Sayap-Sayap Yang Terkembang (Jilid 46 – 55)

New Picture (3s)

Sayap-Sayap Yang Terkembang

Jilid 46 – 55

Karya : S.H. Mintardja

Jilid 46

KI TUNGGULPUN kemudian telah menarik senjatanya pula. Sebuah luwuk yang panjang. Pada tangkainya terdapat ukiran yang dihias dengan rambut yang Kasadha mengira rambut itu tentu rambut manusia, sebagaimana sering dilihat sebelumnya, bahwa rambut manusia memberikan kebanggaan tersendiri kepada pemiliknya. Baca lebih lanjut

Sayap-Sayap Yang Terkembang (Jilid 41 – 50)

New Picture (3s)

Sayap-Sayap Yang Terkembang

Jilid 41 – 50

Karya : S.H. Mintardja

Jilid 41

MESKIPUN belum dikatakan, tetapi Risang telah dapat menangkap maksud Sumbaga. Sumbaga yang sakit hati itu ingin menunjukkan kepadanya, bahwa ia akan dapat mengalahkan Risang dalam olah kanuragan. Baca lebih lanjut

Sayap-Sayap Yang Terkembang (Jilid 31 – 40)

New Picture (3s)

Sayap-Sayap Yang Terkembang

Jilid 31 – 40

Karya : S.H. Mintarja

 

Jilid 31

KEDUANYA kemudian telah berjongkok disamping tubuh prajurit yang terbunuh itu. Bahkan kemudian mereka mengenali siapa yang mati itu.

“Pinta. Bukankah ini Pinta?“ berteriak yang seorang.

“Ya. Pinta. Baru setengah bulan ia datang dari Demak dan bertugas pada jajaran keprajuritan Pajang,“ sahut yang lain.

“Tadi pagi kami masih bergurau bersama,“ desis yang lain.

Kawannya tidak menjawab. Wajahnya menjadi merah seperti darah. Kemarahannya tidak lagi tertahankan melihat seorang kawannya mati terbunuh dengan luka didadanya menembus jantung.

Keduanya kemudian berdiri tegak memandang kelima orang yang ada di pategalan itu. Dengan geram ia bertanya, “Siapa yang telah membunuhnya?”

Barata termangu-mangu. Jika ia mengatakan bahwa keempat orang itulah yang membunuh, maka keempat orang itu tentu akan mengalami nasib buruk. Apalagi jika kedua prajurit itu memiliki kelebihan dari kawannya yang terbunuh, yang hanya seorang diri. Apalagi keempat orang itu sudah menjadi semakin lemah karena darah yang mengalir ditubuh mereka.

Namun, Barata terkejut seperti disengat lebah ditengkuknya. Salah seorang dari keempat orang itulah yang kemudian menjawab hampir berteriak, “Orang muda itulah yang telah membunuhnya. Justru karena prajurit itu berusaha melindungi kami. Sekarang, kami tidak berdaya menghadapinya. Setelah prajurit itu, maka kamilah yang akan mati seorang demi seorang. Kami telah terluka semuanya sehingga kami benar-benar tidak berdaya.”

Kedua prajurit yang marah itu begitu cepat percaya. Kemarahannya agaknya telah mengaburkan penalarannya yang bening. Apalagi prajurit yang mati itu adalah kawan mereka bukan saja dari kelompok yang sama, tetapi mereka sering melakukan langkah-langkah bersama, meskipun langkah-langkah yang sering mereka lakukan itu sebenarnya melanggar paugeran. Sehingga dengan demikian maka kedua orang prajurit itu benar-benar menganggap kawannya yang terbunuh itu senasib.

Karena itu, maka keduanya telah maju selangkah demi selangkah mendekati Barata. Dengan nada geram seorang diantaranya bertanya, “Anak muda, kenapa kau telah membunuh kawanku?”

Barata memang menjadi bingung sejenak. Ia memang hampir berteriak marah dan mengatakan bahwa keempat orang itulah yang telah membunuh prajurit itu. Tetapi niat itu diurungkannya.

“Apakah kau bisu, tuli atau kau juga dengan sengaja menghina kami?“ bertanya prajurit itu.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia telah menjawab, “Ki Sanak. Apakah kalian juga berasal dari Demak seperti kawanmu yang terbunuh itu?”

“Aku berasal dari Demak. Aku mendapat tugas untuk berada dalam jajaran keprajuritan Pajang.“ jawab kawannya. Namun prajurit yang pertama justru menjawab, “Aku sejak semula adalah prajurit Pajang.”

“Jadi tugas prajurit Pajang sekarang telah berubah?“ bertanya Barata.

“Kenapa?“ bertanya prajurit yang memang berasal dari Pajang itu, “tugas kami adalah melindungi rakyat dari tindakan sewenang-wenang. Kenapa kau akan membunuh keempat orang itu, dan bahkan kau telah berani membunuh seorang prajurit yang akan melindunginya?”

“Ketahuilah,“ jawab Barata, “kawanmu itu telah keluar dari harkat dan martabat seorang prajurit. Ia telah mengganggu rakyat Pajang terutama di padesaan. Ia telah mengambil lembu, kambing dan bahkan kuda. Bukankah prajurit Pajang tidak mendapat tugas untuk mengambil pajak karena sudah ada petugasnya sendiri? Tetapi kawanmu itu telah melakukannya.”

“Cukup,“ teriak prajurit itu, “kau telah memfitnah pula, apakah kau sadar, hukuman apa yang dapat kau terima?”

“Apakah kau akan membawa aku kepada pimpinanmu atau kepada seorang petugas yang berhak mengadili?“ bertanya Barata.

“Persetan kau. Aku bunuh kau disini. Kau telah membunuh seorang prajurit,“ geram prajurit itu.

Barata termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Apakah sudah seharusnya kau menghukum langsung seorang yang bersalah?”

“Apakah kau sudah mendapat wewenang untuk membunuh seorang prajurit? Prajurit yang terbunuh itu adalah sahabatku, bukan saja sesama prajurit. Karena itu, maka aku akan membalaskan kematiannya langsung,“ jawab prajurit itu.

“Kau kira seseorang yang menghadapi kematian akan begitu saja menyerah? Selama masih ada kemungkinan untuk menyelamatkan diri, maka aku akan melindungi diriku sendiri,“ berkata Barata.

“Kau akan digantung di alun-alun. Dengan sikapmu itu, jiku memang tidak akan membunuhmu. Aku akan menyeretmu dan menyetahkanmu kepada pemimpinku dan akan meneruskan perkaramu. Kau telah berusaha membunuh empat orang yang tidak bersalah ini. Kemudian membunuh seorang prajurit yang akan melindunginya Sekarang kau melawan kami berdua yang akan menangkapmu. Jika kami membunuhmu disini, maka kau akaln merasa sangat beruntung. Karena sebaiknya kau digantung di alun-alun atau bahkan dihukum picis,“ geram salah seorang dari prajurit itu.

“Bersiaplah untuk mengalami nasib buruk itu,“ berkata prajurit yang lain, “tetapi jika dalam perlawananmu terhadap kami berdua kau terbunuh, bukan salah kami. Orang-orang ini akan menjadi saksi.”

Barata memandang keempat orang itu dengan tatapan mata buram. Anak muda itu memang menjadi sangat kecewa terhadap mereka. Tetapi Barata tidak sampai hati untuk membebankan kesalahan atas kematian prajurit itu kepada mereka.

Sementara itu, keempat orang itu memang menjadi termangu-mangu. Mereka menjadi heran, bahwa anak muda itu sama sekali tidak membela diri atas tuduhan yang mereka berikan. Bahkan terasa usaha anak muda itu untuk melindungi keselamatan mereka.

Dalam pada itu, kedua orang prajurit yang marah itu sudah bersiap untuk menangkap Barata. Menangkap hidup atau mati. Agaknya mereka justru mengurungkan keinginannya untuk membunuh karena kematian bagi pembunuh kawannya itu akan menjadi hukuman yang terlalu ringan. Kedua orang itu ingin memberikan hukuman yang lebih berat dari mati. Sakit dan penghinaan menjelang kematiannya.

Namun Baratapun telah bersiap pula. Ia sadar, bahwa melawan kedua orang prajurit itu tentu lebih berat daripada melawan empat orang yang justru telah menuduhnya membunuh prajurit yang terbaring itu.

Sejenak kemudian, maka kedua orang prajurit itupun telah mulai menyerang dari arah yang berbeda. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan.

Namun Barata bukannya orang kebanyakan dalam olah kanuragan. Ia adalah bekas seorang prajurit Pajang yang dikagumi karena kemampuannya. Bahkan seorang anak muda yang lain, yang memiliki kemampuan yang seimbang telah diangkat menjadi seorang Lurah Penatus meskipun baru ditetapkan sebagai pemangku jabatan itu.

Dengan demikian, maka Barata tidak segera terdesak oleh prajurit itu. Bahkan pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit.

Paraprajurit itu memang memiliki kemampuan lebih tinggi dari keempat orang padukuhan yang telah membunuh seorang prajurit di pategalan. Karena itu, maka Barata harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan dirinya.

Namun dalam pada itu, Barata masih saja dicengkam oleh kebimbangan. Ia sama sekali tidak ingin membunuh prajurit-prajurit itu. Tetapi iapun tidak ingin membiarkan keempat orang padukuhan itu diketahui dan kemudian mendapat hukuman. Namun demikian Barata juga tidak sependapat dan tidak membenarkan sikap keempat orang yang menghakimi sendiri prajurit yang melanggar paugeran itu, sementara itu prajurit itupun memang pantas mendapat hukuman karena telah merampok milik orang-orang padukuhan.

Kebimbangan itu telah membuat Barata kadang-kadang, kehilangan pengamatannya atas lawan-lawannya, sehingga beberapa kali ia menjadi terkejut karena serangan-serangan yang hampir menyentuhnya.

Dengan meningkatkan kemampuannya, Barata memang berhasil mengatasi desakan kedua lawannya. Bahkan pedangnya yang bergerak cepat mampu sekali-sekali mendesak kedua lawannya untuk berloncatan mundur mengambil jarak.

Namun kedua prajurit itupun telah meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan seorang diantara kedua orang itu sempat menggeram, “Dimana kau belajar ilmu kanuragan anak muda, sehingga kau mampu bertahan beberapa lama menghadapi kami berdua?”

Barata tidak menjawab. Tetapi ia memang menjadi semakin tangkas. Berloncatan dengan cepatnya. Sedangkan pedangnya terayun-ayun mendebarkan.

Menurut pengamatan Barata kemudian, prajurit yang datang dari Demak itu memiliki kemampuan yang lebih baik dari prajurit Pajang. Bahkan sebagai bekas prajurit Pajang pula Barata mengenal beberapa watak dan sifat ilmu prajurit itu, yang nampaknya ia tidak berbekal atau sedikit membawa bekal sebelum ia memasuki dunia keprajuritan. Agaknya ia memasuki dunia keprajuritan sebelum penyaringan menjadi semakin ketat, sehingga dengan bekal yang sedikit, namun dengan kemungkinan jasmaniah yang baik, seseorang dapat diterima menjadi seorang prajurit.

Namun prajurit yang mengaku datang dari Demak itu memiliki jenis ilmu kanuragan yang lebih rumit. Bukan sekedar patokan-patokan tata gerak yang cukup memadai bagi seorang prajurit yang bertempur dalam gelar. Tetapi prajurit dari Demak itu mampu menyerang dengan cepat dan bahkan serangan-serangan ganda.

Beruntunglah Barata telah dipersiapkan dengan masak untuk mewarisi ilmu yang jarang ada duanya, sehingga dengan demikian maka Barata masih mampu mengimbangi, bahkan mengatasi kedua orang prajurit itu.

Serangan-serangan yang cepat dari prajurit Demak itu masih mampu dielakkannya. Bahkan sekaligus menyerang kembali dengan putaran-putaran langkah yang mengejutkan. Sambaran pedang prajurit dari Demak itu sekali-sekali sengaja tidak dibiarkan lewat dengan mengelakkannya, namun Barata telah mencoba membenturnya.

Dengan benturan-benturan itu Barata dapat menjajagi bahwa kemampuan lawannya masih akan mampu diatasinya.

Pertempuran itu semakin lama memang menjadi semakin cepat. Kedua orang prajurit yang gagal mengalahkan dan apalagi menangkap lawannya itu menjadi gelisah. Keduanya merasa bahwa anak muda itu memang memiliki kemampuan yang tinggi.

Yang kemudian terjadi adalah justru Barata mulai mendesak lawannya. Serangan prajurit yang datang dari Demak itu, seolah-olah sudah dapat dibaca arah dan sasarannya sehingga dengan demikian maka Barata selalu dapat menghindarinya atau menangkisnya. Sementara itu, prajurit Pajang itu justru mulai mengalami kesulitan. Ujung pedang Barata rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan kulitnya, bahkan rasa-rasanya seperti seekor nyamuk yang mulai terdengar desingnya ditelinganya.

Ketika prajurit yang datang dari Demak itu meloncat dengan pedang terjulur kearah dada Barata, maka Barata sempat memiringkan tubuhnya. Tetapi prajurit itu tiba-tiba telah bergeser. Pedangnya justru menggeliat dan menebas mendatar. Barata masih sempat meloncat surut sambil merendah. Pedang yang terayun menebas mendatar itu meluncur diatas kepalanya yang menunduk. Sementara itu, prajurit yang lain telah meloncat pula sambil menjulurkan pedangnya.

Barata dengan tangkasnya telah menghindar. Ia justru menjatuhkan dirinya dan berguling sekali. Dengan a tangkasnya ia meloncat bangkit.

Namun lawannya yang datang dari Demak itu cukup tangkas pula. Demikian Barata tegak, maka ujung pedangnya telah memburunya, langsung mengarah ke jantung.

Barata tidak menghindarinya. Tetapi dengan cepat ia telah menangkis serangan itu. Dengan pedangnya Barata menepis pedang yang terjulur itu menepi. Demikian padang itu berkisar, maka dengan serta merta, Barata meloncat menyamping. Satu kakinya terjulur lurus ke lambung lawannya.

Prajurit yang sedang berusaha menguasai pedangnya itu tidak sempat mengelak dan tidak sempat menangkis. Serangan kaki Barata yang keras itu telah mendorongnya sehingga sulit baginya untuk mempertahankan keseimbangannya.

Prajurit itulah yang kemudian jatuh terguling. Namun berbeda dengan Barata yang sengaja menjatuhkan dirinya. Tetapi prajurit itu ternyata tangkas pula. Iapun dengan sigapnya segera bangkit berdiri dengan, pedang yang menyilang didada siap menghadapi segala kemungkinan.

Namun Barata tidak sempat memburunya. Lawannya yang lain. telah meloncat menyerangnya pula. Demikian cepatnya, sehingga serangan itu telah mendorong Barata untuk bergerak cepat pula.

Tetapi dengan demikian, maka Barata kurang dapat mengendalikan dirinya. Ketika ia menangkis serangan lawannya itu dan memutar pedangnya, maka hampir saja lawannya kehilangan senjatanya. Namun demikian perhatiannya pada senjatanya yang hampir terlepas itu, pedang Barata telah bergetar mendatar.

Terdengar prajurit itu mengaduh tertahan. Sebuah goresan ternyata telah mengoyak kulitnya pada lengannya. Tidak terlalu dalam. Tetapi selain bajunya yang juga terkoyak, maka darahpun mulai mengalir.

Prajurit itu kemudian menggeram marah. Wajahnya menjadi merah seperti bara. Dengan geram ia berkata, “Kau akan menyesal nanti anak iblis.”

Barata mundur selangkah. Ia melihat luka ditangan prajurit itu. Sementara prajurit yang lainpun menjadi semakin garang.

“Kau pantas dihukum picis sampai mati,“ geram prajurit itu.

Barata tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, keempat orang padukuhan itu menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka tidak tahu, siapakah yang diharapkan untuk menang.

Mereka tidak ingin kedua orang prajurit itu kalah. Mereka tidak yakin apakah anak muda itu tidak marah kepada mereka dan benar-benar akan membunuh mereka. Sementara itu, merekapun tidak ingin anak muda itu terbunuh. Jika demikian, maka mereka akan merasa menjadi sebab kematian anak muda yang sekilas nampak justru melindungi mereka.

Keempat orang itu memang menyesal, bahwa mereka telah bersikap kasar terhadap anak muda yang ternyata memang tidak berniat buruk. Bahkan mereka benar-benar, akan membunuhnya untuk menyelamatkan diri mereka karena telah membunuh seorang prajurit.

Selagi keempat orang itu termangu-mangu, maka mereka telah dikejutkan bahwa prajurit yang seorang lagi itupun telah mengaduh sambil mengumpat kasar. Pedang Barata ternyata telah menyentuh pundaknya, sehingga kedua orang prajurit itu benar-benar telah terluka.

Dalam pada itu, ketika kedua orang prajurit itu merasa tidak akan segera mampu menangkap anak muda itu, maka seorang diantara mereka berteriak kepada keempat orang padukuhan itu, “Bantu kami menangkap iblis kecil itu. Jika iblis itu mendapat kesempatan, tentu benar-benar akan membunuh kalian. Karena itu daripada kalian akan dibunuhnya, maka lebih baik kita menangkapnya. Jika mungkin tertangkap hidup agar iblis itu sempat mendapat hukuman picis di simpang empat jalan raya di Pajang.”

Keempat orang itu menjadi semakin bimbang. Mereka benar-benar tidak mengerti apa yang sebaiknya harus mereka lakukan.

Yang juga menjadi bingung adalah Barata. Ia sama sekali tidak berniat untuk membunuh. Namun tiba-tiba saja ia telah tersudut dalam satu permusuhan yang tidak diketahui ujung pangkalnya. Ia telah dihadapkan kepada kemungkinan untuk hidup atau mati.

Karena keempat orang padukuhan itu masih belum bergerak, maka prajurit itu sekali lagi berteriak, “Cepat. Jangan menunggu lagi. Kita selesaikan tugas ini untuk membalaskan kematian prajurit yang telah mencoba melindungi kalian itu.”

Keempat orang itu bagaikan orang-orang yang terbius. Mereka tiba-tiba saja telah bergerak sambil memutar senjata mereka meskipun nampak tanpa getaran kehendak sama sekali.

Untuk beberapa saat Barata masih bertempur. Tetapi ketika keempat orang itu mulai berpencar, maka Barata telah mengambil sikap yang paling mungkin dilakukan.

“Aku harus menyingkir dari pategalan ini. Jika kedua orang prajurit itu mengejarku, apaboleh buat,“ berkata Barata didalam hatinya. Ia berharap bahwa dengan demikian, maka keempat orang itu akan dapat menyingkir. Sebab, jika Barata harus bertempur melawan enam orang itu, maka mungkin ia akan dapat kehilangan kendali akan dirinva sendiri.

“Marilah,“ prajurit itu masih berteriak, “jangan takut. Kami berdua akan menyelesaikan segala sesuatunya.”

Ketika keempat orang yang kehilangan kesadaran diri itu bergerak maju, maka Baratalah yang telah bergerak dengan cepat sehingga mengejutkan keempat orang itu. Dengan satu ayunan pedang kemudian dengan putaran yang cepat, Barata telah berhasil melemparkan dua senjata diantara keempat orang padukuhan itu. Demikian cepatnya sehingga orang-orang itu tidak segera menyadari apa yang terjadi.

Tetapi Barata tidak meloncat maju dan melukainya, tetapi ia telah mengambil sikap yang tidak diduga-duga. Barata justru meloncat mundur dan kemudian dengan cepat, berlari meninggalkan tempat itu.

“Jangan lepaskan iblis kecil itu,“ teriak seorang diantara kedua prajurit itu.

Kedua prajurit itupun segera mengejarnya. Dua orang diantara orang-orang padukuhan itu juga ikut berlari. Namun hanya beberapa langkah. Merekapun segera berhenti dengan nafas terengah-engah. Sementara itu, kedua orang prajurit itulah yang mengejar Barata sampai keluar pategalan.

Namun Barata seperti hilang dari pandangan mata mereka. Meskipun mereka kemudian mencari jejaknya kian kemari, tetapi keduanya tidak menemukannya. Apalagi keduanya harus memperhitungkan pula kemampuan anak muda yang melarikan diri itu.

Karena itu, maka keduanyapun segera memutuskan untuk kembali ke tengah-tengah pategalan, menjumpai keempat orang yang kebingungan itu.

Sebenarnya keempat orang itu sudah mengambil keputusan setelah berdebat beberapa saat untuk melarikan diri. Mereka tidak mengira, bahwa kedua orang prajurit itu begitu cepatnya kembali. Namun niat mereka terpaksa harus diurungkan.

“Kami kehilangan jejaknya,“ geram salah seorang diantara kedua orang prajurit itu.

Parapenghuni padepokan yang telah membunuh seorang prajurit itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi atas mereka kemudian.

Tetapi mereka merasa beruntung bahwa kedua orang prajurit itu masih saja belum tahu, bahwa mereka berempatlah yang telah membunuh seorang prajurit yang datang sebelum keduanya.

Yang kemudian dilakukan oleh kedua prajurit itu adalah memerintahkan keempat orang padukuhan itu untuk membawa kawannya yang terbunuh itu dan menguburkannya di kuburan.

Orang-orang padukuhan yang tidak tahu persoalannya menjadi heran. Sementara itu keempat orang yang membunuh prajurit itupun kemudian telah menjelaskan kepada tetangga-tetangganya sebagaimana dikatakannya kepada kedua orang prajurit itu.

Namun ketika penguburan itu sudah selesai, maka keempat orang itu terkejut ketika salah seorang prajurit itu bertanya, “Kenapa orang itu berusaha membunuh kalian?”

Mereka termangu-mangu sejenak. Namun yang tertua diantara mereka menjawab, “Persoalan keluarga Ki Sanak. Sebenarnya adalah persoalan pribadi antara aku dan orang itu. Persoalan yang sudah lama terjadi. Seharusnya kami sudah melupakannya. Tetapi anak itu tiba-tiba muncul lan mewakili ayahnya berusaha membunuh kami.”

Kedua prajurit itu mengangguk-angguk. Meskipun sebenarnya keduanya masih ingin tahu, kenapa mereka telah bertempur di pategalan, namun nampaknya orang-orang padukuhan itu menjadi resah. Sehingga karena itu, maka kedua orang prajurit itu menganggap bahwa kehadirannya akan membuat keresahan itu berkepanjangan.

“Baiklah,“ berkata salah seorang dari antara kedua orang prajurit itu, “kami akan kembali ke tugas kami. Kami memang sedang meronda.”

“Terima kasih,“ berkata yang tertua diantara ampat orang itu, “jika Ki Sanak berdua tidak datang, maka aku tentu sudah terbaring pula di pategalan itu.“ Namun kemudian seorang yang lain menyambung, “Ki Sanak berdua telah terluka. Apakah Ki Sanak tidak lebih dahulu beristirahat.”

“Kami telah menaburkan obat yang kami bawa. Darahnya sudah pampat,“ jawab salah seorang dari antara kedua orang prajurit itu.

Dengan demikian maka kedua orang prajurit itupun telah meninggalkan padukuhan itu. Rasa-rasanya memang ada dorongan untuk segera pergi jauh-jauh dari padukuhan itu. Kedua prajurit itu sadar sepenuhnya, bahwa kawannya yang terbunuh itu telah melakukan tindakan yang kurang terpuji sebagaimana dikatakan oleh anak muda yang berhasil melarikan diri. Bahkan kawannya yang terbunuh itu telah melakukan pemerasan beberapa kali.

Namun masih ada teka-teki yang belum terpecahkan oleh kedua orang prajurit itu. Anak muda yang berhasil melarikan diri seperti hilang begitu saja di telan bumi.

 Sambil berjalan menjauhi padukuhan itu, kedua orang prajurit Pajang itu masih juga berusaha untuk bertemu dengan anak muda yang telah melukai mereka. Meskipun mereka ragu-ragu, apakah mereka akan dapat berbuat sesuatu, atau bahkan mereka berdua akan dapat terbunuh karenanya.

Namun keduanya masih saja dicengkam oleh keinginan tahu, apakah yang sebenarnya terjadi. Sementara mereka tidak ingin terlalu lama berada diantara orang-orang padukuhan, justru karena cacat-cacat pada diri mereka dan pada kawannya yang telah terbunuh itu.

Disepanjang perjalanan, keduanya memang menjadi bimbang, apakah mereka akan memberikan laporan atau tidak tentang kawannya yang terbunuh. Jika mereka memberikan laporan, maka ada kemungkinan akan terjadi pengusutan, yang akan dapat mengungkap kesalahan-kesalahan beberapa orang prajurit yang secara pribadi telah melakukan pelanggaran-pelanggaran atas paugeran keprajuritan. Tetapi jika mereka tidak memberikan laporan, maka hilangnya seorang prajurit tentu akan menjadi persoalan. Apalagi jika kemudian terdengar berita bahwa ada seorang prajurit terbunuh disebuah padukuhan.

Sementara itu, Barata yang berhasil melepaskan diri dari pengamatan kedua orang prajurit itu ternyata masih belum meninggalkan padukuhan itu. Bahkan dari kejauhan ia berhasil mengamati kegiatan yang terjaid. Dari kejauhan Barata sempat melihat beberapa orang yang membawa prajurit yang terbunuh itu ke pekuburan. Kemudian dari kejauhan pula ia melihat kedua orang prajurit itu meninggalkan padukuhan menyusur jalan-jalan bulak.

“Tentu akan ada pengusutan,“ berkata Barata kepada diri sendiri. Namun kemudian desisnya, “Tetapi jika kedua orang prajurit itu bertindak jujur. Meskipun keempat orang itu untuk sementara sempat menghilangkan jejak pembunuhan yang mereka lakukan, namun persoalannya agaknya tidak akan berhenti.”

Untuk beberapa saat Barata merasa ragu. Namun kemudian setelah kedua prajurit itu menjadi semakin jauh, Barata telah kembali ke padukuhan itu.

“Aku harus bertemu dengan keempat orang itu,“ geram Barata. Bukan karena Barata mendendam mereka. Tetapi ia justru ingin memberitahukan bahwa persoalan itu belum selesai. Barata juga ingin meyakinkan keempat orang itu, bahwa langkah yang diambilnya salah.

Dengan bertanya kepada satu dua orang, Barata berhasil mengetahui rumah justru yang tertua diantara mereka berempat.

“Mereka memang bersaudara,“ berkata seorang yang menunjukkan rumah itu, “mereka hampir terbunuh oleh seseorang. Prajurit yang berusaha menolongnya justru yang telah terbunuh oleh orang itu.”

“Mereka kakak beradik?“ bertanya Barata.

“Ya. Tetapi seorang diantara mereka adalah adik sepupu,“ jawab orang itu. Namun tiba-tiba nampak dahi orang itu berkerut, “Aku tidak tahu banyak tentang peristiwa itu.”

“Tetapi kenapa orang-orang padukuhan ini tidak senang terhadap prajurit Pajang termasuk yang terbunuh itu?“ bertanya Barata.

“Siapa yang mengatakannya? Prajurit Pajang adalah pelindung kami justru dalam keadaan yang rumit seperti ini,“ jawab orang itu.

“Tetapi prajurit itu sering mengambil ternak milik penghuni padukuhan ini,“ berkata Barata kemudian.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Katanya, “Satu dua orang prajurit memang melakukan hal seperti itu. Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya. Mungkin kau petugas sandi yang ingin mendapat bahan-bahan laporan tentang para prajurit untuk mengambil langkah-langkah penertiban. Tetapi mungkin kau orang lain sama sekali. Namun segala sesuatunya tergantung sekali kepada kepribadian manusianya. Aku yakin bahwa tingkah laku itu bukan tingkah laku prajurit Pajang secara umum.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Terima kasih Ki Sanak. Jarang ada orang yang terbuka seperti Ki Sanak.”

“Mudah-mudahan lidahku tidak menjerat leherku sendiri,“ sahut orang itu.

Baratapun kemudian telah meninggalkan orang itu. Demikian Barata melangkah pergi, orang itupun dengan tergesa-gesa telah pergi pula. Ia yakin, Barata tidak akan dapat menemukannya jika anak muda itu memerlukannya. Apalagi tidak ada orang lain yang dapat memberikan keterangan tentang dirinya, karena tidak ada orang lain yang melihatnya.

Sementara itu Barata telah melangkah menuju ke-rumah orang yang tertua diantara keempat orang itu. Tanpa memberikan salam, Barata langsung melangkah masuk setelah mendorong pintu lereg yang ternyata tidak diselarak.

Ternyata keempat orang itu masih berkumpul diruang dalam. Demikian mereka melihat Barata, maka mereka-pun terkejut bukan kepalang. Serentak mereka berempat berdiri dengan wajah yang tegang.

Barata menutup pintu lereg itu kembali. Dengan tajamnya ia memandangi keempat orang itu berganti-ganti.

Orang tertua diantara keempat orang itu menggeram, “Kau mendendam kepada kami? Kau jangan berlaku bodoh. Kami berada di padukuhan kami. Dengan satu isyarat, maka seluruh isi padukuhan ini akan keluar dari rumahnya. Kedua orang prajurit itupun akan segera kembali bersama kawan-kawannya.”

“Aku hanya memerlukan waktu sekejap untuk membunuh kalian berempat. Sebelum kalian sempat memberikan isyarat apapun, jika aku berniat, maka kalian tentu sudah mati di ruang ini,“ berkata Barata, “tetapi aku datang tidak untuk membunuh. Sejak semula aku tidak ingin membunuh. Jika hal itu ingin aku lakukan, maka aku tentu sudah membunuh kalian berempat serta kedua orang prajurit itu. Kau harus menyadari, bahwa kemampuanku melampui kemampuan semua orang di padukuhan ini meskipun mereka bertempur bersama-sama. Dalam satu hari, aku dapat menghabiskan orang-orang sepadukuhan ini. Jika itu terjadi, maka kalian berempatlah yang bertanggung jawab.”

Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Ketika Barata melangkah maju, maka keempat orang itu dengan serta merta telah menarik senjata mereka masing-masing sambil melangkah surut.

Tetapi Barata seakan-akan tidak menghiraukannya. Dengan tenang ia duduk di amben besar satu-satunya yang ada diruang itu selain geledeg bambu dan ajug-ajug lampu minyak.

“Duduklah,“ berkata Barata.

Keempat orang itu menjadi ragu-ragu.

“Kalian selalu bersikap permusuhan sejak kita bertemu. Sejak aku hadir dipategalan kau sudah menantang untuk membunuhku karena aku melihat kalian membunuh seorang prajurit. Kemudian ketika datang kedua orang prajurit itu, kalian telah memutar balikkan kenyataan dengan menuduh aku telah membunuh prajurit yang kau sebut ingin melindungimu itu. Dan sekarang kalian telah mencabut senjata-senjata kalian,“ berkata Barata.

Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Sementara Barata berkata selanjutnya, “Apakah kau dapat membayangkan akibatnya jika aku berkeras mengatakan bahwa kaulah yang telah membunuh prajurit itu, karena kau dan saudara-saudaramu telah menuduh prajurit itu merampok ternak milik kalian? Aku akan dapat meyakinkan kedua orang prajurit itu, bahwa kalianlah yang bersalah. Bukan aku.”

Orang-orang itu tertunduk diam. Sementara Barata berkata, “Duduklah.”

Seperti dicengkam oleh kekuatan diluar kemampuannya untuk menolak, maka keempat orang itupun kemudian telah duduk di amben itu pula.

“Nampaknya kalian telah mengobati luka-luka kalian,“ desis Barata.

“Ya,“ jawab yang tertua singkat.

“Tetapi lukamu tidak separah luka perasaanku,“ berkata Barata kemudian.

Keempat orang itu tertunduk dalam-dalam. Senjata mereka masih berada ditangam Tetapi mereka seakan-akan sudah tidak mampu lagi untuk mengangkatnya.

“Kau tahu akibatnya, seandainya aku tidak mampu mempertahankan diri terhadap kedua orang prajurit itu. Bahkan sebelumnya terhadap kemarahan kalian yang kehilangan akal. Padahal kalian tahu bahwa aku tidak bersalah sama sekali. Aku hanya kebetulan lewat, mendengar hiruk pikuk dan menjenguknya,“ berkata Barata selanjutnya.

Keempat orang itu masih saja menunduk. Namun mereka mulai sempat membuat penilaian atas tingkah laku mereka.

“Jika aku mati, maka kalian telah membunuh orang yang tidak bersalah sama sekali,“ geram Barata.

Kecemasan semakin mencengkam jantung keempat orang itu. Namun Barata kemudian berkata, “Aku datang tidak untuk membalas dendam. Aku datang untuk memberi peringatan kepada kalian, bahwa persoalan yang kalian hadapi belum tuntas. Terserah kepada kalian, bagaimana kalian akan mengatasi persoalan itu. Aku sudah mengekang diriku sendiri untuk tidak membantah ketika kau tuduh aku membunuh prajurit yang telah kalian bunuh itu.”

Dengan nada rendah, orang tertua diantara keempat orang itu berkata, “Kami mohon maaf.”

“Mudah-mudahan kedua orang prajurit itu tidak meneruskan usahanya untuk mengetahui kenapa kawannya terbunuh disini dan langsung dapat mempercayai keterangan kalian tentang aku. Tetapi jika tumbuh dugaan yang lain, maka kalian harus siap menghadapinya. Setidak-tidaknya kalian harus siap dengan keterangan yang meyakinkan. Aku sendiri akan melanjutkan perjalanan ke arah yang tidak perlu kalian ketahui,“ berkata Barata.

“Apakah kami tidak boleh tahu siapakah anak muda sebenarnya?“ bertanya orang yang tertua.

“Tidak ada gunanya. Aku tidak mau terlibat lagi persoalan yang tidak aku ketahui ujung pangkalnya ini. Karena jika aku sekali lagi terlibat, mungkin aku harus membunuh seseorang tanpa aku kehendaki,“ jawab Barata.

Keempat orang itu mengangguk-angguk. Sementara Barata berkata, “Yang perlu kalian ketahui, cara kalian dengan membunuh prajurit itu tidak menguntungkan sama sekali apapun alasan kalian.”

“Kami tidak melihat jalan lain,“ berkata yang tertua, “orang itu telah melakukan banyak sekali kesalahan di padukuhan ini. Sebenarnyalah bahwa ia tidak saja ingin mengambil kuda kami. Tetapi orang itu sudah mulai bertanya-tanya tentang gadis kemanakanku. Suatu ketika ia akan dapat mengambilnya sebagaimana ia mengambil lembu kami, kambing-kambing kami dan kuda kami. Bukan saja milik kami berempat, tetapi milik orang-orang padukuhan ini. Kematiannya tentu disambut dengan perasaan bersukur oleh orang-orang padukuhan ini.”

“Tetapi apakah orang-orang padukuhan ini dapat mengungkapkan perasaan sukurnya? Apakah mereka juga bersedia ikut bertanggung jawab seandainya kematian prajurit itu benar-benar diusut?“ bertanya Barata.

Keempat orang itu termangu-mangu.

“Dengar. Tidak semua prajurit baik yang berasal dari Demak maupun yang memang berasal dari Pajang jahat atau baik. Seperti juga kebanyakan orang. Ada yang baik dan ada yang tidak baik. Karena itu, kalian dapat melihat suasana dan mengambil langkah yang tidak menyimpang dari paugeran. Jika sekali lagi kalian membunuh, maka kalian harus melakukannya lagi dan lagi untuk menutupi perbuatan yang pernah kalian lakukan. Karena itu, jika kalian mampu menyembunyikan peristiwa ini, maka sebaiknya kalian tidak boleh melakukannya lagi. Bahkan seandainya hal ini diketahui oleh para petugas, maka sebaiknya kalian berterus terang. Mungkin kalian akan dihukum. Tetapi setelah itu kalian tidak akan merasa mempunyai hutang lagi kepada siapapun,“ berkata Barata. Lalu katanya, “Seluruh padukuhan akan dapat menjadi saksi tanpa harus ikut bertanggung jawab. Tetapi mereka akan dapat meringankan hukuman kalian.”

“Tetapi apakah aku tidak akan jatuh ketangan prajurit-prajurit yang mendendam?“ bertanya yang tertua diantara mereka.

“Pergilah ke Pajang. Mintalah petunjuk kepada seorang Lurah Prajurit muda yang bernama Kasadha. Ia akan membantumu,“ berkata Barata yang memberi sedikit ancar-ancar letak barak Kasadha di Pajang. Namun kemudian ia berpesan, “Tetapi kau tidak usah menyebut tentang aku. Kau tidak usah membawa-bawa aku lagi, agar aku tidak terlibat kedalam persoalan kalian, karena bagaimanapun juga kalian telah pernah melukai hatiku.”

“Sekali lagi kami mohon maaf,“ berkata yang tertua diantara mereka.

“Sudahlah. Aku akan melupakannya. Tetapi ingat, kalian jangan melakukan kesalahan lagi,“ berkata Barata.

“Terima kasih anak muda,“ jawab yang tertua, “aku akan memikirkan kemungkinan untuk pergi ke Pajang dan menemui Ki Lurah Kasadha sebagaimana yang anak muda katakan.”

“Bagus,“ berkata Barata, “kau tentu akan mendapat petunjuk daripadanya, jia kau bersikap jujur dan berkata terus-terang sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya.”

“Aku mengerti anak muda,“ jawab orang itu.

Baratapun kemudian telah minta diri. Ia sudah tertahan terlalu lama diperjalanan. Ia harus segera meninggalkan tempat itu sebelum kedua orang prajurit itu mengambil langkah-langkah yang tidak dapat diduga sebelumnya.

Sejenak kemudian Barata telah meninggalkan padukuhan itu. Ia telah menempuh perjalanannya kembali menuju ke Tanah Perdikan Sembojan yang cukup jauh. Ketika ia masih berada disekitar padukuhan itu, ia masih selalu berhati-hati agar ia tidak bertemu lagi dengan kedua orang prajurit yang telah dilukainya.

Sementara itu, langit telah menjadi buram. Ternyata senja telah turun. Dipadukuhan dihadapan langkahnya, Barata melihat obor telah menyala di regol padukuhan. Regol yang nampak rapi dan terawat baik.

Ketika Barata melewati regol itu, ia melihat bahwa regol itu baru saja diperbaiki. Sementara dua obor biji jarak menyala disebelah menyebelah.

Demikian Barata memasuki padukuhan itu, maka rasa-rasanya malam sudah menjadi semakin dalam. Di dalam padukuhan yang banyak terdapat oncor-oneor biji jarak diregol-regol halaman itu suasananya justru seakan-akan terasa sudah menjadi semakin malam.

Tetapi Barata masih berniat untuk berjalan terus. Ia sudah setengah hari tertahan, sehingga rasa-rasanya ia sudah menjadi semakin lama diperjalanan menuju ke Tanah Perdikannya setelah terhenti dirumah Ki Lurah Dipayuda.

Dipadukuhan berikutnya Barata sempat melewati sebuah rumah yang sedang mengadakan peralatan. Rumah yang cukup besar itu halamannya menjadi terang benderang. Agaknya ada pertunjukan pula di pendapa, sehingga suasananya menjadi semakin meriah. Bahkan di pinggir jalan di depan rumah itu terdapat beberapa orang yang berjualan diatas tambir dan bakul. Anak-anaklah yang lebih banyak membelinya. Pertunjukkan hanya menarik baginya jika terdengar suara gamelan yang menggeletar. Ketika kemudian gamelan menjadi rep, anak-anak itu telah berlari-lari lagi di halaman dan turun kejalan untuk membeli makanan.

Namun menurut pengamatannya yang sepintas, Barata mengerti bahwa padukuhan itu bukan padukuhan yang tenang. Agaknya di padukuhan itu sering terdapat gangguan-gangguan yang meresahkan.

Ketika ia melewati jalan didepan rumah yang sedang mengadakan peralatan itu, ia sempat melihat beberapa orang bersenjata yang berjaga-jaga. Tidak saja di regol. Tetapi beberapa orang berjalan hilir mudik di sepanjang jalan didepan rumah itu. Orang-orang itu nampaknya selalu mengawasi orang-orang yang sedang lewat. Bahkan dua orang sempat mengikuti Barata beberapa langkah. Tetapi karena Barata tidak berhenti dan seakan-akan tidak berkepentingan dengan rumah itu, maka kedua orang itu membiarkannya lewat.

Namun dalam pada itu, perasaan Barata memang telah terganggu. Ia mulai menduga-duga, apakah yang menyebabkan suasana padukuhan itu terasa resah.

“Tentu bukan karena ulah para prajurit,“ berkata Barata kepada diri sendiri, “seandainya keresahan itu ditimbulkan oleh para prajurit, maka betapapun kuatnya kemampuan padukuhan itu, mereka tidak akan berani menghadapinya dengan terang-terangan seperti beberapa orang bersenjata disekitar tempat peralatan itu.”

Karena itu, maka kesimpulan Barata adalah, bahwa kelompok-kelompok perusuh telah memanfaatkan keadaan yang belum mapan benar untuk menggali keuntungan sebanyak-banyaknya. Mereka tentu telah melakukan perampokan-perampokan di padukuhan-padukuhan. Agaknya mereka sering mendatangi pula tempat orang yang sedang mengadakan peralatan, sehingga orang yang sedang mengadakan peralatan yang baru saja dilewatinya telah minta tetangga-tetangganya atau bahkan juga termasuk orang-orang upahan untuk menjaga dan melindungi peralatan yang sedang diselenggarakan.

“Nampaknya orang itu cukup kaya,“ berkata Barata didalam hatinya, “sehingga mampu mengupah beberapa orang untuk berjaga-jaga.”

Sementara itu, malam menjadi bertambah malam. Barata masih saja berjalan didalam usapan embun yang mulai turun. Barata memang tidak berjalan terlalu cepat, karena sebenarnyalah ia mulai merasa letih justru karena ia harus bertempur melawan orang-orang padukuhan yang kehilangan penalaran serta dua orang prajurit.

Baru setelah lewat tengah malam, maka Barata merasa perlu untuk berhenti. Ia ingin beristirahat barang sejenak menjelang dini hari.

Namun Barata merasa ragu untuk berhenti dan minta ijin untuk beristirahat di banjar. Jika hal itu dilakukan menjelang malam, agaknya tidak banyak pertanyaan yang diajukan kepadanya. Tetapi justru karena malam telah la rut, maka ia harus mempertimbangkan kecurigaan orang-orang padukuhan.

Karena itu, maka Barata memilih untuk bermalam di sebuah gubug yang kosong yang tidak berada tepat dipinggir jalan. Jika sebelum fajar ia meneruskan perjalanan maka pemilik gubug itu tidak akan merasa terganggu karena kehadirannya. Pemilik gubug itu biasanya baru datang ke sawah setelah matahari terbit, kecuali jika mendapat giliran mengairi sawah.

Setelah Barata yakin tidak ada orang yang melihatnya, maka Barata telah naik keatas gubug dan membaringkan dirinya yang terasa letih. Sejenak kemudian maka Baratapun telah tertidur nyenyak. Namun naluri telah membuatnya berpegang erat pada hulu pedangnya yang diletakannya disisinya,

Sebagai seorang yang terlatih, baik sebelum maupun setelah menjadi prajurit, Barata seakan-akan mampu mengatur dirinya, seberapa lama ia ingin tidur. Karena itu, maka sebelum fajar Barata memang sudah terbangun.

Namun anak muda itu terkejut ketika ia melihat seorang tua duduk disebelahnya. Demikian ia bangkit, maka Baratapun segera turun dari gubug itu sambil mengangguk hormat.

“Duduklah. Duduklah anak muda,“ berkata orang tua itu, “aku sudah agak lama duduk disini setelah membuka pematang untuk mengairi sawah. Anak muda nampak sangat letih sehingga aku tidak mengganggu ketika anak muda tidur dengan nyenyak.”

“Aku minta maaf kek, bahwa aku tidak minta ijin lebih dahulu,“ berkata Barata.

“Tidak apa-apa. Bukankah aku tidak kehilangan apa-apa jika kau tidur disini?“ jawab orang tua itu.

Dengan ragu-ragu Barata duduk. Diamatinya orang tua yang duduk bersila itu dengan saksama. Dibawah kakinya diletakkannya cangkulnya. Sebuah sabit terselip pada dinding gubug yang hanya tiga sisi dan tidak sampai keatapnya itu.

Barata memang menjadi heran. Kenapa ia tidak terbangun saat orang tua itu naik dan duduk digubug itu pula. Apalagi orang tua itu telah mengangkat kedua kakinya naik pula dan duduk bersila.

“ Ada sesuatu yang menarik pada orang tua ini,“ berkata Barata didalam hatinya. Namun ia tidak menanyakannya langsung kepada orang tua itu.

“Kau tentu sedang menempuh perjalanan panjang,“ berkata orang tua itu.

Barata mengangguk sambil menjawab, “Ya kek. Karena itu, maka semalam aku merasa sangat letih. Lewat tengah malam aku lewat dijalan sebelah. Aku tidak dapat menahan kantuk justru ketika aku melihat gubug ini. Karena itu, sebelum aku minta ijin, aku telah berani tidur di gubug ini.”

“Tidak apa-apa ngger,“ jawab orang tua itu, “kau tidak mengganggu sama sekali. Kau juga tidak merugikan aku.”

“Terima kasih kek. Sebelum matahari terbit aku ingin meneruskan perjalanan,“ berkata Barata.

“Kenapa begitu tergesa-gesa? Duduklah. Sebentar lagi anakku akan datang membawa minuman hangat. Minumlah lebih dahulu,“ berkata orang tua itu.

Tetapi Barata tidak ingin menunda perjalanannya lagi. Karena itu, maka katanya, “Aku mohon diri kek. Terima kasih atas segala kebaikan kakek.”

Orang tua itupun telah turun pula dari gubug itu. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah. Nampaknya kau tergesa-gesa. Tetapi pada kesempatan lain, jika kau tidak tergesa-gesa seperti sekarang ini, singgahlah di padepokanku.”

“Padepokan?“ bertanya Barata.

“Ya. Mungkin dapat disebut padepokan anakan. Hanya ada beberapa gubug buat anak-anakku. Maksudku anak-anak angkatku,“ berkata orang tua itu.

“Murid-murid kakek?“ bertanya Barata.

“Ah, jika aku orang berilmu, apakah itu ilmu kanuragan atau ilmu kajiwan, aku berani mengangkat satu dua orang murid. Tetapi karena aku tidak lebih dari seorang petani yang kebetulan mendapat warisan tanah yang cukup luas dari orang tuaku serta pamanku yang tidak mempunyai keturunan, maka aku telah mengangkat beberapa orang anak angkat,“ jawab orang tua itu.

Barata mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian menyadari, bahwa orang tua itu tentu pemimpin sebuah padepokan meskipun padepokan kecil. Itulah agaknya ia memiliki kemampuan untuk naik keatas gubug itu tanpa membangunkannya ketika ia tidur.

Selagi Barata termangu-mangu kakek itu berkata, “Kau lihat pohon beringin diseberang bentangan sawah ini?”

“Ya kek,“ jawab Barata sambil mengamati sebatang pohon beringin raksasa yang nampak dari kejauhan.

“Nah, beberapa langkah di belakang pohon beringin itu, terdapat sebuah gerbang. Itu adalah gerbang padepokanku,“ berkata kakek tua itu.

Hampir diluar sadarnya Barata bertanya, “Apakah nama padepokan itu kek?”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Aku tidak memberinya nama apapun juga. Tetapi tetangga-tetanggaku menyebutnya dengan namaku. Rumeksa.”

“Jadi nama kakek adalah Kiai Rumeksa dan padepokan itu disebut Padepokan Rumeksa?“ bertanya Barata.

“Begitulah anak muda,“ jawab orang tua itu, “pada kesempatan lain aku sangat mengharap kehadiranmu. Meskipun aku belum mengenalmu sebelumnya, tetapi nampak pada ujud dan sikapmu, bahwa kau menyimpan satu kelebihan dari anak muda kebanyakan.”

“Kiai memuji,“ desis Barata, “aku tidak mempunyai kelebihan apapun juga. Satu-satunya kelebihanku adalah, bahwa aku telah menempuh perjalanan yang panjang, yang belum pernah ditempuh oleh anak-anak muda yang lain.”

Orang tua itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya anak muda itu berjalan darimana ke-mana. Iapun tidak bertanya pula namanya, karena anak muda itu akan dapat mengatakan apa saja. Meskipun ia tidak berprasangka buruk terhadap Barata, tetapi nampaknya Barata tidak terlalu terbuka tentang dirinya.

Demikianlah, sejenak kemudian Barata telah meninggalkan orang tua itu. Namun ia merasa tertarik kepada padepokan kecil dibelakang pohon beringin yang nampak dari kejauhan itu. Pada satu kesempatan ia memang ingin untuk singgah barang sejenak. Tetapi selagi ia ingin segera berada di Tanah Perdikannya, maka ia tidak ingin menunda lagi perjalanannya pulang. Barata berharap bahwa siang itu ia sudah memasuki Tanah Perdikan, sehingga saat matahari turun ia sudah dapat bertemu dengan ibunya.

Di padukuhan-padukuhan berikutnya, pengaruh perang itu sendiri memang tidak begitu terasa. Ketika matahari terbit, maka Barata telah bertemu dengan orang-orang yang nampaknya akan pergi ke pasar. Bahkan bersamaan arah dengan perjalanannya, beberapa orang telah pulang dari pasar setelah menjual dagangannya. Barata sempat melihat dua orang perempuan yang membagi uang dari hasil kebun mereka yang mereka jual di pasar.

Tetapi Barata tidak tahu dimana letak pasar itu, karena ia sendiri tidak melewatinya.

Dengan langkah yang cepat Barata menyusuri jalan-jalan bulak seolah-olah ia takut terlambat. Hanya setiap kali ia memasuki padukuhan, maka ia berjalan sewajarnya, agar tidak menarik perhatian orang.

Ketika matahari semakin tinggi maka Barata mulai berkeringat. Ia telah membersihkan wajahnya di sebuah sungai kecil yang berair jernih. Namun wajah itupun kemudian telah menjadi basah pula oleh keringat yang mengembun di kening.

Menjelang tengah hari, Barata telah berhenti dise-buah kedai yang tidak begitu besar. Ketika ia masuk, maka dua tiga orang sudah ada didalamnya.

Dari pembicaraan mereka, maka Barata dapat mengetahui bahwa pengaruh perubahan pimpinan pemerintahan di Pajang tidak terlalu merisaukan mereka. Mereka tidak mengeluh karena ada beberapa orang yang dalam kedudukannya sebagai prajurit atau sebagai bebahu padukuhan bertindak sewenang-wenang serta mengambil ternak milik mereka. Yang mereka katakan adalah bahwa ketenangan agak terganggu karena gelombang kejahatan yang agak meningkat. Sementara itu para bebahu justru sedang pening memikirkan cara untuk mengatasinya.

Barata tidak terlalu banyak memperhatikan pembicaraan yang tidak dirasa penting serta tidak memberikan petunjuk keadaan kepadanya. Yang dilakukannya kemudian adalah menikmati makan dan minuman yang dipesannya.

Beberapa saat kemudian, maka Baratapun telah melanjutkan perjalanan. Matahari telah bergeser pula sementara Barata telah menjadi semakin dekat dengan tujuannya.

Ketika matahari menggapai puncak langit, maka Barata telah memasuki sebuah bulak panjang. Bulak panjang itu memang bukan tanah persawahan dari Tanah Perdikannya. Tetapi dibalik bukit-bukit kecil diujung bulak itulah terbentang Tanah Perdikan Sembojan.

Barata justru berjalan semakin cepat. Rasa-rasanya ia ingin langsung meloncat ke rumahnya di tengah-tengah Tanah Perdikan yang cukup luas itu.

Beberapa saat kemudian, Barata memang telah melewat bulak panjang itu. Berjalan di lereng bukit kecil, kemudian iapun kembali berjalan di sebuah bulak. Dan Baratapun merasa telah berada di rumah sendiri. Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan langkah tegap Barata berjalan menyusuri jalan-jalan di Tanah Perdikan itu. Ia tidak lagi dibayangi oleh kecemasan ibunya, bahwa ada orang yang dengan diam-diam ingin menyingkirkannya. Ia tidak lagi takut bahwa Puguh atau orang-orangnya akan menyerangnya dan membunuhnya, justru karena kepentingan mereka atas Tanah Perdikan itu. Setelah menjadi prajurit di Pajang, maka Barata merasa bahwa kepercayaannya kepada diri sendiri semakin meningkat.

Karena itu, maka Barata di Tanah Perdikannya sendiri tidak merasa perlu lagi untuk bersembunyi atau menyingkir atau berlindung kepada siapapun juga.

Ketika ia melewati padukuhan yang pertama dari Tanah Perdikannya, maka seseorang telah mengenalinya. Dengan serta merta orang itu telah memberikan ucapan selamat atas kedatangannya kembali ke kampung halamannya.

Demikian pula menyusul beberapa orang lain dan hal seperti itu terjadi disetiap padukuhan yang dilewatinya sehingga perjalanan Barata justru menjadi semakin lambat.

Namun mereka tidak mengenalnya dengan nama Barata. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan mengenalinya dengan namanya sendiri Risang.

Justru karena hambatan-hambatan diperjalanannya itu, maka menjelang matahari turun, Barata baru memasuki padukuhan induk. Namun di padukuhan induk, orang-orang padukuhan ternyata menjadi ramai. Berita kedatangan Barata cepat tersebar mendahului langkah kakinya yang tertahan-tahan.

Tetapi akhirnya Barata telah sampai pula kerumah-nya. Beberapa telah menghambur keluar untuk menyongsongnya. Sebelum Iswari sempat menyentuhnya, Bibilah yang telah memeluknya sambil menangis.

“Akhirnya kau kembali anakku,“ berkata Bibi disela-sela isaknya.

“Kenapa Bibi menangis?“ bertanya Risang.

“Aku takut, jika umurku tidak akan sempat menunggu kedatanganmu,“ berkata Bibi.

Ketika Bibi melepaskannya, maka Baratapun segera mendekati ibunya yang menunggunya ditangga pendapa. Iswaripun telah menyambutnya dengan titik-titik air mata dipelupuknya.

Sambil mencium tangan ibunya Barata berdesis, “Aku telah kembali ibu.”

“Marilah, masuklah. Tentu ada segerobag ceritera yang akan kau sampaikan.”

Barata melangkah naik. Di pringgitan ternyata telah berkumpul Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar. Mereka telah bangkit berdiri dan menyambutnya pula.

Namun bahwa mereka berkumpul itu, telah membuat jantung Barata menjadi berdebar-debar. Tidak seorangpun yang berada di padepokan kecilnya.

“Kau datang tepat pada waktunya,“ berkata ibunya, “tetapi aku ingin bertanya, apakah kau kembali hanya untuk beberapa hari, atau kau sudah menyelesaikan semua tugasmu dan kembali pulang untuk seterusnya.”

“Aku pulang untuk seterusnya ibu,“ jawab Risang.

“Bagus,“ hampir berbareng beberapa orang telah menyahut.

Risang mengerutkan keningnya. Ia memang merasakan sesuatu yang agaknya memang sedang diperbincangkan oleh para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan itu.

Tetapi ternyata ibunya tidak segera mengatakan kepadanya. Ibunya kemudian justru menanyakan keselamatannya serta kabar tentang perjalanannya dan pengalamannya.

“Tentu banyak yang menarik,“ berkata ibunya.

Risangpun kemudian telah menceriterakan, justru saat ia mulai memasuki Tanah Perdikannya. Katanya, “Sebenarnya aku dapat sampai dirumah sedikit lewat tengah hari. Tetapi hampir disetiap padukuhan aku harus berhenti dan berceritera serba sedikit tentang pengalamanku selama ini, sehingga akhirnya baru sore hari aku sampai dirumah.”

Ibunya tersenyum. Katanya, “Semua orang Tanah Perdikan ini tentu menunggu kehadiranmu. Tetapi baiklah. Kau tentu masih sangat letih. Kau harus beristirahat dahulu. Mandi, membenahi pakaianmu dan kemudian makan lebih dahulu. Baru kau akan berceritera panjang dan mendengarkan ceritera kami.”

Barata mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting, sehingga para pemimpin Tanah Perdikan ini berkumpul?”

“Sebaiknya kau mandi saja dahulu atau membersihkan diri dan membenahi pakaianmu jika kau belum merasa perlu mandi,“ berkata ibunya.

Risang merasakan sentuhan kata-kata ibunya sebagaimana saat ia masih kanak-kanak. Ibunya termasuk seorang yang selalu bersih dan setiap kali mengingatkannya untuk mandi. Jika saat mandi itu datang, sebelum ia benar-benar mandi ibunya selalu memperingatkannya sampai ia benar-benar masuk ke pakiwan.

Namun Risang masih juga menunggu minuman. Baru setelah ia tidak merasa haus lagi, iapun telah diantar ibunya kebilik yang sudah disediakan Bibi untuknya.

Seperti yang dikatakan oleh ibunya, maka setelah mandi dan membenahi diri, Barata telah diminta untuk makan bersama-sama dengan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Bibi yang juga ada di ruang dalam, tidak bersedia untuk makan bersama, tetapi ia ingin ikut mendengarkan pembicaraan yang tentu akan dilakukan saat-saat mereka sedang atau setelah makan.

Sebenarnyalah, disaat mereka makan, sekali-sekali Risang telah sempat menceriterakan perjalanannya ke Pajang, memasuki lingkungan keprajuritan dan dengan pendadaran dan kemudian tinggal disatu barak bersama dengan seratus orang dibawah pimpinan seorang Lurah Penatus yang dianggapnya cukup baik.

Sekali-sekali Barata juga menyinggung tentang seorang anak muda yang bernama Kasadha, yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya yang lain. Namun dalam ceritera yang singkat itu, Barata tidak sempat menyebut Kasadha secara khusus sehingga tidak banyak menarik perhatian mereka yang mendengarnya. Yang justru banyak diceriterakannya adalah Ki Lurah Dipayuda, pertempuran di Randukerep dan di tepian Kali Opak. Kemudian kehadiran para pemimpin Demak di Pajang dan saat-saat ia meninggalkan lingkungan keprajuritan.

Ibunya mendengarkan ceritera Risang dengan sung-suh-sungguh. Bahkan kemudian tidak terasa, matanya menjadi basah. Dengan nada lembut ia berkata, “Bersokurlah terhadap Tuhan, Risang. Bahwa kau masih sempat kembali dengan selamat. Aku dan orang-orang tua disini-pun mengucap sokur bahwa Tuhan telah mengirim kau kembali ke Tanah Perdikan ini.”

Risang mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berpaling ketika ia mendengar isak seseorang. Ternyata Bibi telah mulai menangis lagi.

“Kenapa kau menangis lagi, Bibi,“ bertanya Risang.

“Aku sekarang memang menjadi cengeng,“ sahut Bibi, “tetapi ceriteramu membuat bulu-buluku berdiri. Ternyata selama ini kau selalu bercanda dengan maut.”

“Tetapi Yang Maha Agung selalu melindungi aku, Bibi,“ jawab Risang.

“Itulah sebabnya ibumu minta agar kau mengucap sokur. Dan selalu mengucap sokur dalam keadaan yang bagaimanapun juga,“ sahut Bibi.

“Tentu Bibi,“ jawab Risang, “kita semuanya akan selalu mengucap sokur.”

Bibi mengusap matanya yang basah sambil bergumam, “Aku dahulu adalah seorang yang tidak mengenal air mata. Sejak bayi aku hampir tidak pernah menangis, karena menangis hanya akan menambah kesulitan saja bagiku. Dimasa kanak-kanak ayah dan ibuku selalu memaksa aku diam jika aku menangis. Setitik air mata dapat berarti cambuk dipunggungku. Kemudian aku tumbuh dan menjadi liar. Ketika aku berhasil dijinakkan oleh ibumu, aku justru menjadi cengeng.”

“Sudahlah Bibi,“ Iswarilah yang kemudian berbicara lirih, “sebaiknya Bibi ikut makan saja bersama kami.”

“Kau kira aku menangis karena lapar?“ bertanya Bibi.

Gandar tidak dapat menahan tertawanya.

Namun iapun segera terdiam ketika Bibi membentaknya, “Kenapa kau tertawa.”

Yang lainpun tersenyum. Namun mereka tidak berbicara lagi. Mereka kemudian menikmati hidangan yang telah dengan tergesa-gesa disiapkan karena kehadiran Risang.

Namun demikian, didalam setiap dada mereka yang duduk diruang tengah mengelilingi hidangan yang hangat itu, tersimpan persoalan yang hampir melonjak kepermukaan.

Demikianlah, ketika mereka sudah selesai makan, tanpa menunggu mangkuk-mangkuk disingkirkan, Risang sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Karena itu, maka iapun telah bertanya kepada ibunya, “Ibu, apa yang sebenarnya terjadi di Tanah Perdikan ini? Rasa-rasanya aku ingin segera mendengarnya.”

Iswari memandang Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka berganti-ganti, seakan-akan ingin mendapat pertimbangan dari mereka. Bahkan kemudian Iswari itu bertanya, “Apakah sebaiknya kita mengatakannya?”

Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka termangu-mangu. Iswari tidak menyebut salah seorang diantara mereka. Namun Kiai Badralah yang kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada Risang. Ia sudah dewasa sepenuhnya. Jiwanya sudah ditempa oleh garangnya peperangan, sehingga ia bukan lagi anak-anak yang selalu diselubungi oleh kekhawatiran sehingga tidak pernah diajak berbincang. Jika dengan demikian ia selalu dibayangi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, maka hal itu akan dapat mengganggu ketenangan jiwanya.”

Risang dengan sungguh-sungguh memperhatikan setiap kata yang kemudian diucapkan oleh Kiai Badra, “Risang. Selama kau tidak ada di Tanah Perdikan, sebenarnya tidak ada hal yang penting yang terjadi disini. Perang yang terjadi antara Pajang dan Mataram, asapnya tidak menggelapkan tatanan kehidupan Tanah Perdikan ini. Sampai akhirnya Mataram telah meninggalkan Pajang dan pemerintahan justru jatuh ke tangan Adipati Demak. Bukan ketangan Pangeran Benawa.“ Kiai Badra berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Adalah wajar, bahwa setiap pergantian puncak pimpinan pemerintahan, terdapat pula pergantian kebijaksanaan. Nampaknya Adipati Demak yang kemudian berada di Pajang telah mejigetrapkan kebijaksanaannya di Demak untuk dipergunakan di Pajang, sementara beberapa orang pemimpin Demak dan Pajang sendiri masih harus berusaha menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang baru.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun ternyata ia tidak sabar menunggu sehingga ia telah menebak mendahului keterangan Kiai Badra, “Maksud kakek, tentu kebijaksanaan tentang Tanah Perdikan.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Sementara Iswari bertanya, “Darimana kau tahu Risang?”

“Kebijaksanaan itu telah aku dengar ketika aku masih berada dalam lingkungan keprajuritan di Pajang. Kebijaksanaan itu pulalah salah satu pendorong sehingga aku meninggalkan Pajang dan kembali ke Tanah Perdikan ini,“ jawab Risang.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya kemudian. “Yang kau dengar tentu baru kebijaksanaannya saja secara umum. Tetapi apakah kau juga sudah mendengar langkah-langkah yang diambil oleh Pajang terhadap Tanah Perdikan ini?”

“Itulah yang menggelisahkan aku, kek,“ jawab Risang.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Memang ada keraguan untuk mengatakannya justru karena Risang belum lama berada di rumahnya. Tetapi nampaknya Risang sendiri demikian mendesak untuk segera mengetahuinya.

Karena itu, maka Kiai Badrapun telah berkata, “Risang. Tiga hari yang lalu telah datang utusan dari Pajang. Justru kedatangannya yang kedua, karena sekitar sepuluh hari yang lalu utusan itu telah datang. Utusan itu telah mencari beberapa keterangan tentang Tanah Perdikan ini. Kekancingan yang memberikan wewenang kepada Tanah Perdikan ini, juga mereka lihat. Semula kekancingan itu akan dibawa, tetapi kami telah menyatakan berkeberatan. Pertanda Kepala Tanah Perdikan inipun di pertanyakan pula. Namun ibumu menjawab, bahwa pertanda itu berujud bandul pada sebuah kalung yang kau pakai. Pada kedatangan mereka yang pertama, ketika ibumu menjawab bahwa Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah meninggal, kemudian yang berhak menggantikannya juga sudah meninggal, sehingga jabatan itu akan berada di tangan cucu Ki Gede Sembojan, maka agaknya keberadaan Tanah Perdikan ini akan menjadi persoalan. Namun setelah ibumu menjelaskan bahwa cucu Ki Gede itu berada, di Pajang dan menjadi prajurit maka mereka tidak bertanya terlalu banyak lagi.“ Kiai Badra terdiam sejenak. Namun kemudian iapun meneruskannya, “Tetapi ternyata utusan itu datang lagi. Jika semula hanya terdiri dari empat orang, maka kedatangan mereka yang kedua terdiri dari enam orang. Persoalannya yang dikemukakan lebih banyak lagi dan merekapun ingin tahu, jika kau berada di lingkungan keprajuritan, kau berada di kesatuan yang mana. Kami berterus terang menyatakan bahwa kami tidak tahu, karena kau tidak pernah datang untuk memberitahukan keadaanmu. Agaknya utusan itu merasa perlu untuk mempersoalkannya lebih jauh. Nampaknya mereka masih akan kembali lagi beberapa hari yang akan datang.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang sudah merasa gelisah. Karena itu, maka aku tergesa-gesa pulang.”

“Kami sudah memutuskan untuk mengirimkan Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk mencarimu ke Pajang. Kami memang ingin minta kau pulang meskipun hanya satu dua hari untuk mengambil keputusan yang pasti, apakah kita akan menyerahkan semua yang diminta oleh utusan yang akan datang lagi atau tidak,“ berkata Kiai Badra.

Jantung Risang telah berdebar semakin cepat. Meskipun ia sudah menduga sebelumnya, namun ternyata ketika ia benar-benar menghadapi persoalan itu, dadanya telah bergejolak.

Sementara itu ibunya telah berkata pula, “Kau yang kebetulan juga berada di Pajang, mungkin kau akan dapat memberikan sedikit pendapatmu, apakah yang sebaiknya kita lakukan.”

Dengan serta merta Risang menjawab, “Kita berpegang kepada kekancingan yang ada.”

“Tetapi kekancingan itu juga dibuat oleh kekuasaan yang sama seandainya ada kekancingan baru yang mencabut kekancingan yang lama,“ berkata Kiai Badra.

“ Ada bedanya,“ berkata Risang, “kedudukan Pajang sekarang tidak sama dengan kedudukan Pajang sebelumnya setelah kehadiran Mataram.“

“Tetapi Pajang telah mendapat pengesahan,“ berkata Kiai Badra pula.

“Kakek,“ berkata Risang kemudian, “bagaimanapun juga Pajang masih harus mengakui keberadaan Mataram. Jipang yang dipimpin oleh Pangeran Benawa ternyata juga telah memperbesar pengaruhnya. Pajang bukan lagi bayangan kekuasaan Demak yang kuat dan berwibawa meskipun yang kemudian berkuasa di Pajang adalah Adipati Demak. Tetapi bukan Demak sebelum Pajang berdiri.”

“Jadi bagaimana pendapatmu Risang. Aku kira, jika kau pernah mendengar kemungkinan sebagaimana kita alami, kau sudah pernah memikirkan pemecahan yang harus kita lakukan,“ berkata Kiai Badra.

“Pada dasarnya kita akan mempertahankan isi dari kekancingan itu. Aku tahu gejolak yang terjadi di Pajang sekarang. Sehingga dengan demikian maka Pajang tentu harus berpikir ulang jika Pajang akan mengambil langkah-langkah yang keras,“ berkata Risang.

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Sementara itu Kiai Soka bertanya, “Bagaimana sikap kita jika utusan yang akan datang kemudian berkeras untuk mengambil kekancingan dan pertanda Kepala Tanah Perdikan?”

“Kakek,“ jawab Risang, “sebelum ada kekancingan baru, maka kekancingan yang lama masih tetap berlaku sepenuhnya. Bahkan seandainya ada kekancingan baru yang dikeluarkan oleh Pajang, kita masih harus menilainya,“ berkata Risang.

“Dengan demikian, maka sikapmu condong untuk mempertahankan keberadaan Tanah Perdikan ini,“ berkata Kii Soka.

“Ya kakek,“ jawab Risang.

“Kami akan mendukung setiap keputusan yang kau ambil. Tetapi apakah dengan menolak keputusan Pajang, kita tidak terjerumus kedalam satu pemberontakan terhadap kekuasaan yang sah?“ bertanya Kiai Soka.

Wajah Risang menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Kita memang harus mempertimbangkan, kek. Pajang memang akan menuduh kita memberontak. Tetapi apakah sikap Mataram dan Jipang juga sama?”

“Apakah hubungannya dengan Mataram dan Jipang,“ bertanya ibunya.

“Ibu, Pangeran Benawa yang semula dianggap sebagai Pangeran Pati di Pajang memiliki pengaruh yang cukup besar. Sebagaimana Adipati Demak yang datang ke Pajang dengan beberapa orang kepercayaannya, maka Pangeran Benawapun telah pergi ke Pajang dengan beberapa orang pemimpinnya. Sementara itu aku mengenal Ki Lurah Dipayuda yang baik, yang tentu mempunyai kenalan pula di Jipang,“ berkata Risang.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam, “Jipang terlalu jauh ngger. Mungkin kau berniat untuk melepaskan diri dari Pajang, kemudian bergabung dengan Jipang.”

“Tetapi kekuatan Jipang pernah berkeliaran disini sebelum Pajang berkuasa. Bukankah hal itu pernah terjadi?“ bertanya Risang.

“Baiklah,“ berkata ibunya, “kau masih perlu berpikir dengan bening. Aku kira bukan besok atau lusa utusan itu datang. Mungkin masih dua tiga pekan lagi. Karena itu, selama ini kau akan sempat berpikir. Kita sempat berbicara lebih bersungguh-sungguh.”

“Aku sependapat,“ berkata Kiai Badra, “sebaiknya kau beristirahat.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, lampupun mulai menyala di mana-mana. Bibi yang duduk termangu-mangu itupun sempat berkata, “Beristirahatlah ngger. Kau tentu letih.”

“Barangkali kau ingin duduk-duduk di pendapa?“ bertanya Nyai Soka, “agaknya baru saja kau makan dan minum. Kau tentu tidak akan segera peugi ke pembaringan.”

“Ya nek,“ jawab Risang, “sudah lama aku tidak melihat suasana di Tanah Perdikan ini. Aku minta diri untuk turun ke halaman. Mungkin di gardu dapat aku temui beberapa orang kawan yang sudah terlalu lama berpisah.”

“Kau sudah terbiasa tidak berada di rumah, Risang,“ berkata Nyai Soka, “sebelum kau menjadi seorang prajurit, kau lebih sering berada di padepokan.”

“Tetapi penghuni Tanah Perdikan ini mengenalku dengan baik,“ berkata Risang.

“Tentu,“ jawab Nyai Soka, “kau adalah tumpuan harapan mereka. Kau adalah calon Kepala Tanah Perdikan yang akan menjadi pengikat keutuhan Tanah Perdikan ini.”

Beberapa saat kemudian Risang telah berada di tangga pendapa rumahnya. Sambi Wulung. Jati Wulung dan Gandar mengawaninya ketika Risang turun dan berjalan-jalan di halaman yang mulai gelap.

“Sebaiknya kau beristirahat,“ berkata Sambi Wulung.

Tetapi Risang itu menjawab, “Aku ingin berjalan-jalan. Rasa-rasanya aku menjadi sangat rindu kepada jalan-jalan padukuhan induk di Tanah Perdikan ini.”

“Apakah kau tidak merasa letih?“ bertanya Jati Wulung.

“Tentu juga letih. Tetapi aku masih belum dapat tidur. Apalagi aku baru saja makan,“ jawab Risang.

“Sebenarnya aku ingin mendengar ceritamu lebih lengkap lagi,“ Gandarlah yang kemudian berdesis, “rasa-rasanya aku dapat melihat sendiri, pertempuran yang sengit di Randu Kerep.”

“Itu tidak aneh,“ berkata Risang selanjutnya sambil melangkah keluar regol halaman, “pertempuran itu memang mendebarkan. Tetapi satu peristiwa yang aneh telah terjadi. Aku dan seorang prajurit muda, yang barangkali sedikit lebih tua dari aku telah bertemu dalam satu perjalanan dengan sekelompok orang. Mereka tiba-tiba saja mengira aku seorang anak muda yang bernama Puguh.”

“Bukankah hal itu memang pernah kau alami sebelumnya?“ bertanya Sambi Wulung.

“Ya. Tetapi yang aneh adalah, bahwa kami berdua telah disangka Puguh. Dari sekelompok orang itu sebagian menyebut aku Puguh, sedang sebagian lagi menyebut Kasadha sebagai Puguh. Aku memang menjadi bingung. Tetapi aku pernah mendengar nama Puguh. Sedangkan kawanku itu menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu sama sekali hubungannya dengan nama Puguh itu,“ berkata Risang.

Ceritera itu memang sangat menarik bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung yang pernah mengenal Puguh. Mereka memang menganggap bahwa Risang dan Puguh memiliki kemiripan. Hal itu bukan sesuatu yang aneh, karena keduanya memiliki seorang ayah yang sama.

Namun baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung tidak menanyakannya lebih jauh.

Gandarlah yang menanggapinya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Memang sangat lucu. Bagaimana mungkin kalian berdua disangka Puguh.”

“Ya,“ Risang berceritera lebih jauh, “akhirnya sekelompok orang itu memutuskan untuk menangkap kami berdua.”

Gandar tertawa. Sambil menepuk Sambil Wulung ia bertanya, “He, bukankah peristiwa itu sangat menggelikan. Sayang aku tidak dapat menyaksikannya. Seandainya saja aku ada pada waktu itu tentu tidak sempat membantu, karena aku harus tertawa berkepanjangan. Bagaimana dua orang dapat disangka Puguh.”

Risangpun tertawa. Katanya, “Dalam suasana yang kacau memang mungkin saja terjadi hal-hal yang tidak masuk akal.”

Gandar mengangguk-angguk. Namun ternyata bahwa banyak hal yang ingin diketahuinya dalam pertempuran. Baik di Randukerep, maupun di Prambanan. Serta saat-saat berakhirnya kekuasaan Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang harus menghadap kembali kepada Yang Maha Agung. Sumber hidupnya.

Sambil berjalan-jalan Risang sempat berceritera tentang kehadiran seorang pimpinan pasukannya yang baru setelah Ki Lurah Dipayuda mengundurkan diri. Bahwa tanpa diketahui kesalahannya ia bersama Kasadha harus melakukan pendadaran ulang yang ternyata berekor panjang.

“Pengalamanmu menarik sekali,“ berkata Gandar.

Sementara itu keempat orang itu telah berada di jalan yang membelah padukuhan induk itu. Mereka menyusuri jalan yang gelap namun yang sekali-kali diterangi oleh nyala obor di regol halaman rumah sebelah menyebelah.

Tetapi padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu memang mulai menjadi sepi jika malam turun. Beberapa buah gardu yang mereka lewati masih kosong. Pada saat sepi bocah, satu dua orang mulai berdatangan ke gardu. Sampai saatnya sepi uwong biasanya mereka yang bertugas sudah siap berada di gardu-gardu.”

Ketika mereka berada ditikungan, di depan gardu yang masih kosong, tiba-tiba saja Risang bertanya, “Bagaimana dengan para pengawal Tanah Perdikan ini?”

“Mereka masih tetap merupakan kekuatan yang melandasi setiap gerak Tanah Perdikan ini.” jawab Sambi Wulung.

“Tetapi mereka belum kelihatan sama sekali di gardu-gardu,” berkata Risang pula.

“Bukankah kau melihat para petugas di regol rumah kita?“ bertanya Sambi Wulung.

“Hanya itu?“ bertanya Risang.

“Disetiap padukuhan, di rumah para bekel. Tetapi jika kau ingin bertemu dengan para pengawal, kita dapat pergi ke banjar,” desis Sambi Wulung.

Risang termangu-mangu sejenak. Sementara Sambi Wulung berkata pula, “Tetapi sebaiknya tidak sekarang. Kau masih letih. Sebaiknya kau beristirahat.”

Risang mengangguk kecil. Namun kakinya masih saja melangkah justru berbelok menyusup jalan-jalan kecil. Agaknya Risang memang belum ingin pergi ke banjar.

Risang sadar, jika ia memasuki halaman banjar, bermi ia akan berada ditempat itu sampai semalam suntuk. Ia akan sulit untuk mencari kesempatan meninggalkan banjar itu.

Karena itu, maka sebelum gardu-gardu itu terisi, maka Risang bersama Sambi Wulung. Jati Wulung dan Gandar telah berada kembali di halaman rumahnya. Beberapa saat Risang sempat berbicara dengan para petugas di gardu. Namun tidak sampai tengah malam Risang sudah berada didalam biliknya.

Sebenarnyalah bahwa Risang memang merasa letih. Tetapi iapun merasa gelisah karena persoalan-persoalan yang timbul di Tanah Perdikannya itu.

Namun akhirnya Risang itupun telah tertidur pula.

Sejak hari berikutnya, maka bersama ibunya, Risang berusaha melihat-lihat keadaan Tanah Perdikannya. Bukan saja ujud lahiriahnya. Tetapi ia telah melihat segi-segi kehidupannya serta kemampuan yang tersimpan didalamnya. Risang telah mengumpulkan para pemimpin kelompok pengawal yang tersebar di padukuhan-padukuhan untuk berbicara langsung dengan mereka di banjar padukuhan induk.

Semakin mendalami segi-segi kehidupan di Tanah Perdikannya, maka Risang menjadi semakin gelisah. Ia benar-benar tidak rela melepaskan kedudukan Tanah Perdikan bagi Sembojan. Ia sama sekali tidak bermimpi untuk melakukan satu pemberontakan. Tetapi justru karena Risang mengetahui permainan yang kurang wajar yang terjadi di Pajang yang kalut itulah maka ia merasa perlu untuk menentukan sikap.

Namun dalam pada itu, kakek dan neneknya ternyata mempunyai persoalan lain. Mereka merasa bahwa umur mereka menjadi semakin tinggi. Mereka merasa bahwa umur mereka itu bagaikan menggapai saat-saat terakhir dalam hidup mereka.

Dengan demikian, maka rasa-rasanya mereka ingin meletakkan beban yang terasa masih berada di pundak mereka. Menurunkan ilmu puncak yang telah mereka susun bersama kepada Risang. Janget Kinatelon.

Meskipun ibu Risang juga sudah menguasai ilmu itu. Namun rasa-rasanya mereka akan lebih puas, jika mereka bertiga sempat melakukannya atas Risang.

Namun ketiga orang tua itu tidak dapat ingkar pada satu kenyataan, bahwa Tanah Perdikan itu telah merenggut perhatian mereka sepenuhnya, sehingga untuk sementara mereka tidak akan dapat mengurung Risang dalam sanggar untuk waktu yang berbulan-bulan sebelum ia benar-benar menguasai ilmu Janget Kinatelon, meskipun landasannya telah mereka persiapkan didalam diri anak muda itu sejak beberapa tahun sebelumnya.

Yang dilakukan Risang kemudian bukannya sekedar memberikan petunjuk-petunjuk kepada para pemimpin kelompok, tetapi Risang ingin melihat kemampuan para pengawal dari semua tataran.

Sebagian kecil dari para pengawal memang orang-orang yang telah mendekati pertengahan abad. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman sejak kekuatan Jipang mulai merambah Tanah Perdikan itu. Orang-orang yang sudah mendekati usia setengah abad itu adalah pelatih-pelatih yang baik bagi para pengawal. Sedangkan yang terbanyak diantara para pengawal adalah anak-anak muda yang tumbuh kemudian. Namun inti kekuatan yang sebenarnya dari para pengawal adalah orang-orang muda yang masih kuat namun sudah memiliki pengalaman yang cukup. Meskipun pada umumnya mereka sudah berke luarga dan bahkan mempunyai satu dua orang anak yang masih kecil, tetapi pengabdian mereka kepada Tanah Perdikannya sama sekali tidak menyusut.

Pada kesempatan-kesempatan berikutnya, bersama Sambi Wulung. Jati Wulung dan Gandar, Risang telah menjajagi kemampuan para pengawal. Mereka menyaksikan di setiap padukuhan, latihan-latihan yang khusus diadakan. Sehingga dengan demikian maka Risang mampu menilai tataran kekuatan Tanah Perdikan Sembojan.

Iswari serta orang-orang tua di Sembojan itu mencoba mengerti, bahwa perhatian Risang terbesar justru pada kekuatan para pengawal, karena Risang telah beberapa lama berada dalam lingkungan keprajuritan.

Namun dalam pada itu, orang-orang tua itupun menjadi cemas. Risang terlalu sibuk dengan para pengawal. Bahkan latihan-latihan khusus yang semula sekedar untuk melihat tataran kemampuan rata-rata para pengawal, telah berubah menjadi latihan-latihan yang sebenarnya untuk meningkatkan kemampuan para pengawal.Para pelatih telah berusaha menunjukkan, bagaimana mereka menempa para pengawal itu.

Risang memang merasa puas dengan pengamatannya, karena pada umumnya para pengawal memang memiliki kemampuan seorang prajurit.

Ibunya, pada satu saat terpaksa memperingatkan Risang agar mengurangi kegiatan bagi para pengawal.

“Bukankah hal itu sangat diperlukan ibu?“ justru Risang bertanya kepada ibunya.

“Kita harus beranggapan bahwa selama ini kita baru mendapat perhatian khusus dari Pajang. Persoalan Tanah Perdikan ini masih belum selesai. Karena itu, jika kau terlalu banyak mengadakan latihan-latihan bagi para pengawal, maka Pajang akan dapat salah mengerti. Mungkin satu dua orang petugas sandi sekali-sekali lewat di Tanah Perdikan ini. Mereka akan dapat menjadi salah paham. Mungkin mereka mengira bahwa kita disini telah mempersiapkan kekuatan untuk mempertahankan Tanah Perdikan ini dengan kekerasan sehingga dengan demikian kami akan dapat dituduh telah memberontak,“ jawab ibunya.

“Tetapi menempa kekuatan para pengawal di Tanah Perdikan ini sangat kita perlukan ibu,“ jawab Risang.

“Kau benar Risang,“ jawab ibunya. Selama kau pergi, kami telah melakukannya pula. Tetapi tidak justru dalam keadaan seperti ini.”

“Ibu terlalu berhati-hati,“ berkata Risang.

“Mungkin memang demikian Risang. Tetapi ibumu-lah yang selama ini menunggui Tanah Perdikan ini, sehingga ibumu rasa-rasanya sudah menjadi satu dengan tanah ini. Angin yang berhembus di pebukitan adalah nafas yang menghidupi Tanah Perdikan ini. Sedangkan udara di Tanah Perdikan ini pulalah yang selalu mengalir didalam rongga dada ibumu ini,“ berkata Iswari.

Risang menarik nafas dalam-dalam.

“Aku tidak berkeberatan kau berusaha untuk mengetahui tataran kemampuan para pengawal. Tetapi jangan melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan salah paham,“ berkata ibunya.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun mengangguk sambil berkata, “Baiklah ibu. Aku akan melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih kecil.”

Ibunya tersenyum. Sambil menepuk bahu anaknya ia berkata, “Kau sendiri juga memerlukan waktu. Pada suatu saat kakek dan nenekmu ingin melihat, landasan yang pernah dipasang didalam dirimu untuk membangunkan satu kekuatan ilmu yang sangat tinggi. Jika kau berhasil, maka kau akan menjadi salah seorang diantara mereka yang berilmu tinggi. Justru pada umurmu yang masih terhitung muda.”

Risang menarik nafas dalam-dalam, ia memang mempunyai keinginan untuk meningkatkan ilmunya. Tetapi rasa-rasanya Tanah Perdikannya menuntut lebih banyak pengabdiannya. Ia merasa sudah terlalu lama berada diluar Tanah Perdiannya karena keluarganya terlalu mementingkan diri sendiri. Seolah-olah mereka dibayangi ketakutan bahwa ia akan dapat dibunuh dengan cara yang curang, sebagaimana pernah terjadi dengan kakeknya. Ki Gede Sembojan.

Namun seharusnya hal itu tidak berarti bahwa ia harus melarikan diri begitu jauhnya. Mengganti namanya dan menutupinya dengan berbagai macam kepalsuan.

Sebenarnyalah bahwa ibunya, kakek dan neneknya serta para pemimpin yang terhitung tua di Sembojan menjadi cemas. Mereka menganggap bahwa Risang telah berbuat terlalu banyak bagi para pengawal Tanah Perdikan, sehingga mungkin sekali menimbulkan salah penilaian.

Risang yang beberapa kali mendapat tegoran ibunya, telah merubah cara yang dipergunakannya. Ia tidak lagi berhadapan dengan kelompok-kelompok yang berjumlah besar. Tetapi ia telah membuat satu kelompok kecil yang terdiri dari para pemimpin kelompok. Lewat para pemimpin kelompok itulah Risang menyalurkan gejolak hatinya dalam hubungannya dengan Tanah Perdikannya yang mendapat penilaian kembali dari Pajang, yang ujudnya antara lain adalah peningkatan kemampuan.

Sementara itu Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka telah berusaha pula mengurangi kegiatan Risang dengan cara yang lain lagi. Kiai Badra yang beberapa kali mendapat pengaduan dari Iswari telah memanggil Risang untuk menemuinya.

Ketika Risang menghadapnya, maka telah hadir pula Kiai Soka dan Nyai Soka.

“Risang,“ berkata Kiai Badra, “kedatanganmu telah memberikan harapan ganda bagi kami yang tua-tua. Kami berharap bahwa kau akan dapat memecahkan persoalan Tanah Perdikan ini bersama ibumu jika utusan dari Pajang itu datang. Sebenarnyalah bahwa kami yang tua-tua ini tidak mempunyai wewenang apapun atas Tanah Perdikan ini, karena Tanah Perdikan ini merupakan warisan yang mengalir dari kakekmu, ayah dari ayahmu. Sedangkan kami adalah keluarga dari sisi ibumu. Karena itu, maka kami ingin memberikan warisan yang akan dapat mengimbangi warisan yang akan kau terima dari sisi ayahmu itu, meskipun barangkali nilai dari warisan yang ingin kami berikan tidak memadai dibandingkan dengan warisan yang akan kau terima dari ayahmu. Kami sudah sepakat, bahwa kami akan mewariskan ilmu Janget Kinatelon. Dengan demikian maka kau akan mendapat warisan Tanah Perdikan ini dan kau selanjutnya akan mampu memimpinnya dan mengembangkannya.”

Risang termangu-mangu. Sementara Kiai Badra berkata selanjutnya, “Namun demikian, segala sesuatunya kita memang tidak akan dapat menyimpang dari paugeran.”

Risang mengangkat wajahnya yang menunduk. Namun Kiai Badra telah berkata selanjutnya, “Karena itu, maka aku ingin mulai membawamu kembali ke sanggar. Sudah tentu akan disesuaikan dengan waktumu yang sempit. Namun sebaiknya kau tidak menunda-nunda lagi, selagi umurku dan umur kedua kakek dan nenekmu itu masih belum sampai pada satu batas akhir.”

Risang termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa hal itu dilakukan oleh ketiga orang tua itu tentu dalam kaitan pesan ibunya agar ia mengurangi kegiatannya.

Namun Kiai Badra nampaknya mampu membaca perasaan anak muda itu, sehingga karena itu maka katanya, “Jangan mengelak Risang. Jika kau masih mengakui kami sebagai guru-gurumu. Agaknya kami tidak perlu memakai bahasa seorang guru dalam olah kanuragan kepada muridnya. Kau tentu tahu maksudku.”

Risang memang tidak mungkin mengelak lagi. Ia sadar akan kewajiban seorang murid terhadap seorang atau beberapa orang gurunya. Karena itu, maka Risangpun kemudian telah mengangguk hormat sambil berkata, “Aku akan melakukan segala perintah kakek dan nenek.”

“Nah,“ berkata Kiai Badra, “jika kau sudah memiliki ilmu Janget Kinatelon, maka kau tidak perlu lagi untuk menjadi seorang anak di padepokan Bibis yang jauh itu, meskipun bukan berarti bahwa kau tidak akan pergi lagi ke padukuhan Bibis. Juga seandainya kau kelak kembali ke Pajang dalam urusan apapun, maka kau dapat dengan tengadah menyebut namamu, Risang. Putera Tanah Perdikan Sembojan.”

Risang sekali lagi. mengangguk hormat. Namun sebenarnyalah ia tentu akan merasa bangga bahwa jika pada suat u kali ia bertemu lagi dengan Kasadha, dengan Ki Lurah Dipayuda dan dengan seorang gadis yang bernama Riris serta kakaknya Jangkung Jaladri ia dapat menyebut dirinya Putera Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan cucu Ki Gede Sembojan, yang berhak mewarisi Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Ia tidak perlu lagi menunduk dengan hati yang berdebar-debar jika seseorang bertanya tentang asal-usulnya. Bahkan jika seseorang ingin datang menengoknya.

“Nah,“ berkata Kiai Badra kemudian, “bersiap-siaplah untuk kembali memasuki sanggar. Untuk memantapkan landasan ilmumu, maka diperlukan waktu beberapa bulan. Dalam keadaan yang demikian, maka kau masih belum perlu membatasi diri terlalu ketat. Kau masih dapat berada diantara para pengawal Tanah Perdikan serta masih dapat setiap saat melihat-lihat keadaan. Sambil menunggu kedatangan utusan dari Pajang dalam hubungannya dengan kedudukan Tanah Perdikan ini.”

Risang mengangguk-angguk kecil. Sementara Kiai Badra berkata, “Namun nanti pada saatnya, kau harus mengurung diri dalam sanggar selama ampat puluh hari ampat puluh malam.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun masa untuk mengurung diri ampat puluh hari ampat puluh malam itu tentu jika ia sudah sampai pada tahap akhir dari usahanya untuk mewarisi ilmu Janget Kinatelon. Itupun masih harus diikuti dengan usaha mengembangkannya, sehingga diperlukan waktu lagi.

Tetapi selama ia masih memantapkan landasan untuk menguasai ilmu Janget Kinatelon itu, maka ia masih akan dapat berada diantara para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka Risangpun kemudian berkata, “Kakek dan nenek. Aku mengucapkan terima kasih atas segala perhatian kakek dan nenek terhadapku. Aku akan patuh menjalani segala laku yang harus aku tempuh.”

“Bagus,“ berkata Kiai Badra, “untuk sementara kita akan berada disanggar disetiap sore hari. Mungkin kita akan mempergunakan waktu agak panjang, sehingga malam hari. Tetapi aku sudah berbicara dengan ibumu, bahwa di pagi hari kau tidak perlu bangun pagi-pagi sekali sebagaimana kau lakukan. Kau dapat bangun setelah matahari terbit. Bahkan jika kita berlatih sampai dini, kau dapat bangun lebih lambat. Atau, kau tetap membiarkan kebiasaanmu bangun pagi-pagi, namun kemudian kau akan diperkenankan tidur lagi beberapa saat sebelum matahari naik.”

Risang mengangguk-angguk kecil. Ia sadar, bahwa guru-gurynya itu ingin mempersempit waktunya. Tetapi Risang tidak akan dapat menolak.

“Risang,“ berkata Kiai Badra kemudian,“ bersiaplah untuk sepekan ini. Dalam sepekan ini, kau aku minta untuk mempersiapkan diri. Mulailah kadang-kadang memasuki sanggar sendiri. Mungkin kau dapat dibantu oleh paman-pamanmu, Sambi Wulung. Jati Wulung, Gandar atau Bibi. Bahkan mungkin jika sempat ibumu dapat langsung turun pula ke sanggar.”

Risang mengangguk hormat sambil menjawab, “Ya kakek. Aku akan melakukannya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun seperti juga Kiai dan Nyai Soka , ia melihat kekecewaan yang membayang di hati anak muda itu disamping kebanggaannya sebagai murid yang mendapat kepercayaan gurunya untuk mewarisi ilmu tertinggi yang pernah disusun oleh ketiga orang gurunya yang memiliki latar belakang ilmu yang berbeda. Namun juga karena itu, maka ilmu Janget Kinatelon memiliki unsur yang sangat lengkap.

Tetapi disamping tanggung jawabnya sebagai seorang murid, Risangpun merasa bertanggung jawab atas Tanah Perdikannya meskipun dengan sikap seorang anak muda yang jantungnya masih cepat bergejolak dan darahnya mudah menjadi panas.

Usaha orang-orang tua itu memang sedikit berhasil. Selain permintaan ibunya yang berulang kali disampaikan kepada anak muda itu, agar Risang tidak terlalu memacu peningkatan kemampuan para pengawal yang sudah terhitung baik itu.

Dengan laku yang harus dijalani, maka Risang hanya mempunyai waktu luang sedikit sekali. Di pagi hari, anak-anak muda termasuk para pengawal harus bekerja disawah. Di sore hari sampai jauh malam Risang sendiri harus berada di Sanggar.

Namun ternyata bahwa gairah para pengawalpun cukup tinggi. Mereka sadar bahwa waktu Risang menjadi sangat sempit. Karena itu, mereka telah menyediakan waktu kapan saja dikehendaki oleh Risang. Apalagi yang kemudian mendapat tempaan khusus adalah hanya para pemimpin kelompok yang kemudian harus melakukannya pula kepada para pengawal.

Namun dalam pada itu, Risang yang tumbuh menjadi dewasa itupun telah mendapat perhatian khusus dari beberapa orang tua yang terpandang di Tanah Perdikan. Bukan sebagai seorang pemimpin yang bakal memegang Jabatan Kepala Tanah Perdikan, bukan pula sebagai seorang yang berilmu tinggi. Tetapi sebagai seorang anak muda yang menjadi dewasa, yang sudah sepatutnya mempunyai kawan hidupnya.

Beberapa orang yang mempunyai anak gadis menjadi berharap-harap cemas. Jika Risang berada di padukuhan-padukuhan dalam rangka tugasnya, maka orang-orang tua yang memiliki kelebihan dari orang-orang lain, apakah karena kekayaannya, apakah karena pengaruhnya atau karena ia menjadi seorang Bekel di padukuhan atau karena sebab-sebab lain, berusaha untuk minta agar Risang singgah dirumahnya.

Sementara itu, gadis-gadis yang pergi ke pasar, jika mereka bertemu dengan Risang di jalan, ada-ada saja ulah mereka. Gadis-gadis itu kadang-kadang kehilangan kendali yang mengikat mereka sesuai dengan tata kehidupan, sehingga sekali-sekali mereka justru saling mendorong, tertawa tertahan-tahan dan apabila mereka menyadari tingkah lakunya itu, maka wajah merekapun menjadi merah.

Beberapa orang gadis yang sedang mencuci pakaian dipinggir kali tidak lagi ingat sepotong kainnya hanyut jika kebetulan Risang dan beberapa orang kawannya berjalan di tanggul untuk melihat-lihat ketahanan tanggul-tanggul sungai menghadapi musim basah.

Risang sendiri bukannya seorang yang berperasaan sekeras batu-batu padas di pebukitan yang membujur bagaikan dinding bagi Tanah Perdikannya itu. Risang sekali-sekali juga memperhatikan gadis-gadis yang pernah ditemuinya di Tanah Perdikannya. Bahkan Risang juga mengenal beberapa orang diantara mereka.

Tetapi Risang tidak pernah menjadi akrab dengan mereka. Seorangpun tidak. Risang mengenal mereka sebagaimana ia mengenal perempuan-perempuan di Tanah Perdikan itu. Yang muda, yang tua, yang berusia senja atau bahkan anak-anak sekalipun.

Yang menggelisahkan Risang adalah, justru pada saat-saat ia bertemu dengan gadis-gadis di Tanah Perdikannya, maka ia mulai membayangkan wajah gadis yang pernah ditemuinya dalam perjalanannya pulang ke Tanah Perdikan Sembojan, Riris Respati. Anak Ki Lurah Dipayuda.

Kadang-kadang Risang juga menyesal, bahwa ia tidak berterus terang tentang dirinya. Bahwa ia adalah cucu Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Seandainya ia berterus terang, maka Jangkung tentu pernah menengoknya sekali-sekali, sehingga ia akan dapat membuat alasan untuk datang kembali ke rumah Ki Lurah Dipayuda.

Setiap kali Risang memang berusaha untuk melupakan Riris. Tetapi setiap kali wajah itu justru membayang jika ia mendengar suara gadis-gadis yang bergurau di tepi sungai saat mereka mencuci pakaian, atau gadis-gadis yang pergi ke sawah mengirimkan makanan dan minuman bagi keluarga mereka yang sedang bekerja.

***

Sebenarnyalah, Riris, anak gadis Ki Lurah Dipayuda juga sering pergi ke sawah. Tetapi ia tidak pernah pergi tanpa kakaknya. Jangkung. Bagaimanapun juga, Riris tidak dapat melupakan, bahwa seseorang tentu mendendamnya.

Ririspun sekali-sekali masih membayangkan, bahwa seseorang telah menyelamatkannya dari kemarahan anak muda yang menjadi kecewa kepada sikapnya. Seorang bekas prajurit yang bernama Barata, yang ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi, sehingga dengan mudah ia dapat mengalahkan orang-orang yang mengganggunya.

Dari hari ke hari, maka Riris mulai menjadi semakin tenang karena menurut perhitungannya, laki-laki itu tentu sudah menjadi jera. Meskipun demikian, Riris masih saja tidak mau keluar rumahnya tanpa kakaknya atau ayahnya. Bahkan pergi ke rumah tetanggapun Riris selalu mengajak seseorang pembantunya, meskipun juga seorang perempuan.

Tetapi hari yang sama-sekali tidak diduga-duga itupun telah terjadi. Ketika Riris pergi ke sawah bersama dengan kakaknya sambil membawa minuman karena Setra telah membawa makanan lebih banyak dari biasanya, justru saat kerja disawah menjadi lebih banyak sehingga memerlukan tenaga yang lebih banyak pula, beberapa orang laki-laki telah menghadangnya.

Jangkung yang berjalan bersama Riris terkejut. Lima orang laki-laki nampaknya telah menunggunya disimpang ampat.

Mula-mula Jangkung memang ragu-ragu, apakah orang-orang itu ada sangkut pautnya dengan kehadirannya. Namun ketika ia melihat laki-laki yang sering mengganggu adiknya, maka jantungnyapun menjadi berdebar-debar.

Riris yang jugmelihatnya telah dengan serta merta berhenti. Sambil menarik tangan kakaknya ia berdesis, “Kakang. Mari kita kembali.”

Jangkung termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya jalan bulak yang cukup panjang. Seandainya ia kembali, maka orang-orang itu tentu akan mengejarnya dan karena ia bersama dengan Riris, maka orang-orang itu tentu akan dapat menyusulnya.

Karena itu, maka Jangkung itupun kemudian berkata, “Jangan takut Riris. Aku berdua dengan Setra akan menyelesaikan mereka.”

“Mereka ternyata berlima kakang,“ desis Riris yang menjadi ketakutan.

“Apaboleh buat,“ berkata Jangkung, “kita tidak mempunyai pilihan.”

Sementara itu, karena Jangkung, Riris dan Setra berhenti, kelima orang itulah yang mendekatinya. Sementara Jangkung berkata, “Letakkan makanan itu Setra.”

Setra telah meletakkan makanan yang dibawanya. Sementara Jangkung bertanya, “Kau berani melawan atau tidak? Jika tidak, larilah ke padukuhan untuk mencari bantuan. Tetapi agaknya mereka tentu tidak akan melepaskanmu.”

Setra menarik nafas dalam-dalam. Ia bukan seorang yang sering berkelahi. Tetapi dengan mantap ia berkata, “Aku tidak takut kepada mereka.”

“Bagus,“ berkata Jangkung, “kita akan berkelahi jika mereka mengganggu Riris.”

“Jumlah mereka terlalu banyak kakang,“ berkata Riris.

“Pada saat seperti ini banyak orang berada disawah Riris. Mereka tentu akan melihat jika terjadi perkelahian disini. Tetapi seandainya tidak, maka aku akan berbuat apa saja untuk melawan mereka,“ berkata Jangkung.

Riris memang melihat kesebelah menyebelah. Tetapi ia tidak melihat orang berada disawah. Disebelah parit induk pekerjaan seakan-akan memang sudah selesai, sehingga tidak banyak lagi orang berada disawah. Satu dua orang yang pergi kesawah hanya sekedar menengok aliran parit. Kemudian segera pulang. Baru diseberang parit induk sawah memang baru disiangi, sehingga banyak orang yang berada disawah. Antara lain sawah Ki Lurah Dipayuda.

Namun Riris tidak mendapat kesempatan lagi. Kelima orang itu sudah berdiri beberapa langkah didepannya.

“Aku sudah lama menunggu kesempatan seperti ini,“ berkata laki-laki yang sering mengganggu Riris.

“Apakah kau masih belum jera?“ bertanya Jangkung.

“Laki-laki itu sudah pergi. Tidak ada lagi orang yang dapat menghalangi kami,“ berkata laki-laki itu.

“Tetapi ayah sudah tahu, siapakah yang sering mengganggu adikku. Kau kira ayah terlalu bodoh untuk berdiam diri jika terjadi sesuatu atas adikku,“ berkata Jangkung.

Yang kemudian melangkah maju adalah kakaknya yang juga pernah dikalahkan oleh Barata, “Sudah aku katakan berkali-kali. Aku tidak takut kepada Ki Lurah Dipayuda meskipun ia bekas seorang prajurit. Apa kau kira seorang prajurit itu menjadi seperti hantu? Sayang anak muda. Kami yang pernah merasa terhina datang untuk menuntut balas.”

“Terhina oleh siapa?“ bertanya Jangkung.

“Calon suami Riris. Karena itu, Riris sekarang harus bertanggung jawab,“ berkata kakak orang yang sering mengganggu Riris itu.

“Itu tidak masuk akal. Jika kau memang laki-laki, cari orang yang kau sebut itu. Jangan membebankan kesalahan orang itu kepada seorang gadis yang tidak tahu apa-apa. Itupun jika Barata dapat dianggap bersalah,“ jawab Jangkung.

“Kami tidak mau berpikir berbelit-belit. Sekarang aku ingin membawa Riris. Jika kau ingin selamat, menyingkirlah. Biarlah ayahmu datang mengambilnya. Itu jika ada keberanian padanya,“ berkata orang itu.

“Gila,“ Jangkung hampir berteriak, “Kau menghina ayahku.”

“Berteriaklah. Tidak akan ada orang yang mendengar. Sawah ini telah menjadi sepi sejak pekerjaan menyiangi itu selesai. Mungkin disawah diseberang parit induk sebagaimana sawah ayahmu, yang masih sedang dikerjakan,“ berkata orang itu.

“Kau akan menyesal karena kau menghina ayahku,“ geram Jangkung.

“Laki-laki bakal suami Riris itupun telah menghina seluruh keluargaku,“ berkata orang itu.

“Persetan. Kau kira aku mau melepaskan adikku,“ suara Jangkung menjadi gemetar oleh kemarahan yang memuncak.

Tetapi orang itu tertawa. Katanya, “Sebaiknya kau tidak ikut campur Jangkung. Atau kau akan mengalami nasib buruk.”

“Riris adalah adikku,“ Jangkung berkata lantang.

Orang itu memberi isyarat. Kelima orang itupun mulai memencar. Namun Jangkung berkata lantang pula kepada laki-laki yang sering mengganggu Riris itu, “Apakah kau ingin mempergunakan kesempatan ini untuk memenuhi tantanganku? Ketika aku datang dibawah rumpun bambu itu, kau dalam keadaan lemah. Sekarang kau nampak segar dan siap untuk berkelahi.”

Tetapi kakaknya tertawa sambil menjawab, “Aku tidak akan membiarkan ia berkelahi seorang diri. Kami akan berkelahi bersama-sama. Berapapun tinggi ilmumu, maka kau akan kami bantai disini. Besok atau nanti sore orang-orang yang pergi ke sawah akan menemukan kau setengah mati di jalan ini. Kau dapat saja berceritera siapa kah yang telah memukulimu sampai kau tidak mampu bangkit dan berjalan pulang. Kami akan menunggu kedatangan ayahmu atau barangkali ia akan membawa orang-orang upahannya, “orang itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ingat. Riris ada ditanganku. Jika ayahmu menjadi gila, maka nasib Riris akan menjadi sangat buruk. Bakal suaminya akan menyesalinya sepanjang umurnya.”

Jangkung menggeram. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain.

Sejenak kemudian. Jangkungpun telah bersiap. Namun ia masih sempat berbisik kepada Setra, “Jika ada kesempatan, bawa Riris lari.”

Tetapi seorang diantara kelima orang itu mendengar. Katanya sambil tertawa, “Setra akan membawa Riris pergi,“ Yang lainpun tertawa pula.

Namun Jangkung tidak menunggu lebih lama lagi. Sebelum gema suara tertawa itu hilang, maka Jangkung telah meloncat menyerang seorang yang terdekat. Kakinya meluncur dengan derasnya. Orang itu terkejut. Sebelum ia bersiap sepenuhnya, kaki Jangkung telah menghantam dadanya.

Orang itu telah terdorong beberapa langkah. Tanpa dapat menguasai keseimbangannya, maka orang itupun telah terjadi.

Tetapi orang itu masih beruntung, karena kepalanya tidak membentur batang turi yang tumbuh dipinggir jalan atau menghantam padas. Tetapi ia telah terjebur kedalam parit yang berair jernih.

Beberapa orang yang lain segera telah berloncatan mendekat, sehingga Jangkung tidak sempat memburu orang yang terjatuh diparit itu.

Ketika Jangkung kemudian bersiap menghadapi keempat orang yang lain, maka orang yang tercebur ke dalam parit itupun telah berusaha untuk bangkit.

Tetapi ternyata Setra tidak membiarkannya. Iapun telah meloncat mendekat. Demikian orang itu berdiri, maka Setra telah mengayunkan tangannya. Orang itu belum siap menghadapinya ketika tangan Setra yang terayun itu menghantam keningnya.

Sekali lagi orang itu terjatuh. Tidak diparit. Tetapi orang itu telah terlempar ke sawah.

Tetapi pukulan Setra tidak sekeras serangan kaki Jangkung. Karena itu, maka orang itupun segera telah bangkit pula sambil mengumpat-umpat.

Dadanya memang terasa sesak sementara kening-nyapun terasa agak sakit. Namun ia masih mampu bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Setra memang tidak sering berkelahi sejak anak-anak. Tetapi didorong oleh kemarahan dan kesetiaannya kepada keluarga Ki Lurah Dipayuda, maka dengan serta merta ia telah menyerang orang yang berdiri dilumpur itu.

Kedudukan Setra memang lebih baik. Ia masih berdiri dipematang, sementara lawannya, kakinya dicengkam oleh lumpur yang agak dalam.

Dengan demikian Setra mampu bergerak lebih ringan dari lawannya ketika iapun kemudian menyerang dengan kakinya, lawannya terayun kearah pundaknya.

Orang itu berusaha melindungi pundaknya dengan tangannya. Tetapi Setra yang marah itu seakan-akan telah mendapatkan satu tenaga baru. Karena itu, maka serangannya itu menjadi demikian kuatnya sehingga tangan yang melindungi pundak orang itu justru terdorong dan menekan pundaknya sendiri.

Orang itu memang tidak menjadi kesakitan. Tetapi dorongan itu memang membuat keseimbangannya terguncang.

Ternyata Setra sempat pula mempergunakan keadaan itu. Sekali lagi ia menendang kearah perut. Setra sendiri tidak tahu kekuatan apa yang telah menggerakkan kakinya, sehingga kakinya benar-benar dapat mengenai perut orang itu.

Orang itu memang menjadi kesakitan. Ia yang sudah hampir kehilangan keseimbangan benar-benar telah jatuh terduduk. Sementara perutnya merasa mual.

Namun Setra tidak sempat berbuat apa-apa lagi. Tiba-tiba ia merasa seseorang menarik bajunya.

Demikian Setra berpaling, maka sebuah pukulan yang sangat keras telah mengenai rahangnya, sehingga setra itu telah terlempar dan terjebur ke sawah berlumpur itu pula.

Ketika Setra kemudian berusaha untuk bangkit sambil mengusap rahangnya yang bagaikan retak, maka lawannya yang terjatuh disawah itupun telah bangkit pula. Sementara itu, seorang yang lain berdiri sambil bertolak pinggang di pematang.

Setra termangu-mangu sejenak. Tetapi ia sudah melihat Jangkung bertempur dengan garangnya melawan ketiga orang yang lain.

Ternyata Jangkung memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk melawan ketiga orang itu. Ia sempat berloncatan kian kemari. Sekali ia menyerang, namun iapun kemudian meloncat mengambil jarak.

Tetapi ketiga orang lawannya agaknya juga memiliki bekal untuk bertempur melawannya. Terutama kakak anak muda yang sering mengganggu Riris dan seorang lagi, seorang laki-laki yang agak pendek tetapi bertubuh kuat dengan otot-otot yang menonjol dipermukaan kulitnya. Sedangkan anak muda yang sering mengganggu Riris itupun berusaha untuk menyesuaikan dirinya mengimbangi kedua orang yang lain meskipun ternyata ia adalah orang yang paling lemah diantara mereka.

Dengan segenap kemampuan yang ada padanya. Jangkung melawan ketiganya. Namun Jangkung ternyata bukan saja mempergunakan tenaga dan kemampuannya, tetapi ia juga mempergunakan otaknya. Justru karena itu, maka ia melihat lawannya yang paling lemah, sehingga ia telah memusatkan serangan-serangannya kepadanya.

Tetapi ternyata kedua orang lawannya yang lain setiap kali selalu berhasil menyelamatkan orang yang paling llemah diantara mereka itu. Beberapa kali Jangkung telah membangunkan kesempatan. Tetapi pada saat-saat terakhir, lawan-lawannya yang lain telah menggagalkannya. Sehingga dengan demikian maka Jangkung masih juga belum berhasil mengurangi jumlah lawannya.

Namun Jangkung tidak segera kehilangan akal. Ia masih saja memikirkan kemungkinan itu sebelum lawannya yang lain sempat menjatuhkan Setra.

Sementara itu, Setra sengaja membiarkan dirinya berendam di dalam lumpur. Ketika lawannya yang seorang lagi menyerangnya, maka mereka telah berkelahi sambil berendam. Sekali-sekali keduanya jatuh berguling. Ketika kemudian mereka bangkit, maka tubuh mereka telah berlumuran dengan lumpur.

Orang yang berdiri dipematang itu menyaksikannya sambil tertawa. Semakin lama semakin keras.

Tetapi- suara tertawanya telah tertahan ketika ia mendengar kawannya yang agak pendek itu berteriak memanggilnya, “Kita selesaikan anak yang sombong ini.”

Orang yang berdiri dipematang itu telah meloncati parit dan melangkah mendekati lingkaran pertempuran yang sengit. Sementara ia telah mempercayakan orang yang berlumpur itu kepada seorang diantara mereka.

Sebenarnyalah bahwa bagi Setra adalah terlalu sulit untuk dapat mengalahkan lawannya yang meskipun hanyi sebiang iur. Scua hukannva orang yang memiliki kemampuan berkelahi. Sementara lawannya adalah orang yang terbiasa menjelajahi lingkungan kekerasan.

Hanya oleh dorongan kemarahan, kesetiaannya kepa da keluarga Ki Lurah serta kemauannya untuk ikul melindungi Riris sajalah, maka ia mampu bertahan untuk beberapa lama.

Yang kemudian mengalami kesulitan adalah Jangkung. Ketika ia merasa bahwa usahanya untuk mengurangi lawannya hampir berhasil, maka lawannya telah bertambah dengan seorang lagi. Sehingga dengan demikian, maka Jangkung justru menjadi semakin berat kedudukannya, ia harus bertempur melawan ampat orang. Tiga di antaranya memiliki kemampuan yang cukup. Bahkan dua diantaranya adalah orang-orang upahan sebagaimana orang yang berkelahi melawan Setra.

Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian. Jangkung memang mulai terdesak. Beberapa kali serangan lawannya telah mengenainya. Sementara anak muda yang sering mengganggu Riris itu telah bangkit lagi karena se-akan-akan ia selalu mendapat perlindungan dari kakaknya.

Jika sebelumnya sekali-sekali Jangkung mampu mengenai lawannya, terutama anak muda yang sering mengganggu Riris itu, bahkan sekali-sekali kakaknya dan orang upahan itu, maka kemudian Jangkunglah yang beberapa kali telah dikenainya. Sulit baginya untuk menghindari serangan-serangan yang datang dari arah yang berbeda-beda, sementara lawan-lawannya adalah orang yang mempunyai pengalaman yang cukup luas.

Sekali Jangkung memang masih sempat mengenai orang yang bertubuh agak pendek itu dengan serangan kakinya kearah dada. Tetapi serangan itu tidak berhasil menjatuhkannya. Orang bertubuh pendek itu memang terdorong beberapa langkah surut. Namun Jangkung tidak sempat memburunya. Serangan yang lain datang dari arah yang berbeda, sehingga Jangkung harus meloncat menghindar.

Tetapi demikian ia berdiri tegak, serangan yang lain pun lelah menerkamnya pula, sehingga semakin lama, keadaannya memang menjadi semakin sulit. Jangkung lidak mampu bergerak melampaui kecepatan keempat orang itu berturutan. Satu atau dua serangan mampu dihindarinya, tetapi serangan serangan berikutnya terasa sulit untuk diatasinya.

Ketika serangan yang lidak dapat dihindarinya menghantam punggungnya, maka Jangkung telah terdorong beberapa langkah maju. Namun sebelum ia sempat memperbaiki keseimbangannya yang terguncang, serangan yang lain telah menyusulnya. Kaki salah seorang lawannya lelah mengenai lengannya, sehingga langkung benar-benar telah kehilangan keseimbangannya itu dan jatuh terbanting di tanah.

Jangkung berusaha untuk cepat bangku, tetapi ketika ia berhasil meloncat berdiri, maka serangan telah datang pula menghantamnya. Justru diarah dadanya.

Jangkung terdorong beberapa langkah surut, ia sama sekali tidak mampu menghindar ketika orang bertubuh pendek itu menangkapnya dari belakang. Kemudian dengan kuatnya ia mendorong Jangkung kearah anak muda yang sering mengganggu Riris.

Satu kesempatan yang baik sekali. Demikian Jangkung terhuyung-huyung karena dorongan orang bertubuh agak pendek itu, anak muda itu telah mengayunkan tangannya dengan sekuat tenaganya. Sambil sedikit merendah maka tangan itu telah menghantam perut Jangkung demikian kerasnya.

Jangkung tertunduk sambil mengeluh tertahan. Perutnya terasa menjadi mual. Namun ia masih sadar sepenuhnya akan keadaannya. Karena itu, ketika anak muda itu mengangkat kakinya untuk menyerang lambungnya, maka Jangkung justru telah menjatuhkan dirinya. Dengan kuatnya ia menyapu kaki lawannya sehingga lawannya itu telah terbanting jatuh pula.

Demikian anak muda itu bangkit, maka Jangkung telah melenting pula dengan satu serangan kaki yang terjulur lurus. Sekali lagi kakinya mengenai lawannya itu. Namun bersamaan dengan itu, sebuah serangan kaki yang keras sekali telah mengenai punggungnya. Sekali lagi ia terdorong maju, hampir menimpa anak muda yang sering mengganggu Riris. Tetapi seorang yang lain meloncat tepat pada waktunya. Dengan garangnya ia menerkam Jangkung, kemudian memukul tengkuknya. Ketika Jangkung hampir terjerembab, maka kakinya telah diangkatnya. Lututnya telah mengenai dahi Jangkung sehingga Jangkung justru terlempar surut.

Jangkung kemudian benar-benar kehilangan kesempatan untuk melawan bukan saja empat orang lawannya, tetapi lima orang. Setra telah menelungkup di pematang sambil mengerang kesakitan. Satu giginya terlepas sementara perutnya terasa bagaikan teraduk. Kepalanya menjadi pening dan pandangan matanya berkunang-kunang. Setra rasa-rasanya tidak lagi mempunyai kekuatan untuk bangkit betapapun ia mengerahkan segenap sisa tenaganya.

Riris yang menyaksikan perkelahian itu, menjadi semakin ketakutan. Sekali-sekali ia menjerit memanggil nama kakaknya. Tetapi ia kemudian memalingkan wajahnya, jika ia melihat kakaknya tidak mampu menghindari serangan yang datang semakin sering.

Tetapi Riris memang tidak dapat berbuat apa-apa. Kakaknya telah mengalami kesulitan dihadapan matanya, justru untuk melindunginya. Serangan yang datang susul menyusul kemudian menjadi semakin sulit untuk dihin darinya. Meskipun sekali-sekali Jangkung masih juga sempat menyerang dan mengenai lawannya, tetapi kesempatan itu semakin lama menjadi semakin tipis. Jangkung kemudian menjadi bagaikan permainan yang dilemparkan oleh seorang diantara lawan-lawannya kepada yang lain.

Riris memang sudah menjadi putus asa. Setra tidak juga sempat bangkit. Ketika timbul niat Riris untuk berlar mencari bantuan, maka kakinya rasa-rasanya menjadi lumpuh.

Namun dalam pada itu, ketika keadaan Jangkung menjadi semakin gawat, tiba-tiba saja telah terdengar derap kaki kuda.

Orang-orang yang sedang menyerang Jangkung bergantian itupun sempat berpaling. Namun ketika mereka melihat hanya seorang saja yang berkuda mendekat, maka orang-orang itu sama sekali tidak banyak menaruh perhatian. Namun mereka telah menyeret Jangkung menepi untuk memberikan jalan kepada orang berkuda itu untuk lewat.

Tetapi orang berkuda itu dari kejauhan telah melihat sesuatu yang tidak wajar terjadi. Karena itu, maka iapun telah mempercepat lari kudanya.

Beberapa langkah dari beberapa orang yang memegangi Jangkung yang menjadi semakin lemah itu, penunggang kuda itu telah menarik kekang kudanya, sehingga kudanyapun telah berhenti.

Riris yang ketakutan, yang mengharap bantuan dari siapapun dalam keputus asaannya, tiba-tiba saja berlari mendekati orang berkuda itu sambil menjerit tertahan, “Kakang Barata.”

Penunggang kuda itu terkejut. Iapun segera meloncat turun. Namun ketika Riris menjadi semakin dekat, langkahnya telah tertahan.

“Kau bukan kakang Barata,“ desisnya.

Kelima orang yang telah menyekap Jangkung itupun semula memang menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian merekapun yakin bahwa orang itu bukan anak muda yang telah mengalahkan mereka dibawah rumpun bambu itu.

