdasan otak yang melebihi manusia biasa. Ie Lip Tiong hanyalah

merupakan salah satu di antaranya.

Dengan adanya bantuan Su-hay tong sim-beng, mungkinkah Co

Khu Liong tidak dapat ditaklukkan?

Di saat itu, terlihat Su Hok berlari masuk pegawai itu memberikan

laporannya:

“Lauw Can Cun dari Rumah Makan Hian kok-lauw minta

bertemu.”

Ie Lip Tiong segera bangkit berdiri, dan lekas2 berkata ;

“Nah. Kau temuilah dia. Aku harus lekas membuat surat ke Su

hay tong sim beng.”

“Suruh dia masuk” perintah Leng San Pian. “Suruh tunggu di

ruang tamu.”

Su Hok menjalankan perintah itu, dan segera meminta diri, lalu

dengan lekas meninggalkan kamar sang majikan.

Leng San Pian mengundang pegawai lain menyuruh orang itu

melayani Ie Lip Tiong, menyediakan alat tulis untuk membuat surat.

Dia berpakaian rapi dan keluar untuk menemui tamu.

Lauw Can Cun telah duduk dan menunggu di ruang tamu.

Melihat tuan rumah menampilkan diri, dia segera bangkit dari

tempat duduknya, dan memberi hormat sebagai mana layaknya

tamu berlaku kepada tuan rumah.

Leng San Pian membalas hormat itu.

“Selamat datang ….. Selamat datang.” Dia tertawa. Mereka

tinggal di dalam satu kota. Pernah juga terjalin rasa persahabatan.

Masing2 lantas mengambil tempat duduk, “Aku datang dengan

sesuatu urusan.” Berkata Bapak Gendut Lauw Can Cun.

“Tidak mudah mengundang kau datang mengunjungi

perusahaanku.” kata Leng San Pian dengan kelakarnya, “Ada urusan

penting apakah kiranya gerangan ?”

“Cong piauw tauw lama tidak berkunjung ke rumah makan Hian

kok lauw.” menimpali Lauw Can Cun. “Mungkin sudah bosan juga

dengan masakan kami, ya ? Apa ada celanya masakan kami ?”

“Ha, ha, ha . . . . Masakan Rumah Makan Hian kok lauw adalah

masakan2 pilihan kelas satu, siapa yang berani mencela ? Bukan

aku tidak mau mengunjungi rumah makanmu, tapi sesungguhnya,

kantongku tidak kuat buat sering2 menaiki tangga loteng Hian kok

lauw.”

“Haaa, haa, ha . . . . . . Seorang pemimpin perusahaan bisa

mengucapkan kata2 seperti ini, apakah takut disodori bon pinjaman

?”

Leng San Pian menyengir.

“Benda apakah yang hendak dibon orang ? Kesatu tidak ada

uang, kedua tidak ada harta kekayaan. Hendak meminjam meja dan

kursi, ha, ha, Boleh saja, boleh saja !”

Dengan sikap sungguh2, Lauw Can Cun lalu berkata :

“Ach, mengapa Cong piauw tauw mengucapkan kata2 seperti itu

?”

“Terus terang kukatakan,” Berkata Leng San Pian. “Satu bulan

lagi, bila masih belum ada langganan yang datang kemari, aku ada

niatan untuk menutup saja perusahaan ini.”

“Ouw begitu? Kalau begitu kedatanganku tepat pada waktunya.

Aku mau menolong perusahaanmu dari kebangkrutan” Berkata

Lauw Can Cun,

Leng San Pian membawakan sikapya yang seperti terkejut, dia

berpura2 belum tahu.

“Maksudmu ?” Dia mementang mata lebar lebar “Apakah kau

hendak mempercayakan sesuatu kepada Sun hong Piauw kiok ?”

“Begitulah kira2.”

“Barang apakah yang hendak dipercayakan kepada perusahaan

kami itu ?”

–oo0dw0oo–

Jilid 02 (edit by lavender)

MENDAPAT kunyungan Ie Lip Tiong lebih dahulu. si Pendekar

Cambuk gunung Leng San Pian mendapat banyak kesempatan

untuk menghadapi tamunya. Kedatangan pemilik rumah makan

Hian-kok-lauW yang bernama Lauw Can Cun sudah berada didalam

perhitungannya. Kini dia sedang menghadapi sang pengurus cabang

dari perusahaan si Raja Gunung dikota Han-yang.

Memandang langganannya, Leng San Pian bertanya: “Barang

apakah yang hendak dipercajakan kepadaku ?”

“Uang perak.” Berkata Lauw Can Cun singkat.

“Uang perak ?” Leng San Pian membawakan sikapnya yang

terkejut sekali.

“Betul Uang perak seharga 570 000 tail yang hendak kami

tranfusikan kelain tempat. Besar harapan Hian-kok-lauw agar Sunhong

Piauw-kiok dapat mengadakan pengawalan secara aman,”

“Jumlah ini tidak sedikit ” Berkata Leng San Pian.

Lauw Can Cun tertawa geli, dia tidak menyebut 61.000 uang si

Raja Gunung yang nyangkut pada dirinya. berganti tangan uang itu

sudah berada didalam kantong Co Khu Liong.

“Berapa jasa tanggungan yang hendak kau minta untuk uang

sejumlah itu ?” tanya Lauw Can Cun.

“Diantar kekota apa ?” balik tanya Leng San Pian,

“Kekota Su-shia dipropinsi Wan-tiong.”

Leng San Pian menarik alat hitungnya, alat itu selalu sedia

dibeberapa ruangan, alat ini dapat memudahkan perhitungan

baginya. jari-jarinya lantas memain-main biji2 benda tersebut,

“Perjalanan harus melewati kota Bu-ciang bukan?” Bertanya

Lauw Can Cun, “Dikota Itu,” Dia menyambungnya lagi, “Masih ada

sebagian lagi uang yang harus diangkut, jumlah ini belum diketahui,

diperkirakan dua kali lipat dari angka yang ada.”

“Nggg . . . .” Leng San Pian berketak-ketik terus. “Menurut apa

yang kau sebutkan, uang jasa seharusnya 12.300 tail perak.

Mengingat hubungan kita yang tidak ada biarlah kubulatkan saja

menjadi 12.000 tail perak.”

“Terus terang kukatakan,” Berkata Lauw Can Cun. “Uang ini

bukan hak milikku. Boleh saja kau tambah dengan ongkos ruparupa.”

“Akh…..”

“Majikanku sangat pelit sekali.” Betkata Lauw Can Cun.

“Menggunakan kesempatan ini. ada baiknya kita menggaruk sedikit.

yangan sungkan2.”

“Heh, yangan, berkelakar.”

“Sungguh,” Berkata Lauw Can Cun. “Pada rekeningmu, boleh

dibuka 18.000 tail perak. Tidak keberatan bukan?”

Lagi2 Lauw Can Cun menggunakan kesempatan ini untuk

korupsi.

Tidak ada alasan untuk menolak pemberian komisi ini, langganan

adalah raja, sudah lama kereta Sun-hong Piauw-kiok kosong, tidak

mendapat muatan, nganggur terongok diujung garasi pekarangan.

Leng San Pian menganggukkan kepalanya.

“Nah, sampai disini pertemuan kita” Berkata Lauw Can Cun.

“Besok pagi, Cong piauw-tauw boleh menyuruh orang-orangg,

menggiring gerobak piauw ke Rumah Keuangan Kim-tauw San

Ciam-chung disana jumlah uang itu akan kami sediakan.”

Sebagai tanda jadi, Lauw Can Cun meninggalkan 1,200 tail perak.

Pengurus berkuasa penuh untuk Rumah Makan Hian-kok-lauw

lantas meminta diri.

Mau tahu perkembangan berikutnya. Silahkan mengikuti

lembaran cerita.

Bagian 3

KOTA HAN-YANG mendapat sinar cahaja matahari pagi, kabut

malam baru saja terusir pergi,

Leng San Pian membawa dua piauwsu dan 30 tukang dorong

kereta menunggu di Rumah Keuangan Kim tauw-san Ciam-chung.

Lauw Can Cun sudah selesai menyelesaikan pengambilan uang,

mengajak Raja Bajingan Co Khu Liong, mereka menghampiri

rombongan dari perusahaan Sun-hong Piauw-kiok.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian maju menghampiri

mereka.

“Cong-piauw tauw,” berkata Lauw Can Cun maju kedepan, “Mari

kuperkenalkan, inilah bapak kuasa kami. Cong Koan Kee.”

Leng San Pian menunjuk hormatnya. Hal mana dibalas oleh Co

Khu Liong dengan satu anggukan kepala. Memperhatikan dua

piauwsu yang berada dibelakang Leng San

Pian, si Raja Bajingan mengajukan pertanyaan:

“Bagaimana gelar kedua piauwsu ini ?”

Menunjuk piauwsu yang disebelah kiri, Leng San Pian

memperkenalkan sang pembantu: “Dia bernama Yu Seng Cu,

dengan gelar Pendekar Tangan Besi.”

Menunjuk piauwsu yang disebelah kanan, Leng San Pian berkata

lagi: “Liong Pal Su. dengan gelar Pendekar Pedang Penyontek

Bintang,”

Dua piauwsu perusahaan Sun-hong Piauw-kiok itu

membungkukkan badan mereka, suatu tanda kehormatan bagi sang

langganannya, Co Khu Liong tidak membalas hormat ini, menoleh

kearah Lauw Can Cun dan mengajukan pertanyaan kepadanya:

“Kau menetap dikota Han-yang cukup lama, tentunya kenal

kepada mereka,”

Lauw Can Cun menganggukkan kepala kearah Yu Seng Cu.

“Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu adalah kawan lama kita,

dikala mengunyungi perusahaan Sun-hong Piauw-kiok, sering juga

berjumpa dengannya.” Dia memberi keterangan,

“Dan tentang saudara ini . . .”

“Dia adalah saudara misanku.” Berkata Leng San Pian. “Dahulu

bekerja pada perusahaan Sin-hong Piauw-kiok dikota Cee-lam.

Baru2 belakangan ini datang untuk membantu usaha Sun-hong

Piauw-kiok.”

Raja Bajingan Co Khu Liong memperhatikan tiga puluh tukang

dorong. satu persatu dengan penuh perhatian. Mengetahui tidak

ada seorang-orang yang dicurigakan dia berkata:

“Nah, boleh mulai ”

Hanya satu kali terima perintah, merekapun mulai bekerja. Repot

sekali.

Co Khu Liong sudah dapat memperhitungkan adanya

penyelundupan orang-orang diantara orang-orang2 ini. Maka dia

tidak pernah lengah. Tapi dia tidak tahu, bahwa Pendekar Pedang

Penyolek Bintang Liong Pat Su adalah jelmaan Ie Lip Tiong

Sipemuda pandai mengubah wajah, dia menjadikan dirinya sebagai

Liong Pat Su.

Para tukang dorong sudah selesai menggotong lempengan perak

kegerobak dorong Sun-hong Piauw-kiok. Didalam sekejap mata,

530.000 tail perak sudah diisi pada 15 gerobak.

Dibawah pimpinan seorang-orang tukang pukul gembreng, Tong

. . .Tong . . -Tong . . .Tong . . .Iring2an perusahaan pengangkutan

San-hong Piauw-kiok mulai berangkat.

Berjalan dipaling depan adalah pemimpin perusahaan, Pendekar

Cambuk Gunung Leng San Pian. Direndengi oleh kedua

pembantunya. Pendekar Penyolek Bintang, Liong Pat Su dan

Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu.

Lima belas kereta dorong berderet panjang satu persatu

mengintil dibelakang ketiga Piauw-su mereka.

Dibelakang iringan Sun-hong Piauw-kiok. Sebagai pemilik barang

yang dipercajakan kepada perusahaan pengangkutan itu, duduk Co

Khu Liong dan Lauw Can Cun, mereka menggunakan kereta

tertutup. Iring2an kereta ini mulai keluar dari kota Han-yang.

Tujuan mereka adalah arah Timur. Menuju kearah kota Bu Ciang.

Demikian perjalanan itu berlangsung. Terdengar suara gelinding

roda2 yang bergemuruh, tidak seorang-orang pun dari mereka yang

ber-cakap2 dengan suara keras.

Leng San Pian diapit oleh kedua pembantunya, kadang2 Yu Seng

Cu dan Liong Pat Su membikin perondaan, mereka hilir-mudik

disepanyang iring2an kereta.

Kereta penumpang yang berada dipaling belakang dari iring2an

itu adalah kereta Co Khu Liong sekalian, mereka disertai oleh Lauw

Can Cun.

Manakala Liong Pat Su mendekati kereta itu, kain penutup kereta

tersingkap, kepala Lauw Can Cun muncul ditempat itu, dia

memanggilnya:

“Liong piauwsu, tolong kau undang cong-piauw-tauw kalian.” Dia

mengharapkan kedatangan Leng San Pian.

Ie Lip Tiong hendak mencuri dengar percakapan2 mereka, dia

gagal, kedudukannya adalah Liong Pat Su, hanya seorang-orang

piauwsu biasa, mendapat perintah tadi, dia menggebrak kuda. lari

kedepan dan mengundang Leng San Pian.

Tidak lama, ketua perusahsan Sun-hong Piauww-kiok Leng San

Pian mendekati kereta langganannya.

Lauw Can Cun yang sudah menunggu lama segera berkata.

“Bapak kuasa kami Cong Koan Kee hendak bicara.”

Leng San Pian mendekati jendela kereta, memandang Co Khu

Liong dan berkata:

“Cong Koan Kee ada panggilan ?”

Co Khu Liong berkata: “Bila kita tiba dikota Bu Ciang ?”

“Dengan segera. Setelah melewati sungai Tiang-kang.”

“Dikota Bu Ciang muatan kereta akan ditambah ratusan ribu tail

perak lagi kukira. keretamu ini tidak cukup.” Berkata Co Khu Liong.

Leng Sin Pian memberi keterangan:

“Perusahaan Thian-bee Piauw-kiok dikota itu dapat membantu

usaha kita.”

Co Khu Lfong menganggukkan kepalanya.

“Dimisalkan kereta piauw mereka ada muatan, boleh juga kita

menyewa kereta lain,” Leng San Pian menambah keterangan.

Co Khu Liong lebih puas lagi.

Singkatnya cerita, mereka tiba dikota Bu-ciang. Co Khu Liong

memberi perintah untuk menuju kerumah makan Oey-kiok-lauw,

inipun termasuk salah satu cabang perusahaan si Raja Gunung.

Seperti apa yang kita ketahui, satu komplotan tukang beset kulit

manusia yang menamakan diri mereka Partay Raja Gunung ini

mengembang biakkan kekuasaannya, kulit2 manusia yang mereka

beset dikeringkan, hal itu mudah untuk bikin penyamaran2, mereka

dapat merubah dirinya, tentu saja menggunakan kulit2 kering itu,

hanya untuk waktu yang beberapa detik, adanya baju2 kulit kering

memudahkan mereka, seseorangorang dapat berubah menjadi

beberapa macam wajah.

Partay Raja Gunung berada dibawah pimpinan seorang-orang

tokoh misterius yang menggunakan nama Raja Gunung, markas

besar mereka tersembunyi rapi, didalam hal ini, Ie Lip Tiong

mendapat tugas untuk mencarinya.

Disetiap kota besar, Raja Gunung mempunyai banyak cabang

perusahaan, Lauw Can Cun hanya kaki tangannya yang ditancapkan

dikota Han-yang, dengan membuka rumah makan Hian-kok-lauw

yang terkenal itu.

Dan untuk kota Bu Ciang, Si Raja Gunung mempunyai lain

cabang perusahaan yang dikuasakan kepada lain orang-orang

Perusahaan ini adalah rumah makan Oey-kiok-lauw.

Tiba dirumah makan Oey-kiok-lauw, Co Khu Liong dan Lauw Can

Cun menyumpai seorang-orang tua berwajah merah. itulah

pengurus rumah makan untuk cabang kota Bu Ciang yang bernama

In Thian Liu.

In Thian Liu ada kenal kepada Leng San Pian, mengetahui

kedatangan piauwsu itu, dia menyapanya:

“Ha, ha … . Leng piauw tauw, sudah lama kita tidak bertemu”.

“Bagaimana keadaan disini ?” Tertawa Leng San Pian.

“Ha, ha … . Masih seperti biasa. Tidak kusangka, kaulah yang

akan mengawal barang-barang ini. 1.000.000 tail perak? Ha,

ha…..kukira belum pernah kau mengawal benda berharga sebanyak

apa yang kini kau akan kawal ?”

“Terus terang kukatakan”, berkata Leng San Pian. “Bila tidak

mengingat keadaan jalan yang sudah tenang. aku tidak berani

menerima kepercajaan kalian ?”

“Ha, ha……” Menengok kearah Ie Lip Tiong dan orang-orang tua

berwajah merah itu berkerut alis. “Eh, siapakah piauwsu ini?”

“Saudara misanku yang bernama Liong Pat Su”. Berkata Leng

San Pian.

“Sangat asing sekali.”.

“Baru saja dia membantu perusahaan Sun-hong Piauw-kiok”.

Demikian. rombongan barang Sun-hong Piauw-kiok bertambah

enam buah kereta baru, kereta2 itu bukan didapat dari perusahaan

Thian-bee Piauw-kiok. Mengingat bakal menjadi pertarungan,

menimbang tidak perlu membawa-bawa atau merembet-rembet

perusahaan Thian-bee Piauw-kiok, Leng San Pian memutuskan

menyewa kereta lain.

Iringan Sun-hong Piauw-kiok meninggalkan kota Bu-Ciang.

Mengajak pengurus rumah makan Hian-kok-lauw dikota Hanyang,

mengajak pengurus rumah makan Oey-kok-lauw dikota Bu-

Ciang. si jago Silat Raja Bajingan Co Khu Liong hendak pulang

kandang, tentu saja dengan harta benda bojongan mereka. Sang

Raja Gunung hendak memperindah pesanggrahannya.

21 kereta dorong dan 1 kereta penumpang, ditambah dengan

tiga penunggang kuda menuju kearah kota Su-thia didaerah Wanliong.

Perjalanan itu terlalu jauh, mereka harus melewatkan beberapa

hari.

Kota pertama yang sudah dilewati adalah kota Bu Ciang. Kota

berikutnya segera tiba dikota Kat-seng, Ditengah jalan, Co Khu

Liong mengajukan pertanyaan: “Cong-piauw-tiauw, dimana hari ini

kita bermalam ?”

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian memberi jawaban:

“Kota Kat-seng”.

Sebetulnya, tanpa pengawalan Sun-hong Piauw-kiok, dengan

tenaga Kekuatan Co Khu Liong, Lauw Can Cun dan In Thian Liu

sekalian, mereka dapat membawa uang2 itu kesarang mereka,

hanya ini terlalu mencolok mata, untuk menghindari diri dari

kerahasiaan tempat tujuan mereka, sengaja memakai tenaga Sunhong

Piauw-kiok.

Sebelum hari senya, mereka tiba dikota Kat-seng.

Malam ini tidak ada sesuatu yang perlu dicatat, dengan tenang,

semua orang-orang dapat tidur nyenyak, hari berikutnya, mereka

meninggalkan kota Kat-seng, meneruskan perjalanan.

Hari2 berikutnya juga tidak terjadi sesuatu.

Pada hari keempat, dikala iring2an kareta piauw hendak

memasuki daerah Wan-liong di suatu tempat yang bernama Kiukho-

leng, suasana agak berubah.

Jauh dibelakang iring2an kereta itu, terdengar suara

ketoprakkannya kuda yang riuh, sebentar kemudian. para

penunggang kuda sudah menyusul datang para penunggangnya

terdiri dari laki2 berseragam hitam, melewati semua kereta, mereka

lari terus.

Sebentar kemudian, para penunggang kuda berseragam itu

sudah lenyap didepan mata mereka,

Leng San Pian, Yu Seng Cu dan Ie Lip Tiong telah membikin

persiapan.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San pian menghampiri Yu Seng

Cu dan bertanya kepada pembantu itu:

“Mungkinkah mereka ?”

“Aneh.” Berkata si Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu, “Tidak

seharusnya ada kejadian yang seperti tadi.”

Leng San Pian berkata:

“Pada tahun yang lalu, perusahaan pengangkutan Thian-bee

Pianw-kiok terjungkal disini, mereka kehilangan barang yang

dipertanggung jawabkan kepada mereka. Karena itu, mereka sendiri

ada banyak kerugian.”

“Berandal dari mana yang merampok mereka ?” Bertanya Ie Lip

Tiong.

“Sembilan Dara dari keluarga Ang.”

“Aaaaa. , . Para berandal cantik2 itu?” Ie Lip Tiong pernah

dengar nama2 mereka.

Didalam rimba persilatan, agak jarang terjadi kaum berandal

yang berada dibawah pimpinan kaum wanita, hanya 9 dara cantik

dari keluarga Ang itulah yang berkepandaian tinggi, mengepalai

banyak anak buah, mereka sering mengadakan penggarongan.

Karena itu, Ie Lip Tiong tidak asing kepada mereka.

“Kuharap saja bukan mereka .” Berkata Leng San Pian sungguh2.

“Sangat menyebalkan, bila berurusan dengan rampok. wanita itu.”

“Ha, ha…..” Ie Lip Tiong tertawa. “Memang tidak mudah

berurusan dengan kaum wanita. Membunuh mereka. tentu tidak

tega. Tidak membunuh, akan dirugikan olehnya.

Ha, ha……”

“Biar kuberi tahu kepada mereka ” Berkata Leng San Pian. Dia

membalikkan kuda dan menghampiri kereta penumpang yang

berada dibagian belakang.

“Diminta perhatian sam-wie sekalian.” Dia berteriak kearah Co

Khu Liong. “Didepan kita segera sesuatu yang dapat menimbulkan

kegaduhan. Kita harap kalian dapat menyaga ketenangan.”

“Apa ?” Co Khu Liong membawakan sikapnya yang seperti takut

kepada pertempuran. “Ada rampok?”

“Masih belum diketahui pasti. Mungkin rombongan dari Sembilan

Dara dari Keluarga Ang.”

“Celaka! Celaka! mengapa kau tidak memilih jalan yang aman ?”

“Sun-hong Piauw-kiok akan mengatasi kesulitan ini.” Berkata

Leng San Pian.

Disaat itu, jauh dibelakang mereka terdengar lagi suara

ketoprakkan kuda yang kedua kalinya, 4 orang-orang berbaju hitam

membedal kuda tunggangan mereka, begitu cepat, sebentar

kemudian sudah berada disisi Leng San Pian dan hendak melewati

piauwsu itu.

Sipengurus perusahaan Sun-hong Piauw-kiok mengeluarkan

cambuknya, ‘ret’, menghantam kearah 4 orang-orang tadi.

Para penunggang kuga yang berseragam hitam sangat lihay,

membedal kuda keras, melewati ajunan cambuk, mereka tetap

melarikan diri.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian? berteriak keras:

“Beri tahu kepada kesembilan saudara Ang, sasaran barang

piauw ini tidak dapat diganggu.”

“Kami tidak mengerti.” Empat orang-orang berbaju hitam itu

menggebrak kuda mereka, lari lurus kedepan.

“Teeserah.” Berkata Leng San Pian. “Para pemimpin kalian itu

akan mengerti.”

Bentrokan kecil itu berakhir sampai disitu.

Leng San Pian, Yu Seng Cu dan Ie Lip Tiong maju kemuka,

mereka harus bersiapsiap menghadapi pertempuran besar.

Menikung lagi dua tikungan, terbentang rimba yang agak seram,

samar2, dari dalam rimba terdengar suara jeritan wanita, banyak

bayangan berbaju hitam bergerak, mereka sedang mengganyang

wanita yang dijadikan korbannya.

“Tolong ….Tolong. . .” Terdengar teriakan wanita itu.

Ie Lip Tiong menggebrak kuda, melesat dan meninggalkan

binatang tunggangan itu, langsung menyergap orang-orang berbaju

hitam-

Para bajingan yang melihat ketangkasan Ie Lip Tiong seperti

tikus yang menemukan kucing, mereka lari dan membubarkan

melarikan diri, lari berpencar kearah 4 penyuru dan lenyap dibalik

semak2 pohon.

Leng San Pian lebih berpengalaman, dia hendak memberi

peringatan kepada sang ketua muda, tapi sudah terlambat IceLip

Tiong bergerak begitu cepat.

Dengan direndengi oleh Yu Seng Cu, Leng San Pian

memperhatikan perkembangan berikutnya.

Ie Lip Tiong tidak mengejar para rampok gunung itu, dia

menghampiri wanita yang dijadikan korban. Wanita ini berpakaian

istri petani, umurnya diantara dua puluh limaan, agak cantik juga.

dia tengkurap ditanah, seolah-olah sudah pingsan.

“Nona,” Ie Lip Tiong berkata perlahan. “Didalam Sembilan Dara

Keluarga Ang, kau menduduki urutan nomor berapa?”

Wanita itu terkejut, badannya mengeliat, hendak bangun dan

melarikan diri. Tapi Ie Lip Tiong bergerak lebih cepat, jarinya sudah

menotok jalan darah dibagian pinggang.

“Aouw….” Dia menyerit.

Gagal rencana yang sudah diperhitungkan masak itu. “Toa-cie,

lekas kalian datang.”

Ser. ser, ser, ser…..Dari empat penyuru muncul 4 gadis2 cantik.

Masing2 mengenakan pakaian yang bewarna merah, kuning, biru

dan terong, pakaian itu begitu ketat, sangat pas dengan bentuk

tubuhnya, menonyol sekali.

Mata Ie Lip Tiong terbelalak lebar, pakaian keempat gadis itu

terlalu berani sekali.

Empat gadis adalah dara2 dari keluarga Ang yang berkepandaian

tinggi, pada tangan keempat orang-orang tadi terpantyang busur

yang sudah dikompliti oleh anak panahnya.

Mengambli posisi mengurung, mereka berteriak:

“Lepaskan adik kami!”

Ie Lip Tiong masih memayang orang-orang tawanannya, inilah

pegangan untuk mengatasi kesulitan ditempat itu. Gadis berbaju

merah adalah saudara mereka yang tertua, namanya Ang Yan

Bwee, menyaksikan bahwa Ie Lip Tiong belum mau melepaskan

adiknya, dia membentak lagi:

“Hei, mengapa kau tidak mau melepaskan adik kami ?”

It Lip Tiong memperhatikan dara berbaju merah:

“Tentunya, kau adalah saudara tua yang bernama Ang Yan

Bwee, bukan?”

Ang Yan Bwee menganggukkan kepala

“Betul.” Dia berkata. “Bila kau masih sayang kepada jiwamu,

lekas lepaskan adikku !”

“Namamu dan 8 adikmu pernah menggemparkan rimba

persilatan. Hari ini, aku mempunyai kesempatan baik untuk

berkenalan dengan kalian. Mengepa harus melepaskan adikmu,

sebelum kalian memperkenalkan diri?”

Sikap Ie Lip Tiong begitu tenang, sehingga dapat memikat hati

Ang Yan Bwee, dia berkata:

“Inilah adikku yang pertama, Ang Siok Lan.” Dia menunjuk

kearah dara yang berpakaian warna kuning.

“Dia adalah yang ketiga Ang Ciu Ciok, Ang Yan Bwee

menerangkan.

Urutan nama dari sembilan saudara itu adalah sebagai berikut:

1. Ang Yaa Bwee.

2. Ang Siok Lan,

3. Ang Ciu Ciok,

4. Ang Soat Tiok.

5. Ang Hiang Lian.

6. Ang Hiang Tiap

7. Ang Giok Lui.

8. Ang Giok Hui.

9. Ang Siauw Peng.

Dara yang jatuh kedalam tangan Ie Lip Tiong adalah dara yang

kalima Ang Hiang Lian. Dara2 keenam, ketujuh, kedelapan dan

kesembilan belum menampilkan diri, mereka berada dibarisan

kedua.

“Hei,” Berteriak Ang Yan Bwee. “Mengapa kau tidak mau

melepaskan adikku?”

“Untuk melepaskan Ang Hiang Lian sangat mudah.” Berkata Ie

Lip Tiong. “Asal saja kau mau berjanyi, tidak merampok barang

antaran kita!”

“Siapa yang merampok barang antaran mu ?” Ang Yan Bwee

mencoba menyangkal.

“Ha, ha. . ” Ie Lip Tiong tertawa. “Bila aku lengah sedikit saja,

tentu sudah masuk kedalam perangkapmu. Masih hendak

menyangkal?”

“Baiklah.” Ang Yan Bwee menarik napas. “Lepaskan adikku. Aku

tidak merampas barangmu.”

Ie Lip Tiong melepaskan totokkannya. Dengan demikian, Ang

Hiang Lian mendapat kebebasannya. Dia lari kebelakang

perlindungan kakaknnya.

Itu waktu, Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian dan

Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu sudah menghentikan perjalanan,

menyatukan kereta2 barang antaran.

Ie Lip Tiong memberi hormal kepada Ang Yan Bwee sekalian, dia

berkata:

“Terima kasih kepada budi kalian, lain kali, Sun-hong Piauw-kiok

akan membalas budi ini. Kini, kami meminta diri.”

Dia ber-siap2 untuk kembali kedalam rombongannya.

Disaat itu Ang Yan Bwee memberi perintah lain: “Serang !!”

Terlebih dahulu, dia melepaskan panahnya. Gerakkan ini diikuti

oleh Ang Siok Lan, Ang Ciu Ciok dan Ang Soat Tiok. Terjadi hujan

anak panah yang mengancam Ie Lip Tiong.

Jago kita berteriak kaget, dia melejitkan tubuhnya, lompat tinggi

berusaha menghindari 4 batang anak panah tadi. Panah2 kecil dari

keluarga Ang agak istimewa, dia lolos mengenai sasaran, tapi begitu

cepat panah itu balik kembali. Tetap mengarah Ie Lip Tiong. Leng

San Pian yang turut menyaksikan kejadian itu berteriak: “Awas, itu

Panah Belut.”

Ie Lip Tiong berpengalaman luas, dia tahu dan mengerti, apa

artinya panah yang diberi julukkan Panah Belut itu. Yang diberi

nama Panah Belut adalah semacam panah kecil yang berbentuk

bengkung, kegunaan dari perubahan bentuk itu adalah dapat

berbeluk panyang, setelah gagal menyerang orang-orang mengikuti

arah tertentu, dia dapat balik kembali. Sifatnya seperti bumerang.

Disini letaknya ujian terberat, Ie Lip Tiong menggunakan wajah

Pendekar Penyontek Bintang Liong Pat Su, karena itu, dia tidak

boleh memiliki ilmu kepandaian yang terlalu tinggi, hal itu dapat

menimbulkan kecurigaan Co Khu Liong.

Berbahaja, bilamana Co Khu Liong tahu bahwa si Pendekar

Penyontek Bintang Liong Pat Su adalah jelmaannya Ie Lip Tiong,

kepalanya bisa dipotes copot dari tempat asalnya yang semula.

“Sret”, Ie Lip Tiong menarik keluar pedangnya, ‘wing’, dia

menyapu kearah anak2 panah itu.

“Ting, ting, ting’. ..Tiga diantaranya dapat dipukul pergi. yang

satu tidak dapat dielakkan, tembus pada tangan baju kanannya.

Ie Lip Tiong mengeluarkan keluhan napas dingin.

“Ang Yan Bwee.” Dia membentak. “Sudah lupa kepada janyimu?”

“Ha, ha. . . Aku berjanyi tidak merampas barang milikmu. Bukan

berarti tidak melukai kau. juga tidak berjanyi untuk melepaskan

kesempatan kami untuk merampas barang antaran piauw itu.”

Ie Lip Tiong merasa ditipu mentah2. Tiga batang Panah Belut

belum berhenti kerja, berganti arah, lagi2 menyerang si ‘Pendekar

Pemetik Bintang Liong Pat Su’.

Jago kita bergelimpangan ditanah, masih dia belum berhasil,

terbang keatas, juga dikejar senyata istimewa, bingung Ie Lip Tiong

meloloskan diri dari panah2 Belut itu.

Tiba2 terdengar suara teriakkan Leng San Pian:

“Lemparkan pedang!”

Ie Lip Tiong semakin bingung, disaat yang seperti ini. melempar

pedang berarti melocoti senyata diri sendiri, bukankah suatu

kejadian yang sangat yanggal sekali?

Kesetiaan Leng San Pian kepada Oey-san-pay tidak perlu

diragukan lagi, dan Ie Lip Tiong maklum akan hal ini. Dia percaja.

tentu ada sesuatu yang mengandung unsur aneh, cepat2 dia

melempar pedang.

Terjadi keanehan, tiga Panah Belut yang membayangi dirinya itu

berganti arah. Tidak lagi mengejar dirinya, tapi melunrjur kearah

pedang yang dilempar. Ting…. Ting….Ting…. Terdengar tiga kali

suara benturan, Panah2 Belut menempel pada badan pedang.

Ternyata letak keistimewaannya Panah Belut terletak pada

bentuknya yang bengkung dan juga pada badan yang digunakan

pada panah itu. Panah Belut terbuat dari logam bermaknit, sifatnya

mengejar logam sejenis. Karena itu, dia dapat mengejar lawan yang

menggunakan senyata logam.

Hampir Ie Lip Tiong tersungkur jatuh.

Disaat itu, satu bayangan mendahului gerakkan Ie Lip Tiong,

inilah Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pan, dia telah

menangkalkan senyatanya ternyata, cambuk Leng Sen Pian juga

terbuat dari logam, mengingat bahaja Panah Belut yang mengincar

benda sejenis itu, dia maju bertangan kosong, langsung menghujani

kelima dara dari keluarga Ang, tanpa memberi kesempatan kepada

mereka untuk menyerang Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong turut maju. dua laki2 menempur lima dara dari

keluarga Ang.

Mengetahui sifat istimewa Panah Belut, Ie Lip Tiong juga

bertangan kosong, dia mendesak Ang Siok Lan dan Ang Soat Tiok.

Ang Yan Bwee, Ang Ciu Ciok dan Ang Hiang Lian mengurung

Leng San Pian.

Pertempuran2 itu berjalan seimbang.

Dilain pihak, Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu mengepalai para

tukang dorong mengumpulkan kereta barang, membuat satu

lingkaran, dia mendapat tugas untuk mejaga keamanan itu.

Orang-orang2 berbaju hitam yang pada sebelumnya

membubarkan diri dan lenyap dari tempat itu. Kini mereka balik

kembali, disertai oleh -4 dara lainnya. Mereka langsung menyerang

kearah kereta barang.

Empat dara yang muncul belakangan adalah Ang Hiang Tiap, Ang

Giok Lui. Ang Giok Hui dan Ang Siauw Peng, mereka juga

mengenakan pakaian ketat.

Dari keempat dara ini, sibungsu Ang Siauw Peng yang

berkepandaian paling tinggi, mengepalai kakak2nya, dia berteriak

kepada semua orang-orang:

“Hajo, semua orang-orang menyerah. Tinggalkan barang2

antaran itu.”

Yu Seng Cu menghadapi dara itu. Katanya lantang:

“Nona Ang, kami adalah Sun-hong Piauw-kok.”

“Huh, sudah lama kalian tidak membajar pajak jalan. Tidak

perduli kepada perusahaan pengangkutan dari mana. Hari ini, kita

hendak menelan semua barang yang ada.” Ang Siauw Peng

mengeluarkan Panah Belutnya.

“Tidak baikkah untuk memberikan kesempatan kepada kami

mengoreksi kesalahan yang sudah lalu? Lain kali, kami tetap akan

mengirim barang upeti.” Berkata Yu Seng Cu yang masih berusaha

mengadakan perdamaian.

“Sudah kokalakan. segera tinggaikan barang-barang ini, Panah.”

Berkata Ang Siauw Peng memonyongkan bibirnya yang kecil.

Bagian 4

Pendekar Tangan Besi Yu Seng Cu adalah pembantu Leng San

Pian yang terpercaja, dia mengikuti perusahaan pengangkutan Sunhong

Piauw-kiok sudah tahunan, mendapat tantangan para berandal

gunung yang seperti itu, dia tidak menjadi gentar. yang penting, dia

harus mengunci pemimpin2 dari rombongan pembegal.

“Sun-hong Piauw-kiok tidak menyerah.” Dia berteriak lantang.

Ang Siauw Peng melepaskan panahnya, ‘ser’ . . .meluncur kearah

Yu Seng Cu.

Yu Seng Cu telah mendapat kisikkan Leng San Pian, dia tahu,

bagaimara harus menghadapi panah2 istimewa ini, tubuhnya lompat

tinggi, menyingkirkan himpitan panah.

Ang Siauw Peng memperhatikan situasi tempat. hanya seorangorang

Yu Seng Cu yang bertahan, karena itu, dia mengulapkan

tangan, memanggil anak buahnya:

“Anak2, hajo serbu!”

Umur Ang Siauw Peng belum cukup 16 tahun, sedangkan para

berandal itu terdiri dari laki-laki galak, panggilan ,Anak-anak’ tadi

sangat lucu sekali.

Anak buah dari keluarga Ang taat kepada perintah pimpinan,

secara serentak, mereka maju kearah kereta2 barang.

Yu Seng Cu mencoba untuk membikin pembelaan, dia tidak

berhasil, dia digunyang oleh Ang Siauw Peng dan tiga kakaknya.

Keadaan seperti itu sangat berbahaja untuk pihak Sun-hong

Piaw-kiok. Semua anak buah Sembilan Dara dari keluarga Ang

menyerbu kereta barang.

Tiba2…..

Beberapa batang jarum halus meluncur cepat, dibarengi oleh

jeritan2nya orangorang2 tadi, beberapa yang terdekat sudah jatuh

menggdetak, napas mereka terhenti.

Tidak ada yang tahu, dari mana datangnya senyata2 halus itu.

Beberapa orang-orang berbaju hitam lagi yang menjadi korban

kematian.

Jumlah anak buah begal gunung itu diatas puluhan, belasan

orang-orang lagi yang meluruk maju.

Seperti keadaan kawan2 mereka, rombongan inipun gugur jatuh.

Pada dada mereka tertancap sebatang jarum beracun, begitu cepat

kerjanya racun jahat yang ada pada jarum2 kecil itu, mereka mati

seketika itu juga.

Beberapa orang-orang berbaju hitam yang tahu bahaja

mengundurkan diri.

Ang Hiang Tiap mendapat tugas untuk merebut barang2 antaran

Sun-hong Piauwkiok, melihat adanya gelagat yang kurang baik, dia

menghampiri Ang Siauw Peng dan berkata kepada sang adik:

“Musuh mendapat bantuan, coba kau hadapi mereka.”

Ang Siauw Peng melepaskan diri dari kancah pertarungan dengan

Yu Seng Cu, dia lari kearah kereta2 piauw itu.

Tiba2 meluncur satu bayangan, menghadang didepan Ang Siauw

Peng.

“Nona Ang, yangan lari terburu-buru.” Inilah Ie Lip Tiong.

Ang Siauw Peng kenal kepada si Pendekar Pemetik Bintang Liong

Pat Su, adanya orang-orang ini dihadapannya menandakan bahwa

pertempuranya dengan kedua kakak itu sudah selesai, Dia menjadi

sangat khawatir.

“Hei,” Dia berteriak sedih. Kau telah mencelakakan kedua

kakakku?”

Disaat yang sama, Ie Lip Tiong sudah bergerak, meluruskan dan

menarik tangannya, dia berhasil menguasai dara ini.

“Jangan berkutik.” Ie Lip Tiong memberi ancaman Ang Siauw

Peng tidak berdaja.

“Hei, ilmu apa yang kau gunakan ?” Dia bingung dan panasaran

sekali.

Ie Lip Tiong tidak menyawab pertanyaan itu, dia tertawa

berkakakan, mengangkat tubuh Ang Siauw Peng tinggi2, kemudian

dia melompat kearah salah satu kereta barang, diatas kereta ini dia

berteriak kepada semua orang-orang:

“Hentikan semua pertempuran dengan segera. Atau akan

kulempar dahulu tubuh pemimpin kalian yang satu ini.”

Ie Lip Tiong mendapat julukan Pedang yang menundukkan

Rimba Persilatan, suaranya sangat keren sekali, berkumandang

jauh, betul2 dia menundukkan semua orang-orang2 itu.

Pertempuran terhenti.

Ternyata, Ie Lip Tiong telah berhasil menyatuhkan Ang Siok Lan

dan Ang Soat Tiok, keadaan sudah menjadi begitu gawat,

meninggalkan kedua orang-orang itu, dia menangkap Ang Siauw

Peng.

Ang Yan Bwee telah memberi perintah kepada orang-orang2nya,

untuk menghentikan pertempuran, kini dia menghadapi Ie Lip

Tiong.

“Hei, Lepaskan adikku itu Kita semua menyerah kalah.” Dia

berteriak keras.

Ie Lip Tiong tertawa:

“Ha, ha . . . Bukan kita yang kalah.” Dia berkata. “Tapi pihakmu

yang harus menyerah kalah ”

“Betul.” Berkata Ang Yan Bwee. “Pihakku harus menyerah kalah.

“Lekas lepaskan adikku.”

“Tidak.” Ie Lip Tiong menolak.

“Eh, kau mau apa ?” Ang Yan Bwee menjadi marah.

“Aku tidak percaja lagi kepadamu.” Berkata si pemuda. “Apa

boleh buat, aku harus membawa adikmu ini.”

Dia mengajunkan lagi tubuh Ang Siauw Peng

Ang Yan Bwee semakin marah.

“Kau Berani?” Dia membentak keras.

“Mengapa tidak ?” Ie Lip Tiong menantang.

“Kami akan mengejar terus menerus.” Ang Yan Bwee

mengancam.

“Sabar.” Ie Lip Tiong memberi keterangan. “Pos berikutnya untuk

kami bermalam adalah kota Tay-ouw-hian. Dimisalkan kami dapat

tiba ditempat Tay-ouw-hian dengan keadaan selamat. Adikmu akan

kami bebaskan segera.”

“Huh, kau hendak menarik keuntungan dari kejadian ini?

Berteriak Ang Yan Bwee memprotes.

“Ha, ha ..-.Kami adalah para piauw-su dari Sun-hong Piauw-kiok

yang ternama. yangan kau salah duga”. Berkata Ie Lip Tiong,

“Lepaskan adikku”. Berteriak Ang Yan Bwee. “Kami berdianyi.

tidak akan mengganggu barang2 kalian lagi”.

“Ha, ha … .Aku tidak percaja kepada janyimu. Betapa manisnya

pun mulutmu, tetap mulut seorang-orang wanita. Aku tidak

percaja”.

“Bagaimana harus mendapat kepercajaanmu?” Ang Yan Bwee

mulai lemah.

“Beri kesempatan kepada kami untuk bergerak. Setelah tiba

dikota Tay-ouw-hian. Adikmu segera mendapat kebebasan”. Berkata

Is Lip Tiong.

Dia masih berdiri diatas kereta barang.

“Bila aku menolak saran ini?” Ang Yan Bwee tidak membiarkan

adiknya dipeluk seperti itu.

“Apa boleh buat. Aku dipaksa membunuh adikmu lebih dahulu”.

Berkata Ie Lip Tiong.

“Kau berani ?” Ang Yan Bwee menantang.

Ie Lip Tiong tertawa dingin, tubuh Ang Siauw Peng diangkat lebih

tinggi, ‘bek’, dia membanting kebawah.

Kedudukan Ie Lip Tiong masih berada diatas kereta barang,

dengan bantingan yang seperti itu, belum tentu dia dapat

membunuh orang-orang. Tapi cukup untuk melukainya sehingga

parah.

Ang Yan Bwee mempunyai kebebasan bicara, mengetahui

keadaan dirinya yang sangat kritis. dia berteriak:

“Aaaaaa . . . .”

Ang Yan Bwee terkejut, dia masih menyayangkan jiwa adiknya,

lebih sakit lagi, tatkala melihat keadaan seperti itu, tubuhnya

bergerak, siap menyanggah tubuh Ang Siauw Peng. Keberanian Ie

Lip Tiong yang melempar orang-orang jaminan itu menaklukan

dirinya. Bila sampai terjadi sesuatu atas diri sang adik, inilah

dosanya.

“Ha. ha . . .” Ie Lip Tiong tertawa. Dia menarik balik tubuh Ang

Siauw Peng,

“Ang Yan Bwee,” Dia berteriak. “Inilah suatu peringatan

kepadamu, yanganlah bermain2 dengan jiwa adikmu.”

Ang Yan Bwee mengeluarkan keluhan napas lega. Dengan apa

boleh buat, dia menerima saran si pemuda.

“Baiklah.” dia berkata lirih. “Aku bersedia mengikuti petunjukmu

setibanya dikota Tayouw-hian, kau harus segera membebaskan

adikku.”

“Tentu, Sun-hong Piauw-kiok selama memegang janyi”,

Ang Yan Bwee sekalian tidak mempunyai jalan lain, kecuali

melulusi permintaan Ie Lip Tiong.

Berbalik memandang pada anak buahnya, dia berteriak kepada

mereka;

“Semua kembali!”

Para berandal itu membubarkan diri meninggalkan rombongan

Sun-hong Piauw-kiok, dan juga membawa dua puluh dua korban

mereka, mereka mati dibawah bisa racun yang sangat jahat.

Leng San Pian memeriksa para tukang dorong, hanya beberapa

orang-orang yang luka2, hatinya agak lega.

Dia mendekati kereta penumpang dibelakang dan berteriak:

“Penyamun telah dipukul mundur. Harap Sam-wie bertiga tahu.”

Tidak ada penyahutan.

Leng San Pian kaget. dia menyingkap kain penutup dan matanya

terbelalak, tiga sosok tubuh itu terbaring ditempat.

“Haaa……” Dia berteriak.

Ie Lip Tiong memperhatikan keadaan itu, dari jauh. dia sudah

tahu, Co Khu Liong bertiga menyembunyikan diri mereka didalam

kereta, keadaannya tentu aman. Terjadi pembunuhan2 atas para

berandal yang d-tang, Ie Lip Tiong tahu, itulah hasil perbuatan Co

Khu Liong. Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh si Raja Silat

Bajingan, membunuh para keroco kecil itu memang sangat mudah

sekali. Sama mudahnya seperti memites seekor semut,

Teriakkan Leng San Pian mengejutkan Ie Lip Tiong. Apakah yang

sudah terjadi?

Dia lari mendatangi dan berteriak; “Ada apa?”

Leng San Pian menunjuk kearah kereta penumpang.

“Lihat,” Katanya. “Mereka jatuh pingsan semua.”

Ie Lip Tioog tertawa geli, tentunya, ketiga orang-orang itu

sedang main sandiwara, ber-pura2 pingsan, takut dan jatuh

kelengar.

Memeriksa sebentar. dan dia berkata: “Masih untung tidak

menderita luka.”

Itu waktu, Co Khu Liong mengeliat bangun, seolah-olah orangorang

yang baru tidur lama, memandang Pendekar Cambuk Gunung

Leng San pian dan Pendeker Pemetik Bintang Liong Pat Su, dia

berkata gugup:

“Ba . . .Bagaimana? . . .Su . . Sudahkah rampok2 itu terusir

pergi?” Tentu saja, sikap gugupnya hanya berupa permainan

sandiwara.

“Sudah.” Leng San Pian menganggukkan kepala. “Mereka sudah

lari semua. Kita berhasil menawan seorang-orang dari para rampok

wanita itu.”

“Ha, ha. .” Co Khu Liong berteriak girang. “Bagaimana dengan

barang2 antaran?”

“Aman. Tidak ada yang kurang.”

Co Khu Liong menunjukkan jempolnya.

“Kalian Sun-hong Piauw-kiok memang hebat !” Dia memberi

pujian.

“Kami mendapat bantuannya tokoh silat yang tidak mau

memperlihatkan diri.” Berkata Leng San Pian.

“Tokoh silat yang tidak mau menampilkan diri ?”

“Betul.” Leng San Pian menganggukkan kepala. “Atas

bantuannya tokoh luar biasa itu. Para berandal yang hendak

merusak kereta barang dapat dibunuh mati. Pada dada mereka

bersarang sebuah jarum beraCun.”

“Hoo….., Berbahaja……Berbahaja. . . .” Co Khu Liong berpurapura

takut. “Lekas tinggalkan tempat ini. Sangat berbahaja sekali.”

Demikian, rombongan itu melanyutkan perjalanan yang

terganggu.

Ie Lip Tiong masih menggendong Ang Siauw Peng.

“Aku memprotes.” Berteriak gadis itu. “Tidak pantes, kalian

memperlakukan seorangorang tawanan wanita seperti ini.”

“Maksudmu ?” Ie Lip Tiong tertawa.

“Beri aku kereta yang lajak.”

“Ha ha. . .Kereta hanya disediakan untuk langganan kita. Tidak

ada kereta lain.” Ie Lip Tiong memberi keterangan.

“Aku tidak mau kau gendong.” Ang Siauw Peng masih berteriak.

“Tidak ada orang-orang lain, nona” Berkata Ie Lip Tiong sabar.

“Cis, tidak tahu malu. Mau menarik keuntungan dariku?!”

Ie Lip Tiong menggendong tubuh gadis itu.

“Sjukurlah, bila kau sudah tahu maksudku.” Dia tertawa cengarcengir.

“Tidak tahu malu. Manusia yang tidak mempunyai

prikemanusiaan. Bajingan perempuan. Tukang kelonin wanita jalang

. . .” Dan masih banyak lagi caci-maki Ang Siauw Peng yang tertuju

kepada Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong mendelikkan matanya.

“Masih saja kau memaki kalang kabutan, segera kubanting

ditanah.” Dia mengancam.

Ang Siauw Peng tidak takut, masih saja memaki:

“Manusia gila basa . . . Pemuda hidung belang . . , Bajingan

perempuan….Laki2 jabg tidak tahu malu…..”

Ie Lip Tiong memungut sehelai rumput, dengan rumput itu, dia

mengilik hidung Ang Siauw Peng.

Sang dara mendapat totokan jalan darah dia tidak dapat

mengelakkan.

“Hacih …. Hacih…….” berulang kali dia berbangkis.

“Masih berani memaki lagi ?” Ie Lip Tiong tertawa.

“Orang-orang gila …” Ang Siauw Peng masih memaki.

“Haijih …. Hacih . . .” Ie Lip Tiong mengiliknya lagi.

Ang Siauw Peng mengeluarkan air mata, tidak berani dia

membuka mulut. Mengancing mulut itu rapat2.

Leng San Pian menjadi tidak tega, dia menghampiri dan berkata:

“Kukira tidak baik menyiksa orang-orang. Dia memang agak

berandalan. Tapi perangainya cukup baik.”

“Sudah kukatakan”, berkata Ie Lip Tiong membikin pembelaan.

“Sudah kuberitahu untuk menutup mulutnya yang bawel itu. Dia

tidak mau. Apa boleh buat. Kini dia baru dapat diam !”

“Aku benci kepadamu”. Berdesis Ang Siauw Peng.

“Boleh saja”. Berkata Ie Lip Tiong. “Sebentar lagi. setelah kita

tiba dikota Tay-ouwhian, segera kuberi kesempatan kepadamu

untuk pergi menemui 8 kakak-kakakmu, itu Waktu kau bebas

meelakukan segala kehendak hatimu.”

Roda2 kereta dorong dan kereta kuda yang digunakan oleh Co

Khu Liong menggelinding terus.

Untuk menutupi tubuh Ang Siauw Peng yang terlalu ketat, Ie Lip

Tiong meminyam baju luar Yu Seng Cu, dikerudungkan kepada

tubuh dara itu.

Ang Siauw Peng sudah menutup mulutnya dia tidak bicara.

Perjalanan berlangsung satu hari penuh, beberapa kali, Ie Lip

Tiong memberi minum kepada orang-orang tawanannya. Ang Siauw

Peng menerima pemberian itu, wajahnya masih asam cembetut.

Tidak sepatah ucapan terima kasih yang keluar dari mulutnya.

20 lie lagi perjalanan itu berlalu, Ie Lip Tiong teringat kepada

panah belut keluarga Ang yang istimewa, dia berkata:

“Nona Ang, tiga jam lagi kau tidak membuka mulut, jalan

paru2mu bisa menjadi buntu.”

“Bukan urusaamu.” Ang Siauw Pang membentak.

“Haaa. Ie Lip Tiong tertawa.

“Akhirnya kaupun membuka mulut juga.”

Ang siauw Peng merapatkan kedua bibirnya. dia benci sekali.

Ie Lip Tiong menggoda:

“Kudengar cerita orang-orang yang menggembor-gemborkan 9

dara keluarga Ang yang hebat, ternyata kakak2mu itu sepertimu

juga?”

“Aku bagaimana ?”

“Kau seorang-orang pengecut.”

“Kau yang pengecut.”

“Mengapa kau tidak berani menghadapi kenyataan? Mengapa kau

tia.k berani bicara?”

“Nah, aku bicara. Kau mau apa?” Ang Siauw Peng menantang.

“Aku ” hendak menanyakan sesuatu tentang panah istimewa dari

keluarga kalian.” Berkata Ie Lip Tiong.

“Apa perlunya?”

“Aku heran. Bagaimana dia dapat mengejar orang-orang yang

membawa senyata?”

“Inilah rabasia kami.” Berkata Ang Siauw Peng.

“Rahasianya sudah diketahui oleh Cong-piauw-tauw kami Leng

San Pian.” Berkata Ie

Lip Tiong. “Kau tidak mau menyawab pertanyaan tadi. Aku dapat

bertanya kepada dia.”

“Boleh! Aku tidak melarang kau bertanya kepadanya.” Berkata

Ang Siauw Peng bersengut-sungut

“Pikiranmu agak kurang tepat.” Berkata Ie Lip Tiong. “Rahasia

keluarga Ang dapat diucapkan oleh oraag lain. Itu akan

memalukan.”

“Dia terbuat dari besi berani.” Berkata Ang Siauw Peng.

“Hebat.” Ie Lip Tiong memberi pujian.

“Tentu saja hebat.” Berkata Ang Siauw Peng.

“Cong piauw-tauw kami memberi perintah untuk melemparkan

senjata, hal untuk menghindari kejaran panah belutmu itu.”

Memberi keterangan Ie Lip Tiong.

“Kukira, kau masuk kedalam perusahaan pengangkutan Sunhong

Piauw-kiok belum lama bukan?” Bertanya Ang Siauw Peng,

Sikapnya sudah berubah. Dia tertarik kepada lagu pembicaraan Ie

Lip Tiong.

“Betul”. Ie Lip Tiong menganggukkan kepalanya. “Baru beberapa

hari saja”.

“Hei, siapakah namamu ?” Bertanya dara keluarga Ang yang

nomor sembilan itu.

“Eh, mau menuntut balas ?” Ie Lip Tiong memperhatikan

tawanannya.

“Betul”. Berkata Ang Siauw Peng gagah. “Berani kau menyebut

nama aslimu ?”

“Untuk sementara tidak berani”. “Berkata Ie Lip Tiong.

“Mengapa ? Takut aku menuntut balas?” Ang Siauw Peng

menyipitkan sepasang matanya.

“Ha, ha . . .” Ie Lip Tiong tertawa.

“Mengapa tertawa ?” Bentak Ang Siauw Peng galak.

“Aku agak geli. Bila menyebut namaku yang palsu, tentu tidak

baik kepadamu”. Ie Lip Tiorg mengucapkan kata2 ini dengan suara

rendah.

Cara duduk mereka yang mencongkang satu kuda tidak dapat

menarik perhatian semua orang-orang, apa lagi diucapkan oleh

suara perlahan, tentu tidak ada yang mendengar kata2 tadi.

“Coba kau sebutkan nama itu . . .”

“Hus . . . .” Ie Lip Tiong menutup mulut gadis itu. “yangan bicara

terlalu keras Sekarang, aku menggunakan nama Pendekar Pemetik

Bintang Liong Pat Su. Dan nama asliku belum dapat kusebut. Bila

kau hendak mengadakan tuntutan balas. kau boleh pergi ke

Persekutuan Su-hay-tong-sim-beng, tanyakanlah nama asliku

kepada Hong-lay Siauong bengcu.”

Hong-lay Sian-ong adalah bengcu atau ketua dari gerakkan

persekutuan Su-hay-tongsiam-beng. Suatu gerakkan yang

menggabungkan semua kekuatan yang ada pada rimba persilatan.

Ang Siauw Peng terkejut.

“Kau orang-orang dari Su-hay-tong sim-beng?” Dia mengajukan

pertanyaan perlahan.

“Betul”. Ie Lip Tiong menyingkap baju luar, dan memperlihatkan

baju kuning Su-haytong-sim-beng

“Aaaaaa …..”

“Jangan berteriak” Bentak Ie Lip Tiong perlahan. “Kedudukanku

masih dirahasiakan”.

Ang Siauw Peng mengerlip-ngerlipkan sepasang matanya yang

jeli. Nama Su-haytong-sim-beng sangat berkenan kepada semua

orang-orang, termasuk juga dirinya,

“Su-hay-tong-sim-beng tidak akan mengganggu kalian”. Berkata

Ie Lip Tiong. “Bilamana kalian bersedia melepaskan penghidupan

illegal itu. Setelah sampai dikota

Tay-ouw-hian, segera kubebaskan dirimu”.

Ie Lip Tiong melepas tangannya yang menutup mulut sang dara.

Ang Siauw Peng bertanya lagi,

“Kau Duta Istimewa Berbaju Kuning dari gerakkan Su-hay-tongsim-

beng ?”

Ie Lip Tiong menganggukkan kepala.

“Kukira kau adalah Duta Nomor Tujuh si Pendekar Pedang Duta

Siang koan Wie.”

Berkata Ang Siauw Peng penuh pegangan.

Ie Lip Tiong membelalakkan mata, dari mana dara ini tahu

julukan dan nama lengkap Siang-koan Wie ?

“Atau Duta Nomor Delapan, si Pendekar Pengembara Lu Ie Lam.”

Berkata lagi Ang Siauw Peng. Dia menduga satu dari dua orangorang

itu

Ie Lip Tiong menggelengkan kepala.

“Bagaimana kau hanya menduga kepada kedua mereka ?” Dia

bertanya.

Ternyata. Gabungan persekutuan gerakkan Su-hay-tong-simbeng

mempunyai 1 Duta Istimewa berbaju kuning. Urutannya

sabagai berikut:

Duta Pertama, Pendekar Gembira Oe tie Pie sang.

Duta Nomor Dua, Pendekar Bocah Tua Koo Sam Ko.

Duta Nomor tiga, Pendekar Windu Kencana Toan In Peng.

Data Nomor empat, Pendekar Hakim Hitam Can Ceng Lun.

Duta Nomor lima, Pendekar Raja Selatan Tong yang Cin-jin.

Duta Nomor Enam, Pendekar Pedang Kaju Koan Su Yang.

Duta Nomor Tujuh, Pendekar Pedang Duta Siang koan Wie.

Duta Nomor Delapan, Pendekar Pengembara Lu Ie Lam,

Duta Nomor Sembilan. Pendekar Lampu Besi Thiat-teng Hweesio.

Duta Nomor Sepuluh, Pendekar Laut Selatan Lam-hay San-jin.

Duta Nomor Sebelas, Pendekar Mata Satu Tok-gan Sin-kay.

12 Duta Nomor Duabelas, Neng Manis Co In Gie.

13 Duta Nomor Tiga Belas, Pedang yang menundukkan Rimba

Persilatan Ie Lip Tiong.

Duta Nomor Enam dan Duta Nomor Sembilan sudah almarhum,

mereka binasa didalam satu tugas untuk menyelidiki rahasia

pembunuhan gelap yang menyangkut nama baik Ie Lip Tiong,

binasa dibawah tangan komplotan tukang beset kulit manusia,

partay Raja Gunung itu.

Duta Nomor Sebelas telah melepaskan jabatannya, karena soal

penggelapan Ie Lip Tiong yang tidak dibunuh mati. Dia exit.

Duta Nomor Tiga Bilas Ie Lip Tiong memegang jabatan belum

lama.

Ie Lip Tiong mengatakan, bahwa dirinya adalah salah satu dari 8

para Duta Istimewa Berbaju Kuning dari gerakkan Su-hay-tong-simbeng.

Ang Siauw Peng menduga kepada Duta Nomor Tujuh Siang

koan Wie atau Duta Nomor Delapan Lu Ie Lam.

“Bagaimana kau tidak menduga kepada lain orang-orang?”

Bertanya Ie Lip Tiong tertawa.

Ang Siauw Peng mengemukakan alasannya:

“Dari 12 Duta Istimewa Berbaju Kuning yang duduk didalam Suhay

tong-sim-beng. Hanya Duta Nomor tujuh dan Nomor Delapan

yang masih belum berkeluarga. Tentu saja aku tidak menduga

kepada 10 orang-orang lainnya.”

Dia belum tahu, bahwa Su-hay-tong-sim-beng telah Bertambah

seorang-orang Duta Istimewa Berbaju Kuning, inilah Ie Lip Tiong.

Orang-orang yang sedang merendengi dirinya.

Ie Lip Tiong berpiklr sebentar, otaknya bekerja cepat, akhirnya

dia menggunakan nama Siang koan Wie.

“Betul.” Dia berkata. “Aku adalah Duta Nomor Tujuh Siang koan

Wie.”

Apa maksud Ie Lip Tiong menggunakan nama Siang koan Wie?

Untuk sementara kita tidak jawab pertanyaan ini. Pada babak akhir

cerita, tentu terpecah sendiri. Tidak ada satu langkah Ie Lip Tiong

yang mengalami kegagalan .Demikian didalam pemalsuan nama

inipun juga.

“Berapa kini. umurmu yang sebenarnya ?” Bertanya lagi Ang

Siauw Peng. Sifatnya sudah banyak berubah balk.

Ie Lip Tiong semakin bingung.

“Menurut dugaanmu, berapa seharusnya Umur yang kupunyai?”

Dia balik bertanya kepada orang-orang yang mengajukan

pertanyaan itu: “Mengapa kau mengajukan pertanyaan tentang

umur?”

Wajah Ang Siauw Peng bersemu merah, deburan napasnya

menjadi bertambah cepat.

“Tidak bolehkah?” Dia berdongak lagi kearah orang-orang yang

memegangnya.

“Tiga puluh delapan.” Berkata lagi Ie Lip Tiong. Dia juga

menggunakan umur Duta

Nomor Tujuh Siang koan Wie.

“Aha. . .” Wajah Ang Siauw Peng bercahaja terang. “Lebih tua

sembilan tahun dari kakakku Ang Yan Bwee.”

Ie Lip Tiong segera dapat menangkap arti yang tersembunyi dari

pertanyaan umur tadi. dia tersenyum geli.

“Oooo. , . .” Tanpa komentar.

“Eh, bagaimana penilaianmu kepada Ang Yan Bwee?” Bertanya

lagi Ang Siauw Peng.

“Cukup cantik.” Berkata Ie Lip Tiong.

“Kukira, dia cocok untukmu,” Berkata Ang Siauw Peng.

“Husss . . .Kakakmu itu benci kepadaku.”

“He. dia belum tahu bahwa kau adalah Duta Istimewa Berbaju

Kuning dari Su-haytong-sim-beng yang ketujuh, Pendekar Pedang

Duta Siang-koan Wie yang ternama. Bila saja dia tahu, huh. . . .Aku

percaja, dia akan tertarik kepadamu. juga tidak sampai terjadi

pembegalan yang seperti tadi.”

“Aku tidak mengerti.” Berkata Ie Lip Tiong.

Ang Siauw Peng berkata: “Pandangan matanya terlalu tinggi.

tidak satupun yang masuk kedalam lubuk hatinya. Kecuali kau dan

Lu Ie Lam. Dia sering menyebut nama kalian. Karena itu, aku

percaja, langkahku ini tidak menyalahinya.”

“Mendapat pujian seorang-orang dara jelita memang sangat

muluk sekali.” Berkata Ie Lip Tiong. “Aku sangat berterima kasih.”

“Sungguh.” Berkata Ang Siauw Peng. “Sampai saat ini, belum

pernah dia kecantol kepada laki2 lain. Aku menguatirkan

perjodohannya-”

“Tidak guna dikuatirkan.” Barkata Ie Lip Tiong “Dewi amor belum

melepaskan anak panah kepadanya. Apa guna ?”

“Tapi, dimisalkan dia seorang-orang tidak menikah, kami. . , .Ang

Siok Lan, Ang Ciu Ciok. Ang Soat Tiok, Ang Hiang Lian, Ang Hiang

Tiap, Ang Giok Lan dan Ang Giok Hui tidak bebas memilih kekasin

mereka.”

Ie Lip Tiong tertawa.

“Mengapa tidak menyebut namamu, Ang Siauw Peng juga tidak

bebas memilih kekasih yang diidam idamkan?” Dia menudingkan jari

sehingga mengenai hidung anak dara itu.

Ang Siauw Peng mendelikkan matanya.

“Cih, aku belum pernah memikirkan sampai kesitu.” Suaranya

dara ini sangat menarik sekali.

“Ha, ha . . . .” Ie Lip Tiong tertawa.

“Kau lihay” Berkata Ang Siauw Peng. “Aku percaja. Ang Yan

Bwee menyetujui calon suaminya yang sepertimu.”

“Kuanyurkan kepadamu agar kalian, sembilan dara manis2 ini

lekas2 mencari jodoh, sehingga tidak terlunta-lunta menjadi

berandal gunung.” Berkata Ie Lip Tiong memberi nasihat.

“Maka, aku meminta bantuanmu. Lekaslah mengawini kakakku.

Akan kujamin, di dalam tempo satu tahun. sesudah pernikahanmu

dengan Ang Yan Bwee delapan lainnya akan memilih kekasih

masing2.”

“Kau tahu, aku sedang menyalankan tugas, bagaimana . . .”

“Aku tidak memaksa dengan segera.” Potong Ang Siauw Peng.

“Sesudah selesai tugas itu, datanglah ke Kiu kho-leng.”

Ie Lip Tiong memutar otak. Memandang dara itu dan berkata:

“Kukira, ada lebih baik kalian yang pergi kegunung Lu-san.”

Gunung Lu-san adalah markas besar garakan Su-hay-tong-simbeng.

“Boleh juga”. Berkata Ang Siauw Peng. “Akan kuajak Ang Yan

Bwee menemuimu digunung Lu-san. “Eh, bilakah kau selesai tugas

itu?”

“Kukira harus memakan waktu dua bulan.” Berkata Ie Lip Tiong

“Baik. Itu waktu. akan kuajaknya kesana.”. Berkata Ang Siauw

Peng.

“Jangan lupa”. berkata Ie Lip Tiong. “Ajak juga kakakmu yang

nomor dua Ang Siok Lan”.

“Hayaaaa, kau hendak menelan sekaligus dua orang-orang?” Ang

Siauw Peng berteriak.

“Jangan salah mengerti”. Ie Lip Tiong memberi keterangan. “Aku

Siangkoan Wie hendak memperistri Ang Yan Bwee. Dan Duta Nomor

Delapan Lu Ie Lam tidak boleh kesepian, Ang Siok Lan itu cocok

untuknya”.

“Ha, ha . . .” Ang Siauw Peng tertawa.

“Setuju?”

“Terapi…..” Ang Siauw Peng ragu2. “Belum tentu Ang Siok Lan

mau menuruti jodoh ini ?”

“Jangan khawatir.”. Berkata Ie Lip Tiong. “Ilmu kepandaian Lu Ie

Lam tidak berada dibawahku. Aku percaja, tidak akan

mengecewakan kalian”.

“Baiklah sedapat mungkin, akan kuusahakan jodoh mereka.”

Berkata Ang Siauw Peng.

Perjalanan itu cukup memakan waktu tapi bagi Ie Lip Tiong dan

Ang Siauw Peng yang telah mengikat tali persahabatan, tentu saja

terlalu cepat.

Sebentar kemudian, sinar matahari telah terbenam.

Ie Lip Tiong membebaskan totokannya.

Ang Siauw Peng begitu jinak, dengan menunggang satu kuda,

dia tidak mencoba untuk melarikan diri.

Hanya didalam satu hari, Ie Lip Tiong berbasil mengubah

permusuhan dengan keluarga Ang menjadi stutu persahabatan yang

kekal abadi.

Pendekar cambuk Gunung Leng San Pian sangat berhati-hati

kepada pembegalan2 lainnya, kadang kala, diapun menengok

kearah pasangan itu. Begitu riang mereka tertawa, didalam hati, dia

memuji kepintaran tangan Ie Lip Tiong yang mudah memikat hati si

dara kesembilan dari keluarga Ang.

Hampir menyelang tengah malam iring2an kereta Sun-hong

Piauw-kiok tiba dikota Tay-ouw-hian.

Didepan pintu kota itu, Ie Lip Tiong berkata kepada orang-orang

tawanannya.

“Kini kau boleh kembali kepada saudara2mu itu”.

Ang Siauw Peng tidak segera lompat turun, dia menoleh

kebelakang dan bertanya:

“Boleh aku mengajukan suatu permintaan?”

“Permintaan tentang apa?” Bertanya Ie Lip Tiong.

“Aku meminta tanda bukti dari undangan dan kesungguhsungguhan

hatimu. Dengan bukti ini, kami baru dapat membikin

kunyungan kegunung Lu-san”. Berkata Ang Siauw Peng yang

mempunyai pikiran panjang

Ie Lip Tiong memotong sebagian baju kebesaran Duta Istimewa

Berbaju Kuning dari Su-hay-tong-sim-beng. Diserahkan kepada dara

manis itu.

“Bukti ini cukup kuat, bukan?” Dia tertawa.

Ang Siauw Peng menyambuti potongan baju itu, dia lompat turun

dari kuda tunggangan mereka. Tubuhnya meluncur cepat dan

melambaikan tangan.

“Selamat bertemu lagi.” Dia berkata dengan gesit.

“Selamat jalan”. Ie Lip Tiong memperhatikan sehingga lenyapnya

bentuk tubuh yang langsing itu.

Ang Siauw Peng kembali kearah Kiu khe-leng.

Ie Lip Tiong dan rombongannya memasuki kota Tay-ouw-hian.

Bagian 5

MENINGGALKAN cerita Ang Siauw Pang yang kembali keatas

gunung Kiu-kho-leng.

Mengikuti rombongah Sun-hong Piauw-kiok dengan kereta

mereka yang masih menggelinding terus.

Mereka bermalam dirumah penginapan Tay-ouw Ko Ciam.

Tidak ada kejadian yang perlu dicatat. Semua berjalan dengan

tenang.

Hari berikutnya……

Perjalanan dilanyutkan, menuju kearah Su-shia.

Pos berikutnya adalah kota Ciam-san-hian, Seperti apa yang

sudah diperhitungkan, malam itu mereka akan menginap disana dan

seterusnya menuju ketempat tujuan.

Perdialanan seterusnya dari luar kota Ciam-san-hian adalah

tempat strategis untuk melarikan barang2 itu. Acara Ie Lip Tiong

dan Leng San Pian adalah mengerjai barang2 itu disana. Tapi

bantuan tenaga yang diharapkan belum datang, mereka menjadi

bingung.

Kereta2 memasuki daerah pegurungan Wan-san, roda2 itu

bergelinding dengan suara yang sangat berisik.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian mendekati si ‘Pendekar

Pemetik Bintang Liong Pat Su.

“Mana bala bantuan yang kita harapkan?” Dia bertanya kuwatir.

“Kukira mereka sudah menunggu dikota Ciam-san-hian.” Berkata

Ie Lip Tiong.

“Bila bantuan itu tidak datang?” Suara Leng San Pian sangat

pelahan.

“Rercana tetap dijalankan.” Berkata Ie Lip Tiong mantap.

“Kita bukan tandingan mereka.” Berkata Leng San Pian lagi.

“Boleh menggunakan akal lain,” Berkata Ie Lip Tiong.

“Dengan obat tidur?” Leng San Pian memberi usul.

Ie Lip Tiong menggoyangkan kepala.

“Co Khu Liong adalah Raja Bajingan, sangat berbahaja.” Dia

mengemukakan alasannya. “Tidak mungkin mengelabui matanya.”

“Kita sergap si Raja Bajingan lebih dahulu ?”

“Tidak ada pegangan kuat untuk mengalahkannya. juga

berbahaja.”

Ie Lip Tiong hendak mencari satu jalan yang terbaik untuk

mengatasi kesulitan ini. “Bila kita gagal. Ludeslah semua harapan

itu.”

Leng San Pian tertawa nyengir.

“Aku tidak mempunyai pengalaman yang baik. Kau pikirkanlah

cara2 untuk menghadapi kenyataan.” Dia putus harapan.

“Bersabarlah sehingga tiba dikota Ciam-san-hian.” Berkata Ie Lip

Tiong. “Aku tidak percaja bahwa suratku itu tidak sampai ketempat

tujuan. Tunggulah bantuan tenaga yang kuat.”

Mereka telah mendekati kota Ciam san-hian. Pikiran Ie Lip Tiong

dan Leng San Pian semakin kalut.

Benteng kota sudah tampak dihadapan mata, mereka berada

dipintu Barat dari kota Ciam-san-hian.

Jauh didepan rombongan Su-hong Piauw-kiok, tepat dibagian

depan pintu kota itu berdiri dua orang-orang tua.

Ie Lip Tiong dan Leng San Pian saling pandang, mereka menduga

kepada bantuan dari Su-hay-tong sim-beng. Mereka menggebrak

kuda, menghampiri mereka.

Dua orang-orang yang menunggu rombongan Sun-hong Piauwkiok

tadi adalah dua orang-orang kakek yang berambut putih, yang

satu berjubah kuning dan satu lagi mengenakan pakaian warna

hijau. Orang-orang tua yang berjubah kuning menguraikan

rambutnya sehingga pundak. Matanya besar dan galak, sepasang

alisnya tebal gompiok, sikapnya sangat sombong.

Orang-orang tua yang berbaju hijau bermata sipit. bertopi kecil,

tidak galak, tapi sangat menyeramkan.

Dua orang-orang tadi berdiri didepan pintu kota seperti dua iblis

yang menantikan mangsa.

Ie Lip Tiong tidak kenal kepada dua orang-orang itu, dia

menduga kepada musuh.

Leng San Pian memberi hormat kepada kedua orang-orang tadi,

sebagai seorangorang pemimpin perusahaan pengangkutan, dia

banyak pengalaman.

“Kami Leng San Pian, pemimpin dari perusahaan pengangkutan

Sun-hong Piauwkiok. Bilamana jiWie berdua ada urusan,

dipersilahkan bicara.”

Orang-orang tua yang berjubah kuning menengadahkan

kepalanya, tidak memberi penyahutan atas kata2 tadi.

Orang-orang berbaju hijau menganggukkan kepalanya, dia

berkata:

“Aku tahu. Dan barang yang berada di dalam kereta dorong itu

berupa uang perak, bukan?”

Suaranya tidak sedap didengar.

Leng San Pian segera membikin persiapan,

“Betul”. Dia berkata tenang.

“Berangkat dari kota Han-yang, via Bu-ciang dan menuju kearah

Su-shia, bukan?”

“Betul”. Sekali lagi Leng San Pian membenarkan pertanyaan itu.

Hatinya semakin was2.

“Bisa kami bicara dengan orang-orang yang mempunyai uang ini

?” Berkata orang-orang tua berbaju hijiu.

“Maaf.” Leng San Pian menolak permintaan orang-orang. Segala

tanggung jawab berada ditangan Sun-hong Piauw-kiok. Urusan to

ich diselesaikan denganku”.

“Ha, ha . . .Dia barada didalam kereta penumpang, bukan?”

Bertanya lagi kakek berbaju hijau itu.

“Kami belum tahu maksud tujuan kalian berdua”. Berkata Leng

San Pian.

Kakek berbaju hijau menoleh kearah kawannya, dan berkata

kepada kakek baju kuning ini;

“Sie It Hu, suaramu lebih panyang, coba kau panggil dia keluar”.

Ie Lip Tiong Terkejut,

Sie It Hu adalah nama dari salah satu dari dua belas Raja Silat

Sesat, gelarnya si Raja Silat Gila. Adanya kedua kakek ini ditempat

ini dapat mengganggu usaha gerakkan Su-hay-tong-sim-beng.

Kakek berjubah kuning adalah Raja Silat Gila Sie It Hu, dia

membuka suaranya yang lantang.

“Co Khu Liong, lekas menemui kita.” Suaranya berdengung lama.

Suara ini mendapat sahutan spontan. Terdengar suara tertawa

berkakakan. dan melayanglah satu bayangan gesit, sebentar

kemudian sudah berada didepan kedua kakek itu, inilah si Raja Silat

Bajingan Co Khu Liong, dia meninggalkan kereta penumpang,

meninggalkan Lauw Can Cun dan In Thian Liu, dia menghadapi

mereka.

“Bagaimana kalian berada ditempat ini?” Co Khu Liong kenal

kepada kedua kakek yang menghadang perjalanan.

Kakek berbaju hijau menoleh kearah kawannya dan berkata

kepada kakek yang berbaju kuning.

“Bu Bee Beng, giliranmu yang bicara,”

Lagi2 Ie Lip Tiong dikejutkan oleh nama ini, Bu Bea Beng adalah

seorang-orang tokoh silat Raja Sesat juga, dia bergelar Raja Silat

Siluman. Kedudukannya sederajat dengan si Raja Silat Gila Sie It

Hu, Raja Silat Bajingan Co Khu Liong dan raja silat lainnya.

Ie Lip Tiong mengeluh pajah, satu Co Khu Liong saja tidak dapat

dihadapi dengan kekerasan, apa lagi tambah dua bantuan, hatinya

menjadi bingung

Itu waktu, Co Khu Liong sudah menghadapi dua kakek berambut

putih.

“Bagaimana kalian berada ditempat ini?” Dia bertanya kepada Sie

It Hu dan Bu Bee Beng.

Kakek yang berbaju hijau, si Raja Silat Siluman Bu Bee Beng

mengerlip-ngerlipkan matanya, setengah main2 dia berkata:

“Mendapat perintah untuk merampas uang kau.”

Raja Bajingan Co Khu Liong membentak keras: “Dasar manusia

siluman ”

Raja Gila Sie It Hu berkata: “Co Khu Liong, diantara 12 Raja Silat

Kesatria, siapa yang dapat kau dekati?”

“Mengapa bertanya tentang mereka?” Berkata Raja Bajingan Co

Khu Liong.

Ternyata, dimasa itu ada 12 Raja Silat Sesat dan 12 Raja Silat

Kesatria.

12 Raja Silat Sesat berada dibawah pimpinan si Maha Raja Ngokiat

Sin-mo Auwyang Hui, setelah Auw-yang Hui binasa dibawah

kerojokkannya ajah Ie Lip Tiong sekalian, mereka berceceran.

Tiga diantaranya adalah si Raja Silat Gila Sie It Hu, Rija Silat

Siluman Bu Bee Beng dan Raja Silat Bajingan Co Khu Liong.

12 Raja Silat Kesatria berada dibawah pimpinan Raja Silat

Kedewaan Hong-lay Sianong. Inilah orang-orang yang menduduki

kursi ketua persatuan gerakkan Su-hay-tongsim-beng.

Untuk masa itu, tokoh2 silat yang terkemuka adalah 24 orangorang

raja2 silat tadi. Tiga diantaranya sudah berada didepan Ie Lip

Tiong.

Raja Silat Siluman Bu Bee Beng berkata:

“Co Khu Liong. kau belum menyawab pertanyaan Sie It Hu, dari

12 Raja Silat Kesatria, siapa yang dapat kau dekati?”

Co Khu Liong mendelikkan mata.

“Mengapa mengajukan pertanyaan ini ?” Dia seperti

dipermainkan.

Raja Silat Gila Sie It Hu berkata :

“Dasar bajingan, segala sesuatu harus tahu jelas. jawab dulu

pertanyaan ini. Nanti kukemukan alasannya.”

“Terus terang saja, aku tidak mempunyai hubungan baik dengan

12 Raja Silat Kesatria, Diantaranya, hanya Raja Silat Kebebasan Bu

Sen Oen Bun Po yang mudah diketahui. Dia terlalu baik hati. Maka

tidak segala raja2 silat Kesatria lainnya.”

“Tepat. Karena Itulah, sancu kita memberi tugas kepadamu

untuk menemui Bu Sen Oen Bun Po itu,”

Sancu berarti raja gunung. Orang-orang yang mau jadi guru Ai

Tong Cun, Ai See Cun, Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun.

Mengikuti percakapan ini, Ie Lip Tiong mendapat gambaran baru.

Ternyata si Raja Silat Gunung mempunyai kedudukan yang berada

diatas 12 Raja Silat Sesat?

Siapakah si Raja Silat Gunung itu? Bagaimana dia dapat

menundukkan 12 Raja Silat Sesat sebangsa Co Khu Liong sekalian?

“Mengapa harus menemuinya?” Co Khu Liong memandang Sie It

Hu dan Bu Bee Beng. Dia belum mengerti.

“Eh, eh, lagi2 meminta alasan lagi?” Berkata si Raja Silat Gila Sie

It Hu.

“Aku harus menyalankan tugas, bukan?” Berkata Co Khu Liong.

“Persoalan apa yang menyangkut dengannya?”

“Begini,” Sie It Hu memberi keterangan. “Sancu kita mendapat

berita yang mewartakan bahwa itu Raja Silat KeSatria bermunculan

kembali. Ini berbahaja! Karena itu. kau ditugaskan menemui Bu Sen

Oen Bun Po, usahakanlah agar raja silat ini tetap mengeram

ditempatnya, atas dengan cara lainpun kau harus berusaha agar dia

tidak turut serta didalan gerakan persatuan Su-hay-tong-sim-beng.

