Mutiara Hitam (Seri 04 Bukeksiansu)

New Picture (3)

Mutiara Hitam

(Seri 04 Bukeksiansu)

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Ebook oleh : Dewi KZ

Jalan kecil itu menuju ke kota Tai-goan. Jalan yang buruk dan becek, apalagi karena waktu itu musim hujan telah mulai. Udara selalu diliput i awan mendung, kadang-kadang turun hujan rintik-rintik, sambung menyambung menciptakan hawa dingin. Seperti biasa, segala keadaan di dunia ini selalu mendatangkan untung dan rugi, dipandang dari sudut kepentingan masing-masing.

Para petani menyambut hari-hari hujan dengan penuh kegembiraan dan harapan, karena

banyak air berarti berkah bagi mereka. Akan tetapi di lain

fihak, para pedagang dan pelancong mengomel dan mengeluh

karena pekerjaan atau perjalanan mereka terganggu oleh

jatuhnya hujan rintik-rintik yang tak kunjung hent i.

Hujan rintik-rint ik membuat jalan kecil itu sunyi. Dalam

keadaan seperti itu, orang-orang yang melakukan perjalanan

melalui jalan kecil itu lebih suka menunda perjalanan,

beristirahat di warung-warung sambil minum arak hangat, di

kuil-kuil atau setidaknya di bawah pohon rindang, pendeknya

asal mereka dapat terlindung dari hujan. Kalaupun ada yang

melakukan perjalanan melalui jalan kecil itu di waktu hujan

rintik-rintik menambah dingin hawa udara pagi itu, mereka

tentu bergesa-gesa agar cepat tiba di tempat tujuan.

Beberapa ekor kuda dibalapkan lewat, jupa serombongan

kereta lewat dengan cepatnya melalui jalan kecil, sejenak

memecahkan kesunyian dengan suara roda kereta, derap kaki

kuda dan cambuk, diseling suara pengendara yang

menyumpah jalan buruk dan hawa dingin.

Akan tetapi pada pagi hari itu, seekor kuda kurus berjalan

perlahan melalui jalan kecil itu. Kuda yang kurus dan buruk,

berjalan seenaknya seakan-akan menikmati air hujan yang

berjatuhan jarang di atas kepalanya. Warna kulit kuda ini

agaknya dahulunya merah, kini penuh debu basah sehingga

warnanya menjadi coklat dan kotor. Penunggangnya sama

dengan kudanya dalam menghadapi gangguan hujan. Tidak

merasa terganggu sama sekali. Duduk di atas punggung kuda

sambil meniup suling! Aneh, mana ada orang lain berhujanhujan

meniup suling?

Laki-laki itu tinggi tegap, usianya tentu mendekati lima

puluh tahun. Raut wajahnya tampan dan gagah, pandang

matanya sayu namun bersinar tajam. Kepalanya terlindung

sebuah topi lebar, terbuat dari anyaman rumput dan sudah

butut, robek-robek pinggirnya. Pakaiannya longgar dan amat

bersih, akan tetapi sudah terhias tambalan di beberapa

tempat. Biarpun keadaan orang dan kudanya membayangkan

kemelaratan dan sama sekali tidak menarik, namun suara

sulingnya luar biasa sekali. Sayang bahwa tiupan suling

seindah itu tidak pernah terdengar orang karena setiap kali

bertemu orang, laki-laki di atas kuda kurus ini selalu

menghentikan tiupan sulingnya. Agaknya ia tidak suka kalau

tiupan sulingnya didengar orang.

Setelah keluar dari sebuah hutan kecil yang gelap, laki-laki

itu menghentikan kudanya. Sepasang mata yang terlindung

topi lebar itu memandang ke kanan kiri. Hutan terganti kebun

dan sawah. Beberapa orang petani sibuk bekerja di ladang,

agak jauh dari jalan kecil itu. Laki-laki itu tampak tertarik dan

sejenak wajah yang tampan itu berseri. Kemudian ia menarik

perlahan kendali kudanya. Binatang kurus itu berjalan lagi,

seenaknya. Hujan gerimis sudah mereda, tinggal kecil dan

jarang, sebentar lagi juga berhenti. Di timur, sinar matahari

mulai menerobos awan tipis mengusir dingin. Laki-laki itu

sejenak memandang ke arah matahari yang belum

menyilaukan mata, lalu mulutnya bernyanyi!

“Syarat memimpin negara dan dunia

adalah sembilan kebenaran

memperbaiki diri sendiri

menghargai orang bijak dan pandai

mencinta sanak keluarga

menghormat pembesar tinggi

mengasihi pembesar rendah

mencinta rakyat seperti anak

mengundang ahli-ahli bangunan

menghibur pengunjung dari jauh

mengikat persahabatan dengan negara lain!”

Sambil bernyanyi, laki-laki itu melakukan gerakan-gerakan

aneh dengan sulingnya. Setiap kata-kata ia barengi dengan

gerakan suling yang kalau diperhatikan merupakan gerakan

menulis kata-kata itu, menulis di udara dan sungguh aneh,

setiap gerakan menulis ini mengakibatkan suara angin

melengking yang berbeda-beda! Andaikata pada waktu itu

terdapat seorang ahli silat tinggi yang menyaksikan gerakangerakan

ini, tentu dia akan terheran-heran dan merasa kagum

karena selain melihat gerakan luar biasa, juga akan merasa

betapa dari gerakan ini keluar hawa pukulan mujijat! Akan

tetapi, kalau gerakan-gerakan sambil bernyanyi itu terlihat

oleh orang biasa, tentu ia akan mengira bahwa laki-laki

berkuda itu seorang yang miring otaknya.

Melihat keadaannya yang melarat, tak seorang pun akan

mengira bahwa laki-laki ini sesungguhnya adalah seorang

pendekar besar, seorang pendekar sakti yang pada belasan

tahun yang lalu amat terkenal dan sukar dicari tandingnya.

Jarang ada orang yang mengetahui namanya, dan para tokoh

dunia persilatan hanya mengenalnya sebagai SULING EMAS .

Telah belasan tahun dunia persilatan kehilangan tokoh ini dan

tidak seorang pun tahu ke mana perginya. Dahulu orang

mengenal Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) sebagai

seorang laki-laki yang tinggi tegap dan tampan gagah,

pakaiannya terbuat daripada sutera halus berwarna hitam,

dengan sulaman benang emas menggambarkan bulan dan

sebatang suling di bagian dadanya. Dahulu, belasan tahun

yang lalu, sepak terjangnya amat mengagumkan kawan

maupun lawan. Mulia seperti malaikat bagi yang tertolong,

hebat mengerikan seperti iblis bagi penjahat yang dibasminya.

Itulah dia Suling Emas!

Akan tetapi laki-laki setengah tua yang menunggang kuda

kurus itu, yang pakaiannya membuat ia lebih patut disebut

jembel, sama sekali tidak memperlihatkan bekas bahwa dialah

sesungguhnya Suling Emas. Jauh bedanya bagaikan bumi

dengan langit. Suling yang tadi ditiupnya kini berselubung

tembaga di luarnya, merupakan suling biasa. Hanya seorang

ahli kalau melihat gerakan-gerakannya sambil bernyanyi tadi,

akan mendapat kenyataan bahwa selama belasan tahun

bersembunyi ini, kepandaian Suling Emas tidaklah mundur,

bahkan makin hebat. Gerakan-gerakannya tadi sama sekali

bukan gerakan seorang gila hendak menari, melainkan

gerakan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat, yaitu Ilmu Silat Sastra

Awan dan Angin yang berdasarkan gerakan penulisan hurufhuruf

dari kitab Tiong-yong! Nyanyiannya tadi adalah ayatayat

dari kitab Tiong-yong. Jangan dikira bahwa gerakangerakan

itu hanyalah gerakan sembarangan, karena setiap

huruf yang ditulis, merupakan gerakan lihai sekali, baik dalam

bentuk serangan maupun dalam bentuk tangkisan.

Kuda kurus itu berjalan terus. Sinar matahari pagi kini

mencipta suasana cerah dan indah. Burung-burung berkicau

menambah keindahan suasana. Lalu lintas mulai ramai setelah

kini hujan berhenti dan tembok kota Tai-goan sudah tampak

dari jauh, Suling Emas tidak bernyanyi lagi, tidak pula meniup

sulingnya. Bahkan sulingnya, kini tersembunyi di balik bajunya

yang penuh tambalan. Ia menunduk, tidak memperhatikan

orang-orang yang lewat dan bersimpang jalan dengannya.

Sudah terlalu lama ia mengasingkan diri, perhatiannya

terhadap manusia dan dunia menipis. Kadang-kadang

ketenangannya terganggu oleh batuk. Apabila serangkaian

batuk menyerangnya, mulutnya membayangkan rasa nyeri

yang ditahan-tahan. Dan rangkaian batuk yang menyesakkan

dada ini membuat ia kecewa.

Suling Emas kecewa akan dirinya sendiri. Percuma saja

belasan tahun ia menyembunyikan diri. Ia dapat bersembunyi

daripada dunia ramai, namun ia tidak dapat bersembunyi

daripada pikiran dan hatinya sendiri! Kemanapun juga ia pergi,

ke puncak-puncak gunung yang sunyi, ke dalam guha-guha

yang sepi di mana tidak nampak bayangan manusia lain,

pikiran dan perasaan hatinya selalu mengejarnya. Bayangan

wajah wanita-wanita yang pernah merampas hatinya, selalu

menggodanya. Ia mempergunakan kekuatan dan kekerasan

hati, menekan semua itu, namun hasilnya merusak jantungnya

sendiri. Suling Emas selama belasan tahun hidup bersengsara,

hidup nelangsa, hidup menyiksa batin sendiri, korban asmara!

Ketika kudanya berjalan perlahan, bermacam kenangan

memenuhi kepalanya, kenangan yang timbul dari serangkaian

batuk yang menyerangnya tadi. Karena serangan batuk ini

mengingatkannya kembali akan keadaan dirinya. Teringatlah

ia akan nasib ayah bundanya, nasib gurunya. Mereka itu,

orang-orang tua yang tidak sempat ia balas dengan kebaktian

itu, yang telah lama meninggalkannya seorang diri di dunia ini,

juga mengalami nasib buruk dalam cinta kasih. Ayah

bundanya gagal dalam cinta kasih sehingga bercerai sampai

mati. Kemudian gurunya yang tercinta, gurunya yang menjadi

pula pengganti ayah bundanya, mengalami kegagalan asmara

yang lebih pahit pula. Kasihan gurunya Kim-mo-Taisu,

pendekar sakti yang patah hati!

Suling Emas kembali menarik napas panjang, tangan

kirinya membenamkan topinya makin dalam. Matahari di

sebelah kanannya mulai menyilaukan mata dan topinya amat

baik untuk melindungi matanya dari sinar matahari. Ia

termenung kembali, tampaknya melenggut ngantuk di atas

punggung kudanya. Betapapun sengsara orang tua dan

gurunya menjadi korban asmara gagal, jika dibandingkan

dengan apa yang ia alami, mereka itu masih mendingan!

Terbayang wajah wanita yang menjadi cinta pertamanya,

gadis yang terjungkal ke dalam jurang dan tewas pada saat

mereka berdua sedang bertunangan! Kemudian wajah

cintanya yang kedua, yang kini menjadi nyonya pangeran,

hidup mewah dan mulia bersama suami dan anak-anaknya!

Akhirnya terbayang pula wajah cintanya yang ketiga, atau

yang terakhir, wajah Kam Lin Lin, atau lebih tepat sekarang

disebut Ratu Yalina, ratu suku bangsa Khitan di utara!

“Ahh, bodoh!” Suling Emas menyendal kendali kudanya

merasa gemas kepada dirinya sendiri yang ia anggap amat

lemah. “Engkau sudah tua bangka berpikir yang bukanbukan!”

Di dalam hatinya ia menyumpahi diri sendiri.

Lamunan-lamunan, kenangan-kenangan, dan pikiran macam

itulah yang selalu mengejar dan menggodanya, kemanapun

juga ia pergi, sehingga akhirnya timbul batuk yang menggeroti

dadanya.

Kalau sudah terganggu oleh kenang-kenangan seperti itu

hatinya serasa diremas, terasa sakit dan perih, semangatnya

melemah dan seluruh tubuhnya lelah, membuat ia malas dan

satu-satunya keinginan hanya tidur, kalau mungkin tidur

selamanya tanpa sadar lagi! Sebuah kuil tua di pinggir jalan, di

luar kota Tai-goan menarik hatinya karena ia melihat tempat

mengaso yang enak dalam kuil tua itu, di mana ia dapat

mengaso dan tidur memenuhi keinginan hatinya.

Dibelokkannya kuda kurus itu ke kiri memasuki pekarangan

kuil tua yang penuh rumput, seperti juga kuilnya sendiri yang

sudah kosong dan tidak terpelihara, pekarangan itupun kotor

penuh rumput. Akan tetapi hal ini menguntungkan bagi kuda

kurus yang terus saja melahap rumput hijau di depan kuil.

Kuda itu dilepas begitu saja oleh Suling Emas yang memasuki

kuil dengan mata setengah tidur! Tanpa menoleh ke kanan kiri

tanpa mempedulikan beberapa orang pengemis yang duduk di

sudut ruangan depan, ia terus melangkah ke dalam,

mengebut-ngebutkan ujung baju membersihkan lantai di

sudut yang kosong, lalu duduk bersandar dinding, terus

melenggut tidur! Hanya dengan istirahat beginilah batuk yang

menyerangnya menjadi berkurang.

Mengapa pendekar sakti seperti Suling Emas sampai

menjadi begini? Padahal, kalau ia menghendaki kedudukan,

Kerajaan Sung akan membuka kesempatan sebesarnya

kepada Suling Emas, tokoh yang sudah banyak dikenal,

bahkan Kaisar sendiri memberi penghargaan kepada Suling

Emas, memberi izin istimewa kepada Suling Emas, untuk

memasuki istana setiap saat sesuka hatinya! Selain ini, juga

para pimpinan Beng-kauw yang menjadi orang-orang paling

berpengaruh di samping Kaisar Nan-cao, juga akan

menerimanya dengan tangan terbuka. Betapa tidak? Suling

Emas adalah cucu keponakan dari ketua Beng-kauw! Mengapa

ia menolak semua kemuliaan ini dan memilih penghidupan

miskin, terlantar, patah hati dan terserang penyakit?

Para pembaca cerita “SULING EMAS” dan cerita “CINTA

BERNODA DARAH” tentu masih ingat betapa parah cinta kasih

yang gagal merobek hati Suling Emas.

Cintanya yang terakhir lebih-lebih lagi menghancurkan

hatinya. Ikatan cinta kasih antara dia dan Ratu Yalina, amatlah

erat. Masing-masing telah saling mencinta, bahkan Ratu Yalina

tadinya rela mengorbankan kedudukannya untuk menjadi

isterinya. Namun, Suling Emas terpaksa menolaknya. Menolak

karena pertama, Suling Emas sebagai seorang tokoh besar di

dunia kang-ouw tentu saja dimusuhi banyak orang, apalagi

karena mendiang ibunya sewaktu hidupnya telah

mengakibatkan banyak permusuhan dengan orang-orang

dunia persilatan. Ia tidak mau menyeret Yalina dalam hidup

penuh bahaya dan permusuhan. Kedua, Yalina adalah puteri

angkat ayahnya, jadi masih adik angkatnya sendiri, sehingga

kalau mereka berdua berjodoh, tentu akan menjadi bahan

ejekan dan cemoohan, mencemarkan nama baik keluarganya.

Ketiga, suku bangsa Khitan amat membutuhkan bimbingan

Ratu Yalina untuk memperkuat kembali suku bangsa itu. Inilah

sebabnya mengapa ia rela berpisah dari kekasihnya itu, rela

hidup merana dan menderita tekanan batin.

Hampir dua puluh tahun ia menyembunyikan diri semenjak

berpisah dari Ratu Yalina. Musuh-musuh ibunya akhirnya

merasa bosan mencari-carinya untuk dimintai pertanggungan

jawab akan sepak terjang ibunya puluhan tahun yang lalu.

Akhirnya ia, Suling Emas, dilupakan orang!

Benarkah itu? Benarkah Suling Emas dilupakan orang?

Mudah-mudahan demikian, pikir Suling Emas sambil

melenggut. Mudah-mudahan dunia sudah lupa kepada Suling

Emas! Lebih dilupakan lebih baik! Siapa yang akan mengenal

Suling Emas yang sekarang telah menjadi seorang jembel

setengah tua? Gurunya dahulu pernah hidup sebagai seorang

jembel. Malah jembel yang gila! Berpikir sampai di sini,

senyum pahit menghias mulutnya dan ia membuka sedikit

matanya. Kebetulan sekali ia melihat dua orang pengemis tua

yang tadi duduk melenggut di sudut luar, kini keduanya saling

berbisik dan menoleh kepadanya. Kemudian, aneh sekali, dua

orang pengemis tua itu menghampirinya dan keduanya

membuat gerakan aneh, yaitu tangan kiri menekan dada kiri

arah tempat jantung, dan tangan kanan diangkat ke atas

membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah.

Apa artinya itu? Mengapa mereka memberi salam seaneh

itu? Suling Emas t idak mengenal siapa mereka, juga yakin

bahwa tidak mungkin mereka mengenalnya. Akan tetapi

mereka itu sudah menyalamnya, biarpun salam yang lucu dan

aneh. Agaknya mereka itu memberi salam karena mengira dia

pun seorang pengemis, jadi segolongan. Dan agaknya para

pengemis di daerah ini sudah lajim menyalam seorang “rekan”

secara itu. Untuk menjaga jangan sampai dua orang itu

tersinggung Suling Emas lalu meniru gerakan mereka,

membalas salam itu dengan gerakan yang sama, lalu ia

meramkan mata dan melenggut pula, tidak memperhatikan

lagi dua orang itu yang wajahnya sejenak berubah girang

sekali ketika melihat balasan salamnya.

Agaknya seorang di antara dua pengemis tua itu hendak

bicara dan Suling Emas diam-diam merasa geli hatinya, akan

tetapi mendadak mereka berdua itu sudah meloncat dan di

lain saat sudah mendengkur lagi sambil duduk bersandar

tembok. Gerakan mereka begitu cepat sehingga diam-diam

Suling Emas tercengang, maklum bahwa dua orang pengemis

itu bukanlah pengemis sembarangan, melainkan pengemis

kang-ouw yang berilmu tinggi! Selagi ia terheran mengapa

mereka tidak jadi bicara dan bersikap seaneh itu, tiba-tiba di

luar terdengar suara langkah kaki orang disusul suara dalam

bahasa Khitan yang dimengerti pula oleh Suling Emas.

“Tidak salah lagi. Dia tentu berada di dalam kuil ini. Lihat

itu kudanya, aku mengenal kuda kurus ini!” Demikian suara itu

dan diam-diam Suling Emas terkejut. Ia teringat bahwa

kemarin ia melihat tiga orang laki-laki bangsa Khitan yang

berpakaian seperti perwira, menunggang kuda dengan

membalap. Mereka itu ketika bersimpang jalan, memandang

penuh perhatian kepadanya. Melihat perwira-perwira Khitan

ini, Suling Emas teringat kepada kekasihnya, Ratu Yalina. Akan

tetapi karena pada masa itu Kerajaan Sung bersahabat

dengan Kerajaan Khitan dan adanya orang-orang Khitan di

wilayah Kerajaan Sung bukanlah hal aneh lagi, maka Suling

Emas tidak menaruh perhatian lagi. Siapa kira, tiga orang itu

agaknya menyusul dan mencarinya sampai di sini!

Sedikit pun Suling Emas tak dapat menduga mengapa ada

perwira-perwira Khitan mencarinya dan mulai timbul dugaan

bahwa tentu mereka itu salah lihat, mengira dia orang lain,

maka ia tetap saja duduk dengan sikap tenang. Tiga orang

Khitan itu segera muncul di ruangan dalam kuil itu. Seorang

diantara mereka, yang menjadi pemimpin, bertubuh gemuk

dengan kumis melintang tebal. Si Kumis Tebal inilah yang

sekarang berdiri dan menjura kepadanya, memandang tajam,

penuh selidik ke arah wajah di bawah topi sambil berkata,

“Taihiap (Pendekar Besar), kami menjalankan perintah Ratu

kami yang minta dengan hormat agar Taihiap suka pergi

berkunjung sekarang juga bersama kami ke Khitan.”

Jantung Suling Emas berdebar keras. Baru sekali ini setelah

belasan tahun ia mengalami ketegangan batin. Ratu Khitan

Yalina mengundangnya? Apa yang dikehendaki oleh Lin Lin?

Mengapa ingin bertemu? Pertemuan yang tentu hanya akan

membuat luka di hatinya menjadi makin parah saja. Di saat itu

juga, ia sudah mengambil keputusan untuk menolak undangan

ini. Akan tetapi ia tidak ingin pula lain orang mengetahui

bahwa dia Suling Emas. Bagaimana perwira Khitan ini dapat

mengenalnya?

“Apa…. apa yang kau maksudkan? Aku tidak mengerti

omonganmu!” Ia menjawab lirih, pura-pura tidak mengerti

kata-kata tadi yang diucapkan dalam bahasa Khitan. Si Kumis

Tebal itu saling lirik dengan dua orang temannya, pada

wajahnya terbayang keheranan dan keraguan. Ia segera

berkata dalam bahasa Han.

“Kami diutus junjungan kami untuk mengundang Taihiap

berkunjung ke Khitan sekarang juga bersama kami.”

Tentu saja Suling Emas maklum bahwa Lin Lin atau Sang

Ratu Yalina yang mengundangnya, akan tetapi ia pura-pura

tidak tahu. Diam-diam ia kagum dan heran sekali akan

kecerdikan orang-orang Khitan sehingga berhasil mengenal

dan mendapatkannya. “Ah, apa artinya ini? Aku sama sekali

bukan Taihiap, dan aku tidak mengenal siapa itu junjunganmu

di Khitan.”

Kembali wajah gemuk itu dibayangi keraguan. “Harap

Taihiap jangan berpura-pura lagi. Junjungan kami adalah Sang

Ratu yang mulia di Khitan. Menurut petunjuk yang saya

terima, tidak salah lagi Taihiap orangnya. Kuda kurus itu….

dan bentuk tubuh Taihiap. Perintah junjungan kami

merupakan perintah besar yang harus dilaksanakan sampai

berhasil, dan kami sudah bertahun-tahun dalam usaha

mencari Taihiap!”

Diam-diam Suling Emas merasa terharu. Kembali terbayang

wajah Lin Lin, terbayang semua peristiwa yang lalu. Lin Lin

adalah puteri angkat ayahnya yang ternyata kemudian sebagai

Puteri Mahkota Khitan. Mereka saling mencinta, namun tak

mungkin menjadi suami isteri. Ia telah memenuhi hasrat

hatinya, memenuhi permohonan Lin Lin sebelum berpisah

sampai kini dari wanita yang tercinta itu. Ia telah secara diamdiam

dan rahasia berkunjung di istana Sang Ratu Yalina,

berdiam sampai satu bulan di dalam kamar Sang Ratu, hidup

sebagai suami isteri penuh cinta kasih, penuh kemesraan

selama sebulan, suami isteri di luar pernikahan yang tak

mungkin dilakukan! Mereka berdua runtuh oleh gelora cinta

dan nafsu. Namun hal itu tak dapat dipertahankan terus. Demi

menjaga nama baik Yalina sebagai Ratu, dan demi untuk

menjaga nama baik keluarga. Terpaksa Suling Emas harus

meninggalkan Khitan meninggalkan dengan keputusan hati

takkan kembali lagi, takkan bertemu lagi dengan wanita yang

dikasihinya, hanya dengan hiburan bahwa wanita yang

dicintanya itu juga mencintanya sepenuh jiwa raga. Mereka

bersumpah takkan menikah dengan orang lain.

Belasan tahun hal itu terjadi dan telah lalu. Hampir dua

puluh tahun. Dan sekarang tiba-tiba Sang Ratu Yalina

mengutus perwira-perwiranya untuk mencarinya sampai

dapat, untuk mengundangnya ke Khitan. Apa perlunya?

Bukankah kesemuanya itu sudah musnah habis?

“Aku yakin bahwa kalian tentu salah kira dan menganggap

aku orang lain. Kalian mengira aku ini siapakah?” Suling Emas

masih berusaha mempertebal keraguan orang.

“Siapa lagi Taihiap ini kalau bukan Kim-siauw-eng?”

“Aiiihhh….!“ Teriakan tertahan ini terdengar dari sudut

ruangan di mana dua orang kakek pengemis tadi duduk

bersandar.

Berdebar keras jantung Suling Emas. Celaka, benar-benar

orang-orang Khitan ini bermata tajam. “Ah, apa-apaan ini?”

teriaknya. “Kalian benar-benar salah melihat orang! Aku bukan

Taihiap, bukan pula Kim-siauw-eng, kalian lekas pergi saja

jangan menggangguku.”

“Taihiap, salah atau tidak, kami harus melakukan kewajiban

kami! Petunjuk yang baru kami terima kemarin dari atasan

kami tak salah lagi. Berpakaian sebagai pengemis, bertopi

lebar butut, menunggang kuda kurus. Tidak salah lagi, Harap

Taihiap tidak membikin repot kami dan suka, kami antar ke

Khitan sekarang juga.”

“Hemmm…. kalau aku tidak mau?”

“Kami mendapat perintah untuk mengawal Taihiap ke

Khitan, mau atau tidak, karena kami sudah mendapat

wewenang, kalau perlu kami akan memaksa Taihiap.” Sambil

berkata demikian, Si Kumis Tebal itu mengepal tinju dan

melangkah dekat. Akan tetapi jelas bahwa ia gelisah sehingga

dahinya penuh keringat.

“Waahh…., jangan menghina kaum jembel….!”

Kiranya dua orang pengemis tua itu sudah berdiri

menghadang di depan tiga orang perwira Khitan dengan sikap

melindungi Suling Emas. Di tangan kanan mereka tampak

tongkat pengemis.

Perwira Khitan yang gemuk itu memandang dengan mata

melotot, lalu mem bentak.

“Jembel-jembel tua bangka, kalian mau apa mencampuri

urusan kami?”

Kakek pengemis yang punggungnya bongkok tersenyum

lebar, lalu berkata.

“Melihat sekaum dihina orang, bagaimana kami dapat

tinggal diam? Apalagi kalau yang kalian hina adalah saudara

tua kami yang terhormat.” Kemudian kakek bongkok itu

menoleh ke arah Suling Emas lalu menjura. “Tianglo yang

mulia silakan beristirahat yang enak, biarlah kami berdua

mewakili Tianglo memberi hajaran kepada anjing-anjing

Khitan ini!” Setelah berkata demikian, kembali ia menghadapi

para perwita Khitan dan berkata mengejek, “Saudara tua kami

tidak suka menerima undangan Ratu Khitan, mengapa

memaksa? Sungguh Ratu kalian tak tahu malu!”

“Keparat, berani menghina….?” Perwira gemuk itu segera

menghantam ke arah dada pengemis bongkok. Hantaman

yang amat kuat sehingga mengeluarkan hawa pukulan yang

menyambar keras. Si Pengemis Bongkok maklum akan

kekuatan lawan, maka ia cepat mengelak. Dua orang perwira

lain yang memegang toya juga segera menyerbu dan

terjadilah perkelahian seru di dalam kuil tua ini.

Ketika Suling Emas menyaksikan sikap kedua orang

pengemis tua itu terhadapnya, menjadi makin terheran-heran.

Kalau para perwira Khitan itu dengan tepat dapat mengenal

atau setidaknya menyangkanya Suling Emas, adalah para

pengemis ini mengira dia orang lain dan menyebutnya

Tianglo! Tentu dia dianggap seorang tokoh pengemis yang

mereka hormati. Tidak beres kalau begini, pikirnya. Namun,

masih mending dianggap seorang tokoh pengemis daripada

dikenal sebagai Suling Emas! Ia merasa kesal melihat dirinya

dijadikan sebab perkelahian, maka melihat lima orang itu

bertanding seru, ia lalu menggunakan kepandaiannya, sekali

berkelebat ia sudah lenyap dari tempat itu, meloncat keluar

kuil dan di lain saat ia sudah menunggang kudanya yang

kurus. Akan tetapi sekali ini, kuda kurus itu memperlihatkan

keasliannya ketika Suling Emas menarik kendali dan

menendang perutnya, karena kuda kurus itu berlari amat

cepatnya dan melihat gerakan kakinya jelas bahwa kuda kurus

itu adalah seekor kuda pilihan!

Biarpun para perwira Khitan itu tiga orang mengeroyok dua

orang pengemis tua yang tubuhnya kurus kering malah

seorang diantaranya bongkok, namun mereka itu segera

mendapat kenyataan bahwa dua orang jembel tua itu benarbenar

amat lihai! Untung bagi orang-orang Khitan itu bahwa

dua orang jembel tua itu agaknya memang hanya ingin

mempermainkan mereka. Seperti telah disebutkan tadi, pada

masa itu, diantara Kerajaan Sung dan Kerajaan Khitan

terdapat persahabatan. Orang-orang Khitan tentu saja masih

dianggap bangsa yang “liar” akan tetapi karena orang-orang

Khitan itu selalu membuktikan disiplin yang baik dan tidak

pernah melakukan kejahatan di wilayah Sung, maka rakyat

pun tidak membenci mereka. Hal ini terjadi setelah suku

bangsa Khitan dipimpin oleh Ratu Yalina yang mengeluarkan

peraturan-peraturan keras untuk rakyatnya. Karena inilah,

agaknya dua orang pengemis yang terang bukan orang-orang

sembarangan itu juga enggan untuk mencelakai tiga orang

perwira Khitan itu, melainkan hanya ingin mencegah mereka

memaksa pengemis aneh yang mereka sangka seorang

“saudara tua” tadi.

“Eh, ke mana perginya Tianglo….?” Tiba-tiba Si Bongkok

berseru kaget dan keduanya segera menghentikan

pertempuran, bahkan tanpa berkata sesuatu dua orang

pengemis itu sudah meloncat keluar dan sebentar saja lenyap

dari situ. Perwira gemuk itu mengejar bersama dua orang

temannya, namun setiba mereka di luar kuil, keadaan sepi

saja. Tak nampak seorang pun manusia. Juga kuda kurus

tidak berada pula di depan kuil. Perwira gemuk berkumis tebal

itu mengerutkan keningnya, meraba-raba dagu lalu berkata,

“Sungguh meragukan apakah benar dia tadi Suling Emas.

Terang dia menolak, dan dua orang jembel tua bangka tadi

sungguh menjemukan, membikin sukar pelaksanaan tugas kita

yang tidak mudah. Kalian lekas beri laporan kepada pusat

markas penyelidik di Tai-goan, katakan betapa lihainya dua

orang pengemis tua bangka tadi. Kalau dia tadi betul Suling

Emas dan sampai lolos, tentu kita semua akan menerima

hukuman berat! Lekas berangkat, aku akan mencoba

mengikut i jejaknya….“

Dua orang perwira bawahan itu cepat pergi menunggang

kuda mereka menuju ke Tai-goan, sedangkan Si Perwira

Gemuk juga membalapkan kuda melakukan pengejaran ke

arah timur setelah meneliti jejak kaki kuda yang ditunggangi

Suling Emas. Betapa heran hatinya ketika melihat jejak kaki

kuda itu tak pernah berhenti biarpun ia mengikutinya sampai

matahari condong ke barat. Mungkinkah kuda kurus kering

mau mati itu dapat melakukan perjalanan sebegitu jauhnya

dan melihat jejaknya selalu berlari cepat? Diam-diam Si

Perwira Gemuk mengeluh dan mengomel. Sudah lebih dari

lima tahun ia ditugaskan mencari seorang yang bernama

Suling Emas! Membawa pasukan, bahkan kemudian akhirakhir

ini pencaharian dan penyelidikan diperhebat dengan

datangnya para pengawal jagoan dari Khitan yang berpusat di

Tai-goan. Namun selama ini, penyelidikannya selalu sia-sia

belaka. Suling Emas yang dimaksudkan ratunya itu seakanakan

lenyap ditelan bumi, atau memang orang itu tidak

pernah ada!

Kemarin, dia menerima berita dari seorang di antara

penyelidik yang disebar di mana-mana, bahwa seorang

penunggang kuda kurus yang perawakannya sama dengan

orang yang selama ini dicari-cari. Dengan penuh semangat dia

bersama dua orang pembantunya melakukan penyelidikan dan

akhirnya bertemu dengan Suling Emas di dalam kuil itu. Aneh

sekali caranya orang itu melenyapkan diri, pikir Si Perwira

Gemuk sambil mengepal tinju. Mengapa tidak seorang pun di

antara mereka ada yang tahu? Padahal, dua orang pengemis

tua itu jelas memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Namun

mereka pun tidak melihat perginya orang yang disangka

Suling Emas itu. Hal ini hanya berarti bahwa orang itu memiliki

ilmu kepandaian hebat. Cocok dengan gambaran tentang diri

Suling Emas yang oleh para pengawal istana disohorkan

memiliki kepandaian seperti dewa! Sekali ini harus berhasil,

pikirnya. Harus berakhir pengejaran dan penyelidikan yang

bertahun-tahun ini!

Suling Emas membalapkan kudanya dan baru ia

membiarkan kudanya mengaso dan berjalan perlahan setelah

lewat tengah hari. Ia tidak jadi pergi ke Tai-goan. Ia harus

melarikan diri, tak peduli ke mana, asal jangan sampai

bertemu dengan orang-orang Khitan itu. Kembali jatuh hujan

rintik-rintik, akan tetapi ia tidak peduli. Mengapa, Lin Lin

berusaha keras untuk mengundangnya ke Khitan? Apakah

selama ini Lin Lin juga hidup menderita batin seperti dia?

Kasihan Lin Lin! Ia tahu betapa mendalam cinta kasih Lin Lin

kepadanya dan betapa perpisahan itu akan membuat Lin Lin

hidup sebagai Ratu Yalina, terkurung dalam istana, yang keras

dan sunyi!

“Oughhh….!” Kembali serangkaian batuk menyerang Suling

Fmas. Selalu ia terserang batuk kalau pikirannya mengenang

masa lalu yang menimbulkan duka. Agaknya serangan batuk

kali ini hebat sehingga ia terbatuk-batuk dan tubuhnya

berguncang-guncang di atas kuda, wajahnya menjadi pucat,

napasnya terengah-engah. Sudah lama ia terserang penyakit,

bertahun-tahun sudah, akan tetapi ia tidak pernah

mempedulikannya, tidak mau mencari obat. Biarlah demikian

pikirnya setiap kali timbul keinginan mengobati penyakitnya,

kalau penyakit ini mengakibatkan kematian alangkah baiknya.

Bebas daripada duka nestapa dan derita batin!

Betapa besar kekuasaan asmara! Kuasa menciptakan sorga

maupun neraka dalam penghidupan manusia! Suling Emas

yang dahulu terkenal gagah perkasa, tahu akan segala filsafat

hidup, menguasai berbagai ilmu yang tinggi dan pelik-pelik,

namun sekali tercengkeram asmara, menjadi lemah seperti

seorang yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa, menjadi

begitu lemah sehingga tidak mampu menguasai dirinya

sendiri!

Betapa ingin hatinya bertemu kembali dengan Ratu Yalina!

Betapa ingin hatinya dapat memandang wajah wanita yang

dikasihinya itu, dapat memegang tangannya. Ah, akan tetapi

bagaimana mungkin? Dia sudah tua, juga Lin Lin bukanlah

orang muda lagi. Dahulupun di waktu mereka masih muda,

hal ini tak mungkin dilakukan tanpa mengakibatkan noda

nama. Apalagi sekarang, Lin Lin adalah seorang ratu yang

disembah rakyatnya, sedangkan dia…. dia seorang sebatang

kara dan miskin. Betapa mungkin ia menjerat Lin Lin ke dalam

kehinaan?

“Tidak!” Suara hati terucapkan bibirnya. “Aku harus

bertahan! Dia tidak boleh merendahkan diri, tidak boleh

bertemu denganku!” Keputusan ini membuat Suling Emas

seketika mengeluarkan sebuah saputangan lebar dan

ditutupnyalah sebagian mukanya dengan saputangan. Jangan

sampai orang-orang Khitan itu mengenalku!

Akan tetapi, keputusan yang amat berlawanan dengan

hasrat hati ini makin memayahkan keadaannya. Serasa

ditusuk-tusuk jantungnya sehingga tubuhnya makin lemah. Ia

terbatuk-batuk lagi dan akhirnya ia terguling roboh dari atas

punggung kudanya, jatuh dan rebah di atas tanah tak

sadarkan diri! Kudanya mengeluarkan suara meringkik

perlahan, berhenti dan membalikkan tubuh. Dengan

hidungnya kuda kurus itu mendengus-dengus menciumi

kepala Suling Emas. Biasanya kalau ia melakukan hal ini,

majikannya lalu mengelus-elus kepala dan lehernya. Akan

tetapi sekarang, majikannya diam saja tak bergerak. Hal ini

menyusahkan hati si Kuda, yang kembali meringkik dan

menjauhkan diri, berlindung di bawah pohon dari serangan

hujan yang makin menderas sambil makan ujung-ujung

rumput hijau.

Suling Emas tidak tahu berapa lama ia rebah pingsan di

tempat itu. Pakaiannya basah kuyup, topi dan saputangannya

masih menutupi mukanya. Ketika ia siuman kembali, ia

mendengar suara orang-orang bergerak di dekatnya. Cepat

Suling Emas membuka mata sambil menahan batuk yang

mulai menyerangnya lagi. Kiranya dua orang kakek pengemis

yang tadi bertempur melawan orang-orang Khitan di dalam

kuil telah berada di dekatnya! Mereka itu berlutut di kanan

kirinya dengan sikap hormat sekali, dan kakek yang bongkok

berkata,

“Tianglo, maafkan kami yang baru sekarang dapat bertemu

dengan Tianglo, sehingga Tianglo mengalami keadaan begini

sengsara….”

“Hemmm…., kau kira aku ini….?” Suling Emas bertanya

perlahan akan tetapi tidak melanjutkan kata-katanya karena

kembali ia terbatuk-batuk.

“Ahh…., Tianglo, kali ini kami t idak akan salah lihat! Engkau

Yu Kang Tianglo yang mengenal baik tanda rahasia dengan

tangan dari perkumpulan kita, Khong-sim Kai-pang! Tianglo

…. “

“Aku bukan Yu Kang Tianglo….!” Suling Emas memotong

dengan suara keras. Ia sudah mengenal siapa Yu Kang

Tianglo. Dahulu pernah ia bekerja sama, dengan Yu Kang, tiga

puluh tahun yang lalu. Ketika itu Yu Kang adalah seorang

tokoh dari Khong-sim Kai-pang berusia tiga puluh tahun, yang

berusaha membalas dendam kematian ayahnya di tangan

seorang di antara Enam Iblis Dunia bernama It-gan Kai-ong.

Karena ketika itu It-gan Kai-ong merupakan seorang tokoh

jahat, Suling Emas lalu turun tangan, membantu Yu Kang

merobohkan It-gan Kai-ong sehingga Yu Kang dapat

membalas dendam(baca cerita SULING EMAS ).

Aneh sekali, pikirnya. Biarpun Yu Kang dan dia memang

memiliki bentuk tubuh yang hampir sama, akan tetapi

seingatnya, Yu Kang dahulu lebih tua dari padanya. Sedikitnya

lebih tua lima tahun! Agaknya, Yu Kang juga seperti dia,

mengasingkan diri sehingga para pengemis ini tidak dapat

membedakan antara dia dan Yu Kang.

“Harap Tianglo mengingat akan perkumpulan kita dan

menaruh kasihan kepada kami! Semenjak merobohkan It-gan

Kai-ong tiga puluh tahun yang lalu, Tianglo menghilang. Kami

mengira bahwa Tianglo khawatir akan pembalasan It-gan Kaiong

maka sengaja mengasingkan diri. Akan tetapi setelah

belasan tahun yang lalu It-gan Kai-ong tewas mengapa

Tianglo masih juga mengasingkan diri? Apakah Tianglo tidak

kasihan kepada saudara-saudara kita yang sudah terlalu lama

kehilangan pemimpin yang bijaksana?”

Selagi pengemis bongkok itu bicara dengan penuh

permohonan, diam-diam Suling Emas berpikir. ”Hemm,

mengapa tidak? Biarlah Yu Kang menyembunyikan diri dan dia

yang menggantikannya! Pertama, karena ia tahu bahwa

perkumpulan Khong-sim Kai-pang adalah perkumpulan baikbaik

sehingga sudah sepatutnya kalau ia bela. Kedua, dengan

menyamar menjadi Yu Kang, Ia dapat menyembunyikan diri

daripada pengejaran Lin Lin.”

Pada saat itu, hujan turun lagi dengan derasnya dan

pengemis tua yang memegang tongkat berseru, “Ah, dasar

bandel monyet gendut itu! Dia berani muncul lagi!”

Suling Emas kaget dan segera bangun berdiri. “Saudarasaudara,

biarkanlah aku sendiri menghadapinya.” Ia berkata

ketika melihat dua orang pengemis tua itu degan marah

hendak menerjang maju. Mendengar ini., dua kakek itu

menjadi girang dan menanti di kanan kiri.

Perwira Khitan yang gemuk itu melangkah lebar

menghampiri tempat itu, menempuh hujan. Ketika melihat

orang yang dicarinya berdiri di depannya dengan muka

sebagian tertutup saputangan sedangkan dua orang pengemis

tua yang lihai tadi berdiri di kanan kirinya. Ia terkejut. Akan

tetapi segera ia menyeringai dan berkata. “Terpaksa saya

harus mengikuti Taihiap sampai di manapun juga. Saya

mempertaruhkan nyawa untuk tugas ini!”

Suling Emas bertanya. “Tugasmu adalah mencari orang

yang berjuluk Kim-siauw-eng, bukan?”

“Betul, Taihiap.”

“Dan engkau mengira bahwa akulah orang yang kaucari

itu?”

“Tidak bisa salah lagi, beginilah menurut petunjuk.”

“Apakah engkau pernah bertemu dengan Suling Emas?”

“Waah…. belum pernah. Akan tetapi, petunjuknya cocok,

dan akan ada seorang atasanku yang pernah bertemu dan

akan mengenal Taihiap.”

“Kalau begitu, jangan membandel. Katakan kepada

atasanmu bahwa yang kausangka Suling Emas itu sebetulnya

adalah Yu Kang Tianglo, ketua dari Khong-sim Kai-pang!

Sudah, jangan engkau mengganggu kami lagi!” Ia menoleh

kepada dua orang pengemis tua sambil berkata, suaranya

memerintah, “Mari kita pergi!”

Si Perwira Khitan yang gendut itu terkejut dan meragu. Ia

melangkah maju…. ”tetapi….,”

Baru sampai sekian ucapannya, Suling Emas mengulurkan

tangannya dan perwira itu tiba-tiba berdiri kaku tak bergerak.

Ia telah menjadi korban totokan yang luar biasa sekali! Melihat

ini, dua orang pengemis tua yang sudah kegirangan itu

menjadi kagum sekali lalu mereka berdua menjatuhkan diri

berlutut di depan Suling Emas sambil berkata, “Pangcu

(Ketua)….!”

Di balik saputangan, Suling Emas tersenyum masam, lalu

mengibaskan tangan baju dan berkata karena,.”Bangunlah

dan mari kita pergi.”

Dengan muka gembira dan taat sekali, dua orang pengemis

tua itu bangkit dan pergilah mereka bertiga menempuh hujan

meninggalkan perwira Khitan yang masih berdiri seperti

patung. Ketika hujan mulai berhenti, mereka sudah berteduh

di dalam sebuah gubuk petani di tengah ladang. Kuda kurus

tunggangan Suling Emas tadi berjalan mengikuti majikannya

yang memanggilnya Siauw-ma, dan kini makan rumput di

pinggir jalan ketika majikannya duduk di dalam gubuk

bersama dua orang kakek pengemis.

“Dan sekarang, ceritakanlah siapa kalian, dan apa sebabnya

kalian memaksa aku yang sudah puluhan tahun mengasingkan

diri dan tidak mau mencampuri urusan kai-pang (perkumpulan

pengemis) atau mengapa kalian mengganggu ketenanganku

hidupku?”

Ketika dua orang kakek pengemis itu secara bergantian

mulai bercerita, Suling Emas mendengarkan penuturan yang

amat menarik hatinya sehingga ia menaruh perhatian. Tak

disangkanya bahwa selama ia mengasingkan diri telah terjadi

banyak hal hebat di dunia. kang-ouw.

Selama puluhan tahun, ketika dunia kang-ouw dikuasai

oleh Enam Iblis Bumi Langit, dunia pengemis juga terlanda

malapetaka karena seorang di antara Enam Iblis, yaitu It-gan

Kai-ong, merajai dunia pengemis. Setelah akhirnya It-gan Kaiong

tewas, dunia pengemis yang sudah terbebas dari

kekuasaan jahat itu menjadi kacau, kehilangan pimpinan dan

terpecah-pecah karena terjadi perebutan kekuasaan antara

golongan pengemis yang baik dan golongan pengemis yang

jahat. Golongan lain di dunia kang-ouw telah mendapatkan

pimpinan-pimpinan baru dan fihak yang jahat dapat

dibersihkan. Akan tetapi hanya golongan pengemis saja yang

belum mempunyai pemimpin yang kuat sehingga fihak yang

jahat selalu menimbulkan kekacauan dan terjadilah

pertentangan-pertentangan hebat di antara mereka sendiri.

Melihat kelemahan dunia pengemis ini maka orang-orang

jahat yang terusir dan tidak mendapatkan tempat di dalam

golongan lain, lalu menyelundup masuk ke dalam dunia

pengemis untuk mencari kedudukan.

Khong-sim Kai-pang adalah sebuah perkumpulan pengemis

yang besar dan berpengaruh, berpusat di kota Kang-hu. Sejak

puluhan tahun yang lalu Khong-sim Kai-pang termasuk

golongan partai bersih yang mengutamakan kebenaran dan

selalu memusuhi kejahatan. Akan tetapi karena sudah puluhan

tahun tidak mempunyai ketua yang pandai Khong-sim Kaipang

kehilangan pengaruhnya sebagai perkumpulan besar

sehingga tidak dapat menjadi peranan penting dalam dunia

pengemis. Namun karena dahulu pernah dipimpin oleh orangorang

bijaksana seperti Yu Kang Tianglo, mendiang ayah Yu

Kang, para anggautanya masih setia dan mereka inilah yang

merasa prihatin melihat keadaan dunia pengemis yang mulai

dicengkeramoleh golongan hitam.

Beberapa kali para tokoh Khong-sim Kai-pang berusaha

untuk membersihkan dunia pengemis daripada pengaruh

oknum-oknum jahat, akan tetapi setiap kali usaha mereka

gagal, bahkan banyak di antara mereka yang tewas dalam

bentrokan itu. Akhirnya, dari banyak tokoh Khong-sim Kaipang

hanya tinggal dua orang tokoh yang termasuk orangorang

tingkat tinggi di perkumpulan itu. Mereka ini adalah

Gak-lokai si kakek jembel bongkok dan Ciam-lokai si kakek

jembel bertongkat. Dua orang kakek ini maklum bahwa kalau

Khong-sim Kaipang tidak segera mendapat pimpinan yang

tepat dan bijaksana, akan rusaklah keadaannya, tidak hanya

keadaan perkumpulan mereka, juga dunia pengemis akan

terjatuh ke tangan orang jahat. Mereka teringat akan Yu Kang

yang puluhan tahun lamanya tak pernah muncul. Hanya

putera mendiang Yu Jin Tianglo itulah kiranya yang akan

dapat membangun kembali Khong-sim Kai-pang. Maka

mulailah mereka berdua merantau dan mencari Yu Kang

Tianglo sampai mereka berjumpa dengan Suling Emas dan

mengira bahwa pendekar ini adalah orang yang mereka caricari.

“Demikianlah Pangcu. Tanpa mengenal lelah kami berdua

mencarimu sampai belasan tahun. Kami mendengar bahwa

Tianglo merantau ke dunia barat. Kami telah menyusulmu ke

sana, hampir celaka di negeri asing itu. Akan tetapi di sana

kami mendengar bahwa Tianglo telah kembali ke timur

sehingga kami kembali menyusul ke sini, untung dapat

bertemu dengan Tianglo di kuil rusak. Agaknya Tuhan

memang telah memanggil kembali Tianglo untuk memimpin

dunia pengemis, karena kalau Tianglo tidak menaruh kasihan,

tentu dunia pengemis akan terjatuh ke tangan iblis-iblis baru

dan terseret ke dalam golongan hitam!” Demikian mereka

berdua menutup penuturan mereka.

Suling Emas termenung sejenak. Ia mempertimbangkan

keadaannya, kemudian menarik napas panjang dan berkata,

“Apakah kalian hendak menarik aku menduduki kursi ketua

Khong-sim Kai-pang? Aku yang sudah biasa merantau bebas

seperti burung di udara, bagaimana bisa terikat dan

terkurung? Sungguh tak mungkin dapat kulakukan!” Ia

menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.

“Tidak usah sampai begitu, Pangcu!” kata kakek bongkok

yang bernama Gaklokai cepat-cepat. “Cukup asal pangcu

memperkenalkan diri sebagai ketua Khong-sim Kai-pang dan

menghadiri pertemuan besar para ketua perkumpulanperkumpulan

pengemis yang akan diadakan di permulaan

musim semi. Pertama untuk membangun kembali semangat

para anggauta Khong-sim Kai-pang, kedua untuk mencegah

dunia pengemis terjatuh ke tangan kaum sesat. Mohon

kiranya pangcu tidak akan tega membiarkan kehancuran

Khong-sim Kai-pang dan dunia pengemis umumnya.” Setelah

berkata demikian kedua orang kakek itu kembali menjatuhkan

diri berlutut di depan Suling Emas.

Diam-diam Suling Emas terkenang kepada Yu In Tianglo,

seorang tokoh Khong-sim Kai-pang yang bijaksana dan putera

ketua ini, Yu Kang, seorang pengemis yang gagah perkasa.

Ayah dan anak ini adalah orang-orang gagah yang sudah

sepatutnya dibela. Memang kasihan dan sayang sekali kalau

perkumpulan pengemis yang sudah terkenal sebagai golongan

kaum bersih ini sampai terseret ke dalam lembah kejahatan.

Selain ini, juga ia mendapat kesempatan untuk

menyembunyikan diri dari kejaran orang-orang Khitan! Kalau

ia sudah mengaku sebagai ketua Khong-sim Kai-pang,

mustahil kalau para petugas yang diutus Lin Lin itu akan

mengejarnya lagi dan menyangkanya Suling Emas!

“Baiklah,” Akhirnya ia berkata. “Akan kucoba sekuat

tenagaku mencegah kaum sesat menguasai dunia pengemis.

Akan tetapi aku hanya mau menjadi pangcu dari Khong-sim

Kai-pang dengan syarat, pertama apabila semua sudah beres,

aku tidak mau tetap tinggal di satu tempat. Urusan kai-pang

boleh kalian urus sedangkan aku tetap akan melakukan

perantauan seperti biasa, tanpa ada yang mengganggu.

Kedua, aku tidak ingin memperkenalkan mukaku kepada

orang lain sehingga dalam kedudukan sebagai pangcu, aku

akan selalu menutup mukaku. Kalian pun harus bersumpah

bahwa kau tidak pernah melihat mukaku. Mengerti?”

Dua orang kakek pengemis yang merasa yakin bahwa

pendekar ini tentulah Yu Kang Tianglo menjadi gembira sekali.

Dengan bercucuran air mata saking girangnya mereka

menyanggupi semua permintaan Suling Emas.

“Cukup, sekarang pergilah kalian. Tunggu kedatanganku di

Kang-hu waktu bulan purnama yang akan datang. Bukankah

pusat Khong-sim Kai-pang masih berada di kuil tua, di luar

kota Kang-hu?”

Dua orang kakek itu makin girang dan tidak ragu-ragu lagi

mereka sekarang bahwa orang ini tentulah Yu Kang putera

mendiang ketua Yu Jin Tianglo yang lenyap ketika berusia tiga

belas tahun dan ketika Khong-sim Kai-pang diserbu penjahat.

Mereka mengangguk-angguk dan dengan mata basah air mata

saking terharunya kakek bongkok berkata, “Tentu saja masih

di sana, Pangcu. Siapa dapat melupakan kuil itu?

Suling Emas menarik napas panjang memberi tanda

dengan tangan agar kedua orang kakek itu pergi. Setelah

mereka pergi, baru ia melompat ke atas punggung kudanya

menepuk-nepuk leher kudanya sambil berkata lirih,

“Siauw-ma, mau tak mau kita harus mengalami hal-hal

baru di antara para pengemis itu. Terpaksa Siauw-ma,

terpaksa….! Ataukah…. lebih baik ke Khitan….? Ah, tidak….!

Jangan! Biarlah untuk sementara aku menjadi ketua

pengemis!”

Berjalanlah kuda itu perlahan-lahan. Hujan telah berhenti

dan tak lama kemudian terdengarlah suara suling dit iup,

suaranya mengalun dan mengharukan, menggetarkan jiwa

tertekan dan batin menderita.

***

Pada masa itu, Kerajaan Sung dipimpin oleh kaisarnya yang

ke dua, yaitu Sung Thai Cung. Sungguhpun kemajuan di

jaman Kerajaan Sung ini tidak dapat menandingi kerajaankerajaan

yang lalu sebelum jaman Lima Wangsa, namun jika

dibandingkan dengan jaman pemerintahan Sung Thai Cu

kaisar pertama Kerajaan Sung, maka pemerintahan kaisar ke

dua ini boleh dibilang mengalami kemajuan. Hasil yang dicapai

lebih besar. Ia telah berhasil menjatuhkan Kerajaan Hou-han

di Shan-si, Kerajaan Wu-yue di selatan, dan kerajaan-kerajaan

kecil lainnya, kemudian memasukkan daerah kerajaankerajaan

yang ditaklukkan ini ke dalam wilayah Sung.

Namun harus diakui bahwa terhadap dua buah kerajaan,

yaitu kerajaan bangsa Khitan di timur laut yang terutama, dan

Kerajaan Nan-cao di daerah Yu-nan, Kaisar Sung Thai Cung

tidak berdaya. Mula-mula memang diusahakannya untuk

menaklukkan dua buah kerajaan ini, namun selalu gagal.

Bahkan berkali-kali bala tentara Sung terpukul mundur

sehingga akhirnya kaisar tidak mendesak lagi. Hanya perang

dan bentrokan kecil-kecilan terjadi di perbatasan, namun tidak

ada artinya. Bahkan akhirnya, Kerajaan Sung mengambil sikap

dan politik lunak, mendekati dua kerajaan ini dan bahkan

mengirim upeti-upeti sebagai tanda persahabatan!

Tidaklah amat mengherankan apabila dit injau keadaan dua

kerajaan di sebelah utara dan sebelah selatan itu. Semenjak

dipegang oleh Ratu Yalina, Kerajaan Khitan menjadi sebuah

kerajaan yang amat kuat sehingga sukar dikalahkan, bahkan

bangsa Khitan telah menaklukkan bangsa-bangsa nomad lain

yang berkeliaran di daerah utara sehingga kerajaannya

menjadi makin besar. Adapun Kerajaan Nan-cao, sungguhpun

hanya merupakan kerajaan kecil, namun yang berkuasa di situ

adalah kaum Agama Beng-kauw yang mempunyai banyak

orang pandai, setia dan berdisiplin.

Karena cerita ini banyak menyangkut keadaan Kerajaan

Khitan, maka marilah kita menjenguk keadaan kerajaan di

sebelah utara dan timur laut itu. Bangsa Khitan adalah bangsa

nomad yang besar, terdiri dari orang-orang gagah perkasa

dan ulet. Keadaan hidup mereka yang selalu berpindah-pindah

untuk mencari tempat yang lebih baik dan untuk

menyesuaikan diri dengan iklim yang buruk, kesukaran hidup

berjuang dengan alam, membuat mereka menjadi bangsa

yang ulet, tabah dan pantang mundur.

Semenjak bangsa Khitan dipimpin oleh Ratu Yalina,

kerajaan ini mengalami kemajuan pesat. Di dalam cerita

CINTA BERNODA DARAH , diceritakan betapa Ratu Yalina ini di

waktu keciinya diangkat sebagai anak oleh seorang jenderal

besar bangsa Han, dan di waktu remaja menerima

gemblengan ilmu silat dari orang-orang pandai. Bahkan

sebelum menjadi ratu, secara kebetulan sekali ia telah

menemukan sebuah pusaka peninggalan Pat-jiu Sin-ong Liu

Gan ketua Beng-kauw di Nan-cao, yaitu catatan ilmu yang

dahsyat, yang dirahasiakan. Setelah mewarisi ilmu yang

disebut Cap-sha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Ilmu Silat Sakti)

inilah maka ilmu kepandaian Ratu Yalina amat hebat dan

sukar dicari tandingannya.

Di waktu masih remaja, Ratu Yalina ini pernah mengalami

derita batin yang takkan dapat ia lupakan selama hidup.

Antara dia dan Suling Emas, terjalin kasih asmara yang amat

mendalam. Keadaanlah yang memaksa mereka berpisah, yang

tidak memungkinkan perjodohan di antara mereka. Apa

sebabnya? Bukan lain oleh karena kebetulan sekali bahwa

Suling Emas adalah “kakak angkatnya” sendiri, putera

kandung ayah angkatnya, Jenderal Kam! Sebetulnya hal ini

bukanlah menjadi halangan benar bagi Puteri Yalina yang

ketika itu belum menjadi ratu. Akan tetapi Suling Emas yang

berkeras tidak mau, bukan hanya karena masih saudara

angkat, juga terutama sekali karena Yalina amat diperlukan

oleh bangsanya untuk menjadi Ratu sehingga Suling Emas

mengalah dan pergi!

Akan tetapi, sebelum mereka saling berpisah untuk puluhan

tahun lamanya itu, Suling Emas telah memenuhi permohonan

Ratu Yalina untuk t inggal di dalam istananya selama sebulan.

Menjadi suami di luar nikah! Biarpun tidak berhasil menjadi

suami isteri, namun mereka telah saling menumpahkan cinta

kasih mereka yang mendalam, tak kuasa menahan rindu hati

yang tak tercapai karena halangan keadaan lahir.

Betapa tersiksa dan menderita batin Ratu Yalina ketika

kekasihnya sudah pergi, ia mendapat kenyataan bahwa ia

mengandung! Peristiwa yang bagi setiap orang isteri

merupakan kebahagiaan mut lak ini, bagi Ratu Yalina bahkan

merupakan derita dan siksa batin! Betapa tidak? Ia seorang

ratu! Seorang ratu dan bukan seorang isteri. Ia tidak

bersuami. Ia secara resmi masih seorang gadis! Dan ia

mengandung! Kalau saja Ratu Yalina tidak teringat akan

kedudukannya, tidak ingat akan bangsanya yang dikasihinya,

tentu ia sudah melarikan diri dari Khitan, melarikan diri untuk

mencari Suling Emas, kekasih dan…. suaminya, biarpun hanya

suami tidak sah!

Ratu Yalina merasa tersiksa. Ia berduka dan juga malu.

Bagaimana kalau nanti bangsanya mengetahui bahwa ratunya

yang masih belum menikah itu mengandung? Hampir saja

Ratu Yalina putus asa. Lebih baik mati membunuh diri

daripada menanggung aib yang hebat! Akan tetapi, untung

baginya bahwa panglimanya, orang yang paling dipercayanya

karena panglima ini diam-diam juga mencintainya tahu akan

rahasianya. Panglima ini Panglima Kayabu namanya, seorang

Khitan yang gagah perkasa, tahu bahwa antara ratunya dan

Suling Emas terjalin cinta kasih yang mendalam. Tahu pula

bahwa demi bangsanya, ratunya rela berkorban perasaan,

berpisah dari kekasihnya. Ia tahu pula bahwa Suling Emas

ditahan dalam istana ratunya sampai sebulan sebelum mereka

berdua saling berpisah. Kemudian ia tahu pula bahwa ratunya

telah mengandung!

Secara rahasia, dijumpailah Ratu Yalina. Pada saat itulah

terbukti kesetiaan Panglima Kayabu. Karena panglima ini telah

dapat menduga kesemuanya, sambil menangis Ratu Yalina

membuka rahasianya dan menyerahkan nasibnya ke tangan

panglimanya yang juga menjadi sahabat satu-satunya dalam

menghadapi peristiwa hebat ini. Kayabu menghiburnya dan

memberi usul bahwa Sang Ratu seyogianya memelihara

kandungannya dan secara rahasia kelak melahirkan anak.

Sementara itu, dia sendiri secara serentak akan memillh

seorang gadis Khitan dan mengawininya, kemudian kelak

kalau Sang Ratu melahirkan anak, anak itu akan diakuinya

sebagai anaknya sendiri! Tentu saja ia akan menyuruh

isterinya itu bersikap seolah-olah mengandung sehingga kelak

tidak akan mencurigakan kalau “melahirkan” anak.

Rahasia yang hebat! Akan tetapi, karena tidak ada jalan

lain, demi untuk menjaga nama baiknya sebagai ratu, dan

demi menjaga agar bangsanya tidak menjadi kacau, Ratu

Yalina melakukan sandiwara ini sesuai dengan rencana

Panglima Kayabu! Panglima ini, yang tentu saja luka dan

patah hatinya, memaksa diri memilih dan mengawini seorang

gadis Khitan yang cantik.

Semua berjalan sesuai dengan rencana, yaitu Ratu Yalina

dapat menyembunyikan keadaannya yang mengandung dari

mata rakyatnya. Di lain fihak, isteri Panglima Kayabu “purapura

mengandung”. Akan tetapi, ketika. tiba waktunya Sang

Ratu melahirkan, di dalam kamar rahasia dan secara rahasia

dihadiri oleh isteri Panglima Kayabu dan seorang dukun

beranak, terjadilah hal yang sama sekali di luar dugaan

mereka. Sang Ratu Yalina melahirkan sepasang anak kembar!

Pertama seorang bayi laki-laki dan kedua seorang bayi

perempuan!

Kalau saja kelahiran macam ini tidak terjadi di Khitan, tentu

tidak akan mendatangkan kebingungan. Akan tetapi, telah

menjadi kepercayaan umum di Khitan bahwa kembar laki-laki

dan perempuan merupakan pertanda bahwa kedua anak itu

adalah titisan atau penjelmaan suami isteri, dan karenanya,

kedua orang anak itu harus dipisahkan dan kelak harus

dijodohkan sebagai suami isteri! Ketika dukun beranak dan

isteri Panglima Kayabu menyatakan hal ini, yang dingerti pula

oleh Ratu Yalina, ratu yang malang ini menangis sedih dan

roboh pingsan. Isteri Panglima Kayabu menjadi sibuk dan

cepat-cepat memberi laporan secara diam-diam kepada

suaminya. Panglima Kayabu cepat memasuki kamar itu dan

untung Ratu Yalina sudah siuman dan kini ratu itu menangis

terisak-isak di atas pembaringan.

“Harap Paduka jangan gelisah.” panglima yang setia itu

menghibur.

“Aduh…. Kayabu…. lebih baik mati saja aku kalau

begini….!” Yalina menangis. “Kayabu, kau tolonglah aku….

kau carilah dia, suruh datang ke sini, biar dia yang akan

memutuskan keadaan ini….”

Panglima Kayabu mengerutkan keningnya. Ia maklum siapa

yang dimaksudkan ratunya itu. Akan tetapi dalam keadaan

seperti itu, kalau mencari dan memanggil Suling Emas, bukan

merupakan hal yang baik. Kalau terpaksa rahasia ini dibuka,

tentu akan timbul kegemparan di kalangan rakyat, tentu akan

menimbulkan aib dan hal ini amat merugikan karena pada

waktu itu, Khitan dikepung musuh dari selatan dan dari barat.

“Harap Paduka tenang saja. Biarlah hamba mengakui anak

laki-laki ini sebagai putera hamba, sedangkan anak

perempuan ini, secara diam-diam kita singkirkan agar

dipelihara orang lain dan kelak kalau mereka berdua sudah

besar, mudah saja hamba menariknya sebagai mantu.”

Ucapan ini mengiris jantung Yalina. Dengan sepasang mata

penuh air mata dan dengan muka pucat ia mengulurkan kedua

tangan ke depan dan berkata kepada dukun beranak yang

sedang mengurus dua orang anak yang menangis nyaring

seperti berlumba itu.

“Ke sinikan anak-anakku…. biarlah aku melihat mereka….

biarkan aku mencium dan memeluk mereka…. ahhh …. !” Ia

menangis tersedu-sedu. Isteri Panglima Kayabu ikut

menangis, demikian pula dukun beranak, wanita tua itu yang

merasa terharu sekali. Kayabu sendiri, seorang panglima

gagah perkasa yang pantang mengeluarkan air mata, merasa

betapa sepasang matanya panas dan jantungnya serasa

diremas. Wanita yang pernah menjatuhkan hatinya itu kini

demikian sengsara, sama sekali tidak seperti seorang ratu

yang berwibawa, sama sekali bukan seperti seorang wanita

yang ia tahu amat perkasa dan sakti, melainkan seperti

seorang wanita yang lemah, seorang wanita yang ditinggalkan

kekasih, seorang ibu yang rindu akan anak-anaknya!

“Anakku…. anakku…. ! Bagaimana aku dapat berpisah dari

mereka ini….“ Ratu Yalina mencium kedua anaknya. Hampir ia

pingsan saking sedihnya ketika melihat bahwa anaknya yang

laki-laki memiliki mata dan hidung kekasihnya! “Anakkuanakku….

di mana Ayahmu…. ? Anak-anakku…. bagaimana

kalian tega meninggalkan Ibumu….?” Ratu Yalina mencium

lagi, kemudian menjerit lirih dan roboh pingsan sambil

memeluk kedua anaknya yang mulai menangis lagi.

“Cepat-cepat, bawa pulang anak laki-laki itu!” kata

Panglima Kayabu kepada isterinya. Untung bahwa peristiwa

kelahiran itu terjadinya pada waktu tengah malam sehingga

tidak sampai diketahui orang lain. “Dan kau, Bibi, dapatkah

engkau membantu? Aku harus dapat menyerahkan anak

perempuan ini kepada seorang yang boleh dipercaya!”

“Hamba…. hamba sanggup membantu…. hamba….

mempunyai keponakan. Biarlah puteri ini dipeliharanya,

hamba tanggung takkan bocor rahasia ini….“ kata Si Dukun

Beranak sambil terisak menangis.

“Tentu saja jangan sampai bocor. Kalau bocor, engkau

sekeluargamu akan dijatuhi hukuman mati!” Kata Kayabu yang

diam-diam merasa girang bahwa anak perempuan itu ada

yang megurusnya. Tentu saja tidak sukar baginya

memerintahkan siapa saja memelihara anak itu, akan tetapi

justeru sukarnya, jangan sampai ada yang tahu akan rahasia

besar ini.

Lewat tengah malam, kamar Ratu Yalina menjadi sunyi

kembali. Kedua orang anak yang baru lahir itu sudah dibawa

pergi dari kamar. Yang laki-laki dibawa oleh isteri Panglima

Kayabu, sedangkan yang perempuan dibawa pergi oleh dukun

beranak yang keluar dari istana melalui pintu rahasia di

sebelah belakang, lalu nenek tua itu menghilang di dalam

gelap.

