Walet Emas Perak

New Picture (4)

Walet Emas Perak

Karya : Khu Lung

Saduran : Gan KH

Sumber DJVU : Manise dan Paulustjing

Convert & edit : Dewi KZ & Paulustjing

Source : Tiraikasih website

 Jilid l

”Tang tang…….tang….. tang…tang…..tang tang tang…..” Gema lonceng yang mengalun lembut berat berirama bergetar di teagah angkasa pada malam nan gelap dan dingin ini, suaranya melampaui tanah pegunungan tinggi, menyusup ke lembah, membentang di padang rumput, menyelinap di hutan – hutan. Baca lebih lanjut

Misteri Rumah Berdarah

New Picture (3)bb

Misteri Rumah Berdarah

Saduran : Tjan I.D

Jilid 1

PENDAHULUAN

“DISEWAKAN SEBUAH RUMAH REJEKI” Silakan periksa di gunung, Liong-san Hutan Tauw Liem. Itulah bunyi dari sebuah pengumuman penyewaan rumah yang ditempelkan diluar pintu sebelah utara kota kay Hong, bukan saja kertas warna merah tersebut sangat menarik perhatian, bahkan ada sesuatu yang jauh lebih menarik dari hal tersebut., Baca lebih lanjut

Pisau Kekasih

New Picture (2)gg

Pisau Kekasih

Karya : Gu Long

Saduran : Ynt/Liang YL Editor : Adhi H

Sumber DJVU : Manise

Convert, edit, Ebook oleh : Dewi KZ

Tiraikasih Website

JILID KE SATU

Lim Leng-ji telah datang Jika kau belum pernah bertemu dengan Lim Leng-ji, maka kau hanya orang biasa seperti kebanyakan orang. Jika kau melewatkan kesempatan baik bertemu dengan Lim Leng-ji, maka kau adalah orang yang sangat bodoh. Baca lebih lanjut

Duri Bunga Ju

New Picture (1)s

Duri Bunga Ju

(Ju Hua Di Ci)

Karya : Gu Long

Convert edit oleh : Lavilla

Ebook : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website

BAB 1

Di jalan raya Chuan Shan Li Yuan-wai (Hartawan Li). Sebenarnya dia bukan seorang hartawan, dia hanya nama seorang lelaki. Laki-laki ini perawakannya persis seorang hartawan, tubuhnya gemuk bulat…. jika dilihat dari sebelah belakang, hartawan kebanyakan perawakannya memang seperti ini, pendek atau tinggi. Baca lebih lanjut

7 Senjata – Bulu Merak (Seri 2)

 New Picturefg

7 Senjata – Bulu Merak (Seri 2)

Karya : Gu Long (Khu Lung)

Judul Asli: Qi Zhong Wu Qi Zhi – Kong Que Ling

Judul Bahasa Inggris: The Seven Weapon Series – Peacock Tail Feather

Edited and ebook by : Dewi KZ

 

Bab l. Pembunuh

Suatu sore.

Gao Li berdiri di bawah sinar matahari yang hampir

terbenam, bayangan papan nama rumah makan Zhang Yuan

menutupi wajahnya. Wajahnya seperti bersembunyi di balik

bayang-bayang.

Dia mengenakan jubah biru yang panjang, dia harus

menyembunyikan tombak peraknya yang panjang dan tajam.

Tombaknya yang panjang telah menyentuh tulang

rusuknya. Baju bagian dalam yang terbuat dari sutra sudah

basah oleh keringat dingin.

Setiap kali pada saat dia akan membunuh seseorang, dia

akan selalu merasa sangat tegang.

Jalan ini sebenarnya adalah jalan yang paling ramai di kota.

Sekarang pun waktu yang paling ramai di kota itu.

Matanya melihat ada seorang penjual buah ling jiao

(semacam makanan), dia bernama Ding Gan. Dia seorang lakilaki

yang tinggi dan besar dan terlihat sedikit gemuk,

sepasang tangannya terlihat sangat cekatan. Saat ini dia

sedang jongkok di pinggir jalan, dengan pisau yang

melengkung dia mulai mengupas buah ling jiao yang berada di

dalam keranjang. Tapi caranya mengupas tidak begitu cepat

karena dia selalu menggunakan pisau ini bukan untuk

mengupas ling jiao tapi untuk membunuh orang. Katanya

orang yang telah dibunuhnya lebih banyak dibandingkan

dengan jumlah ling jiao yang berada di dalam keranjangnya.

Di seberang rumah makan ada sebuah toko arak. Toko itu

terlihat sangat tua. Toko itu hanya menjual arak tidak menjual

sayur. Gentong arak yang besar ditutup oleh sebuah papan.

Orang yang ingin minum selalu duduk di kursi kecil yang

berada di pinggir, makan makanan kecil sambil minum arak.

Di dalam toko itu hanya ada satu orang tidak minum arak.

Orang itu bernama Tang Ye.

Tang Ye berperawakan pendek tapi terlihat kuat,

rambutnya yang terurai selalu diikat dengan pita putih. Tidak

ada seorang pun yang tahu dia berasal dari mana, lahir di

mana. Hanya tahu bahwa mulutnya selalu menggigit pinang.

Menurut orang-orang, itu juga merupakan kebiasaan

perampok tapi tidak ada yang berani menanyakannya.

Menurut orang-orang juga, pernah ada 2 orang yang

menanyakan hal itu, tapi saat malam hari lidahnya sudah

dipotong oleh seseorang.

Di sisinya ada sebuah alat pikul, sepertinya dia adalah

tukang pikul, tapi sebenarnya dia bukan tukang pikul, seperti

Gao Li yang juga bukan seorang pendeta.

Di dalam alat pikulnya tersimpan sebuah pisau yang

panjang. Ada seorang lagi dia pun seperti tukang pikul. Dia

duduk di hadapan Tang Ye untuk minum arak juga.

Orang itu masih muda. Orang-orang memanggilnya dengan

nama Xiao Wu. Xiao Wu adalah teman Tang Ye tapi dilihat

dari sudut mana pun sama sekali tidak cocok untuk menjadi

teman Tang Ye. Mereka adalah orang yang beraneka ragam.

Xiao Wu terlihat sangat santai, senang tertawa dan senang

minum arak, tidak ada yang bisa membayangkan sewaktu dia

membunuh orang, sangat cepat dan tepat. Jika dia ingin

membuka mata kirimu, pedangnya tidak akan salah sasaran

ke mata sebelah kanan.

Pedangnya juga tersimpan di dalam alat pikul. Dari tempat

berdiri Gao Li bila berjalan ke depan sebanyak 10 langkah, ada

sebuah kereta kuda yang hitam dan besar yang sedang

berhenti.

Kusir tampak sedang terkantuk-kantuk, pecut panjang

tergantung di sisinya. Dia bemama Ma Bian.

Dia bagaikan pecut panjang, pecut itu bagaikan nyawanya.

Bila tidak ada pecut ini, dia sudah hampir mati beberapa kali.

Karena pecut inilah, dia tidak jadi mati dan yang mati adalah

orang lain.

Mereka semua datang berlima.

Gao Li, Ding Gan, Tang Ye, Xiao Wu, dan Ma Bian. Di

sinilah mereka berlima akan melakukan suatu hal. Hal yang

mereka lakukan biasanya harus menumpahkan darah.

0-0-0

Setiap bulan 7 pada tanggal 15, hari itu disebut hari setan.

Tapi yang akan kita ceritakan adalah tentang bulan 7 tanggal

15 yang bukan melambangkan hari setan melainkan suatu

perkumpulan rahasia. Sebuah perkumpulan pembunuh

rahasia. Merekalah yang menentukan kebaikan atau

keburukan seseorang, kemudian orang itu akan dibunuh.

Apakah kematian adalah suatu kebebasan? Mereka berlima

adalah 5 orang pembunuh yang paling menakutkan.

Hari ini yang akan mereka bunuh adalah Bai Li Chang Qing.

Pendekar Liao Dong Bai Li Chang Qing.

Bai Li Chang Qing juga bukan seseorang yang memiliki ilmu

silat paling tinggi juga bukan orang yang sangat terkenal, tapi

kantor Biao Chang Qing adalah salah satu kantor Biao

(pengiriman barang) di antara banyak kantor Biao yang paling

sukses.

Di setiap kota di Liao Dong pasti ada sebuah kantor cabang

Biao Chang Qing, bendera Biao Chang Qing selalu dihormati

oleh orang-orang di mana pun mereka berada karena Bai Li

Chang Qing bisa mengatur orang-orangnya, dan pekerjaannya

sangat teratur dan cepat.

Kali ini dia datang karena diundang oleh gabungan 4 kantor

Biao Zhong Yuan. Berita dengan cepat menyebar,

mengatakan bahwa 4 kantor Biao ingin bergabung dengan

Biao Chang Qing dan menjadikan sebuah kantor Biao yang

besar dan berwibawa.

Orang-orang yang termasuk golongan hitam nanti yang

ingin merampok pasti lebih sulit lagi. Ini bukan hal yang

mudah, hanya orang semacam Bai Li Chang Qing yang baru

bisa menguasai semua ini karena itu banyak orang berharap

agar dia jangan cepat mati, tapi ada juga mengharapkan dia

cepat mati. Hari semakin gelap.

Kapan Bai Li Chang Qing akan muncul di jalan ini?

Entahlah, Dia adalah orang yang sangat sibuk, karena itu

jadwalnya sangat padat, rencananya dia akan makan di rumah

makan ini kemudian berangkat lagi ke tempat lain. Tapi

dalam ‘bulan 7 tanggal 15’, tampak selamanya dia tidak

akan bisa tiba di tempat berikutnya.

Yang ikut dengannya kecuali 4 orang Biao Chang Qing,

masih ada Ketua Biao Zhen Wei dan Ketua Biao Zhen Yuan

dengan tujuh orang pengawalnya. Mereka bertujuh adalah

pesilat tangguh.

Tapi dalam rencana ‘bulan 7 tanggal 15’ ini ternyata sudah

ada cara untuk menghadapi mereka. Rencana ini sangat rumit

tapi cukup manjur. Mereka jarang gagal dalam membunuh

orang.

Enam hari yang lalu mereka sudah mulai berlatih, hingga

sekarang sudah lewat lebih dari 60 kali.

Mereka sudah hafal untuk setiap gerakannya seperti

menggerakkan jari-jarinya sendiri. Sekarang satu-satunya

yang mereka lakukan adalah menunggu datangnya Bai Li

Chang Qing. Begitu datang dia harus langsung mati.

0-0-0

Bai Li Chang Qing.

Gao Li mengepalkan tangannya, angin menghembus

bajunya yang basah, tubuhnya dingin, hatinya terasa lebih

dingin lagi.

Tiap langkah semua sudah disiapkan.

Bila Bai Li Chang Qing muncul di jalan ini, kereta Ma Bian

akan mulai bergerak. Ding Gan akan menyerang kuda Bai Li

Chang Qing dengan senjata rahasia. Dan kalau terkejut kuda

akan lari ke depan, Ma Bian akan menggunakan keretanya

untuk memisahkan dia dari kelompoknya.

Dengan pisau Tang Ye akan memotong kaki kuda itu.

Gao Li dan Xiao Wu akan menyerang dari kiri dan kanan.

Ding Gan akan menyerang dari belakang dengan pisau

melengkungnya, “Hanya ada kata berhasil dan tidak boleh

gagal.”

Gerakan mereka belum pernah gagal, tidak ada orang yang

bisa menghindari kecepatan gerakan mereka. Sama sekali

tidak ada.

Pemilik kantor Biao Zhen Yuan, Deng Ding Hou, adalah

orang yang terbuka pikirannya dan juga berbakat dalam

bidangnya.

Semua rencana ini adalah rencananya, dia jauh-jauh

datang ke Liao Dong untuk menyambut kedatangan Bai Li

Chang Qing ke Zhong Yuan (Jiang Nan). Deng Ding Hou

dijuluki Xiao Zhu Ge Liang, dia adalah murid Shao Lin yang

biasa-biasa saja. (Zhu Ge Liang: orang yang jenius, dijuluki

dewa perang). Ilmu silat Deng sangat tinggi, apalagi jurus Bai

Bu Shen Quan nya (Pukulan Seratus Langkah Dewa). Tapi di

antara 4 kantor Biao di Zhong Yuan, ilmu silat yang paling

tinggi bukan dirinya tapi Ketua Biao Zhen Wei, Xi Men Shen.

Jurus totokan dan Mian Zhang (Telapak Kapas) di daerah

Zhong Yuan tidak ada yang bisa menandinginya.

Ditambah lagi, di kantor Biao Zhang Qing, ada 4 naga Liao

Dong, tenaga mereka sangat besar. Mereka berlatih ilmu silat

13 Tai Bao (Cap Sah Tay Po), katanya dengan tangan kosong

mereka bisa menangkap harimau. Bulan 7 tanggal 15, 5

orang pembunuh bila tidak berhasil menjalankan rencana

mereka, apakah mereka akan bisa mundur dengan mudah?

Bisa.

Rencana mundur mereka pun sama sempurnanya seperti

pada saat menyerang. Di dalam kereta Ma Bian sudah

dipenuhi dengan bahan peledak. Mula-mula mereka akan

memisahkan Bai Li Chang Qing dengan kelompoknya, begitu

tak berhasil mereka akan meledakkan kereta itu.

Kemudian mereka akan mundur kearah barat, jalan pasti

akan terputus. Kuda Deng Ding Hou pasti akan kaget oleh

suara ledakan itu. Kelima orang pembunuh itu akan segera

mundur, dan mereka tidak akan bisa mengejarnya. Gerakan

ini disebut Tian Yi (Baju Langit). Jadi harapan satu-satunya

agar Bai Li Chang Qing bisa selamat adalah mengubah rute

perjalanannya, tidak melewati jalan ini.

Terdengar suara TOK, TOK, TOK.

Seorang peramal buta, tiba-tiba muncul dari sudut jalan.

Tangan kirinya memegang potongan bambu, tangan kanan

mengangkat spanduk putih. Spanduk tertulis ‘Peramal

meramal seperti dewa, pasti tidak akan salah’. Segera Ma

Bian memegang pecutnya, Tang Ye mengangkat pikulannya,

Xiao Wu meletakkan mangkuk araknya, gerakan Ding Gan

mengupas buah ling jiao pun terhenti.

Gerakan Tian Yi akan dimulai.

Karena spanduk peramal itu adalah isyarat bagi mereka

untuk mulai bergerak. Bila spanduk diangkat artinya Bai Li

Chang Qing tidak mengubah perjalanannya. Dia sudah datang,

dan dia pasti mati.

Hati Gao Li terasa dingin. Bai Li Chang Qing tidak boleh

mati. Sekarang yang bisa menolong Bai Li Chang Qing hanya

dia seorang. Perkumpulan pembunuh bulan 7 tanggal 15

sangat ketat, dia mengerti bila ada orang yang mengkhianati

perkumpulan berarti dia harus mati.

Tapi dia tetap harus menolong Bai Li Chang Qing, karena

Bai Li Chang Qing pernah menolongnya.

Telapak tanganya berkeringat, dengan pelan dia

memegang tombak perak yang tersimpan di balik jubah. Dia

sudah melihat sekelompok orang dengan perlahan datang dari

arah depan.

Orang pertama yang terlihat memiliki alis panjang, mata

besar, rambutnya pun sudah mulai memutih, jubah biru muda,

ikat pinggang yang berwarna biru tua, tempat pedang terbuat

dari kulit ikan hiu. Tempat pedang dengan ringan mengetukngetuk

pelana kuda.

Orang itu yang duduk di atas kuda, duduk dengan tegak,

mata memancarkan cahaya, dia masih seperti 11 tahun yang

lalu.

Ada orang yang selamanya tidak bisa tua, Bai Li Chang

Qing adalah salah satunya. Meski pun dia berubah, Gao Li

tetap masih bisa mengenalinya. Ada orang yang bisa membuat

seumur hidupmu tidak dapat melupakannya. Gao Li merasa

darahnya terus naik, tenggorokannya terasa tercekat,

suaranya hampir tidak bisa keluar. Dia harus bisa menguasai

diri.

Dia ingin berteriak memberitahu Bai Li Chang Qing bahwa

di sini sangat berbahaya, ada pembunuh yang mengintainya.

Sekarang ketujuh ekor kuda sudah mendekat. Tampak

seorang yang badannya kurus tapi terlihat sangat berwibawa,

dia adalah Xi Men Sheng. Yang tampak tenang adalah Deng

Ding Hou. Mereka mengikuti Bai Li Chang Qing dari belakang.

Dada mereka tampak seperti dinding baja dan besi. Orang

yang berada di jalan pun sepertinya ikut terpengaruh oleh

kegagahan mereka dan segera memberi jalan untuk mereka.

Kuda yang ditunggangi oleh Bai Li Chang Qing sudah

berada di batas garis Tian Yi jaraknya tidak ada 10 meter lagi.

Gao Li memegang erat tombaknya, dia sudah siap

menyerang, menyerang Ma Bian.

Tapi pada waktu itu juga, dia merasa ada benda yang keras

menyentuh punggungnya.

Sebuah pisau lancip.

Terdengar suara yang lebih tajam dibanding pisau yang

menempel di belakang lehernya. Dia berkata, “Kami sudah

tahu bahwa Bai Li Chang Qing pernah menolongmu. Karena

takut kau tidak akan tega turun tangan untuk membunuhnya

maka posisimu harus diganti, kau mundur saja dari pekerjaan

kali ini.” Segera tubuh Gao Li menjadi dingin dan kaku.

Ujung pisau bergeser lagi ke tulang rusuknya.

Jika pisau itu ditancapkan di sana, orang yang ditusuk tidak

akan bersuara.

Hanya orang yang terlatih baru bisa memakai cara seperti

ini.

Dia mengerti.

Dia sudah tidak bisa bergerak.

Pada waktu itu kuda yang ditunggangi Bai Li Chang Qing

sudah meringkik karena kaget dan berlari ke arah depan.

Kereta Ma Bian pun sudah bergerak ke tengah jalan.

Bai Li Chang Qing sudah pasti akan mati.

Karena selama ini gerakan Tian Yi tidak pernah gagal. Tiap

perubahan sudah masuk dalam perhitungan mereka.

Pembunuh yang datang ternyata bukan hanya 5 orang itu

saja. Peramal buta sudah berjalan menuju papan nama

rumah makan itu. Tiba-tiba dari bambu spanduk, dia

mencabut pedang dan menusuk ke arah Bai Li Chang Qing.

Dia pun ternyata bukan orang buta sungguhan.

Tang Ye dan Xiao Wu pun mulai bergerak.

Kuda meringkik, orang-orang mulai berteriak. Kereta yang

hitam sudah terpisah dari rombongan iru.

Pisau panjang Tang Ye bercahaya seperti salju dan hujan,

dia mulai mengayunkannya.

Xiao Wu berada di belakangnya, dengan pedang yang

ringan dan tajam. Bai Li Chang Qing yang berada di atas kuda

wajahnya sudah berubah, dia ingin melarikan kuda, tapi kaki

depan kudanya sudah dipotong.

Pedang Xiao Wu juga sudah dikeluarkan.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan, darah bercipratan. Tapi

anehnya yang berteriak adalah Tang Ye, pedang Xiao Wu

ternyata sudah menancap di punggungnya. Si buta kaget,

secara tidak langsung ayunan pedangnya jadi lamban. Bai Li

Chang Qing yang sudah berpengalaman tidak melepaskan

kesempatan ini. Dia sudah loncat dan pelana kuda, hanya

terdengar suara angin bertiup kencang dan ada cahaya yang

berkilauan. Tujuh pisau melengkung sudah lewat di bawah

telapaknya.

Orang yang berdiri di belakang Gao Li sama sekali tidak

terpikirkan adanya perubahan yang luar biasa ini.

Mereka sudah mendata identitas kelima pembunuh ini. Xiao

Wu dan Bai Li Chang Qing sama sekali tidak mempunyai

hubungan apa pun dan tidak ada hubungannya dengan 4

kantor Biao di Zhong Yuan.

Seumur hidupnya Xiao Wu belum pernah meninggalkan

Zhong Yuan mengapa dia bisa mengkhianati perkumpulan?

Mengapa dia harus menolong Bai Li Chang Qing? Orang itu

tampak kaget dan marah, dia tidak tahu apa yang harus dia

lakukan.

Tiba-tiba dia sudah mendengar suara tulangnya patah.

Ternyata secepat kilat tangan Gao Li memukul tulang

rusuknya. Orang itu roboh, Gao Li sudah meloncat. Ma Bian

tidak sempat menyalakan bahan peledak, karena masih

terkejut dengan perubahan ini.

Dia kaget, segera pecut diayunkan dan melilit kaki Bai Li

Chang Qing, karena badan Bai Li Chang Qing masih di udara,

dia tidak bisa mengganti jurus lagi. Pecut sudah seperti ular

beracun melilit, tiba-tiba ada cahaya perak berkilauan lagi.

Sebuah tombak perak melilit pecut, tombak lainnya

menusuk ke arah Ma Bian.

Kuda sudah roboh, pedang Bai Li Chang Qing tertindih oleh

kuda yang roboh itu. Tiba-tiba ada suara yang seperti guntur

menyentak kereta yang besar dan kokoh yang sudah hancur

berkeping-keping.

Empat laki-laki memakai baju kuning bertotol-totol, seperti

harimau secepat kilat berlarian menghampiri. Mereka

mengangkat kuda yang sudah mati dan melemparkannya ke

arah Ding Gan.

Kedua kalinya Ding Gan mengayunkan pisau,

mendatanginya. Tujuh pisau melengkung dilepaskan ke arah

mayat kuda, belum sempat dia mundur, sepasang Pan Guan Bi

(pena) sudah menunggunya.

Totokan pena ini sudah sangat terkenal.

Xiao Wu sudah menerima 3 jurus serangan si buta.

Dua pedang sama cepatnya, tapi pedang Xiao Wu lebih

cepat lagi. Begitu pedang berkelebat baju depan si buta sudah

sobek.

Xiao Wu tidak mengejarnya karena pedangnya sudah

berpindah di tangan Bai Li Chang Qing dan dia sudah mulai

bergerak.

Bai Li Chang Qing sudah mulai mengayunkan pedang, di

tengah gerakannya yang cepat dia masih sempat berkata,

“Terima kasih!”

Xiao Wu tertawa.

Tanya Bai Li Chang Qing,

“Siapa nama Tuan? Budi ini…”

Xiao Wu tertawa lagi, belum habis perkataan Bai Li Chang

Qing, dia sudah meloncat ke atap rumah karena dia tahu di

tempat ini sudah tidak ada yang membutuhkan bantuannya.

Gao Li memakai senjata sepasang tombak.

Sekarang sepasang tombak pun sudah disimpan, karena

kepalan Deng Ding Hou sudah mengarah kepada Ma Bian.

Pecutnya sudah tidak bisa dimainkan lagi. Dia pun sudah

mundur ke sudut jalan.

Bai Bu Shen Yuan dari Shao Lin benar-benar sangat lihai.

Jurus pedang Bai Li Chang Qing memang sudah terkenal

nomor satu di Liao Dong, dia adalah salah satu dari 7 orang

yang terkenal padajaman itu. Gao Li tahu di tempat ini sudah

tidak membutuhkan bantuan dia lagi dan dia pun langsung

pergi mengejar Xiao Wu.

Dia tertarik dengan pemuda misterius itu.

Gao Li tidak menunggu lagi, dia juga sudah meloncat

terbang naik ke atas atap. Dari tempat jauh terdengar suara

Bai Li Chang Qing berteriak, “Gao Li, Adik Gao, tunggu….”

Budi Bai Li Chang Qing sudah dibalasnya, dia tidak akan

menyusahkan orang lain lagi. Karena dia tahu perkumpulan

bulan 7 tanggal 15 tidak akan melepaskan seorang

pengkhianat, sekarang dia harus mulai berlari.

Lari, tidak berhenti berlari hingga dia mati, ini adalah nasib

akhir bagi seorang pembunuh. Tapi sekarang dia sudah tidak

mempunyai hutang lagi kepada orang lain. Baginya, itu sudah

cukup.

Bab 2

Air Mata Pengelana

Malam hari, ada bulan.

Di bawah cahayanya bulan Gao Li sudah melihat bayangan

Xiao Wu. Dia selalu percaya diri dengan ilmu meringankan

tubuhnya. Tapi sekarang dia baru mengetahui ilmu

meringankan tubuh Xiao Wu tidak kalah dengan dia. Atap

rumah yang bersusun di bawah sinar sinar bulan seperti

tulang rusuk binatang.

Bulan berada di langit. Di bawah sinarnya, bulan tampak

dekat sepertinya bila tangan diulurkan sudah bisa meraih

bulan.

Tiap orang pasti pernah mempunyai keinginan untuk

meraih bulan, tapi bulan yang berada dalam hati Gao Li itu

seperti apa tak seorangpun yang tahu ? Dia hanya

menginginlan kehidupan yang tenang dan suasana keluarga

yang hangat. Tapi keinginannya ini lebih sulit didapat

dibandingkan dengan keinginan untuk meraih bulan di langit.

Tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai keluarga, dan

tidak mempunyai teman, tidak ada orang yang lebih tahu

tentang dirinya, dan dengan apa yang disebut kesepian.

Dia bertekad ingin mengejar dan mendapatkan temannya

itu.

Dia benar-benar membutuhkan teman, membutuhkan

teman yang senasib dengannya. Di depannya terhampar

sebuah tanah lapang yang sepi. Suasana di tanah lapang yang

sepi membuat Gao Li merasa lebih dingin lagi. Tiba-tiba Xiao

Wu berhenti seperti menunggu sesuatu.

Gao Li pun berhenti, dia tidak tergesa-gesa mengejar Xiao

Wu. Mereka berdua saling berjauhan yang satu berada di

depan, dan yang satu lagi berada di belakang, Mereka

berjalan semakin lambat. Di bumi dan di langit tidak terdengar

suara apa pun, hanya terdengar suara langkah mereka. Di

tempat yang jauh ada sebuah bintang yang muncul, bulan

sudah tidak merasa kesepian lagi.

Tapi bagaimana dengan manusianya?

Xiao Wu mencari sebatang pohon besar yang tidak begitu

banyak memiliki daun, dia meloncat ke atasnya kemudian

duduk.

Bumi dan langit begitu sepi, sinar bulan menyinari tubuh

mereka. Dia diam bukan berarti dia kesepian, sekarang sudah

ada orang, yang akan berbagi rasa di tanah lapang yang sepi

ini.

Tiba-tiba Gao Li tertawa dan berkata, “Aku mengira kali ini

Bai Li Chang Qing pasti mati.”

Jawab Xiao Wu, “Oh…”

Kata Gao Li, “Aku masuk menjadi anggota perkumpulan

bulan 7 tanggal 15 sudah hampir 3 tahun. Tapi hingga hari ini

aku baru tahu bahwa mereka tidak pernah mempercayaiku.”

Kata Xiao Wu, “Mereka tidak pernah percaya kepada siapa

pun.”

Kata Gao Li, “Tidak kusangka, kau malah yang bisa

menolong dia.”

Xiao Wu tertawa dan berkata, “Aku sendiri pun tidak

menyangkanya.”

Tanya Gao Li, “Apakah kau mengenalnya?”

Kata Xiao Wu, “Tidak, bagaimana dengan dirimu?”

Jawab Gao Li, “Dia pernah menolongku.”

Tanya Xiao Wu, “Kau pernah pergi ke Liao Dong?”

Jawab Gao Li, “Ya!”

Tanya Xiao Wu, “Untuk apa?”

Jawab Gao Li, “Untuk mengambil ginseng, ginseng liar.”

Tiba-tiba matanya Gao Li bercahaya, dia mengenang masa

lalu. Dengan pelan dia berkata, “Mungkin waktu itu juga

adalah hari yang paling berkesan dan menyenangkan dalam

hidupku. Bebas, tidak perlu merasa khawatir, walaupun sangat

berbahaya tapi itu kejadian yang sangat berharga bagiku.”

Tanya Xiao Wu, “Kejadian yang berharga?”

Gao Li tersenyum dan berkata, “Kalau kau sudah

mendapatkan ginseng yang besar, kau bisa hidup dengan

enak dalam satu tahun.”

Tanya Xiao Wu, “Apakah kau pemah mendapatkannya?”

Jawab Gao Li, “Karena itu pula aku hampir mati di sana.”

Tanya Xiao Wu, “Mengapa?”

Jawab Gao Li, “Sebenarnya tidak ada seorang pun yang

menjadi pemilik ginseng, siapa yang pertama yang

menemukannya maka dialah pemiliknya dan bisa memberi

tanda di sisi pohon ginseng itu.”

Kata Xiao Wu, “Mengapa harus diberi tanda? Mengapa tidak

langsung diambil saja?”

Jawab Gao Li, “Mengambil ginseng sama seperti

membunuh orang, harus tunggu waktu karena ginseng yang

sudah matang, sifatnya lebih-lebih dari sifat orang, jika kau

terlalu buru-buru dan berbuat terlalu kasar, dia akan kabur.”

Tanya Xiao Wu, “Apa? Ginseng bisa kabur?”

Gao Li tertawa dan manjawab, “Kau mendengar ini

sepertinya sangat aneh dan misterius, tapi ini benar-benar

terjadi.”

Xiao Wu memang merasa aneh dan misterius, karena itu

dia terus mendengarkan. Kata Gao Li lagi, “Aku mendapat

ginseng yang sudah matang dan sudah diberi tanda, tapi

begitu aku kembali, aku baru tahu bahwa tanda itu sudah

diganti oleh orang lain.”

Tanya Xiao Wu, “Mengapa kau pergi dari sana?”

Jawab Gao Li, “Aku mencari banyak orang di gunung untuk

membantuku mengambil ginseng. Kelompok pengambil

ginseng pun cukup banyak. Kelompok kami terdiri dari 9

orang.”

Tanya Xiao Wu. “Mereka sendiri terdiri dari berapa orang?”

Gao Li tertawa kecut dan berkata, “Mereka melakukan hal

yang memalukan, orang-orang mereka pasti lebih banyak. Di

antara mereka berlima ada pesilat tangguh yang berasal dari

golongan hitam. Demi menghindari pencarian musuh, mereka

bersembunyi di tempat itu.”

Kata Xiao Wu, “Ilmu silatmu waktu itu tentunya tidak

setinggi sekarang.”

Jawab Gao Li, “Karena itu pula aku terluka parah.”

Kata Xiao Wu, “Apakah Bai Li Chang Qing yang

menolongmu?”

Jawab Gao Li, “Benar.”

Kata Xiao Wu, “Mengapa dia datang tepat pada waktunya?”

Jawab GaoLi, “Karena saat itu dia sedang mengejar 5

pesilat tangguh yang berasal dari golongan hitam.”

Di dunia ini tidak ada hal yang bisa begitu kebetulan.

Melakukan hal apa pun, pasti ada sebab dan akibat.

Xiao Wu terdiam, kemudian dia tertawa lagi dan berkata,

“Begitu kau mengetahui ada 5 orang dari golongan hitam,

kau pasti merasa sial.”

Gao Li mengangguk.

Kata Xiao Wu,

“Kalau bukan karena mereka berlima, Bai Li Chang Qing

tidak akan menolongmu bukan?”

Gao Li mengangguk lagi.

Xiao Wu tidak bicara apa-apa lagi, dia percaya apa yang dia

maksud dan pasti bisa dimengerti oleh Gao Li.

Di dunia ini tidak ada hal yang begitu mujur juga tidak ada

hal yang terlalu buruk.

Untung dan rugi hanya selapis tipis perbedaan saja.

Karena itu bila kau merasa nasibmu tidak terlalu beruntung,

kau jangan menyalahkan dirimu, lebih-lebih tidak boleh putus

asa.

Walaupun kau dipukul hingga roboh, asal kau masih hidup,

pasti akan ada kesempatan untuk berdiri lagi.

Malam terasa lebih sepi lagi.

Setelah terdiam lama Gao Li bertanya,

“Apakah dia pernah menolongmu?”

Kata Xiao Wu,

“Tidak.”

Tanya Gao Li,

“Mengapa kau malah ingin menolongnya?”

Jawab Xiao Wu,

“Sewaktu dia menolongmu, apakah sebelumnya dia pernah

menolongmu?”

Jawab Gao Li,

“Tidak.”

Kata Xiao Wu,

“Bila kau merasa harus melakukan suatu hal, lakukanlah,

tidak perlu bertanya lagi apakah orang itu pernah melakukan

sesuatu untukmu atau tidak.” Sorot mata Xiao Wu

memandang ke tempat yang jauh. Pelan-pelan dia berkata

lagi, “Walaupun Tang Ye pernah melepaskan budi kepadaku,

hari ini aku tetap harus membunuhnya. Meskipun Bai Li Chang

Qing adalah musuhku, hari ini aku tetap menolongnya, karena

aku merasa memang itu yang harus dilakukannya.” Wajahnya

bercahaya, apakah ini karena sinar bulan atau memang

berasal dari dalam hatinya?

Gao Li bisa merasakan cahaya ini.

Tiba-tiba dia merasa pemuda ini bukanlah orang yang

malas dan tidak berpendidikan.

Kata Xiao Wu,

“Bila 4 kantor Biao bisa bergabung, orang-orang di dunia

persilatan yang mendapat kebaikannya pasti sangat banyak.

Aku menolong Bai Li Chang Qing, karena mereka ini, tidak

semua demi dirinya.”

Gao Li melihatnya dan berkata, “Kau sangat mengerti

banyak hal.”

Kata Xiao Wu, “Tidak begitu banyak.”

Kata Gao Li,

“Ilmu pedangmu tidak kalah dengan Bai Li Chang Qing.”

Kata Xiao Wu, “Oh…”

Kata Gao Li,

“Beberapa tahun yang lalu Bai Li Chang Qing sudah

menempati urutan ke-7 dalam ilmu silat pedang.”

Kata Xiao Wu,

“Sebenarnya dia berada di urutan ke-6.”

Tanya Gao Li,

“Sedangkan kau sendiri urutan ke berapa?”

Jawab Xiao Wu,

“Aku hanyalah orang kecil.”

Kata Gao Li,

“Tapi ilmu pedang bukan didapat begitu lahir.”

Tanggap Xiao Wu,

“Benar!”

Tanya Gao Li,

“Siapa yang mengajarimu?”

Xiao Wu balik bertanya,

“Apakah kau sedang menyelidiki identitasku?”

Jawab Gao Li,

“Aku merasa kau aneh.”

Kata Xiao Wu,

“Tidak kusangka, kau masih punya rasa ingin tahu.”

Dia juga tidak menyangkanya.