Namun tiba-tiba saja orang berkuda yang telah meloncat turun itu bertanya, “Apa yang telah terjadi disini? Dan apakah kau mengenal Barata? Siapakah kau?”

Riris termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun telah menyingkirkan berbagai macam perasaan. Ia ingin mendapat bantuan dari siapapun.

“Mereka telah menganiaya kakakku,“ jawab Riris.

“Tetapi kau telah menyebut nama Barata,“ desis orang itu, “Apakah kau mengenalnya?”

“Barata adalah kawan ayahku,“ jawab Riris.

“Siapakah ayahmu?“ bertanya orang itu.

“Ki Lurah Dipayuda,“ jawab Riris yang sebenarnya menganggap keterangan itu tidak penting. Yang penting adalah persoalan dan kesulitan yang dihadapi kakaknya. Karena itu, maka katanya mengulang, “Orang-orang itu telah menganiaya kakakku.”

“Bohong,“ teriak kakak anak muda yang sering mengganggu Riris, “persoalan ini adalah persoalan yang sangat pribadi. Orang-orang ini dengan sengaja telah merusak sawahku. Aku berusaha untuk mencegahnya. Tetapi mereka tidak mau mendengar kata-kataku. Seorang diantara kedua orang yang merusak sawahku itu telah tidak berdaya.”

Orang berkuda itu memang melihat Setra yang mulai berusaha untuk bangkit betapapun sulitnya.

Namun orang berkuda itupun kemudian berkata, ”Jika kau anak Ki Lurah Dipayuda, maka aku berkewajiban untuk membantumu. Aku bukan Barata. Akan tetapi aku kenal baik dengan anak muda itu. Aku adalah Kasadha.”

“Kasadha,“ Jangkung yang lemah itu tiba-tiba meronta. Demikian tiba-tiba sehingga pegangan orang-orang yang menangkapnya itu terlepas. Dengan sisa tenaganya Jangkung mendekati Kasadha sambil berkata, “Ayah sering berceritera tentang kau. Namamu selalu dihubungkan dengan nama Barata.”

Kasadha masih sempat tersenyum meskipun kelima orang itu mulai bergerak. Katanya, “Dimana kau kenal Barata?”

“Ketika ia meninggalkan Pajang, ia singgah dirumahku,“ jawab Jangkung.

“Aku sebenarnya juga ingin mengunjungi Ki Lurah Dipayuda. Sudah lama aku tidak bertemu, sehingga rasa-rasanya aku menjadi rindu. Dari beberapa orang aku mendapat ancar-ancar rumahnya, sehingga aku hari ini memerlukan datang mengunjunginya. Namun agaknya disini aku telah bertemu dengan dua orang anaknya,“ berkata Kasadha, “karena itu, maka biarlah aku ikut bersama kalian. Sudah tentu setelah menyelesaikan persoalan kalian dengan orang-orang ini.”

“Persetan,“ geram kakak anak muda yang menginginkan Riris, “kau jangan ikut campur.”

“Mereka juga pernah bertempur melawan Barata,“ berkata Jangkung tiba-tiba, “tetapi mereka tidak berdaya.”

“Apa sebenarnya persoalannya?“ bertanya Kasadha.

“Anak itu mengingini adik perempuanku. Tetapi adikku sama sekali tidak menaruh perhatian kepadanya,“ jawab Jangkung.

Kasadha tertawa kecil. Katanya, “Lalu ia mendendam dan melakukan satu perbuatan yang tidak bertanggung jawab.”

“Ya,“ jawab Jangkung.

Kasadha mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia memandang Riris yang menjadi berpengharapan lagi. Matanya yang membayangkan kemungkinan lain itu menjadi bagaikan bercahaya.

Debar jantung Kasadha bagaikan menjadi semakin cepat. Bukan karena lima orang itu. Tetapi justru karena Riris segera menundukkan kepalanya ketika ia menyadari, Kasadha memandanginya.

“Gadis yang cantik,“ berkata Kasadha didalam hatinya.

Namun Kasadha itu memang terkejut ketika ia mendengar salah seorang dari kelima orang itu berteriak, “He, jangan turut campur jika kau tidak ingin mengalami nasib seperti anak sombong itu.”

Kasadha yang menyadari keadaan sepenuhnya telah mempersiapkan diri. Bahkan dengan sikap yang tenang meyakinkan ia masih mengikatkan kendali kudanya pada batang pohon turi yang banyak tumbuh dipinggir jalan.

“Aku ingin menasehatkan kepada kalian,“ berkata Kasadha, “sebaiknya kalian tidak mempergunakan cara yang kasar itu. Seandainya dengan paksa kalian mendapatkan gadis itu, apakah yang sebenarnya kau dapatkan? Tubuhnya. Sama sekali bukan hatinya. Apakah kau sudah puas sekedar mendapatkan tubuhnya itu?”

“Kau tidak usah sesorah dihadapanku. Sekarang, pergilah. Aku akan menyelesaikan persoalanku dengan anak ini,“ berkata kakak anak muda yang menghendaki Riris itu.

Tetapi Kasadha justru tertawa.

“Cukup,“ berkata orang itu, “jika kau benar benar tidak ingin menyelamatkan diri, maka baiklah. Kau akan menyesal sepanjang hidupmu karena kau akan dapat menjadi cacat. Bahkan jika kau keras kepala, maka persoalannya akan melampaui sekedar menjadi cacat.”

“Sudahlah,“ berkata Kasadha, “aku akan melayani apa yang kalian inginkan, “Lalu katanya kepada Jangkung, “jaga adikmu baik-baik. Kau tentu sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Aku akan mengusir mereka. Jika mereka tidak mau pergi, biarlah orang lain yang nanti mengangkatnya ke kuburan.”

“Tutup mulutmu,“ geram orang bertubuh pendek itu, “ternyata kau sombong melampaui anak itu.”

“Aku memang berusaha untuk dapat menyombongkan diriku sehingga membuat kalian marah,“ berkata Kasadha, “sudah agak lama aku tidak bekelahi.”

Orang bertubuh pendek itu tidak tahan lagi mendengar kata-kata anak muda yang mengaku bernama Kasadha itu. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang.

Kasadha melihat serangan itu. Tetapi ia memang sudah bersiap menghadapinya. Ia sengaja membuat orang-orang itu marah, karena dengan demikian, maka penalaran mereka akan menjadi kabur. Kasadha sama sekali tidak berniat merendahkan orang itu. Tetapi segala sesuatunya dilakukan atas dasar perhitungan, justru karena ia belum mengenal keempat orang itu.

Dengan memancing serangan itu, Kasadha ingin menjajagi kemampuan mereka. Jika ia dapat mengetahui tataran kemampuan salah seorang diantara mereka, maka Kasadha akan dapat mengetahui rata-rata kemampuan mereka meskipun tidak dengan pasti. Namun akan dapat dipergunakannya untuk memperhitungkan langkah-langkah selanjutnya.

Karena itu, ketika orang bertubuh pendek itu menyerang, Kasadha dengan sengaja tidak menghindar sepenuhnya. Sambil memiringkan tubuhnya, ia menangkis serangan itu.

Satu benturan kecil telah terjadi. Namun dengan demikian Kasadha dapat menjajagi kekuatan lawannya yang bertubuh pendek itu. Sambil meloncat mundur Kasadha mempersiapkan dirinya lebih baik lagi, karena ternyata orang bertubuh pendek itu mempunyai kekuatan yang menurut perhitungan Kasadha cukup besar.

Jangkung yang kesakitan itu telah bergeser mendekati adiknya. Namun setelah mendapat kesempatan sejenak, serta terasa silirnya angin dibulak panjang itu menyentuh tubuhnya, maka sedikit demi sedikit kekuatan Jangkung telah tumbuh kembali. Bahkan Setra yang hampir pingsan itupun telah mampu berdiri tegak dan berjalan tertatih-tatih mendekati Jangkung. Tekadnya yang membara untuk ikut melindungi Riris telah membuatnya menjadi seorang yang mempunyai daya tahan yang tinggi.

***

Jilid 32

NAMUN dalam pada itu Jangkung berbisik ditelinga Setra, “Jika Kasadha itu mengalami kesulitan, aku harus membantunya. Kau harus menjaga Riris baik-baik.”

“Ya,“ jawab Setra tegas.

Sementara itu, Kasadha memang telah mulai bertempur melawan lima orang sekaligus. Namun Kasadha memang benar-benar tangkas. Beberapa saat ia sempat menilai lawan-lawannya. Seperti Jangkung maka ia menganggap anak muda yang telah mengingini Riris itu adalah orang yang paling lemah diantara kelima orang lawannya.

Tetapi berbeda dengan Jangkung, maka sasaran Kasadha justru bukan orang terlemah. Dengan kekuatannya yang masih segar, Kasadha justru telah menyerang orang bertubuh pendek itu disetiap kesempatan. Bahkan ketika ia sempat meloncat melepaskan diri dari serangan lawannya yang lain, maka ia telah memusatkan segenap kemampuannya untuk menyerang orang bertubuh pendek itu.

Tetapi orang bertubuh pendek itu melihat serangan Kasadha yang meluncur deras. Karena itu, maka iapun telah bergeser dengan tangkas pula sehingga serangan Kasadha tidak berhasil mengenainya.

Namun Kasadha ternyata tidak ingin melepaskannya. Tiba-tiba saja tubuhnya telah berputar, bertumpu pada sebelah kakinya. Satu serangan yang cepat, mendatar telah menghantam orang bertubuh pendek itu. Begitu cepatnya, kaki Kasadha terayun dalam putaran yang tidak terduga.

Orang bertubuh pendek itu memang terkejut. Namun pelipisnya tiba-tiba saja bagaikan membentur sebongkah batu padas. Dengan derasnya orang itu terpelanting jantuh.

Namun orang itu berusaha untuk dengan cepat bangkit. Ketika kemudian ia berdiri, maka terasa kepalanya menjadi pening. Untuk beberapa saat matanya menjadi berkunang-kunang.

Sementara itu, lawan-lawan Kasadha yang lain telah menyerang hampir bersamaan. Tetapi dengan tangkas Kasadha meloncat mengambil jarak. Ketika seorang yang terdekat memburunya, dengan tiba-tiba Kasadha justru menyerangnya. Sehingga dengan demikian, maka telah terjadi benturan yang keras. Namun Kasadha yang memang telah dengan sengaja meloncat menyerangnya menjadi lebih mapan.

Lawannya itu terdorong beberapa langkah surut. Sementara yang lain telah memburunya pula, sehingga Kasadha harus berloncatan menghindar. Namun sekaligus iapun telah menyerang pula.

Pertempuran memang menjadi semakin sengit. Orang bertubuh pendek itu perlahan-lahan telah dapat menguasai dirinya kembali. Namun keningnya masih terasa sangat sakit serta pandangan matanyapun menjadi agak kabur.

Jangkung memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Sementara itu, tubuhnya semakin terasa lebih baik. Kekuatannya meskipun belum pulih seutuhnya, namun terasa telah menjadi semakin baik pula. Silirnya angin yang bertiup melintasi bulak panjang itu seakan-akan telah mengipasi tubuhnya dan menyalakan kembali kemampuannya yang hampir padam.

Setrapun merasa keadaannya menjadi semakin baik. Bahkan sekali-sekali terdengar ia menggeretakkan gigi.

Hampir sepanjang umurnya ia tidak pernah berkelahi. Namun tiba-tiba saja ia begitu ingin untuk ikut dalam perkelahian itu.

Jangkung yang memperhatikan pertempuran itu dengan sungguh-sungguh melihat, bahwa belum ada tanda-tanda bahwa pertempuran itu akan berakhir dengan cepat. Kasadha masih saja berloncatan diantara kelima orang lawan-lawannya.

Sementara itu, Riris justru merasa heran menyaksikan Kasadha yang sedang bertempur. Ada beberapa persamaan dengan anak muda yang bernama Barata. Bukan saja pada wajahnya. Tetapi juga sikapnya.

Riris hampir terpekik ketika ia melihat Kasadha yang meluncur dengan kaki menyamping lurus mengarah ke-dada anak muda yang sering mengganggunya. Demikian kerasnya, sehingga anak muda itu benar-benar terpelanting dan jatuh berguling justru kearah Jangkung yang berdiri tegak menjaga adik perempuannya.

Tetapi ketika ia melihat anak muda yang sering mengganggu Riris itu tertatih-tatih bangkit berdiri, hatinya yang bergejolak telah tergelitik untuk ikut menyelesaikan pertempuran itu. Apalagi tubuhnya telah terasa menjadi semakin baik.

Karena itu, maka iapun telah berdesis kepada Setra, katanya, “Setra. Kau jaga Riris. Aku akan menyelesaikan anak gila ini.”

“Baik,“ jawab Setra tegas.

“Kakang,“ Riris memang menjadi cemas untuk ditinggalkan sendiri.

“Jangan takut. Aku tidak akan jauh darimu,“ jawab Jangkung.

Karena itu, demikian anak muda yang sering mengganggu Riris itu berdiri tegak, maka Jangkungpun telah mendekatinya sambil berdesis, “Nah, kesempatan seperti inilah yang aku tunggu.”

Anak muda itu menggeram. Katanya dengan nada berat, “Setan kau. Ternyata kau memang dungu.”

“Kita akan saling menjajagi,“ berkata Jangkung.

“Aku bunuh kau,“ geram anak muda itu.

Namun Jangkung menjawab, “Aku juga dapat berteriak, aku bunuh kau.”

Anak muda itupun segera bersiap. Tetapi Jangkung ternyata bergerak cepat. Serangannya telah datang lebih dahulu sehingga anak muda itu harus meloncat menghindar dengan langkah panjang. Namun Jangkungpun dengan cepat memburunya, sehingga keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Kasadha yang melihat Jangkung telah mampu untuk bertempur lagi dengan baik, telah berteriak, “Bagus. Kau akan dapat menyelesaikannya. Biarlah aku mengurus yang lain.”

“Tutup mulutmu,“ teriak kakak anak muda yang bertempur melawan Jangkung itu, “kalian akan menyesal nanti.”

Tetapi kata-katanya telah terputus. Kasadha telah meloncat menyerangnya. Meskipun orang itu berusaha menghindar, namun tangan Kasadha sempat menggapai pundaknya. Orang itu terdorong surut dan terputar setengah lingkaran. Sementara itu, Kasadha yang akan memburunya harus mengurungkan niatnya, karena lawannya yang lain telah lebih dahulu menyerangnya.

Karena itu, maka Kasadha harus menghindarinya. Beberapa kali ia harus berloncatan karena tiga orang yang menyerangnya bersama-sama.

Namun dalam pada itu, Kasadha terkejut ketika ia sempat melihat seorang lawannya yang ternyata lebih memperhatikan Jangkung daripada dirinya. Kakak anak muda yang sering mengganggu Riris itu setelah berhasil memperbaiki keadaan dirinya ternyata tidak lagi bertempur bersama dengan ketiga orang yang lain melawan Kasadha. Tetapi orang itu telah bergabung dengan adiknya melawan Jangkung.

Tetapi Jangkung sama sekali tidak berdesah. Ia telah bertempur melawan lima orang sekaligus meskipun hampir saja ia dibantai oleh mereka jika Kasadha tidak datang. Namun melawan kedua orang itu. Jangkung masih merasa akan dapat bertahan.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka telah terjadi dua lingkaran pertempuran di tengah-tengah bulak panjang itu. Kasadha melawan tiga orang dan Jangkung melawan dua orang.

Namun dalam pada itu, Kasadha yang memiliki ilmu yang cukup tinggi itu segera mendapat kesempatan untuk mengembangkan ilmunya. Karena itu, maka iapun segera mulai menekan ketiga orang lawannya. Meskipun dua diantara mereka adalah orang-orang upahan, namun Kasadha sama sekali tidak mendapat banyak kesulitan.

Bahkan beberapa saat kemudian, serangan-serangan Kasadha menjadi semakin sering dapat mengenai sasarannya. Seorang diantara lawannya, tiba-tiba saja telah dikenai serangan tumit Kasadha. Demikian kerasnya sehingga orang itu terdorong jatuh. Meskipun ia masih berusaha untuk bangkit berdiri, tetapi nafasnya yang sudah terengah-engah itu rasa-rasanya menjadi sesak.

Namun dalam pada itu. Jangkung yang baru saja bangkit, ternyata dengan cepat mulai diganggu lagi oleh kesulitan didalam dirinya. Meskipun demikian, ternyata Jangkung masih mampu bertahan terhadap kedua orang lawannya. Bahkan sekali-sekali Jangkung berhasil mendesak anak muda yang sering mengganggu Riris sekaligus menghindari serangan-serangan kakaknya.

Tetapi kakak anak muda itu memang memiliki kelebihan dari adiknya sehingga karena itu, maka ia lebih banyak menyerang dan mengacaukan pertahanan Jangkung daripada harus menghindar.

Di arena pertempuran yang lain, ternyata Kasadha yang telah kehilangan kedua orang lawannya karena mereka bertempur melawan Jangkung, menjadi semakin bebas bergerak. Dengan tangkasnya ia menyerang lawannya seperti angin pusaran. Bahkan dalam satu serangan ketiga orang lawannya harus berloncatan menjauh.

Namun beberapa saat kemudian, ketika Kasadha melihat Jangkung setiap kali harus berloncatan menjauhi lawannya yang tua, maka Kasadhapun telah mengambil keputusan, untuk mengerahkan segenap kemampuannya, menyelesaikan pertempuran itu.

Karena itu, maka Kasadhapun kemudian bergerak semakin cepat dan garang. Serangan-serangannya semakin membingungkan ketiga orang lawannya. Dalam keadaan yang demikian, maka serangan-serangan Kasadha menjadi semakin sering mengenai mereka.

Dalam puncak serangannya yang deras, dengan mengerahkan kekuatan dan ilmunya, maka Kasadha telah berhasil mengenai seorang diantara lawannya tepat pada dadanya. Tumitnya dengan keras telah menghantam tulang-tulang iganya sehingga rasa-rasanya menjadi retak.

Orang yang bertubuh pendek itupun telah terlempar dan terbanting ditanah. Ia masih berusaha untuk cepat bangkit. Namun demikian ia berdiri, maka iapun harus menyeringai menahan sakit yang menusuk-nusuk bagian dalam dadanya. Dengan demikian, maka gerakanyapun menjadi semakin terganggu. Ia tidak lagi dapat meloncat menerkam anak muda itu. Justru jika ia bergerak, dadanya seakan-akan menjadi semakin kesakitan.

Karena itulah, maka Kasadha menjadi semakin garang. Dua orang lawannya semakin tidak berdaya. Ketika Kasadha menghindari serangan seorang diantara mereka, maka diluar dugaan, iapun telah berputar sambil mengayunkan kakinya. Begitu derasnya mengenai tengkuk lawannya yang lain, sehingga orang itupun telah terdorong dan jatuh terjerembab. Wajahnya seakan-akan telah dibenamkan kedalam parit, sementara badannya menelungkup diatas tanggul. Demikian orang itu berputar dan berusaha untuk bangkit, maka ia justru telah berguling dan seluruh badannya justru terjebur diatas parit.

Kasadha sempat tersenyum. Sementara itu, lawannya yang tinggal seorang itu sama sekali sudah tidak berdaya. Ketika Kasadha kemudian memandanginya, maka nampak dahinya mulai berkerut. Setapak Kasadha melangkah maju, maka tiba-tiba orang itu telah meloncat berlari sekuat-kuatnya.

Kasadha ternyata tidak mengejarnya. Ia mulai berpaling kepada Jangkung yang masih berkelahi melawan dua orang lawannya. Kakak beradik yang merupakan lawan utama karena mereka berdualah yang telah merencanakan semuanya itu.

Kasadha selangkah demi selangkah mendekati arena pertempuran antara Jangkung dan kedua orang lawannya. Ketika ia melihat orang yang terjebur kedalam parit itu tertatih-tatih berdiri dan naik ke tanggul, maka Kasadha tidak menghiraukannya lagi. Apalagi orang yang bertubuh pendek itu sudah tidak berdaya untuk melakukan perlawanan.

Anak muda yang sering mengganggu Riris serta kakaknya memang menjadi gelisah. Mereka sama sekali tidak akan mampu bertahan jika Kasadha ikut dalam perkelahian itu. Karena itu, ketika Kasadha menjadi semakin dekat, maka kedua orang itu justru telah meloncat surut mengambil jarak dari Jangkung.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Nah, apakah kalian masih berusaha memaksakan kehendak kalian atas gadis itu?”

“Persetan,“ geram kakaknya, “aku sudah memperingatkan, kau jangan turut campur.”

“Sebelum aku, sudah ada pula orang yang mencampuri persoalan kalian. Aku kira itu wajar sekali. Orang-orang yang berusaha memaksakan kehendaknya kepada orang lain akan dapat mengundang campur tangan. Jika gadis itu menolak, kenapa kalian masih saja mengganggunya? Aku peringatkan sekali lagi. Ayah gadis itu adalah seorang Senapati, meskipun telah mengundurkan diri dari lingkungan keprajuritan. Jika Ki Lurah Dipayuda yang langsung menangani persoalan anaknya, maka akibatnya akan sangat jauh lebih parah. Ia berhak untuk berbuat apa saja karena ia memang wajib melindungi anaknya.”

Tetapi jawab orang itu sangat menyakitkan hati Kasadha. Seperti yang selalu diucapkannya, maka yang tua diantara kedua kakak beradik itu menjawab, “Aku tidak takut dengan bekas seorang prajurit. Bahkan kepada seorang prajurit sekalipun.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Katanya, “Sikapmu benar. Bahkan kau tidak perlu takut dengan seorang prajurit. Tetapi kau harus melihat dari persoalan yang terjadi. Secara pribadi kau boleh bersikap seperti itu terhadap pribadi yang lain meskipun ia seorang prajurit. Tetapi dalam hubunganmu dengan sikapmu sekarang ini, dikaitkan dengan ketenangan hidup diantara sesama, maka kau akan benar-benar berhadapan dengan seorang prajurit tidak sebagai pribadi. Tetapi seorang prajurit yang menjalankan tugasnya.”

“Apapun yang dilakukannya,“ geram orang itu.

Kasadha masih menahan diri. Tetapi ia berkata, “Aku adalah seorang prajurit. Aku memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan sekarang ini. Tetapi makna dari pesan tugas yang aku emban, maka aku wajib bertindak atasmu sekarang jika kau masih berdiri pada sikapmu.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Ia melihat mata Kasadha yang bagaikan menyala. Karena itu, maka ia harus berpikir ulang untuk menjawabnya lagi. Bagaimanapun juga ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa berlima mereka tidak dapat memenangkan pertempuran itu. Apalagi kemudian mereka tinggal berdua saja.

Karena orang itu tidak menjawab, maka Kasadhapun telah membentaknya, “Pergi. Ingat kata-kataku. Aku tidak akan pernah menganggap persoalan ini bukan persoalan yang sungguh-sungguh. Pajang yang masih ingin memantapkan landasan pemerintahannya, tidak akan membiarkan goncangan-goncangan terjadi karena sikap orang-orang seperti kalian itu betapapun kecilnya, karena sikap kalian, dengan memaksakan kehendak kalian kepada orang lain adalah sikap yang dapat mengganggu ketenangan hubungan antara sesama.”

Kedua orang itu masih termangu-mangu. Karena itu Kasadha berkata, “Cepat pergi, sebelum aku menentukan lain. Tetapi sekali lagi aku katakan kepadamu, bahwa aku adalah seorang prajurit. Sikapmu akan menjadi laporan dan aku akan minta wewenang untuk bertindak di daerah ini, karena aku memang mempunyai hak untuk melakukannya.”

Kata-kata Kasadha itu ternyata telah menyentuh perasaan orang-orang itu. Kesungguhan pada sikap dan kata-kata yang ditekankan, agaknya memang bukan sekedar untuk menakut-nakutinya.

Karena itu, ketika Kasadha kemudian sekali lagi mengusir mereka, maka orang-orang itupun tidak menjawab lagi. Bergegas mereka meninggalkan tempat itu. Sedangkan orang bertubuh pendek yang serasa tulang-tulang iganya retak, telah dibantu oleh kawannya yang basah kuyup karena telah terperosok masuk kedalam parit.

Jangkung dan Kasadha memandang mereka beberapa saat. Namun kemudian Jangkung telah bertanya kepada Kasadha, “Kenapa kau lepaskan mereka?”

“Mereka tentu sudah jera,“ jawab Kasadha.

“Barata yang pernah terlibat pula dalam perkelahian seperti ini juga menganggap mereka menjadi jera. Tetapi ternyata mereka masih mengulanginya lagi,“ berkata Jangkung.

“Kali ini adalah yang kedua mereka lakukan. Jika sekali lagi mereka melakukannya, maka yang ketiga tentu Ki Dipayuda sendiri yang akan menyelesaikannya sampai tuntas,“ jawab Kasadha. Namun katanya kemudian, “Tetapi aku kira, dua kali ini sudah cukup. Mereka tidak akan mengganggu lagi. Kecuali jika mereka benar-benar orang dungu.”

Jangkung mengangguk-angguk. Sementara itu Riris justru hanya menundukkan kepalanya saja.

Tetapi kakaknyalah yang kemudian berkata kepadanya, “Kau harus mengucapkan terima kasih, Riris.”

Riris masih saja menunduk. Sikapnya yang kaku membuat Kasadha menjadi agak segan pula. Karena itu, maka ialah yang bertanya kepada Jangkung, “Sebenarnya kalian akan pergi kemana atau dari mana?”

“Kami pergi ke bulak diseberang parit induk. Parit yang menyilang jalan ini,“ jawab Jangkung.

“Jika demikian, marilah, aku akan pergi bersamamu sampai ke sawah itu,“ berkata Kasadha.

Jangkung termangu-mangu sejenak. Ia agak merasa segan untuk mengajak Kasadha pergi ke sawah sekedar mengirim makanan. Namun jika ia pergi berdua dengan adiknya dan Setra saja, mungkin akan dapat terjadi sesuatu lagi, sementara badannya masih terasa lemah setelah ia bertempur mengerahkan tenaga. Terutama ia mencemaskan Riris yang menjadi sasaran orang-orang yang tidak berjantung itu. Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat menitipkan adik perempuannya pulang, sementara ia dan Setra membawa makanan ke sawah.

Dalam keragu-raguan itu. Jangkung melihat seorang yang muncul dari balik pohon perdu di tikungan. Ternyata orang itu adalah salah seorang yang bekerja disawahnya.

Demikianlah ia mendekat, maka sebelum bertanya apapun, telah terdengar orang itu bergeremang, “He, apakah kalian memang ingin membiarkan kami kelaparan? Kami sudah bekerja sejak matahari terbit. Sampai kulit kami hangus terbakar sinar matahari kalian masih saja berbicara disitu.”

“Aku tampar mulutmu,“ Setra berteriak, “kau tidak melihat apa yang terjadi.”

“Sst,“ cegah Jangkung, “jangan terlalu kasar, Setra. Mereka memang sudah lapar.”

“Mereka hanya lapar. Tetapi kita dapat mati disini,“ jawab Setra.

Orang yang datang itu mengerutkan keningnya. Namun ia memang melihat pakaian Setra yang penuh dengan lumpur. Demikian pula pakaian Jangkung yang kotor. Bukan hanya pakaiannya, tetapi wajahnya yang bernoda kebiru-biruan. Sementara sebelah matanya menjadi merah. Orang itupun melihat tanaman yang rusak disebelah parit dan bercak-bercak lumpur dan ranting perdu yang berpatahan.

“Apa yang telah terjadi disini?“ bertanya orang itu.

“Sudahlah. Bawa makanan dan minuman itu kepada kawan-kawanmu bersama Setra. Kalian berdua tidak akan diganggu. Kami berdua akan mengantarkan tamu kami,“ berkata Jangkung.

Orang yang bekerja disawah itu mengangguk-angguk. Sementara Jangkung berkata, “Aku minta maaf, bahwa kiriman makan dan minum kalian terlambat hari ini.”

Tetapi Setra tiba-tiba saja menyahut, “Kenapa kita harus minta maaf? Bukankah bukan salah kita jika kiriman itu datang terlambat? Kita sudah berangkat dari rumah agak lebih awal dari biasanya.”

“Sudahlah,“ jawab Jangkung, “kau jangan begitu garang.”

Setra mengerutkan dahinya. Namun iapun kemudian tidak menjawab lagi.

Demikianlah, maka Setra telah mengangkat makanan yang semula diletakkan. Untung tidak menjadi rusak karena pertempuran itu. Demikian pula minumannya yang kemudian dibawa oleh orang yang datang menjemput itu.

“Pakaianku penuh dengan lumpur,“ berkata Setra.

“Kau dapat mandi dan mencuci pakaianmu di parit induk nanti. Sambil membersihkan lumpur ditubuhmu kau dapat mengeringkan pekaianmu diatas bebatuan atau diatas rerumputan,“ berkata kawannya yang datang menjemputnya.

“Selama itu aku berendam didalam air?“ bertanya Setra.

“Bukankah itu lebih baik daripada kau berendam dalam lumpur seperti itu?“ bertanya kawannya.

“Tutup mulutmu,“ bentak Setra.

Kawannya justru menahan tertawanya. Ia menjadi geli melihat kesan diwajah Setra. Tetapi ia tahu bahwa memang telah terjadi sesuatu atas orang itu. Karena itu, ia sadar, bahwa jika ia mentertawakannya, maka Setra menjadi semakin tersinggung.

Jangkunglah yang berkata, “Kau sudah kejangkitan penyakit orang-orang yang menghentikan kita itu, Setra. Kau menjadi sangat garang.”

Setra menarik nafas dalam-dalam. Tanpa menjawab iapun telah melangkah dengan cepat menuju ke sawah diseberang parit induk. Sementara itu, kawannya yang menjemputnya telah berlari-lari menyusulnya, setelah ia minta diri kepada Jangkung.

Jangkungpun kemudian telah berkata kepada Kasadha, “Marilah. Kita pulang. Ayah agaknya ada dirumah.”

Jangkung dan Riris kemudian berjalan pula bersama dengan Kasadha yang menuntun kudanya menuju ke padukuhan.

Kedatangan Kasadha telah disambut dengan gembira oleh Ki Lurah Dipayuda. Setelah ia meninggalkan lingkungan keprajuritan dan tinggal dirumah. maka setiap tamu dari Pajang telah disambutnya dengan gembira. Seolah-olah ia akan mendapat kawan untuk setidak-tidaknya mengenang masa-masa ia masih mengabdikan diri sebagai seorang prajurit di Pajang. Apalagi yang datang adalah Kasadha yang dianggapnya memiliki kelebihan dari para prajurit yang lain.

Setelah diantar oleh Jangkung ke pakiwan untuk membersihkan diri karena pertempuran yang dilakukan .telah membuatnya kusut, maka Kasadha telah dipersilahkan duduk dipendapa bersama Ki Lurah Dipayuda. Jangkungpun telah ikut pula menemuinya setelah ia mandi dan berganti pakaian. Namun memar diwajahnya masih nampak membiru. Sedang sebelah matanya masih nampak merah menyala.

Ibunya yang cemas melihat keadaan anaknya telah mendengar serba sedikit dari Riris tentang apa yang telah terjadi di bulak panjang sebelum mereka sampai ke parit induk.

Namun ibunya telah menemui Jangkung itu langsung ketika Jangkung keluar dari pakiwan.

“Bagaimana dengan kau?“ bertanya ibunya.

Tetapi Jangkung justru tertawa. Katanya, “Aku tidak apa-apa ibu?”

“Tetapi wajahmu, matamu dan barangkali bagian-bagian tubuhmu yang lain?“ bertanya ibunya.

Jangkung masih saja tertawa. Katanya, “Bukankah biasa saja ibu. Aku berkelahi. Aku dipukuli lawan-lawanku dan wajahku menjadi memar. Tetapi aku tidak saja dipukuli. Aku juga memukuli. Kita memang saling memukul.”

“Ah,“ desah ibunya, “aku menjadi cemas melihat keadaanmu Jangkung. Kau jangan bergurau saja.”

“Ibu tidak perlu cemas. Prajurit yang bernama Kasadha itu datang tepat pada waktunya. Tanpa Kasadha, aku mungkin telah menjadi pingsan. Riris tentu mereka bawa. Tetapi semuanya itu tidak terjadi. Bukankah aku dan Riris kembali dengan selamat?“ desis Jangkung.

Sebelum ibunya menjawab. Jangkung telah meninggalkannya dan pergi ke biliknya.

Ketika Jangkung telah berada di pendapa, maka ayahnyapun menjadi cemas sebagaimana ibunya. Namun jawaban Jangkungpun sebagaimana diucapkannya kepada ibunya. Katanya pula,“ Kasadha telah menyelamatkan aku dan Riris.”

Ki Lurah Dipayuda mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah dadanya menjadi bagaikan bergejolak. Meskipun demikian, dihadapan Kasadha ia masih sempat tersenyum dan berkata, “Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah itu juga menjadi kewajiban kita Ki Lurah. Kita harus saling menolong diantara sesama.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun nada suaranya merendah, “Aku harus berbuat sesuatu. Sudah dua kali anakku diperlukan dengan kasar.”

Kasadha melihat betapa Ki Lurah Dipayuda menahan perasaannya. Namun kemudian terucapkan juga dari mulut orang tua itu, “Agaknya memang sudah waktunya aku mengunjunginya. Sebaiknya aku berbicara dengan keluarganya untuk mencari penyelesaian yang terbaik.”

Kasadha mengangguk-angguk pula. Ia mengerti bahwa Ki Lurah Dipayuda bukan seorang yang hatinya mudah terbakar. Tetapi Ki Lurah juga memiliki landasan-landasan sikap yang sulit untuk bergeser apabila ia sudah menentukannya.

Namun Ki Lurah itupun kemudian berkata, “Tetapi sudahlah. Kau baru saja datang kerumah ini. Sebaiknya kita lupakan saja persoalan itu, sehingga kedatanganmu tidak mendapat kesan yang justru kurang baik. Seharusnya kau datang dirumahku dalam suasana yang lain.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Bukankah kita terbiasa memasuki suasana yang bagaimanapun juga? Dan bukankah kita harus dapat dengan cepat menyesuaikan diri?”

Ki Lurah Dipayuda tertawa. Katanya, “Kau menjadi semakin dewasa. Bagaimana dengan seratus orang anak buahmu?”

Kasadha justru tertawa.

Ketika kemudian hidanganpun telah disajikan, maka suasana memang telah berubah. Jangkung dengan cepat memasuki pembicaraan antara ayahnya dan Kasadha yang ternyata juga seorang penggemar kuda.

“Kau dapat melihat beberapa ekor kudaku,“ berkata Jangkung.

“Nanti dulu,“ cegah ayahnya,“ Kasadha baru akan minum.”

“O,“ Jangkung tersenyum, “silahkan.”

Sementara Kasadha minum hidangan yang baru saja dihidangkan, dari celah-celah dinding Riris sempat mengamatinya. Gadis itu masih saja merasa heran. Kasadha dan Barata mempunyai begitu banyak kemiripan.

“Mungkin karena mereka sudah terlalu lama berada dalam lingkungan yang sama,“ berkata Riris kepada diri sendiri. Namun sebuah pertanyaan telah muncul pula, “Apakah pergaulan yang betapapun lamanya akan dapat membentuk wajah-wajah mereka sehingga mirip yang satu dengan yang lain?”

Ketika Riris kemudian bergeser meninggalkan tempatnya, ia mendengar Kasadha tertawa. Memang hampir tidak ada bedanya dengan suara Barata jika ia tertawa.

Atas permintaan Ki Lurah, maka Kasadha memutuskan untuk bermalam satu malam dirumah Ki Lurah. Ia telah mendapat i jin untuk meninggalkan tugasnya bukan hanya dua hari. Tetapi tiga hari dua malam. Justru karena tidak ada sanak kadang yang pantas dikunjunginya, Kasadha telah mengunjungi Ki Lurah Dipayuda yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.

Hari itu. Jangkung sempat menunjukkan kuda-kudanya kepada Kasadha. Seperti juga dengan Barata, maka keduanya segera menjadi akrab. Keduanya telah berada di kandang untuk waktu yang cukup lama.

“Nah, kau tinggal memilih,“ berkata Jangkung.

Tetapi Kasadha tertawa. Katanya, “Jika aku kelak menjadi seorang Tumenggung, maka aku akan membeli tidak hanya seekor kuda.”

“Menunggu kau menjadi seorang Tumenggung, aku sudah menjadi terlalu tua untuk menjadi pedagang kuda,“ jawab Jangkung sambil tertawa.

“Atau aku harus menabung sedikit demi sedikit,“ sahut Kasadha.

“Belum tentu lima belas tahun tabunganmu cukup, karena setiap terkumpul agak banyak tabunganmu kau ambil untuk membeli kesenanganmu yang lain,“ jawab Jangkung pula.

Kasadha tertawa semakin keras. Katanya, “Karena itu, maka untuk sementara aku cukup mempergunakan kuda kesatuanku itu saja. Memang tidak terlalu baik. Tetapi mencukupi kebutuhan.”

Jangkungpun tertawa pula. Katanya, “Kudamu cukup baik.”

Sejenak kemudian keduanya telah berada diserambi gandok. Ketika Riris menghidangkan minuman di sore hari, maka kepalanya masih saja menunduk, sebagaimana dilakukannya disaat Barata di hari pertama berada dirumah itu.

Namun demikian Riris meletakkan mangkuk. Jangkung telah berkata kepadanya, “Kau belum mengucapkan terima kasih Riris.”

“Ah,“ Riris berdesah.

“Bukankah itu tidak perlu,“ sahut Kasadha.

“Kau harus belajar bersikap dewasa. Kau bukan anak-anak yang harus malu berbicara dengan orang lain,“ berkata Jangkung.

Wajah Riris menjadi merah. Sekilas ia memandang, wajah kakaknya. Namun Jangkung sadar, didalam nanti, Riris tentu akan marah kepadanya dan bahkan akan mencubitnya sampai kulitnya menjadi merah biru.

Tanpa mengucapkan sesuatu, Ririspun telah meninggalkan serambi. Namun ia masih sempat berpaling sekilas. Sekali lagi penglihatannya bagaikan menjadi kabur. Sulit baginya membedakan antara Barata dan Kasadha. Keduanya adalah anak-anak muda yang pernah menolongnya.

Kasadha sendiri, seakan-akan tidak begitu memperhatikan kehadiran Riris di serambi itu. Namun ketika kemudian Jangkung meninggalkannya beberapa saat, Kasadha sempat merenungi gadis itu.

“Riris,“ katanya didalam hati, “namanya yang patut sekali sebagaimana ujudnya.”

Seperti yang sudah diduga Jangkung, demikian ia masuk ke ruang dalam, maka Riris telah menunggunya. Dengan cepat Riris telah menyerangnya. Cubitan yang kuat dan bahwa kemudian telah diputar pada lengannya, membuat Jangkung menyeringai kesakitan.

“Kau memang nakal sekali,“ geram Riris.

“Sakit, Riris,“ desah Jangkung.

“Setiap kali kau menggodaku dihadapan orang lain,“ berkata Riris sambil memutar cubitannya.

“Riris,“ Jangkung menjadi semakin kesakitan,“ Jangan. Nanti aku putar hidungmu.”

“Kau harus menjadi jera,“ ancam Riris, “jika tidak, aku tidak akan melepaskannya.”

“Ya. Ya,“ jawab Jangkung, “aku sudah jera.”

“Kau harus minta maaf,“ geram Riris pula.

“Ya. Ya. Aku minta maaf,“ sahut Jangkung.

Riris kemudian memang telah melepaskan cubitannya. Namun ia masih saja mengancam, “Jika kau lakukan lagi, aku akan memberitahukannya kepada ayah dan ibu.”

“Tidak. Nanti tidak lagi,“ jawab Jangkung.

“Kau berjanji,“ desis Riris.

“Aku berjanji. Nanti aku tidak akan mengganggumu lagi. Entah besok atau lusa,“ jawab Jangkung.

Riris menjadi marah. Tetapi ketika tangannya terjulur. Jangkung sudah berlari keluar sambil berkata, “Cukup. Aku benar-benar jera.”

Riris berdiri termangu-mangu sejenak. Jangkung telah meninggalkan ruangan sambil berlari-lari.

Namun sebelum Riris meninggalkan ruangan itu mengejar Jangkung, ayahnya telah memasuki ruangan pula sambil bertanya, “Dimana kakakmu? Aku mendengar suaranya di ruang ini.”

“Baru saja ia keluar ayah,“ jawab Riris.

“Aku memerlukannya,“ jawab ayahnya.

Riris melihat wajah ayahnya yang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka iapun telah bertanya, “Apa yang terjadi ayah? Ayah nampak bersungguh-sungguh sekali.”

“Panggil kakakmu Riris. Aku menunggunya disini,“ berkata ayahnya tanpa menjawab pertanyaan Riris.

Riris tidak menyahut. Iapun kemudian pergi ke longkangan karena kakaknya telah berlari ke longkangan pula.

Tetapi Riris baru menemukan kakaknya di sudut kandang. Nampaknya ia sedang memperhatikan kudanya yang sedang mendapat penawaran yang baik.

“Kakang,“ panggil Riris.

Jangkung yang sedang asik dengan kudanya yang dianggapnya paling baik itu terkejut. Hampir saja ia meloncat berlari. Namun Riris dengan cepat berkata sebelum Jangkung pergi, “Kau dipanggil ayah.”

“Ayah?“ desis Jangkung, “kau tentu melaporkannya. Kau tentu senang jika ayah marah kepadaku. Besok, aku tidak mau menolongmu jika kau dicegat orang lagi.”

“Tidak. Aku tidak melaporkan kepada ayah,“ jawab Riris.

“Jadi kenapa ayah memanggilku?“ bertanya Jangkung.

“Entahlah. Tetapi ayah nampak sangat bersungguh-sungguh,“ jawab Riris.

Jangkung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun telah melangkah ke longkangan. Tetapi ketika ia lewat disebelah Riris, ternyata Jangkung masih juga melompat menjauhinya.

“Kau tentu merasa bersalah,“ berkata Riris, “karena itu kau takut mendekati aku.”

“Bukankah aku sudah minta maaf?“ berkata Jangkung.

“Jika demikian kenapa kau harus meloncat-loncat menjauhi aku?“ bertanya Riris pula.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa,“ jawab Jangkung sambil melangkah masuk keruang dalam.

Ayahnya memang sudah menunggunya. Jangkung juga langsung melihat bahwa wajah ayahnya nampak bersungguh-sungguh.

“Duduklah,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

Jangkungpun kemudian telah duduk didepan ayahnya. Ia memang menjadi berdebar-debar.

“Kita akan pergi kerumah orang itu Jangkung,“ berkata ayahnya.

“Maksud ayah?“ bertanya Jangkung.

“Orang yang telah mencegat dan berusaha untuk menculik Riris,“ berkata Ki Lurah Dipayuda, “mereka telah melakukannya dua kali. Jika aku tetap berdiam diri, maka mereka akan menganggap bahwa aku tidak berani berbuat sesuatu. Mereka akan mengira bahwa kita hanya dapat menunggu kehadiran orang lain untuk menolong kita. Yang pertama, Barata telah membebaskan Riris. Kemudian secara kebetulan Kasadha melihat perbuatan orang-orang itu, dan menyelamatkan Riris pula. Dengan demikian maka orang-orang itu akan selalu menganggap bahwa kita sendiri tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi mereka.”

Jangkung mengangguk-angguk. Namun ia memang sependapat dengan ayahnya. Mereka sendiri harus menunjukkan bahwa mereka mampu menghadapi orang-orang yang berniat buruk itu tanpa orang lain. Karena itu, maka Jangkungpun kemudian telah menyahut, “Baik ayah. Aku akan berkemas.”

Sejenak kemudian, maka keduanya telah siap dengan kuda mereka. Namun mereka sama sekali tidak mengatakan kepada Kasadha bahwa mereka akan pergi menemui orang-orang yang telah mengganggu Riris.

“Maaf Kasadha,“ berkata Ki Lurah, “kami mempunyai keperluan keluarga. Tetapi hanya sebentar. Kami akan segera kembali.”

“Silahkan Ki Lurah,“ berkata Kasadha, “aku akan melihat-lihat halaman dan kebun rumah ini serta melihat kuda-kuda yang ada di kandang.”

“Riris akan dapat menemanimu,“ berkata Jangkung.

Kasadha tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun sebenarnyalah, bahwa Ki Lurah telah berpesan kepada isterinya, jika ia agak lama kembali, biarlah Riris mengawani Kasadha.

“Biarlah ia bersikap sebagaimana seorang gadis yang sudah dewasa. Tidak lagi menjadi seorang pemalu yang tidak mengenal orang lain keeuali ayah, ibu dan kakaknya,“ desis Ki Lurah ketika ia minta diri kepada isterinya.

Kepada Nyi Lurahpun Ki Lurah Dipayuda tidak mengatakan kemana sebenarnya ia akan pergi bersama Jangkung.

Sepeninggal keduanya, Kasadha memang hanya duduk sendiri di serambi gandok. Sementara itu, matahari-pun telah menjadi sangat rendah. Bahkan cahaya senja telah membayang dilangit.

Sementara itu, Nyi Lurahpun telah minta kepada Riris untuk menemani Kasadha sampai malam menjadi gelap.

“Ajak anak muda itu duduk dipendapa,“ berkata ibunya.

Riris termangu-mangu sejenak. Namun ibunya berkata, “Kau seharusnya tidak bersikap seperti kanak-kanak lagi Riris. Temui sebagaimana ayah dan ibu menemui tamunya.”

“Ibu sajalah yang menemuinya. Aku yang akan menyiapkan makan malam ayah di dapur.”

“Kau jangan aneh-aneh Riris. Apakah pantas jika ibu duduk dipendapa menemui Kasadha, sementara kau sibuk menyiapkan makan malam di dapur?“ bertanya ibunya.

Riris tidak menjawab. Sebenarnyalah ia merasa sangat berat untuk menemui Kasadha sendiri tanpa kakaknya.

Tetapi ketika ibunya memaksanya, maka Ririspun telah pergi ke serambi.

Ketika Riris melintasi halaman untuk pergi ke serambi, Kasadha sudah turun dari serambi dan berjalan menuju ke regol halaman. Namun ketika ia melihat Riris datang, langkahnyapun telah terhenti.

Untuk sesaat Riris memang merasa sulit untuk berbicara. Namun akhirnya ia memaksakan diri untuk berkata “Marilah, ki sanak. Ibu mempersilahkan Ki Sanak naik kependapa sambil menunggu ayah dan kakang Jangkung.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menjawab, “Terima kasih.”

Kasadha memang kemudian naik ke pendapa yang sudah diterangi dengan lampu minyak. Sebagaimana diminta oleh ibunya, maka Riris telah menemui Kasadha dipendapa, sementara ibunya mempersiapkan makan majam jika Ki Lurah kemudian kembali.

“Ayah sering menyebut-nyebut nama Ki Sanak yang selalu dihubungkan dengan nama Barata,“ berkata Riris untuk memulai dengan sebuah pembicaraan.

“Kami memang berada dalam kesatuan yang sama, yang semula dipimpin oleh Ki Lurah Dipayuda,“ jawab Kasadha. Lalu katanya pula, “Namun sayang sekali bahwa Barata telah meninggalkan lingkungan keprajuritan.”

“Ia singgah kemari sebelum ia meneruskan perjalanan kembali ke keluarganya,“ berkata Riris kemudian.

“Apakah ia mengatakan tentang keluarganya, rumahnya atau barangkali yang berhubungan dengan tempat tinggalnya?“ bertanya Kasadha.

Riris menggeleng. Jawabnya, “Ia tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya. Kepada ayah tidak. Kepada kakang Jangkungpun tidak.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Ia merahasiakannya.”

“Barata merasa dirinya terlalu kecil. Ia menganggap bahwa ia tidak pantas menyebut rumah dan tempat tinggalnya. Ia merasa segan untuk mendapat kunjungan,“ jawab Riris. Namun ia menambahkan, “Tetapi ia tidak mengatakannya kepadaku. Aku hanya mendengar dari ayah dan kakang Jangkung.”

Ternyata Kasadha sempat menyambung pembicaraan itu, sehingga semakin lama pembicaraan mereka menjadi semakin longgar. Perasaan mereka tidak lagi terkekang oleh keseganan. Riris yang baru saja mengenal Kasadha, seakan-akan telah mengenalnya sejak beberapa hari yang lalu, meskipun beberapa hari yang lalu ada di rumah itu adalah Barata. Begitu banyak persamaannya antara Kasadha dan Barata, sehingga kehadiran Kasadha itu seolah-olah sebagai kehadiran Barata yang kembali lagi kerumah itu.

Namun dalam pada itu, selagi Kasadha naik kependapa bersama Riris sambil menunggu Ki Lurah Dipayuda dan Jangkung, maka kedua orang itu telah memasuki regol rumah kakak dari anak muda yang sering mengganggu Riris, yang memang tinggal di padukuhan yang lain dari padukuhan tempat tinggal Ki Lurah Dipayuda.

Ketika kedua orang itu berada di halaman, maka rasa-rasanya rumah itu sepi sekali. Tetapi cahaya lampu yang meloncat keluar nampak masih cukup terang, sehingga menurut dugaan Ki Lurah dan Jangkung, tentu masih ada orang yang berada di ruang dalam. Sementara lampu dipendapa telah menjadi redup.

Sebenarnyalah, masih ada beberapa orang yang duduk di ruang dalam. Orang-orang itu memang mendengar derap kaki kuda. Namun suara itu bagaikan hilang begitu saja.

“Apakah kuda-kuda itu berhenti di halaman rumah ini?“ terdengar seseorang bertanya.

“Entahlah,“ sahut yang lain.

Sementara itu, Ki Lurah dan Jangkung sempat mendengar pembicaraan itu dari luar dinding rumah itu.

“Apakah sebaiknya kita lihat?“ bertanya yang lain.

“Hati-hatilah,“ pesan seseorang.

Namun sebelum seorang diantara mereka melangkah kepintu, tiba-tiba saja pintu itu berderak dengan kerasnya. Pintu itu bukan saja terbuka, tetapi pintu itu telah pecah dan roboh kedalam.

Orang-orang yang ada diruang dalam itu terkejut. Tiba-tiba saja mereka melihat Ki Lurah Dipayuda dan Jangkung telah berdiri dipintu.

Kakak anak muda yang sering mengganggu Riris itu menjadi marah. Dengan serta merta ia bangkit sambil berkata, “Itukah caramu masuk kerumah orang?”

“Kenapa dengan caraku?“ Ki Lurah justru bertanya.

“Kau sama sekali tidak tahu unggah-ungguh. Bukankah kau termasuk seorang prajurit yang sudah lama berada di kota? Bukankah seharusnya kau tahu serba sedikit sopan santun bagi seseorang yang akan bertamu dirumah orang lain?“ geram orang itu.

Tetapi sikap Ki Lurah sama sekali tidak mencerminkan sikapnya sehari-hari yang tenang dan lembut. Bahkan Jangkung sendiri hampir tidak mengenal lagi bahwa sikap itu adalah sikap ayahnya.

Namun Ki Lurah Dipayuda yang sudah cukup lama tinggal di barak para prajurit serta menghadapi berbagai macam perangai yang berbeda-beda, tahu benar, bagaimana ia harus bersikap terhadap orang-orang itu.

Dengan lantang Ki Lurah itupun menjawab, “Unggah-ungguh yang mana yang harus aku pergunakan terhadap orang yang tidak tahu adat? Mana yang lebih pantas, merusak pintu orang atau mengganggu seorang gadis di jalanan? Bahkan berusaha untuk menculiknya dan sudah tentu akan dipergunakan untuk melakukan pemerasan dengan dalih apapun juga.”

Wajah pemilik rumah itu menjadi merah. Namun orang itu sadar bahwa yang dihadapinya adalah Ki Lurah Dipayuda itu sendiri.

Dalam pada itu Ki Lurah itupun telah berkata selanjutnya, “Untung bahwa niat jahat kalian dapat digagalkan oleh salah seorang prajuritku. Ia adalah salah seorang anak buahku ketika aku masih memegang sepasukan prajurit Pajang. Tetapi aku tidak tergantung kepadanya. Aku datang untuk membuktikan, bahwa tanpa prajurit itu aku akan dapat menuntut atas perlakuan terhadap anak perempuanku.”

“Tetapi itu bukan salah adikku,“ geram kakak anak muda yang sering mengganggu Riris, “anak gadismu selalu berusaha memanaskan hati adikku. Dengan sengaja ia selalu membawa laki-laki lewat dihadapan adikku yang memang tidak disukainya. Seharusnya ia tidak dengan sengaja mempermalukan adikku dihadapan orang lain.”

Namun Ki Lurah Dipayuda segera memotongnya, “Aku datang tidak untuk berbicara. Tidak untuk mendengarkan alasan-alasan. Aku datang untuk membuktikan bahwa aku dapat berbuat dengan kekerasan pula sebagaimana kau lakukan. Aku akan turun kehalaman. Menghitung sampai sepuluh. Jika kalian memang jantan, kalian juga akan turun kehalaman, berapa orangpun yang kalian bawa. Kita akan bertempur sebagai laki-laki.”

Jantung pemilik rumah itu menjadi berdebar-debar. Yang ada diruang dalam itu tidak lebih dari lima orang yang telah gagal menculik Riris. Seorang diantara mereka masih dalam kesakitan. Iga-iganya terasa bagaikan retak.

Karena itu orang itupun berkata, “Kau harus mendengar persoalan yang sebenarnya sehingga kau dapat mengambil langkah yang paling baik.”

“Seharusnya itu kau katakan sebelum kau lakukan kekerasan terhadap anakku yang pertama, yang kebetulan pula anakku dapat diselamatkan oleh prajuritku yang lain, Barata. Sekarang sudah terlambat untuk berbicara. Aku akan turun kehalaman dan menghitung sampai sepuluh.“ Ki Lurah masih menggeram.

Ketika pemilik rumah itu akan berbicara lagi, Ki Lurah sama sekali tidak menghiraukan. Ia berpaling kepada Jangkung dan berkata lantang,“ Kita turun kehalaman dan bersiap untuk bertempur.”

Tanpa menghiraukan apapun lagi, Ki Lurah dan Jangkung telah turun ke halaman. Dari depan tangga pendapa, Ki Lurah itu menghitung dengan suara lantang pula, “Satu, dua, tiga, … Hitungan itu bagaikan mengumandang diruang dalam rumah itu. Namun pemilik rumah itu benar-benar menjadi ragu-ragu. Meskipun mereka pernah menantang Ki Lurah Dipayuda, namun ketika mereka benar-benar berhadapan dengan orang yang ditantangnya itu, maka hati merekapun menjadi kecut. Ternyata Ki Lurah Dipayuda yang memang sudah pernah mereka kenal itu, masih belum nampak tua, pikun dan berjalan terbongkok-bong-kok. Ia keluar dari lingkungan keprajuritan bukan karena ketuaannya. Demikian Ki Lurah itu berdiri dipintu pringgitan rumahnya, maka nampak jelas, bahwa Ki Lurah masih cukup garang menghadapi mereka.

Dalam pada itu, dari halaman terdengar suara Ki Lurah itu justru mengguruh, “Lima, enam, tujuh, … Suasana menjadi bertambah tegang. Namun ternyata orang-orang yang ada diruang dalam itu tidak beranjak dari tempatnya.

Akhirnya Ki Lurahpun menghitung sampai kehilangan terakhir, “Sepuluh.”

Tidak ada orang yang keluar dan turun ke halaman. Karena itu maka Ki Lurah Dipayuda dan Jangkung sekali lagi naik kependapa dan melangkah ke pintu yang telah dirusakkan itu. Ketika Ki Lurah berdiri di muka pintu, ia masih melihat orang-orang yang ada didalam bagaikan mematung ditempat mereka masing-masing.

Dengan geram Ki Lurah Dipayuda itupun berkata, “Ternyata kalian bukan laki-laki sejati. Kalian hanya berani menantangku dihadapan seorang gadis. Sekarang aku benar-benar datang, dan kalian sama sekali tidak berani keluar dari dalam rumahmu,“ Ki Lurah berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Aku akan pulang. Tidak ada minatku melayani orang-orang yang ternyata pengecut seperti kalian. Meskipun demikian, jika timbul keberanianmu, aku akan menghadapimu kapan saja. Tetapi sudah tentu sebagai seorang laki-laki sejati.”

Ki Lurah Dipayuda sama sekali tidak menghiraukan orang-orang itu lagi. Bersama Jangkung merekapun kemudian telah kembali ke halaman. Mengambil kuda-kuda mereka dan sejenak kemudian melompat kepung-gungnya dan melarikannya turun ke jalan.

Beberapa saat kemudian kedua orang itu telah menuju kembali kepadukuhan mereka. Sementara langit menjadi semakin gelap.

Riris yang terlalu lama duduk dipendapa menurut perasaannya, akhirnya mempersilahkan Kasadha duduk sendiri. Rasa-rasanya kurang mapan untuk berbicara berdua saja di pendapa, sementara malam mulai turun.

“Kau biarkan Kasadha itu sendiri?“ bertanya ibunya.

“Aku sudah terlalu lama menemuinya seorang diri,“ jawab Riris.

“Kenapa ayahmu terlalu lama meninggalkan tamunya?“ bertanya ibu Riris yang sudah hampir selesai menyiapkan makan malam Ki Lurah beserta tamunya.

Tetapi Kasadha yang mulai jemu duduk sendiri itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sejenak kemudian, maka dua ekor kuda telah berderap memasuki halaman rumah itu. Ternyata mereka adalah Ku Lurah Dipayuda dan Jangkung.

Ki Dipayuda yang kemudian meloncat turun bersama Jangkung telah menyerahkan kudanya kepada anaknya. Ki Dipayuda sendiri langsung pergi ke pendapa, sementara Jangkung membawa kuda-kuda itu ke kandang.

“Apakah kau terlalu lama menunggu?“ bertanya Ki Lurah.

“Tidak Ki Lurah,“ jawab Kasadha, “untuk beberapa lama Riris menemani aku disini. Baru saja ia pergi ke dapur membantu Nyi Lurah.”

Ki Lurah tertawa. Ketika kemudian Jangkung duduk pula di pendapa, maka iapun telah melihat sikap ayahnya yang memang sudah berubah pula. Ia kelihatan ramah dan tersenyum-senyum. Sama sekali kesan kegarangan diwa-jahnya telah tidak berbekas sama sekali.

Sejenak kemudian, maka Ririspun telah memberitahukan kepada ayahnya, bahwa makan malam sudah disiapkan.

Setelah mencuci tubuhnya yang berkeringat di pakiwan, maka Ki Lurah telah mempersilahkan Kasadha untuk masuk ke ruang dalam.

“Kita akan makan,“ berkata Ki Lurah.

Jangkung ternyata ikut menemani Kasadha bersama ayahnya. Bahkan Nyi Lurah dan Ririspun telah diminta oleh Ki Luhih untuk makan bersama-sama mereka pula.

Disaat mereka makan, Ki Lurah dan Jangkung sempat berbicara tentang padukuhan mereka. Tentang sawah dan ladang, tentang parit dan airnya serta tentang kehidupan anak-anak mudanya.

Namun setelah mereka selesai makan, dan mangkuk-mangkuk serta sisa makanan telah disingkirkan, Kasadha menjadi agak bersungguh-sungguh.

“Aku mendengar, bahwa aku akan mendapat tugas yang sangat sulit,“ berkata Kasadha.

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Tugas apa?”

“Tentang beberapa Tanah Perdikan,“ berkata Kasadha, “menurut kebijaksanaan Pajang yang sekarang, ada beberapa Tanah Perdikan yang dianggap tidak memenuhi syarat lagi. Tanah Perdikan yang tidak mempunyai pimpinan yang pasti. Tanah Perdikan yang tidak mampu membeayai hidupnya sendiri. Tanah Perdikan yang semakin lama menjadi semakin mundur.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hal itu sudah agak lama kita dengar. Sejak pimpinan Pajang dipegang oleh Adipati Demak, maka terjadi beberapa perubahan kebijaksanaan.”

“Tetapi kebijaksanaan itu agaknya kurang sesuai jika ditrapkan di Pajang. Perubahan di Pajang itu terasa sangat mengejutkan,“ sahut Kasadha.

“Ya. Sebaiknya Tanah Perdikan yang dianggap kurang memenuhi syarat untuk berdiri itu, diberi peringatan satu sampai tiga kali. Baru kemudian diambil langkah-langkah yang paling baik untuk memecahkannya,“ desis Ki Lurah Dipayuda.

“Apakah kau tahu, ke Tanah Perdikan yang mana saja kau akan ditugaskan?“ bertanya Ki Lurah itu pula.

Kasadha menggeleng. Jawabnya, “Belum Ki Lurah. Tetapi beberapa petugas telah dikirim lebih dahulu untuk melakukan pengamatan atas Tanah Perdikan yang dianggap kurang baik itu,“ Kasadha berhenti sejenak, lalu, “Tetapi karena patokan yang dipergunakan untuk menilai Tanah Perdikan itu kurang jelas, maka orang-orang yang mendapat tugas untuk menilai itu, mampu memanfaatkan tugas mereka bagi kepentingan mereka sendiri.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sejak semula kita berharap bahwa Pangeran Benawa akan dapat menggantikan kedudukan ayahandanya. Setidak-tidaknya menjadi Adipati di Pajang jika Pajang dianggap bagian dari kesatuan Mataram yang benar. Kini Pajang seakan-akan memang berdiri sendiri. Tetapi ternyata kehijaksanaan yang diambilnya agak kurang sesuai dengan rakyat Pajang.”

“Kenapa orang-orang Pajang tidak menghubungi Pangeran Benawa saja, Ki Lurah?“ bertanya Kasadha, “bukankah Pangeran Benawa itu putera Sultan Hadiwijaya dan bahkan oleh Sultan Hadiwijaya, Pangeran Benawa sudah disiapkan untuk menjadi Putera Mahkota?”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu adalah tugas para pemimpin di Pajang.”

Kasadha mengangguk-angguk. Ia memang tidak dapat berbicara terlalu banyak. Apalagi ia masih seorang prajurit Pajang yang tunduk kepada perintah para Sena pati yang memimpin kesatuan-kesatuan keprajuritan di Pajang. Sementara Ki Lurah Dipayuda sudah bukan lagi seorang prajurit. Sehingga dengan demikian sikap mereka terhadap kepemimpinan Pajang memang dapat berbeda.

Namun kemudian ternyata Ki Lurah itupun bergumam, “Pemerintahan Pajang sekarang memang menjadi sorotan para pemimpin di Mataram dan Jipang. Bagaimanapun juga beberapa kejanggalan yang telah terjadi di Pajang tentu telah menyinggung perasaan Pangeran Benawa di Pajang, yang oleh rakyat Pajang diharapkan akan dapat menggantikan kedudukan ayahandanya Sultan Hadiwijaya, serta menarik perhatian Panembahan Senapati yang meskipun tidak dengan resmi, namun mendapat kepercayaan dari Sultan Hadiwijaya untuk mengendalikan pemerintahan menjelang masa mendatang yang tentu akan berbeda dengan masa-masa yang pernah dilewatinya. Tetapi yang terjadi justru lain, sehingga perkembangan Pajangpun tidak lagi sesuai dengan harapan orang-orang Pajang sendiri. Namun baik Pangeran Benawa maupun Panembahan Senapati ternyata masih menunggu. Mereka masih berharap bahwa akan dapat diketemukan cara yang baik untuk meluruskan kepemimpinan Adipati Demak di Pajang.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun dengan cepat Ki Lurah Dipayuda berkata, “Tetapi kau adalah prajurit Pajang, Kasadha. Kau tidak dapat bersikap lain daripada sikap seorang prajurit. Karena itu, maka kau harus menyesuaikan dirimu dengan tugas-tugas yang dipercayakan kepadamu? Sebaliknya kau percayakan saja persoalan Pajang ini kepada orang-orang yang berkepentingan. Pangeran Benawa dan Panembahan Senapati.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Ki Lurah.”

Ki Lurahpun kemudian berkata, “Karena itu tentang Tanah Perdikan itupun harus kau tangani dengan baik, tetapi dengan sangat berhati-hati. Kekerasan bukan satu-satunya cara yang terbaik untuk memecahkan persoalan. Karena itu, meskipun kau membawa pasukan untuk mengambil sikap terakhir tentang salah satu Tanah Perdikan, tetapi penggunaan pasukan harus dihindari sejauh-jauhnya.”

Kasadha yang telah mendapat kepercayaan untuk memimpin sepasukan prajurit Pajang itu mengangguk-angguk.

Jangkung yang tidak begitu banyak mengetahui persoalan yang dibicarakan oleh ayahnya dengan Kasadha itu tidak banyak ikut campur. Ia lebih banyak mendengarkan. Baru kemudian ketika pembicaraan itu sudah berkisar lagi, barulah Jangkung dapat ikut berbicara dengan lancar.

Dalam pada itu, Riris membantu ibunya yang sibuk didapur, mencuci dan membenahi alat-alat yang baru mere ka pergunakan. Mereka membiarkan pembantunya beristirahat, karena nampaknya ia sudah cukup letih dan tertidur di bilik panjang disudut dapur itu.

Ki Lurah. Jangkung dan Kasadha berbincang di ruang dalam sampai larut malam. Nyi Lurah dan Riris sudah lama masuk ke dalam bilik mereka. Namun masih saja setiap kali terdengar suara tertawa yang berderai di ruang dalam. Ternyata Jangkung seperti biasanya berceritera tentang hal-hal yang aneh-aneh di padukuhan itu.

Namun ketika malam menjadi semakin dalam, maka Kasadhapun telah dipersilahkan untuk beristirahat di gandok.

Ketika Kasadha berbaring dipembaringannya setelah menyusut lampu minyak didalam bilik gandok itu, rasa-rasanya Kasadha justru menjadi gelisah. Sekali-sekali telah terbayang wajah Riris yang lembut. Senyumnya yang khusus di wajahnya yang agak kemerah-merahan.

“Perasaan apakah yang telah bergetar di jantung ini?“ desis Kasadha sambil menelungkup. Tetapi ia tidak juga segera tidur.

Namun akhirnya, sejuknya angin malam, kelelahan dan malam yang semakin larut, telah membuainya kedalam tidur yang nyenyak.

Sebelum matahari terbit Kasadha sudah ada di belakang rumah Ki Lurah. Terdengar derit senggot timba ketika Kasadha mengisi jambangan di pakiwan.

Riris yang melihatnya dari pintu dapur, menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi gadis itu berkata kepada diri-sendiri, “Aku sulit membedakan antara Kasadha dan Barata. Keduanya sangat mirip. Wajahnya dan tingkah lakunya. Pagi-pagi seperti ini Barata juga sudah berada disumur, menimba air dan mengisi pakiwan. Baru kemudian mandi.

Namun Riris tidak beranjak dari dapur. Meskipun pembantunya juga sudah sibuk, tetapi Riris ikut membantunya, menyiapkan minuman hangat bagi Ki Lurah dan tamunya.

Ketika matahari kemudian terbit, Ki Lurah yang juga sudah mandi, telah duduk di pendapa. Kasadha dan Jangkungpun kemudian telah duduk pula bersamanya.

Namun setelah minuman dan makanan dihidangkan. Jangkungpun telah mengajak Kasadha untuk melihat-lihat keadaan padukuhannya sebagaimana ia pernah mengajak Barata.

“Kita akan berkeliling padukuhan ini berdua,“ berkata Jangkung, “tetapi kau jangan memakai kudamu sendiri. Pakai kudaku yang paling baik agar kau ingin membelinya.”

Kasadha tertawa pendek. Katanya, “Sudah aku katakan, bahwa aku harus menabung selama lima belas tahun dahulu.”

Jangkungpun tertawa. Bahkan ia menyahut, “Setelah lima belas tahun ternyata tabunganmu masih juga belum terkumpul karena setiap tahun selalu kau buka.”

“Ah, jangan begitu,“ berkata Ki Lurah, “siapa tahu Kasadha mendapat anugerah karena tugasnya yang dapat diselesaikan melampui perhitungan.”

Kasadha tertawa. Katanya, “Padahal aku akan mendapat anugerah seekor kuda.”

Jangkungpun tertawa berkepanjangan.

Namun dalam pada itu, sejenak kemudian, seperti yang diminta oleh Jangkung, keduanya telah melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan. Mereka sempat menyeberangi bulak melihat sawah Ki Dipayuda yang berada diseberang parit, yang sedang disiangi. Sawah Ki Lurah cukup luas, sehingga diperlukan beberapa orang untuk membantunya.

Kasadha dan Jangkungpun kemudian mengikat kuda mereka pada sebatang pohon turi dipinggir jalan, ketika mereka berdua akan meniti pematang, melihat orang-orang yang bekerja.

Demikian Jangkung mendekati mereka yang terbung-kuk-bungkuk membersihkan tanaman padi yang subur dari gangguan rerumputan liar, seorang diantara merekapun berkata lantang, “He, masih terlalu pagi, kau sudah datang mengirim makanan dan minuman.”

Beberapa orang yang mendengar tertawa. Jangkungpun tertawa pula. Namun Jangkung sempat menjawab, “Ni, lihat. Mataku masih merah. Pelipisku masih membekas warna kebiru-biruan. Kalian sama sekali tidak membantuku, bahkan kalian malah memarahiku karena kiriman itu terlambat datang.”

“Kami tidak tahu,“ jawab seseorang, “bukankah hal itu terjadi di sebelah parit induk? Coba, kami tahu apa yang terjadi, orang-orang itu tentu sudah menjadi serundeng.”

Terdengar beberapa orang tertawa. Seorang diantara mereka bertanya, “Kau berani turun ke arena?”

Orang yang sesumbar itu justru telah berjongkok sambil berkata, “Bukan aku. Barangkali kau.”

Terdengar lagi suara tertawa. Sementara itu, orang-orang itu masih saja menyiangi rerumputan liar diantara batang-batang padi yang hijau. Dalam waktu dua hari lagi kerja itu tentu selesai meskipun sawah Ki Lurah terbentang sampai ke pinggir sungai.

Dari melihat-lihat sawah. Jangkung mengajak Kasadha melihat-lihat pategalannya. Kemudian sempat minta seorang penunggu pategalan itu untuk memanjat sebatang pohon kelapa. Sejenak kemudian dua buah kelapa yang masih muda telah berjatuhan.

Namun dalam pada itu, Kasadha sempat bertanya, “Siapa yang akan membawa makanan dan minuman ke sawah?”

“Setra. Badannya memang masih agak pegal-pegal sedikit. Tetapi ia akan pergi ke sawah bersama seorang yang akan membantunya membawa kiriman itu,“ jawab Jangkung.

Tetapi ketika matahari menjadi semakin tinggi dan hampir menggapai puncak langit, Kasaha berdesis, “Sebenarnya aku ingin kembali ke Pajang hari ini. Sebelum senja aku akan masuk kembali ke dalam barak.”

“Apakah hari istirahatmu hanya sampai hari ini?“ bertanya Jangkung.

“Sebenarnya aku mendapat kesempatan beristirahat sampai besok,“ jawab Kasadha.

“Jika demikian, kau tidak usah kembali hari ini. Esok saja kau kembali ke Pajang. Malam nanti kau sebaiknya bermalam satu malam lagi disini,“ berkata Jangkung.

Kasadha memang menjadi ragu-ragu. Ketika ia berangkat, ia memang berniat bermalam, tetapi hanya satu malam saja. Namun tiba-tiba saja ia menjadi bimbang. Seakan-akan ada sesuatu yang menghalanginya untuk pergi.

“Jangan berpikir terlalu panjang. Kau ambil saja putusan. Pulang esok pagi,“ berkata Jangkung.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku akan kembali esok pagi.”

“Bagus,“ berkata Jangkung, “nanti malam kita akan melihat tari topeng semalam suntuk.”

“Dimana?“ bertanya Kasadha.

“Di padukuhan seberang bulak. Seorang yang kaya dipadukuhan itu mengawinkan satu-satunya anak gadisnya,“ jawab Jangkung.

Kasadha mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Bagus. Nanti malam kita melihat tari topeng.”

Namun sebenarnyalah yang telah menghambat kebe-rangkatan Kasadha sama sekali bukan tari topeng itu. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya, apakah yang sebenarnya telah menahannya untuk tidak segera meninggalkan rumah Ki Lurah Dipayuda.

Ketika matahari semakin tinggi, maka Kasadhapun telah kembali bersama Jangkung. Lewat tengah hari, Kasadha telah dipersilahkan untuk makan bersama Ki Lurah dan Jangkung. Bahkan bersama Nyi Lurah dan Riris.

Disore hari, Kasadha sempat berbincang dengan Riris dipendapa ketika Riris sedang membersihkan lantai pen dapa itu. Riris sempat duduk di tangga pendapa, sementara Kasadha berdiri di depan tangga.

Tetapi mereka tidak terlalu lama berbincang. Ririspun segera berdiri dan meneruskan kerjanya, menyapu lantai pendapa, sementara Kasadha pergi keregol melihat-lihat jalan yang tidak begitu ramai didepan rumah Ki Lurah Dipayuda.

Namun ternyata bahwa gadis itu telah memberikan kesan tersendiri kepada Kasadha.

Ketika Kasadha kemudian duduk di serambi gandok, tiba-tiba saja ia telah menilai dirinya sendiri. Ia sadar, bahwa agaknya ia mulai dijangkiti oleh penyakit anak-anak muda yang meningkat dewasa penuh. Kasadha tidak dapat ingkar, bahwa ia telah tertarik pada seorang gadis yang bernama Riris.

Tetapi Kasadhapun kemudian telah menilai dirinya sendiri. Ia rasa-rasanya sebagai kleyang kabur kanginan. Seperti daun kering yang dihempas angin. Ia tidak berasal dari lingkungan keluarga sewajarnya. Kehidupan orang tuanya diselimuti oleh ketidak pastian dan bahkan diselubungi oleh kabut yang hitam. Orang yang mengaku ayahnya dan pernah menjadi petugas sandi Jipang itupun tidak pantas disebutnya. Apalagi saat-saat terakhir dari kehidupan ayah dan ibunya. Bayangan gerombolan Kelamarta justru selalu menghantuinya.

Seandainya ia kelak mendapat kedudukan yang cukup baik di Pajang, serta pada suatu saat ia ingin memasuki sebuah kehidupan wajar dengan berkeluarga, bagaimana ia harus datang melamar seorang gadis bersama ayah dan ibunya.?

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Bahkan tiba-tiba saja Kasadha yang sudah gelisah itu menjadi semakin gelisah. Tiba-tiba saja ia dibayangi oleh kemauan ibunya untuk menaklukkan sebuah Tanah Perdikan yang menu rut ibunya itu adalah haknya, yang di warisinya dari ayahnya yang sebenarnya.

“Apakah pada suatu saat aku harus berurusan dengan Tanah Perdikan Sembojan?“ bertanya Kasadha yang gelisah itu didalam hatinya.

Namun tiba-tiba saja Kasadha memejamkan matanya. Ia ingin mengusir perasaannya yang bergejolak itu.

Ketika ia kemudian membukakan matanya, ia melihat Jangkung berjalan keserambi itu. Ketika Jangkung kemudian duduk disampingnya, iapun berkata, “Kau mau ikut aku?”

“Kemana?“ bertanya Kasadha.

“Melihat seekor kuda. Ki Demang di Kademangan sebelah memberitahukan kepadaku lewat seorang kawan, bahwa ia akan menjual kudanya yang menurut keterangan sangat baik. Aku akan membelinya jika harganya dapat sesuai,“ jawab Jangkung.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Ia memang ingin untuk tinggal dirumah saja. Sekali-sekali dapat berbicara dengan Riris. Tetapi jika gadis itu selalu berada didalam, maka ia justru akan dibayangi oleh angan-angannya yang kelabu itu.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Aku ikut.“

Keduanya kemudian berderap dijalan-jalan padukuhan, menyeberangi beberapa bulak menuju ke Kademangan disebelah.

“Barata juga senang melihat-lihat bulak-bulak panjang,“ berkata Jangkung diperjalanan.

“Ya,“ jawab Kasadha, “ia mencintai lingkungannya, alam disekitarnya dan lebih dari itu, sesamanya.”

“Ia memang anak muda yang baik,“ berkata Jangkung, “sayang ia dibayangi oleh kegelisahan tentang dirinya sendiri. Ia tidak mau berterus terang, dimana rumahnya, keluarganya dan banyak hal tentang dirinya.”

Kasadha menarik nafas panjang. Banyak hal tentang dirinya yang tercermin pada anak muda yang bernama Barata itu. Betapa ia ingin ingkar, namun ia adalah seorang yang sebenarnya bernama Puguh. Tetapi ada juga orang yang mengira bahwa Barata itu adalah Puguh. Ketika ia datang dan bertemu dengan Riris pertama kali, gadis itu juga menyangkanya Barata. Dan kini Jangkung berkata kepadanya, bahwa Barata telah banyak menyelimuti dirinya sendiri dengan kabut rahasia yang tidak terungkapkan.

“Bagaimana dengan aku sendiri?“ bertanya Kasadha kepada diri sendiri.

***

Dalam pada itu, selagi Jangkung dan Kasadha melintasi bulak-bulak panjang, di Tanah Perdikan Sembojan, Risang yang dikenal dengan nama Barata itupun sedang memacu kudanya melintasi bulak panjang. Risang sedang menuju ke padang perdu dilereng bukit. Sekelompok pengawal tengah menunggunya. Justru para pemimpin kelompok dari padukuhan-padukuhan yang tersebar di seluruh Tanah Perdikan.

Seperti biasanya, Barata tengah menempa mereka dengan olah kanuragan. Pengetahuannya tentang ilmu dasar olah kanuralgan, serta pengalamannya di lingkungan keprajuritan telah membuatnya menjadi seorang pelatih yang baik bagi para pemimpin kelompok pengawal di Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu para pemimpin kelompok yang telah ditempa secara khusus itu harus menebarkan ilmu kanuragannya itu kepada para pengawal didalam kelompok masing-masing, sehingga sebenarnyalah para pengawal Tanah Perdikan Sembojan memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit.

Sore itu, Barata berniat untuH melihat dan menilai hasil jerih payahnya. Para pemimpin kelompok pengawal itupun telah diberitahukan, bahwa ia akan mengadakan pertarungan diantara mereka untuk menilik tingkat ilmu mereka secara pribadi. Mereka akan benar-benar bertempur. Tetapi tidak mempergunakan senjata. Risang sendiri akan menunggui dan menghentikan setiap pertempuran jika ia sudah menemukan penilaian bagi keduanya.

Demikian Risang meloncat turun dari kudanya, maka para pemimpin kelompok itu menyongsong dengan hati yang berdebar-debar.

“Apakah kalian sudah siap?“ bertanya Risang.

“Sudah,“ jawab beberapa orang hampir berbareng.

“Kalian sudah menyediakan beberapa obor?“ bertanya Risang pula.

“Sudah,“ jawab mereka pula.

“Kita akan melihat kemampuan yang dimiliki oleh Tanah Perdikan ini,“ berkata Barata, “karena itu, mungkin kita akan berada disini sampai jauh malam.”

Sejenak kemudian, maka para pemimpin kelompok pengawal itupun segera bersiap. Mereka kemudian berkumpul dan duduk dalam satu lingkaran bersusun. Risang telah memimpin pemusatan nalar budi dari para pemimpin kelompok itu. Perlahan-lahan mereka mengatupkan telapak tangan mereka dimuka dada. Kemudian turun perlahan-lahan. Kedua tangan itupun kemudian mulai tegang. Kedua telapak tanganpun mengepal disamping. Dengan satu hentakan yang kuat kedua telapak tangan itu terjulur kedepan. Kemudian perlahan-lahan namun dengan kuat, tangan itu ditarik kembali. Berganti-ganti tangan itu menyilang di dadanya, sehingga akhirnya tangan itupun mengendor dan turun perlahan-lahan. Akhirnya kedua telapak tangan itu kembali mengatup dan diangkat kemuka dadanya.

Ketika mereka melepaskan nafas panjang dari lubang hidung mereka, maka Risangpun memberi isyarat kepada mereka untuk berdiri dan bergerak beberapa langkah surut. Lingkaranpun menjadi semakin luas. Lingkaran yang akan menjadi arena penilaian atas kemampuan para pemimpin kelompok itu.

Beberapa saat kemudian, langit memang menjadi suram. Senja menjadi semakin kelam. Sehingga Barata telah memerintahkan menyalakan dua buah obor.

“Kita hanya mempergunakan dua buah obor saja. Yang lain kita sediakan apabila yang dua itu kehabisan minyak,“ berkata Risang.

Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, penilaian atas kemampuan para pemimpin kelompok itu berlangsung. Dua orang bangkit berdiri saling berhadapan. Keduanyapun kemudian telah bersiap untuk memulainya.

Barata sendiri juga berdiri didalam lingkaran. Ia menunggui langsung penilaian kemampuan itu. Kecuali untuk melihat dengan sakslma hasil latihan-latihan yang telah diselenggarakan, Risang juga menjaga, agar tidak terjadi kecelakaan diantara mereka yang ikut serta dalam penilaian itu.

Sejenak kemudian, pasangan yang pertama telah mulai bertempur. Keduanya semakin lama semakin meningkatkan kemampuan mereka semakin tinggi, sehingga akhirnya benar-benar berada pada puncak kemampuan mereka. Keduanya berloncatan saling menyambar. Saling mendesak dan sekali-sekali serangan-serangan mereka telah menembus pertahanan lawan dan mengenai sasaran.

Yang dikenai serangan itupun telah terdorong surut. Bahkan menyeringai menahan sakit. Tetapi sebelumnya merekapun telah berlatih untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka.

Risang memang tidak menunggu seorang diantara mereka kalah dan menang. Tetapi setelah ia mampu meni lai kemampuan keduanya yang hampir seimbang itu, maka pertempuran itupun telah dihentikannya.

Demikianlah pasangan demi pasangan telah tampil. Mereka pada umumnya telah menunjukkan kemampuan yang memadai. Bahkan Risang dapat berbangga bahwa para pemimpin kelompok pengawal di Tanah Perdikannya itu memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan para pemimpin kelompok prajurit Pajang. Dengan demikian maka Risangpun berharap bahwa para pengawalpun memiliki kemampuan setingkat pula dengan para prajurit Pajang.

Namun ketika pendadaran itu berjalan beberapa lama, saat pasangan-pasangan berikutnya setelah lebih separo dari seluruh peserta mulai bertanding, maka mereka terkejut mendengar derap kaki kuda yang mendatang dengan cepat.

Dengan demikian, maka setiap orangpun kemudian telah bersiap, sedangkan pendadaran itupun telah berhenti dengan sendirinya.

Tiga ekor kuda muncul dalam keremangan malam. Sinar obor yang tidak terlalu terang, telah mencapai wajah-wajah dari ketiga penunggangnya setelah ketiga ekor kuda itu berhenti.

Risang menjadi berdebar-debar. Ketiga orang penunggang kuda itu adalah ibunya, Iswari, diikuti oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Ibu,“ desis Risang.

Ibunya melangkah mendekatinya setelah ia meloncat turun dari kudanya dan menyerahkannya kepada Sambi Wulung.

“Apa yang kau lakukan, Risang?“ bertanya Iswari.

“Aku ingin melihat tataran kemampuan para pemimpin kelompok pengawal Tanah Perdikan, ibu,“ jawab Risang.

Iswari mengangguk-angguk. Ia tidak dapat menegur anaknya dihadapan para pengawal itu. Karena itu, maka ibunyapun berkata, “Risang, aku memerlukanmu. Aku ingin berbicara tentang perkembangan keadaan terakhir.”

“Nanti sebentar aku akan menemui ibu. Aku masih harus menyelesaikan penilaian ini sebentar lagi ibu. Sudah lebih dari separo dari para pemimpin kelompok yang sempat aku lihat kemampuannya. Aku ingin selebihnya juga dapat aku lihat kemampuannya,“ jawab Risang.

“Jika kau sudah melihat lebih dari separo, sebenarnyalah bahwa itu sudah cukup. Sebenarnya kau dapat mengambil tiga pasang diantara mereka dan melihat kemampuan yang tiga pasang dengan seksama. Maka yang tiga pasang itu tentu sudah cukup mewakili seluruh pemimpin kelompok yang ada di Tanah Perdikan ini. Kau dapat menilai kemampuan rata-rata mereka. Apalagi mereka telah mendapat tuntunan olah kanuragan hanya darimu. Semuanya. Sehingga dengan demikian maka tataran kemampuan mereka tentu hampir sejajar. Sementara itu, dalam latihan-latihan kau tentu juga mampu membuat penilaian terhadap mereka,“ berkata ibunya.

Risang masih akan menjawab. Namun ibunya berbisik, “Bubarkan permainan ini. Aku mempunyai alasan yang kuat untuk memerintahkan kepadamu.”

Bagaimanapun juga Risang tidak dapat memaksa ibunya untuk membiarkan penilaiannya terhadap para pejnimpin kelompok itu berlangsung terus. Karena itu, betapapun ia menjadi kecewa, namun Risang itupun akhirnya telah menutup latihan khusus itu.

“Aku minta maaf kepada mereka yang masih belum mendapat giliran,“ berkata Risang, “tetapi aku yakin, bahwa kemampuan kalian tidak akan terpaut banyak yang satu dengan yang lain. Sekarang pertemuan ini aku tutup sampai sekian. Kita akan mencari kesempatan lain yang lebih baik.”

Beberapa orang memang menjadi kecewa. Tetapi mereka dapat mengerti, bahwa Risang tidak akan dapat menolak perintah ibunya yang masih menjadi pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Padamkan obor itu,“ perintah Iswari.

Para pemimpin kelompok itupun segera memadamkan obor di pinggir arena, sehingga keadaan menjadi sangat gelap. Tetapi mereka telah terlatih sehingga penglihatan mereka mampu mengatasi kegelapan meskipun terbatas.

“Aku minta diri,“ berkata Risang kemudian.

Sejenak kemudian, maka kuda-kudapun telah berderap lagi. Risang telah bergabung dengan ibunya, Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Beberapa saat kemudian, mereka telah menyusuri jalan bulak menuju ke padukuhan induk.

“Kenapa ibu menghentikan latihan khusus itu?“ bertanya Risang.

“Kita akan berbicara dirumah,“ jawab ibunya.

Risang terdiam. Ia sadar, bahwa berbicara sambil berkuda tentu kurang dapat bersungguh-sungguh. Apalagi jalan yang kurang memungkinkan baginya untuk selalu berkerja disamping ibunya.

Beberapa saat kemudian, Iswari telah duduk diruang dalam. Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah duduk pula bersamanya. Kakek dan nenek tidak nampak hadir. Agaknya mereka telah beristirahat. Yang kemudian muncul adalah Bibi.

Baru beberapa saat kemudian Iswari berkata, “Risang. Aku terpaksa menghentikan latihan khusus yang kau adakan untuk mengetahui tingkat kemampuan para pemimpin kelompok.”

Risang menunduk. Tetapi ia bertanya, “Kenapa latihan itu harus berhenti ibu?”

“Para petugas sandi kita melihat kehadiran orang-orang yang tidak dikenal di Tanah Perdikan ini dengan cara yang tidak sewajarnya,“ jawab ibunya.

“Kenapa mereka tidak ditangkap saja?“ bertanya Risang.

“Mereka tidak melakukan pelanggaran apa-apa. Meskipun sikap mereka menarik perhatian, tetapi tidak ada alasan untuk menangkap mereka,“ jawab ibunya.

“Jadi?“ bertanya Risang.

“Mungkin mereka justru petugas sandi dari Pajang. Aku tidak ingin mereka melihat latihan-latihan yang berat dilakukan di Tanah Perdikan ini. Dengan demikian maka akan dapat menimbulkan salah paham. Sudah berapa kali aku peringatkan. Jangan mengadakan latihan-latihan berat dalam suasana seperti sekarang ini,“ berkata ibunya.

“Justru dalam keadaan seperti sekarang ini,“ sahut Risang.

“Dengar Risang,“ berkata ibunya, “bagaimanapun juga, aku masih berusaha sejauh mungkin agar tidak terjadi perselisihan antara Tanah Perdikan ini dengan Pajang. Kau tahu, bahwa Pajang memiliki kekuatan dan kemampuan yang sangat tinggi. Apa yang dimiliki oleh Tanah Perdikan ini? Tentu saja dibandingkan dengan Pajang.”

Risang tidak menjawab. Ia tahu bahwa ibunya memang tidak ingin terjadi perselisihan yang mengarah pada kekerasan. Namun Risangpun tidak ingin Tanah Perdikannya diperlakukan sebagaimana beberapa Tanah Perdikan yang lain. Tanpa mengindahkan kekancingan yang memberikan wewenang kepada Tanah Perdikan itu untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri, serta tanpa memperhitungkan alasan kelahiran sebuah Tanah Perdikan, maka dengan mudahnya pimpinan pemerintahan di Pajang yang datang dari Demak itu begitu saja memerintahkan untuk di bekukan.

“Nah,“ berkata ibunya, “untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan, maka kau harus sedikit mengekang diri. Aku tahu kau sudah merubah cara latihan yang selama ini kau lakukan. Kau tidak lagi memberikan latihan kepada sejumlah besar pengawal di lereng-lereng pebukitan. Kau sekarang hanya memberikan latihan secara khusus kepada para pemimpin kelompok yang harus menularkannya kepada para pengawal. Namun demikian latihan khusus didalam hari seperti yang kau lakukan tadi akan menarik perhatian.”

Risang tidak menjawab. Namun sebenarnyalah ia kurang sependapat dengan ibunya. Pajang tidak akan dapat melarang latihan-latihan yang demikian, justru hal itu akan dapat ikut menegakkan Pajang dalam keadaan yang wajar.

Tetapi sebenarnyalah Risangpun mengerti, bahwa Pajang akan dapat menjadi curiga melihat kesiagaan sebuah Tanah Perdikan yang sedang diamati dengan saksama. Bahkan Pajang telah pernah mengirimkan utusan untuk bertemu dengan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan yang kebetulan adalah seorang perempuan.

“Sudahlah,“ berkata ibunya, “beristirahatlah. Kita akan dapat membicarakannya pada kesempatan lain.”

Risang tidak menjawab. Ibunyapun mengerti, bahwa ada perbedaan sikap antara dirinya dengan anaknya. Namun Iswari masih mempercayai bahwa anaknya akan mau mendengarkan kata-katanya.

Risang yang setelah pergi ke pakiwan, telah berada di biliknya, rasa-rasanya selalu gelisah. Dengan debar jantung yang serasa semakin cepat, Risang justru berjalan hilir mudiik didalam biliknya itu.

Namun akhirnya Risang- itupun telah berbaring di pembaringannya. Ia mencoba untuk menenangkan hati nya dengan mencoba mengenang persoalan-persoalan yang dapat menyejukkan hatinya.

Tetapi yang kemudian terlintas di kepalanya adalah wajah seorang gadis yang dijumpainya di rumah Ki Lurah Dipayuda. Gadis cantik yang bernama Riris. Betapa lembut wajahnya dan betapa bersih sikapnya.

Risang memang mencoba mempertajam bayangan wajah itu di angan-angannya. Namun wajah yang memang nampak semakin jelas itu seakan-akan semakin lama menjadi semakin jauh. Tangannya tidak lagi mampu menyentuhnya betapapun ia menggapai-gapai.

“Kenapa aku harus merahasiakan diriku? Kenapa aku harus menyebut diriku bernama Barata, anak dari Bibis yang sama sekali bukan pijakan hidupku yang sebenarnya? “ pertanyaan itu telah menerpa jantung Risang yang gelisah.

“Tidak. Aku bukan Barata. Aku adalah Risang dari Tanah Perdikan Sembojan. Aku akan datang lagi menemui gadis itu tanpa bersembunyi dibalik kepalsuan hanya karena aku ingin menyelamatkan diri dikejar oleh perasaan takut dibunuh orang. Dengan dada tengadah aku akan menyebut namaku, asal usulku dan kampung halamanku Aku akan dengan dada tengadah menantang anak muda yang bernama Puguh itu jika ia memang menghendaki kematianku,“ Risang tiba-tiba saja telah menggeram.

Bahkan iapun kemudian telah bangkit sambil meng-geretakkan gigi. Katanya, “aku akan membuktikan, bahwa aku memiliki kemampuan untuk menegakkan namaku dan kenyataan tentang pribadiku tanpa tedeng aling-aling.”

Tetapi Risang tidak puas hanya dengan menggeram didalam biliknya. Tiba-tiba saja ia justru melangkah keluar. Ia memang berhati-hati agar tidak mengejutkan orang lain. Lewat pintu butulan Risang telah pergi ke sanggar.

Sejenak Risang termangu-mangu. Namun iapun kemudian telah duduk bersila ditengah-tengah sanggar yang diterangi oleh lampu minyak yang redup. Dengan sungguh-sungguh Risang telah memusatkan nalar budinya, mempersiapkan diri untuk melakukan latihan justru didorong oleh gejolak perasaannya.

Beberapa saat kemudian Risang telah bangkit berdiri perlahan-lahan. Kemudian ia mulai menggerakkan tangannya, kakinya, perlahan-lahan. Satu loncatan kesamping dengan tangannya yang bersilang, kemudian satu hentakkan kedepan dengan telapak tangan yang mengepal. Ketika tangan itu ditarik disamping tubuhnya, maka kedua kaki Risang menjadi renggang. Kaki kirinya agak ditarik kebelakang, sedang kaki kanannya ada di depan. Lututnya sedikit merendah.

Namun sesaat kemudian Risang sudah berloncatan didalam sanggar yang remang-remang itu. Kakinya semakin lama semakin cepat bergerak, sementara tangannya berputaran. Dilepaskannya unsur gerak yang telah dipelajarinya sebagai landasan bagi ilmu yang akan di warisinya, Janget Kinatelon. Ilmu yang hampir tidak ada bandingnya.

Dengan tangkasnya Risang bergerak dan berloncatan. Sekali-sekali tubuhnya berputar, sementara kakinya terayun deras. Disusul dengan ayunan tangannya dan kemudian serangan yang sangat deras menebas sisi telapak tangannya.

Risang telah menguasai berbagai macam unsur gerak dan berbagai macam jenis serangan. Risang mampu menyerang dengan telapak tangannya yang terbuka. Dengan sisi telapak tangannya, dengan jari-jari yang merapat, dengan ibu jari dan dengan berbagai macam cara yang lain. Sementara itu kakinyapun tidak kalah cekatan daripada tangannya. Bahkan keduanya dapat menyerang bersama-sama atau beruntun dalam satu rangkaian serangan ganda.

Risangpun yang jantungnya sedang bergejolak itu, ternyata justru telah memperngaruhi tenaga dan kemampuannya. Dorongan kerisauan hatinya telah membuat tenaganya bagaikan berlipat. Kekuatan tenaganya bagaikan tumbuh dan melonjak semakin tinggi. Kecepatan gerakpun menjadi semakin sulit diikuti oleh tatapan mata wadag.

Bahkan Risangpun telah melenting meloncat keatas patok-patok bambu serta batang-batang yang menyilang. Meloncat dari satu patok ke patok yang lain, kemudian melenting hinggap di sebatang bambu yang menyilang. Bergantung dan berayun, melayang turun dan berjejak kembali diatas tanah sebelum meloncat dan berputar di udara. Dengan tangannya Risang hinggap pada tonggak kayu sebelum kemudian sekali lagi berputar diudara dan jatuh diatas kedua kakinya.

Dalam puncak kegelisahannya, tiba-tiba saja Risang telah meloncat kesudut sanggarnya. Dengan sisi telapak tangannya, Risang telah memukul seonggok batu padas yang memang tersedia untuk berlatih bagi orang-orang yang telah memiliki kemampuan lanjut.

Namun ternyata telah terjadi sesuatu yang mengejutkan. Risang yang jantungnya sedang bergejolak itu ternyata mampu menghentakkan kekuatan melampui takaran sewajarnya. Pukulannya dengan sisi telapak tangan itu, ternyata telah mampu memecahkan sebongkah batu padas diantara beberapa bongkah yang berada disudut sanggar itu.

Demikian batu itu pecah, maka Risangpun telah meloncat surut. Hatinya menjadi berdebar-debar, ketika ia melihat batu padas itu berserakkan.

Risang kemudian justru berdiri termangu-mangu. Dipandanginya bekas sentuhan tangannya itu. Ia sendiri bahkan hampir tidak percaya, bahwa ia telah mampu melakukannya.

Risang menjadi semakin terkejut, ketika ia mendengar suara seseorang yang mendeham. Ketika ia berpaling, dalam keremangan cahaya lampu minyak, baru ia melihat, bahwa Kiai Badra duduk disebuah amben bambu kecil dalam bayangan tonggak-tonggak kayu didalam sanggar itu.

“Kakek,“ desis Risang.

Kiai Badra tertawa pendek. Orang tua itupun kemudian berdiri dan melangkah mendekati Risang yang termangu-mangu.

“Gejolak didalam diri, kadang-kadang memang mampu membangunkan tenaga cadangan yang luar biasa,“ berkata Kiai Badra, “sebagaimana yang kau lakukan, yang menurut penilaian wajar atas ilmu dan kekuatanmu, hal itu belum dapat kau lakukan. Tetapi ternyata kau mampu melakukannya. Karena itu, maka besok, aku, kakekmu Kiai Soka dan nenekmu Nyai Soka akan membuka pintu pengenalanmu atas puncak tenaga cadangan yang ada didalam dirimu, agar kau dapat mempergunakannya sewaktu-waktu, karena sebenarnyalah malam itu kau sudah mengenalnya. Namun kau masih harus mempelajari bagaimana kau mampu membangunkannya setiap saat kau perlukan.”

Risang hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara Kiai Badra berkata selanjutnya, “beristirahatlah. Kau telah menemukan sesuatu yang sangat berharga didalam dirimu. Jika aku tidak menyaksikan apa yang kau lakukan, maka aku kira aku masih belum akan menuntunmu dalam waktu dekat. Bahkan mulai besok.”

Risang tidak menjawab. Kepalanya masih menunduk. Namun jantungnya telah bergejolak.

Kiai Badra yang kemudian melangkah ke pintu telah berkata, “Marilah. Malam telah larut. Endapkan tenagamu dan tidur.”

Risangpun telah mengikuti kakeknya menuju kepintu dengan tatapan matanya. Tetapi ia masih belum melangkah. Seperti dikatakan oleh kakeknya, maka ia masih harus mengendapkan tenaganya yang telah terungkit sampai ke tenaga cadangan didalam dirinya.

Karena itu, maka Risangpun telah kembali duduk di tengah-tengah sanggar yang remang-remang. Kemudian kedua tangannyapun telah terangkat, perlahan-lahan telapak tangannya mengatup dimuka dadanya. Hatinya semakin hening dalam tarikan nafas yang teratur. Ketika ia mengangkat tangannya kembali dan kemudian perlahan-lahan turun, maka nafasnya telah tersalur memanjang. Seakan-akan Risang itupun telah mengempaskan ketegangan didalam dirinya, didalam jalur-jalur urat darahnya, otot-ototnya dan jantungnya.

Baru sejenak kemudian Risang bangkit dan melangkah keluar. Sebelum Risang kembali ke biliknya, ia telah singgah dipakiwan untuk membersihkan tubuhnya yang berdebu serta mengusap keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.

“Ternyata kakek sempat menyaksikannya,“ desis Risang yang dengan hati-hati masuk kembali lewat pintu butulan.

Namun Risang terkejut ketika ternyata ibunya duduk diruang dalam bersama Bibi.

Tetapi ibunya tidak mengatakan sesuatu kecuali sepatah kata, “Beristirahatlah.”

“Ya ibu,“ jawab Risang pendek. Sambil menundukkan kepalanya ia kembali ke biliknya. Namun Risang masih sempat mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat. Baru kemudian ia berbaring di pembaringannya.

Tubuhnya yang menjadi letih serta angin malam yang sejuk, kemudian telah mengayunkannya kedalam tidur yang meskipun tidak terlalu nyenyak, tetapi dapat menyegarkan tubuhnya.

***

Malam itu, Kasadhapun sempat tidur nyenyak di gandok rumah Ki Lurah Dipayuda. Namun menjelang matahari terbit, iapun sudah terbangun. Meskipun ia tidak ingin berangkat pagi-pagi sekali, tetapi sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun pagi dan menimba air untuk mengisi jambangan.

Hari itu Kasadha masih berada di rumah Ki Lurah untuk beberapa lama. Ia masih sempat berbincang dengan Ki Lurah tentang berbagai macam hal. Kemudian berbicara tentang jenis-jenis kuda dan bahkan sempat pula untuk beberapa lama bercakap-cakap dengan Riris.

Ternyata sikap Riris sangat menarik. Ramah, lembut namun selalu membatasi diri karena ia seorang gadis.

Tetapi Kasadha tidak dapat menunda lagi keberangkatannya. Hari itu ia harus sudah berada kembali di baraknya. Waktu istirahatnya sudah berakhir.

Disaat terakhir, Kasadha masih juga mengeluh tentang tugas yang mungkin akan diterimanya tentang Tanah Perdikan yang menjadi sorotan para pemimpin di Pajang.

“Aku akan menjunjung segala perintah dengan senang hati. Bahkan perintah yang akan dapat mengancam jiwaku sekalipun. Namun perintah yang satu ini, tentang Tanah Perdikan, membuatku gelisah,“ berkata Kasadha.

Ki Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau harus mampu menempatkan dirimu. Kau batasi segala langkah dan sikapmu sesuai dengan perintah yang kau dapatkan. Jika kau tidak keluar dari bunyi perintah itu, maka kau tidak lebih dan tidak kurang adalah peraga dari pimpinan pemerintahan Pajang yang memberikan perintah kepadamu.”

“Tetapi bagaimanapun juga, aku adalah orang yang langsung menghadapi para pemimpin Tanah Perdikan itu,“ berkata Kasadha.

“Bukankah ada petugas khusus yang lebih dahulu melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Tanah Perdikan?“ bertanya Ki Lurah Dipayuda.

“Jika dalam pembicaraan itu tidak diketemukan persesuaian pendapat, maka aku adalah bebanten yang harus tampil. Aku sama sekali tidak akan mengeluh jika tubuhku yang harus aku korbankan! Bahkan nyawaku. Tetapi bukan perasaanku,“ jawab Kasadha.

“Tetapi kau adalah seorang prajurit Kasadha,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

Kasadha mengangguk kecil. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia berdesah, “Ya. Aku memang seorang prajurit.”

Demikianlah, setelah makan siang, maka Kasadha tidak dapat menunda keberangkatannya lagi. Iapun kemudian telah minta diri kepada seluruh keluarga Ki Lurah Dipayuda.

Ki Lurah yang juga seorang yang pernah hidup sebagai seorang prajurit tahu benar bahwa ia tidak akan dapat mencegahnya lagi. Karena itu, maka Ki Lurahpun hanya dapat mengucapkan selamat jalan.

“Baik-baiklah kau dalam tugasmu,“ pesan Ki Lurah Dipayuda, “ternyata setelah perang lewat, tugasmu justru akan bertambah berat. Dimasa perang tugasmu jelas. Taruhannya adalah hidup atau mati. Tetapi dimasa tenang seperti ini, tugasmu merupakan beban dihatimu yang harus kau atasi dengan landasan sikap seorang prajurit.”

“Ya Ki Lurah,“ jawab Kasadha.

“Kau sekarang adalah seorang Lurah Penatus meskipun barangkali kau belum pernah menerima kekancingan untuk itu,“ berkata Ki Lurah Dipayuda.

Kasadha mengangguk kecil. Namun kemudian iapun berkata, “Sudahlah Ki Lurah. Aku mohon diri.”

Ki Lurahpun mengangguk sambil berkata, “Hati-hatilah di jalan.”

Kasadhapun kemudian telah minta diri sekali lagi kepada Nyi Lurah, kepada Jangkung dan kepada Riris.

Sesaat kemudian, maka kuda Kasadhapun telah berderap meninggalkan rumah Ki Lurah Dipayuda. Kasadha sama sekali tidak pernah menduga, bahwa ia telah membawa kesan yang asing didalam hatinya setelah ia mengunjungi Ki Lurah Dipayuda. Ia sebenarnya hanya ingin mendapat sedikit petunjuk, apa yang sebaiknya harus dilakukan menghadapi tugas-tugasnya yang terasa memberati perasaannya. Namun ternyata bahwa ia telah bertemu dengan seorang gadis yang juga membekas dalam di lubuk hatinya.

Matahari yang terik bagaikan menggigit kulit. Kasadha berpacu melintasi bulak-bulak persawahan dan pedukuhan-pedukuhan. Ia harus memasuki baraknya sebelum senja. Ia adalah pemimpin tertinggi dari seratus orang prajurit di baraknya itu, sehingga karena itu, maka ia tidak boleh melanggar paugeran.

***

Pada waktu yang sama, Risang masih berada didalam sanggarnya. Keringatnya sudah membasahi seluruh tubuhnya dan bahkan pakaiannya. Didalam sanggar itu terdapat pula Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Mereka yang telah meletakkan kemampuan dasar dari ilmu Janget Kinatelon. Yang dihari-hari sebelumnya telah menyempurnakan landasan itu. Namun ketika Kiai Badra melihat kenyataan bahwa Risang telah mampu menghentakkan kekuatan didalam dirinya sehingga sisi telapak tangannya mampu membelah batu padas, maka rasa-rasanya Risang memang sudah menjadi semakin masak untuk menerima warisan ilmu Jangat Kinatelon.

Karena itu, maka Risang telah dijajagi semakin cermat oleh ketiga orang kakek dan neneknya yang juga menjadi gurunya. Ketiga orang itu mulai melihat kecepatan gerak, kekuatan yang terbesar dari hentakkan ilmu dasarnya serta kemampuannya menentukan sikap pada saat-saat yang paling menentukan.

Ketiga unsur utama itu masih harus dilengkapi dengan daya tahan tubuh, ketajaman memilih sasaran serta pengenalan atas kelemahan-kelemahan pada tubuh seseorang pada tingkat-tingkat tertentu, serta pernafasan yang mapan.

Kesemuanya itu, masih harus diramu dengan landasan ilmu untuk mengungkapkan kekuatan dasar didalam tubuhnya, sehingga akan mampu menggalang satu kesatuan kekuatan, kemampuan dan penguasaan tubuh yang sangat tinggi, sehingga dalam pencapaian tataran tertinggi ilmu Janget Kinatelon, maka jarang yang akan dapat mengimbanginya.

Selapis demi selapis Risang berusaha untuk menguasainya. Dengan sungguh-sungguh ia menempa diri dengan tuntunan ketiga gurunya.

Baru ketika matahari menjadi semakin rendah, mereka telah menghentikan latihan itu. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka telah menyatakan, bahwa mereka telah menyelesaikan latihan mereka untuk hari itu.

“Kita akan melakukannya setiap hari,“ berkata Kiai Badra, “sedangkan pada saatnya nanti, kau harus berada didalam sanggar untuk waktu tertentu. Tentu lebih lama dari waktu yang diperlukan oleh ibumu. Namun sesuai dengan perkembangan ilmu itu, maka yang akan kau dapatkan tentu lebih baik dari yang terdahulu. Ibumu adalah orang yang pertama menguasai ilmu Janget Kinatelon. Dan kau adalah orang yang kedua. Adalah wajar, bahwa kau akan menjadi lebih baik dari ibumu. Namun waktu yang kau perlukanpun lebih lama.”

Risang tidak menjawab. Ia mengerti sepenuhnya keterangan kakeknya. Iapun tidak akan ingkar untuk mela kukannya. Sebagai seorang murid ia memang harus tunduk. Namun disamping kesediaannya untuk menerima warisan Ilmu Janget Kinatelon yang disusun oleh ketiga orang gurunya itu bersama-sama, serta kebanggaannya atas kepercayaan mereka untuk menurunkan ilmu itu pada umurnya yang masih terhitung muda, tetapi Risang masih juga dibayangi oleh usaha ibunya serta guru-gurunya untuk lebih banyak mengurungnya didalam sanggar, agar ia tidak melakukan tindakan yang dianggap akan dapat menimbulkan salah paham antara Pajang dan Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi Risang tidak pernah mengungkapkannya.

Meskipun demikian, ternyata Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka masih memberinya kesempatan untuk berhubungan dengan para pengawal. Orang-orang tua itu mengerti, jika Risang benar-benar dipisahkan dari para pengawal, maka akibatnya akan kurang baik bagi jiwa Risang sendiri. Ia akan merasa sebagai seorang tawanan yang harus melakukan kerja paksa sehingga apa yang dilakukannya bukannya satu usaha untuk meningkatkan ilmu, namun sekedar melakukan perintah agar tidak mendapat hukuman yang lebih berat.

Risangpun masih mempergunakan waktunya sebaik-baiknya. Tetapi disore hari, ia akan merasa sangat letih. Sehingga ia tidak lagi dapat melakukan latihan-latihan berat sebagaimana sebelumnya bagi para pengawal.

Sore itu, dihari pertama Risang mulai berlatih untuk membuka kekuatan cadangan didalam dirinya sampai kedasarnya sebelum ia mulai benar-benar mewarisi ilmu Janget Kinatelon, memang tidak berniat untuk memberikan latihan-latihan khusus kepada para pemimpin kelompok. Tetapi karena para pemimpin kelompok telah berkumpul, maka Risang hanya mengawasi saja latihan-latihan yang mereka lakukan.

“Ilmu kalian tidak boleh menjadi susut,“ berkata Risang, “setidak-tidaknya ilmu kalian harus tetap pada tataran yang sekarang. Jika kalian tetap berlatih dengan teratur, maka apa yang kalian miliki itu akan dapat berkembang karena pengalaman-pengalaman baru selama kalian latihan dengan pasangan yang berganti-ganti. Kalian, akan dapat mempertahankan daya tahan tubuh dan ketrampilan tangan serta kaki.”

Para pemimpin kelompok itu melakukan semua perintah Risang dengan sungguh-sungguh. Merekapun dapat mengerti bahwa Risang menjadi sangat letih karena latihan yang harus dilakukannya pada hari itu, jauh lebih berat dari latihan-latihan sebelumnya, meskipun Risang tidak pernah mengatakan, bahwa hal itu dilakukan oleh ketiga gurunya karena mereka melihat Risang telah mampu menghentakkan kekuatan dasarnya, namun yang seolah-olah hal itu terjadi diluar sadarnya.

Dengan demikian ketiga gurunya justru harus memberikan tuntunan sehingga hal itu dapat dilakukan dengan sadar dan dengan cara yang benar, sehingga tidak malahan merusakkan jaringan pada tubuhnya.

***

Sementara itu di Pajang, Kasadhapun telah memasuki baraknya sebelum matahari terlalu rendah. Dengan demikian ia telah menunjukkan kepada para prajurit dibawah pimpinannya, bahwa ia telah mematuhi paugeran yang ada, meskipun sebenarnya Kasadha masih ingin berada di rumah Ki Lurah lebih lama lagi.

Namun demikian, meskipun Kasadha telah berada di baraknya, sekali-sekali bayangan wajah Riris masih saja nampak di angan-angannya.

Dalam pada itu, ketika ia sudah beristirahat setelah mandi di saat senja turun, pemimpin kelompok tertua yang diserahi tugas selama ia beristirahat telah menemuinya. Pemimpin kelompok itu selama Kasadha tidak ada di barak.

“Semuanya berjalan wajar,“ lapor pemimpin kelompok itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi dalam pada itu, ada perintah bagi kesatuan ini untuk mempersiapkan diri.”

“Untuk apa?“ bertanya Kasadha.

“Tanah Perdikan Gemantar ternyata menentang perintah Pajang,“ desis pemimpin kelompok itu.

“Gemantar,“ Kasadha mengulang.

“Ya. Tanah Perdikan yang tidak begitu besar. Tanah Perdikan yang mendapat kekancingan sebagai Tanah Perdikan disaat Sultan Trenggana bertahta,“ Kasadha menarik nafas dalam-dalam.

Kasadha memang yakin, bahwa dengan seratus orang prajuritnya, ia akan dapat memaksa Gemantar mematuhi perintah Pajang. Tetapi apakah hal itu terasa adil.

Namun Kasadha masih belum tahu alasan yang mendorong para pemimpin di Pajang yang datang dari Demak itu untuk mencabut kekancingan yang diberikan oleh Kangjeng Sultan Trenggana di Demak.

Tanpa ditanya, pemimpin kelompok itupun kemudian berkata, “Menurut pendengaranku dari perwira yang datang untuk menyampaikan perintah agar pasukan ini bersiap-siap, Tanah Perdikan Gemantar tidak lagi mampu berdiri dengan kemampuan yang ada di Tanah Perdikan itu sendiri. Bukan karena penghasilannya yang menurun, tetapi tidak ada orang-orang yang dapat menjadi pemikir yang pantas di Tanah Perdikan itu.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Satu alasan yang nampaknya agak dicari-cari. Gemantar menurut pengertiannya adalah satu Tanah Perdikan yang berpenghasilan tinggi. Tanahnya subur meskipun berada di kaki Gunung. Airnya melimpah sehingga di Gemantar banyak sekali terdapat kolam untuk memelihara ikan. Beberapa orang Gemantar adalah pande besi yang baik, sehingga hasilnya banyak dikenal sampai ke Pajang.

Namun tiba-tiba saja kekancingan Tanah Perdikan itu akan dicabut.

Ketika pemimpin kelompok itu kemudian meninggalkannya, maka Kasadha menjadi sangat gelisah. Kali ini Tanah Perdikan Gemantar. Lain kali Tanah Perdikan Sembojan.

Jantung Kasadha menjadi gemetar jika ia mendengar dan teringat tentang Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha sama sekali tidak pernah tertarik kepada Tanah Perdikan itu meskipun ibu dan orang yang mengaku ayahnya selalu membisikkan di telinganya, bahwa iapun mempunyai hak atas Tanah Perdikan itu. Bahkan dengan kasar kedua orang tuanya itu mengisyaratkan, jika Risang, saudaranya seayah tetapi lain ibu terbunuh, maka ia adalah satu-satunya pewaris Tanah Perdikan itu.

“Tetapi Tanah Perdikan Sembojanpun pada suatu saat akan mengalami nasib seperti Tanah Perdikan Gemantar,“ berkata Kasadha didalam hatinya. Namun kemudian iapun mengeluh, “Jika aku yang mendapat perintah pergi ke Sembojan, maka apakah aku akan dapat melakukan tugasku dengan murni? Tanpa pamrih pribadi? Atau bahwa aku sekarang memasuki satu masa di mana aku dapat memaksakan kehendakku atas Risang itu karena aku dapat datang membawa pasukan?”

Kasadha yang letih karena perjalanannya itupun kemudian telah membaringkan dirinya, meskipun malam baru saja turun. Namun iapun segera bangkit lagi berjalan hilir mudik. Bahkan kemudian, Kasadha itu telah keluar lagi dan turun ke halaman yang sudah menjadi gelap meskipun di regol telah dipasang oncor.

Malam itupun merupakan malam yang gelisah bagi Kasadha. Berganti-ganti singgah di angan-angannya, Tanah Perdikan Gemantar yang harus mengalami nasib buruk. Wajah Riris yang cantik dan lembut, Tanah Perdikan Sembojan dan seorang anak muda yang menurut perasaannya belum pernah dilihatnya, Risang. Kasadha memang mencoba membayangkan wajah anak muda itu. Kasadhapun mencoba menilai kemampuannya. Kasadha mengerti, bahwa ibu Risang itu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari ibunya sendiri.

Tetapi Kasadha sama sekali tidak pernah merasa dendam kepada ibu tirinya itu atau bahkan kepada anak muda yang bernama Risang, karena menurut penilaiannya, ibunyalah yang bersalah. Apalagi kemudian terpengaruh oleh sikap Ki Rangga Gupita yang tamak.

***

Sementara itu, Risang di Tanah Perdikan Sembojan, telah berada dirumahnya setelah beberapa saat lamanya menunggui latihan para pemimpin kelompok di lereng bukit. Badannya memang merasa letih. Namun Risang tidak menunjukkannya kepada ketiga orang gurunya dan kepada ibunya.

Ketika mereka kemudian makan malam diruang dalam, bersama dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung, Iswari telah membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.

“Hari ini aku telah menerima dua orang utusan dari Tanah Perdikan Gemantar,“ berkata Iswari.

“Untuk apa?“ bertanya Risang yang menjadi gelisah, seakan-akan ia sudah tahu apa yang dikatakan oleh kedua orang itu.

Dengan nada berat ibunya berkata, “Kekancingan Tanah Perdikan Gemantar akan dicabut.”

Risang menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu, Iswaripun berkata selanjutnya, “Tetapi pencabutan kekancingan itu dapat dibatalkan, jika Gemantar mau memberikan upeti langsung kepada seorang Tumenggung di Pajang.”

“Aku sudah menduga,“ berkata Risang, “hal seperti itu akan dapat terjadi pula di Tanah Perdikan ini.”

Risang berhenti sejenak. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana sikap Gemantar?”

“Gemantar menolak penyerahan upeti itu. Gemantarpun menolak menyerahkan kembali kekancingan yang pernah diturunkan oleh Kanjeng Sultan Trenggana itu,“ jawab ibunya.

“Tanah Perdikan tidak harus menyerahkan upeti dalam arti yang sebenarnya. Jika Tanah Perdikan menyerahkan upeti, justru bukan nilai upetinya yang diperhitungkan. Tetapi upeti itu merupakan pertanda ikatan kesatuan yang bulat. Namun tentu berbeda dengan upeti yang dimaksud bagi Tanah Perdikan Gemantar yang harus diedarkan kepada Tumenggung itu,“ berkata Risang dengan geram.

“Ya. Kau benar,“ sahut ibunya.

“Tumenggung siapakah yang telah minta upeti langsung itu?“ bertanya Risang.

“Utusan itu tidak dapat menyebut namanya,“ jawab ibunya.

Risang mengangguk-angguk kecil. Dengan nada tinggi ia berkata, “Gemantar yang kecil itu telah menunjukkan sikap jantannya. Bagaimana dengan Sembojan ibu?”

Iswari termangu-mangu sejenak. Orang-orang tua yang hadir diruang itupun nampak ragu-ragu. Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak berkata apa-apa. Apalagi Bibi yang juga berada diruang itu.

“Ibu,“ berkata Risang, “pada saat lain, beberapa orang petugas tentu akan datang ke Tanah Perdikan ini. Mereka tentu akan menawarkan cara yang sama seperti yang mereka tawarkan kepada Tanah Perdikan Gemantar.

“Jika demikian, bagaimana sikap kita?“ bertanya ibunya, “aku memerlukan pendapatmu.”

