Manggala Majapahit Gajah Kencana (Jilid 01-05)

New Picture (1)fsdfs

Manggala Majapahit Gajah Kencana

(Jilid 01-05)

Oleh : S. Djatilaksana (SD. Liong)

Sumber DJVU : Koleksi Ismoyo

Convert, Edit & Ebook : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ Baca lebih lanjut

Api di Bukit Menoreh (Buku 31-40)

New Picture (3)njj

Api di Bukit Menoreh

(Buku 31-40)

Karya : SH Mintardja

BUKU 31

SIDANTI masih saja diam mematung, dengan tanpa memandanginya Pandan Wangi mengulangi, “Marilah Kakang. Bilikmu telah tersedia. Aku juga telah menyediakan pakaian dan perlengkapan lainnya di dalam gledeg. Aku juga telah menyediakan pakaian untuk gurumu, Ki Tambak Wedi.” Baca lebih lanjut

Api di Bukit Menoreh (Buku 21-30)

New Picture (3)

Api di Bukit Menoreh

(Buku 21-30)

Karya : SH Mintardja

BUKU 21

SEKALI lagi Sidanti tersenyum. Betapapun dadanya bergolak karena lepasnya Agung Sedayu, namun terhadap anak muda Jati Anom ini ia ingin bersikap baik, sebagai permulaan dari hubungannya dengan anak-anak muda di kademangan ini.

“Ia menjadi ketakutan, Paman. Mungkin aku dapat menolongnya.”

“Apakah pedulimu atas pengecut itu?”

Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Hubungan yang baik antara kita dan anak-anak muda Jati Anom akan berakibat baik, Paman.”

Argajaya menggeram. Namun ia tidak menjawab. Meskipun demikian pandangan matanya yang tajam seolah-olah telah menghunjam menembus jantung Wuranta.

“Wuranta,” berkata Sidanti kepada anak Jati Anom itu, “apakah kau menyangka bahwa suatu ketika Agung Sedayu akan kembali kemari?”

“Itu adalah hal yang mungkin sekali, Tuan. Bahkan mungkin tidak akan terlampau lama lagi. Hari ini, siang, atau malam nanti.”

“Lalu bagaimana dengan kau?”

Wuranta terdiam sejenak. Kemudian desisnya perlahan-lahan, “Agung Sedayu melihat aku datang bersama Tuan-tuan. Aku sangka ia pasti mendendamku.”

“Lalu?”

“Aku harus bersembunyi, Tuan.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir. Dan ia tiba-tiba bertanya, “Apakah kau ingin ikut aku?”

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang ditunggu-tunggunya. Tetapi meskipun demikian Wuranta tidak segera menjawab. Wajahnya tampak ragu-ragu.

“Buat apa kau bawa anak itu?” bertanya Argajaya.

“Apa salahnya kita menolongnya, Paman. Mungkin anak muda ini dapat membantu kita.”

“Hanya seorang pemberani yang bermanfaat bagi kita. Bukan seorang pengecut. Seandainya daerah ini kelak, seperti diduga oleh Ki Tambak Wedi, akan menjadi landasan bagi Untara untuk meloncat ke padepokan di lereng Gunung Merapi itu, maka anak semacam itu tidak akan bermanfaat.”

“Tidak, Paman. Mungkin ia akan berguna kelak.”

“Buat apa? Ia tidak akan berani menginjak tanah ini kembali. Kalau kita memerlukan seorang anak muda yang dapat memberi kita beberapa keterangan, ia harus seorang anak yang berani. Berani berada di kampung halamannya untuk menyampaikan sesuatu kepada kita. Tetapi anak ini? Biar sajalah ia mampus dibunuh Agung Sedayu.”

Sidanti menegangkan wajahnya sejenak. Namun kemudian ia tertawa. Katanya, “Paman adalah seorang pengawal yang berani. Karena itulah Paman merasa muak melihat seorang yang berada di dalam ketakutan. Tetapi adalah jauh berbeda, Paman dan anak muda Jati Anom ini.”

Wuranta memperhatikan pembicaraan tentang dirinya yang berlangsung di hadapan hidungnya, dengan demikian ia pun mampunyai penilaian atas kedua orang itu. Argajaya adalah seorang pemberani yang lugu. Yang terlampau percaya pada kekuatan diri. Sedang Sidanti adalah seorang iblis yang licik. Keduanya pasti akan sangat berbahaya baginya. Bahkan disadarinya, bahwa kepercayaan Sidanti kepadanya itu pun harus diterima dengan sangat hati-hati. Namun bagaimanapun juga ia melihat kebenaran anggapan keduanya. Argajaya pun mempunyai alasan yang kuat untuk menolaknya. Karena itu, maka ia meyesal, bahwa ia telah bersikap terlampau takut menghadapi keadaan. Tetapi semuanya telah terlanjur. Ia harus dapat memanfaatkan apa yang masih dipunyainya sekarang.

Yang bertanya kepadanya kemudian adalah Sidanti, “Wuranta. Apakah kau ingin turut aku?”

Kembali Wuranta terdiam.

“Kau akan tinggal bersama pasukanku di padepokan guruku. Mungkin kau akan mengalami hal-hal yang baru, yang dapat merubah sikapmu itu.”

Dengan ragu-ragu Wuranta kemudian bertanya, “Lalu apakah tugasku di sana, Tuan?”

“Huh,” Argajaya berdesah, “hanya orang-orang yang terlampau bodoh yang bertanya demikian.”

“Ya,” sahut Sidanti, “ternyata kau memang agak terlampau bodoh. Tetapi tak apalah. Sebenarnya melihat wajahmu aku mempunyai harapan, bahwa kau akan berguna bagi kami, tetapi agaknya otakmu terlampau tumpul untuk wajah yang cerah itu.”

Sekali lagi dada Wuranta berdesir. Kembali ia membuat kesalahan. Namun agaknya ia masih mempunyai harapan ketika Sidanti berkata, “Yang pertama kau ucapkan adalah kesanggupan. Mungkin kau harus berbuat sesuatu yang dapat membahayakan jiwamu. Bukankah kami terdiri dari prajurit-prajurit yang sedang memperjuangkan suatu cita-cita?”

“Tak akan ia ketahui apakah yang kau sebut cita-cita itu Sidanti. Baginya tak akan dimengerti, apakah arti Pajang dan Jipang. Apakah arti perjuangan Ki Tambak Wedi menentang kekuasaan Pajang sekarang ini. Untuk apa dan bagaimana?”

Sidanti terdiam. Tiba-tiba anak muda itu merenungi wajah pamannya. Di dalam hati kecilnya sendiri terbersit suatu pertanyaan, “Apakah pamannya mengetahuinya? Apakah pamannya menyadari, bahwa di padepokan gurunya sekarang ada dua pihak yang mempunyai pancadan yang berbeda menghadapi Pajang? Dan apakah pamannya sendiri menyadari sepenuhnya, untuk apa ia berjuang? Untuk apa Ki Tambak Wedi menentang Pajang?”

Sebenaranya Sidanti sendiri telah beberapa lama berusaha mencari alasan yang tepat yang dapat dipergunakannya untuk membenarkan sikapnya menentang Pajang. Tetapi ia tidak dapat menemukannya. Sementara ia dapat memuaskan dirinya dengan alasan yang dicari-carinya. Mungkin ia dapat mengatakan kepada orang lain, bahwa ternyata Pajang berbuat sewenang-wenang. Pajang sebenarnya tidak berhak untuk melintir kedudukan Demak, merajai hampir seluruh pulau Jawa. Mungkin ia dapat berpura-pura membenarkan sikap Arya Penangsang dari Jipang.

Tetapi ia tidak dapat berbuat demikian kepada diri sendiri. Ia tidak dapat berkata bahwa Pajang tidak berhak mewarisi kekuasaan Demak. Ia tidak dapat mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Pajang berbuat sewenang-wenang. Beberapa usaha dari bupati-bupati di sepanjang pesisir untuk melepaskan diri dari kekuasaan Demak setelah Demak jatuh, tidak dapat disejajarkan dengan usahanya itu. Meskipun dari segi kekuatan dan jumlah prajurit yang akan dapat dihimpunnya Sidanti tidak perlu cemas. Di belakangnya terbentang suatu daerah yang luas di Pegunungan Menoreh. Sisa-sisa kekuatan Jipang dan pengaruh Ki Tambak Wedi di sekitar lereng Merapi. Bupati-bupati di pesisir pasti tidak akan dapat berbuat seperti apa yang dilakukan oleh sisa-sisa prajurit Jipang yang putus asa itu.

Sidanti yang kebingungan itu hanya dapat menemukan jawaban yang sama sekali tidak dikehendakinya. Meskipun demikian setiap kali terdengar suara yang tidak diinginkannya itu, suara dari relung yang jauh di dasar hatinya, bahwa pemberontakan ini hanya sekedar didorong oleh nafsu, ketamakan, dendam, dan kebencian. Inikah cita-cita? Nafsu untuk berkuasa dan kedudukan yang baik dengan cepat, ketamakan yang berlebih-lebihan, dendam yang menyala-nyala di dalam dadanya karena kegagalan-kegagalannya selama ini. Sementara itu hatinya dibakar oleh kebencian yang hampir-hampir tidak dapat terkendali lagi.

Wuranta, anak muda Jati Anom masih berdiri di mukanya dengan wajah termangu-mangu. Kata-kata Argajaya benar-benar telah mencemaskannya. Ia melihat orang itu sebagai seseorang yang banyak harus mendapat perhatiannya. Orang itu pada saat pertama telah tidak menyenanginya. Maka bahaya daripadanya adalah bahaya yang pasti akan menjadi paling besar.

Karena Sidanti dan Wuranta masih juga berdiam diri, maka Argajaya-lah yang berkata pula, “Nah, Sidanti tanyakanlah, untuk apa ia ikut ke padepokan Ki Tambak Wedi. Kau akan tahu dan kau akan dapat mengukur sampai di mana tingkat kecerdasan otaknya.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam kebimbangan terdengar ia bertanya, “Ya, untuk apa kau ingin ikut bersama kami, Wuranta?”

Pertanyaan itu telah mendebarkan jantung Wuranta. Untuk masuk ke padepokan Ki Tambak Wedi memang bukan pekerjaan yang mudah. Ia harus berhati-hati menilai pertanyaan itu. Ia tidak akan dapat menjawab dengan alasan yang dibuat-buatnya seolah-olah ia memihak kepada Jipang untuk menentang Pajang. Alasan yang terlampau dibuat-buatnya pasti akan menimbulkan kecurigaan atas mereka berdua setelah mereka kecewa terhadapnya karena kebodohannya.

Karena itu maka dicobanya untuk menghindari jawaban atas pertanyaan itu, katanya, “Bukankah Tuan yang telah menawarkan kepadaku untuk turut ke padepokan lereng Merapi?”

Argajaya mengerutkan keningnya. “Gila,” desisnya. “Agaknya kau pandai juga berbantah. Tetapi jawaban itu hanya menambah keyakinanku bahwa kau benar-benar anak yang bodoh.” Kemudian kepada Sidanti ia berkata, “Lepaskan keinginanmu untuk membawanya.”

Tetapi agaknya Sidanti berpendirian lain. Tenyata anak muda itu tertawa, “Jawabanmu benar,” katanya, “memang akulah yang telah menawarkan kepadamu apakah kau ingin turut dengan aku ke lereng Merapi.”

“Lalu bagaimana maksudmu, Sidanti?”

“Aku bawa orang ini, Paman. Mungkin justru kebodahannya itu akan dapat membantu kami dalam beberapa kepentingan yang sesuai dengan sifatnya itu.”

“Terserahlah kepadamu, Sidanti. Mungkin juga ia dapat membantu mengambil air di pancuran atau memanjat kelapa di kebun-kebun.”

Sidanti mengangguk-angguk sambil berkata, “Mungkin, Paman, tetapi mungkin juga untuk kepentingan yang lain.”

Argajaya tidak mau berdebat lagi dengan kemenakannya. Ia merasa bahwa Sidanti lebih banyak berwenang dari padanya. Karena itu maka katanya kemudian, “Aku akan kembali.”

“Baiklah, Paman. Kita kembali ke padepokan.” Kemudian kepada orang-orangnya ia berkata, “Kita kembali sekarang.”

Argajaya tidak menunggu mereka. Segera ia melangkahkan kakinya mendahului berjalan ke arah Barat, memunggungi matahari yang sedang memanjat lebih tinggi menghadap lereng Merapi yang ujungnya menjadi kemerah-merahan seperti sedang terbakar. Dari mulutnya mengepul asap yang putih, membumbung tinggi, namun kemudian menghambur karena sentuhan angin pagi.

Orang-orang Sidanti itu pun kemudian berjalan pula menyusul Argajaya di belakangnya, sedang Sidanti berjalan paling belakang bersama Wuranta. Ketika mereka meninggalkan tlatah Jati Anom maka bertanyalah Sidanti, “Kau benar-benar ingin meninggalkan kampung halamanmu?”

Wuranta memandangi wajah Sidanti dengan heran. Denga hati-hati ia bertanya, “Kenapa meninggalkan, Tuan? Apakah aku kelak tidak akan dapat kembali lagi?”

“Tentu. Kau tentu akan kembali. Bahkan hari ini kau dapat juga kembali ke kademangan ini.”

Wuranta heran mendengar jawaban Sidanti itu. Hari ini ia dapat kembali ke Kademangan Jati Anom, apakah maksudnya? Tetapi ia tidak segera menjawab atau bertanya. Ia menunggu Sidanti itu menyatakan maksudnya. Ia harus sangat berhati-hati menghadapi anak muda yang tampaknya selalu tersenyum-senyum saja ini. Namun di balik wajahnya yang terang itu, Wuranta merasakan sifat-sifat yang tidak dapat dijajaginya.

“Wuranta,” berkata Sidanti itu kemudian, “kembali atau tidak kembali ke Jati Anom itu sangat tergantung kepadamu sendiri. Kepergianmu ke lereng Merapi ini, meskipun berdasarkan atas tawaranku, tetapi aku terdorong oleh keinginanku melindungimu karena kau takut terhadap Agung Sedayu.”

“O,” Wuranta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apabila kau suatu ketika merasa berani datang kembali ke kampung halamanmu, apakah keberatannya?”

“Tentu,” sahut Wuranta dengan wajah yang bersungguh-sungguh, “aku tentu berani datang kembali ke kedemangan ini.”

“Kenapa kau sekarang takut kami tinggalkan?”

“Aku dapat kembali di malam hari, Tuan. Meskipun seandainya Agung Sedayu ada di rumahnya, maka aku akan dapat memilih jalan yang tak mungkin dilihatnya. Meskipun kami sama-sama anak Jati Anom, namun beberapa bulan terakhir Agung Sedayu tidak ada di rumah. Ia tidak melihat keadaan terakhir dari kampung halamannya, sehingga sudah tentu aku lebih mengenalnya, apalagi di malam hari dan lebih-lebih lagi apabila aku bersenjata seperti Agung Sedayu.”

“Kau ingin membawa pedang seperti aku?”

“Aku memang pernah belajar bermain pedang.”

“Siapakah yang mengajarimu?”

Wuranta mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Justru ayah Agung Sedayu semasa hidupnya.”

“Ki Sadewa?” Sidanti terkejut.

Wuranta mengangguk.

“Jadi kau murid Ki Sadewa?”

“Tidak sepenuhnya, Tuan. Aku belum menjadi muridnya. Ki Sadewa agaknya ingin melihat apakah aku mampu menjadi muridnya. Tetapi sampai saat meninggalnya, aku tidak pernah dijadikannya muridnya. Mungkin pengaruh yang demikian itulah yang menyebabkan aku takut terhadap anak-anak Ki Sadewa. Apalagi dengan Untara. Kalau ia yang datang dengan tiba-tiba saat ini, mungkin aka sudah mati membeku.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia mempunyai penilaian yang agak berbeda terhadap Wuranta yang disangkanya sekedar anak yang terlampau bodoh. Mungkin otak anak muda itu memang tidak terlampau baik sehingga Ki Sadewa tidak meneruskan maksudnya untuk menuntun anak itu, apalagi menjadikan muridnya.

Tetapi mungkin pula karena sebab-sebab lain. Kali ini Wuranta berusaha untuk mencuri pusaka yang terdapat di dalam rumah Agung Sedayu.

“Mudah-mudahan sifat anak itu tidak terlalu baik. Dengan demikian aku akan dapat mempergunakannya untuk kepentingan yang barangkali sesuai dengan sifatnya yang tidak baik itu,” pikir Sidanti sambil melangkahkan kakinya di samping Wuranta.

Tiba-tiba Sidanti itu bertanya, “Kalau kau membawa pedang apakah kau berani melawan Agung Sedayu seorang melawan seorang?”

Wuranta terdiam sejenak. Sekali lagi ia membuat penilaian atas pertanyaan-pertanyaan Sidanti. Dan kali ini ia menjawab, “Sebenarnya belum tentu aku dapat dikalahkan, Tuan. Tetapi aku merasa bahwa Agung Sedayu adalah anak Ki Sadewa. Sebenarnya aku tidak hanya belajar kepada Ki Sadewa sendiri, Tuan. Aku juga belajar kepada tetangga-tetangga yang lain, bahkan anak-anak muda di Jati Anom ini menganggap aku melampaui diri mereka. Tak ada seorang pun yang berani melawan aku berkelahi.”

“Bagaimana dengan Untara dan Agung Sedayu?”

“O,” Wuranta menelan ludahnya. Ia harus memainkan peranannya, cukup baik. Kalau tidak, anak muda yang dihadapi itu agaknya cukup tajam untuk menangkap kesalahan-kesalahan yang kecil sekali pun. “Keduanya itu terkecuali, Tuan.”

Sidanti tersenyum. Ia mendapat kesan baru pada anak muda Jati Anom itu. Dan ia tidak menyembunyikan kesannya. Katanya, “Kau anak muda yang sombong. Tetapi aku tidak yakin bahwa kau dapat memenuhi sepersepuluh dari kata-katamu itu.”

“Kenapa, Tuan?” sahut Wuranta dengan tiba-tiba sehingga langkahnya terhenti. “Kenapa tidak?”

“Kau berani kembali ke Jati Anom sekarang?”

“O,” Wuranta terdiam. Sementara itu Sidanti tertawa.

“Jangan sekarang, Tuan.”

“Baik. Nanti malam?”

“Tentu, Tuan, apakah sebabnya aku tidak berani.”

“Wuranta,” berkata Sidanti, “kau akan menjadi kawanku yang terpercaya kalau kau dapat melakukan pekerjaan yang akan aku berikan kepadamu.”

“Pekerjaan apakah itu, Tuan?”

“Tidak terlalu sulit. Kau hanya akan mondar-mandir saja. Dari padepokanku ke Jati Anom dan sebaliknya.”

“Untuk apa, Tuan?”

“Apakah anak-anak muda di Jati Anom menaruh kepercayaan kepadamu?”

“Tentu, Tuan,” sahut Wuranta. “Aku adalah tetua anak-anak muda di sini meskipun tidak dinyatakan secara resmi. Memang ada satu dua anak yang tidak mau tunduk kepadaku dan kepada sebagian besar dari anak-anak muda Jati Anom, tetapi dalam kesempatan seperti sekarang ini, mereka pasti akan segera aku singkirkan.”

“Singkirkan bagaimana?” bertanya Sidanti.

Wuranta mengerutkan keningnya, jawabnya, “Aku pernah juga melakukannya, Tuan. Aku bunuh anak yang melawan kehendakku beberapa hari yang lalu.”

Kini Sidanti tersenyum di dalam hati. Ia menemukan seorang anak muda yang menyenangkan. Pengecut, sombong, pendendam, pembual, dan licik. Namun Sidanti bukan anak kemarin sore untuk segera mempercayainya. Sidanti cukup berhati-hati menghadapi anak-anak muda yang baru saja dikenalnya.

Terhadap Wuranta ini pun Sidanti cukup waspada meskipun tidak tampak pada wajah serta sikapnya. Meskipun seakan-akan ia dapat mempercayai setiap kata-kata Wuranta, namun setiap kali Sidanti itu mempersoalkannya di dalam hatinya.

Perjalanan mereka itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan padepokan Ki Tambak Wedi di lereng Merapi. Mereka kini telah melewati Randu Lanang. Dan beberapa ratus langkah lagi mereka telah memasuki tlatah padepokan Ki Tambak Wedi.

Namun yang beberapa ratus langkah itu terdiri dari jurang-jurang yang curam, tebing yang terjal di antara hutan yang membujur di lereng-lereng Gunung Merapi.

“Inilah padepokan kami,” berkata Sidanti kepada Wuranta ketika mereka melihat sebuah padepokan di antara rimbunnya dedaunan dan dikitari oleh hutan-hutau yang tipis. “Di sinilah aku berprihatin selama bertahun-tahun membentuk diri di bawah pimpinan Ki Tambak Wedi. Dan kini sebagian dari prajurit Jipang pun berada di sana pula.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia melihat berkeliling, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Setiap kali ia melihat ujung tombak mencuat dari balik batu-batu dan dari belakang pepohonan. Beberapa kali pula ia melihat dua orang yang asyik duduk di atas sebongkah batu. Namun ternyata bahwa kedua orang itu adalah dua orang di antara para pengawas yang bertebaran.

“Penjagaan di sini cukup baik,” desis Wuranta di dalam hati. “Alangkah sulitnya untuk dapat masuk tanpa diketahui meskipun malam hari.”

Tetapi Wuranta tidak segera menjadi putus asa melihat kerapatan penjagaan itu. Ia yakin, bahwa di suatu tempat, akan dapat diketemukan tempat-tempat yang lengah dari penjagaan itu.

“Apakah yang sedang kau renungkan,” tiba-tiba Wuranta terkejut mendengar pertanyaan Sidanti.

“Tidak apa-apa,” sahut Wuranta, “tetapi aku heran apakah di tempat ini dapat diperoleh makan yang cukup bagi seluruh isi padepokan?”

“Pertanyaanmu yang pertama-tama berhubung dengan tempat ini adalah soal makan. Kenapa?”

Wuranta tidak segera menjawab. Ternyata setiap kata-katanya mendapat penilaian cukup cermat.

“Kenapa kau tidak bertanya tentang kekuatan yang tersimpan di dalam padepokan ini? Atau siapa saja yang tinggal di padepokan ini sekarang. Atau di mana saja kami menempatkan para penjaga

“kami?”

Wuranta tiba-tiba tersenyum. Katanya, “Itu tidak menarik perhatianku, Tuan. Aku adalah seorang petani. Ketika aku melihat tanah di lereng ini, aku segera menyangka bahwa di sini tidak banyak dibangun tanah-tanah persawahan meskipun aku melihat parit yang mengalirkan air yang cukup.

“Kau salah Wuranta,” jawab Sidanti, “agak di bagian atas kau akan melihat sawah yang bertingkat-tingkat. Sebuah air terjun yang cukup besar dan kebun-kebun salak yang luas. Nanti kau akan menyaksikan sendiri, bahwa padepokan ini tidak kalah ramainya dengan Kademangan Jati Anom. Tetapi bagi kaum dagang, padepokan kami tidak menarik perhatian. Tidak seperti Jati Anom yang reja. Apalagi Sangkal Putung yang merupakan persimpangan jalan bagi para pedagang keliling. Sehingga setiap kali orang-orang kami harus turun menukarkan hasil bumi kami dengan orang-orang di bawah kaki Gunung Merapi. Dengan Kademangan Jati Anom misalnya. Tetapi kalau kau bertanya tentang pande besi, maka pande besi kami jauh lebih baik dari pande besi di mana pun. Lebih baik dan lebih banyak. Pande besi Sendang Gabus yang terbunuh itu pun bukan seorang yang mengagumkan di daerah kami, darah Tambak Wedi.”

“Nama apakah sebenarnya Tambak Wedi itu, Tuan?”

“Nama tempat. Padepokan kami adalah Padepokan Tambak Wedi. Orang yang bertanggung jawab atas padepokan kami kemudian disebut orang Ki Tambak Wedi.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan matanya menebar ke sekitar Padepokan Tambak Wedi. Ternyata memang tanah itu adalah tanah yang subur. Adalah di luar dugaannya bahwa padepokan setinggi itu ternyata berpenduduk cukup padat. Kini padepokan itu menjadi semakin padat karena orang-orang Jipang di bawah pimpinan Sanakeling berada di sana pula.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah memasuki Padepokan Tambak Wedi itu. Mereka menyusup sebuah regol yang besar pada dinding padepokan yang tebal, kuat dan tinggi. Dinding batu hitam yang diatur cukup baik melingkar seputar padepokan yang ramai.

“Dinding ini pun merupakan sebuah persoalan,” desis Wuranta di dalam hatinya. “Apakah seseorang akan dapat meloncati dinding setinggi ini? Mudah-mudahan ada bagian-bagian yang setidak-tidaknya mungkin dapat dipanjat.”

Tetapi Wuranta kemudian tidak mendapat kesempatan lagi untuk berangan-angan. Segera ia sampai ke sebuah rumah yang cukup besar. Sidanti membawanya masuk ke dalam rumah itu. Dan di dalam rumah itu ditemuinya para pemimpin yang lain. Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan yang lain-lain.

Dengan canggung Wuranta duduk di antara mereka, di antara orang-orang yang belum dikenalnya. Dengan demikian maka ia harus menjadi lebih berhati-hati. Setiap katanya harus dipertimbangkannya masak-masak supaya ia tidak terjerumus dalam kesulitan.

Beberapa orang dari mereka menerima kedatangan Wuranta dengan sikap acuh tak acuh. Ada yang sama sekali tidak memperhatikannya lagi seperti Argajaya. Kehadiran Wuranta bagi mereka sama sekali tidak berarti apa-apa.

Tetapi ada juga di antara mereka yang menyambutnya dengan ramah. Hubungan yang baik dengan Jati Anom akan sangat menguntungkan mereka. Terutama dalam segi kekuatan. Setidak-tidaknya Jati Anom jangan sampai menjadi pangkalan yang baik bagi Untara seperti Sangkal Putung. Kalau anak-anak mudanya tidak membantu, maka kedudukan Untara pun tidak akan sekuat kedudukan Widura di Sangkal Putung.

Demikian jugalah harapan Sidanti. Ia mengharap Wuranta dapat membantunya, membuat Jati Anom benteng pertama bagi pertahanan Tambak Wedi. Tetapi dalam waktu yang pendek ini dia belum dapat mengirimkan pasukannya ke Jati Anom karena berbagai pertimbangan. Terutama pertimbangan tentang kekuatan yang belum mencukupi untuk dibagi-bagi. Kalau ia menempatkan sebagian dari kekuatannya di Jati Anom, maka kekuatannya itu pasti tidak akan dapat melawan seandainya Untara datang dengan prajurit segelar-sepapan. Sedangkan menurut perhitungannya, maka kedatangan Untara pasti tidak akan terlalu lama lagi.

Maka yang dapat dikerjakannya sekarang adalah mempengaruhi anak-anak muda Jati Anom, supaya mereka tidak dapat bekerja bersama dengan orang-orang Pajang, meskipun Untara dan Agung Sedayu sendiri berasal dari Jati Anom.

Wuranta adalah salah seorang dari anak-anak muda Jati Anom yang akan dijadikannya alat untuk itu.

Karena itu, maka setelah mereka duduk bersama sejenak, maka diajaknya kemudian Wuranta berjalan-jalan didalam padepokan itu. Ditunjukannya beberapa bagian dari kekuatannya di Padepokan Tambak Wedi itu. Diberitahukannya beberapa nama yang dapat menggetarkan dada anak muda Jati Anom itu. Tetapi sampai demikian jauh, Sidanti masih tetap menyimpan rahasia-rahasia yang penting. Ia masih belum dapat mempercayai anak muda yang baru saja dibawanya itu.

“Apakah yang menarik perhatianmu, Wuranta?” bertanya Sidanti kemudian.

“Tuan,” jawab Wuranta, “padesan yang di tengah-tengahnya dibelah oleh sebuah sungai adalah padesan yang baik. Kehidupan di atasnya pasti diliputi oleh suasana tenteram dan damai seperti padukuhan ini. Apalagi menurut penglihatan sepintas, padukuhan ini pun dikelilingi oleh jalan yang cukup lebar. Bukankah begitu?”

“Memang padesan ini dibelah oleh sebuah sungai,” sahut Sidanti. “Tetapi tidak dikelilingi penuh oleh jalan seperti yang kau maksud. Di sisi Timur dan Utara memang membujur jalan yang cukup lebar. Di sisi Barat sebuah jalan sempit, tetapi di sisi Selatan padepokan ini berbatasan dengan sebuah pategalan.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak segera bertanya.

“Kau memang seorang petani yang tekun,” berkata Sidanti. “Perhatianmu yang pertama-tama tertuju pada sungai, jalan dan parit. Apakah kau tidak tertarik kepada hal-hal yang lain?”

“Tentu, Tuan,” jawab Wuranta, “aku tertarik juga akan kekuatan prajurit di Tambak Wedi ini. Aku tertarik kepada ketabahan hati mereka.”

“Apakah kau tidak ingin menjadi seorang prajurit? Bukankah kau sudah pernah belajar bermain pedang?”

“Tentu, Tuan, aku ingin menjadi seorang prajurit yang baik. Seperti Tuan, misalnya.”

Sidanti tertawa. “Kau pasti akan dapat menjadi seorang prajurit yang baik.”

Wuranta tertawa pula. Katanya, “Tuan berolok-olok.”

Sidanti masih juga tertawa, tetapi ia tidak menjawab kata-kata Wuranta itu. Sejenak ia berdiam diri sambil melangkah mengelilingi padepokannya yang cukup luas. Setiap kali mereka bertemu dengan beberapa orang laki-laki yang garang dengan pedang di lambung masing-masing.

“Hem,” desah Wuranta di dalam hatinya, “padukuhan ini penuh dengan senjata yang siap menyambut pasukan Pajang apabila mereka datang kemari. Alangkah sulitnya untuk mencapai padepokan ini. Di antara cerung-cerung jurang dan tebing, pasukan Tambak Wedi mendapat kesempatan yang cukup banyak untuk menyambut pasukan Pajang apabila mereka merayap naik.”

“Wuranta,” tiba-tiba Sidanti berkata, “kau dapat mencoba membantu kami apabila kau mau. Tetapi kau harus yakin bahwa kami akan dapat mengenyahkan kekuasaan Pajang, setidak-tidaknya untuk sementara dari tlatah di sekitar Gunung Merapi. Pengaruh Ki Tambak Wedi cukup luas di sini. Sekarang baru dihimpunnya orang-orang yang percaya kepada kekuatannya. Orang-orang dari segenap sudut daerah ini. Orang-orang dari Prambanan, Mayungan, Pucangan, Asem Gede, bahkan kelak pasti dari daerah yang lebih jauh, Wanakerta dan Mangir. Sedang aku sendiri adalah Putera Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang luas. Semuanya itu akan merupakan landasan yang kuat untuk melawan Pajang yang kini agaknya harus menghadapi kekuatan para bupati di Pesisir Utara. Suatu ketika pasukan Pajang akan menjadi semakin lemah, sedang kita menjadi semakin kuat. Suatu ketika maka Untara dan Widura pasti akan ditarik kembali untuk menghadapi pemberontakan di sebelah timur kekuasaan Demak lama. Nah, dalam pada itu kami akan dapat membangun kekuatan. Kau tahu, bahwa Jati Anom akan dapat menjadi benteng yang kuat dari kekuasaan Ki Tambak Wedi di sini? Kelak Jati Anom pasti akan menjadi pintu gerbang yang ramai dari suatu daerah yang besar yang dapat menyaingi Pajang sekarang ini. Sebentar lagi Paman Argajaya akan kembali ke Menoreh. Paman akan segera kembali membawa kekuatan yang lebih besar dari kekuatan Pajang di daerah ini, sementara itu kita akan membangun terus. Dalam pada itu, bantuan anak-anak muda Jati Anom sangat kami harapkan. Kami tidak akan melupakan jasa-jasa yang telah kalian berikan. Terutama kau apabila kau mampu menghubungi anak-anak muda sebayamu.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendengar sebuah rencana yang besar dari seorang putera kepala Tanah Perdikan. Ia percaya bahwa Sidanti dapat mengerahkan tenaga manusia cukup banyak dari tanah pegunungan Menoreh. Ia percaya bahwa di tanah yang garang seperti Menoreh, pasti telah dilahirkan laki-laki yang kuat dan garang pula, yang sesuai benar dengan tugas seorang prajurit dalam keadaan seperti Sidanti dan Argajaya kini. Dan ia dapat juga mempercayainya bahwa pengaruh Ki Tambak Wedi memang cukup luas di daerah lereng Gunung Merapi. Beberapa-orang terkenal yang tersebar di beberapa daerah telah mengakuinya sebagai seorang guru dalam olah kanuragan dan kebatinan.

Sejenak kemudian mereka pun saling berdiam diri. Sekali-sekali Sidanti mencoba memandang wajah anak muda Jati Anom itu. Tetapi Sidanti tidak segera mendapat kesan sesuatu pada wajah itu. Namun sejenak kemudian Sidanti mendengar Wuranta itu bergumam, “Bukan main.”

“Apa yang bukan main?”

“Tuan, dan Ki Tambak Wedi. Apakah kelak Tuan akan dapat menjadi Sultan?”

Sidanti tertawa semakin keras. Katanya, “Tidak setiap orang dapat menjadi Sultan. Tetapi siapa tahu, bahwa suatu ketika aku mendapatkan tombak Kangjeng Kiai Pleret atau sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten atau keris yang keramat Kiai Sengkelat.”

“Apakah pengaruh senjata-senjata itu?” bertanya Wuranta.

“Senjata-senjata itu adalah senjata-senjata kebesaran. Senjata itu mempunyai pengaruh atas orang-orang yang memilikinya.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang pernah mendengar bahwa pernah terjadi perjuangan yang dahsyat untuk memperebutkan keris-keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten. Tetapi ia tidak membuat tanggapan sepatah kata pun.

“Nah, pikirkanlah Wuranta. Mungkin kau akan dapat menjadi seorang demang atau seorang kepala tanah perdikan seperti ayahku. Tetapi apakah kau berani pulang ke Jati Anom?”

“Kenapa tidak, Tuan?”

“Kalau bertemu dengan Agung Sedayu?”

“Sudah aku katakan, Tuan. Aku akan datang malam hari, sehingga kemungkinan untuk bertemu dengan Agung Sedayu dapat dihindari.”

“Bagaimana mungkin kau dapat bertemu dengan anak-anak muda yang lain?”

“Aku kunjungi rumahnya masing-masing. Kalau aku sudah mempunyai cukup kawan, maka aku akan dapat menyingkirkan Agung Sedayu.”

“Kalau Untara datang bersama pasukannya?”

“Kami akan menyingkir.”

“Jangan. Biarlah kalian tinggal di rumah kalian masing-masing. Kalian akan merupakan pembantu yang baik. Kalian dapat memberitahukan kepada kami apa saja yang telah dilakukan oleh Untara. Tidak perlu kau sendiri, sebab Agung Sedayu telah pernah melihat kau datang bersama aku. Kau dapat menempatkan beberapa orang di Jati Anom. Dari mereka kau akan mendapatkan beberapa keterangan yang akan kau bawa kemari.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana?”

“Akan aku coba, Tuan,” sahut Wuranta.

Sidanti tersenyum. Tetapi senyumnya itu sangat meragukan hati Wuranta. Ia tidak dapat menduga tepat arti daripada senyumnya itu.

“Apakah kau masih ingin berjalan-jalan?” tiba-tiba Sidanti bertanya.

“Ya, Tuan. Di manakah sawah yang bertingkat-tingkat itu?” bertanya Wuranta.

“Perhatianmu sebagian besar masih tertuju pada sawah dan parit. Tetapi baiklah. Marilah kita kembali, kau akan mendapat kawan yang baik.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Diikutinya Sidanti berjalan kembali ke banjar ke tempat para pemimpin laskar di Padepokan Tambak Wedi. Kemudian dipanggilnya seorang anak muda yang sebaya dengan Wuranta. Alap-alap Jalatunda.

“Adi,” berkata Sidanti kepada Alap-alap itu. “Kau mendapat seorang kawan. Kawan dari Jati Anom yang bersedia membantu perjuangan kita. Ia ingin melihat-lihat daerah padepokan ini. Tetapi perhatiannya sebagian besar tertarik pada sawah dan parit-parit. Nah, bawalah ia berjalan-jalan supaya ia mengenal daerah ini dengan baik.”

Alap-alap Jalatunda memandangi Wuranta sejenak. Matanya yang tajam telah menumbuhkan berbagai pertanyaan di hati Wuranta. Tetapi betapa tajam mata anak muda itu, namun anak muda ini pasti tidak selicik Sidanti.

“Baiklah,” jawab Alap-alap Jalatunda dengan ragu. “Marilah, ke mana kau ingin berjalan-jalan?”

Terasa bahwa anak muda yang disebut bernama Alap-alap Jalatunda ini agak terlampau kasar. Namun Wuranta tidak akan dapat menolaknya.

“Pergilah, dan bawalah ke mana kau suka,” berkata Sidanti kemudian.

Keduanya pun kemudian melangkah keluar. Tetapi belum lagi mereka meninggalkan halaman, terdengar Sidanti memanggil Alap-alap Jalatunda. Ketika mereka sudah berhadapan di muka pintu, maka Sidanti pun berbisik perlahan, “Jangan kau anggap anak muda itu seperti seekor kelinci yang bodoh. Ternyata ia cerdik melampaui kancil. Awasi dan ingat-ingat apa saja yang ingin dilihatnya.”

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda tersenyum, “Apakah maksudmu, aku harus menyelesaikannya dan melemparkannya ke sawah atau ke sungai?”

“Jangan. Kita harus mendapatkan kepastian, apakah ia dapat kita pergunakan atau tidak.”

Kembali Alap-alap Jalatunda tersenyum. Katanya, “Hanya itu pesanmu?”

“Ya, dan tumbuhkan kekagumannya atas kekuatan kita.”

Alap-alap Jalatunda pun kemudian membawa Wuranta berjalan berkeliling padepokan. Seperti yang dikatakannya, Wuranta ingin melihat sawah yang bertingkat-tingkat dan parit yang membelah sawah dan padepokan mereka. Tetapi hampir seluruh padepokan dijelajahinya, namun belum juga ditemukannya apa yang dicari. Jalan untuk memasuki padepokan itu.

“Aku tidak boleh tergesa-gesa,” katanya di dalam hati. “Kalau mereka mencurigai aku, maka selesailah tugasku. Mungkin kepalaku besok akan ditemukan oleh Agung Sedayu di muka rumahnya.”

Akhirnya mereka pun kembali ke tempat para pemimpin. Kembali Wuranta duduk dengan kaku di tengah-tengah orang yang belum begitu dikenalnya. Sementara itu ia mendengar Sidanti berkata, “Wuranta, kau akan segera menerima tugasmu setelah kau sehari berada di antara kita. Tugas yang masih sangat ringan. Malam nanti kau harus turun kembali ke Jati Anom. Lihat apakah yang terjadi di sana, dan coba lihat, apakah Agung Sedayu masih di sana pula.”

Wuranta menjadi berdebar-debar mendengar perintah itu. Ia tidak dapat meraba tepat maksud Sidanti. Ia melihat anak muda itu tersenyum. Dan senyumnya memancarkan seribu satu macam kemungkinan.

Karena Wuranta tidak segera menjawab, maka berkatalah Sidanti, “Bagaimana, apakah kau sanggup melakukannya? Kau tidak perlu takut terhadap siapa pun. Kau harus belajar berani menghadapi bahaya apabila kau benar-benar ingin menjadi seorang prajurit yang baik. Kau dapat mengatakan kepada kawan-kawanmu di Jati Anom tentang apa yang kau lihat di sini. Kekuatan Tambak Wedi tidak akan dapat digoyahkan hanya oleh kekuatan Untara. Kalau seluruh prajurit Pajang di sepanjang pantai utara dan di seluruh daerah Bang Wetan ditarik, mungkin Tambak Weii dapat bedah. ltupun baru suatu kemungkinan. Apalagi sebentar lagi kalau prajurit dari Menoreh sudah datang. Maka tidak akan ada kekuatan yang dapat memasuki daerah Tambak Wedi. Semuanya pasti akan hancur selagi mereka mencoba memanjat tebing Gunung Merapi ini.”

Wuranta masih berdiam diri. Tetapi terasa detak jantungnya menjadi semakin keras memukul dinding dadanya.

“Nah, pergilah. Kalau kau masih belum berani bertemu dengan Agung Sedayu, maka tugasmu hanyalah melihat apakah ia masih berada di Jati Anom.”

Wuranta tidak akan dapat terus-menerus berdiam diri tanpa menanggapi perintah itu. Karena itu maka kemudian jawabnya per-lahan-lahan, “Baiklah, tuan. Aku akan pergi ke Jati Anom.”

Sidanti tertawa. “Kenapa kau ragu-ragu? Kau takut?”

“Tidak, Tuan,” sahut Wuranta.

“Baik,” tetapi Sidanti masih tertawa, “kalau kau berangkat senja nanti, maka besok pagi-pagi kau sudah kembali kemari. Kau akan langsung memberitahukan tugasmu itu kepadaku. Apakah yang telah terjadi di Jati Anom dan apakah Agung Sedayu masih berada di tempat itu.”

“Baik, Tuan,” sahut Wuranta.

“Hubungi anak-anak muda yang dapat mengerti apa yang akan kau katakan kepada mereka. Kepada yang berkeras kepala kau dapat memberikan gambaran bahwa Tambak Wedi akan mampu menggilas Jati Anom apabila dikehendaki. Mereka yang menentang akan hancur, sedang mereka yang memilih perjuangan kami akan menikmati kemenangan.”

“Baik, Tuan.”

“Nah, sekarang beristirahatlah. Berangkatlah senja nanti. Kau tidak perlu menemui aku lagi.” Kemudian kepada salah seorang yang berada di tempat itu Sidanti berkata, “Tempatkan anak muda ini di rumah Kakek Kriya.”

Wuranta pun kemudian dibawa pergi. Ke pondokan yang diperuntukkannya. Ia harus beristirahat sejenak supaya senja nanti ia dapat melakukan tugasnya. Berjalan kembali ke Jati Anom dan pagi-pagi besok ia harus sudah menghadap Sidanti.

Sepeninggal Wuranta, Sidanti meiihat Argajaya berdiri sambil bergumam, “Buat apa kau pelihara anak gila itu. Apa pula gunanya kau bawa ia berkeliling padepokan ini kemudian kau lepaskan kembali ke Jati Anom?”

Sidanti tersenyum, jawabnya, “Sudah aku katakan, Paman. Ia akan merupakan alat yang baik untuk menakut-nakuti anak-anak muda Jati Anom. Sedangkan kalau anak itu seperti yang dikatakannya, mempunyai pengaruh yang baik, maka ia akan dapat menjadi jembatan untuk mengenal anak-anak muda yang lain.”

“Kau terlalu percaya kepadanya,” berkata Sanakeling. “Apakah kau yakin bahwa ia tidak akan berkhianat?”

“Sidanti tidak akan sebodoh itu,” sahut Sidanti. “Aku ingin melihat, apakah ia tidak sekedar alat Agung Sedayu atau Untara untuk menjebak dan memasukkan orang-orangnya kemari. Karena itu maka aku minta nanti senja apabila ia pergi, Adi Alap-alap Jalatunda mengikutinya. Lihatlah, apakah ia berhubungan dengan Agung Sedayu atau tidak. Kalau ia menemui Agung Sedayu, maka anak itu besok akan tergantung di ujung Kademangan Jati Anom. Mayatnya akan tergantung-gantung selama seminggu sebelum kita memaksa orang-orang Jati Anom mengambil dan menguburkannya.”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Argajaya yang sudah melangkahkan kakinya, tertegun dan berpaling kepada Sidanti. Katanya, “Kau telah membuang waktu untuk mengurus anak bodoh itu. Tetapi ada juga baiknya kau mengirimkan seseorang untuk melihatnya.”

Sidanti tidak menjawab. Ketika ia melihat wajah Alap-alap Jalatunda, maka dilihatnya anak muda itu tertawa sambil berkata, “Aku tidak saja ingin menggantungnya di ujung Kademangan, bahkan aku ingin menggantung Agung Sedayu itu sendiri.”

“Jangan sombong,” desis Sidanti, “kau hanya mengamat-amati anak itu. Kalau ia memasuki rumah Agung Sedayu, cobalah lihat, tetapi hati-hati supaya bukan lehermu yang dijerat oleh Agung Sedayu, apakah Wuranta menemui Agung Sedayu atau seorang perempuan tua di rumah itu yang diakunya sebagai bibinya? Kalau ia menemui Agung Sedayu, maka semuanya sudah jelas. Kau tidak usah berbuat apa-apa. Tinggalkan saja ia pergi supaya kau tidak mati dibunuh oleh adik Untara itu. Besok anak itu akan datang kemari lagi untuk menyerahkan lehernya.”

“Aku sendiri dapat menyelesaikannya, Kakang,” berkata Alap-alap Jalatunda.

“Kurang menyenangkan. Kita bersama-sama akan membuat perhitungan dengan anak itu.”

“Tetapi,” berkata Sanakeling, “apakah rahasia Tambak Wedi dengan demikian sudah diketahui oleh Agung Sedayu?”

“Tak ada yang dapat dikatakan tentang padepokan ini selain kekuatan yang tangguh. Ia tidak melihat suatu kelemahan pun. Aku belum tahu, rahasia apa yang sebenarnya disembunyikannya di balik keinginannya untuk melihat sawah-sawah dan sungai di daerah ini.”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Alap-alap Jalatunda ia berpesan, “Hati-hatilah kau, supaya bukan kau yang tergantung di ujung Kademangan Jati Anom.”

Alap-alap Jalatunda tertawa mendengar pesan Sanakeling. Pesan itu terdengar sebagai suatu ucapan sendau-gurau saja. Hatinya menjadi gembira mendapat suatu pekerjaan yang baginya dapat memberi kesegaran setelah beberapa lama ia duduk saja terkantuk-kantuk di padepokan itu. Kerjanya hanya berjalan hilir mudik, atau memberi beberapa petunjuk kepada para prajurit dan orang-orang baru yang berasal dari daerah sekitar padepokan itu, atau orang-orang yang datang dari berbagai daerah karena pengaruh nama Ki Tambak Wedi atas keluarga mereka atau orang-orang yang mereka hormati.

Tetapi kini ia harus mengikuti seorang anak muda dari Jati Anom itu. Mengawasi dan kemudian berbuat sesuatu apabila perlu.

Namun dalam pada itu terdengar Argajaya berkata, “Jadi kalau kali ini anak Jati Anom itu tidak menjumpai Agung Sedayu, kau akan mempercayainya untuk seterusnya?”

“Bukan berarti begitu, Paman,” jawab Sidanti. “Untuk seterusnya pun anak itu perlu diawasi. Baru setelah terbukti kesetiaannya, maka sedikit demi sedikit ia akan dapat dilepaskan.”

“Tidak banyak gunanya,” gumam Argajaya. “Anak itu tidak akan banyak memberikan apa-apa kepada kita. Pada saat kau dapat suatu keyakinan bahwa ia dapat dipercaya, maka Untara sudah berada di hadapan hidungmu.”

“Pada saat yang demikian kita memerlukan bantuan anak-anak muda Jati Anom. Setidak-tidaknya mereka tidak membantu pasukan Untara. Tidak menyediakan makan bagi mereka, apalagi memberikan bahan-bahannya.”

“Untara dapat berbuat dengan kekerasan.”

“Itulah yang kita inginkan. Anak-anak muda itu akan merupakan minyak di dalam bumbung bambu. Kalau kita mampu menyalakan, maka meledaklah bumbung itu.”

Argajaya tidak menjawab. Kemudian ia meneruskan langkahnya keluar dari dalam bilik itu. Meskipun demikian ia bergumam, “Kalau tekadmu telah bulat untuk melawan Pajang, sebaiknya kau mengambil orang-orangmu dari Menoreh.”

Sidanti tidak menjawab, karena Argajaya pun tidak berhenti. Sejenak kemudian orang itu telah hilang di balik pintu.

Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda pun kemudian meninggalkan bilik itu pula. Sekali lagi Sidanti berpesan kepada Alap-alap muda itu, “Jaga, jangan sampai ia mengetahui bahwa kau mengikutinya supaya ia berbuat seperti yang dikehendakinya.”

“Apakah ia berangkat senja nanti sebelum malam?”

“Kau takut dilihatnya?”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya, kemudian jawabnya, “Sebelum gelap adalah sangat sulit untuk mengikutinya tanpa diketahuinya.”

“Usahakan agar ia berangkat setelah matahari turun di bawah cakrawala.”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Tetapi ia berjalan terus meninggalkan ruangan itu di belakang Sanakeling.

Ketika mereka sampai ke halaman, Sanakeling masih mencoba memperingatkan Alap-alap Jalatunda, “Hati-hatilah kau, Alap-alap kecil.”

Alap-alap Jalatunda mempercepat langkahnya. Desisnya, “Apa sulitnya pekerjaan itu? Kalau anak itu berbuat yang aneh-aneh aku tidak perlu menunggu besok. Malam nanti anak itu akan aku gantung di ujung Kademangan Jati Anom.”

“Jangan membuat perkara. Turuti saja kata-kata Sidanti, anak gila itu. Dengan demikian kita tidak akan banyak menemui kesulitan di sini.”

“Mau apa saja dia terhadapku? Aku tidak takut terhadap murid Tambak Wedi itu.”

“Kau memang terlampau sombong. Kau masih belum dapat menyamainya meskipun kau berlatih seorang diri hampir setiap malam. Kau sangka Sidanti itu tidak berbuat sesuatu untuk mempertinggi ilmunya?”

“Tidak,” sahut Alap-alap Jalatunda, “ia hanya menunggui bilik gadis itu saja siang dan malam. Tetapi ia pengecut. Ia tidak berani masuk.”

Sanakeling berpaling memandangi wajah Alap-alap Jalatunda. Kemudian katanya, “Jangan hiraukan gadis itu. Tetapi jangan pula berbuat sesuatu yang merugikan kedudukan kita di sini. Sementara kita harus menerima saja keadaan ini. Kalau anak Jati Anom itu benar-benar menemui Agung Sedayu, katakan saja hal itu kepada Sidanti, jangan kau lakukan sendiri hukuman atasnya.”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab.

“Beristirahatlah,” berkata Sanakeling, “kau malam nanti akan berjalan sepanjang malam.”

“Baiklah,” jawab Alap-alap itu, yang kemudian berjalan ke pondoknya yang didiaminya dengan beberapa orang anak buahnya.

Senja itu Alap-alap Jalatunda telah menyiapkan diri mondar-mandir di jalan kecil di tengah-tengah padepokan itu. Pedang di lambungnya berkali-kali dirabanya, seakan-akan tangannya sudah terlampau gatal untuk mempergunakan. Dengan gelisah ia mengawasi regol halaman rumah tempat Wuranta beristirahat. Kalau-kalau anak Jati Anom itu berangkat menunaikan perintah Sidanti.

Tetapi akhirnya ia tidak sabar lagi. Alap-alap Jalatunda itulah yang kemudian mendatangi pondokan Wuranta.

“Kau akan pergi sekarang?” bertanya Alap-alap itu.

“Ya, sebentar lagi,” sahut Wuranta. “Sekarang telah senja.”

“Masih terlampau siang. Sebaiknya kau berangkat sesudah gelap.”

“Kenapa?”

“Tak seorang pun melihatmu kecuali para penjaga. Mungkin ada orang-orang yang sengaja memata-matai padepokan ini. Mereka akan melihatmu dan mungkin kau akan mendapat bahaya di perjalanan.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,” katanya, “aku akan berangkat sesudah gelap.”

Mendengar jawaban Wuranta itu maka Alap-alap Jalatunda tersenyum di dalam hati. Kalau anak itu bersedia berangkat sesudah gelap, maka pekerjaannya tidak akan terlampau sulit. Ia merasa bahwa ia pasti jauh lebih berpengalaman dari anak muda yang bernama Wuranta itu, sehingga ia akan mendapat banyak kesempatan untuk melakukan tugasnya.

Ketika kemudian matahari menjadi semakin rendah, dan tenggelam di balik punggung Gunung Merapi, maka lereng di sebelah timur itu pun menjadi semakin suram. Warna kemerah-merahan yang berpencaran di langit pun semakin lama semakin pudar, sehingga akhirnya perlahan-lahan kabut yang hitam turun menyelimuti lereng Gunung Merapi itu.

Ketika seseorang menyalakan pelita di dalam bilik itu, maka berkata Alap-alap Jalatunda, “Hari telah mulai gelap. Apakah kau sudah siap untuk berangkat?”

“Aku sudah siap sejak tadi,” sahut Wuranta.

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya, tetapi kemudian dipaksakannya bibirnya tersenyum, “Baik. Marilah aku antar kau sampai ke perbatasan.”

“Aku berani berjalan sendiri.”

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi pula ia memaksa bibirnya untuk tersenyum, “Kau memang berani. Tetapi supaya tidak menimbulkan salah paham dengan para penjaga yang belum mengenalmu dengan baik.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Alasan itu memang masuk di akalnya. Karena itu maka jawabnya, “Terima kasih.”

“Apakah kau juga memerlukan senjata?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

Wuranta berpikir sejenak. Lalu jawabnya, “Aku memang memerlukannya. Apakah kau mempunyai senjata rangkap?”

“Setiap orang mempunyai senjata rangkap di sini. Bahkan setiap orang apabila dikehendaki dapat membawa tiga atau empat pedang sekaligus. Pande besi di padepokan ini melimpah ruah.”

“Terima kasih. Apakah kau dapat memberi aku sebuah pedang yang tidak terlampau besar?”

Alap-alap Jahtunda mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Marilah kita berangkat. Aku akan mengambil sebilah pedang untukmu sambil berjalan.”

Keduanya pun kemudian berangkat meninggalkan rumah itu. Ketika mereka sampai di gardu dekat regol halaman rumah itu, Alap-alap Jalatunda berkata kepada salah seorang penjaganya, “Beri aku pedangmu itu. Kau akan dapat mengambilnya lagi.”

Orang itu diam termangu-mangu. Tetapi Alap-alap Jalatunda berkata lagi, “Berikan pedangmu itu. Cepat! Dengan wrangkanya.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi dilepaskannya pedang beserta wrangkanya, dan diserahkannya kepada Alap-alap Jalatunda.

“Terima kasih,” berkata Alap-alap Jalatunda sambil menyerahkan pedang itu kepada Wuranta. “Anak muda ini adalah anak muda yang berasal dari Jati Anom. Ia adalah kawan kita. Kenalilah baik-baik.”

Orang-orang di dalam gardu itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kemudian keduanya meneruskan perjalanan mereka. Di sepanjang jalan itu, Alap-alap Jalatunda masih sempat bercerita tentang Padepokan Tambak Wedi. Bercerita tentang dirinya dan tentang orang-orang Jipang yang berada di padepokan itu.

“Kekuatan Tambak Wedi benar-benar di luar dugaanku,” berkata Wuranta. “Alangkah besar pengaruh Ki Tambak Wedi, sehingga ia mampu mengumpulkan sekian banyak laki-laki yang siap untuk bertempur di pihaknya.”

“Huh,” Alap-alap Jalatunda mencibirkan bibirnya, “omong kosong. Siapakah yang berkata demikian?”

“Sidanti. Bahkan Sidanti akan dapat mengambil kekuatan yang tidak terhingga dari Bukit Menoreh.”

“Anak itu memang seorang pembual. Sejak kita berada di sini ia berkata, bahwa ia akan dapat menyusun kekuatan yang tidak akan dapat terkalahkan.”

“Bukankah kekuatan itu kini telah terbentuk?”

“Kekuatan ini adalah kekuatanku. Mereka adalah orang-orang Jipang yang setia kepadaku. Sepeninggal Tohpati, tak ada orang lain yang dapat mereka percaya selain aku.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun di dalam kepalanya menjalar suatu pengertian baru, bahwa para pemimpin di padepokan itu ternyata saling berebut pengaruh.

“Jadi siapakah sebenarnya yang berkuasa di sini?”

Alap-alap Jalatunda terdiam sejenak. Pertanyaan itu sukar dijawabnya. Namun kemudian katanya, “Akulah yang berkuasa atas orang-orang Jipang. Tetapi karena Sidanti di sini adalah tuan rumah, maka aku wajib menghormatinya. Ia adalah murid Ki Tambak Wedi. Seorang yang memiliki padepokan ini.”

Wuranta masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia bertanya, “Bagaimanakah hubungan Sidanti dengan orang-orang Jipang yang berada di bawah pimpinanmu itu?”

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda mendapat pertanyaan yang sulit. Tetapi akhirnya ia menjawab, “Orang-orang Jipang di sini menghormatinya. Bukan karena anak itu sendiri, tetapi karena gurunya, Ki Tambak Wedi.”

Wuranta terdiam sejenak. Tiba-tiba teringat olehnya, bahwa Sidanti telah membawa lari seorang gadis Sangkal Putung. Adik Swandaru seperti yang diceritakan kepadanya. Karena itu maka tiba-tiba timbullah keinginannya untuk bertanya, “Apakah Sidanti telah beristri?”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya. “Belum,” jawabnya. “Ia adalah laki-laki pengecut. Ia menyimpan seorang gadis di padepokan ini. Tetapi ia tidak berani mendekatinya. Kalau gadis itu dibiarkannya saja, maka ia akan menyesal. Akulah nanti yang akan mendapatkannya.” Alap-alap itu kemudian tertawa terbahak-bahak, sehingga beberapa orang yang sedang berjaga-jaga di tepi jalan menjadi terkejut karenanya. Namun tiba-tiba ia berhenti tertawa dan berkata, “He, sampai ke mana aku mengantarmu?”

Wuranta tertegun mendengar pertanyaan itu sehingga keduanya tiba-tiba saja berhenti. Sejenak Wuranta memandangi wajah Alap-alap Jalatunda, dan sejenak kemudian ia berkata, “Terserahlah kepadamu. Tetapi agaknya kau sudah berjalan terlampau jauh.”

Alap-alap Jalatuda mengerutkan keningnya. Katanya, “Kita sudah berjalan sampai beberapa puluh langkah dari regol padepokan. Tetapi kau masih belum lepas dari lingkaran pengawasan orang-orangku. Marilah, aku antar kau beberapa puluh langkah lagi sampai penjagaan yang terakhir.”

“Aku kira kau sudah mengantarku cukup jauh.”

“Biarlah. Marilah.”

Kembali mereka berjalan bersama-sama. Dan kembali Alap-alap Jalatunda mulai membual. Bercerita tentang dirinya dan tentang orang-orang Jipang di padepokan itu.

“He, apakah yang sedang kita bicarakan tadi ?” bertanya Alap-alap Jalatunda itu.

“Seorang gadis,” sahut Wuranta.

“Ya, seorang gadis cantik. Sidanti mengambilnya dari Sangkal Putung.”

“Apakah gadis itu bakal isterinya?”

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda itu tertawa terbahak-bahak. Jawabnya, “Dicurinya gadis itu di tengah jalan. Gadis itu adalah anak Demang Sangkal Putung.”

“Tetapi bukankah maksud Sidanti mengambil gadis itu menjadi isterinya?”

“Darimana kau tahu?”

“Aku bertanya.”

Alap-alap Jalatunda menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Mungkin. Tetapi mungkin pula tidak. Melihat sikapnya yang cukup hati-hati, aku kira memang gadis itu akan diperisterikannya. Kalau tidak, maka Sekar Mirah pasti sudah menjadi korbannya. Tetapi Sidanti itu pun nanti akan tinggal menggigit jari.”

“Kenapa?”

“Gadis itu cantik sekali. Kau kira aku seorang laki-laki yang buta akan kecantikan seorang gadis?”

“Tetapi bukankah gadis itu seakan-akan milik Sidanti?”

“Omong kosong. Gadis itu adalah barang curian. Aku akan dapat mencurinya, meskipun bukan membawanya lari.”

Dada Wuranta menjadi berdebar-debar. Gadis itu pasti adik Swandaru. Ia menjadi bertambah cemas karenanya. Seorang gadis di dalam lingkungan laki-laki sekasar Alap-alap Jalatunda, Sanakeling dan Sidanti pasti akan sangat berbahaya, seperti seekor ayam yang berada di dalam sarang musang. Tetapi bukankah dengan demikian akan dapat timbul pertentangan yang semakin tajam di antara mereka? Meskipun demikian, meskipun pertentangan itu akan dapat menguntungkan Pajang, namun umpan yang diberikan ternyata terlampau mahal. Tidaklah sewajarnya, bahwa Sekar Mirah harus dibiarkan saja di dalam sarang hantu-hantu supaya mereka saling berkelahi satu sama lain.

Wuranta itu tiba-tiba terkejut ketika Alap-alap Jalatunda bertanya, “He, apa yang kau renungkan? Apakah kau ingin gadis itu juga?”

“Aku belum pernah melihatnya. Sehari aku berada di padepokanmu, tetapi aku tidak bertemu dengan seorang gadis cantik. Yang aku lihat hanyalah perempuan-perempuan yang garang seperti kalian.”

Suara tertawa Alap-alap Jalatunda terdengar lagi memenuhi ereng-ereng Gunung Merapi. Dua orang pengawas yang duduk di atas sebuah batu sebesar punggung gajah, mengawasinya dalam kegelapan malam sambil bersungut, “Suara itu adalah suara Alap-alap Jalatunda.”

“Ya, agaknya ia mendapat sesuatu,” sahut yang lain.

Mereka terdiam ketika Alap-alap Jalatunda itu kemudian berjalan di sisi batu tempat mereka duduk.

“He, siapa di sini?”

“Aku, ki Lurah,” sahut pengawas itu.

“Buka matamu baik-baik. Anak muda yang bernama Wuranta ini adalah kawan kita di sini. Kalau nanti ia kembali dari Jati Anom, maka ia tidak boleh diganggu. Beritahu semua kawan-kawanmu yang bertugas malam ini. Ingat, namanya Wuranta.”

“Baik, ki Lurah.”

Kedua anak muda itu meneruskan perjalanannya. Kini Wuranta justru berusaha menahan Alap-alap Jalatunda untuk tetap berjalan bersamanya.

“Apakah gadis itu disembunyikan?” bertanya Wuranta.

“Kenapa ?”

“Aku ingin melihatnya. Aku ingin menilai, apakah kau benar-benar mengerti kecantikan seorang gadis.”

“Besok kau akan melihatnya apabila kau masih hidup.”

“Apakah aku nanti malam akan mati?”

Alap-alap Jalatunda itu tersenyum. Kemudian katanya, “Nah, pergilah. Aku sudah cukup jauh mengantarmu. Kau sudah melampaui pengawasan terakhir. Hati-hatilah di jalan. Lakukan pekerjaanmu baik-baik.”

“Kalau aku berhasil, apakah aku akan mendapat hadiah gadis yang cantik itu?”

“Huh, apa artinya kau buat gadis itu? Gadis itu akan menjadi milikku.”

“Kau harus menyisihkan Sidanti.”

“Huh, Sidanti tidak banyak berarti bagiku,” sahut Alap-alap Jalatunda, namun kemudian ia berkata, “sekarang pergilah. Besok pagi kau harus sudah menghadap Sidanti.”

“Kenapa tidak menghadap kau saja? Bukankah pengaruhmu atas orang-orang Jipang jauh lebih besar daripada Sidanti?”

“Padepokan ini adalah padepokannya.”

“Dan gadis itu?” Wuranta sengaja membakar hati Alap-alap muda itu, meskipun hatinya masih saja diselubungi oleh kecemasan. Mudah-mudahan segala sesuatunya tidak terjadi seperti yang dikatakan oleh Alap-alap muda yang buas itu.

Alap-alap Jalatunda tidak segera menjawab. Pertanyaan itu telah mendebarkan jantungnya. Tetapi di dalam hatinya ia sibuk menilai diri. Apakah ilmu Sidanti masih juga jauh berada di atas kepandaiannya? Selama ini ia telah mencoba menempa diri sendiri dengan bekal ilmu yang telah dimilikinya. Diperasnya segenap kemampuan yang ada padanya untuk mencoba meningkatkan ilmunya. Dengan tekun ia memperbesar kekuatannya dengan berbagai macam alat-alat yang dapat diketemukan: pasir, batu dan pepohonan. Hampir setiap hari, apabila ia pergi mandi ke sungai, ia selalu melatih jari-jarinya hampir seperempat hari dengan pasir tepian. Kemudian latihan itu diulanginya di malam hari. Dicobanya pula untuk meningkatkan kelincahan kakinya dengan meloncat-loncat dari batu ke batu. Kemudian berlari di tebing-tebing sungai yang curam. Meloncat terjun, kemudian kembali berlari mendaki lereng-lereng yang terjal.

Alap-alap Jalatunda berharap bahwa ilmunya akan menjadi semakin sempurna, sehingga apabila sekali lagi ia bertemu dengan Agung Sedayu, maka ia tidak akan menjadi malu.

Tetapi sasaran itu ternyata tidak saja ditujukan kepada Agung Sedayu. Kini, setelah ia melihat seorang gadis yang cantik itu, tiba-tiba ia mulai menilai dirinya kembali. Namun kini ia mencoba memperbandingkan dirinya dengan Sidanti.

Kedua anak muda itu, Wuranta dan Alap-alap Jalatunda untuk sejenak saling berdiam diri. Yang terdengar hanyalah desir kaki mereka menyentuh kerikil yang tersebar di sepanjang jalan. Sekali-sekali di kejauhan terdengar bunyi burung hantu yang seakan-akan sedang meratap.

Wuranta menunggu jawaban Alap-alap itu. Tetapi ternyata Alap-alap Jalatunda masih saja berdiam diri.

Tiba-tiba sekali lagi Alap-alap Jalatunda berkata, “He, sampai ke mana aku mengantarmu?”

Wuranta berpaling. Dipandangi wajah Alap-alap Jalatunda. Namun di dalam kegelapan malam, ia tidak mendapatkan suatu kesan apapun. Meskipun demikian, dada Wuranta berdesir melihat ketajaman mata anak muda itu.

“Sudahlah. Aku akan berjalan sendiri. Mungkin langkahku akan lebih cepat. Besok pagi-pagi aku mengharap akan dapat melihat gadis yang kau katakan.”

“Kau akan menjadi orang ketiga yang menginginkan gadis itu besok.”

“Tidak ada orang lain?”

“Hampir semua laki-laki di sini. Tetapi yang lain tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan kakang Sanakeling pun lebih baik menutup matanya daripada berhadapan dengan Sidanti.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Menurut penilaiannya Sanakeling adalah seorang laki-laki yang kasar. Tetapi agaknya orang itu lebih senang melihat darah di medan perang daripada kecantikan paras seorang gadis. Meskipun demikian laki-laki yang kasar itu tidak dapat diabaikan dalam memperhitungkan keselamatan Sekar Mirah.

Tetapi kali ini Wuranta belum tahu, di manakah Sekar Mirah itu disimpan.

Alap-alap Jalatunda pun kemudian berhenti, melepaskan Wuranta berjalan sendiri. Ketika anak muda itu melangkahkan kakinya, Alap-alap itu berkata, “Hati-hatilah. Kau akan melampaui hutan-hutan, meskipun tidak terlampau lebat, satu dua sungai yang curam, dan Tegal Mlanding yang justru lebih lebat dari hutan. Mungkin kau akan bertemu dengan harimau, tetapi lebih celaka lagi kalau kau bertemu dengan gerombolan anjing-anjing liar yang ganas.”

“Tentu. Aku akan sangat berhati-hati. Tetapi aku tidak takut menghadapi binatang-binatang itu, karena aku cukup pandai memanjat.”

Alap-alap Jalatunda tertawa. Katanya, “Aku sangka kau tidak takut karena pedang di lambungmu.”

Wuranta pun tertawa pula. Sambil meneruskan langkahnya ia berkata, “Sampai ketemu lagi.”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Ditatapnya punggung Wuranta sampai anak muda itu lenyap ditelan oleh kelamnya malam.

Ketika Wuranta telah tidak tampak lagi Alap-alap Jalatunda itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba hatinya menjadi berdebar-debar ketika disadarinya, apa saja yang telah dikatakan kepada Wuranta. Ia belum tahu, apakah Wuranta itu berpihak kepadanya atau kepada Sidanti. Mulutnya begitu saja membual seperti apabila ia berada di tengah-tengah orang-orang Jipang.

“Gila,” desisnya, “kalau anak itu berkhianat, maka akan aku patahkan lehernya. Atau kenapa tidak sekarang saja?”

Alap-alap Jalatunda itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Sidanti menghendaki ia hidup.”

Alap-alap Jalatunda kemudian menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak begitu menyesal akan ketelanjurannya. Bahkan kemudian berkata, “Kalau aku benar-benar berhasil mendapatkan gadis itu sebelum Sidanti, maka aku tidak akan perlu merahasiakannya lagi. Aku pasti akan menengadahkan dada untuk menerima tantangannya. Aku sekarang bukan lagi beberapa bulan yang lalu. Mudah-mudahan usahaku dan ketekunanku selama ini mendapat imbalan sewajarnya.”

Alap-alap Jalatunda itu pun kemudian melangkahkan kakinya lagi. Sambil meraba-raba hulu pedangnya ia berkata, “Aku harus mengikutinya. Mudah-mudahan ia benar-benar menemui Agung Sedayu. Besok anak itu pasti akan digantung di ujung Kademangan Jati Anom.”

Dengan demikian maka Alap-alap Jalatunda itu pun mempercepat langkahnya. Ia harus tidak kehilangan Wuranta. Tetapi beberapa puluh langkah saja, Alap-alap Jalatunda yang bermata setajam mata burung Alap-alap segera melihat sebuah bayangan yang berjalan beberapa jauh di mukanya menuju ke Jati Anom. Bayangan itu adalah Wuranta, yang sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata yang tajam selalu mengikutinya.

Langkah Wuranta pun semakin lama menjadi semakin cepat. Ia ingin segera sampai ke Jati Anom. Ia ingin segera bertemu dengan Agung Sedayu dan Kiai Gringsing beserta Swandaru untuk menceritakan pengalamannya yang pendek itu.

Jalan yang ditempuh oleh Wuranta adalah jalan yang cukup gelap. Apalagi ia belum pernah berjalan melewati daerah itu. Tetapi Wuranta mempunyai pegangan arah. Ketika ia berjalan bersama Sidanti naik ke lereng Merapi, ia dapat mengenali bahwa tidak ada jalan lain selain jalan yang dilewatinya itu. Meskipun di beberapa tempat jalan itu tampaknya seakan-akan terputus oleh semak-semak, namun Wuranta berhasil menembusnya.

Sebelah menyebelah jalan itu adalah pepohonan hutan, yang meskipun tidak lebat tetapi cukup gelap. Wuranta seakan-akan tidak dapat lagi melihat jalan di hadapan kakinya karena kepekatan malam. Karena itu maka anak muda itu berjalan sambil menengadahkan kepalanya. Diikuti saja celah-celah dedaunan yang menjelujur sepanjang jalan.

Tetapi yang masih belum diketahuinya adalah, bahwa di belakangnya seorang anak muda yang garang telah mengikutinya. Justru ingin melihat apakah Wuranta menemui Agung Sedayu atau tidak. Karena itu, maka Wuranta sama sekali tidak memperhitungkan bahaya yang kini sedang mengikutinya.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka Wuranta pun segera semakin mempercepat langkahnya. Angin malam yang sejuk berhembus membawa udara lembab yang dingin. Meskipun demikian, namun tubuh Wuranta telah menjadi basah karena keringatnya yang mengalir dari lubang-lubang kulitnya.

Sementara itu, di belakangnya Alap-alap Jalatunda pun terpaksa mempercepat langkahnya pula. Anak muda ini pun sama sekali tidak merasa betapa sejuknya malam karena hatinya sedang dibakar oleh tugasnya. Ia pun ingin segera sampai ke Jati Anom untuk melihat apa saja yang akan dilakukan oleh Wuranta. Bahkan sekali-sekali timbulah keinginannya untuk menyelesaikan tugasnya dengan membunuh anak muda itu. Sudah terlampau lama ia tidak meneteskan darah lawan dengan pedangnya. Rasa-rasanya sudah bertahun-tahun. Tetapi selalu saja diingatnya, bahwa Sidanti menghendaki Wuranta itu besok hidup-hidup menghadapnya. Kalau ternyata Wuranta itu berkhianat maka Sidanti sendiri agaknya yang akan mendapat permainan.

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda itu menggerutu di dalam hatinya. “Huh, Sidanti ingin mendapat permainan tetapi ia tidak mau mengambilnya sendiri malam ini.”

Dalam pada itu maka jarak yang mereka tempuh pun semakin lama menjadi semakin jauh, dan sejalan dengan itu, maka Jati Anom pun menjadi semakin dekat pula.

Sekali-sekali Wuranta mendengar suara binatang-binatang buas yang berkeliaran di hutan-hutan. Terasa bulu kuduknya meremang. Tetapi ketika tersentuh tangkai pedangnya, maka kembali ia menengadahkan wajahnya sambil berdesis seorang diri, “Ayo, siapa yang ingin mencoba tajam pedangku?”

Tetapi ia menjadi ngeri ketika didengarnya gonggong anjing liar di kejauhan. Anjing liar itu akan dapat merupakan bahaya yang jauh lebih besar dari bahaya seekor harimau, karena anjing itu biasanya bergerombol sampai berbilang puluhan.

Meskipun demikian Wuranta masih dapat menghibur dirinya. “Aku pandai memanjat, sedang anjing-anjing itu tidak akan dapat mengejarku.” Namun sejenak kemudian ia berdesis, “Tetapi dengan demikian aku tidak akan dapat menyelesaikan tugasku. Kembali besok pagi-pagi ke lereng Mierapi.”

Kadang-kadang Wuranta menjadi berdebar-debar mengenangkan tugasnya. Apakah sebenarnya yang dimaksud oleh Sidanti? Apakah cukup apabila ia besok mengatakan bahwa Jati Anom tidak ada perubahan sesuatu dan Agung Sedayu masih berada di rumahnya? Apakah dengan demikian Sidanti akan datang dengan beberapa orang untuk menangkap Agung Sedayu?

Dalam kebingungan itu ia bergumam, “Lebih baik aku beritahukan saja kepada Agung Sedayu. Orang tua yang bernama Ki Tanu Metir itu pasti akan dapat memberinya beberapa pertimbangan yang baik baginya dan bagi aku. Bukankah nasibku sendiri bagaikan sebutir telur di ujung tanduk yang runcing?”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin menyerahkan bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan kepada Ki Tanu Metir.

Dalam pada itu, di belakangnya seorang anak muda sedang mengintainya. Apakah ia nanti akan menemui Agung Sedayu atau tidak.

Perjalanan Wuranta dan Alap-alap Jalatunda itu pun semakin mendekati Jati Anom. Alap-alap Jalatunda menjadi heran terhadap dirinya sendiri. Kenapa ia menjadi berdebar-debar? “Persetan dengan Agung Sedayu,” tiba-tiba ia bergumam perlahan-lahan. “Kalau aku nanti dilihatnya, baiklah, aku akan mencoba apakah aku sudah berhasil menyamainya.” Tetapi meskipun demikian dada Alap-alap Jalatunda masih terus bergetar betapapun ia mencoba menenangkannya.

Kedua anak muda itu berjalan dengan berbagai persoalannya sendiri-sendiri. Tetapi keduanya masih harus meraba-raba, apakah sebenarnya yang sedang dihadapinya. Mereka, seperti malam itu juga, berjalan di dalam kelam. Kakinya tidak akan dapat menghindar seandamya seonggok duri berada tepat di bawah telapak kakinya yang sudah hampir menginjaknya.

Tetapi tiba-tiba Wuranta itu tertegun sejenak. Telinganya seakan-akan mendengar desir di balik dedaunan di sisi jalan itu. Tetapi ketika dicobanya untuk mendengar sekali lagi, maka suara itu pun lenyap.

“Siapa?” desisnya di dalam hati. Dengan demikian maka langkahnya pun menjadi kian lambat.

Alap-alap Jalatunda yang melihat langkah anak muda itu tertegun-tegun menjadi heran. Kenapa? Bahkan kadang-kadang ia melihat Wuranta itu berhenti sama sekali untuk sesaat. Sehingga dengan demikian maka Alap-alap Jalatunda itu harus bersembunyi di belakang pepohonan atau berjongkok di samping rumput-rumput ilalang yang tumbuh liar di pinggir-pinggir jalan. Namun setiap kali suara desir itu di dengar lagi oleh Wuranta.

Wuranta bukanlah seorang penakut. Tetapi karena ia hampir belum pernah mengalami peristiwa-peristiwa semacam itu, maka hatinya pun semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Sekali-sekali ia berpaling dan ditebarkannya pandangan matanya tajam-tajam berkeliling. Tetapi yang dilihatnya hanyalah kelamnya malam. Pepohonan yang tegak membisu. Sekali-sekali dilihatnya dedaunan bergerak-gerak disentuh angin malam.

Wuranta menarik nafas. Untuk menenteramkan hatinya ia berkata kepada diri sendiri, “Tak ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian yang berlebih-lebihan.”

Wuranta pun kemudian berjalan kembali. Ditenangkannya hatinya. Ditetapkannya langkahnya seperti semula. Namun terasa setiap kali jantungnya menghentak semakin keras.

“Beberapa langkah lagi aku akan sampai ke ujung hutan,” gumamnya. Tetapi di ujung hutan itu didapatinya sebuah hutan perdu. Baru sesudah hutan perdu itu ia akan sampai ke daerah persawahan dan pategalan dari desa-desa kecil sebelum ia sampai ke Kademangan Jati Anom.

Ketika suara berdesir itu masih saja di dengarnya, maka Wuranta-pun mempercepat langkahnya. Aku harus segera sampai ke daerah persawahan. Aku harus berada di tempat. Terbuka supaya tidak seorang pun yang dapat mengikuti aku dengan sembunyi-sembunyi.

Ternyata kegelisahan itu tidak saja melanda Wuranta, Alap-alap Jalatunda pun menjadi gelisah. Apakah anak muda itu merasa bahwa beberapa langkah di belakangnya, seseorang sedang mengikutinya? Tetapi Alap-alap Jalatunda sama sekali tidak tahu, bahwa Wuranta sedang diganggu oleh suara berdesir di antara pepohonan di sisi jalan.

Sedang Wuranta sendiri akhirnya tidak mempedulikan lagi suara itu. Terdengar ia menggeram perlahan, “Kalau ada seseorang yang ingin mengganggu aku, marilah, Aku tidak akan gentar.”

Dengan demikian maka Wuranta seakan-akan tidak lagi merasa seseorang berada di sisi jalan dan mengikuti langkahnya. Dibiarkannya saja suara berdesir yang sekali-sekali masih juga didengarnya. Meskipun demikian, namun tangan Wuranta itu selalu meraba hulu pedangnya. Di dalam hati ia berkata, “Tidak bersenjata pun aku berani melewati jalan ini. Apalagi kini aku mempunyai sebilah pedang.”

Yang didengarnya kemudian adalah gonggong anjing liar di kejauhan. Kemudian disahut oleh sebuah auman yang dahsyat. Terbayanglah di dalam kepala Wuranta, bahwa sedang terjadi bertarungan yang sengit antara segerombol anjing-anjing liar melawan seekor harimau. Anjing adalah binatang yang seakan-akan disediakan menjadi makanan harimau. Tetapi kalau anjing-anjing itu sedang lapar, maka suatu ketika terjadi harimau menjadi makanan anjing-anjing liar itu.

Tetapi ketika hiruk-pikuk itu semakin menjauh, kembali terdengar sebuah desir yang lembut. Kini semakin dekat di pinggir jalan, bahkan seolah-olah desir itu adalah desir kakinya sendiri yang menyentuh daun-daun perdu. Namun yang dilihatnya tidak lebih dari batang-batang kayu dan dedaunan.

Kegelisahan Wuranta semakin lama menjadi semakin kuat melanda hatinya. Namun karena anak muda itu belum memiliki pengalaman yang cukup, maka ia sama sekali tidak dapat menanggapinya. Bahkan kemudian di cobanya menenangkan hatinya dan menganggap bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa sama sekali. Telinganya sajalah yang seakan-akan melihat hantu, tetapi yang sebenarnya tidak ada apa-apa. Yang disangkanya hantu itu tidak lebih dari sebuah ranting yang kering, atau selembar kelaras kering ditiup angin.

Tetapi semakin lama Wuranta justru menjadi semakin yakin, bahwa yang didengarnya itu bukan sekedar daun kering yang gugur ditiup angin.

Dengan demikian maka akhirnya Wuranta tidak lagi dapat menghibur dirinya dengan macam-macam dugaan. Mau tidak mau ia harus mengatakan kepada dirinya sendiri, bahwa yang didengarnya itu adalah langkah seseorang. Bahkan kemudian ia mendengar suara nafas yang semakin deras dan desis perlahan-lahan. Karena itu maka Wuranta harus menyiapkan dirinya menghadapi segala macam kemungkinan.

“Siapakah yang mengikuti aku?” katanya di dalam hati. “Apakah ia orang lereng Merapi yang sengaja di kirim oleh Sidanti untuk mengawasi aku, atau orang lain yang menyangka justru aku orang dari padepokan Ki Tambak Wedi.”

Dalam kegelisahannya Wuranta itu berhenti. Dihadapinya suara berdesir yang semakin dekat itu dengan hati yang berdebar-debar. Bahkan untuk mengatasi kegelisahannya, tiba-tiba Wuranta itu berkata keras, “He, siapa yang berada di balik pepohonan. Ayo, tampakkan dirimu!”

Namun tidak terdengar jawaban. Yang terkejut bukan kepalang mendengar sapa itu adalah Alap-alap Jalatunda. Ketika ia melihat Wuranta berhenti, Alap-alap Jalatunda segera berdiri di belakang sebatang pohon yang cukup besar melindungi tubuhnya, “Apakah Wuranta telah melihat aku?”

Sekali lagi ia mendengar Wuranta berkata, “Ayo, keluarlah dari persembunyianmu!”

Masih tak ada jawaban. Sedang kegelisahan Alap-alap Jalatunda pun menjadi semakin meningkat.

Dalam kegelapan malam ia melihat bayangan Wuranta berdiri tegak seperti patung. Tetapi ia tidak melihat Wuranta itu melangkah kembali ke arahnya.

“Apakah yang di lihat anak itu?” desis Alap-alap Jalatunda di dalam hatinya. Tetapi berbeda dengan Wuranta, Alap-alap muda itu telah menyimpan banyak sekali pengalaman di dalam dirinya. Ia menganggap bahwa Wuranta sedang diganggu oleh firasatnya. Mungkin Wuranta itu merasa sesuatu yang tidak pada tempatnya dan sekedar menganggap bahwa seseorang sedang mengikutinya. Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak yakin bahwa sebenarnya anak itu telah melihatnya.

Karena itu maka Alap-alap Jalatunda masih saja bersembunyi dibalik sebatang pohon. Di dalam malam yang gelap tidak sulit baginya untuk berusaha supaya Wuranta tidak dapat melihatnya meskipun seandainya Wuranta itu berpaling ke arahnya.

Dari sisi pohon tempatnya berlindung, Alap-alap Jalatunda berusaha melihat bayangan anak muda Jati Anom yang tampaknya menjadi sangat gelisah.

“Apakah anak itu dicekik hantu?” gumam Alap-alap Jalatunda perlahan-lahan.

Tetapi ia mendengar Wuranta berteriak lagi, “Ayo, siapakah yang bersembunyi?”

“Uh,” desis Alap-alap Jalatunda, “penakut itu hampir menjadi gila.” Tetapi kemudian tumbuh pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah ia telah melihat aku, dan akulah yang di panggilnya?”

Hati Alap-alap yang buas itu berdesir. Bahkan terdengar giginya gemeretak. Sekali lagi ia bergumam di dalam hatinya, “Setan, jangan terlampau sombong. Kalau kau menantang Alap-alap Jalatunda maka lehermu benar-benar akan aku patahkan.”

Kalau saja Alap-alap Jalatunda itu tidak selalu mengingat pesan Sidanti untuk membiarkan Wuranta itu hidup, maka ia pasti sudah menyergapnya, membunuhnya dan melemparkan mayatnya ke dalam parit.

“Sidanti ingin setan kecil itu hidup sampai besok,” katanya pula di dalam hatinya, “tetapi kalau ia menyerangku, apa boleh buat. Aku harus membunuhnya, dan membawa kepalanya kembali ke padepokan. Tetapi aku tidak akan mendahuluinya. Aku akan menunggu di sini sampai anak itu datang untuk membunuh dirinya.”

Namun tiba-tiba Alap-alap itu terkejut. Ia melihat Wuranta meloncat surut dan mencabut pedangnya. Dengan tegangnya anak muda Jati Anom itu siap menghadapi segala kemungkinan dengan pedang yang datar setinggi dada.

“Hem,” desah Alap-alap Jalatunda, “anak itu benar-benar telah menjadi gila karena ketakutan. Tetapi melihat gerak tangannya ia memang memiliki sedikit kecakapan bermain pedang.”

Namun belum delesai Alap-alap Jalatunda berdesah kepada diri sendiri, ia kini benar-benar terkejut ketika ia melihat dengan tiba-tiba sebuah bayangan lain yang melontar dari dalam gerumbul di sisi jalan langsung menyerang Wuranta.

“O,” Alap-alap muda itu menggeram, “ternyata Wuranta tidak sedang gila. Tetapi orang yang menyerangnya itulah yang gila. Tetapi siapa orang itu? Dan apakah maksudnya menyerang Wuranta?”

Alap-alap Jalatunda itu pun menjadi tegang pula. Dengan tajam ia mencoba melihat apa yang seterusnya terjadi.

Dan yang terjadi adalah sebuah perkelahian yang sengit. Ternyata orang yang menyerangnya itu memiliki kemampuan yang cukup baik seperti Wuranta yang ternyata mampu pula mempertahankan diri.

Dalam gelap malam Alap-alap Jalatunda melihat dua bayangan hitam yang melontar berputaran. Serang menyerang dengan serunya.

“Hem,” Alap-alap Jalatunda itu menarik nafas untuk mencoba melepaskan ketegangannya, dan kemudian berkata di dalam hatinya, “ternyata Wuranta itu pandai juga bermain pedang, meskipun ayunan tangannya masih juga seperti orang membelah kayu.”

Tetapi perkelahian itu sendiri telah membingungkan Alap-alap Jalatunda. Bagaimana ia harus bersikap menghadapi pertempuran itu? Kalau kemudian Wuranta dapat memenangkan perkelahian itu, maka rencananya sama sekali tidak berubah. Ia hanya mengikuti saja anak itu meneruskan perjalanannya ke Jati Anom. Tetapi bagaimana kalau Wuranta itu terdesak?

“Setan,” Alap-alap itu menggeram. “Siapakah yang berani mengganggu perjalanan ini. Orang itu pasti tidak tahu bahwa di sini ada Alap-alap Jalatunda.”

Tiba-tiba kening Alap-alap itu menjadi berkerut-merut. Tumbuhlah pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah orang itu Agung Sedayu?” Menurut pendengaran Alap-alap Jalatunda dari Sidanti, bahwa Wuranta pagi tadi sedang dikejar-kejar oleh Agung Sedayu ketika dijumpainya. Tetapi Sidanti meragukan kebenaran peristiwa itu. Bahkan Sidanti meragukan sikap Agung Sedayu sendiri yang meninggalkannya berlari. Tetapi kalau hal itu benar terjadi karena Wuranta ingin mencuri milik Agung Sedayu, maka adalah suatu kemungkinan bahwa Agung Sedayu mendendamnya.

Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak melihatnya dengan jelas.

Dari jarak itu, apalagi di malam yang gelap Alap-alap Jalatunda tidak mudah untuk mencoba mengenali unsur-unsur gerak dari lawan Wuranta itu.

“Apakah aku akan mendekatinya?” Tetapi Alap-alap Jalatunda menjadi ragu-ragu. Kemungkinan yang tidak diharapkan cepat terjadi. Kalau Wuranta melihatnya, maka gagallah tugasnya. Apalagi kalau orang yang menyerang Wuranta itu ternyata Agung Sedayu, maka ia harus berkelahi melawannya. Dan ia tidak yakin, apakah ia pada saat itu dapat mengimbangi adik senapati Pajang yang bertugas di sekitar Gunung Merapi ini. Seandainya demikian, maka tugasnya pun akan gagal pula karenanya.

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda menggeram. Ia benar-benar menjadi bingung dan tidak segera tahu apa yang sebaiknya dikerjakan.

Dalam pada itu perkelahian itu pun menjadi semakin lama semakin sengit. Wuranta berusaha melawan dengan pedang di tangan. Dikerahkannya segenap kemampuan yang ada padanya. Namun meskipun orang yang menyerangnya itu tidak bersenjata, tetapi kelincahannya telah memaksa Wuranta untuk memeras keringatnya. Orang itu meloncat-loncat berputaran mengelilingi Wuranta untuk menghindari sambaran pedangnya. Sekali-sekali ia meloncat menjauh, namun tiba-tiba serangannya datang menyambar dengan cepatnya. Seperti pusaran serangannya membelit dari segala arah.

Dengan sepenuh tenaga Wuranta melawannya. Namun keragu-raguan di hatinya kadang-kadang telah mengekang sambaran-sambaran pedangnya. Betapa dadanya dilanda oleh beberapa pertanyaan tentang orang yang tiba-tiba menyerangnya. “Siapa dan mengapa?”

Tetapi serangan orang itu semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan hampir-hampir tak tertahankan lagi. Meskipun Wuranta belum merasa dikenai di bagian tubuhnya yang berbahaya, tetapi ia merasa, apabila perkelahian itu diteruskan, ia pasti akan kehabisan tenaga.

Anak muda itu merasa beruntung bahwa ia telah mendapatkan sepucuk senjata yang dapat menolongnya memperpanjang perlawanannya. Tetapi sudah sekian lama ia berkelahi, namun senjatanya seakan-akan hampir tidak berguna.

Meskipun demikian Wuranta tidak segera menjadi berputus asa. Selama ia masih mampu menggerakkan pedangnya, maka ia akan melawannya terus. Apapun yang terjadi. Namun dalam pada itu, terbersit suatu penyesalan di dalam hatinya. Kalau ia gagal menghindarkan diri dari orang yang menyerangnya itu, maka tugasnya pun menjadi gagal pula karenanya. Gagal bukan karena kesalahannya, tetapi justru karena sebab-sebab yang tidak diketahuinya.

Karena itu maka tiba-tiba timbullah keinginannya untuk bertanya. Meskipun tangannya sibuk menggerakkan pedang, namun dengan tersengal-sengal ia bertanya, “He, siapakah kau dan apakah sebabnya kau menyerangku?”

Alap-alap Jalatunda lamat-lamat mendengar pula pertanyaan itu. Dengan demikian ia mengambil kesimpulan bahwa orang yang menyerang itu sama sekali bukan Agung Sedayu. Kalau demikian siapakah ia? Apakah orang itu salah seorang yang sengaja ditugaskan oleh Sidanti? Tetapi seandainya demikian, maka Alap-alap Jalatunda pasti segera dapat mengenalnya. Tetapi penyerang itu sama sekali belum pernah dikenalnya, baik orangnya maupun tata geraknya. Dengan demikian maka Alap-alap Jalatunda itu menjadi semakin bingung. Karena itu, maka ia pun ingin sekali mendengar jawab orang yang menyerang Wuranta itu.

Tetapi orang itu tidak segera menyahut. Mereka masih saja berkelahi dengan serunya. Bahkan kemudian titik perkelahian itu sudah berkisar ke sana ke mari.

Sekali lagi Wuranta yang sudah mulai kelelahan itu bertanya, “Siapakah kau, dan apakah sebabnya kau menyerang aku?”

Sejenak masih belum terdengar jawaban. Dengan berdebar-debar Wuranta menunggu, bahkan Alap-alap Jalatunda pun menjadi berdebar-debar pula.

Tetapi sejenak kemudian Wuranta itu pun terkejut bukan main. Hampir saja ia meloncat surut ketika ia mendengar lawannya itu berbisik, “Jangan terlampau keras. Suaramu didengar oleh orang lain.”

Kini Wuranta-lah yang terdiam. Ketika perlawanannya menjadi kendor karena keheranan yang menghinggapi perasaannya, terdengar lawannya berkata, “Lawanlah terus. Sepasang mata Alap-alap sedang mengintaimu.”

“Siapa kau?” Wuranta tidak tahan lagi, sehingga sekali lagi ia bertanya keras-keras.

“Jangan terlampau keras,” jawab suara itu pula. Wuranta menjadi semakin heran. Tetapi jawaban itu benar-benar mempengaruhinya, sehingga tanpa sesadarnya ia berbisik, “Siapa kau?”

Wuranta mendengar orang itu tertawa perlahan sekali. Meskipun demikian serangannya sama sekali tidak berkurang. Sesaat kemudian didengarnya orang itu menjawab, “Jangan lengah supaya pedangmu tidak terlempar jatuh.” Orang itu terdiam sejenak. Lalu terdengar suaranya kembali, “Kenapa kau berjalan ke Jati Anom malam ini?”

“Siapa kau?” bertanya Wuranta kemudian.

“Apakah kau tidak dapat mengenali aku?”

“Siapa?”

Kembali ia mendengar suara tertawa, “Aneh, meskipun kau pandai juga bermain pedang, tetapi ingatanmu ternyata kurang baik. Kau baru saja melihatku pagi tadi bersama Agung Sedayu.”

“He?” Wuranta menjadi semakin heran. Tetapi ketika ia meloncat surut, serangan orang tua itu menjadi semakin garang. Sekali lagi ia mendengar peringatan, “Berkelahilah terus. Seseorang mengikutimu.”

“Siapa?” Wuranta berhenti bertanya lalu katanya, “Maksudku siapa kau?”

“Tanu Metir,” jawab suara itu pendek.

“He?” sekali lagi Wuranta menjadi heran. Ia mengenal dukun itu. Tetapi ia tidak menyangka bahwa orang tua itu mampu bergerak sedemikian lincahnya. Meskipun ia telah menduga bahwa Ki Tanu Metir memiliki beberapa kelebihan, tetapi bukan kelebihan jasmaniah. Namun ternyata bahwa orang tua itu mampu berkelahi melampaui anak-anak muda yang pernah dilihatnya.

“Apakah benar kau dukun tua yang datang bersama Agung Sedayu?”

“Kenapa aku berbohong? Bukankah kau masih dapat mengenali aku, setidak-tidaknya suaraku?”

Wuranta terdiam. Tetapi ia berkelahi terus seperti permintaan lawannya yang mengaku bernama Ki Tanu Metir.

“Ya. Ya. Aku mengenalmu.”

“Nah, ketahuilah bahwa seseorang mengikutimu, Alap-alap Jalatunda”

“He?”

“Jangan terlampau keras.”

“Kenapa ia mengikuti aku?”

“Aku tidak tahu. Tetapi apakah maksudmu datang kembali ke Jati Anom malam ini? Apakah hal itu tidak menimbulkan kecurigaan mereka? Bahkan Alap-alap Jalatunda telah mengikutimu sampai di sini?”

Wuranta masih berkelahi terus. Perlahan-lahan ia menjawab, “Aku harus pergi ke Jati Anom atas perintah Sidanti. Aku harus melihat apa yang terjadi di kademangan itu dan apakah Agung Sedayu masih ada di Jati Anom?”

Ki Tanu Metir terdiam sesaat. Sekali ia meloncat ke samping namun kemudian kakinya berputar hampir menyentuh lambung Wuranta.

Wuranta mengumpat di dalam hati. Orang tua itu benar-benar di luar dugaannya. Apalagi serangannya seakan-akan bersungguh-sungguh sehingga apabila Wuranta lengah sesaat, maka tubuhnya pasti akan dikenai oleh serangan Ki Tanu Metir itu.

Tetapi justru Wuranta mengetahui bahwa lawannya adalah Ki Tanu Metir, maka tendangannya pun menjadi ragu-ragu. Pedangnya tidak terayun-ayun dengan garangnya. Bahkan setiap kali ia menahan ayunan senjatannya itu.

“Jangan ragu-ragu,” berkata Ki Tanu Metir. “Kalau kau ragu-ragu, maka mata Alap-alap yang tajam itu pasti akan mengetahuinya.”

“Dimanakah ia sekarang?”

“Tidak terlampau jauh. Karena itu jangan terlalu keras. Kita bisa berkisar ke tempat yang lebih lapang supaya ia tidak dapat mendekat.”

Demikian perkelahian itu berkisar ke tempat yang agak lapang. Kesempatan Alap-alap Jalatunda untuk mendekati perkelahian itu menjadi semakin kecil. Karena itu, maka di kejauhan Alap-alap Jalatunda hanya dapat mengumpat di dalam hatinya yang semakin kisruh. Sekali-sekali ia melihat Wuranta terdesak. Dalam keadaan yang demikian ia benar-benar menjadi bingung. Apakah ia akan membantunya atau tidak? Tetapi lawan Wuranta itu sudah jelas bukan Agung Sedayu dan bukan pula orang yang dikirim Sidanti.

Sekali-sekali Alap-alap Jalatunda itu menggertakkan giginya. Ingin ia meloncat dan ikut serta berkelahi di pihak manapun. Tetapi tugasnya telah mencegahnya berbuat demikian. Ia hanya dapat menilai dengan tegang kedua orang yang sedang berkelahi itu.

“Tetapi Wuranta itu terdesak,” desisnya. “Mereka berkisar semakin jauh.” Lalu gumamnya, “Bagaimanakah kalau Wuranta itu terbunuh. Apakah aku akan membiarkannya? Sidanti pasti menyangka bahwa aku yang membunuhnya. Tetapi kalau aku membantunya, maka tugasku pun akan gagal sama sekali.”

Dalam kebingungan itu Alap-alap Jalatunda berdiri saja seperti patung. Sekali-sekali dirabanya hulu pedangnya namun kemudian tangannya itu terkulai dengan lemahnya, tergantung di sisi tubuhnya yang bersandar sebatang pohon tempatnya berlindung.

Sementara itu Wuranta masih juga berkelahi melawan Ki Tanu Metir. Perlahan-lahan Wuranta mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Kau ternyata sedang dalam pengawasan. Mungkin Sidanti ingin membuktikan, apakah kau bukan sekedar seorang yang memancing kepercayaan seperti yang sebenarnya kau lakukan. Karena itu berhati-hatilah. Ternyata lereng Merapi itupun berisi orang-orang yang berotak terang meskipun kadang-kadang licik.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” bertanya Wuranta

“Pulanglah ke rumahmu. Aku, Agung Sedayu, dan Swandaru berada di sana. Tetapi jangan terlampau cepat. Berilah kami kesempatan masuk ke rumah itu. Apakah Agung Sedayu sudah mengenal keluargamu sehingga ia dapat masuk dengan aman?”

“Aku kira sudah. Yang ada dirumah hanyalah orang-orang tua. Tak ada orang lain lagi. Dan mereka pasti mengenalnya. Mungkin mereka lupa, tetapi mereka akan segera ingat kembali apabila Agung Sedayu menyebut dirinya.”

“Baik. Kami akan kesana. Kami akan menemuimu di rumahmu sehingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi orang yang mengikutinya.”

“Terima kasih atas peringatan itu Kiai. Kalau aku tidak mengetahui bahwa seseorang mengikuti aku, maka besok mungkin aku sudah digantung di pinggir jurang.”

“Suatu peringatan bagimu. Hati-hatilah untuk seterusnya.”

“Baik, Kiai.”

“Sekarang bertempurlah sesungguhnya. Aku akan menghindar dan meninggalkan perkelahian ini. Ingat, jangan terlampau cepat, supaya aku mendapat waktu masuk lebih dahulu ke rumahmu bersama Agung Sedayu”

“Baik, Kiai.”

“Mulailah.”

Wuranta pun segera memutar pedangnya lebih cepat. Tetapi tenaganya telah benar-benar hampir habis. Ia harus mengerahkan sisa-sisa tenaga yang ada padanya untuk dapat bergerak lebih cepat.

Alap-alap Jalatunda yang melihat perkelahian itu dari kejauhan menjadi semakin cemas. Ia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi. Ketika perkelahian itu berkisar ke tempat yang agak lapang, maka bayangan keduanya menjadi tidak jelas. Tetapi dari jarak yang agak jauh itu, Alap-alap Jalatunda hanya sekedar melihat dua buah bayangan yang melontar ke sana ke mari. Sekali-sekali tampak sekilas sinar gemerlapnya pedang Wuranta memantulkan cahaya bintang gemintang di langit. Tetapi setelah itu maka kedua bayangan itu pun seakan-akan menjadi lebur tak terpisahkan.

Setiap kali Alap-alap Jalatunda merasa bahwa Wuranta terdesak, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia berdiri pada keadaan yang sulit.

Tetapi ia melihat suatu perubahan pada perkelahian itu. Ia melihat salah seorang daripadanya terdorong beberapa langkah surut bahkan kemudian berguling beberapa kali untuk menghindari lawannya. Dalam pada itu, lawannya berusaha mengejarnya terus. Sebuah pedang terjulur lurus-lurus ke depan sedang lawannya terus-menerus menghindarinya.

Alap-alap Jalatunda menarik napas dalam-dalam. “Hem,” desahnya “ternyata Wuranta berhasil mengatasi kesulitan. Agaknya anak itu cakap juga bermain pedang.”

Pertempuran itu memang hampir sampai pada akhirnya. Wuranta dengan sisa-sisa tenaganya ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar sempat memenangkan perkelahian itu, dan Ki Tanu Metir pun mampu pula bermain dengan baiknya. Kali ini ia beperan sebagai seorang yang sedang didesak oleh lawannya. Sebagai seorang yang mencoba mengerahkan sisa-sisa kekuatannya untuk menyelamatkan diri dari sambaran pedang.

Melihat saat-saat terakhir dari perkelahian itu Alap-alap Jalatunda menahan nafasnya. Setiap kali Wuranta mendesak lawannya, Alap-alap Jalatunda itu mengepalkan tinjunya. Seolah-olah ia ingin meloncat dan membantu menerkam lawan Wuranta itu. Tetapi hanya giginya sajalah yang terdengar gemeretak.

Alap-alap Jalatunda itu bersorak di dalam hatinya ketika melihat lawan Wuranta itu meloncat surut beberapa langkah, kemudian dengan tergesa-gesa membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan anak muda Jati Anom itu.

“Jangan lari!” Alap-alap Jalatunda mendengar lamat-lamat suara Wuranta.

“Jangan sombong,” jawab orang yang lari itu, “aku belum kalah.”

“Tunggu dan kita teruskan perkelahian ini.”

“Belum waktunya.”

“Pengecut!”

“Kau pembual yang besar kepala.”

“Siapakah kau he?” bertanya Wuranta

Yang terdengar hanyalah suara tertawa. Lawan Wuranta itu tertawa dalam nada yang tinggi. Demikian tajamnya nada suara itu sehingga dada Alap-alap Jalatunda serasa tertusuk beribu jarum. Apalagi Wuranta, kali ini ia benar-benar menderita di dalam dadanya, bukan sekedar sebuah permainan.

Untunglah bahwa suara tertawa itu tidak terlampau lama. Suara tertawa yang aneh itu segera berhenti.

Wuranta tidak mampu lagi berlari mengejar lawannya itu. Kini ia berdiri bersandar sebatang pohon di pinggir jalan. Tenaganya benar-benar terkuras habis, apalagi isi dadanya serasa hancur tersayat-sayat oleh suara tertawa yang bernada tinggi dan tajam itu.

“Hem,” desahnya, “siapakah sebenarnya orang yang bernama Ki Tanu Metir itu? Tanpa tenaganya ia dapat membunuh aku hanya dengan nada suaranya.”

Di tempat lain Alap-alap Jalatunda pun berdiri pula bersandar sebatang pohon sambil menahan dadanya dengan telapak tangannya.

“Gila,” geramnya. Tetapi ia tidak sepayah Wuranta. Tenaganya masih cukup kuat untuk menahan dirinya meskipun suara tertawa itu benar-benar seperti meremas ulu hati.

“Hampir aku tidak percaya bahwa orang yang memiliki kekuatan seperti orang itu dapat dikalahkan oleh Wuranta. Suara tertawanya seakan-akan mempu merontokkan tulang-tulang iga. Aneh. Mungkin ia mempunyai kekuatan batin yang tinggi, tetapi kekuatan jasmaniahnya yang sangat kurang. Tetapi kenapa ia tidak berusaha mengalahkannya lawannya itu dengan kelebihannya itu?”

Orang itu bagi Alap-alap Jalatunda telah menimbulkan pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya. Tetapi dengan demikian ia mengenal bahwa di lereng Merapi ini ada seseorang yang aneh. Yang selama ini tidak pernah diperhitungkan. Orang itu bukan Agung Sedayu, bukan Untara, bukan Widura, bukan Sidanti, dan bukan Ki Tambak Wedi.

Ketika Alap-alap Jalatunda telah terasa segar kembali, maka dijulurkannya kepalanya melihat apakah Wuranta sudah meneruskan perjalanannya. Tetapi anak muda Jati Anom itu ternyata kini malahan duduk di atas rerumputan kering bersandar pohon di sisi jalan. Tampaklah ia terlalu payah setelah berkelahi sekian lama melawan orang yang tidak dikenalnya.

“O, anak itu hampir mati,” gumam Alap-alap Jalatunda di dalam hatinya. “Mudah-mudahan ia tidak mati karena jantungnya rontok. Apabila demikian Sidanti akan marah kepadaku. Akulah yang disangkanya membunuh anak itu. Tetapi kalau ia masih saja duduk di situ, maka perkerjaan ini pasti akan tertunda. Kalau anak itu sampai ke Jati Anom setelah terang, maka aku tidak akan dapat mengikutinya terus.”

Namun Alap-alap Jalatunda masih mencoba menyabarkan diri. “Biarlah ia sekedar bernafas.”

Wuranta yang duduk bersandar sebatang pohon itu sebenarnya memang sedang berusaha untuk memulihkan nafasnya yang tersengal-sengal. Tetapi ia juga sengaja beristirahat agak lama seperti pesan Ki Tanu Metir. Meskipun kemudian nafasnya telah agak teratur, tetapi ia masih saja duduk dengan tenangnya.

“Mampuslah tikus cengeng,” geram Alap-alap Jalatunda yang hampir kehabisan kesabaran. Alangkah senangnya apabila ia diijinkan meloncati anak muda itu dan kemudian mencekik lehernya.

Tetapi akhirnya Wuranta itu berdiri juga. Sekali ia menggeliat, kemudian memijit punggungnya dengan kedua tangannya.

“Pemalas,” Alap-alap Jalatunda masih saja mengumpat-umpat seorang diri.

Wuranta itu akhirnya melangkahkan kakinya juga. Perlahan-lahan. Bukan saja karena ia sengaja memperlambat perjalanannya, tetapi sebenarnyalah bahwa ia sendiri sedang kelelahan.

Ketika menurut perhitungan Wuranta waktu yang diberikan kapada Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir telah cukup, maka barulah ia mempercepat langkahnya. Pedangnya kini telah menggantung di lambungnya.

Namun dalam pada itu ia dapat juga berbangga kepada diri sendiri. Ternyata ia dapat juga bermain pedang, meskipun tidak terlampau baik.

Langkah Wuranta itu pun semakin lama menjadi semakin cepat. Angin yang silir telah menyegarkan tubuhnya. Selembar-selembar daun yang kuning berguguran di atas tanah yang basah oleh embun.

Alap-alap Jalatunda mengikutinya dengan berdebar-debar. Semakin dekat dengan Jati Anom hatinya menjadi semakin tegang. Alap-alap Jalatunda sendiri tidak berusaha menyadari apakah sebabnya maka ia diganggu oleh kecemasan. Kalau sekali-sekali timbul gambaran Agung Sedayu di dalam benaknya, maka cepat-cepat ia menggeram, “Persetan dengan anak itu. Bahkan aku ingin berjumpa langsung dengan Agung Sedayu supaya aku sempat membunuhnya dalam perang tanding sebagai laki-laki.”

Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak meyakini angan-angan itu. Agung Sedayu yang dibencinya itu masih merupakan seorang yang disegani.

“Tetapi suatu kali dendamku akan aku lepaskan,” Alap-alap Jalatunda menggeram lagi.

Perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Jati Anom kini telah berada di hadapan hidung mereka.

Kini Alap-alap Jalatunda tidak lagi dapat lengah barang sekejap. Ia tidak boleh kehilangan Wuranta. Pekerjaan untuk mengikutinya bukanlah pekerjaan yang mudah. Tetapi Alap-alap Jalatunda itu cukup berpengalaman, sehingga ia tidak banyak menemui kesulitan. Apalagi Wuranta sendiri dengan sengaja membiarkan dirinya diawasi. Karena itulah pekerjaan Alap-alap Jalatunda itu menjadi terasa lebih mudah.

Alap-alap Jalatunda menjadi berdebar-debar ketika Wuranta berjalan dengan perlahan-lahan langsung menuju ke rumah Agung Sedayu. Bahkan mulai timbullah kecurigaannya, bahwa anak itu bukanlah anak yang dapat dipercaya. Kalau demikian maka prasangka Sidanti atasnya benar-benar beralasan.

“O, umurmu tidak lebih sampai besok,” berkata Alap-alap Jalatunda itu di dalam hatinya. Meskipun demikian ia tidak mau melepaskannya. Dengan hati-hati ia mengikuti anak itu sampai ke depan regol rumah Agung Sedayu.

“Bukankah rumah itu rumah Agung Sedayu,” berkata Alap-alap Jalatunda di dalam hatinya. Alap-alap itu pernah satu kali memasuki rumah itu bersama dengan Sidanti sebelumnya.

Di muka regol, Alap-alap Jalatunda melihat Wuranta itu berhenti. Ketika Wuranta itu kemudian dengan hati-hati menjengukkan kepalanya di regol halaman, maka ia mulai menjadi ragu-ragu.

“Kalau anak itu sengaja dikirim oleh Agung Sedayu, ia pasti tidak akan ragu-ragu lagi masuk ke dalam halaman,” desisnya kepada diri sendiri. Tetapi Wuranta itu tidak segera langsung masuk ke dalam halaman. Karena itu maka keinginannya untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Wuranta itu menjadi semakin besar. Kini ia tidak dapat memastikan apakah Wuranta itu termasuk orangnya Agung Sedayu seperti yang disangka oleh Sidanti.

Ketika Wuranta masuk, maka Alap-alap Jalatunda segera mendesak maju. Ia tidak mau kehilangan anak muda Jati Anom itu. Dengan hati-hati pula diikutinya saja ke mana anak muda itu pergi.

Dengan berdebar-debar Alap-alap Jalatunda melihat Wuranta pergi ke belakang. Dengan penuh perhatian dilihatnya Wuranta pergi ke sebuah bilik di bagian balakang rumah Agung Sedayu.

Alap-alap Jalatunda itu berhenti dan segera bersembunyi di balik rumpun pisang ketika ia melihat Wuranta pun berhenti. Anak muda itu segera melepas ikat kepalanya dan dengan ikat kepala itu ia menutup wajahnya. Dilepasnya pula bajunya dan diikatkannya di lambungnya.

“Apakah yang akan dilakukannya?” bertanya Alap-alap Jalatunda kepada diri sendiri. Tingkah laku Wuranta itu benar-benar menimbulkan keheranan di hatinya.

Alap-alap Jalatunda itu berkisar semakin dekat ketika ia melihat Wuranta perlahan-lahan mengetuk pintu bilik belakang rumah itu.

“Siapa?” terdengar seorang perempuan bertanya.

“Aku bibi.”

“Siapa?”

“Aku”

Perlahan-lahan terdengar amben bambu bergerit, disusul oleh langkah seorang perempuan mendekati pintu. Sejenak kemudian pintu itu pun bergerit terbuka.

Alangkah terkejutnya perempuan itu ketika tiba-tiba ia melihat ujung pedang tepat mengarah ke dadanya. Hampir-hampir ia memekik, tetapi segera Wuranta membentak, “Jangan membuat gaduh! Kalau kau berteriak, maka perutmu akan berlubang.”

Perempuan itu terdiam. Ia berdiri gemetar di muka pintu.

“Jawab pertanyaanku!” berkata Wuranta. “Apakah Agung Sedayu masih ada di sini?”

Dengan tergagap perempuan itu menjawab, “Aku tidak tahu, Tuan.”

“Jangan bohong! Aku melihatnya sore tadi. Ayo katakan, apakah ia di rumah ini. Kalau tidak, maka kepala anakmu itu akan aku penggal.”

“Jangan, Tuan. Kalau Tuan ingin membunuh, bunuh aku saja.”

“Itu adalah urusanku, apakah aku akan membunuhmu atau akan menggantung anakmu.”

“Anakku tidak bersalah apapun, Tuan,” perempuan itu mulai menangis.

“Kalau kau ingin anakmu selamat, jawab apakah siang ini Agung Sedayu masih di sini?”

Perempuan itu ragu-ragu sejenak. Tetapi ujung pedang Wuranta menjadi semakin dekat dengan dadanya. “Ayo katakan! Atau kepala anakmu akan menggelinding di halaman ini?”

“Jangan, Tuan.”

“Katakan sebelum aku kehabisan kesabaran!”

“Ya, siang tadi Angger Agung Sedayu ada di rumah ini.”

“Apakah sekarang ia ada di rumah ini juga?”

Perempuan itu terdiam. Kembali ia mejadi ragu-ragu untuk mejawab pertanyaan itu. Tetapi pedang itu hampir menyentuh dadanya.

“Bagaimana? Apakah kau tidak dapat berbicara lebih cepat?”

“Aku tidak tahu, Tuan. Aku tidak tahu.”

“Bohong! Jangan mencoba berbohong ya. Aku tidak banyak mempunyai waktu untuk bercakap-cakap tanpa arti. Atau kau menunggu aku marah dan kehilangan kesabaran sehingga anakmu mati?”

“Tidak, Tuan. Tetapi sebenarnyalah aku tidak tahu apa-apa.”

Wuranta tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba ia melangkah maju sambil berkata, “Minggir, aku akan mengambil anakmu yang sedang tidur itu.”

“Jangan, Tuan. Jangan”

Mata Wuranta yang menyembul di atas ikat kepala yang menutupi wajahnya memancarkan sorot yang mengerikan. Terdengar ia menggeram sambil beringsut maju. “Minggir, minggir, atau kalian berdua aku bunuh bersama-sama.”

“Jangan, Tuan,” rintih perempuan itu. “Kalau tuan ingin membunuh aku, bunuhlah, tetapi jangan anakku itu.”

“Persetan!” sahut Wuranta. “Aku hanya akan menghidupimu kalau kau berkata sebenarnya. Ayo jawab di mana Agung Sedayu sekarang?”

Perempuan itu terdiam.

“Cepat katakan, apakah ia masih berada di sini?”

Tubuh perempuan itu bergetar. Dengan suara parau ia menjawab penuh keragu-raguan. “Ya, Tuan. Angger Agung Sedayu masih berada di sini.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. “Bagus!” katanya. “Ternyata kau menjawab sebenarnya. Di mana ia sekarang? Apakah ia berada di dalam rumah, atau bersembunyi di atas kandang?”

“Angger Agung Sedayu baru pergi, Tuan.”

“Cukup,” potong Wuranta. Ia tidak mau mendengar perempuan itu menjelaskan kemana Agung Sedayu pergi atau bahkan mengatakan dengan siapa ia pergi.

“Keteranganmu sudah cukup. Aku hanya ingin tahu apakah Agung Sedayu masih berada di Jati Anom. Ternyata anak itu benar-benar anak yang sombong. Siang tadi ia telah dilihat oleh kawan-kawanku dari lereng Merapi, tetapi ia merasa bahwa ia tidak perlu melarikan dirinya.”

Perempuan itu hanya berdiam diri.

“Jangan kau katakan kepada Agung Sedayu, bahwa aku malam ini datang kemari. Kalau besok Agung Sedayu mendengar kedatanganku dan anak itu lari, maka anakmulah yang akan aku penggal lehernya.”

“Tuan,” perempuan itu hampir menjerit, “bagaimanakah kalau Angger Agung Sedayu itu dengan kehendaknya sendiri ingin pergi dari rumah ini meskipun aku tidak mengatakan sesuatu kepadanya?”

“Mustahil! Kalau ia ingin pergi, maka ia akan pergi siang tadi. Tetapi sampai malam ini ia masih berada di rumah ini.”

“Tetapi anak muda itu sekarang ternyata telah pergi. Bagaimanakah kalau ia tidak kembali?”

“Cukup, cukup! Sekarang masuklah. Tutup pintu ini. Aku akan melihat pintumu sepanjang malam.”

Perempuan itu masih saja menggigil di muka pintu rumahnya, sehingga sekali lagi Wuranta membentaknya, “Masuk, cepat!”

Perempuan itu tidak dapat berbuat lain daripada menurut saja perintah itu. Dengan tubuh yang gemetar ia surut selangkah, dan dengan perlahan-lahan ia menutup pintu rumahnya.

“Jangan kau buka lagi pintu rumahmu sampai besok, supaya kau tidak aku bunuh bersama anakmu”

Tak terdengar jawab. Tetapi Wuranta mendengar suara perempuan itu menangis. Dan tangis perempuan itu telah menyentuh hati anak muda itu. Ia kenal benar siapakah perempuan penunggu rumah Agung Sedayu itu. Dan ia dapat merasakan betapa ketakutan telah melanda hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia sendiri sedang dalam keadaan yang mengkhawatirkan.

Sesaat kemudian, dengan hati yang trenyuh Wuranta melangkahkan kakinya meninggalkan pintu bilik di belakang rumah itu sambil membetulkan baju dan ikat kepalanya. Sementara itu ia bergumam di dalam hatinya, “Maafkan aku bibi. Aku telah membuat kau ketakutan.”

Wuranta tahu benar bahwa Alap-alap Jalatunda pasti sedang mengawasinya. Karena itu, maka iapun harus tetap berhati-hati. Kini ia akan menuju ke rumahnya sendiri. Seperti pesan Kiai Gringsing yang dikenalnya dengan nama Ki Tanu Metir, maka Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir akan berada di rumah itu.

Wuranta pun kemudian dengan hati yang berdebar-debar meniggalkan halaman rumah Agung Sedayu. Ketika ia menginjakkan kakinya di atas jalan yang membelah pedukuhannya, maka sekali ia berpaling. Halaman rumah itu tampak gelap. Dan ia tidak melihat seorang pun di dalamnya. Tetapi ia yakin bahwa Alap-alap Jalatunda sedang mengintainya.

Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya di atas jalan yang berbatu-batu. Selangkah demi selangkah. Suara gemerisik kakinya terdengar beruntun di tengah-tengah sepinya malam. Sekali-sakali angin yang kencang bertiup menggerakkan daun-daunan yang hijau. Tetapi sejenak kemudian sepi kembali.

Akhirnya Wuranta itu sampai pula ke muka rumahnya. Sejenak ia ragu-ragu. Apakah Alap-alap Jalatunda tidak akan mengintai rumahnya itu pula? Tetapi mudah-mudahan orang itu tidak berhasil melihat ruangan-ruangan di dalam rumahnya dari celah-celah dinding.

Perlahan-lahan ia melangkah masuk ke dalam halaman. Hatinya yang berdebar-debar selalu saja mengusik perasaannya. Tetapi ia melangkah terus.

Wuranta tidak menuju ke pintu depan rumahnya. Anak muda itu berjalan di sisi pendapa dan membelok lewat di samping gandok. Kemudian perlahan-lahan ia mengetuk pintu belakang.

“Siapa?” ia mendengar seseorang menyapa.

“Wuranta,” jawabnya.

Sejenak kemudian pintu itupun terbuka dan anak muda itu hilang ditelan ke dalamnya.

Alap-alap Jalatunda yang selalu mengintainya menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa seolah-olah tugasnya telah selesai. Ia hanya mendapat kewajiban untuk melihat apakah Wuranta menemui Agung Sedayu atau tidak. Ternyata apa yang dilihatnya sama sekali tidak menumbuhkan kecurigaannya atas anak muda Jati Anom itu. Bahkan ia senang melihat cara anak muda itu mengetahui Agung Sedayu masih berada di rumahnya atau tidak. Karena itu, maka Alap-alap Jalatunda merasa bahwa tidak ada lagi gunanya ia terlalu lama berada di Jati Anom.

“Aku akan mendahuluinya,” katanya di dalam hati. “Besok kalau Wuranta sampai padepokan Ki Tambak Wedi, aku harus sudah berada di sana supaya aku tidak mendapat kesan, bahwa malam ini aku telah mengikutinya. Mungkin ia masih akan singgah ke rumahnya sendiri. Biarlah, itu tidak penting bagi tugasku.”

Alap-alap Jalatunda itu pun segera melangkah dengan hati-hati untuk meninggalkan Jati Anom. Ia tidak memperhatikan apa yang terjadi seterusnya di rumah Wuranta. Dan ia sama sekali tidak tahu, bahwa Agung Sedayu dan kawan-kawannya telah menunggu Wuranta di dalam rumahnya untuk mendapatkan beberapa macam cerita tentang lereng Gunung Merapi.

“Tidak banyak yang dapat aku lihat sehari ini,” berkata Wuranta.

“Waktumu hanya sedikit,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi tidak berarti bahwa kau telah gagal. Bukankah kau besok akan kembali lagi?”

“Tidak besok Kiai,” jawab Wuranta, “malam ini.”

Ki Tanu Metir, Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kemudian terdengar Agung Sedayu bertanya, “Apakah kita akan pergi bersama Wuranta malam ini Kiai?”

“Jangan,” jawab Ki Tanu Metir. “Kita sama sekali belum mendapat gambaran bagaimana kita harus mendekati rumah tempat Sidanti menyembunyikan Sekar Mirah. Bagaimana cara kita memasuki padepokan Ki Tambak Wedi dan bahkan Wuranta belum melihat dimanakah rumah tempat Sekar Mirah itu berada.”

“Apakah kita masih harus menunggu lagi?” sahut Swandaru.

“Ya,” jawab Kiai Gringsing, “kita harus lebih banyak mendapat petunjuk.”

“Kita menunggu sampai Sekar Mirah mengalami nasib yang paling buruk dalam hidupnya?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu tidak. Tetapi kitapun tidak akan mempercepat nasib yang paling buruk itu menimpanya. Bukankah begitu? Kalau kita dengan tergesa-gesa melakukan usaha ini, dan akhirnya usaha kita dapat diketahui oleh mereka, bukankah itu hanya berarti mempercepat bencana yang menimpa Sekar Mirah?”

“Waktu itu tidak dapat kita perkirakan. Mungkin hari ini Sekar Mirah telah kehilangan segala-galanya”

“Tidak,” tiba-tiba Wuranta menyela.

“Apakah kau tahu?” bertanya Swandaru

“Menurut Alap-alap Jalantunda, Sidanti adalah seorang pengecut di hadapan gadis-gadis, sehingga Sidanti membiarkan saja Sekar Mirah sampai sekarang di dalam penyimpanan. Bahkan apabila ada kesempatan Alap-alap Jalatunda itu sendirilah yang berbahaya bagi Sekar Mirah. Tetapi menurut keadaan yang aku lihat, Alap-alap Jalatunda tidak akan dengan begitu saja berani menembus pengawasan Sidanti.”

Mereka kemudian terdiam sejenak. Persoalan yang mereka hadapi adalah persoalan yang benar-benar mendebarkan jantung. Bencana yang setiap saat dapat menimpa Sekar Mirah adalah bencana pula buat kedua anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu.

Tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyataan yang mereka hadapi, bahwa Sekar Mirah kini berada di dalam lingkungan yang penuh dengan bahaya. Seolah-olah gadis itu berada di dalam suatu rumah yang dipagari dengan ujung tombak dan pedang.

“Kita tidak boleh menuruti perasaan saja tanpa pertimbangan nalar, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir kemudian. “Dengan demikian kita akan dapat terjerumus ke dalam suatu keadaan yang tidak kita kehendaki, sedang dengan demikian Sekar Mirah pun tidak akan dapat kita selamatkan.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Mereka melihat segala macam kesulitan dan bahaya dengan darah yang mendidih. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Swandaru dan Agung Sedayu menggeram.

“Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir, “Angger telah mendapatkan suatu kesempatan yang baik. Mudah-mudahan kesempatan itu akan berkembang sehingga Angger segera dapat melihat tempat Sekar Mirah disembunyikan dan jalan yang akan dapat kita lalui. Ternyata Angger dapat melakukan tugas Angger sebaik-baiknya sehingga tidak anehlah bagi Angger untuk mendapat kepercayaan yang lebih banyak lagi, Tetapi jangam kehilangan kewaspadaan. Untuk waktu yang agak lama maka Angger pasti selalu di dalam pengawasan Sidanti. Karena itu jangan sekali-sekali datang kembali ke rumah Agung Sedayu. Kalau Angger mendapat kesempatan pulang ke Jati Anom, datang sajalah ke rumah Angger dan meninggalkan pesan di sini.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari bahaya yang timbul apabila kali ini Ki Tanu Mtetir tidak memperingatkannya bahwa Alap-alap Jalatunda sedang mengikutinya.

Dalam pada itu Alap-alap Jalatunda telah bersiap untuk meninggalkan Jati Anom. Ia melangkah perlahan-lahan menyusuri jalan kademangan. Diamat-amatinya regol demi regol seperti belum pernah dilihat sebelumnya. Dengan langkah yang ringan ia melintasi tikungan demi tikungan.

Alap-alap Jalatunda itu kemudian berhenti sejenak di simpang empat induk kademangan. Diawasi jalan yang lurus di hadapannya silang menyilang. Satu arah jalan itu akan sampai kerumah Agung Sedayu, sedang ketiga arah yang lain akan menebar ke segala bagian kademangan. Pada jalan itu kemudian bercabang-cabang jalan-jalan yang lebih kecil menyusup ke segenap sudut.

Sejenak Alap-alap itu berdiri diam disudut perapataa itu. Disandarkannya tubuhnya pada dinding batu hampir setinggi dedeg dan pengawenya.

Tetapi tiba-tiba Alap-alap itu dikejutkan oleh derap kaki beberapa ekor kuda. Dengan sigapnya ia meloncat ke atas dinding batu dan bersembunyi di antara daun-daun pepohonan yang rimbun. Dengan hati yang berdebar-debar ia menunggu, derap kaki kuda siapakah yang bergemeretak di sepanjang jalan kademangan di larut malam ini.

Tetapi Alap-alap Jalatunda menjadi kecewa. Suara kaki-kaki kuda itu seakan-akan patah di tengah-tengah. Hilang dan tidak berderap di bawah tempatnya berlindung.

“Setan,” Alap-alap itu mengumpat, “siapakah yang berkuda di malam begini?”

Tetapi suara derap kuda itu seakan-akan lenyap begitu saja. Yang didengar oleh Alap-alap Jalatunda kemudian adalah desir angin malam terhempas di dedaunan dan dinding-dinding batu. Di kejauhan suara cengkerik bersahut-sahutan dengan derik bilalang.

“Apakah aku mendengar derap kaki hantu ataukah telingaku yang telah menjadi rusak,” gumam Alap-alap Jalatunda itu seorang diri.

Tetapi ia yakin bahwa ia telah mendengar derap kaki kuda. Bahkan menurut perhitungannya tidak hanya seekor kuda, tetapi paling sedikit tiga.

Hati Alap-alap Jalatunda menjadi tidak tenteram. Ia tidak dapat melupakan suara derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu, maka hatinya mendesak semakin kuat untuk mencari, di manakah kuda-kuda itu berhenti.

Dengan hati-hati Alap-alap itu pun kemudian meloncat turun ke dalam halaman rumah di sisi jalan. Halama yang gelap oleh tanaman yang liar. Di sana-sini masih terdapat gerumbul-gerumbul dan rumpun-rumpun bambu.

Alap-alap Jalatunda itu pun segera menyelusup di antara rumpun-rumpun bambu dan gerumbul-gerumbul di halaman. Terbungkuk-bungkuk ia berjalan ke arah suara kaki-kaki kuda itu menghilang. Tiba-tiba ia teringat bahwa arah itu adalah arah rumah Untara.

“Setan,” desisnya, “apakah mereka itu Agung Sedayu dengan kawan-kawannya atau bahkan Untara sendiri.”

Keinginannya menjadi semakin mendesak. Dan ia menyuruk semakin cepat ke arah rumah Agung Sedayu. Seakan-akan ia mendapat kepastian bahwa kuda-kuda itu telah masuk ke dalam halaman rumah itu.

Ketika ia sampai di halaman di samping halaman Agung Sedayu, maka ia pun menjadi semakin hati-hati. Beberapa saat ia berdiri saja di bawah dinding di halaman seberang. Diperhatikan keadaan dengan saksama.

Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia mendengar suara ringkik kuda di halaman rumah Agung Sedayu. Kemudian ia mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap di dalam rumah. Tetapi ia tidak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan.

“Demit itu agaknya,” Alap-alap itu mengumpat di dalam hati. “Agung Sedayu atau bukan, tetapi mereka ternyata lebih dari seorang. Kalau mereka bukan Agung Sedayu, maka sedikit-dikitnya rumah itu berisi empat orang bersama Agung Sedayu.”

Alap-alap Jalatunda itu kemudian tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia beringsut meninggalkan halaman itu untuk kembali ke lereng Gunung Merapi. Setidak-tidaknya ia telah menyelesaikan tugasnya mengawasi Wuranta. Dan kini tanpa disengaja ia telah melihat beberapa ekor kuda masuk ke dalam halaman rumah Agung Sedayu. Dengan demikian apabila mereka turun dari lereng Merapi, mereka harus memperhitungkan keadaan itu. Mereka tidak dapat turun seenaknya, berdua, bertiga atau bahkan seorang diri.

Dengan sedikit keterangan itu, Alap-alap Jalatunda meninggalkan Jati Anom. Bahkan ia ingin tahu, apakah besok Wuranta dapat juga membuat laporan tentang kuda-kuda itu.

Karena itu maka Alap-alap Jalatunda tidak sempat melihat apa yang terjadi sesudah itu di Jati Anom.

Ternyata ketiga orang berkuda itu adalah utusan Untara. Mereka harus mendahului pasukannya yang segera akan sampai pula di Jiati Anom besok. Mereka harus mengetahui apakah Jati Anom sudah siap menerima mereka. Apakah di Jati Anom tidak ada bahaya yang dapat mencelakakan pasukannya.

Ketiga orang berkuda itu kemudian diterima oleh perempuan yang menunggui rumah Agung Sedayu. Diceritakannya apa saja yang baru saja dialaminya. Diceritakannya tentang seorang laki-laki yang wajahnya tertutup oleh ikat kepala tanpa baju dan mengancamnya dengan pedang.

“Apakah orang itu kini mencari Agung Sedayu,” bertanya salah seorang dari orang-orang berkuda itu.

“Aku tidak tahu,” jawab perempuan itu. “Tetapi aku tidak mengatakan kemana Agung Sedayu pergi, dan orang itu tidak menanyakannya pula.”

“Tetapi kau mengatakan bahwa Agung Sedayu hari ini masih di kademangan ini?” bertanya orang berkuda itu.

“Aku kehilangan akal ketika orang itu mengancam akan membunuh anakku.”

Orang-orang berkuda itu terdiam. Sejenak kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Di manakah Agung Sedayu sekarang?”

Perempuan itu ragu-ragu sejenak. Ia sama sekali belum mengenal laki-laki berkuda itu. Karena itu, maka ia tidak segera menjawab.

“Kau mencurigai kami pula?” bertanya salah seorang dari mereka.

Perempuan itu masih juga berdiam diri.

“Adalah sewajarnya kau mencurigai kami. Tetapi biarlah kami mencoba mendapatkan kepercayaan darimu. Aku tahu dari Ki Untara tentang rumah ini. Bahwa ada seorang perempuan yang menunggui rumah ini. Aku mengetahui dari Ki Untara pula, bahwa Agung Sedayu datang ke rumah ini dengan kedua orang kawannya. Seorang bertubuh gemuk bernama Swandaru dan seorang lagi telah agak lanjut usia. Bukankah begitu?”

Perempuan itu menganggukkan kepalanya.

“Apakah kau masih ragu-ragu. Kalau kau mengenal kelengkapan prajurit, maka melihat pakaianku kau akan segera mengenal bahwa aku seorang prajurit.”

Perempuan yang tidak banyak mengetahui seluk-beluk keprajuritan itu sama sekali tidak dapat segera membedakan pakaian seorang prajurit dan bukan. Tetapi keterangan orang itu tentang Agung Sedayu memberinya sedikit kepercayaan. Dalam tanggapannya, ia melihat beberapa perbedaan yang tidak dapat dikatakannya, antara orang-orang ini dan orang-orang lereng Merapi yang satu dua pernah dilihatnya berkeliaran di Jati Anom.

“Jadi apakah Tuan-tuan ini prajurit Pajang?”

“Ya, aku adalah prajurit Pajang yang datang dari Sangkal Putung.”

Sejenak perempuan itu mematung. Diawasinya prajurit-prajurit Pajang itu dengan seksama seolah-olah hendak meyakinkan diri bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang tidak berbahaya.

Para prajurit Pajang itu pun sengaja berdiam diri. Dibiarkannya perempuan itu menilai diri mereka.

Akhirnya perempuan itu berkata, “Aku sendiri tidak tahu kemana Angger Agung Sedayu pergi.”

Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi perempuan itu masih memberi keterangan

“Angger Agung Sedayu hanya meninggalkan sekeping papan, yang hanya boleh aku tunjukkan kepada orang-orang yang tidak mencurigakan.”

“He?” ketiga prajurit itu menjadi heran. Apakah arti papan itu bagi mereka?

Mereka menjadi bertanya-tanya didalam hati ketika perempuan itu pergi dan mengambil sepotong papan bekas sebuah peti yang rusak. Di atas papan itu terlukis beberapa buah coretan dengan enjet, perlengkapan makan sirih.

Tiba-tiba wajah para prajurit itu menjadi cerah. Adalah menjadi kebiasaan mereka untuk memberikan beberapa tanda arah apabila mereka sedang bepergian. Orang-orang yang berjalan kemudian akan mengenal kemana orang-orang yang terdahulu pergi. Tanda-tanda demikian hanyalah dikenal oleh kelompok-kelompok atau prajurit-prajurit dari satu lingkungan tertentu menurut perjanjian mereka masing-masing.

Dan tanda yang dilukis dengan enjet itu jelas bagi mereka, arah yang ditempuh oleh Agung Sedayu.

“Hem,” desis salah seorang prajurit itu, “ternyata Adi Agung Sedayu cukup berhati-hati. Tanda itu tidak akan dapat dikenal selain oleh prajurit Pajang khsusus yang berada di Sangkal Putung.”

Perempuan itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,” berkata prajurit-prajurit itu, “kami akan menyusulnya. Mungkin ada sesuatu yang penting yang dapat kami perbincangkan dengan mereka.”