Mengerti ?”

Wajah Co Khu Liong berubah.

“Maksud kalian agar aku yang membunuh Bu Sen Oen Bun Po?”

Dia bertanya.

“Inilah tugas.” Berkata Sie It Hu.

“Kau kira si Raja Silat Kebebasan mudah dihadapi ?” Co Khu

Liong mengutarakan kekhawatirannya.

“Sebagai seorang-orang raja bajingan, kau tidak akan

kekurangan akal. Karena itu, Sancu mempercajakan tugas ini

kepadamu.”

“Tetapi aku tidak tahu jejak si Raja Silat Kebebasan Bu Sen Oen

Bun Po.” Co Khu Liong mengemukakan alasan untuk menolak.

“Sancu kita telah mendapat info pasti, bahwa Oen Bun Po

menetap digunung Mo-kausan. dia mengasingkan diri ditepi telaga

Kiam-tie, pergilah kau kesana. Tidak salah lagi.”

“Aku tidak mempunyai pegangan kuat.” Berkata si Raja Silat

Bajingan Co Khu Liong.

“Sancu tidak memastikan kau dapat memenangkannya.

Berusahalah.”

“Perintah harus segera dijalankan?” Bertanya si Raja Silat

Bajingan.

“Betul.”

“Dan kalian berdua yang mengambil alih tugas pengawalan

uang2 ini?” Co Khu Liong memandang kedua kakek itu.

“Betul.” Berkata si Raja Silat Gila Sie It Hu.

“Apa alasan lainnya ?”

“Aku menaruh curiga,” Berkata Co Khu Liong. “Tidak seharusnya

Sancu kita mengutus kalian berdua barbareng hanya untuk

melakukan tugas yang sangat ringan sekali.”

“Berani kau meragukan keputusan Sancu?” Raja Silat Gila Sie It

Hu mendelikkan matanya.

“Ha. ha …” Co Khu Liong tertawa. “Kalian belum tahu, di Kiu kholeng,

masih ada orang-orang yang mau merampok uang kita, Tapi

mereka tidak berhasil. Dengan mudah kita dapat mengatasinya.”

Raja Silat Gila Sie It Hu itu berkata:

“Dimisalkan Ie Lip Tiong yang mengada-adakan perampokan itu,

mungkinkah kau dapat beri aku tenang lagi?”

“Ie Lip Tiong ?” Co Khu Liong berteriak kaget. “Ie Lip Tiong juga

mau merampok uang kita?”

“Kau baru tahu ?” Raja Gila Sie It Hu tertawa dingin.

“Mengertikah kau, mengapa sancu mengutus kita berdua ?”

Raja Bajingan Co Khu Liong bungkam.

Ie Lip Tiong sedang mengasah otak bagaimana harus

menghadapi tiga Raja Silat Sesat dihadapannya. Dia tidak berdaja

sama sekali.

Itu waktu, Lauw Can Cun dan In Thian Liu telah menampilkan

diri. MereKa tidak perlu berlaku bodoh lagi.

Ie Lip Tiong, Leng San Pian dan Yu Seng Cu berdiri berendeng,

perkembangan situasi yang seperti itu sungguh berada diluar

dugaan mereka.

Co Khu Liong memandang kearah tiga piauw-su itu, dan berkata

kepada mereka:

“Mari, kalian kemari, akan kuperkenalkan kalian kepada dua

rekanku”.

Leng San Pian bertiga sudah lompat turun dari kuda tunggangan

mereka, memberi hormat segera.

“Kami tidak tahu bahwa berhadapan dengan Co Cianpwe yang

mulia. Harap memaafkan kepada kami semua”.

Co Khu Liong tertawa dingin, menunjuk kearah kakek yang

berbaju kuning dan berkata:

“Raja Silat Gila Sie It Hu”.

Leng San Pian bertiga menunjuk hormat mereka.

Menudingkan kearah kakek yang berbaju hijau, Co Khu Liong

melanyutkan perkenalannya:

“Raja Silat Siluman Bu Bee Beng”.

Leng San Pian, Ie Lip Tiong dan Yu Seng Cu membeir hormat

lagi.

“Mereka adalah tiga piauwsu dari Sun-hong Piauw-kiok”. Kata2

Co Khu Liong ini ditujukan kepada Sie It Hu dan Bu Bee Beng.

Kedua raja silat itu mengerlingkan matanya, memandang rendah

kepada ketiga piauw-su yang diperkenalkan.

Hal ini sudah jamak, Ie Lip Tiong sekalian maklum kepada

perbedaan derajat mereka yang terlalu banyak, mereka menyerah.

Co Khu Liong memandang kearah Leng San Pian.

“TeruS terang jawab pertanyaanku”, Katanya. “Didalam

rombonganmu, apa tidak terselip seorang-orang pemuda yang

bernama Ie Lip Tiong ?”

“Ie Lip Tiong?” Leng San Pian membawakan sikap yang seperti

kaget “Putra ketua partay Oey-san-pay Ie Im Yang almarhuma itu ?”

“Betul ” Bergerak si Raja Silat Bajingan Co Khu Liong, “Ada

tidak?”

“Mana ada ?” Berkata Leng San Pian. “Dipersilahkan cianpwe

memeriksa lagi.”

Sebelum rombongan ini berangkat meninggalkan kota Han-yang.

Co Khu Liong telah membikin pemeriksaan yang teliti, dia tidak

berhasil menemukan Ie Lip Tiong, yang dicurigai adalah Pendekar

Pemetik Bintang Liong Pat Su, kecurigaan itu pun tidak beralasan.

Dia diam.

“Dengar”, Bentak lagi raja Silat Bajingan ini. “Pernah dengar

nama 12 Raja Silat Sesat, kita bertiga dapat melakukan

pembunuhan tanpa berkedip. Bila terbukti kau menyembunyikan Ie

Lip Tiong. Batok kepalamu akan dicopot menjadi beberapa potong.

Segerobak pun Bala bantuan yang kau datangkan. Tidak mungkin

dapat mengelakkan mala petaka ini, tahu !”

Leng San Pian mengangguk anggukkan kepalanya, hatinya

memukul keras.

“Nah,” Berkata lagi Co Khu Liong. “Tetap antar uang2 ini kekota

Su-shia. Dua

Cianpwe ini akan menggantikan aku”.

Dia menunjuk Sie It Hu dan Bu Bee Beng.

Tidak lupa, Co Khu Liong memperkenalkan Lauw Can Cun dan In

Thian Liu, kedua

pengurus rumah makan untuk cabang Han-yang dan cabang Bu-

Ciang itu harus tunduk dibawah kekuasaan penggantinya.

“Nah, tugasku telah selesai.” Dia berkata kepada rekan2nya. “Bila

sampai terjadi sesuatu, kalian berdua harus memikul tanggung

jawab ini.”

“Legakanlah hatimu.” Berkata Raja Silat Siluman Bu Bee Beng.

“Pergilah.” Berkata Raja Silat Gila Sie It Hu.

Co Khu Liong memberikan hormat, tubuhnya melesat, dan lenyap

dimalam gelap.

Mereka memasuki kota Ciam-san-hian.

Leng San Pian dan Ie Lip Tiong berjalan didepan. Menggunakan

kesempatan yang baik, mereka bercakap2.

“Satu Co Khu Liong saja tidak dapat kita hadapi. Kini datang dua

Raja Silat Sesat lainnya. Sungguh celaka.” Leng San Pian ngedumel.

“Kepandaian dan kepintaran dua raja silat ini tidak berada

dibawah Co Khu Liong. Apa lagi mereka sudah bersiap sedia untuk

menghadapi sargapan. Lebih sulit dihadapi.” Berkata Ie Lip Tiong.

“Aku mempunyai rencana baik untuk menghadapi mereka.”

Berkata Leng San Pian.

“Rencana apa ?”

“Si Raja Silat Gila Sie It Hu gila ilmu silat, bukan?”

“Betul. Dia paling tekun kepada ilmu silat, maka mendapat

julukkan Raja Silat Gila.”

“Orang-orang yang sebangsa Sie It Hu paling suka mendengar

pujian. Dengan alasan mengagumi ilmu kepandaiannya, kita

mengundang dia makan2, setelah itu, kita meminta dia

mendemontrasikan beberapa macam ilmu silat. disusul dengan

pertandingan beberapa babak. Menggunakan kesempatan ini, kita

memberi perintah kepada Yu Seng Cu untuk mengajak semua anak

buah melarikan uang2 itu. Dipindah secara diam2.”

“Sangat berbahaja.” Berkata Ie Lip Tiong.

“Apa boleh buat, keadaan sangat mendesak.”

“Baiklah. Yu Seng Cu harus diberi tahu tentang rencana ini.”

Mereka mulai memilih rumah penginapan.

Tiba2 terdengar teriakan Lauw Can Cun dari kereta penumpang

dibelakang,

“Cong piauw-tauw . . . .Cong piauw-tauw…..”

Leng Sin Pian menghampiri mereka,

“Ada apa?”

Raja Silat Gila Sie It Hu berkata:

“Beri perintah kepada semua orang-orang segera kita berganti

haluan.”

“Ganti haluan?” Ludeslah semua rencananya.

“Betul.” Membenarkan Sie It Hu. “Kita tidak mau bermalam

dikota Ciam-san-hian. Segera teruskan perjalanan kekota Hoay-leng

“Tapi…..Tapi hari sudah malam.” Leng San Pian memberi alasan.

“Untuk menambah ongkosmu, kuberi bea extra sebanyak 10%

dari apa yang telah ditetapkan oleh si Raja Bajingan Co Khu Liong.

Dan untuk orang-orang2mu, beri tahu kepada mereka, setiap orangorang

mendapat tambahan uang lelah sebanyak 1 tail perak.”

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian tidak berdaja, dia

ngelujur pergi dengan kepala ditundukkan kebawah.

Leng San Pian memberi tahu hal ini kepada semua anak buahnya

mereka tidak mendapat istirahat, langsung meneruskan perjalanan

malam. menuju kearah kota Hoayleng.

Para tukang dorong yang mendapat perintah itu berkeluh kesah,

mereka sangat lelah sekali.

Tatkala mengetahui bahwa setiap orang-orang mendapat uang

tambahan 1 tail perak untuk jasa capai lelah itu, semua orang-orang

segar kembali. Demikian perjalanan malam diteruskan.

Ie Lip Tong mendekati Leng San Pian.

“Mengapa kau lulusi permintaannya?” Dia mencela.

“Bagaimana dapat menolak ?” Leng San Pian mempaparkan

tangan.

Tujuan kearah kota Hoay-leng sangat bertentangan dengan arah

Su-shia, bantuan

Su-hay-tong-sim-beng belum datang, Musuh bertambah kuat,

bagaimana dia dapat mengatasinya? Ie Lip Tiong bingung.

Roda2 bergemuruh disuasana malam, perjalanan itu sangat

berbahaja, kereta menuju kearah kota Hoay-leng.

Senya harinya. . . .

Dengan badan penat letih, rombongan Sun-hong Piauw-kiok

memasuki kota Hoayleng.

Seperti apa yang telah dijanyikan oleh Sie It Hu dan Bu Bee

Beng, setiap tukang dorong mendapat uang lelah 1 tail perak. Untuk

merasakan penghasilan itu, para tukang dorong diberi kesempatan

istirahat setengah jam, mereka bebas berbelanya atau berpesta

pora, ada juga beberapa tukang dorong yang setia, mereka

menyimpan uang ini, saking lelahnya perjalanan yang dilakukannya

terus menerus, mereka tidur ditempat rumah penginapan.

Ie Lip Tiong, Leng San Pian dan Yu Seng Cu menyaga kereta

uang.

Setengah jam kemudian, setelah para tukang dorong itu kembali,

Sie It Hu dan Bu Bee Beng mengundang ketiga piauwsu Sun-hong

Piauw-kiok.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian, Pendekar Pemetik

Bintang Liong Pat Su dan Pendekar tangan besi Yu Seng Cu

memberi pesan kepada para tukang dorong dan mereka menghadap

pemilik barang yang dipercajakan kepadanya.

Didalam kamar sudah berkumpul Raja Silat Gila Sie It Hu, Raja

Silat Siluman Bu Bee Beng, Pengurus rumah makan Hian-kok-lauw

dikota Han-yang Lauw Can Cun dan pemilik rumah makan Oey-koklauw

di kota Bu Ciang In Thian Liu.

Memasuki kamar mereka, Leng San Pian dan Ie Lip Tiong saling

pandang.

“Silahkan duduk.” Berkata Bu Bee Beng hormat.

“Kami tidak berani.” Berkata Leng San Pian merendah. “Silahkan

Cianpwe. memberi perintah.”

“Duduklah dulu.” Berkata Bu Bee Beng lagi.

Ie Lip Tiong bertiga mengambil tempat duduk masing2 yang

sudah tersedia.

Dan Raja Silat Siluman Bu Bee Beng berkata:

“Mulai besok pagi, perjalanan akan dilakukan secara rahasia.” Bu

Bee Beng memberi perintah.

“Maksud Cianpwe ?” Leng San Pian mengajukan pertanyaan.

Sebagai pemimpin perusahaan Sun-hong Piauw-kiok, dia wajib

mengetahui segala alasan dari adanya perubahan itu.

Bu Bee Beng memberi keterangan yang lebih jelas:

“Pagi2, sebelum berangkat, panyi perusahaan Sun-hong Piauwkiok

harus segera disimpan. Semua kereta yang ada harus dirusak,

dan siapkan kereta2 barang, semua uang dipindah kedalam kereta

itu. perjalanan selanyutnya dilanyutkan dengan penyamaran, semua

kerugian2 kereta akan kuganti lipat. Mengerti ?”

Leng San Pian dan Ie Lip Tiong tidak dapat menyetujui usul ini,

tapi mereka tidak dapat mengemukakan alasan yang tepat.

Sebagai wakil pemilik uang yang mereka bawa, Bu Bee Beng dan

Sie It Hu dapat dan berhak untuk menentukan segala apa.

Sebelum Ie Lip Tiong atau Leng San Pian mengemukakan

pendapat mereka, In Thian Liu bangun dari tempat duduk dan

mengajukan pertanyaan:

“Dengan alasan apa Bu Bee Beng Cianpwe mengambil langka2

yang seperti ini ?”

“Dengan maksud menghindari kerewelan2.” Berkata Bu Bee Beng

dingin. “Kau tidak dapat memahami maksud tujuan kita ?”

-oo0dw0oo-

Jilid 03 (edit by angon)

IE LIP TIONG mencurigai gerak-gerik dua raja silat sesat yang

mcnggantikan kedudukan Co Khu Liong.

Demikianpun In Thian Liu, dan Lauw Can Cun. Kecurigaan ini

timbul karena adanya pcrubahan jalan yang mendadak. Menurut

rencana. mereka dapat sambutan2 dari kawan sekomplotan, tujuan

adalah kot Su-thia, bukan tempat yang ditentukan oleh Bu Bee Beng

dan Sie It Hu.

Setelah menggantikan kedudukan Cho Khu Liong, gerak gerik Bu

Bee Beng dan Sie It

Hu semakin mencurigakan

Mengapa arah tujuan disasarkan kekota Hoay leng?

Mengapa perjalanan diburu burukan?

Alasan untuk menghindari keruwetan2 ditengah jalan adalah

tidak masuk diakal sama

sekali.

Dengan memberanikan diri, Ie Thian Liu mengajukan pertanjaan

lain:

“Tujuan kita adalah kota Su shia, dan Cianpwee telah mengganti

haluan, ini juga

termasuk cara-cara untuk menghindari keruwetan?”

Pertanjaan yang pedas dan tajam.

Raja Silat Gila Sie It Hu membantu kawannya yang mulai terjepit

:

“Inilah perintah sancu kita.”

Jang diartikan dengan ‘sancu kita’ oleh rombongan itu adalah si

Raja Silat Gunung

yang masih misterius.

Seperti apa jang kita telah maklumi, 12 Raja Silat Sesat belum

pernah dapat ditaklukan, kecuali si Maha Raja Ngo kiat Sin mo Auw

yang Hui. Setelah Ngo Kiat Sin mo Auw yang Hui binasa semua raja

sesat hendak merebut pucuk pimpinan tertinggi Tapi tidak herhasil.

Adanya si Raja Silat gunung yang dapat menundukan 11 Raja Silat

Sesat

itu sangat mcmbingungkan sekali

le Lip Tiong memanjangkan kuping lebih tajam

In Thian Lu bertanya lagi :

“Boleh kami bertsnya, dimana sancu kita hendak menerima

kiriman uang?” Raja Silat Gila Sia It Hu berdengus. “Inilah rahasia,

Kau tebagai pengurus rumah makan tidak berhak tahu ”

“Betul.” In Thian Liu tidak berani terlalu kurang ajar kepada

mereka. “Kami tidak mempunyai hak untuk bicara. Tapi,

mungkinkah Co Khu Liong Cianpwee juga tidak boleh diberi tahu?”

“Bukan urusanmu.” Bentak Sie It Hu. “Co Khu Liong juga tidak

boleh tahu.” Turut bicara Bu Bee Beng.

“Mengapa?” In Thian Liu semakin menuduh curiga.

“In Thian Liu, apa kau tidak bisa bicara lebih sedikit lagi? Hendak

mengadakan tantangan? Mau menggempol?”

In Thian Liu terkejut, wajahnya berubah pucat. Dia bungkam.

tidak berani mengajukan pertanyaan lain.

“Huh…..” Raja Silat Gila Sie It Hu mengluarkan suara dari hidung,

menoleh kearah Raja Silat Siluman Bu Bee Beng, dia berkata

“Seorang-orang pengurus anak cabang berani menentang kita

Seolah olah mempunyai kedudukan yang berada diatas 12 Raja siat

Sesat. Hm…. Hm…..

Apa kita harus tunduk dibawah perintahnya?”

Raja Siluman Bu Bee Beng mengeluarkan suara yang sangat

tidak sedap:

“Sesudah pulang markas kita boleh bertanya kepada Sancu kita,

siapa yang harus

tunduk kepada siapa? Bila betut kedudukan kita berada diatas 12

Raja Silat, itu waktu tidak ada salahnya uatuk meminta maaf

kepadanya.”

Wajah In Thian Liu semakin pucat. Dengan suara tidak lancar dia

berkata :

“Harap kedua Cianpwee tidak menjadi gusar In Thian Liu mana

berani kurang ajar? Dengan ini In Thian Liu menyatakan

penjesalannya. Sekali lagi In Thian Liu meminta maaf.”

Sie It Hu dan Bu Bee Beng membudekkan telinga, seolah olah

tidak mendengar ucapan permintaan maaf In Thian Liu.

Sie It Hu memandang Leng San Pian.

“Cong piauw-tauw ” dia berkata. “Bagaimana pendapatmu?”

“Dua puluh satu kereta dorong itu adalah…..”

“Semua kerusakkan akan diganti dengan uang.” Memotong Sie It

Hu.

“Baiklah.” Dia menghela napas, “Segera kucari kereta

penuampang untuk digunakan memindahkan uang kiriman.

Sie It Hu menganggukkan kepala.

Mengajak kedua pembantunya, Leng San Pian meninggalkan

kamar perundingan tadi.

Yu Seng Cu mendapat tugas menjaga keamanan kereta.

Leng San Pian keluar bersama sama Ie Lip Tiong

“Ie kongcu,” Leng San Pian berkata kepada ketua muda itu.

“Bagaimana penilaianmu kepada kedua iblia tua tadi?”

“Hanya ada dua kemungkinan.” Berkata le Lip liong. “Bila bukan

markas besar mereka jang sudah pindah kelain tempat, tentu

mereka hendak mengangkangi uang ini.”

Leng San Pian menggeleng gelengkan kepala, dia tidak setuju

dengan pengilmiahan yang seperti Itu, katanya:

“Bilamana markas besar mereka yang sudah pindah, kajadian ini

agak tidak mungkin. Dihadapan kita mereka menutup mulut. Tapi

secara diam2, tentu memberi tahu perubahan tempat ini kepada Co

Khu Liong, Lauw Can Cun dan In Thian Liu. Tidak nanti dapat terjadi

bentrokkan seperti tadi. Kemungkinan kedua adalah kedua iblis silat

itu hendak mengangkangi semua uang perak, mungkinkah hal ini

dapat terjadi? Mengingat kedudukan dan ilmu kepandaian mereka

jang sudah begitu tinggi mengapa tidak mau mencari jalan lain

untuk mencari uang?”

Ie Lip Tiong tertawa.

“Co Khu Liong Itu mempunyai kedudukan yang soma dengan Bu

Bee Beng dan Sie It Hu, kenjataan, dia berani menelan sebagian

dari uang si Raja Silat Gunung.” Dia momberi fakta yang ada,

Leng San Pian mempaparkan tangan. dia betul2 tidak mengerti

atas kebijaksanaan Bu Bee Beng dan Sie It Hu

Perjalanan yang dilakukan secara tersembunyi dan gelap itu

seperti merugikan pihak Partay Raja Gunung, juga tidak

menguntungkan Ie Lip Tiong Karena belum adanya bantuan dari

pihak Su Hay Tong Sim Beng, maka arah perjalanan yang Ie Lip

Tiong gambarkan kepada kawan2 seperjuangan itu menjadi tiada

guna sama sekali, Lenyapnya jejak kereta piauw juga merugikan Su

hay tong sim beng.

“Bagaimana kita harus menghadapi mereka?” Bertanya Leng San

Pian. Sudah waktunya untuk turun tangan mengharapkan bantuan

Su hay tong sim beng Sudan tidak bisa diharapkan.

perak ini?” Bertanya Ie Lip Tiong.

“Bagaimana kita bisa tahu?” Berkata Leng San Pian. “Mereka

merahasiakan jejak perjalanan.”

“Kira2 menuju kearah kota apa?”

“Bila mereka menyebrangi sungai Tiang-kang, kita akan tiba

dikota Cui cit lie. Inilah kota yang terdekat.”

“Bagus.” Berteriak Ie Lip Tiong girang. “Keadaan kota Cul cit lie

sangat strategis untuk melarikan diri, Banyak cabang jalan yang

tersebar luas Bila kita merampas uang itu disana, dan membubarkan

diri, mereka tidak mudah mengejar.”

“Kau hendak turun tangan dikota Cui cit-le?” Bertanya Leng San

Pian.

“Tidak ada jalan lain.” jawab Ie Lip Tiong.

“Bagaimana dengan dua raja silat sesat itu ?”

“lnilah yang membingungkan aku.”

“Mungkin kau sudah mempunyai rencana bagus?”

“Menurut rencanamu saja,” Berkata ie Lip Tiong. “Kita mengajak

mereka berpesta, secara diam2 memberi tugas kepada beberapa

anak buah yang dapat dipercaya, kita membongkar muatan

mereka.”

Persetujuan itu dapat kesepakatan. Mereka mencari kereta

barang. Dengan mudah, kereta2 itu sudah berhasil ditemukan.

Dengan delapan kereta penumpang, mereka menambah iring2an

Sun hong-piauw-kiok.

Pada dini hari kedua, rombongan itu berangkat, meninggalkan

kota Hoay-leng.

Diluar kota, semua kereta2 dorong Sung hong Piauw-kiok dirusak

dan dimusnahkan. Muatan uang dipindah kekereta barang. dengan

kain2 psnutup yang diturunkan, mereka menggelapkan perjalanan.

Iring2an ini bukan lagi berapa rombongan kereta pengangkutan.

Tapi beberapa

rombongan pedagang biasa.

Raja Silat Siluman Bu Bee Beng memberi perintah:

“Segera berangkat kekoia Cui-Cit-lie.”

Hati le Lip Tiong dan Leng San Pian berdebar keras.

Kota Cui cit lie?

Adakah kejadian jang begitu kebetulan. Seperti jang sudah

mereka rencanakan?

Rombongan diarahkan kekota Cui cit lie ?

Menggunakan kesempatan yang baik, Leng San Pian bertanya:

“Kita bermalam dikota Cui-cit lie?”

“Betul.” Bu Bee Beng menganggukkan kepala. “Dikota itu ada

sebuah rumah makan

dan penginapan yang bernama Cui-in Koan-ko Ciam. Kita

bermalam disana.”

“Aha, Cui in-koan ko ciam terkenal dengan masakan ‘Kura2

basah’.” Berteriak Leng San Pian.

“Betul, ‘kura2 basah’ adalah makanan khas rumah makan ‘bakmie

kering’ dirumah makan itu.” Bu Bee Beg menoleh kearah Lauw Can

Cun.

Rumah makan Hian-Hok lauw bukan saja tcrkenal dengan

rahasialisme mereka yang membuat kasta2 perbedaan diantara

kaum beruang dan kaum miskin, terkenal karena makanan ditingkat

atas yang enak dan lezat juga terkenal dengan ‘Bakmie kering’ di

tingkat bagian bawah.

Atas hasil prestasi ini, Lauw Can Cun boleh menjadi bangga.

Pendekar Cambuk Gunung Leng San Pian memberi komando

berangkat.

Tujuh kereta penumpang dengan bawaan uang perak berangkat

menuju kearah kota

Cui cit lie,

Singkatnya cerita, mereka tiba dikota Cui cit lie.

Untuk daerah propinsi Wan-tiong, kota Cui Cit lie bukanlah

termisuk kota penting, tapi kedudukkannja cukup strategis,

jaringan2 lalu lintas berpusat ditempat ini. Hawanya sejuk,

pemandangannya indah, pohon dan bunga2 tumbuh subur, sungai2

berjalur sehingga keseluruhan kota, karena itu mendapat julukkan

Kota Air Cui-cit-lie.

Tujuh keteta menuju kearah rumah makan dan penginapan Cui

in Koan-ko Ciam penuh sesak dengan rombongan Sun hong Piauw

kiok.

Dijaman dahulu, setiap rumah penginapan ada menyediakan

tempat kuda dan tempat

penjmpanan kereta, maka semua kereta ditujukan kearah tempat

yang sudah tersedia itu.

Keadaan telab menjadi gelap, obor panerangan dinyalakan.

Leng San Pian, Ie Lip Tiong dan Sang Cu memberi pengawasan

dan msmpernahkan

kereta itu.

Kemudian, mereka memesan tempat.

Leng San Pian tidak segera istirahat, dia memesan 4 meja

perjamuan. Tidak lupa

makanan khas Cui-ln Koan-ko-Ciam yang bernama ‘Kura2 basah’

itu.

Satu meja tersedia untuk menjamu Bu Bee Beng, Sie It Hu, Lauw

Can Cun dan In Thian Liu.

Dihadapan mereka, Leng San Pian membagi rombongannya

menjadi dua regu, setiap

regu terdiri dari lima belas orarg. mereka diwajibkan menjaga

kereta sccara bergilir.

Sie It Hu menjadi tertawa, dia berkata :

“Tempat ini begitu sepi, kukira tidak mungkin ada perampok

mengganggu barang kita.

Berilah kesempatan pada orang-orangmu untuk memeriahkan

pesta ini. dua atau tiga orang-orangpun sudah cukup untuk

menjaga kereta.”

Leng San Pian bergojang kepala, dia mengemukakan alasan :

“Satu juta uang perak terlalu besar bagiku, bila sampai terjadi

suatu apa. Sun hong Piauw kiok tidak kuat mengganti. Ada baiknya

untuk berhati hati.”

Ataa sikap Leng San Pian jang mempunjai pikiran panjang, Sie It

Hu dan Bu Bee Beng tidak keberatan! Mereka telah melakukan

perjalanan jauh, wajah dan tubuhnya penuh debu untuk

membersihkan diri, mereka pergi mandi.

Setengah jam kemudian, keempat meja perjamuan sudah penuh

dengen makanan. Meja pertama duduk Bu Bee Beng, Sie It Hu,

Lauw Can Cun In Thian Liu, Leng San Pian, Ie Lip Tiong dan Yu

Seng Cu.

Tiga meja lainnya tersedia bagi para pengiring Sun hong Piauwkiok.

Perjamuan makan segera dimulai.

Leng San Pian mengangkat cawan arak, dikelilingkan keempat

penjuru, dia mulai

angkat bicara :

“Saudara2 dari Sun hong Piauw kiok sekalian, selama 10 tahun

kita menjalankan praktek perusahaan pengangkutan, ribuan kali tur

telah kita berangkatkan, tapi belum

pernah ada kegembiraan seperti apa yang kita dapat alami pada

pemberangkatan dikali ini. Dilereng puncak Kiu-kho-Lang, Sembilan

Dara Keluarga Ang dan anak buahnya mencoba untuk mengadakan

perampokan, humpir kita gagal Tapi Tuhan masin bersama kita,

datang pertolongsn yang sangat mendadak, kita menduga kepada

tokoh silat berkepadaian tinggi yang tidak mau menampilkan diri

membantu usaha kita, anak buah keluarga Ang itu dapat

dirontokkan Siapakah tokoh silat kelas satu ini, tidak lain tidak

bukan adalah pemiiik barang Cho Khu Liong Cianpwe. Siapakah Cho

Khu Liong Cianpwee ini? dia adalah salah satu dari 12 Raja Silat

ternama. Kini Cho Khu Liong cianpwee tidak menyertai kita, tapi Bu

Bee Beng cianpwee dan Sie It Hu Cianpwee sudah menggantikan

kedudukannya. Siapakah kedua cianpwee ini? Merekapun termasuk

12 Raja Silat lainnya. Kita percaya tidak ada yang berani mengutikutik

barang antaran lagi. Mari kuperkenalkan, inilah Bu Bee Beng

Cianpwee dan Sie It Hu Cianpwee.”

Leng san Pian memperkenalkan si Raja Silat Siluman Bu Bee

Beng dan si Raja Silat Gila Sie it Hu.

Seluruh ruangan gegap gempita dengan tepuk tangan anak buah

Sun-hong Piauw kiok.

Leng San Pian berkata lagi :

“Untuk hasil gemilang ini, kami memberi penghormatan pertama

kepada Bu Bee Beng dan It Hu Cianpwe, arak kemenangan. dan

kebanggaan.”

Dia mengajak toas kepada kedua Raja Silat itu.

Bu Bee Beng dan Sie It Hu tidak begitu puas kepada sikap Leng

San Pian yang membesarkan nema raja silat. Dihadapan banyak

orang-orang, tidak baik untuk mengadakan teguran, dia mcnerima

ajakan toas dengan sikapnya yang dingin.

Dilainnja, acara selanjutnya adalah permainan sumpit diatas

Piring mangkuk, para kuli tukang dorong melahap makanan yang

tersedia.

Bu Bee Beng. Sie It Hu, Lauw Can Cun, In Thian Liu, Leng Sian

Pian, Ie Lip Tiong dan Yu Seng Cu mengicipi kesenangan dimeja,

dengan perlahan lahan, mereka dapat merasakan lezatnya ‘Kura2

basah’.

Setelah setengah pesta. Leng San Pian memberi hormat kepada

Bu Bee Keng dan Sie It Hu, kepada kedua orang-orang itu, si

Cambuk Gunung berkata :

“Bu Bee Beng Cianpwe, Sie It Hu Cianpwe, ada sedikit

permintaanku untuk merayakan pesta kita.”

“Katakan.” Berkata si Raja Silat Gila Sie It Hu.

“Boanpwe senang kepada ilmu silat, sayang belum menemukan

jodoh yang tepat, belum mendapat didikan seorang-orang tokoh

silat tokoh utama sebangsa kalian berdua. Hari ini mendapat waktu

untuk berkumpul. Besar harapan boanpwe untuk menyiksikan ilmu

kepandaian kalian yang luar biasa.”

Sie It Hu meninggikan sepasang alisnya, dia berkata:

“Ha, ha…. Kukira dapat makan secara gratis. Kini aku mengerti,

kau mempunjai maksud tujuan tertentu bendak mencuri lihat ilmu

pelajaranku? Ha, ha…”

“Dengan sesungguhnya, kita mengagumi ilmu kepandaian dua

Cianpwe. Tapi bila maksud baik ini mendapat tempat yang salah.

Boanpwe bersedia menarik kembali permintaan tadi.”

Sie It Hu menoleh kearah Bu Bee Beng, dia berkata:

“Bagaimana ? Kau ada kesenangan untuk mendemontrasikan

ilmu kepandaianmu?”

“Bila kau tidak menolak permintaan mereka, bagaimana aku tidak

beisedia?” Berkata

Bu Bee Beng penuh arti.

“Baik.” Sie It Hu bangkit dari tempal duduknya.

Memandang kearah Leng San Pian, dia berkata lagi :

“Coba kau suruh orang-orang2mu mengambil beberapa batang

hio sembahyang.”

Tanpa permintaan kedua kalinya, Leng San Pian menyuruh

orang-orang menyediakan

barang yang diminta. Sie It Hu msnerima tiga barang hio

sembahyang itu, diserahkan kepada Bu Bee Beng

dan berkata:

“Pertunjukkanlah ilmu kepandaian aslimu?”

“Ha, ha….” Bu Bee Beng tertawa, tokh disambuti juga tiga

batang hio itu.

Bu Bee Beng memetik jari, plak, menyalahlah api, menyulut hio2

sembahjang itu, cepat sekali, menancapkan hio2 tersebut pada

tempat yang tidak jauh dari meja perjamuan. Membalikkan badan,

dan duduk ditempatnya semua, melihat ‘Kura2 basah.’. Tanpa

mamandang kearah hio2 sembahyang. tadi.

Semua perhatian sedang dipusatkan pada Bu Bee Beng. tindak

tanduknya siraja silat itu sangat membingungkan orang-orang,

hanja memetik jari mengetuarkan api sajakah yang dipertontonkan?

Kepandaian itu memang menakjupkan, apa gunanya tiga batang hio

sembahyang ?

Beberapa orang-orang sudah mulai berbisik bisik, bingung

kepada permintaan raja sikuman itu.

Dupa sembahyang terbakar terus. abu dupa itu mulai

memanjang sebanyak satu dim.

Kejadian didalam rumah makan sangat tenang. tidak ada angin

lalu. maka abu dupa itu tidak rontok jauh, masih melekat di

tempatnya.

Nah disaat itulah. badan Bu Bee Beng mula bergerak, melesat

cepat, entah bagaimana, ujung kakinya sudah menempel diatas

salah Satu dari abu dupa sembahyang itu. lain kakinja terputar,

dengan ujung kaki yang berada diatas dupa sembahyang sebsgai

titik putaran, dia membuat busur.

Jang mengherankan, abu dupa itu tidak buyar karena bobot

badan yang dijatuhkan keujung kaki siraja silat.

semua orang-orang bersorak.

Raja Siluman Bu Bee Beng belum menghentikan demonstrasinya,

semakin lama, dia berputar semakin cepat, sluttt…. kakinya turut

berputar dan pindah kelain dupa

sembahyang, kini menginjak yang ditengah, siuttt…. lagi dan

menginjak abu dapa yang ketiga

Ukuran badan Bu Bee Beng tidak dapat dikatakan tinggi besar.

tapi bagaimanapun dia masih berupa seorang-orang manusia, berat

seorang-orang manusia dapat diperhitungkan, dengan

mengandalkan perputarannya badan, dia mengurangi bobot berat

dirinya. bertengger dari satu abu dupa ke lain abu dupa inilah ilmu

kepandaian jang sangat menakjubkan.

Dimisalkan orang-orang bercerita tentang adanya kejadian jang

diatas kita tuturkan diatas, mudah dibayangkan, tentu mendapat

cemoohan atau reaksi tidak percaya yang spontan. Kini mereka

telah menyaksikan dengan kepala dan mata sendiri, mau tidak mau,

semua orang-orang meleletkan lidah.

“Bagus.” Tiba2 ada yang mengeluarkan pujian.

“Hebat.”

“Sungguh luar biasa.”

“Betul2 ilmu kepandaian seorang-orang raja silat.”

“Sepersi ilmu dewa saja ”

Bu Bee Beng masih terputar putar diantara ketiga dupa

sembahyang tadi,

Suara tepuk tangan dan suitan semakin banyak, suasana dalam

ruangan itu sangat gegsp gempita.

Sebagai seorang-orang yang mahir mengguaakan tenaga dalam,

sebagai tanggapan atas reaksi demontrasi yang Bu Bee Beng

perlihatkan, Ie Lip Tiong tidak dapat turut memeriahkan suasana

itu, hatinya menjadi begitu berat, inilah suatu peringatan, musuh2

yang dihadapi terlalu berat, berhasil tidaknya dari perampasan uang

komplotan tukang beset kulit yang menyebut diri mereka sebagai

partay Raja Gunung itu masih diragukan. Ilmu siraja Silat Siluman

terla!u hebat, sungguhpun demikian dari 12 raja silat golongan

sesat, Bu Bee Beng itu hanya menduduki urutan terakhir.

bagaimana dia dapat melawan raja2 silat lainnja?

Untuk 12 raja silat jolongan kesatria, ketua Su hay tong sim beng

Hong-lay Sian ong menduduki urutan pertama.

Untuk 12 raja silat dari golongan sesat, si Maha Raja Ngo kiat Sin

mo Auw Yang Hui menduduki urutan pertama, si Raja Silat Siluman

Bu Bee Beng duduk sebagai juru kunci mereka.

Ilmu kepandaian sang juru kunci sudah begitu hebat bapimana

dengan raja2 silat lainnya?

Inilah yang le Lip Tiorg khawatirkan.

Kecepatan otak le Lip Tiong berjalan sejajar dengan demontrasi

ilmu kepandaian Bu Bee Beng. Raja Silat Siluman itu sudah selesai

mempertontokan ilmu kepandaiannya dan kembali ketempat

duduknya.

Lama sekali suara tepuk tangan itu baru dapat senyap.

Diantara tepuk tangan itu, terdengar suara tertawa Sie It Hu,

Raja Silat Gila ini berkata kepada sang kawan:

“Hebat, ilmu meringankan tubuhmu mendapat kemajuan luar

biasa.”

“Ha, ha, ha….” Bu Bee Beng mancomot daging kura2 basah.

“Tingginya langit tidak bisa diukur dengan mata. Kau mengatakan

aku berkepandaian hebat tapi masih ada orang-orang yang lebih

hebat dariku.”

Giliran Sie It Hu jang harus mempertontonkan ilmu

kepandaiannya.

Si Raja Silat Gila seperti kehabisan acara, dia menggaruk garuk

kepala beberapa lama, tiba2 matanja bercahaya terang, itulah tanda

adanya jalan jang sudah ditemukan, tiba2 tangannya meraih piring

makan. Wing, diterbangkannya piring itu dengan tujuan arah tiga

dupa sembahyang tadi.

Dikala Bu Bee Beng kembali ketempat duduknya, abu dupa

sembahyang yang panjang hanya putus sebagian, api masih

memakan dupa itu maka abu tetap ada.

Piring jang dilempar oleh Sie It Hu melayang lajang, kini dia

berputar, cepat sekali perputaranya piring itu dikerahkan oleh

tenaga dalam si raja Silat Gila Sie It Hu, tepat dibagian dupa

sembahyang itu berhenti bergerak maju, berputar2 diatas abu dupa

sembahyang itu seperti bagaimana keadaannja Bu Bee Beng

berputar diatas abu dupa itu. Kejadian ini diulang lagi. Hanya yang

berputar aiatas abu itu yang diganti, bilamana tontonan pertama

dimainkan oleh berat badan Bu Bee Beng, permainan kedua dititik

beratkan oleh adanya piring terbang berputar itu.

Dilihat sepintas lalu ilmu kepandaian Bu Bee Bang masih diatas

Sie It Hu.

Kenyataan tidaklah demikian harus diketahui berputarnya berat

badan Bu Bee Beng dapat dipertahankan setinggi mungkin. Dia

dapat loncat dan terbang tinggi, tentu saja dapat menginjak abu

dupa tanpa bobot sama sekali, boleh dikata melajang di atas abu

dupa itu:

Piring adalah benda mati, perbitungan tenaga dalam yang salah

dapat merusak rencana permainan itu, maka tenaga dalam Sie It Hu

berada diatas Bu Bee Beng.

Sie It Hu menggoyang tangan, maka piring yang berada diatas

abu dupa sembahyang berpindan kedupa sembahyang demikian

berputar beberapa waktu, si Raja Silat Gila menggoyang lagi

tangannya, inilah menguasai gerak genk piring dari jauh, juga

mementingkan tenaga dalam yang sangat mahir sekali, pirirg itu

berpindah lagi kedupa sembabahyang yang ketiga,

Bagaimana Bu Bee Beng mendemonstrasikan menginjak kaki

diatas abu dupa sembahjang, dcmikianpun piring terbang itu

bermain dan melakukan gerakan yang kedua.

Akhirnya Sie It Hu menyedot piring terbang itu, berputar dan

kembali kedalam genggaman tangannya.

Lagi2 ruangan rumah makan jang dimeriahkan oleh tepuk tangan

riuh, seolah olah mau meledak.

Raja Silat Gila Sie It Hu menutup acaranya, dia meoghampiri

Leng San Pian,

“Cong-piauw tauw” Dia berkata kepada pimimpin perusahaan

pengangkutan Sun Hong Piauw kiok. “Bagaimana komentarmu?”

“Luar biasa. Sungguh [uar biasa,” Berkata si Cambuk Gunung

Leng San Pian. “Belum pernah boanpwe menyaksikan ilmu

kepandaian yang seperti ini. Betul2 menakjubkan sekali. Inilah ilmu

kepandaian kelas satu. Tontonan terbesar pada jaman ini.”

“Ha, ha, ha…….” Se It Hu tertawa besar. “llmu kepandaianku

belum terbatas sampai disini saja.”

“Cianpwe hendak mendemontrasikan lain ilmu kepandaian7”

Bartanya Leng San Pian dengan wajah girang.

“Betul.” Sie It Hu menganggukkan kepalanya. “Pendengaran

telingaku dapat menangkap angin lalu. Hendak kuperlihatkan

ketajamannya pendengaranku ini.”

Apakah yang didengar oleh si Raja Sila Gila Sie It Hu ?

Bagaimana dia mempertontonkan kelihayannya pendengaran

telinga itu?

Mari kita mengikuti cerita dibalik lembaran ini.

Bagian 6

Wajah si Cambuk Gunung Leng San Pian berubah menjadi pucat.

Si Raja Silat Gila Sie It Hu tersenyum-senjum, dia

memperlihatkan wajahnya yang sangat misterius

“Kini aku hendak memperlihatkan, betapa tajamnya pendengaran

telingaku yang panjang ini.”

“Berapa jauhkah Cianpwe dapat mendengar suara sesuatu?”

Bertanya Leng San Pian, Hatinya berdebar-debar keras.

Ie Lip Tiong sudah bersiap sedia, agaknya usaha yang

direncanakan lama itu mengalami kegagalan.

“Kupingku dapat menangkap suara sejauh beberapa lie ” Berkata

Sie It Hu “Tidak percaya? Nah. dengarlah, disaat sekarang ini aku

dapat menangkap suara2 orang-orang yang sedang membongkar

kereta, itulah kereta uang kita. Percayakah anda kepada kata2ku?”

Hati Leng San Pian mengeluh, hancurlah semua harapannya

untuk melarikan uang2 perak si Raja Gunung. Usaha 0rang yang

dipercaya olehnya telah diketahui oleh Raja Silat Gila.

Biar bagaimana, Leng San Pian harus mengatasi keadaan,

dengan tertawa nyengir, dia berkata :

“Ah, mana mana mungkin? Orang-orang orang-orangku masih

siap siaga disekitar tempat itu. Mereka sudah boanpwe ingatkan

untuk menjaga semua kereta2 uang.”

Sie It Hu tertawa lagi. Dengan sungguh2, dia berkata :

“Berani aku mengadakan pertaruhan, bahwa orang-orang2 jang

membongkar kereta uang bukan orang-orang lain mereka adalah

orang-orang orang-orangmu itu. Mereka adalah orang-orang orangorang

yang sudah kau beri perintah secara diam2 hendak melarikan

uang kami.”

Leng San Pian sudah meninggalkan tempat duduknya berlari

keluar dan mengeluarkan ocehan.

“Kurang ajar. Berani mereka main gila?”

Gerakan Leng San Pian begitu gesit dikala kata2nya yang terakhir

selesai diucapkan, bayangan pemimpin perusahaan Sun hong Piauw

kiok itu sudah tidak terlihat sama sekali.

Gerakan mana diikuti oleh Sie It Hu, Bu Bee Beng. Lauw Can

Cun, In Thian Liu dan lain2nya.

Dari jauh, Leng San Pian sudah dapat menyaksikan orangorangnya

yang sedang mengadakan pembongkaran. Segera dia

mengeluarkan teriakkan ketas:

“Hei… Hei… Apa yang kalian lakukan?”

Orang-orang2 Sun hong Piauw kiok yang mendengar teriakan

pemimpin perusahaan mereke mambelalakkam mata, menghentikan

pembongkaran pcmbongkaran itu, Dibelakang Leng San Pian

beriring iringan banyak orang-orang sudah tanda dari kegagalan

usaha mereka. Wajah semua orang-orang menjadi pucat, entah

bagaimana barus meagatasi keadaan yang seperti itu.

Salah seorang-orang dari anak buah Leng San Pian yang

mempunyai otak lebih encer dari kawannya segera memberikan

sahutan.

“Cong piauw tauw, kawan2 ini diganggu nyamuk yang galak,

karena iiu kami hendak mcnyembunyikan diri didalam kereta.”

Leng San Pian harus menunjukkan gengsinya sebagai seorangorang

pemimpin perusahaan, dia berpura pura mrmbentak:

“Mengapa tidak memberi tahu lebih dahulu kepadaku?”

“Cong piauw tauw maklum.” Berkata anak buah yang berotak

encer itu. “Didalam rumah makan sedang diadakan pesta pora yang

sangat meriah, bagaimana kami berani mengpanggu ketenangan

makan semua orang-orang?”

Leng San Pian berkata:

“Lain kali, segala urusan harus dirundingkan lebih dahulu tahu?”

“Baik.” Anak biah berotak ence* itu mengijakan bentakkan ung

pemimpin.

Leng San Pian meroleh kearah Sie It Hu yang sudah berdiri tepat

dibelakang dirinya.

dia mengemukakan alasan2 yang sudah dikordinir cepat.

“Ciaapwe sudah dengar?” Dia berkata dengan senyum yang

dipaksakan. “Mereka hendak membikin penjagaan didalam kereta,

Sungguh diluar perhitungan boanpwe, bila nyamuk2 didaerah ini

sangat galak sekali.”

“jangan banyak komentar.” Si Raja Silat Gila Sie it Hu

membentak. “Lekas beri

perintah kepada mereka untuk membenarkan kereta!”

Leng San Pian membentak orang-orangnya

“Bikin betul semua kerusakan”

Dengan cepat, anak buah Sun hong Piauw kiok menutup

kerusakan2 kereta uang komplotan tukang beset kulit manusia itu.

Usaha untuk melarikan uang partay Raja Gunung mengalami

kegagalan total.

Ie Lip Tiong dan Yu Seng Cu saling Pandang, mereka

mengangkat pundak.

Sesudah msmpernahkan keadaan kereta Lang San Pian berkata

kepada semua orang-orang:

“Mari kita taruskan pesta yang terganggu. Semua balik kerumah

makan.”

Orang-orang2 itu sudah siap bergerak.

Tiba2 sie It Hu membentak :

“Jangan.”

Semua mata ditujukan kepada si Raja Silat Gila.

Keramaian sudah pindah kepekarangan rumah mekan Cui in koan

Ko Ciam.

Sepasang sinar mata Sie It Hu diarahkan kepada Leng San Pian.

“Hm…. Hm…” Suaranya begitu tidak menyedapkan. “Cong

piauw-tauw. giliranmu yang harus mendemontrasikan ilmu

kepandaian.”

“Sie Cianpwe!” Leng San Pian hendak menolak permintaan.

“Dengarlah keterangan boanpwe dahulu.”

“Tidak perlu keterangan.” Bsrkata Sie It Hu. “Aku tidak

mcngatakan kau yang merampok uang. Tidak membutuhkan

keteranganmu.”

“Dengan alasan apa Cianpwe membikin usaha kepada boanpwe?”

Bertanya Leng San Pian.

“Siapa yang menyusahkan kamu?” Sie it Hu membentak. “hanya

kau yang boleh menonton kepandaian kita orang-orang? Tidak

bolehkah kami yang menonton ilmu kcpandaian kalian?”

“Ilmu kepandaian boanpwe terlalu rendah, bagaimana dapat

dipertunjukkan?” Leng San Pian masih belum mengerti maksud

tujuan raja silat gila.

“Menonton pertarungan ada lebih menarik dari menonton

demonstrasi ilmu kepandaian” Berkata Sie It Hu

Hati Leng San Pian tercekat.

“Mana mungkin boanpwe dapat menang dari Cianpwe?” Dia

menduga hendak di tantang oleb si raja silat

“Bukan aku” Bsrkata Sie It Hu. “Tapi lawan jang sederajat

denganmu ”

Leng San Pian memperhatikan perobahan wajah raja gila Sie It

Hu.

Sie It Hu sudah menggapaian tangan kearah Lauw Can Cun.

“Lauw Can Cun.” Dia memanggil pengurus rumah Hian-kiok lauw.

Kemari.”

Lauw Can Cun menunjuk hormatnja.

“Sie Cianpwe ada perintah?” Dia sudah siap

“Kukira,” Berkata Sie It Hu. “Ilmu kepandaianmu tidak terpaut

jauh dengan Cong piauw tauw dari Sun hong Piauw kiok itu,

bukan?”

Ilmu kepandaian Lauw Can Cun masih berada tinggi diatas Leng

San Pian, dia sangat memandang rendah kepandaian pemimpin

psrusahaan yang sudah hampir bangkrut itu, Mendapat pertanjaan

Sie It Hu, dia segera menduga perintah baru tentunya, siraja silat

gila hendak menggunakan tangannya membunuh Leng San Pian,

untuk mengimbangi kekuatannya, dia berkata:

“Ilmu kepandaian boanpwe masih berada dibawah Leng congpiauw

tauw. Tapi tidak mengapa, boanpwe aksn berusaha membela

kepentingan partay”

Leng San Pian maklum, dia bukan tandingan Lauw Can Cun

Dalam keadaan jang seperti ini, Ia tidik mempunyai pilihan lain.

Maju ketengah lapangan, menghadapi

sipengurus rumah makan Hiat kok lauw dan berkata :

“Kuharap saja kau tidak terlalu ganas.”

Raja Silat Gila Sie It Hu mengeluarkan Pengumumam :

“Huh, mengapa tidak boleh bertindak secara ganas? Aku sebal

kepefa mereka yang

bcrmain silat tangan kosong. Hanya seperti sulap. Aku bukan

hendak menonton sulap. Kalian harus bertindak secara gagah dan

berar.”

Didalam arti kata lain, dia mengharapkan keganasan dan

ketelengasan.

Lauw Can Cun segera menduga perintah membunuh Leng San

Pian. Sudah terang dan jelas, bahwa Piauwsu Sun hong Piauw kiok

itu hendak melarikan uang komplotannya, sebagai hukaman, dia

wajib membunuhnya.

Lauw Can Cun berhadap hadapan dengan Leng San Pian.

Cong piauw tauw.” dia berkata, “lama kudengar nama gelarmu

yang ternama. Cambuk Gunung Leng San Pian memang bukan

manusia biasa, hari ini aku mempunyai kesempatan untuk meminta

pelajaran, keluarkanlah cambuk gunungmu itu.”

Logat suara Lauw Can Cun angkuh sekali, dia mcremehkan ilmu

kepaudaian lawannya.

Leng San Pian juga termasuk seorang-orang jago sejati, dia tidak

membiarkan dirinya

dihina seperti itu. Srek…. Dia mengeluarkan cambuknya.

“Silahkan.” Dia mulai memasang stan pertempuran, Tiba2…..

Terdengar suara feriakkan seseorang-orang;

“Tunggu dulu.”

Ie Lip Tiong menampilkan dirinya disini. Kedudukannya adalah

seorang-orang

piauwsu Sun hong Piauw kiok dengan gelar nama si Pendekar

Pemetik Bintang Liong Pal Su.

Orang-orang yang menghentikan persiapan tempur adalah le Lip

Tiong.

Lauw Can Cun menggunakan ujung mata dia melirik kearah

piauwsu itu.

“Hm…. Dia mengetuarkan suara dari hidung,” Kukira ada yang

mau mewakili kau bcrtanding?”

Kata2 jarg terakhir ditujukan kepada si Cambuk Gunung Leng

San Pian.

Ie Lip Tiong menampilkan dirinya sebagai juru bicara, dia berkata

:

“Betui Inilah tata peraturan kita Sun hong Piauw kiok teratur

menurut susunan pengurus. Urusan ini berupa perkara kecil, Biar

aku yang bicara.”

“Kau berani bertanding dengan aku ?” Bertanya Lauw Can Cun.

“Sudah tentu.” Berkata le Lip Tiong membusungkan dada.

“Bagus. Biar ku ‘petik’ dahulu ‘kepala bintangmu’ itu.”

Ie Lip Tiong menggunakan nama Liong Pal Su dengan gelar

Pendekar Pemetik Bintang, Dengan kata2 yang seperti tadi sudah

jelas bahwa Lauw Can Cun hendak nengadakan pembunuhan.

Ie Lip Tiong mengeluarkan pedangnya, dia tidak segera cepat2

bertanding dengan Lauw Can Cun. Sebelum itu, dia mcnengok

kearah Leng San Pian dan berkata kepadanja :

“Boleh aku jang bertanding lebih dahulu?”

Leng San Pian menganggukkan kepalanya, Hanya Ie Lip Tiong

jang dapat menandingi Lauw Can Cun. Hatinya agak terhibur.

“Kau harus herhati-hati.” Dia berkata, Kedudukannya dengan

‘Liong Pal Su’ adalah saudara misan,

“Biar bsgaimana, tuan Lauw Can Cun adalah langganan kita Kau

tidak boleh. berlaku

kelewatan.”

Leng San Pian mengundurkan diri.

Ie Lip Tiong menghadapi Lauw Can Cun,

“Tuan Lauw sudah siap ?” Bertanya jago kita.

Lauw Can Cun mengeluarkan suara helaan :

“5elalus siap!”

“senjata tuan?” Bertanya lagi Ie Lip Tiong.

“Dergan tangan kosongpun aku dapat. menandingimu.” Berkata

Lauw Can Cun

memandang rendah.

“Baik.” Ie Lip Tiong menutup katanya dengan satu tusukkan

pedang.

Lauw Can Cun menggeser diri.

Gerakkan le Lip Tiong cepat sekali, di saat itu juga, ujung pedang

sudah mengancam

ulu hati lawan,

Lauw Can Cun terkejut, tidak diduga, si Pendekar Pemetik

Bintang Liong Pal Su ini mempunyai kegesitan yang melebihi

pemimpin perusahaan Sun-hong Piauw-kioknya. Cepat cepat dia

mengundurkan diri lagi.

Gerakin Lauw Can Cun sangat cepat sekali. kemajuan Ie Lip

Tiong juga tidak lambat cukup kuat untuk menimpali kegestan

lawannya. Disaat jang sama, ujung pedang tetap meluncur

ketempat sasaran, itulah jantung hati Lauw Can Cun.

Lauw Can Can bergereng, tangannya di balikkan. memukul pergi

pedang lawan. Di lihat sepintas lalu, gerakan tadi sangat berbahaya.

tapi dia mempunyai tenaga dalam yang hebat, dia mempunjai

pegangan kuat untuk mementalkan pedang dan berikut orang-orang

jang bersangkutan hanya seorang-orang Pendekar Pemetik Bintang

Liong Pal Su jang tidak ternama segera akan dikalahkan olehnya

Demikianlah cara pemikiran Lauw Can Cun yang salah,

Plek …. Betul2 pedarg Ie Lip Tiong kena disampok pergi.

Kejadian ini sudah berada didalam perhitungannja Lauw Can

Cun.

Kejadian berikutnya inilah yang membawa mala petaka kepada

sipengurus rumah makan Hian-kok lauw, Menurut perkiraan lauw

Can Cun, langkah kedua adalah menerbangkan lawannya.

Kenyataan tidak. Ie Lip Tiong tidak dapat diterpental pergikan Apa

jang kita dapat saksikan adalah. pedang Ie Lip Tiong membuat satu

lingkaran, dari depan kebelakang dan dari belakang memutar balik

kembali, menegang, dan tetap mengancam ulu hati Lauw Can Cun.

“Aaaaaa… lnilah suara jeritan sipengurus rumah makan Hian kok

Lauw.

Jalan darah linu Lauw Can Cun dibagian pinggangnya telah kena

totokan pedang Ie Lip Tiong. tubuhnya jatuh ngedubrak, telentang

ditanah,

Para penonton yang menyaksikan kehebatan si Pemetik Bintang

Liong Pal Su bertepuk sorak. Mereka berteriak gembira.

Lauw Can Cun yang jatuh untuk satu gebrakkan. Betul2 kejadian

yang berada diluar dugaan.

Dinilai dari keakhlian kedua orang-orang itu, Lauw Can Cun

memang bukan tandingan Ie Lip Tiong, yang menambahnya

prosesnya kehancuran sacepat itu adalah tidak adanya persiapan

persiapan matang dari Lauw Can Cun. Dia terlalu memandang

rendah kepada lawan tanpa nama itu.

Semua mata ditujukan kearah Lauw Can Cun jang terlena

ditanah. Tidak seorangorangpun jang membangunkannya. Maka

perhatian berganti kearah Raja Silat Gila Sie It Hu.

Sie It Hu tidak menunjukkan perobahan sikap, seolah-olah

kekalahan Lauw Can Cun itu tidak mempunyai hubungan dengan

dirlnya. Dengan seanyuman jang menarik, dia memandang Ie Lip

Tiong kemudian menganggukkan kepala. Itulah tanda penghargaan

jang dapat diberikan olehnya,

“In Thian Liu” Dia memanggil pengurus rumah makan. Oey kiok

lauw. “Liong-piauwsu memang istimewa. Coba kau jang

memberikan pelajaran kepadanya.”

Kedudukan In Thian Liu sebagai pengurus rumah makan Oey

kiok lauw berada diatas Lauw Can Cun, hal itu disebabkan karena

ilmu kepandaiannya yang lebih tinggi. Menonton bagaimana Ie Lip

Tiong mengalahkan Lauw Can Cun, hatinya agak bingung.

Bagaimana dengan dua jurus sang kawan dijatuhkan?

Kini dia mendapat perintah untuk maju perang. Dengan sikap

yang berhati hati, dia menghampiri lawannya.

“Liong piauwsu,” Dia berkata. “Kami In Thian Liu meminta

pelajaran.”

“Tuan In terlalu merendah.” Berksta Ie Lip Tiong.

In Thian Liu mengeluarkan pedang, Wing…. dia mulai membuka

serangan

Ie Lip Tiong tidak menjadi gentar, dia memapaki serangan itu

dengan lain macam serangan. Traangggg…. Traangggg…. Beruntun

sampai dua kali, terjadilah benturan2 pedang.

Dua bajangan itu terpisah, Ie Lip Tiong diarah Timur dan Io

Thian Liu diarah Barat”

Ciiaaaattttt……In Thian Liu mulai membuka babak pertandingan

yang kedua. Betul2 dia melakukan kegalakkan jang luar biasa.

Pemikiran Ie Lip Tiong tidak dapat dikacaukan oleh pekikan In

Thian Liu. dia membawakan sikapnya yang tenang. Air liur dapat

menenggelamkan apa saja, itulah yang dijadikan dasar

perlawanannya.

Trang… tranggg… tranggg…. Terjadi lagi tiga benturan pedang

dan setelah itu tubuh merekapun terpisah.

Kali ini In Thian liu tidak melanjutkan penyerangan babak ketiga.

Dia menyedot napasnya beberapa kali, mencari waktu istirahat ini

penting, mengingat lawan jang harus dijatuhkan itu terlalu berat.

Ie Lip Tiong dapat bersikap tahu diri, dia tidak menjerang lubang

perangkap yang dipasang oleh In Thian Liu.

In Tbian Liu membenarkan perputaran jalan darahnya.

Ie Lip Tiong juga memulihlan ketekoran tenaganya

Disini letak kecerdikan Ie Lip Tiong, dia tahu bagaimana harus

menghadapi musuh jang tidak sama. Dia mendahului gerakan Lauw

Can Cun karena pergurus rumah makan itu bersikap lengah dengan

akhir kemenangan untuknya. Dia menantikan kelengahan In Thian

Liu, karena itu dia tidak mau menyerang iebih dahulu.

Sepuluh kedipan mata kemudian, In Thian Liu mengangkat

pedang, swiiiingg. lagi2 dia yang menyerang.

le Lip Tiong mengangkat pedang sangat perlahan, begitu cepat

kedua pedang itu sudah saling bentur, plek… lengket menjadi satu,

tidak lepas lagi. Mereka mengadu tenaga dalam.

Aittttttt… In Thiao Liu minarik diri.

“Ha, ha…” Ie Lip Tiong tertawa “Ilmu pedang tuan tidak buruk,

sangat berasa sekali. Mengapa tidak menyerang sekaligus ? Terus

menerus ? Adanya cara bertempur yang diplentit plentit seperti itu

sangat membosankan. Kukira. ilmu ‘istirahat’ ini tidak termasuk

didalam buku persilatan.”

Wajah In Thian Liu menjadi sangat beringas, dia mengeluarkan

deheman dua kali, tubuhnya mencelat tinggi, dengan satu tipu yang

luar biasa dia msnyerang lawannya.

Ie Lip Tiong menggunakan tipu kelelawar bergerak kian kemari

dibajangi oleh pedangnya, berkibar2 ditengah lapangan.

Kini terjadi perang sabit, kecepatan mereka diperlipat gandakan,

bagaikan dua ekor naga Ie Lip Tiong dan In Thian Liu bertanding

diudara.

Kadang kala terjadi juga benturan pedang dari kedua jago silat

itu. Lelatu api memercik kian kemari. sungguh indah

Terjadi lag! benturan yang lebih dahsyat, terus menerus

sehingga delapan kali, suara itu terdengar lama. Setelah itu, dua

bayangan dari dua jago jang sedang bertanding terpisah, lalu berdiri

dibagian Utara dan lainnya dibagian Selatan.

Membayangi terpetanya kedua bayangan orang-orang itu. satu

belahan tangan yang berketelan darah jatuh nyelepok ditengah

tengah.

Mata semua orang-orang terbelalak.

Memandang kearah In Thian Liu ternyata orang-orang ini telah

kehilangan sebelah tangannya. Dia berdiri dengan keadaan limbung,

begitu berat darah mancur keluar dari bekas luka, terus menerus

demikian, akhirnya dia jatuh tidak sadarkan diri.

Lagi2 Ie Lip Tiong yang memenangkan pertandingan itu!

Rombongan Sun hong Piauw kiok bertepuk sorak. hanya

sebentar, sesudah itu, mereka dan biar bagaimana. In Thiau Liu

termasuk kawan dari orang-orang yang menyewa usaha

pengangkutan mereka.

Raja Silat Gila Sie It Hu tertawa berkakakan, dia maju

menghampiri Ie Lip Tiong, dengan suara yang jelas, sepatah demi

sepatah dia berkata:

“Ie Lip Tiong, kau memang hebat. Sebagai hasil kemenanganmu

atas dua pertandingan tadi, semua uang perak itu menjadi milikmu.”

Sie It Hu tidak lagi memanggil dengan sebutan Liong Pal Su, dia

sudah dapat mengetahui penjamaran Ie Lip Tiong.

atas terbongkarnya rahasia penyamaran ini dapat mengejutkan

semua orang-orang. Tapi tidak mengejutkan Ie Lip Tiong, hal itu

sudah termasuk kedalam benak perhitungan Ie Lp Tiong, dengan

ilmu kepandaian yang seperti itu, karena adanya pertarungan jang

mengalahkan Lauw Can Cun dan In Thian Liu, tentu saja mereka

dapat menduga, siapa manusia jang bergelar Pendekar Pematlk

Bintarg Liong Pal Su itu.

Yang mengherankan Ie Lip Tiong adalah atas keterangan Sie It

Hu, mengapa menghadiahkan uang perak komplotan tulang beset

kulit manusia?

Untuk jelasnya, bagaimana partay Raja Gunung mengadakan

pembesetan kulit manusia, para pembaca dipersilahkan mencari

buku dengan judul PEMBUNUH GELAP.

Ie Lip Tiong berhadapan dengan Raja Silat Gila Sie It Hu dia tidak

takut, dengan sikapnya yang sangat menantang berkata:

“Cianpwe dapat menyebut nama boanpwe, sesudah boanpwe

mengalahkan kedua orang-orang tadi. Tidakkah merasa terlambat

atas terjadinya kejadian ini?”

“Tidak.” Berkata Sie It Hu. “Kukira sangat tepat.”

“Alasannya?”

“Mengapa harus ada alasan? Kau menghendaki satu juta tail

psrak ini. Nah, uang sudah kuserahkan. Apa lagi jang masih

mengganggumu ?”

“Kuharap saja telingaku tidak saiah dengar.” Berkata Ie Lip

Tiong.

“Tidak salah dengar.” Berkata Sie It Hu. “Inilah suatu kenyataan

Kau berhasil memeanangkan semua uang perak itu”

“Dapat kau memberi sedikit keterangan?” Ie Lip Tiong masih

kurang percaya,

“Mengapa harus keterangan?” Berkata Sie It Hu. “Sebagai

seorang-orang tokoh ajaib It kiam tin bu lim Wie Tauw dari kota

Tiang an jang ternama, mungkinkah harus mendapat keterangan

secara terperinci ? Dimanakah kepintaran otakmu itu ?”

Tentang keistimewaan It kiam tin bu lim Wie Tauw, para

pembaca dipersilahkan memcari buku PEMBUNUH GELAP.

“He, he, he, he….” Raja Silat Siluman Bu Bee Beng tertawa

“Ha, ha, ha, ha….” Raja Silat Gila Sie It Hu juga tertawa.

Kcdua oreng ini bcrjalan tenggang meninggalkan keramaian

mereka tidak mau tahu urusan berikutnja,

Apakah rahasia yang tersembunyi dibalik tabir ini?

Sebagai dua dari 12 Raja Silat golongan Sesat, Sie It Hu dan Bu

Bee Beng kurang bertanggung jawab atas partaynya. Kcnyataan

bahwa kedua raja silat itu sudah meninggalkan golongannya

Sudah insyap?

Sudah bertobat?/

la Lip Tiong bingung memikirkan duduk persoalan itu ?

Semua orang-orang juga bingung memikirkan adanya kejadian

yang sudah

terbentang dihadapan mata mereka.

Otak Ie Lip Tiong bekerja keras. Tiba2 dia menepuk jidatnja

“Aaaaaa….” Tubuh sipemuda melesat, menyusul larinya kedua

raja silat itu.

Otak terpenting dari sekian banyak oraug jatuh tepada Leng San

Pian Dia hendak mencegah kepergian Ie Lip Tiong, menyusul dua

raja silat itu adalah suatu kejadian yang berbahaya tapi terlambat,

gerakkan dan kecepatan Ie Lip Tiong begitu menakjubkan Dia sadar

sesudah bayangan Ie Lip Tiong turut lenyap.

Yu Seng Cu menghampiri ketuanya.

“Bagaimana hal Ini dapat terjadi ?” Dia mengajukan pertanyaan.

Leng San Pian mengangkat pundak. Berarti diapun tidak tahu,

permainan semuanya apa jang sedang dihadapi oleh mereka?

“Sie It Hu dan Bu Bee Beng rela meninggalkan uang mereka?”

Bertanya lagi Yu Seng Cu.

“Uang2 itu masih ada” Berkata Leng San Pian mengelakkan

pertanjaan.

“Mungkinkah suatu penipuan?”

“Ilmu kepandaian mereka begitu tinggi, siapakah yang dapat

mengalahkannya ? Mengapa harus menggunakan cara tolol?

Penipuan itu tidak mungkin terjadi.”

Mereka menyengir pahit.

“Lihat,” Yu Seng Cu menudingkan jarinya kearah In Thian Liu

Pengurus rumah makan Oey kiok lauw dikota Bu Ciang itu terlalu

banyak mengeluarkan darah. Kukira sulit diberi pertolongan.”

Hati Leng San Pian tergerak, seperti apa yang Ie Lip Tiong

terangkan, kongcu itu mendapat tugas khusus Su hay tong sim

beng untuk menemukan markas besar satu komplotan tukang beset

kulit manusia yang menamakan diri mereka sebagai partay Raja

Gunung. In Thian Liu adalah salah satu anggota partay ia, untuk

mendapat keterangan dia barusan, memberi pertolongan.

Cepat2 Leng San Pian bergerak menotok beberapa jalan darah In

Thian Liu. dia hendak mencegah pembocoran darah yang terus

menerus, membalikkan tubuh orang-orang itu, mata In Thian Liu

sudah dikatupkan Memeleknya sebentar, hanya putih saja,

memegang urat nadinya sudah diam tidak berdeguk, In Thian Liu

mati katena mengalirkan darah terlalu banyak.

Leng San Pian gagal menolong jiwa orang-orang Lu.

Yu Seng Cu menghampiri datang. “Bagaimana dengan yang itu?”

Dia menunjuk Lauw Can Cun.

Leng San Pian melirik kearah orang-orang yang ditunjuk sang

pembantu.

“Dia aman.” Leng San Pian berkata tenang. “Ie kongcu telah

menoiok jalan darah bekunya. Dia kaku tidak bisa berkutik,”

Mereka menghampiri tubuh Lauw Can Cun yang masih terlena

ditanah Seperti apa yang Leng San Pian katakan, pengurus rumah

makan Hian-kok lauw ini dapat memutar mutarkan biji matanya,

hanya keadaan tubuhnya yang seperti bangkai mati, diam tidak

bergerak.

Leng San Pian menoleh kearah pembantunya.

“Yu piauwsu.” Dia berkata. “Tolorg kau atur penguburan jenazah

In Thian Liu.”

Yu Seng Cu menjalankan perintah itu, membawa beberapa

orang-orang, dia mengebumikan mayat In Thian Liu.

Keramaian dilapargan rumah makan Cui in koan kho Ciam itu

sudan selesai,

Bagi para tamu dan para pengurus rumah makan itu, kejadian

berdarah seperti apa yang mereka saksikan adalah lumrah sekali.

Hidupnya para piauwsu dari perusahaan2 pengangkutan berada

diujung golok dan pedang. Kematian adalah bayangan mereka.

Leng San Pian mengdampingi Lauw Can Cun.

“Cong piauw tauw,” Pengurus rumah makan Hian kok lauw itu

membuka suara.

Leng San Pian menoleh kearahnya.

“Cong piauw tauw.” Memanggll lagi Lauw Can Cun. “Boleh aku

mengajukan

pertanjaan?”

“Boleh saja dia.” Dia berkata ramah. Lauw Can Cun menarik

napas dalam2, dia bertanya :

“Piauwsu yang. barnama Liong Pal Su dengan gelar Pendekar

Pemetik Bintang itu

adalah saudara misanmu?”

“Aku menyesal harus berbohong kepadamu.” Berkata Leng San

Pian.

“Siapakah dia ?” Bertanya lagi Lauw Can Cun.

Leng San Pian menjawab pertanyaan itu: “Ketua muda Oey sanpay,

namanya Ie Lip

Tiong.”

“Kau bersekongkol dengannya untuk merampas uang kami?”

“Ketahuilah,” Berkata Leng San Pian. Akupun termasuk salah

seorang-orang murid

Oey san-pay. Kami satu anggota partay, bukan konplotan atau

bersekongkolan.”

“Aku menyessl telah mengundang perusahaan pengangkutanmu

menjadi pengawal keamanan.” Berkata Lauw Can Cun menarik

napas lagi. “Aku jatuh dibawah tanganmu.”

“Untuk kota Han yang, hanya ada satu perusahaan

pengangkutan. Bagaimanapun, kau harus mencari perusahaan

pengangkutan Sun hong Piauw kiok.” Berkata Leng San Pian

tenang.

“Aku heran.” Berkata lagi Lauw Can Cun. Bagaimana Ie Lip Tiong

mengetahui bshwa

kami hendak mengadakan pengantaran feran uarg! perak itu?”

Leng San Pian berkata:

“Masih ingatkah, bagaimana si Raja Silat Bajingan Co Khu Liong

mengacau rumah

makanmu? Dimana terdapat seorang-orang pengemis diluar

lingkungan para pengacau itu?”

“Aaaaaa…. Ternyata tumah makanku sudah diincar lama?”

“Betul.”

“Tapi….” Bertanya lagi Lauw Can Cun. “Bagaimana dia tahu

bahwa uang itu milik partay Raja gunung?”

“Ie Lip Tiong adalah jelmaan It kiam-tin bu lim Wie Tauw dari

perusabaan Boan chiu Piauw kiok.” Berkata Leng San Pian. “Setelah

berbasil menghancurkan perkebunan teh Sang leng The chung dan

perutahaan pengangkutan kuda Su hay bee kie-hang di kota

Lok yang. Dia mendapat tugas untuk menyelidiki markas besar

kalian. Tujuan utamanya adalah rumah makan Hian kok lauw

kamu.”

Perusabaan teh Sang leng The chung dan perusahaan persewaan

kuda Su hay bee kie bang adalah cabang2 perusahaan dari

partaynya rajaGunung juga Cerita ini terdapat didalam buku

PEMBUNUH GELAP. Partay Rija Gunung adalah suatu komplotan

tukang beset kulit manusia, dengan kulit yang sudah dikeringkan

itu, mereka dapat menjelma menjadi orang-orang yang

bersangkutan

Lauw Can Cun menarik napas sampai berulang kali, dia menyesal

kapada diri sendiri mengapa begitu bodoh, mengundang musuh

didalam selimut

“Cong piauw tauw” Dia memanggil lagi.

“Ada apa?” Bertanya Leng San Pian.

“Cong piauw tauw, biar bagaimana, kita adalah orang-orang satu

kampung. Dapatkah kau mengintai hubungan lama kita Memberikan

kebebasanku lagi?”

“Aku sargat menyesal.” Berkata Leng San Pian.

“Kau tidak mau membebaskan aku?” Bartanya Lauw Can Cun

putus asa.

“Sedapat mungkin, aku akan membebaskan dirimu. Tapi bukan

sekarang.” berkata Leng San Pian.

“Dirumah makan Hian kok lauw, aku masih mempunyai uang

sebanyak 80.000 tail perak. Sstengah dari uang ini kusediakan

untukmu dengan syarat memberikan kebebasan untukku.” Lauw

Can Cun mulai membujuk.

“Aku tidak butuh uang itu.” Berkata Leng San Pian.

“Semuanya kuserahkan kepadamu.” Berkata Lauw Can Cun.

“Sudah kukatakan, segera kubebaskan dirimu Setelah kau

memberi tahu, dimana

letak markas bssar partay Raja Gunung itu.”

“Aku tidak bisa memberi tahu ” Berkata Lauw Can Cun.

“Ie kongcu akan memberi putusannya,” berkata Leng San Pian.

“tunggulah sampai dia

kembali”

Wajah Lauw Can Cun berubaj menjadi pucat. Matanya

dikatupkan, dia diam.

Leng San Pian tetap mendampinginya.

Yu Seng cu telah selesai menguburkan mayat in Thian Liu. dia

balik memberi laporan.

Leng San Pian memberi pujian kepada kecekatannya pembantu

itu.

Tiba2……..

Terdengar suara rintihan Lauw Can Cun, hanya mulutnya yang

bergetar badannya

ditotok kaku tidak bisa bergojang karena itu. semakin terasa

kepedihannya.

Leng San Pian kaget. cepat2 dia bertanja:

“Mengapa?”

Wajahnya Lauw Can Cun menyeringai sakit, dia berkata lemah :

“Cong piauw tauw, kau tidak tahu bahwa aku mempunyai

seorang-orang istri dan tiga anak.Disaat ini jiwa mereka berada

didalam tangan San cu kami.”

Sancu berarti Raja Gunung Inilah pucuk pimpinan tertinggi dari

tukang beset kulit manusia partay Raja Gunung.

“Lauw Can Can, biar bagaimana, kau adalah seorang-orang jago

silat asli” Dia berkata. “Mengapa mengucapkan kata2 yang saperti

ini?”

»Aku mengharapkan belas kasihanmu untuk menolong jiwa

mereka. Aku tidak dapat membocorkan rahasia partay, akibat dari

penghianatan ini sangat besar. Semua keluargaku akan dihukum

picis, sangat menderita sekali. lnilah hukuman yang terberat.

“Tunggulah sampai Ie kongcu kembali.” Berkata Leng San Pian.

“8eritahu kesulitanmu

kepadanya. kujamin, dia tidak akan membunuh mati dirimu.”

“Aku membutuhkan belas kasihanmu.” Berkata Lauw Can Cun

lagi.

“Aku tidak berhak memberi kebebasan.” Berkata Leng San Pian.

“Baiklah Sudahkah kau tahu, bahwa sebelum aku menjabat

pengurus rumah makan

Hian kok lauw, sebuah gigiku sudah dicabut secara paksa?”

“Hubungan apa yang ada dengan persoalan gigi palsu itu?”

Bertanya Leng San Pian heran.

Dada Lauw Can Cun turun naik secara drastis, napasnyapun

memburu keras.

Bibirnya mulai gemetar-Dia berkata dengan suara yang tidak

lancar:

“Hubungannya…. sangat erat… Tempat itu dipasang….

oleh gigi palsu…. dengan obat beraCun”

“Aaaaa…” Leng San Pian berteriak kaget. “Kau memakan racun

itu ?”

“hanya… Hanya menelan racun inilah… maka… jiwa semua

keluargaku… yang berada

dibawah… kekuasaan mereka… dapat terhindar… dari

kematian…. yang paling mengerikan….”

Hekkkk ….

Napas Lauw Can Cun tersentak keras jiwanya melayang pulang

ketempat rokh suci berada. Dia mati bunuh dirl dengan

memecahkan obat beracun yang sudah dipasang didalam mulutnya.

Tersipu sipu Leng San Pian menotok jalan darah hidup

sipengurus rumah maitan Hian kok lauw, tidak berhasil. Kulit Lauw

Can Cun berubah menjadi biru. Terlalu cepat sekali.

Yu Seng Cu tidak dapat berbuat sesuatu apa, kejadian mana

berada keluar perhitungan semua orang-orang.

“Eh…” Tiba2 terdengar suara Ie Lip Tiong. “Mengapa kalian

berkerumun disini?”

Ketua muda Ocy san pay itu telah berada dibelakang orang-orang

banyak.

“Lauw Can Cun mati bunuh diri.” Leng San Pian memberi

keterangan.

Ie Lip Tiong memperlihatkan wajahnya yang heran.

“Dia terkena totokanku. Bagaimana bisa bunuh diri?” Dia

mengajukan pertanyaan.

“Dimulutnya sudah terssdia racun jahat, dengan obat beracun

itu, dia menghabisi jiwanya sendiri.” Leng San Pian memberi

keterangan.

“Mengapa harus buruh diri?” Ie Lip Tiong memeriksa keadaan

Lauw Can Cun, betul2 orang-orang itu sudah melakukan

harakiri/bunuh diri.

Leng San Pian berkata:

“Inilah gara2 mulutku yang lancang, kukatakan, kau hendak

memaksa dia memberi petunjuk jalan yang menuju kearah markas

besar komplotannya. Ternjata pemimpin komplotan tukang beset

kulit manusia itu telah memegang kelemahannya, semua keluarga

Lauw Can Cun telah dipegang kuat2, bila mana dia berani

berkhianat, jiwa anak istrinya akan disiksa sehingga mati, dikatakan

sangat mengenaskan sekali. Gigi Lauw Can Cun dicabut sebuah,

diganti dengan gigi palsu yang berisi obat beracun, gigi ini khusus

disediakan untuk bunub diri, dengan demikianlah, dia dapat

menolong siksaan berat dari keluarganya.”

le Lip Tiong menarik napas panjang, menengok kekanan dan kiri,

dia tidak menemukan In Thian Liu, segera dia mengajukan

pcrtanjaan:

“Dimana In Thian Liu?”

Yu Seng Cu berkata:

“Dia terlalu banyak mengcKiarkan darah. jiwanya tidak dapat

ditolong. Sudah kita kebumikan.”

Ie Lip Tiong mengeluarkan keluhan napas lesu.

“Sebenarnya, aku hendak meminta keterangan mereka. Sungguh

diluar dugaan. Dua2nya mati lebih dahulu.”

“Kesalahan berada padaku ” Berkata Leng San Pian. “Tidak

sebarusnya kuberi keterangan yang terlalu banyak.”

“Kukira, si Raja Gunung itulah yang terlalu lihay. Dimisalkan

mereka tidak mati. Mengingat adanya gigi beracun itu yang sudah

dipasang terlebih dahulu, kukira mereka juga tidak mau

membocorkan rahasia. Seperti keadaan Lauw Can Cun, keluarga In

Thian Liu tentu berada dibawah kekuasaan Raja Gunung itu.”

“Kini pengusutan terputus.” Berkata Leng San Pian.

“Kau mangetahui lain cabang usaha mereka?”

Ie Lip Tiong menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Usaha komplotan tukang beset kulit manusia ini tidak tebatas

pada perusahaan rumah makan saja. Adanya perusahaan rumah

makan lebih menguntungkan mereka. Rumah mskan dapat

menyedot uang kontan sebanyak mungkin juga tidak menarik

kecurigaan banyak orang-orang. Tidak seperti perkebunan teh atau

persewaan kuda. Sayang belum ada info baru tentang salah satu

cabang perusahaan partay raja Gunung ini.”