Dalam perkumpulan mereka tidak boleh mempunyai

perasaan, juga tidak boleh mempunyai rasa ingin tahu.

Setiap hari mereka berkumpul, tapi mereka tidak pernah

saling menanyakan identitas masing-masing.

Mereka saling membantu dalam bertarung dan menolong

pada saat keadaan berbahaya, tapi hubungan di antara

mereka bukan teman, karena rasa persahabatan bisa

melemahkan hari orang. Hati mereka harus keras seperti batu,

semakin keras semakin baik.

Kata Gao Li, “Aku ingin mengetahui dirimu yang

sebenarnya, mungkin kita sekarang bisa menjadi teman.”

Kata Xiao Wu,

“Seseorang yang mempunyai teman akan lebih cepat mati!”

Kata Gao Li,

“Orang yang tidak mempunyai teman, hidup pun serasa

mati.”

Xiao Wu tertawa dan berkata,

“Orang seperti dirimu tidak cocok berada dalam

perkumpulan ini.”

Tanya Gao Li,

“Apakah kau merasa aneh?”

Jawab Xiao Wu,

“Benar, aku merasa ini sangat aneh.”

Gao Li juga tertawa dan berkata,:

“Aku juga merasa aneh, orang seperti dirimu mengapa bisa

masuk ke dalam perkumpulan ini?”

Xiao Wu terdiam, juga seperti sedang berpikir.

Gao Li pun seperti sedang memikirkan sesuatu kemudian

dia berkata, “Tempat tinggal kita tidak cocok untuk menjaga

diri.”

Xiao Wu mengangguk.

Rumah mereka sangat sederhana dan sepi, kecuali ada

sebuah tempat tidur dan lemari, tidak ada benda lain. Karena

keadaan yang enak akan membuat hati orang menjadi lemah.

Kata Gao Li,

“Paling sedikit tempat itu milik kita, apa pun yang akan kau

lakukan, tidak ada yang melarang.”

Mulutnya mengeluarkan tawa sedih, dan berkata,

“Paling sedikit kau akan merasa ada tempat yang disebut

pulang.”

Xiao Wu mengerti perasaan Gao Li.

Hanya pengelana seperti mereka yang tidak mempunyai

tempat yang tetap, baru bisa merasakan perasaan yang sedih.

Kata Gao Li,

“Hidup kita pun sulit.”

Xiao Wu mengangguk.

Hidup dimana tidak bisa melihat sinar matahari, tidak ada

seorang pun yang menyukainya, tidak ada kehangatan, lebihlebih

tidak bisa menikmati hidup yang indah ini.

Setiap saat mereka harus menunggu, menunggu perintah.

Mereka tidak akan bisa menikmati hidup ini.

Xiao Wu merenung, setiap kali melihat Tang Ye, dia selalu

sedang membersihkan pisaunya.

Kata Gao Li,

“Hidup seperti itu, paling sedikit setiap hari bisa makan

kenyang, bisa tidur di tempat tidur.”

Tanya Xiao Wu,

“Kau masuk ke dalam perkumpulan ini, apakah karena kau

tidak memiliki tempat lain?”

Tawa Gao Li terlihat lebih sedih lagi dan dia berkata,

“Sekarang pun aku tetap tidak ada tempat untuk pergi.”

Kata Xiao Wu,

“Apakah kau membunuh orang hanya ingin mencari tempat

untuk berteduh?”

Gao Li menggelengkan kepala.

Dia tidak bisa mengatakannya karena dia tidak tega

mengatakannya. Dia membunuh orang hanya untuk membuat

diri sendiri merasa aman dan dengan membunuh dia baru bisa

melindungi dirinya sendiri.

Dia membunuh karena dia merasa orang di dunia ini

memang berhutang kepadanya. Xiao Wu tiba-tiba menarik

nafas dan berkata, “Untung aku masih mempunyai tempat

yang bisa kudatangi.”

Tanya Gao Li, “Tempat seperti apa?”

Jawab Xiao Wu, “Tempat yang mempunyai arak.”

Bila kau mengira arak adalah air yang bisa membuat orang

senang, kau salah besar.

Bila kau menanyakan apa yang disebut dengan arak itu?

Arak adalah sebuah cangkang, seperti cangkang yang berada

di atas punggung siput, bisa berlindung dan masuk ke dalam.

Bila ada yang ingin menginjakmu, kau juga akan merasa

aman.

0-0-0

Tempat ini memiliki arak dan juga perempuan.

Arak di sana adalah arak yang bagus, perempuannya pun

lumayan cantik, paling sedikit di bawah sinar lampu terlihat

seperti itu.

“Apakah kau pernah datang ke tempat ini?”

“Tidak pernah.”

“Aku juga.”

Mereka bertanya dengan jelas mereka baru berani masuk

karena hanya tempat yang belum pernah didatangi akan aman

untuk mereka.

“Kalau kita belum pernah datang ke sini, pasti mereka tidak

akan begitu cepat mencari kita di sini.”

“Tapi perempuan itu sepertinya kenal denganmu.”

Kata Xiao Wu,

“Yang mereka kenal bukan aku, tapi uangku.”

Begitu masuk, dia sudah meletakkan uang yang banyak di

atas meja. Perempuan-perempuan itu segera memesankan

arak dan berkata, “Bila hari ini dia tidak mabuk berarti dia

adalah kura-kura.”

Gao Li ragu, akhirnya dia bertanya,

“Apakah arak di sini sangat mahal?”

Xiao Wu terpaku.

Dia kaget karena pertanyaan itu seharusnya tidak keluar

dari mulut Gao Li.

Orang seperti mereka selalu menganggap uang lebih ringan

dari pada tinja. Perkumpulan bulan 7 tanggal 15, walaupun

peraturannya sangat ketat tapi dalam hal membunuh orang,

masing-masing memiliki harga, dan biasa harga mereka

sangat tinggi karena itu setiap kali setelah membunuh orang

mereka bisa pergi keluar untuk melampiaskan perasaan

mereka sepuas-puasnya. Menghabiskan uang juga bisa

disebut semacam pelampiasan, ini juga yang diinginkan oleh

perkumpulan. Tapi tiba-tiba Xiao Wu teringat bahwa Gao Li

sepertinya belum pernah berfoya-foya.

Apakah dia adalah seorang yang sangat pelit?

Gao Li sudah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Xiao

Wu, tiba-tiba dia tertawa dan berkata, “Arak di sini terlalu

mahal, kau harus mentraktirku. Bila kau tidak mentraktir, aku

hanya akan diam di sisimu dan hanya melihatmu minum.”

Tanya Xiao Wu,

“Apakah kau tidak mempunyai uang?”

Jawab Gao Li,

“Karena aku adalah seorang yang pelit.”

Xiao Wu tertawa dan berkata,

“Kau dan orang pelit terlihat tidak sama.”

Tanya Gao Li,

“Pada bagian apa yang tidak sama?”

Xiao Wu tertawa dan menjawab,

“Paling sedikit kau sudah mengaku bahwa kau pelit, dan

aku harus mentraktirmu.”

Kata Gao Li,

“Masih ada perbedaan antara aku dengan orang pelit, aku

adalah setan arak.”

Gao Li memang setan arak karena kalau dia minum arak

seperti seekor kuda.

Bila minum arak tidak perlu membayar, hal ini sangat

menyenangkan.

“Arak-arak ini harus dibayar.”

“Aku jarang minum.”

“Aku merasa kau adalah orang yang sangat jujur.”

“Kecuali ini, kebaikanku tidak terlalu banyak.”

Xiao Wu tertawa, Gao Li juga tertawa, mereka sudah mulai

mabuk. Wajah mereka tertawa, tapi hati mereka tidak bisa

tertawa.

Tadi ada beberapa perempuan yang menemani mereka,

sekarang hanya tinggal 2 orang.

Tinggal 2 perempuan yang tua dan jelek.

“Kemana Bing Bing pergi, tadi kan ada yang bernama Bing

Bing bukan?”

“Dia sudah pergi, ada langganannya mencari.”

Tamu lama berarti tamu yang baik, tamu baik adalah tamu

yang berduit.

“Bagaimana dengan Xiang Wa?”

“Dia pun sedang menemani tamu.”

Terdengar ada suara yang menggebrak meja. Guci di atas

meja terguling, kemudian ada suara orang yang melempar

gelas.

“Menemani tamu, apakah kami bukan tamu?”

Tiba-tiba di depan pintu, muncul 3 orang laki-laki yang

berwajah menyeramkan dan sedang memelototi mereka.

Yang satu memakai baju pendeta, yang satu lagi memakai

baju kuli. Mereka bukan tamu yang baik, juga bukan tamu

yang memiliki banyak uang.

Kata kedua orang laki-laki itu,

“Kalian datang ke sini untuk minum atau untuk berkelahi?”

Xiao Wu dan Gao Li saling pandang.

Tiba-tiba mereka tertawa terbahak-bahak.

Berbareng dengan suara tawa itu, meja sudah terguling.

Perempuan-perempuan berlarian. Pria yang berwajah

menyeramkan itu langsung berlari masuk, tapi mereka pun

segera roboh. Biarpun mereka berdua tidak bisa Shao Lin Bai

Bu Shen Quan tapi kepalan tangan mereka lebih kuat dari

kedua preman itu.

Gao Li dan Xiao Wu telah memporakporandakan tempat itu,

kemudian mereka segera kabur.

Walaupun tidak ada yang mengejar tapi mereka tetap

berlari dengan cepat, mereka sangat menikmati peristiwa ini.

Tiba-tiba mereka masuk ke sebuah gang buntu, mereka

berhenti dan mulai tertawa.

Tertawa hingga mengeluarkan air mata.

Mengapa mereka begitu ingin tertawa? Mereka sendiri pun

tidak tahu.

Tiba-tiba tawa mereka berhenti, Xiao Wu melihat Gao Li,

Gao Li melihat Xiao Wu.

Mereka sekarang sangat ingin menangis.

Pengelana yang tidak mempunyai silsilah keturunan, siapa

yang bisa mengerti perasaan mereka? Siapa yang peduli

dengan kesedihan mereka? Kecuali sewaktu-waktu bisa

melampiaskannya di kedai arak, apakah mereka masih bisa

melampiaskannya ke tempat lain?

Masih untung yang masih bisa tertawa, bisa tertawa, dan

ingin menangis, masih bisa menangis.

Karena kalian masih hidup.

0-0-0

Hari sudah malam.

Gao Li terbaring di gang buntu, di sisi sebuah parit.

Di langit bintang tampak berkilauan.

Sinar bintang menyinari matanya, matanya hitam dan

terlihat tidak berdasar. Xiao Wu menyandar ke dinding sambil

melihat Gao Li. Dia tidak tahu apakah harus merasa kasihan

atau harus menasihati dia? Dia mengasihani orang lain? Atau

mengasihani diri sendiri?

Tiba-tiba dia tertawa dan berkata,

“Aku memiliki sebuah rahasia dan ingin

memberitahukannya kepadamu, apakah kau ingin

mendengarnya?”

Kata Gao Li,

“Oh Ya, apa itu.”

Sorot mata Xiao Wu memandang ke tempat yang jauh,

dengan pelan dia berkata, “Sekarang aku tidak mempunyai

tempat yang bisa kudatangi.” Dia masih tertawa, tapi tawanya

terdengar sangat sedih. Lebih baik dia tidak tertawa.

Melihat tawa ini, Gao Li merasa ada tangan yang tidak

terlihat yang sedang memeras hatinya. Matanya ingin

menguras air mata dan air pahit yang berasal dari empedu.

Tidak ada tempat yang bisa didatangi, tidak ada rumah untuk

pulang, bagi Gao Li ini sudah bukan rahasia lagi.

Gao Li juga tertawa dan berkata,

“Rahasiamu tidak enak didengar.”

Kata Xiao Wu,

“Apakah kau memiliki rahasia yang enak didengar?”

Jawab Gao Li,

“Hanya ada satu.”

Tertawanya terlihat misterius dan juga sedih.

Kata Xiao Wu,

“Katakanlah!”

Jawab GaoLi,

“Aku takut ini akan mengejutkanmu.”

Kata Xiao Wu,

“Aku orang yang tidak mudah terkejut.”

Kata Gao Li,

“Baiklah. Aku mempunyai seorang perempuan.”

Xiao Wu kaget dan berkata,

“Kau mempunyai seorang perempuan? Perempuan seperti

apa?”

Jawab Gao Li,

“Dia adalah seorang perempuan yang baik.”

Perempuan baik adalah perempuan yarig tidak

menginginkan banyak uang.

Xiao Wu menahan tawanya dan berkata,

“Apakah dia cantik?”

Gao Li melihat bintang di langit, sorot matanya tiba-tiba

berubah menjadi lembut, dia seperti menganggap bintangbintang

di langit adalah mata perempuan itu.

Xiao Wu bertanya lagi,

“Apakah dia cantik?”

Gao Li mengangguk dan dengan lembut berkata,

“Aku jamin kau belum pernah melihat perempuan secantik

dia.”

Sengaja Xiao Wu berkata,

“Aku tidak percaya.”

Gao Li tertawa dan berkata,

“Kau pasti tidak percaya, hanya dengan cara ini, kau ingin

aku membawamu untuk menemuinya.”

Xiao Wu tertawa dan berkata,

“Ternyata kau pintar juga.”

Segera Gao Li meloncat dan berkata,

“Aku peringatkan dirimu, jangan berbuat tidak sopan

kepada perempuanku, kalau tidak aku akan bertarung

denganmu.”

Tiba-tiba mereka tampak bersemangat lagi karena mereka

mempunyai tempat untuk didatangi.

Tempat yang aneh dan orang yang aneh.

0-0-0

Mata air. Mata air di gunung.

Air mengalir dari atas gunung, berkumpul menjadikan

sebuah kolam yang bersih. Langit berwarna biru, awan

berwarna putih, muka yang pucat memancarkan kebahagiaan.

Xiao Wu menghirup wanginya daun, menikmati bersihnya

air, keadaan ini membuat dia seperti orang mabuk. Gao Li

melihat dia dan berkata, “Loncatlah ke dalam!”

Xiao Wu tertawa dan berkata,

“Aku tidak ingin bunuh diri, untuk apa meloncat ke dalam

air?”

Kata Gao Li,

“Cuci bajumu, juga cuci tubuhmu, jangan biarkan

perempuanku mencium bau arak dan bau darah.”

Gao Li segera meloncat ke dalam air.

Xiao Wu melihat dinding yang berada di sisi kolam, hatinya

mengeluh.

Bau arak bisa dihilangkan, tapi bau darah selamanya tidak

akan bisa dibersihkan.

Dia berkata,

“Mengapa kau tidak mencuci dinding itu?”

Jawab Gao Li,

“Dinding itu lebih bersih dibandingkan dengan manusia.”

Tanya Xiao Wu,

“Apakah dinding itu tidak ada darah?”

Jawab Gao Li,

“Tidak ada, karena yang membunuh adalah manusia,

bukan dinding.”

Tiba-tiba dia sudah masuk ke dalam air.

Xiao Wu juga dengan pelan menurunkan pedang dan

meletakannya di atas batu. Dia hanya merasa mulutnya asam

sekaligus pahit.

Yang membunuh adalah manusia, bukan dinding juga

bukan pedang.

Mengapa manusia harus membunuh manusia lagi? Dia juga

ikut masuk ke dalam air.

Dunia ikan lebih bersih dari pada dunia manusia.

Mata air bersih dan terasa-dingin.

Gao Li membawa sebongkah batu dan duduk di dalam air.

Xiao Wu mengikuti gerakannyanya.

Mereka tahu di sini mereka tidak akan bisa tinggal lama.

Hanya bisa diam sebentar saja, itu sudah sangat lumayan.

Suasana di sini sepi tapi sangat indah.

Melihat ikan dan udang dengan tenang berenang. Melihat

rumput air di antara bebatuan menari-nari, perasaan ini

sangat menyenangkan. Hanya sayang mereka tidak bisa

seperti ikan bernafas di dalam air. Mereka saling memandang,

mereka tahu tidak akan bisa duduk lebih lama lagi, dan segera

harus naik ke darat.

Pada saat itu, mereka seperti melihat ada 2 buah

pancingan. Kail itu tidak memiliki umpan, tapi tampak

mengikat sebuah tempat pedang dan yang lainnya mengikat

pita tombak.

Tempat pedang milik Xiao Wu dan pita tombak milik Gao Li.

Ini adalah umpan bagi mereka.

Apakah yang mereka pancing adalah Xiao Wu dan Gao Li?

Dua kaki mereka sudah loncat, dan maju beberapa meter.

Xiao Wu menghentakkan kakinya.

Segera Gao Li menghampiri, dan kaki Xiao Wu diangkat.

Xiao Wu sudah seperti panah yang berapi melesat keluar.

Begitu keluar dari permukaan air beberapa meter, dia

mengambil nafas yang panjang, dan dia mengait pada sebuah

pohon yang berada di sisi kolam itu kemudian menggantung di

atas kolam.

Tapi di sisi kolam tidak ada orang.

Dua pancingan itu dihimpit oleh 2 bongkah batu besar. Di

balik batu besar ada sebuah batu kecil menindih sehelai

kertas. Tapi tombak dan pedang yang diselipkan di antara

batu sudah tidak ada.

Muka Xiao Wu sudah pucat seperti kertas.

Gao Li sudah naik ke darat, dia melihat ke sekeliling.

Wajahnya juga berubah.

“Apakah ada orang?”

“Tidak ada.”

“Apa yang tertulis diatas kertas ?”

Mereka saling memandang dan berlari menuju tempat yang

tadi. Di sekeliling mereka masih sepi, tidak ada orang, angin

masih membawa wanginya daun dan air. Bumi dan langit

masih begitu indah. Hanya orang seperti mereka baru

merasakan di dalam ketenangan itu ada hawa pembunuhan.

Hanya bahaya yang tidak terlihat yang baru benar-benar

disebut dengan bahaya yang sesungguhnya.

Akhirnya mereka tiba juga di batu itu. Xiao Wu menyentil

batu itu dan Gao Li membaca tulisan di atas kertas. Kertas

masih terasa hangat, hurufnya tidak begitu jelas, sepertinya

tertulis kata : ‘Hati-hati…’

Mereka hanya bisa melihat 2 huruf ini, tiba-tiba dari atas

gunung sudah ada yang melempar batu yang besar.

Mereka bisa menghindar ke pinggir, tapi mereka tidak bisa

terus menghindar. Mereka sudah terbiasa dengan permainan

semacam ini. Permainan ini tidak begitu berbahaya.

Perkumpulan bulan 7 tanggal 15 pasti tahu bahwa cara ini

tidak akan bisa membunuh mereka. Dari seluruh pengalaman

mereka dapat disimpulkan bahwa di belakang permainan ini

pasti ada rencana yang lebih berbahaya. Begitu batu besar

dilemparkan ke arah mereka, mereka tidak menghindar malah

mendekati batu. Dibantu dengan pijakan ke batu mereka

sudah meloncat jauh. Mereka segera mencengkram akar

rotan yang berada di tebing gunung. Kemudian mereka

mendengar suara ledakan yang dahsyat, mungkin bahan

peledak yang berada di dalam kereta itu sudah diletakkan di

balik batu itu.

Jika tadi mereka menghindar, sekarang pasti sudah hancur

karena ledakan itu. Jika tidak hancur, badan mereka juga

akan terkena serpihan batu kerikil yang meledak.

Tapi sekarang tubuh mereka masih utuh, ini bukan nasib

baik juga bukan keberuntungan.

Gunung itu sangat terjal dan tinggi.

Mereka sudah beberapa kali meloncat dan memanjat.

Mereka sudah bisa naik ke atas.

Suara ledakan di lembah itu masih terdengar, batu-batu

kecil seperti hujan berjatuhan ke dalam air.

Di atas gunung ada 3 orang yang sedang mengawasi, salah

satunya adalah Ding Gan. Begitu dia melihat Xiao Wu dan

Gao Li yang berdiri di hadapannya dia, ekspresi wajahnya

seperti sudah ditampar orang.

Gao Li dengan dingin melihat dia.

Tapi Xiao Wu tertawa dan berkata,

“Tidak kusangka kau masih hidup.”

Ding Gan segera tenang kembali hatinya, dia juga berkata,

“Tidak disangka kau juga belum mati.”

Kata Xiao Wu,

“Kalau hanya kalian bertiga yang ingin membunuh kami,

sepertinya itu tidak mudah.”

Wajah Ding Gan memucat, dia harus mengakui hal ini.

Kata Xiao Wu,

“Kalau kami yang ingin membunuh kalian, apakah kau bisa

menilai itu mudah dilakukan?”

Tanya Ding Gan,

“Mengapa kalian ingin membunuhku?”

Jawab Xiao Wu,

“Karena kau mau membunuh kami terlebih dahulu.”

Kata Ding Gan,

“Kalian harus tahu, bukan aku saja yang ingin membunuh

kalian.”

Xiao Wu mengangguk, dia mengakuinya.

Kata Ding Gan,

“Karena membunuh adalah pekerjaan kami, kami tidak

perlu tidak mempunyai alasan untuk membunuh siapapun.”

Kata Xiao Wu,

“Benar.”

Dia membalikkan kepala melihat kedua orang itu. wajah

mereka kuning seperti yang sakit tapi sepasang tangan

mereka hitam seperti besi.

Kata Ding Gan,

‘Tidak disangka pesilat tangguh si Cakar Elang, juga

termasuk dalam perkumpulan bulan 7 ranggal 15.”

Kata orang ini,

“Tuan sangat pintar melihat orang.”

Kata Xiao Wu,

“Sepertinya ini adalah untuk pertama kalinya kalian

bertugas, pastinya tidak boleh pulang dengan tangan kosong.”

Kata Ding Gan,

“Mereka pasti tidak akan pulang dengan tangan kosong.”

Sepasang tangannya yang dilipat di depan dada, masih

belum digerakkan. Tapi tiba-tiba ada dua buah pisau

melengkung sudah melesat untuk memotong tenggorokan

mereka (Cakar Elang).

Ding Gan bertepuk tangan dan berkata,

“Karena mereka tidak bisa pulang.”

Gao Li melihatnya. Mukanya tidak menunjukkan ekspresi

apa pun.

Tanya Xiao Wu,

“Apakah setelah mereka mati, maka kau baru bisa pulang?”

Kata Ding Gan,

“Setelah membunuh mereka, aku baru bisa pulang, tapi

membunuh mereka lebih mudah daripada membunuh kalian.”

Kata Xiao Wu,

“Sebab mereka tidak waspada terhadapmu.”

Kata Ding Gan,

“Temyata pilihanku itu benar.”

Kata Xiao Wu,

“Mereka yang salah.”

Kata Xiao Wu lagi,

“Sebenamya mereka tidak harus ikut denganmu ke sini.”

Kata Ding Gan,

“Aku masih ingin hidup.”

Kata Xiao Wu,

“Kau pasti bisa terus hidup.”

Kata Ding Gan,

“Mereka sudah mati, tidak ada yang tahu di sini sudah

terjadi peristiwa apa.”

Kata Xiao Wu,

“Karena itu begitu pulang kau bisa melapor sesukamu.”

Kata Ding Gan,

“Tapi sudah kukatakan, jika ingin membunuh orang harus

mempunyai alasan.”

Tanya Xiao Wu,

“Mengapa kau tahu kami akan membiarkanmu pergi?”

Jawab Ding Gan,

“Karena jika kalian membunuhku, itu tidak akan ada

gunanya.”

Kata Ding Gan lagi,

“Aku sudah membunuh mereka dan mereka pasti tidak

akan bisa membocorkan perjalanan kalian, kalau tidak

perkumpulan bulan 7 tanggal 15 tidak akan membiarkanku

hidup terus.”

Kata Xiao Wu,

“Bila tidak membunuh kau, apa kebaikannya untuk kami?”

Jawab Ding Gan,

“Aku bisa memusnahkan mayat-mayat ini dan kembali ke

sana, kemudian mengatakan kepada perkumpulan bulan 7

tanggal 15 bahwa kalian tidak pernah lewat sini.”

Kata Xiao Wu,

“Pemikiranmu lumayan sempurna dan masuk akal.”

Kata Ding Gan,

“Aku sudah bekerja di perkumpulan selama 10 tahun, jika

tidak sangat sempurna aku tidak akan bisa bertahan hidup.”

Mata Ding Gan yang berwarna abu mengeluarkan sorot

yang sedih. Orang yang hidup di dunia ini kebanyakan tidak

merasa puas. Ada yang ingin mendapatkan banyak harta, ada

yang ingin mendapatkan kekuasaan yang lebih tinggi. Tapi

bagi mereka, bisa bertahan hidup saja itu tidak mudah.

Kata Xiao Wu,

“Apakah demi hidup, apa pun akan kau lakukan?”

Ding Gan dengan terkejut menjawab,

“Benar.”

Kata Xiao Wu,

“Baiklah, aku akan melepaskanmu.”

Ding Gan tidak bicara sepatah kata pun, segera dia

membalikkan badan dan pergi.

Xiao Wu tertawa dan berkata,

“Tunggu sebentar!”

Ding Gan menunggu kata-kata berikutnya.

Kata Xiao Wu,

“Kau tahu apa sebabnya aku melepaskanmu?”

Ding Gan menggelengkan kepala.

Kata Xiao Wu,

“Karena kau sudah mati, bukan orang hidup lagi.”

Ding Gan sudah pergi. Gao Li seperti patung tidak

bergerak. Tiba-tiba dia muntah. Setelah selesai muntah, Xiao

Wu baru berkata, “Apakah kau takut kelak kau akan seperti

dia?”

Wajah Gao Li masih terlihat sedih dan berkata,

“Sekarang pun aku sudah seperti dia.”

Kata Xiao Wu,

“Kau tidak sama.”

Kata Gao Li,

“Jika aku berada dalam situasi seperti itu, aku juga bisa

melakukan hal yang sama.”

Kata Gao Li,

“Aku sekarang harus hidup, harus betahan hidup,”

Tanya Xiao Wu,

“Apakah kau takut mati?”

Kata Gao Li,

“Aku tidak takut mati, tapi aku harus tetap hidup.”

Tanya Xiao Wu,

“Apakah semuanya ini demi perempuan itu?”

Gao Li melihat awan putih di atas langit.

Xiao Wu tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, tapi bisa

melihat tangannya yang gemetar.

Setelah lama Gao Li baru menarik nafas panjang, dan

berkata,

“Aku tidak menyangka mereka bisa mengejar sampai ke

sini dan begitu cepat sudah tiba di tempat ini.”

Tanya Xiao Wu,

“Apakah dulu kau tidak pernah datang ke sini?”

Kata Gao Li, “Pernah, Shuang Shuang tinggal di daerah

sini.”

Tanya Xiao Wu,

“Siapa Shuang Shuang itu?”

Jawab Gao Li,

“Shuang Shuang adalah perempuanku.”

Kata Xiao Wu,

“Jika pernah, kali ini kau tidak boleh datang ke sini lagi.

Mungkin mereka tahu Shuang Shuang tinggal di sini.”

Kata Gao Li,

“Mungkin juga,”

Kata Xiao Wu,

“Mungkin mereka sudah memasang perangkap dan

menunggumu meloncat masuk.”

Kata Gao Li,

“Mungkin juga.”

Tanya Xiao Wu,

“Apakah kau tetap harus ke sana?”

Jawab Gao Li,

“Pasti.”

Kata Xiao Wu,

“Biarpun itu adalah sebuah perangkap bagimu?”

Jawab Gao Li,

“Benar.”

Tanya Xiao Wu,

“Mengapa?”

Jawab Gao Li,

“Karena aku tidak boleh membiarkan Shuang Shuang

seorang diri masuk dalam perangkap itu.”

Xiao Wu tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

Tiba-tiba Xiao Wu merasa Gao Li adalah seorang algojo

yang dingin dan tidak memiliki perasaan, tapi terhadap

Shuang Shuang perasaannya begitu hangat dan mendalam.

Pasti perempuan ini telah membuat Gao Li melakukan hal

seperti ini.

Kata Gao Li,

“Aku saja yang pergi, kau jangan.”

Xiao Wu mengangguk dan berkata, “Benar, aku tidak boleh

pergi.”

Gao Li menepuk pundaknya, dan tidak berbicara apa-apa

lagi.

Tapi ketika Gao Li mulai berjalan, Xiao Wu mengikuti dia

dari belakang.

Mata Gao bercahaya dan sengaja membentak,

“Kau tidak mau pergi, mengapa harus mengikutiku?”

Xiao Wu tertawa dan berkata,

“Aku tidak mau kau sendiri meloncat dan masuk ke dalam

perangkap, tapi bila ada teman yang juga ingin ikut meloncat

kan tidak menjadi masalah.”

Bab 3

Shuang Shuang

Sore itu.

Gunung yang berada di kejauhan tampak dekat dengan

matahari terbenam, berubah warna dari hijau menjadi hijau

keabu-abuan. Mata air pun mulai mengalir perlahan.

Tapi angin berhembus membawa bau lebih harum lagi

karena saat ini banyak bunga yang mekar di gunung itu. Di

balik bunga yang berwarna warni tinggal sebuah keluarga.

Jembatan kecil melintang di atas air yang mengalir,

keluarga ini tinggal di sebuah rumah yang letaknya berada di

depan air sungai yang mengalir yang berada di kaki gunung

itu.

Di pekarangan itu terdapat taman bunga.

Seorang kakek yang berperawakan tinggi besar dan

berambut putih sedang membelah kayu.

Dia hanya mempunyai sebelah lengan saja. Walaupun

begitu gerakan tangan itu sangat cekatan dan juga kuat. Dia

menendang balok kayu itu, kapak yang besar diayunkan,

hanya dalam sekejap balok sudah terbelah menjadi dua.

Matanya berwarna seperti gunung yang berada di kejauhan,

berwarna hijau keabu-abuan tampak dingin dipandang dari

jauh. Mungkin orang yang pengalaman hidupnya sudah

banyak baru mempunyai mata yang bisa seperti itu, begitu

jauh, begitu dingin.

Xiao Wu dan Gao Li memasuki pekarangan. Walaupun

langkah mereka sangat ringan, tapi orang tua itu segera

membalikkan kepalanya.

Dia melihat Gao Li, tapi matanya tidak terlihat ekpresi apa

pun, dia hanya diam berdiri sambil terus memandangi mereka.

Begitu Gao Li mendekat, baru dia meletakkan kapak itu.

Tiba-tiba dia berlutut seperti seorang pelayan melihat

majikannya. Dia berlutut kepada Gao Li.

Tapi wajanyanya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, juga

tidak mengatakan sepatah kata pun.

Gao Li pun tidak berbicara, hanya menepuk-nepuk

pundaknya. Mereka seperti sedang memainkan sebuah

pantomim, tapi tidak ada yang tahu apa arti dari sandiwara

itu. Xiao Wu seperti patung berdiri di dekat mereka. Untung

ada suara keluar dari dalam rumah. Suara yang terdengar

manis dan lembut. Suara seorang gadis.

Shuang Shuang berada di dalam rumah berkata,

“ Aku tahu, kau pasti akan pulang.”

Suaranya terdengar penuh dengan perasaan dan lembut.

Begitu mendengar suara itu, perasaan Gao Li menjadi

lembut.

Xiao Wu sampai terbengong-bengong.

Tiba-tiba dia ingin tahu gadis itu.

Pasti dia pantas mendapatkan perlakuan lembut dari lakilaki.

Orang tua itu mulai membelah kayu lagi. Tapi gadis itu

tidak keluar dari dalam rumah. Xiao Wu dan Gao Li masuk ke

dalam rumah itu. Tiba-tiba Xiao Wu merasa jantungnya

berdetak lebih cepat daripada biasanya.

“Sebenarnya dia gadis macam apa? Apakah dia cantik?”

Ruang tamu sangat bersih, di pinggir ada sebuah pintu kecil.

Di pintu itu tergantung gordyn bambu.

Suara gadis itu keluar dari balik pintu.

“Apakah kau membawa tamu kemari?” Dia bisa mendengar

suara langkah mereka. Suara Gao Li juga terdengar sangat

lembut dan menjawab, “Bukan tamu, tapi teman baik.”

“Mengapa kau tidak menyuruhnya masuk?”

Gao Li menepuk-nepuk pundak Xiao Wu, dengan senyum

berkata, “Dia menginginkan kita masuk, ayo kita masuk!”

Dia menjawab tidak dengan sungguh-sungguh, karena

pada saat itu hatinya sedang memikirkan hal lain.

Kemudian dia ikut masuk.

Pikiran Xiao Wu seperti berhenti mendadak, sepertinya

jantungnya pun berhenti. Akhirnya dia bertemu dengan

Shuang Shuang, sejak pandangan pertama, dia tidak akan

bisa melupakannya seumur hidup.

Shuang Shuang berada di atas tempat tidur, sepasang

tangannya menarik selimut, tangannya lebih putih dibanding

selimut putih, seperti tembus pandang. Tangannya kecil

seperti tangan anak-anak, malah lebih kecil dari tangan anakanak.

Matanya besar dan berwarna abu-abu, tidak ada

cahaya. Wajahnya lebih aneh lagi. Tidak ada yang bisa

mengatakan wajahnya seperti apa karena memang tidak bisa

dibayangkan. Dia tidak jelek, dan juga tidak cacat, wajahnya

seperti seorang tukang pembuat topeng melakukan hal yang

ceroboh, membuat sebuah topeng perempuan yang gagal.

Ternyata perempuan yang bisa membuat Gao Li

mengorbankan segalanya adalah seorang kerdil yang cacat

dan buta.

Di dalam rumah pun penuh dengan bunga, penuh dengan

mainan dan patung-patung yang diukir.

Benda yang bagus, harganya pasti mahal.

Bunga baru saja dipetik, terlihat masih segar dan harum

membuat nona rumah itu menjadi lucu tapi patut dikasihani.

Tapi wajahnya sama sekali tidak memancarkan bahwa dia

harus dikasihani dia juga tidak terlihat rendah diri, sebaliknya

dia tampak gembira dan penuh dengan rasa percaya diri.

Ekspresi ini seperti seorang gadis yang cantik, sepertinya

dia tahu bahwa pada saat itu laki-laki di dunia ini sedang

melihat dan menikmati kecantikannya. Xiao Wu masih

terbengong-bengong.

Tapi Gao Li sudah membuka kedua tangannya, dan

memeluk Shuang Shuang. Dengan lembut dia berkata,

“Cantikku, putriku, apakah kau tidak tahu bahwa aku rindu

kepadamu hingga rasanya seperti mau gila?”