“Silahkan,” berkata perempuan itu.

Sejenak kemudian para prajurit itu pun segera meninggalkan rumah Agung Sedayu mengikuti petunjuk pada lukisan enjet itu. Mereka menuju ke barat dan pada tempat yang ditentukan mereka membelok ke kiri. Beberapa langkah sekali lagi mereka membelok ke kiri dan sampailah mereka pada suatu regol tiga halaman dari ujung jalan. Regol itu adalah regol halaman rumah Wuranta.

Mereka yang berada dalam rumah itu terkejut ketika mereka mendengar derap kaki kuda memasuki halaman. Dengan hati-hati Wuranta turun ke halaman belakang. Dari celah dedaunan dilihatnya tiga bayangan turun dari kuda-kuda mereka.

Wuranta segera masuk kembali ke dalam rumahnya dan memberitahukan apa yang dilihatnya. Tiga orang berkuda kini berada di halaman depan.

Sejenak Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Akulah yang akan melihatnya. Seandainya Alap-alap Jalatunda berada di halaman dan mengintai rumah ini maka ia tidak akan mengenal aku. Kalau ketiga orang yang datang itu justru atas petunjuk Alap-alap Jalatunda, maka kita harus mengubah setiap rencana. Orang itu tidak akan kita lepaskan dan kita akan menghadapi jumlah yang lebih besar besuk.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Tetapi mereka berdiri tegang di muka pintu ketika Ki Tanu Metir dengan hati-hati keluar lewat pintu belakang.

Orang tua itu adalah seorang yang memiliki beberapa kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya, maka ia berhasil mendekati ketiga penunggang kuda itu tanpa mereka ketahui.

Dengan penuh perhatian Ki Tanu Metir melihat ketiganya mendekati pendapa. Perlahan-lahan mereka naik dan perlahan-lahan pula mereka mengetuk pintu.

Tiba-tiba Kiai Gringsing menarik napas dalam-dalam. Menurut pengamatannya, ketiga orang itu adalah prajurit-prajurit dari Sangkal Putung. Karena itu, orang tua itu pun segera mendekatinya.

Kini, ketiga prajurit itulah yang terkejut, karena tiba-tiba saja mereka melihat sesosok tubuh telah berdiri diujung pendapa.

Dengan serta-merta mereka meraba hulu pedang masing-masing. Terdengar salah seorang bertanya, “Siapa?”

“Akulah yang bertanya,” sahut Ki Tanu Metir, “siapakah kalian bertiga?”

Ketiga prajurit yang mendengar sapa itu menarik napas dalam-dalam. Suara itu pernah dikenalnya. Suara Ki Tanu Metir.

“Oh,” desis salah seorang dari mereka, “adakah itu Ki Tanu Metir?”

“Ya.”

“Kami adalah prajurit-prajurit yang datang dari Sangkal Putung.”

“Pakaianmu telah memperkenalkan dirimu. Marilah masuk lewat pintu belakang,” berkata Ki Tanu Metir perlahan-lahan.

“Kenapa lewat pintu belakang?”

“Rumah ini mungkin mendapat pengawasan dari orang-orang lereng Merapi. Tetapi menurut perhitunganku, orang-orang itu telah meninggalkan halaman ini. Masuklah, dan berbicaralah dengan Agung Sedayu. Aku mempunyai pekerjaan di sini. Aku harus meyakinkan diri, bahwa tak seorangpun yang melihat kehadiranmu di rumah ini supaya Wuranta menjadi korban kesalahan yang telah aku buat.”

“Apakah yang telah Kiai lakukan?”

“Masuklah lewat pintu belakang.”

Ketiganya pun kemudian berjalan lewat pintu belakang masuk ke dalam rumah. Sementara itu Kiai Gringsing tinggal di luar dan dengan kemampuan yang ada padanya, diselidikinya seluruh halaman rumah itu. Tetapi telinganya sama sekali tidak menangkap suara apapun. Ia tidak mendengar nafas seseorang, dan ia tidak melihat gerak-gerak yang mencurigakan.

“Kalau Alap-alap itu masih berada di sini, ia tidak akan luput dari pengawasanku,” desis orang tua itu di dalam hatinya. Meskipun demikian, ia tidak puas dengan pengamatannya di halaman itu. Dengan gerak yang lincah secepat tatit ia meloncat ke luar halaman dan melihat setiap kemungkinan dengan penuh perhatian.

Kiai Gringsing tidak mau menduga-duga, apakah Alap-alap Jalatunda masih berada di tempat itu atau tidak. Ia harus dapat meyakinkan dirinya. Ia tidak mau mengorbankan Wuranta yang dengan tulus telah bersedia membantu mereka. Karena itu maka usahanya untuk meyakinkan diri itu pun tidak terbatas di sekitar halaman rumah Wuranta, tetapi ia berjalan cepat-cepat menyusur jalan menuju lereng Merapi.

Akhirnya yang dicari oleh Ki Tanu Metir itu diketemukannya juga. Samar-samar ia melihat sebuah bayangan meninggalkan Jati Anom. Orang itu adalah Alap-alap Jalatunda.

“Hem,” desah Ki Tanu Metir di dalam hatinya. “Menilik jarak yang telah ditempuh, agaknya orang ini telah pergi tanpa melihat kehadiran ketiga prajurit dari Pajang. Seandainya ia melihat juga, tetapi ia tidak tahu bahwa ketiganya telah masuk ke halaman rumah Wuranta.”

Dengan demikian hati Ki Tanu Metir itu pun menjadi tenteram. Ia tidak mencemaskan lagi nasib Wuranta besok apabila ia kembali ke lereng Merapi. Sebab apabila Alap-alap Jalatunda melihat ketiga prajurit Pajang itu menemui Agung Sedayu di rumah Wuranta, maka mereka pasti tidak akan mempercayai lagi anak muda Jati Anom itu. Dengan demikian maka nasib Wuranta pun akan tersangkut di ujung pedang.

Ketika Ki Tanu Metir itu kembali ke rumah Wuranta, maka dilihatnya ketiga prajurit Pajang itu sedang berbincang dengan asyiknya. Mereka agaknya sedang membicarakan masalah tentang Jati Anom.

“Marilah Kiai,” Agung Sedayu mempersilahkan. Dan duduklah Ki Tanu Metir kini di antara mereka.

“Ki Untara minta aku melihat kademangan ini Kiai,” berkata salah seorang prajurit-prajurit itu. Ia akan masuk besok bersama pasukannya.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Wuranta ia berkata, “Angger harus dapat menyesuaikan diri. Sebenarnya kami ingin segera mengetahui tempat Sekar Mirah disembunyikan, supaya kami dapat menempuh suatu cara yang cepat pula untuk membebaskannya. Kami ingin membebaskan gadis itu sebelum angger Untara memukul lereng Merapi dengan pasukannya.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Selain daripada itu,” berkata Ki Tanu Metir, “kita tidak boleh menunggu Sidanti menghubungi daerah asalnya. Kedatangan Argajaya akan dapat memberikan cara baru baginya dalam usahanya menentang Pajang. Argajaya akan dapat memberi nasihat kepada Sidanti untuk menghubungi ayahnya. Dan ayahnya pasti tidak akan keberatan mengirimkan sepasukan segelar sepapan untuk kepentingan anaknya.”

Wuranta masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi usaha yang harus dilakukan bukanlah usaha yang mudah. Ia tidak akan dapat langsung bertanya di mana Sekar Mirah. Tetapi ia akan dapat berbuat demikian lewat Alap-alap Jalatunda yang sudah menceritakan lebih dulu tentang gadis itu.

Meskipun demikian ia tidak boleh tergesa-gesa melakukan pekerjaannya.

Melihat wajah Wuranta yang tegang agaknya Ki Tanu Metir dapat meraba perasaannya, sehingga kemudian katanya, “Angger, memang pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sukar dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Mudah-mudahan Angger dapat melakukannya dengan baik.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku akan coba Kiai. Tetapi sekarang aku tidak banyak mempunyai waktu lagi. Aku harus segera kembali ke lereng Merapi. Aku harus sampai pada saat fajar menyingsing. Tetapi agaknya aku akan terlambat. Mudah-mudahan keterlambatan sedikit itu tidak menjadi soal bagi pekerjaanku.”

“Mudah-mudahan, Ngger,” sahut Kiai Gringsing. “Tetapi Angger jangan kehilangan kewaspadaan. Katakan saja apa yang Angger lihat di sini. Angger melihat ketiga prajurit datang ke Jati Anom. Bahkan mereka datang ke rumah Angger. Mungkin atas petunjuk Agung Sedayu. Untunglah Angger dapat melarikan diri. Tetapi prajurit itu segera pergi.”

Wuranta mengangguk-anggukkkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Kenapa aku harus mengatakan kehadiran ketiga prajurit ini?”

“Kalau laporanmu sama atau setidak-tidaknya mirip dengan laporan Alap-alap jalatunda, maka kau pasti akan dapat kepercayaan lebih banyak.”

“Tetapi apakah dengan demikian tidak akan merugikan ketiga prajurit ini Kiai?”

“Apakah kerugiannya? Besok pasukan Untara datang. Berita itu pasti didengar oleh Sidanti. Ia pasti mempunyai orang-orang yang bertugas untuk mengawasi keadaan. Seperti kau, tetapi satu sama lain tidak saling diperkenalkan.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kemudian iapun minta diri untuk segera kembali ke lereng Merapi. Ia akan berusaha datang tepat pada waktunya, ataupun kalau terlambat, maka kelambatannya tidak akan terlampau panjang.

Kiai Gringsing dan kawan-kawanya pun kemudian melepaskan Wuranta itu pergi dengan berbagai pesan. Dada Kiai Gringsing pun kadang-kadang berdesir melihat langkah Wuranta meninggalkan halaman rumahnya. Ia menyadari betapa besar bahayanya pekerjaan yang kini sedang dilakukan oleh Wuranta itu.

“Mudah-mudahan Tuhan melindunginya,” desisnya di dalam hati.

Dengan tergesa-gesa kemudian Wuranta berjalan meninggalkan Jati Anom. Ia ingin sampai ke padepokan Ki Tambak Wedi sebelum fajar. Tetapi menilik waktu yang seolah-olah berlari terlampau cepat, maka Wuranta itu pun merasa bahwa kedatangannya pasti akan terlambat.

“Tetapi keterlambatanku pasti tidak akan terlampau banyak,” anak muda itu mencoba menenteramkan hatinya sendiri.

Tanpa disengaja maka langkahnya pun menjadi kian cepat. Angin pegunungan yang bertiup perlahan-lahan telah memberinya kesegaran.

Beberapa lama Wuranta diperjalanan, tidak dirasakannya. Tetapi tiba-tiba saja dilihatnya remang-remang pepohonan di sisi jalan. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya langit di sebelah timur telah diwarnai oleh cahaya fajar yang kemerah-merahan.

“Hem,” desah Wuranta, “hampir fajar. Tetapi apabila benar kata Ki Tanu Metir bahwa Alap-alap Jalatunda mengikutiku, maka ia akan dapat banyak bercerita. Ia akan dapat mengatakan bahwa aku telah berkelahi melawan seseorang. Kemudian ia akan dapat bercerita pula tentang tiga ekor kuda.”

Perjalanan Wuranta menjadi kian mendaki. Ia telah sampai di lereng-lereng Gunung Merapi. Beberapa pedukuhan yang sepi telah dilampaui, dan kini ia telah melampaui hutan-hutan yang tidak begitu lebat. Meskipun demikian di dalam hutan itu masih juga berkeliaran harimau dan babi hutan. Tetapi yang paling mengerikan adalah gerombolan anjing-anjing liar yang jumlahnya tidak terhitung lagi.

Sejenak kemudian maka ujung-ujung pepohonan telah menjadi kemerah-merahan pula. Disusul oleh warna kuning yang cerah.

“Hari telah pagi,” berkata Wuranta kepada diri sendiri.

Namun dengan demikian ia dapat melihat dengan jelas segala sudut-sudut jalan menuju ke padepokan Tambak Wedi.

Ketika ia menjadi semakin dekat, kembali dilihatnya beberapa pucuk senjata di belakang batu-batu besar, di tikungan-tikungan, dan di sisi-sisi jalan. Penjagaan yang ketat memagari padepokan itu. Penjagaan itu bukan saja untuk menjaga setiap kemungkinan, tetapi dengan demikian maka Ki Tambak Wedi tetap memelihara suasana dan keadaan perang. Penjagaan itu memberi pekerjaan bagi orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi yang berkeliaran dalam jumlah yang cukup besar. Tanpa penjagaan itu, maka mereka akan mempunyai terlampau banyak kesempatan untuk duduk termenung. Kesempatan untuk memikirkan diri sendiri dan kesempatan untuk bertengkar satu dengan yang lain. Tetapi kesiap-siagaan yang selalu dibangun oleh Ki Tambak Wedi dapat mencengkam seluruh perhatian mereka. Seolah-olah Untara dan prajurit-prajurit Pajang telah berada dimuka hidung mereka.

Dengan demikian mereka tidak mendapat kesempatan untuk berpikir tentang diri sendiri, tentang kesulitan-kesulitan yang mereka alami dan tentang hari depan mereka yang gelap. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertengkar satu dengan yang lain berebut berbagai macam persoalan.

Setiap orang yang berada dalam dipenjagaan itu memandangi Wuranta dengan curiga. Tetapi kemudian mereka membiarkannya lewat. Anak muda Jati Anom itu adalah anak muda yang kemarin dibawa oleh Sidanti, dan kemudian berjalan meninggalkan padepokan ini bersama Alap-alap Jalatunda.

Matahari di atas cakrawala pun merayap semakin tinggi. Cahayanya yang menyangkut di ujung gunung merapi seakan-akan telah membakar puncak itu sehingga berwarna merah membara. Dalam pada itu maka padepokan Tambak Wedi itu pun menjadi semakin dekat.

Setelah melampaui beberapa lapis penjagaan maka akhirnya Wuranta sampai kejantung padepokan Tambak Wedi.

Anak muda itu langsung menuju ke rumah yang kemarin pertama-tama dimasuki bersama Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.

Dada Wuranta berdesir melihat Alap-alap yang masih sangat muda itu. Matanya benar-benar seperti mata burung Alap-alap. Anak itu tampaknya telah rapi benar. Agaknya ia telah sempat mandi dan membenahi pakaiannya. Tidak ada tanda-tanda bahwa semalam ia pergi mengikutinya ke Jati Anom.

“Hem, kau Wuranta,” sapa Sidanti.

Sekali lagi dada Wuranta berdesir. Ia tidak tahu tanggapan Sidanti yang sebenarnya kepadanya pagi ini. Apakah murid Ki Tambak Wedi itu akan menerimanya dengan baik, atau telah disiapkannya tali gantungan untuknya.

“Duduklah,” berkata Sidanti itu pula mempersilakan Wuranta duduk bersamanya di atas sebuah tikar pandan yang putih.

“Kau datang terlampau siang,” berkata Sidanti.

“Ya, Tuan,” sahut Wuranta. “Ada beberapa sebab yang menghambat kedatanganku.”

“Minumlah, kemudian ceritakanlah apa yang kau lihat di Jati Anom.”

Wuranta menelan ludahnya. Seakan-akan ia sedang duduk di hadapan seorang jaksa yang sedang memeriksa perkaranya. Ia tidak tahu hukuman apakah yang kemudian akan dijatuhkan atasnya.

Seteguk ia minum air hangat yang sudah terhidang dihadapannya. Diraihnya segumpa gula kelapa. Ia mencoba untuk menenangkan hatinya, tetapi ketika air hangat itu diangkatnya, maka ia merasa beberapa tetes tertumpah menyiram kakinya. Ternyata lengannya masih juga gemetar. Tetapi ketika lehernya telah menjadi basah, maka ia menjadi agak tenang.

“Apakah perjalananmu menyenangkan? Berkata Sidanti tiba-tiba.

Wuranta menggeser duduknya, membetulkan pedangnya yang mencuat ke belakang. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, lalu jawabnya, “Ya, tuan. Perjalanan kali ini benar-benar menyenangkan.”

“Ceritakanlah apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar?”

“Aku tidak hanya sekedar melihat dan mendengar, Tuan” jawab Wuranta, “tetapi aku hampir mati di perjalanan.”

“Kenapa?” Sidanti terkejut.

Tetapi Wuranta melihat bahwa sebenarnya Sidanti hanya berpura-pura saja. “Alap-alap itu pasti sudah bercerita tentang Ki Tanu Metir yang sudah mencegat perjalananku,” katanya di dalam hati.

Wuranta itu pun kemudian bercerita tentang apa saja yang dilakukannya. Berkelahi dengan seseorang laki-laki yang tidak dikenalnya yang mencegat perjalanannya. Kemudian menggertak perempuan tua yang menunggui rumah Agung Sedayu dan yang terakhir tentang tiga orang penunggang kuda yang datang ke Jati Anom.

Sidanti dan Alap-alap Jalatunda mendengarkan dengan penuh minat. Seakan-akan apa yang didengarnya itu belum pernah diketahuinya lebih dahulu. Kadang-kadang wajah mereka berkerut-merut, kadang-kadang menjadi tegang.

“Setan,” desis Wuranta di dalam hatinya, “mereka benar-benar licik.” Tetapi tiba-tiba ia menyadari keadaan dirinya sendiri. “Dan akupun harus berbuat licik seperti mereka pula.”

Ketika Wuranta selesai bercerita maka Sidanti pun kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. Dipandanginya Alap-alap Jalatunda sekilas, lalu katanya, “Kau benar-benar hebat. Siapakah kira-kira laki-laki yang menyerangmu?”

Wuranta tidak segera menjawab. Ia pun memandangi Alap-alap Jalatunda sekilas. Baru kemudian ia menjawab sambil menggeleng, “Aku tidak tahu, Tuan. Sebenarnya aku ingin bertanya kepada Tuan, siapakah yang telah mencegat aku di perjalanan itu?”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia tersenyum, “Kau menyangka bahwa aku telah memasang seseorang untuk mencegatmu? Apakah gunanya? Kalau aku ingin membunuhmu, sekarang aku dapat melakukannya.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Jadi, kau benar-benar tidak mengetahuinya?”

“Benar, Tuan,” jawab Wuranta. “Maaf bahwa aku memang menyangka bahwa Tuan ingin mengetahui sedikit tentang diriku dengan mengirimkan seseorang mencegat perjalananku, meskipun Tuan tidak benar-benar ingin membunuhku.”

“Memang masuk akal,” sahut Sidanti, “tetapi aku tidak melakukannya.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera mengucapkan sesuatu.

Yang bertanya kemudian adalah Alap-alap Jalatunda, “Lalu bagaimana dengan tiga orang berkuda itu?”

“Mereka hampir membunuhku,” sahut Wuranta.

“Bohong!” desis Alap-alap Jalatunda. “Apakah kau seorang anak muda yang pilih tanding dan dapat mengalahkan tiga orang prajurit Pajang?”

Dada Wuranta berdesir mendengar pertanyaan itu. Sebenarnyalah bahwa ia tidak akan dapat melepaskan diri dari tiga orang prajurit Pajang seandainya mereka benar-benar ingin membunuhnya. Tetapi ceritanya telah diucapkannya, bahwa ia melepaskan diri dari ketiganya.

Tetapi tiba-tiba Wuranta itu pun tersenyum. Wajahnya yang tegang menjadi kemerah-merahan. Beruntung bahwa ia segera dapat menguasai perasaannya.

“Bagaimana?” desak Alap-alap Jalatunda.

“Aku memang dapat melepaskan diri dari mereka. Sebagaimana Tuan lihat, aku selamat sampai di sini.”

“Apakah kau mampu melawan mereka bertiga?” bertanya Sidanti.

Wuranta menggeleng. Senyumnya masih saja melekat di bibirnya.

“Lalu bagaimana?” Alap-alap Jalatunda hampir membentak.

Wuranta berusaha sekuat-kuatnya menguasai perasaannya. Sambil tersenyum ia menjawab, “Sudah aku katakan, aku melepaskan diri dari mereka”

“Sesudah kau bertempur melawan mereka, atau sesudah kau membunuh ketiganya?”

Wuranta masih tersenyum. Perlahan-lahan ia menjawab, “Justru sebelum mereka melihat aku.”

“Gila!” Alap-alap Jalatunda berteriak. Tetapi terdengar Sidanti tertawa terbahak-bahak.

“Kau memang seorang pengecut. Seorang pengecut yang suka sekali membual.”

Wuranta tidak segera menjawab. Tetapi ia menjadi berlega hati ketika Sidanti mentertawakannya. Alap-alap Jalatunda itu pun tertawa pula sambil berkata, “Sebenarnya kau cukup mampu untuk berkelahi. Kau dapat mengusir laki-laki yang menyerangmu. Tetapi kau benar-benar seorang pengecut.”

Wuranta mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia bertanya, “Darimana Tuan tahu bahwa aku mampu berkelahi?”

Kini Alap-alap Jalatunda yang terbungkam. Sejenak ia menjadi bingung. Tetapi sejenak kemudian iapun menjawab, “Bukankah kau sendiri mengatakannya bahwa kau mampu mengusir laki-laki yang tak kau kenal itu?”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Wuranta bergumam, “Apakah aku tadi berkata begitu?”

“Ya, kau mengatakannya.”

“Dan Tuan tidak menganggap bahwa kali ini aku pun hanya membual saja?”

Sekali lagi Sidanti tertawa. Katanya, “Aku memerlukan seseorang seperti kau. Pengecut sekaligus pembual.”

Wuranta pun tersenyum. Ia melihat beberapa orang kemudian masuk ke dalam ruang itu pula. Wajah mereka diliputi oleh berbagai pertanyaan. Mereka melihat Sidanti tertawa berkepanjangan dan Alap-alap Jalatunda pun tertawa-tawa pula.

“Apa yang kalian tertawakan?” bertanya Sanakeling.

“Pengecut ini,” jawab Sidanti. Kemudian ia berkata kepada Wuranta, “Pergilah, kau boleh beristirahat. Kau akan mempunyai pekerjaan yang serupa untuk saat-saat mendatang. Tetapi apakah kau masih berani datang ke Jati Anom apalagi apabila ketiga prajurit itu mengetahui rumahmu?”

“Sejak lama Agung Sedayu melihat rumahku. Mungkin ketiga prajurit itu adalah sraya Agung Sedayu untuk menangkapku.”

“Jangan membual lagi,” potong Sidanti. “Agung Sedayu tidak memerlukan orang lain untuk memenggal lehermu.”

“Tetapi ternyata ia tidak berani datang ke rumahku?”

“Anak muda Jati Anom. Adik Untara itu segan mengotori tangannya dengan darah kelinci.”

Wajah Wuranta sesaat menjadi kemerah-merahan. Bagaimanapun juga sebagai seorang anak muda, ia merasa tersinggung oleh berbagai hinaan yang diucapkan oleh Sidanti berturut-turut. Tetapi segera ia menyadari kewajibannya, sehingga sekali lagi ia terpaksa menekan perasaannya.

Wuranta terkejut ketika ia mendengar Sidanti bertanya, “Apakah kau marah?”

Wuranta memaksa dirinya untuk tersenyum. “Tidak, Tuan. Tetapi aku ingin suatu ketika dapat mengalahkan Agung Sedayu.”

Sidanti tertawa. Kemudian katanya, “Pergilah. Kalau kau lelah, beristirahatlah.”

“Baik, Tuan” sahut Wuranta, “tetapi aku ingin menjelaskan kepada Tuan, bahwa untuk seterusnya, meskipun pasukan Untara telah berada di sekitar Jati Anom, aku tidak takut untuk turun. Jati Anom adalah kampung halamanku. Kenapa aku menjadi takut pulang? Aku mengenal semua jalan-jalan dan lorong-lorong. Aku kenal segenap sudut-sudutnya, rumpun-rumpun bambu yang lebat dan tempat-tempat yang lain untuk bersembunyi.”

“Aku sudah menyangka,” potong Sidanti

“Apa yang sudah Tuan sangka?”

“Ceritamu pasti hanya berkisar pada tempat persembunyian, tempat untuk melarikan diri dan sebagainya. Kau tidak akan bercerita tentang kemungkinan yang lain, misalnya membinasakan mereka, mencegat mereka atau perbuatan-perbuatan serupa.”

Wuranta tersenyum, betapapun hatinya menjadi kecut.

“Pergilah,” berkata Sidanti, “kau mendapat kesempatan untuk beristirahat, melihat-lihat tempat ini bersama Alap-alap Jalatunda.”

Wuranta menganggukkan kepalanya. Ia melihat kewaspadaan pada sikap dan kata-kata Sidanti. Iapun menyadari bahwa Alap-alap Jalatunda pasti mendapat tugas untuk mengawasinya selama ia berada di padepokan Tambak Wedi.

Wuranta kemudian meninggalkan tempat itu. Di halaman ia sejenak menunggu Alap-alap Jalatunda yang masih berada di dalam.

“Bagaimana menurut pertimbanganmu, Alap-alap Jalatunda?” bertanya Sidanti.

“Ia berkata sebenarnya.”

“Ya, aku juga percaya kepadanya. Bodoh, berterus-terang tetapi licik dan pembual.”

“Orang yang demikian dapat kita pergunakan untuk sementara. Tetapi sifat pembualnya adalah sifat yang berbahaya,” sahut Sanakeling.

“Ya, kita pergunakan untuk waktu yang tertentu. Akan datang saatnya, anak itu kita lemparkan ke dalam jurang. Tetapi sekarang ia akan bermanfaat. Nanti malam ia harus turun kembali ke Jati Anom melihat perkembangan daerah itu. Bagaimanakah dengan ketiga orang berkuda yang semalam datang ke kademangan itu,” berkata Sidanti.

Alap-alap Jalatunda mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sambil bersungut-sungut ia bertanya, “Apakah aku mendapat tugas untuk mengikutinya lagi?”

Sidanti tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak. Nanti malam kau dapat tidur nyenyak di gubugmu.”

Alap-alap Jalatunda tidak berkata sepatah kata pun lagi. Ditinggalkannya ruangan itu langsung turun ke halaman. Ditemuinya Wuranta yang telah agak lama menunggunya.

“Apakah kau mau tidur?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

Wuranta menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku harus berprihatin supaya niatku dapat terlaksana.”

“Apakah niat itu?”

“Sederhana,” jawab Wuranta “menjadi demang dan beristri cantik.”

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda itu tertawa terbahak-bahak. “O, dapurmu,” katanya. “Seorang Demang harus orang yang berani.”

“Kelak aku akan menjadi orang yang berani juga.”

“Mudah-mudahan kau akan dapat menjadi seorang Demang,” gumam Alap-alap Jalatunda.

“Dan beristri cantik, supaya aku dapat juga beranak seorang gadis yang cantik, seperti yang kau katakan.”

“Anak Demang Sangkal Putung itu?”

“Kalau aku menjadi seorang Demang, maka pantaslah aku menjadi menantu seorang demang pula.”

“Huh!” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda meludah. “Sebelum kau mimpi mendapatkan gadis itu, lehermu telah patah.”

“Kenapa?”

“Kau berani melawan aku?”

Wuranta tersenyum. “Jangan marah, Tuan. Aku belum pernah melihat gadis itu. Bagaimana aku dapat jatuh cinta kepadanya? Bukankah bukan hanya Demang Sangkal Putung saja yang beranak seorang gadis?”

Alap-alap Jalatunda menelan ludahnya.

“Tuan,” tiba-tiba Wuranta berbisik, seakan-akan ia takut suaranya didengar orang lain, “apakah gadis itu cantik?”

Alap-alap Jalatunda berpaling. Ditatapnya wajah Wuranta dengan tajamnya. Dengan nada yang datar ia menggeram, “Kau benar menginginkannya?”

“Ah, aku tidak gila, Tuan. Gadis itu adalah milik Sidanti. Bagaimana aku berani berangan-angan?”

“Omong kosong. Tak seorang pun yang memilikinya di sini. Siapa yang dahulu mendapatkannya, ialah yang memiliki, meskipun hanya sesaat, dan meskipun sesudah itu digantung, tetapi puaslah rasanya.”

Dada Wuranta berdesir mendengar kata-kata Alap-alap Jalatunda itu, tetapi ia tidak menyahut.

Tiba-tiba Alap-alap itu berkata, “Apakah kau ingin melihatnya?”

“Bagaimana aku bisa meilhat tuan? Bukankah ia berada di dalam ruangan tertutup? Apakah aku dapat masuk ke dalamnya?”

Alap-alap Jalatunda tertawa mendengar pertanyaan Wuranta. Katanya, “Kau memang bodoh. Apakah seorang gadis yang disembunyikan itu siang malam berada di dalam biliknya? Apakah sekali-sekali ia tidak memerlukan air?”

“Air untuk minum maksud Tuan?” bertanya Wuranta.

“O,” tertawa Alap-alap Jalatunda semakin menjadi. “Seorang perempuan yang sudah dewasa tidak dapat berpisah dengan air. Tidak saja untuk minum, tetapi untuk mencuci misalnya.”

“O, ya, ya,” cepat-cepat Wuranta menyahut.

“Demikian juga Sekar Mirah. Ia tidak harus berada di dalam biliknya setiap saat. Gadis itu diperbolehkan keluar asalkan tidak terlampau jauh. Ke sumur atau ke ‘kali’ misalnya, lalu kemudian masuk kembali ke rumah yang khusus dipergunakan untuk menyimpannya. Tetapi ia tidak pernah terlepas dari pengawasan. Dan seandainya gadis itu mencoba untuk lari, maka meskipun ia berhasil meninggalkan halaman itu, maka ia tidak dapat keluar dari padepokan ini.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Jadi, bagaimanakah aku dapat melihatnya?”

“Hampir setiap pagi ia mencuci pakaian yang ada padanya. Pakaian yang hanya selembar dua lembar itu, setelah ia mendapat pinjaman dari perempuan-perempuan di padepokan ini.”

“Kenapa setiap hari dicucinya?”

“Aku rasa bukan karena pakaian itu menjadi kotor. Tetapi gadis itulah yang ingin keluar dari dalam bilik yang sempit itu. Mencuci baginya adalah alasan yang paling baik. Mungkin juga ke pakiwan atau bahkan ke sungai.”

“Siapakah yang harus mengawasi gadis apabila ia pergi ke sungai?”

“Tentu saja para penjaga”

Wuranta mengerutkan keningnya. Bagaimana mungkin seseorang dapat hidup dalam keadaan demikian. Tetapi keadaan itu adalah keadaan yang dipaksakan atas gadis itu, sehingga betapapun juga, maka ia tidak akan dapat menolaknya.

“Baiklah, Tuan,” berkata Wuranta kemudian, “kalau aku mendapat kesempatan, maka aku pun ingin melihatnya.”

“Marilah,” sahut Alap-alap Jalatunda. Tetapi ia kemudian mengerutkan keningnya sambil berkata, “Kau ingin mencoba bermain api?”

“Oh,” kini Wuranta-lah yang tertawa, “aku hanya ingin melihatnya karena Tuan mengajak. Percayalah bahwa aku tidak akan berani berbuat apapun selain memandanginya dari kejauhan. Betapapun cantiknya gadis itu, tetapi aku hanya akan mendapat kesempatan untuk memandanginya.”

Sejenak Alap-alap Jalatunda terdiam. Sekali ia berpaling memandangi wajah Wuranta dengan penuh kecurigaan. Tetapi kemudian ia berkata, “Jangan mencoba berbuat gila. Nyawamu berada di ujung rambutmu. Pedepokan ini bukan tanah nenek-moyangmu, dan kau belum menjadi seorang demang di Jati Anom.”

Sekali lagi Wuranta tertawa. Katanya, “Tuan benar-benar seorang pencemburu. Kelak kalau Tuan sudah beristri, maka tak seorang pun yang boleh memandangi istri Tuan.”

Kening Alap-alap Jalatunda itu pun menjadi semakin berkerut-merut. Sejenak ia terbungkam, tetapi kemudian ia pun tersenyum dan berkata, “Mungkin kau benar Wuranta. Aku pun tersenyum juga akhirnya mendengar kata-katamu itu.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka berjalan menyusur jalan padepokan yang tidak telampau lebar. Sekali-sekali mereka berpapasan dengan beberapa laki-laki bersenjata. Laki-laki yang berwajah keras dan kasar, berkumis tebal, berjambang dan berjanggut. Rambut mereka kadang-kadang tidak tersusun rapi, bahkan kadang-kadang begitu saja berjuntai di bawah ikat kepala.

Bulu kuduk Wuranta kadang-kadang menjadi meremang. Laki-laki itu adalah laki-laki yang selama ini hidup dalam pengembaraan. Mereka seakan-akan tidak pernah mengecap kenikmatan hidup berumah tangga. Bahkan sampai saat ini dan sampai kapan hal itu masih berlangsung terus.

“Prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung dan yang akan datang di Jati Anom pun seakan-akan hidup dalam pengembaraan,” gumam Wuranto dalam hatinya. “Tetapi mereka memiliki kebanggaan. Mereka memiliki harapan bagi masa depan yang jauh. Seandainya tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk anak keturunan mereka.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia terperanjat ketika Alap-alap Jalatunda menyapanya, “He, kenapa kau?”

Wuranta mencoba tersenyum, “Tidak apa-apa,” jawabnya.

“Apakah kau masih memikirkan gadis itu?”

“Apakah Tuan menyangka begitu?”

Alap-alap Jalatunda pun tersenyum pula. Bahkan kemudian ia pun mengumpat, “Gila, kau.”

Kembali mereka berdua saling berdiam diri. Langkah mereka satu-satu di atas jalan berbatu menumbuhkan suara gemerisik perlahan-lahan.

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda berhenti. Digamitnya Wuranta sambil berbisik, “He, apakah kau melihat seseorang berjalan lewat jalan samping itu?”

Wuranta pun segera berpaling memandang ke arah pandang Alap-alap Jalatunda. Tiba-tiba dilihatnya seorang gadis berjalan seorang diri menyelusur lorong sempit itu.

“Itukah dia?” bertanya Wuranta.

Alap-alap Jalatunda mengangguk. “Ya, itulah Sekar Mirah.”

“Kemana dia?”

“Jalan itu menuju ke sungai”

“Apakah gadis itu dapat pergi dengan bebas ke sungai? Apakah dengan demikian ia tidak berusaha melarikan diri?”

“Apakah gadis itu kau sangka dapat meloncat dinding padepokan ini? Seandainya ia dapat maka para penjaga di sekitar padepokan ini akan menangkapnya. Jangan pula dilupakan bahwa beberapa orang akan selalu mengawasinya.”

“Di mana para pengawas itu?”

“Mereka tidak semata-mata mengawasinya. Dan pengawasan itu pun tidak akan terlampau ketat seperti seandainya yang ditahan itu Agung Sedayu.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Alap-alap Jalatunda itu dapat dimengertinya. Memang agaknya bagi seorang gadis, pasti akan amat sulit mencoba keluar dari dinding padepokan yang cukup tinggi seperti sebuah benteng yang sangat rapat. Bahkan di sana-sini di dalam dinding itu tumbuh rumpun-rumpun bambu ori yang rapat.

Apalagi sungai itu mengalir membelah padepokan. Sehingga sungai itu pun berada dalam lingkungan dinding-dinding padepokan itu pula.

Meskipun demikian, ada sesuatu yang ingin diketahuinya, sehingga Wuranta itu pun bertanya, “Tuan, jika Sekar Mirah itu pergi ke sungai, apakah ia tidak akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri?”

“Sungai itu berada di padepokan.”

“Tetapi bukankah ia dapat menyusur aliran sungai itu, ke hulu atau ke udik, kemudian keluar dari dinding yang mengelilingi padepokan ini?”

Alap-alap Jalatunda menggeleng, katanya, “Aku tidak tahu siapakah yang membuat padepokan ini. Tapi apa yang kau tanyakan itu agaknya telah dipikirkan pula oleh orang-orang yang membuatnya.”

“Bagaimana?” bertanya Wuranta.

“Di perbatasan sungai ini masuk dan keluar padepokan, dinding padepokan ini telah dibuat terlampau rendah kemudian digalinya dasar sungai seperti sebuah terowongan. Dengan demikian maka air akan menutup seluruh lubang masuk dan keluar dari padepokan ini. Tak ada selubang jarumpun berada di atas permukaan air. Apabila seseorang akan berusaha keluar atau masuk lewat sungai ini, maka ia harus menyelam untuk waktu yang cukup lama. Nah, apakah hal yang demikian itu akan dapat dilakukan oleh Sekar Mirah? Seorang yang cakap berenang dan menyelam pun akan ragu-ragu untuk melakukannya, seandainya ia belum mengenal betul keadaan padepokan ini. Mereka pasti menyangka bahwa genangan air itu akan masuk kedalam pusaran.”

Wuranta mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya ingin benar ia melihat ujung sungai itu pada sisi-sisi padepokan. Tetapi ia tidak dapat langsung mengutarakannya.

Tiba-tiba Wuranta itu terperanjat ketika sekali lagi Alap-alap Jalatunda menggamitnya sambil bertanya, “He, gadis itu sudah hampir tidak tampak lagi.”

“Lalu bagaimana maksud Tuan?”

“Aku selalu menunggunya di muka rumah yang diperuntukkan baginya pada saat-saat begini, apabila aku tidak sedang bertugas.”

“Apakah Tuan sudah mengenalnya?”

Alap-alap Jalatunda menggelengkan kepalanya. “Aku tidak berani menegurnya.”

“Takut kepada Sidanti?”

“Persetan anak iblis itu. Kenapa aku takut kepadanya?”

“Jadi, kepada siapa Tuan takut?”

“Aku tidak pernah merasa takut kepada Sidanti kini. Mungkin beberapa saat berselang aku ketakutan mendengar namanya. Tetapi aku sudah mencoba untuk mempersiapkan diri melawannya. Meskipun aku tidak berguru lagi kepada seseorang. Tetapi cara-cara yang pernah dipesankan kepadaku aku lakukan dengan baik dan teratur. Apalagi kini, aku mempunyai waktu yang cukup untuk meningkatkan ilmuku. Sedang Sidanti tidak pernah melakukannya.”

“Jadi, bagaimana?”

BUKU 22

“AKU tidak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk menegurnya, meskipun aku sering berpapasan dengan gadis itu.”

Wuranta tertawa, ditatapnya wajah Alap-alap yang keras dan bermata seperti mata burung alap-alap itu. Katanya, “Tuan adalah seorang anak muda yang perkasa. Semuda umur Tuan, Tuan telah memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebaya Tuan, bahkan yang lebih tua dari Tuan. Tetapi kenapa Tuan tidak memiliki keberanian untuk menegur seorang gadis yang justru telah berada di dalam lingkungan Tuan sendiri?”

Alap-alap Jalatunda menggeleng-gelengkan kepalanya. Desisnya, “Aku tidak tahu.”

“Baiklah,” gumam Wuranta, “akulah yang nanti akan menegurnya apabila kita berpapasan.”

“Gila,” tiba-tiba mata Alap-alap Jalatunda menjadi merah, “meskipun kau kini membawa pedang di lambungmu, ayo, kita lihat siapakah yang lebih berhak disebut jantan.”

Wuranta tertegun sejenak, tetapi kemudian ia tersenyum, “Apakah Tuan salah sangka? Maksudku, aku akan menegur untuk kemudian memberi jalan kepada Tuan supaya Tuan dapat berbicara lebih lancar.”

“He,” mata Alap-alap Jalatunda yang menyala itu pun sedikit demi sedikit menjadi suram kembali.

“Apakah Tuan sependapat?”

Alap-alap Jalatunda tidak segera menjawab.

“Tetapi kalau Tuan tidak sependapat, baiklah. Aku akan menutup mulut.”

“Tetapi,” desis Alap-alap Jalatunda, “kalau kau ingin membantu aku, aku kira aku tidak akan berkeberatan.”

“Begitu?”

Alap-alap Jalatunda menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut.

Keduanya pun kemudian berjalan kembali menyusul Sekar Mirah lewat lorong kecil yang telah dilalui oleh gadis itu.

“Apakah kita menyusul di belakangnya?” bertanya Wuranta.

“Ya, kenapa?”

“Kita laki-laki muda mengikuti seorang gadis?”

“Jadi bagaimana?” bertanya Alap-alap Jalatunda dengan herannya.

“Kita mencari jalan lain yang akan sampai ke sungai itu pula. Seolah-olah kita tidak sengaja mengikutinya. Kita selusuri sungai ini. Kalau perlu dari salah salah ujung. Bukankah kita sedang nganglang dan tidak sengaja menjumpainya di sungai?”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan dahinya. Sejenak ia berdiam diri. Mulutnya berkumat-kamit, tetapi sama sekali tidak terdengar kata-katanya.

“Tuan,” berkata Wuranta kemudian, “ada beberapa alasan yang harus Tuan pertimbangkan. Selain supaya gadis itu tidak menjadi takut dan kemudian menghindar, maka tidaklah pantas anak-anak muda mengikuti seorang gadis yang akan pergi ke sungai. Seandainya ia tidak menghindar, maka gadis itu pasti akan mengurungkan niatnya. Untuk mandi misalnya, atau mencuci pakaian. Tetapi yang lebih penting bagi Tuan, maka apa yang Tuan lakukan tidak akan menimbulkan kecurigaan bagi para pengawas.”

“He, kenapa para pengawas? Seandainya mereka berkeberatan, maka leher mereka akan aku penggal di hadapan gadis itu.”

“Bukan begitu Tuan,” Wuranta diam sejenak, kemudian diteruskannya, “Siapakah yang harus mengawasi gadis itu? Orang-orang Jipang atau orang-orang padepokan ini?”

“Bergantian. Semua orang yang telah memiliki senjata di tangannya tidak terkecuali. Gadis itu termasuk salah satu hal yang harus mendapat pengawasan seperti jalan masuk, dinding-dinding padepokan, rumah-rumah penting dan lain-lain.”

“Nah, bukankah kadang-kadang Tuan akan menemui seseorang yang tidak senang terhadap Tuan.”

“Aku tidak perduli. Orang itu akan dapat aku bunuh seketika.”

“Tetapi ingat. Sidanti mempunyai kepentingan pula atas gadis itu. Bukan aku menganggap Tuan tidak berani, tetapi dalam keadaan seperti sekarang, jangan dulu timbul curiga-mencurigai di kalangan sendiri.”

Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi tegang. Wuranta yang dianggapnya terlampau bodoh itu dapat memberinya petunjuk yang dapat dimengertinya. Karena itu, maka tiba-tiba ia mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Baik, aku menuruti nasehatmu. Jadi bagaimana dengan kita? Gadis itu telah hilang di balik tikungan. Kalau kita terlambat, ia pasti sudah selesai mandi atau mencuci. Dengan demikian, maka kau tidak akan mendapat kesempatan melihatnya.”

“Bukankah kesempatan itu tidak hanya sehari ini? Seandainya sekarang aku terlambat, besok masih juga ada hari.”

Alap-alap Jalatunda tersenyum. Sekali lagi ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Bagus, bagus. Kau benar. Agaknya akulah yang takut terlambat.”

Keduanya kemudian memutar langkahnya. Mereka tidak menempuh jalan yang telah dilalui Sekar Mirah.

“Kemana kita?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

“Aku tidak tahu. Tuan-lah yang lebih tahu dari aku. Atau barangkali Tuan akan menyelusuri sungai ini dari ujung sampai ke ujung yang lain? Bukankah dengan demikian tak seorangpun akan mencurigai Tuan.”

“Baiklah,” sahut Alap-alap Jalalunda, “marilah kita pergi ke ujung sungai ini memasuki padepokan. Kita berjalan menyelusur tepian sampai ke ujung yang lain.”

“Marilah, Tuan. Sikap berhati-hati adalah sikap yang paling baik dalam segala hal.”

Keduanya pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa. Setelah beberapa kali mereka membelok, akhirnya mereka sampai pada dinding padepokan yang cukup tinggi. Dinding batu yang agaknya umurnya sudah cukup tua.

“Beberapa puluh langkah lagi kita akan sampai ke sungai,” gumam Alap-alap Jalatunda.

Wuranta tidak menyahut. Ia berjalan saja di samping Alap-alap Jalatunda. Dan benarlah katanya, segera mereka sampai ke sebuah lereng yang dangkal. Ketika mereka menuruni lereng itu, maka oleh Wuranta tampak seakan-akan sebuah mata air yang besar tersumbul dari dalam tanah.

“Hem,” katanya di dalam hati, “inilah agaknya sebuah urung-urung air yang cukup besar.”

Dalam pada itu terdengar Alap-alap Jalatunda berkata, “Inilah ujung sungai itu. Air memasuki daerah padepokan lewat di bawah dinding yang rendah.”

“Bukan main,” sahut Wuranta, “bagaimana urung-urung itu dapat dibuat?”

“Aku tidak tahu. Tetapi urung-urung itu terbuat dari batu pula, bagian atasnya lengkung supaya urung-urung ini tahan desakan air, meski banjir sekali pun.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ia mengamat-amati urung-urung itu. “Tidak terlampau tebal,” desisnya di dalam hati.

“Kau menaruh perhatian?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

“Aku mengagumi pembuatnya,” desisnya, “urung-urung ini agaknya tidak terlampau tebal.”

“Memang tidak. Dua atau tiga kali lipat dari tebal dinding itu.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Hatinya menjadi puas melihat urung-urung air itu. Urung-urung itu akan sangat berguna baginya. Tetapi ia berkata dengan tiba-tiba, “Mari kita berjalan. Kita akan terlambat.”

Alap-alap Jalatunda tersenyum. Jawabnya, “Bukankah besok masih juga ada hari?”

Wuranta tersenyum pula, tetapi ia mulai melangkahkan kakinya menyelusuri tepian.

“Apakah tempat untuk mandi dan mencuci itu jauh dari ujung ini?”

“O, tidak. Bukankah kita juga tidak terlampau jauh berjalan. Di belakang tikungan itu ada sebuah belik. Di situlah ia biasa mandi. Beberapa orang perempuan padepokan ini pun mandi dan mencuci di situ pula.”

“Tuan agaknya mengetahui terlalu banyak tentang gadis itu.”

“Hus,” desis Alap-alap Jalatunda.

Mereka pun terdiam sejenak. Hanya langkah mereka di atas pasir tepian terdengar gemerisik lembut.

Di samping mereka, air sungai yang jernih mengalir segar. Sepercik-sepercik buih berloncatan, apabila sepotong dahan yang kering jatuh ke dalamnya.

Di kejauhan burung-burung bertengger di atas cabang-cabang pepohonan meneriakkan dendang yang riang. Mereka sama sekali tidak menyadari apa artinya pedang di lambung orang-orang yang berjalan di lorong-lorong padukuhan itu. Tidak banyak terjadi permusuhan di antara mereka. Tidak banyak timbul persoalan selain berebut makan.

Tidak seperti manusia yang mempunyai nalar dan budi yang menyadari seribu satu macam kepentingan. Dan setiap sentuhan kepentingan, dapat saja berakhir di ujung pedang. Mereka lebih banyak berbicara dengan bahasa pedang daripada bahasa cinta kasih di antara mereka.

Wuranta terkejut ketika tiba-tiba Alap-alap Jalatunda menepuk bahunya. Terdengar ia berbisik lirih, “Wuranta, lihatlah. Gadis itu lagi mencuci bajunya.”

“He,” Wuranta menarik keningnya, seakan-akan ingin membuat matanya menjadi lebih lebar.

“Di mana?” ia bertanya.

“Di belik itu.”

“O,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya Sekar Mirah sedang berjongkok membelakangi mereka di tepi belik. Agaknya ia memang sedang mencuci bajunya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Wuranta berkata, “Marilah kita berjalan. Kenapa berhenti?”

Alap-alap Jalatunda menggeleng, “Tidak. Aku di sini saja.”

“Lalu bagaimana dengan aku?”

“Kau juga di sini saja.”

“Kenapa?”

“Jangan banyak bertanya.”

“Adakah setiap kali Tuan berbuat demikian. Memandang keindahan gadis itu dari kejauhan?”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab.

Tetapi Wuranta menjadi berdebar-debar karenanya. Perbuatan Alap-alap Jalatunda itu justru berbahaya bagi Sekar Mirah. Anak muda itu akan selalu berangan-angan. Karena ia tidak berani berkenalan dengan gadis-gadis, maka angan-angannya akan dapat menjadi terlampau liar dan buas. Karena itu, maka Wuranta itu pun berkata, “Marilah Tuan. Lewat di sampingnya bersama aku. Mungkin Tuan sekali dua kali akan dapat bercakap-cakap dengannya. Kecuali kalau Tuan berkeberatan karena memperhitungkan pengawasan orang-orang Sidanti.”

“Setan. Jangan kau sebut lagi monyet-monyet itu. Aku tidak takut. Dan mereka tidak akan menyangka, bahwa aku sengaja mengikuti gadis itu seperti katamu tadi. Sebab aku datang dari arah yang sangat berbeda.”

“Karena itu marilah.”

Alap-alap Jalatunda ragu-ragu sejenak. Tetapi Wuranta menarik tangannya sambil berkata, “Marilah. Gadis itu tidak akan menggigit.”

Alap-alap Jalatunda masih ragu-ragu. Tetapi kemudian ia pun melangkah kakinya.

Dengan kepala tunduk Alap-alap Jalatunda berjalan, di tepian, di atas tanggul bersama Wuranta. Sekali-sekali ia hanya berani melemparkan sudut pandangannya.

Sekar Mirah yang sedang mencuci bajunya terkejut mendengar langkah di atas tanggul sungai. Cepat-cepat ia meletakkan cuciannya dan membetulkan kain pinjungnya. Ketika ia perpaling, dilihatnya dua orang berjalan dengan pedang di lambung masing-masing.

Tanpa diduganya, maka Wuranta menganggukkan kepalanya sambi berkata, “Maaf. Kami tidak tahu bahwa Nini sedang mencuci pakaian. Karena itu kami tidak sengaja telah lewat di tanggul ini.”

Wuranta melihat kerut-merut di kening Sekar Mirah. Tetapi tiba-tiba dadanya berdesir. Ia melihat Sekar Mirah tersenyum. Dengan manisnya ia menjawab, “Oh, tidak apa Tuan. Tanggul ini memang sering dilalui orang. Akulah yang bersalah, mencuci pakaian di belik di bawah tanggul ini.”

Sejenak Wuranta justru terbungkam. Ia tidak menyangka bahwa Sekar Mirah akan menjawabnya sambil tersenyum. Bahkan kemudian Sekar Mirah itu berkata, “Bahkan aku menjadi sangat senang, bahwa seseorang sudi menegur aku. Selama ini orang-orang di padepokan ini acuh tak acuh saja kepadaku, justru karena aku bukan orang padepokan ini.”

Wuranta masih saja terbungkam. Apalagi Alap-alap Jalatunda. Tetapi Wuranta menjadi berdebar-debar bukan karena senyum Sekar Mirah yang telah menggoncangkan hatinya. Sama sekali tidak. Ia tetap menyadari dirinya. Ia sedang bermain-main dengan Alap-alap Jalatunda. Tetapi ia tidak menyangka, bahwa Sekar Mirah akan semudah itu tersenyum kepada laki-laki yang belum dikenalnya.

“Apakah benar gadis ini Sekar Mirah yang dikatakan oleh Agung Sedayu.” Wuranta justru menjadi ragu-ragu. Alangkah murahnya senyum gadis itu.

Tetapi tiba-tiba ia terhenyak dalam suatu sikap seperti ia sendiri. Ia tidak tahu apakah sebenarnya yang tersimpan di dalam hati Sekar Mirah. Kenapa dirinya sendiri bersikap baik juga terhadap Alap-alap Jalatunda? Apakah demikian juga agaknya Sekar Mirah yang sedang berusaha untuk menemukan jalan keluar dan kesulitannya.

Wuranta seakan-akan terbangun ketika ia mendengar Sekar Mirah berkata, “Kenapa Tuan menjadi bingung? Apakah Tuan juga akan mandi?”

“O, tidak. Tidak,” Wuranta tergagap. “Kami hanya kebetulan saja lewat.”

“Apakah Tuan seorang prajurit?” bertanya Sekar Mirah.

“Aku bukan,” sahut Wuranta, “tetapi Tuan ini adalah seorang pemimpin prajurit Jipang. Ia bernama Alap-alap Jalatunda.”

Dada Sekar Mirah berdesir mendengar nama itu. Nama yang pernah didengarnya sejak di Sangkal Putung dahulu. Dan kini ia melihat seorang anak muda yang berwajah keras dan bermata tajam, setajam mata burung alap-alap.

Sejenak Sekar Mirah terpaku diam. Dipandanginya Alap-alap Jalatunda dengan tajamnya seperti hendak dilihatnya sesuatu di dalam dada anak muda itu. Dengan demikian, maka Alap-alap Jalatunda itu pun menjadi semakin tunduk. Ia tidak dapat menentang mata Sekar Mirah yang seperti api menjilat wajahnya.

Wuranta bukan seorang anak muda pemalu. Ia dapat bergaul dengan gadis-gadis di padukuhannya, meskipun ia tahu batas-batas yang tak dapat di lewatinya. Namun di hadapan Sekar Mirah, Wuranta merasa dadanya seperti berdentang terlampau cepat.

Dalam pada itu terdengar suara Sekar Mirah, “Aku tidak menyangka bahwa suatu kali aku akan dapat bertemu dengan seorang anak muda yang namanya jauh menjangkau di luar lingkungannya. Aku pernah mendengar nama Alap-alap Jalatunda. Hampir setiap prajurit Pajang membicarakannya.”

Wuranta yang berdiri di samping Alap-alap Jalatunda semakin lama menjadi semakin dapat menguasai dirinya kembali. Ia kini telah menjadi agak tenang, sehingga ia sempat menjawab, “Apakah yang mereka katakan tentang dirinya?”

“Ia adalah salah seorang yang paling disegani dari pihak Jipang, di samping nama-nama Sanakeling dan Sidanti.”

“Sidanti bukan seorang prajurit Jipang,” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda bergumam perlahan, seolah-olah hanya ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Apa yang Tuan katakan?” Sekar Mirah bertanya.

Alap-alap Jalatunda menjadi semakin tunduk. Mulutnya bagaikan terkunci, sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan Sekar Mirah itu.

“Tuan,” Wuranta-lah yang kemudian bertanya, “Nini Sekar Mirah ingin Tuan mengulangi kata-kata Tuan yang tidak begitu jelas baginya.”

Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi merah, seperti seorang jejaka kecil bertemu dengar seorang gadis yang memikat hatinya.

“Apakah Tuan mengatakan bahwa Sidanti bukan salah seorang prajurit Jipang?”

Alap-alap Jalatunda menganggukkan kepalanya.

“Demikianlah Nini, Sidanti bukan seorang prajurit Jipang.”

“O,” Sekar Mirah menyahut, “ya, aku tahu. Justru Sidanti pernah berada di Sangkal Putung. Ia adalah bekas seorang prajurit Pajang.” Sekar Mirah berhenti sebentar, lalu diteruskannya, “Apakah Tuan sekarang berada di padepokan ini juga?”

Alap-alap Jalatunda tidak segera menjawab. Sehingga Wuranta terpaksa mendesaknya.

“Tuan, Tuan harus menjawab pertanyaan itu.”

Perlahan-lahan Alap-alap Jalatunda mengangkat wajahnya. Hatinya seakan-akan pecah seperti belanga yang terbanting di atas batu hitam ketika ia sepintas memandang Sekar Mirah yang hanya berkain pinjung yang telah basah, berdiri menatapnya. Tatapan mata gadis itu seperti tusukan anak panah yang langsung melubangi dinding jantungnya.

Sekali lagi wajah Alap-alap Jalatunda terbanting di atas pasir tepian jang basah. Tanpa dikehendakinya sendiri, tangannya bergerak-gerak meraba bulu pedangnya. Dengan gelisah ia berdiri saja membisu.

“Bagaimana jawab Tuan?” bertanya Wuranta.

“Tuan tidak sudi berbicara dengan aku?” suara Sekar Mirah seperti meremas hatinya menjadi lebu.

“Tidak, bukan begitu,” jawab Wuranta. “Ia terlampau sopan. Itulah sebabnya, maka setiap kata-katanya pasti diatur sebaik-baiknya supaya tidak menimbulkan salah sangka. Agak berbeda dengan aku yang kasar ini.”

“Apakah Tuan bukan seorang prajurit?” bertanya Sekar Mirah kepada Wuranta.

“Bukan. Aku hanya sekedar seorang gembala yang kebetulan mendapat pinjaman sehelai pedang.”

Kening Sekar Mirah tampak berkerut-merut. Ia melihat pancaran mata yang jauh lebih tajam dari seorang gembala biasa. Karena itu, maka ia mendesaknya, “Aku tidak percaya bahwa Tuan hanya sekedar seorang gembala. Wajah Tuan tidak meyakinkan kata-kata Tuan.”

Hati Wuranta menjadi berdebar-debar. Jangan-jangan pujian itu dapat menumbuhkan kemarahan Alap-alap Jalatunda. Karena itu, maka dengan serta-merta ia menjawab, “Nini salah lihat. Tetapi sebaiknya Nini mendengarkan jawabannya.” Kemudian kepada Alap-alap Jalatunda ia berbisik, “Berkatalah Tuan.”

Alap-alap Jalatunda mencoba memaksa dirinya sendiri untuk mengucapkan kata-kata. Maka dengan terbata-bata ia berkata, “Ya, aku sekarang berada di padepokan ini.”

“Bersama Sidanti?” bertanya Sekar Mirah pula.

“Ya, bersama Sidanti,” jawab Alap-alap Jalatunda. Sekar Mirah tiba-tiba mencibirkan bibirnya. Tetapi sejenak kemudian ia tersenyum, “Dari manakah Tuan berdua ini?”

Alap-alap Jalatunda menjadi kebingungan. Sekenanya saja ia menjawab, “Berjalan-jalan.”

“Berjalan-jalan. Dalam keadaan serupa ini Tuan masih sempat berjalan-jalan.

“Berjalan-jalan menurut pengertian seorang prajurit,” Wuranta-lah yang menyahut. “Aku kira Nini tahu pula maksudnya, seperti barangkali prajurit-prajurit Pajang pernah berkata demikian pula.”

“Apakah artinya?”

“Nganglang, melihat keadaan. Supaya tak ada bahaya yang dapat dengan diam-diam melanda padepokan ini.”

“Dan supaya aku tidak dapat melarikan diri, begitu?” potong Sekar Mirah.

“Apakah Nini akan berbuat begitu seandainya mungkin?”

“Aku pernah berangan-angan untuk melepaskan diri dari neraka ini. Tetapi ternyata aku akan mengurungkan niatku setelah aku melihat bahwa di dalam neraka pun aku bertemu dengan anak-anak muda yang lain daripada Sidanti.”

Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi semakin merah. Kini mulutnya benar-benar menjadi terbungkam. Bahkan terasa seakan-akan dentang jantungnya akan memecahkan dadanya.

Tetapi Wuranta menjadi semakin tenang. Sambil tersenyum ia menjawab, “Tetapi neraka ini adalah milik Sidanti, Semua isinya adalah miliknya pula.”

“Bohong,” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda memotong.

“Aku sependapat dengan anak muda yang bergelar Alap-alap Jalatunda itu.” sahut Sekar Mirah. Dan kata-katanya itu membuat dada Alap-alap Jalatunda menjadi semakin bergelora.

“O, jadi demikian?” berkala Wuranta. “Kalau begitu aku salah menilai keadaan di padepokan ini.”

“Kau orang kemarin sore di padepokan ini,” geram Alap-alap Jalatunda.

“Mudah-mudahan kalian benar,” gumam Wuranta seperti kepada diri sendiri.

“Nah, apakah Tuan juga akan mencuci pakaian seperti aku?” bertanya Sekar Mirah sambil tersenyum.

“Tidak, “ sahut Wuranta, “kami sedang nganglang.”

Kemudian kepada Alap-alap Jalatunda ia berkata, “Bagaimana Tuan? Apakah kita akan meneruskan perjalanan?”

Alap-alap Jalatunda mengangguk, “Marilah.”

“Kenapa Tuan begitu tergesa-gesa?” bertanya Sekar Mirah.

“Kami tidak sedang berjalan-jalan di bawah terangnya bulan purnama,” jawab Wuranta. “Mudah-mudahan kesempatan itu suatu ketika datang padaku. Berjalan-jalan sambil berdendang lagu Asmaradana.”

“Aku akan berdoa untukmu,” sahut Sekar Mirah.

Wuranta tidak sempat menjawab, ketika Alap-alap Jalatunda menggamitnya sambil berkata, “Ayolah. Kau masih saja berbicara.”

“O,” desis Wuranta, “marilah.”

“Kalian benar-benar tidak mau tinggal lebih lama lagi?”

“Bukan aku yang menentukan,” sahut Wuranta.

“Aku bertanya kepada yang berhak menentukan.”

“Jawablah Tuan,” berkata Wuranta.

“Ah,” Alap-alap Jalatunda berdesah. Namun ia berkata, “Lain kali aku akan datang.”

“Aku menunggu kedatangan Tuan,” jawab Sekar Mirah.

Alap-alap Jalatunda hampir tidak dapat menahan gelora di dalam dadanya. Karena itu maka dengan tergesa-gesa ia melangkah pergi meninggalkan tepian itu. Wuranta pun kemudian terloncat-loncat mengikutinya. Sekali ia berpaling dan dilihatnya. Sekar Mirah melambaikan tangannya. Betapa beratnya, namun Wuranta terpaksa mengangkat tangannya pula.

Sementara itu di kepalanya berkecamuk berbagai pertanyaan tentang gadis itu. Gambarannya tentang Sekar Mirah sebelum ia melihatnya, adalah jauh berbeda dari kenyataan yang dihadapinya.

Meskipun sikap itu agak mirip dengan sikap Swandaru Geni, namun apa yang dilihatnya telah membuatnya termenung untuk beberapa lama.

Wuranta itu terkejut ketika, ia mendengar Alap-alap Jalatunda mengumpat, “Setan kau Wuranta. Kau berbicara tak ada habis-habisnya.”

Wuranta tertawa, jawabnya, “Jangan marah, Tuan. Aku memberi kesempatan kepada Tuan, tetapi Tuan hanya berdiam diri saja.”

“Aku tidak biasa bergurau dengan wanita.”

“Sekali-sekali Tuan perlu berbuat demikian, supaya kita tidak menjadi lekas tua.”

Alap-alap Jalatunda terdiam. Ia berjalan semakin cepat seperti takut terlambat. Sehingga Wuranta perlu memperingatkannya, “Kenapa Tuan berjalan semakin lama semakin cepat. Gadis itu tidak akan mengejar Tuan.”

“O,” Alap-alap Jalatunda seakan-akan tersadar dari sebuah angan-angan yang dahsyat. Ia memperlambat jalannya. Kemudian ditunggunya Wuranta berjalan di sampingnya. Katanya, “Gadis itu agaknya tertarik kepadamu. Tetapi awas, lehermu akan dapat terpenggal sebelum kau menjadi Demang Jati Anom.”

“Aku tidak berminat, Tuan,” jawab Wuranta.

“Kenapa?”

“Bukan karena gadis itu kurang cantik. Tetapi aku tidak pantas untuk menempatkan diri dalam sayembara pilih maupun sayembara tanding di samping Tuan dan Sidanti.”

“Jangan kau sebut lagi iblis itu!” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda membentak. Matanya menjadi merah seperti bara.

Wuranta menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian ia tersenyum. Ia tidak mau kehilangan akal menghadapi Alap-alap yang buas ini. Katanya, “Kenapa Tuan marah? Apakah aku kurang memberi kesempatan kepada Tuan?”

“Kalau sekali lagi kau sebut-sebut nama Sidanti dalam hubungannya dengan gadis itu, aku sobek mulutmu. Kau tadi sudah menyebut namanya di hadapan Sekar Mirah, seakan-akan Sidanti-lah yang paling berkuasa di sini.”

“Maaf,” jawab Wuranta, “ternyata aku keliru.”

Alap-alap Jalatunda tidak berkata-kata lagi. Segera ia memutar tubuhnya dan berjalan cepat-cepat kembali ke pondoknya. Tetapi ia tertegun ketika Wuranta berkata, “Apakah kita akan berpacu lagi?”

“O,” Alap-alap Jalatunda memperlambat langkahnya.

“Tuan,” berkata Wuranta kemudian, “aku sudah melihat gadis itu, tetapi di manakah ia tinggal?”

“Kau akan mencurinya?”

“Tidak Tuan,” Wuranta tampak bersungguh-sungguh, “percayalah. Aku hanya ingin tahu. Aku sendiri sama sekali tidak berpikir lagi tentang gadis itu.”

“Kenapa kau tanyakan pondoknya?”

“Ah, Aku kira bukan terdorong oleh suatu keinginan apapun. Adalah suatu kelajiman saja bagiku mengetahui rumah orang-orang yang sudah aku kenal.”

“Tetapi jangan berbuat gila, supaya kau tidak mati muda.”

Senyum Wuranta di mulutnya menjadi semakin lebar. Dengan lucu ia mengangguk dan menjawab, “Tuan, aku lebih baik memilih menjadi Demang Jati Anom tanpa gadis itu daripada mendapat gadis itu tetapi harus hidup tanpa kepala.”

“Persetan,” geram Alap-alap Jalatunda, “kau memang lahir hanya untuk menjadi seorang badut yang tidak berarti.”

“O, Tuan salah,” jawab Wuranta. “Orang yang banyak tertawa umurnya akan menjadi lebih panjang.”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab, tetapi tanpa sesadarnya ia berjalan lewat rumah tempat tinggal Sekat Mirah.

Dengan berbagai macam akal, bahkan dengan akal seorang badut sekalipun akhirnya Wuranta berhasil mengetahui tempat tinggal Sekar Mirah dan ujung sungai yang berupa urung-urung. Kedua penemuan itu baginya sangat berarti. Itulah sebabnya, maka setelah ia berhasil, maka ia tidak lagi banyak bertingkah. Bahkan ia menjadi semakin hati-hati, meskipun ia tidak ingin merubah kesan Alap-alap Jalatunda terhadapnya. Seorang badut yang tidak berarti. Tetapi yang dibicarakannya kemudian hanyalah soaI-soal yang benar-benar tidak berarti dan tidak ada hubungannya dengan padepokan Tambak Wedi, Sidanti dan Sekar Mirah.

Siang itu Wuranta dapat beristirahat sepuas-puasnya. Ia ingin tidur sepanjang siang hari. Tetapi bahkan kepalanya menjadi pening karena selama ia berbaring, matanya tidak juga mau dipejamkannya. Berbagai persoalan hilir mudik di kepalanya. Sekar Mirah, urung-urung sungai dan rumah tempat gadis itu tinggal.

Tetapi tidak kalah menggelisahkan adalah sikap Alap-alap Jalatunda terhadap Sekar Mirah. Sinar matanya yang buas dan liar telah mencemaskannya. Namun yang mengherankannya adalah sikap Sekar Mirah sendiri. Apakah gadis itu tidak melihat sorot mata Alap-alap Jalatunda yang seakan-akan akan membakar gadis itu, meskipun hanya sekilas. Bagi Wuranta, sikap Sekar Mirah sendiri adalah sikap yang sangat berbahaya.

Wuranta menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendapat perintah sekali lagi, malam itu ia harus turun ke Jati Anom. Ia harus melihat perkembangan keadaan. Ia harus melihat, apakah yang terjadi kemudian di Jati Anom?

Senja itu Wuranta berangkat dengan dada yang berdebar-debar. Apakah ada seseorang lagi yang akan mengintainya? Apakah Alap-alap Jalatunda masih juga mengikutinya? Tetapi Wuranta tidak lagi menjadi cemas. Ia akan pulang saja ke rumahnya. Kalau Agung Sedayu atau salah seorang dari ketiganya tidak ada di rumahnya, ia dapat meninggalkan pesan supaya pagi harinya disampaikan ke rumah Agung Sedayu oleh salah seorang keluarganya.

Akhirnya malam yang kelampun turun menyelimuti lereng Merapi. Perjalanan Wuranta menjadi semakin lama semakin dekat dengan Kademangan Jati Anom. Dua hari ia telah berada di padepokan Tambak Wedi, tetapi ia sendiri belum berkesempatan untuk melihat seluruh bagian dari terapat itu.

Meskipun demikian bagian-bagian terpenting telah dilihatnya. Seandainya keadaan memaksa, maka ia telah dapat memberi beberapa petunjuk kepada Agung Sedayu dan Swandaru.

Dengan hati yang berdebar-debar Wuranta melangkah terus. Sekali dua kali ia berpaling, tetapi ia tidak melihat seorangpun. Ia masih belum tahu benar, apakah perjalanannya itu diikuti oleh seseorang atau tidak. Tetapi agaknya Sidanti masih belum juga mempercayainya bulat-bulat.

Ketika ia memasuki halaman rumahnya, maka ia tidak segera melintasi halaman masuk ke dalam rumahnya. Sejenak ia berdiri di balik regol halaman di dalam tempat yang terlindung. Ia mencoba memperhatikan, kalau-kalau seseorang mengikutinya. Tetapi beberapa lama ia berdiri, ia tidak mendengar sesuatu. Karena itu maka ia pun segera masuk ke dalam rumahnya lewat pintu butulan di belakang.

Ketika pintu terbuka, ia mendengar suara Agung Sedayu dan Swandaru berdesis, “Hampir aku tidak sabar menunggumu.”

“Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kedua anak muda itu telah menunggunya. Ketika kedua kakinya telah melampaui tlundak pintu, maka segera pintu itu akan ditutupnya. Tetapi Wuranta terkejut ketika ia mendengar suara lirih di belakangnya, “Jangan ditutup dahulu.”

Wuranta mencoba memandangi arah suara itu di dalam gelap. la sudah berusaha untuk melihat dan mendengar seluruh isi halamannya. Tetapi ia tidak dapat melihat orang itu.

“Aku, Ngger,” berkata suara itu.

“Ki Tanu Metir?” bertanya Wuranta.

“Ya,” jawab orang yang ternyata Ki Tanu Metir, “aku menunggu Angger di ujung kademangan ini. Seperti Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru, aku pun hampir tidak sabar. Alangkah banyaknya nyamuk di kademangan ini. Ketika aku hampir kehabisan kesabaran, barulah aku melihatmu berjalan tertatih-tatih di dalam malam yang semakin gelap.”

“Oh,” Wuranta tersenyum. Baru kemudian ia melihat Ki Tanu Metir berdiri di bawah sebatang pohon kemuning yang rimbun. Keduanya pun kemudian masuk dan menutup pintu rumah itu rapat-rapat.

“Aneh,” desis Wuranta.

“Apa yang aneh?” bertanya Agung Sedayu.

“Ternyata Ki Tanu Metir mengikuti aku sejak dari ujung kademangan ini. Ketika aku memasuki regol halaman, aku telah berlindung sejenak, menunggu apabila seseorang mengikuti aku. Tetapi aku tidak melihat seorang pun. Namun ternyata orang yang mengikuti aku berhasil masuk tidak setahuku.”

“O,” sahut Ki Tanu Metir, “itu mudah sekali dilakukan.”

“Bagaimana?”

“Aku mendahului Angger masuk ke dalam halaman ini. Sebab aku tahu pasti bahwa Angger akan memasuki halaman rumah ini.”

“Oh,” Wuranta tersenyum. Tampaknya sederhana sekali. Tetapi anak muda itu menjadi semakin mengagumi orang tua yang bernama Ki Tanu Metir itu.

Sejenak mereka terdiam, seakan-akan sesuatu telah membungkam mereka. Hanya wajah-wajah merekalah yang membersitkan berbagai macam perasaan yang bergolak di dalam hati.

Di kejauhan terdengar angkup nangka seakan-akan sedang mengeluh. Seperti anak-anak yang rindu menunggu ibunya ngrena di tempat yang sangat jauh.

Dalam keheningan itu terdengar suara Ki Tanu Metir perlahan, “Kami sudah menyangka, bahwa kau malam ini akan turun lagi, Ngger.”

Wuranta mengangguk, “Ya, Kiai, aku mendapat tugas untuk melihat perkembangan tiga orang prajurit berkuda yang kemarin aku beritahukan kepada Sidanti.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Perkembangannya berlangsung terlampau cepat. Hari ini pasukan Untara telah berada di Jati Anom.”

“He?” Wuranta mengerutkan alisnya, “sudah datang?” seakan-akan ia tidak percaya.

“Ya, pasukan itu sudah datang meskipun tidak sekuat pasukan Widura di Sangkal Putung.”

Wuranta tidak tahu kekuatan Widura di Sangkal Putung, sehingga karena itu ia berkata, “Bagaimanakah imbangan kekuatan itu menurut perhitungan Kiai.”

“Aku ingin mendengar keteranganmu. Selain orang-orang Jipang, apakah Sidanti mempunyai pasukan tersendiri di padepokannya?”

“Ya. Menurut penglihatanku dan menurut keterangan yang tidak jelas dari Alap-alap Jalatunda, di padepokan itu ada dua jenis pasukan. Pasukan Sidanti dan pasukan Alap-alap Jalatunda.”

“Pemimpin dari orang-orang Jipang adalah Sanakeling.”

“He?” Wuranta menarik keningnya.”Jadi bukan Alap alap Jalatunda?”

“Bukan. Apakah kau belum melihat Sanakeling?”

“Aku melihatnya, tetapi aku tidak banyak berbicara dengan orang yang mengerikan itu.”

Ki Tanu Metir tersenyum. Lalu sambungnya, “Apakah kau dapat memberikain gambaran tentang imbangan kekuatan mereka, antara orang-orang Sidanti dan orang-orang Sanakeling?”

“Apakah mereka tidak sejalan?”

“Bukan begitu. Maksudku, dengan demikian akan dapat digambarkan kekuatan seluruhnya dari padepokan Sidanti itu. Kami ingin memperbandingkan dengan kekuatan Tohpati di Sangkal Putung.”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi orang-orang yang agaknya bukan orang-orang Jipang itu pun cukup banyak. Setiap laki-laki di padepokan Tambak Wedi menyandang senjata. Setiap penghuni dan setiap cantrik.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Angger Untara harus segera mendengar. Agaknya kekuatan di padepokan itu agak lebih besar dari kekuatannya. Bahkan mungkin lebih besar dari kekuatan Tohpati. Sedang pasukan Pajang di Jati Anom tidak sekuat pasukan Angger Widura, apalagi tanpa anak-anak muda Sangkal Putung.”

Wuranta ikut mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut. Yang terdengar adalah suara Ki Tanu Metir itu masih saja bergumam seperti kepada diri sendiri, “Aku kira kemungkinan yang dapat dilakukan oleb Angger Untara adalah menarik sebagian pasukan Angger Widura. Baginya tidak ada kesempatan untuk menyusun kekuatan anak-anak muda Jati Anom seperti Sangkal Putung dalam menghadapi orang-orang Jipang. Tetapi apabila ada gerakan Sidanti ke Sangkal Putung, Angger Wuranta harus segera menyampaikan kabar itu kemari.”

Wuranta masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba terkejut ketika Swandaru memotong, “Kiai, Kiai hanya mengatakan tentang pasukan Jipang dan pasukan Pajang. Tetapi Kiai tidak minta keterangan tentang Sekar Mirah. Bukankah kedatangan kami sebenarnya berkepentingan dengan Sekar Mirah?”

“Oh,” Ki Tanu Metir berpaling memandangi muridnya yang gemuk itu. Katanya, “Ya, ya. Kau benar. Kita berkepentingan dengan Sekar Mirah. Tetapi kita berkepentingan pula dengan pasukan Pajang itu.”

“Itu adalah persoalan kedua bagi kita Kiai,” Agung Sedayu menyahut. “Sekarang bagaimana kita menyelamatkan Sekar Mirah?”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, “baiklah. Aku akan berbicara tentang Sekar Mirah. Tetapi ingat, kita tidak dapat berbicara tentang Sekar Mirah tanpa berbicara tentang Sidanti. Dan kita tidak dapat berbicara tentang Sidanti tanpa berbicara tentang Untara.”

“Tak ada gunanya kita mendahului pasukan kakang Untara kalau kita masih harus menunggu mereka. Menunggu prajurit-prajurit Pajang itu siap menghadapi Sidanti.”

“Kedua persoalan itu tidak dapat dipisahkan.”

“Keduanya mempunyai sifat yang berbeda,” sahut Swandaru. “Sekar Mirah tidak dapat dibiarkan seperti daerah Tambak Wedi itu sendiri. Seribu tahun lagi Sidanti berada di Tambak Wedi, maka Tambak Wedi tidak akan mengalami noda apapun seperti Tambak Wedi yang sudah berbentuk seperti sekarang ini.Tetapi Sekar Mirah tidak. Setiap satu hari bertambah panjang, maka noda itu pun menjadi semakin dekat padanya. Dan apabila noda itu sudah melekat padanya, maka seumur hidupnya ia akan tersiksa.”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah muridnya itu. Ia tahu benar, dorongan apakah yang telah membuat Swandaru menjadi terlampau keras. Tetapi ia tidak ingin terlampau memanjakan murid-muridnya, sehingga karena itu ia menjawab. “Jadi bagaimana Anakmas Swandaru. Apakah kau telah cukup menyusun rencana yang harus aku kerjakan? Kalau demikian, marilah. Aku akan melakukan segala ketentuan yang telah kau buat.”

Jawaban itu telah membentur dada Swandaru seperti tujuh kali sekeras bunyi cambuk Kiai Gringsing itu. Karena itu maka wajahnya pun menjadi tertunduk lemah. Perlahan-lahan terdengar ia berdesah, “Maaf Kiai. Aku terlampau bingung.”

Ki Tanu Metir menjadi beriba hati setelah ia melihat muridnya menjadi menyesal. Tetapi wajahnya hampir-hampir tidak menunjukkan perasaannya itu.

Sedang Wuranta yang melihat mereka menjadi heran. Begitu besar pengaruh Ki Tanu Metir atas Swandaru. Maka besarlah dugaannya bahwa Ki Tanu Metir adalah guru kedua anak muda itu.

Setelah mereka sejenak berdiam diri maka berkatalah Ki Tanu Metir, “Anakmas Wuranta. Sekarang aku ingin tahu, bagaimanakah dengan seorang gadis yang bernama Sekar Mirah? Apakah kau telah melihatnya?”

“Ya Kiai, aku telah bertemu dengan Sekar Mirah.”

Agung Sedayu dan Swandaru tersentak mendengar jawaban itu sehingga tanpa mereka sadari mereka bergeser maju. Tetapi mereka tidak segera berani bertanya.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya Kemudian dilanjutkannya pertanyaannya. “Bagaimanakah dengan Sekar Mirah. Apakah ia selamat?”

“Menurut pengamatanku, ia baik-baik saja, Kiai.”

“Tidak ada sesuatu apapun dengan dia?”

Kening Wuranta menjadi berkerut-merut. Ia tahu maksud pertanyaan itu. Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Dan pertanyaan itu bergema kembali di dalam hatinya, “Tidak ada sesuatu apapun dengan dia?”

Karena Wuranta tidak segera menjawab maka Agung Sedayu yang didorong oleh berbagai macam perasaan di dalam dadanya mendesaknya, “Bagaimana kakang Wuranta? Apakah tidak ada sesuatu yang terjadi?”

Dalam keragu-raguan Wuranta menjawab, “Tidak. Aku kira tidak.” Tetapi Wuranta sendiri tidak dapat meyakini kebenaran jawabannya. Namun menilik kata-kata Alap-alap Jalatunda yang menyebut Sidanti sebagai seorang pengecut terhadap wanita, maka Sekar Mirah masih belum disentuhnya.

Agung Sadayu itu pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi gelora di dalam dadanya seakan-akan hendak meledakkan dadanya. la ingin segera berangkat ke lereng Merapi, ke padepokan Tambak Wedi. Ia ingin segera melihat apa yang sebenarnya terjadi atas Sekar Mirah.

Dalam pada itu terdengar Ki Tanu Metir bertanya pula, “Di manakah kau jumpai gadis itu?”

“Di sungai Kiai.”

“He,” ketiga orang yang mendengar jawaban itu terkejut. “Di sungai,” hampir berbareng mereka mengulang.

“Ya.”

Ki Tanu Metiur beringsut maju. Sambil mengerutkan dahinya ia berkata, “Angger Wuranta. Keteranganmu mengenai Sekar Mirah sangat menarik perhatian. Apakah benar kau jumpai Sekar Mirah itu sedang berada di sungai?”

“Ya Kiai. Gadis itu sedang mencuci.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian Katanya, “Anakmas, cobalah ceritakan apakah yang Angger ketahui tentang Sekar Mirah dan tentang padepokan itu?”

Wuranta pun kemudian dengan singkat menceritakan apa yang telah dilihatnya, dan apakah yang telah didengarnya. Dikatakannya tentang Sekar Mirah yang sedang mencuci pakaiannya, tentang urung-urung dan tentang dinding yang mengelilingi padepokan itu. Tentang sikap Alap-alap Jalatunda dan sikap orang-orang yang dijumpainya. Tetapi ada satu yang tidak diceritakannya, adalah sikap Sekar Mirah kepadanya dan kepada Alap-alap Jalatunda. Wuranta masih ingin mengetahui latar belakang daripada sikap itu. Sebab ia yakin bahwa Sekar Mirah tidak akan berbuat demikian tanpa sesuatu maksud tertentu.

Belum lagi Wuranta selesai bercerita, telah terdengar gemeretak gigi Swandaru Geni. Dengan gemetar ia berdesis, “Kalau aku tidak dapat mengambil kembali Sekar Mirah, maka lebih baik aku tidak kembali ke Sangkal Putung. Adalah aib yang tidak dapat dihapuskan dari keningku, dari kening Kademangan Sangkal Putung, bahwa Padepokan Tambak Wedi berhasil mencuri Sekar Mirah dari lingkungannya.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam mendengar kata-kata Swandaru. Tetapi kali ini dibiarkan anak itu melontarkan kemarahan yang bergolak di dalam dadanya.

Namun Agung Sedayu berkata pula, “Kalau terjadi sesuatu dengan Sekar Mirah, maka padepokan itu harus dijadikan karang abang.”

“Bagus,” tiba-tiba Swandaru menyahut, “ternyata itu lebih baik. Setiap anak muda Sangkal Putung pun akan sependapat. Pasukan Paman Widura, pasukan Kakang Untara dan anak-anak muda Jati Anom akan menghancur-lumatkan setiap hidup di atas padepokan Tambak Wedi.”

Ki Tanu Metir masih saja berdiam diri. Dibiarkannya anak-anak muda itu melepaskan perasaannya. Dibiarkannya mereka mengurangi nyeri-nyeri yang seakan-akan meremas-remas jantung.

Baru ketika kedua anak-anak muda itu menjadi agak tenang, maka Ki Tanu Metir mulai berbicara lagi, “Bagaimanakah dengan dinding padepokan itu?”

“Dinding itu cukup tinggi Kiai. Bahkan hampir merupakan sebuah benteng. Di dalam maupun di luar dinding itu cukup banyak orang-orang Sidanti maupun orang-orang Jipang yang berkeliaran siang dan malam.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah kerut-merut di dahinya menjadi semakin dalam. Orang tua itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Angger Wuranta, bukankah malam ini Angger kembali ke padepokan Tambak Wedi? Meskipun sebenarnya ada juga dua orang yang mencoba mengawasi Angger malam ini, tetapi mereka hampir tidak berarti. Jarak itu terlampau jauh, dan mereka segera kembali setelah Angger mendekati rumah ini. Dua orang itu sama sekali tidak usah diperhitungkan. Laporkan kepada Sidanti, bahwa Angger Untara sudah berada di Jati Anom. Pasukannya segelar sepapan lengkap dengan pasukan berkuda.”

Ketiga anak-anak muda yang mendengar penjelasan Ki Tanu Metir itu menjadi heran. Agung Sedayu mengangkat wajahnya seakan-akan ia hendak berbicara, tetapi mulutnya tidak mengucapkan sesuatu.

“Angger Wuranta,” berkata Ki Tana Metir kemudian, “tugas Angger pun akan segera sampai kepada puncak yang berbahaya. Tetapi agaknya Angger mampu bermain sebaik-baiknya sehingga aku sama sekali tidak mengkhawatirkan Angger.”

“Mudah-mudahan, Kiai,” Wuranta bergumam seperti kepada diri sendiri. “Tetapi bagaimana dengan keterangan tentang pasukan segelar sepapan. Apakah hal itu tidak seharusnya malah dirahasiakan sama sekali?”

“Tidak ada gunanya, Angger. Orang-orang Sidanti pasti akan segera mengetahui pula. Kalau mereka mengetahui hal itu sebelum Angger melaporkannya, maka kepercayaan mereka akan turun. Sedang kehadiran Angger di lereng Merapi, di padepokan Tambak Wedi, sangat diperlukan.”

“Baiklah, Kiai,” sahut Wuranta.

Dan tiba-tiba Agung Sedayu memotong pembicaraan itu, “Lalu bagaimana dengan Sekar Mirah, Kiai?”

“Kita akan membicarakannya. Segera kita harus mengambil sikap. Tetapi sikap itu harus tepat. Kita tidak dapat berbuat sesuatu dengan tergesa-gesa, sebab akibat dari perbuatan itu justru sebaliknya dari yang kita harapkan.”

Agung Sedayu terdiam. Meskipun gelora di dalam dadanya belum juga surut.

Sesaat kemudian, setelah minum dan makan beberapa potong makanan yang disediakan oleh keluarga Wuranta, maka Wuranta itu pun meninggalkan Kademangan Jati Anom kembali ke padepokan Tambak Wedi, sementara itu Ki Tanu Metir dan kedua muridnya pergi menemui Untara.

Untara dan sebagian dari pasukannya berada di rumahnya sendirian dan sebagian lagi berada di kademangan. Ki Demang Jati Anom yang selama ini menyingkir untuk menghindari orang-orang dari padepokan Tambak Wedi, kini telah berada di rumahnya. Sebenarnya ia bukan seorang penakut, tetapi ia sama sekali belum siap untuk berbuat sesuatu. Apalagi diketahuinya, bahwa kekuatan Sidanti dan Sanakeling benar-benar berada di luar kemampuannya untuk menahannya.

Malam itu Untara masih duduk dengan beberapa orang pemimpin pasukannya bersama Ki Demang Jati Anom. Mereka sedang berbincang mengenai beberapa persoalan. Ketika mereka melihat Ki Tanu Metir bersama kedua muridnya, maka mereka bertiga segera dipersilahkannya masuk.

Belum lagi Untara bertanya sesuatu, maka Agung Sedayu lah yang pertama-tama berkata, “Kami belum dapat berbuat sesuatu, Kakang.”

“Duduklah,” Untara mempersilahkan. “Marilah, Kiai.”

Ki Tanu Metir menganggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Untara sejenak tetapi Ki Tanu Metir itu tidak segera berkata sesuatu.

Mereka pun kemudian duduk di antara para pemimpin pasukan Pajang dan Ki Demang Jati Anom. Mereka pun kemudian ikut pula mendengarkan pembicaraan mereka. Tetapi Untara sendiri tidak segera bertanya tentang kepentingan Agung Sedayu dan Swandaru. Untara tidak segera bertanya bagaimanakah nasib gadis itu, dan bagaimanakah cara untuk membebaskannya. Untara itu hanya berbicara tentang letak, kekuatan dan persoalan-persoalan keprajuritan yang lain sehingga Agung Sedayu dan Swandaru menjadi gelisah. Mereka merasa bahwa kepentingan mereka sama sekali tidak mendapat perhatian dari Untara.

Ki Tanu Metir agaknya dapat menangkap perasaan kedua anak-anak muda itu. Orang tua itu melihat betapa wajah keduanya dibasahi oleh keringat yang dingin. Bagaimana mereka duduk dengan gelisah. Tetapi mereka tidak segera dapat mengemukakan perasaan mereka.

Namun Ki Tanu Metir pun dapat mengerti, bahwa perhitungan Untara harus bertaut pada setiap persoalan. Ia memandang keseluruhan persoalan yang dihadapinya, bukan sepotong-potong seperti yang selalu digelisahkan oleh Agung Sedayu dan Swandaru Geni.

Tetapi tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar Ki Demang Jati Anom berkata, “Tetapi sayang, Anakmas Untara, sekian banyak anak-anak muda di Jati Anom yang aku percaya, justru yang paling banyak memberikan harapan kepadaku sebelumnya, bahwa ia akan mampu membimbing kawan-kawannya, setidak-tidaknya membantu Angger, ternyata kini telah berkhianat.”

“Siapa?” bertanya Untara. “Aku mengenal setiap pemuda di Jati Anom.”

“Tentu. Angger tentu mengenalnya. Namanya dikenal oleh setiap orang. Bahkan setiap anak-anak muda di Jati Anom menaruh harap kepadanya. Tetapi suatu hari beberapa orang melihatnya berjalan bersama-sama dengan orang-orang Jipang dan orang-orang padepokan Tambak Wedi. Bukan sebagai seorang tawanan, tetapi sebagai seorang yang bebas. Bahkan orang itu menduga bahwa anak itu telah membantu orang-orang dari lereng Merapi itu.”

“Ya, tetapi siapakah namanya?”

“Wuranta.”

“He,” betapa terkejutnya Untara mendengar nama itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Wuranta kini berbalik berada di pihak orang-orang Ki Tambak Wedi.

Tetapi tidak kalah terkejut pula Agung Sedayu dan Swandaru. Mereka tahu benar bahwa Wuranta sama sekali tidak berkhianat. Tanpa mereka sadari, bersama-sama mereka berpaling memandangi wajah Ki Tanu Metir yang berkerut merut. Kalau ada salah paham di antara orang-orang Jati Anom sendiri, itu adalah tanggung jawab Ki Tanu Metir. Bahkan hal ini telah pernah dikemukakan oleh Wuranta sendiri. Dan kini ternyata hal itu benar-benar terjadi. Demang Jati Anom yang pasti mendengar dari beberapa orang yang melihat peristiwa beberapa hari yang lalu, ketika Wuranta berpura-pura dikejar-kejar oleh Agung Sedayu lalu menemui Sidanti dan kawan-kawannya.

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi gelisah ketika Ki Tanu Metir tidak segera mengatakan keadaan Wuranta yang sebenarnya. Malahan orang tua itu berkata, “Adalah wajar sekali Ki Demang. Telur sepetarangan, ada yang menetas hitam dan ada yang menetas putih.”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka tidak berkata sepatah katapun meskipun di dalam dada mereka berdesakan pertanyaan tentang kata-kata gurunya itu.

Dalam pada itu Ki Demangpun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan menyesal ia berkata pula, “Wuranta adalah anak yang paling memberi kebanggaan kepadaku beberapa saat yang lampau. Aku tidak tahu, apa yang telah menyeretnya masuk ke dalam perangkap hantu-hantu dari lereng Merapi.”

Orang-orang yang berada di dalam ruangan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak mereka berdiam diri, sehingga ruangan itu pun menjadi sepi.

Di luar beberapa orang prajurit berjalan hilir mudik. Ada yang sedang bertugas, tetapi ada juga yang duduk sambil minum air hangat. Ada pula yang berjalan-jalan saja tanpa tujuan di sekitar halaman. Mencoba mengenali beberapa macam bentuk pepohonan dan rumah-rumah penduduk.

Ketika malam telah jauh melampaui pertengahannya, maka pertemuan itu pun berakhir. Mereka masing-masing segera pergi beristirahat di tempat yang baru hari ini mereka tempati. Ki Demang pun kemudian kembali ke kademangan dengan hati yang tenang. Sebab di rumahnya kini berada sebagian dari prajurit-prajurit Untara.

Ruangan pertemuan itu kini menjadi semakin sepi. Yang berada di dalamnya hanyalah Untara, Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Tanu Metir.

Agung Sedayu yang sejak tadi selalu menahan pertanyaannya di dalam hati, kini anak muda itu tidak dapat lagi menyimpannya, sehingga terloncatlah pertanyaannya, “Kiai, bagaimana dengan Wuranta?”

Dengan serta-merta Untara menyahut, “Ya, aku menyesal sekali mendengar keterangan Ki Demang, bahwa Wuranta kini telah berkhianat.”

Ketika Ki Tanu Metir tidak segera menyahut, maka kegelisahan Agung Sedayu dan Swandarupun menjadi semakin memuncak. Hampir-hampir saja mereka tidak dapat menahan dirinya lagi, dan langsung mamberi penjelasan tentang anak muda itu.

Tetapi sebelum mereka mengatakannya, maka berkatalah Kiai Gringsing, “Angger Untara, agaknya Angger tidak mengetahui keadaan Wuranta sebaik-baiknya. Tetapi itu bukan salah Angger. Bukankah Ki Demang yang mengatakan hal itu kepadamu?”

Untara mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Bagaimana maksud Kiai sebenarnya?”

“Aku ingin menjelaskan tentang Wuranta.”

“Apakah Kiai mengenalnya?”

“Aku mengenalnya,” jawab Kiai Gringsing. “Tetapi Ngger, apakah Angger tidak pernah menerima laporan dari tiga orang prajurit yang mendahului Angger datang kemari?”

“Ya, ya. Mereka telah mendahului aku. Perintahku kepada mereka mengatakan bahwa mereka harus melihat keadaan Jati Anom. Kalau tempat itu berbahaya mereka harus memberi keterangan kepadaku. Kalau tidak, maka mereka pun harus menyatakan, bahwa mereka telah kembali dan tidak terdapat hal-hal yang menghalangi keberangkatan kami. Dan mereka kemudian telah kembali. Malahan mereka bertemu dengan Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai di sini.”

“Tidak di rumah ini.”

“O,” Untara mengerutkan keningnya, “laporan itu tidak terperinci.”

“Apakah mereka tidak mengatakan tentang seorang anak muda yang lain, yang malam itu pergi ke lereng Merapi?”

“Ya, ya.” Wajah Untara menjadi agak tegang. “Aku mendengarnya. Aku memang sudah merencanakan untuk menanyakan hal itu kepada Kiai langsung. Keterangan orang-orangku tentang anak muda itu tidak begitu jelas. Aku ingin tahu, apakah menurut pertimbangan Kiai anak itu tidak berbahaya bagi kita di sini?”

“Anak itu banyak membantu kami. Akulah yang menempatkannya sehingga anak itu mendapat kepercayaan dari Sidanti.”

“Dari Sidanti? Bagaimanakah sebenarnya persoalan yang Kiai katakan itu?”

“Ah. Tidak aneh. Angger juga mempunyai suatu kelompok prajurit sandi.”

Untara mengerutkan keningnya.

“Anak itu agaknya berhasil masuk kedalam lingkungan mereka untuk kepentingan kita.”

Untara kini mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil meraba-raba janggutnya yang tumbuh tidak teratur ia bertanya, “Apakah Kiai meyakininya?”

“Aku melihat sejak ia mulai, “Sahut Kiai Gringsing. Lalu diceritakannya serba sedikit tentang keadaan Wuranta.

Sehingga justru dari anak muda itu ia mendapat banyak keterangan mengenai padepokan Tambak Wadi dan mengenai Sekar Mirah.

“O,” Untara menarik nafas dalam-dalam, “begitulah ceritanya. Jadi anak muda itu adalah Wuranta.”

“Ya, Wuranta. Aku kira ketika itu orang-orangmu mendengar juga nama itu.”

“Aku belum sempat mendengar laporannya dengan lengkap. Mereka datang ketika pasukan sudah siap untuk berangkat,” Untara berhenti sejenak, lalu katanya, “Tetapi kenapa Kiai tidak mengatakannya kepada Ki Demang Jati Anom supaya mereka tidak mencurigai anak muda itu?”

“Ki Tambak Wedi mempunyai seribu pasang telinga. Telinga-telinga itu berada di pepohonan, di dinding-dinding halaman, di regol-regol dan tersebar di mana saja. Sedang kita di sini masing-masing mempunyai seribu mulut yang akan mengatakan setiap rahasia dari mulut yang satu ke mulut yang lain. Aku belum tahu benar tentang diri Ki Demang Jati Anom.”

Untara mengerutkan keningnya. Sejenak wajahnya menjadi berkerut-merut, namun sejenak kemudian ia pun tersenyum. Katanya, “Kiai cukup hati-hati. Seharusnya aku sudah mengerti akan hal itu. Terima kasih Kiai. Mungkin aku terpengaruh oleh pengertian yang lebih banyak tentang Ki Demang itu. Sudah lama aku mengenalnya. Dan aku percaya kepadanya.”

“Ya, mungkin demikian bagi Angger Untara, tetapi aku tidak. Aku baru saja melihat dan mengenalnya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik Kiai. Sikap Kiai akan membantu sekali. Mudah-mudahan Wuranta dapat melakukan tugasnya dengan baik. Dan mudah-mudahan sesudah ia menyelesaikannya, namanya tidak akan tetap dibenci oleh orang-orang Jati Anom. Tetapi justru sebaliknya.”

“Itu adalah tanggung jawab kita bersama, Ngger. Kita harus menyelamatkannya dan menyelamatkan namanya.”

“Ya, ya Kiai. Dan kita tidak akan mengingkarinya.”

“Anak muda itu bukan saja dapat memberikan banyak keterangan mengenai padepokan Tambak Wedi karena ia berhasil masuk ke dalamnya, tetapi juga tentang Sekar Mirah.”

“Oh,” Untara mengerutkan keningnya, “ya, tentang Sekar Mirah. Bagaimana dengan gadis itu?”

“Seorang penjabat saja tidak akan dapat mengetahui tempat dan kebiasaan gadis itu apabila ia berada di luar padepokan. Tetapi Wuranta berhasil menemukannya, bahkan anak muda itu telah berhasil bercakap-cakap dengan Sekar Mirah.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah Kiai telah menemukan hubungan tindakan yang sebaik baiknya untuk segala kepentingan?”

“Itu adalah keputusan yang harus Angger ambil.”

“Tetapi aku memerlukan pertimbangan dan pendapat Kiai”

Ki Tanu Metir mengangguk-angguk pula. Kemudian diceritakannya apa yang didengar dan dilihat oleh Wuranta. Hubungan antara Sidanti dan Sanakeling. Dinding-dinding batu yang tinggi. Ujung-ujund senjata di balik batu-batu besar di lereng Merapi, dan kesulitan-kesulitan yang lain yang harus mendapat banyak perhatian. Akhirnya orang tua itu berkata, “Kekuatan mereka tidak kurang dari kekuatan Tohpati selagi masih utuh.”

Untara mengerutkan keningnya. Wajahnya yang tegang terhunjam pada nyala api dlupak yang terletak di tengah-tengah lingkaran duduk mereka. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Begitukah keadaan yang sebenarnya?”

“Menurut Wuranta.”

“Kiai percaya kepada laporan itu?”

“Aku percaya.”

“Kalau demikian, laporan itu akan menjadi dasar perhitunganku. Aku membawa pasukan tidak sekuat paman Widura di Sangkal Putung. Aku sangka kekuatan padepokan Tambak Wedi tidak sebesar pasukan Jipang yang menyerah.”

“Kau harus berusaha memperkuat pasukanmu, Ngger. Sebelum orang-orang Tambak Wedi mengetahui. Kalau mereka mengambil sikap, mendahului menyerang Jati Anom sebelum Angger bersiap, maka keadaan Angger akan menjadi sulit.”

“Ya, Kiai. Yang mula-mula akan membantu aku adalah anak-anak muda Jati Anom. Mereka adalah kawan-kawan bermain di masa kanak-kanak. Tetapi kekuatan itu tidak seberapa.”

“Orang-orang yang tinggal di padepokan Tambak Wedi serupa benar dengan orang-orang Sangkal Putung. Setiap lelaki adalah seorang prajurit.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia harus mempertimbangkan keadaan itu sebaik-baiknya. Kalau Tambak Wedi mendahului memukul Jati Anom, maka ia pasti benar-benar berada dalam kesulitan. Mungkin pasukannya akan mampu mengundurkan diri dengan korban yang sekecil-kecilnya, tetapi bagaimana dengan kademangan Jati Anom ini sendiri? Mungkin orang-orang Tambak Wedi akan menetap di kademangan ini atau menghancurkan isi dan bentuknya. Yang kedua itulah yang paling mungkin dilakukan. Sebab bagi orang-orang Tambak Wedi dan sisa-sisa pengikut Tohpati itu lebih merasa aman bertahan di padepokan Tambak Wedi.

“Aku harus mengambil sikap segera,” desis Untara, “satu-satunya jalan yang segera dapat aku lakukan adalah menarik sebagian pasukan Pajang di Sangkal Putung. Tetapi itu pasti mengandung bahaya, seandainya orang-orang Sanakeling dan Sidanti langsung menyerang Sangkal Putung. Mungkin aku dapat menempatkan beberapa orang pengawas, tetapi kemungkinan yang paling pahit harus menjadi pertimbanganku.”

Ki Tanu Metir tidak menjawab. Pikirannyapun berkata demikian dan ia pun menjadi cemas seperti Untara, apabila Tambak Wedi langsung menusuk ke Sangkal Patung.

Sejenak mereka terdiam. Untara sibuk berpikir tentang masalah yang sedang dihadapinya. Masalah yang segera harus mendapat pemecahan. Dan ia berterima kasih kepada Kiai Gringsing dan kepada Wuranta yang telah memungkinkan ia melihat perimbangan kekuatan antara pasukannya dan pasukan lawannya.

Namun dalam pada itu Agung Sedayu dan Swandaru masih saja dirisaukan oleh sikap Untara. Meskipun guru mereka telah menyinggung-nyinggung tentang Sekar Mirah, tetapi Untara seakan-akan menanggapinya dengan acuh tidak acuh. Sehingga karena dadanya yang pepat, maka diberanikannya dirinya bertanya, “Kakang, lalu bagaimana dengan Sekar Mirah?”

Untara mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Kiai Gringsing, “Bagaimanakah dengan gadis itu Kiai? Apakah yang telah Kiai lakukan dengan mendahului keberangkatan kami?”

“Yang baru kami lakukan adalah menemukan Angger Wuranta,” sahut Kiai Gringsing.

“Kalau kita dapat menyelesaikan persoalan Ki Tambak Wedi, merebut kedudukan mereka, bukankah persoalan Sekar Mirah itu akan selesai dengan sendirinya.”

Agung Sedayu dan Swandaru tersentak di tempatnya. Bahkan setapak mereka bergeser maju. Wajah-wajah mereka menjadi tegang dan bahkan terdengar Swandaru berdesis dalam nada yang tinggi, “Tidak. Tidak semudah itu.”

Untara mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Swandaru yang gemuk bulat itu, tetapi Swandaru pun menatap wajah Untara dengan tajamnya.

“Setiap hari aku berkelahi dengan gadis itu, tetapi ia adalah adikku. Aku adalah saudara laki-lakinya. Karena itu keselamatannya adalah menjadi tanggung jawabku.”

Wajah Untara pun kemudian menjadi tegang, “Bagaimanakah maksudmu?” ia bertanya.

“Sekar Mirah harus mendapat perhatian yang khusus. Ia harus mendapat penyelesaian lebih dahulu justru sebelum pasukan Pajang menyerang padepokan Tambak Wedi. Sebab apabila demikian, maka Sekar Mirah akan menjadi banten. Ia akan menjadi tempat untuk melepaskan kemarahan orang-orang Tambak Wedi. Seperti seekor kambing di antara kawanan serigala yang lapar dan buas.”

Dahi Untara pun kemudian menjadi berkerut-merut, “Lalu apa yang harus aku kerjakan?”

Swandaru terdiam, namun sorot matanya masih memancarkan suatu tuntutan perasaannya yang tidak terucapkan. Yang menjawab pertanyaan Untara itu adalah Agung Sedayu, “Kakang, setiap tindakan atas padepokan itu harus dipertimbangkan pula keselamatan Sekar Mirah. Kakang tidak akan dapat bertindak hanya berdasarkan kepentingan pasukan saja.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya, aku memang memperhatikan keduanya. Aku mempertimbangkan untung rugi setiap tindakan. Itulah sebabnya aku tidak dapat dengan tergesa-gesa mengambil sikap apapun tentang Sekar Mirah. Sejak aku masih berada di Sangkal Putung, bukankah pendirian itu sudah kau mengerti? Tanggung jawabku adalah tanggung jawab keperajuritan. Aku bertanggung jawab terbadap Panglima Wira Tamtama. Tidak kepada orang lain. Karena itu maka setiap tindakanku pun berdasarkan atas pertanggungan jawab itu.”

Agung Sedayu dan Swandaru sama sekali tidak puas mendengar jawaban itu. Hampir saja mereka berbareng menyatakan perasaannya. Tetapi Kiai Gringsing, orang tua yang telah kenyang makan pahit manis kehidupan, segera memotongnya, “Nah, apalagi yang masih akan dipersoalkan? Semuanya sudah jelas. Semuanya berpijak pada pendirian yang serupa. Mungkin ada perbedaan landasan untuk berbuat, tetapi unsur-unsur yang harus dipertimbangkan tidak berbeda. Adalah wajar bahwa sudut pandangan Angger Swandaru dan Agung Sedayu berbeda dengan Angger Untara. Tetapi kalian masing-masing tidak akan dapat berbuat sendiri-sendiri. Apalagi dalam keadaan sekarang, di mana Angger Untara masih harus memikirkan jumlah dan kekuatannya. Bukankah begitu Angger?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak sependapat sepenuhnya, tetapi kalimat Ki Tanu Metir yang terakhir merupakan tekanan yang tidak dapat dihindarinya. Ia dihadapkan pada kenyataan, bahwa pasukan Pajang tidak akan dapat berdiri sendiri tanpa orang-orang itu. Meskipun Untara tidak lagi secara langsung memerlukan anak-anak muda Sangkal Putung, tetapi hal itu tidak akan dapat dihindarinya. Setiap ia menginginkan sebagian dari pasukan Widura, maka setiap kali ia harus mempertimbangkan anak-anak muda kademangan itu. Dan Swandaru adalah pemimpin langsung dari anak-anak muda Sangkal Putung.

Apalagi kalau diingatnya, bahwa Ki Tanu Metir lah yang mengatakan pertimbangan itu. Tak ada orang lain yang dapat mengimbangi kekuatan dan kemampuan Ki Tambak Wedi selain Ki Tanu Metir. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang membuat Untara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam dalam nada yang datar, “Ya, Kiai benar. Aku tidak dapat berbuat lain lepas dari pertimbangan itu. Aku tahu benar maksud Kiai. Dan aku tidak dapat melangkahinya.”

“Jangan begitu, Ngger,” berkata Kiai Gringsing. “Aku sama sekali tidak meletakkan pepalang di hadapan Angger sebagai pertanda, kapan dan bagaimana Angger harus berbuat. Bukankah kenyataan yang Angger hadapipun memaksa Angger untuk diam di kademangan ini untuk sementara dan merahasiakan kekuatan Angger yang sebenarnya? Bukankah Angger Untara tidak akan dapat segera memukul padepokan Tambak Wedi karena jumlah pasukan Angger kurang mencukupi?”

Untara menarik nafas dalam-dalam, “Ya, Kiai benar.” Namun terasa sesuatu seakan-akan menyentuh jantungnya.

“Angger Untara,” berkata Ki Tanu Metir, “ketahuilah, bahwa Angger Wuranta malam ini datang ke kademangan ini.”

Untara mengangkat wajahnya sambil bertanya, “Dimana ia sekarang?”

“Ia telah kembali.”

“Aku ingin bertemu.”

“Jangan sekarang, Ngger. Masih ada satu dua orang yang bertugas mengawasinya. Karena itu ia harus dijaga benar-benar agar tidak dicurigai oleh orang-orang lereng Merapi itu. Malam ini Angger Wuranta membawa berita bahwa siang tadi Angger Untara telah datang di Jati Anom.”

“Kenapa berita itu justru dibawa oleh Wuranta?”

“Adalah lebih baik demikian, sebab mereka pasti akan segera tahu pula. Bahkan apabila Angger Wuranta belum memberitahukan kepada mereka, maka kepercayaan mereka kepada Angger Wuranta akan surut. Setidak-tidaknya mereka menganggap bahwa Angger Wuranta kurang cakap melakukan tugasnya. Tetapi yang perlu Angger ketahui adalah, bahwa Angger Wuranta akan melaporkan kepada Sidanti, bahwa Angger datang segelar sepapan lengkap dengan prajurit-prajurit berkuda.”

“Kenapa demikian?”

“Sidanti akan ragu-ragu untuk mendahului menyerang Angger. Karena itu Angger pun harus pasang gelar sandi. Setiap hari Angger harus membuat kesan seakan-akan Kademangan penuh dengan prajurit. Setiap hari semua prajurit harus keluar, berjalan dalam kelompok-kelompok dan meronda berkeliling. Beberapa orang berkuda harus selalu hilir mudik pula di segenap sudut kademangan.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai seorang Senapati segera ia menangkap maksud Kiai Gringsing. Ia harus berusaha mengelabuhi petugas-petugas sandi dari Tambak Wedi yang pasti akan dipasang oleh Sidanti. Bahkan mungkin di antara petugas-petugas sandi itu nanti adalah Wuranta sendiri.

Meskipun Untara merasa singgungan-singgungan langsung pada perasaannya, oleh kata-kata Kiai Gringsing, apalagi kedua muridnya, yang seakan-akan kepentingan mereka harus mendapat perhatian terlampau banyak dari kepentingan-kepentingan yang lain, namun ia mengucapkan terima kasih pula di dalam hatinya kepada orang tua yang aneh ini. Orang itu telah mendahuluinya berbuat sesuatu. Dan apa yang dilakukannya ternyata sangat barguna, tidak saja bagi orang tua itu serta murid-muridnya sendiri, tetapi sangat berguna pula bagi seluruh pasukan Pajang di Jati Anom.

Untara seakan-akan tersadar ketika ia mendengar Kiai Gringsing bertanya, “Bagaimana pertimbangan Angger?”

“Ya, ya Kiai,” sahut Untara terbata-bata, “aku sependapat dengan Kiai. Mulai besok aku akan pasang gelar sandi untuk mengelabuhi perhitungan lawan, supaya mereka tidak mengambil keuntungan dari keadaan ini dengan mendahului menyerang Jati Anom.”

“Bagus,” desis Kiai Gringsing.

“Sementara itu, aku akan dapat mengumpulkan anak-anak muda Jati Anom, teman-temanku bermain, di masa kanak-kanak. Meskipun jumlah mereka dan ketrampilan mereka belum seperti anak-anak muda Sangkal Putung, namun aku mengharap mereka akan membantu.”

“Tentu.”

“Kalau demikian, maka malam ini aku akan memberikan beberapa perintah kepada para pemimpin prajurit Pajang di sini,” berkata Untara, “supaya sejak pagi, mereka telah melakukan gelar sandi yang kita maksudkan.”

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kami pun akan segera beristirahat.

Mungkin kami masih akan banyak berbuat di samping Angger Untara. Meskipun demikian, sebelumnya kami minta maaf seandainya kami tidak berada dan berbuat di dalam lingkungan Angger, sebab kami bukan prajurit Pajang. Meskipun demikian kami berjanji, bahwa kami tidak akan mengganggu setiap rencana Angger. Kami akan selalu bertanya apa yang akan Angger lakukan dan kami selalu akan melaporkan apa yang akan kami perbuat, supaya kami tidak menjadi saling tunjang.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Seandainya yang berbicara itu bukan seorang Kiai Gringsing, maka ia akan menyawab, “Dalam keadaan serupa ini, maka perintah seorang Senapati perang berlaku bagi setiap orang di dalam wilayah kekuasaannya untuk kepentingan gerakan pasukan.” Tetapi Untara tidak dapat berkata demikian terhadap orang tua itu. Ia merasa ada sesuatu perbawa yang tidak mampu dilampauinya. Ia tahu bahwa ia hanya bertanggung jawab terhadap Ki Gede Pemanahan. Namun orang tua ini pun sangat mempengaruhi sikap dan jalan pikirannya. Kadang-kadang ia merasa, sebagai seorang Senapati, ia adalah orang yang harus mengambil sikap dan keputusan. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan tentang orang tua yang bernama Ki Tanu Metir dan sering menyebut dirinya dengan sebutan Kiai Gringsing itu.

“Nah, selamat malam, Ngger,” desis Kiai Gringsing itu kemudian, “kami, aku dan anak-anak ini akan beristirahat. Mudah-mudahan usaha Angger berhasil dan usaha kamipun akan berhasil.”

“Baik, Kiai,” sahut Untara, “terima kasih.” Namun hatinya sekali lagi merasakan sebuah sentuhan kata-kata orang tua itu yang telah membuat garis pemisah atas kerja yang akan mereka lakukan masing-masing. Tetapi Untara tidak ingin bertanya.

Kiai Gringsing dan kedua muridnya pun segera meninggalkan rumah itu. Mereka pergi ke rumah Wuranta. Menurut pendapat Kiai Gringsing, kedua muridnya dan dirinya sendiri lebih baik berada di tempat itu. Setiap saat mereka dapat bertemu dengan Wuranta apabila anak itu pulang, tanpa dicurigai oleh orang-orang yang mungkin masih saja mengawasinya.

Dalam pada itu, Wuranta telah menjadi semakin dekat dengan padepokan Tambak Wedi. Kali ini ia tidak kesiangan. Bahkan sebelum bayangan fajar mewarnai langit di ujung Timur, Wuranta telah memasuki daerah padepokan Tambak Wedi.

“Justru dengan demikian ia merasakan betapa ketatnya penjagaan. Tanpa disadarinya, tiba-tiba dua ujung tombak telah mengarah ke lambungnya. Terdengar suara berdesis, “Siapa?”

Wuranta berpaling. Dilihatnya dari sisi sebuah batu besar dua orang pengawal telah mengancamnya dengan tombak, sedang dua orang lain berdiri beberapa langkah dengan pedang di tangan.

“Mereka sangat berhati-hati,” desisnya di dalam hati.

“Siapa?” terdengar pertanyaan itu diulang.

“Wuranta,” jawab Wuranta pendek.

Para penjaga itu terdiam sejenak. Tampaknya mereka sedang berpikir.

“Dari mana?” salah seorang dari mereka bertanya pula.

“Jati Anom.”

Kedua ujung tombak itu pun kemudian terangkat kembali. Tanpa mengucapkan kata-kata mereka melepaskan Wuranta begitu saja. Bahkan keempat orang itu pun segera meninggalkannya.

Wuranta menjadi agak heran melihat sikap itu, tetapi ia tidak bertanya. Ia langsung melangkahkan kakinya, meneruskan perjalanannya. Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika lamat-lamat ia mendengar suara berdesis, “Ia datang ke mari dibawa oleh Ki Lurah Sidanti. Tetapi ia sekarang menjadi sahabat Alap-alap kerdil itu.”

Terasa dada Wuranta berdesir. Kenapa orang-orang di padepokan ini berkata demikian? Agaknya mereka telah membedakan antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.

Sambil merenung Wuranta berjalan terus. Berkali-kali ia membelok menyusup antara batu-batu besar. Dan ia tahu, bahwa di setiap sisi batu-batu itu, tidak mustahil akan terjulur ujung-ujung pedang yang akan menghentikan langkahnya.

Tetapi beberapa orang penjaga yang telah mengenalnya, membiarkannya lewat tanpa menyapa sepatah kata pun. Bahkan ada yang dengan malas memalingkan mukanya. Tetapi ada pula yang mendebarkan dada Wuranta. Lamat-lamat ia mendengar sekelompok penjaga menyapanya, “He, apakah Tuanku baru datang dari bertamasya?”

Wuranta tidak tahu maksud pertanyaan itu. Karena itu ia tidak segera menjawab.

“Tentu Tuanku belum mengenal kami,” sambung yang lain.

Wuranta masih berdiam diri.

“Kenapa Tuanku menjadi terheran-heran seperti seekor kera kena sumpit?”

Wajah Wuranta menjadi merah. Kini ia tahu benar, bahwa sekelompok penjaga itu sedang mempermainkannya.

“Apakah maksud kalian dengan pertanyaan itu?” desis Wuranta.

“Jangan marah Tuan. Semalam kami berburu kelinci, tetapi tak satu pun yang aku dapatkan. Jangan Tuan membiarkan diri Tuan menjadi kelinci buruan kami. Tuan akan kami kuliti dan kami bakar seperti kami membakar kelinci.”

Alangkah marahnya anak muda Jati Anom itu. Tetapi ia masih mencoba menahan dirinya. Ia tidak tahu ujung pangkal dari persoalannya. Karena itu, ia masih belum menanggapinya.

“Pergilah. Laporlah kepada Yang Dipertuan Sidanti. Katakanlah, bahwa kami prajurit-prajurit dari kadipaten Jipang, pengikut setia Senapati Agung kami Arya Penangsang dan Senapati muda Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan telah menghinamu…”

Belum lagi suara itu berhenti, terdengar mereka tertawa bersama. Meledak seolah-olah tawa itu telah tertahan-tahan bertahun-tahun di dalam dada mereka.

“Kenapa terjadi demikian?” gumam Wuranta di dalam hatinya.

Kini ia mendapat kesimpulan, bahwa kedua golongan di dalam padepokan itu agaknya tidak dapat luluh menjadi satu keluarga. Agaknya mereka masing-masing merasa, bahwa hubungan yang terjadi itu hanyalah bersifat sementara.

Kini tahulah Wuranta, kenapa beberapa orang yang ditemuinya baru-baru saja bersikap aneh terhadapnya. Tahulah ia kenapa orang-orang itu berkata, bahwa kedatangannya kemari karena ia dibawa oleh Sidanti, tetapi ia kini telah menjadi sahabat Alap-alap yang kerdil.

Wuranta menarik nafas. Ia tidak ingin menanggapi orang-orang itu. Dengan demikian ia akan hanyut dalam pertentangan orang-orang padepokan itu sendiri tanpa dapat menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Tetapi sebelum ia melangkahkan kakinya, dadanya berdesir sekali lagi. Tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang berdiri di atas sebuah batu yang besar sambil bertolak pinggang. Terdengarlah suaranya lantang, “Ayo, siapa yang ingin bertemu dengan Sidanti. Inilah Sidanti. Jangan hanya berteriak-teriak di belakang punggung.”

Tiba-tiba setiap suara dan orang-orang yang menyebut dirinya prajurit Jipang itu terdiam. Tak seorang pun yang berani bergerak dari tempatnya. Mulut mereka pun seoIah-olah terkunci. Bahkan beberapa orang menjadi saling berpandangan.

Dalam keadaan yang demikian, terasa betapa besar perbawa Sidanti. Prajurit-prajurit Jipang itu pun dapat dipengaruhinya seperti kena sihir. Laki-laki yang tegap dan kokoh, dengan berbagai macam senjata di tangan mereka, berdiri diam seperti patung oleh kehadiran Sidanti itu.

“Ayo,” berkata Sidanti, “siapa yang ingin mencoba, bagaimana Sidanti berbuat terhadap orang-orang yang ingin menghinanya. Padepokan ini adalah padepokan guruku. Kalian berada di tempat ini karena belas kasihan guruku, Ki Tambak Wedi. Kalau kalian merasa bahwa kalian tidak kerasan di sini, kenapa kalian tidak pergi saja?”

Tak seorang pun yang berani menjawab.

“Siapa?” sekali lagi Sidanti bertanya, “kalau aku tidak mengingat kepentingan yang sama di antara kita, maka kalian akan menjadi bangkai malam ini juga. Sidanti bukan hanya pandai berbicara, tetapi pedangnya mampu juga memenggal lehermu.”

Belum lagi debar jantung Wuranta berhenti, sekali lagi dadanya digetarkan oleh peristiwa yang menyusul. Dari dalam kegelapan terdengar sebuah suara nyaring menjawab kata-kata Sidanti, “Ah, jangan terlampau sombong Sidanti. Kalau kita sudah meletakkan dasar kerja sama yang baik, maka setiap persoalan harus diselesaikan dengan baik pula. Tidak dengan caramu itu. Kau dapat menghubungi aku, dan aku lah yang akan bertindak atas anak-anakku yang kau anggap kurang sopan. Tidak dengan menjajakan keberanian dan kesaktian,”

“Orang-orang Jipang itulah yang keterlaluan,” bantah Sidanti, “mereka sengaja menghinaku.”

“Tetapi caramu tidak menyenangkan aku.”

“Aku tidak perduli, apakah kau senang atau tidak senang.”

“Kalau demikian, apa maumu?”

Dari dalam kegelapan, Wuranta melihat sebuah bayangan meluncur langsung bertengger di atas sebuah batu yang lain tepat di hadapan Sidanti. Orang itu adalah Sanakeling.

Kini keduanya telah berhadapan dengan wajah-wajah yang tegang. Meskipun mereka belum mencabut pedang masing-masing, tetapi di tangan kiri mereka telah tergenggam senjata-senjata rangkapan, justru senjata-senjata mereka yang berbahaya. Tangan kiri Sidanti menggenggam nanggalnya yang runcing di kedua ujungnya, sedang tangan kiri Sanakeling menggenggam sebuah bindi.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba mereka telah dikejutkan oleh sebuah ledakan di samping mereka. Sebuah batu yang besar terpukul sehingga percikan pecahannya berserakan ke segala penjuru. Kemudian berdentang sebuah gelang-gelang besi di bawah batu-batu tempat Sidanti dan Sanakeling berdiri.

Sidanti dan Sanakeling menyeringai bersama-sama. Bahkan orang-orang Jipang pun terdengar mengaduh. Ternyata pecahan-pecahan batu itu telah melukai tubuh-tubuh mereda sehingga berdarah.

Yang dapat berbuat sedahsyat itu, dengan senjata semacam itu tidak ada duanya. Pasti Ki Tambak Wedi.

Dan sejenak kemudian KiTambak Wedi telah berdiri di antara mereka. Di antara Sidanti dan Sanakeling. Dengan wajah yang merah padam, maka ditunjuknya hidung Sanakeling dan Sidanti berganti-ganti. ”Gila. Kalian anak-anak gila. Apakah kalian sadari apa yang kalian lakukan itu? Alangkah bodohnya. Alangkah gobloknya. Kalian akan menghancurkan diri sendiri di hadapan hidung orang-orang Pajang. Apakah kalian buta dan tuli? Lihat dan dengar. Sekarang pasukan Pajang telah berada di Jati Anom.”

Sidanti, Sanakeling, dan orang-orang Jipang yang lain terkejut untuk kedua kalinya. Kini jantung mereka bergetar dan seakan-akan mereka disentakkan pada sebuah mimpi yang mengerikan. Bahwa orang Pajang akan datang ke Jati Anom adalah suatu hal yang telah mereka duga, tetapi demikian cepatnya itu cepatlah di luar perhitungan mereka.

Karena itu dengan serta-merta Sidanti bertanya, “Apakah mereka orang-orang Pajang yang berada di Sangkal Putung?”

“Aku tidak tahu,” sahut Ki Tambak Wedi. Kemudian ia melanjutkan.v”Dari Sangkal Pulung atau bukan, tetapi kalau kalian berkelahi sesama kalian, maka membunuh kalian akan sama mudahnya mencekik katak kekeringan.”

Sanakeling dan Sidanti terdiam. Keduanya menundukkan kepala masing-masing. Namun mereka merasa beruntung, bahwa belum terjadi sesuatu di antara mereka. Kalau mereka bertempur, maka anak buah mereka pun pasti tidak akan tinggal diam. Dan kini mereka tidak akan dapat lagi saling menyembunyikan diri, bahwa sebenarnya di dalam padepokan itu telah terjadi keretakan yang semakin lama menjadi semakin parah. Hanya karena Ki Tambak Wedi lah maka mereka tetap berada di pihak masing-masing sambil mengendalikan diri sekuat-kuat hati. Namun Ki Tambak Wedi pun yang tampaknya berdiri di tengah-tengah itu, sebenarnya tidak berpijak di tempatnya dengan jujur. Ia tetap memelihara ikatan di antara mereka, karena mereka mempunyai kepentingan yang bersamaan. Tetapi apabila kepentingan bersama itu telah lampau, maka dengan hati dan darah yang dingin, Ki Tambak Wedi akan dengan mudah membinasakan orang-orang Jipang yang kini berada di pihaknya.

Kesepian itu tiba-tiba pecah, ketika dengan serta-merta pula Sidanti berkata, “He Wuranta. Bukankah kau datang dari Jati Anom?”

Wuranta tersentak. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Ya Tuan.” Tetapi hatinya menjadi kecut ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi telah mengatakannya lebih dahulu, bahwa orang-orang Pajang telah berada di Jati Anom.

“Guru telah mengatakan bahwa orang-orang Pajang sudah berada di Jati Anom. Lalu apa kerjamu sehingga kau belum mengetahuinya?”

“Aku sudah mengetahuinya, Tuan.”

“Tetapi kau tidak mengatakan. Dari mana aku tahu, bahwa kau telah mengetahuinya.”

Dada Wuranta berdebar-debar mendengar pertanyaan itu. Dicobanya untuk tetap tenang dan menjawabnya, “Tuan. Bukankah aku baru saja datang? Aku melihat Tuan berdiri di atas batu itu dengan wajah merah padam. Bagaimana aku berani berbuat sesuatu?”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah baru sekarang kau ketahui?”

“Pasukan Untara datang siang kemarin. Baru sore tadi aku berangkat.”

Sekali lagi Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Sekarang katakan, apa yang kau lihat?”

“Pasukan Untara segelar sepapan telah berada di Jati Anom. Lengkap dengan pasukan berkuda.” Meskipun kata-katanya lancar, tetapi terasa juga sebuah getaran yang meragukan. Kini ia berhadapan dengan orang yang bernama Ki Tambak Wedi yang telah mengetahui pula, bahwa pasukan Untara berada di Jati Anom. Apakah Ki Tambak Wedi itu tahu pula tentang dirinya? Kalau demikian, maka akan selesailah tugasnya oleh sebuah tali gantungan.

“Siapakah anak itu?” terdengar Ki Tambak Wedi menggeram.

“Aku ketemukan anak ini di Jati Anom, Guru.”

“Apakah ia dapat kau percaya?”

“Sampai saat ini, Guru,” jawab Sidanti ragu-ragu. Sebenarnya ia tidak ingin menunjukkan kepercayaan itu langsung di muka Wuranta. Dan Sidanti itu menjadi semakin sulit ketika gurunya bertanya, “Apakah dua orang yang aku jumpai malam tadi mengikutinya dan mengawasinya?”

Sidanti menggigit bibirnya. Tetapi ia menjawab, “Aku masih perlu meyakinkannya, Guru.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Wuranta menundukkan wajahnya, untuk menyembunyikan berbagai kesan yang bergolak di dalam dirinya. Ia senang mendengar kepercayaan Sidanti, dan ia tersenyum di dalam hati mendengar pertanyaan Ki Tambak Wedi yang terlampau berterus terang itu. Tetapi tiba-tiba lehernya berkerut merut, “Apakah Ki Tambak Wedi sedang mencoba menilai tanggapan Sidanti tentang diriku yang salah, yang justru sebenarnya telah diketahui oleh Ki Tambak Wedi?”

Tetapi ternyata tidak demikian. Tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu pun meloncat pergi sambil bergumam, “Kalau kalian masih juga bertengkar, maka kalian berdua akan aku bunuh bersama-sama. Tak ada gunanya kalian berdua di padepokan ini. Kau jangan merasa, bahwa justru kau muridku Sidanti. Tetapi kebodohanmu hampir tak dapat dimaafkan.”

Sidanti tidak menjawab. Kepalanya tiba-tiba menunduk. Dan tanpa bertanya sepatah pun dibiarkannya gurunya pergi.

Sepeninggal Ki Tambak Wedi, maka Sidanti pun segera meloncat turun mendapatkan Wuranta. Dilanjutkannya pertanyaannya, “Jadi pasukan Pajang telah berada di Jati Anom?”

“Ya, seperti yang telah dikatakan oleh Ki Tambak Wedi. Dari manakah diketahuinya tentang hal ini?”

“Guru adalah orang aneh. Tetapi bagaimana dengan pasukan Untara itu?”

Wuranta tidak segera menjawab. Sekali lagi ia mengatur perasaannya yang sebenarnya bergejolak. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba Sidanti mendesaknya, “Bagaimana? Kenapa dengan pasukan itu?

“Pasukan Untara datang segelar sepapan, Tuan”

“Bagaimana dengan pasukan Untara itu dibandingkan dengan pasukan Widura?”

Hampir saja terloncat jawaban dari mulutnya, tetapi untunglah ia menjadi sadar, bahwa ia belum pernah melihat pasukan Widura. Maka jawabnya, “Pasukan Widura yang manakah yang Tuan maksud?”

“Oh ,” Sidanti menelan ludahnya, “kau belum pernah melihatnya. Pasukan itu berada di Sangkal Putung.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Untunglah ia tidak terlanjur menjawab karena terlampau bernafsu.

“Tetapi bagaimana aku mendapat gambaran tentang kekuatan pasukan Untara itu?”

“Sulit Tuan. Adalah sulit bagiku untuk mengatakan seberapa banyak orang di dalam pasukan itu.”

“Baik, Baik. Guru pasti akan melihatnya sendiri. Kalau tidak, aku akan mengirim seseorang yang cukup berpengalaman melihat kekuatan pasukan.”

“Silahkanlah Tuan,” gumam Wuranta, “aku tidak banyak mengetahui keadaan dan susunan keprajuritan.”

“Kau perlu pengetahuan mengenai hal itu Wuranta, apabila kau akan menjadi seorang prajurit yang baik kelak.”

“Aku tidak begitu bernafsu untuk menjadi seorang prajurit, Tuan. Aku ingin menjadi seorang Demang.”

Sidanti tersenyum. Katanya, “Baik. Kau akan menjadi Demang Jati Anom. Aku akan membunuh Demang yang sekarang ini berkuasa. Bukankah begitu maksudmu?”

Tiba-tiba dada Wuranta berdesir. Telinganya masih terasa ngeri mendengar kata-kata Sidanti itu. Ia sama sekali tidak ingin melihat demangnya terbunuh. Tetapi ia tidak menjawab lain daripada mengangguk dan berkata, “Demikianlah Tuan.”

“Jangan takut,” tetapi hati Sidanti mengumpat habis-habisan. Katanya di dalam hatinya, “Persetan kau. Baru saja kau mulai, kau sudah membayangkan pangkat yang menyenangkan itu. Aku yang sudah lama berada di dalam perjuangan ini sama sekali belum mendapat apa-apa. Membayangkan saja aku belum sempat. Sepantasnya kau aku cekik sampai mati, begitu kami berhasil menduduki Jati Anom dan mengusir pasukan Pajang itu. Dengan demikian, maka pemberontakan Tambak Wedi akan menjadi jelas. Dan Pajang yang baru akan tegak berdiri dan sedang menghadapi Adipati-adipati di pesisir Lor dan Bang Wetan itu akan menjadi semakin sulit kedudukannya. Sementara itu Ki Tambak Wedi akan terus menghimpun kekuatan ke Selatan dan Timur Gunung Merapi.”

Keduanya kemudian terdiam. Langkah mereka seakan-akan menjadi semakin cepat. Dan agak jauh di belakang mereka, berjalan Sanakeling menjinjing bindinya.

Para pemimpin padepokan Tambak Wedi dan orang-orang Jipang yang berada di padepokan itu pun segera mengadakan pertemuan. Kali ini dipimpin sendiri oleh Ki Tambak Wedi. Agaknya kehadiran Untara di Jati Amom telah menumbuhkan persoalan yang harus mendapat perhatian yang cukup.

Tetapi sayang, bahwa Wuranta tidak diperkenankan ikut serta di dalam pembicaraan itu. Hanya orang-orang penting dan mendapat kepercayaan sajalah yang boleh ikut di dalam pembicaraan itu.

“Beristirahatlah,” berkata Sidanti kepada Wuranta, “mungkin kau akan mendapat pekerjaan baru yang lebih penting dari kerjamu yang dahulu.”

“Baik, Tuan,” sahut Wuranta.

Tetapi ketika ia melangkah keluar dari ruangan itu, ia tertegun. Alap-alap Jalatunda menggamitnya sambil berbisik, “Jangan kau ganggu gadis itu.”

“Ah,” Wuranta tersenyum, “apakah aku tidak boleh melihatnya?”

“Aku cekik kau sampai mati. Sekarang kau jangan lagi bersandar kepada kekuatan Sidanti. Nama itu semakin lama menjadi semakin jelek di mata prajurit-prajurit Jipang. Salah sendiri. Sikapnya terlampau sombong. Ia bukan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan. Tetapi ia bersikap seolah-olah berkuasa melampaui Tohpati itu.”

“Ki Sanakeling hampir berkelahi melawan anak muda itu.”

“He? Begitu?”

“Ya.”

“Aku belum sempat menemuinya. Aku harap demikian. Kalau tidak, maka akulah yang akan berkelahi kelak.”

“Perkara gadis itu?”

“Mungkin. Mungkin juga karena kesombongannya. Aku tidak dapat lagi diperintahnya seperti hari-hari yang lampau.”

“Tetapi pasukan Untara telah datang. Apakah kalian akan sibuk dengan pertentangan pribadi?”

Alap-alap Jalatunda terdiam. Tetapi kerut-merut di keningnya tampak semakin dalam. “Kau dapat bertemu dengan gadis itu?” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda bertanya.

“Kenapa?”

“Tetapi apakah kau berpihak kepada Sidanti?”

“Aku selalu mementingkan kepentingan bersama.”

“Persetan. Kau mau apa tidak membawa pesanku kepada gadis itu?”

“Baiklah. Itu tidak ada sangkut pautnya dengan pasukan Untara.”

“Katakan aku menginginkannya. Kalau ia bersedia, maka aku akan mengorbankan segala-galanya untuknya.”

“Baik, Tuan. Pesan itu akan sampai segera. Siang ini.”

Wuranta pun kemudian meninggalkan rumah itu. Ketika ia berpaling, ia melihat para pemimpin agaknya telah semakin banyak hadir. Bahkan ia melihat beberapa orang penjaga telah siap pula di muka rumah itu. Menilik perbedaan sikap dan pakaian maka yang berjaga-jaga di luar itu datang dari kedua belah pihak.

Dan kini Wuranta telah mendapatkan suatu kepastian, bahwa di dalam padepokan itu pun telah terjadi keretakan yang gawat. Suatu hal yang menguntungkan bagi pasukan Untara. Tetapi bagaimana dapat memanfaatkan keretakan itulah yang harus dicari saat dan kesempatan yang tepat.

Meskipun Wuranta merasa juga agak lelah dan kantuk, namun ia tidak ingin tidur. Ia ingin tetap bangun dan berjaga-jaga. Kalau-kalau ada sesuatu keputusan mengenai dirinya, maka ia tidak akan diseret selagi ia sedang tidur.

Tetapi tiba-tiba Wuranta teringat akan pesan Alap-alap Jalatunda untuk menemui Sekar Mirah dan menyampaikan pesannya. Pesan yang gila.

“Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam, “apakah aku akan menyampaikan pesan itu?”