Akan tetapi pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali para

penjaga istana menjadi gempar ketika menemukan nenek

dukun beranak itu menggeletak tak bernyawa lagi di sebelah

belakang istana!

Tentu saja Panglima Kayabu yang mendengar laporan ini

merasa seakan-akan dicabut jantungnya saking kaget dan

heran. Cepat ia sendiri mendatangi tempat pembunuhan itu,

sehingga para pengawal menjadi heran mengapa panglima

besar mereka begitu menaruh perhatian atas kematian

seorang nenek dukun beranak.

“Pembunuhan terjadi di dekat istana, hal ini amat gawat

demi keselamatan Ratu.” kata panglima yang cerdik ini.

Lebih-lebih kaget dan herannya ketika memeriksa keadaan

mayat dukun beranak itu. Panglima Kayabu mendapat

kenyataan bahwa tubuh itu tidak terluka sama sekali, akan

tetapi tanda-tanda biru di pelipis menyatakan bahwa nenek ini

menderita luka hebat di dalam kepala akibat pukulan yang

dahsyat, mengandung hawa sakti, pukulan seorang ahli yang

memiliki kepandaian tinggi. Tentang anak perempuan yang

baru dilahirkan semalam, tidak ada tanda-tanda dan bekasbekasnya

sama sekali!

Kematian nenek ini sebenarnya malah melegakan hati

Kayabu karena lenyaplah kekhawatiran akan bocornya rahasia

besar itu. Akan tetapi kalau ia mengingat akan lenyapnya anak

perempuan. Ia mengerutkan keningnya dan menjadi bingung!

Tak mungkin ia dapat mengumumkan kehilangan anak

perempuan itu dan menyuruh anak buahnya menyelidiki atau

mencari. Maka secara diam-diam ia sendiri melakukan

penyelidikan dan mencari, namun sia-sia belaka. Anak

perempuan itu lenyap tak meninggalkan bekas sama sekali,

bahkan di seluruh Khitan tidak terdapat seorang anak bayi

perempuan yang baru dilahirkan. Jelas bahwa anak itu dibawa

oleh pembunuh nenek dukun, dibawa keluar dari Khitan atau

dibawa sembunyi di tempat rahasia. Akan tetapi siapakah

pembawanya?

Hal ini menjadi rahasia dan teka-teki yang tak terpecahkan.

Dan tentu saja hal ini menambah kesengsaraan hati Ratu

Yalina. Memang agak terhibur hatinya melihat Talibu, yaitu

putera kandungnya yang menjadi putera Panglima Kayabu.

Ketika Talibu berusia lima tahun, secara resmi ia diangkat

anak oleh Ratu Yalina! Upacara pengangkatan ini dilakukan

secara resmi dan dirayakan oleh semua orang Khitan.

Gembiralah hati bangsa Khitan yang tadinya merasa prlhatin

melihat ratu mereka yang terkasih itu tidak mau menikah.

Akan tetapi setelah melihat Sang Ratu itu mengangkat putera,

dan putera itu pun bukan anak orang biasa melainkan putera

Panglima Besar Kayabu, legalah hati mereka. Kini mereka

telah mempunyai seorang pangeran mahkota! Tentu saja tak

seorang pun di antara mereka tahu betapa hati Sang Ratu itu

jauh lebih lega dan bahagia daripada mereka. Diam-diam hati

Ratu Yalina bahagia sekali karena pengangkatan Talibu

sebagai puteranya itu merupakan Pesta pertemuan dan

berkumpulnya kembali secara resmi antara seorang ibu dan

anak kandungnya!

Pada waktu itu panglima Kayabu sendiri telah mempunyai

seorang anak perempuan terlahir ketika Talibu berusia dua

tahun. Anak perempuan yang cantik ini bernama Puteri Mimi

yang menjadi “adik kandung” dan teman bermain Pangeran

Talibu sejak kecil. Kalau melihat keadaan Puteranya yang kini

benar-benar telah menjadi puteranya, bahkan menjadi putera

mahkota, bahagialah hati Ratu Yalina. Akan tetapi makin besar

anak itu, makin gelisah dan prihatin hatinya. Bagaimana ia

tidak akan merasa gelisah dan prihatin kalau mengingat

bahwa puteranya ini telah kehilangan saudara kembarnya,

telah kehilangan calon “jodohnya”? Bagaimana takkan gelisah

dan bingung hatinya karena menurut kepercayaan bangsanya,

anak kembar laki perempuan kalau tidak dijodohkan, tentu

akan hidup menderita dan mengalami malapetaka? Kalau

teringat akan hal ini, Ratu Yalina menjadi sedih sekali dan

teringat kekasihnya, Suling Emas, ayah daripada kedua orang

anaknya itu!

Kekhawatiran akan hilangnya anak perempuannya itulah

yang membuat akhirnya Ratu Yalina berkeras memberi

perintah kepada Panglima Kayabu untuk berusaha mencari

dan memanggil Suling Emas ke Khitan. Apapun yang terjadi,

ayah dari anak-anaknya itulah yang harus mengambil

keputusan! Ayah kandung anak-anak itu sendiri yang harus

menentukan nasib sepasang anak kembar yang terpisah

secara ajaib itu. Dan Panglima Kayabu hanya mentaati

perintah, mengirim pasukan dan pembantupembantunya yang

cukup pandai untuk mencari dan memanggil Suling Emas.

Bahkan setelah bertahun-tahun gagal menjumpai Suling Emas

dan Pangeran Talibu sudah makin besar, Ratu Yalina menulis

segulung surat untuk diberikan kepada Suling Emas kalau

orang-orangnya berhasil menjumpai pendekar itu.

Sementara itu, Pangeran Talibu makin besar makin gagah

dan tampan. Semua rakyat mencinta pangeran ini. Selain

tampan, juga putera mahkota ini digembleng ilmu surat dan

ilmu silat. Tidak hanya Panglima Kayabu yang menurunkan

kepandaiannya kepada putera mahkota, juga Sang Ratu Yalina

sendiri menurunkan ilmu silat saktinya Yaitu Khong-in-ban-kin

dan Khong-in-liu-san. Adapun ilmu silat ajaib Cap-sha-sin-kun

ia ajarkan pula secara hati-hati dan perlahan-lahan karena

ilmu ini bukan ilmu sembarangan dan kalau belum matang

keadaan seorang ahli silat, tak mungkin dapat mempelaiarinya

dengan sempurna.

Sebelum kita melanjutkan cerita ini, lebih baik kita

menengok keadaan anak perempuan yang lenyap tanpa bekas

itu. Ke manakah menghilangnya anak perempan itu, adik

kembar Pangeran Talibu? Dan apakah yang terjadi lewat

tengah malam itu di belakang istana Ratu Yalina?

Ketika itu, nenek dukun beranak memondong bayi

perempuan yang dibungkusnya dengan selimut. Ia bergegas

keluar dari pintu rahasia yang membawanya keluar dari

istana dan muncul diluar taman bunga.

Nenek ini tersenyum-senyum girang. Peristiwa aneh yang ia

alami di dalam istana ini tak dapat tidak akan mendatangkan

untung besar kepadanya. Betapa tidak? Rahasia Sang

Ratu berada di tangannya. Yang dibungkus selimut ini

merupakan sebagian rahasia besar itu. Sebagai orang yang

mengetahui rahasia itu tentu hidupnya terjamin. Dan juga

keponakannya akan hidup mewah dan mulia kelak, sebagai

pengasuh dan pemelihara puteri Sang Ratu! Nenek ini sama

sekali t idak tahu bahwa sejak tadi ada bayangan berkelebat

mengikut inya.

Tiba-tiba nenek itu berhenti melangkah, kaget memandang

ke depan. Di depannya telah berdiri sesosok bayangan orang.

Malam itu bulan sepotong menyinarkan cahayanya yang

suram, akan tetapi cukup untuk membuat ia dapat melihat

orang yang seperti setan tiba-tiba saja berdiri di depannya.

Seorang perempuan! Seorang perempuan berpakaian serba

putih! Tubuhnya ramping padat, dengan lekuk-lengkung

mencolok. Pendeknya tubuh seorang wanita muda yang

montok, tubuh yang sedang mekar dalam usia muda. Akan

tetapi muka dan kepala wanita muda ini tertutup anyaman

benang sutera hitam Membuat wajahnya hanya nampak

bayangannya saja, bayangan seram sekali karena sepasang

matanya mengeluarkan sinar seperti bukan mata manusia!

Lebih tepat kalau mata itu dimiliki iblis, atau setidaknya

sepasang mata harimau liar!

“Apa… eh, siapa…?” Nenek ini tergagap dan ketakutan.

“Hi-hik! ” Wanita aneh itu terkekeh dan sekali tangannya

merenggut, anak dalam buntalan selimut itu telah berada di

tangannya. Nenek dukun beranak terkejut dan kemarahannya

mengatasi takutnya, kedua tangannya diulur hendak

merampas kembali anak itu.

“Huh, macam engkau mana ada harga merawat anak Lin

Lin?” Tangan kirinya menyambar ke depan. Terdengar bunyi

“krekk!” dan tubuh nenek itu terguling tak bernyawa lagi!

Sambil tertawa-tawa yang mengatasi tangis anak perempuan

itu, wanita aneh itu sekali berkelebat lenyap ke dalam gelap.

Suara ketawanya yang nyaring melengking amat

menyeramkan, memecah kesunyian malam dan pasti akan

membuat hati orang yang bagaimana tabahnya tergetar.

Siapakah wanita aneh yang menyeramkan ini? Melihat

gerak-geriknya ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar

biasa hebatnya. Larinya amat cepat, seperti terbang saja

sehingga ketika fajar menyingsing keesokan harinya, ia sudah

berada di tempat yang ratusan li jauhnya dari Kota Raja

Khitan. Ketika itu ia masih berlari terus memasuki sebuah

hutan lebat, jauh di sebelah selatan. Orang tentu akan heran

sekali melihat bahwa dia adalah seorang wanita yang masih

muda, belum tiga puluh tahun usianya! Wajahnya cantik jelita,

tubuhnya ramping padat, pakaiannya serba putih terbuat dari

sutera halus yang membungkus ketat tubuhnya,

membayangkan lengkung lekuk tubuhnya yang

menggairahkan. Anehnya muka dan kepalanya tersembunyi di

belakang kain penutup atau “tirai” sulaman benang sutera

hitam sehingga garis-garis mukanya yang cantik hanya

nampak remang-remang. Akan tetapi, sepasang mata di balik

tirai itu jelas tampak berkilat-kilat menakutkan, mata yang jeli

dan indah, namun dengan sinar mata yang liar dan

mengerikan.

Wanita ini sesungguhnya bukan orang asing bagi Ratu

Yalina. Dia ini adalah kakak angkatnya sendiri, puteri ayah

angkatnya. Mendiang ayah angkat Ratu Yalina, yang bernama

Jenderal Kam Si Ek, seorang jenderal dari Hou-han yang

perkasa dan pandai, mula-mula menikah dengan puteri Bengkauwcu,

yang bernama Liu Lu Sian yang berjuluk Tok-siauwkwi

(Iblis Cilik Beracun) dan berputera Suling Emas! Kemudian

Jenderal Kam bererai dari Liu Lu Sian, menikah lagi dan

mempunyai dua orang anak. Pertama adalah Kam Bu Sin yang

kini menjadi mantu dari ketua Beng-kauw yang baru dan

bersama istrinya tinggal di selatan. Adapun yang kedua adalah

Kam Sian Eng, seorang anak perempuan yang cantik. Sayang

sekali bahwa, seperti juga halnya Ratu Yalina, Kam Sian Eng

ini gagal dalamasmara dan mengalami penderitaan batin yang

lebih parah lagi. Gadis yang bernasib malang ini telah

menjatuhkan cinta kasihnya kepada seorang laki-laki yang

jahat, putera pangeran dan bernama Suma Boan. Dapat

dibayangkan betapa hancur hatinya ketika Kam Sian Eng

akhirnya mendapat kenyataan betapa laki-laki yang dicintainya

itu membalasnya dengan kekejian, bahkan memperkosanya.

Kehancuran cinta kasih yang diinjak-injak oleh kekasihnya ini

membuat Kam Sian Eng menjadi tertekan batinnya yang

membuatnya seperti gila! (Baca cerita CINTA BERNODA

DARAH )

Secara kebetulan, Kam Sian Eng menemukan kitab-kitab

pusaka peninggalan Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian (Ibu kandung

Suling Emas) dalam istana bawah tanah.

Dalam keadaan setengah gila ia mempelajari semua kitabkitab

itu setelah berhasil membunuh Suma Boan bekas

kekasihnya itu. Ia menyembunyikan diri dan tekun

mempelajari kitab-kitab pusaka, yaitu kitab-kitab pusaka yang

dahulu dicuri dari partai-partai persilatan besar oleh Toksiauw-

kwi Liu Lu Sian. Tentu saja Kam Sian Eng yang memang

tadinya sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi, makin

lama menjadi makin hebat kepandaiannya sehingga sukar

untuk di bayangkan lagi. Hebat dan juga mengerikan karena

pikirannya yang setengah gila itu membuat ia kadang-kadang

mempelajari ilmu kesaktian secara keliru yang akibatnya

membuatnya menciptakan ilmu-ilmu yang dahsyat seperti ilmu

iblis!

Wanita aneh yang muncul di Khitan dan menculik anak

perempuan Ratu Yalina itu bukan lain adalah Kam Sian

Eng! Tadinya, selagi pikirannya waras dan ia terkenang

kepada adik angkatnya di Khitan, Kam Sian Eng bermaksud

mengunjungi adiknya yang kini menjadi ratu itu. Secara

kebetulan sekali ia tiba di Khitan pada malam hari dan dengan

ilmu kepandaiannya yang tinggi ia memasuki istana dan

alangkah herannya ketika ia melihat betapa dalam kamar

rahasia itu adik angkatnya yang menjadi Ratu Khitan sedang

melahirkan!

Bagaikan disambar petir rasa hati Kam Sian Eng. Dengan

air mata bercucuran ia melihat keadaan adik angkatnya dari

tempat sembunyinya di atas genteng. Terbayanglah ia akan

pengalamannya sendiri. Seperti adik angkatnya ini, ia pun

pernah melahirkan anak tanpa ayah! Perbuatan Suma Boan

terhadap dirinya telah membuatnya mengandung. Inilah

sebetulnya yang membuat batinnya tertekan, membuat ia

menjadi makin gila, membuat ia menyembunyikan diri dari

dunia ramai, seorang diri di dalam istana bawah tanah. Di situ

pula ia seorang diri melahirkan seorang anak laki-laki! Hal itu

telah terjadi setahun yang lalu. Dan untuk merawat anaknya

terpaksa ia pergi menculik seorang wanita yang mempunyai

anak kecil dan memaksa wanita itu untuk selamanya tinggal di

dalam istana bawah tanah untuk menyusul dan merawat

anaknya! Betapa sedih hati ibu muda yang diculik itu, sukarlah

untuk diceritakan. Ia dipaksa iblis betina itu bercerai dari

anaknya yang baru berusia dua bulan, untuk dikeram dan

hidup di bawah tanah! Akan tetapi, Kam Sian Eng bersikap

baik kepadanya dan anak kecil yang mungil itupun sedikit

banyak menghibur hatinya, menjadi pengganti anaknya

sendiri, seorang anak laki-laki yang entah kapan dapat ia lihat

kembali.

Kenangan yang pahit itu membuat penyakit gila Sian Eng

kambuh pada saat ia mengintai di kamar Ratu Yalina. Ia

mendengarkan semua percakapan, kemudian membatalkan

pertemuannya dengan Ratu Yalina dan mengikuti nenek

dukun beranak, membunuhnya dan menculik anak perempuan

adik angkatnya! Ia sama sekali tidak peduli bahwa

perbuatannya ini tentu akan menghancurkan hati Yalina yang

kehilangan seorang diantara anak kembarnya!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati ibu muda

yang merawat anak Kam Sian Eng ketika pada hari itu wanita

yang dianggapnya iblis betina, amat ditakuti akan tetapi diamdiam

juga amat dikasihinya itu tiba-tiba pulang membawa

seorang anak perempuan yang masih merah kulitnya!

“Ya Tuhan! Kouwnio (Nona), apa pula yang kaulakukan ini?

Anak siapa ini? Mana Ibunya … ?” Wanita itu berseru sambil

membelalakkan matanya. Bahkan Suma Kiat, anak laki-laki

berusia setahun yang digendongnya juga memandang dengan

mata terbelalak kepada bayi yang dipondong ibunya.

Kam Sian Eng tertawa. Berhadapan dengan orang luar,

wanita ini tidak pernah tertawa, akan tetapi terhadap wanita

yang diculik dan dipaksanya merawat anaknya itu ia bersikap

seperti saudara. Hal ini tidak mengherankan oleh karena

memang hanya Phang Bi Li ibu muda inilah yang menjadi

temannya di dalamtempat rahasia di bawah tanah.

“Hi-hik! Enci Bi Li, kau kubawakan seorang keponakan

baru, seorang bayi perempuan yang mungil untuk menjadi

teman bermain Kiat-ji (Anak Kiat) kelak. Kaulihat, lucu dan

mungil, bukan? Namanya… hemm, coba kucarikan yang

baik… Kwi Lan, ya… Kwi Lan. Kam Kwi Lan. Hi-hi-hik!”

Wanita itu segera menerima anak perempuan tadi dari

tangan Sian Eng. Memang benar, anak itu mungil dan cantik

sekali. Phang Bi Li menahan isak teringat akan anaknya sendiri

yang ditinggalkan dalam usia dua bulan! Segera Kwi Lan, anak

itu merampas hatinya dan dirawatnya penuh cinta kasih

seperti anaknya sendiri. Juga Kam Sian Eng biarpun kadangkadang

kumat gilanya, tak pernah lupa akan segala keperluan

Kwi Lan sehingga karena Bi Li sudah tidak menyusui Kiat-ji

lagi, wanita aneh itu lalu merampas lembu betina, dibawa

masuk ke dalam istana bawah tanah dan dipelihara untuk

diambil air susunya.

Karena tempat persembunyian itu merupakan gudang

pusaka-pusaka berupa kitab pelajaran pelbagai ilmu silat yang

tinggi dan aneh-aneh, maka kedua anak itu, Kiat-ji dan Kwi

Lan, semenjak kecil digembleng oleh Kam Sian Eng. Bahkan Bi

Li, wanita dusun yang tadinya hanya seorang wanita muda

yang lemah, karena setiap hari berkumpul dengan Sian Eng,

mulai pula memperhatikan dan belajar ilmu silat!

Setelah dua orang anak itu mulai besar, berusia sepuluh

tahun, Phang Bi Li menyatakan kekhawatirannya. “Siankouwnio,

aku tidak peduli kalau kau akan mengeram dirimu

selama hidup dalam gedung kuburan ini! Juga aku tidak

memikirkan lagi diriku sendiri yang sudah kaupaksa t inggal

bersamamu di sini. Aku anggap diriku sudah mati seperti

engkau sendiri mati dari dunia luar. Akan tetapi, engkau harus

ingat kepada puteramu! Juga harus ingat kepada Kwi Lan.

Dua orang anak itu, anak-anak yang tidak punya dosa, yang

tidak tahu apa-apa, mengapa hendak kau kubur hidup-hidup

di tempat ini? Mereka berhak menikmati hidup di atas tanah di

dunia ramai seperti semua anak lain di dunia ini !”

“Hik-hik, engkau salah besar, Enci Bi Li! Tempat ini aman

tentram, penuh damai dan di sini kita tidak usah

mengkhawatirkan apa-apa. Sekali kita muncul di atas tanah

dan bertemu dengan orang, akan timbullah keributan dan

malapetaka. Bergaul dengan manusia di dunia ramai berarti

terjun ke dalam jurang penuh keributan dan penderitaan!”

Setelah berkata demikian, tiba-tiba Sian Eng menangis

tersedu-sedu dan tidak mau bicara lagi kepada Bi Li!

Akan tetapi, berbulan-bulan lamanya Bi Li tidak pernah

bosan untuk membujuk dan membujuk lagi. Apa yang keluar

dari mulut wanita ini memang sesungguhnya suara yang

keluar dari hatinya. Ia sudah putus asa untuk dirinya sendiri.

Ia sudah tidak ingin bertemu dengan keluarganya, karena oleh

suami dan keluarganya tentu ia dianggap seorang wanita

durjana yang meninggalkan anak yang masih kecil. Selain itu!

ia pun, amat mencintai Kwi Lan yang dianggapnya anak

sendiri. Ia tidak suka kepada Suma Kiat sungguhpun ketika

masih kecil anak itu menyusu dadanya. Anak ini amat nakal.

“Tidak! Aku tidak sudi hidup di atas tanah bergaul dengan

dunia ramai yang palsu dan keji!” Sian Eng berkali-kali

menjerit marah kalau dibujuk oleh Bi Li.

“Kalau kau tidak mau aku pun tidak memaksa atau

menyuruhmu keluar dari kuburan ini Sian-kouwnio”. Aku

hanya menuntut untuk dua orang anak itu. Kenapa engkau

begini angkuh? Kalau kita membuat bangunan sederhana di

atas kuburan ini, dan memembiarkan dua orang anak ini hidup

di udara bebas, dan engkau sendiri sembunyi di sini, bukankah

bagimu sama juga? Kalau kau ingin bertemu dengan kami

bertiga tinggal panggil saja dan kami tentu sewaktu-waktu

akan turun ke sini. Sian-kouwnio! biarpun engkau tidak pernah

bercerita aku tahu bahwa engkau adalah seorang wanita sakti

keturunan orang gagah yang berkedudukan t inggi. Aku dapat

menduga bahwa dahulu kau telah mengalami tekanan batin

dan menderita patah hati. Akan tetapi, mengapa karena itu

engkau lalu hendak menghukum puteramu sendiri dan Kwi

Lan yang tidak dosa?”

Akhirnya dibujuk oleh Bi Li yang diperkuat oleh kedua anak

itu yang selalu rewel minta diperbolehkan melihat keadaan di

luar, terpaksa Sian Eng mengalah.

“Akan tetapi aku pesan, tidak boleh kalian meninggalkan

hutan di atas Istana ini. Kalau melanggar aku takkan

mengampuni nyawa kalian. Biar Kiat Ji sendiri akan kubunuh

mampus kalau berani melanggar!” ancamnya dengan suara

bengis dan mata bersinar ganas.

Akan tetapi ancaman yang akan membuat orang lain

merasa ngeri ini, seperti tidak didengar oleh Phang Bi Li, Suma

Kiat dan Kwi Lan. Mereka bertiga sudah menjadi girang sekali.

Segera mereka dibantu pula oleh Sian Eng yang masih terus

mengomel sepanjang hari keluar dari pintu rahasia dan mulai

membangun sebuah pondok sederhana di dalam hutan di atas

istana bawah tanah itu.

Cara Kam Sian Eng menggembleng ilmu silat kepada dua

orang anak itu amat luar biasa, Mula-mula ia mengajarkan

dasar-daser ilmu silat disamping mengajar ilmu membaca.

Setelah kedua orang anak itu berusia sepuluh tahun dan

pandai membaca, ia menyuruh mereka membaca kitab-kitab

pusaka yang berisi ilmu-ilmu silat tinggi, peninggalan Toksiauw-

kwi. Kitab-kitab ini adalah kitab-kitab rahasia yang

mengandung pelajaran pelik dan gawat, bukan ilmu silat

biasa.

Tentu saja kedua orang anak itu, terutama sekali Suma Kiat

yang otaknya tidak begitu cerdas, amat sukar menyelami

isinya. Dan celakanya, ketika mereka bertanya kepada Sian

Eng, mereka mendapat penjelasan yang sebenarnya

menyimpang daripada pelajaran sesungguhnya. Sian Eng

sendiri melatih diri dengan ilmu-ilmu silat tinggi secara keliru

sehingga ilmu silat tinggi yang di ciptakan orang-orang sakti

itu berubah menjadi ilmu dahsyat seperti ilmu ciptaan iblis

sendiri! Dengan bekal ilmu pengetahuan yang amat kurang

ditambah sukar dan tingginya isi kitab-kitab pusaka, kemudian

digembleng oleh seorang yang sudah sesat ilmunya seperti

Kam Sian Eng, tentu saja kedua orang anak itupun menjadi

pelajar-pelajar ilmu sesat. Namun karena mereka memang

berbakat, mereka berhasil memiliki ilmu-ilmu yang amat hebat

dan mengerikan.

Diam-diam Kam Sian Eng merasa kagum kepada Kwi Lan.

Anak ini amat cerdas, jauh lebih cerdas daripada puteranya

sendiri. Kwi Lan mempunyai watak haus akan pelajaran, tidak

takut akan kesukaran sehingga diantara kitab-kitiab Pusaka

itu, Kwi Lan memilih yang sukar-sukar. Justru sifat kitab-kitab

pusaka itu, makin sukar dimengerti, makin sukar dipelajari,

makin tinggilah mutunya! Juga Kwi Lan amat tekun berlatih

sehingga Suma Kiat yang usianya setahun lebih tua itu

tertinggal olehnya.

Semenjak Kwi Lan pandai bicara, menyuruh anak itu

menyebut bibi kepadanya. Karena kurang pergaulan dengan

anak-anak lain, ketika masih kecil, Kwi Lan tidak dapat

membedakan mengapa Suma Kiat yang ia sebut suheng

(kakak seperguruan) itu menyebut ibu sedangkan ia sendiri

menyebut bibi kepada wanita yang ia anggap sebagai orang

paling baik di dunia ini setelah Bibi Bi Li. Memang Phang Bi Li

amat kasih kepada Kwi Lan, menganggap anak itu anak

kandungnya sendiri. Akan tetapi Sian Eng juga amat baik

terhadapnya. Biarpun wataknya kadang-kadang aneh, namun

terhadap Kwi Lan ia tidak pernah marah-marah.

Ketika Kwi Lan berusia dua belas tahun dan sudah dua

tahun lamanya tinggal di pondok di atas tanah, mulailah Kwi

Lan melihat perbedaan-perbedaan. Mulailah ia bertanya-tanya

kepada Bi Li tentang perbedaan-perbedaan itu.

“Bibi, kenapa Kiat-suheng menyebut Ibu kepada Bibi Sian?”

demikian tanyanya pada suatu sore ketika mereka berdua

pergi memetik bunga dalam hutan. Ketika itu Suma Kiat turun

ke bawah, dipanggil ibunya.

“Kenapa? Ah, Lan Lan, alangkah anehnya pertanyaanmu

ini. Tentu saja karena Kiat-li memang anaknya!” Karena tidak

kuasa menyelami hati dan pikiran Kwi Lan, maka Bi Li

menganggap pertanyaan itu wajar-wajar tapi bodoh.

Kwi Lan masih tetap memilih dan memet ik bunga,

membantu Bi Li.

“Kalau aku, kenapa aku harus menyebut Bibi Sian

kepadanya?”

Masih tidak sadar akan nada suara aneh dalam pertanyaan

ini, Bi Li menjawab.

“Anak bodoh, tentu saja engkau menyebut Bibi karena

engkau bukan anaknya.”

Kwi Lan menggigit bibirnya yang tiba-tiba gemetar. Setelah

menekan hatinya, ia berkata lagi.

“Bibi Bi Li, kau dulu pernah bilang ketika Kiat-suheng

bertanya tentang ayahnya bahwa dia boleh bertanya kepada

Bibi Sian. Bibi Sian marah-marah ketika ditanya dan memakimaki,

bilang bahwa ayah Kiat-suheng sudah mampus.

Kemudian Bibi Sian menangis menggerung-gerung. Semenjak

itu, Kiat-suheng tidak berani bertanya-tanya lagi tentang

ayahnya. Benarkah, Bibi, bahwa Ayah Kiat-suheng telah mati?”

Bi Li mengerutkan keningnya, lalu berkata sambil menarik

napas panjang, “Bibi Sian-mu itu memang aneh. Aku sendiri

tidak tahu. Akan tetapi kalau dia bilang demikian, agaknya

memang benar bahwa ayah Kiat-ji telah meninggai dunia.”

Hening sejenak dan mereka melanjutkan pekerjaan

memetik bunga.

“Bibi Bi Li…. kalau…. Ayah dan Ibuku…. siapakah mereka?

Di mana mereka….?”

Bi Li tersentak kaget bagaikan disengat lebah. Cepat ia

menoleh dan melihat betapa wajah Kwi Lan menjadi pucat,

sepasang matanya memandang tajam kepadanya, bibirnya

yang pucat menggigil dan anak itu hampir menangis! Barulah

tahu Bi Li bahwa sejak tadi, terjadi hal-hal yang hebat dalam

hati dan pikiran anak yang amat disayangnya itu. Baru terbuka

matanya bahwa anak ini mulai mengerti dan mencari ayah

bundanya. Ia menjadi terharu, mengeluh perlahan lalu

merangkul Kwi Lan. Tak tertahan lagi air matanya menetesnetes

ketika ia mencium pipi Kwi Lan dan menariknya duduk

di atas rumput.

“Lan Lan, Anakku sayang…. kau…. kau…. adalah Anakku,

Lan Lan.”

Kwi Lan balas pelukan dan ciuman wanita yang semenjak ia

kecil telah merawatnya penuh kasih sayang itu. Kemudian ia

berkata, ada suaranya mendesak. “Bibi Bi Li, kalau engkau

Ibuku, mengapa selama ini aku dibohongi? Dan kalau benar

aku anak kandungmu, mengapa aku tidak menyebut Ibu,

melainkan Bibi kepadamu? Bibi Bi Li, harap jangan

membohongi aku lagi, aku sudah besar dan dapat

membedakan kebohongan atau bukan. Bibi, katakanlah,

siapakah Ayah Bundaku dan di mana mereka sekarang?

Mengapa aku bisa terpisah dari mereka dan berada di sini?”

Tiba-tiba Bi Li menangis sedih. Teringat ia akan

keadaannya sendiri. Dia sendiri dipaksa berpisah dari

suaminya dan dari anaknya yang baru berusia dua bulan!

Sedangkan Kwi Lan ini dibawa datang oleh Sian Eng sejak

masih bayi, agaknya dipaksa berpisah dari ibu kandungnya!

“Aku tidak tahu, Anakku…. aku sendiri sama sekali tidak

tahu tentang dirimu sedangkan aku sendiripun dipaksa

berpisah dari suami dan anak….”

Kwi Lan tercengang. Ia merangkul wanita itu dan bertanya

“Apa yang terjadi, Bibi?”

Setelah mengeringkan air mata dan berkali-kali menghela

napas Bi Li lalu bercerita. “Suamiku seorang penebang pohon

dan kami hidup bahagia di dalam dusun. Ketika itu, aku baru

berusia dua bulan, melahirkan seorang anak laki-laki. Pagi hari

itu, selagi suamiku pergi menebang pohong datang Siankouwnio,

menangkap dan membawaku pergi meninggalkan

Anakku dibawa ke sini…. sampai sekarang….”

“Apa….?” Kwi Lan membelalakkan matanya yang jeli.

“Mengapa….?”

Bi Li tersenyum pahit. “Untuk merawat dan menyusui Kiatji.”

“Anak kandungnya sendiri? Mengapa? Mengapa harus

engkau yang menyusuinya, Bibi?”

Bi Li menggeleng-geleng kepalanya. “Entahlah. Selamanya

Bibimu Sian itu seorang aneh luar biasa. Klat-ji memang anak

kandungnya, akan tetapi ia menyuruh aku menyusui dan

merawatnya. Ahhh, nasibku sama dengan si Belang….“

Kwi Lan makin heran. Si Belang adalah nama lembu betina

yang dipelihara di bawah tanah dan sekarang sudah sangat

tua.

“Apa maksudmu, Bibi Bi Li?”

Dengan senyum pahit di bibir, Bi Li menjawab, “Aku

dipaksa ke sini untuk menyusui Kiat-ji, sedangkan si Belang

dipaksa ke sini untuk menyusui engkau, Kwi Lan. Setahun

setelah aku berada di sini, si Belang didatangkan oleh Siankouwnio

untuk diambil air susunya untukmu.”

“Dan…. aku…. dari manakah aku, Bibi….?” Wajah Kwi Lan

pucat dan suaranya mengandung isak.

“Aku tidak tahu, Anakku. Aku tidak tahu apa-apa.”

Tiba-tiba Kwi Lan menjatuhkan semua kembang yang

dipegangnya. Kini wajahnya menjadi merah, matanya

mengeluarkan kilat dan kedua tangannya yang kecil dikepal.

Wajahnya yang cantik mungil itu kini nampak beringas

mengancam.

“Kalau begitu Bibi Sian jahat sekali! Kau dipaksa berpisah

dari suami dan anak, sedangkan aku dipaksa berpisah dari

Ayah dan Ibu! Sekarang juga aku akan bertanya kepadanya,

Bibi. Dia harus memberi keterangan sejelasnya!”

“Ssttt, anak bodoh, apa yang hendak kau lakukan ini?” Bi

Lian memeluknya erat-erat dengan wajah penuh

kekhawatiran. “Apakah engkau masih belum melihat betapa

Bibimu Sian itu seorang yang amat luar biasa wataknya? Kau

tidak boleh bertanya apa-apa kepadanya, tidak boleh

membikin susah atau marah kepadanya.”

“Mengapa tidak boleh, Bibi?” Kwi Lan bertanya kecewa,

akan tetapi mulai membayang pula di hatinya kini rasa takut

dan jerih terhadap bibinya yang selalu bersembunyi di bawah

tanah itu.

“Kwi Lan, apapun juga yang telah terjadi dengan kita,

namun engkau sendiri tentu telah merasa betapa baiknya

sikap Sian-kouwnio terhadap kita. Segala kebutuhan kita

dicukupi, bahkan engkau dianggap seperti anak sendiri,

dirawat dan dididik tiada bedanya dengan Kiat-ji, putera

kandungnya. Aku pun telah mendapat perlakuan yang amat

baik sehingga harus kuakui bahwa keadaan hidupku di sini

jauh lebih baik daripada ketika masih tinggal di dusun yang

kadang-kadang menderita kurang makan. Makan pakaian

cukup, aku pun diberi kebebasan, dan bahkan dilatih ilmu

silat. Karena kebaikannya yang ia limpahkan kepada kita

inilah, maka sekali-kali kita tidak boleh membikin susah

hatinya. Aku tahu, dibalik keadaannya yang serba aneh luar

biasa itu, tersembunyi penderitaan batin yang amat hebat

pada diri Sian-kouwnio. Ia patut dikasihani. Agaknya ia

menculik kita berdua bukan karena jahat, melainkan terpaksa.

Ia menculikku karena ia membutuhkan air susuku untuk

memelihara puteranya. Kemudian ia menculikmu karena….

agaknya, dia ingin puteranya mendapatkan teman bermainmain.”

“Tapi ia tidak peduli betapa anak kandungmu sendiri

kehilangan Ibu, dan betapa Ayah-bundaku kehilangan anak!”

Kwi Lan membantah.

“Benar, akan tetapi memang demikianlah watak sebagian

besar manusia. Kepentingan sendiri selalu menutupi

kepentingan lain orang.” Bi Li menarik napas panjang. “Kita

pun tidak boleh membikin marah kepadanya, karena dia

seorang aneh luar biasa, kalau sekali ia marah, agaknya ia

tidak akan segan-segan untuk sekali turun tangan membunuh

kita berdua!” Bi Li bergidik ngeri. Akan tetapi Kwi Lan sama

sekali t idak merasa takut, bahkan bertanya dengan suara

menuntut.

“Bibi, kalau kau melarang aku membikin susah dan

membikin marah Bibi Sian, habis apakah aku harus t inggal

diam saja dipaksa berpisah dari Ayah Bunda kandungku?” Kini

Kwi Lan tidak menangis lagi karena kemarahan memenuhi

hatinya.

Bi Li memeluknya dan mengelus-elus rambutnya. “Anakku

yang baik, sama sekali bukan begitu maksudku. Kau harus

bersabar, Anakku. Kau tahu bahwa yang tahu akan rahasia

dirimu hanyalah Sian-kouwnio seorang. Hanya dari dialah

engkau akan dapat mengetahui siapa Ayah Bundamu. Karena

itu, engkau harus bersabar. Kalau sekarang kautanyakan hal

itu kepadanya dan dia tidak mau mengaku malah marah,

engkau akan bisa berbuat apakah? Jangan-jangan engkau

malah akan dibunuhnya! Lebih baik engkau tekun belajar,

memperdalam kepandaianmu karena kepandaian silat itu

merupakan bekalmu kelak kalau Sian-kouwnio tidak mau

mengaku, untuk kaupakai mencari sendiri orang tuamu.”

Terbukanya rahasia tentang keadaan dirinya inilah yang

membuat Kwi Lan, makin tekun dan giat belajar. Dia seorang

gadis yang keras hati, yang tahan menderita. Biarpun setiap

saat pertanyaan tentang ayah ibunya sudah berada di ujung

lidah, namun ia dapat selalu menekan dan menelannya

kembali, tidak mau bertanya akan hal itu kepada Sian Eng

yang makin lama menjadi makin kagum saja akan keadaan

keponakan dan muridnya ini Semua kitab simpanan “dilalap”

habis oleh Kwi Lan bahkan kitab-kitab yang oleh Sian Eng

sendiri kurang dimengerti. oleh Kwi Lan dihafal di luar kepala!

Memang seperti tidak ada gunanya baginya, karena tidak ada

yang menerangkan artinya, juga Sian Eng tidak mengerti.

namun Kwi Lan menghafalnya di luar kepala dengan

keyakinan bahwa kelak tentu ada gunanya. Dalam hal

kemajuan ilmu silat, Suma Kiat tertinggal jauh oleh Kwi Lan

sehingga kadang-kadang Sian Eng merenung seorang diri.

“Tidak aneh! Kwi Lan keturunan seorang sakti seperti

Suling Emas, sedangkan Kiat-ji anak bajingan macam Suma

Boan!” Lalu ia menangis seorang diri, menangisi kematian

Suma Boan, putera pangeran yang amat dikasihinya, juga

amat dibencinya sehingga kedua tangannya sendirilah yang

membunuh Suma Boan.

Dua tahun kemudian ketika Kwi Lan telah berusia empat

belas tahun pada suatu pagi gadis cilik ini bersama Phang Bi Li

mencari kembang seperti dua tahun yang lalu di dalam hutan,

tidak jauh dari pondok mereka.

“Bagaimana kalau sekarang aku bertanya kepada Bibi Sian

tentang orang tuaku, Bibi Bi Li?”

Bi Li menggeleng kepala. “Belum waktunya, Kwi Lan.

Sedikitnya lima tahun lagi, kalau engkau sudah betul-betul

kuat, baru kau boleh bertanya.”

Selagi Kwi Lan hendak bicara lagi, tiba-tiba Bi Li

memandangnya dan menaruh telunjuk di bibir. “Ssshh,

tidakkah kau mendengar sesuatu?”

Kwi Lan mendengarkan penuh perhatian. “Ada orang

bertempur….!” Akhirnya ia berkata.

Bi Li mengangguk. “Agaknya tidak jauh dari sini. Mari kita

lihat, akan tetapi kita harus bersembunyi.”

Berlari-larianlah mereka ke arah suara beradunya senjata

tajam. Tak lama kemudian sampailah mereka ke tempat

bertempur tadi, di pinggir hutan. Mereka bersembunyi di balik

pohon-pohon sambil mengintai.

Kiranya yang bertanding itu adalah seorang laki-laki berusia

kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian seperti seorang

jembel miskin sekali, pakaiannya penuh tambalan dan amat

butut, melawan pengeroyokan empat orang lain yang

pakaiannya juga penuh tambalan. Hanya bedanya, kalau

orang pertama yang dikeroyok itu pakaiannya butut dan kotor,

adalah pakaian empat orang yang mengeroyok ini, biarpun

penuh tambalan, amat bersih dan tambalannya juga

berkembangkembang.

Ilmu kepandaian pengemis butut itu lumayan demikian Kwi

Lan yang menonton berpikir. Senjatanya hanya sebatang

tongkat, akan tetapi gerakannya gesit dan tenaganya besar.

Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan empat orang

pengemis bersih ia nampak repot. Empat orang lawannya itu

memegang tongkat yang lebih besar dan panjang, dan

biarpun gerakan mereka tidak secepat gerakan Si Pengemis

butut, namun ilmu silat mereka lihai dan tenaga mereka tidak

kalah besarnya. Selain ini, tempat pertandingan itu dikurung

oleh belasan orang pengemis baju bersih yang bersorak

menjagoi empat orang kawan mereka dan mengejek Si

Pengemis baju butut. Agaknya pertandingan itu sudah

berlangsung cukup lama dan tampak betapa pengemis

berpakaian butut itu sudah payah. Tubuhnya penuh luka-luka

dan napasnya sudah terengah-engah pucat. Namun masih

terus melawan penuh semangat.

“Aiihhh….!”

Seruan ini mengagetkan hati Kwi Lan. Ketika ia menoleh ke

kiri, ia melihat betapa Bi Li memandang dengan mata,

terbelalak dan muka pucat sekali ke arah pertempuran.

Kemudian, nyonya itu meloncat ke depan bagaikan seekor

harimau betina, langsung menerjang tempat pertandingan dan

begitu kaki tangannya bergerak, empat orang pengeroyok itu

terlempar ke empat jurusan Phang Bi Li cepat menghadapi

pengemis baju butut itu sambil berseru suaranya gugup.

“Kau…. kau…. bukankah engkau Tang Sun….?”

Pengemis baju butut itu terhuyung-huyung saking lelahnya,

mengeluh panjang ketika memandang Bi Li, kemudian berkata

lemah.

“Bi Li…. ! Kau… Bi Li….? Ah, tidak mungkin….”

Sepasang mata Bi Li sudah bercucuran air mata. “Aku betul

Bi Li isterimu!”

Pengemis itu terbelalak memandang, napasnya serasa

terhenti. “Bi Li….? Aduh…. Hauw Lam…. Hauw Lam…. di

manakah engkau….? Ini Ibumu, Nak….!” Pengemis bernama

Tang Sun itu terguling dan roboh pingsan! Untung Bi Li cepat

meloncat dan menubruknya sehingga ia tidak sampai

terbanting, akan tetapi alangkah kaget hati Bi Li ketika melihat

dia ternyata telah terluka hebat, bahkan tulang iganya ada

yang patah-patah. Kiranya laki-laki yang ternyata adalah

suaminya ini tadi melakukan perlawanan mati-mat ian dan

nekat dalam keadaan terluka parah mendekati mati! Cepat ia

merebahkan suaminya, memanggil-manggil namanya dan

menangis.

Sementara itu, sejenak para pengemis baju bersih yang

belasan orang jumlahnya tercengang menyaksikan betapa

sekali bergerak, wanita setengah tua itu telah membuat empat

orang kawan mereka terlempar dan jatuh terbanting tidak

mampu bangkit lagi, hanya mengaduh-aduh karena tulang

lengan dan kaki mereka patah-patah! Kini melihat betapa

pengemis baju butut roboh pingsan dan wanita itu berlutut

menangis, timbul kegarangan mereka.

“Perempuan liar darimana berani mengganggu kami?”

bentak seorang di antara mereka yang bermuka bopeng

koban penyakit cacar. “Hayo hajar dia!” perintah Si Muka

Bopeng ini dengan suara keras. Enam orang pengemis yang

tubuhnya tinggi besar dan agaknya menjadi jagoan mereka di

samping empat orang pengeroyok yang sudah roboh oleh Bi

Li, kini menerjang maju dengan senjata mereka yang sama,

yaitu tongkat sebesar lengan setinggi orang.

Saat itulah Kwi Lan turun tangan. Sekali ia menggerakkan

kakinya, ia telah melompat dan bukan main kagetnya enam

orang pengemis tinggi besar melihat bayangan berkelebat

seperti seekor burung terhang dan tahu-tahu seorang gadis

remaja yang cantik jelita telah berdiri di depan mereka sambil

bertolak pinggang! Akan tetapi setelah melihat bahwa yang

muncul menghadang hanyalah seorang gadis cilik belum

dewasa dan bertangan kosong pula, mereka memandang

rendah dan tertawa.

“Ho-ho-ha-ha! Cucuku yang mungil. Minggirlah,

Engkongmu (Kakekmu) tidak ada waktu untuk melayanimu.”

teriak seorang di antara mereka yang kepalanya gundul.

“Eh, Nona cilik yang manis. Apakah engkau menantang

berpacaran? Minggirlah lebih dulu, tunggu kalau aku selesai

membikin mampus anjing betina tua itu, baru aku layani kau,

heh-heh-heh!” kata seorang pengemis tinggi bermuka hitam.

Kwi Lan semenjak kecil berwatak riang gembira, jenaka dan

pandai bicara. Hal ini diketahui baik oleh Phang Bi Li, apalagi

oleh Suma Kiat yang selalu kalah berdebat. Dan hanya di

depan Sian Eng saja gadis ini tunduk dan berubah pendiam.

Kini menghadapi orang-orang yang menimbulkan kemarahan

di hatinya itu, muncul pula sikapnya yang ugal-ugalan, Sambil

tersenyum mengejek ia berkata.

“Wah, kalian ini sekumpulan monyet tua tidak tahu malu,

berhati palsu, curang dan selayaknya dihajar! Melihat pakaian

kalian, jelas bukan orang miskin, akan tetapi sengaja

ditembel-tembel biar dianggap pengemis. Ini tandanya kalian

bukan pengemis karena keadaan melainkan orang-orang

berjiwa pengemis! Lalu mengandalkan jumlah banyak

mengeroyok orang malah menghina wanita, ini tandanya

kalian berwatak rendah, hina, dan curang! Paling akhir,

pandang mata kalian dan ucapan-ucapan tadi menandakan

bahwa kalian bersifat kurang ajar, tak tahu sopan santun,

maka kalian sudah sepatutnya diberi hajaran biar kapok!”

“Mengapa melayani mulut seorang anak nakal? Tangkap

dulu dia, kita bawa pulang!” teriak Si Muka Bopeng yang

tertarik melihat kelucuan dan kecantikan Kwi Lan, juga

berbareng mendongkol karena enam orang anak buahnya

dijadikan bahan mainan gadis cilik itu.

Serentak enam orang pengemis tinggi besar itu menerjang

Kwi Lan. Mereka seperti berlumba, hampir berbareng tangan

mereka diulur dan menubruk untuk menangkap Kwi Lan.

Karena perintah kepala mereka bukan membunuh melainkan

menangkap, pula karena mereka sendiri pun tidak ingin

membunuh gadis cilik yang cantik ini, maka mereka tidak

menggunakan tongkat untuk menerjang. Hal ini amatlah

menguntungkan, bukan bagi Kwi Lan melainkan bagi enam

orang pengemis itu sendiri! Karena sedangkan penyerangan

sendiri! Karena sedangkan penyerangan dengan tangan

kosong mereka itu saja sudah mendatangkan akibat yang

hebat, apalagi kalau mereka menggunakan senjata, tak

terbayangkan betapa hebat akibatnya.

Penyerangan itu bertubi-tubi datangnya, saling susul. Akan

tetapi, begitu ada tangan menjangkau ke arahnya, Kwi Lan

hanya bergerak sedikit, menyambut dengan tangannya sendiri

yang kecil dan…. “plaakk!” tangan yang besar ini membalik

dan menghantam muka Si Penyerang sendiri. Suara “plakk”

disusul “aduhh!” terdengar susul-menyusul dan enam orang

itu sudah terhuyung-huyung, ada yang roboh dan mereka

semua mengerang kesakitan karena yang paling ringan di

antara mereka sudah remuk hidungnya, terkena hantaman

tangan sendiri yang secara aneh telah membalik. Lebih hebat

adalah Si Muka Hitam, karena tangannya tadi terbuka jarijarinya

hendak mencengkeram dada Si Gadis Cilik, ketika

membalik masih dalam keadaan mencengkeram dan tak dapat

dicegah lagi, mata kirinya tertusuk jari tangannya sehingga biji

matanya tercokel keluar! Adapun Si Kepala Gundul, tepat kena

hantaman kepalanya oleh tangannya sendiri sehingga di

kepalanya tumbuh tanduk dan ia roboh pingsan, agaknya

mengalami gegar otak! Yang lain-lain, sebagian besar

kehilangan hidung, atau setidaknya yang hidungnya agak

mancung menjadi pesek karena ujungnya telah remuk berikut

tulang muda batang hidung!

Semua pengemis baju bersih tertegun, apalagi ketika

mendengar gadis cilik itu berkata mengejek, “Baru bisa

mainkan sedikit ilmu silat Khong-thong-pai yang digerakkan

secara ngawur saja kalian sudah sombong! Benar-benar tak

tahu malu!”

Si Muka Bopeng cepat melompat maju dengan tongkat

melintang. Wajahnya yang bopeng menjadi merah sekali, dan

diam-diam ia pun merasa heran. Tidak dapat disangkal lagi,

ilmu silat yang dipelajari anak buahnya memang ilmu silat

Kong-thong-pai, karena dia adalah seorang murid pelarian dari

Kong-thong-pai. Akan tetapi, ilmu tongkat dan ilmu silatnya

sudah terkenal, sukar dicari bandingnya dan karena itu pula ia

dipercaya oleh para pimpinan pengemis baju bersih untuk

memimpin pasukan pengemis di daerah itu, mengepalai

pasukan pengemis lima puluh orang banyaknya. Sekarang,

bocah ini telah mengenal ilmu silat anak buahnya, tidak hanya

mengenal, malah mengejek!

“Eh, bocah bermulut lancang den sombong! Kau tahu apa

tentang Ilmu silat Kong-thong-pai?”

“Mengapa tidak tahu? Apa kaukira ilmu silat Kong-thong-pai

yang paling hebat di muka bumi ini? Huh, ilmu silat Kongthong-

pai tidak banyak ragamnya, tidak menang banyak

dengan jumlah bopeng di mukamu.”

Saking marahnya, Si Muka Bopeng mencak-mencak dan

membanting tongkatnya sampai menancap setengahnya di

atas tanah. “Keparat aku murid Kong-thong-pai yang jagoan,

tahu?”

Kwi Lan memang nakal. Ia membusungkan dada dan

menghampiri tongkat itu. “Membanting tongkat seperti itu apa

susahnya? Aku pun bisa. Lihat!” Ia menggunakan tangan

kanan menangkap sisa tongkat yang tampak di atas tanah,

diam-diam mengerahkan tenaga sakti lalu mengangkat terus

membanting.

“Krakk…. cappp!” Tongkat itu ketika ia cabut telah patah di

tengah-tengahnya, tepat di permukaan tanah, kemudian

ketika tongkat sepotong itu ia tancapkan, benda itu amblas ke

dalam tanah tak tampak lagi!

Si Muka Bopeng melongo, juga anak buahnya berseru

kaget. Hal ini membuat Si Muka Bopeng marah sekali. Sambil

berseru keras ia menerjang dengan pukulan Serbu Masuk

Guha Harimau. Pukulan ini keras sekali dan mengarah dada

Kwi Lan. Sebuah serangan keterlaluan bagi seorang laki-laki

berusia empat puluh tahun terhadap seorang gadis berusia

empat belas tahun. Selain serangan maut, juga tidak sopan.

Akan tetapi Kwi Lan berseru sambil mengejek.

“Wah, Cim-jip-houw-hiat (Serbu Masuk Guha Harimau)

yang buruk sekali!” Ia pun cepat melakukan gerakan yang

sama. Akan tetapi jurus yang sama ini ia lakukan dengan cara

yang jauh berlainan, hanya gayanya saja yang sama akan

tetapi dasar dan isinya sudah berbeda jauh. Akan tetapi hebat

akibatnya, karena ketika kepalan tangan Si Muka Bopeng itu

bertemu dengan telapak tangan Kwi Lan, mendadak Si Muka

Bopeng itu merasa betapa tangannya membalik tenaganya

dan kepala tangannya seakan-akan sudah tak dapat ia kuasai

lagi dan menyambar ke arah dadanya sendiri! Persis seperti

yang dialami oleh enam orang anak buahnya tadi. Akan tetapi

ia cukup lihai dan secepat kilat ia menggunakan tangan kirinya

menangkis tangan kanannya sendiri sampai terdengar suara

“dukkk!” karena beradunya kedua lengan. Ia meringis

kesakitan, wajahnya makin merah. Jelas tadi ia melihat gadis

cilik itu bergerak dalam jurus yang sama, akan tetapi mengapa

amat berbeda? Memang t idak aneh sebetulnya. Seperti kita

ketahui dari cerita SULING EMAS , mendiang Tok-siaw-kwi Liu

Lu Sian telah berhasil mencuri banyak sekali kitab-kitab ilmu

silat dari pelbagai perguruan silat dan partai-partai besar. Di

antaranya, ia telah mencuri pusaka Kong-thong-pai. Kemudian

semua kitab pusakanya terjatuh ke tangan Kam Sian Eng,

maka tentu saja sebagai muridnya yang amat rajin, Kwi Lan

telah mempelajari pula ilmu silat dari kitab Kong-thong-pai ini.

Seperti juga dengan ilmu-ilmu silat lain, penjelasan Sian Eng

menyeleweng daripada ilmunya yang benar, maka menjadi

berbeda, bahkan ada yang terbalik sama sekali!

Mengapa ilmu yang dipelajari terbalik dan menyeleweng ini

malah mengatasi ilmu yang aseli, yang telah dipelajari oleh Si

Muka Bopeng? Hal itu pun tidak aneh. Biarpun telah mewarisi

ilmu bermacam-macam yang dipelajari secara menyeleweng,

namun Sian Eng telah berhasil memiliki dan mencipta ilmuilmu

yang tinggi dan aneh, sehingga menyerupai ilmu ciptaan

iblis sendiri. Muridnya Kwi Lan, memperoleh kepandaiannya

dari Sian Eng, tentu saja juga mendapatkan pelajaran ilmu

menghimpun hawa sakti yang mujijat. Hanya ketika sudah

membaca kitab dan belajar sendiri kitab-kitab itu,

penafsirannya berbeda dengan penafsiran gurunya sehingga

dalam ilmu-ilmu yang tinggi, terdapat perbedaan aneh di

antara Kwi Lan, Suma Kiat, dan Sian Eng sendiri. Akan tetapi

karena dasar-dasar pelajaran lwee-kang, khi-kang dan sinkang

diperoleh dari Sian Eng, maka dalam hal ini mereka

bertiga memiliki dasar yang sama. Dibandingkan dengan Si

Muka Bopeng, Kwi Lan jauh lebih menang tenaga dalamnya

maka biarpun jurus yang ia mainkan itu tidak aseli, namun

jauh lebih ampuh!

Si Muka Bopeng telah menerjang lagi kini dengan kedua

tangan terbuka jari-jarinya, karena ia bermaksud menangkap

gadis cilik ini untuk ditawan dan kelak dipaksa mengaku

darimana mempelajari ilmu silat Kong-thong-pai yang berubah

aneh itu dan pula, biarpun gadis itu masih terlalu muda

setengah kanak-kanak, namun sudah kelihatan cantik manis

sehingga hati Si Muka Bopeng tertarik.

Bagi Kwi Lan, serangan lawan yang kasar ini bukan apa-apa

dan sama sekali ia tidak menjadi gentar, malah tertawa

mengejek, “Hi-hik, kaugunakan jurus Hekhouw-phok-sai

(Macan Hitam Menubruk Tahi)? Busuk dan bau sekali!” Gadis

cilik yang nakal ini sengaja merobah nama jurus itu yang

sebetulnya adalah Hekhouw-phok-thouw (Macan Hitam

Menubruk Kelinci).

Si Muka Bopeng mengeluarkan gerengan marah sambil

menubruk, seperti seekor harimau tulen. Kwi Lan sama sekali

tidak mengelak, malah membarengi gerakan lawan dengan

jurus yang sama akan tetapi diam-diam ia menyalurkan hawa

sakti ke arah kedua telapak tangannya dan tercimlah ganda

wangi karena gadis cilik ini telah mempergunakan Ilmu Siangtok-

ciang (Tangan Racun Wangi). Ilmu ini adalah ciptaan Sian

Eng sendiri yang mempergunakan sari kembang beracun yang

amat wangi dan ketika berlatih ilmu ini, kedua telapak tangan

digosok-gosok racun kembang ini sehingga hawa beracun

yang berbau harum masuk ke dalam kedua telapak tangan.

Jika dalam keadaan biasa, kedua telapak tangan tidak berbau

harum dan racunnya juga tidak keluar, akan tetapi apabila

dipakai untuk bertanding dan dari dalam dikerahkan lweekang

ke arah kedua tangan, maka hawa yang wangi beracun

itu akan keluar dari telapak tangan.

Si Muka Bopeng menjadi girang melihat gadis cilik itu

menyambut seranganya dengan jurus yang sama dan

memapaki kedua tangannya yang menubruk. Diam-diam ia

mengerahkan tenaganya dan mukanya menyeringai. Gadis

cilik sombong ini tentu akan mudah ditawan kalau kedua

tangannya dapat ia tangkap. Bau wangi yang menyambar

hidungnya tidak membuat Si Muka Bopeng sadar, bahkan

makin girang mendapat kenyataan bahwa gadis cilik itu

demikian wangi!

“Plak-plak!” Kedua pasang tangan bertemu dan beradu

telapak tangan. Si Muka Bopeng mengeluarkan pekik aneh

dan tubuhnya terlempar ke belakang, terbanting roboh

telentang dan tidak bergerak lagi. Kedua lengannya masih

berkembang seperti akan menubruk, akan tetapi lengan itu

kaku dan telapak tangannya terdapat warna merah dan

kebiruan, matanya mendelik napasnya putus!

Sisa para pengemis baju bersih menjadi kaget dan jerih.

Wanita setengah tua yang kini menangisi pengemis baju butut

tadi sudah hebat, kiranya gadis cilik ini lebih hebat lagi, dalam

segebrakan mampu menewaskan pimpinan rombongan

mereka! Dengan ketakutan, sembilan orang pengemis itu

cepat menyeret teman-teman mereka yang luka dan

mengangkut mayat Si Muka Bopeng, lalu melarikan diri dari

tempat itu sambil sebentar-sebentar menoleh ketakutan

melihat ke arah Kwi Lan yang tertawatawa sambil bertolak

pinggang!

Setelah semua pengemis pergi, Kwi Lan baru sadar akan

suara Bi Li yang menangis terisak-isak. Ia cepat membalikkan

tubuh dan melihat Bi Li berlutut di depan pengemis baju butut

yang dikeroyok tadi, ia cepat menghampiri. Kini pengemis itu

sudah bangkit duduk, bersandar pada batang pohon,

napasnya terengah-engah, kedua lengannya memeluk pundak

Bi Li yang berlutut di depannya. Melihat keadaan mereka, Kwi

Lan menjadi heran bukan main, akan tetapi ia tidak mau

bertanya karena merasa jengah. Kenapa Bibi Bi Li mau dipeluk

laki-laki jembel itu? Sebagai seorang gadis cilik yang belum

pernah menyaksikan orang berpelukan, Ia tidak tahan untuk

melihat lebih lama lagi, maka ia lalu membalikkan tubuhnya

membelakangi mereka. Akan tetapi ia mendengar suara

mereka ketika mereka bicara.

“Suamiku…. mana dia? Mana Hauw Lam anak kita….?”

terdengar Bi Li berkata menahan isak. Mendengar ini, Kwi Lan

makin kaget. Suami? Jembel itu suami Bibi Bi Li? Rasa heran

dan kaget membuat ia kembali membalik dan memandang

pengemis itu lebih teliti. Seorang laki-laki berusia empat puluh

tahun lebih, pakaiannya lapuk dan kotor, pakaian seorang

jembel. Akan tetapi mukanya bersih terpelihara, muka yang

pucat karena menderita luka parah, namun masih

membayangkan ketampanan laki-laki.

“Bi Li…. isteriku, kenapa engkau meninggalkan aku?

Kenapa engkau tega pergi meninggalkan kami, suamimu dan

anak kita? Apakah kesalahanku kepadamu sehingga engkau

begitu kejam?” Suaranya ini penuh pertanyaan, penuh

tuntutan dan tangis Bi Li makin tersedu-sedu. Di antara isak

tangis, istri yang malang ini lalu bercerita dengan singkat

betapa ia diculik dan dipaksa pergi oleh Kam Sian Eng untuk

menyusui dan merawat anaknya yang baru terlahir,

menceritakan betapa Kam Sian Eng adalah seorang yang

berilmu tinggi dan betapa dia tidak berdaya.

“Demikianlah, Suamiku. Kuharap engkau suka

mengampunkan aku, akan tetapi…. sungguh aku tidak

berdaya…. sampai sekarang pun aku tidak mungkin bisa pergi

meninggalkan Sian-kouwnio….”

Laki-laki itu makin pucat jelas ia menahan sakit sambil

menggigit bibir. “Ah, engkau terluka hebat…. mari kubawa ke

pondok kami, biar kuminta Kouwnio memberi obat

kepadamu….“

“Tidak perlu lagi!” Laki-laki itu yang bernama Tang Sun,

suami dari Phang Bi Li, mencegah sambil mengangkat tangan,

kemudian karena tidak tahan bersandar dan duduk, ia lalu

merebahkan diri lagi, dibantu isterinya. “Lukaku amat parah,

kurasa ada perdarahan di dalam dadaku, sakit sekali….

ougghh…. tak mungkin dapat diobati. Akan tetapi, terima

kasih kepada Thian…. mati pun aku tidak penasaran, sudah

dapat bertemu denganmu…. tapi sayang…. Hauw Lam…. di

mana engkau, Anakku….?”

Mendengar disebutnya nama anaknya, Bi Li lupa akan

penderitaan suaminya yang sudah menghadapi maut. Sambil

memegang lengan suaminya ia berseru keras, “Dimana Hauw

Lam? Dimana dia?”

Suara Tang Sun makin lemah, bahkan agak menggigil dan

pelo, akan tetapi lancar dan tidak terputus-putus lagi.

Perubahan ini tidak diketahui Bi Li yang amat ingin mendengar

cerita tentang puteranya.

“Sepeninggalmu, kubawa dia pergi mencarimu dan hidup

menderita. Ketika dia berusia lima tahun. kuserahkan dia

kepada ketua kelenteng di puncak Gunung Kim-liong-san yang

kutahu seorang berilmu tinggi. Aku sendiri lalu melanjutkan

perjalanan mencarimu, Bi Li, menempuh seribu satu macam

kesukaran!”

Cerita ini terputus sebentar oleh tangis Bi Li penuh

keharuan sambil memeluk leher suaminya. Kwi Lan yang

berdiri tak jauh dari situ, merasa betapa jantungnya seperti

disayat-sayat saking terharu, namun ia dapat menekannya

dan tidak sebutirpun air mata menetes turun. Di dalam

hatinya, ia makin menyesalkan perbuatan Kam Sian Eng yang

telah memisahkan suami isteri ini dan menimbulkan

kesengsaraan dalam kehidupan dua orang, bahkan mungkin

tiga orang dengan anak mereka yang agaknya tidak diketahui

pula di mana adanya.

“Akan tetapi sekarang aku tidak menyalahkan engkau,

isteriku, setelah aku tahu betapa engkau pun menderita dan

tidak berdaya. Aku lalu hidup sebagai pengemis dan akhirnya

aku tertarik akan sepak terjang Khong-sim Kai-pang yang adil

dan gagah, maka aku masuk menjadi anggauta Khong-sim

Kai-pang. Khong-sim Kai-pang termasuk perkumpulan

pengemis golongan bersih yang ditandai dengan pakaian

kotor, dan pada waktu ini golongan bersih sedang berusaha

membasmi pengemis-pengemis golongan kotor yang ditandai

dengan pakaian bersih. Setelah menjadi anggauta Khong-sim

Kaipang, banyak teman-temanku membantuku mencarimu.

Dan beberapa hari yang lalu, seorang temanku melihat

engkau di depan pondok. Karena dia tidak mengenalmu akan

tetapi merasa heran melihat seorang wanita dan dua orang

anak tanggung tinggal bersunyi diri didalam hutan, ia lalu

menceritakannya kepadaku. Nah, hari ini aku datang ke sini

menyelidik, siapa kira, di sini aku bertemu dengan belasan

orang pengemis golongan hitamyang mengeroyokku….”

“Dan Hauw Lam, Anakku…. dia bagaimana…. ?” Bi Li

mendesak, tidak sadar bahwa kini wajah suaminya yang pucat

itu sudah mulai agak kebiruan.

“Dia…. dia….“ Kini napas Tang Sun mulai tersendat-sendat,

“Dia, kini tentu sudah dewasa…. hampir lima belas tahun….

akan tetapi ketika aku datang menjenguk ke sana…. hwesio

tua itu telah meninggal dunia dan…. dan Hauw Lam…. dia….”

Sukar sekali ia melanjutkan kata-katanya.

Barulah Bi Li sadar akan keadaan suaminya. Ia menjerit

dan memeluk, melihat suaminya meramkan matanya, ia

menciuminya dan memanggil-manggil namanya, kini tidak

peduli lagi akan anaknya. Kwi Lan yang berdiri termangumangu

cepat menggunakan punggung tangan kirinya

menghapus dua butir air mata yang tak tertahankan lagi

menetes turun ke atas pipinya.

Tang Sun membuka matanya, lalu tersenyum dan

membelai rambut isterinya. Wajahnya membayangkan

kepuasan, akan tetapi kembali keningnya berkerut ketika ia

berkata, “….Hauw Lam…. dia…. pergi dari sana…. tak

seorang pun tahu ke mana. Isteriku, kau…. kaucarilah dia….”

Tangan yang membelai rambut itu lemas dan terkulai.

Bi Li menjerit dan roboh pingsan sambil memeluk mayat

Tang Sun yang masih hangat!

“Bibi Bi Li….! Bibi Bi Li….!” Kwi Lan memanggil-manggil

sambil mengguncang-guncang tubuh Bi Li. Wanita itu akhirnya

siuman dan dengan muka merah mata berapi-api ia meloncat

bangun, membalikkan tubuhnya dan mencabut pedang yang

tergantung di pinggang. Bi Li memang memiliki kepandaian

yang khusus ia pelajari dari Sian Eng, yaitu bermain pedang,

bahkan ia menerima hadiah sebatang pedang indah dari Sian

Eng. Kini dengan pedang di tangan, matanya terbelalak

memandang kanan kiri, mulutnya menantang-nantang.

“Pengemis-pengemis busuk, jembel-jembel terkutuk! Hayo

majulah semua, akan kubunuh kalian sampai habis!”

Kwi Lan maklum bahwa bibinya ini amat marah dan sakit

hati karena kematian suaminya. Suami yang terpisah darinya,

selama belasan tahun, dan yang kini begitu berjumpa terus

meninggal dunia!

“Perempuan setan, berani kau membunuh saudara kami?”

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah tiga

orang kakek berpakaian pengemis. Mereka adalah tiga orang

kakek t inggi kurus yang memegang tongkat butut, sebutut

pakaian mereka.

Begitu melihat tiga orang kakek pengemis ini, sambil

berseru marah Bi Li maju menerjang dengan pedangnya.

Gerakannya secepat kilat, pedangnya berkelebat seperti

halilintar menyambar.

“Tranggg….!” Pedang itu terpental dan hampir terlepas dari

pegangan Bi Li ketika tertangkis sebatang tongkat butut yang

dipegang oleh kakek pengemis yang bertahi lalat besar di

bawah hidungnya.