“Maksudmu ?”

“Mereka hendak membawa uang uang ini kekota Su shia. Di kota

itulah orang-orang2 mereka menantikan kedatangannya.Besar

kemungkinan ada suatu cabang perusahaaannya, aku hendak

menyelidikinya keadaan kota Su shia.” Berkata Ie Lip Tiong.

Leng San Pian menyetujui langkah ini.

“Bagaimana hasilmu kepada pengejaran tadi?” Dia bertanya.

“Dua Raja Silat Sesat i1u yang kau maksudkan?” Bertanya Ie Lip

Tiong tertawa.

Leng San Pian menganggukkan kepalanya.

“Mengapa mereka berpihak kepada kita?” Dia betul2 tidak

mengerti.

“Ha, ha….” Ie Lip Tiong tertawa lagi. “Dua orang-orang tadi

bukanlah raja silat sesat yang asli.”

“Maksudmu ?” Leng San Pian membelalakkan mata.

“Kita telah kena dikibuli olehnya.” Berkata 1e Lip Tiong. “Dua

orang-orang inilah yang kita harapkan. Mereka berupa tenaga

bantuan yang didatangkan oleb gerakan Su bay tong sim beng.”

yang menyamar menjadi Raja Silat Siluman Bu Bee Beng adalah

Raja Silat Tenang Hong poh Kie, yang menyamar menjadi Raja Silat

Gila Sie It Hu adalah Raja Silat Karya Kam Lu Bin. Merekapun

berupa raja silat ternama, bedanya, bilamana Bu Bee Beng dan Sie

It Hu dari 12 Raja Silat golongan Sesat, Kam Lu Bin dan Hong-poh

Kie adalah raja2 silat dari golongan kesatria.

“Aha…. Leng San Pian bsrteriak girang. “Tidak kusangka bantuan

itu dapat memainkan sandiwara seperti itu,”

ie Lip Tiong berkata ;

“Akupun tertipu olehnya. Aku sadar setelah kepergiannya kedua

raja silat itu. maka aku mengejar mereka untuk mengucapkan

terima kasih kita.”

Berhasilkah mengejar kedua raja silat itu ?” Bertanya Leng San

Pian.

“Mereka tidak pergi jauh.” Berkata Ie Lip Tiong. Mereka

menantikan kedatanganku. Mereka menantikan dibawah sebuab

pohon besar. Kedatanganku disambut oleh Raja Silat Karya Kam Lu

Bin, dengan tertawa dia berkata kepadaku bahwa aku mempunyai

otak dari batu kerikil, bila tidak dapat memecahkan penyamaran

mereka, aku tidak berhak duduk sebagai Duta 1stimewa Berbaju

Kuning Nomor Tiga Belas, bila tidak dapat membedakan sifat raja

silat sesat dan raja silat kesatria. Aku dipecat dari anggota Su hay

tong sim beng, bila tidak menemui mereka berdua.”

“Merekapun termasuk tokoh silat yang aneh.” Berkata Leng San

Pian.

“Mereka berkata, hanya cara halus yang seperti itulah Mereka

dapat mengantar kita dikota ini, Cui cit lie mempunjai cabang jalan

kearah 9 penjuru, mudah untuk melarikan diri. Bukan saja si Raja

Silat Bajingan Co Khu Liong yang membikin pengawalan, anak buah

komplotan tukang beset kulit manusia itu sangat banyak, dia

meninggalkan pesan, kita harus berhati hati.” Ie Lip Tiong

meneruskan keterangan.

Leng San Pian bertanya lagi:

“Dimanakah mereka kini? sudah pergi?”

“Mereka pulang kemarkas besar Su hay tong sim beng sudah

kuceritakan tentang

adanya 9 dara dari keluarga Ang, mereka bersedia menjodohkan

dengan dua Duta Istimewa Berbaju Kuning yang masih bujangan.”

“Nasib 9 dara dari keluarga Ang itu yang bagus.” Berkata Leng

San Pian.

Ang Yan Bwee dan saudaranya hendak merampas uang yang

dititipkan kepada Sun hong Piauw kiok, mereka tidak berhasil Ang

Siauw Peng tertangkap, atas mulut manis Ie Lip Tiong, terikatlah

jodoh mereka. Inilah kejadian dibelakarg cerita, disini tidak perlu

dipanjanglebarkan.

Berhasilkah Ie Lip Tiong dan Leng San Pian membawa lari uang

itu?

Mari kita mengikuti bagian ketujuh

Bagian ke 7

LAGI2 Yu Seng Cu yang mendapat tugas mengurus kematian

Lauw Can Cun.

Ie Lip Tiong dan Leng San Pan kembali kerumah makan, mereka

harus bergegas gegas meninggalkan tempat itu.

Para tamu didalam rumah makan masih ramai

memperbincangkan soal terjadinya pertempuran diluar lapangan.

Mata Ie Lip Tiong yang tajam segera dapat menangkap satu

bayangan, itulah bayangan seorang-orang kakek berbaju hijau,

makan disatu meja yang tersendiri, telinganya di pasang panjang.

Ie Lip Tiong menarik Leng San Pan, dengan tangannya yang

dibasahi dengan arak dia menulis :

“Jangan bersuara, ada musuh!”

Wajah Leng San Pian berubah. Dia memperhatikan keadaan di

dalam rumah makan itu, hanya tinggal 4 orang-orang tamu. Dia

tidak tahu, siapa dari keempat orang-orang itu yang di maksudkan

dengan musuh.

Leng San Pian memandang kearah Ie Lip Tiong. Dia hendak

meminta keterangan jang lebih jelas

Didalam rumah makan itu masih terdapat banyak orang-orang

Sun hong Piauw kiok, Ie Lip Tiong mendatangi seorang-orang

diantaranya, dengan tulisan, dia mengajukan pertanyaan :

“Bilakah kedatangan orang-orang tua berbaju hijau itu ?”

Orang-orang yang ditanya membelalakkan mata, memeriksa

seluruh isi ruangsn makan. akhirnya tertuju pada kakek berbaju

hijau itu.

“Belum lama.” Dia memberikan jawaban,

“Jangan bersuara.” le Lip Tiong menggunakan tangannya menulis

dimeja.

“Gunakanlah cara seperti aku. Dengan tulisan.” Orang-orang itu

meaganggukkan kepalanya.

“Apa yang diLakukan olehnya?” Bertanya lagi Ie Lip Tiong tetap

dengan tulissn.

Orang-orang itu menulis :

»Semua orang-orang mempercakapkan kejadian tadi Dia

memasang kuping panjang, kadang kadang mengajukan beberapa

pertanyaan.

“Apa yang diajukan olehnya?” Menulis lagi Ie Lip Tiong.

“Tidak terdengar jelas” Menulis orang-orang yang ditanya.

Ie Lip Tiong nsengajak Leng San Pian meninggalkan tempat itu.

Diluar, Leng San Pian bertanya :

“Siapakah kakek berbaju hijau tadi?”

“Calon mertuaku, namanya Ai Pek Cun.” jawab Ie Lip Tiorg.

“Aaaaaa….”

Agaknja, ada perlu untuk menuturkan sedikit tcntang Ai Pek Cun.

Ai Pek Cun adalah ayah Ai Ceng, sedangkan Ai Ceng adalah

kekasih Ie Lip Tiong.

Ai Pek Cun adalah salah satu dari empat murid si Raja Silat, Ai

Pek Cun mempunjai seorang-orang murid yang bernama Su khong

Eng, dan Su khong Eng inilah yang menjadi bibit bencana rimba

persilatan, dengan menggunakan perawakannya yang agak mirip

dengan Ie Lip Tiong, dengan menggunakan tutup kerudung hitam

dan baju hitam, dia berhasil menciptakan dongeng pemuda

Misterius berkerudung hitam. melakukan pembunuhan2 dibeberapa

tempat Maka Ie Lip Tiong yang di kejar kejar orang-orang, inilah

fitnah.

Adanya fitnah celaka itu, Ie Lip Tiong digusur kemeja hijau Su

hay tong sim beng, dengan satu hukuman, itulah hukuman mati!

Duta Nomor Empat dari gerekan Su hay tong sim beng yang

bernama Can Ceng Lun dengan gelar Hakim Hitam adalah guru Ie

Lip Tiong, berkat bantuan Can Ceng Lun inilah jiwa, Ie Lip Tiong

dapat diselamatkan.

Semua dosa ini harus ditanggung oleh Su khong Eng, Ai Pek Cun

dan si Raja Gunung.

Dosa pertama berada ditangan Su khong Eng dosa kedua

ditangan Ai Pek Cun dan berikutnya adalah si Raja Gunung yang

misterius itu?

Menurut dosa, urutan tadi tidak bisa disangkal atau diganggu

gugat. Msnurut kedudukkan, otak pertama adalah si Raja Gunung

yang dibantu oleh 11 Raja2 Silat Sesat lainnya.

Karena itu, Su hay tong sim beng memberi tugas kepada Ie Lip

Tiong untuk menyelidiki pusat markas gerakan tukang beset kulit

manusia itu.

Info Ie Lip Tiong alias It kiam tin bu lim Wie Tauw dengan

gelarnya tokoh ajaib dari Kota Tlang an, Pedang yang Menundukkan

Rimba Persilatan itu sangat tajam. Dia berhasil msnemukan salah

satu cabang perusahaan si Partay raja Gunung. Itulah ruman makan

Hian kok lauw. Disana muncul seorang-orang Raja Silat Bajingan Co

Khu Liong, kekayaan uang kontan yang ada harus diwajibkan

dibawa pulang. Inilah kesempatan baik, dengan menyamar menjadi

seorang-orang piauwsu Sun Hong Piauw kiok, Ie Lip Tiong berhasil

menyertai perjalanan itu. Maksudnya mengincar pusat markas

gerakan partay Raja Gunung.

Bantuan Su hay Tong sim beng sudah datang, degan menyamar

sebagai Bu Bee Beng dan Sie It Hu, Raja2 Silat Kesatria Kam Lu Bin

dan Hang poh Kie dapat mengusir Co Khu Liong secara halus

Mereka menyerehkau uang itu.

Dikala Ie Lip Tiong dan Leng San Pian , hendak melanjutkan

usahanya, mereka menemuksn Ai Pek Cun.

Inilah gangguan!

Leng San Pian menjadi bingung. Dia bertanya :

“Bagaimana dia bisa berada ditempat ini?”

Ie Lip Tiong berkata .

“Kukira dia inilah yang meedapat tugaa menjambut kedatangan

uang. Kukira dia sudah tahu kejadian tadi. Seluruh isi rumah makan

Cui im koan ko Ciam sudah digegerkan olehnya.”

“Bagaimana ilmu Ai Pek Cun itu?” Berkata Leng San Pian.

“Sangat tinggi.” Berkata Ie Lip Tiong. “Tinggi sekali. Dia adalah

murid si Raja Gunung. Inilah orang-orang yang berhasil mendidik

sipemuda misterius berkerudung hitam Su khong Eng.”

Ilmu kepandaian Su khong Eng sudah sangat tinggi, dia dapat

mengacau anak buah lima partay besar tanpa gangguan, mudah

dibayangkan, sampai dimana ilmu kepandaian Ai Pek Cun.

Ie Lip Tiong dan Leng San Pian belum menemukan cara untuk

menghadapi Ai Pek Cun.

Disaat itu, satu bajangan hijau berjalan keluar, siapa lagi? Bila

bukan tokoh tukang beset kulit manusia Ai Pek Cun?

le Lip Tiong dan Leng San Pian memisahkan diri mereka.

Ai Pek Cun menghampiri datang merangkapkan kedua

tangannya, memberi hormat kepada Leng San Pian, digeser sedikit,

juga kepada Ie Lip Tiong. Ai Pek Cun pernah menjumpai Ie Lip

Tiong, tentu saja didalam keadaan seling. Kini le

Lip Tiong sudah berganti rupa, maka Ai Pek Cun tidak kenal

kepadanya.

“Mengganggu jiwie berdua.” Ai Pek Cun membuka suara.

Leng San Pian dan Ie Lip Tiong membalas hormat itu.

“Lotiang ada seauatu?” Bertanya Leng San Pian.

“Jiwie berdua tentunya piauwsu dari Sun hong Piauw kiok?”

Bertanya Ai Pek Cun.

“Betul.” Leng San Pian Menganggukkan kepala. “Kami Leng San

Pian pemimpin perusahaan.”

“Aaaaa… Pandekar Cambuk Gunung yang ternama.” Sekali lagi Ai

Pek Cun memberi hormat.

“Gelar itu diberikan oleh beberapa sahabat yang bermulut usil.”

Leng San Pian merendahkan diri.

“Dan bagaimana dengan sebutan saudara ini?” Ai Pek Cun

menanyakan nama Ie Lip Tiong.

“Pendekat Pemetik Bintang Liong Pal Su.” Berkata Leng San Pian

memperkenalkan piauwsunya. “Saudara misanku yang membantu

usahu Sun hong Piauw kiok.”

“Oh, Pendekar PemetiK Bintang Liong Pal Su? Sudah lama aku

mendengar namamu.” Berkata Ai Pek Cun. Dia hendak mengumpak

orang-orang, tentu saja bukan kata2 yang sejujutnya. Dari mana dia

kenal kepada Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su? Sedangkan

nama itu hanya nama Ie Lip Tiong. Hanya Ie Lip Tiong punya bisa.

Ie Lip Tiong membalas hormat itu.

“Aku Hoan Pak Koo kelahiran Holam.” Ai Pek Cun

memperkenalkan diri dengan nama palsunya “Boleh lohu

mengajukan pertanyaan, kemanakah rombongan jiwie sekalian

hendak berangkat?”

“Maaf.” Berkata Leng San Pian. “Perjalana perusahaan kami tidak

dapat diterangkan.”

“Bukan maksud lohu yang hendak menjadi mata2 perampok.”

Berkata Ai Pek Cun

“Lohu ada membawa barang berharga. dimisalkan cuwie sekalian

mengambil tujuan arah yang sama. Lohu ingin turut, sekalian

mendapat jaminan kawalan ”

“Lotiang hendak menuju kearah kota mana?” Bertanya Leng San

Pian.

Ai Pek Cun tidak menjawab pertanyaan itu. Dari dalam saku

bajunya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan, dikeluarkannya isi

bungkusan itu, ternyata butir mutiara bagus yang mempunyai nilai

besar, kemudian, cepat2 disimpannya lagi mutiara tadi.

“Demi keamanannya barang2 inilah,” Dia betkata. “Lohu

membutuhkan pengawalan.”

“Lotiang menuju kearah kota apa?” Leng San Pian mengulang

pertanyaanya.

“Kota Ceng yang hian.” jawab Ai Pek Cun

“Dekat sekali.”

“Sangat menyesal.” Berkata Lerg San Pian “Kita bukan satu

tujuan.”

“Oh… Ai Pek Cun memperlihatkan sikapnya yang sangat kecewa.

“Liong piauwsu,” Leng San Pian menoleh kearah Ie Lip Tiong.

“Ada baiknya kita melanjutkan perjalanan.”

“Tunggu dulu.” Ai Pek Cun berteriak gugup. “Kujanjikan hadiah

100 tail perak uniuk ongkos pengawalan.”

“Sun hong Piauw kiok hanya mampunyai dua piawsu pembantu.”

Berkata Leng San Pian. “Jumlah tenaga kita masih belum cukup,”

Leng San Pian menolak untuk melakukan perjalanan bersama

sama dengan tokoh komplotan tukang beset kulit manusia itu.

“Dua ratus perak lagi,” Ai Pek Cun menabah jumlah persennya.

“Seribu dua ratus tail perak.” Dia mengucapkan jumlah uang.

“Bukan soal ongkos ” Berkata Leng San Pian. “Betul2 kami

kckurangan tenaga.”

Ai pek Cun menggusuk-gusukkan keduanya, seolah bertemu

dengan kesulstan besar.

“Bagaimana….. Bagaimana aku melanjutkan perjalanan?” Dia

mengoceh seorangorang diri.

Ie Lip Tiong membuka mulut, segera dia berkata :

“Biar aku yang mengawal tuan ini.”

Leng San Pian menoleh kearah ketua muda itu, alisnya berkerut

kencang.

“Mana bisa ?” Dia memberi peringatan bahwa urusan mereka

belum selesai. Ie Lip Tiong berkata :

“Jarak Ceng-yang-hian dan Cui-cit lie tidak terlalu jauh, paling

lama memakan waktu perjalanan dua hari. Biar kuantar tuan ini

terlebih dahulu, setelah selesai, aku akan kembali segera.

Rombongan boleh menunggu di Cui cit Lie saja.”

“Tapi… Tapi….” Leng San Pian bingung.

Ie Lip Tiong menghadapi Ai Pek Cun. Dia tidak takut dikenali oleh

Calon mertua itu, ilmu menghias wajahnya sudah begitu sempurna,

disaat itu, kedudukannya adalah

Pendekar Pemetik Bintaog Liong Pal Su.

“Lotiang,” Dia membuka suara. “Kau berjalan kaki atau

menunggang kuda.”

Lotiang ini berarti sebutan untuk orang-orang tua yang dihormati.

Ai Pek Cun berkata :

“Sebenarnya, aku melakukan perjalanan dengan kuda, binatang

itu tidak sanggup mempertahankan dirinya, dia mati ditengah jalan

perjalanan yang diteruskan siang malam itu merenggut jiwanya Apa

boleh buat, aku harus berjalan kaki.”

“Sanggupkah melakukan perljalanan dengan sepasang kaki?”

Bertanya lagi Ie Lip Tiong.

“Akan lohu usahakan.” Berkata Ai Pek Cun.

Lohu berarti aku. Suatu istilah sebutan seorang-orang tua yang

menamakan dirinya.

“Hendak berangkat sekarang?” Bertanya le Lip Tiong.

“Ng…. Ng…. Bilamina Leng piauwsu tidak keberatan. Lohu

hendak berangkat segera.” Berkata Ai Pek Cun menganggukkan

kepala.

Ie Lip Tiong memandang Leng San Pian.

“Bagaimana ?” Dia bartanya.

“Baiklah.” Leng San Pian belum dapat menduga isi hati Ie Lip

Tiong Tapi dia percaya kepada ketangkasan sang ketua muda itu.

Dia tidak melarangnya. “Berhati hatilah diperjalanan.”

Ie Lip Tiong memandang Ai Pek Cun. “Lotiang masih mempunjai

lain perbekalan?” Dia bertanja

“Tidak.” Berkata Ai Pek Cun.

“Nah, mari kita melakukan perjalanan.” Berkata Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong mengawal Ai Pek Cun meninggalkan rumah makan

Cui im koan Ko ciam. Tidak jauh. Secara mendadak saja. Ie Lip

Tiong berkata : “Harap lodang tunggu sebentar. Aku Lupa sesuatu”

Ai Pek Cun tidak takut pemuda itu melarikan diri, ia memandang

dari jauh. Secepat itu, Ie Lip Tiong Lari kembali. menjumpai Leng

San Pian dan meninggalkan pesan : “Aku tidak takut dikalahkan oleh

Ai Pek Cun. Tapi aku belum mempunyai itu kekuatan untuk

mengalahkannya Segeralah bubarkan orang-orang orang-orang kita.

Tentang uang perak itu, sebaiknya disembunyikan atau ditanam

saja disuatu tempat yang aman. Menunggu sampai keadaan bersih

dari segala gangguan. kita dapat balik menggalinya.”

“Dan kau ?” Leng San Pian sangat khawatir.

“Aku dapat melihat suasana. Mungkin tidak menggabungkan diri

dengan kalian. Langsung mencari info baru dikota Su-shia.”

Percakapan mereka parlahan sekali.

Tubuh Ie Lip Tiong melesat, bergabung dengan Ai Pek Cun yang

sudah manunggu dirinya. Perjalanan kedua orang-orang itu

diteruskan. 2 lie kemudian, Ai Pek Cun menghentikan langkahnya

“Mengapa ?” Ie Lip Tiong mengadukan pertanjaan.

“Kaki tuaku sudah lemah ” Berkata Ai Pek Cun. “Membutuhkan

waktu untuk istirahat.”

“Belum juga tiga lie,” Berkata Ie Lip Tiong. Bilakah kita dapat

sampai ditempat tujuan.”

“Lohu seorang-orang pedagang, mana dapat disamakan

denganmu ” Berkata Ai Pek Cun.

”Lotiang melakukan perjalanan seorang-orang diri?” Bertanya lagi

Ie Lip Tiong.

Ai Pek Cun menjawab: “Betul.”

“Lotiang adalah seorang-orang yang pemberani.” Berkata Ie Lip

Tiong.

“Aku membutuhkan pengawalan, karsna mendengar cerita. para

tamu rumah makan yang menceritakan adanya bentrokan senjata

besar-besaran. Karena itu. hati lohu menjadi kecil”.

“Kini sudah dikenal Tentu sudah berhasil memulihkan keberanian

itu.” Berkata Ie Lip Tiong tertawa.

Kedua orang-orang ino saling main sandiwara, tipu menipu.

bohong membohongi.

Ai Pek Cun berkata :

“Lohu dengar tentang cerita raja2 Silat apakah yang terjadi?

Cerita mereka simpang siur, Tidak mudah dimengerti. Kukira kau

depat membuat cerita jang lebih jelas,”

“Tidak semua Raja Silat.” Berkata Ie Lip Tiong. “Hanya dua.

mereka adalah Raja Silat Siluman Bu Bee Beng dan Raja Silat Gila

Sie It Hu.”

“Mereka bersantap makan malam dirumah makan Cui im koank

Ko-ciam ?” Bertanya Ai Pek Cun.

“Ng…” Ie Lip Tiong menganggukkan kepalanya. “Mungkin terlalu

banyak menengak arak, didalam keadaan setengah mabuk, mereka

mendemonstrasikan beberapa macam ilmu kepandaian Silat. Setelah

itu. mereka pergi”

“Dan kudergar ada dua orang-orang lainnya yang bernama In

Thian Liu dan Lauw Can Cun.. Kedua orang-orang ini juga turut

pergi dibelakang kedua raja silat itu?”

Ternjata Ai P«k Cun belum mendapatkan keterangan yang jelas,

dia tidak tahu bahwa In Thian Liu dan Lauw Can Cun sudah tidak

ada.

le Lip Tiong menjawab pertanyaan :

“Betul. Mereka adalah satu rombongan.” Ai Pek Cun bertanya lagi

:

“Tidak terjadi bentrokkan senjata?” Ie Lip Tiong menjawan :

“Hanya demonstrasi demonstrasi biasa,” Ai Pek Cun berkata lagi.

“Liong piauwsu. kau sangat pandai mengarang cerita. Kau adalah

seorang-orang pembohong besar.”

Ie Lip Tiong trrtawa, katanya :

“Bagaimana?” “Menurut apa yang dapat kutangkap, cerita

mereka sabagai berikut, Kau menotok jatuh Lauw Can Cun tanpa

jurus ketiga. Kemudian, mengalahkan In Thian Liu sehingga orangorang

itu kehilangan sebelah tangannya. Adakah kejadlan yang

seperti ini ?”

“Lotiang.” Berkata Ie Lip Tiong. “Sebagai seorang-orang

pedagang, apa guna kau menyelidiki persoalan kami?”

“Tahukah, apa saja yang diperdagangkan olehku?”

“Belum tahu.”

“Kulit manusiapun sangat berharga. Karena itu, aku harus tahu.”

“Bagaimana hubungan lotiang dengan kedua tokoh silat yang

lotiang Stbutkan tadi?” Ie Lip Tiong mengulur waktu Dia harus

Memberi banyak kesempatan kepada Leng San Pian sekalian

menyebar uang peraknya.

“Lauw Can Cun dan In Thian Liu adalah dua orang-orangku yang

boleh dipercaya.” Berkata Ai Pek Cun terus terang.

Ie Lip Tiong sudah bersiap siap untuk menghadapi Ai Pek Cun.

“Lotiang pandai membuat humor.” Dia tertawa.

“Bukan humor.” Berkata Ai Pek Cun sungguh2. “Inilah

kenjataan.”

“Lotiang hendak menyelidiki jejaknya kedua anak buahmu?”

Bertanya lagi Ie Lip Tiong.

“Ng…..”

“Lotiang hendak menuntut balas?”

“Tentu.” Ai Pek Cun menganggukkan kepalanja. “Aku mulai

tertarik padamu. Bila betul apa yang mereka ceritakan itu sebagai

suatu kenjataan, kau dapat mengalahkan Lauw Can Cun tanpa

gebrakkan ketiga, ini membuktikan ilmu kepandaian silatmu yang

sangat tinggi. Aku bersedia menyudahi persengketaan, bila kau

dapat mengalahkan diriku. Kecuali itu. aku akan memberi hadiah

lain, semua barang milikku, termasuK 7 butir mutiara pusaka,

segera kuserahkan padamu Bersiap-siaplah untuk membikin

partempuran.”

“Lotiang sudah terlalu banyak minum arak? Sudah mabukkah?”

Bertanya Ie Lip Tiong sambil bersiap siap.

“Aku tidak mabuk.” Berkata Ai Pek Cun dingin. “Hayo katakan

siapa dirimu?”

“Piauwsu dari Sun hong Piauw kiok.” jawab Ie Lip Tiong.

“Namamu?” Ai Pek Cun membentak “Pendekar Pemetik Bintang

Liong Pal Su.” Berkata Ie Lip Tiong. Sikapnya semakin menantang.

“Masih hendak menyembunyikan diri?” Berdengus Ai Pek Cun

marah.

“Apa jang disembunyikan ?” Ie Lip Tiong masih berlagak pilon.

“Namamu.” Membentak Ai Pek Cun keras.

-Namaku Liong Pal Su.” Berkata Ie Lip Tiong.

“Bagus. Akan kulihat, sampai dimana kepandaianmu itu.” Ai Pek

Cun menggerakkan kaki, dengan kecepatan yang tidak dapat

dilukiskan, mengancam perut jago kita.

Ie Lip Tiong memusatkan semua perhatiannya kepada sepasang

tangan Ai Pek Cun yang datang adalah serangan kaki, sungguh

berada diluar perhitungan. Dengan serangan seperti itu, dia dipaksa

mengundurkan diri, Tapi Ie Lip Tiong tahu, apa akibat dan

kemundurannya itu, dia akan didesak terus menerus, sehingga

kehabisan tenaga. Tidak mudahi mengembalikan posisi yang sudah

berlangsung. Karena itu semua kekuatan dikerahkan kepada

sepasang ujung kaki. Ciiuutt…. melejit tiggi, tangan kanannya

ditekan kebawah, tunduk memotong kaki Ai Pek Cun. Menghindari

dari serangan musuh dan sekalian membikin penyerangan balasan.

Inilah pertahanan terkuat.

Ai Pek Cun mengeluarkan suara heran, ketangkasan Ie Lip Tiong

sungguh berada diluar dugaannya, cepat2 dia menahan kaki, agar

tidak terpapas rusak oleh tangan jago Itu. Kini tangannya yang

bekerja, balik membacok tangan Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong sengat kenal kepada Ai Pek Cun. sampai dimana

ilmu kepandaian calon mertua itu. dia sudah dapat meresapkan

kedalam benak pikirannya, dia sudah memperhitungkan bakal

adanya serangan luar biasa tapi, dengan tubuh yang tidak.

menginjak tanah. dia menjepakan kedua kaki, mengancam

sepasang mata Ai Pek Cun.

Sepasang tendangan kaki itu mengejutkan Ai Pek Cun. dengan

bacokkan tangan jang disertai tenaga dalam. setidak tidaknja,

musuh harus mundur lebih dahulu. hawa pukulannya cukup untuk

menyesatkan jalan pernapasan piawsu biasa. tapi Ie Lip Tiong tidak,

ini suatu bukti bahwa ilmu kepandaian lawan adalah setarap dengan

ilmu kepandaiannya.

“Hm….” Ai Pek Cun menambah kekuatan menyerang, terus

menerus mengejar sang musuh dengan pukulan berantai, sambung

menyambung menjadi satu, galak sekali.

Ie Lip Tiong mempertahankan diri dari serangan2 itu,

Semakin lama, pertempuran semakin cepat. ia makin berbahaya.

Tubuh dua orang-orang itu berguling guling, terjadilah dua

bianglala hitam. sulit membedakan, yang mana Ie Lip Tiong dan

yang mana Ai Pek Cun.

Seratus jurus kemudian, terdengar suara benturan yang dahsyat,

Beeenggg……

Tubuh dua orang-orang itu terpisah. Ai Pek Cun dan Ie Lip Tiong

berusaha mempertahankan posisinya.

Ai Pek Cun berdiri dengan mata melotot begitu galak dengan

suaranya yang berdengung jauh, dia berkata :

“Tuan mempunyai ilmu kepandaian yang luar biasa. Mengapa

tidak berani memperkenalkan nama asli ?”

Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan calon mantu pilihan

putrinja sendiri.

-oo0dw0oo-

JILID 4

IE LIP TIONG membenarkan peredaran jalan darahnya, dia

berkata: “Apa kau sudah memperkenalkan nama asli?”

Ai pek Cun berkata: “Baik. Aku bernama Ai Pek Cun.”

Ai Lie Tiong menggoyangkan kepala, dia berkata: “Nama itupun

bukan nama asli.”

“Kepala batu,” Ai Pek Cun mengeluarkan kata2 makian. “Kau

menghendaki suatu pertarungan yang membawa maut? Kukira

seorang dari kita akan mat! ditempat ini”

Ai Pek Cun menyadari ketangkasan lawannya, maka dia

mengucapkan kata2 yang sudah tertera seperti diatas.

“Bukan aku yang manantang perang, Lotiang,” Berkata Ie Lip

Tiong tenang.

“Baik. Kita boleh mengulang pertandingan” Berkata Ai Pek Cun

siap.

“Tidak menjadi soal.” Barkata Ie Lip Tiong menantang.

“Kau mempunyai pegangan kuat untuk mengalahkanku?”

Bertanya Ai Pek Cun.

“Mengapa tidak?” Balik tertawa Ie Lip Tiong. Dia sedang

berhadapan dengan komplotan tukang beset kulit manusia golongan

B.

“Kau memang seorang gagah berani.” Berkata orang tua berbaju

hijau Ai Pek Cun. “Berani menjawab beberapa pertanyaanku?”

“Pertanyaan apa?”

“Kau termasuk salah seorang dari rombongan Sun-hong Piauwkiok?”

“Betul.”

“Kalian sudah mempunyai rencana lama untuk merampok uanguang

perak itu?”

“Salah. Belum pernah kami merampok harta benda orang.”

“Masib berani main lidah? Siapa yang merampok uang uang

perak pegawaiku?”

“Tidak ada yang merampok.”

“Dari mana kau dapat uang2 perak di kota Cui cit lie?”

“Uang itu didapat dari kemenanganku. Hadiah pemberian dari

dua orang raja silat yang ternama.”

“Huh, lidahmu memang lihay sekali.”

“Terima kasih.”

“Sungguh aneh. Sebagai salah satu badan pengusaha

pengangkutan, kewajibannya adalah menjaga keamanan barang

yang dititipkan kepada kalian. Tapi Sun hong Piauw kiok tidak,

bukan saja tidak memberi jaminan tentang keselamatan para

langganannya, kalian merampok uang-uang itu. Apakah yang

menyebabkan sampai terjadinya perkara ini?”

“Sekali lagi kami meralat, kami tidak pernah merampok uang

yang yang didapat oleh Lauw Can Cun ci secara tidak halal itu.”

“Hmm…. Kukira, ada seseorang yang mengatur perampasan ini,

siapa orang lihey itu?”

“Terima kasih.”

“Sebutkan nama orang itu?”

“Aku.” Ie Lip Tiong menunjuk hidung sendiri.

“Huh….” Ai Pek Cun mengkernyitkan alisnya “Kau? Kau yang

mengepalai mereka? Apa maksud tujuanmu menguasai uang itu?”

“Mengambil alih.”

“Kau tahu, siapa yang berhak untuk mengambil alih semua

uang2 perak itu?”

“Lauw Can Cun atau Co Khu Liong?”

“Orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari mereka

yang kumaksudkan.”

“Seseorang yang menamakan dirinya sebagai Raja Gunung itu?”

“Betul2.” Ai Pek Cun mengeluarkan suara dengusan dari hidung

“Dia yang mengepalai 11 Raja Silat lainnya?” Bertanya Ie Lip

Tiong.

Ai Pek Cun mendelikkan matanya. “Huh, dimana kau kenal

kepada 11 raja Silat?” Dia mengajukan pertanyaan.

“Raja Silat Bajingan Co Khu Liong, Raja Silat Siluman Bu Bee

Bang dan Raja Silat Gila Sie It Hu.”

“Ketiga raja silat ini mengikuti rombongan kalian dari kota Hanyang?”

Bertanya Ai Pak Cun.

“Tidak semua.” Berkata Ie Lip Tiong. “Hanya Raja Silat Bajingan

Co Khu Liong seorang yang menyertai rombongan dari Han-yang.

Tentang dua lainnya, Raja Silat Siluman Bu Bee Bang dan Raja Silat

Gila Sie It Hu, menyambut dltengah jalan. Dikatakan, atas perintah

Raja Gunung, Co Khu Liong mendapat tugas baru, pengawalan

diteruskan oleh dua raja silat yang terakhlr,”

“Begitu mudah Co Khu Liang tergeser pergi?”

“Begitulah.”

“Apa tugas baru uctuk Co Khu Liong itu?” Bertanya terus Ai Pek

Cun.

“Mana tahu?”

“Huh, kau kenal kepada Raja Silat Bajingan, Raja Silat Gila dan

Raja Silat Siluman?”

“Mereka adalah raja2 silat dari 12 Raja Silat golongan Sesat.”

“Huh, sudah tahu bahwa uang itu menjadi milik raja silat, masih

berani kau merampasnya?”

“Mengapa tidak?”

“Huh, dengan alasan apa kau merampok uang partay Raja

Gunung?”

“Sekali lagi aku mengulang pernyataan.” Berkata Ie Lip Tiong.

“Uang itu bukan hasil rampokkan. Ketahuilah, Raja Silat Siluman Bu

Bee Beng dan Raja Silat Gila Sie It Hu yang menghadiahkan

kepadaku.”

“Huhh…”

“Tidak percaya? Boleh bertanya kepada orang2 yang

menyaksikannya.”

“Tentu akan kutanyakan kepada mereka. Tapi bukan sekarang.

Kini yang penting aku harus mengetahui, siapa dirimu.”

“Aku Liong Palsu.”

“Lagi2 jawaban yang tidak kubutuhkan sama sekali.”

“Raja Silat Bajingan Co Khu Liong, Raja Silat Gila Sie It Hu, Raja

Silat Siluman Bu Bee Beng percaya, mengapa kau tidak percaya?”

“Co Khu Liong terpancing pergi. Dia ditipu olehmu mentah2.”

“Dan kedua raja silat lainnya?”

“Bu Bee Beng dan Sie It Hu yang menghadiahkan uang2 itu?”

“Semua orang yang dapat dijadikan saksi akan berkata seperti

itu.”

“Aku berani bertaruh, bahwa kedua raja silat itu adalah raja silat

palsu.”

“Tidak mungkin. Mereka adalah raja silat yang asli.”

“Alasanmu?”

“Kedua raja silat itu telah mendemontrasikan ilmu kepandaiaanya

yang sangat menakjubkan. Berdiri diatas abu dupa sembahyang,

tanpa mengganggu atau merontokkan abu dupa itu.”

“Kukira, raja2 silat dari lain gslongan yang kau maksudkan,”

“Raja silat dari golongan kesatria?”

“Golongan Hong-lay Sian-ong.” Berkata Ai Pek Cun.

“Hong-lay Sian-ong adalah pemimpin dari 11 raja silat golongan

ksatria, bila mereka yang menghadiahkan uang2 itu kepadaku,

tanggung jawab bukan berada padaku.”

“Huh, kau adalah komplotannyai. Kukira kau adalah salah

seorang dari 11 raja silat golongan Hong-lay Sian-ong.”

“Atas penghargaanmu aku mengucapkan banyak terima kasih”

Berkata Ie Lip Tiong.

Dia adalah murid Pendekar Hakim Hitam Can Ceng Lun dan Can

Teng Lun adalah murid Raja Silat Suci Hong Hian Leng. Atas

prestasi Ie Lip Tiong yang luar biasa, Ai Pek Cun mengangkat satu

tingkat derajat.

Dimasa itu, terdapat 12 raja silat kesatria dan duabelas raja silat

sesat, mereka adalah tandingan yang setimpal. Urutan mereka

sebagai berikut:

12 RAJA SILAT KESATRIA:

1. Raja Silat Dewa Hong Jay Sian ong.

2. Raja Silat Karya Kam Lu Bin.

3. Raja Silat Tenang Hong-poh Kie.

4. Raja Silat Suci Hong Hian Leng.

5. Raja Silat Sastra Lee Tiong Hu.

6. Raja Silat Makmur Wan Tin.

7. Raja Silat Jaya Bu Hiong

8. Raja Silat Agung Bu Hauw

9. Raja Silat Murni Bu Say.

10. Raja Silat Aman Bu Cun.

11. Raja Silat Tentram Bu Su

12. Raja Silat Bebas Bu Sen.

Dua belas Raja Silat Sesat adalah:

1. Maha Raja Silat Ngo kiat Sin mo Auw yang Hu,

2. Raja Silat Bajingan Co Khu Liong,

3. Raja Silat Gila Sie It Hu.

4. Raja Silat Siluman Bu Bee Beng.

5. Raja Silat Buaya Tho It Beng.

6 Raja Silat Bisa Bak Liong.

7. Raja Silat Maling Su to In kho

8. Raja Silat Srigala Lem Bu Sim.

9. Raja Silat Sinting Lauw Lit Su

10. Raja Silat Semrawut Kiong Pak.

11. Raja Silat Racun In Tay Hie

12. Raja Silat Copet Sin-tauw Jin.

Atas ilmu kepandaian yang terlalu menakjubkan, Ai Pek Cun

menduga kepada salah seorang murid dari 12 Raja Silat Kesatria.

Inilah suatu penilaian yang salah, Ie Lip Tiong hanya seorang

cucu murid Raja Silat Suci Ong Hian Leng!

Ayah Ie Lip Tion2 adalah Ketua partay Oey san pay, Ie In Yang

almarhum, dimasa hidupnya, Ie In Tang adalah kepala dari para

ketua partay, ilmu kepandaiannya sudah hampir merendengi raja2

silat. Ie In Yang yang mengasuh sang putra sehingga dia miliki ilmu

kepandaian tinggi dan kecerdasan otak yang luar biasa.

Ie Lip Tiong berguru kepada Pendekar Hakim Hitam Can Ceng

Lun, jabatan terakhir Can Ceng Lun adalah Duta Istimewa Berbaju

Kuning dari Kesatuan Gabungun Partay2 dan GolonganS Su-hay

tong sim-beng. Dengan angka pengenal Nomor Empat dia

meletakkan jabatan karena tersangkut perkara Ie Lip Tiong,

hubungan murni diantara guru dan murid tidak dapat dilupakan.

Dikala Ie Lip Tiong hampir menjalani hukuman mati, Can Ceng Lun

melepaskan muridnya. Inilah pelanggaran disiplin, dia malu kepada

Su hay tong-sim beng, maka melepaskan jabatannya sebagai Duta

Istimewa Nomor Empat

Mulai itu waktu, Can Ceng Lun seperti lenyap dari permukaan

bumi, tidak terdengar kabar ceritanya lagi.

Ie Lip Tiong mendapat didikan langsuag dari sang kakek guru, si

Raja Silat Suci Hong Hian Leng, ilmu kemajuan jago kita mendapat

kemajuan pesat.

Gambar dihadapan kita adalah pemandangan di malam gelap Ie

Lip Tiong sedang berhadap-hadapan dengan Ai Pek Cun.

Ai Pek Cun memetik sebatang tangkai pohon, membuat suatu

posisi tempur, dia berkata: “Keluarkan senjatamu”

Ie Lip Tiong menarik keluar pedangnya. Dia selalu siap.

Masing2 mundur sehingga tiga tapak. Dengan sinar mata

memandang tetap. Inilah persiapan yang luar biasa.

Terjadi ketegangan yang memuncak. Ai Pek Cun menggeser kaki

kanan, bergoyang ke arah samping.

Ie Lip Tiong membuat posisi frontal, mengikuti arah orang, dan

menggeser kakinya. Tetap sejauh keadaan semula.

Demikian mereka bersitegang kembali. Lama keadaan ini

berlangsung.

Perlahan lahan, Ai Pek Cun menekuk sepasang kaki keadaannya

menjadi setengah berjongkok, tangan kiri menyongsong ke depan,

tangan kanan ditekuk kedalam, membuat gerakan seperti memeluk

dan mendorong pohon, pusat tujuan adalah jantung hati Ie Lip

Tiong.

Begitu melihat posisi ini, Ie Lip Tiong menggeser kakinya maju

setengah langkah, sepasang kakinya dipersilangkan, badan bagian

atas condong kedepan, dengan meratakan pedang dengan dingin,

ujung pedang tidak ditujukan kepada musuh, tapi berarah

kebelakang, inilah persiapan untuk membikin pentabetan. Mulutnya

tersenyum tenang.

Pasangan yang Ai Pek Crn perlihatkan bernama tipu Burung

Surga Menerobos Air Terjun. Dan stel pasangan yang ditonjolkan

oleh Ie Lip Tiong bernama Jarum yang Tersembunyi Dibalik Tangan,

jurus tipu yang menjadi tandingan dan timpalan maut dari Burung

Surga Menerobos Air Terjun Ai Pek Cun.

Segala macam pembukaan2 adalah kunci set yang paling penting

bagi seorang yang betul2 ahli. Dari cara berdiri dan gerak-gerik

tangan kaki musuhnya, dia sudah dapat menentukan, apa akibat

yang dapat diderita bila dia meneruskan serangannya.

Ai Pek Cun adalah murid kesayangan si Raja Gunung yang

istimewa, mengetahui pembukaan jalannya menemukan batu, dia

menarik tipu Burung Surga Menerobos Air Terjun. Badannya berdiri

tegak kembali kini bergeser ke arah kanan lagi satu tapak dan

mempentangkan kedua kakinya.

Ie Lip Tiong juga menerik stel pembukaannya, mengganti dengan

lain stel yang lebih sempurna. Mengikuti arah musuh itu, tepat

memasang mata.

Ai Pek Cun mengangkat tinggi tangkai kayunya, tangan kiri

menunjuk jantung, jurus ini bernama Lebah kuning Menyedot Sari

bunga. Bilamana senjat di tangan digerakkan, maka jiwa orang yang

diancam akan terengut mati, suatu serangan tajam.

Ie Lip Tiong mempelintirkan tubuhnya, dia menghadapi musuh

dengan samping badan, dengan kedua tangan memegang pedang

seolah2 orang yang hendak menbabat pohon kuat, inilah tipu Bocah

Sakti Mempersembahkan Serangan.

Lagi Ai Pek Cun kehilangan waktu, dia mengganti dan menarik

tipu Kembang Kuning Menyedot Sari Bunga. Percobaan ketiga

bernama tipu Katak Siap Menjilat Nyamuk. tipu inipun tidak

beehasil, karena Ie Lip Tiong sudah menyediakan tipu Capung

Bertelur Menyentuh Air.

Demikianlah, di malam gelap, dijalan yang menuju kearah kota

Ceng-yang, terjadi perang gerakan pedang, Ai Pek Cun mencoba

dengan aneka macam cara, dia tidak berhasil menemukan

kekosongan atau kesempatan untuk menerobos pertahanan Ie Lip

Tiong yang kuat, pertahanan ilmu pedang Ie Lip Tiong adalah

rangkaian ilmu pedang yang terkuat, tidak ada kekosongannya.

Bilamana ada orang yang menyaksikan pertandingan itu, tentu

menduga kepada permainan bocah cilik. Tidak seorangpun yang

akan percaya, bahwa kedua orarg itu sedang berada diujung jurang

maut.

Serangan2 Ai Pek Cun tidak perlu dilanjutkan, akibatnya sudah

mudah diduga, stand adalah draw. Cara2 ini jarang terdapat

didalam pertandingan pertandingan biasa.

Ai Pek Cun semakin terkejut atas kepandaian si Pendekar

Pemetik Bintang Liong Pal Su. Ilmu pedangnya tidak mungkin dapat

mengalahkan lawan itu, dia harus mengganti taktik perang. Tenaga

dalam anak muda itu belum ia dikeluarkan. Ai Pek Cun percaya,

bahwa ilmu tenaga dalamnya dapat digunakan untuk menandingi

musuh, memusatkan semua tenaga ini pada tangkai kayu, dia

menggepruk keras.

“Ssrrrr”

Suara dengungan ini begitu dahsyat sekali.

Ie Lip Tiong mengangkat pedang, menahan datangnya serangan

itu.

“Darrrr….”

Terdengar suara benturan yang keras. Sungguh aneh diceritakan.

Kayu Ai Pek Cun sudah tertabas putus akibat benturan pedang dan

tangkai kayu yang berdebur seperti itu dikarenakan adanya tenaga

dalam Ai Pek Cun yang jauh berada diatas Ie Lip Tiong.

Jago kita kalah tenaga.

Ie Lip Tiong mengganti praktek, pedang diseret kesamping,

meloloskan diri dari serangan musuhnya.

Ai Pek Cun begitu girang, dia memberi serangan yang gencar.

Ie Lip Tiong main mundur.

Dengan suara tertawa panjang, Ai Pek Cun memainkan tangkai

kayunya, tentu saja disertai dengan tenaga dalam yang penuh

desiran suara itu mengaum aum berat. Seperti main petak, Ie Lip

Tiong menyembunyikan diri dibalik pohon atau dirumpun semak2.

Daun dan ranting pohon menjadi korban, Ai Pek Cun menghajar

setiap rintangan tanpa pengecualian, mengamuk kalang kabutan.

Ie Lip Tiong melompat kearah suatu pohon besar.

Ai Pek Cun mengayun tangkai kayu

“Beekk…”

Menyalurkan tenaga dalamnya melalui tangkai kayu itu,

menumbangkan pohon tersebut.

“Kreeek… kreeek…. pohon yang sebesar badan manusia

tumbang jatuh.

Ai Pek Cun memasang mata, dia kehilangan bayangan musuh.

Ie Lip Tiong telah memyembunyikan dirinya dengan baik.

Memeriksa kedaan itu, Ai Pek Cun membentak keras: “Liong Pal

Su, hayo kau keluar.”

Ai Pek Cun tidak tahu nama asli dari jago kuat yang dilawan itu,

maka dia masih menggunakan nama ‘Liong Pal Su’ kepada Ie Lip

Tiong.

Tidak ada jawaban. Seolah olah Ie Lip Tiong sudah malarikan diri

dari tempat itu.

“Huuh…” Ai Pek Cun mengeluarkan suara dengusan. “Aku tidak

takut kau melarikan diri. Akan kulihat bagaimana kereta uang itu

dapat dilarikan”

Tubuhnya melayang kembali ke arah kota Cui Cit lie.

Mudah dibayangkan, Ai Pek Cun tidak berhasil menangkap Ie Lip

Tiong. Dia menduga bahwa kereta dari rombongan San-hong Piauwkiok

belum tahu keadaan dirinya, tentu masih ada dikota Cui- Cit lie.

Karena itulah, dia hendak melampiaskan kemarahannya kepada

orang itu, hendak mengobrak napsu membunuhnya kepada mereka.

Itu waktu, kepala Ie Lip Tiong nongol keluar dari sebuah rumput

semak2. Dia belum lari pergi menyaksikan bayangan Ai Pes Cun

yang berlari ke arah Cui-cit-lie, dia dapat menduga maksud tujuan

Ai Pek Cun. Tentunya membikin perhitungan dengan Leng San Pian.

Tapi Leng San Pian yang sudah diberitahu olehnya, tentu telah

memendam semua uang, membubarkan rombongannya, keadaan

mereka boleh dikata aman.

Gangguan yang diberikan kepada Ai Pek Cun sudah cukup lama,

dengan mengintil dari jauh, Ie Lip Tiong membayangi orang tua

berbaju hijau itu.

Didalam sekejap mata, Ai Pek Cun sudah memasuki rumah

makan dan penginapan Cu in koan kho Ciam.

Seperti apa yang Ie Lip Tiong duga, semua orang dari Sun tong

Piauw kiok sudah tidak berada di tempat itu, mereka sudah

membubarkan diri. Tidak lama kemudian, dengan wajah yang

bersungut sungut, Ai Pek Cun keluar dari rumah makan Cui in koan

kho Ciam.

Ie Lip Tiong menyembunyikan diri. Dia tertawa geli.

Ai Pek Cun memandang kesemua penjuru. Kota Cui-cit-lie berupa

kota air, ada sembilan jalan yang menuju keluar kota. Mengingat

jumlah kereta yang berjumlah berat dan besar. mengingat orang

orang itu yang berjalan lambat, dia tidak takut kehilangan jejak.

Memilih satu jurusan Ai Pek Cun meluncurkan kakinya. Dia

melakukan pengejaran.

Sekaligus, Ai Pek Cun mengejar sehingga tiga puluh lie, tidak ada

tanda2 dari adanya rombongan kereta Sun-hong Piauw kiok itu.

Mengetahui dia sudah salah jalan, Ai Pek Cun balik kembali.

Kini dia memilih jalan yang kedua. Membikin pengejaran lagi.

Tiga puluh lie kemudian, juga tidak berhasil mengejarnya. Ai Pik

Cun percaya, sehingga sampai disaat itu, berapa banyak pun

kecepatan kereta yang dikejar tidak mungkin dapat melampaui 30

lie, dia balik kembali.

Demikian, Ai Pek Cun berlari sungsang sumbel diantara sembilan

jalan bercabang itu. Tentu saja tidak berhasil. Leng Sin Piao sudah

merusak semua kereta dan menyembunyikannya. Mereka bukan

melarikan diri, tentu saja Ai Pek Cun tidak berhasil.

Betapa cerdikpun Ai Pek Cun, dia sudah melupakan suatu unsur

penting, tidaklah terpikir. bahwa rombongan Sang hong Piauw kiok

sudah mengetahui asal-usulnya. Tidaklah terpikir, bahwa

rombongan itu tidak membawa lari semua uang yang ada tapi

menanam dan menyembunyikan uang itu.

Ai Pek Cun menjadi bingung atas hasilnya yang bertangan

kosong. Demikianlah dia pulang kandang, sebentar2 memeriksa

tepian jalan.

Dimanakah kandang komplotan tukang sobek kulit manusia

partay Raja Gunung itu?

Berhasilkah Ie Lip Tiong menemukan markas partai Raja

Gunung?

Mari kita mengikuti cerita dibagian berikutnya.

Bagian 7

SEORANG kakek berbaju hijau meningalkan kota Cui Cit- lie.

Tujuannya kearah utara. Inilah murid si Raja Gunung yang bernama

Ai Pek Cun, dia gagal menemukan komplotan yang melarikan uang

partaynya.

Ie Lip Tiong mendapat tugas untuk menyelidiki pusat gerakan

tukang sobek kulit manusia yang dibuat seperti dendeng itu,

pengusutannya hampir terputus karena kematian Lauw Can Cun dan

In Thian Liu, dan harapannya timbul kembali karena dapat

mengikuti perjalanan Ai Pek Cun.

Tentu saja, mengikuti Ai Pek Cun jauh lebih berbahaya dari

mengikuti In Thian Liu atau Lauw Can Cun. Mengingat tiada jalan

lain, Ie Lip Tiong harus menanggung segala resiko besar itu.

Ai Pek Cun meninggalkan Cui Cit lie dimalam itu juga.

Keadaan gelap memudahkan Ie Lip Tiong membikin pengejaran.

Demikian sehingga hari mendekati terang, Ai Pek Cun tidak

istirahat, maka Ie Lip Tiong harus menggunakan semua tenaga

mengemposnya.

Menyusuri daerah pegunungan Kiu hoa san, Ai Pek Cun menuju

kearah utara.

Ie Lip Tiong tidak melepaskan diri dari penguntitan itu.

Siaon harinya, mereka tiba d kota Kui tie.

Parjalanan itu memakan waktu yang cukup lama, memasuki kota,

langsung Ai Pek Cun memilih sebuah rumah makan.

Ie Lip Tiong menunggu diluar rumah makan itu. Lebih ko tr dan

tidak mungkin dapat memadai kemegahannya rumah makan Hiankok-

lauw dikota Han-yang, Ie Lip Tiong dapat menarik suatu

kesimpulan, bahwa rumah makan ini bukan rumah makan si Raja

Gunung. ….. (terpotong hurufnya) ri golongan itu tersedia untuk

membuat income keuangan, rumah makan yang seperti itu tidak

cukup untuk menangsal perut. Berapa banyak keuangan yang dapat

disedot dari rumah makan yang sepertinya? Tentu dapat dihitung

dengan jari. Dari situlah, Is Lip Tiong dapat menduga pasti, bahwa

rumah makan ini bukanlah cabang perusahaan dari partai si Raja

Gunung.

Menggunakan kesempatan itu, Ie Lip Tiong mengubah diri.

Bajunya dibalikkan Warnanya menjadi hijau tua, pedangnya dibuang

begitu saja, hal ini dapat menarik perhatian orang yang dibayangi

olehnya.

Maka lenyaplah seorang Liong Pal Su dari permukaan bumi.

Ai Pak Cun sudah selesai mengisi perut. Dia keluar dari rumah

makan tadi. Itu waktu, Ie Lip Tiong sendiri selesai berhias. Dengan

mudah, dia dapat melanjutkan pengintaiannya.

Kepintaran Ai Pek Cun tidak berada di bawah Ie Lip Tiong. Dia

juga sudah memperhitungkan tentang adanya pembayangan yang

seperti itu. Sebelum pergi berangkat, dia memeriksa orang2 yang

ada di sekelilingnya. Ie Lip Tiong telah mengubah wajah, juga

berdiri jauh darinya, tentu saja tidak menarik kecurigaan.

Mengetahui bahwa keadaan sudah aman, Ai Pek Cun menuju ke

arah pintu kota bagian utara.

Dia meninggalkan kota Kui-tie.

Kota Kui tie terletak ditepinya sungai Tiang-kang, sungai terbesar

itu tepat di bagian utara, Dijaman mereka, jarang terdapat

jembatan, penyebrangan dilakukan dengan perahu atau eretan.

Untuk sungai Tiang-kang yang terlalu lebar, eretan tidak ada

gunanya, harus perahu besar atau kapal penyebrangan.

Menghadapi pintu kota ada terdapat tempat penyebrangan. Disana

sudah berkumpul banyak orang yang hendak pergi kesebrang. Ai

Pek Cun mencampurkan dirinya dengan orang2 itu.

Ie Lip Tiong tidak segera mengikutinya. Betul dia sudah berganti

wajah, dengan mata Ai Pek Cun yang lihay dari gerak-gerik atau

perawakan tubuhnya, dia dapat menaruh curiga. karena itu, harus

menunggu kesempatan.

Lima belas kedipan mata kemudian, dari arah kota mendatangi

sepasang suami istri tua, mereka ada membawa tentengan yang

agak berat, otak Ie Lip Tiong tergerak, cepat2 menyonsong

kedatangan kedua kakek nenek itu.

“Kakek berdua juga handak mengadakan penyeberangan?” Dia

menyapa dengan hormat.

“Oooo….” Sikakek memperhatikan pemuda yang menyambut

mereka.

“Aku juga hendak menyebrang.” Berkata dari Ie Lip Tiong.

“Ooo……” Orang tua itu belum kenal kepadanya.

“Mari kubantu.” Ie Lip Tiong mengangsurkan tangan, tanpa

menunggu jawaban, dia menerima perbekalan sinenek tua.

“Menyusahkanmu saja, nak,” berkata nenek tua itu girang

“Kita sama2 melakukan perjalanan jauh, sudah selayaknya bantu

membantu” berkata Ie Lip Tiong merendah diri. Dia memanggul

barang bawaan nenek itu.

“Anak bukan kelahiran sini?” Bertanya si kakek.

“Kelahiran Oey-san, pak” Berkata Ie Lip tiong.

Merekapun menuju ketempat penyeberangan.

Saat itu, perahu besar yang hendak menyebrangkan mereka

sudah datang, penumpang-penumpang diri seberang berlerot tutun,

Giliran para penumpang dari kota Kut-tie yang berlompatan naik

perahu itu, dengan ilmu kepandaian yang Ai Pek Cun miliki dia

dapat lompat sebagai orang pertama, tapi dia tidak mau melakukan

perbuatan seperti itu. Membaikan orang2 untuk melewatinya satu

persatu dia memperhatikan penumpang perahu yang akan

berangkat bersama sama dengannya, Hal ini dapat memeriksa

adakah orang yang membayangi dirinya.

Ie Lip Tiong dan pasangan orang tua itu naik perahu. Mereka

melewati Ai Pek Cun.

Dikala Ai Pek Cun memperhatikan semua orang, dia tidak sadar

bahwa seseorang telah mendahuluinya. Dia tidak kenal pada wajah

baru Ie Lip Tiong.

Menyaksikan kecerdikan tokoh tukang beset kulit itu, Ie Lip Tiong

bersyukur kepada takdir, adanya kakek dan nenek tua itu banyak

membantu usahanya.

Terakhir, Ai Pek Cun juga loncat ke dalam perahu penyebrangan

yang sama.

Perahu besar itu berangkat kelain tepi sungai Tiang kang.

Setengah jam kemudian, Ai Pek Cun meninggalkan perahu,

melanjutkan perjalanan kearah utara.

Is Lip Tiong membawa buntalan kakak dan nenek itu, tiba dilain

tepi, dia menyerahkan barang2 tersebut dan melanjutkan

perjalanannya, tetap membayangi Ai Pek Cun.

Satu harian penuh ditengah perjalanan. Dikala senja hampir

mengarungi jagat, Ai Pek Cun memasuki kota Lu kang. Langsung

memilih sebuah rumah penginapan yang agak mewah dan lenyap

didalam rumah penginapan itu.

Hok lay Khek ciam, demikian nama dari rumah penginapan yang

dipilih oleh Ai Pek Cun.

Ie Lip Tiong tidak memasuki rumah penginapan itu, dia memilih

lain rumah penginapan yang bernama Liong bun Khek Ciam, tepat

berdiri dihadapan sisi Hok lay Khek Ciam.

Menghitung jarak kota Lu kang dan Su shia yang berjarak

diantara lima puluhan lie Ie Lip Tiong tidak dapat istirahat. Seperti

apa yang dia ketahui, uang perak rumah makan Hian kok lauw dan

Oey kok lauw hendak dibawa kearah kota Su shia, tentunya, markas

besar partay Raja Gunung dibangun di daerah ini. Ai Pek Cun

hendak pulang markas, tentu melakukan perjalanan malam. Untuk

membayangi tokoh tukang beset kulit manusia itu, Ie Lip Tiong

menggadanginya. Dia tidak tidur.

Memilih suatu tempat yang agak strategis, dia mengawasi pintu

keluar rumah penginapan Hok lay khek Ciam.

Kali ini, perhitungan Ie Lip Tiong meleset. Tidak ada tanda2

bahwa Ai Pek Cun melakukan perjalanan malam. Semalam suntuk Ie

Lip Tiong menjaga pintu rumah penginapan Hok lay Khek Ciam,

tidak terlihat bayangan Ai Pek Cun keluar dari pintu,

Pada dini hari, dengan wajah dan badan segar, terlihat Ai Pek

Cun keluar dari rumah penginapan Hok lay Khek Ciam. Dia

melanjutkan perjalanannya.

Kondisl badan Ie Lip Tiong agak terganggu, tapi dia tidak

menyesal atas langkah setnya yang salah, begitu lelah, toch tetap

membayangi mangsanya.

Ai Pek Cun keluar dari kota Lu kang.

Perjalanan diluar kota tidak dapat disamakan dengan didalam

kota yang sesak ramai dengan orang. Sebelum meneruskan

penguntitannya, Ie Lip Tiong mengubah diri lagi, kini dia berdandan

sebagai seorang petani. Dengan pikulan dipundak, mengejar

dibelakang Ai Pek Cun.

Arah tujuan Ai Pek Cun pindah ke barat daya. Hanya melakukan

perjalanan dua jam dia sudah memasuki daerah Telaga Darah Hiat

ouw.

Telaga Hiat ouw dipanggil juga sebagai nama lamanya Telaga

Darah. Terletak diantara 4 kota ternama, dibagian Barat, Timur

Utara dan Selatan terdapat kota Su shia, Hap bie, Lu kang dan Hiat

hian. Daerah ini sebagai daerah muara besar dengan bertitik tolak

dari gunung Lo san, menyusuri muara2 yang bersimpang siur,

terjadilah daerah Telaga Darah.

Dari jauh, sudah terlihat gunung Lo san yang menjulang tinggi.

Hati Ie Lip Tiong tergerak, markas besar partay Raja Gunung

dipasang pada gunung Lo san?

Letak gunung Lo san begitu strategis, dari puncak gunung itu,

mereka dapat mengawasi semua daerah Telaga Darah sejauh

keempat kota yang mengelilinginya. Mengapa arah tujuan uang

perak Lauw Can Cun harus dibawa ke tempat kota Su shia?

Mengingat adanya situasi yang seperti ini, tentu mudah dimengerti.

Ai Pek Cun mempercepat langkah larinya menuju ke salah satu

muara.

Hasll perikanan daerah Telaga Darah sangat makmur, banyak

kaum nelayan yang hidup ditempat itu. Pada muara dimana Ai Pek

Cun bertaring, terdapat beberapa parahu nelayan.

Ai Pek Cun menghampiri rombongan nelayan itu, berbicara

sebentar, kemudian lompat naik kearah perahu kecil, maluncur ke

arah Telaga Darah.

Ie Lip Tiong akan keputusan jejak Ai Pek Cun, bila dia tidak

mengejar orang tua itu. Mencari lain muara, dia menemukan tiga

nelayan yang sedang menambal jaring iKan mereka.

“Banyak hasilnya?” Dia menyapa mereka.

Dari ketiga nelayan itu, seorang yang berumur sudah tua

menoleh kearah munculnya Ie Lip Tiong, menatap sebentar dan

tanpa memberi reaksi, nelayan tua itu akan jahit jala lagi.

“Lumayan.” jawabnya ogah2an.

“Boleh menyewa perahu?” bertanya lagi Ie Lip Tiong.

“Saudara hendak kemana?” Bertanya lagi nelayan tua itu.

“Pesiar.” Berkata Ie Lip Tiong.

Nelayan tua meninggalkan pekerjaannya, menuju kearah sebuah

perahu kecil.

“Inilah perahuku.” Dia memberi keterangan.

Ie Lip Tiong memandang kepermukaan telaga, perahu kecil Ai

Pek Cun sudah jauh, cepat2 dia lompat kearah perahu nelayan tua

Itu.

Sang nelayan juga menaiki perahunya.

Ie Lip Tiong berkata, “Kukira pemandangan pegunungan Lu-san

sangat menarik, bukan?”

Nelayan tua itu sudah mengayuh perahunya. Dia berkata: “Bagi

kita yang sudah lama menetap didaerah ini, tempat itu biasa saja.”

“Ada orangkah yang menetap di atas gunung itu?” Bertanya lagi

Ie Lip Tiong.

Nelayan tua memberikan jawaban: “Tidak. Tidak seorangpun

yang mau tinggal dlsana”

“Mengapa?” Ie Lip Tiong memandang nelayan tersebut.

Nelayan tua berkata: “Gunung Lo-san dikelilingi oleh air telaga,

keadaannya serba susah. hilir mudik dengan perahu memakan

waktu.”

“Ooo….”

Perahu meluncur terus, jauh dibeiakang perahu Ai Pek Cun.

Kakek Nelalan itu masib mengayuh perahunya.

“Saudara asal mana ?” Dia mengajukan pertanyaan.

“Kelahiran kota Tay peng.” jawab Ie Lip Tiong terus terang.

“Kota Taypeng digunung Oey-san?” Bertanya kakek nelayan itu.

“Betul.”

“Ouw jauh sekali. khusus untuk menyaksikan keindahan dalam

Telaga Darah” Kakek nelayan itu menatap tamunya.

“Bukan.” Ie Lip Tiong menyangkal. “Aku sedang berada didalam

perjalanan menuju kota Seng-kee-kauw sekaiian menyaksikan

keindahan telaga Darah”

Telaga Darah berasal dari warna telaga yang kadang2 berubah

menjadi merah. Disekitar gunung Lo san sering timbul awan merah,

karena itu, warna air telagapun berubah. Pemandangan ini memang

lain daripada yang lain, sangat indah.

“Ouw….” Kakek nelayan itu mengayuh lagi.

Perahu yang ditumpangi Ai Pek Cun meluncur terus, tidak ada

tanda2 untuk menepi di gunung Lo-san. Kini menuju kearah timur.

Ie Lip Tiong menjadi bingung. Mungkinkah dugaannya salab?

Markas besar partay Raja Gunung tidak dibangun diatas gunung Losan?”

Tempat itu begitu strategis, dikelilingi oleh air, dilindungi oleh

tempat yang tersembunyi.

Kakek nelayan mendayung terus perahu mereka.

“Lotiang tentunya kenal baik teatang keadaan tempat ini, bukan

?” Bertanya Ie Lip Tiong.

Sikakek menganggukkan kepalanya.

“Kecuali gunung Lo san, mungkinkah ada lain gunung?”

“Tidak. Kecuali gundukkan tanah yang menonjol keluar diatas

permukaan air.”

Ie Lip Tiong bertanya lagi “Macam apakah yang diartikan dengan

gundukan2 tanah yang menonjol diatas permukaan air itu?”

Kakek nelajan memberikan jawaban “Itulah pulau2 kecil yang

tidak cukup untuk menampung sebuah bangunan rumah.”

Ie Lip Tiong mengasah otak, memeras isi pikirannya.

Perahu Ai Pek Cun berlayar semakin jauh, hampir tidak terlihat.

Perahu Ie Lip Tiong tetap membuntutinya. Mereka telah melewati

gunung Lo-san.

Telaga Darah begitu luas, seolah-olah permukaan air laut kecil

saja.

Kakek nelayan meninggalkan pengayuhnya dia berkata: “Klta

sudah berada ditengah Telaga Darah,”

Pemandangan ditempat itu terlalu indah, diatas ada langit biru,

dibawah air berwarna biru, seira biru. Seharusnya telaga itu di beri

nama Telaga Biru.

“Ooooo…” Ie Lip Tiong belum berhasil memecahkan problem

yang sedarg dihadapi olehnya.

“Eh, saudara ini tentunya pandai renang?” Bertanya lagi si kakek

nelayan.

Ie Lip Tiong menggoyangkan kepala.

“Tidak bisa.” Dia memberikan jawabannya.

“Nah, ada belasan perahu yang meugurung kita.” Berkata kakek

nelayan itu.

Ie Lip Tiong terkejut, dia terlalu memusatkan pikirannya kepada

Ai Pek Cun, terlalu ia percaya kepada kakek nelayan, dirinya sudah

berada didalam kepungan perahu2 itu.

Lima belas perahu kecil meluncur dengan kecepatan luar biasa,

laju sekali mengurung perahu yang Ie Lip Tiong tumpangi.

Mereka mengurung jago kita.

Ie Lip Tiong memperhatikan datangnya perahu2 itu, dia menoleh

kearah sikakek nelayan, tampak wajah orang tua itu yang

menyeringai seram.

Alis jago kita terjentik naik, dia merasa tertipu, mendekati kakek

nelayan itu dan berkata: “Kau juga komplotan mereka?” Kakek itu

tertawa berkakakan, tubuhnya melejit, plungg….. terjun kedalam air

telaga. Dia meninggalkan perahunya.

Ie Lip Tiong terkurang dltengah tengah telaga yang sangat luas,

perahunya tidak aman lagi, cepat2 membuka sepatu, meninggalkan

pakaian atas, dengan tangan menggenggam pisau belati, dia juga

menerjunkan dirinya.

Plungggg…..

Ie Lip Tiong terjun dalam. Langsung menyelam ke dasar telaga.

Disini dia mendekam. Air telaga begitu jernih, dikala memandang

keatas, dua bayangan berbintik hitam terpeta dikaca hitam

matanya, satu besar dan lainnya kecii. Bintik hitam besar diam tidak

bergerak, dan bintik hitam kecil mendekati bayangan yang kita

sebut lebih dahulu. Itulah bayangan perahu dan si kakek tukang

perahu. Maksudnya mudah di duga, dia percaya bahwa Ie Lip Tiong

tidak pandai ilmu air, dia hendak merusak perahunya.

Menenggelamkan mangsanya.

Hati Ie Lip Tiong tertawa geli, dengan perlahan, dia

menggerakkan tubuhnya, mendekati bintik2 hitam itu.

Menunggu sampai dekat, dengan pisau belati yang diluruskan

kedepan, dia menerjang tukang perahu tua.

“Aouw….” sikakek mengeluarkan suara jeritan ngeri, terguling

guling meluncurkan diri, timbul kearah permukaan air, membawa

warna merah yang panjang berdarah.

Ie Lip Tiong tenggelam kedasar telaga, mengayuh baberapa saat,

baru naik perlahan lahan.

Perhitungan sipemuda sangat tepat, dia timbul diatas permukaan

air, dengan bantuan bayangan sebuah perahu yang menutupinya.

Inilah salah satu dari 15 perahu yang datang mengurung

Tukang perahu yang membawe Ie Lip Tiong kepusat telaga

sedang menderita luka dipantatnya, itulah hadiah Ie Lip Tiong, kini

sinelayan dikerumuni banyak orang. dia mendapat pertolongan

kawan2nya. mulutnya ber-teriak2!

“Awas! Bocah itu sangat alot. Tujuh Naga Air, lekas tangkap dia!”

Plung…. Plungg…. Plungggg….. Plungggg…. Plungggg…..

Tujuh laki2 berbadan tegap menerjunkan diri mereka, inilah

orang yang mendapat julukan nama Tujuh Naga Air. mereka

menerjunkan diri, mencari jejak musuhnya.

Adanya julukkan sebagai Tujuh Naga Air tentu mempunyai

keistimewaan mereka, Ie Lip Tiong membikin perhitungan baru,

untuk perang tanding didalam air, tentu tidak dapat mengalahkan

ketujuh orang itu, dia merayap naik. Dengan kecepatan yang luar

biasa, dia sudah berada diatas geladak perabu itu. Tiga laki2

berbaju hitam menoleh, mereka segara berteriak: “Ini dia

orangnya!”

Ie Lip Tiong menggerakkan kaki, pletak…. pletak…..

Dua dari tiga laki2 berbaju hitam itu ditendang jatuh, tulang

mereka patah remuk, terjungkal keair, dan seorang lagi, karena

terdorong oleh tenaga dalam Ie Lip Tiong, juga jatuh kedalam

telaga.

Didalam sekejapan mata, Ie Lip Tiong menjatuhkan ketiga orang

itu. Dia berhasil mengadakan pembajakan perahu.

Semua perahu bergerak, kini mengurung kendaraan air yang

telah dibajak, dimana Ie Lip Tiong mempernahkan dirinya,

Nelayan tua yang membawa Ie Lip Tiong adalah pemimpin

orang2 itu. Namanya Yo Tay Bwee, dia tidak sempat membalut

lukanya, menyaksikan ketangkasan Ie Lip Tiong diperahu lain, dia

ber-teriak2: “Saudara2 kepung perahu itu. jangan beri kesempatan

kepadanya untuk melarikan diri.”

Perintah Yo Tay Bwee dan gerakkan perahu perahu itu terjadi

disaat yang sama, Ie Lip Tiong terkurung lagi.

Perahu yang terdekat ditumpangi oleh tiga laki2 berbaju hitam,

mereka lompat naik keatas perahu Ie Lip Tiong. Memisahkan diri,

dengan golok2 ditangan, mereka menyerang pemuda kita.

Ie Lip Tiong tidak membiarkan dirinya terkurung seperti itu,

badannya bergerak, kini dia sudah dekat dangan seorang baju

hitam, tangannya melayang.

“Hekkk”

Tanpa dapat ditangkis, dada laki2 itu dipukul telak, disertai oleh

jeritannya yang panjang, tubuhnya jatuh keair.

“Bek, bek”

Lagi dua kali pukulan. Ie Lip Tiong menjatuhkan sisanya orang2

berbaju hitam.

Enam musuh telah disingkirkan olehnya. Perahu Yo Tay Bwee

sudah kosong, dan perahu dlmana tiga orang itu mengayuh juga

kehilangan penumpang.

Satu perahu jatuh ke dalam tangan Ie Lip Tiong.

Jumlah perahu yang ada terdiri dari enam belas perahu laki2

berbaju hitam. Tiga belas perahu mengurung Ie Lip Tiong, tapi tidak

seorangpun dari mereka yang berani membikin penyerangan.

Tujuh Naga Air bekerja dibawah, mereka merusak perahu yang

dikuasai oleh jago kita.

Sebagai Duta Nomor Tiga Belas dari persatuan Gerakan

Gabungan Partay2 dan Golongan golongan Su hay tong sim beng,

Ie Lip Tiong mempunyai kepintaran dan kepandaian yang diatas

manusia biasa. Tubuhnya melejit, meninggalkan perahu yang sudah

rusak melayang kelain perahu.

Disini, dia disambut oleh tiga batang golok yang berkilat2

Tentu saja, senjata senjata itu tidak dapat mengenai kulit Ie Lip

Tiong, gerakan jago kita begitu, gesit, begitu cekatan, hanya satu

kali terkaman, dia mencekal pergelangan tangan seorang.

“wing” dilemparkan keatas awang2

“Plung….. jatuh keair.

“Plung…. Plung…. Dua orang lagi dijatuhkan oleh jago kita.

Tujuh Naga Air hendak membantu pertempuran itu, menyaksikan

ilmu keandalan Ie Lip Tiong yang begitu tinggi, mereka tidak berani

bertanding diatas perahu, kelebihan ketujuh orang itu adalah

menyelam dan bersarang didalam air, dengan mengembangkan

kepandaian mereka, lagi2 membocorkan perahu sipemuda.

Satu perahu lagi yang rusak masuk air Telaga Darah.

“Ha ha ha….” Ie Lip Tiong tertawa sudah pindah perahu. Dari

satu perahu kelain perahu. Lagi2 tiga orang berbaju hitam yang

diusir pergi dari perahunya.

Demikian pertempuran itu berjalan tidak seimbang. Delapan buah

perahu sudah dirusakkan, sisanya tidak berani terlalu dekat.

Buyarlah kurungan perahu2 itu.

Ie Lip Tiong sedang berusaha menguasai perahu rampasannya

untuk menepi, Dimisalkan tidak ada gangguan, karena tidak adanya

keberanian dari para nelayan Telaga Darah untuk menandinginya,

jago kita dapat meninggalkan tempat itu.

Tiba2…..

Diudara lepas berkumandang satu suara pekikan yang panjang,

datangnya dari arah tepi telaga, suatu suara yang berkekuasaan

hebat.

Ie Lip Tiong memandang kearah itu, tidak ada bayangan sama

sekali. Cepat seperti itu disana terlihat sebuah titik hitam yang

sangat kecil, semakin lama semakin besar, itulah seorang kakek tua

yang mempunyai bentuk tubuh sangat kurus, dengan meluncurkan

sepasang kakinya diatas permukaan air, dia melayang datang

Ilmu Teng peng Tu cui yang menakjubkan sekali!

Untuk jaman itu, tokoh2 silat tanpa tandingan adalah 12 Duta

Istimewa Berbaju Kuning dari Su hay-tong sim beng. Dari ketiga

belas orang ini, termasuk Ie Lip Tiong, tidak seorangpun yang dapat

menggunakan ilmu Teng peng Tu cui diatas permukaan air yang

begitu luas seperti Telaga Darah.

Tidak perlu diragukan lagi, bahwa orang tua kurus yang sedang

meluncur datang itu adalah salah seorang dari 24 orang Raja Silat.

Orang tua kurus itu sudah berada dihadapan semua orang. Ie Lip

Tiong tidak kenal kepadanya. Inilah salah satu dari 12 Raja Silat

golongan sesat.

Siapakah orang tua kurus ini?

Yo Tay Bwee berteriak girang: “Tho It Beng Cianpwe,

kedatanganmu tepat pada waktunya,”

Tho It Beng!

Orang tua kurus ini bernama Tho It Beng? itulah raja Silat Buaya!

Sebelum Ie Lip Tiong turun gunung, sang kakek guru, Raja Silat

Suci Hong Hian Leng pernah bercerita tentang si Raja Silat Buaya

Tho It Beng yang aneh. Keanehannya terletak pada ketahayulan.

Tho It Beng sangat patuh kepada hukum tata krama. Begitu

percayanya kepada ramalan2 buku pat-kwa, sebelum dia bertanding

dengan lawan, dia mengajukan pertanyaan tentang hari lahir atau

bintang kelahiran orang tersebut.

Manakala bertanya kelahiran orang itu klop atau segaris dengan

bintang kelahiran Tho It Beng, si raja silat tidak akan mengganggu

orang itu, tidak nanti dia menempurnya. Bilamana bintang kelahiran

musuh yang berhadapan mengganggu garis hidup bintang kelahiran

si Raja Silat Tho It Beng tentu menempurnya mati-mati an. Tentu

saja, didalam hal ini, mengingat ilmu kepandaian si Raja Silat Buaya

yang sudah terlalu tinggi, belum pernah ada orang yang dapat

mengalahkannya, selalu Tho It Beng yang keluar sebagai

pemenang. Hasil kemenangan ini disambung lagi dengan

ketahayulannya. Tho It Beng berterima kepada buku pat kwa.

Karena adanya pertentangan bintang kelahiran itu, berkat adanya

bimbingan takdir2 Ilahi, dia memenangkan pertandingan!

Inilah yang menjadi keanehan dari Raja Silat Buaya Tho It Beng.

Ketahayulan yang digabungkan dengan keserasian hidup.

Raja Silat Buaya Tho It Beng menghadapi Ie Lip Tioog, dia

mendemontrasikan ilmu Terapung Diatas Air Teng peng Tu Cui yang

sangat mahir, sengaja berdiri tegak, menginjak air telaga tanpa

sedikit air pun yang menenggelamkannya, kepalanya menoleh

kearah sikakek nelayan Yo Lay Bwee.

“Regu nelayanmu dihancurkan oleh bocah ini? Sudah babak

belur?”

Yo Tay Bwee menundukkan kepalanya rendah. Inilah reaksi

tanpa sangkalan.

Tho It Beng mengangguk-angggukkan kepalanya, berpaling lagi

kearah Ie Lip Tiong, dia berkata: “Eh, ilmu kepandaianmu boleh

juga. Huah, lumayan…. lumayan…”

“Terirna kasih.” Ie Lip Tiong tertawa. “Terus terang kukatakan.

Sebenarnya, ilmu kepandaian orang2mu inilah yang terlalu rendah.”

Jawaban Ie Lip Cong yang begitu berani sangat mencocoki selera

Tho It Beng, berulang kali dia menganggukan kepalanya.

“Betu…. Betul….” Dia mengiyakan kata2 Ie Lip Tiong. “Ai Pek

Cun itu sungguh keterlaluan. Mengapa menyuruh anak buah Yo Tay

Bwee untuk menandingi jago yang sepertimu? Eh, kau bergelar

Pendekar Bintang apa tuh?”

“Pendekar Pemetik Bintang Liong Pal Su.” Berkata Ie Lip Tiong.

Orang yang dapat membayangi Ai Pek Cun dari Cui-cit lie sampai

ditempat ini hanya satu orang saja, itulah si Pendekar Pemetik

Bintang Lioag Pal Su. Tetap dia menggunuakan nama dan gelar itu.

“Nah,” Berkata Tho It Beng. “keluarkan pedang tukang petik

bintangmu.”

“Pedang itu sudah kubuang dltengah jalan.” berkata Ie Lip Tiong.

“Mau kuberi pinjam sebatang pedang lain?” bertanya Tho It

Beng.

“Terima kasih. Tanganku inipun mempunyai ketajaman yang

tidak kalah dengan pedang,”

Tho It Beng mengeluarkan jempolnya. “Hebat.” Dia memberi

pujian. “Kau kelahiran bintang apa?”

“Virgo.” Berkata Ie Lip Tiong. “Tanggal 2 Agustus tahun 303.

“Ung….” Raja Silat Buaya berkemak kemik sebentar. “Bintang

Virgo untuk kelahiran bulan delapan, bintang seorang wanita yang

lemah. tapi tidak boleh dipandang rendah, sederajat dengan bintang

aquarius, kukira…. kukira…. Aha…. tentu tidak menguntungkan

dirlmu.”

“Bagaimana?” Ie Lip Tiong terkejut. “Aku harus mati dibawa

tangan Ciatipwe?”

“Tidak begitu berat.” berkata Tho It Beng.

Disinilah letak keistimewaan Sang Raja silat buaya, dari hukum

perbintangan, dia akan meramalkan nasib sendiri, juga nasib orang.

Hasil ramalan untuk hari itu adalah Netral!

Belum pernah Tho It Beng mengadakan pelanggaran kepada

nasib yang sudah ditentukan oleh bintang2, demikianpun pada hari

ini, dia menekuninya.

Ie Lip Tiong mengajukan pertanyaan: “Apa kata bintang, tentang

nasib kita berdua?”

“Tiga pukulan tangan yang menentukan.” berkata Tho It Beng.

