Lelaki Pendiam Penuh Pesona

Lelaki Pendiam Penuh Pesona

Oleh : Fitrawan Umar

Belakangan ini, ada yang terus mengintaiku. Memburu setiap keheningan pikiran. Mencoba menjamah sisi kosong hatiku. Kurasakan sesuatu itu terus mengejar. Dalam sepi, gundah, dan bahagia. Ia menjalar mengikuti ruas bayanganku. Mengendap. Masih samar. Sesekali ku terus menoleh, mengawasi sebelum ia menangkapku. Baca lebih lanjut

Ucapanmu, Doamu untuk Kami

Ucapanmu, Doamu untuk Kami

(A. Ariny Syahidah, Anggota FLP Wilayah Sul-Sel)

Pengantar:

Cerpen ini berkisah tentang seorang remaja yang habis bertengkar dengan ibunya yang lalu melarikan diri dari rumah. Namun, karena sang pacar memintanya kembali ke rumah, akhirnya ia pun kembali ke rumah. Tetapi, setiba di rumah, lagi-lagi sang ibu membuat emosinya naik saat mengucapkan kata-kata yang tidak disukai oleh pemuda bernama Arkun itu. Arkun tidak membalasnya lagi dan justru naik ke kamar.

Baca lebih lanjut

Petikan Novel Untuk Orang-Orang Yang Tembuspandang

Petikan Novel Untuk Orang-Orang Yang Tembuspandang

Karya H Achmad Makmun

Kesatu

Segala yang tembus-pandang menurut Rohmat, bukanlah sesuatu yang harus diirikan. Bukanlah yang harus dimiliki. Iri boleh, namun tidak harus. Ingin memiliki juga boleh, tapi tidak diwajibkan oleh siapapun bahkan oleh Tuhan. Ini yang ingin dibuktikan ketika Rohmat memasuki Ruangan Kades di Kantor Desanya. Hadiyoni sedang melakukan sesuatu dengan Sukaji di pojok ruangan, di sebuah kursi lobi yang empuk serta masih baru. Rohmat tidak mengucapkan kalimat keterkejutan apapun. Walau tadi masih sempat melihat jemari lentik itu, maaf, menyentuh dada Ketua BPDnya. Baca lebih lanjut

Tolong, Kembalikan Saya ke Surga


Sungguh aku terperangah melihat sosok tadi siang masih terbaring di tengah lapangan. Aku yakin sekali sosok itu yang kulihat tadi siang memakai baju hijau berkotak-kotak dengan celana hitam. Sebenarnya bagiku bukan lantaran sosok itu masih terbaring sudah berjam-jam di tengah lapangan bola, melainkan wajah teduh dengan mata dan bibir yang terkatup rapat seakan-akan membias senyum itu mengingatkan aku pada seseorang yang pernah kulihat. Tapi siapa? Aku terus memutar otakku. Baca lebih lanjut

Inferno

Inferno

Oleh : Purplerose

Dia masih disana. Membatu. Bukan diam seperti batu.Tapi benar-benar telah menjadi batu. Aku pikir alam akan memberanguskannya. Seperti laut yang mengikis karang, atau seperti api yang menghanguskan tanpa sisa kecuali abu. Tidak ternyata. Dia masih disana, sekalipun semut-semut dibawah telapak kakinya telah beregenerasi ratusan ribu kali. Dia tidak bergerak, walaupun angin berderak lincah di tubuhnya. Aku pikir, ia contoh fabel yang tak sempat diceritakan. Atau legendanya adalah tabu untuk diabadikan. Semakin aku ingin tahu, semakin dunia membisu. Baca lebih lanjut

Empat Ratus Rupiah

Empat Ratus Rupiah

(Penulis unknown) 

Minggu pagi yang cerah.Hari ini aku berniat memasak buat suami dan anakku,mumpung hari libur.Maklum,tidak setiap hari aku sempat memasak karena aku juga bekerja.Setelah mandi dan berganti baju akupun berpamitan pada suamiku.

”Hati-hati,jalanan ramai…o,ya jangan lupa belikan telur puyuh buat Naufal” pesannya seraya mengeluarkan motor yang akan kupakai.Aku mengangguk mengiyakan.Kulihat dikamar Naufal anakku semata wayang masih tertidur pulas.Mungkin dia kelelahan karena semalam kuajak silaturahmi ke rumah famili hingga larut malam.Segera kupacu motor menuju pasar tradisional yang berjarak 2 km dari rumahku. Baca lebih lanjut

Sore di Kafe Morozhenoye

Sore di Kafe Morozhenoye

Oleh : Budi Rahmadi

Suatu sore  diKafe Morozhenoye.

Aku bertemu dengan seorang bidadari yang cantik sekali. Bermata bulan, bergaun embun, berambut waktu dan jemari seperti bening kali bermandi matahari.

“Mengapa murung selalu wajahmu?”Tanyanya selirih bisik angin di bibir pasir.

“Aku baru putus dari pacarku,”Jawabku getir. Baca lebih lanjut

Ekor Ekor Ekor !

Ekor Ekor Ekor !

Oleh :  syafree

Warga kampung kini memiliki kebiasaan baru. Memakan segala macam jenis ekor. Ekor kambing, ekor sapi, ekor ayam, ekor ikan dan segala macam jenis ekor lainnya.

Kebiasaan ini sebenarnya muncul belum lama. Beberapa tahun lalu ada orang kota datang ke kampung yang penduduknya tak sampai lima ratus orang ini. Orang kota itu membawa satu kapal, kapal ukuran nelayan, kotak kardus berisi televisi. Warga kampung memang terbiasa didatangi orang kota untuk berdagang. Maklumlah kampung ini hanya sebuah kampung yang terletak pada sebuah pulau kecil yang terpisah dari dari kota. Baca lebih lanjut

Si Montok

Dari Kumpulan Cerpen “Kabut Di Negeri Si Dali”
Si Montok

Untuk melanjutkan perjuangan setelah musuh menduduki semua kota, Si Dali menyingkir ke sebuah desa di balik bukit peladangan tebu. Dengan dua teman sesama prajurit Si Dali dapat menempati rumah yang berkamar satu. Tapi mereka tidak tidur di kamar itu. Melainkan pada satu-satunya ruangan yang ada. Tidur berdesakan. Kamar itu sendiri ditempati Si Montok dan anaknya yang berusia empat tahun, Amir. Bertiga dengan ibunya. Kamar itu sendiri tidak berpintu. Tapi di depannya, sejajar dengan ruang sempit jalan ke dapur, menjadi ruang tidur ayah Si Montok. Baca lebih lanjut