Bi Li makin marah. Kakek pengemis ini kiranya lihai sekali,

tidak boleh disamakan dengan para pengemis yang tadi

mengeroyok suaminya. Maka ia lalu mengeluarkan seruan

keras sambil memutar pedangnya dan mengerahkan tenaga,

menerjang dengan cepat sekali. Menghadapi serangan yang

begitu dahsyat, kakek pengemis itu terkejut dan cepat

memutar tongkat melindungi tubuhnya. Kemudian terjadilah

pertandingan hebat di antara Bi Li dan kakek pengemis.

Dua orang kakek pengemis lain segera melangkah maju

mendekati mayat Tang Sun. Melihat ini, Kwi Lan menjadi

curiga dan membentak, “Jembel-jembel busuk, mundurlah

kalian!” Gadis cilik ini menerjang maju dengan pukulan kedua

tangannya yang mendorong.

Karena melihat bahwa yang menerjang mereka hanyalah

seorang gadis cilik berusia empat belas tahun, dua orang

kakek jembel itu tersenyum tenang, bahkan mengulur tangan

untuk menangkap pundak Kwi Lan. Akan tetapi alangkah

kaget hati mereka ketika tangan mereka bertemu dengan

tangan Kwi Lan, tubuh mereka terdorong mundur dan hampir

saja mereka terbanting roboh! Baiknya keduanya adalah

tokoh-tokoh lihai, cepat dapat menekan tanah dengan ujung

tongkat sehingga dapat menguasai keseimbangan tubuh lagi.

Sejenak mereka saling pandang dengan muka merah, lalu

menatap wajah Kwi Lan dengan sikap terheran-heran. Namun

mereka merasa penasaran. Mungkinkah bocah perempuan ini

memiliki tenaga yang sedemikian dahsyatnya? Karena merasa

malu untuk menghadapi seorang anak-anak dengan senjata

tongkat mereka, keduanya lalu menyelipkan tongkat di ikat

pinggang lalu melangkah maju mengulur tangan.

“Bocah setan, mau lari kemana kau?”

Melihat dirinya diserang dengan jangkauan tangan hendak

menangkap, Kwi Lan tertawa mengejek, “Lari ke mana? Untuk

apa lari menghadapi dua ekor babi tua macam kalian?” Dan

dengan gerakan yang indah namun gesit bukan main, Kwi Lan

sudah dapat mengelak, lolos dari tubrukan mereka, kemudian

cepat ia membalik dan mengirim pukulan ke arah punggung

mereka!

“Wuuuttt!” Dua orang pengemis tua itu berseru kaget dan

cepat melompat jauh ke depan sehingga terhindar daripada

pukulan maut tadi. Wajah mereka menjadi pucat dan keringat

dingin memenuhi jidat. Sebagai orang-orang yang ahli,

mereka cukup maklum betapa pukulan kedua tangan bocah ini

tadi mengandung tenaga Iweekang yang hebat dan dapat

mematikan! Berubahlah pandangan mereka. Kiranya bocah ini

gerakannya jauh lebih hebat daripada wanita yang bertanding

melawan saudara mereka. Tanpa malu-malu lagi keduanya

lalu mencabut tongkat.

“Hi-hik, kalian mau lari ke mana?” Kwi Lan mengejek. Akan

tetapi cepat gadis cilik ini menggerakkan kaki untuk berkelit

karena melihat dua sinar tongkat sudah meluncur dengan

hebat. Selanjutnya, Kwi Lan harus mempergunakan

kelincahannya untuk menghindarkan diri daripada kurungan

sinar kedua tongkat itu.

Diam-diam anak ini kaget juga. Kiranya dua orang

pengeroyoknya ini benar-benar amat tangguh sehingga

tekanan kedua tongkat itu mengurung dirinya, membuat ia

tidak mampu balas menyerang. Dia tidak tahu bahwa dua

orang kakek itu jauh lebih kaget dan heran daripadanya.

Selama mereka hidup, sudah hampir enam puluh tahun, baru

kali ini mereka menghadapi peristiwa yang begini aneh dan

memalukan. Mereka terkenal sebagai ahli-ahli silat kelas

tinggi, hanya orang-orang pilihan saja di dunia kang-ouw yang

setanding dengan mereka. Akan tetapi kini, dengan maju

berdua dan memegang tongkat pula, mereka tidak mampu

mengalahkan seorang gadis cilik yang bertangan kosong!

Sebetulnya tingkat ilmu silat anak itu belumlah matang dan

tidaklah seberapa tinggi, akan tetapi gerakannya amat aneh

luar biasa sekali dan sukar diduga karena jauh berbeda

dengan dasar-dasar ilmu silat yang lazim!

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring sekali, datangnya

dari jauh akan tetapi amat jelas seakan-akan yang berkata

berada di belakang mereka, “Enci Bi Li! Kwi Lan! Mundur…. !”

Tentu saja Bi Li dan Kwi Lan mengenal baik suara ini dan

mereka cepat meloncat mundur tanpa menoleh. Tiga orang

pengemis yang tidak mendengar seruan tadi, mendesak maju.

Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat dan….

tiga orang kakek itu berhenti bergerak dan telah menjadi kaku

seolah-olah mereka berubah menjadi arca batu!Tanpa dapat

mereka lihat, jalan darah mereka telah ditotok oleh ujung

lengan baju Sian Eng yang kini sudah berdiri didepan mereka

dengan sikap bengis!

Pada saat itu, terdengar bunyi angin menyambar. Belasan

buah senjata rahasia berbentuk piauw (pisau) dan besi

bintang menyambar ke arah Bi Li, Kwi Lan, SianEng, dan juga

ke arah tiga orang pengemis yang berdiri kaku. Bi Li dan

KwiLan melihat datangnya senjata rahasia yang membawa

angin ini, maklum bahwa senjata itu digerakkan oleh tangan

yang lihai, maka tidak berani menyambut dan cepat mengelak.

Akan tetapi Sian Englalu mengebutkan kedua tangannya

kedepan dan….belasan batang senjata rahasia yang

menyambar ke arahnya dan ke arah tiga orang pengemis tua

runtuh terpukul oleh hawa pukulan kedua tangannya!

Dari balik pohon meloncat keluar lima orang kakek

pengemis pula, akan tetapi mereka ini berbeda dengan

yangtiga tadi. Kalau tiga orang kakek pertama berpakaian

butut kotor, adalah lima orang ini berpakaian bersih, sungguh

pun bertambal-tambalan seperti halnya para pengemis yang

mengeroyok Tang Sun.

“Wanita iblis, berani kau….” Hanya sampai sekian saja

bentakan seorang diantara mereka karena tiba-tiba tubuh Sian

Eng lenyap berkelebat ke depan dan lima orang itu

menggerakkan kaki tangan hendak melawan bayangan yang

tiba-tiba menyambar, namun sia-sia belaka karena tahu-tahu

mereka inipun sudah berdiri kaku seperti patung, persis

seperti keadaan tiga orang kakek baju butut!

Melihat munculnya lima orang pengemis baju bersih ini,

baru Bi Li sadar akan perbedaan antara lima orang pengemis

ini dan tiga orang pengemis yang tadi datang lebih dulu.

Pakaian mereka! Pakaian lima orang pengemis yang datang

belakangan ini serupa dengan pakaian para pengemis yang

mengeroyoknya, yang membunuh suaminya. Adapun pakaian

tiga orang pengemis yang mengeroyoknya, sama butut

dengan pakaian suaminya. Teringatlah ia akan cerita suaminya

tentang golongan putih yang berpakaian butut dan golongan

hitam yang berpakaian bersih. Kini melihat Kam Sian Eng

memandang kepada tiga orang pengemis baju butut dengan

mata beringas, ia cepat meloncat maju dan berkata.

“Sian-kouwnio….! Jangan….jangan bunuh mereka ini….“

Kam Sian Eng tanpa menoleh bertanya, suaranya dingin

dan ketus, “Apa yang terjadi disini?”

Bi Li yang teringat kembali kepada suaminya, tidak

menjawab melainkan berlutut lagi didepan mayat suaminya

sambil menangis. Kwi Lan maklum bahwa bibinya dan juga

gurunya itu sedang marah,maka ia cepat maju mewakili Bi Li

dan bercerita singkat.

“Bibi Bi Li dan aku sedang memetik bunga ketika kami

mendengar suara orang bertempu rdisini. Ternyata yang

bertempur adalah….suami Bibi Bi Li dikeroyok pengemispengemis

baju bersih sampai terluka dan tewas. Bibi Bi Li dan

aku berhasil mengusir dan membunuh beberapa orang

pengemis baju bersih, dan sebelum mati suami Bibi Bi Li

sempat bercerita bahwa dia adalah anggauta pengemis baju

butut. Kemudian muncul tiga orang kakek pengemis baju

butut ini yang lancang menyerang Bibi Bi Li dan aku. Agaknya

mereka bertiga ini masih segolongan dengan suami Bibi Bi Li.

Dan lima orang kakek yang datang belakangan ini agaknya

hendak membalaskan kematian anak buah mereka.”

Sian Eng mendengar ini, melirik kearah Bi Li dengan wajah

yang tertutup tirai sutera itu sedikitpun tidak berubah, tetap

dingin dan keras. Tiba-tiba tangannya bergerak kepunggung,

sinar terang berkelebatan disusul jerit-jerit kesakitan

dan….delapan orang pengemis yang masih berdiri kaku itu kini

telah buntung semua tangan kanannya! Entah kapan Sian Eng

menggunakan pedang, entah kapan mencabutnya, dan

menyarungkannya kembali, tak dapat diikuti pandang mata

para pengemis itu sehingga biarpun mereka menanggung luka

hebat dan nyeri, mereka masih terbelalak kaget dan gentar.

Tiga orang pengemis tua baju butut itu adalah tokoh-tokoh

Khong-sim Kai-pang sedangkan lima orang pengemis baju

bersih itu adalah tokoh- tokoh terkemuka pula dari

perkumpulan golongan hitam. Didalam dunia kang-ouw,

terutama dunia para pengemis kang-ouw, mereka delapan

orang ini merupakan orang-orang terkenal dengan ilmu silat

mereka yang tinggi. Akan tetapi kini, dalam tangan wanita

berkerudung yang cantik dan aneh itu, mereka sama sekali

tidak berdaya, dipermainkan seperti tikus-tikus dipermainkan

kucing!

“Ohh, Kouwnio, jangan….!” Bi Li yang mendengar jerit

mereka dan mengangkat muka, segera meloncat bangun.

“Tiga orang Lo-kai ini adalah orang-orang segolongan

mendiang suami saya….“

Sian Eng mendenguskan suara dari hidung. “Hemmm….!”

Kwi Lan segera berkata, “Bibi Bi Li, tiga orang jembel tua

ini biarpun segolongan dengan suamimu, namun mereka

datang-datang menyerang kita. Pasti bukan orang baik-baik!

Sudah sepatutnya Bibi Sian memberi hukuman.”

Kakek pengemis baju butut yang bertahi lalat di bawah

hidungnya, terdengar menarik napas panjang. Delapan orang

ini biarpun tertotok tak mampu bergerak, akan tetapi yang

kaku hanyalah kaki tangan, sedangkan anggauta tubuh yang

lain t idak, sehingga mereka masih mampu bicara.

“Kami tiga orang tua bangka memang telah berlaku

ceroboh, tidak mengenal orang dan tidak dapat membedakan

mana kawan mana lawan. Kehilangan tangan ini sudah

sepantasnya….!”

“Kouwnio, harap sudi mengampuni mereka. Tentu tadi

mereka menyangka bahwa sayalah yang membunuh saudara

mereka ini, padahal dia…. dia ini…., Tang Sun, suamiku….“

“Hemmm….! Kwi Lan bebaskan mereka!” Sian Eng

menggerakkan kepalanya kearah tiga orang pengemis baju

butut. Sebagai seorang murid yang amat tekun dan amat

cerdik, tentu saja Kwi Lan sudah pula membaca dan

mempelajari isi kitab Im-yang-tiam-hoat, sebuah kitab pusaka

dari Siauw-lim-pai yang dahulu dicuri oleh Tok-siauw-kwi dan

terjatuh ketangan Sian Eng. Dan tentu saja ia dapat pula

membebaskan pengaruh totokan ilmu menotok jalan darah ini.

Dihampirinya tiga orang kakek itu dan dengan sebuah jari

telunjuk kanan, ditotoknya punggung belakang pusar mereka

sambil tangan kirinya tidak lupa menampar belakang kepala.

Sebetulnya tamparan belakang kepala ini tidak ada

hubungannya dengan pembebasan totokan, akan tetapi dasar

anak nakal, ia hendak melampiaskan kemendongkolan

hatinya kepada tiga orang kakek pengemis itu dalam

kesempatan ini!

Kembali tiga orang kakek ini terkejut sekali. Mereka adalah

ahli-ahli silat tingkat tinggi dan tahu banyak tentang selukbeluk

Ilmu Tiam-hiat-hoat (Menotok Jalan Darah). Akan tetapi

selama hidup mereka, baru sekali ini mereka tahu ada ilmu

menotok jalan darah yang pembebasannya diharuskan

menempiling kepala segala! Makin gentarlah mereka terhadap

Sian Eng, dan cepat-cepat mereka menggunakan tangan kiri

untuk menotok lengan kanan, menghentikan jalan darah agar

darah yang mengalir keluar dari pergelangan tangan yang

buntung itu berhenti. Kemudian, sejenak mereka memandang

kepada Sian Eng, dan pengemis tua bertahi lalat segera

menjura, diturut dua orang temannya dan bertanya,

“Kami bertiga dari Khong-sim Kai-pang telah menerima

petunjuk Kouwnio (Nona), semoga lain kali kami akan dapat

membalas kebaikan ini. Sudilah Kouwnio memberitahukan

nama yang mulia dan tempat tinggal.”

Sian Eng tersenyum, senyum yang dingin dan mendirikan

bulu roma. Suaranya halus merdu akan tetapi juga

mengandung hawa dingin yang menyeramkan ketika ia

berkata, “Aku Kam Sian Engdan t inggal di hutan ini. Kalau

belum puas, boleh suruh ketua Khong-sim Kai-pang datang!

Pergilah!”

Tiga orang pengemis tua itu menjura lalu menghampiri

mayat Tang Sun, akan diambilnya. Bi Li maju hendak

mencegah akan tetapi Sian Eng menghardiknya, “Enci Bi Li,

mundur kau!” Bi Li terkejut sekali dan segera meloncat

mundur, wajahnya pucat dan air matanya bercucuran ketika ia

melihat mayat suaminya dibawa pergi oleh tiga orang kakek

pengemis itu. Tiga orang ini memandang sebentar kepada Bi

Li dengan pandang mata kasihan, lalu menghela napas dan

pergi dari tempat itu dengan langkah lebar sambil membawa

mayat Tang Sun.

Lima orang pengemis tua baju bersih itu tadinya terkejut

dan khawatir sekali mendengar bahwa anggauta Khong-sim

Kai-pang yang terbunuh adalah suami wanita yang tak

tertutup mukanya. Akan tetapi, melihat sikap Bi Li dan

mendengar bentakan wanita yang berkerudung dan mengaku

bernama Kam Sian Eng itu, mereka menjadi lega hati. Jelas

bahwa biarpun wanita yang kedua itu mempunyai suami

anggauta Khong-sim Kai-pang, namun siwanita aneh yang

sakti itu sama sekali tidak bersahabat dengan Khong-sim Kaipang.

Biarpun tubuh mereka masih kaku dan tak mampu

bergerak, namun pengemis yang tertua di antara mereka,

yang hidungnya bengkok seperti hidung kukuk beluk berkata

merendah,

“Mohon maaf sebanyaknya kepada Cianpwe yang mulia.

Karena tidak tahu dan belum mengenal, boanpwe berlima

berani mati lancang memasuki wilayah Cianpwe. Hendaknya

Ciancwe memaklumi bahwa boanpwe berlima adalah pimpinan

perkumpulan pengemis Hek-peng Kai-pang (Perkumpulan

Pengemis Garuda Hitam) yang masih berada dibawah

lindungan yang mulia Bu-tek Siu-lam! Maka boanpwe berlima

mengharap sudilah kiranya Cianpwe melihat muka Ciangbujin

(Pemimpin Besar) Bu-tekSiu-lam untuk mengampuni dan

membebaskan boanpwe berlima!”

Sian Eng mengerutkan keningnya. Diam-diam ia merasa

geli mendengar betapa lima orang kakek itu menyebutnya

cianpwe, sebutan bagi tokoh-tokoh tinggi dunia persilatan dan

menyebut diri boanpwe, sikap yang amat merendahkan sekali.

Akan tetapi ia heran mendengar nama Bu-tek Siu-lam (Lakilaki

Tampan Tanpa Tanding). Siapakah itu? Sudah terlalu lama

ia mengasingkan diri sehingga tidak melihat perubahan

didalam dunia kang-ouw, tidak mengenal tokoh-tokoh

barunya.

”Siapakah dia yang berjuluk Bu-tek Siu-lam itu?” tanyanya

tanpa disengaja karena pertanyaan dalam hati ini terlontar

keluar melalui bibirnya.

Lima orang pengemis tua baju bersih itu saling pandang

dengan heran dan juga kecewa. Benarkah ada orang didunia

kang-ouw ini yang belum mengenal nama Bu-tek Siu-lam?

Dan wanita aneh ini demikian sakt i! Tapi mungkin belum

memasuki dunia kang-ouw. Karena ini, Si Hidung Bengkok

segera berkata, sengaja mengangkat-angkat nama besar Butek

Siu-lamuntuk menimbulkan kesan mendalam.

“Beliau adalah tokoh tertinggi di dunia kang-ouw yang

datang dari dunia barat. Semua perkumpulan pengemis baju

bersih berada dibawah perlindungan beliau, dan boanpwe

yakin bahwa kelak beliaulah yang akan menjadi pemimpin

besar semua kai-pang! Juga dalam pemilihan tokoh-tokoh

terbesar untuk memilih jagoan yang Thian-he-te-it (di Seluruh

Dunia Nomor Satu) yang akan diadakan di puncak Chengliong-

san pada malam tahun baru nanti, sudah dapat

dipastikan bahwa Ciangbujin Bu-tek Siu-lam yang akan keluar

sebagai juara, jagoan di antara segala datuk! Tapi….eh,

kecuali….kalau Cianpwe ikut pula dalam kejuaraan itu,

keadaan akan makin ramai.” Demikian tambah Si Hidung

Bengkok ketika melihat wajah di balik kerudung itu kelihatan

tak senang.

“Aku tidak peduli segala macam Bu-tek Siu-lam! Kalian

berlima sudah lancang berani menyerangku, berani

memandang sebelah mata. Karena itu, kalian baru boleh pergi

kalau kalian suka mencongkel keluar sebuah biji mata kalian!”

Lima orang pengemis itu terbelalak, dan muka mereka

pucat. Keringat dingin mengalir keluar membasahi jidat dan

leher. Sebuah biji mata disuruh cokel keluar? Siapa yang sudi?

Sebelah tangan sudah dibuntungkan, kini sebelah mata

diminta lagi! Mana ada aturan begini bocengli (kurang ajar)?

Wanita aneh ini tidak takut kepada Bu-tek Siu-lam, berarti

belum mengenal. Kalau belum kenal, belum tentu wanita ini

benar-benar sakti. Agaknya hanya memiliki Ilmu Tiam-hiathoat

yang aneh sehingga mereka tadi menjadi korban totokan

sebelum dapat bergerak banyak dan sebelum melihat sampai

di mana t ingkat ilmu kepandaian wanita berkerudung itu.

Karena tidak terdapat jalan lain untuk menghindarkan diri

daripada ancaman cokel mata, Si Hidung Bengkok lalu

berkata, nadanyas engaja dikeluarkan untuk mengejek.

“Sebagai orang-orang kang-ouw kami tahu bahwa

hukumnya adalah siapa kuat dia menang dan siapa kalah

harus tunduk. Sayang sekali bahwa kami belum merasa

dikalahkan, hanya dibuat tidak berdaya oleh serangang elap.

Sebagai tokoh-tokoh Hek-peng Kai-pang, kami mengandalkan

keselamatan nyawa kami diujung pedang. Siapa tahu,

sebelum kami sempat mencabut pedang, kami mengalami

penghinaan. Kalau sudah tertotok seperti ini, bicara pun kami

tak berhak. Seorang kanak-kanak yang masih ingusan

sekalipun dapat melakukan apa saja yang dikehendakinya

terhadap kami!”

Akal Si Hidung Bengkok ini berhasil baik sekali. Sian Eng

menjadi merah mukanya dan sekali tubuhnya bergerak,

tampak bayangan putih berkelebat. Ujung lengan bajunya

menyambar da nlima orang kakek itu merasa betapa

punggung belakang pusar mereka tertotok yang membuat

tubuh mereka pulih seperti biasa. Serentak mereka berlima

mencabut pedang dan membuat gerakan keliling, mengurung

wanita berkerudung itu.

Sian Eng yang berdiri di tengah-tengah dalam keadaan

terkurung, hanya memandang tanpa mengubah kedudukan

badan dan tanpa menoleh. Hanya sepasang matanya di balik

kerudung hitam itu yang melirik ke kanan kiri, kemudian

tampak giginya berkilat putih ketika ia berkata,

“Kalian telah bebas. Pedang telah dicabut. Tidak lekas

mencokel mata kanankalian. Tunggu apa lagi?”

Ucapan yang menyakitkan hati ini merupakan komando

bagi lima orang kakek pengemis itu untuk menerjang dengan

hebat. Sian Eng dalam keadaan terkepung dan lima orang itu

melakukan serangan berbareng. Lima buah pedang dengan

tusukan dan bacokan kilat mengarah tubuhnya. Tiba-tiba

terdengar suara tertawa terkekeh dan lima orang pengemis

terkejut ketika melihat bayangan putih melesat cepat dari

tengah kepungan dan benar saja, ketika mereka melihat,

ujung pedang mereka hanya mengenai tempat kosong dan

lima buah pedang mereka hampir beradu sendiri dengan

kawan. Cepat mereka menengok dan kiranya Sian Eng telah

berdiri sambil bertolak pinggang disebelah kiri sambil

tersenyum mengejek.

Pengemis hidung bengkok yang berdiri paling dekat, cepat

menerjangnya dengan pedang, diikuti oleh teman-temannya

yang kini tidak mengurung lagi. Inilah yang dikehendaki Sian

Eng, yaitu agar lima orang pengeroyoknya itu menyerangnya

dengan susul menyusul, tidak berbareng seperti tadi. Begitu

pedang Si Hidung Bengkok menyambar, ia menggerakkan

lengannya secara aneh. Pedang menusuk datang dan

terdengarlah jerit mengerikan disusul robohnya tubuh

pengemis hidung bengkok. Sian Eng t idak berhenti sampai

disitu saja. Tubuhnya terus bergerak kedepan dan jerit

kesakitan susul menyusul sehingga akhirnya empat orang

pengemis yang lain juga roboh .Hanya beberapa puluh detik

saja terjadinya. Lima orang pengemis itu sendiri tidak tahu

benar apa yang terjadi. Ketika mereka menyerang secara

mendadak pedang mereka membalik dan mencokel mata

mereka sendiri, mata kanan!

Kini Sian Eng berdiri tegak, memandang lima orang

pengemisitu yang merangkak bangun sambil merintih-rintih.

Tangan kanan mereka sebatas pergelangan telah buntung.

Tadi mereka menggunakan tangan kiri untuk bermain pedang,

siapa kira, secara aneh sekali wanita sakti itu tela hmembuat

pedang mereka membalik dan mencokel kelua rbiji mata

kanan mereka denga npedang mereka sendiri. Setelah mereka

mampu berdiri, lima orang pengemis tua yang terluka parah

itu, berdiri memandang Sian Eng dengan mata sebelah

mereka, memandang penuh kemarahan dan kebencian.

“Pergilah kalau tidak ingin mampus!” Sian Eng berkata

dingin.

Lima orang pengemis itu ingin sekali menerjang mengadu

nyawa. Akan tetapi kini maklumlah mereka bahwa terhadap

wanita aneh ini mereka tidak berdaya sama sekali. Si Hidung

Bengkok sambil meringis menahan sakit berkata,

“Akan kami laporkan bahwa engkau menantang ciangbujin

kami Bu-tek Siu-lam!”

“Boleh! Suruh dia datang kesini, akan kubuntungi kedua

tangannya dan kucokel keluar kedua biji matanya!”bentak Sian

Eng.

Lima orang itu terkejut. Benar-benar wanita ini sudah gila,

berani mengeluarkan kata-kata seperti itu terhadap Bu-tek

Siu-lam yang sakti seperti dewa. “Tunggulah dan kalau

memang berani, datanglah kelak dipuncak Cheng-liong-san!”

Sian Eng hanya tersenyum dan memandang lima orang itu

yang pergi sambil meringis kesakitan. Setelah keadaan

menjadi sunyi, barulah Sian Eng menoleh kepada Bi Li dan

membentak, “Apakah engkau hendak pergi pula meninggalkan

aku?” Didalamsuaranya terkandung ancaman maut.

Bi Li menggeleng kepala, menyusut airmatanya. “Pergi

kemana? Suamiku telah mati….! Tidak, aku tidak akan pergi

dari sini, kecuali pergi keakhirat. Tidak adalagi yang

kuharapkan.”

Mendengar jawaban ini, Sian Eng mengeluarkan suara

tertawa terkekeh-kekeh mendirikan bulu roma. Kwi Lan

mengerutkan keningnya, akan tetapi ketika melirik kearah Bi

Li, ia melihat wanita itu memandang kepadanya dan tahulah ia

bahwa Bi Li diam-diam amat mengharapkan agar kelak dapat

bertemu dengan puteranya yang bernama Hauw Lam. Dan

gadis ini, biarpun tidak mendengar kata-kata keluar dari mulut

Bi Li, dapat menduga, bahkan berjanji dalam hatinya bahwa

kelak ia akan bantu mencari putera yang hilang itu.

Semenjak terjadi peristiwa itu, Kwi Lan belajar makin tekun

dan giat karena ia maklum bahwa ilmu kepandaian tinggi

merupakan modal terutama baginya untuk kelak mencari

orangtuanya dan untuk membantu Bi Li mencari puteranya

yang bernama Tang Hauw Lam. Dan semenjak terjadinya

peristiwa itulah nama Kam Sian Eng dikenal didunia kang-ouw

sebagai seorang tokoh yang aneh dan luar biasa, serta

memiliki ilmu kesaktian yang dahsyat pula. Hal ini

menyebabkan semua orang menjauhkan diri dari hutan itu,

yang dianggap sebagai hutan iblis dan tak seorangpun berani

memasukinya.

***

Lima tahun kemudian, seorang gadis berusia sembilan

belas tahun berjalan seorang diri dikaki Gunung Lu-liang-san,

disebelah bara tkota Tai-goan. Gadis remaja ini cant ik sekali

dan amat manis. Bentuk mukanya lonjong, dagunya

meruncing, dengan kulit muka yang halus dan putih seperti

susu, dihias warna merah jambu dikedua pipinya, warna

merah karena sehat. Mulutnya kecil dengan bibir selalu

tersenyum, bibir merah membasah dan segar. Rambutnya

agak awut-awutan, tidak disisir rapi, namun menambah

keluwesan dan keayuannya. Tubuhnya sedang dan ramping,

agak kurus akan tetapi dengan lekuk-lengkung tubuh yang

menonjolkan kewanitaannya. Pakaiannya berwarna merah

muda, dengan ikat pinggang merah tua. Sebatang pedang

tergantung dipinggangnya dan gagang pedang ini dihias

sebuah mut iara yang besar,mutiara berwarna hitam

berkilauan.

Gadis jelita ini bukan lain adalah Kam Kwi Lan! Sudah

setengah tahun ia merantau meninggalka nhutan iblis.

Setengah tahun yang lalu, bibinya, juga gurunya, Kam Sian

Eng telah pergi bersama Suma Kiat.

“Aku pergi bersama Suhengmu. Kau tidak boleh ikut, Kwi

Lan. Akan tetapi kalau engkau mau pergi merantau, terserah.

Engkau sudah cukup dewasa dan kuat untuk menjaga diri.

”Demikian pesan Sian Eng secara singkat. Adapun Suma Kiat

tersenyum-senyum, agaknya hendak menggoda sumoinya itu

yang tidak boleh ikut pergi! Memang, biarpun usianya sudah

dua puluh tahun, Suma Kiat yang kini juga memiliki ilmu

kepandaian tinggi itu kadang-kadang sikapnya seperti kanakkanak

saja!

“Bibi, saya hanya minta agar sebelum Bibi pergi, Bibi suka

memberi sedikit keterangan kepadaku.”

Sian Eng tersenyum di balik kerudung hitamnya.

“Keterangan tentang Ayah bundamu, bukan?”

Kwi Lan terkejut dan melirik ke arah Bi Li yang juga berdiri

di situ dan yang menjadi kaget pula.

“Hemm, jangan kira bahwa aku tidaktahu akan persekutuan

kalian beberapa tahun yang lalu! Enci Bi Li, suamimu telah

mati, anakmu hilang. Kalau dia memang anak berbakti, tentu

dia akan datang mencarimu kelak. Kwi Lan, kalau kau hendak

mencari Ibumu, pergilah ke Khitan. Ibumu adalah adik

angkatku, yaitu Ratu Yalina di Khitan. Tentang Ayahmu….hihik,

kau tanya saja kepada Ibumu yang manis itu!“

Demikianlah, setelah Sian Eng bersama Suma Kiat pergi,

Kwi Lan lalu pergi pula meninggalkan hutan di manaia hidup

selama delapan belas tahun. Ia menasihati Bi Li agar tinggal di

dalam istana bawah tanah saja, menanti kembalinya mereka

dari perantauan. Ia berjanji akan mencari keterangan di dunia

luar tentang Tang Hauw Lam.

Dengan kawan pedang pusaka pemberian bibinya, Kwi Lan

melakukan perjalanan seorang diri. Tujuan perjalanannya

tentu saja di Khitan di sebelah utara.Akan tetapi ia tidak

tergesa-gesa, melakukan perjalanan seenaknya. Hal ini bukan

saja karena ia memang hendak menikmati keadaan kota dan

dusun yang dilaluinya, juga terutama sekali karena hatinya

merasa amat kecewa ketika mendengar keterangan gurunya

bahwa dia sebetulnya anak Ratu Khitan! Anak ratu! Akan

tetapi ratunya bangsa Khitan yang dianggap sebagai bangsa

yang setengah liar di utara. Dan kalau dia benar anakratu,

mengapa sampai diberikan kepada gurunya? Kalau benar

ibunya itu, Ratu Khitan, adalah adik angkat gurunya, tentu dia

telah diberikan kepada bibi itu untuk dilatih ilmu silat.

Alangkah tega hati ibu kandungnya itu! Berarti tidak sayang

kepadanya! Karena pikiran inilah maka Kwi Lan tidak sangat

bernafsu untuk bertemu dengan ibu kandungnya yang

menjadi ratu di Khitan.

Pada pagi hari yang cerah itu, Kwi Lan berjalan dikaki Bukit

Lu-liang-san, menikmat i keindahan alam yang mandi cahaya

matahari pagi.Tiba-tiba pendengarannya yang tajam dapat

menangkap suara orang bertanding disebelah depan. Hatinya

tertarik dan ia mempercepat langkahnya. Ketika tiba disebuah

belokan, ia melihat dua orang tengah bertanding hebat. Yang

seorang bersenjata pedang, yang kedua bersenjata tongkat

butut. Disekeliling tempat pertandingan itu, berdiri pula

beberapa orang dengan tegak dan penuh perhatian menonton

jalannya pertandingan. Melihat betapa dua orang yang

bertanding, juga mereka yang berdiri menonton, semua

berpakaian pengemis, teringatlah Kwi Lan akan peristiwa

dihutan iblis pada lima tahun yang lalu. Yang bersenjata

tongkat butut adalah seorang kakek pengemis berpakaian

butut dan disitu masih ada tiga orang temannya yang kuruskurus

dan tua berdiri menonton. Adapun lawannya, yang

berpedang, adalah seorang pengemis pakaian bersih,

sedangkan agaknya empat orang yang berdiri menonton

disebelah kiri adalah teman-temannya, sungguhpun hanya dua

diantara mereka yang berpakaian pengemis baju bersih.

Pertandingan itu cukup seru dan dari gerakan mereka

tahulah Kwi Lan bahwa mereka yang bertanding itu memiliki

kepandaian cukup tinggi dan tentu bukan anggauta biasa dari

perkumpulan mereka, dewikz melainkan tokoh-tokoh yang

berkedudukan cukup tinggi. Maka ia memandang penuh

perhatian sambil mendekati dengan langkah perlahan.

“Ssssttt….!”

Kwi Lan terkejut dan berdongak. Ternyata yang berdesis itu

adalah seorang pemuda yang duduk ongkang-ongkang diatas

dahan pohon sambil menghadap ke arah pertandingan.

Pemuda itu kini menoleh kepadanya dan menaruh telunjuk

kedepan mulut. Melihat wajah pemuda itu yang berseri, tidak

hanya mulutnya, bahkan hidung dan matanya ikut tersenyum

ramah, sekaligus timbul rasa suka dihati Kwi Lan. Mata

pemuda itu bersinar terang dan gembira, jelas tampak bahwa

dia seorang periang yang lucu dan juga nakal.

“Kalau mau nonton, disini paling enak, jelas aman dan tidak

usah bayar!” bisik pemuda itu dan terkejut lah Kwi Lan.

Pemuda itu hanyab erbisik-bisik, akan tetapi suaranya jelas

sekali terdengar olehnya, seperti didekat telinganya. Tahulah

ia bahwa pemuda yang periang ini buka nhanya seorang

pemuda berandalan biasa, melainkan seorang pemuda yang

memiliki kepandaian tinggi dan sudah menguasai Ilmu CoanTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

im-pekli (Mengirim Suara Seratus Mil). Kalau saja pemuda itu

tidak memiliki wajah tampan yang begitu jenaka seperti wajah

seorang anak kecil yang nakal, tentu Kwi Lan akan ragu-ragu

bahkan marah. Namun jelas baginya bahwa pemuda itu nakal

dan polos, tidak bermaksud kurang ajar. Hal ini dapat ia lihat

dari sinar matanya. Selama setengah tahun merantau dan

bertemu banyak laki-laki, Kwi Lan sudah dapat membedakan

pandang mata laki-laki yang tertarik akan kecantikan wajah

dan bentuk tubuhnya, pandang mata mengandung berahi

yang kurang ajar.

Sengaja Kwi Lan mengerahkan ginkangnya sehingga ketika

ujung kedua kakinya menggenjot tanah, tubuhnya melayang

naik seperti seekor burung kenari terbang melayang dan

hinggap di atas cabang di dekat pemuda itu, duduk ongkangongkang

seperti si pemuda tanpa sedikit pun membuat cabang

itu bergoyang. Akan tetapi Kwi Lan kecelik kalau ia

memancing kekaguman pemuda itu, karena si pemuda

menoleh kepadanya seperti tidak ada apa-apa saja, seakanakan

gerakannya yang indah dan ringan itu tadi sudah

sewajarnya!

Setelah menoleh dan memandang wajah Kwi Lan sejenak,

pemuda itu tersenyum lebar, merogoh saku bajunya yang

lebar, mengeluarkan bungkusan dan membuka bungkusan itu,

menyodorkannya kepada Kwi Lan. Kiranya tanpa bicara

pemuda itu telah menawarkan kacang garing kepada Kwi Lan!

“Enak nonton di sini sambil makan kacang,” katanya

dengan mata bersinar-sinar. “Gerakan mereka dapat nampak

jelas. Hayo bertaruh, siapa yang akan menang antara

pengemis bertongkat kurus kering dan pengemis botak

berpedang itu? Aku berpegang kepada Si Botak!”

Kwi Lan makin suka kepada pemuda yang sebaya

dengannya ini, atau mungkinlebih muda melihat sikapnya

yang kekanak-kanakan. Tanpa ragu-ragu lagi ia mengambil

segenggam kacang, membuka kulit dan memakannya sambil

menonton ke arah pertandingan.

“Aku bertaruh pengemis baju butut yang menang,” Kwi Lan

berkata setelah menonton sebentar. Kacang garing itu enak

sekali, selain gurih dan wangi tanda kacang tua dan baik, juga

agaknya diberi bumbu dan asinnya cukup.

“Belum tentu!” kata Si Pemuda gembira dan kedua kakinya

yang ongkang-ongkang itu digerak-gerakkan menendang.

“Memang Si Kurus Kering itu lebih lihai ginkangnya, lebih

cekatan. Akan tetapi kulihat Si Botak ini banyak tipu

muslihatnya. Di gagang pedangnya terdapat alat untuk

melepas jarumberacun.”

“Ihhh….! Memang pengemis baju bersih itu golongan hitam

dan curang!” Kwi Lan berseru.

“Eh, bagaimana engkau bisa tahu?”

“Tahu saja! Kaukira engkau saja yang tahu kelicikan

mereka?”

Mereka saling pandang, cemberut karena dengan

pertaruhan itu mereka seperti hendak saling memihak. Akan

tetapi pemuda itu tersenyum, menyodorkan lagi bungkusan

kacangnya. “Enak kacang ini, bukan? Tentu enak, kacang ini

khusus dibuat untuk istana kerajaan!” ia tertawa ha-ha-he-he,

lalu melanjutkan, “Akan tetapi, Raja dan para Pangeran belum

tentu mempunyai mulut seperti mulutku, maka aku merasa

bahwa mulutku tidak terlalu rendah untuk mencicipi kacang

untuk istana ini dan kucuri sebagian. He-he-heh!”

Kwi Lan juga tersenyum lebar dan mengambil lagi

segenggam. Keduanya kini t idak berkata-kata lagi karena ikut

merasa tegang dengan pertandingan yang makin seru itu.

Mereka seperti lupa diri, makan kacang sambil menonton ke

bawah, persis seperti lagak para penonton permainan sepak

bola yang ramai. Mereka seperti dua orang anak nakal yang

sudah sejak kecil menjadi kawan bermain.

Memang pertandingan itu makin seru. Tepat seperti yang

dikatakan pemuda itu, gerakan pengemis baju butut yang me

megang tongkat amat lincah, tubuhnya seringkali mencelat ke

atas dan menyambar-nyambar dengan tongkatnya. Pengemis

botakyang berbaju bersih,agaknya kewalahan dan terdesak

sehingga ia hanya mampu mengelak dan menangkis, sukar

untuk dapat membalas. Namun harus diakui bahwa

pertahanan pedangnyacukup kuat sehingga semua terjangan

Si Pengemis kurus kering selalu tidak mengenai sasaran. Tibatiba

pengemis baju kotor itu mengeluarkan seruan keras dan

ilmu tongkatnya berubah, membentuk lingkaran-lingkaran

yang makin lamamakin sempit sehingga mengurung tubuh

lawannya.

“Hah, mampus sekarang jagomu!” kata Kwi Lan.

“Heh,belumtentu! Lihat saja….jawab Si Pemuda.

“Lihat, nah….kena!” Berbareng dengan ucapan Kwi Lan

yang tentu saja dapat mengikuti jalannya pertandingan

dengan jelas dan bahkan dapat menduga pula perkembangan

setiap gerakan, benar saja tongkat pengemis pakaian kotor itu

dapat menusuk leher pengemis botak. Akan tetapi, ketika

pengemis botak itu berusaha menangkis dengan sia-sia, tibatiba

dari gagang pedangnya meluncur sinar hitam dan kakek

pengemis kurus kering itupun berseru kesakitan dan roboh

bersama-sama lawannya. Kalau lawannya dapat ia tusuk

dengan tongkat, tepat mengenai leher, adalah dia sendiri

menjadi korban tiga batang jarum beracun yang menyambar

keluar dari gagang pedang ketika lawannya menekan alat

rahasia digagang pedang itu.Tiga batang jarum berbisa

memasuki perutnya!

Tiga orang pengemis baju kotor yang bertubuh kurus-kurus

itu menjadi marah sekali. Akan tetapi pada saat itu, empat

orang lawannya yang tadinya juga menonton, dengan

bersorak telah menyerbu dan menerjang mereka bertiga. Tiga

orang pengemis ini cepat menggerakkan tongkat melawan

pengeroyokan empa torang lawan itu. Akan tetapi ternyata

kepandaian empat orang lawan, terutama yang berpakaian

seperti jago silat, bermuka penuh brewok dengan alis tebal,

tubuhnya tinggi besar, amatlah lihai. Si Brewok tinggi besar ini

menggunakan sepasang pedang dan gerakannya laksana

harimau mengamuk. Tiga orang pengemis baju kotor itu amat

kewalahan dan terdesak sambil mundur. Namun mereka

melawan terus dengan nekad sambil memaki-maki. Tidak lama

pertandingan itu karena tiba-tiba tiga orang pengemis kurus

itu berteriak keras dan terjungkal roboh. Kiranya diam-diam

empat orang lawannya itu telah mempergunakan senjata

rahasia dan memukul roboh lawannya dengan senjata rahasia

ini. Dan agaknya senjata rahasia mereka itu semua memakai

racun, buktinya begitu roboh, seperti halnya pengemis

pertama, tiga orang kakek baju kotor ini pun tak bergerak lagi,

mati seketika!

“Hah-ha-ha, kau kalah bertaruh! Bukankah jembel-jembel

busuk pesolek yang menang?” Pemuda di samping Kwi Lan

bersorak.

Kwi Lan cemberut, lalu berseru keras ke bawah, “Jembeljembel

pesolek dan kaki tangannya memang curang! Anak

buah Bu-tek Siu-lam mana ada yang tidak curang dan

pengecut?” Teringat peristiwa lima tahun yang lalu, sengaja

Kwi Lan menyebut nama itu. Siapa kira, mendengar

disebutnya nama ini, Si Pemuda di sampingnya terkejut dan

berteriak keras lalu terjungkal ke bawah pohon! Kwi Lan

terkejut dan baru ia tahu bahwa pada saat pemuda itu

terjungkal, dari bawah menyambar beberapa macam senjata

rahasia itu. Cepat ia menggunakan ujung lengan bajunya

mengebut dan…. runtuhlah semua senjata rahasia itu. Dengan

muka merah Kwi Lan meloncat berdiri di atas cabang pohon.Ia

melihat empat orang itu terbelalak kaget, akan tetapi seorang

diantara dua pengemis baju bersih, yang bertubuh pendek

dan bermuka bengis, telah mencabut pedang dengan tangan

kanan, sedangkan tangan kirinya kembali menyambitkan

senjata rahasia gelang besi yang melayang dan terputar-putar

menyambar ke arah perut Kwi Lan.

Gadis ini memuncak kemarahannya. Ia meloncat turun

sambil menyampok senjata gelang besi itu ke bawah dan

setengah disengaja ia menyampok gelang besi itu ke arah Si

Pemuda yang sudah bangun.

“Aduhh!” teriak Si Pemuda sambil berloncatan bangun dan

mengelus-elus kepalanya, seakan-akan kepalanya terkena

hantaman senjata rahasia itu. Akan tetapi jidatnya yang lebar

dan kelimis itutidak terluka, lecet pun tidak.

Kwi Lan tidak pedulikan pemuda itu, lalu melayang ke arah

pengemis baju bersih yang menyambut kedatangannya

dengan sebuah tusukan pedang! Tampaknya serangan ini tak

mungkin dielakkan lagi oleh Kwi Lan yang tubuhnya sedang

melayang di udara dan memang gadis inipun tidak berusaha

untuk mengelak. Tangan kirinya dengan telapak tangan

terbuka melakukan gerakan mendorong dan….pedang itu

terkena dorongan hawa pukulan ini membalik kemudian

secepat kilat Kwi Lan menyentil dengan telunjuknya ke arah

pergelangan tangan yang memegang pedang dan….pedang

itu mencelat sambil membalik sehingga menusuk pangkal

lengan pengemis pendek itu sendiri sehingga kulit dagingnya

terbelah dan tampak tulang lengannya! Sementara itu, entah

bagaimana pedangnya telah berpindah ke tangan Kwi Lan

yang mempergunakan pedang rampasan untuk menodong!

“Ha-ha-ha-heh-heh!” Si Pemuda itu bersorak sambil

mempermain-mainkan gelang besi yang tadi menyambarnya

dengan tangan kanan. “Jembel tua bangka pesolek sekarang

kehilangan aksinya. Makanya jangan sok aksi. Sudah tua

bangka begitu, pura-pura jadi pengemis tapi pakaiannya

bersih dan baru, biar kelihatan aksi dan tampan. Wah, ini

namanya tua-tua keladi!”

Tentu saja pengemis pendek yang dirobohkan Kwi Lan itu

melotot ke arah Si Pemuda dengan kemarahan meluap-luap,

akan tetapi juga terheran-heran mengapa senjata rahasianya

yang biasanya ampuh bahkan mengandung racun itu kini

dipakai main-main oleh Si Pemuda ini. Pada saat itu, pengemis

ke dua yang tubuhnya kurus kecil seperti kucing kelaparan itu

menudingkan telunjuknya kepada Kwi Lan sambil membentak,

suaranya besar dan parau sungguh berlawanan dengan

tubuhnya yang serba kecil kurus.

“Eh, iblis betina dari mana berani menentang Hek-coa Kaipang

dan mengeluarkan ucapan menghina ciangbujin Bu-tek

Siu-lam? Apakah sudah bosan hidup?”

Kwi Lan membalikkan tubuhnya, membelakangi pengemis

pendek yang terluka untuk menghadapi lawan baru ini. Ia

tersenyum manis ketika berkata, “Kalian ini jembel-jembel

busuk, biarpun tidak sama dengan Hek-peng Kai-pang, kiranya

sama busuknya, apalagi sama-sama di bawah pimpinan Bu-tek

Siu-lam yang biarpun belum pernah kujumpai, tentu busuk

pula!”

“Eh, perempuan keparat! Selama hidup kami tidak pernah

bertemu denganmu dan tidak pernah bertentangan, mengapa

hariini kau datang-datang menghina dan memusuhi kami?

Apakah kau berpihak kepada jembel-jembel butut itu?” bentak

pula pengemis kurus kecil sambil menuding ke arah mayat

empat orang pengemis baju butut. Kumis kecil di kanan kiri

hidung itu bergerak-gerak akan te tapi tidak sama sehingga

kelihatannya seperti sepasang sayap kupu-kupu yanghinggap

di situ membuat Kwi Lan menjadi geli dan memperlebar

senyumnya.

“Urusan kalian dengan jembel-jembel berpakaian butut

sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan aku. Akan

tetapi kebetulan sekali aku adalah orang yang paling tidak

suka melihat perbuatan-perbuatan curang dan pengecut.

Dalam pertandingan tadi, kalian merobohkan lawan

mengandalkan senjata rahasia secara curang sekali. Kemudian

kalian juga menyerangku dengan senjata rahasia. Apakah kau

masih mau bilang di antara kita tidak ada pertentangan?”

Berkata demikian, Kwi Lan melirik kepada dua orang lain yang

tidak berpakaian pengemis, yaitu yang bermuka brewok dan

seorang temannya lagi. Jelas mereka itu tidak segolongan

dengan dua orang pengemis baju bersih ini dan mereka puri

tidak mencampuri perdebatan, hanya memandang dengan

mata terbelalak heran dan kening berkerut.

“Bocah sombong! Merampas pedang dan melukai

saudaraku masih belum merupakan dosa besar, akan tetapi

menyebut dan menghina nama ciangbujin kami….”

Kwi Lan memegang ujung pedang dengan tangan kirinya

dan sekali tekuk, pedang rampasan itu patah menjadi dua dan

ia buang ke atas tanah. “Pedang sudah kupatahkan, kalau aku

bunuh saudaramu itu dan kumaki Si Kepala Penjahat busuk

Bu-tek Siu-lam, kau mau apa?”

“Iblis betina, rasakan tanganku!” Tiba-tiba pengemis kecil

kurus itu sudah mencabut pedang dan menggerakkan

pedangnya membacok, gerakannya selain cepat juga kuat

sekali, jauh lebih kuat daripada gerakan pengemis yang sudah

terluka tadi. Pada saat yang sama, ketika Kwi Lan memutar

tubuhnya untuk menghadapi serangan pengemis kecil kurus,

pengemis ke dua yang sudah terluka lengannya itu kini

menggerakkan tangan kirinya menyambitkan sebuah gelang

besi ke arah punggung gadis itu.

Apa yang terjadi selanjutnya sedemikian cepatnya sehingga

sukar diikuti pandangan mata, akan tetapi tahu-tahu dua

orang pengemis itu menjerit dan roboh dalam keadaan tak

bernyawa lagi dan hebatnya, tepat di dahi mereka tampak

luka berlubang ditembusi gelang besi beracun! Kiranya ketika

tadi diserang pedang pengemis kurus, Kwi Lan juga tahu

bahwa dari belakang ia diserang dengan senjata rahasia maka

secepat kilat ia

Berkelebat kedepan, menangkap tangan yang berpedang

dari samping lalu membetot tubuh itu dipakai menangkis

gelang besi yang menyambar punggungnya sehingga senjata

rahasia itu tepat menyambar dahi pengemis kurus. Adapun Si

Pengemis pendek yang melepas senjata rahasia secara curang

itu, sebelum sempat mengelak, telah “dimakan” senjata

rahasianya sendiri yang dilemparkan oleh pemuda teman Kwi

Lan dengan gerakan sembarangan namun yang membuat

senjata itu menyambar cepat sekali dan masuk ke dalam dahi

pemiliknya.

Kini tinggal dua orang yang bukan pengemis, teman-teman

dari pengemis baju bersih, berdiri memandang dengan mata

terbelalak kaget. Mereka berdua mengerti bahwa dua orang

muda itu memiliki kepandaian yang amat tinggi. Orang

pertama yang mukanya penuh brewok segera melangkah

maju dan menjura sambil mengangkat kedua tangan kedada

dan berkata,

“Kepandaian Ji-wi (Tuan Berdua) sungguh hebat dan

membuat kami merasa kagum sekali!”

Kwi Lan hanya tersenyum mengejek, akan tetapi pemuda

itu tertawa-tawa tanpa membalas penghormatan orang.“Hehheh,

kulihat kalian berdua bukan pengemis. Tapi tadi

membantu dalam pertandingan antar pengemis! Apakah

sekarang hendak menuntut bela atas kematian dua orang

sahabatmu ini?”

Si Brewok menggeleng-geleng kepalanya. “Kami t idak

tersangkut dalam urusan antara mereka dan Ji-wi, dan telah

saya lihat betapa mereka itu mencari mati sendiri dengan

keberanian mereka melawan dan memandang rendah Ji-wi.

Sungguhpun menghadapi empat orang anggauta Khong-sim

Kai-pang pengemis baju butut tadi kami merupakan sekutu

mereka, namun urusan terhadap Ji-wi kami tidak ikut

campur.”

“Menggerakkan lidah memang amat mudah!” Kwi Lan

berkata mengejek.“Kau bilang t idak ikut campur, akan tetapi

siapa tadi yang ikut menyerangku dengan senjata rahasia

ketika aku berada di atas pohon itu?”

Wajah Si Brewok menjadi merah. Memang tadi dia ikut

menyerang Kwi Lan dengan senjata rahasianya yang

berbentuk peluru bintang. Ia menjura kepada gadis itu dan

berkata,

“Harap Nona maafkan, tadi saya menyangka Nona adalah

kawan pengemis Khong-sim Kai-pang.”

“Tidak peduli apa yang kau sangka. Hayo serang aku lagi

dengan senjata rahasiamu!” bentak Kwi Lan sambil tersenyum

mengejek.

Berubah muka Si Brewok. “Saya….saya mana berani?”

“Berani atau tidak masa bodoh, kauharus! Kalau

membangkang, jangan bilang aku keterlaluan!” Suara ini

mengandung penuh ancaman sehingga muka yang penuh

brewok itu menjadi pucat. Ia berdiri saling pandang dengan

kawannya. Kawannya itu agaknya lebih berani daripada Si

Brewok, matanya yang agak menjuling itu dipelototkan ke

arah Kwi Lan dan ia berseru,

“Nona, engkau sungguh keterlaluan! Kami adalah orargorang

Thian-liong-pang, bukan orang-orang sembarangan!

Kalau Suhengku ini berlaku mengalah kepadamu, adalah

karena melihat engkau masih muda, masih setengah kanakkanak.

Setelah Ouw-suheng mengalah, mengapa engkau

malah mendesaknya? Sekali dia turun tangan, engkau akan

celaka, dan hal itu akan sayang sekali, melihat engkau begini

muda dan cantik!”

“Sute,diam….!”Si Brewok menegur adik seperguruannya.

Kwi Lan marah sekali, akan tetapi tak seorang pun tahu

akan hal ini karena senyumnya makin manis. “Ah, begitukah?

Jadi kalian ini orang-orang Thian-liong-pang yang lihai?

Kebetulan sekali, lekas kalian berdua menyerangku dengan

senjata-senjata rahasia kalian!”

Si Brewok ragu-ragu, akan tetapi Si Mata Juling berkata,

“suheng, dia yang minta dihajar, tunggu apa lagi?” Sambil

berkata demikian Si Juling mengeluarkan dua buah senjata

rahasianya, yaitu peluru bintang. Senjata rahasia ini terbuat

daripada baja, ujungnya runcing-runcing dan karena

bentuknya bulat seperti peluru, maka dapat disambitkan

dengan keras. Melihat ini, Si Brewok yang didesak-desak juga

mengeluarkan senjata rahasia yang sama, akan tetapi hanya

sebuah.

“Hayo lekas serang, tunggu apa lagi?”Kwi Lan berseru,

berdiri dengan sikap seenaknya, bahkan sengaja ia miringkan

tubuh dan menoleh membelakangi dua orang itu.

Selagi Si Brewok ragu-ragu dan adik seperguruannya yang

marah itu menanti gerakan kakaknya, terdengar pemuda itu

tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Aku mendengar nama besar

Thian-liong-pang sebagai perkumpulan yang disegani dan

ditakuti, yang mempunyai cabang di seluruh negeri, yang

dipimpin oleh orang-orang sakti. Akan tetapi ternyata kini

orang-orangnya hanya pengecut-pengecut yang suka

menyerang seorang gadis dengan curang….”

“Eh, manusia berandalan! Diam kau! Ini bukan urusanmu!”

Kwi Lan membentak dan melotot kepada pemuda itu. Si

Pemuda masih tertawa-tawa, akan tetap itiba-tiba matanya

terbelalak dan wajahnya memperlihatkan sikap kaget ketika

pemuda itu melihat betapa dua orang itu menggunakan

kesempatan selagi Kwi Lan menoleh dan bicara kepadanya

untuk menyerang dengan senjata rahasia mereka. Pemuda itu

menjadi pucat karena maklum betapa hebatnya serangan itu

dan betapa ia sendiri yang berdiri jauh tidak sempat

mencegah serangan ini. Akan tetapi wajah yang kaget itu

berubah girang dan sinar matanya menyorotkan kekaguman

ketika ia mendengar pekik kesakitan kedua orang anggauta

Thian-liong-pang itu. Si Mata Juling roboh dan tewas seketika

karena pelipis dan dadanya dihantam senjata rahasianya

sendiri, sedangkan Si Brewok roboh kesakitan akan tetapi

segera melompat bangun kembali karena hanya pahanya yang

terluka oleh senjata rahasianya sendiri pula. Ia berdiri dengan

mata terbelalak kagum dan heran. Memang luar biasa sekali

caranya gadis itu menghadapi serangan senjata rahasia tadi.

Biarpun sedang menengok kebelakang, namun Kwi Lan tahu

akan serangan senjata rahasia. Bahkan tanpa menoleh lagi ia

menggerakkan kedua tangannya, menyambar senjata rahasia

Si Juling yang datang lebih dulu kearah pelipis dan dada,

kemudian secepat kilat ia mengembalikan dua senjata itu ke

arah pemiliknya, tepat mengenai pelipis dan dada! Adapun

peluru bintang yang dilepas Si Brewok hanya mengarah

pahanya, itupun tidak tepat di tengah-tengah, maka Kwi Lan

juga me”retour” senjata rahasia itu tepat mengenai pinggir

paha Si Brewok yang mendatangkan luka daging!

Sambil meringis menahan sakit, Si Brewok menjura kepada

Kwi Lan. “Benar hebat dan mengagumkan. Saya mengaku

kalah dan kematian Suteku adalah karena tidak hati-hatinya.

Mohon tanya, siapakah nama Nona yang gagah?”

Kwi Lan sudah menggerakkan bibir hendak mengaku, akan

tetapi tiba-tiba pemuda itu berkata, “Eh, apakah matamu

sudah buta? Terang Nona ini menggunakan nama Mut iara

Hitam, engkau masih bertanya-tanya lagi?” Sambil berkata

demikian, pemuda itu sekali menggerakkan kaki tubuhnya

sudah melayang dan hinggap didekat Kwi Lan seperti gerakan

seekor burung ringannya. Si Brewok memandang kagum dan

tersenyum mendengar kata-kata itu. Ia menduga bahwa gadis

ini memakai nama julukan Mut iara Hitam karena gagang

pedangnya terhias sebutir mut iara hitam yang besar. Ia lalu

menjura kepada pemuda itu dan ber tanya,

“Terima kasih atas penjelasan Tuan Muda. Bolehkah saya

mengetahui nama Kongcu?”

“Namanya Si Berandal, apa kalian belum tahu?” Suara ini

keluar dari mulut Kwi Lan yang hendak membalas pemuda itu.

Akan tetapi Si Berandal hanya tertawa, lalu berkata kepada

anggauta Thian-liong-pang itu.

“Kau ini manusia tidak tahu diri berani main-main di depan

Mutiara Hitam dan Berandal, sungguh sudah bosan hidup!”

“Mohon Ji-wi (Tuan Berdua) sudi memaafkan, karena tidak

mengenal maka kami telah berlaku kurang hormat. Harap Jiwi

suka memandang perkumpulan dan ketua kami memberi

maaf kepada saya.”

“Kalau kami tidak memaafkan, apa kau kira akan masih

tinggal hidup?” Si Berandal bersombong. “Hayo ceritakan

siapa engkau dan apa urusan Thian-liong-pang dengan

pengemis-pengemis itu serta mengapa pula terjadi

pertandingan dengan pengemis-pengemis Khong-sim

Kaipang? Dan mengapa pula nama Bu-tekSiu-lan tadi

kudengar disebut Ciangbujin oleh pengemis pendek itu?”

“Saya bernama Ouw Kiu seperti semua pimpinan dan

petugas Thian-liong-pang saya taat dan tunduk kepada

perintah atasan. Saya dan Sute Ouw Lunitu mendapat tugas

untuk menyampaikan undangan kepada para pimpinan Hekcoa

Kai-pang, untuk menghadiri pengangkatan ketua baru

Thian-liong-pang pertengahan bulan depan. Ketika hendak

kembali ke Yen-an, di sini kami bertemu dengan tiga orang

anggauta Hek-coa Kai-pang yang berhadapan dengan empat

orang Khong-sim Kai-pang. Tentu saja kami membantu Hekcoa

Kai-pang dan salah mengira bahwa Ji-wi adalah temanteman

anggauta Khong-sim Kai-pang.”

“Dan tentang Bu-tek Siu-lam?” pemuda itu mendesak.

Ouw Kiu tidak menjawab, wajahnya pucat.

“Ah, urusan begitu saja mengapa mesti banyak tanya lagi?”

Kwi Lan mencela. “Si badut Bu-tek Siu-lam itu sudah jelas

menjadi cukong dunia pengemis golongan hitam! Ingin aku

bertemu dengan badut itu untuk memberi hajaran agar ia

kapok dan tidak membiarkan anak buahnya bermain curang!”

Ouw Kiu makin pucat. “Saya….saya tidak mempunyai

cukup harga untuk menyebut-nyebut nama besar Beliau,

hanya saya mengerti bahwa Beliau merupakan seorang tokoh

besar yang amat dihormati Thian-liong-pang. Suaranya agak

gemeta rdan matanya lirak-lirik ke kanan kiri penuh

kekhawatiran.

“Sudah, pergilah dan bawa mayat temanmu. Mengingat

Thian-liong-pang kami memaafkan mudan bulan depan kalau

tiada halangan, kami akan datang menonton keramaian di

Yen-an.”

Ouw Kiu menjura mengucapkan terima kasih, kemudian

menyambar mayat sutenya dan pergi dari situ dengan langkah

terpincang-pincang. Kwi Lan membalikkan tubuh terus lari

pergi pula dari tempat itu. Akan tetapi belum jauh ia pergi, ia

mendengar suara orang berlaridi belakangnya. Ketika melirik

dan melihat bahwa yang mengikutinya adalah pemuda itu, Kwi

Lan lalu mengerahkan ginkangnya dan berlari makin cepat.

Setelah lari agak jauh, ia melirik kebelakang. Kiranya pemuda

itu masih saja mengikut i di belakangnya, hanya terpisah tiga

meter! Kwi Lan penasaran dan mengerahkan seluruh

tenaganya, lari secepat terbang. Pemuda itupun mengerahkan

tenaganya. Beberapa lama mereka berlari-larian cepat sampai

puluhan li jauhnya. Akhirnya terdengar pemuda itu berkata

dengan napas memburu.

“Waduh….,berat nih! Eh, Mutiara Hitam, apakah engkau

takut padaku maka melarikan diri?”

Kalau pemuda itu mengeluarkan ucapan lain, agaknya Kwi

Lan tidak akan mempedulikannya dan akan berlari terus.Akan

tetapi dikatakan takut merupakan pantangan besar baginya,

maka cepat iamengerem larinya, berhenti dengan tiba-tiba

sehingga pemuda yang membalap dibelakangnya itu hampir

saja menubruknya kalau tidak cepat-cepat membuang diri ke

samping dan berjungkir balik dua kali.Gerakan pemuda ini

amat lucu, akan tetapi juga indah dan membuktikan

kegesitannya yang luar biasa.

“Takut? Siapa bilang aku takut padamu?” Kwi Lan bertanya,

memandang tajam dan mengangkat muka membusungkan

dada, sikapnya menantang.

“Tentu saja aku yang bilang….!” Pemuda itu berhenti dan

mengatur napasnya yang agak terengah-engah. “Wah,bisa

putus napasku kalau diajak balapan lari gila-gilaan seperti tadi!

Aku tidak bilang kau takut, aku tadi bertanya apakah engkau

takut kepadaku.”

“Aku tidak takut! Apamu yang kutakuti?” Kwi Lan

membentak.

“Kalau tidak takut mengapa lari seperti dikejar setan?

Aku….aku mau bicara denganmu, aku ingin jalan bersama,

kenapa kau melarikan diri?”

“Aku lari, atau jalan, atau tidur, bukan urusanmu. Aku tidak

ada urusan denganmu, aku tidak ingin berjalan bersama, tidak

ingin bicara denganmu.”

“Wah-wah-wah, kenapa begini galak? Sungguh tidak

berbudi….”

“Aku tidak berhutang budi kepadamu! Kau mau apa?”

Pemuda itu menyeringai dan senyumnya yang lebar itu lucu

sekali, seperti senyum orang mengunyah garam, sehingga

diam-diam Kwi Lan menjadi geli.

“Kau memang tidak berhutang budi kepadaku. Akan tetapi

engkau hutang kacang! Hayo menyangkallah kalau mampu!

Bukankah kau berhutang kacang asin garing yang gurih dan

wangi, tidak satu, tidak pula dua atau tiga, melainkan tiga

genggam yang isinyab anyak!”

“Hanya dua genggam!” bentak Kwi Lan.

“Dua genggam banyak juga namanya. Lebih dua puluh!

Hayo kau bayar kembali hutangmu itu, baru diantara kita tidak

ada sangkut paut lagi!”

Kwi Lan tertegun dan melengak. Ia menoleh kekanan

kekiri, takberdaya. Darimana ia bisa mendapatkan kacang asin

di dalam hutan itu? Dan yang sudah masuk perutnya pun tidak

mungkin dikeluarkan lagi. Betapapun juga, ia kalah benar.

Memang tak dapat ia menyangkal bahwa ia tadi telah makan

dua genggam kacang asin pemuda itu. Baru sekarang Kwi Lan

merasa kalah debat. Biasanya, menghadapi suhengnya, Suma

Kiat ia selalu menang berdebat sampai suhengnya kewalahan.

Akan tetapi sekarang ia benar-benar bingung, tak tahu harus

melawan secara bagaimana. Akhirnya Kwi Lan menggerakkan

kepala keras-keras untuk menyingkap gumpalan rambut yang

jatuh ke mukanya, sebuah kebiasaan atau gerakan yang biasa

ia lakukan tanpa sadar apabila ia merasa malu, bingung atau

marah.

“Kau memang manusia berandalan, ugal-ugalan, tidak tahu

malu menyebut-nyebut urusan dua genggam kacang asin

yang tidak ada harganya! Cih!”

“Kau yang sombong, galak, tidak menghargai orang. Diajak

jalan bersama dan bicara saja tidak sudi, seperti tidak ingat

saja betapa tadi di atas pohon ikut duduk dan makan

kacang….“ Pemuda itu merengut.

“Sudahlah! Betul aku telah berhutang dua genggam kacang

padamu. Nah, sekarang apa yang hendak kau bicarakan.”

Wajah pemuda itu sekaligus berseri kembali seperti biasa,

sepasang matanya bersinar-sinar penuh keriangan. Memang

wajah yang amat tampan dan melihat wajah ini, sukarlah bagi

Kwi Lan untuk mempertahankan kemendongkolan hatinya.

Wajah itu amat segar dan riang, tidak hanya mata dan bibir

yang selalu membayangkan senyum gembira, bahkan alis

yang tebal itu bergerak-gerak lucu, bulu mata ikut bergetar

seperti menari-nari.Wajah yang tampan, wajah yang lucu dan

gembira! Seperti awan tipis disapu angin,lenyaplah rasa panas

di hati Kwi Landan gadis ini lalu duduk di atas akarpohon yang

menonjol, membereskan rambutnya dan mengusap peluh di

leher dengan ujung lengan baju.

“Gerah, ya? Memang hawanya panas,apalagi kalau dipakai

lari-lari cepat, bisa mandi keringat kita.” Tangannya merogoh

dalam baju dan ketika ditarik keluar,ternyata ia telah

memegang sebuah guci panjang berisi air jernih dan dingin.

Gerakannya cepat dan kelihatannya seperti seorang pelawak

main sulap saja. Dibukanya tutup guci dan dengan tersenyum

ia berkata,

“Isinya air, jernih dan bersih. Guci ini bukan sembarang

guci, melainkan guci wasiat dan air yang disimpan di sini,

makin lama tidak makin kotor malah makin jernih, berbau

harum dan timbul rasa manis, juga menjadi dingin

segar.Minumlah, Nona.” Ia menyodorkan guci itu kepada Kwi

Lan.

Air yang tampak jernih berkilau, muka yang tampak riang

dan menawarkan dengan penuh kejujuran, hawa yang panas,

semua ini membuat Kwi Lan bernafsu sekali untuk meneguk

air segar itu. Tanpa berkata apa-apa ia menerima guci,

mendekatkan bibir guci yang halus ke pada bibirnya sendiri

yang lebih halus lagi, akan tetapi pada saat itu pandang mata

mereka bentrok dan cepat-cepat Kwi Lan menurunkan lagi

guci air itu kebawah,tidak jadi minum.