“Kalah atau menang, mati atau hidup akan ditakdirkan oleh Yang

Maha Kuasa.”

“Mengadu pukulan tangan?” Ie Lip Tiong meminta ketegasan.

“Betul.” Tho It Beng menganggukkan kepala. “Hanja tiga kali!”

Hal ini tidak mengganggu kepandaiannya menginjak diatas

permukaan air, dia tetap berdiri didepan perahu. “Kita akan

mengadu pukulan2 tangan seperti apa yang sudah ditentukan oleh

takdir Ilahi” dia berkata tenang.

“Baik” Ie Lip Tiong menerima tantangan. “Silahkan naik.”

Raja Silat Buaya Tho It Beng menggoyangkan tangan, maka

tubuhnya terbang naik keatas perahu Ie Lip Tiong, meninggalkan

permukaan air, tidak setetes air telagapun yang terbawa oleh

sepasang kakinya. Betul2 dia memiliki ilmu kepandaian Terapung Di

atas Air Teng peng Tu-cui yang sangat sempurna.

Setelah menginjakkan kakinya diatas papan perahu, Tho It Beng

menoleh kearah Yo Tay Bwee.

“Kau mengikuti percakapan tadi? Sudah jelas.”

Yo Toy Bwee masih menutup pantatnya yang ditusuk oleh pisau

belati Ie Lip Tiong, sakitnya tidak terhingpa, dengan meringis

menahan sakit, dia menganggukkan kepala.

“Sudah.” Dia berkata.

Tho It Beng berkata: “Kau harus menjadi juri yang jujur Kau

harus berkata, siaap…. satu, dua… tiga…. Gempur! Nah, itu waktu,

aku segera menggempurnya. Demikian untuk dua kali berikutnya

lagi. Mengerti?”

Yo Tay Bwee menganggukkan kepala.

Tho It Beng berhadap hadapan dengan Ie Lip Tiong.

“Bikinlah persiapan. Perintah Yo Tay Bwee adalah komando. Kita

saling gempur. Kukira ada baiknya diperinci sehingga tiga kali,

setuju?”

“Sangat setuju.” Berkata Ie Lip Tiong.

Ilmu kepandaian Tho It Beng sederajat dengan kakek gurunya.

Golongan raja2 silat itu menang dua tingkat generasi darinya.

Sangat beruntung tentang adanya peraturan yang Tho It Beng

tetapkan, untuk mengadu tiga pukulan tangan, dia belum tentu

menderita kerugian.

Tho It Beng memeramkan mata, dia memutarkan jalan

peredaran jalan darahnya sehingga keseluruh tubuh, demikian

sampai tiga putaran.

It Lip Tiong juga membikin persiapan yang kuat, tenaganya

dipusatkan kepada sepasang tangan? Siap menerima gempuran si

Raja Silat Buaya

Yo Tay Bwee mempertahankan kakinya diatas papan perahu.

perahu lain tentunya. Ie Lip Tiong dan Tho It Beng sudah siap,

maka Yo Tay Bwee berteriak: “Sudah siap?”

Ie Lip Tiong dan Tho It Beng saling memperdengungkan suara

mereka. Yo Tay Bwee memberi komando: “Satu…. Dua…. Gempur!”

“Blegur……..”

Pukulan tangan Ie Lip Tiong dan pukulan tangan Tho It Beng

membuat perpaduannya yang pertama, kekuatan itu ternyata

seimbang, maka memecah kesamping membuat dua aliran

gelombang pasang. Perahu Yo Tay Bwee menaik dan bergerak dari

tempatnya yang semula.

Bagaimana keadaan dua orang yang sedang adu tenaga?

Dari gelombang pasang yang mereka timbulkan memberi kesan,

seolah-olah kekuatan kedua orang itu tidak ada perbedaannya.

Kenyataan memanglah demikian, gempuran yang pertama

membawa hasil draw.

Kekuatan sama kuat! Tapi kedudukan mereka sudah berubah.

Bilamana Tho It Beng dapat diam ditempat tanpa desiran angin,

keadaan Ie Lip Tiong begitu bahaya, hampir tubuh jago muda itu

jatuh keair, berguling dan berputar sebentar, baru dapat balik

ketempat kedudukannya yang semula.

Mereka berhadapan muka kembali.

Yo Tay Bwee berteriak lagi. “Siiaaaappppp…. Gempur!”

Tho It Beng mendorong kedua tangannya, demikian juga

keadaan Ie Lip Tiong, dia menekan kedua telapak tangan, maju ke

arah depan.

Braaaaaakkkkk……

Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan keadaan yang pertama,

perbedaan terletak pada penambahan tenaga dari kedua orang itu,

masing2 memperkuat tenaga pukulannya, gelombang pasang yang

satu disusul dengan gelombang berikutnya, bahkan lebih keras dari

yang semula, maka dua nelayan berbaju hitam terdampar oleh

gelumbang yang menyapu perahu itu, mereka jatuh keair. Beberepa

orang cepat membikin penolongan.

Ie Lip Tiong bergoyang goyang dan berputar lagi, setelah itu, dia

balik ketempatnya yang semula. Membikin persiapan penggampuran

yang ketiga.

Inilah tipu muslihat si Pedang yang Menundukkan Rimba

Persilatan Wie Tauw, alias Liong Pal Su alias Ie Lip Tiong.

Pukulan Tho It Beng yang pertama hanya menggunakan 5 bagian

dari kekuatan siraja Silat.

Ie Lip Tiong bermata tajam, sengaja menggoyang goyangkan

dan memutar tubuh, seolah-olah tidak sanggup menerma setengah

kekuatan yang Tho It Beng kerahkan. Dengan demikian, membuat

kelengahan hati orang. Pada pukulan berikutnya, Thio It Beng

rnenambah 2 bagian kekuatan 70% persen itu betul2 menarik

keuntungan. Ie Lip Tiong tidak sampai menderita luka, masih

berputar, dengan maksud tujuan agar musuhnya tidak

menggunakan tenaga penuh pada serangan ketiga.

Kekuatan Ie Lip Tiong yang seperti itupun sudah mengejutkan

Raja Sllat Buaya Tho It Beng.

“Eh, begitu hebat?” Dia memperlihatkan wajah yang terkejut.

Ie Lip Tiong menghembus-hembuskan napasnya yang dibuat

terengah engah, dengan suara lemah dia berkata: “Terus terang

saja, bilamana cianpwee menambah sedikit tenaga lagi, boaepwe

tidak dapat mempertahankan diri.”

Inipun suatu sandiwara. Tho It Beng mengeluarkan suara jeritan

yang melengking panjang: “Kentut bau, kukira, kau bukan manusia

biasa.”

“Tentu saja bukan piauwsu biasa.” Berkata Ie Lip Tiong. “Sayang

belum dapat menandingimu Bila kau mengkehendaki kematianku,

menambah sedikit tenaga lagi, aku matilah.”

“He He….” Raja Silat Buaya Tho It Beng tertawa “takut mati?”

“Manusia manakah yang tidak takut mati?” Ie Lip Tiong membikin

perdebatan. “Bedanya, ada orang yang lebih rela mati, dari pada

menanggung dosa yang tidak terhingga. Ada orang yang rela mati

karena tidak dapat memecahkan problem berat yang menyelubungi.

Ada orang yang rela mati karena tidak dapat memberi jaminan

kepada keluarganya. Dan aneka macam kematian yang tidak dapat

ditolak membuat orang itu tidak takut menghadapi kematian.

Demikanpun dengan keadaan diriku. Tiga pukulan maut sudah lewat

dua, haruskah takut menghadapi sisanya?”

“Bagus,” Tho It Beng memberi pujian. “Sudahkah kau membikin

persiapan?”

Ie Lip Tiong menganggukan kepala.

Tho It Beng menoleh kearah yo Tay Bwee, itulah perintah, agar

sikakek nelayan memberi perintah.

Itu waktu, perahu Yo Tay Bwe sudah dikayuh dekat dan

membuka mulut: “Satu…. Dua….. Gempur!”

Ie Lip Tiong bergeram keras, mendorong kedua tangan, sangat

keras sekali, inilah tenaga penuh.

Lagi2 terdengar dentuman suara dari perpaduan dua kekuatan,

bagaikan digaluh oleh pukulan raksasa, dada Ie Lip Tiong menjadi

sesak bernapas dirasakan juga dunia yang seperti berputar,

matanya ber-kunang2 tubuhnya betul2 terlompat kebelakang, jatuh

diatas permukaan air.

Tujuh Naga Air sudah menantikan kejadian yang seperti ini,

lama sekali mereka mengharapkan hal ini terjadi, bagaikan merebut

bola air, mereka saling terjang.

Ie Lip Tiong mengalami getaran terhebat. Caranya yang

mengundurkan diri itu adalah cara yang terbaik untuk menghindari

luka yang terlebih berat dia jatuh diatas permukaan air Telaga

Darah, tapi tidak mengalami cedera, jatuhnya dicelentangkan,

menggunakan kesempatan itu, dia menyedot napasnya sehingga

tiga kali, memperputarkan peredaran jalan darahnya cepat,

membenarkan keadaan2 yang kurang normal.

Bagitu cepat, Ie Lip Tiong sudah membenarkan dirinya dari posisi

yang ada.

Disaat ini, Tujuh Naga Air sudah menerjang datang. Si Naga

Pertama Song Toa dan Naga Ketiga Song sam yang menyaksikan

keadaan Ie Lip Tiong terlena di atas permukaan air dengan mata

tertutup, menduga bahwa musuh itu sudah jatuh pingsan, mereka

menjulurkan tangan, siap menyeret tubuh orang itu.

Ditaat itulah, Ie Lip Tiong menggerakkan kedua tangan, cepat

sekali, membacok kedua naga air itu.

“Aduh….”.

“Auuw…..”

Naga Pertama Song Toa dan Naga Ketiga Song Sam dihajar

keras, mereka tidak segera binasa, tapi tulang2 rusuk kedua jago air

itu sudah patah berguguran.

Kelima Naga lainnya berteriak, serentak mereka memisahkan diri,

mengurung Ie Lip Tiong.

Raja Silat Buaya Tho It Beng betul2 mentaati apa yang sudah

dikatakan oleh bintang2nya untuk hari itu, setelah membentur

dengan tenaga kekuatan Ie Lip Tiong sampai tiga kali, dia tidak

turun tangan lagi, berdiri diatas perahunya, menonton pertandingan

itu. Dengan tertawa terbabak, dia berkata: “Hayo, Tujuh Siluman

Naga Air, giliran kalian yang harus mengeluarkan tenaga. Hendak

kulihat, bagaimana jago2 airku menangkap musuh?”

Naga Dua Song Jie. Naga Empat Song Su, Naga Lima Song No.

Naga Enam Song Liok dan Naga Tujuh Song Cit saling pandang,

tiba2 saja mereka mengeluarkan suara pekikan keras, sepuluh

tangan memukul air, membuat semprotan keras, arah tujuan

berpusat pada Ie Lip Tiong.

Inilah penyerangan air yang hebat,

Ie Lip Tiong menutup kedua mata, cipratan air itu sangat pedas

sekali, dia belum mendapat cara bagus untuk menghadapi serangan

mereka, tangannya dihantamkan ke atas air membalas serangan

dan pertahanan yang sama.

Terjadilah perang air!

Para Siluman Naga Air tidak hentinya berteriak teriak tangan

merekapun dipukul pukulkan, air itu seperti mau menenggelamkan

jago kita.

Pertarurgan seperti itu berlangsung untuk beberapa waktu, ilmu

kepandaian air Ie Lip Tiong tidak dapat menandingi Tujuh Siluman

Naga Air, dia berada dalam posisi bertahan, keadaannya seringkali

terjepit. Di kala dia hendak berusaha mengatasi kesulitan itu, kedua

kakinya terasa dipegang orang, terseret kedasar telaga. Inilah

perbuatan musuhnya, tentu buah hasil dari para siluman naga air.

Betul!

Yang menarik kaki Ie Lip Tiong adalah Naga Enam Song Liok dan

Naga Tujuh Song Cit, mereka berusaha membetot kaki musuhnya

dengan tujuan melahapnya didasar telaga.

Ie Lip Tiong mengerahkan tenaga dalamnya, demikian terjadi

perkutetan didalam air.

Beberapa bayangan gelap meluncur kearahnya, para siluman

naga lain segera merejeng jago kita.

Ie Lip Tiong merggerakkan kedua tangan memukul kearah

orang2 itu.

Naga Lima Song Ngo dan Naga Empat Song Su menerima

pukulan, tarjadi benturan yang hebat.

Berulang kali Ie Lip Tiong hendak melepaskan diri, tidak berhasil,

tenaganya telah banyak mengalami kekurangan. Hal ini disebabkan

oleh karena adanya benturan benturan keras dengan si Raja Silat

Buaya Tho It Beng.

Pertarungan didalam air berlangsung untuk bebrapa waktu,

dikeroyok oleh jago2 air kelas satu yang seperti tujuh Siluman Naga

Air, Ie Lip Tiong kewalahan, suatu kali kepalanya tertekan,

menenggak beberapa ceglukan air, sinar pandangan matanya

berkunang kunang, haapppp…. jago kita diterjungkal balikkan,

lenyaplah semua ingatannya.

Ie Lip Tiong mendapat rejengan para siluman naga air itu.

Tujuh Siluman Naga Air adalah tujuh saudara kembar dari satu

kandungan, mereka dilahirkan oleh seorang ibu nelayan, hancurnya

Naga Pertama dan Naga Ketiga Song Sam membuat suatu dendam

kesumat yang tidak terhingga. Karena itu, Ie Lip Tiong mengalami

hujan pukulan, pelampias kemarahan. Mereka memberikan

pukulan2 luar biasa. Setelah puas, mereka membawanya ke atas

permukaan air, disana Raja Silat Buaya Tho It Beng sudah

menunggu.

Disaat itu, Ie Lip Tiong sudah tidak sadarkan diri lagi.

Jago kita ditawan musah!

Bagian 9

KEADAAN begitu gelap, hanya bayangan hitam yang

menyelubungi tempat itu.

Inilah situasi pemandangan dikala Ie Lip Tiong sadarkan diri, dia

mendapatkan diri sendiri berada didalam suatu tempat yang sangat

gelap, tubuhnya terikat, matanya tertutup.

Goncangan keras menyakitkan lukanya.

Memperhtikakan untuk beberapa waktu, Ie Lip Tiong berani

memastikan, bahwa dirinya berada didalam suatu kereta tertutup.

Rasa sakit menyerang seluruh bagian tubuhnya. Inilah akibat dari

pukulan2 Tujuh Naga Air.

Kereta itu berjalan terus.

Dimana dia hendak dibawa?

Ie Lip Tiong sedang memikir mikir Siapa2kah yang duduk satu

kereta dengan dirinya?

Didalam suasana yang seperti itu, Ie Lip Tiong tidak dapat

membuat penilaian. Ie Lip Tiong memeramkan mata lagi. Kemana

dia hendak dibawa? Markas partay Ai Pek Cun?

Tidak salah. Tentunya, orang itu hendak membawa dirinya

kedalam sarang partay Raja Gunung, suatu golongan kerja yang

sangat senang kepada usaha pembesetan kulit manusia.

Ie Lip Tiong mengerenyitkan keningnya. Dari apa yang sudah

diketahui, partay Ra ja Gunung menempatkan sarang mereka di

sekitar Telaga Darah. Dan hampir dia berhasil menemukan tempat

itu, bila bukan gagalnya usaha membuntuti Ai Pek Cun.

Kini, Ie Lip Tiong dibaringkan dalam sebuah kereta tertutup,

dibawa kesuatu tempat jing belum diketahui. Masih gelap sekali.

Bisakah hal ini terjadi, bahwa sarang partay Raja Ganung berada

diluar daerah Telaga Darah?

Kakek guru Ie Lip Tiong, si Raja Silat Suci Hong Hian Leng ada

memberi tugas berat, dia, Ie Lip Tiong sebagai Duta Istimewa

Berbaju Kuning Nomor Tiga Belas dari persatuan gabungan Su haytong

sim beng, wajib menyelidiki tempat yang dijadikan markas

besar partay Raja Gunung

Ie Lip Tiong menerima tugas itu dengan rela dan segala senang

hati.

Bintik2 cahaya terang sudah menampakkan dirinya. Disekitar

Telaga Darah, para nelayan dikoordinir dengan kekuatan, tentunya

anak buah dari partay rahasia itu.

Dia tertawa ditempat ini!

Tanpa diudukkan didalam kereta, tanpa dibawa kelain tempat. Ie

Lip Tiong dapat berhubungan dengan pucuk pimpinan tertinggi dari

partay Raja Gunung, inilah suatu keharusan.

Tapi, kenyataan tidaklah demikian.

Penetapan sementara yang permisalan kedudukan markas Partay

Raja Gunung mengambil kedudukan di Telaga Darah harus

dikesampingkan.

Kini, dirinya sedang dibawa kesuatu tempat baru, suatu tempat

yang masih asing baginya, suatu tempat yang sangat gelap dan

dirahasiakan.

Kemanakah Ie Lip Tiong hendak dibawa?

Roda2 kereta itu masih menggelinding terus. Kadang2 diseling

oleh ringkikan suara kuda. inilah kuda2 penarik kereta.

Semua kejadian yang tersebut diatas adalah rangkaian dari hasil

pembuntutan Ai Pek Cun.

Dimanakah manusia itu?

Terbayang wajah Ai Ceng yang sangat cakep menarik, gadis itu

memiliki sifatu2 yang panas membara.

Adanja bentrokan Ie Lip Tiong dengan pihak Partay Raja Gunung

berarti meretakkan hubungan baik dengan Ai Pek Cun.

Tidak adanya hubungan baik dengan Ai Pek Cun akan membawa

suatu ekor kisah cintanya yang sulit diterka.

Dapatkah dia memperistri seorang patri musuhnya?

Ai Ceng begitu lincah, begitu menarik dan begitu bergelora.

Sungguh sangat di sayangkan, bila sampai terjadi kisah cinta yang

dibayangi oleh perpecahan.

Lain bayangan gadis menggantikan bayangan Ai Ceng, itulah

bayangan Ang Siauw Peng.

Memiliki sifat2 yang hampir sama dengan Ai Ceng, Ang Siauw

Peng mompunyai ilmu kepandaian yang cukup lumayan, daya

tariknya hanya menduduki urutan dibawah Ai Ceng.

Bayangan Ang Siauw Ping semakin membesar, semakin

membesar dan akhirnya menutupi semua khayalan Ie Lip Tiong.

“Heeiii….” Tiba2 satu suara karas memecahkan kesunyian itu.

Pundak Ie Lip Tiong kena ditepuk orang.

“Ie Lip Tiong,” Panggil lagi suara itu. “Masih kau belum sadarkan

diri?” Inilah suara si Raja Buaya Tho It Beng.

Ie Lip Tiong terkejut. “Aaaaaa….” Dia bingung.

“Ie Lip Tiong,” Panggil lagi Tho it Beng “hanya sampai disini

sinikah ilmu kekebalanmu?”

Tho It Beng tidak lagi memanggil dengan nama Liong Pal Su. Dia

memanggil langsung dengan kata2 Ie Lip Tiong. Ini berarti locot dan

copot penyamaran.

“Aku bukan Ie Lip Tiong.” Sipemuda hendak menyangkal.

“Ha Ha Ha Ha….” Tho It Beng tcrtawa. “Bikin tamat sajalah

permainan sandiwaramu itu. Penyamarannya sudah tarbuka,

topeng2 yang mengotori wajahmu itu sudah dilunturkan. Kau adalah

Ie Lip Tiong alias Pandekar Pemetik Bintang Lioog Pal Su, alias si

Pedang Yang Menundukkan Rimba persilatan, It-kiam-tin bu-lim Wie

Tauw, jago baru dari gerakan Su hay tong sim-beng, Duta Istimewa

Nonsor Tiga Belas dari kekuatan itu. Ha Ha Ha Ha…..”

Ie Lip Tiong menundukkan kepalanya.

“Tho Cianpwe,” Akhirnya suara sipemuda menjadi lemah, Kau

lihay, aku menyerah kalah.”

“Tentu saja kau kalah” Berkata Tho It Beng sangat bangga.

“Adakah jago2 silat diluar lingkungan 24 raja silat ternama dapat

menandingi aku?”

“Tho Cianpwe,” Memanggil Ie Lip Tiong. “Kemanakah Cianpwe

hendak mengendalikan kereta?”

Tho It Beng balik mengajukan pertanyaan:”Tempat manakah

yang hendak menjadi tujuan kehendak hatimu?”

“Maksud Cianpwe?”

“Aku hendak mengajak kau ke tempat markas besar partay

besarku”

“Partay Raja Gunung?”

“Tepat!”

“Dimanakah tempat itu?” Ie Lip Tiong memancing rahasia orang.

“Ha ha…..” Raja Silat Buaya Tho It Beng tertawa. “Menurut

dugaanmu, dimanakah seharusnya letak markas besar Partay Raja

Gunung?”

“Apakah bukan didaerah Telaga Darah?”

“Bukan.” Tho It Beng menolak dugaan yang seperti itu.

“Dimana?” bertanya Ie Lip Tiong.

“Disuatu gunung lain yang terpisah dari keramaian, dikelilingi

oleh air2 yang luas”

Ie Lip Tiong berkata: “Mengapa kalian menutup kedua mataku?”

Thio It beng berkata: “Agar kau tidak mengetahui letak tempat

yang tepat dari markas besar Partay Raja Gunung.”

“Begitu takut kepadaku?” Ie Lip Tiong megeluarkan suara dingin.

“Ha Ha…. Kukira, kata2mu yang seperti ini agak keliru.

Seharusnya, kaulah yang harus takut kepada orang”.

“Boanpwe tidak pernah takut kepada orang ”

“Apa kau pernah dengar, bahwa ada raja2 silat yang takut

kepada orang?”

Pcmbicaraan mereka terputus.

Kereta masih berjalan.

Didalam keadaan tubuh terikat, mata tertutup, Ie Lip Tiong

hendak digiring ke markas besar Partay Raja Gunung.

Berbeda dengan partay2 lainnya, Partay Raja Gunung masih

menyembunyikan gerakan-gerakan mereka, juga menyembunyikan

markas besar komplotan itu.

Suatu saat, Ie Lip Tiong membuka mulut lagi, dia mengajukan

pertanyaan: “Tho Cianpwe, bagamanakah hari ini?”

“Hmm…” Tho It Bang bersunggut2 “Kau hendak menghitung

jarak perjalanan?”

Lagi2, usaha Ie Lip Tiong mengalami kegagalan. Ia memuji

kecerdikan dan kecepatan pikiran si Raja Silat Buaya.

“Mata boaopwe ditutup.” berkata Ie Lip Tiong, “Karena itulah,

boanpwe tidak mengetahui hari.”

“Aku tidak takut kau mengetahui hari” berkata Tho It Beng. “Kau

telah melakukan perjalanan 43 jam. Kini menjelang sore yang

kedua.”

“Heran,” berkata Ie Lip Tiong. “Mengapa boanpwe masih

mengenakan pakaian basah?”

“Sekarang musim apa? Mengingat kau terkurung didalam kereta

yang tertutup, mungkinkah ada sinar matahari yang mengeringkan

bajumu? Tidak satupun dari orang2 ku yang mau menggantikan

pakaianmu, karena itu, baju tetap basah!”

Ie Lip Tiong berkata: “Boanpwe hendak nsembuang air kecii,

dapatkah cianpwe memberi kelonggaran untuk mempernnahkan air

itu?”

“Hmmm…. Bajumupun belum kering, kencing saja dicelana.

Tetap saja basah Jangan kau hendak mencari kesempatan yang

bukan2”

“Cianpwe tidak takut bau pesing?”

“Kereta ini segera dibuang, tidak lama lagi. Kukira sudah wajib

menerima derita ini

Ie Lip Tiong bungkam. Untuk peperangan otak babak kedua,

lagi2 dia mengalami kegagalan.

“Krikikkk…. Krekek…..”

Roda2 kereta berjalan terus.

Ie Lip Tiong membuka suara: “Masih lamakah perjalanan?”

“Maksudmu?” Tho It Beng cukup sabar.

“Perjalanan yang seperti ini tidak begitu menyenangkan.”

“Tentu saja. Kau harus tahan tiga atau empat lie lagi.”

Kereta berjalan diantara tiga atau empat, kecepatannya mulai

berkurang. Suatu waktu, hekkkk, kereta itu berhenti.

Tubuh Ie Lip Tiong terasa diangkati orang, inilah tangan2 Tho It

Beng yang kokoh kuat, lompat keluar dari dalam kereta, berjalan

belasan langkah, lagi2 ada getaran lompatan, tenggelam sedikit dan

timbui kemball, inilah perasaan naik diatas kendaraan air.

Perjalanan dilanjutkan dengan perahu.

Sebentar kemudian, Ie Lip Tiong dapat merasakan gerakan

kendaraan itu, meluncur dan mulai melakuken gerak jalan.

Tubuh Ie Lip Tiorg masih berada di dalam pelukan seseorang.

“Tho Cianpwe, kau yang menggendong boanpwe?” Jago kita

menganjukan pertanyaan lihay.

Tho It Beng berkata: “Betul. Enak sekali, bukan?”

“Menyusahkan Cianpwe saja. Mengapa tidak meletakkan di

geladak kapa?”

Tho It Beng tertawa: “Ha Ha…. Meletakkan tubuhmu berarti

memberi kesempatan kepadamu, maka kau dapat memberi

penilaian, dengan kendaraan air macam apa? Kau dibawa kemarkas

besar kita orang.”

“Cianpwe terlalu lihay.” Ie Lip Tiong menyengir pahit. Adu otak

ketigapun gagal. Ie Lip Tiong tidak mempunyai kesempatan untuk

melihat atau menilai, dia dibawa dengan kendaraan macam apa?

“Kau juga lihay” Balas memuji si Raja Silat Buaya. “Aneka macam

tipu dapat kau gunakan, menandakan lubang pikiranmu yang lebih

dari satu. Demi membikin penyelidikkan-penyelidikan yang tidak

dapat kau lihat dengan mata, masih saja kau berusaha”

“Tentu tidak dapat disamakan dengan Raja Silat Buaya yang

ternama,” Ie Lip Tiong mengumpak orang.

“Terima kasih. Namamu, si Pedang yang Menundukkan Rimba

Persilatan dari Kota Tiang-an Wie Tauw itu juga tidak kalah

tersohornya.”

“Boanpwe setelah menjadi orang tawanan. Mengapa Cianpwe

begitu berhati-hati?”

“Segala sesuatu itu harus berhati hati.”

“Termasuk seseorang tawanan?”

“Seorang tawanan yang cukup ternama. Entah bagaimana kau

dapat menghindari hukuman pancung Su-hay tong-sim- beng? Aku

mengakui kecerdikanmu.”

“Boanpwe kira, boanpwe tidak mempunyai kesempatan hidup ”

“Belum tentu ”

“Maksud Cianpwe?”

“Sancu kita sangat menghargai otak kepintaranmu. Segera kau

dapat berurusan dengannya.”

Yang diartikan dengan panggilan Sancu adalah ketua partay Raja

Gunung. Tokoh ini masih terlalu misterius, adanya dia bisa

menduduki ketua partay itu, adanya dia dapat menguasai raja2 silat

dari golongan sesat dapat membingungkan orang. Siapakah sang

tokoh baru?

Dibawah si Raja Gunung Sancu terdiri 11 raja silat golongan

sesat.

Dibawah 11 raja silat golongan sesat terdapat Ai Pek Cun, At Lam

Cun, Ai Tong Cun dau Ai See Cun.

Golongan C untuk partay ini adalah sipemuda beekerudung hitam

Su khong Eng

Tokoh2 yang seperti kita sebutkan diatas adalah tokoh2 yang

cukup luar biasa sekali.

Prestasi Su khong Eng dengan pembunuhan pembunuhan yang

sudah dilakukan kepada para anak murid dari lima partay besar

cukup mengagumkan.

Prestasi Ai See Cun dan Ai Tong Cun yang dapat menyeludup

masuk didalam gerakan Su hay-tong-sim-beng masih sangat

mengesankan.

Terlebih istimewa lagi adalah raja2 silst dari golongan sesat

sebangsa Raja Bajingan Co Khu Liong, Raja Buaya Tho It Beng, Raja

Siluman Sie It Hu, Raja Gila Ku Bee Beng dan raja2 silat iainnya.

Tidak satupun dari raja2 silat ini yang tidak mempunyai reputasi luar

biasa.

Pucuk pimpinan tertinggi berada dalam genggaman Raja Gunung

Sancu. Siapakah Raja Gunung ini?

Ie Lip Tiong hendak dibawa menghadap Raja Gunung.

Perahu diombang ambingkan ombak. Di dalam gendongan Tho It

Beng, tubuh Ie Lip Tiong turut diturun naikkan

Sipemuda membuka suara, “Berapa lamakah harus melakukan

perjalanan seperti ini?”

Tho It Beng berkata: “Segera kita menepi”

Terasa suatu lemparan sauh, perahu itu seperti sudah

membentur gili2. Badan Tho It Beng bergerak lagi, lompat

meninggalkan kendaraan air.

Tubuh dan kedua kaki Ie Lip Tiong belum bisa menyentuh tanah.

Tho It Beng tidak menurunkan orang gendongannya. terdengar

suara angin yang menderu-deru, kedua kaki si Raja Silat Buaya

bergerek cepat, kini dia melakukan perjalanan dldarat, tidak dengan

kereta atau perahu. Meluncur begitu cepat.

Kedua mata Ie Lip Tiong ditutup, badan diikat sepertl ketupat.

Dia tidak bisa membedakan arah, juga tidak bisa mancari

kebebasan.

Ie Lip Tiong menggunakan otaknya mengingat perjalanan itu.

Badan Tho It Beng mulai berlompat lompatan. Benak Ie Lip Tiong

diberi kesan, se-olah-olah sedang melakukan perjalanan di lereng

lereng dan di-bukit2 gunung, sebentar meninggi dan sebentar

menurun, seperti mendaki undakan2 batu.

Sesudah melakukan perjalanan diatas kereta, Ie Lip Tiong diberi

kesempatan menaik perahu, kemudian dibawa lari2an diantara

daerah pegunungan.

Daerah apakah yang mempunyai ciri2 seperti ini?

Telaga2 yang besar dan luas dapat dihitung dengan jari, kecuali

Telaga Darah, Telaga Pok yang, Telaga Ang-cek ouw, Telaga See

ouw, Telaga Lam-ie paw, Telaga Ciok bo-auw dan Telaga Tong ouw,

mungkinkah masih ada telaga baru?

Diantara telaga2 yang tertera diatas, telaga manakah yang

mengerami sebuah gunung?

Jawabannya terlalu mudah, hanya ada dua kemungkinan.

Kemungkiaan pertama adalah Telaga Darah Co ouw.

Dan kemungkinan kedua adalah telaga Ciok bo ouw.

Hanya dua telaga inilah yang memiliki area luas, dan memenuhi

syarat kedua, dia dapat menyembunyikan sebuah gunung kecil di

tengah2 telaga.

Menurut apa yang Thio It Bang kemukakan, mereka telah

melakukan perjalanan dua hari disusul dengan perjalanan kereta,

perjalanan perahu dan perjalanan darat. Untuk mendapat jawaban

tempat yang mempunyai proses perjalanan yang seperti ini.

Mengambil titik tolak dari Telaga Darah, seharusnya, mereka sudah

tiba di Telaga Ciek-bo ouw.

Telaga Ciok-bo ouw?

Partay Raja Gunung menggunakan tempat Ciok bo-ouw sebagai

markas besar mereka?

Langkah2 Tho It Beng yang sebentar tinggi sebentar pendek,

sebentar naik, sebentar turun itu telah selesai. Kini meluncur lurus

lagi.

Inilah suatu bukti, bahwa mereka telah meninggalkan daerah

pegunungan dan mengarungi daerah dataran tinggi.

Ie Lip Tiong mengingat-ingat betul situasi tempat yang seperti

ini.

Gerakan Tho It Beng yang cepat mengendur, dia tidak berlari

lagi, tapi berjalan seperti biasa.

Ie Lip Tiong berpikir: “Mungkinkah sudah tiba?”

Betul! Mereka sudah tiba ditempat tujuan. ini waktu, terdengar

Tho It Beng berteriak: “Beri tahu kepada Sancu, bahwa aku telah

membawa orang yang dlminta.”

Mereka mulai memasuki markas besar Partay Raja Gunung.

Terdengar derap langkah kaki beberapa orang, mereka seperti

memasuki suatu ruangan yang sangat besar.

Tidak terlalu lama, Tho It Beng menurunkan orang tawanannya.

Dia membuka suara lagi: “Sancu, aku berhasil menawan si Pendekar

Pemetik Bintang Liong Pal Su. Orang inilah yang berani membikin

pembayangan kepada Ai Pek Cun.”

“Bagus.” terdengar satu suara yang sangat lemah, inilah

tentunya orang yang menjabat ketua Partay Raja Gunung.

Hati Ie Lip Tiong berdebar keras. Dia sudah berada didepannya

seseorang yang terlalu misterius. Ttidak lama lagi, dia dapat

mengetahui, siapakah Raja Gunung itu?

Sebagai seseorang yang memegang jabatan tertinggi dari

sesuatu Partay, tentu memiliki ilmu kepandaian dan tenaga dalam

yang sangat tinggi. Hal ini tanpa pengecualian.

Suara si Raja Gunung begitu lemah, menandakan tenaga

dalamnya yang tiada, Siapakah orang ini?

Ie Lip Tiong bingung memikirkannya.

Orang yang bersuara seperti kurang makan ini yang mengepalai

sesuatu komplotan besar?

“Sancu.” Terdengar lagi suara Tho It Beng memberi laporannya.

“Tahukah kau, siapa orang yang menggenakan nama Liong Pal Su

dengan gelar si Pendekar Pemetik Bintang?”

Suara yang lemah seperti kurang makan itu berkata: “Sipemuda

Ie Lip Tiong yang berhasil menolong kehancurannya Su-hay-tongsim-

beng dari tangan kita?”

Tho It Beng berkata: “Betul. Inilah dia, Si Pedang yang

Menundukkan Rimba Persilatan dari kota Tiang-an, tokoh luar biasa

dari perusahaan Boan chio Piauw-kiok Wie Tauw. Nama aslinya Ie

Lip Tiong.”

Raja Gunung mengeluarkan suara berpenyakitannya: “Bagus.

Tolong kau buka penutup matanya. Beri kesempatan kepadanya

menyaksikan markas kita.”

Sretttt…..

Tutup mata Ie Lip Tiong lepas dari tempatnya yang semula.

Pemandangan ditempat itu begitu menyilaukan mata. Cepat2 Ie

Lip Tiong mengatupkan indra penglihatannya.

Setelah dapat menyesuaikan diri dengan iklim tempat itu, Ie Lip

Tiong menyaksikan suatu pemandangan yang belum pernah dapat

dibayangkan.

Disana disuatu tempat aula yang sangat luas ada berkumpul

banyak orang, inilah ruang sidang Partay Raja Gunung, ruangan iiu

terbuat dari batu pualam yang mengkilap penerangan cukup terang,

dengan perhiasan dan ukiran2 yang sangat indah, ruangan itu

adalah ruangan terindah yang pernah dilihat oleh pemuda kita.

Dari keindahan ruangan, perhatian Ie Lip Tiong tertarik kepada

orang2 yang berada di tempat itu.

Dua orang sedang berlutut ditengah-tengah ruangan, inilah

pusat.

Didepan kedua orang bersakitan itu, duduk seorang

berkerudung. Dikanan dan kirinya berdiri empat dayang, dengan

kipas2 mereka yang panjang, tidak henti2nya mengebut, membuat

angin lalu yang silir2 .

Inilah tempat teragung. Mudah juga orang berkerudung itulah

yang bernama Raja Gunung.

Ie Lip Tiong berhadapan muka dengan ketua partay Raja

Gunung.

Sayang, orang itu menggunakan kerudung yang serba hitam.

Tidak terlihat jelas, bagaimana wajah mukanya.

Memandang kepada kedua orang yang berlutut di-tengah2

ruangan, Ie Lip Tiong terkejut, itulah Iblis Gendut Keng Lie dan lblis

Kurus Eng Kian.

Iblis Gendut Keng Lie dan Iblis Kurus Eng Hian adalah tokoh2

silat kenamaan. Kedudukannya hanya kalah setingkat dari raja2

silat, setanding dengan Ai Lam Cun, Ai Pek Cun sekalian. Kecuali

pernah kalah dl tangan Raja Silat Suci Hong Hian Lang, belum

pernah mereka terjungkal ditangan orang lain. Mengapa berada

ditempat ini? Mengapa berlutut dihadapan Raja Gunung ?

Ie Lip Tiong kenal kepada kedua orarg itu atas gambaran2 yang

diberikan oleh Can Ceng Lun. Sang guru pernah menceritakan

pengalamannya bersua dengan sepasang iblis gendut kurus itu,

dengan mengeluarkan gertak sambal yang bernama Tiga Pukulan

Geledek, Keng Lie dan Eng Hian dibuat ngiprit pergi.

Ternyata, Keng Lie daa Eng Hian juga termasuk enggota Partai

Raja Gunung. Mereka mendapat tugas mem ‘becking para keroco2

tukang beset kulit manusia, dikala komplotan itu hendak membeset

kulit Duta Nomor Delapan Lu Ie Lam, Can Ceng Lun datang dan

memberi pertolongan, Lu Ie Lam lolos dari bahaya pembesetan kulit

manusia

Iblis Gendut Keng Lie dan Iblis Kurus Eng Hian tidak takut

kepada Can Ceng Lun tapi mereka takut kepada guru Can Ceng Lun.

Suatu ketlka kedua iblis itu diberi hajaran oleh Raja Silat Suci Hong

Hian Leng, ilmu yang digunakan ada Iah Tiga Pukulan Geiedek dan

Can Ceng Lun dapat menggunakan ilmu ini, demikian lah Keng Lie

dan Eng Hian meninggalkan tugas becking orang2nya

Untuk perkara ini, Raja Gunung sangat marah, demikian kedua

iblis gendut dan kurus dipanggil untuk memberi pertanggung

jawaban mereka, Keng Lie dan Eng Hian ditarik pulang kemarkas

besar.

Disini mereka berlutut, meminta pengampunan.

Bagaimanakah Raja Gunung menghukum orangnya yang

bersalah?

Bagaimanakah Ie Lip Tiong mengacau markas besar Raja

Gunung?

Marl kita menantikan jawaban ini pada jilid kelima.

-oo0dw0oo-

Jilid 5

Bagian 10

BANYAK ORANG berkumpul disuatu ruangan aula yang sangat

luas, mereka adalah anggata2 dari Partai Raja Gunung.

Partay Raja Gunung adalah suatu partay rahasia yang masih

terasing dari rimba persilatan, tindak tanduk partay ini bertentangan

dengan hak2 asasi keadilan dan kebenaran. kacuali itu, dia

menyembunyikan markas besar mereka.

Seseorang yang mengenakan pakaian dari kerudung serba hitam

duduk diatas kursi singgasana, inilah kursi kebesaran partay Raja

Gunung. Mengingat kekuasaan golongan ini yang belum terlalu

kuat, dia merahasiakan dirinya

Untuk panggilan si orang berkerudung mereka menggunakan

sebutan Lo-san-cu atau Raja Gunung, sebutan yang lazim untuk

ketua Partay tersebut.

Orang berkerudung adalah kakek guru dari sipemuda misterius

berkerudung hitam Su-khong Eng. Setelah penyamaran Su-khong

Eng terbuka oleh umum, nama pemuda itu tidak misterius lagi.

Kemisteriusan berpindah kepada orang berkerudung yang kini

menduduki kursi ketua Partay Raja Gunung.

Rentetan kisah2 hebat telah menjadikan Partai Raja Gunung

sebagai suatu kekuatan asing dapat membayangi kekuatan Su hay

tong sim beng.

Lebih dan pada itu, kekuatan Partai Raja Gunung sudah berakar

kokoh diseluruh peloksok kota2 dan desa.

Kekuasaan Su hay tong sim beng terdesak. Su hay tong sim beng

berarti Gabungan Tenaga Kekuatan didalam Rimba Persilatan,

waktu perserikatan partay2 yang menampung semua inti kekuatan

dunia Kang-ouw, suatu wadah penegak keadilan dan kebenaran

didalam arti yang sebenar-benarnya.

Adanya Partay Raja Gunung yang mengganggu ketenangan

dunia persilatan telah menarik perhatian Su-hay tong-sim-beng.

Dengan menyerahkan tugas kepada Ie Lip Tiong, sang Duta

Istimewa Berbaju Kuning Nomor 13 itu mengikuti jejak-jejak yang

ada, demikian dia berhasil dimarkas Partay gelap itu.

Sayang Ie Lip Tiong mengalami kegagalan, dia jatuh dibawah

tangan Tho It Beng. Kini, Ie Lip Tiong hadir sebagai seorang

tawanan.

Kain penutup Ie Lip Tiong sudah dibuka, maka dia dapat

mengikuti perkembangan di tempat tersebut.

Arah pertama tentu ditujukan kepada Lo san-cu, orang yang

memegang pucuk pimpinan tertinggi dari partay liar itu.

Menurut apa yang Ie Lip Tiong ketahui, Lo-san-cu adalah kakek

guru si pemuda berkerudung hitam Su-khong Eng yang misterius.

Su- khong Eng tidak misterius lagi. Semua orang, atau sedikit

dikitnya banyak orang sudah tahu, siapa pemuda berkerudung

hitam yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan kepada

anak murid lima partay besar.

Ie Lip Tiong telah bebas dari tuduhan, dia berhasil membersihkan

diri dari fitnah Su-khong Eng. Dengan kedudukannya sebagai Duta

nomor tigabelas dari Su-hay-tong-sim-beng dia mempunyai

kekuasaan yang kuat dan mendapat berkah dari semua orang.

Kemisteriusan berpindah kepada ketua Partay Raja Gunung.

Siapakah ketua Partay Raja Gunung yang mengenakan kerudung

hitam itu?

Jawabannya sangat singkat: Lo-san-cu!

Lo-san-cu bukanlah nama aslinya, siapakah nama asli dari sang

tokoh misterius?

Nah, cerita mulai dituturkan secara terperinci.

Lo-san-cu mempunyai kekuasaan yang sangat besar, diseluruh

pelosok kota dan desa, dia memiliki banyak anak cabang anak

cabang perusahaan yang dapat menghasilkan pemasukkan

keuangan untuk golongannya.

Dari sekian banyak cabang perusahaan itu, terdapat juga rumah2

perjudian, rumah2 makan, rumah2 penginapan, perkebunan teh,

perkebunan tembakau, perkebunan sayur mayur, persewaan kuda,

persewaan kereta dan seribu satu macam cabang perusahaan

lainnya lagi.

Perusahaan2 yang kita sebut diatas adalah perusahaan setengah

legal dan perusahaan legal, ada juga usahanya yang illegal.

Mengambil contoh, pembesetan kulit manusia, dikeringkan dan

diperjual belikan itu.

Bilamana hanya perusahaan2 yang terang, Su hay tong sim beng

tidak berhak untuk campur tangan.

Soalnya ada menyangkut ketentraman umum, salah satu usaha

gelap dari partay Raja Gunung adalah usaha pembesetan kulit

manusia.

Dengan melakukan pembesetan2 kulit manusia-manusia itu.

Setelah diberi obat2 tertentu dan dikeringkan, kulit tersebut berupa

suatu kedok penyamaran yang luar biasa, seseorang dapat

mengubah dirinya menjadi bentuk dan orang mana yang disukai,

cukup dengan mengenakan pakaian kulit manusia yang sudah

dikeringkan.

Kecuali memeriksa kancing kancing kulit yang merekatkan

bagian2 tubuh itu, tidak mudah membedakan kepalsuan dan

keasliannya.

Untuk usaha jahat ini, Su hay tong sim-beng patut turun tangan.

Tugas perintis pembuka jalan jatuh kepada Ie Lip Tiong.

Dan kini, Ie Lip Tiong sedang mengalami kegagalan. Dia jatuh

kedalam tangan Partay Raja Gunung,

Dibelakang kursi kebesaran Lo-san-cu terdapat kursi2 lainnya,

itulah kursi2 para hulubalang Partay Raja Gunung.

Diatas kursi2 tersebut duduk tokoh-tokoh pimpinan dan ranting

pimpinan Partay Raja Gunung Mereka adalah orang2 yang

mempunyai kedudukan bagus.

Kecuali itu, masih terdapat ratusan anak buah yang tidak

berpangkat atau tidak berkedudukan, mereka berdiri disekitar

ruangan aula itu.

Karena itulah, keadaan agak sesak.

Ie Lip Tiong memperhatikan ruang tempat yang dijadikan markas

besar partay liar tersebut.

Kecuali dirinya, masih ada dua orang pesakitan lain. Mereka

adalah Sepasang Iblis Gendut dan Kurus yang ternama, si lblis

Gendut Keng Lie dan Iblis Kurus Eng Hian.

Keng Lie dan Eng Hian berlutut didepan kursi kebesaran.

Agaknya, lo-san-cu sedang menyidangkan dua tokoh silat tersebut.

Lo-san-cu belum memberikan reaksinya

Dari tubuh Keng Lie dan Eng Kian, Ie Lip Tiong mengalihkan

pandangan, memandang kembali kearah ketua partay Raja Gunung

lo-san-cu, dan memperhatikan pembantu-pembantu tokoh misterius

itu.

Kini, Ie Lip Tiong memperhatikan orang orang yang berada

dibelakang lo-san-cu.

Mata Ie Lip Tiong terbelalak, hatinya sungguh terkejut, ternyata

dari orang orang penjaga keamanan dan pembantu lo-sau cu itu

terdapat tokoh tokoh silat mandra guna, tokoh tokoh silat luar biasa

yang seperti: Raja Gila See It Hu, Raja Siluman Bu Bee Beng. Raja

Bisa Bak Liong, Raja Copet Sin Tauw Jin, Ai Tong Cun, Ai Lam Cun,

Ai See Cun, Ai Pek Cun dan Su-khong Eng

Sebenarnya Ai Tong Cun dan Su-khong Eng telah menjadi

tawanan Su-hay-tong-sim-beng, untuk mengikuti cerita yang lebih

jelas, kita menceritakan kembaii kejadian lama.

Pada tiga bulan yang lalu:

Ai Tong Cun dan Ai See Cun menyeludup masuk kedalam markas

su-hay tong sim beng digunung Lu San, dengan maksud

mengadakan pembunuhan gelap kepada bengcu persatuan itu.

Disaat mana, ketua Su hay tong sim benn Hong lay Sian ong

tidak tahu menahu, berkat pertolongan Ie Lip Tiong yang lebih

mengenal seluk beluk gerakan Partay Raja Gunung, drama

pertumpahan darah gelap dapat digagalkan.

Ai See Cun berhasil melarikan diri, Ai Tiong Cun jatuh kedalam

tangan Su hay tong sim beng.

Bapak Su hay tong sim beng diadakan, mereka mengutuk

perbuatan2 Ai Tong Cun dan sipembunuh gelap Su khong Eng.

Rapat meminta kepada Hong Say Sian-ong, agar bengcu Su hay

tong sim beng itu memberi hukuman yang setimpal kepada

kejahatan-kejahatan Su khong Eng dan Ai Tong Cun, menghukum

gantung kepada kedua orang tersebut.

Putusan yang tergesa-gesa dapat mengakibatkan buruknya

suasana, Hong lay Sian-ong tidak segera menutup sidang itu, dia

menskors persidangan untuk beberapa waktu, meminta kepada

publik dan para wakil partay-partay, golongan2 serta wakil-wakil

perkumpulan2 yang ada ditempat itu mengadakan perembukan

yang lebih masak, agar dapat memanfaatkan jalan sidang.

To Lip Tiong mendekati Hong lay Sian-ong, serta membisiki

Ongcu itu: “Bengcu, Siang-koan Wie tatsu dan Lu Ie Lam tatsu

mudah jatuh kedalam tangan mereka.”

Hong lay Sian-ong menganggukkan kepala. Dia berkata: “Cu In

Gie tatsu dan Can In Penrg tatsu juga berada didalam bahaya, besar

kemungkinan sudah jatuh kedalam tangan komplotan tukang beset

kulit manusia itu.”

Tatsu berarti Duta lstimewa.

Dari 13 Duta lstimewa Berbaju Kuning, satu diantaranya sudah

exsit, satu adalah duta baru yang belum mendapat kepercayaan

semua orang, satu sedang melakukan tugas jauh, dua sudah mati

dibawah kekejaman Partay Raja Gunung, dua sudah tertawan, dua

sedang melakukan pengejaran, dan sisanya, hanya empat orang

saja yang boleh dipakai sebagai tenaga kerja.

Duta lstimewa Berbaju Kuning yang sudah exsit adalah: Duta

Nomor Empat, si Hakim Hitam Can Ceng Lun.

Satu duta baru adalah Ie Lip Tiong, tokoh misterius yang baru

saja berhasil mencuci diri dari fitnah-fitnah jahat musuhnya. Dia

belum mendapat kepercayaan penuh, kecuali Hong-lay Sian-ong dan

berapa orang terbatas tokoh yang anti kepada dirinya, terutama

anak murid dari lima partay besar, masih meragukan etikat baik

jago muda dari Oey-san pay kita.

Dua Duta Istimewa Berbaju Kuning yang mati dibawah tanah

komplotan Raja Gunung adalah Duta Nomor Enam, Koan Su Yang

dan Duta Nomor Sembilan. Pendekar Lampu Besi, Thiat leng Hwesio.

Mereka gugur di kala menunaikan tugasnya sebagai penjernih

suasana, dikala hendak mengecek kebenaran bahwa Ie Lip Tiong itu

bukan si Pembunuh Gelap yang asli.

Duta Istimewa Berbaju Kuning yang masuk dalam perangkap

musuh adalah, Duta Nomor Delapan Lu Ie Lam dan Duta Nomor

Tujuh Siang koan Wie.

Duta2 yang melakukan pengejaran adalah Duta Nomor Tiga Toan

In Peng dan Duta Nomor Dua Belas Cu In Gie.

Duta Nomor Sebelas, si Pengemis Mata Mata Satu Tok-gan Sinkay

sedang melakukan dinas luar, dia tidak hadir ditempat itu.

Disana hanya ada lima Duta Istimewa Berbaju Kuning, mereka

adalah, Duta Nomor Satu Oe tie Pie seng, Duta Nomor Dua Koo

Sam Ko, Duta Nomor Lima Tong yang Jin jin, Duta Nomor sepuluh

Lam hay San jin dan Duta Nomor Tiga Belas Ie Lip Tiong

Tidak sedikit orang-otang yang mendukung duduknya Ie Lip

Tiong sebagai Duta Nomor Tiga Belas, hal ini bukan berarti

mendapat dukungan penuh, tidak sedikit juga dari mereka yang

menolak adanya kejadian itu

Berhubung Hong-lay Sian-ong pernah menerima budi sipemuda,

kepercayaannya tidak akan luntur lagi. Ie Lip Tiong dianggap

sebagai orang terdekat, dia mempunyai maksud untuk menjadikan

pemuda itu sebagai calon pengganti bengcu Su-hay tong-sim-beng.

Apa yang dipikirkan oleh Hong lay Siau ong tentu menjadi pikiran

Ie Lip Tiong, mereka mempunyai satu pandangan yang sama.

Disaat itu, waktu istirahat telah selesai, sidang dibuka kembali.

Hong lay Sian ong berkata kepada semua orang.

Setelah mendapat waktu yang cukup, para wakil dipersilahkan

memberi saran2 baru.

Orang pertama yang angkat bicara adalah wakil Siauw lim pay It

ie Tay su: “Kami atas nama Siauw lim pay meminta dengan sangat,

agar Su hay tong sim beng memberi putusan yang tepat, dengan

cara menggantung Ai Tong Cun dan Su-khong Eng.”

Hong-lay Sian ong menganggukkan kepala.

It ie Tay su selesai mengucapkan suara partay Siauw lim pay, dia

kembali ketempat duduk yang semula.

Giliran wakil partay Bu tong pay yang mengeluarkan pendapat.

“Mengingat kedudukan partay kami sebagai korban terbesar dari

pembunuhan2 gelap yang dilakukan oleh Su khong Eng, menimbang

pentingnya membina suatu dunia persilatan yang aman dan

makmur, mengikuti petunjuk semboyan dan motto Su hay tong sim

beng yang bertekad melenyapkan semua kejahatan-kejahatan,

dengan ini, kami, semua anak murid Bu tong pay mengajukan suatu

tuntutan, yaitu: Segera menghukum penjahat penjahat kaliber besar

yang seperti Ai Tong Cun dan Su khong Eng. Sekian.”

Demikian suara dari wakil Bu tong-pay.

Beng-cu Su hay-tong-sim-beng, Hong-lay Sian-ong dapat

menerima saran itu, dia mempersilahkan wakil tersebut duduk

kembali.

Demikian seterusnya, para wakil dari partay dan golongan2 yang

bernaung dibawah panji kebesaran Su-hay tong-sim-beng

mengemukakan pendapat mereka.

Rata2 orang2 itu meminta segera menghukum dua tertuduh.

Tidak seorangpun yang bersedia menjadi pembela Ai Tong Cun

dan Su-khong Eng.

Suara kemarahan umum tidak terkendalikan.

“Bunuh Ai Tong Cun.”

“Bunuh Su-khong Eng.’*

“Gantung Ai Tong Cun.”

“Gantung Su-khong Eng.”

“Basmi komplotan pembunuh itu.”

“Beri hukuman yang setimpal kepada mereka.”

“Hutang darah harus dibayar dengan darah pula. Darah lima

partay kami tidak boleh dibuang secara percuma.”

Demikian meluapnya kemarahan para wakil dari partay2 dan

golongan2 itu, sehingga terjadi sedikit kepanikan diruang sidang Su

hay tong sim beng.

Tok…. Tok…. Tok….

Hong lay Sian ong menutup acara perdebatan dan mrngetuk palu

kebesaran Su tong sim beng

Dengan suara yang geram, setelah dia menghembuskan

napasnya dalam2, Hong-lay Sian ong memberi putusan: “Bukan

maksud Su hay-tong-sim-beng untuk melakukan pembunuhan,

demikian kepada kawan seperjuangan, demikian pula terhadap

musuh tidak sehaluan. Motto kami menegakkan keadilan dan

kebenaran, menciptakar suasana yang tenang dan tentram, serta

damai dan kasih diantara sesamanya. Kita tidak dapat

membenarkan tindak tanduk partay Raja Gunung, kita tidak

rnembenarkan pembesetan2 kulit manusia. Kita berhasi! menawan

dua diantara otak komplotan jahat itu. bilamana musuh ini bersedia

memisah kebenaran, bersedia diajak kerjasaama, bersedia berjalan

disatu garis yang sudah ditetapkan oleh Su hay tong sim beng, kita

tidak bersedia membunuh mereka. Apa mau dua otak tukang beset

kepala manusia ini berkepala batu, mereka tutup mulut tidak

bersedia membocorkan komplotan mereka, tidak bersedia

membuang tingkah2 dan prilaku yang sesat. Tentu saja, diantara

anak buah saudara atau murid saudara atau sanak famili saudara,

atau sahabat baik saudara, dari jumlah pembunuhan yang di

lakukan oleh Su-khong Eng kepada mereka. Dari dendam saudara2,

kepada musuh yang tidak bersedia bertobat, kita wajib menarik

kesimpulan bersama, yaitu: membunuh segera kepada Ai Tong Cun

dan Su-kheng Eng. Demikian putusan bersama dari Su-hay tong

sim-beng.”

Sekali lagi publik berteriak:

“Hidup Su-hay tong sim-beng.”

‘Hidup Hong lay Sian ong.”

“Hidup bengcu kita.”

“Hidup keadilan dan Kebenaran”

Mereka dapat menerima putusan Kong lay Sian ong.

Inilah hati nurani para jago dan pendekar golongan kesstria dan

lurus.

Hong lay Sian ong menoleh kearah Duta Nomor Sepuluh Lam hay

San jin.

“Dipersilahkan Lam hay San jin membawa dua persakitan dan

buatlah persiapan untuk melakukan penggantungan.”

Pendekar Laut Selatan Lam hay San jin segera melaksanakan

perintah itu. Dia membawa Ai Tiong Cun dan Su khong Eng,

Langsung dibawa ke pusat lapangan. Setelah diikat keras2, dia

memandang kearah mimbar menunggu perintah berikutnya dari

sang bengcu.

Itu waktu, Ie Lip Tiong mendekati Hong-lay Sian ong. “Bengcu,”

katanya. “Siang koan Wie tatsu, Lu Ie Lam tatsu, Toan In Peng

tatsu dan Ciu In Gie tatsu masih belum kembali”

“Aku tahu.” Jawab Hong lay Sian ong singkat.

Ie Lip Tiong berkata lagi: “Lu Ie Lam tatsu sulit meloloskan diri

dari kekangan musuh.”

Lagi2 Hong lay Sian ong tidak mengabaikan peringatan itu, dia

hanya menganggukkan kepalanya, tanpa menoleh kearah Duta

Istimewa kita yang terbaru.

Maksud Ie Lip Tiong memberi peringatan itu adalah suatu kisikan

halus, agar sang bengcu tidak segera memberi keputusan yang

terlalu cepat. Hukuman mati kepada Ai Tong Cun dan Su-khong Eng

mempunyai ekor yang berantai. Duta Nomor Delapan sudah jatuh

kedalam tangan musuh, hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Duta

Nomor Tujuh Siang koan Wie belum tahu, bahwa Duta Nomor Enam

Koan Su Yang sudah mati, sedangkan mereka melakukan perjalanan

bersama, tentu saja Duta Nomor kita sudah terjerumus kedalam

tangan musuh, mana dia tahu bahwa Duta Nomor Enam itu adalah

duta palsu, itulah jelmaan Ai See Cun.

Duta Nomor Tiga Toan In Peng dan Duta Nomor Duabelas Cu In

Gie masih belum kembali dari tugas mereka untuk mengejar Siangkoan

Wie dan Koan Su Yang palsu.

Adanya duta2 itu diluar lingkungan sidang masih membahayakan

jiwa mereka.

Ie Lip Tiong tidak setuju kepada hukuman mati segera, dia tidak

berani mengacungkan pendapat itu.

“Bengcu,” Panggil lagi Ie Lip Tiong perlahan.

Kali ini Hong-lay Sian ong menoleh kearah sang duta baru. “Ada

apa?” Dia bertanya. sikapnya tidak puas, sangat tidak menaruh

perhatian.

Ie Lip Tiong mengheia napas “Bengcu,” Katanya lagi. “bilamana

kita membunuh mati kepada Ai Tong Cun dan Su-khong Eng, besar

kemungkinan bahwa mereka mengambil langkah yang sama,

membunuh mati duta2 kita yang jatuh kedalam tangan mereka.”

“Koan Su Yang tatsu dan Thiat-teng Hwe sio tatsu sudah mati

dibawah tangan mereka.” Berkata Hong-lay Sian-ong.

“Tapi Lu Ie Lam tatsu dan ketiga tatsu lainnya belum tentu sudah

dicelakakan oleh mereka.”

“Untuk melampiaskan kemarahan umum dan untuk membalas

dendam atas kematian Koan Su Yang dan Thiat Teng Hwe so, kita

harus segera membunuh kedua orang ini”

Hong lay Sian-ong menunjuk kearah Su-khong Eng dan Ai Tong

Cun.

“Mereka dapat melakukan pekerjaan yang sama dengan segera.”

Berkata Ie Lip Tiong.

“Maksudmu?” Sang bengcu memandang tokoh ajaib yang pernah

menggemparkan kota Tiang-an dan seluruh rimba persilatan itu.

“Bilamana bengcu bersedia memperpanjang jalannya hakuman

mati, jiwa duta2 kita yang jatuh kedalam tangan merekapun tidak

menderita bahaya kematian.”

Hong-lay Sian ong menolak dengan getas: “Tidak mungkin,”

Ie Lip Hong gagal memberi bujukan, dia kembali ketempat

duduknya, dengan kekecewaan yang tidak terhingga.

Pikirnya “Ternyata ketua Su-hay-tong-sim-beng yang didawa

dewakan ini, Kong Lay Sian ong mempunyai pikiran yang cupat”

Ie Lip Tiong berpikir lagi “Bila aku yang diberi hak untuk

mengatasi kesulitan ini, aku tidak segera menghukum kepada dua

terdakwa keras itu Aku lebih mementingkan keselamatan jiwa

pembantu pembantuku yang setia, didalam hal ini, jiwa2 Lu Ie Lam

sekalian.”

Ie Lip Tiong memang berjiwa seorang pemimpin, maka, belasan

tahun kemudian, setelah Hong lay Sian ong meninggal dunia,

kedudukan ketua atau bengcu Su hay tong sim beng itu jatuh

kepadanya.

Inilah cerita dilain judul.

Pengacara penggantungan kepada dua terhukum jatuh ketangan

Duta Nomor sepuluh Lam hay San jin.

Terlalu lama Lam hay San jin menunggu perintah sang bengcu,

mata sang Duta Nomor sepuluh itu belum lepas dari gerak gerik

Kong lay Sian ong.

Hong lay Sian ong berhasil menyisihkan Ie Lip Tiong, kini dia

turun dari mimbar, langsung menuju kearah dua persakitan.

“Bagaimana?” Bertanya bengcu Su-hay-tong sim beng.

Ai Tong Cun memeramkan mata, dia tidak menjawab pertanyaan

itu.

Su-khong Eng tidak kalah kepala batu, dengan senyumnya yang

memandang rendah, dengan wajah yang tidak gentar untuk

menghadapi kematian, dia juga tidak memberi jawaban.

“Kalian dengar,” Bujuk raju lagi Hong-lay Sian-ong kepada

mereka. “Bilamana kalian bersedia menyumbangkan tenaga, bila

kalian bersedia menyebut, dimana letak markas besar Partay Raja

Gunung itu, aku, Hong-lay Sian ong bersedia membikin

pertimbangan.”

Bujuk inipun diremehkan juga. Ai Tong Cun dan Su khong Eng

adalah tokoh2 golongan B dan C. Tidak mudah untuk mengubah

pendirian mereka.

“Baiklah.” Akhirnya Hong lay Sian ong menghela napas. “Kuberi

waktu lagi satu jam, agar kalian dapat berpikir lebih sempurna”

Ketua perserikatan Su hay tong sim beng itu kembali ketempat

duduknya.

Para wakil dari partay2 dan golongan2 itu menantikan jalannya

hukuman gantung dengan penuh kegelisahan.

Detik2 itu seperti berjalan agak lambat dari biasanya. Setengah

jam telah dilewatkan.

Tiba2…….

Hong lay Sian ong menoleh kearah Ie Lip Tiong.

“Ie Lip Tiong tatsu,” Dia memanggil ramah. “Bagaimana

firasatmu tentang pengunduran waktu penggantungan?”

Mata Ie Lip Tiong berputar-putar, dia memperlihatkan

senyumannya. Tidak menjawab pertanyaan itu.

Hong lay Sian ong sangat puas, ternyata, masih ada orang yang

dapat memadai kepintarannya.

Dia tidak memaksa. Kini mengalihkan pandangannya kearah Ko

Sam Ko.

“Koo Sam Ko tatsu, mengapa kau sangat gelisah?” Dia bertanya

penuh humor. “Adakah yang kau sesalkan?”

“Apa lagi yang harus ditunggu?” Berkata Koo Sam Ko bersungutsungut.

Duta Nomor Dua ini menjadi begitu tidak sabaran, cepat naik

darah dan uring2an.

Hong lay Sian ong memandang kearah Oe-tie Pie seng “Oe-tie

Pie seng tatsu ada lain pendapat?” Dia meminta sedikit kesan dari

sang Duta Nomor Satu itu.

“Tidak.”‘ Jawab Oe-tie Pie-seng singkat.

Hong-lay Sian-ong duduk ditempatnya seperti sediakala, rnatanya

lurus kedepan.

Te Lip Tiong dapat menangkap maksud tujuan Hong-lay Sianong,

dia memperhatikan diatas awang2.

Betul saja, tidak lama kemudian, mulai terlihat bintik hitam yang

bergerak datang.

Ie Lip Tiong mendekati ketuanya. “Bengcu,” Dia memanggil

perlahan. “Utusan yang kau nantilkan sudah datang.”

Hong-lay Sian-ong meiirik kearah delapan penjuru. “Dimana?”

Dia bertanya girang.

Disinilah letak kepintaran Hong-lay Sian-ong, dia tahu benar

bahwa didalam anggauta2 Su-hay-sim-beng masih ada mata mata

musuh. segala sesuatu gerakan dari kekuatannya tidak lepas dari

penilaian partay Raja Gunung, sengaja dia mengulur waktu, se olah

olah hendak menghukum Ai Tong Cun dan Su khong Eng, dengan

maksud sebenarnya mengundang utusan perdamaian musuhnya.

Dia memperhatikan jalan2 yang menuju kearah puncak Ngo lauw

hong.

Ie Lip Tiong telah menduga tepat isi hati sang bengcu, dia

pernah berhubungan langsung dengan komplotan tukang beset kulit

manusia itu. Didalam perkebunan teh Sang leng the chung, dia

pernah melihat adanya rajawali besar yang dapat ditunggangi

manusia, maka matanya ditujukan keatas.

Dia berhasil.

Bintik hitam itu telah datang cepat, itulah seekor burung rajawali

raksaksa, dengan penunggangnya seorang berkerudung hitam.

Kerudung hitam itu reolah olah sudah menjadi seragam Partay

Raja Gunung.

Orang berkerudung hitam diatas punggung burung tidak

meninggalkan binatang tunggangannya, dia menghadapi Hong lay

Sian ong dan berkoar: “Meminta perhatian bengcu Su hay tong sim

beng.”

Hong lay Sian ong mengerahkan tenaga dalamnya, dan memberi

jawaban: “Dipersilahkan tamu Su-hay tong-sim beng menghadap

langsung.”

“Terima kasih.” Orang itu menolak.

“Katakan maksud tujuanmu, aku Hong-lay Sian-ong.” Bengcu kita

memperkenalkan diri.

“Hong lay Sian-ong, begitu beranikah kau menghukum gantung

murid dan cucu murid lo-san-cu kita?” Berkata orang di atas

punggung burung rajawali raksaksa itu.

Mereka bicara saling sahut, satu di bawah dan satu diatas,

dengan burung tunggangan dari utusan partay Raja Gunung yang

terbang bergeser perlahan.

“Aku tidak mengerti.” Berkata Hong lay Sian ong membawakan

sikap bodoh.

“Aku adalah utusan Lo san cu,” memperkenalkan orang itu. “Atas

perintah Lo san cu, kalian dilarang menghukum murid dan cucu

muridnya.”

Seperti apa yang kita sudah maklumi, Ai Tong Cun adalah murid

Lo san cu. Su khong Eng adalah cucu murid kesayangan ketua

partay Raja Gunung itu.

“Mengapa tidak mau membuka tutup kerudung hitammu itu?”

Bertanya Hong-lay Sian ong kepada sang utusan Partay Raja

Gunung

“Hong lay Sian ong,” Panggil orang itu dengan bahasanya yang

kasar. “Kedatanganku hanya untuk berunding, bukan

memperlihatkan wajah.”

“Malu barangkali?”

“Huh, kedudukanku setaraf dengan apa yang kini kau punyai,

mengapa harus malu?”

“Mengapa kau tidak mau membuka tutup kerudungmu itu?”

“Atas perintah Lo san cu, kami, semua anggauta Partay Raja

Gunung sebelum berhasil mencapai kedudukan yang kokoh dan

kuat, belum diperkenakan untuk mempersilahkan wajah asli.

Demikian, agar kalian tidak takut terkencing-kencing.”

“Ha ha ha…” Hong-lay Sian ong tertawa. “Siapakah Lo san cu

itu?”

“Belum waktunya kau tahu?”

“Siapakah namamu?”

“Tidak perlu kau tahu.”

“Bagaimanakah kedudukanmu?”

“Kau menduduki salah satu dari duabelas Raja Silat golongan

putih dan aku juga menduduki salah satu dari duabelas Raja Silat

dari golongan hitam.”

Ternyata utusan Partay Raja Gunung mempunyai kedudukan

yang cukup tinggi.

Hong-lay Sian-ong berpikir, kemudian mengajukan

kecurigaannya: “Menurut apa yang kutahu, diantara Raja2 Silat itu,

tidak satupun yang tunduk kepada yang lain, kini kau ditugaskan

oleh orang yang menamakan dirinya sebagai lo-san-cu itu,

mungkinkah si Maha Raja Sesat Ngo-kiat Sin-mo Auw-yang Hui?”

Utusan Partay Raja Gunung diatas burung tidak membenarkan

jawaban itu, dia mengajukan pertanyaan lain “Hong-lay Sian-ong,

lupakah kepada kejadian lama?”

“Kejadian apa yang kau maksudkan?”

“Drama Ngo-kiat Sin-mo Auw yang Hui dan ketua partay Oeysan-

lay Ie Im Yang”

Ie Im Yang adalah ayah Ie Lip Tiong almarhum.

Hong-lay Sian ong menganggukkan kepalanya. “Inilah yang

membingungkan diriku,” dia berkata. “Seperti apa yang sudah

kuketahui, si Maha Raja Sesat Ngo-kiat Siu-mo Auw-yang Hui itu

sudah mati dibawah pedang Se Im Yang, dan, kecuali Ngo kiat Sin

mo Auw yang Hui, siapakah tokoh baru yang dapat menundukkan

kalian.”

“Hal ini tidak perlu kau tahu.”

Baik.” Berkata Hong-lay Sian ong. “Katakanlah maksud

kedatanganmu.’*

“Demikian perintah Lo san cu kami, bilamana kau membunuh

anak dan cucu muridnya, kamipun membunuh Lu Ie Lam dan

Siangkoan Wie”

“Hanya ini sajakah pesan kata2nya?'”

“Bukan Pesan berikutnya adalah bilamana kau membebaskan

mereka…..”

Orang berkerudung diatas burung itu menunjuk kearah Ai Tong

Cun dan Su-khong Eng.

Dan dia meneruskan pembicaraannya: “Lo san cu kami bersedia

membebaskan dua Duta Istimewa Berbaju Kuning kalian yang

berada ditangan kami.”

“Inilah cara tukar menukar tawanan perang.”

“Tepat.”

Hong-lay Sian-ong tidak segera memberikan jawabannya.

“Bagaimana?” bertanya lagi orang itu.

“Baik.” akhirnya Hong-lay Sian-ong menganggukkan kepala.

“Dimana kita mengadakan pertukaran orang?”

“Dipuncak gunung Kiu-kiong-san.”

“Aku tidak setuju.” Hong lay Sian ong menolak

“Maksudmu?”

“Letak Kiu-kiong-san terlalu jauh, bukan-mustahil kalian

menyembunyikan orang disekitar daerah itu. Saran ini tidak dapat

kuterima. Kami lebih setuju bila tawanan ditukar diatas puncak Han

yang-hong.”

Orang itu juga tidak dapat menerima saran Hong-lay Sian-ong,

katanya: “Puncak Han Yang-hong terlalu dekat dengan markas

kalian. Kami tidak dapat menerima.”

“Kau tidak percaya kepada janji Su liay-tong-im beng?”

“Ha ha….” Orang itu tertawa berkakakan, “Seperti halnya kalian

tidak percaya kepada kami, Partay Raja Gunung juga tidak percaya

kepada orang.”

“Partay Raja Gunung mana dapat disamakan dengan penegak

keadilan dan kebenaran Su-hay tong-sim beng.”

“Tugasku bukan untuk memperdebatkan persoalan ini.” Berkata

orang berkerudung diatas punggung burung itu. Sifatnya sangat

angkuh.

Burung rajawali raksasa yang membawanya masih berputar putar

rendah

Hong lay Sian ong berkata: “Maksudmu?”

“Letak tempat diganti di Telaga Pok-yang, bagaimana”

Atas saran ini, Hong lay Sian ong tidak keberatan. “Baik.” Dia

memberi kesanggupan

“Bagaimana dengan waktu harinya?” Bertanya lagi orang itu.

“Besok lusa. Setuju?” Hong lay Sian ong harus berlaku tegas dan

cepat.

“Baik. Selamat tinggal.” Orang itu menepuk punggung burung,

maka, sang binatang luar biasa mengeluarkan suatu pekikan

panjang, menukik lurus keatas dan terbang meninggalkan puncak

Ngo-lauw hong.

Sebentar kemudian, burung rajawali raksasa itu sudah menjadi

suatu bintik hitam, dan akhirnya tidak terlihat sama sekali.

Demikian perundingan itu sudah selesai

Demikian sedikit cerita dari hadirnya Ai Tong Cun dan Su-khong

Eng didalam markas besar Partay Raja Gunung.

Cerita ini disambung kembali.

Ie Lip Tiong berhasil tiba ditempat markas besar Partay Raja

gunung, inilah tugasnya yang terberat.

Sayang, dia belum tahu pasti, dimana letak tempat ini. Dia

didatangkan sebagai sebagai tawanan saja.

Ie Lip Tiong sedang memeriksa, kalau2 si Raja Silat Gila Sie It Hu

dan Raja Silat Siluman Bu Bee Beng itu sebagai Raja-raja silat yang

palsu, tapi dia kecewa, mereka adalah raja silat silat yang asli.

Kedudukan jago muda kita seperti telur diujung tanduk. Setiap

saat dapat hancur dan berceceran ditanah.

Markas besar Partay Raja Gunung ditempatkan disuatu daerah

yang terpencil dan terasing, disini mereka bebas mengadakan

permusyawarahan.

Ie Lip Tiong memperhatikan dua tawanan lainnya, mereka adalah

si Iblis gendut Keng Lie dan Iblis kurus Eng Hian.

Keng Lie dan Eng Hian adalah anggauta Partay Raja Gunung,

mengapa harus bertekuk lutut seperti itu?

Orang yang berjasa didalam penangkapan Ie Lip Tiong adalah si

Raja Silat Buaya Tho It Beng, kini dia membungkukkan setengah

badan dan bertanya kepada ketua Partay Raja Gunung: “Lo-san-cu,

semua jalan2 darah Ie Lip Tiong telah dibekukan. Agaknya terlalu

lama, perlukah memberi sedikit kebebasan?””

“Bebaskanlah segala totokan yang mengekang dirinya” Berkata

ketua Partay Raja Gunung itu.

Suaranya sangat lemah sekali, se olah olah orang yang

kehilangan tenaga. “Hendak kulihat, bagaimana keistimewaannya Itkiam

tin bu-lim Wie Tauw alias Ie Lip Tiong yang ternama, dapatkah

dia meninggalkan ruang Pok hauw-tong kita tanpa izin”

Ruang Pek hauw tong berarti ruangan Macan Putih, itulah nama

aula markas besar Partay Raja Gunung.

Tho It Beng menggerak gerakkan jari jemarinya, begitu cepat

sekali, tanpa banyak kesulitani, dia telah membebaskan totokan2

yang mengekang jago kita.

Ie Lip Tiong mendapat kebebasan bergerak. Tapi bukan berarti

mendapat kebebasan mutlak. Disana ada belasan jago

mandraguna. Salah satu dari mereka sudah cukup untuk

menundukkannya. Karena itulah, dia tidak berani banyak berkutik

Kini, arah sinar mata dari balik kerudung lo san cu terarah

kepada Keng Lie dan Eng Hian.

“Dua manusia bernyali kecil.” bentak lo san cu itu. “Bagaimana

pembelaanmu atas segala tuduhan2 yang ada?”

Suara bentakan Lo san cu dikeraskan sebesar mungkin, toch

masih tetap tidak bertenaga, seolah olah orang yang baru baik dari

penyakit berat.

Mungkinkah Lo san-cu baru baik sakit?!

Ie Lip Tiong sangat memperhatikan persoalan yang sekecil ini,

dengan demikian banyak berguna untuk pemecahan Partay Raja

Gunung dikemudian hari.

Tuduhan yang dinyatakan kepada Keng Lie dan Eng Hian adalah

Berkhianat kepada partay dan bersekongkol kepada musuh, bernyali

kecil, melarikan diri dari tugas yang partay berikan kepada mereka.

Dimasa mudanya, Keng Lie dan Eng Hian pernah dibabak

belurkan oleh kakek guru Ie Lip Tiong. Itu waktu, nama Sepasang

Iblis Gendut dan Kurus sudah menjadi buah tutur orang. Anak

kecilpun segera berhenti menangis, manakala nama Keng Lie, Eng

Hian atau julukan mereka disebut. Dari kejadian ini sudah menjadi

bukti yang nyata dan gamblang, betapa seramnya dua tokoh silat

ganas tersebut

Nyali dunia Kang-ouw telah diciutkan Sepasang Iblis Gendut dan

Kurus Keng Lie Eng Hian.

Walaupun demikian, pertemuan keng Lie dan Eng Hian dengan

Raja Silat Suci Hong Hian Leng berakhir dengan suatu drama yang

mengenaskan, dengan kepala bercucuran darah sepasang iblis itu

bertobat seribu ampun, dengan janji mengasingkan diri dan tidak

melakukan keganasan lagi. Manakala dia tidak menepati janji itu,

mereka akan menggorok leher sendiri.

Demikian Raja Silat Suci Hong Hian Leng memberikan

pengampunannya

Raja Silat Suci Hong Hian Leng adalah guru Duta Istimewa

Nomor Empat Can Ceng Lun.

Can Ceng Lun adalah guru jago muda kita Ie Lip Tiong.

Itulah kakek guru Ie Lip Tiong.

Dikala Ie Lip Tiong menderita fitnah tidak terlepaskan, Su hay

tong-sim beng telah memberikan putusan nekat dengan

menghukum pancung jago muda itu. Dengan tuduhan melakukan

pembunuhan2 kepada anak murid lima partay besar.

Orang yang mendapat tugas sebagai algojo adalah Can Ceng

Lun.

Disini letak kesulitan Can Ceng Lun. Demi keadilan dan

kebenaran, demi tugas dan demi jabatan yang dipikul olehnya, dia

wajib menghukum murid sendiri.

Tingkah laku dan pribadi Ie Lip Tiong telah diketahui benar. Dia

tidak percaya, bila mana sang murid sampai mau melakukan

kejahatan kejahatan seperti itu membunuh secara membabi buta

kepada setiap anak murid dari lima partay besar yang dijumpa

olehnya.

Hubungan guru dan murid itu bukan hubungan biasa, hukuman

keluarga ini wajib memaksa dia melepaskan Ie Lip Tiong.

Can Ceng Lun mengambil putusan nekat. Dia melanggar disiplin

dan memberi kebabasan kepada muridnya.

Dia melanggar sumpahnya sendiri

Karena itu, dia melepaskan jabatan sebagai Duta lstimewa

Berbaju Kuning dari gerakan Su-hay tong-sim-beng.

Hal ini dilakukannya segera. Dikala meninggalkan gunung Lusan,

Duta Nomor Delapan Lu Ie Lam hampir mengalami hari naas,

hampir merasakan pembesetan kulit manusia.

Orang yang menjadi becking dari komplotan pembesetan kulit

manusia adalah Keng Lie dan Eng Hian.

Hanya menggunakan gertak sambel, dengan memperlihatkan

tipu2 Raja Silat Suci Hong Hian Leng, Can Ceng Lun berhasil

mengusir Keng Lie dan Eng Hian. Mencegah kematian. Lu Ie Lam.

Keng Lie dan Eng Hian melarikan diri, mereka masih takut

kepada sumpah janji yang pernah diucapkan kepada Hong Hian

Leng. Demikian mereka meninggalkan tugas yang Lo san cu berikan

kepadanya.

Cerita pendek diatas adalah kupasan dari kejadian2 lama,

mengapa sampai terjadi tuduhan2 kepada Sepasang Iblis Gendut

dan Kurus itu.

Tuduhan berkhianat kepada partay, bersekongkol dengan musuh,

bernyali kecil dan melarikan diri dari tugas terlalu berat.

Lo-san-cu memberi kesempatan kepada mereka untuk membuat

pembalasan.

Untuk mengikuti gambaran yang lebih jelas lagi. para pembaca

lebih baik meneliti buku silat dibagian depan dengan judul nama

PEMBUNUH GELAP.

Iblis Gendut Keng Lie membuat pembelaan lisan: “Lo-san-cu

harap menjadi maklum, kami pernah berjanji dengan sumpah berat,

tidak berjalan kembali didalam rimba persilatan. Hal ini telah kami

beritahu kepada lo-san-cu, sebelum kami menjadi anggauta Partai

Raja Gunung.”

Iblis kurus Eng Hian juga membela diri. katanya: “Lo-san-cu

maklum, setiap orang wajib memegang janji, apa lagi sumpah yang

tidak boleh diingkari, dimisalkan orang yang tampil dihari itu bukan

murid Hong Hian Leng, matipun, kami tidak akan melarikan diri.”

Dengan pembelaan-pembelaan yang seperti itu, seolah-olah,

Sepasang Iblis Gendut dan Kurus sangat memegang janji dan

sumpah mereka.

Didepan Hong Hian Leng, mereka pernah bersumpah untuk tidak

menginjakkan kakinya lagi kedalam dunia persilatan.

Kenyataan tidaklah demikian, mereka telah memasuki anggota

Partay Raja Gunung dan membantu usaha usaha pembesetan kulit

manusia.

Inilah suatu pelanggaran.

Untuk mencuci diri sendiri, mereka masih hendak menyangkal

kepada kenyataan. Tentu saja dalih alasan yang sialic untuk

diterima.