Sementara itu matahari yang telah mulai memanjat langit di ujung Timur, telah memancarkan sinarnya yang kekuning-kuningan. Dedaunan menjadi cerah dan segar. Tetes-tetes embun yang masih menyangkut di rerumputan memantulkan kilatan cahaya matahari yang binar.

Wuranta masih saja duduk di muka pondokan yang diperuntukkannya. Pondokan pada sebuah rumah yang didiami oleh seorang laki-laki dan perempuan tua. Suami isteri yang agaknya telah terlampau lama menghuni padepokan ini.

“Apakah Angger tidak ingin tidur?” bertanya kakek penghuni rumah itu, “Ke manakah Angger semalam tadi pergi?”

“Jalan-jalan saja, Kek,” sahut Wuranta.

“Huh, tak ada seorang anak muda dari padepokan ini yang sempat berjalan-jalan. Tetapi agaknya Angger bukan anak muda dari padepokan ini.”

“Aku anak Jati Anom.”

“O, pantas, pantas. Aku baru melihat Angger setelah Angger ditempatkan di rumah ini.”

“Ya, Kek.”

“Bagus. Angger telah memilih pihak yang benar. Ki Tambak Wedi adalah seorang yang tidak dapat ditakar kemampuannya, ia mampu menangkap angin taufan, seperti Ki Ageng Sela. mampu menangkap petir. Meskipun aku sudah tua, tetapi aku masih bersedia mengangkat, senjata seperti anak-anak muda apabila orang-orang Pajang benar-benar akan menahancurkan padepokan ini. Bukankah orang-orang Pajang telah merencanakannya demikian hanya karena Adipati Pajang menjadi iri hati atas kesaktian Ki Tambak Wedi.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menjawab.

“Ah, agaknya Angger mengantuk dan payah. Silahkanlah beristirahat. Di amben dalam telah disediakan oleh nenek, ubi rebus. Tidak sekedar ubi rebus, tetapi ubi yang direbus dengan legen. Manis, Ngger.”

“Terima kasih, Kek,” Wuranta pun segera bangkit. Perutnya memang merasa lapar. Dan ubi badek adalah makanan yang sangat digemarinya. Namun meskipun kemudian mulutnya mengunyah ubi, pikirannya masih juga dikalutkan oleh berbagai macam persoalan. Pesan Alap-alap Jalatunda, pembicaraan para pemimpin padepokan ini dan orang-orang Jipang dan berbagai macam yang lain. Disadarinya, bahwa keadaan akan dapat berkembang dengan cepatnya.

Setelah kenyang, maka Wuranta segera bangkit. Perlahan-lahan ia pergi ke biliknya, berbaring-baring untuk melepaskan waktu. Namun ia tidak melepaskan pedang dari lambungnya.

“Baiklah, aku penuhi pesan Alap-alap Jalatunda,” desisnya. “Aku mengharap bahwa perkembangan daripadanya tidak akan berbahaya bagi Sekar Mirah, tetapi dapat mempertajam keretakan antara Sidanti dan Alap-alap yang buas itu.”

Akhirnya Wuranta pun berketetapan hati untuk menemui gadis itu di pinggir sungai, menyampaikan pesan Alap-alap Jalatunda dan melihat kemungkinan yang dapat terjadi. Kini ia akan berjalan seorang diri. Tidak dalam pengawasan Alap-alap Jalatunda, karena anak muda itu sedang mengadakan pembicaraan dengan pimpinan-pimpinan yang lain.

Wuranta itu kemudian menjadi gelisah, ia tidak lagi dapat berbaring di dalam biliknya. Perlahan-lahan ia bangkit dan melangkah ke luar. Di halaman dilihatnya kakek penghuni rumah itu sedang menyiangi tanamannya.

“Kau tidak tidur, Ngger?”

“Tidak, Kek.”

“Dua malam Angger berada di sini. Dua malam Angger tidak tidur di pondokan.”

Wuranta tersenyum. Tetapi ia merasa aneh dengan badannya sendiri. Ia tidak merasa terlampau lelah dan terlampau kantuk.

“Aku akan berjalan-jalan, Kek. Aku akan menikmati cerahnya pagi di padepokan ini.”

“Heh,” kakek itu tersenyum, “silahkan. Seumurku ini pun agaknya aku tidak sempat menikmati cerahnya pagi.”

Kalau begitu, Kakek banyak kehilangan pada usia-usia muda Kakek.”

“Mungkin. Mungkin aku banyak kehilangan. Tetapi aku banyak pula menemukan. Aku kehilangan cerahnya pagi, tetapi aku dapat menyadap ilmu Ki Tambak Wedi sebanyak-banyaknya. Ilmu kasempurnan lahir dan batin.”

“Ilmu macam apakah itu?”

“Ilmu kasunyatan. Persoalan kita adalah persoalan yang nyata. Kita manfaatkan apa yang dapat kita lihat dan kita raba dan kita rasakan.”

“Maknanya?” bertanya Wuranta.

“Kemampuan berpikir menguasai alam. Memecahkan teka-teki yang memenuhi keadaan di sekitar kita. Dengan demikian maka kita akan menjadi rajin bekerja dan mencari. Menguasai dan memanfaatkan alam. Menghisap sari-patinya.”

“Itu saja?”

“Apa lagi?”

“Itulah sebabnya Kakek banyak kehilangan. Kakek tidak dapat menikmati cerahnya pagi. Apalagi menikmati kurnia Pencipta pagi yang cerah. Yang memiliki rahasia yang tak akan terpecahkan, sehingga sia-sialah Kakek menghabiskan umur.”

Laki-laki itu terkejut mendengar jawaban Wuranta, sehingga ia terhenyak beberapa saat. Ditatapnya wajah anak muda yang tersenyum-senyum itu.

Tiba-tiba orang tua itu berkata, “Agaknya Angger mempunyai pengetahuan yang berbeda?”

“O, aku sama sekali tidak berpengetahuan, Kakek. Apalagi berilmu. Tetapi aku hanya sekedar mencoba mengerti tentang diri sendiri. Siapa dan apakah aku ini?”

“Kasian,” orang tua itu seakan-akan mengeluh, “kasian benar kau, Ngger. Lihat, betapa Ki Tambak Wedi mampu menjadikan dirinya seorang yang maha sakti karena ia mampu memecahkan teka-teki alam di sekitarnya.”

“Dari manakah Ki Tambak Wedi menemukan kekuatannya dan kemampuannya yang luar biasa itu?”

“Justru ia menguasai dan memanfaatkan kekuatan alam di sekitarnya.”

Wuranta tersenyum. Ia tidak akan dapat berbantah dengan orang tua itu. Bertahun-tahun orang tua itu mengunyah dan menelan saja pandangan hidup yang didengarnya dari Ki Tambak Wedi. Meskipun demikian, Wuranta itu bertanya, “Dan apakah yang sudah Kakek dapatkan setelah Kakek menyadap ilmu Ki Tambak Wedi sebanyak-banyaknya? Ilmu yang dapat Kakek pergunakan menangkap taufan atau menangkap asap atau menangkap petir seperti Ki Ageng Sela?”

Orang tua itu terkejut mendengar pertanyaan Wuranta. Tiba-tiba ia terdiam. Sejenak ia menjadi bingung.

Wuranta masih saja tersenyum. Tiba-tiba ia berkata, “Sudahlah Kakek, bekerjalah. Aku akan berjalan-jalan. Aku tidak pernah berusaha menghisap kekuatan yang diberikan oleh alam seperti cara yang ditempuh oleh Ki Tambak Wedi. Tetapi aku ingin menikmati cerahnya pagi. Mengucap syukur kepada Pencipta pagi yang cerah dan memohon kekuatan kepada-Nya untuk menghadapi tiap kesulitan.”

“Kepada siapa?” orang tua itu bertanya.

“Tidak kepada benda-benda yang memiliki segala macam kekuatan, tidak berusaha mencari dan memanfaatkan dan menguasai rahasia kekuatan dari pepohonan dan sudut-sudut yang gelap, tetapi kepada Pencipta setiap benda, setiap pepohonan dan setiap sudut-sudut yang gelap dan terang.”

Orang tua itu masih saja menjadi bingung. Bahkan wajahnya kini menjadi berkerut-merut. Tetapi Wuranta sudah melangkahkan kakinya sambil berkata, “Lain kali kita bercakap-cakap, Kakek. Sekarang aku akan berjalan-jalan.”

“Silahkan, Ngger, silahkan,” jawab orang tua itu. Namun kepalanya masih dilingkari oleh kata-kata Wuranta yang terdengar aneh di telinganya.

Dalam pada itu Wuranta telah meninggalkan halaman rumah kakek tua itu. Namun tiba-tiba ia menjadi cemas. Kalau orang tua itu mengatakan pendiriannya kepada kawan-kawannya, maka setidak-tidaknya ia akan mendapat perhatian khusus. Tetapi Wuranta akhirnya dapat melupakan pembicaraan itu. Kakek tua itu pasti tidak akan mempersoalkannya, karena orang tua itu tidak segera memahami kata-katanya dan kata-katanya sendiri.

Langkah Wuranta itu kemudian membawanya ke jalan padepokan yang kemarin dilewatinya bersama Alap-alap Jalatunda. Menyelusuri tebing sungai. Sepanjang jalan Wuranta selalu mereka-reka, bagaimana ia akan menyampaikan pesan Alap-alap Jalatunda kepada Sekar Mirah.

“Mudah-mudahan ia tidak salah mengerti,” desis Wuranta seorang diri. “Mudah-mudahan ia sadar akan persoalan yang dihadapinya dan dapat memanfaatkannya.”

Tetapi alangkah kecewa Wuranta ketika ia sampai kebelik sungai itu. Ia tidak melihat Sekar Mirah mencuci pakaiannya seperti kemarin.

“Hem,” desahnya, “agaknya tidak setiap hari ia pergi ke sungai mencuci pakaian. Mungkin hari ini pakaiannya tidak ada lagi yang dicucinya. Bagaimana aku dapat menemuinya?”

Wuranta itu menjadi agak bimbang. Apakah ia dapat menemui gadis itu di pemondokannya? Wuranta tidak berani menerima akibat dari perbuatannya itu. Kalau para penjaga dan pengawas melihatnya, maka akibatnya adalah kegagalan seluruh tugasnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya.

Tetapi tanpa disadarinya langkahnya telah menyelusuri jalan menuju ke pondokan Sekar Mirah. Sekali dua kali di jumpainya juga beberapa orang laskar yang sedang meronda. Tetapi para peronda itu seakan-akan tidak menghiraukannya. Mereka telah mengenal Wuranta, karena Wuranta sering berjalan bersama Sidanti, Alap-alap Jalatunda, dan pemimpin yang lain.

Tetapi tanpa diduga-duganya langkahnya terhenti. Di lorong sempit yang menuju ke sungai ia melihat Sekar Mirah berjalan di depannya dalam arah yang berlawanan. Tiba-tiba saja hatinya menjadi berdebar-debar. Dan tiba-tiba saja keringatnya mengalir membasahi punggungnya.

“Aku hanya sekedar membawa pesan,” desisnya di dalam hati untuk menenangkan perasaannya sendiri. “Mudah-mudahan ia tidak salah terima.”

Dadanya menjadi semakin tegang ketika di kejauhan ia melihat Sekar Mirah itu tersenyum kepadanya. Senyum yang cerah, secerah sinar pagi yang mengusap ujung pepohonan.

Langkah mereka, semakin lama menjadi semakin dekat. Dan jantung Wuranta seakan-akan berhenti berdenyut ketika ia mendengar gadis itu menyapanya, “Selamat pagi, Tuan.”

“Selamat pagi,” jawab Wuranta tergagap. Sikapnya tiba-tiba berubah. Tidak selincah sikapnya kemarin.

“Dari mana Tuan sepagi ini?”

“E,” Wuranta agak kebingungan mencari jawab. Akhirnya sekenanya ia berkata, “Jalan-jalan, Nini.”

“Sepagi ini?”

“Justru sepagi ini, Nini. Pagi yang cerah,” Wuranta telah menjadi agak tenang sehingga kata-katanya telah mulai meluncur agak lancar.

Tetapi meskipun demikian hatinya masih saja diliputi oleh kebimbangan tentang pesan Alap-alap Jalatunda yang harus disampaikannya.

Dalam pada itu terdengar Sekar Mirah bertanya pula, “Kenapa Tuan hanya seorang diri? Di manakah kawan Tuan yang seorang kemarin?”

“Ia adalah orang yang penting di dalam kedudukannya, Nini. Pagi ini orang-orang penting sedang mengadakan pertemuan. Sedang aku adalah seorang yang hampir tak berarti di sini.”

Sekar Mirah tersenyum. Katanya, “Tuan terlampau merendahkan diri.”

“Aku berkata sebenarnya.”

“Tetapi bagaimanakah kedudukan kawan Tuan kemarin di samping kedudukan Sidanti?”

“Ada bedanya Nini, Sidanti adalah pemimpin padepokan ini, sedang Alap-alap Jalatunda adalah pemimpin Laskar Jipang.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyangka bahwa Wuranta adalah anak muda dari padepokan ini. Kalau Wuranta itu salah seorang laskar Jipang. maka setidak-tidaknya ia pernah mendengar nama Sekar Mirah sebagai seorang puteri Demang Sangkal Putung yang akan dapat membedakan kedudukan Sidanti dan Alap-alap Jalatunda. Sebab keduanya pernah berada di sekitar Sangkal Putung, bahkan Sidanti sendiri pernah berada di kademangan itu.

Tetapi hal itu tidak penting bagi Sekar Mirah. Ia tidak pula bertanya kenapa justru anak itu menjadi sahabat Alap-alap Jalatunda, meskipun Sekar Mirah tidak tahu, bahwa persahabatan itu adalah persahabatan yang semu, yang didorong pula oleh keharusan Alap-alap Jalatunda mengawasi Wuranta.

Dengan sadar Sekar Mirah menghadapi keduanya. Sidanti dan Alap-alap Jalatunda. Itulah sebabnya ia bertanya, “Jadi Alap-alap Jalatunda itu benar-benar seorang pemimpin Laskar Jipang?”

“Ya.”

“Alangkah menarik. Usianya agaknya masih cukup muda. Tetapi ia telah memangku kedudukan yang cukup berat.”

“Ya.”

“Sayang ia tidak berjalan bersama Tuan pagi ini.”

Kening Wuranta berkerut. Debar dadanya menjadi semakin deras. Ia merasa bahwa ia telah mendapatkan kesempatan. Tetapi ia masih saja ragu-ragu.

“Apakah sepagi ini para pemimpin padepokan ini sudah mulai mengadakan pembicaraan?”

“Dalam keadaan khusus, Nini.”

“Kenapa?”

“Pasukan Untara telah berada di Jati Anom.”

“He,” tiba-tiba wajah Sekar Mirah itu berubah. Tetapi hanya sejenak. Gadis itu berusaha untuk menguasai perasaannya. sekuat-kuatnya. Tetapi sejenak kemudian, ia melangkah sambil bergumam, “Aku melihat dua orang prajurit berjalan kejurusan ini. Aku tidak mau mereka mencurigai aku atau Tuan.”

“Oh,” dada Wuranta menjadi berdebar-debar. Ketika ia berpaling, ia memang melihat dua orang prajurit berjalan di kejauhan. Tetapi ia telah menyatakan kesanggupannya menyampaikan pesan Alap-alap Jalatunda. Karena itu dengan tergesa-gesa ia berkata, “Nini, sebenarnya aku membawa pesan dari Alap-alap Jalatunda. Pesan itu mengatakan, bahwa Alap-alap Jalatunda menginginkan Nini untuknya. Ia sanggup mengorbankan apa saja untuk kepentingan itu.”

Wuranta melihat wajah Sekar Mirah menjadi kemerah-merahan. Tetapi yang sama sekali tidak diduganya gadis itu tersenyum sambil menyahut dengan serta-merta, “Aku menunggunya.”

“Gila. Gila,” desis Wuranta di dalam hati. Bagaimana mungkin jawaban itu begitu cepatnya tanpa dipikirkannya? Apakah gadis itu telah mempunyai perhitungannya tersendiri atau memang semuanya ini telah masuk di dalam rencananya.

Tetapi sebelum Wuranta sempat berkata lagi, Sekar Mirah telah meneruskan perjalanannya. Kedua orang peronda berjalan ke arahnya. Perlahan-lahan Wuranta melangkahkan kakinya pula, namun dadanya masih dipenuhi berbagai macam persoalan antara Alap-alap Jalatunda dan gadis itu.

Kedua peronda itu kemudian berjalan di sisinya melampauinya. Keduanya berpaling dan salah seorang daripadanya bertanya, “Kau sudah kenal gadis itu?”

Wuranta menggeleng sambil tersenyum, “Belum. Apakah ia adikmu?”

“Pantas kau berani mengganggunya.”

“Aku tidak mengganggu. Aku hanya mengucapkan selamat pagi. Sebab aku heran, bahwa padepokan ini telah melahirkan gadis secerah matahari pagi.”

“Dengar,” berkata yang seorang lagi, ingat-ngatlah kata-kataku ini. Supaya lehermu tidak dipancung oleh Sidanti, jangan mencoba-coba mengganggunya.”

“He,” Wuranta pura-pura terkejut, “apakah ia adik Sidanti?”

“Setan belang itu tidak bersanak keluarga di sini, selain gurunya yang hidungnya mancung seperti paruh burung hantu, dan baru-baru ini datang pamannya yang bernama Argajaya. Gadis itu adalah gadis simpanannya yang dicurinya duri Sangkal Putung.”

“O,” Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, “maaf. Aku tidak tahu.”

“Untunglah bahwa kami yang melihat perbuatanmu. Kalau orang-orang padepokan ini, mungkin kau segera akan digantung.”

“Maafkan aku,” desis Wuranta pula.

Kedua orang itu pun segera berlalu. Wuranta sama sekali sudah tidak memperhatikannya lagi. Tetapi yang mencemaskannya adalah bagaimanakah jadinya apabila Alap-alap Jalatunda ingin melaksanakan maksudnya? “Itu adalah tanggung jawabnya,” desisnya, “tetapi apakah anak yang liar itu tidak berbahaya bagi Sekar Mirah?”

Wuranta kemudian berjalan kembali ke pondoknya dengan penuh kebimbangan dan kecemasan. Tetapi ia harus menyampaikan jawaban Sekar Mirah, “Aku menunggunya.”

“Kalau saja jawaban itu dilandasi oleh kesadaran dan perhitungan yang cermat,” desisnya di dalam hati. “Tetapi Alap-alap itu bukan seorang anak muda yang dungu.”

Ketika Wuranta sampai di halaman pondokannya, ia melihat kakek yang menghuni rumah itu masih bekerja di halamannya.

Ketika kakek tua itu melihat Wuranta maka segera disapanya, “Cepat sekali Angger menikmati pagi? Apakah Angger sudah puas?”

Wuranta tersenyum, jawabnya, “Sudah, Kakek. Aku sudah puas.”

Kakek tua itu pun tersenyum pula. Katanya kemudian, “Angger mendapat kepuasan dengan kesejukan dan kesegaran pagi. Aku mendapat kepuasan dengan kerja ini. Tetapi kerjaku menghasilkan, sedang selain kepuasan apakah yang Angger dapat dengan berjalan-jalan itu?”

Wuranta mengerutkan alisnya. Tetapi kemudian ia tersenyum kembali, jawabnya, “Kau mendapatkan sesuatu yang langsung dapat kau rasakan, bahkan kau raba, Kek.”

“Lalu, apakah ada hal-hal lain daripada ini?”

“Tentu. Berapa umurmu, Kek?”

“Limapuluh tahun.”

“He?” Wuranta terkejut mendengar jawaban itu.

“Kenapa kau terkejut, Ngger?

“Kakek terlampau banyak bekerja. Kakek kurang sekali menikmati keindahan pagi. Itulah sebabnya dalam usia Kakek yang baru setengah abad itu, Kakek tampaknya telah terlampau tua. Ayahku adalah seorang petani yang bekerja setiap hari hampir sehari penuh. Tetapi setiap kali ayahku menengadahkan wajahnya ke langit. Melihat matahari yang baru terbit di pagi hari atau melihat bintang gemintang yang bergayutan di langit di malam hari. Setiap kali ayahku menyebut nama Penciptanya. Maka hatinya menjadi tenteram dan damai. Kedamaian hati dan kerja yang tekun itulah agaknya yang menjadikan ayahku masih kelihatan terlampau muda meskipun umurnya sudah tujuhpuluh lima tahun.”

Kakek tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Benarkah itu?”

“Ya, Kek. Aku tidak berbohong. Kerja keras, tetapi kita gembira karena kita menyadari arti dari hidup kita. Aku melihat Kakek terlampau tekun bekerja, tetapi kerja itu menjadi tujuan hidup Kakek.”

“Kalau aku tidak bekerja begini keras, aku akan mati kelaparan, Ngger.”

“Kerjalah, Kek. Kerja keras. Tetapi hidup bukan sekedar bekerja.”

“Kalau aku seorang yang kaya raya, Ngger, maka aku tidak perlu bekerja begini berat.”

Wuranta kini tertawa. Ia mengerti jalan pikiran kakek tua itu. Sedang kakek tua itu menangkap kata-katanya begitu wantah, seperti kata-kata yang terucapkan. Tetapi kakek itu tidak dapat menangkap maksud yang seharusnya diungkapkan dari balik kata-katanya. Karena itu maka Wuranta berkata, “Maaf, Kakek. Aku terlampau lelah, aku ingin beristirahat.”

“Silahkan, Ngger. Silahkan beristirahat. Angger juga terlampau keras bekerja, supaya Angger tidak menjadi lekas tua.”

Wuranta tertawa semakin keras. Jawabnya, “Ya, ya Kek. Tetapi aku menyadari arti dari kerja yang aku lakukan. Bukan karena sekedar takut kelaparan.”

“Ah,” orang tua itu mengerutkan keningnya, tetapi ia pun kemudian tertawa. Namun suara tertawanya sama sekali tidak mengungkapkan pengertiannya atas kata-kata Wuranta.

Tetapi Wuranta tidak menghiraukannya lagi. Ia ingin beristirahat, menganyam persoalan yang baru saja dihadapi dan masih harus dipecahkannya.

Tanpa menanggalkan pakaian, dan pedangnya, Wuranta merebahkan dirinya di sebuah amben bambu di dalam bilik yang diperuntukkan baginya. Terdengar amben itu berderit, dan berderit pulalah hati anak muda itu.

“Hem,” desisnya, “ternyata pekerjaan ini tidak semudah yang aku sangka. Mudah-mudahan aku berhasil.”

Wuranta yang lelah itu akhirnya sekali dua kali menguap, dan sejenak kemudian maka ia pun telah tertidur.

Tetapi agaknya anak muda itu tidak cukup lama beristirahat. Tiba-tiba ia terkejut ketika, ia mendengar pintu berderak. Cepat ia meloncat bangun dan dilihatnya Alap-alap Jalatunda berdiri di hadapannya, memandanginya seperti seekor harimau lapar melihat seekor rusa yang masih muda.

“He Wuranta,” desisnya, “kau mampu bangun dari tidur secepat itu, dan secepat itu siap pula berdiri tegak, menghadapi setiap kemungkinan?”

Wuranta tidak tahu arah pertanyaan itu, karena itu ia tidak menjawab.

“Hem,” desis Alap-alap Jalatunda, “ternyata kau bukan anak muda sebodoh yang aku sangka. Sejak aku melihat kau berkelahi di perjalanan ke Jati Anom, aku sudah menyangka, bahwa kau memiliki bekal cukup untuk bermain-main dengan pedang.”

“Apakah yang sebenarnya Tuan maksud?”

“Kau sudah mengganggu Sekar Mirah. Dua orang melihat dan memberitahukan kepadaku. Ingat, dengan sedikit ramuan kata-kata, aku dapat menggerakkan Sidanti untuk memancungmu di perapatan.”

“Apakah katanya?”

“Hem, kau agaknya membanggakan kepandaianmu yang sama sekali tidak berarti itu?”

“Kapankah Tuan lihat aku berkelahi dengan seorang laki-laki di perjalanan ke Jati Anom?”

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda terbungkam. Tanpa disadari ia telah terlanjur mengatakan apa yang sudah dilihatnya ketika ia dengan diam-diam mengikuti Wuranta. Sebenarnya Wuranta sama sekali tidak terkejut mendengarnya, tetapi ia harus berpura-pura tidak tahu.

“Tuan, aku tidak tahu kata-kata Tuan semuanya. Aku sama sekali tidak mengganggu Sekar Mirah. Aku sama sekali tidak berkelahi dengan siapa pun juga. Memang aku bertemu, dan ditegur oleh dua orang laskar Tuan. Tetapi apakah aku harus menjawab bahwa aku sedang menyampaikan pesan Alap-alap Jalatunda kepada Sekar Mirah? Bukankah lebih baik bagi Tuan jika aku mengiakan dan pura-pura saja tidak tahu siapakah gadis itu?”

Alap-alap Jalatunda mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Wuranta. Bahkan kemudian ia tertawa sambil berkata, “Ternyata kau memang tidak terlampau bodoh, Wuranta. Terima kasih. Agaknya kau berbuat sesuatu yang menyenangkan.”

“Apakah yang menyenangkan?” Wuranta masih pura-pura bertanya.

“Kau, kau telah berbuat sesuatu yang menyenangkan aku. Kau telah menghindarkan aku dari kecurigaan kedua orang prajurit itu, meskipun ia adalah prajuritku sendiri, tetapi seandainya kau tidak menerima teguran itu dan mengatakan bahwa akulah yang menyuruhmu, maka orang itu pasti akan mengatakannya kepada kawan-kawannya, meskipun tidak bermaksud jahat. Tetapi hal yang demikian itu berbahaya, sebab mungkin orang-orang Sidanti akan mendengarnya pula.”

“Bagaimana kalau Sidanti mendengarnya?”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi semburat merah dan giginya gemeretak, “Persetan, dengan orang itu! Aku kini tidak takut lagi. Tetapi untuk berhadapan dengan Sidanti aku harus tahu benar, bahwa aku tidak sedang berebut tulang kering. Bagaimana pesan itu?”

“Sudah aku katakan, Tuan.”

“Bagaimanakah jawabnya?”

Wuranta menjadi ragu-ragu.

“Jangan membisu. Kau tinggal menirukan jawabannya. Menirukan saja. Bukan kau yang harus menjawab.”

Wuranta menarik nafas panjang. Kemudian ia menjawab, “Ia menanti Tuan.”

“He,” mata Alap-alap itu terbelalak, “ia menanti aku?”

“Demikianlah jawabnya.”

“Hanya itu?”

“Ya, hanya itu. Sebab kedua laskar Tuan yang keparat itu segera datang dan Sekar Mirah pun meninggalkan aku.”

“O, setan betul kedua prajurit itu. Tetapi, tetapi Sekar Mirah berkata demikian?”

“Ya, Tuan. Tuan dapat percaya atau tidak. Tetapi demikianlah pendengaran telingaku.”

“Baik. Baik. Aku percaya kepadamu. Nanti malam aku akan datang kepadanya.”

“He,” kini Wuranta-lah yang terkejut, “nanti malam Tuan akan datang?”

“Ya, bagaimana?”

“Bagaimana Tuan akan datang kepada Sekar Mirah di dalam padepokan ini? Apakah dengan demikian Tuan tidak akan langsung berhadapan dengan Sidanti?”

“Bodoh kau. Aku akan datang dengan diam-diam. Kalau Sekar Mirah memang menerima aku, maka aku tidak akan menemui kesulitan apa-apa.”

“Apakah Sekar Mirah akan Tuan bawa pergi?”

“Kemana aku harus pergi? Oh, kau ternyata terlampau bodoh. Apakah perlunya aku pergi. Aku dapat datang ke pondoknya setiap saat dengan diam-diam. Kenapa harus pergi?”

“Bagaimana mungkin Tuan? Bagaimana mungkin Tuan berbuat demikian?

“Itu urusanku. Jangan ributkan lagi hubungan kami seterusnya. Aku akan datang setiap saat aku anggap aman. Tak akan ada kesulitan apa-apa. Orang-orangku akan dapat membantu aku mengawasi keadaan selagi aku berada di rumah itu.”

“Tuan,” nafas Wuranta menjadi tersengal-sengal, “apakah Tuan tidak bermaksud membawanya pergi dan kemudian kawin?”

“Kawin?” sahut Alap-alap Jalatunda hampir berteriak karena terkejut mendengar pertanyaan itu. Tetapi kemudian suara tertawanyapun meledak. Demikian kerasnya sampai tubuhnya berguncang-guncang. Jawabnya, “Oh anak yang malang. Kenapa kau berpikir bahwa aku akan kawin? Apakah saat seperti ini adalah saat yang baik untuk kawin. Tidak Wuranta. Aku tidak mau kawin sebelum aku memenangkan peperangan ini. Aku cemas kalau malam ini aku kawin, besok aku ditangkap Untara.”

“Lalu apa yang akan Tuan lakukan?”

“Tidak apa-apa. Hubungan kami tidak perlu diikat dengan perkawinan atau ikatan macam apapun. Sekar Mirah akan dapat kawin dengan siapa saja kelak. Dengan Sidanti atau dengan orang lain.”

“Oh,” keringat dingin kini memenuhi tubuh Wuranta. Ini adalah perbuatan yang liar dan bahkan biadab. Seandainya Sekar Mirah menyadari perbuatannya sebagai suatu usaha untuk melepaskan diri dari lingkungan padepokan ini, maka ia akan kecewa. Bahkan mungkin ia akan kecewa sepanjang hidupnya menghadapi Alap-alap yang buas ini.

“Kenapa kau menjadi bingung?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

“Tidak. Aku tidak bingung. Aku hanya sedikit kurang mengerti. Kenapa Tuan tidak saja mengambilnya sebagai isteri. Bukankah dengan demikian hubungan Tuan dengan gadis itu tidak akan pernah merasa tenteram? Bukankah Tuan telah mengatakan akan mengorbankan apa saja untuk kepentingan itu. Aku kira juga kedudukan Tuan dan cita-cita Tuan. Tuan akan dapat meninggalkan padepokan ini dan hidup di tempat yang jauh bersama gadis itu selelah Tuan melamarnya kepada ayahnya.”

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda itu tertawa terbahak-bahak. “Tidak, tidak demikian Wuranta. Tetapi kau jangan menghiraukan persoalan ini. Kau sudah cukup berjasa bagiku. Kau telah mengikat hubungan yang tak berhasil aku sambung sendiri. Aku dapat berhubungan dengan perempuan-perempuan yang cukup dewasa menghadapi keadaan, tetapi menghadapi gadis-gadis yang masih terlampau hijau aku menjadi canggung. Dan bahkan aku menjadi bingung.”

“Itu adalah pertanda bahwa sebenarnya Tuan merasa bahwa, tubuh Tuan tidak lagi sesuai untuk gadis-gadis seperti Sekar Mirah.”

“Apa?” tiba-tiba wajah Alap-alap Jalatunda menyadi merah. “Kau maksudkan bahwa aku tidak pantas berhubungan dengan Sekar Mirah?”

Wuranta terkejut melihat sikap Alap-alap Jalatunda itu. Agaknya kata-katanya terdorong terlampau tajam, sehingga Alap-alap itu menjadi marah kepadanya.

Karena itu, maka seterusnya ia mencoba mengendalikan dirinya dan mencoba mempergunakan pikirannya untuk menguasai perasaannya. Ketika kemudian dilihatnya Alap-alap Jalatunda benar-benar marah, maka Wuranta menahan dirinya sekuatnya untuk tidak berkata terlampau lancang.

“Wuranta,” geram Alap-alap Jalatunda dengan mata yang menjadi kemerah-merahan, “ternyata kau benar-benar gila dan ingin mati di padepokan ini. Kau mencoba mencampuri persoalanku dengan Sekar Mirah. Kau mencoba mempengaruhi perasaanku supaya aku menjauhkan diri dari gadis yang menurut katamu justru telah bersedia menungguku.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan sangat hati-hati, “Tuan agaknya salah paham.”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menyawab.

“Aku berkata bahwa Tuan merasa tubuh Tuan tidak sesuai lagi untuk gadis-gadis seperti Sekar Mirah. Aku tidak mengatakan bahwa sebenarnya demikian. Tuan, kata-kataku belum selesai. Lanjutannya adalah, seharusnya Tuan jangan merasa demikian. Supaya Tuan tidak menjadi canggung apalagi bingung.”

Alap-alap Jalatunda menggigit bibirnya. Tetapi ia menggeram, “Wuranta, aku tahu bahwa kau mencoba mempermainkan kata-kata. Tetapi aku tahu benar maksud kata-katamu. Aku bukan anak-anak yang dapat kau kelabui dengan kalimat-kalimat yang kau susun jungkir balik. Kau memang berkata seperti yang ingin kau katakan. Aku tidak salah paham. Tetapi yang tidak jelas bagiku adalah maksud kata-katamu itu. Apakah kau sebenarnya ingin mempengaruhi aku agar menjauhkan diri dari Sekar Mirah dan memberi kesempatan kepadamu, ataukah karena kau sekedar terdorong oleh perasaanmu sehingga kau mengucapkan kata-kata itu.”

Wajah Wuranta segera menadi semburat merah. Alap-alap Jalatunda sebenarnya memang bukan anak-anak. Ternyata ia menangkap usahanya untuk memperbaiki kesalahannya. Tetapi hatinya menjadi lega ketika Alap-alap itu berkata, “Wuranta, kali ini kau aku maafkan, sebab aku mengira bahwa kau hanya terlanjur saja menuruti perasaan. Ternyata kau menyampaikan pesan itu kepada Sekar Mirah. Malam nanti aku akan datang kepadanya. Kalau kau tidak sebenarnya menyampaikan pesan itu, maka kau akan aku gantung di prapatan di muka regol padepokan dengan seribu macam alasan yang pasti akan diterima oleh setiap orang yang tinggal di padepokan ini. Apalagi keadaan kini menjadi semakin tegang karena kedatangan Untara. Ki Tambak Wedi sendiri akan melihat, apakah benar pasukan Untara itu segelar sepapan seperti yang kau katakan. Agaknya Ki Tambak Wedi kurang percaya dan ia mempunyai perhitungan tersendiri. Justru karena itu aku harus segera mendapatkan Sekar Mirah sebelum besok atau lusa aku harus bertempur melawan orang-orang Pajang di Jati Anom. Mungkin Ki Tambak Wadi tidak akan menunggu mereka kemari, tetapi kitalah yang akan datang ke sana.”

Dada Wuranta menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Alap alap Jalatunda itu. Bukan saja karena Alap-alap Jalatunda itu tahu tepat perasaannya mengenai Sekar Mirah, tetapi juga tentang sikap Ki Tambak Wedi. Ternyata Ki Tambak Wedi benar-benar seorang yang mempunyal pandangan yang cermat nenghadapi pasukan Pajang. Ia tidak lekas percaya dan mempunyai daya pengamatan yang jauh.

Dalam pada itu Alap-alap Jalatunda berkata seterusnya, “Nah, sekarang beristirahatlah. Jangan mencoba mengkhianati aku dengan segala macam fitnah yang dapat kau sampaikan kepada Sidanti, supaya kau selamat di padepokan ini. Jangan kau sangka bahwa Sidanti mempercayaimu sepenuhnya, apalagi Ki Tambak Wedi. Hari ini Ki Tambak Wedi akan ke Jati Anom, sedang kau harus tinggal di padepokan ini sampai besok. Ki Tambak Wedi akan berbuat menurut pertimbangannya. Baik atas orang-orang Pajang di Jati Anom, maupun terhadapmu.”

Dada Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Terasa sikap Ki Tambak Wedi itu berbahaya baginya. Dalam keadaan yang demikian maka Wuranta itu pun teringatlah kepada Ki Tanu Metir. Menghadapi Ki Tambak Wedi, Ki Tanu Metir mendapat sikap yang seimbang. Karena itu, maka keadaannya akan banyak tergantung pada permainan antara kedua orang tua-tua itu.

“Tetapi hari ini aku harus tetap berada di padepokan ini,” katanya di dalam hati.

Tetapi Wuranta itu terkejut ketika ia mendengar Alap-alap Jalatunda berkata, “Beristirahatlah. Tidak hanya hari, tetapi kau dapat beristirahat sampai besok. Sampai Ki Tambak Wedi menentukan sikap. Aku mengucapkan terima kasih bahwa kau telah membantuku apabila katamu benar, bahwa kau telah menyampaikan pesan itu kepada Sekar Mirah.”

Wuranta tidak segera menjawab. Ia masih dikuasai oleh kegelisahan. Dan ia mendengar Alap-alap Jalatunda itu berkata, “Aku akan pergi. Maaf bahwa aku tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengusir prajurit-prajurit yang kini di tempatkan di sekitar rumah ini. Itu bukan atas kehendakku. Bukan pula kehendak Sidanti. Sidanti hanya bercerita tentang kau, bagaimana kau diketemukan dan bagaimana kau mendapat kepercayaan daripadanya. Ki Tambak Wedi ternyata mempunyai sikap tersendiri kepadamu. Kau harus tetap tinggal di sini sampai jatuh keputusan lain dari orang tua itu.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berusaha untuk menguasai dirinya dengan baik. Perlahan-lahan ia bergumam, “Baik. Aku akan tetap tinggal di sini menunggu keputusan itu. Mudah-mudahan Ki Tambak Wedi berhasil melihat keadaan sesungguhnya di Jati Anom, sehingga kecurigaan yang ada itu segera hilang.”

Wuranta menjadi curiga ketika ia melihat Alap-alap Jalatunda tersenyum. Senyum itu terlampau aneh baginya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Dibiarkannya Alap-alap Jalatunda itu meninggalkannya. Ia merasa bahwa Alap-alap itu pun sudah tidak memerlukannya lagi. Ketika ia mengantarkannya sampai ke muka pintu, maka dilihatnya beberapa orang prajurit berjalan hilir mudik di luar regol halaman.

Wurantapun segera menyadari keadaannya. Orang-orang yang berjaga-jaga itu pasti mendapat perintah untuk mengawasinya. Terasa juga bahwa dadanya menjadi berdebar-debar.

“Hem,” gumamnya di dalam hati, “pekerjaan ini memang penuh dengan bermacam-macam bahaya.”

Tetapi semisal seseorang yang menyeberangi sungai, Wuranta telah berada di tengah-tengah. Maju atau mundur, ia sudah terlanjur menjadi basah. Maka harapannya kemudian adalah mudah-mudahan Ki Tanu Metir dapat mengimbangi permainan Ki Tambak Wedi, sehingga nyawanya tidak segera berada di ujung tali gantungan.

Wuranta masih melihat orang tua yang menghuni rumah itu bekerja dengan tekun di halamannya tanpa memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Seakan-akan kerja yang dilakukan itu adalah pusar dari segenap hidupnya, dan orang tua itu sendiri telah menjadi budak daripadanya “Sayang,” desisnya di dalam hati. “Seandainya orang tua itu mendengar kata-kata Alap-alap Jalatunda maka Sidanti pun mungkin akan mendengar laporannya. Ternyata ia masih saja sibuk dengan kerjanya.”

Perlahan-lahan Wuranta melangkah ke halaman. Ia merasa bahwa beberapa pasang mata sedang mengamatinya. Tetapi Wuranta pura-pura tidak mengetahuinya. Ketika ia mengamati pagar dinding halaman itu, maka ia melihat bahwa pagar itu tidak terlampau tinggi. Tetapi sudah barang tentu ia tidak dapat berusaha melarikan diri dan melampaui dinding padepokan Tambak Wadi meskipun ia akan dengan mudah keluar dari halaman itu.

“Apakah Angger sudah cukup beristirahat?” terdengar orang tua yang sedang bekerja di halamannya itu bertanya.

“Sudah, Kek,” sahut Wuranta, “sudah terlampau cukup.”

“Apakah Angger akan berjalan-jalan lagi untuk menikmati siang yang cerah ini?”

“Di halaman ini pun aku dapat menikmatinya.”

Orang tua itu berhenti bekerja. Dipandanginya wajah Wuranta sambil berkata, “Kenapa di halaman ini? Apakah Angger tidak dapat menikmati pagi di halaman ini pula?”

Wuranta tersenyum. Katanya, “Teruskan kerjamu, Kek. Aku tidak akan mengganggu dengan bermacam-macam percakapan yang tidak akan berarti apa-apa buat kau.”

Kakek itu pun tersenyum pula. Dan diteruskannya kerja. Sejenak kemudian ia berhenti pula sambil memandangi berkeliling. Ia melihat pula kehadiran dan kepergian Alap-alap Jalatunda. Kemudian beberapa orang laskar di sekitar halamannya. Perlahan-lahan ia berkata kepada Wuranta yang berdiri dekat padanya, “Kalau aku tidak bekerja keras, dan penghasilanku tidak memenuhi ketentuan yang diberikan oleh pimpinan padepokan, maka aku bukanlah penghuni padepokan yang baik. Aku akan dapat bermacam-macam peringatan dan bahkan apabila hal tersebut berjalan beberapa kali, aku akan dapat menerima hukuman denda atas hasil dari seluruh halaman, kebun, sawah dan ladangku yang tidak seberapa luas. Dengan demikian, maka makan kami sekeluarga akan menjadi sangat kurang.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah menduga bahwa ada suatu tekanan yang memaksa orang-orang padepokan ini diperbudak oleh kerja.

Tetapi ia tidak akan sempat lagi memikirkannya. Memikirkan kakek yang tua itu dan persoalan-persoalan lain yang tidak banyak diketahuinya. Ia kini harus memikirkan dirinya sendiri. Bagaimanakah keadaan yang akan dihadapi selanjutnya.

“Aku hanya dapat menunggu,” katanya di dalam hati, “aku tidak dapat berbuat sesuatu.”

Dengan demikian, maka Wuranta itu pun kembali masuk ke dalam biliknya dan dengan hati yang kosong merebahkan dirinya di atas amben pembaringannya.

Kepalanya kini menjadi semakin pening memikirkan dirinya sendiri dan Sekar Mirah. Bagaimanakah sikap gadis itu nanti apabila Alap-alap Jalatunda datang kepadanya.

“Aku tidak sempat memberi peringatan kepada gadis itu,” gumamnya kepada diri sendiri, “mudah-mudahan ia dapat membawa dirinya.”

Semakin jauh matahari bergeser di garis edarnya, hati Wuranta menjadi semakin tidak tenang. Ketika matahari telah menjadi condong ke Barat, maka dadanya terasa menjadi pepat. Makan siang yang dihidangkan oleh nenek penghuni rumah itu tak dapat ditelannya seperti biasanya. Hanya satu dua suap saja yang dapat dimakannya, sehingga suami isteri itu menjadi sangat heran.

“Apakah kau sakit, Ngger?” bertanya laki-laki tua yang makan bersamanya.

“Tidak, Kek, “ sahut Wuranta.

“Angger makan terlampau sedikit.”

“Aku tidak apa-apa, Kek.”

Laki-laki tua itu tidak bertanya lagi. Tetapi sebagai orang Tambak Wedi ia dapat mengerti. Laskar yang hilir-mudik di luar halamannya itu pasti berhubungan dengan adanya anak muda Jati Anom itu di rumahnya.

Demikianlah, maka akhirnya matahari pun menjadi semakin rendah menggantung di langit sebelah Barat. Sejenak kemudian, maka ujung Gunung Merapi yang menjulang tinggi itu pun menjadi kemerah-merahan seperti seonggok bara raksasa yang memanasi langit yang kemerah-merahan pula.

Ketika terdengar suara burung yang ribut berebut sarang, maka hati Wuranta pun menjadi semakin kisruh. Kisruh tentang dirinya sendiri dan tentang nasib Sekar Mirah, adik Swandaru yang selalu dihantui oleh kegelisahan.

Tetapi Wuranta tidak dapat berbuat apapun, ketika perlahan-lahan malam turun menyelimuti lereng Gunung Merapi. Semakin lama semakin samar dan gelap. Lampu-lampu minyak pun segera dinyalakan berkeredipan seperti mata anak-anak yang cemas ketakutan. Apabila angin yang silir menyentuhnya, maka lampu-lampu itu pun seakan-akan terpejam untuk sesaat.

Hati Wuranta pun menjadi semakin tidak tenang. Ia tidak dapat mengetahui apakah yang sudah terjadi di luar pagar batu halaman rumah itu. Ia tidak tahu apakah yang sedang dilakukan oleh Ki Tambak Wedi kini. Apakah orang tua itu sedang berada di Jati Anom, apakah ia sedang merencanakan untuk memancungnya. Tetapi bayangan yang terkuat mempengaruhinya adalah bayangan Alap-alap Jalatunda yang sedang merayap-rayap mendekati pondok Sekar Mirah.

Dengan demikian maka hati Wuranta menjadi semakin cemas. Kalau Alap-alap Jalatunda itu berhasil dan Ki Tambak Wedi mengetahui peranan yang sedang dilakukan, maka semua usahanya itu akan sia-sia. Ia tidak berhasil memberikan bantuan apa-apa kepada Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir. Apalagi kepada pasukan Pajang. Bahkan mungkin namanya pun untuk seterusnya tidak akan dapat diperbaikinya, sebab orang-orang Jati Anom yang melihatnya berjalan bersama-sama dengan orang-orang lereng Merapi pasti sudah menyangkanya bahwa ia berpihak kepada Jipang.

Kematiannya akan tidak berarti sama sekali. Ia akan merupakan korban yang sia-sia. Namun meskipun demikian, ia masih juga dapat menghibur dirinya, bahwa usaha itu dilakukan dengan maksud yang baik, dengan tekad yang dapat dibanggakan. Adalah wajar, bahwa sesuatu usaha itu dapat berhasil dan dapat juga gagal.

Akhirnya Wuranta itu pun menjadi agak tenang. Ia pasrah diri kepada Kekuasaan Tertinggi. Kekuasaan yang jauh lebih tinggi, dan bahkan sama sekali tidak dapat diperbandingkan dengan kekuasaan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Alap-alep Jalatunda. Hanya di dalam tangan-Nya terletak kepastian tentang dirinya.

Meskipun demikian, Wuranta sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ia ingin tidur dan melupakan segala-galanya. Seandainya sesuatu terjadi, tetapi ia tidak dapat berbuat apapun, maka hatinya pasti akan bertambah pedih. Karena itu, ia ingin saja tidur. Tidur. Namun meskipun ia ingin tidur, ia sama sekali tidak menanggalkan pedangnya, dan slarak kancing pintu biliknya pun dipasangnya.

Wuranta mengangkat kepalanya sesaat ketika ia mendengar langkah kaki di muka biliknya. Ia berdesah di dalam hati, ketika kemudian ia mendengar suara batuk-batuk kakek tua penghuni rumah itu.

Tetapi agaknya kakek tua itu berhenti di muka pintu biliknya dan perlahan-lahan berkata, “Angger, apakah Angger sedang sakit?”

“Oh, tidak Kek,” jawab Wuranta sambil barbaring.

“Apakah Angger tidak makan lebih dahulu? Bukankah ini masih terlampau sore untuk pergi tidur, Ngger?”

“Aku terlampau lelah, Kek. Dua malam aku hampir tidak tidur sama sekali. Sekarang aku ingin tidur sepuas-puasnya.”

“Tetapi makanlah dahulu.”

“Terima kasih, Kek.”

“Heh,” Wuranta mendengar orang tua itu berdesah, lalu terdengar langkahnya menjauh. Wuranta memang tidak mempunyai nafsu sama sekali untuk makan. Perutnya sama sekali tidak terasa lapar meskipun siang tadi ia pun hanya makan terlalu sedikit.

Rumah itu pun kemudian menjadi sunyi. Sekali-sekali terdengar suara batuk-batuk kakek tua penghuni rumah itu, tetapi sebentar kemudian sunyi kembali. Wuranta terkejut ketika ia mendengar suara cicak dekat sekali di atas kepalanya, sehingga ia mengumpat di dalam hatinya.

Sementara itu, malam pun menjadi semakin malam. Di kejauhan terdengar suara burung hantu seperti suara jejaka yang sedang mengeluh meratapi nasibnya yang malang.

Wuranta masih berbaring di pembaringannya. Terasa olehnya betapa waktu berjalan terlampau lamban. Serasa sudah hampir semalam suntuk ia berbaring, tetapi kemudian ia mendengar suara kentong di kejauhan. Dara muluk.

“He,” Wuranta terkejut mendengar suara kentongan itu, “baru tengah malam.” Dan anak muda itu merasa tersiksa di pembaringannya.

Tetapi sekali lagi Wuranta mengangkat kepalanya. Kemudian ia berusaha untuk mengatur nafasnya, supaya orang di luar biliknya menyangkanya bahwa ia sudah tidur, karena ia mendengar desah langkah mendekati biliknya. Namun yang didengarnya itu bukan hanya langkah seseorang.

“Siapakah mereka?” pertanyaan itu berputus di dalam dadanya.

Sejenak kemudian Wuranta mendengar pintu lereg biliknya diketuk orang perlahan-lahan. Dan Wuranta itu pun kemudian mendengar suara di luar, “Angger, Angger Wuranta. Apakah Angger sudah tidur?”

Wuranta mempertajam pendengarannya. Memang tidak hanya satu orang yang berdiri di luar pintu biliknya. Dan tanpa disengaja tangannya meraba hulu pedangnya.

“Hem, apa lagi yang akan terjadi? Apakah Ki Tambak Wedi sudah mendapat kesimpulan tentang diriku?”

“Angger Wuranta,” ia mendengar suara itu lagi.

“Kakek tua itu,” desis Wuranta di dalam hatinya. Tetapi Wuranta tidak segera menjawab.

Sakali lagi terdengar ketokan di pintunya dan suara orang tua itu terdengar lagi, “Angger, bangunlah. Ada sesuatu yang barangkali penting bagi Angger?”

Wuranta menggeliat di pembaringannya. Perlahan-lahan ia menyahut dengan nada yang datar, “Apa Kek?”

“Bangunlah, Ngger. Ada yang penting bagi Angger.”

“Apakah yang penting itu?”

“Silahkan Angger keluar sebentar, hanya sebentar.”

Hati Wuranta berdesir. Perasaannya seakan-akan memberitahukan kepadanya, bahwa akan terjadi sesuatu yang berbahaya baginya. Tetapi ia tidak akan dapat menghindar. Dan terdengar sekali lagi suara kakek tua itu “Keluarlah sebentar, Ngger.”

Wuranta itu pun bangkit dari pembaringannya. Dibenahinya pakaiannya dan dirabanya hulu pedangnya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa ia tidak akan dapat menghindari apapun yang akan terjadi. Dengan demikian maka tekadnya menjadi bulat. Dan ia berkata kepada diri sendiri di dalam hatinya, “Aku bukan cacing yang menyerahkan dirinya untuk diinjak-injak. Aku harus berbuat sesuatu meskipun akibatnya sama. Tetapi lebih baik mati dengan pedang di tangan daripada mati di tiang gantungan.” Dengan demikian maka Wuranta itu tidak menjadi ragu-ragu lagi. Perlahan-lahan dan hati-hati ia mendekati pintu biliknya. Perlahan-lahan dan hati-hati pula ia membukanya. Ketika pintu itu terbuka, alangkah terkejutnya anak muda itu. Ia melihat kakek tua penghuni rumah itu berdiri tegap di muka pintunya dengan sehelai pedang di lambungnya.

Wuranta tegak sebagai patung melihat orang tua itu tersenyum. Sejenak mulutnya seakan-akan terbungkam, namun dadanya bergelora demikian kerasnya.

“Selamat malam, Ngger,” orang tua penghuni rumah itu menyapanya. Senyum yang masih saja membayang di wajahnya, terasa oleh Wuranta sebagai suatu ejekan yang menusuk perasaannya.

“Apakah Angger heran melihat aku? Bukankah aku sudah Angger kenal sejak tiga hari yang lalu?”

“Oh,” Wuranta mengumpat di dalam hati, “setan tua itu sempat juga membuat hatiku menjadi samakin parah.”

“Adakah yang aneh padaku, Ngger?”

Dengan nada yang datar Wuranta menjawab, “Tidak ada, Kek. Tidak ada yang aneh.”

“Tetapi tatapan mata Angger Wuranta terasa agak lain dari biasanya. Apakah dengan bekerja sehari ini aku sudah bertambah tua lagi?”

Dada Wuranta berdesir. Tetapi ia menjawab, “Tidak Kek. Kakek tampaknya bertambah muda. Agaknya kakek menyadari kebenaran kata-kataku. Dan agaknya kakek telah mencoba menikmati keindahan malam. Nah, apakah Kakek ingin mengajakku melihat bintang yang bergayutan di langit? Bukankah dengan demikian Kakek dapat melupakan sejenak kesulitan dan penderitaan Kakek selama Kakek diperbudak oleh kerja yang membosankan itu?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya, tetapi ia kemudian tersenyum. Ketika ia berpaling, dilihatnya laki-laki yang datang bersamanya memandanginya dengan penuh pertanyaan.

“Kau belum mengenalnya,” berkata kakek itu kepada kawannya.

“Sudah, Paman” jawab laki-laki yang masih agak muda itu.

“Kau baru mengenal orangnya. Bentuknya dan wajahnya. Tetapi kau belum mengenal tabiat dan sifat-sifatnya. Anak muda ini adalah anak muda yang mempunyai perasaan lembut seperti helai-helai benang kepompong sutra.”

“Ah,” Wuranta berdesah. Tiba-tiba ia melihat sinar yang aneh memancar dari sepasang mata orang tua itu, selain senyumnya yang menyentuh perasaan. Wuranta merasakan bahwa orang tua itu sengaja menyindirnya dan membuatnya sakit hati. Apalagi ketika ia melihat laki-laki, kawan orang tua itu tertawa pendek.

“Sekarang, apakah maksud Kakek, dan siapakah Kakek ini sebenarnya?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Petanyaanmu aneh anak muda. Bukankah Angger telah mengenal aku selama beberapa hari?”

“Aku mengenal Kakek kemarin berbeda dengan aku melihat Kakek saat ini. Aku telah mengenal Kakek dengan cangkul di tangan, tetapi Kakek sekarang membawa pedang di lambung.”

“Oh, itukah yang Angger tanyakan? Aku yang kemarin adalah aku yang sekarang. Setiap laki-laki di padepokan berhak mengenakan pedang di lambungnya dan berkewajiban mempertahankan padepokan ini dengan seluruh kemampuan yang ada. Kini keadaan meningkat dengan cepatnya. Pasukan Untara telah berada di Jati Anom. Itulah sebabnya aku mengenakan pedangku.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Nah, sekarang katakan maksudmu. Katakanlah kepentingan yang kau sebut-sebut itu?”

Dada Wuranta menjadi bertambah pepat ketika ia masih saja melihat kakek tua itu tersenyum.

“Katakanlah” desak Wuranta tanpa sesadarnya.

“Sabarlah, Ngger,” sahut orang tua itu, “aku akan mengatakannya perlahan-lahan, supaya aku tidak salah ucap. Dengarlah baik-baik. Angger Wuranta, aku mendapat perintah dari Angger Sidanti untuk membawa Angger menghadap.”

“Tengah malam begini?”

“He,” orang tua itu menjadi heran mendengar jawaban Wuranta, “apa bedanya tengah malam dan tengah hari? Bukankah bagi seorang prajurit, apalagi dalam keadaan yang penting semacam ini, tidak ada perbedaan waktu? Sekarang Angger harus menghadap. Besok pagi Angger Sidanti sudah akan mulai dengan sebuah gerakan yang menentukan. Kau tahu, bahwa apa yang kau katakan kepada Angger Sidanti ternyata tidak benar? Mungkin kau tidak sengaja berbohong, tetapi kalau kesalahan tidak dibetulkan, maka akibatnya akan jauh sekali. Ternyata menurut Ki Tambak Wedi yang baru saja datang dari Jati Anom, Untara sama sekali tidak datang dengan pasukan segelar sepapan. Memang ia membuat gelar sandi dengan menggerakkan orang-orangnya yang dibawanya. Peronda yang hilir-mudik dan penghubung-penghubung berkuda. Tetapi Ki Tambak Wedi tak dapat dikelabuhi. Itulah sebabnya Ki Tambak Wedi memutuskan, sebentar lagi kita berangkat ke Jati Anom. Begitu matahari memanjat langit, begitu kita hancurkan pasukan Pajang. Nah, kau dengar. Itulah sebabnya semua persoalan harus diselesaikan sekarang. Termasuk persoalanmu.”

“Apakah ada persoalan dengan aku?” bertanya Wuranta.

Orang tua itu tertawa. Ketika ia berpaling, maka laki-laki yang berdiri di sampingnya itu pun tertawa pula.

“Aku tidak tahu pasti, Ngger. Apakah persoalanmu itu. Tetapi yang aku tangkap, ternyata Ki Tambak Wedi mencurigaimu. Apalagi ketika Ki Tambak Wedi itu mendengar percakapan di dalam rumahmu. Percakapan yang mencurigakan. Bukankah di dalam rumahmu itu bersembunyi anak-anak muda yang bernama Swandaru dan Agung Sedayu? Apakah dengan demikian tidak sewajarnya bahwa Ki Tambak Wedi menjadi curiga. Bukankah dengan demikian dapat timbul dugaan, bahwa kedua anak muda itu merupakan penghubung antara Angger Wuranta dan Untara tanpa mencurigakan? Tetapi aku tidak banyak mengetahui, Ngger. Aku adalah orang kecil. Tugasku sekarang membawa Angger menghadap Angger Sidanti. Marilah.”

Wuranta memandang wajah orang tua itu dengan pandangan mata yang berapi-api. Kini jelas baginya, bahwa nyawanya telah berada di ujung nenggala Sidanti yang mengerikan itu. Tetapi apakah ia akan dengan suka-rela dituntun oleh kakek-kakek tua itu menghadap pada Sidanti untuk menyerahkan lehernya?

Berbagai persoalan telah merangsang jantung Wuranta. Sesaat ia berdiri saja seperti tonggak. Namun gemuruh di dalam dadanya serasa gemuruhnya perut Gunung Merapi.

Yang juga menumbuhkan pertanyaan di dalam hatinya adalah orang tua yang bernama Ki Tanu Metir. Kalau Ki Tambak Wedi mendengar suara Agung Sedayu dan Swandaru di dalam rumahnya, lalu apakah Ki Tambak Wedi tidak mengetahui bahwa Ki Tanu Metir ada di dalamnya pula?

Wuranta itu tersadar ketika orang tua yang berdiri di mukanya itu berkata, “Sudahkah Angger siap menghadap Angger Sidanti?”

Wuranta memandang wajah orang tua itu dengan tajamnya. Sekilas ia melihat pedang di lambung kakek tua itu dan di lambung laki-laki yang datang bersamanya, seolah-olah ia ingin mengetahui, apakah kedua pedang itu akan mampu mematahkan pedangnya. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa di luar rumah itu pun agaknya berkeliaran orang-orang Sidanti. Karena itu, maka ia harus berhati-hati.

Meskipun demikian, apakah ia akan menurut saja dijerat lehernya seperti seekor kambing yang akan disembelih.

“Aku adalah laki-laki,” katanya di dalam hati, “aku sudah menyanggupi melakukan pekerjaan seperti ini yang oleh Ki Tanu Metir sudah disebut-sebut pula kemungkinan-kemungkinannya. Karena itu aku tidak boleh menghindar. Lebih baik bagiku mati di sini, dikeroyok orang-orang itu daripada aku harus menjawab beribu macam pertanyaan yang pasti akan diberikan oleh Sidanti, Ki Tambak Wedi, dan mungkin juga Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda.”

Karena itu maka tiba-tiba Wuranta itu mundur selangkah sambil meraba hulu pedangnya, katanya, “Kakek, siapakah yang memerlukan, aku atau Sidanti. Kalau Sidanti yang memerlukan aku, biarlah ia datang kemari. Kalau aku yang memerlukannya, maka aku akan datang kepadanya.”

Kakek tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian ditatapnya wajah Wuranta dengan tajamnya. Namun sesaat kemudian ia tersenyum, “Jangan begitu, Ngger. Sebaiknya Angger datang kepadanya, apapun yang akan terjadi. Kami hanyalah utusan-utusan yang tidak banyak mengerti persoalannya. Tetapi aku menyesal bahwa aku telah mengatakan sebagian dari persoalan yang aku ketahui.”

“Tidak, Kakek. Aku tetap di sini.”

“Ah,” orang tua itu berdesah, “jangan memperberat pekerjaan kami.”

Wuranta melihat cahaya mata orang tua itu. Tetapi ia sudah membulatkan tekadnya. Hanya tiba-tiba saja terasa hatinya berdesir tajam ketika teringat olehnya akan nasib Sekar Mirah. Apakah yang akan terjadi dengan gadis itu? Apakah saat ini Alap-alap Jalatunda telah memasuki pondok gadis itu?

Adalah bertepatan sekali, ketika Wuranta sedang mencemaskan Sekar Mirah, maka Alap-alap Jalatunda benar-benar sedang merayap-rayap mendekati pondoknya. Sehabis mendengarkan beberapa penjelasan dari Ki Tambak Wedi tentang Jati Anom yang baru saja dilihat oleh orang tua itu, maka dengan tergesa-gesa Alap-alap Jalatunda berusaha untuk memenuhi pesannya lewat Wuranta meskipun ia tahu bahwa Wuranta pasti akan dipanggil oleh Sidanti. Tetapi ia mengharap Wuranta tidak mengatakan tentang dirinya. Ia mengharap Wuranta memerlukannya untuk mengurangi kesalahannya atau mungkin menolongnya. Seandainya Wuranta akan mengatakan juga tentang dirinya, maka ia akan dengan mudahnya menjawab, bahwa semuanya itu hanyalah fitnah saja. Wuranta itu dapat dituduh sedang mencari kawan menjelang tiang gantungan. Apabila kemudian Sidanti bertanya kepada Sekar Mirah, maka gadis yang telah bersedia menunggunya itu pasti tidak akan mengatakan apa yang telah terjadi.

Namun pertimbangan-pertimbangan Alap-alap Jalatunda ternyata sudah tidak jernih lagi, karena keinginannya yang meluap-luap untuk segera mendapatkan Sekar Mirah. Otaknya seakan-akan sudah tidak dapat lagi dipakainya untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang tepat. Itulah sebabnya, maka ia tidak dapat memperhitungkan, bahwa Sidanti akan segera saat itu juga memanggil Wuranta. Pada sangkanya, maka hal itu akan dilakukannya nanti atau besok atau kapan saja, bahkan mungkin setelah Jati Anom jatuh. Sebab menurut perhitungan Ki Tambak Wedi, Jati Anom pasti tidak akan mampu bertahan terhadap sergapan yang akan dilakukan dengan tiba-tiba. Sayang, bahwa Alap-alap Jalatunda tergesa-gesa meninggakan pertemuan setelah penjelasan Ki Tambak Wedi selesai. Hanya Sanakeling-lah yang kemudian ikut memutuskan, bahwa malam itu juga pasukan Jipang dan Tambak Wedi akan turun ke Jati Anom. Keputusan itu kemudian dibicarakan lagi dalam pertemuan yang lebih lengkap. Tetapi mereka tidak menemukan Alap-alap Jalatunda di dalam pertemuan itu. Seorang yang bertugas di regol banjar pertemuan itu berkata, bahwa ia bertemu dengan Alap-alap Jalatunda yang sedang pergi nganglang.

Tetapi karena Sanakeling bersedia mempertanggungjawabkan keputusan itu bersama beberapa orang pemimpin laskarnya yang lain, maka keputusan itu jatuhlah atas semua kekuatan di Tambak Wedi.

“Aku akan mencari Alap-alap Jalatunda,” berkata Sanakeling, “Kalau aku tidak menemuinya karena ia pergi nganglang ke luar padepokan, maka biarlah aku memanggilnya dengan tanda.”

“Baik,” sahut Sidanti, “sementara ini aku memanggil Wuranta. Anak gila itu lebih baik diselesaikan sekarang daripada menjadi duri di dalam padepokan ini.”

Tetapi baik Sidanti maupun Sanakeling tidak menyangka sama sekali, bahwa Alap-alap Jalatunda itu sedang dituntun oleh nafsunya menuju ke gubug Sekar Mirah.

“Persetan dengan sesorah demit tua itu,” Alap-alap Jalatunda menggerutu di dalam hatinya, “aku sudah terlanjur mengikat janji. Aku harus datang. Kalau ada sesuatu yang penting, biarlah Kakang Sanakeling mendengarnya. Ia pasti akan menyampaikan kepadaku nanti. Tetapi malam ini aku harus bertemu dengan gadis itu supaya kelak semua pesan-pesanku tidak dianggapnya sebagai pesan yang kosong, bahkan berbohong. Kalau mereka memerlukan aku segera maka Kakang Sanakeling pasti akan membunyikan tanda.”

Demikianlah, maka dengan hati-hati Alap-alap Jalatunda melangkah semakin dekat dengan pondok gadis yang sedang menunggunya itu.

Malam pun semakin lama menjadi semakin dalam. Di kejauhan masih saja terdengar burung hantu mengeluh berkepanjangan. Embun yang sejuk setetes-setetes jatuh di antara rerumputan yang hijau kekuning-kuningan.

Desah kaki Alap-alap Jalatunda hampir tidak terdengar. Perlahan-lahan sekali ia mendekat pondok Sekar Mirah. Ia tidak berani mengambil jalan dari depan, sebab ia tahu benar, bahwa Sidanti meletakkan beberapa orang pengawas di sekitar pondok itu. Meskipun Alap-alap Jalatunda tahu juga, bahwa pengawasan itu tidak begitu ketat. Karena Sidanti menganggap bahwa Sekar Mirah tidak akan mungkin dapat lari meninggalkan padepokannya.

Tetapi kali ini Alap-alap Jalatunda cukup berhati-hati. Keinginannya untuk bertemu dengan Sekar Mirah telah mendorongnya untuk berbuat apa saja, asal maksudnya itu tercapai.

Dengan sangat hati-hati anak muda itu merayap-rayap dari satu halaman ke halaman berikutnya. Dengan hati-hati anak muda itu meloncati dinding batu yang satu kemudian dinding batu berikutnya. Ia harus mendekati pondok itu dari belakang, supaya tak seorangpun yang melihatnya.

Pengenalannya tentang padepokan itu sudah cukup baik, sehingga dengan tidak banyak kesulitan, maka Alap-alap Jalatunda itu pun menjadi semakin dekat.

Ketika ia tinggal terpisah oleh selapis dinding batu, maka Alap-alap itu berhenti sejenak. Dicobanya mengatur detak jantung, serta pernafasannya.

“Tengah malam,” desisnya, “mudah-mudahan aku tidak dianggapnya berbohong.”

Namun demikian, dadanya kini menjadi berdebar-debar. Timbullah kebimbangan di dalam hatinya. Bagaimanapun juga ia harus memperhitungkan, apakah yang akan dilakukannya, apabila seseorang melihatnya masuk ke dalam pondok itu.

“Hem,” Alap-alap itu menggeram, “tak akan ada seorang pun yang melihat. Kalau aku berhasil masuk, maka aku akan mendapat sambutan yang tak akan dapat aku lupakan seumur hidupku. Sambutan itu pasti akan sangat berbeda dengan sambutan yang pernah aku terima dari perempuan yang manapun. Nyai Sari, Nyai Lames, dan bahkan Nyai Pinan, yang menyebabkan aku hampir saja menjadi lumat karena kemarahan Tohpati.”

Alap-alap Jalatunda itu menyadari, bahwa Sekar Mirah adalah seorang gadis yang jauh berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah dikenalnya. Perempuan-perempuan yang tidak lagi membedakan, apakah yang datang itu Alap-alap Jalatunda, apakah laki-laki yang manapun juga. Tetapi Sekar Mirah itu telah menunggunya. Alap-alap Jalatunda. Bukan laki-laki yang lain. Bukan pula Sidanti atau Wuranta sendiri.

Angan-angan itu telah mendorong Alap-alap Jalatunda ke dalam suatu tindakan yang lebih berani. Kini pagar yang tinggal selembar itu telah diloncatinya. Dan kini ia telah berada di halaman belakang pondok yang dipakai untuk menyimpan Sekar Mirah oleh Sidanti. Sebuah pondok kecil yang didiami oleh Sekar Mirah seorang diri. Hanya kadang-kadang saja, setiap hari satu dua kali, seorang perempuan tua yang memasak untuknya, datang mengantarkan makanannya dan meminjaminya satu dua lembar pakaian.

Di halaman belakang itu Alap-alap Jalatunda bersembunyi. Sejenak ia berdiam diri melihat keadaan di sekitarnya. Dipasangnya telinga dan matanya sebaik-baiknya. Ia tidak ingin gagal untuk mendapatkan Sekar Mirah malam itu juga.

Ketika tidak seorang pun yang dilihatnya, dan tidak didengarnya gemerisik apapun, perlahan-lahan ia merayap mendekati pondok itu. Ia berlindung dari satu gerumbul ke gerumbul yang lain. Sangat berhati-hati, seperti seseorang yang sedang mengintai lawannya yang sangat disegani.

Akhirnya Alap-alap Jalatunda itu sampai juga beberapa langkah dari dinding pondok Sekar Mirah. Sekali lagi ia menjadi ragu-ragu. Di dalam pondok itu terasa sangat sepinya. Tetapi Alap-alap Jalatunda melihat sinar pelita yang berkeredipan, berloncatan dari lubang-lubang dinding bambu rumah itu.

Terasa suatu pergolakan yang dahsyat di dalam dada anak muda itu. Kadang-kadang tumbuh juga keinginannya untuk membatalkan saja niatnya dan menunggu sampai kesempatan lain yang lebih baik. Tetapi ketika teringat olehnya, bahwa pasukan Untara sudah berada di hadapan hidungnya, maka nafsunya menjadi berkembang kembali.

“Mungkin besok atau lusa aku harus sudah meninggalkan padepokan ini. Mungkin Ki Tambak Wedi akan mengambil keputusan untuk menduduki Jati Anom. Kalau aku harus berangkat besok malam, maka aku tidak akan pernah mendapat kesempatan sama sekali.”

Dengan demikian, maka Alap-alap Jalatunda itu menjadi semakin bernafsu. Kini ia maju beberapa langkah lagi. Dengan sangat hati-hati ia melekatkan tubuhnya pada dinding rumah itu. Beberapa kali ia bergeser, sehingga suatu ketika ia berhenti sambil menarik nafas dalam-dalam. “Di sini gadis itu tidur,” desisnya. Telinganya yang tajam ternyata berhasil mendengar desah nafas Sekar Mirah di dalam pondok itu.

Perlahan-lahan, sangat perlahan-lahan ia mengetuk dinding. Dan sangat perlahan-lahan pula ia menyebut nama Sekar Mirah.

Ternyata ia berhasil membangunkan gadis itu. Ia mendengar pembaringan Sekar Mirah berderit.

“Mirah,” desis Alap-alap Jalatunda.

“Siapa?” bertanya Sekar Mirah. Suaranya hampir tidak terdengar. Dengan demikian maka Alap-alap Jalatunda menjadi sangat gembira. Sekar Mirah benar-benar akan menyambutnya seperti yang diharapkannya.

“Aku, Mirah.”

“Alap-alap Jalatunda?”

Alangkah gembiranya hati anak muda itu. Tanpa sesadarnya terloncat pertanyaannya, “Darimana kau tahu, bahwa aku yang datang?”

“Sidanti tidak akan datang lewat belakang rumah. Apalagi kawanmu telah menyampaikan pesan itu kepadaku siang tadi.”

Alap-alap Jalatunda hampir-hampir menjadi pingsan karena gembira mendengar jawaban itu. Ternyata Wuranta benar-benar telah menepati kesanggupannya, dan Sekar Mirah benar-benar telah menunggunya. Karena itu maka ia berdesis di dalam hatinya, “Terima kasih Wuranta. Kau telah berjasa kepadaku. Tetapi maaf, bahwa aku tidak sempat menolongmu. Mudah-mudahan kau besok atau lusa segera naik ke tiang gantungan, atau mudah-mudahan aku mendapat tugas untuk memenggal lehermu. Aku sekarang sama sekali tidak memerlukanmu lagi.”

Ketika angin malam berdesah di dedaunan membawa udara yang sejuk dingin, maka terdengar Alap-alap Jalatunda berbisik di balik dinding, “Sekar Mirah, apakah benar kau telah menungguku seperti yang dikatakan oleh Wuranta?”

Sekar Mirah terdiam sejenak. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Meskipun demikian Alap-alap Jalatunda mendengar suara Sekar Mirah sendat, “Ya, ya, aku menunggumu.”

Alap-alap Jalatunda menarik nafas dalam-dalam. Kini ia benar-benar telah mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Sekar Mirah. Maka ia tidak akan menjumpai kesulitan lagi masuk ke dalam gubug itu, dan kemudian meninggalkannya.

“O, alangkah bodohnya Sidanti,” desahnya di dalam hati, “ia tinggal akan menemukan Sekar Mirah yang sama sekali tidak seperti yang diharapkannya. Anak itu yang bersusah payah mengambilnya ke Sangkal Putung, maka aku lah yang akan mendapatkannya. Agaknya aku tidak hanya mendapat kesempatan satu kali dua kali datang ke rumah ini, asal aku tidak terbunuh saja besok atau lusa di medan Jati Anom. Seandainya terbunuh sekalipun, maka aku sudah tidak akan menyesal lagi.”

Alap-alap Jalatunda itu pun kemudian bergeser beberapa langkah maju sambil berbisik, “Sekar Mirah, aku akan masuk.”

“Masuklah, pintu tidak terkancing. Aku tidak memasang slarak di dalam.”

“Aku tidak dapat masuk lewat pintu, Mirah. Aku tidak ingin kedatanganku dilihat oleh para pengawas.”

“Kau akan masuk dari mana?”

“Maaf Mirah. Aku akan membuka dinding bambu yang ringkih di sudut rumah ini. Tolong, singkirkanlah pelita, sehingga sinarnya tidak jatuh ke sudut di sebelah kanan ini.”

“Oh. Apakah kau tidak akan mendapat kesulitan?”

“Tidak Mirah. Pekerjaan itu terlampau mudah aku kerjakan.”

“Baiklah. Aku akan memindahkan pelita itu ke sisi sebelah kiri.”

Sesaat kemudian terdengarlah gemerisik kaki Sekar Mirah pada lantai pondoknya, Perlahan-lahan gadis itu berjalan memindahkan pelita minyak tanah ke sisi yang lain.

Alap-alap Jalatunda hampir-hampir tidak dapat bersabar lagi menunggunya. Begitu sinar pelita bergerak, maka anak muda itu segera menarik pedangnya, dan memutuskan beberapa utas tali pengikat dinding pada tiang di sudut rumah. Dinding itu memang tidak begitu kuat, sehingga dalam waktu yang pendek, Alap-alap Jalatunda telah berhasil masuk ke dalamnya.

Ketika Sekar Mirah melihat anak muda itu telah berada di dalam pondoknya, maka tiba-tiba tubuhnya menggigil karenanya. Tiba-tiba ia menyesal bahwa ia telah membuat suatu permainan yang berbahaya. Tetapi meskipun demikian, ia masih tetap menyadari apa yang sedang dihadapinya.

Karena itu, maka sesaat Sekar Mirah itu berdiri saja mematung. Ditatapnya Alap-alap Jalatunda dengan tajamnya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap tenang, dan sadar mempergunakan nalarnya.

Alap-alap Jalatunda yang telah berada di dalam rumah itu pun sejenak berdiri tegak seperti tiang-tiang bambu yang berjajar di dalam rumah itu. Sejenak ia kehilangan akal. Dan sejenak ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya.

Ternyata Sekar Mirah itu sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya. Tidak seperti Nyai Sari, Nyai Lames, dan lebih-lebih Nyai Pinan. Seandainya yang berdiri di hadapannya itu Nyai Pinan, maka perempuan itu pasti akan segera lari menubruknya, menyeretnya duduk di atas ambennya. Tetapi Sekar Mirah tidak berbuat demikian. Tidak menyambutnya seperti yang dibayangkannya. Justru karena itu maka ia menjadi bingung.

Alap-alap Jalatunda mengharap Sekar Mirah itu berlari dan kemudian memeluknya, sambil membisikkan kata-kata-yang mesra. Tetapi yang dijumpainya adalah Sekar Mirah itu berdiri beberapa langkah daripadanya sambil memandanginya seperti memandangi hantu.

Namun Alap-alap Jalatunda itu pun segera menyadari keadaannya. Waktunya tidak terlampau banyak. Ia harus segera menemui Sanakeling dan mungkin Ki Tambak Wedi masih akan mengadakan beberapa pembicaraan lagi. Karena itu, maka ia harus segera meninggalkan tempat itu.

Karena Sekar Mirah masih saja berdiri mematung, maka dengan sepenuh keberaniannya, Alap-alap Jalatunda berkata, “Bukankah kau menungguku Sekar Mirah?”

Sekar Mirah tergagap mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia menjawab, “Ya, aku menunggumu.”

“Waktuku tidak banyak Sekar Mirah. Aku harus segera kembali ke tempat pertemuan.”

Sekar Mirah menjadi merah padam mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak mengetahui maksud sebenarnya dari Alap-alap Jalatunda. Karena itu maka ia menjawab, “Aku hanya ingin tahu maksudmu.”

“He,” kata-kata itu benar-benar mengejutkan Alap-alap Jalatunda. Bagaimana mungkin Sekar Mirah itu masih bertanya apakah maksudnya. Tetapi Alap-alap Jalatunda itu terdesak oleh kesempatan yang sangat sempit. Maka sifat-sifatnya segera nampak pada sikapnya. Dengan kasar ia berkata, “Mirah. Aku menginginimu. Bukankah Wuranta telah mengatakan?”

Sekali lagi wajah Sekar Mirah menjadi merah. Tetapi kini ia hampir berhasil menguasai dirinya. Dengan agak tenang ia menjawab, “Ya, Wuranta telah mengatakannya. Karena itu, aku ingin membicarakannya dengan kau langsung.”

Sesaat Alap-alap Jalatunda berdiri termangu-mangu. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Sekar Mirah. Apakah yang masih harus dibicarakan?

Dalam keragu-raguan itu ia melihat Sekar Mirah membetulkan letak sanggulnya yang kurang rapi karena ia baru saja terbangun dari tidur. Namun dalam keadaannya itu, Alap-alap Jalatunda melihat wajah Sekar Mirah menjadi bertambah cantik. Matanya yang redup dan beberapa helai rambutnya yang jatuh terkulai di sisi telinganya, membuat wajah itu seolah-olah menjadi semakin berseri.

Dengan penuh keragu-raguan, Alap-alap Jalatunda itu kemudian bertanya, “Sekar Mirah, apakah masih ada yang harus dibicarakan lagi?”

Sekar Mirah pun menjadi tidak mengerti pula jalan pikiran Alap-alap Jalatunda. Bukankah menurut pesannya dan seperti yang dikatakannya sendiri, Alap-alap Jalatunda itu menginginkannya.

Karena itu, maka jawabnya, “Alap-alap Jalatunda. Bukankah kau telah menyampaikan pesan lewat Wuranta dan kemudian telah kau ulangi sendiri pula? Bukankah dengan demikian di antara kita lalu timbul persoalan? Alap-alap Jalatunda, apabila benar demikian maka kita harus membicarakan, apakah yang akan kita lakukan?”

Alap-alap Jalatunda menggeleng-gelengkan kepalanya yang mulai terasa pening. Tidak saja karena tuak yang diminumnya ketika ia berada di dalam banjar para pemimpin padepokan tetapi juga karena kata-kata Sekar Mirah itu.

Dalam pada itu Sekar Mirah berkata pula, “Alap-alap Jalatunda. Kita harus tahu benar bahwa apa yang ingin kita lakukan bersama itu berhasil tanpa diketahui oleh Sidanti.”

“Tak seorang pun yang tahu. Aku yakin, bahwa tak seorang pun yang melihat aku masuk kemari.”

“Mungkin Alap-alap Jalatunda, tetapi persoalan kita tidak hanya sekedar persoalan hari ini. Persoalan kita adalah persoalan yang cukup panjang.”

“Sekar Mirah,” sahut Alap-alap Jalatunda, “aku tidak berkeberatan kalau persoalan kita menjadi persoalan yang panjang, tidak hanya berhenti saat ini. Tetapi itu tidak perlu dibicarakan. Aku akan selalu kembali apabila ada kesempatan. Mungkin besok atau lusa aku harus turun ke Jati Anom karena pasukan Untara kini telah berada di depan hidung kita. Apabila aku kemudian kembali ke padepokan ini, aku akan selalu datang kepadamu pula.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Berita kedatangan pasukan Untara mendekati padepokan itu telah membuatnya agak berpengharapan. Tetapi kemudian ia menjadi cemas. Apabila Sidanti menjadi mata gelap, bukankah kedatangan Untara mendekati padepokan itu hanya mempercepat kehancurannya.

Tetapi kini yang berdiri di hadapannya bukanlah Sidanti, tetapi Alap-alap Jalatunda. Dan jawaban Alap-alap Jalatunda tidak dapat dimengertinya.

BUKU 23

MAKA katanya kemudian, “Alap-alap Jalatunda, aku tidak dapat mengerti maksud kata-katamu. Bukankah dengan demikian persoalan kita akan menjadi berkepanjangan? Kau harus berbuat sesuatu supaya kita untuk seterusnya tidak terganggu lagi. Baik oleh Sidanti maupun oleh orang-orang lain.”

“Sekar Mirah,” jawab Alap-alap Jalatunda, “kalau aku dapat datang kemari tanpa diketahui oleh seorang pun, maka pasti tak akan ada yang mengganggu kita, seperti saat ini pula. Tak akan ada seorang pun yang akan mengganggu kita, apa pun yang akan kita lakukan.”

“Tetapi lambat laun pasti akan ada yang mengetahuinya pula. Apabila kau sering datang kemari. Karena itu, apakah kita tidak lebih baik menempuh suatu cara yang lain, yang tidak akan mendapat gangguan apa pun lagi?”

“Apalagi yang harus kita lakukan? Cara yang mana lagi yang harus kita pilih? Kalau tidak ada orang yang mengganggu kita, maka kita tidak usah memikirkan cara yang mana pun juga.”

Akhirnya Sekar Mirah tidak dapat lagi menahan diri ia ingin Alap-alap Jalatunda mengerti maksudnya. Namun agaknya pembicaraan itu menjadi bersimpang-siur. Karena itu maka Sekar Mirah berkata berterus terang. “Begini maksudku Alap-alap Jalatunda. Kita tidak akan dapat berhubungan hanya sekedar bertemu selama kau mendatangi pondokku. Berbicara dan menyusun harapan-harapan saja. Marilah kita hadapi masa depan kita dengan bersungguh-sungguh. Kalau kau benar mengingini aku, maka lakukanlah usaha yang langsung dapat membuka jalan bagi persoalan itu. Bukankah kau masih harus datang kepada kedua ayah-bundaku untuk melamarku? Kemudian kita tentukan hari perkawinan kita. Setelah itu, maka kita akan dapat mencari perlindungan kepada orang-orang yang kita anggap mengerti persoalan kita. Maka semua perbuatanmu, semua yang telah kau lakukan pasti akan dilupakan orang. Akulah yang akan menanggung semuanya. Sehingga persoalan kita sekarang adalah, bagaimana kita berdua dapat menghadap ayah dan ibuku di Sangkal Pulung untuk membicarakan keputusan kita ini.”

Alap-alap Jalatunda mendengar kata-kata Sekar Mirah itu seperti mendengar gemelegarnya Gunung Merapi yang akan meledak. Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat, tetapi sesaat kemudian menjadi kemerah-merahan. Sejenak ia terbungkam, tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun. Diingatnya pula pertanyaan Wuranta yang serupa, bagaimana ia akan mengawini Sekar Mirah. Tetapi hal itu sama sekali tidak ada di dalam benaknya.

“Sekar Mirah,” berkata Alap-alap Jalatunda kemudian dengan suara yang bergetar. Kepalanya menjadi semakin pening. Pening karena kata-kata Sekar Mirah itu dan pening karena pengaruh tuak yang semakin mencengkam jantungnya. “Kenapa kau mencari cara yang terlampau sulit itu? Aku tidak akan mempedulikan apakah ayahmu sependapat atau tidak. Marilah kita nikmati pertemuan kita ini. Dengan bersusah payah aku berusaha memasuki pondokmu ini. Karena itu jangan pikirkan orang yang tidak ada. Yang ada di dalam ruangan ini adalah Sekar Mirah dan Alap-alap Jalatunda. Kita adalah orang-orang yang kesepian, dan kini kita telah bertemu tanpa seorang pun yang akan mengganggu kita, apa pun yang akan kita lakukan.”

Tanah tempatnya berpijak serasa berguncang dengan dahsyatnya ketika Sekar Mirah mendengar dan menangkap maksud Alap-alap Jalatunda. Anak muda yang berdiri dihadapannya itu kini tampak seperti seekor serigala buas yang siap untuk menerkamnya. Karena itu maka tubuh Sekar Mirah menjadi semakin menggigil karenanya. Wajahnya menjadi merah padam dan jantungnya menjadi semakin berdebar-debar.

Untunglah bahwa gadis itu tetap menyadari dirinya. Menyadari bahwa pondoknya telah kemasukan seekor serigala yang buas dan liar. Sedang dirinya sendiri tak ubahnya seperti seekor anak kambing yang lemah.

“Aku harus mempergunakan otakku,” berkata Sekar Mirah di dalam batinya. Ia tidak mau menyerah dalam keputus-asaan.

Apa pun yang dapat dilakukan, akan dilakukannya untuk menyelamatkan dirinya.

Karena Sekar Mirah tidak segera menyahut, maka berkatalah Alap-alap Jalatunda yang menjadi semakin buas, “Mirah. Apa lagi yang kita tunggu?”

Alap-alap Jalatunda itu maju selangkah, dan dengan kaki gemetar Sekar Mirah surut selangkah.

“Kemarilah Mirah,” desis Alap-alap Jalatunda. Tengkuk Sekar Mirah meremang mendengar panggilan itu.

Bahkan ia menjadi semakin jauh surut. Namun Alap-alap Jalatunda itu menjadi semakin mendekat.

“He, kenapa kau menjauh?” bertanya Alap-alap Jalatunda yang kepalanya menjadi semakin pening dan matanya menjadi semakin merah dan liar. “Bukankah kau menunggu kedatanganku? Kini aku telah datang? Aku telah datang memenuhi janji.”

Sekar Mirah menjadi semakin ketakutan melihat wajah yang liar itu. Ia menyesal bahwa ia telah bermain-main dengan seekor serigala. Kini serigala itu telah siap untuk menerkamnya.

Ketika Alap-alap Jalatunda itu melangkah semakin maju, maka Sekar Mirah itu pun menjadi semakin surut. Tetapi akhirnya Sekar Mirah tidak dapat mundur lagi ketika tubuhnya telah melekat dinding biliknya.

Hati gadis itu telah hampir menjadi pepat. Tetapi Sekar Mirah masih mencoba untuk bertahan dengan caranya.

“Mirah. Kenapa kau berdiri di situ?” bertanya Álap-alap Jalatunda. “Apakah kau akan masuk ke dalam bilikmu?”

Pertanyaan itu benar-benar hampir merontokkan segenap nalar dan perasaannya. Namun Sekar Mirah masih berusaha untuk yang terakhir kalinya. Dengan mengumpulkan segenap kekuatannya gadis itu tiba-tiba tersenyum dan berkata, “Alap-alap Jalatunda. Kau memang terlampau tergesa-gesa. Kenapa? Apakah kau sangka bahwa hari hampir kiamat?”

Alap-alap Jalatunda terdiam. Dipandangnya wajah Sekar Mirah yang sedang tersenyum itu. Terpancarlah keheranan pada sorot matanya yang liar.

Dan terdengarlah suara Sekar Mirah, “Duduklah. Bukankah kita dapat bercakap-cakap dengan baik?”

“Waktuku tidak banyak Mirah. Aku harus segera kembali ke banjar para pemimpin padepokan ini. Aku adalah seorang panglima sebuah pasukan yang besar. Pasukan Jipang. Sehingga karena itu tanggung jawabku pun besar pula. Nah, jangan terlampau banyak tingkah. Kau harus membantu aku, supaya aku tidak terlambat apabila ada pembicaraan-pembicaraan yang penting di banjar nanti.”

Dada Sekar Mirah menjadi semakin terguncang-guncang mendengar jawaban-jawaban Alap-alap Jalatunda. Tetapi ia masih mencoba terus. Sekar Mirah yakin, bahwa ia tidak akan dapat membebaskan dirinya apabila Alap-alap Jalatunda memilih jalan kekerasan. Meskipun besok ia dapat mengatakan kepada Sidanti atau kepada orang lain, dan Alap-alap itu digantungnya, tetapi apa yang hilang daripadanya tak akan diketemukan lagi sepanjang hidupnya. Karena itu ia tidak boleh kehilangan akal. Sehingga Sekar Mirah itu masih saja tersenyum untuk melunakkan hati Alap-alap Jalatunda, supaya serigala itu tidak segera menerkamnya.

Tetapi senyum Sekar Mirah itu telah membuat Alap-alap Jalatunda menjadi semakin gila. Pengaruh tuak di kepalanya, serta nafsunya yang hampir tak terkendali telah membuat ia menjadi mata gelap.

“Alap-alap Jalatunda,” berkata Sekar Mirah, “jangan terlampau kasar, supaya Sidanti tidak mengetahui apa yang terjadi di pondok ini. Setidak-tidaknya pengawas-pengawasnya yang sering berkeliaran di sini. Kita harus berhati-hati dan kita harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan.”

“Persetan dengan Sidanti,”sahut Alap-alap Jalatunda. Anak muda itu sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan apa pun juga. Yang tampak di matanya kini adalah Sekar Mirah itu saja.

“Kita tidak dapat menempuh jalan seperti yang kau kehendaki,” sambung Sekar Mirah. “Dengan demikian kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Kita akan selalu dikejar-kejar oleh waktu seperti sekarang ini. Tetapi apabila kita kelak menjadi suami isteri, maka hidup kita akan tenteram. Kau dapat hidup dengan tenang. Dan aku dapat melayanimu dengan tenteram pula.”

“Persetan semuanya itu.”

Dada Sekar Mirah berdesir. Namun ia masih berkata lebih lanjut, “Kau hanya terburu oleh nafsu-nafsu sesat. Tetapi kau tidak membayangkan suatu masa yang panjang. Alap-alap Jalatunda. Ingatlah masa depanmu. Marilah kita pergi ke orang tuaku. Kau akan mendapat tempat yang baik di Kademangan Sangkal Putung.”

Alap-alap Jalatunda itu terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Sekar Mrah dengan mata yang membara. Tampaklah mulutnya berkomat-kamit. Sekar Mirah menunggu jawabannya dengan penuh harap. Tetapi gadis itu hampir menjadi pingsan ketika ia mendengar Alap-alap itu berkata, “Kau akan membujukku, memperalat aku, dan kemudian menjebakku he? Aku bukan seorang yang gila Mirah.”

Sekar Mirah itu pun kemudian berdiri saja seperti patung. Mulutnya serasa tersumbat dan darahnya serasa berhenti mengalir. Ditatapnya saja wajah Alap-alap Jalatunda seperti menatap wajah hantu yang akan menghisap darahnya. Dan sebenarnyalah Alap-alap Jalatunda itu akan menghisap mahkota hidupnya. Lebih baik ia mati dihisap darahnya oleh iblis pemakan darah daripada maksud Alap-alap Jalatunda yang kini berdiri di hadapannya.

Dan Alap-alap Jalatunda itu agaknya benar-benar telah menjadi mata gelap. Selangkah ia maju sambil menggeram, “Sekar Mirah. Kau sangka aku tidak tahu maksudmu itu? Kau pura-pura mengajakku menghadap kepada ayah bundamu. Tetapi belum lagi aku sampai ke Sangkal Pulung, maka leherku pasti akan sudah dijerat. Kau pasti akan memberi kesempatan kepada ayahmu atau kepada siapa saja. mungkin kakakmu yang gemuk itu, untuk bersama-sama mengeroyokku seperti rampogan matian di alun-alun.”

Dada Sekar Mirah serasa akan pecah karenanya. Ia. kini melihat Alap-alap Jalatunda melangkah semakin dekat dan mulutnya masih saja bergumam, “Bagiku Mirah, tak ada jalan lain daripada mendapatkan kau sekarang. Tak pernah ada perempuan yang menolak kedatanganku atau setidak-tidaknya menunda keinginanku. Nyai Lasem, Nyai Pinan, semuanya, dan kini kau. Kau tidak akan dapat menghindar lagi. Perempuan-perempuan justru mengejarku dan memegangi ujung bajuku apabila aku akan pergi. Kau pun harus berbuat demikian.”

Wajah Sekar Mirah kini telah menjadi pucat seperti mayat. Tetapi ia masih juga menyadari bahwa ia tidak seharusnya menyerah dalam keputus-asaan. Dengan memeras keberaniannya ia berkata gemetar, “Alap-alap Jalatunda. Urungkan niatmu.”

“Tak ada yang dapat menahan Alap-alap Jalatunda.”

“Aku akan dapat berteriak memanggil para pengawal. Aku tahu bahwa di halaman di depan rumah ini tinggal para pengawas yang bertugas mengawasi aku.”

“Kalau kau mencoba berteriak, aku cekik kau sampai pingsan. Dan kau tidak akan banyak tingkah lagi.”

“Sidanti akan mengetahui apa yang terjadi kalau kau tidak mengurungkan niatmu. Dan kau akan digantung besok.”

“Persetan Sidanti!” Alap-alap Jalatunda yang sudah bermata gelap dan menjadi kian pening karena pengaruh tuak di kepalanya itu sama sekali sudah tidak dapat berpikir bening. Apalagi ketika sekali lagi ditatapnya wajah Sekar Mirah yang pucat itu tampaknya menjadi kian kuning semburat kemerah-merahan karena cahaya pelita yang menggapai-gapai oleh sentuhan angin. Katanya selanjutnya, “Sidanti tidak akan berani berbuat apa pun atasku. Kini pasukan Untara sudah berada di depan hidung kita. Ia memerlukan anak-buahku. Apakah kira-kira yang akan dilakukan atasku meskipun ia melihat apa yang terjadi sekarang ini? Tidak. Ia tidak akan berani berbuat sesuatu. Ia akan menyesal sepanjang hidupnya, bahwa ia berbuat sebagai seorang banci. Dan aku tidak akan melupakan kemenanganku saat ini. Sekar Mirah. Jangan banyak solah. Kau tidak akan dapat melawan aku dan berteriak memanggil para pengawas. Apalagi menipu aku untuk melarikan kau dari tempat jahanam ini dan kemudian menjerat leherku sendiri.”

Sekar Mirah kini merasa bahwa ia telah berdiri diujung bara api yang menyala. Sebentar lagi ia akan hangus terbakar. Tetapi ia tidak akan dapat menyerahkan diri tanpa berbuat sesuatu. Karena itu tiba-tiba Sekar Mirah pun bergeser setapak.

Alap-alap Jalatunda benar-benar menjadi seolah-olah gila. Mulutnya kemudian bergerak-gerak dan terdengarlah ia tertawa perlahan-lahan seperti iblis yang tertawa melihat sesosok mayat terkapar di hadapannya.

“Akan lari kemana kau Sekar Mirah?”

Sekar Mirah masih mempunyai secercah harapan, meskipun sangat tipisnya. Ia akan dapat berteriak dan para pengawas pun pasti akan datang menengoknya.

Tiba-tiba saja di kejauhan terdengar kentongan berbunyi. Empat pukulan sebelum nada dara muluk diulang dua kali.

Alap-alap Jalatunda yang hampir gila itu masih mendengar tanda itu. Itu adalah tanda bahwa para pemimpin padepokan harus segera berkumpul termasuk para pemimpin laskar Jipang yang berada di padepokan itu.

“Setan!” geramnya. “Apa lagi yang akan diperbuat oleh iblis tua itu.”

Sekar Mirah yang mendengar suara kentongan itu merasa bahwa serigala itu akan mengurungkan niatnya. “Mudah-mudahan suara kentongan itu merupakan suatu pertanda yang memaksa Alap-alap yang liar ini pergi meninggalkan aku,” desisnya di dalam hati. Dan dengan luka di hatinya ia berdoa, “Semoga Tuhan menyelamatkan aku dari tangan anak muda yang gila ini.”

Tetapi kembali harapannya seakan-akan lenyap dihembus oleh angin malam yang kencang ketika tiba-tiba Alap-alap Jalatunda itu berkata, “Persetan dengan segala pertemuan. Aku tidak perlu mengunjunginya. Biarlah semuanya diselesaikan oleh Sanakeling. Aku akan menyelesaikan urusanku sendiri.” Kemudian ia menggeram seperti seekor serigala lapar, “Mirah. Jangan menunda-nunda lagi. Kau dengar waktuku tidak terlampau banyak.”

Sekar Mirah itu kini hampir-hampir menjadi putus-asa. Satu-satunya kemungkinan yang dapat dilakukan adalah berteriak. Kini ia benar-benar kehilangan rasa takutnya seandainya ia akan dibunuh sekalipun. Sebab mati baginya akan lebih baik dari apa yang dapat terjadi saat itu.

Karena itu, maka dengan segenap tenaga yang ada padanya, maka gadis itu telah mencoba untuk berteriak.

Tetapi malang baginya. Ternyata Alap-alap Jalatunda adalah seorang prajurit muda yang lincah. Dengan kecepatan yang sukar dimengerti oleh Sekar Mirah, tiba-tiba saja tangan Alap-alap Jalatunda telah menyentuh mulutnya. Alangkah terkejutnya gadis itu, sehingga suaranya tertahan karenanya. Bahkan demikian terkejut cemas dan takut bercampur baur, Sekar Mirah itu seakan-akan telah kehilangan segenap tenaganya, sehingga ia tidak mendengar bahwa di kejauhan suara kentongan masih juga mengumandang memenuhi padepokan.

Bukan saja Sekar Mirah yang tidak lagi mendengar suara kentongan itu, tetapi Alap-alap Jalatunda pun kini sudah tidak mendengar lagi. Ia sama sekali tidak menghiraukan panggilan Sanakeling atau Sidanti lewat suara kentongan itu. Baginya lebih penting menerkam mangsanya daripada datang memenuhi panggilan itu.

Sekar Mirah pun kemudian benar-benar menjadi putus asa. Tak ada lagi cara yang dapat ditempuhnya untuk membebaskan dirinya. Apabila ia akan berusaha berteriak, maka secepat itu pula Alap-alap Jalatunda akan berhasil membungkam mulutnya.

Tiba-tiba terbersitlah di dalam dada Sekar Mirah itu suatu cara yang masih dapat dilakukannya. Yaitu mati. Satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari tangan Alap-alap itu adalah mati.

Justru karena itu maka timbullah kembali keberanian di dalam dada gadis itu. Keberanian di dalam keputus-asaan. Sehingga dengan demikian tiba-tiba gadis cantik itu menggeram.

Alap-alap Jalatunda melihat sikap Sekar Mirah yang tiba-tiba menjadi garang. Tetapi ia adalah seorang prajurit. Apalagi Sekar Mirah, sedang seorang laki-laki yang menggenggam senjata di tangannya pun dapat dilumpuhkannya.

Perlahan-lahan Alap-alap Jalatunda itu melangkah maju. Dibiarkannya Sekar Mirah menjadi bertambah garang. Bahkan ketika ia telah menjadi semakin dekat, maka Sekar Mirah itu mencoba menerkam wajahnya dengan kuku-kukunya.

Alap-alap Jalatunda tertawa sambil menarik kepalanya.

Tangan Sekar Mirah itu terayun tidak lebih setebal daun di hadapan wajah Alap-alap Jalatunda yang justru menjadi semakin liar. Dan dengan buasnya, Alap-alap Jalatunda itu pun kemudian menangkap tangan Sekar Mirah dan memutar gadis itu sehingga membelakanginya.

Sekar Mirah mengerahkan segenap kekuatannya untuk melepaskan dirinya. Tetapi tangan Alap-alap Jalatunda benar-benar telah menjepitnya seperti sebuah kancing besi. Ketika Sekar Mirah sekali lagi akan berteriak, maka suaranya hilang di dalam mulutnya, karena Alap-alap Jalatunda itu telah membungkamnya dengan telapak tangannya.

Kemudian Sekar Mirah benar-benar tidak akan dapat berbuat sesuatu lagi. Bahkan bunuh diri pun ia sudah tidak mampu. Alap-alap Jalatunda yang buas itu benar-benar telah dapat menguasainya dengan kekuatan yang berlipat-lipat dari kekuatan Sekar Mirah.

Namun Alap-alap Jalatunda itu tidak menyadari, bahwa sepasang mata telah mengintipnya dari balik dinding di belakang rumah itu dengan tajamnya, setajam ujung mata keris berlipat tujuh.

Dengan darah yang mendidih, orang yang mengintip ke dalam pondok itu mengikuti saja apa yang telah terjadi. Dibiarkannya kebuasan Alap-alap Jalatunda itu memuncak. Dengan demikian maka orang itu akan kehilangan segenap kewaspadaannya dan tidak akan melihatnya apabila ia memasuki pondok itu lewat jalan yang tadi dilalui oleh Alap-alap Jalatunda itu sendiri.

Kini ia melihat bahwa Sekar Mirah sudah tidak berdaya lagi. Maka ia tidak akan dapat membiarkannya. Ia tidak ingin terlambat dan menemukan Sekar Mirah telah kehilangan. Karena itu, maka perlahan-lahan ia merayap mendekati sudut rumah yang dindingnya sudah terbuka. Tetapi orang itu tertegun ketika telinganya mendengar sesuatu di muka pondok itu.

Baik orang yang mengintip di belakang dinding itu, maupun Alap-alap Jalatunda dan bahkan Sekar Mirah terkejut bukan kepalang ketika tiba-tiba saja pondok itu berderak dengan kerasnya, sehingga seluruh rumah kecil itu bergetar. Sejenak kemudian terdengar pintu itu terbuka dan sesosok tubuh yang tegap berdiri tegak di muka pintu, seperti sebuah tonggak yang kokoh kuat bertiang besi. Dari sepasang matanya memancar sinar kemerahan yang seakan-akan membakar wajah Alap-alap Jalatunda yang berdiri kaku tegang.

Dengan suara bergetar maka orang yaug berdiri di muka pintu menggeram, “Kau Alap-alap kerdil.”

Sejenak Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Tetapi sorot matanya pun kemudian memancarkan api kemarahan.

“Apakah kau sudah menjadi gila?” sambung orang yang berdiri di muka pintu.

“Kenapa kau menggangguku, Sidanti?” sahut Alap-alap Jalatunda tidak kalah garangnya.

Dada Sidanti hampir meledak mendengar kata-kata Alap-alap yang lapar itu. Tetapi ia menjawab, “Perbuatanmu adalah perbuatan yang paling biadab yang pernah kau lakukan.”

Perlahan-lahan Alap-alap Jalatunda melepaskan Sekar Mirah. Demikian gadis itu terlepas dari tangannya, maka gadis itu pun segera terjatuh di tanah. Meskipun Sekar Mirah tidak pingsan, tetapi otot bayunya seakan-akan telah dilolosi. Namun kedatangan Sidanti itu sedikit memberinya harapan. Meskipun kalau ia kemudian lepas dari tangan Alap-alap itu, maka suatu ketika Sidanti sendiri akan menerkamnya pula. Tetapi ia masih mempunyai waktu.

Kini Sidanti dan Alap-alap Jalatunda telah berdiri berhadapan, tetapi Alap-alap Jalatunda menyadari bahwa Sidanti tidak seorang diri. Tetapi Sidanti agaknya telah membawa beberapa orang laskarnya bersamanya.

“Sidanti, aku masih ingin memberimu peringatan. Tinggalkan tempat ini. Jangan kau ganggu aku.”

Terdengar gigi Sidanti gemeretak. Katanya, “Apakah aku harus membiarkan kebiadabanmu itu tanpa berbuat sesuatu.”

“Jangan terkejut, bahwa Sekar Mirah telah memilih aku dari padamu.”

“Tutup mulutmu!” teriak Sidanti, “aku tidak percaya. Kau pasti tidak usah mempergunakan kekerasan apabila demikian.”

“Persetan dengan mulutmu! Seandainyai demikian, maka apakah yang akan kau lakukan? Ayo, majulah bersama semua orang-orangmu yang kau bawa sekarang. Aku tidak akan gentar. Aku tidak akan lari. bahkan saat inilah yang aku tunggu-tunggu. Kapan aku dapat membalas sakit hatiku, pada saat aku mendengar apa yang telah kau lakukan atas Kakang Plasa Ireng.”

Wajah Sidanti menjadi merah padam mendengar sindiran itu. Terdengar giginya gemeretak, tetapi justru mulutnya serasa terkunci untuk sesaat. Sehingga Alap-alap Jalatunda masih berkata terus, “Kau menganggap perbuatanku ini sebagai suatu kebiadaban. Lalu katakan, apa yang pernah kau perbuat atas Kakang Plasa Ireng. Bukankah itu juga kebiadaban yang lebih biadab dari tindakanku kali ini. Aku hanya dapat dianggap melanggar pagar kesusilaan. Tetapi kau telah melanggar pagar perikemanusiaan. Menurut aku, maka kemanusiaan lebih berharga dari kesusilaan.”

“Persetan!” jawab Sidanti berteriak keras sekali. “Pendirianmu itu benar-benar pendirian seorang yang telah menjadi gila. Kau sangka apa yang kau lakukan ini bukan suatu pelanggaran kemanusiaan. Kau akan merenggut sesuatu yang paling berharga dari Sekar Mirah. Gadis itu akan menderita sepanjang hidupnya. Ia akan merasa tidak berharga lagi. Dan bagi seorang gadis akan lebih baik mati bunuh diri daripada hidup dalam keadaannya.”

Terdengar Alap-alap Jalatunda itu tertawa terbahak-bahak. Kepalanya kini benar-benar telah dicengkam oleh pengaruh tuak. Jawabnya, “O, Sidanti. Kau merasa tanganmu bersih sebersih tangan bayi. Siapakah yang membawa domba itu ke kandang serigala? Bukan salah serigala kalau ada kesempatan menerkam anak domba yang manis ini.”

Kembali terdengar gigi Sidanti gemeretak. Sejenak ia terbungkam tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun.

Sepasang mata dibalik dinding di belakang rumah itu mengikuti semua peristiwa itu dengan saksama. Dilihatnya raksasa-raksasa padepokan ini berkumpul di pondok yang kecil itu.

Orang itu bergumam dalam hatinya, “Untung Sidanti itu tidak terlambat. Aku pergi lama kemudian sesudah ia meninggalkan pondoknya. Tetapi kenapa baru sekarang ia hadir di sini? Ah, sebagai seorang pemimpin mungkin ia memerlukan singgah di tempat-tempat tertentu.”

Suasana rumah itu untuk sesaat dicengkam oleh kesepian yang mengerikan. Wajah-wajah yang berada dipondok itu menjadi semakin lama semakin tegang.

Apalagi ketika seorang yang tegap bersenjata sebatang tombak pendek melangkah masuk sambil berkata, “Apa yang kau tunggu Sidanti. Sebaiknya kau binasakan monyet itu.”

“Ha, kau akan ikut serta pendatang dari Menoreh. Meskipun kau bernama Argajaya, tetapi kau sama sekali tidak dapat menakut-nakuti anak-anak sekalipun. Soal ini adalah soal antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda. Persoalan ini adalah persoalan seorang gadis, kau tahu. Nah, sebaiknya kau minggir saja. Meskipun seandainya kau akan turut serta, maka aku pun bersedia melayanimu berdua.”

“Setan alas!” teriak Argajaya yang hampir saja meloncat sambil berteriak. “Aku sendiri mampu membunuhmu.”

Alap-alap Jalatunda mundur setapak. Tetapi Argajaya itu tidak jadi meloncat maju. Di antara orang-orang yang berdiri di muka pintu datanglah seorang yang acuh tidak acuh saja melihat semua peristiwa itu. ia berjalan sambil mulutnya mengunyah segumpal daging rusa muda. Dengan seenaknya ia masuk ke dalam gubug itu, kemudian bersandar dinding di dekat Alap-alap Jalatunda berdiri.

Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi semakin tegang melihat kehadirannya. Ia sama sekali tidak mengetahui, apakah maksud kedatangannya, karena wajahnya yang hitam itu sama sekali tidak menunjukkan kesan suatu apa.

Baru sejenak kemudian orang itu berkata, “Kau ulangi lagi peristiwa yang serupa Alap-alap yang malang. Dahulu kepalamu hampir melesat dipukul oleh Tohpati ketika kau membawa Nyai Pinan ke dalam pondokmu. Sekarang kau terpaksa berhadapan dengan Sidanti.”

Alap-alap Jalatunda menggeram, tetapi ia tidak segera menjawab.

“Aku tahu bahwa ilmumu maju dengan pesat tanpa bimbingan seorang guru pun. Tetapi kau tidak akan mampu melawan kedua orang itu bersama-sama.” Kemudian kepada Argajaya orang itu berkata, “Kakang Argajaya. Biarkan saja persoalan anak-anak muda ini. Kita yang sudah lebih tua sebaiknya tidak usah turut campur.”

Wajah Argajaya menjadi merah pula. Jawabnya. “Tetapi ia telah menghina Sidanti.”

“Biarlah Sidanti yang menyelesaikannya. Tidak baik akibatnya seandainya kita yang tua-tua ini akan turut serta.”

“Apakah kau akan membela orangmu yang berbuat gila itu?”

Sanakeling, orang yang sedang mengunyah daging rusa muda itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Kalau ia harus bertanggung jawab secara jantan, maka aku akan membiarkannya. Tetapi kau pun jangan mencampuri urusannya. Kau adalah seorang pendatang seperti kami di padepokan ini.”

Dada Argajaya hampir meledak mendengar kata-kata Sanakeling itu. Hampir-hampir ia berteriak menjawab kata-kata Sanakeling. Tetapi tiba-tiba terdengar sebuah panggilan yang mencengkam segenap jantung orang-orang yang berdiri di tempat itu, “Sidanti.”

Sidanti berpaling. Ia melihat Ki Tambak Wedi tergesa-gesa memasuki tempat itu. Dengan wajah yang merah padam ia bertanya, “Apakah yang telah terjadi?”

Sidanti mengatakan dengan singkat apa yang telah dilihatnya, dan Ki Tambak Wedi pun menggeram pula. “Perempuan ini adalah biang keladi dari kegagalan rencanaku. Supaya tidak ada persoalan lagi di antara kita dan kita dapat meneruskan rencana penyerangan ke Jati Anom maka sebaiknya perempuan ini dibunuh saja. Besok fajar kita datang ke Jati Anom dan melemparkan mayatnya di hadapan pasukan Untara.”

Semua wajah yang mendengar kata-kata itu tampak berkerut-merut. Hampir tak masuk di dalam akal mereka, bahwa Ki TambaK Wedi telah mengucapkan kata-kata itu. Namun justru dengan demikian maka mereka berdiri tegang tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun. Sedang Sekar Mirah yang masih terduduk dengan lemahnya di tanah, tiba-tiba menengadahkan wajahnya. Dalam keputus-asaan ia bahkan mampu menyahut, “Bagus. Itu adalah keputusan yang paling baik buat aku.”

Tetapi agaknya Sidanti berpendirian lain. Sejak lama ia terpikat oleh gadis itu, yang kemudian dengan susah payah diambilnya dari Sangkal Putung. Tetapi sekarang gurunya mengambil suatu sikap yang terlampau keras. Karena itu maka katanya, “Guru. aku memerlukan gadis itu.”

“Buat apa kau inginkan gadis Sangkal Putung itu?” bertanya gurunya.

“Bukankah guru menyetujui pula pada saat aku mengambilnya?”

“Aku mempunyai kepentingan lain dengan gadis itu. Dengan gadis itu di sini, maka Untara tidak akan berani dengan serta-merta saja menghancurkan padepokan ini, meskipun ia membawa pasukan seluruh prajurit Pajang.”

“Kenapa ia akan dibunuh?” bertanya Sidanti. “Apabila gadis itu sudah mati, maka Untara tidak akan terpengaruh oleh gadis yang sudah mati itu.”

“Ternyata pasukan Untara sama sekali tidak berarti bagi kita di sini. Kalau kalian tidak menjadi gila karena gadis itu, maka pada saat fajar nanti menyingsing maka kalian pasti sudah akan menghancurkan pasukan Untara di Jati Anom.”

“Guru,” berkata Sidanti kemudian, “aku mohon gadis ini dihidupi. Aku ingin mengambilnya sebagai seorang isteri. Kalau Sidanti kelak menggantikan kedudukan ayahanda Argapati di pegunungan Menoreh, maka ia akan menjadi seorang isteri yang kajen keringan. Aku sama sekali tidak berhasrat mempermainkannya seperti Alap-alap yang gila ini.”

“Persetan dengan keinginanmu!” potong Alap-alap Jalatunda. “Aku tidak peduli apakah ia akan kau ambil sebagai isterimu atau kau bunuh sekali. Aku hanya akan mengambilnya yang aku ingini daripadanya.”

“Diam!” teriak Sidanti dengan kemarahan yang meluap-luap.

“Seharusnya kau diam saja,” berkata Ki Tambak Wedi kepada Alap-alap Jalatunda.

“Itu tidak adil,” tiba-tiba terdengar Sanakeling yang berdiri bersandar dinding sambil melipat tangan di dadanya. “Persoalan ini adalah persoalan Sidanti dan Alap-alap Jalatuda. Kalau Sidanti dapat dan boleh menyatakan pendiriannya, maka Alap-alap Jalatunda pun harus mendapat kesempatan yang serupa.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Tetapi ia adalah seorang yang cukup memiliki perhitungan. Karena itu, betapa hatinya menjadi marah mendengar bantahan Sanakeling, tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu atasnya, karena di belakang Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda itu berdiri sepasukan laskar yang kuat.

“Aku pun ingin bersikap adil,” tiba-tiba Sidanti menggeram, “karena itu guru, serahkan persoalan ini kepadaku dan kepada Alap-alap Jalatunda.”

“Bagus!” sahut Alap-alap Jalatunda lantang. “Itu adalah sikap jantan. Kita melakukan perang tanding, Kalau aku mati dalam perkelahian ini, maka aku merasa puas, karena taruhannya cukup berharga bagiku. Bukankah taruhan dari perang tanding itu nanti adalah Sekar Mirah? Kalau kau menang Sidanti, maka Sekar Mirah menjadi milikmu. Apakah ia akan kau peristeri atau apa saja, sekehendak hatimu. Tetapi kalau aku menang, maka kau tidak boleh mencampuri lagi urusanku dengan gadis itu. Apakah yang akan aku lakukan.”

“Aku terima tantanganmu,” sahut Sidanti tidak kalah lantangnya.

Namun kemudian ruang yang tidak terlalu luas itu digetarkan oleh teriakan Sekar Mirah, “Tidak, tidak!”

Gadis itu pun tiba-tiba berdiri. Seperti orang gila ia berlari kearah Ki Tambak Wedi. Dengan serta-merta Sekar Mirah berpegang baju orang tua itu sambil berteriak-teriak, “Kiai, Kiai. Apakah kau pemimpin orang-orang ini? Kalau demikian, tolong Kiai, perintahkan saja mereka membunuh aku, supaya persoalan ini tidak berlarut-larut. Aku tidak mau jatuh ketangan kedua-duanya. Aku ingin mati saja Kiai. Karena itu bunuh saja aku.”

Sejenak Ki Tambak Wedi diam mematung. Namun kemudian perlahan-lahan didorongnya Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah tidak mau melepaskan baju Ki Tambak Wedi, sehingga orang tua itu berkata, “Lepaskan bajuku. Lepaskan!”

Tetapi Sekar Mirah tidak mendengar kata-kata itu. ia masih saja berteriak-teriak seperti orang kesurupan.

“Lepaskan!” bentak Ki Tambak Wedi kemudian. Sekar Mirah terkejut mendengar bentakan itu. Tiba-tiba ia menyadari keadaannya. Ketika kemudian Ki Tambak Wedi mendorongnya perlahan-lahan, maka Sekar Mirah itu kembali terduduk di tanah.

Sejenak ruangan itu dicengkam oleh kesenyapan. Orang yang mengintip di belakang rumah itu pun terpaksa menahan nafasnya, supaya Ki Tambak Wedi, yang bertelinga setajam telinga serigala itu tidak mendengarnya. Agaknya orang itu mampu menyesuaikan dirinya dengan keadaan, meskipun ia tidak berani berbuat apa-apa. Jangankan setelah kehadiran Ki Tambak Wedi. Terhadap Sidanti dan Alap-alap Jalatunda pun ia harus memperhitungkan seribu satu macam pertimbangan.

Namun orang itu menyadari pula, bahwa di depan rumah itu menjadi semakin banyak orang berkumpul. Baik ia orang padepokan itu sendiri, maupun orang-orang dari laskar Sanakeling. Sehingga di luar gubug itu pun telah dirayapi pula ketegangan seperti yang terjadi di dalamnya.

Ki Tambak Wedi, pemimpin dari padepokan itu menjadi pening melihat keadaan berkembang demikian buruknya. Sedangkan di hadapan hidung mereka telah berkumpul orang-orang Pajang yang sebentar lagi akan dimusnahkan. Tetapi kalau keadaan tidak segera dapat diatasi, maka rencananya pasti akan tertunda.

Karena itu bagaimanapun juga, Ki Tambak Wedi mencoba berusaha untuk meredakan keadaan. Maka katanya, “Baiklah. Kalau kalian telah sependapat untuk melakukan perang tanding, maka baiklah dilakukan lain kali. Sekarang, kita akan melakukan rencana yang telah kita susun. Kita harus turun ke Jati Anom dengan segenap kekuatan. Kita hancurkan pasukan Uutara yang tidak seberapa kuat itu.”

Kesenyapan yang tegang kembali mencengkam ruangan yang tidak terlampau luas itu, Sidanti dan Alap-alap Jalatunda berdiri berhadapan dengan wajah yang membara. Sedang Sanakeling masih saja berdiri sambil melipat tangan di dadanya. Di lambung kirinya tergantung sebilah pedang, sedang di lambung kanannya tergantung sebuah bindi. Di sisi lain Argajaya berdiri tegak meremas-remas tangkai tombak pendeknya.

“Kenapa kalian berdiri saja seperti patung!” bentak Tambak Wedi. “Tinggalkan tempat ini. Siapkan pasukan kalian dan kita akan segera turun ke Jati Anom. Kita masih mempunyai waktu. Kita akan sampai ke Jati Anom sebelum fajar. Setelah beristirahat sebentar kita akan melanda Kademangan itu tepat pada saat matahari terbit.”

Tetapi Alap-alap Jalatunda dan Sidanti belum juga beranjak dari tempatnya, sehingga sekali lagi Ki Tambak Wedi berteriak, “He apakah kalian telah menjadi tuli!”

Kedua orang yang sedang berdiri berhadapan itu benar-benar seperti patung yang mati. Mereka tidak beringsut sama sekali. Bahkan berkedip pun tidak.

Yang berkata kemudian adalah Argajaya, “Urusan ini harus diselesaikan dahulu Kiai. Kalau tidak, maka hubungan mereka di garis perang pun akan dapat mengganggu kelancaran seluruh pasukan.”

“Tidak,” potong Ki Tambak Wedi, “setiap prajurit pasti tahu menempatkan diri. Persoalan pribadi akan disimpan lebih dahulu sebelum persoalan kita bersama dapat diselesaikan. Persoalan Jati Anom bukan persoalan yang dapat diabaikan. Kalau kita kehilangan waktu ini, maka kita akan menyesal sepanjang hidup kita. Karena itu, maka tinggalkan urusan kalian. Kita akan segera berangkat.”

Sanakeling mengerutkan keningnya melihat sikap Argajaya. Karena itu maka ia menyahut, “Aku sependapat, dengan tamu kita yang terhormat itu. Pasukanku tidak akan bergerak sebelum persoalan ini selesai.”

“Tidak, Tidak!” Ki Tambak Wedi benar-benar menjadi marah. Tetapi Sanakeling yang masih saja berdiri dalam sikapnya, tahu benar, bahwa Ki Tambak Wedi saat ini sedang memerlukannya. Memerlukan pasukannya untuk membantu menghancurkan Jati Anom, atau kalau Untara mengambil sikap lebih dahulu, Ki Tambak Wedi memerlukannya untuk mempertahankan padepokan ini.

Melihat sikap Sanakeling dada Argajaya hampir meledak karenanya, seperti juga dada Ki Tambak Wedi. Tetapi Ki Tambak Wedi terpaksa menahan segenap kemarahan itu di dadanya sehingga dada itu menjadi panas sepanas bara.

“Tak akan ada bedanya kalau serangan kita atas Jati Anom itu kita tunda sehari,” berkata Sanakeling.

“Kau seorang prajurit, Ngger,” berkata Ki Tambak Wedi yang tiba-tiba menjadi lunak. “Kau pasti tahu. bahwa satu hari dalam kesempatan seperti ini adalah penting sekali. Jangankan satu hari, sedang sekejap pun di dalam perhitungan tata peperangan akan sangat besar sekali artinya.”

“Kiai benar,” sahut Sanakeling, “tetapi bagi sebuah pasukan yang utuh bulat. Sedang tak ada tanda-tanda pada lawan kita akan mendapat perubahan yang berarti, bukankah begitu? Bahkan seandainya besok datang sepasukan yang kuat dari Pajang, maka kita akan dapat menyusun perhitungan baru. Tetapi menilik keadaan Pajang sekarang, maka apa yang diberikan oleh Karebet kepada Untara itu sudah tidak akan dapat ditambah dengan segera.”

“Kau memperingan persoalan, Ngger,” sahut Ki Tambak Wedi. “Apa pun yang sedang dilakukan oleh Karebet dan Pemanahan, tetapi semakin cepat pekerjaan kita selesai, maka kita pun akan segera melakukan rencana kita berikutnya.”

“Kenapa Kiai berkeberatan memenuhi permintaannya,” potong Argajaya yang wajahnya benar-benar semerah bara. “Beri malam ini kesempatan untuk melakukan perang tanding. Setelah itu apabila kita masih mempunyai kesempatan, kita pergi ke Jati Anom. Kalau tidak, kita tunda serangan kita dengan satu hari.”

Terdengar Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi ia merasa bahwa betapa sulitnya mengatasi keadaan ini. Ia menyesal bahwa ia dahulu mengijinkan Sidanti mengambil perempuan itu dari Sangkal Putung. Ternyata perempuan itu kini telah menumbuhkan kesulitan baginya dan bagi rencananya.

Sejenak Ki Tambak Wedi itu terdiam. Dipandanginya Sidanti dan Alap-alap Jalatunda berganti-ganti. Orang tua itu tahu, bahwa Alap-alap Jalatunda selama ini telah mesu diri, melatih berbagai macam ilmu yang telah dimilikinya dengan berbagai macam cara dan alat. Pasir, batang-batang kayu di tepian, batu-batu, dan melatih kecepatan bergerak. Tetapi menurut penilaian Ki Tambak Wedi, betapa kemajuan yang dicapai oleh Alap-alap Jalatunda, namun ia masih belum akan dapat menyusul Sidanti. Karena itu sebenarnya Ki Tambak Wedi tidak akan mencemaskan nasib muridnya. Meskipun demikian, ia masih juga mencemaskan sikap orang-orang Jipang yang lain. Seandainya Alap-alap Jalatunda itu terbunuh dalam perang tanding, apakah mereka tidak akan membelanya? Harapan Ki Tambak Wedi hanyalah terletalak pada Sanakeling. Menilik sikapnya maka Sanakeling dapat dipercayanya, bahwa ia akan membiarkan perang tanding itu berlangsung dengan jujur dan dalam sikap jantan.

Karena itu, maka setelah tidak diketemukan lagi jalan lain, serta menurut penilikannya di Jati Anom, tidak ada tanda-tanda bahwa akan segera datang perubahan yang berarti, maka akhirnya Ki Tambak Wedi pun dengan hati yang berat berkata, “Baiklah, kalau itu menjadi pilihan kalian. Tetapi ketahuilah, bahwa siapa pun yang kalah dan siapa pun yang menang, maka kita akan kehilangan satu tenaga yang sangat kita perlukan. Karena itu, untuk menghindari hal yang demikian, maka aku menentukan ketetapan, bahwa perang tanding itu berlangsung sampai salah seorang tidak lagi mampu melawan. Tetapi tidak sampai mati. Aku harap kebesaran jiwa kalian dan kejujuran kalian sebagai seorang prajurit jantan.”

Meskipun tanpa berjanji, tetapi hampir bersamaan Sidanti dan Alap-alap Jalatunda terpaling. Wajah-wajah mereka menyatakan, bahwa mereka tidak senang mendengar keputusan Ki Tambak Wedi itu. Bagi mereka, perang tanding hanya dapat diakhiri dengan maut. Sehingga tanpa sesadarnya Sidanti menyahut, “Guru, itu tidak lazim bagi sebuah perang tanding.”

“Aku tidak peduli. Tetapi aku, tetua padepokan ini berhak membuat ketetapan sendiri yang sesuai dengan keadaan di padepokan ini. Satu kematian dari kau berdua, adalah pasti merugikan. Karena itu, maka aku tidak ingin kekuatan kita berkurang dengan sebuah kematian yang sia-sia,” jawab Ki Tambak Wedi.

“Kematian ini bukan kematian yang sia-sia,” potong Alap-alap Jalatunda. “Tetapi kematian ini adalah kematian jantan. Karena itu biarlah kami saling membunuh dengan sikap jantan.”

“Tutup mulutmu!” Ki Tambak Wedi membentak keras sekali sehingga semua yang mendengarnya menjadi terkejut karenanya. Bahkan orang yang sedang bersembunyi di belakang dinding rumah itu pun terkejut pula. “Semua harus tunduk kepadaku. Kalau tidak, aku dapat berbuat apa saja sekehendak hatiku di sini. Tak ada orang yang dapat melawan kekuasaan Ki Tambak Wedi. Aku dapat membunuh seratus limapuluh orang sekaligus dan membunuh seribu orang tidak lebih dari satu malam. Ayo, kalau memang kita sudah ingin meninggalkan tujuan kita. Kalau kita sudah tidak mempedulikan lagi kepada pasukan Untara. Ayo, kita melakukan perang tanding, bunuh-bunuhan di antara kita. Aku cukup seorang diri, dan kalian semuanya di satu pihak. Aku akan berkelahi sampai aku menjadi bangkai. Tetapi di antara kalian yang hidup akan menjadi saksi, berapa banyaknya mayat akan bertimbun di samping mayatku.”

Pengaruh kata-kata orang tua itu ternyata tajam sekali. Sidanti dan Alap-alap Jalatunda tidak lagi berani mengucapkan sepatah kata pun. Sedang Sanakeling, meskipun masih saja berdiri bersandar dinding sambil melipat tangannya, namun ia pun berdiam diri menunggu perkembangan keadaan.

Dengan demikian maka ruangan itu kembali menjadi sunyi. Sinar pelita yang redup bergerak-gerak oleh sentuhan angin malam dari lubang pintu yang menganga.

Karena tidak ada seorang pun yang bersuara, maka berkata pula Ki Tambak Wedi, “Ayo, sekarang, sediakanlah arena. Kita akan mulai dengan perang tanding. Kita akan segera melihat, siapakah yang kalah dan siapakah yang menang. Kemudian perempuan ini tidak akan menimbulkan keonaran lagi.”

Ki Tambak Wedi tidak lagi menunggu sebuah jawaban. Segera ia beranjak dari tempatnya, melangkah ke arah pintu. Tak seorang pun yang menghalanginya. Bahkan beberapa orang segera menyibak memberinya jalan. Di muka pintu orang tua itu berhenti sejenak, sambil berpaling ia berkata, “Arena itu berada di halaman banjar pimpinan padepokan ini. Para pemimpin akan menjadi saksi dan semua orang harus menyaksikannya, selain yang sedang meronda. Setelah itu, apabila masih saja timbul persoalan maka aku sendirilah yang akan membunuhnya.”

Orang-orang di sekitarnya kemudian melihat orang tua itu melangkah dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu hilang di dalam gelapnya malam.

Sepeninggal Ki Tambak Wedi, maka Sidanti pun segera pergi pula sambil berkata, “Aku tunggu kau Alap-alap cengeng.”

“Persetan!” sahut Alap-alap Jalatunda.

Langkah Sidanti terhenti. Hampir-hampir ia melangkah kembali kalau Sanakeling tidak berkata, “Bukan di sinilah arena yang ditentukan oleh Ki Tambak Wedi.”

Sidanti menggeram mendengar kata-kata Sanakeling itu. Dipandanginya wajahnya yang hitam-kelam. Namun Sanakeling sendiri tampaknya seperti acuh tak acuh saja menanggapinya.

Alangkah panasnya hati Sidanti. Namun ia tidak dapat membantah lagi, bahwa memang bukan di ruangan itulah arena yang sudah ditentukan.

Dengan hati yang bergelora ia meneruskan langkahnya diiringi oleh pamannya dan kemudian orang-orang di luar pintu ruangan itu. Alap-alap Jalatunda pun kemudian melangkah keluar bersama Sanakeling yang bergumam, “Kau memang bodoh Alap-alap kerdil. Kau terlampau percaya kepada latihanmu di pinggir kali itu. Dua kali kau terlibat dalam persoalan dengan perempuan, dalam keadaan yang serupa. Kau memang tidak dapat menyamakannya dengan perempuan jalanan yang kau jumpai di mana-mana.”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Tetapi ia sama sekali tidak menyesal menghadapi perang tanding ini. Kecuali kepalanya memang telah dicengkam oleh tuak, juga karena kebenciannya kepada Sidanti telah benar-benar memuncak.

Namun berbeda dengan Alap-alap Jalatunda, Sekar Mirah yang masih juga mendengar ucapan itu, hatinya menjadi semakin pedih. Ternyata dalam tanggapan Alap-alap Jalatunda, dirinya tidak lebih daripada perempuan-perempuan yang dijumpai orang itu di sepanjang jalan. Karena itu, maka tiba-tiba Sekar Murah itu jatuh tertelungkup. Wajahnya disembunyikannya di bawah telapak tangannya. Dan tangisnya meledak tanpa dapat dikendalikannya.

Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda tertegun sejenak. Sesaat mereka berpaling, tetapi ketika Alap-alap Jalatunda akan berbalik, berkatalah Sanakeling, “Kau masih harus melakukan perang tanding untuk dapat menjamahnya.”

Alap-alap Jalatunda mengangguk. Tetapi Sekar Mirah memekik tinggi. Dan tangisnya meledak-ledak semakin keras.

Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu pula diikuti oleh orang-orangnya. Dan pintu depan pun kemudian tertutup. Dua orang pengawas telah mendapat tugas untuk mengawasinya.

Ruangan itu pun kemudian menjadi lengang. Hanya tangis Sekar Mirahlah yang masih terdengar memenuhinya. Tetapi tangis itu pun seakan-akan hilang saja ditelan oleh gelapnya malam. Bahkan kedua pengawas itu pun berjalan menjauh, karena mereka tidak tahan mendengar tangis Sekar Mirah yang sama sekali tidak terkendali.

Tetapi di balik dinding belakang rumah itu, sepasang mata masih saja mengintai dari lubang-lubang dinding, melihat ke dalam ruangan yang lengang itu. Orang itu masih belum beranjak dari tempatnya. Bahkan seakan-akan ia tidak sampai hati untuk meninggalkan Sekar Mirah dalam keadaan itu.

Sekali-sekali orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba timbullah niatnya untuk mencoba masuk dan mencoba menghibur gadis itu supaya berhenti menangis dan tidak lagi terlampau mencemaskan dirinya.

Dengan hati-hati orang itu berdiri. Digesernya tubuhnya ke sudut rumah itu. Tidak dengan sengaja, maka dicobanya untuk melihat dinding di sudut rumah.

Orang itu melihat tali-tali pengikat dinding rumah itu telah diputuskan. Sehingga segera ia tahu cara Alap-alap Jalatunda masuk. “Hem,” ia bergumam lirih sekali, “dari sini Alap-alap itu masuk.”

Kemudaan bulat pulalah tekadnya untuk memasuki ruangan itu pula. Tak ada niat apa pun di dalam hatinya, selain meredakan kepedihan hati Sekar Mirah. Mungkin dengan kehadirannya, maka luka hati gadis itu dapat sedikit terobati, dan dengan kehadirannya, maka gadis itu tidak terlampau dalam dicengkam oleh ketakutan melihat masa-masa yang akan datang.

Perlahan-lahan dan hati-hati sekali ia mencoba menarik dinding bambu di sudut itu. Sedikit kekuatan yang diberikan, maka dinding itu telah menganga. Dan ia akan segera dapat masuk ke dalamnya.

Tetapi orang itu terperanjat bukan main, sehingga darahnya hampir berhenti mengalir. Tanpa diketahui sangkan-paran arah datangnya, tiba-tiba ia telah melihat sesosok tubuh berdiri di sampingnya. Karena itu, maka dengan serta-merta dilepaskannya dinding rumah itu. Selangkah ia meloncat surut sambil menarik pedangnya. Tetapi sebelum ia dapat berbuat sesuatu, maka pedang itu telah terlepas dari tangannya.

Orang itu seolah-olah membeku karenanya. Ia tidak dapat membayangkan, kekuatan dan ilmu apakah yang telah menggerakkan bayangan itu demikian cepatnya, merampas pedang hanya dalam waktu sekejap, dengan seolah-olah tanpa menggerakkan tubuhnya?

Sejenak orang itu tercenung memandangi bayangan yang hanya tampak kehitam-hitaman di dalam gelap malam.

Hatinya berdesir ketika bayangan itu kemudian berkata perlahan-lahan, “Kau memang berani, terlampau berani.”

Tanpa dikehendakinya sendiri orang itu pun menjawab perlahan-lahan, “Apa pedulimu? Tetapi siapakah kau?”

Terdengar suara tertawa lirih.

“Siapa?” orang itu mendesak.

“Untunglah bahwa Ki Tambak Wedi sedang ditegangkan oleh peristiwa yang dihadapinya, yang agaknya sangat memukul hatinya,” bayangan itu berkata seakan-akan tidak menghiraukan pertanyaan orang itu. “Kalau tidak, maka kau pasti sudah menjadi pengewan-ewan di sini, Ngger.”

“Siapa kau?” orang itu mendesak pula, dan ia pun seolah-olah tidak mendengar kata-kata bayangan itu.

“Inilah pedangmu,” berkata bayangan itu sambil memberikan pedang yang dirampasnya.

Orang itu merasa aneh. Tetapi ia merasa pula bahwa orang itu tidak bersikap bermusuhan terhadapnya. Ketika orang itu berkata seterusnya dalam nada yang berbeda, maka orang itu pun sekali lagi terperanjat, “Apakah kau tidak kenal aku, Ngger.”

Nada yang kini adalah nada yang pernah didengarnya. Bahkan sering didengarnya memberinya berbagai macam petunjuk, sehingga dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah Kiai ini Ki Tanu Metir?”