“Aku akan ke Pajang menemui beberapa orang pemimpin yang aku kenal baik. Jika jalan itu gagal aku tempuh, maka apaboleh buat. Kita akan bersama-sama lenyap bersama Tanah Perdikan ini.”

Ibunya termangu-mangu sejenak. Tidak pernah terbayang sebelumnya, bahwa Tanah Perdikan Sembojan berniat untuk memberontak terhadap Pajang.

Sementara itu, Risangpun berkata, “Pajang sekarang tidak lagi seperti Pajang beberapa saat yang lalu. Meskipun wajahnya masih utuh, tetapi didalamnya telah terpecah-pecah. Para pemimpin yang datang dari Demak serta para pemimpin Pajang sendiri kadang-kadang sulit untuk mempertemukan pendapat mereka. Sikap beberapa orang pemimpin itu telah menjalar kepada bawahannya, sehingga Pajang tidak lagi merupakan satu kesatuan yang utuh bulat.”

“Kita harus mencari jalan lain. Kita tidak seharusnya melakukan pemberontakan,“ berkata Iswari.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti pendapat ibunya. Tetapi justru Risang ingin bersiap untuk melakukannya. Namun demikian, sebelumnya Risang akan dapat berhubungan dengan beberapa orang yang dikenalnya dengan baik di Pajang.

Malampun kemudian menjadi semakin malam. Karena itu, maka Iswaripun kemudian telah menutup pembicaraan mereka malam itu. Dengan nada rendah ia berkata, “Sebaiknya kita beristirahat. Besok masih banyak yang harus kita kerjakan.”

Orang-orang tuapun kemudian telah meninggalkan ruang dalam itu. Merekapun merasa sulit untuk memilih langkah yang paling baik mereka lakukan jika Pajang benar-benar ingin menarik kekancingan tentang Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika mereka kemudian meninggalkan ruang dalam, maka Bibilah yang menjadi sibuk. Iswari yang akan membantunya telah dicegah oleh Bibi.

“Biarlah perempuan-perempuan didapur itu menyelesaikannya,“ berkata Bibi.

“Apakah aku bukan perempuan di dapur?“ bertanya Iswari.

“Kau perempuan berpedang,“ jawab Bibi.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Manakah yang lebih baik antara perempuan didapur dan perempuan berpedang?”

Tetapi Iswaripun menyadari bahwa masing-masing membawa bebannya sendiri dengan nilainya sendiri.

Malam itu Risang menjadi semakin gelisah. Ternyata dalam kegelisahannya, sekali-sekali juga terbayang di angan-angan Risang seorang gadis yang ditemuinya dirumah Ki Lurah Dipayuda.

“Jika perlu, aku akan minta petunjuk kepada Ki Lurah Dipayuda,“ berkata Risang didalam hatinya.

Sementara itu, pada saat yang hampir bersamaan pula, Kasadha yang gelisah juga berkata kepada diri sendiri, “Jika saat-saat sulit seperti itu tiba, maka aku harus minta petunjuk Ki Lurah Dipayuda. Bagaimana aku harus menghadapi Tanah Perdikan dengan sikap seorang prajurit yang melihat kepincangan dalam pemerintahan di Pajang.”

Ketika kemudian cahaya fajar mulai membayang di Timur, Risang telah keluar dari biliknya. Meskipun ia gelisah, tetapi ia sempat tidur beberapa saat. Segarnya udara pagi membuatnya menjadi segar pula. Apalagi ketika Risang itu kemudian setelah mengisi jambangan di pakiwan, langsung mandi dengan air sumur yang terasa hangat.

Seperti hari sebelumnya maka Risangpun telah bersiap-siap untuk memasuki sanggar bersama dengan ketiga orang gurunya. Sementara itu ia masih sempat makan pagi serta minum wedang sere. Ia harus beristirahat sejenak sebelum bersama dengan guru-gurunya mulai berlatih.

Tidak ada hambatan apapun dalam latihan yang berat yang dilakukan oleh Risang. Keringatnya bagaikan terperas dari tubuhnya. Namun terasa bahwa selapis ia telah mendapat kemajuan disaat-saat ia memasuki ilmu dasar Janget Kinatelon setelah landasannya dianggap cukup kuat.

Ketika matahari muai turun, disisi Barat, Risang dan ketiga orang gurunya telah keluar dari sanggar. Mereka telah mencuci tubuh mereka yang berkeringat serta debu yang melekat.

Namun tidak seperti hari sebelumnya, demikian Risang berganti pakaian di biliknya, ia langsung dipanggil oleh ibunya diruang dalam.

Dengan nada gelisah ibunya berkata, “Risang, tamu yang kita tunggu itu telah datang.”

“Maksud ibu?“ bertanya Risang.

“Tamu dari Pajang,“ jawab ibunya.

Jantung Risang menjadi berdebar-debar. Bahkan kemudian Risang berusaha untuk melihat, siapakah orang yang diutus untuk menemuinya itu.

Ternyata dari celah-celah pintu Risang melihat bahwa ia belum mengenal bahkan belum pernah melihat ketiga orang tamu yang datang dari Pajang itu. Karena itu, maka iapun berkata kepada ibunya, “Aku akan ikut menemui mereka ibu.”

“Tetapi kau tidak boleh bersikap kasar. Kau hanya menyaksikan saja pembicaraan kami. Aku sengaja tidak membawa kakek dan nenek dalam pembicaraan ini agar para tamu itu tidak merasa harus berhadapan dengan seke lompok orang yang ingin memusuhi mereka serta menentang sikap mereka.”

Risang mengangguk kecil. Sementara ibunya berkata, “Marilah. Ikut aku.”

Keduanyapun kemudian telah keluar dari ruang dalam, menemui ketiga orang tamu mereka yang datang dari Pajang.

Ternyata ketiga orang itu cukup ramah. Mereka berbicara dengan unggah-ungguh yang genap. Nampaknya mereka sama sekali tidak merendahkan kedudukan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi ketiga orang tamu itu bukan orang-orang yang sebelumnya pernah datang ke Sembojan untuk berbicara tentang tanah Perdikan itu.

“Kami sekedar melanjutkan pembicaraan yang pernah dilakukan oleh beberapa orang petugas dari Pajang,“ berkata salah seorang dari ketiga orang itu.

“Terima kasih atas kunjungan ini Ki Sanak,“ sahut Iswari yang berdebar-debar.

“Menurut pengamatan kami, setelah diadakan beberapa pembicaraan di Pajang, maka kesimpulannya adalah bahwa Tanah Perdikan Sembojan sedang mengalami kegoncangan,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Tidak Ki Sanak,“ jawab Iswari, “Tanah Perdikan ini mampu meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya. Kehidupan sehari-hari berjalan tenang dan damai. Kekeluargaan yang akrab dan serasi.”

“Ditilik dari keadaan lahiriah, kami percaya. Tetapi sebuah Tanah Perdikan bukan sekedar bentuk lahiriahnya saja. Tetapi jiwa Tanah Perdikan ini terasa timpang. Pada kehadiran beberapa petugas yang terdahulu, ternyata bahwa Tanah Perdikan ini sekarang tidak mempunyai pimpinan yang memadai,“ berkata salah seorang dari utusan itu.

“Segala sesuatunya memang sudah kami sampaikan kepada utusan yang datang beberapa saat yang lalu,“ jawab Iswari, “tetapi itu bukan berarti bahwa Tanah Perdikan ini tidak mempunyai pimpinan. Aku adalah pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan. Ini, Risang, adalah anakku, anak dari orang yang sebenarnya berhak atas jabatan Kepala Tanah Perdikan itu. Karena itu, maka ia adalah satu-satunya orang yang berhak atas Tanah Perdikan ini.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka bertanya, “Bagaimana dengan cucu Ki Gede Sembojan yang seorang lagi, yang lahir dari ibu yang berbeda dari anak muda ini ?”

“Orang itu sudah tidak ada di Tanah Perdikan ini lagi. Seandainya anak itu ada disini, maka ia lahir kemudian dari Risang,“ jawab Iswari.

“Tetapi bukankah anak itu berniat untuk memimpin Tanah Perdikan ini?“ berkata salah seorang dari mereka, “bahkan pernah terjadi benturan kekerasan antara para pengikut dari kedua cucu Ki Gede Sembojan itu.”

Wajah Iswari menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Sebenarnya persoalannya sudah selesai. Cucu Ki Gede yang seorang lagi sudah tidak pernah menampakkan diri.”

“Bagaimana jika pada suatu hari anak muda itu datang dan menuntut ?“ bertanya seorang dari ketiga petugas itu.

“Bukankah ada paugeran yang berlaku, bahwa anak yang sulunglah yang akan menggantikan kedudukan orang tuanya dalam jabatan Kepala Tanah Perdikan? Anak sulung laki-laki yang tidak cacat rohani dan jasmani. Bahkan cacat jasmanipun masih dengan keterangan apabila cacat itu akan dapat mengganggu tugasnya. Nah, cucu yang sulung dari Ki Gede Sembojan tidak cacat jiwanya dan tidak cacat pula tubuhnya,“ berkata Iswari.

“Cucu yang lain juga dapat berkata seperti itu. Anak sulung, tidak cacat rohani dan tidak cacat tubuhnya,“ berkata salah utusan itu.

“Itu tidak mungkin Ki Sanak. Suamiku kawin lagi dengan isterinya yang kedua setelah aku mengandung. Sedang perempuan yang dikawininya saat itu masih belum mengandung. Anakku lahir wajar, artinya, sembilan bulan dalam kandungan. Seandainya anak isteri kedua suamiku itu melahirkan tujuh bulan, itupun anakku sudah lahir lebih dahulu,“ jawab Iswari yang jantungnya mulai digelitik oleh pertanyaan-pertanyaan yang kurang sesuai dengan perasaannya dan itu sangat menjengkelkannya.

Risang duduk sambil menundukkan kepalanya. Namun ia masih berusaha menahan diri.

Sementara itu, salah seorang yang tertua diantara mereka akhirnya berkata, “Nyi. Sebenarnyalah sulit bagiku untuk mengatakan. Tetapi aku hanya mengemban tugas. Betapapun aku melingkar-lingkar, namun akhirnya aku harus mengatakan tugas kami yang sebenarnya. Kami mohon maaf, karena apa yang akan kami katakan ini bukannya kehendak kami sendiri.”

Iswari dan Risang menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi mereka menunggu dengan tegang, apa yang akan dikatakan oleh ketiga orang itu atau salah seorang daripadanya.

Yang tertua diantara ketiga orang itupun kemudian berkata, “Nyi. Setelah dua kali utusan dari Pajang datang kemari, serta setelah para petugas mengumpulkan bahan-bahan yang menyangkut Tanah Perdikan ini, maka pimpinan pemerintahan di Pajang memutuskan untuk menilai kembali kekancingan tentang Tanah Perdikan ini. Seandainya kekancingan ini mengikat segala pihak, maka kuasa Pajang sekarang setingkat dengan kuasa yang memberikan kekancingan itu.”

“Tegasnya, Tanah Perdikan Sembojan akan ditiadakan?“ bertanya Risang yang tidak sabar lagi.

“Bukan begitu anak muda,“ jawab yang tertua, “segala sesuatunya akan dapat ditinjau kembali. Mungkin kekancingan itu akan diperbaharui.”

Iswari dan Risang memang menjadi agak bimbang. Namun orang tertua itupun berkata, “Baiklah aku berterus terang. Sebagaimana kalian ketahui, bahwa Pajang harus mulai mengembangkan diri kembali setelah perang berakhir. Nah, untuk itu, maka Pajang memerlukan dana cukup besar.”

“Dengan demikian Tanah Perdikan ini akan dapat disahkan keberadaannya jika Tanah Perdikan ini bersedia memberikan upeti yang dapat membantu Pajang mengembangkan diri,“ potong Iswari yang pernah dihubungi oleh utusan dari Tanah Perdikan Gemantar.

Ketiga orang utusan dari Pajang itulah yang termangu-mangu. Namun yang tertuapun kemudian berkata, “Ya. Setiap bulan Tanah Perdikan ini diwajibkan menyerahkan upeti seekor lembu dan sepedati hasil bumi apapun juga. Tetapi harus ada diantaranya padi.”

Wajah Risang menjadi merah. Tetapi Iswari masih sempat bertanya, “Kepada siapa kami harus menyerahkan upeti itu?”

“Kalian tidak perlu datang ke Pajang untuk menyerahkan upeti itu. Akan datang utusan dari Pajang untuk mengambilnya,“ jawab orang yang tertua diantara mereka.

Risang beringsut setapak maju. Tetapi ibunya menggamitnya sambil berkata,“ Ki Sanak. Kami sudah menerima pemberitahuan lesan ini. Kami akan membicarakannya dengan para pemimpin dan tetua Tanah Perdikan ini.”

Yang tertua diantara mereka mengangguk-angguk. Tetapi orang itu berkata, “Sekali lagi aku minta maaf. Yang kami sampaikan sama sekali bukan gagasan kami. Tetapi kami hanyalah petugas-petugas saja. Sebenarnya kami ingin mendengar jawaban kalian sekarang, sehingga aku akan dapat melaporkannya kepada pimpinan kami.”

Risang yang menahan diri, dadanya justru menjadi sakit. Tetapi ibunyalah yang menjawab, “Maaf Ki Sanak. Kami masih harus membicarakannya lebih dahulu.”

“Baiklah,“ berkata yang tertua, “tetapi yang kami sampaikan adalah perintah. Apakah sepantasnya perintah masih harus dibicarakan?”

“Bukan perintahnya, tetapi mungkin pelaksanaannya,“ jawab Iswari.

Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Yang tertua diantara merekapun kemudian berkata, “Baiklah. Kami minta diri. Dalam waktu tiga hari sampai sepekan kami akan datang lagi. Pajang bukan jarak yang pendek. Jika kami harus hilir mudik, maka kami akan kehabisan waktu dan tenaga. Karena itu, jika kami harus hilir mudik, maka biarlah prajurit Pajang yang sudah terbiasa melakukannya yang akan datang kemudian. Tetapi sebagaimana kalian tahu, berbicara dengan para prajurit tentu agak lain dengan berbicara dengan kami.”

Iswari mengatupkan giginya rapat-rapat. Tetapi terdengar juga ia berdesis, “Kalian mengancam?”

“Tidak,“ jawab yang tertua, “kami tidak pernah mengancam siapapun. Apalagi kami hanya sekedar melakukan tugas.”

Iswari tidak menjawab lagi. Ia mulai dijangkiti oleh gejolak perasaannya. Jika ia terlalu banyak berbicara, maka bicaranya akan menjadi semakin keras.

Sejenak kemudian maka ketiga orang itupun segera minta diri. Di regol mereka masih berpesan, “Dalam waktu tiga hari, selambat-lambatnya sepekan, kami akan datang.”

Risang menggeram. Tetapi ia masih tetap menahan diri meskipun rasa-rasanya dadanya dihimpit batu.

Demikian derap kaki kuda orang-orang itu hilang, maka Risangpun berkata, “Nah, bukankah pasukan pengawal Tanah Perdikan harus disiapkan?”

“Tunggu dulu Risang,“ berkata ibunya, “kita masih harus membicarakannya. Mungkin ada jalan lain yang lebih pantas. Apakah kau akan pergi ke Pajang? Mungkin satu dua orang dapat kau hubungi. Apakah memang benar Pajang memungut upeti justru setiap bulan.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Besok aku akan pergi ke Pajang.”

Tetapi ketika hal itu dibicarakan dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan, maka mereka berpendapat lain. Kiai Badrapun berkata, “Iswari. Risang tidak usah tergesa-gesa pergi ke Pajang. Aku kira orang-orang itu hanya sekedar mengancam. Karena itu, maka jika mereka kembali lagi, maka kau dapat menjawab saja, bahwa Tanah Perdikan ini akan menjalankan semua perintah. Kekancingan Tanah Perdikan ini akan diserahkan jika sudah ada kekancingan baru, sehingga segala sesuatunya menjadi pasti. Nah, aku kira mereka tidak akan tergesa-gesa mengambil keputusan. Sementara itu, dengan tidak usah tergesa-gesa, Risang dapat mencari hubungan dengan para pemimpin di Pajang. Bahkan mungkin Risang tidak akan perlu ke Pajang, karena perintah tentang pembatalan kekancingan yang lama itu tidak akan pernah ada.”

Jilid 33

ISWARI menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti jalan pikiran Kiai Badra. Tetapi iapun mengerti bahwa sikap itu justru sikap yang keras. Sembojan telah bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Bahkan seandainya yang datang kemudian ke Tanah Perdikan Sembojan adalah utusan yang terdiri dari prajurit segelar sepapan.

Sementara itu Kiai Badrapun telah berkata, “Tanah Perdikan Sembojan memang berbeda dari Tanah Perdikan Gemantar yang kecil. Pajang, atau katakanlah orang-orang yang kebetulan mempunyai wewenang di Pajang, dapat berbuat apa saja atas Gemantar. Tetapi mereka akan berpikir ulang untuk ditrapkan di Sembojan.”

Iswari mengangguk-angguk. Sementara Risang berkata, “Jadi menurut kakek, kita tidak akan berbuat sesuatu selain bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan? Jika orang-orang Pajang itu datang, kita akan mengatakan bersedia menjalankan semua perintah, tetapi perintah itu tidak akan pernah kita jalankan dengan sungguh-sungguh.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya,“ Kita akan menunggu, apakah orang-orang itu sekedar mengancam, atau mereka akan benar-benar melaksanakan.”

“Jika mereka benar-benar akan bertindak atas Tanah Perdikan ini?“ bertanya Iswari.

“Ada dua cara,“ jawab Kiai Badra, “Risang pergi ke Pajang, atau kita kibarkan panji-panji Tanah Perdikan ini tinggi-tinggi. Pajang bukan satu-satunya pimpinan yang dapat kita jadikan pegangan sekarang ini. Kita belum tahu tataran pemerintahan yang tentu bakal tersusun antara Pajang, Jipang dan Mataram.”

“Bukankah sudah ditentukan bahwa Adipati Demak berkuasa di Pajang dengan warisan kekuasaan Kangjeng Sultan Hadiwijaya?“ desis Iswari.

Dengan nada rendah Kiai Badra berkata, “Ketika Sultan Hadiwijaya berkuasa di Pajang, telah bangkit kekuasaan di Mataram yang justru kemudian mengalahkan Pajang. Pangeran Benawa yang dianggap Pangeran Pati di Pajang belum berkuasa di Jipang seperti sekarang ini.”

Iswari mengangguk-angguk. Sementara Risang yang muda itu berkata dengan kepala tengadah, “Aku mengerti sekarang. Kita harus menunjukkan keberadaan kita. Juga kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Bagaimanapun juga, kita harus berhati-hati menentukan sikap. Risang, kau jangan mengambil langkah sendiri. Setiap keputusan yang akan kau ambil harus kau bicarakan lebih dahulu dengan ibu.”

Risang termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya ibu.”

Kiai Badralah yang justru tersenyum. Ia dapat menangkap getar perasaan Iswari. Karena itu, maka iapun berkata, “Bagaimanapun juga pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah ibumu Risang. Beban pertanggung jawaban memang ada di pundaknya.”

Risang tidak menjawab. Sementara ibunyapun kemudian berkata, “Baiklah. Kita akan menunggu kehadiran orang-orang Pajang itu.”

Demikianlah, maka Risangpun kemudian minta diri untuk melihat-lihat keadaan. Namun perhatian utama Risang adalah justru para pengawal Tanah Perdikan.

Sepeninggal Risang, Iswari sempat berdesis, “Kakek justru telah membakar perasaan anak itu.”

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “Sebenarnyalah aku tidak mengerti sikap Pajang sekarang ini. Karena menurut pendapatku, setiap orang mempunyai paugerannya sendiri-sendiri. Sudah tentu yang dapat menguntungkan mereka masing-masing. Karena itu, harus ada sengatan sedikit agar para pemimpin Pajang sempat membicarakannya bersama-sama. Mengambil langkah yang wajar tetapi pasti yang diketahui oleh para pemimpinnya.”

Iswari mengerti maksud kakeknya. Tetapi bagaimanapun juga, ia tidak dapat bertindak terlalu jauh. Meskipun menurut perhitungannya setiap langkah dengan mempergunakan kekuatan prajurit Pajang, masih harus dipertimbangkan baik-baik oleh para pemimpin Pajang sebagaimana dikatakan oleh Kiai Badra.

Sementara itu, Risang yang mendapat kesempatan menemui para pemimpin kelompok pengawal justru telah memerintahkan, agar para pengawal lebih mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

“Waktuku masih terlalu banyak berada di Sanggar,“ berkata Risang, “Aku harus secara ajeg dan teratur meningkatkan ilmuku agar aku tidak perlu setiap kali mengulanginya sehingga waktunya akan menjadi semakin panjang.”

“Apakah yang kira-kira akan terjadi?“ bertanya seorang pemimpin kelompok.

“Kita adalah pengawal sebuah Tanah Perdikan yang secara sah ada. Ada surat kekancingan dan kita sudah menunjukkan keberadaan kita untuk waktu yang cukup lama,“ jawab Risang.

Para pemimpin kelompok itupun telah mengetahui maksud Risang itu. Dan merekapun telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Pada saat-saat terakhir mereka telah meningkatkan latihan-latihan meskipun hanya diantara kelompok-kelompok. Setiap sore mereka telah mencari tempat di lereng-lereng bukit dan di padang-padang perdu. Meskipun sehari-harian mereka bekerja di sawah dan ladang, tetapi meskipun hanya sebentar mereka memerlukan untuk melakukan latihan-latihan mempergunakan senjata serta mempertinggi daya tahan tubuh mereka.

Dengan berdebar-debar Iswari menunggu kedatangan utusan dari Pajang itu. Mereka akan datang antara tiga hari sampai sepekan untuk mendengar jawaban dari pimpinan Tanah Perdikan Sembojan tentang ketentuan yang pernah dinyatakan dengan lesan oleh para utusan dari Pajang itu.

Namun dalam pada itu, Risang lebih banyak berusaha meningkatkan kemampuan para pengawal disamping tugas-tugasnya sendiri yang diberikan oleh guru-gurunya.

Ternyata dengan pesat kemampuan Risang memang telah meningkat pada satu tataran yang mapan. Ketiga gurunya tinggal mengeraskan alas yang akan dipakainya untuk meletakkan ilmu Janget Kinatelon. Sementara Risang telah mempersiapkan pula para pengawal Tanah Perdikan Sembojan untuk menghadapi akibat yang paling buruk sekalipun menghadapi Pajang yang menurut penilaian Risang telah berubah karena tingkah laku dan sikap para pemimpinnya.

Pada hari yang keempat, maka yang mereka tunggu telah datang. Tiga orang utusan dari Pajang yang telah datang sebelumnya, disertai dengan seorang yang nampaknya mempunyai kedudukan lebih tinggi.

Iswari telah mempersilahkan empat orang itu duduk di pendapa. Bersama Risang, Iswari telah menemui mereka.

Tiga orang yang pernah datang sebelumnya masih seperti sikapnya beberapa hari yang lalu. Ramah dan dengan unggah-ungguh yang mapan. Tetapi seorang yang menyertainya itu bersikap agak lain. Agaknya ia merasa bahwa dirinya adalah seorang pemimpin.

Seorang diantara ketiga orang itupun kemudian telah memperkenalkan orang yang keempat itu, “Ini adalah Ki Rangga Larasgati. Seorang yang memang bertugas membenahi keberadaan Tanah Perdikan di Pajang.”

Iswari mengangguk hormat. Katanya, “Maaf Ki Rangga. Baru kali ini kami mengenal Ki Rangga.”

Ki Rangga tidak menanggapinya. Namun iapun kemudian berkata dengan tegas, “Aku akan berbicara langsung pada persoalannya.”

Iswari mengerutkan keningnya. Sementara Ki Rangga itu berkata selanjutnya, “Aku datang untuk mendengarkan keterangan kalian atas persoalan yang telah disampaikan sebelum ini. Seharusnya kalian tidak perlu menunggu sampai tiga empat hari. Kalian tinggal melaksanakan perintah yang sudah diberikan, karena kalian memang tidak berwenang menilai perintah itu. Kalianpun tidak dapat membicarakan pelaksanaan dari perintah itu sehingga harus menunda kesediaan kalian. Bagaimanapun juga perintah itu harus dilaksanakan. Kalian dapat saja membicarakannya. Tetapi itu tidak perlu ditunggu oleh utusan dari Pajang yang telah datang. Perintah itu akan aku ulangi, kalian harus menyediakan seekor lembu yang besar dan satu pedati hasil bumi termasuk beras atau padi kering. Tidak ada pertanyaan bersedia atau tidak. Tidak ada pula pertimbangan tentang pelaksanaannya. Yang dapat aku katakan lagi, jika kalian menganggap bahwa kalian tidak akan dapat memenuhinya, maka Tanah Perdikan ini akan dicabut kekancingannya. Cukup.”

Iswari mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi tegang. Namun sebelum Iswari menjawab, ternyata Risang sudah mendahuluinya, “Jika demikian, apa yang ingin Ki Rangga dengar dari kami.”

“Pilihan kalian,“ jawab Ki Rangga dengan nada keras, “menyerahkan upeti setiap bulan atau dicabut kekancingan Tanah Perdikan ini.”

“Jika kami memilih menyerahkan upeti, kepada siapa kami harus menyerahkan? Kepada seorang Tumenggung, kepada seorang pejabat yang ditunjuk atau kepada siapa?“ bertanya Risang.

“Kami akan datang mengambilnya,“ jawab Ki Rangga Larasgati.

“Darimana kami tahu, bahwa upeti yang diambil langsung dari Tanah Perdikan kami diserahkan kepada para petugas yang memang wajib menerimanya?“ bertanya Risang.

Wajah Ki Rangga Larasgati menjadi merah. Giginya gemeretak oleh kemarahan yang bagaikan membakar jantung. Iswari tidak mencoba mencegah pertanyaan anaknya. Ia sendiri ingin mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Jadi kalian tidak percaya bahwa kami utusan dari Pajang?“ geram Ki Rangga.

“Kami percaya,“ jawab Risang, “yang kami ragukan adalah bahwa upeti kami benar-benar akan berarti bagi perkembangan Pajang. Bukan akan terhenti dan bahkan terputus di jalan.”

“Setan kau,“ geram Ki Rangga, “jadi tegasnya kalian menolak perintah ini?”

“Kami harus mendapat keyakinan bahwa yang kami lakukan berarti bagi Pajang,“ jawab Risang.

“Apakah kau sudah memperhitungkan, bahwa kami dapat mencabut kekancingan dari Tanah Perdikan ini? “ ancam Ki Rangga.

“Bagaimana kau akan melakukannya? Apakah kau akan membawa kekancingan yang ada di Tanah Perdikan ini atau kau akan membawa kekancingan baru untuk membatalkan kekancingan yang sudah ada?“ bertanya Risang.

Orang itu menggeram. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Aku cabut kekancingan yang ada.”

“Kau kira kami akan menyerahkan kekancingan itu sebelum ada kekancingan yang baru?“ bertanya Risang.

“Persetan,“ geram orang itu, “kau menantang? Kau kira aku tidak dapat mengirim pasukan segelar sepapan untuk memaksakan kehendakku?”

“Kau kira aku tidak dapat berhubungan dengan para pemimpin di Pajang untuk membuktikan kebenaran kata-katamu? Kau dapat memberikan laporan apa saja sehingga para pemimpin di Pajang memerintahkan sepasukan prajurit untuk datang ke Tanah Perdikan ini. Tetapi akupun dapat memberikan laporan langsung kepada para pemimpin di Pajang atas tingkah lakumu disini. Tanah Perdikan ini sepanjang umurnya tidak pernah memberikan upeti setiap bulan sebagaimana kau katakan. Setiap tahunpun Tanah Perdikan ini tidak diharuskan memberikan upeti dalam arti yang sebenarnya selain pertanda bahwa Tanah Perdikan ini bernaung dibawah kuasa Pajang”

Tetapi kata-kata Risang terputus. Orang Pajang itu membentak hampir berteriak, “Cukup. Kenapa kau sesorah? Kau kira aku terlalu dungu untuk mengerti apa yang terjadi sebelumnya dan apa yang harus kalian lakukan sekarang? Dengar. Aku akan datang untuk mengambil kekancingan Tanah Perdikan ini sehingga Tanah Perdikan ini akan terhapus dari bumi Pajang. Kami sudah melakukannya atas Gemantar. Dan beberapa saat lagi akan terjadi pula atas Tanah Perdikan ini.”

“Jadi kalian telah melakukan kekerasan atas Gemantar?“ bertanya Iswari tiba-tiba.

“Apaboleh buat,“ jawab orang itu, “kami tidak sedang bermain-main. Kami benar-benar ingin membenahi Tanah Perdikan yang berserakan sekarang ini. Banyak yang sudah tidak layak lagi untuk dapat disebut sebagai Tanah Perdikan itu telah terjadi permusuhan, rebutan warisan di Tanah Perdikan itu telah terjadi permusuhan, rebutan warisan dan pertikaian ke dalam yang tidak ada putus-putusnya. Sebagaimana Tanah Perdikan Sembojan yang sebenarnya sudah tidak pantas lagi keberadaannya.”

“Tidak,“ tiba-tiba saja Iswari memotong, “tidak ada perebutan warisan atas hak kepemimpinan disini. Jika hal itu dipakai sebagai alasan penilaian atas Tanah Perdikan ini, maka alasan itu adalah alasan yang dicari-cari”

“Ada,“ sahut orang itu tegas, “kami sudah mendapat keterangan lengkap. Jangan mencoba membohongi kami.”

“Seandainya ada, itu adalah persoalan kami. Kami sudah mengatasinya dan sekarang, tidak ada apa-apa lagi disini,“ berkata Iswari tidak kalah tegasnya.

“Aku tidak percaya,“ orang itu menggeram, “kau jangan memperbodoh kami.”

“Kau dapat melihat apa yang terjadi disini. Kau dapat berbicara dengan setiap orang. Kau dapat mencari keterangan di pasar-pasar atau digardu-gardu perondan di malam hari,“ berkata Iswari.

“Tidak perlu,“ jawab orang itu, “aku sudah mempunyai cukup keterangan. Apa yang dapat aku dengar sekarang, tentu keterangan yang sudah tidak jujur lagi,“ berkata orang itu.

Namun Risang dengan cepat menyahut, “Aku tidak memerlukan tanggapanmu atas Tanah Perdikan ini. Tanah Perdikan ini adalah Tanah Perdikan yang sah. Persoalannya akan dibicarakan didalam tataran pembicaraan tinggi di Pajang. Tidak sekedar diputuskan oleh orang-orang seperti kau. He, kau siapa sebenarnya?”

“Setan kau,“ geram orang itu, “kau akan menyesal. Aku Ki Rangga Larasgati, kau dengar.”

“Kau dapat menyebut kedudukanmu sebagai Rangga, atau Tumenggung atau apa saja. Tetapi tunjukkan kepada kami, bahwa kau memang mendapat tugas untuk kepentingan ini. Apakah kau membawa pertanda limpahan wewenang itu?“ bertanya Risang.

Wajah orang itu menjadi merah. Jantungnya bagaikan meledak. Tetapi ia menyadari bahwa ia hanya berempat. Sementara itu, nampaknya pimpinan Tanah Perdikan itupun telah mengeraskan hati mereka untuk menolak tawarannya.

Ancaman Risang untuk datang ke Pajang telah menyentuh hatinya pula. Bagaimanapun juga, ancaman itu harus mereka pertimbangkan.

Namun orang-orang itupun tidak mau dihina oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka dengan serta merta, orang-orang itupun segera bangkit berdiri. Mereka tanpa minta diri telah turun dari pendapa dan selanjutnya meninggalkan Tanah Perdikan itu.

Iswari dan Risang memang juga bangkit berdiri. Tetapi mereka tidak turun dari pendapa. Mereka memandangi orang-orang itu berlalu dan mengambil kuda-kuda mereka.

Iswari dan Risang berpaling ketika ia mendengar beberapa orang keluar dari ruang dalam. Kiai Badra, Kiai Soka, Nyai Soka dan Bibi telah berdiri di pendapa itu pula.

Merekapun kemudian telah duduk tanpa menghiraukan orang-orang yang mengaku utusan dari Pajang itu.

Apalagi ketika derap kudanya yang menjauh dan tidak terdengar lagi ditelinga mereka.

“Aku telah mendengar pembicaraan kalian,“ berkata Kiai Badra ketika derap kaki kuda itu sudah tidak terdengar lagi.

“Bagaimana pendapat kakek?“ bertanya Iswari.

“Aku sependapat dengan keterangan kalian tentang Tanah Perdikan ini. Aku juga sependapat dengan sikap Risang. Risang telah menyinggung kemungkinan untuk pergi ke Pajang. Orang-orang yang datang itu tentu ingin menyalahgunakan kedudukan mereka, sehingga niat Risang untuk pergi ke Pajang tentu akan berpengaruh atas mereka. Mereka akan menjadi ragu-ragu. Karena itu, maka mereka tentu akan berpikir ulang untuk mengambil langkah-langkah,“ berkata Kiai Badra.

Namun Risang berkata, “Tetapi tatanan pemerintahan di Pajang memang sedang kurang mapan. Geseran kekuasaan dari Demak itu benar-benar membuat Pajang menjadi terguncang. Justru karena itu, maka mungkin orang yang mengaku bernama Ki Rangga Larasgati itu mempunyai hubungan dengan para Senapati di Pajang atau Demak yang berada di Pajang yang memang mempunyai wewenang untuk menggerakkan sepasukan prajurit yang ada dibawah perintahnya.”

“Aku mengerti,“ berkata Kiai Badra, “tetapi kita dapat menunggu beberapa saat.”

“Menurut orang yang mengaku bernama Ki Rangga Larasgati itu, Tanah Perdikan Gemantar telah ditindak dengan kekerasan,“ berkata Iswari.

“Gemantar adalah sebuah Tanah Perdikan yang kecil,“ berkata Kiai Soka, “meskipun demikian, ada baiknya kita bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Tetapi aku kira, kau tidak perlu pergi ke Pajang. Jika kau terjebak ke tangan orang-orang yang berniat buruk, maka keadaan akan menjadi semakin rumit. Ada kemungkinan terburuk terjadi atasmu. Orang-orang yang matanya sudah tertutup oleh ketamakan hatinya, kadang-kadang kehilangan pertimbangan-pertimbangan wajar atas sikap dan tingkah-lakunya. Mereka tidak segan-segan untuk melakukan pembunuhan dan bahkan telah merencanakan pembunuhan untuk mendapatkan jalan yang lurus bagi rencananya. Mungkin pula untuk menghilangkan jejak atau hadirnya hambatan-hambatan yang dianggapnya akan memotong niat tamaknya itu.”

Iswari mengangguk-angguk. Ia mengerti kecemasan dihati Kiai Soka. Mungkin orang-orang yang mengira Risang benar-benar akan ke Pajang itu telah membuat perangkap. Mungkin di Pajang, mungkin di jalan sebelum sampai ke Pajang.

Sementara itu Kiai Badra telah berkata pula, “Aku sependapat dengan Kiai Soka, Iswari. Karena itu, kita akan menunggu beberapa hari. Aku kira kita tidak akan terlambat. Aku tidak yakin bahwa orang yang datang kemari itu benar-benar akan bertindak. Ia tentu bukan petugas resmi yang harus menentukan kedudukan Tanah Perdikan ini atau orang yang telah dengan sengaja ingin menyalahgunakan kedudukannya.”

Tetapi Risang berkata, “Tetapi keadaan di Pajang sudah demikian parahnya, sehingga hampir setiap orang telah menyalahgunakan kedudukannya.”

“Bagaimanapun juga tentu ada keseganan yang satu dengan yang lain,“ berkata Kiai Badra, “namun naluriku masih belum melihat bahaya yang dekat di hidung kita.”

Iswari mengangguk-angguk. Tetapi Risang berkata, “Kakek agaknya masih terlalu percaya kepada orang lain. Tetapi baiklah. Aku masih belum akan ke Pajang. Namun persiapan Tanah Perdikan ini harus ditingkatkan.”

Kiai Badra mengangguk-angguk kecil. Sementara Iswari masih juga berkata,“ Kita sudah terlanjur bersikap keras. Tetapi apaboleh buat.”

“Bagaimanapun juga yang kau katakan, sama sekali tidak mencerminkan satu pemberontakan terhadap Pajang,“ berkata Kiai Badra, “kau sudah benar. Kau tanyakan pertanda kuasa dan wewenang yang diberikan oleh pimpinan pemerintahan Pajang. Biasanya limpahan wewenang akan nampak pada sebuah tunggul kerajaan. Masalah kekancingan Tanah Perdikan adalah masalah yang besar. Kekancingan itu diberikan oleh seorang yang memimpin pemerintahan. Kekancingan itu hanya dapat diambil oleh kekuasaan yang sedikitnya sama atau sederajat yang menggantikannya dengan kekancingan pula. Dengan demikian kau masih tetap mengakui kuasa Pajang. Yang kau lakukan adalah menolak dan tidak percaya kepada salah seorang petugas yang datang tanpa pertanda apapun.”

Iswari mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa ia masih berusaha untuk tidak melakukan pemberontakan terhadap Pajang. Tetapi iapun tidak mau disudutkan kedalam kesulitan yang berkepanjangan.

Demikianlah, Tanah Perdikan Sembojan telah diselimuti oleh mendung yang semakin lama terasa semakin menggantung. Setiap saat hujan dan badai dapat turun. Namun Tanah Perdikan Sembojan telah bersiap-siap menghadapi kemungkin itu.

Dihari berikutnya Risang masih tetap berada didalam sanggar. Sementara itu, para pengawalpun telah melakukan latihan ditempat-tempat yang jauh. Dilereng-lereng bukit atau dipadang-padang perdu.

Dalam pada itu, telah terjadi lagi goncangan perasaan atas para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan. Dua orang Gemantar telah datang dan memberitahukan, bahwa prajurit Pajang telah berada di Gemantar.

“Jadi benar Gemantar telah diduduki?“ bertanya Risang dengan wajah yang tegang.

Ki Badra yang ikut menemui kedua orang Gemantar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Orang Pajang benar-benar sudah kehilangan akal. Ternyata mereka telah melakukan tindak kekerasan atas Gemantar.”

“Nah,“ berkata Risang, “bukankah semua orang Pajang telah menyalahgunakan kekuasaan? Karena Gemantar tidak mau memberikan upeti langsung kepada seorang Tumenggung, maka Tumenggung itu telah dapat menggerakkan sepasukan prajurit untuk menduduki Gemantar.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata panggraitaku telah menjadi tumpul sekarang.”

“Tetapi kenyataan itu memang aneh,“ berkata Kiai Soka, “hampir tidak masuk akal. Namun satu kenyataan, bahwa hal itu sudah terjadi.”

Kepada orang Gemantar Risang bertanya, “Apakah telah terjadi pertempuran?”

“Untunglah, bahwa pemimpin prajurit yang datang itu adalah prajurit Pajang. Bukan prajurit Demak yang bertugas di Pajang. Karena itu, maka sikapnya cukup baik. Tanpa membawa pasukannya pemimpin prajurit itu menemui Ki Gede Gemantar. Ia mencoba menjelaskan tugasnya. Pemimpin prajurit Pajang itupun mencoba mengerti kesulitan Ki Gede Gemantar,“ berkata salah seorang Gemantar itu.

“Tetapi ia menduduki Gemantar,“ potong Risang.

“Pemimpin prajurit itu akan segera menarik prajuritnya. Tetapi pemimpin prajurit itu tidak merampas kekancingan Tanah Perdikan Gemantar. Bahkan ia berjanji untuk mengadakan hubungan dengan orang-orang yang mengaku berhak menerima upeti itu,“ jawab orang Gemantar itu.

“Apakah pasukan itu masih berada di Gemantar sekarang?“ bertanya Iswari.

“Ya. Tetapi mereka bersikap sebagaimana seorang prajurit,“ jawab orang Gemantar itu.

“Maksudmu?“ bertanya Risang.

“Tidak ada tingkah laku mereka yang menyulitkan orang-orang Gemantar. Tidak ada pemerasan dan tidak ada usaha untuk menakut-nakuti. Orang-orang Gemantar justru menjadi sedikit akrab dengan para prajurit itu.”

“Siapakah pemimpin prajurit itu?“ bertanya Risang.

“Ki Lurah Kasadha. Masih muda sekali,“ jawab orang itu.

Risang terkejut sekali. Ia kenal Kasadha dengan baik. Bahkan sudah seperti saudaranya sendiri. Dalam perang yang gawat mereka saling menolong. Mereka mengalami nasib yang hampir sama ketika mereka dihadapkan pada pendadaran ulang. Bahkan ilmu merekapun seakan-akan setingkat.

Namun Risangpun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Gemantar ternyata masih beruntung, bahwa yang datang adalah pasukan Kasadha.

Orang Gemantar itupun kemudian berkata, “Seandainya yang datang ke Gemantar bukan anak muda yang bernama Kasadha itu, mungkin keadaannya akan jauh berbeda. Kami pernah mendengar bahwa ada satu dua orang prajurit yang justru telah memeras dan merampas milik orang-orang kecil.”

Risang mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Lalu apa yang dilakukan oleh prajurit Pajang selama mereka berada di Gemantar.”

“Tidak apa-apa,“ jawab orang itu, “nampaknya mereka sekedar menjalankan tugas. Sampai saat ini jalur kehidupan rakyat Gemantar masih tidak banyak berubah. Tetapi yang kami cemaskan adalah bahwa kemungkinan lain dapat terjadi. Pimpinan prajurit di Pajang akan dapat mengganti sekelompok prajurit yang ada di Gemantar dengan kelompok yang lain yang akan berbeda sekali sifat dan wataknya. Terutama pimpinannya.”

Dengan nada rendah Iswari bertanya, “Jika hal itu terjadi, apa yang akan dilakukan oleh Gemantar?”

“Kami sudah bertekad untuk tidak menyerahkan surat kekancingan itu,“ jawab orang Gemantar itu.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami mengucapkan terima kasih atas pemberitahuan ini. Seorang pemimpin prajurit yang sebaik pemimpin prajurit yang datang ke Gemantar itu agaknya kini sulit dicari sepuluh di seluruh Pajang. Karena itu, jika hal itu teriadi atas Tanah Perdikan Sembojan, mungkin keadaannya akan berbeda. Mungkin yang datang ke Tanah Perdikan ini seorang pemimpin prajurit yang keras dan bahkan kasar.”

Orang-orang Gemantar itu mengangguk kecil. Sementara itu Risang masih belum mengatakan, bahwa ia mengenal Kasadha dan bahkan berada dalam satu pasukan.

Demikianlah beberapa saat lamanya orang-orang Gemantar itu berada di Tanah Perdikan Sembojan. Banyak hal yang dapat mereka ceriterakan tentang usaha Pajang untuk memeras Gemantar.

“Bukan Pajang,“ berkata orang itu kemudian, “tetapi beberapa orang tertentu sebagaimana terjadi di Tanah Perdikan Sembojan.”

Orang-orang Gemantar itu bermalam satu malam di Sembojan. Di pagi hari berikutnya mereka minta diri untuk kembali ke Gemantar. Mereka harus berada diantara saudara-saudaranya yang sedang mengalami ketegangan.

“Mudah-mudahan prajurit Pajang yang ada di Gemantar tidak justru ditarik segera, karena dengan demikian maka yang akan datang mungkin orang-orang yang lebih jelek dari yang telah ada,“ berkata Iswari kemudian.

Sepeninggal orang-orang Gemantar, maka Sembojan benar-benar merasa bahwa Tanah Perdikan itu telah terancam kekerasan yang setiap saat akan datang. Mungkin dengan cara yang jauh lebih kasar dari cara yang ditempuh Kasadha.

Dalam keadaan yang demikian, maka Risang telah mendesak Kiai Badra dan Kiai Soka, agar ia diperkenankan untuk pergi ke Pajang.

“Aku masih mencemaskan adanya jebakan bagimu. Orang-orang yang akan memeras Tanah Perdikan ini tentu tidak akan ragu-ragu menyingkirkan orang yang dianggapnya akan merintangi usaha mereka. Tanpa Risang, alasan terjadi kekisruhan disini akan menjadi semakin kuat,“ berkata Kiai Badra yang masih tetap ragu-ragu.

“Beri waktu satu dua hari untuk berpikir,“ berkata Kiai Soka.

“Tetapi dalam waktu satu dua hari itu, prajurit Pajang mungkin telah berada disini,“ desis Risang.

Orang-orang tua itu mengerti kegelisahan Risang. Sementara itu Iswari bagaikan berdiri disimpang jalan.

Dalam kegelisahan itu, ternyata Risang kurang dapat memusatkan perhatiannya pada latihan-latihannya. Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka yang mengerti gejolak perasaan anak muda itupun tidak memaksanya untuk berbuat lebih banyak dari yang dapat dilakukan oleh anak muda itu. Tetapi ketiganya tidak memberikan waktu kepada Risang untuk membatalkan latihan.

Sementara itu, ketika Risang mendapat kesempatan untuk berada diantara para pemimpin kelompok pengawal, maka iapun telah memberikan perintah-perintah yang lebih keras. Risang memerintahkan kepada para pemimpin kelompok pengawal untuk mulai mengadakan pengawasan. Setiap saat prajurit Pajang akan datang. Kita tidak boleh kehilangan waktu sama sekali untuk bersiaga menyongsong mereka.

“Karena itu, jika kalian pergi ke sawah, jangan ditinggalkan senjata kalian dirumah,“ berkata Risang, “setiap ada isyarat yang kalian dengar, maka kalian harus segera berada ditempat yang telah ditentukan.”

Perintah itupun segera menjalar kepada setiap pengawal. Bahkan setiap laki-laki yang merasa dirinya masih mampu untuk memegang senjata. Mereka yang sudah berambut dengan warna rangkap, namun yang sepuluh tahun yang lalu masih berada dilingkungan para pengawal.

Dua hari telah lewat. Tetapi masih belum ada langkah-langkah yang diambil oleh prajurit Pajang. Meskipun demikian, beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah melihat orang-orang yang menarik perhatian berkeliaran di Tanah Perdikan itu.

“Mungkin mereka sedang meyakinkan diri apakah Sembojan benar-benar telah bersiap. Atau mungkin mereka ingin melihat seberapa kekuatan Sembojan yang sebenarnya,“ berkata Risang yang telah mendapat laporan tentang orang-orang yang mereka curigai.

Sebenarnyalah sulit bagi Risang untuk mengharap Kasadhalah yang akan datang ke Sembojan karena Kasadha telah berada di Gemantar. Namun hal itu tidak mustahil terjadi. Jika Kasadha ditarik dari Gemantar karena sesuatu hal, maka mungkin sekali Kasadha akan dilemparkan ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Jika Kasadha yang datang, aku dapat berbicara dengannya,“ berkata Risang kepada diri sendiri.

Tetapi pada hari berikutnya, para pemimpin Tanah Perdikan telah dikejutkan oleh kehadiran orang-orang yang tidak diduganya sama sekali. Tiga orang berkuda yang semula dikiranya para perwira dari Pajang.

Namun kemudian, ketika mereka sudah berada di pendapa dan duduk ditemani oleh Iswari dan Risang, ternyata bahwa mereka bukan tiga orang utusan dari Pajang.

“Kami adalah tiga orang prajurit dari Jipang,“ berkata seorang diantara mereka.

“Dari Jipang,“ Iswari dan Risang memang terkejut.

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka telah menunjukkan sebuah cincin kerajaan sambil berkata, “Aku adalah utusan Pangeran Benawa yang kini menjadi Adipati Jipang. Aku adalah Tumenggung Reksapuri. Kedua orang kawanku ini adalah Ki Rangga Pawirayuda dan Ki Rangga Kartayuda.”

“Kami mohon maaf Ki Tumenggung serta Ki Rangga berdua, karena kami tidak tahu bahwa yang datang adalah para perwira dari Jipang,“ berkata Iswari. Lalu katanya, “Perkenankanlah kami mengucapkan selamat datang.”

“Terima kasih,“ sahut Ki Tumenggung. Katanya kemudian, “Kami sedang dalam perjalanan ke Mataram.”

“Ke Mataram?“ bertanya Iswari, “tetapi apakah Ki Tumenggung tidak salah jalan?”

Ki Tumenggung tertawa. Katanya, “Aku memang dengan sengaja memilih jalan ini. Kami memang ingin singgah di Tanah Perdikan Sembojan ini.”

Iswari mengangguk-angguk. Ia menyesal dengan pertanyaannya. Orang-orang itu tentu sudah mengenal jalan-jalan yang harus mereka tempuh dengan baik.

Sejenak kemudian, maka Iswaripun telah minta orang-orang tua di Tanah Perdikan ikut menemui tamu dari Jipang itu. Tentu ada sesuatu yang penting yang akan mereka sampaikan kepada para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan, karena mereka telah menempuh jalan melingkar dan singgah di Sembojan sebelum mereka pergi ke Mataram.

“Kami sudah mengetahui apa yang terjadi di beberapa Tanah Perdikan,“ berkata Ki Tumenggung Reksapuri, “termasuk Tanah Perdikan Gemantar dan Tanah Perdikan Sembojan. Kami terlambat menangani Tanah Perdikan Gemantar, sehingga Tanah Perdikan itu kini telah diduduki.”

“Ya,“ desis Iswari, “ada dua orang utusan dari Gemantar yang memberitahukan bahwa Tanah Perdikan Gemantar memang sudah diduduki. Tetapi untunglah bahwa pimpinan prajurit yang berada di Gemantar termasuk orang yang baik. Prajurit Pajang yang tahu diri.”

“Ya. Menurut pengertian kami, prajurit Pajang yang dianggap baik itu sudah ditarik. Sejak dua hari yang lalu, sekelompok prajurit yang lain yang berada di Gemantar. Hari-hari terakhir telah timbul beberapa tindak kekerasan di Gemantar. Korban telah mulai jatuh. Ki Gede Gemantar telah ditangkap. Namun Surat Kekancingan yang dikehendaki oleh para prajurit itu telah diselamatkan,“ berkata Ki Tumenggung Reksapuri.

“Itukah yang telah terjadi?“ desis Iswari.

“Prajurit Pajang yang sebelumnya dikirim ke Gemantar kini telah dipersiapkan untuk tugas berikutnya, namun dengan ancaman-ancaman agar mereka bertindak tegas,“ berkata Ki Tumenggung, “bagaimanapun juga orang-orang Pajang masih sering memberikan keterangan-keterangan yang kami perlukan. Masih banyak diantara mereka yang menyatakan kesetiaannya kepada Pangeran Benawa.”

“Kenapa tidak dikirim pasukan yang lain, yang tidak meragukan Pajang?“ bertanya Risang tiba-tiba.

“Pajang sedang mengalami tekanan dari luar,“ jawab Ki Tumenggung, “Pajang melihat kesiagaan Jipang dan Mataram. Sementara itu, Pajang membutuhkan pasukan yang dianggapnya setia sepenuhnya untuk bertahan jika benar terjadi tekanan kekuatan itu. Sedangkan pasukan yang akan dikirim untuk Tanah Perdikan yang mulai bergejolak dianggap tidak terlalu penting, karena hal itu sekedar memenuhi permintaan beberapa orang pemimpin saja. Bukan kebutuhan mutlak Pajang.”

“Bukankah kesatuan yang ada di Gemantar termasuk kesatuan yang baik dibawah pimpinan seorang perwira muda yang baik pula?“ bertanya Risang pula.

“Tetapi kesetiaannya kepada Pajang diragukan,“ jawab Ki Tumenggung, “menurut penyelidikan para petugas sandi kami, pimpinan prajurit Pajang di Gemantar yang ditarik itu adalah Kasadha. Seorang anak muda yang baik dan berdiri tegak dalam kedudukannya sebagai seorang prajurit. Kasadha telah menolak untuk merampas kekancingan Tanah Perdikan Gemantar. Karena itu maka pasukannya ditarik. Kasadha mendapat peringatan keras. Tetapi ada kemungkinan pasukannya dikirim ke Tanah Perdikan ini.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Ia memang mengharap agar Kasadhalah yang datang. Dengan demi kian, maka ia akan dapat berbicara berterus terang kepada anak muda yang pernah dianggapnya sebagai saudaranya itu. Bahkan mungkin Kasadha akan dapat mengerti dan bersedia bersama-sama bertemu dengan beberapa orang pejabat di Pajang.

Tetapi persoalan baru yang timbul di Pajang merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian mereka. Nampaknya Jipang dan Mataram telah mulai menaruh perhatian yang besar terhadap goncangan-goncangan yang terjadi di Pajang.

Dalam pada itu, maka Iswaripun kemudian bertanya kepada Ki Tumenggung Reksapuri, “Ki Tumenggung. Ki Tumenggung nampaknya sudah lama mengikuti gejolak yang terjadi di beberapa Tanah Perdikan. Sementara Ki Tumenggung mengatakan bahwa Jipang telah terlambat menanggapi Tanah Perdikan Gemantar. Sebenarnya kami ingin tahu, barangkali Ki Tumenggung akan memberikan beberapa petunjuk untuk mencari jalan keluar dari persoalan ini. Jika Tanah Perdikan Gemantar terlambat ditangani Jipang, maka agaknya tidak demikian dengan Tanah Perdikan Sembojan.”

“Itulah yang akan aku sampaikan kepada kalian,“ berkata Ki Tumenggung, “menurut pendapat kami di Jipang, Pajang telah menyimpang dari garis kewajibannya. Bahkan beberapa orang pemimpin di Pajang telah menyalah gunakan kekuasaan mereka untuk kepentingan pribadi. Aku tidak menyebutkan apakah mereka itu para pemimpin Pajang yang datang dari Demak atau memang orang Pajang sendiri. Namun jika hal ini dibiarkan terus-menerus, tentu yang terjadi kemudian akan sangat merugikan bukan saja bagi Pajang sendiri, tetapi sudah tentu bagi bebrayan Agung di Tanah ini.”

Para pemimpin dan tetua di Tanah Perdikan Sembojan itupun mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Tumenggung berkata selanjutnya, “Sebenarnyalah kami merintis jalan untuk mempersiapkan pertemuan Panembahan Senapati dengan Pangeran Benawa. Namun telah dibebankan pula tugas kepada kami untuk singgah di Tanah Perdikan ini. Untuk selanjutnya besok kami akan meneruskan perjalanan kami melalui Pegunungan Kidul menuju ke Mataram.”

“Begitu melingkar-lingkar?“ bertanya Iswari dengan serta merta.

Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Itu adalah persoalan para pemimpin tertinggi dari Jipang dan Mataram.”

Iswari mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, “Jadi perintah apakah yang akan diberikan kepada Tanah Perdikan Sembojan?”

“Kami ingin minta agar Tanah Perdikan Sembojan jangan menyerahkan surat kekancingan. Yang penting bukan surat kekancingan itu sendiri. Tetapi bahwa surat kekancingan adalah landasan hadirnya sebuah Tanah Perdikan serta nilai dari kuasa yang memberikan surat kekancingan itu. Hari ini juga akan datang seorang Tumenggung dengan sekitar sepuluh orang pengawal terpilihnya untuk berada di Tanah Perdikan ini. Jika utusan dari Pajang itu datang, biarlah Ki Tumenggung itu ikut menemuinya jika para pemimpin Tanah Perdikan ini tidak berkeberatan. Dengan demikian maka orang-orang Pajang itu tentu akan berpikir ulang. Jika mereka benar-benar akan melakukan kekerasan,“ berkata Ki Tumenggung Reksapuri.

Iswari mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada Risang, maka dilihatnya Risang sedang berpikir. Namun Kiai Badralah yang kemudian bertanya, “Apakah Jipang dan Mataram telah merencanakan untuk memberikan tekanan kepada Pajang?”

“Kita semuanya menginginkan pemerintahan berjalan wajar,“ berkata Ki Tumenggung Reksapuri. Lalu katanya pula,“ Kita akan memilih jalan yang terbaik. Kecuali jika semua cara sudah tertutup, kita akan dapat mempergunakan cara yang lebih keras. Mungkin sekali dengan kekuatan. Tetapi sudah tentu itu adalah pilihan terakhir. Kita tahu bahwa yang memegang pimpinan di Pajang, Mataram dan Jipang adalah orang-orang yang masih mempunyai hubungan keluarga, meskipun Panembahan Senapati tidak lebih dari saudara angkat Pangeran Benawa. Namun hubungan mereka benar-benar sudah seperti saudara kandung.”

Para pemimpin dan tetua di Tanah Perdikan Sembojan itupun kemudian menjadi agak tenang justru karena kehadiran beberapa orang prajurit Jipang. Mereka bukan datang atas kehendak mereka sendiri, tetapi mereka membawa pertanda kekuasaan Adipati Jipang.

Sejenak kemudian, setelah disuguhkan kepada mereka minuman dan makanan, maka para prajurit dari Jipang itu telah dipersilahkan untuk beristirahat di gandok.

Seperti yang direncanakan, maka menjelang sore hari telah datang pula seorang perwira prajurit Jipang dengan dikawal oleh sepuluh orang prajurit pilihan. Mereka telah diterima pula oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan di pendapa rumah Kepala Tanah Perdikan.

Sementara itu, karena sebelumnya Iswari sudah mengetahui akan kehadiran mereka, maka iapun telah siap dengan hidangan yang telah disediakan sebelumnya.

Yang datang kemudian adalah Ki Tumenggung Jaladara. Seorang yang berperawakan tinggi besar dengan kumis yang lebat melintang.

Tetapi ketika ia mulai berbicara, maka ternyata suaranya terdengar terlalu kecil dengan nada yang tinggi. Namun, setiap kali Ki Tumenggung itu tertawa ramah. Ujudnya yang garang itu ternyata tidak sejalan dengan sikap dan kata-katanya.

Malam itu, Ki Tumenggung Reksapuri yang kedudukannya lebih tua dari Ki Tumenggung Jaladara telah memberikan keterangan terperinci. Ki Tumenggung Jaladara akan berada di Tanah Perdikan Sembojan. Tanah Perdikan Sembojan harus bertahan. Peristiwa yang terjadi di Gemantar jangan sampai terulang kembali.

“Tetapi keadaan Tanah Perdikan ini memang berbeda dari Tanah Perdikan Gemantar. Tanah Perdikan Sembojan memiliki kelebihan dari Gemantar. Bukan saja daerahnya yang jauh lebih luas, tetapi Tanah Perdikan ini memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri jauh lebih besar dari Gemantar,“ berkata Ki Tumenggung Reksapuri.

Ki Tumenggung Jaladara yang kemudian akan tinggal di Tanah Perdikan Sembojan telah mendapat perintah untuk membantu agar Tanah Perdikan Sembojan tetap dapat berdiri tegak.

“Tanah Perdikan ini akan dapat banyak membantu kita kemudian,“ berkata Ki Tumenggung Reksapuri.

Malam itu, Risang telah memberikan beberapa keterangan tentang para pengawal yang ada di Tanah Perdikan Semboyan. Namun Risang masih belum mengatakan bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan itu sudah benar-benar bersiap.

“Besok aku ingin melihat sekelompok diantara mereka,“ berkata Ki Tumenggung Jaladara.

Ketika kemudian malam menjadi semakin dalam, maka para tamu dari Jipang itu telah dipersilahkan untuk beristirahat. Ternyata rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan cukup besar untuk dapat menampung mereka di gandok kiri dan kanan.

Dikeesokan harinya, Ki Tumenggung Reksapuri bersama kedua orang Rangga yang menyertainya telah berangkat meneruskan perjalanan mereka sebagaimana mereka rencanakan.

Sementara itu, Ki Tumenggung Jaladara telah mempergunakan waktunya untuk bertemu dengan para pemimpin kelompok dari para pengawal Tanah Perdikan. Banyak persoalan yang mereka bicarakan. Ki Tumenggung telah memberikan beberapa petunjuk bagi para pemimpin kelompok untuk membantu tugas-tugas mereka. Bahkan disore hari, Ki Tumenggung telah hadir pula pada satu latihan yang dilakukan oleh sekelompok pengawal dilereng sebuah bukit kecil.

“Bukan main,“ desis Ki Tumenggung, “kemampuan para pengawal di Tanah Perdikan ini jauh melampaui perhitungan kami. Dengan demikian maka kami yakin, bahwa Pajang tidak akan bertindak terlalu kasar terhadap Tanah Perdikan ini.”

Namun, ternyata dihari berikutnya, seorang pengawas telah melaporkan, bahwa sepasukan prajurit dari Pajang telah menyusuri jalan menuju ke Tanahr Perdikan Sembojan.

Risang terkejut mendengar laporan itu. Dengan cepat ia memerintahkan memanggil setiap pemimpin kelompok Tanah Perdikan dengan isyarat.

“Aku tidak berkeberatan jika prajurit-prajurit itu mendengar suara isyarat kami,“ berkata Risang.

Sejenak kemudian memang telah terdengar isyarat lewat bunyi kentongan. Namun bunyi kentongan itu terlalu khusus yang hanya diketahui oleh para pengawal. Karena itu, maka suara kentongan itu tidak mengacaukan tata kehidupan di Tanah Perdikan.

Sementara itu Risang telah memerintahkan untuk mengawasi gerak pasukan Pajang itu. Jika mereka bersungguh-sungguh dan mulai melakukan gerakan keprajuritan, maka harus disampaikan isyarat kepada para pemimpin Tanah Perdikan di rumah Kepala Tanah Perdikan.

Pertemuan para pemimpin Tanah Perdikan, beberapa orang bebahu dan bekel dari padukuhan-padukuhan yang juga datang bersama para pemimpin kelompok, para tetua di Tanah Perdikan dan orang-orang terpenting telah mendengarkan keterangan Ki Tumenggung Jaladara yang menasehatkan agar Tanah Perdikan itu bertahan.

“Pajang yang sekarang tidak dapat menarik kekancingan itu,“ berkata Ki Tumenggung, “selain hal ini harus diputuskan dan dilakukan atas dasar kekancingan yang baru, maka hal ini ada sangkut pautnya dengan usaha pemerasan. Aku kira mereka tidak akan melakukan gerakan keprajuritan hari ini. Tetapi orang-orang Pajang itu hanya sekedar menakut-nakuti Tanah Perdikan ini dengan prajuritnya yang akan berkemah di luar atau diperbatasan Tanah Perdikan. Sementara utusan-utusan dari orang-orang yang akan memeras Tanah Perdikan ini akan datang lagi untuk berbicara.”

Iswari mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Ki Tumenggung Jaladara. Karena itu, maka iapun kemudian berkata,“ Kita akan menunggu kedatangan utusan itu. Namun kitapun akan mempersiapkan diri jika prajurit itu benar-benar bergerak.”

Ki Tumenggungpun mengangguk-angguk pula. Sementara itu Kiai Badrapun berkata, “Persoalannya akan menjadi luas. Jika benar Jipang dan Mataram mengadakan tekanan kekuatan, maka kita akan dapat berharap bahwa Pajang tidak akan menghambur-hamburkan tenaganya disini, sekedar untuk memenuhi keinginan beberapa orang pemimpin di Pajang yang ingin memeras Tanah Perdikan yang ada di daerah Pajang.”

Dengan demikian maka telah diambil keputusan dengan membagi tugas. Risang harus mempersiapkan seluruh kekuatan yang ada di Tanah Perdikan. Sepuluh orang prajurit pilihan dari Jipang akan membantunya.

Bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung, Risang segera bergerak untuk menyiapkan pasukan yang akan menghentikan gerak pasukan Pajang.

Seperti yang diperhitungkan Ki Tumenggung Jaladara, maka para prajurit Pajang memang tidak langsung memasuki Tanah Perdikan itu. Tetapi mereka telah menempatkan diri diperbatasan. Sambil membangun semacam perkemahan yang dilengkapi dengan pertanda kebesaran dari pasukan yang datang itu dengan rontek, umbul-umbul, kelebet dan bahkan tunggul-tunggulnya, maka Pajang telah mengutus tiga orang Senapatinya menuju ke rumah Kepala Tanah Perdikan.

Seorang diantara mereka adalah orang yang pernah datang ke Tanah Perdikan itu. Ki Rangga, Larasgati. Ia akan mengatakan kepada para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan bahwa ia telah datang dengan prajurit-prajurit.

Tetapi ketika Ki Rangga Larasgati dengan kedua orang Senapati itu menelusuri jalan-jalan di Tanah Perdikan Sembojan, ia memang terkejut. Tanah Perdikan itu telah melakukan persiapan terbuka untuk menyambut kedatangan para prajurit dari Pajang. Di banjar padukuhan yang ada diperbatasan, Ki Rangga Larasgati melihat beberapa kelompok pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah bersiap.

Ia memang menganggap bahwa pengawal yang ada di banjar itu terlalu kecil jika ia benar-benar harus mempergunakan kekerasan dengan prajurit yang dibawanya.

Pemimpin pengawal yang ada di padukuhan yang ada diperbatasan itu memang telah menghentikannya. Sambil membentak-bentak Ki Rangga itu berkata, “Kalian lihat, kami adalah perwira dari Pajang yang mendapat perintah untuk menemui pimpinan Tanah Perdikan ini.”

“Kami belum pernah mengenal Ki Sanak,“ jawab pemimpin kelompok itu,“ Ki Sanak begitu saja memasuki padukuhan ini tanpa pemberitahuan. Dalam keadaan gawat seperti sekarang ini, sudah sepantasnya kami menghentikan Ki Sanak dan minta beberapa keterangan tentang orang-orang yang kami anggap belum kami kenal.”

“Tutup mulutmu,“ Ki Rangga membentak, “kati lihat pakaianku? Kau lihat prajurit yang ada di perbatasan? Dan sebelumnya aku pernah datang ke Tanah Perdikan ini.”

“Kami adalah orang-orang pegunungan yang jauh dari kota, sehingga kami tidak dapat segera mengenali pakaian kalian,“ jawab pemimpin kelompok itu.

“Cukup,“ Ki Rangga Larasgati hampir berteriak, “jika kau berbicara lagi, aku bunuh kau.”

Pemimpin kelompok itu tersinggung sekali. Tetapi ia sadar, jika terjadi sesuatu atas utusan dari Pajang itu, maka persoalannya akan berbeda.

Karena itu, betapa jantungnya akan meledak, pemimpin kelompok itu harus membiarkan Ki Rangga meneruskan perjalanannya menuju kerumah Kepala Tanah Perdikan.

Beberapa kali Ki Rangga memang telah dihentikan oleh para pengawal yang tersebar di padukuhan-padukuhan. Dan beberapa kali Ki Rangga harus membentak-bentak.

Tetapi dengan demikian Ki Rangga melihat, bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan tidak hanya yang berada di perbatasan. Tetapi di jalan-jalan Tanah Perdikan itu ia telah berpapasan pula dengan para pengawal. Dalam kelompok-kelompok kecil mereka bergerak ke perbatasan dan bergantung dengan kawan-kawan mereka yang telah lebih dahulu berada di banjar padukuhan yang ada diperbatasan.

“Setan, orang-orang Sembojan,“ geram Ki Rangga Larasgati, “aku cenderung untuk menghukum Tanah Perdikan ini lebih berat dari Gemantar.”

“Prajurit yang kita bawapun berlipat,“ berkata salah seorang dari pengiringnya itu.

“Tanah Perdikan ini harus dihajar sampai benar-benar mau tunduk,“ geram Ki Rangga Larasgati.

Kedua pengikutnya mengangguk-angguk. Seorang di antaranya berkata, “Jika hal itu diperintahkan, maka ka mi akan sanggup melakukannya.”

Tetapi seorang yang lain berkata, “Tentu kami sanggup melakukannya. Tetapi apakah kami tidak akan memperhitungkan korban yang akan jatuh?”

“Apakah kalian masih menghitung-hitung, berapa korban yang akan jatuh? Kau dan orang-orangmu adalah prajurit. Kalian harus bertindak tegas terhadap semua orang tanpa pandang pangkat dan derajat, apabila mereka menentang perintah,“ geram Ki Rangga Larasgati.

“Perintah Kangjeng Adipati?“ bertanya orang itu.

“Tutup mulut kau. Jika kau bertanya lagi, maka mulutmu akan aku bungkam. Kau tahu siapa aku. Tanpa landasan kepangkatan aku telah memiliki kemampuan yang tinggi. Kau tahu bahwa aku akan dapat menggilas para pemimpin Tanah Perdikan ini sampai lumat? Sebagai seorang Rangga atau Larasgati itu sendiri,“ geram Ki Rangga.

Orang yang telah menanyakan tentang kemungkinan jatuhnya beberapa korban itu terdiam. Ia memang menyadari, bahwa Ki Rangga adalah seorang yang berilmu tinggi.

Setelah melalui beberapa padukuhan dan bulak-bulak panjang, serta setelah beberapa kali Ki Rangga Larasgati marah-marah kepada para pengawal yang menghentikannya, maka akhirnya Ki Rangga itu telah memasuki padukuhan induk.

Dipadukuhan induk, justru Ki Rangga tidak banyak mengalami hambatan. Orang-orang dipadukuhan induk telah mendapat perintah untuk membiarkan saja jika ada utusan dari Pajang yaing ingin bertemu dengan pemimpin Tanah Perdikan Sembojan.

Ki Rangga Larasgati yang memasuki halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan tanpa turun dari kudanya itu, memang telah disambut oleh Iswari sendiri. Baru kemudian, setelah sampai di depan tangga, Ki Rangga Larasgati itu meloncat turun dari kudanya.

Ki Rangga terkejut ketika ia mendengar suara seseorang yang menyapanya, yang sejak semula duduk membelakanginya dan bahkan seakan-akan tidak menghiraukan akan kedatangannya.

“Selamat datang Ki Rangga Larasgati.”

Ki Rangga yang sudah berada di tangga pendapa itu termangu-mangu sejenak. Tetapi orang itu masih tetap duduk ditempatnya.

Karena itu dengan lantang ia bertanya kepada Iswari, “Nyi. Siapakah orang itu?”

Ternyata orang itupun kemudian bangkit dan memutar diri. Bahkan kemudian sambil melangkah mendekat ia menjawab, “Bukankah kau mengenal aku?”

Ki Rangga Larasgati memang terkejut. Ia tidak mengira bahwa orang itu berada di Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu hampir diluar sadarnya ia berdesis,“ Ki Tumenggung Jaladara.”

Ki Tumenggung tertawa. Katanya, “Marilah. Silahkan. Bukankah Ki Rangga Larasgati utusan resmi dari Pajang yang akan bertemu dan berbicara dengan pimpinan Tanah Perdikan Sembojan ? Aku orang lain disini yang kebetulan lewat dan singgah di Tanah Perdikan ini.”

“Tetapi Ki Tumenggung adalah prajurit dari Jipang,“ desis Ki Rangga Larasgati.

“Ya. Karena itu, aku adalah orang lain disini,“ jawab Ki Tumenggung.

Ki Rangga masih akan menjawab. Tetapi Ki Tumenggung berkata, “Marilah. Naiklah dahulu ke pendapa.”

Iswari yang menyambutnyapun telah mempersilahkannya pula.

Sejenak kemudian, maka Ki Rangga Larasgati beserta kedua pengiringnya telah berada di pendapa itu pula. Namun sikap Ki Ranggapun telah berubah. Bagaimanapun juga ia masih tetap menghormati Ki Tumenggung Jaladara yang memang sudah dikenal sebelumnya.

“Aku akan mempersilahkan kalian untuk berbicara,“ berkata Ki Tumenggung Jaladara, “atau barangkali aku harus menyingkir dahulu?”

“Ah, tentu tidak,“ sahut Ki Rangga Larasgati. Lalu katanya pula, “pembicaraan kami bukan pembicaraan yang bersifat rahasia. Seandainya pembicaraan kami bersifat rahasia, aku kira para pemimpin dari Tanah Perdikan inipun telah menyampaikannya kepada Ki Tumenggung pula.”

“Mereka tidak merasa berkewajiban untuk menyampaikannya kepadaku,“ berkata Ki Tumenggung.

“Bukan soal kewajiban atau tidak berkewajiban,“ jawab Ki Rangga, “barangkali sekedar keterangan atau pemberitahuan saja,“ Ki Rangga itu berhenti sejenak, lalu, “Kedatangan kami hanya sekedar untuk menegaskan sikap kami.”

“Seperti yang terjadi di Gemantar?“ bertanya Ki Tumenggung Jaladara.

Wajah Ki Rangga menegang. Sementara itu Ki Tumenggung berkata pula, “Jika saja Gemantar memenuhi permintaan Pajang. Maka Tanah Perdikan itu tidak akan mengalami nasib buruk.”

Ki Rangga Larasgati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Ki Tumenggung nampaknya berprasangka buruk.”

“Tentang apa?“ bertanya Ki Tumenggung, “bukankah sewajarnya jika Gemantar memenuhi syarat yang ditentukan oleh Pajang, maka kekancingan Tanah Perdikan itu tidak akan dicabut.”

Wajah Ki Rangga menjadi merah. Dengan geram ia berkata, “Baiklah. Aku akan berbicara dengan pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Tidak kepada orang lain.”

Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Silahkan. Bukankah sudah aku katakan bahwa aku orang lain disini?”

Ki Rangga Larasgati kemudian berpaling kepada Is wari sambil bertanya, “Apakah kau telah berhubungan dengan Jipang dan minta bantuannya?”

Iswari menjawab singkat, “Tidak.”

“Tetapi ada perwira Jipang disini sekarang,“ berkata Ki Rangga.

“Kau sudah mendengar sendiri apa yang dikatakannya. Jika kurang jelas, bertanyalah sendiri. Orangnya masih ada disini,” jawab Iswari.

Jantung Ki Rangga Larasgati menjadi semakin bergejolak. Nampaknya ia memang harus mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Karena itu, maka iapun berkata, “Aku tidak peduli. Tetapi apa jawabmu atas perintah Pajang yang pernah aku sampaikan beberapa hari yang lalu.”

“Aku akan mentaati segala perintah resmi dari Pajang. Jika Ki Rangga Larasgati dapat menunjukkan pertanda limpahan kuasa dari Pajang, maka aku akan menentukan sikap,“ jawab Iswari.

“Ternyata kau adalah perempuan yang dungu,“ geram Ki Rangga, “kau tahu bahwa aku membawa pasukan yang cukup untuk merampas kekancingan itu?”

“Kau tidak tahu dimana kekancingan itu berada sekarang,“ berkata Iswari, “kau tidak akan dapat menemukannya. Kekancingan itu adalah jiwa Tanah Perdikan ini.”

“Kau tahu bahwa hal yang demikian dapat berakibat kematianmu,“ geram Ki Rangga Larasgati.

“Jiwaku sama sekali tidak berarti dibanding dengan jiwa Tanah Perdikan ini,“ jawab Iswari.

“Kau seorang perempuan,“ geram Ki Rangga, “seharusnya kau menyadari kelemahanmu.”

“Ya aku seorang perempuan,“ jawab Iswari, “tetapi justru karena aku perempuan, aku berbangga dengan kemampuanku.”

“Baik. Sediakan kekancingan itu. Aku akan memasuki Tanah Perdikan ini dengan pasukanku. Atau sediakan keranda bagi pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,“ geram Ki Rangga.

Risang yang ikut mendengarkan pembicaraan itu tiba-tiba membentak, “Tinggalkan tempat ini segera. Atau untuk selamanya kau tidak akan pernah keluar dari tempat ini.”

“Iblis kau,“ Ki Rangga hampir berteriak, “kau akan mati untuk yang terdahulu.”

Tetapi Risangpun berteriak, “Cepat pergi sebelum darahku mendidih.”

Ki Rangga Larasgati benar-benar merasa terhina. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat banyak selain membentak-bentak. Karena itu, maka iapun segera meninggalkan halaman rumah itu sambil mengancam, “Besok aku akan memasuki halaman rumah ini kembali. Besok aku akan menangkapmu, kecuali jika secara pengecut kau melarikan diri. Apapun yang dapat kau banggakan, tetapi di tangan kami, kau tentu akan menunjukkan dimana kekancingan itu kau sembunyikan.”

Tidak seorangpun yang menjawab. Ki Tumenggung Jaladarapun hanya tersenyum saja mendengar ancaman itu. Namun Risang telah menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri sendiri, “Kita tidak akan menyerah.”

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itupun telah berderap meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Tidak ada lagi yang menyapa mereka ketika mereka melewati pedukuhan-pedukuhan yang lain.

Namun dalam pada itu, Risangpun telah bersiap untuk menemui para pemimpin kelompok pengawal Tanah Perdikan.

“Aku ikut bersamamu,“ berkata Iswari.

Ternyata yang kemudian keluar dari regol halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan adalah Risang, Iswari, diikuti oleh Ki Tumenggung Jaladara, Sambi Wulung. Jati Wulung dan beberapa orang pengawal terpilih.

Sementara para prajurit Pajang justru tetap berada di rumah itu.

Ki Tumenggung Jaladara memang kagum melihat kesigapan Risang dan para pengawal Tanah Perdikan. Risang menunjukkan kemampuannya mengatur pasukannya sebagaimana seorang prajurit.

Sebenarnyalah Risang memang bersikap sebagai seorang prajurit terhadap para pengawal Tanah Perdikan dalam keadaan yang gawat itu. Para pengawalpun menyadari, justru mereka tahu bahwa Risang memang pernah menjadi seorang prajurit.

Dalam waktu yang singkat, maka pertahanan Tanah Perdikan Sembojanpun telah tersusun rapi. Para pengawal telah menyusun pertahanan pada padukuhan yang pertama dihadapan perkemahan prajurit Pajang. Untuk mengimbangi getaran dan gejolak perasaan yang terpengaruh oleh pertanda kebesaran kesatuan prajurit Pajang yang berkemah diperbatasan, maka di padukuhan pertama, di garis pertahanan pertama pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan, telah dipasang pula tanda-tanda kebesaran Tanah Perdikan Sembojan. Juga tunggul dan panji-panji, rontek dan kelebet.

Sementara itu, Ki Rangga Larasgatipun telah memerintahkan seluruh prajurit di dalam pasukannya untuk bersiap-siap.

“Sembojan memang berbeda dengan Gemantar,“ berkata Ki Rangga, “selain Sembojan memang lebih besar, tetapi Sembojan mempunyai naluri pertahanan yang lebih besar dari daerah-daerah lain di Pajang, justru karena persoalan didalam lingkungan Sembojan sendiri.”

Seorang pemimpin kelompok yang telah cukup lama menjadi prajurit di Pajang telah berkata, “Pada suatu saat, Pajang pernah melindungi Tanah Perdikan ini dari kegarangan orang-orang Jipang.”

“Sekarang akan terjadi sebaliknya. Nampaknya Jipangpun akan ikut campur,“ sahut Ki Rangga.

“Tetapi Jipang terlalu jauh letaknya dari Tanah Perdikan itu,“ jawab pemimpin kelompok yang lain.

“Ya,“ jawab Ki Rangga Larasgati, “kita jangan memberi kesempatan.”

Dengan perintah Ki Rangga, maka prajurit Pajang-pun telah bersiap. Ki Rangga telah memberikan petunjuk kepada para pemimpin kelompok serta para pemimpin kesatuan yang ada diperbatasan, bahwa besok pagi-pagi mereka akan memasuki Tanah Perdikan.

“Nampaknya Tanah Perdikan juga sudah bersiap,“ berkata seorang perwira salah seorang pimpinan kesatuan prajurit Pajang itu.

“Ya. Mereka bersiap padukuhan pertama. Memang satu sikap sombong seperti para pemimpinnya. Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang seorang perempuan itupun ternyata sombong sekali. Semula aku mengira bahwa perempuan cantik itu akan berbicara lembut. Tetapi ternyata kata-katanya seperti duri yang menusuk jantung,“ geram Ki Rangga Larasgati.

“Ki Rangga sudah mulai berbicara tentang perempuan cantik. Tetapi ia sudah janda sejak hampir sepuluh tahun yang lalu,“ berkata seorang prajurit yang lain, yang nampaknya sudah mendengar serba sedikit tentang Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

“Ya. Tetapi ia masih segar dan cantik. Tetapi itu tidak mempengaruhi rencana kita untuk menangkapnya karena ia telah memberontak,“ berkata Ki Rangga.

Namun yang lain, seorang perwira yang masih muda berkata, “Atau sebaliknya. Justru perempuan cantik itu yang telah mendorong Ki Rangga untuk menangkapnya.”

“Ah kau. Meskipun segalanya dapat terjadi, tetapi aku bertugas disini. Hanya secara kebetulan sasaran tugasku seorang perempuan cantik yang kebetulan pula seorang janda,“ desis Ki Rangga.

Perwira yang masih muda itu tertawa. Tetapi Ki Rangga ternyata kemudian berkata, “Perhatian kita harus kita tujukan terutama kepada pengawal. Nampaknya para pengawal Tanah Perdikan mempunyai susunan tataran yang baik. Dengan cepat mereka telah menempatkan diri. Bahkan pertanda kebesaran Tanah Perdikan itupun telah terpasang pula.”

“Tetapi hanya itu,“ jawab perwira muda itu, “jika besok kita membentangkan gelar, maka mereka akan menjadi kebingungan.”

“Mungkin orang-orang Jipang yang ada di Tanah Perdikan ini sudah memberikan tuntunan serba sedikit kepada para pengawal Tanah Perdikan ini menghadapi perang gelar. Atau oleh para pengawal yang agaknya sekarang tentu sudah menjadi semakin tua yang sebelumnya memang telah memiliki kemampuan yang cukup. Bahkan agaknya itulah yang membuat Tanah Perdikan ini menjadi sangat sombong,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

Beberapa orang perwira mengangguk-angguk. Meskipun ada diantara prajurit yang pernah mengetahui bahwa Tanah Perdikan Sembojan memiliki kekuatan yang bukan saja baru lahir sehari atau dua hari, bagaimanapun juga mereka menganggap bahwa kekuatan yang dibawanya cukup besar untuk memaksa Tanah Perdikan Sembojan menyerah dan melakukan apa yang diinginkan oleh Ki Rangga Larasgati, atau memaksa menyerahkan kekancingan atas Tanah Perdikan ini setelah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikannya tertangkap.

Demikianlah, maka Ki Ranggapun telah menyiapkan seluruh kekuatan yang dibawanya. Ia tidak ingin gagal pada langkahnya yang pertama sehingga harus mengulanginya kembali.

Karena itu, maka esok pagi, Ki Rangga Larasgati harus mulai bergerak dan di sore harinya, ia harus sudah berada dirumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta menangkap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang cantik itu.

Dalam pada itu, di padukukan pertama yang berhadapan dengan perkemahan para prajurit Pajang, Risang telah mengatur pertahanannya. Ki Tumenggung Jaladara yang mengagumi ketangkasan berpikir Risang merasa tidak perlu memberikan petunjuk-petunjuknya meskipun setiap kali Risang berbicara dengan Ki Tumenggung untuk meyakinkan kebenaran perhitungannya.

Baik Risang maupun Ki Tumenggung Jaladara berpendapat bahwa prajurit Pajang tentu akan menyerang esok pagi-pagi.

“Aku juga sependapat,“ berkata Iswari. Namun katanya kemudian, “Tetapi jangan lengah. Mungkin para prajurit Pajang melakukan gerakan tiba-tiba. Meskipun para pengawal masih sempat beristirahat serta mempersiapkan diri sebaik-baiknya hari ini tetapi setiap saat mereka harus mampu bergerak cepat.”

Risang mengangguk. Dengan nada yang mantap ia berkata, “Aku akan berada diantara para pengawal.”

Ibunya termangu-mangu sejenak. Risang adalah anak satu-satunya yang diharapkannya akan dapat melangsungkan keturunan keluarganya. Ia juga diharapkan untuk kelak menjabat sebagai Kepala Tanah Perdikan itu. Apalagi ia berada di peperangan, maka akibatnya akan dapat mencemaskannya.

Karena itu, maka Iswari itupun kemudian berkata, “Baiklah. Paman Sambi Wulung dan Jati Wulung akan selalu menemanimu.”

Risang mengangguk kecil. Ia mengerti bahwa ibunya tentu cemas tentang dirinya. Tetapi ia tidak mau membuat ibunya menjadi semakin gelisah. Karena itu, iapun berkata, “Kami akan bersama-sama memimpin pasukan pengawal.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada suara seorang ibu ia berkata, “Besok menjelang fajar, aku sudah berada di sini.”

“Terima kasih ibu,“ jawab Risang.

Demikianlah, setelah melihat-lihat kesiagaan para pengawal, Iswaripun telah kembali ke padukuhan induk bersama KI Tumenggung Jaladara. Ki Tumenggung akan memerintahkan sepuluh orang prajurit Jipang untuk berada diantara para pengawal Tanah Perdikan. Jumlah itu memang terlalu kecil. Namun yang penting Jipang memang ingin melibatkan dirinya. Dengan menempatkan sepuluh orang perwiranya, maka Jipang akan dapat membantu menyusun pertahanan yang baik serta menilai dari dekat kemampuan yang sebenarnya dari para pengawal Tanah Perdikan. Dengan pengenalan itu, maka Jipang akan dapat menentukan sikapnya lebih lanjut di Janah perdikan Sembojan itu.

Beberapa saat setelah mereka berada di padukuhan induk, maka sepuluh orang Jipang itupun telah siap. Mereka tidak mengenakan pakaian keprajuritan Jipang. Namun mereka telah mengenakan pakaian sebagaimana kebanyakan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Mereka akan berada diantara para pengawal Tanah Perdikan yang akan mempertahankan Tanah Perdikannya bersama-sama dengan hampir semua laki-laki yang mampu memegang senjata. Banyak diantara mereka adalah bekas para pengawal yang beberapa tahun yang lampau masih tangkas bertempur di medan-medan yang garang.

Risang kemudian telah menerima sepuluh orang prajurit pilihan dari Jipang itu dan menempatkannya di beberapa kelompok yang justru tidak terdiri atas para pengawal. Namun didalamnya juga terdapat bekas pengawal yang umurnya telah merambat semakin tinggi, sehingga dalam keadaan yang tenang, mereka sudah melepaskan senjata-senjata mereka.

Namun dalam keadaan yang gawat itu, mereka masih ingin menunjukkan bakti mereka kepada kampung halaman. Sehingga ketika kemelut mulai terasa di Tanah Perdikan itu, merekapun telah mengambil senjata mereka dari simpanan. Kemudian memacu kembali daya tahan tubuh mereka. Setiap hari, mereka telah berusaha untuk membangkitkan kembali kemampuan mereka sebagai seorang pengawal yang baik. Bahkan hampir setiap saat mereka telah berusaha untuk meningkatkan kemampuan dengan cara mereka masing-masing. Seseorang telah mempunyai kebiasaan berlari-lari menuju dan pulang dari sawah. Seorang yang lain telah melatih daya tahan tubuhnya dengan bekerja keras disawah tanpa beristirahat. Ada yang mempergunakan waktunya di malam hari dengan berlatih mempergunakan senjata yang hampir dilupakannya.

Hari-hari terakhir, Tanah Perdikan Sembojan memang diwarnai dengan latihan-latihan yang semakin berat. Bukan saja mereka yang berada di lereng-lereng bukit, dipadang-padang perdu. Tetapi juga di halaman-halaman rumah dan di kebun-kebun.

Malam hari menjelang hari yang mendebarkan, Risang telah memerintahkan para pengawal untuk beristirahat sebaik-baiknya meskipun mereka tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Hanya mereka yang bertugas sajalah yang masih berjalan hilir mudik di luar dinding padukuhan itu untuk mengawasi gerakan para prajurit Pajang.

Tetapi ternyata perkemahan orang-orang Pajang itupun nampak sepi. Perapian masih nampak menyala di dapur mereka. Tetapi ketika dua orang pengawas berusaha mengamatinya dari tempat yang lebih dekat, ternyata para petugas didapurpun sudah tertidur sambil menghangatkan tubuh mereka.

Namun para pengawas masih melihat para petugas hilir mudik mengelilingi perkemahan mereka yang lengang dengan senjata telanjang ditangan.

Menjelang dini hari, didapur perkemahan para prajurit Pajang itupun telah nampak sibuk. Para petugas tengah menyiapkan makan dan minum bagi para prajurit yang sebelum fajar menyingsing harus mulai bergerak memasuki Tanah Perdikan Sembojan.

Pada waktu yang sama, maka para petugas di padukuhan pertama yang menghadap ke perbatasan telah terjadi kesibukan yang sama. Sementara itu, beberapa ekor kuda berderap dari padukuhan induk ke padukuhan pertama yang sedang bersiap-siap menghadapi serangan para prajurit Pajang.

Seperti yang dijanjikan, Iswari dalam pakaian khususnya, telah memenuhi janjinya kepada anaknya, bahwa ia akan berada diantara para pengawal Tanah Perdikan menjelang fajar.

Namun Iswari telah mohon kepada kakek dan neneknya agar mereka tetap berada di padukuhan induk. Hanya dalam keadaan yang sangat gawat orang-orang tua itu akan diminta untuk hadir di arena.

Dipadukuhan pertama Risangpun telah berdiri tegak didepan regol padukuhan. Dari regol Risang sama sekali tidak melihat kegiatan yang dilakukan oleh para prajurit Pajang. Apalagi disaat gelap masih menyelimuti Tanah Perdikan Sembojan. Namun angan-angannya yang didasari dengan laporan para pengawas yang berhasil menyusup mendekati perkemahan itu dapat membayangkan apa yang telah terjadi di perkemahan itu.

Menjelang fajar Risang telah mendengar derap kaki kuda yang mendatanginya. Iapun segera tahu bahwa ibunya, sebagai pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah datang bersama-sama dengan beberapa orang pengawal pilihan.

Namun sebelum Risang menyambut kedatangan ibunya, ia terkejut ketika seseorang berdiri beberapa langkah daripadanya sambil berdesis, “Risang.”

Risang mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Bibi sudah ada disini?”

“Aku tidak akan membiarkan kau bertempur sendiri,“ berkata Bibi.

“Aku tidak sendiri Bibi. Aku berada di medan bersama dengan banyak orang,“ jawab Risang.

“Ya. Tetapi aku ingin bersamamu,“ berkata Bibi.

“Bibi dengar derap kaki kuda itu?“ bertanya Risang, “tentu ibu dan beberapa orang pengawal.”

“Aku tahu. Tetapi aku akan ikut berada di medan,“ jawab Bibi.

Risang hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berkata, “Aku akan menjemput ibu.”

Bibi ternyata mengikutinya, sehingga Iswaripun terkejut pula melihat kehadiran Bibi.

Tetapi Iswari tidak mencegahnya. Ia tahu bahwa Bibi-pun memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Bahkan melampui para pengawal kebanyakan. Bahkan Bibi pernah mendapat gelar Serigala Betina.

Ki Tumenggung Jaladara juga berada di padukuhan itu. Tetapi ia berkata kepada Iswari, “Aku tidak akan terjun kedalam pertempuran. Bagaimanapun juga masih ada keseganan Jipang untuk langsung melibatkan diri. Biarlah sepuluh orang prajuritku berada diantara para pengawal Tanah Perdikan ini.”

“Terima kasih,“ desis Iswari, “kami akan mempersilahkan Ki Tumenggung untuk berada di padukuhan induk saja.”

“Aku akan berada disini,“ jawab Ki Tumenggung, “tetapi aku tidak akan ikut bertempur.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian silahkan. Tetapi di hari-hari mendatang, mungkin kami benar-benar memerlukan keterlibatan langsung Kadipaten Jipang.”

“Jipang sedang berbicara dengan Mataram,“ jawab Ki Tumenggung.

Dalam pada itu, maka cahaya fajarpun mulai membayang di langit. Para pengawal telah menerima bagian makan dan minum masing-masing. Mereka dapat makan sebanyak mereka kehendaki, karena mereka belum tahu sampai kapan mereka akan berada di pertempuran.

Para prajurit yang kenyang itu telah berjalan-jalan hilir mudik untuk membuat perut mereka menjadi mapan, agar mereka justrutidak terganggu disaat mereka berada di medan yang mendebarkan itu.

Pada suatu saat, para pengawal Tanah Perdikan itu pernah berada dalam barisan yang sama dengan para prajurit Pajang untuk melawan Jipang. Namun kini mereka harus berhadapan dengan prajurit Pajang dengan bantuan Jipang betapapun kecilnya.

Setelah selesai dengan makan dan minum, maka Risangpun telah memerintahkan pasukannya bersiap. Ternyata Risang sama sekali tidak berniat untuk mempertahankan padukuhan itu dari dalam dinding padukuhan. Tetapi ia sudah memerintahkan para pengawal keluar dari padukuhan dan mengatur barisan mereka menghadap ke arah perkemahan prajurit Pajang.

Ketika laporan itu didengar oleh Ki Rangga Larasgati, maka Ki Rangga itupun berkata, “Aku sudah menduga, bahwa orang-orang Tanah Perdikan itu begitu dungunya untuk tidak mencoba mencari perlindungan dibelakang dinding padukuhan. Agaknya orang Jipang itulah yang memberikan nasehat kepada pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang cantik itu. Namun ternyata bahwa orang Jipang itupun tidak kalah dungunya dengan orang-orang Tanah Perdikan.”

“Jumlah mereka cukup banyak,“ berkata seorang perwira prajurit Pajang.

“Kau sudah mulai menjadi gentar?“ bertanya Ki Rangga.

“Tidak. Tetapi bukan berarti bahwa kita tidak mempergunakan perhitungan,“ jawab perwira itu.

Ki Rangga tertawa. Katanya, “Bagus. Tetapi kita tentu tahu tingkat kemampuan seorang pengawal.”

Perwira itu tidak menjawab lagi.

Sementara itu langitpun menjadi semakin terang. Sejenak kemudian, Ki Rangga yang akan memimpin langsung pasukannya telah berada di tengah-tengah para prajurit. Sejenak kemudian, maka Ki Ranggapun telah memberikan perintah untuk membunyikan isyarat dengan bunyi bende sekali.

Ketika para prajurit telah bersiap di kelompoknya masing-masing, maka bende itu telah berbunyi lagi dua kali. Dengan demikian maka setiap orang didalam pasukan itu telah bersiap untuk berangkat. Senjata-senjata mereka telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Sementara para prajurit itu telah memandang arena yang akan mereka masuki.

Sejenak kemudian maka bendepun telah berbunyi tiga kali. Terdengar derap kaki para prajurit yang serentak melangkah maju memasuki perbatasan Tanah Perdikan Sembojan.

Risang yang memimpin para pengawal mendengar isyarat yang diberikan oleh pimpinan prajurit Pajang meskipun hanya lamat-lamat. Namun dengan demikian, maka Risang tahu pasti, bahwa para prajurit Pajang memang sudah mulai bergerak.

Karena itu, maka Risangpun telah bersiap dalam kesiagaan tertinggi. Demikian matahari terbit, maka para prajurit Pajang itu akan memasuki arena pertempuran.

Iswari sendiri memang tidak langsung berada didalam barisan. Ia berada di belakang garis perang namun tidak terlalu jauh sehingga ia mampu memperhatikan medan dengan sebaik-baiknya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mendapat tugas di ujung sayap pasukan. Sementara itu, Risang sendiri berada di paruh barisannya. Ternyata Bibi benar-benar tidak mau ketinggalan. Ia berada di belakang Risang.

Sesaat sebelum pertempuran mulai, Gandar yang baru datang dari menengok padepokan Risang di Bibis langsung memasuki arena dan menemui Risang tanpa menemui Iswari lebih dahulu.

“Kapan kau datang?“ bertanya Risang.

“Baru saja,“ jawab Gandar, “demikian aku berada di padepokan, rasa-rasanya hatiku tidak mapan. Aku hampir tidak sempat berbuat apa-apa. Ada dorongan untuk segera kembali ke Tanah Perdikan. Dan aku memang segera kembali. Ternyata kau sudah berada diantara para pengawal.”

“Untung kau tidak terlambat,“ desis Risang, “apakah kau sudah memberikan laporan kepada ibu?”

“Belum,“ jawab Gandar, “aku kira sesaat lagi pertempuran sudah akan mulai. Aku menempuh perjalanan meskipun malam hari. Aku tidak mau terlambat. Karena itu, aku langsung memasuki arena.”

“Masih ada waktu untuk memberitahukan kehadiranmu kepada ibu,“ berkata Risang.

Gandar termangu-mangu. Sementara Risang mendesaknya, “Cepat. Pasukan Pajang telah bergerak maju.”

Gandarpun dengan cepat menyelinap kebelakang garis pertempuran. Dari seorang pengawal ia tahu dimana Iswari berada. Karena itu maka iapun telah berlari-lari menemuinya dan melaporkan kehadirannya.

“Aku titipkan Risang kepadamu,“ berkata Gandar, “tetapi jaga agar ia tidak kehilangan kendali. Cegah jika ia berbuat melampui kewajaran seorang pengawal di peperangan.”

“Ya,“ jawab Gandar, “aku akan melakukannya”

Dengan berlari-lari pula Gandar segera kembali kede-kat Risang yang berada di paruh pasukannya.

“He, jangan ganggu anakku,“ desis Bibi yang berada di belakang Risang.

Gandar berpaling. Jawabnya, “Kau berada disisi kanan Bibi. Aku disisi kiri.”

“Biar aku bersama anakku,“ geram Bibi.

“Ssst,“ desis Gandar, “pasukan Pajang itu telah mendekat.”

Bibipun terdiam. Tetapi ia memang bergeser disebelah kanan Risang.

Dalam pada itu, maka langitpun menjadi semakin terang. Prajurit Pajang yang bergerakpun menjadi semakin jelas nampak. Mereka maju dengan cepat langsung menuju ke pertahanan Tanah Perdikan Sembojan.

Sebagaimana yang diperhitungkan oleh para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan, maka beberapa puluh patok dari pertahanan pasukan Tanah Perdikan, terdengar isyarat. Dengan cepat pasukan dari Pajang itu telah mengatur diri. Mereka telah memasang gelar melebar. Garuda Nglayang.

Risang tidak merasa perlu untuk menyesuaikan gelarnya. Meskipun gelarnya bukan gelar Supit Urang yang utuh, tetapi menurut pendapat Risang, gelarnya sudah cukup baik untuk menghadapi gelar Garuda Nglayang yang menempatkan semacam tenaga cadangan di bagian belakang gelarnya.

Risang tidak menempatkan tenaga cadangan di tubuh gelarnya. Tetapi Risang menyimpan tenaga cadangan meskipun tidak terlalu banyak di padukuhan pertama, karena ia memperhitungkan kemungkinan lain yang dapat terjadi di padukuhan itu jika prajurit Pajang menusuk dari lambung dengan kekuatan yang datang kemudian.

Iswari yang berada di belakang pasukan itu dengan beberapa orang pengawal terpilih memang tidak berada ditubuh gelar. Tetapi ia bergeser dari ujung sampai ke ujung untuk mengamati seluruh pasukannya dan siap mengisi kelemahan yang ada didalam gelar.

Dalam pada itu, maka para prajurit Pajang dalam gelar Garuda Nglayang dengan cepat bergerak maju. Ki Rangga Larasgati menginginkan agar dengan cepat mencegah pertahanan lawan di padukuhan itu. Kemudian dengan seluruh kekuatan yang ada pasukan Pajang akan segera menusuk langsung ke padukuhan induk Tanah Perdikan.

“Kita harus dengan cepat menguasai padukuhan induk. Dengan demikian kita akan dapat memaksa para pemimpin Tanah Perdikan ini untuk memenuhi perintah kami. Atau Tanah Perdikan ini akan terhapus untuk selama-lamanya,“ berkata Ki Rangga Larasgati. Lalu katanya selanjutnya,“ Kita sudah terlanjur berada disini. Kita harus menyelesaikan rencana kita dengan sebaik-baiknya.”

Dua orang Senapati pengapitnya mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata, “Tetapi pertahanan Tanah Perdikan ini cukup mapan. Mereka telah memasang gelar sejak semula dan sama sekali tidak terpengaruh ketika kita menyusun gelar ini.”

“Tentu atas petunjuk orang Jipang itu. Mungkin mereka dapat menunjukkan sikap yang baik secara utuh atas petunjuk Tumenggung Jaladara. Tetapi yang penting, bagaimana kita akan menggilas mereka di pertempuran,“ geram Ki Rangga Larasgati.

Kedua Senapati pengapit itu tidak menjawab lagi.

Mereka mulai memberikan isyarat agar pasukan mereka bergerak lebih cepat, sehingga jika terjadi benturan dengan para pengawal Tanah Perdikan yang bertahan, mereka akan memiliki ancang-ancang yang akan dapat mendesak dan bergeser mundur.

“Ternyata mereka memang dungu,“ berkata Ki Rangga sambil melambaikan tangannya, “mereka tetap ditempatnya. Kita akan melanda mereka seperti banjir bandang.”

Demikianlah, dalam jarak yang semakin pendek, para prajurit Pajang telah berlari-lari dengan senjata teracu menyerang pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan kemudian terdengar para prajurit Pajang itu bersorak gemuruh seperti gelombang lautan menghantam dinding batu karang.

Tetapi mereka telah terkejut ketika tiba-tiba saja beberapa orang pengawal yang ada di lapisan pertama dari pasukan pengawal Tanah Perdikan itu menyibak. Beberapa orang pengawal muncul dari belakangnya dan langsung berjongkok dibaris paling depan.

Ki Rangga Larasgati memang terkejut sebagaimana para prajurit yang lain. Ternyata Tanah Perdikan Sembojan tidak bermain-main dengan pertahanannya. Mereka telah mempertaruhkan apa saja untuk melawan prajurit Pajang.

“Jadi orang-orang Tanah Perdikan benar-benar telah memberontak,“ berkata Ki Rangga kepada diri sendiri. Tetapi Ki Ranggapun telah bersungguh-sungguh pula. Karena itu, maka ia sama sekali tidak menghentikan pasukannya. Tetapi Ki Rangga sempat berteriak yang kemudian sambung bersambung diucapkan kembali oleh para pemimpin kelompok, “Awas. Mereka mempergunakan anak panah.”

Belum lagi gema teriakan itu lenyap, maka sebenarnyalah para pengawal Tanah Perdikan telah melontarkan anak panah yang meluncur bagaikan semburan air.

Lontaran anak panah itu telah benar-benar menghambat gerak pasukan Pajang yang ingin melanda lawannya seperti banjir bandang. Laju pasukan Pajang itu tertahan beberapa puluh langkah dari pasukan pertahanan Tanah Perdikan. Para prajurit yang berperisai dengan cepat telah melindungi dirinya dan para prajurit yang dibelakangnya dengan perisai-perisai mereka. Sedangkan yang lain telah berusaha menangkis anak panah yang meluncur itu dengan senjata-senjata mereka.

Meskipun demikian, beberapa orang memang benar-benar telah terluka. Satu dua orang justru terluka didada mereka, sehingga sebelum pertempuran yang sebenarnya mulai, mereka sudah harus tertinggal dibelakang pasukan mereka yang bergerak maju meskipun tidak begitu cepat lagi.

Ki Rangga Larasgati menjadi semakin marah. Ia tidak mengira bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan akan melawan dengan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada, sehingga mereka benar-benar akan bertempur sampai tuntas. Semula Ki Rangga masih menduga, bahwa yang dilakukan oleh Tanah Perdikan Sembojan itu sekedar mendukung pembicaraan para pemimpinnya untuk memperkuat sikap mereka dan untuk mengangkat harga diri serta keberadaan Tanah Perdikan itu sendiri. Tetapi ternyata yang terjadi kemudian menurut Ki Rangga adalah benar-benar satu pemberontakan.

“Tentu Tumenggung gila dari Jipang itulah yang mendorong orang-orang Tanah Perdikan ini untuk memberontak,“ geram Ki Rangga yang hanya didengarnya sendiri.

Namun Ki Rangga itupun kemudian harus berteriak lagi memberikan aba-aba ketika satu lagi gerakan para pengawal Tanah Perdikan yang mengejutkannya. Demikian serangan anak panah itu mereda, maka tiba-tiba saja para pengawal telah berlari menyerang dengan senjata teracu. Merekalah yang kemudian bersorak gemuruh seperti guruh yang membahana dilangit.

“Jawab serangan mereka dengan ujung senjata kalian,“ teriak Ki Rangga Larasgati.

Ternyata rencana Ki Rangga, untuk melanda pasukan Tanah Perdikan Sembojan telah gagal. Pasukan Tanah Perdikan itupun telah berlari pula menyerang prajurit Pajang yang justru tertahan oleh lontaran anak-anak panah.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan dari dua gelar yang bentuknya hampir sama, meskipun dengan beberapa perbedaan sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Iswari yang belum terlibat dalam pertempuran menyaksikannya dengan jantung yang berdebaran. Ia tidak pernah bermimpi untuk melawan Pajang dengan kekerasan. Tetapi sikap Pajang memang sulit untuk dapat dimengerti. Meskipun demikian Iswari masih mempunyai alasan atas tindakan yang diambilnya. Tanah Perdikan Sembojan sama sekali tidak memberontak melawan Pajang. Tanah Perdikan Sembojan hanya menolak keputusan dari orang yang tidak berhak karena tidak dapat menunjukkan bukti apapun tentang limpahan kekuasaan yang diberikan kepadanya. Tidak ada pertanda benda kerajaan atau Surat Kekancingan yang baru yang mencabut Surat Kekancingan yang terdahulu. Jika Pajang memang telah menggantikan kedudukan Demak, maka Pajang memang mempunyai wewenang yang sama dengan Demak. Tetapi harus ada pertanda wewenang itu yang dibawa oleh Ki Rangga Larasgati.

Yang terjadi kemudian adalah bahwa Tanah Perdikan Sembojan telah mempertahankan dirinya ketika Ki Rangga Larasgati menyerang. Tidak jelas, apakah Ki Rangga benar-benar membawa perintah dari Pajang atau karena kebijaksanaannya sendiri dan apalagi menyalah gunakan wewenang yang ada padanya.

Pertempuran yang terjadipun menjadi semakin lama semakin sengit. Para prajurit Pajang telah dikejutkan sekali lagi oleh para pengawal ketika benturan terjadi. Ternyata bahwa para pengawal Tanah Perdikan Sembojan memiliki kemampuan secara pribadi tidak kalah dengan kemampuan seorang prajurit.

Di pangkal sayap, para prajurit memang menjumpai pasukan yang agaknya lebih lunak dari para pengawal terlatih. Mereka mendapatkan lawan yang tidak terlalu tinggi bekal ilmunya. Tetapi diantara mereka terdapat orang-orang yang nampaknya umurnya sudah memanjat mendekati pertengahan abad, namun justru merekalah yang menjadi sangat berbahaya. Sementara itu, disamping pemimpin kelompoknya, maka terdapat seorang yang berilmu tinggi sehingga sempat mengacaukan kerapihan kerja sama para prajurit Pajang.

Sebenarnyalah di pangkal sayap itu terdapat kelompok-kelompok yang terdiri dari mereka yang tidak termasuk para pengawal. Tetapi diantara mereka terdapat bekas pengawal yang memiliki pengalaman yang luas, karena mereka pernah menjadi pengawal Tanah Perdikan beberapa tahun yang lampau justru pada saat Tanah Perdikan itu bergejolak.

Sementara itu, orang-orang yang merasa kurang memiliki bekal kemampuan mempergunakan senjata, telah bertempur berpasangan. Dua atau tiga orang bersama-sama menghadapi seorang prajurit yang lebih trampil dari mereka. Dengan demikian, maka prajurit itupun harus mengerahkan kemampuannya untuk menghadapi dua atau tiga orang sekaligus.

Tetapi mereka yang kebetulan berhadapan dengan orang-orang yang meskipun umurnya sudah mendekati setengah abad namun bekas pengawal sekitar kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, maka prajurit itu harus menjadi sangat berhati-hati. Orang-orang tua itu meskipun sudah agak lama tidak bermain-main denaan senjatanya, tetapi pada saat-saat terakhir mereka telah berusaha mengenali senjatanya lagi. Mereka yang menyimpan senjata mereka dibawah timbunan perkakas yang lain, telah diambilnya sejak keadaan meningkat menjadi gawat. Bukan saja membersihkannya tetapi juga membiasakan kembali mempergunakan senjata itu.

Ternyata mereka masih mampu membuat para prajurit harus mengerahkan kemampuan mereka untuk mengatasinya. Meskipun demikian orang-orang tua yang memiliki pengalaman yang luas itu harus memperhitungkan ketahanan tenaga dan kemampuan mereka. Nafas mereka tentu sudah tidak sepanjang disaat-saat mereka masih muda. Namun disaat-saat terakhir mereka telah berusaha untuk menggali kekuatan dasar mereka dengan mengatur pernafasan mereka. Mereka setiap saat telah berlatih untuk meningkatkan daya tahan mereka yang telah susut.

Dengan demikian, maka prajurit Pajang itu tidak segera dapat mendesak pasukan pengawal Tanah Perdikan. Para pengawal Tanah Perdikan yang terlatih itu dalam jumlah yang cukup, ternyata mampu bertahan di garis benturan kedua gelar itu.

Risang sendiri bertempur dengan garangnya. Saat-saat menempa diri yang berat sangat berarti baginya dalam pertempuran seperti itu. Pengalamannya sebagai seorang prajurit teiah membuatnya semakin teguh dan percaya diri.

Risangpun sama sekali tidak menjadi gentar ketika tiba-tiba saja ia telah berhadapan diparuh pasukan dengan Senapati pasukan Pajang. Ki Rangga Larasgati.

“Ternyata kau anak ingusan,“ geram Ki Rangga.

Risang termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa Ki Rangga tentu berbekal ilmu yang tinggi. Meskipun demikian Risang yakin akan tugas yang diembannya sebagai anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika Ki Rangga Larasgati melangkah maju, Risang memang bergeser untuk mendapatkan pijakan yang lebih mapan didalam keributan medan. Namun Ki Rangga itu berkata, “Jika kau tidak berani bertempur sendiri, maka panggil Senapatimu yang terbaik di medan ini. Aku akan menunggu.”

Tetapi Risang menggeleng. Katanya, “Aku tidak merasa perlu untuk memanggil siapapun. Setiap pengawal Tanah Perdikan yang turun ke medan, ia akan siap menghadapi siapapun.”

“Tetapi kau belum mengenal ilmuku sama sekali,“ berkata Ki Rangga, “jika kau begitu sombong, maka kau benar-benar akan mati muda.”

“Apapun yang akan terjadi,“ jawab Risang.

Ki Rangga itupun menggeram. Namun Ki Rangga itupun kemudian telah menggerakkan pedangnya yang besar yang tajamnya melampui tajamnya pisau pencukur.

“Kepalamu akan dapat terpisah dari tubuhmu,“ geram Ki Rangga Larasgati.

Risang telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Namun ia masih sempat melihat sekilas, apa yang terjadi disebelah menyebelahnya. Risang dan Bibi ternyata telah mendapatkan lawan masing-masing. Senapati pengapit Ki Rangga.

Ketika kemudian Ki Rangga meloncat menyerang dengan pedangnya, maka Risang yang juga bersenjata pedang telah bergeser menghindar. Namun ketika Ki Rangga siap memburunya, maka pedang Risang itulah yang terjulur, sehingga langkah Ki Rangga justru tertahan.

Tetapi dengan cepat Ki Rangga berputar. Pedangnya menyambar mendatar mengarah langsung keleher Risang.

Untuk menjajagi kekuatan lawannya, maka Risang telah menangkis serang mendatar itu sambil merendahkan diri.

Meskipun Risang menyadari, bahwa Ki Rangga masih belum mempergunakan kekuatannya sepenuhnya, namun dengan benturan itu Risang dapat menduga seberapa besarnya kekuatan lawannya.

Namun sebaliknya Ki Rangga justru terkejut. Anak muda itu ternyata memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mengimbangi kekuatannya.

Tetapi Ki Rangga merasa dirinya memiliki ilmu dan pengalaman yang luas sehingga ia memperhitungkan, bahwa ia akan dengan cepat menyelesaikan anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sementara itu seorang dari Senapati pengapit Ki Rangga Larasgati terkejut ketika ia bertemu dengan seorang perempuan di medan. Dengan lantang Senapati itu berkata, “Jadi Tanah Perdikan ini sudah kehabisan laki-laki?”

Bibi memang tertegun mendengar pertanyaan itu. Namun ia menjawab juga, “Aku memang pengawal Tanah Perdikan. Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan yang sekarang juga seorang perempuan. Apa salahnya?”

“Aku selama ini tidak pernah melawan seorang perempuan,“ berkata Senapati pengapit itu, “karena itu pergilah. Atau cari saja lawan yang lain.”

“Sebaiknya kau mencobanya. Apakah kau akan terkejut atau tidak,“ jawab Bibi.

“Tetapi melawan seorang perempuan sangat merugikan harga diriku. Jika aku menang, maka setiap orang akan menganggap bahwa hal itu adalah wajar sekali. Tetapi jika aku kalah, maka namaku akan direndahkan,“ jawab Senapati pengapit itu.

“Jika demikian, kau sajalah yang lari dari medan ini,“ berkata Bibi, “atau cari lawan yang lain. Aku akan tetap bertempur disini.”

Senapati itu menjadi marah. Dengan garang ia berkata, “Kau akan menyesali kata-katamu itu. Sebenarnya aku masih dapat menahan diri. Tetapi kata-katamu itu menyakitkan hati.”

Bibi tertawa. Katanya, “Sudahlah. Kita akan bertempur.”

Senapati pengapit yang marah itupun dengan garang pula telah menyerang Bibi. Ia ingin dengan cepat menyingkirkannya dari medan agar tidak mengganggunya lagi. Senapati itu menganggap bahwa kehadiran Bibi di medan akan dapat mengurangi kegarangannya sebagai seorang Senapati yang mendapat kepercayaan Ki Rangga Larasgati untuk mendampinginya.

Tetapi Senapati itupun terkejut. Ternyata Bibi yang berpakaian seperti seorang laki-laki itu memiliki ketangkasan yang tinggi. Ketika senjata Senapati itu terjulur maka Bibi sempat bergeser. Bahkan dengan cepat pula Bibi telah mengayunkan pedangnya menyambar kearah dada.

Senapati itu memang tidak menduga, bahwa Bibi dapat bergerak secepat itu. Karena itu, maka Senapati itupun harus bergerak dengan cepat pula menghindarinya. Namun Bibi telah memburunya. Pedangnya terjulur menggapai perut Senapati itu, sehingga Senapati itu harus bergeser menghindar lagi.

Bibi ternyata memang seorang perempuan yang garang.. Senapati pengapit itu segera menyadari, bahwa perempuan itu memang memiliki kemampuan sebagai bekal kehadirannya di medan perang. Bahkan beberapa saat kemudian, maka terasa bahwa ujung pedang perempuan itu serasa sangat menekannya. Karena itulah maka Senapati itu harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengatasi patukan ujung senjata lawannya yang semula dianggapnya hanya seorang perempuan. Namun yang ternyata kemudian terasa betapa sulitnya mengatasi permainan pedang perempuan itu.

Disisi yang lain, Senapati pengapit Ki Rangga itupun segera mengalami kesulitan. Gandar yang baru saja datang dari Bibis setelah menempuh perjalanan malam karena dorongan perasaannya yang gelisah, seolah-olah tanpa beristirahat, harus mengerahkan kemampuannya bertempur melawan seorang Senapati pengapit.

Tetapi Gandar memang tangkas. Ia memiliki bekal ilmu yang cukup tinggi. Karena itu, meskipun tenaganya tidak sesegar mereka yang sempat beristirahat dimalam hari, namun ilmu Gandar telah terasa menyulitkan lawannya.

Sementara itu pertempuran di seluruh gelar itu memang berlangsung semakin sengit. Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, maka orang-orang yang bertempur itu telah menjadi berkeringat. Ketika telapak tangan mereka menjadi basah, maka mereka seakan-akan memang menjadi semakin garang.

Dipangkal sayap, para prajurit berusaha untuk menembus pertahanan para pengawal. Karena gelar pasukan Tanah Perdikan itu secara keseluruhan tidak dapat didesak mundur oleh para prajurit Pajang, maka mereka berusaha untuk mematahkan pangkal sayap gelar Supit Urang yang memang tidak lengkap itu.

Tetapi ternyata para prajurit Pajang memang mengalami kesulitan. Bekas para pengawal yang telah menjadi semakin tua itu ternyata masih merupakan benteng yang kokoh bagi Tanah Perdikan Sembojan. Mereka justru menjadi semakin matang menghadapi gejolak yang terjadi. Sementara itu, prajurit Jipang pilihan yang menyertai Ki Tumenggung Jaladara, telah bertebaran di pangkal sayap. Meskipun jumlahnya hanya sepuluh orang, tetapi bersama-sama dengan bekas pengawal yang berpengalaman, mereka telah mampu menahan usaha para prajurit Pajang untuk memotong gelar para pengawal Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian, namun terasa bahwa kesulitan terbesar bagi pasukan pengawal Tjmah Perdikan adalah ada pada pangkal gelarnya.

Semakin lama pertempuran itupun menjadi semakin garang. Ketika panas matahari telah terasa semakin menyengat kulit, maka para prajurit Pajang telah berusaha untuk mempercepat gerak maju mereka. Tetapi para pengawal Tanah Perdikan sama sekali tidak memberikan kesempatan. Para pengawal telah bertahan dengan sekuat tenaga dan kemampuan mereka tanpa menghiraukan pengorbanan terbesar yang dapat mereka berikan.

Di paruh gelarnya, Risang masih bertempur dengan Ki Rangga Larasgati. Sementara itu kedua Senapati pengapit Ki Rangga telah mengalami kesulitan melawan Gandar dan Bibi. Bahkan yang harus bertempur melawan Gandar telah terpaksa memanggil seorang prajurit untuk membantunya.

Semula seorang pengawal Tanah Perdikan telah melibatkan diri untuk membantu Gandar. Tetapi Gandar sempat berdesis, “Tinggalkan aku. Jika perlu aku akan memanggilmu.”

Pengawal itu tahu bahwa Gandar memang memiliki kemampuan yang tinggi. Karena itu, maka ia telah memanfaatkan tenaganya untuk melawan para prajurit yang lain.

Ki Rangga Larasgati memang tidak menduga sama sekali bahwa di Tanah Perdikan itu terdapat orang-orang seperti Gandar dan perempuan yang agak gemuk namun tangkas itu.

Bahkan Ki Ranggapun tidak menduga, bahwa anak muda yang bernama Risang itu memiliki ilmu yang mampu mengimbangi ilmunya. Sebagai seorang perwira maka Ki Rangga Larasgati memang merasa malu bahwa seorang pengawal Tanah Perdikan mampu mengimbanginya. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Betapa ia berusaha mendesak lawannya yang masih muda itu, namun Risang memiliki ketangkasan yang cukup untuk bertahan.