Terdengar lo-san-cu yang mengeluarkan suara dari hidung:

“Seperti inikah pembelaan kalian?”

Sepasang Iblis Gendut dan Kurus saling pandang, alasan apa lagi

yang dapat dikemukakan? Mereka tidak mempunyai alasan alasan

yang lebih baik dari alasan tadi.

“Kami meminta pengampunan lo-san-cu.” Demikian kedua orang

itu bertekuk lutut kembali. Suaranya menjadi tidak lancar.

Sebagai seorang pemimpin dari partay besar, lo-san-cu wajib

memiliki kewibawaannya, memberi pengampunan kepada sepasang

Iblis Gendut dan Kurus berarti menanam bibit ketidakpuasan,

memberi alasan bagi mereka yang melanggar disiplin Partay Raja

Gunung.

Terlihat orang berkerudung itu memandang seluruh anak

buahnya, kemudian berteriak keras: “Dimana Ketua Dewan

Mahkamah Agung kita?”

Seseorang berjenggot panjang, berkumis putih dengan matanya

sepasang tidak disertai alis, sepintas lalu, kelihatannya sangat lucu.

Dia tampil kemuka, segera dia memberi hormat. “Toan Bie selalu

siap ditempat pos kedudukan yang ada.”

Orang tua tidak beralis adalah ketua Mahkamah Agung dari

Partay Raja Gunung namanya Toan Bie.

Lo san cu berkata kepadanya, “Bagaimana hukuman kepada

anggauta yang lari dari dinas tugasnya?”

Ketua Mahkamah Agung Toan Bie memberikan jawabannya yang

sangat hormat: “Hukuman kepada anggauta kita yang melarikan diri

diri tugas yang diberikan kepadanya adalah: Bertanding dengan

harimau dikandang sang binatang. Orang persakitan segera bebas

dari tuduhan, bilamana dia berhasil mengalahkan sang lawan.”

“Dengar?” Bertanya lo-san cu kepada Keng Lie dan Eng Hian.

“Kalian masih mempunyai kesempatan membela diri, bilamana

dapat mengalahkan binatang2 itu. Berusahalah sedapat mungkin.”

Kemudian, ketua Partay Rad, Gunung itu mengeluarkan perintah:

“Segera jalankan hukuman”

Ketua Mahkamah Agung Toa Bie disertai dengan 4 laki berbadan

tegap, berjalan mendekati Keng Lie dan Eng Hian. Mereka hendak

membawa dua orang persakitan itu kearah kandang harimau

Lebih takut dari menghadapi dunia kiamat, Wajah Sepasang Iblis

Gendut Kurus berkeringat keras, menggigil dingin, keringat2 sebesar

kacang kedele berjatuhan ditanah.

Lo san cu meninggalkan bangku kebesarannya, memandang Ai

Pek Cun dan berkata “Ai Pek Cun, tutup kembali sepasang mata Ie

Lip Tiong dan ajak dia ketempat hukuman kandang harimau.”

Perintah itu segera dijalankan. Untuk mencegah terjadinya pecah

rahasia markas besar mereka orang tawanan Partay Raja Gunung

patut mendapat tutupan mata gelap.

Ai Pek Cun mendekati Ie Lip Tiong, di-awir awirkannya kain

penutup mata yang berwarna hitam itu, dengan suara yang tidak

enak didengar, dia mengeluarkan ejekan: “Hayo Kemari. Jangan

mencoba untuk melarikan diri ya”

Didalam keadaan yang seperti itu mungkinkah Ie Lip Tiong dapat

melarikan diri?

Dibawah pengawasan yang sangat ketat, dibawah giringan jago2

kelas istimewa, melarikan diri adalah suatu perbuatan yang sangat

bodoh.

Ie Lip Tiong maju kedepan dengan tenang membalikkan badan,

membiarkan Ai Pek Cun menutup kembali sepasang matanya.

“Langsung maju kedepan,” Ai Pek Cun memberi perintah. “Dan

taatilah segala perintahku.”

Ie Lip Tiong mengikuti petunjuk-petunjuk itu. Dia berjalan

dengan tenang. Untuk menghilangkan kecanggungan suasana yang

seperti itu, ditengah jalan ia berkata: “Lo-tong kee. bagaimana kau

bahwa aku mengikuti dibelakang dirimu?”

Ai Pek Cun tertawa dengan dingin dia berkata: “Tidak perlu

bohong kepadamu, terus terang kukatakan, bahwa aku tidak tahu

bahwa kau mempunyai nyali begitu besar membayangi aku,

sehingga ditempat yang terakhir.”

“Bagaimana mereka mengetahui penyamaranku?” Bertanya lagi

Ie Lip Tiong.

“Mudah saja, aku tidak tahu bakal dibayangi olehmu. Tapi

kewaspadaanku terhadap sesuatu yang merugikan golongan, belum

pernah dan tidak pernah lepas. Perhitunganku bukan mustahil

terjadi, karena itu, setiap tiba ditempat pos-pos tertentu, aku

memberi tahu kepada mereka, agar markas besar kami tetap

terpelihara rahasia. Demikianlah mereka mencurigaimu. Ini yang

dinamakan rusa yang diburu, harimau dibelakangmu.”

“Hebat.” Ie Lip Tiong memberikan pujian “Kau memang seorang

pandai yang cukup kuat untuk dijadikan tandingan.”

“Ha ha ha ha….” Ai Pek Cun tertawa puas.

Dengan dituntun oleh Ai Pek Cun, Ie Lip Tiong diajak ketempat

kandang harimau.

Berjalan lagi diantara 50 langkahan, Ai Pek Cun terhenti.

Terdengar suara gerendel dibuka, seperti memasuki ruangan

terkunci kuat.

Hati Ie Lip Tiong berdebar keras

“Awas.” Ai Pek Cun memberi peringatan. “Jalan mulai menurun

kearah bawah. Kau harus berhati hati melangkah. jangan sampai

jatuh.”

Ie Lip Tiong dituntun memasuki tangga batu yang menurun.

Satu, dua, tiga, empat…. sepuluh, dua puluh… tiga puluh empat

puluh.

Tepat empat puluh baru undakkan, jalan mulai mendatar

kembali.

“Lo tong kee” berkata Ie Lip Tiong. “Aku telah mencium bau yang

sangat anyir. Tentu kita telah tiba ditempat tujuan”

“Betul” jawab Ai Pek Cun sangat singkat.

Sret….

Kain hitam penutup mata sudah ditaruk. Ie Lip Tiong mendapat

kebebasan melihat pemandangan ditempat itu.

Dia telah berada didepan sebuah arena yang berbentuk bulat

relur, dengan diameter pendek puluhan dan diameter panjang

seratus meter, kurang lebih demikian, bentuk arena dilingkari oleh

tembok tinggi, disekeliling tempat itu terdapat banyak tempat

duduk. Ie Lip Tiong berada didepan salah satu dari tempat2 duduk

itu.

Inilah arena pertandingan binatang di jaman kuno.

Memandang pusat arena, Ie Lip Tiong mengeluarkan keluhan

napas dingin.

Disana, dibawah kaki Ie Lip Tiong, bertiarap seekor harimau

belang, rata2 membawakan sikap mereka yang siap menyerang.

Sembilan ekor harimau belang itu, dengan sepasang kaki2

mereka, setelah menyaksikan kedatangannya serombongan yang

bukan dari golongan hewan, iitulah para auggota Partay Raja

Gunung. Setelah memberi pancaran sinar mata yang sangat

bermusuhan, para binatang buas itu mulai mengorek-ngorek tarah.

Debu mengulak ditempat itu.

Iring2an lo-san-cu sudah berada dikeliling arena, masing2 sudah

mengambil tempat duduk.

Sepasang Iblis Gendut dan Kurus, Keng Lie dan Eng Hian juga

sudah berada ditempat itu.

Auman harimau belang bergema diseluruh arena lapangan

tersebut.

Ketua Mahkamah Agung Toan Bee beserta anggauta2nya sudah

membuka sebuah pintu rahasia dan mendorong dua orang

pesakitannya.

Keng Lie dan Eng Hian hendak menolak pelaksanaan yang seperti

itu, tapi mereka tidak berdaya sama sekali, kedua tangan dan kaki

mereka berada didalam keadaan terikat, tidak dapat berkutik sama

sekah.

Sebelum menutup pintu rahasia yang menuju kearah arena

harimau belang itu, Toan Bie memutuskan ikatan kaki Keng Lie dan

Eng Hian.

Hal inipun tidak banyak membantu kedua Iblis tersebut, dengan

sepasang tangan tertelikung kebelakang, dengan tali2 yang kokoh

dan kuat mengekang kebebasan sepasang tangan itu mungkinkah

dapat menandingi 9 ekor harimau yang ganas?

Dilihat sepintas lalu, sembilan ekor harimau belang itu sudah

lama tidak diberikan makanan, maka rasa rangsangannya kepada

bau napas manusia sangat tajam sekali, pintu rahasia untuk

melepas dua orang tawanan agak tersembunyi, toch mereka

mengalihkan pandangan matanya kearah tempat ini, hidungnya

diendus-endus, seolah olah hendak mencari tempat yang tepat.

Keng Lie dan Eng Hian menahan napas mereka, sedapat mungkin

tidak terendus oleh binatang2 ahli makan manusia itu.

Ie Lip Tiong diberi kesempatan untuk menonton pertandingan

besar, dua orang manusia yang berada didalam keadaan tangan

terikat, diberi kewajiban bertanding dengan sembilan ekor macan

ganas yang sudah lama lapar.

Inilah suatu ketidak adilan.

Betul2 jago muda kita tidak dapat menahan amarah, dia

mengadakan protesnya, dengan suara yang keras, dia berteriak:

“Tidak adil… Tidak adil….”

Lo san cu memandang kearah siperauda, dengan suaranya yang

tidak bertenaga besar itu, dia mengajukan pertanyaan: “Apa yang

kau maksudkan tidak adil itu?”

Ie Lip Tiong memberikan javvaban, suaranya masih gagah:

“Tidak adil sangat tidak adil sekali. Dua lawan sembilan Inilah ke

tidak adilan. Tangan mereka ditelikung ke belakang… Inipun tidak

adil…. mereka tidak diberi kesempatan bergerak. Dengan sepasang

tangan terikat seperti itu, mungkinkah dapat menandingi sembilan

ekor binatang kurang ajarmu?”

“Ie Lip Tiong,” Berkata Lo-san cu sabar “Kau terlalu meremehkan

ilmu kepandaian Sepasang Iblis Gendut dan Kurus yang pernah

menggemparkan rimba persilatan”

“Aku cukup tahu, sampai dimana keganasan harimau yang

berada didalam keadaan lapar. Karena aku pernah mengalami

kejadian yang seperti ini.” Berkata Ie Lip Tiong, dia tidak mau

menarik kembali protesnya yang sudah diproklamirkan.

“Mereka masih mempunyai sepasang kaki bebas, bukan?”

Berkata si lo-san-cu

“Kaki2 si Iblis Gendut dan Iblis Kurus hanya dapat digunakan

untuk melarikan diri” Berkata Ie Lip Tiong

“Tidak ada yang melarang mereka untut menyepak harimau itu.”

Ie Lip Tiong bungkam

Lo san cu berkata lagi: “Apa lagi, mengingat keadaan posisi ke

dudukan Sepasang Iblis Gendut dan Kurus itu, mereka bukanlah

kawanmu. Tidak guna kau membela atau menjadi wakil berteriak

ketidak adilan.”

Perdebatan itu dicetuskan bilamana perlu, dan disimpan dalam,

bilamana tidak perlu. Putusan lo san cu tidak bisa diganggu gugat,

karena itulah, tiada guna Ie Lip liong meneruskan perdebatannya.

Hidung binatang buas itu lebih tajam daripada hidung manusia,

sebentar kemudian, harimau2 belang mulai merayap kearah dua

mangsanya.

Iblis Kurus Eng Hian mendekap ditempat gelap, tidak berani

menghadapi kenyataan yang seperti itu.

Iblis Gendut Keng Lie memandang kearah lo-san cu, karena

menganggap dirinya sangat berjasa didalam Partay Raja Gunung,

dia masih mengharapkan pengampunan dari ketua partay tersebut.

Harapan lain sudah tidak ada, dia berteriak: “Lo-san-cu”

Inilah penyakit bagi dirinya. Sembilan ekor harimau itu tidak

pernah mengadakan pllihan kepada mangsa mangsa mereka. Tapi,

mereka lebih senang dan lebih tertarik kepada benda yang dapat

bergerak atau dapat berteriak. Iblis kurus Eng Hian diam

mendekam, ini tidak menarik perhatian. Sang lblis Gendut Keng Lie

berkoar, membuka suaranya yang lebar, tentu saja lebih menarik

perhatian. Secara serentak, binatang2 itu menerjang kepadanya.

Kecepatan binatang binatang buas ini sangat mengejutkan.

Keng Lie berteriak seram, tubuhnya mencelat tinggi, dengan cara

seperti ini, dia menghindari terkaman.

Sungguh sayang kedua tangannya tidak mempunyai kebebasan,

maka dia tidak bisa membunuh atau melukai dari binatang binatang

itu. Setelah mencelat tinggi, dia menginjakkan kaki ditempat lain,

dikala jatuh, hampir dia ngusruk kedepan.

Disaat itu, harimau harimau belang sudali membalikkan badan

mereka, tetap mengincar mangsanya.

Keadaan Keng Lie begitu menyeramkan.

Ternyata, seseorang yang berlompat atau berlari, mereka perlu

mengadakan keseimbangan badan dan untuk mempertahankan

adanya keseimbangan badan ini, adanya sepasang tangan sangat

perlu sekali.

Alat yang dapat digunakan mengimbangi kestabilan badan itu

berada didalam keadaan terikat, tentu saja kekuatan gerak Keng Lie

banyak terganggu. Hampir2 dia sulit bergerak lagi.

4 ekor macan belang menterang kearah Keng Lie.

Si Iblis Gendut halus bergulingan lebih dahulu, setelah itu dia

melejit jauh, betapa gesitnya dia bergerak, masih kalah gesit

dengan gerakan bersama dari 4 ekor harimau belang itu. Salah

seekor jari-jari kuku tajam dan sang binatang buas membuat

goresan luka yang cukup berat. Darah merah muncrat ditanah.

Keng Lie meringis dan lari lagi.

Bau darah semakin mengganaskan para binatang liar, serangan2

para harimau belang semakin gencar.

Dari sembilan ekor harimau belang yang dikurung dalam arena

pertandingan maut tersebut, 4 menyerang Keng Lie dan 5

diantaranya masih mengendus-endus bau lain yang belum dicapai

oleh mereka.

Eng Hian mendekap dan menyudutkan dirinya seperti itu, tidak

berani dia bernapas ini sangat menguntungkan dirinya. Maka, untuk

beberapa waktu saja, dia dapat bebas dari gangguan para hewan

liar itu

Bau amis darah Keng Lie lebih keras dari bau pernapasan dan

keringat Eng Hian.

Auuuugggg….. Auuungggg….. Auunggg…. Auungggg….

Kelima ekor itu berganti arah, meninggalkan Eng Hian dan

menerkam kearah Keng Lie.

Celakalah kedudukan si iblis Gendut Keng Lie itu. Hanya

menghadapi 4 ekor saja sudah kewalahan, apa lagi disergap

sekaligus, bagaimana dia dapat mempertahankan diri?

Keng Lie berlompat, bergulingan ditanah dan berlari keras, toch

tidak berhasil menghindari macan yang datang dari 9 penjuru angin.

Terdengar satu jeritan panjang yang menyayatkan hati, dua ekor

harimau belang berhasil menerkam manusia gendut tersebut.

“Aaaaaaaaa……”

Disusul oleh binatang2 lainnya, sembilan ekor harimau membagi

bagi rejeki, mereka menyobek nyobek dan menyayat nyayat daging

beserta isi dalam Keng Lie.

Demikian, tamatlah riwayat hidupnya orang yang tidak

memegang janji.

Daging2 itu berceceran disekitar tempat arena lapangan

pertandingan maut.

Suatu pemandangan yang cukup membangunkan bulu tengkuk.

Terdengar suara kunyahan tulang yang gemeretuk, sembilan

ekor harimau itu mulai menggigit talang2 tubuh dan batok kepala

lblis Gendut Keng Lie.

Suatu bukti yang nyata sekali, bagaimana akibatnya seseorang

yang sangat senang kepada pembesetan kulit manusia. Keng Lie

yang sudah berulang kali, mungkin ratusan atau ribuan korban yang

mati dibawah tangannya, dia harus mati dibawah kekejamannya

binatang2 peliharaan si Raja Gunung.

Tidak seorangpun yang menyayangkan kejadian itu, mengingat

kekejaman Sepasang lblis Gendut dan Kurus didalam rimba

perpersilatan.

Kematian yang sudah seharusnya.

Pada suatu hari, setiap manusia hidup wajib meninggaikan badan

kasarnya. Inilah yang dinamakan kematian.

Tidak semua kematian orang itu sama, ada yang meninggalkan

kesan baik dan dikenang orang. Ada juga yang mendapat caci maki

dan dibenci, didendam lawan.

Kematian Keng Lie tidak perlu disayangkan juga tidak perlu

dibuat urusan.

Yang kurang menyedapkan adalah: Kebuasan para binatang yang

sangat keterlaluan itu. Bukan saja 9 ekor harimau belang yang

buas-buas itu patut dicela. Para pemelihara algojo-algojo itupun

tidak mempunyai rasa simpatik, mereka turut membunuh secara

tidak langsung.

Otak dari terjadinya pembunuhan seperti ini adalah si Raja

Gunung Lo-san cu.

Dendam Ie Lip Tiong kepada lo-san-cu semakin besar. Tiba-tiba

dia bangkit berdiri.

Ai Pek Cun selalu mendampingi pemuda itu, melihat gerakan

yang kurang baik dari Ie Lip Tiong, dia menekan pundak pemuda

kita. Katanya: “Duduklah biar tenang.”

Mungkinkah Ie Lip Tiong dapat duduk tenang?

Sedari tadi, dia sedang berusaha, bagaimana menggagalkan

usaha pembesetan kulit dan daging, serta penggergagotan tulang

manusia yang seperti itu.

Dia tidak berhasil menemukan cara yang terbaik.

Manakala darah muda dari sesuatu generasi yang baru

menampilkan dirinya bergolak, maka terjadilah sesuatu kekuatan

hebat yang tidak terlihat.

Ie Lip Tiong tertahan duduk, tapi secepat itu pula, dia sudah

lompat, menerjunkan dirinya kedalam arena pertandingan maut,

langsung menghampiri Iblis kurus Eng Hian. Dia harus mencegah

terulangnya kembali drama pembunuhan terkejam, sebelum para

harimau itu selesai menggegares daging dan tulang Keng Lie.

“Heiii…..”

“Eh…..”

“Aaaaaaaaa….”

“Apa yang hendak dilakukan olehnya?”‘

Diatas panggung arena pertandingan maut itu, terdengar

teriakan2 kaget dari orang2 Partay Raja Gunung.

Mereka tidak mengerti, mengapa Ie Lip Tiong mau melakukan

pekerjaan nekat itu.

Kejadian yang berada diluar dugaan semua orang, juga berada

diluar dengan Lo san-cu dan Ai Pek Cun.

Rata rata mereka bangkit dari tempat duduknya, untuk rnelihat

dengan terlebih jelas lagi, bagaimana dan apa yang Ie Lip Tiong

lakukan didalam arena binatang binatang buas itu.

Ai Pek Cun mendapat tugas menjaga Ie Lip Tiong, kini dia

kehilangan orang tawanannya, inilah suatu kelalaian. Mengingat

peraturan peraturan dari sang guru yang sangat keras, dia sudah

siap terjun kebawah, menangkap Ie Lip Tiong kembali.

Lo san cu tahu akan maksud yang dikandung oleh murid itu,

cepat cepat dia mencegah: “Ai Pek Cun, tidak perlu.”

Inilah suatu pengampunan bagi Ai Pek Cun. Dia kembali berdiri

tenang, memandang bayangan Ie Lip Tiong yang menuju kearah

Eng Hian.

Lo san cu mengeluarkan ocehan seorang diri: “Kita dapat

menonton pertandingan yang lebih seru dan lebih hebat.”

Itu waktu, daging Keng Lie boleh dikata sudah berpindah

kedalam perut perut 9 ekor harimau belang.

Tidak ada lagi rejeki yang harus dibagi2. Tapi para binatang buas

itu belum puas, mereka tidak kenyang dengan gumpulan daging

Keng Lie saja, jumlah mereka cukup banyak, senbilan jiwa, dan

santapan itu hanya satu saja, tentu kurang menyenangkan.

Beberapa ekor sudah mulai mencari jejak Iblis Kurus Eng Hian

yang belum ditemukan.

Eng Hian tidak mungkin tidak mengeluarkan napas, dan

keringat2 yang mengetel jatuhl seperti lokomotip beruap itu

membawa bau manusia yang merangsang.

Tiga harimau sudah mendekati lagi.

Disaat itu, Ie Lip Tiong juga sudah tiba. Mendampingi Eng Hian.

Bau manusia bertambah keras.

Bayangan Ie Lip Tiong tertera jelas. 5 ekor harimau mendekati

mereka.

Ie Lip Tiong masih bebas merdeka, totokan totokan jalan darah

yang dilakukan oleh si Raja Buaya Tho It Beng kepadanya telah

dibebaskan kembali, sepasang kaki dan sepasang tangannya dapat

digunakan, karena itu, dia berani memasuki gelanggang

pertandingan manusia dan harimau.

Seekor harimau mendekati jago kita, langsung menerkam dan

menubruk.

Ie Lip Tiong mengendekkan pundak, bergeser kesamping, hanya

sedikit, tapi cukup untuk mengelakkan serangan binatang itu, cepat

sekali, tangannya diraihkan, disaat itu, tubuh harimau belang lewat

disisi, tangan itu membidik tepat, berhasil menangkap ekor dari

siganas.

“Wing…. Bekkk”

Ie Lip Tiong membanting dan melempar binatang tidak beradap

itu.

Begitu kebetulan, jatuhnya harimau yang dilempar oleh jago

muda ini, tepat mengenai lantai arena pertandingan, saking

kerasnya tenaga yang Ie Lip Tiong kerahkan, tidak ampun lagi,

kepala itu hancur dan remuk, dengan isi otak berceceran, tamallah

jiwanya sang binatang.

Dilain pihak, Ie Lip Tiong sudah menampar tiga harimau belang

lainnya.

Tangan sipemuda begitu gesit, dengan cara yang sama, dia

menangkap buntut harimau yang agak lengah, pelemparan yang

kedua ini lebih cepat lagi, dijatuhkannya didepan kaki, sebelum dia

melepaskan ekor binatang itu, sikepala belang sudah remuk ditanah

Dua ekor sekali tepuk

Ie Lip Tiong melepaskan ekor korbannya.

Hampir para penonton bertepuk sorak, bila tidak teringat, bahwa

Ie Lip Tiong itu adalah orang tawanan mereka..

Betul-betul Ie Lip Tiong menggagahi arena pertandingan, tidak

seekor lagipun dari sisa2 harimau belang itu yang berani

mendekatinya.

Rata-rata, mereka sedang berpikir, seorang manusiakah yang

satu ini? Mengapa mempunyai kehebatan yang menyeramkan.

Dengungan2 marah dari 7 ekor harimau belang itu

berkumandang keras.

Ketua Partay Raja Gunung lo san cu mengeluarkan suara yang

sangat menghina: “Ie Lip Tiong, hanya bisa membunuh mereka

secara bergilir itu sajakah ilmu kepandaianmu?”

Dan 7 ekor harimau belang yang masih ada, dua menubruk

kearah Ie Lip Tiong, lima menerkam kearah Iblis kurus Eng Hian.

Ie Lip Tiong tidak berlaku sungkan, dia juga bergerak.

kecepatannya tidak kalah dari kecepatan meong meong belang yang

besar itu. Dengan satu suara raungan yang memekakkan telinga,

dia bergerak maju, dengan demikian, dia berada di tengah-tengah 7

ekor binatang buas yang hendak melakukan terjangan

Lagi2 langkah yang mengejutkan semua penonton, bukan para

anggauta partay Raja Gunung saja yang terkejut, 7 ekor harimau

belang itupun tercengang karenanya, mereka lebih bingung,

makhluk dari manakah yang mempunyai sifat suara seperti ini?

Tarnyata, suara gerungan Ie Lip Tioig itu melebihi kekerasannya

auman para binatang belang.

Karena itu, mereka ragu2 meneruskan tubrukkannya.

Inilah kesempatan, inilah yang Ie Lip Tiong harapkan. Sepuluh

jarinya memain lancar, menyerang 7 ekor macan belang.

Berbarengan pada serangan Ie Lip Tiong itu, 7 ekor macan

belang menubruk kearahnya.

Terdengar suara pletak, pletak yang seperti petasan, pertarungan

sengit itu segera terhenti. 7 ekor harimau belang saling

bergelimpangan, mereka jatuh dikeliling Ie Lip Tiong.

Jago kita memperlihatkan senyuman ewah nya, didalam satu

gebrakkan dia menjatuhkan 7 ekor binatang buas

Inilah suatu jawaban atas cemoohan Lo-san-cu yang berani

memandang rendah kepada dirinya.

Tujuh ekor macan berserakkan ditanah lapangan, tidak

seekorpun yang mati, mereka masih menggeliat. perlahan lahan,

ketujuh binatang itu merayap bangun kembali,. Yang aneh, satu

persatu pula, mereka nguyung dan ngusruk ditempat yang semula.

Serangan Ie Lip Tiong tepat mengenai kunci kelemahan para

binatang itu, masing masing patah kuku kaki depan, tanpa adanya

kuku2 ganas itu, mana mungkin mereka bangkit berjalan?

Masih ada dua ekor yang agak gagah, mereka lompat maju.

maksudnya menerkam kepada musuhnya, tapi tidak berhasil, rasa

sakit yang tidak terhingga memaksa kedua binatang belang itu

terjerembab jatuh. Dan demikianlah, tujuh ekor binatang belang

dikalahkan.

Ie Lip Tiong menunggu dengan tenang, tidak seekorpun yang

dapat berlaku ganas lagi. Tidak seekor harimaupun yang menyerang

dirinya.

Iblis Kurus Eng Hian tertoloug dari kematian digegares meong.

Semua penonton diatas arena pertandingao itu memperlihatkan

sikap mereka yang memandang tinggi. Rata2 memberi salut tidak

terlihat. Ini dapat dibuktikan dari sinar mata mereka yang bercahaya

lain.

Perlahan-lahan, lo san cu bangkit dari tempat duduknya, kepada

Ie Lip Tiong dia berkata: “Ie Lip Tiong, kau menang, Kini kau boleh

lompat naik.”

Ie Lip Tiong tidak segera menjalani perintah itu, dengan

menudingkan jarinya kepada si Iblis Kurus Eng Hian, jago muda kita

berkata: “Bagaimana dengan anak buahmu yang sudah bebas dari

serangan ujian macan2 belangmu ini?”

“Dia tidak mempunyai sangkut paut dengan dirimu.” Berkata lo

san cu dingin.

Ie Lip Tiong berkata: “Bisakah kau menerima sedikit saranku?”

“Kau hendak meminta pengampunan untuk dirinya?” Bertanya

sang ketua Partay Raja Gunung.

“Bukan.” Berkata Ie Lip Tiong menggoyangkan kepala.

“Harapanku adalah, janganlah melakukan sesuatu yang berada

diluar batas prikemanusiaan”

“Hanya itu sajakah permintaanmu?”

“Betul.” Ie Lip Tiong menganggukkan kepala.

“Ha ha ha…. Kau belum pernah menyaksikan adegan2 yang luar

biasa tentunya.”

“Adegan-adegan yang luar biasa seperti manusia yang dicicil oleh

para binatang buas, bukankah suatu pekerjaan mulia.”

“Aku belum pernah melakukan pekerjaan yang mulia.” berkata

sang lo san cu.

“Lo san cu.” Ie Lip Tiong menggunakan panggilan lazim itu. “Kau

dapat menyatukan 12 raja2 silat dari golongan sesat yang

berpandangan mata diatas jidat, ini satu bukti bahwa kau memiliki

kewibawaan yang cukup sempurna. Bilamana kau dapat

menggunakan kewibawaan itu secara baik, tentu suatu hadiah bagi

umat manusia umumnya, tokoh2 rimba persilatan khususnya.”

“Ha ha ha…..” Ketua Partay Raja Gunung tertawa.

Para anggauta partay sesat itu mulai membuat persiapan, apa

yang Ie Lip Tiong perlihatkan didepan sang ketua adalah suatu

tindakan yang sembrono, belum pernah lo-san-cu mereka mendapat

teguran pedas yang seperti itu. Bilamana sang pemimpin naik

darah, jiwa Ie Lip Tiong akan mengalami siksaan yang lebih hebat

dari apa yang sudah dialami oleh si Iblis Gendut Keng Lie.

Mereka menunggu perkembangan berikutnya dari kekurang

ajaran Ie Lip Tiong.

Diluar dugaan, setelah sang lo-san-cu tertawa sekian lama, dia

tidak menjadi marah. Dengan suaranya yang perlahan, ketua partay

itu berkata: “Ie Lip Tiong….. Kau adalah orang pertama yang berani

memaki diriku…. memang luar biasa….. sungguh luar biasa.”

Ie Lip Tiong mengunci pembicaraan mereka, katanya:

“Bagaimana putusan lo-san-cu kepada persakitan yang ini?”

Dia menunjuk kearah si lblis Kurus Eng Hian. Sekali lagi dia

meminta ketegasan.

Lo-san-cu menganggukkan kepala dia menoleh kearah muridmuridnya,

dan berkata kepada Ai See Cun: ”Ai See Cun, beri

kesenangan kepada si Eng Hian.”

Ai See Cun menganggukkan kepala, dia lompat turun ke arena

pertandingan gulat manusia dan binatang itu Kemudian mendekati

si lblis Kurus Eng Hian.

“Eng Hian.” Dia memanggil. “Kemari…”

Sang lblis Kurus Eng Hian tidak segera mentaati panggilan itu,

dia berteriak kepada Ie Lip Tiong: “Ie Lip Tiong, kuberi tahu sesuatu

rahasia besar, orang berkerudung yang menamakan dirinya sebagai

Lo-san-cu itu adalah jelmaannya…..”

Secepat itu pula, Ai See Cun sudah menggerakkan tangan,

memukul kearah Eng Hian, maka… “Praakkkkk”. Batok kepala orang

persakitan itu hancur remuk.

“Aaaaaa…..” Ie Lip Tiong menghela napas panjang.

“Hm ” Terdengar suara lo-san cu bicara. “Ie Lip Tiong,

rencanamu untuk mengelahui rahasia ini mengalami kegagalan

lagi.”

Eng Hian hendak membongkar rahasia kemisteriusan sang losan-

cu, tapi dia tidak berhasil. Tangan maut Ai See Cun telah

bergoyang lebih cepat dan mengambil jiwa sang rekan perjuangan

didalam usaha pembesetan kulit manusia.

“Ie Lip Tiong,” berkata lagi lo-san cu itu. “Jangan kau mencoba

kagi melakukan sesuatu yang dapat mempercepat kematianmu.

Hentikanlah usahamu yang tidak mungkin berhasil itu.”

“Lo-san-cu.” berkata Ie Lip Tiong. “Kesalahan Sepasang Iblis

Gendut dan Kurus belum tentu harus menerima kematian mereka

tapi, kau berlaku terlalu kejam, tentu saja dapat menjangkitkan

ketidak puasan orang. Adanya mereka yang hendak membuka

rahasia, inilah suatu yang menjadi buah jasa timbal balik dari

perbuatanmu itu”

“He he he, he..” Lo-san cu tertawa terkekeh-kekeh, tetap tidak

bersemangat, kurang tenaga dalam. “Bagaimana penilaianmu

kepada muridku yang ini?”

Dia mengartikan Ai See Cu.

Dari keempat murid lo san cu, para keluarga Ai yang terdiri dari

Ai Tong Cun, Ai See Cun, Ai Lam Cun dan Ai Pek Cun itu. Ie Lip

Tiong telah belajar kenal dengan tiga diantaranya, dan kini dia

dapat menyaksikan kecepatan tangan Ai See Cun.

Memang tidak dapat dicela.

Tapi Ie Lip Tiong tidak gentar untuk menghadapi kematian. Dia

berkata: “Jangan terlalu cepat menjadi besar kepala, suatu hari, aku

pasti dapat menempur kalian.”

“Ha ha ha ha…. Di alam baka barang kali, kau hendak rnenempur

orang?” berkata Ai See Cun senang.

Ie Lip Tiong tidak membalas suara yang seperti itu

“Ha ha ha ha…” Lo-san cu tertawa panjang. “Ie Lip Tiong, kau

memamerkan ilmu kepandaianmu, bukan kau menganggap dirinya

pandai, bukan?. Baik untuk memberi kesempatan bekerja, aku

bersedia melepas dirimu. Biar kita bertanding sekali lagi, tentu saja

secara adil. Hendak kulihat, berhasilkah kau menemukan tempat

ini?. Hendak kulihat, bantuan siapa yang dapat kau minta untuk

menandingi jago jago pilihanku?”

Ie Lip Tiong memandang ketua partay golongan sesat itu, dia

begitu curiga sekali, tentu saja, dia tidak percaya, bahwa sitokoh

berkerudung bersedia melepaskan dirinya.

“Hei,” Panggii lo san cu. “Tidak dengarkah kepada perintahku?”

“Mungklnkah dapat dipercaya?” Ie Lip Tiong memperlihatkan

sikapnya yang menghina

“Mengapa tidak?”

“Sekarang juga?”

“Bukan. Kau harus menjalankan tahanan kerangkeng selama satu

bulan, Kemudian, setelah bebas menjalani hukuman satu bulan itu,

aku segera memberi perintah kepada orang untuk membebaskan

dirimu.”

“Aku adalah orang tawananmu.” berkata Ie Lip Tiong. “Kecuali

menurut tidak ada lain jalan”

“Bagus. Kau memang cukup gagah dan berani.” Lo san cu

memberi pujian.

“Triima kasih.”

“Kudengar, Oe Im Yang itu mati dibawah keroyokannya lima

ketua partay. Sebagai putra satu2nya, mengapa kau tidak

mengadakan tuntutan balas kepada Siauw-lim pay, Bu tong pay,

Hoa san pay, Khong tong pay dan Kun-lun-pay?”

“Didalam soal ini…”

“Lebih dari pada itu, bukan saja kau tidak mengadakan tuntutan

balas. sebaliknya, kau telah mengabdi pada musuh, mengapa kau

mau diberi jabatan sebagai Duta Istimewa Berbaju Kuning Su-haytong-

sim-beng? Mengapa kau memusuhi Partay golong kami?”

“Untuk jelasnya, kuberikan perincian sebagai berikut, dendam

permusuhanku dengan lima partay besar adalah dendam diantara

sesama order keadilan dan kebenaran, karena itu, dendam tersebut

tidak mungkin diperbesar atau diperdalam.”

“Dengar,” Berkata lagi lo san cu. “Aku juga salah satu korban dan

kejahatan partay yang bernaung dibawah panji kebesaran Su-haytong-

sim beng itu terutama 5 partay besar, maka, aku mengutus

dirinya”

Dia menunjuk kearah Su-khong Eng. Dan meneruskan kata2

keterangan: “Dia adalah cucu muridku, dengan menggunakan tutup

kerudung hitam, dia menjadikan dirinya sebagai seorang pemuda

misterius berbaju hitam, dengan ilmu kepandaian yang dimiliki, dia

dapat menuntut sedikit dendam.”

“Hiih, tidak tahukah kau, bahwa perbuatan cucu muridmu itu

sangat merugikan nama baikku?” Berkata Ie Lip Tiong membuat

perdebatannya. “Dengan adanya pembunuhan pembunuhan gelap

yang seperti itu, karena orang orang yang dijadikan korban hanya

terdiri dari anak anak murid lima partay besar, tentu saja mereka

menduga kepadaku. Hampir aku binasa dibawah ketajaman golok

guruku sendiri.”

“Karena inikah, maka kau menerima jabatan Duta Istimewa

Berbaju Kuning Su hay sim beng?”

“Lo san cu menduduki ketua satu golongan baru yang diberi

nama Partay Raja Gunung, ratusan dan ribuan anak buah berada

dibawah pimpinanmu, didampingi oleh para raja-raja silat dari

golongan sesat, tentu tahu, bagaimana harus menghadapi

seseorang yang melempar fitnah hebat, sehingga hampir-hampir

kehilangan jiwa?”

“Hebat…. Hebat….”

Ie Lip Tiong berkata lagi: “Bilamana aku tidak menangkap biang

kerok kekacauan ini apakah yang harus dijadikan jaminan hidup

tenangku?”

“Hebat…. Hebat!. Karena itu kau merusak dan membakar

perkebunan teh Sang leng the chung?. Karena itu, kau merampas

uang2 rumah makan Hian kiok piauw?”

“Pikiran lo san cu juga bukan pikiran biasa” Ie Lip Tiong

memberikan pujiaannya.

“Ie Lip Tiong” berkata lagi lo san-cu. “Kukira, pembalasanmu ini

sudah cukup hebat, kau sudah berhasil mencuci diri, apa lagi yang

kau mau? Mengapa menyatroni markas besarku?”.

“Lupakah lo san cu, bahwa aku telah menerima jabatan Duta

Istimewa Berbaju Kuning Nomor Tiga Belas dari Su hay tong sim

beng. Motto dari gerakkan Su hay tong sim beng adalah, Membina

mastarakat yang adil dan makmur, menegakkan keadilan dan

kebenaran, mengatasi kesulitan dan perselisihan, membersihkan

dunia rimba persilatan dari kekotoran”

“Ha ha ha ha…. Kau hendak membersihkan Partay Raja Gunung?

Ha ha ha ha….”.

“Ha ha ha ha….” Ie Lip Tiong juga tertawa.

Didalam keadaan seperti itu, lebih baik dia menerima kematian

yang lebih cepat, maka, sengaja dia mengolok olok lo san cu.

Semakin gagah dia bicara, semakin takut musuh dibuatnya. Semakin

berani dia merangsang, semakin gentarlah musuh untuk memberi

hukuman kepadanya.

Lo san cu memandang kearah Su khong Eng.

“Su khong Eng.” rnemanggil cucu murid kesayangan itu. “Bawa

Ie Lip Tiong ke dalam penjara.”

“Baik.” Su khong Eng menerima perintah.

Ie Lip Tiong dipenjarakan didalam markas besar Partay Raja

Gunung

Dimanakah letak markas besar Partay Raja Gunung itu?

Dengan maksud apa lo san cu mempenjarakan Ie Lip Tiong?

Mengapa hanya satu bulan?

Betulkah dia melepas jago muda kita?

Bagaimana Ie Lip Tiong balik dan mencari kembali letak markas

besar Partay Raja Gunung? Bagaimana dia mengobrak abriknya?

Mari kita nantikan didalam jilid keenam.

-oo0dw0oo-

Jilid 6

DIDALAM penjara partai Raja Gunung, seorang pemuda bertekuk

lutut dipojok. Inilah jago muda yang pernah menggemparkan rimba

persilatan, dengan julukannya jago Pedang yang Menggetarksn

Rimba Persilatan It-kiam-tim-bu-lim Wie Tauw, nama aslinya, Ie Lip

Tiong! Putra almarhum dan ketua Hoa-san pay Ie Im Yung.

Sebagai Duta nomor tiga belas Su hay-tong sim beng, Ie Lip

Tiong mendapat tugas untuk membikin menyelidikan, dimana letak

sarang raja gunung yang misterius, partai Raja Gunung adalah satu

komplotan yang baru saja menimbulkan huru hara, belum lama

terkenal dengan pembunuhan. si pemuda misterius berbaju hitam,

yang melakukan pembunuhan pembunuhun gelap pada anak buah

lima partai besar.

Disaat Ie Lip Tiong membuntuti Ai Tong cun dan hampir berhasil

manemukan jejak markas besar partainya gunung, ia dipergoki dan

tertangkap. Kini ia sudah menjadi orang tawanan.

Lo san cu, ketua dan pendiri Partai Raja Gunung mempenjarakan

Ie Lip Tiong dengan batas waktu selama satu bulan. Putusan ini

tdak bisa diganggu gugat.

Hari kedua, Lo san Cu dengan mengajak Su Khong Eng

menjenguk Ie Lip Tiong, mempeerhatikan gerak geriknya, untuk

beberapa waktu, kemudian merekapun pergi balik lagi tanpa

sepatah katapun yang dikeluarkan.

Hari berikutnya, Lo san Cu dan hi khiang Eng menjenguk pula.

Hari ini mereka membikin percakapan.

“Ie Lip Tiong,” Lo san cu memanggil.

Ie Lip Tiong mendongakan kepala, dan memandang Lo san cu

yang tetap mengenakan kerudung tutup muka itu.

“Ada apa?” bertanya jago muda kita.

“Aku tidak habis mengerti atas sikap-mu yang diperlihatkan

kepada mereka.” berkata Lo san-cu. “Kudengar berita yang

mengatakan bahwa ayahmu itu mati dibawah kereyokan lima partai

besar. sebagai seorang yang berbakti seharusnya kau membikin

penuntutan balas kepada lima partai besar. Tapi kau tidak. Bukan

saja tidak menuntut balas. Lebih dari pada itu, kau mengabdikan diri

kepada mereka. Kau menerima tawaran Duta Nomor tiga belas yang

tidak ada artinya.”

Ie Lip Tiong menganggukan kepala, ia berkata:

“Aku juga tidak mengerti atas sikap reaksimu, dengan alasan

apa, komplotan kalian mengutus Su khong Eng, menciptakan

sesuatu pemuda misterius berbaju hitam, dengaa alasan apa Sukhong

Eng meninggalkan getah jahat, memfitnah diriku?”

Sebelumnya, baik juga membaca cerita pembunub gelap bagian

pertama, Disana tercatat. Su khong Eng dengan menggunakan

tutup kerudung warna hitam, dengan dedak perawakan tubuhnya

yang mirip dengan Ie Lip Tiong, dengan sengaja telah melakukan

pembunuhan gelap, se-olah pembunuhan2 itu dilakukan oleh Ie Lip

Tiong. Maka lima partai besar marah kepada Ie Lip Tiong, hendak

membunuh pemuda itu.

Lo tan cu menengok kearah Su-khong Eng, inilah isyarat.

Kemudian ia berkata :

Permusuhan kami dengan lima partai besar adalah urusan lama.

Sengaja kuperintahkan dia menggunakan tutup kerudung muka,

agar tidak diketahui orang, membunuh anak buah lima partai besar.

Mereka sangat tolol. Tidak bisa mengetahui siapa adanya kami

orang. Mereka hanya menduga kepada dirimu, hanya kau yang

mempunyai ini kesempatan untuk mengadakan tuntutan balas.

Karena ayahmu mati ditangan lima ketua partai besar. Kami

sekarang segera mengatur siasat lain, dan se-olah2 menciptakan

suasana yang mengatakan, bahwa kau yang melakukan

pembunuhan itu. tidak guna kau sesalkan. Kau berhak menuntut

kepada lima partai besar, mengapa sikap mereka begini tolol?”

“Baik.” berkata Ie LiP Tiong. “Mengopa aku menerima jabatan

Duta Nomor tiga belas? Disinilah letak persoalan. Aku hendak

membikin terang dan jelas, mengapa aku difitnah, aku hendak

menaugkap Su khong Eng. Dan akhirnya aku berhasil, maka

bebaslah aku dari tuduhan2 keji itu.”

Lo san cu tidak bicara banyak, sesudah itu, ia mengajak Su

khong Eng meninggalkan penjara.

Hari berikutnya, Su khong Eng datang seorang diri, tidak disertai

oleh Lo sun cu. Langsung Su khong Eng menghampiri jari jari besi

penjara, ia memperhatikan tata cara hidup Ie Lip Tiong. Matanya

beringas, seolah olah hendak menelan pemuda kita.

Ie Lip Tiong tertawa, ia mengajukan pertanyaan :

“Mengapa kau begitu benci kepadaku ?”

“Ingin sekali aku bisa menelanmu.” berkata Su khong Eng.

“Kau sakit hati, karena rencanamu uutuk merusak Siao-Lim pay

berhasil kugagalkan? KAu sakit hati kepadaku karena dijebloskan

kedalam penjara Su hay tong-sim beng? Sebetulnya, akulah yang

harus bersakit hati. Hampir aku binasa. karena fitnah2 jahatmu.”

“Bukan urusan itu.” berkata Su khong Eng. “hendak kutanyakan

kepadamu, kemana kau telah larikan dirinya?”

Mata Ie Lip Tiong terbelalak, ia tidak mengerti.

“Siapa yang kularikan?” tanyanya.

“Ai ceng.” berkata Su-khong Eng singkat.

Baru Ie Lip Tiong sadar, ternyata urusan wanita.

“Aha,” katanya. “Ternyata Ai ceng yang kau maksudkan !”

“Betul. Dimana kini dia berada?”

Ie Lip Tiong hendak mengolok olok Su khong Eng, inilah

kesempatan baik. Ia segera berkata :

“Heran. Ayah Ai ceng, Ai Pek cun itu tidak mengajukan

pertanyaan. Kau mempunyai hubungan apa dengan Ai ceng?

Mengapa mempunyai hak untuk bertanya? Dengan alasan apa kau

bertanya tentang urusannya ?”

“Ia adalah calon istriku.” bentak Su-khong Eng geram.

“Ha……….” Ie Lip Tiong seolah olah sangat terkejut. Ia berkata :

“Sudah syah, barangkali ?”

“Tentu saja syah.” berkata Su-khong Eng.

“Siapa yang memberi pengesyahan ? Pamannya ? Atau Ayahnya

? Atau mungkin juga hanya persetujuan seorang diri ?”

“Semua orang sudah setuju, guruku yang melulusi permintaan

ini. Kata2 guruku tidak bisa dibantah. Belum berani Ai Ceng

membantah perintah Ayahnya.”

“Oh ! Ternyata Ai Pek cun yang memberi perintah kepadamu

untuk melakukan pembunuhan pembunuhan kepada anak buah lima

partai besar. Dengan janji menikahkan putrinya kepadamu bukan ?”

“Lalu apa yang kau mau?”

“Kau sangat tolol. Kuberi tahu kepadamu, bahwa Ai ceng itu tidak

sir, tahu ?”

“Tidak sir?”

“Dia tidak cinta padamu ”

“Cinta bisa dipupuk dan dibina. Ayahnya sudah berjanji, tidak

perduli ia mau atau tidak, bisa ssja aku memperisterinya.”

“Ayahnya setuju ?”

“Ya. Suhu sangat setuju.”

“Boleh saja kau menikah dengan suhumu. Tapi tidak mungkin

dengan Ai ceng. Ai ceng tidak setuju.”

“jangan banyak bacot, lekas katakan, di mana kau sembunyikan

dirinya ?”

“Bilamana aku tidak mau mengatakan?” Ie Lip Tiong menantang.

“Kau akan menyesal dikemudian hari.” Su-khong Eng

mengancam.

ooo0ooo

BAB-33

“TERSERAH.” Ie Lip Tiong tidak bisa digertak. Ia meninggalkan

pintu penjara, mundur kebelakang dan duduk dipojok.

Menyelesaikan percakapan itu.

“Baik.” Su-khong Eng berkata. “Segera kau bisa saksikan apa

pembalasanku.”

Sesudah itu, Su-khong Eng berjalan pergi.

Hari berikutnya Su-khong Eng datang lagi, ia menjenguk Ie Lip

Tiong. Berbeda dengan hari2 didepannya, kali ini Su-khong Eng

membawa bangku, duduk didepan pintu penjara.

Ie Lip Tiong memperhatikan gerak gerik Su khoag Eng. Tidak ada

reaksi. Begitu tenang Su khong Eng duduk didepan, kaki kanannya

diangkat dan ditumpangkan kekaki kiri, bergoyang goyang. Sangat

asik sekali.

Ie Lip Tiong kurang sabar,

“Hei!” ia berteriak. “Kau hendak menjadi penjaga ? Menongkrongi

aku, terus menerus!”

Su khong Eng tertawa. Ia menganggukkan kepala. Perobahan ini

menandakan bahwa ia telah mempunyai rencana baru. Sikapnya

sangat adem.

Ie Lip Tiong menjadi heran atas sikap yang diperlihatkan oleh Su

khong Eng. Dengan mengedipkan mata, ia bertanya :

“Hei, kau sudah melepaskan pengusutan Ai ceng? Tidak mau

tahu lagi?”

Mengikuti gerakan Ie Lip Tiong, Su khong Eng juga

mengedip2kan mata, mengulang pertanyaan jago kita :

“Hei, kau sudah melepaskan pengusutan Ai ceng ? Tidak mau

tahu lagi?”

Ie Lip Tiong tertegun. Akhirnya ia tertawa sendiri. Katanya.

“Ha, ha,……permainan apa yang hendak kau tontonkan ?”

Su-khong Eng lagi – lagi mengikuti gerakan Ie Lip Tiong. Ia juga

seperti orang tertegun. Kemudian tertawa, turut mem-beo-i juga :

“Ha, ha, ………. permainan apa yang hendak kau tontonkan?”

Ie Lip Tiong mengerutkan keningnya, bertanya :

“Hei, kau sudah linglung ?”

Su khong Eng juga mengikuti logat pembicaraan Ie Lip Tiong,

mengkerutkan keningnya dahulu, baru berkata :

“Hei, kau sudah linglung ?”

Rasa herannya Ie Lip Tiong semakin bertambah, memperhatikan

Su khong Eng beberapa saat, bertanya :

“Su khong Eng, berapa umurmu ?”

Su khong Eng juga mengikuti gerakan Ie Lip Tiong, bertanya :

“Ie Lip Tiong, berapa umurmu?”

Ie Lip Tiong jadi bosan dengan sandiwara itu, apa yang

dikatakan, selalu diulang. Apa yang dilakukan, pasti ditiru. Tidak

guna lagi berdebat dengan seorang yang sudah sakit pikiran. Tidak

ada faedahnya bicara dengan seorang sinting. Meninggalkan pintu

penjara, ia duduk bersila dan memeramkan mata. Sangkanya, Sukhong

Eng sedang mengalami geger otak.

Su-khong Eng juga duduk bersila, mengikuti gerakan2 Ie Lip

Tiong ia juga memeramkan mata.

Menggunakan sudut matanya, Ie Lip Tiong melirik kepada

sipemuda misterius berbaju bitam itu, Ia heran atas sikap yang

diperlakukan oleh Su-khong Eng. Akhirnya ia bangun lagi.

Su khong Eng juga bangun berdiri.

Ie Lip Tiong menggerakkan tangan membnat satu keplakkan.

Su-khong Eng juga menggerakkan tangan mengikuti cara2 Ie Lip

Tiong, yang membuat satu keplakkan.

Alis Ie Lip Tiong berkerut keatas.

Alis Su-khong Eng juga dikerutkan keatas.

Setiap gerak gerik Ie Lip Tiong diikuti oleh Su khong Eng. Lagu

pembicaraan Ie Lip-Tiong juga dituruti oleh Su-khong Eng.

Seolah2 mereka sedang main sandiwara.

Hanya teraling oleh jari2 besi saja. Satu didalam penjara, dan

satu diluar penjara. Didalam penjara adalah Ie Lip Tiong. Yang

diluar penjara adalah Su-khong Eng. Segala sesuatu yang dilakukan

oleh Ie Lip Tong, dilakukan juga oleh Su-khong Eng. seolah2 bahwa

Su khong Eng itu hendak memainkan peran terpenting, menirukan

gerak gerik dan logat suara Ie Lip Tiong.

Sebagai seorang manusia cerdik, Ie Lip Toug harus berpikir lama,

tiba2 ia sadar akan tiruan yang diperlihatkan oleh Su khong Eng.

Hatinya terkejut, ia mengeluarkan keringat dingin. pikirannya

berkecamuk dengan khayalan buruk

“Celaka!! Bocah ini sedang menjiplak diriku.” Ia berpikir didalam

hati.

Dihubungkannya urusan ini dengan keahlian dari Partai Raja

Gunung. Komplotan Partai Raja Gunurg senang melakukan

pembeset2an kulit manusia. Manakala mereka telah menentukan

calon sikorban, dengan obat2 pengering yang sudah disiapkan,

mereka bisa menyembelih orang yang bersangkutan. Kulit itu

dikeringkan, sehingga tidak membusuk, dan dengan menggunakan

baju kulit sang korban, berubahlah seseorang. Siapapun bisa

berubah wajah. Bisa menjelma kepada seseorang yang sudah mati.

Thiat Theng Hweeshio yang asli sudah mati, Ai See cun

memalsukannya dan menciptakan satu Thiat theng Hweeshio palsu.

Sesudah membunuh si Pendekar Pedang Kayu Koan su Yang, Ai

Tong cun menggantikan kedudukan sang Duta Nomor Enam.

Hampir mereka berhasil membunuh Hong-lay Sian eng.

Keringat dingin yang mengucur semakin banyak, Ie Lip Tiong

segera membayangkan, bagaimana ia akan mengalami pembesetan

kulit.

Dimisalkan Su kheng Eng membunuh dirinya, membeset kulitnya,

dan dengan kulit baju Ie Lip Tiong, mudah saja Su khong Eng

melakukan pembunuhan2 yang lebib banyak.

jiwa Ie Lip Tiong terancam diujung maut.

Dari pada ia menuggu giliran dibunuh orang, lebih baik Ie Lip

Toug membunuh terlebih dahulu. Ie mengatur siasat lain, kini

berjalan dengan langkah lenggang.

Diluar penjara, mengikuti gerakan Ie Lip Tiong, Su khong Eng

juga membuat satu langkah lebar berjalan

Ie Lip Tiong berdiam, ia bertopang dagu.

Su khong Eng juga menghentikan gerakannya, turut bertopang

dagu.

Perlaban lahan Ie Lip Tiong mengerahkan tenaga dalamnya,

dipusatkan kepada kedua tangan. Inilah persiapan untuk

menggerakkan tiga pukulan geledek. Ilmu silat kenamaan dari

sucownya yang telah diturunkan.

Su khong Eng masih belum menduga rencana apa yang telah

terjudi dalam benak pikiran Ie Lip Tiong, ia masih mengikuti

gerakan gerakan sipemuda.

Apa yang telah Ie Lip Tiong duga, Su khong Eng mendapat tugas

berat, ia harus pandai meniru logat suara dan meniru semua

kebiasaan Ie Lip Tiong. inilah rencana partai raja gunung.

Suatu saat, Su khong Eng lengah, Ie Lip Tiong sudah menunggu.

Kesempatan baik tidak bisa dilepaskan, kedua telapak tangannya

didorong kedepan, memukul kearah si pemuda berbaju hitam itu.

Disaat yang sama, terdengar satu jeritan melengking :

“Su khong Eng. lekas mundur!”

“Banggg……….” Pukulan Ie Lip Tiong dikerahkan keluar.

Tubuh Su khong Eng melejit kebelakang, ia menjauhi pukulan itu.

Tiga pasang jeriji besi terpukul melengkung, terkena pukulan Ie

Lip Tiong. Sayang ! Adanya suara peringatan telah menolong Sukhong

Eng, ia lolos dari tangan maut, hanya tempat tanah, dimana

ia tadi berada telah berlubang dan remuk, terkena tiga pukulan

geledek Ie Lip Tiong.

“Celaka ! Sayang sekali.” Ie Lip Tiong mengeluh didalam hati. Ia

tidak berhasil membokong Su khong Eng. Disana telah bertambah

seorang wanita. Ie Lip Tiong segera mengenali wanita yang pernah

turut menyatroni Siao lim sie, wanita yang memalsukan cia Hujin

itu.

Orang yang datang adalah itu wanita yang pernah menyamar jadi

cia Hujin di geroja Siao lim sie. Bersama sama dengan Su khong

Eng, wanita ini hendak membunuh ketua partai Siao lim pay, tapi

berhasil digagalkan oleh Ie Lip Tiong.

Memandang kearah wanita tersebut, Ie Lip Tiong tertawa,

katanya :

“Kau masih hidup, cia Hujin!”

Ia masih memanggil dengan panggilan lama, cia Hujin.

Wanita itu memperlihatkan senyumannya yang menarik, cukup

memikat, ia berkata :

“Bagaimana kesehatanmu ? Baik2 sajakah? Baru saja aku

kembali. Kudengar cerita tentang tertangkapnya dirimu. Aku harus

menaruh salut diri padamu yang pandai menyamar, tidak kusangka.

pemuda yang ketolol-tololan di Sioa-Lim-pay dahulu, adalah

jelmaanmu. Eh, mengapa kau mempunyai niatan jahat, hendak

membunuh Su khong Eng ?”

“Hanya hendak menjajal kekuatan tenaga dalamku.” berkata Ie

Lip Tiong.

Su-khong Eng sudah terjerembab jatuh, melejit bangun,

bergeram dengan hati panas:

“Ie Lip Tiong, sudahkah kau bosan hidup, barangkali ?”

“jangan berteriak2 seperti itu.” berkata Ie Lip Tiong didalam

penjara. “Bila tidak ada kedatangan cia Hujin, jiwamu sudah

melayang keakherat.”

Su-khong Eng memperlihatkan wajahnya yang beringas, ia

membentak :

“Kukira kau hendak merasakan kekejaman tanganku.”

Ie Lip Tiong tidak melayani Su khong Eng. ia menengok kearah

cia Hujin dan bertanya :

“Ai ceng pernah memberitahu namamu, tapi telah kulupakan.

Maaf. Aku kira, kau bersedia menyebutkan nama sendiri, bukan ?”

Wanita itu tertawa, menganggukkan kepala dan menjawab

pertanyaan yang diajukan :

“Aku Phoa Kim Hoa, kawan baik suhunya. Ia menunjukkan jari

Kearah Su-khong Eng

Lebih dari kawan baik. Phoa Kim Hoa adalah gadis Ai Pek-cun.

“Tidak cocok dengan apa yang kau kemukakan. ” berkata Ie Lip

tiong.

Phoa Kim Hoa berkata :

“Kukira Ai ceng memberi nama palsu kepadamu. ”

“Mungkin juga.” berkata Ie Lip Tiong. “Gerakan nona sangat

gesit, itu malam di Siao-Lim-sie, kau berhasil meloloskan diri.”

“Orang yang menjadi maksud tujuanmu adalah Su-khong Eng,

bukan aku. Maka aku bebas dan lari.” berkata Phoa Kim Hoa. “Mana

mungkin aku membebaskan diri? Bila kau ada niatan untuk

menangkap ?”

“Terus terang kukatakaa, itu waktu aku tidak turun tangan. Aku

hanya menyaksikan dari samping saja.” berkata Ie Lip Tiong

“Bagaimana Ai ceng bisa jatuh kedalam tanganmu ?”

“Kukira tidak bisa diceritakan, ada seseorang yang akan

cemburu.”

“Tidak menjadi soal, ceritakan saja terus terang.” berkata Pioa

Kim Hoa. “Kukira kau cinta pada Ai Ceng, bukan ?”

Ie Lip Tiong melirik kearah Su khong Eng. perlahan2 ia

menganggukkan kepala. Ia wajib berterus terang tidak perlu

menyangkal, secara jujur, ia berkata:

“Ai ceng memang seorang gadis yang menarik. Semua orang

akan suka kepadanya!”

“Ada niatan untuk mengawininya?” berkata Phoa Kim Hoa.

“Sedang kuperhitungkan. Bagaimana pendapat nona, setuju?”

bertanya Ie Lip Tiong.

“Aku sih setuju saja, lebih setuju lagi, bila kau bisa membawa

batok kepala Hong lay Sian-ong. Batok kepala Hong lay Sian-ong itu

bisa dijadikan mas kawin Ai ceng, batok kepala Hong lay Sian-ong

diharap2kan oleh ayah Ai ceng, Ayahnya tidak keberatan

menikahkan sang putri kepadamu. Bila kau bisa mengambil batok

kepala ketua Su hay tong sim beng itu ”

Ie Lip Tiong bergoyang2 kepala, katanya :

“Buat apa sisah? Ai ceng telah berkata kepadaku. setuju atau

tidak, tanpa memperdulikannya, ia tetap menikah kepadaku.”

Mengikuti pembicaraan itu, rasa dongkolnya Su-khong Eng tidak

kepalang. Rasa cemburunya tidak bisa dilampiaskan, ia membentak

:

“Ie Lip Tiong, jangan harap kau bisa hidup lagi.”

Ie Lip Tiong tertawa, ia menantang :

“Mati hidupku bukan ditanganmu !”

“Biarpun aku mendapat teguran, bisa saja aku membunuhmu.”

“Mau berantam? Mari!. Kemari Kau !”

Su khong Eng maju beberapa iangkah, tangannya dijulurkan,

menekan tombol didinding, dengan seram ia berkata :

“Siapa yang kesudian bertempur ?” Membarengi tekanan tombol

yang dipijit Su khong Eng, lantai dimana Ie Lip Tiong terkurung

mulai bergerak. Terdengar suara krekek, lantai itu mcnurun

kebawah, gerakannya cepat sekali. Phoa Kim Hoa terkejut, berteriak

: “Su khong Eng, kau sudah gila?”

Sepasang sinar mata Su-khong Eng seperti memancarkan api, ia

membentak :

“Berani kau melapor kepada Lo san cu, ku bunuh lebih dahulu

kau!” Su khong Eng mengancam. Begitu bencinya kepada Ie Lip

Tiong. Dengan menanggung omelan atau hukuman, ia hendak

membunuh saterunya.

Phoa Kim Hoa mundur dua tindak, ia juga tidak berani

menentang kemauan Su khong Eng. Ia hanya berupa gula2 dari

suhu Su-khong Eng. Mana berani melawan kehendak Kongcu itu?

“Aku tidak perduli dengan mati hidupnya Ie Lip Tiong.! Phoa Kim

Hoa mengeluarkan pendapat. “Tapi kau tidak takut menerima

hukuman?”

“Tidak perduli.” berkata Su-khong Eng. “Sesudah ia mati dibawah

istana air ini. Aku bisa menerima hukuman sendiri.”

Lantai dimana tempat penjara Ie Lip Tiong itu menurun, jatuh

semakin kebawah, disana mengucur air. Ternyata itulah yang

dinamakan istana air. Diatas juga menurun gelang2 besi,

menggencet pemuda itu. Ie Lip Tiong berusaha menahan napas.

Tidak berhasil. Bergelimpangan seperti tikus kecebur. Ie Lip Tiong

masih memperjuangkan mati hidupnya dibawah dasar istana air itu.

Phoa Kim Hoa melirik kebawah, ia juga bisa menyaksikan,

bagaimana keadaan Ie Lip Tiong.

Tentu saja, jari2 besi yang menggencet Ie Lip Tiong itu sangat

kokoh dan kuat.

Beiapa hebatpun tenaga Ie Lip Tiong tidak mungkin ia bisa

memutuskan atau merusaknya.

Ini berubah semacam siksaan. Bisa dibayangkan, bagaimana

seekor tikus yang diletakan dibawah air dan digencet perlahan2.

Begitu pula keadaan Ie Lip Tiong. Gencetannya hanya berupa besi2.

Maka masih bisa terlihat jelas sekali. Sangat kejam ! Phoa Kim Hoa

tidak bisa menyaksikan lebih lama, ia berpaling ke tempat lain.

Menghindari pemandangan yang mengerikan. Su khong Eng tertawa

puas, ia berkata

“Tidak mungkin ia bisa bertahan lama, perutnya akan kembung.

Tidak lama lagi besi2 itupun akan menggencetnya. Maka inilah

hukuman dan penbalasan, atas perbuatan yang sangat berani.”

Phoa Kim Hoa menghela napas, katanya :

“Mengapa kau tidak membunuhnya saja?”

“Tidak!! Aku hendak menyiksanya seperti ini.” berkata Su-khong

Eng.

“Kau terlalu kejam.” berkata Phoa Kim Hoa. “Inilah salah satu

sebab, mengapa A ceng tidak suka kepadamu.”

“Begitu ?” Su khong Eng meremehkan peringatan Phoa Kim Boa.

“Tapi bukan aku seorang yang kejam. banyak orang yang lebih

kejam dariku ”

Phoa Kim Hoa berkata ;

“Apabila Lo san cu marah atas perbuatan kamu yang membunuh

Ie Lip Tiong. kukira aku juga akan menerima hukuman. Ia bisa

menyalahkan padaku, mengapa tahu dan tidak melapor?”

“jangan takut.” berkata Su khong Eng. “Bisa saja kau

memberitahukan kepadanya. bahwa kau tidak tahu menahu dalam

soal ini! Kujamin, aku tidak membuka rahasia. Segala tanggung

jawab akan kupikul atas diriku sendiri.”

“Tidak mungkin.” berkata Phoa Kim Hoa. “Kedatanganku telah

diketahui oleh Lo san-cu.”

“Legakan hatimu, biar bagaimana, aku tidak akan menyeret

nyeret orang.”

Ini waktu, Ie Lip Tiong sudah betul2 tidak tahan. Pertama tama.

ia bisa saja menyelam. Menahan napas. Tapi hanya bersifat

sementara. tidak tahan lama. Terus menerus hidup tanpa

pernapasan, tentu saja kehabisan napas dilepaskan napasnya,

geleguk , dan situ mengalir masuk air yang deras. Gelembung2

pernapasan berpancuran.

Su khong Eng melotot beringas, dengan teetawa kejam ia

berkata :

“Ie Lip Tiong, kemana kegagahanmu? Baru saja mereka

menggembar gemborkan It kiam-tin bu lim We Tauw yang ternama.

Kini hendak kulihat, mungkinkah bisa muncul lain orang It-kiam-tin

bu-lim Wie Tauw lain2 sesudah kau mati. Semuapun turut lenyap.”

Ie Lip Tiong mulai menggelepar, tidak lama lagi ia akan mati

dibawah istana air it.

Tiba2……..

terdengar satu suara bentakan yang geram :

“Su khong Eng, apa yang sedabg kau lakukan?”

Tapi Su-Khong Eng seperti mencelat keluar, cepat2 ia

membalikkan tubuhnya dan berkata;

“Suhu, maafkan aku.”

Orang yang datang adalah Ai Pek cun. menyaksikan sepintas

selalu, maka ia bisa maklum, apa yang sudah terjadi. cepat2 ia

berlari datang. Menengok kebawah, disana mencari kehidupan.

segera cepat2 Ai Pek cun membentak :

“Lekas naikkan lantai.”

Su khong Eng tidak mau menerima perintah, dengan penuh rasa

penasaran ia berkata:

“Suhu aku bersedia menerima hukuman yang bagaimanapun

bertanya juga.”

Ai Pek cun membentak :

“Lekas naikkan!”

Melihat cara wajah sang suhu ditekuk, mengetahui bahwa

percuma saja ia membangkang, mau tidak mau, Su-khong Eng

memencet tombol lain, menggerakkan panel rahasia. Mengangkat

naik lantai Ie Lip Tiong yang sudah berada dibawah istana air.

Perlahan2 lantai penjara naik kembali. Airpun surut kebawah.

Besi2pun kembali seperti sedia kala. Kini merupakan penjara lagi.

Bedanya, perut Ie Lip tiong telah kembung. Kenyang makan air.

Ai Pek cun memperhatikan Ie Lip Tiong, meskipun belum mati

napasnya empas empis, menoleh kearah Su khong Eng, dan

membentak :

“Lekas tolong dirinya, dan buka bajunya segera?”

Didalam hati Su khong Eng hendak membantah perintah itu. tapi

belum pernah ia menyaksikan kemarahan Ai Pek cun yang seperti

ini. Ia juga menjadi takut, maka segera ia membuka pintu penjara,

tanpa komentar lagi, ia melakukan perintah sang guru.

Su-khong Eng meletakkan Ie Lip Tiong di dengkul, dipencet perut

itu, maka uak, dari mulut Ie Lip Tiong menyembur air. sesudah ini.

Su khong Eng membuka baju luar Ie Lip Tiong. Ia mengambil baju

dalamnya, itulah baju Data Istimewa Su hay tong sen bang yang

berwarna kuning. Baju yang teramat penting !

Sesudah melakukan ini semua, baru Su-khong Eng mengatur

peredaran jalan darah Ie Lip tiong. mengetahui bahwa Ie Lip Tiong

itu belum mati hatinya menjadi lega. Membawa baju Duta Istana

berwarna kuning, ia keluar dan meninggalkan penjara.

Ai Pek cun membentak Su khong Eng :

“Dengan alasan apa kau hendak membunuhnya?”

Su khong Eng menundukkan kepala rendah, ia memberi alasan :

“Dia selalu memancing insiden, membuat hati orang menjadi

panas.”

“Sudah lupa kepada tugasmu ?”

“Tidak lupa.”

“Kau sudah yakin betul bisa meniru dirinya?”

“Yakin.” berkata Su khong Eng.

“Berikan alasanmu.” berkata Ai Pek cun.

Su khong Eng berkata :

“Bicaranya suka melengkitkan alis, atau mengedipkan mata,

mengangkat sedikit pundak. Tertawanya agak menyengir keatas,

berdirinya sering menggendong tangan, tingkah lakunya seperti

sangat congkak, terselip juga keagungan. Ia sangat sombong, tapi

peramah.”

Ai Pek Cun mengangguk anggukkan kepala, ia sangat puas.

Katanya :

“Cukup. Pergi kau cuci baju kuning itu!! Besok baleh berangkat!”

Su-khong Eng menerima perintah, dengan menenteng baju

kuning Ie Lip Tiong yang sudah dilucuti, ia meninggalkan tempat itu.

Phoa Kin Hoa tidak turut bicara, sesudah Su-khong Eng pergi

jauh, baru ia menoleh kearah Ai Pek cun, dengan tertawa genit ia

berkata :

“Muridmu itu terlalu galak. Betul betul aku takut.”

Ai Pek cun berkata :

“Semasa kecilnya, ia hidup sangat sengsara, Sebelum aku

menerima menjadi murid, tidak sedikit penderitaan2 yang diterima,

inilah mengakibatkan, tabiatnya menjadi tabiat luar biasa.”

“Hei,” Phoa Kim Hoa menegur. “Betul2 kau ada niatan untuk

menjodohkan putri kesayanganmu!”

“Bagaimana pendapatmu?”

“Aku tidak mau tahu…” berkata Yo Kim Hoa. “Ai ceng adalah

anak perempuanmu, mengapa aku harus pening? Tetapi. dimisalkan

aku yang melahirkan Ai ceng, aku tidak akan memaksanya menikah

dengan seseorang pemuda yang tidak disukai.”

Ai Pek cun tertawa, tidak memberi kesan lain.

Phoa Kim Hoa menatap wajah tokoh misterius itu, ia mengulang

pertanyaannya :

“Hei, Kau belum menjawab pertanyaanku, betul2 kau ada niatan

untuk menjodohkan putrimu kepada Su khong Eng ?”

Masih Ai Pek cun tidak mau menjawab. “jangan ungkit2 soal ini

lagi.” ia tertawa menyengir. “Kemana saja kau selama ini? Mencari

laki2 lain?”

Wajah Phoa Kim Hoa bersemu dadu, dengan cemberut ia

membentak :

“Jangan sembarang omong. Kukira kau sudah bosan. terus

terang saja kukatakan. Aku tidak memaksamu. Tetapi jangan main2

seperti itu ”

“Ha, ha…” Ai Pek cun tertawa. “Aku tanya menggoda. Tapi kau

sudah sibuk sekali. Mungkinkah……”

“Mungkin apa?” membentak Yo Kim Hoa.

“Tidak apa2.” berkata Ai Pek cun. “Terus terang saja kukatakan,

aku sangat terkenang kepadamu.”

“Pui !” Phoa Kim Hoa berdengus. “jangan suka menipu orang.

Kukira aku tidak tahu. Selalu kau bertemu dengan gadis selir

ditempat ini?”

“jangan percaya obrolan orang. Gadis gadis itu mana bisa

menandingimu ?”

“Hayo ! Gadis2 itupun tidak kau pandang mata? Kau masih mau

apa lagi?”

“Aku mau dirimu”. Ai Pek cun merangkul Phoa Kim Hoa.

Phoa Kim Hoa marayapkan diri, berkata :

“Aku bukan anak kecil lagi, jangan menipu orang ”

“Betul.” berkata Ai Pek cun. “Gadiss itu berparas canfik dan

montok. Tapi hanya seperti patung patung hidup. Mana bisa

dibandingkan dengan dirimu. terlalu jauh sekali.”

Kedua pipi Yo Kim Hoa menjadi merah. Memonyongkan mulut

dan berkata :

“Tidak tahu malu. Ditempat apa kau bicara?”

Ai Pek cun menoleh kebelaksng, disana Ie Lip Tiong baru saja

sadar. Maka meninggalkan Phoa Kim Hoa, menghampiri Ie Lip Tiong

dan berkata kepada si pemuda :

“Hei, peruntunganmu masih bagus. Terlambat saja dua detik,

jiwamu sudah akan melapor diri kedunia akherat. Mengucapkan

selamat tinggal.”

Ie Lip Tiong merayap dengan susah payah, dengan menyengir ia

berkata :

“Mengapa kau tidak membiarkan muridmu itu melelapku?”

Ai Pek cun berdehem, ia berkata :

“Lo-san-cu kami telah berpesan, ia menganggap kau adalah satu

lawan yang hebat. Ia hendak bertanding secara adil. Siapa yang

lebih lihay.”

“Aku tahu.” berkata Ie Lip Tiong, “maka menyuruh muridmu

memalsukun diriku. Turun gunung dan membunuh orang lagi. Ini

juga termasuk salah satu pertandingan Lo san cu?”

Ai Pek cun menganggukkan kepala, berkata :

“Tepat!!. Kukira betapa cerdiknya Hong lay san ong dan sembilan

duta istimcwa berbaju kuning, tidak mungkin mereka bisa

menyangka bahwa Ie Lip Tiong itu adalah Ie Lip Tiong palsu. Ie Lip

Tiong bisa membunuhnya.”

Lagi2 cara lama. Hati Ie Lip Tiong mencelos Bila kejadian ini

dibiarkan terus menerus, sesudah Su khong Eng memalsu dirinya.

mudah saja membunuh Hong lay sian ong sekalian. Pikirannya

segera bekerja cepat. ia bisa menguasai siasat busuk itu, tiba2 ia

tertawa berkakakan :

“Ha, ha, ha, ha,……..hebat!…….lihay…..”

Kejadian ini berada diluar dugaan Ai Pek cun, ia sedang

menunggu reaksi Ie Lip Hong. Tentu menjadi kaget. Sangat kuatir,

menjadi bingung dan lain2nya lagi. Tapi apa yang dinantikan itu

tidak kunjung datang, Ie Lip Tiong tertawa berkakakan. Seperti

orang yang sangat girang.

“Hai.” ia berkata. “Melihat reaksimu yang seperti ini, mungkinkah

muridku tidak bisa berhasil?”

“Kuharapkan saja bisa berhasil.” berkata Ie Lip Tiong.. “Sungguh

tipu lihay!”

“Mengapa kau tertawa berkakakan?” bertanya Ai Pek cun dengan

suara geram.

“Hanya aku seorang yang tahu, mengapa aku bisa tertawa

berkakakan.”

“aku seperti sangat girang.”

“Aku memang sangat girang.” berkata Ie Lip Tiong.

“Huh!” Ai Pek cun berdengus. “Biar kujawab pertanyaanmu itu.

jangan anggap aku orang tolol. Sesudah Duta Istimewa berbaju

kuning mati, untuk menghindari terulangnya kembaii kejadian lama

itu. kukira kalian sudah mengeluarKan kode2 rahasia. Misalkan,

mengambil umpama, bilamana kalian bertemu mengucapkan

beberapa kata kode, atau menggerakan kode tangan, Hal ini bisa

menghindari terjadinya pembunuhan gelap lain. Hal ini bisa

menghindari terulangnya kejadian lama. Muridku tidak mengetahui

kode itu, sewaktu dia tiba dimarkas besar Su hay long sim beng,

segera terbongkarlah kepalsuannya, ia akan tertangkap basah.

inikah yang kau tertawakan.”

Ie Lip Tiong berhasil membawa peranan, bilamana ia

menunjukan sikap bersedia, bila mana ia membawakan sikapnya

yang sangat kuatir, tentu Su khong Eng sudah memalsukan dirinya,

membunuh Hong lay Sian ong.

Karena itu ia tertawa berkakakan. Menganggap remeh semua

kejadian. Ia tidak gentar, seolah2 tipu baik dari Su khong Eng itu

telah mempunyai cacad. Masuk kedalam perangkap. Dan betul2 Ai

Pek cun menduga seperti itu.

“Otakmu termasuk otak cerdik.” berkata It Lip Tiong. “Dugaanmu

kukira tidak jauh.”

Ai Pek cun tertawa dingin seraya berkata:

“Aku tahu, tidak mungkin kau mau memberi dan mengucapkan

kode2 rahasia itu.”

“Lagi2 dugaan yang tepat! Kau lebih bisa menyelami isi hatiku.”

berkata Ie Lip Tiong.

“Tidak menjadi soal ” berkata Ai Pek cun. “Ada atau tanpa kode2

rahasia itu, kami bisa melaksanakan rencana. Lihat sajalah.

Bagaimana kau akan menderita karenanya.”

Berkata sampai disini Ai Pek cun menggapai kearah Phoa Kim

Hoi, berkata kepada gula itu:

“Mari. Kita keluar.”

Sesudah Ai Pek cun dan Phoa Kim Hoa keluar, Ie Lip Tiong

memperhatikan penjara tempatnya. Ia pernah meneliti segala

sesuatu, di kala Su khong Eng masuk dan keluar, Su khong Eng

tidak membawa kunci. Memang, kamar penjara itu berupa kamar

rahasia. Kamar istimewa. Tidak ada kuncinya. Janganlah hanya jari2

seperti itu bisa dimasuki dengan bebas. Bisa dibuka dan ditutup

dengan bebas. Inilah membingungkan Ie Lip Tiong. Disitu kamar

penjara Ie Lip Tiong seperti berupa jendela. Hanya dikurung oleh

besi saja, tiada kunci.

Ie Lip Tiong mencoba menarik atau menggesor besi itu. Tidak

berhasil. Besi itu tidak bergerak. yang mengirangkan hatinya, besi

itu bisa diputar.

Ie Lip Tiong bisa membayangkan putaran putaran besi malah

yang menjadi pokok pertama, dengan memutar beberapa kali ke kiri

atau kekanan, maka pintu penjara bisa terbuka.

Dengan tekun dan rajin, Ie Lip Tiong mencoba, ia mulai

menggeser besi yang sebelah kiri, dicobanya diputar sekali dan

dibalikkan dua kali satu persatu dijajalnya.

Dugaan Ie Lip Tiong tdak salah, Su-khong Eng memasuki

tahanan aneh itu, hanya memutar besi. Entah kekanan atau kekiri,

yang jelas hanya memutarnya, maka rahasia yang ada itupim

tersentak keluar, mereka bisa membuka pintu penjara.

Ie LiP Tiong juga hendak mengikuti cara itu. tetapi ia tidak tahu

kode2 tertentu tentu saja tidak mudah.

Satu harian penuh, Ie Lip Tiong mencoba mencari kode rahasia

dari pintu penjara aneh partai Raja Gunung.

Tidak begitu mudah Ie Lip Tiong tidak berhasil.

hari berikutnya, seorang berjalan masuk kedalam bagian penjara.

Orang itu berbentuk rupa Ie Lip Tiong. tanpa dikatakan, Ie Lip Tiong

bisa menduga, siapa yang bisa menyamar sebagai dirinya. tentu

sipemuda misterius yang dahulu berkerudung hitam su khong Eng.

Sungguh luar biasa cara cara berdandan Su-khong Eng sangat

menakjubkan. Sangat mirip dengan apa yang dikenakan oleh Ie Lip

Tiong, Disana ada dua Ie Lip Tiong, satu didalam penjara dan satu

diluar penjara.

Ie Lip Tiong palsu mengenakan baju kuning. inilah baju

kebesaran Su hay long sim beng. Punggungnya terselip pedang,

gerakannya sangat mewah. inilah getakkan Ie Lip Tiong asli. inilah

hasil dari penyelidikannya yang ditekunkan berhari2.

Ie Lip Tiong palsu tertawa pada Ie Lip Tiong asli, dengan

memperlihatkan dua baris giginya, ia berkata:

“Ie Lip Tiong, hari ini aku pamit kepadamu”

Dengan menekan kemarahan dalam dada yang meluap2, Ie Lip

tiong berusaha menenangkan dirinya. Katanya:

“Kuucapkan selamat dalam perjalanan.”

“Terima kasih” berkata Su khong Eng dengan suara dilogatkan

seperti suara Ie Lip tiong. “Akan kuusahakan sebisa mungkin

menalangi kau melakukun sesuatu yang menggemparkan rimba

persilatan.”

“Apa?”

“Aku akan mengangkat naik namamu.” berkata Su khong Eng.

“Mulai saat ini Ie Lip Tiong akan cukup menggemparkan rimba

persilatan.”

“Aku tidak dengar.” berkata Ie Lip Tiong. “Bisakah kau datang

lebih dekat? Bisa kau bicara lebih jelas? Telingaku telah kemasukan

air. Sampai sekarang masih mampet.”