Terdengar bayangan itu tertawa. Suara tertawanya pun kini berbeda dari suara yang didengarnya tadi. “Ah,” desah orang itu, “Kiai mengganggu dan menakut-nakuti aku.”

“Tidak, Ngger,” jawab bayangan yang tidak lain adalah Ki Tanu Metir. “Aku berkata sebenarnya. Angger terlampau berani berbuat malam ini. Mungkin Angger kurang menyadari bahaya yang dapat menerkam Angger setiap saat. Tetapi aku tidak sempat memperingatkan Angger. Untunglah Ki Tambak Wedi benar-benar sedang dibingungkan oleh muridnya.”

“Bagaimana Kiai dapat masuk ke dalam sini?” bertanya orang itu.

“Kenapa Angger Wuranta malam ini tidak turun ke Jati Anom?” bertanya Ki Tanu Metir.

Orang itu, yang tidak lain adalah Wuranta, menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku hampir digantung Kiai. Kalau malam ini aku tidak dapat keluar dari padepokan ini, maka besok pagi, sesudah perang tanding itu selesai, orang-orang padepokan ini akan beramai-ramai memburuku dan menangkap aku seperti menangkap kelinci.”

“Kenapa?”

“Ki Tambak Wedi telah mengetahui segalanya. Bahkan Ki Tambak Wedi telah mengetahui, bahwa Adi Swandaru dan Agung Sedayu berada di rumahku. Tetapi Ki Tambak Wedi sama sekali tidak menyebut Kiai berada di sana pula.”

Orang tua yang terlindung dalam kegelapan itu tegak seperti patung. Tetapi terdengar nafasnya menjadi semakin cepat. Terasa hatinya menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan ia bertanya, “Jadi Ki Tambak Wedi sendiri telah melihat Jati Anom dan rumahmu?”

“Ya. Lalu sepulang dari Jati Anom agaknya para pemimpin padepokan ini mengambil keputusan untuk malam ini juga menyerang Jati Anom.”

“Ya, aku sudah mendengarnya tadi. Tetapi serangan itu tertunda karena peristiwa ini.”

“Ya, Kiai.”

“Kita berselisih jalan,” gumam Ki Tanu Metir. “Ki Tambak Wedi ke Jati Anom, dan aku datang ke mari. Mungkin Ki Tambak Wedi menempuh jalan yang sering kau lalui pula. Aku memang mengambil jalan lain. Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam.

Wuranta pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu sekarang, kenapa ketika Ki Tambak Wedi mengintip rumahnya, yang dijumpainya hanya Swandaru dan Agung Sedayu. Agaknya pada saat itu Ki Tanu Metir telah meninggalkan Jati Anom pula menuju ke padepokan ini.

Dan Wuranta itu pun kemudian bertanya pula, “Tetapi bagaimana Kiai dapat masuk ke dalam padepokan ini?”

Ki Tanu Metir tersenyum. Ia tidak segera menjawab pertanyaan itu, bahkan ia bertanya kepada Wuranta, “Angger. Apakah sebabnya Angger besok akan menjadi orang buruan di dalam padepokan ini? Apakah Ki Tambak Wedi dapat mengetahui hubungan Angger dengan orang-orang Jati Anom?”

“Ya, Kiai,” sahut Wuranta, “justru karena Adi Swandaru dan Agung Sedayu yang berada di rumahku. Sebelum itu Ki Tambak Wedi telah bertanya-tanya pula kepada Sidanti bagaimana saat-saat ia menemukan aku di Jati Anom. Dengan demikian maka Ki Tambak Wedi berkesimpulan bahwa aku harus digantung.”

“Tetapi kenapa Angger dapat datang ke halaman ini?”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Dipalingkannya wajahnya ke arah rumah tempat Sekar Mirah masih berbaring di lantai sambil menangis.

“Biarkan, Ngger. Tangis kadang-kadang dapat menjadi kawan yang baik bagi seorang wanita. Dan kali ini dapat menjadi kawan yang baik bagi kita, karena dengan demikian percakapan kita tidak didengar orang.”

Wuranta mengerutkan keningnya.

“Bukan maksudku membiarkannya dalam keadaan putus-asa, Ngger. Tetapi sementara ini, biarlah ia meringankan perasaannya dengan tangisnya.”

Wuranta masih tegak seperti patung.

“Sekarang, bagaimanakah kau dapat datang kemari? Apakah dengan keputusan Ki Tambak Wedi tentang dirimu, kau tidak mendapat pengawasan sama sekali?”

“Aku memang sudah ditahan Kiai,” jawab Wuranta. “Aku ditahan di dalam sebuah gubug dengan empat orang pengawal.”

“Lalu?”

“Salah seorang daripada mereka memberi aku kesempatan meninggalkan rumah itu.”

“He?” Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya.

“Orang itu adalah seorang tua tempat aku menumpang selama aku berada di padepokan ini. Agaknya ia senang mendengar sendau-gurauku tepat pada siang hari sebelum aku harus masuk ke dalam rumah itu. Orang itu pulalah yang menangkap aku dan membawa aku ke dalam tahanan. Orang itu pulalah yang sepanjang jalan berada di sisiku sambil berbisik, bahwa aku akan dapat melepaskan diri lewat atap yang ditunjukkan kepadaku, yang ternyata beberapa utas talinya telah diputuskannya. Dan aku diperingatkan adanya seorang pengawas di sudut belakang halaman.”

“Kau dapat memaanfaatkannya?”

“Ya, Kiai. Aku berhasil keluar dari atas atap itu dan diam-diam menerkam penjaga yang terkantuk-kantuk di halaman belakang. Pedang ini adalah pedang penjaga itu.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Kau memang mempunyai bakat yang kuat di dalam tubuhmu untuk menjadi seorang petugas sandi. Lalu bukankah dengan demikian kau harus keluar dari padepokan ini supaya kau selamat?”

“Ya Kiai. Orang tua yang memberi aku kesempatan itu berkata kepadaku, “Angger, aku hanya dapat memberi kau petunjuk sampai pada lubang di atap ini. Seterusnya, terserah kepadamu. Juga tentang penjaga yang berada di sudut halaman belakang, di bawah pohon ramin itu. Sayang, aku tidak dapat memberimu petunjuk, darimana kau harus keluar dari padepokan ini. Barangkali kau dapat melakukannya besok apabila pasukan padepokan ini sudah berangkat ke Jati Anom. Dengan demikian aku juga tidak berkhianat terhadap pimpinanku. Sebab apabila kau keluar dari padepokan malam ini, maka kau pasti akan menyampaikan kabar ini kepada orang-orang di Jati Anom.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya mendengar cerita Wuranta. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Angger, kau memang harus segera turun ke Jati Anom sebelum orang-orang itu mencarimu. Kau akan membawa pesan yang harus kau sampaikan kepada Untara. Agung Sedayu dan Swandaru akan mempertemukan kau meskipun kesan tentang dirimu bagi beberapa orang Jati Anom kurang menyenangkan.”

“Tetapi bagaimana aku harus keluar, Kiai?”

Ki Tanu Metir terdiam sesaat. Tiba-tiba ia bertanya, “He, apakah sebabnya orang itu memberimu kesempatan? Apakah bukan sekedar suatu pancingan saja bagimu?”

“Aku rasa tidak, Kiai. Kemarin siang aku berbincang dengan orang itu tentang kesempatan untuk menikmati sinar matahari pagi. Ia berkata kepadaku sebelum aku dilepaskannya. ‘Aku sependapat dengan kau ngger. Aku memang tidak mendapat kesempatan menikmati cerahnya matahari hampir di sepanjang hidupku. Apalagi menikmati keagungan Penciptanya. Sampai setua ini aku adalah budak dari kerja duniawi melulu.’”

Sekali lagi Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hem, agaknya kau mampu juga menyentuh perasaannya yang paling dalam. Nah, Ngger. Sekarang dengarlah. Sebaiknya kau turun ke Jati Anom. Cepat, secepat-cepatnya. Pasukan Untara harus berada di ambang pintu padepokan ini sebelum fajar.”

“He,” Wuranta terkejut, “bagaimana mungkin, Kiai?”

“Keluarlah dari padepokan ini. Aku membawa kuda. Kau pergunakan kudaku. Demikian kau sampai di Jati Anom, maka Agung Sedayu dan Swandaru harus masuk kepadepokan ini secepat-cepatnya. Pasukan Untara yang sempat mendapatkan kuda, kuda yang dibawanya dari Pajang atau kuda yang dapat diambil di Jati Anom harus mendahului yang lain, sedang yang lain secepatnya pula harus menyusul. Aku akan memberi tanda dengan panah sendaren. Ingat, Agung Sedayu harus membawa panah sendaren. Aku atau anak itu harus menunggu di sini.”

“Lalu bagaimana dengan pesan selanjutnya buat Kakang Untara?”

“Ia harus sudah siap secepatnya. Aku mengharap keadaan akan berkembang dengan cepat tanpa dapat terkendali lagi. Aku akan memberikan tanda-tanda untuk setiap gerakan berikutnya.”

Tetapi Wuranta tidak segera beranjak dari tempatnya. Ia masih saja berdiri memandangi wajah Ki Tanu Metir dengan sorot mata bertanya-tanya.

“Apakah masih ada yang ingin Angger tanyakan?”

“Ya, Kiai,” sahut Wuranta.

“Tentang apa?”

“Tentang pesan itu.”

“Pesan itu?” Ki Tanu Metirlah yang menjadi heran, tetapi kemudian ia menyadari bahwa pesannya terlampau singkat buat Wuranta, sehingga, ia masih perlu banyak penjelasan.

Demikianlah Ki Tanu Metir memberinya beberapa penjelasan tentang pesannya. Untara harus membawa seluruh pasukannya ke ambang pintu padepokan Tambak Wedi. Tetapi supaya sebagian dari mereka segera siap dipergunakan apabila perlu, maka mereka yang mendapatkan kuda harus berangkat lebih dahulu. Sedang yang lain harus segera menyusul.

“Kalau aku melepaskan tiga panah sendaren berturut-turut, ingat Ngger, tiga,” berkata Ki Tanu Metir seterusnya, “maka pasukan Untara harus bergerak memasuki padepokan ini. Tetapi kalau aku melepaskan dua panah sendaren berturut-turut beberapa kali, maka mereka harus mengurungkan niatnya dan kembali ke Jati Anom. Sedang apabila aku melepaskan lima panah sendaren berturut-turut beberapa kali, maka aku memberi tahukan bahwa keadaan Jati Anom gawat. Mereka harus bersiap sedia menyingkiri sergapan Ki Tambak Wedi dan menghindari benturan pasukan.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ki Tanu Metir berkata selanjutnya, “Nah, cepat ke Jati Anom, pakai kudaku.”

“Di mana kuda Kiai, dan dari mana aku akan keluar?”

Ki Tanu Metir tersenyum. Jawabnya, “Bukankah kau pernah bercerita tentang urung-urung sungai. Nah, aku masuk lewat urung-urung itu, Ngger. Aku menyelam sejenak, lalu muncul lagi di balik dinding padepokan ini.”

“Oh,” Wuranta berdesah.

“Apakah kau tidak dapat berenang?”

“Dapat, Kiai.”

“Dan apakah kau kira-kira dapat menyelam lewat, urung-urung yang pendek itu?”

“Ya, Kiai.”

“Nah, ambillah kudaku. Kudaku ada di bagian Selatan dari padepokan ini. Kau berjalan saja sepanjang pinggiran sungai. Kau akan menemukan kudaku terikat pada sebatang pohon turi.”

“Apakah Kiai masuk dari sebelah Selatan?”

“Tidak, sangat sulit untuk menentang arus sungai. Aku masuk lewat urung-urung Utara mengikuti arus.”

“Tetapi kenapa kuda Kiai berada di Selatan?”

“Aku siapkan kuda itu lebih dahulu, apabila setiap saat aku harus menghindarkan diri dari padepokan ini. Aku telah meneliti seluruh keadaan di sekitar padepokan ini.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, “Begitu hati-hati orang tua ini, sehingga semuanya telah diperhitungkannya dengan rapi. Dan kini ia harus pergi ke Jati Anom dengan kuda Ki Tanu Metir itu untuk menyampaikan pesannya kepada Untara.”

Sebelum Wuranta berangkat, Ki Tanu Metir masih berpesan, “Kau, dan juga Agung Sedayu dan Swandaru harus berbuat serupa itu pula, Ngger. Kalian nanti harus mengikat kuda-kuda kalian di bagian Selatan meskipun kalian, akan masuk lewat bagian Utara.”

“Baik, Kiai.”

“Nah, yang paling cepat harus sampai di sini adalah Agung Sedayu, Swandaru, dan kau, Ngger. Kalau aku tidak ada karena aku sedang melihat keadaan, maka kalian harus menunggu aku di sini.”

“Baik, Kiai.”

“Kalau keadaan berbahaya bagi kalian aku akan menungu di bawah pohon turi itu. Kecuali kalau aku ditangkap oleh Ki Tambak Wedi.”

Wuranta tersenyum. Jawabnya, “Aku akan segera pergi Kiai, mudah-mudahan aku dapat melakukan tugas ini.”

“Jangan kau pacu kudamu sebelum kau yakin bahwa derap kudamu tidak akan didengar oleh setiap orang di padepokan ini. Demikian pula apabila, kau nanti kembali beserta pasukan berkuda Angger Untara. Apabila mereka menyadari bahwa kau lolos maka keadaan akan dapat berubah dan berkembang ke arah yang tidak kita kehendaki.”

“Baik, Kiai.”

Wuranta itu pun kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir. Orang tua itu masih memberinya beberapa petunjuk dan pesan, kemudian sekali ia berkata, “Jangan kau cemaskan nasib gadis ini. Aku akan mencoba mempertanggung-jawabkannya.”

Wuranta mengangguk. Lalu melangkahkan kakinya hilang di dalam gelap. Namun Wuranta itu harus berhati-hati. Ditempuhnya jalan-jalan yang sepi, yang tidak sering dilalui orang. Namun terasa padepokan itu amat sunyinya. Ketika ia memberanikan diri mendekati simpang-simpang empat di dalam padepokan itu ternyata tak seorang pun yang mengawalnya. Agaknya mereka sedang berkumpul di halaman banjar yang luar untuk dapat menyaksikan apa yang sedang terjadi di sana.

Ketika Wuranta sampai ke pinggir sungai, ia menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia adalah perenang yang baik sejak kanak-anak. Karena itu, maka disangkutkannya kainnya tinggi-tinggi dan betapapun dingin malam menggigit tubuhnya, namun Wuranta itu pun kemudian terjun juga menyelam. Sambil meraba-raba dinding padepokan menyelusur mengikuti arus sungai. Ternyata dinding itu tidak begitu tebal, dan sejenak kemudian ia telah rnuncul pula di seberang dinding di luar padepokan.

“Hem,” Wuranta itu menjadi basah kuyup. Terdengar giginya gemeretak karena dingin. “Segar juga mandi di malam buta.”

Sejenak kemudian Wuranta itu telah menemukan kuda Ki Tanu Metir di pinggir kali di belakang sebuah gerumbul terikat pada sebatang pohon turi yang tinggi. Hati-hati dipakainya kuda itu menuju ke Jati Anom. Tetapi selalu diingatnya pesan Ki Tanu Metir. Dihindarinya jalan yang lazim. Ia melingkar lewat sebuah lapangan perdu yang agak rimbun. Meskipun jalan tidak datar, tetapi Wuranta berhasil memotong arah dan agak jauh dari padepokan ia berhasil menemukan jalan yang harus dilalui. Ketika ia yakin bahwa ia sudah cukup jauh dari padepokan, maka segera ia berpacu seperti angin, meskipun jalan yang ditempuhnya kadang-kadang terjal, tetapi ia ingin segera sampai di Jati Anom untuk menyampaikan pesan Ki Tanu Metir kepada Untara.

Sepeninggal Wuranta, Ki Tanu Metir berdiri diam untuk sesaat. Dicobanya untuk mendengar tangis Sekar Mirah. Ternyata tangis itu masih saja berkepanjangan.

Sejenak orang tua itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian diputuskannya untuk membiarkan saja Sekar Mirah itu dalam keadannnya, supaya tidak menimbulkan kecurigaan pada para pengawasnya. Bahkan Ki Tanu Metir itu pun segera meninggalkan tempat itu dengan hati-hati untuk melihat apa yang sedang terjadi di padepokan ini.

Orang tua itu sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di dalam padepokan ini. Tetapi ia telah mengenal beberapa arah menurut petunjuk dan cerita Wuranta. Sebagai seorang yang telah kenyang minum air di perantauan, maka Kiai Gringsing pun segera mampu menyesuaikan dirinya. Tetapi orang tua itu menyadari sepenuhnya, bahwa di dalam padepokan itu ada seorang yang sebaya dengan dirinya. Bukan saja sebaya umurnya, tetapi hampir segala-galanya. Itulah sebabnya maka ia harus berada di puncak kewaspadaan.

Perlahan-lahan orang itu menyusuri halaman demi halaman. Mengingati setiap pengamatannya atas sesuatu. Pohon-pohon yang cukup besar, rumah-rumah dan pagar-pagar. Dikenalinya setiap regol yang dijumpainya dan arah yang dapat ditempuhnya apabila ia menjumpai bahaya.

Akhirnya dari kejauhan Ki Tanu Metir itu melihat berpuluh-puluh obor yang ditancapkan di halaman. Itu adalah halaman banjar para pemimpin padepokan Tambak Wedi. Ternyata Sidanti dan Alap-alap Jalatunda tidak dapat menunda persoalannya sampai besok apabila matahari telah menyingsing. Mereka benar-benar ingin menyelesaikan persoalannya malam ini. Bahkan sekarang.

Dari kejauhan Kiai Gringsing melihat bahwa laskar padepokan itu benar-benar telah terbagi. Sebagian di sebelah sisi adalah laskar Tambak Wedi, sedang di sisi yang lain, yang tampaknya lebih sigap, adalah para prajurit Jipang. Tetapi kelebihan pada orang-orang Tambak Wedi adalah para pemimpinnya. Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya dan beberapa orang lagi. Mereka adalah orang-orang pilihan, yang mempunyai takaran yang cukup banyak bagi prajurit-prajurit biasa. Apalagi Ki Tambak Wedi sendiri.

Kiai Gringsing masih melihat beberapa orang mempersiapkan arena. Beberapa orang yang lain memasang obor-obor di tempat-tempat yang telah ditentukan. Perang tanding kali ini adalah benar-benar sebuah perang tanding yang sangat menarik.

Sambil melihat persiapan itu Kiai Gringsing masih saja selalu menghitung waktu. Wuranta itu benar-benar diharapkannya dapat menyampaikan pesannya. Kalau tidak, maka Untara akan banyak kehilangan kesempatan. Dan orang tua itu mengharap bahwa Wuranta akan jauh lebih cepat mencapai Jati Anom dengan kudanya. Menurut perhitungannya, maka pasukan Untara yang mendapatkan kuda akan segera datang pula. Sedang mereka yang berjalan akan menyusul. Mereka akan sampai di ambang pintu padepokan ini selambat-lambatnya pada saat fajar menyingsing. Sehingga sesaat sebelum fajar, ia sudah dapat mengharap pasukan berkuda Untara bergerak apabila diperlukan, sementara menunggu pasukannya yang lain.

“Mudah-mudahan aku tidak salah hitung,” gumam Kiai Gringsing di dalam hatinya, “dan mudah-mudahan perkelahian itu tidak segera selesai. Apabila demikian, maka aku akan mendapat kesulitan. Yang paling mungkin aku lakukan adalah melarikan Sekar Mirah, membenamkannya di bawah urung-urung kemudian membawanya bersembunyi di balik belukar. Hem.” Orang tua itu menarik nafas. Tampaklah ia tersenyum, tetapi sejenak kemudian wajahnya telah menjadi tegang kembali. Sebenarnyalah bahwa hatinya selalu gelisah dan berdebar-debar. Tanpa disadari ia telah menggerakkan sepasukan prajurit Pajang di bawah pimpinan senapati muda yang berkuasa di daerah sekitar Gunung Merapi.

“Kalau aku gagal, dan laporannya nanti didengar oleh Ki Gede Pemanahan, maka aku akan digantungnya,” desisnya kepada diri sendiri.

Kini Kiai Gringsing melihat persiapan hampir selesai. Obor-obor telah terpasang berkeliling. Dan sebagian dari laskar kedua pihak telah berada di sekitar arena itu pula.

Sementara itu Wuranta berpacu tanpa mengingat jalan yang dilaluinya. Sekali-sekali kudanya meloncati tempat-tempat yang terjal, dan sekali-sekali terpaksa mendaki sedikit untuk seterusnya berlari lagi menuruni tebing. Yang terpahat di dalam dadanya adalah, secepatnya menemui Agung Sedayu dan Swandaru untuk mempertemukannya dengan Untara.

Waktu yang diperlukan oleh Wuranta ternyata terlampau pendek. Kecepatan kudanya benar-benar mengagumkan dan Wuranta sendiri ternyata mampu menguasai kuda yang sedang berlari dalam kecepatan yang sangat tinggi. Dipilihnya jalan-jalan sempit dan memintas untuk menghindarkan diri dari para peronda dan memilih jarak terdekat.

Tanpa turun dari kudanya Wuranta memasuki halaman rumahnya, sehingga Agung Sedayu dan Swandaru menjadi sangat terkejut karenanya. Berloncatan mereka turun dari pembaringannya dan dengan tergesa-gesa pula berlari ke arah pintu dengan pedang masing-masing di tangan, meskipun belum mereka tarik dari sarungnya.

“Adi Agung Sedayu dan Swandaru,” berkata Wuranta dengan nafas terengah-engah, “marilah, ikut aku. Pertemukan aku dengan Kakang Untara.”

Swandaru dan Agung Sedayu tidak segera menjawab. Suara itu adalah suara Wuranta. Perlahan-lahan Swandaru membuka pintu.

Sejenak mereka menatap wajah Wuranta yang tegang. Kemudian terdengar Agung Sedayu bertanya, “Apakah yang terjadi Kakang Wuranta?”

“Aku harus segera bertemu dengan Kakang Untara.”

“Adakah sesuatu yang penting?”

“Ya. Penting dan tergesa-gesa.”

Sejenak Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan. Kemudian bertanyalah Swandaru, “Apakah yang penting itu?”

“Nanti, nanti kau akan mendengarnya juga. Aku harus menghadap Kakang Untara, tetapi aku tidak berani seorang diri. Sebab ada kesan yang kurang baik tentang diriku.”

Belum lagi Swandaru menjawab, maka mereka pun segera dikejutkan oleh derap dua ekor kuda yang seolah-olah saja langsung meloncat di jalan di muka halaman itu. Ketika kuda-kuda itu telah berada tepat di muka regol, maka mereka pun berhenti. Salah seorang daripada mereka masuk dengan hati-hati ke halaman sambil berkata, “Siapa di situ? Aku melihat seekor kuda memasuki halaman ini. Tetapi terlampau cepat bagi kami yang hanya melihat dari kejauhan. Tetapi agaknya kuda dan penunggangnya masih berada di halaman.”

“Ya,” Agung Sedayulah yang menjawab, “yang datang adalah Kakang Wuranta.”

“He, Wuranta anak Jati Anom?”

“Ya.”

“O, kalau begitu aku berkepentingan dengan anak itu. Bukankah anak itu yang dikatakan selama ini berpihak kepada orang-orang di lereng Merapi, dari padepokan Ki Tambak Wedi.”

Dada Wuranta berdesir mendengar kata-kata itu. Hampir-hampir ia berteriak menjawabnya, tetapi segera disadarinya kedudukannya dan dipercayakannya dirinya kepada Agung Sedayu dan Swandaru.

“Akulah yang bertanggung jawab atasnya saat ini,” jawab Agung Sedayu.

“Kami adalah petugas ronda malam ini. Kamilah yang bertanggung jawab atas keamanan Jati Anom dan sekitarnya.”

“Tetapi aku mempunyai wewenang khusus dari Kakang Untara, senapati di daerah ini, meskipun aku bukan seorang prajurit.”

Kedua prajurit berkuda itu terdiam. Tetapi belum lagi mereka puas dengan jawaban itu, maka kemudian menyusul empat orang peronda datang berjalan kaki masuk kedalam regol halaman setelah sejenak bercakap-cakap dengan prajurit berkuda yang seorang di luar halaman.

“Aku juga melihat kuda itu. Aku ikuti arahnya. Ternyata ia telah berada di sini.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Kini ia pun tahu, betapa ketatnya penjagaan Kademangan Jati Anom yang tampaknya begitu lengang. Tetapi agaknya setiap jengkal tanah selalu mendapat pengawasan yang teliti.

Dalam pada itu pun Agung Sedayu berkata, “Berdasarkan wewenang khusus yang aku miliki, biarlah aku membawa Kakang Wuranta menghadap Kakang Untara.”

Para prajurit yang berada di regol halaman, itu sejenak saling berpandangan. Tetapi mereka harus mempercayai Agung Sedayu. Mereka mengenal anak itu sebagai adik Untara. Dan mereka pun telah mendengar apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu. Karena itu tidak ada alasan bagi mereka untuk mencurigainya.

Meskipun demikian para prajurit itu sejenak masih diselubungi oleh keragu-raguan, sehingga Agung Sedayu berkata, “Berikan kuda kalian. Aku dan Adi Swandaru akan mengantarkan Kakang Wuranta sekarang juga. Ada hal yang penting harus segera diketahui oleh Kakang Untara.”

Kedua prajurit berkuda itu tidak menjawab. Sesaat mereka saling berpandangan. Sementara itu Agung Sedayu telah melangkah di halaman mendekati kedua prajurit berkuda itu diikuti oleh Swandaru.

“Maaf, aku memerlukan kuda kalian untuk kepentingan Jati Anom dan Pajang.”

Kedua prajurit itu menjadi seperti orang yang sedang kebingungan. Prajurit itu tidak berbuat apa-apa ketika Agung Sedayu menarik kendali kudanya, dan bahkan prajurit itu pun meloncat turun tanpa disadarinya. Demikian prajurit yang seorang lagi. Dengan kepala kosong diserahkannya kudanya kepada Swandaru.

“Aku akan pergi ke kademangan,” berkata Agung Sedayu kepada prajurit-prajurit yang berdiri tegak mematung di halaman itu, “susullah kami ke sana. Mungkin kalian pun akan mendengar sesuatu yang penting itu.”

Agung Sedayu tidak menunggu prajurit itu menjawab. Segera ia berkata kepada Wuranta, “Mari Kakang, aku antarkan kau kepada Kakang Untara.”

Sejenak kemudian ketiga ekor kuda itu telah berlari dengan cepatnya menuju ke kademangan. Para prajurit yang melihatnya seolah-olah terpaku beku di tempatnya. Mereka memandangi kepulan debu yang putih yang sesaat kemudian telah lenyap dalam kegelapan malam.

Ketika kuda-kuda itu telah hilang dari pandangan mata mereka maka seolah-olah mereka pun baru menyadari keadaan mereka sehingga salah seorang berkata, “He, kenapa kita berdiri saja di sini. Mari kita lihat, apakah mereka benar-benar pergi ke kademangan.”

Seperti berloncatan berebut dahulu mereka pun segera melangkah pergi, meninggalkan halaman rumah Wuranta, pergi menyusul ketiga ekor kuda itu ke kademangan seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu.

Demikian Wuranta memasuki jalan induk kademangan bersama Agung Sedayu dan Swandaru, segera ia melihat, bahwa penjagaan di Jati Anom pun kini tidak kalah rapatnya dibanding dengan Padepokan Tambak Wedi. Bahkan ia sama sekali tidak dapat menilai, manakah yang lebih kuat di antara kedua pasukan itu. Namun agaknya mata Ki Tambak Wedi mempunyai ketajaman penglihatan yang jauh melampaui penglihatannya.

Karena Wuranta berjalan beriring dengan Agung Sedayu dan Swandaru maka ia tidak banyak mendapat pertanyaan. Bahkan untuk menghindari hal-hal yang dapat memperlambat perjalanan itu, maka Agung Sedayu dan Swandaru sama sekali tidak menyebut-nyebut nama Wuranta. Sebab nama itu mempunyai kesan yang tidak menyenangkan bagi orang-orang Jati Anom, terutama anak-anak mudanya dan bagi orang-orang Pajang yang telah mendengarnya. Wuranta adalah salah seorang yang mereka anggap telah hilang dari lingkungan mereka dan berada di dalam lingkungan lawan.

Tetapi ketika Wuranta memasuki halaman kademangan, maka suasana tiba-tiba menjadi tegang. Di halaman kademangan, Agung Sedayu dan Swandaru tidak lagi berhasil menyembunyikan anak muda itu dari pengamatan anak-anak muda Jati Anom yang berada di halaman kademangannya. Bahkan beberapa orang datang berlari-lari sambil bertanya, “Agung Sedayu, apakah kau telah berhasil menangkapnya?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi wajah Wuranta-lah yang menjadi merah padam. Ketika kuda-kuda mereka berhenti, maka segera mereka dikerumuni oleh beberapa anak muda dan prajurit Pajang. Wajah-wajah mereka menunjukkan pancaran kebencian bercampur-baur dengan teka-teki tentang kedatangan anak muda itu.

“Kita menghadap Kakang Untara,” desis Agung Sedayu. Wuranta tidak menyahut. Setelah mengikatkan kudanya pada tiang di halaman, maka ia pun segera berjalan rapat di belakang Agung Sedayu untuk menghindari hal-hal yang tidak dikehendaki. Namun demikian, Wuranta itu mengeluh di dalam hati sampai demikian dalam pengorbanan yang harus diberikan kepada kampung halamannya. Seandainya tak seorang pun sempat menerangkan apa yang senenarnya dilakukan, maka seandainya ia mati dibunuh anak muda sepadukuhannya, maka mayatnya pasti akan dilempar saja ke kali sebagai seorang pengkhianat. Tetapi kali ini ia masih menggantungkan diri kepada Agung Sedayu. Bukan soal hidup atau mati, tetapi soal kebersihan namanya itulah yang lebih penting baginya.

“Akan kau bawa ke mana anak itu?” tiba-tiba terdengar suara di antara mereka yang berdiri di seputar ketiga anak muda itu.

Agung Sedayu berpaling. Dilihatnya seorang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan, “Oh, kau Kakang Jawawi.”

“Ya, tetapi akan kau bawa ke mana anak itu?” Wuranta mengerutkan keningnya. Jawawi adalah salah seorang anak muda yang banyak mendapat kepercayaan di Jati Anom seperti dirinya. Dan ia sadar sesadar-sadarnya bahwa Jawawi pun telah menjadi salah paham memandang persoalannya.

“Akan aku bawa menghadap Kakang Untara.”

“Jangan,” berkata Jawawi. Matanya menjadi semakin tajam memancarkan kebencian, “Wuranta adalah anak Jati Anom. Persoalannya adalah persoalan kami. Bukan persoalan prajurit Pajang.”

Dada Agung Sedayu dan Swandaru berdesir. Apalagi Wuranta. Tetapi dalam keadaan ini, Wuranta mengambil sikap yang baginya paling menguntungkan. Diam.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Jawawi berkata terus sambil melangkah maju, “Adi Sedayu. Serahkan anak itu kepadaku, kepada anak-anak muda Jati Anom.”

“Jangan, Kakang,” sahut Agung Sedayu. “Yang mempunyai kekuasaan tertinggi di daerah ini sekarang adalah Kakang Untara. Kakang Untara adalah senapati yang mendapat kekuasaan dari Panglima Wira Tamtama.”

“Sekali lagi aku peringatkan,” potong Jawawi, “persoalan ini bukan persoalan prajurit Pajang. Persoalan ini adalah persoalan anak-anak muda Jati Anom.”

Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi sudah pasti bahwa ia tidak akan dapat menyerahkan Wuranta kepada Jawawi. Maka jawabnya, “Kakang, biarlah Kakang Untara. mengambil sikap. Kecuali Kakang Untara sedang mengemban tugas sebagai seorang senapati, ia pun seorang anak Jati Anom pula. Aku pulalah yang menemukan Kakang Wuranta. Aku pun anak Jati Anom. Nah, percayakanlah Kakang Wuranta kepadaku dan Kakang Untara. Kami akan memenuhi keinginanmu, karena kami pun anak-anak muda Jati Anom pula.”

Agung Sedayu tidak ingin persoalan ini menjadi berkepanjangan. Segera ia berjalan maju menyibakkan orang-orang yang mengelilinginya. Wuranta pun mengikutinya, dekat-dekat di belakangnya. Sedang di belakang Wuranta berjalan Swandaru yang gemuk.

Beberapa orang tanpa menyadari, segera menyibak memberi mereka jalan. Tetapi agaknya Jawawi masih belum puas dengan keadaan itu, sehingga segera ia melangkah pula mengikuti Agung Sedayu sambil berkata, “Adi Agung Sedayu. Jangan membuat kami kecewa. Supaya kami tidak berbuat hal-hal yang tidak kalian inginkan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun tetap pada pendiriannya. Jawabnya, “Jangan memaksa, Kakang Jawawi. Supaya keadaan Jati Anom tidak menjadi bertambah kisruh hanya karena kau menuruti perasaanmu saja.”

Wajah Jawawi menjadi merah mendengar jawaban Agung Sedayu. Hampir-hampir ia membentaknya dan mencoba menahannya, seandainya pintu kademangan itu tiba-tiba tidak terbuka. Ketika mereka berpaling, mereka melihat di muka pintu itu berdiri Untara dan Ki Demang Jati Anom.

“Apa yang kalian ributkan?”

Sebelum Agung Sedayu menjawab, terdengar Jawawi mendahului, “Kami hanya ingin Wuranta diserahkan kepada kami. Tetapi Adi Agung Sedayu berkeberatan, sehingga kami terpaksa memaksanya.”

Untara mengerutkan keningnya. Ketika dilihat olehnya dalam keremangan malam, orang-orang berkerumun di halaman demikian tegangnya.

“Bawa anak itu kemari,” tiba-tiba terdengar suara Untara. Suara yang penuh memancarkan kewibawaan seorang pemimpin prajurit yang bertanggung jawab. “Aku mempunyai kekuasaan tidak terbatas di sini sebagai pengemban perintah dari Pajang.”

Tak ada seorang pun yang berani menentang kata-kata itu. Kecuali kata-kata itu mengandung ancaman, tetapi wibawanya seolah-olah memukau setiap hati orang yang mendengarnya. Karena itu ketika kemudian Agung Sedayu membawa Wuranta meninggalkan halaman dan menaiki pendapa kademangan langsung masuk ke pringgitan, orang-orang yang berada di halaman itu hanya memandangi mereka saja. Namun demikian, setelah Wuranta itu hilang di balik pintu pringgitan, terbersitlah kata-kata di antara mereka, bahwa mereka akan menunggu di halaman sampai Wuranta diserahkan kepada mereka. “Hanya kamilah yang berhak menghukumnya,” gumam mereka.

Di dalam pringgitan, Ki Demang Jati Anom memandangi Wuranta dengan hampir tak berkedip, seakan-akan baru pertama kali ini ia melihat. Sedang Wuranta yang merasakan tatapan mata itu, hanya menundukkan kepalanya saja. Ia masih tetap berpendirian, bahwa segala sesuatunya akan sangat tergantung kepada Agung Sedayu dan Swandaru.

“Duduklah Wuranta,” Untara mempersilahkan. Wuranta terperanjat mendengar suara Untara. Suara itu telah dikenalnya sejak beberapa puluh tahun yang lampau, selagi mereka masih kanak-anak. Wuranta telah mengenal Untara dalam permainan, dalam pergaulan yang lebih dewasa, sampai suatu ketika Untara itu meninggalkan Jati Anom mengabdikan diri kepada Adipati Pajang. Tetapi nada suara itu agak berbeda dengan nada suara Untara di masa-masa mudanya. Kini terasa bahwa kata-kata itu diucapkan bukan oleh seorang anak muda padesan seperti dirinya, tetapi nadanya adalah nada seorang pimpinan prajurit.

Wuranta itu pun kemudian duduk diapit-apit oleh Agung Sedayu dan Swandaru. Sekali-sekali anak muda Jati Anom itu mengangkat wajahnya pula, namun kemudian wajah itu pun tertunduk lagi.

“Kau baru datang dari padepokan Tambak Wedi, Wuranta?”

Wuranta mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya, Untara, eh, Tuan, eh.”

“Panggil namaku,” potong Untara.

“Ya, Kakang Untara.”

“Hem,” tiba-tiba terdengar Ki Demang Jati Anom menggeram. Ketika Wuranta beserta orang lain yang berada di dalam pringgitan itu berpaling kearahnya, maka tampaklah wajah itu menjadi tegang. Dengan kata-kata yang bergetar Ki Demang berkata, “Wuranta, ternyata kau sangat mengecewakan kami, orang-orang Jati Anom. Apakah sebabnya maka tiba-tiba saja kau telah berada di padepokan setan lereng Merapi itu? Apakah tanah ini, kampung halaman ini, kurang memberimu kepuasan? Kurang memberimu sandang pangan dan perlindungan?”

“Nanti dulu, Ki Demang,” potong Untara, “jangan tergesa-gesa menyatakan sikap. Aku ingin tahu, kenapa tiba-tiba saja ia menemui Agung Sedayu dan Swandaru.”

Ki Demang menelan ludahnya. Tetapi dadanya serasa menghentaki karena kecewa. Kecewa terhadap anak muda yang pernah dipercayainya.

“Wuranta,” berkata Untara kemudian, “apakah, kau membawa sesuatu berita atau pesan atau apa pun yang penting untukku dan untuk seluruh Jati Anom?”

Wuranta mengerutkan keningnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, maka terpandang olehnya wajah Ki Demang menjadi semakin tegang. Dengan serta-merta Demang Jati Anom itu bertanya, “Apakah artinya ini?”

Untara tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya telah memaksa Wuranta berkata, “Ya, Kakang. Aku membawa pesan Ki Tanu Metir untuk Kakang.”

Wajah Ki Demang Jati Anom menjadi semakin tegang karenanya. Dari sepasang matanya memancar sorot yang mengandung beribu macam pertanyaan.

Untara agaknya dapat menangkap pertanyaan-pertanyaan yang bergumul lewat pancaran mata Demang Jati Anom. Maka supaya pembicaraan seterusnya menjadi lancar maka ia berkata, “Wuranta, apakah pekerjaanmu dapat berjalan dengan baik?”

“Ya, Kakang Untara. Tetapi malam ini adalah malam terakhir bagi Wuranta di lereng Merapi, di padepokan Tambak Wedi. Seharusnya pagi ini aku sudah digantung di muka regol padepokan itu, karena ternyata Ki Tambak Wedi dapat mengetahui perananku.”

“Tetapi kau berhasil melepaskan dirimu.”

“Aku bertemu dengan Ki Tanu Metir.”

“Apakah Ki Tanu Metir ada di dalam padepokan itu?”

“Ya. Ki Tanu Metir telah berhasil masuk ke dalam padepokan setelah Ki Tanu Metir mendapat gambaran tentang daerah itu.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan singkat dikatakannya beberapa hal tentang anak muda yang bernama Wuranta itu. Akhirnya Untara berkata, “Ki Demang, sekarang ternyata peranan Wuranta telah berakhir. Ia tidak akan menjadi orang padepokan Tambak Wedi lagi. Beruntunglah ia berhasil melepaskan diri dan kembali ke Jati Anom. Kalau tidak, maka ia akan menjadi banten sedang mayatnya akan bergantungan di regol padepokan Ki Tambak Wedi.”

Sejenak Ki Demang Jati Anom itu tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Dengan ternganga-nganga dipandanginya wajah Wuranta yang tunduk berganti-ganti dengan wajah Untara yang tersenyum.

“Ki Demang, kau akan berbangga mempunyai seorang anak muda seperti Wuranta. Maafkanlah bahwa segalanya telah dirahasiakan, oleh Ki Tanu Metir, karena Ki Tanu Metir belum banyak mengenal orang-orang Jati Anom sendiri. Anggaplah itu sebagai suatu sikap berhati-hati daripadanya.”

“Oh,” Ki Demang menarik nafas dalam-dalam, setelah getar di dadanya mereda, gumamnya, “maafkan aku Wuranta. O, sungguh aku tidak menyangka bahwa demikianlah keadaan yang sebenarnya. Hem, ternyata telah kau pertaruhkan apa saja yang kau miliki untuk pekerjaanmu. Nyawa dan nama, syukurlah bahwa kau masih tetap hidup.”

“Tuhan melindunginya,” desis Agung Sedayu.

“Ya. ya, Tuhan telah melindunginya,” sahut Ki Demang. “Dan sekarang, apakah pesan yang kau bawa itu?”

“Kakang Untara,” berkata Wuranta kemudian, “pesan ini penting dan tergesa-gesa. Kalau mungkin maka sebelum fajar pasukan Kakang Untara harus sudah berada di ambang pintu padepokan Ki Tambak Wedi.”

“He,” Untara mengerutkan keningnya, “bagaimana mungkin?”

“Keadaan di padepokan Tambak Wedi berkembang terlampau cepat. Meskipun perhitungan Ki Tanu Metir mendasarkan pada persoalan di dalam padepokan itu sendiri, tetapi agaknya Ki Tanu Metir yakin bahwa kali ini Kakang akan dapat berhasil.”

Dahi Untara tampak berkerut-merut, sedang Ki Demang masih belum terlepas sama sekali dari debar jantungnya pada saat ia mengetahui kedudukan Wuranta sebenarnya. Ia masih saja serasa bermimpi melihat anak muda itu duduk di hadapannya sambil memberikan beberapa keterangan dan pesan dari orang yang bernama Ki Tanu Metir.

“Sebenarnya aku mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap Ki Tanu Metir,” gumam Untara.

“Aku melihat hal-hal yang tidak masuk di dalam nalarku,” sahut Wuranta.

“Meskipun demikian, tetapi menggerakkan pasukan demikian tergesa-gesa hampir tidak mungkin aku lakukan.”

“Menurut Ki Tanu Metir, maka pasukan berkudalah yang diperlukannya dahulu. Sedang pasukan yang lain dapat menyusul kemudian.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Senapati yang masih muda itu berpikir dan mencoba membayangkan apa yang sedang terjadi di padepokan Tambak Wedi.

“Apakah perang tanding itu akan sedemikian menarik bagi orang-orang Tambak Wedi dan orang Jipang?” bertanya Untara kemudian.

“Ya, Kakang,” jawab Wuranta.

“Sehingga mereka akan lengah dan tidak menyadari bahwa kita menyerang mereka dengan tiba-tiba? Seandainya demikian, maka apakah mereka tidak akan segera dapat menyusun diri dan melakukan perlawanan? Sedang kekuatan mereka berada di atas kekuatan kita, apalagi hanya sekedar prajurit-prajurit berkuda sebelum prajurit yang lain datang.”

Wuranta tidak segera menjawab. Agaknya ia menjadi ragu-ragu mendengar pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia berkata, “Aku kurang tahu Kakang. Ki Tanu Metir-lah yang membuat perhitungan berdasarkan pengamatannya dan laporan-laporan yang aku berikan setiap saat aku bertemu.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, “Baiklah, aku akan menyiapkan prajurit-prajurit berkuda. Mereka akan dapat mencapai padepokan Tambak Wedi sebelum fajar. Tetapi pasukan yang lain masih memerlukan waktu, sehingga kemungkinan, yang terbesar, mereka akan sampai sesudah matahari terbit.”

“Terserahlah kepadamu, Kakang. Aku hanya sekedar menyampaikan pesan itu. Kemudian aku harus segera kembali bersama Adi Agung Sedayu dan Swandaru. Kami harus memasuki padepokan dan berada di sekitar pondok tempat Sekar Mirah disembunyikan. Kami harus membawa panah sendaren sebagai tanda yang dimaksud oleh Ki Tambak Wedi, yang akan dilepaskan pada saatnya menurut pesannya.”

“Apakah perjalanan itu tidak terlampau berbahaya bagimu serta Agung Sedayu dan Adi Swandaru?”

“Tetapi kami harus kembali segera sebelum semuanya terjadi. Panah-panah itulah yang akan dipakai oleh Ki Tanu Metir untuk memberikan tanda kepada Kakang Untara.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kerut-merut di dahinya menyatakan betapa ia mencoba memecahkan persoalan yang sedang dihadapi.

Akhirnya pemimpin prajurit Pajang di Jati Anom itu berkata, “Baik. Aku akan memenuhi pesan Ki Tanu Metir. Aku akan segera mengumpulkan semua prajurit berkuda. Aku akan minta Ki Demang Sangkal Putung untuk meminjamkan kepada kami, berapa saja kuda yang ada di kademangan ini.”

“Nah. Begitulah Kakang. Mudah-mudahan semua dapat berjalan lancar. Mudah-mudahan rencana Ki Tanu Metir dapat terjadi. Aku hanya dapat membantu menurut kemampuan yang ada padaku. Tetapi apabila kali ini Kakang Untara berhasil, maka aku akan turut berhingga karenanya.”

“Baiklah Wuranta. Sekarang bagaimana dengan kau?”

“Aku akan mendahului bersama adi Agung Sedayu dan adi Swandaru.”

“Pergilah. Hati-hatilah dengan perjalanan yang berbahaya itu. Kalau kalian gagal memasuki padepokan itu dan menyerahkan anak-anak panah sendaren itu kepada Ki Tanu Metir, maka segalanya akan menjadi gagal pula.”

“Baiklah, Kakang. Aku akan berusaha untuk melakukan tugasku sebaik-baiknya”

“Aku mempunyai gambaran yang agak terang tentang peristiwa yang akan terjadi di padepokan itu. Aku dapat mengerti jalan pikiran Ki Tanu Metir. Dan aku sependapat pula. Karena itu, pergilah, dan lakukan tugasmu baik-baik.”

“Baiklah, Kakang,” sahut Wuranta. Kemudian kepada Agung Sedayu dan Swandaru ia berkata, “Marilah kita berangkat. Kita harus mendahului Kakang Untara seperti yang dimaksud oleh Ki Tanu Metir.”

Sebenamya Agung Sedayu dan Swandaru sudah tidak sabar lagi menunggu Wuranta dan Untara berbincang berkepanjangan. Karena itu ketika Wuranta mengajak mereka pergi, maka seperti berjanji mereka menyahut, “Marilah, aku sudah siap.”

Wuranta, Agung Sedayu, dan Swandaru itu pun segera minta diri kepada Untara dan Ki Demang Jati Anom, yang melepaskan mereka dengan hati yang berdebar-debar. Namun ketika mereka sudah sampai di ambang pintu, maka kembali mereka diganggu oleh kecemasan mereka menghadapi anak-anak muda Jati Anom. Karenanya maka langkah mereka pun tertegun sejenak.

“Kenapa?” bertanya Untara.

“Bagaimana dengan Jawawi? Ia salah terima melihat sikapku selama ini, Ki Demang,” berkata Wuranta kepada Ki Demang.

“Bukan hanya Jawawi, aku pun salah mengerti. Tetapi marilah, aku antar kalian keluar halaman. Sesudah itu, selamat jalan melakukan tugas kalian.”

Ki Demang-lah yang kemudian mendahului keluar dari pringgitan menemui anak-anak muda Jati Anom yang masih saja menunggu di halaman.

Ketika Ki Demang turun ke halaman, diikuti oleh Wuranta, Agung Sedayu, dan Swandaru kemudian Untara, maka yang pertama sekali menyambut adalah Jawawi. Katanya, “Nah, Ki Demang. Akhirnya anak itu jatuh juga ke tangan kita. Setelah beberapa hari ia menghantui kita dengan tingkah laku dan perbuatannya, maka sekarang ia tidak akan dapat lagi meninggalkan halaman kademangan ini.”

“Ya, ya Jawawi,” sahut Ki Demang, “demikianlah kiranya apabila dugaan kita atas anak ini benar.”

Jawawi mengerutkan keningnya. Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia masih melihat pedang tergantung di lambung Wuranta. Apakah ia masih berhak membawa pedang itu?

“Tetapi,” berkata Ki Demang seterusnya, “ternyata pimpinan prajurit Pajang masih memerlukannya. Untuk suatu keperluan maka kita belum dapat berbuat apa-apa atas anak muda ini. Biarlah ia kami serahkan saja kepada pimpinan prajurit Pajang di Jati Anom.”

Jawawi benar-benar tidak dapat mengerti pernyataan Ki Demang itu, sehingga beberapa langkah ia maju, “Ki Demang, kami tidak dapat mengerti penjelasan itu.”

“Jelasnya,” berkata Ki Demang, “kita belum dapat berbuat apa-apa atas Wuranta saat ini. Ia masih diperlukan oleh pimpinan prajurit Pajang. Ia harus pergi bersama Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru untuk suatu tugas. Nah, relakanlah, ia pergi. Sebenarnyalah Wuranta adalah seorang anak muda yang tidak seperti kalian sangka. Tetapi kali ini aku kekurangan waktu untuk memberi penjelasan yang berkepanjangan. Untuk kepentingan Jati Anom dan Pajang, biarlah Wuranta pergi. Nanti atau besok kalian akan mendengar, apakah, sebabnya maka kami tidak dapat berbuat apa-apa atasnya.”

“Ki Demang. Apakah sebenarnya yang akan dilakukannya? Kami menjadi bingung. Apakah kami harus mempergunakan kekerasan untuk menangkapnya?”

“Tidak perlu,” sahut Ki Demang, “kita tidak memerlukan kekerasan. Aku akan menjadi tanggungan apabila ia lari. Akulah yang akan kalian tangkap, dan akulah yang akan menggantikannya menerima tuduhan apa pun juga.”

Anak-anak muda Jati Anom saling berpandangan sejenak. Mata mereka memancarkan ketidak-relaan hati mereka menghadapi sikap Ki Demang. Tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Karena itu mereka hanya berdiri saja seperti patung ketika Ki Demang kemudian mempersilahkan Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta untuk segera pergi. “Silahkan. Silahkan melakukan tugas itu.”

“Baiklah Ki Demang,” sahut Agung Sedayu.

Mereka pun kemudian mengemasi kuda-kuda mereka. Dari seorang prajurit Agung Sedayu telah menerima seendong panah-panah sendaren yang akan dipergunakannya nanti untuk memberi tanda. Setelah menyilangkan busur dipunggungnya, maka mereka pun segera meloncat ke atas punggung kuda masing-masing dan kuda itu pun segera berlari secepat angin.

Di perjalanan mereka tidak menjumpai sandungan apa pun. Tak seorang pun peronda dari Tambak Wedi yang mereka jumpai. Agaknya mereka lebih senang atau mungkin lebih tegang menyaksikan arena yang berada di banjar pimpinan daripada melakukan tugas masing-masing.

Seperti pesan Ki Tanu Metir, maka mereka pun tidak menyembunyikan kuda-kuda mereka di arah Utara, darimana mereka masuk, tetapi kuda-kuda itu disembunyikan di arah Selatan, dari mana mereka nanti akan keluar.

Setelah mengikat kuda-kuda mereka di tempat yang rimbun, namun banyak ditumbuhi oleh rerumputan yang hijau, maka segera mereka berjalan tergesa-gesa, mengelilingi pagar tembok dari jarak yang cukup. Seperti pada saat Wuranta keluar dari padepokan itu, maka mereka pun kemudian akan memasuki padepokan itu dengan cara yang sama.

“Kita meloncat turun?” bertanya Swandaru perlahan-lahan.

“Ya,” sahut Wuranta.

“Berenang di bawah permukaan air?” Swandaru mendesak.

“Tidak hanya di bawah permukaan air, tetapi di bawah urung-urung dinding padepokan ini. Apakah kau dapat mengerti Adi?”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berdesis, “Dinginnya bukan main. Bagaimanakah kalau aku membeku di dalam urung-urung itu?”

Agung Sedayu tersenyum, katanya, “Aku akan menyeretmu.” Swandaru tertawa perlahan-lahan. Kemudian dicancutkannya kain panjangnya dan dilepasnya bajunya, diikatkan pada lambungnya.

“Marilah,” ajak Wuranta, “lihat aku.”

“Gelapnya bukan main,” desis Swandaru.

Sejenak kemudian Wuranta pun segera meloncat diikuti oleh Agung Sedayu. Sedang sejenak Swandaru masih ragu-ragu. Giginya beradu kedinginan. Tetapi ia tidak dapat berdiam diri saja di situ, sehingga sejenak kemudian ia pun meloncat pula, terjun ke dalam air.

Ketika Wuranta dan Agung Sedayu telah berada di tepian, maka Swandaru pun masih juga belum nampak. Kedua anak muda itu menjadi berdebar-debar dan cemas. Namun sejenak kemudian mereka melihat sebuah kepala tersembul agak jauh dari tepian.

“Uah,” Swandaru mengeluh begitu ia berdiri di pinggir kali, “kepalaku bengkak.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Terbentur urung-urung itu. Bukan main. Aku kira aku sudah berada di dalam. Ketika aku ingin mumbul kepermukaan air, tiba-tiba kepalaku membentur batu.”

“Latihan yang baik. Latihan apabila kepala itu nanti terbentur tangkai pedang prajurit-prajurit Tambak Wedi.”

Swandaru tertawa, sehingga Agung Sedayu terpaksa mencegahnya, “Hus. Jangan terlampau keras. Kita tidak berada di Kademangan Sangkal Putung atau Jati Anom. Tetapi kita berada di Padepokan Tambak Wedi.”

Swandaru menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tetapi kemudian ia berkata, “Kita tetap dalam pakaian basah kuyup.”

Agung Sedayu dan Wuranta tertawa. Mereka melihat Swandaru menggigil dan giginya beradu.

“Dinginnya bukan main,” keluhnya.

“Mungkin Ki Tambak Wedi menyediakan ganti pakaian, untukmu,” berkata Agung Sedayu.

Swandaru Geni itu pun tersenyum pula. Diraba-rabanya kepalanya yang terbentur urung-urung. Katanya, “Untung aku tidak pingsan di dalam air. Kalau aku pingsan, maka kalian tidak akan menemuiku lagi.”

“Tetapi kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu,” berkata Agung Sedayu kemudian. “Nah, tunjukkanlah, di mana tempat kita berjanji dengan Ki Tanu Metir.”

“Marilah,” sahut Wuranta.

Mereka pun segera melangkahkan kaki mereka. Dengan hati-hati mereka menyusuri tepian sungai, menuju ke tempat Sekar Mirah ditempatkan.

Tetapi tiba-tiba Agung Sedayu menggamit kedua kawannya sambil berdesis perlahan-lahan, “Aku mendengar orang bercakap-cakap.”

“Ya,” sahut Swandaru berbisik. Dan Wuranta pun menyahut pula, “Ya, aku juga mendengar.”

“Kita bersembunyi,” ajak Agung Sedayu, “supaya kita tidak terlampau sibuk nanti.”

Ketiganya pun kemudian segera bersembunyi. Sejenak kemudian suara orang bercakap-cakap itu pun menjadi semakin dekat.

“Marilah, agak cepat sedikit,” ajak salah seorang dari orang-orang yang bercakap-cakap itu, “aku ingin melihat akhir dari perang tanding yang dahsyat itu.”

“Bukan main,” sahut yang lain, “keduanya memang tanggon.”

“Sehari semalam perkelahian itu tidak akan selesai,” potong yang lain.

“Tidak,” berkata yang pertama, “aku masih melihat beberapa kelebihan dari Angger Sidanti. Mungkin Alap-alap yang gila itu tidak akan dapat bertahan sampai fajar.”

“Kau dapat memperhitungkan perkelahian itu? Aku tidak percaya,” sahut yang lain.

“Tetapi aku mendengar orang dari Menoreh itu bercakap-cakap.”

“Jadi bukan taksiranmu sendiri.”

Tak ada jawaban. Mereka pun semakin lama menjadi semakin jauh. Akhirnya percakapan mereka sudah tidak dapat ditangkap lagi oleh Agung Sedayu yang sedang bersembunyi.

Ketika prajurit-prajurit itu sudah menjadi semakin jauh, maka ketiga anak-anak muda itu pun meneruskan perjalanan mereka sambil bercakap berbisik-bisik.

“Agaknya perkelahian itu dahsyat sekali,” desis Swandaru.

“Aneh. Apakah Alap-alap Jalatunda menjadi jauh meloncat maju? Aku sangka jarak antara Alap-alap Jalatunda dan Sidanti agak terlampau jauh, sehingga perang tanding antara keduanya tidak akan makan waktu terlampau lama.”

“Menurut Alap-alap Jalatunda sendiri,” jawab Wuranta, “ia selalu melatih diri di tepian dengan pasir, batu-batu dau kayu-kayuan.”

“Betapapun tekunnya, tetapi berlatih seorang diri tidak akan dapat mendatangkan kemajuan yang sepesat itu,” sahut Swandaru.

“Hal itu mungkin saja terjadi, Adi,” berkata Agung Sedayu. Ia sendiri pernah mengalami. Bukan saja berlatih di tepian, tetapi berlatih di atas rontal. Membuat gambar gerakan-gerakan yang kemudian dicobanya. Dan Agung Sedayu itu meneruskan.

“Mungkin gurunya telah memberinya bekal bermacam-macam unsur gerak yang dapat dihubungkan yang satu dengan yang lain dalam satu susunan yang serasi, serta latihan-latihan jasmaniah untuk memperbesar kekuatan tenaga dan ketrampilan bergerak.”

Swandaru dan Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun mereka tidak mengerti seluruhnya, tetapi keterangan Agung Sedayu itu dapat masuk di dalam akal mereka.

Sejenak kemudian mereka telah menyelusur halaman menuju kepondok Sekar Mirah. Mereka harus sangat hati-hati. Wuranta menyadari bahwa Sidanti meletakkan beberapa orang pengawas di sekitar rumah itu.

Mereka terpaksa melingkar dan masuk ke halaman pondok Sekar Mirah lewat belakang. Sejenak mereka berdiam diri, memperhatikan suasana di sekitarnya.

Malam dengan tenangnya merayap ke ujungnya. Tetapi gelapnya masih saja sedemikian pekatnya, sehingga mereka hampir-hampir tidak dapat melihat apa pun di halaman itu selain bayangan-bayangan tetumbuhan yang hitam kelam.

“Marilah kita mendekat. Aku berjanji dengan Ki Tanu Metir tepat di belakang rumah, di sudut kiri.”

“Marilah,” desis Agung Sedayu. Mereka pun kemudian merayap mendekati pondok itu. Semakin lama semakin dekat, tiba-tiba Swandaru mengangkat wajahnya sambil berdesis. Anak itu masih menangis. Apakah semalaman ia menangis saja?”

Wuranta tidak menyahut. Tetapi mereka kini menjadi semakin dekat dengan sudut rumah itu.

Ketika mereka sampai di balik gerumbul-gerumbul yang rimbun dekat, di belakang rumah itu, maka mereka pun berhenti. Mereka harus menanti Ki Tanu Metir di tempat itu.

Tetapi Swandaru dan Agung Sedayu hampir-hampir tidak dapat menahan diri ketika mereka masih saja mendengar Sekar Mirah menangis terisak-isak. Dengan terbata-bata Swandaru berbisik, “Aku akan masuk. Aku tidak dapat membiarkan Sekar Mirah selalu kecemasan dan ketakutan.”

“Tetapi Ki Tanu Metir berpesan supaya kita menunggu.”

“Kenapa kita harus menunggu? Aku akan membawanya ke luar,” sahut Swandaru.

“Lewat urung-urung?” bertanya Wuranta.

“Apakah tidak ada jalan lain?”

“Ada. Di sana ada sebuah regol yang cukup besar. Tetapi di regol itu, orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang menyambut setiap orang yang akan lewat.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sadarlah ia kini, bahwa ia berada di suatu tempat yang tertutup rapat. Tidak mudah baginya untuk menerobos masuk dan keluar dari lingkungan itu. Meskipun barangkali dengan sedikit kesulitan, dinding padepokan yang tinggi itu dapat juga dipanjatnya, tetapi para peronda yang hilir mudik mungkin akan melihatnya.

Untuk sesaat mereka pun saling berdiam diri. Isak tangis Sekar Mirah masih juga mereka dengar. Semakin lama terasa semakin pedih di hati Swandaru dan Agung Sedayu. Ingin mereka segera meloncat masuk menolongnya dan membawanya lari. Tetapi hal itu ternyata berada di luar kemampuan mereka.

Belum lagi mereka dapat menenangkan diri mereka, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kehadiran sesosok tubuh dekat di belakang mereka. Namun segera mereka dapat mengenalnya. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

“Ha aku memang mengira kalau kalian telah menunggu aku di sini,” desisnya perlahan-lahan.

“Ya, Kiai,” sahut Wuranta.

“Bagus. Apakah kalian tidak lupa membawa panah sendaren?”

“Tidak, Kiai,” jawab Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir tersenyum melihat seendong panah dan busur yang menyilang di punggung Agung Sedayu.

“Di sini banyak dapat diketemukan busur,” berkata Ki Tanu Metir, “tetapi baik juga kau membawanya.”

Agung Sedayu tidak tahu maksud kata-kata Ki Tanu Metir itu, tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

“Sekarang, marilah kita melihat perang tanding yang berlangsung di banjar para pemimpin padepokan ini. Perang tanding antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda. Perang tanding yang benar-benar tanding. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Alap-alap Jalatunda mampu mengimbangi kekuatan Sidanti.”

“Apakah mereka benar-benar seimbang menurut penilaian Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi memang Sidanti mempunyai beberapa kelebihan. Meskipun perkelahian itu dapat berlangsung lama, namun kalau Sidanti tidak membuat kesalahan-kesalahan yang berarti, maka Alap-alap Jalatunda tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Tetapi kelengahan Sidanti itu masih mungkin saja terjadi, sebab Sidanti masih juga merasa mempunyai banyak kelebihan dari lawannya, sehingga beberapa kali hampir-hampir saja ia tergilas oleh amukan Alap-alap Jalatunda yang benar-benar seperti orang gila.”

“Menarik sekali,” desis Swandaru, “marilah kita melihat. Tetapi bagaimana dengan Sekar Mirah itu? Apakah tidak sebaiknya kita lepaskan dahulu dan kita bawa keluar dari padepokan ini?”

“Jalan masih belum terbuka. Aku kira sulit untuk membawanya lewat urung-urung seperti yang baru saja kau lalui.”

“Bagaimana jalan itu dapat terbuka?”

“Marilah kita mengharap bersama-sama. Tetapi apabila terpaksa dan jalan itu tidak juga terbuka, kita akan menempuh jalan yang paling berbahaya, keluar lewat urung-urung.”

“Tetapi bagaimana sekarang?”

“Biarlah kita tinggalkan saja gadis itu untuk sementara,” Swandaru dan Agung Sedayu tidak menyahut. Sebenarnya mereka tidak sampai hati melihat gadis itu menangis terisak-isak dengan penuh ketakutan dan kecemasan akan nasibnya.

“Apakah setidak-tidaknya kita tidak memberitahukan kehadiran kita kepadanya?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

“Itu akan mempengaruhi sikapnya. Mungkin ia akan kehilangan segala akal dan nalarnya, sehingga justru akan menyulitkan. Mungkin gadis itu tidak lagi dapat mengekang perasaannya. Ia akan dapat berteriak-teriak minta supaya ia dilarikan atau untuk kepentingan yang lain. Tetapi dengan demikian maka tugas kita akan gagal.”

Agung Sedayu dan Swandaru dapat mengerti sepenuhnya keterangan gurunya. Karena itu mereka tidak mendesaknya.

“Marilah, kita lihat perkelahian itu,” gumam Ki Tanu Metir kemudian.

“Marilah,” jawab ketiga anak-anak muda itu hampir bersamaan.

Ketiganya pun kemudian dengan sangat hati-hati berjalan mengikuti Ki Tanu Metir menyusup diantara tanaman-tanaman di kebun dan halaman-halaman. Menyelinap di balik gerumbul-gerumbul liar dan rumpun-rumpun bambu yang rimbun. Sekali-sekali mereka harus meloncati dinding halaman yang tidak terlampau tinggi, tidak setinggi dinding padepokan ini.

Tak sepatah kata pun terucapkan dalam perjalanan yang pendek itu. Mereka saling berdiam diri dan berangan-angan. Tetapi mereka pun ingin segera sampai ke banjar para pemimpin padepokan untuk segera melihat apa yang terjadi di arena perang tanding antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.

“Angger Agung Sedayu,” berbisik Ki Tanu Metir, “kalau apa yang aku harapkan tidak terjadi, maka aku akan memberimu isyarat. Kau harus segera kembali ke tempat Sekar Mirah dan mencoba melarikannya lewat urung-urung itu. Memang pekerjaan ini berbahaya bagimu dan bagi Sekar Mirah, tetapi apabila tidak ada jalan lain maka hal ini harus dilakukan. Aku bersama Angger Swandaru dan Angger Wuranta akan mencoba melindungi, sampai kita akan mencapai kuda-kuda kita. Bukankah kalian membawa empat ekor-kuda?”

“Oh,” anak-anak muda itu saling berpandangan. Ternyata mereka lupa membawa seekor kuda kosong untuk Ki Tanu Metir.

“Apakah kalian lupa membawa seekor kuda untukku?”

“Ya, Kiai.”

Ki Tanu Metir tersenyum, “Tidak apa,” katanya, “aku akan ikut di atas kuda Angger Swandaru. Tetapi aku mengharap bahwa kita tidak akan memerlukannya, sebab kita akan melalui jalan yang lapang dan aman tanpa gangguan suatu apa pun.”

Setelah mereka melampaui beberapa halaman, memintasi jalan-jalan sempit dan gelap, meloncati dinding-dinding dan menyusup lewat rumpun-rumpun bambu yang lebat, maka akhirnya mereka melihat cahaya obor yang bersinar terang-benderang tidak terlampau jauh dari mereka.

Ki Tanu Metir yang berjalan paling depan pun berhenti sejenak. Perlahan-lahan ia berbisik, “Nah, itulah, Ngger. Itulah arena perang tanding yang agaknya masih cukup ramai.”

“Marilah kita melihat, Kiai,” ajak Swandaru.

“Hem, kita bukan orang padepokan Tambak Wedi. Apabila salah seorang dari mereka melihat kehadiran kita, maka perang tanding itu akan terhenti sejenak, dan mereka akan beramai-ramai mengejar kita seperti anak-anak sedang mengejar tupai. Karena itu, kita harus cukup berhati-hati.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Ya. Aku mengerti.”

“Kita hanya dapat melihat dari kejauhan. Beruntunglah bahwa perhatian Ki Tambak Wedi seluruhnya telah dirampas oleh perkelahian yang agaknya tidak diduganya. Ki Tambak Wedi benar-benar terkejut melihat tandang Alap-alap Jalatunda. Orang tua itu agaknya masih terlampau percaya kepada Sidanti. Dan kepercayaannya itu yang telah membuatnya lengah. Kini ia dihadapkan pada kenyataan, bahwa Alap-alap Jalatunda itu mampu menandingi muridnya. Kalau kepandaian mereka terpaut, maka perbedaan itu sama sekali tidak banyak dan tidak menentukan.”

Ketiga anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa mereka ingin melihat perang tanding itu, namun mereka tidak dapat berbuat sekehendak hati. Sebab nasib mereka pun kini sedang berada diujung duri.

Ki Tanu Metir itu kemudian berbisik lagi, “Kita akan mencoba untuk mendekat. Tetapi tidak terlampau dekat. Supaya kita dapat melihat dengan jelas, maka kita akan memanjat.”

Ketiganya bersama Ki Tanu Metir pun lalu mencoba merayap semakin dekat. Tetapi mereka selalu berusaha untuk tetap berada di balik bayangan dedaunan yang rimbun. Ketika mereka kemudian tidak mungkin lagi untuk berada di tempat yang lebih dekat, mereka lalu mencari pohon-pohon yang daunnya akan cukup memberi mereka perlindungan. Dari tempat itulah mereka melihat perang tanding yang sedang berlangsung.

Meskipun mereka tidak terlampau dekat, tetapi mereka dapat melihat cukup jelas. Mereka dapat melihat hampir setiap bagian dari unsur-unsur gerak yang dipergunakan oleh kedua belah pihak. Unsur-unsur gerak yang dipergunakan oleh Alap-alap Jalatunda unsur-unsur gerak yang dipergunakan oleh Sidanti. Mereka pun dapat melihat beberapa kelebihan Sidanti atas lawannya, tetapi kelebihan itu hampir tidak banyak berarti dibanding dengan tekad yang menyala-nyala di dalam dada Alap-alap Jalatunda. Nafsu yang menggila itu agaknya telah banyak merubah dirinya menjadi orang yang perkasa. Satu hal yang sangat menyulitkan adalah bahwa meskipun Alap-alap Jalatunda itu hampir-hampir menjadi benar-benar gila, tetapi otaknya agaknya masih tetap terang menghadapi senjata lawan.

Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta melihat perkelahian itu dengan tegangnya. Seolah-olah mereka sendirilah yang terlibat dalam sebuah perang tanding. Meskipun mereka tidak dapat memihak salah satu diantara mereka, tetapi kadang-kadang mereka, harus menahan nafas melihat gerak senjata kedua belah pihak.

“Kenapa Sidanti tidak mempergunakan senjata khususnya. Akhir-akhir ini Sidanti sering mempergunakan senjata rangkap. Pedang dan senjatanya yang mengerikan itu.” bertanya Agung Sedayu.

Ki Tahu Melir menggelengkan kepalanya, “Entahlah, tetapi agaknya Ki Tambak Wedi telah menentukan bahwa senjata mereka harus sejenis.”

Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Perhatian mereka benar-benar dicengkam oleh perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru. Alap-alap Jalatunda ternyata menjadi semakin lincah. Selama ia berada di Tambak Wedi, agaknya ia telah mempergunakan waktunya yang terluang sebaik-baiknya. Sedang Sidanti hampir tidak mendapat perubahan apa-apa. Tingkatan ilmunya pun masih juga seperti yang pernah dilihatnya. Hanya beberapa unsur gerak yang kini menjadi luluh dengan serasi seolah-olah menjadikannya semakin kaya dan cekatan.

Tetapi lebih daripada itu, nafsu dan tekad yang menyala-nyala di dalam dada Alap-alap Jalatunda agaknya telah menjadikannya seorang yang aneh. Kekuatannya seolah-olah menjadi berlipat ganda. Kecepatannya bergerak kadang-kadang ada di luar dugaan, bahwa Alap-alap Jalatunda mampu melakukannya. Pengaruh tidak tuak di kepalanya pun agaknya telah membuatnya seperti orang kesurupan.

Meskipun demikian, matanya masih juga melihat dengan jelas ujung senjata lawan. Alap-alap Jalatunda itu masih juga tidak kehilangan akal menghadapi saat-saat yang sulit karena serangan-serangan Sidanti.

Namun demikian, semakin lama perkelahian itu berlangsung, maka semakin jelaslah bagi mereka yang memiliki ilmu yang cukup, bahwa betapa Alap-alap Jalatunda itu maju pesat sekali, dan betapa ia berkelahi dengan penuh nafsu kemarahan serta pengaruh tuak di kepalanya, tetapi ia masih belum berhasil menyejajarkan diri dengan Sidanti.

Meskipun perkelahian itu agaknya masih tampak seimbang, tetapi Sidanti masih cukup cerdik untuk menyimpan tenaga yang pada saatnya akan dapat mengakhiri perkelahian itu. Dan inilah yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh Alap-alap Jalatunda.

Ia menganggap bahwa apa yang terjadi itu adalah puncak dari kekuatan, ilmu, kelincahan dan segala macam unsur dalam tata perkelahian. Tetapi ia tidak memperhitungkan, bahwa waktu pun akan turut menentukan akhir dari perkelahian itu.

Namun demikian, saat yang menegangkan itu sangat berbahaya pula bagi Sidanti. Kesalahan dan kelengahan akan segera mengakhiri perkelahian.

Sekejap demi sekejap perkelahian itu menjadi semakin dahsyat. Bahkan kini tubuh-tubuh mereka telah mulai dialiri oleh titik darah dari goresan-goresan ujung pedang pada tubuh mereka. Tetapi darah yang bercampur dengan keringat ternyata telah menjadikan mereka semakin buas.

Dengan demikian maka mereka, yang menyaksikan perkelahian itu pun menjadi semakin tegang. Wajah-wajah mereka menjadi keras dan mata mereka seakan-akan tidak berkedip lagi. Bahkan Ki Tambak Wedi pun kini menjadi semakin tegang pula. Mau tidak mau ia terpengaruh oleh keadaan kedua anak muda yang sedang berkelahi itu. Ia tidak dapat melepaskan diri dari hubungan pribadi antara dirinya dengan Sidanti, sebagai guru dan murid. Sehingga mau tidak mau, betapapun ia mencoba untuk berdiri di tengah-tengah, melepaskan diri dari persoalan yang sedang berlangsung itu, namun orang tua itu di dalam hatinya sudah berpihak kepada muridnya. Ia mengharap Sidanti memenangkan perkelahian itu, tetapi ia juga mengharap agar Alap-alap Jalatunda dan orang-orang Jipang tidak menjadi sakit hati. Demikian asyik ia melihat perkelahian itu, sehingga Ki Tambak Wedi tidak melihat apa yang terjadi di sekitarnya, apalagi melihat orang-orang Sangkal Putung dan Jati Anom, sedang wajah-wajah orang yang berada di sekitarnya pun tidak dilihatnya. Wajah-wajah yang memancarkan suatu sikap dalam menghadapi perang tanding itu. Orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi sendiri ternyata berbagi sikap. Mau tidak mau mereka memihak kepada kawan terdekat.

Sanakeling yang hitam itu pun kini tidak lagi acuh tak acuh melihat perkelahian itu. Wajahnya kini tampak menjadi bersungguh-sungguh. Dahinya berkerut-merut dan matanya bersinar, memancarkan kemarahan dan kejengkelan. Betapa ia menyesali tindakan Alap-alap Jalatunda, tetapi ia tidak rela apabila ia harus menyaksikan Alap-alap Jalatunda menjadi korban dalam perang tanding itu. Alap-alap Jalatunda adalah kawan yang telah lama berada dalam satu lingkaran pahit manisnya peperangan melawan Pajang. Meskipun untuk sementara mereka tidak berkumpul di dalam satu lingkungan karena Sanakeling berada di daerah Utara, namun akhirnya mereka bersama-sama mengalami masa yang paling pahit dalam perjuangan mereka. Perjuangan yang tidak berujung pangkal. Yaitu pada saat-saat matinya Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan. Kemudian keinginan Sumangkar untuk menyerahkan diri kepada Senapati Pajang yang masih muda, yang bernama Untara, yang kini berada di ujung hidung mereka lagi. Hubungan yang telah terjalin selama ini, hidup dalam satu lingkungan yang dibumbui oleh asin asamnya peperangan, telah menumbuhkan rasa setia-kawan yang dalam.

Tetapi ternyata sikap itu bukan sekedar sikap Sanakeling. Hampir setiap prajurit Jipang merasa, seolah-olah mereka sendirilah yang berada di dalam arena melawan Sidanti. Tanpa mereka sadari maka perkelahian itu telah mengingatkan mereka pada peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Terbunuhnya Plasa Ireng. Bukan saja terbunuh oleh ujung senjata di dadanya. Tetapi mayatnya pun kemudian mengalami perlakuan yang mengerikan. Dan itu dilakukan oleh Sidanti, yang kini berkelahi melawan Alap-alap Jalatunda.

Kenangan itu ternyata telah membuat orang-orang Jipang semakin benci dan muak melihat Sidanti yang lincah cekatan itu bertempur di dalam arena. Bahkan satu dua di antara mereka ada yang hampir-hampir tidak tahan lagi. Hampir-hampir mereka meloncat masuk ke dalam arena untuk bersama-sama melawan Sidanti yang bagi mereka sangat memuakkan karena sikapnya yang sombong. Sidanti merasa, bahwa ia adalah anak murid Ki Tambak Wedi yang menguasai padepokan ini. Sehingga seolah-olah semua orang di padepokan ini harus tunduk kepadanya. Kekuasaannya justru menjadi terlampau besar, melampaui kekuasaan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

Sementara orang-orang Jipang dan Tambak Wedi merasa berada di satu pihak dalam kepentingan yang sama, mereka dapat melupakan kebencian itu. Tetapi kini, kebencian, muak dan kejemuan seolah-olah telah mencengkam dada setiap orang Jipang.

Demikianlah perkelahian itu berlangsung terus. Tubuh Alap-alap Jalatunda kini telah menjadi basah kuyup. Basah oleh keringat dan titik darah dari luka-lukanya. Namun tubuh Sidanti pun tidak juga dapat menghindari sentuhan-sentuhan senjata lawannya, sehingga goresan-goresan pedang Alap-alap Jalatunda pun telah meneteskan darah anak Tambak Wedi itu pula.

Titik-titik keringat itu pun mengalir dari dahi Ki Tambak Wedi yang tua. Wajahnya sejenak menegang, tetapi kemudian semakin lama menjadi semakin kendor ketika ia melihat bahwa keadaan Sidanti menjadi semakin baik. Kini Sidanti mendapat waktu untuk mengatur pernafasannya. Meskipun ia masih harus berjuang sekuat-kuat tenaganya, tetapi orang tua yang bermata tajam setajam mata burung hantu itu mampu melihat, bahwa keadaan Sidanti sudah tidak berbahaya lagi.

Namun tidak demikian halnya dengan orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi. Mereka masih juga dicengkam oleh ketegangan yang justru menjadi semakin memuncak. Betapapun juga, akhimya mereka dapat melihat, bahwa kedudukan Sidanti masih lebih baik dari kedudukan Alap-alap Jalatunda.

Meskipun kerut-merut di wajah Ki Tambak Wedi sudah tidak sedalam semula, tetapi perhatiannya masih juga tersangkut seluruhnya pada perkelahian itu. Perkelahian itu menjadi begitu mengasyikkan baginya, seolah-olah ia mendapat kesempatan melihat muridnya berlatih dengan memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Dalam perkelahian itu ia sempat melihat kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Sidanti. Kemungkinan-kemungkinan yang baik yang dilepaskannya tanpa menyadari akibatnya. Dan unsur-unsur gerak yang masih belum matang dan serasi dalam hubungan keseluruhan.

Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta pun masih juga dicengkam oleh ketegangan. Meskipun Ki Tanu Metir pun kemudian melihat kelebihan Sidanti atas Alap-alap Jalatunda, namun ketegangan yang mencengkamnya mempunyai bentuk yang berbeda dengan apa yang terjadi atas Ki Tambak Wedi. Kini Ki Tanu Metir ditegangkan, bukan saja oleh perkelahian itu, tetapi terutama oleh rencananya. Perkelahian itu agaknya telah mendekati akhirnya. Apakah saat itu pasukan Untara, setidak-tidaknya mereka yang berkuda telah berada di luar padepokan ini? Seandainya mereka telah datang, mudah-mudahan para penjaga dan peronda tidak melihatmya. Dalam hal ini ia percaya kepada Untara, seorang pemimpin prajurit yang telah cukup berpengalaman.

Namun sebenarnya Ki Tanu Metir tidak perlu mencemaskan Untara kalau ia akan dapat dilihat oleh para peronda dan para penjaga. Sebab pada saat itu hampir, setiap orang di padepokan Tambak Wedi telah berada dan berkerumun di sekitar banjar para pemimpin padepokan itu. Sebagian besar berada pada lingkaran yang mengelilingi arena, namun sebagian yang lain berada di atas dinding-dinding halaman. Mereka melihat perkelahian itu dari atas dinding, dari pepohonan dan bahkan dari atap-atap rumah. Sedang mereka yang tidak mendapat kesempatan untuk melihat, berkumpul di jalan-jalan di muka banjar itu. Seolah-olah mereka berada pada suatu puncak ketegangan, pada saat-saat mereka berada dalam gelar perang yang telah berhadapan wajah dengan gelar lawan.

Perkelahian itu sendiri kini benar-benar telah mencapai puncaknya pula. Alap-alap Jalatunda telah memeras segenap kemampuan dan tenaga yang ada padanya. Sedang pada saat itu Sidanti jusrtru telah menemukan suatu kepastian, bahwa ia akan segera memenangkan perang tanding itu. Terasa bahwa Alap-alap Jalatunda telah menumpahkan segenap kemungkinan yang ada padanya. Dan karena itu maka ia telah kehilangan perhitungan tentang waktu. Tentang daya tahannya menghadapi waktu yang sengaja diperpanjang oleh Sidanti supaya murid Tambak Wedi itu mendapat suatu keyakinan bahwa saatnya telah datang untuk mengakhiri perkelahian tanpa kesulitan. Dan waktu itu kini telah menjadi semakin dekat.

Dalam ketegangan itu Ki Tanu Metir berbisik, “Angger, lihatlah, langit telah memerah di Timur.”

“Hampir fajar, Kiai,” desis Agung Sedayu.

“Apakah kira-kira Angger Untara telah datang?”

“Aku rasa sudah, Kiai. Kedatangan Kakang Untara tidak akan terpaut lama dengan kedatanganku.”

“Baiklah. Berikanlah panah itu kepadaku. Kita akan sampai pada saat yang menentukan. Kalau aku salah hitung, maka sebaiknya Angger Untara kembali ke Jati Anom. Dan kalian harus segera pergi mengambil Sekar Mirah. Setelah memberi tanda-tanda kepada Angger Untara, aku akan segera melindungi kalian apabila ada bahaya yang mengancam.”

Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta merasakan ketegangan dalam pesan Ki Tanu Metir. Ternyata orang tua itu benar-benar sedang menghadapi saat yang menentukan, apakah rencananya dapat berjalan atau gagal sama sekali. Tetapi setidak-tidaknya usaha menyelamatkan Sekar Mirah akan dijalankan, betapapun besar bahayanya.

Panah sendaren dan busurnya segera diberikan oleh Agung Sedayu kepada Ki Tanu Metir. Ki Tanu Metir-lah yang nanti akan memberikan tanda-tanda itu kepada Agung Sedayu.

Ketika mereka melihat arena perkelahian, maka jelaslah kini bahwa Alap-alap Jalatunda telah menjadi semakin terdesak. Meskipun dari jarak yang agak jauh, tetapi kemampuan mereka mengenal tata perkelahian cukup memberi mereka pengertian apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Sesaat lagi ngger. Sesaat lagi kita akan melihat apa yang akan terjadi. Dan sesaat kemudian akan kita lihat, apakah aku tidak akan mendapat marah dari Angger Untara.”

Dalam saat-saat terakhir itu, maka Ki Tambak Wedi tampak menjadi tegang lagi. Kini ia tidak saja berdiri memperhatikan setiap gerak kedua anak muda di dalam arena itu, tetapi kini ia bergeser semakin dekat.

Ketika cahaya merah di Timur menjadi semakin jelas, maka Alap-alap Jalatunda pun menjadi semakin payah. Ternyata dalam perkelahian yang terjadi itu, ia telah memeras segenap kemampuan yang ada padanya, sehingga dalam waktu yang singkat ia seakan-akan telah kehabisan tenaga. Pada saat itu keadaan Sidanti masih cukup baik. Tenaganya masih segar dan perhitungannya atas kelemahan Alap-alap Jalatunda menjadi semakin masak.

Sanakeling pun ternyata melihat keadaan itu. Wajahnya yang hitam menjadi semakin tegang. Kini ia berdiri terbungkuk-bungkuk di dalam lingkaran orang-orang yang melihat perkelahian itu seperti Ki Tambak Wedi. Seakan-akan apa yang dilihatnya itu tidak begitu jelas di matanya. Namun sebenarnya, dadanya telah dipenuhi oleh kecemasan yang memuncak. Kalau Sidanti tidak dapat mengendalikan dirinya, maka Alap-alap Jalalunda itu akan mengalami nasib yang sangat jelek.

Maka setiap wajah orang-orang yang melihat perkelahian itu kini menjadi kian tegang. Mereka menyadari bahwa perkelahian itu sudah akan sampai pada akhirnya. Meskipun Alap-alap Jalatunda masih tetap dalam perlawanan yang cukup, tetapi setiap kali ia selalu terdesak. Luka-luka di tubuhnya pun menjadi kian banyak. Goresan-goresan pedang Sidanti telah membuat tubuhnya berwarna darah. Tetapi tubuh Sidanti sendiri juga telah diwarnai oleh darahnya yang menetes dari luka-lukanya. Dan darah itu telah membuat Sidanti menjadi buas dan liar, seperti Alap-alap Jalatunda itu pula.

Dan itulah yang dicemaskan oleh Ki Tambak Wedi. Betapapun ia memihak muridnya di dalam hati, tetapi orang tua itu masih selalu mengingat kepentingan yang jauh lebih besar daripada seorang Sekar Mirah. Kepentingan yang selama ini selalu diperhitungkan dan diotak-atik. Karena itulah maka ia menjadi cemas melihat perkembangan keadaan. Melihat mata muridnya yang menjadi semerah darah yang menetes dari luka-lukanya. Agaknya Sidanti itu telah melupakan pesan-pesannya, bahwa perang tanding itu diakhiri apabila salah seorang telah terluka dan telah jelas tidak dapat memberikan perlawanan, sehingga kemenangan telah dapat ditentukan pada pihak yang lain.

Tetapi dalam keadaan serupa itu, apakah mereka yang berkelahi masih dapat mengingat peraturan yang dibuatnya itu?

Semakin jelas cahaya fajar memancar dari balik dedaunan di Timur, maka Sidanti pun menjadi semakin bernafsu. Kini ia telah sampai pada suatu saat, untuk memenangkan perang tanding itu. Karena itulah maka ia pun menjadi semakin garang. Sedang Alap-alap Jalatunda pun agaknya merasa, bahwa kesempatan baginya menjadi semakin tipis. Namun dengan demikian, maka hatinya menjadi bulat untuk mempertahankan dirinya tanpa mengenal surut sebelum nyawanya loncat dari tubuhnya.

Karena itu, pada saat-saat terakhir, seolah-olah kekuatan Alap-alap Jalatunda yang telah surut itu tumbuh kembali. Tandangnya benar-benar mengejutkan. Sidanti sama sekali tidak menduga, bahwa ketika perkelahian itu justru hampir berakhir karena Alap-alap Jalatunda sudah kehabisan tenaga, maka anak muda itu tiba-tiba melenting secepat bilalang menyerangnya. Begitu cepat dan begitu garang. Pedangnya menebas dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dimengerti, bahwa seseorang mampu berbuat demikian. Serangan yang tidak disangka-sangka itu telah membuat Sidanti menjadi bingung. Agaknya Alap-alap Jalatunda mengerahkan segenap sisa-sisa tenaganya dalam keputus-asaan. Dan bentuk daripadanya sungguh-sungguh di luar dugaan.

Bukan saja Sidanti yang terkejut melihat serangan itu. Ki Tambak Wedi yang berada di belakang Sidanti pun menjadi terkejut pula. Tak masuk di akalnya bahwa Alap-alap Jalatunda telah berbuat sedemikian cepat dan mengejutkan.

Ki Tanu Metir dan ketiga anak-anak muda yang melihat perkelahian itu pun menahan nafasnya. Bahkan terdengar Ki Tanu Metir berdesis karena gejolak perasaannya. Serangan Alap-alap Jalatunda itu benar-benar mengejutkan dan di luar perhitungan.

Akibat dari serangan itu bagi Sidanti pun tidak terduga pula. Dalam kebingungan Sidanti hanya mampu berusaha menangkis kilatan pedang yang menyambarnya. Tetapi ia tidak menyangka bahwa kekuatan yang terlontar pada sambaran pedang itu pun luar biasa pula. Karena itulah, maka tangkisan Sidanti terdorong oleh kekuatan tenaga Alap-alap Jalatunda. Dan Sidanti tidak mampu untuk menghindar lagi. Pedang Alap-alap Jalatunda itu menyambar pundaknya.

Terdengar Sidanti mengeluh pendek. Setiap mulut di arena itu pun berdesis melihat kejadian yang sama sekali tidak terduga-duga itu. Mereka tidak lagi berkedip ketika mereka melihat darah mengalir dari pundak yang menganga karena luka.

Betapa cemas hati Ki Tambak Wedi melihat muridnya terluka. Kalau Sidanti kemudian tidak dapat memperbaiki keadaannya, dan pedang Alap-alap Jalatunda itu sekali lagi mengenainya, maka kemungkinan terbesar bagi muridnya adalah, kalah di dalam perang tanding itu. Dan akibat dari kekalahan ini akan panjang sekali. Akibat dari kekalahan yang dirasakan sebagai suatu penghinaan ini pasti akan membekas di hati Sidanti sepanjang hidupnya. Mungkin Sidanti akan kehilangan segala gairah hidup di masa mendatang karena Sekar Mirah juga akan lepas dari tangannya. Namun berlawanan daripada itu, maka Sidanti akan dapat menjadi seorang iblis yang kehilangan bentuk-bentuk kemanusiaannya sama sekali. Ia akan menjadi seorang yang paling berbahaya. Seorang yang kehilangan tujuan hidupnya selain dendam. Dan dendam itu akan dibawanya kemana ia pergi dan ditumpahkannya kepada siapa saja yang dijumpainya.

Karena itu maka wajah Ki Tambak Wedi pun menjadi semakin tegang. Otot-otot di wajahnya seakan-akan mencuat ke luar dari keningnya.

Apalagi ketika sekali lagi ia melihat Alap-alap Jalatunda mengayunkan pedangnya. Anak muda itu agaknya tidak mau melepaskan kesempatan yang ada pada saat itu. Dalam keputus-asaan ia melihat lawannya terluka. Dalam saat-saat yang tidak disangka-sangkanya ia melihat darah Sidanti meleleh dari luka yang menganga di pundaknya. Dengan demikian maka nafsunya menjadi melonjak kembali. Kesempatan terakhir itu akan dipergunakannya sebaik-baiknya. Mengakhiri perkelahian dengan mengakhiri hidup Sidanti yang memuakkan baginya itu.

Tetapi ternyata membunuh Sidanti tidak semudah yang disangkanya. Tidak seperti yang dibayangkan oleh Alap-alap Jalatunda dalam saat-saat ia berputus-asa, dalam saat-saat otaknya sudah mulai kabur.

Ketika pedangnya terayun sederas ayunannya yang pertama, maka Sidanti sudah menyadari kesalahannya, bahwa ia menganggap Alap-alap Jalatunda sudah tidak berdaya sama sekali. Karena itu, sebelum ia siap benar menghadapinya, maka tiba-tiba ia melontar mundur sejauh-jauhnya. Itulah yang segera dapat dilakukan menghadapi Alap-alap Jalatunda yang seakan-akan menjadi gila. Ketika Ki Tambak Wedi melihat sikap dan geraknya itu, maka perlahan-lahan ia berdesis, “Bagus, Sidanti.”

Ternyata Alap-alap Jalatunda sudah tidak mampu lagi membuat perhitungan yang baik. Kali ini ayunannya sama sekali tidak menyentuh apa pun juga, sedang tenaga yang dilontarkan lewat ayunan itu adalah segenap tenaga yang masih tersisa padanya. Sehingga ketika ayunan itu tidak mengenai lawannya, Alap-alap Jalatunda terseret oleh kekuatan tenagannya sendiri. Sejenak ia terhuyung-huyung. Dengan susah payah ia mencoba mempertahankan keseimbangan badannya. Tetapi ternyata tenaganya telah terkuras habis dalam gerak-geraknya yang terakhir. Karena itulah maka kemudian anak muda yang sedang dilanda oleh nafsu yang tidak terkendali itu tidak lagi mampu bertahan dalam keseimbangan. Sesaat kemudian orang-orang yang mengerumuni arena itu melihat Alap-alap Jalatunda itu terdorong ke samping lalu terjerembab jatuh di tanah.

Sidanti yang telah berhasil membuat jarak beberapa langkah dari Alap-alap Jalatunda menggeram. Ia melihat Alap-alap Jalatunda itu terjatuh. Ketika terasa pundaknya menjadi pedih, maka hatinya pun menjadi terbakar karenanya. Kemarahannya yang telah memuncak, bukan saja karena pundaknya terluka, tetapi juga karena Alap-alap Jalatunda telah mencoba untuk merampas Sekar Mirah dari tangannya, maka kini seakan-akan meledak dengan dahsyatnya.

Gelora di dalam dada Sidanti sudah tidak tertahan lagi. Giginya terdengar gemeretak. Matanya menjadi semerah darah yang memercik dari lukanya. Tangannya yang menggenggam pedang itu pun kemudian menjadi gemetar.

Ketika sekali lagi ia melihat Alap-alap Jalatunda yang sedang tertatih-tatih mencoba untuk berdiri itu, nyala yang membakar dadanya telah berkobar menghanguskan perasaannya. Yang terdengar kemudian adalah Sidanti itu berteriak nyaring. Seperti seekor harimau lapar, ia menerkam lawannya dengan ujung pedangnya.

Setiap dada mereka yang melihat gerak Sidanti itu terasa berdesir. Kemudian jantung mereka seolah-olah berhenti mengalir. Mereka terpukau oleh suatu kejadian yang begitu dahsyat dan mengerikan.

Mereka tersadar ketika mereka mendengar Ki Tambak Wedi berteriak nyaring, “Sidanti, hentikan. Hentikan!”

Tetapi suara itu seolah-olah tidak didengar oleh anak muda yang sedang mengamuk itu. Luka di pundaknya ternyata telah menjadikannya bermata gelap, ia lupa segala-galanya. Lupa kepada peraturan yang dibuat oleh gurunya. Lupa akan kepentingan-kepentingan lain yang lebih besar daripada yang kini sedang dipertengkarkan. Lupa kepada semua usaha yang telah dirintis oleh gurunya selama ini.

Alap-alap Jalatunda bagi Sidanti saat itu adalah iblis yang harus dilenyapkan. Iblis yang telah melukai tangannya cukup parah. Bahkan hampir-hampir merenggut jiwanya pula. Apalagi iblis itu telah mencoba merampas Sekar Mirah dengan kekerasan. Karena itu, maka tidak ada yang lebih baik baginya daripada membinasakannya.

Betapa gurunya berteriak mencegahnya, namun semuanya sudah terjadi. Sidanti yang sedang dibakar oleh kemarahan itu pun mampu bergerak secepat Alap-alap Jalatunda. Bahkan ternyata sisa-sisa kekuatan Sidanti masih cukup banyak, sehingga tumpahan sisa-sisa tenaga itu pun lebih dahsyat pula.

Sekali lagi mereka mendengar Ki Tambak Wedi berteriak, “Sidanti, apakah kau gila?”

Sidanti tidak juga mendengar. Bahkan dalam kegelapan pikiran karena kemarahan yang memuncak, maka kebuasan anak muda itu tumbuh kembali. Seperti pada saat ia berhasil membunuh Plasa Ireng, maka kini diulanginya perbuatannya itu. Alap-alap Jalatunda sama sekali tidak berdaya ketika Sidanti menerkamnya. Ujung pedangnya yang tajam berkilat-kilat langsung menghunjam ke dadanya. Alap-alap Jalatunda yang sedang tertatih-tatih berdiri itu mengaduh pendek. Beberapa langkah ia terdorong oleh kekuatan Sidanti yang ditumpahkannya di ujung pedangnya. Kemudian anak muda itu pun terbanting jatuh di tanah. Darah yang merah menyembur dari luka di dadanya itu. Namun sekejap matanya masih memancarkan dendam tiada terhingga. Sekali tubuh itu menggeliat lalu kemudian diam untuk selamanya.

Tetapi agaknya Sidanti tidak puas dengan tusukan yang langsung menghunjam jantung lawannya. Sekali lagi pedang itu ditariknya, dan sekali lagi pedang itu menghunjam ke tubuh lawannya. Ketika untuk ketiga kalinya ia ingin menusuk tubuh yang tidak berdaya itu, terasa badannya terdorong ke samping oleh suatu kekuatan yang luar biasa, sehingga hampir-hampir ia jatuh terjerambab. Sambil berteriak tinggi ia memperbaiki keseimbangannya. Hampir-hampir ia meloncat menyerang. Tetapi niatnya itu diurungkannya. Betapapun hatinya menjadi gelap pekat, tetapi ketika ia melihat gurunya berdiri di hadapannya, maka Sidanti itu pun tegak seperti patung di tempatnya.

“Ternyata kau benar-benar gila, Sidanti,” teriak Ki Tambak Wedi.

Tetapi sebelum Sidanti menjawab, maka terdengar orang lain berteriak nyaring, “Omong kosong! Kalian, guru dan murid, ternyata telah merencanakan hal ini. Kalian telah dengan sengaja melakukan pembunuhan yang direncanakan.”

Dada Ki Tambak Wedi bergetar mendengar teriakan itu. Ketika ia berpaling, dilihatnya wajah yang hitam itu seolah-olah membara memancarkan kemarahan tiada taranya. Sambil menuding Ki Tambak Wedi dengan pedangnya ia berkata, “Satu-satu kau akan menghilangkan pemimpin-pemimpin prajurit Jipang. Kali ini Alap-alap Jalatunda. Tetapi lain kali aku, supaya kau dapat berbuat menurut kehendakmu atas pasukanmu. Tidak. Aku bukan budak kalian. Kami prajurit Jipang bukan budak-budak orang Tambak Wedi. Kalian jangan mimpi memperalat kami untuk tujuan-tujuan kalian yang memuakkan itu.”

Betapa kemarahan melanda dada Ki Tambak Wedi yang tua itu, tetapi sekali lagi ia masih mencoba menyabarkan diri. Ia tidak dapat melupakan bahwa Untara telah berada di Jati Anom.

“Sanakeling,” katanya, “aku minta maaf atas kesalahan Sidanti. Aku berjanji untuk membuat perhitungan atas perbuatannya ini.”

“Tidak ada lain kecuali Sidanti harus dibunuh seperti Alap-alap Jalatunda. Dibunuh tanpa mengenal perikemanusiaan. Ia pula yang telah membunuh Plasa Ireng dan menggores-gores punggungnya dengan senjatanya silang-menyilang selagi orang itu telah mati. Kini Alap-alap Jalatunda yang tidak berdaya dan telah ditusuk oleh pedangnya tepat di dada, masih juga tidak memberinya kepuasan. Lihat, Ki Tambak Wedi. Lihat luka di tubuh Alap-alap Jalatunda itu. Betapapun gila anak muda itu, tetapi Alap-alap Jalatunda adalah kawan seperjuanganku sejak masa Adipati Jipang, Aria Penangsang. Sekarang anak itu dibunuhnya dengan semena-mena.”

“Sanakeling,” berkata Ki Tambak Wedi, “peristiwa ini tidak berlangsung begitu saja. Peristwa ini terjadi karena suatu sebab. Menilik dari sebab itu, maka Alap-alap Jalatunda pun mempunyai kesalahan pula sehingga perang tanding ini pun tidak dapat dihindari.”

“Tetapi kau telah membuat peraturan untuk perang tanding ini, Kiai. Ternyata kau curang dengan peraturanmu. Kalau Alap-alap Jalatunda menang, kau masih sempat menyelamatkan muridmu, tetapi kalau muridmu menang, maka akibatnya adalah seperti yang kita lihat sekarang. Kalau kau benar-benar ingin mencegah, Kiai, maka kau pasti dapat menggagalkan pembunuhan ini.”

“Jangan berprasangka begitu jelek Sanakeling,” jawab Ki tambak Wedi, “kau tahu, aku berdiri pada jarak yang cukup jauh dari Sidanti. Aku juga sudah berusaha, tetapi …”

“Aku bukan anak-anak yang dapat kau tipu dengan jawaban itu,” jawab Sanakeling.

Gelora di dalam dada Ki Tambak Wedi menjadi semakin keras, tetapi dengan sekuat tenaga ia masih berusaha menyabarkan diri. ia masih selalu mengingat kepentingan yang selama ini telah diperhitungkannya baik-baik.

Tetapi tiba-tiba terdengar dari belakangnya, Sidanti berteriak, “Guru, jangan dibiarkan orang itu mengigau sesuka hatinya. Serahkan orang itu kepadaku pula.”

Mendengar teriakan Sidanti itu, maka wajah Senakeling yang telah menjadi kemerah-merahan itu semakin menegang. Sejenak dipandanginya anak muda yang bernama Sidanti dengan penuh kebencian. Dan tiba-tiba Sanakeling itu tanpa diduga-duga melenting ke arah Sidanti dengan pedang terjulur lurus.

samping oleh kekuatan yang tak dapat dilawannya. Dalam pada itu Ki Tambak Wedi pun telah berdiri di hadapannya.

“Tunggu dulu,” katanya.

“Setan itu harus dibinasakan!” teriak Sanakeling tidak kalah kerasnya dari suara Sidanti. “Ia menjadi semakin memuakkan bagiku.”

“Ayo, lakukanlah kalau kau mampu,” jawab Sidanti lantang, “aku tidak akan lari dari arena.”

“Tutup mulutmu!” kini Ki Tambak Wedi-lah yang berteriak sambil berpaling ke arah Sidanti. “Kau telah menghancurkan segala rencana yang telah aku susun berminggu-minggu. Kau menganggap bahwa perempuan keparat itu lebih penting dari segala-galanya.”

“Minggir kau tua bangka,” yang berteriak adalah Sanakeling tidak kalah kerasnya dari suara teriakan Tambak Wedi. Ternyata orang itu pun telah kehilangan nalar jernihnya. Kemarahan yang telah membakar jantungnya, ternyata tidak dapat diredakannya.

“Sanakeling,” wajah Ki Tambak Wedi pun telah mulai berkerut-merut, “aku sudah menahan diri sekian lama supaya aku tidak terseret dalam arus kemarahan yang tidak bermanfaat sama sekali ini selain akan menghancurkan diri kita sendiri. Tetapi kau pun harus menyadari bahwa ketelanjuran ini jangan menjadi sebab bagi kita untuk menikam dada sendiri.”

“Ternyata kau masih juga ingin melindungi muridmu itu?” bentak Sanakeling tanpa mengenal takut.

“Sanakeling,” suara Ki Tambak Wedi menjadi semakin keras dan bergetar. Betapa ia masih mencoba menahan dirinya sekuat-kuat tenaganya. “Aku peringatkan sekali lagi. Hentikan tuduhan itu. Kita bicara dengan baik, supaya kita dapat memecahkan persoalan dengan baik pula.”

“Tak ada yang dibicarakan. Hanya ada satu pilihan bagimu, Ki Tambak Wedi. Serahkan Sidanti kepadaku. Aku akan membunuhnya dan membelah dadanya. Aku ingin melihat jantung dan hati yang tersimpan di dalam dada itu. Jantung dan hati anak itu pasti ditumbuhi bulu-bulu seperti jantung dan hati iblis.”

Betapapun kesabaran yang dipaksakan di dalam dada Ki Tambak Wedi, namun akhirnya wajahnya menjadi merah pula seperti warna langit di ujung Timur menjelang fajar. Warna merah di langit menjadi semakin nyata, dan warna merah wajah Ki Tambak Wedi pun menjadi semakin menyala.

“Minggir!” teriak Sanakeling kemudian dengan penuh nafsu.

“Aku tidak akan minggir,” jawab Ki Tambak Wedi, “aku akan tetap menghalangi setiap tindakan lebih lanjut.”

Sejenak Sanakeling terdiam. Dipandanginya wajah Ki Tambak Wedi dengan tajamnya. Tiba-tiba ia menyadari dengan siapa yang sedang berbicara. Orang tua itu, Ki Tambak Wedi, memang tidak akan dapat digertaknya, apalagi ditakut-takutinya. Meskipun demikian hasratnya untuk membunuh Sidanti tidak juga dapat disingkirkanhya dari hatinya.

Dalam pada itu terdengar Sidanti berkata, “Guru, kenapa guru menghalanginya. Biarlah Sanakeling mencoba, apakah Sidanti mampu melawannya atau tidak.”

“Diam!” teriak Ki Tambak Wedi keras sekali. “Diam, diam kau!”

Namun nyala di dada Sanakeling telah menjadi semakin dahsyat membakar hangus jantungnya dan mendidihkan darahnya. Ia tidak lagi mau mundur. Sidanti harus mati.

“Kiai,” berkata Sanakeling, “aku pun tidak akan minggir. Aku pun tidak akan mengurungkan niatku. Aku tetap dalam pendirianku untuk membunuh Sidanti. Nyawa Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda akan selalu menuntut kepadaku, seandainya aku tidak berhasil membunuhnya dengan tanganku.”

Tubuh Sidanti menjadi gemetar karenanya. Tetapi ia tidak berani berteriak lagi. Namun demikian ia melangkah beberapa langkah maju dengan pedang yang berwarna darah di dalam genggamannya.

Ki Tambak Wedi hampir-hampir tidak dapat menahan tangannya lagi. Hampir-hampir mulut Sanakeling ditamparnya. Tetapi niat itu diurungkan. Namun orang tua itu menggeram, “Lalu apa maumu? Aku akan tetap berdiri di sini. Apakah kau akan menyerang aku?”

Sekali lagi Sanakeling terdiam untuk sejenak. Tanpa sesadarnya ia memandang berkeliling. Hati Sanakeling itu pun bergelora ketika ia melihat orangnya, prajurit-prajurit Jipang berdiri tegak di satu sisi di luar arena. Tangan-tangan mereka telah melekat di hulu pedang masing-masing. Ketika Sanakeling melihat wajah-wajah itu di bawah cahaya obor dan cahaya fajar, maka wajah-wajah itu tampak seperti wajah-wajah yang berlumuran darah merah.

Hati Sanakeling pun menjadi semakin dahsyat diamuk oleh dendam dan kebencian. Kini ia berdiri di antara anak buahnya yang ternyata setia kepadanya. Anak buah yang telah dipisahkannya dari Sumangkar yang lemah dan menyerah. Anak buahnya yang ada padanya adalah anak buahnya yang dapat dianggapnya prajurit-prajurit pilihan. Kehadirannya di Tambak Wedi bukanlah untuk menghambakan diri dan menjadikan diri mereka alat untuk kepentingan Sidanti. Tidak. Sanakeling merasa bahwa ia masih tetap senapati, pengganti Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

Dengan demikian maka ia tidak lagi berhasil membendung gelora di dalam dadanya. Ketika, terpandang olehnya sekali lagi wajah Ki Tambak Wedi yang berkerut-merut, bermata tajam setajam mata burung hantu dan berhidung seperti paruh itu, serta kemudian dilihatnya wajah Sidanti yang licik dan bengis, maka Sanakeling itu pun melangkah beberapa langkah mundur. Namun tiba-tiba pedangnya bergetar, dan terdengar suitan nyaring melontar dari mulutnya. Suitan aba-aba yang diberikan oleh seorang senapati, kepada prajuritnya yang telah bersiap menunggu perintahnya.

Orang Jipang yang berdiri mengitari arena, yang selama itu terpaku di tempatnya, seperti wajah lautan yang tenang dengan tiba-tiba telah bergejolak seperti tersentuh badai. Dengan tangkasnya mereka berloncatan dengan senjata terhunus.

Mereka itu adalah prajurit-prajurit yang telah cukup berpengalaman. Dengan demikian maka segera mereka dapat menyesuaikan diri dengan kehendak pimpinannya. Dalam waktu yang singkat mereka telah menemukan bentuk kelompok-kelompok masing-masing. Dan sesuai dengan bunyi aba-aba yang diberikan oleh Sanakeling, maka mereka pun segera bergerak.

Tetapi Sidanti pun adalah bekas seorang prajurit yang mengenal tata gelar olah peperangan dalam kelompok yang besar. Ia tidak saja mampu berkelahi perseorangan, tetapi ia pun mampu menguasai orang-orangnya. Karena itu ketika ia mendengar Sanakeling memberikan aba-abanya kepada orang-orangnya, maka Sidanti pun segera berteriak nyaring menyiapkan orang-orangnya untuk menanggapi keadaan.

Ternyata orang-orang Tambak Wedi pun tanggap akan segala sasmita dan perintah yang diberikan Sidanti. Mereka pun segera bergerak dan bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Ki Tambak Wedi melihat peristiwa itu dengan hati yang bergelora. Keadaan telah menjadi semakin buruk, dan kedua belah pihak pun telah terbagi dalam lingkungan masing-masing, bertebaran di halaman sampai ke jalan-jalan di sepanjang pedukuhan itu. Kalau benar-benar terjadi benturan antara mereka, maka perkelahian akan berlangsung di mana-mana. Di halaman banjar ini, di halaman di sekitarnya, di sepanjang jalan dan di mana saja kedua pihak itu akan bertemu. Dengan demikian maka korban akan tidak terhitung lagi jumlahnya. Dan yang paling menyedihkan bagi Ki Tambak Wedi adalah, rencana yang telah disusunnya selama ini ternyata akan gagal.

Karena itu maka seperti orang kesurupan ia berdiri di antara kedua belah pihak yang telah siap untuk bertempur. Dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi ia berteriak, “Hentikan, hentikan!”

Tetapi Sanakeling dan Sidanti sudah tidak mendengar lagi teriakan itu. Sejenak kemudian terdengar Sanakeling memekikkan perintah untuk maju, dan sekejap kemudian yang terdengar adalah teriakan Sidanti.

“Hentikan! Hentikan!” teriak Ki Tambak Wedi. “Sanakeling, tarik orang-orangmu. Kau sadar bahwa aku dapat membunuhmu dalam sekejap?”

Tetapi Sanakeling kini sudah tidak berdiri sendiri. Beberapa orang berdiri di sekitarnya dalam suatu kelompok yang rapi. Susunan yang teratur dari suatu sikap perang prajurit-prajurit yang berpengalaman. Dari kelompoknya Sanakeling berteriak, “Jangan menakut-nakuti, Tambak Wedi. Ayo, cobalah sekarang membunuh Sanakeling. Senapati Jipang yang berkuasa sejak meninggalnya Kakang Raden Tohpati yang bergelar Macan Kepatuhan.”

Dada Ki Tambak Wedi bergetar dahsyat sekali mendengar jawaban itu. Di belakangnya ia melihat Sidanti pun telah bersiap pula dengan seluruh kekuatan Tambak Wedi.

Namun Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa orang-orang Jipang mempunyai pengalaman yang lebih baik. Mereka adalah bekas-bekas prajurit Wira Tamtama yang terlatih dan berpengalaman dalam perang-perang yang besar dan bahkan mereka telah membiasakan diri pula perang dalam keadaan yang paling dahsyat sekalipun. Selama mereka berkeliaran sepeninggal Arya Jipang, maka keadaan mereka telah menjadi semakin parah, dan mereka pun menjadi semakin garang menghadapi lawan-lawannya. Tetapi meskipun demikian mereka hanya mempunyai seorang pemimpin yang cukup tangguh, Sanakeling. Sedang di pihaknya ada beberapa orang yang dapat dipercaya. Sidanti, Argajaya dan apabila tidak terelakkan lagi, adalah Ki Tambak Wedi sendiri.

Ketika sekali lagi Ki Tambak Wedi mendengar Sanakeling berteriak, maka habislah harapannya untuk melerai pertengkaran itu, dan habis pulalah kesabarannya. Perkelahian antara mereka sudah tidak terelakkan lagi. Meskipun Ki Tambak Wedi itu menyesali perbuatan Sidanti bukan alang-kepalang, namun setelah keadaan menjadi sedemikian, ia tidak dapat mengingkarinya. Ia harus melibatkan diri dan ikut dalam perkelahian itu.

Demikianlah maka sesaat lagi ketika sinar fajar telah menjadi kekuning-kuningan, maka kedua pihak itu pun kehilangan segala macam pertimbangan. Kedua belah pihak telah masak untuk bertempur karena keadaan mereka sehari-hari. Setiap kali mereka merasa saling iri hati, saling mengejek, dan saling menyindir. Kini mereka tidak lagi perlu mengejek dan menyindir, tetapi pedang-pedang mereka segera dapat berbicara.

Pertempuran pun segera berkobar di dalam halaman banjar desa yang tidak begitu luas itu. Sebagian lagi berkelahi di halaman di sekitar banjar itu. Bahkan di jalan-jalan dan di mana saja kedua belah pihak dapat bertemu. Ternyata menghadapi keadaan yang demikian, prajurit-prajurit Jipang segera dapat menyusun diri dalam lingkungan masing-masing. Mereka mampu membuat semacam gelar-gelar kecil meskipun tidak sempurna. Sergapan-sergapan yang tiba-tiba dari arah yang tidak diduga-duga membuat orang-orang Tambak Wedi agak menjadi bingung.

Namun sejenak kemudian Ki Tambak Wedi sendiri terjun ke dalam pertempuran itu sambil berteriak, “Sanakeling. Menyerahlah sebelum orang-orangmu habis binasa di padepokan ini.”

Sanakeling melihat Tambak Wedi itu langsung menyerangnya. Tetapi ia telah cukup mempersiapkan diri menyambut serangan itu. Tidak seorang diri, tetapi sekelompok prajurit-prajurit pilihan. Sepuluh orang bersama-sama dalam satu lingkaran menyongsong hadirnya hantu dari lereng Merapi itu. Sepuluh ujung pedang terjulur lurus ke arah Ki Tambak Wedi yang meloncat menyerang Sanakeling, sehingga serangan itu pun terpaksa diurungkannya.

Dalam pada itu Sidanti pun segera melihat keadaan. Ia tidak perlu berada di dekat gurunya. Ia harus mempengaruhi daerah pertempuran yang lain, seperti juga Argajaya segera meloncat menjauhi Ki Tambak Wedi.

Pada sebatang pohon di luar halaman banjar itu, Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta mengamati keadaan dengan hati yang berdebar-debar. Mereka kini melihat orang-orang Jipang dan orang-orang padepokan Tambak Wedi telah bergumul dalam pertempuran-pertempuran yang seru. Sidanti dan Argajaya telah mengambil tempatnya masing-masing, sedang Ki Tambak Wedi masih saja tetap berada di halaman banjar berhadapan dengan Sanakeling. Tetapi lingkaran perkelahian itu menjadi semakin ribut ketika beberapa orang telah berada di sekitar Sanakeling pula untuk bersama-sama melawan Ki Tambak Wedi.

Sejenak orang-orang yang berada di atas pohon itu melihat perkembangan keadaan. Namun kemudian Ki Tanu Metir itu pun berkata, “Marilah kita turun. Perkelahian itu sebentar lagi akan menebar sampai kemari. Apabila kita masih tetap berada di sini, maka kita tidak akan sempat turun.”

Mereka berempat pun segera turun dengan hati-hati. Apalagi cahaya merah fajar telah menjadi kuning keputih-putihan. Sejenak lagi matahari pasti sudah akan menjenguk di atas ujung-ujung pepohonan.

Demikian sibuk orang-orang Jipang dan padepokan Tambak Wedi berkelahi, sehingga mereka tidak melihat orang-orang yang meloncat turun dari pohon itu. Mereka masing-masing hanya melihat ujung pedang lawan yang terarah ke dada masing-masing.

“Perkelahian ini benar-benar seimbang. Orang-orang Jipang mempunyai beberapa kelebihan, tetapi orang-orang Tambak Wedi pun mempunyai kelebihannya sendiri. Mungkin perkelahian ini akan memakan waktu yang lama, namun korban pun akan berhamburan seperti babatan alang-alang.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengerutkan keningnya, sedang tengkuk Wuranta terasa meremang. Ia belum pernah menyaksikan sendiri perkelahian yang hiruk-pikuk seperti yang terjadi saat itu.

Dalam pada itu Agung Sedayupun bertanya, “Lalu apa yang harus kita lakukan, Kiai?”

“Kalian bertiga pergi ke tempat Sekar Mirah. Aku akan tetap di sini melihat keadaan. Apabila keadaan telah memungkinkan, aku akan memberi tanda kepada Angger Untara. Aku harap mereka telah siap di mulut padepokan ini. Dan mudah-mudahan sebentar lagi pasukannya yang berjalan kaki telah sampai pula di sini.”

Agung Sedayu, Swandaru, dan Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini mereka baru jelas akan perhitungan Ki Tanu Metir. Ternyata perhitungannya kini telah mendekati kebenaran. Orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi saling bertempur sendiri. Ketiga anak muda itu dapat membayangkan, bagaimanakah akhir dari peristiwa ini. Untara akan hadir sebagai pihak ketiga. Dan pertempuran akan menjadi semakin kisruh. Hanya prajurit-prajurit Pajang cukup berpengalaman sajalah yang akan dapat menyesuaikan dirinya dalam keadaan yang demikian.

“Apakah Kiai akan segera memberikan tanda itu?”

“O, jangan tergesa-gesa, Ngger. Kita menunggu kekuatan yang ada di padepokan ini berkurang. Sebentar lagi maka orang-orang Jipang dan orang-orang padepokan ini akan sudah menjadi jauh susut. Dalam pertempuran serupa ini, maka korban akan cepat sekali berjatuhan,”

Agung Sedayu tidak menjawab. Yang menyahut kemudian adalah Swandaru, “Biarlah, kita biarkan saja mereka menumpas diri mereka sendiri.”

“Hal itu memang mungkin sekali terjadi, Ngger. Orang yang terakhir akan berdiri di atas timbunan bangkai kawan dan lawan. Tetapi jangan dibiarkan hal itu terjadi. Apabila menurut perhitungan Angger Untara sudah mampu mengatasi keadaan, maka biarlah ia menghentikan pertempuran ini. Biarlah mereka tidak berlarut-larut saling membantai dengan luapan dendam tiada taranya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dipandanginya gurunya dengan pertanyaan yang memancar dari matanya.

“Kalau kita biarkan hal ini terjadi, Ngger, itu adalah karena terpaksa harus kita lakukan. Sebenarnya kita sama sekali tidak menghendaki. Tetapi, jalan lain tidak kita ketemukan untuk segera dapat menyelesaikan persoalan ini, sehingga mereka yang terlampau bernafsu dalam kepentingan sendiri, terpaksa kita korbankan. Tetapi pembunuhan yang mengerikan seterusnya sedapat mungkin harus dicegah.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar keterangan gurunya, sedang Wuranta menekurkan wajahnya. Tetapi Swandaru masih saja belum mengerti. Dalam persoalan seperti ini, maka apabila terjadi pembunuhan, bukankah itu salah mereka yang saling berbunuhan itu sendiri? Namun Swandaru itu tidak bertanya lagi. Disadarinya bahwa waktu sudah menjadi kian sempit.

“Nah, sekarang pergilah kalian ke tempat Sekar Mirah. Aku tetap di sini untuk pada waktunya memanggil Angger Untara.”

“Baiklah, Kiai,” sahut ketiga anak-anak muda itu bersamaan.

Dan mereka pun kemudian meninggalkan halaman itu dengan hati-hati. Mereka berjalan di sepanjang halaman, meloncati dinding-dinding batu dan berlindung di balik rimbunnya rumpun-rumpun bambu liar. Tetapi cahaya pagi semakin lama menjadi semakin terang.

Sekali-sekali mereka mendengar derap orang berlari-lari, sehingga mereka terpaksa mengendapkan diri mereka. Orang-orang itu adalah orang-orang padepokan Tambak Wedi yang terlambat datang ke banjar desa karena tugas-tugas mereka. Ketika mereka mengetahui bahwa perkelahian telah berkobar dari kawan-kawan mereka yang sengaja berkeliling padepokan untuk memberitahukan tentang hal itu, maka mereka pun meninggalkan tugas-tugas mereka dan berlari-lari pergi ke banjar desa untuk segera melibatkan diri dalam perkelahian yang semakin lama menjadi semakin hiruk-pikuk.

Ketika ketiga anak-anak muda itu meloncat masuk ke halaman belakang rumah yang diperuntukkan bagi Sekar Mirah, maka hati mereka menjadi berdebar-debar. Sesaat mereka tertegun. Dengan berbisik Swandaru bertanya, “Lalu, apakah yang akan kita lakukan atas Sekar Mirah. Apakah anak itu kita ambil dan kita bawa ke luar?”

“Jangan,” sahut Agung Sedayu, “kita menunggu Ki Tanu Metir. Selama ini kita awasi saja rumah itu, untuk menjaga keselamatannya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia agaknya masih ragu-ragu. Apakah dengan menunggu Ki Tanu Metir, mereka tidak akan terlambat. Bagaimanakah seandainya kemudian Sidanti memerintahkan atau ia sendiri datang bersama orang-orangnya untuk mengambil gadis itu.

Agung Sedayu agaknya melihat keragu-raguan itu. Maka katanya pula, “Kita tidak tahu pasti maksud Ki Tanu Metir. Bukankah Ki Tanu Metir berkata, bahwa kita akan membawa Sekar Mirah lewat jalan yang aman dan lapang, hanya apabila terpaksa kita akan mencobanya lewat urung-urung itu.

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih juga ragu-ragu tetapi ia tidak memaksanya, tetapi ia kemudian berkata, “Kalau demikian, marilah kita mendekat, supaya kita melihat apa yang terjadi di dalam gubug kecil itu.”

Agung Sedayu tidak berkeberatan dengan pendapat Swandaru itu. Sebenarnya ia pun terlampau mencemaskan nasib gadis itu. Maka jawabnya, “Marilah. Kita menungguinya di belakang rumah. Bukankah begitu, Kakang Wuranta?”

“Marilah,” sahut Wuranta sambil menganggukkan kepalanya.

Ketiganya pun kemudian merayap semakin dekat. Mereka kemudian duduk di belakang serumpun perdu. Tetapi hati mereka sama sekali tidak tenteram ketika mereka masih juga mendengar gadis itu menangis.

“Semalam suntuk ia menangis,” desis Wuranta.

“Kasihan,” sahut Swandaru, “anak itu anak bengal. Setiap kali aku selalu bertengkar dan berkelahi di rumah. Tetapi aku menjadi sangat beriba hati melihatnya kini.”

“Apakah salahnya kalau kita masuk?” tiba-tiba Agung Sedayu berbisik. “Kita berada di dalam. Kita sudah terlanjur berada di sarang lawan. Apa pun yang terjadi harus kita tanggungkan.”

Sejenak Swandaru memandangi wajah Agung Sedayu. Dan sesaat kemudian ia berkata, “Itu adalah pendapat yang paling baik. Mari kita masuk.”

“Aku sudah mempunyai jalan yang paling baik untuk memasuki rumah itu,” berkata Wuranta. “Jangan lewat pintu depan. Sidanti pasti masih menempatkan satu dua pengawas di sekitar tempat ini. Biasanya di rumah di muka rumah ini,” berkata Wuranta.

Agung Sedayu dan Swandaru memandanginya sejenak, “Jalan manakah yang kau maksud?”

“Aku kira jalan yang telah dipergunakan oleh Alap-alap Jalatunda,” jawab Wuranta. “Lihatlah sudut rumah itu.”

Karena cahaya pagi telah memercik ke atas padepokan Tambak Wedi itu pula, maka segera mereka melihat bahwa sudut rumah itu telah terbuka.

“Hem,” Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menjadi tergesa-gesa untuk segera menemui adiknya. Maka katanya, “Marilah. Apalagi yang kita tunggu? Kalau sebentar lagi Sidanti datang kemari, biarlah aku menyambutnya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kalimat itu telah menumbuhkan kekaguman di hati Wuranta. Katanya di dalam hati, “Anak muda putera Ki Demang Sangkal Putung ini agaknya seorang anak muda yang pilih tanding. Kebenciannya kepada Sidanti sampai ke ujung ubun-ubun. Dan agaknya ia mampu mengimbanginya.” Tetapi Wuranta itu tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Mereka bertiga pun kemudian pergi ke sudut rumah. Perlahan-lahan Swandaru merenggangkan dinding.

“Dinding ini memang sudah terbuka,” bisiknya perlahan-lahan.

“Masuklah,” sahut Agung Sedayu.

Dengan hati-hati Swandaru yang gemuk itu pun merangkak masuk. Tetapi agaknya jalan itu terlalu sempit baginya, sehingga anak yang gemuk itu mendapatkan sedikit kesulitan.

“Tolong, tariklah dinding ini. Bajuku terkait,” desis Swandaru.

Tetapi ternyata kata-katanya itu telah mengejutkan Sekar Mirah yang sedang terisak-isak. Ketika ia bangkit dan memandangi sudut rumah itu, dilihatnya sesosok bayangan merangkak masuk. Maka tanpa sesadarnya gadis itu pun menjerit sekuat-kuat tenaganya. Ia menjadi sangat ketakutan dan ngeri. Terasa seakan-akan Alap-alap Jalatunda atau Sidanti-lah yang datang itu.

“He,” Swandaru pun terkejut sehingga ia pun berkata lantang, “Kenapa kau berteriak Mirah.”

Bukan kepalang terkejut gadis itu mendengar suara yang sudah dikenalnya baik-baik. Suara yang selalu mengganggunya di Kademangan Sangkal Putung. Suara yang selalu mengejeknya dan memarahinya setiap saat. Tetapi dalam keadaan serupa itu, maka suara itu seakan-akan suara panggilan dari dunia yang lepas bebas, panggilan dari kampung halaman.

Begitu besar pengaruh suara itu, sehingga justru sekali lagi Sekar Mirah berteriak, “Kakang, Kakang Swandaru.”

“Hus, anak bodoh,” bentak Swandaru, “jangan berteriak-teriak.”

Tetapi Sekar Mirah tidak mendengarnya. Dengan penuh luapan perasaan ia berkata, “Kau datang Kakang. Bukankah kau akan mengambil aku dan membawa aku kepada ayah dan ibu kembali?”

“Ya, ya,” potong Swandaru, “tetapi jangan berteriak-teriak.” Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “Kakang, tolong, bajuku terkait. Anak gila itu malahan berteriak-teriak saja. Kalau aku dekat, aku bungkam mulutnya.”

Dengan tergesa-gesa dan tangan gemetar Agung Sedayu menarik dinding bambu di sudut rumah itu. Dengan demikian maka kini Swandaru dapat merangkak masuk. Ketika ia berdiri dan berjalan mendekati Sekar Mirah, maka Sekar Mirah pun segera mengenalnya pula. Anak yang gemuk bulat itu. Maka dengan serta-merta Sekar Mirah pun berlari, menubruk dan memeluknya seperti kanak-anak yang manja. Sambil menangis sejadi-jadinya ia berkata, “Kakang, Kakang, bawa aku kembali. Bawa aku kembali kepada ayah dan ibu.”

Sesaat Swandaru tidak dapat mengucapkan kata-kata. Dibiarkannya Sekar Mirah menangis di dadanya. Bahkan terasa matanya pun menjadi pedih.

Sejenak kedua kakak beradik itu tenggelam dalam keadaan yang demikian. Mereka sama sekali tidak mengucapkan kata-kata, tetapi isak Sekar Mirah melontarkan harapan untuk dapat menikmati masa depannya yang masih panjang. Masa depan yang cerah. Gadis itu merasa bahwa seolah-olah mereka telah berada kembali di Kademangan Sangkal Putung, di rumah ayah dan ibunya.

Tetapi gadis itu terkejut ketika ia mendengar dinding di sudut rumah itu berderik. Ketika ia berpaling, ia melihat sesosok bayangan yang lain sedang memasuki rumah itu.

“Kakang,” katanya, “siapakah orang itu?”

Tetapi Swandaru tidak perlu menjawab. Orang yang merangkak itu kini telah berdiri. Dalam keremangan pagi dalam gubug yang tertutup itu, Sekar Mirah melihat seorang anak muda berdiri di hadapannya. Sekali lagi anak itu terkejut seperti pada saat ia melihat kakaknya masuk.

“Jadi, kau tidak sendiri kakang?”

Swandaru menggeleng.

“Bukankah itu Kakang Agung Sedayu?”

Swandaru mengangguk. “Ya,” gumamnya.

“Oh,” tiba-tiba Sekar Mirah itu melepaskan kakaknya. Ia ingin meloncat untuk mendapatkan Agung Sedayu. Tetapi langkahnya tertegun karena tangannya ditahan oleh Swandaru. Sekar Mirah mencoba untuk menarik tangannya, tetapi pegangan Swandaru cukup kuat, sehingga tangan itu tidak terlepas dari pegangannya.

Baru sesaat kemudian Sekar Mirah menyadari kegadisannya. Wajahnya tiba-tiba menjadi kemerah-merahan. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Dan kembali ia menyembunyikan wajahnya di dada kakaknya. Ia merasa bersyukur bahwa kakaknya telah menahannya, sehingga ia tidak merasa malu untuk seterusnya, apabila ia bertemu dengan Agung Sedayu.

Agung Sedayu sendiri menundukkan wajahnya pula. Anak muda itu benar-benar telah membeku. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang harus dikatakan. Karena itu ia berdiri saja seperti patung.

Di belakang Agung Sedayu, Wuranta telah berdiri pula di dalam rumah itu. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Ia merasa aneh untuk mengenali dirinya sendiri. Ketika ia melihat sikap Sekar Mirah terhadap Agung Sedayu, meskipun Swandaru tidak melepaskannya, namun ia menangkap hubungan yang lain antara keduanya. Hubungan bukan saja hubungan karena keadaan yang menyentak seperti saat itu. Tetapi hubungan yang telah cukup lama dan bukan hanya sekedar sentuhan yang baru-baru saja pada permukaan pandangan. Tetapi hubungan itu adalah hubungan yang telah menghunjam dalam-dalam di dalam dada masing-masing.

BUKU 24

WURANTA sendiri tidak dapat mengerti apa yang terjadi dalam dirinya. Ia sama sekali tidak berkeberatan, apa pun yang akan terjadi dengan Sekar Mirah setelah ia diselamatkan dan berada di tangan keluarganya kembali. Tak ada hubungan apa pun antara dirinya dengan gadis itu, selain peranan yang harus dilakukannya. Namun, ketika peranannya hampir selesai, terasa kenapa demikian cepatnya. Dan kenapa peran yang harus dilakukan itu hanya sekedar demikian saja?

Wuranta itu menundukkan kepalanya pula. Terbayang di kepalanya saat-saat yang dilampauinya beberapa hari ini. Saat-saat yang berbahaya dan penuh ketegangan.

“Untuk apakah sebenarnya aku berbuat demikian? Untuk Jati Anom, Pajang, atau untuk sekedar membebaskan gadis itu, dan kemudian menyerahkannya kembali kepada orang yang telah menunggunya?”

Terbayang kembali apa yang telah dilakukannya bersama dengan Alap-alap Jalatunda. Memperkenalkan dirinya kepada gadis itu. Menyebut namanya dan nama Alap-alap Jalatunda sebagai seorang sahabatnya.

Ketika Wuranta itu mengangkat wajahnya, terlihatlah olehnya Sekar Mirah sedang berpaling pula. Sejenak mereka saling memandang. Namun tiba-tiba pandangan Sekar Mirah menjadi lain. Lain sekali dengan kemarin. Pandangannya kini mengandung kecurigaan dan kebencian. Bahkan gadis itu kemudian berkata, “Bukankah anak muda itu kawan Alap-alap Jalatunda?”

Tuduhan itu menyengat jantung Wuranta, seperti sengatan ujung senjata. Tetapi ia dapat mengerti, sehingga dengan demikian ia menjawab perlahan-lahan dengan suara yang sendat, “Benarlah demikian. Tetapi Adi Swandaru dan Adi Agung Sedayu dapat memberikan keterangan tentang diriku.”

Sekar Mirah memandang Agung Sedayu sesaat. Kemudian ia mundur beberapa langkah sambil bertanya kepada kakaknya, “Siapakah anak muda itu, Kakang?”

“Kakang Wuranta adalah seorang anak dari Jati Anom. Ia adalah lantaran yang dapat menunjukkan kepada kami, di mana kau berada, dan bagaimana dapat membebaskanmu.”

Sekali lagi wajah Sekar Mirah menjadi merah. Tiba-tiba ia berkata lembut, “Maaf. Maafkanlah aku, Kakang Wuranta.”

Wuranta tidak menjawab, tetapi hatinya berkata, “Pantas, Sidanti tergila-gila kepadanya dan Alap-alap Jalatunda benar-benar telah menjadi gila. Mudah-mudahan aku tidak menjadi gila pula seperti mereka.”

Yang berkata kemudian adalah Swandaru, “Kakang Wuranta telah berhasil masuk ke daerah ini dan menjadikan dirinya sahabat Alap-alap Jalatunda.”

Sekar Mirah mengangguk kecil. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Ruangan yang tidak terlampau luas itu seakan-akan tidak lagi berisi seorang pun. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika pintu depan gubug itu terbuka. Di muka pintu berdiri dua orang sambil menggenggam pedangnya. Berkata salah seorang dari mereka, “Aku mendengar semua yang kalian percakapkan. Kalian tidak usah ingkar. Aku datang sejak aku mendengar gadis ini berteriak.”

Wuranta, Swandaru, dan Agung Sedayu sejenak menjadi termangu-manggu. Ditatapnya kedua orang yang berdiri di muka pintu itu dengan mata yang hampir tidak berkedip. Begitu kuatnya mereka terpukau oleh keadaan di dalam ruangan itu, sehingga mereka sama sekali tidak menyadari, bahwa ternyata kehadiran mereka di dalam rumah itu telah diketahui oleh orang lain.

“Nah, apakah yang akan kalian katakan. Lebih baik kalian menyerah saja, supaya kalian tidak mempersulit pekerjaanku.”

Agung Sedayu menarik nafas. Ia-lah yang pertama-tama melangkahkan kakinya mendekati kedua orang yang masih berdiri di muka pintu.

Wuranta yang melihat langkah Agung Sedayu yang tenang dan meyakinkan itu menjadi berdebar-debar. Meskipun ia melihat perubahan pada diri anak muda itu sejak ia bertemu kembali di Jati Anom setelah agak lama berpisah, namun sikapnya saat itu benar-benar telah menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam dirinya. Di dalam diri Agung Sedayu itu tidak dapat dikenalnya lagi sifat-sifatnya pada masa kanak-kanaknya. Hampir tak ada bekas-bekas dari sifat-sifatnya itu. Seakan-akan Agung Sedayu tidak pernah berada di dalam suatu keadaan yang tidak sepantasnya bagi laki-laki muda. Seakan-akan anak muda itu tidak pernah menjadi seorang pengecut dan penakut. Tetapi kini Agung Sedayu melangkahkan kakinya dengan suatu keyakinan pada dirinya.

Dengan suara yang meyakinkan pula terdengar Agung Sedayu bertanya, “Siapakah kalian?”

“Kau tidak perlu bertanya siapakah kami. Tetapi kamilah yang berhak bertanya kepada kalian. Siapakah kalian?”

“Kalian telah mendengarkan percakapan kami.”

“Ya, ya. Kami tahu bahwa di antara kalian bernama Swandaru dan Agung Sedayu. Pengkhianat yang licik itu sudah aku kenal sebelumnya.”

Dada Wuranta berdesir mendengar sebutan itu. Pengkhianat. Di Jati Anom anak-anak muda menudingnya pula dengan sebutan itu. Pengkhianat.

“Apakah yang aku dapat dari sebutan-sebutan itu?” berkata Wuranta di dalam hatinya. “Di mana-mana aku dianggap sebagai pengkhianat. Kalau Alap-alap Jalatunda masih hidup, ia pun akan menuding wajahku sambil berkata demikian pula. Yang aku tidak tahu, bagaimanakah sebenarnya anggapan Sekar Mirah kepadaku.”