Kata-kata ini membuat orang ingin muntah, tapi wajah

Shuang Shuang tampak bercahaya dan terang. Dia

mengangkat tangannya yang kecil, dengan perlahan

menepuk-nepuk wajah Gao Li. Sikap Shuang Shuang terhadap

Gao Li seperti menganggap bahwa Gao Li adalah seorang

anak-anak.

Gao Li pun menjadi seperti anak kecil. Sepertinya apa yang

disentuh oleh Shuang Shuang adalah mereka ikut bahagia.

Shuang Shuang tertawa dan berkata,

“Pembohong kecil, bila kau rindu kepadaku, mengapa baru

pulang sekarang?”

Gao Li menarik nafas dan menjawab,

“Aku juga sebenarnya ingin cepat pulang, tapi aku ingin

mencari uang lebih banyak supaya dapat kuberikan kepada

tuan putriku, untuk membeli makanan enak dan mainan yang

bagus.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah semua itu benar?”

Jawab Gao Li,

“Benar, apakah aku harus mengeluarkan jantungku supaya

kau mau percaya?”

Shuang Shuang tertawa dan berkata,

“Aku mengira ada perempuan liar yang menggaetmu

hingga lupa untuk pulang.”

Gao Li berteriak dan berkata,

“Aku tidak akan mencari perempuan lain di luar. Di dunia

ini tidak ada yang bisa menandingi tuan putriku.”

Tawa Shuang Shuang lebih senang lagi, dengan sengaja

dia berkata, “Aku tidak percaya, di luar sana pasti ada

perempuan yang lebih cantik dariku.”.

Jawab Gao Li,

“Tidak ada, aku yakin tidak ada.”

Kemudian Gao Li berkata;

“Aku mendengar bahwa di kota ada seorang tuan putri

yang sangat cantik, tapi begitu kulihat, kecantikannya tidak

ada setengah dari kecantikanmu.” Shuang Shuang

mendengarnya dengan tenang, wajahnya tertawa manis, tibatiba

dia mencium wajah Gao Li.

Gao Li kegirangan seperti hampir pingsan.

Seorang laki-laki yang tinggi besar dan gagah, seorang

yang kerdil dan buta, mereka bisa berpacaran, keadaan ini

sangat lucu dan siapa pun yang melihatnya pasti akan

tertawa.

Tapi hati Xiao Wu tidak bisa tertawa, dia merasa hatinya

terasa pahit dan sedih.

Dia ingin menangis.

Gao Li mengeluarkan kantung uangnya yang usang. Dia

mengeluarkan semua uang yang berada di dalamnya,

ditumpahkan semuanya ke atas tempat tidur. Dia menarik

tangan Shuang Shuang yang kecil supaya memegang uanguang

ini. Dengan bangga dan sombong berkata, “Uang ini

adalah hasil jerih payahku, uang ini bisa membeli banyak

benda untuk tuan putriku.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah benar kau sendiri yang mencari uang ini?”

Jawab Gao Li,

“Demi dirimu aku tidak akan mau mencuri atau

merampok.” Sikap Shuang Shuang tampak lebih lembut lagi,

dia mengusap wajah Gao Li dengan lembut dan berkata, “Aku

bangga mempunyai laki-laki seperti dirimu.”

Gao Li melihat wajah Shuang Shuang yang pucat dan lesu.

Wajah Gao Li yang dingin tiba-tiba mengeluarkan cahaya

senang dan bahagia, di luar sana dia dihina dan dipukul,

sekarang semua perasaan itu sudah lenyap.

Xiao Wu belum pernah melihat wajah Gao Li yang begitu

bahagia, dia seperti orang lain.

Walaupun Shuang Shuang tidak bisa melihat Gao Li tapi dia

bisa merasakan kebahagiaan Gao Li. Karena itu Shuang

Shuang ikut merasa puas dan bahagia. Apakah kau

menganggap mereka tidak serasi?

Tiba-tiba Xiao Wu pun merasa bahwa Shuang Shuang

sangat cantik. Seorang perempuan yang bisa membuat

seorang laki-laki merasa bahagia, walaupun dia cacat itu tidak

menjadi masalah.

Setelah lama Shuang Shuang baru berkata,

“Bukankah tadi kau mengatakan membawa teman kesini?”

Gao Li tertawa dan menjawab, “Begitu aku melihatmu, aku

sudah lupa kepada temanku ini.”

Tanya Shuang Shuang,

“Di depan temanmu sendiri kau mengatakan seperti itu,

apakah kau tidak takut ditertawakan?”

Jawab Gao Li,

“Dia tidak akan menertawakan kita, dia malah iri

kepadaku.”

Gao Li melihat Xiao Wu, matanya penuh dengan sorot

meminta.

Xiao Wu menarik nafas dan berkata,

“Dia selalu mengatakan kepadaku bahwa tuan putri adalah

gadis tercantik di dunia ini, sekarang aku baru tahu bahwa kau

bohong.”

Segera wajah Gao Li berubah, dia berusaha mencegah

kata-kata itu.

Kata Xiao Wu,

“Kecantikannya bagaikan dewi yang berada di langit.”

Gao Li tertawa, Shuang Shuang pun tertawa.

Xiao Wu menepak-nepuk pundak Gao Li dan berkata,

“Aku sangat iri kepada bocah tengik ini, kau tidak pantas

berpasangan dengan Shuang Shuang.”

Gao Li berkata,

“Jujur saja, memang harus begitu, aku hanya tidak tahu,

mengapa dia bisa menyukaiku?”

Shuang Shuang tertawa dan berkata,

“Mengapa wajahmu semakin hari semakin tebal saja?”

Jawab Gao Li,

“Aku belajar semua ini dari Xiao Wu.”

Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba Xiao Wu

merasa selama ini dia belum pernah begitu gembira.

Shuang Shuang tidur lebih awal. Setelah makan malam Gao

Li memapahnya naik ke tempat tidur dan tak lupa

menyelimutinya.

Shuang Shuang seperti anak yang dimanja, semua

kebutuhannya harus diurus oleh orang lain.

Tapi dia bisa memberi kebahagiaan kepada orang lain.

Bintang-bintang mulai muncul.

Gao Li dan Xiao Wu meletakkan tikar di balik dedaunan

bunga, mereka berbaring sambil melihat bintang. Bintang

sangat jauh dan berkilau.

Tiba-tiba Xiao Wu menarik nafas dan berkata,

“Kau benar, dia adalah perempuan yang aneh.”

Gao Li tidak bicara apa pun.

Kata Xiao Wu,

“Wajahnya tidak cantik, tapi hatinya cantik, lebih cantik

dibanding si cantik di dunia ini.”

Gao Li tidak bicara.

Kata Xiao Wu,

“Dulu aku merasa aneh, orang seperti dirimu mengapa

begitu pelit, sekarang aku baru mengerti.”

Dia menarik nafas dan berkata,

“Demi seorang perempuan seperti dia, apa pun yang kau

lakukan itu memang sangat pantas.”

Tiba-tiba Gao Li berkata,

“Mungkin aku melakukan semua ini bukan demi dirinya.”

Tanya Xiao Wu,

“Apakah memang bukan seperti itu?”

Gao Li menarik nafas dan menjawab, “Aku berbohong

bukan demi dirinya, sebenarnya demi diriku.”

Kata Xiao Wu, “Oh!”

Kata Gao Li lagi, “Karena jika aku tidak berada di sini,

hatiku tidak bisa tenang dan senang, karena itu…”

Dia berkata lagi,

“Setiap beberapa bulan sekali aku harus pulang dan

menginap selama beberapa hari, jika tidak aku bisa menjadi

gila dan akan jatuh sakit.” Orang pun seperti mesin, ada

saatnya harus diperbaiki dan Ditambah dengan pelumas.

Xiao Wu mengerti maksudnya. Dia terdiam lama,

kemudianbertanya lagi, “Di mana kau bertemu dengannya?”

Jawab Gao Li,

“Dia yatim piatu.”

Tanya Xiao Wu,

“Ke mana ayah ibunya?”

Jawab Gao Li,

“Sewaktu dia berusia 13 tahun, orang tuanya sudah

meninggal.”

Wajah Gao Li terlihat sangat sedih dan berkata,

“Mereka hanya mempunyai seorang anak perempuan,

mereka takut dia akan merasa sedih. Dari kecil orang tuanya

selalu memuji bahwa dia adalah anak tercantik di dunia ini, dia

sendiri pun tidak bisa melihat keadaan dirinya sendiri.” Tidak

bisa melihat diri sendiri juga tidak bisa melihat orang lain.

Karena dia tidak bisa melihat orang lain, jadi dia tidak bisa

membedakan dirinya sendiri dengan orang lain.

Xiao Wu menarik nafas dan berkata,

“Dia buta, itu sangat tidak menguntungkan baginya, tapi

karena itu juga nasibnya lebih beruntung.”

Kebahagiaan dan ketidak beruntungan, jaraknya sangat

tipis.

Kata Gao Li,

“Pernah suatu waktu aku terluka parah, tidak sengaja aku

datang ke tempat ini. Waktu itu orang tuanya belum

meninggal, mereka mengobati aku, setiap hari mengurusku,

tidak pernah menanyakan identitasku, juga tidak

menganggapku orang jahat.”

Tanya Xiao Wu,

“Karena itu pula kau sering datang ke sini?”

Jawab Gao Li,

“Waktu itu aku sudah menganggap bahwa mereka adalah

keluargaku, setiap hari raya entah aku berada di mana, aku

selalu berusaha pulang dan menemui mereka.”

Kata Xiao Wu,

“Aku tahu perasaanmu.”

Wajah Xiao Wu pun memancarkan kesedihan, pemuda

yang riang itu ternyata di dalam hatinya menyimpan banyak

rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain.

Kata Gao Li,

“Tak lama kemudian orang tuanya meninggal. Sebelum

meninggal mereka menitipkan putrinya kepadaku. Mereka

tidak berharap aku akan menikah dengannya, hanya berharap

aku menganggap dia sebagai adikku sendiri.”

KataXiao Wu,

“Apakah kau sudah menikah dengannya?”

Kata Gao Li,

“Sekarang belum, tapi mungkin kelak aku akan menikah

dengannya.”

Tanya Xiao Wu, “Demi balas budi?”

Jawab Gao Li,

“Bukan.”

Tanya Xiao Wu,

“Apakah kau benar-benar mencintainya?”

Gao Li tampak ragu dan dengan pelan-pelan berkata,

“Aku juga tidak tahu, apakah aku benar-benar suka

kepadanya atau tidak, aku hanya tahu… dia bisa membuatku

senang, bisa membuatku merasa bahwa aku adalah seorang

manusia.”

Kata Xiao Wu,

“Kalau begitu, mengapa kau tidak cepat-cepat menikah

dengannya?”

Gao Li terdiam lama, tiba-tiba tertawa dan bertanya,

“Apakah kau ingin hadir pada pernikahan kami?”

Jawab Xiao Wu,

“Itu sudah pasti.”

Gao Li menepak pundak Xiao Wu dengan kuat dan berkata,

“Aku pasti akan mengundangmu.”

Kata Xiao Wu,

“Aku juga pasti akan hadir.”

Kata Gao Li,

“Besok aku akan bersiap-siap bertemu dengan si Gajah?”

Tanya Xiao Wu,

“Si Gajah?”

Jawab Gao Li,

“Si Gajah itu adalah orang tua yang membuat makanan

untuk kita tadi.”

Tanya Xiao Wu,

“Siapakah dia?”

Gao Li terlihat sangat misterius dan menjawab,

“Menurutmu dia itu siapa?”

Kata Xiao Wu,

“Aku melihat dia orang yang sangat aneh, pasti mempunyai

sejarah yang tidak biasa.”

Kata Gao Li,

“Apakah kau pemah melihat kapaknya?”

Jawab Xiao Wu,

“Pernah.”

Tanya Gao Li,

“Kau sudah lihat bagaimana dengan keahlian tangannya?”

Jawab Xiao Wu,

“Sepertinya tidak kalah dengan kau atau aku.”

Kata Gao Li, “Tafsiranmu tidak meleset.”

Tanya Xiao Wu,

“Siapakah dia? Mengapa dia bisa datang kemari? Dan

mengapa dia begitu hormat kepadamu?”

Gao Li tertawa dan menjawab,

“Pelan-pelan kau akan mengetahui jawabannya.”

Tanya Xiao Wu,

“Mengapa tidak beritahu saja sekarang?”

Jawab Gao Li,

“Karena aku sudah berjanji tidak akan memberitahukannya

kepada orang lain.”

Kata Xiao Wu,

“Tapi aku…”

Kalimat ini belum habis, tubuhnya tiba-tiba sudah melayang

jauh, seperti panah melesat ke balik semak-semak bunga.

Ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi, indah, dan

istimewa.

Di balik semak-semak seperti ada yang berbicara, “Ilmu

meringankan tubuh yang begitu bagus, benar-benar berasal

dari keluarga ternama.” Wajah Xiao Wu berubah, dengan

suara rendah dia berkata, “Siapakah Tuan ini?”

Dengan suara membentak, dia sudah masuk ke dalam

semak-semak, tempat suara orang tadi berasal.

Dia tidak melihat ada orang.

Di semak-semak tidak ada bayangan orang.

Sinar bintang menerangi langit malam. Malam sudah begitu

larut. Gao Li segera mengikuti Xiao Wu, dia mengerutkan dahi

dan bertanya, “Apakah orang perkumpulan 15 bulan 7 sudah

mengejar hingga ke sini?” Jawab Xiao Wu, “Sepertinya

bukan.”

Tanya Gao Li,

“Mengapa kau tahu itu bukan mereka?”

Xiao Wu tidak menjawab.

Ekspresi wajah Xiao Wu sangat aneh, seperti kaget juga

takut.

Mengapa dia tahu bahwa itu bukan dari perkumpulan 15

bulan 7 yang mengejar?

Mengapa dia merasa takut?

Gao Li tidak mengerti tapi dia juga tidak bertanya lagi.

Setelah lama Xiao Wu bertanya,

“Kemana perginya si Gajah?”

Jawab Gao Li,

“Mungkin dia sudah tidur.”

Tanya Xiao Wu,

“Dia tidur di mana?”

Kata Gao Li,

“Apakah kau ingin mencarinya?”

Xiao Wu tertawa dengan terpaksa dan menjawab,

“Aku ingin mengobrol dengannya.”

Gao Li tertawa dan berkata,

“Apakah kau tidak tahu bahwa dia tidak senang

mengobrol?”

Sorot mata Xiao Wu lebih aneh lagi dan berkata,

“Mungkin dia akan senang mengobrol denganku.”

Gao Li melihat dia dan berkata,

“Mungkin di dunia ini banyak hal aneh yang sering terjadi.”

0-0-0

Si Gajah belum tidur.

Sewaktu dia membuka pintu, kakinya masih memakai

sepatu dan mata pun tidak terlihat seperti ingin tidur.

Tidak merasa mengantuk juga tidak ada ekspresi. Dia

melihat siapa pun seperti melihat sebatang kayu.

Gao Li tertawa dan berkata,

“Kau belum tidur?”

Jawab si Gajah,

“Bila aku sudah tidur aku tidak akan bisa membuka pintu.”

Kata-katanya terdengar sangat pelan dan kaku seperti orang

yang sudah lama tidak pernah bicara, juga tidak terbiasa

berbicara dengan orang lain. Gao Li pun merasa aneh karena

sudah lama dia tidak mendengar si Gajah berbicara.

Rumahnya sangat sederhana, kecuali keperluan sehari-hari

tidak ada barang lain lagi. Kehidupannya seperti seorang

biksu.

Xiao Wu merasa rumah ini dan ruang tidur Shuang Shuang

seperti dua dunia yang berbeda.

Pak tua yang perawakannya tinggi, besar, kuat, kokoh, dan

dingin terlihat terbalik dengan perawakan Shuang Shuang.

Bila bukan karena alasan yang aneh dan istimewa, mereka

tidak akan bisa hidup bersama.

Si Gajah menarik kursi dan berkata,

“Duduklah!”

Di ruangan itu hanya ada sebuah kursi, Gao Li dan Xiao Wu

tidak duduk. Xiao Wu

berdiri di dekat pintu, matanya terus menatap orang tua

itu. Tiba-tiba dia

bertanya,

“Apakah sebelumnya kau pernah bertemu denganku?

Si Gajah menggelengkan kepalanya.

Xiao Wu bertanya lagi,

“Tapi kau kenal denganku bukan?”

Si Gajah menggelengkan kepalanya lagi.

Gao Li melihat si Gajah dan melihat Xiao Wu, lalu Gao Li

tertawa dan berkata, “Dia belum pernah bertemu denganmu,

mana bisa dia kenal denganmu?”

Kata Xiao Wu,

“Sebab dia tahu ilmu meringankan tubuhku.”

Tanya Gao Li,

“Apakah ilmu meringankan tubuhmu berbeda dengan ilmu

orang lain?”

Jawab Xiao Wu,

“Benar.”

Tnaya Gao Li,

“Mengapa aku tidak melihat keistimewaannya?”

Jawab Xiao Wu,

“Karena kau masih terlalu muda.”

Tanya Gao Li,

“Apakah kau sendiri sudah sangat tua?”

Xiao Wu hanya bisa tertawa.

Kata Gao Li,

“Biarpun ilmu meringankan tubuhmu tidak sama dengan

orang lain, dia pun tidak pernah melihatnya.”

Kata Xiao Wu,

“Dia pernah melihatnya.”

Tanya Gao Li,

“Kapan dia melihatnya?”

Jawab Xiao Wu,

“Tadi.”

Tanya Gao Li,

“Tadi?”

Xiao Wu tertawa lagi kemudian terdiam, tapi sepasang

matanya terus melihat sepatu yang dipakai oleh si Gajah.

Tanah yang menempel di sepatu belum mengering. Cuaca

akhir-akhir ini sangat baik, begitu mendekati tanaman bunga,

tanah tampak basah, karena setiap sore si Gajah selalu

menyiram tanaman.

Gao Li segera mengerti, orang yang bersembunyi di semaksemak

tadi adalah dia.

“Orang yang tadi adalah kau.”

Si Gajah mengakuinya.

Gao Li bertanya lagi, “Kau tahu siapa dia? Mengapa kau

bisa kenal dengannya?” Si Gajah tidak menjawab, tapi

membalikkan kepala dan bertanya kepada Xiao Wu, “Mengapa

kau tidak pulang?”

Wajah Xiao Wu berubah dan berkata,

“Pulang? Harus pulang ke mana?”

Jawab si Gajah,

“Pulang ke rumahmu.”

Xiao Wu bertanya,

“Mengapa kau tahu rumahku?”

Xiao Wu malah balik bertanya,

“Mengapa aku harus pulang?”

Jawab si Gajah,

“Karena kau memang harus pulang.”

Xiao Wu bertanya lagi,

“Mengapa?”

Jawab si Gajah,

“Karena ayahmu hanya mempunyai seorang anak laki-laki

yaitu kau.”

Tubuh Xiao Wu membeku seperti terpaku di bawah. Mata

Xiao Wu melihat ke arah pak

tua itu, setelah lama dia baru berkata,

“Kau bukan si Gajah.”

Jawab Gao Li,

“Dia memang bukan gajah, dia manusia.”

Xiao Wu tidak meladeni perkataan Gao Li dan berkata,

“Kau adalah Jin Kai Jia.”

Wajah orang itu tetap tidak ada ekspresi.

Gao Li sudah berteriak, “Jin Kai Jia? Maksudmu Da Lei Shen

Jin Kai Jia?” (Dewa Geledek Besar Jin Kai Jia).

Jawab Xiao Wu,

“Benar.”

Kata Xiao Wu lagi,

“Tadi kau tidak memberitahu kepadaku karena kau sendiri

juga tidak tahu identitasnya.”

Kata Gao Li,

“Aku tidak tahu bahwa dia adalah Da Lei Shen Jin Kai Jia.”

Kata Xiao Wu,

“Kecuali orang tua ini, tidak ada orang yang bisa

menggunakan kapak begitu lincah dan cekatan.”

Kata Jin Kai Jia,

“Sayang, kau pun masih terlalu muda, belum pernah

melihat bagaimana jurus Feng

Lei Shen Fu 20 tahun yang lalu”

Kata Xiao Wu,

“Tapi aku pernah mendengar tentangnya.”

Kata Jin Kai Jia,

“Pasti kau pemah mendengarnya, asalkan dia mempunyai

telinga dia pasti bisa mendengar.”

Wajahnya tidak ada ekspresi tapi dalam setiap

perkataannya mengeluarkan wibawa yang menakutkan.

Kata Xiao Wu,

“Tidak kusangka, Da Lei Shen Jin Kai Jia yang

menggegerkan dunia persilatan, bersembunyi di sini hanya

untuk membelah kayu.”

Kata ini mengandung duri dan sindiran. Wajah Jin Kai Jia

ada perubahan yang aneh, dia pun seperti terpaku di tanah.

Setelah lama dia baru berkata,

“Hal ini pula yang mengharuskan aku berterima kasih

kepada keluargamu.”

Kata-kata ini juga mengandung duri.

Kata Xiao Wu,

“Mungkin kau tidak menyangkanya bahwa di tempat ini kau

bisa bertemu denganku.”

Kata Jin Kai Jia,

“Benar.”

Dengan tertawa dingin Xiao Wu berkata,

“Sepuluh tahun yang lalu, Da Lei Shen Jin Kai Jia adalah

orang nomor satu di dunia persilatan, hari ini bertemu dengan

aku, mengapa tidak membunuhku?”

Kata Jin Kai Jia,

“Aku tidak ingin membunuhmu.”

Tanya Xiao Wu,

“Mengapa?”

Jawab Jin Kai Jia,

“Karena kau adalah teman dari penolongku.”

Tanya Xiao Wu,

“Siapa penolongmu?”

Jawab Gao Li,

“Aku.”

Tanya Xiao Wu,

“Kau yang telah menolong Da Lei Shen Jin Kai Jia?”

Gao Li tertawa kecut,

“Aku sendiri tidak menyangkanya bahwa yang aku tolong

adalah pesilat nomor satu di dunia ini.”

Kata Jin Kai Jia dengan dingin,

“Waktu itu, aku sudah bukan jago nomor satu lagi di dunia

persilatan, kalau tidak mengapa bisa direndahkan oleh orangorang

brengsek itu?” Matanya yang dingin mengeluarkan

kemarahan, setelah lama dia baru berkata, “Semenjak

bertarung di Tai Shan, dan terluka di tangan ayahmu, aku

sudah bukan jago nomor satu di dunia persilatan.”

Tanya Xiao Wu,

“Apakah ayah sudah berhasil memecahkan jurus Chong Lou

Fei Xue (Chong Lou Fei Xue = nama jurus)?”

Jawab Jin Kai Jia,

“Tidak ada yang bisa memecahkan jurus Chong Lou Fei

Xue.”

Kata Xiao Wu,

“Meskipun ayah sudah memutuskan sebelah tanganmu,

tapi kau masih mempunyai tangan sebelah kanan.”

Kata Jin Kai Jia, “Kau benar-benar masih muda, tidak tahu

bahwa tangan yang dipakai oleh Da Lei Shen Jin Kai Jia adalah

tangan kiri.” Xiao Wu terpaku.

Tiba-tiba dia berkata, “Setiap hari kau membelah kayu

apakah untuk melatih tangan kananmu memegang kapak?”

Kata Jin Kai Jia,

“Kau tidak bodoh!”

Tanya Xiao Wu,

“Sudah berapa lama kau berlatih seperti ini?”

Jawab Jin Kai Jia,

“Lima tahun.”

Tanya Xiao Wu,

“Sekarang ini apakah tangan kananmu sudah setara tangan

kirimu yang dulu?”

Jin Kai Jia tidak menjawab.

Tidak akan ada orang yang memberitahu ilmu silat

sebenarnya kepada musuhnya.

Gao Li menarik nafas dan berkata,

“Pantas di musim dingin kau masih membelah kayu, musim

panas juga membelah kayu, sekarang aku sudah mengerti

alasannya.”

Dia membalikkan badan dan berkata kepada Xiao Wu,

“Sekarang aku juga tahu siapa dirimu.”

Kata Xiao Wu,

“Oh!”

Kata Gao Li,

“Margamu bukan Wu, margamu Qiu, namamu Qiu Feng

Wu.”

Xiao Wu juga tertawa,

“Tidak disangka kau juga kenal namaku.”

Kata Gao Li,

“Dulu Ketua Wisma Kong Que, Tuan Qiu, di gunung Tai

bertarung dengan orang nomor satu yaitu Da Lei Shen Jin Kai

Jia. Orang yang tidak mempunyai telinga pun tahu tentang

peristiwa ini.”

Qiu Feng Wu menarik nafas dan berkata,

“Pertarungan itu benar-benar mengejutkan langit dan

setan.”

Gao Li tersenyum dan berkata,

“Karena itu nama Wisma Kong Que, aku pasti

mendengarnya.” Kata Qiu Feng Wu, â€oeXiao Wu atau Qiu

Feng Wu mereka sama-sama temanmu.”

Kata Gao Li,

“Itu sudah pasti.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Selama-lamanya.”

Tiba-tiba dia berkata kepada Jin Kai Jia,

“Tapi kita bukan teman, sekarang bukan, kelak pun bukan.”

Kata Jin Kai Jia,

“Benar.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Bila kau mau mencari orang Wisma Kong Que untuk balas

dendam, kapan waktu pun kau bisa menyerangku.”

Kata Jin Kai Jia,

“Mengapa aku harus membalas dendam kepada orang

Wisma Kong Que?”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Kau tidak ingin membalas dendam?”

Jawab Jin Kai Jia,

“Tidak.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Mengapa?”

Jawab Jin Kai Jia,

“Karena pertarungan itu adalah pertarungan yang adil,

hidup atau mati tidak bisa menyalahkan orang lain, apalagi

aku hanya putus sebelah tangan.”

Dia menarik nafas dan berkata lagi,

“Sebenarnya Pak Tua Qiu bisa mengambil nyawaku, tapi

dia hanya mengambil sebelah tanganku, kalau ingin membalas

harus balas budi bukan membalas dendam.” Qiu Feng Wu

melihat dia, seperti sangat terkejut sekaligus tidak percaya,

tapi juga kagum, akhirnya dia menarik nafas dan berkata,

“Pantas ayah selalu berkata, Da Lei Shen Jin Kai Jia adalah

seorang ksatria, kalah ya kalah, menang yang menang. Orang

dunia persilatan tidak ada yang menyaingi Jin Kai Jia.”

Kata Jin Kai Jia,

“Benar.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Biarpun ayahku menang darimu, tapi dia menang dengan

senjata rahasia bukan dengan ilmu silat.”

Kata Jin Kai Jia,

“Apakah kau menganggap senjata rahasia itu bukan ilmu

silat? Kau meremehkan senjata rahasia?”

Qiu Feng Wu berkata,

“Aku…”

Kata Jin Kai Jia,

“Pedang, pisau adalah senjata. Senjata rahasia juga

senjata, aku memakai kapak Feng Lei (Feng=angin,

Lei=geledek), dia memakai Kong Que Ling (Bulu Merak, di

bagian ujung ekor). Dia bisa menghindar serangan kapak Feng

Lei tapi aku tidak bisa menghindan Kong Que Ling ayahmu.

Dia bisa menang, tidak ada orang yang merasa bahwa

pertarungan ini tidak adil, termasuk kau.”

Kata Qiu Feng Wu dengan lesu dan tidak semangat,

“Benar, ini salahku.”

Kata Jin Kai Jia,

“Bila sudah tahu salah, kau harus cepat pulang.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Sekarang ini aku tidak bisa pulang.”

Tanya Jin Kai Jia,

“Mengapa?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Aku sedang menunggu undangan pernikahan dari Gao Li.”

Arak di atas meja. Setiap orang jika sudah dalam keadaan

seperti itu selalu ingin mencari arak untuk minum.

Qiu Feng Wu minum arak,

“Pahlawan adalah pahlawan, dia tidak akan tua di makan

jaman. Aku tidak menyangka Da Lei Shen Jin Kai Jia sampai

saat ini masih begitu gagah dan berjiwa ksatria.”

Kata Gao Li,

“Tapi kehidupannya terlalu pahit, aku belum pernah

mendengar dia tertawa.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Begitu mendengar kau mau menikah, dia tertawa.”

Kata Gao Li,

“Karena itu aku harus mengundangnya.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku pun harus diundang.”

Gao Li tertawa dan berkata,

“Di dunia ini ada berapa orang yang bisa mengundang Da

Lei Shen Jin Kai Jia dan Tuan Muda Wisma Kong Que untuk

menghadiri pernikahannya?” Tiba-tiba Qiu Feng Wu menaruh

gelas arak dan berkata, “Aku bukan Tuan Muda Wisma Kong

Que.”

Tanya Gao Li,

“Apakah itu benar?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Memang bukan, karena aku tidak pantas.”

Dia menuang arak ke dalam gelas dan berkata,

“Aku hanya pantas menjadi algojo di perkumpulan

pembunuh.”

Kata Gao Li,

“Aku juga tidak mengerti mengapa kau bisa masuk ke

dalam perkumpulan 15 bulan 7?”

Qiu Feng Wu melihat araknya sambil berkata,

“Karena aku terhina dengan Kong Que Ling, terhina oleh

nama senjata rahasia ini, aku tidak mau seumur hidup tinggal

di bawah bayangan Kong Que Ling, seperti anak yang

bersembunyi di balik gaun ibunya.”

Kata Gao Li,

“Karena itu dengan kekuatan sendiri kau ingin mengangkat

nama sendiri.”

Qiu Feng Wu mengangguk dan tertawa kecut,

“Karena aku tahu di dunia persilatan orang menghormati

Wisma Kong Que, bukan hormat kepada orangnya, tapi

kepada senjata rahasianya. Jika tidak ada Kong Que Ling

sepertinya keluarga Qiu tidak berharga sepeser pun.”

Kata Gao Li,

“Tidak ada orang berpikir seperti itu.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tapi aku punya pikiran seperti itu, aku masuk

perkumpulan 15 bulan 7 karena aku ingin membubarkan

perkumpulan itu. Aku harus menunggu kesempatan datang.”

Kemudian dia menarik nafas lagi dan berkata,

“Aku baru tahu, membubarkan 15 bulan 7 adalah pekerjaan

yang sia-sia belaka.”

Tanya Gao Li, â€oeMengapa?”

Jawab Qiu Feng Wu, “Karena perkumpulan 15 bulan 7

hanyalah sebuah perkumpulan boneka, di belakangnya masih

ada suatu tenaga rahasia dan tenaga kuat yang mendukung

dan mengatur mereka.”

Gao Li mengangguk dan berkata,

“Siapa yang mengatur perkumpulan ini?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Kau pasti sudah bisa menebak!”

Kata Gao Li,

“Mungkin hanya 70 %.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Siapadia?”

Gao Li tampak ragu tapi akhirnya menjawab,

“Qing Long Bang.”

Qiu Feng Wu menepuk meja dan berkata,

“Benar, aku pun menebak Qing Long Bang.”

Kata Gao Li,

“Setahun ada 360 hari.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Menurut orang-orang Qing Long Bang mempunyai 360

cabang.” Tiba-tiba mereka tidak bicara lagi, tapi mereka

merasa berat. Perkumpulan 15 bulan 7 sangat ketat dan

kejam, tenaga perkumpulan ini sangat besar, mereka sangat

tahu tentang hal ini.

Tapi perkumpulan 15 bulan 7 hanya salah satu cabang

Qing Long Bang saja.

Akhirnya Qiu Feng Wu menarik nafas dan berkata,

“Qing Long Bang pernah mengatakan bahwa di tempat itu

asalkan ada matahari pasti ada kekuatan Qing Long Bang.”

Dia masih berkata,

“Jika laut belum mengering, semua batu belum pecah, Qing

Long Bang tidak akan musnah.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Ketua Qing Long Bang siapa mananya, kita pun tidak

mengetahuinya.”

Tanya Gao Li,

“Apakah benar tidak ada yang tahu?”

0-0-0

Shuang Shuang selalu bangun sangat pagi.

Gao Li membangunkan dia dan sekarang mereka ke

gunung untuk memetik bunga. Masih banyak hal yang ingin

mereka bicarakan, semalam kesempatan untuk mengobrol

tidak banyak.

Qiu Feng Wu berdiri di pekarangan menikmati angin segar

dan matahari yang bersinar cerah di alam pegunungan. Dia

sempat ingin membantu Jin Kai Jia menyiapkan sarapan, tapi

dia malah diusir keluar.

“Keluar, jika aku sedang bekerja, aku tidak ingin dilihat oleh

orang lain.” Melihat orang nomor satu di dunia persilatan

memegang sendok menggoreng telur, itu sangat tidak enak

dipandang, membuat hati orang lain ikut merasa tidak

nyaman.

Tapi Jin Kai Jia sendiri tidak mempunyai perasaan seperti

itu. “Aku melakukan hal ini karena memang ingin kulakukan,

hal ini akan membuat gerakan tanganku lincah. Bila kau rajin

berlatih ilmu silat, kau melakukan hal apa pun, sama dengan

melatih ilmu silatmu.”

Qiu Feng Wu terus mengingat kata-kata ini, seperti sedang

mengunyah buah kana, terus menerus dikunyah selama

rasanya masih ada.

Sekarang Qiu Feng Wu sudah mengerti mengapa Jin Kai Jia

bisa menjadi orang nomor satu di dunia persilatan.

Sarapan sudah tersusun rapi di atas meja, mereka

menunggu Gao Li dan Shuang Shuang pulang dari gunung.

Jin Kai Jia mulai membelah kayu.

Qiu Feng Wu melihatnya dari pinggir, dia merasa gerakan

Jin Kai Jia sangat lancar dan terlihat mudah. Apa arti ilmu silat

baginya? Hanya ada 4 kata yaitu : konsentrasi dan latihan

dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya 4 kata ini juga cocok

dalam melakukan semua hal.

Bila kau ingin sukses, harus berkonsentrasi dan latihan

dengan sungguh-sungguh.

“Apakah kau tahu, sejak jaman dulu siapa orang nomor

satu di dunia ini?”

“Tidak tahu.”

“Dia adalah Lu Ban.”

“Dia hanya seorang tukang kayu yang sukses.”

“Tapi setiap hari dia selalu menggunakan kapak, kegunaan

dan keistimewaan kapak hanya dia saja yang tahu, kapak

sudah seperti bagian dari tubuhnya, dia menggunakan kapak

seperti menggunakan jari-jarinya, sangat lincah dan cekatan.”

Qiu Feng Wu menarik nafas panjang. Dia merasa kata-kata Jin

Kai Jia lebih berharga daripada rahasia ilmu silat.

Hal ini pun tidak dapat disimpulkan oleh biksu-biksu yang

bertapa di dalam kuil.