Sebenarnyalah Risang yang telah siap mewarisi ilmu ketiga orang kakek dan neneknya itu memang menunjukkan tingkat kemampuannya yang tinggi. Tetapi Risang bur kan saja murid ketiga orang kakek dan neneknya. Namun ia telah memiliki pengalaman yang cukup pula sebagai seorang prajurit. Risang-pernah berada di medan perang yang bagaikan neraka menghadapi prajurit Mataram. Sedangkan pada kesempatan lain, iapun pernah menghadapi orang-orang yang sedang memburu anak muda yang bernama Puguh.

Dengan demikian, maka Ki Rangga Larasgati benar-benar menjadi tegang. Segala usahanya untuk menyingkirkan anak muda itu dari medan tidak segera berhasil. Bahkan sekali-sekali senjata anak muda itu telah berdesing begitu dekat ditelinganya.

Namun dalam pada itu, pangkal sayap dari pasukan pengawal Tanah Perdikan justru di kedua belah sisi telah mendapat tekanan yang semakin berat. Karena itu, maka pangkal sayap kedua sisi gelar Supit Urang yang tidak lengkap itu bagaikan mengendor dan sedikit demi sedikit tergeser surut beberapa lapis dibandingkan dengan garis medan seluruh gelar.

Iswari melihat keadaan itu. Namun sebelum ia memasuki salah satu pangkal sayap untuk membantu meluruskan garis medan, ternyata para pimpinan di ujung sayap telah mengambil langkah-langkah tertentu untuk menyelamatkan pangkal sayap itu.

Tanpa bersepakat, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berada diujung sapit yang merupakan tajamnya sayap pasukan pengawal Tanah Perdikan telah memperhatikan keadaan pangkal sayap itu pula. Mereka menjadi cemas melihat tekanan yang berat pada pangkal sayap itu. Justru karena memang terdapat kelemahan pada pangkal sayap, maka prajurit Pajang telah berusaha untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya. Jika mereka berhasil mematahkan pangkal sayap itu, maka tentu akan ada pengaruh jiwani pada para pengawal, sehingga mereka tidak lagi memiliki cukup keberanian untuk mengambil langkah.

Para pemimpin kelompok prajurit Pajang yang memang memiliki kemampuan bertempur dalam gelar itu telah memerintahkan pasukanannya untuk memusatkan serangan-serangannya pada pangkal sayap itu. Beberapa orang bekas pengawal Tanah Perdikan sudah bekerja keras untuk menahan mereka. Prajurit Jipang yang ada di pangkal sayap itupun telah bertempur dengan garangnya sementara orang-orang lain dalam pasukan itu masih juga bertempur berpasangan. Namun tekanan prajurit Pajang memang terasa sangat berat.

Dalam keadaan yang demikian maka baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung telah mengerahkan kekuatan pasukan pengawal yang ada di sapit udang dalam gelar Supit Urang untuk membantu kesulitan dipangkal sayapnya. Dengan kemampuan yang tinggi, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah menggerakkan ujung supitnya. Sambi Wulunglah yang lebih dahulu berusaha membuka sapit udangnya, sementara Sambi Wulung sendiri telah bertempur dengan garangnya.

Perlahan-lahan sapit udang itu bergerak kedalam medan. Dengan satu isyarat, maka sapit udang itu berusaha untuk menekan dan menghimpit ujung sayap gelar Garuda Nglayang pada pasukan Pajang.

Kehadiran Senapati diujung gelar Supit Udang itu ternyata memang sangat berpengaruh. Sambi Wulung yang memiliki ilmu yang tinggi telah mendesak prajurit Pajang yang menghadapinya diikuti oleh para pengawal yang berada di ujung gelar Supit Urang itu.

Tekanan yang diberikan oleh Sambi Wulung dan kemudian juga dilakukan oleh Jati Wulung, memang berpengaruh. Para prajurit Pajang yang berada di ujung sayap, mengalami kesulitan oleh tekanan para pengawal yang dipimpin oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung itu.

Semakin lama sapit udang pada Gelar Supit Urang itu semakin menekan kedalam. Bahkan kemudian seakan-akan telah mencengkam dan semakin menjepit dengan kuatnya. Kemampuan Sambi Wulung dan Jati Wulung Sendiri memang sangat berpengaruh atas gerak pasukan pengawal dikedua ujung gelarnya. Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berusaha untuk menyembunyikan ilmu puncaknya yang belum akan dipergunakan jika tidak terpaksa sekali, karena ilmu itu tentu akan sangat menarik perhatian para prajurit Pajang sehingga akan dapat menimbulkan persoalan yang khusus.

Namun dengan kemampuan olah kanuragannya yang tinggi, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mampu mendesak pasukan Pajang diujung-ujung sayap gelar Garu Nglayang.

Dengan demikian, maka pengaruh desakan kekuatan pasukan pengawal diujung gelarnya telah terasa sampai ke pangkal sayap gelar itu. Desakan pasukan pengawal diujung sayap terasa menekan ke pangkal sayap pasukan Pajang yang mulai mendesak pasukan pengawal.

Namun parapemimpinkelompok prajurit Pajang harus membuat perhitungan-perhitungan baru. Jika mereka tidak melakukan sesuatu, maka sayap pasukan itu benar-benar akan mengalami kesulitan. Bukan saja terdesak mundur dan kemudian terjepit oleh sapit udang dalam gelar Supit Urang yang mempunyai kekuatan yang besar di ujung-ujung sapitnya, namun korban akan berjatuhan sehingga kekuatan Pajang akan benar-benar menjadi cepat susut.

Dengan demikian maka tidak ada pilihan lain dari para prajurit Pajang untuk membuat keseimbangan baru. Kekuatan yang ada di pangkal sayapnya harus bergeser ke ujung sayap untuk mengurangi tekanan pasukan pengawal Tanah Perdikan.

Karena itu, maka tekanan di pangkal sayap pasukan pengawal Tanah Perdikan itupun terasa mulai berkurang. Sebagian dari kekuatan yang ada di pangkal sayap itu telah bergeser ke ujung sayap. Para prajurit Pajang harus menahan dan bahkan kemudian mendesak keluar ujung-ujung sapit udang yang seakan-akan semakin mencengkam lambung.

Para pemimpin dari kedua belah pihak ternyata bukan saja harus bertempur dan mempertahankan diri dari serangan-serangan yang datang, namun merekapun harus mencari pemecahan dari perkembangan yang terjadi disetiap saat.

Para pengawal Tanah Perdikan yang berada di pangkal sayap, rasa-rasanya mendapat kesempatan untuk bernafas. Meskipun mereka harus bertempur terus, tetapi ketegangan tidak lagi terasa mencengkam jantung.

Para bekas pengawal yang ikut dalam pertempuran itu tidak lagi harus mengerahkan segenap tenaganya, sehingga mereka pada keadaan tertentu dapat menghemat tenaga bagi pertempuran yang tentu akan menjadi panjang. Sedangkan orang-orang lain yang masih belum banyak mengalami latihan, merasa bahwa jumlah lawanpun menjadi berkurang, sehingga mereka akan dapat bertempur dalam kelompok-kelompok yang lebih besar.

Dengan demikian, maka pertempuran antara prajurit Pajang melawan para prajurit dari Tanah Perdikan Sembojan itupun masih tetap berada di garis pertempuran sejak benturan kedua kekuatan itu terjadi. Kedua belah pihak masih belum mampu mendesak lawan yang ternyata seakan-akan terasa seimbang. Bahkan ketika pasukan cadangan Prajurit Pajang yang ada ditubuh gelar telah terlibat pula dalam pertempuran untuk mematahkan pangkal sayap pasukan Tanah Perdikan, masih saja para pengawal Tanah Perdikan mampu bertahan.

Sementara itu, Ki Rangga Larasgatipun menjadi semakin marah menghadapi lawannya yang masih muda itu. Betapapun ia mengerahkan kemampuannya, namun Risang masih saja mampu mengimbanginya. Ketika Risang melihat keadaan pasukannya yang masih belum bergeser dari garis pertempuran, maka Risangpun tidak lagi merasa gelisah. Ia menganggap bahwa ketahanan pasukannya tentu akan mampu mengimbangi para prajurit Pajang. Dengan demikian maka iapun dapat memusatkan perlawanannya kepada Ki Rangga Larasgati.

Apalagi ketika Risang melihat Gandar dan Bibi yang perlahan-lahan mampu mendesak lawan masing-masing. Meskipun Gandar harus bertempur melawan Senapati pengapit yang dibantu oleh seorang prajuritnya, namun Gandar sama sekali tidak terdesak.

Bahkan ketika matahari telah melewat puncak langit, Gandar justru berhasil menyentuh prajurit yang membantu Senapati pengapit itu dengan senjatanya, sehingga prajurit itu telah terlempar jatuh.

Ternyata luka didada prajurit itu cukup parah, sehingga dua orang kawannya harus menyingkirkannya dari arena. Senapati yang semakin terdesak itu telah memanggil seorang prajurit lagi untuk membantunya. Namun ketika prajurit itu mendekatinya, maka seorang pengawal dengan tangkasnya telah memotong geraknya sehingga untuk sesaat prajurit itu harus bertempur melawan pengawal itu.

Namun dengan tiba-tiba pula seorang prajurit yang lain telah memasuki arena dengan tergesa-gesa. Prajurit itu ternyata kurang berhati-hati, sehingga demikian ia memasuki arena pertempuran antara Senapatinya dengan Gandar, maka senjata Gandar telah menyambutnya.

Prajurit itupun telah terpelanting dan jatuh di kaki kawan-kawannya yang sedang bertempur, sehingga sekali lagi kawan-kawannya harus membawa seorang prajurit keluar.

Beberapa orang prajurit cadangan sempat menggantikan tempatnya. Namun ternyata bahwa sebagian dari prajurit cadangan itu harus bergeser keujung sayap. Beberapa kali Sambi Wulung dan Jati Wulung dapat melemparkan lawannya, melukainya dan mendesaknya keluar dari arena. Sementara itu, pasukannya di ujung gelar semakin lama telah semakin menusuk ke sayap lawan.

Ki Rangga Larasgatilah yang kemudian kurang dapat memusatkan perhatiannya pada pertempuran melawan Risang. Anak muda yang memimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi semakin rendah matahari bergeser ke Barat, maka korbanpun semakin banyak berjatuhan pada kedua belah pihak. Namun menurut pengamatan seorang penghubung, bahwa diujung sayap keadaan pasukan prajurit Pajang menjadi agak mengalami kesulitan.

Ketika hal itu sempat dibawa kepada seorang Senapati yang memimpin pasukan cadangan yang menentukan penempatan para prajurit cadangan itu, maka iapun telah berkata, “Laporkan langsung kepada Ki Rangga.”

“Ki Rangga terikat dalam pertempuran dengan seorang anak muda, tetapi ternyata memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan Ki Rangga,“ jawab penghubung itu.

“Aku akan mengambil alih anak muda itu,“ berkata Senapati yang memimpin pasukan cadangan itu.

Sebenarnyalah, Senapati itu telah memasuki arena pertempuran antara Ki Rangga melawan Risang. Demikian ia meloncat kesisi Ki Rangga, iapun berkata, “Seseorang memerlukan Ki Rangga Larasgati untuk memberikan laporan.”

Ki Rangga menyadari pentingnya laporan itu. Karena itu, maka iapun berkata, “Tahan anak muda itu sejenak. Aku akan menemui penghubung itu.”

Risang memang merasa kecewa bahwa ia kehilangan lawannya yang telah menghina Tanah Perdikannya. Tetapi ia tidak sempat mencegahnya. Senapati itu dengan garangnya telah menyerangnya. Meskipun kemampuannya masih belum setingkat dengan Ki Rangga, namun ternyata bahwa Senapati itu untuk sementara mampu mengikatnya dalam pertempuran.

Ki Rangga memang hanya sebentar. Ia hanya mendengarkan laporan tentang kesulitan diujung sayap. Kemudian Ki Rangga itu telah berada kembali di medan, menghadapi Risang.

Namun ternyata Ki Rangga telah membawa sikap.

Menghadapi keadaan yang tidak diduganya itu, Ki Rangga tidak boleh mengingkari kenyataan. Ia tidak mau pasukannya benar-benar dihancurkan oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, untuk sementara ia harus mengambil satu sikap betapapun pahitnya.

Ketika Senapati yang menggantikannya itu kembali ke pasukan cadangannya yang sudah menipis, maka penghubung itu berkata,“ Ki Rangga telah menentukan sikapnya.”

“Apa?“ bertanya Senapati itu dengan nafas terengah-engah. Meskipun ia hanya sebentar bertempur melawan Risang, tetapi nafasnya serasa sudah akan putus. Bajunya sudah terkoyak oleh ujung pedang, meskipun belum menyentuh kulitnya.

“Ki Rangga berpesan, agar disiapkan gerak mundur,“ berkata penghubung itu.

“Apa yang harus disiapkan?“ bertanya Senapati itu.

“Pertahanan kedua. Semua orang diperkemahan harus bersiap. Petugas-petugas didapur dan petugas perlengkapan harus mengangkat senjata mereka. Pasukan cadangan yang ada tidak akan mencukupi lagi,“ jawab penghubung itu.

Senapati itu mengangguk kecil. Katanya, “Pergilah.”

Penghubung itupun segera meninggalkan arena pertempuran. Ketika ia berada di perkemahan, maka diperintahkannya semua orang yang ada untuk bersiap. Mereka harus menyesuaikan diri dengan gerak mundur prajurit Pajang.

Ketika semuanya sudah siap, maka penghubung itu telah membunyikan bende bertalu-talu tidak henti-hentinya dengan irama datar.

Isyarat itu memang terdengar dari medan. Ki Rangga Larasgati telah memerintahkan gerakan mundur dari pasukannya. Satu gerakan yang sangat menyakitkan hati, apalagi hanya berhadapan dengan pasukan pengawal Tanah Perdikan yang seharusnya ditundukkan agar melaksanakan segala perintahnya. Menduduki padukuhan induk dan menangkap pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikannya, yang hanya seorang perempuan.

Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Kenyataan yang dihadapinya adalah bahwa prajuritnya tidak mampu mengimbangi kekuatan pasukan pengawal Tanah Perdikan.

Dengan kemampuan prajurit, maka pasukan Pajang memang bergerak mundur melintasi daerah persawahan. Sebagaimana mereka datang, maka mereka sama sekali tidak menghiraukan tanaman padi yang hijau subur yang kemudian telah berserakan terinjak-injak kaki.

Risang yang melihat gerak mundur pasukan Pajang telah memerintahkan untuk mendesak terus. dari gelar Supit Urangnya mencoba mencengkam kearah lambung. Tetapi prajurit Pajang yang terlatih itu masih mampu mempertahankan dirinya pada gerak mundurnya. Apalagi pasukan Pajang masih terhitung belum banyak susut. Namun pengamatan yang tajam dari Ki Rangga telah melihat, apabila prajurit Pajang itu memaksakan diri untuk bertempur terus, maka kekuatan mereka benar-benar akan menjadi jauh susut yang pada akhirnya akan dihancurkan oleh para pengawal Tanah Perdikan.

Sementara pasukan Pajang itu mundur, maka orang-orang yang ada diperkemahan telah mempersiapkan diri untuk bergabung dengan para prajurit.

Tetapi pertempuran itu terhenti ketika pasukan Pajang yang mundur itu telah keluar dari perbatasan Tanah Perdikan. Iswari yang langsung memasuki gelar dan minta kepada Risang untuk menghentikan pengejaran.

Semula Risang merasa berkeberatan. Tetapi Iswari kemudian berkata, “Kau dengar perintahku. Bagaimanapun juga, kita harus mempunyai perhitungan dan berusaha untuk mengekang diri.”

Risang memang tidak dapat memaksakan kehendaknya. Iapun telah menghentikan pasukannya di perbatasan. Betapapun jantungnya bergejolak, namun Risang harus mematuhi perintah ibunya.

Para pengawal yang sudah melihat kemenangan di depan hidung merekapun menjadi sangat kecewa. Tetapi mereka memang harus patuh kepada perintah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Namun dalam pada itu, Ki Rangga Larasgati yang membawa pasukannya mundur ke perkemahan menjadi sangat marah. Hatinya menjadi sakit sekali menyaksikan kenyataan itu. Ia kecewa bahwa ia agak mengabaikan beberapa keterangan tentang Tanah Perdikan itu sebelumnya dan merendahkannya.

“Kita harus memanggil pasukan yang pernah berada di Gemantar itu. Pasukanku cukup baik. Para Senapati agaknya tidak akan mempergunakannya untuk mempertahankan Pajang dari tekanan Jipang dan Mataram,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

“Pasukan yang dipimpin Lurah Penatus muda itu?“ bertanya penghubung yang mendapat perintah menghubungi Pajang.

“Ya. Bawa pasukan yang dipimpin oleh Kasadha itu kemari. Dibawah perintahku, Kasadha tidak akan bersikap sebagaimana dilakukan di Gemantar. Aku tahu, pasukan itu memiliki kekuatan yang cukup besar,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

“Apakah aku harus langsung menemui Lurah Penatus itu,“ bertanya penghubungnya.

“Jangan bodoh,“ geram Ki Rangga, “kau harus menganggap Ki Tumenggung Bandapati lebih dahulu. Bukankah Ki Tumenggung yang mengatur segala-galanya?”

Penghubung itu mengangguk-angguk. Katanya, “Sikap Mataram dan Jipang sangat mengganggu semua kegiatan di Pajang.”

“Satu kebetulan,“ desis Ki Rangga, “kau jangan dungu. Bahwa dengan demikian para pemimpin di Pajang tidak terlalu banyak menghiraukan rencana kita. Mereka menyerahkan segala-galanya kepada Ki Tumenggung Bandapati. Juga wewenang untuk menggerakkan prajurit yang belum dinyatakan sebagai kesatuan yang harus berada di perbatasan menghadapi Jipang di satu sisi dan Mataram disisi lain.”

Tetapi penghubung itu berkata, “Tetapi bagaimana sikap kita jika Jipang dan Mataram bersungguh-sungguh? Ketika Adipati Demak ditetapkan untuk mewarisi Pajang, maka sudah nampak sikap kecewa dari Panembahan Senapati dan apalagi Pangeran Benawa.”

“Kita harus menyelesaikan Tanah Perdikan ini lebih dahulu. Baru kita akan berbicara tentang Jipang dan Mataram,“ berkata Ki Rangga. Lalu katanya, “Karena itu, cepat pergi ke Pajang. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, Kasadha dan pasukannya harus sudah berada disini.”

Penghubung itu tidak menjawab lagi. Bersama dua orang prajurit yang mengawalnya, penghubung itu telah berpacu menuju ke Pajang.

Tetapi kepergian mereka tidak terlepas dari pengamatan para petugas Tanah Perdikan yang mengawasi mereka. Ketika tiga penunggang kuda berpacu ke Pajang.

Ketika hal itu dilaporkan kepada Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, maka Iswaripun berkata, “mereka akan membawa bantuan prajurit dari Pajang.”

“Ya,“ sahut Ki Tumenggung Jaladara, “mereka tentu berniat mengambil bantuan.”

“Hal ini harus mendapat pemecahan,“ berkata Iswari kemudian.

Tetapi Risang yajig muda itu berkata,“ Kita hancurkan pasukan itu di perkemahannya sebelum bantuan itu datang. Para pengawal menjadi kecewa bahwa kita telah melepaskan kesempatan untuk menghancurkan prajurit Pajang. Apalagi mereka yang terluka di medan. Mereka ingin melihat pasukan Pajang itu hancur. Beberapa pengawal telah menjadi banten. Kita tidak dapat begitu saja melupakan beberapa orang yang telah gugur di pertempuran itu.”

“Risang,“ berkata ibunya, “kita harus mengekang diri. Yang kita lakukan sekarang adalah semata-mata membela diri di kampung halaman kita sendiri. Kita tidak menyerang Pajang diluar batas Tanah Perdikan kita. Tetapi kita semata-mata melindungi diri kita sendiri.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pajang telah melakukan serangan yang tidak sah atas Tanah Perdikan kita. Adalah hak kita, termasuk untuk membela diri, jika kita menyerang landasan pasukannya meskipun itu berada diuar batas Tanah Perdikan kita.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sambil menggeleng ia berkata, “Aku tidak sependapat Risang.”

Risang menjadi tegang. Tetapi ia tidak dapat memaksa ibunya. Meskipun demikian ia masih juga bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan jika prajurit Pajang menjadi semakin kuat? Karena sebenarnyalah jika Pajang menjadi kehilangan akal, mereka dapat memanggil prajurit berlipat ganda.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa betapapun besarnya kekuatan Tanah Perdikan itu, namun Tanah Perdikan itu tidak akan mampu melawan Pajang. Pajang akan dapat memanggil pasukan segelar sepapan.

Tetapi Iswari memang sudah siap. Ia tidak akan menyerahkan Surat Kekancingan. Ia juga tidak akan memenuhi permintaan Ki Rangga Larasgati yang akan memeras Tanah Perdikan itu. Jika dengan demikian Pajang akan datang dengan pasukan segelar sepapan menduduki Tanah Perdikan itu, maka Iswari sudah siap untuk mempertanggung jawabkannya.

Ketika hal itu dinyatakannya, maka Risang berkata, “Jangan ibu. Akulah yang akan bertanggung jawab. Akulah Kepala Tanah Perdikan ini. Sementara jika benar Pajang datang dengan pasukan segelar sepapan, ibu akan dapat berada ditempat lain membawa serta Surat Kekancingan yang disaat lain dapat ibu pergunakan untuk mengusik kembali hak atas Tanah Perdikan ini.”

“Kau berpikir terbalik Risang,“ berkata ibunya, “jika kau yang dibawa oleh orang Pajang dan kemudian aku berhasil mendapatkan kembali hak ini setelah keadaan menjadi tenang, lalu buat apa. Kau adalah satu-satunya anakku. Sadari itu.”

Risang menarik nafas panjang. Ia mengerti jalan pikiran ibunya. Namun ia masih berkata, “Tanah Perdikan Sembojan dan aku adalah dua sosok yang berbeda. Tanpa akupun Tanah Perdikan ini harus hidup dan berkembang. Siapapun yang akan memegang pimpinan.”

“Tidak,“ tiba-tiba suara Iswari meninggi. Wajahnya menjadi tegang. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Kau adalah anakku. Aku tidak rela jika anak orang lain datang dan menuntut haknya atas Tanah Perdikan ini. Selama ini aku telah berbuat apa saja bagi Tanah ini.”

Semua yang mendengar suara Iswari yang meninggi itu memang tersentak. Namun kemudian mereka mengerti, apa yang dimaksud Iswari itu. Ia masih saja dihantui oleh nama yang selama ini sangat dibencinya. Seorang perempuan yang telah merampas segala-galanya dalam kehidupan rumah tangganya. Ia tidak mau Tanah Perdikan ini jatuh ketangannya atau anaknya yang bernama Puguh. Karena sebenarnyalah bahwa Puguh itu juga berhak atas Tanah Perdikan ini tanpa Risang, menurut garis keturunan ayahnya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba Ki Tumenggung Jaladara berkata, “Aku minta waktu untuk berbicara bertiga saja dengan Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini dan Risang, anaknya.”

Yang lain sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi ketika yang lain akan beranjak pergi, Ki Tumenggung berkata, “Biarlah kami bertiga turun kehalaman.”

Yang lain saling berpandangan sejenak. Tetapi merekapun kemudian mengangguk-angguk. Sambi Wulung. Jati Wulung, Gandar dan Bibi. Beberapa pemimpin pengawal terpenting dan satu dua bebahu padukuhan pertama yang kemudian menjadi landasan pertahanan Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Apakah kita menganggap perlu untuk berbicara dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan ini?“ bertanya Ki Tumenggung Jaladara ketika mereka sudah berada di halaman. Ternyata Ki Tumenggung menganggap bahwa berbicara di halaman adalah cara yang paling baik untuk tetap merahasiakan pembicaraan, karena tidak akan ada orang yang mengintip dibalik dinding untuk dapat mendengarkan pembicaraan itu.

Iswari memang ragu-ragu. Tetapi ia kemudian menjawab, “Jika kita berbicara tentang sesuatu hal yang harus segera mendapat keputusan, maka aku akan mempertanggung jawabkan.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Namun kemudian ia telah mengajak Iswari dan Risang berjalan menyusuri jalan padukuhan. Sambil melihat kesiagaan tertinggi dari para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang berada di padukuhan itu, Ki Tumenggung berkata, “Sebenarnya ada yang ingin aku katakan. Ki Tumenggung Reksapuri yang mendahului perjalanan Pangeran Benawa dan singgah di Tanah Perdikan ini telah pergi ke Pegunungan Kidul untuk ikut dalam satu pertemuan yang sangat penting yang akan menentukan masa depan Pajang.”

Iswari mengerutkan keningnya. Kemudian iapun bertanya, “Maksud Ki Tumenggung?”

“Sekali lagi perlu aku ingatkan, yang akau katakan adalah satu rahasia. Tetapi aku kira akan dapat ikut memecahkan persoalan yang timbul di Tanah Perdikan ini karena bagaimanapun akan menyangkut hubungan kalian dengan Pajang,“ berkata Ki Tumenggung.

Iswari mengangguk-angguk. Sementara Ki Tumenggung berkata, “Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah mengadakan pertemuan di Pegunungan Kidul untuk mengambil sikap terakhir atas Pajang. Ternyata selama ini banyak pemimpin dari Pajang yang meninggalkan tugasnya dan menghadap kepada Panembahan Senapati atau Pangeran Benawa. Mereka mohon agar segera diambil langkah-langkah penyelamatan sebelum Pajang benar-benar jatuh kedalam keadaan yang parah. Para pemimpin yang ada sekarang ternyata saling berebut harta kekayaan bagi diri mereka masing-masing, sebagaimana yang kita lihat apa yang terjadi di Tanah Perdikan Gemantar dan Tanah Perdikan ini.”

Risangpun kemudian bertanya, “Jadi, apakah yang dapat kita lakukan kemudian?”

“Berhubungan langsung dengan Jipang,“ jawab Ki Tumenggung.

Jilid 34

RISANG dan Iswari saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka memang tidak melihat kemungkinan lain. Jika Pajang datang dengan pasukan segelar-sepapan, maka Tanah Perdikan itu akan mengalami kesulitan. Apalagi jika pasukan yang datang itu adalah pasukan yang sedang resah karena kedudukan pasukannya yang tidak menentu.

Yang lebih meresahkan lagi jika kemudian Tanah Perdikan itu nanti akan menjadi daerah yang dapat dijarah rayah seperti negeri yang ditundukkan karena perang. Harta benda, ternak dan seisinya akan dirampas oleh prajurit-prajurit yang merasa dirinya menang dan memasuki daerah yang dikalahkannya. Perempuan dan gadis-gadis akan diperlakukan semena-mena.

Karena itu, setelah berpikir sejenak, Iswari itupun bertanya, “Jika kami harus berhubungan dengan Jipang, bukankah itu berarti keterlambatan? Jipang jaraknya tidak terlalu dekat, sementara prajurit Pajang yang dipanggil oleh Ki Rangga itu akan segera datang.”

Ki Tumenggung menarik nafas panjang. Merekapun kemudian berhenti disebuah simpang ampat. Dengan perlahan-lahan, bahkan hampir berbisik Ki Tumenggung Jaladara berkata, “Kita tidak perlu pergi ke Jipang. Pasukan Jipang sudah berada disebelah Timur Pajang.”

Iswari dan Risang menjadi tegang. Namun Ki Tumenggung justru tersenyum sambil berkata, “Semuanya telah dipersiapkan. Justru pasukan Mataram tentu juga sudah mendekati Pajang dari arah Barat. Saat-saat ini di Pegunungan Kidul sedang diselenggarakan pertemuan antara Pangeran Benawa dan Panembahan Senapati. Bukan lagi membicarakan masalah kebijaksanaan Jipang dan Mataram terhadap Pajang. Tetapi yang dibicarakan sudah sampai pada tahap pelaksanaan dari kebijaksanaan itu.”

Iswari dan Risang mengangguk-angguk. Sementara Ki Tumenggung berkata selanjutnya, “Nah, jika kalian sependapat, masih ada waktu. Perlu aku beritahukan, mendahului kenyataan yang bakal terjadi di Pajang, Panembahan Senapati tidak akan meninggalkan Mataram dan berada di Pajang. Dengan demikian, maka satu-satunya orang yang akan berada di Pajang adalah Pangeran Benawa.”

Iswari termangu-mangu sejenak. Namun agaknya Risanglah yang berpendapat lebih dahulu, “Aku kira ini adalah satu-satunya jalan yang dapat kita tempuh sekarang.”

“Baiklah,“ berkata Iswari, “aku akan berbicara dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan ini.”

“Apakah masih perlu dipertimbangkan?“ bertanya Ki Tumenggung.

“Bukan untuk mendapatkan keputusan. Keputusan sudah diambil. Tetapi sebaiknya orang-orang tua itu mengetahui bahwa aku sudah mengambil keputusan itu,“ jawab Iswari.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Iapun mengetahui bahwa ada semacam ikatan jiwani yang tidak dapat dihapuskan justru karena orang-orang tua itu adalah kakek dan nenek Iswari sendiri. Selain itu mereka adalah guru-gurunya dalam olah kanuragan. Apalagi mereka selama ini telah membayanginya sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Baiklah,“ berkata Ki Tumenggung, “jika demikian maka pertemuan Nyai dengan orang-orang tua itu tidak akan mempengaruhi keputusan Nyai.”

“Tidak,“ jawab Iswari.

“Jika demikian maka aku akan dapat memerintahkan orang-orangku menghubungi pasukan Jipang yang ada disebelah Timur Pajang. Aku akan memanggil beberapa kelompok pasukan untuk memperkuat pasukan Tanah Perdikan yang ada disini,“ berkata Ki Tumenggung Jaladara, “bagi Jipang, perang dengan Pajang dapat berlangsung dimana saja. Namun tujuan Jipang adalah menghentikan bencana yang merayap tetapi pasti, hendak menelan Pajang. Jika Jipang dan Mataram tidak berbuat apa-apa, maka Pajang akan benar-benar hancur karena kerapuhan yang semakin parah didalam tubuhnya.”

Iswari mengangguk kecil. Ketika ia berpaling kepada Risang, maka Risangpun berkata, “Aku kira semakin cepat semakin baik ibu. Jika orang-orang Pajang itu datang lebih dahulu, maka mereka tentu akan segera menyerang Tanah Perdikan ini. Jika katakanlah, saat ini pasukan pengawal Tanah Perdikan masih mampu mengimbangi kekuatan Pajang, maka mungkin dengan kekuatan baru, Tanah Perdikan ini akan benar-benar dapat dihancurkan oleh Pajang. Meskipun kemudian kedatangan pasukan Jipang mampu merebutnya kembali, tetapi daerah yang pernah berada ditangan Pajang itu tentu sudah menjadi terkoyak-koyak. Bukan saja ujud kewadagan, tetapi perasaan orang Tanah Perdikan Sembojan tentu sudah dihancurkan pula.”

“Aku mengerti,“ berkata Iswari, yang kemudian berkata kepada Ki Tumenggung, “Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ki Tumenggung memperhatikan nasib Tanah Perdikan ini.”

“Baiklah. Aku akan memerintahkan orang-orangku menuju ke sebelah Timur Pajang melalui jalan yang aku harapkan berada diluar pengamatan prajurit Pajang. Mereka akan datang besok lusa malam. Jika dihari berikutnya pasukan Pajang yang sudah diperbesar mulai bergerak, maka pasukan Jipang sudah berada di Tanah Perdikan ini,“ berkata Ki Tumenggung Jaladara.

“Apakah menurut perhitungan Ki Tumenggung besok pasukan Pajang belum berada disini?“ bertanya Risang.

“Belum. Secepatnya mereka besok lusa baru datang. Mereka akan bersiap-siap sebelum mereka menyerang. Mereka tentu juga memerlukan istirahat. Sementara itu, dimalam harinya pasukan Jipang akan datang. Mudah-mudahan tidak diketahui sebelumnya oleh orang-orang Pajang,“ berkata Ki Tumenggung.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa serupa telah pernah terjadi. Tetapi dalam kedudukan yang kebalikan dari pasukan Pajang dan Jipang.

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka telah kembali kerumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Tiga orang prajurit Jipang telah diperintahkan untuk menghubungi pasukannya yang sudah berkemah di sebelah Timur Pajang.

Sebagaimana pasukan Mataram yang bergerak dari Barat, maka pasukan Jipang yang bergerak dari Timur itu tinggal menunggu perintah setelah pembicaraan antara Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa selesai dengan tuntas.

Dihari berikutnya meftiang tidak terjadi sesuatu. Kedua pasukan yang berhadapan saling menahan diri. Pasukan Tanah Perdikan yang memiliki kekuatan cukup untuk menghalau pasukan Pajang dari perkemahannya, tidak melakukan hal itu. Pasukan Tanah Perdikan memang tidak memburu lawannya sampai keluar daerah perbatasannya.

Sebaliknya pasukan Pajangpun merasa, bahwa sulit bagi pasukan itu untuk mampu menembus dan menerobos sampai ke padukuhan induk Tanah Perdikan.

Meskipun demikian, keduanya berada dalam kesiagaan yang tertinggi.

Menjelang senja maka ketegangan mulai sedikit mereda. Kedua belah pihak menganggap bahwa setelah senja tidak akan ada pasukan yang bergerak, kecuali dalam keadaan yang sangat khusus.

Tetapi kedua belah pihak sama sekali tidak mengen-dorkan kesiagaan mereka. Kelompok-kelompok peronda berkeliaran di perbatasan. Tetapi kedua belah pihak masih berusaha agar mereka tidak saling berbenturan.

Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan masih juga memperhitungkan bahwa mereka masih akan dapat beristirahat sehari lagi, karena pasukan Pajang yang diharapkan membantu pasukan yang telah ada baru akan datang besok lusa.

Dihari berikutnya, masih juga belum terjadi sesuatu. Sedangkan kesiagaan masih juga berada di tingkat tertinggi. Di padukuhan yang terletak dipaling depan, pasukan pengawal Tanah Perdikan dapat digerakkan setiap saat untuk menghadapi segala kemungkinan. Demikian pula para prajurit Pajang diperkemahannya.

Sementara itu di Pajang, sepasukan prajurit memang sudah mulai bergerak. Prajurit yang dipimpin oleh seorang Lurah Penatus yang masih muda. Kasadha.

Sebelum bergerak, hampir semalaman Kasadha tidak dapat tidur sama sekali. Ia sadar, bahwa menjelang dini hari pasukannya harus berangkat. Iapun sadar, bahwa ia memerlukan beristirahat beberapa saat sebelum berangkat. Tetapi matanya sama sekali tidak dapat dipejamkannya.

Tugas yang diembannya terasa sangat beiat. Ia sama sekali tidak menyesali tugas-tugas yang hauis dilakukan. Tetapi justru karena ia harus berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan, maka rasa-rasanya pasukannya akan diberangkatkan keneraka.

Meskipun pasukannya cukup siap menghadapi pertempuran yang betapapun garangnya, namun hatinyalah yang telah terguncang ketika ia mendengar bahwa ia telah mendapat perintah untuk berangkat ke Sembojan.

Tetapi ia tidak dapat ingkar. Ia harus berangkat melakukan tugasnya. Ia telah melanggar janjinya sebagai seorang prajurit ketika ia berada di Gemantar. Karena itu maka pasukannya telah ditarik dari Gemantar yang kemudian justru mengalami nasib yang lebih buruk.

Puncak dari gejolak hatinya itu terjadi, ketika tanpa tidur sekejappun ia sudah harus bersiap menjelang dini hari diantara pasukannya. Dalam kegelisahan itu telah datang seseorang yang mencarinya dan minta ijin untuk bertemu barang sebentar.

Kasadha teikejut bukan kepalang. Orang itu adalah Ki Rangga Gupita. Orang yang telah mengaku sebagai ayahnya.

“Akhirnya aku menemukanmu, Puguh,“ berkata Ki Rangga.

Wajah Puguh menjadi tegang. Dengan nada rendah ia bertanya, “Darimana ayah tahu aku disini?”

“Kau tahu, aku adalah bekas petugas sandi dari Jipang. Aku mempunyai banyak kawan diantara orang-orang Demak dan mengenal beberapa orang Pajang meskipun sebelumnya kami saling bermusuhan,“ jawab Ki Rangga.

“Dan sekarang, apakah yang ayah kehendaki? “ bertanya Kasadha.

“Aku senang bahwa kau menjadi seorang prajurit,“ berkata Ki Rangga.

“Terima kasih bahwa aku sempat menyenangkan hati ayah,“ jawab Kasadha.

“Tetapi kau masih dapat berbuat lebih banyak lagi Puguh,“ berkata ayahnya.

“Apalagi yang harus aku lakukan? Bukankah aku sudah menyenangkan hati ayah karena aku menjadi seorang prajurit? Mudah-mudahan ibu juga menjadi senang karenanya,“ jawab Puguh.

“Ibumu berada dalam kesulitan sekarang,“ berkata Ki Rangga, “hanya kau yang akan dapat mengobati luka yang paling dalam dihatinya. Perang tanding yang terakhir dilakukannya dengan Iswari telah membuatnya terluka parah. Meskipun ia sudah sembuh, tetapi ia tidak lagi mampu menguasai kemampuan puncaknya. Ibumu masih seorang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi ia sadar bahwa ia tidak lagi mampu mengimbangi tingkat kemampuan Iswari jika ia harus melakukan perang tanding lagi.”

“Perang tanding itu sudah tidak perlu lagi,“ jawab Puguh.

“Bagus,“ jawab Ki Rangga, “nampaknya kau tanggap akan niat ibumu.”

“Niat yang mana?“ bertanya Kasadha.

“Kau sekarang mendapat kesempatan itu. Kau hancurkan Tanah Perdikan Sembojan. Kau bunuh Risang dan kemudian beberapa saat kemudian, kau telusuri hakmu atas Tanah Perdikan itu. Kau tinggal satu-satunya anak laki-laki Ki Wiradana, cucu Ki Gede Sembojan. Jika kau bersedia bekerja bersama dengan Ki Rangga Larasgati, maka semuanya akan dapat kau selesaikan dengan baik. Kau akan menjadi Kepala Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata Ki Rangga Gupita.

“Tidak ada gunanya ayah. Tanah Perdikan itu akan segera dihapuskan,“ jawab Kasadha.

Ki Rangga tertawa. Katanya, “Jangan bodoh. Kau tentu tahu bahwa bersama Ki Rangga Larasgati kau dapat membuat permainan yang menarik.”

“Tetapi jika Pajang memutuskan demikian? “ bertanya Kasadha.

Apa artinya Pajang sekarang? Yang penting kau kuasai lebih dahulu Tanah Perdikan itu dengan prajurit-prajuritmu. Kau tidak perlu kembali lagi ke Pajang, karena sebentar lagi Pajang sudah akan menjadi reruntuhan.”

“Apa yang akan terjadi?“ bertanya Kasadha.

Ki Rangga tertawa. Sekali lagi ia berkata, “Aku adalah bekas prajurit sandi. Aku tahu lebih banyak tentang Pajang daripada prajurit Pajang sendiri, termasuk kau. Sekarang Jipang dan Mataram sudah bersiap-siap untuk membuat perhitungan dengan Pajang. Sebentar lagi tentu akan ada pergantian kepemimpinan di Pajang. Karena itu, sebelumnya, selagi kau masih mendapat kesempatan, kau harus merebut kekuasaan di Tanah Peidikan. Pergunakan kekuatan pasukanmu dan manfaatkan pasukan Ki Rangga Larasgati, karena Ki Rangga juga akan memanfaatkan kau.”

Wajah Kasadha menjadi merah. Katanya, “Aku tidak senang dengan permainan seperti ini. Kalau perlu, aku justru akan berterus terang dengan para pemimpin di Pajang, atau jika perlu aku menunggu kehadiran prajurit Mataram dan Jipang.”

“Kau masih saja bodoh seperti itu,“ berkata Ki Rangga. Lalu katanya, “Seharusnya kau mengatur dirimu. Disaat pasukan utama Mataram dan Jipang memasuki Pajang, kau harus berada diluar kota Pajang atau sama sekali berkhianat terhadap Pajang. Pasukan utama yang akan memasuki kota ini adalah pasukan yang sangat berbahaya. Apalagi Pajang telah mempersiapkan perlawanan sejauh dapat dilakukan. Penerobosan pasukan utama ke jantung sasaran tentu membawa bahaya yang akan sangat mengerikan bagi prajurit lawan. Prajurit yang menusuk sebagai ujung pasukan, adalah prajurit yang terpilih. Biasanya mereka adalah orang-orang yang wajahnya bagaikan membeku. Aku tahu, bahwa kaupun termasuk orang-orang yang demikian. Sayang, kepercayaan Pajang kepadamu agak menurun karena tingkah lakumu di Gemantar. Tetapi justru suatu kebetulan, karenakau mendapat tugas di Tanah Perdikan Sembojan, tidak digaris perlawanan atas prajurit Mataram atau Jipang.”

Jantung Kasadha berdentang semakin cepat. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk berbantah terlalu lama. Pasukannya sudah siap, sementara ayam jantan terdengar berkokok dikejauhan.

“Aku harus berangkat ayah,“ berkata Kasadha.

“Berangkatlah. Doa dan restuku menyertaimu. Beberapa saat lagi kau adalah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Sebagai orang tua aku hanya dapat ikut berbangga atas keberhasilanmu,“ berkata Ki Rangga.

Kasadha tidak menjawab. Tetapi giginya terkatup rapat-rapat. Ternyata bahwa rahasia dirinya telah diketahui oleh setidak-tidaknya Ki Rangga Gupita.

“Untung, Barata sudah tidak ada disini,“ berkata Kasadha didalam hatinya, “jika ia tahu, bahwa orang yang bernama Puguh itu adalah aku, maka ia tentu akan menjadi sangat kecewa. Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukannya. Mungkin ia akan menantangku berperang tanding.”

Demikianlah, didini hari, pasukan Kasadha benar-benar sudah siap untuk berangkat. Ki Tumenggung Bandapati sendirilah yang melepas pasukan yang dianggap pasukan pilihan itu. Namun yang pernah mengecewakan Tumenggung Bandapati karena sikapnya di Gemantar. Karena itu, maka Ki Tumenggung telah berpesan dengan sungguh-sungguh agar Kasadha tetap bersikap sebagai seorang prajurit yang baik dibawah pimpinan Ki Rangga Larasgati.

Setiap kata yang diucapkan oleh Ki Tumenggung Bandapati bagaikan ujung duri yang langsung menusuk jantungnya. Bahkan ia menduga bahwa Ki Rangga Gupita masih sempat mendengarkan sesorah Ki Tumenggung di luar halaman barak itu.

Sebelum fajar, maka pasukan itupun telah mulai bergerak. Mereka akan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Tanah Perdikan Sembojan.

Pada saat pasukan yang dipimpin oleh Kasadha itu bergerak, maka Kasadha sudah dibekali beberapa keterangan tentang jalan yang harus mereka tempuh. Tanpa memberikan alasannya Ki Tumenggung sudah memberikan perintah agar pasukan itu tidak menembus arah ke sebelah Timur Pajang. Tetapi pasukan itu harus menuju ke Selatan dan baru kemudian berbelok ke Timur. Agaknya Ki Tumenggung Bandapatipun telah mendapat laporan tentang gerakan pasukan yang diduga adalah pasukan Jipang disebelah Timur Pajang.

Ketika kemudian matahari menjadi semakin cerah di langit, maka pasukan Kasadha telah jauh dari kota. Mereka menyusuri jalan yang tidak begitu ramai dilalui orang. Bahkan iring-iringan prajurit Pajang itu telah membuat orang-orang padukuhan yang dilaluinya menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya Pajang semakin lama menjadi semakin gawat sehingga setiap saat pertempuran akan dapat pecah lagi. Luka-luka yang timbul dalam peperangan melawan Mataram rasa-rasanya masih belum sembuh. Sedangkan luka-luka baru agaknya sudah akan mengoyak kulit.

Sementara itu, disebelah Timur Pajang beberapa kelompok prajurit Jipangpun telah bersiap. Ketika matahari terbit di Timur, maka petugas sandi Jipang telah melaporkan, bahwa prajurit Pajang yang bergerak dibawah pimpinan Lurah Penatus muda yang bernama Kasadha membawa seluruh kekuatan dari pasukan yang berjumlah seratus orang itu.

Dengan demikian, maka Jipang telah menggerakkan prajuritnya pula. Bukan hanya seratus orang, tetapi seratus duapuluh lima orang. Sementara itu, prajurit Jipang yang datang dari Sembojan telah melaporkan, bahwa pasukan pengawal Tanah Perdikan itu cukup kuat untuk mengimbangi pasukan Pajang yang sudah berada di Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan demikian, maka para Senapati Jipang yang menerima laporan Ki Tumenggung Jaladara lewat prajuritnya yang datang dari Tanah Perdikan Sembojan menganggap bahwa pasukan yang dikirimkannya ke Sembojan sudah akan mencukupi.

Jipang memang merencanakan untuk mengirimkan pasukannya lebih lambat dari prajurit Pajang. Pasukan Jipang diharap memasuki Tanah Perdikan Sembojan dari arah yang tidak terjangkau oleh pengamatan prajurit Pajang setelah lewat senja. Meskipun dengan demikian, waktu untuk beristirahat bagi para prajurit Jipang itu lebih sempit dari para prajurit Pajang, karena mereka memperhitungkan bahwa pagi hari berikutnya Pajang sudah akan menyerang lagi.

Karena itulah, maka pada hari perjalanan prajurit Pajang dan Jipang itu, keadaan di Tanah Perdikan Sembojan seakan-akan menjadi tenang. Yang ada hanyalah kesiagaan yang tertinggi dari kedua belah pihak.

Sebenarnyalah, prajurit Pajang yang menempuh perjalanan yang cukup melelahkan itu telah mendekati Tanah Perdikan Sembojan ketika matahari telah mulai turun. Panasnya seakan-akan telah membakar kulit. Namun pasukan itu berjalan terus meskipun tidak terlalu cepat. Mereka hanya berhenti sekali tepat ditengah hari.

Dua orang telah mendahului pasukan itu untuk mengabarkan bahwa prajurit Pajang yang dipimpin oleh Lurah Penatus yang masih muda akan segera datang. Dengan demikian maka Ki Rangga Larasgati telah memerintahkan untuk menyiapkan minum dan makan bagi seratus orang yang akan datang itu. Mereka tentu haus dan lapar.

Namun sebenarnyalah para prajurit yang semakin dekat dengan perkemahan prajurit Pajang itu menjadi haus dan lapar. Hanya Kasadha sendirilah yang melupakan perasaan haus dan laparnya. Perasaan gelisah yang sangat telah mencengkam jantungnya. Kasadha sudah tahu siapakah dirinya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka gejolak perasaannya semakin tajam menggigithati. Ia merasa semakin benci kepada orang yang mengaku ayahnya yang justru selalu mencambuknya untuk merebut hak yang diwariskan oleh ayahnya sendiri. Bahkan Kasadhapun merasa sangat kecewa terhadap sikap ibunya yang tamak dan tidak tahu diri. Dari gurunya Kasadha tahu latar belakang kehidupan ibunya dalam hubungannya dengan gerombolan Kalamerta.

Kasadha sadar, bahwa gurunya berniat untuk mendekatkannya kepada ibunya. Gurunya mengharap agar ia tidak menimpakan semua kesalahan kepada ibunya yang dibentuk dalam lingkungan yang gelap, sehingga ibunya telah melupakan nilai-nilai kewanitaannya, merebut seorang laki-laki dari isterinya. Namun yang kemudian hidup bersama dengan laki-laki lain yang disebutnya sebagai suaminya.

Bahkan kemudian Kasadhapun telah menjadi benci kepada dirinya sendiri, yang lahir dengan warna yang buram.

Tidak seorangpun yang mengerti tentang dirinya sedalam-dalamnya selain gurunya. Kakeknya memang telah mencoba untuk mendalami sifat-sifatnya. Namun rasanya bahwa ia lebih menyatu dengan gurunya.

Sementara itu, Kasadhapun belum pernah mempunyai seorang sahabat yang rasa-rasanya sepadan dan akrab sebagaimana kawannya yang bersama-sama memasuki dunia keprajuritan. Barata. Namun yang kemudian telah meninggalkannya tanpa diketahuinya arah kepergiannya.

Sebagai seorang sahabat Kasadha memang merasa heran, bahwa Barata telah menutup dirinya jika mereka berbicara tentang tempat tinggal dan asal-usul sebagaimana dirinya juga. Sehingga dengan demikian, terasa adanya beberapa kesamaan dengan dirinya sendiri.

Angan-angan Kasadha pecah ketika seorang pemimpin kelompok menyampaikan laporan, bahwa mereka telah mendekati perkemahan.

Kasadha mengerutkan keningnya. Sementara pemimpin kelompok itu berkata, “Penghubung itu ingin berbicara dengan Ki Lurah.”

Kasadha mengangguk kecil. Katanya, “Bawa orang itu kemari.”

Penghubung yang mengiringi pasukan Kasadha itu-pun kemudian telah memberitahukan, bahwa disebelah padukuhan itu prajurit Pajang telah berkemah. Mereka berada beberapa puluh patok dari perbatasan Tanah Perdikan Sembojan. Kemudian beberapa patok lagi didalam wilayah Tanah Perdikan adalah padukuhan pertama yang merupakan landasan pertahanan garis pertama pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Kita akan menuju ke perkemahan.”

Dalam perjalanan yang tinggal beberapa puluh patok lagi itu Kasadha sempat berangan-angan lagi. Apakah yang sebaiknya dilakukan oleh pasukannya. Bersama-sama pasukan Pajang yang telah ada, menyerang padukuhan induk Tanah Perdikan, atau berbicara lagi dengan para pemimpin di Sembojan?

“Mudah-mudahan orang-orang Sembojan tidak mengenal aku,“ berkata Kasadha didalam hatinya, dengan demikian maka ia akan dapat berbuat sepenuhnya sebagai Kasadha didalam hatinya. Dengan demikian maka ia akan dapat berbuat sepenuhnya sebagai Kasadha, Lurah Penatus Prajurit Pajang yang tidak mempunyai kepentingan pribadi dengan Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Pasukannya kemudian telah memasuki padukuhan terakhir dihadapan Tanah Perdikan Sembojan. Orang-orang padukuhan yang tidak termasuk dalam wilayah Tanah Perdikan Sembojan itu hanya dapat menutup diri didalam rumah mereka masing-masing. Mereka tidak mau terlibat dalam persoalan yang nampaknya telah menjadi semakin keras. Pertempuran telah berkobar di Tanah Perdikan.

Beberapa saat kemudian, maka pasukan Kasadha itu-pun telah berada diperkemahan, termasuk Ki Rangga Larasgati sendiri telah menyongsong kedatangan pasukan itu. Meskipun Ki Rangga agak kecewa bahwa prajurit yang dikirim ke Tanah Perdikan itu hanya seratus orang ditambah beberapa petugas yang mengurusi perlengkapan, namun Ki Rangga tahu, bahwa pasukan yang datang itu adalah pasukan terpilih. Yang harus dilakukan adalah mengusai Lurah Penatus muda yang kadang-kadang hanya menuruti kehendaknya sendiri.

“Aku akan memaksanya tunduk kepada perintah,“ berkata Ki Rangga kepada diri sendiri, “Ia tidak akan bersikap sebagaimana dilakukannya di Tanah Perdikan Gemantar.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin dekat.

“Aku memang tidak akan dapat memanggil prajurit lebih banyak lagi. Pasukan Jipang dan Mataram mulai membayangi Pajang,“ desis Ki Rangga Larasgati.

Tetapi menurut perhitungannya, keseimbangan kekuatan yang hanya berselisih sedikit saja itu tentu akan dapat diatasi dengan seratus prajurit pilihan. Prajurit yang dipimpin oleh Lurah Penatus yang masih muda itu.

Prajurit-prajurit Pajang yang lainpun menjadi berdebar hatinya. Merekapun telah mendengar kekuatan pasukan Kasadha itu. Meskipun Ki Lurah Kasadha sendiri pernah dianggap kurang mematuhi paugeran seorang prajurit ketika ia berada di Tanah Perdikan Gemantar. Namun dibawah pimpinan Ki Rangga Larasgati yang juga dikenal sebagai seorang prajurit yang keras hati, maka keadaannya tentu akan berbeda. Di Gemantar, Ki Lurah Kasadha seakan-akan berdiri sendiri, karena pasukan yang datang ke Tanah Perdikan itu memang tidak lebih dari pasukan Kasadha itu sendiri.

Sejenak kemudian, maka pasukan yang seratus orang ditambah sekelompok petugas pendukung telah sampai di perkemahan. Kasadha yang memberikan laporan kedatangannya telah diterima langsung oleh Ki Rangga Larasgati.

Namun Ki Rangga tidak berlama-lama dalam upacara penerimaan itu. Iapun kemudian telah mempersilahkan pasukan Kasadha itu untuk beristirahat.

“Kami tahu bahwa kalian telah menempuh perjalanan yang melelahkan. Panasnya bagaikan membakar kulit. Karena itu, sekarang kalian dapat beristirahat. Kita dapat berbicara nanti malam. Besok kita sudah akan menyelesaikan tugas kita. Menurut perhitunganku, kita besok sudah berada di padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

Kasadha menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar, bahwa prajuritnya memang lelah, haus dan lapar. Karena itu, ia tidak akan menahan para prajuritnya untuk berdiri lebih lama lagi pada upacara penerimaan itu.

Dalam pada itu, para pengawas dari Tanah Perdikan telah,melihat kehadiran prajurit Pajang. Mereka dapl memperkirakan jumlahnya. Kepada Risang para pengawas melaporkan, bahwa yang datang jumlahnya sekitar seratus orang lebih sedikit.

“Mereka berbaris dalam kelompok-kelompok. Masing-masing sepuluh orang. Semuanya ada sepuluh kelompok. Namun ada sekelompok yang lain yang bentuknya agak berbeda. Jumlahnyapun lebih banyak. Sekitar lima belas orang,“ lapor pengawas itu.

“Mereka tentu para petugas pendukung dari pasukan itu,“ berkata Risang.

“Ya,“ jawab pengawas itu, “mereka membawa beberapa ekor kuda dengan perlengkapan bagi pasukan itu.”

Risang mengangguk-angguk. Meskipun agaknya ragu-ragu, namun ia masih juga bertanya, “Kau lihat pimpinan dari pasukan itu?”

Pengawas itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak melihatnya. Meskipun sosoknya dapat aku lihat dari jauh, tetapi aku tidak dapat mengenalinya.”

Risang masih saja mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa dari jarak yang jauh, pengawas itu tidak dapat melihat dengan jelas orang yang memimpin pasukan yang baru datang itu.

Meskipun demikian pengawas itu masih juga berkata, “Dari jauh aku hanya dapat menduga-duga, bahwa orang yang memimpin pasukan itu tentu orang yang masih muda.”

Risang mengerutkan dahinya sambil berdesis, “Kau yakin?”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Hanya satu perkiraan berdasarkan sikapnya. Itupun dari jarak yang cukup jauh.”

“Baiklah,“ berkata Risang, “dengan demikian, maka kekuatan lawan menjadi lebih besar. Jika yang datang itu pasukan pilihan, maka kita harus mengerahkan segenap kekuatan yang ada di Tanah Perdikan.”

Namun Ki Tumenggung Jaladara yang ikut mendengarkan laporan itu berkata,“ Kita berharap bahwa prajurit Jipang akan datang malam ini.”

“Mudah-mudahan,“ berkata Risang. Lalu katanya, “Namun lebih dari itu, kita serahkan akhir dari segalanya kepada Yang Maha Agung.”

Ki Tumenggung Jaladara menepuk bahu Risang sambil berkata, “Tepat. Kau sudah bersandar ditempat yang seharusnya.”

Namun dalam pada itu, pasukan pengawal Tanah Perdikanpun menjadi semakin bersiaga. Bahkan sebagian pengawal cadangan telah ditarik ke pasukan induk. Menurut perhitungan Risang, maka seratus orang prajurit yang segar dari Pajang itu akan merupakan kekuatan yang menentukan.

Ternyata Bibi tidak berdiam diri sambil menunggu kedatangan serangan baru dari Pajang. Ia telah memanggil gadis-gadis untuk menggantikan pekerjaan laki-laki di dapur.

“Biarlah laki-laki membawa tombak di medan,“ berkata Bibi, “kalian jangan takut. Pasukan pengawal Tanah Perdikan akan melindungi kalian.”

Atas pendapat Bibi, maka dapur yang dipergunakan untuk mempersiapkan makanan bagi para pengawal telah dipindahkan ke padukuhan kedua, justru tidak berada digaris serangan ke padukuhan induk seandainya pasukan Pajang berhasil menembus pertahanan pertama. Dengan demikian, jika perlu sekali, maka gadis-gadis itu masih mempunyai waktu untuk diungsikan.

Namun dengan demikian, Bibi memerlukan beberapa buah pedati untuk mengangkut makan dan minum yang telah disiapkan.

Tetapi dengan demikian, maka tenaga para petugas didapur telah berada di pertahanan pertama. Meskipun jumlahnya tidak lebih dari dua puluh lima orang, namun orang-orang itu akan dapat memperkuat pertahanan. Sementara laki-laki yang rambutnya mulai berwarna rangkappun telah menyatakan diri untuk membantu para pengawal sejauh dapat mereka lakukan.

Ketika malam turun serta lampu-lampu obor telah terpasang, maka Ki Rangga Larasgati telah memanggil Ki Lurah Kasadha. Mereka telah mengatur persiapan untuk membuka serangan esok pagi.

“Apakah kita tidak meyakinkan sikap Tanah Perdikan lebih dahulu Ki Rangga?“ bertanya Kasadha.

“Tidak. Jika kau bersikap terlalu lunak seperti yang kau lakukan di Gemantar, maka kau akan gagal lagi. Selama ini kau terhitung seorang pemimpin yang baik. Pasukanmu telah kau bentuk sehingga menjadi pasukan yang dapat disejajarkan dengan pasukan khusus. Tetapi kau tidak mendapat perintah untuk pergi ke Prambanan atau ke Jati Sari untuk menghadapi kemungkinan datangnya pasukan Mataram atau Jipang. Disini kau akan diuji. Jika kau mampu menunjukkan diri bahwa pasukanmu adalah pasukan yang setia kepada Pajang serta paugeran dan janji seorang prajurit, maka kau tentu akan mendapat pekerjaan untuk menghadapi pasukan Panembahan Senapati. Bukankah kau pernah melakukannya? Bertempur melawan Mataram?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Rangga berkata, “Disini aku adalah Senapati pasukan Mataram itu.”

Kasadha memang tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan saja perintah-perintah yang diberikan kepadanya.

Besok, pasukan Kasadha akan dibagi menjadi tiga. Ampat kelompok akan berada di induk pasukan bersama Kasadha dan Ki Rangga Larasgati sendiri. Tiga kelompok di sayap kiri dan tiga kelompok di sayap kanan.

“Dalam pertempuran yang terjadi kemarin lusa, kekuatan Tanah Perdikan masih mampu mengimbangi pasukan kita. Meskipun mungkin aku dapat memaksakan kemenangan pada saat itu, tetapi korban tentu akan terlalu banyak. Karena itu, aku menghentikan pertempuran dan sedikit bersabar menunggu kedatangan kalian. Karena itu jangan mengecewakan kami. Jangan mengecewakan Pajang. Ki Tumenggung Bandapati mempercayakan kalian kepadaku,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

Kasadha sama sekali tidak menjawab. Ia tahu, bahwa apapun yang dikatakannya, tidak akan didengar oleh Ki Rangga yang menurut pendengarannya memang seorang yang keras hati.

Justru karena Kasadha hanya mengiakan saja, maka Ki Rangga tidak terlalu lama menahannya dalam pembicaraan. Yang diberikan kemudian adalah perintah-perintah, apa yang harus mereka lakukan jika mereka sampai ke padukuhan induk.

“Kita harus berusaha untuk menangkap pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta anak laki-lakinya. Karena itu, jika mereka tidak ada di medan, maka saat kita memasuki padukuhan induk, kita harus membuat gerakan-gerakan tertentu yang dapat menyergap padukuhan induk itu dari beberapa arah,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

Kasadha hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu Ki Rangga berkata, “perintah itu akan aku berikan pada saatnya.”

“Baiklah Ki Rangga,“ jawab Kasadha yang tidak mempunyai pilihan, “aku akan mempersiapkan pasukanku sebelum mereka beristirahat dan tidur menjelang tugas mereka esok pagi.”

Kasadhapun kemudian telah meninggalkan Ki Rangga. Tetapi Kasadha tidak segera kembali ke pasukannya. Kepada dua orang pemimpin kelompok yang ikut bersamanya menemui Ki Rangga telah diperintahkannya untuk menemui semua pemimpin kelompok untuk menjelaskan perintah Ki Rangga.

“Jangan ada yang salah. Besok semuanya harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,“ berkata Kasadha.

“Sekarang Ki Lurah akan pergi kemana?“ bertanya salah seorang dari kedua orang pemimpin kelompok itu.

“Tidak kemana-mana. Aku merasa sangat panas. Udara malam ini agak berbeda dengan malam-malam sebelumnya,“ jawab Kasadha.

“Ki Lurah nampak gelisah,“ desis pemimpin kelompok yang lain, “lebih gelisah daripada ketika kita berada di Gemantar.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia memang mengatakan kepada seseorang tentang beban yang menekan jantungnya. Tetapi karena persoalannya menjadi sangat pribadi, maka iapun telah mengurungkannya. Persoalannya memang berbeda dengan persoalan yang dihadapinya di Gemantar.

Namun ia menjawab, “Tidak. Tidak ada apa-apa. Setiap kali aku memang dihinggapi perasaan gelisah tanpa sebab. Bukan karena pertempuran yang akan terjadi besok.”

Kedua orang pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Mereka percaya bahwa Kasadha tidak menjadi gelisah karena harus turun kemedan. Mereka tahu bahwa Kasadha adalah seorang prajurit yang berani dan bertanggung jawab. Tetapi merekapun tahu bahwa Kasadha tidak melaksanakan tugas yang dibebankan dipundaknya kali ini dengan sepenuh hati. Kedua orang pemimpin kelompok itu tahu bahwa Kasadha tidak setuju dengan sikap Ki Rangga Larasgati maupun Ki Tumenggung Bandapati yang karena wewenangnya untuk menyelesaikan masalah Tanah Perdikan telah mensalah gunakan wewenang itu. Bahkan mereka telah melakukan langkah-langkah jauh diluar wewenangnya.

Namun sebagai seorang prajurit maka Ki Lurah Kasadha memang tidak dapat banyak berbuat apa-apa. Namun nampaknya ia berdiri dijalan simpang antara perintah dan nuraninya.

“Sudahlah,“ berkata Kasadha kemudian, “pergilah kembali kepasukan kita. Sampaikan segala perintah itu dengan baik. Kita adalah prajurit-prajurit yang setia.”

Kedua orang pemimpin kelompok itupun kemudian telah pergi ke pasukan mereka untuk menemui para pemimpin kelompok yang lain, sementara Kasadha masih saja merenungi gelapnya malam.

Kepada sekelompok peronda yang berkeliling di perbatasan Kasadha bertanya, “Dimana letak landasan pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan?”

Pemimpin kelompok peronda itu menjawab, “Di padukuhan pertama. Padukuhan yang ada dihadapan kita sekarang. Yang remang-remang kelihatan dari sini.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih.”

“Apakah Ki Lurah mempunyai kepentingan?“ bertanya pemimpin peronda itu.

“Pertanyaanmu aneh. Bukankah kita akan menyerang padukuhan itu? Sudah tentu aku mempunyai kepentingan. Kita semuanya mempunyai kepentingan,“ berkata Kasadha.

Pemimpin peronda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Lurah. Kami akan meneruskan tugas kami.”

“Hati-hati,“ jawab Kasadha.

Sekelompok peronda dari sisi pasukan Pajang itu meneruskan tugas mereka, sementara Kasadha masih saja memperhatikan padukuhan dihadapan mereka. Padukuhan yang hanya kelihatan remang-remang. Meskipun dari kejauhan beberapa buah oncor nampak menyala sebesar api dipunggung kunang-kunang.

Tetapi ternyata Kasadha tidak dapat berdiri mematung ditempatnya. Tiba-tiba saja timbul niatnya untuk bertemu dengan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Terutama para pemimpinnya.

“Aku belum pernah mengenal dan dikenal oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Risang dan Iswari juga belum mengenal aku. Mereka tentu menganggap bahwa aku adalah Ki Lurah Kasadha, seorang Lurah Penatus dari Pajang. Sehingga kedatanganku menemui mereka sama sekali tidak menyangkut persoalan pribadi,“ berkata Kasadha didalam hatinya.

Namun sejenak ia masih termangu-mangu. Baru kemudian, setelah beberapa saat menunggu, maka Kasadha itu telah melangkah menuju ke padukuhan yang nampak dihadapannya pada jarak beberapa puluh patok, diseberang bulak memang agak panjang.

Dalam kegelapan malam Kasadha berjalan dengan cepat. Ia tidak mau dilihat oleh orang-orang Pajang yang manapun juga, yang akan dapat menyampaikannya kepada Ki Rangga Larasgati bahwa ia telah menemui orang-orang Sembojan.

Ternyata bahwa bulak yang agak panjang itu dapat ditempuhnya dalam waktu yang singkat. Namun menjelang padukuhan yang menjadi landasan pertahanan Tanah Perdikan Sembojan, Kasadha telah diberhentikan oleh ampat orang peronda dari Tanah Perdikan Sembojan.

“Aku akan bertemu dengna Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata Kasadha.

“Kau akan berbuat jahat kepadanya?“ bertanya salah seorang pengawal yang sedang meronda itu.

“Jangan bodoh. Jika aku akan berbuat jahat, maka aku tidak akan pergi sendirian dan lewat jalan induk padukuhan, karena aku lihat jalan ini akan sampai kepintu gerbang,“ jawab Kasadha.

“Tetapi keadaan menjadi semakin gawat. Pasukan Pajang yang baru telah datang,“ berkata pemimpin peronda itu.

“Aku adalah Lurah Penatus yang memimpin prajurit Pajang yang baru. Ada persoalan yang ingin aku bicarakan dengan pemimpinmu,“ jawab Kasadha.

Pemimpin peronda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Kau berusaha mengamati keadaan?”

“Tidak,“ jawab Kasadha, “apa yang dapat aku lihat di gelapnya malam dan dijalan induk seperti ini. Jika aku ingin mengamati keadaan, maka aku akan datang dengan diam-diam sebagaimana jika aku akan berbuat jahat kepada pimpinan Tanah Perdikan ini. Dan sudah tentu tidak sendiri dan bukan aku pribadi, karena aku mempunyai beberapa orang prajurit yang memiliki kemampuan dalam gerakan sandi.”

Pemimpin peronda itu masih bertanya, “Jadi apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin berbicara dengan Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan. Aku sendiri dan sama sekali tidak bersenjata,“ berkata Kasadha sambil merentangkan tangannya.

Sejenak pemimpin peronda itu merasa ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Baiklah aku hadapkan kau kepada pimpinan pengawal yang bertugas malam ini.”

“Terserah. Aku sama sekali tidak berniat buruk,“ jawab Kasadha.

Ketika Kasadha kemudian dihadapkan kepada pemimpin pengawal yang sedang bertugas, maka ia memang menimbulkan keragu-raguan. Namun sikap Kasadha memang meyakinkan. Ia benar-benar tidak bersenjata.

“Baiklah Ki Lurah,“ berkata pemimpin pengawal yang bertugas, “tunggulah disini. Aku akan memberikan laporan. Yang ada di padukuhan ini agaknya Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini dan puteranya, yang memiliki hak untuk mewarisi jabatan itu secara sah.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian,“ beritahukan kepada keduanya, bahwa aku, Ki Lurah Kasadha, seorang prajurit Pajang ingin bertemu dan berbicara dengan mereka sebelum pertempuran yang lebih besar terjadi besok.”

Pemimpin pengawal itupun kemudian telah memerintahkan dua orang untuk memberitahukan kedatangan seorang prajurit Pajang kepada Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta menunggu perintahnya, apakah seorang prajurit Pajang itu diperkenankan menghadap untuk membicarakan persoalan yang akan terjadi esok. Prajurit itu adalah Ki Lurah Kasadha.

Namun dalam pada itu, diluar pengetahuan Ki Lurah Kasadha pemimpin pengawal yang bertugas itu telah memerintahkan para pengawal untuk meronda dan mengamati keadaan dengan lebih cermat lagi.

“Mungkin kedatangan Ki Lurah itu hanya sekedar menarik perhatian orang. Sementara itu, petugas sandinya telah menyusup pula untuk mengamati keadaan dan membuat perhitungan khusus tentang keadaan Tanah Perdikan ini,“ desis pemimpin kelompok itu.

Tetapi seorang pengawal berdesis, “Bukankah Ki Lurah Kasadha adalah pemimpin pasukan yang pernah dikirim ke Gemantar dan kemudian ditarik kembali karena sikapnya.”

“Kalau benar orang ini Ki Lurah Kasadha yang datang ke Gemantar,“ jawab pemimpin pengawal itu.

“Ada berapa Kasadha?“ bertanya pengawal itu.

“Bukankah kita belum pernah mengenal Kasadha satupun?“ jawab pemimpinnya pula.

Pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita belum pernah mengenalnya.”

Sementara itu, dua orang pengawal yang menghadap pimpinan Tanah Perdikan itu telah berada di banjar. Ternyata Iswari dan Risang serta beberapa orang yang lain berada di banjar itu pula, termasuk Ki Tumenggung Jaladara.

Ketika kedua orang pengawal itu menyatakan bahwa seorang prajurit Pajang yang bernama Ki Lurah Kasadha ingin bertemu, maka Iswari menjadi ragu-ragu.

“Ibu,“ berkata Risang, “sebaiknya kita terima niatnya untuk menemui kita. Tentu ada persoalan khusus yang ingin dibicarakan mengingat sikapnya di Gemantar. Apalagi secara pribadi aku pernah mengenalnya. Aku akan berbicara dengan Ki Lurah Kasadha.”

“Aku memikirkan kemungkinan kehadiran prajurit Jipang. Bukankah dengan demikian Ki Lurah Kasadha itu akan mengetahuinya?“ desis Iswari.

Ki Tumenggung Jaladara mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata, “Aku akan memerintahkan prajuritku pergi ke padukuhan induk. Biarlah prajurit Jipang yang datang itu berada di padukuhan induk. Baru besok menjelang fajar, mereka akan bergerak ke alas pertahanan ini, meskipun kita dapat merencanakan penempatannya disini. Hanya pemimpinnya sajalah yang nanti kita bawa ke padukuhan ini.”

Iswari merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Bawalah Kasadha itu kemari.”

Ketika kedua orang pengawal itu kembali menemui Kasadha, maka Risangpun berkata, “Tetapi Ki Lurah Kasadha mengenalku sebagai Barata. Kami bersama-sama menjadi pemimpin kelompok dalam pasukan Seratus Orang dibawah pimpinan Ki Lurah Dipayuda. Ketika aku meninggalkan barak, Kasadha baru menjabat sebagai pimpinan sementara dalam pasukan Seratus Orang itu. Agaknya kini ia benar-benar telah diangkat menjadi Lurah Penatus.”

“Mudah-mudahan kau akan dapat berbicara dengan baik dan hasilnya akan berarti bagi Tanah Perdikan ini,“ berkata ibunya.

“Mudah-mudahan ibu. Tetapi seperti aku katakan tadi Ki Lurah Kasadha itu mengenalku dengan nama Barata,“ berkata Risang.

“Siapapun namamu, tetapi kau akan dapat menjelaskannya. Saat ini adalah saat yang baik untuk memperkenalkan dirimu yang sebenarnya kepada Ki Lurah itu,“ berkata ibunya.

Namun Barata menjadi berdebar-debar juga menunggu kedatangan Kasadha. Sudah agak lama ia tidak bertemu.

“Perubahan sikap seseorang memang mungkin saja akan terjadi,“ berkata Risang didalam hatinya.

Dalam pada itu, bukan saja Risang yang menjadi berdebar-debar. Ternyata Kasadhapun menjadi gelisah pula. Berbeda dengan saat-saat ia menentukan sikap di Gemantar. Ia sama sekali tidak menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia berhadapan dengan persoalan yang dapat langsung menyangkut pribadinya, maka iapun benar-benar menjadi berdebar-debar.

Tetapi ketika kedua orang yang menyampaikan maksudnya itu menyatakan kesediaan pimpinan Tanah Perdikan Sembojan untuk menerimanya, maka Kasadha itu-pun telah menetapkan hatinya pula.

“Tidak seorangpun tahu, siapa aku sebenarnya. Aku belum pernah berhubungan dengan orang-orang Sembojan,“ berkata Kasadha didalam hatinya. Lalu katanya pula kepada diri sendiri, “Aku harus dapat menyisihkan kepentingan pribadiku.”

Dengan langkah tetap, diantar oleh dua orang pengawal, dibawah pengawasan para peronda, Kasadha menuju ke banjar padukuhan.

Demikian Kasadha memasuki halaman banjar, maka kedua orang pengawal khusus telah menyambutnya dan membawanya naik ke pendapa.

Iswari dan Risang, bahkan bersama Ki Tumenggung Jaladara telah bersiap menerimanya di ruang dalam. Menurut pendapat mereka, pembicaraan akan lebih ber-sunggung-sungguh jika dilakukan ditempat yang tertutup dengan orang yang terbatas. Berbeda dengan pembicaraan rahasia yang justru sering dilakukan oleh Ki Tumenggung ditempat yang terbuka untuk menghindari kemungkinan dapat didengar oleh orang yang tidak dikehendaki.

“Marilah, “pengawal itu mempersilahkan, “Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini ada didalam. Nyi Wiradana telah menunggu bersama Risang.”

Jantung Kasadha memang berdebar mendengar nama Wiradana disebut. Juga nama Risang. Saudaranya yang dilahirkan oleh ibu yang berbeda.

Tetapi Kasadha sudah bertekad untuk menyingkirkan masalah pribadinya. Ia adalah Kasadha, Lurah Penatus dari Pajang yang tidak tahu menahu tentang darah keturunan orang-orang Sembojan.

Sekali-sekali memang terungkit didasar hatinya yang paling dalam bisikan orang yang mengaku ayahnya itu. Jika Risang terbunuh, maka ia adalah satu-satunya pewaris yang sah atas Tanah Perdikan itu, karena anak Ki Wiradana memang hanya dua orang. Risang dan Puguh.

“Persetan dengan laki-laki gila yang telah hidup bersama ibu itu,“ geram Kasadha didalam hatinya, “Aku adalah Kasadha. Kasadha, Lurah Penatus dari Pajang. Aku tidak mempunyai persoalan apapun dengan Tanah Perdikan ini selain karena tugas keprajuritanku.”

Demikianlah, maka Kasadha dengan hati yang berdebar-debar telah melangkah di pendapat menuju ke pintu pringgitan. Kemudian para pengawal yang menyambutnya itu telah membawanya melangkah tlundak pintu masuk keruang dalam.

Risang tidak terkejut. Yang datang itu memang Kasadha yang telah ditunggunya. Seorang yang paling akrab dikenalnya disaat ia menjadi prajurit. Bahkan hidup dan matinya seakan-akan telah terbagi dengan anak muda yang telah menjadi Lurah Penatus itu.

Risang tahu bahwa Kasadha tentu akan terkejut melihatnya. Tetapi tentu hanya sesaat. Ia tentu akan berkata, “Kenapa kau tidak pernah mengatakan sebelumnya?”

Namun Kasadha itu kemudian tentu akan tertawa menerima ucapan selamatnya karena Kasadha itu telah ditetapkan dalam pangkatnya sebagai Lurah Penatus pada jabatan yang telah diembannya.

Sebenarnyalah, ketika Kasadha memasuki pintu ruang dalam, jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Ia sadar, bahwa perempuan yang ada dihadapannya adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang bernama Iswari .Perempuan yang dalam kehidupannya pernah bersaing dengan ibunya sendiri. Pernah dua kali berperang tanding. Dan pernah memenangkan perang tanding sampai dua kali pula. Memang terasa sesuatu bergetar didalam hatinya. Tetapi sejak ia memasuki dunia keprajuritan ia sudah menerima satu sikap nuraninya, bahwa ibunya, Warsi, memang bersalah. Jika ia datang saat itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan persoalan antara ibunya dan perempuan itu. Ia datang dalam tugasnya sebagai seorang prajurit.

Tetapi yang mengejutkan sekali adalah hadirnya seorang anak muda yang dikenalnya dengan baik. Anak muda yang dianggapnya sahabatnya yang paling akrab. Bahkan anak muda yang oleh beberapa orang justru dianggap sebagai adiknya karena kemiripan ujud lahiriahnya.

Kata-kata pengawal yang mengantarkan masuk ke ruang dalam saat ia memperkenalkan para pemimpin Tanah Perdikan itu bagaikan guruh yang memecahkan selaput telinganya.

“Ki Lurah Kasadha, yang berdiri dihadapan Ki Lurah adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Yang berdiri disebelahnya adalah Risang, putera satu-satunya, kemudian yang seorang adalah perwira prajurit Jipang, Ki Tumenggung Jaladara.”

Kasadha berdiri mematung. Ia sudah mendengar kehadiran Ki Tumenggung Jaladara dari Ki Rangga Larasgati. Tetapi bahwa Barata yang dikenalnya selama ini, yang pernah menyelamatkan hidupnya itulah Risang.

Dalam pada itu, terdengar suara Risang sebagaimana pernah didengarnya, “Kasadha. Kenapa kau termangu-mangu? Marilah. Duduklah. Bukankah kau masih mengenal aku ?”

“Tentu,“ jawab Kasadha gagap.

“Maafkan aku Kasadha. Aku tidak pernah berterus terang kepadamu tentang aku yang sebenarnya. Tetapi sekarang kau sudah tahu, bahwa aku adalah anak Sembojan,“ berkata Risang.

“Ya, ya,“ suara Kasadha semakin gugup.

Risang memang menjadi heran. Sikap Kasadha tidak sekedar terkejut melihat ia hadir disitu. Tetapi nampak bahwa ia menjadi gugup dan sangat gelisah.

“Marilah Ki Lurah,“ berkata Iswari, “silahkan duduk.”

Tetapi Kasadha benar-benar gugup. Sementara itu Risang berkata dengan wajah yang mulai bimbang, “Ki Lurah, aku lebih dahulu ingin mengucapkan selamat atas pengangkatan Ki Lurah.”

“Terima kasih Barata, eh, Risang,“ jawab Kasadha.

Risang mengerutkan keningnya. Jawaban itu terlalu singkat. Namun Risang mencoba untuk mengetahui perasaan Kasadha. Agaknya Kasadha mulai menjadi gelisah, bahwa ia harus berhadapan dengan Risang seorang, sahabat, dalam persoalan Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Silahkan duduk Kasadha. Kita akan berbicara sebagaimana kau kehendaki. Kami menghormati kesediaanmu untuk datang. Mudah-mudahan kita dapat berbicara dengan hati terbuka sebagaimana saat kita masih berada di barak yang sama.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk mengendapkan gejolak perasaannya. Ia mencoba menguasai diri menghadapi kenyataan tentang sahabatnya itu.

“Risang,“ berkata Kasadha kemudian, “aku memang terkejut melihat kau disini. Ternyata yang harus aku hadapi di Tanah Perdikan ini adalah seorang anak muda yang aku kenal dengan sangat baik. Bahkan selama ini aku tidak pernah mempunyai seorang sahabat sendiri. Namun tiba-tiba kini aku harus menghadapimu dalam kedudukan yang sangat sulit. Aku sama sekali tidak mengira sebelumnya, bahwa aku akan mengalami satu kesulitan yang tidak mudah untuk aku atasi. Apalagi aku tidak akan pernah melupakan, bahwa kau pernah menyelematkan hidupku.”

“Kasadha,“ berkata Risang, “biarlah semuanya itu kita lupakan. Sekarang, bagaimana kita mencari jalan keluar dari persoalan yang kita hadapi. Bagaimana kita mendapatkan satu cara yang paling tanpa merugikan kedua belah pihak. Maksudku, kami dan kau. Aku tidak tahu bagaimana sikapmu terhadap Ki Rangga Larasgati.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Ia sudah siap berbicara dengan Iswari dan Risang. Tetapi ia tidak mengira bahwa Risang adalah Barata yang dikenalnya dengan baik.

Namun Kasadha itu berkata didalam hatinya, “Siapapun Risang, tetapi mereka semuanya tidak mengenal aku yang sesungguhnya.”

Bahkan Kasadha masih tetap berharap bahwa sikapnya akan dapat memberikan jalan yang dapat meredakan keadaan. Setidak-tidaknya mengurangi kerasnya benturan antara prajurit Pajang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Meskipun ia tidak dapat berbuat sebagaimana dilakukan di Gemantar, namun setidak-tidaknya ia akan dapat memberikan pendapatnya kepada Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka Kasadhapun telah berniat untuk melakukan apa yang sudah direncanakannya.

Sementara itu Iswari, Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan berkata,“ Ki Lurah Kasadha. Kedatangan Ki Lurah tentu bukannya tanpa maksud. Bahwa Ki Lurah terkejut melihat anakku yang pernah berada dalam satu kesatuan dengan Ki Lurah dapat aku mengerti. Apalagi apabila besok benar-benar kalian berdua harus bertempur. Namun barangkali Ki Lurah saat ini mempunyai beberapa pendapat yang mungkin berarti, kami akan sangat berterima kasih, karena sebenarnyalah kami telah pernah mendengar nama Ki Lurah dari orang Gemantar. Bahkan seandainya akhirnya kami tidak menemukan jalan apapun, niat baik dari kedatangan Ki Lurah ini telah menumbuhkan penghargaan kami terhadap Ki Lurah. Kami mengucapkan terima kasih. Seandainya kami belum pernah mendengar apa yang Ki Lurah lakukan di Tanah Perdikan Gemantar, mungkin kami akan bersikap lain.”

“Terima kasih atas pengertian Nyai,“ desis Kasadha. Tetapi gejolak yang keras telah menghentak-hentak didadanya. Meskipun orang-orang Sembojan itu tidak

mengenalinya, tetapi Kasadha sendiri dapat mengenali dirinya. Ia adalah Puguh. Anak Warsi yang telah berusaha merebut segala-galanya dari Nyi Wiradana. Yang terakhir adalah usaha untuk merebut hak atas Tanah Perdikan itu dengan membunuh anak laki-laki satu-satunya. Risang.

Dengan susah payah Kasadha menekan perasaannya itu. Kemudian dengan suara bergetar ia berkata, “Nyai. Aku memang membawa satu pendapat. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada Nyai. Dengan pendapatku ini sebenarnya aku sudah melanggar paugeran seorang prajurit. Mungkin kesetiaanku kepada Pajang semakin diragukan. Tetapi sebenarnya aku tidak ingin bergeser dari kedudukanku. Seorang prajurit. Jika saat ini kesetiaanku diragukan aku tidak menyesal, karena yang meragukan kesetiaanku terhadap Pajang adalah orang-orang yang justru tidak berdiri diatas jalur jalan kebenaran seorang pemimpin. Jika pada suatu saat jiwa dan watak Pajang pulih kembali, maka akupun akan tegak diatas kesetiaan yang utuh.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Dengan senang hati kami akan mendengarkan pendapat Ki Lurah.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia masih saja berusaha untuk mengendapkan perasaannya serta meredakan gejolak di jantungnya.

“Nyai,“ berkata Kasadha kemudian, “sebenarnyalah aku ingin mengusulkan, agar Nyai bersedia mundur selangkah pada saat yang gawat ini. Tetapi bukan berarti bahwa Nyai tidak akan maju lagi disaat-saat mendatang.”

“Maksud Ki Lurah?“ bertanya Iswari.

“Maksudku, Nyai sebaiknya menerima tawaran Ki Rangga Larasgati untuk sementara,“ berkata Kasadha.

“Menyerahkan surat kekancingan tentang Tanah Perdikan ini?“ bertanya Iswari, “atau pertanda kebesaran yang berupa bandul kalung itu?”

Kasadha menggeleng. Jawabnya, “Bukan Nyai. Tetapi kesediaan Nyai memberikan upeti sebagaimana diminta oleh Ki Rangga Larasgati.”

Dahi Iswari berkerut. Dengan nada dalam ia berdesis, “Bukankah itu tidak wajar? Kepada siapa seharusnya kami memberikan upeti?”

“Memang tidak wajar Nyai,“ jawab Kasadha, “tetapi sekedar untuk mengatasi persoalan yang rumit bagi Tanah Perdikan ini. Upeti itu akan berlangsung tidak lebih dari tiga atau ampat bulan saja.”

“Sesudah itu?“ bertanya Nyi Wiradana.

“Mataram dan Jipang nampaknya sudah mulai bergerak,“ berkata Ki Lurah Kasadha sambil memandang kepada Ki Tumenggung Jaladara. Katanya kemudian, “Ki Tumenggung Jaladara tentu lebih tahu.”

“Kau harapkan bahwa Mataram dan Jipang akan mengalahkan Pajang?“ bertanya Iswari kemudian.

“Tentu tidak. Tetapi jika terjadi tekanan atas Pajang oleh Mataram dan Jipang dengan beberapa syarat tertentu, maka Pajang tentu akan membenahi diri. Beberapa orang pemimpin bukan saja yang datang dari Demak dan menetap di Pajang dengan hak yang lebih dari para pemimpin Pajang sendiri, kemudian para pemimpin Pajang yang ingin menutup kekurangan atas haknya dengan cara yang tidak wajar, tentu akan mendapat perhatian,“ berkata Kasadha.

“Tetapi jika yang berkuasa di Pajang masih saja Adipati Demak, apakah perubahan-perubahan tatanan pemerintahan akan dapat diharapkan?“ bertanya Iswari.

“Kenapa tidak, jika Mataram dan Jipang langsung ikut campur tangan. Bukankah Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa termasuk keluarga sendiri? Bahkan Pangeran Benawa adalah putera Sultan Hadiwijaya yang merupakan salah satu diantara mereka yang dicalonkan untuk mewarisi tahta Pajang?“ jawab Kasadha.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada rendah ia berkata, “Bukankah dengan demikian kita justru ikut membantu menegakkan wibawa Ki Rangga Larasgati yang telah menyimpang dari paugeran?”

“Tetapi itu bukan tujuan Nyai. Itu sekedar satu cara. Bahkan apa yang dilakukan Ki Rangga atas Tanah Perdikan ini pada satu saat dapat dipergunakan sebagai bukti pelanggarannya atas batas-batas wewenang dan kuasanya bersama Ki Tumenggung Bandapati.”

Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Risang-pun berkata, “Menurut nalar, aku dapat mengerti pendapatmu Kasadha. Tetapi perasaanku merasa berkeberatan untuk melakukannya.”

“Aku mengerti,“ jawab Kasadha, “seakan-akan Tanah Perdikan ini tunduk kepada perintah Ki Rangga Larasgati. Padahal menurut kekancingan, upeti yang diwajibkan bagi Tanah Perdikan bukanlah dalam pengertian berapa besarnya, tetapi sekedar syarat untuk menunjukkan bahwa Tanah Perdikan ini berada didalam satu kesatuan ikatan dengan Pajang. Sedangkan Ki Rangga Larasgati sudah menyimpang dari ketentuan itu. Bahkan Ki Rangga telah menyebut satu jumlah tertentu bagi upeti yang harus diserahkan. Apalagi nampaknya upeti itu harus diserahkan tidak kepada jalur yang seharusnya menerima upeti bagi perbendaharaan Pajang. Tetapi akan langsung masuk kedalam bangsal simpanan beberapa orang tertentu.”

“Ya,“ jawab Risang, “itulah yang agaknya menghambat penalaranku. Juga harga diri dan kebesaran nama kakek Ki Gede Sembojan.”

Puguh yang dikenal sebagai Kasadha itu menarik nafas dalam-dalam. Risang, anak Iswari itu memang telah ditempa menjadi orang yang keras. Bahkan ibunyapun agaknya cukup keras pula sikapnya, sebagaimana ibunya sendiri. Itulah agaknya maka keduanya telah pernah mengalami perang tanding sampai dua kali.

Tetapi Kasadha mencoba untuk tidak mengingatnya. Namun sekali-sekali muncul juga pertanyaan, “Bagaimana seandainya ibuku terbunuh?”

Namun segera ia menjawab didalam hatinya, “Itu bukan persoalanku.”

Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening. Tetapi kemudian iapun berkata, “Risang. Didalam peperangan kita mengenal cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan akhir. Yang kalian lakukan sekarang adalah satu cara dalam lika-liku mencapai tujuan. Lebih dari itu, kita dapat mengurangi korban sejauh mungkin. Kita akan menyelamatkan beberapa puluh jiwa dari kedua belah pihak.”

Risang termangu-mangu sejenak. Tetapi dengan nada dalam ia berkata, “Kasadha. Aku minta maaf kepadamu. Rasa-rasanya sulit bagi kami untuk menyisihkan harga diri kami.”

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi hampir diluar sadarnya ia berpaling kepada Ki Tumenggung Jaladara. Hanya sekilas. Tetapi ternyata Ki Tumenggung dapat membaca kilasan pandangan Kasadha.

Karena itu, maka Ki Tumenggung itupun berkata, “Ki Lurah. Aku tentu tidak dapat ingkar jika kedatanganku kemari telah membawa pengaruh bagi Tanah Perdikan Sembojan. Namun tanpa kedatangankupun para pemimpin Tanah Perdikan ini telah mempunyai pegangan bagi sikapnya. Sebagaimana Gemantar sebuah Tanah Perdikan yang lebih kecil dari Sembojan telah pula berpegang pada satu sikap. Harga diri dan tegaknya paugeran yang seharusnya berlaku di Pajang sendiri.”

Ki Lurah Kasadha mengangguk kecil. Katanya, “Aku memang tidak dapat membantah. Apa yang dikatakan oleh Ki Tumenggung itu benar. Tetapi aku adalah prajurit Pajang. Bukan prajurit Jipang.”

“Apa yang dikatakan oleh Ki Tumenggung memang benar,“ sahut Risang, “kami memang berpegang pada harga diri dan tegaknya paugeran.”

“Baiklah,“ berkata Kasadha, “aku minta maaf bahwa kedatanganku telah mengganggu ketenangan kalian. Tetapi aku berniat untuk berbuat baik apapun hasilnya.”

“Aku mengerti Ki Lurah,“ berkata Iswari, “aku mengucapkan terima kasih. Tetapi kami, orang-orang Sembojan, minta maaf yang sebesar-besarnya bahwa kami tidak dapat menerima pendapat Ki Lurah. Seperti yang dikatakan Risang, nalar kami dapat menerima. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang terasa sangat berat untuk melakukannya.”

“Akupun mengerti Nyai. Tetapi percayalah, bahwa aku telah menyatakan pendapatku dengan ikhlas,“ berkata Kasadha.

“Aku juga minta maaf akan sikapku Kasadha,“ desis Risang. Lalu katanya, “Tetapi aku tahu maksudmu. Bahkan akupun merasakan kesulitan perasaanku jika besok kita akan bersama-sama turun ke medan.”

“Kita tidak akan bertemu Risang,“ berkata Kasadha, “aku tidak akan berada di induk pasukan. Sementara itu kami sadar, jika Nyi Wiradana turun ke medan, maka tidak akan ada seorangpun prajurit Pajang yang mampu mengimbanginya.”

“Ah,“ desis Iswari, “kenapa Ki Lurah berkata seperti itu?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Menurut pendengaran kami, Nyi Wiradana adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.”

“Jangan memuji,“ berkata Nyi Wiradana, “aku bukan apa-apa dihadapan para pemimpin di Pajang.”

“Sudahlah,“ berkata Kasadha kemudian, “aku mohon diri. Tidak ada yang dapat aku perbuat lagi. Semoga tidak terjadi salah paham. Aku sudah bersikap sebagai prajurit Pajang.”

“Tidak Ki Lurah. Kami sama sekali tidak merasa ada salah paham diantara kita. Kami tahu sepenuhnya niat baik Ki Lurah Kasadha, sebagaimana telah Ki Lurah tunjukkan di Tanah Perdikan Gemantar dengan kemungkinan yang kurang menguntungkan bagi Ki Lurah sendiri.“ jawab Iswari.

Ki Lurah mengangguk kecil. Sementara Risang berkata, “Kasadha, disaat-saat kita bersama-sama berada didalam satu kesatuan di Pajang, maka kita tidak pernah bermimpi bahwa pada suatu saat kita akan berdiri berhadapan sebagai lawan.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun terlintas didalam angan-angannya, bahwa selama ini ia telah berada dalam satu lingkungan yang akrab dengan orang yang menurut orang tuanya harus dimusnahkan jika ia ingin memiliki Tanah Perdikan Sembojan.

“Ternyata Risang tentu lebih tua dari aku, sementara setiap orang menganggap aku lebih tua daripadanya,“ berkata Kasadha didalam hatinya, “Bahkan Ki Lurah Dipayuda pernah menyebutnya kakak beradik, sementara ia dianggap sebagai yang tua dan Risang yang dikenal sebagai Barata, adalah yang muda.”

Namun dalam pada itu ia berkata, “Seperti yang aku katakan Barata, aku tidak akan berada di induk pasukan. Biarlah Ki Rangga Larasgati sajalah yang menjadi lajer kepemimpinan prajurit Pajang sesuai dengan kedudukannya.”

“Baiklah Kasadha,“ jawab Risang, “akupun berharap bahwa kita tidak akan pernah bertemu di medan.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika demikian, maka tidak ada lagi yang dapat aku lakukan. Aku mohon diri.”

“Kami juga minta maaf Ki Lurah,“ berkata Iswari, “kami terpaksa tidak dapat menerima petunjuk Ki Lurah.”

“Tidak apa-apa, Nyai. Sudah aku katakan, bahwa justru karena aku berada diluar Tanah Perdikan ini, maka segala sesuatunya terserah kepada Nyai,“ berkata Kasadha, yang kemudian telah minta diri untuk kembali ke pasukannya.

Tetapi sebelum ia beranjak dari tempatnya, dua orang telah masuk ke ruang dalam. Dua orang diantara para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan yang telah mendengarkan pembicaraan itu dari balik dinding. Keduanya adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Kasadha terkejut bukan buatan. Ia mengenal kedua orang itu. Mula-mula di Song Lawa. Namun kemudian di sebuah perjalanan panjang, bahkan sampai ketempat tinggalnya.

Terdengar desis diantara bibirnya, “Kalian berdua.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk hormat. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata, “Maaf Ki Lurah. Sebenarnyalah aku melihat saat Ki Lurah datang dan kemudian memasuki ruangan ini. Tetapi kami berdua memang sengaja menunggu, apa yang akan diperbuat oleh Ki Lurah.”

Wajah Kasadha menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Apa menurut penilaianmu?”

“Ternyata Ki Lurah memang datang dengan maksud baik. Ki Lurah telah menyisihkan kepentingan pribadi yang tentu sudah Ki Lurah ketahui dengan pasti dalam hubungannya dengan Tanah Perdikan ini. Betapa kegelapan menempa hidup Ki Lurah, tetapi agaknya guru Ki Lurah telah menyalakan api terang didalam hati Ki Lurah sehingga Ki Lurah benar-benar telah berhasil mengatasi pengaruh buruk yang ditanamkan sejak Ki Lurah dilahirkan,“ berkata Sambi Wulung.

Ki Lurah Kasadha memang menjadi semakin tegang. Sementara Iswari bertanya kepada Sambi Wulung, “Apakah kau pernah mengenal Ki Lurah?”

“Ya Nyai. Kini ia memang datang dengan maksud baik. Ia dengan ikhlas mengusulkan satu langkah penyelamatan bagi Tanah Perdikan ini dan kelangsungan darah Ki Gede Sembojan untuk memerintah. Ia tidak memanfaatkan keadaan yang gawat ini bagi kepentingan pribadinya. Sebenarnyalah jika kuasa kegelapan itu mampu mencengkam jantungnya, ia akan dapat berbuat banyak sekarang ini bagi kepentingan pribadinya,“ berkata Sambi Wulung.

“Sudahlah,“ potong Ki Lurah, “aku rasa keterangan itu sudah terlalu cukup. Aku ingin mohon diri.”

“Tidak Ki Lurah. Sebaiknya segala sesuatunya dijelaskan sekarang. Jika hal ini diketahui kemudian justru dari orang lain, maka kesannya akan berbeda. Tetapi jika, Ki Lurah sendiri menjelaskannya, maka kesalah pahaman akan dapat dikurangi. Pembicaraan masih dapat dilakukan sebagai penjelasan atas sikap masing-masing. Karena sebenarnyalah beban itu tidak selalu harus dipikul diatas pundak Ki Lurah maupun diatas punggung Risang,“ berkata Sambi Wulung pula.

“Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak?“ bertanya Ki Lurah Kasadha.

“Kami adalah pemomong Risang sejak masa kanak-kanaknya.” jawab Sambi Wulung kemudian, ”terus terang, bahwa perjalanan kami sebelumnya adalah sekedar untuk mengetahui, siapa dan dimanakah anak muda yang akan dapat menjadi saingan Risang itu.”

“Aku semakin tidak mengerti,“ sela Iswari, “apakah yang sedang kalian katakan itu?”

Ki Lurah Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk menenangkan gejolak jantungnya yang terasa menghentak-hentak didalam dadanya.

“Jadi kalian mencari aku dengan sengaja untuk mengenalku?“ bertanya Ki Lurah Kasadha.

“Ya. Tetapi kami mengenal Ki Lurah dengan sungguh-sungguh ternyata baru hari ini, malam ini,“ jawab Sambi Wulung.

“Katakan,“ potong Iswari, “jangan berteka-teki. Apa yang kalian kenal pada Ki Lurah Kasadha.”

Ki Lurah Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak akan dapat ingkar lagi. Namun ia bersukur bahwa kedua orang itu cukup bijaksana dengan membiarkannya menyatakan sikapnya lebih dahulu atas Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian, kemungkinan buruk dapat terjadi. Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan serta anak laki-lakinya yang tidak mempersiapkan diri menghadapi kenyataan tentang dirinya akan dapat terkejut dan kehilangan kendali perasaannya. Namun bagaimanapun juga ia berterima kasih kepada kedua orang yang nampaknya berusaha untuk bertindak dengan sangat berhati-hati.

Dalam pada itu, Sambi Wulung berkata, “Ki Lurah. Sebaiknya Ki Lurah berterus-terang. Percayalah, bahwa yang berjiwa besar bukan hanya Ki Lurah Kasadha, tetapi juga Nyai Wiradana dan Risang, putera Ki Wiradana dan cucu Ki Gede Sembojan.”

Wajah Iswari menjadi tegang. Sementara Risang berkata dengan nada gelisah, “Aku menjadi bingung.”

“Baiklah,“ berkata Sambi Wulung kemudian, “nampaknya Ki Lurah tidak dapat mengatakannya sendiri. Aku dapat mengerti perasaannya itu. Karena itu, biarlah aku mewakilinya.”

“Kami tidak berkeberatan,“ sahut Risang yang tidak sabar lagi menunggu terlalu lama.

Sambi Wulung masih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Sebelumnya, kita harus mengakui bahwa Ki Lurah Kasadha datang dengan maksud baik. Lepas dari kepentingan pribadi dilambari dengan jiwa yang besar.”

“Ya,“ jawab Iswari, “didukung oleh sikapnya di Gemantar.”

“Baik,“ berkata Sambi Wulung pula, “selanjutnya perkenankanlah aku memperkenalkan anak muda itu. Seharusnya Risang dapat menduga sebelumnya bahwa kemiripan wajahnya dengan wajah Kasadha telah menumbuhkan kesan tersendiri. Keduanya memang pantas ditempatkan pada satu ikatan darah keturunan.”

“Maksudmu … ?“ suara Risang terputus.

Panggraitanya cukup tajam menangkap kata-kata Sambi Wulung. Namum ia kemudian masih menunggu Sambi Wulung meneruskan.

“Nampaknya kau tanggap. Anak muda yang disebut Ki Lurah Kasadha itu adalah adikmu, Risang,“ suara Sambi Wulung menurun.

Wajah Risang menjadi merah. Sementara itu jantung Iswari bagaikan berhenti berdentang. Sejenak suasana justru menjadi diam dalam ketegangan.

Kasadha sendiri menundukkan wajahnya. Ia memang tidak dapat mengelak lagi. Bahkan dengan suara yang bergetar ia berkata, “Aku adalah Puguh. Orang yang barangkali paling terkutuk bagi Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi sebenarnyalah aku datang sebagai seorang Lurah Penatus dari jajaran keprajuritan Pajang.”

“Jadi selama ini kau kelabui aku?“ bertanya Risang.

“Apakah aku sengaja mengelabui seorang anak muda yang bernama Barata yang tidak pernah mengatakan berasal dari Tanah Perdikan Sembojan? “ justru Kasadha ganti bertanya.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Selama ini ia memang tidak pernah berterus-terang tentang dirinya. Karena itu, ia tidak akan dapat menuduh Kasadha dengan sengaja telah menipunya.

Teringat oleh Risang betapa beberapa orang telah memburunya karena mereka menyangka dirinya bernama Puguh. Bahkan ketika ia berada bersama-sama dengan Kasadha yang ternyata adalah Puguh itu sendiri, masih ada orang yang salah dan mengenalinya sebagai Puguh.

Berbagai perasaan bercampur baur didalam jantung Risang. Tiba-tiba saja kebencian telah mencuat didalam dadanya. Namun ia tidak dapat ingkar pula, bahwa anak muda yang bernama Kasadha yang kemudian diangkat menjadi Lurah Penatus di Pajang bukan seorang yang pantas dibenci karena tingkah lakunya. Sehingga jika dengan tiba-tiba saja ia membencinya, tentu bukan karena sikap dan tingkah laku Kasadha itu sendiri, setidak-tidaknya selama ia mengenalnya. Karena selama mereka berada didalam satu kesatuan, Kasadha justru pantas untuk mendapatkan pujian. Kenyataan itu pula yang telah mengangkatnya menjadi seorang Lurah Penatus meskipun ia masih sangat muda untuk jabatan itu.

Namun dalam pada itu Barata yang di Tanah Perdikan Sembojan dikenal bernama Risang itupun bertanya, “Kenapa kau selama ini tidak mempergunakan namamu sendiri?”

“Pertanyaan yang sama dapat aku berikan juga kepadamu. Sudah tentu alasan kita berbeda. Jika kau masih mempunyai kepercayaan kepadaku sedikit saja, maka dengarlah, aku memang berusaha untuk mengubur masa lampauku. Puguh telah aku bunuh. Dan aku ingin lahir kembali sebagai Kasadha yang kini menjadi Lurah Penatus dalam jajaran keprajuritan Pajang,“ jawab Kasadha dengan nada dalam.

Risang justru termangu-mangu sejenak. Meskipun jantungnya masih saja bergejolak, tetapi ia condong untuk mempercayai kata-kata Kasadha. Jika ia beralaskan pribadi Puguh sebagaimana dibayangkan sebelumnya, maka ia akan melihat dua sosok yang jauh berbeda. Puguh menurut gambarannya sama sekali bukan Kasadha yang dikenalnya.

Dalam pada itu, hati Iswaripun telah bergejolak. Ia sama sekali tidak pernah menghubungkan anak muda yang bernama Kasadha, yang memiliki wajah mirip anaknya, bahkan dianggap sebagai kakak beradik di barak kesatuannya itu adalah benar-benar sedarah dengan anaknya. Seayah.

Persoalan yang menyangkut hubungan keluarganya itu telah mengungkat perasaannya sebagai seorang perempuan yang merasa pernah disiasiakan hidupnya sampai saat suaminya, ayah Risang itu terbunuh. Dendamnya telah membakar seisi dadanya sampai ke ubun-ubun. Dua kali ia pernah menyabung nyawa dalam perang tanding melawan ibu anak muda yang kini duduk dihadapannya dengan kepala tunduk, sikap yang mapan dan beralaskan unggah-ungguh yang baik, seorang prajurit yang berani dan bersikap jujur pada nuraninya dalam tugasnya.

“Kenapa anak itu tidak datang dengan bertolak pinggang? “ Iswari menggeram didalam hati, “kenapa ia tidak menantang Risang di medan? Kenapa ia tidak berteriak-teriak agar Tanah Perdikan diserahkan kepadanya? Jika demikian persoalannya akan jelas. Risang akan bersikap sebagai seorang laki-laki menghadapinya. Apapun yang terjadi. Kalah atau menang dapat terjadi kemudian. Tetapi anak itu datang sambil mengangguk hormat. Ia datang sebagai anak yang baik.”

Demikian tajamnya gejolak didalam dada Iswari sebagai seorang perempuan, maka gagallah usahanya untuk membendung air matanya. Tiba-tiba saja Iswari menangis. Kedua telapak tangannya telah menutupi wajahnya yang menunduk. Namun ia tidak dapat menyembunyikan isaknya.

Ki Tumenggung Jaladara benar-benar menjadi bingung. Persoalan yang dihadapinya tiba-tiba saja telah bergeser kearah yang tidak diketahuinya. Karena itu, maka yang terbaik baginya kemudian adalah berdiam diri.

“Ibu,“ desis Risang, “kita memang dihadapkan pada satu kenyataan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.”

Iswari mengangguk kecil. Perlahan-lahan isaknyapun mereda. Sementara itu Sambi Wulung berkata, “Maaf Nyai. Mungkin kenyataan ini telah menggetarkan perasaan Nyai. Tetapi aku kira lebih baik semuanya ini kita sadari sekarang.”

Iswari mengangguk kecil. Disela-sela isaknya Iswari itu bertanya, “Apakah Ki Lurah sudah tahu bahwa dua kali aku pernah berperang tanding dengan ibumu?”

“Telah tersirat dalam kata-kata guru dan bahkan orang tuaku sendiri. Jelas atau tidak jelas,“ jawab Kasadha.

“Jadi Ki Lurah sadar apa yang Ki Lurah lakukan atas Tanah Perdikan ini?“ bertanya Iswari.

“Aku sadar sepenuhnya Nyai. Aku tidak akan menyembunyikan sikap orang yang selama ini menyebut dirinya ayahku, bahwa Puguh masih harus mengambil Tanah Perdikan ini dari tangan Risang. Sampai saat terakhir hal itu masih dibisikkan ditelingaku. Tetapi sudah aku katakan, Puguh sudah mati. Ki Lurah Penatus Kasadha tidak akan melakukan hal itu bagi kepentingan pribadinya. Atau lebih buruk lagi memanfaatkan keadaan untuk kepentingan diri sendiri,“ jawab Kasadha.

“Tetapi ibumu bagiku bagaikan hantu perempuan yang telah membayangi hidupku, bahkan sempat menghancurkan keluargaku,“ berkata Iswari.

“Apakah Nyai akan membebankan kesalahan itu di pundakku?“ bertanya Kasadha.

Isak Iswari justru mengeras. Tetapi ia menjawab terbata-bata, “Tidak. Ki Lurah Kasadha tidak seharusnya menerima beban kesalahan ibunya. Kau terlalu baik untuk menjadi anak Warsi yang mempunyai kaitan langsung dengan kelompok yang disebut Kalamerta. Baik langkah-langkah yang diambilnya, maupun ilmunya.”

“Terima kasih Nyai, jika Nyai tidak menyangkutkan aku, seorang prajurit Pajang yang mengemban tugas dengan beban kesalahan yang harus dipikul oleh Puguh,“ jawab Kasadha.

Iswari mengangkat wajahnya. Tiba-tiba saja meluncur dari bibirnya, “Ki Lurah Kasadha, kau telah berhasil menembus dinding kegelapan yang membelenggu. Hanya orang-orang yang berpribadi kuat sajalah yang mampu melakukannya.”

“Guruku mempunyai sikap yang berbeda dengan ibu dan orang yang mengaku sebagai ayahku. Sikap ibuku yang terlalu keras dan kasar, serta kebencian laki-laki yang mengaku ayahku itu kepadaku, ternyata telah menyelamatkan jalan hidupku dari kuasa kegelapan itu, karena aku merasa menjadi jauh dari mereka,“ berkata Kasadha.

“Ibu,“ berkata Risang sambil bergeser mendekati ibunya, “aku sependapat dengan ibu.”

“Terima kasih,“ berkata Kasadha dengan suara sendat, “aku telah menemukan sinar yang membuat hatiku semakin terang.”

“Mudah-mudahan besok kita tidak, bertemu di medan Kasadha,“ suara Risang lembut.

“Aku tetap pada sikapku. Aku tidak akan berada di induk pasukan. Bukankah kau sebagaimana dalam pertempuran sebelumnya akan berada di induk pasukan?“ bertanya Kasadha.

“Ya,“ jawab Risang.

“Baiklah Risang. Aku minta diri. Mudah-mudahan aku berhasil berdiri diatas sikap seorang prajurit Pajang. Meskipun prajurit Pajang yang kurang baik, karena sikapku berbeda dengan sikap Ki Rangga Larasgati serta Ki Tumenggung Bandapati,“ berkata Kasadha kemudian.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun minta diri kepada Nyai Wiradana, “Aku mohon diri Nyai. Aku mohon maaf bahwa aku telah menimbulkan persoalan didalam diri Nyai. Aku tidak tahu, apakah yang aku lakukan ini sesuai dengan keinginan yang sebenarnya tersimpan didalam hatiku. Tetapi aku mengucapkan terima kasih atas kebaikan keluarga di Tanah Perdikan ini. Dendam yang begitu cepat dapat disingkirkan, sementara dendam dipihak lain bagaikan semakin menyala.” Lalu katanya kepada Risang, “berbahagialah kau Risang. Kau dilahirkan oleh seorang ibu yang baik, yang berjiwa besar dan berhati seluas lautan dengan kesabarannya yang mengagumkan.”

“Sudahlah,“ potong Iswari yang masih terisak.

“Nyai masih juga memberi kesempatan ibuku untuk tetap hidup meskipun dalam perang tanding Nyai dapat membunuhnya,“ berkata Kasadha.

“Jika kau ingin melupakan masa lalumu dengan membunuh Puguh dan melahirkan sosok pribadi yang baru, lupakan semuanya itu Ki Lurah,“ berkata Iswari kemudian.

“Aku akan melupakannya Nyai. Tetapi perkenankan bahwa aku ingin memberi peringatan kepada keluarga di Tanah Perdikan ini, bahwa laki-laki yang mengaku ayahku dan hidup bersama ibuku itu masih mengancam ketenangan hidup keluarga Tanah Perdikan ini disamping sikap Pajang,“ berkata Kasadha.

Iswari mengangguk kecil. Katanya, “Aku berterima kasih atas peringatanmu itu.”

Demikianlah, maka Kasadhapun telah mohon diri dengan kesan tersendiri didalam hatinya. Diantar oleh dua orang pengawal Tanah Perdikan Kasadha telah dilepas di perbatasan.

Kasadhapun kemudian telah berjalan dalam kegelapan menuju ke perkemahan prajuritnya. Ternyata semua prajuritnya telah beristirahat, selain mereka yag bertugas. Seorang diantara kedua orang pemimpin kelompok yang dibawanya menghadap Ki Rangga Larasgati masih menunggunya.

“Kau belum beristirahat?“ bertanya Kasadha.

“Aku menunggu Ki Lurah,“ jawab pemimpin kelompok itu.

“Kenapa kau menunggu aku?“ bertanya Kasadha pula.

“Suasana Tanah Perdikan ini agak berbeda dengan Gemantar. Aku mencemaskan Ki Lurah.”

Ki Lurah Kasadha telah memaksa diri untuk tersenyum. Katanya dengan nada lemah, “Tidak. Tanah Perdikan ini sama saja dengan Tanah Perdikan Gemantar. Keras dan tegar pada sikapnya, menentang kekuasaan Pajang yang telah disalah gunakan.”

“Dan kita menjadi salah satu alat untuk memaksakan kuasa yang disalah gunakan ki Lurah?“ bertanya pemimpin kelompok itu.

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Sementara pemimpin kelompok itu berdesis, “Jika kita mati besok, maka kematian itu sama sekali tidak berarti bagi Pajang.”

Ki Lurah Kasadha telah menundukkan kepalanya. Namun iapun kemudian berdesis, “Kita adalah prajurit yang tunduk kepada perintah. Tetapi segala sesuatunya masih akan dapat diluruskan. Sementara ini kita memang harus ikut menjaga wibawa Pajang, sehingga pada saatnya semuanya diletakkan kembali pada yang seharusnya, Pajang tidak kehilangan kewibawaannya.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk kecil. Desisnya, “kita memang harus mencari pegangan bagi langkah sekarang ini.”

Ki Lurah Kasadha tertawa. Pemimpin kelompok yang mendengar suara tertawa itu terkejut. Namun kemudian ia menyadari bahwa Ki Lurah Kasadha tertawa justru untuk mengurangi sakit yang menyengat jantungnya.

Pemimpin kelompok itu tidak bertanya apa-apa lagi. Ia tahu, bahwa pertanyaan-pertanyaannya akan dapat membuat hati Kasadha menjadi semakin tersiksa.

Apalagi jika pemimpin kelompok itu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam gejolak perasaan Lurah Penatusnya. Jika saja ia tahu hubungan keluarga antara Risang, panglima pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang juga anak Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu dengan Kasadha sendiri.

“Sudahlah. Tidurlah,“ berkata Kasadha kepada pemimpin kelompoknya itu.

“Ki Lurah juga harus beristirahat,“ berkata pemimpin kelompok itu.

“Ya. Aku juga akan tidur,“ sahut Kasadha.

Kasadha memang pergi ke tempat yang telah disediakan baginya. Tetapi hampir diluar sadarnya Kasadha telah melangkah meninggalkan tempat itu dan berjalan diantara prajurit-prajuritnya yang tidur lelap. Ketika ia duduk diatas sebongkah batu padas, maka terasa debar jantungnya bergetar lebih cepat. Dilangit dilihatnya bulan yang tidak bulati mulai tumbuh dilangit di jauh malam.

Cepat-cepat Kasadha meninggalkan tempatnya dan kembali ke perkemahannya, berbaring dibawah atap anyaman ilalang yang dibuat baginya. Bulan ternyata telah memberikan kesan tersendiri baginya. Apalagi ketika terdengar aum serigala di kejauhan.

Kasadha menutup telinga sambil memejamkan matanya. Ia mencoba untuk dapat tidur. Tetapi dadanya justru terasa bergejolak semakin cepat.

Di padukuhan pertama dalam lingkungan batas Tanah Perdikan Sembojan, Iswari benar-benar tidak dapat menahan dirinya. Sifat-sifatnya sebagai perempuan telah benar-benar bergejolak. Karena itu, maka iapun dengan tergesa-gesa telah masuk kedalam bilik di banjar padukuhan itu dan menangis sejadi-jadinya.

“Panggil Bibi,“ Risang telah memerintahkan seorang pengawal untuk pergi ke padukuhan tempat Bibi dan perempuan-perempuan menyiapkan makan dan minum bagi para pengawal.

Ki Tumenggung Jaladara yang kebingungan telah bertanya kepada Sambi Wulung perlahan-lahan setelah ia minta Sambi Wulung bergeser mendekatinya.

“Satu ceritera yang panjang Ki Tumenggung,“ berkata Sambi Wulung.

Namun Sambi Wulungpun kemudian dengan singkat telah menceriterakan hubungan antara Nyi Wiradana, Risang dan Kasadha.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Meskipun belum jelas benar, tetapi ia sudah dapat membayangkan hubungan itu.

Ketika Bibi datang, maka Risangpun telah membawanya kepada ibunya dan seakan-akan telah kehilangan pegangan. Sikapnya bagaikan menjadi kabur dan bimbang.

Risanglah yang memberitahukan kepada Bibi, bahwa Ki Lurah Kasadha telah datang. Ia telah bersikap baik kepada Tanah Perdikan ini. Bahkan telah menyisihkan kepentingan pribadinya sehingga ia telah menunjukkan bahwa ia bukan lagi Puguh menurut gambaran mereka. Karena Ki Lurah Kasadha itu adalah Puguh itu sendiri.

Bibi menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah orang yang mendapat tugas untuk menyelesaikan seorang perempuan yang sedang mengandung pada waktu itu. Ia adalah orang yang pada saatnya adalah seorang yang liar dan buas sebuas serigala sehingga ia telah disebut sebagai Serigala Betina.

Tetapi ketika sekilas cahaya terang memancar diliatinya, sehingga ia gagal membunuh perempuan yang sedang mengandung itu, maka rasa-rasanya perempuan yang mengandung, yang akan dibunuhnya itu telah menjadi saudara kandungnya. Anak yang kemudian lahir dari perempuan itu rasa-rasanya seperti anaknya sendiri.

Karena itu, maka apa yang dirasakan oleh Iswari terasa pula didalam jantung Bibi. Seperti Iswari ia merasakan tekanan dihatinya, justru karena Kasadha yang tidak lain adalah Puguh itu sendiri datang dengan sikap yang baik, sehingga para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan tidak dapat menghadapinya dengan sikap yang keras pula.

Namun dalam keadaan yang demikian, maka Bibi itu telah mencoba untuk menangkap kembali sinar terang didalam hatinya. Ia mencoba mengerti dan memahami sikap Iswari untuk diangkat menjadi sikapnya pula. Bahkan ia sempat berkata, “Sudahlah Nyai. Kita wajib bersukur bahwa orang yang selama ini kita cemaskan akan datang dengan dendam yang membara dihatinya, telah datang dengan niat yang lain.”

“Ya bibi,“ desis Iswari disela-sela isaknya, “aku menyesal kenapa selama ini aku telah menanggung beban didalam hati. Mendendam anak yang ternyata adalah anak yang baik.”

“Dendam Nyai tidak kepada Puguh. Tetapi kepada ibunya. Jika anak itu memang datang dengan niat yang baik, maka kita akan menerimanya dengan baik pula. Bahkan seandainya orang yang kita anggap bersalah terhadap kita namun kemudian menyadari kesalahannya, maka kita akan memaafkannya. Aku adalah orang yang selama hidupku, terutama dimasa mudaku, bergelimang dengan dosa. Aku berharap bahwa dosa-dosa itu akan dapat diampuni pula,“ berkata Bibi.

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “aku mengerti Bibi.”

“Tetapi bagaimana dengan persoalan antara Pajang dengan Jipang?”

Iswari mengusap matanya. Persoalan itu ternyata telah menggugah jiwanya sebagai seorang Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

“Kita akan bertempur besok Bibi,“ jawab Iswari.

“Jadi?“ bertanya Bibi, “Kita harus mempersiapkan segala-galanya?”

“Ya. Kasadha, Lurah Penatus itu sudah berusaha memberikan pendapatnya yang barangkali juga baik bagi Tanah Perdikan ini. Tetapi dengan demikian kami akan kehilangan harga diri kita.”