Tiba-tiba Wuranta itu menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak memperhatikan lagi tuduhan orang yang berdiri di muka pintu itu. Hatinya seakan-akan menjadi pepat.

Namun ia masih mendengar suara Agung Sedayu, “Kau benar. Akulah yang bernama Agung Sedayu. Dan Kakak Sekar Mirah itulah yang bernama Swandaru. Sedang yang satu, yang kau sangka pengkhianat itu adalah sahabatku. Ia memang berjuang untuk kepentingan Pajang sejak semula. Kebodohan pemimpin kalianlah yang telah memungkinkannya memasuki daerah ini.”

“Persetan dengan semua itu! Sekarang menyerahlah. Aku ingin, mengikat kaki dan tanganmu. Apabila keributan di banjar itu sudah selesai, maka akan datang giliran kalian untuk mendapatkan perhatian khusus dari Ki Tambak Wedi.”

Agung Sedayu seolah tidak mendengar kata-kata mereka itu. Malahan ia bertanya, “Apakah kalian berdua tidak ikut berkelahi di halaman banjar itu? Aku tadi berkesempatan untuk melihatnya. Kawan-kawanmu yang bertugas di segala penjuru berlari-larian ke sana. Kenapa kalian enak-enak saja di sini.”

“Hem,” geram salah seorang dari mereka, “apabila kami juga pergi ke sana, maka kalian akan leluasa berbuat sekehendakmu di sini. Itulah pertanda bahwa nasibmu memang sedang malang. Kalian mengira bahwa kami pun dipanggil pula ke sana. Ketahuilah, bahwa kami bertugas di sini berlima bergiliran pada keadaan biasa. Tiga dari kawan-kawan kami telah pergi ke banjar desa. Tetapi kami berdua tetap berada di sini. Agaknya nasib kalian yang terlampau jelek.”

Wajah kedua orang itu tiba-tiba menjadi tegang ketika mereka mendengar Agung Sedayu itu justru tertawa. Katanya, “Marilah masuk. Kita lebih baik berbicara dengan baik.”

Sejenak kedua orang itu terbungkam. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Agung Sedayu akan berbuat demikian. Anak muda itu sama sekali tidak menjadi cemas dan takut. Bahkan ia tertawa dan mempersilahkannya masuk.

Karena kedua orang itu tidak segera menjawab, maka Agung Sedayu itu berkata pula, “Marilah, kalau memang kau tidak akan pergi ke banjar itu. Apakah perlunya kita bertengkar?”

Sesaat kemudian kedua orang itu pun menyadari keadaannya. Wajah mereka yang tegang menjadi semakin tegang. Dengan gemetar salah seorang dari mereka berkata, “Jangan mencoba mempengaruhi sikapku. Aku bukan anak-anak. Seandainya gadis itu yang mempersilahkan aku, maka aku pun tidak akan melepaskan niatku untuk menangkap kalian. Ayo, menyerahlah sebelum kami bertindak.”

“Apakah kalian berdua mampu berbuat demikian? Kami bertiga di sini, sedang kalian hanya berdua.”

“Setan alas!” bentak yang lain. “Takaran kami adalah sepuluh orang seperti kalian.”

“Tetapi yang ada di sini hanyalah kami bertiga. Apakah kami harus mencari tujuh orang kawan lagi buat melayani kalian?”

Kedua orang itu pun menjadi semakin marah. Mereka merasakan kata-kata Agung Sedayu itu sebagai suatu penghinaan. Karena itu maka salah seorang dari mereka berkata, “Tak akan ada kesempatan lagi. Kalian telah menghina kami. Karena itu, maka kalian akan kami bunuh tanpa persoalan lagi. Tanpa harus dihadapkan kepada Ki Tambak Wedi atau siapa pun.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia melihat kedua orang itu menjadi sangat marah. Karena itu maka ia pun harus berhati-hati. Ia belum tahu, sampai di mana kemampuan keduanya. Tetapi ia yakin bahwa kedua orang itu pasti tidak akan setangkas Sidanti atau Alap-alap Jalatunda.

Dengan pedang teracung ke depan kedua orang itu bersama-sama melangkahi tlundak pintu masuk ke dalam gubug itu pula. Wajah mereka menjadi merah karena kemarahan yang telah memuncak.

Agung Sedayu melangkah selangkah surut. Ia menjadi semakin hati-hati menghadapi kedua orang itu. Apalagi ketika keduanya kemudian berpencar. Seorang ke sisi kiri, yang seorang, ke sisi kanan.

“Hem,” Agung Sedayu bergumam di dalam hatinya, “mereka cukup berhati-hati.”

Tetapi betapa terkejut Agung Sedayu ketika ia melihat Wuranta dengan tiba-tiba saja meloncat dengan garangnya, menyerang salah seorang dari kedua orang itu. Dengan pedangnya, ia langsung menusuk ke arah lambung.

Swandaru terkejut pula melihat serangan itu. Semula ia menyangka bahwa Agung Sedayu akan menyelesaikannya sendiri. Tetapi kemudian ia melihat Wuranta telah mulai membuka serangannya. Namun Swandaru itu tidak beranjak dari tempatnya. Ia merasa bahwa semuanya itu akan dapat selesai. Kewajibannya adalah melindungi Sekar Mirah dari setiap bahaya. Itulah sebabnya, maka Sekar Mirah itu tidak dilepaskannya.

Serangan Wuranta ternyata cukup dahsyat. Orang yang diserangnya terkejut pula. Tetapi orang itu cukup tangkas untuk menghindari serangan itu. Dengan lincahnya orang itu mulai membalas serangan Wuranta. Pedangnya menebas mendatar dalam ruangan yang tidak terlampau luas itu.

Kawannya yang seorang tidak segera berbuat sesuatu. Sejenak ia melihat kawannya berkelahi. Meskipun ia tidak melepaskan pengawasannya terhadap Angung Sedayu, tetapi ia mampu sekedar menilai keadaan yang terjadi. Ternyata kawannya itu tidak kalah cepatnya menggerakkan pedang daripada Wuranta.

Agung Sedayu pun melihat pula kekurangan Wuranta atas lawannya. Agaknya lawannya adalah seorang yang cukup terlatih. Dalam saat yang pendek, Wuranta telah terdesak beberapa langkah. Bahkan serangan-serangan yang diluncurkan oleh orang padepokan Tambak Wedi itu cukup membahayakan Wuranta.

Tetapi Wuranta bertempur dengan sepenuh tenaganya. Ia sendiri tidak menyadari sepenuhnya apa yang telah dilakukan. Tetapi ia merasa, bahwa ia harus berbuat sesuatu. Ia tidak mau dicengkam oleh ketegangan dan kerisauan. Karena itu tiba-tiba saja ia telah meloncat untuk melepaskan diri dari ketegangan yang mencengkamnya. Bukan karena kehadiran kedua orang itu, tetapi karena hatinya yang risau menghadapi keadaan. Hadirnya Agung Sedayu benar-benar telah membuat hatinya menjadi kisruh. Dan justru kehadiran kedua orang itu seakan-akan memberinya jalan untuk melepaskan ketegangan dan kerisauannya, sehingga tanpa berpikir jauh ia telah membuka serangannya.

Agung Sedayu menjadi cemas melihat perkelahian itu. Perkelahian di tempat yang sempit adalah lebih berbahaya daripada di tempat terbuka. Perbedaan kemampuan mempermainkan senjata yang tidak terlampau banyak, di tempat terbuka tidak akan terlampau berbahaya bagi pihak yang lemah, apalagi apabila ia mampu mengimbanginya dengan kecepatan bergerak. Tetapi di tempat yang sempit kesempatan untuk bergerak sangat terbatas. Kecakapan menggerakkan senjata akan sangat penting pengaruhnya.

Karena itu sejenak kemudian, Agung Sedayu melihat Wuranta itu menjadi semakin terdesak. Keadaannya tiba-tiba menjadi sangat berbahaya ketika ia telah melekat dinding, sedang serangan lawannya masih saja mengejarnya. Sekali ia mampu menangkis serangan itu, tetapi untuk seterusnya kedudukannya menjadi sangat sulit. Ternyata lawannya mampu mempergunakan kesempatan itu. Dengan sebuah tipuan yang mengejutkan, orang itu memancing senjata Wuranta untuk menangkis, tetapi begitu senjata Wuranta terayun ke samping, maka dengan cepatnya pedang lawannya itu terjulur lurus menggali ke dadanya.

Dada Agung Sedayu berdesir, ia tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Bahkan Swandaru pun hampir-hampir saja meloncat menolongnya seandainya ia tidak melihat pedang Agung Sedayu secepat kilat seolah-olah meloncat dari wrangkanya langsung memukul pedang lawan Wuranta sehingga pedang itu bergeser ke atas.

Keduanya yang sedang berkelahi terkejut melihat gerak Agung Sedayu yang demikian cepatnya sehingga sejenak keduanya berdiri saja sambil memandangi wajah Agung Sedayu yang tegang.

Tetapi sekali lagi terjadi sesuatu di luar dugaan Agung Sedayu, Swandaru, Sekar Mirah, bahkan kedua orang Tambak Wedi itu sendiri. Tiba-tiba Wuranta itu pun menjadi marah. Sambil menunjuk wajah Agung Sedayu dengan pedangnya ia berkata, “Adi Agung Sedayu, jangan terlampau sombong. Kalau kau ingin berkelahi, carilah musuhmu sendiri. Jangan kau ganggu aku. Apakah kau sangka aku tidak mampu menyelamatkan diriku sendiri? Kau sangka tanpa pertolonganmu aku akan semudah itu mati terbunuh? Adi, aku telah mengorbankan diriku dalam suatu pekerjaan yang sangat berbahaya. Sudah tentu aku tahu benar akibatnya. Apakah dengan demikian aku masih memerlukan pertolongan orang lain untuk keselamatanku.”

Agung Sedayu berdiri tegak seperti patung. Ia tidak mengerti apakah yang sedang dihadapinya. Ia merasa berbuat sesuatu yang seharusnya dilakukan. Tetapi ternyata Wuranta menganggapnya telah berbuat kesalahan. Karena itu, maka ia menjadi bingung dan untuk sesaat tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

“Adi,” berkata Wuranta kemudian, “kalau kau ingin melihat aku berkelahi, lihatlah dengan baik. Kalau kau ingin berkelahi pula, berkelahilah dengan lawan yang lain. Tetapi jangan ganggu aku. Kau dan aku adalah sama-sama seorang laki-laki. Kau dan aku mempunyai kesempatan yang sama. Karena itu carilah kesempatanmu sendiri apabila kau ingin menyombongkan diri. Apakah dengan demikian kau ingin menunjukkan kelebihanmu dari aku?”

Agung Sedayu menjadi semakin bingung. Ketika ia berpaling memandangi Swandaru, tampak anak muda yang gemuk itu menjadi bingung pula. Tetapi wajah Sekar Mirah tidak membayangkan kebingungannya, tetapi wajah itu membayangkan kecemasan.

Namun sejenak kemudian mereka dikejutkan oleh suara panah sendaren lamat-lamat di kejauhan. Panah sendaren yang dilepaskan oleh Ki Tanu Metir untuk memberi tanda kepada Untara yang berada di ambang pintu Padepokan Tambak Wedi itu.

Kedua orang Tambak Wedi itu agaknya mendengar juga suara panah sendaren itu. Karena itu mereka agaknya menjadi bertanya-tanya pula di dalam hati mereka. Apakah arti panah sendaren itu?

Sebelum kedua orang padepokan itu menyadari keadaannya, maka terdengar suara Swandaru, “Nah, sekarang jangan mencoba membuat ribut lagi di sini. Sekarang kau berdualah yang harus menyerah kepada kami. Bukankah kau mendengar suara panah sendaren itu? Itu adalah pertanda bahwa pasukan Pajang akan masuk ke dalam padepokan ini,”

Kedua orang itu terdiam sejenak. Dengan wajah yang dipenuhi oleh kebimbangan mereka saling berpandangan dan bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi salah seorang dari mereka kemudian berkata. “Jangan mencoba menyelamatkan diri dengan cara yang licik itu. Kalian sudah berada di tangan kami. Kalian harus menyerah dan harus tunduk kepada segala perintahku.”

“Jangan mengigau,” potong Swandaru, “kalian sudah tidak akan dapat meloloskan diri lagi.”

Tetapi kedua orang itu tidak mau diperdayakan. Karena itu maka segera mereka bersiap untuk segera mulai dengan pertempuran lagi di dalam gubug yang kecil itu. Tetapi kali ini Agung Sedayu tidak mau terlibat lagi dalam kesulitan dengan Wuranta yang tiba-tiba saja marah-marah tanpa diketahui sebabnya. Karena itu, maka ia mengambil jalan lain. Tiba-tiba ia menghadap kepada orang padepokan Tambak Wedi yang seorang lagi. Ia harus mengalahkan orang itu segera. Lebih cepat dari waktu yang diperlukan oleh orang yang lain mengalahkan Wuranta. Dengan demikian, maka keadaan pasti akan terpengaruh karenanya. Yang seorang lagi itu pun pasti akan kehilangan keberanian untuk berkelahi terus.

Ketika kedua orang itu mulai bergerak, maka tiba-tiba saja Agung Sedayu meloncat dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dilihat. Hampir tak masuk di akal Wuranta dan orang Tambak Wedi yang lain. Mereka seakan-akan tidak melihat Agung Sedayu itu berbuat sesuatu, tetapi yang mereka lihat adalah, pedang lawannya telah terlontar jatuh.

Orang yang kehilangan pedangnya itu pun berdiri saja dengan mulut ternganga. Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi. Ia hanya merasakan tangannya menjadi nyeri dan pedang itu terlepas justru pada saat ia mulai mempersiapkan dirinya. Waktu yang diperlukan oleh Agung Sedayu benar-benar tidak dapat dimengertinya.

“Nah, apakah katamu sekarang?” bertanya Agung Sedayu sambil mengacungkan pedangnya kepada orang itu. “Aku bukan Sidanti. Aku tidak akan membunuh lawanku yang sudah menyerah. Sekarang jawablah pertanyaanku. Apakah kau ingin menyerah atau ingin mencoba melawan. Kalau kau berkeras hati hendak berkelahi, maka saya persilahkan kau mengambil pedangmu.”

Orang itu berdiri kebingungan. Ia tidak mengerti, apakah Agung Sedayu itu berkata sebenarnya ataukah hanya sekedar bergurau saja. Tetapi sesaat kemudian ia mendengar Agung Sedayu itu berkata lagi, “Ayo. Ambil pedangmu, cepat! Ambil! Ambil!”

Orang Tambak Wedi itu benar-benar tidak mengerti maksud Agung Sedayu. Seperti orang yang kehilangan kesadaran ia berdiri saja membeku.

Tiba-tiba Agung Sedayu melangkah surut beberapa langkah. Sekali lagi ia berkata lantang, “Ambil pedangmu. Lawan aku. Cepat sebelum pedangku menembus jantungmu.”

Orang itu benar-benar tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Kesempatan untuk mengambil pedangnya kembali itu seperti terasa di dalam mimpi. Tetapi seperti digerakkan oleh tenaga yang aneh ia melangkah, membungkuk mengambil pedangnya.

“Nah, kau sudah bersenjata lagi. Ayo, lawanlah Agung Sedayu.”

Orang itu masih berdiri tegak kaku seperti tiang-tiang batu di dalam gubug itu.

“Cepat!” bentak Agung Sedayu.

Tetapi tiba-tiba orang itu menggeleng. Dilemparkannya pedangnya sambil berkata, “Tidak. Tidak ada gunanya. Aku menyerah.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau menyerah? Apakah kau tidak akan mencoba melawan aku?”

Sekali lagi orang itu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kau mampu bergerak seperti hantu. Cepat melampaui kecepatan mataku. Aku tidak akan mampu melawanmu.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling dilihatnya orang Tambak Wedi yang seorang berdiri seperti patung pula. Wajahnya menjadi pucat dan dadanya berdebaran.

“Bagaimana kau?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak, tidak,” jawabnya gemetar.

“Tidak? Apa yang tidak?”

“Aku tidak berani melawan kalian. Aku menyerah.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan sudut matanya ia mencoba memandangi wajah Wuranta. Ia tidak tahu, apakah yang tumbuh dan berkembang di dalam hatinya. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat menangkap perasaan anak muda itu.

Wuranta sendiri berdiri tegak di tempatnya. Ia melihat kecepatan bergerak Agung Sedayu. Gerak yang tidak dapat dibayangkannya dapat dilakukan oleh anak yang dahulu adalah seorang anak yang tercela di antara kawan-kawan laki-laki sebayanya. Seorang pengecut dan pengikut. Bahkan kadang-kadang terlampau cengeng. Dalam permainan yang biasa saja, Agung Sedayu sering sekali menangis dan berlari-lari pulang mengadukan kepada ibunya.

Tetapi anak itu kini begitu tangkasnya bermain pedang.

Meskipun demikian, Wurata masih belum dapat menerima kenyataan itu. Kenyataan itu terlampau pahit baginya. Meskipun ia tidak dapat berkelahi setangkas Agung Sedayu, tetapi apa yang selama ini dikerjakan, tidak juga dapat dilakukan oleh Agung Sedayu. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Tanpa aku, Sekar Mirah tidak akan dapat terlepas dari padepokan ini. Bahkan mungkin ia sudah kehilangan miliknya yang paling berharga di tangan Alap-alap Jalatunda.”

Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Agung Sedayu menjadi ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Wuranta masih berdiri di tempatnya dengan pedang di tangan, sedang Sekar Mirah dan Swandaru pun berdiri saja seperti patung. Meskipun demikian, terasa ada pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya, apakah sebabnya maka tiba-tiba Wuranta bersikap demikian, sedang Sekar Mirah menjadi sangat bersedih karenanya. Samar-samar ia dapat meraba, apakah sebenarnya yang menyebabkan Wuranta bersikap kasar terhadap Agung Sedayu.

Yang menjadi semakin bingung adalah dua orang Tambak Wedi yang berdiri kaku dengan wajah yang pucat. Mereka melihat sesuatu yang kurang wajar pada kedua lawannya. Wuranta dan Agung Sedayu. Tetapi meskipun demikian mereka tidak berani berbuat sesuatu. Apa yang dilakukan Agung Sedayu ternyata benar-benar telah mempengaruhi perasaan mereka. Apalagi orang yang pedangnya telah terlempar jatuh tanpa dapat berbuat apa pun.

Dalam pada itu, di regol padepokan Tambak Wedi, pasukan berkuda yang langsung dipimpin oleh Untara sendiri berderap memasuki padepokan seperti banjir yang telah memecahkan tanggul. Debu yang putih berhamburan naik tinggi ke udara.

Begitu Untara mendengar tanda-tanda yang diberikan oleh Kiai Gringsing, maka ia tidak menunggu lagi. Ia percaya bahwa orang tua itu memiliki perhitungan yang cukup baik, sehingga tanda-tanda yang diberikannya dapat dipercayainya.

Tetapi meskipun demikian, Untara tidak menunjukkan kelemahannya. Ia menyadari bahwa pasukannya itu tidak cukup banyak untuk bertempur melawan kekuatan yang ada di Tambak Wedi. Karena itu, maka sebelum ia memasuki regol padepokan, pasukannya telah mendapat pesan daripadanya, untuk membuat gelar yang dapat memberi kesan kepada lawannya, bahwa pasukan berkuda itu cukup banyak.

Sesaat pasukannya memasuki regol padepokan, maka pasukan itu segera berpencar. Sebagian langsung masuk dalam-dalam ke dalam padepokan itu, melingkar, kemudian berlari hampir di sepanjang jalan kecil menuju ke banjar pimpinan, sedang yang lain memilih jalan yang lain. Tetapi tujuan mereka, seperti yang telah diancarkan Ki Tanu Metir lewat Wuranta adalah banjar pimpinan. Sementara itu pasukan yang lain, yang berjalan kaki pun sudah tidak terlampau jauh lagi dari padepokan itu. Bahkan mereka pun lamat-lamat telah mendengar tanda yang dilontarkan oleh Ki Tanu Metir, panah sendaren. Karena itu, maka pasukan itu mempercepat langkahnya, bahkan berlari-lari kecil.

Yang pertama-tama memberi tanda, bahwa perhitungan Ki Tanu Metir cukup baik adalah, bahwa Untara sama sekali tidak menjumpai seorang penjaga pun di regol padepokan. Pertanda ini adalah pertanda yang baik bagi Untara. Meskipun pada saat ia datang ke padepokan ini ia cukup berhati-hati, sehingga ia berada pada jarak yang cukup jauh, karena ia masih meragukan keadaan. Tetapi ternyata bahwa pintu gerbang padepokan ini seolah-olah telah terbuka lebar menyambut kedatangannya.

Kedatangan Untara benar tidak diduga-duga oleh orang-orang padepokan Tambak Wedi. Baik oleh orang-orang Tambak Wedi sendiri maupun oleh orang-orang Jipang yang berada di Tambak Wedi yang saat itu sedang bertempur satu sama lain dengan sengitnya. Karena itu, ketika mereka mendengar kuda berderap di dalam padepokan mereka, maka mereka terkejut bukan buatan. Segera mereka menyadari keadaan mereka. Tetapi sudah terlambat. Kawan-kawan mereka yang terbunuh di dalam perkelahian yang ribut tanpa dapat dikendalikan, sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Bahkan Ki Tambak Wedi sendiri sama sekali sudah kehilangan perhitungannya dalam menghadapi pasukan Untara di Jati Anom. Dengan marahnya ia berkelahi membunuh orang-orang Jipang seperti menebas ilalang. Meskipun demikian orang-orang Jipang itu telah membuatnya semakin marah, karena setiap kali Sanakeling berhasil menyusun kembali sekelompok orang-orang yang cukup kuat untuk melawan hantu Tambak Wedi itu. Demikian juga Sidanti dan Argajaya. Setiap kali mereka harus berhadapan dengan kelompok-kelompok yang teratur sebagaimana prajurit yang sedang bertempur. Meskipun Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya seakan-akan mampu menumpas lawannya, namun jumlah orang Jipang itu cukup memberikan perlawanan yang sengit. Dengan demikian, maka akibatnya adalah korban berjatuhan tanpa dapat dihitung lagi.

Dan kini mereka yang sedang dirobek-robek oleh perkelahian itu menghadapi kenyataan baru, kedatangan pasukan Untara dan Jati Anom. Kedatangan itu demikian mengejutkan sehingga perkelahian yang berlangsung di sudut-sudut halaman, di kebun-kebun di antara rumpun-rumpun bambu dan di jalan-jalan itu, tiba-tiba terhenti. Orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang sejenak berdiri kaku dengan dada yang semakin berdebar-debar.

Sesaat kemudian mereka melihat kuda menyambar-nyambar di sekitar mereka. Mereka melihat kuda-kuda itu datang dari beberapa jurusan. Dengan demikian, maka dada mereka menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan beberapa orang dari mereka pun menjadi bingung karenanya.

Sebelum mereka menyadari keadaan, maka di kejauhan mereka mendengar seseorang berteriak nyaring, “Atas nama pemerintah Pajang, kalian supaya menyerah.”

Sejenak halaman banjar itu dicengkam oleh keheningan. Mereka tidak lagi mendengar derap kuda berlari-lari. Tetapi mereka melihat samar-samar di balik dedaunan dan pagar halaman, ujung-ujung pedang prajurit Pajang yang duduk di punggung kuda.

Ki Tambak Wedi berdiri termangu-manggu. Ketika ia menebarkan pandangan matanya, maka dilihatnya mayat bergelimpangan. Mayat kawan dan mayat lawan. Beberapa puluh langkah daripadanya berdiri Sanakeling yang telah dibasahi oleh darahnya sendiri. Luka-lukanya membujur-lintang di tubuhnya. Namun ia masih mampu berkelahi seperti harimau lapar.

Di luar halaman banjar, Sidanti yang keringatnya juga sudah diwarnai oleh darah yang memercik dari luka-lukanya, berdiri dalam keragu-raguan. Apakah yang harus mereka kerjakan?

Dalam keheningan itu sekali lagi terdengar suara dikejauhan, “Atas nama Adipati Pajang, menyerahlah. Kalian telah terkepung rapat.”

Suara itu bergetar menyelusur dedaunan, cabang-cabang pepohonan. Ranting-ranting dan menyentuh setiap telinga orang-orang Padepokan Tambak Wedi dan orang-orang Jipang, sehingga dada-dada mereka pun bergolak karenanya.

Ki Tambak Wedi, Sanakeling, Sidanti, dan Argajaya masih berdiri kaku di tempatnya. Dari tempatnya masing-masing, mereka saling memandang dan saling bertanya, apakah yang sebaiknya mereka lakukan.

Sejenak kemudian Ki Tambak Wedi melambaikan tangannya kepada muridnya dan kepada Argajaya. Keduanya pun segera memenuhi panggilan itu. Sambil meloncati mayat-mayat kawan dan lawannya, mereka tergesa-gesa mendapatkan Ki Tambak Wedi.

“Apa yang akan kau lakukan?” gumam Ki Tambak Wedi kepada muridnya.

Dengan nafas terengah-engah Sidanti menyahut. “Terserah kepada Guru, apa yang harus kami lakukan.”

Ki Tambak Wedi terdiam sesaat. Dipandanginya wajah Argajaya. Tetapi seperti Sidanti, ternyata Argajaya itu pun menunggu perintahnya.

Dalam pada itu sekali lagi udara padepokan digetarkan oleh suara di kejauhan, “Bagaimana jawabmu Ki Tambak Wedi. Kalian telah terkepung. Menyerahlah kepada kami yang datang ke padepokanmu mengemban perintah dari Pimpinan tertinggi Wira Tamtama, atas nama Adipati Pajang.”

“Persetan!” Tambak Wedi menggeram.

“Apakah kita harus melawan mereka bersama-sama?” bertanya Sidanti.

“Jangan bodoh,” jawab gurunya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Kita telah berada di dalam keadaan yang paling sulit selama kita berada di padepokan ini. Tetapi apa boleh buat. Kita sudah terlanjur basah kuyup.”

“Ya, tetapi lalu bagaimana?” desak Argajaya.

“Kita harus melepaskan diri dari padepokan ini. Kita tidak akan mampu melawan orang-orang Pajang itu. Kekuatan mereka masih cukup segar, sedang kekuatan kita telah turun lebih dari separo, seandainya Sanakeling masih bersedia bergabung lagi.”

“Apakah aku harus melarikan diri?”

“Tetapi kalian harus bertempur dahulu. Dengan demikian maka kesempatan kalian untuk menghindarkan diri menjadi lebih banyak. Biarlah orang-orang lain kalian tinggalkan. Aku juga akan segera menyusul, sebab aku kira tidak ada gunanya melawan mereka.”

“Bagaimana dengan Sanakeling?”

Ki Tambak Wedi memandangi orang itu, Sanakeling masih berdiri tegak dalam kebimbangan. Tiba-tiba ia melihat Ki Tambak Wedi melambaikan tangannya memanggilnya.

Sanakeling berdiri termangu-manggu. Tetapi kemudian ia menggeleng sambil menggeram, “Kalau kau perlukan aku, datanglah kemari.”

“Gila,” Sidanti berdesis, tetapi Ki Tambak Wedi mencegahnya.

“Biarlah. Kita pergunakan orang bodoh itu untuk saat yang terakhir.”

“Lalu apakah yang akan kita lakukan?”

“Aku akan datang kepadanya.”

“Kenapa Guru harus merendahkan diri demikian?”

“Kita menghadapi bahaya yang cukup besar. Kita pergunakan Sanakeling supaya ia melindungi kita tanpa diketahuinya. Kita tidak usah memikirkan nasibnya. Ia pasti akan mati di tangan Untara.”

Sidanti sama sekali tidak rela melihat gurunya terpaksa mengalah mendatangi Sanakeling. Tetapi ia melihat, bahwa rencana gurunya itu adalah satu-satunya yang dapat dilakukan. Karena itu, maka betapa pun sakit hatinya, ia terpaksa melihat gurunya itu berjalan mendekati Sanakeling.

“Kita bersama-sama berada di dalam kesulitan,” berkata Ki Tambak Wedi kepada Sanakeling kemudian, “waktu kita tidak cukup panjang. Bagaimanakah sikapmu Sanakeling?”

“Aku tetap pada pendirianku. Pantang menyerah kepada orang-orang Pajang, tetapi aku ingin Sidanti aku bunuh sekarang juga.”

“Itu tidak mungkin kau lakukan. Kau akan dapat memilih salah satu di antara keduanya. Melawan Pajang atau melawan Sidanti.”

“Keduanya. Aku tetap dalam pendirianku.”

“Tetapi kau tidak akan dapat melakukan bersama-sama. Baiklah, kalau kau tetap bertekad demikian. Tetapi apakah yang pertama-tama kau lakukan?”

Sanakeling tidak menjawab.

“Aku mempunyai usul, selagi kekuatan kita masing-masing masih cukup kuat untuk melawan Untara. Kita bersama-sama melawan orang-orang Pajang, kemudian kita selesaikan persoalan kita. Kau akan mendapat kesempatan perang tanding melawan Sidanti.”

Sanakeling masih berdiam diri

“Adalah bodoh pada saat serupa ini kita membuka garis perang segi-tiga. Itu hanya akan menguntungkan Untara saja. Apakah hal ini kau sadari?”

“Baik,” tiba-tiba Sanakeling menggeram, “aku setuju usulmu. Kita bertempur melawan Untara, tetapi sesudah itu, aku harus mendapat kesempatan membunuh Sidanti.”

“Terserah kepadamu. Tetapi yang akan terjadi adalah perang tanding. Kesempatanmu sama dengan Sidanti. Membunuh atau dibunuh di dalam perkelahian itu.”

“Baik. Kesempatan itu aku terima.”

“Nah, sekarang terserah kepadamu. Tuntunlah pasukanmu yang masih tersisa. Aku akan membawa pasukan Tambak Wedi untuk melawan orang-orang Pajang itu. Kalau yang datang itu hanya pasukan berkudanya saja, maka kekuatan itu tidak terlampau besar.”

“Bagus,” sahut Sanakeling, “tetapi kau jangan ingkar janji.”

“Aku junjung tinggi sifat-sifat jantan di antara kita.”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara itu Ki Tambak Wedi kembali kepada Sidanti. Namun ia masih belum melihat pasukan Pajang mulai bergerak. Agaknya mereka menyangka bahwa Tambak Wedi sedang merundingkan syarat penyerahan. Bahkan ia masih mendengar lagi suara, “Apakah kalian menyerah?”

Sekilas Ki Tambak Wedi memandang Sanakeling. Dilihatnya wajah itu menegang. Bahkan kemudian menggeleng. Ki Tambak Wedi pun tersenyum di dalam hati. Namun mulutnya segera berteriak, “Tak ada seorang pun di antara kami yang berpikir untuk menyerah. Meskipun tubuh kami telah dibasahi oleh keringat dan darah, tetapi kami akan tetap dalam pendirian kami.”

Demikian Ki Tambak Wedi berhenti, maka terdengar Sanakeling berteriak, “Ternyata kalian, prajurit-prajurit Pajang, terlampau licik. Kalian mempergunakan kesempatan, selagi kita menyelesaikan masalah kami ke dalam. Tetapi tidak apa. Sisa-sisa yang ada pada kami cukup kuat untuk melawan kalian.”

Jawaban itu memang sudah diduga. Namun ternyata Untara tidak segera bertindak. Ia masih melihat keadaan yang dihadapinya. Namun sebagai seorang prajurit yang berpengalaman, maka segera ia berhasil menyesuaikan dirinya. Segera ia mengetahui dan menyadari sepenuhnya apa yang sedang dihadapi. Dengan mempertimbangkan pesan Ki Tanu Metir lewat Wuranta, sambil melihat apa yang terjadi saat itu, maka Untara mampu menarik kesimpulan dan langsung membuat perhitungan sebaik-baiknya. Sebenarnya ia mengharap kehadiran Ki Tanu Metir untuk mendapat pertimbangan, tetapi orang itu masih belum dilihatnya. Namun untuk bertindak lebih lanjut ia cukup berhati-hati. Ia tidak tergesa-gesa menyerbu lawannya yang sedang dengan tegang menunggunya. Tetapi dibiarkannya keadaan itu tetap tidak berubah. Sementara itu pasukannya yang berjalan kaki semakin lama menjadi semakin dekat. Di pintu gerbang, Untara telah menempatkan dua orang penghubung yang akan mengatur pasukannya yang segera akan menyusul. Sementara itu, ia dapat memperpanjang waktu dengan berbagai macam pertanyaan dan ancaman. Namun derap kuda pasukannya telah cukup membuat orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang yang masih hidup menjadi bingung dan berkecil hati, seolah-olah kuda-kuda itu berada di segala jurusan.

Ketika Untara mendengar Sanakeling menjawab maka ia berkata pula, “Sanakeling, apakah kau masih tetap merasa bahwa pasukanmu cukup kuat untuk melawan Pajang?”

Dari balik segerumbul perdu Sanakeling melihat kepada Untara yang duduk di atas punggung kuda. Di belakangnya beberapa prajurit berkuda mengawalnya dengan kuat. Ujung-ujung pedang berkilat-kilat tersentuh oleh sinar matahari pagi yang semakin lama menjadi semakin cerah.

“Jumlah kami masih cukup!” teriak Sanakeling. “Jangan menyangka bahwa karena pertengkaran kecil di antara kami maka kekuatan kami menjadi susut.”

Untara tertawa. Katanya, “Apakah kau sangka kami di sini tidak melihat mayat yang bergelimpangan di halaman, di bawah rumpun-rumpun bambu dan gerumbul-gerumbul liar di kebun belakang, di jalan-jalan, bahkan bergayutan di pagar-pagar batu yang rendah itu?”

“Persetan dengan itu semua!” Ki Tambak Wedi-lah yang menyahut. “Kalau kau mau menyerang kami, marilah kami tunggu. Kenapa kalian masih berdiam diri saja di situ? Apakah kalian merasa bahwa kalian telah terperosok ke dalam lingkungan yang tidak kalian duga-duga. Kalian menyangka bahwa kami telah tumpas karena perselisihan yang tidak berarti ini? Untara, kamu salah. Ternyata, bahwa kami masih sanggup menyambut kedatanganmu. Ayo, kenapa kau diam saja di situ?”

“Jangan menggertak, Kiai,” sahut Untara, “pasukan kami cukup banyak. Tetapi adalah menjadi kebiasaan Wira Tamtama Pajang untuk tidak tergesa-gesa bertindak. Kami memberi kalian waktu. Dan waktu yang kami berikan untuk berpikir itu cukup panjang, supaya kalian tidak menyesal nanti.”

“Omong kosong!” teriak Ki Tambak Wedi. Kemudian kepada Sanakeling ia berkata, “Kalau Untara masih belum berbuat sesuatu, kitalah yang akan bergerak dahulu Sanakeling. Siapkan pasukanmu!”

“Bagus,” sahut Sanakeling. Namun ketika ia berpaling memandangi daerah sekitarnya hatinya menjadi berdebar-debar. Pasukannya sebagian besar telah musnah seperti orang-orang Tambak Wedi sendiri. Meskipun demikian ia tidak dapat menyerah. Maka berteriaklah ia kepada sisa-sisa pasukannya, “Hentikan permusuhan atas orang-orang Tambak Wedi. Kita mendapat lawan baru yang lebih gila dari orang-orang Sidanti.”

Sejenak orang-orangnya menjadi bingung. Tentu saja mereka tidak akan dapat melupakan permusuhan yang baru saja terjadi. Bahkan ada di antara mereka yang telah terluka dan sahabat-sahabatnya telah terbunuh di dalam perkelahian itu, tetapi kini mereka dihadapkan pada kenyataan baru, Wira Tamtama Pajang telah berada di ujung hidung. Bukan saja berada di Jati Anom.

“Sanakeling,” terdengar suara Untara, “kau masih membayangkan kebesaran pasukan Jipang pada masa-masa lampau. Kau telah gagal dalam gerakanmu di Utara. Kini kau akan mengalami kegagalan yang serupa. Apakah tidak lebih baik bagimu untuk menyerah?”

“Aku tidak pernah merasa gagal di Utara. Aku datang bersama orang-orangku karena panggilan Macan Kepatihan. Dan di sini pun aku tidak akan gagal pula. Kali ini aku akan menangkapmu dan menggantungmu di muka regol padepokan ini.”

“Aku atau kau Sanakeling? Mungkin kedua-duanya. Sesudah kau menggantung aku, maka kaulah yang akan digantung oleh Ki Tambak Wedi.”

Sanakeling terdiam. Sekilas ia berpaling ke arah Ki Tambak Wedi. Tetapi Ki Tambak Wedi-lah yang menyahut, “Setan Pajang yang licik! Apakah kau mencoba mempengaruhi tekad kami bersama-sama untuk melawanmu. Apa yang terjadi kemudian telah kami setujui bersama. Kau tidak akan berhasil dengan caramu. Ayo, Sanakeling, siapkan pasukanmu. Ternyata Untara tidak cukup kuat untuk bertindak. Kalau pasukannya cukup, maka ia tidak akan hanya berbicara saja di atas punggung kudanya.”

Dada Untara berdesir. Teryata perhitungan iblis lereng Merapi itu cukup cermat, sehingga ia dapat menebak keadaannya. Tetapi dengan pasukan yang ada, Untara tidak merasa cemas. Meskipun orang-orangnya tidak banyak, tetapi mereka semuanya berada di atas punggung kuda, sehingga gerak mereka pun akan jauh lebih cepat dari lawannya.

Meskipun demikian sebagai seorang senapati ia harus yakin atas perhitungannya, sehingga meskipun ia tidak mencemaskan pasukannya yang hanya sebagian itu, namun ia masih tetap menunggu. Untara masih cukup bersabar. Ia tidak akan mulai sebelum pasukannya datang, kecuali kalau Ki Tambak Wedi mendahului.

Dalam pada itu ia mendengar Ki Tambak Wedi itu berteriak, “Sanakeling, apakah pasukanmu sudah siap?”

Sanakeling memandangi orang-orangnya yang masih tersisa. Sebagian sudah berdiri berkelompok, sedang yang lain masih sedang menyusun diri. Namun sebagian dari mereka telah menjadi sangat letih. Meskipun demikian wajah-wajah mereka masih memancarkan tekad mereka sebagai seorang prajurit. Nyala di dalam dada orang-orang Jipang masih lebih hangat dari orang-orang Tambak Wedi sendiri.

Ketika Sanakeling melihat orang-orangnya telah berkelompok di beberapa tempat, di jalan-jalan dan di dalam halaman, maka ia berteriak, “Kau lihat sendiri Ki Tambak Wedi, orang-orangku masih tetap dalam keadaannya meskipun beberapa orang yang lain telah terluka dan bahkan terbunuh. Tetapi yang tersisa masih cukup kuat menghadapi siapa saja.”

Terdengar Sidanti dan Argajaya menggeram. Mereka juga melihat orang-orang Jipang itu dengan cepat telah menyusun dirinya kembali, sedang orang-orang Tambak Wedi masih juga tertatih-tatih mencari kawan-kawan di antara mereka. Namun meskipun agak lambat tetapi orang-orang Tambak Wedi itu akhirnya berhasil juga mengelompokkan dirinya.

“Ayo Untara, kenapa kau masih tetap diam? Pasukanku seluruhnya telah siap,” teriak Ki Tambak Wedi. Tetapi Sanakeling menyahut, “Pasukanku pun telah siap pula.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Terasa betapa Sanakeling tidak mau lagi disebut dan dimasukkan ke dalam lingkungan pasukan Ki Tambak Wedi.

Tetapi Untara tertawa. Terdengar suara tertawanya sangat menyakitkan hati. Apalagi ketika Untara itu berkata, “Ki Tambak Wedi dan Sanakeling. Apakah kalian sangka aku tidak melihat orang-orang kalian yang merangkak-rangkak berkumpul di jalan-jalan itu? Apakah kalian menyangka bahwa aku bukan seorang prajurit yang dapat menilai pasukan? Seharusnya kalian tidak lagi memaksa orang-orang kalian yang telah menjadi kelelahan itu untuk bertempur. Kalian pasti sudah dapat menilai pula, bahwa prajurit-prajurit Pajang masih cukup segar menghadapi lawan, meskipun lawannya gabungan antara pasukan Tambak Wedi dan pasukan Sanakeling. Tetapi yang kedua-duanya telah terlampau payah karena pertengkaran di antara kalian sendiri.”

“Tetapi jumlah orang-orangmu terlampau sedikit Untara,” sahut Ki Tambak Wedi.

“Kau mencoba menghibur hatimu sendiri. Kau melihat pasukan berkuda ini?”

“Lima orang dari Utara, lima orang dari Selatan, lima dari Barat dan lima dari Timur. Begitu? Apakah aku harus kagum melihat pasukan yang tidak lebih dari jumlah jari-jariku?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Ki Tambak Wedi mempunyai tangkapan yang baik, meskipun orang itu telah mencoba memperkecil arti pasukannya. Ia akan dapat menjadi seorang senapati yang cakap di medan perang.

“Siapakah sebenarnya orang tua-tua ini,” pikir Untara, “Ki Tambak Wedi, Ki Tanu Metir dan siapa lagi? Ternyata mereka mempunyai sikap dan pandangan serta perhitungan seorang prajurit.”

Untara itu mengangkat kepalanya ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi berteriak, “Apa katamu, he Untara? Apakah tidak sebaiknya kau saja yang menyerah?”

Tetapi sekali lagi Untara tertawa. Jawabnya, “Kalau perhitunganmu benar Kiai, kenapa kau juga masih berdiam diri, bersama pasukanmu yang letih. Lihat, berapa orang yang berada, di belakangku. Jumlah ini sudah cukup meyakinkan bahwa dugaanmu terlampau jauh dari kebenaran.”

Ki Tambak Wedi menggeram, Tetapi ia pun tidak berani segera mulai. Ia sebenarnya juga menunggu Untara memasuki halaman dan daerah pertempuran yang sempit. Pasukannya beserta pasukan Sanakeling yang lelah, tidak akan dapat berkelahi dalam arena yang luas, apalagi melawan prajurit-prajurit berkuda. Tetapi agaknya Untara tidak segera bergerak. Dengan segala macam cara Tambak Wedi memancingnya, membuat Untara segera bertindak. Namun senapati yang meskipun masih muda, tetapi sudah cukup masak menghadapi medan itu masih tetap bersabar.

“Untara,” berkata Ki Tambak Wedi, “kalau kau berkata sebenarnya, kenapa kau masih duduk di situ seperti patung? Apakah tugasmu hanya berteriak-teriak saja sepanjang hari? Apakah tugas seorang Senapati Pajang itu hanya menakut-nakuti orang, mengancam kemudian menunggu orang-orang itu menyerah?”

“Sebagian benar, Kiai.”

“Setan alas!” Ki Tambak Wedi mengumpat.

Agaknya Sanakeling-lah yang sudah tidak sabar lagi. Luka-lukanya semakin lama terasa semakin pedih. Karena itu, maka ia tidak ingin membiarkan dirinya menjadi lemah karena darahnya yang meskipun hanya setetes-setetes meleleh dari luka-lukanya. Maka dengan garang ia berkata, “Kitalah yang akan mulai. Jangan terpancing ke segenap arah. Kita pusatkan pasukan kita kepada senapati yang hanya pandai berteriak-teriak itu saja. Pasukannya yang lain pasti akan terhisap ke sana. Bukankah kita menginginkan medan yang sempit?”

“Bagus,” sahut Untara, “ternyata kau cukup berterus terang mengatakan cara yang kau pilih.”

“Tak ada gunanya berahasia. Kau pasti mampu menebak,” sahut Sanakeling, yang sejenak kemudian berteriak memberi aba-aba kepada pasukannya.

Pasukannya yang letih itu pun segera bersiap. Meskipun keringat mereka seolah-olah telah terperas habis, dan bahkan titik-titik darah telah membasahi pakaian mereka, namun mata mereka masih tetap menyiratkan dendam dan kebencian. Apalagi ketika mereka mendengar Sanakeling berkata, “Jangan biarkan diri kalian tertangkap hidup. Kalian akan menjadi tontonan di sepanjang jalan kota Pajang.”

Untara melihat pasukan yang sudah menjadi sangat lelah itu mulai bergerak. Kemudian disusul oleh pasukan Ki Tembak Wedi langsung di bawah pimpinan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Sanakeling, mereka semuanya menyergap ke arah Untara bersama para pengawalnya.

Untara menarik nafas, ia melihat para pemimpin dan pasukan lawannya yang perlu mendapat perhatiannya, Ki Tambak Wedi, Sanakeling, Sidanti dan Argajaya. Untuk melawan mereka Untara memerlukan kelompok-kelompok khusus. Tak akan ada orangnya yang mampu berhadapan dengan salah seorang dari keempatnya, selain dirinya sendiri menghadapi salah seorang dari para pemimpin pasukan lawannya kecuali Ki Tambak Wedi.

Namun, selain para pemimpinnya, maka sebenamya pasukan Tambak Wedi dan Sanakeling itu sudah terlampau lemah, setelah mereka berkelahi sesamanya. Bahkan dalam pasukan yang sudah siap melawan pasukan Untara itu pun mereka tidak dapat bercampur dalam satu baris perlawanan. Tampaklah bahwa masing-masing berada di dalam lingkungannya sendiri.

“Apakah kalian benar-benar tidak menyadari keadaan diri,” teriak Untara.

“Jangan banyak bicara!” sahut Sanakeling sambil membawa pasukannya semakin maju.

Untara merasa bahwa ia tidak akan dapat mengulur waktunya. Karena itu, maka dipanggilnya salah seorang perwira bawahannya. Diberikannya beberapa petunjuk untuk melawan para pemimpin dari padepokan ini.

“Hati-hatilah dengan iblis yang tua itu. Jangan kurang dari sepuluh orang. Sedang anak muda yang bernama Sidanti itu, cobalah melawan bersama tiga atau empat orang. Demikian juga yang lain itu, yang aku kira adalah adik Argapati dari Menoreh seperti yang dipesankan oleh Ki Tanu Metir. Sedang Sanakeling, serahkan ia kepadaku. Akulah yang berkewajiban untuk menangkapnya hidup-hidup, apabila mungkin. Kalau tidak, aku terpaksa menyelesaikannya demi tugasku.”

Perwira Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyadari bahwa tugas itu bukan tugas yang ringan. Meskipun di hadapannya berjalan prajurit-prajurit yang lemah dan tertatih-tatih menyeret tombak dan pedang mereka, tetapi menghadapi para pemimpinnya, maka masih banyak diperlukan tenaga.

Sekilas perwira itu memandang berkeliling. Pasukannya memang tidak begitu banyak. Tetapi cukup untuk membuat orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang menjadi bingung. Dengan tangannya perwira itu memanggil beberapa orang bawahannya. Diberikannya beberapa keterangan. Hanya mereka yang berada di atas kuda-kuda yang cukup tangkas dan dapat dikuasai dengan baiklah yang dipilihnya untuk melawan Ki Tambak Wedi yang mengerikan itu.

Pasukan yang dibawa oleh Sanakeling semakin lama menjadi semakin dekat. Sementara itu beberapa ekor kuda dari para prajurit Pajang telah bergerak pula menyusun diri. Beberapa orang bergabung dalam satu kelompok untuk menghadapi orang-orang yang mempunyai banyak kelebihan dari para prajurit itu sendiri.

Tetapi ternyata Untara bukan anak-anak yang lagi bermain perang-perangan. Ia mampu menilai keadaan dan membuat perhitungan yang tepat. Ketika orang-orangnya telah tersusun, meskipun dengan terpaksa ia harus memanggil beberapa orang yang datang dari jurusan lain, maka ia mulai menggerakkan pasukannya pula. Tetapi Untara tidak menyongsong pasukan yang datang ke arahnya. Dengan sebuah tanda-tanda pedang Untara ternyata menggerakkan pasukannya yang berada di arah yang bertentangan dengan dirinya, meskipun hanya beberapa orang saja.

Sejenak kemudian orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang mendengar ringkik kuda justru di belakang mereka. Ketika mereka berpaling, maka mereka melihat bayangan yang bergerak-gerak di belakang dedaunan mendekati mereka.

“Setan alas!” teriak Tambak Wedi. “Kau mulai dengan licik, Untara?”

“Bukankah sudah aku katakan, bahwa pasukanku telah mengepung kalian.”

“Persetan!” teriak Sanakeling. Dengan gigi gemeretak, maka ia berteriak pula, “Jangan songsong mereka. Biarkan mereka maju. Kita tetap bertempur dalam medan yang sempit.”

“Hem,” Untara menarik nafas, “meskipun orang itu sudah hampir kehabisan tenaga, namun sikap senapatinya masih cukup baik.”

Perwira bawahannya yang duduk di atas punggung kuda di sampingnya menganggukkan kepalanya. “Otaknya cukup baik,” gumamnya.

Untara pun kemudian harus mengambil sikap berikutnya. Ternyata ia tidak berhasil mengacaukan orang-orang Jipang. Namun orang-orang Tambak Wedi tampak menjadi agak kebingungan. Apalagi ketika kuda-kuda di belakang mereka menjadi semakin dekat.

“Kalian bukan anak-anak yang dungu,” teriak Sanakeling, “kalian dapat menghindarkan diri dari kuda-kuda itu. Pergunakan dinding-dinding halaman, dan cepat, tutup regol halaman itu.”

Sekali lagi Untara menarik nafas. Desisnya, “Bukan main.”

Sementara itu ia melihat orang-orangnya tidak mampu mencapai regol halaman, lebih cepat dari orang-orang Jipang. Ternyata orang-orang Jipang telah berhasil menutup regol itu, kemudian memasang palangnya yang kuat sebesar lengan.

Dan Untara mendengar Sanakeling berteriak lagi kepada orang-orangnya yang berada di jalan-jalan, “Bersiaplah kalian. Hindarkanlah serangan yang licik itu. Masuk, meloncati pagar batu ke halaman sebelah-menyebelah. Pusatkan seranganmu kepada Senapati Pajang yang hanya pandai menakut-nakuti itu saja.”

Tetapi Untara bukan pula orang yang mudah menjadi bigung menghadapi kenyataan itu, sehingga ia pun berteriak, “Tunggu sajalah orang-orang Jipang itu merangkak kemari. Kalau mereka benar-benar ingin menyergap aku, mereka pasti akan keluar dari halaman banjar desa. Nah, kesempatan bagi kalian akan datang juga akhirnya. Meskipun kini mereka berloncatan masuk. Hematlah tenaga kuda kalian, supaya kalian sempat melihat orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang bertekuk lutut di hadapan kita.”

Mendengar teriakan Untara itu, Sanakeling menggeram. Sejenak ia berpikir. Untara ternyata melihat kemungkinan yang pasti akan datang pula, yaitu pasukannya keluar dari halaman banjar itu, dengan meloncati dinding batu dan menyerbu ke arahnya. Dan Untara tiba-tiba memerintahkan pasukannya diam menunggu setelah ia keluar dari halaman itu.

“Memang sia-sia aku memerintahkan menutup pintu regol itu,” pikir Sanakeling, “sebentar lagi aku sudah akan keluar dari halaman ini.”

Tetapi tiba-tiba Sanakeling melihat keuntungannya pula. Halaman di sebelah tidak seluas halaman banjar, sehingga kesempatan berkelahi dengan kuda tidak terlampau banyak, Halaman itu di kelilingi oleh dinding batu pula.

Melihat hal itu Sanakeling mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berkata apa pun. Ia melihat kuda-kuda prajurit Pajang bergeser mendekati Untara.

Sejenak Sanakeling itu berpaling. Kini ia melihat Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya bersama pasukan Tambak Wedi menjadi semakin maju pula. Mereka mendekati halaman sebelah lewat sisi yang lain dari yang dilewati Sanakeling. Sanakeling sendiri tidak ingin menggabungkan pasukannya dalam satu lingkaran perkelahian menghadapi pasukan Untara. Mereka bertempur dalam lingkungan sendiri-sendiri. Apabila pasukan Tambak Wedi itu tidak sekuat prajurit-pasukan Jipang, biarlah pasukan itu musnah lebih dahulu.

Akhirnya mereka telah sampai pada dinding halaman banjar itu, dan sesaat lagi mereka akan meloncatinya.

Untara menjadi berdebar-debar. Pasukan lawan itu sudah tidak begitu kuat. Tetapi apakah pasukannya yang hanya berjumlah sedikit itu mampu melawannya? Untunglah bahwa pasukan lawan itu sudah terlampau letih.

Tetapi Untara tidak dapat tinggal diam lebih lama lagi. Ketika orang yang pertama telah menjejakkan kakinya di halaman tempatnya menunggu, maka segera ia menjatuhkan perintah pula untuk segera bertindak.

Beberapa orang segera meluncur maju di atas kudanya. Orang yang pertama itu ternyata bernasib kurang baik. Ia tidak sempat berbuat sesuatu ketika prajurit Pajang itu menyerangnya dari atas punggung kuda. Orang yang pertama itu adalah orang Sanakeling.

Terdengar Sanakeling menggeram semakin keras. Terdengar giginya gemeretak. Selanjutnya ia sendirilah yang meloncati pagar bersama-sama dengan beberapa pengawalnya yang terpilih.

Untara yang melihat Sanakeling, segera bergerak pula. Adalah menjadi kewajibannya untuk menangkap sisa-sisa Senapati Jipang itu, sementara seorang perwira bawahannya telah menyiapkan diri bersama kelompoknya menyambut pasukan Tambak Wedi yang telah berada di sisi dinding halaman itu pula.

Pasukan berkuda itu pun segera berpencaran. Tiba-tiba orang-orang Jipang itu terkejut ketika mereka mendengar derap kuda di belakang mereka. Bahkan Ki Tambak Wedi sendiri tertegun pula karenanya. Ternyata dua orang prajurit Pajang telah meloncat turun dari kuda-kuda mereka dan masuk ke dalam halaman itu dengan diam-diam untuk membuka regol halaman. Sedang lawan-lawan mereka telah mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Untara dan para pengawalnya.

Kuda-kuda itu berderap menyerang orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi yang telah berkumpul di sepanjarg dinding halaman, menunggu giliran mereka untuk meloncat. Tetapi karena serangan yang datang tiba-tiba, meskipun hanya dari beberapa ekor kuda itu, mereka terpaksa mempertahankan diri mereka, sehingga pasukan itu menjadi agak terganggu karenanya. Kawan-kawan mereka yang telah meloncat dinding halaman di seberang telah disambut pula oleh pasukan berkuda Untara, dan yang masih tinggal di halaman ini pun telah mendapat serangan pula dari arah yang berlawanan. Sedang kawan-kawan mereka yang mencoba menyerang jalan di muka halaman itu pun terpaksa menghentikan langkah-langkah mereka dan terpaksa mereka harus melayani kuda-kuda yang menyambar di jalanan itu pula.

Tetapi ternyata jumlah orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi masih cukup banyak. Meskipun mereka sudah menjadi sangat letih namun jumlah mereka masih cukup untuk menahan arus prajurit-prajurit berkuda dari Pajang yang terlampau sedikit jumlahnya.

Untara yang sudah siap untuk menyongsong Sanakeling tertegun sejenak ketika ia melihat dengan tiba-tiba saja Ki Tambak Wedi melepaskan sebuah gelang-gelang besinya. Senapati dari Pajang itu menahan nafasnya sejenak ketika ia melihat seorang anak buahnya terpelanting dari kudanya oleh gelang-gelang besi itu. Korban anak buahnya yang pertama. Anak buahnya yang tidak begitu banyak.

“Gila,” desis Untara dengan kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya.

Sekilas ia memandang perwira yang diserahinya untuk melawan Tambak Wedi. Untara melihat perwira itu mengerutkan keningnya. Namun apa yang terjadi merupakan peringatan baginya bahwa melawan orang itu adalah pekerjaan yang berbahaya. Tetapi di samping itu, perwira itu mendapat petunjuk pula, bahwa setiap kesempatan bagi Tambak Wedi untuk melepaskan gelang besinya akan berarti maut. Dengan demikian, maka serangan-serangan terhadapnya harus datang beruntun, seperti ombak yaug menghantam pantai tanpa sekejap pun waktu yang boleh diabaikan.

Tetapi Ki Tambak Wedi itu masih berada di seberang pagar dinding halaman, sehingga kelompoknya masih belum dapat menyergap iblis lereng Merapi itu. Namun perwira itu bukan seorang yang hanya mampu menunggu perintah Untara. Sambil menunggu Tambak Wedi, maka kelompoknya beserta orang-orang yang telah disiapkannya menunggu Sidanti dan Argajaya, segera menyerbu ke arah orang-orang Tambak Wedi yang telah meloncati pagar halaman banjar. Sedang prajurit-prajurit Pajang yang di halaman seberang, segera melibatkan diri dalam pertempuran yang ribut, justru untuk mengurangi kesempatan Ki Tambak Wedi membidik salah seorang daripada mereka. Kuda-kuda itu menyambar silang-menyilang pada tempat yang paling jauh dari Ki Tambak Wedi yang sangat berbahaya itu.

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Ia melihat pertempuran sudah menjalar di mana-mana. Ia melihat orang-orang berkuda di halaman banjar menyerang orang-orang Jipang agak jauh daripadanya. Sedang di hadapan dinding batu halaman itu, orang-orangnya sendiri telah terlibat pula dalam pertempuran yang sengit dengan orang-orang berkuda dari Pajang. Bahkan orang-orang berkuda itu agaknya lebih tangkas dari orang-orang yang bertempur di halaman banjar.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak berminat lagi untuk menyerang orang-orang yang berada di halaman banjar dengan gelang-gelangnya. Orang-orang Pajang itu ternyata kini sedang bertempur dengan orang-orang Jipang. Perhatiannya kini di tujukan kepada orang-orangnya yang telah meloncati dinding halaman.

Ki Tambak Wedi adalah seorang yang mempunyai pandangan yang jauh dan cukup terang. Ia tidak percaya bahwa Untara hanya akan bertempur dengan orang-orangnya itu. Perhitungannya telah mengatakan kepadanya, bahwa di belakang barisan berkuda ini pasti akan segera menyusul pasukannya yang lain. Tetapi ia sengaja tidak mengatakannya kepada siapa pun, sebab ia sengaja membiarkan perkelahian ini berkecamuk terus untuk memberinya kesempatan melarikan diri.

Sedang Sanakeling yang sedang menjadi mata gelap karena persoalan yang bertubi-tubi, tidak sempat membuat perhitungkan lain. Meskipun ia telah menduga bahwa prajurit Pajang mungkin akan bertambah, namun ia merasa bahwa pasukan yang ada akan segera dapat mengatasi keadaan melawan pasukan Untara yang tidak begitu kuat. Kemudian sesudah ini, entahlah apa yang akan dilakukannya. Melarikan diri, bersembunyi atau apa pun untuk mendapat kesempatan bertempur dengan Sidanti.

Pertempuran di halaman banjar, di halaman sebelah, di jalan-jalan pun menjadi semakin seru. Untara ternyata tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa jumlah orang-orang Jipang dan Tambak Wedi masih cukup berbahaya bagi anak buahnya. Karena itu, maka ia harus berhati-hati, dan menjaga supaya pasukannya mampu bertahan sampai pasukannya yang lain datang ke padepokan ini.

Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Sidanti, Argajaya, dan sebagian besar orang-orangnya telah meloncati halaman. Bahkan kemudian Ki Tambak Wedi pun kini telah berdiri di atas dinding batu melihat keseluruhan dari pertempuran itu.

“Dari sana setan itu akan dapat membidik setiap orang yang dikehendaki,” desis Untara di dalam hatinya. Namun ternyata perwira bawahannya pun telah memperhitungkannya pula. Karena itu, maka hampir bersamaan beberapa ekor kuda menyambarnya beruntun, sedang penunggangnya mencoba menyentuh tubuh itu dengan pedang.

Ki Tambak Wedi yang sedang memperhitungkan pertempuran itu terkejut mendapat serangan yang tiba-tiba. Sekali lagi terpaksa meloncat turun ke halaman banjar. “Gila,” desisnya.

Pada saat yang demikian, pada saat pasukan Untara berada dalam keadaan, yang cukup gawat, seorang penghubung telah mendatanginya. Karena itu maka Untara tidak segera menyerang Sanakeling. Diterimanya penghubung itu dengan harapan, bahwa pasukannya yang berjalan kaki telah datang. Dibiarkannya beberapa orang lebih dahulu menahan Sanakeling dan pasukannya.

Ternyata harapannya itu terjadi. Penghubung itu mengabarkan bahwa pasukannya yang berjalan kaki kini telah memasuki pintu gerbang padepokan itu.

“Bagus,” desis Untara, “bawalah mereka langsung ke pertempuran ini. Aku kini mempunyai perhitungan bahwa kita akan segera menyelesaikan tugas kita. Usahakan pasukan itu mengepung pertempuran ini, usahakan bahwa tidak seorang pun dapat lolos, termasuk Ki Tambak Wedi itu.”

Penghubung itu pun segera melakukan tugasnya. Dengan cepat menemui pasukan yang baru datang memasuki regol padepokan Tambak Wedi, yang seakan-akan terbuka tanpa seorang penjaga pun bertugas di tempat itu.

Pasukan itu pun dengan tergesa-gesa melakukan perintah Untara. Dengan diam-diam pasukan itu menebar dan segera mendekati tempat pertempuran itu dari segala arah.

Tepat pada saat-saat Untara merasa terdesak, dan memerlukan bantuan dari pasukannya itu, pertempuran itu telah dikejutkan oleh kehadiran prajurit Pajang yang lebih banyak dari prajurit-prajurit berkuda. Ki Tambak Wedi yang melihat kedatangan pasukan itu, menggeram. Meskipun ia telah menduga bahwa hal itu akan terjadi, namun kedatangan itu agak terlampau cepat dari perhitungannya. Dan iblis itu tidak habis berpikir, siapakah yang telah membawa Untara itu memasuki padepokannya. Siapakah yang telah memberitahukan kepada senapati yang seakan-akan memiliki beribu telinga dan mata itu, bahwa pasukan di padepokannya sedang kisruh di antara mereka sendiri, sehingga Senapati Pajang yang masih muda itu, tiba-tiba saja telah berada di padepokannya.

Sedangkan Sanakeling, Sidanti, dan Argajaya pun tidak kalah terkejut seperti setiap prajurit Jipang dan Tambak Wedi yang lain.

Dengan kehadiran pasukan itu maka keadaan hampir telah dapat diperhitungkan, bagaimana akan berakhir. Karena itu, maka dalam hiruk-pikuk pertempuran, Untara masih mencoba sekali lagi berteriak sekeras-kerasnya, katanya, “He, Sanakeling dan Ki Tambak Wedi, apakah kalian masih tetap dalam pendirian kalian untuk tidak menyerah? Sebaiknya kalian membuat pertimbangan-pertimbangan baru. Kini keadaan telah memberikan keyakinan, bagaimana akan jadinya pasukan kalian apabila kalian tetap berkeras kepala?”

Yang menyahut adalah Ki Tambak Wedi dengan suara yang tidak kalah kerasnya, “Hanya betina-betina pengecut sajalah yang menyerah dalam pertempuran seperti ini. Ayo Uutara, kerahkan semua prajuritmu. Gelang-gelang besiku tidak terbatas jumlahnya. Aku akan membunuh mereka satu demi satu dari atas dinding halaman itu.”

Namun Untara menyahut, “Jangan membual. Betapa tinggi kesaktian yang kau miliki, tetapi tenaga manusia pasti mempunyai batas. Kau tidak akan dapat melawan duapuluh lima orang sekaligus.”

Ki Tambak Wedi menggeram mendengar kata-kata Untara itu. Meskipun demikian ia menyadari bahwa kata-kata itu mengandung kebenaran. Ia tidak akan dapat melewati duapuluh lima orang sekaligus. Apalagi apabila orang yang berjumlah duapuluh lima itu seakan-akan tidak dapat berkurang. Sebab apabila salah seorang dari mereka terbunuh, maka orang lain lagi datang menggantikannya.

Tetapi Ki Tambak Wedi harus tetap di tempatnya. Bahkan apabila mungkin ia harus tetap membakar hati Sanakeling untuk bertempur terus bersama orang-orangnya, sementara ia mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Jangankan orang-orang Jipang, sedang orang-orangnya sendiri, Ki Tambak Wedi tidak segan-segan untuk mengorbankannya. Baginya sudah tidak akan ada gunanya lagi mempertahankan padepokan yang sudah mulai runtuh itu. Biarlah yang tidak dapat diselamatkan ini runtuh sama sekali, tetapi asal dirinya sendiri dan muridnya yang kelak akan meneruskan perguruannya dapat diselamatkannya. Itulah sebabnya, maka perhitungan Tambak Wedi kini sama sekali tidak tertuju pada keseimbangan pasukan lagi, tetapi bagaimana ia mendapat perisai untuk membebaskan dirinya.

Sanakeling yang sedang dibakar oleh keadaan itu, sama sekali tidak menyangka, bahwa Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya telah bersiap untuk menghianatinya. Apalagi ketika ia melihat, bahwa pasukan Tambak Wedi sendiri benar-benar telah ditelan oleh peperangan yang dahsyat. Sanakeling masih sempat melihat Sidanti meloncat-loncat di tengah-tengah api peperangan itu, sedang di sampingnya itu melihat Argajaya mengamuk seperti harimau luka. Sedang Ki Tambak Wedi sendiri melakukan apa yang dikatakannya. Dari atas dinding batu ia melontarkan beberapa gelang besinya. Setiap kali ia melepaskan senjatanya itu, terdengar lawannya mengaduh, dan kemudian jatuh terbanting di tanah. Tetapi ia tidak dapat bertahan di tempatnya terlampau lama. Beberapa orang terpilih selalu menyerangnya. Kini bukan saja orang-orang berkuda yang menyambar-nyambarnya seperti burung-burung elang yang beriringan, tetapi orang-orang yang berdiri di atas kaki mereka pun datang beruntun seperti arus banjir yang melanda tanggul. Terus-menerus tidak pernah terputus. Dengan demikian maka akhirnya Ki Tambak Wedi itu harus sekali lagi meloncat turun dan bertempur di antara perkelahian yang hiruk-pikuk.

Namun iblis yang licik itu tersenyum di dalam hati, ketika ia melihat Untara meloncat turun dari kudanya dan dengan mantap mendapatkan Sanakeling. Sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang sengit di antara anak buah masing-masing.

Meskipun Sanakeling tidak setangguh Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan, namun melawan orang ini pun Untara harus cukup berhati-hati. Apalagi ketika tumbuh keinginan di dalam hatinya untuk menangkap Sanakeling hidup-hidup. Apabila demikian, maka Sanakeling akan dapat dipergunakannya untuk alat di bagian-bagian lain daripada bekas kekuasaan Demak, untuk menenteramkan sisa-sisa pasukannya yang liar. Apalagi di bagian Utara, bekas medan tempur yang dipilihnya. Gerombolan-gerobolan kecil yang masih berkeliaran di tempat itu pasti akan patah tekad dan kemauan mereka, apabila mereka mendengar dan melihat, bahwa Sanakeling benar-benar telah tertangkap.

Tetapi Sanakeling sendiri sudah bertekad, bahwa jangan seorang pun di antara mereka yang tertangkap hidup. Itu adalah suatu peristiwa yang sangat memalukan baginya dan bagi orang-orangnya. Mereka akan mengalami penghinaan yang jauh lebih berat daripada mati bagi seorang prajurit. Sebab menurut gambaran angan-angan Sanakeling, apabila mereka tertangkap hidup, maka mereka akan diarak di sepanjang jalan. Orang-orang yang melihat mereka akan bersorak-sorak sambil melempari mereka dengan batu. Kemudian mereka akan diikat di alun-alun. Karena mereka telah menyia-nyiakan kesempatan pertama untuk menyerah, maka mereka akan mendapat hukuman picis. Mati pelahan-lahan di tiang hukuman, karena goresan-goresan pisau setiap orang yang lewat sambil menaburi luka mereka dengan garam dan air asam.

Karena itu, maka yang terjadi selanjutnya adalah pertempuran yang sangat dahsyat. Orang-orang Jipang yang putus asa, berkelahi membabi buta. Demikian juga orang-orang Tambak Wedi yang menganggap, bahwa peperangan ini bagi mereka adalah mempertahankan padepokan mereka. Mereka menganggap bahwa adalah menjadi kewajiban mereka untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dengan darahnya dan bahkan nyawanya.

Untara yang langsung bertempur melawan Sanakeling merasakan, betapa Sanakeling telah kehilangan segala macam pertimbangannya. Seakan-akan wajah orang yang hitam itu telah memancarkan tekadnya, tidak untuk bertempur dan membinasakan lawannya, tetapi perkelahian itu hanya merupakan alat baginya untuk membunuh diri. Dalam keadaan itu Sanakeling telah lupa segala-galanya. Lupa kepada Sidanti dan janjinya untuk melakukan perang tanding. Meskipun demikian, sepasang senjata Sanakeling tetap berbahaya bagi Untara. Bindi di tangan kiri dan pedang di tangan kanan adalah pasangan senjata ciri kegarangan Sanakeling. Dan sepasang senjata itu kini menyambar-nyambar mengerikan. Namun, yang dihadapinya adalah Senapati Pajang yang bertugas langsung menyelesaikan persoalannya di daerah itu. Meskipun Untara hanya bersenjata tunggal, tetapi senjata itu cukup lincah untuk melawan sepasang senjata lawannya yang mengerikan.

Di sisi lain, Sidanti dan Argajaya pun mengalami tekanan yang tidak mudah diatasinya. Empat lima orang sekaligus mengepungnya dengan rapat dan rapi, seakan-akan mereka sengaja disiapkan untuk melawannya. Setiap kali mereka berpaling ke arah Ki Tambak Wedi yang berkelahi di sampingnya, maka setiap kali mereka melihat bahwa orang tua itu pun ternyata sedang sibuk melayani musuh-musuhnya. Betapa buasnya seekor harimau, namun melawan serigala yang baik, yang jumlahnya tidak terbatas, maka akhirnya harimau itu pun akan jatuh terkapar di tanah.

Demikian pula agaknya nasib iblis lereng Merapi yang merasa dirinya tak terkalahkan, apabila ia masih tetap berada di pertempuran itu. Karena itu, maka setelah pertempuran itu menjadi semakin ribut, sampailah ia pada rencananya. Menghindar dari padepokannya yang sebentar lagi akan hancur dilanda arus prajurit Pajang.

Tetapi sudah barang tentu ia tidak akan dapat pergi begitu saja, sebab prajurit Pajang telah mengepungnya dengan ketat. Juga ia tidak boleh dilihat oleh orang-orang Jipang yang sedang berkelahi mati-matian, bahkan oleh orang-orangnya sendiri.

Itulah sebabnya, maka setelah keputusannya jatuh untuk melarikan diri, Ki Tambak Wedi itu tampaknya menjadi semakin garang. Dilontar-lontarkannya beberapa gelang besinya dan diamuknya setiap orang yang dekat. Orang tua yang mengerikan itu berloncatan kian-kemari, menyusup di antara kawan dan bahkan di antara lawan. Dengan demikian, maka pertempuran menjadi kacau. Beberapa orang menjadi ngeri melihat tandangnya.

Sidanti melihat sikap gurunya itu. Segera ia tanggap pada keadaan, sehingga dengan isyarat ia memberitahukannya kepada pamannya untuk mempersiapkan diri meninggalkan perkelahian.

Betapa kisruhnya perkelahian itu, sehingga ketiga orang yang limpat tetapi licik itu akhirnya berhasil menyusup ke dalam pasukan sendiri, perlahan-lahan mereka berlindung di antara orang-orang Tambak Wedi yang berkelahi membabi buta. Setiap kali mereka mendengar Tambak Wedi membakar nafsu mereka dengan meneriakkan beberapa kata-kata. Menyusupkan pengertian, bahwa mereka sedang berkelahi untuk kepentingan kampung halaman. Sedumuk batuk, senyari bumi, totohane pati.

Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya kemudian dengan saling memberikan isyarat, melepaskan diri dari setiap ikatan peperangan yang kacau. Mereka adalah orang-orang yang mengenal padepokan itu dengan baiknya. Segala sudut dan seginya telah mereka ketahui dengan saksama. Itulah sebabnya, maka mereka berhasil melenyapkan diri mereka di balik pagar dinding yang rendah, di belakang garis peperangan itu. Kemudian menyusup menghilang di dalam gerumbul-gerumbul yang lebat. Dengan diam-diam mereka meloncat dari gerumbul yang satu ke gerumbul yang lain. Mereka sadar, bahwa sebentar lagi, orang-orang di dalam peperangan itu pasti akan menyadari, bahwa mereka bertiga telah hilang dari antara mereka.

Setelah beberapa langkah mereka menghindar, maka segera mereka mencari jalan untuk menembus lingkaran orang-orang Pajang yang menebar, mengawasi medan dengan amat cermatnya. Tetapi orang-orang Pajang tidak mengenal padepokan itu sebaik Ki Tambak Wedi. Orang-orang Pajang tidak mengenal batas-batas rumpun-rumpun bambu yang lebat dan tanaman-tanaman liar yang tumbuh di antara dinding-dinding yang bersilang melintang membatasi setiap halaman.

Dengan demikian, maka akhirnya ketiganya berhasil menghilang dari peperangan. Untuk sementara tak seorang pun yang mengetahuinya. Setiap orang di medan peperangan itu sedang di sibukkan oleh lawan masing-masing. Bahkan kemudian, perang itu menjadi seolah-olah perang brubuh. Mereka tidak dapat mengenal lawan-lawan mereka seorang demi seorang. Mereka bertempur bersama-sama dalam pergumulan yang kacau. Mereka menikam lawan yang dekat dari setiap orang, dan mereka menyerang siapa saja yang lengah di sekitarnya tanpa pilih. Bahkan orang-orang yang semula dipersiapkan untuk khusus melawan Ki Tombak Wedi pun tidak berhasil selalu membayanginya. Sejenak sebelum melarikan diri Ki Tambak Wedi meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat yang lain, hampir menyusur sepanjang halaman. Bahkan sekali-sekali orang tua itu meloncat pula ke pertempuran yang memanjang di jalan di muka halaman banjar. Dengan demikian maka orang tua itu hampir mengitari tidak saja satu halaman, tetapi di mana peperangan berkecamuk, di situ Ki Tambak Wedi tiba-tiba saja muncul. Namun apa yang dilakukan itu, semata-mata sebagai persiapannya untuk menghilang. Dengan demikian, maka orang-orangnya sendiri maupun lawan-lawannya menganggap bahwa Ki Tambak Wedi sedang berada di medan yang lain.

Setelah mereka bertiga berhasil keluar dari pengawasan para prajurit Pajang, maka segera mereka berlari semakin menjauhi peperangan. Namun tiba-tiba Sidanti berkata, “Guru, aku harus mengambil Sekar Mirah dahulu sebelum keluar dari padepokan ini.”

“He,” Ki Tambak Wedi berkerut.

“Gadis itu harus kita bawa serta. Banyak manfaatnya. Tidak saja bagiku, tetapi juga bagi kita semua. Apabila kita kehilangan kesempatan untuk keluar, maka Sekar Mirah akan dapat kita jadikan alat.”

Ki Tambak Wedi berpikir sejenak. Kemudian ia bergumam, “Ada untungnya, tetapi ada pula kesulitannya. Kita tidak akan dapat lari dengan cepat, sebab kita harus membawa gadis itu. Namun benar juga katamu, bahwa gadis itu pun dapat kita jadikan perisai demi keselamatan kita.”

“Jadi, bagaimana Guru?”

Ki Tambak Wedi menjadi ragu-ragu sejenak. Tanpa sesadarnya dipandanginya Argajaya yang berlari di sampingnya.

“Bagaimana, Ngger?” bertanya Ki Tambak Wedi.

“Terserah kepada Kiai,” jawab Argajaya.

“Baiklah. Kita pergunakan gadis itu sebagai tanggungan. Kecuali itu, aku takut kalau seterusnya kau akan kehilangan segenap gairah untuk melanjutkan hidupmu, apabila gadis itu lepas dari tanganmu.”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi ia menjadi gembira mendengar ijin gurunya. Karena itu maka mereka pun segera berlari ke pondok Sekar Mirah.

Sementara itu pertempuran masih juga berkecamuk dengan dahsyatnya. Namun segera dapat dirasakan bahwa prajurit Pajang segera akan dapat menguasai keadaan. Mereka segera berusaha untuk memperpanjang garis peperangan dan memancing orang-orang Jipang dan Tambak Wedi dalam perkelahian yang lebih luas. Dengan demikian maka lapisan orang-orang yang bertempur itu menjadi semakin tipis. Sementara itu, para prajurit Pajang yang melingkari daerah peperangan itu pun segera menjadi semakin menyempitkan diri. Seperti sehelai jaring yang besar, mereka merapat tanpa melepaskan seorang pun dari tangkapan. Tetapi mereka tidak menyadari, justru ikan yang paling besarlah yang sudah berhasil lolos dari tangan mereka.

Tetapi sisa-sisa yang masih ada di dalam kepungan itu pasti sudah tidak akan dapat lolos lagi. Semakin sempit jaring-jaring kepungan prajurit Pajang, maka jarak mereka pun menjadi semakin rapat. Akhirnya, setiap prajurit Pajang seakan-akan telah merapat yang satu dengan yang lain. Dalam keadaan yang demikian, seandainya Ki Tambak Wedi terlambat beberapa lama, maka ia pun pasti tidak akan dapat lolos lagi tanpa membunuh beberapa orang yang mengepung pertempuran itu.

Semakin dekat kepungan itu, maka pertempuran itu pun semakin mendekati akhirnya. Prajurit Pajang semakin mendesak maju, dan orang-orang Jipang dan Tambak Wedi yang payah menjadi semakin payah. Namun seperti juga Sanakeling, orang-orang Jipang menjadi seperti orang-orang yang sedang kesurupan. Mereka mengamuk sejadi-jadinya. Tetapi Untara, senapati yang berpengalaman itu segera mengenal, bahwa sikap itu adalah sikap putus-asa. Justru menghadapi orang-orang yang demikian Untara harus berhati-hati. Orang yang demikian sudah tidak lagi dapat menghitung kalah atau menang, tidak lagi memikirkan siasat dan cara yang sebaik-baiknya. Tetapi orang yang demikian hanya cukup berpikir cukup mendapatkan korban sebanyak-banyaknya yang akan bersama-sama pergi ke lubang kematian.

Demikian juga yang dilakukan Sanakeling saat itu. Ia sama sekali sudah tidak mengharap bahwa pasukannya bersama pasukan Tambak Wedi akan dapat memenangkan pertempuran. Secara naluriah, sebagai seorang senapati, ia dapat merasakan, bahwa pasukannya pasti akan segera hancur, demikian juga pasukan Tambak Wedi. Dengan demikian, maka sudah tidak ada lagi gunanya bagi Sanakeling untuk mempertimbangkan kemungkinan berperang tanding melawan Sidanti. “Kami semuanya akan mati bersama-sama di sini,” katanya di dalam hati.

Dengan demikian, maka tandangnya menjadi semakin garang. Ia sudah tidak berpikir apa pun, kecuali membunuh sebanyak-banyaknya. Kalau mungkin membunuh Untara dan membawanya bersama-sama menjelang kematian.

Tetapi agaknya Untara tidak dengan sukarela menyerahkan dirinya. Ia masih mencoba untuk menangkap Sanakeling hidup-hidup. Tetapi karena tandang Sanakeling, maka tak ada yang dapat dilakukan kecuali menyelesaikan tugasnya tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi atas lawannya. Seandainya ia berhasil melumpuhkan Sanakeling hanya dengan melukainya, tanpa membunuhnya, adalah lebih baik. Tetapi apabila orang itu terpaksa mati terbunuh di dalam peperangan, itu adalah kemungkinan yang sudah diketahuinya. Diketahui oleh Untara dan oleh Sanakeling sendiri.

Dalam pertempuran yang semakin sengit, maka Untara dan Sanakeling tidak segera mengetahui, bahwa Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya telah hilang dari medan peperangan. Dengan licik mereka telah mengorbankan orang lain untuk kepentingan mereka. Tanpa pertimbangan-pertimbangan lain, mereka sengaja bersembunyi di balik bangkai kawan-kawan mereka sendiri.

Pertempuran di sela-sela pepohonan, dinding-dinding batu dan rumpun-rumpun bambu, ternyata mampunyai pengaruh tersendiri. Untara dan Sanakeling tidak dapat melihat medan itu secara keseluruhan atau setidak-tidaknya gambaran yang agak luas, karena terhalang oleh dedaunan dan batang-batang pepohonan. Namun Untara telah mempercayakan seluruh pasukannya kepada perwira-perwira bawahannya dan kepada pemimpin-pemimpin kelompoknya. Ia ingin memusatkan segenap perhatiannya kepada Sanakeling. Kali ini ia harus dapat menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya oleh Panglima Wira Tamtama Pajang, setelah ia membuat Panglima itu kecewa di Sangkal Putung. Setelah ia hampir menjerumuskan Ki Gede Pemanahan dan puteranya Sutawijaya ke dalam kesulitan yang berbahaya. Bahkan tugas yang diterimanya ini seakan-akan suatu hukuman atas kesalahan dan kekhilafan yang pernah dilakukannya itu. Sebagai seorang senapati di daerah yang luas, ia mendapat perintah langsung menangani penangkapan dan penyelesaian orang-orang Jipang yang berada di Tambak Wedi.

Demikianlah, pertempuran antara keduanya semakin lama menjadi semakin sengit. Sanakeling yang putus asa benar-benar mengamuk seperti serigala yang kelaparan. Menerkam dengan sepasang senjatanya dengan garangnya, meskipun tubuhnya dan pakaiannya menjadi semakin dibasahi oleh keringat dan darahnya. Pedang Untara ternyata telah menambah goresan-goresan luka di tubuh Sanakeling. Semakin lama semakin banyak. Namun Sanakeling sama sekali tidak menjadi semakin lemah. Tampaknya justru menjadi semakin garang dan buas. Dalam keputus-asaan ia bertempur, seakan-akan kesadarannya telah tidak dimilikinya lagi.

Menghadapi orang yang demikian, Untara harus semakin berhati-hati. Ia telah berhasil mengalahkan Senapati Jipang yang tangguh tanggon. Raden Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan. Namun Tohpati disaat-saat terakhirnya tidak menjadi gila seperti Sanakeling dengan kedua jenis senjatanya.

Namun Untara adalah orang yang cukup mempunyai bekal menghadapi keadaan itu, sehingga lambat laun ia pun berhasil menguasai keadaan. Setiap kali ia berhasil menekan lawannya dan setiap kali ia dapat menambah luka di tubuh Sanakeling, dengan harapan orang itu akan jatuh lemas sebelum terbunuh.

Saat demi saat, pertempuran itu memanjat ke titik puncaknya. Kini orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang sudah hampir tidak mendapat tempat lagi untuk mempertahankan diri. Medan peperangan menjadi semakin lama semakin sempit. Untara sudah tidak berusaha lagi untuk memperluas garis pertempuran, karena orangnya kini cukup banyak untuk menghadapi lawannya. Bahkan prajurit-prajuritnya telah memaksa lawan-lawannya untuk berkumpul di satu lingkaran yang semakin sempit.

Sementara itu Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya berlari semakin cepat menyusup gerumbul dan meloncati pagar-pagar batu. Mereka ingin segera sampai di gubug Sekar Mirah untuk mengambilnya, dan membawanya sebagai perisai yang hidup.

Sementara itu di gubug tempat Sekar Mirah disimpan, Swandaru, Agung Sedayu, Wuranta dan Sekar Mirah sedang bergumul dengan persoalan mereka sendiri. Mereka dicengkam oleh kebingungan dan ketidakpastian, kenapa tiba-tiba saja suasana perasaan mereka bergetar. Sikap Wuranta benar-benar menjadi sebab, seakan-akan Agung Sedayu dan Swandaru menjadi kehilangan pegangan untuk menghadapinya.

Untuk menghilangkan perasaan canggungnya, maka Agung Sedayu tiba-tiba membentak kepada kedua orang Tambak Wedi itu.

“He, kenapa kalian diam saja mematung di situ?”

Kedua orang itu pun terkejut. Anak ini memang anak muda yang aneh bagi mereka. Ketangkasannya hampir tak dapat dibayangkannya. Bahkan mereka telah mencoba memperbandingkan Agung Sedayu itu dengan Sidanti.

Dengan cemas kedua orang itu memandang wajah Agung Sedayu yang tegang. Salah seorang dari mereka itu dengen nada yang dalam menjawab, “Apakah yang harus, kami lakukan?”

Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Tetapi tiba-tiba ia menyadari bahwa ia berada di antara lawan-lawannya. Karena itu untuk menjaga setiap kemungkinan yang bakal terjadi apabila ada orang-orang lain yang datang, maka tiba-tiba ia berkata, “Aku akan mengikat kalian di sini.”

Wajah kedua orang itu tiba-tiba menjadi kian menegang. Namun bagi mereka, hal itu akan lebih baik untuk keselamatan mereka. Apabila Sidanti datang kepada mereka, maka ia akan melihat, bahwa mereka telah berbuat sesuatu, tetapi mereka tidak mampu.

Jawaban mereka benar-benar telah mengejutkan Agung Sedayu. Berkata salah seorang dari mereka, “Silahkanlah Tuan, apabila hal itu baik bagi Tuan.”

“Pengecut!” Agung Sedayu hampir berteriak, perasaan yang bersimpang siur telah saling mendorong di dalam hatinya, sehingga menumbuhkan loncatan-loncatan yang kadang-kadang membuat dirinya sendiri menjadi terkejut.

Kedua orang Tambak Wedi itu pun terkejut. Tetapi mereka tidak tahu apakah yang sedang bergolak di dalam dada Agung Sedayu. Kebingungannya menghadapi Wuranta, dan keheranannya melihat sikap orang-orang Tambak Wedi itu membuatnya menjadi meledak-ledak. Mereka sama sekali bukan orang-orang yang tidak berdaya. Bahkan salah seorang dari mereka mampu mengimbangi, bahkan di dalam keadaan yang khusus, di ruang yang sempit, ia mampu mendesak Wuranta. Namun tiba-tiba mereka dengan tanpa berbuat sesuatu menyerahkan diri mereka untuk diikat.

Agung Sedayu menganggap sikap itu sangat memuakkan. Tetapi sebenarnyalah orang-orang Tambak Wedi belum seluruhnya dapat disamakan ketahanan sikapnya dengan orang-orang Jipang, prajurit-prajurit Pajang, atau mereka yang pernah mendapat tuntunan khusus tentang olah kanuragan dan sikap kejantanan. Orang-orang Tambak Wedi, betapa mereka pernah melatih diri dalam tata perkelahian di bawah tuntunan-tuntunan orang yang berilmu, namun ketahanan jiwa mereka belum mendapat bentuk yang serupa di antara mereka. Para pemimpin Tambak Wedi tidak sempat menilai setiap orangnya satu demi satu. Ada di antara mereka yang dengan gigih bertahan atas suatu keyakinan, bahwa Tambak Wedi adalah kampung halaman yaug harus dipertahankan sampai saat terakhir dari hayatnya. Tetapi ada juga yang acuh tidak acuh, hanyut dalam arus ketamakan para pemimpinnya. Dalam keadaan yang sulit, maka mereka akan lebih senang memilih keselamatan nyawa mereka dan memeluk keyakinan yang tidak pernah dapat tertanam dalam-dalam di dalam hati mereka. Meskipun para pemimpin berusaha membuat orang-orangnya kehilangan nilai kediriannya, sehingga mereka berpendirian bahwa sikap mereka itulah yang paling benar.

Kedua orang itu adalah bagian dari mereka yang belum dapat dibentuk oleh orang-orang Tambak Wedi. Karena itu, maka keduanya tidak akan bertahan sampai mengorbankan nyawanya, meskipun keduanya mempunyai beberapa kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Tetapi bagaimanapun juga Agung Sedayu masih tetap menyadari keadaannya. Dengan nanar ditebarkannya pandangan matanya ke sekeliling ruangan, kalau-kalau dapat ditemukannya tali atau tampar atau apa pun.

Dan tiba-tiba ia meloncat beberapa langkah, mendorong sebuah ajug-ajug gendi di sudut rumah itu, kemudian dengan pedangnya di potongnya beberapa utas tali pengikat dinding sudut. Dengan tali itu Agung Sedayu pergi mendapatkan kedua orang Tambak Wedi sambil berdesis, “Berdiri beradu punggung.”

Kedua orang itu tidak membantah. Mereka segera berdiri beradu punggung. Mereka tahu benar bahwa Agung Sedayu akan mengikat tangan-tangan mereka dengan tali anyaman bambu dan lulup batang melinjo yang diambilnya dari sudut rumah itu.

Mereka menyeringai menahan nyeri ketika tali itu melukai pergelangan tangan mereka. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Hanya mata mereka sajalah yang bergerak-gerak dari seorang ke orang yang lain yang berdiri di dalam ruangan itu.

Mereka melihat Wuranta berdiri seperti patung. Betapa wajahnya menegang, tetapi Wuranta sama sekali tidak bergerak. Namun perasaan di dalam dadanya sajalah yang bergolak seperti angin prahara. Apa yang dilihatnya itu, semakin membuat hatinya pedih. Wuranta menyangka bahwa Agung Sedayu sengaja berbuat aneh-aneh untuk menunjukkan kelebihannya. Seolah-olah Agung Sedayu itu berkata kepadanya dengan sikapnya itu, “Lihat Wuranta, bukankah aku mampu berbuat seperti ini? Dua orang ini dapat aku kuasai dengan baik. Apalagi kau seorang diri.”

Namun untuk sesaat, justru karena getar di dalam dadanya itu Wuranta seolah-olah menjadi beku. Kehilangan kemampuannya berpikir untuk sesaat. Dengan mata yang hampir tidak berkejap ia melihat saja apa yang telah terjadi di dalam ruangan itu.

Tetapi tiba-tiba ia menyadari keadaannya ketika ia mendengar suara derap kaki orang berlari-lari. Semakin lama semakin dekat. Di antara derap langkah itu didengarnya suara orang bergeramang.

Bukan saja Wuranta yang terkejut mendengarnya. Tetapi Swandaru dan Agung Sedayu yang baru saja selesai mengikat orang-orang Tambak Wedi itu pun terkejut pula.

Suara derap itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka yang berada di dalam rumah itu pun segera menyadari bahwa mereka harus menyiapkan diri mereka. Seandainya yang datang itu orang-orang yang berbahaya bagi mereka, maka mereka pun harus sudah bersiap untuk menghadapinya.

Perlahan-lahan Swandaru melepaskan Sekar Mirah. Didorongnya gadis itu menepi sambil berbisik, “Hati-hatilah Mirah.”

Sekar Mirah mengangguk, namun hatinya menjadi berdebar-debar ketika suara orang yang datang itu didengarnya, “Pintunya terbuka sedikit guru.”

“Mungkin ada orang di dalam,” jawab yang lain. Jawaban itu benar mengejutkan mereka yang ada di dalam rumah itu. Mereka segera mengenal bahwa suara itu adalah suara Sidanti dan pasti gurunya itu bernama Ki Tambak Wedi.

Suara langkah orang berlari itu pun segera berhenti. Yang berada di dalam rumah itu tahu dengan pasti, bahwa mereka berada di depan rumah itu di samping pintu.

Terdengar Sidanti berkata, “Mungkin para pengawas.”

“Hati-hatilah,” potong gurunya.

Sejenak mereka berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengar Sidanti berteriak, “Siapa di dalam?”

Swandaru dan Agung Sedayu saling berpandangan, sedang Wuranta berdiri tegang di tempatnya

“Siapa, he?”

Tiba-tiba Agung Sedayu menjulurkan pedangnya kearah leher tawanannya yang diikat sambil berdesis di dalam mulutnya, “Jawab.”

Kedua orang itu menjadi ragu-ragu. Tetapi pedang Agung Sedayu semakin menekan lehernya.

“Siapa?” kembali Sidanti berteriak.

Dari luar Sidanti mendengar suara tergagap, “Aku. Aku, Tuan.”

“He?” Sidanti semakin berteriak, “kau pengawas yang mendapat tugas di sini?”

“Ya. Ya, Tuan.”

Sidanti telah mengenal suara itu. Karena itu maka tiba-tiba kemarahannya terungkat sampai ke ubun-ubun. Ia menyangka bahwa para pengawas mempergunakan kesempatan pertempuran di banjar untuk melakukan perbuatan yang jahat, seperti apa yang akan dilakukan Alap-alap Jalatunda. Karena itu tiba-tiba saja, seperti orang gila Sidanti meloncat masuk, melanggar uger-uger pintu sehingga berderak roboh.

“Setan!” teriaknya. “Kau akan mati juga seperti Alap-alap Jalatunda.”

Agung Sedayu yang berada di dalam rumah itu telah bersiap sepenuhnya. Ia telah memperhitungkan bahwa Sidanti pasti akan memasuki rumah itu, tetapi ia tidak menyangka bahwa anak muda itu akan melanggar uger-uger sehingga roboh. Beberapa potong bambu yang menyilang di atas pintu itu pun rontok menimpa Sidanti, tetapi sama sekali tidak dihiraukannya. Namun karena itu, maka untuk sejenak Agung Sedayu tertegun karenanya.

Ketika Sidanti kemudian melihat siapa yang berada di dalam rumah itu, maka darahnya menjadi serasa berhenti mengalir. Sesaat ia tegak seperti patung. Mulutnya bergetar, namun tak sepatah kata pun terloncat dari bibirnya. Dengan gemetar ia menatap Agung Sedayu seperti melihat hantu. Kemudian dipandanginya wajah Swandaru yang bulat.

Pertemuan itu begitu tiba-tiba sehingga kedua belah pihak kehilangan kesadarannya untuk sekejap. Masing-masing berdiri saja di tempatnya. Namun sorot mata merekalah yang lebih dahulu berbicara. Dendam dan kebencian yang tersimpan di dalam dada, seakan-akan tertumpah seluruhnya lewat tatapan mata masing-masing.

Sejenak kemudian, tiba-tiba ketegangan itu sekali lagi dipecahkan oleh peristiwa yang tidak terduga. Tak seorang pun yang menyangka bahwa peristiwa itu akan terjadi.

Wuranta agaknya telah benar-benar ditelan oleh perasaannya, sehingga ia sudah tidak mampu lagi berpikir bening. Terdorong oleh berbagai macam perasaan yang bergolak di dalam dadanya, serta dugaannya yang keliru tentang Agung Sedayu, maka tiba-tiba anak muda itu telah berbuat hal yang tidak menguntungkannya.

Ia merasa bahwa Agung Sedayu seolah-olah telah menghinanya dengan mempertunjukkan berbagai macam kelebihan. Sehingga karena dorongan harga dirinya, setelah ia merasa seakan-akan tidak berharga lagi di hadapan Sekar Mirah dalam olah ketrampilan sebagai seorang laki-laki, maka tiba-tiba timbullah kenekatan di hatinya. Itulah sebabnya, maka ia telah berbuat tanpa pertimbangan.

Ketika Sidanti masih berdiri membeku memandangi Swandaru dan Agung Sedayu berganti-ganti tiba-tiba Wuranta meloncat menyerangnya. Pedangnya terjulur lurus langsung menusuk lambung Sidanti. Tetapi Wuranta sama sekali tidak mengingat, bahwa Sidanti sama sekali bukan kanak-kanak lagi. Apalagi anak muda itu masih juga menggenggam pedang di tangannya.

Betapa pun Sidanti dicengkam oleh rasa terkejut, namun dengan gerak naluriah ia bergeser ke samping. Dengan sepenuh tenaganya maka dipukulnya pedang Wuranta. Sidanti tidak perlu mengulangi lagi. Pedang itu pun terpelanting beberapa langkah daripadanya. Bahkan Wuranta sendiri terdorong ke samping beberapa langkah karena tarikan kekuatannya sendiri dan pukulan pedang Sidanti yang telah melepaskan pedangnya.

Kini Wuranta berdiri terhuyung-huyung. Dengan susah payah ia mencoba menjaga keseimbangannya. Dadanya tiba-tiba berdesis ketika ia melihat dengan penuh kemarahan Sidanti berteriak, “Kau tikus Jati Anom. Kenapa kau masih hidup dan berada di sini pula? Tetapi memang sudah menjadi garis nasibmu. Kau harus mati hari ini.”

Wuranta yang masih belum menemukan keseimbangan sepenuhnya itu hanya dapat memandang saja apa yang akan dilakukan oleh Sidanti yang sedang dibakar oleh kemarahannya.

Maka sekali lagi Agung Sedayu dan Swandaru melihat, Wuranta berada dalam kesulitan. Sidanti yang garang itu pasti sudah tidak akan melepaskannya lagi. Apabila mereka membiarkannya, maka Wuranta pasti akan benar-benar dibunuhnya.

Sejenak Agung Sedayu dilanda oleh kebimbangan. Baru saja ia dibingungkan oleh sikap Wuranta, karena ia berusaha menolongnya. Dan kini Wuranta berada dalam keadaan yang serupa.

Tetapi Agung Sedayu tidak akan sampai hati melihat pedang Sidanti menghunjam ke dalam dada Wuranta. Maka tanpa mempedulikan lagi apa yang akan dilakukan Wuranta atasnya, maka sekali lagi Agung Sedayu berusaha menolongnya.

Namun kini yang menyerang Wuranta bukan sekedar seorang pengawal padepokan Tambak Wedi. Tetapi yang menyerang itu adalah Sidanti. Karena itu maka Agung Sedayu tidak berani berbuat dengan tergesa-gesa. Ia harus mempertimbangkan kekuatan Sidanti.

Ternyata Agung Sedayu tidak mendapat kesempatan lebih lama lagi. Sejenak kemudian ia melihat Sidanti dengan mata yang menyala berteriak, “Kaulah yang pertama-tama aku bunuh di dalam rumah ini di antara kalian.”

Wuranta tidak dapat berbuat sesuatu. Tetapi ternyata hatinya cukup tabah. Anak muda itu sama sekali tidak menjadi ketakutan melihat Sidanti siap menerkamnya dengan ujung pedang. Wuranta telah menyiapkan dirinya untuk menerima ujung pedang itu dengan dadanya. Seandainya ia harus mati, maka kesan yang ditinggalkannya adalah kesan yang dapat membuatnya berbangga. Meskipun ia tidak setrampil Agung Sedayu, tetapi ia bukan seorang pengecut. Mudah-mudahan Sekar Mirah dapat menangkap api yang tersirat pada sikapnya itu.

Tetapi sekali lagi Wuranta harus melihat Agung Sedayu berusaha menolongnya. Kali ini Agung Sedayu tidak berani langsung melawan pedang Sidanti. Tetapi untuk mengurungkan serangan Sidanti yang langsung dapat berarti maut itu. Agung Sedayu dengan garangnya menyerangnya pula. Seperti Sidanti, maka Agung Sedayu pun berteriak nyaring, “Sidanti, aku dapat lebih cepat daripadamu. Ternyata kaulah yang mati pertama-tama.”

Sidanti terperanjat melihat sikap Agung Sedayu. Suaranya telah membuat hati Sidanti berdesir. Apalagi ketika ia melihati ujung pedang Agung Sedayu langsung mengarah ke ulu hatinya.

Tak ada cara lain kecuali menangkis pedang Agung Sedayu itu. Tetapi Sidanti tidak ingin melepaskan korbannya. Karena itu maka ia berusaha untuk melakukan keduanya. Membunuh Wuranta dan kemudian menangkis serangan Agung Sedayu.

Namun waktu terlampau sempit, sehingga Sidanti tidak dapat melakukan rencananya dengan sempurna. Pedangnya kemudian tidak lagi terjulur lurus, tetapi pedang itu terayun dengan cepatnya. Ia ingin menyobek dada Wuranta dan langsung memukul pedang Agung Sedayu.

Yang terdengar kemudian adalah desah Wuranta tertahan, disusul oleh dentang kedua pedang beradu. Wuranta ternyata terdorong beberapa langkah surut. Apabila ia tidak membentur dinding bambu maka ia pasti akan terpelanting jatuh. Kedua tangannya tertekan di dadanya. Dan dari sela-sela jari-jari tangannya itu mengalir darah yang merah segar.

Namun ternyata Sidanti yang tidak sepenuhnya dapat melawan tenaga Agung Sedayu itu pun terdorong beberapa langkah mundur. Betapa kemarahan membayang di wajahnya sehingga wajah itu seolah-olah telah membara. Tetapi ketika ia melihat darah di dada Wuranta, maka ia masih juga dapat tertawa sambil berteriak.

“Nah, salahmulah kalau kau hari ini diterkam maut.”

Wuranta memandang Sidanti dengan mata yang memancarkan kebencian. Tampaklah mulutnya bergerak-gerak, dan terdengarlah ia berkata perlahan-lahan, “Lukaku tidak seberapa Sidanti.”

“Persetan!” teriak Sidanti. “Tetapi kau akan mati. Kau akan mati. Kalau tidak oleh lukamu itu, maka sesudah aku membunuh Agung Sedayu dan Swandaru, maka akan datang juga giliranmu.”

Wuranta tidak menjawab tetapi bibirnya masih juga bergetar. Yang terdengar adalah suara Swandaru tertawa menyakitkan hati. Katanya, “Sidanti, kau masih juga sempat menyombongkan dirimu. Aku sekarang bukan Swandaru yang akan berdiam dirinya ditampar mulutnya. Aku sekarang mempunyai kesempatan yang serupa dengan kau.”

“O, jangan membual kau kerbau bodoh,” sahut Sidanti. “Ayo, majulah kalian berdua, aku sudah siap.”

Agung Sedayu masih belum menjawab sepatah kata pun. Sekilas ia memandangi wajah Wuranta yang menyeringai menahan sakit. Tetapi menurut penilaian Agung Sedayu, luka itu tidak akan membahayakan jiwanya, seandainya Wuranta tidak kehabisan darah. Diam-diam Agung Sedayu mengharap kehadiran Ki Tanu Metir. Bukan karena ia cemas menghadapi lawan-lawannya, tetapi Ki Tanu Metir akan dapat menolong Wuranta yang terluka itu.

Sebelum seorang pun menjawab, maka terdengar suara di luar pintu, “Siapakah orang-orang itu Sidanti?”

Ketika mereka yang berada di dalam rumah itu berpaling, maka yang mereka lihat adalah Argajaya dan Ki Tambak Wedi berdiri sambil memandang mereka yang berada di dalam rumah itu dengan marahnya.

“Guru,” sahut Sidanti, “ternyata di sini ada tikus-tikus dari Jati Anom dan Sangkal Putung bersama-sama.”

“O,” Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya, “ternyata kalian telah berada di sini pula.”

Agung Sedayu, Swandaru, Sekar Mirah, dan Wuranta seakan-akan membeku di tempatnya melihat orang tua itu berdiri dengan wajah yang membayangkan kemarahan yang telah membakar jantungnya.

Apalagi ketika mereka mendengar Ki Tambak Wedi itu berkata, “Sidanti, jangan kau perturutkan perasaanmu. Kita harus segera menyelesaikan pekerjaan ini. Karena itu, supaya semua dapat selesai dengan cepat, biarlah aku saja yang menyelesaikannya. Aku akan membunuh mereka bertiga, dan sementara itu bawa gadis itu pergi.”

Kata-kata itu cukup tegas dan pasti. Tak akan ada orang yang dapat menghalangi Ki Tambak Wedi berbuat demikian. Memang Ki Tambak Wedi akan dapat menyelesaikannya dengan cepat.

Tetapi yang berada di dalam gubug itu bukan hanya tiga ekor tikus dari Jati Anom dan Sangkal Putung. Tetapi mereka cukup jantan yang mempunyai harga diri sebagai seorang laki-laki. Karena itu maka Agung Sedayu menjawab, “Ki Tambak Wedi. Kalau Kiai akan melakukan hal itu, maka Kiai akan segera dapat menyelesaikan. Dan biarlah murid Kiai dan pamannya itu melihat, bahwa ternyata Ki Tambak Wedi adalah seorang pahlawan yang berani. Tetapi murid Kiai sendiri sama sekali tidak mempunyai keberanian dan kemampuan berbuat sesuatu.”

Betapa kata-kata itu menusuk jantung Sidanti. Dengan lantang ia berteriak, “Cukup! Aku mampu membunuhmu dengan tanganku.”

“Jangan hiraukan Sidanti,” potong Ki Tambak Wedi, “orang itu sengaja membakar perasaanmu supaya ia mendapat waktu untuk menunggu bantuan dari orang-orang Pajang. Dengarkan aku. Aku akan membunuhnya. Kita perlu menghemat waktu. Nah, sekarang keluarlah.”

Terdengar gigi Sidanti gemeretak. Betapa ia merasa tersinggung mendengar kata-kata Agung Sedayu. Apalagi ketika kemudian terdengar Swandaru tertawa mengejeknya sambil berkata, “Keluarlah Sidanti, supaya kau tidak menjadi pingsan mendengar aku dan Kakang Agung Sedayu berteriak ketakutan, dan melihat darah yang memancar dari leher kami.”

“Tutup mulutmu,” Sidanti berteriak semakin keras, “aku masih sanggup mencekikmu sampai mati.”

“Tetapi kau tidak akan mendapat kesempaum untuk melakukannya. Juga pamanmu itu,” sahut Swandaru. “Bukankah begitu Argajaya yang perkasa? Apakah kau masih ingat kepada kami yang menjadi saksi betapa kau sama sekali tidak berdaya menghadapi anak muda pengawal Kademangan Sangkal Putung yang bernama Sutajia.”

“Diam!” Argajaya pun berteriak. Tetapi Ki Tambak Wedi berteriak lebih keras, “Cukup! Cukup. Ayo, kau keluar Sidanti. Jangan hiraukan igauan mereka. Aku akan segera membunuhnya.”

Sidanti tidak dapat berbuat lain dari menuruti perintah itu. Perlahan-lahan ia melangkah ke arah pintu. Sekali ia berhenti dan berpating memandangi wajah-wajah di dalam gubug itu. Wajah Agung Sedayu, Swandaru, Wuranta, dan Sekar Mirah.

“Jangan cemaskan gadis itu,” bentak Ki Tambak Wedi yang sudah tidak bersabar lagi, “ia akan selamat dan kau dapat membawanya setelah aku menyelesaikan pekerjaanku.”

“Baik, Guru,” sahut Sidanti perlahan-lahan sambil meninggalkan ruangan itu. Tetapi ia masih juga berhenti ketika ia mendengar suara tertawa Agung Sedayu, “Nah, keluarlah anak manis. Dengarlah ibu akan berdendang supaya kau segera tidur di pangkuannya.

“Gila, gila!” teriak Sidanti. Tetapi disusul oleh suara Ki Tambak Wedi, “Kau yang gila Sidanti. Cepat keluar!”

Sidanti tidak sempat berbuat apa-apa lagi ketika ia merasa sebuah tarikan yang kuat di lengannya. Ternyata Ki Tambak Wedi telah benar-benar kehilangan kesabaran. Didorongnya Sidanti keluar sehingga anak itu hampir jatuh terjerembab.

“Nah, membuallah untuk yang terakhir kali,” geram Ki Tambak Wedi. “Setelah ini kau akan diam untuk selamanya. Dan Sekar Mirah akan ikut dengan kami meninggalkan padepokan ini.”

Kali ini terdengar jerit gadis itu melengking tinggi, “Tidak! Aku tidak mau. Lebih baik kau membunuh aku sama sekali bersama orang-orang lain di dalam rumah ini.”

“Itu bukan urusanku,” sahut Ki Tambak Wedi, “mintalah kepada Sidanti nanti sesudah aku selesai.”

“Tidak! Tidak!” Sekar Mirah memekik-mekik.

Tetapi Ki Tambak Wedi sudah tidak menghiraukannya. Kini ia berjalan perlahan-lahan memasuki rumah itu. Melangkahi tlundak dan berhenti sejenak. Di tangannya ternyata tergenggam senjata ciri kebesaran padepokan Tambak Wedi. Nenggala.

Diputarnya pandangan matanya di sekeliling ruangan. Dilihatnya Wuranta dengan lemah bersandar dinding. Darahnya masih juga menetes dari luka di dadanya. Meskipun luka itu tidak terlampau dalam, tetapi darah yang keluar itulah yang berbahaya baginya.

“Tanpa kusentuh kau sudah akan mati,” gumam Ki Tambak Wedi. “Dengan membiarkan kau tidur di sini sehari ini, kau sudah tidak akan mendapat kesempatan bangun lagi karena kehabisan darah.”

Wuranta tidak menjawab. Mulutnya serasa membeku melihat semua yang terjadi di sekitamya.

Tetapi sekali lagi mereka terkejut. Mereka mendengar derit kecil di sudut rumah itu. Ketika mereka berpaling, mereka melihat sesosok tubuh meluncur masuk ke dalam lewat dinding yang terbuka di sudut. Hanya sekejap. Dan sekejap kemudian mereka telah melihat tubuh itu tegak berdiri. Tampaklah oleh mereka sebuah wajah yang tersenyum sambil berkata. “Permainan di sini agaknya lebih menarik daripada di banjar itu. Karena itu aku memilih ikut bermain-main di sini saja.”

“Setan Alas!” Ki Tambak Wedi berteriak dengan penuh kemarahan ketika ia menyadari siapakah yang berdiri di luar rumah itu. Di tangan orang itu tergenggam sebuah cambuk yang bertangkai pendek tetapi berjuntai panjang. Juntainya masih tergulung, dan berada di dalam genggaman tangan yang lain.

“Selamat bertemu lagi, Kiai,” berkata orang itu sambil membungkuk hormat.

“Persetan akan kedatanganmu. Kau hanya akan menyaksikan orang-orang ini mati terbunuh.”

“Aku tahu bahwa kau bersungguh-sungguh. Senjata di tanganmu yang bukan hanya sekedar gelang-gelang besi menyatakan bahwa kau tidak sedang bermain-main. Senjata itu biasanya berada di tangan muridmu setelah senjatanya tertinggal di Sangkal Putung. Tetap kini kau telah menggenggamnya, tidak sekedar tergantung di lambungmu, di dalam selongsongnya. Mungkin karena muridmu baru saja menyelesaikan perang tanding, dan senjata itu tidak diperlukannya. Tetapi bahwa senjata itu berada di tanganmu adalah sangat membahayakan sekali. Karena itu aku terpaksa membawa cambukku ini pula. Mudah-mudahan kita tidak akan terganggu lagi kali ini.”

Ki Tambak Wedi menggeram mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Kata-kata itu tegas dan langsung menyentuh dinding jantungnya. Tantangan Ki Tanu Metir agaknya juga tidak hanya sekedar bersenda-gurau.

Betapa kemarahan menyala di dada Ki Tambak Wedi. Kehadiran Ki Tanu Metir benar-benar telah mengganggunya. Tetapi kini ia telah berdiri berhadapan sehingga sulitlah untuk menghindari tantangannya itu.

Sejenak Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Dipandanginya wajah Ki Tanu Metir yang tenang tetapi dalam, kemudian wajah Agung Sedayu yang bersungguh-sungguh dan Swandaru Geni yang gemuk.

“Kau dapat membawa muridmu dan pamannya serta,” berkata Ki Tanu Metir, “tetapi apabila tidak kau kehendaki, maka biarlah mereka menjadi saksi. Kedua muridku pun tidak akan mengganggumu. Bagaimana?”

Dada Ki Tambak Wedi serasa akan bengkah mendengarnya. Namun ia masih harus mempertimbangkan segala kemungkinan. Di dalam padepokan itu Untara dan pasukannya seakan-akan telah melanda seperti banjir bandang yang tidak akan dapat dibendung lagi.

Tetapi Sidanti yang melihat kehadiran Ki Tanu Metir dan mendengar tantangannya di luar pintu berteriak, “Baiklah kami terima tantangan itu guru. Aku memang ingin membelah dada Agung Sedayu dan Swandaru. Biarlah Sekar Mirah menjadi saksi, bahwa kedua laki-laki itu sama sekali tidak berarti. Terutama Agung Sedayu itu.”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram. Ia pun menyadari bahwa kini ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali Sidanti masih ada Argajaya. Mungkin perbedaan keseimbangan yang kecil, akan sangat berarti dalam keadaan serupa itu. Mungkin Argajaya mempunyai sedikit kelebihan atas salah seorang kedua murid Ki Tanu Metir atau mungkin Sidanti sendiri.

Karena itu, maka tidak ada kesempatan untuk berbuat lain daripada menjawab, “Baiklah Kiai Gringsing. Tantanganmu aku terima. Tentang murid-muridmu dan muridku serta pamannya. Biarlah mereka menentukan sikap mereka sendiri. Kalau mereka ingin bertempur, biarlah mereka mencoba diri, apakah ilmu keturunan perguruan Tambak Wedi lebih baik dari perguruan Kiai Gringsing.”

“Bagus, bagus,” sahut Kiai Gringsing, “marilah kita berbuat seperti orang-orang yang sudah pikun. Kita pilih tempat yang luas, tidak di dalam gubug yang sempit, supaya kita masing-masing mendapat kesempatan leluasa untuk berbuat apa saja sesuai dengan kegemaran orang tua-tua.”

Ki Tambak Wedi terdiam sesaat. Ia menggenggam senjata yang pendek. Baginya tempat yang sempit mempunyai kemungkinan yang lebih baik daripada cambuk Ki Tanu Metir. Tetapi di dalam tempat yang sempit, apabila tiba-tiba pasukan Untara itu meluas sampai ketempat ini, maka sangat sulitlah baginya untuk melepaskan diri. Ia juga tidak akan dapat mengawasi murid dan pamannya, serta memberinya isarat apa pun, karena mereka pasti akan berkelahi di luar.

Dengan demikian maka Ki Tambak Wedi itu pun menjawab, “Baiklah, Kiai. Tantangamnu aku terima penuh. Aku bersedia berkelahi di luar meskipun bagiku di dalam ruangan yang sempit telah menguntungkan. Bukankah kau tidak berani bertempur di dalam karena jenis senjata itu? Kau memerlukan tempat yang cukup luas, supaya juntai cambukmu tidak tersangkut dinding.”

Ki Tanu Metir tertawa mendengar dawaban Ki Tambak Wedi itu. Katanya, “Jangan seperti kanak-kanak, Kiai. Alasan semacam itu adalah alasan bagi anak-anak cengeng. Kalau seandainya kau merasa mendapat keuntungan berkelahi di dalam, marilah kita berkelahi di dalam ruangan ini. Aku sama sekali tidak berkeberatan. Cambukku pun tidak akan terganggu pula, sebab cambukku adalah senjata yang telah aku kenal sejak bertahun-tahun, sehingga sifat-sifatnya pun aku kenal dengan baik seperti engkau mengenal jenis senjatamu yang mengerikan itu.”

Wajah Ki Tambak Wedi menjadi semakin merah mendengar jawaban itu. Sahutnya hampir berteriak, “Jangan banyak bicara lagi. Aku tunggu kau di luar bersama kedua muridmu.”

“Baik. Di luar udaranya cerah dan angin membuat tubuh kita menjadi segar. Kesempatan untuk lari pun lebih luas terbuka. Seandainya salah satu pihak dari kita merasa tidak mampu lagi untuk melawam, maka kita akan dapat segera meloncat meninggalkan gelanggang. Tetapi di dalam ruangan yang sempat ini, kesempatan itu hampir tidak ada.”

“Persetan! Jangan mengigau lagi,” kini Ki Tambak Wedi benar-benar berteriak. Ia tidak lagi menunggu jawaban Kiai Gringsing. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ke luar. Dan dengan garangnya berdiri bertolak pinggang di halaman, di samping muridnya. Namun ia sempat berbisik, “Kalau pasukan Untara datang kemari, kita harus meninggalkan tempat ini.”

“Bagaimana dengan Sekar Mirah?” bertanya Sidanti perlahan.

“Kita melihat perkembangan keadaan. Tetapi setan itu benar-benar mengganggu.”

Dada Sidanti menjadi pepat mendengar jawaban gurunya. Kehadiran Kiai Gringsing benar-benar telah membuat jantungnya hampir meledak. Tetapi ia tidak dapat menutup kenyataan, bahwa mengalahkan orang-orang itu bukan pekerjaan yang terlampau mudah. Mungkin Sidanti dan Argajaya mempunyai beberapa kelebihan dari kedua murid Kiai Gringsing. Namun kedua orang itu pun masih memerlukan waktu untuk mengalahkannya.

Kiai Gringsing pun segera melangkah menyusul Ki Tambak Wedi, keluar rumah. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat Wuranta. Orang tua itu melihat luka di dada anak muda itu, dan ia melihat darah masih saja menetes dari luka itu. Maka Kiai Gringsing pun segera mengambil sebuah bumbung kecil dari kantong ikat pinggangnya. “Inilah, Ngger,” berkata orang tua itu, “di dalam bumbung ini ada bubuk yang dapat kau pakai untuk menahan darah itu. Taburkanlah bubuk itu sedikit saja pada lukamu. Mudah-mudahan luka itu tidak akan mengeluarkan darah lagi. Tetapi jangan terlampau banyak bergerak. Sisanya, tolong simpanlah dahulu.”

Wuranta masih saja berdiri seperti tonggak. Ditatapnya saja Kiai Gringsing seperti baru dilihatnya kali itu. Tetapi ketika tangan Kiai Gringsing terjulur menyerahkan bumbung kecil, maka seperti bukan kehendaknya sendiri, Wuranta pun menerima.

“Jangan kau sia-siakan waktumu,” berkata Ki Tanu Metir. “Cepat, usahakan lukamu itu tidak lagi mengeluarkan darah supaya kau masih cukup mempunyai kekuatan untuk kembali ke Jati Anom.”

Wuranta kini mengangguk. Kata-kata Ki Tanu Metir itu seperti sebuah pesona yang tidak dimengertinya. Namun terasa bahwa tak ada cara lain baginya daripada memenuhinya.

“Mudah-mudahan obat itu menolong,” gumam Ki Tanu Metir. “Kemudian awasilah Sekar Mirah. Mungkin masih ada bahaya yang mengintainya. Kami akan berusaha untuk menghindarkannya dari tangan Sidanti dan gurunya.”

Tanpa sesadarnya Wuranta mengangguk.

“Nah, aku akan melayani Ki Tambak Wedi,” guman Ki Tanu Metir sambil melangkah meninggalkan anak muda itu. Sampai di muka pintu ia berpaling. Dilihatnya Sekar Mirah berdiri menggigil di belakang Swandaru Geni. Di sisi dinding yang lain ia melihat Agung Sedayu. Sedang kedua orang Tambak Wedi yang terikat tanganya masih berdiri beradu punggung.

“Marilah,” berkata Ki Tanu Metir,” kalian mempunyai pekerjaan. Di luar ada dua orang yang menunggu kalian selain Ki Tambak Wedi. Menurut penilaianku maka kau berdua, Angger Swandaru Geni dan angger Agung Sedayu akan dapat melayaninya apabila dikehendaki. Tetapi dengarlah nasehatku. Keduanya adalah orang-orang yang tangguh tanggon. Kalau mereka ingin bertempur pula, maka bagi Angger Agung Sedayu, lebih baik memilih Angger Sidanti untuk mendapatkan keseimbangan, sedang Angger Swandaru dapat melayani tamu paman Angger Sidanti itu.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir bersamaan mereka menyahut, “Baik, Kiai.”

“Ingat-ingatlah.”

Sekali lagi keduanya menganggukkan kepala mereka. Kalau gurunya berpesan, itu bukannya tidak berarti bagi mereka keduanya.

Dan keduanya menyadari, bahwa pesan itu harus dijalani. Gurunya pasti mempunyai perhitungan-perhitungan tersendiri atas kekuatan mereka masing-masing. Sebab mau tidak mau, harus diakui bahwa kekuatan Swandaru dan Agung Sedayu pun masih berselisih beberapa lapis tipis.

Ki Tanu Metir itu mengangkat kepalanya ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi membentak, “Cepat sedikit Kiai! Aku sudah tidak sabar lagi. Kau tidak perlu banyak berpesan kepada murid-muridmu. Pesan itu sama sekali tidak akan berarti. Sebab kau dan murid-muridmu sebentar lagi sudah akan terbunuh di sini.”

“Baik, Ki Tambak Wedi. Baik. Aku akan cepat datang.” Kiai Gringsing itu segera melangkah keluar ketika ia melihat Ki Tambak Wedi menebarkan pandangan matanya ke sekeliling halaman. Sebagai seorang yang berpengalaman, maka segera ia menangkap apa yang tersirat di hati orang tua yang selama ini menghantui lereng Gunung Merapi.

“Apakah kau sedang mencari sesuatu, Kiai?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku hanya tidak sabar lagi menunggumu. Apakah kau sedang mengulur waktu?”

“Tidak, aku memang harus segera mulai. Bukankah kau sedang mencari jalan keluar? Seharusnya kau tidak perlu lagi mencari, bukankah daerah ini kau kenal dengan baik?”

“Cukup!” potong Ki Tambak Wedi lantang. “Ternyata memang kau ajari muridmu untuk membual. Ayo, bersiaplah kita akan segera mulai.”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Kini wajahnya yang biasanya selalu dihiasi dengan senyumnya yang jernih, tampak, menjadi bersungguh-sungguh. Orang tua itu melihat wajah Ki Tambak Wedi yang menyala. Menghadapinya kini sama sekali bukan permainan yang dapat dianggap ringan. Ia harus bersungguh-sungguh pula seperti Ki Tambak Wedi.

Sementara itu Agung Sedayu dan Swandaru telah keluar pula dari dalam rumah. Tak ada pesan yang mereka ucapkan kepada Wuranta. Tiba-tiba saja hubungan mereka menjadi sangat kaku. Mereka ingin berkata seperti apa yang dikatakan oleh Ki Tanu Metir. Menitipkan Sekar Mirah kepadanya. Tetapi Wuranta sama sekali tidak memandang mereka ketika mereka melangkahi tlundak pintu. Bahkan kemudian Sekar Mirah pun berdiri saja membeku. Sekali ia mencoba mencuri pandang ke arah wajah Wuranta yang pucat. Tetapi Wuranta melemparkan pandangan matanya jauh menembus pintu ke luar. Ia sama sekali tidak tertarik pada beberapa orang yang berdiri di luar pintu. Tetapi sorot matanya hinggap pada hijaunya dedaunan di kejauhan. Ditatapnya sinar matahari yang seolah-olah menari-nari pada ujung pepohonan. Angin yang lembut berhembus membelai ranting-ranting yang bergerak-gerak di bawah bayangan yang seolah-olah berloncatan dari daun ke daun.

“Alangkah nikmatnya menghayati sinar matahari yang cemerlang,” desisnya di dalam hati.

Tiba-tiba Wuranta teringat kepada obat yang digenggamnya. Perlahan-lahan tangannya yang gemetar membuka sumbat bumbung kecil itu. Ditaburkannya beberapa berkas serbuk di tangannya yang merah karena darah. Kemudian diulaskannya taburan itu pada luka di dadanya. Terasa pada lukanya seolah-olah dijalari oleh perasaan yang dingin.

Setelah bumbung itu disumbatnya kembali, maka tanpa disengaja matanya hinggap pada wajah Sekar Mirah yang tunduk. Terasa dadanya bergetar. Gadis itu masih saja berdiri kaku di tempatnya. Seperti dirinya sendiri yang sama sekali belum beranjak selangkah pun. Sedang di luar beberapa orang laki-laki telah bersiap untuk bertempur.

Wuranta terkejut ketika ia mendengar gemeletarnya suara cambuk. Terasa dadanya berdesir. Suara cambuk itu telah membuat tulang-tulang iganya seolah-olah akan rontok. Apalagi ketika suara itu disusul oleh pekik kecil Sekar Mirah yang ketakutan.

Sejenak Wuranta menjadi bingung. Hampir-hampir ia meloncat mendekati Sekar Mirah dan menenteramkan hati gadis itu supaya ia menjadi tidak terlampau takut. Tetapi niat itu tidak pernah dilakukannya. Bukan karena lukanya yang membahayakan jiwanya. Sebab luka itu dalam keadaan yang demikian seakan-akan tidak lagi terasa begitu pedih. Namun ada perasaan yang lain yang mencegahnya untuk mendekati Sekar Mirah. Dan perasaan itulah yang kini terasa sakit.

Ketika ia memandangi Sekar Mirah sekali lagi, maka dilihatnya wajah gadis itu amat pucatnya, dan bahkan tubuhnya menjadi gemetar. Lewat lubang pintu yang miring, gadis itu melihat bayangan Ki Tambak Wedi dan Ki Tanu Metir sambar-menyambar. Bahkan kemudian suara cambuk Kiai Gringsing itu ternyata tidak hanya menggeletar satu kali, tetapi dua kali, tiga kali dan berulang kali.

Sekar Mirah akhirnya tidak tahan lagi. Tiba-tiba ia duduk dengan lemahnya di atas tanah. Sekali-sekali dilontarkannya pandangan matanya kepada Wuranta, seolah-olah minta anak muda itu menemaninya. Tetapi Sekar Mirah pun tiba-tiba menjadi segan dan bingung menghadapinya.

Di dalam ruangan itu. kedua orang Tambak Wedi masih saja terikat erat-erat. Sekilas mereka memandang Wuranta yang lemah, kemudian Sekar Mirah yang pucat. Tetapi mereka sendiri kemudian menjadi gemetar pula mendengar suara lecutan yang dahsyat di luar rumah.

Ternyata Ki Tanu Metir dan Ki Tambak Wedi sudah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Perkelahian antara dua orang yang jarang-jarang dicari tandingannya.

Sementara itu Sidanti dan Argajaya pun telah bersiap pula menghadapi kedua murid Kiai Gringsing. Tetapi sejenak mereka terpesona melihat pertempuran yang dahsyat itu. Mereka melihat senjata ciri kebesaran perguruan Tambak Wedi menyambar-nyambar seperti seribu tatit yang melonjak-lonjak di udara menyerang Kiai Grngsing dari segala arah. Tetapi kemudian mereka melihat Kiai Gringsing mengambil jarak beberapa langkah. Dan bergetarlah udara di atas padepokan Tambak Wedi karena ledakan cambuk Kiai Gringsing. Ledakan cambuk yang seolah-olah ledakan guruh yang menyusul sambaran kilat yang mendahuluinya. Dan cambuk itu pun kemudian berputar melampaui kecepatan baling-baling yang ditiup angin prahara. Bergulung-bergulung melanda hantu yang selama ini merajai lereng Merapi.

Tetapi nenggala Ki Tambak Wedi pun seolah-olah memiliki mata tujuh kali lipat tajam mata manusia. Betapa rapatnya putaran cambuk Kiai Gringsing, namun senjata yang runcing di kedua ujungnya itu mampu menyusup, untuk mematuk tubuh Ki Tanu Metir. Namun Ki Tanu Metir pun cukat seperti sikatan. Sehingga setiap kali serangan masing-masing tidak menyenluh sasarannya.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat, seperti angin pusaran di musim peralihan. Berputaran mengerikan.

Agung Sedayu dan Swandaru pun memperhatikan pertempuran itu dengan dada berdebar-debar. Mereka sering melihat gurunya bergerak-gerak dengan lincah dalam latihan-latihan hampir setiap hari. Tetapi perkelahian kali ini agaknya telah memeras hampir segenap kemampuan orang tua itu sehingga tata geraknya menjadi semakin cepat dan lincah.

Tetapi kedua anak muda itu segera menyadari keadaannya ketika mereka melihat Sidanti dan Argajaya telah siap menerkam mereka dengan senjata masing-masing. Kali ini Argajaya telah bersiap dengan tombak pendeknya, sedang Sidanti menggenggam pedang.

“Kau tidak akan dapat lari lagi,” desis Sidanti.

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi mengingat pesan gurunya segera ia menempatkan diri untuk melawan murid Tambak Wedi itu. Sedang Swandaru Geni telah bersedia pula melawan Argajaya.

Seleret Ki Tanu Metir memandang mereka. Hatinya menjadi tenteram ketika murid-muridnya menuruti masehatnya. Ia tahu benar perbandingan kekuatan kedua muridnya dan kedua lawannya. Kiai Gringsing pernah melihat Sidanti berkelahi dan pernah melihat Argajaya bertempur. Ia melihat pula kedua-duanya ketika mereka melawan para prajurit Pajang yang datang bersama Untara. Karena itu maka ia dengan sungguh-sungguh berpesan kepada kedua muridnya untuk menempatkan dirinya sesuai dengan keseimbangannya.

Dalam pada itu Swandaru telah berdiri beberapa langkah dari Argajaya. Tiba-tiba ia membungkuk hormat sambil lersenyum. Katanya, “Bukankah Tuan tidak lupa kepadaku?”

“Persetan!” geram Argajaya.

“Di Prambanan Tuan bertempur melawan anak muda yang bernama Sutajia. Kini Tuan berhadapan dengan aku, Swandaru Geni.”

“Tutup mulutmu. Aku sudah tahu siapa kalian dan siapa anak yang menyebut dirinya Sutajia itu.”

“O,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau sangka aku takut karenanya?” Argajaya semakin marah.

Swandaru menggeleng, “Tidak. Aku tahu bahwa Tuan tidak mengenal takut seperti apa yang aku lihat di Prambanan dahulu. Tuan memang luar biasa.”

“Sekarang apa yang akan kau lakukan?”

“Sekarang aku akan bertempur melawan Tuan. Tetapi aku tidak akan sekedar menakut-nakuti seperti Sutawijaya. Tetapi aku ingin benar-benar membenamkan pedangku ini ke dalam perut Tuan.”

Argajaya menjadi semakin marah. Wajahnya seolah-olah terbakar oleh api yang menyala di dalam dadanya. Tetapi ia ternyata lebih lambat dari Sidanti. Sebab saat itu Sidanti telah meloncat menyerang Agung Sedayu sejadi-jadinya.

“Nah, lihat, kemanakan Tuan sudah mulai. Apa lagi yang Tuan tunggu?”

Argajaya tidak ingin menjawab lagi. Segera ditundukkannya tombaknya. Selangkah demi selangkah ia maju mendekati Swandaru yang kemudian menyilangkan pedangnya di muka dadanya.

Jarak antara Swandaru Geni dan Argajaya itu pun menjadi semakin pendek, dan sejalan dengan itu wajah-wajah mereka pun menjadi semakin tegang. Swandaru pernah melihat Argajaya bertempur, melawan Sutawijaya, dan melihat betapa keras hati orang itu. Dengan demikian maka ia tidak lagi berani bermain-main. Ia harus bersungguh-sungguh menghadapi tombak pendek yang siap mematuknya itu.

Beberapa langkah dari Swandaru, Argajaya berhenti. Tetapi ia sudah tidak ingin berbicara lagi. Sekilas ia melihat Sidanti telah berkelahi semakin sengit dan Ki Tambak Wedi bertempur semakin dahsyat. Karena itu, maka segera ia pun akan membuka perkelahian pula.

Sejenak kemudian Swandaru melihat Argajaya mengambil ancang-ancang. Dan sekejap kemudian orang itu telah meloncat sambil menjulurkan tombaknya ke arah dadanya.

Swandaru dapat menduga kekuatan yang tersalur lewat tombak itu. Dengan demikian maka ia harus sangat berhati-hati. Tetapi Swandaru pun memiliki kekuatan dasar yang cukup, apalagi setelah mendapat petunjuk dari Kiai Gringsing bagaimana ia harus menyalurkannya. Karena itu maka Swandaru pun mempunyai kebanggaan pula atas tenaganya.

Kali ini pun Swandaru akan menjajagi kekuatan tenaga lawannya, selagi Argajaya agaknya belum menumpukkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka Swandaru sama sekali tidak menghindar. Dibiarkannya tombak itu semakin lama menjadi semakin dekat ke dadanya. Namun ia telah mempersiapkan pedangnya untuk menangkisnya.

Argajaya yang melihat sikap Swandaru itu mengumpat di dalam, hatinya, “Setan kecil ini benar-benar sombong.” Dan dengan demikian maka Argajaya pun menambah tenaganya lagi.

Sejenak kemudian terjadilah sebuah benturan dari kedua senjata itu. Senjata Argajaya, sebuah tombak pendek dan pedang Swandaru Geni. Benturan yang cukup kuat, sehingga telah menarik perhatian Ki Tanu Melir dan Agung Sedayu serta lawan-lawannya.

“Bukan main,” desah Kiai Gringsing, “anak itu memang terlalu banyak yang ingin diketahui. Dalam keadaan serupa ini pun ia masih juga mencoba-coba.”

Akibat dari benturan itu pun ternyata mengejutkan kedua belah pihak. Swandaru Geni bergetar dan meloncat surut selangkah. Tangannya merasakan betapa kuat tenaga Argajaya yang tersalur lewat tombaknya, ditambah tenaga dorong dari loncatannya. Namun Argajaya pun terdorong pula ke samping. Hampir saja ia harus berputar karena tarikan tombaknya yang dipukul ke samping oleh Swandaru Geni.

Hampir bersamaan mereka berdua menggeram. Tetapi wajah Argajaya-lah yang tampak seolah-olah menyala karena kemarahannya. Ternyata anak yang gemuk itu mempunyai kekuatan yang cukup, meskipun tidak berhasil melepaskan tombaknya seperti Sutawijaya di pinggir Kali Opak. Namun apabila anak muda itu sudah melepaskan seluruh kekuatannya, maka tidak mustahil bahwa kali ini pun tombaknya akan meloncat dari tangannya. Justru karena itu maka Argajaya menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak dapat lagi merendahkan lawannya. Ia tidak mau peristiwa di pinggir Kali Opak itu terulang lagi meskipun ia sama sekali tidak takut menghadapi akibat daripadanya. Namun mati di ujung senjata anak-anak sama sekali tidak menyenangkannya.

Demikianlah maka perkelahian itu pun segera berkobar pula dengan dahsyatnya. Tiga lingkaran perkelahian yang seimbang. Ki Tanu Metir dan Ki Tambak Wedi pun ternyata telah mengerahkan kekuatan dan ilmu mereka. Bukan main dahsyat perkelahian itu.

Sedahsyat angin prahara yang mengamuk di lautan. Senjata-senjata mereka menyambar-nyambar dan menukik-nukik seperti panggilan maut dari ujung bumi. Sentuhan-sentuhan senjata itu telah menggoyangkan pepohonan dan menggugurkan daun-daunnya. Sedang tanah tempat mereka berjejak menjadi seperti baru saja dibajak.

Di sisi lain Sidanti bertempur melawan Agung Sedayu dengan nyala dendam di dalam dada masing-masing. Bukan saja karena mereka berdiri pada pihak yang berlawanan dalam persoalan tata pemerintahan, tetapi ternyata di dalam dada mereka telah berkobar pula kebencian dan kedengkian karena seorang gadis.

Bukan saja karena yang seorang berdiri pada barisan Tambak Wedi dan yang lain sebagai seorang adik Senapati Pajang yang bertugas untuk menyelesaikan masalah itu, tetapi juga karena keduanya telah mencoba menambatkan hati mereka kepada tambatan yang sama. Sekar Mirah.