Matahari sudah menyinari semua tempat, gunung di

kejauhan tampak begitu hijau. Seorang nenek tua berambut

putih, tangan kirinya membawa sebuah tongkat, tangan

kanannya membawa bungkusan. Bungkusan kain itu berwarna

hijau, dia berjalan menyusuri sungai seorang diri,

punggungnya bungkuk seperti udang kering.

Tanya Qiu Feng Wu,

“Apakah di sini tinggal keluarga lain?”

Kata Jin Kai Jia,

“Ada, tapi paling sedikit jaraknya 1 hingga 2 kilometer.” Qiu

Feng Wu tidak bertanya lagi, nenek tua itu sudah masuk ke

dalam pekarangan, dia berjalan hingga terlihat kelelahan

dengan tertawa dia berkata, “Apakah Tuan ingin membeli

telur?”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Apakah telur ini masih baru?”

Jawab nenek itu,

“Pasti masih baru, kau pegang saja, telurnya masih terasa

panas.”

Dia masuk dan jongkok di bawah kemudian membuka

bungkusan yang dibawanya. Telur yang berada di dalam

bungkusan memang besar dan masih baru. Nenek itu

mengambil sebutir telur dan berkata, “Telur yang segar cocok

untuk dimakan mentah-mentah, bisa juga diseduh dengan air

panas lalu dimakan…”

Kata-kata nenek itu belum selesai, tiba-tiba terdengar suara

desingan anak panah. Panah itu menembus punggung nenek

itu, wajah nenek itu tampak kesakitan tapi dia masih berusaha

melempar telur itu, tapi dia sudah tidak tahan lagi kemudian

pun roboh.

Kemudian terlihat bayangan seseorang berbaju hitam

muncul dari belakang jalan kecil, dalam sekejap dia sudah tiba

di pekarangan, dia tidak bicara apa-apa, hanya mengambil

telur yang dibawa oleh nenek itu dan dilemparkannya ke arah

sungai.

Terdengar suara ledakan, air sungai bercipratan ke manamana.

Kata orang berbaju hitam itu, “Sangat berbahaya.”

Wajah Qiu Feng Wu berubah, seperti sudah tidak bisa

berkata-kata lagi karena ketakutan.

Orang berbaju hitam itu berkata,

“Apakah Tuan sudah tahu siapa nenek tua itu?”

Qiu Feng Wu menggelengkan kepalanya.

Dengan suara kecil orang itu berkata,

“Dia adalah pembunuh yang diperintah oleh perkumpulan

15 bulan 7.”

Qiu Feng Wu terkejut dan berkata,

“Perkumpulan 15 bulan 7? Tuan ini adalah…”

Jawab orang berbaju hitam itu,

“Aku…”

Dia hanya bisa mengatakan satu kata, wajahnya sudah

herubah dan mulutnya mengeluarkan darah. Begitu keluar

darahnya segera berubah warna menjadi hitam. Jin Kai Jia

dengan cepat berlari menghampiri mereka. Orang berbaju

hitam itu sudah roboh, kedua tangannya memegang perut, dia

berusaha berdiri dan berkata, “Cepat, cepat, di dalam

pakaianku ada obat penawar…” Jin Kai Jia ingin

mengambilnya, tapi segera dihalangi dan tangannya ditarik

oleh Qiu Feng Wu.

Rasa sakit orang berbaju hitam itu bertambah lagi, dengan

menangis dia berkata, “Aku mohon cepat… cepatlah, tolong

ambilkan obat penawarnya, bila terlambat, nyawaku tidak

akan tertolong lagi.”

Dengan dingin Qiu Feng Wu memandangnya dan berkata,

“Penawarnya ada di dalam bajumu sendiri, mengapa kau

tidak mengambilnya sendiri?”

Jin Kai Jia dengan marah berkata,

“Apakah kau tidak melihat dia sudah tidak bisa bergerak

lagi? Mengapa tidak kita tolong saja dia?”

Jawab Qiu Feng Wu dengan dingin,

“Dia tidak akan mati.”

Wajah baju hitam itu kelihatan kesakitan, tapi tiba-tiba dia

meloncat, segera dia melepaskan 7 buah senjata rahasia.

Nenek tua itu juga tiba-tiba bangun dan meloncat dari

posisinya yang terbaring kemudian melepaskan dua butir telur.

Qiu Feng Wu tidak menghindar malah terus maju ke depan,

dia sudah mengambil 2 butir telur dan memasukkan ke dalam

lengan bajunya.

Nenek tua itu bersalto di tengah udara, begitu turun dia

baru tahu bahwa Qiu Feng Wu sudah berada di depannya.

Segera dua kepalan tangan sudah didorongkan, 2 buah

dada pun ikut bergoyang. Tapi tangan Qiu Feng Wu sudah

melalui 2 kepalan tangan itu. Tangan nenek tua itu belum

sampai, telapak Qiu Feng Wu sudah menepuk ke bagian

dadanya. Hanya ditepuk dengan ringan.

Badan si nenek tua ini seperti sudah menempel ke telapak

tangannya, dua tangannya menjadi lemas, dia pun tidak bisa

bergerak lagi. Tiba-tiba dia mendengar ada suara tulang yang

patah. Jin Kai Jia dengan satu tangan menjepit si baju hitam

kemudian dilepaskan. Si baju hitam sudah seperti tanah

lembek, dan langsung ambruk ke bawah. Tulang rusuknya

yang patah menembus baju hingga keluar.

Darah menetes dan merembes kedalam tanah. Jin Kai Jia

melihatnya, matanya penuh dengan kekesalan, sepertinya

dalam seumur hidup belum pernah dia melihat darah yang

begitu banyak.

Nenek tua itu masih gemetaran.

Dia ketakutan, apakah karena dia kaget dengan jurus Qiu

Feng Wu atau karena mendengar suara tulang yang patah?

Qiu Feng Wu menarik rambut putihnya dan juga kulit

wajahnya, dari balik wajah itu segera muncul wajah lain.

Wajah yang ketakutan dan pucat, tapi masih terlihat sangat

muda.

Dengan dingin Qiu Feng Wu bertanya,

“Apakah kau pendatang baru?”

Orang ini mengangguk.

Tanya Qiu Feng Wu lagi,

“Apakah kau tidak tahu siapa aku ini?”

Jawab orang itu,

“Aku pernah mendengarnya.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau harus tahu, aku mempunyai banyak cara untuk

membuatmu merasa menyesal mengapa harus dilahirkan ke

dunia ini.”

Orang ini mengangguk wajahnya sudah bertambah pucat.

Kata Qiu Feng Wu,

“Lebih baik kau berkata jujur saja.”

Kata orang ini,

“Baiklah.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Kalian datang ke sini berapa orang?”

Jawab orang ini,

“Enam orang.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Mereka itu siapa saja?”

Jawab orang itu,

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Mereka berada di mana?”

Jawab orang itu,

“Di gunung sana menunggu kedatangan kami…”

Kata-katanya belum habis, sudah terdengar suara tulang

patah. Qiu Feng Wu sudah membalikkan badan dan tidak

melihat dia lagi. Dia membunuh manusia tidak pernah banyak

melihat.

Jin Kai Jia terus melihat darah yang mengalir di tanah dan

berkata, “Sudah 6 tahun aku tidak membunuh manusia.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Enam tahun bukan waktu yang pendek.”

Kata Jin Kai Jia,

“Usia tiga belas tahun aku mulai membunuh manusia,

hingga sekarang aku baru tahu bahwa membunuh manusia itu

sangat menjijikan.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Hanya sedikit lebih baik dibandingkan dibunuh.”

Tanya Jin Kai Jia,

“Mengapa kau tahu mereka akan datang untuk

membunuhmu?”

Dengan tertawa kecut Qiu Feng Wu menjawab,

“Karena dulu pun aku melakukan perbuatan seperti yang

mereka lakukan.” Jin Kai Jia ingin bertanya lagi, tapi tiba tiba

terdengar suara Shuang Shuang bertanya, “Dulu kau pernah

melakukan apa?”

Shuang Shuang duduk di pundak Gao Li, mereka berdiri di

bawah sinar matahari. Wajah Gao Li pucat dan tegang, tapi

wajah Shuang Shuang tampak berseri-seri, tawanya lebih

cerah daripada matahari.

Qiu Feng Wu tidak menyangka dia bisa berubah menjadi

begitu cantik. Di dunia ini kepercayaan diri dan kegembiraan

akan membuat seorang perempuan berubah menjadi cantik.

Qiu Feng Wu tidak tahu harus bagaimana menjawab

pertanyaannya.

Shuang Shuang bertanya lagi,

“Sepertinya aku mendengar kalian mengatakan tentang

membunuh orang.”

Akhirnya Qiu Feng Wu menjawab,

“Kami sedang bercerita.”

Tanya Shuang Shuang,

“Cerita tentang apa? Aku senang mendengar cerita.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tapi cerita ini tidak enak untuk didengar.”

Tanya Shuang Shuang,

“Mengapa?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Karena dalam cerita ini, ada kisah manusia yang

membunuh manusia.” Wajah Shuang Shuang juga seperti

terbawa oleh kesedihan Qiu Feng Wu, dia berkata, “Mengapa

ada orang yang senang membunuh orang?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Mungkin bagi mereka jika tidak membunuh orang, maka

dia yang akan dibunuh.”

Shuang Shuang mengangguk, tiba-tiba dia bertanya,

“Mengapa di sini tercium bau darah?”

Jawab Jin Kai Jia,

“Aku baru saja memotong seekor ayam.”

Penduduk di daerah pegunungan semua memelihara ayam.

Hanya orang bodoh dari tempat yang jauh membawa telur

ayam ke tempat ini untuk dijual. Walau terkena racun apa

pun darah yang keluar dari mulut tidak akan berubah warna

menjadi hitam, lebih-lebih jika terkena racun dan langsung

roboh, dengan jelas masih bisa mengisyaratkan sesuatu.

Ini bukan karena rencana perkumpulan 15 bulan 7 kurang

sempurna, tapi karena orang yang berencana ini belum

pernah pergi ke pegunungan yang jauh dan sepi. Kedua

orang yang datang tadi baru pertama kali melakukan

pembunuhan dan yang mereka temui adalah lawan yang

sudah berpengalaman. Apalagi mereka belum pernah

mengalami kegagalan.

Di belakang kedua orang tadi masih ada 4 orang lagi.

Keempat orang itu terasa begiru menakutkan.

Nasi harus dimakan. Qiu Feng Wu malah makan lebih

banyak karena setelah makan, dia tidak tahu entah kapan bisa

makan untuk berikutnya. Dia juga berharap Gao Li bisa makan

banyak.

Tapi Gao Li terus melihat Shuang Shuang, matanya penuh

dengan rasa khawatir. Sepertinya banyak hal yang ingin dia

tanyakan kepada Qiu Feng Wu, tapi karena Shuang Shuang

berada di sana maka dia tidak bisa bertanya.

Di meja makan hanya Shuang Shuang saja yang merasa

gembira. Lebih mengetahui sedikit masalah, kekhawatiran pun

akan makin sedikit, kadang-kadang tidak tahu apa-apa

keadaannya malah lebih berbahaya.

Tiba-tiba Shuang Shuang bertanya, “Mengapa kalian tidak

minum?”

Terpaksa Qiu Feng Wu menjawab, “Hanya setan arak bisa

minum arak di siang hari.”

Tanya Shuang Shuang, “Apakah kalian bukan setan arak

sungguhan?”

Jawab Qiu Feng Wu, “Untungnya bukan.”

Dengan suara kecil Shuang Shuang bertanya, “Bagaimana

jika arak pernikahan?” Hati Qiu Feng Wu tiba-tiba seperti

ditusuk oleh jarum. Arak pernikahan? Mereka juga sedang

menunggu pernikahan Gao Li.

Qiu Feng Wu melihat Gao Li, tangan Gao Li gemetar dan

wajahnya menjadi pucat.

Tidak ada pernikahan. Apa pun tidak akan ada.

Hanya ada darah, mungkin darah orang lain mungkin darah

mereka sendiri. Darah yang mengalir tidak akan ada habishabisnya.

Jika tangan pernah menyentuh setitik darah, seumur hidup

kau akan bergelimang di dalam kubangan darah.

Qiu Feng Wu sedang minum kuah, dia merasa kuah itu

pahit dan berbau amis seperti darah.

Wajah Shuang Shuang sudah memerah, merah karena rasa

bahagia.

Dia berkata, “Tadi Gao Li sudah mengatakan sesuatu

kepadaku, dia bilang kalian sudah mengetahuinya.”

Qiu Feng Wu berkata dengan nada bingung,

“Kami sudah tahu?”

Muka Shuang Shuang memerah dan berkata,

“Aku kira kalian akan memberi selamat kepadaku.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Selamat, selamat!”

Dia merasa mulutnya penuh dengan air pahit, ingin ditelan

tidak bisa, ingin dibuang pun tidak bisa.

Dia tahu hati Gao Li terasa lebih pahit dari dia.

Kata Shuang Shuang,

“Ada hal yang bisa dilakukan untuk merayakan selamat,

mengapa kalian tidak minum?”

Kata Gao Li,

“Siapa bilang kami tidak minum arak, aku akan mengambil

arak sekarang.”

Kata Shuang Shuang,

“Hari ini aku juga ingin minum, aku tidak pernah merasa

begitu gembira.”

Kata Gao Li,

“Aku pun demikian.”

Meskipun dia berdiri, tapi badannya seperti membeku.

Mayat-mayat di pekarangan belum dikubur, terjemur oleh

matahari, semakin mengering dan semakin mengkerut.

Orang yang ingin membunuh mereka sudah berada di

sekitar sana, setiap saat bisa muncul.

Kehidupan Shuang Shuang yang tenang akan hancur

mungkin nyawanya pun akan hilang.

Tapi seumur hidupnya dia belum pernah merasa begitu

gembira. Gao Li merasa pipinya semakin dingin. Air mata

sudah mengalir, dengan pelan mengalir…

Qiu Feng Wu tidak tega melihat wajah Gao Li juga Shuang

Shuang.

Dia takut, jika dia melihat, dia juga akan ikut menangis. Jin

Kai Jia terus memasukkan nasi ke dalam mulutnya, sesuap

demi sesuap, tiba-tiba dia menaruh sumpit dan berkata,

“Aku pergi sebentar.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Kau mau ke mana?”

Sebenarnya dia tahu Jin Kai Jia keluar ingin menghalangi

pembunuh-pembunuh itu datang ke tempat ini.

Kata Jin Kai Jia,

“Aku pergi jalan-jalan.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kita pergi bersama-sama.”

Kata Shuang Shuang,

“Kalian mau pergi tapi arak saja belum sempat diminum.”

Dengan tertawa terpaksa Qiu Feng Wu menjawab,

“Setelah kami pulang nanti, arak baru akan diminum, kami

mencari rebung yang segar untuk dimasak dengan ayam.”

Gao Li tiba-tiba tertawa dan berkata,

“Kalian tidak perlu mencari, rebung sudah berada di

pekarangan.”

Suaranya sangat tenang, sangat tenang dan aneh. Tenang

dan menakutkan.

Begitu Qiu Feng Wu membalikkan kepala, hatinya sudah

tenggelam.

Ada 4 orang dengan pelan memasuki pekarangan.

0-0-0

Matahari yang cerah, banyak bunga-bunga mekar

bersamaan. Cuaca pun cerah. Orang yang pertama sudah

masuk dengan perlahan. Dia melihat sekelilingnya dan

berkata, “Tempat yang bagus.”

Wajah orang ini sangat panjang, seperti muka kuda. Di

wajahnya banyak daging-daging lebih yang menempel.

Matanya merah. Ada orang yang begitu dilahirkan sudah

berwajah galak, dia adalah orang seperti ini.

Pelan-pelan dia duduk dan mengeluarkan pisau yang

panjang. Pisau itu digunakan untuk memotong kukunya.

Gao Li mengenalnya, orang itu bemama Mao Zhan.

Dalam perkumpulan 15/7 yang paling banyak membunuh

orang adalah dia. Tiap kali saat dia membunuh orang

kelakuannya seperti orang gila, begitu melihat darah, dia akan

menjadi orang gila.

Kalau kali itu tidak ada tugas keluar, gerakan membunuh

Bai Li Chang Qing dia pasti akan ikut serta.

Orang kedua pun dengan pelan-pelan masuk, dia juga

melihat sekeliling rumah dan berkata, “Tempat yang bagus,

kalau bisa mati di sini, itu juga lumayan.” Orang itu berwajah

pucat. Wajahnya tidak ada daging. Hidung seperti hidung

elang, mata pun seperti burung pemakan bangkai.

Tangannya membawa pedang, cahaya pedang seperti

wajahnya, mengeluarkan cahaya kehijauan.

Kelihatannya dia tidak segalak Mao Zhan, tapi kadangkadang

orang berwajah seram lebih menakutkan daripada

orang yang berwajah galak.

Di pekarangan ada sebuah pohon. Begitu masuk, dia sudah

berbaring di bawah pohon karena dia paling benci dengan

sinar matahari.

Gao Li Tidak mengenalnya, tapi kenal dengan pedangnya

Yin Hun Jian, Ma Feng.

(Yin Hun Jian = pedang arwah). Perkumpulan 15 bulan 7

membeli orang itu dengan harga tinggi.

Dia tidak mudah membunuh orang, boleh dikatakan jarang

tapi orang yang ingin dia bunuh, pasti akan masuk peti mati.

Jika dia membunuh orang, tidak pernah ingin ada orang

lain di sisinya karena dia sendiri juga merasa cara yang dia

pakai untuk membunuh orang terlalu kejam. “Jika kau ingin

membunuh seseorang, kau harus membuatnya menjadi setan,

dia tidak akan berani membalas dendam kepadamu.”

Orang ketiga perawakannya tinggi dan besar, dia tidak

lincah tapi langkah kakinya ringan seperti seekor kucing. Gao

Li kenal dengannya, orang ini kembali lagi ke perkumpulan.

Dia bernama Ding Gan.

Dengan pelan dia masuk dan melihat sekeliling lalu berkata,

“Benar-benar tempat yang bagus, bisa di tempat ini

menunggu kematian, nasibnya sungguh mujur.”

Dia juga duduk dan mengerik jenggotnya dengan pisau

melengkung miliknya. Dia adalah teman baik Mao Zhan,

gerak gerik dia secara sengaja atau bahkan tidak sengaja

meniru Mao Zhan. Jika dihitung temannya, hanya Mao Zhan

lah teman satu-satunya. Orang keempat kelihatannya sangat

ramah dan terpelajar. Wajahnya putih dan bersih, janggut pun

dicukur dengan rapi.

Dia masuk dengan pelan, wajahnya tersenyum, matanya

juga ikut tersenyum. Dia tidak bicara, dia juga tidak membawa

senjata.

Kelihatannya dia seperti pelajar yang datang untuk

mengunjungi teman. Tapi begitu Gao Li dan Qiu Feng Wu

melihat orang itu, mereka merasakan adanya hawa dingin naik

dari bawah kaki. Mereka merasa dia lebih menakutkan

dibanding Mao Zhan, Ding Gan, dan Ma Feng.

Mereka kenal dengan orang itu, dia adalah pemimpin

perkumpulan 15/7, orang memanggilnya dengan sebutan You

Ming Cai Zi, Xi Men Yu. (You Ming Cai Zi = orang berbakat dari

dunia lain).

Gao Li sudah 3 tahun ikut dengan perkumpulan ini tapi

belum melihat Xi Men Yu turun tangan sendiri.

Katanya dia membunuh orang sangat pelan. Dia pernah

membunuh satu orang hingga 2 hari lamanya. Katanya orang

yang dibunuhnya walau sudah mati, tidak ada yang

menyangka bahwa itu adalah wujud orang.

Ini hanya kata-kata dari orang-orang. Orang yang tidak

percaya tidak banyak karena dia terlihat terlalu terpelajar,

lembut dan sopan. Orang yang terpelajar seperti dia apakah

bisa membunuh orang? Sekarang dia dengan senyum berdiri

di pekarangan menunggu, tidak tergesa-gesa juga tidak

marah sepertinya disuruh menunggu 3 hari pun tidak apa-apa.

Tapi Gao Li dan Qiu Feng Wu tahu sekarang adalah waktunya

mereka keluar. Mereka saling pandang.

Qiu Feng Wu menurunkan pedang dari dinding.

Gao Li dari sudut dinding mengambil tombaknya.

Tiba-tiba Shuang Shuan berkata,

“Di luar ada orang yang datang, apakah teman yang kau

undang?”

Jawab Gao Li, “Mereka bukan teman.”

Tanya Shuang Shuang, “Bukan teman, lalu mereka itu

siapa?”

Jawab Gao Li, “Mereka adalah perampok.”

Wajah Shuang Shuang langsung berubah, dia seperti mau

pingsan. Gao Li merasa hatinya sakit, dengan lembut dia

berkata, “Aku akan menyuruh si Gajah menemanimu ke kamar

dan beristirahat, sedang aku segera mengusir perampokperampok

itu.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kalian dapat dengan cepat mengusir mereka?”

Jawab Gao Li, “Ya.”

Dia berusaha menahan supaya air mata tidak keluar,

mungkin ini adalah terakhir kalinya dia membohongi Shuang

Shuang.

0-0-0

Mao Zhan masih memotong kuku, Ding Gan sedang

mengerik janggut dengan pisau lengkungnya. Ma Feng masih

berbaring di bawah pohon. Di mata mereka Gao Li dan Xiao

Wu hanya dua orang yang sudah mati. Xi Men Yu menyambut

Gao Li dan Qiu Feng Wu lalu berkata,

“Dua hari ini kalian tentu sudah merasa lelah.”

Qiu Feng Wu masih bisa tertawa dan menjawab,

“Ya, lumayan juga.”

Tanya Xi Men Yu,

“Apakah kemarin malam kalian dapat tidur nyenyak?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Kami tidur dengan nyenyak dan makan kenyang.”

Xi Men Yu tertawa dan berkata,

“Bisa tidur dan bisa makan itu sangat beruntung. Waktu itu

aku sudah memberi uang kepada kalian, apakah sudah

habis?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Masih ada sedikit.”

Kata Xi Men Yu tertawa,

“Pasti masih ada, karena Bai Li Chang Qing sangat

dermawan.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Benar, dia memberi kami 50.000 tail, tidak disangka

menolong orang lebih tinggi harganya daripada membunuh

orang.”

Xi Men Yu mengangguk dan berkata,

“Terima kasih, kau sudah memperingatiku. Kelak aku harus

mengubah profesi.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Sekarang bagaimana?”

Jawab Xi Men Yu,

“Sekarang aku harus dengan gratis membunuh beberapa

orang.”

Qiu Feng Wu dengan nafas panjang berkata,

“Sebenarnya aku juga harus dengan gratis membunuh satu

orang tapi sayang kulit orang itu terlalu tebal, aku akan lelah

membunuhnya.”

Kata Xi Men Yu,

“Apakah yang kau maksud itu Ding Gan?”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku merasa kulitnya begitu tebal, entah bagaimana

janggutnya bisa tumbuh?”

Jawab Xi Men Yu,

“Dia benar-benar bermuka tebal dan tidak tahu malu,

membunuh dua orang temannya sendiri, coba kau tebak

bagaimana caraku harus menghadapi dia?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Aku tidak bisa menebak.”

Kata Xi Men Yu,

“Aku memberinya 500 tail perak. Karena dia masih hidup

dan bisa memberitahu kepadaku mengenai keberadaan

kalian.”

Dia tertawa lagi dan berkata, .

“Kau lihat, apakah aku sangat adil?”

Kata Qiu Feng Wu,

“Benar, kau sangat adil.”

Xi Men Yu tiba-tiba menarik nafas dan berkata,

“Aku tahu kau menemaniku mengobrol, sebenarnya kau

menunggu kesempatan untuk membunuhku. Sebenarnya aku

menganggap kau adalah orang yang paling mengerti

bagaimana cara membunuh orang karena itu aku merasa

sangat sayang dengan keadaan ini.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Kau masih tahu mengenai apa?”

Jawab Xi Men Yu,

“Aku tahu kalian pasti menungguku di sini.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Mengapa?”

Jawab Xi Men Yu,

“Membawa seorang perempuan sambil berjalan itu yang

sangat mengganggu, dan perempuan ini tidak bisa

ditinggalkan begitu saja.”

Tiba-tiba dia tertawa kepada Gao Li,

“Apakah benar?”

Dengan dingin Gao Li berkata,

“Benar.”

Kata Xi Men Yu dengan tersenyum,

“Aku sudah lama tahu bahwa istrimu secantik dewi,

mengapa tidak mempersilakan dia keluar?”

Jawab Gao Li,

“Dia hanya mau bertemu dengan orang, tidak ingin

bertemu dengan…”

Tubuhnya membeku, suara pun menjadi serak.

Karena dia sudah mendengar suara langkah Shuang

Shuang. Shuang Shuang yang dengan susah payah berusaha

keluar dari rumah.

Mata setiap orang tiba-tiba menjadi membesar seperti

melihat ada orang yang mempunyai tiga kaki.

Mao Zhan tertawa terbahak-bahak,

“Kalian lihat dia adalah istri Gao Li.”

Ding Gan tertawa dan berkata,

“Apakah dia adalah manusia? Dia adalah siluman, siluman

sungguhan!”

Kata Mao Zhan,

“Kalau harus menikah dengan siluman ini, lebih baik aku

menjadi biksu.” Wajah Gao Li mulai berubah, dia tidak berani

membalikkan badan melihat Shuang Shuang. Tiba-tiba Gao Li

seperti seekor binatang yang terluka berlari keluar. Dia lebih

memilih mati daripada melihat Shuang Shuang terluka hatinya.

Di mata si ahli tombak, jika dua buah tombak dipakai secara

bersama-sama, itu bukan termasuk jurus dalam ilmu tombak.

Ilmu silat sama seperti hal-hal yang ada di dunia ini,

semakin banyak yang dipakai belum tentu itu adalah hal yang

terbaik.

Seseorang jika mempunyai 7 jari dalam satu tangan, belum

tentu dia lebih mahir menotok daripada orang yang mmemiliki

5 jari.

Karena orang yang mahir menotok hanya dengan

menggunakan satu jari saja sudah bisa melakukannya, orang

yang menggunakan 2 buah pedang atau 2 buah pisau,

mungkin mereka memiliki alasan khusus.

Kata mereka,

“Orang memiliki dua buah tangan, mengapa hanya

menggunakan sebuah senjata?” Apa pun alasannya, sekarang

ini tidak ada yang menganggap bahwa Gao Li sudah membuat

kesalahan.

Dua buah tombak Gao Li laksana tanduk naga beracun juga

seperti sayap seekor elang terbang.

Dia berlari melewati Xi Men Yu dan tombak sudah keluar,

artinya adalah pertarungan sudah dimulai.

Tapi Qiu Feng Wu tidak bergerak karena Xi Men Yu sendiri

belum bergerak, dia juga tidak memandang ke arah Gao Li.

Matanya terus melihat tangan Qiu Feng Wu, tangan Qiu

Feng Wu yang memegang pedang. Qiu Feng Wu sudah

merasa tangannya terus menerus mengeluarkan keringat

dingin.

Xi Men Yu tiba-tiba tertawa dan berkata,

“Kalau aku menjadi dirimu, sekarang aku akan meletakkan

pedang itu.”

Tanggap Qiu Feng Wu,

“Oh!”

Kata Xi Men Yu,

“Jika kau meletakkan pedang itu, mungkin kau masih bisa

hidup lebih lama.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Ada kemungkinan berapa persen aku masih bisa hidup?”

Jawab Xi Men Yu,

“Tidak banyak, tapi itu lebih baik dibanding tidak ada

kesempatan sama sekali.”

Kata Xi Men Yu,

“Ilmu tombak Gao Li benar-benar bagus, di antara semua

orang yang memakai tombak, dia termasuk yang terbaik.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Perkataanmu sangat adil.”

Kata Xi Men Yu,

“Aku pernah melihat caranya menggunakan tombak juga

pernah melihat dia membunuh orang. Di dunia ini tidak ada

orang yang lebih mengenalnya daripada diriku.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku tahu kau sangat memperhatikan dia.”

Kata Xi Men Yu,

“Aku juga sangat mengenal Mao Zhan dan Ding Gan.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau menganggap mereka bisa menghadapi Gao Li.”

Kata Xi Men Yu,

“Paling sedikit, kemampuan mereka hampir sama.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Bagaimana dengan diriku?”

Jawab Xi Men Yu,

“Aku juga sangat mengerti dirimu.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau dan Ma Feng bisa menghadapiku.”

Kata Xi Men Yu,

“Bukan hanya bisa, tapi lebih dari itu.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Karena kau sudah memperhitungkan semuanya dengan

matang, baru berani datang kemari.”

Kata Xi Men Yu,

“Kita harus mengetahui keadaan musuh dahulu dan

kemampuan sendiri, dan yakin akan 100% menang. Sekarang

jika hanya 90% menang, aku tidak akan datang kemari.” Qiu

Feng Wu tiba-tiba mengeluarkan nafas panjang seperti

seseorang yang hampir mati tenggelam di dasar laut, tiba-tiba

menemukan daratan. Xi Men Yu yang teliti, dia tidak

memasukkan Jin Kai Jia dalam perhitungannya, dia tetap salah

perhitungan.

Mimpi pun dia tidak menyangka bahwa orang nomor satu

di persilatan sepuluh tahun yang lalu, Jin Kai Jia berada di sini.

Kesalahan besar atau kecil mungkin ini adalah kesalahan

yang bisa berakibat fatal.

Tapi ini adalah suatu kesalahan besar.

Qiu Feng Wu dengan pelan mengangguk dan berkata,

“Benar, perhitunganmu sangat tepat, kalian berempat

cukup untuk menghadapi kami berdua.”

Mereka tidak melihat Jin Kai Jia, tapi Qiu Feng Wu tahu

pada saat yang tepat Jin Kai Jia pasti akan muncul.

Dia hampir tertawa memikirkan semua ini.

Dua buah tombak memancarkan cahaya perak berkilauan

menyinari wajahnya, dia belum pernah merasa begitu santai.

Xi Men Yu memandang wajahnya, tiba-tiba tertawa dan

berkata, “Aku tahu di sini masih ada satu orang lagi.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Kau tahu?”

Xi Men Yu menjawab,

“Karena itu, yang datang kemari bukan hanya kami

berempat saja.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku tidak melihatnya, tapi aku sudah sempat

memikirkannya.” Senjata saling beradu, mengeluarkan suara

yang mendenging, ayunan pedang yang kencang

menghasilkan angin besar membuat rambutnya berantakan.

Tapi wajahnya tetap tidak bergerak. Qiu Feng Wu benar-benar

kagum, dia tidak pernah melihat ada orang yang begitu

tenang.

Qiu Feng Wu juga tertawa dan berkata,

“Mana yang lain? Apakah mereka sudah bersiap-siap di

belakang untuk membakar rumah?”

Jawab Xi Men Yu,

“Benar.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Menghalangi jalan mundurku, kemudian berputar ke

depan bersamaan dengan kalian menyerang kami.”

Kata Xi Men Yu,

“Kau sangat mengerti diriku.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku belajar dengan cepat.”

Kata Xi Men Yu,

“Sebenarnya kau bisa menjadi asistenku.”

Tiba-tiba pandangan dia bergeser kepada Shuang Shuang.

Shuang Shuang berdiri di ambang pintu, berdiri di bawah

sinar matahari. Tangannya yang kecil berpegangan ke pintu,

seperti yang setiap saat dia bisa roboh.

Tapi dia tidak jatuh. Tubuhnya membeku. Ekspresi yang

terpancar dari wajahnya membuat yang kita tidak tahu apa

yang dia inginkan.

Biarpun dia tidak roboh, tapi hatinya sudah hancur. Qiu

Feng Wu tidak tega melihat Shuang Shuang seperti itu, tibatiba

dia tertawa dan bertanya, “Mengapa kalian tidak mulai

membakar?”

Jawab Xi Men Yu,

“Belum saatnya.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Harus menunggu apa lagi?”

Jawab Xi Men Yu, “Tidak perlu tergesa-gesa.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku takut mereka tidak akan bisa membakar rumah.”

Jawab Xi Men Yu,

“Siapa pun akan bisa melakukannya.”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Hanya ada semacam orang tidak akan bisa

melakukannya.”

Jawab Xi Men Yu,

“Orang yang sudah mati.”

Qiu Feng Wu tertawa. Pada saat itu juga Xi Men Yu sudah

lari dari sisi Qiu Feng Wu, dan berlari menuju ke tempat

Shuang Shuang.

Ma Feng yang berada di bawah pohon juga ikut meloncat

siap menusuk leher Qiu Feng Wu.

Tapi pada saat itu dari arah belakang ada 2 sosok

bayangan orang yang meluncur.

Itu adalah dua sosok mayat.

Xi Men Yu tidak melirik kepada kedua orang ini, karena dia

sudah tahu ini bahwa itu adalah mayat, dia mulai sadar bahwa

dia sudah salah memperhitungkan keadaan di sana.

Sekarang sasarannya adalah Shuang Shuang. Dia sudah

melihat perasaan Gao Li terhadap Shuang Shuang. Asal bisa

menyandera Shuang Shuang pertarungan ini meskipun tidak

akan dia menangkan, tapi setidaknya dia bisa mundur dengan

selamat.

Shuang Shuang tidak bergerak juga tidak menghindar. Tapi

di belakangnya telah muncul seseorang. Seorang raksasa yang

wujudnya seperti dewa langit. Jin Kai Jia hanya berdiri di

pintu seperti tidak ada persiapan untuk bertarung.

Tapi semua orang bisa melihat bahwa untuk

mengalahkannya bukan hal yang mudah. Wajahnya tidak ada

ekspresi, mata yang berwarna abu tua dengan dingin

memandang Xi Men Yu.

Dia tidak mengeluarkan gerakan untuk mencegah serangan

Xi Men Yu, tapi Xi Men Yu yang malah berhenti mendadak. Dia

seperti menabrak sebuah dinding yang tidak terlihat.

Ekspresi pak tua yang hanya mempunyai sebelah tangan,

walaupun terlihat tidak siap bertarung tapi tubuhnya dipenuhi

dengan hawa membunuh. Sudut mata Xi Men Yu sepertinya

sudah mulai membeku. Dia memandang pak tua itu lalu

bertanya, “Siapakah nama Tuan?”

Jawab Jin Kai Jia, “Margaku Jin.”

Tanya Xi Men Yu, “Apakah jin yang artinya emas?”

Tiba-tiba dia melihat kapak pak tua itu, segera tubuhnya

mematung, membeku.

“Da Lei Shen!”