Tentu saja Su khong Eng tidak berani manerima saran2 seperti

itu, ia tidak maju, ia mundur kebelakang, hal ini penting mengingat

ilmu kepandaian Ie Lip Tiong yang bisa membunuhnya dari jarak

dekat. Ia berkata :

“jangan kau main2 lagi. Aku tidak bisa masuk perangkapmu.”

Ie Lip Tiong mengerahkan semua tenaganya memukul kedepan

disertai dengan suara bentakan :

“Roboh!!”

Inilah tiga pukulan geledek! Pukulan yang mengandung maut

dahsyat!

Tapi jari2 besi penjara raja gunung sangat kokoh, hanya

melengkung, tidak bisa terganggu sama sekali.

Pukulan Ie Lip Tiong tidak bisa mengenai Su-khong Eng.

ooo0ooo

BAB-34

TUJUH HARI kemadian, sesudah Su-khong Eng meminta diri

kepada Ie Lip Tiong, ditengah jalan raja, berjalan seorang Ie Lip

Tiong, tentu saja Ie Lip Tiong palsu. Itulah Su-khong Eng.

Ia pergi dengan maksud tujuan gunung Bu-tong, tidak lagi

kegunung Oey-san tempat yang menjadi markas besar Su-hay-tong

sim-beng. Seperti apa yang Ai Pek cun katakan kepadanya, pergi ke

Su-hay-tong-sim-beng mungkin menemukan bahaya. Besar

kemungkinan duta-duta istimewa berbaju kuning atau orang seperti

Su hay tong-sim-beng memberikan kode rahasia, bilamana mereka

bertemu muka, maka mereka harus menggunakan kode2, bagi siapa

yang tidak menggunakan kode itu berarti manusia palsu. Dengan

mudah saja mereka bisa menyergapnya.

Su-khong Eng, Ai Pek cun dan Lo-san cu mempunyai kesan yang

sama. Karena itu mereka menugaskan Su khong Eng kegunung Bu

tong. Mengganti taktik perang.

Membunuh ketua partay Bu tong pay adalah lebih mudah dari

pada membunuh ketua Su hay tong sim beng. Apa lagi dilakukan

secara menggelap.

Dengan siasat ‘Melempar batu menyembunyikan tangan’ Su

khong Eng hendak menjerumuskan Ie Lip Tiong kedalam kesulitan .

Sudah tujuh hari Su khong Eng melakukan perjalanan seorang

diri, ia agak kecewa, karena tidak pernah menjumpai sasaran.

Hari ini, Ia aedang memacu kudanya di bawah pegunungan Tay

ang san.

Dan depan Su khong Eng. juga berlari datang dua ekor kuda,

kedua penunggangnya adalah tokoh silat ternama, mereka

berpapasan.

Dua penunggang yang datang adalah dua laki2 berbadan besar,

wajahnya sangat mirip inilah saudara kembar. Satu berpakaian biru,

satu b«rpakaian hijau, dipunggung masing2 tergembol sebuah

senjata Phoan-Toan pit.

Kedua jago silat itu seperti kenal kepada Ie Lip Tiong,

mengetahui orang yang datang berbentuk wajah dan berdandan

serta mempunyai potongan badan Ie Lip Hong, tentu saja mereka

menganggukkan kepala, inilah tanda penghormatan, menyilahkan Ie

Lip Tiong palsu lewat.

Hampir mereka beselisih. Tapi Ie Lip Tiong palsu tidak mau

melepaskun kesempatan itu. cepat2 ia menggebrak balik kudanya

dan berteriak :

“Tunggu dulu!!”

Dua penunggang kuda itu menarik les tunggangannya, memberi

hormat kepada Ie lip Tiong dan bertanya :

“Saudata Ie Lip Tong ada perintah?”

Tentu saja Su khong Eng tidak kenal kepada dua orang itu, ia

membalas hormat dan berkata :

“Bagaimana sabutan jiwie berdua yang mulia?”

Sijago silat yang berbaju biru berkata : “Kami ca cu Eng dari

Tiang-pek-san. Dan inilah saudara kami namanya ca cu Beng.”

Su-khong Eng bertanya lagi :

“jiwie berdua pernah kenal kepadaku ?”

jago berbaju biru ca cu Eng berkata :

“Diwaktu saudara Ie Lip Tiong menerima penasaran. dikala

mereka hendak menghukum dirimu kami berdua ada turut serta.

Itulah kejadian digunung Lu-san.”

Su khong Eng lompat turun dari kudanya, menghadapi ca cu Eng

dan ca cu Beng, ia menurunkan pedang, menghadapi dua saudara

kembar itu, lalu berkata :

“Kupersilahkan saudara ca cu Eng dan saudara ca cu Beng turun

dari kuda tunggangan.”

Wajah ca cu Beng berubah, ia bertanya :

“Apa maksud saudara Ie Lip Tiong?”

Su khong Eng menggoyang2kan pedangnya dan berkata :

“Aku baru saja membeli pedang. hendak kujajal ketajamannya.

Entah bagaimana, bila berhadapan dengan lain senjata, khusus

ditujukan untuk melawan phoan-koan pit”

Ca cu Eng menekan segala rasa kesalnya dan berkata :

“Saudara Ie Lip Tiong jangan menggoda orang. Untak menjajal

pedang, dipinggir pun banyak pohon, bukan ?”

Phoan koan pit adalah senjata2 dua saudaranya.

Ie Lip Tiong palsu mengerlipkan matanya dan berkata:

“Pohon hanya berupa benda mati. Manusia mempunyai gerakan

hidup. aku tidak ingin yang mati. Aku hendak menjajal kepada yang

hidup ”

Ca cu Eng menekuk wajahnya, tapi sedapat mungkin ia tidak

bentrok pada tokoh silat luar biasa dari kota Tiang an ini, ia berkata:

“Tindak tanduk saudara Ie Lip Tiong hari ini sangat

mengherankan sekali. Diantara kita, tidak pernah menaruh dendam.

Apa lagi diantara kedua partai Oey san pay dan Tiang pek tay tidak

ada permusuhan, dikalangan saudara Ie Lip Tiong menerima fitnah,

golongan kami pernah membantu untuk mencucikan diri,

mengapa……”

Ie Lip Tiong menunjukkan senyumnya, ia menantang:

“Katakanlah saja, bahwa kalian tidak berani menerima

tantanganku. cukup!”

ca cu Beng lebih cepat naik darah, ia lompat turun dari kuda

tunggangan, mengeluarkan senjatanya.

Ca cu Eng juga mengikuti sang saudara, mereka adalah saudara

kembar, pikirannya sejalan. tidak jauh berbeda, berbareng mereka

berkata :

“Baik. Biar aku yang menghadapinya.”

Ca cu Beng berkata cepat. :

“Aku dulu yang menghadapinya.”

“Kalian berdua maju berbarenglah ” Su-khong Eng menantang.

Ca Cu Beng berteriak geram :

“Kami dari golongan Tiang-pek pay belum pemah mengeroyok

orang. Seorangpun cukup.”

“Baik.” berkata Su khong Eng. “Kau boleb maju lebih dahulu,”

Tentu saja Ca cu Beng tidak tahu bahwa Ie Lip Tiong yang

berada didepannya bukanlah Ie Lip Tiong asli, ia menyangka bahwa

Ie Lip Liong ini baru mendapat nama, sangat congkak sekali, hendak

mengalahkan semua orang yang ada. Untuk mengangkat pamor

sendiri, untuk mendapat identitas yang lebih cepat. Maka ia

menerima ajarannya, menerima tantangan perang itu. senjatanya

dikedepankan, membuat satu penyerangan penghormatan.

Secepat itu pula Su-khong Eng bergerak. Gesit sekali, ia sudah

berada dibelakang ca cu Beng, pedangnya ditusukkan kedepan.

Dari desiran angin yang menyerang. ca cu Beng mengerti bahwa

musuh itu telah berada dibelakangnya, ia siap untuk membalikkan

badan, dan menempur lebih lanjut, tapi ia terlambat, pedang Su

khong Eng yang begitu cepat telah menembus dari belakang dan

dibarengi dengan jeritannya

“Aaaaaa……..”

tubuh ca cu Beng rubuh mandi darah.

Su khong Eng betul2 seorang manusia kejam, mengenai

serangan tadi, kaki dienjot menendang tubuh Ca Cu Beng, menarik

keluar pedangnya, dan menyusut darah yang berlepotan diatas

senjata itu.

Ca cu Eng tdak menduga bahwa hanya dengan satu gebrakan

saja, saudaranya terbunuh mati. Ia juga lebih tidak mengerti bahwa

Ie Lip Tiong ini pernah menerima pembelaan dari golongannya.

mengapa air susu dibalas dengan air tuba? Kemarahan atas

kematian sang saudara meluap luap. ia mengayun senjata dan

mengepruk kearah Su khong Eng, mulutnya berteriak :

“Manusia gila, biar aku mengadu jiwa.”

Kali ini Su khong Eng mamapaki datangnya serangan.

Trang………….. dua senjata beradu.

senjata ca cu Eng terpental pergi.

Kematian sang saudara telah menggelapkan mata ca cu Eng. ia

memukul dengan sekuat tenaga, toh masih kala seketok, tangannya

ke-semutan, senjata Phoan-koan pit terpental terbang, ia bukan

tandingan Su-khong Eng, walau demikian, karena tekadnya untuk

mati bersama sudah dibulatkan, tanpa mundur lagi, tanpa bersedia

menarik atau mencari senjata yang sudah terlempar itu, ca cu Eng

bergeram keras, dengan sepasang tangan yang di cengkeramkan, ia

menubruk kearah Su khong Eng.

Maksud Tia cu Eng yang seperti itu adalah mengadu jiwa, ia

berharap bisa menerkam lawannya, maka mereka mati bersama.

Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh Su-khong Eng ,

mudah saja membunuh ca cu Eng, tapi bukan menjadi tujuannya

untuk membunuh semua orang yang penting, ia hendak

mengacaukan suasana, mengacaukan rimba persilatan, memfitnah

ulang kepada Ie Lip Tiong, agar semua orang menaruh dendam

kepada Ie Lip Tiong. Membunuh ca cu Beng seorangpun sudah

cukup, mendapat serangan ca cu Beng tadi, ia melejit kesampmg.

dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa, ia sudah

berada di belakang ca cu Eng. dengan membalikkan gagang

pedang, ia memukul punggung lawan itu.

“Bukk…..” dengan tepat, gagang pedang mengenai geger ca cu

Eng, tubuh itu terpental kedepan sehingga belasan tombak.

Su khong Eng tertawa berkakakan, dirinya dilejitkan. dan kini ia

sudah berada diatas kuda tunggangan. Les kuda ditarik dan tarr, ia

melarikan diri

Meninggalkan ca cu Eng yang sudah menderita luka.

Membiarkannya membuat propaganda, bahwa seseorang Ie Lip

Tiong telah membunuh saudaranya.

Su khong Eng melanjutkan perjalanan. Kini pada malam harinya,

ia tiba dikota Siang-yang.

Rumah penginapan yang terkenal dan terbesar dikota Siang

yang. Adalah rumah penginapan Ka Pin. Su khong Eng langsung

menuju kearah rumah penginapaa itu. Tiba dirumah penginapan, ia

loncat turun dari kudanya, menyerahkan tunggangan itu kepada

pelayan istal, dengan langkah lebar ia memasuki ruangan.

Seorang pelayan menyongsong datang, ia berkata dengan

tertawa :

“Kongcu ini hendak bermalam ?”

“Betul.” terkata Su khong Eng. “Beri aku kamar yang besar,

kamar yang paling bersih.”

“Baik. Silahkaa Kongcu ikut kepada kami.”

“Tunggu dulu.” berkata Su khong Eng. “Mengapa tidak

mendaftar?”

“Tidak menjadi soal.” berkata si pelayan. “Pendaftaran boleh

dilakukan belakangan, Kongcu boleb melihat kamar lebih dahulu.”

“Tidak. Aku hendak melakukan pendaftaran dahulu ”

“Ba…….baik.” pelayan itu batal kebelakang. Ia mengajaknya

kebagian pendaftaran. dan berkata kepada orang yang berada

disana:

“Kongcu ini hendak mendaftar.”

Orang yang memegang buku pendaftaran menyodorkan

catatannya, ia menyerahkan alat tulis dan bertanya:

“Bagaimana sebutan Kongcu yang mulia?”

“Ie Lip Liong.” jawab Su khong Eng singkat.

Tentu saja, tanya jawab itu diikuti dengan seksama, dan orang

yang mendapat tugas melakukan pendaftaran menulis nama: Ie Lip

Tiong.

“Seperti ini?” Ia masih ragu ragu. menyodorkan nama yang

bertuliskan Ie Lip Tiong itu, dlperlihatkan kepada Su khong Eng.

Su khong Eng melihat dengan tegas, betul disana tertulis ,Ie Lip

Tiong. Ia menganggukkan kepala, dan mengikuti sipelayan tukang

antar. Untuk mencari kamar penginapan. Disaat Su khong Eng

melihat buku catatan itu, hatinya terkejut. Tepat di atas namanya

terdapat tulisan yang berbunyi Ai Ceng, Ai ceng menggunakan

kamar nomor tiga belas.

Dengan diantar dengan pelayan rumah penginapan, Su khong

Eng meminta kamar nomor empat belas.

Pelayan itu mendorong pintu kamar, menyilahkan Su-khong Eng

masuk, hendak melihat reaksi sang tamu. puas atau tidaknya dari

pelayanan mereka itu.

Su-khong Eng menganggukkan kepala, ia sangat puas, sehingga

begitu kebetulan, ia mendapat kamar yang disebelah Ai ceng.

Pelayan rumah penginapan tersenyum ramah, ia siap2

meninggalkan kamar penginapan.

“Tunggu dulu.” berkata Su-khong Eng.

“Kongcu ada perintah lain?”

“tolong sediakan satu meja makanan. Bawa kekamar ini.”

“Satu meja?” pelayan itu membelalakan mata. Belum pernah ada

seorang tamu yang meminta makanan sampai satu meja. Apa lagi

dibawa masuk kedalam kamar.

“betul.” berkata Su khong Eng. “Lakukanlah perintahku.”

“Kongcu ada menunggu tamu ?” bertanya sipelayan rumah

penginapan

“Untuk makan dua orang.” berkata Su-thong Eng.

“Bila kawan kongcu itu datang ?”

“Ia sudah datang” berkata Su khong Eng “Dia menetap dikamar

sebelah.”

“Oh……Gadis berkepang dua itu?”

Su-khong Eng menganggukkan kepala. “Lekaslah kau

menjalankan perintah.” ia mengusir

Pelayan rumah penginapan itu tidak berani bertanya lagi. Ia

mengundurkaa diri.

Sesudah pelayan itu berangkat pergi. Su-khong Eng, merapihkan

pakaiannya, meninggalkan kamarnya, menuju kekemar sebelah.

ialah kamar Ai ceng. Ia mengetuk pintu.

“Siapa ?” terdengar suara Ai ceng didalam kamar.

“Aku.” berkata Su khong Eng membawakan lagu suara Ie Lip

Tiong.

Pintu terbuka, disana duduk seorang gadis berkepang dua, siapa

lagi bila bukan putri Ai Pek Cun, sigadis cantik Ai ceng. Ai Pek cun,

dan Ie Lip Tiong palsu berpandnngaan. Ai Ceng tidak kenal kepada

wajah ini. Dimasa ia bertemu dan jatuh cinta kepada Ie Lip Tiong,

sipemuda mengubah dirinya menjadi It kiam-tin bu lim Wie Tauw,

itulah laki2 setengah umur, sedangkan apa yang dihadapi adalah

seorang pemuda yang cakap dan tampan. Inilah wajah Ie Lip Tiong

yang aseli.

Ai ceng yang tidak tahu bahwa orang yang ada didepannya ini

adalah sang suheng. Orang yang sangat d benci, orang yang tidak

disetujui olehnya. orang yang dicalonkan sebagai suaminya oleh

sang ayah sendiri.

Su khong Eng mengingat ingat betul rol yang sedang diprgang

olehnya, dia adalah Ie Lip Tiong. jika ia membawakan peran Ie Lip

Tiong, ia memberi hormat kepada Ai ceng.

“Siapa kau?” bertanya Ai ceng mengerutkan alis.

“Sudah lupa kepadaku?” bertanya Su khong Eng.

“Aku tidak kenal kepadamu. Lekas pergi.” bentak Ai ceng.

“Aku Ie Lip Tiong.” Su khong Eng memperkenalkan diri.

“Aaau…………” Ai ceng membelalakkan mata. “Ie Lip Tiong ?”

Ditatapnya wajah tampan yang menarik hati itu, semakin lama

semakin terpikat. Ai ceng sadar, bahwa It kiam tin bu lim Wie Tauw

adalah nama palsu, nama aselinya adalah Ie Lip Tiong. Wajah lakilaki

setengah umur itupun wajah palsu. Ie Lip Tiong masih berumur

sangat muda, ternyata ia berhasil menemukan wajah aslinya.

“Bagaimana kau tahu bahwa aku berada didalam kamar ini?”

bertanya Ai ceng.

“Aku tinggal dikamar sebelah.” memberi keterangan Su khong

Eng. “Sudah kusediakan perjamuan untukmu, mari kita makan

bersama.”

“Kau keluar dahulu.” berkata Ai ceng. “Aku hendak ganti

pakaian.”

Su khong Eng tertawa, ia berhasil lagi. Meninggalkan Ai ceng.

Dan balik kekamarnya.

Didalam kamar Su khong Eng, pelayan rumah penginapan sudah

menyediakan meja, ia sedang merapihkan alat perabot makan.

Su khong Eng bertanya kepada sipelayan : “Masih lamakah?”

“Segera tiba” berkata pelayan itu. “Kong-cu tidak mandi dahulu?

Tidak membersihkan diri?”

“Tidak.” jawab Su khong Eng. “Sesudah makan masih keburu.”

Betul saja, tidak lama kemudian, makanan pun tiba.

Mengawasi bagaimana pelayan itu merapikan makanan, Su

khong Eng berkata :

“Nah kalian boleh pergi. Tanpa ada panggilanku, jangan masuk

ya.”

“Baik.” Pelayan itu mengundurkan diri.

Menunggu lagi beberapa waktu, bayangan Ai ceng pun muncul.

Su khong Eng menyambut kedatangan sigadis, menyilahkannya dan

berkata:

“Silahkan masuk, mari kita makan bersama.”

Ai ceng berjalan masuk. Memasuki kamar Su khong Eng.

Su khong Eng telah merencanakan sesuatu, ia segera mengunci

pintu kamar.

Wajah Ai ceng berubah, ia membentak: “Apa yang kau mau?”

“Aku tidak mau diganggu.” berkata Su khong Eng. “Perpisahan

kita terlalu lama. Baik2 kita berpesta.”

Dengan wajah asam cemberut Ai ceng mengambil tempat

duduknya.

“Ku dengar kau telah menduduki kursi Duta Ketiga belas dari Su

hay tong sim beng.” berkata sigadis.

Su khong Eng menganggukkan kepalanya.

“Mengapa?” berkata sigadis tidak puas.

Seperti apa yang sudah kita ketabui, Ai ceng adalah puteri Ai Pek

cun, ia jatuh cinta kepada It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, itulah asal

mulanya Ie Lip Tong. Kedudukan Ai Pek cun sebagai salah satu

anggota raja Gunung bertentangan dengan Ai Lip Tiong yang berdiri

dipihak lima partai besar.

Adanya Ie Lip Tiong memasuki gerakan Su tay long sim beng,

tentu saja lebih bertentangan dengan tujuan golongannya. Maka Ai

ceng mengajukan pertanyaan yang seperti di atas.

Su khong Eng tersenyum senyum. Inilah senyuman Ie Lip Tiong.

“Lebih baik merundingkan urusanmu, ku dengar ayahmu telah

menjodohkanmu dengan Suhengmu. juga dikatakan orang, kau

sangat cinta kepadanya, mungkinkah ada kejadian yang seperti ini?”

Ai ceng menundukkan kepala, kedua matanya mengeluarkan air

mata, dengan pedih dan sakit, ia memandang Ie Lip Tiong palsu, ia

berkata lemah :

“Kukira kau sudah tidak cinta lagi kepadaku.”

“Tidak. Biar bagaimana kedudukan kita tsdak sama, aku harus

memikul hari depan kita”

“Katakan saja terus terang, bahwa kau sudah bosan.” berkata Ai

ceng menangis semakin sedih

“Kau tidak bosan kepada Su khong Eng?”

“Kuharap kau jangan menyebut nama Shu Khong Eng.” berkata

Ai Ceng

Su Khong Eng mengertek gigi, “mengapa?” tanyanya.

“Mungkinkah dia sangat buruk sekali?”

“Bukan wajahnya yang buruk, tapi hatinya terlalu buruk ”

Su khong Eng menyodorkan arak, inilah termasuk salah satu

rencananya.

Ai ceng yang sangat bersedih, menenggak arak itu.

“Kau kemana selama ini?” bertanya si gadis.

“Gunung Bu tong.”

“Mengapa ?” Ai ceng terkejut.

“Lima partai besar adalah musuhku. Diantaranya juga Bu tong

pay, satu persatu aku harus menuntut balas dendam.”

Dengan kepintarannya, Su khong Eng berhasil menyodorkan arak

lagi, Ai ceng juga tidak sadar bahwa ia telah masuk kedalam

perangkap orang, ia mengeringkan arak itu. Minum arak terus

menerus, akhirnya Ai Ceng tidak berdaya, kepalanya menjadi

pusing. Su khong Eng tertawa nyengir, menggoyangkan tubuh

gadis.

ha, sudah tidak ada reaksi. Diangkatnya, dan dibaringkan

ditempat tidur………

Bagaimana nasib Ai Ceng yang terjatuh ketangan Ie Lip Tiong

palsu?

Untuk sementara kita tangguhkan. Kita mundur kembali

sebentar, mengalami pengalaman pengalaman Ie Lip Tong yang

asli.

Ie Lip Tiong masih terkurung didalam penjara partai Raja

Gunung. Pintu penjara itu begitu aneh. tidak ada kunci, hanya terdiri

dari jari besi,

Kunci untuk membuka pintu- penjara berada pada jari besi

penjara itu. Ie Lip Hong masih memutar2nya, ia hendak

menemukan rahasia pemutaran jari2 besi yang bersangkutan.

Sepuluh hari telah dilewatkan……

Ie Lip Tiong belum berhasil menemukan cara bagaimana

membuka pintu penjara.

Pada hari berikutnya, didepan pintu penjara muncul dua orang,

itulah Tho It Beng dan Ai Pek cun.

Tho It Beng dan Ai Pek cun langsung menghampiri kearah kamar

tahanan Ie Lip Tiong.

Hati sipemuda berdebar2 keras. Kini nasibnya sudah ditentukan.

Dengan berusaha menangkan hatinya, ia berkata:

“Waktu satu bulan belum cukup. Mungkinkah Lo san cu kalian

sudah mempunyai pendirian lain?”

Menurut apa yang dijanjikan oleh sang Lo sian cu, Ie Lip Tong

akan dikurung di tempat itu selama satu bulan. Kini waktu itu belum

cukup. Tapi Ai Pek cun dan Tho It Beng sudah datang berbareng,

tentu mempunyai maksud tujuan lain.

Su khong Eng telah berangkat dari Markas Besar partai Raja

Gunung dengan disertai perubahan wajah dan badan yang

sempurna. Ia telah menjelma sebagai Ie Lip Tiong. Satu berada

dalam tawanan, partai Raja gunung. Lainnya sedang mengganas

didalam rimba persilatan.

Bisa dibayangkan oleb Ie Lip Tiong, perbuatan perbuatan apa

yang sudah dilakukan oleh Su-khong Eng. Tentunya getah

kejahatan telah berjatuhan, fitnah2 jahat berterbangan. Betapa

berat dosa yang dibuat oleh Su khong Eng, dosa yang dijatuhkan

kepada dirinya?

Ie Lip Tiong mengelah napas.

Ai Pek cun menghampiri pintu penjara, memegang jari besi itu

dan berkata kepada Ie Lip Tiong :

“Selama delapan hari iai, kau berusaha terus menerus untuk

membuka pintu penjara. tapi tidak berhasil, bukan? Sangat

menyedihkan sekali”

Wajah Ie Lip Tiong berubah. Ternyata usahanya telah diketahui

orang. Percuma saja ia bersusah payah, toch akhirnya tidak

berhasil, Dimisalkan berhasil, juga tidak mungkin bisa melarikan diri.

Orang sudah mengetahuinya lebih daliulu.

“Luar biasa.” ia berkata “jaringanmu terlalu luas. Segala usahaku

tidak lolos dari mata kalian.”

“Lihat.” berkata Ai Pek Tun. “Bagaimana cara2 hams membuka

jari2 besi ini.”

Ai Pek cun memegang jari2 besi yang ke tiga, tangan kirinya

memegang besi yang ketujuh, secara serentak, ia memutarkannya

ke arah dalam, beruntun sehingga sepuluh putaran. Terdengar,

krek, maka pintu itupun terbuka. Ialah pintu rahasia!

“Aaaaa……” Ie Lip Tiong mengeluarkan teriakan tertahan.

“Ternyata hanya memutar dua batang saja, aku tidak tahu, betul2

goblok sekali.”

Ai Pek cun mundur tiga langkah dan mengeluarkan bentakan :

“Keluar !”

Ie Lip Tiong keluar dari kamar penjara, ia siap bergebrak dengan

Ai Pek Cun, tapi, niatan ini segera dibatalkan, untuk menghadapi

jago tua itu, belum tentu ia bisa kalah

Tapi di samping Ai Pek cun masih ada Raja Silat lainnya, inilah

Tho It Beng, dengan ilmu kepandaian Tbo It Beng, tidak mungkin Ie

Lip Tong bisa meloloskan diri. Semangatnya gugur mendadak, mau

tidak mau, ia harus menyerah. Percuma saja berusaha. Melarikan

diri berarti mencari penjakit. Ia tidak mau melakukan usaha yang

sia2. Karena itu ,ia menerima segala perintah.

“Mau menutup mata lagi?” Ie Lip Tiong bertanya.

Dugaan Ie Lip Tiong tidak salah, Ai Pek cun sudah mengeluarkan

selembar kain hitam menutup sepasang matanya. Dengnn

penutupan mata yang seperti ini. Maka Ie Lip Tiong tidak tahu,

dengan cara bagaimana ia dibawa keluar. tempat mana yang

dilewati olehnya. Maka semua kemisteriusan Raja gunung terjamin

baik.

Sesudah menutup kedua mata Ie Lip Tiong, Ai Pek Tun

membentak :

“jalan!”

Digiring oleh Ai Pek cun dan Tho It Beng, Ie Lip Tiong

meninggalkan tempat penjara.

Beberapa waktu kemudian, terdengar Ai Pek cun berkata dengan

sangat hormat : “Suhu, Ie Lip Tiong sudah dibawa datang.”

Terdengar suara Lo-san-cu berkata : “Buka tutup kerudung

matanya.”

ooo0ooo

BAB 35

DIKALA Ai Pek cun membuka tutup kerudung muka Ie Lip Tiong,

sipemuda bisa menyaksikan bahwa dirinya telah berada diruang

Pek-houw-tong.

Didepan Ie Lip Tiong, kecuali Ai Pek cun dan Thio It Beng, masih

ada Lo-san-cu, dibelakang Lo-san cu berdiri raja silat lainnya.

Lo-san-cu menghadapi Ie Lip Tiong dan berkata kepada

sipemuda:

“Kau pernah menciptakan seorang tokob It kiam tin bu lim Wie

Tauw, dengan hasil yang gemilang! Didalam rimba persilatan, siapa

yang tidak kenal kepadamu? Aku juga telah menyaksikan, betapa

hebat ilmu kepandaianmu, betapa cerdik jalan pikiranmu, kau

adalah tandingan yang setimpal. Maka putusanku ialah

membebaskan dirimu. Sesudah itu, kita boleh bertanding secara

adil, siapa yang lebih unggul.”

Ie Lip Tiong tertawa, katanya:

“Aku tabu, Su khong Eng telah merusak habis2an namaku. Entah

berapa macam pembunuhan yang dilakukan oleh cucu muridmu

itu.”

“Maka kuberi kesempatan kepadamu untuk mencuci diri. Hendak

kulihat, bagaimana kau bisa mengelakan tuduhan dan serangan2

mereka ”

“Aku akan berusaha.”

“Bilamana kau tidak bisa mencuci dan dan membebaskan dari

tuduhan itu, lenyaplah ke sempatanmu untuk bertempur kembaii

Partai Raja Gunung selalu siap, menghadapi tantanganmu.”

“Baik. Kini kau hendak memberi kebebasan?” bertanya Ie Lip

Tiong.

“Belum.” berkata Lo-san-cu. Suaranya masih sangat lemah,

seolah2 tidak berkepandaian. “tunggu lagi sampai sepuluh hari. Itu

waktu kau pasti bebas”

“Aha,” tertawa Ie Lip Tiong. “Aku hendak dibuang disatu tempat

yang sangat jauh, dengan cara seperti ini aku tahu tidak bisa

mengetahui letak sarang markas besar kalian, bukan ?”

“Kau memang cerdik. Kau sangat pandai. Tapi dugaanmu tidak

tepat keseluruhannya.”

“Dibagian mans yang kurang tepat?”

“Sesudah tiba waktunya, kau bisa mengerti sendiri.” berkata Lo

san cu.

Seperti permulaan juga, Lo-san-cu ini masih menggunakan tutup

kerudung muka. Tidak terlihat jelas wajah aselinya, biar bagaimana

Ie Lip Tiong tidak habis pikir, bagaimana seorang Lo-san cu bisa

menguasai demikian banyaknya raja raja silat sesat? Bila tidak

memiliki kecerdikan otak yang luar biasa?

Kecerdikan serta kecerdasan otak Lo san cu tidak bisa disangkal

memang berada di atas semua orang. Pikirannyapun sangat tepat.

Sayang terlalu jahat. Hanya ilmu kepandaian sajalah yang masih

disangsikan dengan suara yang kurang bersemangat itu,

mungkinkah ia berkepandaian tinggi? Ie Lip Tiong ragu.

Lo san cu tertawa geram, kemudian berkata ;

“Ie Lip Tong, kau adalah orang satu satunya yang tertangkap

oleh partai raja gunung, serta mendapat kebebasan kembali, baik

baik kau menjaga diri. jangan sampai terjatuh kedalam tanganku

lagi!”

“Sebelumnya kuucapkan banyak terima kasih. aku akan baik2

menjaga diri.” berkata Ie Lip Tiong.

Lo san cu memandang kepada Ai Pek cun dan Ai Lam cun.

kemudian berkata kepada kedua murid itu :

“Ajak dirinya pergi. Disamping itu kalian, aku bisa mengutus

orang untuk meujaga sesuatu.

Ai Lam cun dan Ai Pek cun menerima perintah tersebut. Segera

mereka menotok jalan darah Ie LiP Tiong. Membekukan gerakan

gerakan si pemuda. Mengambil tali pengikat kain hitam lagi,

mengikat sepasang mata si pemuda itu, masih kurang puas, mereka

mengeluarkan karung goni yang sudah tersedia, memasukkan Ie Lip

Tiong kedalam karung goni itu, seperti menggendong beras saja,

mereka membawanya keluar. Meninggalkan ruangan Pek-houwtong,

meninggalkan markas besar partai Raja Gunung.

Ie Lip Tiong merasa dirinya tergendong, kemudian karung itu

dirasakannya bergerak.

Berlalu beberapa waktu, seolah2 loncat turun kesebuah perahu.

Dan per-lahan2 perahu itu bergerak. Terasa sekali alunan air yang

bergoyang2.

Tidak berapa lama, perahu itu telah mulai menepi. Ie Lip Tiong

tergendong kembali, ia seperti dibawa memasuki kedalam sebuah

kereta. samar masih terdengar suara Ai Pek cun berkata :

“Tho It Beng cianpwo juga turut serta naik kereta?”

Terdengar suara jawaban Tho It Beng :

“Tidak. Aku tidak suka naik kereta. Kalian berangkatlah terlebih

dahulu. cukup aku berjalan kaki.”

Terdengar suara Ai Lam cun :

“Kami harapkan bantuan locianpwe”

“Legakan hatimu.” Inilah suara co It Beng. “Kalian sudah

mengubah wajah. Tidak ada orang yang akan kenal lagi. Aku juga

tidak akan jauh dari kereta kalian. Bila terjadi sesuatu aku bisa

segera tiba.”

Tentu saja, dengan kecepatan kaki The It Peng, tentu saja tidak

takut ketinggalan, ilmu meringankan tubuhnya bisa menyaingi

kecepatan kuda.

Maka membarengi suara hardikan Ai Pek cun kuda itu ditarik,

kereta itupun berangkat.

Ie Lip Tiong mendapat totokan, ia tidak bisa bebas leluasa. Tapi

mulutnya masih punya hak bicara, ia merasa bahwa Ai Pek cun

sedang menjadi kusir kereta, Ai Lam Cun yang menemani dirinya

didalam kereta, ia berkata kepada mereka :

“La tong-kee, bolehkah mengadakan sedikit pembicaraan?”

Acuh tak acuh Ai Lam cun menjawab pertanyaan dari dalam

karung itu, katanya:

“Kukira tidak ada sesuatu yang penting, mengapa harus

mencapaikan mulut?”

Ie Lip Tiong berkata:

“Perjalanan masih terlalu jauh, bukan?”

“Ng ……” Ai Lam cun mengeluarkan suara dari hidung.

“Untuk mengisi kekosongan, ingin sekali aku mengoyang

goyangkan mulut.” berkata Ie Lip Tiong.

“Apa yang hendak kau katakan ?”

Ie Lip Tiong bertanya :

“Itu waktu, dikala mengadakan pertukaran tawanan, dengan

tawanan kami, Duta nomor tujuh dan Duta nomor Delapan yang

ditukar dengan Su-khong Eng dan Ai See cun, apakah yang telah

terjadi? Bisa kau cerita sedikit?”

“Tidak bisa.” berkata Ai Lam cun dingin.

“Kukira kalian menderita kerugian,” berkata Ie Lip Tiong.

“Hoh, jangan menganggap tinggi diri sendiri. Kedua tawanan

telah bertukar balik. Tidak ada sesuatu yang terjadi.”

“Kekuatan seimbang ?”

“Bila tidak ada kau yang menjadi tulang duri, Su-hay tong-simbeng

sudah berhasil di hancurkan. Hong-lay-sian-ong pasti binasa.”

“jangan marah.” berkata Ie Lip Tiong. “Takdir tidak bisa diubah,

belum waktunya bengcu kami menghentikan napasnya.”

Semakin lama, Ai Lam cun semakin marah, ia membentak”

“Hei, disaat pertempuran kita didalam rimba itu, siapa orang

yang membantu kau melarikan diri?”

“Orang tua berbaju abu-abu.” berkata Ie Lip Tiong.

“Hehe! ! Orang tua berbaju abu2?” berkata Ai Lam cun. “Tapi aku

tidak tahu, siapa orang itu ?”

“Bagaimana pertempuran kalian ?” bertanya Ie Lip Tiong.

“Dia tidak berani bertempur secara berterang. Sudah bergebrak

beberapa kali, ia pun pergi lagi. Melarikan diri.”

“Siapa yang melarikan diri?” bertanya Ie Lip Tiong.

“Orang yang menjadi backingmu itu.” berkata Ai Lam cun.

“Apa bukan kebalikannya ?” tertawa IeLip Tiong.

“tidak percaya? Panggil sekali lagi. Biar ia memukul diriKu.”

“Baik. Bilamana aku bertemu, aku akan menyampaikan pesan

kata2mu. Lain kali kau harus berhati2.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa orang yang menjadi

backingmu itu.” berkata Ai Lam cun.

“Beliau adalah guruku.”

“Guru?” Ai Lam cun tidak percaya. “Si hakim hitam can ceng Lun?

Duta nomor empat dan Su bay-tong-sim beng ?”

“Suhu sudah meletakan jabatan Duta nomor empat.” berkata Ie

LiP Tiong.

“Aku tahu.” berkata Ai Lam cun tenang. “Ia meletakan jabatan,

karena hendak menolong dirimu.”

“Ada alasan lain yang memaksanya meletakan jabatan.” berkata

Ie Lip Tiong.

“Alasan apa lagi?”

“Didalam anggapanku ini, menjabat duta istimewa berbaju

kuning dari Su-hay tong sim-beng terlalu terkekang. Ia tidak bebas.

maka sulit menemukan jejak kalian. Bilamana ia memakai pakaian

preman. Maka ia lebih mudah untuk mengikuti jejak kalian. Maka ia

melepaskan jabatan itu.”

Ai Lam cun tertawa dingin, seolah2 hendak mengucapkan

sesuatu lagi. Tapi tiba2 terdengar suara Ai Pek cun berkata :

“jieko, diseberang seperti ada orang.”

Ai Lam cun mengerti, cepat2 ia membekuk mulut Ie Lip Iiong,

dengan makaud agar pemuda itu tidak bicara, juga tidak bisa

berteriak.

Kereta masih berjalan terus…………..

Beberapa waktu lagi, terdengar suara Ai Lam cun yang tidak

terlalu keras :

“Samte, bagaimana keadaan ? Sudah bebas?”

Terdengar suara Ai Pek cun tertawa. : “Ia sudah pergi.”

“Betul2 ada orang ?” bertanya Ai Lam cun.

“Ilmu kepandaiannya sudah bertambah gesit, sudah jauh.”

“Siapa orang itu ?”

“Dari aliran kita sendiri.” berkata Ai Pek cun.

“Aliran kita sendiri ?”

“Ng …… kau kira siapa dia?”

“Aku didalam kereta, mana bisa tahu ?” berkata Ai Lam cun.

“Dia adalah Ai ceng!”

“Aaa …… ” Ai Lam cun berteriak.

“Mengapa kau tidak memanggilnya!”

“Tidak mungkln.” berkata Ai Pek cun. “Ai ceng telah cinta kepada

sibocah ini. Bilamana ia tahu, mungkin ia bisa mengganggu usaha

kita.”

Ai Lam cun berkata :

“Samte, baik juga kau membujuk dirinya. Dimisalkan ia tidak

cinta kepada Su khong Eng, juga tidak boleh cinta kepada Ie Lip

Tiong. Ketahuilah, bahwa bocah ini termasuk salah satu dari musuh

kita. Mana mungkin memungut mantu kepada seorang musuh?”

“Aiih……” Ai Pek cun menghela napas,

“Aku terlalu repot, tidak ada waktu untuk mendidik putriku itu.”

“Kemana arah tujuan Ai ceng?” bertanya Ai Lam cun.

“Mungkinkah hendak kembali kearah markas besar?”

“Kukira begitu.” berkata Ai Pek cun. “wajahnya sangat murung.

Kedua matanya bendul merah. Seolah2 habis menangis. Entah

kejadian apa yang telah menimpa dirinya? Mungkin menderita

kecewa dari sesuatu hal…..”

Ai Lam cun juga turut menghela napas, tidak bicara lagi.

Didalam karung, Ie Lip Tiong juga terkejut. Mengapa Ai ceng

berada ditempat ini? Mengapa matanya bendul merah? Kekecewaan

apa yang diderita oleh sigadis ? Dengan ilmu silatnya yang Ai ceng

miliki, didalam rimba persilatan sudah jarang ada tandingannya,

mungkinkah bisa dikalahkan orang ?

Benak pikiran Ie Lip Tiong segera menghubungi kejadian lama.

Su khong Eng telah keluar dari markas besar partai raja gunung.

Tentu saja sejalan. Mungkinkah Ai ceng bertemu dengan Su khong

Eng? Dimisalkan hai itu sampai terjadi…………

“Oh…….. tidak…….. tidak……..”

hati Ie Lip Tiong berteriak. “Tidak mungkin. Dunia bukan sedaun

kelor, mana mungkin sampai bentrok ditengah jalan. Mungkinkah Ai

ceng bertemu dengan Su khong Eng? Tidak mungkin. jangan

sampai terjadi hal itu. Ai ceng menangis, tentu berantam dengan

orang, tentunya kalah. Dengan adat aseran si gadis, tentu saja ia

menangis……….”

Disaat ini, Ai Lam cun telah melepaskan tangannya yang

membekuk mulut Ie Lip Tiong. Ia mengajukan pertanyaan :

“Ie Lip Tiong, kau turut dengar pembicaraan kami?”

“Dengar.” berkata Ie Lip Tiong.

“Heh, heh…….” Ai Lam cun mengeluarkan suara tidak sedap.

“Apa kesanmu ?”

“No comment.”

Ai Lam cun berkata :

“Kuberi peringatan kepadamu, lain kali, bilamana kau berani

menculik kemanakanku itu, hidup2 kau akan mengalami

pembesetan kulit. Aku tidak bisa memberi ampun.”

Ie Lip Tiong berkata :

“Bilamana kemenakanmu yang menggoda aku?”

Ai Lam cun menjadi marah, dia membentak keras :

“Tidak mungkin sampai terjadi hai seperti iiu.”

“Bagaimana dimisalkan mungkin terjadi?”

Dengan suara gerasa Ai Lam cun berkata .

“Maka kau tidak boleh melayaninya.”

Ie Lip Tiong tertawa, dengan suaranya yang dibuat buat ia

berkata :

“Lucu! Bagaimana kau bisa memaksa orang seperti itu ? Sedang

kemenakan sendiri tidak dikekang kuat ?”

“Berani kau membangkang?” Ai Lam cun mulai naik darah. Ia

membentak.

Mengetahui situasi keadaan yang tidak menguntungkan,

menyelami perasaan hati Ai Lam cun dan Ai Pek cun, Ie Lip Tiong

tidak mau menderita kerugian, ia diam.

Satu malaman dilewatkan.

Perjalanan kereta yang seperti itu sangat tidak enak sekali, ayam

mulai berkokok. Maka mengetahui bahwa pagi segera akan tiba.

Tentu saja, Ie Lip Tiong, tahu, apa yang harus dilakukan olehnya.

Tanpa melihat keadaan sinar matahari, walau dalam keadaan

sepasang mata terikat, walau dikurung dalam sebuah karung. Ie Lip

Tiong bisa me-ngira2, berapa lama lagi hari akan menjadi terang.

-oo0dw0oo-

Jilid 7

CRETT………….. tiba2 tali kereta ditarik roda-rodapun berhenti.

Perjalanan dihentikan.

Terdengar suara Ai Pek Cun yang lompat turun, berkata kepada

Ai Lam Cun yang berada didalam kereta :

“Jieko, kita istirahat sebentar”

Ai Lam Cun berkata :

“Baik Kukira ditempat ini tidak ada orang lewat, bukan ?”

“Mana mungkin ada orang.” berkata Ai Pek Cun. Suasana sangat

sepi dan sunyi. Juga terasing sekali.”

Ai Lam Cun memandang kedalam karung, ia mengajukan

pertanyaan kearah karung itu.

“Bocah, bagaimana perasaan perutmu Sudah lapar?”

“Sangat lapar sekali.” jawab Ie Lip Tiong dalam karung

Ai Lam Cun menyeret karung itu, membuka tali ikatannya, ia

melepatkan totokan Ie Lip Tiong sebentar dan berkata kepada si

pemuda:

“Jangan kau mencoba lari!”

“Tentu!” le Lip Tiong menganggukan kepala.

Ai Lam Cun memberikan makanan kering dan semangkuk air ia

memberi peringatan:

“Aku telah mcmbebaskan totokanmu. Kau harus berbuat jujur,

baik makan dan minum, tapi jangan coba main gila !” Aku. telah

mcndapat perintah, dengan sekali pukul, aku diperbolehkan

membunuh mati, manakala kau berani membuka kain penutup

matamu itu.”

Ini bukan peringatan main2. Ie Lip Tiong percaya betul. Maka ia

menganggukkan kepala berkata :

“Legakan hatimu, aku tidak mau melakukan perbuatan Vevire

Veri Coloso tanpa pegangan yang cukup kuat.”

Ai Lam Cun melepaskan pegangan tangan jang masih

mengekang pergelangan Ie Lip Tiong, maka ia sendiri makan dan

minum.

Betul Ie Lip Tiong mematuhi peringatannya , ia belum punya

niatan untuk melarikan diri. Karena ia maklumi, dengan ilmu

kepandaian yang dimiliki olehnya, menghadapi satu Ai Lam Cun atau

Ai Pek Cun saja, sudah cukup repot, kini dua saudara itu

menggencetnja dari depan dan belakang, mana mungkin bisa

melarikan diri? Dimisalkan ia berhasil melejit dan mengelecet

mereka juga tidak mungkin bisa melepaskan pengejaranpengejaran.

Apalagi mengingat adanya Tho It Beng yang membikin

pengintaian dari jarak jauh Raja Silat itu lebih sulit dihadapi Lebih

baik berlaku tenang, daripada menanggung resiko yang sangat

besar. Inilah sebab musababnya, mengapa Ie Lip Tiong belum ada

usaha untuk melarikan diri.

Sesudah diberi makanan kering, Ai lam Cun mengikat kedua

tangan dan kaki Ie Lip Tiong lagi, dan dia dijebloskan kedalam

karung terigu itu.

Kereta digerakkan, kini giliran Ai Lam Cun menarik kereta. Ai Pek

Cun didalam kereta, menjaga Ie Lip Tiong.

Perjalanan seperti itu dilakukan siang dan malum. Terus menerus

sehingga empat hari.

Kuda yang melakukan perjalanen terus menerus tanpa istirabat,

tentu saja tidak kuat. Disuatu tempat, Ai Lam Cun menukar kuda

itu. Kuda lama dijual, dan ia membeli kuda baru. Perjalanan

dilanjutkan dengan tenaga baru, kuda yang belum lama dibeli

mempunjai kekuatan yang lebih hebat Berjalan lebih cepat.

Pada empat hari sebelumnja, Ie Lip Tiong selalu mendapat

rangsum kering. Dihari kelima, Ai Pek Cun begitu kasihan kepada

orang yang bersedia menjadi calon mantunja, ia memberi beberapa

potong daging, daging itu belum lama dapat dibelinya diperjalanan

Ie Lip Tiong mengunjah ngunyah daging sedekah, kini ia

mengerti, ia bisa menduga, dimana kira2 ia berada. Ditempat apa

kiranja. ia berada, bisa memudahkan pemecahan Partay Raja

Gunung.

Ternyata, dnging yang Ie Lip Tiong makan adalah makanan

terkenal dari daerah Ouw-pak. Itulah daging pangsit basah.

Daging pangsit basah adalah makanan terkenal dari daerah Ouwpak!

Ie Lip Tiorg berpikir didalam hati :

“Kereta berangkat dari doerah Wan-tiong, perjalanan menuju

kearah barat, kini tentu berada didekat kota Bu-cang. mungkin juga

didekat kota Kay yang.”

Kota Bu tiang dan kota Kay yang adalah dua kota terkenal yang

banyak menghasilkan daging pangsit basah.

Dari apa yang Ie Lip Tiong tahu, daerah dua kota itu yang paling

banyak memproduksi daging pangsit basah.

Dari pemberian daging pangsit basah, Ie Lip Tiong bisa

menemukan cara terbaik, bagaimana ia mencari jejak markas besar

partai Raja gunung.

Dimisalkan ia sudah bebas, bisa saja ia menuju kearah Bu-tiang

atau Kay-yang. Kini ia bisa menyewa kreta, melakukan perjalanan

ke arah timur, dengan mata tertutup. Sesudah empat hari

kemudian, maka daerah itu tidak jauh dengan markas besar partai

Raja Gunung.

Sakin girangnja, Ie Lip Tiong tertawa sendiri.

Ai Pek Cun heran atas reaksi le Lip Tiong yang seperti itu, dengan

mengkerutkan kening ia bsrtanya:

“He, apa yang kau tertawakan?”

Ie Lip Tiong terkejut. Cepat2 ia menenangkan dirinya. “Aku

girang.” ia berkata. “Karena kau begitu baik hati memberi makanan

enak kepadaku.”

Dengan dingin Ai Pek Cun berkata:

“Makanan yang lebih enak daripada itu juga akan kusediakan

bilamana kau tidak mempunjai niatan untuk kabur.”

“Tentu… Tentu” berkata Ie Lip Tiong. “Aku tidak akan kabur,

bilamana mendapat pelayanan dan jajanan yang baik.”

Mulai dari saat itu, Ie Lip Tiong mendapat pelajanan lebih baik.

Disepanjang jalan ia mendapat daging2. Itulah daging dari daerah

Ouw pak, terasa sekali dari bumbu masakan masakan dibagian

utara.

Ie Lip Tiong semakin yakin, bahwa dirinya telah berada didaerah

Ouw-pak.

Tiga belas hari kemudian….. Ai Pek Cun memberi bakpau, Ie Lip

Tiong memakan bakpau itu, itulah bakpau berisi daging kambing,

segera Ie Lip Tiong mengetahui bahwa dirinja telah memasuki

daerah San see, bakpau berisi daging kambing hanya terdapat

didaerah San see. Khusus kota Tiang san.

Tapi Ie Lip Tiong tahu betul bahwa ini belum memasuki kota

Tiang an. Bakpau daging kambing untuk kota Tiang an sangat

dikenal sekali, garing dan nyaman, tapi bakpau yang dimakan

olehnja kini kurang garing. Maka ia dapat memastikan bahwa

perjalanan masih belum memasuki kota Tiang an. Di duga masih

berada disakitar desa Tiang an atau desa San liang.

Teringat kota Tiang an. hati Ie Lip Tiong menjadi pahit, kota

Tiang an. adalah kota yang mengangkat pamor dirinya. Siapa yang

tidak kenal kepada perusahaan Boan chio Piauw kiok? Siapa yang

tidak kenal kepada It-kiam-tin bulim Wie Tauw dari kota Tiang an ?

Kini, ia tidak membutuhkan nama samaran. Kini ia tidak perlu

mcnggunakan wajah It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, bayangan

kambing hitam yang menggemblok pada dirinya sudah dibebaskan.

Su hay tong sim beng sudah mempercayakan dirinya. Sudah

waktunya ia mengangkat diri, menuntut balas kepada kemacan sang

ayah. Ie Lip Tiong dan Hoa san pay sudah mendapat hak hidup

yang sama. Hak hidup jang sejak diantara umatnya, ia telah

menduduki duta nomor tiga belas dari Su hay tong sim beng.

Terkenang kembali bayangan perusahaan Boan chiu Piauw kiok,

apa reaksi anak buahnya, manakala mereka mengetahui bahwa

sang peminpin sedang meringkuk didalam sebuah karung yang

terikat ? Ditutup dalam sebuah karung. sebagai seorang tawanan?

Teringat kepada perusahaan Boan chiu Piauw kiok, hatinya

tercekat. Ia mengeluh:

“Celaka.” Mereka msmbawaku ketempat ini. Mungkinkah sudah

menyiapkan Su khong Eng terlebih dahulu? Mungkinkah menyuruh

Su khong Eng membunuh muti beberapa orang Boan chiu Piauw

kiok, dan melepas aku ditempat itu ?”

Kejadian ini betul membingungkan Ie Lip Tiong. Bila sampai

terjadi apa yang dikhajalkan olehnja, tentu sulit untuk Ie Lip Tiong

menancapkan kaki dikola Tiang an.

Timbul niatannya untuk melarikan diri.

Malam. harinya, sesudah mendapat rangsum dan beberapa

potong daging. Ie Lip Tiong berkata kepala Ai Lam Cun. Ai Lam Cun

lah yang mendapat giiiran jaga.

“Lo tong kee, perutku sakit lagi. ”

“Hendak buang kotoran?”

“Aduh. Sudah tidak tahan, nih.” berkata Ie Lip Tiong didalam

karung.

“Bukannya mencari kesempatan untuk melarikan diri, bukan?”

bertanja Ai Lam Cun.

“Ah. kalian menjaga begini ketat. Bagaimana bisa aku lari? Bila

ada kesempatan dan waktu lari, sudah lama aku melarikan diri. ”

Ai Lam Cun berteriak kepada Ai Pek Cun yang mendapat giliran

menjadi kusir katanya :

“Samte, dia mau berak. Pilihlah tempat yang agak sunyi. ”

Ai Pek Cun menggiring keretanja ketemapat yang paling sunji,

disana ia menghentikannja.

Ai Lam Cun membuat ikat karung, tetap memegang pcrgelangan

tangan Ie L>p Tiong, digusurnya turun dari kereta, dan berkara

kepada sipemuda :

“Nah, disini kau boleh membuang kotoran itu”

Ie Lip Tiong membuat satu gerakan jang melepas celana, tiba2

mulutnya terbelalak. “Aaaa..”,. ia berteriak kaget tubuhnya jatuh,

seperti orang yang kemasukan setan.

Wajah Ai Lam Cun berubah, membalikkan diri dan menarik

tangan Ie Lip Tiong. “Hei, kau mengapa?” Ia bertanya penuh

perhatian.

Untuk memertksa ruangan lebih jelas, Ai Lam cun menotok hidup

jalan darah Ie Lip Tiong. Memeriksa urat nadinja, berdenjut sangat

lemah. Maka tangan itu digeser kearah jantung hati, lendak melihat

deburan jantungnya.

Tiba2 Ie Lip Tiong membalikkan tangan, plok…. dia berhasil

mcmukul dada Ai Lam Cun.

Ai Lam Cun berteriak, terpelanting kebelakang dan jatuh.

Ie Lip Tiong melejitkan diri, mumbul sehingga tiga tombak.

begun, cepat pula, tangannya mcnarik kain pengikat mata.

Sesudah itu ia meletakkan ujung kaki mengambil posisi ditempat

lain.

Matanja sudah bebas dari ikatan kain hitam. Ia memandang

kedepan untuk mengetahui dimana kini ia berada.

Tapi rasa terkejutnja tidak kepalang, sesudah belasan hari mata

itu tertutup, daya penglihatannja boleh dikatakan telah lenyap sama

sekali. Gelap ? ia tidak bisa melihat sesuatu.

Hut……… terdengar satu pukulan yang menjurus kearah kakinja,

di barengi oleh suara bentakan Ai Pek Cun :

“Bocah, bocah yang tidak tahu diri kau mencari kematian !”

Sepasang mata Ie Lip Tiong belum bisa digunakan, samar- masih

sangat gelap. tapi ilmu kepandaian masih ada, mengetahui bahwa

Ai Pek Cun itu sudah menyerang dirinya, sepasang kakinja dilejitkan

lagi dan tangannja didorong kedepan. memapaki datangnja

serangan Ai Pek cun.

Rung….. terdengar benturan dari dua kekuatan. Kini Ie Lip Tiong

terdorong kebelakang, melayang sehingga belasan tombak, Jikalau

ia menginjak kaki, terdengar lagi bertakan Ai Pek Cun:

“modar.”

Cepat2 Ie Lip Tiong membalikkan badan, tanpa mencari arah, ia

ngiprit pergi.

Belasan hari lamanja mata itu tidak digunakan, maka

pandanganyapun belum pulih, masih terlihat gelap. Ia lari tanpa

memiliki tujuan.

Dari belakang terdengar suara Ai Pek Cun yang mengejar :

“Berhenti !akan kubunuh mtti kau !”

Ie Lip Tiong tidak menggubris peringitan itu, ia berlari semakin

keras Sepanjang perjalanan, tidak hentinja ia berdoa :

“Oh Tuhan, lindungilah diriku. Jangan sampai membentur

pohon.”

Ternjata tuhan tidak melindungi Ie Lip Tiong. Sebelum sepasang

matanja digunakan, terdengar benturan yang keras buk……

kepalanya membentur pohon yang melintang dijalan Sesudah itu,

tera»a dirinya berputar, Ie Lip Tiong jatuh, tidak sadarkan diri.

Tentu saja Ie Lip Tiong tidak bisa mengelakkan benturan dengan

pohon yang berada didepannja, mengingat sepasang matanja yang

belum bisa digunakan. Mengingat bagaimana cepatnya Ai Pek Cun

dan Ai Lam Cun mengejar dirinja dibelakang, mengingat betapa

sibuknja.-ia punja pikiran yang masih kalut dan kuatir.

Ie Lip Tiong siuman kembali, sesudah berselang beberapa waktu.

Ia sadar dan merasa dirinya sudah berada didalam karung.

Terdengar suara roda kereta, perjalanan itu sudah dilanjutkan.

Ie Lip Tiong menghela napas, ia tidak berhasil untuk melarikan

diri.

Terdengar suara bentakan Ai Lam Cun.

“Hai, kau sudah sadarkan diri?”

Ie Lip Tiong menjengir, ia berkata :

“Kau tidak menderita luka bukan?”

“Biarpun tidak luka. Tapi aku harus menghajar dirimu.” berkata Ai

Lam Cun.

“Apa yang hendak kau lakukan?” bertanja Ie Lip Tiong kaget.

“Hendak kurusak otot dan urat besarmu.” berkata Ai Lam Cun

menggeram.

“Jangan membalas air susu dengan air tuba,” berkataw Ie Lip

Tiong

“Apa artinya air susu dengan air tuba?” bentak Ai Lam Cun

dingin.

“Ketahuilah, biia aku mau, tadi aku bisa membunuh dirimu. Tapi

aku tidak membunuh. Maka kau harus bisa membudikan budi

orang.” Ai Lam Cun membentak : “Mengapa kau tidak membunuhku

?”

Inilah kesempatan hidup. Membuat lapang jauh lain, nantinja

jalan ketiga. Biar bagaimana, hubungan kita masih ada, kau adalah

paman Ai Ceng. Dimisalkan pada suatu hari, sesudah aku dan Ai

Ceng…”

“Tutup mulut.” bentak Ai Lam Cun marah.

“Karena adanja hubungan itulah, maka aku tidak berani

membunuh dirimu.”

“Alasan !” berkata Ai Lam Cun. Tapi suaranja sudah menjadi agak

ramah. Tidak semarah tadi.

Ie Lip Tiong masih meneruskan ocehannja, ia berkata lagi :

™Selama dunia mnsih berputar, tidak ada sesuatu yang abadi.

Hari ini, eku jatuh kedalam tangan kalian. Tapi siapa tahu, ada satu

hari, kau jatuh kedalam tansanku. Bila kau tidak berbuat

keterlaluan, akupun bisa mengingat budimu bukan ?”

Ai Lam Cun berkata dingin ?

“Kau takut ?”

Didalam karug Ie Lip Tiong tertawa getir, katanja :

“Tentu saja, memperhatikan kedudukanku, coba saja kau

bajangkan, dimisalkan kau ditangkap orang. dijebloskan kedalam

perangkap dalam karung. Kemudian hendak dicabut otot otot dan

urat besarnya, mungkinkah kau tidak takut?”

Ai Lam Can berkata ;

“Bcrsumpahlah, untuk selanjutnja kau tidak lagi melarikan diri.

Maka aku tidak mempersulit dirimu.”

“Baik.” berkata Ie Lip Tiong. “Untuk selanjutnja. Aku tidak akan

melarikan diri.”

“Bila sekali lagi kau melarikan diri? berkata Ai Lam Cun.

“Terserah kepadamu Mau pukulpun boleh. Mau cabut otot dan

urat pun boleh.”

“Baik. Hari ini aku memberi ampun kepadamu.”

Satu hari lagi telah dilewatkan.

Paginya hari keempet belas, kereta bertukar kusir, dan Mereka

melanjutkan perjalanan.

Pertukaran kuda itu perlu. Mengingat betapa pentingnja

perjalanan. Mengingat kuda yang dikaburkan terus menerus

mempunjai rasa lelah, maka mereka wajib menggunakan kuda baru.

Kereta yang disertai dengon tenaga kuda baru itupun

menggelinding lagi.

Ie Lip Tiong tidak tahu, dimana kini ia berada.

Satu hari kemudian, tiba2 kereta disentak berhenti.

Terdengar suara Ai Pek Cun yang berbisik :

“Coa bie. ada berita baru?”

Terdengar lain suara berdesis desis. suara orang yang sangat

asing, tentunja orang yang dipanggil Coa bie itu

“Segera tiba.” Orang ini berkata.

Terdengar suara Ai Lam Cun yang perlahan :

“Berapa lama lagi?”

Orang yang dipanggil Coa bie itu berkata :

“Sudah waktunja Kukira sebentar lagi.

“Aaaa….. lihat! Mereka sudah tiba. Lihat ! Sudah tiba.”

Terdengar desiran baju dari tokoh rimba persilatan, seseorang

telah melajang datang.

Dengan suaranja jang masih dikerahkan perlahan, Ai Pek cun

berkata bingung :

“Bagaimana ?”

“Seperti apa yang sudah direncanakan. Berhasil baik.” terdengar

suara lain, ia menjawab pertanjaan Ai Pek Cun.

Didalaam karung Ie Lip Tiong terkejut, inilah suura Su-khong Eng

!

Ie Lip Tiong masih berada dalam usaha, bagaimana ia harus

mengatasi kesulitan yang seperti ini. Tiba2 tubuhnja diseret keluar

dari dalam karung, seseorang dengan kecepatan yang sangat gesit

melepaskan ikatan talinja, mencopoti bajunja.

Telinga Ie Lip Tiong juga masih sempat mendengar suara Su

khong Eng yang buka baju.

Nah, sampai disini Ie Lip Tiong sadar, rencana apa yang sedang

dilakukan atas dirinja. Segera ia berteriak :

“Su khong Eng…………”

Mulut Ie Lip Tiong tidak bisa dipantang uris, tangan seseorang

jang kuat membekapnja.

Disaat yang sama, ada seseorang jang menutukan pedang

kearah kaki kiri.

Ie Lip Tiong berkelejetan, sangat sakit sekali, tapi mulutnja

dibekap seperti itu. Juga tidak ada hak untuknja berteriak.

Sesudah kejadian2 itu berlangsung, baju Ie Lip Tiong telah

dilucuti, dikenakan baju lain. Berlangsung sampai dua lapis.

Tanpa melihat dengai matapun, Ie Lip Tiong bisa tahu, baju apa

jang dikenakan kepada dirinja kini. Itulah baju Duta Barbaju kuning

Su-hay tong-sim-beng. Baju yang belum lama dikenakan oleu Sukhong

Eng.

“Lekas !” berkata seseorang. “Mereka sudah tiba.”

Ai Lam Cun segera menotok hidup jalan darah Ie Lip Tiong, dan

bret, menarik kain hitam yang menutup kedua mata Ie Lip Tiong,

Sesudah itu, terdengar desiran2 suara baju berlalu, orang2

itupun pergi lenjap.

Ikatan tali dan taugannya telah bebas. Totokan yang mengekang

dirinja telah bebas. Kain hitam yang menutup kedua matanja juga

dicopot. Tapi untuk sementara waktu,

Ie Lip Tiong belum bisa bergerak. Untuk sementara waktu ia

tidak bisa melihat sesuatu yang berada didepannja.

Luka bekas tusukan pedang dikaki kiri sangat dalam, darah masih

mengucur keluar. Hal ini memberatkan jago muda kita. Melemahkan

kondisi badannja.

Ental apa yang segera akan terjadi ? Ie Lip Tiong maklum.

Sesudah Ai Pek Cu, Ai Lam Cun dan Su-khong Eng sekalian berlalu,

menjusul tiba adalah musuhnja.

BetuI seja, disaat ini terdengar suara seseorang berteriak keras :

“Nah, kalian lihat ! Dia terbaring disana I”

Itu wnktu, Ie LiP Tiong masih terbaring. Mengetahui bahwa

musuh2nja sudah berada didepan mata. Cepat2 ia bcrlompat duduk,

tangannja menjentuh sesuatu yang dingin itulah pedang.

le Lip Tiocg meraup pedang, senjata itu penting, mengingat

dirinja yang sudah dikurung oleh musuh2 tangguh.

Sepasang mata Ie Lip Tieng masih dirasakan sangat gelap, ia

belum tahu, siapa2 yang berada didepannja. Karena itu ia berteriak

:

“Jago silat dari mana yang sudah datang?”

Telinganja jang sudah dapat membedakan orang jang

mengurung dirinja berjumlah angka tujuh. Mereka mengambil posisi

posisi yang tidak sama, perlahan lahan mengurung dirinja.

le Lip Tiong masih duduk tidak bergerak. Dengan menggenggam

keras senjata pedang, ia siap mengadakan perlawanan.

Terdengar suara seseorang yang tertawa berkakakan berkata:

“Ha, ha, ha,……. terlalu banjak darah jang kau keluarkan. maka

pikiranmu sudah menjadi butek ? Baik. Biar kubunuh sekalian.”

Satu desiran pedang datang, mengarah dada Ie Lip Tiong.

Dari desiran angin tenjata itu Ie Lip Tiong bisa memastikan

bahwa senjata yang digunakan oleh orang yang menjerang dirinja

adalah senjata pedang. Ia masih duduk, tiduk bergeming

pendengarannja dipusatkan, dan dengan senjata pedang pula ia

menanti serangan itu.

Triig…

Terdengar suara beradunja senjata, Ie Lip Tiong berhasil

menjampak pergi senjata yang hendak merenggut jiwanya, gagalah

serangan yang bisa menembus dada Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong masih cukup kuat, posisinya tidak berubah ia

berteriak kepada orang itu : .

“Hei, bisakah kau mendengar sedikit pembelaanku ?”

Hardikan pedang Ie Lip Tiong sangat mengejutkan orang itu.

betul2 ia tidak habis mengerti. Sesudah melakukan pertempuran

yang terus menerus, sesudah mendapatkan luka sesudah

mengeluarkan darah yang cukup banjak, mengapa Ie Lip Tiong

masih mempunjai kekuatan yang seperti itu.

Tentu saja ia tidak tahu. bahwa Ie Lip Tiong jang kini sedang

dihadapi bukanlah Is Lip Tiong yang sudah pergi. Ada dua Ie Lip

Tiong! Satu palsu ! yang satu asli !

Jang sekarang dihadapi olehnja yang asli Jang sudah pergi

adalah imitasi ! Orang itu segera berteriak : “Segera maju semua.

Serbu !”

Membarengi aba2 ini, maka bergeraklah tujuh buah pedang,

mengancau kearah Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong tidak berani bergerak, ia tegak berdiri. dengan

menggunakan telinganya, menangkap sesuatu arah serangan

pedang jang datang, trang… trang… trang… terdengar tujuh kali

suara benturan pedang, ia menangkis pergi semua serangan yang

datang.

“Hei.” berteriak Ie Lip Tiong. “Tujuh jago pedang dari Hoa san

pay ?”

Dari jurus tipu dan cara2nja orang itu bertempur, Ie Lip Tiong

segera tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan tujuh jago

pedang dari Hoa san pay

Terdengar suara scseorang yang membentak : “Bocah, kau

sudah membunuh ketua pertai kami, dan pertempuran dilakukan

terns menerus sehingga sampai saat ini, baru sekarangkah kau tahu

bahwa kami adalah tujuh jago pedang?

“Apa ? Su-khong Eng telah membunuh ketua partai Hoa-san-pay

?”

Betul2 kejadiau yang luar biasa, Ie Lip Tiong tidak menjangka

sama sekali bahwa Su-kbong Eng itu sudah membunuh ketua partai

Hoa san pay,

“Dengar keteranganku !” berteriak Ie Lip Tiong. “Ketua kalian

bukan mati dibawah tanganku.”

Penjelasan ini tidak bisa dilanjutkan lagi2 Ie Lip Tiong mendapat

serangan.

36

LANGKAH APA yang bisa diambil oleh le Lip Tiong ?

Bilamana Ie Lip Tiong mau, dengan ilmu kepandaiannya yang ia

miliki, bisa saja membunuh dua atau tiga orang dari tujuh jago

pedang Hoa san-pay itu. Tapi sesudah Su-khong Eng membunuh

mati ketua partai Hoa-san-pay, terlebih lebih ia tidak boleh melukai

anak mund Hoa-san-pay. Terlebih – lebih ia tidak boleh membunuh

anak murid Hoa san pay.

Bilamana sampai terjadi, satu saja dari ketujuh orang itu mati

dibawah tangannja, maka lebih sulit lagi untuk mencuci dan

membersihkan diri dari tuduhan2 mereka.

Hasil fitnah !

Rencana Lo sancu terlalu jahat. Tipu Partai Raja Gunung terlalu

busuk.

Apa yang bisa dilakukan oleh Ie Lip Tiong? Ia tidak ada niatan

untuk membunuh orang. Tapi besar hasrat orang untuk membunuh

dirinja. inilah berbahaya.

Sspasang matanya belum bisa digunakan. Luka dikaki kiri bekas

tusukan pedang masih mengeluarkan darah. terus menerus

mengucur. Itu juga berbahaja ia akan kehabisan darah, dan

pudarlah harapannja. Ia akan kehabisan tenaga.

Menggunakan waktu ia masih cukup bertenaga, Ie Lip Tiong

berteriak :

“Tahan ! Hentikan pertempuran ini. Kita telah dikelabui musuh.

Orang yang kalian kejar tadi adaiah….”

Tujuh jago pedang dari Hoa san pay. tidak menggubris teriakan

Ie Lip Tiong.

Mereka menyerang secura bergilir. Menjerang terus menerus,

dengan maksud mereka akan membunuh mati Ie Lip Tiong,

sebelum pemuda itu mempunjai kesempatan untuk melarikan diri.

Ie Lip Tiong hampit tak tahan kedudukannya sangat lemah

semakin lama semakin terdesak..

Darah masih mengalir bekas tusukan pedang pada kaki kirinya.

Tenaga Ie Lip Tiong semakin berkurang.

Tujuh jago pedanng Hoa san Pay menyerang semakin gencar dan

semakin cepat.

Tidak lama kemudian sepasang mata Ie lip tiong dapat

digunakan, ia bisa melihat, sipa yang menyerang dirinya. Mereka

adalah tokoh Hoa San Pay Ternama. Tujuh jago pedang yang

terkenal. mereka sendiri diatas umur pertengahan. Jago tua yang

mempunyai banyak pengalaman perang.

Dari wajah mereka yang begitu beringas Ie Lip Tiong tahu tidak

mungkin bisa memberi pengertian yang baik. Cara yang terbaik

untuk mengatasi persoalan itu adalah melarikan diri.

Pandanga mata Ie Lip Tiong telah menjadi jelas bila tidak

menggunakan waktu ini melarikan diri kapan lagi?

Ie Lip Tiong berada disebuah kelenteng. sebagian tokoh silat

yang kenamaan dikota Tiang an Ie Lip Tiong segera mengenali

kepada kelenteng Cia guan koan. kelenteng

Cia goan-koan adalah kelenteng yang sudah lama hilang

kepemujaannya, kelenteng ini sudah rusak.

Letak kelenteng Cin goan-koan tidak terlalu jauh dengan Boan

chio Piauw-kiok, Ie Lip Tiong meogambil keputusan, ia harus segera

lari ke Boan chio Piauw kiok, terutama ia bisa mengatur siasat baru.

Kini pedangnja dilintangkan, memukul pergi pedang jago

pertama Thian kiam Ie cian hiat. Dengan tipu silat ikan mas

melompat pintu istana air, ia melejitkan diri.

Inilah penjerangan barusan Ie Lip Tong yang pertama kali. Sedari

Ie Lip tiong diserang didalam kelenteng Cin goan koan, ia

membawaken posisi bertahan. Baru kali ini ia balas menjerang.

Thian kiam ie cian-hoat mundur tiga langkah, tidak berani

meuentang ketajaman pedang Ie Lip Tiong.

Maka Ie Lip Tiong sudah msnempatkan kakinya diatas wuwungan

kelenteng itu.

Darah yang dikeluarkan dari luka Ie Lip Tiong sudah cukup

banjak, ilmu kepandaiannja tidak seperti apa jang telah ia miliki.

Tapi cukup bisa melajani tujuh jago pedang dari Hoa-san-pay.

Tujuh jago pedang Hoa san pay terkejut, mereka hanja bisa

melotot, menjaksikan bagaimana Ie Lip Tiong melejitkan diri, keatas

satu wuwungan rumah kelain wuwungan rumah, tentu saja mereka

akan kehilangan jejak jago muda itu.

Seharusnja Ie Lip Tiong bisa mcmbebaskan diri.

Tapi perkembangan berubah begitu cepat. Kejadian lain yang

mengejutkan tujuh jago Hoa san pay segera terjadi.

Terdengar satu pukulan yang tepat, Buk tubuh Ie Lip Tiong yang

sudah mau lenjap itu jatuh kebawah.

Membarengi gerakan Ie Lip Tiong, dari atas wuwungan kelenteng

melajang turun tiga bajangan Hitam, salah satu dari tiga bajangan

hitam itu menggerakkan jari tangannja, menotok jalan darah Ie Lip

Tiong.

Ie Lip Tiong roboh ditanah !

Perobahan ini terlalu cepat, tujuh jago pedang, Hoa san pay

seaera mengurung Ie Lip Tiong, juga mengurung ketiga bajangan

bitam itu.

Siapakah ketiga bajangan yang menjatuhkan Ie Lip Tiong ?

Ai Pek Cun, Ai Lam Cun dan Su khong Eng?

Bukan Mereka adalah tiga imam tua yang mempunjai pelipis

cekung kedalam:

Tujuh. jago Hoa-san-pay segera mengenali kepala ketiga tosu ini,

ketiga bayangan hitam adalah Im-kou Totiang, Siauw Yao Tootiang

dan Fu Yu Totiang. Tiga Tojin kenamaan dari Bu Tong Pay.

“Aaaa….” Thian kiam ie Thian hoat mengenali mereka.

Partai Hoa-san-pay dan partai Bu Tong Pay tidak mempunyai

dendam permusuhan, tujuh jago pedang Hoa San Pay segera

memberi hormat kepada ketiga tosu tua itu.

In Ko Totiangg, Siauw Yao Tootiang dan Fu Yu Tootiang juga

memberi hormat kepada tujuh jago pedang itu segera mereka

berkata :

“Selamat bertemu.”

Jago utama dari Hoa san Pay Thian Kiam Ie Thian Hoat

menunjukkan jarinya kearah Ie Lip Tiong dan berkata kepada ketiga

tosu tua tersebut :

“Ini orang yang bernama Ie Lip Tiong pada sepuluh hari

berselang telah menggunjungi gunung kami, dikatakannya

mempunyai urusan penting yang hendak disampaikan kepada ketua

partai. ketua partai kami maklum siapa adanya Ie Lip Tiong, Duta

Tiga belas dari Su hay tong Sim Beng yang ternama. Maka dengan

penghormatan yang besar ia menerima kedatangannya. Tidak

disangka beberapa patah dikeluarkan Ie Lip Tiong secepat itu pula

Ie Lip Tiong mengirim tangan jahat membokong ketua partai kami.

ketua partay kami tidak menyangka sama sekali, ia menjadi korban

keganasannya.

“Aaaa……” Tubuh Thian Kiam Ie Thian Hoat mengeluarkan

suaranya. “Ketua partai kalian juga dibunuh olehnya?”

In Ko Totiang mengganggukkan kepalanya menoleh kearah Ie

Lip Tiong, dengan sepasang mata yang sangat beringas. Seolah olah

mau sekali ia bisa menelannya.

Thian kiam Ie Thian Hoat mengeluarkan elahan napas panjang ia

berkata :

“Kemarin seorang bocah juga mengunjungai gunung kami.

dikatakan hendak menemui ketua partai, caranya sama dengan cara

yang digunakan untuk membunuh ketua partay kalian. Ia berhasil,

ketua partay kami telah menjadi korban…..”

In Koo Totiang memandang kearah Ie Lip Tiong sambil meludah

ia berkata :

“Ia berhasil melenyapkan dua musuh ayahnya. Tapi… Semua

perbuatannya akan mendapat balasan yang hebat.”

“Bagaimana untuk mengatasi persoalan ini?” bertanya Thian

Kiam Ie Thian Hoat.

Yang berhasil menotok Ie Lip TIong adalah jago dari Bu tong pay

maka Hoa San pay akan kehilangan muka dan hak mati hidupnya Ie

Lip Tiong tentu harus meminta pendapat dari jago Bu Tong Pay.

Tapi Ie Lip Tiong terkurung dan terkejar oleh Hoa San Pay, Hoa

san Pay berhak meminta tuntutan terlebih adalah kematian ketua

partay mereka di tangan Ie Lip Tiong. Ini adalah dendam berdarah.

Dendam besar partai yang tidak bisa diabaikan, Hoa San Pay yang

berhak menuntut.

In Koo Totiang memandang kepada tujuh jago pedang dari Hoa

san Pay. dan bertanya kepada mereka :

“Bagaimana usul Hoa San Pay?”

Thian Kiam Ie Thian Hoat berkata :

“Hutang uang dibayar dengan uang. Hutang jiwa dibayar dengan

jiwa. Bocah ini telah membikin rekening atas hutang piutang jiwa.

Hoa san pay dan bu tong pay wajib membunuhnya. Tetapi Ie Lip

Tiong hanya mempunyai satu jiwa, partay Hoa San Pay Tidak rela

bila membiarkan ia dibawa oleh kalian. Demikian juga Bu Tong Pay,

tidak mungkin mau menyerahkan Ie Lip Tiong kepada kami, bukan?

Karena itu Hoa san pay mempunyai cara lain untuk mengatasi

persoalan ini….”

“Coba katakan.” berkata In Ko Totiang dari Bu tong pay.

Jago Hoa san pay Thian Kiam Ie Thian Hoat berkata:

Ie Lip Tiong yang terlena di tanah masih mengucurkan darah

terus menerus. Mengikuti pembicaraan disini, ia tidak bisa bertahan

lebih lama. Kepalanya teklok dan ia jatuh pingsan? tidak sadarkan

diri!

Bagaimana perundingan yang terjadi antara Hoa san pay dan Bu

tong pay? Ie Lip tiong tidak tahu menahu.

Dikala Ie Lip tiong siuman dari pingsannya, ia telah mendapatkan

dirinya terkurung didalam suatu tempat yang sangat kecil, sepasang

tangan dan sepasang kakinya dirantai seolah olah pesakitan/

kriminal besar. lebih dari pada itu, pinggangnya juga dirantai diikat

pada sebuah pilar yang besar.

Hanya seorang manusia berkekuatan besi baru dirantai seperti ini

Ie Lip Tiong mengeluh mana mungkin ia bisa melarikan diri?

Dimisalkan mengganti orang jago silat luar biasa seperti Hong

Lay Sian Ong jago yang sudah mendapat julukan dewa raja silat

dalam keadaan terantai besi yang menimpa diri Ie Lip Tiong juga

tidak bisa melarikan diri.

Ie lip Tiong bangkit berdiri terdengar suara menggerincing rantai

yang sangat riuh, rantai itu saling membentur.

Disebelah kanan dan kiri Ie Lip Tiong terdapat jendela kecil, sinar

rembulan masuk dari jendela sana.

Ternnyata hari sudah menjadi gelap.

Di dalam hati Ie Lip Tiong berpikir:

“Tempat apakah ini? berapa malam aku berada disini?”

perutnya mulai keroncongan dan terasa sangat perih dan lapar.

Ia menduga dengan pasti dari mulainya ia pingsan sampai siuman

paling sedikit telah beberapa hari.

“Hei.” Ie Lip Tiong berteriak kearah luar jendela. “Ada

orangkah?”

Diluar kamar tahanan itu sangat sepi tidak ada yang menjawab

suara teriakan Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong menyusul kearah paha kiri disana terdapat tusukan

pedang, luka itu sudah dibalut dengan rapi. maka mengetahuilah ia

bahwa mereka masih baik kepada dirinya. Menutup lubang luka itu,

agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.

Kamar tahanan yang ditempati Ie Lip Tiong sangat kecil, walau

dirinya dalam keadaan dirantai bisa saja ia tiba dijendela. Kepalanya

melongok keluar, disana terdapat satu pelataran luas, sembilan

orang berbadan tegap dan besar menjaga, membikin perondaan.

mereka mengenakan pakaian seragam hijau.

Sembilan laki laki berbadan tegap kekar itu mengambil posisi

kedudukan disembilan tempat, mereka berdiri tegak membikin

penjagaan dan perondaan.

Teriakan Ie Lip Tiong tidak dihiraukan oleh mereka.

Sekali lagi Ie Lip Tiong berteriak:

“Hei kalian dari partai Hoa san Pay?”

Masih mereka tidak bergerak. Seolah olah tidak mendengar

teriakan Ie Lip Tiong.

Betul! sembilan laki laki berbaju hijau adalah anak murid hoa san

pay. Tapi mereka diberi tugas untuk menjaga tawanan. Dilarang

bicara maka tidak menyahuti si pemuda.

Ie Lip Tiong mengkerutkan keningnya, lagi lagi ia berteriak keras

kepada sembilan penjaga itu.

“Hei bisakah kalian memanggilkan tujuh jago dari Hoa san pay?”

Tugas dari kesembilan orang itu adalah menjaga, Bukan melayani

Ie Lip Tiong. Mereka tidak menggubris teriakan Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong berganti arah kini ia menuju kearah jendela sebelah

kiri, seperti keadaan di jendela kanan disini terdapat sembilan orang

bedanya bilamana dijendela kanan orang orang mengenakan

seragam berwarna hijau, disebelah kiri mereka menggunakan

seragam biru.

Inilah anak murid Bu tong pay!

“Hei.” Ie Lip Tiong berteriak “Bisakah kalian panggilkan tujuh

jago dari hoa san pay?”

Seperti juga sembilan laki2 berbaju biru, sembilan laki laki

berbaju hijau ini tidak menggubris teriakan Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong mendapat penjagaan yang ketat. sembilan laki laki

berbaju hijau dan sembilan laki laki berbaju biru.

Karena tidak mendapat sahutan dari delapan belas penjago itu,

Ie Lip Tiong menjadi lesu. Ia duduk ditempatnya.