Dengan demikian maka pertempuran di antara mereka benar-benar merupakan usaha untuk menyelesaikan persoalan yang bertimbun itu. Sebagai seorang murid Ki Tambak Wedi, betapa Sidanti membenci adik Untara itu dan sebaliknya juga sebagai seorang anak muda yang menginginkan Sekar Mirah, maka mereka tidak melihat jalan lain daripada memusnakan lawannya.

Ternyata Agung Sedayu tidak mengecewakan gurunya. Setelah mendapat tuntunan dengan sebaik-baiknya, serta usaha yang tekun tanpa mengenal lelah, Agung Sedayu tidak lagi mengalami banyak kesulitan menghadapi murid Tambak Wedi. Gerak dan tandang Agung Sedayu memberikan beberapa kebanggaan kepada gurunya. Cepat, namun dilambari oleh kekuatan yang cukup. Sebagai seorang murid dari Kiai Gringsing, maka anak muda ini benar-benar mencerminkan gurunya. Tetapi sebagai putera dari seorang yang bernama Ki Sadewa, Agung Sedayu telah membawa dasar kekuatan tubuh serta otot bebayu. Ketajaman pandangan mata dan perhitungan yang terang menghadapi keadaan. Bahkan bekal yang sudah dibawanya pada saat ia mendapat tuntunan dari Kiai Gringsing, ilmu yang didapat dari ayahnya, kakaknya dan pamannya, ternyata telah luluh menjadi susunan gerak yang manis tetapi cukup berbahaya bagi Sidanti yang perkasa.

Sedang di sudut lain, Swandaru Geni menghadapi lawannya dengan hati yang tegang. Ternyata Argajaya benar-benar tangguh dan kuat. Ia mampu bergerak cepat dan cukup membingungkan.

Dengan demikian maka Swandaru kini sudah tidak sempat lagi untuk tersenyum dan bergurau. Ia harus memusatkan segenap tenaga dan pikirannya untuk menghadapi lawannya.

Namun, bekal Swandaru pun ternyata cukup baik untuk menghadapinya. Meskipun Swandaru tidak dapat berbuat terlampau banyak seperti Sutawijaya, tetapi menghadapinya, Argajaya pun tidak dapat berbuat sekehendak hatinya. Ternyata anak ini pun meskipun bertubuh gemuk, namun cukup lincah pula melawan segala macam serangannya.

Maka perkelahian itu pun menjadi semakin lama semakin seru. Keduanya mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri masing-masing. Argajaya melihat bahwa yang terjadi saat ini adalah berbeda dengan apa yang terjadi dipinggir Kali Opak. Dahulu ia berkelahi benar-benar hanya menuruti perasaan, tanpa sebab dan tanpa taruhan yang berarti. Tetapi kini sebabnya adalah jelas dan taruhannya pun jelas.

Argajaya pun telah merasakan, bahwa Tambak Wedi pasti tidak akan dapat dipertahankan lagi. Dengan demikian maka satu taruhan telah pasti pula lepas dari tangan. Namun kini kemanakannya baru mempertahankanya yang kedua. Bagi Sidanti, taruhan ini tidak kalah penting dengan mempertahankan Tambak Wedi ini sendiri. Sebagai seorang paman, maka ia wajib ikut serta berbuat sesuatu dengan kemampuannya untuk kepentingan kemanakannya, selain dendamnya sendiri karena kekalahannya di pinggir Kali Opak.

Maka tak ada pikiran lain yang bergolak di dalam kepala Argajaya selain membunuh anak yang gemuk ini. Apalagi setelah mereka bertempur beberapa lama. Terasa oleh Argajaya bahwa kekuatan lawannya kali uni tidak sama seperti anak muda yang dilawannya di pinggir Kali Opak. Pada anak ini ternyata masih dapat diketemukan beberapa segi kelemahannya. Ternyata kecepatan bergerak Swandaru Geni masih agak lambat dibanding dengan Argajaya yang cekatan. Tetapi kekuatan tenaga Swandaru masih dapat dibanggakan. Karena itulah maka Swandaru lebih banyak membenturkan tenaganya daripada berusaha menghindar.

Namun setiap kali Argajaya masih harus mengumpat di dalam hatinya. Apabila Swandaru dibingungkan oleh kecepatan serangan lawannya, maka jalan yang ditempuhnya adalah meloncat jauh-jauh untuk mengambil jarak. Kemudian dengan demikian ia menemukan kesempatan untuk memperbaiki keadaannya. Apabila lawannya tidak segera menyerangnya, maka serangannyalah yang datang seperti runtuhnya lereng Gunung Merapi. Bertubi-tubi, sehingga kadang-kadang Argajaya pun terpaksa menghindarinya agak jauh.

Ki Tanu Metir sempat juga sekilas melihat perkelahian, murid-muridnya. Ternyata Swandaru telah membuatnya agak cemas. Meskipun Argajaya pasti tidak akan dapat menguasainya dalam waktu yang singkat, tetapi orang tua itu dapat melihat beberapa kelemahan muridnya menghadapi Argajaya yang agaknya telah memiliki pengalaman yang cukup menghadapi lawan yang tangguh.

Kekalahan yang pernah dialaminya di pinggir Kali Opak agaknya telah mendorongnya menjadi semakin garang. Bahkan di dalam hati orang itu berjanji untuk menebus kekalahannya. Karena yang ada kini adalah Swandaru maka kepadanyalah dendam dan pembalasan itu akan ditumpahkan.

“Mudah-mudahan anak itu tetap tenang dan tidak kehilangan akal,” gumam orang tua itu di dalam hatinya. “Yang dapat menolongnya kali ini hanyalah ketenangan dan perhitungan yang cermat menghadapi segala macam keadaan.”

Untunglah bahwa Swandaru mempunyai sifat-sifat yang agak luar biasa. Menghadapi kesulitan yang bagaimanapun juga anak itu tidak segera menjadi bingung dan bermata gelap. Bahkan kadang-kadang dalam keadaan yang berbahaya ia masih juga dapat bergurau. Namun kali ini wajahnya menjadi tegang dan bersungguh-sungguh. Tetapi seperti harapan gurunya, Swandaru tidak kehilangan akal dan menjadi mata gelap. Dengan demikian maka ia masih mampu menghadapi lawannya dalam keadaan yang cukup baik.

Ki Tanu Metir sendiri pasti tidak akan segera dapat menolongnya. Ki Tambak Wedi ternyata telah memeras segenap ilmu untuk menguasai keadaan. Namun keduanya adalah orang-orang yang cukup menyimpan ilmu dan pengalaman, sehingga sampai sejauh itu, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa salah seorang dari padanya akan memenangkan perkelahian itu. Hanya sekali-sekali saja ujung cambuk Kiai Gringsing mampu menyentuh tubuh Ki Tambak Wedi. Sekali-sekali dan terlampau jarang. Itulah kemenangan yang dapat dinikmati oleh Kiai Gringsing. Sedang senjata lawannya sama sekali tidak dapat menyentuh kulitnya. Tetapi tubuh Ki Tambak Wedi pun cukup kuat untuk bertahan atas sengatan ujung cambuk lawannya, meskipun ia terpaksa menyeringai menahan pedih.

Wuranta yang luka itu akhirnya tidak tahan berdiri saja di tempatnya. Apalagi melihat Sekar Mirah yang duduk dengan lemahnya di lantai dengan tubuh yang gemetar. Ia tidak dapat pula mendekatinya dan berkata kepadanya supaya gadis itu tidak takut melihat perkelahian di luar dan tidak gentar mendengar suara ledakan cambuk itu, karena cambuk itu adalah suara cambuk Ki Tanu Metir.

Tidak. Tak ada tenaga yang cukup mendorongnya untuk mendekati Sekar Mirah. Tiba-tiba saja terasa ada sebuah tirai yang memisahkannya. Tirai yang tidak mampu ditembusnya.

Maka tanpa dikehendakinya sendiri, anak muda itu melangkah dengan lemahnya ke arah pintu yang telah menjadi miring. Ia tidak bernafsu lagi untuk segera memungut pedangnya yang terlepas dari tangannya.

Sejenak ia berdiri mematung. Tanpa berkedip ia menyaksikan tiga lingkaran perkelahian di halaman rumah itu. Pertempuran antara Ki Tanu Metir dan Ki Tambak Wedi membuatnya menjadi pening. Keduanya seolah-olah telah kehilangan bentuknya. Seolah-olah keduanya telah berubah menjadi bayangan yang melontar-lontar tanpa berhenti, melingkar-lingkar dengan kecepatan yang tidak pernah dapat dibayangkan.

Di sudut lain ia melihat Swandaru bertempur melawan Argajaya. Meskipun ia sendiri tidak mampu berkelahi secepat dan sekuat itu, namun ia dapat menangkap betapa dahsyatnya perkelahian itu, betapa berbahayanya ujung senjata masing-masing yang seolah-olah menjadi kehausan, untuk menghisap darah.

Sedang Agung Sedayu dan Sidanti pun bertempur tidak kalah sengitnya. Bahkan terasa betapa nyata dendam di hati masing-masing berkobar dengan dahsyatnya. Ujung-ujung pedang mereka berputaran dan melonjak-lonjak, mematuk ke segenap bagian tubuh lawan masing-masing.

Wuranta tertegun menyaksikan pertempuran itu. Semakin seru kedua orang itu berkelahi, semakin terasa betapa kecil dirinya sendiri. Anak muda itu merasa, bahwa ia sama sekali bukan akan dapat berbuat serupa itu. Apalagi serupa itu, bahkan mengikuti perkelahian itu pun hampir-hampir ia tidak mampu lagi. Gerak masing-masing terlampau cepat baginya. Apalagi gerak ujung senjatanya.

Tiba-tiba Wuranta itu merasa bahwa dirinya sama sekali tidak berarti dalam persoalan ini. Apa yang dilakukan hanyalah sekedar melakukan perintah. Ia tidak akan mampu berbuat demikian tanpa petunjuk-petunjuk dari orang tua yang menamakan dirinya Ki Tenu Metir. Dan bahkan ia merasa bahwa dirinya tidak lebih berharga dari sehelai pedang.

“Aku hanya alat,” desisnya, “apabila sudah tidak terpakai lagi maka aku akan dibuang. Betapa pentingnya sebuah alat, maka yang lebih penting adalah yang menggerakkannya.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. “Apa gunanya aku mengobati lukaku,” katanya pula di dalam hati, “bukankah aku sudah tidak diperlukan lagi? Selama ini aku merupakan alat yang hidup untuk melepaskan gadis itu. Kini saat pelepasan sudah semakin dekat. Dan aku tinggallah di tempatku yang lama.”

Kini sakit lukanya sudah tidak terasa lagi. Yang lebih pedih adalah luka di hatinya. Hubungannya yang terjadi hanya beberapa hari dengan Sekar Mirah, ternyata telah membekas terlampau dalam di dadanya. Ia tidak lagi dapat berpura-pura, seperti kepada Sidanti dan Alap-alap Jalatunda. Ia tidak lagi dapat menipu seperti ia menipu orang-orang Tampak Wedi dan orang-orang Jipang. Kali ini yang dihadapi adalah perasaan sendiri. Dan ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang ada di dalam dirinya sendiri itu.

Tanpa disengaja, sekali Wuranta berpaling. Dilihatnya Sekar Mirah yang duduk di lantai itu justru sedang memandanginya. Terasa betapa hatinya meratap seperti belanga yang terbanting di atas batu. Pecah hancur berserakan.

“Hem,” Wuranta itu menarik nafas dalam-dalam, “seandainya aku dapat bermain pedang dan berkelahi secepat Agung Sedayu. Aku akan dapat menengadahkan dada dan berkata seperti Sidanti, ‘Ayo, kita selenggarakan perang tanding,’ Tetapi aku tidak lebih dari anak padesan. Anak padesan yang hanya pantas dipakai sebagai alat. Seandainya aku mati dalam tugas yang diberikan oleh Ki Tanu Metir itu pun tak seorang akan menangisi aku. Dan apakah sebenarnya hak Ki Tanu Metir saat itu memberi tugas yang berbahaya ini? Tugas yang ternyata telah hampir membunuhku, bukan karena ujung pedang, tetapi oleh perasaan sendiri yang justru hancur di dalam tugas ini?”

Wuranta sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. “Seharusnya aku tidak melarikan diri dari tiang gantungan yang segera akan dipasang oleh Sidanti hari ini. Aku tidak akan menyaksikan dan merasakan kepahitan seperti ini.”

Wuranta itu terkejut ketika kemudian ia mendengar lecutan meledak di halaman itu. Agak lebih keras dari yang mendahuluinya. Dan Wuranta itu kemudian melihat Ki Tambak Wedi meloncat agak jauh ke belakang. Tetapi sejenak kemudian keduanya telah terlibat lagi dalam perkelahian yang kisruh menurut pandangan mata Wuranta.

Sedang di tempat lain Swandaru masih melawan Argajaya dengan gigihnya meskipun beberapa kali ia harus meloncat surut. Sedang Agung Sedayu dan Sidanti pun berkelahi dengan dahsyatnya.

Dan perkelahian yang semakin sengit itu ternyata telah menyiksa perasaan Wuranta semakin pedih. Perkelahian itu seolah-olah seperti sebuah cermin yang menunjukkan betapa kerdil dirinya dalam lingkaran keprajuritan.

“Aku memang bukan prajurit. Aku tidak ingin menjadi seorang prajurit. Apakah tidak ada lain bidang kebaktian selain menjadi seorang prajurt? Bukankah aku seorang petani yang mempunyai bidang tersendiri dalam mengabdikan diriku kepada lingkungan hidupku, kepada kampung halaman dan kepada Pajang. Biarlah mereka yang mampu bertempur sebagai seorang prajurit berbuat dan mengabdi sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka pun pasti tidak akan mampu memberikan pengabdian seperti aku. Dan biarlah aku berbangga karena itu.”

Dengan demikian maka Wurauta sedikit menemukan ketenteraman di dalam dirinya. Ia mencoba membangunkan kebanggaan atas dirinya sendiri yang hampir-hampir jatuh tersungkur di dalam rasa rendah diri dan tidak berarti. Meskipun demikian kepahitan yang dirasakannya, sama sekali tidak dapat dimuntahkannya kembali. Gadis itu benar-benar telah menyiksanya.

Di luar pengetahuan Wuranta, maka Ki Tanu Metir selalu diganggu oleh kecemasannya tentang Swandaru. Semakin lama terasa bahwa kecepatan bergerak Argajaya agak membahayakan anak muda itu. Untunglah bahwa Swandaru menyadari kekurangannya, dan anak muda itu tidak kehilangan akal karenanya. Setiap kali Swandaru berusaha untuk beradu kekuatan. Setiap kali ada kesempatan, Swandaru berusaha untuk membenturkan senjatanya. Dengan demikian maka getaran-getaran yang timbul dari benturan-benturan itu telah merayapi tangan Argajaya. Kadang-kadang benturan itu terlampau keras, sehingga tangan Argajaya terasa menjadi pedih. Namun sesaat kemudian Swandaru telah dibingungkan oleh gerak yang cepat dari lawannya itu. Hanya ketenangannyalah yang membantunya setiap kali melepaskannya dari bahaya. Setiap kali tepat pada saatnya pedangnya berhasil menggeser ujung tombak lawannya yang hampir menyentuh kulitnya.

“Sampai berapa lama anak itu akan dapat bertahan,” desah Ki Tanu Metir di dalam hatinya. Tetapi adalah lebih baik melawan Argajaya itu daripada harus melawan Sidanti yang garang dan terlampau buas.

Demikianlah maka mereka yang bertempur itu telah tenggelam dalam suatu pemusatan segala macam kemampuan mereka. Ki Tanu Metir telah mencoba pula mengatasi lawannya. Tetapi setiap kali ia sadar, bahwa Ki Tambak Wedi pun telah berbuat serupa pula sehingga tidak mungkin baginya untuk menguasai lawannya dalam waktu yang singkat. Sedang keadaan Swandaru semakin lama menjadi semakin sulit. Agung Sedayu pun tidak akan dapat berbuat apa-apa, sebab perkelahiannya sendiri tidak juga tampak segera sampai ke ujung.

Namun ada satu harapan yang masih membersit di dalam dada Ki Tanu Metir. Untara. Kalau anak muda itu segera menyelesaikan perkelahiannya atau segera mengetahui bahwa Ki Tambak Wedi dan Sidanti berserta pamannya hilang dari pertempuran, maka ia pasti akan mencarinya. Setidak-tidaknya beberapa orang perwiranya akan disebarnya di seluruh padepokan ini. Ki Tambak Wedi pasti diketahui tidak akan meninggalkan padepokan ini lewat pintu padepokan, sebab Untara telah menempatkan beberapa orang di sana.

“Ternyata Argajaya masih terlampau kuat untuknya,” desis Ki Tanu Metir di dalam hatinya. Meskipun demikian, tak ada cara lain bagi orang tua itu, apabila keadaan memaksa, adalah mencoba menggabungkan kekuatan kedua muridnya. Bertempur berpasangan. Ia mengharap bahwa Agung Sedayu dan Swandaru akan dapat bekerja sama lebih rapi dari Sidanti dan pamannya. Kelincahan dan kecepatan bergerak Agung Sedayu dan kekuatan tenaga Swandaru akan dapat bergabung menghadapi kedua lawannya.

Tetapi tiba-tiba perkelahian itu terganggu. Di kejauhan samar-samar mereka mendengar suara sorak sorai membelah udara padepokan Tambaik Wedi. Suara itu bergelombang seolah-olah memecahkan dinding-dinding padepokan yang kokoh kuat itu.

“Gila,” geram Ki Tambak Wedi, “apa yang telah terdiadi?”

“Selesai,” sahut Ki Tanu Metir, “pertempuran itu pasti sudah selesai.”

“Kau sangka bahwa pasukan Untara akan menang?”

“Ya.”

“Omong kosong!” bentak Ki Tambak Wedi. Sementara itu mereka masih juga sibuk bertempur dengan serunya, “Untara terbunuh. Yang bersorak itu adalah orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang. Kau mau mencoba mempengaruhi perasaanku, supaya kau mendapat kesempatan baik untuk menolong muridmu yang sebentar lagi pasti akan mati terbunuh oleh tombak Angger Argajaya. Sesudah itu, maka keseimbangan dari kekuatan kita akan miring. Agung Sedayu harus melawan dua orang. Sidanti dan Angger Argajaya. Nah akibat seterusnya dapat kau perhitungkan. Kau sendiri pasti akan mati berkubur di padepokan ini.”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Tetapi terdengar suara tertawanya menyakitkan hati. Baru kemudian ia berkata, “Kau sangka aku tidak melihat perkelahian di halaman banjar itu? Perkelahian yang menyenangkan? Pasukanmu dan orang-orang Jipang ternyata telah terlampau lelah untuk melawan pasukan Angger Untara yang masih segar. Apalagi setelah pasukannya yang berjalan kaki memasuki padepokan ini. Kalau tidak demikian, maka kau pasti tidak akan lari dari arena bersama muridmu dan pamannya itu.”

“Tutup mulutmu!” bentak Ki Tambak Wedi. Serangannya tiba-tiba melonjak mengerikan. Hampir saja mulut Ki Tanu Metir tersentuh ujung senjata hantu lereng Merapi itu.

“Ut,” Ki Tanu Metir terpaksa mengelak mundur. Dengan serta-merta cambuknya menyambar lawannya. Terdengar ledakannya memekakkan telinga. Tetapi Ki Tambak Wedi sempat menghindarkan dirinya.

Namun sorak yang terdengar di kejauhan telah mempengaruhi hati Ki Tambak Wedi. Sebenarnya ia pun tahu bahwa pasukannya sama sekali tidak aakan memenangkan pertempuran. Tepat seperti kata-kata Ki Tanu Metir, apabila imbangan pertempuran itu tidak terlampau berat sebelah, maka ia tidak akan lari dari arena.

“Sorak itu adalah akhir dari pertempuran,” desis Ki Tanu Metir kemudian.

Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Ia berusaha semakin kuat untuk menekan lawannya. Tetapi seperti Kiai Gringsing, usaha yang demikian pasti hanya akan sia-sia.

Ketika sekali Ki Tambak Wedi melihat Argajaya dan Swandaru Geni, maka segera ia melihat bahwa agaknya Argajaya akan lebih cepat daripadanya menyelesaikan perkelahiannya. Tetapi apakah Argajaya dapat lebih cepat dari kedatangan pasukan Untara itu?

Dengan demikian maka Ki Tambak Wedi sudah mulai dijalari oleh perasaan gelisah. Sorak di kejauhan sudah mulai menurun. Hampir dapat dipastikan bahwa sebentar lagi pasukan berkuda yang tersisa akan berlari-larian di sepanjang padepokan ini. Satu dua orang dari mereka tidak akan berarti apa-apa bagi Ki Tambak Wedi. Tetapi selanjutnya pasti akan menyusul yang lain lagi. Empat, lima, sepuluh dan kemudian berpuluh-puluh bersama-sama dengan Untara sendiri.

Dalam kegelisahan itu Ki Tambak Wedi terpaksa meloncat surut untuk menghidari serangan Kiai Gringsing yang justru menjadi semakin garang. Berkali-kali cambuknya meledak-ledak memekakkan telinga. Kedua muridnya seakan-akan telah menjadi kebal mendengar suara cambuk itu. Tetapi bagi Sidanti dan Argajaya suara itu agaknya cukup mengganggu ketenangan mereka.

Setiap kali cambuk itu meledak, maka Swandaru merasa mendapat kekuatan baru. Setiap kali ia mendengar Argajaya berdesah, dan bahkan mengumpat. Kesempatan yang kecil itu dimanfaatkan oleh Swandaru sebaik-baiknya, sebab ia merasa bahwa tekanan Argajaya semakin lama menjadi semakin berat. Bahkan kemudian Argajaya seakan-akan telah membuat telinganya menjadi tuli.

Meskipun suara cambuk Ki Tanu Metir masih juga kadang-kadang menghentak dadanya, tetapi Argajaya telah memusatkan segenap perhatiannya atas lawannya. Ia yakin bahwa lawannya yang gemuk itu akan dapat dikalahkan apabila ia mendapat waktu yang cukup. Ia pun sadar, bahwa pengaruh suara cambuk itu telah memperlambat kemenangannya. Namun kini ia telah berhasil memusatkan segenap tenaganya tanpa menghiraukan suara cambuk yang meledak-ledak itu lagi.

Tetapi meskipun demikian, meskipun ia berhasil melenyapkan pengaruh suara cambuk Ki Tanu Metir, namun Argajaya sama sekali tidak berhasil meniadakan pendengarannya atas suara sorak-sorai di kejauhan yang seolah-olah membelah langit. Suara itu langsung menyentuh hatinya.

“Setan alas!” orang itu mengumpat. “Aku tinggal memerlukan waktu sedikit untuk membinasakan anak gemuk yang sombong ini. Apakah sorak itu pertanda bahwa pertempuran telah selesai?”

Dengan demikian maka Argajaya pun menjadi gelisah pula. Kegelisahannya kini yang mempengaruhinya, sehingga justru kemenangannya menjadi tertunda pula. Setiap kali ia mencoba memandang kemenakannya dan Ki Tambak Wedi. Dan setiap kali pula suara sorak di kejauhan mengetuk dadanya.

Bukan saja Argajaya yang menjadi gelisah seperti Ki Tambak Wedi, tetapi Sidanti pun demikian pula. Anak muda itu pun mendengar suara sorak yang riuh menggetarkan udara padepokan Tambak Wedi. Dengan demikian maka pemusatan pikirannya pun menjadi terganggu. Setiap kali ia terpaksa menghindar surut dan bahkan meloncat jauh-jauh.

Suara sorak yang gemuruh itu kini sudah mereda. Bahkan hampir tidak terdengar lagi. Yang terdengar kini adalah gemerincing senjata beradu. Tombak Argajaya yang sering benar berbenturan dengan pedang Swandaru. Senjata Sidanti dan Agung Sedayu, serta ledakan-ledakan cambuk Ki Tanu Metir yang memekik-mekik tinggi.

“Setan tua ini licik sekali,” geram Ki Tambak Wedi di dalam hatinya. “Sengaja ia meledakkan cambuknya keras-keras untuk memanggil kawan-kawannya.”

Namun ternyata bukan saja demikian, tetapi Ki Tambak Wedi yang terganggu itu benar-benar mulai terdesak. Beberapa kali ia meloncat mundur seperti Sidanti. Beberapa kali pula ia terkejut melihat serangan lawannya yang terlampau cepat dan tiba-tiba.

Tetapi perhatian Ki Tambak Wedi kini sudah tidak lagi pada lawan-lawannya. Beberapa kali ia memandangi keadaan di sekitarnya. Dan akhirnya ditemukannya jalan yang sebaik-baiknya untuk menghindarkan diri dari bencana. Kalau Untara dan pasukannya sebentar lagi datang, itu berarti bencana baginya, bagi Sidanti beserta pamannya, Argajaya.

Karena itu, maka Ki Tambak Wedi segera mengambil keputusan untuk melarikan dirinya. Orang tua itu yakin, bahwa ia tidak akan dapat keluar lewat regol padepokannya. Karena itu ia harus mempergunakan jalan lain. Tetapi satu hal yang membuatnya ragu-ragu. Dengan demikian maka Sidanti tidak akan dapat membawa Sekar Mirah bersama mereka. Betapa akan kecewanya anak muda itu. Mungkin akan melampaui segala macam kegagalannya yang lain. Hal ini akan dapat membahayakan masa depannya.

Tetapi Ki Tambak Wedi tidak melihat jalan yang dapat ditempuhnya untuk mengambil Sekar Mirah. Meskipun mungkin Sekar Mirah kini sama sekali tidak diawasi oleh siapa pun, namun tak ada jalan baginya untuk masuk ke dalam gubug itu.

Ki Tambak Wedi terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar kuda berderap. Terlampau cepat mendekati tempat perkelahian itu.

Terdengar Ki Tambak Wedi mengumpat. Kini tidak ada kesempatan lagi untuk menimbang-nimbang. Ia harus segera meninggalkan tempat itu bersama dengan Sidanti dan pamannya.

Ketika suara derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat, maka tiba-tiba terdengar Ki Tambak Wedi bersuit nyaring. Dengan cekatan ia meloncat mundur, melepaskan diri dari lawannya dan kemudian berlari meninggalkannya.

Sidanti dan Argajaya telah mengenal tanda itu. Mereka pun dapat mengerti kesulitan yang bakal datang. Betapa kecewa hati Sidanti dan Argajaya, namun mereka harus meninggalkan tempat itu. Sidanti kecewa karena ia tidak berhasil membawa Sekar Mirah yang dengan susah payah telah diambilnya dari Sangkal Putung, sedang Argajaya kecewa karena ia tidak berhasil melepaskan dendamnya karena kekalahannya di pinggir Kali Opak. Tetapi keadaan telah memaksa mereka pergi. Dan mereka pun mendengar derap kuda semakin dekat.

Ketika mereka melihat Ki Tambak Wedi telah meninggalkan lawannya maka dengan tergesa-gesa mereka pun segera melepaskan diri. Meloncat dan berlari secepat-cepat mereka dapat. Semula mereka tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja Ki Tambak Wedi mendahului meninggalkan mereka. Namun mereka kemudian menyadari, bahwa orang itu ternyata telah mencoba melindungi mereka dari kejaran lawan-lawannya.

Ternyata ketika Agung Sedayu meloncat dengan pedang terjulur mengejar Sidanti, terdengar Ki Tambak Wedi berteriak nyaring memanggilnya. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat mengekang diri untuk berhenti. Untunglah bahwa Ki Tanu Melir berhasil meloncat mendekatinya. Sejenak kemudian terdengar cambuk meledak, dekat sekali di muka Agung Sedayu. Mau tidak mau Agung Sedayu terpaksa berhenti. Alangkah terkejut anak muda itu ketika ia melihat sebuah gelang-gelang besi menggelepar di bawah kakinya.

“Hati-hatilah,” desis Ki Tanu Metir, “iblis itu sangat licik.”

Agung Sedayu sesaat berdiri saja seperti patung. Demikian juga Swandaru yang tidak pula kalah terperanjat dari Agung Sedayu ketika ia melihat gelang-gelang itu.

“Apakah mereka akan kita biarkan saja?” bertanya Agung Sedayu.

“Ikutlah di belakangku. Marilah mereka kita kejar,” jawab gurunya. Namun dengan demikian mereka telah kehilangan waktu sejenak.

Waktu yang sejenak itu ternyata telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Ki Tambak Wedi. Dengan secepat-cepatnya ia berlari diikuti oleh Sidanti dan Argajaya meloncati pagar halaman yang tidak begitu tinggi menuju ke jalan sempit di sebelah.

“Kita kehilangan waktu sesaat,” desis Ki Tanu Metir sambil berlari mengejar. Di belakangnya kedua muridnya mengikutinya

“Uh,” desah Swandaru sambil berlari-lari, “ternyata aku bukan pelari yang baik.”

Meskipun demikian Swandaru itu tidak tertinggal terlampau jauh dari saudara seperguruannya.

Sebenarnya kali ini Ki Tanu Metir benar-benar tidak ingin lagi melepaskan lawannya. Namun ternyata lawannya mempunyai cara yang licik untuk melepaskan dirinya. Untunglah bahwa ia melihat orang tua yang selama ini menggetarkan lereng Merapi itu mengambil gelang-gelang besinya dan siap untuk melemparkan. Dengan demikian maka ia dapat menyelamatkan Agung Sedayu, meskipun ia tahu juga bahwa itu hanyalah suatu cara untuk mendapatkan sekedar waktu.

Tetapi ternyata Ki Tambak Wedi telah beberapa puluh langkah berada di depan. Namun seandainya ia mempunyai kesempatan yang cukup, setidak-tidaknya ia akan mendapatkan Sidanti atau Argajaya, atau akan lebih baik lagi kalau Ki Tambak Wedi sendiri mencoba melindungi muridnya.

Ketika Ki Tambak Wedi hampir mencapai jalan sempit di sebelah halaman di samping, maka derap kuda yang mereka dengar telah menjadi dekat sekali. Bahkan kemudian mereka melihat seleret bayangan yang berlari di balik dedaunan.

Ki Tanu Metir menjadi berdebar-debar sejenak. Orang berkuda itu pasti akan melihat Ki Tambak Wedi berlari melintasi jalan yang dilalui kudanya. Tetapi apakah, yang akan terjadi kemudian apabila mereka justru bertemu?

“Mudah-mudahan Ki Tambak Wedi terhambat meskipun hanya sekejap,” desis Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Tetapi yang terjadi telah mengguncangkan dadanya. Penunggang kuda itu ternyata adalah seorang prajurit Pajang. Beberapa puluh langkah di belakangnya kuda yang kedua menyusulnya. Ketika prajurit itu melihat seorang berlari melintas halaman, maka segera prajurit itu bermaksud memotong jalan. Namun nasibnya ternyata tidak terlampau baik. Begitu ia mencoba menghalangi orang yang sedang berlari itu, maka hampir tak dapat diketahui sangkan parannya, sebuah gelang-gelang besi menghantam pundak kanannya. Terasa pundaknya terdorong oleh kekuatan yang tidak dapat dibayangkannya sehingga prajurit itu terpelanting dari kudanya. Tanpa sesadarnya prajurit itu pun memekik tinggi.

Untunglah bahwa kaki-kaki kuda kawannya yang berada di belakangnya sempat menghindar, sehingga tubuhnya yang terbanting di tanah itu tidak terinjak. Meskipun demikian, maka prajurit itu menjadi pingsan. Ia tidak tahu apa yang terjadi atas dirinya. Ia tidak menyadari lagi bahwa kawannya itu kemudian meloncat turun dan mencoba merawatnya.

Ternyata apa yang diharapkan Kiai Gringsing terjadi sebaliknya. Ia ingin prajurit berkuda itu meskipun hanya sekejap menghambat Ki Tambak Wedi, tetapi yang terjadi adalah, Ki Tanu Metir sendirilah yang sekali lagi terpaksa melepaskan waktu sesaat. Sebagai seorang dukun, maka secara naluriah orang tua, itu berhenti sambil berteriak kepada prajurit yang seorang, “Rawatlah kawanmu itu sejenak, bawalah ia masuk ke rumah itu.”

Meskipun dengan demikian maka jarak Ki Tambak Wedi menjadi semakin jauh, tetapi ia tidak dapat melihat dan membiarkan seseorang yang sedang dibelai maut.

Setelah Ki Tanu Metir yakin bahwa prajurit yang seorang itu akan merawat kawannya, maka segera ia pun meneruskan langkahnya mengejar Ki Tambak Wedi.

“Mudah-mudahan tak ada jalan yang dapat dilaluinya,” berkata orang tua itu kepada kedua muridnya yang berlarian di belakangnya. “Kalau mereka memanjat dinding halaman, maka kita akan sempat menangkapnya. Tidak mudah untuk memanjat dinding yang cukup tinggi ini. Sedang apabila mereka mencoba terjun kesungai, maka kitalah yang akan mendapat giliran, melempar mereka dengan batu.”

“Tetapi kalau mereka terjun lewat urung-urung, maka mereka akan dapat meloloskan diri guru.”

Ki Tanu Metir terdiam sejenak. Namun langkahnya justru menjadi semakin cepat.

“Ya,” gumamnya, “tetapi mereka tidak menuju ke urung-urung.”

“Ya,” Agung Sedayu menyahut.

Mereka kemudian terdiam. Mereka mencoba mempercepat langkah mereka. Tetapi Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya pun berlari semakin cepat.

“Kemanakah mereka,” Ki Tanu Metir dan kedua muridnya berpikir di dalam hatinya. Orang-orang yang mereka kejar ternyata berlari ke arah yang tidak mereka mengerti. “Apakah ada pintu rahasia?” pertanyaan itu berputar-putar di dalam hati mereka.

Sejenak kemudian Ki Tanu Metir dan kedua muridnya melihat Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya menyeberangi sungai. Mereka sama sekali tidak berlari menyusur sungai itu. Apabila demikian maka mereka akan dapat mencari jalan memintas. Tetapi tidak, ketiganya berlari melintas sungai.

“Kemana mereka?” bertanya Swandaru yang ketinggalan beberapa langkah di belakang.

Ki Tanu Metir tidak menjawab. Ia berlari semakin cepat, sehingga kedua muridnya pun kini tertinggal semakin jauh. Orang tua itu ingin setidak-tidaknya untuk menangkap Sidanti atau Argajaya.

Seperti kedua murid Ki Tanu Metir, maka jarak antara Sidanti dan Argajaya dengan Ki Tambak Wedi pun menjadi semakin jauh pula. Namun Ki Tanu Metir menyadari, bahwa setiap saat Ki Tambak Wedi akan berhenti, berbalik dan melontarkan gelang-gelang besinya untuk melindungi Sidanti beserta pamannya.

Dengan demikian maka Ki Tanu Metir tidak kehilangan kewaspadaan meskipun tampaknya ia sedang mengejar musuhnya. Setiap kali ia bersiap menerima serangan yang bagaimanapun bentuknya.

Tetapi yang masih menjadi teka-teki baginya, kemana Ki Tambak Wedi ini akan berlari. Satu-satunya kemungkinan yang sedang dilakukan adalah, keluar dari padepokan ini lewat pintu rahasia. Karena itu maka ia harus menjadi semakin dekat. Begitu pintu rahasia itu terbuka bagi Ki Tambak Wedi dan Sidanti serta pamannya, maka ia pun harus dapat lewat pula di situ.

Ki Tanu Metir menjadi berdebar-debar ketika mereka sudah hampir mencapai dinding padepokan. Beberapa puluh langkah di muka mereka, dinding itu seakan-akan raksasa yang berdiri tegak, bertolak pinggang menghadang jalan.

“Kemana mereka akan lari?” desis Ki Tanu Metir di dalam hatinya.

Beberapa langkah di hadapannya Sidanti dan Argajaya tersuruk-suruk mempercepat larinya. Namun jarak mereka dengan Ki Tanu Metir menjadi semakin dekat.

“Dalam keadaan yang wajar aku akan mendapatkan salah seorang dari mereka,” berkata Ki Tanu Metir di dalam hatinya, “meskipun seandainya di muka itu ada sebuah pintu rahasia yang tiba-tiba saja terbuka.”

Tetapi apa yang diduganya sejak semula benar-benar terjadi. Ketika Ki Tambak Wedi telah berdiri di bawah dinding padepokan itu, maka tiba-tiba ia berbalik, dan sebuah gelang-gelang besi meluncur ke arah Ki Tanu Metir. Terdengar cambuk Ki Tanu Metir meledak. Ia ingin tetap tidak berhenti di tempatnya meskipun ia harus menangkis serangan-erangan Ki Tambak Wedi. Tetapi ketika Ki Tambak Wedi melepaskan gelang-gelang besinya yang kedua, sasarannya bukan Ki Tanu Metir. Kali ini sasarannya adalah Agung Sedayu. Untunglah bahwa Ki Tanu Metir melihat arah pandangan mata iblis itu, sehingga cepat ia dapat mengetahui apa yang akan dilakukan.

Sekali lagi cambuk Ki Tanu Metir menggeletar. Tetapi ia tidak dapat menghindarkan Agung Sedayu dari bencana sambil tetap berlari. Ki Tanu Metir terpaksa berhenti dan bahkan mundur selangkah mendekati Agung Sedayu. Bagaimanapun juga Ki Tanu Metir telah kehilangan lagi beberapa langkah.

Yang kemudian menghentak dada Ki Tanu Metir dan kedua muridnya adalah soal-soal yang sama sekali tidak diduganya. Ternyata mereka benar-benar mempergunakan pintu rahasia. Tetapi sama sekali tidak terdapat pada dinding padepokan itu. Sama sekali tidak ada sebuah pintu yang tiba-tiba saja terbuka, atau sebuah goa tempat mereka menyuruk ke luar dan yang tiba-tiba bibirnya runtuh menutup jalan.

Ternyata pintu rahasia itu adalah sebatang pohon. Merek bertiga dengan cepatnya meloncat memanjat sebatang pohon preh yang rimbun.

“Oh, kalian sangka aku tidak dapat secepat itu,” geram Ki Tanu Metir di dalam hatinya, “aku akan mengejar mereka sekalipun akan sampai ke puncak gunung ini.”

Tetapi sekali lagi Ki Tanu Metir menggeram. Ternyata pohon preh itu adalah pohon yang memang telah dipersiapkan sebagai sebuah pintu rahasia untuk meninggalkan padepokan ini tanpa melalui regol.

Meskipun Ki Tanu Metir dan kedua muridnya telah memanjat pohon itu pula, namun mereka terpaksa menarik nafas dalam-dalam untuk menenteramkan gelora di dada mereka. Mereka hanya dapat saling berpandangan ketika mereka melihat Argajaya, orang yang terakhir dari ketiga orang yang mereka kejar itu lelah mencapai dinding padepokan. Dengan sebuah sentuhan kaki, maka sebatang kayu yang mereka pergunakan untuk melempar dari dahan pohon preh itu ke dinding, terlempar jatuh.

“Setan!” Swandaru berteriak tanpa sesadarnya ketika ia melihat, ketiga orang itu meloncat turun dan hilang di seberang dinding.

“Ambil kayu itu,” teriak Agung Sedayu kepada Swandaru yang berada di paling bawah dari ketiganya.

“Tak ada gunanya,” sahut Ki Tanu Metir dengan nada yang dalam, “mereka sudah berlari semakin jauh, atau mereka menunggu di bawah dinding itu. Setiap kepala yang tersembul, pasti akan segera dipecahkan oleh gelang-gelang besi Ki Tambak Wedi. Ia sudah mendapat waktu untuk mempersiapkan dirinya. Tetapi apabila kita berada dekat di belakangnya, maka ia tidak mendapat kesempatan itu.”

“Kita meloncat dari dahan pohon ini langsung ke dinding itu,” berkata Swandaru.”

“Tak ada kemungkinan. Aku sangka mereka akan berbuat demikian juga. Dari bawah, kayu yang menyilang dari dahan pohon ini ke dinding batu itu tidak begitu tampak, tertutup oleh daun-daunnya. Sedang dahan-dahannya yang langsung tumelung ke atas dinding itu terlampau kecil,” sahut gurunya.

“Jadi bagaimana sekarang?” bertanya Agung Sedayu.

“Gagal,” jawab gurunya.

“Tak ada jalan lain?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. “Satu-satunya kemungkinan kita mencari kuda. Kita mencoba menjelajahi daerah di sekitar padepokan ini. Tetapi kemungkinan untuk menemukannya terlampau kecil.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya mereka. Mereka pun menyadari, bahwa mereka telab kehilangan kemungkinan untuk segera dapat menemukan ketiga orang itu.

Terdengar Swandaru menggeretakkan giginya. Ia menjadi sangat kecewa. Ia ingin menangkap orang-orang yang melarikan adiknya dan membawanya ke Sangkal Pulung mati atau hidup. Tetapi mereka telah lepas dari tangan.

“Mereka telah memelihara dan mengatur pohon preh ini baik-baik,” berkata Kiai Gringsing kemuidian. “Mereka menebas setiap dahan yang cukup besar yang dapat mencapai dinding batu itu. Tetapi mereka sengaja membiarkan dahan2 yang kecil dan berdaun agak rimbun untuk menutupi kayu yang mereka silangkan itu.”

Sejenak kemudian mereka bertiga saling berdiam diri. Tetapi, mereka tidak segera turun dari atas pohon preh itu. Bahkan Agung Sedayu mencoba memanjat semakin tinggi. Ia mencoba untuk melihat ke luar dinding padepokan itu dari atas pohon. Tetapi anak muda itu tidak melihat sesuatu. Yang terbentang di luar padepokan itu adalah sebuah lapangan rumput yang sempit, kemudian di sebelah lapangan rumput itu adalah sebuah pategalan yang rimbun. Pategalan salak yang digarap oleh orang-orang yang tinggal di dalam padepokan Ki Tambak Wedi. Dengan demikian seandainya Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya menyusup ke dalam kebun salak itu, maka amat sukarlah untuk mencarinya.

“Dapatkah Kakang melihat?” bertanya Swandaru. Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. “Kebun salak,” jawabnya.

“Marilah kita turun,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kita melihat Sekar Mirah. Apakah ia tidak terganggu selama ini.”

“O,” Swandaru berdesis, “marilah. Hampir aku lupa.”

Tiba-tiba Agung Sedayu pun menjadi tergesa-gesa turun dari pohon itu. Bahkan seolah-olah anak muda itu menyelusur saja ke bawah.

Ketiganya pun kemudian melangkah kembali ke gubug Sekar Mirah. Swandaru dan Agung Sedayu merasa langkah mereka itu terlampau lambat. Sekali-sekali mereka mendahului gurunya,

Ki Tanu Metir yang dapat mengetahui perasaan anak-anak muda itu pun kemudian mempercepat langkahnya pula. Tetapi ia tidak menjadi terlampau cemas. Menurut perhitungannya, maka beberapa orang prajurit Untara pasti sudah sampai ke tempat itu pula.

Namun tanpa mereka duga-duga, tiba-tiba terdengar Swandaru berdesah, “Aneh.”

“Apa yang aneh?” bertanya Agung Scdatu tidak mengerti.

“Argajaya,” jawab Swandaru.

“Kenapa?”

“Di Prambanan, ia tidak gentar melihat ujung tombak Sutawijaya. Bahkan tombak itu telah melekat di lambungnya. Tetapi kini ia terpaksa melarikan diri seperti seekor tikus melihat kucing.”

“Keadaannya sangat berbeda,” potong gurunya. “Di Prambanan Argajaya mempertaruhkan segalanya untuk harga diri serta kehormatannya. Di sini ia sama sekali hampir tidak berperan. Kebetulan ia adalah paman Sidanti. Ketika Sidanti dan gurunya berlari meninggalkan arena, maka ia pun akan lari juga. Bukan seharusnya ia bertahan mati-matian di padepokan yang asing baginya. Apalagi mempertaruhkan nyawanya.”

Swandaru dan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya mereka. Mereka dapat mengerti keterangan gurunya. Argajaya hampir tidak berkepentingan apa pun dengan padepokan ini, selain secara kebetulan kemanakannya berada di sini. Dan kemanakannya itu pun telah menghindarkan diri pula.

Mereka bertiga kini telah menyeberangi sungai yang membujur membelah padepokan itu. Semakin dekat mereka dengan tempat tinggal Sekar Mirah, mereka menjadi semakin cepat melangkah. Mereka selalu diganggu oleh perasaan cemas, karena mereka merasa bahwa mereka berada di tengah-tengah bahaya yang setiap saat dapat menerkam mereka dari segala penjuru. Mungkin dari balik-balik dinding batu halaman, mungkin dari dalam gerumbul atau rumpun-rumpun bambu. Apabila bahaya itu menimpa Sekar Mirah, maka gadis itu pasti tidak akan dapat berbuat apa-apa. Wuranta yang berada di rumah itu pun telah terluka. Tak akan banyak yang dapat dilakukannya seandainya ada seorang saja orang padepokan ini yang datang menyerang rumah itu. Mudah-mudahan prajurit Pajang yang merawat kawannya yang terluka masih berada di sana.

Ketika mereka muncul di mulut sebuah lorong sempit, mereka tertegun sejenak. Mereka melihat beberapa ekor kuda di halaman rumah yang dipergunakan oleh Sekar Mirah. Sejenak mereka saling berpandangan, namun kemudian Ki Tanu Metir berkata, “Mereka pasti prajurit-prajurit Pajang. Aku memang sudah menyangka bahwa mereka pasti akan segera datang.”

“Bahkan mungkin Kakang Untara ada di antara mereka,” desis Swandaru.

“Mungkin,” sahut Ki Tanu Metir.

Agung Sedayu tidak berkata sepatah kata pun. Tetapi langkahnya menjadi semakin panjang dan cepat. Seolah-olah jarak di hadapannya itu mau diloncatinya dengan sekali langkah.

Sebenarnyalah bahwa di rumah itu telah berkumpul beberapa orang prajurit Pajang, tetapi ternyata Untara tidak ada di antara mereka. Ketika salah seorang dari mereka melihat Ki Tanu Metir dan kedua muridnya, maka segera dipanggilnya kawan-kawannya ke luar.

Demikian Ki Tanu Metir beserta Agung Sedayu dan Swandaru menginjakkan kakinya di halaman itu, maka segera para prajurit Pajang mengerumuninya.

BUKU 25

“BAGAIMANA dengan Ki Tambak Wedi?” bertanya salah seorang dari mereka. “Bukankah Kiai bertempur melawannya di sini?”

“Lari,” jawab Ki Tanu Metir pendek.

“Orang itu benar-benar licin seperti hantu. Ia berhasil menghilang dari kepungan kami, dan kini berhasil meloloskan diri dari tangan Kiai. Bagaimana dengan Sidanti dan yang seorang lagi?”

“Ketiganya dapat melepaskan diri.”

“Sayang,” desis para prajurit Pajang,” mereka akan menjadi bibit persoalan di waktu-waktu mendatang.”

“Ya. Bibit itu akan cepat tumbuh dan berkembang. Mereka mempunyai tanah yang subur bagi pertumbuhan bibit itu.”

“Di mana, Kiai?”

“Menoreh.”

Para prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Namun segera mereka memalingkan kepala mereka ketika mereka mendengar Swandaru menyela, “Bagaimana dengan Sekar Mirah?”

Swandaru tidak menunggu jawaban. Segera ia melangkah dan keluar dari kerumunan para prajurit itu. Dengan tergesa-gesa ia melangkah menuju ke arah pintu yang masih saja miring.

Agung Sedayu ketika melihat Swandaru pergi, segera menyusulnya di belakang.

Ki Tanu Metir masih belum beranjak dari tempatnya. Dibiarkannya kedua muridnya itu pergi menemui Sekar Mirah, sedang Ki Tanu Metir sendiri kemudian kembali sibuk menjawab pertanyaan para prajurit yang mengerumuninya.

Ketika Swandaru masuk ke dalam rumah bersama Agung Sedayu, maka mereka melihat Sekar Mirah telah berdiri di sudut ruangan. Di atas bale-bale bambu kini terbaring sesosok tubuh. Ia, adalah prajurit yang telah dikenai gelang-gelang-gelang besi oleh Ki Tambak Wedi. Sedang di sudut yang lain kedua orang Tambak Wedi yang terikat masih juga terikat.

Demikian Sekar Mirah melihat Swandaru masuk, maka sekali lagi ia berlari mendapatkannya sambil menangis. Tetapi kini ia sudah tidak menjerit-jerit lagi.

“Kakang, aku takut,” katanya di antara isak tangisnya.

“Jangan takut, Mirah. Kau sekarang sudah bebas,” jawab Swandaru.

Sekar Mirah mengangkat wajahnya. Pandangannya masih mengandung kecemasan, “Apakah aku sekarang sudah bebas?”

“Sudah, Mirah.”

“Tetapi kita masih berada di sini. Kita masih berada di Tambak Wedi.”

“Ya, tetapi semuanya sudah selesai. Padepokan ini sudah dikuasai oleh Kakang Untara.”

“Lalu bagaimana dengan Sidanti dan orang-orang lain yang menakutkan itu?”

“Sidanti telah pergi. Ia telah melarikan diri dari padepokannya bersama guru dan pamannya.”

“Lari?”

“Ya. Sayang kami tidak dapat menangkapnya hidup atau mati. Ia berhasil meloncat dinding lewat sebatang pohon preh.”

Sekar Mirah memandang wajah kakaknya dengan penuh pertanyaan. Katanya, “Apakah kalian tidak dapat mengejarnya lewat pohon preh itu pula?”

Swandaru menggeleng, “Tidak, Mirah. Kami tidak dapat mengejarnya. Ternyata pohon preh itu memang sudah dipersiapkannya menjadi sebuah pintu rahasia.”

Sekar Mirah terdiam. Namun tampaklah bahwa ia menjadi sangat kecewa. Sidanti baginya akan tetap menjadi hantu sebelum terbunuh. Setiap kali ia akan muncul dan menakut-nakutinya.

“Jangan takut,” berkata Swandaru kemudian yang seakan-akan dapat mengerti perasaan adiknya, “kini Sidanti sama sekali sudah tidak berdaya menghadapi Kakang Agung Sedayu. Sidanti bukan lagi menjadi hantu bagi kami. Untuk waktu yang lama aku kira ia tidak akan menampakkan dirinya lagi.”

“Kemanakah orang itu bersembunyi?”

“Mungkin ia akan kembali ke kampung halamannya, Menoreh.”

Sekar Mirah terdiam. Tanpa sesadarnya ia berpaling. Ketika pandangan matanya bertemu dengan sorot mata Agung Sedayu, maka cepat-cepat gadis itu menundukkan kepalanya.

Dada Agung Sedayu pun berdesir. Dilemparkannya pandangan matanya jauh-jauh ke luar rumah lewat lubang pintu. Dilihatnya di luar beberapa orang berdiri mengerumuni Kiai Gringsing.

Sejenak mereka dicengkam oleh keheningan. Sekar Mirah kini sudah tidak menangis lagi. Tetapi ia masih juga selalu dibayangi oleh ketakutan. Jangan-jangan Sidanti dan gurunya akan muncul dengan tiba-tiba.

Namun kehadiran beberapa orang prajurit Pajang telah menambah ketenteraman hatinya. Ia percaya bahwa Untara telah menduduki padepokan Tambak Wedi.

Sejenak kemudian Ki Tanu Metir telah masuk ke dalam rumah itu pula diiringi oleh beberapa orang prajurit. Ketika ia melangkahkan kakinya masuk, maka segera ia berdesis, “Nini Sekar Mirah, sekarang kau tidak perlu takut lagi. Kau akan segera dapat kembali kepada ayah dan ibu di Sangkal Putung. Semuanya sudah selesai di sini.”

Hati Sekar Mirah yang sudah agak tenteram itu pun telah dapat diaturnya, sehingga ia mampu menjawab, “Terima kasih, Kiai. Aku sudah sangat rindu kepada ayah dan ibu.”

“Setiap saat yang kau kehendaki kau akan kami antar ke Sangkal Putung,” sahut Ki Tanu Metir.

Sekali lagi Sekar Mirah menjawab, “Terima kasih, Kiai.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian memandangi prajurit yang terbaring diam. Tampaklah wajahnya berkerut. Perlahan-lahan ia berjalan mendekatinya. Ketika ia meraba tangan prajurit itu maka terdengar ia berdesah, “Hem, aku terlambat. Aku kira aku masih dapat berbuat sesuatu atasnya.”

Kawannya, yang merawatnya pada saat ia terpelanting dari kudanya berdiri di belakang Ki Tanu Metir. Katanya, “Sejak ia pingsan, ia tidak sempat bangun kembali, Kiai.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, desahnya, “Yang aku kejar pun tidak aku dapat, sedang prajurit ini tidak tertolong lagi.”

Tak seorang pun yang menyahut.

“Ini adalah keharusan di luar kemungkinan tangan manusia,” gumam Ki Tanu Metir pula.

Ketika orang tua itu meraba pundak prajurit yang telah gugur itu, maka terasa olehnya bahwa tulang prajurit itu pecah oleh gelang-gelang Ki Tambak Wedi. Apalagi kemudian ia terpelanting jatuh dari punggung kuda yang berlari kencang.

Namun tiba-tiba Ki Tanu Metir itu mengangkat wajahnya, memandang berkeliling sambil berkata perlahan-lahan seperti kepada diri sendiri, “He, di manakah Angger Wuranta? Sejak aku datang aku belum melihatnya. Bukankah ia tinggal di sini?”

Semua kepala yang ada di dalam rumah itu terangkat. Mereka saling memandang dan bertanya-tanya di dalam hati. Apalagi Agung Sedayu dan Swandaru. Selama ini mereka telah melupakan anak muda itu. Dan tiba-tiba saja mereka tersentak dalam satu ingatan atasnya. Mereka mencoba mencari Wuranta di sekitarnya, di dalam rumah itu. Tetapi mereka tidak melihatnya.

“Bukankah ia berada di rumah ini ketika kita pergi?” desis Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk. Tampaklah perasaan aneh membayang di wajahnya. Ia melihat sikap yang tak dimengertinya pada anak muda itu. Pada saat-saat ia mencoba menyelamatkannya, Wuranta menjadi salah paham dan bahkan marah kepadanya. Sekarang anak muda itu pergi tanpa menunggunya.

Dalam kebingungan itu ia mendengar Ki Tanu Metir bertanya kepada prajurit yang merawat kawannya yang terluka, “Apakah kau melihat Angger Wuranta di sini?”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku terlampau sibuk sehingga aku tidak begitu memperhatikan keadaan di rumah ini. Aku kira, aku hanya melihat gadis yang menangis itu dan dua orang yang terikat.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Prajurit ini bukan prajurit yang pernah berada di Sangkal Putung. Prajurit ini adalah prajurit yang baru datang dari Pajang ke Sangkal Putung dekat sebelum berangkat ke Jati Anom, sehingga ia belum begitu mengenal Sekar Mirah, meskipun persoalannya telah pernah didengarnya.

“Gadis itulah yang bernama Sekar Mirah,” berkata Ki Tanu Metir.

“Aku sudah menyangka,” sahut prajurit itu, “tetapi aku belum bertanya sesuatu kepadanya.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berpaling kepada Sekar Mirah dan bertanya, “Apakah Angger Wuranta berkata kepadamu, bahwa ia akan pergi?”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tidak, Kiai. Ia tidak berkata apa-apa.”

“Apakah kau melihat ia pergi, Nini?”

“Aku melihat ia keluar dari rumah ini, Kiai. Hampir bersamaan dengan saat Kiai mengejar Ki Tambak Wedi.”

Ki Tanu Metir mengangguk-angguk pula. Kemudian katanya, “Mungkin berada di luar rumah.”

Agung Sedayu dan Swandaru segera melangkah ke luar. Beberapa orang prajurit pun pergi pula bersamanya. Meskipun mereka tidak begitu mengerti soalnya, namun mereka ingin juga membantu mencarinya.

“Bukankah Wuranta anak Jati Anom itu yang kalian cari,” bertanya salah seorang dari prajurit-prajurit itu.

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

Sejenak kemudian di halaman rumah itu berkeliaran beberapa orang yang berusaha untuk menemukan Wuranta. Tetapi agaknya Wuranta sudah tidak berada di halaman itu.

Ketika Agung Sedayu dan Swandaru kemudian masuk ke dalam rumah itu lagi, maka mereka menggelengkan kepala mereka. Terdengar Agung Sedayu berdesis, “Tidak ada, Kiai.”

“Aneh, ke mana Angger Wuranta itu pergi?”

Tak seorang pun yang menjawab. Agung Sedayu dan Swandaru hanya saling berpandangan saja.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Kita harus menemukannya. Apakah Angger Untara akan datang ke mari juga?” bertanya orang tua itu kemudian kepada para prajurit Pajang.

Salah seorang dari mereka menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku tidak tahu, tetapi aku kira Ki Untara terlampau sibuk. Ia berada di halaman banjar.”

“Apakah tidak ada waktu baginya untuk melihat keadaan ini,” bertanya Agung Sedayu, “di sini baru saja terjadi pertempuran antara Ki Tanu Metir dan Ki Tambak Wedi.”

Sekali lagi prajurit itu menggelengkan kepalanya.

“Dan di sini pula Sekar Mirah diketemukan,” sambung Swandaru.

Prajurit itu masih juga menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” katanya.

Namun yang menjawab kemudian adalah Ki Tanu Metir. “Persoalan Angger Untara cukup banyak. Ia adalah seorang senapati perang. Perhatiannya terutama ada pada keadaan peperangan seluruhnya. Maaf Angger Swandaru, bahwa soal Angger Sekar Mirah adalah hanya sebagian dari seluruh persoalan yang digarap oleh Angger Untara. Karena itu ia kini berada di pusat pimpinan dari padepokan ini, itu bukan berarti Angger Untara tidak menaruh perhatian atas peristiwa yang terjadi di sini. Bukankah ia telah mengirimkan beberapa orang prajurit ke mari?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab. Sedang Agung Sedayu pun hanya menundukkan kepalanya saja. Mereka dapat mengerti alasan yang diberikan oleh Ki Tanu Metir meskipun tidak sepenuhnya.

Namun tangkapan Sekar Mirah agak berbeda. Keterangan itu terasa agak menusuk perasaannya. Ia merasa bahwa persoalannya dianggap kecil saja oleh Untara dan Ki Tanu Metir. Pengaruh keadaannya selama di kademangan, sebagai gadis yang paling dihargai di seluruh Sangkal Putung, Sekar Mirah merasa dirinya cukup penting untuk menjadi pusat persoalan. Ia merasa bahwa persoalan yang terjadi adalah persoalan tentang dirinya. Tentang hilangnya Sekat Mirah dari Sangkal Pulung. Bukan persoalan antara Pajang dengan Jipang dan padepokan Tambak Wedi. Itulah sebabnya maka perasaan gadis itu tersinggung. Namun demikian Sekar Mirah tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Yang berbicara kemudian adalah Ki Tanu Metir pula, “Marilah kita pergi ke banjar. Kita menemui Angger Untara, sambil mencari Angger Wuranta. Mungkin ia berada di sana pula. Kita harus menemukannya. Apalagi anak muda itu sedang terluka.”

Tetapi Agung Sedayu dan Swandaru tidak menyahut. Mereka masih berdiri saja di tempatnya ketika Ki Tanu Metir melangkahkan kakinya. Dengan demikian, maka Ki Tanu Metir itu pun tertegun sejenak sambil bertanya, “Kenapa kalian masih diam saja?”

Agung Sedayu berpaling ke arah kedua orang yang terikat itu. Katanya, “Bagaimana dengan kedua orang itu?”

“O,” Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada salah seorang prajurit ia berkata, “Keduanya adalah orang-orang Tambak Wedi yang bertugas mengawasi Angger Sekar Mirah. Terserahlah kepada kalian. Tetapi keduanya menyerah. Perlakukan mereka sebagai orang-orang yang tidak melakukan perlawanan.”

Prajurit itu mengangguk, jawabnya, “Baik, Kiai.”

“Nah, sekarang marilah kita pergi,” ajak Ki Tanu Metir. Agung Sedayu pun kemudian melangkahkan kakinya pula.

Tetapi sekali lagi mereka tertegun ketika mereka mendengar Swandaru berkata kepada adiknya, “Marilah, Sekar Mirah. Kita pergi ke banjar untuk menemui Kakang Untara.”

“Apakah kita perlu pergi ke banjar?” bertanya Sekar Mirah.

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan. Ki Tanu Metir pun mengerutkan keningnya.

“Tentu,” jawab Swandaru, “kita menemui Kakang Untara.”

“Apakah ada gunanya?” sahut Sekar Mirah. Kata-kata itu ternyata telah menarik perhatian setiap orang yang berada di dalam rumah itu. Beberapa orang prajurit saling berpandangan.

“Tentu,” jawab Swandaru pula.

“Bukankah kita sama sekali tidak penting bagi Kakang Untara, Senapati Pajang yang perkasa itu? Kita adalah anak-anak padesan yang tidak berarti. Apakah gunanya kita menemuinya? Mungkin ia sama sekali tidak sempat menyisihkan waktu buat melihat kedatangan kita.”

“Ah,” potong Agung Sedayu, “jangan begitu, Mirah. Jangan terlampau perasa. Aku tahu apa yang mengganggu perasaanmu. Tetapi sebaiknya kau mencoba memahami apa yang terjadi.”

Sekar Mirah memandang wajah Agung Sedayu dengan sorot mata yang tajam. Dengan tajam pula ia berkata, “Kau adalah adik dari senapati besar itu. Tentu bagimu selalu tersedia waktu. Tetapi bagi kami. Aku dan Kakang Swandaru? Kami adalah anak-anak padukuhan Sangkal Putung yang tidak berarti.”

“Kau salah terima, Nini,” potong Ki Tanu Metir, “aku kira kita masing-masing terlibat dalam persoalan kita sendiri. Marilah kita coba melihat persoalan ini secara keseluruhan, tanpa melihat kepentingan sendiri. Mungkin kata-katakulah yang salah kau artikan. Sebab akulah yang menyatakan alasan-alasan kenapa Angger Untara tidak datang kemari, bukan Angger Untara sendiri. Mungkin Angger Untara mempunyai alasan lain. Bahkan mungkin Angger Untara sendiri yang bertempur melawan Senapati Jipang. Sanakeling?” Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Diamatinya wajah Sekar Mirah yang suram. Kemudian dilanjutkannya, “Karena itu, Nini, marilah kita melihat apakah yang sudah terjadi di banjar.”

Sejenak Sekar Mirah tidak menyahut. Ia mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi di padepokan ini. Namun kembali ia terlempar pada kesimpulan, bahwa peperangan yang terjadi adalah karena Sidanti mengambilnya dari Sangkal Putung. Padepokan ini diduduki oleh sepasukan prajurit, Ki Tanu Metir, Swandaru, dan Agung Sedayu, karena mereka berusaha membebaskan dirinya. Namun ternyata setelah hal itu terjadi, Untara agaknya acuh tak acuh saja terhadapnya. Ia sama sekali tidak meneriakkan kemenangan atas kebebasannya, dan bahkan menjengukpun ia sama sekali tidak sempat.

Meskipun Sekar Mirah mengetahui, bahwa Pajang dan Jipang memang sedang dalam perselisihan, kemudian Sidanti telah menempatkan diri sebagai lawan Pajang pula, namun semua itu tidak akan terjadi secepat ini, seandainya ia tidak hilang dari Sangkal Putung.

Tetapi bagaimana juga ia kini berhadapan dengan Ki Tanu Metir, orang yang telah langsung menyelamatkannya. Tanpa orang tua itu maka Agung Sedayu dan Swandaru tidak akan berarti apa-apa buat Ki Tambak Wedi, apalagi bersama Sidanti dan Argajaya. Karena itu, maka ia masih juga mempunyai rasa segan kepada orang tua itu.

Ketika Ki Tanu Metir mengajaknya sekali lagi, maka Sekar Mirah tidak dapat menolak.

Maka pergilah kemudian mereka berempat, bersama beberapa orang prajurit ke banjar Padepokan Tambak Wedi. Beberapa orang prajurit yang lain tetap berada di rumah itu mengurus kedua tawanan yang masih terikat.

Di sepanjang jalan mereka berusaha untuk menemukan Wuranta. Anak muda itu terluka di dadanya. Meskipun luka itu telah diobati namun obat itu masih perlu disempurnakan, supaya luka itu lekas menjadi sembuh. Namun di sepanjang jalan mereka sama sekali tidak melihatnya.

Semakin dekat dengan banjar, maka terasa tengkuk Sekar Mirah menjadi semakin meremang. Ketika ia menengadahkan kepalanya, maka dilihatnya beberapa ekor burung gagak terbang melingkar-lingkar. Suaranya menggeletar dalam nada yang berat seperti teriakan hantu yang penuh dendam dan kebencian, bersahut-sahutan.

Agung Sedayu dan Swandaru pun sekali-sekali menengadahkan kepalanya. Burung-burung gagak itu benar-benar mempunyai alat pecium yang tajam. Begitu di padepokan itu darah tertumpah, maka segera mereka berdatangan seperti tamu-tamu dalam perhelatan yang meriah.

Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar Sekar Mirah memekik tinggi. Dengan serta-merta ia memeluk kakaknya erat-erat sambil berteriak, “Kita kembali, Kakang. Kita kembali. Aku takut. Aku tidak mau berjalan terus ke banjar padepokan ini. Mari, antarkan aku kembali.”

Rombongan kecil itu pun segera terhenti. Ketika mereka memandang ke depan, maka mengertilah mereka, kenapa Sekar Mirah tidak mau maju lagi. Dari tempat itu mereka telah melihat beberapa orang prajurit Pajang sudah mulai mengangkat mayat yang membujur-lintang di jalan di muka banjar.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Kalau mereka berjalan terus, maka di halaman di sekitar banjar itu pasti juga akan berserakan mayat orang-orang Jipang, orang-orang Tambak Wedi dan para prajurit Pajang.

Dan Ki Tanu Metir itu masih mendengar Sekar Mirah berkata, “Mari, Kakang, kita kembali. Kita jauhi tempat yang mengerikan itu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi ragu-ragu. Karena itu maka anak itu berdiri saja termangu-mangu di tempatnya. Hanya sorot matanya sajalah yang seolah-olah bertanya kepada gurunya, apakah yang sebaiknya dilakukan.

Ki Tanu Metir tanggap akan pertanyaan yang memancar dari mata Swandaru, maka katanya, “Kita sudah dekat sekali, Nini. Beberapa langkah lagi kita akan sampai ke banjar padepokan Tambak Wedi.”

“Tidak, aku tidak mau. Aku takut.”

“Tidak ada yang menakutkan. Mungkin ada beberapa orang terluka yang tergolek di pinggir jalan. Tetapi mereka akan segera mendapat perawatan.”

“Mereka bukan orang-orang yang sekedar terluka. Mereka adalah orang-orang yang terbunuh di dalam peperangan.”

“Memang mungkin sekali hal itu terjadi,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi Angger dapat memejamkan mata apabila Angger lewat di dekat tempat bekas perkelahian itu.”

“Aku tidak mau. Lebih baik aku kembali.”

“Nini,” berkata Ki Tanu Metir pula, “jalan ini adalah jalan satu-satunya. Jalan ini pulalah jalan yang menuju ke satu-satunya regol padepokan ini. Tak ada jalan lain. Nah, Ngger, sebaiknya Nini lewat sekarang daripada menunggu sampai nanti atau besok. Sekarang Nini masih mendapat kawan-kawan yang dapat membayangi Nini dari pemandangan yang mengerikan. Orang-orang yang sibuk di sekitar banjar akan mengurangi kengerian itu.”

“Aku tidak percaya, kalau jalan ini adalah jalan satu-atunya. Dekat di pinggir-pinggir padepokan ini ada jalan pula yang mengelilingi padepokan seperti dinding batu itu. Kita dapat mencari jalan itu Dan kita akan sampai di seberang banjar padepokan.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Memang benar seperti yang dikatakan Sekar Mirah. Di sekitar padepokan ini masih di dalam lingkungan dinding batu memang ada jalan yang mengelilingi padepokan ini. Meskipun demikian ia berkata, “Tetapi kita akan mampir ke banjar itu, Nini. Kita akan mencari Angger Wuranta dan menemui Angger Untara.”

“Aku tidak perlu kedua-duanya. Aku tidak memerlukan Wuranta dan Untara.”

“Ah,” Ki Tanu Metir menarik nafas sekali lagi, “Angger, keduanya adalah orang-orang yang paling berjasa dalam usaha melepaskan Angger dari padepokan ini.”

“Tetapi keduanya sama sekali tidak mengacuhkan aku lagi. Keduanya menganggap aku tidak berarti bagi mereka. Mungkin bagi mereka aku hanyalah kebetulan saja berada di sini. Sebab aku hanyalah seorang gadis Sangkal Putung.”

“Angger terlampau perasa.”

“Tidak, Kiai. Ternyata Wuranta pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadaku yang berdiri hanya beberapa langkah daripadanya. Sedang Untara adalah seorang besar yang mempunyai seribu macam persoalan, sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk mempersoalkan aku lagi.”

“Nini,” berkata Ki Tanu Metir sareh, “seandainya demikian. Seandainya mereka tidak memerlukan kita lagi, sebab seperti juga Nini Sekar Mirah, aku bukan orang yang penting bagi Angger Untara, maka marilah kita mencoba menemuinya untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Apabila usaha kita untuk menemuinya gagal, maka bukan salah kita apabila kita tidak berkesempatan untuk menyatakan terima kasih kita itu,”

Sekar Mirah terdiam sejenak. Tetapi ia masih menyembunyikan wajahnya di dada kakaknya. Gumamnya, “Kiai, tidak saja karena aku merasa tidak mendapat tempat di hadapan senapati besar yang perkasa itu, tetapi aku takut, Kiai. Aku tidak berani lewat jalan yang penuh dengan genangan darah.”

“Angger adalah seorang gadis yang berani dan tabah. Di Sangkal Putung Angger dengan tanpa perasaan takut telah meringankan para prajurit Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung yang terluka. Nini telah membantu melakukan pengobatan dan melayani mereka makan dan minum.”

“Tetapi tidak seperti itu, Kiai. Di hadapan kita mayat bertimbun-timbun seperti tebangan batang pisang.”

“Tidak, Ngger. Tidak. Angger hanya salah lihat. Tetapi sebaiknya Angger tidak usah melihatnya untuk yang kedua kali, Angger akan berjalan di antara kami dan para prajurit yang berjalan bersama kami. Angger sebaiknya memejamkan mata atau memandang ke udara.”

Sejenak Sekar Mirah tidak menjawab. Dicobanya untuk memandang Agung Sedayu dengan sudut matanya. Dilihatnya anak muda itu berdiri saja termangu-mangu, sedang para prajurit berdiri tegak kaku seperti tiang-tiang di pendapa rumahnya di Sangkal Putung.

“Bagaimana, Mirah?” terdengar kakaknya berdesis. “Sebaiknya kita mengucapkan terima-kasih kepada Kakang Untara dan Kakang Wuranta. Bukankah mereka telah menentukan suatu keadaan di mana kita mungkin dapat keluar dari padepokan ini?”

Sekar Mirah tidak membantah. Dianggukkannya kepalanya perlahan-lahan. Namun ia bergumam, “Tetapi aku takut, Kakang.”

“Jangan melihat keadaan di sekitarmu. Lihatlah burung yang berputaran di udara, atau pejamkan saja matamu supaya kau tidak melihat sesuatu.”

Sekali lagi Sekat Mirah menganggukkan kepalanya. Maka dengan dibimbing oleh Swandaru mereka berjalan lagi menuju ke banjar padepokan. Tetapi Sekar Mirah sama sekali tidak berani melihat keadaan di sekitarnya. Ditengadahkan saja wajahnya melihat burung yang berterbangan di langit, awan yang sehelai-sehelai mengalir dihanyutkan oleh angin yang silir.

Dilihatnya kebiruan langit yang sudah mulai dibayangi oleh warna yang kemerah-merahan. Matahari semakin lama menjadi makin rendah di Barat. Sebentar lagi matahari yang terapung di langit itu sudah akan menyentuh punggung Gunung Merapi.

Ketika mereka memasuki halaman banjar, mereka melihat beberapa orang sedang sibuk membersihkan halaman. Merawat mereka yang terluka atau menyingkirkan mayat yang berserak yang segera akan diselenggarakan pemakamannya. Di pendapa banjar itu juga terbujur beberapa sosok jenazah dari para jurit Pajang yang gugur dalam tugasnya.

Di muka banjar itu Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Di lihatnya beberapa orang prajurit sedang berkerumun. Ternyata di antara mereka terdapat bintara dan beberapa orang perwira bawahannya. Ketika Senapati Pajang itu melihat Ki Tanu Metir maka segera ia mendapatkannya sambil berkata, “Silahkan Kiai, silahkanlah masuk dan duduk di pringgitan. Aku mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang Kiai berikan sehingga semuanya dapat berlangsung dengan baik. Marilah, silahkanlah semuanya masuk. Aku masih sibuk dengan beberapa macam pekerjaan, sehingga sayang, aku tidak dapat meninggalkannya.”

“Silahkan, Ngger, silahkan menyelesaikan pekerjaan Angger. Biarlah kami menunggu di pringgitan sampai Angger selesai.”

“Terima kasih. Wah, silahkanlah.” Untara berhenti sejenak. Kemudian dipandanginya Sekar Mirah yang masih berpegangan kakaknya. Untara mengerti bahwa gadis itu tidak berani melihat keadaan di sekitar halaman dan pendapa banjar. Maka katanya, “Silahkan Adi Swandaru segera membawa Sekar Mirah masuk ke pringgitan rumah yang dipergunakan menjadi banjar oleh Ki tambak Wedi ini, supaya tidak melihat hal-hal yang mengerikan bagi seorang gadis.”

“Terima kasih, Kakang Untara,” sahut Swandaru.

Ki Tanu Metir, Swandaru, dan Sekar Mirah pun segera naik ke atas pendapa. Sekar Mirah masih belum berani melihat keadaan di sekitamya. Ketika ia mencoba mengerling, maka segera ia memejamkan matanya, karena terlihat olehnya beberapa sosok mayat tergolek di pendapa banjar itu. Alangkah mengerikan. Rumah ini seolah-olah menjadi rumah hantu penyimpan mayat.

Di pendapa mereka masih mendengar. Agung Sedayu bertanya kepada kakaknya, “Bagaimana dengan Sanakeling, Kakang?”

“Ia sudah terbunuh,” jawab Untara. Tetapi kemudian terdengar senapati itu bertanya, “Di mana kau selama ini? Apakah kau tidak tahu bahwa di halaman ini telah terjadi pertempuran yang sengit?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Tetapi pandangan matanya hinggap pada gurunya yang tertegun di pendapa.

Untara pun kemudian berpaling. Ia melihat Ki Tanu Metir masih berdiri di pendapa bersama dengan Swandaru dan Sekar Mirah.

“Silahkanlah, Kiai,” katanya.

“Terima kasih ngger,” jawab Ki Tanu Metir, namun dalam dada, orang tua itu telah tumbuh pertanyaan tentang sikap Untara. Namun orang tua yang penuh dengan pengalaman tentang sikap dan perasaan seseorang itu, segera dapat memahami pertanyaan Untara kepada Agung Sedayu.

Tetapi bagi Swandaru dan Sekar Mirah, pertanyaan Untara kepada Agung Sedayu itu telah menumbuhkan berbagai macam tafsiran. Apalagi Sekar Mirah yang sudah menyimpan bibit-bibit kejengkelan atas sikap Untara yang seolah-olah acuh tak acuh kepadanya.

Meskipun demikian Ki Tanu Metir dan kedua kakak beradik itu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam pringgitan, dan duduk di atas tikar yang sudah terbentang. Di dalam pringgitan tidak tampak seorang pun. Sepi, sehingga kulit Sekar Mirah menjadi semakin merinding.

“Bakankah benar kataku,” gumam Sekar Mirah. “Kakang Untara tak ada waktu untuk menerima kedatangan kita.”

“Ia terlampau sibuk, Nini,” sahut Ki Tanu Metir. “Tetapi ia akan segera menemui apabila pekerjaannya telah selesai.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Namun terasa rumah ini seperti rumah yang penuh menyimpan rahasia. Udara yang lembab terasa menekan dadanya sehingga nafasnya menjadi sesak. Gadis itu tahu benar, bahwa di luar pringgitan ini, di seberang dinding bambu ini, beberapa sosok tubuh terbujur berselimutkan panjang. Sementara itu, di luar, di halaman, Agung Sedayu masih diri di hadapan kakaknya. Ia masih belum menjawab pertanyaan Untara. Ketika Ki Tanu Metir telah hilang di balik pintu, maka pertanyaan itu diulanginya, “Agung Sedayu, kemana kau selama ini?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ditenangkannya hatinya. Jawabnya, “Aku berada di rumah yang dipergunakan oleh Sidanti untuk menyimpan Sekar Mirah.”

“Aku sudah menyangka,” sahut kakaknya. “Apa kerjamu di sana?” Dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Jawabnya, “Ternyata perhitungan Ki Tanu Metir tepat, Kakang. Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya datang kerumah itu. Seandainya kami tidak ada di sana, maka Sekar Mirah itu pasti akan terbawa, sehingga usaha kita untuk membebaskannya menjadi tambah sulit.”

Untara mengerutkan keningnya. Katanya, “Seharusnya kau berada di bawah perintahku. Kalau aku bertemu kau sebelumnya setelah aku melihat medan, maka perintahku akan berbunyi lain. Kau tetap bersama para prajurit Pajang. Juga Ki Tanu Metir dan Swandaru. Kalau kalian berbuat demikian, maka Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya mesti tertangkap. Aku menyesal bahwa kalian berbuat menurut kehendak kalian sendiri. Dalam setiap peperangan harus ada satu perintah bagi keseluruhan, sehingga setiap tindakan bersumber pada satu perhitungan.”

Mendengar kata-kata kakaknya itu, Agung Sedayu seakan-akan menjadi beku di tempatnya. Darahnya serasa berhenti mengalir. Namun dengan demikian maka mulutnya justru seakan-akan terbungkam. Dan ia mendengar kakaknya berkata seterusnya, “Sekarang kesempatan untuk menangkap mereka bertiga menjadi semakin sulit. Apakah kau tidak merasakan itu?”

Nafas Agung Sedayu menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab pertanyaan kakaknya.

“Tetapi kau tidak berbuat demikian,” sambung Untara, “kau tidak menemui aku dan menunggu perintahku.”

Baru sejenak kemudian Agung Sedayu dapat mengatur getar di dadanya. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Kakang, aku hanya menurut perintah guruku. Bukankah kedatanggan Wuranta ke Jati Anom juga membawa pesan Ki Tanu Metir? Aku sangka, bahwa petunjuk-petunjuk Ki Tanu Metir itu berlaku seluruhnya, sehinggga aku tidak perlu menunggu perintah Kakang Untara. Aku menyangka bahwa Kakang Untara saja bersedia melakukan petunjuknya. Apalagi aku.”

“Bagus,” sahut kakaknya. “Itu adalah petunjuk dalam garis besar yang memang aku perlukan. Aku berterima kasih kepada Kiai Gringsing dan kepada Wuranta, yang telah memungkinkan aku memasuki padepokan ini. Namun seterusnya yang memegang kebijaksanaan atas segala pimpinan di sini adalah aku. Aku yang memperhitungkan setiap kemungkinan.

Dada Agung Sedayu masih merasa pepat karena jawaban-jawaban yang belum sempat diucapkan. Banyak sekali keterangan yang dapat diberikan. Namun ia tidak dapat mengatakannya. Mulutnya serasa tersumbat oleh nafasnya yang terengah-engah.

“Nah, bukankah kini kau lihat,” berkata kakaknya itu “bahwa Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya dapat melarikan dirinya? Aku tidak menyangka bahwa kalian bertiga mampu bertempur berhadapan dengan Ki Tambak Wedi bertiga pula. Tetapi kalian tidak mempunyai kekuatan untuk menangkap mereka hidup atau mati, sebab kekuatan kalian berimbang.”

“Kakang,” akhirnya terloncat juga jawaban dari mulut Agung Sedayu, “tetapi seandainya kami tidak berada di sana, apakah Sekar Mirah dapat dibebaskan? Mungkin Ki Tambak Wedi kini telah membawanya pergi, sehingga pekerjaan kitapun akan menjadi semakin sulit.”

“Itulah kesalahanmu, Sedayu,” sahut kakaknya. “Pikiranmu hanya terpusat kepada gadis itu. Kau tidak melihat pertempuran dalam keseluruhan.”

Terasa wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Sepercik warna merah membayang di wajahnya yang basah oleh keringat.

“Agung Sedayu. Seandainya kau bertempur dalam pasukanku bersama Ki Tanu Metir dan Swandaru, maka Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya tidak akan dapat lolos lagi. Nah, apakah dengan demikian mereka sempat mendatangi gubug Sekar Mirah itu? Seandainya ada satu dua prajurit yang diperintahkannya ke sana, maka aku pun telah mengirimkan beberapa orang prajurit pula untuk membebaskannya. Dapatkah kau mengerti?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti keterangan kakaknya. Tetapi bagaimanakah caranya untuk memerintahkan hal itu kepada Ki Tanu Metir, kepada gurunya seandainya ia tahu maksud Untara sebelumnya?

Sambil menundukkan kepalanya Agung Sedalu menjawab “Aku mengerti Kakang. Tetapi aku tidak dapat menolak petunjuk guruku. Aku mempercayai perhitungannya seperti Kakang juga mempercayainya. Sehingga dengan demikian aku melakukan apa saja yang diberitahukannya kepadaku.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepalanya yang masih diliputi oleh ketegangan peperangan itu terasa masih memberati lehernya.

“Meskipun seandainya kau tidak bersama-sama dengan gurumu berada dalam pasukanku Sedayu, kau akan dapat mengurangi korban yang jatuh di antara kita,” Untara berhenti sejenak. “Tetapi kau tidak dapat bertempur sendiri tanpa guru dan saudara seperguruanmu.”

“Aku tidak berani berbuat lain dari petunjuk guru,” wajah Agung Sedayu semakin tunduk. Terasa betapa sulit berada di bawah dua kekuasaan. Gurunya dan kakaknya, yang kadang-kadang mempunyai pendirian yang berlainan.

Tetapi Untara yang melihat kepala adiknya tertunduk dalam-dalam itu, tiba-tiba menjadi luluh. Teringatlah masa kanak-kanak yang suram bagi adiknya. Adiknya yang hanya berani bermain-main di belakang selendang ibunya itu, yang kini telah berani bertempur melawan Sidanti, murid Ki Tambak Wedi.

Seharusnya ia mengucapkan terima kasih. Seandainya adiknya tidak menjadi anak yang berani, maka ia masih harus selalu melindunginya. Anak itu akan selalu mengganggu pikirannya apa pun yang sedang dilakukan. Apalagi pada saat-saat Jati Anom diambil oleh Sidanti dan orang-orang Jipang. Maka adiknya pasti akan ketakutan apabila ia tidak berhasil menyingkirkannya. Tetapi sekarang adiknya telah berani menggenggam pedang dan melindunginya sendiri.

“Sudahlah, Sedayu,” desis kakaknya. “Bukan maksudku menyalahkan kau dan gurumu. Aku hanya ingin mengatakan, jika terjadi demikian, keadaan kita akan bertambah baik. Tetapi sudahlah, semuanya telah selesai. Meskipun kita tidak dapat menangkap Ki Tambak Wedi sekarang, tetapi kita tetap mengharap bahwa diwaktu-waktu yang pendek, kita akan dapat melakukannya. Sekarang beristirahatlah di dalam bersama gurumu dan adi Swandaru. Kau tidak usah mempersoalkannya dengan gurumu.” Untara berhenti sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada datar ia meneruskan, “Mungkin aku sedang diganggu oleh ketegangan saraf, sehingga aku menegurmu. Tetapi lupakan itu. Mudah-mudahan lain kali kau dapat mengerti apa yang kau lakukan apabila kau berbuat sesuatu bersama aku, bersama pasukanku.”

“Ya, Kakang,” jawab Agung Sedayu dengan nada yang dalam.

“Baik,” sahut kakaknya, “masuklah. Aku masih akan mengatur prajuritku. Bagaimanapun juga Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda harus mendapat perlakuan semestinya bersama mayat-mayat yang lain.”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ia merasa bahwa kakaknya agak menyesal atas sikapnya yang keras kepadanya. Namun dengan demikian ia menjadi semakin segan dan hormat kepadanya. Ketika Agung Sedayu kemudian menebarkan pandangannya ke sekeliling halaman, maka ia melihat beberapa orang masih juga sibuk menyingkirkan mayat yang terbujur lintang. Di sebelah lain ia melihat sisa-sisa pasukan Jipang dan Tambak Wedi yang menyerah sebelum terbunuh. Ternyata mereka tidak benar-benar bertempur sampai orang yang terakhir. Oleh beberapa prajurit Pajang mereka ditempatkan di beberapa rumah di sekitar banjar, dengan pengawasan yang kuat. Beberapa orang dari mereka yang tidak terlalu berbahaya masih harus membantu para prajurit Pajang, mengangkat mayat-mayat kawan-kawannya dan menyingkirkannya dari halaman.

“Masuklah,” desis Untara.

Agung Sedayu seakan-akan tersadar dari mimpinya yang mengerikan. Tergagap ia menjawab, “Baik, baik Kakang.”

“Gurumu dan kedua kakak beradik dari Sangkal Putung itu menunggumu.”

“Ya, Kakang,” jawab Agung Sedayu.

“Aku masih harus menyelesaikan pekeryaanku. Apabila sudah selesai, maka aku akan datang kepada kalian.”

“Baik, Kakang.”

Untara pun kemudian melangkah meninggalkan Agung Sedayu yang berdiri termangu-mangu di bawah tangga pendapa. Diikutinya langkah kakaknya dengan pandangan matanya, ke arah beberapa orang perwira Pajang yang lain. Agaknya masih ada persoalan yang mereka percakapkan.

Sejenak kemudian Agung Sedayu melihat beberapa orang prajurit mengawal beberapa orang perempuan masuk ke halaman banjar. Perempuan-perempuan yang tinggal di padepokan itu. Maka terdengarlah tangis mereka mengoyak suasana yang lengang. Mereka ternyata adalah ibu, isteri, adik atau kakak perempuan dari korban yang berjatuhan. Anak-anak muda dan laki-laki dari padepokan Tambak Wedi. Seperti orang yang mencari anak-anaknya di antara puluhan anak-anak yang lain, yang tidur berjajar di lantai, mereka mencari keluarga mereka. Bahkan beberapa di antara mereka telah jatuh pingsan sebelum mereka menemukan yang mereka cari.

Seorang gadis yang kematian kekasihnya tiba-tiba berteriak sambil menunjuk seorang prajurit Pajang yang berdiri di dekatnya, “Kau, kau pembunuh yang biadab. Kau bunuh laki-laki yang akan menjadi suamiku.”

Seorang perempuan tua, ibu gadis itu, dengan tergesa-gesa memeluknya dengan tubuh gemetar. Perempuan tua itu menjadi ketakutan. Prajurit Pajang yang berdiri dengan garangnya, dan membawa pedang di lambungnya itu akan dapat berbuat apa saja atas gadis yang mengumpatinya. Apalagi terhadap gadis-gadis, sedangkan laki-laki yang kuat dan bersenjata pun dapat terbunuh.

“Sudahlah, Ngger, sudahlah. Nasib kita yang terlampau jelek. Jangan menyalahkan orang lain.”

“Tidak biyung. Orang-orang itulah orang-orang yang paling biadab yang pernah datang ke padepokan ini. Orang itu telah membunuh setiap laki-laki.”

“Sudahlah, Ngger, sudahlah.”

Tetapi gadis itu meronta-ronta sehingga pelukan ibunya menjadi lepas.

“Kau, kau pembunuh,” teriak gadis itu sambil menuding-nuding wajah prajurit Pajang yang berdiri tegang, bahkan hampir menyentuh hidungnya.

Tetapi prajurit itu sama sekali tidak bergerak. Ia berdiri saja ditempatnya seperti sebatang tonggak. Sepatah kata pun ia tidak menjawab. Dibiarkannya gadis yang kehilangan kekasihnya itu melimpahkan kemarahan, kekecewaan dan kebencian kepadanya. Bagaimanapun juga ia mencoba menjelaskan, maka gadis yang sedang dicengkam oleh kegelapan pikiran itu, pasti tidak akan dapat mendengarnya. Ia tidak akan dapat mendengar seandainya prajurit itu memberitahukan, bahwa sebelum berkobar pertempuran antara orang-orang padepokan Tambak Wedi dan Pajang, maka orang-orang Tambak Wedi telah bertempur lebih dahulu dengan orang-orang Jipang, sehingga kekasih gadis itu belum pasti terbunuh oleh ujung senjata prajurit Pajang.

Tetapi prajurit itu tidak mengatakannya. Ia berdiri saja dengan tegangnya. Bahkan sekali-sekali-sekali ia terpaksa memalingkan wajahnya.

Akhirnya gadis itu lelah sendiri. Suara menjadi semakin parau. Tiba-tiba ia berteriak tinggi, lalu terhuyung-huyung jatuh. Untunglah prajurit yang dituding-tudingnya itu cepat menangkapnya dan meletakkannya di pangkuan ibunya yang menangisinya. Gadis itu menjadi pingsan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat salah satu sudut yang kecil saja dari akibat peperangan. Alangkah dahsyat akibat seluruhnya dari peperangan. Gadis-gadis kehilangan kekasih, ibu-ibu kehilangan anak-anaknya yang dicintainya, dan isteri-isteri kehilangan suami terkasih.

Meskipun demikian peperangan itu terjadi hampir di segala jaman dan di segala abad. Berbagai-bagai macam nafsu yang mendorong manusia melibatkan diri dalam peperangan. Nafsu yang telah menabiri perasaan cinta kasih di antara sesama, serta perasaan bakti yang utuh kepada Tuhannya. Nafsu untuk berkuasa, nafsu untuk memiliki segala isi dunia, nafsu keinginan, nafsu keangkara-murkaan, nafsu yang semuanya itu berpusar kepada nafsu duniawi. Tetapi yang kemudian telah mendorong pihak lain untuk mempertahankan diri, melindungi sesama atas dasar kewajiban dan belas-kasian, tetapi kadang-kadang juga karena pamrih yang lain. Apabila pertentangan nafsu itu kemudian mencapai puncaknya, maka tidak ada jalan lain daripada kekerasan. Manusia membunuh sesamanya. Kadang-kadang dengan cara yang sama sekali tidak berpijak pada kediriannya, kemanusiaannya. Bahkan melampaui pekerti binatang yang paling buas sekalipun, karena tidak ada binatang yang dengan sengaja menyakiti dan menyiksa korbannya sebelum dibunuhnya.

Ketika seorang prajurit lewat dekat di belakangnya, Agung Sedayu berpaling. Tetapi prajurit itu berjalan terus. Namun demikian Agung Sedayu menjadi tersadar akan keadaannya. Dengan langkah yang berat ia naik ke atas pendapa. Dipandanginya beberapa sosok jenazah yang terbaring di sebelah-menyebelah. Ketika ia sempat memandang ke gandok kiri, ia melihat beberapa orang yang terluka dibawa masuk ke dalamnya.

“Mereka yang terluka dirawat di gandok kiri,” desisnya di dalam hati.

Dengan dada yang berdebar-debar Agung Sedayu melangkah terus, berjalan di antara tubuh-tubuh yang diam membeku. Kadang-kadang Agung Sedayu masih melihat darah yang meleleh dari tubuh-tubuh yang diam itu.

Tiba-tiba terasa bulu-bulu tengkuknya meremang. Ia kini bukan Agung Sedayu yang dahulu, yang menjadi pingsan melihat darah. Tetapi meskipun demikian, ia masih juga menjadi ngeri melihat mayat yang berjajar-jajar.

Demikian ia membuka pintu pendapa, maka dilihatnya Ki Tanu Metir dan Swandaru berpaling, bahkan Sekar Mirah menjadi terkejut karenanya.

“Marilah,” Ki Tanu Metir mempersilahkan.

Selangkah Agung Sedayu memasuki pringgitan. Terasa kesepian seolah-olah mencekiknya sehingga ia menjadi susah untuk bernafas. Dengan sorot mata yang aneh ia memandangi seluruh sudut pringgitan itu. Tetapi yang dilihatnya tidak ada lain kecuali Ki Tanu Metir, Swandaru dan Sekar Mirah.

Hati anak muda itu berdesir ketika ia memandangi dinding disisisi barat dari pringgitan itu. Warna merah menyala seperti akan membakar rumah itu. Ternyata matahari telah menjadi semakin rendah, dan bahkan telah menyinggung punggung gunung.

Dengan demikian pringgitan itu telah menjadi agak suram. Warna-warna dindingnya yang kelabu menjadi semakin gelap. Sedang di luar pintu mayat berjajar sebelah-menyebelah.

“Duduklah, Ngger,” suara Ki Tanu Metir itu tidak terlampau keras, tetapi Agung Sedayu terperanjat karenanya.

“Ya, ya Kiai,” jawabnya patah-patah.

Agung Sedayu itu pun kemudian duduk pula di antara mereka. Meskipun demikian ia masih saja memandangi berkeliling. Sarang laba-laba melekat di hampir setiap sudut. Debu pada dinding dan lumut yang hijau bertebaran di lantai, menjadi pertanda bahwa banjar ini kurang mendapat perawatan.

“Apakah yang ditanyakan Angger Untara kepadamu?” pertanyaan Ki Tanu Metir itu sekali lagi mengejutkan Agung Sedayu.

“Oh,” anak muda itu berdesah, “tidak apa-apa. Kakang Untara hanya menanyakan kemana aku selama ini.”

“Kau katakan apa yang terjadi?” bertanya gurunya lanjut.

“Ya.”

“Apa katanya?”

“Tidak apa-apa, Kiai,” jawab Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah ia akan menemui kita,” bertanya Swandaru kemudian.

“Ya, setelah pekerjaannya selesai.”

Swandaru terdiam. Kembali ruangan itu menjadi sunyi. Sekali-sekali terdengar beberapa orang lewat di sebelah pringgitan di sisi gandok. Terasa bahwa di halaman banjar itu terjadi bukan yang luar biasa.

“Angger berdua,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “bukankah kita ingin mencari Angger Wuranta di halaman banjar ini? Apabila kita tetap berada di sini, maka kita tidak akan dapat menemukannya.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Sebaiknya kita mencarinya guru, tetapi aku merasa sikap Kakang Wuranta menjadi aneh. Aku tidak mengerti.”

Sekar Mirah yang mendengar kata-kata itu segera menunduk wajahnya. Pada wajah itu terbersit sicercah warna merah. Tetapi tak seorang pun yang dapat melihatnya.

“Marilah kita cari,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “mumpung belum gelap.”

“Marilah,” jawab Agung Sedayu.

Kepada Sekar Mirah Ki Tanu Metir berkata, “Kau tinggal di sini sebentar, Nini. Kami akan mencari Angger Wuranta yang terluka itu.”

Tiba-tiba Sekar Mirah meraih tangan kakaknya sambil berkata, “Kakang Swandaru tetap di sini. Aku takut.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin ikut serta mencari Wuranta di antara para prajurit Pajang, Tetapi ia tidak sanpai hati meninggalkan Sekar Mirah sendiri dalam ketakutan. Apalagi kemudian pringgitan itu menjadi kian suram.

“Kalau begitu,” desis Ki Tanu Metir, “biarlah kalian tetap di sini mengawani Sekar Mirah. Aku akan mencari sendiri. Mungkin aku akan dapat minta tolong kepada para prajurit Pajang.”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Namun Ki Tanu Metir menyambung, “Tinggallah di sini. Mungkin ada sesuatu yang kalian dapat melakukannya. Sebab Nini Sekar Mirah tidak berani tinggal sendiri di tempat yang lembab dan asing ini.”

Perlahan-lahan Agung Sedayu menjawab, “Silahkan, Kiai.”

“Nah tinggallah di sini sampai aku kembali. Jangan pergi ke mana pun juga supaya aku tidak harus bergantian mencari kalian sesudah aku menemukan Angger Wuranta.”

“Baik, Kiai,” jawab mereka hampir bersamaan.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian pergi meninggalkan pringgitan itu. Di luar ia bertemu dengan Untara, dan mengatakan maksudnya.

“Wuranta tidak ada di antara kalian?” bertanya anak muda itu.

“Tidak, Ngger,” sahut Ki Tanu Metir.

Mendengar jawaban Ki Tanu Metir Untara mengerutkan keningnya. Ia memang belum melihat Wuranta sejak ia memasuki padepokan ini. Ternyata kini Ki Tanu Metir pun sedang mencarinya. Sekilas terbersit kecemasan di dalam hatinya sehingga senapati itu berdesis, “Apakah Wuranta menemui bencana di dalam perang campuh ini?”

“Aku kira tidak, Ngger. Ia bersamaku pada saat aku harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi, tetapi anak muda itu terluka di dadanya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Lalu ke manakah ia pergi?”

“Tak kami ketahui. Ia tidak berkata kepada siapa pun juga, kemana dan kenapa ia begitu saja pergi meninggalkan Sekar Mirah di dalam gubug itu, sedang kami, aku, Angger Agung Sedayu, dan Angger Swandaru sedang mengejar Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya.”

“Aneh,” desis Untara, “apakah ada sesuatu yang menarik hatinya sehingga ia terpaksa pergi meninggalkan Kiai?”

“Aku tidak tahu,” jawab Kiai Gringsing. “Karena itu sekarang aku akan mencarinya. Syukurlah apabila tidak terjadi sesuatu. Aku mencemaskannya karena dadanya terluka. Mungkin juga ada hal-hal yang tidak kita kehendaki yang terjadi atasnya. Mungkin ia bertemu dengan prajurit Pajang yang belum mengenalnya dan tiba-tiba mencurigainya.”

“Ia akan dapat memberikan penjelasan.”

“Kalau ia sempat memberikan penjelasan itu. Dalam keadaan yang kisruh, kesalah-pahaman dapat saja terjadi di mana-mana. Kadang-kadang seseorang sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengatakan tentang diri sendiri. Bahkan seseorang harus menyatakan dirinya seperti orang lain menghendakinya. Seorang yang belum mengenal Wuranta akan dapat memaksanya dengan kekerasan supaya Wuranta menyatakan dirinya sebagai seorang dari padepokan Tambak Wedi. Kemudian pengakuan yang dipaksakan akan menjadi alasan untuk berbuat lebih jauh lagi.”

“Ah,” Untara berdesis, “prajurit Pajang tidak akan berbuat demikian.”

“Para Senapati dan para perwira yang bertanggung jawab mungkin tidak menghendakinya. Tetapi orang-orang yang sedang terlibat dalam pertentangan dan ketegangan, mungkin dapat berbuat meskipun ia seorang yang cukup matang. Di dalam pertempuran serupa ini, Ngger, salah paham, kecurigaan dan kebencian menguasai setiap hati. Dari prajurit yang paling rendah sampai tingkat yang tertinggi. Mungkin Angger sendiri. Meskipun demikian, masih juga tergantung pada nilai batin seseorang. Bekal rokhaniah di samping bekal jasmaniah, sangat berpengaruh di medan-medan perang.”

“Hem,” Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengangguk, “Ya, Kiai benar. Aku tidak akan selak.”

“Ah, jangan begitu, Ngger. Aku tidak bermaksud menuduh. Aku hanya mengatakan keadaan umum yang terjadi di medan perang.”

Untara masih mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku mengerti maksud Kiai. Aku ingin menjaga agar prajurit-prajuritku tidak melakukannya, atau setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan itu sejauh-jauhnya.”

“Baiklah, Ngger. Bagiku, sepanjang pengalamanku, prajurit Pajang di bawah pimpinan Angger Untara ternyata mempunyai nilai rokhaniah yang tinggi di samping kenyataan lahiriah yang mengagumkan.”

“Kiai memuji.”

“Tidak, Ngger. Aku berkata sebenarnya meskipun tidak dapat diingkari bahwa prajurit Pajang pun terdiri dari manusia-manusia yang masih dapat berbuat salah. Karena itulah aku akan mencari Angger Wuranta.”

“Baiklah, Kiai.”

“Apakah Angger tidak akan bertemu dengan adikmu itu?”

“Ya, ya Kiai. Nanti sesudah pekerjaanku selesai. Sebentar lagi kami juga akan beristirahat. Kami harus makan. Nah, Kiai jangan terlampau lama, supaya pada saatnya Kiai dapat makan bersama kami di pringgitan.”

“Baik, Ngger, baik,” sahut Ki Tanu Metir sambil menganggukkan kepalanya. “Sekarang perkenankanlah aku pergi.”

“Silahkan, Kiai.”

Maka sejenak kemudian Ki Tanu Metir itu melangkah perlahan-lahan meninggalkan Untara yang segera melanjutkan pekerjaannya.

Sementara itu, Wuranta yang sedang dicari oleh Ki Tanu Metir, berjalan dengan langkah yang lemah di sepanjang pagar halaman. Kadang-kadang dilompatinya pagar yang satu dan dimasuki halaman sebelah. Lalu ditelusurinya pagar yang lain-lain lagi. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi yang ada di dalam kepalanya adalah meninggalkan rumah tempat tinggal Sekar Mirah itu.

Ia sudah tidak betah lagi melihat semua yang terjadi. Baginya, apa yang dilihatnya itu seolah-olah merupakan cermin yang menunjukkan segala macam kekurangannya, kekerdilannya, dan segala macam kelemahannya, dihadapkan pada keadaan seperti yang sedang terjadi. Keadaan yang dikuasai oleh kekerasan dan senjata. Sedang ia sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu. Apalagi apabila ia melihat betapa Agung Sedayu dengan lincahnya mampu berhadapan dengan Sidanti, maka terasa kekecilan diri menjadi semakin tajam.

Maka ketika terpandang olehnya wajah Sekar Mirah yang tunduk, hatinya seakan-akan meledak, pecah berserakan. Itulah sebabnya maka tanpa setahu seorang pun, ia melangkah meninggalkan sumah itu. Meninggalkan Sekar Mirah, meninggalkan Agung Sedayu yang sedang bertempur dan meninggalkan orang-orang lain di rumah itu yang seolah-olah memandangnya dengan penuh penghinaan.

Dan kini ia berjalan tanpa tujuan, asal saja menjauhi rumah yang telah menyiksanya itu.

Tetapi tanpa dikehendakinya sendiri, langkah Wuranta itu pun menjadi semakin dekat dengan banjar padepokan Tambak Wedi. Beberapa halaman lagi ia akan sampai ke daerah yang penuh dengan noda-noda darah.

Ia terhenti ketika ia melihat tidak terlampau jauh lagi, para prajurit Pajang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan mengusung orang-orang yang terluka.

Dada Wuranta menjadi berdebar-debar karenanya. Namun ada sesuatu yang mendorongnya untuk berjalan lebih dekat. Ia tidak mengerti kenapa ia ingin melihat apa yang telah terjadi di halaman di sekitar banjar. Agaknya kesibukan di sekitar banjar itulah yang telah menariknya melangkah semakin dekat.

Ketika beberapa orang prajurit Pajang melihatnya, maka mereka segera mendekatinya. Salah seorang dari mereka segera bertanya kepadanya tentang dirinya. Katanya, “Siapakah kau, dan apakah keperluanmu?”

Dada Wuranta berdesir mendengar pertanyaan itu. Dipandanginya prajurit Pajang itu dengan tajamnya. Luka di dadanya kini seolah-olah sudah tidak terasa lagi, tetapi luka di hatinya masih juga terasa alangkah pedihnya. Pertanyaan itu telah mengungkat kembali perasaan yang baru saja telah menyiksanya. Kekerdilan diri, seolah-olah ia sama sekali tidak mempunyai arti apa pun di hadapan orang-orang Pajang itu. Padahal, ia telah cukup memberikan sumbangan, sehingga kemenangan Untara ini mungkin terjadi.

Karena Wuranta tidak menjawab, maka prajurit itu mengulangi pertanyaannya, “Siapakah kau? Agaknya kau terluka di dadamu. Di lambungmu tergantung wrangka pedang, meskipun tidak dengan pedangnya. Apakah kau orang Tambak Wedi?”

Hati Wuranta menjadi semakin sakit. Karena itu maka tiba-tiba ia ingin melepaskan himpitan perasaannya. Jawabnya, “Apakah kalian belum pernah mengenal aku?”

“Siapa?”

“Aku Wuranta, anak Jati Anom.”

Para prajurit itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Kami tidak membawa laskar Jati Anom. Yang datang ke Tambak Wedi adalah seluruhnya pasukan dari Pajang.”

Wuranta kini tidak dapat menahan dirinya lagi. Perasaan yang bergelut di dadanya tiba-tiba saja ingin meledak. Perasaan rendah diri yang mencengkamnya, telah memaksanya untuk berbuat hal-hal yang berlebih-lebihan seperti pada saat ia menyerang Sidanti. Dengan dada tengadah ia berkata, “Apakah kalian belum tahu bahwa akulah yang memungkinkan kalian memasuki padepokan ini? Tanpa aku, kalian telah dihancurkan oleh pasukan Tambak Wedi sebelum kalian sempat mendekati regol padepokan ini.”

Beberapa orang prajurit Pajang itu saling berpandangan. Namun jawaban itu tidak menyenangkan hati mereka. Prajurit tertua di antara mereka segera melangkah maju dan bertanya, “He Wuranta. Bukankah namamu Wuranta, menurut pengakuanmu? Apakah yang telah kau lakukan sehingga kau dapat mengatakan kepada kami bahwa kau telah memungkinkan kami memasuki padepokan ini?”

“Hanya para pemimpinmu yang tahu siapakah Wuranta.”

Sekali lagi para prajurit itu saling berpandangan. Dan prajurit yang tertua itu bertanya sekali lagi, “Siapakah para pemimpin yang kau maksud?”

Sejenak Wuranta terdiam. Ia belum banyak mengenal nama-nama para pemimpin prajurit Pajang. Tetapi satu, justru yang tertinggi telah dikenalnya. Karena itu maka kemudian ia menjawab, “Untara. Untara mengenal aku dengan baik.”

Dada para prajurit itu berdesir. Tetapi tidaklah mustahil bahwa orang ini langsung berhubungan dengan Untara. Hal itu memang pernah juga dilakukan oleh Untara. Mempergunakan orang-orang dalam tugas-tugas sandi. Dan orang-orang itu yang mengenal hanyalah Untara sendiri.

Tetapi para prajurit Pajang itu tidak akan dapat melepaskan kecurigaannya, sehingga prajurit yang tertua itu berkata, “Baiklah, Ki Sanak. Seandainya kau benar petugas sandi yang hanya dikenal oleh Ki Untara, maka marilah Ki Sanak aku bawa langsung menghadap Ki Untara.”

Hati Wuranta yang sedang melonjak-lonjak karena tekanan-tekanan perasaan itu kini menjadi kian bergolak. Ia merasa sama sekali tidak mendapat kepercayaan para prajurit itu. Dengan wajah tegang ia berkata, “Aku akan dapat menghadapnya sendiri. Apakah ini berarti bahwa kalian akan menangkap aku?”

Prajurit itu menggeleng, “Tidak, Ki Sanak. Tetapi dalam peperangan kita harus berhati-hati.”

“Tidak,” jawab Wuranta “aku akan menghadap sendiri. Aku orang bebas. Bahkan akulah yang telah raemungkinkan kalian memasuki padepokan ini. Sekarang kalian akan menangkap aku.”

“Kami tidak dapat melihat suatu bukti apa pun tentang kata-katamu, Ki Sanak. Karena itu, maka satu-satunya cara yang dapat kami tempuh adalah membawa Ki Sanak menghadap Ki Untara. Nah, Ki Untara akan dapat berkata sesuatu kepada kami tentang Ki Sanak. Sebab seperti yang Ki Sanak katakan, salah seorang dari para pemimpin Pajang yang telah mengenal Ki Sanak dengan baik adalah Ki Untara.”

Wajah Wuranta menjadi merah. Ia merasa alasan-alasannya tidak didengar sama sekali oleh prajurit-prajurit Pajang itu. Karena itu maka katanya, “Biarkanlah aku berbuat menurut kehendakku. Nanti aku akan datang kepadanya, atau Kakang Untara akan mencari aku untuk mengucapkan terima kasih kepadaku. Sekarang kalau kalian tidak percaya kepadaku, nah pergilah, bertanyalah kepada Ki Untara, siapakah anak muda Jati Anom yang bernama Wuranta.”

Prajurit-prajurit itulah yang kini tersinggung mendengar jawaban Wuranta yang aneh itu. Justru dengan demikian maka nafsu mereka untuk membawa Wuranta menjadi semakin besar. Bukan karena kecurigaan mereka, tetapi karena mereka merasa kewajiban mereka seolah-olah dianggap kurang berarti. Bahkan pemimpin mereka, senapati mereka pun telah diremehkan oleh anak muda yang menyebut dirinya bernama Wuranta itu.

Dengan demikian maka wajah para prajurit itu menjadi semakin tegang. Hati mereka yang panas terbakar oleh pertempuran yang baru saja terjadi masih juga belum padam. Karena itu maka sikap Wuranta agaknya telah menyalakan api yang masih tersimpan di dalam hati mereka.

Maka sejenak kemudian prajurit yang tertua di antara mereka itu berkata, “Kalau demikian Ki Sanak, maka kami akan memaksamu. Kami adalah prajurit-prajurit Pajang yang berada di dalam lingkungan lawan. Karena itu setiap orang yang bukan berasal dari kami harus kami curigai. Termasuk kau.”

Wajah Wuranta yang merah menjadi semakin menyala. Kemarahannya kini telah memuncak. Ia merasa seolah-olah orang Pajang itu sama sekali tidak mengenal terima kasih. Seperti juga Agung Sedayu.

Sebelum semuanya ini terjadi, ia adalah umpan yang pertama kali dilontarkan ke dalam sarang serigala ini. Ia adalah orang yang pertama kali harus berhadapan dengan Sidanti bahkan Ki Tambak Wedi. Hampir saja lehernya dijerat di tiang gantungan. Tetapi kini, setelah semuanya selesai, maka ia seolah-olah tidak dibutuhkan.

Setelah Sekar Mirah bertemu dengan Agung Sedayu, maka kehadirannya sama sekali tidak dihiraukannya. Bahkan yang pertama-tama dilontarkan kepadanya adalah penghinaan. Kemudian dengan sombongnya Agung Sedayu memamerkan kelebihan-kelebihannya padanya.

Dan kini, prajurit-prajurit Pajang itu juga ingin menangkapnya. Membawanya kepada Untara sebagai seorang tawanan.

Tiba-tiba Wuranta tidak dapat menahan desakan di dalam rongga dadanya. Dengan lantang ia berteriak, “He orang-orang Pajang. Jangan terlampau sombong. Tak seorang pun di antara kalian yang berani memasuki padepokan ini selagi Tambak Wedi, Sidanti, beserta Sanakeling masih mampu menggenggam senjata mereka. Tak seorang pun dari kalian, termasuk Agung Sedayu adik Untara itu, yang berani menghadapi Sidanti dan Sanakeling pada saat-saat mereka masih bersatu tujuan. Kini aku berhasil memisahkan mereka karena permainanku. Dengan mengumpankan Alap-alap Jalatunda aku berhasil mengadu dua kekuatan yan ada di Padepokan ini. Kekuatan Jipang dan kekuatan Tambak Wedi. Baru setelah keduanya hancur kalian berani masuk. Sekarang kalian menyombongkan diri akan menangkap Wuranta. Nah, lakukanlah. Lakukanlah setelah Wuranta menjadi mayat. Apa yang aku lakukan sebelum ini memang sudah harus bertaruh nyawa. Pagi ini seharusnya aku sudah mati di tiang gantungan apabila aku tidak berhasil melarikan diri. Umurku ini adalah umur yang berlebihan. Karena itu, ayo, bunuhlah aku. Aku tidak akan melawan. Tetapi jangan mimpi membawa Wuranta hidup-hidup kepada Untara.”

Darah para prajurit-prajurit Pajang itu segera mendidih. Mereka tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh Wuranta. Karena itu maka yang termuda di antara mereka segera melangkah maju. Untunglah bahwa yang tertua masih juga dapat menahan diri. Digamitnya prajurit yang masih muda itu sambil berkata, “Biarlah aku yang menyelesaikannya.”

“Bagus, ayo, selesaikan bersama-sama. Aku tidak akan lari. Aku sudah bersedia untuk mati. Aku sudah hidup lebih lama sesiang ini.”

Ketika prajurit yang tertua itu melangkah maju, ia melihat Wuranta berdiri tegak sambil menengadahkan dada. Tetapi tidak lampak tanda-tanda bahwa anak muda itu akan melawannya.

“Apakah kau memerlukan pedang?” bertanya prajurit tertua itu. “Bukankah kau ingin melawan?”

Wuranta menggeleng. “Aku tidak perlu melawan kalian. Tak ada artinya”

Prajurit-prajurit Pajang mengerutkan kening mereka. Ada di antara mereka yang mengartikan kata-kata Wuranta itu sebagai suat penghinaan, seolah-olah para prajurit Pajang itu tidak berarti buat dilawannya, tetapi ada pula yang melihat keanehan sikap Wuranta itu. Ternyata ia benar-benar tidak bersiap untuk melawan.

Prajurit yang tertua di antara mereka itu menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia berkata, “Kau membingungkan kami.”

“Bukan maksudku,” jawab Wuranta “kau sendirilah yang membuat dirimu bingung.”

“Apakah kau termasuk salah seorang prajurit Tambak Wedi yang berusaha membunuh diri dengan cara itu.”

Pertanyaan itu telah menggoncangkan dada Wuranta. kemarahannya yang sudah memuncak seolah-olah kini meluap lewat ubun-ubunnya. Namun dengan demikian maka anak muda itu justru terdiam. Tetapi tubuh dan bibirnya menjadi bergetar secepat getar jantungnya.

Sejenak mereka yang sedang dicengkam oleh ketegangan itu saling berdiam diri, tetapi mata mereka menyorotkan kemarahan yang hampir-hampir tidak terkendali.

Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang di belakang pagar dinding batu, di antara dedaunan yang rimbun. “Kalian ternyata telah menjadi salah paham.”

Dengan serta-merta maka mereka segera berpaling. Dari antara dedaunan yang rimbun itu, maka meloncatlah seorang tua dengan cekatan. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

“Siapakah Ki Sanak?” bertanya salah seorang dari para prajurit itu. Ternyata prajurit itu juga belum mengenal Ki Tanu Metir.

Ki Tanu Metir tersenyum, tetapi hatinya menjadi cemas juga. Apabila para prajurit itu belum mengenalnya, maka keadaannya tidak akan berbeda. Seperti juga Wuranta, maka para prajurit itu pasti ingin membawanya kepada Untara.

“Apakah kalian belum mengenal aku?” bertanya Ki Tanu Metir itu.

Prajurit yang bertanya kepadanya itu menjawab, “Aku tidak mengenalmu.”

Ki Tamu Metir mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia melangkah maju. Diamatinya prajurit yang menjawab pertanyaannya itu. Seorang prajurit muda yang gagah, bertubuh tinggi dan berdada bidang. Di lambungnya tergantung sehelai pedang yang panjang.

Tetapi Ki Tanu Metir semakin dicemaskan oleh sikap para prajurit itu. Apakah yang harus dilakukan seandainya mereka bersikap keras kepadanya seperti kepada Wuranta.

“Aku tidak boleh melawan,” katanya di dalam hati “Mereka melakukan kewajiban. Tetapi bagaimana dengan Angger Wuranta itu seandainya ia pun berkeras hati untuk tidak mau tunduk kepada para prajurit itu?”

Dalam keceraasan itu tiba-tiba ia mendengar salah seorang dari para prajurit itu berkata, “He, bukankah orang tua itu yang tadi berjalan bersama dua orang anak muda dan seorang gadis yang diantar oleh beberapa orang prajurit?”

Kawan-kawannya berpaling ke arahnya. Lalu seorang yang lain berkata, “Ya, aku pernah melihat orang tua itu. Apakah Kiai yang bernama Ki Tanu Metir?”

Dada Ki Tanu Metir menjadi lega. Ternyata ada di antara mereka yang sudah mengenalnya. Dengan demikian maka pekerjaannya menjadi bertambah ringan.

“Ya, ya, Ki Sanak, akulah yang bernama Ki Tanu Metir. Dari siapa Angger mengetahuinya?”

“Aku pernah melihat Kiai sekali di Jati Anom, ketika Kiai bersama adik Ki Untara dan anak muda yang gemuk itu, yang tadi juga berjalan bersama Kiai menemui Ki Untara.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa pendek, “Ya, itulah aku.”

“Kenapa tiba-tiba saja Kiai sudah berada di sini pula?”

“Tidak, Ki Sanak, tidak dengan tiba-tiba. Aku telah datang lebih dahulu dari pasukan Pajang. Aku datang bersama Angger Wuranta ini,” jawab Ki Tanu Metir sambil menunjuk Wuranta yang masih berdiri tegak di tempatnya.

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Beberapa orang yang lain saling berpandangan. Akhirnya hampir serempak mereka memandang Wuranta.

“Ya. Angger Wuranta telah datang lebih dahulu bersama aku, Angger Agung Sedayu, adik Ki Untara, dan Angger Swandaru Geni, anak muda yang gemuk itu.”

“Apakah yang telah kalian lakukan?”

Ki Tanu Metir tersenyum, “Tidak terlampau penting Ki Sanak. Hanya sekedar melepaskan anak-anak panah sendaren. Bukankah Angger juga mendengarnya? Pasukan berkudalah yang mendengarnya dengan jelas. Apakah Angger dari pasukan berkuda?”

“Prajurit itu menggeleng. Tetapi meskipun mereka bukan anggauta pasukan berkuda, namun mereka tahu benar, bahwa tanda-tanda yang memungkinkan mereka memasuki padepokan ini adalah panah sendaren. Tetapi mereka tidak tahu, siapakah yang telah melepaskan panah itu.

Dalam pada itu Ki Tanu Metir berkata pula, “Nah, itulah, Ki Sanak. Kenapa kami berada di padepokan ini.”

Prajurit yang tertua di antara mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mempercayai keterangan Ki Tanu Metir, sebab beberapa orang kawan-kawannya telah melihat orang itu menghadap Untara. Karena itu mereka kini mengerti pula bahwa Wuranta memang pernah melakukan seperti apa yang dikatakannya. Tetapi meskipun demikian, sikap anak muda Jati Anom itu telah terlanjur membuatnya kurang senang. Namun prajurit yang tertua itu berusaha menahan dirinya. Sebab kedua orang itu adalah orang-orang kepercayaan Untara.

Tetapi yang aneh bagi mereka, betapa Wuranta berani mengatakan, bahwa Untara-lah yang harus datang kepadanya.

Sejenak para prajurit itu saling berdiam diri. Ki Tanu metir pun berdiri saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengharap bahwa keadaan akan menjadi berangsur baik setelah mereka, para prajurit itu mengetahui dan mengenal Wuranta.

Hati Ki Tanu Metir pun menjadi lega ketika prajurit yang tertua itu berkata, “Baiklah, Kiai, apabila demikian, maka kami tidak akan keberatan membiarkan kalian berada di padepokan ini menurut kehendak kalian. Tetapi ingat, bahwa ada di antara kami yang belum mengenal kalian sama sekali. Karena itu, sebaiknya kalian tidak berada di tempat yang terlampau jauh dari banjar. Setiap saat kalian akan mendapat pertanyaan-pertanyaan yang serupa, dan mungkin ada di antara kami, prajurit-prajurit Pajang yang sama sekali tidak mengenal kalian, sehingga sikapnya pasti tidak akan menyenangkan, seperti sikap kami juga.”

“Oh, tidak apa, Ki Sanak. Kalian sedang melakukan kewajiban. Karena, itu maka sikap kalian dapat kita mengerti.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya “Terima kasih atas pengertian kalian. Sekarang, kami akan meneruskan kewajiban kami. Aku nasehatkan pergilah ke banjar, supaya kalian tidak menjumpai persoalan yang serupa.”

“Terima kasih, Ki Sanak,” jawab Ki Tanu Metir. Para prajurit itu pun kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir dan Wuranta berdua. Mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padepokan untuk melakukan pengawasan. Mungkin masih ada laskar Tambak Wedi yang tersembunyi, atau mungkin orang-orang Jipanng. Sepeninggal para prajurit itu, maka berkatalah Ki Tanu Metir kepada Wuranta, “Marilah, Ngger, kita pergi ke banjar padepokan ini. Di sana Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah sudah menunggumu.”

Wuranta mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar suaranya bernada rendah, “Untuk apa mereka menunggu aku?”

Ki Tanu Metir adalah seorang yang telah cukup umur. Pengenalannya atas perangai anak-anak muda cukup tajam. Ia mencoba untuk mengerti, apakah sebabnya maka tiba-tiba Wuranta bersikap aneh. Sejak di dalam gubug Sekar Mirah, kemudian hilang tanpa pesan apa pun.

Namun Ki Tanu Metir tidak segera dapat mengerti dengan pasti, apakah sebabnya. Ia hanya dapat meraba-raba dan menerka. Tetapi dugaan Ki Tanu Metir atas persoalan yang sebenarnya masih sangat kabur.

Sekali lagi Tanu Metir itu mengajak, “Angger Wuranta. Marilah kita pergi ke banjar. Kita harus menunjukkan diri kepada Angger Untara. Agung Sedayu dan Swandaru sudah lama menunggu Angger di sana. Aku sudah mencari Angger di mana-mana. Baru sekarang aku menemukan Angger. Kemana Angger selama ini dan kenapa Angger pergi tanpa pesan apa pun? Dada Angger sedang terluka meskipun untuk sementara telah tidak mengalirkan darah lagi.”

“Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam, “tugasku yang lerbahaya, yang harus aku pertaruhkan dengan nyawa telah selesai. Buat apa orang-orang Pajang dan Kiai memerlukan aku lagi?”

“Ah, jangan begitu, Ngger. Semua orang menunggu Angger.”

Wuranta menggeleng, “Tidak. Mereka hanya memerlukan aku selagi mereka tidak dapat melakukan sesuatu pekerjaan. Aku bukan seorang prajurit dan bukan murid Kiai. Itulah sebabnya Kiai menunjuk aku untuk masuk ke dalam api di Tambak Wedi ini. Seandainya aku tertangkap dan mati, maka baik Untara maupun Kiai tidak kehilangan. Untara tidak kehilangan prajuritnya dan Kiai tidak kehilangan seorang murid. Bukankah begitu?”

“Jangan beranggapan begitu, Ngger. Sama sekali tidak terlintas di dalam kepalaku perhitungan yang demikian. Secara kebetulan dan tiba-tiba aku menjumpai Angger di Jati Anom. Aku telah mencoba memperhitungkan semua rencana sebaik-baiknya. Aku sama sekali tidak berbuat dengan untung-untungan.”

“Tetapi apa yang terjadi? Apakah Kiai mengetahui aku telah ditahan oleh Ki Tambak Wedi? Bahkan telah disediakan tiang gantungan di regol padepokan ini? Apa yang dapat Kiai lakukan dan apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang Pajang?”

“Mereka telah datang, Ngger. Mereka telah masuk ke padepokan ini. Dan Angger ternyata tidak naik ke tiang gantungan itu.”

“Tetapi sama sekali bukan karena orang-orang Pajang dan bukan pula karena Kiai dan murid-murid Kiai. Aku dapat melarikan diriku dari tempat aku ditawan karena kekuatanku sendiri, karena kesempatan yang aku dapatkan, bukan dari kalian. Nah, seandainya aku saat itu tidak dapat melarikan diri, seandainya aku mati, maka tidak ada kemungkinan kalian dapat berbuat sesuatu.”

“Angger Wuranta, sejak malam tadi aku sudah di padepokan ini. Aku akan mengetahuinya seandainya hukuman mati itu dilaksanakan.”

“Apa yang akan dapat Kiai lakukan seorang diri di sini? Apa? Apakah Kiai juga akan membela kematianku dengan membunuh diri, melawan Ki Tambak Wedi? Kiai mampu melawan seorang lawan seorang, tetapi melawan Ki Tambak Wedi dengan seluruh pengikutnya?”

“Ternyata mereka berbentrokan sendiri, Ngger.”

“Kenapa mereka berbentrokan sendiri Kiai? Kenapa? Apakah hal itu dapat terjadi begitu saja tanpa sebab?”

“Hal itu akan mungkin sekali, Ngger. Dua kekuatan yang dasarnya telah berbeda. Berbeda sumbernya dan berbeda tujuannya. Kalau di antara mereka terjadi persetujuan, maka itu hanyalah untuk sementara.”

“Omong kosong!”

Ki Tanu Metir terperanjat mendengar jawaban Wuranta. Kini ia menjadi semakin tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah mengganggu anak muda itu? Dugaannya tentang sebab-sebab dari tindakan-tindakan yang aneh itu justru menjadi kabur.

“Jadi bagaimanakah, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir dengan dada berdebar-debar.

“Pertempuran di antara mereka itu telah dibakar oleh suatu sebab. Sebab yang berhasil aku tumbuhkan. Seandainya Alap-alap Jalatunda tidak menjadi gila, apakah pertempuran itu dapat terjadi?”

Ki Tamu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku berhasil menumbuhkan pertentangan itu. Aku mengumpankan Alap-alap Jalatunda yang menjadi gila karena Sekar Mirah. Kegilaannya itulah yang telah membakar padepokan ini. Baru setelah padepokan ini hangus, pasukan Untara itu datang. Itu pun karena aku pula. Karena aku datang ke Jati Anom. Memberitahukan keadaan padepokan ini. Kemudian membawa Agung Sedayu dan Swandaru masuk. Nah, siapakah yang sebenarnya berhasil melakukan tugasnya? Aku, Untara, Agung Sedayu dan Swandaru atau Kiai? Sekarang, setelah semuanya selesai? Tak seorang pun lagi menghiraukan aku. Semuanya tidak memerlukan aku lagi. Mereka memamerkan kepandaian mereka bermain pedang. Kiai, aku memang bukan seorang prajurit. Aku memang tidak secakap Agung Sedayu dan tidak secepat para prajurit Pajang memainkan senjata. Tetapi aku juga mempunyai harga diri, Kiai. Setelah Agung Sedayu dapat bertemu dengan Sekar Mirah, maka keduanya sama sekali tidak menghiraukan aku lagi. Sekar Mirah yang sebelumnya hampir mati ketakutan itu, kemudian sama sekali tidak mau melihat aku, meskipun hanya dengan sebelah matanya. Mereka telah menemukan yang mereka cari. Kedatangan Agung Sedayu telah membuat gadis itu menjadi tamak dan besar kepala, seolah-olah semua orang lain di dunia ini tidak berharga.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia mencoba menangkap maksud yang sedalam-dalamnya dari kata-kata Wuranta. Dugaannya yang semula menjadi kabur kini menjadi semakin jelas kembali.

“Coba, coba Kiai, sebutkan. Siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah? Siapa?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab.

“Kini semua orang di padepokan ini menghina Wuranta. Para prajurit itu, Sekar Mirah, Agung Sedayu, dan semuanya.”

Wuranta berhenti sejenak. Nafasnya menjadi terengah-engah dan wajahnya menjadi merah. Terasa betapa dadanya dihentak-hentak oleh dentang jantungnya yang semakin cepat.

Ki Tanu Metir masih berdiam diri. Kini ia dapat meraba, apakah yang telah mendorong Wuranta berbuat demikian. Hampir pasti. Meskipun demikian Ki Tanu Metir masih cukup berhati-hati untuk berbuat dan berkata sesuatu. Ternyata perasaan Wuranta terlampau peka, dan terlampau mudah tersentuh.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Wuranta itu mengulangi pertanyaannya, “Siapa Kiai? Seharusnya Kiai dapat menyebutkan, siapa yang sebenarnya berhasil di dalam tugasnya, sebab Kiai mengetahuinya sejak permulaan. Tidak seperti prajurit-prajurit Pajang itu. Begitu mereka datang, mereka menganggap dirinyalah yang paling berjasa. Seperti juga Agung Sedayu yang merasa, seolah-olah ialah yang telah membebaskan Sekar Mirah. Siapa? Coba sebutkan, apakah Kiai berani menyebutkannya karena Kiai guru Agung Sedayu barangkali?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dengan nada yang berat tenang, “Ya, Ngger. Aku mengakui karena penglihatanku sendiri, bahwa Angger Wuranta-lah yang telah membawa kita semuanya di sini kepada kemenangan yang mutlak. Semua rencana dapat berlangsung sebaik-baiknya berkat keberanian dan ketrampilanmu, Ngger. Aku mengakui. Dan mudah-mudahan Untara pun akan mengakui.”

“Tidak. Ia pasti tidak akan mengakui. Ia Senapati besar di sini. Ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling penting. Dan ia merasa bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan kemenangan ini. Apalagi Agung Sedayu adalah adiknya. Pasti ia akan membenarkan sikapnya dan menyalahkan aku.”

“Kenapa? Kenapa Untara akan membenarkan sikap Agung Sedayu dan menyalahkan Angger? Dalam hal apa? Apakah ada sesuatu persoalan di antara kalian berdua?”

Pertanyaan itu mengejutkan sekali bagi Wuranta. Sejenak ia terdiam.

“Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir “seandainya ada sesuatu persoalan yang mengecewakan Angger Wuranta, katakanlah, Ngger. Aku adalah saksi yang akan mengatakan kepada siapa pun juga, yang tidak mengakui Angger sebagai seorang perintis yang telah membawa kita masuk ke padepokan ini! Apakah Agung Sedayu merasa dirinya yang paling berjasa dalam hal ini? Atau Angger Untara sendiri? Katakanlah, Ngger. Aku adalah saksi yang masih hidup, bahwa pahlawan dari kemenangan ini adalah Angger Wuranta. Semua orang harus mendengar dan mengakui, bahwa karena jasa-jasa Angger Wuranta, padepokan Tambak Wedi yang diperkuat oleh orang-orang Jipang di bawah pimpinan Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda ini dapat direbut dengan mudah. Sebab pasukan Pajang datang pada saat-saat orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang sudah tidak kuasa untuk melawannya, setelah mereka bertempur satu dengan yang lain. Bukankah begitu?”

Ki Tanu Metir berhenti sesaat. Dipandanginya wajah Wuranta yang menjadi semakin lama semakin tegang. Mulutnya mengatup rapat-rapat dan giginya menggeretak.

“Angger Wuranta, katakanlah, Ngger. Apakah Agung Sedayu telah berbuat suatu kesalahan? Meskipun ia muridku, tetapi apabila ia berbuat salah, maka aku wajib memberitahukan kesalahan itu kepadanya. Seandainya ia tidak menyadarinya, maka aku akan mencubitnya, supaya ia mengerti akan dirinya.”

Kini Wuranta-lah yang terdiam.

“Katakanlah, Ngger. Tidak ada orang lain yang dapat membanggakan dirinya di sini, selain Angger Wuranta. Tidak ada orang lain yang dapat merasa dirinya berjasa, selain Angger Wuranta. Kalau ada orang lain, maka orang lain itu harus mendapat pengertian, bahwa pahlawan kemenangan ini adalah Wuranta, anak Jati Anom.”

“Cukup, cukup,” Wuranta memotong kata-kata Ki Tanu Metir dan dengan terbata-bata ia meneruskan, “Bukan maksudku. Bukan maksudku.”

Terdengar suara Ki Tanu Metir sareh, “Mungkin Angger tidak bermaksud demikian, tetapi apakah kita semuanya akan mengingkari kenyataan?”

Wuranta menggigit bibirnya. Tiba-tiba dadanya serasa akan meledak mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Seperti terlempar ke dalam suatu kesadaran tentang dirinya, Wuranta merasakan tusukan yang tajam dari kata-kata Ki Tanu Metir itu. Terasa seolah-olah selembar tabir yang hitam pekat di dalam hatinya kini tersingkap. Dan dilihatnya dirinya sendiri dengan jelas. Dirinya sendiri yang kecil, yang kini berada di antara raksasa-raksasa yang mengerikan. Raksasa-raksasa Pajang telah berhasil memecahkan pertahanan padepokan Tambak Wedi. Kembali terbayang di matanya, betapa Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir bergulat melawan hantu lereng Merapi yang mengerikan, Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya. Terbayang betapa Untara berserta pasukannya bertempur menghadapi sisa-sisa pasukan Tambak Wedi yang pada saat-saat terakhir masih sempat bergabung dengan sisa-sisa orang Jipang. Betapa Untara masih harus mengatur orang-orangnya, dan dirinya sendiri yang masih harus berhadapan melawan Sanakeling.

Alangkah malunya. Alangkah malunya seandainya ia berkata tentang dirinya sendiri. Apakah semuanya ini dapat terjadi seandainya Untara tidak berhasil mengalahkan sisa-sisa pasukan Tambak Wedi dan Jipang? Apakah Sekar Mirah dapat bebas seperti yang terjadi seandainya Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, dan Swandaru tidak dapat bertahan melawan Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya?

Ketika teringat oleh Wuranta akan kata-katanya sendiri “Coba. Coba Kiai, sebutkan, siapakah yang sebenarnya dapat mengalahkan padepokan Tambak Wedi dan membebaskan Sekar Mirah. Siapa?” tiba-tiba Wuranta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Alangkah malunya.

Ki Tanu Metir masih berdiri tegak di hadapannya. Dibiarkannya Wuranta menyadari dirinya. Dibiarkannya anak itu dihanyutkan oleh perasaannya yang tiba-tiba saja seolah-olah terbuka.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Awan di langit yang kemerah-merahan mengalir ke Utara dihembus oleh angin lereng lembab. Matahari telah menjadi semakin rendah, dan sebentar lagi hilang di balik dedaunan di sebelah Barat. Sinarnya yang membara tersangkut di punggung gunung dan di ujung-ujung awan yang bertebaran dilangit.

Di halaman banjar padepokan Tambak Wedi dan sekitarnya para prajurit Pajang dan sebagian orang-orang Tambak Wedi sendiri yang masih hidup dan tidak berbahaya masih sibuk menyingkirkan mereka yang terluka dan mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan.

Ki Tanu Metir-lah yang kemudian memecahkan kesenyapan itu. “Angger Wuranta. Marilah kita pergi ke banjar.”

“Tidak. Tidak Kiai. Tidak ada gunanya.”

“Tak akan ada orang yang tidak mengakui hasil jerih payahmu, Ngger.”

“Bukan itu. Bukan itu, Kiai. Justru aku menjadi malu sekali. Ternyata Kiai telah menunjukkan kekeliruanku. Kiai menghadapkan sebuah cermin di muka wajahku. Aku sangka bahwa aku adalah orang yang paling berjasa di peperangan ini. Ternyata aku tidak lebih dari sehelai debu yang tidak berarti, aku sadari sekarang, Kiai.”