“Kenapa….?”

Kwi Lan mengerling dengan pandang mata tajam. “Apakah

air ini juga akan dianggap hutang? Lebih baik mati kehausan

daripada minum air hutangan!” Ia menyerahkan kembali guci

itu kepada pemiliknya.

Pemuda itu tertawa bergelak, memperlihatkan deretan gigi

yang terpelihara rapi dan putih. “Apakah benar-benar engkau

begini pemarah dan galak? Ah, aku tidak percaya, kau hanya

pura-pura bersikap galak saja!”

“Siapa tidak akan marah kalau kau begini ugal-ugalan? Dua

genggam kacang asin saja digugat-gugat, dijadikan alasan….”

Pemuda itu tiba-tiba berdiri dan menjura sampai jidatnya

hampir menyentuh tanah, seperti seorang melakukan

penghormatan kepada ratu. “Hamba mohon beribu ampun

atas segala kesalahan hamba terhadap tuan putri yang

mulia….”

“Heiii! Bagaimana engkau tahu bahwa….?”Kwi Lan tiba-tiba

menghentikankata-katanya. Sikap pemuda ugal-ugalan yang

melawak itu sejenak mengingatkan ia akan ibu kandungnya

yang menjadi ratu di Khitan sehingga timbul dugaan dan

kecurigaannya bahwa pemuda aneh ini tahu bahwa dia anak

ratu. Akan tetapi melihat wajah pemuda itu berbalik menjadi

kaget dan heran, ia menahan kata-katanya, kemudian

melanjutkan.

“Sudahlah! Jangan kau main-main seperti badut.

Sebetulnya engkau mau apakah? Mengapa mengejarku dan

hendak bicara apa dengan aku?”

Pemuda itu menarik muka sungguh-sungguh, akan tetapi

tetap saja mukanyayang kekanak-kanakan itu berseri ketikaia

menyodorkan guci airnya. “Harap nonasuka minum dulu air ini

agarpercaya bahwa Nona tidak lagi marah kepadaku.”

Kwi Lan menerima guci itu dan meneguk isinya. Memang

air yang amat dingin dan segar sehingga hilanglah hausnya,

terasa amat puas dan nikmat. “Enak benar air ini,” katanya

memuji sambil mengembalikan guci. Pemuda itupun meneguk

air, kemudian menutup guci dan menyimpannya kembali ke

balik bajunya.

“Nona, terus terang saja, begitu bertemu denganmu, aku

sudah menjadi sangat tertarik dan kagum. Gerakanmu jelas

menunjukkan bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang

amat tinggi,sikapmu terbuka dan tegas. Benar-benar hebat

sekali. Setelah bertemu dengan seorang seperti Nona,

bagaimana aku dapat berpisah begitu saja tanpa lebih dahulu

bicara dan mengikat persahabatan? Apalagi melihat sikap

Nona yang sama sekali tidak memandang mata kepada Thianliong-

pang dan terutama sekali berani memaki seorang tokoh

besar seperti Bu-tek Siu-lam, benar-benar hebat sekali dan

tentulah Nona seorang yang memiliki kedudukan sejajar

dengan tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw pada waktu ini.”

“Ngawur dan ngaco! Selama hidupku belum pernah aku

bertemu dengan macamnya Bu-tek Siu-lam dan aku merasa

heran sekali mengapa Ouw Kiu si Brewok tadi kelihatan begitu

ketakutan ketika nama Bu-tek Siu-lam disebut-sebut.”

“Apalagi dia, aku sendiri pun hampir terjengkang karena

kaget mendengar engkau berani memaki-maki Bu-tek Siulam!”

“Huh, orang macam apakah Bu-tekSiu-lam itu? Aku hanya

pernah mendengar dari mulut pengemis-pengemis Hek-peng

Kai-pang bahwa dia yang melindungi semua pengemis

golongan hitam yang katanya datang dari dunia barat.

Perluapa takut terhadap badut macamdia?”

“Aihh….aihh…., agaknya Nona belum banyak tahu akan

tokoh-tokoh dunia kang-ouw pada waktu ini! Sehingga nama

besar Bu-tek Siu-lam pun belum dikenalnya betul. Nona,

agaknya engkau merupakan seorang perantau yang baru,

belum lama turun gunung….“

Kwi Lan merasa betapa pipinya panas. Hatinya juga panas

karena rahasianyadiketahui. Dengan lain kata-kata pemuda ini

hendakmengejeknya, mengatakan bahwa ia masih hijau,

masih belum berpengalaman sehingga tidak mengenal tokohtokoh

besar!

“Hemm, kalau engkau…., sudah banyak pengalaman, ya?

Sudah puluhan tahun merantau?” Kwi Lan sengaja

mengatakan puluhan tahun padahal usia pemuda itu paling

banyak sama dengan usianya sendiri, sembilan belas tahun!

Akan tetapi pemuda itu tidak merasakan ejekan ini

agaknya. Wajahnya serius ketika ia menjawab, “Semenjak

lahir aku sudah merantau, Nona.”

“Dan aku…., sebelum lahir sudah merantau!” potong Kwi

Lan, matanya menyinarkan kemarahan, bibirnya tersenyum

manis, senyum marah. Memang ciri khas gadis ini, makin

marah ia, makin manis senyumnya!

Pemuda ini menatap wajahnya penuh selidik, tiba-tiba

wajahnya yang serius itu kembali berseri seperti biasa. “Aih,

kiranya Nona juga suka berkelakar. Mana bisa sebelum lahir

sudah merantau!”

“Mengapa tidak bisa kalau kau pun sudah merantau sejak

lahir? Tentu kau akan mendongeng bahwa begitu lahir engkau

sudah pandai tertawa, pandai berlari cepat, dan pandai….

membual?”

“Ha-ha-ha-ha! Lucu sekali!” Pemuda itu terpingkal-pingkal

dan mau tak mau Kwi Lan tertawa juga membayangkan

betapa begitu lahir pemuda itu pandai membual.

“Aku tidak membohong, Nona. Tentu saja bukan aku yang

melakukan perantauan seorang diri, melainkan Ayahku. Aku

dibawa merantau dan sejak itu tak pernah berhenti merantau.

Akan tetapi sudahlah, tidak ada yang menarik untuk

diceritakan. Lebih baik kuceritakan kepadamu tentang tokoh

itu. Bu-tek Siu-lam adalah seorang tokoh besar yang benarbenar

sakti. Tidak ada tokoh kang-ouw yang tidak ngeri

mendengar nama ini sungguhpun baru beberapa tahun saja ia

datang dari sebelah barat Pegunungan Himalaya. Seiain sakti,

dia pun amat aneh sehingga tak seorang pun dapat menduga

apakah dia itu laki-laki tulen ataukah perempuan.”

“Hee….? Mengapa begitu?” Kwi Lan mulai tertarik. Karena

semenjak kecil ia terkurung di istana bawah tanah kemudian

di dalam hutan yang tak pernah ada yang berani

memasukinya, tentu saja pengetahuannya tentang dunia

kang-ouw amat sempit. Apalagi tentang tokoh-tokoh yang

demikian anehnya. Adapun pemuda itu ketika melihat sikap

Kwi Lan mulai tertarik, menjadi gembira untuk bercerita.

“Dia berperawakan laki-laki tinggi tegap dan gagah,

wajahnya tampan sekali, rambutnya terurai dan berombak

indah. Akan tetapi lagak dan bicaranya seperti seorang

perempuan yang amat genit, dan senjatanya adalah sebuah

gunting besar yang amat mengerikan. Melihat gerak-gerik dan

lagaknya, dia itu seratus prosen wanita, akan tetapi melihat

bentuk tubuh dan wajahnya, dia adalah laki-laki. Hal ini saja

sudah menyeramkan, apalagi menyaksikan kekejamannya,

membikin bulu roma berdiri. Ia pernah membasmi pengemis

golongan putih dalam sebuah rapat besar sebanyak dua ratus

orang lebih yang digunting-gunt ing dan dipotong-potong

tubuhnya! Sejak itu ia menjadi datuknya pengemis golongan

hitam. Banyak sudah tokoh golongan putih dan para pendekar

hendak membasminya, namun mereka itu malah menjadi

korban. Karena kesaktiannya inilah maka tak seorang pun

berani lagi mengganggunya dan ia merupakan tokoh besar

yang dicalonkan menjadi pemimpin dunia hitam jika ada

pemilihan lagi di samping tokoh-tokoh yang lain.”

Kwi Lan, mengerutkan keningnya. Tak pernah disangkanya

ada seorang yang sedemikian hebatnya. Tadinya ia mengira

bahwa di dunia ini hanya bibinya, Kam Sian Eng, saja yang

paling lihai. Siapa tahu, pemuda ini sendiri sudah lihai

sungguhpun ia belum mencobanya, akan tetapi pemuda ini

amat jerih ketika menceritakan kesaktian Bu-tek Siu-lam!

“Hemm, betapapun juga, aku tidak takut kepadanya!” kata

Kwi Lan. “Bagaimana dengan Thian-liong-pang? Apakah

ketuanya juga sehebat laki-laki genit itu?”

Pemuda itu tertawa.

“Ihh, mengapa kau tertawa?”

“Mendengar kau menyebut Bu-tek Siu-lam laki-laki genit!”

“Kau sendiri yang bilang dia genit.”

“Mana bisa laki-laki genit? Laki-laki tidak ada yang genit,

yang genit hanyalah perempuan.”

“Belum tentu semua perempuan genit! Laki-laki yang genit

banyak, di antaranya…. engkau inilah!”

“Wah, wah, menyerang lagi. Kau benar-benar pemarah,

Nona. Maaflah. Yang kumaksudkan adalah bahwa Bu-tek

Siulam itu bersikap genit seperti wanita, jadi dia itu laki-laki

bukan wanita bukan. Dia seorang banci.”

“Banci? Apa banci….?”

“Banci itu wadam!”

“Wadam? Apa itu?”

“Wadam itu wandu.”

“Wandu? Aku tidak mengerti.”

Pemuda itu menarik napas panjang, lalu menggeleng

kepala. “Tidak banyak pengertianmu, Nona. Banci, wadam,

atau wandu itu adalah orang yang bukan laki-laki bukan pula

wanita, akan tetapi juga bisa laki-laki bisa disebut wanita.”

Pusing kepala Kwi Lan mendengar ini.

Keningnya berkerut, matanya bersinar marah. “Berandal,

kalau kau mempermainkan aku, hemm…. aku takkan sudi

mendengarmu lag!”

“Eh, eh, nanti dulu! Aku tidak main-main, Nona. Banci

adalah seorang yang bertubuh laki-laki akan tetapi berwatak

perempuan, atau sebaliknya. Memang sukar untuk

menerangkan, karena aku sendiri t idak tahu persis mengapa

bisa begitu, akan tetapi memang kenyataannya demikian. Kau

tadi bertanya tentang Thian-liong-pang? Ketuanya juga

seorang yang terkenal memiliki ilmu kepandaian hebat, dan

bukan itu saja yang membuat Thian-liong-pang disegani,

melainkan banyaknya anggauta dan banyaknya para pimpinan

yang tinggi-tinggi ilmunya. Kabarnya tidak kurang dari dua

belas orang murid kepala Thian-liong-pang amat lihai dan jika

tenaga mereka digabungkan menjadi satu, agaknya Bu-tek

Siu-lam sendiri tidak berani main-main dengan mereka.

Pusatnya di Yen-an dan entah apa yang dimaksudkan Si

Brewok tadi dengan upacara pengangkatan ketua baru.

Mungkin ketua lama mengundurkan diri, diganti muridnya

yang paling besar. Peristiwa itu tentu amat menarik dan

dikunjungi semua tokoh dunia hitam, karena itu aku ingin

sekali mengunjungi ke Yen-an bersama…., Nona, kalau

Nona…. berani!”

“Tentu saja aku berani!” Kwi Lan meloncat sambil meraba

gagang pedangnya.

“Jadi Nona mau….?” Pemuda itu tersenyum lebar dan

menjadi girang sekali.

Kwi Lan sadar lalu duduk kembali, “Soal mau atau tidak,

nanti, dulu! Akan tetapi pokoknya aku berani! Sekarang

ceritakan, selain laki-laki genit….” Ia berhenti dan melotot,

akan tetapi pemuda itu tidak tertawa sekarang, “selain dia,

siapa lagi tokoh besar di dunia ini sekarang?”

“Tokoh-tokoh dunia hitam banyak sekali, akan tetapi

mereka itu adalah tokoh-tokoh yang dahulu berada di bawah

Thian-te Liok-koai yang sekarang sudah lenyap dari

permukaan bumi. Adapun tokoh-tokoh yang sekiranya dapat

disejajarkan Bu-tek Siu-lam, sedikit sekali. Aku hanya

mendengar bahwa ada tokoh-tokoh iblis yang berjuluk Thailek

Kauw-ong, seorang hwesio tua yang kabarnya memiliki

kesaktian seperti iblis. Ada pula yang berjuluk Sin-cam Khoaong

yang suka membunuh orang tanpa sebab dan tanpa

berkedip. Orang ke empat adalah Siauw-bin Lo-mo. Kabarnya

empat tokoh itulah yang kini merajai empat penjuru dunia

hitam. Akan tetapi aku sendiri belum pernah bertemu dengan

seorang di antara mereka.”

“Hemm, kalau mereka itu jahat, perlu apa memiliki

kepandaian hebat? Apakah tidak ada yang menentang dan

mengalahkan mereka?”

“Aku tidak tahu jelas, hanya kabarnya sudah terlalu banyak

orang gagah dan pendekar yang roboh di tangan mereka.”

“Orang gagah? Pendekar? Orang macam apa mereka ini?”

Pemuda itu membelalakkan matanya. Kalau tadi

mendengar gadis ini tidak tahu apa-apa tentang dunia hitam,

ia menyangka gadis ini tentu murid tokoh sakti dunia putih

yang baru saja turun gunung. Akan tetapi mendengar

pertanyaan ini ia benar-benar heran sekali. Kalau tidak

mengerti tentang dunia hitam dan dunia putih, habis gadis ini

termasuk golongon apa?

“Bagaimana Nona tidak mengerti akan hal ini? Pendekar

adalah orang-orang yang menentang kejahatan, orang-orang

dari dunia putih yang selalu berusaha menumpas dunia hitam.

Aku percaya bahwa guru Nona sendiri tentu seorang tokoh

besar, seorang locianpwe dari dunia putih yang amat mulia.”

Kwi Lan menggeleng kepala. “Guruku bukan dari dunia

putih, bukan pula dunia hitam. Entah dunia apa aku tidak

tahu! Coba katakan, siapa tokoh-tokoh paling hebat di dunia

putih?”

Pemuda itu masih belum hilang keheranannya, akan tetapi

ia menahan perasaan ini dan menjawab,

“Juga di antara pendekar-pendekar sakti banyak sekali

yang merupakan tokoh puncak, akan tetapi aku yang muda

hanya pernah mendengar beberapa orang saja. Pertama-tama

adalah Suling Emas….”

“Suling Emas? Aku tanya nama orangnya, bukan sulingnya.

Dari emas, perak, atau kuningan siapa peduli?”

“Suling Emas adalah nama julukannya. Nama aslinya,

seperti tokoh-tokoh besar kang-ouw lainnya, siapa yang

tahu?”

“Siapakah Suling Emas itu? Orang macam apa dan

bagaimana kelihaiannya?”

Pemuda itu mengangkat jempol tangannya ke atas. “Aku

sendiri belum mempunyai keberuntungan berjumpa dengan

Suling Emas, akan tetapi namanya sudah seringkali kudengar

dari para Locianpwe. Ilmu kepandaiannya setinggi langit,

bahkan kabarnya Thian Te Liok-koai, enam datuk persilatan,

musnah oleh sepak terjang Suling Emas. Sulingnya yang

terbuat dari emas itu mengalahkan segala macam senjata

yang ada di dunia ini.”

“Dimana dia tinggal?”

“Tak seorang pun tahu. Seperti juga empat tokoh dunia

hitam, banyak tokoh dunia put ih terdiri dari orang-orang aneh

yang sukar diketahui tempatnya, akan tetapi yang sewaktuwaktu

dapat muncul di tempat-tempat yang sekali tidak

terduga-duga. Aku tidak akan merasa heran kalau saat ini di

sekeliling kita terdapat tokoh dunia hitam maupun dunia putih.

Sepak terjang mereka penuh rahasia.”

Mendengar ini, tanpa disadarinya lagi, Kwi Lan melirik ke

kanan-kiri, akan tetapi keadaan di sekeliling tempat itu sunyi.

“Lalu siapa lagi selain Suling Emas?”

“Di antara para pengemis golongan putih menyebut-nyebut

nama Yu Kang Tianglo adalah seorang tokoh pengemis yang

amat lihai ilmu silatnya, senjatanya hanya sebatang tongkat

rotan kecil namun keampuhannya tidak kalah oleh pedang

pusaka yang manapun juga. Tentu saja dua orang itu hanya

dua diantara banyak lagi. Apalagi kalau kita ingat kepada

partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Go-bipai,

Kun-lun-pai yang tentu mempunyai banyak orang pandai.

Belum lagi di selatan kabarnya Agama Beng-kauw di Negara

Nan-co dipimpin oleh orang-orang yang amat sakti. Akan

tetapi di antara segala orang sakti, baik di dunia putih maupun

hitam, agaknya tidak akan dapat menyamai tingkat kakek

yang mulia dan terhormat Bu Kek Siansu….”

Berkata sampai di sini, pemuda itu membungkukkan

tubuhnya seakan-akan hendak memberi hormat kepada nama

yang disebutnya tadi.

“Bu Kek Siansu? Siapa dia….?” Kwi Lan makin tertarik.

Kalau di antara semua tokoh yang hebat-hebat tadi tidak

dapat menyamai tingkat kakek ini, tentu kakek ini benar-benar

seorang manusia yang amat luar biasa.

“Maaf, Nona. Aku tidak berani sembarangan menyebutnyebut

namanya yang terhormat. Akan tetapi aku mempunyai

lagu yang menurut Suhu adalah ciptaan Beliau. Kau suka

mendengar lagu tiupan suling?” Sambil berkata demikian,

pemuda itu merogoh ke belakang baju dan kembali seperti

orang main sulap, ia telah mengeluarkan sebatang suling

bambu. Diam-diam Kwi Lan terheran dan menduga-duga, apa

saja kiranya isi dalam baju pemuda tukang sulap ini.

Kemudian melihat suling itu, ia bertanya,

“Jangan-jangan engkau sendiri yang berjuluk Suling Emas!”

Pemuda itu tertawa. “Ah, Nona jangan main-main. Apakah

aku pantas menjadi seorang laki-laki berusia lima puluh tahun

lebih? Dan pula, sulingku ini bambu biasa, bambu kuning,

sama sekali bukan emas, biarpun sama kuningnya.

Kaudengarlah baik-baik, karena lagu ini bukan lagu

sembarangan lagu melainkan lagu agung ciptaan manusia

dewa.”

Pemuda itu lalu meniup sulingnya dan terdengar lengking

suara suling yang halus merdu, kemudian suara itu

membentuk irama lagu yang amat aneh. Mula-mula amat

sukar ditangkap iramanya, sukar dirasakan kenikmatannya,

akan tetapi makin lama suara suling itu makin menggulung

semua pikiran dan perasaan Kwi Lan sehingga gadis ini duduk

termenung seperti orang tak sadar, terbuai suara itu yang

mendatangkan rasa tenang dan damai dalam hatinya.

Lenyaplah segala kehendak, segala keinginan, segala

perasaan, seperti keadaan orang tidur dalam sadar! Setelah

pemuda itu menghentikan t iupan sulingnya, gema suara tadi

masih berdengung dan mempesona jiwa Kwi Lan sehingga ia

masih diam terlongong. Akhirnya ia sadar dan menarik napas

panjang, kemudian memandang dengan kagum kepada

pemuda itu.

“Aiih, kiranya engkau amat pandai meniup suling. Hebat!”

Wajah pemuda itu makin berserigembira. Ia menjura dan

berkata, “Bukan karena aku pandai meniup suling Nona,

melainkan karena lagu itu memang hebat, sekaligus

menembus jantung menguasai jiwa. Dibandingkan dengan

Suling Emas, kepandaianku meniup suling tidak ada

sepersepuluhnya dan lagi…. kabarnya Suling Emas memang

menerima ilmu-ilmunya dari Bu Kek Siansu yang terhormat.”

Kwi Lan makin kagum dan terheran-heran. Timbul

keinginan hatinya untuk bertemu dengan Suling Emas,

walaupun hanya untuk mendengar tiupan sulingnya yang

sepuluh kali lebih hebat daripada tiupan suling pemuda ini.

“Wah, alangkah goblok!” Pemuda itu yang sudah

menyimpan sulingnya kembali, meloncat bangun sambil

menampar kepalanya. Kwi Lan ikut terkejut dan ikut meloncat

bangun.

“Ada apa lagi?”

Pemuda itu tertawa. “Alangkah goblok aku. Lihat, kita

bicara sudah setengah hari, banyak nama tokoh-tokoh dunia

hitam dan putih sudah kuperkenalkan, malah aku sudah

meniup suling untukmu dan kau sudah menaruh kepercayaan

penuh kepadaku. Akan tetapi, kita masih belum saling

mengenal nama! Padahal aku merasa seakan-akan sudah

mengenal Nona selama bertahun-tahun, seolah-olah kita

sudah saling bersahabat lama sekali. Bolehkah aku

mengetahui nama besar Nona yang mulia?”

Kwi Lan tersenyum. Terhadap seorang pemuda seperti ini,

tak mungkin ia dapat membencinya. Pemuda ini berandalan

memang, aneh pula, akan tetapi tidak terbayang watak kurang

ajar baik dalam kata-kata maupun dalam pandang mata

kepadanya. Ilmu silatnya agaknya tinggi, banyak

pengetahuannya tentang dunia kang-ouw, budinya baik dan

masih ditambah pandai bersuling lagi!

“Mengapa masih bertanya lagi? Bukankah namaku Mutiara

Hitamdan engkau Setan Berandalan?”

Pemuda itu tertawa geli kemudian berkata sungguhsungguh,

“Biarpun kita bukan orang lemah, namun kita

belumlah seperti kakek-kakek dan nenek-nenek yang suka

memakai nama julukan dan menyembunyikan nama sendiri!

Nona yang baik, sudilah memperkenalkan nama besar dan she

(nama keturunan) yang terhormat.”

“Kau sendiri siapa? Kau yang ingin berkenalan, seharusnya

kau yang lebih dulu memperkenalkan nama.”

Pemuda itu mengangguk-angguk. “Nona benar. Maafkan

aku yang pelupa. Nah, namaku Hauw Lam, she Tang. Tang

Hauw Lam, nama yang bagus, sesuai dengan orangnya,

bukan?” Sambil berkata demikian, sengaja pemuda itu pasang

aksi menggoyang-goyangkan kedua pundak. Segala hal

dilakukan sambil melucu. Akan tetapi kali ini Kwi Lan tidak

merasa lucu, melainkan kaget bukan main. Kalau saja ia tidak

memiliki batin yang kuat, tentu ia akan kelihatan kaget sekali

pada mukanya. Namun muka yang cantik jelita itu tenang

saja, hanya jantungnya yang berdebar-debar keras. Jadi inikah

putera Bi Li? Putera Tang Sun dan Phang Bi Li yang disangka

lenyap setelah gurunya, ketua kelenteng di Kim-liong-san,

meninggal dunia? Inikah yang dicari-cari oleh Bi Li, bahkan

yang telah ia janjikan kepada Bibi Bi Li untuk bantu mencari?

Sungguh tidak disangka-sangka! Akan tetapi, betapapun juga

ia merasa girang bahwa putera Bibi Bi Li yang amat sayang

kepadanya itu ternyata adalah seorang yang berilmu tinggi,

yang berbudi baik seperti Ibunya, dan yang lucu seperti….

entah siapa yang menurunkan sifat lucu kepada pemuda ini.

Akan tetapi, untuk sementara Kwi Lan tidak akan membuka

rahasia ini.

“Aku sebatang kara,” Hauw Lam melanjutkan, “dan Guruku

yang terakhir adalah seorang kakek yang sakti dan aneh yang

dahulu merupakan orang ke dua setelah Bu Kek Siansu,

seorang kakek yang hidup di dalam kuburan, tidak pernah

keluar dari kuburan itu! Kakek itu sudah sangat tua, sukar

ditaksir lagi berapa usianya, akan tetapi sifatnya ugal-ugalan

dan seenaknya sendiri….“

“Seperti engkau!” Kwi Lan memotong.

Hauw Lam tertawa dan mengangguk. “Ya, aku banyak

meniru sifat-sifatnya itu, sifat yang amat baik. Manusia hidup

satu kali di dunia, kalau t idak bergembira mau apa lagi?

Keadaan baik diterima dengan gembira, akan menjadi lebih

menyenangkan, sebaliknya keadaan buruk kalau diterima

dengan gembira, akan terasa ringan! Aku hanya menerima

petunjuk Beliau selama seratus hari, akan tetapi gemblengan

selama tiga bulan itu begitu jauh lebih berharga daripada

ajaran kuterima belasan tahun dari guru-guru yang lain.”

“Siapa nama Gurumu yang aneh. itu?”

“Julukan Beliau adalah Bu-tek Lo-jin. Menurut Beliau

memang aku berjodoh menjadi muridnya.” Hauw Lam

kemudian menuturkan pengalamannya menjadi murid kakek

sakti itu yang didengarkan Kwi Lan penuh perhatian.

Ketika Hauw Lam berusia lima tahun, setelah selama itu ia

diajak merantau oleh Tang Sun, ayahnya, yang mencari

ibunya, ia dititipkan oleh ayahnya kepada Gwat Kim Hosiang

ketua kelenteng di Bukit Kim-liong-san. Karena ketika berpisah

dari ayahnya ia baru berusia lima tahun, maka wajah ayahnya

pun tidak begitu teringat olehnya. Apalagi ibunya

meninggalkannya ketika ia berusia tiga bulan! Sepuluh tahun

lamanya ia tinggal di kelenteng Bukit Kim-liong-san, menjadi

kacung kelenteng membantu pekerjaan para hwesio dan

karena bakatnya memang baik sekali, ketua kelenteng itu,

Gwat Kim Hosiang murid Go-bi-pai, telah menurunkan semua

ilmunya kepada Hauw Lam.

Ketika ia berusia lima belas tahun dan telah mewarisi ilmu

kepandaian suhunya, ketua kelenteng itu meninggal dunia.

Hauw Lam lalu meninggalkan kelenteng dan dan pergi

merantau. Anak muda ini suka akan ilmu silat, maka dengan

bekal pelajaran dari Gwat Kim Hosiang yang membuat ia

mencapai dasar-dasar ilmu silat tinggi, ia dapat memperdalam

ilmunya, Hauw Lam pandai merendah sehingga pandai ia

mengambil hati beberapa tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi

sehingga banyakpula ia menerima petunjuk.

Pada suatu hari, perantauannya membawanya ke selatan.

Ia telah berusia tujuh belas tahun dan ketika ia melewati

sebuah hutan, keadaan yang sunyi membuatnya menjadi

keisengan dan dikeluarkanlah sulingnya. Memang semenjak

kecil ketika ia tinggal di kelenteng Kim-liong-san, seorang

hwesio yang pandai menyuling mengajarnya menyuling dan

Hauw Lam amat suka meniup suling. Kini ia berjalan perlahan

sambil meniup sulingnya. Tiba-tiba, ketika melewati

segundukan tanah ia roboh terguling!

Hauw Lam kaget sekali, kedua kakinya adalah anggauta

badan yang terlatih. Diserang lawan saja tidak mudah

terguling bagaimana sekarang bisa terguling tanpa sebab? Ia

tadi merasa kakinya ada yang tarik dengan tenaga luar biasa.

Sambil meloncat bangun, ia memutar tubuh mempersiapkan

kedua tangan untuk menangkis atau memukul dan

memandang ke sekeliling. Akan tetapi tidak ada apa-apa di

sekeliling tempat itu. Ia memandang ke bawah. Tanah di

bawah kakinya menonjol, merupakan gundukan tanah seperti

tempat kuburan orang. Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang.

Setankah yang menggodanya tadi? Setan dalam kuburan yang

marah karena kuburan itu tanpa sengaja terinjak olehnya?

Hauw Lam boleh jadi gagah perkasa dan tidak pernah merasa

takut menghadapi lawan yang tangguh. Akan tetapi sekali ini,

biarpun belum gelap, baru menjelang senja, berada seorang

diri di hutan sunyi dan merasa diserang dari dalam kuburan, ia

merasa ngeri karena seramdan takut.

Tanpa berpikir panjang lagi Hauw Lam menggerakkan

kedua kaki hendak lari dari tempat yang menyeramkan itu,

akan tetapi baru selangkah ia lari, kembali tubuhnya roboh

terguling! Timbul kemarahan hatinya yang amat sangat,

melebihi ketakutannya. Belum pernah selamanya ia diperhina

seperti ini. Kali ini ia melompat bangun berdiri tegak dengan

kedua kaki terpentang lebar, memasang kuda-kuda,

membusungkan dada melebarkan mata mengatasi rasa seram

sambil memaki-maki.

“Setan atau iblis atau siluman dari mana berani

mengganggu Siauw-ya (Tuan Muda) yang sedang lewat?

Kalau manusia, jawablah, kalau siluman muncullah dan mari

kita bertanding sepuluh ribu jurus melawan Tang Hauw Lam!”

Ia petentang-petenteng, memaki-maki sambil menantangnantang

sampai beberapa lama. Namun sunyi tiada jawaban,

juga tiada suara maupun sesuatu. Hanya angin yang lewat

menggerakkan daun-daun pohon menimbulkan suara bisikbisik

seperti banyak mahluk tak tampak bersendau gurau.

Rasa seram kembali menyelubungi hati Hauw Lam, mengatasi

kemarahannya dan semua bulu di tubuhnya berdiri satu-satu.

Tak salah lagi tentu setan, pikirnya. Ketika ia roboh yang

kedua kalinya tadi terasa benar betapa ada hawa pukulan

yang mengait kakinya.

Kini ia memaki-maki lagi, akan tetapi diam-diam ia

mengerahkan kedua kakinya. Ia ingin mengikat perhatian

“siluman” yang mengganggunya dengan makiannya kemudian

menggunakan saat “siluman” itu lengah, sekali meloncat jauh

pergi dari situ. Setelah siap, sambil memaki-maki, mendadak

ia menggerakkan kakinya meloncat jauh. Girang hatinya

karena akalnya ini berhasil, buktinya ketika ia meloncat, tidak

ada yang menjegal kakinya lagi. Akan tetapi, selagi ia merasa

girang dan tubuhnya masih melayang di atas, tiba-tiba

tubuhnya itu tanpa dapat Ia kuasai lagi, tertarik ke bawah dan

terbanting di atas tanah! Ketika ia mendapat kenyataan bahwa

ia terbanting kembali di atas gundukan tanah, ia makin kaget

dan berseru, “Celaka…. mati aku di tangan siluman….!”

“Heh-heh, siapa bilang mati itu celaka? Hidup sekedar

hidup itulah yang celaka, apalagi hidup menghamba nafsu,

lebih-lebih celaka!”

Hauw Lam terkejut sekali. Karena suara itu terdengar dari

bawah, ia lalu memandang ke bawah dan…. hampir ia

terjengkang roboh kembali ketika melihat sebuah kepala di

atas tanah! Kepala yang berdiri sebatas leher di atas tanah

yang rambutnya riap-riapan, mukanya penuh cambang bauk,

matanya melotot. Dengan muka pucat Hauw Lam memandang

kepala itu, mengucek-ucek kedua matanya, memandang lagi

dan bergidik. Kedua kakinya terasa lemas dan lumpuh, seluruh

tubuhnya menggigil.

Sambil menahan kedua kakinya agar tidak roboh saking

lemas, Hauw Lam menghadap ke arah kepala di atas tanah

lalu menjura dan berkata, suaranya gemetar,

“Saya…., Tang Hauw Lam…. selamanya ingin menjadi

orang baik-baik…., harap anda jangan mengganggu saya….”

Kepala itu bergerak, menengadah dan matanya yang

melotot itu menatap tajam, kemudian terdengar suara dari

balik kumis tebal yang menyembunyikan mulut,

“Tidak mengganggu, hah? Kau menginjak-injak dan

melangkahi kepalaku, masih bisa bilang tindak mengganggu?”

Melihat kepala itu bergerak-gerak dan mendengar mulut di

balik kumis dapat bicara seperti manusia, mulai berangsur

hilanglah rasa ngeri dan takut dari hati Hauw Lam. Ia

memandang lebih teliti lagi. Kepala itu di atas tanah den

lehernya tersembul keluar dari tanah, agaknya tubuhnya

terpendam. Kakek tua renta ini tadi bicara tentang “kepalaku”,

hal ini hanya berarti bahwa kakek itu masih mempunyai

bagian tubuh yang lain. Andai kata ia seorang siluman dan

tubuhnya hanya kepala itu saja, tentu tidak akan menyebut

kepalaku. Pula, setelah kini ia memandang penuh perhatian,

biarpun muka itu buruk penuh cambang bauk dan tertutup

rambut yang riap-riapan, namun jelas bahwa itu kepala

manusia, hanya entah bagaimana tubuh kakek itu terpendam

ke dalam tanah kuburan dan entah bagaimana pula kepala itu

tiba-tiba muncul sedangkan tadinya tidak ada apa-apa di situ.

Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kepala itu dan

berkata.

“Locianpwe (Orang Tua Gagah), mohon maaf sebanyaknya

apabila boanpwe (saya yang bodoh) telah melakukan

kesalahan terhadap Locianpwe karena sesungguhnya

boanpwe tidak tahu bahwa Locianpwe berada di sini dan tidak

sengaja….”

“Wah-wah, membekuk-bekuk lidah pun tidak ada gunanya!

Masa begini caranya orang minta maaf? Mulutnya bilang minta

maaf akan tetapi berlutut di sebelah atas kepalaku? Terlalu….

terlalu….!” Kepala itu mengomel panjang pendek.

Hauw Lam membelalakkan matanya. Kakek ini terlalu aneh

dan agaknya seorang yang sukaberkelakar. Ia sendiri adalah

seorang pemuda yang jenaka dan selalu riang gembira maka

biarpun ia merasa mendongkol atas sikap kakek yang tidak

puas dengan permintaan maafnya itu, ia memutar otak

mencari akal.

“Baiklah, Locianpwe. Saya akan mohon maaf dan memberi

hormat sepatutnya. Setelah berkata demikian Hauw Lam lalu

mencabut goloknya dan dengan senjata ini ia menggali tanah

di depan kepala itu. Dengan pengerahan tenaga dalam, cepat

ia dapat menggali sampai dalam, dan ia lalu masuk ke dalam

lubang itu sehingga kini yang tampak di luar tanah hanyalah

kepalanya saja yang ia angguk-anggukkan sambil mengulangi

permintaan maafnya.

Mulut kakek itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, bagus sekali.

Kau cocok untuk menjadi muridku. Kau banyak akal, tidak

mudah putus asa dan menghadapi segala rintangan hidup

dengan wajah gembira. Hayo naik!” Begitu kakek ini

mengeluarkan kata-kata tubuh Hauw Lam mencelat ke atas.

Pemuda ini kaget sekali dan menggerakkan tenaga untuk

mengatur keseimbangan tubuh. Ketika ia berhasil turun

dengan berdiri di atas tanah, ternyata kakek itu sudah keluar

dari dalam tanah, kini duduk bersila di atas tanah. Sekilas

pandang, ia kaget dan heran. Kakek itu kepalanya besar dan

seperti kepala orang dewasa, akan tetapi tubuhnya kecil

pendek seperti tubuh seorang anak berusia belasan tahun!

Maklum bahwa kakek yang tubuhnya aneh ini seorang sakti, ia

lalu menjatuhkan diri kembali, berlutut di depan kakek itu.

“Demikianlah, Mutiara Hitam. Semenjak saat itu aku

menjadi murid Bu-tek Lo-jin selama seratus hari. Aku tidak

menerima ilmu silat baru dari Guruku yang aneh itu, akan

tetapi semua ilmu silat yang pernah kupelajari ia lihat dan ia

beri petunjuk. Semenjak itu, baru terbuka mataku akan ilmu

yang sebenarnya.” Hauw Lam mengakhiri ceritanya.

Kwi Lan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tertarik

sekali akan semua pengalaman Hauw Lam dan diam-diam ia

merasa girang bahwa putera bibinya ini benar-benar seorang

pemuda yang perkasa dan juga kalau ia tak salah duga,

berbudi baik. Perasaan hangat memenuhi dadanya ketika is

menatap wajah yang tampan dan jenakaitu. Ia sudah merasa

tertarik sekali, seakan-akan ia berhadapan dengan kakak

kandungnya sendiri. Perasaan ini mungkin timbul karena

semenjak kecilnya ia sudah menganggap Bibi Bi Li seperti ibu

kandungnya. Betapa tidak? Bibi Bi Li yang memeliharanya

semenjak ia belum mengerti apa-apa, yang menghiburnya

kalau ia menangis, yang memberinya makan kalau ia lapar

dan memberinya minum kalau ia haus. Dan pemuda ini adalah

anak kandung Bibi Bi Li! Apa bedanya dengan kakaknya

sendiri?

“Wah, kau melamunkan apa?”

Tiba-tiba Kwi Lan terkejut oleh seruan ini, sampai ia

tersentakkaget. Ia mendongkol juga akan watak pemuda ini

yang ugal-ugalan dan kadang-kadang kasar.

“Kenapa kau membentak-bentak orang?”

Hauw Lam tertawa. “Siapa membentak-bentak? Aku hanya

bertanya. Mengapa engkau melamun sedangkan aku sudah

menanti sejak tadi memasang telinga setajam-tajamnya!”

“Menanti apa? Memasang telinga untuk apa?”

“Waduh, bagaimana ini? Sejak tadi sampai letih mulutku

bercerita tentang riwayatku, tentang nama dan

pengalamanku. Setelah aku selesai, kini kau bertanya aku

menanti apa dan memasang telinga untuk apa? Tentu saja

untuk mendengarkan ceritamu, tentang nama dan

keadaanmu, tentang riwayat hidupmu!” jawab Hauw Lam,

penasaran.

Mendengar ini, Kwi Lan menarik napaspanjang. Ia tidak

ingin menyebut-nyebut tentang Bibi Kam Sian Eng, tidak mau

pula bercerita tentang ibu kandungnya, Ratu Khitan yang

belum pernah dilihatnyaitu. Ia mau bercerita tentang Bi Li,

akan tetapi merasa belum tiba saatnya. Maka ia lalu berkata,

“Perlu apa banyak cerita? Namaku, engkau sudah tahu.”

“Siapa?”

“Mutiara Hitam.”

“Wah, kenapa kau suka sekali mempermainkan aku? Aku

sudah menceritakan namaku sendiri, Tang Hauw Lam….”

“Tapi aku mengenalmu sebagal Berandal saja, cukup. Dan

kau mengenalku sebagai Mutiara Hitam. Apa artinya nama?

Nama apa pun, juga apa bedanya? Yang penting mengenal

orangnya dan melihat wataknya. Nama hanya kosong belaka!”

Hauw Lam menggaruk-garuk belakang telinganya dan

mulutnya menggumam lirih, “Nama itu kosong belaka….! Eh,

Mutiara Hitam, semuda ini kau sudah sepandai itu berfilsafat?

Ataukah…. kau pernah patah hati?”

“Patah hati? Bagaimana hati bisa patah? Apakah hati itu

seperti kayu kering…. macam ini?” Kwi Lan mematahkan

sebatang ranting kayu. Melihat wajah gadis itu bersungguhsungguh,

mau tidak mau Hauw Lamtertawa.

“Sudahlah, tidak gampang mengajak kau bicara. Tidak mau

menceritakan nama ya sudah, sedikitnya kau tuturkan

riwayatmu yang tentu menarik sekali.”

“Aku tidak punya riwayat. Lebih baik kaulanjutkan ceritamu.

Kau tadi bilang bahwa kau sebatang kara. Mana Ayah dan

Ibumu?”

Untuk sesaat wajah yang jenaka dan lucu itu diselimuti

awan kedukaan. Akan tetapi hanya sebentar saja karena

kembali wajah yang tampan itu menjadi cerah ketika

menjawab,

“Ibuku telah meninggal dunia dan….”

“Siapa bilang Ibumu meninggal dunia?”

“Lho! Kenapa marah?” Hauw Lam bertanya mendengar

suara pertanyaan yang membentak itu dan melihat wajah

yang masam.

“Siapa bilang Ibumu meninggal dunia?” Kwi Lan

mengulang.

Pemuda itu melongo. Dara yang cantik jelita seperti

bidadari, yang gagah perkasa, akan tetapi yang anehnya

bukan main, memiliki watak yang sukar sekali dijajaki, sukar

diduga. “Yang bilang? Tentu saja Ayahku. Ayahku yang bilang

bahwa Ibu telah meninggal dunia.”

Sudah berada di ujung lidah Kwi Lan untuk menyangkal,

untuk menyatakan bahwa ayah pemuda itu bohong akan

tetapi dapat ditahannya.

“Dan Ayahmu di mana dia?”

“Ayah? Ayah tidak sayang kepadaku. Ketika aku berusia

lima tahun, Ayah meninggalkan aku di kelenteng Bukit Kimliong-

san dan semenjak itu aku tidak pernah bertemu lagi

dengan dia. Nah, sudah lengkap kini riwayatku, sekarang ganti

engkau….”

Ucapan Hauw Lam terhenti karena tiba-tiba terdengar

derap suara kaki kuda, disusul suara orang. Tak lama

kemudian muncullah tujuh orang penunggang kuda. Pakaian,

topi, dan bahasa mereka membukt ikan bahwa mereka adalah

orang-orang asing. Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda

besar dan baik. Akan tetapi tujuh ekor kuda tunggang mereka

itu seperti tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan seekor

kuda yang dituntun oleh seorang di antara mereka. Kuda yang

dituntun ini lebih t inggi, tubuhnya ramping dilingkari otot-otot

yang kuat. Keempat kakinya merit kecil an bulunya hitam

mulus dan mengkilap. Sepasang matanya lebar dan

bercahaya.

“Kuda betina yang hebat!” Hauw Lam terdengar memuji

dengan suara lantang, matanya memandang ke arah kuda

hitam itu penuh kekaguman. Akan tetapi Kwi Lan yang tidak

mengerti tentang kuda, tidak tahu apanya yang hebat pada

kuda hitam itu, maka ia tidak memperhatikannya. Sebaliknya,

ia tertarik kepada tujuh orang laki-laki yang menunggang

kuda. Mereka itu rata-rata berusia sekitar empat puluhan

tahun, bertubuh tegap dan tinggi, membayangkan

ketangkasan dan kekuatan. Wajah mereka gagah dan agak

hitam oleh sinar matahari.

Sementara itu, tujuh orang ini pun menahan kendali kuda

ketika mereka melihat Hauw Lam dan Kwi Lan. Akan tetapi

pandang mata semua orang ini ditujukan kepada Kwi Lan, dan

agaknya tidak ada perbedaan antara pandang mata mereka

terhadap Kwi Lan dengan pandang mata Hauw Lam terhadap

kuda hitam. Penuh kekaguman! Pandang mata mereka yang

penuh getaran nafsu itu agaknya terasa pula oleh Kwi Lan,

membuat dara ini menjadi jengah dan marah di dalam hati.

Akan tetapi karena mereka itu tidak mengeluarkan kata-kata,

Kwi Lan menahan kemarahannya dan mencabuti beberapa

helai rumput hijau sambil menundukkan muka, kadangkadang

saja melirik ke arahmereka. Ia masih tetap duduk di

atas akar pohon.

Akan tetapi Hauw Lam sudah meloncat berdiri. Pemuda ini

banyak sudah merantau dan banyak pula pengalamannya.

Melihat sikap dan pandang mata tujuh orang itu kepada

temannya, ia merasa mendongkol pula. Akan tetapi wajahnya

berseri dan ia tersenyum lebar ketika berkata,

“Salam, sobat-sobat yang bersua di jalan!”

“Salam!” Tujuh orang itu menjawab, suara mereka ratarata

besar parau.

Senyum di mulut Hauw Lam melebar dan ia melangkah

mendekati kuda hitam. Setelah kini dekat dan memandang

penuh perhatian, ia menjadi makin kagum. Benar-benar

seekor kuda yang hebat, pikirnya. Ketika ia mencoba untuk

menepuk-nepuk leher kuda hitam itu, si Kuda hitam meringkik

dan hampir saja tangan Hauw Lam digigitnya kalau pemuda

ini tidak cepat-cepat menarik kembali tangannya.

“Kuda hebat….!” ia memuji pula. “Sobat, apakah kuda

hitam ini hendak dijual? Kalau hendak dijual, ber pakah

harganya?”

Orang yang menuntun kuda membelalakkan matanya

kepada Hauw Lam, kemudian ia tertawa sehingga tampak

betapa dua buah gigi atasnya ompong. Enam orang temannya

hanya berdiri memandang. Kemudian Si Ompong berpaling

dan menterjemahkan ucapan Hauw Lam tadi dalam bahasa

mereka. Seketika meledaklah ketawa enam orang itu sehingga

keadaan hutan yang tadinya sunyi kini menjadi riuh dengan

suara ketawa mereka. Lalu disusul mereka bertujuh saling

bicara riuh rendah sambil tertawa-tawa.

“Orang muda, tahukah engkau kuda apakah ini, darimana

dan hendak dibawa ke mana?” Akhirnya Si Ompong yang

menjadi juru bicara berkata dengan suara pelo dan kaku.

“Kuda ini adalah kuda keturunan langsung dari Hek-liong-ma

milik pribadi Ratu kami!”

“Siapakah Ratu kalian yang mulia?” Hauw Lam bertanya,

tertarik karena ia t idak mengerti bahasa mereka.

“Ratu kami adalah Sang Ratu di Khitan.”

“Ohhh….!” Suara seruan kaget ini keluar dari mulut Kwi

Lan. Akan tetapi ketika Hauw Lam menengok, gadis ini sudah

dapat menekan perasaannya kembali dan hanya memandang

penuh perhatian.

“Dan tahukah engkau kuda ini hendak kami bawa ke mana?

Akan kami antarkan ke Yen-an sebagai barang sumbangan

kepada ketua baru dari Thian-liong-pang!”

Diam-diam Hauw Lam terkejut juga. Kiranya bukan kuda

sembarangan dan ia maklum bahwa tujuh orang ini sengaja

menyebut nama Thian-liong-pang untuk membuat ia kaget

dan jerih. Akan tetapi ia berpura-pura tidak mengenal

Thianliong-pang bahkan ia lalu berkata,

“Wah, barang sumbangan saja mengapa kuda yang begini

bagus? Yang kalian tunggangi itu semua juga sudah lebih dari

cukup untuk sumbangan. Yang hitam ini kalau boleh, harap

jual kepadaku.”

Tiba-tiba seorang di antara mereka berbicara dengan

bahasa mereka, suaranya lantang dan telunjuknya menuding

nuding ke arah Kwi Lan yang masih duduk di atas akar pohon.

Begitu selesai ia berbicara, tujuh orang itu tertawa bergelakgelak.

Semua kuda mereka kaget dan meringkik-ringkik sambil

berdiri di atas kedua kaki belakang sehingga hampir saja dua

orang di antara mereka terlempar ke bawah. Hal ini membuat

mereka tertawa makin riuh rendah.

“Orang muda, mengertikah engkau apa yang dimaksudkan

teman-temanku? Ha-ha-ha! Engkau sendiri sudah memiliki

seekor kuda betina yang demikian cantik jelita, mengapa

masih ingin membeli kuda hitam ini? Apakah artinya kuda

hitam ini kalau dibandingkan dengan kudamu yang putih

kuning dan cantik molek itu? Ha-ha-ha!” Kembali tujuh orang

itu tertawa-tawa karena mereka tahu bahwa temannya Si

Ompong sudah menterjemahkan ucapan mereka.

Tentu saja Hauw Lam menjadi marah dan mendongkol

sekali. Akan tetapi Kwi Lan lebih marah lagi. Tadinya ia tidak

mengerti apa artinya ucapan mereka, akan tetapi karena

mereka bertujuh semua memandang kepadanya dan

menuding-nudingkan telunjuk ke arahnya, tahulah ia bahwa

dia sesungguhnya yang disebut kuda betina putih kuning! Ia

disamakan dengan kuda! Keparat! Bagaikan seekor harimau ia

meloncat bangun, kedua tangannya bergerak dan melesatlah

sinar hijau dari kedua tangannya menyambar ke arah muka

tujuh orang itu.

Seketika lenyap suara ketawa mereka, terganti suara

jeritan dan mereka bertujuh terguling roboh dari atas kuda!

Namun dengan gerakan yang amat cekatan mereka bertujuh

sudah meloncat bangun lagi dan ramailah mereka berkatakata

dalam bahasa yang tidak dimengerti Hauw Lam maupun

Kwi Lan. Kini Hauw Lam yang melongo dan memandang

mereka dengan muka terheran-heran. Kiranya sinar kehijauan

yang melesat dari kedua tangan Mut iara Hitam tadi adalah

rumput-rumput yang tadi dicabutinya sambil duduk di atas

akar pohon. Dalam kemarahannya gadis itu telah menyerang

tujuh orang Khitan dengan rumput-rumput itu. Biarpun hanya

rumput hijau, namun di tangan dara perkasa ini berubah

menjadi senjata rahasia yang amat ampuh dan menggiriskan

hati. Batang-batang rumput itu meluncur melebihi anak panah

cepatnya dan tak terhindarkan lagi oleh tujuh orang Khitan itu.

Tahu-tahu muka mereka telah terkena rumput yang

menempel pada kulit muka mereka, menimbulkan rasa perih

dan pedas, sedangkan tadi ketika rumput-rumput itu

menyerang, mereka terdorong oleh angin pukulan yang

membuat mereka terjungkal dari atas kuda. Kini mereka

berdiri dan berusaha melepaskan rumput-rumput yang

menempel muka mereka.

Aneh bin ajaib! Sampai meringis-ringis mereka berusaha

mengambil rumput yang menempel di kulit muka. Sia-sia

belaka! Rumput-rumput itu menempel seakan-akan diberi lem

perekat ajaib, seakan-akan telah tumbuh menjadi satu dengan

kulit. Seorang di antara mereka agak menggunakan kekerasan

untuk mengupas rumput, akan tetapi kulit pipinya ikut

terkelupas, nyeri dan perih bukan main dan darah menetesnetes!

Mereka terheran-heran dan juga kesakitan, terutama

sekali rasa jerih membuat wajah mereka pucat. Bagi Hauw

Lam, penglihatan itu amatlah lucu. Melihat mereka berusaha

mengupas rumput dari muka meringis-ringis kesakitan,

melihat betapa rumput itu merupakan pleister-pleister hijau

“menghias” muka, apalagi orang yang tadi menghina Mut iara

Hitam, rumput melintang di atas kulit hidungnya sehingga

wajahnya tampak lucu sekali, membuat Hauw Lam tak dapat

menahan ketawanya.

“Hua-ha-ha-ha! Lucu sekali….! Lucu sekali….! Muka kalian

bertujuh ditambal-tambal seperti badut dan delapan ekor kuda

ini begini bagus. Tentu kalian hendak main komidi kuda, ya?

Bagus…., bagus….!” Hauw Lam bertepuk-tepuk tangan dan

berjingkrak-jingkrak, membuat tujuh orang itu mendongkol

bukan main. Akan tetapi karena mereka dapat menduga

bahwa dua orang muda-mudi itu tentu bukan orang

sembarangan, mereka tidak mau lagi meladeni dengan katakata.

Serentak tangan mereka bergerak dan tujuh orang itu

sudah mencabut golok masing-masing lalu mengurung dengan

sikap mengancam.

“Aih…. aih…. kalian masih belum kapok? Kalau tadi Nona

muda kalian ini menghendaki nyawa kalian, apakah kalian

tidak menjadi bangkai?” Hauw Lam berseru sambil melangkah

maju, kemudian menoleh kepada Kwi Lan. “Biarlah aku yang

kini menikmati permainan dengan mereka!”

Kwi Lan diam saja, sikapnya tidakacuh. Ia tidak

memandang mata kepada tujuh orang itu, akan tetapi

mengingat bahwa mereka adalah orang-orang Khitan, rakyat

dari ibu kandungnya, ia tadi tidak mau membunuh mereka.

Kini ia hendak menyaksikan sampai di mana kepandaian

Berandal, karena dari gerak-gerik tujuh orang itu ia dapat

menduga bahwa mereka memiliki ilmu silat yang tinggi juga.

“Mengalahkan mereka tanpa membunuh barulah hebat,”

Kwi Lan sengaja berkata, nada suaranya mengejek, padahal di

dalam hati ia merasa khawatir kalau-kalau pemuda berandalan

itu membunuh rakyat ibu kandungnya.

“Oho, mudah saja, kaulihat!” Hauw Lam berkata sambil

tertawa, kemudian membusungkan perutnya ke depan,

menantang.

“Hayo kalian maju, tunggu apalagi? Bukankah golok kalian

sudah terhunus? Di sini tidak ada babi untuk ditusuk perutnya,

tidak ada kambing untuk disembelih lehernya. Nih perutku,

boleh kalian tusuk, atau leher nih, boleh pilih!” Ia menantang

dengan cara mengejek sekali, meramkan kedua mata,

mengulur leher membusungkan perut dan menaruh kedua

tangan di punggung! Diam-diam Kwi Lan geli menyaksikan

sikap ini, juga merasa betapa sikap ini keterlaluan dan

berbahaya. Coba dia yang ditantang secara itu, tentu sekali

bergerak akan dapat merobohkan pemuda ugal-ugalan itu.

Agaknya tujuh orang yang sudah amat marah itupun

berpikir demikian. Mereka tadi sudah marah dan penasaran

sekali, merasa mengalami penghinaan yang luar biasa maka

kini menyaksikan sikap dan tantangan Hauw Lam, mereka

sampai tak dapat mengeluarkan kata-kata saking marahnya.

Tujuh orang Ini bukan orang sembarangan, merupakan

jagoan-jagoan yang berkepandaian tinggi, bagaimana

sekarang menghadapi dua orang bocah saja mereka tidak

berdaya dan sampai mengalami hinaan? Kini melihat sikap

Hauw Lam, mereka serentak menerjang untuk membalas

penghinaan yang mereka alami.

“Cring-cring-trang-traaanggg….!” Tujuh batang golok yang

menerjang dalam detik bersamaan dengan sebuah saja

sasaran, tentu saja tak dapat terhindar lagi saling beradu

ketika sasarannya tiba-tiba lenyap dari tempatnya. Cepat

mereka meloncat dan membalikkan tubuh. Kiranya pemuda

ugal-ugalan itu sudah berada di belakang mereka dan kembali

pemuda itu mengulur leher membusungkan perut, akan tetapi

sekarang tangannya memegang sebatang golok pula, golok

yang pendek dan lebar seperti golok tukang babi! Akan tetapi

melihat sinar putih bersinar dari mata golok, dapat diduga

bahwa golok buruk bentuknya itu ternyata terbuat daripada

logamyang ampuh dan terpilih.

“Hayo tusuk lagi, bacok lagi, kenapa ragu-ragu? Perut dan

leherku sudah gatal-gatal nih!” Hauw Lam mengejek,

menggoyang-goyangkan perutnya yang sengaja ia busungkan

ke depan.

Kemarahan tujuh orang Khitan itu memuncak. Sambil

memaki-maki dalam bahasa sendiri kembali mereka

menerjang maju, melakukan serangan dahsyat penuh

kemarahan. Kali ini tampak sinar putih yang amat lebar

menyilaukan mata bergulung-gulung menyambut mereka.

Terdengar suara nyaring beradunya senjata diikuti tujuh

batang golok terlempar dalam keadaan patah menjadi dua,

disusul pekik tujuh orang itu dan memberebetnya kain robek.

Dalam sekejap mata saja tujuh orang itu tida hanya

kehilangan golok, akan tetapi juga baju mereka robek dari

leher sampai ke perut! Wajah mereka kini menjadi pucat sekali

karena mereka maklum bahwa kalau pemuda itu

menghendaki, dalam segebrakan saja tadi tentu mereka akan

terobek perut mereka!

Si Gigi Ompong lalu menjura dan berkata, “Kami telah

kesalahan terhadap Taihiap, mohon maaf, mengingat bahwa

kami jauh dari utara hendak mengunjungi Thian-liong-pang.”

Hauw Lam tertawa akan tetapi sebelum ia menjawab, Kwi

Lan melompat maju dan menghardik, “Masih banyak cakap

lagi? Kalian ini orang-orang Khitan yang tidak baik! Lekas

pergi dan tinggalkan kuda hitam!”

Si Gigi Ompong kaget bukan main dan dengan suara

gemetar ia menterjemahkan ucapan ini. Kawan-kawannya

juga nampak kaget dan memprotes. Si Gigi Ompong kini

menghadapi Kwi Lan dan berkata,

“Tidak mungkin, Nona! Kuda hitam ini adalah persembahan

kepada kami untuk dihadiahkan kepada ketua Thian-liongpang

sebagai tanda persahabatan. Bagaimana kami berani

meninggalkannya di sini? Hal ini berarti akan hilangnya nyawa

kami sebagai penggantinya!”

“Huh! Siapa peduli nyawa anjing kalian? Katakan saja

kepada Ratumu bahwa yang mengambil kuda hitam adalah

Mutiara Hitam. Habis perkara!”

Kini Hauw Lam mendengarkan dengan mulut ternganga.

Dara itu terlalu lancang, terlalu berani. Tadi berani menghina

dan memandang rendah Bu-tek Siu-lam, kini malah berani

menantang Ratu Khitan yang selain terkenal sebagai ratu,

juga terkenal memiliki ilmu kesaktian hebat dan mempunyai

banyak anak buah yang berilmu tinggi! Apakah yang

diandalkan dara ini maka bersikap sedemikian angkuh dan

berani menghina orang-orang golongan atas? Kepandaiannya

memang hebat dan melihat cara melempar rumput yang

sampai kini menempel di muka ketujuh orang Khitan itu,

terbukti akan kelihaiannya. Akan tetapi belum tampak ilmu

silatnya dan ia merasa ragu-ragu apakah dara semuda ini akan

mampu menandingi tokoh-tokoh besar itu?

Akan tetapi mendengar ucapan gadis yang memandang

rendah Ratu Khitan, tujuh orang itu tidak menjadi marah

setelah Si Ompbng menterjemahkannya, bahkan nampak

heran dan girang. Si Ompong lalu berkata sambil menjura,

“Aha, kiranya masih sepaham! Nona yang gagah perkasa,

ketahuilah bahwa kami adalah anak buah Pak-sin-ong….”

“Tidak peduli siapa itu Pak-sin-ong!” bentak Kwi Lan tidak

sabar lagi. Akan tetapi Hauw Lam sudah menjadi kaget sekali

dan bertanya,

“Apa? Kalian ini anak buah Jin-cam Khoa-ong (Raja Algojo

Manusia) yang juga disebut Pak-sin-ong (Raja Sakt i dari

Utara)?”

Si Ompong berseri wajahnya, akan tetapi jadi menyeringai

buruk karena wajahnya masih pucat dan masih tertempel

rumput. “Betul…., betul….! Nona, agaknya Nona belum

mengenal nama besar Tai-ong kami yang juga memusuhi Ratu

Khitan dan….”

“Bedebah….!” Bentakan ini keluar dari mulut Kwi Lan,

disusul berkelebatnya sinar kehijauan dan terciumlah bau yang

harum. Akan tetapi tujuh orang Khitan itu menjerit, darah

muncrat dan di lain saat Kwi Lan sudah berdiri tegak kembali,

sikapnya keren dan mulutnya membentak,

“Lekas pergi dari sini!”

Hauw Lam melongo. Sebagai seorang yang memiliki ilmu

kepandaian tinggi, tentu saja ia dapat melihat gerakan gadis

itu yang luar biasa cepatnya. Ia melihat betapa gadis itu

mencabut sebatang pedang yang sinarnya kehijauan dan

mengeluarkan ganda harum semerbak, melihat pula betapa

dengan gerakan yang amat aneh, dahsyat dan secepat kilat

pedang di tangan gadis berkelebat dan dengan persis

membabat putus telinga kanan ketujuh orang Khitan itu

sebelum mereka mampu mengelak atau melawan! Melihat

pula betapa dengan gerakan yang masih sama cepatnya gadis

itu telah menyimpan kembali pedangnya sebelum darah yang

muncrat dari pinggir kepala tujuh orang itu menyentuh tanah.

Sebuah gerakan yang luar biasa sekali, yang aneh, dahsyat

akan tetapi juga ganas dan kejam!

Tujuh orang Khitan yang tadinya kegirangan karena

mengira bahwa mereka itu sefihak dengan nona ini dalam hal

memusuhi Ratu Khitan, tentu saja menjadi kaget dan

kesakitan. Sambil menutupi telinga kanan yang sudah tak

berdaun lagi, mereka memandang dengan wajah pucat dan

mata terbelalak, sejenak lupa akan rasa perih dan nyeri pada

telinganya.

“Kami telah menerima pengajaran,” kata Si Ompong sambil

meringis, “harap Nona suka memberitahukan nama agar tidak

mudah kami melupakannya….“

“Eh-eh, masih banyak tingkah lagi?” Hauw Lam yang

khawatir kalau-kalau nona itu makin marah dan membunuh

mereka, memotong. “Dia ini bernama Mutiara Hitam, apakah

kalian buta? Dan aku adalah Berandal. Hayo pergi dan jangan

membuka mulut busuk lagi!”

Tujuh orang Khitan itu melompat ke atas kuda, sekali lagi

mereka menoleh dengan pandang mata penuh kebencian dan

sakit hati, kemudian membalapkan kuda mereka pergi dari

tempat itu. Kuda hitam ditinggalkan begitu saja dan kuda ini

kelihatan tenang makan rumput, kendalinya terlepas dan

terseret di atas tanah.

Hauw Lam cepat mengambil kendali itu dan kini kuda itu

diam saja ketika ditepuk-tepuk lehernya. Agaknya kuda itu

tahu bahwa siapa yang memegang kendali adalah majikannya.

“Kuda bagus, kuda hebat….!” Hauw Lam menepuk-nepuknya

dan membawanya dekat kepada Kwi Lan.

“Pilihanmu tepat, Mutiara Hitam. Julukanmu Hitam maka

tepatlah kalau kau menunggang kuda hitam ini.”

“Siapa yang menginginkan kuda? Aku hanya minta kuda ini

agar ada alasan mengunjungi Thian-liong-pang.

“Apa? Bagaimana maksudmu?”

Kwi Lan tersenyum mengejek. “Bodoh! Kalau kita datang ke

sana dan membawa kuda ini sebagai barang sumbangan,

bukankah namanya sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat?

Maksud Si Raja Algojo yang kau sebut-sebut itu

mempersembahkan kuda kepada Thian-liong-pang tak

berhasil, berarti dia sudah kalah satu nol melawan kita. Ke

dua, dengan hadiah ini, masa kita tidak akan diterima sebagai

tamu agung oleh Thian-liong-pang?”

Hauw Lam membelalakkan matanya kemudian berjingkrak

dan bertepuk tangan, “Wah, bagus! Kau ternyata pintar sekali.

Tapi sesungguhnya sayang kalau kuda sebaik ini dilepaskan

kembali kepada orang lain.”

“Hal ini dapat diputuskan nanti. Kalau kulihat Thian-liongpang

tidak berharga memiliki kuda in!, bisa saja kita ambil

kembali.”

Diam-diam Hauw Lam merasa khawatir. Gadis ini memang

harus diakui memiliki ilmu kepandaian hebat. Akan tetapi

terlalu ceroboh, terlalu sembrono dan terlalu memandang

rendah orang lain.

“Ahh, Mutiara Hitam. Engkau benar-benar belum banyak

mengenal orang! Engkau tidak tahu siapa dia. Jin-cam Khoaong.”

“Siapa sih Algojo itu?”

“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan tokoh

menyeramkan itu, akan tetapi sepanjang pendengaranku, dia

tidak kalah terkenalnya daripada, Bu-tek Siu-lam sendiri!

Kabarnya dia datang dari daerah Mongol, paling suka

membunuh orang. Semua orang yang pernah bentrok dengan

dia tidak akan dapat keluar hidup-hidup, semua itu, betapapun

gagahnya, tewas di bawah senjatanya yang mengerikan, yaitu

berbentuk gergaji berkait. Dia mengangkat diri dengan

sebutan Pak-sin-ong untuk memperkenalkan asalnya dari

utara, akan tetapi karena kekejamannya yang melewati batas,

di dunia kangouw dia dijuluki orang Jin-cam Khoa-ong si Raja

Algojo Manusia!”

“Huh, makin besar julukannya, makin kosong melompong!

Aku tidak takut!”

“Dan Thian-liong-pang sungguh tidak boleh dibuat

permainan! Bahkan kini merupakan perkumpulan yang paling

besar, paling berpengaruh dan paling banyak anggautanya

untuk golongan hitam. Karena itulah, para tokoh golongan

hitam yang tidak mempunyai perkumpulan besar, masih

memandang kepada Thian-liongpang….“

“Sudahlah! Kalau engkau takut, tidak perlu kau banyak

mengoceh lagi. Aku pun tidak mengajak engkau. Kaukira aku

takut untuk pergi sendiri? Sambil berkata demikian, Kwi Lan

menyambar kendali kuda dari tangan Hauw Lam, lalu pergi

menuntun kuda hitam itu meninggalkan Hauw Lam yang

berdiri melongo. Akan tetapi karena selama hidupnya Kwi Lan

belum pernah mempunyai kuda, apalagi menunggang kuda, ia

canggung sekali dan kuda hitam itu agaknya juga dapat

merasakan hal ini. Kuda itu mulai meronta dan mogok jalan.

Kwi Lan menarik-narik kendali kuda sambil membentak,

“Kau juga hendak mogok? Kuda sialan! Kupenggal lehermu

nanti, kubawa bangkaimu ke Thian-liong-pang, hendak kulihat

apakah kau berani mogok lagi!”

“Wah-wah-wah…., kenapa kau begini galak, Mutiara

Hitam? Apa kau marah kepadaku? Aku sama sekali tidak takut,

hanya aku heran menyaksikan keberanianmu menentang

semua tokoh-tokoh besar. Mari, biarlah kita pergi bersama.

Dan kuda itu…. kenapa repot-repot amat? Lebih baik

kautunggangi dia, kan enak?”

Watak Kwi Lan memang aneh, agaknya ia tiru dari Sian

Eng. Ia keras sekali kalau perlu, akan tetapi bisa juga menjadi

lunak, bisa gembira dan jenaka, akan tetapi tidak pernah

mengenal duka maupun takut. Melihat pemuda itu

menghampiri dan wajahnya sungguh-sungguh, ia tersenyum.

“Aku belumpernah menunggang kuda!” katanya.

Kembali Hauw Lam terheran. Seorang gadis yang begini

tinggi ilmunya, belum pernah menunggang kuda? Benar-benar

luar biasa sekali ini. “Belum pernah? Kalau begitu berbahaya,

dong. Kau harus belajar dulu. Seekor kuda yang baik selalu

akan memberontak kalau ditunggangi orang yang takut-takut

menunggang kuda.”