Sedari saat dia mulai membangun perusahaan Boan Chio Piauw

Kiok, namanya meningkat dengan cepat. siapakah yang tidak kenal

dengan It kiam tin bu lim Wie Tauw?

Terakhir dia menerima jabatan sebagai duta berbaju kuning

ketiga belas dari Su hay tong sim beng. Identitasnya semakin tenar.

Siapa yang tidak kenal kepada duta nomor tiga belas Ie Lip Tiong?

Prestasi2 itu terlalu cepat, sesudah mendapat tugas untuk

membikin penyelidikan tentang sarang partay raja gunung ia

tertawan oleh Tho It Beng. Dan dilepas kembali.

Lalu ia menjadi orang tawanan, Kini menjadi tawanan bersama

partay Hoa san pay dan partay Bu tong pay.

Semua kejadian2 ini disebabkan oleh Su-khong Eng. Pemuda

misterius berbaju hitam Su khong Eng.

Sesudah menjerumuskan Ie Lip Tiong kedalam bahaya kematian

Hampir2 saja ia mengalami hukum pancung Su hay tong sim beng.

Beruntuug ada gurunja yang datang menolong. Ia gagal mati.

Kini. Su-khong Eng telah membunuh mati ketua partai Bu tong

pay dan ketua partai Hoa san pay. Semua dosa itu dihampirkan

kepada dinnja. Bagamana ia bisa mencuci diri?

Teringat kepada Bu tong pay dan Hoa san pay, Ie Lip Tiong

segera bisa menduga. Siapa siapa dari delapan belas penjaga

dikanan dan kirinja. Itulah sembilan orang dari Hoa-san pay. Dan

sembilan dari Bu-tong pay.

Dendamnya kepada partai Raja Gunung semakin mendalam.

Hanja Lo-sancu yang bisa mengeluarkan tipu siasat yang seperti ini.

Siapakah Lo sancu itu? Ia harus bisa membuka tutup kerudung

mukanya, membuka rahasia kemisteriusannya.

Kreek……

Tiba2 pintu terbuka, disana tampil dua orang. Jang satu adalah

In koo Totiang dari Bu tong pay satunya lagi adalah Thian kiam ie

thian hoat dan Hoa san pay.

“Aaaaa……” Ie Lip Tiong bangkit dan menjambut kedatangan

mereka,

Thian kiam ie thian hoat memandang kepada Ie Lip Tiong dan

mengajukan pertanyaan :

“Perutnya tidak lapar ?”

“Sangat lapar sekali.” Ie Lip Tiong mengangukkan kepala.

“Sampai aku sangat lemas. Berapa hari aku pingsan tanpa sadarkan

diri ?”

Thian kiam ie thian hoat mengeluarkan suara dengusan,

tubuhnya digeser kearah kiri. Maka dari belakang dirinya muncul

seorang laki-laki berbaju hijau Laki-laki berbaju hijau itu rnembawa

nampan yang tersedia makanan. ternyata mereka datang untuk

memberi santapan kepada Ie Lip Tiong. Membiarkan laki berbaju

hijau itu meletakkan makanan2 didepan sipemuda, baru Thian kiam

ie thian hoat berkata :

“Kau tidak sadarkan diri selama tiga hari”

“Ouw….” Ie Lip Tiong bisa mengerti. Luka pendarahannya terlalu

banyak, akibat dari tusukan pedang pada paha kaki kiri, ia

mengeluarkan darah terus menerus.

Sesudah itu bertempur dengan kekuatan keras, Tentu saja

sangat lemah.

“Makanlah.” berkata Thian kiam ie thian. “Kami tidak msracuni.”

Ie Lip Tiong moncomot makanan yang sudah tersedia, ia sangat

lapar sekali. Maka ia makan apa yang sudah tersedia.

“Dimanakah kini aku berada?” Suatu saat ia menengok kearah

Thian kiam ie thian-hoat dan In koo Totiang serta msngajukan

pertanjaan kepada mereka :

“Han kong San chung !” jawab In koo Totiang dari Bu tong pay.

“Aaaa….” Ie Lip Tiong terkejut. Ia berada didalam Han kong San

Chung tempat pembuangan, pengasingan si Raja Silat Sesat Ngo

kiat Sin mo Auw yang Hui dahulu?

Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui adalah Raja Silat Sesat nomor

satu. Serba mahir didalam segala galanya.

Mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi, memiliki ilmu

sastra dan sural yang tinggi, memiliki ahli parmainan catur yang

tinggi, memiliki seni musik yang luar biasa, dan memiliki ilmu

permainan sex yang luar biasa. Maka mendapat nama Ngo kiat Sin

mo Auw yang Hui. Mahir didalam lima macam kepandaian luar

biasa.

Kecerdikan dan kepandaian Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui

memang luar biasa,

Hampir dia menjadi kepala dari Raja Silat. Sayang Tabiat dan

sifatnja sangat buruk, maka ia hanja bisa menjadi pemimpin dari

dua belas raja silat golongan sesat. Sesudah mendapat keroyokan

dari Lima partai besar. Ilmu kepandaian silat Ngo kiat Sin mo Auw

yang Hui berhasil dipunahkan. Mereka mempenjarakan dan

mengasingkan Ngo-kiat Sin mo Auw yang Hui ditempat jang

bernama Han kong San chung.

Han kong San chung adalah tempat pengasingan! Tempat

pembuangan!

Kini, diri Ie Lip Tiong dipenjarakan didalam tempat pengasingan

Han kong San chung.

“Aku berada di Han kong San chung?” Ie Lip Tiong berteriak

kaget.

“Ng…..” In koo Totiang berdengus dingin. “Kejahatanmu dan

ilmu kepandaianmu tidak berada dibawah Ngo kiat Sin mo Auw yang

Hui Tapi kau lebih lihay, kau lebih cerdik, lebih mempunjai aneka

macam tipu muslihat. sengaja kami bawa kau ketempat ini, agar

semua orang bisa menyamakan kedudukanmu dan kedudukan Ngo

kiat Sin mo Auw yang Hui.”

Ie Lip Tiong tidak marah atas reaksi yang seperti itu. Ia mengerti,

betapa besar dendam mereka kepada dirinya. Ia mendapat tuduhan

telah membunuh ketua partai, ketua partai kedua golongan itu.

Adanya makanan yang tersedia adalah suatu bukti bahwa Bu

tong pay dan Hoa san pay bukan golongan sesat, mereka masih

baik hati tidak menyiksa dan melakukan sesuatu yang berada diluar

batas perikemanusiaan, sesuatu yang bisa melanggar hak asasi

manusia.

Thian kiam ie thian Hoat berkata:

“Sementara kau boleh tinggal ditempat ini.”

“Sementara?” bertanya Ie Lip Tiong. “Berapa lamakah yang

diartikan dengan sementara itu?”

“Tidak lama.” berkata In-koo Totiang. “Menunggu sampai orang2

golongan Hoa san pay dan Bu tong pay berkumpul. Dan audah

memberitahu kepada Su hay tong sim beng, maka kau akan

mendapat kebebasan abadi.”

Tentu saja yang diartikan dengan kebebasan abadi adalah

kebebasan untuk selama2nja. Itulah kematian.

Mendengar disebutuja nama Su hay tong sim beng, hati Ie Lip

Tiong agak lega. Dengan demikian, Hoa san pay dan Bu tong pay

belum berani melanggar hak azasi pribadi. Mereka telah

memberitahu kepada gerakan Su hay tong sim beng Maka Ie Lip

Tiong bisa mengharapkan bantuan gerakkan mereka.

“Kalian sudah memberitahu kepada Su hay Tong sim beng?” ia

bertanya.

“Tentu…. berkata In koo Totiang. “Kedudukanmu sebagai duta

nomor tiga belas dari Su hay tong sim beng bukan kedudukan biasa.

Sebelum kami membunuh dirimu. Sudah menjadi kelaziman kami

untuk memberitahu kepada gerakan Su hay tong sim beng.”

“Su hay tong sim beng akan mengutus orangnya datang.”

berkata Ie Lip Tiong. “Bilamanakah kedatangan mereka bisa

diharapkan?” bertanya Ie Lip Tiong,

“Hari ini adalah tanggal enam belas bulan sepuluh.” berkata Inkoo

Totiang. “Telah kami kirim pemberitahuan kepada Su hay tong

sim beng, bahwa Hoa san pay dan Bu tong pay hendak menghukum

mati duta nomor tiga belasnya pada tanggat enam belas. Tepat jam

tiga sore.”

Ie Lip Tiong tertawa nyengir. Ia bisa memperhitungkan waktu,

jarak markas besar Su hay tong sim beng digunung Lu san dan

jarak Han kong San Cung. digunung Ngo tay san bukan jarak yang

sangat dekat. Hanja memberi kesempatan waktu duapulub satu hari

itu tidak mungkin utusan Su hay tong sim beng bisa tiba. Tidak

mungkin mereka bisa mcmbikin pembelaan terbadap dirinya. Karena

itu ia berkata :

“Jarak Lu san dan Han kong San cung diatas empat lima ribu lie.

Pulang dan pergi, mana mungkin diberi waktu dua puluh hari?”

“Ini bukan urusan kami.” berkata In-koo Totiang.

Ie Lip Tiong menghela napas, ia berkata perlahan :

“Aku tahu, kalian tidak akau memberi kesempatan kepada Su hay

tong sim beng mengadakan pembelaan kepada diriku. Tapi bisakah

kalian menerima satu permintaan, permintaan yang tidak sulit

diterima.”

Thian kiam ie thian boat mengeluarkan suara dingin, tentu saja ia

tidak bisa menerima saran Ie Lip Tiong. Saran yang pasti lidak

menguntungkan Hoa san pay dan Bu tong-pay, karena itu ia berkata

:

“Jangan kau mengimpi yang bukan2.”, tidak perduli permintaan

apa yang kau ajukan, kami tidak bersedia melulusi.”

Ie Lip Tiong menoleh kearah Thian kiam-ie thian hoat, dengan

tertawa ringan ia berkata :

“Tidakkah terpikir olehmu, permintaan apa yang hendak

kukemukakan? Tidak susah melulusi permintaanku ini, maksudku

agar kalian bisa mendengar ceritaku yang sangat pendek. Paling

lama satu jam sajalah.”

In koo Totiang dan Thian kiam ie thian-hoat saling pandang.

Mereka belum bsa menduga, saran dan usul apa yang hendak

dikemukakan oleh Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong membasahi tenggorokanya, mengetahui bahwa

kedua orang itu tidak menentang permintaan yang seperti tadi,

segera ia melanjutkan pembicaraan :

“Aku hendak bercerita tidak terlatu panjang. Kukira kalian tidak

keberatan untuk mendengar cerita ini, bukan?”

Ie Lip Tiong bisa menyelami keadaan dan perasaan sakit bati In

koo Totiang dan Thian kiam ie thian hoat, ketua partai mereka telah

dibunuh oleh Ie Lip Tiong, walau Ie Lip Tiong itu bukan Ie Lip Tiong

asli, tapi tidak mungkin orang bisa percaya, samaran Su khong Eng

yang menjadi Ie Lip Tiong, palsu yang membunuh ketua partai Hoa

san-pay dan Bu tong pay sangat hebat, tapi tidak mungkin bagi

kedua tokoh silat itu mengetahui bahwa Ie Lip Tiong bisa menjelma

menjadi dua orang.

Ie Lip Tiong hendak mengulur waktu, secara tidak langsung, ia

hendak menceritakan kesulitan dirinya.

Seperti apa yang telah Ie Lip Tiong duga, In koo Totang dan

Thian kiam ie thian hoat agak terterik, orang yang kita sebut lebih

dahulu dengan dingin berkata:

“Cerita tentang dirimu, bukan? Mungkinkah kau hendak

mengucapkan rasa penyesalan ?”

“Boleh dikata seperti itu.” berkata Ie Lip Tiong. “Cerita ini sangat

penting bagi Dunia persilatan.”

Thian kiam Ie thian hoat menoleh kearah laki2 berbaju hijau

yang membawa makanan itu laki2 tersebut masih berada

dibelakangnya, ia berkata:

“Tong-yong ambil dua tempat duduk!.”

“Siap..” jswab laki2 berbaju hijau yang bernama Tong yong itu.

Tidak lama kemudian Tong yong telah membawakan dua bangku

kecil.

In-koo Totiang dan Thian kiam ie thian hoat duduk dimasing

tempat duduk. Mereka siap mendengar cerita Ie Lip Tiong

Ie Lip Tong mulai berdiplomasi :

“Cerita dimulai sesudah Su hay tong sim beng mengalami drama

apes, sesudah duta Istincwa Berbaju Kuning dibunuh orang. hampir

Hong lay Sian ong dibunuh manusia palsu. Musuh Su hay tong sim

beng terlalu kuat. terlalu licik. Karena itu mereka mengutuskan aku,

mencari jejak partai Raja Gunung….”

Ie Lip Tiong mulai bercerita, bagaimana ia membikin

penguntitan, bagaimana ia berhasil menyelundup masuk kerumah

makan Huan kok lauw, Bagaimana mengikuti jejak Co Khu Long,

bagaimana ia merebutkam uang yang hendak disalurkan kepada

partai Raja Gunung. bagaimana ia menempur Ai Lam Cun,

bagaimana akhirnya ia tertangkap, yang terakhir ia tertawan, dan

kemudian bagaimana sehingga ia harus menerima fitnah jahat Su

khong Eng, tertawan oleh Hoa san pay dan Bu tong pay

Cerita itu tidak jelas tapi Ie Lip Tiong sudah membeberkan

kesulitan kusulitannya.

“Ku harap saja kalian bisa percaya kepada ceritaku ini.” Ie Lip

Tiong menutup penuturannya.

Ia menoleh kearah In koo Totiang dan Thian-kiam-ie-thian-hoat.

Menilai perobahan wajah kedua jago itu.

Wajah Thian-kion-ie-thian hoat dan In koo Totiang tidak

mcngalami perobahan. Tentu saja mereka tidak bisa menerima

cerita Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong kecewa, Lagi2 ia mengalam1 kegagalan.

Thian kiam ie thian hoat teriawa dingin, ia bangkit dari tempat

duduknya Memandang kearah In koo Totiang yang berada

disebelahnya, dan bertanya :

“Bagaimana pendapat Bu tong pay ?”

“Waktuku terbuang percuma.” berkata In koo Totiang. Tanpa

memberi jawaban ia sudah bangkit, meninggalkan tempat tahanan

itu.

Thian kiam ie thian hoat menoleh kearah Ie Lip Tiong, dan

berkata dingin :

“Sudah malam! Tidurlah!”

Mengikuti gerakan In koo Totiang, ia jaga meninggalkan kamar

tahanan itu.

Rasa marahnya Ie Lip Tiong tidak kepalang. la menghela napas

panjang dan berkata :

“Pantas saja Bu tong pay dan Hoa san pay tidak bisa menancap

kaki didalam rimba persilatan, ternyata tidak ada yang memiliki otak

cerdas?”

Thian kiam ie thian hoat menoleh dan mendelikkan matanya,

seolah2 hendak mendapatkan obrolan Ie Lip Tiong. Tapi batal. Ia

memberi perintah kapada Tong yong, menutup pintu, membawa

bangku dan mengunci pintu kamar tahanan itu.

Ie Lip Tiong ditingalkan seorang diri.

Apa yang bisa dilakukan olehnya? Lari? Tidak mungkin. Kedua

tangan dan kedua kakinja dirantai. Pinggangnya juga terikat,

Kekuatan besi itu tidak bisa diputuskan oleh tenaga dalamnya.

Menunggu pertolongan dari Su hay tong sim beng? Juga tidak

mungkin. Waktu hukuman mati untuknya hanja dua puluh hari.

Dengan jarak gunung Lu san yang begitu jauh, dimisalkan ketua Su

hay tong sim beng Hong Lay sian Ong yang datang turun-tangan,

dimisalkan ia bisa terbang datang juga tidak mungkin keburu.

Mereka tiba ke Han kong San chung, sesudah batok kepalanya

rontok ditanah

Yang membuat Ie Lip Terheran heran, mengapa Bu torg pay dan

Hoa san pay menetapkan waktu pada tanggal enam bulan sebelas?

Mengapa pada tanggal ini hendak menghukum mati dirinya?

Tidak lama kemudian, Ie Lip Tiog bisa menduga duga Ketua

partai Hoa san pay dan Bu tong pay dibunuh orang. Tentu saja

banjak perobahan. Mereka harus mencari dan memilih satu ketua

partai yang baru, dan waktu dua puluh hari ini mungkin cukup

baginya.

Hoa san pay dan Bu tong pay hendak memberi hukuman

bersama kepada Ie Lip Tiong membunuh orang tersebut, orang

yang dikatakan telah membunuh ketua partai mereka.

Matinya ketua partai Hoa san pay dan ketua partai Bu tong pay

sudah mcngecewakan Ie Lip Tiong. Kedua ketua partai itu adalah

algojo yang telah membunuh ayahnya. Bukan ia merasa dendam

sakit hati kepada para ketua partai besar, tapi ia jijik kepada tindak

tanduk kelima ketua partai bssar yang mengakibatkan kematian

ayahnya.

Ie Lip Tiong tidak setuju orang Membunuh ketua-ketua partai itu,

juga tidak ada niatan untuk melakukan tuntutan balas. Tapi

kematian mereka adalah hasil dari hukum karma, mereka

membunuh orang, dan kini dibunuh orang.

Sebarusnya, hak mutlak untuk Ie Lip Tiong untuk membunuh

ketua partai Hoa san pay dan Bu Tong pay. mengingat bahwa kedua

ketua partai itu telah membunuh ayahnya.

Dengan alasan apa Hoa san pay dan 8u-tong pay menghukum

mati dirinja lagi?

Ie Lip Tiong tidak bisa tidur. Matanya sulit dikatupkan, ia sedang

berdoa, mcngharapkan datangnya keajaiban jiwanya sedang

terancam msut. Hanja duapuluh hari.

Malam semakin larut. Pagipun tiba.

Sinar matahari pagi menyinari bumi, melalui jendela kecil,

memasuki kamar tamu Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong menengok kearah jendela disebelah kanan dari

sembilan penjaga malam hanja tinggal dua orang.

Menengok lagi kearah jendela sebelah timur juga demikian,

karena hari sudah menjadi siang, penjagaan berkurang, hanja dua

orang berbaju biru yang menjaga tempat itu, inilah orang2 dari Bu

tong pay.

Memperhatikan keadaan tempat itu, tempat pengasingan Han

kong san chung sangat luas. Dia hanya menempati sekelumit dari

bangunan2 itu.

Disaat Ie Lip Tiong, sedang memperhatikan pemandanpan Han

kong San chung, seseorang menampilkan diri, dia salah satu dari

tujuh-jugo pedang Hoa san pay, namanya Tee Tian liok sin san.

Ie Lip Tiong berteriak :

“Selamat pagi.”

Tee tian liong sim san memandaang dengan sinar mata sangat

tajam. tidak menyahuti sapaan itu, masih bergerak terus.

Ie Lip Tiong tertawa. ia berteriak lagi

“Hei Tee tian Liong sin san, kau juga termasuk salah seorang

tokoh silat ternama. Mengapa tidak mempunyai keberanian

menghadapi diriku?”

Tee tian liong sin san merasa terhina. begitu cepat ia

membalikkan badan, dan berada di depan jendela kamar tahanan.

Denpan wajah yang tajam, dengan sinar mata dingin berkata :

“Apa yang kau mau ucapkan?”

“Bisa saja kita bercakan cakap, bukan ? Sayang sckali kau takut

bicara kepadaku.”

“Siapa yang takut ?”

“Kau.”

“Hayo, katakan, apa yang kau mau ?”

“Bercerita sedikit ” Berkata Ie Lip Tiong, “Berani kau menunggu?”

“Tidak perlu kau mengolok2 diriku.” berkata Tee tian liok siu san.

“Apa ceritamu? katakanlah!”

Ie Lip Tiong berkata:

“Han kong San chung ada tempat pengasingan untuk Ngo kiat

Sin mo Auw yang Hui. Sesudah Ngo Kiat Sin mo Auw yang Hui

dibunuh orang….”

“Sesudah Ngo kiat Sin mo dibunuh oleh ayahmu. ” Dia

membenarkan kata Ie Lip Tiong yang dianggap tidak benar. Tee tian

liong sin san sangat memandang rendah kepada Oey san pay, Ie Lip

Tiong tidak mendebat, ia maneruskan perkataannja:

“Maka, Han kong San Chung sudah hampir dilupakan orang.

Lama sekali aku tidak mendengar nama Han kong Sanchung. Orang

juga mungkin bisa lupa, bahwa disuatu tempat digunung Ngo tay

san, terdapat tempat pengasingan yang bernama Han kong San

Chung, orang tidak tahu, siapa yang mengurus tempat pengasingan

Han khong San chung.”

“Orang yang mengurus Han kong Sanchung adalah murid Ngo

kiat Sin mo Auw yang Hui.” berkata Tee tian liok siu san.

“Oh! Aku lupa.” berkata Ie Lip Tiong “Betul Han kong San chung

diserahkan kepada murid2 Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui. Kudengar

nama mereka adalah Liok Siauw Kee, Su Kee Tian dan Wan Keng

Jie, betul bukan?

Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui adalah iblis jahat nomor satu, ia

mempunjai lima macam keahlian. Keahlian ilmu silat yang tinggi.

Kedua keahlian ilmu surat dan sastra yang luar biasa. Ketiga ilmu

permainan catur Keempat ilmu seni musik yang berada diatas

semua orang, dan permainan hubungan sex diatas tempat tidur

Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui menjurus kearah jalan sesat,

maka khalayak umum tidak bisa menerimanya. Ia dikeroyok oleh

beberapa ketua partai, sesudah mengalami kehancuran ilmu silat, ia

diasingkan di Han kong San chung, membiarkan ia menerima tiga

orang murid. Mereka adalah Liok Siauw Kee, Su Kee Tian dan Wan

Keng Jie, khusus ditugaskan untuk mewariskan tiga macam ilmu

surat dan sastra, ilmu catur dan ilmu seni musik.

Para ketua partai melarang Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui

menurunkan ilmu kepandaian silat dan permainan hubungan sex.

Liok Siauw Kee, Su Kee Tian dan Wan Keng Jie mendapat tugas

untuk memelihara tempat pongasingan Han kong San chung.

Sekalian menjaga guru mereka. Sehingga terjadinya drama

pembunuhan atas dirinya Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui.

Menurut cerita, Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui dibunuh oleh Ie In

Yang.

Ie In Yang adalah ayah Ie Lip Tiong, itu waktu menjabat ketua

partay Oey san pay.

Tapi Ie Lip Tiong lebih jelas kepada sifat ayahnya, tidak mungkin

hal itu bisa terjadi.

Ekor dari terbunuh matinya Ngo kiat Sin mo Auwyang Hui, ialah

kematian Ie Im Yang Mulai saat ini partai Oey san pay gugur dan

rontok.

Oey san pay mendapat hak hidup kembali, sesudah Ie Lip Tiong

menolong Hong lay Sian ong dari pembunuhan gelap.

Mulai saat itu Ie Lip Tiong meniiiggalkan duplikatnya, si manusa

luar biasa, It kiam tin bulim Wie Tauw, dan kembali kepada wajah

aslinya. Ia menempati Duta nomor tiga belas Su hay tong sim beng.

Akhinya ia tertawan didalam tempat pengasingan Han kong San

chung.

“Pengetahuan” umummu memang luar biasa.” berkata Tee tian

Liok siu san.

“Ketiga murid Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui masih berada

ditempat ini?” bertanya Ie Lip Tiong.

“Tidak semue.” jawab Tee tian liok sin san. “Liok Siauw Kee dan

Wan Keng Jie sedang bepergian. Disini hanja tinggal Su Kee Tian

seorang.”

Ie Lip Tiong bertanya lagi:

“Su Kee Tian mewarisi ilmu kepandaian apa dari yang dimiliki

oleh Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui?”

“Permainan catur.” berkata Tee tian liok sin san.

“Aha!” Ie Lip Tiong berteriak girang. “Aku juga mempunyai hobby

main catur. Bisakah mengundang dirinya, melewatkan waktu

senggangku?”

“Tidak tahu diri!” bentak Tee tian liok sin san. “Tahukah kau apa

kedudukanmu ditempat ini ?”

“Orang tawanan pun mempunyai hak hidup.” berkata Ie Lip

Tiong. Waktuku hanya sembilan belas hari lagi, kalian Hoa san pay

dan Bu tung pay adalah golongan ternama mungkinkah tidak

mempunyai rasa kasihan kepada seorang persakitan yang sudah

hampir dihukum mati?”

“Aku tidak berhak memberi putusan.” berkata Tee tian liok sin

san.

“Bisakah tolong memberi tahu kepada tokoh2 lainnya?” berkata

Ie Lip Tiong.

Tee tian liok sin san tidak memberi penyahutan. Ia berjalan

pergi.

Permintaan Ie Lip Tiong yang hendak mengajak bertanding catur

tidak disertai dengan embel2 lain, ia mengetahui bahwa ketiga

murid Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui dilarang meyakinkan ilmu silat.

Maka ia hendak mengajak Su Kee Tian main catur, dengan maksud

melewatkan waktu senggangnya saja. Ia tidak mengharapkan

permintaan itu bisa dikabulkan dengan dendam dan rasa sakit hati

Bu tong pay serta Hoa san pay, kemungkinan besar permintaannya

ditolak.

Apa yang terjadi didalam dunia ini sering berada diluar dugaan.

Dcmikian juga permintaan main catur Ie Lip Tiong, tidak berapa

lama kemudian In-koo Totiang dan Ihian Kiam-ie-thian hoat turut

muncul disana. Dibelakang jago Bu tong pay dan Hoa san pay itu,

berdiri seseorang. wajahnya sangat cakap, gerakkannya tegap,

umurnya diantara empat puluhan.

In koo Totiang memandang Ie Lip Tiong, dengan dingin ia

bertanya:

“Kau hendak mcngajak tuan Su Kee Tian bertanding catur?”

Ie Lip Tiong bisa menduga, siapa laki laki berwajah putih yang

berada dibelakang in koo Totiang dan Thian kiam ie thian hoat,

tentunja murid Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui, Su Kee Tian yang

mewarisi permainan caturnya.

“Ng.” ie Lip Tiong menganggukan kepalanya “Hanja untuk

melewatkan waktu iseng saja.”

“Kita bisa menerima permintaanmu.” berkata In koo Totiang.

“Tapi dengan syarat. tidak bisa melepas rantai yang mengekang

kebebasanmu.”

“Tidak menjadi soal.” berkata Ie Lip Tong. Dengan tangan dan

kaki terantai aku masih bisa main catur.”

Thian kiam ie thian hoat berkata :

“Tuan Kee Tian adalah seorang lemah tidak berkepandaian silat,

jangan kau mencoba untuk mengerecoki dirinya. Hati hati

pembalasan kami ”

“Apabila kalian tidak percaya, boleh saja turut serta dan

menonton pertandingan catur.” berkata Ie Lip Tiong tertawa. .

Thian kam ie thian hoat tdak mengeluarkan reaksi. Segera ia

memanggil kepada seseorang kacung kecil, dan berkata kepadanja.

“Souw hok, sediakan papan dan biji catur ketempat ini.”

seorang pelayan datang dengan disertai alat alat catur.

Membawa meja kecil Meletakkan alat catur diatasnya. Dan juga dua

bantal buntalan untuk duduk.

In koo Totiang dan Thian kiam ie thian hoat tidak mempunyai

minat untuk menonton pertandingan catur, mereka berkata kepada

Su Kee Tian :

“Tuan Su kee Tian, kami berada diruangan depan yang letaknya

tidak jauh dari sini. Apabila ada sesuatu, apabila sikapnja kurang

memuaskan, berteriak sajalah. Kami segera datang!”

“Terima kasih.” berkata Su Kee Tian membungkukkan setengah

badan. “Jiwie berdua tidak turut msnyaksikan ?”

in-koo Totiang menggeleng2kan kepala. Mengajak Thian kiam Ie

thian Hoat mereka menguncikan Su Kee Tian dan Ie Lip Tiong.

Disertai juga o!eh si kacung kecil.”. inilah orang yang bcrnama

Souw-hok itu

Papan catur terpasang, Ie Lip Tiong dan Su Kee Tian memasang

biji catur. Masing2 duduk pada kedua buntalan yang digunakan

sebagai tempat duduk.

Memandang kepada Su Kee Tian, Ie Lip fiong bertanya :

“Tuan Su Kee Tian, kuperkenalkan diri, aku Ie Lip Tiong.”

Su Kee Tian juga sudah duduk. Dengan suara yang tenang ia

berkata :

“Sudah tahu. In koo Totiang sudah memberi tahu.”

Ie Lip Tong memegang bidak putih. mska ia mempunjai hak

untuk berjalan lebih dulu. Ia mengangkat pion didepan raja, maju

dua laogkah, inilah pembukaan gajah Raja.

“Bagaimana penilaian tuan tentang kematian suhumu?” bertanya

Ie Lip Tiong.

Su Kee Tian juga melajani permainannya catur itu, ia berkata :

“Kami hanya mewarisi ilmunya yang ditentukan, tentang kejadian

lama lebih baik tidak diungkit ungkit lagi.”

“Tapi ini sangat penting.” berkata Ie Lip Tiong dikatakan orang

bahwa ayahku yang membunuh. Tapi hal ini tidak mungkin terjadi,

tidak benar sama sekali” suatu hari pasti bisa dibikin terang.”

“Aku tidak menaruh dendam.” berkata Su Kee Tian.

Ie Lip Tiong menganggukkan kepala. menggerakkan biji catur

lainnya, ia bertanya

“Sesudah guru kalian meninggal dunia. tuan tiga saudara

perguruan selalu menetap didalam Han kong San chung?”

“Tempat kami di Han kong San chung. Tentu saja menetap

disini,” berkata Su Kee Tian. “Tapi, tidak selalu tinggal disini, ada

kalanya, aering kali, kami berpergian kesekitar.”

Ie Lip Tiong berpikir lama, ia mengeluarkan kudanya, dengan

tertawa berkata :

“Tuan Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui terkenal dengan lima

macam keahlian ternama, Tuan Su Kee Tian berhasil mewarisi ilmu

permainan catur, tentu juga sangat luar biasa.

“Hanya permainan catur.” Su Kee Tian merendahkan diri.

Pertandingan berjalan mulai lancar. bilamana Ie Lip Tiong

menggerakan biji caturnya lambat, Su Kee Tian menggerakkan

cepat. Pengalaman dan pcrmainan Su Kee Tian sangat luar biasa, ia

merangsek dan mendesak Ie Lip Tiong.

Pertandingan berjalan setengah hari akhirnya Ie Lip Tiong harus

menyerah kalah.

Pertandingan kedua dilanjutkan, giliran Su kee Tian jang

memegang biji putih, Ie Lip Tiong memegang biji hitam.

Su Kee Tian menggunakan pembukaan Hiolu Tua, dan diawali

dengan pertahanan yang sama.

Tidak percuma Su Kee Tian mewarisi ilmu permainan catur Ngo

kiat Sin mo Auw yang Hui jang belum pernah menemukan

tandingan, terus menerus ia mendesak Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong juga termasuk diago catur kelas satu, tapi

menghadapi jago luar biasa yang seperti Su Kee Tian, ia kewalahan.

Tidak berhasil menguasai papan situasi. Lambat tapi pasti, ia

terdesak.

Pertandingan kedua lebih baik dari pertandingan pertama,

mengetahui taktik dan cara bermain Su Kee Tian, Ie Lip Tiong bisa

membikin perlawanan jang lebih hebat.

Pcrtandingan itu memakan waktu yang cukup lama, berurat. Ie

Lip Tiong tidak mau menyerah kalah. Dengan sekuat kepintaran

jang ada, ia membikin pertahanan kokoh.

Walau dengan kesudahan kalah, tapi Ie Lip Toing mendapat

pujian. Dengan mcngangkat jempol Su Kee Tian berkata :

“Permainan catur tuan Ie Lip Tiong juga termasuk permainan

catur kelas satu. Berat aku mengalahkanmu.”

Ie Lip Tiong menjengir. Sudah terang ia dikalahkan. Tapi Su Kee

Tian berkata seperti itu, inilah lawan yang merendah diri.

“Bilamana tuan Su Kee Tian tidak keberatan, esok hari, aku

hendak meminta pelajaran lagi.” berkata Ie Lip Tiong.

“Kukira tidak keberatan. Bilamana mereka memberi ijin.” berkata

Su Kee Ttan, ia bangkit meminta diri, dan dengan dibantu oleh

sijongos Souw hok mereka pamit pergi.

In Koo Totiang sudah memberi tahu kepada orangnya, pintu

penjara itu dibuka dan mengunci Ie Lip Tiong lagi.

Mulai hari itu setiap hari kerja, Ie Lip Tiong bermain catur dengan

Su Kee Tian,

Hoa san pay dan Bu tong pay mengangap penjagaan mereka

cukup kuat dan juga telah merantai Ie Lip Tiong, tempat Mereka

tidak keberatan atas permintaan ie Lip Tiong yang menghedaki

dikawani oleh Su Kee Tan bertanding catur.

Enam hari telah dilewatkan…..

Didalam Han kong San Chung telah bertambah dengan beberapa

orang, mereka adalah anak buah Hoa san pay dan Bu tong pay.

Ie Lip Tiong tidak gentar pada bertambahnya dengan beberapa

orang2 itu, ia juga tidak pusing, berapa besar jumlah mereka, yang

dikuatirkan adalah rantai yang mengikat kaki dan tangannya. Sulit

untuknya membebaskan diri. Sulit mencari kesempatan lari.

Bilamana ada kesempatan, Ie Lip Tiong berusaha membebaskan

diri dari kekangan rantai yang mengikat dirinya. Tidak berhasil.

Rantai itu terlalu kokoh dan kuat. Tenaganya tidak bisa

mematahkan. Dia juga berusaha untuk membuka kunci rantai. juga

tidak berhasil. Kunci itu bukan kunci biasa. Tidak mudah dikorek

olehnja. Harapab Ie Lip Tiong Satu2nya ialah bantuan yang datang

dari luar dengan adanya bantuan dari luar, baru ia bisa melarikan

diri dan Han kong San chung.

Pada hari ketujuh bantuan dari luar yang diharapkan ie lip Tiong

itupun tiba. Bantuan yang datangnya dari Su hay tong Sim beng.

Hari itu, pagi2 sekali In koo Totiang muncul didepannya. Didepan

pintu kamar tahanan. disebelah In koo Totiang berdiri seorang

pengemis bermata satu. inilah Duta nomor sebelas dari Su hay tong

sim beng, namanya Tok gan Sin kay.

Ie Lip Tiong lompat bangun dari tempatnya, ia menyambut

kedatangan Tok gan Sin kay dengan rasa yang sangat girang.

Tok gan Sin kay adalah tokoh pengemis sakti. Umurnya sudah

lima puluh tahun. Ia menduduki duta nomor sebelas dari Su hay

tong sim beng, karena pikirannya jernih, ilmu silatnya tinggi,

pendiriannya yang tepat. Walau hanya bermata satu, karena mata

kirinya telah terluka oleh pertempuran. Kini ditutup dengan tutup

mata hitam. Dengan dua tali panjang, terikat pada telinganya.

Tetapi ia gagah dan garang.

Ie Lip Tiong dan Tok gan Sin kay belum pernah bertemu muka.

Dikala Ie Lip Tiong dua kali kegunung Lu san, kebetulan Tok gan sin

kay ada urusan penting diluar. Maka tidak bisa mengikuti keramaian

dan pengesahan Duta nomor tiga belas itu.

Ie Lip Tiong bisa mengenali Tok gan Sin kay. dengan cara orang

berdandan, juga ia pernah mendapat gambaran yang jelas dart

semua Duta Istimewa berbaju kuning Su hay tong sim beng Maka

bisa mengenat dirinja.

Tok gan Sin kay memandang kearah Ie Lip Tiong dan berkata :

“Kau adalah itu duta nomor tiga belas yang baru, Kebetulan aku

ada urusan. Maka tidak bisa untuk mengucapkan selamat

kepadamu. Tapi segala tindak tandukmu, sudah kudengar lama.”

Baru pertama kali ini. Tok gan Sin kay mengenal Ie Lip Tiong.

Kedudukan Duta istimewa Su bay tong sim beng semua sama

Tapi tidak berani Ie Lip Tiong mengagulkan diri. menurut prestasi

terakhir, nama Ie Lip Tiong memang lebih tenar dari pada Tok gau

Sin kay. Dengan mengingat bahwa ia belum lama menjabat

kedudukan itu, mengingat bahwa umurnja yang masih terlalu muda,

ia tidak berani bersikap congkak.

Dengan sikapnja yang sangat hormat ia berkata :

“Tok gan Sin Kay tatsu datang atas perintah Bengcu?” Ie Lip

Tiong menduga bahwa kedatangan Tok gan Sin kay adalah perintah

ketua Su hay tong sim beng Hong lay Sian ong. Maka ia

mengajukan pertanyaan seperti itu.

Tok gan Sin kay menggelang gelengkan kepala, ia berkata

perlahan :

“Salah. Aku belum kembali kegunung Lu san. Didalam perjalanan

kearah gunung Bu Tong, kudengar cerita tentang tindak tandukmu

yang telah membunuh ketua partai Bu tong pay Koo goat Totiang.

Maka segera aku datang untuk menjenguk.”

Ie Lip Tiong kecewa. Ternyata kedatangan Tok gan Sin kay

bukan untuk menoloag dirinja. Itulah suatu kebetulan saja.

Tentu saja, dimisalkan kedatangan Tok gan Sin kay atas perintah

Hong lay Sian-ong, mendapat tugas Su hay tong sim beng untuk

membebaskan dirinya. Dengan kekuatan Bu Tong pay dan Hoa san

pay yang sangat menaruh dendam besar, tidaK mungkin ia

mendapat kebebasan, apalagi kedatangan Tok Gan Sin kay hanya

Satu kebetulan, maka putuslah hsrapan untuk bebas.

Sikap yang dibawakan oleh Tok gan Sin-kay tidak sangat erat

sekali, dengan dingin ia berkata:

“Seharusnya, kita sudah bertemu dikota. Siang-yang, didalam

rumah penginapan Ko-bin. Tapi…. ha, ha….”

Tok gan Sin kay mcnolehkan mulutnya, dengan senyuman yang

tidak memandang mata.

Ie Lip Tiong salah duga, mengira bahwa Tok-gan Sin-kay itu juga

berpendapat dengan Bu tong pay dan Hoa san pay, percaya obrolan

mereka tentang pembunuhan yang dilakukan Su khong Eng.

Kini mendengar kata Kota Siangyang, rumah penginapan Ko bin.

hatinya tcrgerak dengan bingung ia bertanya :

“Apa maksud Tok gan Sin kay tatsu ?”

“Aku sendiripun tidak mengerti.” berkata Tok gan Sin kay.

“Kesanku kepadamu sebetulnya baik, dengan umur yang begitu

muda, kau sudah bisa menduduki Duta nomor tiga belas.

Prestasimu juga tidak jelek. mengapa kau bermalam dikota Siang

yang, di kala aku memanggilmu, kau segera melarikan diri ?”

“Melarikan diri?” Ie Lip Tiong berkerut alis.

“Takut perbuatanmu diketahui orang?” bertanya Tok gan sin kay.

Ie Lip Tiong segera bisa menduga, siapa orang yang ditemui oleh

Tok gan Sin kay itu. Maka ia mengajukan pertanyaan :

“Bolehkah aku bertanya, sudah berapa lamakah kejadian itu?”

“Begitu cepat lupa” berkata Tok gan Sin kay. “Itulah kejadian

pada empat belas hari yang lalu.”

“Kemudian?” bertanya Ie Lip Tiong. Tok gan Sin kay tertawa

dingin.

“Kau tidak malu bilamana kuucapkan didepan orang ?”

“Katakan sajalah ” berkata Ie Lip Tiong. “Tidak ada sesuatu yang

memalukan.”

“He, he…….” Tok gan Sin kay berdehem. “Kau sendiri yang

menyuruh aku mengatakan. Bukan mahsudku untuk memburukkan

namamu.”

“Tidak perlu menyembunyikan sesuatu” berkata Ie Lip Tiong.

“Katakan saja.”

“Baik.” berkata Tok gan Sin kay. “itu waktu, aku mencari

seseorang dikota Siang yang. Tiba dirumah penginapan Ko bin,

Didalam daftar nama, aku segera melihat namamu Rasa girangku

tidak kepalang, tentu saja aku mempunjai niatan untuk bertemu

muka dengan rekan baru. Segera kudatangi kamarmu, Kuketok

pintu, tapi apa yang kau jawab?”

Tok gan Sin kay memandang kearah Ie Lip Tiong, hendak

melihat bagaimana reaksi pemuda itu.

“Apa yang kujawab ?”

Tentu saja Ie Lip Tiong tahu, bahwa orang yang bernama Ie Lip

Tiong yang bermalam didalam rumah penginapan Ka bin adalah Ie

Lip Tiong palsu. Itulah Su khong Eng !

Tok gan Sin kay menghentikan cerita.”

Maka dengan suara yang tenang dan datar. Ie Lip Tiong berkata:

“Silahkan Tok gan Sin kay tatsu meneruskan cerita.”

“Baik.” Tok gan Sin kay mengeluarkan suara menghina.

“Suaramu itu waktu, suaramu sangat tegang. ‘Siapa’ ‘Kau tidak tahu

aku yang datang. Segera kujawab pertanyaan inu, Duta nomor

sebelas dari Su hay tong sim beng!”

“Kau tidak memberi reaksi lain. Dan juga tidak membuka suara

lagi. Tentu saja aku sangat heran. Aku juga marah segera. aku

memanggil lagi, Ie Lip Tiong tatsu, aku adalah Duta nomor sebelas,

Tok gan Sin kay Buka pintu!”

“Sungguh mengherankan sudah kudengar kau memberi

penyahutan. Mengapa tidak mau membuka pintu. mungkinkah aku

tidak menpunyai, hak untuk bertemu denganmu? Saking marahnya

aku mendobrak pintu itu…..”

Mengikuti cerita ini. keringat dingin Ie Lip Tiong mengucur

keluar, ia bertanja cepat:

“Apa yang Tok gan Sin kay tatsu lihat ditempat itu?”

“Apa yang kulihat ditempat itu?” Tok gan Sin kay mengeluarkan

suara menghina. “Disana terbaring seorang gadis, pakaiannya sudah

terbuka, perbuatan apa yang baru kau lakukan?”

“Apa?” berteriak Ie Lip Tiong kaget. “Seorang gadis?”

“Sungguh pandai kau bersandiwara” berkata Tok Gan Sin kay.

“Kau lebih kenal dengan gadis itu. bukan? Kau telah melolohnya

dengan arak. Maka ia tidak sadarkan diri.”

“Siapa nama gadis itu ?” bertanya Ie Lip Tiong.

“Aku memanggil pelayan, maka mengetahui nama gadis itu

adalah….. Ai Ceng”

“Ai Ceng!” Ie Lip Tiong berteriak panas. Wajahnya sangat Pucat

pias.

Dengan sinar mata yang penuh tanda tanya, Tok gan Sin kay

kerkata :

“Menurut cerita pelayan rumah penginapan kau mempunyai:

hubungan baik dengan gadis yang bernama Ai Ceng itu, Tentunya

kau telah melakukan sesuatu, mengapa kau malu bertemu

denganku? Mengapa kau melarikan diri dari jendela?”

Ie Lip Tiong mundur satu langkah, dengan sekujur badan lemas

ia duduk numprah Tidak bicara.

Pukulan hati ini terlalu berat, ia sudah tahu, siapa Ie Lip Tiong

yang berada didalam kamar rumah penginapan Ka bin dikota Siang

yang itu. Itulah Su khong Eng. Bagaimana ia harus menuntut balas

Biar kejahatan kejahatan Su khong Eng, yang mcnyedihkan dirinya

adalah adanya Ai Ceng ditempat itu. Tentu sudah dihina oleh Su

khong Eng.

Tok gan Sin kay membiarkan Ie Lip Tiong berdiam beberapa

waktu. Ia menganggap bahwa si pemuda malu atas perbuatannya

yan telah dilakukan olehnya Maka dengan tertawa dingin. Tok gan

Sin kay berkata lagi :

“Ie Lip Tiong tatsu, bisakah kau memberi tahu. siapa gadis

berkepang itu ?”

“Namanya Ai Ceng. Puteri Ai Pek Cun.”

Tok gan Sin kay belum kembali kemarkas besar Su hay tong sim

beng, ia tidak tahu siapa orang yang bernama Ai Pek Cun itu

“Ai Pek Cun ?” ia berkata. “Tokoh silat dari golongan manakah

orang yang bernama Ai Pek Cun itu?”

“Pernah Tok gin Sin kay tatsu mendengar nama Lo sancu?”

berkata Ie Lip Tiong yang berusaha menenangkan hatinya.

“Baru saja dengar.” berkata Tok gan Sin kay. “Dikatakan orang,

bahwa Lo-sancu adalah pemimpin komplotan partai Raja Gunung. Ia

mengepalai raja2 silat sesat Membawakan sikapnya yang

bermusuhan kepada Su hay tong sim beng.”

“Betul.” berkata Ie Lip Tiong. “Lo sancu adalah ketua dari partai

raja gunung Seorang yang mengenakan tutup kerudung muka, tidak

diketahui wajahnya. Suaranya sangat lemah Seperti tidak

berkepandaian Silat. Tapi ia bisa memimpin dan mengepalai sebelas

raja2 silat sesat, Ia mempunyai empat orang murid, mereka adalah

A1 Tong Cun, Ai Pek Cun, Ai See Cun, Ai Lam Cun.”

“0h.” Tok gan Sin Kay mengeluarkan keluhan panjang. “Kau

jatuh cinta kepada putri musuh?”

“Hubungan kami sangat baik.” Ie Lip Tiong tidak mcnyangkal. “Ai

Ceng mempunyai seorang suheng yang bernama Su-khong Eng. Su

khong Eng ini adalah sipemuda misterius berbaju hitam yang pernah

melakukan perbunuhan besar2an kepada anak buah lima partai

besar. Su-khong Eng ini yang pernah memfitnah diriku. Ai Pek Cun

mempunjai niatan untuk menikahkan putrinya kepada Su-khong

Eng. Tapi Ai Ceng tidak bersedia, Ai Ceng menolak putusan itu.”

37

“AKU MENGERTI.” berkata Tok gan Sin kay. “Ai Pek Cun tidak

bersedia menikahkan putrinya kepadamu. Maka kau melarikan gadis

orang, hendak membikin sedikit paksaan, dimisalkan nasi sudah

menjadi bubur, apa yang bisa dilakukan ? Maka

“Salah.” berkata Ie Lip Tiong. “Apa yang kau saksikan dirumah

penginapan itu adalah manusia palsu. Itulah Su khong Eng !”

“Apa?” Tok gan Sin kay terbelalak.

Sudah kuceritakan asal mula kejadian, dan terakhir terijipianja

seoraug Ie Lip ‘iong palsu, dengan kejahatan kejahatan Su khong

Bag, heudak menjesatkan diriku, cerita itu.

sudah kuberitahu kepada In koo Totiang dan Thian kiam ie thian

hoat. Sudah tentunya mereka juga sudah menceritakannya, bukan?”

Untuk lebih jelas, kini kuulang cerita itu.

Ie Lip Tiong kembali munceritakannya, bagaimana ia mendapat

tugas membikin penyelidikan Partai Raja Gunung. Bagaimana ia

masuk perangkap, bagaimana ia dipenjarakan: bagaimana Su khong

Eng menyatnar jadi dirinja. Terakhir ia menerima fitnah, jatuh

kedalam tangan Bu-tong-pay dan Hoa san-pay.

Menunggu sampai selesainya Cerita Ie Lip Tiong, Tok gan Sin kay

memperhatikan sikapnya yang sangat terkejut. Ia bertanya:

“Kau dipenjarakan ditempat ini karena difitnah orang? Maka,

menurut apa yang sudah kau ceritakan, kau menderita penasaran.”

“Tentu saja penasaran.” bsrkata Ie Lip Tiong. “Tapi Hoa san pay

dan Bu tong pay tidak percaya kepada keteranganku. Mereka

hendak menuntut balas atas kematian ketua partai masing2, Sangat

lucu, bukan?”

Tok Goan Sin kay berpikir, ia menggunakan kecerdikan otaknya.

menggunakan keterangan keterangan dari kedua pihak. Beberapa

saat kemudian, ia menoleh kearah In koo Tootiang dan bertanya

kepadanya:

“Bagaimana pendapat totiang tidak percaya kepada keterangan

Ie Lip Tiong?”

“Bukan saja tidak percaya.” berkata In koo totiang. “Kuanggap

disinilah letak kepintarannya. Sengaja ia mengaco belo.”

“Bisa aku mendapat keterangan totiang?” bertanya Tok gan Sin

kay.

In koo Totiang berkata :

“Pernah mendengar cerita telitang ayah Ie Lip Tiong? Bagaimana,

karena hendak memiliki itu kitab Thian tok am keng Ngo kiat Sm mo

Auw yang Hui, ia membunuh jago sesat itu. Maka dikepung oleh

lima ketua partai besar, dengan akhirnya mati dibawah tangan

mereka.”

Tok gan Sin kay menganggukkan kepala. “Ada hubungannya

dengan urusan Ie Lip Tiong ?” ia bcrtanya.

“Tentu saja ada.” berkata In-koo Totiang.” “Siapa yang merasa

tidak sakit hati, bilamana ayah mereka dibunuh orang? Demikian

juga kejadian Ie Lip Tiong. Ayahnya mati dibawah tangan ketua

partai ketua partai kami, pasti ia merasa sakit hati. Betul. Didalam

Su hay Tong sim beng, ia memberi pernyataan yang mengatakan

bahwa ia tidak mengadakan tuntutan balas kepada lima partai besar

tapi, disinilah letak kepintarannya. Seolah olah orang boleh percaya

bahwa Ie Lip Tiong adalah seorang yang gagah berani, seorang

yang mengerti duduk perkara. Bila saja orang mudah percaya

kepada keterangannya. percaya bahwa Ie Lip Tiong itu tidak

mempunyai rasa sakit hati Inilah suatu kebohongan besar. Biar

bagaimana, rasa sakit hatinya masih ada. bilamana ia menyuruh

orang. atau mengubah dirinya membikin tuntutan balas, bilamana le

Lip Tiong menggunakan tutup kerudung muka, atau sesuatu

bermake up lain membunuh lima ketua partai besar, tentu orang

mudah bisa menerka, tapi ia sangat pintar, dengan berani, dengan

wajah aslinya, ia membunuh ketua partai kami. Tentu saja orang

bisa tidak percaya. Dan bilamana orang tidak percaya.

Terjerumuslah kita kedalam perangkapnya. Begitu cerdik Ie Lip

Tiong, hingga mendapat kepercayaan Su hay tong sim beng.

Dengan adanya dukungan Su hay tong sim beng, bisa saja ia

melaksanakan rencana rencana itu. satu persatu, tapi pasti, ia akan

membunuh lima ketua partai besar.”

-oo0dw0oo

Jilid 8

“TOTIANG yakin kepada dalih yang sudah dikatakan?”

“Yakin sekali.” berkata In-koo Totiang.

“Begitu yakinnya Totiaag kepada dalih ini. Mengapa?” Bertanya

Tok-gan Sin-kay. “Mungkinkah dikarenakan adanya ganjalan hati,

mungkinkah takut Ie Lip Tiong menuntut balas? Maka hendak turun

tangan terlebih dahulu, membekuk dirinya. maka Totiang bisa

mempunyai hati yang agak lapang, tidak takut sesuatu dikemudian

hari. Totiang seolah-olah berkata : Bahwa Ie Lip Tiong telah

membunuh ketua partai Bu-tong-pay.”

Dengan kecerdikan otaknya, Tok-gan Sin-kay lebih percaya

kepada keterangan Ie Lip Tiong.

“Saudara Tok-gan Sin-kay percaya kepada keterangannya?”

betanya In-koo Totiang.

“Segala sesuatu harus dirumuskan menurut kenyataan. jangan

mempunyai rasa dendam, jangan menggunakan kaca mata

berwarna.” Berkata Tok-gan Sin-kay.

In-koo Totiang berkata

“Tok-gan Sin-kay tatsu terlalu memandang rendah kepada Ie Lip

Tiong.”

“Artinya?” berkata Tok-gan Sin-kay

“Tok-gan Sin-kay tatsu tidak percaya bahwa Ie Lip Tiong berani

menggunakan wajah aslinya membunuh ketua partai kami. Disinilah

letak kecerdikan Ie Lip Tiong.”

“Bisa memberi keterangan yang lebih jelas ?”

“Sesudah ia menduduki jabatan Duta Istimewa Berbaju Kuning

Su-hay-ton-sim-beng, tentu saja ia maklum, tidak mungkin

menuntut balas atas kematian ayahnya, juga tahu. tidak mungkin

Su-hay-tong-sim-beng memberi izin baginya, membunuh lima ketua

partai. Dimisalkan ia mengubah wajah, kecurigaan pasti ada. Maka

terus terang ia bergerak dengan wajah asli, bahkan menggunakan

pakaian Duta Istimewa Berbaju Kuning, dan membuat suatu

pembelaan, mengatakan bahwa itulah orang lain yang memalsukan

dirinya. Disinilah letak kecerdikan otaknya. Semua orang pasti yakin,

bahwa keterangannya itu betul. Tidak mungkin ia menggunakan

wajah asli membunuh orang. Tapi kenyataan demikian. Ia telah

menggunakan wajah aslinya, ia telah menggunakan pakaian Duta

Istimewa berbaju kuning Su-hay-tong-sim-beng, membunuh ketua

partai kami.”

Tok-gan Sin-kay tctawa berkakAkan, “Aku memuji kecerdikan

otak totiang.”

“Tok-gan Sin-kay tatsu tidak mempunyai pendapat yang sama?”

In-koo Totiang dapat menangkap arti kurang setuju dari Duta

nomor sebelas itu.

Tok-gan Sin-kay berkata :

“Untuk menyelesaikan persoalan yang rumit dan sulit, boleh saja

membuat perumpamaan, dimisalkan, dan sesudah itu kita berusaha

mencari fakta dan bukti.kini dalihnya sudah ada dan buktinya?”

In-koo Totiang berkata :

“Ada dua fakta yang tidak bisa meringankan dosa Ie Lip Tiong.

Fakta pertama, sesudah ia membunuh ketua partai Hoa-san-pay,

tujuh jago Hoa-san menempurnya, mengejar terus menerus

sehingga sampai dikota Tiang-an, ia lari kedalam kelenteng Cingoan-

kuan, untuk beberapa waktu, tujuh jago pedang Hoa-san tidak

menemukan jejaknya. ia lenyap mendadak, tapi sesudah

mengurung kelenteng Cin-goan-koan, akhirnya tujuh jago pedang

Hoa-san pay berhasil menemukannya, ketujuh orang itu tidak

melihat ada orang kedua yang keluar dari kelenteng. Inilah bukti

bahwa keterangan Ie Lip Tiong hanya isapan jempol.”

“Bukti kedua ?” bertanya Tok-gan Sin-kay.

“Bukti kedua, adalah luka bekas tusukan pedang dipaha kirinya,

luka itu dikarenakan tusukan pedang Thian-kiam-ie-thian-hoat.

Bilamana keterangan Ie Lip Tiong itu betul, dimisalkan ada dua Ie

Lip Tiong, mengapa begitu kebetulan? Pedang Thian-kiam-ie-thianhoat

melukai Ie Lip Tiong palsu, inilah keterangannya, tapi, dia

sendiri, Ie Lip Tiong yang asli tidak menderita luka dipaha kirinya,

itulah luka tusukan pedang Thian-kiam-ie-thian-hoat. Bukti ini tidak

bisa dihilangkan. Lebih memberatkan dirinya.”

Tok-gan Sin-kay menggunakan kecerdikan otaknya, mengingat

sesuatu, berpikir beberapa saat ia berkata ;

“Tentang bukti pertama, disaat tujuh jago pedang Hoa-san-pay

memasuki kelenteng Cin-goan-koan, sudahkah memeriksa seluruh

isi kelenteng ?”

In-koo Totiang tertegun, ia berkata :

“Disaat tujuh jago pedang Hoa-san-pay memasuki kelenteng Cingoan-

koan, mereka segera menemukan Ie Lip Tiong terduduk

diruang tengah, mengapa harus membikin pemeriksaan lagi ?

Segera terjadi pertempuran.”

“Aku percaya bahwa tidak ada orang kedua yang keluar dari

kelenteng Cin-goan-koan. Tapi itulah kejadian disaat terjadinya

kejadian.” berkata Tok-gan Sin-kay. “Besar sekali kemungkinannya,

bahwa Ai Lam Cun, Ai Pek Cun, dan Su-khong Eng masih

bersembunyi didalam kelenteng. Menunggu kalian keluar.

meninggalkan tempal itu. Baru mereka pergi. Bukti bahwa didalam

kelenteng tidak ada orang kedua masih disangsikan.”

In-koo Totiang sangat tidak puas. Ia mengeluarkan suara

dengusan dingin

“Ehem..”

Tok-gan Sin-kay berkata lagi “Tentang bukti kedua, bukti adanya

luka bekas tusukan pedang, pada paha kiri Ie Lip Tiong. Tentu saja,

Thian-kiau-ie-thian-hoat telah menusuk paha kiri Su-khong Eng, dan

Su-khong Eng sudah mempunyai rencana untuk melempar getah

kejahatan kepada Ie Lip Tiong, tentu saja ia bisa membuat luka

yang sama, maka fakta tentang adanya luka dipaha kiri tentang

tusukan pedang itu juga masih diragukan.”

In-koo totiang semakin tidak puas, terpeta sekali pada wajahnya,

ia berkata dingin,

“Tok-gan Sin-kay tatsu selalu membelanya. Apa yang menjadi

maksud utama?”

Tok-gan Sin-kay tertawa, “Legakan hati,” ia berkata. “Sebagai

Duta istimewa Berbaju Kuning Su-hay-tong-sim-beng, aku tidak mau

melakukan penculikan tawanan. Harapanku ialah menyerahkan Ie

Lip Tiong kepada Su-hay-tong-sim-beng. kita bisa membikin

penilaian yang lebih cermat.”

In-koo Totiang tidak setuju, ia berkata

“Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay telah mendapat persepakatan. ia

memberi hukuman mati kepada ie Lip Tiong. Walau mendapat

skorsing dari Su-hay-tong-sim-beng, atau yang lebih hebat lagi,

partai kami dilarang memasuki Su-hay-tong-sim-beng, tetap kami

laksanakan putusan bersama, kami hendak membikin tuntutan balas

atas kematian kematian ketua partai kami.”

Sepasang mata Tok-gan Sin-kay memancarkan cahaya berkilat

kilat, seolah olah tidak puas, tapi sinar mata itu redup kembali.

Mengingat bahwa tidak perlu bentrok dengan Hoa-san-pay dan Butong-

pay, ia berhasil menguasai ketegangannya. Dengan menghela

napas ia berkata :

“Aku juga turut berduka cita atas kematian ketua partai Hoa-sanpay

dan Bu-tong-pay. Semua orang berdiri dan berpihak kepada

kalian. Tapi, sebelum betul2 mendapatkan bukti, bisakah kalian

menunda hukuman mati Ie Lip Tiong ?”

“Tidak bisa.” In-koo Totiang menolak getas. “Dengan adanya

hukuman yang di jatuhkan kepada Ie Lip Tiong, nama Hoa-san-pay

dan Bu-tong-pay mungkin merosot jatuh.” berkata Tok-gan Sin-kay.

“Demi membalas dendam ketua partai kami, segala tegoran akan

kami terima.” berkata in-koo Totiang.

Tok-gan Sin-kay tidak berdaya, ia menoleh dan memandang

kearah Ie Lip Tiong yang bersengut sengut itu, dan berkata

kepadanya

“Ie Lip Tiong tatsu, aku telah berdaya upaya, tidak berhasil.”

Tok-gan Sin-kay mengangkat pundaknya.

Perlahan lahan. Ie Lip Tiong mendongakkan kepala, memandang

kepada Tok-gan Sin-kay dan berkata :

“Mereka telah memutuskan, menjalankan hukuman mati pada

tanggal enam bulan sebelas. Betul mereka telah memberi tahu

putusan ini kepada Su-hay-tong-sim-beng, tapi dengan jarak yang

begitu jauh, tidak mungkin Su-hay-tong-sim-beng bisa keburu

membikin pencegahan.”

Tok-gan Sin-kay bisa memaklumi isi hati Ie Lip Tiong, Ie Lip

Tiong mengharapkan bantuannya, Ie Lip Tiong mengharapkan

penculikan tawanan perang, dan membebaskannya secara paksa.

Tapi Tok-gan Sin-kay tidak bisa melakukan seperti itu. Dengan

kekuatan? ia tidak bisa mengalahkan keroyokan banyak orang.

Dengan kata2? Ia tidak bisa mengubah pendirian In-koo Totiang.

Dengan tipu? juga lebih sulit lagi.

“Sebagai Duta stimewa Berbaju Kuning Su-hay-tong-sim-beng, ”

berkata Tok-gan Sinkay. “Segala gerak-gerikku terbatas atas

pimpinan. Sebelum ada perintah tegas, aku tidak berani berlaku

lancang.”

Melirik kearah In-koo Totiang. Tok-gan Sin-kay meneruskan

keterangannya :

“Dimisalkan, aku ada niatan untuk menolongmu. Tapi jago Butong-

pay dan tujuh jago pedang Hoa-san-pay juga tidak berpeluk

taugan, pasti dia menempurku.”

Inilah kenyataan, dimisalkan Tok-gan Sin kay hendak menolong

Ie Lip Tiong. Bu-tong pay dan Hoa-san-pay akan menempurnya

mati2an. Dengan kekuatan Tok-gan Sim-kay seorang, mungkinkah

bisa melawan tujuh jago pedang Hoa-san-pay dan tiga tosu Butong-

pay itu ? Tentu saja tidak mungkin.

Situasi yang seperti itu juga tidak lepas dari penilaian Ie Lip

Tiong, keadaan diri nya sangat lemah, ia berkata perlahan :

“Tok-gan Sin-kay tatsu hendak berangkat pergi ?”

Tok-gan Sin-kay menggoyangkan kepala seraya berkata :

“Tidak. Aku hendak menyaksikan, bagaimana Bu-tong-pay dan

Hoa-san-pay melaksanakan hukumannya kepadamu.”

“Mereka tidak keberatan ?” bertanya Ie Lip Tiong.

“Terserah kepada Bu-tong-pay dan Hoa san-pay. Bilamana

mereka tidak mengusir, aku pasti tetap akan berada disini.”

In-koo Totiang dengan bersungguh berkata :

“Kami tidak berhak menolak kedatangannya saksi dari Su-haytong-

sim-beng.” berkata In-koo Totiang. “Kami harapkan saja, Tokgan

Sin-kay tatsu tidak melakukan sesuatu yang merugikan kami.”

Tok-gan Sin-kay menganggukkan kepala, berpaling kearah Ie Lip

Tiong dan berkata kearah pemuda itu :

“Ie Lip Tiong tatsu, tidurlah, istirahatlah. Besok aku akan

menjengukmu lagi.”

Sesudah kedatangan Tok-gan Sin-kay ke tempat itu, Ie Lip Tiong

bisa melihat penjagaan kepada dirinya diperketat.

Tentu saja, mereka takut, kalau Tok gan Sin-kay itu merusak

penjara, menolong Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong merasakan bahwa jiwanya itu sudah semakin dekat

dengan jurang kematian, hari-kehari sudah dilewatkan, tapi tidak

ada perubahan, belum ada harapan untuk membebaskan diri.

Ie Lip Tiong bukan seorang pemuda yang takut mati. tapi ia akan

mati penasaran bilamana sampai terjadi hukuman Hoa-san-pay

dijatuhkan pada dirinya. Sebelum getah jahat diri apa yang Sukhong

Eng jatuhkan kepadanya terbongkar, bagai mana ia bisa

mencuci diri?

“Huh!” Ia mengeluarkan suara dengusan. “Biar bagaimana, aku

haruS berusaha membebaskan diri.”

Hari berikutnya, Su Kee Tian datang lagi, mereka bertanding

catur. Tok-gan Sin-kay dan In-koo Totiang menyaksikan

pertandingan itu, demikian dengan adanya dua saksi, Ie Lip Tiong

semakin sulit bergerak.

Permainan catur In-koo Totiang dan Tok-gan Sin-kay masih jauh

dibawah taraf internastonal, menyaksikan dua jago catur yang

bertanding, mereka menggeleng2kan kepala.

“Hebat!!” berkata Tok-gan Sin-tay. “Baru kali ini aku menyaksikan

permainan catur yang hebat.”

Ie Lip Tiong menyengir, ia berkata : “Belasan babak telah

dimainkan, tapi belum pernah mendapat kemenangan.”

Dengan sungguh-sungguh Tok-gan Sin-kay berkata :

“Tuan Su Kee Tian adalah ahli waris Ngo-kiat-sin-mo Auwyang

Hui, tentu saja. Ilmu caturnya tiada tandingan. Tapi kau bisa

melawannya sampai memaksa ia mengeluarkan keringat, inipun

sudah cukup hebat.”

Su Kee Tian juga berkata

“Betul.” ia berkata. “Permainan catur tuan Ie Lip Tiong adalah

lawan terkuat yang pernah kualami.”

Sesudah mereka bermain sampai sore, Ie Lip Tiong berkata :

“Biar kita besok hari bermain lagi.”

Su Kee Tian meninggalkan tempat kamar tahanan itu.

Tok-gan Sin-kay dan In-koo Totiang juga meninggalkan ie Lap

Tiong, satu hari lagi dilewatkan.

Sesudah itu……………

Setiap hari Su Kee Tian pasti datang. suatu waktu pagi. tapi

suatu waktu sore, Ia selalu bertanding catur dengan Ie Lip Tiong

Tok-gan Sin-kay juga belum pernah melewatkan kesempatan,

pasti ia menonton pertandingan catur mereka.

Tiga tosu tua Bu-tong-pay dan tujuh jago pedang Hoa-san-pay

takut, kalau-kalau terjadi mainan sulap Tok-gan Sin-kay, mereka

juga membikin pengawasan. waktu cepat berlalu. 17 hari Ie Lip

Tiong menjadi orang tawanan Han-kong San-chung.

Penjagaan2 diperkeras, orang berbaju hijau dan berbaju biru

semakin banyak.

Tetapi Ie Lip Tiong kerjanya setiap bari hanya bermain catur. Su

Kee Tian senang mendapat perlawanan berat seperti Ie Lip Tiong,

sebagai seorang ahli catur, ia sulit menemukan tandingan, walau Ie

Lip Tiong tidak pernah menang , tapi cukup memberi perlawanan

yang terberat. Ini sangat menyenangkan Su Kee Tian. Setiap hari ia

menandingi kamar tahanan itu.

Permainan catur hari ini terjadi-lebih sengit lagi, mungkin setelah

mendapat pengalaman selama tujuh belas hari, permainan catur Ie

Lip Tiong mendapat banyak kemajuan, bilamana pada sesi

sebelumnya posisi situasi berada dibawah Su Kee Tian, hari ini

terbalik, kini inisiatif penyerangan berada ditangan Ie Lip

Tiong.Sipemuda mengangkat pundak, menyerang kearah raja.

“Skak!!” berkata Ie Lip Tiong memberi suatu ancaman.

“Hebat!!” Su Kee Tian dipaksa berpikir lama untuk mengatasi

kesulitan itu. Ia belum kalah. Tapi didesak terus-menerus, berarti

satu kemajuan untuk permainan catur Ie Lip Tiong.

Perlahan-lahan Su Kee Tian menggerakkan rajanya kearah

samping kiri.

Pertandingan catur ini juga disaksikan oleh Tok-gan Sin-kay dan

Siauw Yao To tiang.

Siauw Yao Totiang adalah wakil dari Bu-tong-pay, ia mendapat

tugas untuk mengawasi gerak-gerik Ie Lip Tiong, menjaga sesuatu

hal dari sabotase Tok-gan Sin-kay.

Tok-gan Sin-kay turut menyaksikan catur, dengan maksud

mendapat kesempatan, bagaimana bisa menolong Ie Lip Tiong dari

bahaya kematian.

Tok-gan Sin-kay pernah mendengar cerita, Ie Lip Tiong hampir

mati penasaran. Su-hay-tong-sim-beng pernah melakukan

kesalahan, memberi hukuman mati kepada Ie Lip Tiong.

Masih beruntung, jiwa Ie Lip Tiong dilindungi Tuhan, guru Ie Lip

Tiong yang bernama can ceng Lun menjabat Duta Istimewa berbaju

kuning nomor empat. Dengan mengorbankan jabatannya,

mengorbankan kesetiaannya kepada partai, can ceng Lun menolong

Ie Lip Tiong. terakhir ia meletakkan jabatan. Pergi merantau,

membikin penyelidikan tentang seluk beluk gerakan partai Raja

Gunung.

Maka Tok-gan Sin-kay tidak akan membiarkan Ie Lip Tiong

binasa di Han-kong Sanchung, ia masih berusaha menolong pemuda

itu.

sayang tidak ada kesempatan.

“Skak!” Berkata Ie Lip Tiong lagi. Menggunakan kerasnya suara

biji catur diatas papan, dengan menyalurkan gelombang tekanan

suara tinggi, Ie Lip Tiong berkata kepada Tok-gan Sin-kay:

“Tok-gan Sin-kay tatsu, setujukah, bilamana aku melarikan diri

dari tempat ini?”

Mendengar pertanyaan suara itu, wajah Tok-gan Sin-kay

berubah, hatinya terkejut. Seolah-olah ia sakit mata, mengusap

wajahnya, menutup bibir mulutnya, dan dengan mengikuti cara-cara

pembicaraan Ie Lip Tiong, dengan menyalurkan gelombang suara

tinggi yang ditujukan kepada orang yang bersangkutan, ia

menjawah itu pertanyaan :

“Sangat setuju sekali! Aku selalu bersedia menolong dirimu.

sayang tidak berkekuatan, mendampingi disisi. Tidak ada

kesempatan. Ada cara baik?”

Ie Lip Tiong melirik kearah Siauw-yao Totiang tosu itu juga

sedang tertarik diatas papan catur. Maka dengan capat

menggunakan gelombang tekanan tinggi, Ie Lip Tiong berkata :

“Tok-gan Sin-kay tatsu merapunyai kaca?”

Tok-gan Sin-kay menguap sebentar, juga menggunakan

gelombang suara tinggi, ia menjawab :

“Ada!! Apa kegunaannya kaca?”

Su Koe Tian telah menarik gajahnya, memakan kuda Ie Lip

Tiong.

Giliran Ie Lip Tiong yang mengangkat biji catur, tapi ia sudah

bersiap sedia, sepasang kudanya kait mengait, tidak takut dimakan

oleh lawan secepat itu pula ia mencomot gajah Su Tian, cepat

memasang kuda ke dua. ditempat yang sama, mulutnya berteriak:

“Sekak!” Dan dengan ditujukan kearah Tok-gan Sin-kay, melalui

gelombang tekanan suara tinggi ia berkata :

“Dengan, adanya kaca kecil, aku bita meninggalkan tempat ini.”

Dijaman dahulu kala, belum ada kaca yang seperti sekarang, itu

waktu mereka menggunakan kaca yang terbuat dari tembaga, di

gosoknya mengkilap, dan cukup digunakan dengan serba aneka

macam kegunaan.

kaca itu terbuat dari tembaga, bisa digunakan menghias, bisa

digunaknn untuk senjata rahasia, bisa digunekan untuk memotong

sesuatu dan aneka kegunaan lagi.

Tok gan Sin-kay menduga bahwa Ie Lip Tiong msminta kaca

tembaga hendak digunakan memutus rantai2 yang mengikat

dirinya. Ia tidak mengerti, rantai itu begitu kokoh dan kuat, hanya

sebuah kaca tembaga, mana mungkin bisa membantunya

meloloskan diri? Karena kekuatirannya inilah, ia berkata:

“Hanya dengan sebuah kaca tembaga, kau bisa melarikan diri

dan tempat ini?”

“Betul.” berkata Ie Lip Tiong.

“Bisa kau memberi tahu cara2 dan siasat mu?” bertanya Tok-gan

Sin-kay.

“Maaf! Rahasia ini belum boleh dibocorkan.” berkata Ie L ip

Tiong.

Tok gan Sin-kay dan Ie Lip Tiong bercakap2 melalui gelombang

suara tekanan tinggi, hanya kepada orang bersangkutan yang bisa

menerima suara itu. Orang lain tidak bisa mendengar.

Mengetahui akal Ie Lip Tiong yang terlalu banyak, percaya

kepada Sang Duta nomor tiga belas itu tok-gan-Sin-kay

mengeluarkan kaca tembaga, ia berjalan tidak jauh dari Ie Lip

Tiong, meletakkan dipantat pemuda itu, mulutnya berteriak:

“Permainan bagus !”

Memang! Permainan Ie Lip Tiong pada waktu itu sangat bagus

sekali, memaksa Su Kee Tian memeras seluruh isi otaknya.

Tapi Su Kee Tian juga bukan jago catur biasa, ia adalah calon

juara, ia biss mengatasi kesulitan problemnya. Menggeser raja satu

kotak, mengelakkan ancaman lawan.

Ie Lip Tiong masih berhasil menguasai posisi papan catur, Ia

mengenyampingkan gajah, menggunakan gelombang tekanan tinggi

berkata :

“Masih ada lain permintaan. Bisakah Tok-gan Sin kay tatsu

memberi pertolongan ?”

“Katakanlah.”

“Malam ini, tolong usahakan, ajak Su Kee Tian keluar. Ajak Su

Kee Tian meninggalkan Han kong Sanchung. Lebih jauh lebih baik.

Bilamana ia tidak bisa diajak. gunakan sedikit kekerasan. Tapi

jangan sampai terlihat orang. Berusahalnh agar Su Kee Tian tidak

berada didalam Han kong San-chung. Ini penting. Bilamana

mengalami kegagalan, berarti gagallah semua usahaku.”

Tok gan Sin kay semakin bingung, ia semakin tidak msngerti, ia

betul2 tidak mengerti, ada bubungan apa Su Kee Tian di Han kong

Sanchung atau tidak Han kong Sancung? Dengan cara bagaimana Ie

Lip Tiong hendak melarikan diri dari penjaga yang begitu terjaga

begitu ketat? Tapi ia percaya kecerdikan otak Ie Lip Tiong, ia

percaya kepada aneka macam tipu muslihat jago kota Tiang an itu,

maka ia segera memberi penyahutan :

“Baik. Akan kuusahakan. Sesudah berhasil mengajak Su Kee Tian

meninggalkan Han-kong Sanchung, apa lagi ?”

“Sesudah berhasil mengajak Su Kee Tian meninggalkan Han-kong

Sanchung, tahanlah dirinya, sehingga sampai upacara disini selesai.

Baru membebaskannya.”

Percakapan Ie Lip Tiong dan Tok-gan Sin kay masih disalurkan

via gelombang tekanan tinggi. maka hanya dua orang yang

bersangkutan yang bisa menangkap dan menerima. Tidak ada orang

yang ketiga.

Walau demikian, mereka harus menyembunyikan dari gcrakan2

bibir suara yang disalurkan dengan gelombang tekanan tinggi bisa

disampaikan kepada orang yang bersangkutan tanpa didengar oleh

orang yang tidak berkepentingan. Tapi ia mempunyai satu

keburukan, yaitu bibirnya yang bergerak-gerak, tidak bisa lepas dari

penilaian.

Berbeda dengan suara yang disalurkan dengan suara perut, tapi

sangat sulit sekali berbicara dengan suara perut. Seperti apa yang

kita sudah tahu, hanya seorang saja yang berhasil menyakinkan

menyalurkan suara dari suara perut, itulah jago dari Tay lie khusus

keluarga Toan.

Ini waktu, Siauw yao Totiang menengok kearah Ie Lip liong,

menyaksikan gerak- bibir pemuda itu, wajahnya berubah, ia segera

curiga kepada sesuatu.

Ie Lip Tiong juga sadar akan perhatian itu, segera ia

menghentikan pembicaraan. Tertawa sebentar, menoleh kearah

Siauw yan totiang dan mengajukan pertanyaan :

“Totiang tidak tertarik kepada permainan catur ?”

“Aku tertarik kepada bibirmti.” berkata Siauw-yao totiang.

“Mengapa?” hati Ie Lip Tiong memukul keras, hatinya dag dig

dug.

Dengan suara geram, Siauw yao Totiang berkata :

“Bibirmu sebentar keatas dan sebentar turun, barkatup katup

beberapa kali, permainan apa yang sedang kau gerakkan?”

Dengan tertawa, dengan penuh humor Ie Lip Tiong berkata :

“Aku sedang mencari jalan2. Aku hendak melarikan diri!”

“Melarikan diri?” berkata Siauw-yao To tiang dingin. “Melarikan

diri dari permainan catur?”

“Bukan permainan catur.” berkata Ie Lip Tiong sungguh2. “Tapi

permainan hidup. Aku sedang berdaya upaya, sebelum menjalani

hukuman mati disini. Aku hendak menjadi bebas kembali.”

“Ha,ha,……”Siauw yao Totiang tertawa. “Kukira kau sedang

mengimpi.”

“Bukan.” berkata Ie Lip Tiong sungguh2. “Pikiranku masih terang,

biar bagaimana. aku musti bisa membebaskan diri dari kekejaman

tangan elmaut. Aku harus lolos dari tempat ini, sebelum menjalani

hukuman mati,”

“Baik. Hendak kusaksikan, bagaimana kau bisa melarikan diri.”

berkata Siauw yao Totiang tidak percaya.

Permainan catur masih dilanjutkan.

Su Kee Tian berhasil menangkis semua serangan2 Ie Lip Tiong

perlahan demi perlahan, ia mulai menguasai papaa catun kembali.

Memang, ia lebih ahli. Pikirannya lebih dipusatkan, tidak seperti Ie

Lip Tiong yang menggusakan pikiran bercabang, sebagian

permainan catur dan sebagian lagi berusaha melarikan diri. Tentu

saja kalah cermat.

Mengetahul gerakkan bibirnya mendapat per hatian Siauw-yao

Totiang. Ie Lip Tiong tidak mau bicara lag!, gelagat permainan catur

inipun sudah kalut, kini ia harus menangkis serangan2 balik Su Kee

Tian.

Gerakkannya lambat, setiap kali ia mengangkat biji catur, ia

harus berpikir lama.

Permainan masih berjalan seimbang.

Su Kee Tian bergerak cepat, Ie Lip Tiong lambat.

Permainan catur yang seperti itu membosankan penonton. Siauw

yao Totiang segera kalah sabar, ia berkata :

“Huh! Membnat satu langkah set saja harus berpikir pikir lama?”

Ia Lip Tiong menganggukkan kepala, ia tidak marah, dengan

tertawa berkata :

“Inilah keharusan. Bilamana hendak melawan Su Kee Tian, kita

harus memiliki kesaabaran yang luar biasa.”

Dengan gerak lambat2an, dengan berpikir lebih lama, Ie Lip

Tiong masih melayani permainan catur.

Su Kee Tian betul2 memiliki kesabaran yang luar biata. Ia tidak

panas, malah lebih dari pada itu, permainan caturnya lebih baik lagi.

menahan rengsekan Ie Lip Tiong yang datangnya terus menerus.

Kini betul2 Ie Lip Tiong harus berpikir lama, tiduk mudah untuk

melayani Su Kee Tian.

Pertandingan catur yang seperti itu berjalan satu hari, keadaan

suasana sudah menjadi gelap, sebentar lagi, malam akan tiba.

Siauw yao Totiang yang menyaksikan gerakan Ie Lip Tiong

lambat2an, kesabarannya hilang sama sekali, ia bangkit berdiri

meninggalkan kesempatan menonton, dan berjalan mundar mandir

ditempat itu.

Gerakan lambat Ie Lip cong adalah satu siasat, dan siasatnya

berhasil baik. Kepergian Siauw yao Totianglah yang diharapkan,

kelengahan Siauw yao Totianglah yang sedang di impi2kan.

Menggunakan satu kesempatan baik, dengan suara yang

disatukan dengan gelombang tinggi ia berkata kepada Tok-gan Sinkay:

“Mengapa Tok-gan Sin-kay Tatsu juga tidak berjalan2 keluar ?”

“Apa yang rurus kukerjakan?” bertanya Tok gan Sin kay.

“Mengambil Siauw-yao Totiang berjalan2 diluar tempat ini. Lebih

lama lebih baik, agar ia tidak bisa membikin penghalang disini.”

Tok-gan Sin-kay menganggukkan kepala. Ia pun bangkit dari

tempat duduknya, mengawani Siauw yao Totiang.

Siauw yao Totiang adalah wakil Hoa san pay untuk meneliti gerak

gerik Tok-gan Sin kay. Hoa san-pay dan Bu-tong-pay

mengawatirkan akan tindakan duta nomor sebelas. ia bisa saja

menolong Ie Lip Tiong. Karena itu wajib dijaga keras.

Tok-gan Sin-kay berjalan keluar meninggalkan kamar tahanan

itu.

Siauw yao Totiang juga mengiringinya.

Sampai didepan, Tok-gia Sin-kay bergumam seorang diri :

“Aku tidak sabaran menyaksikan permainan catur yang terlalu

lama.”