“Jangan begitu, Ngger. Aku memang sudah menyangka bahwa kau sedang dihanyutkan oleh sebuah angan-angan yang aku masih belum tahu pasti. Tetapi seharusnya Angger segera menemukan keseimbangan perasaan.”

“Kiai, aku semula merasa sebagai orang yang paling berjasa, tetapi dilupakan karena pekerjaan telah selesai.”

“Tidak, Ngger. Angger sama sekali tidak diabaikan.”

“Ah, jangan menyenangkan hatiku, Kiai,” sahut Wuranto. “Sebenarnyalah aku diabaikan.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia menjadi heran mendengar jawaban Wuranta yang menurut perasaannya agak bersimpang siur.

“Bagaimanakah sebenarnya menurut tanggapanmu, Ngger. Aku menjadi agak bingung karenanya.”

“Kiai, semula aku merasa sakit hati, bahwa aku diabaikan orang. Padahal aku merasa bahwa akulah yang paling berjasa di antara semua orang di sini. Tetapi ternyata Kiai telah membuka hatiku. Aku sama sekali bukan seorang pahlawan. Karena itu, tidak sewajarnyalah bahwa aku menjadi sakit hati. Aku memang tidak berarti apa-apa di sini. Aku hanya seorang pelaku yang tidak mempunyai bagian sama sekali dalam kemenangan ini. Bukankah begitu Kiai?”

Ki Tanu Metir-lah kini yang meraba dadanya. Ternyata perasaan Wuranta, yang selama ini mencoba menutup-nutupi kekurangannya dan kekecewaan dengan tingkah laku yang aneh-aneh itu terbanting terlampau dalam. Kini tampaklah perasaan yang sebenarnya bergelut di dalam dada anak itu. Rendah diri, di samping segala macam kekecewaan. Apalagi ketika ia melihat kenyataan bahwa Agung Sedayu yang dikenalnya sebagai seorang penakut dan pengecut di masa kanak-kanaknya, kini ternyata terlampau jauh di atas jangkauannya. Maka hatinya menjadi terpecah-pecah tidak keruan. Agung Sedayu bagi Wuranta, menjadi sebab dari segala macam kepahitan yang kini dialaminya.

Ki Tanu Metir kini sudah hampir pasti, bahwa soalnya berkisar di sekitar Sekar Mirah.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang perempuan memang kadang-kadang dapat menyebabkan lautan menjadi kering, dan gunung menjadi runtuh. Menurut dongeng, Candi Prambanan tercipta dalam satu malam karena seorang gadis, Rara Jonggrang. Bendungan yang melintasi lautan, mencapai Alengka, dibuat karena seorang wanita. Dewi Sinta. Keris mPu Gandring yang bertuah, yang kemudian menghisap darah beberapa orang, bahkan pembuatnya dan kemudian pemesannya sendiri, adalah karena seorang wanita, Ken Dedes yang ingin direnggutkan dari suaminya, Tunggul Ametung, oleh Ken Arok yang memesan keris itu kepada Mpu Gandring.

“O, tidak terlampau jauh,” berkata Ki Tinu Metir di dalam hatinya. “Alap-alap Jalatunda mati karena Sekar Mirah, dan bahkan orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang bertempur satu sama lain karena Sekar Mirah ini pula. Dan kini apakah gadis itu masih akan menulis cerita baru tentang dirinya dan tentang anak-anak muda yang mengenalnya.”

Ketika cahaya yang kemerah-merahan di langit menjadi semakin pudar, maka Ki Tanu Metir pun berkata, “Marilah, Ngger. Jangan terlampau membiarkan diri hanyut dalam arus perasaan, Seharusnya Angger mencoba mempergunakan pikiran untuk membuat keseimbangan. Nalar.”

Wuranta menggeleng, “Sudahlah Kiai. Kiai tidak usah memikirkan aku. Aku akan kembali ke Jati Anom. Aku sudah puas dapat melakukan petunjuk-petunjuk Kiai. Aku sudah puas dengan keadaan sekarang ini.”

Ki Tanu Mietir tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Wuranta dengan tajamnya sehingga anak muda itu melontarkan pandangan matanya jauh-jauh ke punggung Gunung Merapi yang masih diwarnai oleh sisa-sisa sinar Matahari yang kemerah-merahan.

“Ikutlah aku. Angger harus berjiwa besar menghadapi setiap persoalan. Angger bukan anak kecil lagi.”

Wuranta terdiam.

“Angger adalah satu-satunya dari antara anak-anak muda Jati Anom yang telah berhasil mendahului pasukan Pajang ke dalam sarang yang berbahaya ini. Tengadahkan kepalamu. Pandanglah seluruh persoalan dengan dada terbuka. Sebagian anggapan Angger tentang diri Angger benar. Angger adalah orang yang telah ikut berjasa dalam hal ini.”

Tetapi Ki Tanu Metir terpaksa menahan hatinya ketika ia melihat Wuranta menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang dalam anak muda itu berkata, “Terima kasih, Kiai. Aku tidak usah pergi ke banjar. Pergilah Kiai sendiri menemui murid-murid dan Kakang Untara. Aku akan kembali ke Jati Anom sekarang.”

“Ah,” Ki Tanu Metir berdesah, “lihat, matahari telah turun ke balik gunung. Sebentar lagi hari akan gelap.”

“Aku kemarin mondar-mandir antara Jati Anom dan Tambak Wedi ini di dalam gelap juga.”

“Tetapi justru kali ini aku menjadi cemas, karena Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya terlepas dari tangan kita.”

“Kiai seandainya aku berjumpa dengan mereka?”

“Ya, Ngger.”

“Kiai tidak perlu cemas. Aku sudah cukup dewasa untuk menjaga diriku sendiri. Tetapi seandainya aku akan mati juga, itu pun sudah menjadi garis hidupku.”

“Jangan, Ngger. Untara menunggumu. Ia ingin bertemu dengan Angger.”

“Kalau ia ingin menemui aku, aku persilahkan datang ke Jati Anom.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Wuranta telah kehilangan keseimbangannya lagi.

“Silahkan Kiai kembali ke banjar. Katakanlah kepada Kakang Untara bahwa aku telah kembali ke Jati Anom. Aku tidak berguna apa pun juga di sini.”

“Apakah maksud itu tidak dapat di ubah.”

“Maaf, Kiai.”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Ia tidak, berhasil mengajak Wuranta pergi ke banjar padepokan Tambak Wedi untuk bertemu dengan Untara, Agung Sedayu, dan Swandaru. Tetapi orang tua itu dapat mengerti juga perasaan yang golak di dalam dada Wuranta. Ia tidak ingin lagi bertemu dengan Sekar Mirah dan Agung Sedayu. Ia tidak mau menambah pedih luka di hatinya.

“Jadi bagaimana, Ngger?”

“Silahkan Kiai kembali ke banjar. Aku akan terus ke Jati Anom.”

“Beberapa puluh langkah lagi Angger sampai ke banjar itu.”

“Aku akan berbelok.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia berkata, “Lukamu, Ngger.”

“Sudah sembuh, Kiai.”

“Belum,” Ki Tanu Metir menggeleng, “besok aku akan memberimu obat lagi di Jati Anom. Obat itu baru sekedar memampat darah. Tetapi daya sembuhnya terlampau sedikit.”

“Terima kasih, Kiai. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”

“Ah, tentu. Kenapa tidak? Aku pun akan segera pergi ke Jati Anom. Aku pun tidak akan terlampau lama di sini.”

“Silahkanlah, Kiai.” Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sekarang, apakah Kiai masih akan pergi ke banjar?”

“Ya. aku akan pergi ke banjar.”

Dengan menyesal Kiai Gringsing kemudian meninggalkan Wuranta seorang diri. Menurut pertimbangannya, maka biarlah Wuranta menuruti kehendaknya sendiri lebih dahulu, selagi ia belum dapat berpikir dengan tenang. Karena itu, maka Ki Tanu Metir tidak ingin memaksa-maksanya lagi. Ia mengharap bahwa besok atau lusa Wuranta akan benar-benar dapat menemukan keseimbangannya.

Sepeninggal Ki Tanu Metir, Wuranta masih sejenak berdiri di tempatnya. Dilayangkannya pandangan matanya berkeliling. Dalam cahaya yang menjadi semakin merah, ia melihat beberapa orang masih saja sibuk di halaman banjar dan sekitarnya. Mereka masih menyingkirkan mayat dan orang-orang yang terluka. Satu-satu, dikumpulkan menurut keadaannya.

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa dikehendakinya. Baru kali ini ia melihat pepati sebanyak itu. Sejenak ia melupakan kepahitan hatinya sendiri.

Perlahan-lahan ia mengayunkan kakinya. Tetapi ia tidak berjalan ke halaman banjar. Ia membelok sepanjang dinding halaman yang agak rendah. Ketika ia meloncati dinding itu, maka ia berada di belakang banjar, berantara dua halaman. Namun di tempat itu ternyata orang pun sibuk pula mengumpulkan orang-orang yang terluka dan mayat yang bergelimpangan.

Ketika seorang prajurit hendak menegurnya maka prajurit yang lain berkata, “Bukankah ia anak Jati Anom?”

“Kau sudah mengenalnya?”

“Aku sudah mengenalnya. Kemarin malam ia berada Kademangan Jati Anom. Bukankah anak itu pula yang membawa kabar tentang keadaan di padepokan ini sehingga Ki Untara dapat membuat perhitungan yang tepat?”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya sehingga maksudnya, untuk menegur Wuranta diurungkan. Dibiarkannya anak muda itu berjalan dengan hati yang kosong di antara para prajurit Pajang yang sibuk.

Namun tanpa dikehendakinya pula, kadang-kadang Wuranta itu terhenti di antara orang-orang yang terluka. Ia masih mendengar beberapa orang merintih meskipun tubuhnya telah terbujur diam, tidak berbeda dengan mayat-mayat yang terbujur di sampingnya.

Ketika ia melihat seorang tua yang dengan lemahnya terbaring di bawah sebatang pohon kelor, hati Wuranta berdesir. Tubuh itu masih belum sempat di angkat dibawa ke banjar bersama orang-orang lain yang terluka. Tetapi Wuranta yakin bahwa orang itu masih hidup.

Perlahan-lahan ia mendekatinya. Dalam kesuraman cahaya matahari yang semakin redup ia melihat orang tua itu menyeringai menahan sakit.

Sejenak kemudian Wuranta telah berlutut di sampingnya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Kek, Kakek. Kau terluka?”

Orang tua yang terbaring itu lamat-lamat mendengar suara orang memanggilnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Betapa perasaan sakit menghentak-hentaknya, namun ia masih sempat melihat remang-remang seseorang berjongkok di sampingnya.

Kepala orang tua itu dijalari oleh sebuah perasaan yang aneh. Di dalam keadaan yang demikian, seseorang telah berjongkok di sampingnya sambil menegurnya ramah sekali.

“Siapakah engkau?” desis orang tua itu.

“Aku, Kek, Wuranta.”

“O, kau, Ngger?” seleret warna merah membayang di wajah yang pucat itu. “Benarkah kau Angger-Wuranta?”

“Ya, Kek.”

“Oh,” orang tua itu terdiam. Matanya yang terbuka, itu terpejam. Tampak betapa wajah yang tua itu menahan penderitaan yang sangat berat.

Wuranta masih melihat darah yang meleleh dari luka di lambung orang tua itu. Luka yang parah.

“Kau terluka, Kakek?” bertanya Wuranta.

“Hem,” orang tua itu menarik nafas. Tetapi sejenak kemudian wajahnya menyeringai menahankan perasaan sakit. “Ya, Ngger aku terluka. Terlampau parah.”

“Prajurit-prajurit Pajang melukaimu?”

Orang tua itu mencoba menggeleng. “Tidak, Ngger. Aku tidak sempat berkelahi melawan orang-orang Pajang. Aku telah terluka karena ujung pedang orang-orang Jipang.”

“Oh,” Wuranta terhenyak di tempatnya. Alangkah sedihnya. Ujung pedang kawan sendiri yang tinggal bersama-sama di dalam satu lingkungan.

“Aku sudah kehabisan tenaga, Ngger.”

“Sebentar lagi orang-orang Pajang itu akan mencoba menolongmu, Kek.”

“He?” orang tua itu terkejut. “Tidak ngger. Mereka akan datang dan mencekik aku sama sekali. Bukankah sebagian dari kita mati karena ujung senjata orang-orang Pajang?”

“Tetapi aku melihat mereka menolong orang-orang yang terluka dari segala pihak. Termasuk orang-orang dari padepokan Tambak Wedi, bahkan orang-orang Jipang.”

Perlahan-lahan orang tua itu menggeleng. “Mereka tidak menolong, Ngger, mereka sekedar mengumpulkan orang-orang yang terluka dan yang mati. Besok kita bersama-sama akan dimasukkan dalam sebuah lubang yang besar, dan ditimbun dengan sampah dan tanah. Kita yang belum mati sekalipun akan dikubur pula bersama mayat-mayat itu.” Orang tua itu berhenti sejenak. Nafasnya menjadi semakin lambat, “Lebih baik mati bersama mereka, Ngger.”

“Tidak, Kek. Kakek akan sembuh. Dan hal yang demikian, tidak akan dilakukan oleh prajurit Pajang.”

Kakek yang terbaring itu terdiam. Sekali-sekali dibukanya matanya dan dilihatnya Wuranta duduk di sampingnya. “Angger Wuranta, bukankah Angger termasuk pihak Pajang itu pula? Nah, kalau demikian tolong, Ngger, bunuhlah aku sekali supaya aku tidak terkubur hidup-hidup besok apabila malam nanti aku tidak mati.”

“Ah, jangan begitu, Kek. Kakek akan sembuh. Luka Kakek akan mendapat perawatan.”

“Seandainya demikian, apabila aku sudah sembuh, maka aku akan digantung di alun-alun Pajang. Apalagi aku sudah menangkapmu, Ngger. Menangkap seorang petugas sandi dari Pajang.”

Wuranta menggelengkan kepalanya. “Tidak, Kek. Apa yang Kakek lakukan adalah tugas Kakek. Tetapi Kakek telah memberikan tempat tinggal lepas dari tangan Sidanti. Bukankah itu sebuah pertolongan yang paling berarti selagi aku melakukan tugasku? Kek, seandainya aku tidak dapat keluar dari rumah tahanan itu, maka akhir dari peristiwa ini pun akan berbeda.”

“Ah,” orang tua itu mengeluh, “bunuh sajalah aku, Ngger.”

“Tidak, Kek.”

“Tolong, supaya aku tidak terkubur hidup-hidup. Tetapi, sebelum itu, apakah kau mau menolong aku, Ngger?”

“Apa, Kek?”

“Apakah kau mau menyampaikan pesanku kepada nenekmu yang tua dan sakit-sakitan itu?”

“O, tentu, tentu.”

“Bawalah orang tua itu kemari, Ngger. Aku ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya. Nenekmu sudah terlalu tua dan sakit-sakitan saja. Kasihan perempuan itu.”

“Jadi, apakah aku harus memanggilnya kemari?”

“Ya,” desis orang tua itu “tetapi kalau para prajurit Pajang itu mengijinkannya.”

“Aku akan minta ijin itu untuk Kakek.”

“Terima kasih, Ngger,” orang tua itu menyeringai. sekali lagi “Lukaku parah. Umurku sudah tidak akan mencapai semalam ini. Tolong Ngger, panggillah nenekmu. Dan…” orang tua itu terhenti. Perlahan-lahan ia melanjutkan, “dan tolong, Ngger apabila mungkin, janganlah aku dibiarkan mati di sini lebih dahulu. Apakah aku dapat Angger sisihkan, ke emper rumah sebelah?”

“Tentu, Kek, tentu.”

“Tetapi apabila para prajurit Pajang mengijinkan, Ngger.”

Wuranta tidak menjawab. Dengan sigapnya ia berdiri. Lukanya sendiri sudah benar-benar tidak terasa olehnya. Tergesa-gesa ia mendekati seorang prajurit yang sedang mengawal kawan-kawannya dan orang-orang Tambak Wedi yang sedang sibuk mengangkat orang-orang yang terluka ke rumah di halaman itu, dan sebagian langsung dibawa ke banjar Padepokan.

“Apa Ki Sanak?” bertanya prajurit itu.

“Aku titip kakekku yang terluka itu.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. “Kakekmu?”

“Ya.”

Prajurit itu menjadi heran. Ia mengenal Wuranta sebagai anak Jati Anom, dan orang yang terluka itu adalah seorang dari padepokan Tambak Wedi yang masih belum sempat disisihkan. Sejenak prajurit itu berdiri kebingungan. Dipandanginya Wuranta dan kakek yang terbaring itu berganti-ganti.

“Benarkah ia kakekmu?” prajurit itu ingin menegaskan.

“Ya ia kakekku. Karena itu, tolong aku titipkan ia padamu. Biarlah kakek aku bawa ke emper rumah itu. Aku akan memanggil nenek sebentar.”

Prajurit itu masih berdiri kebingungan ketika Wuranta kemudian melangkah mengambil kakek tua itu dan mendukungnya ke emper rumah di halaman.

Tanpa minta ijin lagi, Wuranta pun kemudian meninggalkannya untuk menyusul nenek seperti pesan kakek tua yang terluka. Meskipun demikian, ketika ia lewat di muka prajurit itu ia masih berpesan “Tolong awasilah kakek itu.”

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Itu sama sekali bukan pekerjaannya. Meskipun demikian ia terpaksa mengawasinya juga. Ketika ada prajurit yang lain, yang akan membawa kakek tua itu ke dalam rumah, maka prajurit itu berkata, “Biarkan orang tua itu di sana.”

“Kenapa?”

“Wuranta, anak Jati Anom itu berpesan kepadaku, supaya orang tua yang katanya adalah kakeknya itu tetap di sana.”

“Tetapi semua orang yang terluka harus dikumpulkan supaya mereka segera mendapat pertolongan. Luka kakek tua itu agak parah.”

Prajurit yang sedang berjaga-jaga itu ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia berkata, “Biarkan ia di situ. Kita tunggu saja Wuranta. Barangkali ia ingin berbuat sesuatu dengan kakeknya itu.”

Maka kakek tua itu pun ditinggalkannya. Beberapa orang yang lain pun kemudian diangkut pula masuk ke dalam rumah, sedang yang telah meninggal dikumpulkan pula menjadi satu di halaman untuk dikuburkan besok pagi.

Langit pun semakin lama menjadi semakin suram. Cahaya kemerah-merahan menjadi semakin redup dan kehitam-hitaman. Perlahan-lahan senja turun ke atas permukaan bumi.

Sesaat kemudian Wuranta itu datang kembali sambil memapah seorang perempuan tua. Hampir setua kakek yang sedang terluka di lambungnya.

“Dimanakah kakekmu itu, Ngger?” desis nenek itu.

“Di sana, Nek, di emper rumah itu.”

Tertatih-tatih di dalam papahan Wuranta nenek itu berjalan mendekati emper tempat kakek tua itu berbaring.

Hati Wuranta menjadi lega ketika ia masih melihat dalam keremangan senja kakek tua ini masih terbaring di emper. Namun kemudian hatinya berdesir ketika ia melihat kakek tua itu sama sekali diam, seolah-olah orang tua itu sudah tidak bernafas lagi.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka hati Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Perlahan-lahan dipapahhya perempuan tua itu semakin mendekat.

Perempuan tua itu pun kemudian berlutut di samping suaminya. Terdengar ia bergumam, tetapi tidak jelas, apa yang dikatakannya. Namun tiba-tiba terdengar ia memanggil, “Kek, Kakek.”

Laki-laki tua yang terbaring itu ternyata masih hidup. Ia masih mendengar suara isterinya. Betapa lemah tubuhnya, namun ia paksakan dirinya membuka mata. Lambat sekali ia menjawab, “Nenek, kaukah itu?”

“O,” nenek tua itu tidak dapat lagi menahan dirinya. Ditelungkupkannya kepalanya di atas tubuh suaminya yang telah menjadi semakin lemah.

“Lukaku parah, Nenek.”

“Akan aku obati, Kek.”

Perlahan-lahan laki-laki tua itu menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu. Tak ada obat yang dapat menyembuhkan lukaku. Darah sudah terlampau banyak mengalir, meskipun aku sendiri sudah mencoba menahan dengan sobekan kainku.”

“Tidak, Kakek, aku akan mengobatinya. Kau harus sembuh.”

Wuranta masih berdiri tegak seperti patung. Tiba-tiba ia teringat obat yang diberikan Ki Tanu Metir kepadanya. Obat itu dapat membantu sementara untuk menghentikan darah yang meleleh dari luka. Dan luka kakek itu masih saja meneteskan darah. Agaknya karena terlampau banyak darah yang keluar itulah maka kakek itu menjadi terlampau lemah. Ia sudah terluka sejak orang-orang Pajang memasuki padepokan ini. Hampir sehari ia terbaring dalam lukanya tanpa pertolongan kecuali atas usahanya sendiri. Meskipun, seandainya luka itu sendiri tidak terlampau parah, namun terlampau banyak darah yang mengalir pun akan dapat menyebabkan kematian. Karena itu, maka segera dicarinya bumbung kecil sisa obat yang dilumurkan luka di dadanya sendiri. Ketika ia menemukan obat itu, maka hatinya melonjak kegirangan.

“Kakek,” katanya terbata-bata, “aku mempunyai obat. Obat yang dapat menolong sementara memampatkan luka.”

Kakek yang terluka itu tidak segera menyahut, tetapi isterinyalah yang menjawab, “Benar, Ngger? Benarkah kau mempunyai obat itu.”

Tetapi alangkah kecewanya Wuranta ketika ternyata obat itu tinggal sedikit. Terlampau sedikit untuk mengobati luka lambung laki-laki tua itu. Meskipun demikian, obat yang sedikit itu dapat mengurangi penderitaannya dan dapat mengurangi darah yang menetes dari lukanya.

“Aku sudah cukup tua, Ngger. Luka-luka di tubuhku betapapun kecilnya agaknya terlampau sukar untuk diobati. Lukaku kali ini pun terlampau sukar untuk diharapkan akan dapat sembuh.”

“Tidak, Kek, kau akan sembuh,” desis isterinya.

“Adalah suatu kebahagiaan bagiku, bahwa aku masih cukup kuat menahan diri sampai sehari ini. Dengan demikian aku masih dapat bertemu dengan kau, Nek,” katanya semakin lambat.

Nenek tua, isteri laki-laki yang terluka itu merapatkan kepalanya di dada suaminya. Meskipun ia berusaha sekuat-kuat tenaganya, namun terasa air matanya meleleh membasahi dada yang bidang, namun sudah mulai berkeriput karena garis-garis ketuaan yang semakin banyak.

“Jangan menangis, Nek,” desis laki-laki itu.

“Tidak,” jawab isterinya “aku tidak menangis.”

Sekali lagi keduanya terdiam. Wuranta yang berjongkok di sampingnya setelah mencoba mengobati luka orang tua itu pun terdiam pula. Namun demikian perasaan iba dan haru menyentak-nyentak dadanya. Ia tidak dapat berbuat sesuatu meskipun ia melihat seorang laki-laki tua telah berada di ambang maut, di dalam pelukan isterinya yang telah tua pula.

“Apakah mereka tidak mempunyai anak?” bertanya Wuranta di dalam hatinya.

Wuranta mendekat ketika lamat-lamat ia mendengar, “Angger Wuranta.”

“Ya, Kakek,” jawab Wuranta.

“Apakah hari memang sudah mulai gelap?”

“Ya, Kek. Senja telah hampir lampau.”

“O,” desisnya, “pandanganku telah menjadi gelap benar. Aku sudah tidak dapat melihat apapun.”

Dada Wuranta menjadi berdebar-debar.

“Tidak, Kek,” tangis perempuan tua, isterinya, yang sudah tidak terbendung lagi, “kau akan sembuh. Aku tidak berani kau tinggalkan. Aku tidak mau hidup seorang diri.”

“Kau tidak akan hidup seorang diri, Nek,” jawabnya laki-laki itu perlahan sekali. “Angger Wuranta akan menemanimu. Bukankah begitu, Ngger?”

“Ya, ya Kek,” sahut Wuranta dengan serta-merta.

“Hem,” laki-laki tua itu mencoba menghela nafas dalam-dalam. “Ngger,” desisnya lambat sekali.

Wuranta berkisar semakin dekat. Dan dilihatnya lamat-lamat dalam keremangan senja laki-laki itu bergerak sedikit.

“Pagi tadi, Ngger,” katanya justru ketika aku sudah terbaring karena luka, aku dapat mengenali apa yang kau katakan, Ngger. Aku sudah merasakan betapa nikmatnya.”

“Apa, Kek?” bertanya Wuranta tergagap.

“Tadi pagi, ketika aku masih sanggup menahan tubuhku dengan tanganku, aku sudah dapat menikmati betapa cerahnya pagi. Saat-saat yang tidak pernah aku nikmati sebelumnya. Aku melihat betapa cahaya yang kehitam-hitaman berubah menjadi merah, kemudian kekuning-kuningan dan yang terakhir, ketika matahari muncul dari balik dedaunan, memancarlah cahaya yang putih cerah.”

“Ya, ya Kek. Pagi memang cerah.”

“Aku tidak pernah menikmatinya. Aku tidak pernah mendapat kesempatan itu. Tetapi kesempatan itu datang pagi ini. Pada hariku yang terakhir. “

“Bukan yang terakhir,” potong Wuranta.

Dada Wuranta berdesir ketika ia melihat laki-laki tua yang luka parah di lambungnya itu tersenyum. “Jangan menutup mata melihat kenyataan ini, Ngger. Tetapi kini, sejak aku melihat cerahnya pagi, aku merasa terlampau dekat dengan Nafas dari seluruh kehidupan. Aku merasa bahwa aku mendapatkan sesuatu, Ngger. Dan aku merasa menjadi semakin dekat.”

“Ya, Kek. Kau akan menjadi semakin dekat dengan Nafas segala kehidupan. Dan kau akan sembuh.”

“Bagiku sudah tidak ada bedanya, Ngger. Dan aku merasa bahwa hidupku di dunia ini sudah akan berakhir, berakhir hari ini. Tetapi aku sudah tidak perlu takut lagi. Aku sekarang sudah tahu ke mana aku harus pergi.”

Wuranta tidak menjawab. Tetapi hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Apakah laki-laki tua itu benar-benar akan mati? Alangkah sedih hati isterinya. Ternyata mereka hanya hidup berdua saja selama ini. Agaknya mereka benar-benar tidak mempunyai seorang anak pun.

Tiba-tiba Wuranta teringat kepada Ki Tanu Metir. Ki Tanu Metir seorang dukun yang baik. Seorang dukun yang berpengalaman mengobati segala macam penderitaan. Karena itu maka tiba-tiba ia berkata, “Kek, tahankanlah sebentar. Aku akan memanggil seorang dukun yang baik, yang akan bersedia menolongmu.”

“Siapa?”

“Ki Tanu Metir.”

“Orang manakah dukun itu?”

“Menurut pendengaran ia berasal dari Dukuh Pakuwon. Ia adalah seorang dukun kepercayaan Kakang Untara.

“Untara Senapati Pajang?”

“Ya, Kek.”

“Tak ada gunanya. Ia tidak akan bersedia mengoba aku.”

“Ia pasti bersedia. Baginya akan terbuka kemungkinan yang sama bagi semua penderita. Ia tidak memperhitungkan siapakah penderita itu. Tetapi setiap penderitaan harus mendapat pertolongan.”

“Sudah aku katakan, Ngger, apabila aku sembuh pun, aku pasti hanya akan naik ke tiang gantungan.”

“Tidak, tidak Kek. Aku akan menjadi tanggungan, sebab kakek telah menolong aku, melepaskan aku dari tangan Sidanti.” Wuranta tidak menunggu jawaban orang tua itu. Segera ia berdiri dan berkata kepada isteri laki-laki yang terluka itu, “Aku akan memanggilnya. Tunggulah disini, Nek. Berilah kakek harapan supaya ia dapat menahankan diri, sementara aku memanggil Ki Tanu Metir.”

Perempuan tua itu mengangguk lemah. Dari matanya masih saja meleleh butiran-butiran air mata yang bening.

Wuranta itu pun kemudian melangkah dengan tergesa-gesa. Ketika terlihat olehnya prajurit pengawal, maka ia berkata, “Jangan kau ganggu mereka.”

“Mereka harus segera dikumpulkan di antara orang-orang yeng terluka.” jawab prajurit itu.

Wuranta mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling dilihatnya nenek tua itu masih memeluk suaminya sambil menangis. Karena itu maka ia pun kamudian menjawab, “Jangan. Laki-laki itu jangan disentuh.”

“Kami mendapat perintah,” jawab prajurit itu.

“Khusus bagi laki-laki tua itu. Ia adalah kakekku. Aku sendirilah yang akan mengobatinya. Kemudian terserah kepadamu, apakah yang seharusnya kau lakukan terhadapnya.”

Prajurit itu terdiam sejenak. Kawan-kawannya yang mengumpulkan orang-orang yang terluka serta mengumpulkan mayat-mayat telah hampir selesai. Sebagian dari mereka kini sudah mulai memilih, memisahkan mayat-mayat orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang dari prajurit-prajurit Pajang. Mayat prajurit-prajurit Pajang yang gugur mereka kumpulkan semuanya di halaman banjar padepokan Tambak Wedi.

“Nah, tolong,” berkata Wuranta kemudian, “awasi kedua orang tua itu. Jangan diganggu dan jangan dipindahkan dahulu. Aku akan memanggil Ki Tanu Metir.”

Prajurit itu tidak sempat menjawab. Wuranta segera melangkahkan kakinya menuju ke banjar padepokan.

Namun sejenak langkahnya menjadi ragu-ragu. Ia tidak ingin bertemu dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Ia sudah menolak ajakan Ki Tanu Metir untuk pergi ke banjar.

“Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Kini ia berdiri selangkah dari dinding belakang banjar padepokan. Sekali lagi ia dicengkam oleh keragu-raguan.

“Tidak,” desisnya, “aku tidak akan pergi ke banjar itu. Aku tidak ingin bertemu dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Aku tidak ingin datang kepada Untara. Biarlah ia yang dahulu mencari aku. Tidak.”

Wuranta melangkah selangkah surut. Ketika ia memutar tubuhnya, maka terhalang kembali di ruang matanya, seorang laki-laki tua yang terbaring di emper rumah di halaman sebelah. Terbayang pula seorang perempuan tua yang menangisinya. Perempuan yang tidak saja bersedih karena suaminya berada di ambang pintu maut, tetapi perempuan itu juga dicengkam oleh ketakutan pada hari-harinya sendiri. Hari-harinya yang mendatang.

Kini Wuranta itu berdiri seperti sebatang tonggak mati. Ia benar-benar berada di dalam keragu-raguan yang sangat. Apakah ia harus menemui Ki Tanu Metir di banjar untuk memintanya mengobati kakek tua yang terluka itu, atau tidak. Kalau tidak, maka laki-laki itu pasti akan mati, tetapi kalau ia melangkah terus ke banjar padepokan, maka hatinya pasti akan menjadi semakin pedih.

Dalam kebimbangan itu tiba-tiba Wuranta mendengar tangis seorang perempuan. Ia terkejut. Namun kemudian disadarinya bahwa tangis itu bukan tangis perempuan tua yang menangisi suaminya. Tangis itu datang dari banjar padepokan. Namun tangis itu telah mempertebal ingatannya tentang perempuan tua yang duduk bprsimpuh di samping suaminya yang telah berada di ujung maut.

Dengan demikian maka pergolakan perasaan di dada Wuranta menjadi semakin dahsyat, dibakar oleh kebimbangan. Sekali-sekali ia menggeram. Dan kemudian berdiri lesu dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

Senja semakin lama menjadi semakin kelam. Perlahan-lahan angin lereng yang silir bertiup mengusap tubuhnya.

Tiba-tiba Wuranta itu menggeretakkan giginya. Sambil mengepalkan tangannya ia menggeram, “Aku akan menemui Ki Tanu Metir. Persetan dengan Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan Untara. Aku akan berusaha menyelesaikan kedua orang tua itu.”

Wuranta itu kemudian telah membulatkan hatinya. Ia berhasil melepaskan tekanan perasaan tentang diri sendiri. Ia tidak dapat mengelakkan perasaannya tentang kedua suami isteri tua yang kini sedang disentuh oleh ketakutan dan kecemasan, apalagi atas tekanan jari-jari maut.

Dengan mengatupkan giginya rapat-rapat, Wuranta meloncati dinding halaman belakang banjar padepokan Tambak Wedi. Kemudian dengan tergesa-gesa ia melangkah menuju ke banjar. Ketika seseorang prajurit menegurnya, Wuranta sama sekali tidak mau berhenti.

“He tunggu,” berkata prajurit itu.

Wuranta mempercepat langkahnya. Sinar pelita dari pendapa banjar telah dilihatnya.

“Berhenti!” tegur prajurit itu.

Wuranta berjalan terus. Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke sisi banjar. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika prajurit yang lain tiba-tiba saja seolah-olah jatuh dari langit, telah berdiri di hadapannya. Dengan pedang telanjang prajurit itu berkata, “Kau tidak menurut perintah prajurit yang sedang berjaga-jaga di halaman belakang. Siapakah kau?”

Sebelum Wuranta menjawab, ia sempat melihat prajurit yang menegurnya telah berdiri di sampingnya. Dengan muka merah prajurit itu membentak, “Apakah aku perlu menghentikanmu dengan kekerasan he?”

“Kalau itu yang kau anggap baik, maka lakukanlah,” sahut Wuranta.

Terdengar gigi prajurit itu beradu. “Siapa kau?” bentaknya.

Hati Wuranta yang sedang kalut itu menjadi terbakar kembali oleh perasaannya yang sudah hampir padam. Perasaan kecewa, marah, rendah diri dan bermacam-macam lagi, yang tersalur dalam ujud yang lain. Justru karena itu maka ia menjawab sambil menengadahkan wajahnya, “Bertanyalah kepada Untara, siapakah aku.”

Sejenak kedua prajurit yang menghentikannya itu saling berpandangan. Jawaban itu ternyata telah mempengaruhi perasaan mereka. Namun demikian mereka sedang berada di dalam kewajiban, sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Aku bertanya kepadamu. Tidak kepada Ki Untara. Siapakah kau?”

Dada Wuranta menjadi pepat. Serasa dada itu akan meledak. Namun ia tidak dapat berbuat lain dari menyebut namanya “Aku Wuranta, anak Jati Anom, Nah, kau dengar?”

Prajurit-prajurit Pajang itu mengerutkan kening mereka. Sejenak mereka saling berpandangan. Ternyata meskipun mereka termasuk di antara prajurit-prajurit Pajang yang belum pernah melihat Wuranta, namun mereka telah mendengar nama itu. Nama yang saat itu sering disebut-sebut oleh prajurit Pajang. Mereka mengenal Wuranta sebagai seorang anak Jati Anom yang dengan suka-rela membantu mereka, mengetahui keadaan padepokan Tambak Wedi.

Meskipun demikian sikap anak muda itu sama sekali tidak menyenangkan kedua prajurit itu. Bagaimanapun juga pentingnya kedudukan seseorang, namun mereka harus menyatakan diri sejelas-jelasnya kepada setiap petugas. Sehingga sikap Wuranta itu telah menimbulkan kebimbangan para prajurit itu.

“Nah, apakah kalian telah mendengar namaku?” tiba-tiba Wuranta berkata, “Sekarang aku akan bertemu Untara.”

“Ah,” salah seorang prajurit itu hampir-hampir tidak dapat mengendalikan dirinya, dan yang seorang menyambung, “Ki Sanak, siapa pun juga kau, bahkan Ki Untara sendiri, harus berhenti apabila seorang petugas menghentikannya di tempat semacam ini. Bahkan seandainya yang lewat ini Panglima Wira Tamtama sekalipun. Aku yakin bahwa mereka mengerti apa yang sedang kami lakukan dan apa yang harus mereka lakukan. Tetapi jangan menganggap kami tidak berarti. Kami tahu, bahwa kami tidak sepantasnya mensejajarkan diri dengan kau, Ki Sanak. Kami telah mendengar nama Wuranta dari Jati Anom, meskipun baru sekarang kami melihat wajah Ki Sanak. Namun sikap Ki Sanak dapat menumbuhkan kekecewaan di hati kami.”

“Terserahlah kepada kalian. Pandangan kalian terhadap aku sama sekali tidak merubah sikapku, sifatku dan watakku. Inilah Wuranta. Baik atau jelek, inilah keadaannya.”

Kedua prajurit itu sekali lagi saling berpandangan. Seandainya yang berdiri di depan mereka itu bukan Wuranta, anak Jati Anom yang mereka anggap telah membantu mereka menyelesaikan pekerjaan yang berat ini, maka sikap mereka akan lain. Mereka menyesal bahwa mereka telah lebih dahulu mendengar tentang Wuranta. Seandainya belum, maka tindakan yang mereka lakukan atas anak yang mereka anggap sombong itu tidak akan dapat disalahkan oleh siapa pun. Bahkan kedua pradiurit itu mengharap, mudah-mudahan Wuranta bertemu dengan orang-orang yang belum mengenalinya dan belum mendengar namanya.

Kedua prajurit itu sama sekali tidak menegurnya lagi. Bahkan ketika Wuranta berkata kepada mereka, “Aku akan berjalan terus. Tak ada kepentinganku dengan kalian,” kedua prajurit itu bersikap acuh tak acuh saja. Mereka memalingkan wajah-wajah mereka dan berjalan menjauhinya tanpa menjawab sepatah kata pun.

Melihat sikap keduanya justru Wuranta-lah yang tertegun sejenak. Tetapi ketika teringat olehnya laki-laki tua dan isterinya yang menunggunya, maka kemarahannya ditahankannya. Namun di dalam hati ia berkata, “Oh, kedua pradiurit itu belum mengenal Wuranta. Tanpa Wuranta mereka tidak berarti apa-apa lagi.”

Kemudian dengan tergesa-gesa Wuranta meninggalkan kedua prajurit itu dengan wajah bersungut-sungut. “Aku tidak memerlukan kalian. Aku memerlukan Ki Tanu Metir.”

Tetapi ketika hatinya berdesis tentang orang tua itu, tentang dukun yang baik itu, maka kesadarannya kembali merayapi dadanya. Kesadaran tentang diri sendiri dan kesadaran tentang keadaan seluruhnya di dalam padepokan ini.”

“Oh,” desahnya. Tanpa dikehendakinya ia berpaling ke arah kedua prajurit itu. Di dalam dadanya menjalarlah perasaan sesal dan bahkan malu atas sikapnya sendiri. Namun kedua prajurit itu sudah tidak dilihatnya. Mereka telah hilang di dalam gelap.

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Terasa kepedihan yang sangat menyentuh dadanya.

Ketika ia menjadi semakin dekat dengan pendapa banjar padepokan maka hatinya menjadi kian berdebar-debar. Kini ia merasakan sekali lagi pertentangan di dalam dirinya. Apakah ia akan berjalan terus, atau mengurungkan niatnya. Betapa ia mencoba mempergunakan nalarnya, tetapi ia berniat untuk sama sekali tidak ingin bertemu dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

“O,” Wuranta mengeluh “alangkah kacaunya perasaanku. Aku akan dapat menjadi gila karenanya.”

Meskipun demikian ia melangkah maju. Kalau-kalau ia melihat seseorang. Kalau-kalau ia melihat Ki Tanu Metir.

Di muka pendapa banjar itu beberapa orang prajurit dan perwira Pajang masih sibuk dengan tugas masing-masing. Beberapa orang berjalan hilir-mudik. Yang lain berdiri berbicara di antara mereka.

Sedang di muka regol Wuranta melihat prajurit-prajurit yang sedang berjaga-jaga. Kalau mereka melihatnya, maka mereka pasti akan menanyakan kepadanya tentang dirinya seperti prajurit yang lain. “Aku harus bersikap baik,” desisnya. “Prajurit-prajurit itu tidak tahu-menahu tentang aku dan kesulitanku.”

Beberapa saat Wuranta masih berdiri di kegelapan. Ketika ia melihat orang yang sibuk memisahkan orang-orang yang terluka berat dan yang agak ringan digandok sebelah pendapa itu, maka dilihatnya orang tua yang dicarinya. Ternyata Ki Tanu Metir sebagai seorang dukun tidak dapat duduk diam di dalam pringgitan. Sebagai seorang dukun ia terdorong oleh panggilan hatinya untuk ikut serta meringankan penderitaan orang-orang yang terluka.

Demikian melihat Ki Tanu Metir, maka hati Wuranta sudah tidak tertahankan lagi. Dengan serta-merta ia berjalan mendekatinya. Beberapa orang prajurit dan perwira yang melihatnya sejenak tertegun diam. Namun kemudian seorang daripadanya bergerak untuk menyusulnya. Tetapi seorang perwira berkata, “Biarkan. Itu adalah Wuranta, anak Jati Anom.”

Prajurit itu berhenti, dan dibiarkannya Wuranta mendekati Ki Tanu Metir yang sedang sibuk.

Ki Tanu Metir berpaling ketika ia merasa pundaknya digamit oleh seseorang. Ternyata yang berdiri di belakangnya adalah Wuranta, sehingga dengan serta-merta orang tua itu berkata, “He, kaukah itu, Ngger? Aku senang sekali melihat kau merubah pendirianmu. Ternyata kau mau datang ke banjar ini. Marilah, Swandaru dan Agung Sedayu berada di dalam banjar.”

“Maaf, Kiai,” sahut Wuranta, “aku tidak akan menemui siapa pun di sini kecuali Kiai.”

“Aku?”

“Ya.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Wajahnya memancarkan pertanyaan yang bergelut di dalam hatinya.

“Aku memerlukan Kiai.”

“O, barangkali Angger ingin mendapatkan obat bagi luka Angger itu? Apakah luka itu berdarah lagi?”

“Lukaku sudah sembuh, Kiai. Aku sudah tidak merasakan sakit sama sekali. Tetapi aku memerlukan Kiai untuk seorang kakek yang terluka.”

“Siapakah orang itu?”

“Seorang laki-laki tua dari Tambak Wedi ini.”

“Kenapa?”

“Orang itu terluka di lambungnya, Kiai. Lukanya cukup berat. Aku ingin minta Kiai mengobatinya.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Aku juga sedang mengobati luka-luka, Ngger. Orang Pajang, orang Jipang, dan orang Tambak Wedi.”

“Luka itu terlampau berat Kiai. Luka itu sangat membabayakan jiwanya. Jiwa orang tua itu.”

“Ya,” Ki Tanu Metir berdesah “di sini pun orang-orang yang terluka itu segera memerlukan pertolongan. Jiwa mereka juga terancam. Karena itu, Ngger, mari silahkan duduk di dalam. Angger Untara aku kira sudah berada di dalam pula bersama Swandaru dan Agung Sedayu. Nanti sesudah aku menolong orang-orang di sini bersama beberapa orang yang bertugas, aku akan pergi bersama Angger.”

“Tidak, Kiai. Aku harap Kiai pergi sekarang. Di sini telah banyak orang yang merawat orang-orang yang terluka. Apabila Kiai telah meninggalkan obat bagi mereka, maka Kiai akan dapat meninggalkan mereka.”

“Aku belum memberikan obat apa-apa, Ngger. Aku masih belum sempat membuat. Yang ada adalah obat persediaan dari pasukan Pajang sendiri. Yang dibuat oleh para dukun di Pajang itulah yang kami pergunakan sekarang. Di tempat-tempat lain, obat-obat semacam ini pula yang dipergunakan, sehingga laki-laki tua yang Angger maksud itu pasti akan mendapat perawatan yang serupa oleh petugas-petugas di tempat itu, meskipun ia seorang dari Tambak Wedi.”

“Tidak, Kiai. Ia sama sekali belum mendapat perawatan. Lukanya parah. Mungkin orang itu kehabisan darah. Aku telah mencoba mengobati lukanya dengan sisa obat yang Kiai berikan kepadaku. Tetapi obat itu tinggal sedikit, sehingga tidak begitu bermanfaat lagi bagi lukanya.”

“Maaf, Ngger, nanti aku akan datang. Di sini orang-orang yang terluka parah, dan segera harus mendapat pertolongan terlampau, banyak. Aku akan menolong mereka, dan kemudian aku akan pergi kepada laki-laki tua yang Angger maksud.”

“Kiai,” Wuranta mulai menjadi cemas, “kalau Kiai tidak segera datang, laki-laki tua itu pasti akan mati. Laki-laki itu adalah laki-laki yang lelah menolongku. Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin menginjakkan kakiku di banjar ini, bertemu dengan para prajurit yang selalu marah-marah dan merendahkan aku. Aku tidak ingin bercermin atas kekerdilanku. Tetapi aku terpaksa, Kiai, karena aku memikirkan orang itu. Aku korbankan perasaan tentang diriku sendiri, karena aku tidak sampai hati melihat orang tua itu menderita. Kiai, apabila laki-laki itu tidak memberi kesempatan aku lari dari tahanan Sidanti, maka akhir dari peperangan ini pun akan berbeda, sebab aku tidak akan sempat memberitahukan kepada Kiai apa yang telah terjadi. Dan aku tidak akan dapat memenuhi perintah Kiai untuk pergi ke Jati Anom. Mungkin aku pernah menceritakannya kepada Kiai, bahwa seorang kakek yang pernah memberikan tempat kepadaku tinggal di padepokan ini, dan kemudian mendapat perintah untuk menangkap aku, tetapi kemudian memberi jalan kepadaku untuk melarikan diri.”

“Ya, ya Ngger, kau pernah mengatakannya.”

“Nah laki-laki tua itulah yang kini terluka. Bahkan keadaannya telah menjadi terlampau gawat. Aku mencegah ketika beberapa orang akan mengambilnya dan mengumpulkannya dengan orang-orang yang lain, sebab aku berpengharapan bahwa aku akan dapat berusaha untuk setidak-tidaknya membalas budi, memanggil Kiai kepadanya. Sebab aku sendiri memang terlampau dungu untuk berbuat sesuatu.”

Ki Tanu Metir menarik nafas. Alisnya yang telah satu-dua ditumbuhi rambut-rambut yang berwarna putih tampak bergerak-gerak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia kemudian berkata, “Apakah Angger ingin aku datang kepadanya sekarang?”

“Ya.”

Ki Tanu Melir terdiam sesaat. Ia dapat membayangkan perasaan Wuranta. Anak muda itu sama sekali sudah tidak ingin datang ke banjar ini karena perasaannya yang tidak menemukan keseimbangan. Sikapnya sebagai seorang anak muda yang masih terlampau banyak dipengaruhi oleh darah mudanya. Tetapi perasaan itu telah dikorbankan karena seorang laki-laki tua yang terluka.

Namun orang tua yang terluka itu ternyata telah menolong jiwa Wuranta, dan memungkinkan Wuranta melakukan tugas-tugas terakhirnya menjelang benturan antara orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi.

Karena itu, maka Ki Tanu Metir itu kemudian menjawab, “Baiklah, Ngger, aku pergi bersamamu. Tetapi apakah angger, tidak ingin singgah sebentar di banjar ini untuk bertemu dengan Angger Untara, Swandaru, dan Agung Sedayu? Mungkin ada sesuatu yang ingin mereka katakan kepadamu?”

Tetapi Wuranta itu menggeleng sambil berkata, “Tidak, Kiai. Orang yang luka itu segera memerlukan pertolongan.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian diselesaikannya pekerjaannya atas seorang yang terluka, yang sudah terlanjur dimulainya. Kemudian kepada salah seorang prajurit Pajang yang bertugas menolong para korban itu Ki Tanu Metir berkata, “Angger, aku akan pergi sebentar. Ada orang terluka yang sangat memerlukan aku.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Di sekitarnya terbaring banyak sekali orang-orang yang terluka. Tetapi seseorang yang terluka telah menunggu orang tua itu.

Agaknya Ki Tanu Metir dapat meraba apa yang tersirat di dalam hati prajurit itu. Maka ia menjelaskannya, “Angger, agaknya orang-orang yang terbaring di sini akan segera mendapat perawatan dari para prajurit yang bertugas untuk itu, sedang orang yang dikatakan oleh Angger Wuranta ini adalah seorang yang terbaring di halaman, yang tidak akan segera ditolong oleh para petugas. Maka aku akan mencoba menolongnya apabila mungkin.”

“Kenapa orang itu tidak dibawa kemari, atau dikumpulkan di tempat terdekat? Dengan demikian maka ia pun akan mendapat pertolongan serupa dengan yang lain.”

Sebelum Ki Tanu Metir menjawab, maka Wuranta telah mendahului, “Apa pedulimu? Orang yang terluka itu sama sekali bukan urusanmu. Sedang pekerjaan ini adalah pekerjaanmu, bukan pekerjaan Ki Tanu Metir.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Dengan dada yang bergelora ia berkata, “Siapa kau?”

Sebelum Wuranta menjawab, Ki Tanu Metir telah mendahului, “Angger Wuranta. Namanya Angger Wuranta. Bukankah begitu?”

Ketika Wuranta memandangi wajah Ki Tanu Metir yang dalam namun penuh dengan ketenangan yang serasa menghunjam jantungnya, tiba-tiba Wuranta menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata, “Maaf, maaf.”

Prajurit itu mendengar suara Wuranta yang lambat itu. Tumbuhlah keheranan di dadanya. Apakah gerangan yang telah terjadi atas anak muda yang bernama Wuranta itu? Tetapi prajurit yang sehari-hari memang bertugas mengurusi orang-orang yang terluka itu mencoba untuk memahami sikap, sifat, dan keadaan orang-orang di dalam peperangan. Mereka kadang-kadang menjadi seorang yang aneh. Pemarah, kasar, dan kadang-kadang tidak dapat dipahami.

“Nah,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “maaf, Ngger. Aku akan pergi bersama Angger Wuranta sejenak. Aku akan segera kembali dan membantu Angger menolong orang-orang yang terluka. Apabila aku tidak segera datang, maka aku telah melakukannya pula di tempat yang lain. Bagiku sama saja, di sini, di rumah sebelah, di halaman dan di mana saja aku menjumpai orang-orang yang terluka.”

“Baiklah, Kiai,” sahut prajurit itu. Tetapi sekali lagi ia mencoba memandangi wajah Wuranta yang tunduk. Wajah itu membawa seribu macam kesan yang campur-baur. Dan prajurit yang bertugas menolong orang-orang yang terluka itu tidak dapat menebak, apakah yang sedang bergulat di dalam dada Wuranta sebenarnya.

Sesaat kemudian Ki Tanu Metir itu pun telah mengikuti Wuranta turun ke halaman. Para prajurit dan perwira yang masih berada di halaman dan yang berjalan hilir mudik di pendapa, melihat mereka berdua berjalan melintasi halaman banjar. “Mereka sama sekali tidak singgah untuk menemui Untara atau Swandaru atau Agung Sedayu. Bahkan mereka berjalan tergesa-gesa seperti takut kemalaman.”

Wuranta membawa Ki Tanu Metir berjalan lewat jalan yang dilaluinya. Melintasi kebun dan halaman-halaman di belakang. Sekali mereka berpapasan dengan prajurit yang menghentikan Wuranta ketika ia pergi kebanjar. Prajurit itu segera memalingkan wajahnya dan berjalan menjauh. Tampaklah dalam sikapnya, betapa ia merasa tersinggung atas kata-kata Wuranta.

Semakin dekat dengan tempat kakek yang terbaring luka, Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Senja kini telah menjadi semakin malam. Di sana-sini tampak sinar obor yang dipasang oleh para prajurit Pajang. Tidak saja di rumah-rumah yang dipergunakan, tetapi juga di halaman-halaman.

Di dalam keremangan cahaya obor, Wuranta tidak dapat segera melihat, apakah laki-laki tua yang ditinggalkannya masih terbaring di tempatnya.

Ketika ditemui prajurit yang berjalan hilir-mudik mengawal halaman itu, terbata-bata Wuranta bertanya, “Apakah kakek masih di tempatnya?”

“Masih. Tetapi tidak seorang pun yang merawatnya, sebab ia tidak berada di tempat yang telah disediakan. Aku mencegah para petugas yang akan mengambil mereka seperti yang kau pesankan.”

“Terima kasih,” desis Wuranta sambil meloncat ke emper tempat laki-laki tua itu terbaring. Ketika ia berdiri beberapa langkah lagi, maka ia masih melihat bayangan kehitam-hitaman di dalam cahaya yang terlampau lemah dari obor di kejauhan.

“Kakek,” Wuranta tidak sabar sampai ia berdiri di dekat orang yang terbaring itu.

“Kakek,” Wuranta mengulang, tetapi tidak ada jawaban.

Akhirnya Wuranta berdua bersama Ki Tanu Metir telah berdiri di samping kedua tubuh itu. Wuranta masih melihat nenek itu memeluk suaminya dan meletakkan kepalanya di dada laki-laki yang terbaring itu.

“Kakek,” panggil Wuranta perlahan-lahan. Tak ada jawaban.

“Nenek,” panggilnya pula. Tidak juga ada jawaban. Hati Wuranta menjadi berdebar-debar. Sejenak ia berpaling kepada Ki Tanu Metir yang berdiri di sampingnya.

“Inilah, Kiai, suami isteri yang aku katakan. Kakek terluka di lambungnya.”

Perlahan-lahan Ki Tanu Metir berjongkok di samping kedua orang itu. Orang yang telah cukup berpengalaman itu sama sekali tidak menyentuhnya. Perlahan-lahan ia menggelengkan kepalanya sambil berdesis dalam sekali, “Kita telah terlambat, Ngger.”

Kata-kata Ki Tanu Metir itu terdengar seperti ledakan petir yang menyambar tengkuk Wuranta. Sejenak ia berdiri mematung, sedang mulutnya terkatup rapat-rapat. Tanpa berkedip ia memandang Ki Tanu Metir dengan sorot mata yang aneh.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. “Keduanya telah meninggal, Ngger.”

“Kiai,” hanya itu yang terlontar dari mulut Wuranta.

“Ya,” Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak Wuranta masih mematung. Namun tiba-tiba ia berjongkok di samping mayat kedua suami isteri itu. Seperti orang yang kehilangan akal Wuranta. Menggoncang-goncangnya dan memanggil-manggilnya, “Kakek, Kakek.”

Tetapi kakek tua itu sama sekali tidak menjawab. Bahkan bergerak pun tidak.

Wuranta masih juga tidak percaya pada penglihatannya. Kini ia menggoncang nenek tua yang seolah-olah sedang menangisi suaminya dengan meletakkan kepalanya di dada laki-laki itu.

“Nenek, Nenek,” panggil Wuranta. Nenek tua itu pun tidak menjawab.

Terasa dada Wurantu seakan-akan menjadi pecah karenanya. Nafasnya terengah-engah dan urat-urat di keningnya menegang.

“Kiai, apakah mereka berdua telah benar-benar meninggal?”

“Ya, Ngger, keduanya telah meninggal.”

“Oh, apakah Kiai tidak dapat berbuat apa-apa. Kenapa Kiai hanya diam saja?”

“Apakah yang harus aku lakukan? Terhadap mereka aku tidak kuasa berbuat apa-apa.”

“Tidak, Kiai. Mereka belum meninggal. Aku meninggalkan mereka di sini belum begitu lama. Mereka berdua masih hidup dan mereka masih bercakap-cakap.”

“Mungkin, Ngger, tetapi sekarang mereka telah meninggal.”

“Berbuatlah sesuatu, Kiai, berbuatlah sesuatu.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada yang berat ia menjawab, “Sayang, tidak ada seorang manusia pun yang mampu berbuat sesuatu atas mereka.”

“Oh, bohong, bohong. Kiai tidak mau menolongnya karena ia bukan prajurit Pajang, bukan orang Sangkal Putung dan bukan pula pembantu Untara. Orang itu adalah orang Tambak Wedi.”

“Anakmas Wuranta,” desis Ki Tanu Metir “aku tidak pernah membedakan orang mana pun juga dan dalam keadaan apa pun juga. Apabila orang itu terluka, apalagi dalam keadaan parah, maka aku wajib menolongnya. Tetapi aku, dan siapa pun juga, tidak akan dapat berbuat sesuatu atas orang ini. Mereka telah meninggal dunia.”

“Oh,” kata-kata Wuranta terputus. Dan tanpa disangka-sangka oleh Ki Tanu Metir maka Wuranta itu pun terisak. Anak muda itu menangis. Ia merasa kehilangan seorang yang telah menolongnya. Seorang yang baik, yang paling baik yang pernah dikenalnya. Yang tidak merendahkannya, baik dengan kata-kata mau pun dengan perbuatan. Wuranta yang merasa dirinya tidak berharga di mata orang-orang Pajang setelah pertempuran berakhir, sama sekali merasa tidak mempunyai seorang kawan pun di padepokan Tambak Wedi. Kakek tua itu pasti akan menjadi orang yang baik untuk mengawaninya. Terhadap kakek tua dari Tambak Wedi yang telah dikalahkan itu, Wuranta sama sekali tidak merasa dirinya terlampau rendah.

Tetapi kakek tua itu kini telah mati.

Ki Tanu Metir kini berdiri termangu-mangu melihat sikap Wuranta. Ia menangisi laki-laki tua dari Tambak Wedi itu. Ki Tanu Metir pun merasa iba dan terharu melihat suami isteri yang meninggal bersama-sama. Ia dapat menduga, bahwa isterinya menjadi sangat terkejut melihat suaminya meninggal, kemudian karena kejutan perasaan itu, kejutan yang tidak tertahankan oleh jantungnya yang lemah, maka ia pun meninggal juga.

Tetapi bahwa Wuranta sampai menangis, ternyata benar-benar telah menyentuh perasaannya.

“Mungkin Angger Wuranta merasa berhutang budi kepadanya,” berkata Ki Tanu Metir di dalam hatinya. “Laki-laki tua itu adalah orang yang telah menolongnya, membebaskannya dari tangan Sidanti. Mungkin, ya mungkin. Anak mas Wuranta belum sempat membalas budi itu, dan laki-laki itu telah meninggal bersama isterinya.”

Ki Tanu Metir itu terperanjat ketika ia melihat tiba-tiba Wuranta berdiri. Dengan gigi gemeretak ia menggeram, “Kiai, lihat. Inilah salah satu wajah dari tindakan prajurit Pajang atas Tambak Wedi. Suami isteri yang telah lanjut, mati bersama-sama. Alangkah mengerikan.”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Hanya keningnya sajalah yang berkerut.

“Apakah Kiai tidak terharu melihatnya? Mungkin Kiai telah terlalu sering melihat kematian. Justru Kiai adalah seorang dukun. Seperti seorang pande besi menghadapi sepotong besi merah saja agaknya. Kiai menghadapi orang-orang sakit. Kalau Kiai berhasil demikianlah yang Kiai kehendaki, seperti pande sedang membuat pedang. Kalau pedang itu gagal, maka Kiai tidak begitu menyesal karenanya. Bagi Kiai kegagalan itu adalah suatu keadaan yang wajar dan terlampau biasa. Tetapi sepotong besi akan dapat dibakar untuk kedua kalinya, meskipun untuk alat-alat yang lain. Sedang kematian adalah jauh berbeda daripadanya. Kiai harus menyesal sekali, Kiai harus terharu dan berduka cita. Apakah hati Kiai telah membeku karena terlampau sering melihat kematian? Dan kegagalan yang demikian adalah suatu peristiwa yang wajar tanpa suatu kesan apa pun di hati Kiai?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Dibiarkannya saja anggapan anak muda itu atas dirinya. Kalau ia membantah, maka hati anak muda itu akan menjadi semakin terbakar. Meskipun demikian ia terpaksa bertanya kepada Wuranta, “Apakah prajurit Pajang yang telah membunuhnya?”

Pertanyaan itu membuat Wuranta terdiam sesaat. Dahinya yang mengkilat oleh keringat tampak berkerut-merut. Ditatapnya wajah Ki Tanu Metir dengan tajamnya. Namun ketika pandangan mata mereka bertemu, cepat-cepat Wuranta berpaling.

Tetapi untuk menutupi kekecilan diri segera ia berkata lantang, “Apakah bedanya? Siapapun yang telah membunuh kakek tua ini, namun ini adalah akibat dari peperangan.”

“Ya, peperangan memang selalu berakibat buruk. Tetapi siapakah yang telah membunuhnya? Prajurit Pajang?”

Akhirnya Wuranta terpaksa menggeleng lemah, “Tidak, Kiai. Kakek dibunuh oleh orang-orang Jipang dalam perselisihan yang terjadi sebelum prajurit Pajang datang.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi yang membunuh laki-laki tua itu sama sekali bukan prajurit Pajang?”

“Apa bedanya?” tiba-tiba nada suara Wuranta meninggi. “Apa bedanya Kiai? Di halaman ini, di halaman banjar dan sekitarnya, bertebaran mayat orang-orang Tambak Wedi. Mereka sebagian mati karena ujung senjata orang-orang Pajang. Meskipun orang-orang Pajang tidak membunuh kakek tua ini, tetapi orang-orang lain dibunuhnya. Orang-orang lain yang beranak dan beristeri pula. Mereka mati meninggalkan anak dan isterinya dalam penderitaan dan kesedihan.” Wuranta berhenti sejenak. Wajahnya tampak semerah tembaga dalam keremangan cahaya obor di kejauhan. “Kiai, aku menyesali bahwa aku telah melakukan pekerjaan yang Kiai rencanakan. Pekerjaan itu hampir membunuhku. Ketika aku terlepas dari maut maka akibat dari pekerjaanku adalah ini,” Wuranta menunjuk laki-laki tua itu beserta isterinya. “Bukan saja sepasang suami isteri, tetapi berpuluh-puluh. Sebaiknya aku tidak melakukannya, dan pepati ini pasti akan terhindar. Aku tidak usah turut campur segala macam persoalan di dalam padepokan ini. Seandainya aku diam saja, tidak memberitahukan kepada orang-orang Sidanti, bahwa Alap-alap Jalatunda memasuki rumah tempat Sidanti menyimpan Sekar Mirah, maka orang-orang Jipang tidak akan saling membunuh dengan orang-orang Tambak Wedi.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, “Lalu Angger akan membiarkan saja tingkah laku Alap-alap Jalatunda itu?”

“Apa peduliku. Korban dari peristiwa itu hanyalah seorang gadis saja. Sekar Mirah. Tetapi sekarang? Korban berjatuhan tidak terbilang.”

“Tidak akan jauh berbeda, Ngger. Sekar Mirah akan mengatakan kepada Sidanti apa yang terjadi. Dan pertempuran antara mereka tidak akan terhindar.”

“Belum pasti. Kalau Alap-alap Jalatunda membunuh Sekar Mirah, maka rahasia itu akan tetap tidak terbuka.”

Dada Ki Tanu Metir berdesir mendengar kata-kata Wuranta, bahkan seluruh bulu-bulunya meremang. Sejenak orang tua itu terdiam. Sesuatu bergelora di dalam hatinya. Dahsyat sekali. Tetapi wajah orang tua itu sama sekali tidak membayangkan perasaannya. Dengan susah payah, Ki Tanu Metir mencoba untuk menyembunyikan getar jantungnya. Apalagi ketika Wuranta berkata, “Kiai, ternyata apa yang telah aku lakukan dengan hampir saja mengorbankan nyawaku, dan sekarang ternyata telah menelan berpuluh jiwa di dalam peperangan ini hanyalah sekedar menyenangkan hati Agung Sedayu.”

“Ah,” terloncat suatu desah yang serta-merta dari mulut Ki Tanu Metir. Tetapi orang itu kemudian mencoba untuk diam.

“Lalu, apakah yang sebenarnya terjadi?” bertanya Wuranta. “Apakah Kiai dapat mengatakan lain daripada itu?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, ya Ngger. Angger benar. Peperangan ini telah membunuh berpuluh-puluh korban dari segala pihak. Terutama orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi. Ya, seandainya Sekar Mirah dikorbankan, maka keadaannya akan lain sekali, Ngger. Orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi tidak akan mengalami nasib sepahit ini.”

“Nah, bukankah Kiai mengakui?”

“Ya, ya Ngger. Aku sependapat,” Ki Tanu Metir terdiam sejenak, lalu ia meneruskan, “Tetapi, bagaimanakah kalau yang menjadi korban itu orang-orang Jati Anom? Apakah kira-kira akan menjadi lebih baik?”

Wuranta terkejut mendengar pertanyaan itu sehingga hampir-hampir ia terlonjak. Dengan sorot mata yang aneh ditatapnya wajah Ki Tanu Metir. Namun sekali lagi Wuranta melontarkan pandangan matanya jauh-jauh ketika pandangan mata mereka beradu.

“Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir, “peristiwa seperti yang dialami oleh Sekar Mirah akan dapat saja terjadi atas gadis-gadis Jati Anom. Seandainya benar terjadi demikian, dan gadis itu adalah adik Angger Wuranta, maka Angger pasti akan berpendapat lain. Tetapi adalah kebetulan sekali bahwa Angger Wuranta, anak Jati Anom, dapat membantu kami. Persoalannya tidak hanya sekedar Sekar Mirah, tetapi, bagaimanakah kalau kemudian orang-orang Jipang dan Tambak Wedi menjadi semakin kuat, dan dengan serta-merta sebagian dari mereka menduduki Jati Anom? Selama ini mereka hanya sekedar mendatangi kademangan itu, karena mereka tidak cukup kuat untuk mendudukinya dengan membagi pasukan. Tetapi suatu ketika maka sebagian dari mereka akan mengalir ke Timur, seperti bendungan yang penuh dan melimpah, menggenangi kademangan Jati Anom. Apabila anak-anak muda dan setiap laki-laki Jati Anom kemudian melakukan perlawanan setelah menghimpun diri, maka apa yang kita lihat sekarang adalah gambaran dari apa yang terjadi. Tetapi yang bergelimpangan di halaman, di jalan-jalan dan bahkan kakek-kakek tua dan nenek-nenek tua yang menjadi korban, adalah orang-orang Jati Anom. Orang-orang Tambak Wedi dan orang Jipang akan berada di pendapa kademangan, bertolak pinggang sambil memanggil setiap perempuan dan gadis-gadis cantik untuk memenuhi panggilan nafsu mereka beserta pasukan mereka. Begitu? Semua itu akan dapat terjadi. Dan aku sengaja tidak menyebut-nyebut nama Untara, Senapati Pajang yang mencoba dengan caranya membebaskan Sangkal Pulung dan kini Jati Anom dari bahaya orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi yang tamak.”

Wuranta berdiri tegak seperti patung batu. Setiap kata yang diucapkan oleh Ki Tanu Metir terasa bagaikan jarum yang langsung menusuk jantungnya. Pedih, namun Wuranta tidak dapa menghindarkan diri dari pengakuan atas kebenaran dari kata-kata itu. Bahkan sekali lagi hatinya yang gelap dan kehilangan keseimbangan itu dapat terbuka. Ia melihat di dalam angan-angannya. peristiwa yang mengerikan itu terjadi atas Jati Anom.

Kepala Wuranta itu pun kemudian tertunduk dalam-dalam. Pedih hatinya menjadi semakin pedih. Tetapi ia merasakan kebenaran dari kata-kata itu.

Wuranta melihat betapa besar kesalahan yang telah dilakukan. Namun yang tidak diharapkan oleh Ki Tanu Metir, Wuranta yang kecil itu ternyata merasa semakin kecil.

Dengan kata-kata yang hampir tidak sempat meloncat dari mulutnya Wuranta berkata, “Ya, Kiai. Aku merasakan kebenaran kata-kata Kiai. Kini semakin nyata bagiku, alangkah cupet budiku. Alangkah kerdilnya jiwaku. Aku tidak pantas berada di antara murid-murid Kiai, di antara orang-orang Pajang, bahkan di antara anak-anak muda Jati Anom sendiri. Meskipun baru terbatas pada angan-angan, namun aku telah berkhianat kepada murid-murid Kiai, kepada para prajurit Pajang dan kepada kampung halaman. Karena itu, maka aku tidak pantas lagi berada di antara mereka.”

“Angger Wuranta,” Ki Tanu Metir memotong kata-kata itu, “apakah maksud Angger?”

“Kesalahanku tidak dapat dimaafkan Kiai. Karena itu lebih baik bagiku untuk meninggalkan mereka yang telah aku khianati di dalam angan-angan. Kalau angan-angan itu terwujud dalam tindakan, alangkah mudahnya. Aku dapat segera dihukum mati. Tetapi pengkhianatan yang aku lakukan, baru aku sendirilah yang melihatnya, sehingga aku sajalah yang dapat menghukumnya.”

“Apakah yang akan Angger lakukan?”

“Pergi, Kiai. Kesalahanku telah bertimbun-timbun. Bahkan aku pula yang telah menyebabkan kematian kakek tua ini. Seandainya aku tidak menahannya karena aku ingin memanggil Kiai dan berbuat jasa kepada orang tua itu, maka aku kira pertolongan baginya tidak akan begitu lambat.”

“Ah,” Ki Tanu Metir berdesah “Angger terlampau perasa. Suatu goncangan telah mengejutkan perasaan Angger, sehingga Angger kehilangan keseimbangan. Dengarlah, Ngger, beberapa kali aku katakan, Angger kehilangan keseimbangan. Dalam keadaan demikian, janganlah Angger mencoba mengambil keputusan mengenai masalah yang penting.”

“Tidak, Kiai, aku tidak kehilangan keseimbangan. Mungkin sebelum aku mendengar keterangan Kiai tentang persoalan yang sedang aku hadapi. Tetapi sekarang aku telah mendapat keyakinan tentang diriku. Supaya aku tidak kehilangan keseimbangan lagi di antara orang-orang Sangkal Putung, para prajurit Pajang dan bahkan orang-orang Jati Anom sendiri, maka sebaiknya aku meninggalkan mereka.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin mengenal anak muda yang sedang dihadapinya. Anak muda yang sedang kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Anak muda yang sedang mengalami goncangan jiwa yang dahsyat.

“Anakmas Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir mencoba untuk menggugah kebanggaan atas diri sendiri, “memang kita harus menghargai setiap sumbangan bagi terbebasnya padepokan ini dari tangan orang-orang Jipang dan Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. Tetapi dari sekian banyak kebanggaan ini, maka Angger Wuranta-lah yang seharusnya paling berbangga atas segala hasil usaha dan perjuangannya.”

“Kiai mengulangi lagi hal itu? Kiai, hatiku telah berkeriput menjadi semenir. Apakah aku harus berkata dalam kegilaan seperti yang pernah aku ucapkan bahwa tanpa Wuranta padepokan ini tidak akan dapat dilepaskan dari tangan mereka.”

“Tidak, Ngger, juga bukan itu maksudku. Sekarang aku akan berkata wajar, seperti juga Angger sekarang memerlukan kewajaran. Memang Angger bukan satu-satunya pahlawan yang dapat merebut padepokan. Semuanya mempunyai sumbangan yang serupa, dan semuanya telah mempertaruhkan nyawa masing-masing. Bukankah begitu? Tetapi Angger masih mempunyai kebanggaan yang tidak dipunyai oleh orang lain, atau setidak-tidaknya lebih besar dari orang lain. Agung Sedayu mempertaruhkan nyawanya karena ia mempunyai pamrih yang jelas. Ia akan mendapatkan sesuatu setelah padepokan ini bedah. Seperti juga Swandaru berbuat demikian, karena ia ingin membebaskan adiknya. Sedang Angger Untara membawa pasukannya, bahkan para prajurit Pajang, bertempur dan mempertaruhkan nyawa mereka karena kewajiban. Kewajiban seorang satria. Nah, di sinilah kelebihan Angger. Angger dengan sukarela melakukan perjuangan ini. Angger tidak berkepentingan langsung dengan orang-seorang di dalam padepokan ini. Angger tidak mempunyai seorang adik atau saudara yang lain di dalam padepokan ini. Dan Angger bukan seorang prajurit. Inilah kelebihan Angger. Dan Angger harus berbangga karenanya. Angger tidak perlu merasa diri Angger terlampau kecil. Dalam bidang yang Angger lakukan, maka Angger adalah seorang yang besar, seperti Untara di dalam bidangnya. Ternyata tidak seorang pun dari pasukan sandi yang berhasil masuk. Pasukan sandi yang disusun oleh Untara, dan terlatih pula. Mereka hanya berbasil mendekati dan melihat padepokan ini dari luar. Tetapi Angger dapat masuk ke dalamnya, meskipun harus bertaruh nyawa. Nah, Angger harus melihat semuanya ini dengan wajar. Angger tidak boleh berkecil hati. Dan Angger tidak perlu merasa diri Angger terlampau kecil. Apalagi apabila Angger mengambil keputusan untuk meninggalkan Jati Anom.” Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Dibiarkannya kata-katanya mengendap di dalam hati anak muda itu.

Karena Wuranta tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir meneruskan, “Nah, lihatlah ke depan, ke hari depan yang terang bagimu dan bagi Jati Anom.”

Wuranta tidak menjawab. Tetapi terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Masa depannya dan masa depan Jati Anom memang masih cukup panjang Selama ini ia sudah mulai menginjakkan kakinya bagi pembinaan masa depan itu. Masa depannya dan masa depan Jati Anom. Bahkan sebelum padepokan Tambak Wedi menyatakan dirinya lepas dari kekuasaan Pajang, maka Wuranta telah mencbba untuk membentuk Jati Anom siap menyongsong masa depannya.

Tetapi yang terjadi terlampau cepat. Sebelum Jati Anom sempat berbuat sesuatu mereka telah dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak mungkin ditanggulangi. Sidanti, Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, bahkan kemudian Argajaya dan Ki Tambak Wedi sendiri, selalu menakut-nakuti kademangan yang belum berhasil menyusun diri itu, sehingga sebagian dari mereka terpaksa menyingkir dan menghimpun kekuatan di luar kademangan mereka. Anak muda Jati Anom yang dapat dibanggakan, Untara, ternyata memikul tugas terlampau berat untuk dapat membagi dirinya. Namun kini Untara itu berada di dalam lingkungannya kembali. Jati Anom dan anak-anak muda kawan bermain semasa kanak-anak. Tetapi kedudukan Untara telah membuat jarak antara anak-anak mada kawannya bermain semasa kanak-anak dengan dirinya. Jarak yang sebenamya tidak dikehendakinya sendiri.

Namun kesadaran, itu telah berhasil mencegah Wuranta semakin dalam terseret arus perasaannya. Terbayang kembali segalanya yang pernah dilakukannya. Terbayang kembali bagaimana Ki Tanu Metir mendorongnya untuk masuk ke dalam padepokan ini.

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun terbersit kata-kata di dalam hatinya, “Melarikan diri temyata memang bukan suatu penyelesaian. Apakah yang akan aku lakukan di pelarian itu? Tetapi untuk terus-menerus menyiksa diri adalah terlampau sakit.”

Angin malam berhembus menyapu lereng Merapi. Terasa digin mulai menyusup tulang. Di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menggonggong bersahut-sahutan. Seolah-olah mereka telah mencium bau darah yang sedang mengalir di padepokan Tambak Wedi.

Lamat-lamat suara burung hantu mengetuk hati. Sayu, seperti rintihan mereka yang sedang terluka.

Dalam kesepian itu Wuranta mampu melihat ke dalam dirinya sendiri. Meskipun ia menjadi ngeri melihat kenyataan itu, tetapi yang tampak padanya adalah terlampau jelas. Adalah terlalu dibuat-buat apabila ia merasa seolah-olah orang-orang Pajang kini mengesampingkannya bahkan merendahkan dan mengabaikannya setelah semuanya rampung dengan baik. Adalah terlalu dicari-cari apabila ia mengatakan bahwa Umara kini merasa dirinya terlampau besar sehingga tidak sempat lagi menemuinya.

Wuranta memejamkan matanya ketika mau tidak mau ia harus menghadapi pengakuan diri, bahwa alasan sebenarnya adalah hatinya yang pecah karena hubungan yang dilihatnya telah terjalin antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah, hatinya yang semakin parah ketika ia melihat kenyataan betapa jauhnya jarak antara dirinya dengan Agung Sedayu. Ia tidak akan dapat menyamainya dalam pacuan di segenap bidang. Berpacu merebut hati Sekar Mirah dan berpacu sebagai anak muda Jati Anom dihadapkan pada lawan-lawannya, meskipun ia tidak pernah berhasil melupakan, bahwa di masa kanak-kanak mereka, Agung Sedayu adalah seorang penakut yang cengeng.

Wuranta terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Bagaimana, Ngger? Kenapa Angger diam saja?”

“Oh,” Wuranta kini mengangkat wajahnya. Dalam keremangan cahaya obor yang kemerah-merahan, dilihatnya wajah Ki Tanu Metir yang sareh lunak. Betapa dalam dan lapangnya hati orang tua itu. Kesabarannya hampir tidak terbatas, seperti luasnya lautan tanpa tepi. Justru karena itu, maka kembali wajah Wuranta tertunduk. Tetapi kini ia menjawab, “Aku dapat mengerti, Kiai. Sekali lagi aku merasakan kekerdilan diri.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia mendengar kata-kata tiu diucapkan dengan wajar. Meskipun kata-kata itu searti, tetapi tidak senada.

“Jadi, apakah Angger tetap pada keputusan Angger itu?”

Wuranta ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Tidak Kiai. Aku tidak akan melarikan diri dari kepahitan ini.”

“Bagus,” dengan serta-merta Ki Tanu Metir menyahut sambil menepuk bahu anak muda itu. “Ternyata Angger Wuranta benar-benar berhati jantan.”

“Jangan memuji, Kiai. Hatiku telah luluh menjadi debu.”

“Tetapi aku masih melihat bara yang menyala di dalam dada Angger Wuranta, bukan sekedar debu. Nah, karena itu, marilah kita pergi ke banjar padepokan. Di sana Angger akan bertemu dengan Untara, Agung Sedayu, dan Swandaru dalam keadaan yang wajar.”

“Terima kasih, Kiai. Aku tidak akan lari, tetapi aku tidak akan pergi ke banjar.”

Sekali lagi dahi Ki Tanu Metir berkerut-merut. Tetapi ia merasakan perbedaan arti yang tersirat dalam kalimat itu. Karena itu maka ia segera mengerti, betapapun juga Wuranta masih belum dapat melepaskan perasaannya. Tetapi itu pun masih dapat dianggapnya wajar.

“Kiai,” berkata Wuranta seterusnya, “aku masih harus menunggu jenazah kedua suami isteri ini.”

“Oh,” sahut KiTanu Metir, “bukankah jenazah ini dapat diserahkan kepada mereka yang berkewajiban.”

Ki Tanu Metir terkejut ketika wajah Wuranta itu tiba-tiba saja menegang. Namun hanya sebentar. Kali ini anak muda itu berhasil menguasai dirinya dan tidak lagi terseret oleh perasaannya tanpa pertimbangan. Katanya, “Kiai, aku tidak dapat menganggap suami isteri ini seperti orang-orang lain di padepokan ini. Pada laki-laki tua ini terdapat kekhususan. Setidak-tidaknya ia tidak dapat dianggap bersalah sebesar orang-orang Tambak Wedi yang lain. Tanpa orang tua ini, maka segalanya akan menjadi berbeda.”

“O, baik, baiklah,” Ki Tanu Metir cepat-cepat memotongnya. “Aku minta maaf atas kealpaan ini. Aku kira Untara pun tidak akan berkeberatan sama sekali.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa segala sesuatu yang dilakukan di sini harus mendapat ijin dahulu dari Untara atau orang yang dikuasakannya. Dalam hal laki-laki tua itu pun, ia tidak akan dapat berbuat sekehendak hatinya. Pengkhususan pemakaman orang itu pun harus mendapat ijin dahulu.

Tetapi hatinya pasti tidak akan rela, apabila laki-laki tua itu akan dianggap sama saja dengan orang-orang Tambak Wedi yang lain. Orang tua itu setidak-tidaknya harus mendapat kehormatan seperti para prajurit Pajang yang gugur di peperangan ini.

Karena itu maka Wuranta itu pun kemudian berkata, “Kiai, aku harap Kiai akan menyampaikan kepada Kakang Untara, bahwa aku minta laki-laki tua ini mendapat perhatian khusus, sesuai dengan jasa semasa hidupnya atas Pajang, meskipun seandainya ia tidak sengaja berbuat demikian.”

“Kita dapat pergi bersama, Ngger,” jawab Kiai Gringsing. “Angger Untara akan menjadi lebih banyak memperhatikan pendapat Angger sendiri daripada pendapatku.”

“Terima kasih, Kiai,” sahut Wuranta. “Malam ini aku akan menunggui mayat suami isteri ini di sini.”

“Bukankah sudah ada orang yang berkewajiban.”

“Biarlah, Kiai, aku akan menemaninya.”

Ki Tanu Metir tidak akan dapat memaksanya. Namun terasa bahwa Wuranta telah mulai menemukan kesadaran tentang dirinya, meskipun ia masih tetap merasa rendah diri. Tetapi ia tidak menjadi liar dan meledak-ledak mencari saluran untuk menyembunyikan kekecilannya.

“Jadi Angger akan tetap di sini?”

“Ya, Kiai, aku akan berkata kepada prajurit yang bertugas itu, bahwa aku akan menunggui mayat ini sampai besok. Sampai dikuburkan.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mencemaskan Wuranta lagi, kalau-kalau ia akan pergi tanpa pamit. Ia merasa mempunyai kewajiban atas laki-laki tua itu suami isteri. Dan kewajiban itu pasti akan mengikatnya.

“Baiklah, Anakmas,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “aku akan mencoba menyampaikannya kepada Angger Untara. Mudah-mudahan Angger Untara dapat mengerti.”

“Terima kasih, Kiai.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian meninggalkan Wuranta seorang diri menunggui mayat suami isteri itu. Anak muda itu tidak sampai hati untuk mengangkat nenek tua yang masih saja membeku di dada suaminya. Ketika terlihat oleh Wuranta prajurit yang mengawal tempat itu lewat beberapa langkah dari regol halaman, maka Wuranta pun mendekatinya.

“Bagaimana?” bertanya prajurit itu “Apakah dukun itu dapat mengobatinya?”

“Terlambat. Keduanya sudah meninggal.”

“Keduanya?” prajurit itu terkejut.

“Ya keduanya,” sahut Wuranta.

“Kenapa perempuan itu mati juga?”

“Aku tidak tahu. Mungkin ia terkejut atau terlalu sedih ketika ia melihat suaminya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tetapi perempuan itu memang sudah sakit-sakitan saja. Dadanya sering menjadi berdebar-debar dan tubuhnya seolah-olah menjadi lumpuh. Agaknya kejutan yang dialaminya kali ini tidak tertahankan lagi. Dan ia meninggal pula bersama suaminya.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berdesah, “Aku tidak mendekatinya. Kau melarang setiap orang untuk berbuat sesuatu. Seandainya kau biarkan saja kakek tua itu, maka ia pasti sudah mendapat pertolongan sementara. Mungkin ia akan mati juga, tetapi usaha untuk menolongnya sempat dilakukan. Tidak terlambat. Agaknya kau tidak percaya kepada para prajurit yang bertugas untuk itu, atau mungkin kau menyangka bahwa karena laki-laki itu orang dari padepokan Tambak Wedi, maka prajurit Pajang akan mencekiknya.”

Belum lagi Wuranta menjawab, maka datanglah dua orang prajurit yang sedang bertugas berkeliling. Ternyata kedua prajurit itu adalah prajurit yang telah bertengkar dengan Wuranta. Dengan nada yang tinggi salah seorang dari mereka bertanya, “Ada apa dengan anak Jati Anom itu? Apakah kau sedang diperintahkanya memanggil Untara?”

Prajurit yang sedang mengawal tempat itu menjawab, “Tidak. Tetapi ia tidak percaya kepada para prajurit Pajang. Laki-laki yang terluka itu dibiarkannya tanpa pertolongan apa pun sampai ia mati.”

“Kenapa?”

“Anak muda ini ingin memanggil dukun pribadinya.”

Kedua prajurit yang baru datang itu tertawa dengan pandangan yang menyakitkan hati. Mereka menatap wajah Wuranta yang kemerah-merahan oleh sinar obor di kejauhan.

Terasa dada Wuranta itu bergolak. Hampir-hampir saja ia menjadi kambuh dan mengangkat wajahnya sambil menepuk dada, “Inilah pahlawan yang telah memecah pertahanan Tambak Wedi. Tetapi kali ini tidak, Wuranta tidak berteriak menyebut namanya. Namun perlahan-lahan ia berkata, “Maafkan aku Ki Sanak. Aku telah kehilangan keseimbangan. Mungkin aku telah menyakitkan hati kalian. Mungkin ada kata-kataku atau sikapku yang kasar.”

Prajurit-prajurit itu justru terkejut mendengar pengakuan itu. Terasa keikhlasan memancar dalam kata-kata anak muda itu. Terasa bahwa penyesalan itu mendalam sampai ke tulang sungsumnya.

Sejenak para prajurit itu terdiam. Ketika sekali lagi mereka mencoba menatap wajah Wuranta, maka anak muda itu telah menundukkan wajahnya.

Keempat orang itu kemudian berdiri saja seperti patung. Mereka merasakan kebekuan sikap di antara mereka. Tidak seorang pun yang segera dapat mulai berbuat sesuatu.

BUKU 26

DALAM kediaman mereka, para prajurit itu bertanya-tanya di dalam hati, kenapa tiba-tiba saja sikap anak Jati Anom itu berubah. Anak muda itu tidak lagi menepuk dada sambil menyebut namanya, dan tidak lagi berkata tentang Untara. Sama sekali tidak ada lagi bekas kesombongannya pada pengakuannya yang ikhlas itu. Bahkan sikapnya yang menyakitkan hati, bahwa seolah-olah Untara, senapati mereka yang mereka hormati, harus juga dianggapnya terlampau remeh, dan seolah-olah dalam keadaan serupa itu harus datang kepadanya dan menyatakan terima kasih serta mohon maaf atas segala kesalahannya. Hal yang bagi para prajurit itu tidak akan mungkin sekali terjadi. Untara adalah seorang senapati yang menggenggam tanggung jawab atas wilayah di sekitar Gunung Merapi, bahkan di dataran yang membentang sampai ke pesisir kidul. Meskipun Untara juga anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Jati Anom, namun kedudukannya terlampau jauh terpaut dari anak muda yang bernama Wuranta itu. Seandainya pada masa-masa kecilnya mereka berkawan dan bermain bersama dalam satu lingkaran permainan, tetapi keadaan telah membentuk mereka di kedudukan mereka masing-masing.

Belum sempat salah seorang dari mereka dapat memecahkan kediaman itu, maka mereka pun dikejutkan oleh bayangan yang mendekati mereka. Tidak hanya seorang, tetapi lima orang. Mereka mendengar langkah mereka semakin lama semakin dekat, dan melihat mereka semakin jelas. Di dalam remang-remang cahaya obor di kejauhan mereka dapat memastikan bahwa sebagian dari mereka adalah prajurit-prajurit Pajang.

“Para perwira,” desah para prajurit hampir bersamaan. Mereka menyangka bahwa kelima orang itu adalah satu atau dua orang perwira bersama dengan para pengawalnya mengadakan peninjauan keliling. Melihat para prajurit yang sedang bertugas dan melihat orang-orang yang terluka atau terbunuh di peperangan. Adalah menjadi kebiasaan para perwira Pajang untuk melihat, bahkan menangani sendiri tugas-tugas yang berat dan sulit.

Ketika orang-orang yang datang itu menjadi semakin dekat, maka para prajurit itu pun berdiri berjajar, memberi mereka jalan, dan bersiap apabila mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan. Sedang Wuranta pun kemudian bergeser di belakang para prajurit itu. Ternyata kelima orang itu berjalan ke arah para prajurit itu, sehingga para prajurit itu pun terpaksa mempersiapkan diri mereka untuk menerima kunjungan para perwira. Sejenak mereka menebarkan pandangan mata mereka, untuk mengetahui di mana kawan-kawan mereka berada. Mungkin mereka harus membawa para perwira itu ke tempat-tempat perondan, ke tempat para prajurit mengumpulkan orang-orang yang terluka yang belum sempat dibawa ke pendapa banjar, bahkan mungkin melihat mayat-mayat yang sudah dikumpulkan untuk dikuburkan besok pagi.

Ketika terlihat oleh para prajurit itu mayat laki-laki tua beserta isterinya, maka mereka pun berpaling. Hanya sejenak. Ketika mereka melihat Wuranta di belakang mereka, maka mereka menganggap bahwa seharusnya Wuranta-lah yang wajib memberikan keterangannya.

Kelima orang itu menjadi semakin dekat. Hampir tidak percaya para prajurit itu menajamkan matanya, yang satu di antara mereka ternyata adalah Untara sendiri.

“Ki Untara,” salah seorang dari mereka berdesis.

“Oh,” sahut kawannya perlahan-lahan, “ya, Ki Untara sendiri.”

Ketiga prajurit itu kini berdiri tegak berjajar. Untara memang sering berbuat demikian. Meninjau keadaan langsung di tempat-tempat yang dianggapnya penting. Seperti kebiasaannya berdiri di ujung peperangan, maka ia pun selalu berada di dalam kesibukan akibat dari setiap peperangan, di antara para prajuritnya.

Para prajurit itu menganggukkan kepala mereka ketika Untara lewat di hadapan mereka.

Untara dan para pengawalnya pun menganggukkan kepala mereka pula. Namun tiba-tiba Untara itu menghentikan langkahnya. Ia berdiri di hadapan para prajurit itu. Dengan demikian maka para prajurit itu pun menjadi berdebar-debar.

Sejenak Untara hanya berdiri saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata yang dipandangnya bukan wajah-wajah prajurit yang berdiri tegak di hadapannya, tetapi orang yang berdiri di belakang mereka. Wuranta.

Para prajurit itu melihat arah pandangan mata Untara. Mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Apakah yang akan dilakukan oleh senapati itu? Apakah ia telah mendengar laporan bahwa Wuranta pernah merendahkannya? Dan apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Wuranta setelah ia berhadapan langsung dengan Untara yang namanya sering disebut-sebutnya.

Sejenak suasana dicengkam oleh kesepian. Untara berdiri saja di tempatnya, dan Wuranta seolah-olah menjadi beku.

Namun kemudian mereka melihat Untara itu mengerutkan keningnya sambil berdesis, “Wuranta, bukankah kau itu?”

Wuranta menjadi termangu-mangu. Bagaimana ia harus bersikap terhadap senapati itu di dalam suasana peperangan? Apakah ia harus bersikap seperti para prajurit itu dan menjawabnya seperti jawaban seorang prajurit pula?

Tetapi kata-kata Untara berikutnya telah mengejutkannya dan bahkan mengejutkan para prajurit yang berdiri tegak itu. Katanya, “Aku memang mencarimu Wuranta, sambil melihat-lihat keadaan.”

Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Apakah sebabnya Untara mencarinya? Tiba-tiba ia teringat akan sikapnya selama ini. Karena itu maka ia bertanya di dalam hatinya, seperti pertanyaan yang bergetar di dalam dada para prajurit itu “Apakah Untara telah benar-benar mendengar sikap Wuranta yang kadang-kadang merendahkannya sebagai seorang senapati, dan ia datang sendiri untuk mengambil tindakan terhadapnya?”

Wuranta yang berdiri tegak seperti para prajurit itu masih saja tegak seperti sebatang tonggak. Namun sejenak kemudian ia berhasil menguasai perasaannya yang tidak lagi melonjak-lonjak. Ia mencoba menenangkan dirinya dan berkata di dalam hati, “Mudah-mudahan aku tidak menjadi gila lagi di hadapan Untara sendiri.”

Para prajurit yang berdiri di muka Wuranta pun menjadi berdebar-debar pula. Tiba-tiba mereka merasa iba seandainya Untara marah dan mengambil sesuatu tindakan atas Wuranta. Pengakuan Wuranta yang ikhlas atas kesalahannya pada saat-saat terakhir telah menyingkirkan sama sekali kebencian para prajurit itu atasnya. Tetapi seandainya Untara sendiri yang datang mencarinya, dan kemudian berbuat sesuatu atasnya, maka tidak seorang pun dari mereka yang dapat menolongnya.

Sejenak kemudian terdengar Untara berkata pula “Wuranta, kemarilah.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam ketenangan kini ia dapat menanggapi persoalannya. Ia telah memutuskan untuk tidak bersikap sebagai seorang prajurit. Ia memang bukan seorang prajurit. Ia adalah anak Jati Anom, dan Untara adalah anak Jati Anom pula.

Perlahan-lahan ia melangkah maju, berjalan di sisi ketiga prajurit yang masih berdiri berjajar dengan tegapnya.

“Apakah kau memerlukan aku Untara?” bertanya Wuranta. Hati para prajurit itu pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Ya, aku memerlukanmu,” sahut Untara.

“Apakah ada sesuatu yang penting di antara kita?” bertanya Wuranta sareh.

“Tentu,” sahut Untara, “aku memang sengaja datang kepadamu karena aku dengar kau tidak ingin pergi ke banjar padepokan ini. Apakah memang begitu?”

Sejenak Wuranta menjadi ragu-ragu. Tetapi ia ingin berkata sejujurnya, seperti yang terjadi. Maka katanya, “Ya, aku memang tidak ingin pergi ke banjar padepokan. Dari manakah kau tahu?”

Ketiga prajurit itu masih saja diliputi oleh kecemasan. Apalagi ketika mereka melihat sikap Wuranta. Untara adalah senapati perang. Sedang Wuranta menanggapi seperti terhadap teman sepermainan. Meskipun seandainya dahulu memang demikian, tetapi keadaan kini harus sudah berbeda.

“Kenapa kau tidak mau pergi ke banjar?” bertanya Untara.

“Tidak apa-apa,” jawab Wuranta, “aku menunggui kakek tua yang meninggal bersama isterinya.”

“Ya, aku mendengar dari Ki Tanu Metir. Semuanya dikatakannya kepadaku tentang kau. Dan aku dapat mengerti kenapa kau tidak mau datang ke banjar.”

Wuranta mengerutkan keningnya. Apa sajakah yang telah dikatakan oleh Ki Tanu Metir itu tentang dirinya? Dan Wuranta mendengar Untara meneruskan, “Tetapi Ki Tanu Metir tidak mengatakannya kepada Agung Sedayu. Mungkin waktunya dianggapnya kurang tepat. Karena itu ketahuilah, bahwa Agung Sedayu menjadi bingung menanggapi sikapmu. Tetapi aku tidak bingung Wuranta. Aku mengerti, sebab Ki Tanu Metir mengatakan kepadaku. Juga tentang laki-laki tua itu.” Untara berhenti sejenak, lalu diteruskannya, “Aku datang kepadamu untuk mengucapkan terima kasih atas segala jasa-jasamu Wuranta. Dan aku minta kau datang ke banjar padepokan ini. Aku tahu apa yang kau rasakan. Bukan saja karena laki-laki tua seperti yang kau sebutkan.”

Sejenak Wuranta terbungkam. Tidak terlintas di dalam otaknya, bahwa benar-benar Untara telah datang kepadanya untuk mengucapkan terima kasih.

Apalagi ketiga prajurit yang kini berdiri di belakangnya. Mereka berdiri dengan mulut ternganga. Apa yang tidak mungkin baginya ternyata kini benar-benar telah terjadi. Bahwa senapati yang bernama Untara itu datang kepada Wuranta, anak Jati Anom untuk mengucapkan terima kasih.

Sejenak suasana menjadi sepi, yang terdengar hanyalah nafas Wuranta yang berdesah. Di kejauhan satu dua orang prajurit masih berkeliaran di dalam tugasnya.

“Wuranta,” terdengar Untara berkata “aku minta kepadamu, datanglah ke banjar padepokan ini. Hadapilah persoalanmu dengan jiwa yang besar. Aku adalah anak muda pula seperti kau, dan aku adalah kakak Agung Sedayu itu. Aku pun merasakan sesuatu di dalam diriku, justru karena aku seorang kakak, seorang yang lebih tua, yang sepantasnya telah melakukannya lebih dahulu. Tetapi kesibukanku ternyata tidak memberi aku kesempatan.”

Wuranta tidak segera menjawab. Ia masih diliputi oleh suatu perasaan yang aneh. Ia tiba-tiba saja dihadapkan pada suatu kenyataan yang diharapkannya terjadi di dalam kegelapan hati. Dalam kegelapan ia memang mengucapkan kata-kata itu, bahwa seharusnya Untara-lah yang datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih. Tetapi bahwa hal itu terjadi justru setelah hatinya menjadi tenang, malahan membuatnya menjadi termangu-mangu.

Namun ternyata sesuatu telah menyusup di dalam hati anak muda itu. Lamat-lamat tergores di dalam hatinya, suatu jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganggunya. “Apakah aku masih diperlukan oleh para prajurit Pajang? Dan apakah aku berhak ikut menikmati kemenangan ini?”

Kalau Untara, senapati tertinggi di daerah ini datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih, maka seharusnya ia dapat berbangga karenanya. Seharusnya ia merasa bahwa dirinya bukan sekedar sampah yang disisihkan, yang tidak lagi dapat dipergunakan.

“Wuranta,” berkata Untara kemudian, “aku pasti akan menyetujui permintaanmu tentang laki-laki tua yang kau maksud beserta isterinya. Aku dapat mengerti bahwa laki-laki itu pun mendapat penghargaan khusus. Tetapi biarlah para prajurit yang berkewajiban mengurusnya. Mereka akan tahu apa yang harus mereka lakukan,” Untara itu berhenti sejenak. “Nah, bagaimana?”

“Apakah yang harus aku lakukan?” bertanya Wuranta.

“Beristirahat di banjar padepokan. Besok pada saatnya kita bersama-sama pergi ke Jati Anom. Aku akan meninggalkan separo dari prajurit Pajang di padepokan ini dengan beberapa orang penghubung berkuda. Sedang aku sendiri akan tetap berada di Jati Anom.”

Wuranta masih saja tegak seperti patung. Ia justru menjadi bingung menghadapi peristiwa yang tiba-tiba dan tidak diduga sama sekali. Untara sendiri datang kepadanya dan minta ia beristirahat di banjar padepokan.

Kalau yang datang dan minta kepadanya itu Untara sudah tentu sangat sulitlah baginya untuk menolak. Tetapi perasaannya tidak cukup kuat untuk menerima permintaan itu dan hatinya pasti tidak akan cukup besar menghadapi Agung Sedayu dan Sekar Mirah yang berada di banjar itu pula.

Tetapi sejenak kemudian Untara berkata, “Wuranta, baiklah aku beritahukan bahwa aku telah menyetujui permintaan Sekar Mirah dan kedua anak-anak muda yang bersamanya, untuk berpindah tempat peristirahatan. Tidak di banjar itu. Tetapi mereka kini berada di rumah di sebelah banjar. Rumah yang tidak dipakai menyimpan orang-orang sakit apalagi mayat-mayat para prajurit yang terbunuh di peperangan. Di banjar padepokan Sekar Mirah selalu berada dalam ketakutan.”

Wuranta tiba-tiba mengangkat wajahnya. Jadi di banjar sudah tidak ada lagi Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan Swandaru. Tetapi kenapa Ki Tanu Metir tidak mengatakannya?

Agaknya Untara mengerti pertanyaan di dalam dada Wuranta, sehingga ia berkata, “Mereka meninggalkan banjar ketika Ki Tanu Metir pergi bersamamu. Bukankah kau juga pergi ke banjar tetapi kau tidak singgah di pringgitan?”

Wuranta mengangguk, “Ya, Untara. Aku memang pergi ke banjar untuk memanggil Ki Tanu Metir.”

“Tetapi kedatangan orang tua itu terlambat. Kakek yang kau maksud suami isteri itu telah meninggal. Bukankah begitu?”

“Ya, itulah mayat mereka.”

Untara berpaling. Dilihatnya dalam keremangan cahaya obor, seorang perempuan membeku di dada suaminya yang beku pula. Terasa dada Untara berdesir. Ia sudah melihat mayat di peperangan dalam keadaan yang paling mengerikan. Tetapi baru kali ini ia melihat seorang isteri mati memeluk suaminya yang mati pula. Mengharukan.

“Mereka akan mendapat perawatan yang sewajarnya. Aku mengerti, bahwa laki-laki tua itu turut menentukan saat-saat yang terakhir dari peperangan ini. Seandainya ia tidak berusaha memberi kau jalan maka keadaan akan menjadi berbeda. Jasanya tidak kalah dengan setiap orang prajurit Pajang. Jasanya hampir sebesar jasamu sendiri.”

“Ah,” Wuranta berdesah. Jasa laki-laki tua itu tidak kalah dengan jasa setiap prajurit Pajang. Tetapi jasa itu masih belum sebesar jasanya. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang senapati seperti Untara, senapati yang memimpin sendiri peperangan ini.

Wuranta justru menjadi terbungkam. Tetapi perlahan-lahan ia merasakan bahwa di dalam dadanya berkembang sebuah kebanggaan. Ia tidak perlu merasa dirinya terlampau rendah. Sehingga ia tidak perlu mencari cara yang aneh-aneh untuk menggelembungkan dirinya, menyembunyikan kekerdilannya.

Karena Wuranta tidak berkata sepatah kata pun, maka Untara meneruskan “Nah, marilah kita pergi ke banjar padepokan ini.”

Wuranta tidak dapat menolak lagi. Karena itu ia hanya dapat menganggukkan kepalanya dan berdesis, “Baiklah, Untara.”

“Besok atau lusa, apabila keadaan telah menjadi tenteram sebagian pasukanku akan kembali ke Jati Anom. Aku akan tetap berkedudukan di sana. Kita tidak perlu mencemaskan kekuatan orang-orang Jipang lagi di daerah ini. Juga orang-orang dari padepokan Tambak Wedi. Kita telah berhasil menyumbat mulut sarang mereka dan menangkap segenap isinya di dalam sarang ini, Mungkin masih ada satu dua kelompok kecil orang-orang Jipang yang keras kepala di-daerah-daerah lain. Tetapi itu pun pasti akan segera diselesaikan.”

Kemudian kepada para prajurit yang berdiri tegak di belakang Wuranta, Untara berkata, “Nah, kau sudah mendengar tentang laki-laki tua itu. Usahakan besok mayatnya berdua telah berada di banjar. Mayat itu akan dikuburkan bersama dengan orang-orang Pajang yang gugur. Mungkin kalian masih belum dapat merasakan jasa laki-laki tua itu, tetapi pada saatnya kalian akan mengetahuinya.”

Sejenak kemudian Untara dan para pengawalnya telah kembali ke banjar padepokan bersama Wuranta. Di banjar itu benar-benar tidak dijumpainya lagi Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, yang berada di sana tinggal beberapa orang perwira prajurit Pajang dan Ki Tanu Metir.

Ternyata sikap para perwira yang langsung mengerti tugas-tugas berat Wuranta agak berbeda dengan sikap para prajurit. Namun setelah Wuranta berhasil merenungkan dengan tenang, maka sumber dari sikap yang tidak menyenangkan dari para prajurit itu adalah dirinya sendiri. Usahanya untuk menutupi kekerdilannya, ternyata telah banyak menyinggung perasaan orang lain.

Para prajurit yang ditinggalkan oleh Wuranta di halaman di belakang halaman banjar padepokan, sejenak saling berpandangan. Salah seorang dari mereka kemudian berdesis, “He, ternyata kata-kata anak muda itu benar terjadi. Untaralah yang mencarinya dan mengucapkan terima kasih kepadanya.”

“Memang menurut pendengaranku, apa yang dilakukannya dapat menentukan penyelesaian ini.”

“Aku menyangka ia terlampau sombong. Tetapi aku menjadi heran, bahwa pada saat-saat terakhir ia seakan-akan mengakui kesalahannya, mengakui sikapnya yang tidak sewajarnya.”

“Ah,” desah prajurit yang lain, “kenapa hal itu kita risaukan. Biarlah para perwira mengurusnya. Urusan kita adalah, berkeliling padepokan, terutama di sekitar banjar.”

“Tetapi mayat kedua suami isteri itu?”

“Oh, biarlah mereka yang bertugas untuk itu. Kita beritahukan saja kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan.”

Ketika para prajurit itu kemudian melakukan tugas masing-masing, maka tempat itu pun menjadi sepi kembali.

Di dalam lingkungan para perwira yang sebagian besar dari mereka telah mengerti benar-benar akan peranannya, maka Wuranta merasa telah menemukan dirinya kembali. Betapa penyesalan dan kecewa melanda dadanya apabila diingatnya segala tindak tanduknya selama ini. Bahkan ia merasa heran sendiri, kenapa ia seakan-akan menjadi liar dan kehilangan pegangan.

Meskipun demikian setiap kali ia teringat akan Sekar Mirah maka hatinya masih terasa pahit. Gadis itu belum lama dikenalnya. Baru beberapa hari. Tetapi yang beberapa hari itu ternyata telah menjadikannya hampir gila.

Malampun menjadi semakin malam. Di kejauhan terdengar anjing-anjing liar berteriak-teriak berebut makan. Terasa betapa angin membawa bau darah menyentuh hidung mereka yang tajam. Sekali-sekali terdengar suara burung hantu dan burung kedasih seakan-akan sahut-menyahut, meneriakkan kepedihan yang ngelangut.

Sementara para prajurit yang bertugas masih saja sibuk hampir semalam suntuk, maka di sebuah rumah yang tidak begitu jauh dari banjar itu, Sekar Mirah duduk berpegangan tangan kakaknya. Meskipun ia sudah tidak lagi berada di antara mayat dan orang-orang yang terluka, namun ia masih diburu saja oleh takut dan ngeri.

“Kemanakah Ki Tanu Metir kini?” bertanya Swandaru kepada Agung Sedayu.

“Entahlah. Mungkin masih berada di banjar atau kemana. Mungkin guru sedang mencari Wuranta itu lagi. Atau mungkin kini sedang tidur nyenyak.”

Swandaru terdiam. Gurunya kadang-kadang tidak memberitahukan kemana ia pergi. Bahkan kadang-kadang sampai berhari-hari. Tetapi dalam suasana seperti ini, maka mereka seolah-olah selalu ingin berada bersamanya. Bukan karena perasaan takut bahwa tiba-tiba mereka harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi, tetapi perasaan sepi seakan-akan menghunjam dalam-dalam di jantung mereka.

Sesaat mereka saling berdiam diri. Namun dengan demikian maka terasa malam menjadi kian sepi. Kesepian itu ternyata tidak menyenangkan sekali, sehingga tanpa sesadarnya Agung Sedayu berbicara sekedar untuk menyentakkan perasaan sepi itu, “Apakah kita tidak akan tidur?”

Swandaru mengangkat wajahnya. Dipandanginya lampu minyak yang menyala berkeredipan. Kemudian Swandaru itu pun berkata kepada Sekar Mirah, “Mirah, tidurlah.”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku ngeri, Kakang.”

“Di sini tidak ada apa-apa, Mirah,” berkata kakaknya. “Di sini tidak seperti banjar padepokan yang penuh dengan orang-orang terluka. Di sini kita mendapat tempat yang baik. Agaknya pemilik rumah ini pun orang yang baik pula”

“Tetapi ia mendendam seperti orang-orang Tambak Wedi yang lain, Kakang. Siapa tahu,” Sekar Mirah berhenti sejenak sambil memandang berkeliling kalau-kalau ada orang lain di dalam ruangan itu. Ketika tidak dilihatnya seseorang maka ia berkata perlahan-lahan, “Siapa tahu bahwa ia akan mempergunakan setiap kesempatan untuk melepaskan dendamnya.”

“Tetapi tidak seorang pun dari rumah ini terbunuh. Suami perempuan itu ternyata hanya terluka, tidak terlampau parah. Dan sekarang laki-laki itu berada di banjar.”

“Itu sudah cukup membuat hatinya mendendam”.

Agung Sedayu dan Swandaru kemudian berdiam diri. Mereka melihat wajah Sekar Mirah yang dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

“Kenapa kita tidak kembali saja ke Sangkal Putung, Kakang?” bertanya Sekar Mirah tiba-tiba.

“Ah, bukankah hari masih malam?” jawab kakaknya.

“Tetapi itu lebih baik daripada aku berada di sini. Aku tidak juga dapat tidur dikejar oleh perasaan takut dan ngeri.”

“Jalan masih cukup berbahaya, Mirah,” sahut Agung Sedayu.

“Bukankah orang-orang Jipang dan Tambak Wedi mutlak dihancurkan di sini.”

“Tetapi justru orang-orang yang terpenting dapat meloloskan diri. Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya.”

“Tetapi mereka pasti lari jauh-jauh. Mereka tidak akan berada di sekitar padepokan ini. Apalagi di jalan ke Sangkal Putung. Mereka pasti tidak akan menyangka bahwa kita akan berjalan malam ini.”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Kini pertimbangan-pertimbangannya datang kembali. Tidak seperti pada saat ia berangkat dari Sangkal Putung. Pada saat ia merasa kehilangan Sekar Mirah. Pada saat itu ia kehilangan sama sekali setiap pertimbangan apapun. Ia hanya ingin pergi dari Sangkal Putung segera untuk berusaha membebaskan Sekar Mirah. Tetapi kini, setelah Sekar Mirah itu bebas dari cengkeraman Sidanti, maka sifat-sifatnya telah datang kembali. Pertimbangan-pertimbangannya bermunculan dari bermacam-macam segi.

“Perjalanan yang demikian akan sangat berbahaya,” berkata Agung Sedayu.

“Bagiku perjalanan itu akan lebih baik. Aku tidak kehilangan waktu semalam ini. Daripada kita duduk tanpa arti di sini, bukankah lebih baik kita berjalan ke Sangkal Putung? Besok kita pasti sudah mencapai kademangan itu. Dan besok kita sudah dapat bersama dengan ayah dan ibu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Tetapi Sekar Mirah berkata terus, “Apakah yang kita dapatkan dengan duduk-duduk saja begini? Aku sudah terlampau rindu kepada ayah dan ibu. Ayah dan ibu pun pasti akan terlalu gelisah menunggu.”

Swandaru tidak menjawab dan Agung Sedayu pun berdiam diri. Tetapi pertimbangannya sama sekali tidak sejalan dengan keinginan Sekar Mirah itu.

“Bagaimana, Kakang?” bertanya Sekar Mirah. “Marila kita pulang sekarang.”

Swandaru pun menjadi bimbang. Sebenarnya ia juga ingin segera pulang ke Sangkal Putung. Ia akan segera berkata kepada ibunya, bahwa janjinya telah terpenuhi. Pulang dengan membawa Sekar Mirah. Dan ibunya pun pasti akan bergembira karenanya. Kalau ibunya masih saja menangis, maka ibunya akan menjadi tenang.

Dalam kebimbangan itu ia mendengar Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Kakang? Apakah tidak lebih baik kita pulang saja. Di sini kita sama sekali tidak berarti apa-apa. Mungkin orang-orang Pajang menganggap kita hanya memberati pekerjaan mereka saja.”

Akhirnya Agung Sedayu terpaksa mencegahnya. Katanya, “Jangan, Sekar Mirah. Aku kira kurang baik kiranya apabila kita tergesa-gesa kembali ke Sangkal Putung.”

“Ah,” Sekar Mirah berdesah, “sekehendakmulah kalau kau tidak akan pergi ke Sangkal Putung. Aku kira kau memang tidak akan pergi ke Sangkal Putung lagi. Kau sudah kembali ke kampung halamanmu, bersama kakakmu pula. Apa gunanya lagi kau pergi ke Sangkal Putung? Tetapi aku pasti harus pulang. Ayah dan ibuku menunggu aku. Mungkin ibuku selalu menangis dan ayahku tidak tenang bekerja. Karena itu aku akan segera kembali malam ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Selama ini ia tidak berpikir bahwa ia telah berada dekat dengan kampung halamannya. Kalau ia ingin kembali pulang, maka ia seharusnya pulang ke Jati Anom, ke rumah peninggalan ayahnya yang isinya telah hancur karena pokal Sidanti dan orang-orang Jipang. Tetapi selama ini ia seakan-akan merasa dirinya harus kembali ke Sangkal Putung. Ke tempat tugas pamannya, Widura.

Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu dihadapkan pada kebimbangannya sendiri. Apakah ia harus pergi ke Sangkal Putung atau ia akan tinggal di Jati Anom.

“Ayolah, Kakang Swandaru,” ajak Sekar Mirah, “kita pergi berdua. Di sini kita tidak mempunyai teman seorang pun kecuali kita berdua. Tetapi di Sangkal Putung setiap hidung adalah teman-teman kita yang baik, yang mengerti kesusahan dan kepedihan hati kita. Tetapi di sini kita seperti orang asing, yang dianggap mengganggu pekerjaan mereka saja.”

“Jangan berprasangka, Mirah,” sahut Agung Sedayu. “Tak seorang pun yang menganggap bahwa kita di sini hanya menambah pekerjaan orang-orang Pajang. Bukankah kita tidak mengganggu mereka. Kita dapat mengurus diri kita sendiri. Tetapi yang penting diperhatikan adalah kemungkinan yang akan kita temui di sepanjang jalan.”

“Kalau kau ingin tinggal di sini tinggallah,” potong Sekar Mirah.

“Aku datang bersama Adi Swandaru. Aku dan Adi Swandaru telah menyanggupkan diri kepada Ki Demang Sangkal Putung untuk mencarimu. Kalau kau diketemukan, maka sepantasnya bahwa kami berdualah yang harus menyerahkan kau kepada Ki Demang berdua.”

“Tidak perlu,” sahut Sekar Mirah, “kau tidak perlu pergi ke Sangkal Putung. Aku akan pulang bersama Kakang Swandaru. Kau hanya akan memperlambat perjalanan saja. Ternyata kau masih ingin tinggal di sini. Bahkan kau pasti masih ingin singgah di Jati Anom sehari atau dua hari.”

“Tidak Mirah. Aku tidak akan singgah di Jati Anom,” jawab Agung Sedayu. Tetapi ia menjadi heran mendengar jawaban itu, jawabannya sendiri. Dan sekali lagi ia menjadi bimbang, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung? Namun selanjutnya berkata, “Aku akan pergi ke Sangkal Putung mengantarkanmu. Tetapi jangan malam ini. Kita harus memperhitungkan setiap keadaan. Apalagi Kakang Untara pasti akan mencari kita. Sebab kita adalah sebagian dari tanggung jawabnya.”

“Bohong,” bantah Sekar Mirah. “Untara sama sekali tidak mempedulikan kita lagi. Apakah kita pergi, apakah kita tinggal di sini. Untara tidak akan mempertimbangkan. Bahkan orang-orangnya sajalah yang akan menggerutu karena mereka harus melihat kehadiran kita di sini.”

Agung Sedayu terdiam. Tetapi hatinya bergolak. Ia ingin membantah pendapat gadis itu, tetapi ia tidak ingin bertengkar. Sedang Swandaru yang kebingungan duduk saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kepalanya itu terasa pening.

Mereka terperanjat ketika mereka mendengar suara tertawa lirih. Kemudian terdengar pintu berderit. Perlahan-lahan seorang tua masuk ke dalam ruangan itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

“Hem,” orang tua itu berdesah, “memang bermacam-macam pikiran dan perasaan bergulat di dalam padepokan ini.”

Ketiga anak muda yang berada di dalam ruangan itu memandanginya sambil bertanya-tanya di dalam hati. Apakah yang dimaksud oleh Ki Tanu Metir itu?

“Baru saja aku melihat Angger Wuranta yang sedang digoncangkan oleh perasaannya. Ia mengalami persoalan jiwa yang ternyata menggoyahkan keseimbangannya.”

Ketika Ki Tanu Metir terdiam sejenak maka Agung Sedayu pun bertanya, “Apakah yang telah terjadi dengan Wuranta, Guru?”

“Sekarang tidak apa-apa. Angger Wuranta telah bersedia pergi ke banjar padepokan. Aku kira ia telah berhasil menguasai perasaannya.”

“Apakah yang telah menggoncangkan perasaan itu, Kiai?”

“Ah, entahlah. Mungkin salah mengerti, salah tafsir, tetapi mungkin juga karena ia tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapinya. Mula-mula Angger Wuranta merasa dirinya tidak mendapat perhatian dari pimpinan prajurit Pajang. Padahal ia merasa bahwa dialah yang telah membuka jalan masuk ke padepokan ini. Memang sebenarnyalah demikian. Tanpa Angger Wuranta maka semuanya akan menjadi lain. Mungkin sampai saat ini Angger Untara belum berhasil memasuki padepokan ini. Tetapi itu hanya perasaannya saja. Sebenarnya pimpinan prajurit Pajang menaruh perhatian terhadap semua unsur di dalam padepokan ini.”

Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Dicobanya untuk menangkap kesan kata-katanya pada wajah anak-anak muda itu. Tetapi yang ditangkapnya adalah berbagai pertanyaan yang memancar dari sorot mata mereka, seolah-olah mereka bertanya, “Apakah yang telah dilakukannya?”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan kata-katanya, “Hampir saja Angger Wuranta terjerumus ke dalam sikap yang tidak terpuji. Bahkan hampir mencelakakan dirinya. Sikapnya terhadap para prajurit Pajang terlampau kasar. Justru karena rasa rendah diri yang menjalari dadanya. Tetapi itu sudah lampau. Angger Wuranta telah menyadari keadaannya, bahwa orang-orang Pajang di sini mempunyai banyak sekali persoalan yang harus diselesaikan. Di antaranya adalah soal yang menyangkut Angger Wuranta itu sendiri.”

Ketiga anak-anak muda itu masih terdiam. Tetapi Sekar Mirah yang menundukkan wajahnya, tiba-tiba berkata, “Apakah Kiai menyindir aku?”

“Oh,” Ki Tanu Metir terperanjat. Tetapi kemudian ia tersenyum, “Jangan salah sangka, Ngger. Aku tidak ingin menyindir seseorang. Aku sudah mengatakan bahwa dalam keadaan serupa ini banyak sekali persoalan yang tumbuh dan bahkan berkembang di padepokan ini. Angger Wuranta adalah gambaran dari seorang anak muda yang kecewa. Aku tidak tahu apakah yang mengecewakannya. Kemudian seolah-olah ia membuat sebuah neraca. Neraca yang menimbang berat jasa dan penghargaan. Hampir ia berteriak “Jasaku tidak dihargai orang”. Untunglah bahwa hal itu belum terjadi. Nah, aku kira persoalan Angger agak berbeda, Angger sama sekali tidak ingin dihargai karena jasa-jasa Angger. Bukankah begitu?”

Sekar Mirah tidak menjawab.

“Mungkin padepokan ini terlampau sepi buat Angger Sekar Mirah. Mungkin tidak seramai Kademangan Sangkal Putung. Di sana Angger pasti akan dikerumuni oleh orang-orang Sangkal Putung, para pemimpin kademangan dan para pemimpin prajurit Pajang. Tetapi keadaan Sangkal Putung berbeda dengan keadaan di sini. Di Sangkal Putung orang-orang sudah tidak disibukkan oleh berbagai macam persoalan. Sedang di sini sangat berlainan.”

“Aku tahu. Aku tahu, Kiai,” potong Sekar Mirah. “Maksud Kiai ingin mengatakan bahwa aku terlampau manja. Bukankah begitu? Nah, buat apa aku bermanja-manja di sini. Itu pun salah satu sebab kenapa aku harus segera pulang ke Sangkal Putung.”

“Bukan begitu, Ngger,” sahut Kiai Gringsing, “meskipun dugaan Angger itu sebagian benar. Tetapi maksudku adalah, bahwa Angger telah cukup dewasa. Karena itu Angger seharusnya menghadapi setiap persoalan dengan sikap dewasa. Bukan sebagai seorang gadis kecil yang patah hati ditinggal kekasih. Lalu lari tanpa mempertimbangkan persoalan yang akan dihadapi di tengah jalan. Tetapi Angger tidak akan berbuat demikian. Angger adalah puteri seorang Demang yang cukup bijaksana. Karena itulah maka kebijaksanaan itu pasti juga Angger miliki. Juga pada Angger Swandaru yang setiap hari mengikuti cara Ki Demang melakukan tugasnya.” sekali lagi Ki Tanu Metir berhenti. Sekali lagi ia menunggu kesan yang terbayang di wajah anak-anak muda itu. Kemudian katanya, “Nah, kalau Angger sependapat, maka aku harap Angger tidak meninggalkan padepokan ini untuk sementara. Aku menyangka bahwa Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti masih berkeliaran di sekitar tempat ini. Setiap orang yang dijumpainya pasti akan menjadi korban pelepasan dendamnya. Nah, bayangkan apa yang akan dilakukan oleh Sidanti apabila Angger nanti bertemu dengan orang itu di tengah jalan.”

Berdebarlah Sekar Mirah mendengar nama Sidanti. Sehingga tumbuhlah kecemasan yang menggores jantungnya yang berdebaran. Meskipun demikian gadis itu tidak menjawab sepatah kata pun. Namun bagi Ki Tanu Metir kediamannya adalah cukup jelas. Kediamannya itu adalah sebuah jawaban yang cukup tegas.

“Tenangkanlah hati kalian di sini. Hadapilah semuanya dengan sikap yang masak. Pengalaman yang telah terjadi seharusnya membuat kalian dewasa.”

Tak seorang pun yang menyahut. Dan sejenak kemudian, Ki Tanu Metir berkata, “Beristirahatlah, aku akan pergi ke banjar. Mungkin ada sesuatu yang harus aku kerjakan di sana, di antara orang-orang yang terluka. Aku datang hanya sekedar menengok kalian.”

Ketika Ki Tanu Metir meninggalkan mereka, maka untuk sesaat mereka masih tetap berdiam diri. Sekar Mirah menundukkan wajahnya dalam-dalam meskipun ia masih tetap berpegangan tangan kakaknya. Agung Sedayu melepaskan pandangan matanya menembus lubang pintu yang masih sedikit terbuka, sedang Swandaru sekali-sekali mengangguk-anggukkan kepalanya. Terngiang di telinganya kata-kata gurunya, “Pengalaman harus membuat kalian dewasa.”

Malam yang hitam pekat berjalan dengan tenangnya. Semakin lama semakin jauh. Bintang-bintang di langit bergeser sedikit demi sedikit ke Barat. Namun ketiga anak-anak muda itu masih saja duduk membeku.

Ternyata malam itu tidak seorang pun di antara mereka yang tertidur. Mereka sama sekali tidak dapat melepaskan kegelisahan dan kecemasan tentang bermacam-macam persoalan. Tetapi Sekar Mirah sudah tidak lagi mendesak kakaknya untuk meninggalkan padepokan itu mendahului ke Sangkal Putung. Setiap kali keinginan itu tumbuh di hatinya, maka terbayanglah wajah Sidanti yang sangat menakutkan baginya.

Sehari berikutnya mereka hampir tidak keluar dari rumah itu. Hanya Agung Sedayu sajalah yang pergi ke banjar sebentar untuk bertemu dengan kakaknya yang masih sangat sibuk. Sebenarnya anak muda itu ingin juga bertemu dengan Wuranta. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu bagaimanakah sikap Wuranta itu kini terhadapnya. Dan ia masih tetap mencari-cari jawab atas pertanyaannya yang mengganggunya selama ini tentang sikap anak muda itu.

Tetapi pada saat Agung Sedayu berada di banjar padepokan itu Wuranta sedang menunggui pemakaman kakek tua suami isteri yang telah menolongnya. Sesaat ia menunggu, namun Wuranta belum juga datang. Akhirnya keragu-raguannya telah mengurungkan niatnya itu, ia tidak menunggu Wuranta lagi, yang ditunggunya adalah kakaknya dan Ki Tanu Metir.

Beberapa saat kemudian Agung Sedayu melihat kakaknya bersama Ki Tanu Metir diiringi oleh beberapa perwira yang lain datang ke banjar itu. Tampak wajah-wajah mereka yang tegang dan bersungguh-sungguh sehingga Agung Sedayu tidak berani menegur kakaknya lebih dahulu. Ia menunggu saja sambil berdiri di bawah tangga pendapa padepokan itu. Terasa dadanya berdebar-debar. Ia memandang kakaknya kini jauh berbeda dengan saat-saat ia masih di Jati Anom. Justru setelah ia melihat pekerjaan dan tugas kakaknya, dan justru karena sikapnya sendiri yang bertambah dewasa. Kini serasa ada jarak yang membatasi antara dirinya dan kakaknya itu.

Ketika Untara sampai di tangga pendapa, ia berhenti sejenak. Dipersilahkannya para prajurit yang datang bersamanya untuk masuk lebih dahulu. Setelah menatap wajah Agung Sedayu agak lama, maka terdengar kakaknya bertanya, “Sudah lama kau menunggu aku?”

“Belum terlalu lama, Kakang,” jawab Agung Sedayu.

“Apa kerja kalian di pondok itu?” bertanya Untara pula. Agung Sedayu terkejut mendengar pertanyaan itu. Dipandanginya wajah kakaknya, kemudian wajah gurunya.

“Kau tidak hadir pada upacara pemakaman prajurit-prajurit yang gugur dalam peperangan ini. Peperangan yang juga telah menyelamatkan gadis Sangkal Putung itu.”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar kata-kata kakaknya. Sejenak ia terdiam membeku. Hanya matanya saja yang berpindah-pindah dari kakaknya kepada gurunya.

“Seharusnya kau datang bersama Adi Swandaru untuk menunjukkan rasa terima kasihmu dan rakyat Sangkal Putung. Bahwa puteri Ki Demang itu sudah dibebaskan.”

Dada Agung Sedayu menjadi sesak mendengar teguran itu. Ia sama sekali tidak mengerti bahwa hari ini akan diselenggarakan pemakaman prajurit-prajurit yang gugur di peperangan ini. Karena itu maka dengan jujur ia berkata, “Aku sama sekali tidak tahu, Kakang, bahwa hari ini telah diselenggarakan pemakaman itu.”

“Kau tidak beranjak dari pondokmu sehari ini. Baru sekarang kau datang, setelah semuanya selesai. Kalau semalam atau pagi-pagi tadi kau datang, kau pasti akan mengetahuinya.”

Sekali lagi Agung Sedayu terdiam. Tetapi terasa dadanya bergetar semakin cepat. Kemudian dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Kalau aku tahu, maka aku pasti akan datang. Orang yang mengantarkan makananku pun tidak memberitahukan hal itu kepadaku. Dan….” kata-kata Agung Sedayu terputus. Tetapi matanya terlontar kepada gurunya yang berdiri di samping Untara.

“Bukan kami yang harus memberitahukan itu kepadamu,” jawab kakaknya, “tetapi kau yang harus datang bertanya tentang hal itu kepada kami.”

Wajah Agung Sedayu tiba-tiba menjadi tegang. Ia tidak dapat memahami sikap kakaknya. Perasaannya sama sekali tidak dapat menerima perlakuan itu. Tetapi ia berhadapan dengan kakaknya. Pertimbangannya cukup cermat untuk mencegah berbuat sesuatu yang tidak menguntungkannya.

“Semua orang hadir dalam upacara itu,” kakaknya meneruskan, “hanya kau dan Swandaru sajalah yang tidak.”

“Mungkin para prajurit selalu mendapat keterangan dan pemberitahuan tentang semua hal yang akan terjadi, Kakang, tapi kami tidak,” jawab Agung Sedayu sekenanya.

Tetapi ia terkejut ketika kakaknya menyahut, “Wuranta juga bukan seorang prajurit. Tetapi ia datang jaga dalam upacara itu. Meskipun anak muda itu termasuk salah seorang yang paling berjasa dalam peperangan ini, namun ia tidak bersikap acuh tak acuh. Ia tidak menunggu seorang utusan untuk memberitahukan kepadanya apa yang akan terjadi di padepokan ini. Ia datang sendiri dengan rendah hati dan bersikap wajar.”

Wajah Agung Sedayu menjadi merah. Ia benar-benar tidak mengerti akan sikap kakaknya. Sejak peperangan ini selesai, kakaknya telah marah-marah saja kepadanya. Ia dianggap bersalah karena ia tidak berada di dekat kakaknya ketika pertempuran berlangsung. Agaknya lepasnya Ki Tambak Wedi dan Sidanti telah membuatnya sangat kecewa. Tetapi bahwa kakaknya itu terus-menerus memarahinya itu benar-benar tidak dapat dimengertinya. Kemarin ia menganggap bahwa kakaknya telah merubah sikapnya. Namun tiba-tiba kini sikap itu diulanginya lagi.

Tetapi kali ini yang menjawab adalah Ki Tanu Metir, “Angger Untara, Angger terlampau letih. Angger diburu oleh tugas-tugas yang berat dan kekecewaan yang bertumpuk-tumpuk. Tetapi yang paling mengecewakan Angger adalah hilangnya Ki Tambak Wedi. Itulah sebabnya Angger mudah merasa tersinggung. Namun Angger Agung Sedayu pun tidak terlampau bersalah. Aku seharusnya memberitahukan kepadanya apa yang akan dilakukan di padepokan ini. Terutama upacara itu. Tetapi aku sengaja tidak berbuat demikian. Bahkan sekarang aku mengharap Angger Agung Sedayu segera kembali ke pondoknya.”

Wajah Untara yang tegang menjadi berkerut-merut, “Kenapa?” ia bertanya.

“Sama sekali bukan persoalan yang menyangkut masalah keprajuritan. Bukan pula masalah peperangan. Masalahnya terlampau kecil untuk disebutkan di sini. Tetapi masalah yang terlampau kecil itu pulalah yang telah mendorong Angger Untara semalam datang memanggil Wuranta.”

Kini dada Untara-lah yang berdebar. Di hadapannya berdiri Ki Tanu Metir, guru Agung Sedayu. Agaknya orang tua itu berusaha untuk menutupi kesalahan adiknya yang telah membuatnya sangat kecewa. Adik Senopati yang langsung menangani peperangan ini, tetapi ia adalah satu-satunya orang yang tidak hadir pada upacara penghormatan para prajurit yang gugur, selain kakak beradik dari Sangkal Putung itu.

Tetapi bagaimanapun juga Untara merasa segan terhadap orang tua ini. Dalam urutan tugasnya sebagai seorang Senapati di daerah ini, maka nama Ki Tanu Metir tidak dapat dilupakannya. Dalam tugas sandinya, di saat-saat Sangkal Putung berada di dalam bahaya, maka orang tua ini pulalah yang menyelamatkannya. Kalau ia tidak mendapat perlindungannya, maka dadanya pasti sudah dibelah oleh Plasa Ireng dan kawan-kawannya yang pada saat itu mencarinya karena petunjuk Alap-alap Jalatunda di dukuh Pakuwon. Dan kini, dalam tugasnya yang terberat, memecah padepokan Tambak Wedi, maka orang tua ini pulalah yang seakan-akan telah merintis jalan, dengan melepaskan Wuranta, mendahului segala tindakan-tindakannya.

Namun meskipun demikian ia tidak dapat melepaskan kedudukannya sebagai seorang senapati yang bertanggung jawab. Apalagi berhadapan dengan adiknya yang dianggapnya telah mengabaikan keharusan-keharusan yang harus dilakukannya di dalam lingkungan keadaan serupa itu.

“Kiai,” berkata Untara itu kemudian, “aku tidak tahu masalah yang Kiai maksudkan. Masalah-masalah kecil yang manakah yang mendorong Kiai untuk menyuruh Agung Sedayu segera kembali ke pondoknya, dan yang telah mendorong aku untuk memanggil Wuranta?”

“Ah,” Ki Tanu Metir berdesis, “bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, Ngger? Dan Angger bahkan telah berusaha untuk sekedar menyisihkan waktu yang sangat sempit ini untuk memanggil Wuranta dan membawanya kembali ke banjar ini? Aku rasa Angger melakukannya dengan pengertian bahwa Wuranta adalah seorang yang paling berjasa di dalam tugas Angger kali ini. Tetapi Wuranta itu tidak datang sendiri seperti yang Angger katakan. Apalagi dengan rendah hati.”

Wajah Untara menjadi merah mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu. Ternyata Kiai Gringsing kali ini benar-benar sedang berusaha untuk mengurangi kesalahan muridnya. Bahkan mempertentangkan kata-katanya tentang Wuranta.

“Nah,” Ki Tanu Metir meneruskan, “seharusnya Angger Untara dapat mengerti. Jangan salahkan Agung Sedayu. Dan sekarang aku tetap berpendapat bahwa sebaiknya Angger Agung Sedayu kembali ke pondoknya.”

Wajah Untara masih memerah dalam ketegangan. Tetapi keseganannya terhadap Kiai Gringsing telah menahannya untuk berbuat terlampau banyak. Namun perasaannya sama sekali tidak senang melihat sikap orang tua itu, yang dengan berterus terang telah melindungi kesalahan adiknya.

Senapati itu ingin adiknya bersikap sebagai seorang prajurit yang baik. Justru karena ia seorang senapati. Untara itu merasa bahwa setiap orang menganggap bahwa adiknya terlampau berat untuk meninggalkan gadis Sangkal Putung itu, sehingga ia tidak menghadiri upacara yang diadakannya hari ini. Sedang Untara merasa bahwa sikap gadis itu terlampau manja, sehingga ia terpaksa memerintahkan kepada bawahannya untuk mengusahakan tempat yang khusus baginya.

“Kiai,” berkata Untara itu kemudian, “tetapi bagaimanapun juga aku tidak dapat membenarkan sikap Agung Sedayu. Apakah Kiai tidak merasa malu, seandainya setiap orang di sini bertanya-tanya di dalam hatinya. Mereka masih dapat mengerti tentang keadaan Swandaru. Kalau anak itu tidak menghadiri upacara ini, maka sudah pasti adiknya tidak mau dan tidak berani ditinggalkannya. Tetapi bagaimana dengan Agung Sedayu yang menungguinya saja tanpa ada hubungan keluarga dengan gadis itu?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah. Tetapi ia tidak berani menyahut. Yang menjawab adalah Kiai Gringsing, “Itu adalah suatu pengorbanan baginya, Ngger. Justru suatu pengorbanan. Aku sengaja melakukannya.”

“Pengorbanan?” wajah Untara menjadi aneh.

“Ya.” Kemudian kepada Agung Sedayu orang tua itu berkata, “sekarang kembalilah ke pondokmu.”

Agung Sedayu menjadi bingung. Sejenak ia berdiri saja seperti patung, sehingga Ki Tanu Metir itu mengulangi, “Kembalilah ke pondokmu. Biarlah persoalanmu aku selesaikan dengan kakakmu.”

“Nanti dulu,” cegah Untara, “jangan pergi dulu. Kau harus minta maaf kepadaku, bahwa kau tidak hadir dalam upacara ini. Jangan kau sebut-sebut lagi alasan-alasan yang pasti hanya kau buat-buat saja saja bersama dengan kakak beradik itu.”