“Risang telah berceritera serba sedikit,“ berkata Bibi.

“Karena itu, maka besok kita akan bertempur,“ berkata Iswari.

“Jika demikian, maka sebaiknya Nyai beristirahat sekarang. Lewatkan semua beban perasaan, agar tubuh Nyai besok menjadi segar, sehingga Nyai akan mendapatkan kekuatan dan kemampuan Nyai sepenuhnya,“ berkata Bibi kemudian, lalu, “aku akan kembali ke padukuhan sebelah.”

Iswari mengangguk-angguk. Katanya, “Silahkan Bibi. Tetapi kaupun harus beristirahat pula.”

Ketika Bibi kemudian meninggalkan banjar padukuhan itu, ia melihat Gandar sedang berbicara dengan Sambi Wulung dan Jati Wulung. Nampaknya mereka berbicara dengan sungguh-sungguh.

Bibipun kemudian mendekatinya sambil bertanya, “Dimana Risang?”

“Bersama Ki Tumenggung Jaladara,“ jawab Sambi Wulung, “dua orang penghubung dari Jipang telah melaporkan, bahwa pasukan Jipang berada di padukuhan induk.”

“O,“ Bibi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kami telah menyediakan makan dan minum bagi mereka. Tentu sudah ada yang mengambil ke dapur. Kami sudah menyediakan dua pedati untuk membawa rangsum itu. Tetapi aku akan segera ke dapur.”

Dalam pada itu, ternyata Risang dan Ki Tumenggung Jaladara memutuskan untuk pergi ke padukuhan induk.. Bersama Gandar mereka bertiga berpacu dipunggung kuda melintasi bulak yang agak panjang menuju ke padukuhan induk.

Sebenarnyalah telah berada di banjar padukuhan induk, sepasukan prajurit Jipang. Ketika mereka melihat Ki Tumenggung Jaladara datang, maka pemimpin pasukan itupun segera menghadap dan memberikan laporan tentang kedatangannya.

“Baiklah. Kalian akan beristirahat disini. Besok menjelang fajar kalian akan berangkat ke perbatasan untuk menghadapi prajurit Pajang yang telah datang lebih dahulu. Mereka sempat beristirahat lebih panjang dari kalian. Tetapi aku harap bahwa besok di medan kalian tidak mengecewakan,“ berkata Ki Tumenggung Jaladara.

Sementara itu, makanan dan minuman telah datang sebanyak dua pedati. Ki Tumenggung memerintahkan agar mereka segera makan dan minum setelah mencuci tubuh mereka. Terutama kaki dan tangan.

“Makanlah agar kalian dapat segera beristirahat secukupnya,“ berkata Ki Tumenggung.

Pasukan yang letih itupun segera makan dan minum. Merekapun kemudian telah menebar, beristirahat dimana-pun mereka menjatuhkan dirinya.

“Semuanya dapat beristirahat,“ berkata Ki Tumenggung Jaladara. “Percayakan pengawasan lingkungan ini kepada para pengawal Tanah Perdikan, kecuali pengawasan khusus didalam halaman banjar padukuhan induk ini. Sehingga dengan demikian tenaga yang kita perlukan malam ini tidak terlalu banyak.”

Setelah memberikan beberapa petunjuk dan memperkenalkan Risang sebagai pimpinan tertinggi pasukan pengawal di Tanah Perdikan Sembojan, maka Ki Tumenggungpun telah minta diri untuk kembali ke padukuhan pertama.

Risang yang juga kembali bersama Ki Tumenggung telah meninggalkan Gandar di induk padukuhan agar esok menjelang fajar membawa pasukan itu ke garis pertahanan pertama.

Malam itu, kedua belah pihak yang bersiap-siap untuk bertempur telah beristirahat sebanyak mungkin dapat mereka lakukan. Namun seperti juga Kasadha, maka Risang dan Nyai Wiradana hampir tidak dapat tidur sekejappun. Bahkan demikian pula Gandar dan para pemimpin yang lain.

Ketika Risang kemudian memberikan laporan kepada ibunya, bahwa ia telah pergi ke padukuhan induk untuk menerima kedatangan pasukan dari Jipang, ibunya telah bertanya pula, “Apakah kau berbicara dengan kakek dan nenekmu?”

Risang menggeleng. Katanya, “Tidak ibu. Aku tidak sempat menemui kakek dan nenek.”

Iswari mengangguk kecil. Katanya, “Sudahlah, tidak mengapa. Besok kita minta seorang penghubung untuk memberikan laporan tentang kehadiran pasukan Pajang dan kemudian pasukan Jipang.”

“Kakek dan nenek tentu sudah tahu akan kedatangan prajurit Jipang itu,“ sahut Risang.

Iswari mengangguk-angguk pula. Lalu katanya, “Sudahlah beristirahatlah. Mungkin sulit bagimu untuk dapat tidur barang sekejappun. Tetapi kau memerlukan istirahat itu.”

Risangpun kemudian telah meninggalkan ibunya. Ia memang mencoba untuk memejamkan matanya di serambi banjar padukuhan itu. Meskipun ia tidak dapat tidur nyenyak, tetapi Risang ternyata sempat beristirahat barang sejenak.

Menjelang dini hari, maka semuanya telah bangun. Prajurit Pajang telah bersiap-siap untuk mengambil ancang-ancang. Pasukan Pajang yang telah bertambah dengan pasukan Ki Lurah Kasadha merasa bahwa mereka akan segera dapat memecahkan pertahanan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Namun dalam pada itu, sebelum pasukan Kasadha bergabung, Kasadha sempat mengumpulkan pasukannya dan memberitahukan kepada para prajuritnya, “Kita menyesal, bahwa di Tanah Perdikan ini kita harus bertempur dengan orang yang telah kita kenal dengan sangat baik. Orang yang pernah berada didalam pasukan ini.”

Para prajurit Pajang itu saling berpandangan. Mereka saling bertanya yang satu dengan yang lain.

Namun Kasadha kemudian menegaskan, “Orang itu adalah Barata. Ternyata Barata yang kita kenal dengan baik sebagai prajurit terbaik dalam pasukan ini adalah putera Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini. Baratalah yang kini memegang pimpinan tertinggi pasukan pengawal Tanah Perdikan ini. Tetapi Barata ternyata bukan orang yang memiliki ilmu tertinggi disini. Ibunya. Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu yang tingginya sampai menggapai langit. Tetapi kalian tidak usah menjadi cemas. Itu adalah tugas Ki Rangga Larasgati.”

Prajurit-prajurit Pajang dibawah pimpinan Kasadha itu memang menjadi tegang. Bagaimana mungkin mereka akan berhadapan dengan Barata. Satu-satunya orang yang memiliki kemampuan setinggi Barata adalah Kasadha itu sendiri. Tetapi apakah mungkin Kasadha akan bertempur menghadapi Barata. Keduanya didalam pasukan mereka dikenal sebagai dua orang yang selalu bekerja bersama. Saling menolong dan keduanya sering melakukan tugas-tugas berat bersama-sama. Bahkan Ki Lurah Dipayuda dan juga beberapa orang yang lain menganggap keduanya bagaikan bersaudara. Wajah keduanyapun mirip sekali seperti kakak beradik.

Tetapi Kasadhapun kemudian berkata, “Namun bagaimanapun juga, kita tidak dapat ingkar dari kenyataan ini. Kita adalah prajurit Pajang yang mendapat perintah untuk melakukan satu tugas betapapun tugas itu terasa sangat berat. Bukan bagi wadag kita, Wadag seorang prajurit. Tetapi berat bagi hati kita. Bahkan beban yang hampir tidak terangkat.”

Para prajurit itu mengangguk-angguk kecil. Memang suasananya agak berbeda dengan saat-saat yang lain jika mereka terjun di peperangan. Kasadha tidak berbicara untuk memanaskan darah mereka sehingga jika saatnya mereka turun ke medan, tangan mereka akan segera mengayunkan api yang menyala didalam dada mereka. Sehingga dengan demikian, maka rasa-rasanya darah mereka tetap dingin sebagaimana dinginnya dini hari meskipun mereka sudah siap untuk turun ke medan.

Namun sejenak kemudian Kasadha telah membawa pasukannya untuk bergabung dengan pasukan Ki Rangga Larasgati. Pasukan Kasadha yang sepuluh kelompok itu telah dibagi menjadi tiga. Tiga kelompok disayap kanan, tiga kelompok di sayap kiri dan empat kelompok akan berada di induk pasukan. Tetapi Kasadha telah bertekad untuk tidak berada di induk pasukan.

Demikianlah, maka mendekati fajar, pasukan Pajang telah siap seluruhnya. Mereka telah selesai makan dan minum sepuasnya-puasnya.Mereka tinggal menyiapkan diri serta memusatkan nalar budi mereka untuk memasuki medan perang yang menurut perhitungan mereka tidak akan begitu berat lagi setelah kedatangan pasukan Ki Lurah Kasadha, meskipun mereka juga memperhitungkan bahwa pasukan Tanah Perdikan Sembojan tentu juga akan memperkuat diri. Tetapi prajurit Pajang, terutama pasukan yang dibawa oleh Ki Rangga Larasgati yakin, bahwa mereka tentu akan dapat memasuki padukuhan induk pada hari itu.

Tetapi diluar pengamatan orang-orang Pajang karena pasukan pengawal Tanah Perdikan yang menebar melindungi daerah pengawasan lintasan pasukan Jipang, maka prajurit Jipang itupun telah memasuki padukuhan yang menjadi alas pertahanan pertama pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang menghadap keperbatasan.

Ketika fajar menjadi semakin merah-maka di kejauhan telah terdengar suara bende yang pertama dibunyikan oleh prajurit Pajang. Sementara itu, Risang telah memerintahkan kepada seluruh pasukan yang ada, termasuk para prajurit Jipang untuk menyesuaikan diri dengan isyarat yang justru dibunyikan oleh pasukan Pajang.

Beberapa saat kemudian, setelah seluruh pasukan berada di tempat masing-masing sebagaimana ditentukan, telah terdengar isyarat bunyi bende yang kedua. Seluruh pasukanpun telah bersiap. Seperti prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha yang masih segar, maka para prajurit Jipangpun telah menebar merata di seluruh lapisan gelar.

Kesempatan terakhir untuk memeriksa kesiagaan diri sendiri. Senjata serta kelengkapan yang lain. Sebelum bende yang ketiga berbunyi.

Bagaimanapun juga para prajurit dan pengawal yang memasuki medan itupun menjadi berdebar-debar. Mereka menghadapi kemungkinan untuk tidak dapat keluar lagi dari arena garis perang kareiaa jantung mereka tertembus ujung pedang.

Tetapi satu perintah terakhir telah terdengar. Bunyi bende untuk yang ketiga kalinya. Risang yang menyesuaikan diri dengan isyarat pasukan Pajang yang terdengar lamat-lamat dikejauhan itu, telah meneriakkan aba-aba yang disahut oleh para pemimpin di pasukannya. Kemudian para pemimpin kelompokpun telah menyahut aba-aba itu, sehingga sejenak kemudian telah terdengar gegap gempita di dalam pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Ketika kemudian mereka bergerak maju, maka yang meneriakkan aba-aba mengulang perintah Risang, bukannya hanya pemimpin kelompok saja, tetapi juga para pengawal Tanah Perdikan.

Sementara itu, langit menjadi terang. Cahaya fajar telah menjadi semakin menguning.

Menjelang matahari terbit, kedua belah pihak telah menjadi semakin dekat. Ternyata prajurit Pajanglah yang kemudian lebih dahulu sampai ke perbatasan.

Demikian mereka melintas, maka Risang telah memberikan isyarat kepada pasukannya untuk berlari menyongsong mereka.

Ki Rangga Larasgati melihat sesuatu yang tidak diperkirakan lebih dahulu. Ternyata pasukan pengawal Tanah Perdikan itu menjadi semakin banyak. Lebih banyak dari pasukan pengawal yang dihadapi sebelumnya.

Ketika langit menjadi semakin cerah, serta kedudukan kedua pasukan itu semakin dekat, maka Ki Rangga Larasgati telah mengumpat. Ternyata ia melihat bukan saja para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang menghadapi pasukannya, tetapi juga para prajurit Jipang.

“Setan,“ geramnya, “Tumenggung Jaladara ternyata sangat licik. Ia mencampuri persoalan yang timbul didalam lingkungan rumah tangga Pajang.”

Ternyata kemarahan Ki Rangga Larasgati tidak hanya bergejolak didalam dadanya. Tetapi Ki Rangga telah berteriak nyaring, “Kita ternyata telah berhadapan dengan orang-orang yang licik. Beberapa orang prajurit Jipang telah bergabung dengan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Jangan gentar. Kita akan menghancurkan mereka.”

Para prajurit Pajang memang melihat ditilik dari pakaian mereka, beberapa orang prajurit Jipang berada di pasukan Tanah Perdikan Sembojan tanpa mereka ketahui sebelumnya. Jika hal itu diketahuinya, maka Ki Rangga tentu akan membuat perhitungan-perhitungan lain. Tetapi kini mereka telah berada di arena Pertempuran.

Kasadha juga melihat prajurit Jipang yang lada di pasukan Tanah Perdikan. Tiba-tiba saja Kasadha merasa, bahwa ia akan mendapat tempat untuk menumpahkan gejolak didalam jantungnya. Jika ia merasa sulit untuk bertempur melawan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang mempertahankan haknya, maka ia kemudian telah berhadapan pula dengan orang-orang Jipang yang telah melanggar hak dan wewenang Pajang.

Kasadha menggeretakkan giginya. Ia mulai terbakar ketika ia merasa berhadapan dengan prajurit Jipang yang melibatkan diri dalam persoalan yang bukan wewenangnya.

Karena itu, maka Kasadha yang semula darahnya terasa dingin disaat ia berangkat memasuki arena, telah menjadi hangat karena kehadiran orang-orang Jipang.

Ki Tumenggung Jaladara sendiri ternyata tidak ikut turun ke medan. Bersama Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan Ki Tumenggung berdiri di pintu gerbang padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu. Bibi yang telah menyelesaikan tugasnya di dapur telah memberikan pesan-pesan kepada beberapa orang yang masih sibuk mengemasi peralatan, mencuci mangkuk dan menyiapkan makan untuk saat makan berikutnya. Jika pertempuran itu tidak dapat diselesaikan dengan cepat, maka menjelang gelap, kedua belah pihak akan menarik pasukan masing-masing. Sementara itu Bibi telah berada didekat Nyi Wiradana. Ia siap melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Nyi Wiradana itu.

Sementara itu, ketika matahari muncul di cakrawala, maka kedua pasukan itupun telah mulai berbenturan di belakang perbatasan, sehingga dengan demikian maka pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu tetap berada didalam lingkungannya sendiri.

Pertempuranpun segera berkobar dengan sengitnya. Para pengawal Tanah Perdikan Sembojan yang telah sempat beristirahat, serta merasa mendapat dukungan dari para prajurit Jipang, telah bertempur dengan garangnya. Sementara itu para prajurit Pajangpun telah mengimbangi kegarangan mereka pula. Sementara itu, para prajurit yang datang bersama Ki Lurah Kasadha, meskipun tidak mendapat perintah langsung, tetapi seakan-akan mereka telah menyesuaikan sikap mereka. Yang menjadi sasaran mereka terutama adalah para prajurit Jipang yang ada didalam pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Diinduk pasukan, Ki Rangga Larasgati seakan-akan telah berjanji untuk bertemu dengan Risang. Demikian kedua pasukan itu berbenturan, maka Risangpun telah berhadapan dengan Ki Rangga.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Ia memang berniat untuk meneruskan pertempurannya dengan Ki Rangga itu. Apalagi Risang telah menjadi gelisah, karena di pasukan lawan terdapat seorang dikenalnya dengan sangat akrab. Ki Lurah Kasadha. Jika ia langsung bertemu dengan orang lain, maka ia tidak akan sempat berhadapan dengan Kasadha.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, maka sekilas Barata melihat orang-orang yang pernah dikenalnya. Orang-orang yang berasal dari pasukan Ki Lurah Kasadha. Namun Barata berusaha untuk menyingkirkan perasaannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat mereka atau merasa belum pernah melihat sebelumnya.

Apalagi setelah Ki Rangga yang marah itu mengerahkan segenap tenaganya, sehingga dengan demikian maka perhatian Risang sepenuhnya tertuju kepada Ki Rangga Larasgati.

Namun demikian, terhadap Risang yang dikenal oleh para prajurit Pajang dibawah pimpinan Kasadha itu sebagai Barata, justru para prajurit itulah yang masih saja memperhatikannya. Mereka masih saja merasa kagum akan kemampuannya. Meskipun Risang berhadapan, dengan Ki Rangga Larasgati yang dikenal memiliki ilmu yang tinggi, namun Risang sama sekali tidak terdesak. Anak muda itu justru mampu mengimbangi ilmu Ki Rangga Larasgati yang banyak dibicarakan orang.

Namun para prajurit Pajang itupun kemudian harus memperhatikan lawan-lawan mereka. Terutama prajurit Jipang. Agaknya permusuhan antara Pajang dan Jipang masih saja membayangi kedua belah pihak, meskipun pimpinan pemerintahan di tempat mereka masing-masing sudah berganti. Karena itu, maka pertempuran antara para prajurit Pajang dan Jipang menjadi sangat seru. Prajurit Pajang dibawah pimpinan Ki Lurah Kasadha adalah prajurit pilihan. Mereka memiliki ketrampilan dan ketahanan tubuh yang terlatih dengan baik. Senjata ditangan mereka seakan-akan merupakan bagian dari anggauta tubuhnya.

Sementara itu, orang-orang Jipang adalah orang yang berani dan keras hati. Mereka tidak pernah tergetar menyaksikan betapapun tinggi kemampuan lawan. Karena sebenarnyalah bahwa prajurit Jipang memang sudah ditempa oleh keadaan.

Demikianlah maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa seratus orang prajurit dibawah pimpinan Ki Lurah Kasadha itu benar-benar prajurit pilihan. Menghadapi para prajurit dari Jipang mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka.

Tetapi tidak mudah mendesak prajurit-prajurit Jipang yang jumlahnya memang sedikit lebih banyak dari pasukan Pajang. Meskipun kedua belah pihak tersebar dari ujung sayap sampai keujung sayap yang lain, namun rasa-rasanya para prajurit yang dibawa oleh Ki Lurah Kasadha telah memilih lawan.

Agak berbeda adalah prajurit Jipang sendiri. Mereka menghadapi lawan tanpa memilih apakah prajurit Pajang itu adalah prajurit dibawah pimpinan langsung Ki Rangga Larasgati atau prajurit yang dibawa oleh Ki Lurah Kasadha. Bagi prajurit Jipang semuanya adalah lawan yang harus mereka hadapi.

Sementara itu para pengawal Tanah Perdikanpun menjadi semakin garang pula. Merekapun merasa mendapat kawan bertempur yang dapat diandalkan. Bagi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan, kehadiran para prajurit Jipang itu benar-benar merupakan imbangan dari kedatangan prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha itu, sehingga dengan demikian maka para pengawal Tanah Perdikan itu merasa bahwa tugas mereka tidak akan menjadi bertambah berat.

Dalam pada itu, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan melihat bagaimana Risang yang muda itu mampu mengimbangi tingkat ilmu Ki Rangga Larasgati dengan hati yang bangga. Mereka berharap bahwa pada suatu saat Risang akan dapat menguasai ilmu sebagaimana ibunya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung seperti pertempuran yang terdahulu telah berada di sayap pasukan. Tetapi baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung telah menghindari pula pertempuran dengan Kasadha. Lurah Penatus yang masih muda itu. Sementara Kasadha sendiri akan merasa, jika di pertempuran itu ia bertemu dengan salah seorang dari kedu orang yang dikenalnya di Song Lawa itu, maka berakhirlah sudah pengabdian yang dapat diberikannya kepada Pajang, karena Kasadha tahu pasti bahwa kedua orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi.

Tetapi beruntunglah, bahwa Sambi Wulung maupun Jati Wulung akan selalu menghindar jika mereka bertemu dengan Kasadha.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung memang bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung. Mereka tidak menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak terkalahkan di medan pertempuran itu. Meskipun lawan-lawan mereka menyadari bahwa kedua orang yang berada di ujung sayap yang saling berjauhan itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, tetapi mereka harus menghadapinya. Para prajurit Pajang telah menyusun kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi kedua orang pemimpin Tanah Perdikan yang berada diujung-ujung gelar.

Di induk pasukan, tidak jauh dari Risang, Gandar bertempur dengan garangnya pula. Tetapi seperti Sambi Wulung dan Jati Wulung Gandar tidak bertindak dengan sesuka hatinya. Ia tidak membunuh saja setiap orang yang mendekatinya. Tetapi Gandar memang berusaha untuk mendorong lawan-lawan mereka surut dan berpikir untuk kedua kalinya jika ia akan datang kembali menghadapinya.

Untuk mengatasinya, maka Gandar memang harus menghadapi sekelompok prajurit dibawah pimpin seorang pemimpin kelompok yang tangkas. Namun bagaimanapun juga, Gandar tetap merupakan hantu bagi para prajurit Pajang.

Bibi saat itu masih belum turun ke medan. Ia masih sibuk memberikan pesan dan petunjuk kepada perempuan-perempuan yang sedang masak bagi para pengawal dan prajurit Jipang yang ada di Tanah Perdikan Sembojan.

Bibi yang diijinkan kembali ke dapur oleh Iswari, telah memberikan petunjuk bukan saja bagaimana perempuan-perempuan itu menyiapkan makan dan minum para prajurit. Tetapi perempuan-perempuan itu harus dapat menyelamatkan diri sendiri jika prajurit Pajang sampai ke tempat mereka.

Namun agaknya dua orang petugas sandi Pajang dapat mengetahui bahwa yang berada didapur hanyalah perempuan-perempuan saja. Karena itu, tanpa perintah dari siapapun, dua orang petugas sandi itu telah membawa dua orang kawannya yang lain untuk mengacaukan perbekalan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.

“Kita harus dapat menghancurkan alat-alat mereka,“ berkata salah seorang dari keempat orang itu.

“Sudah tentu. Dan membakar simpanan bahan-bahan makanan yang ada,“ jawab kawannya.

“Salah satu cara yang baik,“ berkata yang lain lagi, “dengan tanpa bekal yang cukup, mereka tidak akan dapat bertahan terlalu lama.”

“Tetapi apakah mereka tidak akan berusaha untuk membalas dengan merusakkan peralatan dan barang-barang kita?“ bertanya orang yang memang pada dasarnya pendiam, sehingga jarang sekali ia ikut dalam pembicaraan apapun.

Yang tertua diantara mereka berkata, “Di dapur kita, terdapat banyak laki-laki yang dapat mempertahankan barang-barang itu. Sementara yang ada di padukuhan sebelah hanya orang-orang perempuan saja. Aku sendiri telah sampaikepadukuhan itu. Yang ada didapur tidak lebih dari perempuan-perempuan saja. Tanah Perdikan ini telah mengerahkan semua laki-laki maju ke medan pertempuran.”

“Orang-orang Tanah Perdikan ini memang bodoh,“ berkata seorang diantara mereka, “tetapi jika hari ini pasukan kita menembus sampai ke padukuhan induk, maka kerja kita tidak akan ada artinya.”

“Tetapi siapa tahu bahwa padukuhan itu adalah satu-satunya tempat untuk menyiapkan makanan dan minum para pengawal dan prajurit. Seandainya para prajurit Pajang hari ini mampu mencapai padukuhan induk, maka orang-orang yang ada dipadukuhan itu akan diselamatkan. Mereka akan mengungsi dan para pengawal harus menyusun pertahanan baru. Tetapi perbekalan mereka ternyata telah habis,“ berkata yang tertua diantara mereka.

“Bagus,“ desis yang lain, “jika benar yang ada di dapur itu adalah perempuan-perempuan, tentu ada satu dua diantara mereka yang cantik. Bukankah dibenarkan jika pihak yang menang merampas harta benda dan perempuan dari daerah dikalahkan?”

“Jangan merasa menang lebih dahulu,“ sahut kawannya.

“Setidak-tidaknya didapur orang-orang Sembojan.“ jawab orang itu.

Tetapi orang tertua diantara mereka memperingatkan “Tetapi ingat, mungkin ada satu atau dua orang pengawal yang berjaga-jaga ditempat itu. Jika demikian, maka pengawal-pengawal itu harus kita selesaikan lebih dahulu. Kemudian kita akan menghancurkan semua peralatan dan persediaan bahan makanan yang ada di dapur itu. Kita akan membakarnya sehingga asap akan mengepul tinggi. Jika para pengawal dan prajurit Jipang menyadari bahwa padukuhan itu terbakar, mereka tentu akan menjadi lemah, karena mereka mengerti, bahwa bahan-bahan makanan mereka telah menjadi abu. Sebaiknya jangan berpikir tentang perempuan-perempuan yang ada di dapur.”

“Apa salahnya?“ jawab orang itu.

“Kau akan dibebani oleh pikiran buruk tentang tugasmu. Tetapi terserah kepadamu jika kau merasa berhak melakukannya atas orang-orang yang akan ditundukkan oleh Pajang,“ berkata orang tertua.

Orang itu justru tertawa. Katanya, “Ki Rangga Larasgati telah mulai berbicara tentang perempuan pula. Katanya Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu adalah perempuan yang cantik meskipun umurnya sudah mendekati masa-masa senjanya.”

“Gila,“ geram orang tertua diantara mereka, “kita pergi sekarang. Tetapi sasaran kita adalah membakar rumah yang dipergunakan sebagai dapur oleh Tanah Perdikan Sembojan ini. Tentu rumah itu pula yang dijadikan lumbung dan tempat penyimpanan bahan-bahan pangan yang lain.”

Keempat orang itupun kemudian telah berusaha menyelinap dan menghilang disela-sela gerumbul-gerumbul liar. Mereka sengaja tidak memberikan laporan, karena mereka ingin membuat satu kejutan bagi para prajurit Pajang dan terutama Ki Rangga Larasgati. Ki Rangga tentu akan memuji ketangkasannya berpikir dan bertindak, sehingga meskipun hanya oleh ampat orang, tetapi akan dapat menggoyahkan seluruh sendi-sendi kekuatan Tanah Perdikan Sembojan.

Beberapa saat kemudian, mereka telah mendekati padukuhan yang dipergunakan sebagai dapur bagi para pengawal dan prajurit Jipang itu. Ternyata padukuhan itu memang sepi. Ketika mereka sampai kepintu gerbang, maka mereka memang melihat dua orang pengawal. Keduanya tidak sempat berbuat banyak. Keduanya ternyata telah lengah. Seorang diantara mereka telah tertusuk pedang didadanya, sedangkan yang lain, sabetan pisau belati panjang telah menyilang didadanya pula.

Keempat orang itu dengan hati-hati telah menelusuri jalan induk padukuhan itu. Ternyata rumah yang dipergunakan untuk dapur itu memang tidak terlalu jauh dari pintu gerbang.

Di regol halaman dua orang pengawal nampaknya juga sedang bertugas. Tanpa ragu-ragu, keempat orang itu telah menyergap mereka bersama-sama.

Tetapi kedua orang itu sempat meloncat undur, sehingga mereka segera berada di dalam regol halaman. Namun keempat orang itu segera memburunya.

Dihalaman rumah itu segera terjadi pertempuran. Dua orang pengawal melawan ampat orang prajurit Pajang. Namun orang tertua itupun berkata, “Selesaikan kedua orang itu berdua. Aku akan menyelesaikan tugas yang lain.”

Ketika kedua orang itu berlari ke rumah yang cukup besar itu kedua pengawal itu sempat berteriak sambil bertempur, “Hati-hati. Ada ampat orang menyerang kita,“ suara itu bergetar menyusup ke ruang dalam. Seorang perempuan yang kurang pasti telah menjenguk lewat pintu. Namun iapun segera menjerit ketika ia melihat pertempuran terjadi di halaman, sementara dua orang telah berlari naik kependapa.

Teriakan-teriakanpun segera terdengar. Kekacauan telah terjadi didapur. Meskipun saat itu, perempuan-perempuan yang ada didapur justru sedang beristirahat sambil mempersiapkan bahan yang akan mereka masak siang nanti.

Dalam pada itu, di medan pertempuran, para prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Lurah Kasadha tengah bertempur dengan keras melawan para prajurit dari Jipang. Sedangkan para prajurit Pajang yang lain seakan-akan harus puas menghadapi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Namun ternyata bahwa para pengawal itupun memiliki bekal yang tidak kalah dari para prajurit sebagaimana telah mereka jajagi dalam pertempuran sebelumnya.

Ki Rangga Larasgatipun sekali-sekali terdengar mengumpat. Lawannya adalah seorang yang jauh lebih muda daripadanya. Jika anak itu memiliki ilmu seimbang dengan ilmunya, maka daya tahan anak itu tentu akan lebih tinggi daripadanya.

Namun ternyata bahwa prajurit-prajurit yang dibawa oleh Kasadha adalah prajurit-prajurit yang benar-benar tangguh. Mereka secara pribadi memiliki kelebihan dari para prajurit Jipang dan para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi beberapa orang pemimpin kelompok yang langsung mendapat tempaan dari Ki Lurah Kasadha. Mereka telah menggetarkan pertahanan para prajurit Jipang.

Tetapi prajurit Jipang itupun bukannya prajurit yang baru dibentuk. Mereka adalah prajurit-prajurit yang sudah berpengalaman. Mereka termasuk prajurit yang dipilih oleh Jipang untuk ikut serta mendekati Pajang dari arah Timur, sehingga merekapuntelah bersiap bertempur melawan orang-orang Pajang.

Dengan demikian maka pertempuranpun semakin lama menjadi semakin garang dan keras. Matahari yang memanjat naik membuat orang-orang yang bertempur itu menjadi bermandikan keringat. Semakin basah tubuh mereka, maka merekapun menjadi semakin garang. Apalagi ketika korban mulai jatuh. Satu dua orang harus disingkirkan dari pertempuran.

Untuk beberapa saat garis pertempuran itu tidak berubah. Geseran-geseran kecil memang terjadi. Tetapi nampaknya kedua belah pihak hanya mampu saling mendesak. Satu pihak maju beberapa langkah. Namun kemudian terdesak kembali.

Kasadha sendiri yang mengalami gejolak didalam dadanya telah menumpahkan beban di jantungnya itu kepada para prajurit Jipang. Tetapi ketika ampat orang prajurit Jipang menghadapinya, maka Kasadha memang bagaikan terkurung. Namun seorang prajurit Pajang dari pasukannya tiba-tiba saja telah menerobos memecahkan kurungan itu, sehingga arena itupun bagaikan terurai kembali.

Baru kemudian Kasadha mendapat lawan yang agak seimbang ketika pimpinan pasukan Jipang itu datang menghadapinya. Ki Lurah Sasaban. Juga masih muda. Tetapi tidak semuda Kasadha.

Keduanyapun telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Namun ilmu kanuragan Kasadha ternyata selapis diatas kemampuan Ki Lurah Sasaban, sehingga untuk melawan Kasadha, Ki Lurah Sasaban memerlukan seorang prajurit untuk membantunya.

Melawan dua orang prajurit Jipang, Kasadha masih mampu menunjukkan kelebihannya. Kadang-kadang kedua orang lawannya itu masih harus berloncatan mundur. Namun kemudian keduanya berhasil mendesak kembali Kasadha sampai ke garis pertempuran.

Namun dalam pada itu, Kasadha dan prajurit-prajuritnya memang sulit untuk membendung gerak maju Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kasadha sendiri tidak sempat menyaksikan keduanya yang ada dikedua ujung sayap. Namun ia sudah dapat membayangkan apa yang dapat dilakukan oleh keduanya. Seandainya masing-masing harus menghadapi sekelompok prajurit Pajang, maka keduanya masih tetap sangat berbahaya.

Ki Rangga Larasgati yang bertempur melawan Risang, ternyata benar-benar tidak mampu untuk segera mengalahkannya. Ketika Ki Rangga sampai pada puncak ilmunya, maka Risangpun telah mengerahkan ilmunya pula. Pertempuran diantara mereka memang menjadi semakin sengit. Namun Ki Rangga Larasgati masih tetap mendapat perlawanan yang keras dari Risang yang masih muda.

Gandar yang bertempur tidak jauh dari Risang ternyata ikut menentukan keseimbangan dari pertempuran itu sebagaimana Sambi Wulung dan Jati Wulung. Ketiga orang itu ternyata telah berhasil mendesak orang-orang Pajang yang menempatkan diri melawan mereka. Lima orang telah bersama-sama menghadapi Gandar. Namun mereka tidak banyak dapat berbuat. Apalagi para pengawal Tanah Perdikan Sembojanpun tidak membiarkan Gandar bertempur seorang diri melawan sekelompok prajurit. Satu dua orang pengawal kadang-kadang telah datang membantu Gandar sehingga lawan Gandar itupun menjadi berkurang. Namun, demikian satu dua orang harus bergeser menghadapi para pengawal Tanah Perdikan, satu dua orang yang lain telah bergabung pula kedalam kelompok kecil itu karena mereka menyadari, Gandar adalah seorang yang berilmu tinggi.

Tetapi tanpa orang lainpun Gandar masih juga mampu untuk bertahan dan bahkan mendesak lawannya. Meskipun Gandar bukan seorang pembunuh yang berhati batu, namun dalam pertempuran yang sengit, kadang-kadang Gandar memang telah melukai lawan-lawannya. Bahkan diluar sadarnya, seorang diantara lawan-lawan Gandar itu telah terlempar dan terbanting jatuh. Tetapi malang baginya, karena kepala orang itu telah membentur batu padas, sehingga orang itu hanya sempat menggeliat. Namun kemudian untuk selama-lamanya prajurit itu tidak dapat bergerak lagi.

Sementara itu, di padukuhan tempat perempuan-perempuan Tanah Perdikan Sembojan mempersiapkan makan dan minum bagi para pengawal dan para prajurit, telah terjadi keributan. Perempuan-perempuan berlari-larian sementara dua orang pengawal masih bertempur di halaman. Dua orang petugas sandi dari Pajang yang lain telah memasuki ruang dalam rumah yang dipergunakan sebagai dapur bagi pasukan Tanah Perdikan dan prajurit Jipang itu.

Ternyata bahwa kedua orang prajurit sdftdi Pajang yang bertempur di halaman itu memiliki kelebihan dari dua pengawal yang bertugas didapur itu. Dengan cepat kedua orang pengawal itu telah mulai terdesak.

Jilid 35

NAMUN kedua orang pengawal itu memang merasa bertanggung jawab. Di halaman itu tidak ada orang lain yang bertugas. Ada beberapa orang pengawal di banjar. Namun keduanya tidak sempat memukul kentongan untuk memberi isyarat kepada petugas di banjar.

Kedua pengawal itupun merasa heran, bahwa para pengawal di regol juga tidak memberikan isyarat apa-apa.

“Agaknya mereka juga tidak sempat melakukannya,“ berkata para pengawal itu didalam hatinya.

Tetapi keduanya benar-benar mengalami kesulitan untuk tetap bertahan. Sementara itu kentongan berada di sebelah pendapa rumah itu. Sedangkan dua orang prajurit Pajang telah memasuki rumah itu. Mereka akan dapat berbuat apa saja diantara perempuan-perempuan yang sedang berada di dapur.

Karena itu, maka seorang diantara para pengawal itu telah bertekad untuk menggapai kentongan apapun yang terjadi atas dirinya sendiri. Ia harus membunyikan kentongan itu untuk memanggil para pengawal di banjar. Tetapi ia sadar, bahwa pada saat yang demikian, maka lawannya itu mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk menikamnya dengan senjatanya.

Tetapi ia tidak mempunyai jalan lain untuk menyelamatkan rumah itu serta perbekalan yang ada disitu.

Namun dalam pada itu, selagi orang itu bersiap-siap untuk meloncat berlari menggapai kentongan itu, maka yang sedang bertempur dihalaman itu terkejut. Seorang prajurit Pajang tiba-tiba saja telah terlempar dari pintu depan rumah itu dengan terbanting jatuh dipendapa. Belum lagi orang itu sempat bangkit maka seorang lagi telah terdorong dengan kerasnya. Bahkan kakinya telah terantuk tubuh yang sedang dengan susah payah untuk bangkit itu, sehingga orang yang kedua itupun telah terlempar dan jatuh pula dipendapa rumah itu.

Para prajurit Pajang yang bertempur di halaman itu terkejut sehingga mereka telah meloncat mengambil jarak dari lawan-lawan mereka.

Keduanya memang terkejut. Yang keluar dari pintu rumah itu kemudian ternyata adalah seorang perempuan yang agak gemuk. Namun perempuan itu memang memakai pakaian yang khusus. Tidak seperti kebanyakan pakaian orang-orang perempuan yang lain.

Demikian orang itu berdiri diluar pintu, maka terdengar suaranya lantang, “Ayo berdiri. Kita bertempur dengan jujur. Aku akan melawan kalian berdua.”

Kedua orang prajurit yang terjatuh dihalaman itu telah berusaha untuk bangkit. Demikian mereka berdiri, maka seorang diantara mereka mengumpat, “Iblis kau. Kau telah mengejutkan kami. Jangan kau sangka bahwa kau memiliki sesuatu yang dapat kau banggakan terhadap kami selain kegilaanmu sehingga membuat kami terkejut.”

Perempuan itu adalah Bibi. Sambil bertolak pinggang Bibi berkata, “Aku adalah orang yang bertanggung jawab disini. Karena itu, maka jika kalian ingin mengganggu kami, maka kalian akan berhadapan dengan aku.”

Kedua pengawal yang ada di halaman itu mulai berpengharapan. Mereka tahu bahwa Bibi adalah seorang pe rempuan yang memiliki kemampuan untuk bertempur. Bersama Bibi maka mereka akan mempunyai kesempatan lebih banyak. Setidak-tidaknya kedua orang prajurit Pajang yang dua orang itu akan dihambat oleh Bibi sehingga mereka tidak akan dengan mudah mengacaukan tempat perbekalan serta tempat menyediakan makan dan minum bagi para Pengawal Tanah Perdikan, meskipun untuk beberapa lamanya, perempuan-perempuan yang ada dirumah itu menjadi ketakutan.

Sementara itu, kedua orang prajurit Pajang yang ada di pendapa itupun segera mempersiapkan diri. Mereka sadar, bahwa mereka harus bekerja dengan cepat. Jika mereka berhasil menghancurkan tempat itu, maka Tanah Perdikan Sembojan akan kehilangan perbekalan yang disediakan bukan saja para pengawal Tanah Perdikan, tetapi juga bagi para prajurit yang datang dari Jipang untuk membantu Tanah Perdikan Sembojan mempertahankan dirinya.

Tetapi sementara itu Bibipun telah bersiap pula. Bahkan Bibilah yang telah melangkah maju. Namun seorang dari kedua orang prajurit itu telah meloncat menyerangnya dengan garang.

Namun Bibi benar-benar telah bersiap menghadapi orang itu. Karena itu, maka dengan cepat ia telah mengelak namun sekaligus mengangkat kakinya terayun mendatar.

Lawannya masih juga sempat mengelak. Bahkan seorang lawannya yang lain telah dengan cepat menerkamnya kearah leher.

Tetapi Bibi melihat serangan itu. Dengan cepat Bibi telah merendah pada satu lututnya sehingga menyentuh lantai. Bersamaan dengan itu maka tangannya telah terjulur lurus tepat mengenai bagian bawah dada orang itu.

Terdengar keluhan tertahan. Nafas orang itupun bagaikan telah terputus. Sejenak ia tidak dapat bernafas karena seisi dadanya bagaikan terangkat menyumbat lehernya.

Namun Bibi tidak sempat menyerangnya lagi, karena lawannya yang lain telah meloncat pula menyerang dengan kakinya yang terjulur mengarah ke kening bibi yang berlutut pada sebelah kakinya itu.

Tetapi Bibi justru telah menjatuhkan dirinya, berguling sekali dan dengan cepat menyapu kaki orang yang menyerangnya itu, justru saat satu kakinya terangkat.

Ternyata sapuan itu telah berhasil menebas kaki lawannya yang menyerangnya itu, sehingga sekali lagi orang itu telah terbanting jatuh. Namun dengan cepat ia berguling dan melenting berdiri.

Sementara itu kawannya telah berhasil mengatasi kesulitan di dadanya. Ketika ia melihat kawannya terjatuh, maka iapun telah siap menyerang Bibi yang sedang meloncat bangkit.

Namun ternyata Bibi mampu bergerak lebih cepat. Sebelum orang itu menyerang, Bibi telah bersiap menunggunya. Dengan demikian, maka ketika serangan itu datang, maka Bibi dengan tangkasnya mampu mengelaknya.

Ketika Bibi kemudian bertempur semakin sengit melawan kedua orang di pendapa, maka kedua orang pengawal di halaman telah bertempur kembali melawan dua orang prajurit Pajang. Seperti yang terjadi sebelumnya, maka kedua orang pengawal itu telah terdesak. Kedua orang prajurit Pajang itu memang terlalu kuat bagi mereka. Namun mereka masih mampu untuk bertahan beberapa saat meskipun mereka harus bertempur sambil berloncatan mundur dan bahkan kadang-kadang harus berlari-lari.

Namun dalam pada itu, dua orang prajurit Pajang yang harus bertempur melawan Bibipun segera mengalami kesulitan. Beberapa kali kedua orang prajurit itu telah terdesak surut. Apalagi ketika kemudian Bibi telah menarik senjatanya pula. Sebuah patrem kecil ditangan kirinya dan selendangnya di tangan kanan. Selendang yang digantungi dengan bandul-bandul kecil dari timah.

Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Kedua orang prajurit Pajang itulah yang harus berlari-lari. Bandul timah itu sangat berbahaya bagi mereka, sementara itu selendang Bibi itu seakan-akan tidak dapat dikoyakkannya dengan tajamnya senjata. Jika senjata lawan-lawannya menyentuh selendang Bibi, maka selendang itupun segera mengendor sehingga tali-tali janget yang lembut mampu menahan tajamnya senjata. Bahkan dengan ilmunya yang mulai mengalir dengan permainan selendangnya itu, Bibi mampu membuat kedua lawannya semakin bingung. Selendang itu berputar semakin cepat, sehingga membuat udara diseputar bibi itu menjadi semacam berkabut. Warna pada selendang yang bergaris-garis lurus itu bagaikan membentuk pelangi yang melengkung berputaran.

Namun jika bandul-bandul timah diujung selendang itu menyentuh kulit lawannya, maka kulit itu akan terkelupas. Bahkan jika Bibi benar-benar menghentakkan ilmunya, maka biji-biji timah itu akan dapat meretakkan tulang-tulang didalam daging.

Beberapa saat kemudian, kedua orang prajurit Pajang itu memang telah benar-benar terdesak. Keduanya bahkan tidak lagi bertempur di pendapa. Tetapi keduanya telah berloncatan turun ke halaman.

Tetapi dalam pada itu kedua orang pengawal yang bertempur dihalaman itupun benar-benar telah terdesak. Bahkan seorang diantara mereka tidak mampu lagi mengelak ketika dengan cepat prajurit Pajang itu memutar senjata dan kemudian mengayunkannya mendatar.

Meskipun pengawal itu berusaha untuk menangkis ujung pedang yang hampir saja mengoyak dadanya, namun ujung senjata itu masih juga menyentuh pundak.

Darahpun kemudian telah mengalir dari luka itu. Dengan demikian maka kedudukan pengawal itu menjadi semakin sulit.

Dalam keadaan yang demikian, maka kembali tumbuh niatnya untuk memukul kentongan meskipun punggungnya kemudian akan ditembus oleh ujung senjata lawannya.

Tetapi sebelum ia melakukannya, maka ia sempat melihat seorang lawan Bibi telah terlempar. Ternyata Bibi sempat membelit orang itu dengan selendangnya. Kemudian dihentakkannya sehingga orang itu tergeser mendekat. Pada saat itu tangan kirinya telah terayun. Patrem kecil ditangan Bibi itu telah menghunjam didada prajurit Pajang itu.

Ketika kemudian Bibi menarik selendangnya, orang itu terputar sejenak. Namun kemudian jatuh terguling ditanah.

Lawannya yang seorang lagi menjadi gelisah. Namun tiba-tiba saja prajurit Pajang yang telah melukai pengawal di pundaknya itu telah meninggalkannya. Ia tidak membiarkan seorang kawannya melawan Bibi yang garang itu.

“Ternyata di Tanah Perdikan ini ada perempuan iblis macam kau,“ geram prajurit itu.

“Akulah yang dipanggil Serigala Betina,“ geram Bibi.

Agaknya pertempuran itu telah mengungkat kegarangannya yang sudah lama diendapkannya. Seorang lawannya telah terlempar dari arena. Tetapi lawannya kemudian kembali menjadi dua.

Namun Bibipun agak menjadi lega. Jika prajurit itu tidak meninggalkan lawannya yang telah terluka, maka pengawal itu tentu akan dibunuhnya.

Dengan demikian maka seorang diantara kedua prajurit Pajang itu harus bertempur melawan dua orang pengawal. Tetapi seorang diantaranya telah terluka. Darah mengalir dari luka dipundaknya itu. Semakin banyak ia bergerak, maka luka itupun menjadi semakin banyak mengalirkan darah. Sehingga dengan demikian, maka pengawal itu tidak banyak dapat memberikan bantuan.

Karena itu, maka niatnya untuk memukul kentongan itulah yang kemudian menggerakkannya meninggalkan arena mendekati kentongan yang tergantung di sebelah pendapa itu.

Tetapi Bibi yang melihatnya ternyata telah mencegahnya. Katanya, “Jangan bunyikan kentongan. Nanti di padukuhan ini akan timbul kebingungan.”

“Tetapi prajurit-prajurit Pajang itu,“ sahut pengawal itu.

“Kita akan menyelesaikan mereka,“ berkata Bibi kemudian.

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian yakin bahwa Bibi akan dapat menyelesaikan kedua lawannya setelah seorang diantara prajurit Pajang itu terbujur diam.

Karena itu, maka iapun telah mengurungkan niatnya. Ia sependapat dengan Bibi. Jika ia membunyikan kentongan, maka seisi padukuhan itu tentu akan segera mengungsi. Mereka tentu mengira bahwa pasukan Pajang telah memasuki padukuhan mereka.

Pengawal itupun kemudian justru telah kembali bersama-sama dengan kawannya menghadapi seorang prajurit Pajang. Meskipun tenaganya sudah menjadi semakin susut. Namun ia masih mampu mengganggu pemusatan perhatian lawannya itu. Namun setiap kali ia harus berloncatan mengambil jarak. Menekan lukanya yang berdarah.

Tetapi kemudian pengawal itu telah melepas ikat kepalanya untuk menekan lukanya agar darahnya tidak semakin banyak mengalir.

Prajurit Pajang yang harus menghadapi dua orang itu masih tetap garang. Tetapi sekali-sekali ia harus bergeser mundur jika kedua lawannya itu menyerang bersamaan dari arah yang berbeda. Pengawal yang terluka itu memang tidak dapat bertempur sepenuhnya. Tetapi ternyata ia mampu menyesuaikan dirinya dengan keadaannya.

Sementara itu kedua orang prajurit Pajang yang bertempur melawan Bibi segera mengalami kesulitan. Selendang Bibi berputaran dengan cepatnya. Desir angin yang menampar tubuh lawannya meyakinkan kedua orang lawannya, bahwa perempuan yang menyebut dirinya itu Serigala Betina adalah benar-benar orang yang memiliki ilmu kanuragan.

Sebenarnyalah Bibi tidak ingin melihat perempuan-perempuan di rumah itu menjadi semakin ketakutan. Karena itu, maka iapun telah berniat untuk segera mengakhiri pertempuran itu. Karena itulah, dengan kegarangan seekor Serigala Betina, maka Bibi telah melanda kedua orang lawannya dengan ilmunya yang memang terpaut banyak dari kedua lawannya.

Namun bagaimanapun juga ganasnya Serigala Betina itu, tetapi pengaruh pergaulannya dengan Iswari telah membuatnya sedikit berubah. Itulah sebabnya, maka ia tidak membunuh kedua orang prajurit Pajang itu.

“Cukup seorang saja diantara mereka yang menjadi korban,“ berkata Bibi didalam hatinya. Namun Bibi tidak mengetahui, bahwa para prajurit Pajang itu telah membunuh dua orang pengawal di regol padukuhan.

Karena itu, maka Bibi hanya berniat untuk membuat kedua orang lawannya itu tidak berdaya.

Karena itu, maka bandul-bandul timah pada kedua ujung selendang Bibi itupun berayun semakin cepat.

Ketika bandul-bandul timah itu mengenai seorang diantara kedua orang prajurit itu pada punggungnya, maka tulang punggung prajurit itu rasa-rasanya menjadi patah.

Sekali ia menggeliat. Namun iapun kemudian telah jatuh berguling di tanah. Sementara itu, kawannya yang terkejut telah meloncat mundur untuk mengambil jarak. Tetapi Bibi bergerak lebih cepat. Selendang Bibi telah terjulur dan langsung membelit kaki prajurit itu. Dengan satu hentakkan maka prajurit itupun benar-benar telah terbanting jatuh. Tubuhnya bagaikan batang pisang yang roboh terseret arus sungai. Bahkan kepalanya menjadi pening ketika pelipisnya telah membentur tanah yang keras di halaman.

Mata prajurit itu menjadi kabur. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit. Namun demikian ia berdiri, bandul-bandul timah pada ujung selendang Bibi itu telah menghantam dadanya.

Tulang-tulang iga orang itu bagaikan menjadi retak. Nafasnyapun menjadi sesak. Sejenak ia terhuyung-huyung. Namun kemudian ia sama sekali tidak mampu mempertahankan keseimbangannya.

Ketika orang itu terjatuh dan berguling-guling karena nafasnya bagaikan tersumbat, maka prajurit Pajang yang bertempur melawan dua orang pengawal itupun menjadi sangat gelisah. Meskipun seorang diantara para pengawal itu sudah terluka sedangkan yang lain tidak memiliki kemampuan yang dapat menyamainya, namun perempuan yang garang itu tentu akan segera masuk kedalam lingkaran pertempurannya.

Tetapi segala sesuatunya memang sudah terlambat. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, maka Bibi telah meloncat mendekati prajurit itu sambil berkata, “Kau tidak perlu lari. Jika kau berlari juga meninggalkan arena ini, maka aku akan melemparmu dengan patrem ini. Punggungmu akan berlubang dan kau akan mati. Karena itu, sebaiknya kau menyerah saja.”

Prajurit itu memang tidak ada pilihan lain. Tiga orang diantara merekapun kemudian telah diikat kaki dan tangannya serta ketiganya telah diikat pula dengan tiang di pendapa. Sedangkan seorang diantara para prajurit yang telah terbujur mati itupun telah dibaringkan di pendapa itu pula.

“Tugasmu adalah mengubur kawan-kawanmu,“ berkata Bibi. Lalu katanya pula, “Tetapi biarlah dipanggil para pengawal yang lain untuk ikut mengawasimu.”

Namun Bibipun kemudian masih sempat mengobati luka pengawal dipundaknya dan berkata, “Kau duduk saja disini. Biarlah kawanmu pergi ke banjar dan menengok para pengawal di pintu gerbang padukuhan.”

Para prajurit Pajang yang merasa bahwa mereka telah membunuh pengawal padukuhan di regol induk, menjadi berdebar-debar. Jika pengawal itu mengetahui bahwa kedua kawannya telah terbunuh, mungkin para pengawal termasuk perempuan yang menyebut dirinya Serigala Betina itu akan bersikap lain.

Pengawal yang seorang itupun kemudian telah pergi ke banjar padukuhan untuk memanggil beberapa orang kawannya. Tetapi hanya ada beberapa pengawal saja di banjar, sehingga pengawal itu telah minta bantuan beberapa orang laki-laki yang sudah melewati pertengahan abad yang tidak lagi dapat turun ke peperangan untuk membantu mengubur prajurit Pajang yang terbunuh serta mengawasi para prajurit yang lain.

Beberapa orang laki-laki tua itu memang langsung pergi ke rumah yang dipergunakan untuk menyediakan perbekalan itu, sedangkan pengawal yang telah bertempur dengan prajurit Pajang itu telah pergi ke regol.

Jantungnya serasa berdentang semakin keras ketika mereka melihat dua orang kawannya telah terbunuh. Karena itu, maka tiba-tiba iapun telah berlari kembali ke rumah tempat menyiapkan perbekalan itu sambil berteriak-teriak, “Aku bunuh mereka. Aku bunuh mereka.”

Bibilah yang kemudian menyongsong pengawal itu sambil bertanya, “Ada apa? Kau kenapa?”

“Dua orang kawan kita yang bertugas di regol telah dibunuh,“ teriak pengawal itu.

“Siapa yang membunuh?“ bertanya Bibi.

“Tentu orang-orang itu,“ jawab pengawal itu.

Wajah Bibipun menjadi tegang sejenak. Sambil berpaling kepada para prajurit itu iapun bertanya, “Apakah kalian telah membunuh mereka?”

Para prajurit itu tidak dapat ingkar. Seorang diantara merekapun menjawab, “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Ketika kami memasuki regol, maka kedua orang pengawal itu melihat kami dan siap untuk menyerang. Maka kamipun telah mempertahankan diri.”

“Iblis kau,“ geram pengawal itu sambil meloncat.

“Tunggu,“ Bibipun menghentikannya. Katanya lebih lanjut, “Mereka telah menyerah. Kita tidak boleh membunuhnya.”

“Tetapi mereka telah membunuh kawan-kawan kami,“ geram pengawal itu.

“Tetapi mereka saat itu sedang bertempur,“ berkata Bibi.

“Siapa tahu bahwa kawan-kawan kita juga sudah menyerah tetapi mereka masih membunuhnya juga,“ sahut pengawal itu.

“Kami memang sedang bertempur,“ berkata seorang diantara para prajurit itu.

“Aku tidak peduli. Aku akan membunuh mereka semua,“ pengawal itu berteriak.

Tetapi Bibi tetap menggeleng sambil berkata kepada pengawal itu, “Biarlah mereka bertiga dibawah pengawasan kalian dan para pengawal yang datang dari banjar untuk menguburkan kawannya yang terbunuh. Mereka malam nanti akan kami serahkan kepada Nyi Wiradana atau anak laki-lakinya. Mereka yang akan menjatuhkan hukuman.”

“Aku mengharap agar mereka dihukum gantung. Kami adalah saksi kematian dua orang kawanku,“ berkata pengawal itu.

Namun Bibi tetap berpendapat bahwa sebaiknya para tawanan itu tidak dibunuh.

Dibawah pengawasan para pengawal dan laki-laki yang sudah mendekati senja, maka ketiga orang prajurit itu harus membawa kawannya ke kuburan dan kemudian menguburkannya. Setelah mencuci tangan dan kakinya, maka orang-orang itu harus kembali ke pendapa untuk diikat dengan tiang pendapa itu. Sementara itu para pengawal dan laki-laki tua yang datang telah mempersiapkan penguburan kedua orang pengawal yang telah gugur.

Mereka menunggu kehadiran Nyi Wiradana. Mudah-mudahan keadaan peperangan memungkinkan.

Dengan demikian maka kedua sosok mayat pengawal itu telah dibaringkan di pendapa pula. Bibi dan beberapa orang pengawal yang datang dari banjar serta beberapa orang laki-laki tua itu bersepakat untuk menunggu kehadiran Nyi Wiradana dan Risang.

Kemudian baru kedua sosok itu akan dikuburkan, meskipun hari sudah menjadi gelap.

“Kita akan menyediakan obor-obor yang cukup jika kita akan membawa kedua sosok tubuh itu ke kuburan,“ berkata salah seorang diantara orang-orang itu.

Sementara itu pertempuran antara prajurit Pajang yang sudah diperkuat melawan pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan dibantu oleh prajurit Jipang menjadi semakin sengit. Namun kedua belah pihak yang telah mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga mereka, mulai nampak menjadi letih. Tenaga dan kemampuanpun menjadi terperas seperti keringat mereka.

Ternyata bahwa prajurit Pajang yang dibawa oleh Kasadha memang prajurit pilihan. Kemampuan mereka melampaui kemampuan prajurit-prajurit yang dibawa oleh Ki Rangga sebelumnya. Karena itu, maka pasukan Tanah Perdikan bersama-sama dengan pasukan dari Jipang tidak segera dapat mendesak pasukan Pajang. Bahkan pasukan Pajang itu telah mampu mengguncang pertahanan Tanah Perdikan Sembojan. Kasadha dan prajurit-prajuritnya yang tersebar benar-benar merupakan lawan yang berat bagi para prajurit Jipang yang ada di Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi ketika pertahanan Tanah Perdikan Sembojan bergeser beberapa langkah surut, maka keseimbanganpun justru telah berubah dengan cepat. Pasukan Pajang itu terpaksa menghentikan dorongan mereka atas pasukan Sembojan. Rasa-rasanya goncangan-goncangan baru telah terjadi. Justru di beberapa tempat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berada diujung-ujung pasukan mulai tersinggung. Karena itu, maka mereka telah meningkatkan kemampuan mereka, sehingga sekelompok prajurit Pajang yang melawan mereka mengalami kesulitan. Sementara itu jumlah prajurit Pajang memang lebih sedikit dari jumlah pengawal Sembojan dan prajurit Jipang.

Di induk pasukan, Gandarpun telah mendesak lawan-lawannya, sehingga dengan demikian, maka pasukan Pajang itu harus mulai memperhitungkan lawan mereka baik-baik. Beberapa orang dari Tanah Perdikan Sembojan telah menghisap perlawanan kelompok-kelompok lawan mereka, sehingga dengan demikian maka seakan-akan orang-orang yang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan Sembojan itu telah menghisap prajurit-prajurit Pajang ke dalam satu lingkaran pertempuran yang sengit karena baik Sambi-Wulung. Jati Wulung maupun Gandar telah bertempur dengan garangnya.

Menghadapi kepungan lawan-lawannya maka mereka telah menyerang seperti angin pusaran yang berputar dengan dahsyatnya, sehingga setiap kali lawan-lawannya justru harus menyibak.

Dengan demikian, maka kekuatan pasukan Pajang dibeberapa lingkatan dengan cepat menyusut. Beberapa orang terlempar dari arena. Kawan-kawan mereka terpaksa membawa mereka menyingkir untuk menghindarkan kemungkinan yang lebih buruk lagi.

Mereka yang bertugas untuk merawat orang-orang yang terluka menjadi semakin sibuk. Diujung-ujung sayap, maka setiap kali orang yang terluka telah disingkirkan. Beruntun dan seakan-akan seperti air yang mengalir.

Kasadha yang terikat dalam pertempuran melawan Ki Lurah Sasaban memang sulit untuk bergeser. Namun Kasadha berusaha untuk dapat mengetahui medan itu sejauh-jauh kemungkinan yang dapat dilakukan. Sebagai seorang prajurit yang memiliki ketajaman panggraita, maka Kasadhapun merasa bahwa pasukannya mengalami kesulitan untuk dapat maju mendesak pasukan Tanah Perdikan Sembojan yang diperkuat oleh pasukan dari Jipang. Betapapun prajurit-prajuritnya berusaha dengan sungguh-sungguh, namun terasa getaran benturan pasukan mereka justru sangat mendebarkan.

Ki Rangga Larasgati sendiri masih saja mengalami kesulitan untuk mengalahkan Risang. Bahkan ternyata daya tahan Risang yang jauh lebih muda dari Ki Rangga itu lebih besar dari daya tahan Ki Rangga sendiri. Pengalaman yang luas yang dimiliki oleh Ki Rangga ternyata tidak mampu mengatasi ilmu yang telah diwarisi oleh Risang yang sedang dipersiapkan untuk menerima ilmu Janget Kinatelon.

Bahkan semakin lama, semakin terasa oleh Ki Rangga, bahwa anak muda itu justru semakin mendesaknya. Disaat-saat Ki Rangga telah sampai kepuncak kemampuannya, Ki Rangga ternyata tidak mampu menguasai lawannya yang masih muda.

Dengan demikian, maka Ki Rangga mulai merasa bahwa ia memang tidak akan dapat mengalahkan Risang.

Yang dilakukannya kemudian adalah bertahan sejauh dapat dilakukan. Ki Rangga tinggal menunggu kemungkinan Risang melakukan kesalahan. Hanya jika Risang melakukan kesalahan, maka Ki Rangga akan dapat mengalahkan anak muda itu.

Tetapi Risang ternyata memiliki penguasaan yang tinggi atas ilmunya. Pengalamannyapun telah memadai untuk menghadapi Ki Rangga Larasgati. Bahkan ketika Risang merasa bahwa Ki Rangga telah sampai pada batas kemampuannya serta daya tahannya, maka Risang justru telah meningkatkan serangan-serangannya.

Ki Rangga mulai mengeluh didalam hatinya. Disaat-saat ia sempat memperhatikan pertempuran antara para prajuritnya dengan para pengawal, maka ia melihat bahwa para prajurit Pajangpun nampaknya telah sampai ke puncak kemampuan mereka. Namun mereka sama sekali masih belum mampu mendesak pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan, apalagi memecahkan pertahanannya dan menembus sampai ke padukuhan induk.

Kegelisahan Ki Rangga itu ternyata telah membuatnya kadang-kadang tidak lagi mampu memusatkan perhatiannya menghadapi anak muda yang bernama Risang itu, sehingga beberapa kali ia harus meloncat surut.

Namun getaran pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan mampu membual para prajurit Pajang menjadi gelisah. Bahkan prajurit pilihan dibawah pimpinan Kasadhapun merasakan tekanan yang semakin berat.

Tetapi ketika Matahari kemudian mulai turun, keseimbangan pertempuran mulai berubah lagi. Orang-orang Sembojan yang ikut dalam pertempuran itu, mulai men jadi letih. Mereka yang bukan pengawal penuh dari Tanah Perdikan memang tidak memiliki kemampuan dan ketahanan tubuh sebagaimana para pengawal, sehingga karena itu, maka mereka yang sudah bermandikan keringat tenaganya mulai menjadi susut. Sedangkan para prajurit Pajang, terutama yang datang bersama Kasadha masih nampak garang diantara ayunan senjata dan sorak yang mengguruh.

Namun sejalan dengan itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah berusaha untuk mengisi kelemahan itu dengan meningkatkan kemampuannya.

Karena itu, maka hampir diluar sadarnya, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah merambah ke tataran ilmunya yang tinggi, sehingga sentuhan-sentuhan bukan saja senjatanya, tetapi tangan dan kakinya menjadi sangat berbahaya bagi lawan-lawannya.

Gandar yang bertempur tidak terlalu jauh dari Risangpun merasakan perubahan keseimbangan di medan pertempuran itu. Meskipun perlahan-lahan, namun rasa-rasanya pasukan Pajang akan mendesak pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, seperti juga Sambi Wulung dan Jati Wulung, maka Gandar telah bertempur semakin keras. Gandar ternyata telah mempergunakan cara yang lain. Ia tidak menetap menghadapi sekelompok lawan-lawannya.

Tetapi Gandar itupun kemudian telah berloncatan dise-panjang garis benturan. Kehadiran Gandar disatu tempat, telah membuat para prajurit Pajang menjadi gelisah.

Dengan demikian, maka Tanah Perdikan masih sempal mempertahankan diri, sehingga para prajurit Pajang lidak mampu memecahkan pertahanan itu. Beberapa orang pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan itu seakan-akan telah menghisap lawan semakin banyak.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Ki Rangga Larasgati juga telah sampai pada puncak kemampuannya. Pada saat matahari mulai turun, maka Ki Rangga yang telah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya itu, benar-benar telah sampai kebatas. Ki Rangga yang berniat menghancurkan lawannya yang masih muda itu dengan kemampuan puncaknya, ternyata telah gagal. Bahkan justru karena itu, Ki Rangga itu telah mengerahkan tenaganya berlebihan tanpa mengingat batas akhir dari pertempuran itu.

Dengan mengerahkan tenaganya, Ki Rangga berniat untuk dengan cepat mengakhiri perlawanan anak muda itu sebelum ia sampai kebatas puncak tenaganya. Tetapi ternyata Ki Rangga telah salah membuat perhitungan. Disaat-saat ia mengerahkan puncak dan bahkan segenap tenaga dan kemampuannya, ia tidak berhasil menundukkan lawannya yang masih muda itu, sehingga pada suatu saat, setelah melewati puncaknya, tenaganyalah yang mulai susut.

Sementara itu Ki Rangga telah mengumpat pula karena lawannya itu seakan-akan sama sekali tidak terpengaruh oleh keringatnya yang mengalir bagaikan diperas dari tubuhnya. Tidak pula terpengaruh oleh panasnya matahari yang bagaikan membakar arena pertempuran itu. Tidak pula terpengaruh oleh pengerahan tenaga yang berlebihan. Nampaknya Risang itu masih saja tetap utuh sebagaimana ia memasuki arena pertempuran disaat pertempuran itu dimulai.

Karena itu, maka Ki Rangga Larasgati, seorang Senapati prajurit Pajang, ternyata mengalami kesulitan menghadapi seorang anak muda, anak Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Namun sebenarnyalah bahwa anak muda itu telah ditempa oleh ketiga orang kakek dan neneknya untuk melandasi ilmu yang akan diwarisinya.

Dalam benturan-benturan senjata yang kemudian terjadi, maka semakin ternyata bahwa kekuatan Ki Rangga benar-benar telah menyusut. Loncatan-loncatannyapun tidak lagi cukup cepat untuk mengimbangi gerak Risang yang masih saja tangkas sebagaimana saat pertempuran itu dimulai.

Ki Rangga itupun kemudian telah mengumpat didalam hati. Sementara itu, Risang yang melihat kelemahan lawannya, telah berusaha justru meningkatkan serangan-serangannya. Ia harus memanfaatkan keadaan itu sebelum ia sendiri kehabisan tenaga.

Pertempuran yang semakin lama menjadi semakin lamban diseluruh arena itu diwarnai dengan keringat dan darah. Korban masih saja berjatuhan. Sementara itu, garis pertempuran itu seakan-akan selalu bergetar.

Namun ternyata bahwa Risang masih mampu menghentakkan kemampuannya menyusup disela-sela pertahanan Ki Rangga Larasgati.

Sebuah goresan telah melukai lengan Ki Rangga, sehingga Ki Rangga yang terkejut itu telah meloncat surut.

“Anak iblis,“ geram Ki Rangga, “kau telah melukai kulitku.”

Namun Risang menjawab, “Nanti aku tembus dadamu dengan tajamnya senjataku.”

“Kau gila. Kau kira Pajang tidak sanggup menggilasmu? Kau akan mendapat hukuman picis dialun-alun Pajang,“ geram Ki Rangga.

“Seandainya demikian, kau tidak akan sempat melihatnya karena kau akan mati di pertempuran ini,“ jawab Risang.

“Kau akan menyesal,“ teriak Ki Rangga, “kau telah memberontak. Kau telah berkhianat.”

“Kau adalah api yang menyalakan pemberontakan di Tanah Perdikan ini. Kau dan orang-orang tamak di Pajang berusaha memeras kami sebagaimana kalian lakukan atas Tanah Perdikan yang lain. Tanah Perdikan yang kecil dan tidak berdaya tidak akan melakukan perlawanan. Tetapi Tanah Perdikan Sembojan lebih baik diratakan dengan tanah daripada melayani pemerasan sebagaimana kau lakukan,“ jawab Risang.

“Aku mengemban perintah,“ Ki Rangga masih berteriak.

“Kau tidak pernah dapat menunjukkan surat kekancingan atasmu bahwa kau melakukan perintah di Tanah Perdikan ini,“ jawab Risang.

“Persetan anak setan,“ bentak Ki Rangga.

Pertempuranpun berlangsung semakin sengit. Pasukan Pajang dan pasukan Tanah Perdikan itu akhirnya saling mendesak. Kedua belah pihak memiliki kelemahan dan kekuatannya masing-masing.

Namun akhirnya Ki Rangga harus berpikir berulang kali. Ia sendiri telah terluka. Darah mengalir semakin lama semakin banyak. Ki Rangga itu menyadari pengaruhnya.

Tubuhnya akan dapat menjadi semakin lemah, sehingga akhirnya ia benar-benar akan dapat dibunuh oleh anak itu.

Apalagi ia yakin bahwa prajurit Pajang hari itu masih belum dapat mengalahkan pasukan pengawal Tanah Perdikan. Meskipun ia melihat bahwa beberapa orang Tanah Perdikan menjadi letih, tetapi para pengawal masih mampu mengimbangi para prajurit, sementara prajurit Jipang-pun masih juga bertempur dengan keras. Apalagi diantara orang-orang Tanah Perdikan terdapat orang-orang berilmu tinggi, yang mampu menghisap sekelompok prajurit Pajang, sementara jumlah prajurit Pajang masih dibawah jumlah para pengawal Tanah Perdikan.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari Ki Rangga Larasgati selain membuat perhitungan ulang dengan rencananya hari itu menembus sampai ke padukuhan induk.

Apalagi ketika induk pasukan Pajang itu telah diguncang oleh kemarahan Gandar yang meledak-ledak, karena segores luka telah membekas di punggungnya. Luka itu tidak terlalu dalam. Namun memanjang menyilang.

Kemarahan Gandar memang menimbulkan persoalan yang sungguh-sungguh gawat bagi para prajurit Pajang di induk pasukan itu, sehingga hal itu telah mempercepat keputusan Ki Rangga Larasgati untuk menarik pasukannya dari medan yang seakan-akan telah saling mendorong itu.

Apalagi karena kemarahan Gandar itu nampaknya telah mempengaruhi para pengawal sehingga mereka yang mulai lelah, telah menjadi segar kembali. Dengan demikian maka para prajurit Pajang di induk pasukan itupun telah mengalami kesulitan.

Ki Lurah Larasgati tidak dapat mengingkari kenyataan itu sebagaimana kenyataan tentang dirinya sendiri. Sehingga karena itu, makik iapun segera memberikan isyarat kepada penghubung yang selalu berada didekatnya.

Dengan isyarat itu, maka penghubung itupun segera mengetahui, bahwa Ki Rahgga berniat untuk menarik pasukannya. Karena itulah maka penghubung itupun telah meneriakkan aba-aba sandi bagi para pemimpin kelompok yang meneriakkannya sambung bersambung sampai ke ujung sayap.

Isyarat sandi itu berbeda dengan isyarat sandi pada saat Ki Rangga akan menarik pasukannya beberapa hari sebelumnya. Karena itu, maka para pemimpin dari Tanah Perdikan harus berusaha untuk mengerti dan kemudian menyesuaikan diri dengan perintah itu.

Namun ternyata bahwa Ki Rangga telah memberikan isyarat kedua. Isyarat yang langsung memerintahkan pasukan Pajang itu mengundurkan diri.

Ketika perintah itu sampai ketelinga Kasadha, maka iapun dapat mengerti. Perang itu tidak akan ada gunanya jika dilanjutkan pada hari itu juga selain membunuh beberapa orang korban dikedua belah pihak.

Karena itu, maka Kasadhapun menganggap bahwa perintah Ki Rangga itu adalah perintah yang cukup bijaksana.

Dengan gerakan pasukan yang matang menguasai ilmu perang gelar, maka pasukan Pajangpun mulai bergetar. Namun kemudian serempak pasukan itu bergerak mundur. Tetapi gerak mundur prajurit Pajang adalah gerak mundur yang teratur sambil melindungi diri mereka.

Pasukan Tanah Perdikan memang mendesak terus. Tetapi seperti yang pernah terjadi, Risang tidak berani mengejar pasukan yang mundur itu keluar dari perbatasan Tanah Perdikan Sembojan. Apalagi menurut pengamatan Risang dan para pemimpin pengawal Tanah Perdikan, bahwa kekuatan Pajang itu masih cukup besar. Jika mereka menyiapkan semua orang yang ada di perkemahan orang-orang Pajang, termasuk para petugas didapur dan perbekalan, maka kekuatan pasukan Pajang itu akan bertambah besar dengan tenaga-tenaga yang masih segar.

Karena itu, maka Risangpun telah memberikan perintah untuk menghentikan pasukannya diperbatasan sebagaimana pernah diperintahkan oleh ibunya sebelumnya.

Namun para pengawal Tanah Perdikan itu sempat bersorak gemuruh bagaikan hendak meruntuhkan langit ketika mereka berhenti diperbatasan. Beberapa orang memang merasa kecewa bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk menyerang para prajurit Pajang sampai kelandasan pasukannya. Meskipun dengan demikian mereka keluar dari perbatasan, tetapi menyerang landasan perang bagi lawan adalah wajar sekali.

Prajurit Pajang yang telah mundur dari pertempuran itupun segera mendapat perintah untuk berkumpul dalam kelompok-kelompok masing-masing. Baik para prajurit yang datang lebih dahulu bersama Ki Rangga Larasgati maupun yang datang kemudian bersama Kasadha. Sementara itu, kawan-kawan mereka yang terluka yang sempat dibawa mundur telah mereka baringkan di perkemahan dan mendapat perawatan sebaik-baiknya.

Ki Ranggapun kemudian telah memanggil Ki Lurah Kasadha dan setiap pemimpin kelompok untuk berdiri di hadapan pasukan mereka yang terpaksa mundur dari medan.

Ternyata bahwa ada beberapa diantara pemimpin kelompok yang sudah tidak ada lagi. Ada yang telah terbunuh di peperangan dan ada yang terluka berat, sehingga tidak mampu lagi berdiri tegak dihadapan pasukannya.

Dengan singkat Ki Rangga memberikan beberapa perintah. Ki Rangga juga memberikan alasan kenapa ia menarik pasukannya saat itu.

“Kita sudah kehilangan gelora didalam hati kita untuk menang. Para prajurit sudah menjadi letih sebelum saatnya. Seharusnya kita tiapat bertahan dan bertempur sampai matahari terbenam. Tetapi ternyata hari ini kita tidak mencerminkan kegarangan prajurit-prajurit terpilih dari Pajang,“ Ki Rangga berhenti sejenak, lalu, “Tetapi besok kita akan bersikap lain. Besok kita akan berangkat ke medan dengan semua orang yang ada. Kita hanya akan meninggalkan beberapa orang yang harus mampu menyelesaikan tugas menyediakan makan dan minum bagi para prajurit. Sementara itu, malam ini kita harus dapat memperbaiki jiwa disetiap dada para prajurit. Kita tidak boleh berjiwa kerdil. Tidak berani melihat darah yang tertumpah di medan. Apa artinya seorang prajurit yang tidak berani melihat darah, meskipun itu darahnya sendiri. Aku juga sudah terluka. Iblis kecil itu telah melukai aku. Tetapi aku tidak pernah merasa kalah,“ Ki Rangga itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku bukannya kalian. Kalian bukannya aku, sehingga aku terpaksa mengambil kebijaksanaan menarik pasukan Pajang ini mundur. Namun besok kita akan maju lagi. Kita tidak akan pernah mundur. Kita besok harus memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Kita akan menangkap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan Ki Tumenggung Jaladara dari Jipang. Yang juga tidak boleh lepas adalah anak pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu. Aku sendiri yang akan memberinya hukuman.”

Para prajurit Pajang itu mendengarkan sesorah dan perintah-perintah Ki Rangga dengan jantung yang berdebaran. Ternyata para prajurit itu sempat menyesali diri mereka sendiri. Mereka merasa kurang keras menghadapi lawan-lawan mereka sehingga pasukan Tanah Perdikan Sembojan dan apalagi para prajurit Jipang sempat memanfaatkan keadaan itu.

Ki Rangga memang tidak berbicara terlalu panjang. Ia sadar bahwa para prajurit telah menjadi letih. Bahkan beberapa orang rasa-rasanya tidak kuat lagi berdiri.

“Baiklah. Kalian boleh beristirahat dengan baik. Kalian telah menjadi letih. Terutama jiwa dan keberanian kalian sudah tidak bertenaga lagi. Malam nanti kalian harus merenung bahwa kalian masih dapat bekerja lebih keras. Berbuat lebih banyak dari yang kau lakukan hari ini.“ berkata Ki Rangga Larasgati.

Demikianlah, maka para prajurit itupun kemudian telah menebar untuk beristirahat. Sebagian besar dari mereka telah minum sepuas-puasnya untuk menghilang kan perasaan haus yang bagaikan mencekik leher. Sementara itu mereka harus menunggu nasi yang belum masak benar.

Namun dalam pada itu, setelah Ki Rangga mengobati luka-lukanya, maka iapun telah pergi ke dapur. Dengan keras ia membentak-bentak para petugas di dapur yang dinilainya bekerja terlalu lamban.

“Para prajurit itu memerlukan makan segera,“ teriak Ki Rangga.

Tidak seorangpun berani menjawab. Semuanya telah menjadi semakin sibuk, apapun yang mereka kerjakan.

Tetapi para prajurit itu memang masih harus menunggu jika mereka tidak ingin makan nasi yang belum masak benar sehingga dapat membuat perut mereka menjadi sakit.

Disaat senja turun, maka sebagian dari para prajurit itu telah pergi ke sungai untuk mandi. Tetapi ada sebagian dari mereka yang merasa tidak perlu untuk mandi sore itu.

“Besok di dini hari,“ jawabnya dengan malas. Ketika kemudian malam turun, maka Ki Rangga yang masih saja marah karena luka-lukanya yang terasa pedih, telah memanggil Kasadha.

Dengan wajah yang tegang, Ki Rangga berkata, “Besok kau dan prajurit-prajuritmu harus lebih bersungguh-sungguh. Kita akan menentukan satu pertempuran hidup atau mati.”

Kasadha yang segan berbincang itupun mengangguk sambil menjawab, “Baik Ki Rangga.”

“Sebagai lurah prajurit kau harus mampu memberikan contoh,“ geram Ki Rangga, “menurut penilaianku, prajurit-prajuritmu kurang bersungguh-sungguh. Kau harus menempa jiwanya agar mereka menyadari, betapa besar tugas yang sedang mereka pikul.”

Kasadha masih mengangguk sambil menjawab, “Baik Ki Rangga.”

Tetapi Ki Rangga itu kemudian berkata, “Tetapi jika pimpinannyatidaklagi memacu para prajuritnya maka akibatnya akan lain. Karena itu tergantung kepadamu. Jika kau masih berpendirian bahwa Tanah Perdikan ini dapat ditangani dengan cara lain, maka kau tidak akan dapat memenangkan perang ini. Jika kau bersikap sebagaimana sikapmu terhadap Tanah Perdikan Gemantar atau bahkan dengan sengaja memberikan kesempatan kepada lawan untuk bernafas maka kalian tentu akan digilasnya sampai lumat.”

Kasadha masih akan menahan diri. Tetapi dari dalam dadanya tiba-tiba saja bergejolak perasaannya yang melonjak, “Apakah Ki Rangga melihat bahwa prajurit-prajurit tidak bertempur dengan sungguh-sungguh?”

“Kalian masih dapat meningkatkan kemampuan kalian. Karena keragu-raguanmu, maka semua prajuritmu ikut menjadi ragu-ragu. Mereka merasa bahwa mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, sementara sebenarnya mereka masih dapat meningkatkannya lagi. Niat mereka untuk menangpun menjadi semakin susut. Dan bahkan yang lebih parah lagi, mereka lebih senang lari dari pertempuran daripada mati, meskipun kematiannya mempunyai arti,“ berkata Ki Rangga.

Wajah Kasadha menjadi merah. Hampir saja ia kehilangan kendali sehingga menumpahkan kemarahannya. Tetapi untunglah, meskipun masih muda, tetapi Kasadha pernah menempuh gejolak kehidupan yang pelik, sehingga ia masih mampu mengendalikan dirinya. Meskipun demikian ia menjawab, “Ki Rangga. Sebagai seorang Senapati Ki Rangga sebenarnya harus mengetahui, apa yang dilakukan oleh prajurit-prajuritku. Aku tidak ingin merendahkan prajurit-prajurit dari kesatuan yang lain. Tetapi setidak-tidaknya prajurit-prajuritku tidak kalah dari mereka. Bagaimanapun juga menghadapi prajurit Jipang, prajurit-prajuritku telah berjuang dengan sekuat tenaganya dan kemampuannya. Hal inilah yang harus Ki Rangga ketahui.”

“Cukup,“ bentak Ki Rangga, “kau kira kau pantas mengajari aku, Ki Lurah. Baru berapa hari kau diangkat menjadi Lurah Penatus prajurit Pajang. Dan kau sudah merasa dirimu berhak sesorah dihadapanku. Kau lupa bahwa aku adalah Rangga dalam tatanan keprajuritan Pajang.”

“Tidak Ki Rangga. Aku tidak pernah melupakannya. Bukankah aku justru berkata bahwa karena Ki Rangga seorang Senapati, seharusnya Ki Rangga mampu menilai, apa yang telah terjadi di medan ini,“ jawab Kasadha.

“Diam,“ Ki Rangga hampir berteriak sehingga orang-orang yang berada tidak terlalu jauh dapat mendengarnya meskipun mereka tidak tahu apa yang dibicarakan, “aku perintahkan kepadamu Ki Lurah, kau besok harus berbuat lebih baik jika kau tidak ingin aku hadapkan kepada Ki Tumenggung Bandapati yang sekarang mempunyai kekuasaan yang besar di Pajang.”

Kasadha menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia menyadari kedudukannya sebagai seorang prajurit yang berada dibawah perintah Ki Rangga Larasgati. Betapapun dadanya bagaikan terbakar.

“Sekarang kau boleh kembali kepada prajurit-prajuritmu. Kau harus membuat mereka menyadari kewajibannya sebagai seorang prajurit Pajang yang besar,“ berkata Ki Rangga Larasgati. Lalu dengan nada tinggi ia berkata, “Ingat. Kau hanyalah seorang Lurah Penatus prajurit Pajang.”

Kasadhapun dengan cepat meninggalkan Ki Rangga Larasgati sebelum darahnya mendidih. Kasadha justru mencemaskan dirinya sendiri jika ia menjadi kehilangan kendali. Karena itu, maka yang terbaik baginya adalah meninggalkan Ki Rangga itu secepatnya.

Ketika Kasadha kembali kepada prajurit-prajuritnya, maka yang dilakukannya pertama-tama adalah melihat mereka yang terluka.

Namun tiba-tiba ia bertanya, “Kita harus menemukan kawan-kawan kita yang terbunuh di peperangan.”

“Tiga orang telah kami kuburkan,“ jawab salah seorang pemimpin kelompok kepercayaan Ki Lurah Kasadha itu.

“Jangan bodoh,“ sahut Kasadha, “aku yang memimpin upacara pelepasan.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnya ia memang belum selesai berbicara. Karena itu maka sejenak kemudian ia berusaha untuk menjelaskan, “Maksudku, selain tiga orang yang sudah kita kuburkan itu, ternyata masih ada delapan orang yang hilang, selain yang luka-luka.”

Kasadha mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku akan melihatnya di medan.”

Wajah pemimpin kelompok itu menjadi tegang. Katanya, “Itu akan sangat berbahaya.”

“Tidak. Kita tidak akan berbuat curang. Kita mencari kawan-kawan kita. Jika masih ada diantara mereka yang hidup, maka mereka memerlukan sekali pertolongan, itu,“ jawab Kasadha.

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun nampaknya Kasadha tidak memperhatikannya sama sekali. Bahkan Kasadha telah melangkah meninggalkannya.

“Ki Lurah,“ panggil pemimpin kelompok itu, “Ki Lurah akan pergi sendiri? Jika Ki Lurah menemukan orang-orang terluka itu, apa Ki Lurah dapat membawanya?”

“Aku hanya akan melihat. Tetapi menurut perhitunganku, seandainya ada yang terluka, maka mereka tentu telah dirawat oleh orang-orang Tanah Perdikan. Karena itu, maka aku juga akan pergi ke padukuhan itu, landasan garis perang pertama Tanah Perdikan Sembojan,“ jawab Kasadha.

“Tetapi, apakah Ki Lurah tidak akan ditangkap?“ bertanya pemimpin kelompok itu.

“Aku percaya bahwa orang-orang Tanah Perdikan Sembojan bukan pengecut yang bertindak licik. Bukankah aku juga pernah mengunjungi para pemimpin Tanah Perdikan?“ sahut Kasadha.

Pemimpin kelompok itu hanya termangu-mangu. Sementara itu Kasadha telah melangkah menembus kegelapan.

Tetapi pemimpin kelompok itu tidak berani menyusul Kasadha ke medan dan bahkan ke padukuhan. Mungkin Kasadha pernah dikenal oleh orang-orang Tanah Perdikan, karena ia memang pernah datang berkunjung sebelum pertempuran terjadi. Tetapi ia sendiri akan dapat menimbulkan salah paham, bahkan mungkin akan dapat menyulitkan Ki Lurah Kasadha sendiri.

Karena itu, pemimpin kelompok itu hanya berdiri termangu-mangu. Ia menyadari, betapa gelisahnya perasaan Kasadha yang harus melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nuraninya khususnya tentang Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu Kasadha telah menelusuri jalan bulak menuju ke bekas medan yang menjadi gelap dan sepi. Kasadha sendiri tidak yakin bahwa usahanya akan berhasil. Ia tidak akan dapat berbuat banyak didalam gelapnya malam, di tanah persawahan yang terinjak-injak kaki para prajurit dan pengawal yang sedang bertempur untuk saling membunuh.

“Apakah mempertahankan satu keyakinan yang berbenturan dengan keyakinan yang lain itu harus diselesaikan dengan kekerasan? “ pertanyaan itu tumbuh didalam hatinya. Sementara itu iapun menganggap bahwa satu keyakinan memang harus dipertahankan.

Kasadha tidak dapat menemukan jawabannya, sebagaimana ia ingin melihat bayangan didalam kegelapan.

Namun tiba-tiba Kasadha itu terkejut ketika dua orang ternyata telah mengikutinya. Ketika ia berhenti dan berputar, maka kedua orang itu telah mengacukan tombaknya.

“Siapa kau?“ bentak seorang diantara keduanya.

Kasadha memang ragu-ragu sebentar. Namun kemudian iapun berkata, “Aku, Kasadha, Ljurah Penatus prajurit Pajang.”

“Untuk apa kau datang kemari?“ bertanya seorang diantara kedua orang itu.

“Aku akan melihat medan. Aku kehilangan delapan orang selain yang gugur. Belum terhitung para prajurit Pajang dari kesatuan yang lain. Mungkin masih ada orang yang tertinggal di medan. Gugur atau terluka parah sehingga tidak diapat meninggalkan medan tanpa bantuan orang lain,“ jawab Kasadha.

“Medan itu telah kami bersihkan,“ berkata orang itu, “tidak seorangpun yang tertinggal.”

“Kalian menemukan orang-orangku atau prajurit-prajurit Pajang yang lain?“ bertanya Kasadha.

“Kau menjadi tawanan kami,“ berkata orang itu tiba-tiba.

“Tidak,“ jawab Kasadha, “aku datang tidak dalam rangkaian pertempuran. Aku datang untuk maksud-maksud lain dalam hubungannya dengan kemanusiaan.”

“Tetapi kau memasuki daerah kami,“ berkata orang itu.

“Bawa aku kepada Risang,“ tiba-tiba Kasadha justru membentak, “aku akan berbicara dengan anak muda itu. Ia adalah contoh seorang laki-laki yang utuh.”

“Besok kau akan kami bawa menghadapnya,“ jawab orang itu.

“Sekarang aku akan bertemu dengan Risang,“ jawab Kasadha, “seperti kemarin aku juga dapat menemuinya tanpa kesulitan. Aku akan minta ijin untuk melihat-lihat bekas medan pertempuran untuk mencari prajurit-prajuritku yang hilang.”

“Malam ini Risang sedang beristirahat,“ jawab orang itu.

“Tidak. Aku tahu ia ada di padukuhan itu,“ berkata Kasadha, “bawa aku kepadanya. Aku akan menerima keputusan apapun yang dikatakannya tentang aku.”

Kedua pengawal itu ragu-ragu. Sementara seperti malam sebelumnya Kasadha merentangkan tangannya sambil berkata, “Aku Lurah Penatus. Tetapi aku sekarang tidak bersenjata sama sekali.”

“Kau akan kami bawa ke gardu induk. Terserah apa yang akan dilakukan atasmu oleh para pemimpin pengawal di gardu induk.”

Kasadha tidak menjawab. Ia menurut saja perintah kedua orang pengawal yang membawanya ke gardu induk.

Kasadha memang menjadi termangu-mangu ketika ia melihat, digardu induk itu terdapat pula beberapa orang prajurit Jipang. Ia sadar, bahwa sikap prajurit Jipang tentu berbeda dengan sikap para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika kedua orang pengawal itu membawa Kasadha masuk ke gardu induk, maka beberapa orang yang ada di dalamnya terkejut. Dua orang prajurit Jipang dengan ser ta merta telah berdiri karena mereka melihat seorang prajurit Pajang yang datang ke gardu itu.

“Kami menemukan di bulak, didekat bekas medan pertempuran siang tadi,“ lapor salah seorang diantara para pengawal itu.

“Masukkan kedalam bilik tawanan,“ perintah pemimpin pengawal yang sedang bertugas, “prajurit itu tentu mempunyai maksud tertentu. Tetapi besok baru kita sempat memeriksanya.”

Jantung Kasadha menjadi berdebar-debar. Dengan lantang ia berkata, “Aku sengaja datang untuk menemui, Risang. Aku kemarin juga datang kepadukuhan ini dan bertemu dengan Risang, bahkan dengan Nyi Wiradarta.”

“Untuk apa kau akan menemui Risang malam ini?“ bertanya salah seorang pemimpin pengawal.

“Aku akan berbicara dengan anak muda itu,“ jawab Kasadha.

Namun pemimpin pengawal itu sekali lagi berkata, “Masukkan orang itu kedalam tahanan. Kita akan memeriksanya besok.”

Tetapi Kasadha berkata pula, “Aku Lurah Penatus prajurit Pajang. Aku tidak dapat kalian perlakukan seperti itu. Aku akan berbicara dengan Risang.”

“Kau tawanan kami. Siapapun kau. Meskipun kau Ki Rangga Larasgati, maka kau tidak dapat menolak,“ berkata salah seorang prajurit Jipang.

Wajah Kasadha menjadi tegang. Tetapi justru karena itu, maka suaranya menjadi semakin keras, “Aku akan bertemu dengan Risang. Jika kalian menghalangi aku malam ini, maka kalian tentu akan menyesal. Risang tentu akan menghukum kalian.”

Tetapi pemimpin pengawal itu berkata, “Kami menjalankan kewajiban kami.”

Kasadha hampir kehilangan haiapan. Satu-satunya jalan adalah menghentakkan dirinya dan berlari meninggalkan tempat itu. Keluar dari padukuhan dan menghilang didalam gelap. Jika tidak ada Sambi Wulung dan Jati Wulung yang baru diketahui nama mereka yang sebenarnya jauh setelah mereka berkenalan atau Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu sendiri, maka Kasadha berharap akan dapat luput dari kejaran para pengawal dan para prajurit Jipang.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang, “Biarlah Ki Lurah Kasadha itu bertemu dengan Risang.”

Para pengawal dan prajurit Jipang itu berpaling. Yang berdiri ditempat yang remang-remang itu adalah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Karena itu, maka para pengawalpun tidak dapat menolak perintah itu. Sementara itu Sambi Wulungpun berkata, “Biarlah aku yang membawanya.”

Para pengawal dan prajurit Jipang yang ada di gardu itupun kemudian telah menyerahkan Kasadha kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk dibawa ke banjar, karena Risang memang berada di banjar.

“Kenapa kau kemari?“ bertanya Sambi Wulung.

“Aku ingin melihat orang-orangku yang hilang. Apakah mereka masih berada di medan atau berada di sini?“ jawab Kasadha.

“Kami merawat beberapa orang prajurit Pajang yang terluka. Kamipun telah menguburkan empat sosok mayat prajurit Pajang,“ jawab Sambi Wulung.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mengira bahwa orang-orangnya yang terluka atau yang terbunuh telah dirawat oleh orang-orang Tanah Perdikan. Tetapi ada semacam dorongan yang tidak terlawan yang memaksanya untuk pergi ke padukuhan itu.

Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung sampai ke banjar bersama Kasadha, maka Risang memang terkejut.

“Kau?“ desis Risang.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia menjawab, maka Risangpun berkata, “Marilah, silahkan duduk.”

“Kau masih belum beristirahat?“ bertanya Kasadha.

“Aku masih harus menyelesaikan beberapa persoalan,“ jawab Risang. Namun iapun telah bertanya, “kau juga belum beristirahat?”

“Aku kehilangan beberapa orang prajuritku,“ jawab Kasadha.

“Kau mencarinya?“ bertanya Risang.

“Ya. Aku ingin mengetahui nasibnya,“ jawab Kasadha.

“Beberapa orang telah kami ketemukan,“ jawab Risang.

“Aku mengucapkan terima kasih,“ jawab Kasadha, “aku ingin bertemu dengan mereka.”

Risang termangu-mangu. Dengan nada rendah ia berkata, “Mereka adalah tawananku.”

“Aku tahu. Aku tidak akan mengambil mereka. Tetapi aku ingin melihat keadaan mereka,“ jawab Kasadha.

“Mereka dalam keadaan baik,“ jawab Risang, “kami mengetahui paugeran perang. Apa yang harus kami lakukan atas para tawanan.”

“Aku tahu,“ jawab Kasadha, “kau juga bekas seorang prajurit. Kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan terhadap para tawanan. Namun rasa-rasanya ada keinginanku untuk bertemu dengan mereka yang terluka parah.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah hal itu tidak akan merugikan dirimu sendiri?”

Kasadha mengerutkan dahinya. Dengan nada rendah ia bertanya, “Kenapa?”

“Jika kelak mereka sempat berbicara dengan atasanmu, Ki Rangga Larasgati, bahwa kau ada disini, apakah hal itu tidak akan menimbulkan kecurigaan?“ jawab Risang, “apalagi kami di Tanah Perdikan ini telah mendengar sikapmu terhadap Tanah Perdikan Gemantar.”

Wajah Kasadha tiba-tiba menunduk. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Memang satu kemungkinan. Aku yakin bahwa prajurit-prajuritku sendiri tidak akan menuduhku seperti itu. Tetapi prajurit-prajurit dari kesatuan lain atau yang langsung dibawa oleh Ki Rangga Larasgati memang dapat bersikap lain.”

“Karena itu, maka pertimbangankan baik-baik niatmu. Sebenarnya aku tidak berkeberatan membawamu ke bagian belakang rumah di sebelah simpang empat itu. Mereka ada disana. Aku tidak tahu apakah mereka prajurit-prajuritmu atau justru prajurit yang berada langsung dibawah perintah Ki Rangga Larasgati,“ berkata Risang kemudian.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku tidak akan melihat mereka. Tetapi aku minta ijin kepadamu untuk sekali lagi meneliti bekas medan itu. Apakah masih ada orang yang tercecer.”

“Kami telah melihat dengan teliti,“ jawab Risang.

“Aku akan menelusuri garis mundur pasukan Pajang,“ desis Kasadha, “mungkin diseberang garis perbatasan masih ada yang tertinggal. Bukankah para pengawal Tanah Perdikan ini tidak mencarinya diseberang perbatasan?”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Aku antar kau sampai keperbatasan.”

“Tidak-perlu kau sendiri Risang,“ sahut Kasadha. Tetapi Risang berkata, “Biarlah aku mengantarmu. Kau tidak akan diganggu oleh siapapun.”

Kasadha tidak dapat menolak. Risangpun kemudian telah berbenah diri sambil berkata, “Marilah. Kita memerlukan waktu untuk beristirahat. Karena itu, kau jangan sampai terlalu malam tinggal disini.”

Keduanyapun kemudian telah keluar dari banjar. Kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung Risang memberikan beberapa pesan, “Jika ibu bertanya, katakan bahwa aku mengantar Kasadha keperbatasan.”

Sambi Wulung memandang Risang dengan ragu. Bagaimanapun juga ia agak mencemaskan keselamatannya. Ia sama sekali tidak mencurigai Kasadha, tetapi disaat ia kembali ke padukuhan, maka akan dapat terjadi kecurigaan. Apalagi prajurit yang langsung berada dibawah perintah Ki Rangga Larasgati.

Karena itu, maka Sambi Wulungpun berkata, “Biarlah Jati Wulung berada di banjar.”

“Kenapa?“ bertanya Risang.

“Aku akan pergi bersamamu,“ jawab Sambi Wulung.

Namun tiba-tiba Kasadha bertanya, “Kau mencurigai aku?”

“Tidak. Aku tidak mencurigaimu. Tetapi jarak dari perbatasan ke padukuhan ini tidak terlalu pendek. Sementara prajurit Pajang yang ada di perkemahan tidak semuanya prajurit-prajuritmu,“ jawab Sambi Wulung.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian, silahkan.”

Risangpun kemudian tidak berkeberatan. Katanya, “Baiklah. Kita akan pergi bersama-sama.”

Demikianlah, maka mereka bertiga telah meninggalkan padukuhan. Beberapa orang pengawal memang merasa heran, bahwa Risang telah mengantarkan Kasadha menuju ke bekas medan pertempuran. Namun mereka menjadi agak tenang karena Sambi Wulung yang mereka kenal tingkat ilmunya, telah menyertai anak muda itu.

Ketiga orang itu memang telah menelusuri bekas medan yang garang disiang hari. Kasadha dengan teliti mengamati daerah yang cukup luas itu. Tetapi seperti dikatakan oleh Risang, bahwa tempat itu telah dibersihkan oleh para pengawal Tanah Perdikan. Justru Kasadha sendiri sudah menduga bahwa hal itu telah dilakukan.

Tetapi tanpa dapat dicegahnya, maka langkahnya telah membawanya ke Tanah Perdikan dan bertemu dengan kakak seayahnya itu. Tetapi ada sesuatu yang aneh dihati Kasadha. Meskipun ia tidak dapat mengatakannya kepada siapapun. Ia justru merasa kecewa bahwa ia tidak bertemu dengan Nyi Wiradana. Ibu tirinya. Ia tidak pernah merasakannya sebelumnya. Bahkan ia tidak pernah merasa kecewa bahwa ia tidak dapat bertemu dengan ibunya untuk berhari-hari, berbulan-bulan bahkan dengan hitungan tahun sekalipun. Tetapi Nyi Wiradana yang bernama Iswari itu ternyata telah menumbuhkan kesan tersendiri didalam hatinya.

“Aku merasa iri terhadap Risang,“ berkata Kasadha didalam hatinya itu, “ia memiliki sosok seorang ibu yang sebenarnya. Bagaimana mungkin Ki Wiradana yang mempunyai seorang isteri seperti Nyi Iswari itu harus mengambil istri yang lain seperti ibuku, Nyi Warsi?”

Kebenciannya kepada seorang laki-laki yang bernama Ki Rangga Gupita justru telah menggelegak didalam jantungnya.

Sebenarnyalah pada saat itu Ki Rangga Gupita justru telah berada di perkemahan Ki Rangga Larasgati. Tiga orang prajurit Pajang yang bertugas telah menangkapnya ketika Ki Rangga mendekati perkemahan itu. Tetapi Ki Rangga yang pernah bertugas sebagai prajurit sandi itu dengan tenang mengatakan, bahwa ia adalah ayah Kasadha.

“Aku ingin berbicara dengan anakku,“ berkata Ki Rangga.

“Katakanlah kepada pimpinan kami,“ jawab prajurit yang menangkapnya, “kau akan kami bawa menghadap Ki Rangga Larasgati.”

Ki Rangga Larasgati yang sudah ingin beristirahat itu memang merasa terganggu atas kehadiran seseorang yang mengaku ayak Ki Lurah Kasadha. Karena itu, maka iapun telah membentaknya, “Kenapa kau datang malam-malam begini?”

“Aku tahu, bahwa kesempatan yang paling baik untuk berkunjung ke perkemahan ini adalah di malam hari seperti sekarang ini,“ jawab Ki Rangga Gupita.

“Siapa kau sebenarnya?“ bertanya Ki Rangga Larasgati.

“Aku ayah Ki Lurah Kasadha. Aku adalah bekas prajurit Jipang. Orang memanggilku Ki Rangga Gupita,“ jawab Ki Rangga.

“Prajurit Jipang,“ ulang Ki Rangga Larasgati.

“Bekas. Dan aku adalah prajurit Jipang dimasa kekuasaan Arya Penangsang. Bukan Jipang sekarang, dibawah kekuasaan Pangeran Benawa. Kau lihat bahwa aku sudah terlalu tua untuk menjadi prajurit sekarang ini?”

“Apa maksudmu?“ bertanya Ki Rangga Larasgati.

“Aku ingin melihat, apakah anakku telah melakukan tugasnya dengan baik. Aku adalah seorang prajurit. Aku tidak mau melihat anakku menjadi seorang prajurit yang kurang baik,“ berkata Ki Rangga Gupita.

“Anakmu yang telah diangkat menjadi Lurah Penatus itu memang kurang baik,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

“Kenapa?“ bertanya Ki Rangga Gupita.

“Ia tidak bersungguh-sungguh. Demikian juga prajurit-prajuritnya yang seratus orang itu. Sebagai seorang prajurit Kasadha selalu dibayangi oleh keragu-raguan, ia tidak menunjukkan gejolak perasaan seorang prajurit di medan perang,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

“Apakah benar begitu?“ bertanya Ki Rangga Gupita pula.

“Ia tidak bersungguh-sungguh ingin mengalahkan Tanah Perdikan Sembojan. Seperti sikapnya di Gemantar, maka Ki Lurah Kasadha memang meragukan,“ jawab Ki Rangga Larasgati.

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, “Tidak. Aku tidak yakin akan keterangan Ki Rangga. Anakku harus berjuang dengan sungguh-sungguh. Ia harus menguasai Tanah Perdikan Sembojan.”

Ki Rangga Larasgati menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa?”

“Ia adalah pewaris Tanah Perdikan ini,“ jawab Ki Rangga Gupita.

Ki Rangga Larasgati terkejut. Dengan wajah tegang ia bertanya, “Kenapa Ki Rangga dapat mengatakan seperti itu?”

“Ia adalah anak Ki Wiradana, sehingga karena itu, maka ia adalah cucu Ki Gede Sembojan,“ jawab Ki gangga Gupita.

Wajah Ki Rangga Larasgati berkerut. Dengan nada rendah ia bertanya, “Tetapi bukankah anak itu anak Ki Rangga?”

“Ia adalah anak tiriku. Anak isteriku. Anak itu lahir karena isteriku adalah bekas isteri Ki Wiradana itu. Tetapi aku mengasuhnya sejak ia lahir. Ki Wiradana sendiri sudah terbunuh di pertempuran,“ jawab Ki Rangga Gupita.

“Pertempuran yang mana?“ desak Ki Rangga Larasgati.

“Melawan segerombolan penjahat yang sangat kuat, yang menyerang Tanah Perdikan ini,“ jawab Ki Rangga Gupita.

Ki Rangga Larasgati termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian berkata, “Mungkin ia memang tidak bersungguh-sungguh. Ia ingin Tanah Perdikan tidak dapat ditundukkan oleh Pajang, sehingga ia akan dapat merebutnya kemudian tanpa kehilangan haknya sebagai Tanah Perdikan.”

“Tidak,“ jawab Ki Rangga Gupita, “hal itu sulit dilakukannya karena Tanah Perdikan Sembojan cukup kuat. Tetapi bersama dengan tugasnya sebagai prajurit Pajang, ia akan dapat menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan sekarang dan membunuh seorang saudaranya laki-laki yang lahir dari ibu yang lain. Jika Risang itu sudah dibunuhnya, maka ia adalah satu-satunya pewaris yang sah atas Tanah Perdikan ini. Jika Tanah Perdikan ini sudah berada ditangan prajurit Pajang, maka hal itu tidak akan sulit diatur. Kasadha harus tunduk kepada ketentuan yang berlaku bagi Tanah Perdikan di Pajang. Ia akan menjadi Kepala Tanah Perdikan yang sah yang akan menjadi pendukung Pajang yang setia.”

Wajah Ki Rangga Larasgati nampak membayangkan kebimbangan. Tetapi Ki Rangga Gupita berkata selanjutnya, “Ki Rangga harus yakin bahwa anak itu akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ia akan membunuh Risang dan bahkan Iswari, isteri tua Ki Wiradana.”

***

Namun dalam pada itu, Kasadha dan Risang telah berada diperbatasan bersama Sambi Wulung. Tidak ada kesan permusuhan pada kedua orang saudara seayah tetapi berbeda ibu itu. Keduanya ternyata memiliki jiwa besar memandang kenyataan hidup yang harus mereka jalani. Kesalahan orang-orang tua mereka, bukan kesalahan mereka. Betapapun orang tua mereka terlibat kedalam benturan persoalan yang rumit, tetapi baik Ka sadha maupun Risang tidak pernah saling mendendam. Bahkan meskipun mereka berdiri berseberangan dalam pertempuran yang telah menelan korban itu.

“Aku akan kembali ke barak, Risang,“ berkata Kasadha kemudian.

“Besok aku tetap akan berada diinduk pasukan,“ berkata Risang dengan suara bergetar.

“Aku tidak. Aku tidak akan berada diinduk pasukan meskipun Ki Rangga memerintahkan hal itu,“ jawab Kasadha.

Risang mengangguk kecil. Sementara Kasadhapun telah menyeberangi perbatasan. Sepanjang garis mundur prajurit Pajang, Kasadha masih juga memperhatikan, barangkali ada prajurit yang terlampaui tidak mendapat perawatan karena keadaan. Para pengawal tidak akan mencapai tempat itu, sementara para prajurit Pajang tidak pula memberikan perhatian khusus.

Ternyata Kasadha benar-benar menemukan seorang prajurit yang terluka yang merintih diantara pepohonan di tanggul parit. Nampaknya prajurit itu berusaha untuk dapat minum meskipun sekedar air dari parit. Tetapi haus yang mencekik lehernya sudah tidak tertahankan lagi.

Dengan hati-hati Kasadha mendekati orang itu. Ketika ia yakin, maka iapun segera berjongkok didekatinya sambil berdesis, “Kau terluka? “

Orang itu seperti bermimpi. Antara sadar dan tidak ia merasakan tangan-tangan yang kuat mencengkamnya. Kemudian menariknya dari antara gerumbul-gerumbul ditanggul parit itu.

“Marilah,“ berkata Kasadha, “aku bantu kau kembali ke barak.”

Orang itu sudah demikian lemahnya. Namun ia masih tetap hidup. Suara Kasadha seakan-akan telah membang kitkan harapannya sehingga kekuatannya seakan-akan telah tumbuh kembali, meskipun sekedar untuk dapat bertahan.

Dengan susah payah Kasadha telah memapah orang itu menempuh jalan kembali ke perkemahan. Sementara itu, Kasadha masih juga memperhatikan keadaan disekitarnya. Ia masih mencari jika ada orang lain lagi yang tertinggal.

Tetapi agaknya sudah tidak ada orang lain yang masih berada di bekas medan pertempuran itu selain yang telah ditolongnya.

Selangkah demi selangkah keduanya berjalan menuju keperkemahan yang sudah menjadi semakin sepi.

Sementara itu, Ki Rangga Larasgati yang sedang berbicara dengan Rangga Gupita telah memerintahkan kepada prajurit yang bertugas untuk memanggil Kasadha.

“Panggil Ki Lurah. Katakan, ayahnya ada disini dan sedang menunggunya,“ perintah Ki Rangga Larasgati.

Prajurit itu mengangguk. Iapun segera pergi ke perkemahan Kasadha.

Pada saat itulah Kasadha datang dengan membawa seorang prajurit yang terluka. Prajurit itu memang bukan prajurit dari kesatuan Kasadha. Tetapi prajurit itu adalah prajurit Pajang.

Ketika perintah Ki Rangga Larasgati disampaikan kepada Kasadha, maka jantungnya justru menjadi berdebar-debar. Ia sama sekali tidak mengharapkan kedatangan ayah tirinya itu. Kebenciannya benar-benar telah memuncak. Namun Kasadha masih berusaha untuk menahan diri.

Tetapi Kasadha masih harus menyerahkan orang yang terluka itu lebih dahulu, baru kemudian ia pergi menghadap Ki Rangga Larasgati.

Para prajurit yang melihat usaha Kasadha menolong orang-orang yang tertinggal di medan memang merasa kagum. Lurah penatus yang masih muda itu ternyata seorang pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab.

“Tidak seorangpun yang berbuat seperti yang dilakukan oleh Ki Lurah,“ desis seorang pemimpin kelompok prajurit yang langsung berada dibawah perintah Ki Rangga Larasgati. Namun bagi prajurit-prajuritnya sendiri, tindakan itu telah melengkapi sederetan langkah yang mereka kagumi sebelumnya.

Ketika prajurit itu kemudian diterima oleh para petugas yang akan merawatnya, prajurit itu masih sempat berdesis, “Terima kasih Ki Lurah.”

Ki Lurah Kasadha menepuk bahu prajurit yang terluka cukup parah itu sambil berkata, “Kau akan cepat sembuh.”

Prajurit itu telah menitikkan air matanya. Diluar sadarnya ia berkata, “Aku juga mempunyai seorang anak laki-laki.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Beristirahatlah dengan baik. Aku akan menghadap Ki Rangga Larasgati.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian Kasadha telah menghadap Ki Rangga Larasgati. Orang yang menyebut dirinya ayahnya telah berada ditempat itu pula.

Demikian Kasadha duduk, maka Ki Ranggapun telah bertanya, “Kenapa pakaianmu terlalu kotor? Apakah kau tidak sempat membenahi diri setelah kau kembali dari medan pertempuran?”

“Bukankah aku sudah menghadap Ki Rangga? “ justru Kasadhalah yang ganti bertanya.

“Ya,“ jawab Ki Rangga, “jadi kenapa?”

Dengan singkat Kasadha memberikan laporan tentang seorang prajurit yang telah diketemukannya. Tetapi ia sama sekali tidak memberikan laporan tentang kepergiannya ke padukuhan pertama di Tanah Perdikan Sembojan.

“Kau telah melakukan sesuatu yang berbahaya,“ berkata Ki Rangga Larasgati, “Ada kemungkinan bahwa kau disergap oleh orang-orang Tanah Perdikan.”

“Aku berada diluar perbatasan Tanah Perdikan itu,“ jawab Ki Lurah Kasadha.

“Mereka adalah orang-orang yang licik tanpa menghormati hak dan wewenang orang lain,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

Kasadha tidak menjawab. Sekilas ia memandang kepada Ki Rangga Gupita. Namun iapun kemudian telah menundukkan kepalanya.

“Ki Rangga Larasgati memberimu petunjuk. Sebagai pimpinan yang memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dari pengalamanmu, maka Ki Rangga melihat kemungkinan itu,“ berkata Ki Rangga Gupita.

Kasadha masih berdiam diri.

Dalam pada itu, Ki Rangga Larasgatilah yang kemudian bertanya, “Kasadha. Menurut Ki Rangga Gupita, kau adalah satu diantara dua pewaris sah Tanah Perdikan Sembojan. Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku sebelumnya?”

Kasadha benar-benar terkejut mendengar pertanyaan itu. Ternyata Ki Rangga Gupita telah menceriterakan keadaannya dan latar belakang kehidupannya. Setidak-tidaknya dalam hubungannya dengan Tanah Perdikan Sembojan.

Hampir saja Kasadha kehilangan kendali. Tentu Ki Rangga Gupitalah yang telah menceriterakannya kepada Ki Rangga Larasgati dengan pamrih tertentu.

Namun untunglah, bahwa ia masih dapat menekan gejolak perasaannya itu. Ia tidak ingin membuat keributan di perkemahan prajurit Pajang itu.

“Kasadha,“ berkata Ki Rangga Larasgati, “jika demikian maka kesempatan ini adalah kesempatan yang paling baik bagimu. Kesempatan yang mungkin tidak akan pernah kau dapatkan lagi. Dengan kekuatan prajurit Pajang, maka kau harus dapat merebut Tanah Perdikan itu. Seperti dikatakan oleh Ki Rangga Gupita, jika kau berhasil membunuh Risang, maka kau akan menjadi satu-satunya pewaris yang sah atas Tanah Perdikan ini.”

Kasadha termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab.

“Kasadha,“ berkata Ki Rangga Larasgati selanjutnya, “besuk kita akan melanjutkan pertempuran melawan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Aku telah memerintahkan bukan saja para prajurit. Tetapi semua orang yang ikut dalam pasukan ini. Aku telah memerintahkan orang-orang yang selama ini bertugas didapur untuk ikut bertempur. Prajurit cadangan yang ada di perkemahan harus turun pula ke medan. Aku berharap bahwa dengan gelora yang tinggi, maka besuk kita benar-benar akan dapat memecahkan pertahanan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Adalah tugasmu untuk membunuh Risang serta ibunya,“ Ki Rangga Larasgati berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Selanjutnya kita dapat mengatur kemungkinan baru bagi Tanah Perdikan ini. Kau dapat mengundurkan diri dari dunia keprajuritan dan memerintah Tanah Perdikan Sembojan dibawah perlindungan prajurit Pajang.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih saja berdiam diri.

“Besok kau bersamaku diinduk pasukan. Kita berdua tentu dapat membunuh Risang yang telah dua kali berhadapan dengan aku. Ia justru telah melukaiku disaat aku menerima laporan tentang medan ini,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

Tetapi diluar dugaan Kasadha menjawab, “Aku tidak ingin berhadapan dengan Risang. Aku berada di medan karena aku seorang prajurit yang setia kepada tugasku. Aku tidak mau dituduh, bahwa apa yang aku lakukan disini adalah semata-mata kepentingan pribadiku.”

“Tidak ada yang akan menuduhmu demikian,“ berkata Ki Rangga Larasgati, “tidak ada orang yang tahu tentang dirimu yang sebenarnya.”

“Tetapi aku sendiri mengetahui, Ki Rangga. Aku tentu akan merasa setiap tatapan mata sebagai satu tuduhan bahwa aku telah mementingkan kepentinganku sendiri diatas tugasku sebagai seorang prajurit,“ jawab Kasadha.

“Kau jangan bodoh Kasadha,“ Ki Rangga Gupita ikut berbicara, “kau jangan berpura-pura seperti itu. Kau harus bertindak atas landasan nuranimu apapun yang kau lakukan. Seandainya kau mementingkan dirimu sendiri, maka jika hal itu menguntungkan pula tugas keprajuritanmu, maka Ki Rangga tentu tidak akan berkeberatan. Justru kau akan dianggap sebagai seorang prajurit yang baik.”

“Ayah,“ jawab Kasadha, “kali ini aku akan meng-kesampingkan persoalan pribadiku. Aku akan bertempur sebagai seorang prajurit. Aku sudah melakukannya sejak aku memasuki dunia keprajuritan. Kemarin, ketika aku datang ketempat ini, akupun telah bersiap-siap dan bahkan telah melakukannya. Apalagi ketika aku tahu bahwa didalam pasukan Tanah Perdikan itu terdapat sepasukan prajurit Jipang.”

“Tetapi kau harus mampu membunuh Risang dan ibunya,“ berkata Ki Rangga Gupita, “satu hal yang tentu sulit kau lakukan dalam keadaan lain. Sekarang kau datang dengan seratus orang prajuritmu ditambah dengan prajurit yang langsung datang dibawah pimpinan Ki Rangga Larasgati. Dengan jumlah yang demikian besar, kau tentu akan dapat melakukannya. Jika hari ini pasukan Pajang masih harus mengundurkan diri, bukan karena kekuatan Pajang kurang dari kekuatan Tanah Perdikan ini. Tetapi Pajang telah merendahkan kekuatan Tanah Perdikan ini dengan menyimpan terlalu banyak tenaga cadangan dan meletakkan para petugas di dapur dan mengurusi perlengkapan. Tetapi jika Ki Rangga memutuskan un tuk menurunkan mereka ke medan, maka kekuatan Tanah Perdikan tidak akan banyak berarti bagi Pajang.”

“Tidak,“ jawab Kasadha, “jika aku dan Ki Rangga Larasgati bersama-sama menekan Risang dan apalagi berusaha membunuhnya, maka itu hanya akan mempercepat kekalahan Pajang. Seharusnya kita lebih dahulu mengurangi jumlah kekuatan Tanah Perdikan sebanyak-banyaknya. Seandainya kita tidak membunuh mereka, maka dengan melukai mereka, maka kekuatan Tanah Perdikan akan menjadi susut.”

“Kenapa kau menganggapnya demikian?“ bertanya Ki Rangga Larasgati, “menurut pengalamanku, jika pimpinan tertinggi satu pasukan telah terbunuh, maka pasukan itu akan menjadi kehilangan tumpuan dan dengan mudah akan dapat dikalahkan.”

“Tetapi berbeda dengan pasukan Tanah Perdikan Sembojan,“ jawab Kasadha, “di Tanah Perdikan Sembojan, pimpinan tertinggi yang sebenarnya tidak turun ke medan. Nyi Wiradana dan Ki Tumenggung Jaladara berada di belakang medan pertempuran. Jika Risang terbunuh atau terluka, maka keduanya akan segera menggantikan kedudukannya dan semua orang tahu, bahwa ilmu Nyi Wiradana itu tidak akan dapat ditandingi oleh siapapun juga. Bahkan oleh sekelompok besar prajurit Pajang sekalipun. Demikian pula Ki Tumenggung Jaladara. Bahkan seandainya sesuatu terjadi atas Risang, maka dua orang saudara seperguruan yang kemudian aku ketahui bernama Sambi Wulung dan Jati Wulung akan dapat membahayakan seluruh pasukan Pajang. Tetapi jika para pengawal dan prajurit Jipang sudah kehilangan kekuatan dasarnya, maka kita akan dapat menghimpun kelompok-kelompok untuk menghadapi orang-orang terpenting itu. Karena kelompok-kelompok itu tidak akan terganggu oleh para pengawal Tanah Perdikan yang jumlahnya menjadi semakin sedikit sebelum hal itu disadari oleh pimpinan tertinggi Tanah Perdikan. Karena itu, maka yang harus kita lakukan secepat-cepatnya adalah mengurangi kekuatan dan jumlah para pengawal Tanah Perdikan, terutama para prajurit Jipang.”

Ki Rangga Larasgati mengangguk-angguk, ia sebenarnya dapat mengerti alasan Kasadha. Tetapi Ki Rangga Gupita telah menjawabnya lebih dahulu, “Tetapi kau harus membunuh Risang dan Nyi Wiradana. Harus. Kau tidak mempunyai pilihan lain.”

Kasadha memang menjadi tegang. Tetapi yang memegang perintah di perkemahan itu bukan Ki Rangga Gupita, melainkan Ki Rangga Larasgati.

Sementara itu Ki Rangga Larasgati memang memikirkan kemenangan Pajang diatas segala kepentingan.