“Aku memang belum pernah menunggang kuda, akan

tetapi siapa bilang aku takut? Kaulihat saja!” Sekali

menggerakkan tubuhnya, Kwi Lan sudah meloncat dan duduk

di atas punggung kuda, dengan kedua kaki di samping kiri

perut kuda itu. Canggung dan kaku sekali. Benar saja, kuda

hitam itu tidak memberontak, karena kuda itu hanya

memberontak apabila yang menunggangnya takut-takut,

sedangkan Kwi Lan tidak takut.

“Ah, keliru kalau begitu menunggangnya. Mana bisa tahan

lama kalau kuda itu membalap?”

“Siapa bilang tidak bisa? Kaulihat!” Kwi Lan menarik kendali

kuda dan kuda hitam itu meloncat ke depan lalu lari cepat.

Kwi Lan terangkat-angkat dari atas punggung kuda dan

karena duduknya miring, maka hampir saja ia jatuh. Cepat ia

berseru keras dan tubuhnya sudah meloncat ke atas kemudian

turun di atas punggung kuda dalam keadaan berdiri!

Hauw Lam sudah mengejar dan memegang kendali kuda,

mengeluarkan suara menyuruh berhenti. Setelah kuda

berhenti, ia menggeleng-geleng kepala. “Wah-wah, memang

kau hebat sekali, Mutiara Hitam. Akan tetapi mana ada di

dunia ini orang naik kuda dengan berdiri di atas

punggungnya? Engkau akan menjadi tontonan orang di

sepanjang jalan, dan juga keadaan itu amat melelahkan.

Beginilah cara menunggang kuda. Lihat, kuberi contohnya!”

Karena memang Kwi Lan seorang yang sudah memiliki ilmu

kepandaian tinggi, maka pelajaran menunggang kuda ini

dapat ia kuasai sebentar saja. Berangkatlah kedua orang

muda itu melakukan perjalanan menuju Yen-an. Kwi Lan

menunggang kuda sedangkan Hauw Lam berjalan kaki sambil

meniup sulingnya. Kadang-kadang Kwi Lan yang meloncat

turun dan berjalan kaki, menyuruh pemuda itu berganti

menunggang kuda. Kalau Hauw Lam menolak, ia tentu akan

marah. Begitu pula, kadang-kadang gadis yang berhati polos

itu menyuruh Hauw Lam duduk di belakangnya di atas

punggung kuda. Hauw Lam juga menuruti kehendaknya

sehingga dalam waktu beberapa hari saja melakukan

perjalanan, keduanya telah menjadi sahabat yang amat akrab

dan diam diam Kwi Lan makin merasa cocok dan suka kepada

putera bibi pengasuhnya ini.

***

Kota Yen-an terletak di kaki Pegunungan Lu-liang-san

sebelah barat, di Propinsi Shen-si. Kota ini cukup besar dan

ramai dan dahulu merupakan daerah Kerajaan Hou-han yang

kini sudah ditaklukkan oleh Kerajaan Sung dan menjadi

wilayah Kerajaan Sung.

Kerajaan Hou-han dahulu terkenal sebagai kerajaan yang

kecil tapi amat kuat. Terutama sekali ketika seorang di antara

panglima perangnya adalah mendiang Jenderal Kam Si Ek

yang amat pandai mengatur siasat perang. Setelah jenderal ini

mengundurkan diri keadaan kerajaan mengalami kemunduran

pula. Akan tetapi keadaannya masih amat kuat karena

beberapa tahun kemudian di dalam istana kerajaan terdapat

Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian, seorang wanita sakti yang

menjadi “tante girang” di dalam istana mengumbar nafsu

dengan para pangeran dan para panglima muda yang tampan,

Di samping Tok-siauw-kwi (ibu kandung Suling Emas) ini

terdapat pula selir raja yang juga amat lihai, yang kemudian

berjuluk, Siang-mou Sin-ni Coa Kim Bwee. Akan tetapi

semenjak kedua orang wanita sakti ini tidak ada kerajaan

makin mundur dan akhirnya penyerbuan bala tentara Kerajaan

Sung menjatuhkan kerajaan kecil ini.

Tokoh-tokoh yang dikalahkan biasanya kalau tidak dipakai

lagi tenaganya lalu berkumpul dan merupakan kelompok yang

menentang si Pemenang secara diam-diam. Demiklan pula

keadaan di bekas Kerajaan Hou-han ini. Orang-orang yang

memiliki ilmu kepandaian lalu mengadakan persatuan dan

bersembunyi di balik papan nama perkumpulan menjadi

golongan dunia hitam yang diam-diam mencari kesempatan

untuk melawan atau setidaknya merongrong pemerintahan

yang tak disukainya. Di antara perkumpulan-perkumpulan

semacam itu, Thian-liong-pang merupakan perkumpulan

terbesar, bahkan boleh dibilang menjadi semacam induk

perkumpulan. Hal ini adalah karena bekas para panglima dan

tokoh Kerajaan Hou-han banyak yang menggabungkan diri

dalam perkumpulan ini. Namun karena kesempatan untuk

melawan pemerintahan Sung t idak ada, apalagi setelah para

panglima yang benar-benar berjiwa patriotik meninggal dunia,

jiwa perkumpulan Thian-liong-pang mengalami perubahan

hebat. Dasar yang semula patriotik tadinya terdorong setia

kepada kerajaan berubah, berubah menjadi dasar dunia

hitam, dan tujuan yang menyeleweng jauh terdorong oleh

nafsu angkara murka untuk menguasai dunia, harta benda,

nama besar dan kemenangan mengandalkan kekuatan.

Sisa para panglima Hou-han melihat ini sebanyak yang

mengundurkan diri dan hidup bersunyi di dusun-dusun dan

pegunungan menanti maut datang menjemput. Semenjak

Thian-liong-pang seluruhnya dikuasai oleh tokoh-tokoh dunia

hitam. Yang menjadi Ketua Thian-liong-pang adalah seorang

bekas pendeta yang berjuluk Sin-seng Losu (Kakek Bintang

Sakti). Pendeta yang berasal dari barat ini selain sakti, juga

amat terkenal di dunia hitam dan biarpun jahat, namun

ternyata ia pandai memimpin sehingga di bawah asuhannya,

Thian-liong-pang menjadi perkumpulan yang amat kuat.

Semua anggauta Thian-liong-pang rata-rata di gembleng ilmu

silat tinggi. Apalagi murid kakek itu sendiri, benar-benar terdiri

dari orang-orang yang gagah perkasa. Murid-murid kepala

sebanyak dua belas orang sedemikian terkenalnya di dunia

kang-ouw sehingga tokoh-tokoh yang besar sekalipun tidak

akan berani memandang rendah Cap-ji-liong (Dua Belas Ekor

Naga) dari Thian-liong-pang! Dua belas orang murid kepala

yang menjadi murid kesayangan Kakek Sin-seng Losu ini telah

mewarisi kepandaian kakek itu menurut bakat masing-masing.

Dan yang menambah ketenaran mereka adalah senjata

rahasia Sin-seng-ci (Peluru Bintang Sakti).

Oleh karena Kakek Sin-seng Losu sudah terlalu tua dan

pikun, juga sudah mulai lemah karena tuanya, maka sebagai

penggantinya ditunjuk muridnya yang paling tua, seorang lakilaki

tinggi besar bercambang bauk yang bertenaga besar

seperti gajah, dan sesuai dengan tenaganya, ia berjuluk Thailek-

kwi (Setan Tenaga Besar) bernama Ma Kiu. Ma Kiu ini

dulunya seorang jagal babi, kemudian pernah tinggal di

selatan dan menjadi anggauta Beng-kauw. Semenjak muda

suka belajar ilmu silat, maka ketika menjadi anggauta Bengkauw

ia sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

Karena penyelewengan peraturan, ia takut akan bayangan

sendiri dan takutpula akan hukuman dari para pimpinan Bengkauw

yang terkenal keras, maka ia melarikan diri ke utara. Di

Yen-an ia memasuki Thian-liong-pang, berhasil menarik hati

ketuanyadan menjadi muridnya. Karena memang tingkatnya

sudah tinggi, maka ia segera menduduki seorang diantara

murid kepala yang lihai, bahkan kemudian terpilih menjadi

murid nomor satu dan kemudian malah ditunjuk sebagai

pengganti gurunya yang sudah tua, yaitu menjadi ketua baru

Thian-liong-pang!

Gedung besar yang menjadi markas Thian-liong-pang

terletak megah di ujung kota Yen-an. Agak janggal

nampaknya bahwa jalan besar dimana gedung ini berdiri

kelihatan sunyi, bahkan gedung itu jauh dari tetangga. Namun

orang tidak akan merasa heran kalau mendengar bahwa para

tetangga yang tadinya tinggal dekat gedung itu berangsurangsur

diri sehingga rumah-rumah kosong di sekitar jalan itu

merupakan daerah yang dianggap tidak aman bagi penduduk

Yen-an. Hal ini dipergunakan oleh Thian-liong-pang untuk

memperluas markas mereka dengan membeli murah secara

paksa rumah-rumah dan pekarangan yang ditinggalkan.

Pada hari pengangkatan ketua baru Thian-liong-pang,

keadaan di situ lebih ramai diripada biasanya. Banyak tamu

hilir mudik mengunjungi Thian-liong-pang dan para penduduk

Yen-an hari itu merasa ketakutan selalu karena di kota Yen-an

berkeliaran banyak orang-orang aneh dan sikapnya

menyeramkan. Karena itu biarpun tidak tahu pasti, namun

sudah dapat menduga bahwa para tamu luar kota yang hari

itu mengunjungi Yen-an, tentulah tamu dari Thian-liong-pang

dan tentulah terdiri dari bukan orang baik-baik. Memang

dugaan ini tepat. Sebagian besar yang datang mengunjungi

Thian-liong-pang adalah orang-orang dari dunia hitam,

golongan liok-lin dan kang-ouw (hutan lebat dan sungai

telaga), yaitu para perampok, bajak, gerombolan-gerombolan

yang mengabdi kepada hukum rimba mengandalkan kekuatan

untuk melakukan perbuatan apa saja yang mereka kehendaki.

Hari itu semenjak pagi sekali telah banyak orang-orang

yang dandanannya aneh-aneh memasuki kota Yen-an.

Menjelang siang hari, orang-orang yang dengan hati berdebar

tidak enak menonton keramaian dan iring-iringan tamu ini,

tertarik sekali melihat dua orang muda yang keadaannya tidak

kalah anehnya daripada orang-orang yang menyeramkan

lainnya, akan tetapi dua orang muda ini sama sekali tidak

kelihatan menyeramkan. Bahkan sebaliknya, dara remaja yang

menunggang kuda hitam itu, biarpun pinggangnya digantungi

pedang dan gagang pedang indah, namun harus diakui cantik

jelita, menarik hati dan sama sekali tidak menyeramkan,

melainkan amat mengagumkan hati setiap orang pria yang

memandangnya. Adapun temannya, seorang pemuda remaja

pula, juga berwajah tampan dan matanya bersinar-sinar,

wajahnya berseri-seri, mulutnya tersenyum-senyum. Bahkan

ketika memasuki kota Yen-an, pemuda ini dengan wajah

berseri lalu meniup suling sambil berjalan di samping kuda

hitam! Sebatang golok besar dengan sarung pedang aneh,

tidak kelihatan menyeramkan sebaliknya malah tampak lucu,

seakan-akan, pemuda itu sengaja membadut dan

menggantungkan golok untuk main-main saja.

Wajah Kwi Lan, dara yang menunggang kuda hitam,

kelihatan gembira pula. Setelah beberapa pekan lamanya

melakukan perjalanan bersama Hauw Lam, ia benar-benar

mengenal watak pemuda ini sebagai seorang pemuda yang

selalu gembira, jenaka, ugal-ugalan namun pada dasarnya

gagah perkasa, tak kenal takut, berbudi dan…. selalu

mengalah kepadanya. Harus dimengerti bahwa sejak kecil Kwi

Lan jarang bergaul dengan orang lain, apalagi dengan orang

mudanya. Teman satu-satunya hanyalah Suma Kiat, dan ia

tidak suka kepada suheng ini, yang kadang-kadang

memperlihatkan sikap terlalu manis berlebih-lebihan

kepadanya akan tetapi kadang-kadang juga pemarah dan tak

acuh. Tidak mengherankan apabila Kwi Lan merasa suka

sekali kepada Hauw Lam dan dalam waktu yang tidak lama itu

mereka telah menjadi sahabat yang akrab. Sukar bagi

seseorang untuk tidak ikut bergembira apabila melakukan

perjalanan dengan Hauw Lam. Apalagi seorang seperti Kwi

Lan yang pada dasarnya memang lincah, jenaka dan suka

bergembira.

Melihat betapa temannya memasuki kota Yen-an sambil

meniup suling dan dengan lenggang dibuat-buat seperti

seorang penari atau seperti orang berbaris, Kwi Lan

tersenyum geli. Ia maklum bahwa kedatangan mereka ke Yenan

bukanlah sekedar pelesir, melainkan untuk mencari

pengalaman dan lebih mendekati petualangan karena yang

akan mereka masuki adalah sarang penjahat atau dunia hitam

yang amat berbahaya! Akan tetapi melihat pemuda itu sedikit

pun tidak memperlihatkan rasa takut, ia menjadi kagum dan

juga menjadi gembira. Banyak penduduk Yen-an, terutama

orang-orang mudanya yang tertarik melihat sepasang mudamudi

yang elok ini, mengikuti dari belakang sambil

memandang kagum dan tersenyum-senyum. Akan tetapi

melihat bahwa dua orang itu menuju ke markas Thian-liongpang

di pinggir kota, sebelum dekat mereka yang mengikuti

sudah berhenti dan membalikkan tubuh meninggalkan tempat

itu.

Setelah tiba di depan rumah gedung besar yang dihias arca

singa batu dan papan nama perkumpulan itu, Kwi Lan

menghentikan kudanya dan Hauw Lam menghentikan tiupan

sulingnya. Dari luar gedung saja sudah terdengar suara

banyak orang di sebelah dalam. Beberapa orang penjaga

menyambut mereka dengan menjura dan di antara mereka

terdapat seorang laki-laki yang mukanya penuh cambang bauk

dan yang kelihatan terkejut sekali melihat dua orang muda itu.

Akan tetapi wajahnya yang tadinya terkejut itu berubah merah

dan ia segera menjura dan berkata.

“Ah, kiranya Nona Mutiara Hitam dan Tuan…. Berandal

yang datang berkunjung! Silakan masuk….!” Melihat sikap Si

Brewok ini, teman-temannya juga cepat memberi hormat

kepada Kwi Lan dan Hauw Lam, dan mendengar nama julukan

pemuda tampan itu, diam-diam mereka merasa geli.

“Ha-ha-ha!” Kiranya Si Ouw Kiu! Engkau masih hidup?

Syukurlah kalau panjang umur. Kami datang memenuhi janji

hendak menonton keramaian sekalian menyampaikan

sumbangan kepada ketua baru Thian-liong-pang!” Temanteman

Ouw Kiu tercengang mendengar ucapan dan

menyaksikan sikap pemuda ini. Bicaranya begitu seenaknya

seperti kepada seorang sahabat baik saja. Mereka makin

heran melihat betapa Ouw Kiu yang terkenal jagoan di antara

mereka, begitu menaruh hormat yang berlebihan terhadap

seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang masih amat

muda. Kalau semua temannya terheran, adalah Ouw Kiu yang

menjadi merah mukanya. Peristiwa di dalam hutan dua pekan

yang lalu hanya ia ceritakan kepada para pimpinan Thianliong-

pang dan para anak buah tidak ada yang boleh

mendengar karena hal itu merendahkan nama besar

perkumpulan. Oleh karena itulah maka ketika tadi ia menyebut

nama Mutiara Hitam dan Berandal, teman-temannya tidak

tahu bahwa dua orang inilah yang membunuh seorang anak

murid Thian-liong-pang. Dengan menahan kemarahan Ouw

Kiu lalu berkata lagi.

“Ah, Ji-wi ternyata memegang janji. Silakan masuk! Nona,

biarlah orang-orang kami merawat kuda Nona itu. Silakan

turun dan masuk ke dalam!”

“Mana bisa barang sumbangan ditinggalkan di luar?” Kwi

Lan berkata.

“Barang sumbangan….? Apakah maksud Nona….?”

Kwi Lan tersenyum. “Justeru kuda inilah barang

sumbangannya untuk disampaikan kepada Ketua Thian-liongpang!”

“Ah…. kuda bagus…. kuda hebat….!”

Ouw Kiu tiba-tiba memuji setelah tahu bahwa kuda yang

besar dan memang hebat ini akan dipersembahkan kepada

ketuanya. Kiranya dua orang muda yang lihai ini telah

merendahkan diri dan hendak menyenangkan hati ketuanya

dengan hadiah seekor kuda pilihan, pikirnya. Akan tetapi

jangan kira bahwa kalian akan dapat lolos dari sini, biarpun

telah menyogok dengan seekor kuda.

Melihat Ouw Kiu memuji-muji sambil menjura…. seorang

lain memberi isyarat dengan kedua tangan mempersilakan

mereka dan yang lain-lain juga menjura. Kwi Lan lalu berkata,

“Hayo, Berandal kita masuk saja. Hek-ma (Kuda Hitam) ini

pun tentu suka mencicip arak wangi Thian-liong-pang!”

“Hayo, tunggu apa lagi?” Hauw Lam berkata sambil

tertawa, kemudian ia menempelkan suling pada mulutnya dan

melangkah maju sambil meniup suling. Adapun Kwi Lan tanpa

mempedulikan gerak protes mulut, mata, dan tangan para

penjaga sudah menarik kendali dan memaksa kuda hitamnya

untuk menaiki anak tangga, terus menjalankan kudanya

memasuki ruangan depan menuju ke dalam!

Tentu saja para penjaga kaget dan bergerak hendak

mencegah, akan tetapi Ouw Kiu berbisik kepada temantemannya

dan kagetlah mereka, berdiri dengan wajah

sebentar pucat karena gentar dan sebentar merah karena

marah. Baru sekarang mereka tahu bahwa dua orang itulah

yang membunuh seorang kawan mereka.

“Jangan sembarangan bergerak, mereka lihai sekali!” bisik

Ouw Kiu. “Biarkan Pangcu yang membereskan mereka!”

Setelah berkata demikian, melalui pintu samping Ouw Kiu

mendahului masuk dan diam-diam melaporkan kepada

pimpinan Thian-liong-pang.

Pada waktu itu, Kakek Sin-seng Losu masih duduk di kursi

ketua sambil melenggut mengantuk. Akhir-akhir ini, kakek

yang sudah tua renta dan pikun ini sering kali melenggut dan

banyak mengantuk. Kini ia telah mengenakan pakaian khusus

untuk upacara. Jubahnya baru dan indah di bagian dadanya

terdapat gambar sebuah timbangan. Inilah tanda bahwa dia

sudah meninggalkan kedudukan ketua dan kini menjadi

penasihat yang mempertimbangkan dan memutuskan segala

macam perkara yang tak dapat diputuskan oleh ketua baru. Di

sebelah kanannya duduk Thai-lek-kwi Ma Kiu, murid kepala

bekas tukang jagal babi itu. Wajah murid kepala yang usianya

sudah lima puluh tahun ini keren, apalagi jenggot dan

kumisnya kaku seperti kawat, matanya melotot lebar seakanakan

selalu mengeluarkan sinar mengancam. Di sebelah kanan

Thai-lek-kwi Ma Kiu calon ketua baru ini duduk atau berdiri

sebelas orang adik-adik seperguruannya yang terdiri dari

bermacam-macam orang. Ada Hwesio gundul, ada tosu, ada

yang seperti petani, ada yang tua dan ada yang muda. Di

belakang kursi kakek Sin-seng Losu berdiri seorang petugas

yang membawa bendera Thian-liong-pang, bergambar naga

terbang.

Para tamu yang lebih lima puluh itu semuanya sudah

memenuhi ruangan, duduk di bangku-bangku memutari meja

bundar yang sudah disediakan. Pelayan-pelayan sibuk

melayani mereka dengan minuman dan makanan. Saat itu,

upacara sudah hendak dilakukan, akan tetapi Thai-lek-kwi Ma

Kiu mencari-cari dengan pandang matanya, kelihatan tak

senang hatinya. Kemudian ia berbisik kepada suhunya yang

masih melenggut, setengah tidur setengah bersamadhi.

“Suhu, tamu sudah lengkap, Apakah tidak lebih baik

dilakukan sekarang upacaranya?”

“Hemmm….?” kakek itu membuka mata malas-malasan,

kemudian menoleh ke arah kirinya, di mana terdapat sebuah

bangku yang kosong. “Dia belum datang?” Ma Kiu

mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya. “Suhu,

sudah sejam lebih kita menanti, akan tetapi Siauw-te (Adik

Seperguruan Kecil) masih juga belum muncul. Dia, suka pergi

berburu binatang, suka pergi bermain-main, siapa tahu dia

tidak akan datang karena lupa akan urusan hari ini.”

“Kita tunggu sebentar lagi.” bantah Si Kakek. “Betapapun

juga, Siangkoan Li adalah anak tunggal mendiang puteraku,

dia cucuku satu-satunya. Sebagai wakil ayahnya yang sudah

tidak ada, sepatutnya dia menyaksikan upacara penting hari

ini.”

Biarpun di dalam hatinya merasa mendongkol sekali

terhadap Siangkoan Li yang memperlambat upacara

pengangkatannya menjadi Ketua Thian-liong-pang namun Ma

Kiu tidak berani membantah kehendak gurunya. Siangkoan Li

adalah cucu Sin-seng Losu, semenjak kecil anak ini sudah

ditinggal mati ayah bundanya yang tewas dalam pertandingan.

Kemudian ia dididik oleh kakeknya dan biarpun ia cucu kakek

ini, namun ia juga murid, maka dua belas orang murid kepala

atau lebih terkenal Dua Belas Naga Thian-liong-pang itu

memanggil dia sute (adik seperguruan). Padahal Siangkoan Li

masih amat muda, baru dua puluh tahun usianya.

Pada saat itulah Ouw Kiu si Brewok datang melapor.

Karena Sin-seng Losu sudah melenggut lagi di atas kursinya,

Ouw Kiu lalu melapor kepada Thai-lek-kwi Ma Kiu tentang

kedatangan dua orang muda tadi. Tentu saja Thai-lek-kwi Ma

Kiu marah sekali, mendengar bahwa dua orang muda yang

mengaku berjuluk Mutiara Hitam dan Berandal dan telah

membunuh seorang anggauta Thian-liong-pang berani

muncul. Akan tetapi oleh karena saat pengangkatannya

sebagai ketua sudah tiba, ia tidak ingin urusan yang amat

penting artinya bagi dirinya itu terganggu atau terkacau

keributan, maka ia menyabarkan hatinya yang panas. Apalagi

ketika mendengar laporan Ouw Kiu bahwa dua orang itu

datang untuk menonton upacara dan membawa hadiah seekor

kuda yang bagus. Maka dia segera berdiri dan menyambut.

Melihat kakak tertua ini bangkit, otomatis sebelas orang adik

seperguruan itu bergerak pula dan mengikutinya menyambut.

Terdengar suara nyaring kaki kuda menginjak-injak lantai

dan para tamu serentak menengok, disusul suara mereka riuh

membicarakan tamu yang baru muncul. Tentu saja cara Kwi

Lan memasuki ruangan sambil menunggang seekor kuda yang

tinggi besar berbulu hitam, amat menarik perhatian dan selain

mendatangkan kaget, juga heran. Akan tetapi disamping ini,

sebagian besar mata para tamu terbelalak kagum karena tidak

saja kuda itu amat indah dan gagah, namun penunggangnya

lebih menarik lagi, cantik jelita dengan mata bersinar-sinar

dan pipi kemerahan, bibir manis tersenyum simpul. Hauw Lam

menghentikan tiupan sulingnya, lalu menjura ke arah tuan

rumah, diam-diam ia memperhatikan Ma Kiu dan sebelas

orang adik seperguruannya. Biarpun belum pernah bertemu

dengan mereka, namun jumlah ini menimbulkan dugaan di

hati bahwa tentu inilah yang disebut Cap-ji-liong yang ditakuti

orang itu. Ia tersenyumdan berseru dengan suara nyaring.

“Kami, Dewi Mutiara Hitam dan Dewa Berandal….” Sampai

di sini Hauw Lam menoleh kepada Kwi Lan yang tersenyum

pula lalu melirik kepada semua tamu yang mengeluarkan

seruan heran mendengar sebutan dewa dan dewi tadi,

kemudian melanjutkan setelah keadaan menjadi sunyi senyap

karena semua orang memasang telinga penuh perhatian untuk

mendengarkan apa yang ia katakan selanjutnya,

“….. secara kebetulan lewat di Yen-an dan mendengar

nama besar Thian-liong-pang yang katanya hendak

mengadakan upacara pengangkatan ketua baru. Maka kami

ingin sekali menonton keramaian dan Sang Dewi Mut iara

Hitam ini berkenan memberi hadiah kuda hitamnya untuk

Thian-liong-pang!”

Mendengar dirinya disebut-sebut sebagai Sang Dewi Kwi

Lan mengerutkan alisnya dan cemberut, melompat turun dari

kuda dan berkata, “Harap jangan dengarkan obrolan Berandal

ini! Kuda ini memang hendak kusampaikan kepada Thianliong-

pang, akan tetapi bukan hadiah dariku, melainkan

hadiah dari Khitan untuk Thian-liong-pang!”

Mendengar ucapan Kwi Lan berubah air muka dua belas

orang “naga” dari Thian-liong-pang itu. Ma Kiu segera berkata,

suaranya berubah ramah, “Ah, kiranya Ji-wi adalah utusan dari

Pak-sin-ong? Sungguh merupakan penghormatan besar sekali

terhadap Thian-liong-pang dan salah paham yang terjadi

beberapa pekan yang lalu adalah kesalahan anak buah kami,

mohon Ji-wi sudi memaafkan.”

“Aku tidak tahu apa yang kaumaksudkan.” kata Kwi Lan

setelah bertukar pandang dengan Hauw Lam. “Akan tetapi

yang jelas, kuda ini bukan sembarangan kuda, melainkan kuda

keturunan kuda pribadi Ratu Khitan. Harap Thian-liong-pang

suka menerima. anugerah dari Ratu Khitan ini.”

Kwi Lan bicara sejujurnya, karena di dalam hati ia tetap

condong untuk membela Ratu Khitan yang menurut penuturan

guru dan bibinya adalah ibu kandungnya sendiri. Akan tetapi

Ma Kiu mendengar ini, mengangguk-angguk dan bertukar

pandang dengan sebelas orang saudaranya.

“Kami mengerti…. kami mengerti dan terima kasih

banyak…. katanya. Tentu saja Kwi Lan t idak mengerti apa

yang ia maksudkan, akan tetapi melihat Hauw Lam berkedip

kepadanya, ia pun diam saja. Ia lalu melompat turun dari

kudanya dan memberikan kendali kuda kepada Ma Kiu. Calon

ketua itu menggapai seorang anggauta Thian-liong-pang yang

tinggi besar.

“Bawa kuda ini ke kandang dan pelihara baik-baik beri

makan minum secukupnya!”

Orang tinggi besar itu memberi hormat dan menerima

kendali. Akan tetapi begitu ia menarik kendali, kuda hitam itu

yang mencium bau orang baru dan merasai tarikan keras,

segera meringkik, membuka mulut dan menerjang orang

tinggi besar itu! Si Tinggi Besar terkejut dan berusaha

mengelak, namun terlambat, pundaknya kena digigit sehingga

ia berkaok-kaok kesakitan dan ketika kuda itu melepaskan

gigitannya, daging pundak berikut baju sudah robek dan darah

membasahi semua bajunya! Tentu saja anggauta ini menjadi

kaget dan melepaskan kendali kudanya. Hauw Lam tertawa

bergelak. “Sudah kuberitahu, kuda ini bukan kuda

sembarangan!”

“Hemm, memang kuda pilihan. Twa-suheng, biarlah aku

yang membawanya ke kandang.” Seorang laki-laki berusia

hampir empat puluh tahun, bertubuh kecil kurus, melangkah

maju, Dia ini adalah seorang di antara Cap-ji-liong dan begitu

Ma Kiu menganggukkan kepala, Si Kurus sudah menyambar

kendali kuda, lalu tubuhnya melayang naik ke punggung kuda

hitam. Kuda itu meringkik-ringkik dan meronta-ronta, namun

dengan menjepitkan kedua kaki ke perut kuda, Si Kecil Kurus

tetap duduk dengan tenang, bahkan lalu membetot-betot

kendali kuda. Kuda hitam makin marah, melonjak-lonjak dan

meloncat-loncat tinggi menggerak-gerakkan punggungnya.

Kalau orang biasa tentu akan terlempar dari punggung kuda,

akan tetapi ternyata Si Kecil Kurus itu lihai sekali. Tubuhnya

mendoyong ke sana ke mari, namun ia dapat duduk tegak dan

tetap. Akhirnya, setelah hidung dan bibir kuda mengeluarkan

darah karena tertarik kendali, baru kuda hitam itu kelelahan

dan menurut saja disuruh berjalan keluar dari dalam ruangan

tamu!

Ma Kiu lalu mempersilakan dua orang tamu mudanya untuk

duduk di bagian depan. Hauw Lam berbisik. “Mereka mengira

bahwa kita ini tokoh-tokoh kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan

memang biasanya orang-orang Pak-sin-ong ini melakukan

perjalanan sambil menyamar dan merahasiakan diri, karena

selalu menjadi incaran orang pemerintahan Khitan. Tentu Si

Brewok tadi mengira kita berpura-pura menghadapi banyak

tamu, maka ia bilang mengerti!” Pemuda itu tertawa dan Kwi

Lan juga tertawa geli. Pelayan datang dengan cepat

membawa minuman arak wangi dan masakan-masakan lezat

dan mahal. Karena memang sudah lapar dan sudah lama tidak

bertemu makanan lezat, Hauw Lam dan Kwi Lan tidak

sungkan-sungkan lagi. Kiranya pemuda jenaka itu adalah

seorang ahli makanan. Sambil mencoba dan mencicipi belasan

macam masakan yang datang membanjir! meja mereka Hauw

Lam t iada hentinya mengoceh untuk memperkenalkan tiap

masakan kepada Kwi Lan.

“Ini kodok goreng istimewa. Kodok macam ini hanya

terdapat dalam rawa-rawa dan daerah selatan saja, dagingnya

empuk, gurih dan harum sedap. Maka harganya pun amat

mahal. Sayang ini yang jantan, kalau yang betina lebih lezat.

Akan tetapi kodok betina jarang disembelih orang karena

dibutuhkan telurnya. Hanya Kaisar yang suka menyuruh

buatkan kodok betina goreng!” Memang luar biasa masakan

kodok goreng itu. Berbeda dengan swike biasa, kodok ini

digoreng berikut kulitnya yang loreng-loreng, akan tetapi

justeru kulitnya itu yang enak, kemripik seperti krupuk udang.

Juga berbeda dengan swike biasa, tulangnya enak pula

dimakan, tidak keras.

“Wah, ini sop buntut menjangan namanya! Dimasak sop

dengan campuran kacang polong dan jamur kuning. Hebat!

Tapi kalau terlalu banyak membuat badan panas dan darah

mengalir cepat. Sedikit cukup untuk menghangatkan tubuh.

Dan ini masak tim kaki burung raja air! Kau tahu apa itu

burung raja air? Bebek! Ini tim kaki bebek. Enak kenyilkenyil

dan gurih. Wah, yang di sana itu panggang ayam angkasa.

Sedap!”

“Apa itu ayam angkasa?” Kwi Lan bertanya, gembira oleh

penjelasan yang lucu ini.

“Ayam angkasa? Masa tidak tahu? Burung dara! Enak juga,

cobalah.”

Sampai kenyang sekali perut Kwi Lan karena pandainya

Hauw Lam memperkenalkan setiap masakan sehingga tak

dapat ia bertahan untuk t idak mencicipinya.

“Eh, ini masakan apa? Mengapa dagingnya bundar-bundar

tapi bukan bakso? Licin….!”

Hauw Lam mengulur leher menjenguk, lalu mengorek

dengan sumpit untuk memeriksa. “Ini….? Waaahh…. gila

amat! Ini…. ini bukan makanan wanita! Celaka! yang begini

dikeluarkan. Sialan benar!” Ia mengomel panjang pendek

tanpa menjawab pertanyaan Kwi Lan.

Gadis itu tentu saja menjadi tertarik sekali, “Masakan apa

sih? Kenapa bukan makanan wanita?”

Heran sekali. Tiba-tiba muka Hauw Lam menjadi merah dan

ia tampak gagap-gugup dalam menjawab. Padahal biasanya

pemuda ini paling pandai bicara. “Masakan…. waaahhh,

bagaimana ini….? Ini masakan…. masakan….hemmmm….!”

Karena mereka berdua tadi bicara keras tanpa mempedulikan

orang lain, tentu saja percakapan terakhir ini pun terdengar

pula oleh para tamu yang duduk berdekatan. Mereka mulai

tertawa-tawa geli menyaksikan sikap Hauw Lam ini.

“Ih, kenapa kau? Sudah mabokkah? Masa menjawab

masakan saja begitu sukar? Kalau tidak mengenal, bilang saja

terus terang, mengapa susah-susah amat?” Kwi Lan menegur.

“Siapa bilang aku tidak mengenal masakan ini? Semua

masakan di dunia pernah kumakan. Aku pernah memasuki

dapur kaisar, pernah ikut dalam perjamuan Beng-kauw di

selatan! Ini masakan…. daging kambing saus tomat!”

“Uhh, hanya daging kambing saja kenapa tidak dari tadi

menyebutnya? Kau bohong agaknya! Kalau benar hanya

daging kambing, mengapa bentuknya bulat seperti ini? Dan

mengapa pula tadi kau hilang ini bukan makanan wanita?”

“Ha-ha-ha-ha! Itu bukan daging kambing, melainkan….

peluru kambing. Ha-ha-ha!” Riuh rendah suara ketawa itu.

Hauw Lam dan Kwi Lan menengok. Sejak tadi mereka

sudah tahu bahwa tidak jauh dari meja mereka, dalam jarak

lima meter, terdapat enam orang anggauta pengemis baju

bersih yang duduk mengelilingi meja dan sejak tadi

memperhatikan mereka berdua. Enam orang pengemis itu

rata-rata sudah berusia enam puluh tahun lebih, hanya yang

dua inilah mereka masih muda dan kini dua orang inilah yang

tertawa-tawa oleh ucapan seorang di antara mereka tadi.

Pada saat itu, Kwi Lan dengan sumpitnya telah menusuk dua

potong daging kambing itu yang memang berbentuk bundar

telur sebesar telur ayam.

“Hanya kambing jantan yang memiliki peluru itu, kambing

betina tentu saja tidak punya. Akan tetapi keliru kalau orang

bilang wanita tidak boleh memakannya, malah sebetulnya itu

makanan wanita, apalagi wanita cantik….! Ha-ha-ha-ha!”

komentar pengemis muda yang ke dua dan kembali dua orang

yang duduknya menghadap kepada meja Kwi Lan tertawatawa

sambil terang-terangan memandang kepada gadis itu.

Akan tetapi, mendadak dua orang pengemis muda yang

sedang tertawa berkakakan itu terhenti ketawanya setelah

mengeluarkan suara “ha-haaauupp!” dan mata mereka

mendelik, tangan kiri mencekik leher dan tangan kanan

menunjuk-nunjuk kebingungan ke arah mulut mereka yang

ternganga. Tanpa diketahui orang lain saking cepatnya

gerakan tangan Kwi Lan, dua buah daging bulat yang tadi

berada di ujung sepasang sumpitnya kini telah menyusup

masuk ke tenggorokan dua orang itu melalui mulut yang tadi

terbuka lebar-lebar.

Empat orang pengemis lain yang mengira bahwa dua orang

temannya ini, tersedak makanan sibuk menolong, menepuknepuk

punggung mereka dengan keras sambil bertanya-tanya.

Akan tetapi dua orang itu hanya dapat mengeluarkan suara

seperti orang gagu karena kerongkongannya tersumbat.

Akhirnya seorang di antara mereka terbatuk dan meloncat

keluarlah daging bulat seperti telur ayam itu, sedangkan

seorang lagi, karena daging itu belum keluar dan ia merasa

napasnya hampir putus, dengan nekat lalu memasukkan

sumpit ke mulutnya dan mendorong daging di

kerongkongannya itu terus masuk! Akal ini menolong juga dan

terhindarlah ia daripada bahaya maut tercekik.

Kwi Lan yang telah memberi hukuman kepada dua orang

pengemis muda yang berani mentertawakannya itu, kedua

pipinya menjadi merah. Tidak hanya karena marah, juga

karena jengah setelah ia mendengar apa sebetulnya daging

bulat-bulat itu. Diam-diam ia memaki tuan rumah yang

mengeluarkan hidangan macam itu. Gadis ini memang masih

asing dengan segala masakan-masakan kota, apalagi

masakan-masakan yang begitu mewah. Semenjak kecil ia

hanya makan masakan sederhana yang dibuat Bibi Bi Li. Kini

untuk mengalihkan perhatian dari masakan yang dianggapnya

tidak pantas itu, lalu bertanya kepada Hauw Lam yang masih

tertawa-tawa, mentertawakan keadaan dua orang pengemis

tadi.

“Dan ini, apakah ini? Untuk apa? Kelihatannya seperti

darah.”

“Bukan darah. Itu namanya kecap, untuk bumbu

menambah asin atau manis masakan.”

Sementara itu, dua orang pengemis muda yang sudah

bebas daripada daging-daging bulat, kelihatan marah-marah,

berdiri dan memandang ke arah meja Kwi Lan sambil melotot.

Empat orang kawannya yang lebih tua juga sudah menengok

semua dan mereka bicara berbisik-bisik satu kepada yang lain,

wajah mereka mengancam. Agaknya mereka sedang

mempertimbangkan apa yang akan mereka lakukan terhadap

dua orang muda itu tanpa mengganggu jalannya pesta.

Mereka berenamhanyalah tokoh-tokoh biasa saja yang datang

mewakili pengemis golongan hitam, maka tentu saja mereka

segan untuk membuat gaduh dan kacau dalam pesta

perayaan pengangkatan Ketua Thian-liong-pang. Akhirnya

mereka mengambil keputusan untuk menanti sampai upacara

berakhir, barulah akan memberi hajaran kepada dua orang

muda kurang ajar itu.

Pada saat itu terdengar ribut-ribut di luar, bentakan suara

laki-laki mengiringi tangis wanita. Semua tamu menengok dan

muncullah seorang laki-laki tinggi besar berjubah seperti

pendeta, akan tetapi rambutnya panjang riap-riapan dan

mukanya seperti seekor singa, matanya lebar dan bersinar liar.

Laki-laki berusia lima puluhan tahun ini memegang sebatang

cambuk panjang dan dengan cambuk ini ia menggiring dua

belas orang wanita muda-muda dan cantik-cant ik seperti

seorang penggembala menggiring ternak saja.Beberapa orang

di antara wanita inilah yang mengeluarkan suara tangisan, dan

yang lain berjalan dengan muka pucat dan mata penuh

kecemasan.

Begitu memasuki ruangan itu, kakek ini tertawa dan

wajahnya menjadi makin menyeramkan. Rambutnya yang

riap-riapan dan terhias bunga-bunga cilan, semacam bunga

yang wangi, bergerak-gerak ketika ia tertawa. Melihat tamu

ini,Thai-lek-kwi Ma Kiu berubah air mukanya, menjadi girang

dan segera turun sendiri menyambut dan menjura.

“Wah, kiranya sahabat Ci-lan Saikong yang datang

berkunjung. Sungguh merupakan kehormatan besar bagi

kami.”

“Huah-ha-ha-ha! Thian-liong-pang terkenal dengan Cap-jiliong

(Dua Belas Ekor Naga) yang sungguh gagah perkasa.

Kini yang tertua di antaranya akan menjadi ketua, benar-benar

menambah keangkeran Thian-liong-pang. Pinceng (aku)

datang. untuk memberi hormat kepada Sin-seng Losuhu, dan

memberi selamat kepada Thian-liong-pang dengan ketua

barunya, dan karena pinceng seorang miskin yang hanya suka

mengumpulkan bunga-bunga harum maka pinceng hanya

dapat memberi sumbangan dua belas tangkai bunga harum ini

untuk hiasan kamar Dua Belas Naga dari Thian-liong-pang

sehingga kamar mereka menjadi harum dan membuat mereka

enak tidur. Ha-ha-ha!” Kemudian kakek itu membunyikan

cambuknya di atas kepala dua belas orang gadis tawanannya

sambil membentak, “Hayo kalian lekas berlutut di depan

majikan-majikan baru kalian!” Karena agaknya sudah tahu

akan kekejaman kakek itu, dua belas orang gadis ini lalu

menjatuhkan diri berlutut sambil menundukkan muka.

Para tamu yang hadir terdiri dari orang-orang golongan

hitam, maka peristiwa ini tidaklah mengherankan hati mereka,

malah banyak di antara mereka. tertawa-tawa dan terdengar

komentar di sana-sini memuji dua belas orang gadis itu dan

menyatakan betapa senangnya menerima sumbangan benda

hidup seperti itu. Juga Thai-lek-kwi Ma Kiu dan adik-adik

seperguruannya serta para anggauta Thian-liong-pang

menganggap hal ini biasa dan sewajarnya saja. Akan tetapi

karena saat itu adalah saat yang penting dan di situ terdapat

banyak tamu, Ma Kiu merasa malu dan jengah juga. Ia

kembali menjura dan berkata.

“Ah, Saudara Ci-lan Sai-kong mengapa begitu sungkan?

Kami tidak mengharapkan sumbangan. Kedatanganmu saja

sudah cukup menggirangkan hati kami!” Sungguhpun tidak

menolak secara berterang, namun kata-kata ini menyatakan

ketidaksenangan hati dengan sumbangan itu, karena diberikan

bukan pada saatnya yang tepat.

“Ha-ha-ha-ha!” Kakek itu tertawa sambil mengelus

jenggotnya yang kaku. “Sudah kukatakan tadi, pinceng orang

miskin dan hanya suka mengumpulkan cilan. Karena

mendengar bahwa para pimpinan Thian-liong-pang

mempunyai kesukaan yang sama dengan pinceng maka

pinceng membawa dua belas tangkai kembang ini. Jangan

Sicu (Tuan yang Gagah) khawatir, bunga-bunga ini masih

murni, datang dari keluarga baik-baik dan sengaja kupilih

untuk Sicu sekalian!”

Pada saat itu, Si Tua Renta Sin-seng Losu yang tadinya

duduk melenggut mengantuk di atas kursi, kini tiba-tiba

nampak segar, dan tidak mengantuk lagi. Ia duduk tegak di

kursinya, matanya yang setengah lamur itu dilebar-lebarkan

untuk memandangi dua belas orang gadis yang berlutut di

atas lantai. Kemudian seperti seorang mimpi ia berkata,

“Sumbangan paling berharga diberikan orang, kenapa

banyak rewel? Kalau tidak suka, boleh giring semua ke

kamarku!”

“Huah-ha-ha-ha!” Ci-lan Sai-kong tertawa bergelak sambil

berdongak sehingga perutnya yang besar bergerak-gerak

turun naik, “Sin-seng Losu benar-benar mengagumkan sekali.

Orang boleh tua tapi hati harus tetap muda! Kalau Losuhu

menghendaki, lain kali boleh pinceng kirim beberapa tangkai

bunga yang lebih muda, lebih cantik dan lebih harum!”

“Heh-heh, terima kasih…. ini sudah cukup…. banyak ….”

Biarpun dia sendiri seorang yang tidak pantang melakukan

segala macam maksiat, namun sebagai calon ketua

perkumpulan besar, Ma Kiu merasa malu juga mendengar

percakapan kasar ini. Maka untuk mencegah agar suhunya

yang sudah pikun dan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga)

Ci-lan Sai-kong itu t idak mengeluarkan omongan-omongan

yang tidak patut lagi, ia segera menjura.

“Banyak terima kasih atas sumbanganmu, kami persilakan

duduk dan menikmati hidangan sekadarnya!” sambil

menyuruh adik-adik seperguruannya membawa para gadis itu

ke belakang, ia sendiri lalu mengantar tamu ini ke tempat

duduknya.

Hauw Lam mengerutkan alisnya, mukanya yang tampan

dan biasa bergembira itu berubah sama sekali, sepasang

matanya memancarkan sinar kemarahan Kwi Lan melihat hal

ini dan merasa heran. Mengapa pemuda, ini marah-marah?

“Kau kenapa?” Ia bertanya lirih.

“Kenapa? Hemm, tidakkah kau lihat mereka tadi….?” Hauw

Lam menjawab dengan pertanyaan pula. “Ci-lan Sai-kong itu,

jai-hwa-cat terkutuk….”

“Apa itu jai-hwa-cat?”

Dalam kemarahannya, Hauw Lam berubah gemas dan

mengomel. “Kau ini benar-benar tidak tahu apa-apa! Tidak

mengenal masakan masih tidak aneh, akan tetapi seorang

dara dengan kepandaian seperti kau ini yang patut menjagoi

dunia kang-ouw, tidak tahu apa itu jai-hwa-cat benar-benar

bikin hati mendongkol. Sekan-akan kau mempermainkan aku

dan pura-pura tidak tahu!”

Kwi Lan makin heran melihat pemuda ini bertambah

kemarahannya. “Eh, kau kenapa sih? Mabok agaknya, ya? Aku

benar-benar tidak tahu, kau marah-marah. Hayo jelaskan, apa

sih yang dinamakan jai-hwa-cat itu? Kakek itu menjemukan,

buruk kasar dan menjijikkan, tapi ia seperti seorang pendeta.

Apakah jai-hwa-cat itu seorang pendeta? Setahuku, pendeta

suka memetik daun-daun dan menggali, akar-akar untuk obat.

Memetik bunga (jai-hwa) untuk apa?”

“Kau benar bodoh, Mutiara Hitam!

Pendeta itu hanya berkedok pendeta, akan tetapi di balik

kedoknya, ia penjahat yang sejahat-jahatnya. Yang

dimaksudkan bunga adalah seorang gadis atau seorang wanita

muda. Dia bukan memetik bunga biasa, melainkan tukang

culik dan ganggu gadis-gadis muda, Kaulihat dua belas gadis

itu….”

“Hemm, mereka itu orang-orang tidak punya guna. Mereka

mau saja dijadikan barang sumbangan. Perlu apa dipikirkan

boneka-boneka hidup itu?”

“Mereka dipaksa!”

“Ih, aku tidak melihat mereka dipaksa. Mereka berjalan

dengan sukarela sama sekali tidak melawan.”

“Mereka orang-orang lemah, bagaimana berani melawan?”

Kwi Lan mengangkat kedua pundak. Ia tetap tidak

mengerti dan tidak mempedulikan nasib dua belas orang

wanita tadi. Hauw Lam makin mendongkol. Gadis aneh yang

telah merampas hatinya ini agaknya selain berwatak luar

biasa, juga, hatinya keras dan tidak mempedulikan nasib

orang lain.

Tiba-tiba terjadi keributan kembali dan masuklah dari

ruangan depan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih

tinggi kurus dan wajahnya tampang sikapnya agung dan

pakaiannya biarpun tidak baru, namun bersih dengan

potongan pakaian pelajar. Di pinggang orang ini tergantung

sebatang pedang. Begitu masuk, semua orang tahu bahwa

pelajar tua ini sedang marah, sepasang matanya yang tajam

mengeluarkan sinar. Ia langsung melangkah lebar ke dalam

ruangan tamu, berhenti di depan Sin-seng Losu lalu

menudingkan telunjuknya dan berteriak.

“Sin-eng Losu! Bagaimana pertanggunganjawabmu

terhadap Thian-liong-pang? Kulihat betapa Thlan-liong-pang

berubah menjadi perkumpulan iblis yang jahat dan yang

mengotorkan nama kami para patriot Hou-han! Tadinya

melihat muka mantumu, Siangkoan Bu yang gagah perkasa

dan dapat membawa Thian-liong-pang ke jalan benar, aku

masih bersabar menyaksikan sepak terjangmu. Akan tetapi

setelah Siangkoan Bu meninggal, kau dan murid-muridmu

makin merajalela melakukan kejahatan-kejahatan yang keji,

menyeret nama bersih Thian-liong-pang sebagai tempat

perkumpulan para patriot Hou-han menjadi perkumpulan

bangsat-bangsat dan penjahat-penjahat!”

Mendengar ucapan ini Ma Kiu melompat bangun diturut

sebelas orang adik seperguruannya. “Heh, orang she Ciam!

Engkau dahulu memang tokoh Thian-liong-pang, akan tetapi

dengan kehendakmu sendiri kau pergi mengundurkan diri

sehingga kalau tidak ada Suhu kami, tentu Thian-liong-pang

sudah bubar dan hancur diperhina orang lain. Kini Thian-liongpang

menjadi perkumpulan yang besar, dihormati orang di

dunia kangouw, dan kau berani datang bersikap kurang ajar

terhadap Suhu? Apakah kau sudah bosan hidup?”

“Ciam-sicu, mengingat engkau masih bekas pemimpin

Thian-liong-pang dan mengingat akan hubungan kita yang

lalu, biarlah kumaafkan kata-katamu yang kasar tadi.”

Terdengar Sin-seng Losu berkata tenang. “Akan tetapi

katakanlah mengapa datang-datang kau memaki dan marahmarah?

Bukankah anak buahku sudah pula memberi kabar

kepadamu dan memberi undangan?”

“Aku tidak peduli akan upacara pengangkatan ketua baru,

asal saja Thian-liong-pang dibawa ke jalan benar. Akan tetapi,

aku sedang mengejar Ci-lan Sai-kong Si Penjahat Pemetik

Bunga yang terkutuk, yang telah menculik belasan orang

gadis. Siapa kira, dua belas orang gadis itu diculiknya untuk

diantarkan ke sini! Hayo menyangkallah kalau bisa! Bukankah

Sai-kong keparat itu mengantarkan mereka ke sini sebagai

sumbangan? Beginikah wataknya para pimpinan Thian-liongpang

sekarang? Begini rendah dan bejat?”

“He-heh, Ciam-sicu. Apa pun yang dipersembahkan orang,

kalau itu merupakan sumbangan, tidak baik untuk ditolak.

Menolaknya berarti menghina dan tidak menghargai maksud

baik orang lain. Memang kami telah menerima sumbangan Cilan

Sai-kong. Akan tetapi kalau kau menghendaki mereka,

biarlah kuberikan mereka kepadamu,” Kembali Ketua Thianliong-

pang itu berkata penuh kesabaran. Ia sebetulnya tidak

takut terhadap orang she Ciam itu, akan tetapi mengalah

karena mengingat akan perhubungan mereka yang lalu. Ciam

Goan ini dahulu adalah seorang di antara pimpinan Thianliong-

pang dan terkenal aktif serta setia terhadap

perkumpulan. Baru sepuluh tahun yang lalu, karena makin

tidak suka akan sepak terjang pimpinan baru ia

mengundurkan diri dan t idak pernah mencampuri Thian-liongpang.

Baru sekarang ia tiba-tiba muncul dan marah-marah

karena melihat betapa penjahat pemetik bunga yang dikejarkejarnya

itu memberikan gadis-gadis culikannya sebagai

sumbangan kepada pimpinan Thian-liong-pang!

“Sin-seng Losu! Kau masih mempunyai rasa malu, itu

bagus. Lekas bebaskan dua belas orang gadis itu dan

selanjutnya aku tidak akan mencampuri urusan Thian-liongpang

lagi karena semenjak saat ini, aku bersumpah takkan

sudi lagi menginjak lantai ini!”

Mendengar kata-kata ini, Sin-seng Losu menoleh ke arah

dua belas orang muridnya. Sikapnya jelas hendak mengalah

dan gerakan mukanya merupakan perintah agar muridmuridnya

membebaskan dua belas orang gadis sumbangan Cilan

Sai-kong. Di dalam hatinya Ma Kiu dan adik-adiknya

merasa mendongkol dan marah sekali. Mereka memang suka

dengan wanita-wanita cantik, akan tetapi bagi mereka amat

mudah mendapatkan wanita cantik, baik dengan

mengandalkan uang, kedudukan, maupun kepandaian dan

tentu saja mereka tidak begitu kukuh,untuk menahan dua

belas orang gadis tadi. Akan tetapi, sikap Ciam Goan amat

merendahkan mereka dan kalau mereka mengalah, mereka

merasa malu kepada para tamu. Selain itu, mereka pun tahu

bahwa gurunya mengalah hanya karena mengingat bahwa

Ciam Goan ini dahulu bekas pemimpin Thian-liong-pang. Soal

kepandaian, sungguhpun Ciam Goan cukup lihai, namun

mereka tidak gentar menghadapinya. Karena inilah, Ma Kiu

menjadi ragu-ragu untuk menyetujui sikap gurunya yang

mengalah.

Pada saat itu, terdengar suara ketawa keras dan Ci-lan Saikong

sudah melompat bangun menghadapi Ciam Goan. Sambil

bertolak pinggang orang tinggi besar itu tertawa dan berkata.

“Huah-ha-ha-ha! Cacing kurus yang bicara besar dan

sombong! Engkau bilang mengejar dan mencari pinceng? Dua

belas tangkai bunga itu adalah pinceng yang menyumbangkan

kepada dua belas orang gagah Thian-liong-pang, dan karena

pinceng masih berada di tempat ini, masih menjadi tanggung

jawab pinceng!”

“Bagus! Memang aku akan membunuhmu, jai-hwa-cat!”

bentak Ciam Goan dengan marah. Bekas tokoh Hou-han ini

tidak peduli akan semua tamu lain karena kemarahannya

sudah meluap-luap. Yang membuat marah sekali bukan hanya

melihat penjahat cabul penculik gadis-gadis remaja itu,

melainkan terutama sekali karena melihat betapa Thian-liongpang

yang tadinya menjadi harapan para patriot Hou-han

untuk membangun kembali kerajaan yang sudah runtuh, kini

ternyata menyeleweng menjadi sarang penjahat kejam

terkutuk. Maka kini dengan kemarahan meluap ia mencabut

pedangnya dan langsung menerjang Sai-kong itu dengan

tusukan kilat ke arah dada, Harus diketahui bahwa Ciam Goan

ini adalah putera tunggal mendiang Ciam-ciangkun seorang

panglima Kerajaan Hou-han dan dalam hal ilmu pedang, ia

telah digembleng oleh seorang pamannya, adik ibunya, juga

seorang panglima, yaitu Panglima Giam Siong yang terkenal

jagoan. Ilmu pedangnya bersumber kepada ilmu pedang Kunlun-

pai, maka mengutamakan kecepatan gerak dan

perubahan.

Mendengar suara angin pedang berdesing dan melihat

serangan yang cepat ini, Ci-lan Sai-kong tidak berani

memandang rendah. Sambil berseru keras ia sudah meloncat

mundur sambil mengibaskan lengan bajunya yang lebar

dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sudah

menghunus keluar sebatang golok tipis yang mengkilap saking

tajamnya.

Ujung pedang di tangan Ciam Goan sudah datang lagi

dengan tusukan kearah leher. Kini Ci-lan Sai-kong

menggerakkan goloknya menangkis sambil mengerahkan

tenaganya. Sai-kong ini adalah seorang ahli gwa-kang (tenaga

luar) sehingga tenaganya amat besar. Terdengar bunyi

nyaring ketika dua senjata beradu. Diam-diam Ciam Goan

terkejut sekali. Untung tadi sudah menduga akan besarnya

tenaga lawan, sehingga ia telah mengerahkan Iwee-kang dan

ketika pedangnya ditangkis, ia dapat menghadapi tenaga

keras dengan tenaga lemas. Dengan cara ini, walaupun

tertangkis keras, pedangnya tidak terpental melainkan

menempel pada golok sehingga tidak ada bahaya terlepas

atau rusak.

Selagi Sai-kong itu terkejut karena tangkisannya yang keras

tidak berhasil membuat pedang lawan terpukul jatuh, Ciam

Goan sudah membuat pedangnya meleset dan langsung

dengan gerakan nyerong pedangnya itu menyambar ke arah

lengan kanan lawan. Inilah jurus ilmu pedang Kun-lun yang

bernama Hunin-toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung),

amat berbahaya karena yang diserang bukan bagian tubuh

lain melainkan lengan kanan yang memegang golok! Hebatnya

jurus ini adalah karena pedang itu akan terus mengulang

gerakannya membabat dari kanan ke kiri dan sebaliknya tanpa

memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang.

Kecepatannya mengandalkan kepada gerak pergelangan

tangan, maka cepatnya bukan main dan lawan yang diserang

tentu akan menjadi bingung.

Demikian pula dengan Ci-lan Sai-kong. Melihat pedang

lawannya membabat ke arah lengan kanannya, ia kaget sekali

dan cepat ia menarik lengan kanannya sambil memutar golok,

siap membalas. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pedang

yang lewat ke sebelah kirinya itu kini membalik dengan

kecepatan kilat dan telah membabat lagi ke arah

pinggangnya! Tak disangkanya lawan akan dapat mengulangi

serangan sedemikian cepatnya, maka ia pun menggerakkan

golok menangkis. Namun tetap saja Ciam Goan dapat terus

menyambung serangannya, begitu tertangkis, pedangnya

membalik dan meluncur dengan babatan dari samping,

demikian pula kalau dielakkan sehingga Sai-kong itu

mengalami penyerangan berantai yang membuat dia repot

menyelamatkan diri.

Akan tetapi, Ci-lan Sai-kong juga bukan seorang lemah.

Selain memiliki dasar ilmu silat tinggi, juga ia sudah kenyang

akan pengalaman bertanding. Inilah sebabnya maka

menghadapi serangan Hun-in-toan-san yang amat lihai ini ia

pun tidak kekurangan akal. Melihat betapa pedang lawan

selalu membabat dari kanan ke kiri dan sebaliknya, sedangkan

yang diserang adalah pinggang ke atas, tiba-tiba ia

mengeluarkan bentakan keras dan tubuhnya lalu rebah dan

menggelinding ke atas tanah. Ia tidak hanya menggelinding

untuk menyelamatkan diri, melainkan juga berguling untuk

mendekati lawan dan goloknya menyambar-nyambar dari

bawah, membabat kaki lawan dan juga ada kalanya menusuk

ke arah perut. Inilah Tee-tong-to (Ilmu Golok Bergulingan)

yang amat berbahaya. Segera keadaan menjadi berubah.

Kalau tadi Ciam Goan berada di pihak penyerang dan

pendesak dengan jurus Hun-in-toan-san, kini Si Penjahat

Pemetik Bunga itu yang mendesak dengan Tee-tong-to. Ciam

Goan menjadi repot sekali, harus meloncat ke sana ke mari

dan pedangnya melindungi tubuh bagian bawah, bagian yang

amat sulit dilindungi dengan pedang.

“Wah, ramai betul!” Hauw Lam berkata dengan wajah

gembira. “Kalau t idak hati-hati orang she Ciam itu tentu akan

celaka.”

“Tidak mungkin!” bantah Kwi Lan.

“Biarpun ilmu pedangnya hanya permainan kanak-kanak,

sedikitnya ia lebih baik daripada brewok itu.”

“Hauw Lam melirik ke arah gadis ini. Terlalu sombongkah

gadis ini, atau memang betul-betul berkepandaian begitu

tinggi sehingga menganggap ilmu pedang Ciam Goan yang

jelas bersumber ilmu pedang Kun-lun itu dianggap permainan

kanak-kanak.

“Kumaksudkan bukan dalam pertandingan melawan Saikong

itu. Melawan dia, kiranya takkan kalah karena kulihat

Sai-kong itu hanya luarnya saja kelihatan kuat, akan tetapi

dalamnya sudah lapok seperti pohon tua, napasnya sudah

hampir putus. Yang kukhawatirkan adalah orang-orang ThianTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

liong-pang. Lihat saja sikap Dua Belas Naga itu dan kurasa

Ciam Goan belum tentu akan dapat meninggalkan tempat ini

dengan selamat.”

Kini Kwi Lan yang merasa heran. Ia tidak berkata apa-apa,

akan tetapi hatinya penasaran. Ia belum berpengalaman

seperti Hauw Lam, tidak mengenal watak orang-orang kangouw.

Sementara itu, pertandingan antara dua orang itu makin

seru. Kini Ci-lan Sai-kong t idak lagi menggunakan Tee-tong-to

karena setelah puluhan jurus ia lakukan tanpa hasil, ia

menjadi kelelahan sendiri. Memang Tee-tong-to sungguhpun

lihai dan berbahaya bagi lawan, namun untuk memainkannya

membutuhkan tenaga dan napas panjang. Adapun Ci-lan Saikong,

sungguhpun terlatih baik dan banyak pengalaman,

namun tepat seperti dikatakan Hauw Lam tadi di sebelah

dalam tubuhnya ia sudah lemah. Sai-kong ini adalah seorang

abdi nafsu, seorang yang selalu mengumbar nafsu sehingga

tentu saja kekuatan-kekuatan sebelah dalam tubuhnya

menjadi lemah dan mana ia mampu bertahan melawan

seorang yang ulet dan kuat seperti Ciam Goan? Kini

keringatnya sudah membasahi muka dan leher, napasnya

mulai terengah-engah seperti orang dikejar setan.

Melihat keadaan lawan ini, Ciam Goan lalu mendesak dan

menerjang dengan jurus Seng-siok-hut-si (Musim Panas Kebut

Kipas). Jurus ini amat gencar seperti gerakan kipas di tangan,

bahkan lebih gencar serangannya daripada jurus Hun-in-toansan

tadi. Tiga kali Sai-kong itu mengelak dan menangkis,

keempat kalinya ketika ujung pedang menotok iga kiri, ia

cepat melakukan jurus Hwai-tiong-po-gwat (Peluk Bulan

Depan Dada) untuk melindungi iganya dengan golok sambil

tangan kirinya bergerak memukul dada lawan. Namun siapa

kira, Ciam Goan sudah merobah gerakan pedangnya, ia tidak

jadi menotok iga, melainkan memutar pedangnya ke kanan

dan…. “crakkkk!” lengan kiri Sai-kong itu terbabat putus

sebatas siku!

“Aduhh….!” Sai-kong itu terhuyung dan Ciam Goan sudah

menerjang maju untuk mengirim tusukan terakhir. Akan tetapi

pada saat itu tampak sinar putih meluncur cepat dan

“traanggg….!” pedang di tangan Ciam Goan terpental dan

lepas dari pegangannya. Sebatang sumpit gading yang tadi

menghantampedang itu jatuh ke atas lantai di depannya.

Pucat wajah Ciam Goan. Kiranya Ma Kiu yang

menyambitkan sumpit itu untuk menangkis pedangnya dan

menyelamatkan nyawa Ci-lan Sai-kong. Lemparan sumpit saja

sudah dapat meruntuhkan pedangnya. Baru lemparan sumpit

begitu hebat, apalagi kalau orangnya maju! Ciam Goan

menghela napas dan berkata,

“Kepandaian Thai-lek-kwi memang hebat. Seorang saja

sudah sehebat itu, apalagi kalau Cap-ji-liong dari Thian-liongpang

maju bersama. Akan tetapi aku Ciam Goan seorang lakilaki

yang tidak takut mati. Majulah kalian semua dan mari kita

mengadu nyawa di sini!” Sikap Ciam Goan benar-benar amat

gagah sehingga diam-diam Kwi Lan menjadi kagum sekali.

Diam-diam gadis ini sudah siap-siap untuk membela orang

gagah itu. Ia mendengar kawannya berbisik, “Kalau dia.

dikeroyok, hemmm…. akan kucabuti semua rambut dari muka

Ma Kiu berikut bulu-bulu hidungnya!” Mau tidak mau Kwi Lan

tertawa geli mendengar ucapan ini. Karena gadis wajar dan

polos, maka suara ketawanya tidak ia tahan-tahan. Padahal

waktu itu, keadaan sudah amat tegang dan amat sunyi. Tidak

ada suara keluar dari para tamu yang menanti perkembangan

selanjutnya yang menegangkan. Tentu saja suara ketawa

gadis ini terdengar jelas.

Sin-seng Losu lalu bangkit berdiri. Suara ketawa Kwi Lan

tadi seakan-akan menampar mukanya dan ia berkata,

“Sudahlah kami sedang hendak melakukan upacara penting

tidak perlu pertandingan dilanjutkan berlarut-larut. Apalagi,

kami tidaklah serendah itu untuk melakukan pengeroyokan

terhadap seorang yang tidak berapa pandai seperti Ciam-sicu,

kau sudah berhasil mengalahkan Ci-lan Sai-kong, nah, tidak

lekas pergi dari sini mau tunggu apa lagi?”

Ciam Goan menghela napas dan berkata, “Aku harus tahu

diri, tak mungkin dapat melawan kalian. Biarlah dua belas

orang gadis ini tersiksa di sini, aku tidak berdaya menolong.

Akan tetapi ingat, Ciam Goan bukan seorang yang mudah

melupakan kejahatan macam ini. Lain kali kita bertemu pula!”

Setelah berkata demikian, Ciam Goan memungut pedangnya

lalu pergi meninggalkan tempat itu. Ci-lan Sai-kong sudah

ditolong dan diobati lengannya yang buntung, tempat itu

sudah dibersihkan oleh pelayan dan Ci-lan Sai-kong sudah

disuruh mengaso di kamar belakang.

“Cu-wi sekalian dipersilakan berdiri, upacara akan dilakukan

sekarang juga!” Sin-seng Losu berseru keras dan semua tamu

bangkit berdiri dari tempat duduk masing-masing. Biarpun

merasa tak senang, Kwi Lan yang melihat Hauw Lam berdiri

dengan muka melucu, terpaksa bangkit juga. Suasana kembali

menjadi sunyi sehingga langkah seorang murid kepala Thianliong-

pang yang membawa panci, diikuti saudara-saudaranya,

terdengar nyata. Sambil berlutut murid itu memberikan panci

kepada Sin-seng Losu yang sudah bangkit berdiri dari

kursinya. Dengan kedua tangan ia memegang panci itu dan

pada saat itu Thai-lek-kwi Ma Kiu maju dan berlutut

menghadap para tamu. Seorang murid lain datang pula dari

belakang dan terdengarlah hiruk-pikuk suara anjing

menggonggong. Kiranya murid ini datang menyeret seekor

anjing hitam ke depan gurunya. Tanpa berkata sesuatu Sinseng

Losu menggerakkan tangan kiri dengan dua jari terbuka,

menusuk leher anjing hitam itu. Terdengar anjing itu menguik

keras akan tetapi oleh murid tadi ekornya dipegang dan

tubuhnya diangkat ke atas. Dari lehernya yang berlubang

bercucuran darah yang ditampung oleh Sin-seng Losu ke

dalam panci tadi. Anjing tadi meronta-ronta dan

menguiknguik, akhirnya darahnya habis dan ia berhenti

berkelojotan. Bangkainya lalu dilemparkan ke sudut oleh Si

Murid yang lalu mengundurkan diri. Beberapa orang pelayan

lalu mengangkat bangkai itu ke belakang dan Kwi Lan

mendengar suara Hauw Lam berbisik di belakangnya, “Hemm,

tentu dimasak daging anjing itu.”