Tanya Jin Kai Jia,

“Kau tidak menyangkanya bukan?”

Xi Men Yu menarik nafas dan berkata,

“Perhitunganku salah, seharusnya aku tidak kemari.”

Kata Jin Kai Jia,

“Tapi kau sudah kemari.”

Tanya Xi Men Yu,

“Apakah aku boleh pergi?”

Kata Jin Kai Jia,

“Tidak!”

-

Kata Xi Men Yu,

“Aku bisa meninggalkan sebelah tanganku.”

Kata Jin Kai Jia,

“Satu tangan saja tidak cukup.”

Tanya Xi Men Yu,

“Kau masih mau apa lagi?”

Jawab Jin Kai Jia,

“Aku ingin nyawamu.”

Tanya Xi Men Yu,

“Apakah tidak bisa ditawar lagi?”

Jawab Jin Kai Jia,

“Tidak!”

Xi Men Yu menarik nafas dan berkata,

“Baiklah!”

Tiba-tiba dia menyerang, sasarannya tetap Shuang Shuang.

Melindungi orang lain, lebih sulit daripada melindungi diri

sendiri, mungkin Shuang Shuang merupakan kelemahan Jin

Kai Jia.

Jin Kai Jia tidak melindungi Shuang Shuang. Tapi dia tahu

cara terbaik untuk bertahan adalah dengan menyerang.

Tangannya diayun, kapak besi sudah siap untuk membelah.

Caranya sederhana, mudah, tidak ada perubahan, ayunan

kapak ini tidak perlu dilakukan untuk kedua kalinya.

Mengayun kapak untuk membelah, ini adalah cara yang

paling mudah dalam ilmu silat.

Tapi jurus Jin Kai Jia sudah melalui ribuan kali perubahan,

dan terus berubah. Ayunan ini sudah hampir sempuma. Tidak

ada orang yang bisa melukiskan betapa dasyatnya tenaga ini,

juga tidak ada yang bisa mengerti. Xi Men Yu sendiri pun

demikian.

Begitu dia melihat kapak mulai membelah, dia merasa

kapak yang dingin itu sudah menancap ke dalam tubuhnya,

dia juga mendengar suara tulang sendinya yang patah. Dia

tidak percaya ini benar-benar terjadi. Mati, mengapa ada hal

seperti itu?

Tidak ada rasa sakit, tidak ada rasa takut.

Dia belum benar-benar memikirkan kematian tapi kematian

sudah datang menjemputnya.

Kemudian yang ada hanyalah kegelapan.

Shuang Shuang tidak bergerak, tapi air mata sudah

mengalir pelan-pelan menetes ke wajahnya.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan lagi.

Qiu Feng Wu merasa bahwa Ma Feng adalah musuh yang

menakutkan, tapi saat itu Ma Feng sudah membuat kesalahan.

Dia mengayun pedang terlalu tinggi, dan posisi perutnya

tidak terlindung. Qiu Feng Wu tidak ragu lagi, langsung

menusuk perutnya.

Ma Feng seperti seekor ikan yang sudah terpancing. Begitu

dia terjatuh, darah baru mengalir. Dia mati begitu cepat.

Mao Zhan seperti orang gila karena dia sudah mencium bau

darah. Darah membuatnya seperti seekor binatang yang

kelaparan.

Kegilaannya ini sudah mendekatkan dia pada kematian, dia

tidak melihat orang lain, dia hanya melihat tombak Gao Li

yang berayun-ayun. Ding Gan sudah mundur selangkah demi

selangkah. Tiba-tiba dia membalikkan badan dan terpaku.

Qiu Feng Wu dengan dingin menunggu dia. Qiu Feng Wu

berkata, “Kau ingin kabur lagi?”

Ding Gan menjawab,

“Sudah kukatakan, aku ingin terus bertahan hidup.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau juga mengatakan, demi bertahan hidup apa pun akan

kau lakukan.”

Jawab Ding Gan,

“Benar.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Sekarang demi diriku, lakukanlah satu hal.”

Mata Ding Gan mengeluarkan sorot sedikit harapan. Segera

dia bertanya, “Hal apa?”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Apakah Mao Zhan adalah teman baikmu?”

Jawab Ding Gan,

“Aku tidak mempunyai teman.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Baiklah, jika kau membunuh dia, aku tidak akan

membunuhmu.” Ding Gan tidak berbicara. Tangannya sudah

mengayun. Tiga pisau melengkung sudah terbang seperti

petir. Tiga pisau menancap ke dada kiri Mao Zhan. Mao Zhan

membalikkan badan untuk melihat. Dia sudah tidak melihat

Gao Li juga tombaknya yang berwarna perak. Tombak sudah

berhenti diayunkan. Dia melihat Ding Gan dan selangkah

demi selangkah berjalan ke depan. Tapi darah terus mengalir

dari dadanya.

Wajah Ding Gan sudah pucat dan selangkah demi

selangkah mundur. Dia berkata, “Jangan salahkan aku, jika

aku menemanimu mati, juga tidak akan ada gunannya.” Mao

Zhan menggigit bibirnya menahan marah, darah pun keluar

dari mulutnya. Tiba-tiba Ding Gan tertawa dingin dan berkata,

“Jangan kira aku takut kepadamu, sekarang jika aku mau

membunuhmu, itu sangat mudah.” Dia mulai mengayunkan

tangannya. Tiba-tiba wajahnya berubah drastis karena dia

sudah merasa bahwa tangannya sudah dipegang.

Mao Zhan masih berjalan maju selangkah demi selangkah.

Tapi Ding Gan tidak bisa bergerak juga tidak bisa mundur.

Tangan Qiu Feng Wu seperti tang dengan kencang menjepit

tangannya. Muka Ding Gan sudah pucat dan berkata,

“Lepaskan aku, kau sudah janji akan melepaskanku.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku tidak akan membunuhmu.”

Kata Ding Gan,

“Tapi dia…”

Kata Qiu Feng Wu,

“Bila dia mau membunuhmu, tidak ada hubungannya

denganku.” Tiba-tiba Ding Gan berteriak, suaranya seperti

binatang yang masuk ke dalam perangkap. Kemudian

nafasnya juga berhenti.

Mao Zhan sudah berada di hadapannya, dengan pelan dia

mencabut pisau melengkung yang berada di tubuhnya,

kemudian menancapkan ke dada Ding Gan. Dengan tiga buah

pisau melengkung ditancapkan ke dada Ding Gan, dia masih

berteriak kemudian roboh. Mao Zhan melihat dia roboh tibatiba

membalikkan badan, di depan Qiu Feng Wu dia memberi

hormat.

Kemudian dia tidak berkata apa-apa lagi. Dia memotong

lehernya dengan pisaunya sendiri.

Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara.

Darah sudah menyatu dengan tanah. Mayat mulai

mengering.

Akhirnya Shuang Shuang juga roboh.

Qiu Feng Wu melihat dia seperti melihat sekuntum bunga

yang semakin lama semakin layu…

0-0-0

Matahari sudah bersinar terang.

Jin Kai Jia mengayunkan kapak besinya dengan tenaga

besar untuk membelah kayu, sepertinya semua kemarahan

ingin dia lampiaskan ke bumi ini. Bumi tidak bersuara, dia

bisa melahirkan nyawa, dia juga bisa menerima kematian.

Kuburan sudah digali.

Jin Kai Jia mengangkat mayat Xi Men Yu dan

melemparkannya ke dalam.

Kegembiraan dan harapan orang-orang apakah dengan

mudah dikubur? Dia tidak bisa membayangkan, jika

seseorang sudah tidak mempunyai harapan, apakah masih

bisa bertahan hidup?

Dia masih hidup, dia tidak merasa gembira tapi dia masih

mempunyai harapan.

Dia tidak pernah menangis, padahal juga tidak ingin

menangis. Tapi begitu memikirkan wajah Shuang Shuang

yang selalu riang dan percaya diri, hatihya seperti ditusuk oieh

jarum.

Sekarang dia berharap 2 pemuda itu bisa mengbibur

Shuang Shuang supaya Shuang Shuang bisa bertahan hidup.

Dia merasa dirinya sudah tua.

Menghibur perempuan adalah tugas anak muda. Orang tua

hanya cocok menggali kuburan untuk orang mati. Dia berjalan

ke arah sana mengangkat mayat Ma Feng, badan Ma Feng

masih hidup, ternyata Ma Feng tidak mati. Karena perut

bukan bagian vital dari orang, biarpun dia ditusuk oleh Qiu

Feng Wu. tapi begitu Jin Kai Jia mengangkat dia, pedang dia

sudah ditusukkan ke pinggang Jin Kai Jia, yang tersisa hanya

pegangan pedang.

0-0-0

Pedang masih menancap di tubuh Jin Kai Jia. Ma Feng

sudah kabur. Dia mengambil kesempatan yang terbaik untuk

kabur, karena dia tahu bahwa Gao Li dan Qiu Feng Wu pasti

sedang berusaha menolong orang, kemudian baru mengejar

dia. Karena itu dia tidak membuat Jin Kai Jia langsung mati.

Begitu Gao Li dan Qiu Feng Wu keluar, Jin Kai Jia sudah

roboh.

Dia terbaring di bawah dengan terengah-engah bertanya,

“Bagaimana dengan keadaan Shuang Shuang?”

Yang dia perhatikan tetap orang lain.

Gao Li menahan kesedihan dan menjawab,

“Dia terlalu lemah, sampai sekarang masih belum sadarkan

diri.”

Kata Jin Kai Jia,

“Kau harus membiarkannya tidur, begitu dia terbangun

beritahu kepadanya bahwa aku sudah pergi.”

Dia terbatuk dan berkata lagi,

“Kau jangan beritahu dia bahwa aku mati, jangan…”

Kata Gao Li,

“Kau belum mati, kau pasti tidak akan mati.”

Kata Jin Kai Jia,

“Mati adalah hal biasa, jangan terlalu dipermasalahkan.

Kalian jangan begitu, aku sedih melihatnya.”

Qiu Feng Wu terpaksa tertawa, dia ingin mengucapkan

kata-kata yang yang membuat hati orang-orang tidak menjadi

sedih tapi dia tidak bisa berkata apa pun.

Kata Jin Kai Jia,

“Tempat ini sudah tidak bisa kalian tinggali, semakin cepat

pergi semakin baik.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Baiklah.”

Kata Jin Kai Jia,

“Gao Li, kau harus membawa Shuang Shuang pergi.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tenanglah, dia tidak akan pernah meninggalkan Shuang

Shuang.”

Kata Jin Kai Jia,

“Kau juga harus berjanji satu hal kepadaku.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Hal apa?”

Jawab Jin Kai Jia,

“Pulang. Aku ingin kau pulang kembali ke rumahmu.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Mengapa aku harus pulang?”

Kata Jin Kai Jia,

“Jika kau pulang, mereka tidak akan mencarimu, tidak ada

yang tahu bahwa kau adalah Tuan Muda Wisma Kong Que.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tapi…”

Kata Jin Kai Jia,

“Mereka tidak akan bisa menemukan dirimu, tapi bisa

menemukan Gao Li. Demi Gao Li kau harus pulang ke

rumahmu.”

Qiu Feng Wu terdiam dan berkata,

“Aku bisa membawa mereka pulang ke rumahku.”

Kata Jin Kai Jia,

“Tidak boleh.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Mengapa?”

Kata Jin Kai Jia,

“Wisma Kong Que banyak orang juga banyak mulut.

Melihat kau membawa dua orang pulang, kabar pasti akan

cepat menyebar.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku tidak percaya mereka berani datang ke Wisma Kong

Que.”

Kata Jin Kai Jia,

“Aku tahu kau tidak akan merasa terbebani oleh mereka,

tapi aku tahu bagaimana sifat Gao Li.”

Jin Kai Jia terbatuk lagi,

“Seorang Gao Li, dia paling tidak mau menyusahkan teman.

jika kau adalah temannya, kau harus membiarkan dia

membawa Shuang Shuang pergi dengan tenang untuk

melewati masa-masa tuanya.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tapi dia…―

Kata Jin Kai Jia,

“Kalau dia pergi ke Wisma Kong Que, kalian pasti akan

menyesal.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Mengapa?”

Kata Jin Kai Jia,

“Kau jangan terus bertanya mengapa, tapi kau harus

percaya kepadaku…” Dia berusaha benafas tapi sudah sulit

baginya. Setelah lama dia berkata, “Bila kau tidak setuju, aku

pun tidak bisa mati dengan tenang.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Baiklah, aku setuju, asalkan bisa hidup, kita bersama-sama

menghadapi Qing Long Bang. Jika Qing Long Bang sudah

bubar, kita baru bisa hidup tenang.”

Kata Jin Kai Jia,

“Kalian pasti bisa hidup tenang tanpa diriku.”

Jin Kai Jia tertawa dan berkata,

“Kau harus ingat, menggulingkan Qing Long Bang tidak

bisa mengandalkan satu orang, Walaupun dia adalah pemilik

Wisma Kong Que.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau…―

Kata Jin Kai Jia,

“Jika ingin menggulingkan Qing Long Bang, harus ingat

dengan pepatah : bergotong royong dan bersatu hati.”

Bergotong royong dan bersatu hati, ini adalah kata

penggalan dari dunia persilatan.

Dia sendiri sekian lama berkelana di dunia persilatan tanpa

teman tapi begitu dia akan meninggal, dia berpesan seperti

itu.

Karena dia baru saja mengerti bahwa di dunia ini tidak ada

tenaga yang bisa menandingi bila saling gotong royong

bersatu hati.

Kata-kata yang ingin dia ungkapkan sudah selesai, dia

merasa bahwa dia mati dengan berharga.

Hidup bisa berharga begitu juga dengan kematian.

0-0-0

Sore.

Matahari sudah terbenam, cahaya yang bersinar lembut

melalui jendela masuk ke dalam ruangan.

Di dalam rumah masih ada orang, ada tiga orang.

Gao Li dan Qiu Feng Wu berdiri di pinggir tempat tidur

memandangi Shuang Shuang yang masih tertidur nyenyak.

Biarpun tikus mondar mandir di bawah kaki mereka tapi

mereka tidak begerak juga tidak duduk.

Mereka seperti sedang menghukum diri mereka sendiri.

Semua tragedy ini dimulai dari mereka berdua. Sewaktu tanah

menutupi tubuh Jin Kai Jia, mereka tidak meneteskan air mata

karena mereka ingat dengan kata-kata Jin Kai Jia : ‘kematian

bukan hal yang menakutkan, karena ada orang yang sudah

mati tapi semangatnya masih tetap hidup’.

Hidup di hati orang-orang. Karena itu kematian tidak perlu

ditangisi. Orang yang masih hidup yang akan bersedih.

Sekarang mereka melihat Shuang Shuang, air mata terus

menetes. Shuang Shuang sudah mulai sadar. Begitu dia

terbangun, dia sudah memanggil-manggil nama Gao Li.

Segera Gao Li memegang tangannya, dengan lembut dia

berkata,

“Aku di sini, sejak tadi aku di sini.”

Kata Shuang Shuang,

“Aku tahu, kau pasti tidak akan meninggalkanku dan pergi

seorang diri.”

Kata Gao Li,

“Aku harus memberitahu sesuatu kepadamu satu.”

Kata Shuang Shuang,

“Aku sudah tahu.”

Wajahnya tertawa lagi seperti bunga dan berkata,

“Aku tahu kau akan memberitahu sesuatu kepadaku, aku

adalah si Cantik di dunia ini, orang yang tadi sengaja

mengada-ada.”

Kata Gao Li,

“Mereka bukan manusia, kata-kata mereka juga bukan

kata-kata manusia.”

Kata Shuang Shuang,

“Aku sudah mengerti.”

Dia mengangkat tangannya dan mengusap muka Gao Li

dengan ringan. Wajah Shuang Shuang penuh dengan

kelembutan dan kasih sayang kepada Gao Li. Dia berkata,

“Aku tahu kau takut aku merasa sedih. Sebenarnya aku sudah

tahu aku adalah orang yang berwujud apa, tidak perlu mereka

yang memberitahu kepadaku.”

Kata Gao Li,

“Tapi kata-kata mereka tidak ada yang benar satu pun.”

Dengan lembut Shuang Shuang berkata,

“Kau mengira aku adalah anak kecil dan tidak tahu katakata

yang mana benar dan yang mana palsu?”

Hati Gao Li mulai dingin dan semakin dingin.

Kata Shuang Shuang,

“Kau juga tidak perlu takut aku bersedih dan demi diriku

kau pun merasa sedih, karena beberapa tahun yang lalu aku

sudah tahu bahwa aku itu jelek. Aku adalah si jelek, si aneh

juga si buta.”

Suara Shuang Shuang masih sangat tenang, wajahnya

tidak terlihat sedih atau merasa rendah diri.

Shuang Shuang berkata lagi,

“Mula-mula aku juga sedih dan sakit hati, terakhir aku

sudah mengerti setiap orang mempunyai nasibnya sendiri,

setiap orang harus menerima nasibnya dengan terbuka dan

terus bertahan hidup.”

Dia mengusap wajah Gao Li dan berkata lembut,

“Walaupun aku lebih jelek dari orang lain, tapi aku tidak

menyalahkan Tuhan, karena aku lebih beruntung daripada

sebagian orang, aku mempunyai orangtua yang baik dan juga

dirimu.”

Tenggorokan Qiu Feng Wu tercekat. Sekarang dia

memandang Shuang Shuang bukan dengan sorot kasihan

melainkan rasa hormat dan kagum. Dia tidak menyangka di

dalam tubuh yang kecil dan cacat, ada hati yang begitu kuat

dan tegar.

Kata Gao Li,

“Kau sudah tahu, mengapa tidak memberitahuku?”

Jawab. Shuang Shuang,

“Semua demi dirimu.”

Tanya Gao Li,

“Demi aku?”

Jawab Shuang Shuang,

“Aku tahu kau sangat baik kepadaku, aku berharap dari

diriku kau dapat keceriaan bila aku berkata seperti itu kau

akan merasa sakit hati dan sedih. Kau sangat baik kepadaku,

aku tidak akan membiarkan kau merasa sakit hati.” Gao Li

melihatnya. Air mata terus menetes. Tiba-tiba dia sadar, di

antara mereka dialah yang paling lemah dan egois.

Dia mengurus Shuang Shuang dan melindungi dia mungkin

hanya demi kesenangannya sendiri dan juga ketenangannya

sendiri dan juga untuk menebus dosa. Dia berharap di dalam

tawa Shuang Shuang dia bisa membersihkan bau darah dari

tangannya.

Dia selalu lari, lari dari orang lain, lari dari diri sendiri, lari

dari kejaran dosa.

Hanya di pelukan Shuang Shuang, Gao Li baru dapat

istirahat.

Dengan lembut Shuang Shuang berkata,

“Karena itu aku berharap kau jangan sedih karena diriku,

karena aku tidak pernah merasa sedih karena keadaanku yang

seperti ini. Jika kita berdua bisa senang, wujudku seperti apa

juga tidak menjadi masalah.”

Kata-kata ini seharusnya diucapkan oleh Gao Li, tapi

sekarang malah keluar dari mulut Shuang Shuang. Gao Li baru

merasa selama beberapa tahun ini, Shuang Shuanglah yang

mengurus dan melindungi dia. Jika tidak ada Shuang Shuang

mungkin dia sudah menjadi gila dan hancur.

Kata Shuang Shuang,

“Apakah kau sudah tahu maksudku?”

Gao Li tidak berkata apa-apa, dia masih berlutut.

Qiu Feng Wu melihat mereka, air mata pun ikut mengalir.

Tiba-tiba Qiu Feng Wu juga mengerti satu hal bahwa Tuhan

selalu adil. Tuhan tidak memberi Shuang Shuang wajah yang

cantik tapi memberi Shuang Shuang hati yang mulia.

Kuburan baru seperti tidak ada kuburan. Tanahnya sudah

dipadatkan dan dari tempat lain dipindahkan rumput yang

panjang dan ditanam di atas tanah ini. Sekarang tidak ada

yang tahu bahwa tanah ini pernah mengubur seorang

pendekar nomor satu di dunia persilatan.

Ini adalah keinginan Gao Li dan Qiu Feng Wu, mereka tidak

ingin ada orang yang mengganggu pendekar besar ini. Tidak

ada batu nisan, dia bukan dewa, dia adalah orang. Orang

yang berhati mulia, teman yang mulia.

Ilmu silatnya yang dahsyat mungkin akan dilupakan oleh

orang tapi semua yang dia lakukan untuk mereka akan

selamanya hidup di hati mereka. Sore itu. Mereka membawa

arak. Mereka minum dari gentong arak besar, sisanya mereka

tumpahkan ke atas tanah ini. Gao Li dan Shuang Shuang

berlutut lalu berkata, “Ini adalah arak pernikahan kami.” “Aku

tahu kau selalu menunggu-nunggu arak ini.” “Aku pasti

membawa Shuang Shuang pergi, dan akan selalu

mengurusnya. Kemana pun kami pergi, aku tidak akan

meninggalkan dia.” “Aku pasti menyuruh Shuang Shuang

untuk terus bertahan hidup.”

Mereka tahu Jin Kai Jia pasti berharap mereka hidup

dengan baik. Di dunia ini tidak ada hal lebih bisa menyatakan

rasa hormat dan kesungguhan hati mereka kecuali hidup

dengan baik.

Kemudian Shuang Shuang menjauh, membiarkan 2 teman

yang sehidup semati saling berpamitan.

Sore semakin gelap, burung-burung berteriak pulang ke

sarang dengan sedih sepertinya burung-burung ini juga ikut

merasa sedih dengan perpisahan ini. Qiu Feng Wu melihat

Gao Li. Gao Li melihat Qiu Feng Wu. di dunia ini tidak ada

bahasa yang bisa mengungkapkan perpisahan ini.

Akhirnya Qiu Feng Wu bertanya,

“Apakah kau tahu bahwa kau itu bernasib mujur?”

Gao Li menjawab,

“Aku tahu.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Sekarang kau sudah tidak perlu aku temani lagi.”

Kata Gao Li,

“Apakah kau akan pulang?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Aku sudah berjanji maka aku harus pulang.”

Kata Gao Li,

“Aku mengerti.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Bagaimana dengan kalian?”

Jawab Gao Li,

“Aku juga sudah berjanji harus hidup dengan baik.”

Kata Qiu Feng Wu, “Kemana kalian akan pergi?”

Jawab Gao Li,

“Dunia begitu luas, pasti akan ada tempat untuk kami pergi

dan kami tinggal.”

Qiu Feng Wu mengangguk dan berkata,

“Kalian berada di mana pun, kelak harus tetap mencariku.”

Kata Gao Li,

“Ya, itu sudah pasti.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Bawa Shuang Shuang juga.”

Kata Gao Li,

“Ya, itu pasti.”

Tiba-tiba Qiu Feng Wu memegang erat tangan Gao Li dan

berkata, “Kau harus berjanji kepadaku.”

Kata Gao Li, “Katakanlah.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Jika kalian mengalami kesulitan, kau harus mencariku.”

Malam sudah tiba.

Qiu Feng Wu yang kurus dan kesepian sudah menghilang

dalam kegelapan malam.

Gao Li memeluk Shuang Shuang, hatinya merasa bahagia

sekaligus sedih.

Kata Shuang Shuang,

“Kau adalah orang yang bernasib baik.”

Gao Li mengangguk.

Kata Shuang Shuang,

“Jarang ada teman seperti dia.”

Kata Gao Li dengan lembut,

“Jarang ada orang yang bisa mendapat istri seperti dirimu.”

Gao Li memang merasa sangat bahagia.

Dia mempunyai teman yang baik, juga istri yang baik. Bagi

siapa pun ini sudah lebih dari cukup. Tapi entah mengapa hati

Gao Li dipenuhi dengan kesedihan dan ketakutan. Ketakutan

yang belum pernah dia rasakan karena dia merasa tidak yakin,

apakah dia bisa hidup dengan baik.

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau ketakutan?”

Jawab Gao Li dengan terpaksa,

“Aku takut? Takut apa?”

Kata Shuang Shuang,

“Takut kita tidak bisa hidup, takut orang itu kembali lagi,

takut kita tidak mempunyai uang.”

Gao Li diam. Dia tahu hidup itu sangat berat.

Kata Shuang Shuang,

“Sebenarnya kau jangan merasa takut, asal kita

mempunyai tekad pasti ada cara untuk bisa bertahan hidup.”

Kata Gao Li,

“Tapi…”

Kata Shuang Shuang,

“Aku tidak takut hidup susah, asal selalu bersama

denganmu, aku sudah tenang.”

Kata Gao Li,

“Tapi aku harus memberikan kepadamu kehidupan yang

baik.”

Kata Shuang Shuang,

“Kehidupan yang baik itu seperti apa?”

Gao Li tidak menjawab.

Karena dia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.

Kata Shuang Shuang,

“Makan enak, pakaian bagus, itu bukan kehidupan yang

baik. Yang paling penting hati merasa senang, yang lain aku

tidak peduli.”

Wajahnya yang lembut memancarkan kekuatan dan tekad

yang tegar.

Gao Li segera menarik tangannya dengan gagah berjalan.

Hatinya sekarang juga mempunyai tekad dan kekuatan. Dia

tahu, di dunia ini tidak ada yang bisa membuat dia sedih dan

takut lagi.

Karena dia sudah tidak sendirian.

Tidak sendirian, hanya orang yang pernah kesepian baru

tahu perasaan seperti ini sangat menyenangkan.

0-0-0

Mereka tidak ke gunung juga tidak lari ke perbatasan.

Mereka mencari sebuah desa yang tenang dan damai.

Orang-orang di desa biasanya baik dan jujur.

Seorang petani yang rajin dan seorang istri yang

penyakitan, di sini tidak ada yang mencurigainya.

Pagi bekerja, malam beristirahat.

Kehidupan mereka tenang dan damai. Tapi sayang itu

bukan akhir dari cerita ini.

Gao Li sudah pulang dengan tubuh penuh dengan tanah.

Shuang Shuang dengan tangannya yang kecil sudah memasak

2 macam sayur untuknya, juga ada seguci arak yang hangat.

Barang-barang yang berada di-dalam rumah ini dia sudah

hafal, dia bisa menggunakan tangan sebagai pengganti mata.

Sekarang dia jauh lebih sehat daripada dulu. Kehidupan yang

manis dan senang, bagi penderita yang mempunyai sakit apa

pun itu adalah obat yang paling bagus. Gao Li melihat sayur

dan arak, tawanya seperti anak-anak dan berkata, “Malam ini

masih ada arak yang bisa diminum.”

Jawab Shuang Shuang dengan manis,

“Beberapa hari ini, kau terlalu lelah, aku harus membuatkan

makanan yang enak untukmu.”

Gao Li duduk dan minum arak, dia tertawa,

“Aku berharap sesudah menyetor uang sewaan, bisa

menyisakan beberapa pikul padi untuk ditukar dengan

mainan.”

Shuang Shuang seperti anak manja, duduk di pangkuannya

dan berkata, “Aku menginginkan sebuah benda.”

Tanya Gao Li,

“Kau mau apa?”

Jawab Shuang Shuang,

“Kau.”

Dengan tangan yang kecil, dia memencet hidung Gao Li.

Gao Li membuka mulutnya, pura-pura tidak bisa bernafas.

Tiba-tiba Shuang Shuang menumpahkan segelas arak ke

dalam mulutnya. Dia mengambil sepotong daging ingin

memasuki ke mulut Shuang Shuang.

Tiba-tiba sumpitnya terjatuh, tangannya dingin seperti es

karena yang dijepit bukan daging, melainkan seekor kaki

seribu.

Kaki seribu yang sangat besar dan panjang.

Tanya Shuang Shuang,

“Ada apa?”

Wajah Gao Li berubah, tapi dia berusaha untuk tetap

tertawa dan berkata, “Tidak ada apa-apa, hanya di dalam

sayur ada kaki seribu, mungkin baru jatuh dari atas atap.

Kelihatannya malam ini aku tidak bisa makan daging.”

Shuang Shuang juga terdiam dan dia berkata,

“Untung di dapur masih ada telur, kita goreng telur untuk

dijadikan sayur.”

Begitu dia berdiri, Gao Li segera berkata,

“Aku temani.”

Kata Shuang Shuang,

“Aku saja, kau duduklah untuk minum arak.”

Kata Gao Li,

“Aku temani, aku senang melihatmu menggoreng telur.”

Tanya Shuang Shuang,

“Mengapa harus melihatku menggoreng telur?”

Jawab Gao Li,

“Karena aku senang melihatnya.―

Meskipun mereka tertawa, tapi hati mereka sudah tertutup

oleh bayangan hitam. Dapur sangat bersih. Kau pasti tidak

akan menyangka bahwa perempuan seperti Shuang Shuang

bisa membersihkan dapur dengan begitu bersih. Kekuatan

cinta sangat aneh, dia bisa membuat orang melakukan apa

pun, juga bisa membuat mujizat.

Shuang Shuang masuk ke dapur, diikuti oleh Gao Li.

Shuang Shuang mengambil telur, Gao Li ikut mengambil telur.

Dia mengikuti Shuang Shuang, sedikitpun tidak lengah.

Shuang Shuang membakar kayu, dia yang mengipasi api.

Shuang Shuang mengambil kuali, Gao Li segera mengambil

tutup kuali.

Tiba-tiba tutup kuali terjatuh dari tangan Gao Li.

Tangannya terasa dingin, begitu juga dengan hatinya.

Kuali tidak kosong, di dalam kuali ada 2 buah boneka yang

terbuat dari kertas. Kedua boneka itu tidak ada kepala.

Kepalanya sudah sobek, leher merah karena darah.

Api kompor sangat besar, dalam waktu sekejap sudah

membakar boneka kertas itu.

Kedua boneka kertas itu terlihat sangat misterius dan

menakutkan. Wajah Shuang Shuang sudah pucat, seperti

yang akan pingsan. Dia mempunyai indra ke 6, bisa

merasakan ketakutan. Gao Li tidak pingsan, karena dia tahu

pada saat seperti inilah mereka haras tegar.

Tiba-tiba Shuang Shuang berkata,

“Apakah sekarang kita harus jujur?”

Kata Gao Li,

“Benar.”

Kata Shuang Shuang,

“Kaki seribu bukan jatuh dari atap karena di sini tidak ada

kaki seribu.” Gao Li mengangguk. Wajahnya penuh dengan

kesedihan karena mereka tahu, hidup tenang dan manis ini

akan segera berakhir.

Harus mengakui hal ini terlalu sakit untuk mereka. Tapi

Shuang Shuang malah terlihat sangat tenang, dia memegang

erat tangan Gao Li dan berkata, “Bukankah kita sudah tahu

bahwa mereka akan mencari kita?”

Jawab Gao Li,

“Benar.”

Kata Shuang Shuang,

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku karena aku sudah

siap.”

Suara Shuang Shuang lebih lembut lagi berkata,

“Kita sudah hidup 2 tahun dengan bahagia, walaupun

sekarang harus mati, aku juga tidak merasa menyesal. Apalagi

kita belum tentu akan mati.”

Tanya Gao Li,

“Apakah kau mengira aku takut kepada mereka?”

Jawab Shuang Shuang,

“Kau pasti tidak akan takut, karena kau adalah seorang

ksatria, tidak akan takut kepada pengecut yang bersembunyisembunyi.”

Wajah Shuang Shuang terlihat bercahaya, karena dia

memang bangga kepada Gao Li.

Tiba-tiba Gao Li juga merasa keberaniannya muncul.

Jika kau pernah mencintai seseorang, kau akan tahu

keberanian ini datangnya dari mana dan semua itu sangat

aneh.

Kata Gao Li,

“Itu hanya 2 buah boneka kertas saja.”

Tanya Shuang Shuang,

“Boneka kertas?”

Kata Gao Li dengan dingin,

“Mereka ingin menakuti kita tapi kita tidak akan takut.”

Kaki seribu dan boneka kertas tidak bisa mengancam

nyawa orang tapi siapa pun tahu ini hanyalah sebuah

ancaman dan peringatan.

Sepertinya mereka tidak ingin dia mati dengan cepat.

Shuang Shuang terdiam, tiba-tiba berkata, “Kau mencuci

panci, aku akan merebus telur, aku akan merebus 6 butir

telur. Kau makan 4 butir dan aku akan makan 2 butir.”

Tanya Gao Li,

“Kau masih bisa makan?”

Kata Shuang Shuang,

“Mengapa tidak, kalau tidak bisa makan berarti takut

kepada mereka. Kita harus bisa makan dan makan yang

banyak.”

Gao Li tertawa dan berkata,

“Benar, aku makan 4 butir dan kau makan 2 butir.”

Hanya telur yang ada mempunyai cangkang, itu yang

paling aman. Mereka mulai makan telur.

Kata Shuang Shuang,

“Telur ini sangat enak.”

Jawab GaoLi,

“Lebih enak daripada daging.”

Kata Shuang Shuang,

“Kalau mereka adalah ksatria dan berani keluar di depan

wajah kita, kita akan mengundang dia makan telur.”

Kata Gao Li,

“Tapi mereka tidak berani muncul, mereka pengecut.”

Tiba-tiba dari luar jendela ada yang tertawa.

Gao Li berdiri dan bertanya,

“Siapa kau?”

Gao Li ingin mengejar, tapi dia duduk kembali dan berkata,

“Benar-benar tidak ada keberanian untuk menemui orang.”

Kata Shuang Shuang,

“Apakah kau tahu dengan cara apa memperlakukan orang

seperti ini?”

Tanya Gao Li,

“Cara apa?”

Kata Shuang Shuang,

“Tidak perlu meladeni mereka.”

Gao Li tertawa,

“Benar. Kelihatan aneh tapi mereka akan lelah sendiri. Itu

cara yang terbaik.” Suara tawa orang itu sangat besar, apakah

benar dia sedang tertawa? Di luar jendela sangat gelap,

kegelapan yang sangat luas. Di dalam kegelapan tersembunyi

banyak hal yang menakutkan juga orang yang menakutkan.

Di dalam rumah hanya ada mereka berdua. Rumah yang kecil,

orang yang kecil, kegelapan di luar sudah mengelilingi mereka.

Benarkah mereka tidak merasa takut?

Tombak sudah dikeluarkan dari peti. Tombak yang penuh

dengan debu, tapi tidak berkarat. Ada hal yang tidak bisa

berkarat seperti kenangan. Gao Li teringat kepada Qiu Feng

Wu.

“Bagaimana keadaan dia? Apakah dia juga sudah bertemu

dengan mereka?”

Gao Li berharap dia tidak bertemu dengan mereka.

Dia berharap hal ini bisa diselesaikan di sini juga,

diselesaikan olehnya sendiri.