Namun Ki Rangga Larasgati itupun kemudian berkata, “Baiklah. Apa yang dianggap penting oleh Kasadha, biarlah dilakukannya. Aku memandangnya sebagai seorang Lurah Penatus Prajurit Pajang. Ia harus bertempur dengan bersungguh-sungguh. Kita besok harus dapat memecahkan pertahanan Tanah Perdikan. Semua prajurit cadangan akan aku kerahkan, sehingga jumlah kita akan bertambah-tambah. Jika besok kita gagal lagi, maka kita akan menunggu tiga hari lagi, karena kita akan memanggil lagi prajurit dari Pajang. Tidak tanggung-tanggung. Semakin banyak semakin baik. Kita akan menggilas Tanah Perdikan menjadi debu.”

Wajah Kasadha memang menegang. Tetapi ia tidak dapat mencegah hal itu jika Ki Rangga Larasgati memang akan melakukannya. Namun dalam pada itu, Ki Rangga Gupita berkata dengan lantang, “Kau jangan bodoh Kasadha. Kau harus melakukannya. Jika kau tidak mau melakukannya karena alasan apapun juga, aku akan menawarkan diri kepada Ki Rangga Larasgati, bahwa aku akan mendampinginya di medan, dengan tugas khusus, membunuh Risang dan Nyi Wiradana.”

“Apa ayah merasa mampu membunuh Nyi Wiradana?“ bertanya Kasadha. Bahkan karena jantungnya telah menggelegar semakin keras, maka iapun berkata, “Bukankah ibu saja tidak mampu membunuh Nyi Wiradana. Sedangkan kemampuan ayah masih jauh dibawah kemampuan ibu.”

“Setan kau,“ geram Ki Rangga Gupita, “kau jangan merendahkan aku. Aku adalah seorang Rangga yang pernah bertugas dalam pasukan sandi Jipang. Seandainya aku tidak mampu membunuh Nyi Wiradana, maka aku dapat mempergunakan akal dan pengalamanku diantara sekian banyak prajurit Pajang. Aku tidak akan menantang Nyi Wiradana untuk berperang tanding sebagaimana dilakukan oleh ibumu yang keras hati itu. Tetapi aku akan mempergunakan kemampuan keprajuritanku serta pengalamanku sebagai petugas sandi di Jipang.”

Kasadha hanya dapat menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun dalam pada itu Ki Rangga Larasgati diluar sadarnya bertanya, “Apakah Nyi Wiradana benar-benar seorang yang berilmu sangat tinggi?”

“Ya,“ jawab Ki Rangga Gupita dengan serta merta, “ia memiliki ilmu yang seakan-akan berada diluar penalaran. Ia mampu mengalahkan orang-orang yang dianggap mumpuni dalam olah kanuragan.”

“Aku tidak mengira. Ia adalah seorang perempuan cantik yang lembut,“ berkata Ki Rangga Larasgati, “meskipun umurnya sudah semakin banyak menilik anaknya yang sudah dewasa, namun ia masih menunjukkan ujudnya sebagai seorang perempuan yang menarik.”

Meskipun Nyi Wiradana bukan ibunya, tetapi tiba-tiba saja Kasadha bertanya, “Untuk apa Ki Rangga menilai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang menjabat sebagai Senapati tertinggi di Tanah Perdikan ini dalam ujudnya sebagai seorang perempuan?”

Wajah Ki Rangga menjadi panas sesaat. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Sebenarnya aku merasa sayang untuk membunuhnya. Tetapi apaboleh buat. Aku sependapat dengan Ki Rangga Gupita. Risang dan Nyi Wiradana harus dibunuh. Kemudian kita akan berbicara tentang masa depan Tanah Perdikan ini.”

“Aku telah menawarkan diri untuk melibatkan diri Ki Rangga,“ berkata Ki Rangga Gupita, “meskipun umurku sudah melampaui umur yang pantas bagi seorang prajurit. Tetapi bukan berarti bahwa aku telah kehilangan kemampuanku sebagai seorang prajurit,“ berkata Ki Rangga Gupita.

“Ki Rangga Gupita belum terlalu tua. Ki Rangga masih menunjukkan ketegaran seorang perwira yang pantas untuk turun ke medan perang,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

Kasadha mengeluh didalam hati. Ternyata kedua orang Rangga itu telah berniat saling memanfaatkan keadaan, sehingga mereka akan dapat bekerja bersama. Meskipun belum dapat diketahui apa yang akan terjadi kemudian, setelah mereka menyelesaikan kerja sama itu.

Tetapi Kasadha tidak mau terlibat kedalam persoalan-persoalan seperti itu lebih jauh. Ia juga cemas tentang dirinya sendiri, apabila ia tidak mampu lagi mengendalikan perasaannya yang seakan-akan telah terombang-ambing dan terhempas berulang kali ke batu karang. Keangkuhan sikap Ki Rangga Larasgati. Ketamakan Ki Rangga Gupita dan Kasadha sendiri tidak tahu, kenapa ia merasa tidak rela atas sikap Ki Rangga Larasgati terhadap Nyi Wiradana, meskipun Nyi Wiradana itu bukan ibunya sendiri.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Lurah Kasadha itupun berkata, “Ki Rangga. Baiklah aku mohon diri. Aku juga ingin beristirahat agar besok aku dapat turun ke medan dengan tenaga baru. Aku harap Ki Ranggapun sempat beristirahat. Apalagi Ki Rangga terluka dan berdarah meskipun tidak seberapa. Tetapi Ki Rangga harus memulihkan tenaga sejauh-jauhnya.”

Tetapi yang menjawab adalah Ki Rangga Gupita, “Besok aku akan mendampingi Ki Rangga di medan perang. Risang akan mati tanpa mengurangi nama baikmu sebagai seorang prajurit.”

Kasadha tidak menjawab. Namun iapun kemudian bangkit sambil berkata, “Selamat malam ayah.”

Ki Rangga Larasgati tidak menahannya lagi. Dibiarkannya Kasadha kembali ke pasukannya. Besok ia harus turun ke medan dengan tenaga penuh untuk menghadapi terutama para prajurit dari Jipang.

Dengan kepala tunduk Kasadha menuju ke pasukannya yang sedang tidur nyenyak. Namun pemimpin kelompok kepercayaannya itupun ternyata masih juga belum tidur. Ketika Kasadha datang, maka pemimpin kelompok itu masih duduk bersandar sepotong bambu di perkemah-annya sambil menjelujurkan kakinya. Namun iapun segera bangkit ketika ia melihat Kasadha datang.

“Kenapa kau belum tidur?“ bertanya Kasadha.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku tidak dapat tidur. Aku tahu Ki Lurah merasa sangat gelisah. Rasa-rasanya aku ikut menjadi gelisah pula.”

Kasadha memandang orang itu sekilas. Kemudian katanya, “Tidurlah. Besok kita akan menghadapi para prajurit Jipang.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Jika aku boleh mengetahuinya, apa saja yang dikatakan oleh Ki Rangga? Nampaknya ada sesuatu yang penting. Apa pula berita yang dibawa oleh ayah Ki Kasadha yang katanya telah datang ke perkemahan ini pula?”

“Persoalan pribadi. Persoalan yang untuk sementara harus aku kesampingkan,“ berkata Kasadha. Lalu katanya pula, “Sekarang tidurlah. Pagi-pagi kita harus bangun dan bersiap untuk saling membunuh dengan sesama. Aku tidak tahu, apakah tidak ada cara lain yang dapat ditempuh selain saling berbunuhan.”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Sementara itu Kasadha berdesis, “Untunglah bahwa didalam pasukan Tanah Perdikan itu terdapat prajurit Jipang yang dapat untuk menyalurkan gejolak didalam dada ini. Jika tidak, aku dapat menjadi gila disini.”

Pemimpin kelompok itu kemudian berkata lirih, “Ki Lurah harus dapat menemukan keseimbangan jiwa dalam tugas ini.”

“Sudah aku katakan, prajurit Jipang itu dapat memberikan keseimbangan itu,“ jawab Kasadha.

“Persoalan apa yang sebenarnya Ki Lurah hadapi? Seharusnya Ki Lurah tidak memikul beban itu sendiri. Apakah mungkin aku dapat membantunya mengangkat beban itu? “ pemimpin kelompok itu masih bertanya.

“Sudahlah. Tidak seorangpun yang dapat mencampuri persoalan yang sangat pribadi ini. Namun bagaimanapun juga, aku akan tetap berpegang teguh pada tugas dan janji seorang prajurit,“ jawab Kasadha. Lalu iapun berdesis, “Terima kasih.”

Pemimpin kelompok itu tidak mendesaknya lagi. Tetapi pemimpin kelompok itu mengerti, bahwa di Gemantar, Kasadha telah dianggap tidak tegak sepenuhnya dalam tugas keprajuritannya. Sehingga ia telah ditarik kembali.

Pemimpin kelompok itupun kemudian telah mencoba untuk membaringkan dirinya diantara para prajurit. Ia mencoba untuk melupakan segala-galanya agar ia dapat tidur sehingga tenaganya akan dapat pulih kembali besok jika ia turun kembali kemedan, meskipun ia tidak tahu apakah ia akan mendapat kesempatan untuk keluar lagi dari medan itu karena setiap orang menghadapi kemungkinan yang sama. Mati di peperangan.

Kasadha sendiri juga telah membaringkan tubuhnya. Ia mendapat, tempat yang agak terpisah dari prajurit-prajuritnya. Dibawah atap ilalang, diatas sehelai tikar pandan Kasadha berbaring.

Beberapa saat matanya masih saja terbuka. Namun Kasadha memang hampir kehilangan akal. Kehadiran orang yang mengaku ayahnya itu menambah kalut perasaannya.

Kasadha memang tidak dapat membagi beban dengan para prajuritnya. Ia hanya dapat mengadukan persoalannya kepada Yang Maha Agung.

Sementara itu perkemahan prajurit Pajang itu telah menjadi sepi. Para prajurit termasuk Ki Rangga Larasgati dan tamunya Ki Rangga Gupita telah berbaring di pembaringan masing-masing. Hanya mereka yang bertugas sajalah yang masih berjalan hilir mudik disekitar perkemahan itu.

Dinginnya malam seakan-akan telah menyusup sampai ketulang. Embun telah jatuh pula diatas perkemahan itu, sehingga ujung-ujung tombak mereka yang bertugas bagaikan telah direndam didalam air. Basah.

Namun dalam pada itu, ketika perkemahan itu menjadi lelap, dari kejauhan telah terdengar derap beberapa ekor kuda yang berpacu menuju ke perkemahan itu. Para prajurit yang bertugas yang mendengar derap kaki kuda itu telah bersiap-siap. Beberapa orang telah berada di luar perkemahan dengan ujung tombak yang bergetar.

“Bukan dari arah padukuhan?“ desis seorang prajurit.

“Ya. Tidak dari arah Tanah Perdikan,“ sahut yang lain.

Sebenarnyalah semakin lama memang menjadi semakin jelas. Derap kaki kuda itu memang bukan dari arah Tanah Perdikan.

Beberapa orang prajurit yang sedang tertidurpun ada pula yang terbangun. Kasadha merasakan tanah bagaikan bergetar, sehingga iapun telah terbangun pula.

Ampat orang berkuda telah mendekati perkemahan para prajurit Pajang itu. Semakin lama menjadi semakin dekat.

Dengan cepat pula beberapa orang yang sedang bertugas telah berkumpul. Merekapun dengan sigap berloncatan dengan senjata yang siap ditangan.

Beberapa saat kemudian, maka seakan-akan muncul dari kegelapan ampat orang berkuda langsung menuju ke perkemahan. Namun mereka segera memperlambat derap lari kuda mereka ketika mereka melihat beberapa orang prajurit memberikan tanda agar mereka berhenti.

Para prajurit yang menghentikan orang-orang berkuda itupun segera mengenali keempat orang itu dari pakaian mereka, bahwa keempat orang berkuda itu adalah juga prajurit:prajurit Pajang.

“Kami membawa perintah Ki Tumenggung Banda-pati untuk Ki Rangga Larasgati,“ berkata pemimpin kelompok kecil itu.

Para petugas itupun kemudian telah membawa keempat orang berkuda itu masuk kedalam perkemahan. Setelah mengikat kuda-kuda mereka, maka keempat orang itupun telah dibawa langsung ke perkemahan Ki Rangga Larasgati.

Di depan perkemahan Ki Rangga keempat orang itu dipersilahkan untuk menunggu sementara seorang prajurit yang bertugas khusus telah membangunkan Ki Rangga yang baru saja sempat tidur.

“Ada apa?“ bertanya Ki Rangga yang kemudian bangkit.

“Ampat orang utusan Ki Tumenggung Bandapati,“ jawab prajurit itu.

Wajah Ki Rangga menegang sejenak. Sesuatu dengan tiba-tiba telah bergejolak didalam hatinya. Apakah Pajang begitu cepat mengetahui kegagalannya hari itu dan begitu cepat pula mengirimkan utusan untuk datang ke perkemahan itu.

Tetapi Ki Rangga tidak mau berteka-teki lebih lama lagi. Iapun telah memerintahkan prajuritnya untuk membawa keempat orang itu masuk.

“Marilah,“ Ki Ranggapun kemudian telah memper-silahkan keempat orang prajurit itu masuk kedalam perkemahannya.

Ternyata bahwa dua diantara keempat orang itu telah dikenal dengan baik oleh Ki Rangga Larasgati sebagai pembantu-pembantu.terdekat Ki Tumenggung Bandapati.

“Kedatangan kalian mengejutkan kami di perkemahan ini,“ berkata Ki Rangga.

“Kami membawa perintah Ki Tumenggung,“ jawab pemimpin kelompok kecil yang sudah dikenal dengan baik oleh Ki Rangga itu.

“Perintah apa yang kau bawa?“ bertanya Ki Rangga Larasgati setelah mereka duduk dalam lingkaran di perkemahan yang sempit itu.

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menunggu lebih lama lagi. Ia memang mendapat perintah untuk melaksanakan tugasnya dengan cepat.

Karena itu, maka pemimpin dari sekelompok kecil prajurit itu berkata, “Ki Rangga. Aku membawa perintah dari Ki Tumenggung Bandapati, bahwa semua prajurit Pajang harus ditarik kembali kedalam kota.”

“He,“ Ki Rangga terkejut, “bukankah kami sedang menjalankan perintah khusus untuk menyelesaikan persoalan beberapa Tanah Perdikan yang berada dibawah naungan Pajang, termasuk Tanah Perdikan Sembojan?”

“Ya. Tetapi keadaan Pajang menjadi gawat. Ternyata Pajang telah dikepung oleh pasukan Panembahan Senapati dan pasukan Pangeran Benawa. Panembahan Senapati membawa pasukannya dari Barat, sedangkan Pangeran Benawa nampaknya telah mendekati Pajang dari arah Timur,“ berkata prajurit itu lebih lanjut. Lalu katanya pula, “karena itu, maka semua kekuatan harus ditarik masuk kota. Kita harus bertahan dari serangan yang datang dari Barat maupun dari Timur itu.”

“Tetapi bagaimana dengan Tanah Perdikan ini? Ternyata sekelompok prajurit Jipang juga berada disini. Di Tanah Perdikan Sembojan untuk membantu Tanah Perdikan itu,“ berkata Ki Rangga.

“Jadi pasukan Jipang juga sudah berada disini?“ bertanya prajurit itu.

“Ya. Bukankah bagi Pajang akan sama saja arti, jika kami bertempur disini melawan Pajang dan sekaligus menertibkan Tanah Perdikan yang tidak mau lagi tunduk kepada paugeran yang mengikat mereka?“ bertanya Ki Rangga.

“Apakah Ki Bandapati telah mengetahui akan hal itu?“ bertanya prajurit itu pula.

“Kami mendapat tugas dari Ki Tumenggung Bandapati yang mendapatkan wewenang untuk menyelesaikan persoalan beberapa Tanah Perdikan,“ berkata Ki Rangga Larasgati. Tetapi katanya kemudian, “Namun Ki Bandapati belum tahu bahwa disini ada pasukan Jipang yang mencoba untuk menghasut dan kemudian membantu Tanah Perdikan Sembojan.”

“Tetapi perintah Ki Tumenggung Bandapati itu tegas Ki Rangga. Ki Rangga harus membawa seluruh pasuk an termasuk yang dipimpin oleh Lurah Penatus Kasadha,“ berkata pemimpin kelompok kecil itu.

Jantung Ki Rangga terasa berdetak semakin cepat. Ia sudah mempersiapkan diri untuk mengerahkan semua kekuatan yang ada termasuk para prajurit yang bertugas didapur dan mengatur perlengkapan serta pasukan cadangan untuk turun kemedan dan menembus sampai ke padukuhan induk. Menangkap Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang cantik itu dan kemudian membunuh anak laki-laki dari Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Tetapi prajurit yang datang itu mengulangi perintah Ki Tumenggung, “Ki Rangga diperintahkan agar segera berangkat demikian aku menyampaikan perintah ini.”

“Ki Tumenggung tidak adil,“ berkata Ki Rangga, “kami telah mengalami kegagalan disini sehingga kami minta dikirim pasukan Ki Lurah Kasadha kemari. Tetapi demikian kami berpengharapan untuk menyelesaikan tugas ini, kami telah mendapat perintah untuk ditarik kembali. Apalagi malam ini juga. Sebenarnya aku tidak pernah berniat untuk melawan perintah. Tetapi bagaimana pertimbangan kalian, jika besok saja kami berangkat ke Pajang. Besok kami masih akan menghancurkan pasukan pengawal Tanah Perdikan serta para prajurit Jipang yang ada disini. Bahkan kami minta kalian berempat ikut pula memperkuat pasukan Pajang. Meskipun kalian hanya ampat orang, tetapi kemampuan kalian akan sangat berarti. Kalian berempat akan dapat menghadapi orang-orang berilmu tinggi dari Tanah Perdikan ini yang sebelumnya tidak kami perhitungkan.”

Tetapi pemimpin prajurit yang diperintahkan oleh Ki Tumenggung untuk memanggil Ki Rangga Larasgati itu menggeleng. Katanya, “Aku hanya mendapat perintah untuk memanggil Ki Rangga. Segala sesuatunya tergantung kepada Ki Rangga. Tetapi pesan Ki Tumenggung, Ki Rangga harus segera berada di Pajang sebelum pasukan Mataram bergerak. Nampaknya kekuatan Jipang disisi Timur tidak akan menentukan. Pasukan Mataram yang besar akan menggilas Pajang jika kita tidak mempersiapkan semua kekuatan yang ada. Kita tidak tahu, kapan Panembahan Senapati akan bergerak. Mungkin hari ini, mungkin besok atau lusa, atau sama sekali tidak. Tetapi kita harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Jika Ki Rangga terlambat, maka agaknya akibatnya akan kurang baik. Bukan saja bagi Pajang, tetapi juga bagi Ki Rangga sendiri. Perlu kami beritahukan bahwa pasukan yang ada di Gemantar juga sudah ditarik.”

Ki Rangga memang tidak dapat membantah lagi. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja telah masuk keruangan itu Ki Rangga Gupita. Tiba-tiba saja ia telah berkata lantang, “Tidak. Ki Rangga Larasgati tidak boleh meninggalkan Tanah Perdikan ini sebelum Risang terbunuh. Ki Rangga dapat menawan Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu dan memperlakukannya sebagai seorang perempuan boyongan.”

Keempat orang prajurit itu termangu-mangu. Pemimpin mereka itupun bertanya, “Siapakah orang ini? Ia bukan prajurit Pajang dan aku belum pernah mengenalnya.”

Ki Rangga Larasgatipun berkata, “Ki Rangga. Silahkan duduk. Keempat orang ini adalah orang-orang yang mendapat perintah dari Ki Tumenggung Bandapati.”

“Tetapi tugas Ki Rangga Larasgati harus diselesaikan dahulu. Aku sudah berjanji untuk bersama-sama membunuh Risang itu. Baru kemudian Ki Rangga Larasgati kembali ke Pajang,“ berkata Ki Rangga Gupita.

“Tetapi siapakah orang ini Ki Rangga?“ desak pemimpin sekelompok kecil prajurit berkuda yang datang itu.

“Ki Rangga Gupita,“ jawab Ki Rangga Larasgati, “seorang prajurit Jipang.”

“Prajurit Jipang,“ keempat orang prajurit berkuda itu terkejut. Namun Ki Rangga Larasgati dengan cepat menyahut, “Bekas prajurit Jipang dimasa kekuasaan Arya Jipang beberapa tahun yang lalu, sebelum Jipang jatuh dan Pajang berdiri.”

“Apa kepentingannya disini?“ bertanya pemimpin prajurit berkuda itu.

“Ia telah menyatakan kesediaannya membantu aku membunuh Risang,“ berkata Ki Rangga Larasgati.

“Tetapi dengan demikian Ki Rangga telah membawa orang lain kedalam tubuh kita. Apakah Ki Rangga Larasgati mempercayainya sepenuhnya?“ bertanya pemimpin prajurit berkuda itu.

“Ki Rangga Gupita adalah ayah Ki Lurah Kasadha,“ jawab Ki Rangga Larasgati. Kemudian katanya pula, “Karena persoalan pribadi, maka Ki Rangga Gupita telah bersedia membantu kita ikut menyerang para pengawal Tanah Perdikan Sembojan dan prajurit Jipang yang membantu mereka.”

Pemimpin prajurit berkuda itu mengangguk-angguk. Jika orang itu ayah Ki Lurah Kasadha, serta Ki Rangga Larasgati ingin memanfaatkan persoalan pribadi orang itu, maka mereka tidak berkeberatan. Tetapi bagaimanapun juga pemimpin prajurit berkuda itu berkata, “perintah Ki Tumenggung sudah jelas.”

“Ki Rangga Larasgati telah membawa wewenang ketika ia mendapat perintah untuk datang ke Tanah Perdikan ini. Ia dapat mengambil kebijaksanaan tertentu sehingga tugasnya dapat diselesaikan. Jika Ki Rangga harus kembali malam ini, apa artinya kematian yang telah dikorbankan selama ini? Beberapa orang prajurit telah gugur dan yang lain terluka parah. Apakah pengorbanan mereka dibiarkan sia-sia?“ sahut Ki Rangga Gupita.

“Kau ini siapa?“ bertanya pemimpin prajurit berkuda itu.

“Apakah kau tidak mempunyai telinga? Bukankah hal itu sudah dijelaskan sehingga seharusnya kau tidak bertanya lagi,“ jawab Ki Rangga.

Wajah prajurit itu menjadi merah. Dengan lantang ia berkata, “Kau bukan keluarga kami, meskipun kau ayah Ki Lurah Kasadha. Apa hakmu berbicara diantara kami? Jika sekali lagi kau mencampuri persoalan kami, maka kami akan mengusirmu dari tempat ini. Jika perlu dengan kekerasan. Ki Lurah Kasadha akan diperintahkan untuk membawamu pergi atau Ki Lurah Kasadha yang akan dianggap menolak perintah. Kau kira Ki Lurah Kasadha lebih berkuasa dari Ki Tumenggung Bandapati? Jika aku berbicara atas nama Ki Tumenggung Bandapati, maka aku membawa wewenang dari Ki Tumenggung itu. Karena itu aku akan mengulangi perintahnya kepada Ki Rangga Larasgati, kita berangkat kembali ke Pajang. Sekarang.”

Dada Ki Rangga Gupitapun bergelora. Tetapi ia menyadari bahwa ia memang tidak dapat berbuat apa-apa. Ia bukan lagi seorang perwira dalam jajaran prajurit, apalagi prajurit Pajang.

Sementara itu Ki Rangga Larasgatipun tidak mempunyai kesempatan apapun untuk mengelak dari perintah Ki Tumenggung Bandapati. Apalagi Ki Rangga dapat menduga latar belakang dari perintah itu, yang dapat diartikan dalam berbagai kemungkinan. Mungkin beberapa orang pemimpin Pajang melihat bahwa Ki Tumenggung Bandapati telah menyalah gunakan kekuasaannya. Mungkin justru karena iri hati atau usaha orang lain untuk merebut kesempatan yang diperoleh Ki Tumenggung Bandapati dengan memanfaatkan kehadiran prajurit Mataram dan Jipang.

Namun apapun alasannya, prajurit Pajang itu harus ditarik mundur.

Karena itu, maka Ki Rangga telah memanggil beberapa orang pemimpin pasukannya termasuk Ki Lurah Kasadha. Dengan singkat Ki Rangga mengulangi perintah Ki Tumenggung Bandapati lewat keempat prajurit berkuda itu.

Beberapa orang pemimpin memang terkejut. Mereka sudah bersiap-siap untuk memberikan pukulan terakhir kepada Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tahu bahwa Ki Rangga telah mempersiapkan segala-galanya. Semua prajurit telah diperintah untuk turun ke medan. Bahkan prajurit yang seharusnya bertugas didapur sekalipun. Apalagi prajurit yang dipersiapkan sebagai pasukan cadangan.

Namun tiba-tiba perintah itu datang. Seperti angin yang bertiup menyapu awan hitam yang sudah menggantung dilangit.

Namun seorang diantara para pemimpin prajurit itu justru mengucap sokur didalam hatinya. Dengan sepenuh hati ia berkata didalam dadanya, “Yang Maha Agung ternyata sudi mendengarkan keluhanku .”

Orang itu adalah Ki Lurah Kasadha. Sebenarnyalah ia merasa dibebaskan dari tekanan jiwa yang sangat berat. Sementara itu ia berkata pula didalam hatinya, “Aku akan dapat melawan Jipang dimana saja.”

Perintah penarikan itu bagi Kasadha bagaikan pembebasan baginya dari beban yang sangat berat. Seandainya di Tanah Perdikan itu tidak ada prajurit Jipang, maka Kasadha akan kehilangan akal. Bahkan mungkin sekali Kasadha akan memilih kehilangan kedudukan keprajuritannya daripada harus bertempur larigsung melawan pimpinan Tanah Perdikan Sembojan itu. Kasadha memang pernah mendapat peringatan kareriatindakarinya di Gemantar yang tidak mempunyai hubungan pribadi apapun juga. Apalagi di Tanah Perdikan itu.

Demikanlah, maka Ki Ranggapun kemudian telah memerintahkan semua prajuritnya untuk bersiap-siap. Malam itu juga mereka akan meninggalkan perbatasan Tanah Perdikan Sembojan untuk kembali ke Pajang menghadapi tugas yang baru yang nampaknya tidak kalah beratnya dari tugas yang dilakukannya itu. Di Pajang mereka akan berhadapan lagi dengan para prajurit Jipang dan bahkan prajurit Mataram.

Karena prajurit Pajang adalah prajurit yang telah terlatih dengan baik, maka meskipun sebagian dari mereka merasa kecewa, namun dalam waktu singkat mereka telah menyelesaikan persiapan untuk berangkat kembali ke Pajang yang menurut para prajurit dari pasukan berkuda itu menjadi gawat.

Prajurit berkuda itupun telah menunjukkan jalan yang harus mereka lalui agar mereka tidak terjebak kedalam perkemahan para prajurit Mataram dan Pajang.

Menjelang dini, maka semua persiapan telah selesai. Semua perlengkapan telah terikat dipunggung beberapa ekor kuda. Ketika para prajurit dikumpulkan untuk mendapat perintah terakhir, maka Kasadha masih sempat memandang kekejauhan. Dipandanginya padukuhan pertama dari Tanah Perdikan Sembojan yang menjadi landasan utama pasukan pengawal Tanah Perdikan itu untuk menghadapi Pajang.

Dari kejauhan nampak lampu-lampu minyak serta oncpr di regol yang berkeredipan di kelamnya sisa malam. Namun langit memang sudah nampak lebih terang oleh cahaya dini hari.

Kasadha itu menggelengkan kepalanya. Didalam hatinya ia berjanji bahwa secara pribadi ia tidak akan mengusik kedudukan Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang akan temurun kepada anak laki-lakinya yang bernama Risang, yang dikenalnya sebagai Barata didalam satu kesatuan yang bahkan telah pernah menyelamatkan nyawanya di medan pertempuran melawan prajurit Mataram.

“Perang melawan Mataram itu akan diulangi,“ berkata Kasadha didalam hatinya.

Ketika kemudian terdengar bunyi bende sekali, maka Kasadha bagaikan terbangun dari sebuah mimpi yang mendebarkan. Perlahan-lahan ia melangkah ke pasukannya yang telah bersiap. Kemudian terdengar bunyi bende untuk kedua kalinya, sebagai pertanda bahwa semua orang didalam pasukan itu harus sudah bersiap. Tidak ada lagi yang akan tercecer dan ketinggalan.

Beberapa saat kemudian, maka telah terdengar suara bende untuk ketiga kalinya. Ki Rangga Larasgatipun segera meneriakkan aba-aba bagi pasukannya yang mulai bergerak berangkat menuju ke Pajang.

Sementara itu Ki Rangga Gupita telah ikut pula melangkah di belakang pasukan itu sambil mengumpat tidak habis-habisnya. Ia yang seakan-akan telah melihat mayat Risang dan Nyi Wiradana terkapar harus menerima kenyataan yang ternyata sangat pahit itu. Pasukan Pajang yang tinggal selangkah menginjak Tanah Perdikan Sembojan dan kemudian menghancurkannya, telah meninggalkan Tanah Perdikan itu dalam keadaan utuh.

Namun dalam pada itu, ketika bende itu terdengar dari padukuhan pertama Tanah Perdikan Sembojan, memang telah menimbulkan kesibukan yang luar biasa. di malam hari suara bende itu seakan-akan menjadi semakin jelas. Para pengawal yang bertugas memang mendengar suara bende yang melengking menggetarkan udara. Bende yang suaranya bergema menelusuri malam yang sepi. Karena itu, maka merekapun segera menyampaikan laporan kepada para pemimpin di banjar.

Perintahpun segera diberikan oleh Risang, agar semua pasukan disiapkan. Semua pengawal yang bertugas malam itu harus dengan cepat keluar dari regol padukuhan mengamati keadaan.

Dengan tergesa-gesa semua pengawal yang tersebar dirumah-rumah di padukuhan itu telah disiapkan, pengan cepat mereka menuju keluar regol padukuhan dan menyusun pertahanan. Para prajurit Jipang yang memang sudah terlatih itupun dengan cepat telah bersiaga pula. Seperti sehari sebelumnya, maka pasukanpun segera tersusun dalam gelar yang sederhana.

Risang telah bersiap pula di induk pasukannya. Sambil Wulung dan Jati Wulung telah mendekatinya pula. Sementara Gandar berdiri beberapa langkah dihadapan mereka.

“Nampaknya Pajang telah kehilangan akal, sehingga mereka akan menyerang sebelum fajar,“ berkata Sambi Wulung.

Risang termangu-mangu. Dengan tegang ia memandang ke arah perkemahan para prajurit Pajang. Tetapi yang nampak hanyalah peletik cahaya obor yang menerangi beberapa bagian dari perkemahan itu.

Ketika kemudian bende berbunyi dua kali, pasukan Tanah Perdikan itupun telah menempatkan dirinya dalam kesiagaan penuh. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah siap untuk menempati kedua ujung sayap seberang menyeberang.

Namun pada saat itu Iswari dan Ki Tumenggung Jaladara telah berada pula di medan. Mereka telah mendapat laporan.tentang gerakan pasukan Pajang, sehingga dengan tergesa-gesa keduanya telah menemui Risang yang memandang kearah perkemahan dengan tegang.

“Aku menyangsikan gerakan mereka,“ berkata Ki Tumenggung Jaladara.

“Maksud Ki Tumenggung?“ bertanya Risang.

“Aku tidak menyalahkan persiapan yang kita lakukan. Kita memang harus berbuat demikian tanpa memungkinkan terjadinya akibat yang sangat buruk bagi kita. Tetapi prajurit Pajang itu dapat saja melakukan permainan untuk sekedar mengejutkan kita dan mengganggu istirahat kita,“ berkata Ki Jaladara. Lalu katanya pula, “Jarak antara kedua landasan pasukan ini memang terlalu dekat meskipun satu sama lain berada di sebelah menyebelah perbatasan. Sementara itu jika Pajang benar-benar menyerang para pengawal dan prajurit masih belum sempat makan. Dengan demikian maka daya tahan mereka dalam pertempuran mendatang tentu tidak akan utuh.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan memerintahkan penghubung untuk menghubungi dapur. Jika mungkin, maka siapa yang sempat makan biarlah makan.”

“Apakah Bibi tidak datang ke banjar?“ bertanya Iswari.

Risang menggeleng sambil menjawab, “Sejak peristiwa kedatangan ampat orang prajurit Pajang itu, maka Bibi tidak mau meninggalkan dapur.”

Namun ternyata para prajurit Jipang dan para pengawal tidak sempat untuk makan, karena jarak antara suara bende kedua dan ketiga tidak cukup lama.

Memang sebelum fajar, terdengar bunyi bende untuk ketiga kalinya. Hanya lamat-lamat. Namun cukup jelas bagi setiap pengawal dan prajurit Jipang.

“Harus ada yang menyiapkan makan dan dibawa ke medan,“ perintah Risang, “apapun cara yang dipergunakan, tetapi kita jangan sampai dikalahkan hanya karena kelaparan.”

Sementara itu, maka Risangpun telah mempersiapkan para pengawal dan prajurit Jipang untuk bergerak. Iswari dan Ki Tumenggung Jaladara telah bersiap pula. Mereka memang menjadi marah dengan cara yang ditempuh Pajang. Karena itu, maka Nyi Wiradana dan Ki Tumenggung Jaladara berniat untuk ikut bertempur agar mereka dapat memberi kesempatan kepada para prajurit bergantian makan dan minum karena keduanya akan dapat menghisap kelompok-kelompok prajurit Pajang.

Demikian pula Risang telah memerintahkan kepada Gandar, Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk mencari cara agar para pengawal dan prajurit tidak kehabisan tenaga karena kelaparan. Sementara itu, Ki Lurah Sasabanpun telah mendapat perintah yang sama pula dari Ki Tumenggung Jaladara.

“Pertempuran ini akan menentukan,“ berkata Risang.

Dengan demikian, memang terjadi ketegangan didalam pasukan pengawal yang harus bersiap dengan tergesa-gesa itu. Karena itu, maka pasukan pengawal itu memang agak lambat bergerak. Beberapa saat setelah terdengar suara bende untuk yang ketiga kalinya, barulah pasukan Tanah Perdikan bergerak maju mendekati perbatasan. Sambi Wulung dan Jati Wulungpun dengan tergesa-gesa telah berada di ujung-ujung sayap sebelah menyebelah.

Tiga orang pengawal telah diperintahkan oleh Risang untuk mendahului pasukan dan mengamati keadaan.

Tetapi ketiga orang itu tidak melihat sesuatu dihadap-an mereka. Meskipun menjelang fajar udara masih kelam, namun mereka yakin bahwa mereka akan dapat melihat pada jarak beberapa puluh patok jika mereka bertemu dengan pasukan Pajang.

Karena itu, maka ketiganya menjadi cemas. Seorang diantaranya berkata, “Apakah prajurit Pajang telah mengambil jalan melingkar dan menyerang Tanah Perdikan dari jurusan lain?”

“Memang satu kemungkinan,“ jawab yang lain.

“Lihat. Kita membagi diri menjadi tiga. Satu berjalan sampai keperbatasan dan yang lain ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Pasukan Pajang itu tentu masih belum jauh,“ berkata seorang diantara mereka.

Ketiga orang itu memang tidak membuang waktu. Seorang segera berlari-lari ke kiri. Yang lain ke kanan sementara seorang diantara mereka berjalan terus sampai keperbatasan.

Namun tidak seorangpun diantara mereka yang bertemu dengan pasukan Pajang. Dua orang pengawal yang berlari-lari kekiri dan kekanan kemudian menjadi yakin, bahwa pasukan Pajang tidak mengambil jalan lain.

Tetapi pengawal yang berjalan menuju keperbatasan-pun menjadi heran. Ia tidak melihat sesuatu.

Demikianlah, maka akhirnya pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan dan para prajurit Jipang itupun telah berhenti pula di perbatasan. Sementara langit menjadi merah oleh cahaya fajar.

Risang yang tidak mau berteka-teki telah memanggil Gandar dan mengajaknya untuk melihat perkemahan orang-orang Pajang.

“Berhati-hatilah,“ berkata Nyi Wiradana.

Risang dan Gandarpun kemudian telah merayap mendekati perkemahan orang-orang Pajang. Sementara itu, langitpun menjadi semakin terang sehingga keduanya harus menjadi semakin berhati-hati.

Namun kedua orang itu menjadi berdebar-debar. Mereka masih melihat beberapa buah oncor menyala.

Tetapi perkemahan itu nampaknya sepi. Tidak ada seorangpun yang nampak. Baik para petugas yang berjaga-jaga, maupun mereka yang mempersiapkan perlengkapan. Seandainya pasukan Pajang itu menyerang Tanah Perdikan lewat jalan lain, tentu masih ada orang-orang yang tertinggal di perkemahan.

Tetapi perkemahan itu benar-benar sepi.

Dengan sangat berhati-hati kedua orang itu menjadi semakin dekat dengan perkemahan. Tetapi mereka masih tetap tidak melihat seorangpun.

“Kita masuk keperkemahan,“ berkata Risang.

“Tunggu. Biarlah aku melihatnya dahulu. Mungkin ini satu jebakan atau satu permainan yang belum kita mengerti,“ desis Gandar.

Ternyata Gandar tidak menunggu lagi. Iapun segera menyusup masuk ke dalam perkemahan.

Tetapi perkemahan itu memang sudah kosong.

Karena itu, maka Gandarpun telah memberi isyarat kepada Risang untuk memasuki perkemahan itu.

Sebenarnya di perkemahan itu sudah tidak ada seorangpun. Masih ada beberapa macam peralatan dapur yang tertinggal. Tetapi sebagian besar dari peralatan yang diperlukan oleh sepasukan prajurit telah tidak ada. Tidak ada pula persediaan senjata. Tidak ada pula pakaian cadangan dan apalagi orang-orang yang terluka.

“Kosong,“ desis Risang.

“Memang aneh,“ berkata Gandar, “mereka telah pergi.”

“Tetapi kenapa mereka pergi? Menurut Kasadha, pasukan Pajang justru akan mengerahkan semua orang untuk menyerang hari ini,“ berkata Risang sambil memandang berkeliling. Masih ada persediaan beras cukup yang agaknya tidak terbawa oleh pasukan Pajang yang telah meninggalkan perkemahan itu.

Beberapa saat Risang dan Gandar berada di perkemahan itu. Ketika matahari mulai nampak memancar dilangit, maka Risang dan Gandar itupun yakin bahwa para prajurit Pajang memang telah meninggalkan perkemahannya.

“Kita tidak tahu, apakah alasan mereka yang dengan tiba-tiba saja meninggalkan perkemahannya,“ berkata Gandar.

“Ya. Aku condong untuk menduga, bahwa mereka justru akan memanggil lagi sekelompok prajurit atau bahkan tidak tanggung-tanggung lagi jumlahnya sehingga mereka yakin akan dapat mengalahkan Tanah Perdikan ini. Tetapi ternyata tidak,“ berkata Risang.

Namun Gandarpun kemudian berkata, “Marilah. Kita laporkan hal ini kepada Nyi Wiradana.”

Risang dan Gandarpun kemudian dengan cepat kembali keperbatasan. Para pengawal dan prajurit Jipang memang telah gelisah sebagaimana Nyi Wiradana dan Ki Tumenggung Jaladara.

Namun laporan Risang dan Gandar memang telah mengejutkan mereka. Bahkan Nyi Wiradana berkata, “Aku akan melihat sendiri.”

Bersama Ki Tumenggung Jaladara, Risang dan Gandar, Nyi Wiradana telah datang ke perkemahan orang-orang Pajang. Meskipun matahari kemudian sudah terbit, namun obor-obor yang terpasang sebagian masih ada yang menyala.

“Apakah ini bukan akal orang-orang Pajang yang mungkin menyerang dari sisi yang lain dari Tanah Perdikan ini?“ bertanya Ki Tumenggung Jaladara.

“Tentu terdengar isyarat kentongan,“ jawab Nyi Wiradana, “pengawal yang masih ada di padukuhan-padukuhan telah mendapat pesan. Bahkan setiap orang. Kehadiran satu pasukan yang besar tentu akan segera terlihat oleh para petugas.”

Ki Tumenggung itu mengangguk-angguk. Tetapi ia berdesis, “Satu teka-teki.”

Nyi Wiradana termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Kita kembali keperbatasan. Ternyata kita sudah menjadi lengah sehingga para. pengawas tidak tahu apa yang telah terjadi diperkemahan itu. Tetapi menilik bekas dan jejaknya, maka sebuah iring-iringan telah meninggalkan perkemahan ini. Seharusnya pengawas kita mengetahui apa yang telah terjadi. Janganku seluruh pasukan, seorang berkuda yang keluar dari perkemahan dan meninggalkan tempat itu harus kita ketahui arahnya.”

“Tetapi pertempuran itu telah menyita seluruh perhatian kita ibu,“ desis Risjang, “meskipun kita harus mengakui kelengahan itu. Namun nampaknya mereka telah kembali ke Pajang dengan menempuh jalan kecil disebelah. Kita dapat menelusuri dan bertanya kepada orang-orang di padukuhan yang mungkin mereka lewati.”

Jilid 36

NYI WIRADANA mengangguk-angguk. Namun ia masih berdesis, “Untunglah, bahwa kita tidak melihat mereka pergi. Jika kita tidak melihat sepasukan datang, maka akibatnya akan jauh berbeda.”

Risang tidak menjawab. Ia mengerti perasaan ibunya sebagai pimpinan tertinggi pasukan pengawal Tanah Perdikan. Sementara itu Risangpun merasa ngeri seandainya yang terjadi sebagaimana dikatakan oleh ibunya.

“Baiklah,“ berkata Nyi Wiradana kemudian, “kita tarik pasukan kita ke padukuhan pertama yang kita pergunakan sebagai landasan pertahanan kita. Kita akan melihat perkembangan keadaan selanjutnya.”

“Baik ibu,“ jawab Risang.

“Perintahkan beberapa orang penghubung berkuda untuk mengelilingi Tanah Perdikan dan melihat perkembangan terakhir. Mereka harus juga melihat tempat para pengungsi dari padukuhan-padukuhan di garis pertama. Aku menunggu laporanmu,“ berkata Nyi Wiradana kemudian.

“Baik ibu,“ jawab Risang.

Nyi Wiradana yang sudah siap untuk turun kemedan bersama Ki Tumenggung Jaladara itupun kemudian telah kembali ke padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan pengawal dan para prajurit Jipang.

Sementara itu Ki Tumenggung Jaladarapun mulai memperitungkan kemungkinan yang terjadi di Pajang. Jika semua prajurit Pajang telah ditarik, maka agaknya memang ada hubungannya dengan sikap prajurit Mataram dan Jipang yang ada di sebelah Barat dan disebelah Timur kota .

“Mungkin, akan ada perintah juga bagi kami,“ berkata Ki Tumenggung Jaladara.

“Nampaknya ketegangan antara Mataram dan Jipang disatu pihak serta Pajang dilain pihak menjadi semakin panas,“ berkata Nyi Wiradana.

Ki Tumenggung Jaladara mengangguk kecil sambil menjawab, “Tanpa langkah-langkah yang tegas, maka kekalutan di Pajang tidak akan dapat dihentikan. Adipati Demak yang kemudian berkuasa di Pajang tidak mampu atau bahkan sengaja tidak berbuat sesuatu untuk mengendalikan orang-orangnya yang dibawanya dari Demak untuk mendukung kedudukannya.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Kami di Tanah Perdikan ini juga berkepentingan. Jika pemerintahan di Pajang menjadi tertib, maka kedudukan Tanah Perdikan inipun akan menjadi semakin mantap. Demikian juga Tanah Perdikan yang lain yang mendapat Surat Kekancingan dari Demak atau Pajang semasa pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya.”

Ki Tumenggung Jaladara mengangguk-angguk. Katanya, “Kita berpengharapan pada perkembangan keadaan. Mudah-mudahan Pajang akan menuju ke penyelesaian yang bermanfaat bagi banyak pihak.”

“Kehadiran Mataram dan Jipang akan dapat meru-bah keadaan,“ desis Nyi Wiradana.

“Tetapi tugas Pangeran Benawa untuk mengendalikan para prajurit Jipang menjadi sangat berat,“ berkata Ki Tumenggung Jaladara seakan-akan kepada diri sendiri.

“Kenapa?“ bertanya Nyi Wiradana.

“Dendam yang membakar jantung orang-orang Jipang atas kekalahannya di Bengawan Sore masih belum terhapus,“ jawab Ki Tumenggung Jaladara.

“Bukankah itu sudah lama sekali terjadi?“ bertanya Nyi Wiradana, “pada saat itu justru prajurit Pajang datang membantu Tanah Perdikan ini melawan prajurit Jipang yang ingin menjadikan daerah ini landasan perbekalan bagi prajurit-prajuritnya.”

“Ya,“ jawab Ki Tumenggung, “memang sudah lama sekali. Tetapi kekalahan Jipang waktu itu benar-benar pahit.”

“Tetapi bukankah orang yang membunuh Adipati Jipang waktu itu adalah orang yang sekarang bekerja sama dengan Pangeran Benawa melawan Pajang?“ desak Nyi Wiradana.

Ki Tumenggung Jaladara menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagaimanapun juga Sutawijaya yang kini bergelar Panembahan Senapati itu bertempur atas nama Sultan Hadiwijaya di Pajang, meskipun Sultan Hadiwijaya sendiri tidak tahu bahwa yang membunuh Arya Penangsang adalah putera angkatnya. Menurut laporan yang diterimanya, yang membunuh Arya Penangsang adalah Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.”

“Apakah Sultan Hadiwijaya benar-benar tidak tahu?“ bertanya Nyi Wiradana.

Ki Tumenggung Jaladara menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Aku tidak tahu. Bahkan banyak orang yang bertanya-tanya kenapa hadiah yang dijanjikan kepada Ki Gede Pemanahan tidak segera diberikan. Apakah hal itu dilakukan karena Sultan Hadiwijaya merasa dibohongi, atau sebagaimana alasan yang sering disebut-sebut, bahwa akhirnya Mentaok akan jatuh ketangan Sutawijaya, putera angkatnya, sehingga tidak perlu tergesa-gesa atau sebab-sebab lain.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Keadaan sudah banyak berubah. Dendam Jipang tidak dapat diarahkan kepada Pajang sekarang.”

Tetapi Ki Tumenggung Jaladara tertawa. Katanya, “Mungkin bagi mereka yang sempat mempergunakan penalaran. Tetapi mereka yang dibelit oleh perasaannya saja akan bersikap lain. Anak-anak yang saat itu masih remaja dan kebetulan ayahnya terbunuh di peperangan dan yang sekarang menjadi prajurit Jipang, maka dendamnya kepada prajurit Pajang tentu sampai ke ubun-ubun. Karena itu, maka tugas Pangeran Benawa menjadi sangat berat. Ia harus dapat mengendalikan prajurit-prajuritnya agar mereka tidak menjadi kehilangan pengendalian diri karena dendam yang selama ini harus mereka endapkan. Perang ini seakan-akan merupakan satu kesempatan untuk mengaduk kembali dendam dan kebencian mereka terhadap Pajang. Karena mereka tidak mengenal nama lain kecuali Pajang.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Ia menyadari, betapa rumitnya tugas Pangeran Benawa kemudian. Bahkan mungkin setelah Pajang dapat dikalahkan, maka prajurit Jipang yang tahu bahwa perang melawan Pajang sekitar sepuluh tahun yang lalu adalah perang melawan Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senapati yang dikendalikan oleh Ki Juru Martani yang kemudian bergelar Adipati Mandaraka. Pepatih Mataram yang masih saja mengendalikan perhitungan-perhitungan tata kaprajan dan tata keprajuritan Mataram bersama-sama dengan Panembahan Senapati sendiri.

Dalam pada itu, Risang masih saja sibuk dengan para pengawal setelah ia mempersilahkan Ki Lurah Sasaban yang memimpin prajurit Jipang untuk mundur ke padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Sementara itu Risang masih mengatur orang-orangnya untuk tugas-tugas yang diberikan oleh ibunya. Ia telah memerintahkan beberapa penghubung untuk melihat seluruh Tanah Perdikan. Sekelompok penghubung berkuda harus jnembagi diri dan secepatnya kembali untuk memberikan laporan, termasuk padukuhan yang disediakan untuk para pengungsi.

Tetapi Risang juga memerintahkan beberapa orang untuk mengikuti jejak pasukan yang meninggalkan perke-mahannya itu. Risang ingin meyakinkan apakah para prajurit Pajang itu benar-benar telah kembali ke Pajang atau dengan tujuan lain. Atau hanya satu cara untuk menembus pertahanan Tanah Perdikan Sembojan.

“Aku berada di padukuhan itu,“ berkata Risang, “semua laporan aku tunggu secepatnya.”

Demikianlah, maka para petugas yang harus menelusuri jejak para prajurit Pajangpun segera berangkat, sementara para penghubung masih harus mengambil kuda-kuda mereka di padukuhan.

Hari itu, para prajurit Jipang yang berada di Tanah Perdikan Sembojan serta para pengawal sempat beristirahat. Rasa-rasanya mereka telah melepas ketegangan yang mengantar mereka berangkat ke medan . Namun yang ternyata mereka tidak menemukan lawan mereka.

Disiang hari, menjelang matahari mencapai puncak, maka para penghubung yang telah melihat keadaan di seluruh Tanah Perdikan telah berdatangan di banjar. Risang yang langsung menerima mereka telah mendapat laporan, bahwa tidak ada peristiwa yang harus mendapat perhatian khusus.Para pengawal yang ditinggalkan di setiap padukuhan, serta mereka yang mengawasi perbatasan disegala arah tidak melihat gerakan pasukan di hadapan mereka. Sedangkan para penghubung yang melihat keadaan para pengungsipun telah melaporkan, bahwa mereka nampak lebih tenang dari sehari sebelumnya. Tempat bagi merekapun sudah menjadi semakin tertib sehingga setiap orang telah mendapat tempat yang pantas sesuai dengan keadaan yang gawat serta pembagian makan yang memadai. Orang-orang yang menerima para pengungsi itupun telah bersikap baik dan penuh pengertian, sehingga mereka telah membantu para pengungsi itu sejauh dapat mereka lakukan.

“Sokurlah,“ berkata Risang, “Tetapi aku masih menunggu laporan dari para pengawal yang aku perintahkan untuk menelusuri jejak para prajurit Pajang.”

Ternyata mereka baru menjelang sore hari datang. Itupun baru dua orang. Sedangkan dua orang yang lain masih menelusuri jejak itu lebih jauh lagi agar mereka semakin yakin, kemana para prajurit itu pergi.

“Nampaknya mereka benar-benar kembali ke Pajang,“ lapor salah seorang dari mereka yang menelusuri jejak itu.

“Agaknya memang satu-satunya kemungkinan,“ berkata Risang.

“Kedua kawan kami masih akan meyakinkan arah kepergian pasukan itu,“ desis salah seorang dari kedua petugas itu.

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Kita akan menunggu laporan berikutnya.”

Namun demikian Risang tidak menjadi lengah. Ia telah memerintahkan untuk memperketat pengawasan.

“Jika kita tidak melihat pasukan itu pergi, maka mungkin sekali kita juga tidak melihat pasukan segelar sepapan yang menyerang Tanah Perdikan ini,“ berkata Risang.

Menjelang senja, maka prajurit yang bertugaspun telah menebar. Sementara itu yang lain harus juga tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun mereka sempat tidur, namun mereka tidak terpisah dari senjata mereka. Setiap saat mereka akan mempergunakannya jika keadaan tiba-tiba menjadi gawat.

Namun para pengawal dan para prajurit Jipang itu mengerti bahwa telah dilakukan pengawasan yang ketat diseputar Tanah Perdikan. Bukan saja yang menghadap ke perkemahan prajurit Pajang yang telah ditinggalkan itu. Tetapi menebar diseputar Tanah Perdikan itu seluruhnya. Jika diantara mereka melihat tanda-tanda yang mencurigakan, maka mereka harus dengan cepat memberikan laporan. Sedangkan jika keadaan memaksa, mereka akan mempergunakan isyarat kentongan dan panah sendaren.

Sampai menjelang tengah malam, tidak terjadi sesuatu yang penting. Nyi Wiradana dan Ki Tumenggung Jaladara telah kembali ke padukuhan induk. Beberapa orang pengawal berkuda telah berada di padukuhan induk pula. Mereka akan dapat bergerak kesegala arah jika diperlukan.

Risanglah yang masih berada di banjar padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan pengawal dan prajurit Jipang. Tetapi Risangpun berpendapat, bahwa seandainya prajurit Pajang itu kembali lagi dan menyerang Tanah Perdikan, agaknya mereka akan datang dari arah yang berbeda.

Akhirnya petugas yang menelusuri kepergian pasukan Pajangpun telah memberikan keyakinan bahwa pasukan Pajang memang telah meninggalkan perbatasan dan kembali ke arah Pajang.

“Baiklah,“ berkata Risang, “namun jangan sekali-sekali menjadi lengah.”

Tetapi ketika Risang berniat untuk beristirahat, maka dua orang penghubung berkuda telah datang dari padukuhan induk. Dengan agak tergesa-gesa ia mencari Risang.

“ Ada apa?“ bertanya Risang agak cemas.

“Kau dipanggil Nyi Wiradana, sekarang,“ jawab penghubung itu.

“Apakah ada sesuatu yang penting?“ bertanya Risang.

“Aku tidak mendapat pesan apa-apa. Aku hanya mendapat perintah untuk memanggilmu,“ jawab penghubung itu pula.

Risang memang tidak banyak bertanya. Iapun telah minta diri kepada para pemimpin yang lain serta Ki Lurah Sasaban.

“Aku akan segera kembali. Jika tidak, maka aku akan memerintahkan seorang penghubung untuk datang kemari,“ berkata Risang ketika ia sudah siap untuk meloncat kepunggung kudanya.

Sejenak kemudian, maka Risang itu sudah berpacu dikawani oleh Gandar. Mereka menembus gelapnya malam dan dinginnya embun yang mulai turun.

Mereka memang tidak memerlukan waktu yang lama. Beberapa saat kemudian, mereka telah memasuki padukuhan induk. Tiga orang yang berjaga-jaga dipintu gerbang sempat menghentikan mereka, namun merekapun segera mengenali bahwa yang berkuda itu adalah Risang.

Sebenarnyalah Risang menjadi gelisah. Karena itu, maka iapun menjadi tergesa-gesa. Ia ingin segera menghadap ibunya dan Ki Tumenggung Jaladara untuk segera, mengetahui perkembangan yang terjadi sehingga ibunya telah memerintahkan untuk memanggilnya.

Dihalaman rumahnya Risang telah meloncat turun. Diserahkannya kendali kudanya kepada seorang pengawal yang menyongsongnya. Bersama Gandar maka iapun dengan segera telah masuk keruang dalam. Agaknya ibunya dan Ki Tumenggung berada disana.

Ketika Risang membuka pintu pringgitan, maka ia tertegun. Selain ibunya maka dilihatnya Ki Tumenggung Jaladara bersama dua orang prajurit Jipang yang lain, yang agaknya belum lama datang ke Tanah Perdikan Sembojan, karena ia belum mengenal sebelumnya.

“Marilah Risang,“ ibunya mempersilahkannya masuk.

Risangpun kemudian telah melangkah masuk, sementara Gandar tinggal diluar bersama beberapa orang pengawal.

“Duduklah,“ desis ibunya.

Ketika kemudian Risang duduk, maka ibunya telah memperkenalkan kedua orang prajurit Jipang itu. Kepada kedua prajurit Jipang itu ibunya juga memperkenalkan Risang, anaknya satu-satunya.

“Seorang anak muda yang tegar,“ desis salah seorang perwira prajurit Jipang itu.

Risang mengangguk hormat sambil berdesis, “Terima kasih. Tetapi tidak lebih dari seorang anak yang dungu.”

Ki Tumenggung Jaladara tersenyum. Katanya, “Aku sudah menceriferakan apa yang telah kau lakukan, anak muda.”

“Tentu berlebih-lebihan,“ desis Risang.

Kedua orang perwira prajurit Jipang itu tertawa. Namun kemudian, Nyi Wiradanalah yang berkata, “Risang. Kedua perwira ini membawa berita khusus bagi Ki Tumenggung Jaladara. Ki Rangga berdua adalah perwira penghubung khusus prajurit Jipang yang ada di sebelah Timur Pajang.”

Risang mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia menghubungkan kedatangan kedua orang prajurit itu dengan penarikan pasukan Pajang diperbatasan.

“Biarlah Ki Rangga memberitahukan kepadamu, untuk apa mereka datang kemari,“ berkata ibunya kemudian.

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika seorang diantara kedua orang prajurit itu berkata, “Anak muda. Kami datang untuk menyampaikan perintah kepada Ki Tumenggung Jaladara.”

Risang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak memotong kata-kata prajurit itu.

“Saat ini Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah mendapatkan kesepakatan untuk benar-benar memberikan sedikit peringatan kepada Adipati Demak yang berada di Pajang. Pasukan Mataram dan Jipang sudah bersiap untuk bergerak. Karena itu maka kami diperintahkan untuk menghubungi Ki Tumenggung Jaladara. Jika tugasnya di Tanah Perdikan ini selesai, maka pasukan ini akan segera ditarik. Mungkin pasukan Jipang sudah berhasil masuk ke kota Pajang. Tetapi pasukan Ki Tumenggung Jaladara yang dipimpin langsung oleh Ki Lurah Sasaban itu diperlukan untuk menguasai wilayah setelah prajurit Demak ditarik dan dikumpulkan untuk diberangkatkan kembali ke Demak, sementara prajurit Pajang sendiri untuk sementara harus dibatasi geraknya sampai terdapat sikap yang pasti atas mereka,“ berkata salah seorang dari kedua prajurit itu.

Tetapi tiba-tiba Ki Tumenggung Jaladaralah yang menyahut, “Tetapi bagaimana jika pasukan Mataram dan Jipang tidak berhasil memasuki Pajang?”

Kedua orang itu tersenyum. Seorang diantaranya menjawab, “Menurut perhitungan kami, kami akan berhasil. Kecuali pasukan Mataram yang sangat kuat, sementara pasukan Jipangpun cukup memadai, maka diharapkan bahwa kekuatan yang ada di Pajang sendiri tidak akan mendukung sepenuhnya perlawanan Adipati Demak yang ada di Pajang itu.Para prajurit Pajang dan para pemimpin pemerintahan menganggap bahwa tindakan pimpinan tertinggi di Pajang kemudian, yang diharapkan dapat menggantikan kedudukan Sultan Hadiwijaya itu ternyata telah melakukan tindakan yang justru tidak sewajarnya,”

Ki Tumenggung Jaladara tertawa. Katanya, “Aku percaya, bahwa Pajang tidak akan bertahan terlalu lama.”

“Jika demikian, bagaimana dengan prajurit yang ada di Tanah Perdikan ini?“ bertanya prajurit itu.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mungkin ibu dan Ki Tumenggung sudah mengatakan, bahwa prajurit Pajangpun telah ditarik dari perbatasan.”

“Ya,“ jawab prajurit itu, “karena itu, kami mohon pertimbangan. Apakah prajurit Jipang sudah memungkinkan untuk ditarik. Bagaimanapun juga kami harus mempersiapkan seluruh kekuatan yang ada untuk menghadapi segala kemungkinan, karena kitapun tahu bahwa prajurit Demak yang ada di Pajang cukup banyak. Selain itu, prajurit-prajurit Pajang sendiri yang dapat memanfaatkan keadaan tentu juga akan bertahan sekuat-kuatnya. Bukan saja mempertahankan Pajang, tetapi mempertahankan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka mewarisi ketamakan para prajurit Pajang yang telah mengalahkan Jipang dimasa kejayaan Adipati Arya Penangsang.”

Ki Tumenggung Jaladara mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Jamannya telah terpisah. Kau tidak dapat menarik garis hubungan langsung antara para prajurit Pajang sekarang dibawah pengaruh Demak dengan prajurit Pajang pada masa itu.”

“Apakah Ki Tumenggung menganggap bahwa prajurit Pajang yang sekarang justru lebih baik?“ bertanya prajurit itu.

Ki Tumenggung Jaladara menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Nyi Wiradana seakan-akan telah melihat kebenaran dugaan Ki Tumenggung yang pernah dikatakannya kepadanya.

Dalam pada itu Ki Tumenggungpun menjawab, “Tentu tidak dapat disebutkan yang mana yang lebih baik, karena hal itu akan ditentukan oleh kepentingan kedua belah pihak. Kepentingan prajurit Pajang itu sebagai pusaran kejadian dan kepentingan pihak lain yang menganggap Pajang sebagai sasaran kejadian. Itupun masih dapat dibagi lagi menurut sudut pandang pihak yang berbeda-beda.”

Tetapi prajurit itu tersenyum. Katanya, “Satu ungkapan yang dapat membuat kepala menjadi pening. Tetapi kita berpikir sederhana saja Ki Tumenggung. Pajang telah menghancurkan Jipang.”

“Tetapi bukan Pajang yang sekarang,“ jawab Ki Tumenggung, “Jipang yang dihancurkan itupun bukan Jipang yang sekarang? Jika kau mengatakan bahwa Pajang yang sekarang merupakan kelanjutan dari Pajang yang telah menghancurkan Jipang itu, apakah Jipang yang sekarang juga dapat dianggap kelanjutan Jipang yang dahulu, semasa dipimpin oleh Arya Penangsang, sementara sekarang dipimpin oleh Pangeran Benawa?”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian berkata, “Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang pernah mengalami duka karena ayahnya terbunuh di peperangan? Apakah aku dapat mengelak, bahwa ayahku yang pernah menjadi prajurit Jipang waktu itu dibunuh oleh prajurit Pajang?”

“Sekarang kau prajurit Jipang, tetapi apakah prajurit Pajang sekarang pasti anak dari pembunuh ayahmu?“ bertanya Ki Tumenggung.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian berkata, “Baiklah. Aku tidak akan mempersoalkan dendam orang-orang Jipang terhadap Pajang. Tetapi satu kenyataan, bahwa Jipang berperang melawan Pajang.”

“Ya,“ jawab Ki Tumenggung, “tetapi kita tahu apakah sebabnya perang itu terjadi. Apa pula tujuan Jipang menyerang Pajang sekarang ini bersama-sama dengan Mataram. Pangeran Benawa sama sekali tidak akan melakukannya jika Pajang melakukan tugas dan wewenangnya sesuai dengan batas-batas yang diberikan kepadanya.”

“Ya,“ jawab prajurit yang seorang lagi, “namun perlu diingat, bahwa Pangeran Benawa adalah Putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Sedangkan yang berkuasa di Pajang sekarang bukan. Apalagi jika diingat bahwa restu Kangjeng Sultan sebenarnya diberikan kepada Panembahan Senapati di Mataram. Meskipun Panembahan Senapati itu putera Ki Gede Pemanahan yang berasal dari lingkungan orang kebanyakan, tetapi bagi Kangjeng Sultan, yang penting, bahwa Panembahan Senapati akan mampu menjadi pengikat persatuan Pajang dan akan mampu meneruskan gagasan yang besar dari Sultan Hadiwijaya yang kandas justru karena kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh Kangjeng Sultan Hadiwijaya sendiri.”

“Jika demikian, bukankah kau ingin mengatakan bahwa Pajang memang harus dihancurkan?“ bertanya Ki Tumenggung.

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Tumenggung berkata, “Pangeran Benawa pernah mengatakan, bahwa tujuan penyerangan atas Pajang tidak didasari oleh dendam apapun juga. Jika ada dendam yang terselip diantara serbuan Jipang atas Pajang, itu sama sekali diluar tanggung jawab Pangeran Benawa. Bahkan akan menyakiti hati Pangeran Benawa, karena dendam itu seharusnya ditujukan kepada ayahanda Pangeran Benawa sendiri. Juga bukan karena rasa iri sehingga serbuan itu merupakan usaha untuk merebut kedudukan. Yang akan dilakukan oleh Pangeran Benawa dan Panembahan Senapati adalah mendudukkan persoalannya pada tempat yang seharusnya.”

Kedua orang prajurit itu termangu-mangu. Namun mereka tidak mengatakan sesuatu lagi.

Nyi Wiradana dan Risang nampaknya tidak merasa perlu untuk mencampurinya. Karena itu, keduanya hanya saling berdiam diri saja.

Ki Tumenggunglah yang kemudian berkata, “Sudahlah. Kita sadari bersama bahwa ada perbedaan pendapat diantara banyak orang di Jipang. Namun yang penting, kita akan melakukan perintah Pangeran Benawa.”

Kedua orang prajurit itu mengangguk. Katanya, “Ya. Kita akan melakukan perintah Pangeran Benawa.”

“Nah. Pertimbangan kita sekarang, apakah prajurit Jipang sudah dapat ditarik kembali,“ berkata Ki Tumenggung.

“Apakah Jipang sudah tahu sebelumnya bahwa pasukan Pajang telah ditarik?“ bertanya Risang kemudian.

Salah seorang utusan yang datang dari perkemahan pasukan Jipang itu menggeleng sambil menjawab, “Belum. Tetapi perhitungan kami, apabila persoalan di Tanah Perdikan ini sudah dapat diselesaikan. Sebab penarikan pasukan Jipang dari Tanah Perdikan ini tidak mutlak harus dilakukan dalam waktu yang tergesa-gesa. Namun apabila disini segala sesuatunya telah dapat diselesaikan, maka pasukan ini memang akan ditarik.”

“Nampaknya pasukan ini tidak diperlukan lagi di sini, setidak-tidaknya untuk waktu dekat ini. Prajurit Pajang tentu tidak akan kembali lagi dalam suasana yang gawat bagi Pajang menghadapi Mataram yang kuat. Tetapi pasukan Jipang ini diperlukan untuk menunjukkan bahwa Jipang tidak tergantung sepenuhnya kepada Mataram. Bahwa Jipangpun memiliki kekuatan. Karena itu, pasukan-pasukan Jipang yang ada dibeberapa tempatpun tentu akan ditarik,“ berkata penghubung yang seorang lagi.

Risang mengangguk-angguk. Sambil memandang kepada ibunya Risang berkata, “Aku kira, untuk sementara kita akan dapat melindungi diri sendiri. Aku sependapat, bahwa pasukan Pajang tidak akan kembali dalam waktu singkat.“

“Ya,“ Nyi Wiradana mengangguk-angguk, “semua perlengkapan yang penting telah dibawa, meskipun ada beberapa bagian yang tertinggal. Namun aku kira penarikan pasukan Pajang ada hubungannya dengan kegawatan di Pajang sendiri.”

Ki Jaladarapun mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Kita akan membawa pasukan yang ada disini ke Pajang. Tetapi jika kalian memerlukan kami, maka kalian akan dapat menghubungi kami. Beberapa orang yang datang bersamaku akan tinggal disini. Meskipun secara wadag mereka tidak akan mampu berbuat banyak, tetapi mereka akan dapat membantu menjadi penghubung yang baik dengan pasukan Jipang yang ada di perkemahan sebelah Timur Pajang.”

“Terima kasih,“ sahut Nyi Wiradana, “sejauh dapat kami lakukan sendiri, kami tidak akan mempersulit kedudukan Jipang. Apalagi jika perang itu benar-benar terjadi sehingga Jipang memerlukan prajurit sebanyak-banyaknya.”

“Persoalannya bukan sekedar menghadapi Pajang,“ berkata Ki Jaladara. Namun kemudian suaranya merendah, “Juga harga diri Jipang dimata Mataram.”

Demikianlah, maka malam itu mereka memutuskan bahwa pasukan Jipang akan ditarik dari Tanah Perdikan. Keadaan Pajang menjadi semakin gawat. Perang sudah di ambang pintu seperti mendung tebal yang sudah menggantung dilangit.

Malam itu, maka perintah untuk menarik pasukan Jipangpun telah sampai kepada Ki Lurah Sasaban dan para pemimpin kelompok prajurit Jipang. Mereka memang agak terkejut. Tetapi para penghubung dari perkemahan pasukan Jipang itu telah memberikan penjelasan sehingga para prajurit Jipang itu mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya.

“Kita tidak perlu berangkat malam ini,“ berkata penghubung itu, “tetapi kalian mendapat kesempatan untuk berbenah diri. Besok pagi-pagi kita akan meninggalkan Tanah Perdikan ini kembali ke Pajang.”

Namun dalam pada itu, Risangpun telah memberitahukan pula kepada para pemimpin kelompok pasukan pengawal Tanah Perdikan Sembojan, agar para pengawal menjadi semakin bersiaga menghadapi segala kemungkinan tanpa para prajurit Jipang.

Malam itu, para prajurit Jipang telah membenahi diri. Namun mereka masih sempat beristirahat beberapa saat. Menjelang fajar mereka telah bersiap untuk menempuh perjalanan panjang menuju keperkemahan prajurit Jipang disebelah Timur Pajang.

Setelah makan pagi dan minta diri kepada para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan serta para pemimpin kelompok pengawal yang berkumpul di depan padukuhan yang menjadi landasan pertahanan pasukan pengawal Tanah Perdikan, maka pasukan Jipang yang tidak begitu besar itu telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Namun mereka telah memilih jalan lain yang tidak dilalui oleh prajurit Pajang, karena jumlah prajurit Pajang yang ditarik itu berlipat. Jika mereka mengetahui bahwa pasukan Jipang itupun menuju keperkemahannya disebelah Timur Pajang, maka akan dapat terjadi sesuatu diperjalanan.

Ki Tumenggung Jaladara sendiri telah ikut pula bersama prajurit-prajurit Jipang yang dipimpin oleh Ki Lurah Sasaban itu. Namun di Tanah Perdikan itu telah ditinggalkan sepuluh orang prajurit Jipang yang akan dapat membantu jika diperlukan sesuatu yang penting.

Sebenarnyalah, bahwa suasana di Pajang telah menjadi semakin panas. Ki Rangga Larasgati bersama seluruh pasukannya memang telah berada di Pajang, Kasadha telah berada di baraknya kembali bersama seluruh pasukannya. Tetapi prajurit-prajuritnya tidak lgi utuh seratus. Beberapa orang telah menjadi korban dalam pertempuran di Tanah Perdikan Sembojan. Terutama saat melawan para prajurit Jipang.

Namun dihari berikutnya, kekurangan itu segera dipenuhi. Nampaknya para pemimpin prajurit Pajang harus bergerak dengan cepat menghadapi perkembangan keadaan. Bahkan prajurit di barak Kasadha tidak lagi sejumlah seratus. Tetapi lebih dari itu. Semuanya seratus ampat puluh orang meskipun Kasadha masih tetap disebut Lurah Penatus.

Namun untuk selanjutnya, Ki Lurah Kasadha dan para prajuritnya tidak lagi diserahkan kepada Ki Rangga Larasgati dan Ki Tumenggung Bandapati. Tetapi untuk selanjutnya Kasadha berada dibawah seorang Tumenggung yang benar-benar memiliki kesadaran jiwani sebagai seorang prajurit. Meskipun Tumenggung itu bukan orang yang tidak bersikap menghadapi keadaan.

Tumenggung Surajaya adalah seorang prajurit Pajang sejak Pajang masih belum dikalahkan oleh Mataram. Ketika pimpinan Pajang dipegang oleh Adipati Demak, untuk sementara Ki Tumenggung Surajaya terdesak kedudukannya. Namun ketika keadaan menjadi gawat, maka Ki Tumenggung Surajaya telah diletakkan kembali kekedudukannya semula, memegang pasukan segelar sepapan disamping beberapa orang panglima yang lain.

Ketika Ki Tumenggung sempat berbicara dengan beberapa orang pemimpinan pasukan, maka diluar sadarnya, terpancar betapa perasaan kecewa bergejolak didalam hatinya terhadap para pemimpin Demak yang berada di Pajang. Ki Tumenggung bahkan menyebut beberapa orang meskipun bukan namanya, telah menyalah gunakan kedudukannya untuk memeras beberapa Tanah Perdikan.

“Satu perbuatan yang tidak terpuji. Bahkan cara itu sangat merugikan Pajang. Tanah Perdikan yang sebenarnya dapat membantu Pajang dalam keadaan yang gawat ini, justru telah memusuhi Pajang seperti Tanah Perdikan Gemantar, Tanah Perdikan Prembun dan Tanah Perdikan yang besar seperti Tanah Perdikan Sembojan. Mereka tidak akan bersedia mengirimkan anak-anak mudanya untuk menjadi prajurit. Bahkan Pajang harus mengirimkan prajurit ke Tanah Perdikan itu. Kita sekarang, tidak dapat dengan serta merta menghapus permusuhan itu dan minta mereka bersedia membantu kita, meskipun kita menjajikan bahwa kedudukan Tanah Perdikan itu tidak akan diganggu gugat,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya. Lalu katanya pula, “Karena itu, kita sekarang hanya dapat mempergunakan apa yang ada pada kita untuk menghadapi Mataram yang kuat serta Jipang yang memiliki perlengkapan cukup. Mereka datang dari dua arah yang berlawanan. Tetapi kita yakin, bahwa keduanya akan bergerak dibawah satu perintah.”

Parapemimpin pasukan itupun mengangguk-angguk. Kasadha yang melihat sendiri, betapa tamaknya prajurit-prajurit Pajang di Gemantar dan Tanah Perdikan Sembojan, memang sependapat dengan Ki Tumenggung Surajaya bahwa tidak mungkin dalam waktu singkat untuk memperbaiki citra prajurit Pajang dimata beberapa Tanah Perdikan itu. Apalagi Tanah Perdikan Sembojan yang telah menyerahkan korban beberapa orang anak muda yang terbaik.

Namun dalam pada itu, Ki Tumenggungpun memberitahukan bahwa pasukannya tidak akan diletakkan di sisi Timur pertahanan Pajang. Mereka akan diletakkan di sisi Barat, menghadap pasukan Mataram yang kuat. Meskipun jumlahnya pasukan Mataram itu tidak terlalu besar, tetapi para prajurit Pajang mengetahui dengan pasti, kekuatan prajurit Mataram. Kemampuan mereka di medan pertempuran, baik dalam perang gelar maupun dalam benturan seorang dengan seorang. Hampir setiap orang dalam pasukan Mataram memiliki kemampuan secara pribadi disamping kemampuan mereka perang gelar.

Kasadha yang pernah hampir saja dihancurkan oleh prajurit Mataram tahu benar kekuatan dan kemampuan prajurit-prajurit Mataram. Tetapi ia merasa bersukur bahwa ia berada disi Barat. Kasadha sempat memperhitungkan kemungkinan keterlibatan para pengawal Tanah Perdikan dalam pasukan Jipang. Mungkin pasukan pengawal Sembojan justru berganti membantu Jipang menghadapi Pajang. Jika demikian, apabila ia berada disisi Timur, maka kemungkinan buruk dapat terjadi apabila ia bertemu lagi dengan orang-orang Sembojan.

“Tetapi Sembojan memerlukan para pengawalnya untuk melindungi Tanah Perdikannya yang bergolak,” berkata Kasadha didalam hatinya. Bahkan tiba-tiba saja ia teringat kepada orang yang menyebut dirinya ayahnya meskipun ia tahu betul bahwa itu tidak benar karena orang itu sendiri selalu menyebut-nyebut ayahnya yang akan dapat mewariskan kedudukan di Tanah Perdikan Sembojan. Ki Rangga Gupita itu akan dapat menempuh cara yang bagaimanapun juga untuk menghancurkan para pemimpin Sembojan yang sedang memegang pimpinan.

Tetapi dihari berikutnya, masih belum nampak tanda-tanda bahwa pasukan Mataram mulai bergerak. Namun para prajurit Pajang telah bersiap disepanjang garis pertahanan yang telah dipersiapkan.

Disamping para prajurit Pajang, maka para pemimpin yang datang dari Demakpun telah mempersiapkan prajurit Demak yang ada di Pajang. Bahkan mereka sempat menghimpun orang-orang Pajang yang ada disekitar kota serta orang-orang Demak yang ada di Pajang meskipun mereka bukan prajurit. Para hamba dan pelayan dari para perwira Demak serta siapa saja yang pantas untuk ikut turun ke medan .Para pemimpin Demak telah mengancam untuk menghukum mereka jika mereka tidak berperang dengan bersungguh-sungguh.

Ki Tumenggung Surajaya semula tidak menghiraukan kesibukan orang-orang Demak. Ki Tumenggung telah melakukan tugasnya sesuai dengan kedudukannya. Namun kemudian persoalan mulai timbul ketika orang-orang Demak mulai mencampuri wewenangnya atas pasukannya.

Beberapa orang Panglima yang memegang pasukan di garis pertahanan telah mendapat perintah untuk mempertahankan Pajang sampai batas kemungkinan terakhir. Perintah itu bagi Ki Tumenggung Surajaya adalah perintah yang wajar. Ki Tumenggung sama sekali tidak merasa tersinggung oleh perintah itu.

Tetapi ketika dua orang Tumenggung yang datang dari Demak dan ikut memerintah di Pajang memanggilnya, maka Ki Tumenggung Surajaya mulai merasa terganggu.

Namun Ki Tumenggung memenuhi panggilan kedua orang Tumenggung itu. Ternyata bahwa yang datang memenuhi panggilan itu ada tiga orang Panglima. Dua diantaranya adalah dua orang Panglima yang berpangkat Tumenggung dan berasal dari Demak.

“Ki Tumenggung,“ berkata salah seorang dari kedua orang pemimpin, dari Demak yang memanggil para panglima itu, “kita sedang menghadapi peristiwa yang gawat sekarang ini. Senapati ing Ngalaga dan Pangeran Benawa telah membuat satu persetujuan untuk menghancurkan Demak. Ternyata mereka menerima keputusan pertemuan Keluarga yang dipimpin oleh para sesepuh untuk menentukan siapa yang akan berkuasa di Pajang dengan tidak ikhlas. Terbukti sekarang mereka telah memberontak dan bahkan menyerang Pajang.”

Ketiga orang Panglima itu mengangguk-angguk.

“Kami telah memanggil para panglima. Hari ini adalah giliran kalian bertiga untuk menyatakan janji, bahwa kalian akan bertempur tanpa mengenal menyerah dan tidak akan mundur dari garis perang,“ berkata Tumenggung itu, “kami atas nama pimpinan tertinggi yang memerintah Pajang sekarang ini memerintahkan kepada para Panglima untuk mengambil tindakan tegas bagi para prajuritnya. Terutama Ki Tumenggung Surajaya. Prajurit-prajuritmu hampir seluruhnya adalah prajurit-prajurit Pajang. Karena itu, kau harus mengamati prajuritmu dengan saksama.”

“Kenapa dengan prajurit-prajurit Pajang?“ bertanya Ki Tumenggung Surajaya.

“Mereka diragukan kesetiaannya kepada pimpinan tertinggi Pajang sekarang. Kau harus mau melihat kenyataan, bahwa beberapa orang prajurit Pajang justru telah menyeberang ke Mataram atau ke Jipang,“ berkata Tumenggung yang memanggil para Panglima itu.

“Aku tahu,“ jawab Ki Tumenggung Surajaya, “tetapi bukankah kita tidak dapat menutup kenyataan pula, bahwa masih banyak prajurit Pajang yang setia kepada Pajang siapapun yang memimpin sekarang?”

Tetapi perwira dari Demak itu menjawab, “Ya. Aku masih melihat banyak prajurit Pajang yang tetap ditempatnya. Tetapi aku tidak dapat melihat isi hati mereka.”

“Kalian mencurigai kami? “ wajah Ki Tumenggung Surajaya menjadi merah.

“Bukan kau. Tetapi ada diantara orang-orangmu,“ jawab Tumenggung dari Demak itu.

“Kenapa kau tidak menyebut namanya saja? Seorang Rangga, seorang Lurah atau sekelompok prajurit atau siapa? Dengan demikian, kau tiada berteka-teki, meraba-raba, curiga atau bahkan fitnah,“ Ki Tumenggung Surajaya menjadi marah.

“Jaga mulutmu. Kami adalah perwira yang mendapat tugas langsung untuk melakukan tindakan apa saja dalam keadaan yang gawat ini,“ jawab perwira itu.

“Kenapa tidak kau lakukan? Kenapa kau tidak menuduh aku saja berkhianat atau memberontak atau tuduhan apapun yang dapat menyeretku ketiang gantungan dalam keadaan gawat ini,“ geram Ki Tumenggung Surajaya.

“Kau masih dibutuhkan. Kau harus membuktikan kesetianmu. Tetapi kami akan menempatkan beberapa orang perwira didalam pasukanmu. Seorang Tumenggung, dua orang Rangga dan tujuh orang Lurah termasuk Lurah Penatus,“ jawab perwira dari Demak itu.

“Untuk apa? Aku tidak mau menerima mereka,” jawab Ki Tumenggung Surajaya.

“Ini perintah,“ Tumenggung yang datang dari Demak itupun menjadi marah, “apakah kau menentang perintah yang diturunkan kepadamu?”

“Ya,“ jawab Ki Tumenggung Surajaya tegas, “khususnya tentang para perwira yang akan diletakkan pada pasukanku justru atas dasar kecurigaan. Jika mereka begitu saja diperintahkan untuk mengisi kepemimpinan dalam pasukanku atas dasar susunan yang wajar dan mapan, aku tidak akan dapat menolak. Tetapi karena kalian menempatkan para perwira itu atas dasar kecurigaan, maka aku tidak akan dapat menerima mereka. Karena itu, jika kalian ingin memaksakan perintah itu, maka lebih dahulu kalian harus memecat aku, menyeretku ketiang gantungan sebagai pengkhianat atau bahkan dihukum picis karena aku telah memberontak.”

“Kau terlalu sombong,“ desis seorang panglima yang datang dari Demak, yang telah dipanggil pula menghadap saat itu, “kau kira kau itu siapa he? Kau bukan Panembahan Senapati dan bukan Pangeran Benawa. Atau kau memang sudah berniat untuk menyeberang?”

“Siapapun aku, tetapi aku sudah mengatakan sikapku,“ geram Ki Tumenggung Surajaya.

Wajah para perwira yang datang dari Demak itu menjadi merah. Tetapi mereka memang harus mengekang diri. Mereka sadar, jika Ki Tumenggung Surajaya benar-benar memberontak, itu berarti bahwa kekuatan Pajang akan susut, karena para prajurit dibawah pimpinan Ki Tumenggung itu tentu akan mengambil sikap apabila pemimpinnya yang dianggap sebagai orang yang terbaik itu disingkirkan.

Karena itu, maka perwira yang bertugas untuk menyampaikan perintah itu berkata, “Kami beri kau kesempatan untuk membuktikan kesetiaanmu. Tetapi kau harus bertanggung jawab sepenuhnya apabila ada diantara mereka yang berkhianat.”

“Kenapa tidak kau sebut saja namanya? Siapa? Atau aku?“ desak Ki Tumenggung Surajaya.

“ Ada tiga orang Lurah Penatus yang pantas dicurigai dan seorang Rangga,“ jawab perwira itu.

“Siapa?“ bertanya Ki Tumenggung semakin mendesak.

“Ki Rangga Permada, Ki Lurah Penatus Wandawa, Permati dan Kasadha. Kasadha pernah juga melakukan pelanggaran atas janji seorang prajurit di Tanah Perdikan Gemantar, meskipun di Tanah Perdikan Sembojan ia berbuat lebih baik,“ berkata perwira itu.

Ki Tumenggung Surajaya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku akan mengawasi mereka. Tetapi aku tidak mencurigai mereka. Dasar tindakan yang dilakukan Ki Lurah Penatus Kasadha di Tanah Perdikan Gemantar telah aku pelajari karena waktu itu Ki Lurah tidak dalam wewenangku. Alasannya sama sekali bukan karena Kasadha tidak setia kepada pemerintahan di Pajang sekarang ini. Tetapi ia tidak sependapat dengan langkah-langkah yang harus diambilnya.”

“Tetapi ia seorang prajurit,“ jawab perwira itu.

“Kau juga harus menilai, apakah prajurit yang memberikan perintah saat itu tidak melanggar janji seorang prajurit. Kau juga harus berani menilai apakah Ki Tumenggung Bandapati dan Ki Rangga Larasgati berbuat sebagaimana seharusnya dilakukan oleh seorang prajurit,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya.

“Apa yang telah dilakukannya? Ia menjalankan perintah untuk menertibkan Tanah-Tanah Perdikan,“ jawab perwira dari Demak itu.

“Apakah mereka benar-benar menertibkan? Jangan pura-pura tidak tahu,“ jawab Ki Tumenggung Surajaya.

“Cukup,“ perwira itu membentak. Namun kemudian katanya, “Sekarang kembalilah kedalam pasukanmu. Kami akan menilai kesetiaanmu. Jika kau benar-benar setia kepada Pajang, maka kau akan mendapatkan jabatan yang lebih baik dari jabatanmu sekarang.”

“Itukah perlakuan kalian terhadap seorang prajurit yang mendapat perintah untuk menjalankan tugas? Apakah aku harus bertempur sekedar mendapatkan upah.”

“Sudah,“ potong perwira itu, “pergilah. Tetapi ini bukan satu kemenangan bagimu. Aku masih menghargaimu karena kau adalah prajurit Pajang.”

Ki Tumenggung Surajaya termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian segera meninggalkan para perwira yang datang dari Demak itu sebelum darahnya mendidih.

Namun peristiwa itu ternyata telah membekas dihati Ki Tumenggung Surajaya. Ia memang pernah mendengar beberapa keterangan tentang orang-orang yang disebut-sebut oleh para perwira Demak yang ditempatkan di Pajang itu. Tetapi Ki Tumenggungpun tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apayang menjadi alasan sikap para prajurit yang pada saat yang gawat itu diserahkan kepadanya.

Demikianlah, maka Ki Tumenggung Surajaya justru menjadi gelisah. Ia merasa selalu diamati, dicurigai dan bahkan tidak dipercaya untuk mengatasi gejolak yang mungkin terjadi didalam pasukannya.

Karena itu, maka Ki Tumenggung justru telah mengambil sikap yang pasti. Bukan saja untuk mengetahui sikap prajurit-prajuritnya, tetapi juga untuk menenangkan hatinya.

Kasadha yang dianggap paling pantas untuk dicurigai itu telah dipanggil. Ki Tumenggung Surajaya dengan berterus terang menyampaikan kecurigaan para perwira dari Demak kepadanya. Sikapnya di Gemantar dan sikapnya yang agak kurang disenangi oleh pimpinan langsung pada waktu ia di Tanah Perdikan Sembojan, meskipun sikapnya di Sembojan dinilai lebih baik dari sikapnya di Gemantar, menyebabkan Lurah Penatus yang masih muda itu selalu diawasi oleh para perwira terutama yang datang dari Demak.

“Ki Rangga Larasgati memang tidak senang terhadap sikapku. Demikian pula Ki Tumenggung Bandapati dan Ki Tumenggung Surajaya. Yang aku maksud Ki Tumenggung Surajaya yang datang dari Demak yang mempunyai nama sama dengan Ki Tumenggung,“ jawab Kasadha.

Ki Tumenggung itu mengangguk-angguk. Memang ada beberapa orang yang namanya kebetulan sama, sebagaimana Ki Tumenggung Surajaya yang kebetulan pangkatnya sama pula, meskipun jabatannya jauh berlainan.

“Bagaimana sikapmu sekarang menghadapi Mataram?“ bertanya Ki Tumenggung Surajaya.

“Di Tanah Perdikan Sembojan, aku dan prajurit-prajuritku telah bertempur dengan sungguh-sungguh terutama melawan para prajurit Jipang,“ jawab Kasadha.

“Bagimu, yang manakah musuh yang paling utama antara Mataram dan Jipang bagi Pajang?”

Kasadha termangu-mangu. Dipandanginya Ki Tumenggung Surajaya dengan sorot mata yang mengandung kecurigaan atas pertanyaan itu.

“Kasadha,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya, “kita adalah prajurit Pajang sejak semula. Kita pernah bertempur melawan Mataram. Sebelumnya, tetapi agaknya kau belum menjadi seorang prajurit, Pajang telah bertempur pula melawan Jipang. Meskipun demikian kau tentu pernah mendengar betapa Pajang harus berjuang untuk menyingkirkan Arya Penangsang dari Jipang. Sekarang, aku ingin mendengar pendapatmu. Katakan dengan jujur sesuai dengan nuranimu. Aku tidak akan menilai apakah kau salah atau benar. Yang aku ingini adalah aku tahu pasti isi hatimu menghadapi persoalan yang gawat sekarang ini.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita adalah prajurit Ki Tumenggung. Apakah layak jika kita berbicara tentang sikap kita berdasarkan atas nurani kita.”

“Tetapi kau sudah menunjukkan sikap batinmu itu di Tanah Perdikan Gemantar. Justru karena itu, kau telah dicurigai. Sekarang apa salah jika kau katakan kepadaku sikapmu terhadap Mataram dan Jipang sebagaimana kau bersikap terhadap Gemantar,“ sahut Ki Tumenggung.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun ia tahu bahwa Ki Tumenggung ingin ia berkata dengan jujur. Karena itu maka katanya kemudian, “Ki Tumenggung. Bagiku Mataram dan Jipang tidak ada ubahnya. Sebagai prajurit Pajang, maka aku sadari bahwa aku harus berpihak kepada Pajang dan mempertahankannya dengan sepenuh hati apapun yang terjadi. Tetapi jika kita melakukannya sekarang terhadap Mataram dan Jipang, menurut kata hatiku, bukan sikapku sebagai seorang prajurit, telah timbul satu pertanyaan, apakah kita benar-benar berbuat bagi Pajang? Yang manakah sebenarnya Pajang itu?”

“Bukankah telah diadakan musawarah dan menetapkan bahwa Adipati Demak yang kemudian dinobatkan di Pajang? Bukankah dengan demikian, maka Pajang yang sekarang adalah sah?“ sahut Ki Tumenggung Surajaya.

Tetapi sebenarnyalah Kasadha mengetahui, bahwa yang dikatakan oleh Ki Tumenggung itupun bukan kata hatinya. Ia ingin mendengar alasan yang sebenarnya tersimpan dihati Kasadha.

Karena itu, maka Kasadha itupun berkata, “Ki Tumenggung. Selama ini Ki Tumenggung sadar atau tidak sadar sering berbicara tentang Pajang yang sekarang. Bukankah yang ada sekarang adalah pemerintahan Kadipaten Demak yang ada di Pajang? Apakah para pemimpin yang datang dari Demak itu bertindak atas nama Pajang dan bukan Demak? Atau justru atas kepentingan mereka sendiri? Jika kita harus berjuang untuk Pajang sekarang, apakah yang sebenarnya harus kita lakukan? Belum lagi kita bicara tentang hak Panembahan Senapati di Mataram dan Pangeran Benawa di Jipang. Katakanlah hak itu hapus setelah diadakan musyawarah yang menetapkan Adipati Demak untuk memegang pimpinan pemerintahan Pajang sepeninggal Sultan Hadiwijaya. Namun setelah kita melihat apa yang terjadi di Pajang sekarang, apakah kita yakin bahwa Pajang yang kita lihat sekarang ini yang harus kita perjuangkan? Pajang yang memeras beberapa Tanah Perdikan yang selama ini tidak pernah diganggu gugat karena mereka memegang Surat Kekancingan dari Demak atau Pajang dimasa pemerintahan Kangjeng Sultan Hadiwijaya? Pajang yang memberikan sebagian tanah para petani kepada para pemimpin yang datang dari Demak serta mendapat kenaikan pangkat setelah berada disini? Pajang yang tidak menghiraukan keadaan rakyatnya yang semakin lama semakin miskin karena para pemimpin yang slingkuh dengan kekayaan negara? Pajang yang tidak mau tahu bahwa sebagian dari rakyatnya dan para prajuritnya telah lari menyeberang ke Mataram atau ke Jipang?”

Ki Tumenggung Surajaya menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya Ki Tumenggung itu mengangguk-angguk. Katanya dengan nada dalam, “Kita memang berpura-pura menjadi buta dan tuli selama ini. Tetapi justru karena itu, apakah kita akan membiarkan Pajang runtuh? Meskipun kita tahu, diatas reruntuhan Pajang yang sekarang, kita dapat mengharap akan bangkit Pajang yang baru yang lebih sesuai dengan keinginan Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang telah tidak ada. Pajang sebagaimana diharapkan sebagai Pajang.”

“Ki Tumenggung,“ berkata Kasadha kemudian, “di Tanah Perdikan Sembojan kami telah bertempur melawan Jipang. Kami benar-benar telah bertempur dengan menyerahkan beberapa orang korban. Waktu itu aku berpendirian bahwa Jipang tidak berhak mencampuri persoalan antara Pajang dan Tanah Perdikan yang berada dibawah naungan Pajang apapun yang dilakukan oleh Pajang meskipun aku sendiri tidak sependapat. Tetapi jika ada pertimbangan lain, aku menunggu perintah Ki Tumenggung. Aku tahu bahwa Ki Tumenggung tidak termasuk orang-orang yang hanyut oleh keadaan yang berkembang sekarang di Pajang. Tetapi akupun tahu bahwa Ki Tumenggung adalah seorang prajurit.”

Ki Tumenggung Surajaya terdiain sesaat. Iapun merasa dihadapkan pada satu keadaan yang paling sulit. Ia sama sekali tidak ingin berkhianat. Tetapi ia telah kehilangan pegangan, bagi siapa ia berjuang. Jika ia berkhianat, ia berkhianat terhadap siapa?”

Sementara itu sikap para Tumenggung dari Demak yang merasa dirinya lebih berkuasa itu, membuat hati Ki Tumenggung Surajaya benar-benar menjadi sakit. Sebenarnyalah ia tidak ingin untuk memusuhi mereka. Apalagi dalam keadaan gawat seperti saat pasukan Mataram dan Jipang sudah diambang pintu gerbang sebelah Timur dan Barat. Namun perasaan Ki Tumenggung Surajaya tidak dapat dikendalikannya lagi.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia bertanya kepada Kasadha, “Ki Lurah. Jika sekarang aku memberikan kebebasan kepadamu untuk memilih, apa yang akan kau lakukan?”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Ia tidak begitu mengerti maksud pertanyaan Ki Tumenggung. Namun Ki Tumenggung itupun kemudian menjelaskan, “Aku ingin mendapat pertimbangan, sikap apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku memang menjadi muak melihat segala-galanya di Pajang sekarang ini. Tetai bukankah, kita tidak sepatutnya menyeberang ke Mataram atau Jipang justru karena kita prajurit Pajang sejak semula, meskipun bukan Pajang yang sekarang.”

“Aku menunggu perintah Ki Tumenggung. Itu saja,“ jawab Kasadha.

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk kecil. Tetapi hatinya menjadi semakin risau. Sementara itu Mataram dan Jipang benar-benar telah berada didepan hidung mereka. Setiap saat pasukan Mataram dan Jipang akan bergerak.

Namun tiba-tiba Ki Tumenggung berkata, “Aku akan memanggil para Rangga dan Lurah termasuk semua Lurah Penatus.”

Kasadha mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku kira Ki Tumenggung dapat berbicara berterus terang.”

“Baiklah,“ jawab Ki Tumenggung.

Demikianlah, maka seperti yang dikatakannya, maka Ki Tumenggung telah memanggil semua orang dari unsur pimpinan di pasukannya. Semuanya sekitar duapuluh lima orang.

Ki Tumenggung Surajaya memang mengetahui bahwa diantara mereka tentu ada satu dua girang yang alan dapat menjilat kepada para pemimpin yang datang dari Demak. Tetapi Ki Tumenggung tidak akan ingkar untuk menghadapi tanggung jawab.

Karena itu, maka Ki Tumenggung itupun telah menyatakan terus terang maksudnya menyelenggarakan pertemuan itu.

“Aku ingin mendengar pendapat kalian,“ berkata Ki Tumenggung.

Ternyata orang-orang yang menyatakan pendapatnya adalah orang-orang yang memang telah dicurigai oleh para pemimpin dari Demak. Mereka memang meragukan arti kesetiaan bagi Pajang saat itu.

Namun dalam pada itu, seorang diantara mereka yang hadir itu bertanya, “Apakah kita meragukan kesetiaan kita karena yang memimpin Pajang sekarang adalah Adipati Demak?”

Sebelum Ki Tumenggung Surajaya menjawab, ternyata salah seorang Lurah Penatus telah menjawab, “Ya. Bukankah itu berarti kita setia kepada Demak yang seakan-akan telah merebut Pajang meskipun tidak dengan perang?”

“Itu adalah satu tanggapan yang salah terhadap kenyataan yang ada di Pajang sekarang,“ berkata orang yang bertanya, “Jika Adipati Demak ada di Pajang itu bukan karena Demak merebut Pajang. Tetapi Adipati Demak itu justru diangkat menggantikan Sultan Hadiwijaya yang memerintah bukan saja Pajang sebagaimana seorang Adipati. Tetapi memerintah Pajang. Demak, Pati, Jipang dan termasuk Mataram. Jika Mataram dan Jipang menentang Pajang itu berarti satu pemberontakan. Pada suatu saat Pajang akan menyatakan kuasanya pula di Bang Wetan sebagaimana Sultan Hadiwijaya yang melanjutkan kuasa Demak diatas Tanah ini.”

“Tidak,“ seorang Lurah yang lain hampir berteriak, “Pajang sekarang sama sekali tidak berkuasa atas siapa-pun dan apapun diatas Tanah ini. Yang terjadi adalah cengkaman kekuatan Pajang yang disahkan. Dan kuasa itu dipergunakannya untuk berbuat sewenang-wenang atas rakyat yang ada di Pajang. Ayahku mempunyai tanah sepuluh bahu. Tiga bahu diantaranya harus diserahkan kepada seorang pemimpin yang yang datang dari Demak meskipun ayahku masih harus menggarap terus.”

“Itu masih baik,“ berkata Penatus yang lain, “pamanku mempunyai halaman yang ditanami pohon kelapa seluas hanya sebahu karena pamanku termasuk orang miskin. Selama selapan hari pamanku berhasil memetik sekitar limaratus buah. Apa yang terjadi? Seratus lima puluh diantaranya harus diserahkan kepada Ki Rangga Banter. Apa itu wajar?”

Namun perwira yang pertama berpendapat itu berkata, “Jangan kau campur adukkan antara sahnya pemerintah Demak yang ada di Pajang atau lebih tepat pemerintah Pajang yang dipegang oleh Adipati Demak dengan tindakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”

Namun Kasadhalah yang menjawab, “Tindakan yang kurang baik itu ternyata sama sekali tidak dibenahi sampai sekarang meskipun hal itu sudah diketahui oleh para pemimpin Demak di Pajang.”

Perwira itu termangu-mangu. Sementara itu Ki Tumenggung Surajaya berkata, “Apa yang paling baik kita lakukan dalam keadaan yang gawat seperti sekarang ini?”

Beberapa orang justru terdiam. Perwira yang memberikan tanggapan pertama itu menjadi berdebar-debar. Namun kemudian ia berkata, “Ki Tumenggung. Kita adalah prajurit yang akan menjalankan segala perintah.”

“Ya,“ jawab Ki Tumenggung, “perintah siapa? Itulah soalnya.”

“Kita tidak wenang menilai kebijakan atasan kita,“ berkata perwira itu selanjutnya.

“Kebijakan itu menyangkut hidup matinya Pajang itu sendiri,“ jawab Ki Tumenggung, “apakah kita sepantasnya membantu orang-orang yang sekarang memerintah di Pajang yang membiarkan segala penyelewengan terjadi? Apakah dengan demikian tidak berarti kita ikut membuat rakyat Pajang menderita.”

“Kebijakan pemerintah Pajang bukan persoalan kita,“ berkata perwira itu.

“Siapakah sebenarnya kita ini?“ bertanya Ki Tumenggung, “jika kita ini seorang prajurit, apakah yang dapat kita lakukan?”

Perwira itu termangu-mangu. Namun Ki Tumenggung tidak menunggu perwira itu menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia berkata, “Aku telah mengambil keputusan. Bukan keputusan seorang prajurit yang baik. Tetapi justru karena kita melihat kenyataan yang terjadi di Pajang.”

“Apa yang harus kita lakukan Ki Tumenggung?“ bertanya Ki Rangga Permada yang lebih banyak berdiam diri karena iapun menyadari bahwa dirinya dianggap seorang prajurit yang kurang bersih oleh para pemimpin Pajang yang datang dari Demak.

Kita akan membebaskan diri dari pertentangan antara Pajang dengan Mataram dan Jipang,“ berkata Ki Tumenggung itu.

“Maksud Ki Tumenggung,“ terdengar beberapa orang bertanya bersama-sama.

“Kita tidak akan mempertahankan kelemahan-kelemahan yang ada di Pajang sekarang. Tetapi kita tidak akan menyeberang ke Mataram dan Jipang,“ jawab Ki Tumenggung tegas.

“Kita akan berdiam diri?“ bertanya perwira yang cenderung menentang sikap Ki Tumenggung itu.

“Ya,“ jawab Ki Tumenggung.

“Kita tidak mengakui keputusan musyawarah keluarga istana yang mengambil keputusan menetapkan Adipati Demak untuk memegang pimpinan pemerintahan di Pajang sekarang ini?“ bertanya perwira itu.

“Bukan begitu. Musawarah itu sah. Tetapi apa yang terjadi kemudianlah yang tidak sah menurut penglihatan kita dan rakyat Pajang. Kita tidak ingin Pajang kemudian menjadi kota mati, karena orang-orangnya telah pindah keluar Pajang. Mereka tidak tahan lagi hidup dalam tekanan yang semakin menghimpit. Kita tidak boleh berpura-pura tidak tahu, bahwa sebagian dari mereka telah pergi ke Mataram, ke Jipang dan ketempat-tempat lain diluar Pajang,“ jawab Ki Tumenggung.

Perwira itu termangu-mangu. Sementara itu Ki Tumenggung berkata selanjutnya, “Kita akan menutup barak kita. Kita putuskan semua hubungan dengan orang luar. Kita akan mempertahankan barak kita sebagai satu daerah yang tidak terlibat dalam pertentangan antara Mataram dan Jipang dengan Pajang. Siapa yang berpendirian lain, masih ada waktu untuk meninggalkan barak kita sekarang. Sementara mereka yang mempunyai pasukan diluar barak ini, dan sependapat dengan kita, aku persilahkan untuk membawa pasukannya kemari. Tentu saja dengan semua perbekalan yang ada. Kita tidak tahu, kita akan bertahan berapa hari.”

“Bagus,“ desis Ki Rangga Permada, “aku sependapat dengan sikap itu. Kita akan bertahan sampai kita melihat perubahan yang akan terjadi di Pajang.”

Perwira yang tidak sependapat itu tiba-tiba berkata lantang, “Jadi, kita akan bersikap seperti seorang banci? Kita telah kehilangan akal. Kita kehilangan pegangan sebagai satu kesatuan prajurit Pajang. Apakah ini yang disebut kesatria-kesatria Pajang yang bersikap jantan?”

“Kau tidak sependapat?“ bertanya Ki Tumenggung.

“Ya. Aku tidak ingin bersikap banci seperti itu,” jawab perwira itu.

“Seperti yang aku katakan, siapa yang tidak sependapat aku persilahkan meninggalkan barak ini,“ jawab Ki Tumenggung. Lalu katanya, “Aku perintahkan semua kekuatan masuk ke dinding barak ini. Sekarang.”

Pertemuan itupun kemudian segera diakhiri. Ternyata sebagian terbesar dari para pemimpin prajurit yang datang dalam pertemuan itu sependapat dengan sikap Ki Tumenggung. Sementara mereka mendapat tugas untuk menyampaikan keputusan itu kepada prajurit-prajurit mereka.

Para Lurah Penatus yang pada umumnya memiliki prajurit yang lebih dari seratus orang untuk menanggapi keadaanpun segera menghubungi setiap pemimpin kelompok. Sementara itu beberapa orang perwira yang memiliki pasukan diluar barak itupun segera melakukan perintah. Tetapi perwira yang menentang keputusan Ki Tumenggung itupun dengan tergesa-gesa berusaha untuk menghubungi para pemimpin yang memegang kendali keprajuritan di Pajang yang hampir semuanya terdiri dari para pemimpin yang datang dari Demak.

Keputusan Ki Tumenggung itu memang mengejutkan. Tetapi masih ada sikap seorang Panglima yang lain yang lebih mencemaskan para pemimpin dari Demak itu. Ki Tumenggung Wirabaya telah meninggalkan Pajang menuju keperkemahan para prajurit dari Mataram.

Salah seorang perwira yang menyampaikan keputusan Ki Tumenggung Surajaya itu telah dihadapkan kepada Ki Tumenggung Bandapati, Ki Tumenggung Windumurti dan beberapa orang pemimpin dari Demak.

“Kita siapkan prajurit. Kita tangkap Surajaya,“ berkata Ki Tumenggung Windumurti.

“Kita harus berpikir panjang,“ desis Ki Tumenggung Balapati, “jika kita tundukkan Surajaya dengan kekerasan, apakah itu tidak berarti kedudukan kita menjadi semakin lemah. Perang diantara kita akan menimbulkan kesan yang semakin buruk. Beberapa orang diantara kita sudah menyeberang. Apakah kita masih akan memperlemah diri dengan membunuh beberapa orang terbaik kita?”

“Apa salahnya kita membunuh Surajaya yang sudah jelas tidak akan dapat membantu kita?“ sahut Tumenggung Windumurti.

“Kematian Surajaya memang tidak perlu disesali. Tetapi untuk membunuhnya, kita harus mengorbankan orang-orang yang kita perlukan untuk menghadapi Mataram dan Jipang,“ jawab Ki Tumenggung Balapati. Lalu katanya pula, “Kecuali kelak, jika perang sudah selesai.”

“Dan kita sudah terusir dari Pajang,“ jawab Ki Tumenggung Windumurti.

“Apakah kita tidak berpengharapan lagi? Jika demikian buat apa kita berperang?“ desis Ki Tumenggung Balapati.

Ki Tumenggung Windumurti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdesis, “Kita tidak dapat mengingkari kenyataan. Tetapi kita memang tidak boleh untuk tidak berpengharapan. Kita sudah mengumpulkan jumlah orang cukup banyak. Semua hamba, budak dan pelayan telah dipersenjatai. Tetapi mereka bukan prajurit.”

“Dalam perang brubuh, rampokan seperti mereka itu akan cukup berpengaruh. Dibelakang mereka adalah prajurit-prajurit yang akan mengancam mereka terus-menerus. Siapa yang melarikan diri akan dibunuh,“ jawab Ki Tumenggung Balapati.

Keduanya kemudian memang bersepakat untuk sementara tidak mengambil langkah-langkah kekerasan menghadapi sikap Ki Tumenggung Surajaya. Tetapi keduanya akan mengusulkan dan mohon ijin dari para pemimpin tertinggi di Pajang untuk berbicara dengan Ki Surajaya serta memberikan janji-janji yang dapat melunakkan hatinya.

“Aku sendiri yang akan menemui Ki Tumenggung Surajaya,“ berkata Ki Tumenggung Balapati.

Ki Tumenggung Windumurti menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa ia akan bersikap terlalu keras jika ia yang mendapat tugas untuk menemui Ki Tumenggung Surajaya.

Sementara itu Ki Tumenggung Surajaya telah bertekad bulat. Beberapa orang perwira yang sependapat dengan sikapnya, telah membawa pasukan mereka ke barak Ki Tumenggung sehingga semua pasukan yang dibawah perintahnya sebagai seorang Panglima perang telah terkumpul. Pasukan Dmak tidak sempat mencegah mereka. Memang beberapa orang petugas sandi dari Demak dengan cepat melaporkan bahwa ada gerakan prajurit Pajang didalam kota Pajang. Tetapi mereka tidak tahu maksudnya.

Namun demikian para pemimpin pasukan Demakpun segera bersiaga bukan saja menghadapi Mataram dan Jipang. Tetapi mereka menilai gerakan pasukan Pajang itu sendiri sebagai gerakan yang liar dan tidak terkendali.

Perintah dari para pemimpin mereka ternyata datang agak lambat.Para prajurit Demak di Pajang tidak dibenarkan untuk mengambil tindakan sendiri-sendiri. Mereka hanya mendapat perintah untuk bersiaga penuh. Tetapi tidak melakukan tindakan yang apalagi dapat menimbulkan benturan kekerasan dengan prajurit Pajang. Juga yang sedang melakukan gerakan yang tidak diketahui itu.

Namun akhirnya para pemimpin pasukan dari Demakpun mengetahui bahwa pasukan Pajang sebagian telah berkumpul menjadi satu dibarak yang langsung dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya. Bukan hanya para prajuritnya, tetapi juga dengan berbagai macam perbekalan.

Meskipun mereka masih belum mendapat keterangan yang pasti, namun para pemimpin prajurit dari Demakpun segera mengetahui bahwa Ki Tumenggung Surajaya telah melakukan pelanggaran atas paugeran seorang prajurit. Apalagi kedua orang Tumenggung yang pernah memanggil Ki Tumenggung Surajaya.

Sebenarnyalah Ki Tumenggung Surajaya telah melaksanakan niatnya untuk menutup diri dalam baraknya. Beberapa orang yang tidak sesuai dengan keputusannya itu dipersilahkan untuk meninggalkan dinding halaman baraknya. Sementara itu, berbagai macam perbekalan telah disiapkan pula didalam barak itu.

Kasadha adalah salah seorang diantara para Lurah Penatus yang ikut mengurung diri didalam halaman barak itu.

Namun Ki Tumenggung memang sudah bersiaga sepenuhnya. Ia sudah bertekad untuk mempertanggung jawabkan segala langkah yang diambilnya bersama-sama dengan para prajuritnya. Dengan segera Ki Tumenggung telah membagi tugas.Para prajuritnya harus berada disegala sudut dinding halaman serta membuat panggungan yang dapat mengawasi keadaan diluar dinding halaman barak mereka.

Pergolakan yang terjadi di Pajang, justru pada saat yang gawat itu telah dilaporkan kepada Kangjeng Adipati Demak yang telah ditetapkan untuk memegang pimpinan tertinggi di Pajang menggantikan Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang telah wafat. Namun yang kekuasaannya belum pernah mapan dan berjalan sebagaimana sewajarnya, justru karena Kangjeng Adipati Demak itu tidak mampu menguasai orang-orangnya yang dibawanya dari Demak.

Menurut perhitungan Kangjeng Adipati yang menggantikan kedudukan Sultan Hadiwijaya itu, para pemimpin yang dibawanya di Pajang. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya karena para pemimpin yang dibawa dari Demak itu menjadi terlalu manja dan melakukan tindak sewenang-wenang, seolah-olah mereka adalah orang-orang yang telah memenangkan perang yang berhak berbuat apa saja terhadap mereka yang dikalahkan. Mereka telah mendapat kenaikan pangkat dan mereka telah mengambil tanah milik orang-orang Pajang. Ternak dan hasil bumi.

Kangjeng Adipati Demak yang kemudian memegang kekuasaan tertinggi di Pajang itu memang menjadi gelisah. Tetapi para pemimpin yang dibawanya dari Demak itu telah memberikan laporan pula, bahwa mereka berhasil menghimpun kekuatan yang cukup besar.

“Berhati-hatilah,“ berkata Kangjeng Adipati, “kita tahu siapakah Panembahan Senapati dan siapakah Pangeran Benawa.”

“Tetapi kitapun tahu kekuatan dan kemampuan para Panglima dan Senapati perang dari Demak yang ada di Pajang,“ jawab para pemimpin itu.

Sementara itu, Ki Tumenggung Balapati telah bersiap -siap untuk menemui Ki Tumenggung Surajaya didalam baraknya. Sebelum mala petaka terjadi di Pajang, maka Ki Tumenggung telah membawa hanya dua orang pengawal untuk datang ke barak prajurit Pajang segelar sepapan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya.

Ki Tumenggung Surajaya menerima Ki Tumenggung Balapati dengan baik. Tetapi Ki Tumenggung Balapati ternyata tidak mampu berubah sikap Ki Tumenggung Surajaya.

“Aku menghormati Ki Tumenggung Balapati,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya, “diantara para pemimpin yang datang dari Demak, maka Ki Tumenggung termasuk salah seorang diantara hanya beberapa orang yang mengerti keadaan yang sebenarnya terjadi di Pajang. Ki Tumenggung bukan termasuk orang-orang yang memanfaatkan keadaan yang tidak mapan di Pajang sepeninggal Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Tetapi orang seperti Ki Tumenggung jumlahnya terlalu sedikit untuk dapat merubah sikap pemerintahan Demak di Pajang sekarang ini.”

Ki Tumenggung Balapati menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa sulit baginya untuk merubah sikap Ki Tumenggung Surajaya. Agaknya Ki Tumenggung Surajaya sudah tidak dapat menahan diri sehingga batas kesabarannya sudah dilampaui.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Balapati itupun berkata, “Baiklah. Jika Ki Tumenggung Surajaya sudah benar-benar berniat untuk menutup diri dalam barak ini, agaknya aku sudah tidak dapat lagi berbuat sesuatu. Aku sudah mencoba untuk merubah sikap Ki Tumenggung, tetapi aku tidak berhasil. Karena itu, maka lebih baik aku minta diri.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk hormat sambil menjawab, “Maaf Ki Tumenggung. Aku sudah berdiri diatas satu keyakinan.”

Demikianlah maka Ki Tumenggung Balapatipun telah minta diri. Ia meninggalkan barak Ki Tumenggung Surajaya tanpa membawa hasil. Pembicaraan mereka telah tertutup oleh keyakinan Ki Tumenggung Surajaya atas sikapnya.”

Ketika hal itu dilaporkan kepada Adipati Demak yang ada di Pajang, maka mula-mula Adipati Demak memerintahkan untuk menghancurkan saja kesatuan Ki Tumenggung Surajaya. Tetapi beberapa orang mempunyai pertimbangan lain, justru dalam keadaan yang gawat.

“Tetapi Surajaya akan dapat menyeberang,“ berkata Kangjeng Adipati.

“Jika hal itu dikehendakinya, maka tentu sudah dilakukannya,“ jawab Ki Tumenggung Balapati.

Akhirnya diputuskan bahwa untuk sementara barak Ki Tumenggung Surajaya yang tertutup itu tidak akan diusik. Tetapi barak itu dikepung dan diawasi dengan ketat. Tidak boleh ada orang yang keluar dan masuk regol halaman barak itu. Orang itu akan dapat memberikan keterangan tentang perkembangan keadaan. Tetapi dapat juga memberikan bekal berupa apapun kepada orang-orang yang menutup diri itu.Para pemimpin di Demak berharap, bahwa dengan demikian barak itu akan kehabisan bahan makan dan perlengkapan yang lain.

Tetapi segala sesuatunya memang tergantung kepada keadaan dalam keseluruhan.

Sementara itu, Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah berada diantara prajurit-prajuritnya di perkemahan. Mereka telah menentukan hari yang terbaik untuk menyerang Pajang.

Karena itu, maka merekapun telah membenahi pasukan mereka diperkemahan. Sementara itu, para petugas sandi telah melakukan tugas mereka dengan baik.Para petugas sandi itupun segera mengetahui apa yang terjadi di Pajang. Merekapun segera mengetahui persoalan yang timbul dalam tahanan keprajuritan. Apalagi banyak perwira dan prajurit Pajang yang telah menyeberang ke Mataram atau Jipang.

Ketika saatnya telah tiba, maka baik prajurit Mataram maupun prajurit Jipangpun benar-benar telah bersiap. Ternyata waktu yang mereka tetapkan jauh lebih cepat dari perhitungan orang-orang Demak yang berada di Pajang.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Surajaya masih belum kehabisan bahan makanan dan perbekalan ketika Mataram dan Jipang siap untuk menyerang.

Di hari yang ditentukan, maka pagi-pagi menjelang fajar, terdengar gaung sendaren di udara. Beberapa ekor burung merpati telah dilepaskan dengan sendaren yang diselipkan dipangkal ekornya.

Karena burung-burung merpati itu terbang berputaran, maka gaung sendarennya telah terdengar dari jarak yang cukup jauh. Bukan saja seluruh kota Pajang mendengarnya. Tetapi sendaren pada beberapa ekor burung merpati yang berterbangan itu terdengar sampai keperkemahan prajurit Jipang.

Prajurit Jipang memang sudah bersiap. Mereka memang sudah menentukan bahwa hal itu mereka akan menyerang Pajang. Isyarat suara sendaren itu sekedar untuk memperingatkan, bahwa saat yang mereka tunggu memang telah tiba.

Dengan demikian, sejenak kemudian telah terdengar suara bende di kedua perkemahan. Ketika bende berbunyi sekali, maka semua prajurit harus sudah berkumpul. Mereka yang agak lambat makan, harus segera menyuap mulutnya dengan bagian terakhir dari makan mereka. Kemudian berlari-lari ke kelompok mereka masing-masing.

Ketika bende kemudian berbunyi untuk kedua kalinya, maka semua orang telah bersiap. Senjata-senjata yang akan dibawa telah diteliti dengan saksama. Tidak ada lagi pedang yang tangkainya akan terlepas atau busur yang talinya akan putus atau tombak yang retak landeannya.

Pada isyarat suara bende yang ketiga, maka seluruh pasukan yang besar dari Mataram dan Jipangpun mulai bergerak. Kedua Panglima perang dari pasukan itu tidak berselisih terlalu banyak menjatuhkan perintah untuk maju menuju ke garis pertahanan yang sudah dibangun oleh Pajang. Ternyata pasukan Pajang yang masih setia kepada kepemimpinan Pajang serta para prajurit Demak telah mendapat perintah pula untuk siap menyambut para prajurit yang menyerang.Para pemimpin keprajuritan Pajang yang sebagian adalah justru orang-orang Demak yang mendapat laporan tentang pasukan lawan, telah bersiaga sepenuhnya. Mereka telah mengatur pertahanan di dinding kota .Para hamba, budak, pelayan dan semua orang laki-laki telah dikerahkan tanpa memperhitungkan apakah mereka memiliki keberanian untuk berperang serta kemampuan memegang senjata jenis apapun.

Namun para petugas sandi dari Mataram dan Jipang sempat tertegun melihat jumlah orang yang cukup besar di garis pertahanan.

Sementara itu, Ki Tumenggung Surajaya benar-benar telah menutup diri. Ia tidak tahu apakah dengan demikian ia sudah berkhianat. Yang ia tahu, ia tidak dapat berbuat lebih banyak bagi Pajang dengan pemerintahan yang rapuh. Tetapi ia tidak dapat menyeberang ke Mataram atau Jipang. Ada sesuatu yang menahannya untuk berbuat demikian.

Namun Ki Tumenggung itu telah bersiap sepenuhnya. Semua prajurit yang ada di barak itu sudah siap untuk bertempur melawan siapapun. Melawan Mataram atau Jipang atau bahkan melawan Demak.