Siauw-yao Totiang tertawa, : “Juga tidak sabaran?” ia berkata.

“Ie Lip Tiong sungguh keterlaluan, mana boleh berpikir selama iiu ?”

“Biar bagaimana, permainan Ie Lip Tioug masih berada dibawah

Su Kee Tian.””

Tentu!!” berkata Siauw-yao Totiang. “Mengetahui bahwa

permainannya tidak bisa mengimbangi kekuatan lawan, sengaja ia

hendak mengulur waktu. Ia hendak mengadu duduk. Siapa yang

kalah sabar, pasti celaka.”

“Kesabaran tuan Su Kee Tian juga sangat luar biasa.” berkata

Tok-gan Sin-kay. “Siasat Ie Lip Tiong tidak mungkin berhasil.”

“Belum tenfu. ” berkata Siauw yao Totiang. “Permainan catur

meneliti tehnik juga harus disertai dengan kesabaran yang luar

biasa, kalah adu duduk berati kalah segala galanya, bilamana ia

lengah, bilamana tidak sabar, situasi segera bisa berubah.”

“Memang. ”

“Bagaimana penilaian tentang keadaan catur tadi ?”

“Tenta saja Su Kee Tiang yang memenangkan. ”

“Kukira harus bertanding sampai besok pagi. ” berkata siauw yao

Totiang.

“Belum tentu. ” berkata Tok gan Sin kay. “Lengah adalah pangkal

kekalahan. Lawan lengah ia akan menderita kalah. Siapa tahu, salah

satu dari kedua orang itu tidak sabar, orang yang tidak sabarlah

yang akan kalah. ”

Siauw yao Totiang bisa menerima saran Tok gan Sin-kay. ia

berjalan bulak ballk.

“Kulihat, Ie Lip Tiong masih memegang situasi papan catur ”

katanya.

Tok-gan Sin-kay juga mengiringi gerak zig zag Siauw yao

Totiang, dengan tertawa ia berkata:

“Ada sesuatu yang membingungkan diriku……….”

SiauW yao Totiang menghentikan gerakannya, menoleh

ketempat Tok gan Sin kay, dengan heran ia bertanya: “Tentang

apa?”

“Hoa san pay dan Bu tong pay telah mengambil putusan

bersama, menghukum mati Ie Lip Tiong. Tapi ada sesuatu yang

mengherankan diriku, mengapa memperbolehkan Ie Lip Tiong

bermain catur dengan Su Kee Tian?”

“Kami sangat percaya kepada kekuatan dan kekokohannya

rantai2 yang mengikat Is Lip Tiong.” berkata Siauw yao Totiang.

“Bilamana tidak menggunakan kunci2 yang tersendiri, tidak mungkin

tenaga dalam bisa merusaknya.”

“Kukira masih ada sebab lain.” berkata Tok gan Sin hay.

“Sebab lain.” Berkata Siauw yao Totiang. “Sebah lain adalah,

mainan catur itu bisa melupakan segala galanya. Bisa menarik

perhatian orang, sengaja memperbolehkan Su Kee Tian terus

melayani Ie Lip Tiong bermain catur. Dengan adanya permainan

catur itu, harapan kami ialah agar pikiian Ie Lip Tiong tidak bisa

melayang kemana2, ia tidak akan berusaha untuk melarikan diri.

Inilah pendapat suheng kami, dan pendapatnya memang tepat .”

Berulang kali Tok-gan Sin kay menganggukkan kepala,

menyetujui pendapat itu.

“Betul. Tepat.” Ia berkata. “Tidak kusangka, Ie Lip Tiong yang

begitu cerdik, bisa juga dijerumuskan kedalam perangkap. Ha, Detik

detik berlalu…” Tok-gan Sin-kay selalu mengincar kearah pintu

penjara, dengan harapan Ie Lip Tiong bisa melarikan diri. Tapi, tidak

ada reaksi apa2, juga sangat tenang sekali. Hatinya berdebar keras.

Bingung kepada sikap Ie Lip Tiong. Ingin sekali ia menyelidiki situasi

didalam kamar penjara itu, tapi sangat takut juga kepada bayangan

Siauw yao Totiang. Bilamana ia masuk kedalam kamar penjara,

pasti Siauw yao Totiang menyertainya. Dan bilamana Ie Lip Tiong

sedang berusaha sesuatu, pasti akan mengalami kegagalan. Karena

itulah, ia menantikan dengan hati tidak tenang.

Ngo gak Sin kay ingin memasuki ketempat kamar penjara, tapi

tidak berani.

Siauw yao Totiang tiba-tiba membelakangi kaki, menuju kearah

tempat tahanan itu. Mulutnya berkata :

“Mari kita melihat situasi perubahan permainan catur, bagaimana

reaksinya?”

Tok gan Sin key menjadi sangat khawatir, tiba2 ia berteriak :

“Tunggu dulu!!”

Siauw yao Totiang menghentikan langkahnya, menoleh

kebelakang, memandang Ngo-gak Sin kay dengan penuh tanda

tanya, ia bertanya :

“Tok gan Sin kay tatsu ada urusan apa ?”

“Aku…….hendak mengadakan sedikit pertaruhan. Berani kau

menerima pertaruhan ?”

Siauw yao Totiang tertegun.

“Pertaruhan apa ?” tanyanya.

“Tentang permainan catur Ie Lip Tiong dan Su Kee Tian itu.”

“Oh, kau berpihak ditangan siapa ?” bertanya Siauw yao Totiang.

“Kukira Su Kee Tian pasti menang.” berkata Tok gan Sin kay.

“Tentu saja. Su Kee Tian pasti menang.”

“Nah,” berkata Tok gan Sin kay, “Bila mana tuan Su Kee Tian

menang, aku bersedia menyerahkan lima tail perak kepadamu. Tapi

bila Ie Lip Tiong yang mendapati kemeningan, bersedialah kau

menyerahkan sepuluh tail perak?”

Siauw yao Totiang menggelengkan kepala, ia menolak usul itu,

katanya :

“TIdak adil.”

“Mengapa tidak adil?” bertanya Tok gan Sin-kay.

“Bilamana kau kalah, kau hanya meninggalkan lima tail perak,

tapi aku yang kalah, aku harus mengeluarkan sepuluh tail perak,

tentu saja tidak adil.”

“Tapi kau melupakan unsur keahlian, Su Kee Tian berada diatas

angin, maka kemenangan berada dipihaknya. Ie Lip Tiong berada

dalam keadaan terdesak, tentu saja harus diatur seperti ini.”

“Ie Lip Tiong seperti sedang mendapat angin.” Berkata Sauw yao

Totiang.

“Tapi belum pernah ia memenangkan pertandingan.” Berkata

Tok-gan Sin-kay.

“Situasi yang seperti itu bisa saja terjadi perubahan, bukan?”

berkata Siauw-yao Totiang.

“Baik.” berkata Tok-gan Sin-kay. “Boleh saja dibalik. Bilamana Su

Kee Tian yang menang, kau serahkan lima tail perak. Bilamana Ie

Lip Tiong yang menang, kuserahkan sepuluh tail perak. Setuju?”

Siauw-yao Totiang harus berpikir lama, ia juga ragu2, mana

mungkin Ie Lip Tiong bisa memenangkan pertandingan? Bukti2

sudah nyata. belum pernah Ie Lip Tiong memenangkan Su Kee

Tian!

Mengetahui keragu-raguan Siauw yao Totiang, Tok gan Sin kay

berkata lagi :

“Dipersilahkan totiang memilih.”

“Baik.” berkata Siauw yao Totiang. “Aku memegang Su Kee

Tian.”

“Aku memegang Ie Lip Tiong.” berkata Tok gan Sin kay.

Siauw yso Totiang menggerakkan kaki, menuju kearah tempat

penjara.

Tok gan Sin kay tidak ada alasan untuk mengulur waktu lagi,

mau tidak mau ia mengikuti dibelakangnya.

Sauw yao Totiang dan Tok gan Sin kay memasuki kamar tempat

kamar tahanan Ie Lip Tiong. Disana, pertandingan telah selesai. Biji

catur telah dibereskan. Su Kee Tian baru saja bangkit dari tempat

duduknya, dengan wajah yang tersenyum riang. dilihat sepintas

selalu, pertandingan itu baru saja selesai.

Tampak Ie Lip Tiong sudah kehilangan semangat, ia

membelakangi semua orang, menghadap tembok. Tidak bersuara,

juga tidak bergoyang dari tempat duduknya. Seolah olah malu

bertemu dengan orang. Inilah akibat dari kekalahannya.

Tok gan Sin kay dan Sauw yao Totiang terkejut. Berbareng,

mereka berteriak kaget ;

“Ha, sudah selesai?”

“Betum lama selesai.” berkata Su Kee Tian, “Tuan Ie Lip Tiong

terlalu keburu napsu, ia salah langkah set. Maka kalah.”

Tok gan Sin kay memandang kearah Ie Lip Tiong, tidak terlihat

gerakan pemuda itu, juga tidak menolehkan diri. Ini memusingkan

dirinya, segera ia bertanya :

“Ie Lip Tiong tatsu, bagaimana?”

Ie Lip Tiong tidak membalikkan badan, juga tidak bangun berdiri.

Seolah2 padri yang sedang mengheningkan cipta. Seolah2 orang

yang sudah lupa kepada kehadirannya didunia. Ia masih

membelakangi semua orang, menghadap kearah tembok.

Tok gan Sin kay masih hendak bertanya lagi, niatannya

menghampiri Ie Lip Tiong. tetapi keburu dicegah oleh Su Kee Tian.

Dengan menghela napas, Su Kee Tian berkata :

“Seseorang yang mengalami kekalahan terus menerus, pasti

menderita bathin. Rasa ini sangat tidak enak. Maka bilamana kalian

tidak ada urusan, lebih baik jangan memanggilnya.”

Sesudah ia meminta diri, Su Kee Tian meninggalkan tempat itu.

Tok gan Sin kay dan Siauw yao Totiang memandang Ie Lip

Tiong, menoleh kepergian Su Kee Tian, mereka mengangkat

pundak.

“Mari kita keruang besar.” Mengajak Siauw-yao Totiang,

“Aku sudah lelah.” berkata Tok-gan Sin kay, “Aku hendak

istirahat.”

Siauw-yao Totiang tidak memaksa. Menunggu sampai keluarnya

Tok-gan Sin-kay, ia juga meninggalkan tempat kamar tahanan Ie Lip

Tiong.

Tok-gan Sin kay tidak langsung balik ketempat tinggalnya, ia

tidak istirahat, ia telah menjanjikan Ie Lip Tiong, hendak membantu

pemuda itu meloloskan diri dari kekangan Hoa-san pay dan Bu-tongpay.

Seperti apa yang sudah ditunjuk, ia menuju ketempat tinggal

Su Kee Tian.

Tiba didepan pintu, Tok gan Sin kay mengetok:

“Tuan Su Kee Tian sudah kembaii?”

Tidak lama kemudian, pintu dibuka.

“Siapa?” disana muncul Su Kee Tian.

“Aku.” berkata Tok-gan Sin-kay.

“Oh……”Su Kee Tian terkejut.

“Tok gan Sin kay tatsu belum tidur? Tidak istirahat?”

“Tidak bisa tidur.” berkata Tok-gan Sin-kay.

“Aku hendak mengerecoki dirimu.”

Mengajak Tok-gan Sin-kay memasuki kamarnya, Su Kee Tian

berkata:

“Silahkan duduk.”

Tok-gan Sin-kay mengambil satu tempat duduk, ia

memperhatikau tempat itu, tersusun sangat rapi, perabotnya juga

sangat mewah, tapi tidak sedikit debu dan galagasi, satu tanda

bahwa tempat itu kurang pembersihan.

“Tuan Su Kee Tian seperti jarang meninggalkan tempat ini.”

berkata Tok-gan Sin-kay.

Su Kee Tian tidak menyangkal, ia menganggukkan kepala dan

berkata :

“Selama satu tahun, hanya dua tiga bulan saja disini. Sisa

harinya, sering berpergian keluar.”

“Bercatur dengan orang?” bertanya Tok gan Sin-kay,

“Ya. Sesudah guru kami mati, banyak orang hendak mengetahui,

sampai dimana keahlian permainan catur. Kami mewariskan bidang

ini, mau tidak mau, kami harus menerima ajakan orang2. Maka

catur adalah satu mata penghidupan kami, sebagai mata

pencaharian. banyak orang bertaruh, dan tentu saja orang2 itu

masuk kedalam tahanan kami.”

Tok-gan Sin-kay tersenjum, katanya :

“Tuan Su Kee Tian belum pernah dikalahkan?”

“Mungkin nssibku masih mujur.” berkata Su Kee Tian. “Sehingga

sampai saat ini, belum pernah menderita kekalahan.”

“Bilamana bercatur dengan tuan. berapa uang yang harus

dibutuhkan?” bertanya Tok gan Sin Kay.

“Tidak tentu.” berkata Su Kee Tian “Tergantung dari kemauan

orang. Ada juga yang hendak menghadiahkan bidak dan kuda. lalu

kulayani, dan karena memang permainannya kurang baik, kamipun

mendapat kemenangan.”

“Aku henduk bertaruh.” berkata Tok gan Sin kay. “Kuharap saja

tuan Su Kee Tian biia menghadiahkan bidik. kuda, dan benteng.

Berapa harga pertaruhan?”

Su Kee Tian tertegun. Tetapi tidak lama ia nyengir, katanya :

“Bilamana Tok-gan Sin kay tatsu ada minat untuk belajar catur,

aku bersedia melayaninya. Mengapa harus bertaruh?”

Tentu saja, untuk menyerahkan sebuah bidak, sebuah benteng,

kuda dan gajah, hal itu sering kali terjadi. Tapi Su Kee siansu dah

biasa menyelami, berupa kekuatan lawan. Sedangkan kekuatan Tok

gan Sin kay belum diketahui, bilamana sembarangan bertaruh. apa

akibatnya bila ia kalah?

Tentu saja, bilamana permainan catur Tok-gan Sin-kay terlalu

buruk. Masih besar kemungkinannya kemenangan dihasilkan

olehnya.

Tapi, bilamana kekuatan Tok gan Sin kay seimbang dengan

kekuatan Ie Lip Tiong, mana mungkinkah ia memenangkan

pertandingan itu?

Su Kee Tian seperti sangat ragu2.

ooo0ooo

BAB-38

DENGAN SUNGGUH2 Tok-gan Sin kay berkata :

“Belum lama, Siauw-yao Totiang berkata kepadaku, bahwa ilmu

permainan catur tuan Su Kee Tian belum pernah dikalahkan orang.

Bermain dengan biji2 penuh, atau bermain dengan biji separuh. Aku

kurang percaya, maka aku hendak bertanding.”

“Kami bersedia.” Su Kee Tian menyanggupl tantangan itu.

“Seratus tail perak pertaruhan?” berkata Tok-gan Sin-kay. “Setuju

?”

“Seratus tail perak?” berksta Su Kee Tian. “Begitu besar?”

“Ah, uang tuan sudah terlalu banyak. kukira tidak besar.” berkata

Tok gan Sin kay.

“Baik.” Akhirnya Su Kee Tian menyanggupi tawaran itu.

“Tetapi,” berkata Tok gan Sin kay pula, “Permintaan ini tidak

diadakan disini, aku tidak mau bermain catur didalam kampung Han

kong Sanceung.”

“Mengapa?” bertanya Su Kee Thian heran.

“Aku tak mau permainan caturku yang terlalu buruk di diketahui

oleh Siauw yao totiang.”

“Ouw…..” Su Kee Thian bisa mengerti.

“Aku telah menyanggupi Siauw yao totiang” berkata Tok gan Sin

kay. “Aku akan mengalahkanmu. Bilamana mendapat biji2 yang

diberi voor, permainanku setanding dengan permainan Ie Lip Tiong.

Bilamana permainan Ie Lip Tiong. Bilamana tuan Su Kee Thian

bersedia menolong menyerahkan benteng. kuda dan gajah, pasti

saja aku bisa memenangkan pertandingan. Tetapi Siauw yao

Totiang tidak percaya, maka aku hendak menjaga. Harapanku ialah.

Bertanding diluar Han kong Sanchung, disana, bilamana aku berhasil

memenangkan pertandingan. Aku bisa mengangkat gengsi. Orang

besar didepan Siauw yao Totiang. Tapi bilamana aku kalah, harap

saja tuan Su Kee Thian tidak memberi tahu jalannya pertandingan.”

“Boleh juga.” berkata Su Kee Tian, Ia tertawa.

“Kita bertanding dibawah gunung ciong lam san?” berkata Tok

gan Sin kay.

“A.c.c” Su Kee Tian setuju.

“Mari kita berangkat,” berkata Tok gan Sin kay.

“Sekarang?” bertanya Su Kee Tian heran,

“Betuil. Sekarang juga kita berangkat.” berkata Tok gan Sin kay.

“Tidak menunggu upacara sembahyangan?” bertanya Su Kee

Tian,

“Kukira tidak parlu.” berkata Tok gan Sin kay. “Aku bisa menyesal

seumur hidup, bila mana menyaksikan Ie Lip Tiong dihukum mati.

Aku tidak mau menyaksikan upacara sembahyangan itu.”

“Besok pagi juga masih keburu, bukan? berkata Su Kee Tian.

Memang! Besok pergi, Ie Lip Tiong juga belum dihukum mati. Su

Kee Tian tidak perlu tergesa gesa. Besok pagi berangkatpun sama

saja. Tapi Tok gan sin kay harus bisa melaksanakan pesan Ie Lip

Tiong, ia segera berkata ;

“Malam ini sangat sunyi dan terang, aku hendak melakukan

perjalanan dibawah sinar bulan purnama. Malam2 juga. Mari kita

berjalan kaki, kita bisa tiba dibawah kaki gunung ciong-lam. Tepat

hampir menjadi pagi. Bukankah baik untuk bertanding?”

“Baiklah.” akhirnya Su Kee Tian setuju.

Tok gan Sin kay berkata :

“Didalam Han kong sanchung ini. kebebasan tuan Su Kee Tian

tidak terganggu?”

“Tidak.” berkata Su Kee Tian. “Kami bebas bergerak. Tidak ada

pengawasan.”

Seperti apa yang sudah kita ketahui, ketiga murid Ngo kiat Sin

mo Auw yang Hui yang masing mewarisi ilmu surat, ilmu seni, dan

permainan catur, mereka adalah Liok Siauw Kie, Sa Kee Tian oan

Wan Kong jie. Mereka juga sebagai orang tawanan, tapi orang

tawanan bebas, mereka bebas belajar ilmu surat, ilmu seni suara,

dan ilmu permainan catur, bebas semua mereka, tetapi mereka di

larang belajar ilmu silat dan ilmu permainan sex.

Persetujuan itu terjadi. Tok-gan Sin-kay berkata :

“Tapi kita tidak perlu berangkat bersama. Aku hendak lebih

dahulu, menunggu dibawah gunung saja.”

Su Kee Tian menganggukkan kepala,

“aku juga segera menyusul.” ia berkata.

Tok-gan Sin-kay meminta dri, meninggakan tempat tinggal Su

Kee Tian.

Tok-gan Sin kay langsung menuju kearah ruang besar, disana

sedang berkumpul tiga jago Bu long pay dan tujuh jago psdang Hoa

san pay.

Kedatangan Tok-gan Sin-kay, disambut oleh orang2 itu.

“Masih belum tidur?” Tok-gan Sin kay bertanya.

In koo Totiang menyambut kedatangan Tok gan Sin kay dan

berkata:

“Tok gan Sin kay tatsu belum istirahat? Bukankah sangat lelah

dan capai ?”

“Seharusnya aku istirahat.” berkata Tok gan Sin kay. “Tetapi aku

tiba2 teringat sesuatu urusan penting, tidak bisa tidur, datang

kemari hendak meminta diri, aku segera meninggalkan tempat ini.”

“Tok gan Sin kay tatsu hendak pergi sekarang juga?” In koo

Totiang bertanya kaget.

Tok gan Sin kay menganggukkan kepalanya, ia berkata:

“Maafkan aku yang tidak bisa mengikuti upacara sembahyang

ketua partai kalian, aku hendak berangkat sekarang juga.”

Didalam orang2 Hoa san pay dan Bu tong pay kahadiran Tok gan

Sin kay adalah duri dimata merska, sewaktu2 Tok gan Sin kay bisa

saja menolong Ie Lip Tiong. Mengingat mereka itu adalah sama2

Duta Istimewa berbaju kuning dari Su hoy tong sim beng. Kepergian

Tok gan Sin kay memang sangat diharapkan. Tapi mereka tidak

mengusir secara terang.

Kini Tok gan Sin kay hendak meminta diri sesuatu yang sangat

menggirangkan mereka.

Semua orang yang berada ditempat itu segera menerima

permintaan Tok gan Sin kay, In koo totiang berkata:

“Bilamana Tok gan Sin kay tatsu ada urusan lain. silahkan….

Kami tidak mengganggu.”

“Sebelum aku berangkar. Ingin sekali aku bisa bertemu dengan

Ie Lip Tiong” Tok gan Sin kay meminta sedikit permintaan.

In koo totiang memandang kepada kawan2nya, masing2

memperlihatkan wajah kejut. Se-olah2 tidak bisa menerima

permintaan Tok gan Sin kay. mereka kuatir terjadi lain hal.

Tok gan Sin kay tertawa berkakakan, ia barkata:

“Hanya bertemu diluar jendela. Tidak masuk didalam kamar

tahanan lagi. Untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya, untuk

mengucapkan selamat berpisah untuk selama lamanya. Kukira

kalian tidak keterlaluan.”

Siauw yao Totiang akhirnya tampil kedepan dan menganggukkan

kepala :

“Baiklah. Biar aku yang mengawaninya.”

Maka semua orangpun setuju. Dengan di kawal oleh Siauw yao

Totiang, Tok gan Sin-kay diantar ketempat tawanan Ie Lip Tiong.

Disekitar tempat tawanan Ie Lip Tiong telah berjaga emput puluh

oraag berbaju hijau, dan empat puluh orang berbaju biru. Mereka

adalah anak buah Hoa san pay dan Bu tong pay.

Tok gan Sin kay diantar kedepan jendela kecil.

Melongok kedalam kamar tahanan, Ie Lip Tiong masih terduduk,

menghadapi tembok dan membelakangi mereka.

Tok gan Sin kay hendak bercakap2 dengan gelombang tekanan

suara tinggi, tapi tidak mungkin, Siauw yao Totiang berada

disamping dirinya, ia batul2 tidak mengerti, permainan apa dan

sandiwara apa yang sedang dimainkan oleh Ie Lip Tiong ? cara2

bagaimana untuk bisa melepaskan diri dan kamar tahanan yang

dijaga ketat itu ?

Apa boleh buat, dengan suara biasa ia berkata kedalam : “Ie Lip

Tiong tatsu. aku ada urusan, aku hendak meminta diri. ”

Ie Lip Tiong tidak bergerak, juga tidak menoleh. Tidak memberi

penyahutan atas panggilan dan permintaan jalan Tok-gan Sin-kay.

Tok-gan Sin kay berkerut kepala, ia berkata dengan suara yang

lebih keras :

“Permintaanmu itu segera kuurus. Legakan hatimu. ”

Masih saja Ie Lip Tiong tidak bergerak. Masih saja Ie Lip Tiong

tidak menjawan kata2 itu. Se-olah2 pantang hidup.

Tok gan Sin kay menghela napas, ia berkata keras :

“Ie Lip Tiong tatsu, tidak ada pesan lain.?”

Bukan saja tidak ada pesan lain, Ie Lip Tiong tidak bergeming,

seolah2 sedang mengheningkan cipta, meheningkan cipta yang

tidak mau diganggu oleh orang lain, termasuk juga Tok gan Sin-kay,

Siauw yao Totiang berkata :

“Apa yang tuan Su Kee Tian katakan itu betul, seseorang yang

mengalami kekalahan terus menerus tentu kecewa. dan rasa

kecewa ini tidak enak dirasakan. Kukira biarkan saja Ie Lip Tiong

mengheningkan ciptanya.”

Berganti arah posisi, Tok gan Sin kay berjalan menghampiri

jendela lainnya, dari sini ia juga tidak bisa melihat tegas wajah Ie

Lip Tiong. Mulutnya terbuka, hendak memanggil lagi, tapi Siauw yao

Totiang yang mengiringinya sudah berkata :

“Seseorang yang sedang dirundung kemalangan, ada lebih baik

dibiarkan ”

Tok-gan Sin-kay menoleh dengan marah, ia berkata keras :

“Maksudmu, agar aku cepat2 meninggalkan tempat ini, bukan?”

“jangan salah mengerti.” berkata Siauw yao Totiang. “Aku tidak

mempunyai maksud sampai kesitu.”

“Hm……” Tok-gan Sin-kay berdengus.

Dan iapun meninggalkan Han-kong Sanchung.

Tidak bercerita kcpergian Tok-gan Sin-kay. Mengikuti Siauw-yao

Totiang yang melaporkan kejadian2 tadi. Disana dua jago Bu-tongpay

dan tujuh jago Hoa-san pay masih ada.

Beberapa saat kemndian, Su Kee Tian mengajak kacungnya yang

bernama Souw-hok, meminta diri kepada orang2 itu, dikatakan

olehnya, ia hendak menerima tantangan bertanding catur. Maka

tidak bisa mengikuti upacara sembahyangan. Ia minta maaf.

Kepergian Su Kee Tun tidak dilarang. Su Kee Tian adalah tuan

rumah tempat Han-kong Sanchung. Walau kedudukan Su Kee Tian

hanya murid dari seseorang tawanan politik. Tapi tidak ada yang

melarang ia bergerak bebas.

Tok gan Sin kay telah pergi, Su Kee Tian juga sudah meminta diri

meninggalkan Han kong Sanchung.

Hari berikutnya……

Hari ini adalah hari terakhir untuk Ie Lip Tiong, hari aelanjutnya

adalah hari hukuman,. Hoa san pay dan Bu tong pay hendak

menyembayangi arwah2 ketua partai mereka dengan menghukum

dan mengajukan batok kepalanya Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong pernah berkata kepada Siauw yao Totiang babwa ia

hendak melarikan diri. Karena itulah, penjagaan diperkeras. jumlah

orang dilipat gandakan.

Tujuh jago pedang Hoa san pay mengeluarkan perintah,

melarang semua orang mendekati kamar dimana Ie Lip Tiong

ditahan.

Setengah hari dilewatkan, tidak ada gerakan sama sekali. Tidak

ada yang mencurigakan, Ie Lip Tiong masih duduk menghadap

tembok. Keadaannya seperti kemarin, sesudah ia kalah bertanding

catur.

Dari kedua jendela, hanya bisa melihat sebagian wajahnya.

Seseorang anak murid Hoa san pay, yang mendapat tugas memberi

makanan, memberi laporan, bahwa makanan pagi yang tersedia

untuk Ie Lip Tiong masih belum terganggu. Ie Lip Tiong tidak mau

makan, Begitu juga makan siangnya. Ie Lip liong tidak meladeni

antaran itu.

Dilaporkan juga bahwa Ie Lip Tiong itu diam2 beku, seolah2

ditotok jalan darahnya.

Thian kiam ie thian hoat dan Siauw yao Totiang yang mendengar

laporan tadi tertawa, Tapi mereka juga heran, apa yang

menyebabkan kejadian seperti itu? Tentu saja, Ie Lip Tiong sudah

putus harapan, besok hari ia akan menjalani hukuman mati. Karena

itulah semangatnya sudah tidak ada.

Thian kinm ie thian hoat berkata :

“Tidak makan? Ha, ha, besok pagi ia akan mati. Tentu saja tidak

mau makan.”

Sore harinya, tiga tosu tua Bu tong-pay juga menjenguk Ie Lip

Tiong, mereka terheran2 atas sikap Ie Lip Tiong. Masih tidak

bergerak.

In-kee Totiang mangeluarkan suara deri hidung :

“Huh, seseorang yang sudah putus harapan memang seperti ini.

Mana kehebatannya It-kiam tim bu lim Wie tauw dahulu?”

Bu yu Totiang tidak berkata :

“Ie Lip Tiong sekarang bukan Ie Lip Tiong dahulu, seperti seekor

sapi yang sudah ada dikamar jagal. Menunggu giliran dipotong.”

Siauw yao-Totiang berkata :

“Kemarin ia berkata kepadaku, bahwa hari ini hendak

meninggalkan Han-kong San chung.”

Malam harinya penjagaan tidak mengendor.

Bumi masih berputar, tanggal enam bulan sebelaspun tiba, pagi2

sekali, papan arwah ketua partai Hoa-san-pay dan ketua Bu-tong

pay, langsung dibawa ke Han-kong Sancung.

Kedatangan papan arwah ketua partai ternama itu. dibarengi

oleh munculnya Ko hong Totiang. Ko hong Totiang adalah penjabat

ketua Bu tong pay. Adalah tokoh penting didalam upacara ini.

Pejabat ketua partai Hoa san pay belum terpilih, berhalangan

tiba.

Para undangan telah tiba, mereka berkumpul, maka sebagai

pengacara, pejabat ketua partai Bu tong pay Ko hong Totiang

angkat bicara. Diterangkan juga, apa yang menjadi sebab musabab.

mereka menghukum Ie Lip Tiong. Dikatakannya pemuda itu telah

membunuh ketua partai Hoa san pay dan Bu tong pay, wajib

menerima hukuman mati.

Tentu saja, orang2 yang datang disaat itu adalah orang2 yang

terdekat dengan Hoa san pay dan Bu tong pay sebagian besar

adalah anak murid Bu-tong pay dun Hoa-san-pay. Mereka dengan

menanggung resiko besar atas kemarahan Su-hay long sim-beng.

mereka bertekad bulat untuk menghukum Ie Lip Tiong.

Sesudah bercerita panjang lebar, Ko-hong Totiang berkata :

“Dipersilahkan membawa Ie Lip Tiong kemari.”

Thian-kiam-ie thian hoat dan In-koo Totiang segera menjalankan

perintah, mereka adalah wakil dari Hoa san pay dan Bu tong-pay.

siap membawa Ie Lip Tiong kedalam tempat kematian.

Tidak lama kemudian, terlihat In-ko Totiang berlari dengan wajah

pucat, sikapny sangat tergesa gesa sekali…..

Pejabat ketua partai Bu tong-pay Ko-hong Totiang memandang

kemenakan murid itu, ia membentak :

“Ada apa?”

“Celaka,… celaka!.” Teriak In-ko Totiang “Ie Lip Tiong sudah

tidak ada. Didalam kamar tahanan telah berganti So Kee Tan.”

Wajah Ko hong Totiang juga berubah.

“Apa?” Ia juga tidak percaya.

“Ie Lip Tiong…… Ie Lip Tong telah melarikan diri.” berkata Inkoo

Totiang. “Entah kapan, entah dengan cara bagaimana ia telah

meluruk masuk Su Kee Tian. Kini Su Kee Tian yang dikurung

didalam kamar tahanan. Anak murid kedua dari Ngo kiat Sin mo

Auw yamng Hui Su Kee Tian….”

Ko hong totiang menggebrak meja, ia membentak:

“Gila! Kalian telah menjaganya siang dan malam. Bagaimana bisa

membiarkan orang lolos?”

In koo totiang menundukkan kepala kebawah, ia juga bingung,

dengan suara yang hampir menangis berkata:

“Kita menjaganya dengan baik. Tidak ada kejadian apa2. Entah

dengan ilmu Siluman. Entah dengan ilmu hitam, bagaimana Ie Lip

Long bisa membebaskan diri.”

Ko hong Totiang masih tidak percaya, ia bangkit bangun dari

tempat duduknya, menggebrakan baju dan menuju keerah tempat

kamar tahanan. Ia menyaksikan sendiri, bagaimana Ie Lip Tiong

bisa membebaskan diri? Bagaimana bisa menjerat Su Kee Tian

masuk kedalam kamar tahanan itu.

Anak murid Hoa-san-pay dan Bu tong-pay juga orang2 undangan

datang ketempat itu semua bingung. Semua tidak mengerti.

Mengikuti dibelakang Ko hong Totiang, berramai- menuju kearah

kamar tahanan.

Pejabat ketua partai Bu tong pay Ko hong Totiang tiba dikamar

tahanan, disana tampak Thian kian ie thian hoat sedang mematung,

ia bingung, bagaimana Ie Lip Tiong bisa lolos keluar dari kamar

tahanan yang di jaga ketat, bagaimana Su Kee Tian bisa di seret

masuk kedalam kamar tahanan ?

Ko hong Totiang memandang kearah Ie Lip Tiong yang terduduk

menghadap tembok, kini dari Ie Lip Tiong itu dibalikkan, betul , ia

adalah Su Kee Tian yang tiap hari kerjanya menemani Ie Lip Tiong

main catur.

Su Kee Tian masih terduduk seperti orang tolol. Sinar matanya

sangat sayu, maka Ko hong Totiang maklum bahwa dua jalan darah

besar Su Kee Tian telah tertotok, jalan darah geraknya dibekukan,

jalan darah bicaranya juga digagukan. Tidak bisa bicara, juga tidak

bisa bergerak.

Sesudah kedatangan Ko hong Totiang di tempat itu, suasana

panas masih bcluui mereda, maka Ko hong Totiang segerA memberi

perintah :

“Bawa ia keluar !”

In koo Totiang segera menjalankan perintah, dari dalam sakunya

mengeluarkan kunci rantai, membuka kunci rantai yang mengikat

rantai Su-kee Totiang. membuka kunci rantai yang mengekang

kebebasan tangannya, dan ia membuka juga tali rantai yang

mengikat pinggang Su Kee Tian.

Betul ia tidak habis mengerti. kepintaran apa yang dimiliki Ie Lip

Hong, dengan cara bagaimana bisa membebaskan diri dari rantainya

? Bagaimana bisa mengikat Kee sian dengan rantai rantainya? tanpa

diketahui oleh orang?

Su Kee Tian telah dibawa keluar dari kamar tahanan, ia sedang

menjadi tontonan

Pejabat ketua partai Bu tong pay, Ko hong Totiang segera

bertanya kepada orang2 ;

“Siapa yang mendapat tugas penjagaan terakhir?”

Bu yu Totiang menundukkan kepala, ia tampil kedepan.

Ko hong Totiang membentaknya. “Bagaimana kejadian ini bisa

terjadi?”

Bu yu Totiang memberi jawaban

“Tidak terjadi sesuatu, sesudah- kemarin ini ia bertanding catur

dengan Ie Lip Tiong. Tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan.”

Ko hong Totiang membentak lagi , “Siapa yang membikin

penjagaan kemarin?”

Siauw yao Totiang sudah tampil kedepan, ia siap menerima

makian.

“coba kau ceritakan, apa yang terjadi?”

Dengan suara gugup, dengan suara yang tidak lancar, Siauw yao

totiang bercerita, Dikatakan, bagaimana Ie Lip Tiong bertanding

catur dengan Sa Kee Tian. Itulah tandingan biasa selama belasan

hari, kedua orang itu sudah sering bermain catur juga seperti biasa,

Tok-gan Sin kay mendampingi dia. Tapi ia, Siauw-yao Totiang tidak

lengah, juga mendampingi tok-gan Sin-Kay.

Tentu saja Siauw-yao totiang tidak bisa bercerita, bagaimana It

Lip Tiong dan Tok gan Sin kay bicara dengan suara tekanan tinggi.

Karena memang ia sendiri betul2 tidak tahu.

Terakhir Siauw Yao Totiang juga mengatakan, bagaimana

pertandingan sehingga malam hari, bagaimana I eLip Tiong

lambat2an. erkahir ia dan Tok gan Sin kay tidak sabar,

meninggalkan berdua saja.

“Berapa lama mereka ditinggalkan bermain catur?” Bentak Ko

Hong Totiang.

“Tidak terlalu lama.” Berkata Siauw Yao Totiang. “Tidak disangka,

kesempatan yang begitu cepat telah digunakan oleh Ie Lip Tiong. Ia

menotok jalan darah su Kee tian. Membuka rantai2 dan merantai Su

Kee Tian. Sungguh berada di luar dugaan.”

“jadi,” berkata Ko hong Totiang geram “Su Kee Tian yang

meninggalkan kamar itu adalah Su Kee Tian palsu. Itulah Ie Lip

Tiong, bukan?”

Siauw yao Totiang menganggukkan kepala. “Tentunya demikian.”

“Siapa yang membuka kuncinya?” bertanya lagi Ko hong Totiang.

“Mungkin juga Tok gan Sin kay.” Siauw yao Totiang berkata.

In koo Totiang juga turut berkata :

“Pantas saja, Tek gan Sin kay meminta diri. Ternyata ia sudah

berhasil membawa lari Ie Lip Tong. Sebagai Duta Istimewa Berbaju

Kuning dari gerakkan Su hay Tong sim-beng, tentu saja Tok gan Sin

kay mempunyai kunci pas yang serba guna, dengan mudah ia bisa

membebaskan rantai itu.”

Ko hong Totiang menganggukkan kepala, ia bisa menerima

pendapat2 yang seperti itu. Menghela napas panjang sebentar, ia

memberi perintah :

“lekas buka rantai yang mengikat tuan Su Ke Tian. jalan

darahnya juga terkekang, beri kebebasan.”

In-koo Totiang segera mengeluarkan kunci kunci, dan bebaslah

semua rantai2 yang mengekang Su Kee Tian.

Thian-kiam ie thian hoat juga menotok balik jalan darah jalan

darah yang dibekukan.

Su Kee Tian mengeluarkan napas lega, menghembuskan dadanya

yang dirasa sesak, tapi ia masih terlalu lemah, hampir terjatuh.

Sebagai seorang yang tidak mengerti ilmu silat, sesudah ditotok

jalan darah sekian lama, tentu saja ia lelah sekali, napasnya

sengal2.

In koo totiang segera membangunkannya dan berkata :

“Tuan Su Kee Tian, bagaimana Ie Lip Tiong itu mengerjai

dirimu?”

Su Kee Tian terengah engah beberapa waktu, dengan suara yang

sangat lemah sekali ia berkata.

“Ehem…..ehem….menggunakan kelengahanku,

dia….aduh…..aduh…menotok”

Ko hong Totiang bisa menyaksikan, bagaimana susahnya Su Kee

Tian berbicara, segera ia berkata kepada In koo Totiang :

“Lekas kau ajak kekamar, beri ia makan. Sudah lama ia tidak

mendapat istirahat. Sesudah pulih tenaganya, aku hendak bicara

dengannya.”

In koo Totiang mengiaken perintah itu, memayang tubuh Su Kee

Tian. berjalan pergi.

Pejabat ketua partai Bu tong pay Ko hong totiang segera

mennggebah berkerumunnya orang2nya, ia kembali keruang besar.

Menunggu kesehatan Su Kee Tian pulih, ia hendak bertanya,

dengan cara bagaimana Ie Lip Tiong bisa bersulap.

In koo totiang telah mengajak Su Kee Tian kedalam kamarnya. ia

segera memberi perintah kepada orang untuk memberi makan

kepada Su Kee Tian.

Pantas saja Ie Lip Tiong duduk tidak bergerak, duduk

menghadap tembok ternyata sudah bukan Ie Lip liong lagi. ternyata

dia Su Kee Tian.

Ie Lip Tiong telah menotok jalan darah Su Kee Tian?

Pantas saja Su Kee Tian tidak bergerak, ternyata ia telah ditotok

oleh Ie Lip Tiong, sudah dua hari ia tidak makan. Tentunya lapar

sekali. Makananpun tiba. in koo totiang berkata kepada Su Kee Tian:

“Tuan Su Kee Tian, makanlah dahulu.”

Su Kee Tian itu sangat lapar sekali, ia segera bangkit berdiri

mengambil makanan yang ada. Lahapnya bukan main.

Menyaksikan cara makan yang seperti itu, In koo totiang tertawa,

kesehatan dan keadan badan wajib terjaga, seseorang yang telah

sangat lapar, tidak baik makan cepat. Karena itu In-koo Totiang

berkata:

“Tuan Su Kee Tian barus bersabar. Tidak boleh makan terlalu

cepat. Mengganggu kesehatan.”

Su Kee Tian tidak menggubris peringatan ttu, laparnya bukan

kepalang, dia melahapnya semakin cepat.

Disaat ini, Tiba2 terdengar suara yang gaduh. banyak orang

menuju kekamar In-koo Totiang.

Wajah In koo Totiang berubah. Ia kira terjadi pemberontakan.

Disaat ia hendak membentak, tiba2……

brak …. pintunya terdepak orang. Tarpentang lebar. Disana

berdiri dua orang, yang satu adalah penjabat ketua partai Bu tong

pay Ko hong Totiang. yang satu lagi adalah seorang sastrawan

berwajah kurang sehat. itulah Su Kee Tian.

Eh, ada dua Su Kee Tian?

In koo Totiang menjadi bingung, ia sedang memberi makan

kepada Su Kee Tian. Dari mana muncul Su Kee Tian baru?

Sebelum In koo Totiang sadar akan kesalahannya, tiba2

terdengar suara ambruknya tembok, dung, Su Kee Tian yang

sedang makan itu telah menggerakkan tenaga, menjebol dinding

dan lari keluar.

Dinding kamar In koo Totiang terpeta bekas orang, ternyata Su

Kee Tian berkepandaian? Ia bisa menjebol dinding dan melarikan

diri ?

Pejabat ketua partai Bu tong pay Ku hong Totiang segera

membentak :

“Tangkap dia! Dia adalah Ie Lip Tiong!” Ku hong Totiang

menuding kearah lubang dinding.

Perubahan ini sungguh luar biasa. Betapa gesitpun reaksi In koo

Totiang, tidak mungkin ia berpikir sampai disitu. Tapi segera jelaslah

kini, apa yang sudah terjadi? Ternyata Su Kee Tian yang berada

didalam kamar tahanan, adalah Su Kee Tian palsu. Su Kee Tian asli

adalah orang yang berada disebelah Ku hong Totiang itu.

In koo Totiang segera menggerakkan tubuhnya, mengejar Ie Lip

Tiong.

Disini letak kepintaran Ie Lip Tiong, tangan dan kakinya terantai,

badannya juga terantai, tidak mungkin ia bisa membebaskan diri.

Tidak mungkin ia bisa melarikan diri.

Ie Lip Tiong meminta kaca tembaga dari Tok gan Sin kay,

maksudnya menghias wajah diri, mengubah dirinya menjadi Su Kee

Tian.

Kemudian, ia meminta agar Tek gan Sin kay mengajak Su Kee

Tian meninggalkan Han kong Sanchung.

Maka, seolah olah Ie Lip Tiong telah menotok Su Kee Tian, Ie Lip

Tiong telah mempenjarakan Su Kee Tian, Ie Lip Tiong melarikan

diri.

Seolah2 Su Kee Tian yang berada didalam kamar tahanan itu.

Semua orang terperdaya.

Entah bagaimana, Su Kee Tian yang asli bisa tampil pada waktu

yang tepat. Ia telah memecahkan rahasia itu. Apa boleh buat, Ie Lip

Tiong melarikan diri.

in koo totiang membikin pengejaran.

Bercerita Ie Lip Tiong, bagaimana ia berhasil menerobos dinding

kamar In koo totiang, mencelat beberapa tempat, ia menempatkan

dirinya diatas sebuah wuwungan, lompat turun dan siap2 untuk

melarikan diri.

Bisakah Ie Lip Tiong melarikan diri?

Ie Lip Tiong tidak meneruskan larinya, karena ia telah

mendapatkan jalan buntu. Didepannya telah berkerumun banyak

orang. Begitu juga diatas wuwungan atas rumah. Ia tidak bisa maju

! Mau mundur? In koo Totiang menyusul dari belakang.

Didalam sekejap mata, Ie Lip Tiong telah berada ditiga lapisan

kurungan mereka adalah jago2 Hoa san pay dan Bu tong pay.

Ie Lip Tiong terpekur ditempat. Mencari jalan lain untuk

membebaskan diri.

Karena keragu-raguan Ie Lip Tiong, maka ia tidak berhasil

melarikan diri!

Bila Ie Lip Tiong satu, begitu ia menerobos keluar dari kamar In

koo Totiang.

Dengan membunuh beberapa orang Hoa-san pay dan Bu tong

pay, mungkin masih bisa membebaskan diri.

Tapi lain jadinya dengan sekarang. Berlapis2 kurungan telah

terjadi. Untuk membunuh orang itu juga tidak mungkin lagi. Terlalu

banyak.

Dibelakang In koo Totiang terdapat beberapa orang, diantaranya

terdapat juga Ku-hong Totiang, ia datang menyusul.

Ie Lip Tiong membaliklan badan, kini menghadapi In koo Totiang.

In koo Totiang telah diperdayai, marahnya tidak kepalang.

Dihadapan orang banyak, ia memayang Su hee Tian palsu, diberi

makan. Tidak tahunya, inilah Ie Lip Tiong!

Secepat itu ia tiba, secepat itu pula tangannya digerakkan,

disertai dengan bentakan keras, In koo Totiang menyerang Ie Lip

Tiong.

Ie Lip Tiong menyambuti datangnya serangan itu.

Plok, plok…..dua telapak tangan terbentur, pukulan In-koo

Totiang seperti memukul besi, terasa sakit sekali.

Sesudah terjadi benturan itu, In-koo Totiang termundur tiga

langkah, terdesak terkena serangan Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong tidak mendesak, ia masih berdiri ditempatnya

dengan dingin berkata;

“Tenagamu masih terpaut jauh, mundurlah.”

In-koo Totiang terkejut, diluar kota Tiang an, didalam kelenteng

Cin-goan koan, ia berhasil memukul Ie Lip Tiong. Betul, didalam

keadaan itu, Ie Lip Tiong telah menderita luka, tapi biar bagaimana,

ia sudah menjatuhkannya, karena itu ia terlalu memandang ringan,

dianggapnya Ie Lip Tiong tidak mempunyai arti apa, kini baru

mengerti. Betul2 Ie Lip Tiong tidak bisa dipandang ringan.

Rasa malu In-koo Totiang semakin jadi. ia masih tidak bisa

menandingi Ie Lip Tong, rasa panasnya tidak tertahan lagi, karena

itu, bukannya ia mundur. sebaliknya ia maju kedepan, hendak

menyergap Ie Lip Tiong.

Disaat ini, terdengar suara bentakan Kuhong Totiang :

“In koo, mundur!”

Teriakan Ku hong Totiang sudah terlambat !

Ini waktu, gerakan In koo Totiang sudah begitu cepat, tidak

mungkin bisa ditarik kembali. Seluruh tubuhnya beserta dengan

pukulan pukulannya, menerjang Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong tertawa geli, bilamana tidak memberi hajaran, pasti

In koo Totiang kurang puas. Ia tidak mengundurkan diri atas

serangan yang hebat itu, lagi2 memapaki ke depan, saat kedua

telapak tangan hendak bertempur maka tiba2 saja ia

membungkukan badan, tertawa terkekeh2, kecepatan tangannya

begitu gesit, pukulan diubah menjadi cengkeraman, menarik bagian

perut In koo Totiang, dilemparkannya kebelakang.

Ik koo Totiang sudah memforsir semua tenaganya, ia begitu sakit

hati, dengan maksud memukul Ie Lip Tiong, walau ia terluka, pasti

Ie Lip tiong juga mengalami getaran, mana disangka Ie Lip Tiong

berganti siasat, dengan tipunya memental pergi, mengelakan

datangnya kekuatan.

In koo Totiang mengeluh didalam hati, tiba tiba saja, tubuhnya

terasa menjadi ringan, badannya terbang keatas. terbang langsung

tinggi, sehingga enam tombak.

banyak orang yang menyaksikan pertandingan seperti itu, mata

mereka terbelalak seolah2 banteng yang menyeruduk, In koo

Totiang menubruk tempat kosong, dan sesudah itu terbang keatas,

masih membawakan sikap yang menyeruduk, bagaikan sebuah

mercon turun merosot, dari atas menukik kebawah, sangat cepat

sekali, brak. brak, kedua tangannya masih dijulurkan kedepan,

seperti kodok melompat, ia menubruk tanah, terjerembah jatuh.

Semua jago Bu tong pay dan Hoa san pay yang menyaksikan

kegesitan Ie Lip Tiong, rata2 menjadi ngeri.

Pejabat ketua partai Bu tong pay Ku-hong Totiang melesatkan

diri, ia sudah berdiri dihadapan Ie Lip Tiong, dengan dingin berkata

:

“Ie Lip Tiong, kecerdikanmu tanpa tandingan, ilmu

kepandaianmu juga berada diatas orang. Tapi, jangan harap bisa

meninggalkan Ban khong San-chung.”

Kedudukannya Ku hong Totiang sebagai ketua partai, sangat

dipertimbangkan, ia sudah berada didepan Ie Lip Tiong, tapi tidak

segera menyerang orang itu. Ketua partai harus memiliki wibawa,

ketua partai tidak boleh sembarang bergerak.

Ie Lip Tiong menyorot wajahnya, ia merusak make up wajah itu,

maka terpetalah wajah Ie Lip Tiong yang asli, maka lenyaplah wajah

Su Kee Tian, Ie Lip Tiong menghadapi Ku hong Totiang, ia tertawa

panjang dan berkata ;

“Ku hong Totiang kau telah terpilih menjadi pejabat ketua partai.

Inilah suatu bukti, bahwa kedudukanmu berada diatas mereka

masih suatu bukti bahwa ilmu kepandaianmu berada diatas-orang,

inilah suatu bukti bahwa pikiranmn lebih jernih dari orang, sekali lagi

kuberi peringatan. Berpikirlah lagi, tentang keterangan keterangan

yang- kuberikan. Seharusnya kau tidak mengambil putusan yang

ceroboh, pikiran cupat yang sama dengan pikiran mereka.”

“jangan banyak mulut.” membentak Ku hong Totiang. “Kau telah

membunuh kedua partai lama kami. Hanya membunuh dirimu, baru

menemukan balasannya.”

“Berpikirlah baik2.” berkata Ie Lip Tiong. “Dengan ilmu

kepandaian yang kumiliki, bilamana aku mau, aku masih sanggup

menerjang kurungmu tadi!”

“Mengapa kau tidak menerjang lagi?” berkata Ku hong Totiang.

Dengan sungguh2 Ie Lip Tiong berkata : “Karena aku tidak mau

dianggap sebagai musuh Bu tong pay.”

“Disinilah letak kelicikanmu.” benkata Ku hong Totiang.

“Kau tidak bersedia membebaskan diriku?” bertanya Ie Lip Tiong.

“Tidak.” berkata Khu hong Totiang tegas,

Ie Lip Tiong marah, tapi ia berusaha menekan kemarahan itu.

katanya perlahan. :

“Lebih baik kita bersama sama pergi ke Su hay-tay tong-simbeng,

maka Su hay-tong sim beng bisa memberi putusan lebih

tepat. Atau boleh saja aku dihukum oleh Su hay-tong-sim beng, dan

dengan kekuatan Su-hay-tong-sim-beng, mereka bisa mencari jejak

Su-khong Eng. Itu waktu, kita bisa memaksa Su-khong Eng

mengakui kesalahannya, maka lenyaplah dakwaan2 yang jatuh

kepadaku. ”

“Huh!” Ku hong Totiang berdengus “Su-hay-tong-sim-beng

sedang sayang kepadamu. Bengcu Su hay tong sim beng Hong lay

Sian ong sangat berhutang budi kepadamu. Mana mungkin mereka

mau menawan?”

“jangan berkata seperti itu.” berkata Ie Lip Tiong. “Inilah suatu

penghinaan untuk Su hay tong sim beng. ”

“jangan banyak komentar.” berkata Ku-hong Totiang. “Apapun

yang kau tuntut, kami tidak perduli. yang penting, tidak boleh

membiarkan kau hidup terlalu lama.”

“Baiklah.” berkata Ie Lip Tiong. “Kita harus menentukan sesuatu

diatas kekerasan senjata.”

Ku hong Totiang menggerakkan kebutannya inilah senjata

istimewa, bagaikan lidah seekor ular berbisa, mengarah kemata Ie

Lip Tiong.

Lu Hong totiang adalah pejabat ketua partai Bu tong pay, ilmu

kepandaiannya memang hebat, caranya bertempur juga tidak bisa

disamakan dengan orang, kebutan yang begitu halus, dengan

adanya disertai tenaga, bergerak dan meluncur seperti tombak.

Ie Lip Tiong telah mewarisi semua ilmu Oey san-pay, mewarisi

semua ilmu kepandaian Ie Im Yang. Kemudian telah belajar silat

dari Can Ceng Lun, terakhir mendapat petunjuk petunjuk berharga

dan Hong Hian Lang, ilmu kepandaiannya telah berada di atas

semua ketua partai, maka ia bisa menduduki duta nomor tiga belas.

Untuk mengalahkan Ku hong Totiang, bukan persoalan yang

terlalu sulit, tapi Ie Lip Tiong harus bisa memberi kesempatan

kepada orang, mengalahkan satu ketua partai berarti penghinaan

yang terbesar. Maka dikemudian hari, sulitlah untuk memperbaiki

kesalahan itu. Mengalahkan sesuatu ketua partai berarti

mengalahkan seluruh partai itu, ini berbahaya. Akan timbul konfiik

pertempuran yang lebih besar, Bu tong pay juga bukan partai biasa,

tidak mudah dihadapi. Rimba persilatan akan menjadi kacau

karenanya.

Ie Lip Tiong sedang berpikir pikir, bagaimana harus bisa

mengalahkan Ku hong Totiang, tanpa diketahui banyak orang yang

menyaksikan.

Mendapat serangan yang seperti itu, kaki kiri Ie Lip Tiong digeser

sedikit, kepalannya ditujukan, menghindari serangan.

Ku hong Totiang mengagetkan kebutannya, masih mengarah dan

mengancam kepala Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong membentak keras, mengayun tangan dan memukul

kearah pinggang orang.

Perlawanan hebat! Ku hong Totiang dipaksa mengundurkan diri,

berputar dan menyingkir dua langkah.

Kesempatan ini digunakan baik2. terus menerus Ie Lip Tiong

menyerang tiga kali. Setiap satu serangan, disertai dengan

bebtakan, beruntun ia mengeluarkan tiga bentakan keras, beruntun

ia mengeluarkan tiga serangnn keras.

Ku hong Totiang telah menjudikan dirinya sebagai tokoh

teragung didalam partai Bu-tong pay ia memiliki kewibawaan yang

sempurna. Walau ia terdesak mundur tiga langkah, ia telah

memperhitungkan cara2nya yang terbaik, mundur, mundur dan

mundur lagi, akhirnya ia kesamping sisi. Tidak ada tanda2 yang

menyatakan kekalahan. Inilah pemulihan tenaga, dari sini ia

membikin perlawanan baru, mempersiapkan posisi yang lebih

kokoh, baru menyerang ke arah Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong juga memuji kehebatan tokoh silat itu, sesudah

dibentur terus menerus, toch tidak ada kekalutan. Kini giliran Kuhong

Totiang yang menyerang, seharusnya ia bertahan. Tapi tidak.

Ie Lip Tiong pantang mundur. Mundur berarti terdesak. Dengan

pukulan2 yang luar biasa, ia melawan keras dengan keras,

menggempur terus menerus, dengan tipu2 yang luar biasa,

menghujani Ku hong Totiang dengan serangan2nya.

Terus terang dikatakan. Ku hong Totiang masih bukan tandingan

Ie Lip Tiong, ia hanya menang kewibawaan. memang kedudukannya

sebagai pejabat ketua partai, tapi dinilai dari ilmu silatnya, tentu

saja masih bukan tandingan tokoh misterius ajaib It-kiam tin bu lim

Wie Tauw.

Perlahan tapi pasti, Ku hong Totiang terdesak.

Anak buah Bu tong pay siap2 memberi bantuan kepada ketua

partai mereka.

Ie Lip Tiong mendesak terus. Tipunya sangat tepat, sangat aneh,

tidak satu juruis yang tidak luar biasa. Lagi2 Ku hong Totiang

terdesak mundur tiga langkah.

Sudah waktunya Ie Lip Tiong melarikan diri, ia melejit

kesamping, disini berdiri dua jago Hoa san pay. Sesudah berhasil

merangsek Ku hong Totiang kebelakang, gesit sekali Ie Lip Tiong

berjumpalitan kebelakang. Menerjang kearah dua jago Hoa san pay

itu.

Kedua jago Hoa san pay telah melintangkan pedang, mereka

menusuk kearah Ie Lip Tiong.

Ie Lip Tiong telah memperhitungkan sesuatu, dengan

menggunakan pukulan kosong, ia berhasil menjatuhkan kedua

orang itu.

Ie Lip Tiong hendak menerjang keluar. Empat jago Hoa san pay

lagi merintangi didepan.

Ie Lip Tiong mengeluarkan raungan suara singa, ia menggerung

keras, membentak:

“Minggir!!” Lagi2 ia berhasil memukul ke empat orang itu.

Dengan satu jumpalitan, ia naik keatas tembok. Hendak

meninggalkan Han kong Sanchung.

Diatas tembok itu Ie Lip Tiong memilih tempat yang baik, tiba2

tardengar suara desingan anak panah yang saling susul, puluhan

batang anak panah meluncur kearahnya.

Kejadian ini berada diluar dugaan Ie Lip Tiong, mau tak mau, ia

harus balik ke belakang, lompat turun balik lagi.

jago2 Hoa san pay dan Bu tong pay telah mengurung pemuda

kita.

Sepuluh orang tampil kedepan, mereka adalah tujuh jago pedang

Hoa san pay dari tiga tosu tua Bu tong pay.

Dengan sepuluh pedang yang berkilat mereka mengurung Ie Lip

Tiong, Ie Lip Tiong mengeluh didalam hati : “Celaka!!”

Ia telah dikurung empat lapis, lapisan pertama adalah kurungan

tujuh jago Hoa san pay dan tiga tosu tua Bu tong pay.

Kurungan kedua adalah kurungan bersama. dari Hoa san pay dan

Bu tong pay terdiri dari jago2 kalas dua. Dan diluar lingkungan itu

masih berdiri banyak orang, juga bersifat mengurung. Mereka

adalah jago kelas tiga dari Hoa san pay dan Bu tong pay.

Dari jauh terlihat Ku hong totiang memberi instruksi

pengurungan.

Tujuh jago pedang Hoa san pay berada dibawah pimpinannya

Thian kiam ie thian hoat. Tiga tosu tua Bu tong pay berada dibawah

pimpinannya In koo totiang.

Ie Lip Tiong masih bertangan kosong. Ia harus menghadapi

sepuluh ahli pedang itu.

Perlahan tapi pasti, tujuh jago Hoa san pay dan tiga jago tua Bu

tong pay merangsak kedepan. Memperkecil kurungan.

kenyataan memaksa Ie Lip Tiong, mau tidak mau, ia harus

membunuh oiarg, tanpa pembunuban yang besar besaran, tidak

mungkin bisa membebaskan diri dari tempat itu.

Kurungan tujuh jago Hoa san pay dan tiga jago tua Bu tong pay

telah merapat, sret, tiba merekapun bergerak. Terpecah dua lima

didepan, dan lima dibelakang. Tapi tidak mengulangi kerapatan

pengurungan, Ternyata kesepuluh orang ini telah membagi diri

menjadi dua kelompok, dengan satu kelompok terdiri dari lima

orang, mereka tidak akan mengalami kekalahan, bisa saja bergilir

menerjang Ie Lip Tiong.

“Ehem…. ehem….” Ie Lip Tiong mengeluarkan suara dingin,

Hatinya berkata : “Baik. Kalian telah memaksa, jangan katakan aku

Ie Lip Tiong keterlaluan.”

Secepat itu pula, lima pedang telah menghujam dirinya.

Diserang sepuluh pedang, Ie Lip Tiong tidak takut. Apa lagi

jundah angka itu di kurangi separoh, tentu saja ia memandang

rendah, tapi ia bertangan kosong. Bilamana tidak melukainya!, tentu

tidak mungkin terjadi, Terdengar suara gemeretek dari tulang2 Ie

Lip Tiong, ia sudah bersiap mengeluarkan tiga pukulan geledek,

pukulan yang terampuh, pukulan yang pernah mengejutkan hati

sepasang iblis gemuk dan kurus. Tiga pukulan geletek adalah

pukulan maut yang terhebat dari Sucouw.

Bilamana sampai terjadi tiga pukulan geledek Ie Lip Tiong

terlanjur keluar.

dua dari kelima orang jago Hoa san-pay dan Bu tong pay pasti

menderita celaka tapi memang jiwa2 mereka masih dilindungi

Tuhan. Tiba2, terdengar satu suara yang berteriak keras :

“Hentikan pertempuran.”

Inilah suara pejabat ketua partai Bu tong-pay Ku hong Totiang.

Sepuluh pedang dari tujuh jago pedang Hoa san pay dan tiga

tosu Bu tong pay menghentikan gerakkan mereka, menarik kembali

pedangnya.

Terdengar lagi perintah pejabat ketua partai Bu tong pay :

“Mundur !”

Masing2 mengundurkan diri. Semua orang juga bingung, semua

mata ditujukan kearah Ku hong Totiang. Apa yang telah terjadi ?

mengapa pejabat ketua partai itu memberi instruksi yang seperti ini?

Semua mata ditujukan kearah Ku hong Totiang, sorotan mata

heran dan tidak mengerti.

Mata Ie Lip Tiong juga ditujukan ke-sana, rasa girangnya tidak

kepalang. Ie mengeluarkan elahan napas lega.

Apa yang telah terjadi?

Ternyata, tidak jauh dari Ku hong Totiang berdiri seseorang,

itulah Bengcu Su hay tong-sim beng, Hong lay Sian ong.

Ketua Su hay tong-sim beng Hong lay Sian ong sudah turun

tangan sendiri, jauh2 menampilkan diri dan berada ditempat ini.

Dengan kedudukannya yang begitu agung, Hong-lay Sian ong

mengunjungi Han-kong Sanchung. Inilah kejadian yang berada

diluar dugaan semua orang !

Seperti apa yang kita ketahui, Su-hay tong-sim beng adalah

gerakan dari semua partai dan golongan yang ada. Ketua Su-haytong

sim-beng berarti ketua dari semua ketua2 partai yang ada.

Dengan kedudukannya yang begitu agung, hanya karena urusan

yang menyangkut Ie Lip Tiong, jauh jauh ia datang sendiri.

Dikala partai Hoa san pay dan Bu tong pay berhasil meringkus Ie

Lip Tiong, mereka pernah menulis surat kepada Su hay tong sim

beng. dengan kecepatan kilat, petugas itu diharuskan melapor

kepada Su hay tong sim beng, memberi tahu pada putusan mereka

yang hendak menghukum mati Ie Lip Tiong.

Didalam surat tersebut dikatakan bahwa Ie Lip Tiong akan

dihukum mati pada tanggal enam bulan sebelas. Surat itu tertanggal

enam belas bulan sepuluh. Waktu hanya dua puluh hari saja. Biar

bagaimana. Sesudah menerima surat itu, tidak mungkin bantuan Su

hay tong sim beng bisa tiba di Han kong Sanchung.

Maka Hoa san-pay dan Bu-tong pay tidak segan2, mereka

hendak menghukum mati Ie Lip Tiong. Mereka tidak takut mendapat

teguran, mereka bisa saja mengemukakan alasan bahwa mereka

telah memberitahukan keputusan itu kepada Su hay tong sim beng.

Datang atau tidak utusan Su hay tong sim beng, terserah kepada

orang yang bersangkutan. Mereka bisa lepas tanggung jawab. Di

sini kepintarannya Hoa san pay dan Bu tong pay, dengan jarak yang

terlalu jauh, teutu saja tidak bisa dicapai dalam waktu2 tententu.

Tapi bagaimana, wakil Su hay tong sim beng bisa saja tiba di Han

kong Sanchung, tapi sesudah kepala Ie Lip Tiong digunakan sebagai

sedekah sembahyang. Mana mereka duga, wakil Su hay tong sim

beng yang datang adalah ketua gerakan itu sendiri. Semua orang

pun maklum. betapa hebat dan lincah ilmu kepandaian Hong lay

Sian ong, ia adalah Dewanya Raja2 Silat, didalam waktu2 orang lain

tidak mungkin capai, ia bisa tiba didalam Han kong Sam chung,

tidak ada orang yang curiga.

Sesudah mengalami perjalanan yang begitu jauh, jenggotnya

Hong ley Sian ong berkibar kibar, mukanya sangat serpih. sangat

cukup berwibawa. Dia memang gagah.

Hong lay Sian ong menghadapi Ku hong Totiang, memberi

hormat dan berkata :

“Maafkan aku. Karena terlambat mengucapkan selamat

kepadamu yang telah menjadi pejabat ketua partai Bu-tong-pay.”

Ku-hong Totiang membalas hormat itu.

Secara langsung Hong lay Sian-ong membikin teguran :

“Dengan alasan apa ciangbunjin menganggap Ie Lip Tiong telah

membunuh ketua partai Hoa-san pay dan Bu-tong pay ?”

“Mengapa ciangbunjin hendak menghukum Ie Lip Tiong ?”

“Ie Lip Tiong telah membunuh ketua partai Hoa-san-pay dan Butong

pay lama.” berkata Ku hong Totiang.

“Dengan bukti apa ciangbunjin mengatakan bahwa Ie Lip Tiong

membunuh ketua partai Hoa san pay dan Bu tong pay? Sudah

adakah bukti2?”

“Ada.” berkata Ku hong Totiang tidak gentar.

“Bagaimana putusan Hoa san pay dan Bu-tong pay?” bertanya

Iagi Hong lay Sian ong.

“Seperti apa yang tertera pada surat kami, Hoa san pay

mengambil putusan bersama, menghukum mati Ie Lip Tiong.”

“Tidak ada lain jalan!!” berkata Hong lay Sian ong.

“Kami tidak bisa memberi pengampunan kepada orang yang

bersalah.” berkata Ku-hong Totiang. “Ketua partai kami tidak boleh

mati percuma. Kami wajib menuntut balas.”

“Baik!!” Hong lay Sian ong menganggukkan kepala.

“Dipersilahkan ciangbunjin membawa rantai2 yang telah mengikat

kaki dan tangan Ie Lip Tiong itu !”

Ku hong Totiang membelalakan mata “Bengcu hendak

melihatnya?” ia bertanya heran.

“Bawalah !” Hong lay Sian ong memberi perintah.

Dari sikap yang diperlihatkan oleh Hong-lay Sian ong, tidak

menunjukkan rasa kemurahan, juga tidak menunjukkan rasa

persetujuan. Entah tantangan perang, entah perdamaian.

Waktu untuk Ie Lip Tiong menjalani hukuman mati sudah tiba. Ku

hong Totiang segera memberi perintah kepada Siauw yao Totiang :

“Ambil rantai2 itu!!”

Siauw yao Totiang pergi menjalankan perintah pejabat ketua

partainya. Sebentar kemudian Siauw yao Totiang sudah balik

kembali, pada tangannya terbawa rantai2 yang pertah mengikat

kebebasan Ie Lip Tiong.

Hong lay Sian ong menghampiri ke Ku-hong totiang dan Siauw

yao Totiang. menjulurkan tangannya dan berkata kepada mereka:

“dipersilahkan ciangbunjin merantai tangan ini!!”

Ku hong totiang terkejut. “Apa maksud Bengcu? ia bertanya.

“Aku telah mempertaruhkan jiwaku, bisakah menggantikan jiwa

Ie Lip Tiong ?”

Ku-hong totiang berkata :

“Bengcu jangan mengambil langkah yang seperti itu.”

“Tidak ada jalan lain.” berkata Hong lay Sian ong. “Su-hay-tong

sim beng telah menghukum mati Ie Lip Tong satu kali. Kita tidak

mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. jangan sampai

pembunuhan kedua terjadi. Kalian hendak membunuh mati Ie Lip

Tiong, Baik- Aku hendak menggantikan jiwanya. Rantailah tanganku

ini.”

“Tapi Ku hong totiang menjadi gugup, Ie Lip Tiong itu adalah…..”

“Ie Lip Tiong adalah manusia yang paling cerdik, tokoh silat yang

paling pandai. orang yang menpunyai bakat luar biasa. Ia dilarang

mati” berkata Kong-lay Sian ong tegas. “Aku bersedia menggantikan

jiwanya. Lekas rantai tanganku.”

Ku hong Totiang tertawa nyengir, ia berkata :

“Bengcu berani menjamin bahwa Ie Lip Tiong itu bukan orang

yang membunuh ketua partai Hoa-san-pay dan Bu tong pay lama ?”

“Berani!!” berkata Hong lay Sian-ong tegas, “Maka aku berani

menjamin seratus persen menyerahknn diri. Bila sampai terjadi hal2

yang seperti itu, kalian boleh menghukum diriku. ”

“Siapa yang berani menghukum Bengcu sendiri?” berkata Ku

hong Totiang mulai lemah.

“Hukum tidak mengenal ampun. Barang siapa saja yang salah,

wajib dihukum. Termasuk juga dirimu. Aku bersedia dihukum,

bilamana aku mempunyai kesalahan.” berkata Hong lay Sian ong.

“Kuharap saja Bengcu bisa mengambil langkah lain.” berkata Ku

hong Totiang.

“Baik. Aku hendak membawa Ie Lip Tiong. Semua orang dilarang

mengganggu.” berkata Hong lay Sian ong.

“Bilamana kami tidak memberi ijin? Bagaimana?” Ku hong

Totiang masih kukuh dengan pendiriannya, biar bagaimana, ia

hendak menghukum mati Ie Lip Tiong.

“Kalian hendak menggunakan kekerasan? Boleh juga.” berkata

Hong lay Sian ong. “Tapi aku tidak akan memberi perlawanan!”

Arti dari kata2 “tidak memberi perlawanan” itu adalah Hong-lay

Sian-ong hendak membawa It Lip tiong, bilamana Hoa-san pay dan

Ku hong bergerak, atau seseorang menggunakan pedang

menyerang dirinya, maka pedang itu akan ditangkis oleh badan

Hong-lay Sian ong. Tanpa perlawanan !

Bengcu Su-hay-tong-sim beng bersedia memberi pengorbanan !

Ku hong Totiang mergkerutkan alis, cemberut tekali. Ia menjadi

seorang yang paling sulit dihadapi.

Hong lay Sian ong berkata :

“Dipersilahkan ciangbunjin memberi putusan. Hendak merantai

kedua tanganku, atau memberi ijin, membawa Ie Lip Tiong !”

Ku hong Totiang tidak berani mengambil putusan. ditempat itu,

Kecuali Hong lay Sian ong kedudukannya adalah yang teragung.

Tapi pendiriannya bertentangan dengan pendirian Hong lay Sian

ong. Sebagai pejabat ketua partai Bu tong pay, menjadi manusia

teragung. Tapi Ie Lip Tiong adalah tawanan Hoa san-pay dan Bu

tong pay, tawanan bersama. Pejabat ketua Hoa-san-pay

berhalangan tiba, maka ia berkata kepada Thian kiam ie thian-hoat :

“Saudara Thian kiam ie thian-hoat, ketua partai kalian belum

tiba, kau adalah wakilnya. coba beri putusan.”

Thian-kiam ie-thian hoat tidak berani membuka mulur. Tentu

saja, ia tidak mau melepaskan Ie Lip Tiong. Tidak setuju bilamana

Hong lay Sian ong membawa Ie Lip Tiong. Tapi orang yang dihadapi

adalah Bengcu gerakan partai2 dan golongan yang ada.

kedudukannya lebih agung dari ketua partai, siapa yang berani

menantangnya?

Sedangkan Ku-hong Totiang saja tidak berdaya. Apalagi dia?

Thian kiau ie thian kiam membawakan sikap bungkam.

Dengan sabar Hong lay Siau ong menunggu untuk beberapa

waktu, Bu tong pay dikepalai oleh Ku hong Totiang, tidak berani

mengambil putussn. Hoa san pay yang diserahkan terlebih kepada

Thian kiam ie Cian hoat, bungkam dalam seribu bahasa.

Hong lay Sian ong berkata:

“Hoa san pay dan Bu tong pay tidak berani mengambil putusan?

Baik! Aku hendak membawa Ie Lip Tiong.”

Menggapaikan tangan kepada Ie Lip Tiong, Hong lay Sian ong

berkata:

“Ie Lip Tiong tatsu, kemari!”

Ie Lip Tiong berjalan, mendekati kearah Hong lay Sian ong.

Hong lay Sian eng menyekal tangan Ie Lip Tiong, diajaknya

bersama sama, dan ia berkata :

“Mari kita pergi?”

Tanpa memperdulikan kepada reaksi Hoa-san pay dan Bu tong

pay, Hong lay Sian ong mengajak Ie Lip Tiong meninggalkan Hankong

San chung.

banyak orang yang berada ditempat itu, tapi tidak seorangpun

yang berani mengganggunya.

Sebentar kemudian, Hong lay Sian ong berhasil mengajak Ie Lip

Tiong, berada jauh dari Han kong San chung.

Tidak seorangpun yang membikin pengejaran.

Han kong Sanchung jauh ditinggalkan !

Mereka berjalan dengan bebas. Hong lay Sian ong memandang

kepada Ie Lip Tiong, berkata :

“Ie Lip Tiong tatsu, masih ada urusan yang belum diselesaikan?”

“Ada.” berkata Ie Lip Tiong.

“Kemana kita pergi?” Bertanya Hong lay Sian ong.

“Kelenteng Cin goan koan dikota Tiang-an.”

“Oh.” berkata Hong lay Sian ong.

Tidak menarik panjang urusan itu, mereka berangkat menuju

kearah kota Tiang an.

Dari dalam saku bajunya, Ie Lip Tiong mengeluarkan kaca

tembaga, diserahkan kepada Hong lay Sian ong dan berkata :

“Dipersilahkan Tok-gan Sin kay tatsu menerima kembali barang

milikmu.”

Hong lay Sian-ong menghentikan langkahnya, ia bertanya :

“Apa?”

“Tok gan Sin kay tatsu.” berkata Ie Lip Tiong. “Sudah waktunya

kita menutup sandiwara ini.”

“Ha, ha, ha, ha …” Hong lay Sian ong menerima kaca

tembaganya. Ia tertawa berkakakan. “Tidak percuma kau menjadi

It-kiam tin bu lim Wie Tauw, aku menyerah kalah.”

Ternyata. Hong lay Sian ong yang datang ketempat Han kong

Sanchung adalah Hong-lay Sian ong palsu, dia adalah jelmaan Tok

gan Sin kay, Duta nomor sebelas dari Su hay tong sim beng.

Ie Lip Tiong tertawa, ia berkata memuji:

“Tok gan Sin kay tatsu, bilamana tidak ada bantuanmu. Tidak

mudah meninggalkan Han kong Sanchung.”

“Sudahlah.” berkata Tok gan Sin kay. “Kecerdikanmu memang

sangat luar biasa. Aku hendak tabu, bagaimana kau bisa melihat

penyamaranku ?”

“Tok gan Sin kay Tatsu heran, mengapa aku bisa mengetahui

penyamaranmu ?”

“Inilah yang mengherankan diriku, coba katakan, dari fasal2

mana, kau bisa mengetahui penyamaran ?”

Dengan tertawa Ie Lip Tiong berkata .

“Kesatu : Ilmu kepandaian Bengcu kita telah mencapai tingkat

yang sempurna, walau pun demikian, tidak mungkin didalam tujuh

atau delapan hari itu, ia bisa datang ketempat ini. jarak Lu san dan

Han kong San chung terlalu jauh.”

“Bisa saja terjadi suatu kebetulan.” berkata Tok gan Sin kay.

“Dimisalkan ia manerima surat ditengah jalan dan tiba disaat yang

tepat, mungkin juga, bukan?”

“Memang mungkin.” berkata Ie Lip Tiong. “Tapi lain kecurigaan

kembali , dimisalkan Bengcu kita tiba, lelahnya juga bukan

kepalang, ia pasti melakukan perjalanan siang dan malam, tidak

mungkin ia memperlihatkan kegagahannya, tapi kau sangat gagah,

disinilah letak kecurigaan yang kedua ”

“Masih ada kesilafan lain?” bartanya Tok gan Sin kay.

“Yang ketiga, maaf, sebelumnya ku mengucapkan kata2 ini, aku

meminta maaf dulu, mugkin bisa menyinggung perasaanmu.”

“Tidak menjadi soal. Katakan sajalah.” berkata Tok gan Sin-kay

tertawa.

“Persoalan yang ketiga letak make-up Tok gan Sin-kay tatsu

masih belum sempurna sekali, ter-lebih2 sepasang sinar mata itu,

masih kurang hidup. Tidak mirip sinar mata Bengcu kita.”

“Ha, ha…..” berkata Tok-gen Sin-kay. “Kau lihay. Masih untung

sekali Hoa san pay dan Bu tong pay itu tidak memiliki tokoh silat

yang seperti ini. Mereka bicara berhadapan denganku beberapa

saat, tidak seorang yang bisa mengetahui kecacatan itu.”

Tok gan Sin key mengusap make up, memasang kembali sebelah

tutup matanya.

“Dan cacat yang keempat……..”Ie Lip Tiong masih hendak

menerusken pertanyaannya.

“Kesalahan yang keempat…..Tok gan Sin kay membelalakan

mata, ia sudah memasang kembali sebelah matanya yang picek itu,

dengan bingung sekali berkata :

“Masih ada kesalahan yang keempat?”

“Betul.” berkata Ie Lip Tiong. Ia menganggukkan kepala. Tertawa

sebentar. “Bengcu kita Hong lay San ong bukan dewa, baru saja ia

tiba di Han kong Sanchung, bagaimana bisa mengetahui, bahwa

semasa didalam kamar tawanan, aku dirantai? Begitu kau tiba,

segera meminta rantai2 pengikat itu. Disinilah letak kecerobohan.”

“Aduh!” Tok gan Sin kay bergoyang- kepala. “Kukira

penyamaranku sudah hebat, mudah saja mamperdayai mereka.

Tidak tahunya masih banyak kecerobohan2.”

“Tapi, terus terang saja kukatakan” berkata Ie Lip Tiong. “Biar

bagaimanapun tidak terpikir olehku, bahwa Tok gan Sin kay tatsu

bisa menyamar menjadi Bengcu kita. Memberikan pertolongan tepat

pada waktunya. Sungguh2 berada diluar dugaan!”

Tok gan Sin kay memberi keterangan ;

“Malam itu, menurut pesan kata2mu. Aku mengajak Su Kee Hian

bertanding catur. Sengaja kuajak ia ke Cong-lam-iau. Tapi sungguh

apa boleh buat. Permainan caturku terlalu buruk. Dalam sekejap

mata, aku dikalahkan olehnya, main lagi, kalah lagi. Demikianlah

seterusnya. Permainan caturku tidak bisa menarik perhatien, ia

bosan, biar bageimana ia hendak kembali mengikuti upacara

hukuman matimu. Sebetulnya bilamana aku mau, aku bisa saja

menahannya. Tapi aku khawatir kepada dirimu. Seolah-olah mereka

tidak berdaya ditempat itu. Make mengikuti dibelakangnya, akupun

tiba. Tentu saja, aku harus membikin penyamaran dahulu. Aku

menggunakan wajah Bengcu kita. Ha, ha……… kau memang hebat.

Hanya menggunakan sebuah kaca, hanya menirukan Su Kee Tian,

kau berhasil memberaki mereka. Luar biasa. Tipumu hebat. Tipu

yang sangat luar biasa.”

Ie Lip Tiong berkata :

“Rantai itu sangat kokoh dan kuat, juga mendapat pilihan kunci

yang tidak mudah dibuka. Sudah kuusahakan berhari-hari. Tidak

berhasil, hanya mereka yang bisa membukanya. Dan berhasil juga.”

Duta berbaju kuning nomor tiga belas Ie Lip Tiong dan Duta

berbaju kuning nomor sebelas Tok-gan Sin-kay, melakukan

perjalanan bersama.

Dengan kecerdikan dan kecerdasan otak mereka, dengan tipu

muslibat dan akal luar biasa, mereka berhasil meninggalkan tiankong

San-chung.

Untuk kedua kalinya, Ie Lip Tiong berhasil membebaskan jiwanya

dari cengkeraman elmaut.

Didalam hal ini. jasa Tok gan Sin-kay tidak bisa dilupakan. Tanpa

bantuan sipengemis mata satu itu, agak sulit Ie Lip Tiong

menyelamatkan diri, mungkin juga, Ie Lip Tiong bisa melarikan diri

dari kepungan Hoa san-pay dan Bu-tong-pay. Tapi terlalu banyak

korban yang dipecahkan, dendam itu tidak bisa dipadamkan. tentu

akan berakibat panjang.

Kini keadaannya jauh berbeda, tanpa membunuh anak murid

Hoa-san-pay dan Bu tong pay. Ie Lip Tiong berhasil mencari

kebebasannya.

Ie Lip Tiong adalah tokoh cerdik pandai yang luar biasa. Manusia

nomor satu yang belum pernah mendapat tandingan.

It kiam tin bu lim Wie Tauw memang luar biasa! Ie Lip Tiong

memang luar biasa !

Atas prestasi2 yang sudah diperlihatkan oleh Ie Lip Tiong, maka,

Hong lay Sian ong menyerahkan kedudukan Bengcu Su hay tong

sim beng kepada Duta ini. Dia adalah calon Istimewa, ini terjadi

diakhir cerita.

Iklan

~Semoga Postingannya Bermanfaat. Silahkan meninggalkan komentar walaupun hanya sepatah kata~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s