Kini wajah Ki Tanu Metir-lah yang berkerut. Tetapi sebelum ia berbicara Untara telah mendahului, “Ayo, bersikaplah jantan untuk mengakui kesalahan sendiri. Kalau kau tidak melihat kesalahanmu, maka seterusnya kau akan mengulangi kesalahan yang serupa. Aku adalah senapati di daerah ini.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Katanya lembut, “Lakukanlah, Ngger.”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Ia tidak mengerti benar kenapa kakaknya bersikap demikian keras terhadapnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada melakukan perintah itu. Katanya, “Baik, Kakang. Aku minta maaf. Mudah-mudahan aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Mungkin Kakang tersinggung karena kebodohanku bahwa aku tidak dapat menghadiri upacara yang Kakang anggap sebagai upacara yang penting. Dengan demikian maka aku telah menimbulkan kesan yang kurang baik. Tidak saja atas diriku sendiri, tetapi telah menyentuh kewibawaan Kakang di sini. Sebenarnya aku ingin memberikan banyak keterangan tentang hal itu, tetapi Kakang menganggap bahwa setiap alasan yang hanya dibuat-buat saja. Karena itu maka lebih baik bagiku untuk tidak mengucapkannya.”

Tiba-tiba wajah Untara yang tegang tampak mengendor. Ia melihat sikap adiknya dengan memelas. Adiknya yang sejak kecil pantas dikasihani karena sifat-sifatnya. Kini, ketika adiknya mulai tumbuh dan berkembang telah dipaksanya untuk berbuat demikian. Berbuat memelas seperti pada masa kanak-anaknya.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berusaha untuk tetap dalam sikapnya, sikap seorang senapati perang.

Karena itu maka Untara tidak menyatakan perasaannya. Disimpannya perasaan ibanya di dalam dadanya, bahkan ia mencoba untuk bersikap keras terhadap Agung Sedayu yang memang dianggapnya bersalah, mengabaikan keharusan-keharusan yang berlaku di dalam pasukannya, meskipun ia bukan seorang prajurit.

Dengan nada datar Untara itu berkata, “Nah, kau sudah minta maaf atas kesalahan itu. Karena itu maka kau jangan mengulangi kesalahan itu sekali lagi. Kau adalah orang yang berada di dalam lingkungan pasukanku, meskipun kau bukan seorang prajurit. Tetapi dalam keadaan serupa ini, maka peraturan keprajuritan berlaku atas semua orang, baik ia seorang prajurit maupun bagi mereka yang dengan suka rela menggabungkan diri dalam perjuangan ini untuk kepentingan Pajang.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya, Kakang, aku mengerti.”

“Nah, sekarang kau boleh kembali.”

Agung Sedayu memandang wajah kakaknya sejenak. Hampir saja ia bertanya, “Kembali kemana? Ke Jati Anom atau ke Sangkal Putung?”

Tetapi tiba-tiba Ki Tanu Metir menyahut, “Nah, Angger telah mendapat ijin untuk kembali. Kembalilah ke pondokmu. Tunggulah pesanku untuk selanjutnya.”

“Kenapa ia harus menunggu Kiai?” potong Untara. “Setiap kali ia harus datang ke banjar untuk melihat perkembangan keadaan.”

“Begitu maksudmu, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir.

Pertanyaan itu telah membuat Untara bertanya-tanya di dalam hatinya. Karena itu maka tiba-tiba ia terdiam sejenak. Tetapi sekali lagi ia berusaha untuk tetap bersikap sebagai seorang senapati. Maka jawabnya, “Ya. Aku menghendaki demikian.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik, baik. Begitulah. Tetapi sekarang Angger silahkan kembali ke pondok.”

Agung Sedayu merasa aneh atas permintaan Ki Tanu Metir itu. Bukan saja Agung Sedayu, tetapi Untara pun bertanya-tanya di dalam hatinya. Kenapa Ki Tanu Metir seakan-akan tergesa-gesa ingin menyingkirkan Agung Sedayu?

Sejenak kemudian Agung Sedayu minta diri kepada kakaknya dan gurunya untuk kembali ke pondoknya. Di sepanjang jalan berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam dadanya. Kadang-kadang ia merasa, bahwa sebaiknya ia pergi meninggalkan padepokan ini, ke Jati Anom atau ke Sangkal Putung saja sama sekali. Ia dapat membuta dan menuli atas semua anggapan orang-orang Pajang padepokan ini atasnya. Tetapi ia dapat memberi penjelasan kepada pamannya, Widura di Sangkal Putung.

“Apakah Kakang Untara tidak setuju melihat hubunganku dengan gadis Sangkal Putung itu?” Agung Sedayu bertanya-tanya di dalam hatinya.

“Mudah-mudahan paman Widura dapat memberinya penjelasan. Tidak sebagai seorang perwira bawahan Kakang Untara, tetapi sebagai seorang paman yang melihat dan mengerti keadaanku sejak aku berada di Sangkal Putung untuk pertama kalinya.”

Di pondoknya Agung Sedayu masih melihat Sekar Mirah tidak mau berpisah dari kakaknya karena kecemasan dan ketakukan yang selalu mengejarnya. Kadang-kadang keinginannya untuk segera kembali ke Sangkal Putung seakan-akan tidak dapat dicegahnya. Tetapi setiap kali ketakutannya kepada Sidanti dan Ki Tambak Wedi sengaja dibesar-besarkannya sendiri untuk membantu mencegah keinginannya itu. Seandainya yang berulang kali menyebut nama Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu hanya Agung Sedayu dan kakaknya Swandaru, maka ia pasti masih saja memaksa untuk kembali ke Sangkal Putung. Tetapi ternyata Ki Tanu Metir pun memperingatkannya pula. Dan ia mencoba untuk menganggap bahwa Ki Tanu Metir adalah orang yang paling dapat dipercaya.

Tiba-tiba saja pikiran Agung Sedayu meloncat kepada anak muda putera Ki Gede Pemanahan. Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh anak muda itu seandainya ia mengalami perlakuan seperti dirinya pada saat ini.

“Tetapi ia putera seorang panglima tertinggi Wira Tamtama,” desisnya, “bagaimanapun juga ia akan mendapatkan beberapa kelainan dari anak-anak muda yang lain.”

Tanpa disadarinya maka keinginannya untuk bertemu dengan Sutawijaya telah mengganggu perasaannya. Kekagumannya atas anak muda itu serasa kian menjadi-jadi.

“Apakah kau bertemu dengan Kakang Untara?” bertanya Swandaru Geni, seakan-akan telah membangunkannya.

“Ya, aku telah menemuinya di banjar padepokan.”

“Apa katanya tentang kita?” Sejenak Agung Sedayu menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian ia menjawab, “Tidak apa-apa. Ia hanya bertanya kenapa aku tidak hadir dalam upacara pemakaman pagi tadi.”

“O, apakah upacara itu telah dilakukan?”

“Sudah pagi tadi, meskipun belum seluruhnya. Tetapi upacara pelepasan para jenazah telah dilakukan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku masih melihat kesibukan di jalan-jalan di padepokan ini. Aku sangka bahwa upacara ini belum dilakukan hari ini. Jadi kita berdua tidak hadir dalam upacara itu?”

“Ya, karena kita tidak tahu.”

“Sayang,” desis Swandaru. “Hal ini dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atas kita bertiga.”

Agung Sedayu terdiam. Tetapi lalu ia menjawab, “Mudah-mudahan tidak.”

“Kau yakin?” desak Swandaru.

“Seandainya ada kesan itu, maka Ki Tanu Metir pasti akan memberikan penjelasan. Guru ada di banjar saat ini. Dan agaknya guru tidak menyalahkan aku. Bahkan ia mendesak supaya aku segera kembali ke pondok ini. Aku tidak tahu apakah maksudnya.”

Swandaru dan Sekar Mirah terdiam. Mereka tidak bertanya-tanya lagi. Tetapi terasa ada yang tersangkut di perasaan. Ada sesuatu yang tidak dimengertinya, tetapi membuat mereka gelisah. Sedang Agung Sedayu pun kemudian tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Bahkan kemudian ia berkata, “Beristirahatlah dengan baik. Mudah-mudahan pekerjaan Kakang Untara segera selesai. Kakang Untara tidak akan tinggal lama di padepokan ini.”

“Ya, menurut pendengaranku, Kakang Untara untuk sementara akan berkedudukan di Jati Anom.”

Mereka pun kemudian terdiam. Mereka duduk sambil menikmati pikiran masing-masing. Tetapi wajah-wajah mereka tampak menjadi tegang.

Sepeninggal Agung Sedayu, Untara dan Ki Tanu Metir masih berdiri di tangga banjar padepokan.

Tiba-tiba Ki Tanu Metir berdesis, “Kasihan anak itu.”

Untara mengerutkan keningnya. “Kenapa? Ia sudah menjadi semakin dewasa. Ia harus tahu kewajibannya. Anak itu terlampau manja di masa kanak-anaknya. Sekarang ia harus menyadari bahwa kemanjaannya itu sama sekali tidak menguntungkannya.”

Untara mengerutkan keningnya ketika Ki Tanu Metir menggeleng. “Tidak. Angger Agung Sedayu tidak terlampau manja. Tetapi ia adalah seorang penakut di masa kecilnya. Bahkan lebih dari itu. Ia adalah seorang pengecut. Kau ingat?”

Untara tidak menjawab Tetapi dadanya tersentuh mendengar sebutan itu bagi adiknya. Adik kandungnya.

“Kalau Angger Agung Sedayu itu seorang pengecut, maka ia memang perlu dikasihani.”

“Tetapi ia sekarang sudah tumbuh dan berkembang.”

“Itu hanya terjadi sesaat. Ia akan menjadi seorang pengecut untuk seterusnya. Ia tidak akan berani melihat bahaya yang cukup besar.”

“Kenapa, Kiai? Bukankah ia sekarang telah berani menghadapi lawan yang dahulu sangat ditakutinya? Sidanti.”

“Tetapi jiwanya tetap kerdil. Kalau jiwa itu sudah mulai mekar, maka Angger Untara sendiri telah menekannya. Dan ia akan tetap berjiwa kecil dan pengecut.”

Dada Untara berdesir mendengar kata Ki Tanu Metir yang langsung menyentuhnya. Sesaat ia terdiam. Dipandanginya wajah orang tua itu. Wajahnya itu tampaknya agak berbeda dengan wajah yang selalu dilihatnya. Wajah itu selalu tampak jernih dan seolah-olah selalu membayangkan senyum. Namun kini Untara melihat wajah itu terlampau bersungguh-sungguh.

“Ki Tanu Metir benar-benar tersinggung karena aku marah kepada muridnya, meskipun muridnya itu adalah adikku,” katanya di dalam hati.

Tetapi Ki Tanu Metir itu kemudian berkata, “Bukan saja Angger yang telah menekan jiwanya untuk tetap kerdil, tetapi aku pun telah mengorbankannya. Aku tidak dapat berbuat lain untuk kepuasan prajurit Pajang di Tambak Wedi dan untuk kepentingan anak-anak Jati Anom.”

Untara menjadi semakin tidak mengerti. Wajahnya menjadi semakin berkerut-merut. Tiba-tiba ia berkata berterus-terang, “Aku tidak mengerti Kiai.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berkata dengan wajah yang semakin tampak bersungguh-sungguh, “Aku sebenarnya sangat kasihan kepada adikmu, Angger. Sebagian dari kesalahannya sehingga Angger marah kepadanya, adalah kesalahanku. Aku sengaja menyimpannya di dalam gubug itu. Aku pula yang mendorong mereka untuk minta kepadamu tempat yang lain, tidak di banjar ini. Alasannya agaknya cukup kuat, karena Sekar Mirah selalu ketakutan di sini. Tetapi apakah Angger ingat alasan yang telah mendesak Angger meluangkan waktu Angger yang terlampau sempit ini untuk memanggil Wuranta?”

“Oh,” Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, “Wuranta mempunyai kedudukan yang lain dengan Agung Sedayu, Kiai. Wuranta menurut Kiai sendiri adalah orang yang berhasil menembus rapatnya dinding padepokan ini. Bukankah karena Wuranta ada di dalam padepokan ini maka semuanya dapat berlangsung dengan lancar? Bukankah menurut keterangan dan pengakuan Kiai sendiri, bahwa Kiai dapat masuk ke dalam padepokan ini juga karena petunjuk-petunjuk Wuranta. Itulah sebabnya maka Wuranta harus mendapat penghargaan yang sewajarnya. Para prajurit Pajang harus mendapat penjelasan sehingga mereka tidak memperlakukan Wuranta sekenanya. Meskipun sebagai seorang anak muda Wuranta tidak mampu melawan seorang prajurit pun dalam olah kanuragan, namun keprigelannya dalam bidang sandi perlu mendapat penghargaan.”

“Dan aku telah membantu Angger untuk menyatakan terima kasih itu kepada Angger Wuranta. Aku merasa kasihan, karena kejutan jiwanya Angger Wuranta menjadi rendah diri dan berbuat di luar kewajaran. Kini ia telah menemukan kepercayaan kepada diri sendiri karena Angger Untara sendiri telah menaruh perhatian atasnya, sehingga dengan demikian tidak seorang pun akan mengumpati para prajurit Pajang, bahwa seolah-olah setelah tidak diperlukan lagi, Wuranta langsung dilemparkan tanpa perhatian. Hal itu pasti akan menyakitkan hati anak-anak Jati Anom.”

“Ya, ya aku sudah mengerti. Karena itu betapa aku sibuk, aku perlukan datang mengambilnya.”

“Dan kelak membuat suatu upacara untuk mengucapkan terima kasih kepadanya bersama orang-orang Jati Anom.”

“Ya. Kita harus menjaga supaya ia tetap tenang dan cukup percaya pada diri sendiri. Bukankah seperti yang Kiai katakan, gadis Sangkal Putung itulah yang telah membuatnya hampir berputus asa. Dan itu adalah karena Agung Sedayu pula?”

“Ya. Itulah sebabnya Angger Agung Sedayu harus dikorbankan.”

“Bagaimana?” Untara menjadi semakin bingung.

“Bahwa ia pergi dari banjar, dan kemudian tidak selalu menampakkan dirinya itu berarti memberi kesempatan Angger Untara untuk menempatkan Angger Wuranta di tempat sewajarnya. Adapun kata orang terhadap Agung Sedayu yang tidak berperan apa pun di sini, itu tidak penting.”

Dada Untara menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Ki Tanu Metir itu. Ia menjadi semakin jelas arah percakapan yang diucapkan oleh Ki Tanu Metir dengan nada yang berat dan bersungguh-sungguh itu. Sejenak kemudian ia masih mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Dan aku sudah berusaha untuk melakukannya Aku sudah menyingkirkan Agung Sedayu dari banjar ini, supaya Wuranta tidak lagi berkeberatan datang kemari. Dan aku sengaja tidak memberitahukan upacara yang diadakan hari ini supaya Agung Sedayu tidak datang kemari, apalagi bersama Sekar Mirah. Apabila demikian maka ada kemungkinan bahwa Wuranta akan menyingkir dari banjar ini dan untuk seterusnya ia tidak akan datang kembali. Bahkan mungkin ia akan terus kembali ke Jati Anom sebelum Angger Untara sendiri kembali bersama sebagian dari pasukan Pajang di sini. Nah, Wuranta akan dapat mengatakan kekecewaannya kepada anak-anak muda Jati Anom. Ia dapat mengatakan hal-hal yang tidak benar atau setidak-tidaknya kurang tepat karena arus perasaannya yang kadang-kadang kurang dapat dikendalikan. Dengan demikian bukankah ada baiknya bagi Angger bahwa Angger Agung Sedayu tidak datang dalam upacara ini?”

“Oh,” dahi Untara menjadi berkerut-merut, “itu tidak jujur Kiai,” katanya dengan serta-merta.

“Kenapa?”

“Kiai tidak bersikap adil terhadap keduanya,” ternyata kata-kata Kiai Gringsing telah menyentuh hati Untara sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya sejak masa kanak-kanaknya. “Seharusnya Kiai memberitahukan dahulu kepadaku akan rencana itu. Aku telah bersikap terlampau kasar terhadap Agung Sedayu. Seharusnya Wuranta pun harus dapat menyadari dirinya. Persoalan-persoalan pribadi harus dapat disingkirkan di dalam masalah-masalah yang jauh lebih besar dan penting.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing. “Aku memang bersalah. Aku tidak memberitahukan dahulu kepada Angger Untara. Tetapi aku tidak sempat. Terlalu sulit untuk mendapat kesempatan berbicara dengan Angger karena pekerjaan Angger yang tidak ada hentinya. Namun Angger jangan mempersoalkannya dengan Angger Wuranta. Ternyata perasaan anak muda itu terlampau mudah tersinggung. Aku kira baru untuk pertama kalinya ia merasa tertarik kepada seorang gadis. Dan gadis itu adalah Sekar Mirah. Justru Sekar Mirah yang sudah terlanjur terikat oleh Angger Agung Sedayu. Tetapi Angger Untara jangan mengatakan kepada adik Angger itu, bahwa ia harus mementingkan persoalan-persoalan yang lebih besar dari persoalan-persoalan pribadinya. Misalnya hubungannya dengan Sekar Mirah dan hubungannya dengan kewajiban-kewajiban yang akan Angger berikan kepadanya. Hubungan yang demikian adalah wajar bagi anak-anak muda. Bahkan mungkin akan membuatnya agak aneh dan berbeda dari kebiasaan hidup sebelumnya. Mungkin ia menjadi berani menentang orang lain dan bersikap kurang menyenangkan. Apalagi di hadapan gadis itu sendiri. Hanya satu dua orang sajalah yang dapat berbuat seperti Angger Untara, mengesampingkan semua persoalan pribadi dan menenggelamkan diri dalam kewajiban Angger sebagai seorang prajurit. Tetapi aku kira Angger Agung Sedayu tidak akan dapat berbuat demikian. Meskipun mungkin ia dapat menyingkirkan segala macam pamrih kebendaan yang lain, namun hal yang satu itu pun harus hidup di dalam hatinya. Dengan demikian maka pribadinya akan dapat mekar. Hidup Agung Sedayu di masa kanak-anaknya selalu berada di samping seorang perempuan. Ibunya. Itulah sebabnya Agung Sedayu memerlukan seorang perempuan untuk mengembangkannya. Berbeda dengan Angger Untara. Angger Untara sejak lahir seolah-olah telah menggenggam pedang. Dan pedang itu kini masih tetap di dalam genggaman. Pedang merupakan kawan hidup yang paling setia bagi Angger Untara.”

Wajah Untara yang tegang menjadi semakin tegang. Terasa ia benar-benar berbicara dengan seorang yang rambutnya telah memutih, yang memandang segi-segi kehidupan dari sudut-sudut yang tidak pernah dipikirkannya. Dengan demikian maka Untara tidak menjawab. Ia mencoba mencernakan kata-kata Ki Tanu Metir itu. Namun bagaimanapun juga ia merasakan bahwa hal ini tetap merupakan persoalan-persoalan yang harus ditanganinya dalam keadaan serupa ini. Persoalan-persoalan yang tumbuh di dalam masa-masa perjuangan yang berat. Di Sangkal Putung, Untara dan Widura harus menangani persoalan Sidanti yang terlampau tamak dan terlampau ingin cepat menginjakkan kakinya ke tingkat yang lebih tinggi. Di sini ia berhadapan dengan persoalan yang lain.

Ki Tanu Metir agaknya melihat perasaan yang berkecamuk di dalam dada Untara sehingga ia berkata, “Bukankah persoalan-persoalan yang demikian itu dapat tumbuh di mana-mana? Dan bukankah di setiap saat Angger dapat menemui seribu satu macam persoalan? Apalagi dalam saat-saat serupa ini. Di saat-saat anak-anak muda kehilangan sasaran untuk melepaskan ketegangan yang masih mencengkam dada masing-masing, setelah lawan terkalahkan. Kadang-kadang ketegangan-ketegangan itu tidak tersalur sewajarnya. Karena itulah maka Angger Untara harus berusaha untuk menyalurkannya, jangan membendung. Carilah keseimbangan dari keduanya. Mungkin hal ini akan sangat mengganggu Angger. Tetapi ini pun merupakan sebagian dari tanggung jawab Angger sebagai seorang pemimpin. Persoalan ini justru persoalan yang belum pernah Angger alami sendiri.”

Untara mengerutkan dahinya. Tetapi kali ini ia melihat Ki Tanu Metir tersenyum, “Karena itu, Ngger, lengkapilah pengalaman Angger dalam segala segi, supaya Angger tidak canggung menghadapi persoalan-persoalan yang demikian.”

“Ah,” Untara berdesah.

“Hal itu akan sangat berguna bagi Angger, pekerjaan Angger kini sudah jauh berkurang. Pajang telah hampir menemukan kemantapannya. Mudah-mudahan tidak ada persoalan lagi yang akan mengganggu. Mudah-mudahan Pajang berbuat bijaksana sehingga tidak menumbuhkan persoalan-persoalan baru lagi.”

Untara mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar Ki Tanu Metir bergumam, “Sebaiknya tidak saja daerah Pati, tetapi Mentaok pun harus segera diselesaikan, di samping Sidanti yang pasti akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, justru berhadapan dengan Mentaok.”

Untara tidak segera menjawab. Dicernakannya kata-kata itu baik-baik di dalam hatinya. Meskipun seakan-akan Ki Tanu Metir begitu saja mengatakannya, namun agaknya kalimat-kalimatnya mengandung suatu tuntutan terhadap pimpinan pemerintahan Pajang.

Ia tahu benar janji Adiwijaya kepada Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi. Apabila mereka dapat mengalahkan Arya Penangsang maka mereka akan mendapat tanah Pati dan bumi Mentaok. Meskipun yang memegang peranan penting dalam pertempuran yang terjadi antara kedua induk pasukan Pajang dan Jipang, yang langsung dipimpin oleh Arya Penangsang adalah Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, dengan mempergunakan tombak Kiai Pleret, namun Adiwijaya tidak akan mengingkari janjinya. Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi akan mendapat tanah yang telah dijanjikan kepada mereka, tapi saat ini yang baru diberikan adalah tanah Pati. Baru Ki Penjawi yang telah menerima tanah yang telah dijanjikan oleh Adiwijaya.

Kedua daerah yang dijanjikan untuk hadiah itu pun ternyata sangat berbeda keadaannya. Pati telah tumbuh menjadi sebuah kota yang semakin hari semakin ramai, tetapi bumi Mentaok masih berupa sebuah hutan yang ganas dan liar. Hutan yang isinya telah dilihat sendiri oleh Sutawijaya dan beberapa kali oleh Ki Gede Pemanahan sebagai seorang prajurit Wira Tamtama. Namun sampai saat terakhir, tanah yang masih berupa hutan itu pun belum juga diberikannya.

Tetapi persoalan itu adalah persoalan para pemimpin pemerintahan. Bukan persoalannya dan bukan persoalan Ki Tanu Metir.

“Apakah maksud Ki Tanu Metir mengungkapkan persoalan itu?” bertanya Untara di dalam hatinya.

Dalam kediamannya itu Untara mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Sudahlah, Ngger, silahkan. Para perwira mungkin telah menunggu Angger. Mungkin Angger perlu beristirahat atau ada persoalan-persoalan yang masih perlu Angger bicarakan.”

Untara menganggukkan kepalanya, “Baik, Kiai. Lalu Kiai sendiri akan pergi ke mana?”

“Ah, jangan hiraukan aku,” sahut Ki Tanu Metir sambil tersenyum. “Mungkin aku akan pergi kepada Angger Agung Sedayu atau berjalan-jalan ke mana saja.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia tidak dapat menahan diri lagi dan bertanya, “Tetapi apakah maksud Kiai mengatakan tentang tanah Pati dan bumi Mentaok?”

“Oh,” Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya, “tidak apa-apa, Ngger. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tetapi sebaiknya hal-hal semacam itu mendapat perhatian. Tidak seorang pun tahu maksud pimpinan pemerintahan Pajang sekarang. Kenapa Pati yang justru telah berupa menjadi tanah yang ramai telah diserahkan, tetapi bumi Mentaok yang masih harus banyak mendapat pembinaan masih belum. Setelah persoalan orang-orang Jipang ini selesai, maka kejanggalan ini akan sangat terasa. Ki Gede Pemanahan, yang selama ini masih sibuk dengan tugasnya, maka kini ia akan segera mendapat peluang untuk memikirkannya.”

“Ah,” desah Untara, “Ki Gede Pemanahan tidak akan memperhitungkan hal-hal serupa itu. Ia adalah seorang besar yang tidak menimbang betapa besar pengorbanannya. Ia tidak akan berpikir tentang masalah-masalah yang tidak penting seperti tanah Pari dan bumi Mentaok.”

Untara mengerutkan keningnya ketika ia melihat Ki Tanu Metir tersenyum. Orang tua itu menjawab, “Bagaimanakah persoalannya sehingga janji itu lahir? Janji tentang kedua daerah itu?”

Untara tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah Ki Tanu Metir yang selama ini dikenalnya sebagai seorang dukun yang baik dan seorang yang pilih tanding dalam olah kanuragan. Seorang yang juga mempergunakan nama Kiai Gringsing. Tetapi apakah Kiai Gringsing itu sudah cukup menyatakan dirinya dengan melepas kedoknya yang dipakainya untuk mengelabui Agung Sedayu, kemudian menyatakan dirinya bahwa Kiai Gringsing itu adalah Ki Tanu Metir? Tetapi siapakah Ki Tanu Metir itu sebenarnya? Ternyata orang itu terlampau banyak menaruh perhatian dan bahkan terlalu banyak mengerti tentang keadaan pemerintahan.

“Angger Untara,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “Aku kira Ki Gede Pemanahan tidak akan mengusik hal-hal yang telah dijanjikan itu seandainya tanah Pati pun tidak diserahkan. Dan kenapa Adiwijaya mempergunakan janji itu di dalam tindakannya? Bukankah sudah sewajarnya bahwa Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, dan para senapati seperti Angger Untara melakukan perintahnya walaupun tanpa janji apa pun?”

“Ya, ya Kiai,” potong Untara, “aku tahu.”

“Nah,” berkata Ki Tanu Metir “bukankah Adipati Pajang yang pasti akan menyebut dirinya kemudian Sultan Pajang itu juga mengharapkan janji atas kesanggupannya melenyapkan Arya Jipang.”

“Ah,” desah Untara, “apakah maksud Kiai sebenarnya?”

“Sudah aku katakan,” jawab Ki Tanu Metir, “tidak bermaksud apa-apa. Aku bukan orang penting. Aku bukan orang yang berwenang membicarakan. Tetapi aku ingin Pajang dapat tegak dengan mantap tanpa persoalan-persoalan apa pun yang dapat mengganggunya. Kalau Angger Untara dapat menolong memperingatkan Adipati Adiwijaya lewat siapa pun atas keterlambatannya, maka aku kira Pajang akan bersih dari segala gangguan dan Pajang akan sempat membangun dirinya.”

“Mudah-mudahan hal yang serupa itu tidak terjadi, Kiai. Jangan terlampau mencemaskannya. Orang-orang Pajang cukup besar jiwanya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan kecil semacam itu.”

Ki Tanu Metir tersenyum. “Tetapi bukankah Adipati Adiwijaya juga menuntut janji yang diberikan oleh Ratu Kalinyamat kepadanya?”

“Sudahlah Ngger. Aku terlampau banyak berbicara. Lihat Angger Wuranta datang. Apabila Angger telah memutuskan untuk kembali ke Jati Anom, harap Angger memberitahukan kepadaku.”

Untara mengangkat wajahnya, memandangi jalan yang membujur di hadapan banjar itu. Dilihatnya Wuranta berjalan bersama beberapa orang prajurit Pajang. Kini tampaklah mereka menjadi semakin akrab. Wuranta sudah tidak lagi kehilangan keseimbangan, meskipun setiap kali dadanya masih juga berdebar-debar dan gairahnya menghadapi masa depan seolah-olah akan patah. Namun ia sudah mampu menempatkan dirinya. Ia sudah dapat membeda-bedakan persoalan yang dihadapinya.

“Ia tidak akan datang apabila Angger Agung Sedayu masih di sini. Ia pasti akan meninggalkan halaman ini,” desis Ki Tanu Metir.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Anak itu terlampau perasa. Ia harus menyadari keadaannya dan tidak mudah dihempaskan ke dalam suatu perbuatan putus asa.”

“Perlahan-lahan, Ngger. Perlahan-lahan. Lambat-laun pengalamannya akan menuntunnya. Seperti Angger Agung Sedayu yang kini telah berhasil melepaskan diri dari kungkungan sifat-sifatnya di masa kanak-kanaknya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “Kiai sebenarnya aku masih ingin tahu, kenapa Kiai menaruh perhatian yang besar sekali terhadap Adipati Pajang.”

“Ah, sudahlah anggaplah itu hanya sekedar sendau gurau saja.”

“Tidak, Kiai,” sahut Untara, “ternyata Kiai tidak sekedar bergurau saja.”

“Lihat, Angger Wuranta telah memasuki halaman. Persilahkan ia masuk ke dalam pringgitan.”

Untara tidak mendapat kesempatan lagi untuk bertanya. Wuranta telah berdiri di hadapannya bersama beberapa orang prajurit.

“Masuklah,” Untara mempersilahkan.

Wuranta menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah masuk, sedang para prajurit segera pergi ke gandok kiri.

Ketika Wuranta telah hilang di balik pintu, Kiai Gringsing berkata, “Sudahlah, Ngger. Aku akan pergi. Angger sebenarnya tidak perlu merisaukan kata-kataku itu.”

“Aku perlu mengetahui, Kiai.”

Kiai Gringsing menggeleng, kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Nanti malam aku akan datang kemari. Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, biarlah tetap di dalam pondoknya. Besok atau lusa mereka akan ikut serta bersama-sama dengan Angger pergi ke Jati Anom. Kemudian mereka pasti akan segera kembali ke Sangkal Putung. Di Sangkal Putung orang tua mereka telah menunggu dengan cemas. Mudah-mudahan persoalan Sekar Mirah itu dapat diselesaikan dengan baik. Mudah-mudahan Wuranta tidak terluka karenanya, dan Agung Sedayu pun dapat mengerti pula keadaannya.”

“Hem,” Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Kiai Gringsing telah mendahului, “Jangan kau salahkan anak-anak muda itu. Perasaan yang demikian itu wajar bagi anak-anak muda.”

Untara hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudahlah, Ngger,” sekali lagi Kiai Gringsing minta diri.

“Silahkan, Kiai.”

Kiai Gringsing pun kemudian meninggalkan halaman padepokan itu. Namun sejenak Untara masih berdiri saja di tangga pendapa. Dicobanya untuk mengingat apa yang baru saja dilakukan. Tiba-tiba anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti kenapa Ki Tanu Metir seolah-olah menahan Agung Sedayu di pondoknya. Ternyata Ki Tanu Metir berusaha memberi kesempatan kepada Wuranta untuk menemukan dirinya kembali. Sebab menurut penilaiannya, Wuranta mempunyai jasa yang cukup besar bagi Pajang.

“Tetapi tanpa Ki Tanu Metir, Wuranta tidak akan dapat berbuat apa-apa,” desis Untara itu. “Anak muda itu hanya sekedar melakukan petunjuk-petunjuk orang tua itu, meskipun dalam saat-saat yang penting kecakapan berpikir Wuranta juga dapat menentukan. Tetapi keduanya memiliki jasanya yang seimbang. Sayang aku tidak dapat berbuat banyak terhadap orang tua itu. Aku tidak akan dapat mengucapkan terima kasih kepadanya. Setiap kali ia hanya tertawa saja, seolah-olah pernyataan terima kasih yang demikian itu hanya merupakan keharusan adat tata cara”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya di dalam hati, “Tetapi terhadap Wuranta aku akan dapat melakukannya. Aku harus menunjukkan kepada anak-anak muda Jati Anom, bahwa pasukan Pajang menyatakan terima kasihnya tidak terhingga kepada mereka, khususnya Wuranta. Mudah-mudahan Ki Tanu Metir pun kali ini mau menerima pernyataan resmi dari pada prajurit Pajang.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Untara melangkah naik ke pendapa. Namun tiba-tiba tersirat di dalam hatinya kata-kata Ki Tanu Metir, “Bukankah Adipati Adiwijaya juga menuntut janji yang diberikan oleh Ratu Kalinyamat kepadanya?”

“Hem,” Untara masih mengangguk-anggukkan kepalanya, “dari mana orang tua itu tahu bahwa Ratu Kalinyamat menjanjikan dua orang gadis cantik bagi Adipati Pajang yang kini telah menyebut dirinya Sultan Pajang?”

Sejenak angan-angan Untara meloncat kepada peristiwa itu, pada saat Adipati Adiwijaya menghadap kakanda Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa dengan bertelanjang tanpa mengenakan pakaian sama sekali selain rambutnya sendiri yang hitam lebat dan panjang.

Janji Ratu Kalinyamat telah membuat Adipati Adiwijaya menjadi bingung. Wajar kedua gadis itu selalu mengganggunya, sehingga dengan tergesa-gesa pula ia berkeinginan untuk menyelesaikan persoalan Arya Penangsang yang telah membunuh Sunan Prawata, Pangeran Hadiri, dan orang-orang yang tidak sependapat dengan pendiriannya. Dan ketergesa-gesaannya itulah yang menyebabkannya, maka ia pun segera menyatakan janjinya, meskipun tanpa janji apapun Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, apalagi Sutawijaya yang telah diangkat menjadi puteranya itu, pasti akan melakukannya. Ternyata ketergesa-gesaannya itu kini dapat menumbuhkan akibat, menurut panggraita Ki Tanu Metir.

Langkah Untara itu tiba-tiba tertegun. Seolah-olah ia belum puas mengenang semua yang pernah terjadi menjelang pecah perang antara Pajang dan Jipang. Dua kadipaten yang termasuk dalam lingkungan Kerajaan Demak. Tetapi setelah Demak kosong, maka kedua kadipaten ini terlibat dalam suatu pertentangan yang tidak dapat diselesaikan, selain dengan peperangan.

Untara masih berdiri di muka pintu yang memisahkan pringgitan dan pendapa banjar padepokan itu. Tangannya sudah melekat pada gawang pintu, tetapi ia masih belum mendorong pintu itu. Di halaman ia melihat satu dua orang prajurit berjalan hilir-mudik. Sedang di pendapa itu sendiri ia masih melihat beberapa orang yang terluka duduk-duduk di antara mereka. Orang yang lukanya tidak terlampau parah.

“Itu adalah salah satu kelemahan dari Adipati Pajang,” Untara masih saja berbicara sendiri di dalam hatinya. Ia tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata para prajurit yang berada di pendapa itu memandanginya dengan heran. Tetapi Untara masih berbicara di dalam dirinya, “Adipati Adiwijaya tidak dapat menahan diri apabila ia melihat wanita-wanita cantik. Tetapi aku kira tindakannya tentang kedua tanah yang dijanjikan itu tidak terlampau salah. Pati memang harus segera diserahkan. Tetapi aku rasa Mentaok tidak akan terlampau tergesa-gesa. Seandainya tanah itu jatuh ketangan Ki Gede Pemanahan sebagai tanah perdikan yang kini masih berupa hutan yang lebat dan liar, namun akhirnya daerah itu akan jatuh ketangan puteranya Mas Ngabei Loring Pasar. Sedangkan apabila tanah itu dibuka lebih dahulu, maka Ki Gede Pemanahan tidak perlu mencemaskannya, bahwa akhirnya tanah itu pasti akan jatuh ketangan Sutawijaya pula. Bahkan mungkin bukan sekedar daerah Mentaok sebagai tanah perdikan. Mungkin Sutawijaya akan menerima daerah yang jauh lebih luas, untuk mendirikan sebuah kadipaten baru.”

Untara terkejut-ketika tiba-tiba pintu itu terdorong ke samping. Ternyata seseorang telah membukanya dari dalam.

“Oh,” orang itu pun terkejut, tetapi keduanya kemudian tersenyum, “aku tidak tahu kalau Kakang Untara berdiri di situ.”

“Aku baru akan masuk,” sahut Untara.

“Silahkanlah,” orang itu mempersilahkan.

Untara kemudian masuk pula ke dalam pringgitan yang lembab. Disuruhnya beberapa orang untuk membuka genting supaya panas matahari dapat masuk dan memanaskan udara di dalam banjar itu.

“Ki Tambak Wedi tidak sempat membersihkan pringgitan ini,” gumam Untara. “Ia lebih senang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, membuat kisruh dan menuntun muridnya untuk berbuat seperti dirinya sendiri.”

Ketika kemudian kepada mereka dihidangkan makan dan minuman, maka mereka pun segera menikmatinya. Badan mereka yang lelah telah membuat mereka lapar dan haus, sehingga makanan yang dihidangkan itu menjadi sangat lezat terasa di lidah-lidah mereka.

Sambil makan ada-ada saja yang mereka percakapkan, dari yang paling menyeramkan sampai yang paling menggelikan dalam peperangan yang baru saja terjadi. Wuranta kini telah dapat ikut dalam percakapan itu dengan wajar. Ia sudah tidak terlalu mudah tersinggung, meskipun ada satu dua orang perwira di antara mereka yang sengaja menyebut-nyebut namanya. Bahkan anak muda Jati Anom yang telah berhasil menemukan dirinya sendiri itu hanya tersenyum saja. Ia kini merasa, bahwa kedudukanya sama sekali tidak berada di bawah para perwira itu di dalam perjuangan.

Tetapi selama itu Untara sendiri tidak terlampau banyak ikut berbicara. Angan-angannya kadang-kadang masih saja diganggu oleh keadaan yang bakal datang. Kadang-kadang ia ikut serta menyesalkan tindakan Adipati Pajang. Tetapi kadang-kadang ia menganggap bahwa tindakan itu cukup bijaksana.

“Kedua sudut pandangan itu mempunyai alasannya masing-masing,” katanya di dalam hati. “Tetapi apapun alasannya, maka tidak akan dapat dijadikan sebab untuk berbuat hal-hal yang tidak semestinya.”

Untara itu tersadar ketika ia mendengar Wuranta bertanya, “Untara, kapan aku mendapat kesempatan untuk kembali ke Jati Anom?”

“Aku juga sedang memikirkan,” jawab Untara. “Aku kira segera setelah semua persoalan aku selesaikan di sini. Aku sudah memutuskan bahwa aku akan membuat kedudukan untuk sementara di Jati Anom bersama separo dari seluruh pasukan. Sedang yang separo lagi mempunyai tugas di sini. Mengawasi dan menyelesaikan masalah-masalah harian yang akan timbul. Orang-orang yang menyerah memerlukan bimbingan, juga perempuan dan kanak-anak yang kehilangan suami dan ayah-ayah mereka. Sedangkan yang berbahaya akan aku kirimkan ke Pajang.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sebenarnya tidak perlu menunggu kau, Untara. Aku dapat kembali sendiri.”

“Jangan,” potong Untara. “Aku akan membuat sekedar pernyataan terima kasih. Hari ini aku akan memerintahkan beberapa orang prajurit untuk turun menemui Ki Demang Jati Anom. Setelah aku menentukan hari-hari yang pasti, maka aku akan memberitahukan hal itu lagi kepada Ki Demang.”

“Untuk apa?” bertanya Wuranta.

“Prajurit-prajuritku dan orang-orang Jati Anom yang sudah cukup lama mengalami ketegangan jiwa, perlu mendapat sedikit pelepasan. Aku yakin bahwa Jati Anom masih memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk itu.”

Wuranta tersenyum. Katanya, “Maksudmu, Jati Anom masih mampu menyelenggarakan keramaian?”

“Begitulah.”

“Mungkin masih. Tetapi selama ini hati kita terampas oleh kecemasan. Aku tidak tahu, apakah Ki Demang masih sanggup menyelenggarakannya.”

“Aku akan menanyakannya. Mungkin besok aku sudah dapat menemukan keputusan, kapan kita akan kembali.” Dan diluar sadarnya Untara meneruskan, “Anak-anak Sangkal Putung itu pun sudah tergesa-gesa pula ingin pulang ke kampung-halamannya.”

Mendengar kata-kata Untara itu Wuranta mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba menunduk. Dan ia tidak menyahut sama-sekali.

Untara melihat perubahan wajah itu, dan disadarinya keterlanjurannya. Dengan demikian maka ia ingin memperbaikinya katanya, “Mudah-mudahan Ki Demang Jati Anom masih menemukan kemungkinan itu.”

Tetapi Wuranta masih tetap menundukkan kepalanya. Namun terdengar ia bergumam, “Kalau anak-anak Sangkal Putung itu ingin segera kembali, apakah keberatannya? Biarlah mereka kembali ke kampung halaman mereka. Barangkali mereka memang sudah tidak mempunyai urusan apa pun di sini.”

“Ya,” sahut Untara, “mereka sudah tidak mempunyai urusan di sini. Karena itu biarlah mereka segera kembali. Tetapi aku belum tahu, kapan mereka ingin pergi ke Sangkal Putung.”

Sekali lagi Wuranta terdiam. Percakapan mereka kini sudah tidak selancar semula. Dan Untara menyesali keterlanjurannya, namun ia juga menyesali sikap Wuranta yang terlampau mudah tersinggung itu pula.

Bahkan di dalam hati Untara berkata, “Biarlah anak-anak Sangkal Putung itu segera saja kembali. Suasana di sini dan di Jati Anom harus tetap baik. Wuranta mempunyai pengaruh yang cukup di Kademangan Jati Anom. Apalagi setelah mereka mendengar apa yang sebenarnya telah dilakukannya. Maka apabila anak itu kecewa, anak-anak muda Jati Anom pun akan menjadi kecewa pula. Terhadapku, dan terhadap prajurit-prajurit Pajang pada umumnya, yang sementara masih memerlukan Jati Anom sebagai tempat kedudukan mereka.”

Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Masing-masing terdiam kaku. Di dalam kediaman itu Untara tiba-tiba berpikir tentang adiknya. Apakah anak itu akan tinggal bersamanya di Jati Anom, ataukah ia akan pergi ke Sangkal Putung?

“Tak ada yang akan dilakukannya di Sangkal Putung. Ia harus tetap berada di Jati Anom bersamaku. Aku akan dapat mendidiknya untuk menjadi seorang laki-laki,” berkata Untara di dalam hatinya. “Baru saja ia berhasil melepaskan diri dari kungkungan dunianya yang sempit dan penuh ketakutan, kini ia telah jatuh ke dalam dunia lain yang sama-sama mengikatnya seperti dunianya yang dulu. Tetapi ia kini terikat oleh perasaan-perasaan yang tidak ubahnya seperti seorang yang sakit ingatan. Seseorang yang terkungkung dalam dunia yang demikian, maka ia akan kehilangan pribadinya. Mungkin Ki Tanu Metir benar, bahwa orang-orang muda akan mengalaminya sesuai dengan kewajaran sifat manusia. Tetapi Agung Sedayu masih terlampau muda. Ia masih harus banyak berbuat dan bekerja untuk membentuk dirinya, sebelum ia terjerumus kedalam dunia lain, yang sebenarnya belum masanya dialaminya”

Terngiang di telinga Untara kata-kata Ki Tanu Metir, “Jangan kau salahkan anak-anak muda itu, Ngger. Perasaan yang demikian itu wajar bagi anak-anak muda.”

“Memang,” Untara membantah di dalam hatinya, “hal itu adalah hal yang wajar. Tetapi bagi mereka yang sudah cukup dewasa. Akan tetapi belum waktunya buat Agung Sedayu. Ia segera akan kehilangan kepribadiannya dan terjerumus dalam suatu keadaan yang berbahaya. Ia akan menjadi alat saja bagi gadis Sangkal Putung itu. Ia tidak akan dapat membedakan lagi apa yang sebaiknya dilakukau dan apa yang tidak. Aku harus menjaganya supaya ia tetap teguh akan kediriannya. Aku harus membantu membentuknya menjadi seorang anak yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Hal itu sudah tampak padanya. Benih-benih dari ayah ternyata hidup subur di dalam dirinya. Ia adalah seorang pembidik yang baik. Seorang yang cukup lincah dan tangguh. Kematangannya akan membuatnya pilih landing. Tetapi apabila sebelum waktu itu datang ia sudah jatuh ke dalam pengaruh seorang gadis, maka semuanya itu tidak akan dapat terwujud.”

Untara tersadar ketika ia mendengar beberapa orang minta ijin kepadanya untuk keluar dari pringgitan itu. Udara ternyata terlampau panas.

“O, silahkanlah,” sahut Untara.

Beberapa orang kemudian berdiri dan berjalan meninggalkannya. Wuranta pun kemudian minta ijin pula untuk keluar. Ia ingin melepaskan diri dari ketegangan yang tiba-tiba mencengkamnya setelah sekian lama dapat dihindarinya. Namun ia kini tidak lagi menjadi seolah-olah kehilangan akal. Ia berjalan di antara para perwira yang pergi keluar pringgitan dan bercakap-cakap di antara mereka. Dengan demikian maka hatinya menjadi agak tenang.

Akhirnya Untara sendiri merasa bahwa udara di dalam pringgitan itu terlampau panas. Ia kini sudah tidak begitu terikat oleh tugas-tugas yang terlampau banyak. Karena itu maka tiba-tiba ia ingin mengunjungi adiknya dan kedua anak-anak muda Sangkal Putung kakak beradik. Ia ingin tahu, apakah keinginan mereka, dan kapankah mereka akan kembali ke Sangkal Putung.

Dengan dua orang perwira bawahannya Untara pergi ke pondok tempat tinggal Agung Sedayu. Ditemuinya ketiga anak-anak muda di pondok itu sedang duduk di bawah sebatang pohon sawo di halaman.

“Hem,” Untara berdesah di dalam hatinya, “itulah kerja mereka di pondok ini. Duduk-duduk dengan malasnya. Ini mempunyai pengaruh yang jelek terhadap Agung Sedayu. Wajarlah apabila ia semakin dalam tenggelam di bawah pengaruh Sekar Mirah. Setiap hari mereka berkumpul tanpa mempunyai perhatian atas masalah-masalah yang penting selain masalah-masalah di dalam diri mereka sendiri.”

Ketika anak-anak muda itu melihat kedatangan Untara, bagaimanapun juga anggapannya terhadap senapati itu, namun dengan tergopoh-gopoh mereka menyambut kedatangannya. Dengan ramahnya Untara dipersilahkan untuk masuk ke dalam dan duduk di sebuah amben yang besar.

Tetapi dada Untara itu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat sesosok tubuh terbaring dengan nyamannya diamben itu. Ternyata Ki Tanu Metir sedang tidur dengan nyenyaknya. Tetapi langkah mereka telah membangunkannya. Sambil menggeliat ia berkata, “Ah marilah, Ngger. Aku sedang tidur.”

Untara tidak menyahut. Dianggukkan kepalanya, kemudian bersama kedua kawannya ia duduk di amben yang besar itu, sementara Ki Tanu Metir telah bangun dan duduk pula di antara mereka. Kain yang dipakainya kali ini adalah kain gringsingnya, diselimutkan pada sebagian dari tubuhnya yang tidak berbaju.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Swandaru dan Sekar Mirah berganti-ganti, kemudian adiknya, Agung Sedayu.

“Bagaimanakah dengan kalian?” bertanya Untara tiba-tiba.

“Kami baik-baik saja di sini, Kakang,” Swandaru-lah yang menyahut.

Senapati muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia bertanya pula, “Apakah kalian kerasan di sini?”

Pertanyaan itu mengejutkan mereka, sudah tentu mereka tidak kerasan di tempat yang asing ini. Mereka lebih senang segera kembali ke Sangkal Putung.

Ternyata Ki Tanu Metir sempat menangkap maksud dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang mengejutkannya pula. Seharusnya Untara tidak langsung bertanya kepada kedua anak-anak muda itu.

“Apakah yang terjadi dengan Angger Wuranta?” bertanya Ki Tanu Metir di dalam hatinya. “Angger Untara adalah seorang senapati yang berpengalaman. Ia dapat memperhitungkan hampir tepat setiap gerakan lawan. Ia dapat melawan gelar yang bagaimanapun sulitnya. Tetapi ia bukan seorang yang mengerti perasaan anak-anak muda. Ia kurang bijaksana menanggapi persoalan ini. Angger Untara memandang segala persoalan dari kepentingan keprajuritan. Seperti tanggapannya terhadap Angger Agung Sedayu dan Wuranta. Persoalan yang langsung menyangkut pasukannyalah yang paling banyak mendapat perhatian.”

Karena itu selagi Swandaru dan Sekar Mirah masih bingung menanggapi pertanyaan Untara, maka Ki Tanu Metir-lah yang menyahut, “Sudah tentu tidak, Ngger. Kedua anak-anak muda ini, bahkan ketiganya sama sekali tidak kerasan berada di tempat ini. Bagi mereka lebih baik untuk segera kembali ke Sangkal Putung daripada berada di sini. Sudah tentu ayah bundanya menunggu mereka dengan cemasnya. Bahkan mereka telah menyatakan keinginan mereka untuk mendahuluinya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia beringsut maju dan hampir memotong kata-kata Kiai Gringsing, Kiai Gringsing itu cepat-cepat melanjutkannya, “Tetapi hal itu tidak dapat dilakukannya, akulah yang melarangnya. Mereka harus mengerti bagaimana sikap yang sebaik-baiknya dilakukan. Mereka harus mengucapkan terima kasih kepada pasukan yang telah membebaskannya. Aku minta mereka menunggu, Ngger. Mereka akan pergi bersamamu ke Jati Anom, kemudian secara resmi mereka akan mohon diri untuk kembali ke Sangkal Putung.”

Wajah Untara tampak berkerut. Ia kehilangan kalimat untuk menjawab. Sebenarnya ia ingin berkata, bahwa tidak ada keberatannya seandainya kedua anak-anak muda itu ingin segera kembali ke Sangkal Putung, bahkan itulah yang diinginkannya. Tetapi Ki Tanu Metir telah melarang mereka. Bagi Untara semakin cepat Sekar Mirah pergi, akan semakin baik. Senapati itu mencemaskan kehadirannya sebagai seorang gadis yang cantik. Kecantikannya akan dapat mempengaruhi keadaan. Terutama adiknya. Bukan mustahil apabila kelak akan dapat menumbuhkan persoalan-persoalan baru. Sudah tentu Wuranta tidak akan segera dapat melupakannya. Bahkan seandainya diminta, ia bersedia menyediakan pengawal yang cukup kuat, yang akan dapat melindungi mereka berdua seandainya mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi di perjalanan.

Tetapi Ki Tanu Metir telah mendahului sikapnya. Karena itu maka Untara untuk sejenak tidak berkata sesuatu.

Yang berkata kemudian adalah Ki Tanu Metir, yang melihat wajah Untara berkerut-merut. Seolah-olah ia dapat menebak isi hati anak muda itu. Katanya, “Sebenarnya aku pun tidak kerasan pula berada di sini, Ngger. Aku pun ingin segera kembali ke Dukuh Pakuwon. Tetapi aku pun ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian, bahwa kalian telah membebaskan Sekar Mirah. Adik muridku yang muda ini.”

Dada Untara berdesir. Ternyata kini ia dapat merasakan sesuatu di dalam hatinya, tentang orang tua itu. Ada yang tidak diakui oleh Ki Tanu Metir. Mungkin sikapnya atas Agung Sedayu dan kini sikapnya atas Swandaru, yang keduanya adalah murid Ki Tanu Metir.

Untara masih tetap berdiam diri. Ki Tanu Metir baginya adalah seorang yang banyak sekali memberikan jasanya. Jauh lebih banyak dari apa yang dapat diberikan oleh Wuranta.

Karena itu maka Untara menjadi gelisah. Ia ingin mengatakan berterus terang kepada Ki Tanu Metir, bahwa perasaannya menangkap sesuatu yang tidak wajar pada orang tua itu. Tetapi itu tidak akan dapat diucapkannya di hadapan Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Karena itu, maka ia ingin segera mendapat penjelasan dari persoalannya. Kalau ia secepatnya pergi ke Jati Anom membawa mereka itu, maka persoalannya akan menjadi semakin jelas. Ia pun akan segera dapat melihat perkembangan keadaan adiknya. Ia sudah memutuskan, bahwa Agung Sedayu tidak boleh pergi ke Sangkal Putung. Ia tidak berkeberatan hubungan apa pun yang akan dilakukan dengan Sekar Mirah, tapi yang menurut penilaian Untara, Agung Sedayu masih harus membentuk dirinya. Ia akan dapat menjadi seorang yang pilih tanding. Kelak apabila dikehendaki, ia akan dapat menjadi seorang prajurit yang dapat melampaui kebanyakan prajurit. Adipati Adiwijaya pasti akan menghargainya. Dan adiknya itu pasti akan segera mendapat tempat yang baik di kalangan Wira Tamtama.

Terdesak oleh perasaannya yang bergolak itu, maka tiba-tiba Untara berkata, “Besok lusa kita akan pergi ke Jati Anom. Besok aku akan memberitahukannya kepada Ki Demang Jati Anom. Aku mengharap Jati Anom akan menyambut kita dengan resmi. Dalam kesempatan itu kita akan mengucapkan terima kepada orang-orang yang banyak berjasa kepada perjuangan ini.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia pun merasakan apa yang bergetar di hati senapati muda itu, tetapi orang tua itu sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun. Ia masih saja tersenyum-senyum dan berkata, “Semakin cepat semakin baik, Ngger.”

Untara mengangguk. “Ya, Kiai,” jawabnya pendek. Ternyata Untara kemudian tidak dapat menyampaikan maksudnya, bertanya tentang keinginan Swandaru dan Sekar Mirah. Bahkan kemudian ia mendapat kesan yang aneh pada orang yang bernama Ki Tanu Metir dan yang sering menyebut diri Kiai Gringsing. Bahkan kesannya terhadap Kiai Gringsing itu menjadi semakin menggetarkan dadanya, sehingga tumbuhlah pertanyaan di dalam kepalanya, “Siapakah sebenarnya orang ini? Apakah benar bahwa Ki Tanu Metir itu hanya sekedar seorang dukun tua di Dukuh Pakuwon, tidak lebih dan tidak kurang? Hubungan apakah yang pernah dijalin antara Kiai Gringsing ini dengan ayah dahulu?”

Pembicaraan itu pun kemudian menjadi terlampau canggung. Sejenak mereka saling berdiam diri. Masing-masing menundukkan kepalanya. Kedua perwira kawan Untara menjadi heran melihat sikap Untara yang seolah-olah dicengkam oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Untuk hal-hal yang tampaknya tidak penting itu sebenarnya ia akan dapat mengambil keputusan tanpa menghiraukan terlampau banyak persoalan. Tetapi pembicaraan yang pendek itu agaknya telah membuat Untara ragu-ragu dan membuat kedua kawannya berdebar-debar.

Dalam kecanggungan itulah maka Ki Tanu Metir telah mencoba membuka pembicaraan-pembicaraan yang tidak berarti. Ia bertanya tentang beberapa hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan Untara mendatangi adiknya dan kedua anak-anak muda kakak beradik dari Sangkal Putung itu.

Tetapi Untara tidak dapat terlampau lama duduk di amben bambu yang besar itu. Sejenak kemudian, ia pun minta diri.

“O, begitu tergesa-gesa, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Ya, Kiai, aku agak lelah. Aku ingin beristirahat sebentar.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Silahkan, Ngger.”

Untara pun kemudian turun dari amben itu dan melangkah keluar. Tetapi di muka pintu ia berhenti sejenak dan berkata, “Sedayu, aku memerlukanmu.”

Dahi Agung Sedayu berkerut. Tetapi ia menjawab, “Ya, Kakang, aku akan datang.”

“Datanglah ke banjar.”

Sebelum Agung Sedayu menjawab, Ki Tanu Metir telah mendahuluinya, “Tetapi apakah tidak lebih baik Angger Agung Sedayu tidak usah datang ke banjar hari ini?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Apakah artinya kata-kata gurunya itu, dan apakah keberatannya?

Untara pun terdiam sejenak. Ia segera menangkap maksud Ki Tanu Metir. Namun tiba-tiba Untara mempunyai pendirian lain. Segalanya harus cepat menjadi jelas. Ia tidak ingin bermain sembunyi-sembunyian. Itu akan menyulitkan pekerjaannya saja. Ia harus segera berterus terang. Ia harus segera mendapatkan pemecahan.

Ternyata Ki Tanu Metir dapat mengerti apa yang tersirat di balik tatapan mata Untara yang tajam. Orang tua itu dapat mengerti bahwa Untara sebagai seorang senapati pasti mempunyai cara tersendiri. Apalagi seorang senapati muda.

Orang tua itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau cara itu yang akan ditempuh oleh Untara, maka ia pun tidak akan dapat menghalangi. Karena itu maka kemudian ia berkata, “Kalau Angger menghendaki, maka Agung Sedayu pun pasti akan pergi ke sana.”

“Ya,” sahut Untara. “Ia harus pergi ke banjar. Nanti malam.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Untara kemudian pergi meninggalkan mereka. Swandaru memandangi ketiga perwira itu dengan wajah yang keheran-heranan. Tetapi yang bertanya adalah Sekar Mirah, “Apakah sebenarnya keperluan mereka kemari?”

Ki Tanu Metir berpaling. Ditatapnya wajah gadis itu. Ternyata perasaan gadis itu cukup tajam. Tetapi Ki Tanu Metir menjawab, “Ia hanya ingin melihat-lihat semua lingkungan tanggung jawabnya.”

Sekar Mirah terdiam, tetapi hatinya menangkap sesuatu yang lain seperti juga Swandaru Geni. Apalagi Agung Sedayu. Beberapa saat sebelumnya sikap kakaknya telah membuatnya berdebar-debar. Dan kini kakaknya langsung memanggilnya. Apakah kepergiannya atas pendapat Ki Tanu Metir dari banjar tidak menyenangkan hati kakaknya, sehingga kakaknya memerlukan datang memanggilnya? Kalau hanya itu, bukankah kakaknya dapat memerintahkan bawahannya untuk datang ke pondoknya ini.

Tetapi teka-teki itu sudah tentu tidak akan dapat dijawabnya, kecuali langsung bertanya kepada Untara. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu menemukan suatu sikap di dalam dirinya. Sikap yang selama ini belum pernah dimilikinya. Dengan tetap ia berkata di dalam hatinya, “Apapun yang akan terjadi, aku harus menghadapinya. Aku tidak punya pilihan lain. Mungkin aku sudah berbuat kesalahan di luar sadarku. Tetapi aku harus mendengar apakah salahku yang sebenarnya. Kalau sekedar ketidak-hadiranku dalam upacara itu saja, maka aku kira persoalannya sudah selesai. Aku sudah memenuhi perintah Kakang Untara untuk minta maaf kepadanya.”

Dengan demikian maka hati Agung Sedayu justru menjadi tenang. Anak muda yang seakan-akan sepanjang hidupnya hanya tergantung saja kepada kakaknya, kini tanpa dikehendakinya sendiri dan tanpa disangka-sangka sebelumnya justru menemukan sikap di dalam dirinya, pada saat-saat ia digelisahkan oleh sikap kakaknya, tempat ia bergantung selama ini.

Maka tanpa disadarinya, perlahan-lahan ia bergumam lirih, “Aku akan datang, dan aku akan bertanggung jawab, apa pun kesalahan yang telah aku lakukan.”

Agung Sedayu itu terkejut ketika ia mendengar kata-kata lembut di belakangnya, “Bagus. Kau memang harus datang, Ngger.”

Ketika Agung Sedayu berpaling, dadanya menjadi berdebar-debar. Ternyata gurunya berada di belakangnya dan mendengar gumamnya, sehingga gurunya itu menyahut kata-katanya.

Namun sejenak Agung Sedayu tidak dapat mengerti maksud gurunya yang sebenarnya. Dan kebimbangannya itu memancar lewat sorot matanya.

Ki Tanu Metir kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan diulanginya kata-katanya, “Kau memang harus berbuat demikian, Ngger.”

“Apakah maksud guru sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

“Kau sudah menjadi semakin dewasa. Kau harus menemukan bentuk dari kepribadianmu sendiri. Kau tidak boleh selalu dibebani oleh perasaan ragu-ragu dan terlalu bergantung kepada orang lain. Misalnya kepada kakakmu. Suatu ketika kau harus menemukan sikap sendiri. Kau pada suatu saat harus meyakini suatu pendirian. Pendirian itu adalah pendirianmu. Pendirianmu sendiri.”

Agung Sedayu menundukkan wajahnya. Ia kini mengerti maksud gurunya. Memang selama ini ia terlampau bergantung kepada kakaknya. Dalam segala hal ia seolah-olah terikat kepada keputusan Untara. Ia merasakan bahwa ia tidak sebebas Swandaru apalagi Sutawijaya. Keduanya dapat menentukan sikapnya tanpa terlampau banyak mempertimbangkan pendapat orang lain.

Namun demikian ia mendengar gurunya meneruskan, “Tetapi Ngger, ini tidak berarti bahwa kau harus memutuskan semua seakan seperti seekor kuda yang lepas dari kendali. Kau masih tetap seorang saudara muda Angger Untara. Kau masih tetap harus mendengarkan nasehatnya. Tetapi kau sendiri harus mempunyai landasan sikap. Sikap seorang yang dewasa. Tetapi juga tidak berarti bahwa kau harus menentang setiap pendapat kakakmu.”

Kini perlahan-lahan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ki Tanu Metir berkata selanjutnya, “Dalam keadaan yang memaksa kau sebenarnya sudah dapat bersikap. Pada saat Angger Sekar Mirah hilang dari Sangkal Putung, kau sudah bersikap. Tanpa menunggu persetujuan Angger Untara. Tetapi dalam saat-saat yang wajar, kau hanya dapat berbuat sesuatu apabila Angger Untara menentukan.”

Agung Sedayu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ia memandangi Sekar Mirah dan Swandaru yang telah masuk kembali ke dalam pondoknya.

“Nah, dengan bekal itu, pergilah menghadap Angger Untara. Namun jangan lepas dari keseimbangan. Kau tetap adiknya dan kau tetap di bawah pengaruhnya, apalagi Angger Untara adalah seorang senapati perang yang bertanggung jawab di daerah ini. Daerah medan perang yang masih kemelut, yang masih belum dingin benar. Dalam daerah yang demikian, maka dada setiap prajurit itu pun masih juga berasap. Sentuhan minyak setetes masih dapat mengobarkan api yang masih membara di dalam dada.”

Perlahan-lahan terdengar Agung Sedayu menyahut, “Ya, Guru, aku mengerti.”

Kini Ki Tanu Metir-lah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus. Tetapi hati-hatilah akan sikapmu itu.”

“Ya, Guru,” jawab Agung Sedayu.

“Nah, sekarang beristirahatlah. Kau dapat mengatur perasaanmu, supaya kau tidak terkejut menghadapi sesuatu yang baru di dalam dirimu. Setiap perubahan harus kau sadari. Dan kau mengerti, supaya kau tetap berada di dalam keseimbangan.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah pergi. Beberapa langkah ia tertegun, sambil berpaling ia berkata, “Aku akan pergi ke sungai. Kalau aku tidak segera kembali, maka pergilah pada saatnya ke banjar.”

Agung Sedayu mengangguk, “Ya, Guru.”

Ketika Ki Tanu Metir meneruskan langkah, terdengar Swandaru melangkah ke luar dan bertanya, “Kemanakah guru itu?”

“Ke sungai.”

“Kenapa?”

Agung Sedayu memandangi wajah adik seperguruannya ini. Tetapi kemudian ia tersenyum. “Mungkin ia akan mandi. Mungkin mencuci kain gringsingnya yang sudah mulai masem.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kelak, kalau aku sudah sampai di Sangkal Putung, aku akan minta kepada ayah, supaya ayah membeli sehelai kain gringsing yang baru. Kiai Gringsing itu pasti akan senang memakainya.”

Agung Sedayu tersenyum, “Mungkin. Tetapi mungkin tidak. Ia mempunyai cirri-ciri yang khusus pada kain gringsingnya itu.”

Swandaru menggeleng, “Tidak. Kain itu adalah kain gringsing biasa saja.”

“Aku akan membatik buatnya,” tiba-tiba Sekar Mirah menyela. “Kalau ada ciri-ciri kekhususannya, ia dapat memberitahukan. Dan aku dapat membuat ciri-ciri itu pada kain yang aku batik dengan tanganku sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia melangkah masuk ke dalam pondok.

“Aku akan beristirahat,” katanya, “apakah kalian tidak tidur?”

Keduanya menggeleng. Agung Sedayu pun tidak biasa tidur pada saat-saat seperti ini. Berbeda dengan Ki Tanu Metir. Ia tidur kapan saja ia inginkan, tetapi kadang-kadang semalam suntuk ia sama sekali tidak tidur.

Sebenarnya Agung Sedayu pun tidak ingin tidur. Ia ingin mengatur perasaannya seperti yang dikatakan oleh gurunya.

Ketika kemudian malam tiba, dan padepokan Tambak Wedi disaput oleh warna yang kelam, maka perlahan-lahan Agung Sedayu meninggalkan pondoknya.

“Kau akan pergi ke banjar?” bertanya Swandaru.

“Ya, Kakang Untara memanggil aku. Mungkin ada sesuatu yang dianggapnya penting.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tampaknya ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi ternyata ia berdiam diri saja.

Namun di luar dugaan Swandaru dan Agung Sedayu, tiba-tiba Sekar Mirah bertanya lirih, “Tetapi, bukankah kau akan kembali ke pondok ini, Kakang?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia menjawab, “Tentu Mirah. Aku tentu kembali ke mari.”

“Lalu, apakah Kakang Agung Sedayu akan kembali ke Jati Anom segera?”

“Ah, aku kira kita akan pergi bersama-sama.”

“Mungkin ada perintah lain dari Kakang Untara.”

Agung Sedayu terdiam. Hal yang demikian itu memang mungkin sekali. Tetapi apakah ia harus selalu tunduk saja kepada perintah kakaknya yang bertentangan dengan kehendaknya? Bukankah ia bukan seorang prajurit Pajang?

Karena Agung Sedayu tidak menjawab maka Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Kakang? Dan apakah kau akan pergi juga ke Sangkal Putung seperti katamu?”

Agung Sedayu masih berdiam diri. Pertanyaan itu telah membuat hatinya berdebar-debar. Sebelum itu, Sekar Mirah seolah-olah membiarkannya, seandainya ia ingin meninggalkan kedua anak-anak Sangkal Putung itu, bahkan tampaknya Sekar Mirah acuh tak acuh saja seandainya ia tidak lagi akan pergi ke Sangkal Putung. Namun dalam keadaan yang mendebarkan ini, Sekar Mirah bertanya kepadanya, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung.

“Bukankah kau mengatakan,” sambung Sekar Mirah, “bahwa kau bersama-sama dengan Kakang Swandaru sedang mencari aku, dan kau akan menyerahkan aku kepada ayah bundaku bersama dengan Kakang Swandaru?”

Debar di dada Agung Sedayu terasa menjadi semakin cepat. Kini ia tidak dapat berdiam diri saja. Maka dengan ragu-ragu ia menjawab, “Ya, Mirah. Aku akan pergi ke Sangkal Putung.”

Sekar Mirah menatap mata Agung Sedayu dengan tajamnya. Tiba-tiba dari mata itu memancar suatu perasaan yang aneh, bahkan mata itu seolah-olah menjadi basah.

Dan perlahan-lahan sekali Agung Sedayu mendengar suara Sekar Mirah disela-sela bibirnya yang bergerak-gerak lamban, “Aku dan Kakang Swandaru menunggumu, Kakang.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya. Dipandanginya kedua kakak beradik itu berganti-ganti. Terasa darahnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir. Maka jawabnya kemudian tersendat-sendat, “Ya, ya. Aku pasti akan kembali ke pondok ini dan aku akan mengantarkan kalian ke Sangkal Putung.”

Agung Sedayu itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka dengan perasaan yang aneh. Sekar Mirah masih berdiri saja sejenak di halaman sehingga Agung Sedayu itu hilang ditelan gelapnya malam.

Sekar Mirah itu tersadar ketika ia mendengar kakaknya berdesis di belakangnya, “Marilah kita masuk, Mirah. Malam terlampau dingin.”

Sekar Mirah mengangguk. Tetapi tiba-tiba gelap malam membuatnya ketakutan lagi. Dengan gemetar dipeganginya tangan kakaknya. Di dalam kegelapan itu terbayang kembali mayat yang bergelimpangan, membujur lintang di halaman, di jalan-jalan bahkan bersandar pagar-pagar batu.

“Kakang,” kata-katanya bergetar, dan pegangannya pada tangan kakaknya menjadi semakin erat, “aku takut Kakang, takut.”

“Apa yang kau takutkan?”

Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi wajahnya disembunyikannya di dada kakaknya.

“Marilah masuk, Mirah.”

Swandaru itu pun kemudian membimbing Sekar Mirah masuk ke dalam pondoknya, dan Sekar Mirah itu berjalan saja sambil memejamkan matanya.

Demikian mereka masuk kedalam pondok itu, maka Sekar Mirah pun segera berkata, “Tutuplah pintunya, Kakang.”

Swandaru pun segera menutup pintu. Sekar Mirah kini kembali menjadi ketakutan dan selalu berpegangan tangan kakaknya. Meskipun kemudian mereka telah duduk di atas amben besar di dalam pondok itu, dan ruangan itu diterangi oleh sebuah lampu minyak yang tersangkut di tiang, namun Sekar Mirah masih saja ngeri karena bayangan yang mengganggunya.

Perasaan ngeri itu ternyata mempengaruhi pula perasaan Swandaru Geni. Tetapi ia tidak menjadi ngeri dihantui oleh bayangan mayat yang bergelimpangan. Yang mendebarkan jantungnya adalah suasana yang dirasanya terlampau sepi. Tanpa disengajanya maka matanya hinggap pada pedangnya yang besar, bertangkai gading yang tergantung di dinding. Pedang itu tidak terlampau jauh dari padanya. Sekali loncat ia akan sudah dapat meraih senjata itu. Tetapi perasaannya telah memaksanya untuk berdiri sejenak.

“Kau akan kemana, Kakang?” bertanya Sekar Mirah yang masih berpegangan tangannya.

Swandaru Geni tidak menjawab. Tetapi ia bergeser sedikit dan meraih pedang itu.

“Apakah kau akan pergi?” bertanya adiknya.

Swandaru menggeleng, “Tidak.”

“Tetapi kenapa kau kenakan pedang itu di lambungmu?”

“Hanya sekedar untuk menenteramkan hati.”

“Kenapa, Kakang?” Sekar Mirah menjadi semakin cemas, “apakah ada sesuatu?”

“Tidak, tidak Mirah. Tidak ada apa-apa. Duduklah. Aku ingin membuat hatimu dan hatiku sendiri tenteram. Di samping senjata ini aku tidak akan mengenal takut lagi. Aku harap kau juga tidak lagi menjadi berdebar-debar dan ketakutan.”

Sekar Mirah terdiam. Keduanya kemudian duduk lagi. Tanpa dikehendaki, Sekar Mirah bermain-main dengan juntai pedang Swandaru yang berwarna kekuning-kuningan. Juntai yang diterimanya dari pemberian Sutawijaya.

Di luar malam menjadi semakin kelam. Derik cengkerik dan pekik bilalang bersahutan dengan lengking angkup nangka. Ngelangut. Di kejauhan sekali-sekali terdengar anjing liar menyalak dan menggonggong seakan-akan menangisi keluarganya yang hilang di peperangan.

Sekar Mirah duduk semakin merapat kakaknya. Kesepian malam membuatnya menjadi semakin ngeri. Tetapi dengan pedang di lambungnya Swandaru sudah tidak diganggu lagi oleh kecemasan.

Meskipun demikian setiap desir yang lemah sekalipun seakan-akan telah membuat telinga Swandaru bergerak.

Di dalam kegelapan malam itulah Agung Sedayu melangkah dengan hati yang berdebar-debar. Dilewatinya jalan padepokan Tambak Wedi yang sepi. Jalan yang belum begitu dikenalnya. Tetapi ia tahu benar arah yang harus diambilnya untuk sampai ke banjar padepokan.

Namun Agung Sedayu sama sekali tidak kehilangan kewaspadaan. Ia berjalan di daerah yang belum begitu dipahami. Dan daerah itu adalah daerah yang baru saja dilanda oleh pertempuran. Di ujung jalan ini kemarin berserakan mayat dan orang-orang yang terluka. Di halaman-halaman dan di kebun-kebun di sekitar banjar.

Tidak pula mustahil apabila di balik rimbunnya pepohonan itu masih ada satu dua orang yang bersembunyi, mengintai perjalanannya. Sisa-sisa orang Tambak Wedi atau orang Jipang yang berhasil bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul dan rerungkutan, atau di dalam kebun-kebun salak yang terbentang di sela-sela kebun-kebun bambu yang padat.

Gemerisik angin malam menggoyangkan dedaunan dan ranting kecil. Dingin malam di lereng pegunungan mulai terasa membelai kulit. Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Ia berjalan terus. Selangkah demi selangkah menembus gelapnya malam. Pedangnya tergantung di lambung kirinya. Bergerak-gerak seirama dengan langkah kakinya.

Meskipun jarak yang akan dilalui Agung Sedayu dari pondoknya ke banjar padepokan itu tidak jauh, tetapi di dalam jarak yang dekat itu menunggu berbagai kemungkinan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Dalam gelap malam Agung Sedayu melangkah terus, seperti hatinya yang sedang gelap pula. Kadang-kadang timbul niatnya untuk berbuat sekehendak hatinya tanpa menghiraukan apa pun yang akan dikatakan kakaknya nanti. Bahkan ia akan bersedia melakukan akibat yang bagaimana pun juga. Tetapi kemudian tumbuhlah sifat-sifatnya yang tidak dapat ditinggalkannya. Ragu-ragu.

Tiba-tiba langkah Agung Sedayu tertegun. Ia sudah melihai lamat-lamat nyala obor di halaman. Tetapi dekat, hanya beberapa langkah daripadanya, ia melihat bayangan hitam yang bergerak-gerak. Menilik sikapnya, bayangan itu pasti bukan prajurit Pajang.

Hati Agung Sedayu menjadi berdebar-debar dan curiga. Selangkah ia maju mendekati bayangan itu, tetapi bayangan itu pun kemudian menjauhinya selangkah pula.

Debar di dada Agung Sedayu menjadi semakin keras. Perlahan-lahan ia bertanya, “Siapa kau?”

Tetapi ia tidak mendengar jawaban. Sekilas angan-angannya meloncat kepada Wuranta. Apakah orang itu Wuranta? Lalu apakah maksudnya ia menungguku di kegelapan.

Agung Sedayu menggeleng lemah, “pasti bukan Wuranta.” Namun di dalam hatinya itu terdengar, “Mungkin. Ia sedang menungguku. Bukankah sikapnya pada saat-saat terakhir sangat membingungkan?”

Selangkah Agung Sedayu maju, dan selangkah orang itu menjauh. Segera Agung Sedayu mengerti, bahwa orang itu sedang memancingnya. Karena itu, maka ia menjadi semakin berhati-hati. Mungkin orang itu cukup berbahaya baginya.

Tetapi hati Agung Sedayu saat itu sedang disaput oleh kegelapan. Betapapun ia mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya dan dengan penuh kewaspadaan, namun tiba-tiba kemarahan, kejemuan, dan segala macam perasaan yang tidak menyenangkannya, serasa terungkat. Sekali terdengar anak muda itu menggeram. Lalu sekali lagi ia bertanya, “Siapa kau, he?”

Masih belum ada jawaban. Karena itu maka kemarahan di dada Agung Sedayu menjadi semakin membara, Ia merasa dipermainkan oleh bayangan yang tidak dikenalnya.

Agung Sedayu yang sedang pepat itu, sama sekali tidak sempat untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang jernih. Memang sekali terkilas di dalam hatinya sebuah pertanyaan “Apakah orang ini Ki Tambak Wedi yang berhasil kembali ke dalam padepokan ini?”

Tetapi pertanyaan yang demikian dijawabnya sendiri, “Tidak. Kalau orang ini yang bernama Ki Tambak Wedi, ia tidak memancing aku. Dengan sekali loncat ia sudah berhasil menerkam aku dan membuatku pingsan atau membunuhku sama sekali. Orang ini pasti bukan Ki Tambak Wedi.”

“Sidanti, Argajaya?”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia melihat bentuk bayangan dalam keremangan malam, maka ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, “Bukan keduanya,” desisnya.

“Aku tidak peduli apakah orang itu Sidanti, Argajaya, atau Tambak Wedi sekalipun,” geramnya kemudian.

Agung Sedayu kemudian benar-benar menjadi bermata gelap. Hatinya yang bingung karena persoalan-persoalan yang bertubi-tubi menggoda perasaannya telah membuatnya kehilangan pertimbangan. Sikap Wuranta yang tidak dimengertinya, sikap kakaknya, dan persoalan yang membuat hatinya menjadi kisruh.

Kini ia ingin menumpahkan segala macam perasaannya itu. Segala macam kejemuan, kejengkelan, kebingungan, dan apa saja.

Tiba-tiba Agung Sedayu menggeretakkan giginya. “Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Juga terhadap ini, aku tidak perlu berlari-lari melaporkannya kepada Kakang Untara. Aku hanya akan dimarahinya. Diejeknya dan barangkali dimaki-makinya. Apalagi kalau orang ini ternyata orang-orang yang berbahaya, yang kemudian berhasil melepaskan diri. Aku pasti dikiranya seorang pengecut yang hanya berani berbuat di antara orang-orang dapat melindungiku.”

Dengan serta-merta Agung Sedayu pun segera meloncat mengejar bayangan itu. Demikian tiba-tiba sehingga bayangan itu pun terkejut. Namun orang yang berada di dalam kegelapan itu masih mampu menghindarkan dirinya dan berlari membelok ke dalan lorong yang sempit.

Agung Sedayu sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Dikejarnya orang yang berlari itu. Ia sudah tidak lagi menghiraukan apa pun, meskipun mereka kemudian memasuki lorong-lorong yang makin sempit dan rimbun. Lorong-lorong yang jarang sekali dilalui oleh peronda-peronda prajurit Pajang.

Namun betapapun juga, naluri Agung Sedayu masih mencegahnya ketika bayangan itu meloncat masuk ke dalam sebuah kebun yang kosong. Kebun yang gelap pepat ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul liar, dan rumpun-rumpun bambu. Di sana-sini tumbuh pohon yang besar dan rimbun.

“Ia memancing aku masuk,” geram Agung Sedayu. Tapi ia kini dicengkam oleh keragu-raguan. Perlahan-lahan ia menenangkan diri, menjernihkan pikirannya. Kini ia mencoba untuk menduga, siapakah orang itu.

“Ada beberapa kemungkinan,” katanya di dalam hati, “tetapi kemungkinan bahwa orang itu satu di antara tiga, Sidanti, Argajaya, atau Ki Tambak Wedi sendiri adalah sangat tipis. Menurut pengamatanku, bentuk tubuh mereka agak berbeda. Sikap dan cara untuk melarikan diri pun berbeda pula. Agaknya Wuranta pun bukan pula. Yang paling mungkin adalah sisa-sisa orang Jipang atau orang-orang Tambak Wedi sendiri yang lolos dari tangan prajurit Pajang dan berhasil bersembunyi di dalam liarnya gerumbul-gerumbul dan rumpun-rumpun bambu itu.”

Agung Sedayu masih saja berhenti di tempatnya. Kini ia sudah tidak melihat bayangan itu lagi. Bayangan itu telah hilang ke dalam rimbunnya dedaunan. Tetapi Agung Sedayu kini telah melihat bahaya yang dapat tumbuh apabila ia masuk ke dalam halaman yang liar itu. Ia akan dengan mudahnya disergap dari segala penjuru. Ia tidak tahu, apakah orang itu hanya seorang diri, atau mempunyai kawan-kawan yang cukup banyak. Karena itu, maka ia masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Ketika ia masih saja tidak bergerak, ia melihat bayangan yang hitam itu muncul lagi di dalam kegelapan. Agung Sedayu melihat bayangan itu berdiri tegak dengan kaki renggang, seolah-olah siap untuk menyerangnya.

Selangkah Agung Sedayu surut. Kesadarannya telah memperingatkannya untuk berbuat lebih hati-hati. Dan tiba-tiba saja, maka di tangan Agung Sedayu itu telah tergenggam pedangnya.

Tetapi bayangan yang hitam itu masih berdiri diam. Agaknya ia sengaja menunggu Agung Sedayu menyerangnya. Tetapi Agung Sedayu pun masih tetap berdiri saja di tempatnya.

Ternyata bayangan itu tidak dapat bersabar lebih lama lagi. Sejenak kemudian terdengar suaranya berdesis, “He, prajurit Pajang. Kau memang terlampau berani datang seorang diri ke tempat ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar bayangan itu berkata lagi, “Menurut pengamatan kami, kau adalah seorang dari dua anak-anak muda yang menunggui gadis itu di pondoknya.”

“Nah, sekarang aku ingin minta tolong kepadamu, supaya kau memanggil seorang kawanmu itu dan gadis yang kau tunggui itu pula, supaya kau selamat.”

Terdengar gigi Agung Sedayu gemeretak.

“Kalau kau bersedia, marilah. Kami, beberapa orang, akan mengantarmu kepondok itu. Tetapi ingat, jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan jiwamu,” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Kami sebenarnya tidak berkepentingan sama sekali dengan kalian. Tetapi bersama-sama dengan kalian, kami akan dapat keluar dari neraka ini. Dengan kalian, maka para penjaga pintu regol tidak akan dapat banyak berbuat atas kami.”

Agung Sedayu menggeram. Kini ia sadar, siapakah yang dihadapinya. Mereka adalah orang-orang yang berhasil bersembunyi di dalam padepokan ini, di antara gerumbul-gerumbul liar dan rumpun-rumpun bambu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang pada saat pertempuran terjadi antara orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang, sedang bertugas meronda atau tugas apa pun, sehingga mereka tidak sempat menggabungkan dirinya ketika pasukan Pajang memasuki daerah ini.

“Bagalmana? Apakah kau setuju? Aku tidak akan berbuat apa-apa. Kami hanya ingin keluar dari neraka ini. Hanya itu, tidak lebih.”

Sekali lagi Agung Sedayu menggeram. Orang itu ingin mempergunakannya bersama Swandaru dan Sekar Mirah sebagai tanggungan, supaya mereka dapat keluar dari padepokan ini dengan selamat.

“Mereka benar-benar bodoh,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “mereka sama sekali tidak melihat kesempatan untuk lari lewat urung-urung itu. Atau barangkali urung-urung itu pun sudah dijaga oleh prajurit Pajang?”

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka orang itu pun berkata pula, “Nah, apakah kau setuju? Sebenarnya bagimu sudah tidak ada pilihan lain. Salahmulah bahwa kau terjebak di tempat ini. Kau terlampau sombong, berjalan seorang diri di dalam gelapnya malam, di daerah yang masih kemelut diasapi oleh sisa-sisa peperangan. Ayo, lekas, letakkan pedangmu dan ikutlah kami menjemput gadis itu.”

Yang terdengar kemudian suara Agung Sedayu gemetar, “Darimana kau tahu, bahwa gadis itu berada di pondok bersamaku.”

Terdengar suara tertawa lirih. Katanya, “Perempuan-perempuan di padepokan ini selalu berbaik hati kepada kami, memberitahukan apa saja yang ingin kami ketahui. Ternyata mereka mendendam sampai ke ujung rambutnya kepada orang-orang Pajang yang bengis itu.”

“Tutup mulutmu!” Agung Sedayu tiba-tiba membentak. Kemarahannya telah menyala dengan dahsyatnya. Perasaan-perasaan yang telah diendapkannya tiba-tiba teraduk kembali. Dan sekali lagi ia berkata di dalam hatinya, “Aku bukan kanak-kanak lagi. Aku harus dapat berbuat menurut pertimbanganku sendiri. Aku tidak perlu menggantungkan diriku kepada siapapun.”

Perasaan itu telah mendorong Agung Sedayu untuk menyelesaikan masalah yang kini sedang dihadapi. Dengan sepenuh kekuatan ia menindas segala macam keragu-raguan yang ada di dalam dirinya. Ia tidak mau mendengar lagi pertimbangan-pertimbangan apa pun yang tumbuh di dalam hatinya.

Tetapi ia masih tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak mau maju lagi masuk ke dalam perangkap.

Karena Agung Sedayu tidak beranjak dari tempatnya, maka bayangan itu maju setapak. “Letakkan pedangmu,” suaranya berdesis, “bagimu sudah tidak ada pilihan lain kecuali mati.”

“Aku memilih mati,” suara itu bergetar seperti gelora di dalam dadanya.

“Gila kau,” bayangan itu pun menggeram, “jangan bodoh.”

“Kalau aku mati, maka kau pun akan mati karena kau tidak akan dapat keluar dari padepokan ini.”

“Kau memang terlampau bodoh, aku dapat mendatangi pondok itu tanpa kau. Mungkin kami perlu membawa kepalamu saja untuk menakut-nakuti mereka agar mereka bersedia menuruti perintah kami.”

“Lakukanlah,” sahut Agung Sedayu dalam nada yang berat penuh tekanan kemarahan.

Bayangan itu terdiam sejenak. Tetapi Agung Sedayu melihat orang itu melambaikan tangannya.

“Ia memberikan tanda kepada kawan-kawannya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Dugaan Agung Sedayu itu ternyata tepat. Sejenak kemudian Agung Sedayu melihat empat orang yang lain berloncatan dari tempat persembunyian mereka.

Agung Sedayu meloncat selangkah surut. Ketika ia mencoba menghitung orang-orang yang berdiri di sekitarnya, maka dilihatnya semuanya berjumlah lima orang.

Sekali lagi Agung Sedayu bergeser. Ia mencoba untuk mendapat tempat yang baik. Ia harus melawan kelima orang itu sekaligus. Perkelahian yang demikian adalah suatu pengalaman baru baginya. Tetapi pengalaman itu mengandung bahaya yang cukup besar.

“Tetapi aku bukan kanak-kanak yang hanya dapat merengek lagi kepada kakang Untara. Kakang Untara selalu berbuat tanpa ragu-ragu. Aku bukan pengecut. Aku sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah ini,” kata-kata itu selalu terngiang di dalam rongga telinganya. Ia sama sekali tidak mau diganggu lagi oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Dan tiba-tiba saja, kelima orang itu terkejut ketika mereka mendengar Agung Sedayu berteriak, “Aku bunuh kalian! Aku berhak juga membunuh musuh-musuhku.”

Terdengar kemudian salah seorang dari kelima orang itu berdesis, “Jangan membunuh diri. Kau sudah terkepung, Betapapun dahsyat ilmu prajurit Pajang, tetapi melawan kami berlima adalah mustahil”

“Ayo, kalian membunuh aku atau aku membunuh kalian.”

Kelima orang itu tertegun. Ternyata mereka berhadapan dengan seorang yang agaknya tidak berperasaan.

Dan sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu tidak mau lagi dipengaruhi oleh segala macam perasaan ragu-ragu, bimbang, pertimbangan-pertimbangan atau ijin dari kakaknya atau kecemasan bahwa kakaknya akan marah, atau perasaan apapun. Apalagi perasaan takut. Karena itu maka sikapnya pun menjadi terlampau garang dan kasar.

“Apakah kau mencoba menakut-nakuti kami?” bertanya yang lain.

“Persetan! Apakah kau takut atau tidak bukan soalku. Ayo kita bertempur,” jawab Agung Sedayu.

Sekali lagi kelima orang itu menjadi heran. Namun mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertanya-tanya lagi. Tiba-tiba-saja mereka melihat Agung Sedayu menggerakkan pedangnya sambil berkata, “Hanya ada dua kemungkinan, “membunuh atau dibunuh.” Aku memilih kemungkinan yang pertama, “membunuh.” Aku tidak peduli lagi atas kalian. Apakah kalian akan merengek minta maaf atau minta dikasihani. Tidak ada maaf dan belas kasihan di peperangan. Kita bersama-sama telah menjadi buas melampaui serigala.”

Kelima orang itu pun sebenarnya adalah orang-orang yang hampir berputus asa. Mereka sebenarnya telah hampir kehilangan pertimbangan-pertimbangan mereka. Mereka pun sebenarnya berada dalam daerah kedua pilihan itu pula “membunuh atau dibunuh”, tetapi ternyata sikap Agung Sedayu itu telah membuat dada mereka menjadi semakin berdebar-debar.

Mereka terkejut, bahwa dalam sekejap kemudian Agung Sedayu telah meloncat sambil memutar pedangnya. Dengan penuh nafsu ia menyerang lawan-lawannya yang telah mengepungnya itu.

Hampir bersamaan kelima orang yang berdiri melingkari Agung Sedayu itu meloncat surut. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain daripada segera melakukan perlawanan, sebab serangan Agung Sedayu selanjutnya melanda mereka seperti banjir. Selama ini Agung Sedayu selalu dibayangi oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Bahkan ia menjadi bingung melihat sikap kakaknya. Seolah-olah apa yang dilakukannya selalu saja salah. Tiba-tiba kini ia dengan sekuat tenaganya telah melepaskan diri dari setiap ikatan yang membelenggu perasaannya.

“Aku harus melepaskan diri dari semua ikatan,” Agung Sedayu itu berteriak di dalam hatinya. “Aku akan berbuat apa saja yang aku inginkan. Sekarang aku ingin membunuh, persetan dengan pendapat orang lain.”

Dengan demikian maka tandang Agung Sedayu menjadi semakin garang. Pedangnya berputaran seperti baling-baling. Kilatan pantulan cahaya samar-samar yang memancar dari langit tampak berkali-kali meloncat dari batang pedangnya.

Tetapi kali ini ia harus bertempur melawan lima orang yang memiliki ilmu tata bela diri pula. Ternyata mereka berlima merupakan lawan yang cukup berat bagi Agung Sedayu. Meskipun Agung Sedayu cukup lincah dan tangguh, namun berkelahi melawan lima orang di dalam gelapnya malam, merupakan pekerjaan yang cukup berat baginya.

Demikianlah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Ketika tubuh Agung Sedayu telah basah diusap oleh keringatnya sendiri, maka tandangnya pun menjadi semakin garang. Dengan lincahnya ia berloncatan menghindar dan menyerang, seperti kijang di padang perburuan. Pedangnya terayun-ayun seperti angin pusaran yang melindungi tubuhnya, sehingga sama sekali tidak tertembus oleh satu pun dari kelima ujung pedang lawan-lawannya.

“Anak ini dapat berkelahi seperti hantu,” berkata salah seorang lawan Agung Sedayu di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Agung Sedayu seorang diri mampu melawan mereka berlima. Ternyata mereka yang belum banyak mengenal anak muda, adik Senapati Pajang ini, telah membuat salah hitung. Mereka menyangka bahwa mereka berlima, yang masing-masing merasa mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawannya, dapat dengan mudah menangkap Agung Sedayu dan memperalatnya.

“Ah, bagaimana kalau kami berhadapan dengan Untara sendiri,” desis yang lain di dalam dadanya. Ternyata mereka tidak saja berhasrat menangkap Agung Sedayu, Swandaru, atau Sekar Mirah, tetapi di dalam setiap kesempatan siapa pun mereka kehendaki, asal orang itu cukup bernilai untuk dapat dijadikannya tanggungan untuk melepaskan diri. Namun ternyata kini mereka terbentur kepada seorang anak muda yang luar biasa. Agung Sedayu.

Meskipun mengalami beberapa kesulitan, tetapi Agung Sedayu yang sedang dicengkam oleh pergolakan persoalan di dalam dirinya itu sama sekali tidak berhasrat berkisar dari tempatnya. Ia sudah bertekad untuk bertempur. Ia sudah bertekad untuk meninggalkan segala macam perasaan yang ada di dalam dadanya. Setiap perasaan yang tumbuh, maka segera ditindasnya. “Ini adalah kungkungan keragu-raguan dan kebimbangan yang selama ini membuat aku kehilangan kesempatan untuk berbuat apa pun menurut kehendakku dan keinginanku sendiri.”

Namun dengan demikian, Agung Sedayu telah benar-benar dicengkam oleh kegelapan hati. Ia tidak mau lagi melihat pertimbangan-pertimbangan apa pun di dalam dirinya. Yang diteriakkan di dalam hatinya adalah, “Aku adalah laki-laki dewasa. Aku dapat berbuat apa saja menurut pertimbanganku sendiri.”

Dengan demikian maka serangannya pun menjadi semakin dahsyat. Pedangnya semakin cepat berputar dan ayunannya pun menimbulkan desing yang mendebarkan hati.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Kedua belah pihak seolah-olah sedang dicengkam oleh perasaan yang tidak wajar. Kelima orang itu adalah orang-orang yang sedang berputus asa. Bagi mereka tidak ada pilihan lain daripada berkelahi mati-matian. Kalau mereka kalah, maka mereka pun akan mati pula. Kalau mereka melarikan diri pun mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk keluar dari padepokan ini. Karena itu maka apabila mereka masih ingin hidup, maka mereka harus memenangkan pertempuran ini. Pilihan mereka adalah, mati atau berhasil memperalat Agung Sedayu untuk melepaskan diri.

Demikianlah, maka di lorong sempit itu telah terjadi perkelahian antara hidup dan mati. Mereka bergeser dari satu titik ke titik yang lain. Sekali-sekali Agung Sedayu memerlukan tempat yang cukup luas untuk menghadapi serangan-serangan yang datang beruntun seperti banjir, sehingga perkelahian itu pun bergeser masuk ke dalan halaman yang kosong. Tetapi di saat-saat yang lain Agung Sedayu berusaha untuk mempersempit arena. Dengan demikian maka ia berdiri hampir melekat dinding batu di muka halaman yang kosong itu, menghadapi kelima lawannya pada satu arah.

Gelap malam semakin lama menjadi semakin pekat, tetapi langit menjadi semakin bersih. Bintang-bintang yang gemerlapan di langit menjedi semakin jernih, berkilat-kilat dan berkeredipan.

Agung Sedayu sudah tidak mau berpikir lain kecuali membunuh lawan-lawannya. Pikiran yang demikian, membunuh lawan-lawannya tanpa ampun, sebelumnya tidak pernah terkilas di kepalanya. Bahkan dalam peperangan yang hiruk-pikuk, dalam perang brubuh atau di dalam gelar-gelar perang yang lebih baik, membunuh lawannya selalu menimbulkan persoalan di dalam dirinya.

Tetapi kali ini ia benar-benar ingin membunuh lawan-lawannya itu. Semakin lama perkelahian itu berlangsung, maka semakin tampak kegarangan Agung Sedayu. Kelincahan dan ketangkasanya telah menempatkannya ke dalam keadaan yang lebih baik dari lawan-lawannya, meskipun kelima orang itu masih tetap merupakan bahaya yang setiap saat dapat merenggut jiwanya.

Apalagi ketika kelima orang lawan-lawannya itu menjadi semakin berputus asa. Mereka seolah-olah benar-benar ingin membunuh dirinya dengan mempergunakan tangan Agung Sedayu. Agaknya mereka sudah tidak melihat jalan lain untuk keluar dari padepokan ini. Kesempatan yang dianggapnya kesempatan terakhir ini agaknya terlampau sulit untuk dapat dipergunakannya.

“Kalau kali ini kami gagal,” berkata salah seorang dari mereka di dalam hatinya, “nasib kami akan menjadi lebih jelek. Kami akan diburu seperti memburu bajing. Beramai-ramai. Setelah kami tertangkap, maka kami akan menjadi pangewan-ewan. Karena itu, maka lebih baik mati pada saat ini dari pada tertangkap hidup-hidup.”

Dengan demikian maka tandang mereka pun menjadi semakin dahsyat. Berlima mereka berputar-putar mengelilingi Agung Sedayu. Sekali-sekali mereka berloncatan menyerang. Berganti-ganti dan kadang-kadang hampir bersamaan.

Agung Sedayu menggeram. Memang kadang-kadang ia menjadi bingung menghadapi cara kelima lawannya itu bertempur. Namun setiap kali ia selalu berusaha menembus lingkaran mereka dan berdiri di luar. Setiap kali ia melontarkan dirinya jauh-jauh, namun tiba-tiba ujung pedangnya telah mematuk dengan garangnya.

Angin malam di pegunungan yang dingin berhembus semakin kencang. Suaranya berdesir di antara dedaunan yang rimbun. Ketika di kejauhan terdengar anjing hutan berteriak berebut makan, terdengar dari kancah perkelahian itu sebuah keluhan tertahan. Seorang dari kelima orang yang berkelahi melawan Agung Sedayu itu meloncat surut. Tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kanannya. Sepercik darah merah meleleh dari luka yang menganga. Meskipun demikian pedangnya masih tidak terlepas dari tangannya yang terluka itu.

Kawan-kawannya sama sekali tidak sempat untuk menolongnya karena serangan Agung Sedayu masih saja membadai. Bertubi-tubi tiada putus-putusnya. Apalagi kini lawannya tinggal empat orang. Kesempatan baginya menjadi semakin luas. Pedangnya menjadi semakin lincah bermain-main di antara keempat senjata lawan-lawannya.

Tetapi ternyata orang yang terluka itu tidak segera menyerahkan diri kepada nasibnya. Ia masih ingin berbuat sesuatu seandainya ia harus mati. Lebih baik baginya untuk mati dengan dada terbelah, daripada mati perlahan-lahan karena kehabisan darah atau tertangkap oleh orang-orang Pajang.

Kini pedangnya berada di tangan kirinya. Dengan garangnya ia meloncat sambil menggeretakkan giginya. Meskipun pedangnya berada di tangan kiri, namun karena luapan kemarahan dan putus asa, maka tandangnya pun menjadi semakin kasar.

Tetapi baru saja orang itu menginjakkan kakinya di dalam arena perkelahian, sekali lagi terdengar salah seorang kawannya memekik kecil. Seorang lagi terlempar dari lingkaran. Pundaknya tersayat oleh pedang Agung Sedayu. Darah yang merah telah membasahi bajunya.

Namun seperti kawannya, ia tidak menyerah. Bahkan dengan wajah yang membara ia menyerang sejadi-jadinya.

Tetapi keadaan Agung Sedayu menjadi semakin baik. Hatinya pun menjadi semakin terbakar pula melihat sikap lawan-lawannya. Orang-orang yang sudah terluka itu sama sekali tidak menunjukkan kecemasan dan gentar. Bahkan mereka menyerangnya seperti angin ribut yang berputaran.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu pun menjadi semakin bernafsu. Pedangnya bergerak semakin cepat, dan tandangnya pun menjadi semakin garang. Bahkan akhirnya ia sudah sampai ke puncak ilmunya. Tanpa kendali. Dilepaskan segenap kemampuannya untuk membinasakan kelima orang lawannya yang sudah menjadi semakin lemah.

Ternyata lawannya benar-benar menjadi semakin bingung. Sesaat kemudian seorang lagi terluka di keningnya. Darah yang segar mengalir di wajahnya. Ketika tangan kirinya mengusapnya, maka tangan itu pun menjadi merah seolah-olah menyala.

“Setan!” orang itu menggeram. Giginya gemeretak dan dengan kutukan yang paling kotor ia meloncat menyerang kembali.

Semakin lama mereka bertempur, maka semakin dekatlah Agung Sedayu pada batas kemenangannya. Tetapi kemarahan yang meluap-luap telah benar-benar menggelapkan hatinya. Tidak ada pikiran lain daripada membunuh lawan-lawannya.

Ia menggeram ketika ia melihat seorang lawannya kini tidak saja terluka di tangan, pundak, atau kening. Tetapi ujung pedangnya berhasil menggores dada. Terdengar orang itu mengaduh, dan sejenak kemudian tubuhnya terguling di atas tanah. Dari mulutnya meluncur desis kesakitan.

Melihat kawannya terbanting jatuh dan tidak segera dapat bangkit lagi, maka keempat kawannya menjadi semakin kalap. Mereka berloncatan dan menyerang membabi-buta. Seperti Agung Sedayu yang semakin lama menjadi semakin kasar dan garang juga.

Apalagi ketika lawan-lawannya sudah menjadi semakin lelah. Beberapa orang telah benar-benar tidak mampu lagi menghentakkan pedangnya karena darah yang semakin banyak mengalir. Sehingga akhirnya mereka tidak lebih dari seonggok tubuh-tubuh yang hampir tidak berdaya sama sekali.

Saat yang ditunggu-tunggu oleh Agung Sedayu itu kini telah datang. Ia tidak akan dapat dihalang-halangi lagi. Ia tinggal menghunjamkan saja ujung pedangnya ke dada setiap orang yang sudah dengan lemahnya mengayun-ayunkan senjatanya. Tetapi ayunan itu sudah tidak berarti sama sekali.

Terdengar gigi anak muda itu gemeretak. Selangkah ia surut untuk mengambil ancang-ancang. Ia akan segera meloncat maju dengan pedang terjulur. Satu demi satu lawan-lawannya itu akan roboh. Mati. Ia akan dapat berkata kepada kakaknya, bahwa ia telah membunuh lima orang sekaligus yang dengan licik memancingnya. Ia akan berkata kepada kakaknya, bahwa ia adalah laki-laki seperti prajurit yang lain.

Lawan-lawannyapun seolah-olah telah pasrah diri. Mereka sudah merasa tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Mereka telah sampai pada puncak keputus-asaan, meskipun ujung pedang mereka masih juga terangkat setinggi lambung. Tetapi kekuatan tenaga mereka sama sekali sudah tidak memadai.

“Tariklah nafas yang terakhir sepuas-puas hati kalian,” desis Agung Sedayu, “sekejap lagi kalian akan terguling di tanah tanpa dapat bernafas lagi.”

Kelima lawannya sama sekali sudah tidak menjawab, apalagi yang masih belum dapat tegak karena terluka di dadanya. Ia masih duduk di tanah, walaupun tangannya masih juga menggenggam pedangnya.

Tetapi yang terjadi adalah di luar dugaan mereka. Di luar dugaan kelima orang yang sudah tidak berdaya itu, dan di luar dugaan Agung Sedayu sendiri.

Ketika Agung Sedayu menggerakkan kakinya, siap untuk meloncat dengan pedang terjulur, tiba-tiba terasa sentuhan di bahunya. Ketika ia berpaling, terjadi hal yang hampir tidak masuk di dalam akalnya, pedangnya dengan serta-merta lepas dari tangannya seperti ditarik oleh kekuatan yang sangat dahsyat.

Selangkah Agung Sedayu meloncat ke samping. Baru sekejap kemudian ia dapat melihat, bayangan berdiri tegak di hadapannya. Pedangnya telah berpindah ke tangan orang itu.

Tetapi Agung Sedayu tidak perlu bertanya. Namun dadanya berdesir tajam ketika ia melihat orang itu menyerahkan pedangnya kembali sambil berkata, “Sudah cukup, Ngger. Kau tidak perlu menyelesaiannya sendiri. Persoalan selanjutnya adalah persoalan para prajurit Pajang.”

Sejenak Agung Sedayu terbungkam. Tanpa berkedip di tatapnya wajah yang kehitam-hitaman di dalam gelapnya malam. Tetapi Agung Sedayu segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah gurunya, Ki Tanu Metir.

Tidak sepatah kata pun dapat diucapkan, tiba-tiba kepala Agung Sedayu terkulai tunduk dalam-dalam. Sesuatu telah menusuk langsung ke pusat jantungnya. Bukan ujung pedang lawan, tetapi peringatan yang langsung diberikan oleh gurunya, meskipun tidak dengan kalimat-kalimat. Ia segera menyadari keadaannya. Tidak sepantasnya ia membunuh tanpa mengenal batas-batas perlakuan yahg wajar. Hampir saja ia terperosok ke dalam kegelapan karena hatinya sendiri yang sedang gelap.

Namun yang terjadi itu telah benar-benar merupakan suatu peringatan yang dirasakannya terlampau keras. Tetapi ketika hatinya telah mengendap, maka di sela-sela bibirnya yang bergerak-gerak ia mengucap syukur. Perlahan-lahan sekali. Tidak seorang pun yang mendengarnya selain dirinya sendiri.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah maju, mendekati kelima orang yang sedang menantikan ajal itu. Terdengar ia berkata, “Kalian lebih baik menghentikan perlawanan. Marilah ikut kami, kami tidak akan berbuat terlampau jauh seperti yang kalian duga. Kami akan menyerahkan kalian kepada para peronda.”

Sejenak suasana menjadi hening. Tidak segera terdengar jawaban dari kelima orang itu.

“Menyerahlah. Aku menjamin bahwa kalian akan diperlakukan dengan wajar,” berkata Ki Tanu Metir pula.

Orang tua itu mengerutkan keningnya ketika ia mendengar jawaban, “Kami sudah siap untuk mati.”

“Jangan kehilangan akal. Kalian masih akan mendapat kesempatan seperti kawan-kawanmu yang lain, yang telah menyerah lebih dahulu.”

Sekali lagi kelima orang itu terdiam. Dan yang terdengar adalah suara Ki Tanu Metir kepada Agung Sedayu, “Angger Agung Sedayu. Pergilah ke banjar, bukankah kakakmu Untara menunggumu di sana. Kau sudah kehilangan waktu beberapa saat untuk bermain-main di sini. Beritahukan kepada beberapa orang peronda yang kau jumpai, bahwa di sini ada beberapa orang yang akan menyerah.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Baik, Guru. Aku akan pergi ke banjar. Mungkin Kakang Untara sudah terlalu lama nenunggu aku.”

“Ya, pergilah.”

Ketika kaki Agung Sedayu terayun, ia tertegun. Ia mendengar salah seorang dari kelima orang itu berkata, “Aku-tidak akan menyerah. Aku ingin mati oleh tusukan pedang.”

“Jangan membunuh diri dengan cara yang demikian.”

“Tetapi pertempuran ini belum selesai. He, anak muda. Kalau kau tinggalkan orang tua ini seorang diri di sini, aku akan membunuhnya.”

Agung Sedayu memandangi orang yang berbicara itu, yang keningnya masih menitikkan darah dari lukanya.

“Lakukanlah kalau mampu,” sahut Agung Sedayu. Tetapi dadanya kini sudah tidak dibakar lagi oleh nafsunya untuk membunuh. “Mungkin Ki Tanu Metir bahkan akan memberimu obat yang dapat memampatkan darah dari lukamu.”

Orang itu menjadi heran. Tiba-tiba ia teringat, bagaimana mungkin orang tua itu dapat merebut pedang Agung Sedayu dengan mudahnya, sehingga orang ini pasti seorang yang jauh lebih dahsyat dari anak muda itu. Tetapi sikapnya dan kata-katanya telah mencairkan hati kelima orang yang telah membatu karena putus asa itu.

Sepeninggal Agung Sedayu, kelima orang itu tidak menolak ketika Ki Tanu Metir memberi obat pada luka-luka mereka sekedar untuk menahan arus darah yang mengalir. “Kalian tidak boleh kehabisan darah,” berkata orang tua itu.

Sementara itu Agung Sedayu berjalan dengan kepala tunduk. Peristiwa yang baru saja terjadi telah mengguncang dadanya. Ia merasa menyesal, bahwa ia telah hanyut ke dalam arus kegelapan hati. Namun kadang-kadang masih juga timbul desah di dalam hati, “Kenapa aku tidak dapat berbuat sebebas orang-orang lain? Kenapa aku masih saja terikat sama sekali kepada Kakang Untara?”

Ketika Agung Sedayu sampai di gardu peronda, segera diberitahukannya tentang kelima orang yang baru saja berkelahi melawannya.

“Selesaikanlah mereka menurut ketentuan yang berlaku,” berkata Agung Sedayu.

“Apakah mereka tidak melarikan diri sepeninggalmu?” bertanya prajurit yang sedang bertugas itu.

“Mereka kini bersama Ki Tanu Metir,” jawab Agung Sedayu.

“Baiklah,” sahut prajurit itu kemudian, “aku akan persiapkan orang-orangku. Bukankah mereka berlima?”

“Ya.”

Agung Sedayu tidak menunggui prajurit itu menyiapkan teman-temannya. Segera ditinggalkannya gardu perondan itu untuk pergi ke banjar padepokan menemui kakaknya.

Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Dicobanya untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau lagi membayangkannya, apalagi betapa yang akan terjadi seandainya gurunya tidak mencegahnya melakukan pembunuhan yang tidak terkendali itu.

“Hem,” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, “aku harus memetik pelajaran dari padanya.” Tetapi ia tidak ingin bahwa peristiwanya itu sendiri selalu membayangi perasaannya.

Sehingga dalam keragu-raguan ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku perlu mengatakannya kepada Kakang Untara?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak perlu. Laporan itu akan datang dari para prajurit yang akan menangkap mereka. Aku tidak perlu berkata apa pun tentang peristiwa itu.” Tetapi kemudian ia berkata pula di dalam hatinya, “Tetapi jangan-jangan Kakang Untara menganggap aku bersalah. Aku telah berbuat sendiri di daerah ini justru di luar wewenangku. Ah, biarlah aku mengatakannya. Salah atau benar, aku akan mengatakannya.”

Agung Sedayu itu pun kemudian melangkah terus. Kini ia mencoba memusatkan perhatiannya kepada kakaknya. Kepada kepentingan yang akan disampaikan kepadanya.

Ketika beberapa puluh langkah daripadanya terpancar seberkas sinar obor, hati Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Sinar obor itu pastilah sinar obor yang dipasang di halaman banjar. Dan kakaknya telah menunggunya di banjar itu pula.

“Apakah yang akan dikatakannya?” gumamnya lambat. Agung Sedayu itu menggelengkan kepalanya. “Tak seorang pun yang tahu selain Kakang Untara sendiri. Mungkin guru, tetapi mungkin pula tidak.”

Semakin dekat Agung Sedayu dengan banjar padepokan itu hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

Ketika kemudian ia berdiri di muka regol banjar padepokan itu, dua orang prajurit mendatanginya dan bertanya, “Siapa?”

“Aku, Agung Sedayu,” sahut Agung Sedayu.

Sinar obor yang kemerah-merahan jatuh di atas wajahnya, membuat kesan tersendiri pada kedua prajurit yang memandangi dengan tajam.

Tetapi sebelum keduanya bertanya lebih lanjut, Agung Sedayu telah mendahuluinya membuat penjelasan, “Aku dipanggil oleh Kakang Untara.”

“Sekarang?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Dan salah seorang dari mereka berkata, “Silahkanlah.”

Agung Sedayu segera melangkah masuk ke halaman. Halaman banjar padepokan itu kini sudah tampak lebih bersih dan terang. Beberapa buah obor dipasang di sudut-sudut halaman dan sebuah lampu minyak yang cukup terang tergantung di tengah-tengah pendapa. Beberapa orang masih tampak duduk bercakap-cakap di pendapa itu. Sedang beberapa orang yang lain, yang terluka berbaring-baring sambil bercakap-cakap satu sama lain.

Mereka memandangi Agung Sedayu ketika anak muda itu naik tangga dan berjalan di antara mereka, di tengah-tengah pendapa itu. Salah seorang yang telah mengenalnya dengan baik bertanya, “Apakah kau akan menemui kakakmu?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

“Ia berada di pringgitan.”

Agung Sedayu sebenarnya sudah tidak memerlukan keterangan itu lagi. Ia tahu pasti bahwa kakaknya berada di pringgitan. Mungkin dengan beberapa orang perwira pembantu-pembantunya. Mungkin bahkan sendiri sambil menunggunya. Tetapi ia menjawab, “Terima kasih.”

Dengan dada yang semakin berdebar-debar ia melangkah menuju ke pintu pringgitan. Pintu leregan itu masih terbuka sedikit. Sepercik sinar dian di dalam pringgitan itu sempat meloncat keluar.

Hati-hati Agung Sedayu mendekati pintu. Kini ia sudah berada tepat di muka pintu. Tetapi keragu-raguannya ternyata membuat ia tertegun. Tanpa disengajanya ia berpaling, memandangi orang-orang yang berada di pendapa banjar itu.

Agung Sedayu itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya orang yang sudah mengenalnya dan memberitahukan kepadanya bahwa Untara berada di pringgitan itu berbicara lagi, cukup keras, “Buka saja. Pintu itu tidak pernah dislarak.”

“Terima kasih,” sekali lagi Agung Sedayu menjawab. Kini tangannya telah memegang wengku pintu yang dibuat dari anyaman bambu wulung. Perlahan-lahan ia mendorong ke samping. Dan pintu itu pun terbuka.

Dada Agung Sedayu berdesir. Di dalam pringgitan itu duduk hanya dua orang saja. Kakaknya, Untara dan seorang lagi, Wuranta.

“Masuklah,” terdengar suara kakaknya berat tetapi dingin. Sedingin angin pegunungan yang bertiup semakin kencang.

“Terima kasih, Kakang,” sahut Agung Sedayu. Suaranya pun tiba-tiba bernada berat. Tetapi terasa sebuah getaran di dadanya terpercik di antara kata-katanya.

Tetapi begitu ia melangkahkan kakinya, Agung Sedayu itu tertegun. Ia melihat Wuranta tiba-tiba berdiri dan berkata, “Untara, aku akan keluar sebentar. Udara terlampau panas di pringgitan ini.”

Terasa jantung Agung Sedayu menjadi semakin cepat berdentang. Ia sadar bahwa kehadirannyalah yang seolah-olah telah mengusir Wuranta dari pringgitan itu. Agaknya Wuranta benar-benar tidak dapat menemuinya.

Dengan demikian maka teka-teki di dalam dada Agung Sedayu menjadi semakin kisruh. Panggilan kakaknya telah membingungkannya, dan kini ia menemukan suatu pertanyaan baru yang semakin membelit hati.

“Apakah sebenarnya yang telah aku lakukan, sehingga aku terperosok dalam keadaan yang membingungkan ini?” desis Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi yang terdengar adalah suara Untara, “Duduklah Wuranta.”

“Aku akan keluar sebentar,” sahut Wuranta sambil melangkah.

Tetapi sekali lagi terdengar Untara berkata, “Duduklah.”

Wuranta menggeleng. “Aku tidak betah duduk di dalam pringgitan yang panas ini.”

“Di luar udara akan lebih panas lagi. Duduklah,” ulang Untara.

Tetapi Wuranta masih juga melangkah. Namun langkahnya pun tertegun. Agung Sedayu masih berdiri tegak di muka pintu.

“Wuranta,” Untara mengulanginya lagi, “kemarilah dan duduklah. Dengar kata-kataku. Kemarilah kalian berdua. Duduk di sini. Aku perlu dengan kau berdua.”

Nada kata-kata Untara serasa semakin berat, memberati hati kedua anak-anak muda itu. Ketika sekali lagi Untara memanggil, maka Wuranta tidak dapat lagi menolaknya, “Wuranta. Kemari. Duduklah di sini.”

Dengan wajah yang tegang Wuranta itu pun melangkah kembali. Dengan dada yang berdebaran ia duduk di tempatnya. Sekali matanya menyambar Agung Sedayu yang masih berdiri tegak di muka pintu. Tetapi sesaat kemudian dilemparkannya pandangan matanya ke sudut ruangan.

Agung Sedayu masih tegak di tempatnya. Di lambungnya tergantung sehelai pedang. Di wajahnya terpancar berbagai macam pertanyaan yang telah membingungkannya.

“Jangan seperti hendak berkelahi Sedayu,” tiba-tiba suara kakaknya mengejutkan, “duduklah.”

“Oh,” terdengar Agung Sedayu berdesah, “terima kasih, Kakang.”

“Apakah kau akan pergi berperang?”

Pertanyaan Untara terdengar begitu tajamnya menyentuh telinganya. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menjawab tegas, “Tidak.”

Untara bergeser. Ditatapnya wajah adiknya. Tetapi Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Meskipun demikian jawaban Agung Sedayu itu terasa telah menggerakkan hati kakaknya. Dalam keadaan yang wajar, adiknya tidak akan menjawab. Apalagi jawaban sesingkat dan tegas itu.

Tetapi Untara itu terdiam. Dipandanginya langkah Agung Sedayu mendekatinya dan kemudian duduk di sampingnya. Dijulurkannya pedangnya ke belakang.

Sejenak mereka saling berdiam diri, dan pringgitan itu dijalari oleh suasana yang sepi tegang. Di kejauhan terdengar lamat-lamat suara burung hantu yang menggetarkan udara malam yang dingin.

Sesaat kemudian Untara menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya adiknya dengan penuh pertanyaan. Tetapi sebelum Untara bertanya, Agung Sedayu berkata, “Aku bertemu dengan lima orang yang bersembunyi di balik rerungkudan. Mereka sengaja menjebak aku.”

Untara masih terdiam, dan Agung Sedayu mengatakan dengan singkat apa yang dijumpainya di perjalanan ke banjar padepokan ini.

Terasa jantung Untara menjadi semakin cepat bergetar. Ia merasakan suatu kebanggaan di dalam dirinya, bahwa Agung Sedayu telah berhasil menguasai diri dalam keadaan yang tiba-tiba itu dan dapat berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak ingin menunjukkan pengaruh perasaannya itu. Bahkan wajahnya seolah-olah tidak menunjukkan perubahan apa pun. Meskipun demikian, Agung Sedayu menjadi agak berlega hati bahwa kakaknya tidak menyalahkannya lagi.

Sekali lagi ruangan itu menjadi sepi. Baru sejenak kemudian Untara berkata kepada Wuranta tanpa mempersoalkan cerita Agung Sedayu, “Aku memang menunggu kesempatan semacam ini Wuranta.”

Wuranta tidak menyahut, tetapi wajahnya pun tunduk memandangi anyaman tikar yang didudukinya.

“Aku ingin setiap persoalan segera selesai. Aku tidak ingin kalian bersikap seperti anak-anak.”

Tiba-tiba Wuranta mengangkat kepalanya. Sorot matanya menjadi tajam bercahaya. Dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya bergetar, “Apakah maksudmu, Untara?”

Untara mengerutkan keningnya. Ia berhadapan dengan seorang anak muda perasa. Anak muda yang mudah tersinggung perasaannya. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Tetapi Untara tetap dalam pendiriannya, ia ingin menyelesaikan persoalan ini.

“Wuranta,” berkata Untara, “tidak baik kau selalu dikejar oleh perasaanmu itu. Setiap kali kau selalu menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu sejak kau meninggalkannya, ketika Agung Sedayu sedang berkelahi dan mengejar Sidanti. Sejak ini, maka anggaplah bahwa di antara kalian sudah tidak ada persoalan lagi, sehingga hubungan kalian menjadi wajar seperti sediakala. Agung Sedayu adalah anak Jati Anom seperti kau, seperti aku juga. Ia untuk seterusnya akan menetap pula di Jati Anom, kalian akan selalu bertemu di jalan-jalan, di perapatan atau di gardu-gardu perondan. Kalau hubungan kalian tidak dapat pulih kembali maka akibatnya pun akan mempengaruhi seluruh anak-anak muda Jati Anom.”

Wajah Wuranta sesaat menjadi pucat. Keringat dinginnya mengalir membasahi pakaiannya. Namun justru karena itu maka ia pun terbungkam.

Agung Sedayu pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sedang dihadapinya. Tetapi yang telah menyengat hatinya adalah kepastian kakaknya bahwa ia akan tinggal untuk seterusnya di Jati Anom. Dengan demikian maka segera ia menemukan kesimpulan, bahwa hal inilah yang akan dikatakan kakaknya kepadanya, di samping persoalan yang masih tidak jelas baginya, hubungannya dengan Wuranta yang menjadi serasa tegang

“Aku dapat merasakan perasaan kalian,” berkata Untara seterusnya, “tetapi aku tidak sependapat bahwa perasaan itu akan terlampau berkuasa di hati kalian. Kalian harus mengimbanginya dengan nalar dan pikiran, bahwa kalian adalah anak-anak muda Jati Anom. Bahkan kalian adalah harapan bagi kampung halaman. Kalian harus dapat menyingkirkan semua persoalan pribadi untuk kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Apakah kalian dapat mengerti maksudku?”

Wuranta masih terdiam. Keringatnya semakin banyak mengalir di seluruh wajah kulitnya.

BUKU 27

SEJENAK ketiga anak-anak muda itu saling berdiam diri, sehingga pringgitan itu sekali lagi menjadi sepi. Dan sekali lagi terdengar burung hantu seolah-olah merintih menggetarkan udara malam. Di halaman daun-daun yang kuning berguguran oleh sentuhan angin lereng bukit yang semakin keras. Gemerasak seperti gemerasaknya nafas Agung Sedayu dan Wuranta.

Yang memecahkan keheningan itu adalah suara Untara memberat, “Pikirkanlah. Kalian bukan lagi anak kecil yang manja.”

Ketika Untara terdiam, tiba-tiba udara pringgitan itu digetarkan oleh suara Wuranta setajam getar jantungnya, “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Untara.”

Untara mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku kira cukup jelas.”

“Kau agaknya menganggap, bahwa selama ini aku selalu menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu. Kau salah sangka. Aku tidak pernah berpikir demikian. Adalah kebetulan sekali bahwa aku tidak bertemu dengan Adi Agung Sedayu untuk beberapa lama.”

Untara menarik nafas dalam-dalam, “Kau aneh Wuranta. Kita sudah cukup dewasa. Aku tahu benar perasaanmu. Jangan ingkar.”

Baju Wuranta telah menjadi basah oleh keringat. Namun ia masih berkata, “Jangan mencari-cari, Untara. Katakan saja apa maksudmu sebenarnya.”

Untara terperanjat mendengar kata-kata itu. Ia adalah seorang senapati perang di daerah ini. Ia adalah orang tertinggi dalam tata keprajuritan Pajang di daerah lereng Merapi. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa di hadapannya duduk seorang anak muda Jati Anom. Bukan seorang prajurit Wira Tamtama. Seorang anak muda kawannya bermain semasa kanak-kanak, sehingga bekas-bekas pergaulan di masa kecilnya itu tidak dapat dihapuskannya. Sikap itulah yang masih dibawa oleh Wuranta kali ini.

Sekali lagi Untara menghela nafas dalam-dalam untuk menahan hatinya. Persoalan yang akan dibicarakannya memang bukan masalah-masalah keprajuritan, meskipun akibatnya akan menyentuh pula.

Wuranta merasa bahwa ruangan itu menjadi semakin lama semakin panas, seperti tungku yang dipanasi dengan bara api kayu mlandingan.

Yang terdengar kemudian adalah suara Untara, “Wuranta, tidak baik apabila aku terpaksa mengatakan dengan berterus terang. Tetapi seharusnya kau dapat menangkap maksudku dan kau tidak perlu menghindarinya lagi. Marilah persoalan ini kita selesaikan. Kemudian, kalian akan dapat hidup seperti sedia kala. Tanpa perasaan canggung dan segan.”

Gigi Wuranta menjadi semakin terkatup rapat untuk menahan gelora perasaannya. Dentang jantung di dadanya serasa menjadi semakin cepat dan keras. Seperti kentong titir yang memekik-mekik hampir-hampir mematahkan seluruh tulang iganya.

Tetapi Agung Sedayu pun tidak pula kalah gelisahnya. Ia belum tahu, apakah yang akan dikatakan kakaknya itu kepadanya. Tetapi menilik pembicaraannya dengan Wuranta, maka ia sudah dapat meraba ujung dan bahkan pangkalnya.

Dengan dada yang semakin berdebar-debar ia mendengar Untara melanjutkannya, “Apakah kau dapat mengerti? Dan kau dapat mernpertimbangkan dengan pikiran yang jernih. Tidak sekedar dengan perasaan saja.”

Kini tubuh Wuranta menjadi gemetar. Dipandanginya Untara dan Agung Sedayu berganti-ganti. Kemudian terdengar Wuranta itu menggeram, ”Lalu apakah yang harus aku lakukan menurut pertimbanganmu, Untara? Apakah aku harus minta maaf dan berjanji untuk melupakan persoalan ini.”

“Tidak perlu,” sahut Untara, “tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Tetapi apabila kalian melupakan persoalan di antara kalian, maka dengan demikian sudah terlepas dari persoalan itu.”

Wuranta tidak menjawab. Sekali lagi tatapan matanya jatuh di atas anyaman tikar yang silang-menyilang.

Tetapi Wuranta itu kemudian bergumam seperti kepada diri sendiri, “Apakah yang harus aku lakukan? Aku tidak mengerti. Apakah aku setiap hari harus pergi ke mana pun bersama Adi Sedayu atau aku harus menunggunya di banjar ini atau di kademangan Jati Anom? Dan aku juga tidak mengerti, apakah yang harus dilakukan oleh Adi Agung Sedayu dalam hal ini.”

Tampaklah sebersit warna merah di wajah Agung Sedayu. Sesaat ia mengangkat wajahnya. Sorot matanya menghunjam langsung ke wajah Wuranta, seolah-olah ingin melihat apakah yang sedang bergulat di dalam kepala anak muda itu.

Betapa dahsyatnya jantungnya bergetar, sehingga ia tidak mampu untuk duduk mematung, mendengarkan pembicaraan yang tidak begitu jelas baginya, yang hanya dapat diraba-rabanya saja. Karena itu, maka terloncat katanya dengan suara gemetar, “Aku tidak tahu, apakah yang sedang kita bicarakan.”

Kedua anak-anak muda yang lain, Untara dan Wuranta, serentak berpaling kepadanya. Namun Wuranta kemudian segera melontarkan pandangan matanya ke sudut pringgitan, sedang Untara menarik nafasnya dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Seharusnya kau pun sudah tahu. Setidak-tidaknya kau dapat merabanya.”

Agung Sedayu sendiri tidak mengerti, kekuatan apakah yang tiba-tiba mendorongnya, sehingga ia berkata, “Kakang ingin menyelesaikan masalah yang agaknya menyangkut diriku. Menurut tangkapanku adalah masalah antara aku dan Kakang Wuranta. Aku tidak ingkar, bahwa aku merasakan hubungan antara aku dan Kakang Wuranta menjadi aneh. Aku tidak tahu, siapakah yang menyebabkannya. Tetapi itu adalah kenyataan, Kakang menghendaki persoalan ini harus segera mendapat pemecahan dalam sikap yang cukup dewasa. Tetapi menghadapi persoalan yang harus aku hayati dengan sikap dewasa itu aku hanya dapat meraba-raba.”

Untara terperanjat mendengar jawaban adiknya. Jawaban yang sama sekali tidak diduga-duganya. Dengan tajam ditatapnya wajah Agung Sedayu yang kemudian tertunduk. Seolah-olah anak muda itu baru pertama kali ini dilihatnya.

Di dalam hati Untara bergetar beberapa macam pertanyaan tentang adiknya itu. Namun kemudian ia berkata di dalam hatinya itu, “Anak ini telah benar-benar meningkat menjadi dewasa. Ia agaknya telah menemukan sesuatu pada dirinya. Sikap dan kepercayaan diri. Mudah-mudahan ia tidak kehilangan arah.”

Wuranta pun menjadi gelisah mendengar jawaban Agung Sedayu itu. Terasa dadanya bergetar dan wajahnya menjadi semakin tegang.

Yang berkata kemudian adalah Untara, “Ya, Sedayu. Kau benar. Kau harus mendengar dengan pasti apakah persoalannya.”

Tiba-tiba Wuranta memotong, “Kau dapat memperbesar persoalan itu, Untara. Seolah-olah persoalan yang cukup penting dibicarakan oleh seorang senapati seperti kau. Kalau kau tidak mempersusah dirimu dengan soal yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan jabatanmu itu, maka aku kira persoalan ini pun akan dapat selesai dengan sendirinya.”

Untara menggelengkan kepalanya, “Tidak, Wuranta. Meskipun kemungkinan yang demikian itu ada, tetapi kemungkinan yang lain pun dapat terjadi. Persoalan itu akan menjadi semakin parah.”

Wajah Wuranta menjadi kemerah-merahan.

“Sebaliknya aku berterus terang. Kalian harus melupakan persoalan kalian,” berkata Untara kemudian, “persoalan yang dapat mengganggu hubungan kalian, hubungan antara anak-anak muda Jati Anom pada umumnya.”

“Ya, aku tahu,” sahut Agung Sedayu, “aku akan melupakan persoalan itu. Tetapi persoalan yang mana? Persoalan, bahwa aku siang tadi tidak datang menghadiri upacara pelepasan jenazah atau persoalan lain.”

“Ah,” Untara mengerutkan keningnya, “kau tidak memperlancar pembicaraan ini. Baiklah, aku akan mengatakannya. Aku ingin kalian melupakan Sekar Mirah. Biarlah gadis itu kembali ke Sangkal Putung. Kalian adalah anak-anak muda Jati Anom. Kalian berdua termasuk orang-orang penting, terutama di lingkungan anak-anak muda.”

Wajah-wajah Agung Sedayu dan Wuranta berubah sesaat. Wajah-wajah itu dijalari oleh warna kemerah-merahan. Keduanya menundukkan kepalanya. Dan untuk sejenak keduanya tidak menyahut.

“Nah, aku sudah berterus-terang. Kalian agaknya menghendaki aku berkata begitu. Dan aku sudah mengatakannya,” Untara berkata selanjutnya. Alisnya tampak berkerut, dan ia berkata-pula, “Sudah cukup persoalan yang disebabkan oleh gadis itu. Salah satu sebab dari kepergian Sidanti dari Sangkal Putung adalah gadis itu pula. Kalau tidak ada Sekar Mirah di sana, yang agak-nya akan mengecewakannya, maka ia masih harus mempertimbangkan sepuluh kali lagi untuk meninggalkan Sangkal Putung.”

Agung Sedayu dan Wuranta masih berdiam diri. Namun dengan demikian Agung Sedayu kini telah mendapat kepastian, bahwa dugaannya selama ini ternyata benar. Tetapi dengan demikian pula, maka wajahnya menjadi semakin memerah. Ia menjadi malu atas persoalan yang melibatnya. Apalagi apabila diingatnya, bahwa Wuranta adalah kawan sepermainan, meskipun umurnya agak lebih tua sedikit daripadanya.

“Kalian tidak usah ingkar. Kalian sama-sama mencintai gadis itu. Itulah sebabnya, maka kalian seolah-olah menjadi bersaing. Mungkin karena Agung Sedayu telah mengenal gadis itu lebih dahulu, maka hubungannya menjadi agak lebih rapat dari Wuranta. Hal itulah yang telah timbul pada kalian. Hal itu pulalah yang telah merenggangkan hubungan kalian.”

Keduanya masih berdiam diri. Dan Untara meneruskan, “Kemudian kalian harus bercermin pada padepokan Tambak Wedi. Langsung atau tidak langsung, kehancuran padepokan ini sebagian dipengaruhi pula oleh kehadiran gadis itu di sini. Perkelahian antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda adalah karena Sekar Mirah. Kemudian perkelahian itu menjalar menjadi pertempuran yang menyala antara orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang di bawah pimpinan Sanakeling. Nah, apakah persoalan yang dapat ditumbuhkan oleh Sekar Mirah itu tidak juga belum berakhir? Dan kini kalian berdua terlibat pula dalam masalah itu seperti Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.”

Keduanya tidak segera menjawab. Dengan demikian ketika Untara berhenti sejenak, maka pringgitan itu sekali lagi menjadi sepi. Sekali lagi di kejauhan terdengar suara burung hantu. Lalu terdengar pula anjing-anjing liar menggonggong bersahut-sahutan.

Tetapi kesepian malam itu terasa menekan dada Agung Sedayu seperti hendak menghimpit patah tulang-tulang iganya. Ketika ia mencoba mengangkat wajahnya dan memandangi Wuranta, maka anak muda itu masih menundukkan kepalanya.

Terdengar kemudian suara Untara memecah kesepian, “Bagaimana? Apakah kalian dapat mengerti? Aku mempunyai perhitungan atas kalian berdua. Kau, Wuranta. Kau akan menjadi seorang tetindih anak-anak muda Jati Anom. Kau akan dapat memperdalam pengetahuanmu tentang olah kanuragan. Dan kau akan dapat menjadi tempat untuk meletakkan dasar kekuatan Jati Anom.” Untara berhenti sejenak, lalu kepada Agung Sedayu berkata, “Dan kau, Sedayu. Kau masih terlalu muda. Masa depanmu masih sangat panjang. Karena itu, maka sebaiknya kau membentuk dirimu lebih dahulu sebelum kau tertarik akan hal-hal lain. Semula aku tidak menaruh keberatan apapun atas hubunganmu dengan Sekar Mirah. Tetapi ternyata aku melihat sendiri, bahwa hubungan itu akan dapat mengganggumu, yang kini tampak di mataku adalah hubunganmu dengan Wuranta sudah terganggu. Ternyata kau lebih mementingkan gadis itu daripadanya. Sedang kau tahu, bahwa Wuranta adalah seorang yang cukup penting dalam pertempuran yang baru saja terjadi. Bahkan seakan-akan turut menentukan permulaan yang menjadi pembuka jalan masuk ke padepokan ini.”

Meskipun Agung Sedayu sudah menyangka, bahwa kakaknya akhirnya akan sampai juga pada persoalan dan pendirian itu, namun kata-kata itu masih juga membuatnya terperanjat sekali. Terasa seakan-akan dadanya sejenak menjadi pepat, dan nafasnya seolah-olah terhenti.

Untara melihat wajah adiknya yang tiba-tiba menjadi pucat itu. Tetapi sejenak kemudian wajah yang pucat itu menjadi merah membara. Mata Agung Sedayu seakan-akan menyala karena desakan-desakan di dalam dadanya. Sesaat dipandangnya wajah kakaknya, sesaat kemudian matanya hinggap pada wajah Wuranta. Tetapi anak Jati Anom itu menundukkan wajahnya meskipun hatinya juga bergolak seperti hati Agung Sedayu. Namun betapa hati Wuranta bergolak, tetapi ada perbedaan tingkat di antara keduanya. Wuranta kini merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Untara itu adalah wajar. Sebagai seorang pemimpin, ia berusaha untuk menyelesaikan persoalan yang tumbuh di antara orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Ketika ternyata Untara tidak menjadi berat sebelah, tidak memihak kepada Agung Sedayu dan menyalahkannya, maka sejak itu hati Wuranta mempunyai tangkapan lain terhadap usaha penyelesaian yang dilakukan oleh Untara. Tiba-tiba hatinya menjadi sangat terpengaruh oleh cara senapati muda itu. Bahkan kemudan ia menghargainya. Ternyata Untara mempanyai sikap yang tidak disangka-sangkanya. Semula ia menyangka, bahwa Untara pasti akan membela adiknya. Menyalahkannya dan berusaha untuk membela kebenaran Agung Sedayu. Tetapi ternyata tidak. Untara tidak berbuat demikian menurut penilaian Wuranta.

Bahkan Untara itu berkata, bahwa mereka berdua, Agung Sedayu dan Wuranta bersama-sama harus melupakan gadis itu. Gadis yang telah membuat Agung Sedayu dan Wuranta seolah-olah saling menjauhi. Betapapun berat perasaannya, namun ia merasa bahwa hal itu sebaiknya dilakukan. Melupakan Sekar Mirah. Dengan demikian, maka antara dirinya dan Agung Sedayu tidak akan ada lagi batas yang menghalang-halangi seperti yang mereka alami pada saat-saat terakhir.

Tetapi untuk melupakan Sekar Mirah pasti akan terampau sulit. Itulah sebabnya, maka Wuranta masih tetap membisu sambil menundukkan kepalanya. Dadanya yang bergolak terasa menjadi semakin pepat. Namun ia dapat mengerti pendirian Untara. Bagi Untara tidak ada jalan yan