Kasadha seorang diantara para prajurit yang berada di barak itu telah meyakinkan prajurit-prajuritnya sesuai dengan perintah Ki Tumenggung Surajaya. Beberapa orang baru yang diserahkan kepadanya, ternyata dapat mengerti keterangan Lurahnya. Sedangkan para prajuritnya yang telah berada di pasukannyasjakia berada di Gemantar dan kemudian Sembojan mengerti dengan jelas pendirian Lurah Penatus yang masih muda itu.

Tetapi yang tidak diduga oleh Kasadha itupun telah terjadi. Ketika prajurit Mataram dan Jipang menjadi semakin dekat dengan garis pertahanan Pajang, sementara cahaya langit menjadi semakin terang, seseorang telah mengetuk pintu gerbang barak prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya.

Ketika para penjaga di regol membuka lubang yang dipergunakan untuk melihat keluar sebelum pintu gerbang itu dibuka, maka dilihatnya seorang laki-laki yang berdiri termangu-mangu. Rambutnya yang sudah berwarna rangkap yang nampak sedikit tergerai dibawah ikat kepalanya menunjukkan umurnya yang mulai menua.

Dengan lantang seorang diantara para prajurit itu bertanya, “Kau siapa?”

“Aku Rangga Gupita. Aku ayah Lurah Penatus Kasadha. Aku ingin bertemu dalam saat yang gawat seperti ini. Aku mohon waktu sebentar saja,“ jawab orang yang ada diluar.

“Tidak seorangpun boleh masuk dan keluar. He, apakah kau tidak ditangkap oleh prajurit Demak ketika kau mendekati barak ini?“ bertanya prajurit yang ada didalam.

“Aku berhasil menyusup diantara kepungan yang menjadi longgar karena para prajurit telah berada di medan . Pasukan Mataram dan Jipang sudah mulai menyerang,“ berkata Ki Rangga Gupita.

“Tetapi regol ini tidak akan dibuka. Siapapun yang menghendaki. Hanya perintah Ki Tumenggung sajalah yang dapat membuka pintu gerbang ini,“ jawab prajurit itu.

“Tetapi aku ayah Ki Lurah Kasadha. Bukankah kau kenal Lurah Penatus yang muda itu?“ bertanya orang yang berada diluar regol.

“Tentu kenal. Tetapi aku tidak berani membuka pintu ini,“ jawab prajurit itu pula.

“Aku harus menemuinya sekarang. Ada hal yang penting sekali harus aku sampaikan,“ minta Ki Rangga Gupita.

Paraprajurit yang bertugas itu berpikir sejenak. Mereka menjadi ragu-ragu. Namun ketika mereka melihat disekitarnya, mereka tidak menemukan seorang prajurit-pun yang berada dibawah perintah Ki Lurah Kasadha.

“Aku minta tolong,“ berkata Ki Rangga Gupita, “jika aku tidak bertemu dengan anakku saat ini, aku akan kecewa dan Kasadha akan menyesal seumur hidupnya. Berita yang akan aku sampaikan menyangkut keselamatan ibunya.”

Paraprajurit itu menjadi semakin ragu-ragu. Namun ketika hal itu disampaikan kepada prajurit yang bertugas memimpin penjagaan diregol dan sekitarnya, maka prajurit itu berkata, “panggil saja Ki Lurah Kasadha. Ia bertugas di halaman belakang bersama prajurit-prajuritnya. Ia akan bertemu dengan ayahnya tanpa membuka pintu gerbang itu. Biarlah mereka berbicara melalui lubang itu.”

Prajurit yang memberikan laporan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan memanggil Ki Lurah Kasadha.”

Sejenak kemudian, Ki Lurah Kasadhapun telah melangkah kepintu gerbang. Wajahnya menjadi muram sementara jantungnya menjadi berdebar-debar.

“Apalagi yang akan dilakukannya? “ pertanyaan itu telah menggetarkan jantungnya.

Sejenak kemudian, maka Ki Lurah telah berdiri dipintu gerbang. Lewat lubang pengamatan itu ia melihat Ki Rangga Gupita berada diluar pintu gerbang.

“Buka pintu,“ minta Ki Rangga.

Tetapi Kasadha menjawab, “Tidak ada yang berani membuka pintu ini.”

“Bukankah kau seorang Lurah Penatus yang dapat memerintahkan para prajurit untuk membuka pintu itu,“ bertanya Ki Rangga.

“Ki Tumenggung telah memerintahkan, hanya Ki Tumenggung yang berwenang membuka atau memerintahkan membuka pintu gerbang ini,“ jawab Kasadha. Lalu katanya, “Bukankah ayah juga bekas prajurit seorang prajurit yang tahu arti perintah atasannya?”

Ki Rangga menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Namun iapun kemudian berkata hampir berbisik, “Kau tidak perlu tunduk kepada perintah atasanmu.”

“Kenapa?“ bertanya Kasadha.

“Ki Tumenggung itu juga tidak tunduk kepada perintah atasannya,“ jawab Ki Rangga.

“Jika aku tidak tunduk kepada perintahnya, apakah aku harus membuka pintu ini dan kemudian aku ditangkap oleh prajurit-prajuritnya yang lain dan mengikat aku pada patok di halaman itu sambil dicambuk dengan rotan?“ bertanya Kasadha.

“Apakah ada orang yang berdiri didekatmu?“ bertanya Ki Rangga yang tidak dapat melihat kedalam selain sepasang mata Kasadha.

“Tidak,“ jawab Kasadha, “mereka telah menjauh.”

“Dengar aku Puguh,“ geram Ki Rangga.

“Aku lebih senang dipanggil Kasadha,“ jawab anak muda itu.

“Dengar aku. Kau harus keluar dari barak ini. Kau harus membantu Pajang mengusir orang-orang Mataram dan Jipang. Jika Pajang berhasil bertahan, maka kau akan mendapat kedudukan yang lebih baik. Kesempatanmu untuk mengambil hakmu atas Tanah Perdikan Sembojan akan menjadi lebih besar,“ berkata Ki Rangga.

“Aku tidak akan berbicara lagi tentang hakku atas Tanah Perdikan Sembojan. Aku sudah berkata kepada Risang, sebagai saudara tuaku, bahwa ia berhak sepenuhnya atas Tanah Perdikan itu,“ jawab Kasadha yang hampir kehilangan kesabarannya. Ia merasa selalu diganggu oleh orang yang menyebut dirinya ayahnya itu.

Wajah Ki Rangga Gupita menjadi merah. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Jadi kau telah bertemu dengan Risang?”

“Ya. Aku telah bertemu dengan Risang dan bertemu dengan Bibi Iswari. Aku telah mengaku siapa aku dan akupun telah mengatakan, bahwa aku sama sekali tidak berniat untuk kembali ke Sembojan dengan segala macam tuntutan atas hak dengan alasan apapun juga,“ jawab Kasadha.

“Kau bohong. Jika kau menemui orang-orang yang sekarang berkuasa di Tanah Perdikan Sembojan dengan merampas hakmu, maka kau tentu akan dibunuhnya,“ geram Ki Rangga Gupita.

“Ternyata tidak. Bibi Iswari adalah seorang yang berbudi. Demikian pula Risang. Mereka menganggapku sebagai keluarga sendiri tanpa sikap bermusuhan,“ berkata Kasadha.

“Kau telah berbohong. Ternyata kau takut menghadapi orang-orang Tanah Perdikan Sembojan,“ Ki Rangga Gupita hampir tidak dapat menahan diri lagi.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya dengan nada datar, “Ya. Aku tidak mempunyai keberanian untuk melawan Bibi Iswari dan Risang, sebagaimana aku tidak berani melawan Mataram dan Jipang.”

“Anak iblis,“ geram Ki Rangga Gupita, “buat apa kau berguru selama ini? Buat apa membesarkanmu dan buat apa aku dan ibumu bekerja keras untuk berpengharapan agar kau pada suatu saat berhasil mengambil hakmu kembali setelah sekian lama dirampas oleh orang lain yang sebenarnya telah disingkirkan oleh ayahmu?”

“Tetapi bibi Iswari tetap menjadi isterinya menurut paugeran meskipun ayah pernah berusaha untuk menyingkirkannya,“ jawab Kasadha.

“Tidak. Isteri Ki Wiradana yang pertama sudah mati. Ibumu adalah isterinya yang sah sampai saat ayahmu terbunuh,“ geram Ki Rangga.

“Siapakah yang membunuh ayahku yang sebenarnya itu?“ bertanya Kasadha.

Wajah Ki Rangga menjadi merah membara. Dengan suara yang tertahan-tahan ia berkata, “Ibumu akan menjadi sangat bersedih mendengar sikapmu. Hatinya sudah terluka karena perang tanding yang dilakukannya terakhir membuatnya kehilangan sebagian dari kemungkinannya untuk memulihkan ilmunya apalagi meningkatkannya. Sekarang, kau yang diharapkan untuk dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukannya ternyata telah mengkhianatinya.”

Kasadha menggeretakkan giginya. Namun tiba-tiba sebuah pertanyaan telah muncul dihatinya, “Apakah benar aku telah mengkhianati ibuku? Jadi, apakah sekarang ini aku sedang menjadi pengkhianat ganda? Mengkhianati Pajang dan sekaligus berkhianat terhadap ibuku?”

Namun Kasadha mencoba mencari jawabnya. Sambil termangu-mangu ia berdesis seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Aku tidak berkhianat kepada siapapun. Aku tahu ibuku bersalah. Ia tidak berhak memiliki apapun dari Ki Wiradana. Ibu yang pernah berkuasa disamping Ki Wiradana beberapa saat telah menyalah gunakan kekuasaannya, sebagaimana orang-orang Demak menyalah gunakan kekuasaannya di Pajang sekarang ini. Karena itu, jika aku tidak membantu ibu tetapi tidak mencelakainya serta aku tidak membantu Pajang tetapi tidak menyeberang ke Mataram atau Jipang, maka aku tidak pernah dapat disebut pengkhianat.”

“Kau telah berkhianat,“ geram Ki Rangga.

“Tidak. Tidak. Sekarang pergilah. Pergi,“ bentak Kasadha. Ia tidak pernah berbuat sekasar itu sebelumnya.

Bentakan itu telah mengejutkan Ki Rangga Gupita. Telinganya rasa-rasanya telah tersentuh api. Anak itu adalah anak yang sangat takut kepadanya. Semua yang dikatakannya selalu dilakukan dengan wajah pucat. Bahkan Ki Rangga tidak jarang telah memaksakan kehendaknya dengan memukul anak itu tanpa belas kasihan, sejak anak itu masih kanak-kanak.

Pada saat-saat terakhir Ki Rangga memang merasakan perubahan sikap Kasadha terhadapnya. Tetapi ia masih berusaha menahan diri. Namun sikap anak itu mencapai puncaknya dengan sikapnya yang kasar dan bahkan telah mengusirnya.

“Kau akan menyesali sikapmu itu Puguh,“ geram Ki Rangga kemudian, “aku akan menyampaikan kepada ibumu akan sikapmu. Sikapmu terhadap Tanah Perdikan Sembojan dan sikapmu kepadaku. Karena itu, maka jika perang ini selesai, dan kau tidak mati dibunuh oleh orang Mataram, orang Jipang atau orang Pajang sendiri, maka aku akan datang membuat perhitungan.”

“Aku tidak peduli,“ jawab Kasadha, “kau bukan apa-apaku. Aku sekarang sudah dewasa. Sudah berhak menentukan sikapku sendiri.”

“Kalau aku tahu kau akan berkhianat, aku telah membunuhmu selagi kau masih kanak-kanak,“ suara Ki Rangga yang marah itu terasa bergetar disela-sela gemeretak giginya.

“Pergilah,“ ulang Kasadha, “atau aku akan melaporkanmu kepada pemimpin prajurit yang bertugas sekarang ini bahwa kau berusaha menghasut aku.”

“Gila kau,“ Ki Rangga hampir berteriak. Tatapan matanya yang merah menyorotkan kemarahan yang tidak tertahankan.

Beberapa orang prajurit yang untuk sementara menjauhi Kasadha yang dianggapnya akan berbincang tentang persoalan keluarga itu terkejut mendengar suara Ki Rangga yang keras. Seorang diantara mereka mendekati Kasadha sambil bertanya, “Apa yang terjadi Ki Lurah.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian menjawab, “Tidak ada apa-apa. Ayah memang agak marah kepadaku.”

Prajurit itupun telah melangkah menjauhinya lagi tanpa bertanya apapun lagi.

Ki Rangga memang melangkah surut. Namun ia masih saja mengancam sambil berbisik, “Jika kau tidak keluar dari barak ini dan berpihak kepada Pajang agar kau mendapat kesempatan yang luas untuk mengambil hakmu atas Tanah Perdikan Sembojan, maka kau akan mati. Jika tidak oleh prajurit Mataram. Jipang atau Pajang sendiri, maka aku dan ibumu akan mengambil nyawamu karena kau sudah tidak berarti lagi bagi kami.”

Kasadha tidak menjawab. Betapa darahnya serasa mendidih, tetapi ia hanya terdiam sambil mengatupkan giginya rapat-rapat.

Ki Rangga yang melihat sepasang mata Kasadha di lubang pengawasan dipintu gerbang itu tiba-tiba saja tidak dapat menahan diri lagi. Dengan cepat tangannya telah bergerak. Kedua jari-jarinya mengembang tepat selebar jarak kedua mata Kasadha.

Namun Kasadha melihat gerak itu. Karena itu, maka iapun telah bergeser setapak menyamping, sehingga kedua jari-jari Ki Rangga Gupita itu tidak mengenai sasarannya.

Hampir saja Kasadha memberi isyarat kepada para prajurit yang ada diatas panggung di dinding halamanan. Atau ia sendiri meloncat keatas panggung dan membalas serangan itu dari atas dengan busur dan anak panah. Tetapi ia telah menahan dirinya. Sementara itu, orang-orang yang ada diatas panggung tidak memperhatikan apa yang terjadi. Ketika mereka melihat seseorang mendekati pintu gerbang, mereka telah menunggu perintah. Mereka tidak langsung bertindak karena mereka melihat orang itu sendirian dan tidak bersenjata. Karena itu, maka mereka menyerahkan persoalannya kepada para prajurit yang berjaga-jaga dipintu. Kecuali jika ada perintah untuk berbuat sesuatu.

Tetapi ternyata tidak ada perintah apapun. Kasadha yang berhasil menyelamatkan sepasang matanya juga tidak berbuat apa-apa. Ia masih mengingat ibunya yang tentu berkepentingan dengan Ki Rangga Gupita. Jika ia berbuat sesuatu sehingga laki-laki itu terbunuh, maka hati ibunya yang terluka tentu semakin luka. Ia akan merasa kehilangan segala-galanya. Cita-citanya, anak laki-lakinya serta laki-laki yang kemudian dianggapnya suaminya. Meskipun kemudian ibunya itu mempunyai seorang anak laki-laki lagi, namun anak itu tidak akan dapat dipergunakan untuk memancing kekuasaan di Tanah Perdikan Sembojan.

Paraprajurit yang berada disebelah pintu gerbang itu memang menjadi heran melihat sikap Kasadha. Tetapi karena Kasadha kemudian tidak berbuat apa-apa, maka merekapun tidak berbuat apa-apa juga.

Dari lubang pengamatan itu Kasadha sempat melihat orang yang pernah mengaku sebagai ayahnya itu melangkah meninggalkan pintu gerbang itu. Namun beberapa saat kemudian, maka ia melihat orang itu berbelok dan kemudian menyusup ke sebuah lorong sempit.

Ki Rangga Gupita memang pernah menjadi prajurit sandi Jipang sebelumnya, sehingga iapun memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari pengamatan prajurit Demak yang mengepung barak itu. Namun seperti yang dikatakan oleh Ki Rangga, kepungan itu telah menjadi longgar, karena sebagian besar prajurit Pajang telah berada di medan .

Sesaat kemudian maka seorang prajurit telah mendekatinya sambil bertanya, “pesan apa yang disampaikan oleh ayahmu?”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menjawab, “Ibu sakit.”

“Kenapa ayahmu marah-marah?“ bertanya prajurit itu.

“Ayah minta aku menengok ibu. Tetapi seperti kau ketahui, apakah dalam keadaan seperti ini aku dapat pergi?,“ Kasadha justru bertanya.

“Mudah-mudahan sakit ibumu tidak parah,“ desis prajurit itu, “dalam keadaan seperti ini, kadang-kadang kita dihadapkan pada satu pilihan yang sangat sulit.”

“Bukankah kita tidak mempunyai pilihan sekarang ini?“ desis Kasadha.

“Ya. Kita memang tidak mempunyai pilihan,“ jawab prajurit itu.

Kasadhapun kemudian telah minta diri kepada para prajurit yang bertugas diregol. Katanya, “Terima kasih atas bantuan kalian memanggil aku kebelakang. Aku akan kembali ke tugasku. Menurut ayah. Mataram dan Jipang telah mulai bergerak.”

“Merpati sendaren tadi agaknya merupakan isyarat dari para prajurit Mataram dan Jipang,“ desis salah seorang prajurit.

Kasadha mengangguk-angguk. Iapun berpendapat demikian. Merpati dengan sendaren adalah salah satu isyarat jarak jauh yang paling memungkinkan.

Demikianlah, maka Kasadhapun segera kembali ke kelompoknya. Namun beberapa saat kemudian, Ki Tumenggung Surajaya telah memanggil para pemimpin prajuritnya yang ada di barak itu.

Ketika para pemimpin itu sudah berkumpul, maka dengan singkat Ki Tumenggung berkata, “Kita yakin, bahwa perang sudah pecah. Berhati-hatilah dengan tugas kalian. Kita akan melawan siapapun yang datang dengan kekerasan. Tetapi kita akan berbicara dengan pihak manapun yang datang dengan niat baik.”

Parapemimpin prajurit didalam barak itupun segera kembali ke kelompok masing-masing. Semua orang berada dalam kesiagaan penuh. Mereka sadar, jika sekali mereka melepaskan anak panah, maka barak itu akan musna. Apalagi jika kebetulan yang datang adalah prajurit Mataram. Maka barak itu tidak mempunyai kekuatan cukup untuk bertahan terhadap pasukan Mataram meskipun hanya bagian kecil dari seluruh kekuatan yang dikerahkan.

Dengan berdebar-debar para prajurit di barak itu menunggu. Mereka telah bersiap di tempat yang telah ditentukan. Beberapa buah panggung yang disiapkan berisi masing-masing tiga orang dengan busur dan anak panah. Jika terjadi benturan kekerasan, maka kelompok-kelompok yang disiapkan untuk memanjat panggunganpun telah bersedia dan siap dengan lembing ditangan.

Sementara itu, pasukan Mataram dan Jipang memang telah berbenturan di garis perang. Gelombang serangan pasukan Mataram dan Jipang ternyata tidak terlalu dahsyat melanda pertahanan prajurit Pajang dan Demak. Jumlah orang yang banyak serta kekuatan prajurit diantara mereka, telah mampu menahan pasukan Mataram di sisi sebelah Barat dan pasukan Jipang di medan sebelah Timur.

Meskipun demikian, namun pertempuran telah berlangsung dengan sengitnya. Prajurit Mataram yang berani telah berusaha untuk menembus pertahanan para prajurit Demak dan Pajang. Namun pertahanan Pajang dan Demak bagaikan dinding berujung tombak serapat daun ilalang, sehingga dengan demikian maka para prajurit Mataram itu sulit untuk menembus.

Karena itulah, maka pertempuran itu masih saja tidak beranjak jauh dari garis benturan. Kedua pasukan yang bertempur itu saling mendesak sehingga garis pertempuran itu terasa tekan-menekan.

Ketika pertempuran itu berlangsung hampir setengah hari, para prajurit Demak dan Pajang justru merasa heran. Terutama terhadap pasukan Mataram. Para Senapati dari Mataram sama sekali tidak menunjukkan kelebihannya. Beberapa orang hanya berteriak-teriak saja memberikan aba-aba. Para Senapati Demak dan Pajang tidak melihat orang-orang yang berilmu tinggi dari Mataram. Mereka tidak melihat beberapa orang Pangeran yang terbiasa memegang pimpinan pasukan dari Mataram. Mereka tidak melihat Ki Juru Martani apalagi Panembahan Senapati sendiri. Sedangkan yang di sisi Timurpun, tidak melihat kehadiran Pangeran Benawa dan para Senapati terpilih dari Jipang.

“Apakah yang sebenarnya terjadi? “ pertanyaan itu timbul dihati para Panglima pasukan Pajang dan Demak.

Namun pertempuran itu berlangsung terus.

Para Panglima prajurit Pajang dan Demak memang merasa seakan-akan apa yang mereka hadapi bukan yang mereka bayangkan sebelumnya. Mereka mengira bahwa akan datang banjir bandang yang akan dapat menenggelamkan Pajang. Namun yang mereka hadapi saat itu bukan satu serangan yang mengejutkan.

Karena itu, maka para Panglima di Pajang merasa akan dapat membendung arus serangan baik dari Mataram maupun dari Jipang. Yang perlu mereka lakukan kemudian adalah membakar gairah perjuangan serta meyakinkan kemenangan bagi Pajang.

Dengan demikian maka para prajurit Pajang dan prajurit Demak, serta orang-orang yang dipersenjatai itupun merasa bahwa mereka akan segera menyelesaiakan pertempuran dan mengusir prajurit Mataram dan Jipang.

Sementara itu, dua orang Panglima pasukan Demak sempat berbincang menghadapi keadaan yang tidak mereka perkirakan sebelumnya.

“Nampaknya kesepakatan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa untuk menyerang Pajang bukan kesepakatan yang sebenarnya,“ berkata seorang diantara mereka.

“Kenapa?“ bertanya yang lain.

“Keduanya seakan-akan hanya sekedar menunjukkan kesediaan mereka untuk saling membantu. Mereka sepakat untuk menyerang Pajang. Tetapi tanpa saling berjanji, masing-masing hanya mengirimkan pasukan sekedarnya saja,“ berkata Panglima itu.

Kawannya mengangguk-angguk sambil berkata, “Masing-masing mengharap yang lain akan turun kemedan dengan kekuatan penuh sehingga setiap pihak merasa tidak perlu mengerahkan seluruh kekuatan yang ada. Celakanya kedua belah pihak berpendirian demikian, sehingga keduanya justru turun dengan pasukan seadanya.”

Panglima itu tertawa. Katanya, “Akhirnya seperti kita saksikan sekarang. Baik Mataram maupun Jipang tidak turun dengan kekuatan yang memadai.”

“Tetapi prajurit-prajurit yang ada telah bertempur dengan garang,“ sahut kawannya.

Akhirnya mereka harus berbuat apa yang dapat mereka lakukan.Para prajurit yang diumpankan itu menjadi putus asa,“ berkata Panglima itu.

Sebenarnyalah bahwa prajurit Mataram dan Jipang tidak mampu berbuat banyak. Mereka tidak dapat mengoyak pertahanan prajurit Pajang dan Demak yang ada di Pajang. Bahkan lewat tengah hari, maka pasukan Mataram dan Jipang telah bergeser surut. Mereka mulai menarik pasukan mereka dari medan pertempuran. Yang mula-mula terdesak adalah pasukan Jipang. Namun semakin sore, maka pasukan Matarampun mulai ditarik mundur.

Sebelum matahari sampai kepunggung pegunungan, maka pasukan Mataram dan pasukan Jipang telah meninggalkan medan pertempuran sambil membawa kawan-kawan mereka yang terluka. Beberapa orang yang jatuh menjadi korban, tidak semuanya dapat dibawa mundur ke perkemahan. Baik di sisi Barat maupun di sisi Timur.

Yang terdengar adalah sorak gemuruh prajurit Pajang dan Demak dimedan sebelah Timur ketika pasukan Jipang mulai terdesak. Seorang penghubung dengan tergesa-gesa berlari-lari ke istana untuk memberitahukan bahwa pasukan Demak dan Pajang telah berhasil mendesak mundur pasukan Jipang.

Adipati Demak yang ada di Pajang yang mendengar berita itu menjadi sangat gembira. Dengan lantang ia memberikan perintah untuk memindahkan sebagian pasukan di sisi Timur itu ke sisi Barat.

“Pasukan khusus dari Demak dapat bergerak dengan cepat,“ berkata Adipati Demak, “pasukan Mataram harus dihancurkan lebih lumat lagi dari pasukan Jipang. Aku masih mengingat bahwa Pangeran Benawa adalah seorang yang tidak terlalu banyak menuntut. Apalagi ia adalah putera Ayahanda Sultan Hadiwijaya. Sedangkan Panembahan Senapati adalah anak pidak pedarakan. Ia tidak lebih dari putera angkat ayahanda Sultan Hadiwijaya. Karena itu, maka kesombongan Panembahan Senapati harus dihentikan. Pasukannya harus dihancur lumatkan.”

Tetapi sebelum perintah itu dilakukan, maka telah datang pula seorang prajurit penghubung dari medan di sebelah Barat. Penghubung itu mengabarkan, bahwa pasukan Demak dan Pajang telah berhasil mengusir pasukan Mataram yang datang menyerang.

“Mereka telah mundur ke perkemahan mereka,“ berkata penghubung itu.

“Apakah prajurit Demak dan Pajang tidak menghancurkan prajurit Mataram yang sombong itu?“ bertanya Adipati Demak yang berada di Pajang itu.

“Mereka sempat menarik pasukannya,“ jawab penghubung itu.

“Jadi pasukan itu dibiarkan mundur dalam keadaan utuh?“ bertanya Adipati Demak itu.

“Mereka mundur dalam gelar perang yang mapan, sehingga sulit untuk memecahnya dan mencerai-beraikannya,“ jawab penghubung itu dengan nada yang bergetar.

Wajah Adipati Demak itu menjadi merah. Katanya, “Kalian memang dungu. Pasukan Mataram itu harus dihancurkan sampai lumat. Jika kalian mampu mendesak mundur, maka kalian tentu akan dapat menghancurkannya jika kalian sedikit mempunyai otak.”

Penghubung itu tidak berani mengangkat wajahnya. Namun ia masih mencoba menjelaskan, “Ampun Kangjeng. Pasukan Pajang sebagian terdiri dari para hamba, budak, pelayan dan orang-orang yang tidak memahami ilmu keprajuritan, sehingga agak sulit untuk mengatur mereka menghadapi perang gelar yang mapan dari Mataram.”

“Tetapi bukankah diantara kalian terdapat prajurit-prajurit dari Demak dan Pajang?“ bertanya Kangjeng Adipati.

“Hamba Kangjeng.”

“Jika demikian, kenapa kalian tidak dapat melakukannya?“ bertanya Kangjeng Adipati.

Penghubung itu bukan saja tidak berani menengadahkan wajahnya, tetapi ia sama sekali tidak berani lagi menjawab.

Namun Kangjeng Adipati itu kemudian berkata, “Kita lihat perkembangan keadaan. Jika Mataram dan Jipang tidak menyerang lagi dalam dua hari ini, maka kitalah yang akan menyerang perkemahan mereka. Kecuali dalam satu dua hari lagi mereka dengan diam-diam, justru meninggalkan perkemahan mereka. Meskipun demikian, aku akan tetap memanggil Panembahan Senapati dan Adimas Benawa untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jika mereka tidak mau datang, maka Demak dan Pajang akan menghancurkan Mataram dan Jipang.”

Penghubung itu diam sambil menunduk dalam-dalam. Sementara para pemimpin yang lainpun tidak ada yang berani mengatakan sesuatu.

“Baiklah,“ berkata Kangjeng Adipati, “sekarang kita sempat beristirahat. Jika terjadi perkembangan baru, beri aku laporan.”

Penghubung itupun segera mohon diri. Demikian pula para pemimpin yang lain. Nampaknya Kangjeng Adipati Demak yang kemudian memerintah di Pajang itu akan beristirahat menjelang senja.

Tetapi beberapa saat kemudian, ternyata datang ampat orang utusan yang membawa pesan dari Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa.

Ketika pelayan dalam memberitahukan hal itu, maka Adipati Demak yang berada di Pajang itu menjadi berdebar-debar.

“Apakah mereka akan menyatakan pengakuan atas kekalahan mereka?“ bertanya Adipati Demak itu didalam hatinya.

Dengan demikian, maka Kangjeng Adipati itu telah memanggil beberapa orang pimpinan keprajuritan dan pemerintahan untuk ikut menerima keempat utusan itu.

Beberapa saat keempat utusan itu menunggu. Baru kemudian, Kangjeng Adipati yang telah berbicara serba sedikit dengan para pemimpin di Pajang itu keluar menemui mereka diiringi oleh beberapa orang pemimpin di Pajang yang sebagian besar berasal dari Demak.

“Ternyata Ki Juru Mertani sendiri yang datang,“ sapa Kangjeng Adipati.

“Ya Kangjeng. Aku diutus oleh Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa untuk menemui Kangjeng Adipati,“ jawab Ki Juru Martani.

“Setelah pasukan kalian kami lemparkan keluar dari medan,“ sahut Kangjeng Adipati.

Ki Juru Martani tersenyum. Jawabnya, “Pasukan Mataram di medan sebelah Barat dan pasukan Jipang disebelah Timur memang telah ditarik dari medan.”

“Pasukan kalian memang menjadi parah,“ sahut Kangjeng Adipati, “tetapi pasukan Pajang masih berbaik hati untuk tidak menghancurkan kedua pasukan itu karena kami merasa bahwa kita, maksudku Pajang, Demak, Jipang dan Mataram masih bersaudara. Namun kami mohon bahwa orang-orang Mataram dapat melihat ke diri mereka sendiri. Demikian pula Pangeran Benawa. Sehingga dengan demikian mereka tidak akan melakukan kesalahan yang memalukan lagi.”

Ki Juru Martani mengangguk hormat. Katanya, “Kami akan menyampaikannya kepada angger Panembahan Senapati dan angger Pangeran Benawa.”

“Dan sekarang, pesan apa yang ingin disampaikan oleh Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa? Apakah mereka sudah mengakui kekalahan mereka? Bagaimanapun juga keduanya harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Serangan mereka atas Pajang telah menimbulkan banyak kesulitan di Pajang. Bahkan telah jatuh pula korban,“ berkata Adipati Demak.

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Sementara kawan-kawannya yang datang bersamanya termangu-mangu.

Namun Ki Jurupun kemudian berkata, “Angger Adipati. Baiklah aku berterus-terang. Jika ada kesalahanku aku mohon maaf.”

“Katakan Ki Juru,“ jawab Adipati Demak itu.

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Sementara itu lampu minyak telah menyala dimana-mana.

“Jangan ragu-ragu Ki Juru,“ minta Kangjeng Adipati, “aku akan segera beristirahat.”

“Ampun Kangjeng Adipati,“ berkata Ki Juru Martani kemudian, “aku adalah orang tua yang sekedar mengemban tugas yang dibebankan oleh angger Panembahan Senapati kepadaku, untuk menyampaikan permintaan angger Panembahan Senapati.”

“Permintaan apa? Permintaan ampun?“ bertanya Adipati Demak.

“Kangjeng Adipati. Angger Panembahan Senapati minta agar Kangjeng Adipati segera menyerah saja,“ sambung Ki Juru.

Wajah Adipati Demak bagaikan disengat api. Sorot matanya menjadi kemerahan menahan marah. Dengan suara gagap ia bertanya, “Apakah aku tidak salah dengar. Coba ulangi.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Iapun mengulangi sekali lagi pesan Panembahan Senapati, “Angger Panembahan Senapati berpesan, agar Kangjeng Adipati segera menyerah saja.”

“Ki Juru,“ geram Adipati Demak, “kau adalah orang tua yang dihormati. Tetapi ternyata kau tidak mempunyai otak. Kau tahu bahwa prajurit Mataram dan Pajang telah terusir dari medan pertempuran hari ini. Kenapa kau masih berani datang untuk minta aku menyerah? Apakah sebenarnya kau memang tidak waras lagi atau orang yang memerintahmu datang kemari yang tidak waras?”

“Ampun Kangjeng Adipati,“ berkata Ki Juru Martani, “perintah yang aku bawa memang demikian. Angger Panembahan Senapati memerintahkan Kangjeng Adipati untuk memanggil dan memerintahkan semua prajurit masuk kedalam barak masing-masing. Menyingkirkan semua hamba, budak, pelayan dan orang-orang yang sama sekali bukan prajurit untuk menyingkir dari medan. Kemudian angger Adipati harus menyambut kedatangan Panembahan Senapati juga Pangeran Benawa di pintu gerbang istana. Menghormati mereka dan kemudian menyerahkan kepemimpinan Pajang kepada mereka.”

“Diam,“ bentak Adipati Demak di Pajang itu, “jika aku tidak mengingat kau orang tua yang dihormati oleh Panembahan Senapati, maka kau sudah aku tangkap, aku ikat dan dihukum picis di alun-alun.”

“Aku hanya utusan Kangjeng Adipati,“ jawab Ki Juru Martani.

“Aku tidak peduli. Bahkan Panembahan Senapati sendiri jika berani datang untuk mengatakan hal itu, akan aku tangkap langsung. Jika prajuritnya ingin membelanya, maka mereka akan aku hancurkan sampai lumat,“ geram Kangjeng Adipati.

“Aku mohon jawaban Kangjeng Adipati,“ berkata Ki Juru.

“Cukup. Dalam waktu pendek aku persilahkan Ki Juru meninggalkan kota. Jika tidak, mungkin aku akan berubah pendapat, karena memang ada keinginanku menghukum Ki Juru di alun-alun Pajang,“ berkata Kangjeng Adipati.

“Aku mohon diri. Tetapi perkenankan aku memberi tahukan, bahwa yang terjadi hari ini adalah sekedar penjajagan. Kangjeng Adipati jangan salah hitung atas kekuatan Mataram dan Jipang yang sebenarnya,“ berkata Ki Juru Martani kemudian, “karena itu pertimbangkan permintaan Panembahan Senapati dengan baik.”

“Aku tidak mau mendengar lagi,“ Kangjeng Adipati yang marah itu hampir berteriak.

“Baiklah. Tetapi jangan umpankan hamba-hamba, budak, pelayan dan orang-orang yang tidak pantas untuk tampil di peperangan, karena perang taruhannya adalah nyawa. Kematian mereka tidak akan berarti apa-apa. Baik bagi Demak, Pajang maupun bagi Mataram dan Jipang. Sedangkan sebenarnya mereka sama berharganya dengan nyawa kita sendiri,“ berkata Ki Juru.

Adipati Demak itu menggeretakkan giginya. Hampir saja ia meneriakkan perintah untuk menangkap Ki Juru Martani. Namun justru Kangjeng Adipatilah yang bangkit dan meninggalkan pertemuan itu.

Ki Juru Martani termangu-mangu. Sementara itu seorang Tumenggung dari Demak telah berkata kepada Ki Juru, “Sebaiknya Ki Juru Martani segera meninggalkan istana dan kembali ke pasanggrahan Panembahan Senapati. Ki Juru masih beruntung bahwa Kangjeng Adipati sempat mempergunakan penalarannya dan meninggalkan Ki Juru disini. Sebenarnyalah permintaan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa tidak masuk akal, karena hari ini prajurit Mataram dan Jipang terusir dari medan hanya dalam waktu setengah hari. Lewat tengah hari lebih sedikit, prajurit Jipang sudah nampak menarik pasukannya. Kemudian di sore hari, selagi matahari masih tinggi dilangit, pasukan Matarampun telah meninggalkan medan.“

“Sudah aku katakan Ki Tumenggung,“ jawab Ki Juru, “yang dilakukan oleh Mataram dan Jipang adalah sekedar penjajagan. Jika Kangjeng Adipati menolak untuk menyerah, maka yang kemudian akan datang adalah kekuatan yang sebenarnya. Seharusnya Demak dan Pajang sempat menilai, bahwa dengan mengirimkan pasukan yang sekedar untuk melakukan penjajagan, maka Demak dan Pajang sudah harus mengerahkan semua kekuatannya. Bahkan mengirimkan budak-budak, hamba, pelayan dan semua laki-laki kemedan perang.”

“Baiklah Ki Juru,“ berkata Tumenggung itu, “aku ingin mengulangi perintah Kangjeng Adipati, silahkan meninggalkan istana dan bahkan meninggalkan kota. Jika malam menjadi semakin dalam, maka suasananya akan berubah. Mungkin para prajurit tidak dapat mengenal Ki Juru atau mungkin mereka berpendapat lain. Prajurit yang siang tadi berada di medan, akan lain sikapnya dengan prajurit pengawal pintu gerbang ini.”

“Baiklah,“ berkata Ki Juru, “kami mohon diri,“ berempat Ki Juru meninggalkan istana Pajang.

Beberapa kali Ki Juru dihentikan di perjalanan kembali ke perkemahan. Namun mampu meyakinkan mereka, bahwa Ki Juru adalah utusan dari Panembahan Senapati menghadap Kangjeng Adipati.

Hampir setiap orang yang mendengar jawabannya memastikan bahwa Mataram dan Jipang telah mengakui kekalahan mereka, sehingga mereka datang untuk menyampaikannya langsung kepada Kangjeng Adipati.

“Jika tidak, maka kita akan menghancurkan mereka di perkemahan mereka,“ berkata seorang prajurit yang dengan bangga merasa melepaskan utusan-utusan dari Mataram yang menyerah itu.

Ketika Ki Juru kemudian sampai diperkemahan Panembahan Senapati, maka Ki Jurupun segera menemuinya dan melaporkan hasil perjalanannya.

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam.

Katanya, “Apakah kita harus benar-benar bertempur? Adimas Adipati Demak yang berada di Pajang itu tentu tidak sempat melihat sendiri apa yang terjadi. Kita sudah berusaha untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Hari ini kita sudah menunjukkan kepada Adimas Adipati Demak di Pajang, bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki kekuatan cukup untuk melawan Mataram dan Jipang. Jika mereka sempat membuat perhitungan, maka mereka seharusnya tahu bahwa yang mereka hadapi barulah satu permainan kecil yang tidak berarti bagi Mataram dan Jipang.”

“Mereka ternyata salah mengerti Panembahan,“ desis Ki Juru.

“Ya paman,“ jawab Panembahan Senapati, “tetapi apakah caraku untuk memperingatkan Adimas Adipati salah?”

“Menurut pertimbanganku tidak ngger,“ jawab Ki Juru “ para pemimpin Pajang dan Demak tentu melihat, bahwa tidak ada Senapati terpenting dalam pasukan Mataram dan Jipang yang datang hari ini. Seharusnya mereka dapat mengambil kesimpulan, bahwa pasukan yang datang itu tentu bukan induk pasukan.”

“Aku berusaha untuk mengurangi korban. Dengan cara ini, maka kita akan dapat menyelesaikan persoalannya dengan tidak mengorbankan orang lebih banyak lagi. Apalagi budak-budak, hamba dan para pelayan yang tidak tahu menahu persoalannya. Juga setiap laki-laki di Pajang yang dipersenjatai dan harus maju ke medan perang. Bahkan dipersiapkan untuk perang,“ berkata Panembahan Senapati.

Namun Ki Jurupun telah menceriterakan sikap Adipati Demak. Ki Juru seakan-akan tidak mendapat kesempatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Setiap kali ia dibentak untuk diam.

“Baiklah paman,“ berkata Panembahan Senapati, “perintahkan para penghubung untuk menghubungi Adimas Pangeran Benawa. Besok kita tidak turun ke medan. Kita menunggu, barangkali orang-orang Pajang sempat berpikir dan menilai keadaan. Tetapi jika besok kita tidak mendengar sikap apapun yang diambil oleh Adimas Adipati Demak di Pajang, maka besok lusa kita benar-benar akan turun ke medan perang.”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Sebenarnyalah kita memang harus mencari jalan untuk menghindarkan korban yang tidak terhitung banyaknya. Orang-orang yang tidak pantas untuk berada di medan itu akan kehilangan kesempatan sama sekali untuk tetap hidup. Mungkin kita masih dapat mengerti bahwa Pajang telah mengumpulkan orang-orang yang bukan prajurit untuk ikut bertempur, sebagaimana kita lakukan dengan mengumpulkan laki-laki dewasa dalam batas-batas tertentu. Tetapi Pajang telah mengumpulkan hampir semua laki-laki dalam keadaan apapun? Yang sudah terlalu tua, yang masih remaja bahkan dapat disebut kanak-kanak, yang sakit-sakitan dan bahkan mereka yang hampir tidak kuat mengangkat pedang, sebagaimana Panembahan katakan tadi.”

“Kita akan memerintahkan para prajurit untuk memilih sasaran,“ berkata Panembahan Senapati.

“Tetapi jika orang-orang itu memaksa para prajurit untuk melawan mereka, maka yang terjadi tentu semacam pembantaian,“ berkata Ki Juru.

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Dari para Senapati yang menjajagi kemampuan pasukan Demak dan Pajang, Panembahan Senapati telah mendapat laporan, bahwa diantara mereka yang turun ke medan adalah orang-orang yang tidak patut lagi berperang atau bahkan ada yang belum waktunya berperang.

Jika kematian tidak terkendali, maka Pangeran Benawa tentu akan menjadi sangat berprihatin, karena ia merasa paling berkepentingan atas Pajang, karena Pangeran Benawa adalah putra laki-laki Sultan Hadiwijaya, sedangkan Adipati Demak tidak lebih dari seorang menantu dari Sultan Hadiwijaya yang memerintah Pajang sebelumnya.

Karena itulah, maka Panembahan Senapati telah memerintahkan Ki Juru untuk mengirimkan utusan untuk menemui Pangeran Benawa.

Namun agaknya Ki Juru berpendapat lain. Katanya, “Sebaiknya aku sendiri akan pergi ke perkemahan Pangeran Benawa disisi Timur.”

“Paman akan menjadi terlalu letih. Biarlah seorang Panglima yang mengerti dengan pasti pertimbangan kita untuk berbicara dengan Adimas Pangeran,“ sahut Panembahan Senapati.

“Tidak angger, Aku tidak merasa terlalu letih. Bukankah aku tinggal duduk saja dipunggung kuda?“ jawab Ki Juru.

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Silahkan paman, jika pamas benar-benar berniat untuk pergi meskipun sebenarnya tidak harus paman sendiri. Aku tahu, paman tidak ingin keterangan yang kita berikan kepada Adimas Pangeran kurang jelas.”

Demikianlah, maka Ki Jurupun telah berangkat ke sisi Timur kota Pajang untuk menghubungi Pangeran Benawa.

Pangeran Benawa ternyata juga sedang berbincang tentang lawan yang dihadapi oleh prajurit-prajuritnya. Seperti Panembahan Senapati, maka Pangeran Benawa-pun merasa sangat prihatin atas lawan yang terdiri dari orang-orang yang tidak sepantasnya turun ke medan, yang dihimpun oleh para prajurit Demak dan Pajang.

“Aku sependapat paman,“ berkata Pangeran Benawa ketika Ki Juru menyampaikan pesan Panembahan Senapati, “besok kita tidak turun ke medan. Aku juga ingin mendengar apa yang akan dilakukan oleh Kakang-mas Adipati Demak setelah kita melakukan penjajagan kecil terhadap kekuatan Demak dan Pajang.”

“Terima kasih Pangeran,“ jawab Ki Juru, “mudah-mudahan ada jalan lain kecuali perang.”

“Aku memang menjadi sangat prihatin melihat peninggalan ayahanda Sultan Hadiwijaya menjadi hancur. Tetapi jika kita biarkan Pajang dengan perkembangannya sebagaimana kita lihat, maka Pajang akan menjadi semakin rapuh. Lukanya akan menjadi semakin parah, sehingga pada suatu saat tidak akan tertolong lagi,“ berkata Pangeran Benawa.

Beberapa lama Ki Juru berbincang dengan Pangeran Benawa. Nampaknya tidak ada perbedaan pendapat antara Panembahan Senapati dengan Pangeran Benawa menghadapi perkembangan Pajang.

Hampir tengah malam barulah Ki Juru kembali ke perkemahannya bersama dengan sekelompok pengawalnya.

Sementara itu, di dalam kota Pajang, Ki Tumenggung Surajaya telah memerintahkan dua orang petugas sandinya untuk mencari berita, apa yang telah terjadi di Pajang setelah berlangsung pertempuran melawan Mataram dan Jipang.

Tetapi berita yang kemudian disampaikan kepada Ki Tumenggung Surajaya telah membuat jantung Tumenggung itu menjadi berdebar-debar. Ternyata Pajang berhasil memukul pasukan Mataram dan Jipang di kedua medan pertempuran.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung telah memerintahkan semua prajuritnya untuk semakin bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Apapun yang akan terjadi, kita sudah menentukan sikap atas dasar satu keyakinan. Jika Pajang berhasil mempertahankan diri, maka para pemimpin Demak yang ada di Pajang akan menjadi semakin sewenang-wenang. Dan kita merasa bahwa lebih baik tidak melihat apa yang akan terjadi,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya kepada para prajuritnya.

Ternyata para prajuritnya sependapat dengan sikap pimpinannya, sehingga karena itu, maka merekapun telah bertekad untuk mempertahankan barak mereka dengan segala kemampuan yang ada di barak itu,

Tetapi sementara itu, Ki Tumenggung Surajaya sempat menjadi heran, bahwa Pajang dan prajurit-prajurit Demak mampu mempertahankan diri dari serangan prajurit Mataram dan Jipang. Satu hal yang tidak terduga. Ki Tumenggung Surajaya tahu benar kekuatan yang ada di Pajang. Ki Tumenggung tahu benar bahwa ada beberapa orang perwira Pajang yang telah menyeberang ke Mataram atau ke Jipang. Demikian pula rakyat Pajangpun telah banyak yang meninggalkan kampung halamannya bernaung dibawah kekuasaan Mataram dan Jipang.

Namun Ki Tumenggungpun tidak dapat menolak kenyataan, bahwa Pajang memang mampu mempertahankan dirinya menghalau serangan Mataram dan Jipang.

Di hari berikutnya, Ki Tumenggung Surajaya mendapat keterangan lewat petugas sandinya, bahwa hari itu sama sekali tidak ada pertempuran. Pasukan Mataram dan Jipang sama sekali tidak melakukan gerakan apapun juga.

Namun ternyata bahwa Adipati Demak tidak melakukan penelitian lebih jauh. Meskipun ada juga beberapa orang perwira yang menangkap isyarat dari serangan yang telah dilakukan oleh Panembahan Senapati dan Pangel Benawa. Namun ketika hal itu dikemukakan kepada Kangjeng Adipati, maka perwira itu telah ditertawakannya.

“Ternyata kalian adalah pengecut yang cemas mendengar kebesaran nama Mataram dan Jipang. Tetapi kalian tidak mau melihat kenyataan, bahwa pasukan Mataram dan Jipang tidak mampu berbuat apa-apa terhadap pasukan Pajang dan Demak yang ada di Pajang,“ berkata Kangjeng Adipati.

Namun perwira itu mencoba untuk menjelaskan, “Ampun Kangjeng Adipati. Jika pasukan Mataram dan Jipang itu merupakan kekuatan utuhnya, maka Panembahan Senapati yang terkenal sebagai prajurit linuwih itu akan berada di medan. Demikian pula Pangeran Benawa yang memiliki kemampuan yang sulit dicari tandingnya. Setidak-tidaknya di Mataram akan nampak beberapa orang adik Panembahan Senapati atau Ki Juru Martani. Tetapi kita tidak melihat mereka. Yang turun ke medan adalah Senapati-senapati yang belum banyak dikenal. Bahkan belum kita ketahui namanya.”

“Kau tidak usah sesorah,“ potong Kangjeng Adipati, “kita hanya melihat kenyataan yang terjadi di medan. Ada beberapa sebab kenapa pasukan Mataram dan Jipang tidak turun dengan kekuatan penuh.”

Jilid 37

PERWIRA itu tidak berani membantah lagi. Apalagi beberapa orang perwira yang lain yang dekat dengan Kangjeng Adipati ternyata berpendapat lain. Karena itu, maka mereka selanjutnya lebih baik berdiam diri.

Dengan demikian maka Kangjeng Adipati Demak di Pajang sama sekali tidak mengambil sikap apapun juga yang dapat merubah sikapnya. Kagjeng Adipati masih saja merasa bahwa kekuatan Pajang dan Demak akan dapat mengusir pasukan Mataram dan Jipang kapan saja mereka berani menyerang.

Hari itu beberapa orang petugas sandi dari Pajang telah disebar untuk mengetahui apa yang terjadi di perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang. Sepuluh orang memencar untuk menyaksikan perkemahan itu dari arah yang berbeda-beda.

Namun hari itu, sampai batas waktu yang disediakan, hanya empat orang yang kembali untuk memberikan laporan.

“Tidak ada gerakan apapun hari ini,“ lapor para petugas itu, “di perkemahan prajurit Mataram nampaknya tenang-tenang saja.”

“Apakah tidak ada tanda-tanda bahwa pasukan itu akan meninggalkan perkemahan?“ bertanya Kangjeng Adipati langsung.

“Tidak Kangjeng,“ jawab petugas sandi itu.

“Apakah mereka tidak akan segera meninggalkan Pajang? Bukankah mereka sudah kalah?“ desak Adipati Demak itu.

“Tetapi mereka nampaknya masih belum akan pergi?“ jawab petugas itu.

“Omong kosong. Ternyata kau tidak mampu menjalankan tugasmu dengan baik. Kau tidak melihat bagaimana mereka menyiapkan beberapa buah pedati, menempatkan barang-barang serta perbekalan kedalam pedati itu,“ bentak Kangjeng Adipati.

Petugas sandi itu menjadi ketakutan. Karena itu, maka ia tidak mengatakan sesuatu lagi.

Tetapi tiba-tiba saja Kangjeng Adipati bertanya, “Dimana kawan-kawanmu he?”

Petugas sandi memang menjadi gagap. Sementara Kangjeng Adipati telah membentaknya, “Dimana?”

Petugas itu menjawab dengan suara bergetar, “Hamba tidak tahu Kangjeng. Hamba bertugas bersama seorang kawan. Dan kami berdua telah menghadap.”

“Yang dua lagi?“ bertanya Kangjeng Adipati.

“Hamba mendapat tugas untuk mengamati perkemahan prajurit Jipang Kangjeng,“ jawab seorang dari kedua prajurit yang lain.

“Bagaimana dengan mereka?“ bertanya Kangjeng Adipati.

Petugas itu sudah ragu-ragu untuk memberikan laporan. Namun Kangjeng Adipati telah mendesaknya, “Cepat katakan.”

Petugas itu akhirnya memberikan laporan juga. Sedangkan laporannya tidak berbeda dengan dengan laporan yang telah disampaikan oleh kawannya, sehingga Kangjeng Adipati itu menjadi semakin marah.

Tetapi petugas itu memang tidak dapat mengatakan yang lain.

Kangjeng Adipati tidak mau mendengar laporan orang-orangnya lebih lanjut. Bahkan kemudian ia berkata, “Enam orang yang lain tentu sudah menyeberang. Aku tidak peduli.”

Orang-orang yang mendengar laporan itu memang menjadi cemas. Enam petugas sandi telah hilang. Mungkin tertangkap, tetapi mungkin mereka memang telah menyeberang. Sementara itu prajurit Mataram dan Jipang masih saja berada di perkemahan mereka.

Kangjeng Adipati yang marah itu telah meninggalkan pertemuan itu, sehingga beberapa orang perwira masih saja berbincang diantara mereka.

Seorang diantara para Tumenggung itu berkata, “Nampaknya Mataram dan Jipang sedang memanggil pasukan baru untuk mendukung gerakan mereka.”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka kita jangan memberi kesempatan. Kita harus menyerang perkemahan mereka. Selambat-lambatnya besok. Sementara itu, para petugas sandi harus mengawasi apakah ada pasukan baru yang datang ke perkemahan itu atau tidak. Sampai besok dini. Laporan mereka akan menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan besok pagi-pagi.”

“Aku sependapat. Apakah hal ini akan kita sampaikan kepada Kangjeng Adipati?“ bertanya seorang diantara mereka.

“Siapa yang berani menyampaikannya?“ bertanya yang pertama.

“Kita bersama-sama,“ jawab yang lain. Mereka ternyata telah mengambil keputusan untuk bersama-sama menghadap Kangjeng Adipati. Mereka akan menyampaikan bahan pertimbangan bagi langkah-langkah selanjutnya.

“Mudah-mudahan Kangjeng Adipati mau mendengarkan pertimbangan kami,“ berkata orang yang pertama.

“Kita harus menunjuk beberapa orang petugas sandi yang terpercaya. Empat orang adalah kalian berempat. Kemudian yang lain kita akan menunjuk petugas sandi dari Demak yang kita anggap paling baik. Kalian harus mengawasi, apakah ada bantuan datang keperkemahan orang-orang Mataram cian orang-orang Jipang,“ berkata orang yang pertama diantara para Tumenggung itu, “sementara itu, kita sejak sekarang akan mempersiapkan seluruh pasukan Pajang dan Demak.”

Dengan demikian maka para Tumenggung itupun mulai bergerak. Mereka membagi tugas. Ada diantara mereka yang mempersiapkan seluruh kekuatan yang ada di Pajang. Prajurit Demak, prajurit Pajang dan bahkan para hamba, abdi dan orang kebanyakan. Anak-anak muda dan remaja yang sudah mendekati usia dewasa sepenuhnya. Sementara itu, beberapa orang petugas sandi harus mengawasi apakah datang pasukan baru di perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang. Sedangkan beberapa orang yang lain akan menghadap Kangjeng Adipati. Mereka sebaiknya tidak menunggu besok lusa. Tetapi besok mereka harus bergerak menyerang perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang.

Kangjeng Adipati ternyata bersedia menerima beberapa orang Tumenggung yang ingin menghadap. Agaknya Kangjeng Adipati juga memperhitungkan keadaan yang gawat, sehingga setiap saat dapat saja terjadi perkembangan baru di medan.

“Hari ini kita sudah cukup beristirahat Kangjeng,“ berkata salah seorang Tumenggung yang dianggap memiliki wibawa diantara para Tumenggung yang lain, “maka sebaiknya kita tidak menunggu besok lusa. Jika hari ini sampai tengah malam pasukan Mataran dan Jipang tidak meninggalkan perkemahannya, maka besok kitalah yang akan menyerang. Kita dapat bergerak dengan tiba-tiba. Disaat fajar menjelang matahari terbit, kita akan menyerang. Mereka harus terusir dari perkemahan mereka. Sementara itu kita sudah mengirimkan petugas sandi untuk melihat apakah ada pasukan baru yang datang untuk membantu para prajurit Mataram dan Jipang.”

“Mereka harus dihancurkan sampai lumat,“ potong Kangjeng Adipati, “jika tidak, maka mereka akan bangkit lagi. Mereka akan mengumpulkan orang-orang Mataram sampai kemungkinan terakhir yang dapat mereka bawa ke medan.”

Tumenggung itu mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya Kangjeng.”

“Kau perintahkan. Semua Tumenggung yang memimpin pasukan harus tahu bahwa prajurit Mataran dan Jipang harus dihancurkan sampai orang terakhir,“ geram Kangjeng Adipati.

“Tetapi … “ Tumenggung itu menjadi bimbang.

“Kau masih ragu-ragu? Atau kau memang banci? Seorang Tumenggung tidak boleh gemetar melihat darah,“ bentak Kangjeng Adipati, “Sia-sia aku membawamu dari Demak jika ternyata kau tidak lebih baik dari Tumenggung di Pajang.”

“Hamba Kangjeng Adipati,“ jawab Tumenggung itu sambil menunduk.

“Nah, masih ada persoalan lagi?“ bertanya Kangjeng Adipati.

“Tidak Kangjeng Adipati. Yang ingin kami ketahui adalah ijin Kangjeng Adipati untuk menggerakkan pasukan besok. Bukan besok lusa,“ jawab Kangjeng Adipati.

“Lakukan. Hubungi aku jika ada perkembangan keadaan. Juga jika kalian lihat ada pasukan baru yang datang ke perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang,“ perintah Kangjeng Adipati.

“Hamba Kangjeng Adipati,“ sahut Tumenggung itu.

Demikianlah, maka para Tumenggung telah menjadi semakin sibuk. Pajang telah mempersiapkan perang besar-besaran dengan mengerahkan segenap kekuatan yang ada. Mereka akan menghancurkan pesanggrahan pasukan Mataran dan Jipang meskipun para panglima perangnya merasa ragu-ragu. Bagaimanapun juga mereka merasakan bahwa orang-orang Mataram dan Jipang masih merupakan bagian dari keluarga besar mereka yang terpecah. Sejak Demak kehilangan wahyu keraton dan berpindah ke Pajang, maka sejak itu Demak bagaikan terkoyak-koyak. Tetapi bagaimanapun, rasa-rasanya urat darah mereka masih dialiri oleh darah yang sewarna.

Tetapi Kangjeng Adipati Demak yang kemudian berkuasa di Pajang sepeninggal Kangjeng Sultan Hadiwijaya, telah memerintahkan untuk menghancurkan pasukan Mataram dan Jipang.

Perhitungan Kangjeng Adipati memang dapat dimengerti, karena jika dalam waktu singkat Mataram dan Jipang mampu bangkit lagi, maka mereka tentu akan membalas kekalahan mereka dengan didorong oleh dendam yang membara di jantung Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa.

Karena itu, maka Mataran dan Jipang harus dihancurkan.

Kegiatan pasukan Pajang memang telah meningkat. Para prajurit tidak lagi bersiap-siap untuk bertahan, tetapi mereka telah membuat persiapan untuk menyerang. Pasukan Khusus Demak yang ada di Pajang telah dilengkapi pula dengan perisai, karena mereka memperhitungkan kemungkinan pasukan Mataram dan Jipang menyongsong pasukan Pajang yang terdiri dari para prajurit Demak dan Pajang itu dengan busur dan anak panah sebelum kedua pasukan itu berbenturan.

Sementara itu prajurit penghubung berkudapun hilir mudik lewat jalan-jalan di kota Pajang. Mereka membawa laporan atau menyampaikan perintah-perintah dari bawah keatas dan sebaliknya dari atas kebawah. Sementara para prajurit telah dipersiapkan dilandasan gerak mereka di keesokan harinya.

Para petugas sandi secara khusus mengamati kemungkinan datangnya pasukan baru dari Mataram dan Jipang.

Namun semuanya itu ternyata tidak terlepas dari pengamatan para petugas sandi dari Mataram dan Jipang. Meskipun mereka tidak dapat melihat seluruhnya, tetapi kesibukan pasukan Pajang itu sangat menarik perhatian mereka. Setiap kali para petugas sandi dari Mataram dan Jipang telah melaporkan apa yang telah mereka lihat.

Tetapi selain petugas sandi dari Mataram dan Pajang, masih ada pihak yang memperhatikan kesibukan para prajurit Pajang. Mereka adalah orang-orang yang dengan sangat berhati-hati telah dikirim oleh Ki Tumenggung Surajaya. Orang-orang yang memiliki kemampuan khusus sehingga mereka mampu menyadap keterangan bahwa pasukan Pajang besok menjelang fajar akan menyerang pasukan Mataram dan Jipang di perkemahannya.

Ki Tumenggung Surajaya menjadi berdebar-debar. Bersama beberapa orang pemimpin kelompoknya Ki Surajaya dapat mengurai dan mengambil kesimpulan, bahwa yang akan terjadi atas Pajang adalah satu bencana sebagai mana telah membayangi beberapa orang panglima Pajang dan Demak sendiri. Namun yang tidak dipercayai oleh Adipati Demak yang kemudian berkuasa di Pajang.

Tetapi Ki Surajaya tidak dapat berbuat apa-apa selain menjadi semakin berhati-hati. Apapun yang terjadi, maka seisi baraknya sudah siap. Mereka sadar, bahwa baik Pajang. Demak maupun Mataram dan Jipang akan dapat menghancurkan barak itu sampai lumat. Semua orang yang berada di barak itu akan dapat terbunuh sampai orang yang terakhir.

Sementara itu, terjadi pula kesibukan di perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang. Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa hampir tidak percaya, bahwa Pajang telah mempersiapkan pasukannya untuk menyerang perkemahan Mataram dan Jipang.

Panembahan Senapati yang gelisah telah berbincang dengan Ki Patih Mandaraka untuk membicarakan sikap yang sebaiknya mereka ambil.

“Aku tidak mengerti cara berpikir adimas Adipati,“ berkata Panembahan Senapati, “agaknya adimas Adipati menjadi seperti orang yang mabuk tuak. Agaknya kekuasaan yang dibebankan di pundaknya telah membuatnya kehilangan penalaran bening. Jika adimas Adipati menyerang Mataram dan sekaligus Pajang, maka akibatnya akan menjadi sangat buruk. Tentu prajurit-prajurit Mataram dengan kekuatan penuh akan menghancurkan pasukan Pajang dan Demak. Demikian pula pasukan Jipang. Di perkemahan maka para prajurit Mataram dan Jipang akan merasa sangat tersinggung oleh serangan itu. sehingga mereka akan mengerahkan segala kemampuan dan sulit untuk mengekang mereka jika senjata mereka telah membentur senjata lawan.

“Apa yang harus kita lakukan, paman?“ bertanya Paneihbahan Senapati.

Ki Patih Mandaraka termangu-mangu sejenak. Katanya, “Anakmas Adipati Demak di Pajang nampaknya memang kurang dapat melihat keadaan keadaan. Seperti yang angger katakan, anakmas Adipati merasa seakan-akan dunia sudah berada ditangannya. Ia telah salah mengartikan kekuasaannya itu.”

“Lalu apa yang menurut paman sebaiknya kita lakukan dalam keadaan seperti ini? Sudah tentu, betapapun kita mencoba untuk mengerti cara berpikir adimas Adipati, tetapi sudah tentu pula bahwa kita tidak akan dapat menerima langkahnya jika ia benar-benar akan menyerang perkemahan ini,“ berkata Panembahan Senapati.

Ki Patih Mandaraka memang menjadi gelisah juga. Lalu katanya, “Apakah hamba sebaiknya menemui angger Pangeran Benawa?”

“Ya paman. Ada juga baiknya. Tetapi sebelumnya kita harus mempunyai rencana yang dapat diperbincangkan dengan adimas Pangeran Benawa,“ sahut Panembahan Senapati.

Ki Patih Mandaraka termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Anakmas Panembahan. Aku kira tidak ada cara yang lebih baik daripada menahan agar pasukan Pajang tidak keluar dari landasan pertahanannya.”

“Maksud paman, kita mendahului menyerang Pajang?“ bertanya Panembahan Senapati.

Ya,“ jawab Ki Patih Mandaraka, “kita akan lebih mengendalikan gejolak perasaan para prajurit disaat menyerang daripada disaat mereka bertahan. Panembahan akan memerintahkan para panglima untuk tidak memasuki dinding istana. Hanya Panembahan sajalah yang dapat memasuki dinding istana dengan pasukan yang telah dipersiapkan. Mungkin bersama-sama dengan Pangeran Benawa. Dengan demikian maka akan dapat dihindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi atas Kangjeng Adipati Demak dan keluarganya serta para pemimpin Pajang yang lain. Tetapi jika mereka memimpin pasukan menyerang barak perkemahan baik perkemahan Mataram maupun perkemahan Pajang, maka akibatnya akan lain. Para prajurit yang bertahan, apalagi jika mereka mengalami tekanan yang parah, maka mereka tidak akan terkendali lagi.”

“Tetapi apakah mungkin Pajang akan menyerang Jipang dan Mataram dalam waktu yang berlainan. Maksudku, mereka akan menyerang Jipang dengan kekuatan penuh dan menghancurkannya, baru kemudian menyerang Mataram?“ bertanya Panembahan Senapati.

“Menurut laporan para petugas sandi, agaknya Pajang ingin menyerang Mataram dan Jipang bersama-sama. Pajang tidak akan menyerang bergantian meskipun dengan demikian kekuatan mereka terpusat, karena jika demikian maka salah satu pihak, apakah Mataram atau Jipang akan dapat memasuki kota Pajang yang tentu tidak akan dipertahankan dengan kuat, justru karena prajuritnya sedang keluar menyerang perkemahan Mataram atau Jipang.”

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah paman, aku persilahkan paman menemui adimas Pangeran Benawa. Mudah-mudahan adimas sependapat dengan paman.”

Ki Patih Mandaraka yang meskipun rambutnya sudah mulai memutih, namun ternyata masih tangkas melaksanakan tugasnya. Berkuda dan dikawal oleh beberapa orang prajurit pilihan, Ki Patih Mandaraka telah menuju ke perkemahan Pangeran Benawa.

Pembicaraan mereka singkat saja, karena waktunya yang menjadi semakin mendesak.

“Aku sependapat paman,“ berkata Pangeran Benawa, “kita akan bergerak dini hari. Kita akan menyerang dengan kekuatan penuh serta mempergunakan tanda-tanda kebesaran yang lengkap. Kita harus menampakkan diri dengan jelas, agar petugas-petugas sandi Pajang yang mengawasi kita melihat, betapa besar pasukan kita. Maksudku. Mataran dan Jipang. Mudah-mudahan Kangjeng Adipati Demak yang memerintah Pajang terusik hatinya untuk membuat pertimbangan-pertimbangan baru. Bukan sekedar merubah rencananya dari menyerang menjadi harus bertahan.”

“Mudah-mudahan Pangeran. Namun jika terjadi perubahan sikap, baik Mataram maupun Jipang, kita akan selalu berhubungan,“ minta Ki Patih Mandaraka.

Ternyata hampir semua hal telah saling disetujui. Merekapun telah menentukan waktu, saat mereka mulai bergerak.

“Saat ayam jantan berkokok lewat tengah malam, kita akan bersiap,“ berkata Pangeran Benawa, “kemudian, sebaiknya Mataran melepaskan merpati dengan sen-daren. Tidak hanya seekor. Tetapi lebih dari seekor, agar kami dapat mendengar dengan jelas. Kemudian disaat bulan tua mulai terbit, kita akan bergerak. Sebelum fajar kita sudah berhadapan dengan dinding kota Pajang.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada angger Panembahan Senapati.”

Demikianlah, maka Ki Patihpun telah berpacu kembali ke perkemahan pasukan Mataram. Sementara itu Pangeran Benawa telah memerintahkan para panglima pasukan Jipang mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

“Kita akan bersiap lewat tengah malam,“ berkata Pangeran Benawa, “karena itu, maka segala macam perbekalan harus sudah siap. Pasukan harus sudah makan sebelum berangkat. Harus ada sekelompok prajurit yang membawa perbekalan ke medan. Mungkin kita memerlukannya. Para prajurit tidak boleh kelaparan.”

Sementara itu. Mataampun telah bersiap-siap pula. Demikian Ki Patih Mandaraka memberikan laporan maka para panglimapun segera mendapat perintah untuk mempersiapkan para prajuritnya. Namun perintah itu disertai pesan, “Beri kesempatan para prajurit beristirahat sampai menjelang tengah malam. Mereka harus tidur meskipun hanya sebentar. Selelah mereka bangun tengah malam dan berbenah diri, maka mereka tidak akan mendapat kesempatan lagi tidur sampai hari berikutnya.

Karena itulah, maka para prajurit itupun mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk beristirahat, selain mereka yang bertugas.

Para petugas sandi dari Demak yang berada di Pajang, telah melihat gerak para prajurit Mataram dan Pajang. Meskipun para prajurit telah beristirahat, tetapi beberapa orang petugas khusus ternyata telah menjadi sibuk. Mereka mempersiapkan pertanda kebesaran pasukan Mataram dan Pajang. Umbul-umbul, rontek, klebet dan panji-panji.

Dengan cemas para petugas sandi itu memperhitungkan kemungkinan bahwa pasukan Mataram dan Jipang akan bergerak.

Ketika petugas sandi yang mengamati pasukan Mataram melaporkan persiapan pasukan Mataram itu, maka petugas yang mengamati pasukan Jipangpun telah membawa laporan yang sama.

“Mereka akan menyerang,“ berkata petugas sandi itu.

Laporan itupun segera sampai kepada para Tumenggung yang bertugas untuk memimpin persiapan langsung dibawah perintah Kangjeng Adipati Demak di Pajang.

Karena itu, maka persiapan pasukan Mataram dan Jipang itupun telah dilaporkan pula kepada Kangjeng Adipati.

“Apa pula yang akan kalian katakan?“ geram Kangjeng Adipati yang dibangunkan dari tidurnya oleh pelayan dalam yang memang sudah mendapat pesan bahwa mereka diijinkan untuk membangunkan Kangjeng Adipati jika keadaan mendesak.

Seorang diantara para tumenggung itu berkata, “Ampun Kangjeng Adipati. Ternyata hari ini Mataram dan Jipang juga telah bersiap untuk menyerang.”

Wajah Kangjeng Adipati menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “jika demikian, panggil semua Panglima. Aku akan berbicara dengan mereka.”

Dalam waktu singkat, maka para Panglima telah menghadap. Para petugas sandi diminta untuk memberikan kesaksian langsung tentang pasukan Mataram dan Jipang.

“Nah, apa kata kalian?“ bertanya Kangjeng Adipati yang gelisah.

“Menilik persiapan yang mereka lakukan, maka mereka agaknya memang akan menyerang lagi,“ berkata seorang Tumenggung yang menjadi panglima pasukan Demak di Pajang yang sudah bersiap-siap akan menyerang pasukan Mataram di perkemahannya.

“Jika demikian, apa yang akan kita lakukan?“ bertanya Kangjeng Adipati.

“Kami menunggu perintah,“ desis Panglima itu.

“Baik,“ berkata Kangjeng Adipati kemudian, “kita batalkan rencana kita menyerang perkemahan Mataram dan Jipang. Menurut laporan para petugas sandi itu, nampaknya pasukan Mataram dan Jipang akan berangkat jauh sebelum fajar. Jika kita paksakan pasukan kita berangkat sedikit lewat tengah malam, maka kedua pasukan itu tentu akan berpapasan di jalan. Karena itu, maka kita akan bertahan. Kita akan mempersiapkan pertahanan kita sebaik-baiknya, sehingga kita akan menghancurkan pasukan Mataram di medan sebelah Barat dan pasukan Jipang di medan sebelah Timur. Jangan beri kesempatan mereka mengundurkan diri seperti pada serangan mereka yang pertama,“ Kangjeng Adipati berhenti sejenak lalu, “jika saat itu kita selesaikan mereka sampai tuntas, maka pekerjaan kita sekarang tentu sudah selesai.”

“Tetapi serangan ini nampaknya lebih besar dari yang pernah terjadi,“ berkata seorang Tumenggung yang lain.

“Kau mulai ketakutan lagi?“ bertanya Kanjeng Adipati.

“Tidak, Kangjeng. Hamba bukannya menjadi ketakutan. Tetapi sebagai seorang prajurit hamba ingin berhati-hati. Yang akan hamba bawa ke medan adalah prajurit-prajurit yang sebagian belum berpengalaman sama sekali,“ jawab Panglima itu.

“Bukankah ada diantara mereka prajurit Demak dan Pajang?“ bertanya Kangjeng Adipati itu pula.

“Hamba Kangjeng. Separo dari pasukan hamba adalah prajurit Demak. Sebagian lagi prajurit Pajang dan yang lain adalah laki-laki yang dapat kita kumpulkan untuk ikut bertempur. Agaknya pasukan dari para panglima yang lain juga demikian. Bahkan ada yang sebagian besar justru mereka yang kurang berpengalaman. Sementara itu, pasukan yang sepenuhnya terdiri dari prajurit Pajang telah menutup diri di baraknya,“ jawab Tumenggung itu.

“Jangan sebut-sebut lagi pengkhianat itu,“ geram Kangjeng Adipati, “setelah semuanya selesai, maka barak itu akan kita bakar bersama penghuninya. Prajurit Demak dan Pajang akan mengepung barak itu dan membunuh setiap orang yang melarikan diri dari api.“

Para Panglima yang mendengarkan kata-kata Kangjeng Adipati yang mirip dengan perintah itu tidak menyahut. Tetapi mereka menjadi berdebar-debar karenanya. Jika hal itu benar-benar dilaksanakan, maka mereka akan melihat betapa mengerikan neraka yang akan diciptakan di barak Tumenggung Surajaya itu.

Tetapi yang mereka hadapi di keesokan harinya adalah prajurit Mataram dan Jipang. Karena itu, maka persoalan Ki Tumenggung Surajaya itupun segera mereka lupakan.

Dalam pada itu, maka Kangjeng Adipatipun kemudian telah memerintahkan para panglima untuk kembali ke pasukan masing-masing. Dengan lantang Kangjeng Adipati berkata, “Atur sebaik-baiknya. Perubahan rencana itu harus berjalan dengan baik. Pasukan yang dipersiapkan untuk menyerang itu akan bertahan.”

Namun kesatuan yang rapi telah terbentuk sehingga perubahan rencana itu tidak akan terlalu sulit untuk dilakukan. Apalagi orang-orang Pajang dan orang-orang Demak di Pajang tidak dibebani kegelisahan sebagaimana Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa yang masih berusaha untuk membatasi permusuhan diantara keluarga besar yang terkoyak sejak Demak kehilangan wahyu keraton dan berpindah ke Pajang.

Sebagaimana kebijaksanaan yang ditempuh oleh Kangjeng Adipati Demak di Pajang, maka baik Mataram maupun Jipang justru harus dihancurkan sampai lumat.

Demikianlah, setelah memberikan beberapa pesan terakhir, Kangjeng Adipati itupun berkata, “Lakukan tugas kalian dengan baik. Aku akan dapat kalian hubungi setiap saat.“

Setelah Kangjeng Adipati masuk kembali keruang dalam istana, maka para panglimapun segera berada dipasukan mereka. Perubahan rencana pasukan Pajang dan Demak itupun segera sampai kepada para prajurit dan setiap orang yang ikut didalam pasukan.

Mereka tidak perlu menyerang perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang. Tetapi mereka tinggal menunggu orang-orang Mataram dan Jipang itu datang mengantarkan nyawanya.

Meskipun demikian, maka pasukan Pajangpun telah menyusun kekuatannya berlapis. Pertahanan pertama ada didinding kota. Kemudian garis pertahanan kedua adalah di sekitar alun-alun dan yang terakhir adalah dinding istana.

Tetapi orang-orang Pajang dan orang-orang Demak yang ada di Pajang telah mempersiapkan diri untuk meloncat turun keluar dinding kota jika pasukan Mataram dan Jipang mulai mengundurkan diri. Mereka harus mengejar dan menghancurkan pasukan Mataram dan Jipang itu sampai lumat. Sekelompok prajurit telah siap di pintu-pintu gerbang. Pintu gerbang utama dan pintu gerbang butulan yang menghadap ke Barat dan Timur dekat sudut-sudut kota. Pasukan Demak dan Pajang harus dengan cepat tanggap jika pasukan Mataram dan Jipang mengundurkan diri. Pintu-pintu gerbang akan dibuka dengan mengangkat selarak-selarak yang berat. Kemudian pasukan yang berada didekat pintu gerbang akan menghambur keluar mengejar para prajurit Mataram dan Jipang serta menghancurkannya.

Ketika tengah malam berlalu perlahan-lahan, maka prajurit Mataram dan Jipang diperkemahannya sudah mulai menjadi sibuk. Para petugas didapur mulai membagi makan dan minuman bagi para prajurit. Sementara itu, sekelompok prajurit telah mempersiapkan pula makanan dan minuman yang akan mereka bawa ke medan. Dalam keadaan yang tidak tertahankan, maka satu dua prajurit tentu memerlukan makanan dan minuman meskipun seadanya.

Dengan mata yang masih setengah terpejam, maka para prajuritpun telah mempersiapkan diri. Setelah makan dan minum, maka para prajurit itupun telah berada kelompok mereka masing-masing.

Sejenak kemudian, maka terdengar suara bende baik diperkemahan prajurit Mataram maupun Jipang, untuk yang pertama kalinya. Satu isyarat bahwa para prajurit Mataram dan Jipang yang sudah menyesuaikan waktu persiapan mereka, untuk berbenah diri serta membenahi kelompok mereka masing-masing.

Ketika bende berbunyi untuk kedua kalinya, maka semuanya telah bersiap. Kelompok-kelompok telah bergabung dalam pasukan-pasukan. Sementara itu, satu satuan khusus telah bersiap dipaling depan dengan membawa segala pertanda kebesaran. Rontek, umbul-umbul, kelebet dan panji-panji yang terpancang pada tunggul-tunggul kebesaran. Sementara itu pasukan yang berperisai berjalan disebelah menyebelah. Mereka memperhitungkan bahwa pasukan Pajang yang akan bertahan tentu mempersiapkan senjata jarak jauh.

Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa berharap bahwa pasukan Demak dan Pajang mengurungkan niat mereka untuk menyerang apabila mereka mengetahui bahwa pasukan Mataram dan Jipang telah bersiap untuk menyerang pula.

Sebenarnyalah laporan dari para petugas sandi disaat-saat terakhir menyatakan, bahwa Pajang agaknya tidak akan keluar dari dinding kota. Tetapi mereka mempersiapkan pertahanan yang sangat kuat dengan jumlah prajurit yang cukup banyak, ditambah dengan orang-orang yang telah berhasil dikumpulkan untuk memperkuat kedudukan Adipati Demak di Pajang.

“Agaknya telah ada laporan dari petugas sandi mereka, bahwa kitapun telah bersiap-siap untuk menyerang,“ berkata seorang petugas sandi Mataram.

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Memang telah ada rencana pasukan Mataram menyerang setelah beristirahat sehari menunggu perkembangan penalaran Adipati Demak di Pajang. Namun mereka harus berangkat jauh lebih awal, justru karena Pajangpun siap menyerang pula.

Seperti yang disepakajti bersama Pangeran Benawa, maka pada saat bulan tua terbit didini hari, maka kedua pasukan itupun akari berangkat.

Pada saat bende berbunyi untuk ketiga kalinya, maka setiap Panglima pasukan telah memerintahkan pasukannya untuk bergerak.

Sementara itu, sekelompok petugas penghubung telah melepaskan beberapa ekor burung dara yang diberi sendaren dipangkal ekornya, sehingga sejenak kemudian, maka sendaran itupun telah bergaung diudara.

Karena burung-burung merpati itu terbang melingkar-lingkar, maka seluruh kota dan sekitarnya telah mendengar suara sendaren itu pula.

Ternyata bunyi sendaren itu bagaikan gaung kemati-an yang memanggil-manggil setiap orang yang berada di dalam dinding kota Pajang. Para prajurit, orang-orang kebanyakan, para penghuni istana dan bahkan bagi anak-anak dan perempuan.

Di baraknya Ki Tumenggung Surajaya juga mendengar gaung sendaren yang berputaran diatas kota Pajang. Para petugas sandi dari barak itupun secara khusus telah memberikan laporan perubahan keadaan. Pasukan Pajang tidak sempat menyerang, karena pasukan Mataram dan Jipang telah bergerak lebih dahulu menyerang kota. Karena itu, maka Pajang telah menempatkan prajurit-prajuritnya didinding kota untuk bertahan.

Ki Tumenggung Surajaya menarik nafas dalam-dalam ketika laporan itu sampai kepadanya. Dengan demikian Ki Tumenggung Surajaya menganggap bahwa Mataram dan Jipang telah berbuat sesuatu agar keadaan menjadi lebih baik. Korban akan dapat dibatasi sehingga pasukan Demak dan Pajang, terutama orang-orang yang tidak berpengalaman sama sekali mempergunakan senjatanya tidak terbantai dipeperangan. Mereka akan dapat berlindung di balik dinding kota dan menunggu pasukan Mataram dan Jipang menembus pertahanan. Sementara itu, mereka akan sempat ditarik mundur memasuki dinding istana sehingga pertempuran didalam halaman istana tentu tidak lagi dalam suasana yang liar dan tidak terkendali. Bagaimanapun juga, tempat dan suasana akan mempengaruhi kedua belah pihak.

“Bagaimanapun juga kuatnya pertahanan Demak dan Pajang, namun Mataram dan Jipang tentu akan dapat mematahkan pertahanan mereka,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Ketegangan yang memuncak memang telah mencengkam seluruh kota, termasuk barak Ki Tumenggung Surajaya. Para panglima pasukan menjadi tegang. Mereka telah berada diantara pasukan masing-masing yang akan bertahan didinding kota. Sementara pasukan yang dipersiapkan untuk menahan serangan Mataram dan Jipang telah memanjat dinding dan berdiri di panggungan dengan anak panah dan busur ditangan mereka.

Namun bagaimanapun juga perang adalah pembantaian. Darah akan mewarnai bumi Pajang dan tubuhpun akan berserakkan silang melintang. Apapun alasannya, perang diantara kadang sendiri akibatnya sangat menyedihkan.

Sementara itu, pasukan Jipangpun sudah bergerak pula. Suara burung sendaren telah meyakinkan mereka, bahwa pasukan Matarampun telah bergerak pula.

Digelapnya sisa malam, maka dua pasukan raksasa telah merayap dari dua arah. Dari perkemahan orang Mataram dan perkemahan orang-orang Jipang. Ratusan obor menerangi perjalanan mereka. Kedua pasukan itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindari pengamatan pasukan sandi Demak dan Pajang.

Dari kejauhan maka kedua pasukan itu nampak bagaikan ular raksasa yang bersisik api menjalar merunduk mangsanya.

Namun ternyata yang sedang dirunduk tidak tidur. Orang-orang Pajang dan Demakpun tidak merasa perlu menyembunyikan kesiagaan mereka. Bahkan mereka berusaha untuk menunjukkan kebesaran mereka. Jika orang-orang Mataram dari sisi Barat dan orang-orang Pajang dari sisi Timur menyerang dengan memamerkan pertanda kebesaran serta lambang-lambang kesatuan yang ada didalam pasukan mereka, maka para prajurit Demak dan Pajangpun melakukan hal yang sama. Pada dinding kota, apalagi diatas pintu gerbang, telah terpajang berbagai macam pertanda dan lambang-lambang kesatuan. Rontek, umbul-umbul, panji-panji dan kelebet, diterangi oleh ratusan obor minyak dan oncor biji jarak.

Apalagi ketika para pengamat melihat kedatangan iring-iringan pasukan yang diterangi oleh obor-obor yang ratusan pula jumlahnya, maka diatas pintu gerbangpun telah mengumandang suara bende dengan irama perang, disahut oleh suara kentongan dan bunyi-bunyian yang mengumandang diseluruh kota Pajang.

Semua orang yang ada didalam kota menjadi berdebar-debar. Perang besar itu sudah dimulai. Mataram dan Jipang akan menyerang kekuatan Demak di Pajang dan kekuatan Pajang yang masih tersisa dari antara kekuatan seluruhnya yang sebagian justru telah berada diantara pasukan Mataram dan Jipang.

Sementara itu, Ki Tumenggung Surajaya dan pasukan nya telah bersiap pula didalam dinding barak mereka. Mereka sudah bertekad pula didalam dinding barak mereka. Mereka sudah bertekad untuk tidak beranjak dari barak mereka itu apapun yang akan terjadi atas diri mereka. Bahkan sampai orang yang terakhir, siapapun yang akan menghancurkannya.

Kasadha yang ada di barak itu sempat merenung. Dikenangnya seluruh masa hidupnya sampai usianya yang dewasa itu. Ternyata bahwa Kasadha akan merasa lebih berharga jika ia mati didalam barak itu, meskipun ia tidak tahu, dipihak mana ia berdiri dalam sengketa antara Mataram dan Jipang dengan Pajang.

Tetapi satu hal yang ia tahu, bahwa ia akan mempertahankan keyakinannya yang juga diyakini bersama oleh seluruh isi barak itu bahwa kepemimpinan Pajang harus berubah. Tanpa perubahan yang mendasar, maka Pajang akan menjadi semakin lama semakin rapuh sehingga akhirnya akan runtuh.

“Keruntuhan Pajang dengan cara yang sangat menyedihkan itu akan berakibat sangat buruk bagi bumi ini,“ berkata Kasadha didalam hatinya. Lalu katanya pula, “Tetapi jika Mataram dan Jipang berhasil memperbaiki keadaan, maka masih akan ada kemungkinan lain yang lebih baik bagi masa depan Pajang. Apakah yang berkuasa atas Pajang itu berkedudukan di Jipang atau di Pajang atau di Mataram, bahkan seandainya di Demak sekalipun.”

Satu urutan bayangan yang buram telah lewat didunia angan-angan Kasadha. Sikap ibunya, seorang laki-laki yang mengaku ayahnya, kakeknya dan Kasadha merasa beruntung bahwa ia memiliki seorang guru yang berpribadi sangat kuat, sehingga kemantapan pribadinya itu mampu mempengaruhi sikapnya meskipun ia selalu dibayangi oleh sifat dan sikap ibu dan laki-laki yang mengaku sebagai ayahnya itu.

Kasadha bagaikan terbangun dari renungannya ketika tiba-tiba saja seekor merpati dengan sendaren dipangkal ekornya terbang rendah diatas baraknya. Nampaknya merpati itu sudah menjadi letih dan ingin hinggap dimana-pun. Tetapi gelapnya malam tidak memberinya kesempatan untuk melihat cabang-cabang pepohonan. Cahaya bulan tua yang mulai memanjat langit mulai menguak kekelaman. Tetapi tidak cukup terang untuk menembus pekatnya bayangan pepohonan.

Sementara itu, pasukan Mataram dan Jipang telah menjadi semakin dekat dengan dinding kota. Dengan isyarat yang diteruskan oleh setiap pimpinan sampai ke kesatuan yang paling belakang, maka pasukan Mataram dan Jipang itupun telah menebar.

Dalam waktu yang singkat, terbentuklah gelar perang yang sempurna. Obor-obor yang bagaikan sisik ular raksasa itupun telah menebar pula. Yang nampak dari kejauhan adalah rontek, umbul-umbul, panji-panji dan kelebet yang beraneka warna. Berbagai macam bentuk lambang kesatuan yang sebagian dihiasi dengan gambar-gambar binatang yang garang. Namun ada yang dihiasi dengan gambar-gambar senjata yang mendebarkan.

Namun dalam pada itu, para pemimpin Demak dan Pajang masih belum mendapat keterangan, siapakah yang memimpin pasukan Mataram dan siapakah yang memimpin pasukan Jipang.

Namun para panglima pasukan Demak dan Pajang memang menjadi berdebar-debar melihat gelar perang para prajurit Mataram dan Jipang. Gelar perang yang nyaris sempurna dengan jumlah prajurit yang memadai. Di induk pasukan beberapa kesatuan dengan lambang kesatuan masing-masing telah tersusun rapi. Demikian pasukan yang ada di gelar. Disayap kiri dan disayap kanan. Selain lambang-lambang kesatuan, maka nampak pula lambang-lambang para Senapati perang. Tunggul yang berkilat-kilat dengan ujung yang runcing. Cakra yang kehitam-hitaman dan Nenggala yang berkait.

Di induk pasukan Jipang nampak tunggul berwarna kuning emas. Lingkaran dengan lidah api yang menjilat-jilat.

“Pangeran Benawa ada di induk pasukan,“ geram seorang Panglima yang melihat tunggul itu.

“Jipang kali ini tidak main-main seperti serangannya yang terdahulu,“ sahut yang lain.

Sementara itu, seorang petugas sandi telah melaporkan pula bahwa Panembahan Senapati memimpin sendiri pasukan Mataram.

“Bersama Ki Juru Martani, Pangeran Mangkubumi, Pangeran Singasari dan para panglima yang lain,“ berkata petugas sandi itu.

Para panglima yang memegang pimpinan seluruh pasukan Demak dan Pajang menjadi berdebar-debar. Mereka menyadari bahwa sentuhan panggraita beberapa orang Senapati ternyata benar. Pada serangannya yang pertama. Mataram dan Jipang hanya sekedar memberi peringatan kepada Pajang. Namun ketika hal itu disampaikan kepada Kangjeng Adipati Demak yang kemudian memegang pimpinan di Pajang, ternyata Kangjeng Adipati itu tidak percaya. Kangjeng Adipati yang terbius oleh kekuasaan yang disandangnya, dalam mengetrapkan kekuasaan itu agaknya tidak lagi sempat mempergunakan penalarannya yang bening.

Karena itu, maka penglihatannya atas kekerasan Mataram dan Jipang menjadi kabur.

Sementara itu, para Senapati dan Panglima dari Demak dan Pajangpun berusaha untuk menyesuaikan diri. Merekapun telah menempatkan segala macam pertanda kebesaran diatas panggung-panggung pada dinding kota. Tunggul-tunggul kebesaran dan lambang para Senapati dan Panglima perang nampak pula berkilat-kilat memantulkan cahaya obor yang makin redup. Namun dalam pada itu, langitpun menjadi semakin merah oleh bayangan fajar.

Sebenarnyalah bahwa Panembahan Senapati telah memimpin langsung pasukan Mataram. Bukan karena ia tidak percaya kepada para Senapati dan Panglima, tetapi Panembahan Senapati justru ingin mengendalikan langsung para prajurit Mataram. Diatas seekor kuda yang tegar, Panembahan Senapati berada di induk pasukannya. Namun jika dikehendakinya, ia akan dengan cepat berada di ujung gelarnya.

Sementara itu Pangeran Mangkubumi yang tenang dan cepat tanggap terhadap setiap perkembangan yang terjadi di medan berada di sayap kanan, sedangkan Pangeran Singasari yang garang dan keras berada disayap kiri.

Ki Patih Mandaraka dengan beberapa orang Senapati pilihan berada di induk pasukan-bersama dengan Panembahan Senapati. Mereka berada di hadapan pintu gerbang utama yang menghadap Ki Barat.

Seperti yang telah disepakati bersama, maka menjelang fajar menyingsing, maka Mataram dan Jipang akan menyerang bersama-sama. Karena itulah, maka ketika langit menjadi semakin merah, sementara ratusan obor dan oncor biji jarak telah meredup, Panembahan Senapati telah memerintahkan untuk melepaskan lagi beberapa ekor burung merpati dengan sendaren.

Seperti yang terdahulu, maka merpati itu telah terbang melingkar-lingkar sampai ketempat yang cukup jauh, sehingga suaranya bagaikan memenuhi kota Pajang dan sekitarnya.

Sekali lagi seluruh isi kota Pajang menjadi berdebar-debar. Orang yang paling dungupun mengerti, bahwa suara sendaren yang meraung-raung di ujung hari itu tentu merupakan isyarat dari pasukan yang telah berada di luar dinding kota. Pasukan Mataram disisi Barat dan pasukan Jipang disisi Timur.

Tetapi ternyata bahwa pasukan Mataram dan Jipang tidak hanya berada disisi Barat dan Timur. Tetapi beberapa kelompok kecil prajurit Mataram berada disisi Selatan sedangkan pasukan Jipang mengawasi sisi Utara sekaligus menempatkan prajurit cadangan yang akan dipanggil setiap saat jika mereka diperlukan.

Demikian suara sendaren itu menggetarkan udara kota Pajang dan sekitarnya, maka para Senapati dan Panglimapun telah memerintahkan semua prajurit itu bersiap-siap. Prajurit Demak dan Pajang yang juga mendengar suara sendaren itupun telah memerintahkan para prajurit untuk bersiap.

“Sebentar lagi mereka tentu akan menyerang,“ berkata para Senapati kepada para pemimpin kelompok yang segera menempatkan diri diantara prajurit-prajuritnya.

Diatas panggungan dibelakang dinding kota, maka para prajurit Demak sebagian dari mereka telah menyiapkan lembing-lembing bambu dengan bedor besi yang runcing untuk dilontarkan kearah pasukan yang akan datang menyerang.

Dalam pada itu, maka ketika saatnya tiba, sementara suara sendaren meraung-raung diudara, Panembahan Senapati telah menjatuhkan perintah. Diatas punggung kudanya, maka Panembahan Senapati telah mengangkat tombak pendek yang berada ditangannya. Tombak yang merupakan sipat kandelnya. Meskipun tombak itu bukan tombak yang dipergunakannya untuk mengakhiri perlawanan Arya Penangsang dari Jipang disaat timbul perselisihan antara Jipang dimasa pemerintah Arya Penangsang dengan Sultan Hadiwijaya yang memerintah di Pajang.

Demikian tombak itu terangkat, maka para Panglimapun segera mempersiapkan diri dalam kesiagaan tertinggi. Sejenak kemudian maka bendepun telah terdengar sebagai isyarat, bahwa pasukan Mataram mulai menyerang.

Diatas pintu gerbang, para panglima pasukan Demak dan Pajangpun telah memberikan aba-aba pula. Suara bende yang ada dipintu gerbang dengan nada yang berbeda-beda pula. Suara bende yang ada dipintu gerbang dengan nada yang berbeda telah berbunyi pula. Meraung-raung mengumandang membentur dinding-dinding kota, disambut oleh suara kentongan dan bunyi-bunyian. Semua orang di kota Pajang menyadari, saat itu pasukan Mataram telah menyerang langsung dinding kota Pajang. Demikian pula pasukan Jipang yang berada disisi Timur. Pangeran Benawapun telah mengangkat pedangnya, sementara pengawalnya yang terpercaya telah mengangkat tunggul pertanda kebesarannya.

Demikianlah, maka bagai arus banjir bandang, pasukan Mataram dan Jipang telah menyerang dinding kota Pajang.

Namun dalam pada itu, demikian pasukan Mataram dan Pajang itu mendekat, maka panahpun telah menghujani mereka. Seperti semburan air yang deras, anak panah telah menghambur dari setiap busur yang ada diatas dinding.

Namun para prajurit Mataram dan Jipangpun segera tanggap. Yang melangkah dipaling depan kemudian adalah para prajurit yang menyandang perisai di tangan kirinya. Mereka maju sambil melindungi bukan saja dirinya, tetapi juga para prajurit yang ada di belakangnya. Sementara itu, beberapa kelompok khusus prajurit Mataram dan Jipang telah membalas serangan itu dengan lontaran anak panah pula. Mereka dengan tenang dilindungi oleh perisai kawan-kawannya, membidik orang-orang Demak dan Pajang yang berada dipunggung, dibelakang dinding kota. Mereka yang tersembul diatas dinding untuk melemparkan anak-panah dari busurnya, atau melontarkan lembing-lembing bambu telah menjadi sasaran.

Beberapa orang disetiap kelompok yang memiliki kemampuan bidik yang tinggi telah menyerang orang-orang itu dengan busur-busur yang besar sehingga anak-panahnya mampu menggapai para prajurit yang berada diatas dinding kota itu.

Pertempuran berjarakpun segera terjadi. Anak panah berterbangan ke kedua arah. Dari atas dinding kota dan, dari bawah yang dibidikkan pada orang-orang yang berada diatas dinding kota itu.

Tetapi para prajurit Mataram sudah bersiap menghadapi dinding kota Pajang. Beberapa orang membawa tambang berkait. Sementara yang lain telah mempersiapkan sepotong kayu yang sangat besar dan cukup panjang, yang diusung oleh lebih dari duapuluh orang.

“Lindungi mereka,“ perintah seorang Senapati yang mendapat tugas untuk memecahkan pintu gerbang.

Sekelompok pasukan dengan busur dan anak panah segera menempatkan diri untuk melindungi orang-orang yang akan memecahkan pintu gerbang dengan sepotong pokok kayu yang besar dan panjang. Orang-orang yang memanggul kayu itu akan mengambil ancang-ancang, kemudian berlari mengarahkan ujung kayu itu dan kemudian membentur pintu gerbang.

Sementara ditempat-tempat lain, beberapa orang akan melemparkan tambang-tambang panjang berkait baja diujungnya. Namun untuk melakukannya harus diperhitungkan keadaan sebaik-baiknya, karena hal itu akan sangat berbahaya.

Sementara itu, beberapa orang prajurit Jipang disisi Timur justru membawa tangga-tangga bambu. Dengan tangga-tangga bambu para prajurit Jipang bersiap-siap untuk memanjat dinding jika keadaan memungkinkan.

Namun untuk beberapa saat, pertempuran berjarak itu masih saja berlangsung. Sementara para prajurit Mataram sedang sibuk mempersiapkan kayu panjangnya untuk memecahkan dinding kota.

Para prajurit Demak dan Pajang memang banyak yang berkumpul diatas pariggungan disekitar pintu gerbang. Ketika seorang Senapati Demak melihat sepotong kayu yang besar dan panjang itu, maka iapun segera mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Mataram.

Karena itu, disamping selarak yang besar, maka orang-orang Demak dan Pajang telah mempergunakan potongan-potongan kayu untuk menahan pintu gerbang mereka yang diancam untuk dipecahkan oleh para prajurit Mataram.

Demikianlah, maka anak panahpun semakin lama semakin banyak berhamburan. Sementara itu prajurit-prajurit Jipang telah berusaha mendekati dinding dengan beberapa puluh tangga bambu. Sementara prajurit Mataram telah siap untuk memecahkan pintu gerbang utama yang menghadap ke Barat.

Langitpun telah menjadi terang. Matahari telah mulai naik menggatalkan kulit.

Tetapi untuk melakukan rencananya, prajurit Mataram dan Jipang banyak mengalami kesulitan. Bukan saja anak panah dan lembing yang telah dilontarkan dari atas dinding kota. Tetapi juga bandil dan bebatuan.

Untuk beberapa saat Panembahan Senapati yang memimpin langsung pasukan Mataram telah memperhatikan keadaan dengan saksama. Menurut penilaian Panembahan Senapati prajurit Demak yang ada di Pajang serta prajurit Pajang sendiri memang termasuk prajurit yang baik. Mereka tidak saja mampu mempergunakan senjata, tetapi mereka juga mampu mempergunakan otaknya.

Sementara itu, para prajurit yang telah siap dengan sepotong pokok kayu yang cukup besar dan panjang telah mengambil ancang-ancang. Tidak hanya duapiiluh atau duapuluh lima orang, tetapi lebih dari tigapuluh orang.

Demikianlah maka aba-abapun telah dijatuhkan. Sementara orang-orang yang memanggul pokok kayu itu mulai bergerak, maka para prajurit yang melindunginya telah melontarkan anak panah yang tidak terhitung jumlahnya kearah para prajurit Demak dan Pajang yang ada diatas dinding kota, yang dengan tanpa mengenal ampun berusaha untuk mengenai orang-orang yang memanggul pokok kayu itu.

Ternyata pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah. Sebelum kedua pasukan berbenturan, maka pada kedua belah pihak telah banyak jatuh korban. Meskipun para prajurit itu telah mendapat perlindungan, serta pokok kayu itu sendiri telah melindungi sebagian dari tubuh mereka, namun satu dua orang telah terkena anak panah yang dilontarkan dari atas dinding. Tetapi demikian satu dua orang melepaskan diri karena luka-lukanya, maka prajurit yang mengusung pokok kayu itu, sehingga seakan-akan seekor lipan raksasa dengan seratus kaki berlari membenturkah diri pada pintu gerbang dinding kota Pajang.

Tetapi dinding kota itu ternyata cukup kuat. Selain daun pintunya yang sangat tebal, selarak yang besar dan kuat, juga kayu-kayu yang silang melintang menahan daun pintu itu agar tidak terbuka.

Ketika pokok kayu yang dibawa berlari dengan ancang-ancang yang panjang itu membentur pintu gerbang, maka ternyata bukan pintu gerbangnya yang pecah dan terbuka. Tetapi justru pokok kayu itulah yang terpental beberapa langkah surut. Hampir saja orang-orang yang memanggul pokok kayu yang besar dan panjang itu kehilangan keseimbangan. Namun beberapa orang prajurit dengan cepat membantu dibawah perlindungan beberapa orang prajurit yang melontarkan anak panah tanpa henti-hentinya, untuk mengurangi arus anak panah yang meluncur dari atas dinding.

Dengan demikian, maka orang-orang yang berada diatas dinding itupun terpaksa melepaskan beberapa orang kawan-kawannya yang berani. Beberapa orang telah terdorong surut dan harus dibantu oleh kawan-kawannya turun dari panggungnya. Namun ada diantara mereka yang tidak mampu lagi bertahan, karena anak panah orang-orang Mataram menancap jauh kedalam tubuhnya.

Dengan demikian maka orang-orang Mataram terpaksa membawa balok kayu yang besar itu kembali menjauhi pintu gerbang untuk mengambil ancang-ancang.

Namun sebelum mereka kembali menghantam pintu gerbang itu dengan balok kayu yang dipanggul oleh beberapa puluh orang, maka Senapati yang bertugas memimpin pekerjaan itu tiba-tiba berkata, “Kita pergunakan pedati.”

“Terlalu lambat. Tidak ada kekuatan pendorong,“ sahut salah seorang pemimpin kelompok.

“Jangan bodoh. Kita tidak mempergunakan lembu. Tetapi pedati itu didorong oleh berpuluh-puluh orang,“ berkata Senapati itu. Pemimpin kelompok itu berpikir. Tiba-tiba ia bertanya lagi, “Apakah pedati dapat mengangkat balok kayu sebesar dan sepanjang itu. Seandainya cukup kuat, bagaimana dapat menjaga keseimbangannya?”

Senapati itu langsung saja menjawab, “Kita mempergunakan dua buah pedati. Kita rangkai menjadi sebuah pedati panjang beroda empat. Dengan demikian, maka keseimbangan batang kayu itu dapat terjaga.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Iapun tiba-tiba berteriak,“ Kita ambil dua buah pedati perbekalan.”

Beberapa orangpun kemudian telah berlari-lari ke belakang garis pertempuran. Ketika beberapa orang sempat bertanya, maka orang-orang itu menjawab, “Kami mendapat perintah untuk membawa dua buah pedati.”

Demikianlah, selagi beberapa kelompok prajurit mempersiapkan dua buah pedati yang menggandengnya menjadi satu dengan palang-palang kayu yang diikat dengan ijuk, maka pertempuranpun berlangsung terus. Namun tidak lebih dari saling melontarkan anak panah dari atas dan dari bawah dinding kota.

Sementara itu, pasukan Pajang dan Demak disisi Timur menjadi tegang ketika mereka melihat para prajurit Jipang telah membawa tangga-tangga mendekati dinding. Meskipun nampak mereka sangat berhati-hati, tetapi jika tangga-tangga itu tersandar dan beratus-ratus prajurit yang tidak mengenal takut memanjat, maka para prajurit diatas dinding akan menjadi semakin sibuk sementara anak panah masih akan tetap menghujani mereka.

Sementara itu, para prajurit Mataram telah selesai dengan pedati rangkapnya. Mereka terpaksa memotong salah satu paruh dari gerobag itu.

Kemudian beramai-ramai mereka telah mengangkat pokok kayu dan meletakkannya diatas gerobag itu.

“Kita dorong gerobag ini beramai-ramai,“ perintah Senapati yang memimpin tugas memecahkan pintu gerbang itu.

Namun ternyata bahwa Panembahan Senapati sendiri telah berkenan menunggui rencana memecahkan pintu gerbang itu. Dengan tulus Panembahan Senapati memuji ketangkasan berpikir Senapati itu.

Dengan sedikit tompangan dibagian depan, maka kayu yang besar dan panjang itu terangkat di bagian ujungnya. Kemudian dipersiapkan beberapa orang yang akan menentukan arah pokok kayu itu sehingga tidak terlepas dari sasaran. Tiga puluh orang prajurit, bahkan lebih, akan mendorong pedati itu membentur pintu gerbang.

Ketika Senapati itu membuka dan menyibak para prajurit yang ada didepan pedati, maka para prajurit dan Senapati dari Demak dan Pajang sempat melihatnya. Mereka memang menjadi berdebar-debar. Jika pedati itu didorong dengan kuat, maka pintu gerbang itu akan goyah meskipun sudah di tompang dengan patok-patok kayu yang kuat.

Demikianlah, maka orang-orang yang sudah siap untuk mendorong gerobag itu sudah mengambil ancang-ancang ketika Senapatinya memberikan isyarat. Sementara itu, beberapa orang prajurit yang lain telah siap dengan busur dan anak panah mereka. Para prajurit itu akan membidik setiap orang yang ada diatas dinding kota dan melontarkan anak panah kearah para prajurit Mataram yang sedang mendorong pedati.

Dengan lantang Senapati itu telah meneriakkan hitungan “Satu, dua, tiga.”

Para prajurit yang mendorong pedati itupun telah menghentakkan tenaga mereka mendorong gerobag itu. Sementara beberapa orang berlari-lari sambil menarik tali yang mengikat ujung batang kayu itu agar arahnya tepat mengenai pintu gerbang itu.

Namun satu hal yang sebelumnya tidak dilakukan oleh para prajurit Mataram, sehingga tidak diperhitungkan dengan baik oleh para prajurit Demak dan Pajang yang berada diatas panggung-panggung.

Demikian pedati yang memuat pokok kayu itu didorong berlari-lari, maka beberapa orang disebelah menyebelah pedati itu telah berlari-lari pula sambil membawa tambang ijuk yang panjang dengan kait di ujungnya.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka gerobag yang didorong oleh puluhan prajurit itu meluncur dengan derasnya mengarah ke sasaran. Beberapa orang yang berlari-lari didepan gerobag telah menuntun arah, sementara yang lain berlari-lari sambil membidik. Sekelompok prajurit yang mempergunakan perisai telah mendampingi mereka pula sedangkan sekelompok yang lain justru mendahului, kemudian berdiri tegak dengan busur dan anak panah.

Namun selain mereka, berpuluh-puluh prajurit yang lain juga berlari-lari sambil membawa tambang dan kait besi diujungnya.

Demikianlah, pertempuran menjadi semakin tegang. Panembahan Senapati sendiri diatas punggung kudanya ikut mendampingi pedati yang membawa pokok kayu yang besar itu. Dengan tombak ditangan, Panembahan Senapati meluncur diatas hujan anak panah. Tetapi dengan tangkasnya Panembahan Senapati mampu menangkis serangan itu dengan tombaknya. Bahkan, beberapa orang menjadi semakin yakin akan kelebihan Panembahan Senapati, bahwa beberapa anak panah yang luput dan menyusup diantara putaran tombak Panembahan Senapati dan mengenai tubuhnya, sama sekali tidak menimbulkan luka apapun.

Sesaat kemudian, terjadilah benturan yang menegangkan itu. Suaranya gemuruh seperti guruh yang meledak dipintu gerbang. Pokok kayu yang besar dan panjang itu telah menghantam sasaran, tepat ditengah-tengah pintu gerbang.

Benturan yang keras telah terjadi lagi. Pintu gerbang itu memang bergetar. Tetapi ternyata pintu gerbang itu belum dapat dipecahkan.

Meskipun demikian, orang-orang Mataram itu mulai berpengharapan. Ketika pimpinan diambil alih langsung oleh Panembahan Senapati, maka para prajuritpun menjadi semakin mantap.

Dengan lantang Panembahan Senapati itupun kemudian telah meneriakkan aba-aba. Para prajurit Mataram-pun telah mendorong gerobag dengan muatannya itu beberapa puluh langkah mundur. Kemudian benturan terhadap pintu gerbang itu telah diulang dan diulang.

Ternyata bahwa usaha orang-orang Mataram itu telah membuat para prajurit Demak dan Pajang menjadi cemas. Mereka mulai melihat selarak pintu yang besar itu retak. Karena itu, maka merekapun telah memasang penompang-penompang dari batang-batang kayu untuk menahan pintu gerbang yang mulai berderak.

Namun kemudian yang mendebarkan adalah, bahwa daun pintu gerbang itu sendirilah yang mulai retak.

Para prajurit diatas panggungan dibelakang dinding telah menyerang sejadi-jadinya untuk mengurangi tekanan pasukan Mataram. Tetapi sementara itu, para prajurit Mataram yang berada diluar dindingpun telah menyerang mereka pula dengan meluncurkan anak-panah yang tidak terhitung jumlahnya. Betapapun beraninya para prajurit Demak dan Pajang, namun mereka kadang-kadang juga merasa perlu untuk bergeser kebalik dinding jika mereka melihat anak panah yang meluncur kearahnya. Sedangkan anak panah itu meluncur tidak ada habis-habisnya.

Beberapa orang memang jatuh, terluka dan bahkan ada yang langsung tidak tertolong lagi. Namun mereka tidak dapat berbuat lain daripada menyerahkan korban-korban yang jatuh bagi kemenangan akhir.

Dan itu adalah watak dari peperangan.

Demikianlah, maka pasukan Mataram telah mengulang-ulang serangan mereka atas pintu gerbang utama disisi Barat dengan batang kayu yang diletakkan diatas gerobag. Sementara pintu gerbang itu retak, maka prajurit Mataram telah mempergunakan kesempatan yang lain.

Ketika perhatian para prajurit Demak dan Pajang tertuju sepenuhnya pada pintu gerbang yang kemudian tidak mampu dipertahankan lagi itu, maka sekelompok pasukan khusus Mataram telah mengejutkan para prajurit Demak dan Pajang itu. Mereka telah melemparkan kait-kait baja, keatas dinding kota disebelah kanan pintu gerbang. Tidak terlalu dekat, tetapi tidak pula cukup jauh.

Perhatian para prajurit Demak dan Pajang memang terpecah. Retak dipintu gerbang utama menjadi semakin besar. Ketika sekali lagi Panembahan Senapati meneriakkan perintah untuk membenturkan batang kayu diatas gerobag itu, maka ikatan-ikatan uger-uger gerbang utama itu mulai berderak. Selaraknya yang besar pun hampir menjadi patah. Meskipun beberapa batang kayu balok menompang daun pintu itu, tetapi para Senapati Demak dan Pajang telah memerintahkan kelompok-kelompok bersiap menyongsong pasukan Mataram yang akan menerobos masuk seperti banjir bandang.

Pasukan yang mempergunakan busur dan anak panah telah berdiri berlapis tiga. Dipaling depan duduk ditanah dengan busur mendatar siap melepaskan anak panah. Kemudian di lapis kedua pasukan yang berlutut pada sebelah kaki mereka dengan busur serupa. Kemudian dilapis ketiga adalah para prajurit pilihan yang berdiri dengan busur-busur besar yang direntang tegak. Anak-panah yang besar dengan bedor baja.

Prajurit-prajurit Mataram betapapun tinggi daya tahan tubuhnya, bahkan berilmu kebal sekalipun, tidak akan sanggup menahan anak panah yang berbedor baja yang dilontarkan dengan busur-busur yang besar dan kuat, ditarik oleh tangan-tangan yang bertenaga raksasa. Sedangkan disebelah menyebelah pintu gerbang telah siap para prajurit yang akan menyergap mereka yang memasuki pintu gerbang yang pecah itu dengan melontarkan lembing-lembing yang runcing.

Para prajurit Demak dan Jipang itu sadar, bahwa yang akan memasuki gerbang adalah prajurit prajurit yang berperisai itu tentu belum dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, terdengar sekali lagi perintah Panembahan Senapati untuk mengambil ancang-ancang. Para prajurit Mataram pun yakin, bahwa sekali lagi batang kayu diatas gerobag itu membentur pintu gerbang, maka pintu gerbang itu tentu akan pecah. Selaraknya akan patah, bahkan mungkin uger-ugernya akan roboh bersama-sama dengan seluruh pintu gerbang itu.

Para prajurit yang ada didalam dinding kotapun telah bersiap sepenuhnya. Para Senapati yang berada di kelompok dan kesatuan masing-masing menjadi sangat tegang menunggu dinding itu runtuh.

Demikian gerobag itu mulai didorong, maka dengan isyarat Panembahan Senapatipun telah memerintahkan para prajurit mempergunakan tambang-tambang ijuk yang sudah terkait pada dinding-dinding kota.

Prajurit Demak dan Pajang memang menjadi-bingung sesaat. Mereka mendengar prajurit Mataram berteriak-teriak sambil memanjat berpuluh-puluh tali yang sudah terjulur dari atas dinding karena besi yang terikat diujung tali itu sudah terkait pada dinding.

Beberapa orang prajurit Demak dan Pajang sempat memutus tali-tali itu. Beberapa orang yang sudah menggelantung berjatuhan. Namun bersamaan dengan itu, maka batang kayu yang dimuat didalam gerobag sekali lagi telah menghantam pintu gerbang kota sehingga pintu gerbang yang sudah retak serta selarak yang hampir patah itupun berderak-derak. Bersamaan dengan itu, maka pintu gerbang utama yang menghadap ke Barat telah dirobohkan.

Sorak prajurit Mataram membahana bagaikan meruntuhkan langit. Sementara itu, para prajurit Demak dan Pajang telah bersiaga sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.

Saat yang sekejap itu ternyata dapat dimanfaatkan, “oleh beberapa orang prajurit khusus Mataram. Mereka telah berloncatan keatas dinding dan panggungan dibela-kang dinding. Dengan jumlah yang kecil itu mereka melindungi tali-tali ijuk yang masih tertinggal, sementara beberapa orang yang lain memanjat terus.

Keberhasilan para prajurit yang memanjat tali-tali ijuk itu juga mengejutkan para prajurit Demak. Mereka menyadari kelengahan mereka bahwa perhatian mereka telah terhisap oleh runtuhnya pintu gerbang utama yang menghadap ke Barat, sehingga saat yang penting itu dapat dimanfaatkan oleh para prajurit Mataram.

Dengan demikian maka pasukan Mataram telah berhasil memasuki kota Pajang lewat dua jalur. Betapapun berbahayanya, namun Mataram benar-benar telah memanfaatkan kemungkinan itu. Yang pertama-tama menembus pintu gerbang yang roboh adalah pasukan yang berperisai. Mereka adalah pasukan khusus yang terlatih untuk menghadapi keadaan yang paling gawat.

Dengan menutup diri dibelakang perisai-perisai yang kuat, maka para prajurit khusus itu, telah menghambur memasuki kota. Sementara itu, diatas dindingpun prajurit Mataram telah berloncatan dan bertempur dengan garangnya.

Para Senapati Demak dan Pajang memang menjadi berdebar-debar. Tetapi sebagian dari mereka telah membayangkan, bahwa keadaan seperti itulah yang akan terjadi.

Kekisruhan yang terjadi dibelakang pintu gerbang yang roboh dan dibelakang bagian dinding yang berhasil ditembus oleh para prajurit Mataram yang memanjat tali, telah mengacaukan pertahanan prajurit Demak dan Pajang.

Beberapa orang pemimpin Demak telah menilai langkah yang diambil oleh para prajurit Demak dan Pajang ternyata keliru. Mereka seharusnya tidak bertahan di dinding kota. Tetapi mereka sebaiknya menyongsong pasukan Mataram keluar dinding kota.

“Kita sudah berhasil mengusir mereka sebelumnya,“ berkata seorang pemimpin pemerintahan Demak di Pajang.

“Tidak,“ berkata seorang Panglima, “kita sudah meragukan keseimbangan pasukan. Kita sudah memperhitungkan, bahwa Mataram dan Jipang, meskipun tidak mendatangkan pasukan baru, namun akan datang dengan sepenuh kekuatan. Jika kita tidak bertahan dibelakang dinding kota, maka akibatnya tentu akan lebih parah. Mungkin pasukan kita akan hancur sebelum kita sempat menarik diri kebelakang dinding.”

“Tetapi Kangjeng Adipati yakin akan menang,“ berkata pemimpin pemerintahan Demak di Pajang itu.

“Tentu ada keragu-raguan pula dihati Kangjeng Adipati betapapun yang diucapkan lain,“ jawab seorang panglima, “Ternyata Kangjeng Adipati tidak berusaha merubah tatanan pertahanan kita dalam tiga lapis itu. Justru lapisan pertama sudah berada didalam dinding kota.”

“Kalianlah yang membuatnya ragu-ragu,“ berkata orang itu.

“Kami adalah prajurit. Kami mempergunakan perhitungan seorang prajurit,“ sahut panglima yang mulai tersinggung itu.

Sementara itu, pertempuran masih berlangsung terus. Pasukan Mataram menembus pertahanan Demak dan Pajang seperti arus banjir bandang yang tidak tertahankan, memecahkan bendungan yang memang sudah rapuh.

Panembahan Senapati sendiri memimpin pasukan Mataram memasuki kota dari arah Barat. Sementara itu, dari arah Timur pasukan Jipangpun telah berhasil menghentakkan pertahanan Demak dan Pajang. Apalagi ketika pasukan Mataram yang bagaikan mengalir memenuhi kota, membantu menyerang pasukan Demak dan Pajang justru dari dalam kota.

Kekuatan Mataram dan Jipang memang tidak terbendung lagi. Pertahanan kedua sama sekali tidak banyak berarti. Ketika Demak dan, Pajang berusaha menarik pasukannya memasuki lingkungan pertahanan kedua, maka justru pasukan Mataram dan Jipang telah mendesaknya pula sehingga pasukan Demak dan Jipang harus memasuki dinding halaman istana sebagai garis pertahanan ketiga.

Tetapi garis pertahanan inipun tidak bertahan terlalu lama. Bahkan dalam keadaan yang gawat itu, ada beberapa orang prajurit Pajang yang justru membantu Panembahan Senapati, sehingga perang yang terjadi menjadi semakin kabur. Terutama bagi para prajurit Demak dan Pajang sendiri.

Sementara itu, ketika pasukan Mataram berhasil menghentak masuk ke halaman istana, maka Panembahan Senapati tiba-tiba telah meloncat turun dari kudanya.

Ki Juru Martani dengan heran bertanya, “Marilah ngger. Kita harus segera memasuki puri istana dan dengan cepat menguasainya agar tidak terjadi kekacauan yang lebih parah lagi.”

“Marilah paman,“ jawab Panembahan Senapati.

“Tetapi kenapa angger harus turun dari kuda dan menuntunnya memasuki medan?“ bertanya Ki Juru Martani.

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku masih menghormati tahta yang pernah diduduki oleh ayahanda Kangjeng Sultan Hadiwijaya.”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil Ki Juru berkata, “Kau betnar. Kau masih tetap menghormati ayah angkatmu karena kau masih tetap mengenang dan teringat akan kebaikannya kepadamu. Jika demikian, serahkan kudamu kepada orang lain. Kita harus cepat memasuki istana agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan atas para penghuni istana.”

Panembahan Senapati mengangguk. Sekilas dipandanginya istana Pajang yang megah itu. Didalamnya tinggal Adipati Demak yang diserahi pimpinan tertinggi atas Pajang mewarisi kekuasaan Sultan Hadiwijaya.

Namun Panembahan Senapati tidak dapat merenung, terlalu lama. Ia sadar, bahwa keluarga yang tinggal diis-tana itu terancam bahaya. Jika adik-adik Panembahan Senapati lebih dahulu memasuki istana dan bertemu dengan Adipati Demak yang berkuasa di Pajang, maka akan dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena adik-adik dari Panembahan Senapati merasa tidak mempunyai ikatan langsung serta hubungan keluarga dengan Adipati Demak yang ada di Pajang itu.

Karena itu, maka Panembahan Senapatipun kemudian bersama dengan Ki Juru Martani dengan tergesa-gesa mendahului para pengawalnya memasuki istana menyusup diantara pertempuran yang masih terjadi antara prajurit Mataram dengan prajurit Demak dan Pajang yang menarik diri pada garis pertahanan ke tiga.