“Ihhh….!” Kwi Lan berseru kaget, akan tetapi mereka lalu

mengalihkan perhatian lagi ke tengah ruangan di mana Sinseng

Losu memegang panci berisi darah anjing hitam. Kakek

ini lalu mengangkat panci tinggi-tinggi dan berkata.

“Dengan disaksikan oleh Cu-wi sekalian, dan dengan syarat

sudah ditentukan dalam perkumpulan Thian-liong-pang kami,

saat ini aku menyerahkan kedudukan Pangcu (Ketua) kepada

muridku yang pertama, Ma Kiu. Nyawa anjing hitam itu

menjadi saksi dan darahnya menghalau semua iblis yang

hendak mengganggu tugasnya!” Setelah berkata demikian,

Sinseng Losu menyiramkan darah anjing hitam itu ke atas

kepala Ma Kiu yang botak!

“Ihhh….!” kembali Kwi Lan berseru dan seperti terpesona ia

pun menuangkan kecap dari botol ke dalam cangkirnya

sampai penuh! Kecap itu kental dan merah seperti darah.

“Hemmm, benar-benar keji dan kotor.” bisik Hauw Lam di

belakangnya. “Mutiara Hitam, aku sudah muak dan gatal-gatal

tanganku diam saja sejak tadi di sini. Apakah menyaksikan

lagak badut-badut ini kita harus diam saja? Hayo kau

ramaikan tontonan di sini, kautarik perhatian mereka dan aku

akan masuk menolong gadis-gadis tadi. Atau aku yang

memancing keributan sedangkan kau yang menolong ….?”

“Ah, peduli amat dengan mereka. Kalau kau mau

menolong, pergilah. Aku…. aku ingin mencoba sampai di

mana kelihaian mereka ini!”

Hauw Lam mengangguk lalu diam-diam ia menyelinap pergi

menggunakan kesempatan selagi semua orang mencurahkan

perhatian kepada upacara pengangkatan ketua baru. Kwi Lan

yang memang sejak tadi mendongkol dan tidak senang,

mendengar niat Hauw Lam hendak menolong dua belas orang

gadis-gadis itu, entah mengapa hatinya makin tidak senang

lagi. Dan kini ia ingin menumpahkan kemarahan hatinya

kepada orang-orang Thian-liong-pang. Ia membawa cangkir

kecap itu menuju ke depan, lalu berkata.

“Pangcu yang baru diangkat dengan siraman darah anjing.

Kalau dia suka darah biarlah aku mengucapkan selamat

dengan darah naga ini!” Kwi Lan tersenyum manis dan begitu

ia menggerakkan tangan kanan, “darah” dalam cangkirnya

menyiram keluar dan dengan kecepatan luar biasa

menyambar kepala dan muka Ma Kiu yang masih berlepotan

darah akan tetapi sudah duduk di kursi ketua yang tadi

diduduki suhunya!

Namun Ma Kiu memang lihai. Tanpa turun dari kursinya, ia

mengerahkan tenaga dan…. berikut kursi yang didudukinya ia

telah meloncat kursinya itu telah pindah ke kiri sejauh satu

meter! Akan tetapi karena sambaran kecap itu luar biasa

cepatnya, ia tidak dapat menghindarkan lagi sebagian kecap

menyiram pipinya dan memasuki mulutnya. Ketika ia tahu

bahwa yang menyiram mukanya adalah kecap, mengertilah

Ma Kiu bahwa gadis itu sengaja mencari gara-gara. Akan

tetapi karena tadi mengira bahwa gadis itu adalah utusan Jincam

Khoa-ong, Ma Kiu masih menahan kemarahannya, lalu

berseru dengan nada marah.

“Nona sebagai tamu yang kami hormati, sebagai utusan

Pak-sin-ong yang kami muliakan, apakah arti perbuatanmu

ini?”

Kwi Lan tersenyum mengejek. Sejak tadi ia sudah t idak

senang kepada mereka, terutama Ma Kiu. Ia memang tidak

peduli akan nasib dua belas orang wanita muda tadi, akan

tetapi mereka itu ia anggap terlalu sombong, tidak

memandang mata kepadanya sehingga melakukan apa saja di

depannya seakan-akan ia tidak akan bisa berbuat sesuatu!

Memang watak Kwi Lan aneh sekali dan ia hanya selalu

menurutkan perasaan hatinya. Kalau perasaan hatinya suka,

seperti terhadap Hauw Lam, ia pun akan bersikap baik.

“Artinya, Brewok, bahwa aku setuju dengan ucapan orang

she Ciam tadi, bahwa Thian-liong-pang dipimpin oleh orangorang

yang busuk! Bahwa kuanggap engkau seorang yang

suka mandi darah anjing hitam, tak patut menjadi Ketua

Thian-liong-pang, patutnya menjadi tukang jagal anjing!”

Semua orang terbelalak kaget mendengar ini dan semua

tamu menahan napas. Omongan itu merupakan penghinaan

yang tiada taranya! Apalagi bagi mereka yang mengenal

bahwa dahulunya Ma Kiu adalah seorang tukang jagal, maka

omongan gadis itu yang entah disengaja atau tidak mereka

tidak tahu tentu amat menyakitkan hati ketua baru Thianliong-

pang ini. Dan memang sesungguhnyalah, setelah sesaat

terbelalak seperti arca saking kaget dan herannya, wajah Ma

Kiu perlahan-lahan menjadi merah sekali sampai ke

telinganya. Kedua tangannya mencengkeram lengan kursinya

dan kalau ia tidak ingat bahwa kursi itu adalah kursi ketua

tentu telah diterkamnya hancur lengan kursi itu untuk

melampiaskan kemarahannya.

“Bocah kurang ajar!” bentaknya, Suaranya menggetar

saking marahnya. “Biarpun engkau utusan dari utara, apa

kaukira kau boleh bersembunyi di balik nama Jin-Cam Khoaong

untuk menghinaku?”

Kwi Lan tertawa, menggunakan tangan kanannya secara

main-main meremas cangkir bekas kecap tadi sehingga

cangkir itu hancur lebur menjadi tepung dalam genggaman

tangannya yang berkulit halus lalu berkata.

“Siapa bilang aku kaki tangan Jin-cam Khoa-ong? Biar dia

algojo manusia maupun algojo anjing seperti engkau, aku

sama sekali tidak mengenalnya. Siapa kesudian bersembunyi

di belakang namanya?”

Mendengar ini, kembali semua orang melengak kaget.

Kalau dara remaja itu tadi bersikap ugal-ugalan dan kurang

ajar, mereka semua mengira bahwa gadis itu adalah

kepercayaan Jin-cam Khoa-ong dan hal itu tidaklah begitu

aneh. Akah tetapi setelah kini gadis itu sendiri menyangkal

menjadi orang Pak-sin-ong dan berani menghina tokoh besar

itu pula di depan orang banyak, benar-benar mereka menjadi

kaget dan heran sekali. Gilakah dara remaja ini? Kalau gila,

alangkah sayangnya, dara remaja begitu cantik jelita!

Lebih-lebih lagi Ma Kiu sendiri. Kemarahannya meluap-luap

dan diam-diam ia pun lega bahwa dara ini bukan utusan Jincam

Khoa-ong, karena dengan kenyataan ini ia boleh berbuat

sesuka hatinya, terhadap gadis ini. “Bagus!” teriaknya sambil

bangkit berdiri. “Kalau begitu, biarlah kau menjadi tawanan

kami dan akan kaurasakan penderitaan yang akan membuat

kau merindukan kematian!” Dalam suara ini terkandung

ancaman yang hebat dan mengerikan. Akan tetapi Kwi Lan

tidak mengenal apa itu artinya takut danngeri. Ia malah

tertawa.

“Sudah, jangan membadut lagi. Sudah sejak tadi aku muak

mendengar dan melihat segala yang terjadi di sini. Lekas

keluarkan kuda hitamku, Nonamu hendak pergi!” Sambil

berkata demikian Kwi Lan menggunakan tangan kiri untuk

mengebut-ngebutkan bajunya. Karena ia baru saja melakukan

perjalanan jauh bersama Hauw Lam dengan naik kuda, tentu

saja pakaiannya banyak debunya dan begitu ia kebutkebutkan,

debu mengepul ke sekelilingnya dan mengotori

meja-meja tamu lainnya.

“Wanita keparat! Kau belum tahu lihainya tuan besarmu!”

Thai-lek-kwi Ma Kiu sudah tak dapat menahan kemarahannya

lagi dan kini hendak melangkah maju. Akan tetapi terdengar

suara Sin-seng Losu di belakangnya.

“Seorang ketua tidak sepatutnya melayani segala anak

kecil. Apakah Thian-liong-pang sudah tidak ada orang lain

untuk membereskan kuda betina liar ini? Hayo, siapa berani

maju menangkapnya? Tangkap dan bawa ke kamarku, aku

butuh yang liar macam ini untuk menambah semangatku!”

Untung bahwa Kwi Lan masih hijau dan t idak tahu apa

yang dimaksudkan kakek ini. Kalau ia tahu tentu ia takkan

dapat menahan kemarahannya lagi. Tiba-tiba dari golongan

tamu melompat keluar seorang laki-laki muda yang berpakaian

tambal-tambalan namun bersih. Pengemis muda ini menjura

ke arah kursi ketua dan berkata.

“Betul apa yang dikatakan Losuhu tadi. Thian-liong-pang

tidak perlu repot-repot, di antara tamu-tamu yang hadir masih

banyak yang sanggup menangkap bocah ini. Biarlah saya

menangkap siluman cantik ini untuk Thian-liong-pang!”

“Ha-ha-ha, sahabat-sahabat dari Hek-coa Kai-pang

memang selalu merupakan sahabat-sahabat baik kami. Tidak

percuma bersahabat dengan Hek-coa Kai-pang. Silakan Siauwsicu”

kata Sin-seng Losu.

Pengemis muda itu dengan lagak sombong, mengangkat

muka dan membusungkan dadanya, melangkah maju

menghampiri Kwi Lan. Dia adalah seorang di antara dua

pengemis muda yang tadi dipaksa menelan daging kambing

oleh Kwi Lan, maka tentu saja ia tidak menyia-nyiakan

kesempatan ini untuk membalas penghinaan tadi. Akan tetapi

karena wataknya memang mata keranjang, begitu melihat

wajah jelita, hatinya sudah berdebar-debar dan timbul niat

hatinya untuk mempermainkan Kwi Lan. Ia tersenyum dibuatbuat,

matanya memandang kurang ajar, dan berkata,

“Nona kecil bermulut besar! Kau tidak tahu tingginya langit

lebarnya bumi! Berani mengacau Thian-liong-pang dan tidak

memandang sebelah mata kepada para tamunya. Dosamu

besar sekali dan sudah sepatutnya kau dihukum mati. Akan

tetapi tuan mudamu yang melihat bahwa kau masih muda

remaja dan cantik jelita, bersedia memberi ampun asal saja

kau suka berlutut dan menganggukkan kepala delapan kali

lalu berjanji akan melayani dengan manis segala kehendak

Sin-seng Losuhu dan…. aduuuhhh….” Pengemis muda itu

tidak melanjutkan kata-katanya karena ia keburu mati dengan

gosong dan tulang-tulangnya remuk.

Pukulan Kwi Lan yang disertai kemarahan hebat itu

membuat ia terlempar sampai menimpa meja di depan Ma Kiu

si ketua baru!

Kagetlah semua yang hadir di situ. Terutama sekali lima

orang pengemis anggauta Hek-coa Kai-pang yang melihat

seorang saudaranya dalam segebrakan saja terpukul tewas,

segera melompat bangun dari tempat duduk masing-masing.

Saudara muda mereka tadi, biarpun bukan anggauta pimpinan

teratas dari Hek-coa Kai-pang, namun merupakan seorang

tokoh yang memiliki ilmu kepandaian tinggi juga.

Bagaimanakah dapat roboh binasa hanya sekali pukul oleh

gadis remaja itu? Sekali melompat mereka tiba di dekat meja

Ketua Thian-liong-pang yang tertimpa tubuh saudara muda

mereka dan begitu melihat dada dan muka pengemis muda itu

biru menghitam, mereka mengeluarkan seruan kaget dan

marah. Hek-coa Kai-pang adalah perkumpulan pengemis dunia

hitam yang terkenal akan kelihaian mereka bermain racun.

Kini seorang anggauta mereka tewas oleh pukulan yang

mengandung racun hebat!

“Thian-liong-pangcu, maafkan kami yang terpaksa harus

turun tangan terhadap siluman betina ini!” berkata seorang di

antara lima orang pengemis itu kepada Ma Kiu. Setelah

berkata demikian lima orang pengemis ini sudah meloncat dan

mengurung Kwi Lan yang berdiri dengan sikap tenang. Di

tangan mereka tampak pedang yang sudah siap untuk

menerjang dan mengeroyok. Akan tetapi melihat pukulan

beracun yang hebat itu, pula mendengar bahwa gadis itu tadi

menyangkal sebagai utusan Pak-sin-ong, pengemis tertua

berlaku hati-hati dan berkata.

“Nona muda, engkau sudah berani lancang tangan

membunuh seorang di antara saudara kami. Hayo mengaku,

siapakah engkau dan dari partai mana agar kami dapat

mempertimbangkan t indakan kami selanjutnya terhadap

dirimu.” Kata-kata ini mengangkat kedudukan para pengemis

itu ke tempat atas dan memang inilah yang dimaksudkan oleh

pengemis itu untuk menutup rasa malu karena mereka berlima

mengurung seorang nona muda.

“Apakah kau tuli? Tadi sudah diperkenalkan namaku

Mutiara Hitam, bukan dari partai manapun juga. Saudaramu

mampus oleh tingkahnya sendiri. Apakah masih ada lagi yang

sudah ingin mampus? Kalau ada, boleh maju biar aku

membantunya pergi ke neraka agar dunia ini tidak terlalu

kotor. Kalau tidak ada, hayo keluarkan kuda hitam, Nonamu

sudah jemu dan ingin pergi dari sini.”

Pengemis tua itu tak dapat menahan kemarahannya dan

berseru. “Saudara-saudara, kalau kita tidak dapat membalas

kematian saudara muda kita, percuma saja menjadi anggauta

Hek-coa Kai-pang!” Seruan ini merupakan komando bagi

teman-temannya dan serentak mereka menggerakkan pedang

mengirim serangan. Akan tetapi lima orang pengemis ini

hanya melihat Si Nona t idak berpindah tempat melainkan

menggerakkan kedua tangannya dan…. pedang mereka

membalik dan menghantam diri mereka sendiri. Benar-benar

amat luar biasa gerakan kedua tangan Kwi Lan ini. Setiap

sambaran pedang ia sambut dengan tangan terbuka dan

dengan gerakan aneh yang mengeluarkan hawa pukulan amat

kuatnya, pedang yang menyambar dadanya membalik ke dada

Si Pemegang Pedang, yang menyambar pundak membalik ke

pundak Si Penyerang dan demikian seterusnya sehingga

terdengar teriakan-teriakan kesakitan ketika lima orang

pengemis ini roboh berturut-turut oleh bacokan-bacokan dan

tusukan-tusukan mereka sendiri!

Melihat gerakan luar biasa yang mendatangkan akibat aneh

itu, Ma Kiu yang berkepandaian tinggi maklum bahwa biarpun

masih amat muda, gadis itu benarbenar lihai sekali. Kalau

tidak lekas turun tangan membekuk atau membinasakan gadis

yang mengacau perkumpulannya ini tentu setidaknya akan

mengurangi keangkeran Thian-liong-pang, demikian pikirnya.

Maka ia lalu berseru. “Tangkap siluman ini!” Ia memberi

isyarat dan sebelas orang adik seperguruannya mengikuti

gerakannya menghampiri Kwi Lan. Gadis ini teringat akan

cerita Hauw Lam akan kehebatan Cap-ji-liong yang katanya

disegani oleh tokoh-tokoh kang-ouw, maka ia bersikap hatihati

namun wajahnya tetap berseri dan bibirnya tersenyum

mengejek.

“Inikah yang disebut Dua Belas Ekor Naga dari Thian-liongpang?

Hemm, Sungguh gagah!” kata Kwi Lan sambil

tersenyum.

Merah muka Ma Kiu. Sebagai ketua baru Thian-liong-pang,

sungguh amat memalukan kalau ia harus maju bersama

sebelas orang sutenya untuk mengeroyok seorang gadis

remaja. Nama Cap-ji-liong sudah tersohor. Masa kini

menghadapi seorang gadis remaja mereka harus maju

bersama? Akan tetapi gadis ini aneh ilmu silatnya, dan kalau

sekali turun tangan Cap-ji-liong tidak mampu merobohkannya,

hal itu akan lebih memalukan lagi.

“Bocah, kalau kau sudah mendengar tentang Cap-ji-liong,

mengapa banyak tingkah? Cap-ji-liong selamanya maju

bersama. Karena kau menjadi tamu, berarti kami kurang

sopan kalau turun tangan di sini. Jika engkau benar-benar

berani kami menantangmu untuk mengadu kepandaian di

ruangan silat!”

Ucapan ini sedikit banyak menghapus rasa malu pihak

Thian-liong-pang karena berarti bahwa dua belas orang

tokohnya bukan sekali-kali hendak mengeroyok begitu saja,

melainkan telah melakukan tantangan secara berterang. Kalau

gadis ini tahu diri dan menolak tantangan lalu pergi

meninggalkan tempat itu tentu Cap-ji-liong tidak akan

menghalanginya. Semua tamu menduga bahwa, tentu gadis

itu akan mempergunakan kesempatan ini untuk pergi

menyelamatkan diri, karena melawan Cap-ji-liong berarti

mencari mati. Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika

melihat gadis itu tersenyum lebar dan menjawab,

“Kalian menantangku? Boleh, siapa takut akan

pengeroyokan kalian? Hayo, hendak kulihat seperti apa

kepandaian Cap-ji-liong!” Kwi Lan yang tidak mengenal apa

artinya takut, tentu saja tidak dapat menolak tantangan ini,

yang diucapkan dengan kata-kata “kalau ia berani!” Ia

seorang gadis remaja yang baru saja turun ke dunia ramai

sama sekali belum berpengalaman hanya mengandalkan

kepandaian luar biasa dan keberanian saja. Kalau ia

berpengalaman, tentu ia akan menaruh curiga mengapa Capji-

liong menantangnya dengan memilih tempat.

“Bagus!” seru Ma Kiu. “Mari ke lian-bu-thia (ruangan silat),

biarlah para tamu yang terhormat menjadi saksi bahwa kau

menerima tantangan Cap-ji-liong untuk bertanding di lian-buthia!”

Sambil membusungkan dada, sedikit pun tidak gentar, Kwi

Lan berjalan mengikuti Ma Kiu ke ruangan belakang di mana

terdapat ruangan silat yang luas dan berbentuk bundar.

Sebelas orang adik seperguruan Ma Kiu berjalan di

belakangnya, kemudian berbondong-bondong para tamu yang

ingin menyaksikan pertandingan itu membanjiri ruangan silat

pula.

Kini mereka telah berhadapan. Kwi Lan memperhatikan

mereka. Ma Kiu yang menjadi pimpinan berdiri di tengah

sedangkan sebelas orang lain berdiri di kanan kirinya. Mereka

tampak gagah dan keren dan melihat gerak-gerik mereka,

memang dapat dibayangkan bahwa Cap-ji-liong rata-rata

memiliki kepandaian tinggi. Juga usia dan pakaian mereka

bermacam-macam. Ada yang sudah tua, ada yang masih amat

muda. Ada yang berpakaian seperti tosu, ada yang gundul

seperti hwesio, dan ada yang berpakaian seperti pelajar.

Anehnya, kini mereka telah memakai sebuah tali yang

mengikat kepala mereka, tali yang dipasangi sebuah batu

permata kuning dan terpasang di atas dahi mereka. Juga Ma

Kiu kini memakai tali semacamitu. Ia tidak tahu bahwa itulah

tanda khas tokoh Thian-liong-pang dan batu kuning itu diberi

nama mustika naga.

“Majulah!” Kwi Lan menantang, sikapnya acuh tak acuh.

Terdengar suara “set-set-set!” teratur ketika kaki dua belas

orang itu mulai bergeser dengan cepat mengatur barisan

mengurung. Mereka tidak melangkah, tidak mengangkat kaki

melainkan bergeser sehingga sepatu mereka menimbulkan

suara di atas lantai. Keadaan menjadi hening dan tegang

semua tamu memandang ke arah Kwi Lan yang menjadi pusat

perhatian karena nona ini sudah terkurung di tengah-tengah!

Dua belas orang itu masih terus bergerak menggeser kaki

sehingga tubuh mereka bergerak mengitari Kwi Lan, suara

geseran kaki mereka kini berbunyi susul-menyusul seperti

desis ular, Kwi Lan masih berdiri diam tak bergerak, hanya biji

matanya yang bergerak-gerak, mengerling dan mengikuti

gerakan mereka di sebelah depan. Kedua telinganya

memperhatikan gerakan di belakangnya dengan seksama,

setiap urat syaraf di tubuhnya menegang, siap sedia, akan

tetapi wajahnya masih tenang dengan senyumnya mengejek

Tiba-tiba saat yang dinanti-nantikan oleh semua orang tiba.

Dengan teriakan nyaring seorang anggauta Cap-ji-liong yang

muda, bertubuh tinggi kurus bermuka seperti tikus, menerjang

Kwi Lan dari sebelah belakang. Agaknya laki-laki muda ini

tertarik oleh kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh

Kwi Lan sehingga ia menyerang bukan memukul, melainkan

memeluk ke arah pinggang dengan kedua lengannya. Namun

gerakannya ini mendatangkan angin hebat dan tak boleh

dipandang ringan. Pada detik berikutnya, anggauta lain,

seorang tosu, mengulur tangan dari sebelah kiri untuk

mencengkeram pundak, disusul serangan saudaranya dari

depan, kanan, dan kemudian dua belas orang itu sudah

bergerak serentak susul-menyusul dengan teratur baik sekali.

Gerakan mereka yang teratur itu lebih merupakan gerakan

dalam sebuah barisan dan sekaligus mereka telah menutup

semua jalan keluar bagi Kwi Lan! Kiranya Ma Kiu dan adikadiknya

tidak mau menyia-nyiakan waktu dan sekali turun

tangan mereka t idak main-main lagi.

Pendengaran Kwi Lan yang tajam mewakili matanya. Ia

tahu bahwa penyerang pertama datang dari belakang. Dengan

mudah ia mendoyongkan tubuh mengelak, kemudian secara

tiba-tiba kaki kanannya menendang ke arah tangan tosu yang

mencengkeram pundak kirinya, disambut dengan gerakan

meloncat ke atas dan melihat betapa para pengeroyoknya

turun tangan secara bergiliran, tubuhnya yang meloncat ke

atas itu tiba-tiba melakukan gerak berputaran secara cepat

sekali. Hebat bukan main gerakan gadis ini, cepat dan aneh.

Karena gerakan memutar di udara ini sukar diikuti gerakan

tangan dan kakinya, akan tetapi tahu-tahu ia telah menangkis

semua serangan lawan dengan tangan atau dengan kaki,

bahkan masih berkesempatan membagi pukulan dan

tendangan yang mengenai empat orang lawannya. Mereka

mengaduh dan berseru kaget, tak menyangka bahwa selain

dapat bergerak cepat itu, bekas tangan atau kaki gadis itu

amat berat menimpa pundak dan dada. Sesaat barisan itu

kacau, akan tetapi Ma Kiu berseru keras dan barisan menjadi

rapi kembali pada saat gadis itu sudah menurunkan tubuhnya

dan berdiri di tengahkurungan. Ia tersenyum-senyum karena

dalam gebrakan pertama ini ia berhasil memperlihatkan

kelihaiannya!

Kini para tamu menjadi berisik sekali. Mereka kagum dan

kaget bukan main. Ketika tadi dua belas orang itu menyerang

secara bertubi-tubi dan setiap serangan merupakan pukulan

dan cengkeraman yang lihai, diam-diam mereka menduga

bahwa gadis ini mencari mati. Akan tetapi siapa kira, gadis itu

dapat bergerak seperti kilat cepatnya dan hampir sukar

dipercaya betapa gadis itu bukan hanya dapat menangkis

semua serangan, juga dapat memukul dan menendang empat

orang pengeroyoknya, biarpun hal itu dilakukan cepat-cepat

dan tergesa-gesa sehingga tidak tepat kenanya.

Gerakan pertama ini membuka mata Ma Kiu. Ia maklum

bahwa biarpun dalam hal tenaga, mereka semua tidak akan

kalah oleh lawan. Akan tetapi dalam hal kecepatan gerak

maupun dalam hal ilmu silat yang luar biasa, gadis itu benarbenar

merupakan lawan tangguh. Dia tadi berlaku sungkan

sehingga mengeluarkan komando untuk bergerak satu-satu

secara bergiliran, siapa tahu, karena ia sungkan empat orang

adiknya mengalami pukulan dan tendangan. Sekali lagi ia

berseru keras dan kali ini dua belas orang itu menerjang maju

secara berbareng! Hanya lima orang yang menyerang

langsung ke arah tubuh Kwi Lan. Sedangkan yang tujuh orang

menghantam ke tengah, ke atas, ke bawah dan sekitar tempat

Kwi Lan berdiri sehingga mereka telah menutup semua jalan

keluar. Kemana pun gadis ini hendak bergerak, ia akan

disambut hantaman yang dilakukan dengan pengerahan Iweekang!

Hal ini sama sekali tak diduga oleh Kwi Lan. Gadis ini

terkejut juga, maklum bahwa keadaannya berbahaya.

Baru ia tahu bahwa Cap-ji-liong benar-benar hebat dan

tangguh. Biarpun kalau melawan mereka satu-satu, ia

sanggup merobohkan mereka itu dalam waktu singkat, akan

tetapi kalau mereka maju berbareng amatlah sukar

dilawan. Ia berseru keras, tidak bergerak dari tempatnya,

melainkan menggunakan kaki tangan menangkis dan jari

tangannya menotok ke arah pergelangan tangan lima orang

yang menyerangnya secara berturut-turut. Akan tetapi tibatiba

lima orang penyerang itu menarik kembali penyerangan

mereka dan barisan bergeser terus, disusul lima orang lain

yang menyerang secara tiba-tiba, dibantu tujuh orang yang

mencegat jalan keluar! Setiap menyerang, lima orang itu

mengambil kedudukan ngo-heng, dan setiap kali melihat

bahwa serangan itu akan gagal, barisan yang terus bergeser

itu menarik kembali serangan untuk di ulang dengan

perubahan-perubahan mendadak yang sukar untuk diduga

sebelumnya.

Kwi Lan merasa kewalahan. Dahinya yang putih halus itu

mulai berkeringat. Ia takut, akan tetapi jengkel dan penasaran

sekali! Ketika untuk kesekian kalinya lima orang lawan

menyerangnya dan kepalanya sudah mulai pening karena

mencurahkan perhatian dan menduga-duga perubahan, ia

berseru keras, mencabut pedangnya dan memutar pedang itu

ke sekelilingnya.

Tidak tampak gerakannya ini saking cepatnya. Tahu-tahu

dua belas orang itu mencium bau yang wangi dan tampak

oleh mereka sinar hijau bergulung-gulung seperti naga sakti

bermain di angkasa, seperti hawa yang dingin sekali.

“Awas…. mundur dan siapkan senjata….!” Ma Kiu berseru

keras. Barisannya melebar dengan cepat, namun masih saja

ada dua orang yang terkena serempetan ujung pedang Siangbhok-

kiam sehingga pangkal lengan mereka terluka

mengeluarkan darah. Lagi-lagi kurang tepat kenanya karena

Kwi Lan tidak menggunakan pencurahan perhatian

sepenuhnya dan tadi hasilnya inipun hanya kebetulan saja.

Bagaimana ia dapat mencurahkan perhatiannya dalam sebuah

serangan kalau lawannya yang dua belas orang banyaknya itu

selalu bergerak secara membingungkan? Kini terdengar suara

nyaring dan semua anggauta Cap-ji-liong sudah memegang

senjata masing-masing. Ada yang memegang toya, ada yang

membawa pedang, golok, thi-pian (pecut besi), siang-kek

(sepasang tombak cagak), poan-koan-pit (senjata penotok

jalan darah seperti pena bulu), tombak tiat-kauw (gaetan besi)

dan lain-lain. Ma Kiu sendiri bersenjatakan sepasang pedang

panjang yang kelihatan berat.

Para tamu makin tegang. Setelah kini kedua pihak

menggunakan senjata, tak dapat disangsikan lagi gadis itu

tentu akan mati dalam keadaan tubuh tidak utuh. Setiap

anggauta Cap-ji-liong memiliki ilmu kepandaian khusus,

bahkan sebelum menjadi murid Sin-seng Losu mereka itu

adalah ahli-ahli silat kelas satu. Kini mereka maju bersama,

dapat dibayangkan betapa hebatnya.

“Ha-ha-ha-ha! Sayang sekali kau akan tercincang mati….

bunga liar seperti engkau sukar dicari….!” Tiba-tiba terdengar

suara Sin-seng Losu yang tadi kelihatan bersungut-sungut

ketika beberapa orang di antara murid-muridnya ada yang

terluka. Kakek ini sejak tadi melenggut di atas kursi,

menonton pertandingan sambil merem-melek. Kelihatannya

saja ia melenggut dan mengantuk tak acuh, padahal

sebenarnya ia menonton dengan hati penuh penasaran karena

semenjak tadi, belum juga ia dapat mengetahui dari aliran

mana ilmu silat gadis ini! Hal ini benar-benar membuat ia

kaget dan heran. Biarpun ia sudah terlalu tua sehingga tenaga

dan napasnya sudah berkurang banyak dan kalau bertanding,

dia sendiri tidak akan dapat mengatasi keampuhan Cap-jiliong,

akan tetapi pengetahuannya dalam ilmu silat sudah

amat dalam. Hampir semua aliran ilmu silat di dunia ini! Ia

kenal baik akan tetapi mengapa sekali ini, setelah melihat

gadis itu bersilat sampai puluhan jurus, ia sama sekali tidak

mengenal aliran ilmu silat yang dimainkan? Ia anggap luar

biasa sekali ilmu silat gadis itu. Mirip-mirip ilmu silat Kun-lunpai,

gerakan pedang seperti Kong-thong-pai, akan tetapi

ketika menotok hampir sama dengan ilmu totok Im-yang-tiamhoat

yang lihai dari Siauw-lim-pai. Akan tetapi semua itu

hanya mirip saja, dan sama sekali bukan aselinya, bahkan

kadang-kadang berlawanan dengan aselinya!

Hal ini memang tidak mengherankan kalau orang mengenal

dari mana Kwi Lan mendapatkan semua ilmu yang aneh itu.

Gurunya adalah seorang wanita yang luar biasa, yang puluhan

tahun menyembunyikan diri dan menelan segala macam ilmu

tanpa ada yang menuntun. Dalam istana bawah tanah

terdapat banyak sekali kitab pelajaran ilmu silat peninggalan

mendiang Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian yang mencuri kitab-kitab

itu dari partai-partai besar. Karena jiwa Kam Sian Eng, guru

Kwi Lan, memang tidak sehat alias tidak normal, maka ketika

mempelajari semua ilmu itu ia telah menyeleweng dan ilmu

yang aseli berubah, menjadi ilmu aneh dan ganas. Kwi Lan

juga mempelajari kitab-kitab itu sendirian saja, hanya

menerima petunjuk-petunjuk dari gurunya, justeru sedikit

petunjuk itu menyeleweng daripada aselinya, maka dapat

dibayangkan betapa hasil ilmu yang ia kuasai tentu saja lebih

aneh dan lebih menyimpang dari aselinya! Jangankan Sinseng

Losu, biar tokoh-tokoh dari partai yang memiliki kitab yang

tercuri itu sendiri melihat cara Kwi Lan bersilat tentu takkan

mampu mengenal ilmunya sendiri.

Ucapan mengejek dari Sin-seng Losu tidaklah berlebihan.

Memang ilmu pedang Kwi Lan hebat dan luar biasa. Baru

pedangnya, sebatang pedang kayu wangi, sudah

membuktikan bahwa gadis ini biarpun masih remaja, namun

sudah mencapai tingkat yang dinamakan tingkat “yang lunak

mengalahkan yang keras” yaitu tingkat ahli pedang yang

sudah pandai mengatur, tenaga yang dikendalikan hawa sakti

sehingga setiap benda lemas dapat dipergunakan untuk

melawan senjata keras. Akan tetapi, menghadapi

pengurungan dua belas Cap-Ji-liong yang mempergunakan

dua belas macam senjata ini, Kwi Lan benar-benar terdesak

hebat. Senjata lawan menyambarnya seperti hujan dan hanya

dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya dan ilmu

pedangnya yang aneh maka sementara itu ia masih mampu

bertahan. Seperti juga tadi, dua belas orang pengeroyoknya

itu tidak mengeroyok, secara serampangan saja, melainkan

mengurungnya dengan membentuk barisan yang kokoh kuat.

Perlahan akan tetapi tentu mereka mulai menekan dan

mendesak.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari sebelah dalam.

Teriak-teriakan orang terdengar.

“Kebakaran….! Kebakaran….!”

“Tangkap bocah setan….!”

“Celaka, tawanan gadis-gadis itu dilarikan….!”

Semua tamu terkejut dan dua belas orang Cap-ji-liong yang

sudah mulai mengurung dan mendesak Kwi Lan, terpengaruh

oleh teriakan-teriakan ini sehingga tekanan kepada gadis itu

agak mengendur. Pada saat itu, berkelebat bayangan yang

tertawa-tawa, “Ha-ha-ha, sungguh memalukan. Dua belas

ekor monyet tua mengeroyok seorang gadis jelita! Dua belas

ekor naga kini menjadi dua belas ekor monyet buntung!”

Kiranya bayangan ini bukan lain adalah Hauw Lam yang

dengan gerakan cepat sudah meloncat dan memutar goloknya

menerjang barisan pengepung sehingga terbukalah barisan

itu. Melihat ini, Ma Kiu mengeluarkan aba-aba. Barisan yang

diterjang Hauw Lam sengaja membuka “pintu” dan pemuda ini

pun sekarang masuk ke dalam pengurungan dua belas orang

tangguh itu.

“Eh, Mutiara Hitam. Kita datang bersama, mana bisa

sekarang engkau berpesta-pora sendiri saja melabrak dua

belas ekor monyet tua ini? Aku ikut. Hayo kita sekarang

berlumba. Kita beradu punggung dan lihat pedangmu, atau

golokku yang lebih dulu membabat mampus mereka ini!”

Kwi Lantersenyum. Ia tadi sudah tertekan dan terdesak

hebat. Namun seujung rambut ia tidak merasagentar. Ia tadi

sudah siap-siap, kalau sampai ia kalah dan harus roboh di

tangan dua belas orang pengeroyoknya, ia tentu akan

menyeret beberapa orang di antaranya terutama sekali Ma

Kiu, untuk tewas bersamanya! Untuk niat ini ia sudah

menggenggam tujuh jarum hijau di tangan kirinya! Sekarang

melihat munculnya Hauw Lam yang mengajak ia berlumba,

timbul kegembiraannya dan ia berseru.

“Berandal cilik! Kaulihat betapa aku merobohkan mereka!”

Setelah berkata demikian, Kwi Lan mainkan pedangnya

menerjang maju. Empat orang di depannya cepat mengangkat

senjata untuk menangkis dan balas menyerang, akan tetapi

pada saat itu tangan kiri Kwi Lan bergerak dan sinar hijau

menyambar ke depan.

“Awas….!” Ma Kiu berseru memperingatkan adik-adiknya.

Namun, jarum-jarum hijau yang halus itu disambitkan dari

jarak dekat sehingga biarpun empat orang itu berusaha

mengelak, dua orang di antara mereka kurang cepat dan

robohlah mereka sambil mengeluarkan jeritan kesakitan.

Murid-murid Thian-liong-pang segera menolong mereka ini

dan kini sepuluh orang pengeroyok menerjang dengan marah

sekali. Hauw Lam tertawa-tawa dan sambil berdiri saling

membelakangi, dia dan Kwi Lan memutar senjata menghadapi

para pengeroyok. Lega hati Kwi Lan setelah kini ia dibantu

Hauw Lam. Tadi yang membuat ia amat repot adalah

penyerangan lawan yang berada di belakangnya. Akan tetapi

kini ia tidak usah lagi memperhatikan bagian belakang, maka

ia kini mendapat kesempatan untuk balas menyerang. Setiap

ada serangan datang ia tidak mengelak, akan tetapi langsung

menyambut serangan ini dengan tusukan atau totokan

yang mendahului sehingga Si Penyerang terpaksa menarik

kembali serangannya.

“Semua mundur….!” tiba-tiba Ma Kiu berteriak keras

memberi perintah kepada adik-adiknya

Sepuluh orang itu serentak melompat mundur sambil

menggerakkan tangan kiri. Maka berhamburanlah senjatasenjata

rahasia yang berbentuk peluru bintang, bagaikan

hujan menyerang Hauw Lam dan Kwi Lan. Dua orang muda

itu cepat memutar golok dan pedang, memukul runtuh semua

senjata rahasia.

“Wah, kau yang mengajar monyet-monyet itu. Sekarang

mereka membalas. Lebih baik kita lekas pergi dari sini!”

Hauw Lam mengomel. Kwi Lan yang maklum betapa besar

bahayanya kalau pihak lawan mulai menyerang dari jauh

dengan senjata rahasia, setuju akan usul ini. Akan tetapi

sebelum mereka sempat mendapatkan jalan keluar untuk

melarikan diri, tiba-tiba lantai yang mereka injak tergetar dan

dengan suara keras lantai itu terbuka, nyeplos ke bawah.

“Celaka….!” Hauw Lam berseru dan bersama Kwi Lan

tubuhnya terjeblos ke bawah tanpa dapat dicegah lagi!

“Cari pegangan….!” Hauw Lam berseru pula dan

merentangkan kedua tangannya. Goloknya ia tusuk-tusukkan

ke samping dan akhirnya tangan kirinya berhasil

merabadinding. Ia menggerakkan tubuh sehingga tubuhnya

yang meluncur itu terbanting ke kiri, menubruk dinding dan di

lain saat tubuhnya tergantung pada gagang golok yang

dipegangnya erat-erat.

Akan tetapi Kwi Lan yang memiliki gin-kang luar biasa itu,

dengan menggerak-gerakkan kaki tangannya dapat

memperlambat luncuran tubuhnya, bahkan ketika kedua

kakinya menyentuh dasar sumur, tubuhnya membalik lagi ke

atas sampai dua meter lebih, seakan-akan di kedua kakinya

dipasangi per yang lemas sekali.

“Mutiara Hitam…. kau di mana….?” Terdengar suara Hauw

Lam di atas.

Kwi Lan sudah duduk di atas tanah berbatu dan menjawab,

“Di bawah sini. Turunlah. Mau apa kau bergantungan disitu?”

Hauw Lam menengok ke bawah. Sinar yang masuk dari

atas memberi penerangan suram, akan tetapi ia dapat melihat

betapa gadis itu sudah duduk enak-enakan di sebelah bawah,

kira-kira tiga meter dari tempat ia bergantung. Ia

mengerahkan tenaga, mencabut goloknya dan meloncat turun

di dekat gadis itu. Pada saat itu, terdengar suara berderit

keras dan lobang di sebelah atas itu tertutup rapat kembali.

Keadaan menjadi gelap gulita, melihat tangan sendiri pun tak

tampak!

“Wah, kita seperti dua ekor tikus masuk perangkap!” Hauw

Lam berkata berusaha untuk tertawa, akan tetapi

menahannya karena khawatir kalau-kalau membuat gadis itu

tak senang.

“Kau kenapa? Mau tertawa, tertawalah. Mengapa

memandang kepadaku seperti orang ragu-ragu? Kaukira aku

takut? Huh, enak di sini!” kata Kwi Lan yang segera duduk

melonjorkan kedua kakinya.

Hauw Lam terkejut. “Apa kaubilang….? Bagaimana kau bisa

tahu bahwa aku…. eh, Mutiara Hitam, apakah engkau

mempunyai nama seperti kucing?”

“Hemm, kalau aku kucing, engkau tikus! Sudahlah, jangan

rewel dan lebih balk kau ceritakan apa yang kaulakukan tadi.”

Tentu saja Hauw Lam tidak tahu bahwa gadis ini semenjak

kecil t inggal di bawah tanah, di dalam istana bawah tanah

sehingga ia merasa enak berada di bawah tanah! Karena

semenjak kecil biasa hidup di tempat gelap Kwi Lan memiliki

mata yang sudah biasa dengan kegelapan dan dapat melihat

benda di dalam gelap, setidaknya lebih awas daripada orang

biasa. Mendengar suara gadis itu tidak dibuat-buat, diam-diam

ia merasa semakin kagum dan suka. Gadis ini benar-benar

hebat, pikirnya. Selain cantik jelita seperti dewi, juga wajar

dan polos, ditambah kepandaian yang amat tinggi. Tadi ketika

dikeroyok Cap-ji-liong, gadis ini sudah memperlihatkan bahwa

ia memiliki kepandaian yang benar luar biasa. Jarang ada

tokoh yang mampu mempertahankan diri dari pengeroyokan

Cap-ji-liong, apalagi melukai dua orang di antara mereka

dalam pengeroyokan. Dan sekarang, biarpun telah terjebak

masuk ke dalam sumur, gadis ini masih bersikap tenang dan

enak saja, sama sekali t idak membayangkan sikap takut-takut.

“Nanti dulu, paling penting aku harus menyelidiki keadaan

tempat ini, mencari jalan keluar.” kata Hauw Lam sambil

mengulur kedua lengan ke depan, meraba-raba.

“Tak usah kauselidiki lagi. Percuma, sumur ini sengaja

dibuat untuk menjebak musuh. Dindingnya terbuat dari batu

tebal, tingginya lima tombak lebih dan di atas ditutup

lembaran besi yang atasnya dipasangi tegel, dan dapat

terbuka atau tertutup sendiri dengan alat rahasia.”

Kembali Hauw Lam menjadi heran. Gadis ini bicara seakanakan

tidak berada di dalam gelap, seperti menceritakan

keadaan yang dilihatnya dengan nyata. Ia tidak percaya lalu

kedua tangannya meraba-raba dinding. Dan memang betul

apa yang dikatakan gadis itu. Dinding sumur itu segi empat,

lebarnya tiga meter tiap segi, dan terbuat daripada batu tebal.

Karena bagi Hauw Lam tempat itu amat gelap, ia tidak dapat

melihat apa-apa ketika meraba-raba sehingga tiba-tiba ia

meraba kepala gadis itu!

“Eh-eh, mau apa kau? Seperti orang buta saja!” Gadis itu

membentak.

“Wah, maaf…. aku…. aku memang seperti buta di sini….”

“Duduklah dan jangan berkeliaran.”

Hauw Lam lalu duduk di atas lantai sumur. Tanah padas

berbatu itu agak basah. Betapapun juga, ia tidak dapat

bersikap masa bodoh seperti gadis ini. Masa mereka harus

menerima kematian seperti dua ekor tikus dalam sumur? Ia

harus berdaya untuk keluar dari dalam sumur ini. “Mutiara,

aku tidak mengerti bagaimana kau dapat mengetahui keadaan

sumur ini. Akan tetapi kalau dalamnya benar lima tombak, tak

mungkin kita meloncat keluar dari sini. Biarpun begitu, dengan

bantuan golok dan pedangmu, aku dapat meloncat-loncat

sambil menancapkan golok dan pedang bergantian pada

dinding, terus sampai keluar. Setelah itu, aku akan mencari

tambang untuk menarikmu keluar pula.”

“Eh, takutkah engkau di sini?”

“Bukan takut! Akan tetapi kita harus mencari jalan keluar.”

“Hemm, bagaimana kau akan membuka penutup besi di

atas itu? Pula, siapa tahu begitu kau keluar, hujan senjata

akan menyambutmu?”

Hauw Lam terkejut. Beralasan juga kata-kata gadis ini.

“Habis…. bagaimana.”

“Kita menant i kesempatan dan sementara itu, duduk

mengaso di sini dan kauceritakan apa yang terjadi tadi.”

Malu juga rasa hati Hauw Lam mendengar suara gadis itu

yang amat tenang. Ia lalu bercerita. Ketika tadi melihat

datangnya Ci-lan Sai-kong yang menggiring dua belas orang

gadis-gadis muda yang diculik, Hauw Lam marah bukan main.

Akan tetapi ia menahan-nahan perasaan hatinya dan setelah

mendapat kesempatan ia lalu menyelinap ke dalam pada saat

perhatian semua orang tertarik oleh perbuatan Kwi Lan yang

amat berani. Setelah tiba di ruangan belakang, ia menyergap

dan menotok seorang anggauta Thian-liong-pang. Dari orang

inilah ia mendapat keterangan tentang dua belas orang gadis

itu yang ditahan di kamar belakang, dijaga oleh empat orang

anggauta Thian-liong-pang. Ia menotok lumpuh orang itu

kemudian melanjutkan penyelidikannya. Tekad hatinya akan

menolong dan membebaskan dua belas orang gadis itu.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, secara mudah ia

merobohkan empat orang penjaga dan pada saat itulah dari

atas genteng melayang turun seorang laki-laki yang ternyata

adalah Ciam Goan, bekas tokoh Thian-liong-pang yang tadi

diusir oleh Ma Kiu.

Girang hati Hauw Lam dan diam-diam ia kagum

menyaksikan keberanian Ciam Goan. Biarpun sudah jelas

bahwa orang gagah itu tak mungkin dapat melawan para

pimpinan Thian-liong-pang dan tadi pun sudah dikalahkan,

namun orang she Ciam itu masih berani dan berusaha

menolong dua belas orang gadis tawanan. Tanpa banyak

cakap mereka lalu memasuki kamar, membebaskan dua belas

orang gadis itu. Hauw Lam menyerahkan dua belas orang

gadis itu kepada Ciam Goan untuk diajak melarikan diri,

sedangkan dia sendiri memancing perhatian orang dengan

jalan membakar bangunan samping bagian belakang. Akalnya

berhasil baik. Semua orang lari ke tempat kebakaran dan

mengeroyoknya, sehingga Ciam Goam dan dua belas orang

gadis tawanan itu dapat pergi dengan aman. Hauw Lam

sendiri lalu memancing mereka yang mengeroyoknya ke

sebelah dalam gedung, bahkan ia lalu menggabung dengan

Kwi Lan yang sudah terdesak oleh Cap-ji-liong sehingga

akhirnya mereka berdua terjeblos ke dalamsumur perangkap.

“Begitulah.” Hauw Lam mengakhiri ceritanya. “Kuharap saja

orang she Ciam itu berhasil melarikan dan menyelamatkan

dua belas orang gadis itu. Dan kau sendiri, apa yang

kaulakukan tadi? Wah, kepandaianmu hebat bukan main,

Mutiara Hitam. Aku takluk setelah menyaksikan betapa kau

melawan pengeroyokan Cap-ji-liong!”

“Hemm, mereka memang kuat sekali kalau maju bersama.

Sebelum kau datang membantu, hampir aku roboh.” Mut iara

Hitam atau Kwi Lan lalu menceritakan pengalamannya. Hauw

Lam kagum sekali dan diam-diam di lubuk hatinya ia merasa

puas dan tidak akan penasaran kalau mengalami kematian

bersama nona ini di dalam sumur!

“Sekarang bagaimana? Aku bukannya takut terkurung

seperti ini, akan tetapi kita tidak boleh tinggal diam saja. Kita

harus keluar dari sini, terutama sekali engkau….” katanya.

“Mengapa aku? Kalau kau bagaimana?”

“Aku juga harus dapat keluar, akan tetapi yang paling

penting engkau, Nona. Kau seorang wanita, karena itu harus

didahulukan keselamatanmu….”

“Huh, laki-laki dan wanita apa bedanya?”

Hauw Lam tidak mau membantah tentang itu. “Biar kucoba

untuk merayap atau meloncat naik.”

“Percuma, kita tunggu kesempatan. Kalau ada yang

membuka penutup besi di atas itu, sudah kupersiapkan jarumjarumku.

Begitu ada orang di atas, kuserang dengan jarum

dan kau boleh melompat dengan bantuan golokmu

ditancapkan pada dinding.”

“Bagaimana kalau tidak ada yang membuka penutup besi di

atas?”

“Kalau begitu, hemm…. kita tinggal di sini selamanya

sampai mati”

Mendengar kata-kata yang dikeluarkan seenaknya dan

tenang-tenang saja itu, Hauw Lam bergidik. Akan tetapi

hatinya menjadi hangat ketika ia ingat betapa gadis itu

agaknya senang saja tinggal berdua dengan dia di situ

selamanya sampal mati! Ia menjadi terharu dan baru sekali ini

selama hidupnya Hauw Lam merasa hatinya terharu sekali dan

juga bahagia! Suaranya menjadi gemetar ketika ia berkata,

lenyap nadanya yang suka bergurau, suaranya kini

bersungguh-sungguh.

“Nona…. aku…., aku pun rela mati di sini, rela t inggal di

sini selama hidupku, bahkan aku akan berbahagia sekali….

berdua di sampingmu selamanya….”

“Ihhh! apa maksud kata-katamu yang aneh ini?” Kwi Lan

yang tentu saja masih bodoh dalam hal asmara, bertanya

heran. Nada suara gadis ini menyadarkan Hauw Lam,

membuat mukanya merah sekali, membuat ia merasa malu

sekali. Untung bahwa tempat itu gelap sehingga ia tidak usah

menentang pandang mata Kwi Lan, dan kegelapan ini

sesungguhnya yang membuat ia berani melanjutkan katakatanya

yang membisikkan suara hatinya.

“Mutiara…. biarpun belum lama aku mengenalmu, bahkan

namamu yang sesungguhnya pun aku belum tahu…. akan

tetapi…. aku tidak merasa begitu. Bagiku engkau sudah

kukenal selama hidupku. Tadinya aku sebatang kara di dunia

ini… setelah bertemu denganmu, aku merasa tidak sebatang

kara lagi. Mutiara…. ah, aku harus berterus terang…. aku….

aku cinta padamu….”

Saking kaget dan herannya mendengar ucapan yang lama

sekali belum pernah didengarnya dan yang baru ia raba-raba

maksud sebenarnya ini, Kwi Lan duduk termenung dan

menggigit jarum yang dipegangnya. Ia seperti orang

terpesona, tidak peduli bahwa pada saat itu, sinar terang

menerobos masuk dari atas dan penutup lubang sumur itu

dibuka orang! Hauw Lam melihat ini dan cepat melompat, siap

untuk menerjang ke atas dan berseru.

“Mutiara…. lekas serang dia….”

Akan tetapi Kwi Lan hanya memandangnya dan berkata

bingung, “Ada apa….?”

“Ssstt…. naiklah….!” Tiba-tiba orang yang membuka

penutup sumur itu berkata, kemudian seutas tambang

meluncur turun dari atas.

Hauw Lam dan Kwi Lan melihat bahwa yang muncul dan

melemparkan tambang itu adalah seorang yang berkerudung

kain hitam, akan tetapi dari suaranya dapat diketahui bahwa

dia seorang laki-laki. Begitu melempar tambang, bayangan itu

lenyap kembali.

“Mari kita naik!” Hauw Lam berkata dan cepat-cepat

pemuda ini merayap naik melalui tambang seperti seekor kera

cepatnya, Kwi Lan juga sudah merayap baik dan sebentar saja

keduanya sudah melompat keluar dari sumur. Sejenak mata

Hauw Lam menjadi silau karena tiba-tiba dari tempat gelap

berada diterang. Ia mengejap-ngejapkan matanya, kemudian

ketika matanya bertemu dengan Kwi Lan, tiba-tiba pemuda ini

menjadi merah seluruh mukanya!

“Pergi dari sini cepat!” Hauw Lam berkata dan mereka lalu

melompat keluar dari ruangan silat yang kini sudah sunyi.

Akan tetapi begitu mereka keluar dari ruangan silat dan

berada di ruangan tengah, dari kanan kiri berlompatan keluar

beberapa orang anggauta Cap-jiliong!

“Celaka! Mereka lolos! Kepung…. tangkap….!” Mereka

berteriak-teriak dan empat orang sudah menerjang Hauw Lam

dan Kwi Lan.

Akan tetapi, keampuhan Cap-ji-liong adalah kalau mereka

maju bersama. Kini hanya ada empat orang di antara mereka,

tentu saja bukan tandingan Hauw Lam dan Kwi Lan. Begitu

sepasang orang muda ini menggerakkan senjata empat orang

itu sudah melompat mundur untuk menghindarkan bahaya

maut. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hauw Lam dan Kwi

Lan untuk berlari terus. Karena dari depan berbondong datang

para anggauta Thian-liong-pang, Hauw Lam lalu menarik

tangan Kwi Lan, diajak lari melalui ruangan belakang. Mereka

lari masuk ke ruangan dalam, terus ke belakang. Beberapa

orang anggauta Thian-liong-pang yang bertemu dengan

mereka dan berusaha menghalangi, mereka robohkan dengan

tendangan atau pukulan tangan kiri.

Untung bagi mereka bahwa para pimpinan Thian-liongpang

pada saat itu sedang sibuk membuat persiapan untuk

mengunjungi pertemuan antara tokoh-tokoh dunia hitam yang

akan diadakan di Puncak Cheng-liong-san untuk memilih

jagoan nomor satu di dunia. Ma Kiu ketua baru, juga Sin-seng

Losu sendiri bersama murid-muridnya bersama beberapa

orang tamu penting sudah meninggalkan gedung untuk

mengunjungi kota Tai-goan untuk ikut menyambut datangnya

seorang tokoh besar yang terkenal dengan julukan Siauw-bin

Lo-mo (Iblis Tua Tertawa). Karena tokoh besar ini masih

terhitung paman guru Sin-song Losu, tentu saja oleh ThianTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

liong-pang dianggap sebagai kakek guru dan mereka

mengharapkan kakek guru ini akan menjadi jagoan nomor

satu sehingga nama Thian-liong-pang akan ikut terangkat

tinggi. Karena kesibukan ini mereka hanya meninggalkan

empat orang murid kepala bersama murid-murid bawahan

untuk menjaga gedung. Sama sekali mereka tidak menduga

bahwa dua orang muda tawanan mereka akan dapat

meloloskan diri dan menganggap mereka itu tentu akan tewas

kelaparan di dalam sumur.

How Lam dan Kwi Lan maklum bahwa kalau para pimpinan

Thian-liong-pang keburu datang mengeroyok, keadaan

mereka akan berbahaya. Karena mereka datang ke tempat itu

hanya untuk “main-main” dan tidak mempunyai urusan

tertentu dengan perkumpulan ini, mereka pun tidak ada niat

untuk melanjutkan pengacauan. Dihadang oleh murid-murid

bawahan Thian-liong-pang tentu saja mereka dengan enak

merobohkan semua penghadang, terus lari ke belakang,

mencari kandang kuda dan setelah dapat menemukan kuda

hitam yang mereka “sumbangkan” tadi, mereka lalu

menunggang kuda berdua dan membalapkan kuda itu keluar

dari Yen-an. Terdengar derap kaki kuda yang ditungganggi

para anak buah Thian-liong-pang mengejar, namun tak seekor

pun kuda mampu menandingi larinya kuda hitam dari Khitan

itu.

Setelah kota Yen-an jauh dit inggalkan dan tak tampak

adanya pengejar lagi, Kwi Lan yang duduk di depan tiba-tiba

menahan kudanya. Mereka berhenti di jalan simpang empat.

“Di sini kita berpisah. Kau turunlah.”

Hauw Lam meloncat turun dan memandang gadis itu

dengan muka terkejut. Tak disangkanya bahwa secara tibatiba

gadis itu mengajak mereka saling berpisah. Namun nona

itu menundukkan muka, tidak membalas pandang matanya.

“Mutiara Hitam…. Nona…., mengapa kita harus berpisah?”

Suara Hauw Lam gemetar, tidak seperti biasa. Jantung Kwi

Lan berdebaraneh. Ia marah dan juga bingung.

“Nona, apakah engkau marah karena pengakuanku di

dalam sumur tadi? Maafkanlah, aku bukan bermaksud

menyinggung perasaanmu atau menghinamu, aku hanya

mengeluarkan isi hatiku sejujurnya. Biarpun kau akan menjadi

marah dan membunuhku, aku tak dapat menyangkal bahwa

aku…. cinta padamu, Mutiara Hitam.”

Kwi Lan menarik napaspanjang. Ia tidak bisa marah kepada

pemuda ini, dan sebetulnya ia senang mendengar pengakuan

itu. Akan tetapi ia tidak ingin selamanya berada di samping

Hauw Lam. Ia ingin menyendiri.

“Hauw Lam, ada hal yang lebih penting bagimu. Engkau

harus pergi kepada Ibu kandungmu.”

Terbelalak mata Hauw Lam memandang. “Apa….? Apa

yang kau maksudkan….?”

“Bukankah Ayahmu bernama Tang Sun dan Ibumu

bernama Phang Bi Li?”

Hauw Lam melangkah maju dan memegang tangan Kwi

Lan. “Mutiara! Bicaralah yang jujur! Bagaimana kau tahu akan

nama Ayahku? Memang Ayahku bernama Tang Sun. Nama Ibu

aku tidak pernah dengar, akan tetapi engkau…. bagaimana

bisa tahu?”

Kwi Lan yang kini melihat betapa wajah Hauw Lam menjadi

pucat dan agaknya amat tertarik tersenyum. “Kau pantas

menjadi kakakku. Ibumu adalah Bibi Bi Li yang menganggap

aku anak sendiri. Ayahmu…. Ayahmu telah tewas, aku melihat

sendiri. Ibumu masih hidup, namanya Phang Bi Li dan kini

tinggal di Hutan Iblis.”

Makin pucat wajah Hauw Lam. “Di Hutan Iblis….? Ayahku

mati….?” Ia merasa mimpi mendengar keterangan ini dan

tentu ia tidak akan percaya kalau saja ia tidak yakin bahwa

gadis yang baru dikenalnya beberapa hari ini tak pernah

membohong seperti juga tak pernah merasa takut.

“Pergilah, carilah Ibumu dan kau akan mendengar semua.

Ibumu hanya tahu bahwa puteranya bernama Tang Hauw

Lam. Kau pergilah ke Lembah Air Hijau, di kaki Pegunungan

Pek-liu-san sebelah utara, di sana terdapat hutan yang oleh

orang-orang disebut Hutan Iblis. Nah, Ibumu tinggal seorang

diri di dalam pondok di hutan itu, menanti-nanti

kedatanganmu. Selamat tinggal, kelak kita berjumpa pula.”

Setelah berkata demikian, Kwi Lan membalapkan kudanya

pergi dari tempat itu, meninggalkan Hauw Lam yang masih

berdiri seperti arca dengan muka pucat.

“Ibuku…. Ibu kandungku…. Ibuku….” Pemuda yang

biasanya periang itu kini hanya berbisik-bisik dengan sepasang

mata basah. Pandang matanya mengikuti bayangan Kwi Lan di

atas kudanya. dan semangatnya serasa terbawa terbang

pergi.

***

Kwi Lan menjalankan kudanya sambil melamun. Begitu

berpisah dari Hauw Lam ia merasa betapa ia kehilangan

seorang teman seperjalanan yang selalu mendatangkan

suasana gembira. Akan tetapi kalau ia teringat akan

pernyataan cinta kasih Hauw Lam, ia menjadi kecewa. Hal ini

melenyapkan rasa gembiranya dan membuatnya menjadi tak

enak, hatinya berdebaran dan ia menjadi malu, tak ingin

bertemu kembali dengan pemuda itu. Ada hal lain yang sejak

tadi ia pikirkan. Siapakah orang yang menolongnya ketika ia

bersama Hauw Lam berada dalam sumur jebakan? Apakah

orang gagah she Ciam yang telah menolong dua belas orang

gadis tawanan? Rasanya tidak mungkin karena biarpun gagah

beran, orang she Ciam itu tidak begitu tinggi kepandaiannya.

Penolong tadi tentu orang yang sudah kenal akan keadaan

dan rahasia Thian-liong-pang.

Kwi Lan yang tidak mengenal jalan, tidak tahu bahwa

kudanya itu berlari menuju ke arah Sungai Kuning yang

mengalir di sebelah t imur Yen-an. Ia juga tidak tahu bahwa

jalan ini pula yang diambil oleh rombongan Sin-seng Losu pagi

tadi, menuju ke Tai-goan!

Hari telah menjelang senja. Ia segera membalapkan

kudanya ketika melihat sebuah dusun jauh di depan.

Perkampungan ini cukup besar dan Kwi Lan bermalam di

rumah penginapan dusun itu. Semua orang kagum melihat

gadis yang cantik jelita dan yang menunggang seekor kuda

hitam yang indah ini, namun Kwi Lan tidak ambil peduli.

Setelah pengalamannya di Thian-liong-pang, Kwi Lan bersikap

hati-hati dan tidak mau mencari perkara. Mulailah ia tahu

bahwa di dunia kang-ouw banyak terdapat orang-orang yang

berilmutinggi. Ia ingin bertemu dengan ibu kandungnya dan

menurut penuturan Hauw Lam, di Khitan banyak terdapat

orang-orang pandai sehingga seorang tokoh hitam seperti Jincam

Khoa-ong itu pun menjadi buronan Khitan. Ia akan

menemui Ibu kandungnya dan kalau mungkin, memperdalam

kepandaiannya.

Pada keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan dan hari

telah lewat senja ketika ia menghentikan kudanya di tepi

Sungai Kuning yang airnya melimpah-limpah dan amatlebar.

Ia duduk di atas kudanya sambil termenung. Bagaimana ia

dapat melanjutkan perjalanan? Tidak ada jembatan, tidak ada

perahu, dan tempat itu amat sunyi, tak tampak seorang pun

manusia. Hanya dapat dilihat dari situ perahu-perahu nelayan

jauh sekali dan ada di antara mereka yang sudah menyalakan

lampupenerangan. Ia lalu menjalankan kudanya menyusuri

sungai menuju ke kiri untuk mencari perahu yang kiranya

akan dapat menyeberangkannya atau kalau tidak, ia akan

mencari tempat yang baik untuk melewatkan malam dan

besok baru berusaha menyeberang.

Tiba-tiba dari jauh ia melihat sebuah perahu kecil meluncur

cepat ke pantai. Itu tentu seorang nelayan, pikirnya. Mungkin

dia bisa menolongku mencarikan sebuah perahu besar untuk

menyeberang. Perahu kecil macam itu mana dapat

menyeberangkan kudanya? Kwi Lan mempercepat larinya

kuda ke arah pantai. Akan tetapi ia terlambat karena dari

dalam perahu itu meloncat keluar bayangan hitam yang

kemudian berlari amat cepatnya ke darat. Kwi Lan terkejut.

Terang itu bukan nelayan biasa, pikirnya. Nelayan biasa mana

bisa memiliki gin-kang yang sedemikian baiknya. Ia pun cepat

membelokkan kudanya, mengikuti arah larinya orang itu.

Cuaca sudah mulai gelap dan Kwi Lan yang merasa tertarik,

melanjutkan kudanya ke depan sambil mencari-cari dengan

pandang matanya.

Bayangan itu lenyap sudah. Gerakannya terlalu cepat dan

melakukan pengejaran sambil menunggang kuda amat sukar.

Selain itu, juga Kwi Lan meragu untuk mengejar

secarasungguh-sungguh. Ia tidak tahu siapa orang itu dan

mengapa berlari-lari dengan cepatnya. Terang bukan nelayan

dan ia tidak mempunyai keperluan sesuatu dengan orang itu.

Hanya ia tadi ingin bertanya kalau-kalau orang itu dapat

menunjukkan di mana ia dapat menyewa perahu untuk

menyeberang bersama kudanya.

Sinar terang yang keluar dari kumpulan batu-batu gunung

di pantai sebelah depan menarik perhatiannya. Sinar yang

bergerak-gerak besar kecil itu tentulah sinar api unggun yang

dinyalakan orang. Ada api unggun tentu ada orang dan kalau

ada orang berarti ia akan bisa mendapatkan keterangan dan

petunjuk yang diharapkan. Kini kuda hitam yang

ditungganginya sudah mendekati deretan batu-batu padas

yang tinggi dan dijalankan perlahan.

Ternyata api unggun itu dinyalakan orang di dalam sebuah

guha batu yang amat lebar. Ketika Kwi Lan yang masih duduk

di atas kudanya tiba di depan mulut guha, ia melihat lima

orang laki-laki di dalam guha. Kedatangannya agaknya sudah

dinanti mereka karena mereka sudah berdiri dan tangan kanan

mereka sudah meraba gagang senjata masing-masing. Yang

paling depan adalah seorang pemuda yang berambut panjang,

berpakaian hitam dan berwajah tampan sekali. Kepalanya

diikat tali dan di dahinya besinar sebuah batu permata kuning,

Tiga orang yang lain juga sudah siap dan memandang

kepadanya dengan mata terbelalak kaget dan marah. Adapun

orang ke lima adalah seorang pendeta yang jenggotnya kasar

dan jarang seperti kawat, tubuhnya tinggi besar dan di

belakang punggungnya tampak gagang sebatang pedang.

“Siauw-ya (Tuan Muda), dia adalah Mutiara Hitam yang

mengacau di Thian-liong-pang….!” Seorang di antara tiga

orang di belakang pemuda tampan itu berseru.

Pemuda itu memandang dengan mata bersinar tajam, lalu

membentak ke arah Kwi Lan, suaranya nyaring. “Mau apa

engkau datang ke sini?”

Kwi Lan tersenyum. Ia tidak memandang mata kepada

orang-orang Thian-liong-pang ini dan melihat batu permata di

dahi Si Pemuda Tampan, Ia dapat menduga bahwa pemuda

itu tentu seorang tokoh pula. Akan tetapi ia sedikit pun tidak

takut dan karena ia kemarin tidak melihat pemuda ini di

antara yang mengeroyoknya, ia pun tiada nafsu untuk

melayani mereka.

“Aku tidak butuh kalian, aku hanya perlu seorang nelayan

yang dapat menyeberangkan aku dan kudaku.” jawabnya,

suaranya dingin. Biarpun ia tidak mengharapkan bantuan

mereka ini, namun siapa tahu mereka dapat memberi

keterangan tentang nelayan yang ia butuhkan.

Sebelum pemuda dan tiga orang anggauta Thian-liongpang

itu menjawab, pendeta sai-kong yang berdiri paling

belakang itu mengangkat tangan kiri ke atas, dan berkata.

“Siangkoan-kongcu, biarkan lohu menghadapinya!” Dengan

langkah lebar pendeta ini maju. Setelah berhadapan dengan

Kwi Lan, ia menjura dengan hormat, tersenyum-senyum dan

jenggotnya yang kaku bergerak-gerak, matanya berkejapkejap.

“Nona, sungguh Nona yang masih begini muda amat

mengagumkan. Tadi lohu sudah mendengar penuturan

saudara-saudara Thian-liong-pang akan sepak terjang Nona

yang berani menghadapi Cap-ji-liong. Ha-ha-ha, sungguh

gagah! Seorang muda segagah Nona ini patut dikagumi dan

sama sekali tidak pantas dimusuhi. Orang gagah

mengutamakan persahabatan sesama orang gagah, maka

terimalah rasa kagum lohu!”