Hanya satu-satunya yang membuat dia tenang adalah

Shuang Shuang.

Kalau dia tidak ada, bagaimana dengan Shuang Shuang?

Dia tidak berani berpikir.

Shuang Shuang seperti tidak beipikir, dia sudah tertidur.

Shuang Shuang lebih kuat dan lebih berani dari yang dia

sangka, bila sedang tertidur, dia seperti seorang anak kecil.

Bagaimana dia bisa meninggalkan Shuang Shuang?

Bagaimana bila dia mati? Di luar jendela angin berhembus

sangat kencang. Malam lebih gelap lagi. Gao Li memegang

tombaknya, dengan sekuat tenaga menahan air mata yang

menetes.

Tapi air mata tetap mengalir. Tiba-tiba Shuang Shuang

membalikkan badan dan berkata,

“Mengapa kau belum tidur?”

Ternyata dia juga belum tidur.

Kata Gao Li,

“Aku belum ingin tidur.”

Kata Shuang Shuang,

“Jangan lupa besok pagi kau masih harus ke sawah.”

Kata Gao Li,

“Apakah besok aku boleh bolos bekerja sehari saja?”

Kata Shuang Shuang,

“Boleh, tapi bagaimana dengan lusa atau lusa lagi? Apakah

bila mereka tidak muncul kau akan terus menemaniku di sini?

Apakah kau mau seumur hidup terus menemaniku di rumah

kecil ini?”

Tanya Gao Li,

“Mengapa tidak?”

Jawab Shuang Shuang,

“Kalau kau bisa melakukannya, kita bisa bertahan sampai

kapan?”

Jawab Gao Li,

“Bertahan sampai mereka muncul, menunggu mereka

mencariku.”

Tanya Shuang Shuang,

“Kapan mereka muncul dan mencarimu?”

Jawab Gao Li,

“Mereka sudah datang, pasti tidak perlu menunggu lama.”

Kata Shuang Shuang,

“Mereka melakukan begitu, mungkin mereka ingin

mengurungku di rumah ini, begitu kau sudah merasa lelah

baru akan muncul.”

Kata Gao Li,

“Mereka tidak perlu menunggu, mereka tidak perlu

melakukan hal seperti itu.”

Tanya Shuang Shuang,

“Mengapa?”

Jawab Gao Li,

“Sekarang aku harus berkata jujur, aku hanya berharap kau

melakukan satu hal untukku.”

Tanya Shuang Shuang,

“Hal apa?”

Gao Li mengusap mukanya dan berkata,

“Kau haras berjanji, bila terjadi sesuatu padaku, kau harus

hidup dengan baik.”

Kata Shuang Shuang,

“Apa maksudmu?”

Kata Gao Li,

“Kau pasti mengerti.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau takut kepada mereka?”

Jawab Gao Li,

“Benar.”

Tanya Shuang Shuang,

“Mengapa?”

Wajah Gao Li terlihat sedih, dia berkata,

“Kau tidak bisa membayangkan, mereka itu sangat

menakutkan. Kali ini mereka datang, pasti sudah ada

persiapan penuh.”

Shuang Shuang terdiam. Dia sangat tenang, kemudian dia

berkata, “Jika mereka sudah siap, mengapa tidak turun

tangan?”

Kata Gao Li,

“Mereka ingin membuatku ketakutan.”

Kata Shuang Shuang,

“Sesudah mereka menangkapmu, kau juga takut?”

Gao Li terpaku. Tiba-tiba matanya terang dan dia meloncat

lalu berkata, “ Sekarang aku sudah tahu.”

Tanya Shuang Shuang,

“Kau tahu apa?”

Kata Gao Li,

“Orang Qing Long Bang tidak datang.”

Tanya Shuang Shuang,

“Lalu siapa yang datang?”

Kata Gao Li,

“Yang datang hanya ada satu orang, dia ingin membuatku

lelah, hingga aku menjadi gila. Kemudian dia akan pelan-pelan

membunuhku.”

Tanya Shuang Shuang, “Kau tahu siapa dia?”

Kata Gao Li,

“Ma Feng, pasti Ma Feng.”

Ma Feng jarang membunuh orang, tapi kalau dia mau

membunuh orang, dia jarang gagal. Dia membunuh orang

secara perlahan dan menakutkan. “Bila kau mau bunuh

orang, kau harus bisa membuat dia menjadi setan, sehingga

tidak akan mencarimu untuk membalas dendam.” Ini adalah

prinsip Ma Feng.

Karena gembira, muka Gao Li memerah dan berkata,

“Aku tahu lambat laun dia pasti akan datang.”

Tanya Shuang Shuang,

“Mengapa?”

Jawab Gao Li,

“Dia datang untuk balas dendam.”

Tanya Shuang Shuang,

“Balas dendam?”

Jawab Gao Li,

“Ada orang bila dia melakukan hal yang tidak baik kepada

orang lain, tapi orang lain tidak boleh melakukan hal seperti ini

kepadanya, kalau tidak dia akan datang untuk balas dendam.”

Kata Gao Li lagi,

“Dia lupa bahwa aku juga sedang menunggu dia.”

Gao Li tidak lupa siapa yang membunuh Jin Kai Jia.

Kata Shuang Shuang,

“Mengapa kau tahu dia tidak membawa orang Qing Long

Bang kemari?”

Jawab Gao Li,

“Tidak akan.”

Tanya Shuang Shuang,

“Mengapa?”

Jawab Gao Li,

“Karena balas dendam bagi dia adalah suatu kenikmatan,

membunuh orang juga demikian, karena itu dia tidak akan

berbagi dengan orang lain.”

Kata Shuang Shuang,

“Dia pasti orang yang menakutkan.”

Kata Gao Li,

“Benar, tapi aku tidak takut kepada dia.”

Suara Gao Li tiba-tiba berhenti, karena di luar ada yang

mengetuk pintu. Suara ketukan pintu ringan dan pelan, tiap

kali mengetuk seperti mengetuk jantung mereka.

Nafas Gao Li seperti sudah berhenti.

Tiba-tiba dia merasa dirinya tidak begitu kuat dan yakin

karena selama 2 tahun ini yang dia pegang hanya pacul bukan

tombak.

Suara ketukan pintu masih terus terdengar ringan, pelan,

sekali demi sekali…

Tangan Shuang Shuang menjadi dingin.

Tiba-tiba Gao Li juga mengetahui Shuang Shuang tidak

seberani yang dia kira.

Shuang Shuang berkata,

“Di luar seperti ada yang mengetuk pintu.”

Kata Gao Li,

“Aku tahu.”

Tanya Shuang Shuang,

“Mengapa kau tidak membuka pintu?”

Kata Gao Li tertawa dingin,

“Kalau dia masuk, tidak perlu membuka pintu untuknya, dia

juga akan masuk sendiri.”

Sebenarnya dia tahu ini hanya satu alasan. Memang Gao Li

ketakutan. Karena dia tidak boleh mati dan dia takut mati.

Takut mati bukan hal yang memalukan, bukan berarti jika kau

adalah ksatria dan ada perempuan seperti Shuang Shuang

mencintaimu yang harus diurus, kau juga akan takut mati.

Hati Shuang Shuang seperti ditusuk jarum. Dia sangat

mengerti Gao Li, tidak ada orang lain lebih mengerti Gao Li

daripada dia.

Mata Shuang Shuang keluar air mata.

Tanya Gao Li,

“Kau menangis?”

Kata Shuang Shuang,

“Kau tahu aku bangga kepadamu.”

Kata Gao Li,

“Aku tahu.”

Kata Shuang Shuang,

“Tapi sekarang aku sudah tidak mempunyai perasaan

seperti itu.”

Gao Li menunduk. Dia tahu pikiran Shuang Shuang.

Tidak ada perempuan ingin suaminya seorang yang

penakut, lebih-lebih tidak ada perempuan yang ingin suaminya

lari dari kesulitan dan bahaya.

Kata Shuang Shuang,

“Aku tahu demi diriku kau menjadi seperti itu, tapi aku

tidak mau kau begitu, aku tahu kau pasti sedih. Sebenarnya

kau bukan penakut.”

Kata Gao Li,

“Tapi kau…”

Kata Shuang Shuang,

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, hal yang harus kau

lakukan tetap lakukan, kalau tidak aku akan lebih sedih lagi.”

Gao Li melihat dia, hanya istri yang baik baru bisa

mengatakan demikian. Tiba-tiba dia merasa bangga

mempunyai istri yang begitu baik. Dengan ringan dia mencium

air mata Shuang Shuang dan membalikkan badan kemudian

pergi. Shuang Shuang menghitung langkah Gao Li. Setiap

pagi, dia selalu menghitung langkah Gao Li, dari tempat tidur

berjalan sejauh 13 langkah sudah berada di luar pintu.

Satu.. .dua.. .tiga.. .empat.. .lima…

Kali ini Gao Li pergi, apakah akan kembali?

Shuang Shuang tidak tahu juga tidak berani berpikir, dia

tidak akan melarang dia karena dia tidak bisa lari lagi.

Bab 5

Kepercayaan Teman Lama

Malam.

Kabut malam entah kapan mulai muncul, seseorang berdiri

diam di tengah kabut malam.

Orang yang seram, wajah yang seram, mata tajam seperti

burung pemakan bangkai. Begitu Gao Li membuka pintu, dia

sudah melihat orang itu, tidak ada perubahan dalam diri orang

itu.

Gao Li sama sekali tidak menyangka, dia bisa berdiri di luar

pintu rumahnya seperti akan mengunjungi seorang teman,

menunggu tuan rumah membuka pintu. Begitu matanya

melihat Gao Li, tatapannya tetap seperti tatapan seekor elang

lapar yang melihat daging.

Kata Gao Li,

“Akhirnya kau datang juga!”

Jawab Ma Feng,

“Benar, aku harus datang, siapa pun yang pernah menusuk

perutku dengan pedang, aku tidak akan membiarkan dia hidup

dengan tenang.”

Kata Gao Li,

“Kau bisa hidup sampai sekarang itu sudah sangat

beruntung.”

Kata Ma Feng,

“Benar, itu memang tidak mudah, kau tidak tahu, aku

menghabiskan harta benda dengan harga yang tinggi baru

bisa ditukar kembali dengan nyawaku, karena itu aku tidak

boleh mati juga tidak akan bisa mati.”

Matanya menyipit dan berkata,

“Xiao Wu berada di mana?”

Tanya Gao Li,

“Kau mencari dia?”

Jawab Ma Feng,

“Benar.”

Mulut Gao Li mengeluar tawa yang aneh dan berkata,

“Sayang, selamanya kau tidak akan bisa bertemunya lagi.”

Tanya Ma Feng,

“Dia berada di mana?”

Jawab Gao Li,

“Apakah kau tidak pernah terpikirkan dia berada di mana?”

Tanya Ma Feng,

“Apakah dia sudah mati?”

Jawab Gao Li,

“Kalau dia tidak mati, dia tidak akan melepaskanmu.”

Wajah Ma Feng berubah, seperti perutnya sedang ditusuk

kembali dengan pedang.

Kata Gao Li,

“Walaupun dia sudah mati, tapi aku tidak, aku masih

hidup.”

Dengan menarik nafas panjang, Ma Feng berkata,

“Benar, kau belum mati, untung kau belum mati. Dua tahun

ini siang malam aku selalu berdoa, semoga kalian panjang

umur.”

Tiap kata yang dia keluarkan penuh dengan kebencian,

membuat orang merasa bergidik.

Gao Li tahu tangan kirinya sudah keluar keringat dingin, dia

segera berteriak, “Seharusnya kau berdoa agar aku cepat

mati. Kalau aku tidak mati, kau yang akan mati, sekarang kau

harus mati.”

Ma Feng tertawa dingin. Gao Li juga tertawa dingin,

“Pekerjaan seperti kita ini jika melakukan kesalahan dia

harus mati, kau sudah melakukan 3 macam kesalahan.”

Kata Ma Feng dengan ringan,

“Aku mendengarnya.”

Kata Gao Li,

“Pertama, kau tidak boleh datang seorang diri. Kedua, kau

harus menyandera Shuang Shuang agar bisa mengancamku,

tapi sekarang sudah terlambat. Ketiga, kau tidak boleh dengan

cara seperti itu mengetuk pintu rumahku.”

Jawab Ma Feng,

“Masuk akal juga.―

Kata Gao Li,

“Sebenarnya kau mempunyai kesempatan secara

sembunyi-sembunyi menyerangku.” Ma Feng tiba-tiba

memotong kata-katanya, dengan dingin dia berkata, “Aku

tidak perlu menyerangmu secara sembunyi-sembunyi, juga

tidak perlu menyandera istrimu supaya bisa mengancammu

sebab kapan pun aku bisa membunuhmu.” Gao Li tertawa

terbahak-bahak.

Kata Ma Feng,

“Dua tahun ini tiap hari aku latihan selama 6 jam,

bagaimana dengan dirimu?”

Tiba-tiba tawa Gao Li berhenti.

Dengan dingin Ma Feng melihatnya dan berkata,

“Sekarang kau masih hidup, karena aku masih

menginginkan kau hidup.” Gao Li tidak bicara, juga tidak

bergerak. Tiba-tiba dia merasa tidak nyaman, sikap Ma Feng

semakin tenang, maka dia semakin merasa tidak nyaman.

Sorot mata Ma Feng yang seram pandangannya bergeser, dia

memandang langit yang gelap dan berkata, “Kau masih bisa

hidup 7 hari lagi.”

Suaranya mengandung kepercayaan yang menakutkan

seperti hakim yang menjatuhkan vonis kepada tersangka.

Gao Li tertawa lagi, dia berusaha keras baru bisa membuat

dirinya mengeluarkan suara tawa.

Ma Feng sama sekali tidak memandang dia dan berkata,

“Tujuh hari lagi adalah bulan purnama, aku membunuh

orang selalu menunggu saat bulan purnama.”

Kata Gao Li,

“Mungkin kau tidak perlu menunggu begitu lama.”

Kata Ma Feng.

“Mungkin, tapi kau tidak perlu terburu-buru ingin mati.

Masih banyak hal yang harus kau bereskan. Istrimu juga tidak

mau kau mati sekarang.” Kata-kata yang terakhir seperti

menusukkan pisau ke arah Gao Li. Dia merasa perutnya

keram, dia ingin muntah.

Kata Ma Feng,

“Aku akan tinggal di sini selama 7 hari, karena tempat di

sini lumayan bersih.”

Tanya Gao Li,

“Kau bilang apa?”

Kata Ma Feng,

“Aku bilang bisa hidup 7 hari lagi itu lumayan untukmu.”

Gao Li melihatnya. Sebenarnya Ma Feng tidak tertawa.

Wajahnya mengandung kekejaman, seram, dan tertawa

penuh percaya diri.

Kata Ma Feng,

“Tujuh hari ini kau boleh melakukan banyak hal, bila kau

bisa mengatur, bila nanti kau mati istrimu juga bisa hidup

dengan baik.”

Gao Li menundukkan kepala melihat tombaknya yang

berwarna perak. Debu di atas tombak sudah dibersihkan, tapi

cahaya tombak sepertinya terlihat sangat lemah. Gao Li

mengangkat kepala, keringat dingin mengalir dari wajahnya.

Suara Gao Li terdengar kering dan serak, dia berkata, “Kau

bisa menunggu selama 7 hari, mengapa aku tidak boleh?” Ma

Feng tertawa. Kali ini dia benar-benar tertawa. Dengan

tersenyum dia berkata, “Baiklah, besok pagi aku akan datang

lagi. Di pagi hari aku senang makan mie.” Dia tidak

mendengar kata-kata Gao Li lagi, dia membalikkan badan.

Dalam sekejap dia sudah menghilang di dalam kabut malam

itu.

Gao Li juga tidak melihat dia lagi, dia membalikkan badan

dan membungkukkan badan untuk muntah. Muntah terus

hingga air empedunya juga keluar. Tiba-tiba dia merasa ada

tangan kecil yang hangat mengangkat wajahnya. Wajah Gao

Li basah, apakah ini air mata atau keringat dingin? Setelah

lama Shuang Shuang dengan lembut berkata, “Apakah kau

merasa kali ini kau sudah melakukan kesalahan?” Gao Li

menggelengkan kepala. Dia tidak salah 7 hari tidak pendek,

dalam 7 hari cukup untuk melakukan banyak hal.

Dia harus bersabar. Sebenarnya dia mempunyai

kesempatan untuk mengalahkan orang lain tapi sekarang dia

harus lebih bersabar dan harus menahan diri. Shuang Shuang

juga tidak banyak bertanya. Asalkan Gao Li mengatakan

benar, Shuang Shuang akan menerimanya. Dengan berat dia

berkata, “Sekarang kita tidur, besok pagi kita akan makan

mie.”

Yamien. Mie yang sudah dingin.

Gao Li melihat mie di atas meja, wajahnya tidak ada

ekspresi apa pun.

Kemudian dia melihat Ma Feng yang baru masuk.

Kata Shuang Shuang,

“Apakah itu Tuan Ma?”

Jawab Ma Feng,

“Benar.”

Kata Shuang Shuang, “Mie sudah dingin, apakah harus

dipanaskan lagi?”

Jawab Ma Feng,

“Tidak perlu.”

Kata Shuang Shuang,

“Jika mie kurang asin, di sini masih ada kecap.”

Suara Shuang Shuang terdengar lembut dan hangat, dia

seperti seorang istri yang rajin yang meladeni teman

suaminya.

Ma Feng melihatnya, tiba-tiba menarik nafas dan berkata,

“Untung aku bukan mau membunuhmu karena kau lebih

tenang daripada suamimu.”

Shuang Shuang tertawa dan berkata,

“Perempuan seperti aku, apakah akan menaruh racun ke

dalam mie?”

Ma Feng baru mengambil sumpit, segera dia menaruhnya

lagi. Matanya yang seperti elang memandang Shuang Shuang

dengan lama dan berkata, “Kau tidak akan melakukannya.”

Shuang Shuang mengangguk dan berkata,

“Aku pasti tidak akan menaruh racun ke dalam mie-mu.”

Ma Feng tidak mengatakan sesuatu, segera dia berdiri dan

masuk ke dapur.

Tanya Shuang Shuang dengan tersenyum, “Ada apa kau

masuk ke dapur?”

Jawab Ma Feng,

“Aku membunuh orang ingin seorang diri, makan mie juga

ingin memasak sendiri.”

Di kamar tamu, terdengar suara dengkuran Ma Feng, tapi

Gao Li tidak bisa tidur. Wajahnya sarat dengan kesedihan,

hatinya sangat kacau. Dia ingin melakukan sesuatu, tapi dia

ragu, apakah memang harus dilakukan? Dia tidak percaya diri

lagi. Ini baru benar-benar menakutkan. Ma Feng melakukan

hal seperti itu mungkin ingin menghancurkan rasa percaya

dirinya.

Tanya Shuang Shuang dengan lembut,

“Kau memikirkan apa?”

Jawab Gao Li,

“Tidak ada.”

Kata Shuang Shuang,

“Tiba-tiba aku teringat pada satu hal. Dia ingin menunggu

selama 7 hari, apakah karena dia tidak mampu dibanding

dirimu?”

Kata Gao Li,

“Mungkin saja.”

Gao Li yakin Ma Feng pasti lebih percaya diri daripada

dirinya karena tanggung jawab Gao Li lebih berat.

Bila pesilat tangguh bertarung, biasanya yang mati adalah

orang yang tidak ingin mati.

Kata Shuang Shuang,

“Aku tahu dia tinggal di sini hanya untuk menyiksamu, tapi

aku juga tidak memberinya hidup enak.”

Gao Li tertawa dengan terpaksa dan berkata,

“Memang kau tadi sudah bantuku menyiksa dia.”

Kata Shuang Shuang,

“Sekarang aku terhadap dengan cara apa pun dia tidak

akan membalas, karena…” Suara Shuang Shuang sedikit

berubah dan berkata, “Jika tidak ada aku, kau tidak takut

kepada dia, apakah benar?” Gao Li melihat dia, tiba-tiba

dengan suara gemetar dia berkata, “Kau.. .kau mau apa?”

Gao Li menanyakan ini karena dia terpikir pada satu hal

yang sangat menakutkan.

Shuang Shuang tertawa dengan sedih dan berkata,

“Aku tidak memikirkan apa-apa.”

Kata Gao Li,

“Aku tahu kau sedang memikirkan apa?”

Gao Li tiba-tiba dengan cepat berkata,

“Kau kira jika kau mati, aku akan dengan bebas

menghadapi dia. Bisa bunuh dia?

Kau salah! Salah total!”

Kata Shuang Shuang,

“Aku…”

Kata Gao Li,

“Kalau kau mati, aku segera menemanimu mati.”

Shuang Shuang adalah manusia dan juga perempuan, dia

tiba-tiba masuk ke dalam pelukan Gao Li dan menangis.

Di luar Shuang Shuang terlihat sangat kuat, tapi di dalam

dia ketakutan dan merasa sedih.

Demi Gao Li dia rela mati, dia berharap Gao Li bisa

menjadikan kesedihan ini menjadi kekuatan baginya.

Dia belum melakukan hal ini karena dia terlalu mencintai

Gao Li, dia tidak tega meninggalkan Gao Li.

Tidak ada orang yang tahu bagaimana dalamnya perasaan

mereka.

Gao Li membelai rambutnya dan berkata,

“Demi aku, kau harus bertahan hidup. Demi kau, aku juga

akan berbuat seperti itu. Kita pasti mempunyai cara untuk

terus bertahan hidup.” Suaranya kecil karena kata-kata ini

memang dia katakan untuk dirinya sendiri.

Tangis Shuang Shuang sudah berhenti, dia tahu Gao Li

akan melakukan apa.

Tiba-tiba dia mengangkat kepada dan berkata,

“Kau pergi saja.”

Gao Li memegang erat tangan Shuang Shuang, sepatah

kata pun tidak bicara. Sekarang dalam kesedihan dan rasa

tersiksa mereka bisa bertahan, bersama-sama bertahan.

Karena mereka mempunyai harapan, harapan yang begitu

indah.

0-0-0

Kong Que Ling.

Di dunia ini tidak ada senjata rahasia yang lebih

menakutkan daripada Kong Que Ling, juga tidak ada senjata

rahasia yang lebih indah daripada Kong Que Ling. Tidak ada

orang yang bisa melukiskan keindahannya juga tidak ada yang

bisa menghindar atau bertahan dari Kong Que Ling.

Orang nomor saru di dunia persilatan yaitu Jin Kai Jia, dia

juga tidak bisa bertahan dari Kong Que Ling. Sampai saat mati

pun dia masih ingat, bagaimana sewaktu senjata rahasia itu

dilemparkan, begitu misterius, cemerlang, dan indah. Pada

waktu itu dia merasa pusing. Tak lama, kemudian dia roboh ke

tanah. Wisma Kong Que sendiri sangat indah, indah seperti

istana dalam dongeng-dongeng dewa dewi.

Atap yang hijau disinari oleh matahari, tampak berkilauan.

Tangga yang putih melintasi dinding yang kuning. Sebuah

istana seperti yang terbuat dari emas dan perhiasan.

Di taman ada beberapa ekor burung merak tampak sedang

bersantai. Di kolam ada Yan Yang (semacam bebek) sedang

berenang.

Bunga-bunga merah, putih, ungu menghiasi wisma ini

menambah keindahan seperti di dalam mimpi.

Beberapa gadis sedang berlari-lari menginjak padang

rumput yang lembut, mereka menghilang di balik kerimbunan

bunga.

Bunga chrysan akan segera mekar, angin membawa harum

bunga yang membuat orang mabuk.

Dari sebuah rumah kecil ada seseorang yang meniup

suling, suara suling inilah yang memecahkan kesunyian di

sana.

Pintu pertama terbuka lebar, tidak ada penjaga pintu. Gao

Li berlari ke depan Wisma Kong Que, kemudian dia roboh.

Di tempat dupa sedang dibakar dupa yang wangi. Ruangan

itu penuh harum dupa.

Di luar jendela, hari sudah malam.

Gao Li membuka mata, mata memandang ke sekeliling

mulai dari satu pot chrysan kemudian diteruskan ke depan, dia

melihat seseorang yang sedang tersenyum kepadanya.

Seseorang yang belum dia kenal. Seperti seorang pemuda,

tapi ada kumis yang dicukur dengan rapi di atas mulutnya.

Rambut dan kumis sangat rapi dan mengkilat, di bawah

rambut masih menempel sebuah mutiara sebesar ujung jari.

Pakaiannya sangat sederhana, tapi bahannya sangat mahal. Di

balik jubah sutranya, masih ada ikat yang pinggang yang

berwarna putih. Sekali melihat pun sudah tahu bahwa dia

adalah orang yang mempunyai kedudukan dan terlihat

berwibawa.

Orang seperti ini hidup di dunia yang berlainan dengan Gao

Li, hanya sepasang mata yang tajam terus melihatnya…

Gao Li tiba-tiba ingat dengan mata ini, dia hampir berteriak.

Qiu Feng Wu. Gao Li sama sekali tidak mempercayainya, tuan

yang berwibawa ini adalah pemuda yang dulu pernah

bersamanya, sehidup dan semati menempuh segala bahaya.

Tapi dia mau tidak mau harus mempercayainya.

Karena orang itu sudah berjalan menghampirinya, dengan

tenaga yang kuat memegang Gao Li. Mata yang bercahaya

penuh dengan air mata. Gao Li menarik nafas panjang dan

berkata, “Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi.”

Tangan Qiu Feng Wu lebih kencang lagi memegang Gao Li

dan berkata, “Akhirnya kau datang juga mencariku, kau tidak

melupakanku.” Gao Li berusaha duduk.

Tapi Qiu Feng Wu menekan pundaknya dan berkata, “Kau

tidak sakit, tapi terlalu lelah, lebih baik berbaring.” Gao Li

memang terlalu lelah. Sudah 2 hari dia tidak pernah berhenti

berlari, dia harus pulang sebelum bulan purnama.

Melihat langit di luar jendela, dia segera bangun dan

bertanya, “Aku sudah tidur berapa lama?”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tidak begitu lama.”

Dia melihat keringat dingin di dahi Gao Li. Qiu Feng Wu

bertanya, “Kau pasti mempunyai hal penting yang harus

disampaikan kepadaku?”

Gao Li mengepalkan tangan dannya berkata,

“Aku tidak ingin datang ke sini, tapi aku.. .aku.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau harus ingat, aku pernah mengatakan : bila kalian

mengalami kesulitan apa pun, orang pertama yang harus

dicari adalah aku.”

Qao Li mengangguk. Air mata sudah mengaburkan

pandangannya. Seseorang jika dalam keadaan bahaya, tapi

masih ada teman yang mendukung, perasaan seperti ini tidak

dapat digantikan oleh apa pun.

Kata Qiu Feng Wu,

“Apakah mereka sudah mengetahui keberadaanmu?”

Gao Li mengangguk.

Wajah Qiu Feng Wu membeku, dia mundur beberapa

langkah lalu duduk.

Akhirnya Gao Li bangun dan duduk. Dia berkata,

“Tapi yang datang hanya satu orang.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Siapa?”

Jawab Gao Li,

“Ma Feng.”

Qiu Feng Wu menghembuskan nafas dan berkata,

“Kau sudah membunuhnya?”

Gao Li menundukkan kepala dan berkata,

“Dua tahun ini yang aku pegang adalah pacul, aku merasa

memacul lebih menyenangkan daripada membunuh orang.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Karena itu kau tidak mau membunuh orang.”

Gao Li tertawa kecut,

“Tanah adalah benda mati, sepertinya ilmu tombakku juga

sudah mati.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Kau takut kalah darinya?”

Jawab Gao Li,

“Aku tidak yakin bisa menang kali ini.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Karena itu dia masih hidup sampai saat ini.”

Kata Gao Li,

“Benar.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Sekarang dia ada di mana?”

Jawab Gao LI,

“Ada di rumahku.”

Qiu Feng Wu terpaku. Dia tidak mengerti, setelah lama dia

baru bertanya, “Shuang Shuang berada di mana?”

Jawab Gao Li,

“Di sana juga.”

Wajah Qiu Feng Wu berubah dan berkata,

“Kau meninggalkan Shuang Shuang di sana, dan kau

sendiri yang datang ke sini?”

Wajah Gao Li mengeluarkan ekspresi sedih dan menjawab,

“Karena dia tidak menyangka aku akan berani melakukan

hal ini, karena itu aku datang ke sini.”

Qiu Feng Wu menarik nafas panjang dan berkata,

“Aku sendiri juga tidak menyangkanya.”

Kata Gao Li,

“Asal aku pulang sebelum bulan purnama, Shuang Shuang

tidak akan berada dalam keadaan bahaya.”

Tanya Qiu Feng Wu, .

“Mengapa?”

Jawab Gao Li,

“Kami berjanji akan bertarung di bulan purnama.”

Qiu Feng Wu terpaku lama lalu dia tertawa,

“Aku sudah mengerti.”

Tanya Gao Li,

“Kau mengerti apa?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Apakah dia sendiri yang datang ke rumahmu?”

Jawab Gao Li, “Benar.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Dia tidak yakin bisa membunuhmu karena itu dia sengaja

menunggu selama beberapa hari karena dia tahu kau sendiri

tidak yakin bisa membunuhnya. Dia ingin dalam beberapa hari

ini terus menyiksamu hingga kau hancur karena ketakutan.”

Gao Li tertawa kecut dan berkata,

“Mungkin dia ingin aku mati secara pelan-pelan karena

caranya membunuh orang tidak ingin terburu-buru.”

Qiu Feng Wu melihatnya. Dia merasa orang di hadapannya

ini sudah berubah dan sangat berubah banyak.

Dalam perkumpulan 15 bulan 7, dia adalah pembunuh yang

paling dingin dan kejam, tapi sekarang dia tampak tidak

percaya diri. Apakah dia benar-benar sudah jatuh cinta?

Pembunuh tidak boleh mencintai seseorang, semakin kejam

dia membunuh maka hidupnya akan semakin lama, karena

perasaan cinta inilah yang bisa membuat hati orang menjadi

lemah.

Tiba-tiba Gao Li berkata, “Tapi dia tetap salah

memperhitungkan satu hal.”

Tanggap Qiu Feng Wu, “Oh!”

Kata Gao Li lagi,

“Dia mengira Xiao Wu sudah mati, dia tidak menyangka

aku masih mempunyai seorang teman.”

Seorang pembunuh tidak pantas mempunyai teman, tidak

boleh mempunyai teman juga tidak ada teman.

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau juga telah salah melakukan suatu hal.”

Kata Gao Li, “Oh.”

Kata Qiu Feng Wu lagi,

“Kau tidak boleh meninggalkan Shuang Shuang seorang diri

di sana, kau harus menyuruh ikut Shuang Shuang mencariku.”

Kata Gao Li,

“Karena ada Shuang Shuanglah, aku takut kepada Ma

Feng, dia tidak akan berani melukai Shuang Shuang.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Mungkin dia tidak berani, tapi dia bisa menyandera

Shuang Shuang untuk mengancammu.”

Kata Gao Li,

“Dia mempunyai banyak kesempatan, tapi dia tidak

melakukannya.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Mungkin pada waktu itu, dia tidak tahu perasaanmu

terhadap Shuang Shuang.”

Qiu Feng Wu melihat Gao Li lalu berkata,

“Aku tanya kepadamu, jika kau pulang, dia sudah menaruh

pedang di leher Shuang Shuang, dengan nyawa Shuang

Shuang dan ingin menukar dengan nyawamu, bagaimana?”

Gao Li merasa sekujur tubuhnya menjadi dingin seperti es.

Kata Qiu Feng Wu,

“Dia tahu kau pasti tidak akan tega melihat Shuang Shuang

mati di depanmu, apakah benar perkataanku ini?”

Gao Li terjatuh ke tempat tidur, keringat dingin terus

mengalir seperti air hujan.

Gao Li merasa selama 2 tahun ini, Qiu Feng Wu tampak

lebih dewasa juga lebih sempurna jalan pikirannya. Dia sudah

mempunyai wibawa dan sikap seorang Ketua Wisma Kong

Que.

Tapi dia juga terlihat lebih dingin dan lebih kejam. Di antara

mereka siapa yang tampak lebih bahagia?

Bahagia atau tidak, tidak semuanya benar.

Tiba-tiba Gao Li berkata,

“Jika aku tidak memberi dia kesempatan untuk menaruh

pedang di leher Shuang Shuang, bagaimana?”

Qiu Feng Wu tertawa dan berkata,

“Sekarang kau sudah kembali menjadi Gao Li yang dulu.”

Kata Gao Li,

“Aku tahu sekarang kau adalah tuan rumah Wisma Kong

Que.”

Ucap Qiu Feng Wu,

“Ayahku sudah meninggal.”

Kata Gao Li,

“Karena itu aku ingin meminta pertolongan kepadamu.”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Katakanlah.”

Kata Gao Li,

“Jika kau menolaknya, aku tidak akan marah.”

Qiu Feng Wu mendengarkan Gao Li yang bicara, tapi

ekspresi wajahnya tiba-tiba menjadi sangat aneh, sepertinya

dia sudah tahu apa yang diinginkan oleh Gao Li.

Kata Gao Li,

“Aku ingin meminjam Kong Que Ling.”

Qiu Feng Wu tidak bicara sepatah katapun. Dia hanya

melihat tangannya terus. Gao Li juga tidak bicara lagi, dia

juga melihat tangan Qiu Feng Wu, sepasang tangan dengan

kuku yang digunting sangat rapi dan terawat. Sepasang

tangan ini sudah bukan tangan dulu yang dipenuhi oleh tanah

dan darah.

Apakah orang ini masih teman yang dulu, yang mau

menyerahkan nyawa demi teman?

Di luar jendela, hari semakin malam.

Di dalam rumah tidak dipasang lampu, Qiu Feng Wu

dengan diam duduk di dalam kegelapan, jarinya pun tidak

bergerak.

Gao Li tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Angin

berhembus membuat daun-daun yang berada di pekarangan

berguguran.

Musim gugur sudah tiba. Bulan sudah bergantung di atas

pohon. Qiu Feng Wu tetap tidak bicara, juga tidak bergerak.

Gao Li tidak mengatakan apa-apa, dia bangun dari tempat

tidur dan mencari sepatu yang berada di bawah tempat tidur.

Qiu Feng Wu tetap tidak mengangkat kepalanya. Gao Li

memakai sepatu, pelan-pelan lewat di sisi Qiu Feng Wu dan

dengan pelan juga membuka pintu. Di luar cuaca dingin

seperti air. Hari Gao Li juga terasa dingin, dia tidak

menyalahkan Qiu Feng Wu karena dia tahu bahwa

permintaannya terlalu mengada-ada. Dia tidak membalikkan

kepala untuk melihat Qiu Feng Wu karena dia takut Qiu Feng

Wu akan merasa sedih.