Namun keadaan pasukan Demak dan Pajang telah terpecah belah. Sebagian dari mereka telah meletakkan senjata dibawah ujung tombak dan pedang dari para prajurit Mataram yang diawasi langsung oleh para panglimanya.

Sementara itu, Panembahan Senapati yang cemas atas nasib Adipati Demak di Pajang, telah menembus paseban dan pertahanan yang semakin kacau dari para pengawal istana bersama beberapa orang Senapati dan prajurit terpilihnya.

Demikian Panembahan Senapati menembus orang terakhir, kemudian memasuki ruang dalam istana, maka yang pertama-tama dijumpainya adalah isteri Kangjeng Adipati yang justru adalah adik angkatnya, karena isteri Kangjeng Adipati itu adalah putera Puteri Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang yang telah wafat.

“Kakangmas Panembahan Senapati,“ tangis Gusti Putri isteri Kangjeng Adipati, “hamba mohon ampun kakangmas.”

Panembahan Senapati tertegun. Ketika ia melihat adik angkatnya itu menangis, maka hatinyapun menjadi luluh. Diangkatnya lengan adiknya itu sambil berkata, “Bangkitlah Diajeng. Berdirilah.”

Gusti Putri itupun kemudian bangkit berdiri. Air matanya mengalir dengan deras. Sementara itu, pertempuranpun telah mereda. Para prajurit Demak dan Pajang yang bertahan disekitar istana menjadi tidak berdaya lagi.

Ternyata para prajurit yang telah bertempur dengan sengitnya itu baru menyadari kemudian, bahwa matahari justru telah turun disisi Barat langit yang jernih. Awan yang menjadi kemerah-merahan seakan-akan mencerminkan darah yang telah membasah diatas bumi Pajang.

Sementara itu tangis Gusti Putri masih saja meledak-ledak.

Panembahan Senapati telah membimbing adiknya di persilahkannya untuk duduk sambil bertanya, “Dimana Adimas Adipati?”

Putri itu mencoba menahan tangisnya. Namun dengan demikian ia justru terisak-isak. Nafasnya menjadi sesak dan dadanya terasa sakit.

“Sudahlah Diajeng,“ desis Panembahan Senapati, “aku ingin bertemu dengan adimas Adipati.”

“Kakangmas Adipati sedang bersembunyi, kakangmas,“ desis adik angkatnya itu.

“Kenapa ia bersembunyi? Bukankah ia seorang Adipati dan sekaligus Panglima pasukan Demak dan Pajang? Bukankah seharusnya ia berada di medan?“ bertanya Panembahan Senapati.

Adik angkatnya itu termangu-mangu sejenak. Ketika isaknya mereda, maka iapun berkata, “Kakangmas Adipati memang bersembunyi. Bukannya kakangmas Adipati tidak bertanggung jawab. Kakangmas Adipati juga turun kemedan. Tetapi kakangmas Adipati harus mengakui kenyataan yang dihadapinya. Karena itu maka kakangmas Adipati telah masuk kembali ke istana dan bersembunyi.“

“Aku ingin berbicara dengan adimas Adipati,“ berkata Panembahan Senapati.

Adik angkatnya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berlutut kembali sambil berkata, “Ampun kakangmas. Aku mohon kakangmas sudi mengampuni kakangmas Adipati. Sebenarnya kesalahan utama tidak terletak pada kakangmas Adipati. Kakangmas Adipati sama sekali tidak berniat untuk menguasai tahta Pajang. Jika ia berada di Pajang, hanyalah karena kakangmas Adipati terpaksa menerima kedudukan yang dibebankan di pundaknya.”

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Sementara pertempuran disekitar istana telah berhenti. Para prajurit Demak dan Pajang benar-benar telah menyerah. Sementara itu seorang utusan memberitahukan bahwa Pange ran Benawa telah berada didepan istana.”

“Silahkan adimas Pangeran Benawa masuk. Aku sudah ada di sini sejak tadi,“ berkata Panembahan Senapati.

Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawapun telah hadir pula diistana. Sementara isteri Kangjeng Adipati itupun telah bangkit berdiri pula. Dengan nada rendah dan tersendat ia berkata, “Adimas Pangeran Benawa. Kami mohon maaf bahwa kami telah membuat adimas Pangeran Benawa dan kakangmas Panembahan Senapati marah.”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Dimana kakangmas Adipati.”

“Aku juga sedang mempertanyakannya,“ sahut Panembahan Senapati.

Gusti Putri, isteri Kangjeng Adipati itupun kemudian berkata pula diantara isaknya yang semakin mereda, “Kakangmas Panembahan Senapati serta adimas Pangeran Benawa. Biarlah aku memanggil kakangmas Adipati. Tetapi aku mohon kakangmas Panembahan Senapati dan Adimas Pangeran Benawa sudi memaafkannya. Ia sudah menyatakan untuk menyerah.”

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Meskipun terasa sesuatu bergejolak didalam hatinya, tetapi ia tidak ingin menyinggung perasaan adik angkatnya yang memang sudah dicengkam oleh ketakutan itu.

Karena itu, maka Panembahan Senapati itupun berkata, “Kami tidak akan menyakitinya. Ajaklah ia kemari.”

Adik angkat Panembahan Senapati yang juga kakak perempuan Pangeran Benawa itu masih juga ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian telah bergeser dan kemudian masuk keruang dalam, istana untuk memanggil Adipati Demak.

Demikian isteri Kangjeng Adipati itu menghilang, maka Panembahan Senapati berkata, “Aku lebih menghormatinya jika ia berada di medan.”

“Ya kakangmas,“ sahut Pangeran Benawa, “seharusnya kakangmas Adipati tidak bersembunyi.”

“Anakmas Adipati Demak juga seorang prajurit yang baik,“ sahut Ki Juru Martani, “tetapi dihadapan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa, Kangjeng Adipati tentu mempunyai perhitungan tersendiri.”

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan ia tidak kehilangan sikap keprajuritannya itu.”

Pangeran Benawa tidak sempat menjawab. Sejenak kemudian Adipati Demak itupun telah datang. Berjalan sambil menundukkan kepalanya dibelakang Gusti Putri. Agaknya Adipati Demak itu tidak dapat berbuat lain daripada berperisai Gusti Putri.

Sejenak kemudian, maka Kangjeng Adipati itu telah duduk bersama-sama dengan Panembahan Senapati, Pangeran Benawa, Ki Juru Martani dan Gusti Putri. Sementara itu, di pintu nampak prajurit Mataram yang berjaga-jaga.

“Pertempuran telah selesai Adimas Adipati,“ berkata Panembahan Senapati.

Adipati Demak itu masih saja menunduk. Sementara itu Panembahan Senapatipun berkata pula, “Aku ingin mendengar pernyataanmu Adimas?”

Wajah Adipati Demak menjadi panas. Sikap Panembahan Senapati itu membuat hatinya bergejolak. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Adipati Demak di Pajang itu sudah mendapat laporan bahwa prajurit Demak dan Pajang sudah terkoyak disegala sudut medan pertempuran. Bahkan di halaman istana sebagai landasan pertahanan lapis ketiga, sudah tidak mampu bertahan lagi. Disegala bagian halaman istana telah dikuasai oleh para prajurit Mataram dan Jipang. Bahkan para prajurit Demak dan Pajang sudah menyerah hampir seluruhnya.

Karena Adipati Demak di Pajang itu tidak segera men jawab, maka Panembahan Senapati itupun mengulangi kata-katanya, “Adimas Adipati. Aku ingin mendengar pernyataanmu setelah perang ini berakhir.”

Kangjeng Adipati memang tidak dapat berkata lain kecuali menyatakan, “Aku sudah tidak berkekuatan lagi kakangmas.”

“Apakah kau menyerah?“ desak Panembahan Senapati.

Adipati Demak itu memandang isterinya sekilas. Kemudian memandang Pangeran Benawa yang tegang.

Nampaknya Adipati Demak memang ragu-ragu untuk menyatakan kekalahannya. Meskipun ia tidak akan dapat ingkar dari kenyataan itu.

Namun isterinyalah yang tidak tahan lagi sehingga menjawab, “Sudah tentu kakangmas Adipati menyerah.”

Adipati Demak di Pajang itu berpaling sekilas kepada isterinya. Ada seleret ketidak relaan membayang di wajahnya.

Panembahan Senapati tanggap akan hal itu. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu, Pangeran Benawa, adik Gusti Putri itu bertanya, “Atau kakangmas Adipati mempunyai persyaratan tertentu? Misalnya, karena kakangmas Adipati seorang prajurit, maka kekalahannya baru diakui setelah ia benar-benar kalah sebagaimana kekalahan seorang prajurit?”

“Apa maksudmu adimas?“ bertanya Gusti Putri.

“Mungkin kakangmas Adipati ingin menentukan siapakah sebenarnya yang paling kuat diantara kita. Seorang pemimpin memang harus memiliki kelebihan. Kakangmas Adipati, aku atau kakangmas Panembahan Senapati. Karena itu, jika hal itu menjadi persyaratan kakangmas Adipati untuk menentukan sikapnya, maka aku bersedia. Kakangmas Panembahan Senapatipun tentu bersedia pula,“ berkata Pangeran Benawa selanjutnya.

“Maksudmu perang tanding ?“ bertanya isteri Kangjeng Adipati itu.

“Ya,“ jawab Pangeran Benawa, “aku tidak berkeberatan.”

“Tidak, tentu tidak,“ desis Gusti Putri itu.

“Yang menentukan bukan kakangmbok. Tetapi kakangmas Adipati,“ jawab Pangeran Benawa.

Adipati Demak di Pajang itu tidak dapat terus-menerus berdiam diri. Agaknya Pangeran Benawa memang menjadi marah melihat sikap Adipati Demak. Apalagi Pangeran Benawa tahu, bahwa kakak iparnya itu bukan seorang Senapati yang tangguh di peperangan.

Karena itu, maka Adipati Demak itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Adimas Pangeran Benawa dan kakangmas Panembahan Senapati. Aku tidak dapat berkata apa-apa selain mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah aku lakukan.”

“Hanya itu?“ bertanya Pangeran Benawa, “seperti yang ditanyakan oleh kakangmas Panembahan Senapati bagaimana sikap serta pernyataan kakangmas Adipati. Bukan sekedar pengakuan bahwa kakangmas sudah tidak mempunyai kekuatan lagi.”

“Baiklah,“ berkata Kangjeng Adipati itu, “aku menyerah.”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk kecil. Sementara Panembahan Senapati berkata, “Pernyataan itulah yang aku harapkan. Dengan demikian, adimas Adipati akan selalu teringat-apa yang sudah adimas ucapkan sebagai seorang Adipati. Tentu bukan sekedar igauan di waktu tidur nyenyak. Apa yang adimas ucapkan tentu sudah adimas pikirkan masak-masak dan kemudian menjadi satu keyakinan, bahwa jalan itu adalah jalan terbaik bagi Pajang.”

“Ya kakangmas,“ jawab Adipati Demak di Pajang, “sebenarnya sejak semula aku tidak berniat merebut kedudukan yang memang pantas bagi adimas Pangeran Benawa. Tetapi keputusan sidang agung itu telah mengikat aku dalam kedudukanku itu. Apalagi aku menganggap bahwa kedudukanku itu adalah kedudukan yang sah.”

“Kedudukan kakangmas sah,“ sahut Pangeran Benawa dengan serta merta, “sampai sekarangpun kami tidak pernah mempersoalkan kedudukan itu. Yang kami persoalkan adalah cara kakangmas memerintah Pajang. Sikap kakangmas dan orang-orang yang ada disekitar kakangmas, yang memanfaatkan keadaan bagi keuntungan diri sendiri. Aku tidak tahu apakah kakangmas memang tidak melihat atau berpura-pura tidak melihat, apa yang dilakukan oleh para pemimpin disini. Baik para pemimpin dari Demak yang telah mendapat kenaikan pangkat dan jabatan bagi mereka yang bertugas di Pajang, maupun para pemimpin dari Pajang sendiri. Mereka telah menginjak-injak paugeran yang seharusnya ditegakkan di Pajang. Mereka telah memeras bukan saja lewat pungutan pajak yang tidak masuk akal. Tetapi juga beberapa tanah perdikan telah mereka peras dengan alasan-alasan yang dibuat-buat serta ancaman-ancaman yang licik.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk kecil sambil menjawab perlahan, “Aku juga telah menerima laporan. Aku baru mulai melakukan pengusutan.”

“Kami belum melihat tanda-tanda itu adimas,“ sahut Panembahan Senapati, “karena itu, kami datang untuk mempercepat langkah-langkah penertiban itu sebelum Pajang benar-benar menjadi lumat.”

Kangjeng Adipati tidak menjawab. Ia, tentu tidak akan dapat menyembunyikan kelemahan-kelemahan dalam pemerintahannya karena kelemahan-kelemahan itu sudah menjadi demikian besarnya sehingga pemerasan dan penindasan telah terjadi dimana-mana.

Karena itu, maka Kangjeng Adipati itu merasa lebih baik diam saja.

“Baiklah,“ berkata Panembahan Senapati kemudian, “besok kita akan membuat satu persetujuan. Sekarang, aku harus kembali kepada prajurit-prajuritku. Menentukan langkah-langkah berikutnya bukan saja atas Pajang, tetapi juga atas para prajurit Demak dan Pajang yang menyerah. Kita harus mengurus korban yang jatuh dari kedua belah pihak. Kita juga harus mengurus tempat-tempat yang dapat dipergunakan untuk beristirahat bagi para prajurit Mataram dan Jipang. Kita masih harus berbuat banyak.”

Kangjeng Adipati mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan melakukan apa yang kakangmas perintahkan.”

“Baiklah. Aku minta adimas sama sekali tidak meninggalkan istana kemanapun perginya. Jika itu adimas lakukan, maka akan menjadi sangat berbahaya, karena tidak semua prajurit Mataram dan Jipang mengetahui siapakah Adimas sebenarnya. Karena itu, kemungkinan buruk akan dapat terjadi atas Adimas,“ berkata Panembahan Senapati pula.

Kangjeng Adipati Demak di Pajang itu mengerti maksud Panembahan Senapati pula.

Kangjeng Adipati Demak di Pajang itu mengerti maksud Panembahan Senapati. Maksud Panembahan Senapati, ia telah menjadi seorang tawanan. Karena itu, Kangjeng Adipatipun sadar, bahwa istana itu tentu akan dikelilingi oleh para prajurit Mataram dan Jipang. Sementara itu, Adipati Demak itupun tidak lagi dapat berhubungan dengan para Panglimanya sehingga ia telah menjadi seorang diri. Meskipun Gusti Putri ada disampingnya, namun tidak banyak yang dapat dilakukannya bagi pemerintahan di Pajang disaat keadaan menjadi semakin gawat.

Demikianlah, maka Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah minta diri. Mereka masih mempunyai tugas yang cukup banyak untuk menertibkan para prajurit mereka masing-masing.

Sementara itu, Ki Juru telah mendapat perintah untuk menempatkan seorang Panglima di istana Adipati Pajang.

“Biarlah Panglima itu menemani Adimas Adipati,“ berkata Panembahan Senapati.

“Bagaimana jika angger Pangeran Singasari?“ bertanya Ki Juru.

“Jangan,“ jawab Panembahan Senapati, “Adimas Pangeran Singasari bukan orang yang dapat bersabar. Aku takut bahwa ia akan melakukan tindakan yang keras terhadap adimas Adipati.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Panembahan. Hamba akan mendapatkannya nanti. Mungkin Pangeran Mangkubumi, tetapi mungkin orang lain lagi yang pantas.”

Demikianlah, maka Panembahan Senapati dan Pangeran Benawapun telah kembali ke induk pasukan mereka masing-masing. Para penghubung telah hilir mudik untuk dengan cepat mendapatkan hubungan antara kesatuan baik dari Mataram maupun dari Jipang.

Sementara itu langitpun telah menjadi semakin buram Dimana-mana lampu mulai dinyalakan. Namun rumah-rumah penduduk kota Pajang masih saja menutup pintu rumah mereka. Jika mereka menyalakan lampu, maka terangnya terbatas sekali diruang yang paling dalam.

Para panglimapun segera memerintahkan untuk membersihkan kota. Bukan saja prajurit Mataram dan Jipang yang mengelilingi setiap lorong untuk menemukan prajurit-prajuritnya yang terluka dan gugur dipeperangan, tetapi baik Mataram maupun Jipang telah membawa pula prajurit Demak dan Pajang yang tertawan untuk merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh di pertempuran.

Beberapa buah rumah yang cukup besar telah dipinjam oleh para prajurit untuk tempat peristirahatan mereka. Banjar-banjar padukuhan, banjar-banjar Kademangan dan tempat-tempat lain yang memungkinkan. Sementara itu barak-barak para prajurit Demak dan Pajang justru telah dipergunakan untuk menawan prajurit-prajurit Demak dan Pajang itu sendiri.

Sejauh mungkin dapat dilakukan, maka mereka yang terluka telah dikumpulkan pula ditempat-tempat yang telah ditentukan. Sedangkan yang telah terbunuh dipeperangan telah diusahakan untuk dapat dikuburkan dikeesokan harinya.

Dalam pada itu para pemimpin kelompok telah sibuk menghitung anak buah mereka. Sementara yang kehilangan telah berusaha untuk mencari keterangan tentang orang-orang yang terbunuh dan yang terluka parah.

Suasana kota Pajang tidak ubahnya dengan suasana kematian itu sendiri. Hanya prajurit yang meronda sajalah yang hilir mudik disepanjang jalan-jalan kota dan lorong-lorong yang silang menyilang.

Sementara itu, di barak pasukan Pajang yang dipimpin oleh Ki Tmenggung Surajaya masih berada dalam kesiagaan penuh. Ki Tumenggung sama sekali tidak dapat membayangkan, apa yang dapat terjadi atas barak dan pasukannya. Tetapi Ki Tumenggung merasa bahwa sikap para prajurit yang ada di barak itu sudah menyatu. Ki Tumenggung tidak merasa bahwa ia telah menipu, membujuk atau mengelabui para prajuritnya atau menyalah gunakan kekuasaannya untuk memaksa mereka agar mengikuti jejak. Ia sudah memberikan keleluasaan kepada setiap orang yang tidak sependapat, agar meninggalkan barak itu sebelum pintu gerbang barak itu ditutup rapat-rapat.

Malam itu, Ki Tumenggung telah memanggil para pemimpin kesatuan dalam pasukannya. Beberapa orang Panji dan Lurah Penatus. Dengan tegang mereka membicarakan apa yang telah terjadi di Pajang, diluar dinding barak mereka.

“Mataram dan Jipang telah menguasai keadaan sepenuhnya,“ berkata Ki Tumenggung.

“Ya. Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah menemui Kangjeng Adipati di istana,“ sahut petugas sandi yang baru saja kembali dari tugasnya mengamati keadaan.

“Kita belum tahu apa yang mereka bicarakan. Tetapi kita akan tetap bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Buruk atau baik,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya. Lalu katanya pula, “Karena itu, maka setiap orang harus bersiap lahiriah dan batiniah.”

Para pemimpin di barak itu mengangguk-angguk. Namun nampak pada wajah-wajah mereka, bahwa jantung mereka telah dicangkok oleh ketegangan. Semakin lama ketegangan itu rasa-rasanya semakin kuat menekan jantung mereka sehingga rasa-rasanya jika keadaan tidak segera menjadi jelas, jantung mereka akan dapat berhenti dengan sendirinya.

Ki Tumenggung Surajaya menyadari akan hal itu. Tetapi ia masih belum merasa perlu mengambil langkah-langkah khusus, karena keadaan yang gawat itu belum ke tataran tertinggi.

Ketika kemudian Ki Tumenggung mempersilahkan para pemimpin kesatuan itu kembali ke prajurit mereka masing-masing, maka beberapa orang diantara mereka masih berkelompok untuk mencoba mengurusi peristiwa yang terjadi di Pajang.

Kesadha yang merasa letih, bukan saja tubuhnya tetapi juga jiwanya, telah berbaring di serambi belakang barak itu. Yang membuatnya gelisah, bukan saja pasukan Pajang. Demak. Mataram atau Jipang. Tetapi juga tentang dirinya sendiri.

Seandainya ia tidak lagi menjadi seorang prajurit, lalu apa yang akan dilakukannya kemudian? Berkeliaran seperti Ki Rangga Gupita, seorang yang selalu mengaku sebagai ayahnya dimana-mana, namun yang sebenarnya sekedar untuk mendapat kesempatan memperalatnya menguasai Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Satu-satu muncul diangan-angannya, kenangan masa lampaunya. Bayangan hitam yang selalu menyelubunginya serta masa depannya yang tiba-tiba saja menjadi kabur kembali.

Ketika ia diterima menjadi seorang prajurit, maka ia merasa bahwa ia telah mendapatkan tempat yang mapan untuk hinggap. Seandainya ia seekor burung, maka ia tidak lagi berterbangan kian kemari tanpa tujuan. Sebelumnya justru disaat nya mulai mengembang serta keinginannya melihat dunia lebih luas lagi, terasa bulu-bulu sayapnya telah diikat oleh orang yang tamak meskipun orang itu adalah ibunya sendiri bersama laki-laki yang dianggapnya sebagai suaminya untuk menentukan arah terbangnya.

Tetapi Kasadha merasa beruntung, bahwa ia telah mampu memutuskan tali-tali yang mengikat nya itu dan bahkan mampu menempuh perjalanan hidupnya sendiri, melepaskan diri dari bayangan hitam orang tuanya.

Namun, disaat ia merasa mendapat tempat untuk hinggap itu, Pajang telah diguncang. Goncangan pertama, disaat Mataram mengalahkan Pajang dan kemudian Kangjeng Sultan Hadiwijaya wafat, ia masih tetap bertahan di tempatnya. Tetapi goncangan kedua yang tidak berselang lama, telah membuatnya gelisah.

Tetali betapapun ia memikirkan keadaannya sampai terasa keningnya berdenyut, ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengambil kesimpulan apa-apa. Karena itu, maka ia justru berusaha melepaskan diri dari kegelisahan itu.

Tiba-tiba Kasadha itu telah bangkit. Iapun kemudian menempatkan diri diantara prajuritnya yang bertugas di bagian belakang barak itu.

“Ki Lurah tidak beristirahat ?“ bertanya salah seorang pemimpin kelompoknya.

Ki Lurah Kasadha yang masih terhitung muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Aku masih ingin melihat suasana.”

“Sepi,“ berkata pemimpin kelompok itu, “jika kita naik ke panggungan dibelakang dinding dan melihat keluar, kita hanya melihat kegelapan. Seandainya kita harus meloncat turun, rasa-rasanya kita tidak tahu, apakah yang ada dibawah kaki kita. Apakah amben yang bergalar lembut, atau sekedar potongan-potongan kayu yang silang melintang, atau bahkan potongan bambu yang runcing yang ditanam tegak menghadap kebadan kita.”

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Aku ingin melihat kesepian itu.”

Pemimpin kelompok yang sudah lebih tua dari Kasadha itu melihat kegelisahan dihati Lurah yang masih muda itu sejak beberapa lama. Sejak ia mendapat perintah untuk memasuki Tanah Perdikan Gemantar. Kemudian persoalan Tanah Perdikan Sembojan serta yang nampak membuatnya semakin parah adalah kehadiran orang yang mengaku ayahnya itu.

Ketika kemudian Kasadha naik keatas punggung dibelakang dinding baraknya, pemimpin kelompok itu mengikutinya. Dua orang prajurit telah berada diatas untuk mengamati keadaan.

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh pemimpin kelompok itu, bahwa keadaan disekitar barak itu memang sepi sekali. Bahkan rumah-rumah yang nampak di padukuhan terdekat, seakan-akan tidak lagi mempergunakan lampu. Jika ada satu dua nyala obor, maka hal itu terbatas sekali di pintu-pintu gerbang padukuhan atau di banjar-banjar yang menjadi bagian dari tempat-tempat yang dipergunakan oleh prajurit Mataram dan Jipang.

Beberapa saat lamanya Kasadha merenungi kesepian disekitarnya. Yang nampak adalah dunia yang sejalan dengan dunianya sendiri.

“Ki Lurah,“ tiba-tiba pemimpin kelompok yang mengikutinya itu berkata, “sebaiknya Ki Lurah beristirahat. Ada banyak hal yang menguntungkan jika Ki Lurah sempat tidur barang sejenak.”

“Aku tidak dapat tidur,“ jawab Kasadha.

“Jika Ki Lurah berhasil melepaskan segala persoalan didalam diri Ki Lurah, maka Ki Lurah akan tidur barang sejenak. Ki Lurah sebaiknya menyadari, bahwa segala macam kerisauan didalam diri itu tidak akan dapat diselesaikan sendiri malam ini. Karena itu, maka sebaiknya hal itu dapat di letakkan barang sebentar untuk memberikan kesempatan wadag Ki Lurah beristirahat. Bahkan juga hati Ki Lurah,“ berkata pemimpin kelompoknya itu.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Aku akan mencoba sekali lagi untuk beristirahat. Tetapi tidak diserambi. Aku justru merasa mengantuk disini.”

“Ki Lurah akan tidur disini?“ bertanya pemimpin kelompok itu.

“Ya. Sebentar lagi bulan tua itu akan terbit. Kemarin bulan tua itu agaknya menjadi isyarat kedua pasukan Mataram dan Jipang mulai bergerak,“ berkata Ki Lurah Kasadha, “sekarang aku akan mencoba tidur disini, apakah aku sempat melihat bulan tua itu terbit atau tidak.”

“Mudah-mudahan tidak Ki Lurah. Jika Ki Lurah sempat melihat bulan tua itu terbit, maka Ki Lurah tidak akan tidur sama sekali, karena bulan akan terbit lebih pagi dari malam sebelumnya,“ jawab pemimpin kelompok itu Kasadha menarik nafas dalam-dalam.

Namun sejenak kemudian iapun telah duduk disudut panggungan itu sambil menyandarkan kepalanya. Angin malam yang sejuk berhembus mengusap wajahnya yang gelisah.

Namun rasa-rasanya Kasadha menjadi lebih tenang berada diantara kedua prajuritnya yang sedang bertugas. Namun iapun kemudian berkata kepada pemimpin kelompok itu, “Beristirahatlah. Bukan hanya aku yang perlu beristirahat.”

“Aku sudah tidur sejak lewat senja. Aku belum lama terbangun,“ jawab pemimpin kelompok itu.

Kasadha tidak bertanya lagi. Ia memang mencoba untuk menyingkirkan kegelisahannya dari angan-angannya.

Pemimpin kelompok itu tidak mengganggunya lagi. Iapun kemudian duduk saja disudut yang lain. Sementara kedua orang prajurit yang bertugas itu menjadi gelisah pula. Bukan karena persoalan-persoalan yang menyangkut Pajang dan Mataram. Tetapi keduanya memang merasa terganggu oleh kehadiran Kasadha dan pemimpin kelompok itu. Meskipun demikian kedua orang prajurit itu tidak dapat mengusir mereka.

Sebenarnyalah ditempat itu, Kasadha justru dapat memejamkan matanya sambil duduk bersandar sudut panggungan. Demikian juga pemimpin kelompok yang mengaku baru saja terbangun itu. Ternyata iapun telah tertidur pula.

Malam itu, seluruh kota memang terasa hening. Tidak ada peristiwa yang menghentakkan para prajurit dan para penghuni kota. Lewat tengah malam, para prajurit yang membersihkan bekas arena pertempuran telah beristirahat dan akan dilanjutkannya dikeesokan harinya. Namun malam itu telah terkumpul sebagian besar para prajurit yang terluka dan terbunuh.

Ketika fajar mulai membayang, pemimpin kelompok yang tertidur dipanggungan itu telah terbangun. Dua orang prajurit yang bertugas telah berganti orang. Namun Kasadha masih juga tertidur ditempatnya. Agaknya ia justru dapat beristirahat cukup baik ditempat itu daripada ditempat yang telah disediakan baginya.

Tetapi ketika pemimpin kelompok itu bangkit, maka Kasadhapun telah membuka matanya pula. Sambil menggeliat ia bertanya, “Apakah bulan sudah terbit?”

“Ternyata bulan tua itu baru saja mulai memanjat langit,“ jawab pemimpin kelompok itu.

“Kau lihat saat bulan itu terbit?“ bertanya Kasadha itu pula.

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Ia tidak mengerti, kenapa Kasadha yang keras dan garang itu tiba-tiba hatinya menjadi lunak dan bahkan seolah-olah sedang merajuk. Apakah kegelisahannya itu sudah demikian memuncak sehingga ia tidak lagi mampu mengatasinya?

Namun pemimpin kelompok itu tidak akan segera mendapat jawabannya. Justru ialah yang harus menjawab pertanyaan Kasadha.

“Ternyata aku juga tertidur Ki Lurah, sehingga aku tidak dapat melihat bulan itu terbit.”

Ki Lurah Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berkata, “Aku akan ke barak.”

Ketika matahari terbit, Ki Lurah Kasadha telah selesai berbenah diri, Demikian juga para prajurit yang lain. Sejenak kemudian, maka para pemimpin kesatuan di barak itu telah dipanggil oleh Ki Tumenggung Surajaya.

“Ada sesuatu yang penting,“ berkata Ki Tumenggung.

Para pemimpin yang ada dibarak itupun menjadi berdebar-debar. Semalam Ki Tumenggung belum mengatakan hal yang dianggapnya penting itu.

“Aku telah menerima utusan langsung yang dikirim oleh Ki Juru Martani,“ berkata Ki Tumenggung.

“Untuk apa?” bertanya salah seorang perwira.

Ki Tumenggung itupun termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam iapun berkata, “Ki Juru Martani akan datang ke barak ini siang nanti, menjelang tengah hari.”

Berita itu membuat setiap orang menjadi berdebar-debar. Mereka tidak tahu, perintah atau petunjuk atau ancaman apakah yang akan dibawanya. Namun sudah tentu bahwa mereka tidak akan dapat menolak kehadiran Ki Juru Martani itu sendiri.

Sementara itu, Ki Tumenggung Surajayapun berkata lebih lanjut, “Kita semuanya akan menemuinya. Aku ingin kalian semuanya mendengar langsung apa yang akan dikatakan oleh Ki Juru Martani itu.”

Para pemimpin dari padepokan itupun mengangguk-angguk. Mereka semuanya memang ingin mendengar pembicaraan Ki Tumenggung dengan Ki Juru Martani. Mungkin ada angin baru yang lebih segar dari udara berdebu yang menyesakkan sebelumnya.

Selanjutnya Ki Tumenggung berkata, “Bersiap-siaplah apapun yang akan dikatakan oleh Ki Patih mengenai barak kita ini. Hitam, putih atau kuning, kita tidak akan dapat ingkar akan akibatnya.”

Para perwira yang ada di barak itu mengangguk-angguk. Mereka memang menyadari bahwa sesuatu yang paling buruk akan dapat terjadi. Mungkin orang-orang Mataram menganggap seisi barak itu sudah berkhianat, sehingga memang harus dihukum. Atau kesalahan lain, bahwa Ki Tumenggung Surajaya tidak tegas-tegas membantu Mataram atau Jipang.

Namun selain kehadiran Ki Juru Martani, maka Ki Tumenggung juga berkata, “Kemudian persoalan lain yang ingin aku katakan kepada kalian ialah bahwa kita tidak lagi mempunyai persediaan beras. Hari ini kita masih dapat makan meskipun tidak lagi sebanyak sebelumnya. Tetapi nasi yang kita makan sore nanti adalah nasi yang terakhir dapat disediakan buat kita.”

Para perwira itu termangu-mangu sejenak. Ternyata kekurangan makanan juga akan dapat menjadi ancaman bagi seisi barak itu. Jika keadaan di luar barak itu dapat segera menjadi baik, maka Ki Tumenggung akan dapat membuat hubungan dengan pihak-pihak tertentu untuk membeli atau meminjam beras. Tetapi jika tidak, maka para perwira itu tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi.

“Aku ingin mendengar pendapatmu,“ berkata Ki Tumenggung.

Seorang diantara para perwira itu kemudian mencoba untuk berpendapat. Katanya, “Kita kumpulkan uang yang ada didalam barak ini. Kita akan membeli beras keluar.”

“Itulah yang sulit. Apakah kita akan dapat membawa beras dari tempat kita membeli memasuki barak ini?“ berkata Ki Tumenggung. Lalu katanya pula, “Jika beras kita itu kemudian dilihat oleh sepasukan prajurit darimanapun, dari Mataram atau Jipang, maka pembawa beras itu tentu akan mereka tangkap dan berasnya mereka rampas.”

Para perwira itu terdiam. Mereka menyadari, bahwa sikap prajurit di peperangan kadang-kadang tidak dapat dimengerti oleh banyak orang.

“Apakah kita akan menghubungkan kesulitan ini dengan kehadiran Ki Juru Martani?“ bertanya Ki Tumenggung pula.

“Hubungan yang bagaimana Ki Tumenggung?“ bertanya seseorang.

“Aku belum dapat mengatakannya. Tetapi bahwa kita kehabisan beras itu akan menjadi dasar utama keputusan kita dalam pembicaraan dengan Ki Patih,“ berkata Ki Tumenggung.

Para perwira itu mengetahui maksud Ki Tumenggung. Mereka memang tidak dapat ingkar, bahwa mereka benar-benar tidak berdaya dalam keadaan yang sulit itu. Tanpa beras maka mereka akan mengalami bencana.

Karena tidak ada seorangpun yang menyahut, maka Ki Tumenggung berkata, “Baiklah. Agaknya kalian sependapat. Tetapi aku berjanji bahwa aku tidak akan merendahkan martabat dan harga diri kalian dalam pembicaraan nanti. Kalian akan dapat mendengar langsung pembicaraan itu.”

Dengan demikian pertemuan itupun telah dapat diakhiri. Para perwira itu harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan tidak kurang dari Ki Juru Martani sendiri yang akan datang mengunjungi barak itu.

Dalam pada itu, sebelum Ki Juru Martani pergi ke barak KiiTumenggungSurajaya, maka Ki Patih telah mendapat tugas untuk menyertai Panembahan Senapati menemui Kangjeng Adipati Demak di Pajang bersama Pangeran Benawa. Namun sebelum mereka memasuki istana, maka mereka telah sepakat untuk menjatuhkan hukuman kepada Kangjeng Adipati Demak di Pajang itu.

“Kita kirimkan Adipati Demak itu kembali ke Demak. Biarlah ia berada dilingkungannya kembali.”

Semua pemimpin yang dibawanya dari Demak harus dibawanya kembali. Sementara itu, para prajurit Demak yang tertawan akan dilepaskan berangsur-angsur,“ ulang Panembahan Senapati atas kesepakatan mereka.

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Biarlah kakangmas Adipati membawa kembali budak dan hamba sahaya yang banyak dibawanya dari Demak. Budak-budak yang kemudian dipersenjatai dan tampil di medan itu, sengaja atau tidak disengaja, banyak yang jatuh menjadi korban. Tetapi bukankah itu bukan salah prajurit-prajurit kita?”

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Iapun menaruh perhatian yang besar terhadap para budak, hamba sahaya dan orang-orang yang dianggap lebih rendah martabatnya dari orang-orang Demak itu sendiri.

Dengan landasan pendapat Pangeran Benawa dan Panembahan Senapati itu, maka keduanya bersama dengan Ki Patih Mandaraka telah menemui Kangjeng Adipati yang sudah tidak berdaya untuk menentukan sikap sendiri.

Karena itulah, maka ia tidak dapat menolak keputusan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa yang disampaikan kepada Kangjeng Adipati itu, bahwa Kangjeng Adipati akan diantar kembali ke Demak.

“Siapakah yang akan mengantar aku?“ bertanya Kangjeng Adipati, “prajurit-prajuritku sendiri atau prajurit Mataram dan Jipang?”

“Prajurit Mataram dan Jipang,“ jawab Panembahan Senapati.

“Tetapi … “ Gusti Puteri memotong, “tetapi bukankah kakangmas Panembahan Senapati dan Adimas Pangeran Benawa bertanggung jawab atas keselamatan kakangmas Adipati?”

“Tentu diajeng,“ jawab Panembahan Senapati, “orang-orang yang kami tugaskan membawa adimas dan diajeng berdua akan bertanggungjawab sepenuhnya atas keselamatan kalian berdua. Mereka adalah orang-orang kami yang terpercaya. Namun dalam pada itu, adimas juga kami persilahkan menunjuk sekelompok prajurit Demak yang akan mengiringi perjalanan itu. Sekelompok orang yang akan membawa tandu bagi diajeng Adipati. Aku yakin bahwa sekelompok prajurit Demak yang terpercaya itu tidak akan melakukan tindakan yang akan dapat merugikan adimas Adipati sendiri.”

Kangjeng Adipati Demak mengerti ancaman Panembahan Senapati itu. Tetapi iapun berkata, “Terima kasih atas kepercayaan kakangmas Panembahan Senapati.”

“Baiklah besok adimas berangkat menuju ke Demak. Besok sebelum matahari terbit kami persilahkan adimas beserta iring-iringan itu berangkat menuju ke Demak. Satu perjalanan yang panjang dan memerlukan waktu yang lama. Yang akan naik kuda hanyalah adimas Adipati dan beberapa orang perwira. Yang lain akan berjalan kaki sambil mengusung tandu. Karena itu, harus dibawa orang secukupnya yang akan dapat berganti-ganti membawa tandu itu,“ berkata Panembahan Senapati.

Kangjeng Adipati tidak dapat berpendapat apapun juga. Ia memang hanya sekedar menjalaninya.

Namun dalam pada itu, Gusti Putri, isteri Kangjeng Adipati yang juga kakak perempuan Pangeran Benawa dengan nada rendah berkata, “Apakah kakangmas Panembahan Senapati dan adimas Pangeran Benawa menganggap Wakangmas Adipati sumber dari peristiwa ini dan kemudian menganggap bahwa kakangmas Adipati harus dihukum ?”

“Apakah kita masih perlu mencari siapakah yang bersalah? “ justru Pangeran Benawalah yang bertanya.

Kakak perempuan Pangeran Benawa itu menarik nafas dalam-dalam. Sebagai putera puteri Kangjeng Sultan Hadiwijaya maka iapun memiliki pandangan yang cukup tentang pemerintahan meskipun berbeda dengan kesempatan yang diperoleh saudaranya laki-laki.

“Kakangmbok,“ berkata Pangeran Benawa kemudian, “aku tahu yang kakangmbok maksudkan. Kakangmas Adipati berada di Pajang bukan karena kemauannya sendiri. Kakangmas ditunjuk untuk memimpin pemerintahan sepeninggal ayahanda Sultan Hadiwijaya oleh keputusan pertemuan keluarga istana Pajang. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, kami tidak dapat membiarkan kekacauan pemerintahan terjadi. Jika kami datang sekarang, adalah karena kami tidak sampai hati melihat perkembangan keadaan Pajang dipandang dari beberapa segi. Bukankah kakangmbok sebagai putera puteri ayahanda Sultan Hadiwijaya juga merasakannya, betapa pahitnya hati kita melihat perkembangan keadaan Pajang dimasa-masa terakhir.”

Gusti Putri itu menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya dipandanginya Kangjeng Adipati sekilas, seakan-akan iapun ikut menyesali apa yang telah terjadi di Pajang. Terutama sikap Kangjeng Adipati disaat-saat terakhir, karena Kangjeng Adipati tidak berusaha untuk mencari jalan keluar menghindari pertempuran yang terjadi antara Mataram dan Jipang melawan Demak dan Pajang.

Demikianlah, maka Kangjeng Adipati tidak dapat mengelak lagi. Iapun sebenarnya menyesal pula bahwa perang telah terjadi, sehingga ia harus terusir dari Demak seakan-akan prajurit yang kalah perang. Jika ia mengambil jalan lain, mungkin ia akan kembali ke Demak dengan cara yang lebih terhormat.

Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur.

Hari itu, Kangjeng Adipati dan keluarganya telah berbenah diri. Mereka besok pagi-pagi akan kembali ke Demak diantar oleh iring-iringan prajurit Mataram dan Jipang. Meskipun Panembahan Senapati mengijinkannya membawa pasukan khusus dari Demak, tetapi jumlahnya tentu hanya kecil saja. Sedangkan yang banyak diperlukan adalah orang-orang yang akan memanggul tandu bagi Gusti Putri.

Dalam pada itu, setelah pertemuan dengan Kangjeng Adipati, maka Ki Juru Martani telah minta ijin kepada Panembahan Senapati untuk bertemu dengan Ki Tumenggung Surajaya.

“Aku telah mengirim utusan untuk memberitahukan kepadanya bahwa aku akan datang,“ berkata Ki Juru Martani.

“Silahkan paman,“ jawab Panembahan Senapati, “Tumenggung Surajaya memang memerlukan penanganan khusus. Pasukannya cukup kuat untuk mengacaukan Pajang jika kita tidak dapat melakukan pendekatan dengan baik. Aku yakin, bahwa Ki Tumenggung Surajaya memiliki pendirian yang kuat sehingga ia memerlukan penjelasan yang masuk diakalnya. Meskipun jika sangat terpaksa kita akan dapat menghancurkan pasukan itu, tetapi kita harus memberikan korban yang cukup banyak, sementara Ki Tumenggung Surajaya nampaknya sudah siap untuk mati sampai orang yang terakhir.”

“Ya anakmas. Tetapi nampaknya sikap Ki Tumenggung Surajaya itu ditujukan kepada angger Adipati Demak di Pajang,“ berkata Ki Juru.

“Mula-mula memang begitu,“ jawab Panembahan Senapati, “tetapi kita tidak dapat menduga perkembangan jalan pikiran Tumenggung Surajaya itu. Karena itu, maka aku sependapat sekali jika Paman Juru Martani sendiri datang menemuinya. Mudah-mudahan besok demikian adimas Adipati Demak kembali ke Demak, persoalan Tumenggung Surajaya itu segera dapat diselesaikan, sehingga keadaan Pajang benar-benar menjadi tenang. Dengan demikian maka kita akan dapat menentukan langkah-langkah berikutnya tanpa merasa terganggu.”

Ki Juru Martanipun kemudian telah minta diri. Bersama dengan dua orang pengawal terpercaya diiringi ampat orang perwira, Ki Juru telah menuju ke barak Ki Tumenggung Surajaya sebagaimana pernah diberitahukan sebelumnya.

Menjelang tengah hari, maka Ki Juru telah berada didepan pintu gerbang halaman barak pasukan Ki Tumenggung Surajaya. Ketika para pengawal melihat kedatangannya, maka merekapun segera melaporkannya kepada Ki Tumenggung.

Ki Tumenggung telah membawa beberapa orang perwiranya untuk menjemput Ki Juru diregol, sementara yang lain telah diminta berkumpul dipendapa bangunan induk barak pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya itu.

Ketika Ki Juru Martani telah sampai dimuka pintu gerbang, maka pintu gerbang itupun telah dibuka dari dalam.

Beberapa orang prajurit yang bertugas di pintu gerbang telah memberi hormat kepada Ki Juru. Sementara Ki Tumenggung telah berdiri menunggu beberapa langkah dari pintu gerbang. Dengan hormat pula Ki Tumenggung telah mengangguk menyambut kedatangan Ki Juru Martani.

Ki Juru Martani belum mengena! Ki Tumenggung Surajaya dengan baik. Namun melihat sikap orang yang menyambutnya itu, Ki Juru segera berdesis, “Apakah aku berhadapan dengan Ki Tumenggung Surajaya?”

“Ya Ki Juru,“ jawab Ki Tumenggung, “aku adalah Tumenggung Surajaya. Sebaliknya, meskipun secara pribadi aku belum kenal dengan Ki Juru, tetapi aku sudah pernah melihat Ki Juru beberapa kali, sehingga aku langsung dapat mengenalinya.”

“Apakah Ki Tumenggung telah menerima utusanku pagi tadi?“ bertanya Ki Juru.

“Ya Ki Juru. Kami akan mempersilahkan Ki Juru untuk naik kependapa bangunan induk barak ini. Aku telah memanggil semua perwira yangadadibarak ini untuk ikut mendengarkan persoalan yang Ki Juru bawa ke barak ini,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Ki Juru Manani tersenyum. Katanya, “Sebenarnya cukup dengan ampat atau lima orang terpenting saja. Tetapi jika semuanya sudah dipanggil, tidak apa.”

“Biarlah semua pimpinan yang ada di barak ini mendengar langsung, Ki Juru. Selanjutnya Ki Jurupun dapat mendengar langsung pendapat para perwira dibarak ini sehingga Ki Juru dapat menilai, apa yang telah terjadi di barak ini,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Ki Juru mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Aku senang dapat bertemu keluarga barak ini, sehingga kita akan dapat berbicara dengan terbuka.”

Demikianlah, maka Ki Juru bersama para pengawalnya telah dipersilahkan menuju kependapa, sementara para prajurit di barak itu telah menerima kuda-kuda mereka dan membawanya kesebelah pintu gerbang, mengikatnya pada patok-patok kayu yang telah disediakan.

Ki Juru diiringi oleh Ki Tumenggung kemudian telah naik dan duduk dipendapa bangunan induk barak para prajurit. Para pemimpin dan perwira yang ada di barak itupun telah berkumpul pula.

Ki Juru memang mendapat kesan, bahwa sikap Ki Tumenggung Surayuda terhadap Pajang. Mataram dan Jipang memang telah disepakati bersama. Sama sekali bukan karena Ki Tumenggung memaksa atau menakut-nakuti mereka dengan ancaman.

Ketika Ki Juru Martani kemudian telah beristirahat sejenak, maka Ki Tumenggungpun membuka pertemuan itu.

“Kita akan mendengarkan perintah apakah yang dibawa oleh Ki Juru,“ berkata Ki Tumenggung.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian telah diminta menguraikan keperluannya datang ke barak pasukan itu.

“Baiklah,“ berkata Ki Juru, “aku telah mengemban tugas yang dibebankan oleh Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa untuk menyampaikan pesannya kepada Ki Tumenggung dan para perwira serta para prajurit semuanya,“ Ki Juru terhenti sejenak. Suasana pertemuan itu memang menjadi hening. Didalam dada setiap prajurit memang bergejolak kecurigaan bahwa Mataram dan Jipang akan menjebak mereka. Tetapi juga berpengharapan, bahwa keadaan mungkin akan dapat menjadi lebih baik.

“Kedua-duanya dapat terjadi,“ berkata para prajurit itu didalam hati.

Sementara itu, Ki Juru justru bertanya, “pesan itu mula-mula sekali berisi satu pertanyaan. Alasannya apa, bahwa seisi barak ini telah memilih satu cara yang justru tidak diperhitungkan sebelumnya, baik oleh Demak dan Pajang maupun oleh Mataram dan Jipang. Namun satu kenyataan, Ki Tumenggung Surajaya dan pasukannya telah menutup pintu baraknya rapat-rapat tanpa dapat diajak berbicara lagi oleh pihak yang manapun. Sekarang semuanya telah lewat. Panembahan Senapati ingin mengetahui persoalan yang sebenarnya sehingga dapat mengambil langkah yang paling baik bagi semua pihak.”

Ki Tumenggung Surajaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata, “Baiklah Ki Juru. Aku mohon Ki Juru mempercayai aku. Aku sama sekali tidak ingin mengada-ada. Apa yang akan aku katakan, adalah apa yang sebenarnya terpikir oleh kami seisi barak ini.”

“Katakan Ki Tumenggung,“ desis Ki Juru.

Ki Tumenggung Surajayapun kemudian telah mengatakan dengan jujur, apa yang terjadi sebelum ia mengambil keputusan. Sikap segala pihak dan landasan berpikir yang mendasari keputusannya menutup baraknya.

Ki Juru mendengarkan keterangan Ki Tumenggung dengan sungguh-sungguh. Sambil mengangguk-angguk ia mencoba untuk mengerti serta mencoba untuk menelusuri kaitan sikapnya dengan perang yang terjadi antara Mataram dan Jipang melawan Demak dan Pajang.

Ketika Ki Tumenggung sampai pada kesimpulan sikapnya, maka Ki Jurupun mengangguk-angguk sambil berkata, “Aku percaya kepadamu Ki Tumenggung. Menilik kata-katamu serta sikapmu, maka kau telah mengatakan yang sebenarnya sesuai dengan pandangan serta keyakinanmu.”

“Ya Ki Juru,“ desis Ki Tumenggung.

“Nah, apakah kau akan memberikan pesan yang lain, yang dapat aku sampaikan kepada Panembahan Senapati?“ bertanya Ki Tumenggung.

“Tidak Ki Juru. Aku suah mengatakan segala-galanya. Aku justru menunggu, perintah apakah yang harus aku pertimbangkan selanjutnya,“ berkata Ki Tumenggung.

Ki Juru tersenyum. Bagaimanapun juga Ki Tumenggung masih membatasi dirinya, sehingga ia masih akan mempertimbangkan perintah yang akan diberikan kepadanya. Ki Tumenggung itu sadar sepenuhnya, bahwa ia masih belum menjadi prajurit yang berada dibawah jalur perintah Ki Juru Martani.

“Baiklah,“ berkata Ki Juru kemudian, “kau masih berhak mempertimbangkannya.”

Ki Tumenggung iidak menjawab. Namun nampak bahwa ia menjadi sangat berhati-hati.

Dalam pada itu, Ki Juru Martanipun berkata, “Ki Tumenggung. Mungkin Ki Tumenggung juga sudah mengetahui, bahwa perang antara Demak dan Pajang melawan Mataram dan Jipang telah berakhir. Hari ini Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah mengambil keputusan, bahwa Kangjeng Adipati harus kembali ke Demak.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangkat wajahnya. Dipandanginya Ki Juru sekilas, seakan-akan ia ingin mendengar kata-kata itu sekali lagi.

Sebenarnyalah Ki Juru memang mengatakan sekali lagi bahwa Kangjeng Adipati Demak akan segera dikembalikan ke Demak.

Sepercik harapan telah timbul di hati Ki Tumenggung serta para pemimpin yang ada di barak itu. Dengan demikian berarti bahwa pimpinan pemerintahan di Pajang akan berubah. Akibatnya tentu akan merubah pula segala macam kebijaksanaan yang telah berlaku di Pajang. Kebijaksanaan yang sama sekali tidak bijaksana, karena arti kebijaksanaan sudah bergeser menjadi penyimpangan dari paugeran.

Sementara itu, Ki Jurupun berkata selanjutnya, “Tetapi belum ada pembicaraan lebih lanjut, siapa yang akan memerintah Pajang sebagai warisan Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Menurut pengamatanku, salah seorang puteranya adalah Pangeran Benawa yang lahir sebagai seorang laki-laki. Meskipun aku tidak berani mengatakan dengan pasti, tetapi kemungkinan terbesar Pajang akan diperintah oleh Pangeran Benawa. Meskipun selama ini Pangeran Benawa seakan-akan menyerahkan segala macam keputusan kepada Panembahan Senapati, tetapi agaknya Panembahan Senapati lebih mementingkan, dan memperhatikan Mataram daripada harus berada di Pajang.”

Ki Tumenggung Surajaya termangu-mangu sejenak, tetapi bagi Ki Tumenggung, orang yang paling mungkin mewarisi tahta Pajang memang Pangeran Benawa. Sementara itu Pangeran Benawapun bukan seorang yang berhati batu. Ia seorang yang tanggap akan keadaan meskipun igak lemah karena pengaruh masa-masa remajanya yang sering mengalami kekecewaan karena tingkah laku ayahandanya.

Sementara itu, Ki Jurupun berkata selanjutnya, “Kemudian yang harus menjadi bahan pertimbangan Panembahan Senapati atas kalian adalah sikap kalian. Apakah kalian mempunyai sikap khusus atau kalian akan menempatkan diri sesuai dengan perintah dari pemegang kekuasaan di Pajang kemudian.”

Ki Tumenggung Surajaya tidak segera menjawab. Sedangkan Ki Juru berkata selanjutnya, “Ki Tumenggung, aku dapat mengerti sikapmu sebagaimana telah aku katakan. Tetapi kaupun harus mengerti, bahwa untuk selanjutnya, kau tidak akan dapat bersikap seperti ini. Dalam pemerintahan yang mendatang, kau harus bersikap pasti. Sikap yang dapat menentukan kedudukan Ki Tumenggung selanjutnya.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan mempertimbangkannya Ki Juru.”

“Kau akan diberi waktu dua hari. Dalam dua hari ini kau harus menentukan satu sikap. Apakah kau akan menempatkan dirimu sebagai prajurit Pajang dalam susunan dan tatanan pemerintahan yang baru dengan segala macam ikatan paugeran sesuai dengan paugeran prajurit atau kau masih akan bersikap sebagaimana kau lakukan sekarang, menutup diri.”

Ki Tumenggung tidak segera menjawab. Ia sadar, bahwa pernyataan yang diucapkan itu juga pernyataan seorang prajurit. Ki Tumenggung menyadari, jika ia menolak untuk menempatkan diri dibawah perintah Pajang dalam tatanan pemerintahan yang baru, maka barak itu benar-benar akan dimusnakannya.

“Tetapi bagaimana ujud tatanan pemerintahan yang baru Itu? “ pertanyaan itu telah mengusik hatinya pula.

“Ki Tumenggung,“ desis Ki Juru sehingga Ki Tumenggung itu terkejut, “aku akan segera minta diri. Dalam dua hari ini, aku menunggu jawabanmu. Kau tidak usah datang mencari tempat tinggalku yang masih berpindah-pindah diantara para prajurit Mataram di Pajang. Biarlah dalam dua hari lagi aku datang kembali. Pikirkan masak-masak. Bicarakan dengan para perwira yang ada dibarak ini.”

Jilid 38

KI TUMENGGUNG mengangguk-angguk. Katanya, “Baik Ki Juru. Dalam dua hari ini aku akan menentukan sikap. Tetapi Ki Juru Martani akan datang dua hari lagi pada pagi atau sore hari?”

“Aku datang seperti saat ini aku datang,“ jawab Ki Juru, “pertimbangkan baik-baik. Perhitungkan segala kemungkinan yang dapat terjadi, karena aku belum dapat mengatakan satu kepastian apapun tentang pemerintahan yang akan datang. Tetapi justru sikapmu akan menjadi bahan pertimbangan. Ketahuilah bahwa semua prajurit Demak dan Pajang sekarang berada dalam tahanan. Prajurit Demak akan dikirim kembali berangsur-angsur, sedangkan prajurit Pajang akan dinilai kembali sejauh mana mereka telah melakukan kesalahan terhadap Pajang dan segala isinya. Ingat, bahwa kalianpun prajurit Pajang yang akan dikenakan ketentuan yang sama. Kalian akan dinilai oleh para pemimpin di Mataram dan Jipang. Karena itu tentukan sikap kalian sebagai bahan penilaian itu.”

Ki Tumenggung Surajaya termangu-mangu sejenak. Terasa sikap Ki Juru Martani sebagai satu sikap yang memberikan peluang baik kepada seisi barak itu, tetapi juga membayangkan ketegasan sikap Mataram. Karena itu, maka Ki Tumenggung Surajaya memang harus berhati-hati dan mengambil keputusan yang tepat.”

Namun dalam pada itu, ketika Ki Juru minta diri untuk meninggalkan barak itu, Ki Tumenggung berkata, “Ki Juru. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, selain keputusanku untuk memberikan jawaban kepada Ki Juru dua hari lagi, aku ingin mohon ijin dengan pertanda kekuasaan prajurit Mataram untuk mengirimkan beberapa orang keluar dari barak ini.”

“Untuk apa?“ bertanya Ki Juru.

“Kami telah kehabisan perbekalan. Tidak ada beras lagi di barak ini. Yang tinggal hanya beras untuk hari ini. Itupun tidak mencukupi,“ jawab Ki Tumenggung Surajaya.

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Dengan nada tinggi iapun bertanya, “Jadi apa yang kau inginkan? Mengambil persediaan beras atau pergi ke luar kota untuk mencari dan membeli beras dari lumbung-lumbung padi orang-orang padukuhan?”

“Kami memang harus membeli Ki Juru. Kami akan mengumpulkan uang dari setiap orang yang ada di barak ini. Kemudian kami akan mengirimkan beberapa orang keluar untuk membeli beras,“ jawab Ki Tumenggung dengan jujur.

Ki Juru mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Tidak. Aku tidak mengijinkan orang-orangmu berkeliaran diluar barak sebelum kau memberikan keputusan yang menurut pertimbangan kami cukup dapat diterima nalar.”

“Tetapi besok dan lusa kami akan kelaparan,“ berkata Ki Tumenggung itu.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku akan berusaha untuk membantu kalian. Aku tahu persediaan beras prajurit Pajang cukup banyak di lumbung-lumbung yang sudah disediakan. Aku akan mengirimkan beras itu kemari untuk dua hari. Selanjutnya, tergantung kepada keputusanmu.”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian mengangguk hormat sambil berkata, “Aku mengucapkan terima kasih Ki Juru, atas nama seluruh isi barak ini.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Persoalannya harus dibedakan dengan persoalan yang menyangkut kedudukan kalian. Beras itu adalah persoalan peri kemanusiaan. Sedangkan persoalan barak ini adalah persoalan sikap dan keyakinan kalian terhadap Pajang.”

“Aku mengerti Ki Juru,“ jawab Ki Tumenggung.

Demikianlah, sejenak kemudian Ki Jurupun telah meninggalkan barak itu. Ki Tumenggung yang mengantarnya sampai ke pintu gerbang menarik nafas dalam-dalam. Sikap Ki Juru menimbulkan kekaguman pada dirinya. Tanpa sikap dan kata-kata kasar, namun terasa ketegasan pernyataan Ki Juru dengan segala akibatnya.”

Sepeninggal Ki Juru, maka Ki Tupienggung telah kembali lagi ke pendapa. Selagi para perwiranya masih berkumpul, maka Ki Tumenggung ingin berbicara langsung dengan mereka tentang sikap yang sebaiknya mereka ambil.

Dengan sedikit pengantar Ki Tumenggung Surajaya minta pendapat para pemimpin serta pemimpin kesatuan dalam pasukannya.

“Aku minta kalian dengan terbuka mengatakan pendapat kalian. Kita sekarang berdiri diambang pintu dari sebuah rumah yang belum kita ketahui watak dan sifatnya. Namun kita tahu, bahwa apa yang harus kita lakukan dibatasi oleh ketentuan-ketentuan yang tidak dapat kita rubah karena berada diluar kekuasaan kita.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Juru, bahwa semua prajurit Pajang menjadi tawanan. Sementara prajurit yang berasal dari Demak akan dikembalikan dengan berangsur-angsur. Termasuk kita. Tegasnya, kita adalah tawanan yang berada dibarak kita sendiri. Kelebihan kita dari para tawanan yang lain, ditangan kita masih tergenggam senjata. Tetapi menghadapi Mataram dan Jipang, senjata kita memang tidak banyak berguna,“ berkata Ki Tumenggung.

Para perwira dan pemimpin kesatuan prajurit yang berada dibarak itu termangu-mangu sejenak. Beberapa orang yang pernah terlibat dalam perang antara Mataram dan Pajang masih belum dapat melupakan, apakah yang pernah terjadi sebelumnya. Demikian pula Kasadha. Hampir saja nyawanya direnggut oleh prajurit Mataram waktu itu. Seandainya anak muda yang bernama Bharata tidak menolongnya, maka ia tentu sudah mati terbunuh di medan.

Namun ternyata bahwa nama Bharata itu telah menimbulkan persoalan tersendiri didalam perjalanan hidupnya, karena Bharata ternyata adalah Risang, saudaranya seayah, tetapi lain ibu. Bahkan ibu Bharata dan ibunya masih saja bermusuhan tanpa ujung pangkal selain landasan keirian dan kedengkian.

Sementara itu Ki Tumenggung Surajaya berkata selanjutnya, “Tetapi kalian harus berpikir berlandasan keadaan yang kita hadapi sekarang menjelang masa mendatang. Kita tidak boleh terbelenggu oleh perasaan kita mengenang saat-saat lampau. Permusuhan antara Mataram dan Pajang memang telah terulang. Tetapi dalam suasana yang berbeda sama sekali.”

Para perwira dan pemimpin kesatuan yang hadir itupun mengangguk-angguk. Mereka memang tidak dapat melepaskan penalaran mereka untuk menentukan langkah. Jika mereka dicengkam oleh perasaan dendam, maka masa-masa mendatang akan menjadi sangat suram. Bahkan mungkin mereka akan kehilangan masa depan mereka dengan mutlak.

Kasadha sendiri memang harus berhati-hati menentukan sikap. Namun didalam hati iapun berkata, “Bukankah yang kami inginkan adalah perubahan tatanan pemerintahan di Pajang? Jika Mataram dan Jipang mampu menghembuskan perubahan itu, apa salahnya jika kita membantu mengamankan perubahan-perubahan itu?”

Tetapi baik Kasadha maupun para perwira yang lain tidak tahu, apakah perubahan itu akan membuat tatanan pemerintahan di Pajang menjadi lebih baik atau sebaliknya. Namun setidak-tidaknya, kehadiran Mataran dan Jipang akan memberikan harapan bagi rakyat Pajang untuk menyaksikan perubahan-perubahan itu.

Agaknya para perwira yang lainpun berpikir demikian pula. Merekapun berharap, dengan sikap mereka mendukung pemerintahan Pajang yang baru sepenuhnya, akan mempengaruhi sikap para pemimpin Mataram dan Pajang terhadap barak mereka.

Karena untuk beberapa saat pertemuan itu masih tetap hening, maka Ki Tumenggung Surajayapun bertanya, “Nah, bagaimana sikap kalian? Tidak ada salahnya maka diantara kita terdapat perbedaan sikap. Kita harus mengemukakan alasan dan dasar dari sikap kita masing-masing untuk mendekati sikap yang paling baik bagi kita seluruhnya.”

Kasadhalah yang mula-mula mohon ijin untuk berbicara.

“Katakan,“ desis Ki Tumenggung.

Dengan ringkas Kasadha mengatakan pendiriannya. Iapun mengatakan, bahwa hampir saja ia terbunuh ketika perang terjadi antara Pajang dan Mataram sebelumnya. Namun seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung, mereka tidak dapat mengikat diri pada angan-angan dan apalagi dendam masa lampau.

“Kita harus melihat kenyataan yang kita hadapi sekarang serta perhitungan kita atas masa mendatang,“ berkata Kasadha kemudian.

Yang lain mengangguk-angguk. Beberapa orang perwira yang tahu pasti akan sikap Kasadha menghadapi kebijaksanaan Pajang sebelumnya sudah memperhitungkan, bahwa anak muda yang tumbuh dan berkembang dengan pesat itu akan bersikap demikian. Namun pada umumnya, yang lainpun ternyata memiliki sikap yang sama.

Karena itu, maka seorang perwira yang lainpun telah menyatakan dukungannya akan sikap Kasadha. Bahkan kemudian telah menyusul perwira yang lain dan yang lain lagi.

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk-angguk. Sikap itu memang sesuai dengan sikapnya. Ia memang tidak mempunyai pilihan lain.

Karena itu, maka iapun kemudian bertanya, “Jadi, bagaimana kesimpulan pembicaraan kita sekarang? Ki Juru Martani telah mempertanyakan sikap kita selanjutnya. Dua hari lagi, Ki Juru akan datang pada waktu sebagaimana ia datang hari ini.”

Nampak dahipun telah berkerut. Beberapa orang sa ling berpandangan sejenak.

“Baiklah,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya, “kalian telah berbicara. Aku akan mencoba menyimpulkan pembicaraan kalian. Tetapi jika ada diantara kalian yang berkeberatan, aku minta dengan terbuka mengatakannya. Kita selama ini sudah menyatakan diri dalam satu sikap apapun akibatnya. Karena itu, sebaiknya kita mencoba mempertahankan, agar kita tetap berpegang pada satu sikap.”

Para perwira dan pemimpin kesatuan dalam pasukan Ki Tumenggung Surajaya itupun mengangguk-angguk. Namun tidak ada seorangpun yang berbicara.

“Menurut tangkapanku, maka kesimpulan dari pembicaraan ini adalah, bahwa kita akan menerima kenyataan ini. Kita masih tetap prajurit Pajang dan menerima pemerintahan baru yang akan memimpin Pajang dengan bijaksana. Setidak-tidaknya kita berharap lebih bijaksana dari pemerintahan yang baru saja ditumbangkan oleh Mataram dan Jipang,“ Ki Tumenggung kemudian berhenti sejenak. Lalu katanya, “Nah, siapa yang berpendapat lain. Aku minta dikatakan dengan terus-terang dan terbuka.”

Seorang perwira yang usianya telah mendekati pertengahan abad berkata, “Aku kira itu adalah kesimpulan yang terbaik Ki Tumenggung.”

Yang lainpun menganguk-angguk.

Namun seorang diantara mereka tiba-tiba bertanya, “Bagaimana sikap kita jika pemerintahan yang baru memutuskan untuk menawan kita semuanya?”

Ki Tumenggung Surajaya mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita berharap bahwa tidak ada tindakan yang keras seperti itu. Tetapi jika kita sudah meletakkan diri kita dalam jajaran prajurit Pajang yang baru, maka kita harus melakukan segala perintah. Termasuk menjadi tawanan sekalipun.”

Suasana memang agak menjadi tegang. Sementara itu Kasadha berkata, “Andaikata hal seperti itu ditrapkan atas kita, maka kitapun akan melakukannya. Tetapi seperti dikatakan oleh Ki Juru, setiap prajurit Pajang akan dinilai oleh para pemimpin dari Mataram dan Jipang. Termasuk kita. Kita berharap bahwa penilaian itu dapat berlangsung dengan jujur. Sementara itu kita akan dapat menduga hasil dari penilaian yang jujur itu.”

“Aku sependapat,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya, “sikap kita memang harus berujung. Kita tidak akan dapat berbuat lain. Apalagi persediaan makanan kita sudah tidak lagi memadai. Kita berharap bahwa Ki Juru Martani tidak ingkar janji.”

Ternyata bahwa tidak seorangpun yang menentukan kesimpulan itu. Mereka memang harus menentukan satu sikap. Dan mereka tidak akan dapat terus-menerus menutup diri. Atau memberontak terhadap pemerintahan baru yang bakal dibentuk di Pajang. Tentu oleh Mataram dan Jipang. Tetapi kedua orang pemimpin dari Mataram dan Jipang itu adalah orang-orang yang memang berhak untuk mengambil keputusan berdasarkan atas kedudukan dan keturunan.

“Jika demikian,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya kemudian, “dua hari lagi, aku akan menyampaikan kepada Ki Juru Martani, bahwa kami masih tetap prajurit Pajang yang mematuhi semua perintah berdasarkan paugeran keprajuritan. Yang telah terjadi beberapa saat ini adalah satu langkah darurat justru karena sikap para pemimpin Pajang.”

Dengan demikian maka pertemuan itupun telah diakhiri. Para perwira dan pemimpin kelompok telah kembali ke lingkungan masing-masing.

Namun seorang pemimpin kelompok khusus yang mengurusi perbekalan telah menemui Ki Tumenggung Surajaya untuk memberikan laporan, bahwa beras mereka telah benar-benar habis.

“Yang tersisa telah kami masak untuk makan kita semuanya sore nanti. Besok pagi-pagi dan seterusnya, kita tidak mempunyai persediaan beras sama sekali,“ berkata Lurah prajurit yang bertugas pada bagian perbekalan itu.

“Kita menunggu sampai malam nanti,“ berkata Ki Tumenggung, “jika malam nanti Ki Juru Martani ingkar janji, maka aku akan mengambil kebijaksanaan tersendiri dengan kemungkinan akibat yang paling buruk sekalipun. Kita semuanya tidak boleh mati kelaparan seperti burung yang tertutup dalam sangkar tanpa makanan dan minuman.”

Lurah prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Tumenggung. Tetapi jika Ki Tumenggung memberikan perintah kepadaku, maka aku mempunyai seorang sahabat yang baik yang dilumbungnya tersimpan beras cukup banyak. Jika kita mempunyai uang berapapun nilainya, kita dapat menukarkannya dengan beras sahabatku itu. Biarlah ia membeli lagi karena baginya, membeli beras tentu lebih mudah dilakukannya daripada kita disini.”

“Baik. Aku percaya kepadamu. Tetapi kita akan menunggu sampai malam,“ jawab Ki Tumenggung Surajaya.

Hari itu, para perwira, para pemimpin kesatuan dan kelompok dan bahkan hampir setiap prajurit telah membicarakan kesimpulan yang telah diambil dalam pertemuan para perwira dan pemimpin kelompok. Tidak se-orangpun diantara mereka yang tidak setuju dengan kesimpulan itu. Kesatuan yang dipimpin Kasadhapun menyatakan kesediaan mereka untuk mematuhi keputusan apapun yang akan ditrapkan atas mereka.

Bagi Kasadha sendiri, tetap menjadi seorang prajurit adalah kemungkinan yang paling baik bagi masa depannya. Ia sadar, bahwa menjadi seorang prajurit adalah sama artinya dengan kesediaan untuk melakukan pengabdian. Ia tidak dapat mengharap untuk dapat menjadi kaya dan hidup berlebihan. Namun menurut penglihatannya, tidak kurang pula dari tataran penghidupan orang banyak.

Dan Kasadha yang ditempa dalam pahitnya kehidup an sebuah keluarga yang coreng-moreng bentuk dan isinya, dapat menangkap arti dari kehidupan yang sebenarnya. Berkat bimbingan gurunya, maka Kasadha telah berhasil menghindar dari garis kehidupan yang hitam pekat menuju ke kehidupan yang sewajarnya.

Namun dalam pada itu, ketika matahari menjadi semakin rendah, pembicaraan didalam barak itupun mulai berkisar. Mereka tidak lagi berbicara tentang kesimpulan yang diambil oleh Ki Tumenggung Surajaya dengan para perwira dan pemimpin kelompok, tetapi mereka mulai berbicara tentang beras mereka yang sudah habis.

Apalagi setelah mereka mendapat keterangan dari dapur, bahwa makan malam bagi para prajurit, tidak akan dapat diberikan sepenuhnya seperti hari-hari sebelumnya. Makan mereka akan sangat dibatasi, justru karena persediaan beras telah habis sama sekali.

“Butir yang terakhir telah ditanak,“ berkata salah seorang petugas di dapur.

Ternyata hal itu telah menimbulkan keresahan diantara para prajurit. Mereka memang tidak dapat hidup tanpa makan. Sementara itu beras buat besok sama sekali sudah tidak ada lagi.

Ki Tumenggung Surajaya bukannya tidak mengerti bahwa kegelisahan telah terjadi. Namun ia masih menunggu sampai malam turun. Jika malam turun dan Ki Juru Martani masih belum mengirimkan beras seperti yang dijanjikan, maka Ki Tumenggung harus mencarinya dengan cara apapun juga. Ki Tumenggung tidak mau melihat para prajuritnya kelaparan.

“Agaknya Ki Juru dengan sengaja telah memberikan tekanan kepada kita agar kita melakukan semua perintahnya,“ berkata salah seorang prajurit.

“Mungkin sekali,“ sahut yang lain, “bagaimana pun juga orang-orang Mataram, termasuk Ki Juru Martani adalah orang biasa yang dilengkapi dengan berbagai macam perasaan.”

Yang lain mengangguk-angguk. Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Kita akan melihat, apakah ada bedanya orang Mataram dan Jipang dengan orang-orang Pajang yang telah bekerja bersama dengan Adipati Demak.

Kegelisahan memang semakin terasa dimana-mana di seluruh Barak. Para prajurit itu sadar, bahwa mulai besok mereka tidak akan dapat makan lagi. Tidak ada beras dan tidak ada bahan pengganti. Jika mereka berada dihutan bambu sementara musim rebung muncul dari dalam tanah, mereka akan dapat mempergunakannya sebagai bahan pengganti beras betapapun kecil kadarnya. Atau jika mereka berada dihutan sehingga mereka dapat berburu binatang liar. Tetapi mereka saat itu berada didalam batas dinding barak, sehingga mereka tidak akan mendapatkan apapun juga yang dapat dipakai sebagai pengganti beras.

Dua orang perwira yang dituakan di barak itu telah menjumpai Ki Tumenggung Surajaya untuk menyampaikan kegelisahan itu. Namun sikap Ki Tumenggung tidak berubah.

“Aku menunggu sampai malam turun,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya, “ada dua hal yang aku tunggu. Kemungkinan kedatangan beras sebagaimana dijanjikan oleh Ki Juru Martani, dan yang kedua, dalam gelap kita akan dapat bergerak lebih leluasa.”

“Tetapi setelah malam, kemana kita akan mendapatkan beras?“ bertanya salah seorang dari antara kedua perwira itu.

Ki Tumenggung Surajaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Seorang Lurah yang bertanggung jawab tentang perbekalan telah memberikan jalan kepadaku. Tetapi seandainya itu gagal, maka aku akan mencari jalan lain.”

Kedua orang perwira itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa Ki Tumenggung Surajaya adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Ia tidak akan membiarkan prajurit-prajuritnya kelaparan. Tetapi untuk memberi makan prajurit di satu barak, maka dibutuhkan beras yang cukup banyak. Mungkin Ki Tumenggung mendapatkan beras itu untuk sehari. Tetapi sehari berikutnya dan hari-hari berikutnya lagi? Sementara itu keadaan masih juga belum ada kepastian.

Namun dalam pada itu, selagi kedua orang perwira itu masih berada didalam bilik Ki Tumenggung, seorang prajurit telah datang untuk memberikan laporan.

“Dua buah pedati telah berhenti dimuka regol barak Ki Tumenggung,“ berkata prajurit itu.

“Pedati darimana dan membawa apa?“ bertanya Ki Tumenggung sambil berharap.

“Utusan Ki Juru Martani,“ jawab prajurit itu. Ki Tumenggung Surajaya dan dua orang perwira yang ada didalam bilik itu menarik nafas dalam-dalam. Jantung mereka yang terasa semakin panas oleh kegelisahan, seakan-akan telah tersiram oleh embun di dini hari.

Ki Tumenggungpun kemudian bangkit sambil berkata, “Marilah. Kita akan menerima kiriman Ki Juru Martani itu.”

Ketika Ki Tumenggung berjalan menuju ke regol, maka dilihatnya para prajuritnya telah berdiri menunggu. Meskipun mereka tidak mendekat, namun terasa betapa kegelisahan mereka telah membawa mereka untuk melihat, apa yang telah dikirimkan oleh Ki Juru Martani itu. Sementara itu diluar regol halaman, dua buah pedati yang masing-masing ditarik oleh dua ekor lembu telah menunggu pintu regol itu dibuka. Tiga orang prajurit berkuda berada didepan kedua buah pedati itu, sedangkan tiga lainnya berada dibelakang.

Ketika pintu regol barak itu dibuka, maka para penunggang kuda itupun segera berloncatan turun. Seorang diantara mereka, yang memimpin pengiriman itu maju selangkah sambil berkata, “Aku adalah Lurah prajurit Mataram yang mengemban perintah dari Ki Juru Martani.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk kecil sambil berkata, “Aku pemimpin barak ini. Tumenggung Surajaya.”

Ki Lurah itupun mengangguk hormat. Kemudian katanya, “Aku mendapat perintah untuk menyampaikan sepuluh bakul besar berisi beras dan sepuluh bakul berisi jagung yang termuat dalam dua pedati ini.”

Sesuatu terasa tergetar dihati Ki Tumenggung Surajaya yang sudah menjadi tegang ketika gelap mulai membayang. Ia sudah menjadi sangat cemas, bahwa prajurit-prajuritnya besok tidak akan dapat makan lagi. Namun pada waktunya Ki Juru telah menepati janjinya.

“Terima kasih Ki Sanak,“ suara Ki Tumenggung menjadi bergetar, “silahkah masuk.”

Para prajurit berkuda serta dua buah pedati itupun kemudian masuk kehalaman. Para prajurit yang melihat kedatangan kedua buah pedati itu hampir saja bersorak kegirangan. Untunglah bahwa mereka menyadari kedudukan mereka, sehingga kegembiraan yang meluap itu masih dapat mereka tahan. Mereka masih mampu menyadari, bahwa mereka bukan kanak-kanak yang mendapat oleh-oleh dari ibunya yang berbelanja di pasar.

Namun sebenarnyalah hati mereka melonjak-lonjak kegirangan karena mereka besok tidak akan kelaparan. Setidak-tidaknya untuk satu dua hari.

“Meskipun harus dimakan hanya dengan garam,“ desis seorang prajurit.

Demikianlah, menjelang malam, di barak itu telah tersimpan sepuluh bakul besar beras dan sepuluh bakul jagung. Berkali-kali Ki Tumenggung mengucapkan terima kasih kepada utusan Ki Juru Martani.

“Baiklah Ki Tumenggung,“ jawab utusan itu, “kami akan menyampaikannya kepada Ki Juru.”

Sepeninggal utusan itu, maka kegembiraanpun telah meledak. Setiap orang telah berbicara tentang kebaikan hati Ki Juru Martani.

“Ternyata Ki Juru memenuhi janjinya,“ berkata Ki Tumenggung kepada beberapa orang perwira yang kemudian menemuinya.

“Ya. Satu pertanda baik. Mudah-mudahan para pemimpin Mataram dan Jipang memiliki kebijaksanaan dan pandangan jauh seperti Ki Juru Martani,“ sahut salah seorang perwiranya.

Karena itulah, maka malam yang kemudian turun, telah diwarnai oleh suasana yang cerah di barak yang untuk beberapa lama nampak muram itu. Ketegangan yang mencengkam barak itu untuk beberapa waktu, ditambah dengan habisnya persediaan bahan makanan, telah hanyut dihembus oleh angin yang segar.

Dua hari lagi, jika Ki Juru Martani datang, maka seisi barak itu telah bersepakat bulat untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada kebijaksanaan pimpinan Pajang yang baru. Seisi barak itu akan bersikap sebagaimana sikap prajurit yang patuh.

Dihari berikutnya tidak ada perkembangan apapun yang terjadi di barak itu. Atas persetujuan Ki Tumenggung Surajaya, maka di pagi hari, para prajurit disediakan makan jagung yang direbus. Disiang dan malam hari, baru disediakan nasi.

Para prajurit sama sekali tidak mengeluh. Mereka menyadari bahwa mereka harus menghemat sebelum segala sesuatunya ada kepastian.

Di hari yang telah dijanjikan, maka Ki Juru Martani benar-benar datang pada waktu sebagaimana ia datang sebelumnya. Dengan tergesa-gesa Ki Tumenggung telah menyongsong Ki Juru sampai ke pintu regol.

“Marilah Ki Juru,“ Ki Tumenggung mempersilahkan.

Ki Juru mengangguk hormat. Diserahkannya kudanya kepada prajurit yang siap menerimanya. Demikian pula kuda beberapa orang pengawalnya.

Sejenak kemudian, maka Ki Jurupun telah dipersilahkan untuk duduk dipendapa bersama para pengawalnya. Sementara Ki Tumenggung telah memanggil para perwiranya yang ikut memimpin para prajurit yang ada di barak itu.

Sebelum Ki Juru Martani mengatakan sesuatu kepada Ki Tumenggung, maka Ki Tumenggung Surajayalah yang lebih dahulu berkata, “Ki Juru. Kami, seluruh isi barak ini mengucapkan terima kasih kepada Ki Juru. Pada saat kami dibayangi oleh kegelisahan karena persediaan beras kami habis sampai butir yang terakhir, Ki Juru telah memberikan beras dan jagung kepada kami. Dengan demikian maka kami telah terhindar dari bencana kelaparan.”

Ki Juru tersenyum Katanya, “Bukankah aku sudah berjanji? Tetapi seperti yang aku katakan, aku tidak ingin mempengaruhi keputusan kalian dengan beras itu. Beras itu kami berikan atas pertimbangan kemanusiaan dan tidak ada sangkut pautnya dengan keyakinan kalian yang sebenarnya. Karena itu, aku minta kalian bersikap jujur.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Sementara Ki Juru berkata selanjutnya, “Tetapi sebelum aku mendengarkan sikap kalian, maka sebaiknya aku memberi tahukan keputusan yang sudah diambil oleh Panembahan Senapati, Pangeran Benawa dan beberapa sesepuh yang ada di Pajang sekarang ini. Mungkin karena kalian menutup diri didalam barak ini, maka kalian tentu tidak mendengar keputusan yang terakhir, yang diambil oleh para pemimpin dari Mataram dan Jipang itu.”

Ki Tumenggung masih juga mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berdesis, “Kami memang belum mendengar keputusan penting yang diambil di istana.”

“Hari ini, Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah menyatakan kesepakatannya, bahwa Pangeran Benawa akan berkedudukan di Pajang, sebagai Adipati Pajang. Sedangkan Panembahan Senapati akan kembali dan tetap berkedudukan di Mataram, sementara Adipati Demak kembali ke Demak,“ berkata Ki Juru Martani.

Ki Tumenggung mengerutkan dahinya. Namun sejenak kemudian wajahnya menjadi terang. Sebenarnyalah bahwa didalam hati Ki Tumenggung, bahkan para prajurit yang ada di barak itu berharap bahwa Pangeran Benawa, putera laki-laki Kangjeng Sultan Hadiwijaya akan menggantikan kedudukan ayahandanya. Namun ternyata bahwa Pangeran Benawa tidak dinobatkan sebagai Sultan Pajang, tetapi sebagai Adipati di Pajang. Dengan demikian maka Ki Tumenggung dapat mengambil kesimpulan, bahwa Mataram akan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari Pajang.

Tetapi hal itu tidak akan banyak berpengaruh terhadap pemerintahan di Pajang. Panembahan Senapati tentu tidak akan terlalu banyak mencampuri persoalan pemerintahan di Pajang. Sehingga kebijaksanaan akan sepenuhnya berada ditangan Pangeran Benawa.

“Nah,“ berkata Ki Juru Martani kemudian, “setelah kalian mendengar keputusan itu, akulah yang kemudian ingin mendengar sikap kalian. Jika keputusan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa ini akan berpengaruh terhadap sikap yang akan kalian ambil, aku tidak berkeberatan untuk menunggu sebentar seandainya kalian akan berbincang lebih dahulu. Aku akan menyingkir dan barangkali aku dapat menunggu di gardu perondan selama kalian berbincang-bincang.

“Tidak Ki Juru,“ cegah Ki Tumenggung,“ Ki Juru tidak perlu pergi kemana-mana. Kami sudah berbicara sebelumnya dan telah menentukan keputusan terakhir. Kami dengan bulat telah menyusun jawaban yang akan kami berikan kepada Ki Juru.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Sokurlah jika keputusan terakhir para pemimpin dari Mataram dan Jipang itu tidak akan mempengaruhi sikap kalian. Aku akan dengan senang hati mendengarkannya, apapun yang akan kalian katakan.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk-angguk pula. Namun kemudian iapun berkata sesuai dengan kebulatan pendapat para perwira di barak itu, “Ki Juru. Kami telah sepakat untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada pimpinan pemerintahan di Pajang. Ki Juru dan para pemimpin Pajang tentu sudah tahu, apa yang pernah kami lakukan. Kamipun telah pernah menyampaikan kepada Ki Juru alasan-alasan yang mendasari langkah kami pada waktu itu. Sekarang kami menyerahkan segala sesuatunya kepada pimpinan Pajang yang baru. Jika kami harus dihukum, hukuman apapun akan kami jalani. Kami telah bersiap untuk bertindak sebagai seorang prajurit yang patuh.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Aku sudah menduga, bahwa kalian akan bersikap demikian. Kamipun tahu dan mengerti, kenapa kalian tidak dapat mendukung pemerintahan Pajang yang dipimpin oleh Adipati Demak. Namun perlu kami memberitahukan pula, meskipun pimpinan pemerintahan di Pajang telah berganti, namun masih ada beberapa orang dari para pemimpin Pajang yang lama yang masih akan melakukan tugasnya. Namun sudah barang tentu dengan kebijaksanaan pimpinan yang baru. Kami tidak menutup mata bahwa pernah terjadi pemerasan atas beberapa Tanah Perdikan. Kemudian pergantian jabatan yang tidak berdasar sama sekali, karena sekedar menggeser para pemimpin Pajang dan menggantinya dengan para pemimpin dari Demak, meskipun masih ada juga para pemimpin Pajang yang memegang jabatan mereka. Karena itu, maka pada masa yang akan datang, semua orang yang memegang jabatan akan mendapat pengawasan langsung dan pembatasan-pembatasan atas kekuasaan mereka.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Sebagaimana para perwira yang lain, Ki Tumenggung membayangkan bahwa masa yang akan datang pemerintahan di Pajang tentu akan menjadi lebih baik. Pangeran Benawa sebagai putera laki-laki Kangjeng Sultan Hadiwijaya tentu tidak akan mengecewakan rakyat Pajang. Bahwa pada masa pemerintahan ayahandanya, Pangeran Benawa sendiri sempat menjadi kecewa karena sikap ayahandanya itu, agaknya akan membuatnya lebih berhati-hati.

Dalam pada itu, maka Ki Juru Martanipun berkata, “Baiklah. Aku sudah mendengar sikap kalian seisi barak ini. Aku akan menyampaikannya kepada pimpinan tertinggi Mataram dan Jipang yang kemudian akan memegang pimpinan di Pajang ini. Aku yakin, bahwa kalian tidak akan dianggap bersalah karena sikap kalian. Namun segala sesuatunya terserah kepada Pangeran Benawa.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk hormat sambil berkata, “Kami akan mengucapkan terima kasih apapun keputusan yang akan diambil oleh Pangeran Benawa yang untuk selanjutnya akan memimpin Pajang. Karena kami percaya dan yakin, bahwa Pangeran Benawa cukup bijaksana dan berpandangan jauh kedepan.”

“Ya,“ Ki Juru mengangguk-angguk, “dalam langkah-langkah awal dari pemerintahannya, tentu Panembahan Senapati akan dapat memberikan banyak pertimbangan. Bagaimanapun juga Panembahan Senapati adalah saudara tua Pangeran Benawa meskipun saudara angkat. Namun kedudukan Panembahan Senapati di lingkungan istana Pajang hampir sama dengan kedudukan putera kandang Kangjeng Sultan Pajang. Bahkan putera sulung.”

Ki Tumenggung Surajaya memang berpengharapan baik. Bukan saja bagi prajurit-prajuritnya, tetapi juga bagi seluruh Pajang. Karena sebenarnyalah apa yang dilakukan adalah ujud dari keprihatiannya atas sikap para pemimpin di Pajang terhadap rakyat Pajang sendiri.

Demikian, maka sejenak kemudian Ki Juru Martani-pun telah minta diri. Ketika Ki Tumenggung Surajaya mengantarkannya sampai ke regol, maka Ki Juru berkata, “Dua hari lagi aku akan memerintahkan mengirimkan beras dan jagung lagi ke barak ini.”

“Terima kasih atas kemurahan Ki Juru,“ jawab Ki Tumenggung Surajaya.

“Bukan beras dan jagungku sendiri. Tetapi beras dan jagung itu diambil dari persediaan beras dan jagung bagi prajurit-prajurit Pajang. Sudah tentu termasuk prajurit-prajurit di barakmu ini,“ berkata Ki Juru sambil tertawa pendek.

Sementara Ki Tumenggung menjawab, “Bagaimanapun juga, hal ini tentu atas dasar kebijaksanaan Ki Juru sehingga kami tidak menjadi kelaparan karenanya.”

Ki Juru hanya tersenyum saja. Namun iapun kemudian telah meninggalkan barak itu bersama para pengawalnya.

Meskipun para prajurit di barak itu menganggap bahwa ternyata keadaan mereka menjadi jauh lebih baik dari para prajurit Demak maupun Pajang yang turun ke medan pertempuran, namun para prajurit itu tidak dapat begitu saja meletakkan beban perasaan mereka. Bagaimanapun juga mereka masih selalu bertanya kepada diri sendiri, apakah yang telah mereka lakukan itu tidak mengingkari kesediaan mereka mengabdi sebagaimana mereka nyatakan disaat mereka menyatakan diri menjadi seorang prajurit.

Mereka memang dapat beralasan, bahwa kesediaan mereka mengabdi tidak kepada orang-orang yang salah langkah. Namun masih saja ada tuntutan didalam diri mereka sendiri atas langkah-langkah yang telah mereka ambil. Apalagi jika mereka mendengar beberapa orang menyebut banyak korban yang telah jatuh dari kedua belah pihak, sementara mereka menutup diri dalam barak mereka.

Namun setiap kali memang timbul juga pertanyaan, “Jika kami harus turun ke medan, kepada siapa kami berpihak? Apakah kami harus berkhianat dan memihak Mataram atau Jipang? Atau kami harus membela orang-orang yang bersalah dan tidak tahu diri serta melakukan penindasan dan pemerasan terhadap rakyatnya sendiri?”

Tetapi semuanya itu sudah lampau. Mereka sudah berada di belakang sebuah pintu peristiwa yang tidak akan dapat mereka ulangi lagi. Mereka tinggal menyesuaikan diri didunia mereka yang baru apapun warnanya sebagai prajurit. Namun mereka tidak kehilangan harapan untuk menuju ke satu tatanan yang lebih baik.

Yang dapat dilakukan oleh para prajurit di barak itu kemudian adalah menunggu. Mereka tidak mempunyai kesibukan lain. Mereka tidak dapat melakukan latihan-latihan terbuka apalagi di luar barak, karena hal itu akan dapat menimbulkan salah paham. Bahkan rasa-rasanya para prajurit itu masih segan untuk membuka pintu baraknya, karena mereka masih belum mempunyai batasan kedudukan yang menentu.

Ki Tumenggung Surajayapun masih memerintahkan para prajuritnya tetap berhati-hati. Para petugas di panggungan, disudut-sudut barak dan diatas regol induk dan regol-regol butulan masih tetap berjalan sebagaimana sebelumnya. Namun para prajurit yang sempat memandang keluar itu melihat dan menangkap suasana kota Pajang yang menjadi lebih tenang.

Kehidupan sehari-hari nampaknya mulai berjalan wajar. Pasar mulai terisi dan perdagangan mulai berjalan dengan baik.

Satu dua orang yang ditugaskan oleh Ki Tumenggung untuk melihat suasana juga melaporkan, bahwa keadaan menjadi semakin pulih kembali. Tidak lagi nampak kegiatan para prajurit Mataram dan Jipang yang berlebihan. Namun sekali-sekali mereka masih juga berpapasan dengan kelompok-kelompok kecil prajurit yang meronda.

“Bagaimana tanggapan rakyat Pajang terhadap ke putusan Mataram dan Jipang untuk menyerahkan pimpinan tertinggi atas Pajang kepada Pangeran Benawa yang ditetapkan sebagai Adipati?“ bertanya Ki Tumenggung Surajaya kepada para petugasnya yang melihat-lihat keadaan diluar barak.

“Nampaknya mereka dapat menerima keputusan itu,“ jawab petugas itu, “bahkan terasa dukungan yang kuat, terutama dari mereka yang merasa dirugikan oleh tatanan dan kebijaksanaan Adipati Demak sebelumnya.

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Iapun yakin bahwa sebagian besar rakyat Pajang akan dapat menerima keputusan itu dengan senang hati. Beberapa Tanah Perdikan yang ada dilingkungan pemerintahan Pajangpun akan merasa gembira, karena mereka akan terlepas dari niat buruk para pemimpin Demak dan Pajang yang justru ingin memeras mereka.

“Mudah-mudahan keadaan segera menjadi pulih kembali dan bahkan menjadi semakin baik,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Dalam pada itu, Kasadhapun tengah memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi di Pajang dengan tatanan dan kebijaksanaan baru. Diluar sadarnya, Kasadha telah mengenang kesulitan yang telah dialami oleh Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan Kasadhapun sempat mengetahui keadaan Tanah Perdikan Gemantar yang tidak berdaya. Mungkin masih ada Tanah Perdikan yang lain yang belum diketahuinya. Agaknya bukan saja Tanah Perdikan, tetapi juga Kademangan-kademangan tentu pernah juga mengalami pemerasan itu.

“Mudah-mudahan kesulitan bagi Tanah Perdikan Sembojan akan segera berakhir,“ berkata Kasadha didalam hatinya. Ketika terbersit ingatannya tentang sikap ibunya dan laki-laki yang menyebut dirinya ayahnya, maka terasa jantungnya berdegup semakin cepat.

“Tidak,“ katanya didalam hati, “aku sudah bertekad untuk tidak mempersoalkan lagi Tanah Perdikan itu. Dengan sah dan meyakinkan, Tanah Perdikan itu adalah hak Barata. Ia adalah anak laki-laki dari orang yang mewarisi hak atas Tanah Perdikan itu. Laki-laki yang lahir tertua dari seorang isteri yang sah pula.”

Sikap Ki Juru Martani telah memberikan harapan pula bagi Kasadha. Jika ia masih tetap berada dilingkungan keprajuritan, maka ia tidak akan pernah tergoda lagi untuk mengganggu ketenangan Tanah Perdikan itu. Kasadha merasa bahwa hidup dalam dunia keprajuritan justru merupakan dunia yang paling tepat baginya. Suasananya mendukung perkembangan jiwa dan kewadagannya. Kesempatan untuk mengabdi yang barangkali dapat ikut mengurangi beban kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang tuanya atas bumi Pajang dan lingkungannya. Ia tidak dapat memberikan pengabdian dengan cara yang lain. Ia tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengembangkan kesejahteraan hidup orang banyak. Ia tidak menguasai ilmu pertanian, peternakan dan ilmu-ilmu yang lain yang langsung mampu mengangkat derajad orang banyak dalam tataran kehidupan yang lebih baik. Tetapi serba sedikit ia menguasai ilmu kanuragan. Di lingkungan keprajuritan, Kasadha merasa bahwa kemampuannya akan berarti pula bagi orang banyak sesuai dengan cara pengabdian yang dapat dilakukannya. Karena menurut pendapatnya, prajurit akan dapat menciptakan suasana yang mendukung semua kegiatan kehidupan di Pajang. Jika Pajang menjadi aman, tenang dan damai, maka gerak dan putaran roda kehidupan akan menjadi semakin cepat.

Di hari-hari berikutnya, tidak ada persoalan yang terasa membuat jantungnya bergejolak. Dihari yang dijanjikan, Ki Juru benar-benar telah mengirimkan jagung dan beras secukupnya untuk para prajurit di barak itu.

Namun akhirnya, puncak dari segala macam kegelisahan karena menunggu keputusan terakhir atas barak itu telah dilaluinya dengan tarikan nafas dalam-dalam. Ki Juru sendiri telah datang ke barak itu dan memberitahukan, bahwa para prajurit yang berada di barak itu telah diterima sepenuhnya tanpa syarat kembali kedalam lingkungan keprajuritan Pajang.

“Untuk sementara Ki Tumenggung Surajaya ditugaskan untuk memimpin pasukan ini,“ berkata Ki Juru Martani.

Tentu saja Ki Tumenggung tidak dapat menolak, karena ia seorang prajurit. Namun terlintas juga sekilas kegelisahan. Ia hanya ditugaskan untuk sementara.

Namun Ki Tumenggung dan para perwira di barak itu sudah memperhitungkan, bahwa pasukan itu tidak akan untuk seterusnya bergabung menjadi satu. Pasukan itu tentu akan diurai untuk ditempatkan diberbagai kesatuan yang lain, sehingga pasukan itu akan luluh dengan seluruh jajaran keprajuritan Pajang. Bagaimanapun juga pasukan itu tentu dijaga untuk tidak tetap utuh dalam satu kesatuan.

Tetapi itu tidak penting bagi seorang prajurit. Dima-napun juga di lingkungan keprajuritan, mereka harus dapat dengan cepat menyesuaikan diri apabila mereka masing-masing yakin akan dirinya sendiri sebagai seorang prajurit yang baik dan memenuhi syarat.

Sepeninggal Ki Juru Martani maka Ki Tumenggung telah mengumpulkan para perwiranya untuk memberitahukan, keputusan pimpinan tertinggi Mataram dan Jipang atas pasukan mereka. Ki Tumenggung Surajayapun telah memberitahukan satu kemungkinan bahwa akhirnya mereka akan saling berpisah.

“Itu wajar sekali,“ berkata Ki Tumenggung, “dahulu kalian juga tidak bersama aku sebelum kalian disini. Diantara kalianpun sebelumnya juga tidak saling mengenal. Namun disini kalian mendapatkan kawan-kawan yang ternyata bersikap satu. Dengan demikian maka dimana-manapun kalian tentu akan mengalami persoalan yang serupa.”

Para prajurit mengangguk-angguk. Tetapi mereka menganggap bahwa sulit untuk mendapatkan seorang pimpinan yang bertanggung jawab sepenuhnya seperti Ki Tumenggung Surajaya itu.

Meskipun demikian, jika keadaan itu dihadapkan kepada mereka, maka mereka tidak akan dapat ingkar lagi.

Sejak para prajurit Pajang yang ada di barak itu mendapat keputusan diterima kembali menjadi prajurit Pajang tanpa syarat, maka pintu regol pada pintu gerbang barak itupun telah dibuka. Para prajurit yang berada di barak itu telah diperkenankan untuk keluar dari barak sebagaimana prajurit-prajurit Pajang yang telah mendapat ketetapan yang sama. Meskipun demikian jika mereka berpapasan dengan prajurit Mataram atau Jipang, masih saja terasa jantung mereka berdebaran.

Tetapi para prajurit Mataram dan Jipang itupun sudah mendapat penjelasan bahwa sebagian prajurit Pajang telah ditetapkan untuk tetap dalam kedudukannya. Terutama mereka yang dianggap akan dapat ikut mendukung tegaknya Pajang yang baru dibawah pimpinan Pangeran Benawa. Para prajurit Mataram dan Jipang menyadari, bahwa pada suatu saat mereka akan meninggalkan Pajang dan kembali ketempat mereka masing-masing. Namun sikap mereka terhadap Pajang harus sudah berubah. Terutama bagi para prajurit Jipang yang mengetahui, bahwa pada suatu saat, pimpinan Jipang dan Pajang akan berbeda, meskipun mereka masih berada dalam bingkai pagar kepemimpinan yang menyatukan mereka. Mataram.

Dengan demikian, maka para prajurit yang berada di. barak itu bergantian telah mendapat kesempatan untuk mengunjungi keluarga mereka meskipun selama-lamanya hanya untuk dua hari.

Namun Kasadha tidak seperti kawan-kawannya yang lain. Ia sama sekali tidak mengambil kesempatan itu. Prajurit-prajurit dibawah pimpinannya telah bergantian meninggalkan barak itu. Setiap kali dua orang, untuk setiap kelompok, sehingga jika masing-masing dua hari, setiap kelompok akan tuntas dalam sepuluh hari.

Demikian pula kesatuan-kesatuan yang lain dalam pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya itu.

Tetapi sampai orang yang terakhir, Kasadha tetap tidak pernah minta ijin untuk menengok keluarganya atau siapapun juga.

Seorang pemimpin kelompok yang umurnya lebih tua dari Kasadha telah menemuinya. Dengan hati-hati orang itu bertanya, “Apakah Ki Lurah tidak berniat untuk minta ijin barang satu dua hari? Dalam kesatuan Ki Lurah semua orang telah mendapat gilirannya.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun menggeleng, “Tidak. Aku tidak ingin pergi kemana-mana, sebelum keadaan benar-benar pasti.”

“Bukankah sudah ada kepastian yang justru dijanjikan langsung oleh Ki Juru?“ bertanya pemimpin kelompok itu.

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Aku tidak tergesa-gesa. Aku masih mempunyai banyak waktu.”

Pemimpin kelompok itu tidak bertanya lebih jauh. Beberapa saat lamanya ia mencoba mengerti keadaan pimpinan kesatuannya itu. Sejak di Tanah Perdikan Gemantar, kemudian ditarik kembali ke Pajang, berikutnya dikirim ke Tanah Perdikan Sembojan sehingga memasuki barak yang kemudian tertutup itu. Namun orang itu masih saja tidak dapat mengerti, apakah sebenarnya yang terjadi didalam hati Lurah Penatusnya itu. Hatinya nampaknya memang tertutup. Sebagai seorang lurah penatus, ia adalah prajurit yang baik. Bertanggung jawab, berani dan menunjukkan pengabdiannya yang tinggi. Tetapi sebagai seorang kawan, Ki Lurah Kasadha tidak mau berbagi persoalan.

Namun orang itu tidak dapat memaksanya. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku minta maaf Ki Lurah, bahwa aku selalu mengganggu ketenangan Ki Lurah.”

Tetapi Kasadha menggeleng. Katanya, “Kau tidak bersalah. Aku justru berterimakasih kepadamu atas perhatianmu. Tetapi akulah yang minta maaf kepadamu, bahwa aku tidak pernah memberikan jawaban yang dapat memuaskanmu.”

Pemimpin kelompok itupun kemudian meninggalkan Kasadha yang duduk sendiri. Sekilas teringat oleh pemimpin kelompok itu tentang seorang laki-laki yang mengaku ayah dari Ki Lurah Penatus Kasadha itu. Pertemuannya dengan laki-laki itu nampaknya telah mengungkit satu persoalan yang membuatnya semakin sulit untuk dimengerti. Pada saat barak itu sudah ditutup, laki-laki itu masih saja datang, sehingga justru membuat Ki Lurah Kasadha marah.

Sebenarnyalah Kasadha memang lebih banyak berangan-angan tentang dirinya sendiri. Tetapi sekali-sekali ia juga teringat kepada ibunya. Kasadha sebenarnya tidak perlu cemas tentang ibunya dalam hubungannya dengan laki-laki yang mengaku ayahnya itu, karena menurut beberapa keterangan yang didengarnya, serta pengakuan langsung atau tidak langsung dari ibunya, bahwa kemampuan ibunya lebih tinggi dari kemampuan laki-laki itu. Dengan demikian maka laki-laki itu tidak akan dapat berbuat sesuatu diluar kemauan ibunya.

“Tetapi nampaknya orang itu mampu menggiring ibu dengan cara lain. Tidak dengan kemampuan ilmu olah kanuragan. Tetapi kelicikannya mampu mempengaruhi ibu sehingga ibu kadang-kadang kehilangan akal,“ berkata Kasadha didalam hatinya.

Anak muda itu sebenarnya memang ingin melupakan dunia yang muram itu. Ia akan menjadi senang sekali jika pada suatu saat ia mendapat tugas ditempat yang jauh, sehingga bayangan laki-laki itu akan dapat terhapus dari angan-angannya.

Dalam pada itu, menjelang sore hari, Kasadha yang ingin melihat-lihat suasana diluar baraknya telah minta ijin untuk keluar sebentar.

“Kau tidak pergi menengok keluargamu. Kasadha?“ bertanya Ki Tumenggung.

Kasadha menunduk sambil menggeleng, “Aku akan menengok pada kesempatan lain saja. Ki Tumenggung. Aku akan minta ijin barang lima hari. Tetapi jika keadaan mengijinkan.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Nampaknya Kasadha ingin menempuh perjalanan yang agak jauh, sehingga tidak cukup sekedar dua hari dua malam.

Sore itu Kasadha berjalan-jalan seorang diri diluar baraknya. Ia diijinkan untuk tidak mengenakan pakaian keprajuritannya, sehingga karena itu, maka ia tidak banyak menarik perhatian. Jika ia bertemu dengan prajurit Mataram atau Jipang yang meronda, maka mereka sama sekali tidak memperhatikannya.

Ketika Kasadha singgah sejenak disebuah kedai untuk minum, maka iapun mendengar bahwa Panembahan Senapati dari Mataram dalam waktu dekat akan segera meninggalkan Pajang.

“Segala sesuatunya sudah sepenuhnya berada ditangan Pangeran Benawa,“ berkata orang itu.

Diluar sadarnya Kasadha mengangguk-angguk. Ia berharap sepeninggal Panembahan Senapati, maka segala sesuatunya akan berjalan semakin mantap. Masa peralihan rasa-rasanya sudah berakhir, sehingga pemerintahan akan berjalan semakin mengarah sesuai dengan kebijaksanaan Pangeran Benawa.

Kasadha tidak terlalu lama berada di kedai itu. Apa yang didengarnya rasa-rasanya membuatnya semakin tenang. Ia berharap bahwa ia akan dapat tetap menjadi seorang prajurit.

Setelah membayar minuman dan makanan yang dipesannya, maka Kasadhapun telah keluar dari kedai itu dan berjalan menyusuri jalan yang tidak terlalu ramai. Sementara itu matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat.

Sambil berangan-angan Kasadha melangkahkan kakinya justru kembali ke baraknya. Ia telah merasa banyak melihat dan menurut penilaiannya, semuanya telah menjadi semakin baik. Bahkan tidak nampak lagi bekas-bekas pertempuran didalam kota. Jika terjadi kerusakan bangunan di jalan-jalan yang dilewati para prajurit yang bertempur, maka agaknya semuanya telah dapat di perbaiki dengan cepat.

Namun ketika Kasadha berbelok memasuki jalan yang lebih besar, ia terkejut. Seseorang yang telah menggamitnya sehingga anak muda itu terhenti sambil berpaling.

Dilihatnya seseorang berdiri selangkah dibelakangnya. Ketika ia membuka caping bambu dikepalanya, maka Kasadha segera melihat bahwa orang itu adalah Rangga Gupita.

Wajah Kasadha segera menjadi tegang. Ia merasa hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh laki-laki itu. Setiap kali ia melihatnya, maka jantungnya rasa-rasanya berdebar semakin cepat.

“Darimana kau Kasadha?“ bertanya laki-laki itu.

Betapapun segannya namun Kasadha masih juga menjawab, “Jalan-jalan ayah.”

“Kebetulan kita bertemu disini. Sebenarnya aku akan pergi ke barakmu,“ berkata Ki Rangga Gupita.

“Untuk apa?“ bertanya Kasadha.

“Aku sudah merasa terlalu lama tidak menengokmu. Justru keadaan sekarang menjadi semakin baik, maka aku rasa-rasanya ingin melihatmu,“ jawab Ki Rangga Gupita.

“Terima kasih,“ jawab Kasadha. Lalu katanya, “Kita sekarang sudah bertemu disini. Apakah ayah masih akan pergi ke barak?”

Ki Rangga Gupita mengerutkan keningnya. Dengan heran ia justru bertanya, “Pertanyaanmu aneh Kasadha. Bukankah sudah aku katakan, bahwa rasa-rasanya aku sudah rindu karena sudah terlalu lama aku tidak menengokmu. Maksudku, aku ingin bertemu dan berbicara tentang apa saja yang barangkali serba sedikit berbicara tentang ibumu.”

“Baiklah,“ berkata Kasadha, “meskipun aku baru saja keluar dari sebuah kedai, maka marilah, kita dapat singgah di kedai untuk berbicara.”

Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian iapun berkata, “Seharusnya kau tidak berbuat seperti itu, ngger. Aku sebagai orang tuamu, dengan susah payah datang menemuimu karena rindu. Seharusnya kau menanggapi kedatanganku dengan sikap yang lebih baik. Kenapa kau tidak mengajakku pergi ke barakmu dan kau perkenalkan dengan kawan-kawanmu?”

“Sebagian dari mereka sudah mengenal ayah saat ayah marah-marah beberapa waktu yang lalu karena ayah tidak dapat masuk kedalam barak,“ jawab Kasadha.

“Aku memang kecewa sekali waktu itu. Apakah sekarang kau juga akan membuatku kecewa?“ bertanya Ki Rangga.

“Bukankah sama saja, dimanapun kita berbicara,“ berkata Kasadha.

“Tidak Kasadha. Aku ingin pergi ke barakmu. Aku ingin berbicara tentang apa saja dengan Ki Tumenggung Surajaya. Biarlah ia mengetahui bahwa aku adalah ayahmu. Bukankah kau salah seorang Lurah Penatus yang dianggapnya baik?“ bertanya Ki Rangga Gupita.

“Tidak perlu ayah,“ jawab Kasadha, “kita lebih baik berbicara tidak didalam barak. Kita dapat berbicara dengan leluasa. Dibarak kita dikerumuni oleh orang-orang yang tidak mengerti persoalan kita, karena persoalan kita adalah persoalan yang sangat pribadi sifatnya.”

“Tentu saja kita tidak akan berbicara tentang hal yang sangat pribadi dihadapan orang lain. Tetapi apa salahnya bahwa aku mengenal kawan-kawanmu dan kawan-kawanmu mengenal aku, terutama pimpinanmu?“ bertanya Ki Rangga.

Tetapi Kasadha tetap menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak perlu. Kita akan singgah disebuah kedai. Bukan kedai yang baru saja aku Singgahi. Kita dapat berbicara apa saja. Nanti, jika senja turun, aku akan kembali ke barak.”

Ki Rangga memandang Kasadha dengan tajamnya. Namun iapun kemudian berkata, “Baik. Kita berbicara disini saja. Kita tidak akan singgah di manapun.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun telah berdiri menepi melekat dinding halaman dipinggir jalan itu. Dengan nada yang tidak kalah pekatnya ia menjawab, “Baik. Silahlah berbicara.”

Ki Rangga menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih menahan diri. Ia memang merasakan jarak antara anak itu dengan dirinya semakin lama menjadi semakin jauh. Memang ada sedikit penyesalan di hati Ki Rangga, bahwa ia bersikap terlalu keras terhadap anak itu. Ia tidak ingkar, bahwa sikapnya itu tidak semata-mata karena ia ingin anak itu menjadi seorang yang baik kelak, tetapi yang dilakukan terdorong oleh perasaan bencinya kepada anak itu. Apalagi ibu kandung Kasadha sendiri, yang dikenalnya dengan nama Puguh, juga terasa membencinya. Seandainya Puguh waktu itu tidak bersangkut paut dengan Tanah Perdikan Sembojan, mungkin umur anak itu tidak akan dapat bertahan sampai dewasa.

Dengan kesal Ki Ranggapun kemudian berkata, “Kasadha, aku mendapat pesan dari ibumu, bahwa ibumu masih tetap pada sikapnya. Ia harus dapat membunuh perempuan yang bernama Iswari itu dan kau harus membunuh anak laki-lakinya. Kedudukanmu dalam dunia keprajuritan memberikan peluang yang luas kepadamu. Aku sudah mendengar bahwa prajurit dibawah pimpinan Ki Tumenggung Surajaya telah diterima sepenuhnya tanpa sarat dalam jajaran keprajuritan Pajang. Bukankah itu berarti bahwa kau akan tetap menjadi seorang prajurit? Jika kau dapat berbicara dengan baik, atau jika kau memberi kesempatan kepadaku untuk berbicara dengan Ki Tumenggung Surajaya, maka kesempatan untuk merebut Tanah Perdikan Sembojan dari tangan Risang itu akan menjadi semakin besar. Menurut perhitunganku Pajang yang sekarang tidak akan menghapuskan Tanah Perdikan yang sudah ada sejak pemerintahan Demak. Yang dapat kau lakukan adalah menyingkirkan Risang, kemudian menempatkan dirimu sendiri menjadi Kepala Tanah Perdikan itu atas dasar hak warisanmu.”

Kasadha sama sekali tidak memotong pembicaraan Ki Rangga. Baru kemudian setelah Ki Rangga berhenti, Kasadha bertanya, “Apakah itu sudah cukup?”

Wajah Ki Rangga menjadi merah. Tetapi ia bertanya, “Aku ingin mendengar jawabmu.”

Kasadha memandang Ki Rangga itu tepat pada biji matanya meskipun mata Ki Rangga itu bagaikan menyala. Dengan nada berat Kasadha itu berkata singkat, “Tidak. Aku tidak akan melakukannya.”

“Kasadha, “geram Ki Rangga, “jadi kau benar-benar ingin mengkhianati ibumu?”

“Tidak,“ jawab Kasadha singkat pula.

“Jadi apa yang kau lakukan itu?“ bertanya Ki Rangga.

“Aku tidak yakin, bahwa ibu masih bermimpi untuk menguasai Tanah Perdikan Sembojan. Dua kali ibu dikalahkan dalam perang tanding melawan ibu Risang. Beberapa kali ibu harus mengakui kenyataan bahwa Tanah Perdikan memiliki kekuatan yang besar. Apalagi kini. Selebihnya orang-orang Tanah Perdikan bukan pokok-pokok kayu mati yang tidak dapat berpikir tentang hak yang tumurun dari Ki Gede Sembojan. Mereka adalah orang-orang yang dapat menilai tingkah laku seseorang. Mereka tahu siapa ibuku, Warsi dan merekapun tahu ibu Risang, Iswari. Mereka tahu bagaimana ibu mulai memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Dan merekapun tahu apa saja yang telah dilakukan oleh ibu. Karena itu, seandainya ibu masih meneruskan niatnya, aku usulkan, agar niat itu diurungkan saja,“ berkata Kasadha.

“Kau sudah mulai mengajari ibumu, he?“ bentak Ki Rangga itu tiba-tiba.

“Aku sama sekali tidak ingin mengajari siapa-siapa. Aku hanya menyatakan satu pendapat yang aku usulkan kepada ibuku. Bukankah wajar seseorang berpendapat? Bukankah pendapat seseorang akan lebih berarti jika disertai dengan alasan-alasan yang cukup?”

“Cukup,“ potong Ki Rangga Gupita, “aku tidak ingin mendengarkan seseorahmu. Dengar. Ini satu perintah. Bunuh Risang. Aku akan mengatur segala sesuatunya. Lewat para pemimin di Pajang dan lewat orang-orang Tanah Perdikan Sembojan sendiri. Sudah tentu kematian Risang harus mempunyai kesan tersendiri. Bukan kau yang membunuhnya sampai saatnya, kau, anak Wiratama muncul di Tanah Perdikan itu sebagai satu-satunya pewaris dari Tanah Perdikan itu.”

“Tidak. Kau dengar. Tidak,“ Kasadha justru telah membentak.

Wajah Ki Rangga menjadi merah. Tiba-tiba saja tangannya telah menampar pipi Kasadha sambil berkata, ”Kenapa aku tidak membunuhmu ketika kau masih bayi, Puguh.”

Kasadha sama sekali tidak menjadi takut meskipun ia masih berusaha mengekang diri dan tidak membalas. Katanya, “Kenapa hal itu tidak kau lakukan?”

“Setan kau. Kau kira aku tidak dapat membunuhmu sekarang?“ suara Ki Rangga bergetar disela-sela gemeretak giginya.

“Aku masih menghormatimu, ayah,“ jawab Kasadha, “karena itu jangan lakukan lebih dari itu agar aku tidak terpaksa membela diri. Kau bagiku bukan apa-apa. Kau tidak dapat memaksakan kehendakmu.”

“Sudah aku katakan. Aku membawa pesan ibumu. Ibu kandungmu yang melahirkan kau dengan mempertaruhkan nyawanya. Seseorang yang melahirkan akan dapat terseret kedalam maut jika ia tidak berhasil mengatasi kesulitan saat melahirkan itu. Dan kau yang sudah dilahirkan dan dibesarkan, sekarang dengan berani kau menentangnya,“ geram Ki Rangga Gupita, “Ternyata bahwa kau adalah anak yang durhaka.”

“Ayah,“ sahut Kasadha, “ayah jangan mengada-ada. Aku memang anak kandung ibuku. Aku dilahirkan dan dibesarkan, meskipun dalam suasana yang tidak wajar bagi seorang anak, sehingga aku sekarang dapat menjadi seorang prajurit. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku berkewajiban untuk mendukung angan-angan yang gila yang apalagi lahir dari seorang laki-laki seperti ayah ini. Seharusnya ayah membantu memberikan kesadaran akan kekeliruan langkah yang diambil oleh ibu. Tetapi yang ayah lakukan adalah sebaliknya. Ayah telah mengipasi pikiran-pikiran gila itu, sehingga menjadi satu mimpi yang mempola dalam hatinya.”

“Aku ingin memukulmu sekali lagi. Bahkan membunuhmu,“ suara Ki Rangga semakin gemetar.

“Sebenarnya aku segan berselisih dengan ayah. Apalagi dipinggir jalan seperti ini. Untunglah jalan ini semakin sepi menjelang senja,“ desis Kasadha.

“Kenapa kau tidak melawan ketika aku memukulmu? Bukankah kau sudah menjadi seorang prajurit. Bahkan karena kemampuanmu kau sudah diangkat menjadi Lurah Penatus,“ berkata Ki Rangga, “tetapi ingat. Aku adalah seorang Rangga dari Jipang. Jika kau berani melawan aku, maka umurmu benar-benar akan terputus dimasa mudamu. Aku, Rangga Gupita akan sanggup membunuh Lurah Penatus Kasadha yang sebenarnya bernama Puguh. Tugasku dalam dunia keprajuritan jauh lebih lama dari kau anak ingusan yang dungu tetapi sombong. Aku telah bertugas disegala macam kesatuan. Bahkan Kesatuan Khusus Pengawal Adipati Jipang dan terakhir aku adalah petugas sandi.”

Kasadha tidak menjawab. Ia tidak ingin benar-benar terlibat dalam satu keributan dengan orang itu. Ia adalah prajurit Pajang yang baru saja diakui kembali dari satu pasukan yang telah mengurung diri selama terjadi pertempuran. Kasadha menyadari, bahwa tingkah lakunya masih akan tetap dibawah penilaian orang-orang Mataram dan Jipang.

“Dengar anak durhaka,“ geram Ki Rangga Gupita, “kau harus datang menemui ibumu. Biar ibumu langsung mendengar dari mulutmu bahwa kau telah mengkhianatinya.”

“Aku sudah cukup dewasa. Terserah kepadaku, apakah aku ingin mengunjungi ibuku atau tidak,“ jawab Kasadha. Lalu katanya, “Seandainya aku akan pergi mengunjungi ibuku, itu bukan karena perintah ayah sekarang ini. Aku akan datang sesuai dengan kehendakku sendiri.”

“Kau memang anak iblis,“ geram Ki Rangga Gupita.

“Sekarang, aku akan kembali ke barakku. Jangan ganggu aku lagi. Aku masih mempunyai banyak kesibukan,“ berkata Kasadha yang langsung melangkah meninggalkan Ki Rangga Gupita.

“Tunggu,“ Ki Rangga itu mengikutinya disampingnya, “kau benar-benar harus datang kepada ibumu. Ia menunggumu.”

“Persetan semuanya itu,“ jawab Kasadha, “kalian tidak memerlukan aku sebagai aku. Kalian memerlukan aku, karena aku akan dapat kalian peralat untuk merampas Tanah Perdikan itu. Tetapi aku bukan sepotong kayu. Aku bukan sebilah pedang yang dapat dihunjamkan disetiap dada dan bukan pula seekor anjing yang dapat diperintahkan untuk menggigit orang-orang yang tidak bersalah karena kesetiaannya kepada tuannya dengan membuta.”

“Setan kau,“ tangan Ki Rangga sudah siap untuk sekali lagi men