Kwi Lan yang melihat kakek ini merangkapkan kedua

tangan, membawa kedua tangan ke depan dada sambil

bergerak memberi hormat, tersenyum mengejek. Dengan

gerakan ringan sekali tubuhnya sudah meloncat turun dari

atas punggung kudanya, menghadapi kakek itu dan menjura

sambil berkata.

“Kau orang tua terlalu merendah!”

Biarpun kelihatannya seperti orang menjura dan memberi

hormat, namun kedua tangan sai-kong itu bergerak ke depan

dan menyambarlah angin pukulan dahsyat ke arah dada Kwi

Lan. Gadis itu hanya menjura dengan bibir tersenyum,

agaknya seperti tidak tahu akan penyerangan orang, akan

tetapi kakek itu merasa betapa tenaga dorongan kedua

tangannya tadi seakan-akan membentur api dan membalik,

menimbulkan rasa panas pada dadanya. Ia kaget sekali, akan

tetapi masih merasa penasaran dan sambil tertawa dan

berkata, “Nona benar-benar hebat….!” Kedua tangannya

membuka jari-jari tangan dan bergerak ke depan, yang kiri

menotok ke arah pundak dan yang kanan menotok ke arah

pergelangan tangan! Hebat serangan ini, namun masih saja

tampak seakan-akan orang yang memuji dan menyentuh

karena sayang dan kagum, sama sekali tidak kelihatan seperti

orang menyerang. Padahal serangan itu kalau tepat mengenai

sasaran, akan membuat tubuh Kwi Lan seketika lumpuh dan

lemas.

“Totiang (panggilan pendeta) mengapa sungkan-sungkan!”

kata Kwi Lan dan kedua tangannya bergerak ke depan pula

seperti orang mencegah. Hanya tampaknya saja seperti

mencegah, akan tetapi sebenarnya dengan cepat seperti kilat

menyambar, jari tangan Kwi Lan sudah siap menerima kedua

tangan kakek itu. Kalau kakek itu melanjutkan serangannya,

maka kedua telapak tangannya tentu akan bertemu dengan

jari tangan Kwi Lan sehingga sebelum dapat menotok orang,

Ia sendiri sudah akan terkena totokan lawan!

“Ahhh….!“ Sai-kong itu menarik kembali kedua tangannya

dan melangkah mundur kemudian ia tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, semuda ini sudah memiliki kepandaian

hebat, benar-benar membuat lohu kagum dan takluk, Nona

ingin menyeberang? Biarlah lohu antarkan!”

Girang hati Kwi Lan mendengar ini. “Kau mempunyai

perahu, Totiang?”

“Ha-ha, tentu saja ada, harap Nona jangan khawatir.

Marilah!” Kakek itu dengan langkah lebar keluar dari dalam

guha, diikuti oleh Kwi Lan.

“Tahan! Mutiara Hitam, engkau sudah mengacau Thianliong-

pang, bagaimana kami dapat membiarkan kau pergi

begitu saja?” teriak seorang di antara anggauta-anggauta

Thian-liong-pang sambil melompat maju dan mencabut

pedang. Akan tetapi pemuda tampan tadi mencegah dan

menghardik.

“Nona sudah ikut bersama Huang-ho Tai-ong (Raja Sungai

Huang-ho), mau apa kau ribut-ribut?”

Kalau saja Kwi Lan sudah banyak pengalaman merantau,

tentu ia akan terkejut sekali mendengar nama ini. Huang-ho

Tai-ong adalah nama julukan kepala bajak Sungai Huang-ho

yang terkenal sekali. Akan tetapi gadis ini selain kurang

pengalaman, juga tidak mengenal takut, maka ucapan Si

Pemuda ini sama sekali tidak ada artinya. Ia mengikuti saikong

itu yang terus berjalan mendekati pantai, kemudian

kakek itu mengeluarkan teriakan melengking nyaring tinggi

sambil menengadahkan kepalanya. Terdengar suitan balasan

dari arah kiri dan t idak lama kemudian, muncullah sebuah

perahu dalam sinar bintang-bintang di langit yang suram

muram. Kiranya perahu itu bercat hitam, cukup besar dan

didayung oleh empat orang tinggi besar.

“Silakan, Nona. Lohu sendiri akan menemanimu

menyeberang.” kata saikong tadi sambil tersenyum.

“Terima kasih. Kau baik sekali, Totiang.” jawab Kwi Lan

yang menuntun kuda hitamnya ke atas papan perahu, Kakek

itu pun melompat naik, memberi aba-aba dan empat orang

anak buahnya kembali mendayung perahu ke tengah. Ketika

Kwi Lan menengok, ia melihat pemuda tampan tadi bersama

teman-temannya berdiri di pinggir sungai dan memandang.

Karena tidak mengerti, Kwi Lan sama sekali tidak merasa

heran mengapa layar perahu itu tidak dipasang. Untuk

menyeberangi sungai sebesar Sungai Kuning ini, tentu

dibutuhkan layar agar penyeberangan dapat berjalan cepat.

Akan tetapi empat orang itu hanya mendayung saja sehingga

perahu bergerak lambat, malah hanyut oleh air. Kuda hitam

yang tinggi besar dan gagah itu pun mendengus-dengus dan

meringkik, keempat kakinya menggigil ketika melihat air yang

hitam berombak. Akan tetapi, Kwi Lan berdiri tegak

memegangi kendali, sedikit pun t idak merasa takut!

“Nona, orang-orang Thian-liong-pang tadi menceritakan

tentang sepak terjang Nona di Thian-liong-pang dan

menyebut Nona Mutiara Hitam. Bolehkah lohu tahu, siapa

sesungguhnya namamu dan dari perguruan manakah? Lohu

sendiri disebut orang Huang-ho Tai-ong, bernama Ma Hoan.”

Kwi Lan tidak menaruh curiga kepada kakek ini, juga t idak

memperhatikan nama maupun julukannya, akan tetapi karena

kakek ini menolongnya menyeberang, ia menganggapnya

orang baik. Dengan acuh ia menjawab, “Si Berandal sudah

menjuluki aku Mutiara Hitam, biarlah selanjutnya orang

mengenalku dengan nama itu juga. Aku tidak terikat dengan

perguruan mana pun.”

Kakek ini mengerutkan alisnya. Gadis yang cantik jelita,

akan tetapi sombong sekali, pikirnya. “Mutiara Hitam, julukan

yang bagus. Nona, kenapa engkau mengacau Thian-liongpang?

Mengapa memusuhinya?”

“Aku tidak memusuhi Thian-liong-pang dan tidak ada

urusan apa-apa antara mereka dan aku. Hanya aku tahu

bahwa orang-orang Thian-liong-pang bukan manusia baikbaik,

pula pengecut. Beraninya hanya melakukan

pengeroyokan dan menggunakan perangkap!”

Pada saat itu, Ma Hoan tertawa bergelak dan terdengarlah

bunyi banyak dayung memukul air. Ketika Kwi Lan melihat ke

kanan kiri, ia mengerutkan alisnya. Kiranya tanpa ia ketahui,

telah muncul empat buah perahu kecil yang mengurung

perahu yang ditumpanginya. Perahu-perahu kecil itu juga

bercat hitam dan setiap buah perahu ditumpangi enam orang

bersenjata golok.

“Ha-ha-ha, Mutiara Hitam, engkau terlalu cantik jelita, akan

tetapi terlalu sombong! Engkau sudah berada dalam

cengkeramanku, masih bermulut besar mencaci maki Thianliong-

pang? Ketua Thian-liong-pang adalah Kakakku, tahukah

kau?”

Kwi Lan memandang tajam dan teringatlah ia sekarang.

Orang ini bernama Ma Hoan, kiranya adik Ma Kiu Ketua Thianliong-

pang. Julukannya Tai-ong dan kini tampak banyak anak

buahnya, tentu kepala bajak sungai dan dia berada dalam

bahaya!

“Bagus, kalau begitu kau sudah bosan hidup!” kata Kwi Lan

dan sekali tangan kanannya bergerak, Siang-bhok-kiam telah

tercabut dan menerjang, merupakan sinar kehijauan

menyambar ke arah Huang-ho Tai-ong Ma Hoan dan empat

orang pendayung perahu. Kuda hitam meringkik ketakutan,

empat orang itu berteriak keras dan terjungkal keluar dari

perahu, akan tetapi dengan gerakan cepat sekali Ma Hoan

sudah meloncat dan tubuhnya melayang ke atas sebuah

diantara perahu-perahu kecil yang mengurung perahu besar.

“Tangkap dia, gulingkan perahu!” Ma Hoan berseru,

memberi komando kepada anak buahnya. Kwi Lan mendengar

ini menjadi kaget juga. Kalau lawan menggunakan akal

menggullngkan perahu, dia dan kudanya celaka! Karena itu,

sebelum mereka turun tangan, tubuhnya sudah lebih dulu

mencelat ke atas sebuah perahu kecil terdekat. Sambil

meloncat, ia memutar pedangnya. Enam orang dengan golok

di tangan menyambutnya. Terdengar suara keras dan enam

buah golok itu terlempar ke dalam air dan seorang di antara

mereka malah roboh dengan lengan kanan terbabat putus!

Lima orang lainnya cepat-cepat meloncat ke dalam air dengan

panik.

Begitu perahu kecil yang diinjaknya itu terus bergoyanggoyang

dan miring Kwi Lan sudah mengenjot tubuhnya lagi,

kini meloncat ke arah perahu yang ditumpangi Ma Hoan. Ia

maklum bahwa kalau ia tidak cepat menawan Ma Hoan. Ia

tentu akan celaka. Di darat, ia tidak akan peduli akan

pengeroyokan tiga puluh orang itu, akan tetapi di air! Melawan

seorang di antara mereka saja belumtentu ia menang.

Ma Hoan tidak akan berjuluk Raja Sungai Kuning dan t idak

akan menjadi kepala bajak kalau ia tidak lihai ilmu silatnya dan

pandai bermain di air. Melihat tubuh gadis, perkasa itu

berkelebat meloncat ke arah perahunya, ia mengenal bahaya

dan…. cepat-cepat ia melempar diri ke dalam air! Dua orang

anak buahnya di perahu itu yang tidak keburu terjun, menjadi

korban babatan pedang Kwi Lan dan terjungkal di air.

Keadaan menjadi kacau-balau. Dalam cuaca suram gelap

Kwi Lan mengamuk, meloncat dari perahu ke perahu. Namun

para bajak itu sudah lebih dahulu terjun ke air dan mulailah

mereka berusaha menggulingkan perahu di mana Kwi Lan

berdiri. Gadis ini tentu saja tidak, mau digulingkan ke dalam

air. Ia bermain loncat-loncatan dari perahu ke perahu. Akan

tetapi karena perahu-perahu yang tidak dikemudikan itu

berputaran dan hanyut, apalagi karena bajak-bajak

menggulingkan semua perahu, akhirnya Kwi Lan yang sudah

berdiri di atas perahu yang terbalik, tidak mempunyai tempat

lagi untuk meloncat. Kuda hitam besar sudah terjungkal ke

dalam air ketika perahu besar digulingkan. Ketika perahu

terbalik yang ia injak itu tiba-tiba menyelam, ia masih dapat

meloncat ke atas dan…. tak dapat dicegahnya lagi tubuhnya

jatuh terbanting ke dalamair yang bergelombang!

Kwi Lan pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi pada

dirinya setelah setelah ia terbanting ke air. Ketika ia siuman

kembali, ia mendapatkan dirinya lemas dan lumpuh kaki

tangannya! Tahulah Kwi Lan bahwa ia telah tertotok lumpuh.

Tubuhnya terasa dingin dan basah. Ketika ia membuka mata,

ia melihat api unggun dan ternyata ia telah berada di dalam

guha besar tadi, menggeletak di atas rumput kering dan

tubuhnya tidak tertutup pakaian sama sekali! Kenyataan ini

membuat Kwi Lan merasa kaget setengah mati dan cepatcepat

ia menutupkan kedua matanya lagi, pura-pura pingsan

atau hampir pingsan lagi sakingkagetnya. Ia tahu bahwa ia

telah tertawan, dan bahwa orang telah menanggalkan semua

pakaian dari tubuhnya. Kemudian ia mendengar betapa di situ

terdapat banyak orang, bahkan ada suara orang berbantahan.

Dengan jantung berdebar ketakutan, baru sekali ini Kwi Lan

mengenal rasa takut, ia mendengarkan, tanpa membuka

matanya.

“Ma-totiang, aku tahu bahwa urusan ini adalah urusan

pribadimu dan sekali lagi kunyatakan bahwa antara Nona itu

dan aku tidak ada sangkut-paut apa-apa! Akan tetapi kedua

hal itu bukan menjadi halangan bagiku untuk mencegah

terjadinya hal yang memalukan ini. Betapapun juga, Kakakmu,

Ma Kiu Suheng adalah ketua kami, kalau sekarang engkau

melakukdn perbuatan hina dan rendah, bukankah hal itu

berarti akan menodai nama besar Thian-liong-pang?”

“Eh, Siangkoan-kongcu! Sejak kapan Thian-liong-pang

melarang seorang laki-laki mengambil seorang wanita yang

disukanya? Engkau hendak menghalangiku, berarti engkau iri

hati dan engkau sendiri suka kepada wanita pengacau itu.

Betulkah?”

“Tidak, Ma-totiang. Laki-laki boleh mengambil wanita mana

saja yang disukainya, akan tetapi kalau wanita itu mau.

Engkau merobohkannya dengan akal curang, dan hendak

memaksanya secara keji. Mendiang Ayahku, seorang Ketua

Thian-liong-pang tidak pantang melakukan apa saja kecuali

sikap curang dan pengecut. Kalau kau mengalahkan dia

dengan kepandaianmu, maka menjadi hakmulah untuk

memperlakukan orang yang kaukalahkan sesuka hatimu. Akan

tetapi melihat betapa tadi dia dilawan secara licik dan

sekarang hendak diperlakukan keji, sungguh sebagai seorang

gagah aku tidak akan mendiamkan saja. Ma-totiang, agar

jangan kita menjadi bahan ejekan di dunia kang-ouw,

kaubebaskan dia!”

“Bocah, berani engkau membuka mulut besar? Siangkoan

Li! Kau menganggap kau ini siapa dan aku ini orang macam

apa, bisa kauperintah sesukamu? Biarpun mendiang Ayahmu

pernah menjadi ketua Thian-liong-pang, akan tetapi Ayahmu

bukanlah sahabatku! Hanya mengingat engkau masih cucu

luar Sin-seng Losu dan masih adik seperguruan Twako

(Kakak) Ma Kiu, aku masih menganggapmu orang sendiri!

Akan tetapi jangan kau keterlaluan karena menjadi cucu SinTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

seng Losu, karena semua saudara Cap-ji-liong juga tidak suka

akan sepak terjangmu yang menyimpang dengan jalan

mereka!”

Hening sejenak. Kwi Lan memandang dari balik bulu

matanya dan melihat bahwa yang bertengkar adalah pemuda

tampan berambut panjang dan sai-kong yang menawan

dirinya. Tiga orang anggauta Thian-liong-pang berdiri di sudut,

memandang dan melihat pandang mata mereka terhadap

pemuda itu, agaknya mereka ini tidak berpihak kepada Si

Pemuda. Kwi Lan lalu menutupkan matanya kembali, menekan

perasaannya yang seperti akan melesak itu, kemudian ia

diam-diam mengerahkan tenaganya untuk membebaskan diri

dari pengaruh totokan. Akan tetapi kaki tangannya tetap

lumpuh dan karena dadanya penuh hawa amarah yang hebat,

sukar baginya untuk mengumpulkan hawa murni.

“Ma-totiang, bicara tentang sepak terjang, bukan aku yang

menyimpang, melainkan orang lain yang menyeleweng! Akan

tetapi cukuplah tentang Thian-liong-pang. Kita bicara tentang

perbuatanmu sekarang. Ma-totiang, engkau adalah seorang

bekas pendeta, sedikit banyak pernah belajar tentang

kebajikan. Engkau adalah seorang yang memiliki ilmu

kepandaian tinggi, sedikit banyak mengerti tentang

kegagahan. Engkau adalah seorang yang sudah tua, mengapa

masih menuruti nafsu binatang hendak memperkosa seorang

gadis….?”

“Huh, bocah bermulut lancang! Siapa hendak memperkosa?

Lancang kau menuduh orang….”

“Engkau masih berani menyangkal? Melihat keadaan Nona

ini….“

“Ha-ha-ha! Memang, dia kutelanjangi, akan tetapi aku tidak

berniat memperkosanya. Mungkin anak buah Thian-liong-pang

itu mempunyai niat demikian, melihat pandang mata mereka!

Ha-ha, aku sama sekali bukan hendak memperkosa,

melainkan ingin menggunakan dia membantu

menyempurnakan ilmu silat yang sedang kucipta! Dia seorang

gadis yang memiliki Iwee-kang t inggi, memiliki hawa sakti

yang kuat dan darah yang sehat. Dia juga telah mengacau

Thian-liong-pang, maka baik sekali kuambil semua kekuatan

Im-kang dari tubuhnya….”

“Keji! Aku tahu, Ma-totiang, orang mengabarkan bahwa

engkau sedang mencipta dan melatih Ilmu Bi-ciong-kun (Ilmu

Silat Menyesatkan) yang kaulengkapi dengan pukulan Tokhiat-

ciang (Pukulan Darah Beracun)…., akan tetapi mengapa

menggunakan Im-kang seorang gadis….?”

“Ha-ha-ha, Siangkoan Li! Kaukira akan mudah saja mencari

rahasia ilmuku itu? Tidak perlu, hanya perlu kauketahui bahwa

aku perlu hawa murni dan darah gadis ini untuk I-kin Swe-jwe

(Ganti Obat Cuci Sumsum). Sudahlah, kau pergi dan jangan

menggangguku lagi.”

“Tidak! Kalau engkau lebih dulu membebaskan Nona ini,

kemudian bertanding dengannya secara jantan, biar dia kalah

dan mati di tanganmu, aku Siangkoan Li bersumpah tidak

akan turut campur. Akan tetapi melihat dia ditawan dengan

akal keji dan kini akan menjadi korban ilmu iblismu, aku tidak

akan tinggal diam saja!”

“Bagus! Memang anak tidak akan berbeda dengan

ayahnya! Ayahmu penyeleweng dari Thian-liong-pang,

engkaupun….”

“Tutup mulut, jangan membawa-bawa nama Ayah!” bentak

Siangkoan Li yang sudah mencabut pedangnya.

Huang-to Tai-ong Ma Hoan berteriak keras seperti seekor

harimau terluka, mencabut pedangnya dan menyerang

pemuda itu. Karena guha itu kurang luas untuk bertanding,

sedangkan ia maklum akan kelihaian lawannya, pemuda yang

bernama Siangkoan Li itu lalu meloncat keluar guha dikejar

oleh Ma Hoan. Segera terjadi pertandingan hebat di luar guha,

di bawah sinar bintang-bintang di langit. Suara senjata mereka

saling beradu, terdengar nyaring oleh Kwi Lan yang masih

berusaha menekan kemarahannya dan membebaskan diri

daripada totokan.

“Sam-sute, bagaimana baiknya sekarang?” Terdengar

seorang di antara tiga anggauta Thian-liong-pang berkata.

Mereka bertiga masih berada di dalam guha itu, kini

memandang ke arah Kwi Lan dengan mata terbelalak penuh

kagumdan gairah.

“Biarkan saja mereka bertempur.” kata suara lain yang

parau. “Ma-totiang adalah adik kandung Pangcu (Ketua), dan

Siangkoan-kongcu adalah cucu luar Lo-pangcu, bagaimana

kita boleh campur tangan? Lihat alangkah hebatnya Nona ini,

hemm…. selagi mereka bertanding, mengapa kita sia-siakan

kesempatan bagus ini?”

“Sam-suheng benar!” kata suara ke tiga. Aku pun selama

hidupku belum pernah melihat yang seindah ini. Aku rela nanti

dimarahi Ma-totiang atau Siangkoan-kongcu….”

Tiga orang anggauta Thian-liong-pang itu menghampiri Kwi

Lan dengan wajah menyeringai penuh nafsu. Sebetulnya

mereka itu bukanlah kaum jai-hwa-cat macam Ci-lan Sai-kong,

bukan pula orang-orang mata keranjang, sungguhpun mereka

juga tak dapat disebut orang baik-baik. Akan tetapi melihat

keadaan Kwi Lan, menyaksikan kecantikan wajah yang

memang jarang bandingannya, melihat bentuk tubuh yang

demikian menggairahkan, mereka tak dapat lagi menguasai

hati dan menyerah kepada bujukan iblis nafsunya.

Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati Kwi Lan ketika

melihat tiga wajah yang berkeringat dengan mata berkilat-kilat

seperti mata binatang kelaparan itu makinmendekatinya. Ia

tidak pernah mengenal takut menghadapi ancaman maut

sekalipun, akan tetapi hati kecilnya membisikkan bahwa kini ia

terancam malapetaka yang jauh lebih mengerikan daripada

maut sendiri! Ia sudah mengerahkan tenaga, namun

perhatiannya tak dapat terkumpul bulat-bulat sehingga belum

juga ia berhasil. Kedua tangan dan kakinya masih lemas,

lumpuh tak bertenaga.

“Sam-sute, Hok-sute, kalian mundurlah. Aku sebagai

Suheng kalian, paling tua dan biarkan aku mendekati dia lebih

dulu.”

“Ah, tidak, Suheng! Aku yang mengusulkan lebih dulu!”

“Sam-suheng, aku yang paling muda lebih cocok dengan

dia!”

Tiga orang murid Thian-liong-pang yang hati serta

pikirannya sudah hitam dan gelap kotor oleh nafsu iblis itu kini

saling berebut! Dari pertengkaran mulut, mereka kini saling

betot dan agaknya mereka akan saling jotos karena sudah

mulai memaki. Melihat ini, Kwi Lan maklum betapa dirinya

diperebutkan oleh tiga orang manusia yang seperti anjinganjing

kelaparan itu, maka ia merasa hatinya makin berdebar

gelisah, perasaannya seperti ditusuk-tusuk. Makin rusaklah

pengerahan tenaga dan hawa murni di tubuhnya sehingga

akhirnya ia menghela napas dan mengeluarkan suara rintihan

karena putus harapan.

Tiba-tiba dari luar guha menyambar dua sinar hitam yang

tepat sekali mengenai jalan darah di leher dan pinggang Kwi

Lan. Kiranya dua sinar itu adalah dua buah batu kecil yang

tepat telah menotok jalan darahnya dan…. seketika Kwi Lan

merasa betapa jalan darahnya pulih kembali! Kaki tangannya

dapat ia gerakkan dan biarpun masih kesemutan, namun ia

segera melompat bangun, bagaikan kilat cepatnya ia sudah

menyambar pakaiannya yang tadi ia lihat bertumpuk di sudut

guha. Dengan jarijari tangan gemetar saking lega dan girang

hatinya tertolong pada detik-detik berbahaya itu, namun

dengan amat cepat Kwi Lan mengenakan pakaiannya dan

tubuhnya yang kini sudah berpakaian itu berkelebat cepat ke

arah pintu guha ketika ia melihat tiga orang Thian-liong-pang

berusaha lari keluar. Kejadian ini amat cepatnya. Ketika tiga

orang Thian-liong-pang tadi bertengkar untuk memperebutkan

Kwi Lan, mereka tidak tahu bahwa calon korban mereka itu

sudah melompat bangun dan berpakaian. Setelah akhirnya

seorang di antara mereka melihat Kwi Lan dan berteriak

kaget, mereka semua menoleh dan serentak mereka kini

berlumba lari ke arah pintu guha untuk menjauhkan diri dari

gadis yang mereka tahu amat lihai itu. Namun tiba-tiba di

depan mata mereka berkelebat bayangan orang dan tercium

bau harum, tahu-tahu mereka sudah melihat Kwi Lan

menghadang di depan pintu guha dengan pedang Siang-bhokkiam

yang harum di tangan! Wajah yang cantik jelita itu

tersenyum, senyum manis sekali, akan tetapi sinar matanya

tajam bagaikan pedang dan dingin seperti salju! Tiga orang

anggauta Thian-liong-pang itu melangkah mundur dengan

muka pucat dan bergidik ngeri. Jalan mundur tidak ada lagi.

Satu-satunya jalan keluar untuk lari telah dihadang oleh

Mutiara Hitam.

Gadis itu melihat tiga orang lawannya mundur-mundur

ketakutan, kini melangkah maju pula perlahan-lahan. Ia sama

sekali t idak mengeluarkan kata-kata, namun pandang matanya

dan senyumnya telah membayangkan ancaman yang

menyeramkan, dan tiada caci maki dari mulut lebih jelas

membayangkan kemarahan yang meluap-luap itu. Tiga orang

yang mundur terus akhirnya sampai mepet di dinding batu

guha. Terpaksa mereka berhenti, saling pandang dengan

muka pucat, mata terbelalak dan tubuh menggigil. Mereka

tersudut seperti tiga ekor tikus menghadapi seekor kucing

yang hendak mempermainkan mereka lebih dahulu sebelum

menjatuhkan terkaman maut.

Tiga orang itu saking takutnya menjadi nekat. Mereka

merogoh saku dan mengeluarkan senjata rahasia mereka,

yaitu perluru-peluru bintang Sin-seng-piauw yang menjadi

senjata utama para anak buah Thian-liong-pang. Tidak semua

anggauta Thian-liong-pang mewarisi ilmu silat Sin-seng Losu,

akan tetapi mereka semua diharuskan melatih penggunaan

senjata rahasia Sin-seng-piauw ini. Senjata rahasia ini

bentuknya seperti bintang, kecil namun berat dan pada

ujungnya yang runcing diberi racun.

Seperti mendapat aba-aba saja, tiga orang itu

menggerakkan tangan menyambit dengan Sin-seng-piauw.

Belasan buah peluru bintang ini menyambar ke arah Kwi Lan.

Namun sekali memutar Siang-bhok-kiam, semua senjata itu

runtuh, menancap di atas lantai atau dinding kanan kiri gadis

itu. Tiga orang anak buah Thian-liong-pang itu adalah

anggauta-anggauta tingkat rendah kepandaian mereka masih

terlalu rendah bagi Kwi Lan. Mereka menjadi makin ketakutan

dan menghamburkan senjata-senjata rahasia mereka sampai

habis. Sebuah pun tidak ada yang menyentuh pakaian Kwi

Lan. Gadis ini memperlebar senyumnya

Sambil berteriak-teriak seperti orang gila saking takut dan

nekat, tiga orang itu lalu menerjang maju, memutar golok dan

membacok sejadinya asal cepat dan kuat. Kwi Lan

menggerakkan pedangnya yang berkelebatan seperti kilat

menyambar. “Trangg…. tranggg…. tranggg….!”

Tiga batang golok itu patah-patah dan yang berada di

tangan mereka hanya tinggal gagangnya saja! Kembali

mereka mundur-mundur sampai mepet dinding dan rasa takut

mereka ini memuncak. Melihat betapa gadis itu sambil

tersenyum-senyum melangkah maju dengan pedang di

tangan, mereka bertiga hampir menjadi gila. Lutut mereka

menggigil dan akhirnya mereka tak dapat menahan diri lagi,

jatuh berlutut sambil memohon-mohon ampun dan menangis!

“Menjijikkan!” Kwi Lan berkata perlahan akan tetapi

pedangnya bergerak cepat sekali sampai lenyap berubah

gulungan sinar hijau menyambar-nyambar. Terdengar jeritanjeritan

menyayat hati dan ketika gadis itu melangkah keluar

dari dalam guha, di bawah penerangan api unggun tampak

tiga tubuh manusia bergelimpangan di atas lantai guha itu,

tanpa tangan dan kaki lagi! Darah membanjir merah.

Mengerikan sekali tubuh yang hanya tinggal kepala dan badan

itu, kaki tangan mereka buntung dari pangkalnya! Kini tiga

orang itu hanya bisa menggerak-gerakkan kepala dengan

mulut mengerang kesakitan dan mata terbelalak, masih

ketakutan. Namun satu-satunya bagian tubuh yang masih

dapat bergerak, kepala itu, tentu takkan lama bergerak karena

mereka tak mungkin dapat hidup lagi dengan darah mengalir

keluar seperti pancuran itu.

Kwi Lan mendengar betapa di luar masih terjadi

pertarungan hebat. Kini terdengar suara bersuitan keras dan

ketika ia meloncat keluar dari dalam guha, ia melihat betapa

pemuda tampan yang menolongnya tadi dikeroyok oleh

banyak orang yang membantu Huang-ho Tai-ong Ma Hoan!

Pemuda itu hebat sekali permainan pedangnya dan biarpun

Ma Hoan mengeroyoknya dengan bantuan tujuh orang anak

buahnya, namun pemuda itu masih saja menekan mereka

dengan gerakan-gerakan pedang yang amat kuat. Belasan

orang anak buah bajak bersuwitan dan mengurung. Biarpun

ilmu pedangnya hebat, pemuda itu terkurung oleh banyak

sekali bajak yang rata-rata memiliki kepandaian lumayan.

Kwi Lan melompat, pedang Siang-bhok-kiam berkelebat

dan terdengarlah jerit susul menyusul di antara anak buah

bajak yang mengurung. Keadaan menjadi kacau-balau dan

Kwi Lan yang merasa benci sekali kepada Ma Hoa, berhasil

membuka jalan darah mendekati Ma Hoan dan langsung

mengirim t ikaman berantai ke arah dua puluh tujuh jalan

darah lawan.

“Hayaaaa….!” Ma Hoan terkejut sekali seperti disambar

petir. Repot ia menggerakkan pedang untuk menangkis dan

mengelak. Setiap tangkisan membuat pundak kanannya

tergetar dan dadanya panas, sedangkan setiap elakannya

hanya berselisih sedikit sekali dari sambaran pedang lawan

sehingga berkali-kali ia berteriak kaget dan mencium bau

harum pedang lawan yang menyeramkan hatinya. Betapa pun

lihainya Ma Hoan, namun menghadapi ilmu pedang Kwi Lan

yang amat aneh, ia hanya mampu mempertahankan diri dan

terhuyung-huyung mundur sambil berteriak-teriak memberi

aba-aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok.

Adapun pemuda itu sekarang juga sudah dikeroyok banyak

bajak sungai, namun mereka ini bukanlah lawan Si Pemuda

yang gagah perkasa. Sebentar saja mereka berseru kesakitan

dan banyak di antara mereka yang mundur. Namun tak

seorang pun terluka berat karena pemuda ini sengaja tidak

mau menurunkan tangan maut.

Biarpun dikeroyok banyak orang, Kwi Lan menggmuk dan

sudah lima orang anak buah bajak roboh tewas oleh

pedangnya. Ketika ada empat orang bajak menubruknya

dengan golok dari depan sedangkan Ma Hoan meloncat

mundur bersembunyi di belakang empat orang ini, agaknya

hendak lari, Kwi Lan mengeluarkan suara melengking nyaring .

Seketika empat orang di depannya itu menjadi lemas dan

kesempatan ini dipergunakan oleh Kwi Lan untuk meloncati

kepala mereka mengejar Ma Hoan! Sebelum tubuhnya turun,

pedangnya sudah menyambar ke arah leher lawan yang amat

dibencinya ini.

Ma Hoan terkejut sekali dan mengerahkan tenaga

menangkis dengan pedangnya.

“Tranggg….!”

“Celaka….!” seru Ma Hoan ketika pedangnya menjadi patah

oleh pedang gadis itu dan pundaknya terasa sakit karena

tertusukpedang. Ia cepat menggulingkan tubuhnya ke bawah

dan terus bergulingan, sedangkan para anak buahnya kembali

maju menyerbu Kwi Lan. Dengan demikian, kepala bajak itu

tertolong dan sekali tubuhnya meloncat, ia lenyap dalam

gelap. Dengan pundak berdarah, Ma Hoan berlari cepat

menuju kesungai. Ia pikir kalau ia bisa sampai ke sungai,

berarti nyawanya selamat karena sekali terjun ke air, gadis itu

tentu takkan dapat mengejarnya lagi. Ia bergidik kalau

mengingat betapa hebat ilmu kepandaian gadis itu dan juga

menyesal mengapa ia gagal mendapatkan hawa murni Imkang

dari gadis yang sehebat itu. Diam-diam ia marah dan

gemas kepada Siangkoan Li.

Hatinya girang setelah ia mendengar suara air. Sungai

Kuning terbentang di depan dan ia mempercepat larinya

menghampiripantai. Ia melihat di dalam gelap sesosok

bayangan hitam di pantai dan dikiranya bayangan itu seorang

di antara anak buahnya, maka ia menghampiri sambil

berteriak, “Lekas sediakan perahu….!”

Akan tetapi kata-katanya terhenti dan ia berdiri melongo,

tengkuknya terasa dingin dan rambutnya berdiri satu-satu.

Bayangan itu kini melangkah maju dan bukan lain adalah Kwi

Lan, Si Mutiara Hitam! Gadis ini tersenyum manis dan pedang

di tangannya tergetar.

Huang-ho Tai-ong Ma Hoan bukanlah seorang penakut.

Sebagai kepala bajak yang sudah belasan tahun merajalela

disepanjang Sungai Kuning, entah sudah berapa banyaknya

manusia tewas di tangannya dan ia dapat membunuh orang

tanpa berkedip mata. Akan tetapi sekarang menghadapi

seorang gadis yang tersenyum-senyum manis di depannya, ia

memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali!

Baru sekarang ia merasa apa yang dirasakan oleh para

korbannya, rasa takut dan ngeri menghadapi bahaya maut.

Akan tetapi sebagai seorang jagoan, ia segera dapat

mengubah rasa takut ini menjadi kemarahan dan kenekatan.

Sambil mengeluarkan suara menggereng seperti suara srigala

marah, ia menerjang maju dan kedua telapak tangannya

memukul berbareng dari kanan kiri lambung. Inilah sebuah

jurus Bi-ciong-kun dan dari kedua telapak tangannya keluar

tenaga Tok-hiat-ciang. Biarpun ilmu yang ganas ini belum

terlatih sempurna, apalagi tenaga beracun Tok-hiat-ciang

belum jadi sepenuhnya, namun sudah hebat bukan main.

Seorang lawan yang tanggung-tanggung saja kepandaiannya,

mungkin masih dapat menangkis atau mengelak dari pukulan,

namun sukar untuk menyelamatkan diri daripada hawa

pukulan yang beracun itu.

Kwi Lan menghadapi pukulan ini dengan tenang. Melihat

lawannya tidak bersenjata lagi, ia pun tidak menggunakan

Siang-bhok-kiam di tangannya. Dengan pengerahan tenaga

dalam, tangan kirinya menyampok dan hawa pukulannya

menyambut serangan lawan, kemudian kakinya menendang.

Tubuh Huang-ho Tai-ong terlempar ke belakang! Kaget bukan

main kepala bajak ini. Bukan hanya gadis itu dapat menahan

pukulannya, bahkan secara aneh sekali kakinya sudah

menendangnya sampai terjengkang beberapa meterjauhnya.

Ia makin panik dan takut, lalu melompat bangun dan….

membalikkan tubuhnya lari kembali ke tempat tadi. Setidaknya

di tempat pertempuran tadi, ia masih dapat mengharapkan

anak buahnya untuk membantunya, daripada menghadapi

gadis setan ini sendirian saja di pinggir sungai dan jalan untuk

menyelamatkan diri terjun ke air sudah ditutup oleh Mut iara

Hitam!

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan bingung

hati kepala bajak ini ketika ia tiba di depan guha tadi, di situ

telah sunyi, tidak ada lagi pertempuran dan tidak tampak

seorang pun anggauta bajak sungai! Selagi ia hendak lari lagi

ke kiri, tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan…. lagi-lagi Si

Gadis jelita telah berada di depannya.

“Perempuan siluman!” Ia membentak dan dengan nekat

menubruk maju dengan kedua lengan terpentang, untuk

memeluk dan kalau perlu mengajak mati bersama. Tampak

sinar hijau berkelebat, disusul pekik mengerikan dari kepala

bajak itu dan darah menyambur keluar dari dadanya ketika

Huang-ho Tai-ong Ma Hoan roboh tersungkur, mendekap dada

dengan kedua tangan, berkelojotan dan tewas tak lama

kemudian.

Kwi Lan berdiri memandang korbannya. Baru lenyap

sekarang sinar matanya yang berkilat-kilat dan senyumnya

yang dingin. Sambil menarik napas panjang, ia memasukkan

Siang-bhok-kiam ke dalamsarungnya.

“Mereka memang jahat, Huang-ho Tai-ong memang layak

mati, akan tetapi kau terlalu ganas, Nona.”

Kwi Lan cepat membalikkan tubuhnya. Ia melihat pemuda

tampan yang rambutnya dibiarkan terurai di atas punggung

itu, pemuda yang bernama Siangkoan Li, yang tadi telah

menolongnya dari bahaya yang lebih hebat daripada maut.

Pemuda itu berdiri di mulut guha dan tampak gagah

membelakangi sinar api unggun yang agaknya masih menyala

di dalam guha itu. Teguran ini seketika mendatangkan rasa

marah di hati Kwi Lan, akan tetapi mengingat bahwa pemuda

ini sudah menolongnya, ia menekan perasaan marahnya dan

bertanya, suaranya ketus.

“Aku membunuh dia dengan sebuah tusukan, mengapa

kaubilang ganas? Apa yang kaumaksudkan?”

Pemuda itu mengerutkan keningnya dan wajahnya yang

tampan itu tampak makin sungguh-sungguh. “Huang-ho Taiong

sudah layak mati dan tusukan pada jantungnya sudah

tepat. Yang kumaksudkan adalah pembunuhan yang

kaulakukan kepada tiga orang anggauta Thian-liong-pang.

Mengapa kau begitu ganas membuntungkan kaki tangan

mereka, membiarkan mereka menderita hebat sebelum mati?”

Pertanyaan yang penuh teguran ini bagi Kwi Lan dirasakan

sepertitantangan. Ia segera membusungkan dada,

menegangkan leher dan memandang tajam.

“Hemm, kulihat engkau memakai pengikat kepala dan

permata kuning seperti yang dipakai Cap-ji-liong. Engkau

seorang tokoh Thian-liong-pang. Apakah engkau kini hendak

membalas atas kematian tiga ekor anjing di dalamguha itu?”

Pemuda itu memandang marah. Dua pasang mata saling

pandang dan saling tentang, akan tetapi pemuda itu lebih

dahulu menurunkan pandang matanya, menghela napas dan

berkata, nada suaranya penuh penyesalan.

“Engkau membunuh Huang-ho Tai-ong memang sudah

sepatutnya karena dia mempunyai niat buruk terhadap dirimu.

Akan tetapi tiga orang Thian-liong-pang di dalam guha itu,

mengapa kau menyiksa mereka? Dan mengapa pula engkau

dan temanmu membikin kacau di Thian-liong-pang ketika

diadakan upacara pengangkatan ketua baru?”

“Huh! Orang sendiri biar kotor dianggap bersih selalu! Tiga

orang itu bukan manusia, mereka hanya tiga ekor anjing

busuk yang patut dibunuh seratus kali! Mereka itu hendak….

hendak…. berbuat kurang ajar, mereka seperti anjing-anjing

yang kotor….!”

Pemuda itu menghela napas. “Ah, sudah kusangka

demikian….! Makin lama makin rusaklah nama Thian-liongpang

bersama rusaknya watak mereka….! Ah, Nona, sekarang

aku tahu mengapa kau membunuh mereka, akan tetapi tetap

saja kau terlalu ganas. Membunuh dengan dorongan

kebencian dan kemarahan bukanlah sikap seorang gagah.”

Kwi Lan makin marah dan penasaran. Ia membanting kaki

kanannya dan menghardik.

“Kau ini seorang tokoh Thian-liong-pang, apa kaukira

seorang gagah? Apakah Thian-liong-pang perkumpulan orang

gagah? Huh! Kulihat dengan mata sendiri bahwa Thian-liongpang

hanyalah perkumpulan orang-orang jahat. Dalam pesta

perayaan untuk mengangkat ketua baru, yang datang adalah

orang-orang dari golongan hitam. Bahkan ada yang

menyumbangkan dua belas orang gadis culikan! Dan ketuanya

diangkat dengan upacara penyembelihan dan penyiraman

darah anjing. Perkumpulan apa ini? Dan kau yang menjadi

tokohnya masih berani bicara tentang sikap seorang gagah?”

Aneh sekali. Pemuda yang tadinya bersikap marah dan

penuh teguran kepada Kwi Lan, setelah menghadapi kata-kata

yang pedas ini tiba-tiba saja berubah air mukanya. Ia

mengerutkan keningnya, wajahnya yang tampan menjadi

gelap, kemudian ia menjatuhkan diri duduk di atas tanah,

menarik napas panjang berkali-kali dan mengeluh.

“Disalahgunakan…. disalahgunakan….!” Dan ia pun menangis!

Kwi Lan tercengang menyaksikan perubahan ini. Dia sendiri

memang keras hati, mau membawa kehendak sendiri dan

berwatak aneh, namun dia bukan seorang yang tidak

mengenal budi. Melihat keadaan pemuda ini, hatinya pun

menjadi lunak, dan tanpa disadarinya, ia sudah duduk pula di

atas sebuah batu, di depan pemuda itu lalu berkata.

“Aku tidak bermaksud memaki dan menyinggungmu. Aku

hanya memaki Thian-liong-pang. Biarpun kau seorang tokoh

Thian-liong-pang, kulihat engkau lain daripada mereka.

Engkau sudah menolongku tadi dan budimu itu sungguh amat

besar, membuat aku bersyukur dan berterima kasih sekali.

Engkau sudah menentang Huang-ho Tai-ong, dan dalam

keadaan terancam bahaya hebat, engkau sudah memulihkan

totokan pada tubuhku dengan sambitan batu kerikil.”

Pemuda itu menyusut air matanya dan mengangkat muka

memandang Kwi Lan. Kemudian berkata dengan suara

berduka. “Aku tidak peduli andaikata kau mencaci maki diriku.

Dan aku tentu akan menyerangmu andaikata makianmu

terhadap Thian-liong-pang tidak benar. Akan tetapi apa yang

kaukatakan adalah benar dan keadaan Thian-liong-pang

seperti itulah yang menghancurkan hatiku. Aku rela mati

untuk Thian-liong-pang, akan tetapi dengan keadaan Thianliong-

pang seperti sekarang ini…. bagaimana mungkin aku

membelanya? Aku malu sekali, sedih, tapi…. tidak

berdaya….!”

Timbul rasa suka di hati Kwi Lan terhadap pemuda ini.

Ternyata pemuda ini selain memiliki ilmu kepandaian tinggi

seperti telah dibuktikannya tadi dengan sambitan kerikil dan

dengan sepak terjangnya dikeroyok oleh Huang-ho Tai-ong

dan anak buahnya, juga memiliki kesetiaan namun tidak ikut

menyeleweng seperti tokoh-tokoh lain dari perkumpulannya

itu. Dengan suara halus ia berkata.

“Dari percakapan tiga ekor anjing tadi aku mendengar

bahwa kau bernama Siangkoan Li dan menjadi cucu luar Si

Kakek Sin-seng Losu. Seorang seperti kau ini bagaimanakah

bisa berada di tengah-tengah mereka yang kotor seperti

mereka itu?”

Siangkoan Li menundukkan mukanya. “Nona, bagaimana

aku dapat bercerita tentang keadaanku sebagai seorang di

antara tokoh-tokoh dunia hitam kepada seorang gadis gagah

perkasa, seorang pendekar seperti engkau ini?”

“Pendekar? Siapa bilang aku pendekar?”

“Ah, tidak perlu kau merendahkan diri. Kau tentulah

seorang Lihiap (Pendekar Wanita) dari perguruan tinggi yang

terkenal maka kau berani menentang Thian-liong-pang. Kau

hidup di dunia yang bersih, yang menjujung tinggi kegagahan,

yang selalu bertindak membela kebenaran dan keadilan,

menentang kejahatan. Sebaliknya aku, aku hidup bergelimang

dosa dan kejahatan, hidup di dunia kotor dan hitam….”

“Ihhh, kau ngaco tidak karuan. Siapa bilang aku pendekar?

Aku sama sekali bukan seorang lihiap. Aku seorang perantau,

tidak datang dari perguruan manapun juga. Guruku bukan

orang terkenal, dan andaikata kuberitahukan juga engkau

pasti tak pernah mendengar namanya.

Aku lama sekali bukan penegak kebenaran dan keadilan,

bukan pendekar dan aku hanya bertindak menurut suara

hatiku saja. Yang memusuhi aku, tentu akan kumusuhi

kembali, yang baik kepadaku, tentu akan kubaiki kembali.

Engkau baik kepadaku, telah menolongku, tentu saja tidak

mungkin kau kuanggap musuh. Siangkoan Li, aku ingin sekali

mendengar bagaimana kau bisa terlibat dalam Thianliongpang.”

Mula-mula pemuda itu memandang Kwi Lan dengan sinar

mata heran dan tidak percaya, kemudian berkata perlahan.

“Ah, kalau begitu ada persamaan antara kita. Hanya

bedanya, engkau bebas dan aku terikat….” Ia meraba

permata kuning yang menghias dahinya. Kemudian ia

melonjorkan kakinya, duduk dengan enak dan mulai bercerita.

Thian-liong-pang tadinya merupakan perkumpulan orangorang

gagah, sisa dari Kerajaan Hou-han yang telah

ditaklukkan oleh Kerajaan Sung. Orang-orang gagah yang

berjiwa patriot membentuk perkumpulan Thian-liong-pang

dengan cita-cita merebut kembali wilayah Hou-han yang

sudah tertumpas musuh. Perkumpulan ini dipimpin oleh

seorang muda yang gagah perkasa, yang bernama Siangkoan

Bu, putera seorang bekas panglima Kerajaan Hou-han. Di

bawah pimpinan Siangkoan Bu inilah para orang gagah di

Hou-han mengadakan pertempuran gerilya dan sering kali

melakukan pengrongrongan terhadap Kerajaan Sung. Karena

perkumpullan ini membutuhkan banyak tenaga orang-orang

gagah, tentu saja sukar untuk mengadakan penyaringan

sehingga banyak pula orang-orang dari dunia hitam yang

memiliki kepandaian, masuk pula menjadi anggauta. Di antara

mereka ini terdapat seorang pelarian dari barat, bekas

seorang pendeta yang bukan lain adalah Sin-seng Losu

bersama puterinya yang cantik dan berkepandaian tinggi pula.

Hal yang lumrah terjadilah, Siangkoan Bu jatuh cinta kepada

puteri Sinseng Losu dan kemudian mereka menikah. Dari

pernikahan ini lahirlah Siangkoan Li.

Sin-seng Losu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi

sehingga Ketua Thian-liong-pang yaitu mantunya sendiri,

mengangkatnya sebagai guru untuk para anggauta Thianliong-

pang. Dengan kedudukan ini, ditambah kenyataan

bahwa dia adalah ayah mertua Siangkoan Bu, maka Sin-seng

Losu merupakan orang ke dua setelah mantunya di dalam

perkumpulan. Kekuasaannya tinggi dan mulailah timbul

penjilat-penjilat, yaitu orang-orang dari dunia hitam yang

menyelundup masuk ke dalam Thian-liong-pang. Mulailah Sinseng

Losu menyimpang daripada jalan bersih menjadi hamba

nafsu dan makin tua menjadi makin gila.

Orang-orang gagah yang melihat gejala-gejala busuk mulai

tumbuh dalam Thian-liong-pang, menjadi marah dan tidak

senang sekali. Akan tetapi oleh karena segan terhadap

Siangkoan Bu, seorang patriot sejati yang dihormat dan

disegani, mereka masih dapat menahan sabar. Tentu saja,

sebagai seorang yang bijaksana, Siangkoan Bu maklum pula

akan keadaan ayah mertuanya yang menyeleweng dan

didukung oleh banyak anggauta yang berasal dari dunia

hitam. Orang gagah ini menjadi serba susah. Mau ditindak,

kakek itu adalah ayah mertuanya. Tidak ditindak, dapat

merusak nama baik perkumpulan. Akhirnya, Siangkoan Bu

yang pada suatu hari berhasil merampas tiga belas butir

permata kuning milik pembesar tinggi yang berkuasa di Houhan

dan yang menjadi boneka Kerajaan Sung, lalu

menggunakan permata-permata kuning itu sebagai tanda

kekuasan. Ia memilih tiga belas orang tokoh pimpinan Thianliong-

pang, di antaranya dia sendiri dan ayah mertuanya di

tambah sebelas orang tokoh lain yang ia tahu adalah orangorang

gagah dan patriot-patriot sejati, sebagai dewan

pimpimpinan yang memakai hiasan dari permata kuning dan

mereka yang memakai tanda ini berhak untuk mengambil

keputusan demi kebaikan Thian-liong-pang, di antaranya

berhak menghukum para anggauta yang menyeleweng!

Dengan adanya peraturan ini, Sin-seng Losu merasa

tersudut dan tidak berani lagi melakukan penyelewenganpenyelewengan

secara berterang. Akan tetapi malapetaka

menimpa keluarga Siangkoan Bu dan Thian-liong-pang pada

umumnya. Ketika terjadi bentrokan dengan jagoan-jagoan

Kerajaan Sung, Siangkoan Bu dan isterinya tewas dalam

pertempuran hebat.

Semenjak itulah, kekuasaan tertinggi jatuh ke tangan Sinseng

Losu. Dan karena ilmu kepandaiannya paling tinggi

ditambah dua belas orang muridnya yang paling ia sayang,

yaitu para penjilat terdiri dari Thai-lek-kwi Ma Kiu dan yang

lain-lain, tidak ada tokoh lain yang berani menentangnya.

Bahkan satu demi satu para patriot mengundurkan diri

sehingga tiga belas buah permata kuning terjatuh ke tangan

Sin-seng Losu yang mengangkat diri menjadi Ketua Thianliong-

pang.

“Demikianlah, Nona. Sebuah permata, yaitu bekas milik

Ayah, oleh Gwa-kong (Kakek Luar) diberikan kepadaku untuk

kupakai, sedangkan yang dua belas diberikan kepada para

suheng, murid Gwakong.”

“Cap-ji-liong itu?”

“Benar, kami diharuskan sumpah setia sebelum menerima

permata ini, dan hal itu memang menjadi peraturan

perkumpulan kami.”

Hening sejenak setelah pemuda itu selesai bercerita. Diamdiam

Kwi Lan merasa kasihan kepada Siangkoan Li. Pemuda

ini yatim piatu dan terpaksa hidup di antara orang-orang jahat

dan merasa tidak berdaya karena yang mengepalai orangorang

jahat itu adalah kakek luarnya sendiri! Di samping

kenyataan ini, juga ia telah bersumpah setia sebagai pemakai

permata kuning, setia terhadap Thian-liong-pang yang kini

berubah menjadi dunia hitam! Pantas saja pemuda ini selalu

bersedih, wajahnya tak pernah berseri karena batinnya

tertekan selalu.

“Aku seorang anggauta dunia hitam, Nona. Bahkan seorang

tokohnya karena aku masih cucu luar orang pertama Thianliong-

pang. Sebetulnya tidak patut bagi seorang macam aku

untuk menceritakan semua ini kepada seorang seperti Nona.

Akan tetapi…. aku tidak bisa diam saja melihat kau

dirobohkan orang dengan cara pengecut, karena itu…. biarpun

merupakan penghinaan terhadap perkumpulan, aku…. aku

nekat turun tangan….”

Kwi Lan memegang kedua tangan pemuda itu. “Siangkoan

Li, kalau begitu…. yang menolong aku dan Berandal keluar

dari sumur itu…. engkaulah orangnya?”

Siangkoan Li menundukkan mukanya yang menjadi merah.

“Aku seorang pengkhianat kotor…. aku…. aku akan menebus

dosa, akan menanti sampai Gwa-kong kembali….! Hidup

bagiku sudah memuakkan, lebih baik menyusul Ayah Ibu….”

“Siangkoan Li, mengapa seorang gagah seperti kau ini bisa

mengucapkan kata-kata pengecut seperti itu? Orang yang

bosan hidup, yang mengharapkan kematian, adalah seorang

pengecut yang tidak berani menentang kesulitan hidup,

demikian kata Guruku. Biarpun semua orang menganggapmu

sebagai seorang tokoh dunia hitam, akan tetapi aku, Kam Kwi

Lan, menganggapmu seorang sahabat yang baik dan gagah!”

“Kam Kwi Lan? Itukah namamu, Nona….?”

Kwi Lan terkejut. Karena merasa kasihan, ia sampai

memperkenalkan namanya secara tak sadar. Karena sudah

terlanjur, ia lalu berkata, “Benar, itulah namaku. Nama julukan

Mutiara Hitam adalah pemberian Si Berandal.”

“Si Berandal? Pemuda tampan yang datang bersamamu?

Dia tampan dan lihai sekali. Di mana dia sekarang?”

“Dia pergi mencari Ibu kandungnya. Siangkoan Li, kau tadi

mengatakan bahwa kau akan menebus dosa menanti

kembalinya Sin-seng Losu. Apa yang hendak kaulakukan?”

Dalam percakapan tadi ketika Si Nona memperkenalkan

nama, pada wajah yang tampan itu tampak sedikit cahaya

gembira, akan tetapi mendengar pertanyaan itu, kembali

wajahnya menjadi muram. Sejenak ia tidak menjawab,

melainkan memandang ke arah pohon-pohon yang mulai

tampak karena tanpa mereka sadari, sang malam telah mulai

diusir oleh sinar matahari pagi. Kicau burung menyambut

datangnya fajar.

“Aku harus mengakui perbuatanku di depan mereka, harus

berani menebus dosaku dan menerima hukuman.”

“Ah, mengapa begitu? Tinggalkan saja Thian-liong-pang

dan mereka yang hidup bergelimang kejahatan!” teriak Kwi

Lan penasaran.

Tiba-tiba Siangkoan Li melompat bangun. “Tidak! Tak

mungkin Thian-liong-pang adalah perkumpulan yang didirikan

oleh mendiang Ayahku. Ayah Ibuku telah menyerahkan nyawa

mereka untuk Thian-liong-pang. Masa aku harus melarikan

diri? Meninggalkan Thian-liong-pang? Tidak, Kwi Lan. Aku

takkan mundur biarpun harus menghadapi kematian.”

“Tapi, orang tuamu mati untuk Thian-liong-pang dalam

membela Hou-han, mereka mati sebagai pahlawan-pahlawan

utama. Akan tetapi kau…., kau hendak menyerahkan nyawa

sebagai seorang pengkhianat Thian-liong-pang? Selagi Thianliong-

pang dikuasai orang-orang jahat?”

Siangkoan Li menggeleng kepala dan menarik napas

panjang. “Betapapun juga, masih ada Sin-seng Losu di situ

dan kau harus ingat, dia adalah Gwakong (Kakek Luar)

bagiku. Andaikata tidak ada dia, tentu aku sudah akan

mengadu nyawa dengan Cap-ji-liong untuk membasmi mereka

dari Thian-liong-pang!”

“Marilah kita berdua sekarang juga menghadapi mereka.

Siangkoan Li, kau percayalah, kita berdua akan dapat

menghancurkan mereka! Kulihat kepandaianmu jauh lebih

tinggi daripada Cap-ji-liong….”

Siangkoan Li mengangguk. “Memang, terhadap Cap-ji-liong

aku tidak takut. Biarpun mereka itu terhitung Suhengsuhengku

sendiri karena aku pun mendapat pelajaran ilmu

silat dari Gwakong, akan tetapi aku masih mempunyai dua

orang Guru yang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi

daripada kepandaian Gwakong.”

“Siapakah mereka itu?” Kwi Lan bertanya kagum.

Siangkoan Li menggeleng kepala. “Tidak boleh kusebut,

sungguhpun andaikata kukatakan juga, kau takkan

mengenalnya. Agaknya antara gurumu dan guruku ada

persamaan keanehan dalam hal nama ini. Kau bilang gurumu

tidak terkenal sama sekali. Akan tetapi kurasa gurumu masih

jauh lebih terkenal daripada guruku yang benar-benar tak ada

seorang pun mengenalnya.” Tiba-tiba Siangkoan Li

memandang ke depan dan wajahnya menegang. Kemudian ia

memegang tangan Kwi Lan, menggenggam tangan yang kecil

halus itu sejenak sambil berkata,

“Sudahlah, Kwi Lan. Mereka sudah datang. Selamat

berpisah. Kau percayalah, pertemuan ini merupakan satusatunya

hal yang paling menyenangkan hatiku selama hidupku

dan sampai mati pun aku tidak akan melupakan kebaikanmu.”

Setelah berkata demikian, Siangkoan Li melepaskan pegangan

tangannya dan dengan langkah lebar ia pergi meninggalkan

Kwi Lan.

Kwi Lan berdiri di depan guha dengan hati bimbang.

Biarpun pemuda itu sudah dua kali menolongnya, akan tetapi

pemuda itu bukan apa-apanya. Orang lain yang kebetulan

bertemu di situ. Urusan pribadi pemuda itu tiada sangkutpautnya

dengan dirinya. Kalau pemuda itu begitu setia kepada

Thian-liong-pang dan begitu bodoh untuk menyerahkan diri

minta dihukum, peduli apakah dengan dia? Berpikir demikian,

Kwi Lan juga mulai berjalan meninggalkan tempatitu. Ia masih

gemas kala mengingat kuda hitamnya yang hilang. Matikah

kuda itu? Hanyut dan tenggelam? Ataukah terampas para

bajak?

Pemuda yang aneh, kembali ia berpikir tentang diri

Siangkoan Li. Tidak mudah baginya untuk melupakan pemuda

itu begitu saja. Masih terngiang di telinganya ucapan pemuda

itu ketika hendak berpisah, ucapan yang agak gemetar.

Pertemuan yang paling menyenangkan hatinya selama

hidupnya! Sampai mati pun pemuda itu takkan melupakannya!

Hemmm, Kwi Lan merasa betapa mukanya menjadi padas.

Jantungnya berdebar aneh, seperti ketika Hauw Lam si

Berandal menyatakan cinta kasihnya kepadanya di dalam

sumur.

Siangkoan Li merupakan pemuda yang aneh. Akan tetapi

ada perbedaan mencolok dalam sikap mereka. Hauw Lam

selalu gembira dan jenaka, nakal dan lucu. Sebaliknya,

Siangkoan Li selalu muram dan sedih. Mengenangkan Hauw

Lam menimbulkan kegembiraan. Mengenangkan Siangkoan Li

menimbulkan keharuan. Akan tetapi keduanya sama baiknya.

Sama tampan, sama lihai dan keduanya sama amat baik

kepadanya! Hauw Lam sedang pergi mencari ibu kandungnya,

dan Siangkoan Li…. pergi mencari maut! Ah, tidak boleh

begini! Ia harus melarangnya, harus mencegahnya!

Kwi Lan lalu pergi mengejar. Siangkoan Li sudah tak

tampak lagi bayangannya akan tetapi karena waktu itu

matahari telah mulai muncul mengusir kegelapan, ia dapat

lebih mudah mencari pemudaitu. Ia mendapatkan pemuda itu

di tepi Sungai Huang-ho dalam keadaan…. terbelenggu kedua

tangannya dan sedang dimaki-maki oleh Sin-seng Losu,

disaksikan oleh seorang di antara Cap-ji-liong dan seorang

kakek kurus berjenggot lebat.

Siangkoan Li hanya menundukkan mukanya dengan kening

berkerut, kelihatan berduka sekali. Melihat keadaan pemuda

ini, darah Kwi Lan sudah bergolak saking marahnya. Di situ

hanya terdapat tiga orang Thian-liong-pang, biarpun yang

seorang adalah tokoh terbesar, Sin-seng Losu. Andaikata Capji-

liong lengkap berada di situ sekalipun, ia tidak akan gentar

menghadapi mereka untuk menolong Siangkoan Li. Pemuda

itu telah dua tiga kali menolongnya, tidak hanya menolongnya

daripada bahaya maut, bahkan dari bahaya yang lebih hebat

dari pada maut!

“Sin-seng Losu tua bangka jahat! Hayo bebaskan

Siangkoan Li!” bentaknya sambil muncul dari belakang batang

pohon dengan pedang di tangan.

Seorang di antara Cap-ji-liong yang memakai mutiara

kuning di dahi seperti Siangkoan Li, menoleh dan mukanya

menjadi marah sekali ketika ia mengenal Kwi Lan. Bagaikan

kilat cepatnya, tangan kirinya bergerak dan pada saat itu

Siangkoan Li berseru,

“Thio-suheng…. jangan….! Nona Kam, jangan turut

campur….!”

Namun terlambat. Tiga buah Sin-seng-piauw sudah

menyambar ke arah tubuh Kwi Lan, akan tetapi gadis ini

menggerakkan pedang menyampok runtuh tiga batang Sinseng-

piauw sedangkan tangan kirinya sudah menyebar

jarumnya ke arah anggauta Cap-ji-liong itu. Orang she Thio ini

cepat meloncat untuk mengelak, namun kurang cepat karena

Kwi Lan melepas jarum secara luar biasa sekali. Ia melepas

dengan gerakan sekaligus, namun ternyata jarum-jarum di

tangannya telah terpecah menjadi dua rombongan.

Rombongan pertama menyerang cepat sekali sedangkan

rombongan kedua, biarpun disambitkan dalam waktu yang

sama, lebih lambat dan merupakan jarumpenutup jalan keluar

sehingga ke mana pun juga lawan mengelak, tentu akan

disambut oleh jarum-jarum rombongan ke dua ini. Anggauta

Cap-ji-liong itu kaget namun terlambat. Pahanya tertusuk

sebatang jarum yang amblas sampai tidak tampak menembus

celana, kulit dan dagingnya. Seketika tubuhnya menjadi kaku

dan ia roboh pingsan!

“Wuuuttt…. singgg….!”

Masih untung bahwa Kwi Lan mempunyai kegesitan yang

mengagumkan dan gerakan yang aneh. Otomatis tubuhnya

mencelat ke kiri sampai hampir menyentuh tanah untuk

mengelak sambaran pedang yang amat luar biasa itu. Ketika

ia berjungkir balik memandang, kiranya yang menyerangnya

adalah orang kurus berjenggot lebat. Diam-diam Kwi Lan

terkejut juga. Gerakan pedang orang ini hebat sekali, jauh

lebih hebat daripada orang-orang Cap-ji-liong! Padahal Cap-jiliong

adalah orang-orang Thian-liong-pang yang menduduki

tingkat satu. Kalau begitu orang itu tentu bukan orang Thianliong-

pang.

Ia memandang penuh perhatian. Orang itu tinggi kurus

mukanya pucat kehijauan, tanda bahwa dia telah melatih

semacam ilmu Iweekang yang aneh dan dalam. Rambut dan

jenggotnya awut-awutan tak terpelihara, juga kotor seperti

seorang pengemis terlantar. Namun pakaiannya bukan seperti

pakaian pengemis. Agaknya seorang pertapa yang sudah tidak

peduli akan kebersihan dirinya lagi. Mukanya kurus tak

berdaging, hanya kulit pembungkus tengkorak. Tentu usianya

sudah tua sekali. Orang ini berdiri memandangnya dengan

muka seperti kedok, sedikit pun tidak membayangkan

perasaan sesuatu, juga mulutnya tidak mengeluarkan katakata.

“Susiok, harap jangan layani dia! Nona Kam, kau

pergilah….!” Kalimat terakhir itu ditujukan kepada Kwi Lan

dengan pandang mata penuh kedukaan. Makin tidak tega hati

Kwi Lan, maka ia menghadapi kakek berpedang itu sambil

mengejek,

“Kalian bebaskan dia atau…. pedangku harus bicara?”

“Sute (Adik Seperguruan), kau wakili aku hajar siluman ini!”

Sin-seng Losu berkata.

Kini tahulah Kwi Lan bahwa kakek kotor ini adalah adik

seperguruan Sinseng Losu, pantas saja Siangkoan Li

menyebutnya pamanguru. Ia melihat betapa orang itu

menggetarkan pedangnya di tangan kanan sedangkan tangan

kirinya tergetar hebat lalu menjadi kaku dengan jari-jari

membentuk cakar garuda. Kemudian tubuh orang itu

menubruk ke depan, pedangnya membabat ke arah pinggang

sedangkan tangan kirinya mencakar ke arah mukanya. Sukar

dikatakan mana yang lebih berbahaya, pedang itu ataukah

jari-jari tangan kiri itu. Keduanya mengeluarkan angin pukulan

yang bersuitan dan amat kuatnya.

Sambutan Kwi Lan atas serangan dahsyat dan aneh ini

tidak kalah luar biasanya. Gerakan Kwi Lan memang aneh dan

tidak terduga-duga. Bahkan sudah menjadi inti daripada ilmu

silat Kam Sian Eng bahwa setiap serangan lawan merupakan

pintu yang terbuka dan merupakan kesempatan untuk dibalas

serangan yang mematikan! Tanpa mempedulikan keselamatan

sendiri, Kwi Lan sudah meloncat tinggi ke atas sehingga

pedang lawan lewat di bawah kedua kakinya dan berbareng

pedang Siang-bhok-kiam di tangannya bergerak menyambar

ke bawah membabat tangan kiri lawan yang mencakarnya

tadi.

Kakek itu membelalakkan mata dan agaknya hanya

gerakan mata ini sajalah yang menyatakan bahwa ia merasa

kaget sekali karena bagian muka yang lain tetap seperti

kedok. Namun ternyata ia lihai sekali. Karena tidak keburu

menarik kembali lengan kirinya yang kini menjadi sasaran

pedang lawan, ia segera membuang diri ke belakang sehingga

roboh terlentang sambil memutar pedang di depan dada dan

bergulingan. Secepat kilat ia sudah bangun kembali dan kini

mereka sudah berhadapan lagi. Keduanya sama maklum

bahwa lawan adalah seorang yang lihai. Namun Kwi Lan tetap

tersenyum mengejek, menanti serangan lawan.

Kakek itu kini menerjang kembali sambil memutar pedang

dengan gerakan dahsyat sekali. Pedangnya membacokbacok

secara bertubi, kiri kanan atas bawah, diselang-seling namun

tak pernah berhenti, mengikuti bayangan dan gerakan lawan.

Kwi Lan memperlihatkan kegesitannya, terus mengelak

dengan sedikit miringkan tubuh sehingga pedang lawan

menyambar-nyambar di samping tubuhnya, bahkan kadangkadang

kelihatan seperti sudah menyerempetnya! Makin lama

makin gencar serangan aneh dan hebat ini. Pedang itu

seakan-akan digerakkan oleh mesin, tak pernah berhenti

menyerang dan setiap bacokan disertai tenaga dahsyat.

Setelah dua puluh jurus lewat Kwi Lan hanya

menghadapinya dengan elakan-elakan segesit burung walet,

gadis ini lalu berseru nyaring dan pedang Siang-bhok-kiam

berubah menjadi sinar hijau bergulung-gulung yang makin

lama makin luas lingkarannya dan betapa pun lawannya

memutar pedang setelah lewat lima puluh jurus, sinar hijau

mulai menggulung dan melibat sinar pedang kakek itu.

Kakek ini sebenarnya bukan orang sembarangan. Dia

bernama Yo Cat, murid dari tokoh besar Siauw-bin Lo-mo

paman guru Sin-seng Losu. Di dalam dunia hitam, ia sudah

menduduki tingkat tinggi, sejajar dengan Sin-seng Losu.