Pelan-pelan dia sudah berjalan melewati pekarangan, dia

memungut selembar daun yang jatuh, melihatnya lalu

menaruh lagi.

Kemudian dia merasa ada sebuah tangan memeluk

pundaknya.

Sebuah tangan yang kuat dan mantap.

Tangan seorang teman.

Dia memegang tangan ini, membalikkan kepala dan melihat

Qiu Feng Wu. Matanya sudah bersimbah dengan air mata. Dia

sudah terlalu banyak meminta. Tapi bagi teman sejati, apa

pun yang dia minta, sepertinya tidak akan terlalu banyak.

Di jalan tidak ada suara.

Semua suara tidak dapat menembus ke sini karena

dihalangi oleh dinding setebal 1,5 meter. Sepertinya mereka

sudah berjalan selama setengah jam. Gao Li tidak ingat sudah

berapa belokan dan berapa kali naik tangga, dan sudah

berapa kali melewati pintu besi.

Dia hanya merasa seperti sudah masuk ke dalam sebuah

kuburan raja kuno, lembab, seram, dan misterius.

Pintu yang terakhir terlihat lebih besar lagi dari pintu

sebelumnya, pintu terbuat dari besi setebal 1,5 meter yang

beratnya mencapai ribuan kilogram. Di pintu itu terpasang 13

buah kunci.

Qiu Feng Wu tepuk tangan, di jalan itu yang tadinya tidak

terlihat ada seorang pun, tiba-tiba muncul 12 orang.

Mereka adalah orang tua, rambutnya sudah memutih, yang

paling muda terlihat sudah berusia 50 tahun.

Sikap mereka begitu serius, langkah mereka sangat ringan.

Sekali melihat mereka, sudah tahu bahwa mereka adalah 12

orang pesilat tangguh. Dari balik pakaian, mereka masingmasing

mengeluarkan sebuah kunci dan masing-masing

memasukkan ke dalam lubang kunci.

Kunci diikat dengan rantai besi di balik pakaian mereka.

Kunci yang terakhir berada di balik pakaian Qiu Feng Wu.

Begitu Qiu Feng Wu membuka kunci yang terakhir,

keduabelas orang ini sudah menghilang.

Apakah mereka itu manusia? Apakah mereka adalah setan

yang keluar dari dalam tanah untuk menjaga tempat terlarang

ini?

Pintu sudah terbuka.

Qiu Feng Wu entah menepuk ke bagian mana, pintu

seberat ribuan kilogram ini seperti sihir, membuka sendiri.

Angin yang berhembus terlihat seram dan dingin, segera

menghembus keluar dari dalam ruangan itu.

Dari balik pintu ada sebuah ruangan yang terbuat dari batu.

Di dinding penuh dengan lumpur dan masih terpasang 6 buah

lampu.

Cahaya lampu terlihat sangat seram, seperti api setan. Di

ruangan batu ini tersimpan bermacam-macam senjata aneh,

ada juga senjata yang belum pernah dilihat oleh Gao Li.

Qiu Feng Wu mendorong batu besar, di dalam tersimpan

sebuah peti besi. Mungkin Kong Que Ling tersimpan di dalam

peti besi itu. Gao Li baru mengerti bahwa barang yang

dimintanya tcrlalu mahal.

Walaupun terhadap teman baik, tapi permintaan ini terlalu

banyak. Qiu Feng Wu membuka peti besi mengeluarkan

sebuah tempat berbentuk silinder yang berkilauan. Wadah

silinder ini sangat licin, dilihat sekilas seperti barang yang

sangat biasa, hanya saja wadah ini terbuat dari emas murni.

Suatu benda bila semakin berharga, terlihat dari luar

semakin biasa, karena hal seperti itu baru bisa menjaga

kemisteriusannya.

Qiu Feng Wu membawa benda itu dengan kedua

tangannya dan memberikannya kepada Gao Li. Wajah Qiu

Feng Wu terlihat sangat serius, serius sekaligus sedih. Gao Li

melihat dia, kemudian melihat Kong Que Ling yang dipegang

oleh Qiu Feng Wu, hatinya pun merasa berat. Kecuali mereka

berdua, tidak ada orang yang bisa tahu dari mana datangnya

perasaan ini.

Setelah lama Gao Li baru berkata,

“Sebenarnya kau tidak perlu meminjamkannya kepadaku.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tapi aku ingin meminjamkannya.”

Kata Gao Li,

“Aku pasti akan mengembalikannya kepadamu.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku percaya kepadamu.―

Akhirnya Gao Li mengulurkan tangannya.

Segera jarinya menyentuh senjata rahasia yang sangat

misterius itu. Dalam saat itu juga, hatinya diselimuti oleh

perasaan yang misterius yang tidak bisa dilukiskan, seperti

orang yang terkena mantra. Mantra ini membuat dia diselimuti

oleh tenaga yang misterius.

Kata Qiu Feng Wu,

“Di atasnya ada 2 buah tombol.”

Kata Gao Li,

“Aku sudah melihatnya.”

Kata Qiu Feng Wu;

“Bila menekan tombol yang pertama, maka rangkarangkanya

akan bergerak. Menekan tombol yang kedua, di

dunia ini tidak akan ada orang yang bisa menolong Ma Feng.”

Gao Li menghembuskan nafas panjang, sepertinya dia

sudah bisa melihat bayangan Ma Feng roboh ke bawah.

Qiu Feng Wu terdiam, kemudian pelan-pelan berkata,

“Seharusnya aku menemanimu pulang, jika aku pergi Kong

Que Ling tidak akan bisa dipakai.”

Kata Gao Li,

“Aku…aku…”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku tahu maksudmu, kau tidak ingin tanganku menyentuh

darah lagi dan tidak ingin aku mendapatkan kesulitan lagi.”

Kata Gao Li,

“Karena identitasmu sekarang sudah berbeda dengan yang

dulu.” Qiu Feng Wu mengangguk, dia tertawa kemudian

berkata, “Aku lupa memberitahumu sesuatu, aku sudah

mempunyai putra.”

Gao Li memegangnya dan berkata,

“Lain kali bila aku datang, aku akan menemuinya.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau harus melihat dia.”

Kata Gao Li,

“Aku janji.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau harus berjanji satu hal kepadaku.”

Kata Gao Li,

“Katakanlah!”

Sikap Qiu Feng Wu menjadi sangat serius dan berkata,

“Kong Que Ling bukan alat untuk membunuh orang.”

Gao Li menjadi aneh dan berkata,

“Apakah bukan?”

Kata Qiu Feng Wu,

“Benar, senjata rahasia fungsinya juga sama seperti senjata

biasa, senjata bukan untuk membunuh tapi untuk mencegah

terjadinya pembunuhan.” Gao Li mengangguk.

Dia tidak begitu mengerti dengan kata-kata Qiu Feng Wu,

dia merasa pikirannya dan Qiu Feng Wu sudah berbeda.

Tapi dia tidak mau mengakuinya.

Kata Qiu Feng Wu,

“Singkatnya tujuan pemakaian Kong Que Ling bukan untuk

membunuh orang tapi untuk menolong orang karena itu…”

Dia memegang tangan Gao Li dan berkata,

“Aku minta kau berjanji, jika bukan karena terpaksa jangan

gunakan Kong Que Ling.”

Gao Li menghembuskan nafas panjang. Sekarang dia sudah

mengerti apa yang dimaksud oleh Qiu Feng Wu.

Paling sedikit dia sudah mengerti sedikit. Dia memegang

tangan Qiu Feng Wu dan berkata, “Aku berjanji, kalau bukan

karena terpaksa, aku tidak menggunakannya.” Gao Li

menegakkan tubuh, lalu berjalan keluar. Langkah kakinya jauh

lebih ringan dibanding pada waktu dia datang karena dia

sudah tidak takut dan tidak merasa bimbang lagi.

Sekarang Kong Que Ling sudah berada di tangannya.

Nyawa Ma Feng pun sudah berada di tangannya. Dia tidak

perlu merasa khawatir lagi, orang yang harus khawatir adalah

Ma Feng.

0-0-0

Tiap rumah pasti ada kursi yang nyaman, biasanya kursi itu

diduduki oleh tuan rumah.

Tuan rumah ini adalah Gao Li, tapi yang duduk dengan

nyaman di kursi itu adalah Ma Feng. Dengan cara yang paling

nyaman dia duduk dan melihat Shuang Shuang berdiri di

hadapannya.

Dia berkata,

“Sudah 5 hari, suamimu sudah pergi selama 5 hari.”

Shuang Shuang mengangguk.

Shuang Shuang merasa tidak nyaman.

Ma Feng melihatnya dan bertanya, “Apakah kau tahu dia

pergi ke mana?”

Jawab Shuang Shuang, “Tidak tahu,”

Tanya Ma Feng lagi, “Apakah dia akan segera pulang?”

Jawab Shuang Shuang, “Tidak tahu.”

Tanya Ma Feng,

“Apakah semuanya kau tidak tahu?”

Jawab Shuang Shuang, “Benar.”

Tanya Ma Feng,

“Kau tidak bertanya kepadanya?”

Jawab Shuang Shuang, “Tidak.”

Kata Ma Feng,

“Tapi kau adalah istrinya.”

Kata Shuang Shuang,

“Karena aku adalah istrinya maka aku tidak bertanya

kepadanya.”

Tanya Ma Feng,

“Mengapa?”

Jawab Shuang Shuang,

“Karena laki-laki paling tidak suka bila perempuan banyak

tanya, jika aku banyak tanya, dia akan meninggalkan aku.”

Mata Ma Feng sudah mengeluarkan rasa marahnya.

Kata-kata seperti ini, sudah dia dengar selama beberapa

kali. Dia menunggu perempuan ini merasa lelah, hancur, dan

akan berkata jujur. Dia tidak memakai kekerasan karena dia

takut perempuan ini tidak akan bisa bertahan. Dia juga tahu

jika perempuan ini mati, bagi dia hanya ada rugi, tidak ada

untung.

Sekarang dia merasa yang lelah bukan perempuan itu

melainkan dirinya sendiri. Dia tidak habis pikir dengan tenaga

apa perempuan cacat itu bisa bertahan sampai sekarang.

Tiba-tiba Shuang Shuang balik bertanya,

“Kau mengkhawatirkan apa? Khawatir dia mencari bala

bantuan?”

Ma Feng tertawa dingin dan berkata,

“Dia tidak bisa mencari orang lain untuk membantunya

karena dia sama seperti diriku tidak mempunyai teman.”

Kata Shuang Shuang,

“Kalau begitu, mengapa kau masih merasa khawatir?”

Ma Feng tidak menjawab, sebenarnya kata-kata ini

seharusnya dia yang bertanya kepada dirinya sendiri.

Gao Li seperti seekor binatang yang sudah masuk ke dalam

perangkap, hanya pasrah menunggu orang datang untuk

menyembelihnya. Tapi dia sendiri juga tidak tahu, mengapa

dia begitu merasa khawatir?

Setelah lama Ma Feng baru berkata,

“Entah dia pergi ke mana, dia pasti akan pulang.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau sedang menghibur diri sendiri?”

Ucap Ma Feng,

“Oh!”

Kata Ma Feng lagi,

“Bila dia tidak kembali, kau yang akan mati.”

Shuang Shuang menarik nafas dan berkata,

“Aku tahu itu.”

Kata Ma Feng,

“Dia pasti tidak akan tega meninggalkanmu.”

Jawab Shuang Shuang,

“Belum tentu.”

Tanya Ma Feng,

“Mengapa belum tentu?”

Jawab Shuang Shuang sambil menarik nafas,

“Kau bisa melihat, aku bukan perempuan yang bisa

membuat seorang laki-laki bertekuk lutut di hadapanku.”

Wajah Ma Feng berubah dan berkata,

“Tapi dia selalu baik kepadamu.”

Ucap Shuang Shuang,

“Memang dia selalu baik kepadaku, jika sekarang dia

meninggalkan aku, aku juga tidak akan menyalahkan dia.”

Wajah Shuang Shuang terlihat seperti sangat sedih, dengan

pelan dia berkata lagi, “Jika dia kembali lagi, belum tentu

karena aku, tapi demi dirimu.”

Tanya Ma Feng,

“Mengapa harus demi diriku?”

Jawab Shuang Shuang,

“Untuk membunuhmu!”

Tiba-tiba tangan Ma Feng menjadi kaku. Setelah lama dia

baru bisa tertawa dingin dan berkata, “Apakah kau takut aku

menyanderamu untuk mengancamnya?” Baru saja berkata

berkata seperti itu, tiba-tiba Shuang Shuang tertawa dan

berkata, “Kau mau mengancamnya?”

Shuang Shuang tertawa, tertawa dengan sedih,

“Dia itu orang seperti apa? Kau bahkan lebih tahu daripada

aku. Kau dan dia adalah orang yang sejenis, apakah kau

mengira dia akan mengorbankan dirinya untuk menolongku?”

Wajah Ma Feng berubah lagi dan berkata, “Dia bukan aku.”

Kata Shuang Shuang,

“Kau kira dia benar-benar baik kepadaku?”

Kata Ma Feng,

“Aku bisa melihatnya.”

Kata Shuang Shuang,

“Karena dia berpura-pura di depanmu.”

Tanya Ma Feng,

“Mengapa?”

Jawab Shuang Shuang,

“Di depanmu dia berpura-pura baik kepadaku. Sengaja

membuatmu percaya bahwa dia tidak akan tega

meninggalkanku. Saat kau lengah, dia mempunyai

kesempatan untuk kabur.”

Muka Shuang Shuang mengeluarkan sikap benci dan

berkata, “Jika dia baik kepadaku, dia tidak akan pergi seorang

diri.” Ma Feng terpaku, hatinya mulai merasa tenggelam.

Tiba-tiba Shuang Shuang berkata,

“Tapi dia tetap akan pulang untuk membunuhmu.”

Tangan Ma Feng tiba-tiba memegang pedangnya dengan

erat karena dia sudah mendengar ada langkah seseorang

yang datang. Langkahnya ringan dan mantap. Semua orang

bisa tahu, orang ini terdengar bersemangat dan keadaan

emosinya sangat stabil.

Jika tidak bisa mendengar pasti bisa melihat. Sekarang Gao

Li sudah kembali dengan langkah yang mantap. Matanya

bersinar dan penuh dengan semangat. Dua hari ini dia bisa

tidur nyenyak, di dalam hatinya tidak ada rasa ketakutan. Ma

Feng merasa kursi yang didudukinya menjadi tidak nyaman.

Gao Li sama sekali tidak melihat dia seakan-akan tidak ada Ma

Feng di dalam rumahnya.

Shuang Shuang sudah bisa mendengar suara langkah Gao

Li. Wajahnya segera

tersenyum dan dengan lembut berkata,

“Kau sudah kembali?”

Jawab Gao Li,

“Ya, aku sudah kembali.”

Tanya Shuang Shuang,

“Waktu makan malam segera tiba, kau ingin makan apa?”

Jawab Gao Li,

“Apa pun boleh, aku merasa sangat lapar.”

Shuang Shuang tertawa dan berkata,

“Sepertinya masih ada daging yang diasinkan, aku

panaskan untukmu.”

Jawab Gao Li,

“Lebih baik ditambah sedikit bawang daun.”

Terlihat Gao Li seperti baru berkeliling sebentar dan pulang.

Meski lelah, tapi dia merasa senang karena itu dia terlihat

sangat santai. Tadinya dia seperti seekor binatang yang

masuk ke dalam perangkap. Sekarang dia seperti pemburu

yang mengejar binatang buruannya. Pemburu yang penuh

pengalaman, penuh tekad, dan rasa percaya diri.

Kekuatan apa yang mengubahnya menjadi seperti itu?

Ma Feng tidak mengerti. Hatinya semakin takut

menghadapi hal yang dia tidak mengerti atau tidak bisa

dijelaskan, dia merasa semakin takut. Shuang Shuang lewat

dari sisi Ma Feng dan masuk ke dapur.

Ma Feng tidak melarangnya.

Sebenarnya dia ingin menyandera Shuang Shuang untuk

mengancam Gao Li tapi entah mengapa dia merasa cara ini

tidak dewasa juga sangat memalukan. Dari dapur sudah

keluar harum daging yang dimasak dengan bawang daun.

Tiba-tiba Gao Li tertawa dan berkata,

“Dia seorang perempuan yang jago masak.”

Ma Feng mengangguk.

Dia tidak tahu maksud Gao Li, dia hanya bisa mengangguk.

Kara Gao Li,

“Dia juga sangat mengerti suaminya.”

Kata Ma Feng,

“Memang dia tidak bodoh.”

Gao Li tersenyum dan bertanya,

“Sebenarnya tadi kau ingin mehgatakan apa?”

Ma Feng hanya diam.

Akhirnya Gao Li dengan pelan menjawab sendiri,

“Aku bilang jika tadi kau menyandera dia untuk

mengancamku, mungkin bila kau menyuruhku supaya

memotong kepalaku, aku akan melakukannya.” Mulut Ma Feng

tersumbat, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Kata Gao Li,

“Sekarang sudah tidak ada waktu lagi.”

Dengan wajah seram Gao Li berkata,

“Sekarang jika kau mulai bergerak aku akan langsung

membunuhmu. Aku membunuh orang tidak perlu menunggu

hingga saat bulan pumama.” Suaranya tegas dan tenang,

seperti seorang hakim yang menjatuhkan vonis kepada

tersangka.

Ma Feng tertawa. Dia benar-benar tertawa, tapi dia sendiri

juga merasa tawanya sangat dipaksakan.

Kata Gao Li,

“Sekarang kau boleh tertawa, karena aku akan

membiarkanmu menunggu hingga bulan pumama.”

Kata Ma Feng,

“Karena itu kau tidak bisa tertawa.”

Jawab Gao Li,

“Aku tidak bisa tertawa karena membunuh orang tidak

boleh tertawa.”

Tanya Ma Feng,

“Dengan apa kau akan membunuh? Dengan paculmu?”

Jawab Gao Li,

“Dengan pacul pun aku bisa membunuhmu.”

Ma Feng sudah tidak bisa tertawa lagi. Dia sudah mulai

merasa kursi itu terlalu keras.

Di dapur terdengar suara Shuang Shuang,

“Nasi sudah dingin, kita buat nasi goreng bagaimana?”

“Baiklah.”

“Mau masak berapa mangkuk?”

“Dua mangkuk saja, untuk kita berdua, masing-masing satu

mangkuk.”

“Bagaimana dengan tamunya?”

“Tidak perlu disiapkan, karena dia tidak akan bisa makan.”

Memang Ma Feng tidak bisa makan.

Tanya Gao Li,

“Apakah kau ingin muntah?”

Ma Feng balik bertanya,

“Mengapa aku harus muntah?”

Jawab Gao Li,

“Karena kau takut, aku pun mempunyai pengalaman seperti

itu.”

Tanya Ma Feng,

“Kau kira aku takut kepadamu?”

Jawab Gao Li,

“Karena kau pasti sudah tahu, kapan pun aku bisa

membunuhmu. Sekarang kau masih bisa hidup karena aku

belum ingin membunuhmu. Aku belum membunuhmu karena

aku tidak terbiasa dengan perut kosong membunuh orang.”

Ma Feng melihatnya, tiba-tiba dia sudah meloncat dan siap

menusuk. Tusukan pedang cepat, tepat, dan kejam.

Tapi dia sudah melanggar peraturannya sendiri dalam

membunuh orang. Dia membunuh orang selalu lambat. Tapi

tusukan pedang ini tidak lambat, hanya terlihat kilauan

pedang. Pedang sudah menusuk mengarah ke leher Gao Li.

Gao Li masih dalam posisi duduk, tangannya berada di bawah

meja. Dia duduk dan tidak bergerak. Tapi tombaknya sudah

keluar dari bawah meja. Ujung pedang jaraknya hanya 3 inchi

dari tenggorokan.

Dia tidak bergerak, karena tombak dia sudah menancap di

perut Ma Feng. Ma Feng masih bergerak. Dia melihat Gao Li.

Matanya penuh keheranan, takut dan banyak pertanyaan yang

ingin ditanyakan.

Dia berkata,

“Kau… kau benar-benar membunuhku?”

Jawab Gao Li, “Aku sudah bilang, aku akan membunuhmu!”

Kata Ma Feng,

“Sebenarnya kau tidak bisa membunuhku.”

Jawab Gao Li,

“Tapi aku sudah melakukannya.”

Kata Ma Feng,

“Tapi aku tidak percaya.”

Kata Gao Li,

“Kau harus percaya dengan semua ini.”

Sepertinya Ma Feng masih ingin mengatakan sesuatu tapi

daging di tenggorokannya sudah membeku.

Kata Gao Li,

“Sebenarnya aku tidak yakin bisa membunuhmu, tapi

sekarang aku sangat yakin.

Sekarang atau kapan pun aku bisa membunuhmu.”

Ma Feng seperti bertanya,

“Mengapa?”

Jawab Gao Li,

“Karena aku mempunyai seorang teman. Teman yang

baik.”

Ma Feng akhirnya menarik nafas panjang.

Dia tidak mempunyai teman. Dia tidak memiliki apa-apa.

Gao Li membuka tangannya lebar-lebar. Shuang Shuang

sudah masuk ke dalam pelukannya.

Mereka saling peluk, semua bencana sudah lewat.

Sesudah melewati ujian ini, perasaan mereka akan lebih

kokoh dan tegar. Mereka saling mengandalkan dan saling

percaya. Di dunia ini tidak akan ada yang bisa memisahkan

mereka. Tapi ini bukan akhir dari cerita ini. Sebenarnya cerita

ini baru saja dimulai.

Bab 6

Bukan Penutup

Di dunia ini banyak hal terjadi di luar dugaanmu.

Jika hal ini terjadi pada dirimu, begitu tahu hal ini benarbenar

terjadi, kadang-kadang kau terlambat untuk

menyadarinya.

Hari semakin malam.

Mereka tidak menyalakan lampu, mereka masih berpelukan

di dalam kegelapan. Di dunia ini tidak ada yang lebih manis

dan bahagia selain bisa berpelukan dalam kegelapan.

Kebahagiaan mereka baru saja dimulai.

Tapi sayang memulai sesuatu itu kadang-kadang adalah

akhir dari sesuatu.

0-0-0

Hati Shuang Shuang penuh dengan rasa tenang dan

bahagia, bumi dan langit seperti ikut merasakannya.

Angin masuk melalui jendela, membawa wangi padi. Waktu

panen sudah tiba. Shuang Shuang mengusap-usap wajah Gao

Li, dengan lembut dia berkata, “Kau menjadi kurus.”

Jawab Gao Li,

“Aku akan cepat gemuk lagi.”

Kata Shuang Shuang,

“Aku senang kau lebih berisi. Besok aku akan membuat tim

ayam untukmu.”

Kata Gao Li,

“Besok kita akan pergi dari sini.”

Tanya Shuang Shuang,

“Ke mana?”

Jawab Gao Li,

“Mencari Qiu Feng Wu.”

Wajah Shuang Shuang bercahaya,

“Kau mau membawaku pergi menemuinya?”

Jawab Gao Li,

“Benar, aku membawamu untuk melihat putranya.”

Shuang Shuang dengan gembira bertanya,

“Apa dia sudah mempunyai anak?”

Dengan lembut Gao Li menjawab, “Kita juga akan segera

mempunyai anak.” Wajah Shuang Shuang memerah, tapi

penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan ini membuat dia

serasa ingin melambung terbang.

Setelah terdiam lama Shuang Shuang bertanya, “Apakah

kau sudah bertemu dengan istri Qiu Feng Wu?”

Jawab Gao Li,

“Belum, aku datang dan pergi dengan tergesa-gesa.”

Kata Shuang Shuang,

“Aku yakin istrinya adalah perempuan yang baik, karena

Qiu Feng Wu juga laki-laki yang baik.”

Kata Gao Li,

“Dia suami yang baik juga teman yang baik.”

Kata Gao Li lagi,

“Kecuali dia tidak akan ada orang yang memberi pinjam

Kong Que Ling kepadaku.”

Tanya Shuang Shuang, “Apa yang Kong Que Ling?”

Jawab Gao Li,

“Kong Que Ling (Bulu Merak) adalah senjata rahasia, tapi

bisa juga disebut bukan senjata rahasia.”

Kata Shuang Shuang, “Aku tidak mengerti.”

Kata Gao Li,

“Aku pun sulit untuk menjelaskannya. Intinya Kong Que

Ling harganya lebih tinggi daripada semua senjata rahasia

yang pernah ada. Siapa pun yang memilikinya, orang itu akan

berubah menjadi pribadi lain.”

Kata Shuang Shuang, “Menjadi pribadi lain?”

Gao Li mengangguk dan menjawab, “Berubah menjadi lebih

berwibawa dan lebih percaya diri.”

Gao Li tertawa dan berkata,

“Jika aku tidak memiliki Kong Que Long, mungkin aku tidak

akan bisa mengalahkan Ma Feng.”

Kata Shuang Shuang, “Aku masih tidak mengerti.”

Kata Gao Li,

“Selamanya kau pun tidak akan mengerti, aku sendiri pun

tidak begitu mengerti yang Sebenarnya.”

Dengan ragu-ragu Shuang Shuang bertanya,

“Apakah aku boleh meraba benda ini?”

Gao Li tertawa dan menjawab,

“Pasti boleh, tapi kau jangan menekan 2 tombol itu, bila

tidak…” Suaranya tiba-tiba berhenti, tawanya juga membeku.

Sekujur tubuhnya terasa dingin dan beku seperti menjadi es,

seperti terjatuh dari gunung dan masuk ke dalam sungai es.

Kong Que Ling hilang.

Shuang Shuang tidak bisa melihat wajahnya, tapi dia bisa

merasakan tubuh Gao Li yang gemetar.

Seumur hidup dia belum pernah merasa begitu kaget dan

takut, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi pada dirinya.

Shuang Shuang pelan-pelan melepaskan diri dari

pelukannya. Shuang Shuang tidak bertanya apa yang teiah

terjadi karena dia sudah merasakannya dan bisa menebaknya.

Tapi dia belum tahu bahwa ini adalah masalah yang sangat

berat, tidak ada yang tahu hal ini bisa menjadi suatu

kesalahan fatal.

Gao Li duduk di dalam gelap, dia tidak bergerak, tubuhnya

seperti terkubur di dalam tanah.

Tiba-tiba dia seperti orang gila berlari keluar rumah.

Shuang Shuang sudah ada di dalam gelapan

menunggunya. Shuang Shuang tahu Gao Li akan mencari ke

kuburan Ma Feng, dia berharap bisa mendapatkan benda itu di

sana.

Shuang Shuang hanya bisa berdoa, berharap jangan ada

bencana yang menimpa mereka lagi.

Tapi aneh, di dalam hatinya dia bisa merasakan bencana

yang akan datang menimpa mereka, Air mata Shuang Shuang

sudah menetes.

Angin berhembus seperti sedang menangis tersedu.

Akhirnya dia mendengar suara langkah Gao Li. Langkahnya

pelan membuat hati Shuang Shuang mulai tenggelam.

Dia bertanya,

“Apakah kau menemukannya?”

Jawab Gao Li,

“Belum.”

Suara Gao Li karena kaget dan takut menjadi serak. Suara

ini terdengar oleh Shuang Shuang, seperti jarum menusuk ke

dalam hati.

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau ingat kapan benda itu terjatuh?”

Gao Li marah kepada dirinya sendiri, dia ingin menggorok

lehernya sendiri. Dia belum pernah begitu benci kepada

dirinya sendiri. Shuang Shuang tidak menghibur dia karena dia

tahu dengan cara apa pun tidak akan ada gunanya.

Dia hanya berusaha bertanya,

“Sewaktu kau pulang, apakah Kong Que Ling masih berada

di tubuhmu?”

Jawab Gao Li,

“Ya.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau pernah memegangnya?”

Kata Gao Li,

“Tidak kusangka benda itu bisa terjatuh.”

Semua bencana juga terjadi pada waktu yang tidak

terduga.

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah pada saat kau membunuh Ma Feng, Kong Que

Ling itu sudah tidak ada?” Kata Gao Li, “Sepertinya sudah

tidak ada, kalau tidak pastilah terjatuh di dekat sini.”

Kata Shuang Shuang,

“Kau tidak mempunyai Kong Que Ling juga tetap bisa

membunuh dia.” Sekarang Gao Li baru mengerti tidak ada

Kong Que Ling pun dia tetap bisa membunuh Ma Feng.

Tapi dia baru mengerti sekarang pun itu sudah terlambat.

Tanya Shuang Shuang, “Terakhir dimana kau melihat benda

itu?”

Jawab Gao Li,

“Di dalam kereta.”

Sewaktu di dalam kereta, dia masih menyentuh benda itu,

benda yang licin dan kuat membuat dia gembira hingga

tubuhnya menjadi panas. Kemudian dia merasa santai karena

dia merasa tidak perlu takut lagi kepada apa pun di dunia ini.

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah terjatuh di dalam kereta?”

Jawab Gao Li,

“Mungkin saja.”

Tanya Shuang Shuang,

“Kereta yang mana?”

Jawab Gao Li,

“Kereta itu sudah pergi.”

Tanya Shuang Shuang,

“Di mana kau menyewa kereta itu?”

Jawab Gao Li,

“Di tengah perjalanan.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau kenal dengan kusirnya?”

Gao Li menunduk, kukunya sudah masuk ke dalam

dagingnya karena kemarahan yang bergejolak pada dirinya

sendiri.

Waktu itu dia terlalu bergembira, dia tidak memperhatikan

orang lain atau hal yang lain.

Yang lebih celaka lagi, dia takut diikuti oleh orang. Di

tengah perjalanan dia berganti kereta sebanyak dua kali.

Hati Shuang Shuang serasa tenggelam lagi, dia tahu Kong

Que Ling tidak akan kembali selamanya.

Benda yang mahal jika sudah hilang biasanya sulit untuk

kembali. Entah itu Kong Que Ling atau perasaan bila sudah

hilang akan sulit didapat kembali.

Shuang Shuang menahan tangis dan bertanya,

“Sekarang kau ingin melakukan apa?”

Jawab Gao Li,

“Aku…aku tidak tahu.”

Kata Shuang Shuang,

“Kau harus memberitahukannya kepada Qiu Feng Wu.”

Kata Gao Li,

“Ya, itu pasti.”

Kata Shuang Shuang,

“Mungkin Qiu Feng Wu bisa memaafkanmu karena

kesalahan yang tidak disengaja.”

Kata Gao Li,

“Pasti tidak, jika aku menjadi dia, aku juga tidak akan

memaafkan dia.”

Tanya Shuang Shuang,

“Mengapa?”

Jawab Gao Li setelah menghela nafas yang panjang,

“Kong Que Ling bagi mereka adalah benda yang sangat

penting.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kita tidak bisa menggantikannya?”

Jawab Gao Li,

“Tidak bisa.”

Kata Gao Li kembali,

“Mungkin ada sebuah cara.”

Tiba-tiba Shuang Shuang menjadi takut dan wajahnya

berubah. Shuang Shuang sudah mengerti maksud perkataan

Gao Li.

Jika seseorang sudah berbuat kesalahan yang tidak bisa

dimaafkan, hanya ada satu cara untuk menebus dosanya yaitu

‘mati’.

Shuang Shuang memeluk erat Gao Li dan berkata,

“Kau tidak boleh memilih jalan ini.”

Jawab Gao Li,

“Aku tidak mempunyai jalan lain lagi.”

Kata Shuang Shuang,

“Kita pergi ke tempat yang jauh, seumur hidup tidak akan

bertemu dengan Qiu Feng Wu.”

Gao Li tiba-tiba mendorong Shuang Shuang. Ini pertama

kalinya dia mendorong Shuang Shuang dari pelukannya.

Tenaga Gao Li tidak begitu kuat tapi Shuang Shuang

seperti terpental.

Shuang Shuang bertanya,

“Kenapa dengan dirimu?”

Jawab Gao Li,

“Aku tidak menyangka, kau menyuruhku melakukan hal

seperti ini.”

Kata Shuang Shuang,

“Tapi kau…”

Kata Gao Li,

“Aku membunuh orang, membunuh orang yang

Sebenarnya tidak boleh dibunuh, juga melakukan hal yang

tidak boleh dilakukan, tapi aku tidak pernah mengkhianati

teman.”

Air mata Shuang Shuang menetes lagi. Dengan pelan Gao

Li berkata, “Aku tahu aku tidak boleh mati, ini semua demi

dirimu, demi kita aku tidak boleh mati, karena itu aku akan

berusaha untuk bertahan hidup, tapi kali ini…”

Shuang Shuang berteriak dan berkata,

“Kali ini apakah kau tidak bisa…”

Gao Li memotong kata-kata Shuang Shuang dan berkata,

“Kali ini tidak sama. Aku tahu bernilainya Kong Que Ling

untuk mereka, aku juga tahu sewaktu berada dalam keadaan

sulit dan berbahaya, dia memberikan Kong Que Ling

kepadaku. Di dunia ini tidak ada orang yang begitu percaya

kepadaku karena itu aku tidak boleh merugikan dia, hingga

mati pun tidak boleh merugikan dia.”

Kata Shuang Shuang,

“Karena itu kau harus memberitahu hal ini kepadanya?”

Jawab Gao Li,

“Tepat.”

Suara Gao Li penuh tekad dan keberaniaan. Keberanian

yang benar-benar ada di dalam hatinya.

Kata Shuang Shuang sambil memeluknya,

“Aku mengira demi diriku, kau bisa melakukan hal terbaik

untukku.”

Kata Gao Li,

“Hal ini pengecualian.”

Kata Shuang Shuang,

“Aku mengerti karena itu aku merasa sedih sekaligus

gembira.”

Suara Shuang Shuang sangat tenang, dia berkata,

“Aku tidak salah menilaimu, kau adalah suamiku yang bisa

aku banggakan.”

Akhirnya Gao Li membungkukkan badan dan memeluk dia

lagi.

Gao Li memeluk dengan sedih,

“Kali ini aku tahu aku tidak akan melakukan kesalahan lagi.

Aku tidak boleh salah lagi, hanya bila aku bersalah kepadamu..

.maafkan aku.”

Dengan lembut Shuang Shuang berkata,

“Kau tidak bersalah kepadaku, karena kita adalah satu.”

Gao Li tidak berkata apa-apa lagi, kata-kata ini sudah bisa

mewakili semuanya.

Kau adalah aku, aku adalah kau.

Bencana seberat apapun harus dipikul bersama-sama. Jika

kau mempunyai istri seperti ini, kau mau mengeluh apa lagi?

Gelap tidak ada cahaya bintang juga cahaya bulan, gelap

yang sangat menakutkan.

Mereka berpelukan di dalam kegelapan, menunggu hari

terang. Seumur hidup mereka sepertinya hanya hidup di

dalam kegelapan, tapi mereka merasa lebih berbahagia

daripada orang lain.

Karena mereka mempunyai perasaan yang sungguhsungguh,

sebuah perasaan tidak dapat digantikan oleh apa

pun.

Karena itu kehidupan mereka sangat berharga. Hal inilah

yang paling penting.

0-0-0

Musim gugur sudah tiba.

Daun-daun mulai berguguran, tapi musim gugur tetap

terlihat indah.

Keindahan yang menyedihkan, seperti arak.

Jika kau di sana, tidak perlu minum, kau sudah merasa

mabuk. Gao Li berdiri di sana, berdiri di bawah pohon. Dia

menunggu. Dia tidak berani bertemu dengan keluarga Qiu

Feng Wu.

Setiap saat Qiu Feng Wu akan muncul, jika anak buahnya

sudah memberitahu kepadanya.

Dua ekor merak sedang diam dengan paruhnya

membereskan bulu-bulu mereka yang indah. Daun Feng mulai

berubah warna menjadi merah. Gao Li menunggu dengan

terbengong-bengong, juga dengan bengong melihat

sekelilingnya, hatinya sakit, dia tidak tahu di depan Qiu Feng

Wu nanti dia harus mengatakan apa.

Dia tidak berani menunggu terus. Dari arah padang rumput

terdengar suara langkah orang yang datang menuju

tempatnya. Gao Li tidak berani berhadapan dengannya. Gao

Li sudah merasa ada sebuah tangan memegang pundaknya.

Sebuah tangan penuh rasa persahabatan.

Suara yang mantap dan penuh rasa persahabatan.

“Kau sudah datang, aku tahu kau pasti akan cepat datang.”

Akhirnya Gao Li membalikkan badan.

Dia harus membalikkan badan. Kemudian dia sudah melihat

senyum Qiu Feng Wu, senyum yang hangat dan penuh

persahabatan.

Hati Gao Li terasa lebih sakit lagi. Persahabatan yang tidak

akan luntur selamanya, tiba-tiba seperti sebuah jarum,

menusuk hatinya sampai keluar darah.

Dengan tersenyum Qiu Feng Wu berkata,

“Kau terlihat sangat lelah.”

Gao Li mengangguk.

Dia lelah, juga hampir menjadi gila.

Kata Qiu Feng Wu,

“Sebenarnya kau tidak perlu tergesa-gesa datang kemari.”

Kata Gao Li,

“Aku…”

Dia ingin mengatakannya, tapi seperti ada tangan yang

tidak terlihat mencekik lehernya.

Tanya Qiu Feng Wu,

“Apakah masalah itu sudah dibereskan?”

Gao Li mengangguk.

Tanya Qiu Feng Wu,

“Apakah kau menggunakan Kong Que Ling?”

Gao Li menggelengkan kepala.

Qiu Feng Wu tertawa dan berkata,

“Aku sudah tahu, kau tidak perlu menggunakan Kong Que

Ling pun bisa membunuh Ma Feng.”

Kata Gao Li,

“Tapi aku…”

Qiu Feng Wu baru merasa sikap Gao Li yang aneh, segera

dia bertanya, “Kau datang seorang diri, mana Shuang

Shuang?”

Kata Gao Li,

“Dia baik…baik.”

Qiu Feng Wu menghembuskan nafas dan berkata,

“Mengapa dia tidak mau datang untuk menjenguk anakku?”

Kata Gao Li,

“Dia…dia…”

Akhirnya Gao Li dengan sekuat tenaga berkata,

“Dia tidak datang karena dia tahu aku bersalah kepadamu.”

Qiu Feng Wu mengerutkan dahi dan bertanya,

“Kau bersalah kepadaku? Mengapa bisa kau bersalah

kepadaku?”

Jawab Gao Li,

“Karena Kong Que Ling yang kau pinjamkan kepadaku

hilang dari tanganku.” Sesudah berbicara itu, dia seperti akan

roboh. Tidak ada suara, tidak ada jawaban. Gao Li tidak berani

melihat wajah Qiu Feng Wu sesudah dia mengucapkan katakata

ini.

Dia tidak berani melihat. Ada angin berhembus, daun

kering berjatuhan, selembar, dua lembar, tiga lembar….

Qiu Feng Wu tetap tidak berbicara sepatah kata pun.

Akhirnya Gao Li mengangkat kepala dan melihat dia. Qiu

Feng Wu seperti patung berdiri di sana, wajahya tidak ada

ekspresi apa pun, wajahnya pucat seperti es yang berada di

gunung yang jauh.

Qiu Feng Wu berdiri terus, sama sekali tidak bergerak.

Daun jatuh ke kepala dan kakinya.

Dia tetap tidak bergerak.

Daun jatuh ke wajahnya dan mengenai wajahnya, dia tidak

bergerak, mata pun tidak berkedip.

Matahari sudah terbenam, warna matahari merah seperti

darah.

Taman Feng juga merah seperti darah.

Mata Qiu Feng Wu tidak ada cahaya, wajahnya pun

demikian. Dia tetap tidak bergerak juga tidak berbicara. Gao

Li melihat dia, dia ingin menyobek dirinya, mencincang dirinya

dan melemparkan dagingnya ini ke dalam angin, ke dalam

tanah, ke dalam api dan dibakar hingga menjadi abu. Jika Qiu

Feng Wu memarahinya dengan galak atau memukul dia atau

bahkan membunuh dia, perasaannya akan lebih enak.

Pukulan yang begitu dasyat, kesedihan yang begitu berat,

membuat dia seperti itu.

Gao Li bertanya pada dirinya sendiri,

“Jika aku menjadi dia. aku akan melakukan apa?”

Dia tidak bisa berpikir. Berpikir sedikit pun tidak berani.

Apakah Qiu Feng Wu juga sedang bertanya kepada dirinya

harus bagaimana memperlakukan dia?

Sekarang Gao Li hanya menunggu kata-kata Qiu Feng Wu.

Qiu Feng Wu menyuruh dia mati, dia akan mati. Menyuruh dia

segera mati, Gao Li tidak akan hidup dengan lama, tapi Qiu

Feng Wu tidak berbicara apa-apa.

Malam hampir tiba.

Seorang pelayan tua menghampiri mereka dan berkata,

“Ketua, makan malam sudah siap.”

Qiu Feng Wu tidak menjawab, karena dia tidak mendengar.

Pelayan tua itu melihatnya, matanya bersorot khawatir,

akhirnya dia pergi.

Kegelapan seperti tangan raksasa yang hitam, mulai

menutupi bumi ini.

Angin terasa lebih dingin lagi.

Biarpun Gao Li berusaha menahan rasa dingin ini, tapi dia

tetap gemetar. Demi menebus dosa, dia bisa menahan

penghinaan dan mengalami bermacam-macam siksaan,

sampai mati pun dia akan tetap bertahan.

Tapi kesepian yang ini begitu menakutkan, bisa membuat

dia menjadi gila.

Dia ingin menghancurkan dirinya sendiri, angin berhembus

lagi. Tiba-tiba Qiu

Feng Wu mengangkat kepala dan berkata,

“Hari ini ada angin.”

Dengan pelan Gao Li berkata,

“Ya, hari ini ada angin.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tiap hari ada angin.”

Kata Gao Li,

“Ya, tiap hari selalu ada angin.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Ada angin itu lebih baik.”

Gao Li berteriak,

“Kau ingin bicara apa? Bicaralah!”

Sekarang Qiu Feng Wu baru membalikkan badan, melihat

dia dengan lama. Dia menarik nafas dan berkata, “Kau adalah

teman baik, aku harus percaya kepadamu.”

Kata Gao Li,

“Kau seharusnya tidak percaya kepadaku.”

Sepertinya Qiu Feng Wu tidak mendengar kata-kata Gao Li,

dengan pelan dia berkata lagi, “Kau sudah berjanji menengok

putraku.”

Gao Li terdiam lama, akhirnya dia menarik nafas panjang

dan berkata, “Aku memang pernah berjanji.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Sekarang putraku belum tidur.”

Tanya Gao Li,

“Kau menyuruhku menengok dia?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Aku akan membawamu ke sana.”

Rumput sudah menguning.

Di musim semi, di tempat ini pasti adalah padang rumput

yang hijau, musim gugur membuat orang merasa sedih.

Di tempat jauh ada lampu yang sudah terpasang.

Cahayanya seperti mata seorang kekasih, terang benderang,

tapi Gao Li tidak bisa melihat. Di dapannya hanya ada

kegelapan, hatinya juga penuh dengan kegelapan.

Qiu Feng Wu pelan-pelan berjalan di depan, langkahnya

terlihat berat. Gao Li mengikutinya dari belakang. Dia ingat

kemarin lalu, pada saat dia mengikuti Qiu Feng Wu berjalan,

jalannya lama juga sangat jauh. Waktu itu dia baru menolong

Bai Li Chang Qing. Waktu itu dia tahu setiap saat akan ada

orang yang mencari dia untuk membalas dendam, dan setiap

saat dia bisa dibunuh, tapi hatinya tetap merasa gembira.

Karena dia sudah menolong satu orang, sudah membantu

orang. Karena dia sudah mempunyai seorang teman.

Tapi sekarang?

Kesalahan yang tidak disengaja, kadang-kadang lebih

menakutkan daripada kesalahan yang sengaja dibuat.

Mengapa bisa demikian?

Mengapa Tuhan menyuruh dia melakukan hal itu?

Kesalahan yang tidak bisa dimaafkan dan tidak tertolong lagi.

Mengapa dia tidak hati-hati? Mengapa dia begitu ceroboh?

Begitu mengangkat kepala, dia sudah berada di tempat

yang terang benderang. Seorang perempuan tua yang

berambut putih sedang duduk di kursi, wajahnya ramah dan

anggun.

“Dia adalah ibuku,” kata Qiu Feng Wu.

Seorang perempuan cantik dan lembut, cantik seperti

bunga, umurnya juga seperti bunga yang baru mekar.

Mungkin hati penuh dengan rasa bahagia, menjadikan dia

sangat ramah, apalagi terhadap teman suaminya.

“Ini adalah istriku.”

Seorang anak yang lucu, wajahnya merah, matanya besar,

sehat dan lincah. Bagi Qiu Feng Wu, kehidupan baru saja

dimulai, tapi seumur hidup dia pasti bahagia.

Karena dia mempunyai keluarga yang baik, orangtua yang

baik, dia ditakdirkan bisa menikmati kebahagiaan.

“Ini adalah putraku.”

Gao Li melihat, mendengar, wajahnya tersenyum penuh

dengan rasa hormat.

“Ini adalah temanku, Gao Li, satu-satunya teman baik

dalam hidupku.”

Hati Gao Li seperti ditusuk jarum, hatinya mulai

mengeluarkan darah lagi.

Dia ingin kabur dari sini, dia malu kepada orang-orang yang

berada di sini. Jika mereka tahu dia yang menghilangkan

Kong Que Ling, apakah mereka masih bersikap begitu ramah?

Nyonya Besar Qiu tersenyum dan berkata,

“Feng Wu sering membicarakanmu, kali ini kau harus

menginap selama beberapa hari.”

Tenggorokan Gao Li tercekat, dengan sekuat tenaga dia

baru bisa mengangguk. Istri yang cantik dan Qiu Feng Wu

sedang menggendong putranya, dia berkata, “Panggillah

paman, paman akan memberi permen kepadamu.” Putra Qiu

Feng Wu baru berumur satu tahun, dia belum bisa memanggil

Paman Gao, sebab dia belum mengerti pembicaraan orang

dewasa.

Tapi dia bisa tertawa, dia melihat Gao Li langsung tertawa,

membuat semua orang ikut tertawa.

Nyonya Besar Qiu dengan tertawa berkata,

“Anak ini suka kepada Paman Gao. Paman Gao akan

banyak membawa rejeki untuk anak ini.”

Hati Gao Li serasa hancur.

Hanya dia sendiri yang tahu, yang dia bawa bukan rejeki

tapi malapetaka. Untung Qiu Feng Wu tidak menyuruh dia

lama-lama berada di sana. Qiu Feng Wu berkata, “Aku akan

membawa dia melihat-lihat ke luar, karena dia baru datang,

banyak tempat yang belum dia ketahui.”

Memang benar banyak tempat yang belum dilihat oleh Gao

Li, sebenarnya dia belum pernah ke tempat yang begitu

megah dan mewah.

Di bawah cahaya bulan, tempat itu lebih mirip dengan

istana dalam dongeng-dongeng.

Kata Qiu Feng Wu,

“Di sini semua rumah jumlahnya ada 9 buah, kebanyakan

dibangun 270 tahun yang lalu, sudah melewati 3 generasi,

akhir-akhir ini baru kelihatan lebih teratur.” Sebenarnya

tempat ini sudah bukan disebut teratur tapi sudah termasuk

‘wah’.

Kata Qiu Feng Wu,

“Tempat ini adalah sebuah mujizat, karena sudah

mengalami 2 kali peperangan, tapi tempat ini masih tetap bisa

berdiri dengan kokoh.”

Di belakang rumah, tergantung 12 buah lampu yang

berwarna. Cahaya lampu menyinari sebuah lukisan yang

sangat besar. Dalam lukisan itu ada 12 laki-laki yang terlihat

sangat seram. Mereka memegang senjata beraneka macam,

tapi mata mereka bersorot keheranan sekaligus ketakutan

karena tangan seorang pelajar yang rapi sedang memegang

wadah berbentuk tabung yang berwarna kuning. Wadah itu

mengeluarkan cahaya berwama-warni.

Cahayanya lebih indah daripada pelangi.

Kata Qiu Feng Wu,

“Lukisan ini menceritakan sebuah kisah seratus tahun yang

lalu.”

Gao Li mendengarkan.

Kata Qiu Feng Wu,

“Waktu itu dari golongan hitam ada 36 setan ingin

memusnahkan tempat ini, mereka berkoalisi, bergabung

menyerang. Ilmu silat ketiga puluh enam orang ini katanya

sangat tinggi. Di dunia persilatan sudah tidak ada orang yang

bisa menandingi mereka.”

Tanya Gao Li,

“Lalu bagaimana?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Di dalam pertarungan itu, di antara 36 orang itu tidak ada

seorang pun yang bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini.”

Dia berkata lagi,

“Semenjak pertarungan itu, orang dunia persilatan tidak

ada yang berani menyerang Wisma Kong Que, karena itu

nama Kong Que Ling mulai terkenal dan menyebar luas.”

Lampu semakin sedikit.

Rumah ini terlihat sangat seram dan sedih, cahaya lampu

pun seperti menjadi hijau.

Mereka melewati hutan yang kering, melewati jembatan,

baru bisa sampai di tempat itu.

Di sini seperti berada dunia yang lain, seperti berada di

langit dan bumi yang lain.

Rumah tinggi dan besar, seram dan dingin.

Di dalam rumah ini terdapat ratusan lampu yang belum

pernah dipadamkan, lampu yang suram seperti api setan.

Di depan sebuah lampu terdapat sebuah batu nisan. Nisan

yang pertama dilihat oleh Gao Li adalah nisan ‘Ketua Tai Hang,

propinsi Shan Xi, Jan Sun Fu’. Masih ada nisan ‘Pendeta Kong

Dong, Shan Feng’.

Gao Li pernah mendengar kedua nama ini, mereka adalah

orang yang terhebat di dunia persilatan. Qiu Feng Wu melihat

baris-baris nisan-nisan ini, mukanya lebih serius lagi dan

berkata, “Mereka mati di bawah Kong Que Ling.” Tiga ratus

tahun ini yang mati di bawah Kong Que Ling tidak lebih dari

300 orang, berarti Kong Que Ling tidak dapat sembarangan

dipakai. Biasanya yang mati di bawah Kong Que Ling adalah

ketua-ketua kumpulan atau pesilat tangguh.

Kata Qiu Feng Wu,

“Nenek moyang kami takut keturunan mereka akan

mendapat dosa yang berat, karena itu orang yang telah

terbunuh di sini terpasang nisan-nisan mereka agar dendam

ini tidak akan ada terus menerus, menyembahyangi roh-roh

mereka yang sudah meninggal.”

Kata Qiu Feng Wu sambil menarik nafas,

“Tapi sayang turunan mereka masih banyak yang ingin

membalas dendam kepada kami.”

Gap Li tidak berbicara. Dalam hati dia sedang memikirkan

satu hal. Hal yang aneh dan juga menakutkan.

Dia seperti melihat namanya dipasang di tempat ini.

0-0-0

Jalan panjang dan berliku-liku.

Tempat ini sudah pernah didatangi oleh Gao Li, pada saat

dia datang untuk mengambil Kong Que Ling. Kenapa Qiu Feng

Wu membawa dia ke sini lagi? Gao Li tidak bertanya.

Biarpun Qiu Feng Wu membawa dia ke mana pun, dia tidak

akan bertanya, apa yang akan terjadi nanti dia siap

menerimanya.

Terdengar suara tepukan tangan. Di jalan itu muncul 12

orang seperti roh setan. Dua belas kunci membuka 12 lubang.

Kemudian mereka berdua masuk lagi. Ruangan yang

misterius, seram, dan gelap, seperti masuk ke sebuah

kuburan.

Di ruangan batu itu ada 2 buah tungku batu yang berat, di

atas kursi banyak debu dan lumut.

Kata Qiu Feng Wu,

“Duduklah!”

Gao Li segera duduk.

Qiu Feng Wu membalikkan badan, dari sela-sela batu dia

mengambil seguci kecil arak. Arak ini sudah ditutup rapat oleh

tanah liat.

Dia pecahkan tanah liat, segera tercium wangi arak ini.

Kata Qiu Feng Wu, “Arak ini sudah berumur ratusan tahun.”

Kata Gao Li, “Arak yang bagus.”

Gelas arak juga terbuatdari batu, berat dan jelek. Qiu Feng

Wu duduk dan gelas diisi penuh oleh arak itu, dia berkata,

“Arak yang bagus, harus diminum.” Gao Li sekaligus

meminumnya. Qiu Feng Wu melihat dia dan berkata, “Sudah

lama kita tidak minum.”

Jawab Gao Li, “Benar, sudah lama.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Beberapa tahun ini banyak hal yang sudah berubah.”

Gao Li memenuhi gelasnya dengan arak lagi dan

diteguknya sampai habis.

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku tidak mempunyai saudara laki-laki, kau adalah

saudara laki-lakiku.” Gao Li memegang erat gelas arak. Jika

gelas bukan terbuat dari batu, mungkin sudah dipegangnya

hingga pecah.

Kata Qiu Feng Wu,

“Karena itu aku akan memberitahumu satu patah kata.”

Gao Li berkata,

“Aku sedang mendengarkan.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau sudah menghilangkan Kong Que Ling, dalam hati, kau

pasti sedih dan kesal, mungkin perasaan ini lebih dari

perasaanku.”

Gao Li menunduk, diisinya gelas itu dengan arak dan

dihabiskan.

Arak yang wangi tiba-tiba terasa pahit. Kata Qiu Feng Wu,

“Aku tahu perasaanmu, jika aku menjadi dirimu, aku tidak

akan berani kesini lagi.”

Wajah Gao Li mengeluarkan kesedihan dan berkata, “Aku

harus datang, karena kau sudah percaya kepadaku.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tidak semua orang mempunyai keberanian, aku

mempunyai teman sepertimu, aku benar-benar bangga.”

Kata Gao Li, “Tapi aku…”

Qiu Feng Wu memotong kata-katanya dan berkata, “Kau

harus mempercayaiku seperti aku mempercayaimu.”

Gao Li mengangguk.

Wajah Qiu Feng Wu menjadi aneh dan berkata, “Apakah

kau percaya bahwa Kong Que Ling yang kau bawa itu adalah

yang asli?”

Gao Li berteriak, “Apakah itu bukan yang asli?”

Kata Qiu Feng Wu, “Bukan.”

Terdengar suara gelas terjatuh.

Tiba-tiba Gao Li seperti ikan yang mati di dalam es, tidak

ada orang yang bisa melukiskan bagaimana pikiran dia

sekarang, juga tidak ada orang yang bisa melukiskan ekspresi

wajahnya.

Dia melihat Qiu Feng Wu seperti matahari, tiba-tiba

terbenam sepertinya pada saat itu juga bumi terbelah menjadi

dua.

Kemudian dia merasa lumpuh dan terduduk ke kursi batu

itu, dia betul-betul merasa sudah hancur luluh.

Bukan hancur karena putus asa tapi kegembiraan yang

membuat dia hancur, air mata mulai menetes.

Ini bukan air mata karena sedih. Seumur hidup dia belum

pernah merasa begitu gembira. Keadaan ini seperti tersangka

yang dihukum mati, tiba-tiba mendapat suatu keajaiban.

Qiu Feng Wu melihat dia, di mata Qiu Feng Wu malah

terlihat kesedihan. Setelah lama dia berkata, “Aku

memberitahumu ini karena aku tidak mau karena hal ini kau

menjadi sedih.”

Gao Li terus mengangguk, hatinya penuh rasa berterima

kasih.

Tapi dia tetap bertanya,

“Kong Que Ling yang asli berada di mana?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Tidak ada yang asli.”

Gao Li terkejut lagi,

“Apakah benar tidak ada yang asli?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Benar, sama sekali tidak ada.”

Qiu Feng Wu menarik nafas dan tertawa kecut, dia berkata,

“Kong Que Ling yang asli tertinggal di Gunung Tai.”

Kata Gao Li,

“Apakah sudah lama?”

Qiu Feng Wu mengangguk dan berkata,

“Benar, setelah ayahku bertarung dengan Jin Kai Jia.”

Tanya Gao Li,

“Tapi orang persilatan tidak ada yang tahu bukan?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Pasti tidak ada.”

Tanya Gao Li,

“Mengapa?”

Kata Qiu Feng Wu,

“Karena tidak ada yang tahu, aku juga tidak tahu.”

Kata Gao Li,

“Tapi kau…”

Kata Qiu Feng Wu,

“Sebelum ayah meninggal, beliau baru memberitahu

kepadaku.”

Kata Gao Li,

“Hanya memberitahu kepada kau sendiri?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Benar, hanya aku seorang diri.”

Kata Gao Li,

“Kau…”

Qiu Feng Wu melihat dia dan berkata,

“Kau adalah orang ketiga yang tahu hal ini.”

Mata Qiu Feng Wu terlihat lebih sedih lagi dan berkata,

“Waktu ayah mengatakan rahasia ini, pernah menyuruhku

untuk bersumpah. Rahasia ini harus dijaga sampai aku akan

mati, baru memberitahu kepada putraku.”

Wajah Gao Li berubah lagi, dan berkata,

“Tapi kau memberitahukannya kepadaku.”

Qiu Feng Wu menarik nafas panjang dan berkata,

“Karena kau adalah sahabatku. Aku tidak mau demi hal ini

kau merasa menyesal seumur hidup.”

Ini adalah sahabat yang mulia. Apakah di dunia ini ada hal

yang lebih bahagia daripada mempunyai sahabat yang semulia

ini?

Gao Li menundukkan kepala.

Lebih baik Qiu Feng Wu tidak memberitahu kepada dia

rahasia ini, dia merasa tanggung jawab dia lebih berat lagi.

Kata Qiu Feng Wu,

“Sewaktu kau membunuh Ma Feng, juga tidak memakai

Kong Que Ling.”

Kata Gao Li,

“Waktu itu Kong Que Ling sudah hilang.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku sudah tahu, kau tidak membutukan Kong Que Ling

dan tetap bisa membunuh Ma Feng.”

Kata Gao Li,

“Apakah kau sudah tahu?”

Qiu Feng Wu menjawab,

“Aku tahu kemampuan ilmu silatmu, juga tahu bagaimana

sifatmu.”

Gao Li mengakuinya, dia harus mengakuinya.

Kata Qiu Feng Wu,

“Ilmu silatmu sudah tinggi. Di dunia persilatan jarang ada

yang bisa mengalahkanmu, tapi kau sendiri kurang percaya

diri, karena itu…”

Kata Gao Li,

“Karena itu kau memberi pinjam Kong Que Ling yang

palsu.”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Benar.”

Kata Gao Li,

“Karena itu kau terus berpesan kepadaku, jika bukan

terpaksa jangan menggunakannya.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku sudah tahu kau tidak membutuhkannya.”

Wajah Qiu Feng Wu mulai serius lagi dan berkata,

“Kong Que Ling bukan senjata, tapi dia adalah sumber

kekuatan.”

Kata Gao Li,

“Aku pernah dengar dulu kau pernah mengatakannya.”

Kata Qiu Feng Wu,

â€oeJika ada Kong Que Ling, biarpun hidupmu hanya

sampai saat itu, di dunia persilatan tidak akan ada yang berani

menyerang wisma ini, apakah kau mengerti?” “Aku mengerti.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Nama Wisma Kong Que Ling yang sudah berusia 300

tahun, tanah dan rumah yang luasnya 8.0 kilometer, 500

nyawa, sebenarnya terbangun karena Kong Que Ling yang

kecil ini.”

Qiu Feng Wu lebih serius lagi.

“Jika Kong Que Ling hilang, Wisma Kong Que juga akan

musnah.”

300 tahun, 80 kilometer luas rumah, 500 nyawa semua

akan musnah. Gao Li tiba-tiba mengerti mengapa Qiu Feng

Wu membawa dia bertemu dengan keluarganya juga

membawa dia melihat nisan-nisan orang yang mati karena

Kong Que Ling.

Anak cucu orang-orang yang mati karena Kong Que Ling,

jika tahu Kong Que Ling sudah hilang, mereka tidak akan

melepaskan keluarga besar Qiu Feng Wu. Dendam orang

persilatan selalu dan selama-lamanya tidak akan bisa

dibereskan.

Qiu Feng Wu menarik nafas dan berkata,

“Sebenarnya aku tidak mau menerima tanggung jawab ini,

aku menganggap nama baik nenek moyangku tidak ada

hubungan dengan anak cucunya.”

Tanya Gao Li,

“Jika sekarang bagaimana?”

Tiba-tiba Qiu Feng Wu tertawa dengan sedih dan berkata,

“Sekarang aku bara tahu, aku turunan dari Qiu, aku harus

memikul tanggung jawab yang berat ini, tidak boleh

menolaknya, juga tidak boleh melarikan diri.”

Kata Gao Li dengan pelan,

“Beban ini biarpun berat tapi juga mulia.”

Sebenarnya bukan hanya mulia, juga tanggung jawab dan

kewajiban yang mulia. “Anak cucu Wisma Kong Que asalkan

dia masih hidup, dia akan bertanggungjawab dan berjuang

hingga akhir.”

Ini adalah tujuan mereka hidup.

Mereka tidak bisa memilih.

Qiu Feng Wu melihat Gao Li lagi, dan pelan-pelan berkata,

“Karena itu, aku tidak menginginkan Wisma Kong Que

hancur di tanganku.” Sikap Gao Li menjadi sangat tenang,

sepertinya sudah mengambil keputusan, tapi bibir Qiu Feng

Wu malah pucat, dia berkata, “Karena aku tidak akan

membiarkan orang lain mengetahui rahasia ini.”

Gao Li mengangguk dan berkata, “Aku mengerti.”

Tanya Qiu Feng Wu,

“Apakah kau benar-benar sudah mengerti?”

Jawab Gao Li,

“Benar-benar mengerti.”

Tiba-tiba Qiu Feng Wu tidak berkata apa-apa lagi, dia juga

tidak berani melihat Gao Li lagi.

Matanya penuh dengan kesedihan dan rasa sakit. Rasa

sakit dan kesedihan yang tidak bisa dipecahkan.

Mengapa manusia selalu melakukan hal yang dia tidak ingin

lakukan? Apakah ini adalah kesedihan dan rasa sakit dari

manusia? Tidak ada angin tapi udara terasa lebih dingin lagi.

Lampu yang seram seperti sudah padam, beku, hati orang

seperti sudah membeku.

“Aku akan membuat kehidupan Shuang Shuang lebih baik.”

“Pasti.”

Arak terasa pahit, sangat pahit.

Arak sudah berada di dalam gelas sepahit apa pun tetap

akan diminum. Entah itu arak pahit atau arak beracun kau

tetap haras meminumnya. Dengan pelan Qiu Feng Wu berdiri,

dan membalikkan badan. Dia tidak berkata apa-apa, tapi

begitu dia keluar dari pintu, dia membalikkan kepala dan

berkata, “Masih ada satu hal lagi yang harus kuberitahu

kepadamu.” Gao Li mendengarkannya.

Kata Qiu Feng Wu,

“Kantor-kantor Biao yang di 6 propinsi sudah bergabung,

ketuanya adalah Bai Li Chang Qing.”

Mata Gao Li yang tadinya berwarna abu dan gelap,

mengeluarkan cahaya, cahaya yang berkilau.

Qiu Feng Wu sudah keluar.

Setelah lama Gao Li bara berkata,

“Terima kasih kau sudah memberitahuku mengenai hal itu.”

Gao Li benar-benar berterima kasih karena dalam seumur

hidupnya dia merasa hidupnya lebih berarti, dia sudah merasa

puas. Dia pernah mencintai dan juga pernah dicintai. Dia

sudah melakukan hal yang berarti dan hal yang berharga,

hidup yang dia jalani selama ini tidak akan sia-sia.

Qiu Feng Wu tidak pernah menyentuh araknya. Gao Li

segera meminum arak milik Qiu Feng Wu. Entah itu arak pahit

atau arak beracun, Gao Li tetap harus meminumnya. Ini

adalah sebuah kehidupan!

Dalam sebuah kehidupan, kadang-kadang banyak hal

terjadi, biarpun kau mau atau tidak mau, tapi kau tetap harus

melakukannya.

Jika seseorang bisa mati dengan tenang, hidup dengan

tenang rasanya akan lebih sulit.

0-0-0

Malam sudah larut, tidak ada bintang juga tidak ada bulan.

Angin berhembus sangat dingin.

Qiu Feng Wu dengan pelan-pelan keluar ke pekarangan.

Daun beringin sedang berguguran, selembar demi selembar

berjatuhan.

Dia berdiri lama di pekarangan, dia tidak merasa bahwa

istrinya sudah berada di sisinya.

Istrinya mendekatinya, dalam hatinya, di langit dan bumi ini

selalu terlihat begitu bahagia dan tenang.

Karena itu dia juga berharap orang lain bisa sama

bahagianya dengan dirinya.

Setelah lama dia baru bertanya,”Mana temanmu?”

“Sudah pergi.”

“Mengapa harus pergi?”

Qiu Feng Wu tidak menjawab, tapi dia mengambil sehelai

daun yang jatuh. Dia memandang daun yang jatuh, matanya

bersorot penuh dengan kesedihan dan rasa pedih.

Apakah daun-daun ingin dihembus dan berjatuhan oleh

angin musim gugur?

Nyawa seseorang kadang-kadang juga seperti daun yang

berjatuhan ini. Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa

kemenangan didapat bukan karena kedahsyatan sebuah

senjata melainkan karena kepercayaan diri, biarpun senjata

yang sangat dasyat, tidak akan bisa mengalahkan

kepercayaan diri manusia. Karena itu adalah senjata yang

kedua, bukan Kong Que Ling tapi adalah kepercayaan diri.

TAMAT

Kitab Pusaka

New Picture (1)Kitab Pusaka

Karya : Wu Lung Shen

Saduran : Tjan ID

sumber : dimhad

Ebook pdf oleh : Dewi KZ

Jilid 1 : Jago pedang yang dikhianati kekasih

Di SUATU JALAN bukit yang sepi nun jauh di sana, dibawah rembulan yang redup, lamat-lamat tampak dua sosok manusia sedang berlarian dengan langkah tergesa-gesa. Menanti mereka semakin mendekat, tampaklah kalau dua orang itu adalah seorang nenek berambut putih yang sedang menggandeng tangan seorang bocah cilik. Baca lebih lanjut

Pedang Bunga Bwee

New Picture

Pedang Bunga Bwee

Saduran : Tjan ID

Ebook oleh : Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website

Jilid 1

MALAM kelam seluruh kota Yang- chiu diliputi kegelapan, suasana sunyi senyap. Disisi kota itu terletak suatu telaga yang disebut telaga So – Si – Auw, berbeda dengan suasana kota, telaga itu ramai sekali dengan perahu-perahu pesiar yang hilir mudik ditengah telaga. Baca lebih lanjut

7 Senjata – Pedang Abadi (Seri 1)

New Picture (3)dd

SERIAL 7 SENJATA

PEDANG ABADI

(Zhang Seng Jian)

(Seri 1)

Karya : Khu Lung / Gu Long

Kota pualam putih di langit, Punya lima menara dan duabelas benteng, Di mana dewa berdiam di atas kepalaku, Memelihara rambut yang panjang dan hidupku bersamanya. ~ Li Bai ~

Bab 1: Losmen Angin Dan Awan

Senja. Di atas jalan berpelat batu itu, sembilan orang yang berpenampilan aneh muncul, semuanya memakai baju tunik dari kain rami, sepatu rami, dan anting-anting emas sebesar mangkuk di daun telinga kiri mereka. Semuanya berambut merah acak-acakan yang terurai di bahu mereka seperti bara api. Baca lebih lanjut

Mestika Burung Hong Kemala – Kisah si Pedang Terbang (Seri 2)

New Picture (1)

 Mestika Burung Hong Kemala 

Kisah si Pedang Terbang

(Seri 2) 

Karya : Asmaraman S Kho Ping hoo

Ebook by Teppai & Dewi KZ

Source : Tiraikasih Website

Jilid I

Sungainya bagaikan pita sutera biru,

Gunungnya laksana tusuk sanggul kemala!”

Demi kianlah pujian yang ditulis dalam dua baris atau sebait sajak oleh Han Ji (768 824), seorang di, antara para pujangga besar di jaman Dinasti Tang (618 907) itu. Baca lebih lanjut

Pendekar Binal – Bahagia Binal (Seri 3) Tamat

New Picture

Pendekar Binal – Bahagia Binal (Seri ke 3)Tamat

Karya : Khu Lung

Saduran : Gan KL

Gui Moa-ih pikir diri sendiri memang tidak mungkin tahan seperti Siau-hi-ji, tapi ia menjadi gusar dan mendamprat, “Kau sudah terpikat oleh bocah ini, dengan sendirinya segalanya kau puji.” “Dia memang hebat dan harus dipuji, kalau tidak …kalau tidak masa aku sampai terpikat olehnya?!”  Baca lebih lanjut