Karenanya jarang ia bertemu tanding. Siapa kira, hari ini,

selagi ia ikut dengan suhengnya itu untuk mempersiapkan

tempat istirahat bagi gurunya yang akan datang berkunjung

ke Yen-an, ia bertemu seorang gadis muda belia yang tidak

hanya mampu menandinginya, bahkan kini mendesaknya

dengan ilmu pedang yang hebat dan luar biasa, dimainkan

dengan sebatang pedang kayu pula!

“Auuuggghhhh….!” Hebat sekali pekik yang keluar dari

dalam perut melalui kerongkongan Yo Cat ini, bukan seperti

suara manusia lagi, dahsyat dan liar, lebih mirip suara

binatang buas atau suara iblis. Kwi Lan adalah seorang gadis

gemblengan yang telah mempelajari pelbagai ilmu yang anehaneh

dengan cara yang aneh pula. Namun menghadapi Yo Cat

yang terlatih puluhan tahun lamanya dan sudah menjadi ahli

sebelum gadis ini terlahir, apalagi menghadapi ilmu hitam

Koai-houw Ho-kang (Auman Harimau Iblis) ini, jantungnya

tergetar dan tubuhnya menggigil. Gerakan pedangnya kacau

dan ia terhuyung-huyung ke belakang.

Lebih hebat lagi, setelah mengeluarkan ilmu menggereng

yang dahsyat itu, Yo Cat terus menerjang maju dan

melakukan tekanan-tekanan berat!

Ada satu hal yang menguntungkan Kwi Lan, yaitu wataknya

yang tabah dan hatinya yang tidak pernah mau kenal apa

artinya takut. Kalau ia merasa takut, celakalah ia karena

kelemahan orang menghadapi ilmu semacam Koai-houw Hokang

itu adalah perasaan takut. Kalau hati merasa gentar,

makin hebat pengaruh ilmu itu sehingga mungkin tanpa

bertanding lagi orang sudah bertekuk lutut. Karena hatinya

sama sekali tidak gentar, pengaruh gerengan dahsyat itu

sebentar saja dan Kwi Lan sudah dapat menetapkan

perasaannya lagi. Pedangnya mulai memperhebat lagi

gerakannya dan dalam waktu singkat saja kembali ia telah

mengurung dan mendesak. Yo Cat boleh jadi lihai dan banyak

pengalamannya, namun menghadapi ilmu pedang tingkat

tinggi yang dilatih di bawah bimbingan seorang jago wanita

gila, tentu saja ia menjadi bingung sekali, tak dapat mendugaduga

bagaimana perubahan pedang itu sehingga menjadi mati

kutu!

“Eh, budak cilik, kau kurang ajar sekali!”

Seruan ini keluar dari mulut Sin-seng Losu yang sudah

melompat ke depan dan sekali tangan kirinya bergerak,

tampak sinar berkilauan menyambar ke arah Kwi Lan. Sinar ini

adalah senjata rahasia Sin-seng-piauw, namun jauh bedanya

dengan piauw yang dilepas oleh semua anak murid Thianliong-

pang. Piauw ini memang bentuknya seperti bintang,

akan tetapi terbuat daripada perak berkilauan dan karena

kakek ini yang menciptakan senjata rahasia itu, tentu saja

cara menggunakannya pun hebat luar biasa!

“Gwakong (Kakek Luar), jangan….!” Terdengar Siangkoan

Li berseru kaget.

Kwi Lan maklum bahwa ia diserang dengan senjata rahasia.

Karena ia masih menghadapi pedang Yo Cat yang tak boleh

dipandang ringan, maka perhatiannya kurang sepenuhnya

terhadap datangnya serangan Sin-eng-piauw. Ketika ia melirik,

ia kaget sekali melihat sinar-sinar berkeredepan

menyambarnya dari kanan kiri bawah dan atas, sinar-sinar

yang menyambar tanpa mengeluarkan bunyi akan tetapi yang

kecepatannya menyilaukan mata.

Celaka, Kwi Lan berseru kaget dalam hati. Ia cepat

meloncat ke belakang sambil memutar pedangnya, namun

bagaikan ada matanya, piauw-piauw perak itu melejit dan

menyambar seperti gila. Ketika ia berseru keras dan meloncat

tinggi, semua piauw lewat di bawah kakinya kecuali sebuah

yang secara aneh telah menancap betis kaki kirinya. Untung

baginya bahwa tadi Kwi Lan sudah bersiap-siap dan begitu

merasa kakinya disambar ia telah menutup jalan darah dan

mengerahkan Iwee-kang sehingga senjata rahasia itu hanya

separuhnya saja menancap di daging betisnya. Pada saat

tubuhnya masih di udara, Yo Cat menerjang maju dengan

tusukan pedangnya, dan lebih hebat lagi, Sin-seng Losu sudah

mengerahkan sin-kang di lengan kanannya dan mengirim

pukulan jarak jauh yang amat hebat dan sukar ditangkis!

“Auhhhh…. hehhh…. kau berani…. berani….?” Terdengar

Sin-seng Losu terengah-engah dan tubuhnya terdorong

mundur dan terhuyung-huyung. Kiranya pukulannya telah

ditangkis oleh kedua tangan Siangkoan Li yang terbelenggu!

Melihat ini, Kwi Lan yang tubuhnya masih di udara dan

menghadapi terjangan Yo Cat, mengeluarkan lengking tinggi

dan tiba-tiba tubuhnya bagaikan seekor ular raja menggeliat

aneh di udara namun pedang lawan menyelinap di bawah

ketiak kirinya, langsung ia kempit dan pedangnya sendiri

menyambar ke lengan kanan lawan.

“Iihhh….!” Suara ini keluar dari mulut Yo Cat yang cepat

melepaskan pedangnya dan menarik lengannya, namun

kurang cepat sehingga lengannya dekat siku terkena

serempetan pedang, terluka dan darahnya bercucuran Si Muka

Mayat ini meloncat ke belakang dan memegangi lengan

kanan, agaknya khawatir kalau-kalau gadis yang perkasa itu

mendesaknya dengan serangan maut.

Akan tetapi Kwi Lan menengok ke arah Siangkoan Li yang

sudah menjatuhkan diri berlutut sambil menangis!

“Gwakong…. kau tak boleh membunuhnya…. tak boleh….!”

Pemuda itu mengeluh berkali-kali.

“Anak keparat, cucu durhaka…. hehhehhh…. berani kau….

huh-huhh…. kubunuh kau….!”

Sekali meloncat, tubuh Kwi Lan berkelebat dan ia sudah

berdiri menghadang di depan Siangkoan Li, mulutnya

tersenyum dan matanya memandang kakek itu dengan penuh

ancaman. Akan tetapi kekhawatirannya hilang ketika ia

melihat betapa kakek itu berdiri dengan muka pucat, dengan

napas senin kamis dan di ujung mulutnya menetes-netes

darah segar! Diam-diam Kwi Lan terkejut sekali dan kagum.

Jelas bahwa Sin-seng Losu bukan seorang lemah.

Sambitannya Peluru Bintang Sakti tadi sudah amat berbahaya,

kemudian pukulannya jarak jauh juga hebat. Mengapa sekali

ditangkis oleh Siangkoan Li, kakek itu menderita luka dalam

yang tidak ringan? Sampai di manakah tingkat kepandaian

pemuda yang berkali-kali menolongnya ini?

“Kalian ini dua orang tua bangka yang bosan hidup! Hari ini

nonamu akan mengantar kalian ke neraka!” Kwi Lan menyerbu

dengan pedangnya, akan tetapi tiba-tiba lengan kirinya

dipegang orang dari belakang. Ternyata Siangkoan Li yang

memegangnya dan pemuda itu berkata dengan nada sedih.

“Jangan, Kwi Lan. Dan lekas kaukeluarkan obat pemunah

jarummu untuk Suhengku. Lekaslah, harap, kau sudi melihat

mukaku dan menolongnya.”

Kwi Lan melongo. Pemuda aneh sekali! Jelas bahwa ia

diperlakukan tidak baik, mengapa masih nekad hendak

menolong mereka? Akan tetapi mengingat bahwa sudah

berkali-kali ia ditolong, tidak enaklah hatinya untuk menolak

permintaan itu. Dengan bersungut-sungut tak puas ia

mengeluarkan sebungkus kecil obat bubuk dan berkata,

“Robek kulitnya, keluarkan jarum dan pakai obat ini pada

lukanya.”

Siangkoan Li menerima bungkusan itu, memberikan kepada

suhengnya. “Thio-suheng, kau pakailah ini!” Akan tetapi

suhengnya membuang muka dan menghardik.

“Tutup mulutmu, pengkhianat!”

Siangkoan Li mengerutkan keningnya lalu meletakkan

bungkusan di dekat kaki suhengnya yang masih rebah tak

dapat bangun. Kemudian ia menghampiri Kwi Lan dan

berkata.

“Nona Kam, harap engkau sekarang segera pergi dari sini.

Kalau sampai para suhengku datang, engkau tentu akan

celaka dan aku tidak akan mampu menolongmu lagi.”

Kwi Lan mengeluarkan suara mendengus di hidungnya.

“Huh, kau tidak takut mati, apa kau kira aku pun takut mati?

Biarlah mereka membunuhku kalau mereka mampu.”

“Nona…., Kwi Lan…., aku tidak ingin melihat kau mati

karena aku!”

“Aku pun tidak ingin melihat kau mati. Aku mau pergi kalau

engkau pun mau pergi bersama meninggalkan tempat ini!”

“Jahanam besar kau, Siangkoan Li! Kau membikin mayat

Ayahmu membalik di dalam kuburnya! Berani main cintacintaan

dengan seorang musuh perkumpulan. Hah, bocah

macam apa ini!” Sin-seng Losu sudah memaki-maki lagi.

“Kwi Lan, aku seorang anak Thian-liong-pang, harus tunduk

dan setia. Aku sudah berdosa, biarlah aku menerima

hukuman. Akan tetapi kau orang luar, kau pergilah dan jangan

membikin aku mati penasaran karena kau menderita celaka.”

Kini Kwi Lan menjadi marah. Dengan pedang di tangan ia

membentak, “Siangkoan Li! Engkau ini pemuda macam apa

begini lemah dan buta? Memang benar kau adalah orang

Thian-liong-pang, akan tetapi Ayahmu dahulu adalah seorang

patriot sejati, seorang gagah yang menjunjung tinggi

kebenaran dan bukan golongan orang jahat. Terhadap

perkumpulan seperti ketika dipimpin Ayahmu itu, aku tidak

akan merasa heran apabila engkau mengambil sikap seperti

ini, bersetia sampai mati. Siangkoan Li, engkau melihat sikap

Ciam Goan? Nah, dialah orang gagah sejati, yang melihat

betapa Thian-liong-pang menjadi busuk di bawah pimpinan

Gwakongmu yang berjiwa kotor ini rela meninggalkan Thianliong-

pang dan kalau perlu memusuhinya. Bukan memusuhi

perkumpulannya, melainkan orang orangnya yang

menyeleweng daripada kegagahan. Siangkoan Li, aku tidak

bisa bicara banyak dan pengetahuanku pun sedikit. Akan

tetapi karena kau seorang yang sudah melepas budi berkalikali

kepadaku, aku harus membelamu dengan taruhan

nyawaku. Pernah Guruku bilang bahwa orang hidup tentu

akhirnya mati. Akan tetapi kematian yang paling memalukan

adalah kematian seorang pengecut yang tidak berani

menentang kelaliman! Demi untuk kebenaran, jangankan

hanya perkumpulan atau teman-teman, biar orang tua sendiri

kalau perlu boleh saja dilawan!”

Hebat kata-kata ini, apalagi kalimat yang terakhir. Pada

jaman itu, kebaktian merupakan kebajikan mutlak dan nomor

satu. Tidak ada kejahatan yang buruk daripada kemurtadan

anak terhadap orang tua demi membela kebenaran! Ini hanya

dapat diucapkan oleh seorang yang otaknya tidak waras!

“Dengar….! Dengar itu omongan iblis betina! Omongan

perempuan gila! Siang koan Li, kau berani murtad terhadap

Kakekmu?”

Sambil berlutut Siangkoan Li berkata, “Tidak, Gwakong, aku

tidak berani….! Kemudian ia menoleh ke arah Kwi Lan. “Kwi

Lan, kau pergilah. Lekas mereka telah datang….!”

“Biarkan mereka datang. Biar aku mati aku tidak mau pergi

tanpa kau ikut pergi. Kau sudah menolong nyawaku, aku

harus membalasnya sedikitnya satu kali!” kata Kwi Lan dengan

suara tetap.

“Celaka….! Kwi Lan, kau tahu, siapa kakek itu?” Ia

menuding ke arah kakek yang terluka lengan kanannya. “Dia

itu susiok Yo Cat, dia itu murid sucouw yang akan datang pula

bersama Cap-ji-liong! Biar ada lima orang engkau dan aku

belumtentu akan dapat melawannya.”

Akan tetapi Kwi Lan hanya tersenyum saja. Makin lama

Siangkoan Li makin bingung dan kini dari jauh tampak layar

beberapa buah perahu. Siangkoan Li meloncat bangun,

menghampiri Kwi Lan, memegang lengannya dan berseru.

“Kalau begitu, demi keselamatanmu, kita pergi….!”

Kwi Lan ikut berlari, membiarkan dirinya ditarik. Siangkoan

Li. Tak lama kemudian ia berseru, “Eh, eh, kenapa lari

ketakutan? Mari kita lawan bersama.”

“Hushhh…. diamlah. Aku tahu jalan rahasia yang tak

mungkin dapat mereka kejar dan cari. Mari….!”

Mereka lari memasuki sebuah hutan yang gelap dan

memang pemuda itu tidak bohong. Ia melalui jalan menyusupnyusup

yang amat sukar, bukan jalan manusia lagi dan kalau

bukan orang yang sudah mengenal jalan tentu amat sukar

memasuki hutan melalui jalan ini.

Akhirnya setelah lari setengah hari lamanya Siangkoan Li

nampak tenang dan mengajak gadis itu duduk di pinggir

sebuah sungai kecil dalam hutan. Keadaan di situ teduh dan

sejuk sekali. Sinar matahari yang amat terik ditangkis oleh

daun-daun pohon yang lebat.

“Mari kuputuskan belenggu.” kata Kwi Lan sambil menarik

tangan Siangkoan Li.

Akan tetapi pemuda itu merenggut kembali tangannya.

“Untuk apa? Setelah menyelamatkan engkau, aku akan

kembali menyerahkan diri.”

Kwi Lan marahsekali. Ia meloncat bangun dari tempat

duduknya dan menudingkan telunjuknya kepada Siangkoan Li.

“Engkau boleh berkepala batu, aku pun berhati baja! Akan

tetapi engkau berkeras secara ngawur. Siangkoan Li, engkau

seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi, mengapa

begini lemah? Kalau kau memang amat mencinta Thian-liongpang,

mengapa kau tidak mengumpulkan orang-orang seperti

Ciam Goan untuk membersihkan Thian-liongpang dari oknumoknum

macam Ma Kiu dan lain-lain? Kalau kaulakukan itu dan

Thian-liong-pang menjadi perkumpulan orang gagah kembali,

barulah kau seorang yang berbakti kepada mendiang Ayahmu,

menjujung tinggi nama baik orang tua dan perkumpulan. Yang

kaulakukan sekarang ini hanya membuktikan bahwa kau

pengecut dan picik. Baiklah, kalau kau berkukuh hendak

mengerahkan diri, aku pun berkukuh hendak membasmi

Thian-liong-pang sendirian saja. Kita akan sama-sama mati,

akan tetapi matiku seribu kali lebih berharga daripada matimu

yang seperti kematian seekor kacoa!”

Pucat wajah Siangkoan Li mendengar ini. Ia meloncat

bangun, sejenak ia memandang dengan mata melotot. Kedua

orang muda itu saling pandang untuk beberapa lama.

Kemudian Siangkoan Li menarik napas panjang. “Aku bingung

dan ragu-ragu…. agaknya engkau benar…. biarlah akan

kutemui kedua orang Suhuku dan minta nasihat mereka….!

Thian-liong-pang, untuk sementara ini aku Siangkoan Li

menjadi pengkhianat!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba ia

mengerahkan tenaga menggerakkan kedua tangannya.

Terdengar suara keras dan…. belenggu besi itu rontok semua

dan putus-putus!

Kwi Lan tersenyum girang dan kagum. Tak salah

dugaannya, pemuda ini memiliki kepandaian tinggi, yang jelas

adalah tenaganya yang istimewa. Pantas saja kakeknya yang

sudah tua itu sekali ditangkis terluka.

“Bagus Siangkoan Li. Begitu barulah seorang gagah sejati!

Akan tetapi aku masih belum percaya betul. Bagaimana kalau

kaulakukan ini hanya untuk mengelabuhi aku? Sebelum aku

yakin akan keputusan hatimu, aku hendak mengikuti sepak

terjangmu beberapa lama. Sekarang engkau hendak ke

mana?”

“Ucapan-ucapanmu mulai membekas di hatiku, Kwi Lan.

Akan tetapi aku masih bimbang ragu. Karena itu, jalan satusatunya

adalah bertanya kepada kedua orang Guruku. Aku

hendak mengunjungi mereka.”

“Kedua orang Gurumu tentu orang-orang luar biasa. Aku

pun ingin bertemu dengan mereka. Aku ikut!”

“Eh, tidak bisa, Kwi Lan. Mereka itu orang-orang luar biasa

sekali dan tidak suka bertemu dengan orang lain. Kecuali itu,

juga tempatnya amat sukar didatangi orang, bagaimana aku

bisa mengajakmu ke sana?”

Kwi Lan tersenyum. “Kata-katamu makin membuat aku

curiga. Siangkoan Li, sudah kukatakan tadi. Engkau telah

berkali-kali menolongku, maka aku sudah mengambil

keputusan, sebelum kau yakin akan kekeliruanmu mengenai

sikapmu terhadap Thian-liong-pang, aku tidak akan

meninggalkanmu. Kalau kau bisa mengunjungi mereka,

mengapa aku tidak? Marilah kita berangkat!”

Siangkoan Li mengerutkan keningnya. Gadis ini amat keras

hati dan ia tahu bahwa Kwi Lan tentu akan melakukan apa

yang diucapkannya.

“Baiklah, Kwi Lan. Akan tetapi kau sudah kuperingatkan.

Jangan persalahkan padaku kalau kau terbawa-bawa ke dalam

lembah hitam karena kau pergi bersama aku yang sejak kecil

bergelimang dalamdunia yang kotor.”

Berangkatlah dua orang itu melanjutkan perjalanan.

Melakukan perjalanan bersama Siangkoan Li bedanya sejauh

bumi dengan langit kalau dibandingkan dengan perjalanan

bersama Hauw Lam. Perjalanan di samping Hauw Lam

merupakan perjalanan yang penuh tawa dan gurau, gembira

karena pemuda itu memandang dunia dari sudut yang terang

dan lucu. Akan tetapi sebaliknya, Siangkoan Li adalah seorang

pemuda yang pendiam dan wajah yang tampan itu hampir

selalu muram diselimuti awan kedukaan. Di sepanjang jalan,

dua orang yang melakukan perjalanan cepat ini jarang sekali

bicara. Kalau tidak diajak bicara, Siangkoan Li tak pernah

membuka mulut! Akan tetapi Kwi Lan tidak merasakecewa. Ia

maklum akan isi hati pemuda ini dan sinar mata pemuda itu di

waktu memandangnya, penuh perasaan, sudah cukup

baginya. Sinar mata pemuda ini t iada bedanya dengan sinar

mata Hauw Lam di waktu menatapnya. Ada sesuatu dalam

sinar mata kedua pemuda itu yang mendatangkan kehangatan

di hatinya.

***

Sebelas hari lamanya mereka berdua melakukan perjalanan

yang sukar, naik turun Pegunungan Lu-liang-san, masuk

keluar hutan-hutan lebat. Pada hari ke dua belas, setelah

selama itu tak pernah bertemu dengan manusia karena

agaknya Siangkoan Li memang memakai jalan yang liar dan

tak pernah diinjak orang, sampailah mereka di sebuah dusun

kecil di lereng bukit. Dusun ini hanya ditinggali beberapa puluh

keluarga petani, akan tetapi di ujung dusun itu berdiri sebuah

rumah makan yang kecil dan sederhana sekali.

“Kita sudah sampai.” Kata Siangkoan Li.

“Apa? Di dusun ini?”

Siangkoan Li menggeleng kepala dan menudingkan

telunjuknya ke depan. “Di puncak sana itu.”

Kwi Lan memandang dan benar saja. Tak jauh dari dusun

itu menjulang tinggi puncak bukit dan samar-samar tampak

tembok putih panjang melingkari bangunan-bangunan kuno.

“Bangunan apakah itu?” tanya Kwi Lan.

“Itulah kuil dan markas Lu-liang-pai. Di sana t inggal para

hwesio Lu-liang-pai yang merupakan partai persilatan besar di

daerah ini.”

“Ahhh, kedua orang Gurumu itu hwesio-hwesio yang

tinggal di sana?”

Siangkoan Li menggeleng kepala dan keningnya berkerut,

agaknya pertanyaan ini menimbulkan kekesalan hatinya.

“Apakah dugaanku keliru?”

Pemuda itu mengangguk dan menghela napas panjang.

“Kedua orang Guruku adalah…. orang-orang hukuman di kuil

itu….!”

“Apa….?” Kwi Lan benar-benar kaget karena hal ini sama

sekali tidak pernah diduganya. “Kenapa mereka dihukum?

Apakah mereka itu anggauta-anggauta Lu-liang-pai yang

menyeleweng?”

“Bukan. Mereka bukan hwesio, tapi…. entah mengapa

mereka menjadi orang-orang hukuman di sana, tak pernah

mereka mau katakan kepadaku. Akan tetapi, Kwi Lan. Tidak

mudah menemui mereka di sana, kalau, ketahuan para

hwesio, tentu aku akan ditangkap. Karena itu, kuharap kau

suka menanti di dusun ini dan biarlah aku seorang diri pergi

menghadap kedua orang Guruku.”

Kwi Lan mengajak pemuda itu duduk di tepi jalan, di atas

akar pohon yang menonjol keluar, “Siangkoan Li, keadaan

Gurumu itu aneh sekali. Bagaimana kau dapat menjadi

muridnya kalau mereka itu orang-orang hukuman di Kuil Luliang-

pai?”

Setelah berulang-ulang menghela napas, pemuda berwajah

muram ini lalubercerita. Ia tidak pandai bicara, ceritanya

singkat namun menarik perhatian Kwi Lan karena cerita itu

amat aneh.

“Terjadinya ketika ayahnya masih hidup. Ayah adalah Ketua

Thian-liong-pang yang pada waktu itu masih bernama harum

sebagai perkumpulan kaum patriot Hou-han. Ayah mengenal

baik dengan para pimpinan hwesio Lu-liang-pai dan pada

suatu hari Ayah datang ke Lu-liang-pai mengunjungi mereka.

Aku baru berusia tiga belas tahun dan diajak oleh Ayah.”

Siangkoan, Li mulai ceritanya yang didengarkan oleh Kwi Lan

dengan tertarik. Kemudian ia melanjutkan.

Sebagai seorang anak kecil berusia tiga belas tahun,

Siangkoan Li menjadi bosan mendengar percakapan antara

ayahnya dan para pimpinan Lu-liang-pai, maka diam-diam ia

menyelinap pergi dan bermain-main di kebun belakang. Para

hwesio dan ayahnya tidak melarangnya karena di kebun

belakang memang terdapat taman bunga yang amat indah.

Hawa pegunungan yang sejuk memungkinkan segala macam

kembang hidup subur di situ. Akan tetapi Siangkoan Li

ternyata bukan hanya bermain-main di taman bunga,

melainkan bermain terus lebih jauh lagi ke sebelah belakang

bangunan Kuil Lu-liang-pai. Dilihatnya sebatang kali kecil di

belakang taman, kali yang lebarnya empat meter lebih. Di

seberang kali terdapat tanaman liar dan kali itu t idak dipasangi

jembatan.

Dasar Siangkoan Li seorang anak yang ingin sekali

mengetahui segalanya dan ia selalu merasa penasaran kalau

belum terpenuhi keinginannya, maka biarpun sungai itu terlalu

lebar untuk ia lompati, ia segera mendapatkanakal. Ia tak

pandai renang, melompati tak mungkin, akan tetapi ia ingin

sekali menyeberang. Dicarinya sebatang bambu dan dengan

bantuan bambu panjang ini yang ia pakai sebagai gala

loncatan, sampai jugalah ia di seberang dengan kaki dan

pakaian berlepotan lumpur.

Ia berjalan terus ke atas pegunungan kecil dan setelah tiba

di puncak, tiba-tiba tubuhnya menginjak lubang yang tertutup

rumput alang-alang. Tubuhnya terjeblos dan melayang ke

bawah! Dia seorang anak pemberani dan karena ketika

terbanting di dasar lubang ia tidak mengalami cedera, juga

tidak terlalu nyeri karena dasar lubang juga berlumpur, ia

tidak berteriak minta tolong. Malah di dalam gelap, ia merabaraba

dan terus berjalan maju ketika mendapatkan bahwa

lubang itu mempunyai terowongan. Akhirnya setelah melalui

terowongan yang berliku-liku, tibalah ia di ruangan bawah

tanah dan melihat dua orang kakek di balik kerangkeng besi.

Dua orang kakek yang bukan seperti manusia lagi. Mereka itu

sudah tua dan pakaian mereka compang-camping penuh

tambalan. Yang seorang berwajah seperti seekor harimau,

rambutnya kasar riap-riapan, demikian pula cambang dan

kumisnya. Orang ke dua kurus sekali sehingga kaki dan

tangan yang tak terbungkus pakaian itu merupakan tulang

tulang terbungkus kulit belaka. Kepalanya botak, hanya bagian

atas telinga dan atas tengkuk saja ditumbuhi rambut panjang.

Akan tetapi jenggotnya, lebat dan panjang. Keduanya sama

tua dan sama liar, dan perbedaan yang mencolok di antara

mereka selain rambut itu, juga pada muka mereka. Si Wajah

Harimau itu mukanya merah sekali sedangkan yang botak itu

wajahnya pucat seputih tembok!

“Heh-heh, Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), kau

bilanglah. Apakah kita sekarang sudah mampus dan berada di

neraka berjumpa seorang iblis cilik?” Si Muka Merah berkata

sambil terkekeh-kekeh.

“Huh, sebelum lewat tujuh tahun lagi mana aku mau mati?”

kata Si Muka Putih dengan nada dingin dan mengejek.

Melihat keadaan mereka dan mendengar kata-kata itu,

biarpun Siangkoan Li seorang anak yang pemberani, ia merasa

serem juga. Akan tetapi di balik rasa takutnya terselip rasa

kasihan melihat dua orang kakek dikurung macam binatangbinatang

buas saja, maka ia memberanikan hati dan

menghampiri kerangkeng. Setelah memandang penuh

perhatian dan jelas bahwa dua orang itu benar-benar manusia

yang sangat tua, ia lalu bertanya.

“Kakek berdua, siapakah dan mengapa dikerangkeng di

sini?”

Dua orang- kakek itu saling pandang, yang muka merah

tertawa ha-hah-he-heh sedangkan yang muka putih

bersungut-sungut. “Kau bocah dari mana? Mengapa berani

masuk ke sini? Apakah kau kacung Lu-liang-pai?” tanya yang

muka putih.

Siangkoan Li terkejut. Suara itu seakan-akan menyusup ke

dalam dadanya dan membuat jantungnya berhenti berdetik

dan terasa dingin sekali sampai-sampai ia menggigil dan

mukanya pucat. Cepat ia menggeleng kepala.

“Bukan. Aku bernama Siangkoan Li dan bersama Ayahku

berkunjung kepada para Losuhu di Lu-Lang-pai. Aku berjalanjalan

sampai ke sini dan terjeblos ke lubang.” Kemudian ia

menceritakan siapa ayahnya dan bagaimana ia sampai ke

tempat itu.

“Ayahmu Siangkoan Bu Ketua Thian-liong-pang? Ha-ha-ha!”

Kakek muka merah itu tiba-tiba bergerak maju dan….

menyusup keluar dari kerangkeng! Juga kakek muka putih

berjalan maju dan tubuhnya menyusup keluar dari kerangkeng

dengan amat mudahnya, seakan-akan kerangkeng itu

merupakan pintu lebar. Padahal besi-besi kerangkeng itu amat

sempit. Seorang anak seperti Siangkoan Li saja tak mungkin

dapat lolos keluar. Bagaimana dua orang kakek itu dapat

meloloskan diri tanpa banyak susah?

Siangkoan Li adalah putera seorang pangcu (ketua) dan

tentu saja sejak kecil ia sudah dilatih silat. Melihat keadaan ini,

sungguhpun ia tidak mengerti dan terheran-heran, namun ia

kini sudah tahu bahwa dua orang kakek ini memiliki ilmu

kepandaian yang hebat! Maka serta-merta ia lalu menjatuhkan

diri berlutut.

“Harap suka memaafkan teecu yang berani bersikap kurang

ajar. Kiranya Jiwi Locianpwe adalah orang-orang sakti. Teecu

masuk tidak sengaja, mohon maaf!”

Si Muka Merah tertawa tergelak. “Ha-ha-ha! Apa artinya

Ilmu Sia-kut-hoat (Ilmu Lepas Tulang Lemaskan Tubuh)

seperti itu? Kau putera Siangkoan Bu? Bagus! Eh, bocah,

maukah engkau menjadi murid kami?”

Siangkoan Li kaget, dan juga girang sekali. Sudah seringkali

ia mendengar dari ayahnya tentang orang-orang sakti di dunia

persilatan dan seringkali mimpi betapa akan senangnya kalau

dapat menjadi murid orang-orang sakti. Kini tanpa disengaja

ia berhadapan dengan dua orang sakti yang ingin

mengangkatnya menjadi murid! Ia menjadi girang sekali dan

tentu ayahnya juga akan girang kalau mendengar akan hal ini.

Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengangguk-anggukkan kepala,

“Teecu akan merasa girang dan bahagia sekali, Ji-wi Suhu

(Guru Berdua)!”

“Ang-bin Siauwte ( Adik Muka Merah), mudah saja engkau

menetapkan dia sebagai murid kita, bagaimana kalau kelak

ternyata salah pilih?” tegur Si Muka Putih.

“Heh-heh-heh! Dia ini keturunan seorang patriot dan ketua

perkumpulan besar. Mana bisa salah pilih? Kalau kelak

ternyata dia menyeleweng, apa susahnya kita mengambil

nyawanya? Eh, Siangkoan Li, kau sendiri sudah menetapkan

menjadi murid kami. Seorang murid tak boleh membantah

perintah guru. Mulai detik ini, kau tinggal di sini menemani

kami sambil belajar!”

Siangkoan Li terkejut sekali. “Tapi…. tapi…. teecu belum

memberitahukan hal ini kepada Ayah….!” bantahnya dengan

muka pucat.

Si Muka Putih mengeluarkan suara mendengus di

hidungnya. Si Muka Merah tersenyum lebar. “Hah, boleh

kaucoba pergi dari sini. Sebelum keluar dari lubang, nyawamu

akan lebih dulu melayang!”

Siangkoan Li takut sekali akan tetapi akhirnya ia mengambil

keputusan untuk mat i hidup mentaati kedua orang gurunya.

Mulai saat itu dia digembleng oleh kedua orang gurunya yang

aneh. Setiap hari dari lubang itu turun makanan yang ternyata

dikirim oleh hwesio-hwesio Lu-liang-pai.

“Demikianlah, Kwi Lan. Sampai empat tahun aku dilatih

ilmu oleh kedua orang Guruku itu.” Siangkoan Li melanjutkan

penuturannya kepada Kwi Lan yang mendengarkan dengan

muka amat tertarik. “Selama itu belum pernah kedua orang,

suhu itu memberitahukan nama mereka. Dan ketika aku

diperkenankan keluar, yaitu dua tahun yang lalu, aku segera

pulang ke Yen-an akan tetapi ternyata Ayah telah meninggal

dunia dan Thian-liong-pang telah dipegang oleh Gwakong.

Karena aku tidak mempunyai ayah ibu lagi, Gwakong menjadi

pengganti orang tuaku dan aku harus tunduk dan berbakti

kepadanya, juga kepada Thian-liong-pang di mana aku

dilahirkan dan dibesarkan. Bagaimana aku dapat mengkhianati

Thian-liong-pang dan bagaimana aku berani melawan

Gwakong?”

Kini Kwi Lan mulai mengerti akan keadaan hati Siangkoan

Li. Ia menjadi kasihan dan berkata, “Memang sudah paling

tepat kalau engkau menemui kedua orang Gurumu itu untuk

minta pertimbangan dan nasihat mereka. Aku berani bertaruh

bahwa mereka tentu lebih cocok dengan pendapatku, yakni

bahwa kau harus mengumpulkan orang-orang gagah yang

telah mengundurkan diri dari Thian-liong-pang, kemudian

melakukan pembersihan di perkumpulan itu dan mendirikan

kembali Thian-liong-pang yang sudah runtuh nama baiknya

itu, Cap-ji-liong harus dibasmi. Kakekmu harus diinsyafkan.

Dan selain itu, aku ingin sekali bertemu dengan kedua orang

aneh yang menjadi gurumu. Maka aku akan ikut denganmu,

Siankoan Li.”

“Eh, jangan….! Berbahaya sekali….!”

Kwi Lan mencibirkan bibirnya. “Berbahaya? Kalau kau bisa,

kenapa aku tidak mampu? Kita boleh lihat saja!”

“Bukan, bukan itu maksudku. Kepandaianmu hebat, tentu

saja kau dapat sampai ke tempat itu tanpa diketahui para

hwesio Lu-liang-pai. Akan tetapi…. kedua orang Guruku itu

wataknya aneh sekali. Siapa tahu mereka akan marah kalau

melihatmu.”

“Betapa pun anehnya mereka, belum tentu seaneh Guruku.

Dan aku tidak takut. Kalau mereka itu begitu gila untuk

marah-marah kepadaku tanpa sebab, biarkan mereka marah,

aku tidak takut!”

Siangkoan Li habis daya. Berbantahan dengan gadis ini ia

merasa tak sanggup menang. Pula dia telah melakukan hal

yang amat hebat, telah berkhianat terhadap Thian-liong-pang,

semua gara-gara gadis ini. Sekarang, kalau mereka berdua

akan mengalami malapetaka bersama sekalipun, apalagi yang

disesalkan? Tidak ada paksaan dalam hal ini, semua dilakukan

oleh mereka dengan sukarela. Diam-diam ia malah merasa

jantungnya berdebar girang. Tak salah dugaannya bahwa

gadis jelita ini pun suka kepadanya seperti rasa suka di

hatinya? Mencintanya seperti rasa cinta di hatinya?

Dengan ilmu kepandaian mereka, dengan mudah sekali

Siangkoan Li dan Kwi Lan melompati tembok yang mengurung

Lu-lian-pai dan memasuki daerah mereka itu dari tembok

belakang. Menurut keterangan Siangkoan Li, jalan satusatunya

menuju ke tempat tahanan di bawah tanah itu harus

melalui kebun bunga di belakang Kuil Lu-liang-pai. BerindapTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

indap mereka berjalan sambil menyusup-nyusup dan

bersembunyi di balik pepohonan.

“Siangkoan Li, apakah para hwesio Lu-liang-pai yang

menghukum kedua orang gurumu?” tanya Kwi Lan ketika

mereka menyusup-nyusup di taman bunga.

“Entah, kedua orang Guruku tak pernah mau bercerita

tentang diri mereka.”

“Kalau benar demikian, tentu hwesio-hwesio Lu-liang-pal

lihai luar biasa.”

“Memang aku masih ingat cerita Ayah bahwa pimpinan Luliang-

pai memiliki ilmu tinggi, akan tetapi aku tidak percaya

mereka mampu mengalahkan kedua orang Guruku. Buktinya,

kalau kedua orang Guruku menghendaki, apa susahnya bagi

mereka untuk keluar dari kerangkeng? Agaknya memang

sengaja kedua orang Guruku tidak mau keluar.”

“Aneh sekali! Benar-benar aneh dan lucu! ”

Tiba-tiba terdengar desir angin. Mereka cepat menyelinap

di balik serumpun pohon kembang. Dua batang piauw (senjata

rahasia) menyambar di atas kepala mereka. Dua orang hwesio

muda muncul di dekat tempat mereka bersembunyi. Mereka

memandang ke sekeliling dengan pedang siap di tangan.

“Aneh sekali. Bukankah tadi jelas bayangan dua orang itu di

tempat ini?” kata seorang di antara mereka.

“Benar sekali, Sute (Adik Seperguruan). Agaknya orangorang

jahat yang datang menyelundup. Kau ingat pesan Suhu

(Guru)? Tahun ini hukuman dua orang musuh besar kita telah

habis, maka Suhu berpesan agar kita semua menjaga dengan

hati-hati. Siapa tahu kakek jahat itu masih belum kehilangan

kebuasannya dan menjelang habisnya hukuman, temantemannya

yang jahat datang untuk menimbulkan kekacauan.

di sini.”

“Kau benar, Suheng (Kakak Seperguruan). Kata Suhu

mereka itu lihai bukan main. Gerakan dua bayangan tadi pun

amat lihai. Jelas piauw kita mengenai sasaran, mengapa

mereka tidak roboh malah lenyap seperti setan? Lebih baik

kita lekas-lekas melaporkan kepada Suhu agar dapat

dikerahkan tenaga untuk mengepung dan mencari mereka!”

Mendadak saja kedua orang hwesio itu roboh terguling.

Pedang mereka terlempar dan tubuh mereka lemas dan

lumpuh karena jalan darah mereka telah tertotok oleh

sambaran dua butir kerikil! Siapa lagi kalau bukan Siangkoan

Li yang melakukan hal ini. Memang pemuda ini memiliki

keahlian menyambit dengan kerikil menotok jalan darah,

seperti pernah ia pergunakan untuk membebaskan dan

menolong Kwi Lan di dalam guha yang terancam

kehormatannya oleh tiga orang anak buah Thian-liong-pang.

Setelah merobohkan dua orang hwesio itu, Siangkoan Li

menarik tangan Kwi Lan dan cepat-cepat mengajaknya berlari

keluar dari taman itu menuju ke sungai yang melintang di

belakang.

“Terpaksa kutotok mereka agar jangan melapor sehingga

usahaku menemui kedua Suhuku terhalang.” kata Siangkoan

Li.

Berbeda dengan enam tahun yang lalu ketika Siangkoan Li

melompati sungai itu harus dibantu sepotong bambu panjang,

kini dengan amat mudahnya ia bersama Kwi Lan melompati

sungai yang melintang. Dengan cepat Siangkoan Li mengajak

gadis itu mendaki bukit kecil yang penuh dengan

rumpunalang-alang. Ia khawatir kalau-kalau kedua orang

suhunya sudah pergi. Bukankah dua orang hwesio tadi

mengatakan bahwa sekarang ini sudah tiba saatnya, kedua

orang suhunya bebas? Entah hari apa, akan tetapi tentu

sekitar hari ini.

Dengan mudah Siangkoan Li mendapatkan sumur yang

tertutup alang-alangitu. Ia memberi isyarat kepada Kwi Lan

untuk mengikutinya kemudian ia melompat masuk. Dengan

ilmu meringankan tubuh seperti yang ia kuasai sekarang ini,

tentu saja tidak sukar baginya untuk melompat masuk ke

dalam sumur itu. Demikian pula Kwi Lan. Setelah gadis itu

mengikut inya dengan lompatan ringan dan keduanya tiba di

dasar sumur, Siangkoan Li lalu menggandeng tangan Kwi Lan

dan sambil meraba-raba ke depan ia memasuki terowongan di

bawah tanah.

Ketika mereka tiba di sebuah tikungan terowongan dan dari

jauh sudah tampak kerangkeng besi itu, tiba-tiba mereka

merasai sambaran angin dahsyat dari depan disertai suara

maki-makian keras. Cepat Siangkoan Li menarik tangan Kwi

Lan ke bawah dan keduanya lalu bertiarap di atas tanah

sambil memandang ke depan.

Kiranya dua orang kakek yang seperti orang tak waras

ingatannya itu sudah keluar dari kerangkeng dan kini mereka

mencak-mencak seperti dua orang menari-nari. Akan tetapi

luar biasa hebatnya sambaran tangan mereka. Dinding batu

pecah-pecah dan hawa pukulan yang meluncur lewat

memasuki terowongan menimbulkan angin hebat! Tampak

kakek muka putih hanya bersungut-sungut dan melotot sambil

memukul-mukulkan kedua tangan, akan tetapi kakek muka

merah sambil memukul-mukul juga memaki-maki. Dan mereka

berdua itu menujukan pandang mata ke arah Siangkoan Li

dan Kwi Lan! Akan tetapi ternyata makimakiannya bukan

ditujukan kepada dua orang muda ini.

“Heh, Bu Kek Siansu, tua bangka menjemukan! Apakah

engkau sudah mampus? Kalau sudah mampus kami tantang

rohmu agar datang ke sini dan memenuhi janji! Hayo, biar

engkau masih hidup ataupun sudah mampus, engkau harus

datang menemui kami. Kami Pak-kek Sian-ong (Raja Sakti

Kutub Utara) dan Lam-kek Sian-ong (Raja Sakti Kutub

Selatan) bukanlah orang-orang yang tidak pegang janji dan

takut padamu! Lima belas tahun sudah menebus kekalahan

dengan berdiam di neraka ini, hanya untuk menunggu

kedatanganmu. Hari ini tepat lima belas tahun. Hayo

muncullah orangnya atau rohnya untuk mengadu kepandaian.

Apakah engkau takut, Bu Kek Siansu?”

Suara kakek yang bernama Lam-kek Sian-ong ini hebat

sekali, membuat seluruh terowongan tergetar, bahkan Kwi Lan

dan Siangkoan Li yang bertiarap di lantai terowongan itu

merasa betapa lantai tergetar hebat. Kini mengertilah mereka

bahwa dua orang kakek itu bukan marah-marah kepada

mereka berdua, dan mungkin tidak melihat kedatangan

mereka karena mereka berdua datang dari tempat gelap

sedangkan tempat kedua orang kakek itu terang, menerima

cahaya matahari yang menerobos masuk dari lubang dan

celah-celah di atas. Kehebatan gerakan dan suara kedua

orang kakek sakti itu benar-benar mengejutkan mereka dan

membuat mereka tak berani sembarangan bergerak-gerak.

Bahkan Kwi Lan yang tak kenal takut juga kini maklum betapa

saktinya dua orang guru Siangkoan Li ini. Akan tetapi mereka

bingung t idak mengerti mengapa ke dua orang kakek itu

menantang seorang lawan yang tidak tampak? Siapakah itu Bu

Kek Siansu yang mereka tantang?

Nama Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, pada

puluhan tahun yang lalu adalah nama-nama yang amat

terkenal sebagai tokoh-tokoh sakti yang luar biasa. Kedua

orang kakek ini memang aneh sepak terjangnya. Bahkan

dengan dua orang saja mereka pernah membikin geger

Kerajaan Khitandengan membunuh Raja Khitan, yaitu Raja

Kubakan dengan niat merampas kerajaan! Akan tetapi maksud

hati mereka itu gagal karena mereka dihalangi oleh Suling

Emas, Akm Lin atau Yalina yang kini menjadi Ratu di Khitan,

dan banyak orang gagah. Kalau tidak di keroyok, agaknya dua

orang kakek ini akan tercapai niat hatinya menjadi sepasang

raja di Khitan! Tidak ada orang di dunia ini yang mereka takuti

kecuali seorang, yaitu Bu Kek Siansu!

Siapakah Bu Kek Siansu? Jarang ada orang pernah bertemu

dengan manusia setengah dewa ini, walaupun namanya

menjadi kembang bibir semua tokoh dunia kang-ouw.

Diantara para pendekar terdapat kepercayaan bahwa siapa

yang dapat bertemu dengan Bu Kek Siansu adalah orang yang

bernasib baik sekali karena kabarnya kakek setengah dewa itu

amat murah hati dan tak pernah menolak permintaan seorang

untuk minta petunjuk dalam ilmu silat. Akan tetapi juga

menjadi kepercayaan semua tokoh dunia hitam bahwa

bertemu Bu Kek Siansu merupakan hal yang mencelakakan,

karena kakek sakti itu tidak terlawan oleh siapapun juga! Bu

Kek Siansu tidak mempunyai tempat tinggal tertentu atau

lebih tepat, tak seorangpun tahu dimana adanya kakek

setengah dewa ini yang sewaktu-waktu muncul pada saat

yang tak disangka-sangka.

Lima belas tahun yang lalu, setelah Pek-kek Sian-ong dan

Lam-kek Sian-ong terusir dari Khitan oleh Suling Emas dan

kawan-kawannya (baca cerita CINTA BERNODA DARAH ).

sepasang kakek sakti ini tiba di Luliang-san. Melihat keadaan

bukit ini, mereka suka sekali dan timbul keinginan hati mereka

untuk merampas kuil dan mengangkat diri mereka sendiri

menjadi pemimpin Lu-liang-pai. Tentu saja niat buruk ini

ditentang oleh para hwesio Luliang-san dan akibatnya, ketua

Lu-liang-pai berikut beberapa tokohnya tewas di tangan Pakkek

Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong. Dua orang kakek ini

tentu akan menyebar maut lebih banyak lagi kalau tidak

secara tiba-tiba muncul Bu Kek Siansu. Sekali menggerakkan

tangan, kakek setengah dewa ini membuat mereka berdua

lumpuh tak dapat berdiri. Kemudian setelah memberi

wejangan, Bu Kek Siansu membuat mereka berjanji untuk

menjalani hukuman di dalam kerangkeng di bawah tanah di

belakang Lu-liang-pai untuk menebus dosa.

Hari itu tepat sekali lima belas tahun telah lewat, yaitu

masa hukuman mereka seperti yang ditentukan dalam janji

mereka dengan Bu Kek Siansu. Maka itu mereka lalu

memanggil-manggil dan memaki-maki karena menganggap Bu

Kek Siansu tidak memegang janji.

“Hayo, Bu Kek Siansu, benarkah kau tidak berani muncul?

Apakah Bu Kek Siansu seorang pengecut?” kini terdengar Pakkek

Sian-ong berseru, dan berbeda dengan suara Lam-kek

Sian-ong yang nyaring keras menimbulkan hawa panas,

adalah suara kakek ini dalam namun menimbulkan hawa

dingin yang mengerikan.

Tiba-tiba terdengar suara yang-khim (kecapi) yang merdu

sekali. Suara ini memasuki terowongan itu di luar, suaranya

halus dan merdu perlahan-lahan namun amat jelas terdengar.

Kwi Lan dan Siangkoan Li yang masih bertiarap mendengar

suara ini menjadi tenang hatinya. Rasa ngeri dan takut terusir

lenyap, namun mereka masih bersikap hati-hati, tidak berani

bangkit dan masih bertiarap sambil menanti perkembangan

keadaan yang menenangkan itu.

“Heh-heh-heh, engkau benar datang, Bu Kek Siansu?” kata

Lam-kek Sian-ong.

“Hoh, ke sinilah biar kami dapat menebus penderitaan lima

belas tahun dengan kematianmu, tua bangka!” kata pula Pakkek

Sian-ong.

Tidak ada jawaban. Hanya suara yang-khim makin jelas

dan pengaruhnya juga makin besar, mendatangkan rasa

tenang dan damai sehingga maki-makian kedua orang kakek

itu makin lama makin mereda dan akhirnya mereka pun

seperti Siangkoan Li dan Kwi Lan mendengarkan suara yangkhim

penuh perhatian dan seakan-akan juga menikmati suara

yang-khim itu yang berlagu merdu. Kini suara yang-khim

makin lama makin lambat dan lirih sampai akhirnya berhenti

sama sekali. Namun, seakan-akan oleh mereka terdengar

gema suaranya memenuhi telinga, dan suasana tenang damai

dan tenteram masih terasa menyelubungi hati.

“Siancai, siancai (damai, damai)….! Pak-kek Sian-ong dan

Lam-kek Sian-ong, aku girang sekali melihat Ji-wi (Kalian)

memegang teguh perjanjian! Kerbau diikat hidungnya,

manusia diikat janjinya. Itulah yang membedakan manusia

daripada kerbau….!” Suara ini halus lembut, ramah dan

menyenangkan. Seperti juga suara yang-khim tadi, suara

orang ini memasuki terowongan dan terdengar di mana-mana.

Siangkoan Li dan Kwi Lan yang masih tiarap, tiba-tiba

mendengar desir angin lewat di atas kepala mereka.

Maklumlah mereka berdua bahwa seorang yang luar biasa

saktinya lewat di atas mereka memasuki terowongan itu.

Benar saja dugaan mereka karena tahu-tahu di situ telah

berdiri seorang kakek tua sekali rambut dan jenggotnya sudah

putih semua, halus seperti benang sutera, pakaiannya juga

putih dan sebuah yang-khim berada di punggungnya.

Melihat datangnya kakek ini, Pak-kek Sian-ong dan Lamkek

Sian-ong sudah memasang kuda-kuda dan bersikap

menyerang. Akan tetapi kakek yang baru datang itu, yang

bukan lain adalah Bu Kek Siansu sendiri mengangkat kedua

tangannya ke atas dan aneh sekali, sikap hendak menyerang

itu urung dengan sendirinya!

“Dengarlah, sahabat berdua. Kita ini, kakek-kakek yang

sudah amat tua, mengapa harus bertanding menjadi tontonan

dan bahan tertawaan? Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sianong,

Ji-wi tinggal sampai lima belas tahun di tempat ini,

sungguh merupakan kenyataan yang mengagumkan, tanda

bahwa Ji-wi benar-benar tahan uji. Lima belas tahun bukan

hukuman, melainkan tempaan dan gemblengan sehingga aku

percaya bahwa kini Ji-wi telah memperoleh hasil yang amat

berharga.”

“Bu Kek Siansu, sejak dahulu engkau pandai bicara manis.

Lima belas tahun yang lalu kami kalah olehmu dan kami

menyiksa diri selama itu di sini. Boleh jadi kami t idak peduli

tentang baik dan jahat, akan tetapi kami bukan pengecut yang

bisa pegang janji. Kami sengaja berlatih lima belas tahun

untuk menanti hari ini, saatnya kami bertemu denganmu

untuk mengulang lagi pertandingan lima belas tahun yang

lalu!” kata Lam-kek Sian-ong dengan mata mendelik.

“Tidak peduli baik atau jahat, tak perlu banyak cakap lagi.

Bu Kek Siansu, hayo lawan kami!” kata pula Pak-kek Sian-ong

yang sudah merendahkan tubuh dan menekuk kedua lututnya

memasang kuda-kuda yang aneh dan lucu.

Bu Kek Siansu mengelus-elus jenggot dan tersenyum

ramah. “Orang-orang yang berlepotan lumpur kotor akan

tetapi menyadari akan kekotorannya lalu mandi dan tidak

bermain lumpur lagi, bukankah hal itu amat menyenangkan?

Orang-orang yang bermain lumpur akan tetapi tidak sadar

akan kekotorannya akan tetapi tidak mau membersihkan diri

dan menginsyafi kekeliruannya, bukankah hal itu amat bodoh

dan patut disesalkan?”

Pak-kek Sian-ong bertukar pandang dengan Lam-kek Sianong,

kemudian Si Muka Merah itu tertawa. ”Ha-ha, Bu Kek

Siansu. kami sudah kapok berkecimpung di dunia ramai

melakukan kejahatan. Akan tetapi kami belum kapok untuk

mencoba kepandaian, tidak takut untuk mengulangi kekalahan

lima belas tahun yang lalu!”

“Hendak kami lihat apakah benar-benar Bu Kek Siansu

seorang manusia tanpa tanding di jagad ini!” kata Pak-kek

Sian-ong penasaran.

“Siancai…. Siancai…. mengapa Ji-wi tidak melihat bahwa

hal itu sama sekali tidak ada gunanya? Apakah untungnya

dunia kalau kakek-kakek macam kita ini bertanding? Harap Jiwi

ketahui, semenjak Thian-te Liok-kwi (Enam Iblis Bumi

Langit) tidak ada lagi, dunia bukan makin aman, bahkan kini

muncul tokoh-tokoh baru menggantikan kedudukan mereka.

Tokoh-tokoh hitam akan mengadakan pertemuan dan sekali

mereka itu bersatu padu, bukankah perikemanusiaan

terancam bahaya hebat? Ji-wi, segala apa di dunia ini

diciptakan demi kebaikan. Semua ada kegunaannya. Matahari

memberi cahaya kehidupan. Tanah memberi kesuburan. Air

memberi zat kehidupan. Tetanaman memberi zat makanan. Jiwi

yang telah dikurniai kepandaian tinggi, layaknya kalau tidak

digunakan untuk sesuatu kebaikan? Kalau begitu, apa artinya

Ji-wi hidup dan lebih-lebih lagi, apa gunanya Ji-wi puluhan

tahun mempelajari ilmu kalau hanya untuk main-main dengan

aku seorang tua bangka? Harap Ji-wi suka insyaf.”

“Heh, Bu Kek Siansu. Manusia tidak lepas dari pada nafsu

dan pada saat sekarang ini, nafsu kami satu-satunya

mendorong kami untuk mencari kepuasan membalas

kekalahan kami lima belas tahun yang lalu.”

“Benar kata-kata Ang-bin Siauwte.” kata Si Muka Putih.

“Yang lain-lain perkara kecil, kami akan menurut selanjutnya

kalau kami kalah lagi.”

Bu Kek Siansu menarik napas panjang. “Aku sudah terlalu

lama membuang nafsu mencari menang. Sekarang begini

saja, Ji-wi boleh memukulku sesuka hati. Kalau tewas oleh

pukulan Ji-wi, berarti aku kalah dan terserah kepada Ji-wi apa

yang selanjutnya akan Ji-wi lakukan. Akan tetapi kalau

pukulan-pukulan Ji-wi tidak membuat aku mat i karena maut

masih segan-segan menjemput tua bangka macam aku, harap

Ji-wi menerima kalah dan sukalah melakukan usaha

menentang munculnya tokoh-tokoh iblis yang kumaksudkan

tadi.”

Kembali dua orang kakek itu saling pandang. Betapapun

juga, mereka masih merasa gentar menghadapi manusia

setengah dewa itu. Biarpun mereka selama lima belas tahun

ini menggembleng diri di dalam kurungan, namun mereka

maklum bahwa Bu Kek Siansu memiliki kesaktian yang sukar

diukur bagaimana t ingginya. Kini mendengar usul Bu Kek

Siansu, mereka menjadi lega dan tentu saja tidak mau

menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Mereka sekali-kali bukan

membenci Bu Kek Siansu dan ingin membunuhnya. Melainkan

mereka haus akan kemenangan. Apapun juga caranya, kalau

mereka sudah dianggap menang, akan puaslah hatinya.

Apalagi kalau kemenangan ini disahkan dengan terjatuhnya Bu

Kek Siansu,, si manusia dewa di bawah tangan mereka!

“Baik, aku akan memukulmu tiga kali Bu Kek Siansu!” kata

Si Muka Merah.

“Aku pun memukul tiga kali!” kata pula Pak-kek Sian-ong.

“Terserah, tiga kali juga baik.” kata Bu Kek Siansu tenang.

“Kau tidak boleh menangkis!” kata pula Lam-kek Sian-ong.

“Dan tidak boleh mengelak!” sambung Pek-kek Sian-ong.

“Baik, aku tidak akan menangkis dan mengelak. Akan

kuterima masing-masing tiga kali pukulan Ji-wi.”

Siangkoan Li dan Kwi Lan yang semenjak tadi bertiarap dan

menyaksikan serta mendengar semua ini, menjadi kaget

sekali. Dua orang kakek itu luar biasa lihainya. Baru angin

pukulan mereka saja tadi sudah menghancurkan batu.

Bagaimana sekarang kakek yang sudah amat tua itu dapat

tahan menerima tiga kali pukulan dari masing-masing kakek

itu, jadi enam kali pukulan tanpa mengelak maupun

menangkis? Kwi Lan bangkit duduk saking tertarik

menyaksikan keanehan ini. Juga Siangkoan Li sudah duduk di

dekatnya sambil memandang ke dalam dengan kening

berkerut. Di dalam hatinya ia merasa menyesal sekali

mengapa kedua orang gurunya yang dianggap orang-orang

sakti itu kini hendak berlaku demikian licik dan curang

terhadap seorang kakek yang kelihatan halus dan lemahitu. Ia

sangat kagum ketika mendengar ucapan Bu Kek Siansu,

bahkan ucapan-ucapan itu secara tidak langsung menikam

hatinya karena amat cocok dengan keadaan dirinya sendiri.

Mendengar ucapan kakek itu tadi, mulailah ia dapat melihat

anjuran Kwi Lan. Ia semenjak kecil hidup di lingkungan kotor

dan hitam bergelimang di dunia kejahatan. Setelah ia sadar

akan hal ini, mengapa ia tidak mau mencuci diri

membersihkan dari kotoran, kemudian melakukan kebajikankebajikan

yang berlawanan dengan kejahatan? Mengenai

Thian-liong-pang yang sudah terlanjur kotor, tepat seperti

yang dianjurkan Kwi Lan, sebaiknya ia turun tangan

membersihkannya. Dengan begini barulah ia menebus dosa

kakeknya dan dengan begini barulah ia berbakti kepada

almarhumayahnya.

Lam-kek Sian-ong sudah menghampiri Bu Kek Siansu,

mengambil napas dalam, mengerahkan tenaga lalu memukul

ke arah dada Bu Kek Siansu yang berdiri tenang-tenang saja.

Angin pukulan dahsyat menyambar.

“Desss….!”

Tubuh Bu Kek Siansu bergoyang-goyang ke belakang

depan dan benar-benar kakek ini telah menerima pukulan

tanpa menangkis maupun mengelak. Pukulan yang amat keras

dan menggeledek.

“Ang-bin Siauwte, bergantian!” teriak Pak-kek Sian-ong

sambil melompat maju. Lam-kek Sian-ong mengangguk sambil

meramkan mata dan mengaturpernapasan. Ia tahu akan akal

saudaranya. Jika ia harus memukul terus sampai tiga kali,

karena setiap pukulan memakan tenaga dalamnya, makin

lama pukulannya makin lemah, juga ada kemungkinan ia

sendiri menderita luka dalam. Dengan bergantian, ia

mendapat kesempatan memulihkan tenaga. Diam-diam ia

kagum sekali. Setelah lima belas tahun, pukulannya amat

hebat karena setiap hari ia latih. Akan tetapi tadi mengenai

dada Bu Kek Siansu, ia merasa seperti memukul sekarung

kapas, tenaganya amblas kemudian membalik. Sungguh

hebat!

Dengan tubuh agak direndahkan, Pak-kek Sian-ong kini

melancarkan pukulan pertama. Berbeda dengan Lam-kek

Sianong yang memukul dengan menggunakan kekerasan dan

tenaga Yang-kang, kakek bermuka pucat ini memukul dengan

jarijari terbuka dan mengerahkan tenaga Imkang.

“Cesss….!”

Kembali tubuh Bu Kek Siansu tergetar bahkan terhuyung

tiga langkah ke belakang. Muka kakek ini pucat sekali, namun

matanya masih bersinar tenang dan penuh damai sedangkan

mulutnya tersenyum ramah. Betapapun juga, jelas tampak

oleh Kwi Lan dan Siangkoan Li betapa dua kali pukulan itu luar

biasa hebatnya dan mungkin sekali kakek tua renta itu sudah

menderita luka dalam yang hebat.

Seperti juga Lam-kek Sian-ong, kakek muka putih itu

kagum bukanmain. Ia telah mengerahkan seluruh tenaganya

dalam pukulan pertama ini, akan tetapi pukulannya yang tepat

mengenai ulu hati Bu Kek Siansu tadi seperti bertemu dengan

segumpal baja yang amat keras. Cepat-cepat ia pun

mejamkan mata mengumpulkan tenaga dan mengatur

pernapasannya.

Ketika Lam-kek Sian-ong melangkah maju hendak

melakukan pukulan ke dua, tiba-tiba lengannya ditarik Pak-kek

Sian-ong yang memberi tanda kedipan dengan mata. Lam-kek

Sian-ong maklum dan kini majulah mereka berdua,

menghampiri Bu Kek Siansu. Tanpa mengeluarkan kata-kata,

dua orang kakek ini telah bersepakat untuk melakukan

pemukulan ke dua secara berbareng dan dapat dibayangkan

betapa berbahaya pukulan kedua orang ini jika dilakukan

berbareng! Lam-kek Sian-ong adalah seorang ahli dalam

penggunaan tenaga panas, sedangkan sebaliknya Pak-kek

Sian-ong adalah ahli mempergunakan tenaga dingin. Jika

sekaligus menghadapi dua pukulan yang berlawanan sifatnya,

bagaimana tubuh dapat mengatur dua macam tenaga sakti

yang saling berlawanan untuk menghadapi dua pukulan itu?

Mustahil kalau seorang sakti seperti Bu Kek Siansu tidak

mengerti soal itu. Akan tetapi buktinya, kakek itu hanya

tersenyum saja dan masih tenang, sedikit pun tidak menegur

ketika dua orang itu menghampirinya untuk melakukan

pemukulan kedua secara berbareng. Kwi Lan dan Siangkoan Li

memandang dengan muka pucat dan penuh kekhawatiran.

Dua orang muda ini merasa pasti bahwa kali ini kakek tua

yenta itu tentu akan terpukul mati.

“Bresss….!”

Hebat bukan main pukulan yang dilakukan berbareng itu.

Kepalan tangan Lam-kek Sian-ong menghantam dada

sedangkan jari-jari tangan Pak-kek Sianong menampar

lambung dalam saat berbareng. Tubuh Bu Kek Siansu

terlempar ke belakang seperti daun kering tertiup angin, lalu

punggungnya menubruk dinding batu. Terdengar suara keras

dan yang-khim di punggungnya ternyata telah remuk! Akan

tetapi kakek ini tidak roboh binasa, melainkan maju lagi

dengan agak terhuyung-huyung. Setelah ia maju, baru tampak

yang-khimnya jatuh dalam keadaan hancur sedangkan dinding

batu di mana ia terbanting tadi kini kelihatan amblas ke dalam

dan tercetaklah bentuk tubuh kakek itu pada dinding batu!

Senyum itu masih belum meninggalkan bibir, akan tetapi

matanya dipejamkan dan dari kedua bibirnya mengalir darah

yang menetes-netes melalui jenggot put ih yang panjang!

Dua orang kakek itu saling pandang dengan mata

terbelalak dan muka pucat sekali. Dari ubun-ubun kepala

mereka tampak keluar uap putih yang tebal. Ini tandanya

bahwa mereka telah mempergunakan tenaga dalam yang

amat kuat. Dada mereka terasa sakit dan tahulah mereka

bahwa pukulan ke dua tadi telah melukai mereka sendiri. Akan

tetapi melihat keadaan Bu Kek Siansu, mereka menduga

bahwa lawannya itu pun telah terluka. Pukulan terakhir tentu

akan merobohkan Bu Kek Siansu dan…. mungkin juga

menyeret mereka berdua ke lubang kuburan! Betapapun juga,

mereka merasa penasaran sekali dan hendak berlaku nekat.

Pukulan ke tiga sudah siap mereka lakukan dan mereka sudah

menghampiri Bu Kek Siansu yang berdiri dengan tubuh

menggetar akan tetapi mulut tersenyumdan muka tenang.

Akan tetapi tiba-tiba tampak dua sosok bayangan

berkelebat. Mereka ini adalah Kwi Lan dan Siangkoan Li.

Pemuda itu serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan

kedua gurunya sambil berseru.

“Harap Suhu berdua jangan melakukan pemukulan lagi….!”

Akan tetapi Kwi Lan sudah berdiri di depan dua orang

kakek itu sambil menudingkan telunjuknya dan berkata,

“Kalian ini dua orang tua benar-benar tidak mengenal malu

sama sekali! Mana ada aturan memukul seorang kakek tua

renta yang sama sekali tidak mau melawan? Coba kalian yang

tidak melawan kupukuli apakah kalian juga mau? Kegagahan

macam apa yang kalian perlihatkan ini?”

Lam-kek Sian-ong dan Pak-kek Sianong terkejut. Mereka

tidak mengira bahwa semua yang terjadi itu telah disaksikan

orang lain. Marahlah mereka ketika melihat bahwa murid

mereka berani mencampuri urusan ini bahkan berani pula

mengajak datang seorang gadis yang begitu galak dan berani

memaki-maki mereka. Pada saat itu mereka berdua sudah

bergandeng tangan. Tangan kiri Lam-kek Sian-ong berpegang

pada tangan kanan Pak-kek Sian-ong. Mereka berniat untuk

melakukan pukulan terakhir dengan menggabungkan tenaga,

maka tadi mereka saling berpegang telapak tangan. Kini

melihat munculnya Kwi Lan dan Siangkoan Li, dalam

kemarahan mereka itu mereka lalu menggerakkan tangan

memukul ke depan, ke arah dua orang muda yang

menghalang di jalan.

“Pergilah kalian!” bentak Lam-kek Sian-ong.

Kwi Lan dan Siangkoan Li terkejut sekali ketika merasa ada

angin pukulan dahsyat menyambar. Mereka dapat

mengerahkan tenaga hendak menangkis atau mengelak, akan

tetapi aneh luar biasa. Angin pukulan dari depan itu seakanTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

akan mengunci jalan keluar, bahkan ketika mereka

mengerahkan tenaga, mereka mendapat kenyataan bahwa

tenaga itu tak dapat mereka salurkan! Ternyata bahwa

pukulan itu sebelum tiba di tubuh lebih dulu pengaruhnya

telah membuat mereka seperti dalam keadaan tertotok!

Benar-benar, pukulan yang amat aneh dan lihai. Dengan mata

terbelalak mereka menant i datangnya maut, karena sekali

pukulan kedua orang kakek itu menyentuh tubuh mereka,

tentu maut akan datang merenggut nyawa! Akan tetapi, tibatiba

mereka merasa ada tangan menyentuh punggung

mereka. Tangan yang halus dan hangat, merapat di punggung

mereka pada saat pukulan t iba. Dan, sebelum tangan kedua

orang kakek itu menyentuh kulit tubuh mereka, hawa pukulan

itu membalik dan kedua kakek itu berseru keras lalu roboh

terjengkang!

“Minggirlah, anak-anak!” terdengar bisikan dari belakang

dan Kwi Lan berdua Siangkoan Li merasa betapa tubuh

mereka terdorong ke pinggir tanpa dapat mereka lawan.

Tahulah mereka bahwa nyawa mereka telah ditolong Bu Kek

Siansu dan diam-diam mereka kagum bukan main. Kini karena

yakin akan kelihaian dua orang kakek itu. Kwi Lan tak berani

berlagak lagi, hanya memandang ke depan.

Kedua orang kakek itu sudah meloncat bangun lagi dan

memandang kepada Bu Kek Siansu dengan mata terbelalak

heran dan kagum. Gebrakan tadi jelas membuktikan bahwa

mereka berdua, sampai sekarang pun sama sekali bukan

tandingan kakek setengah dewa ini. Mulailah terbuka mata

mereka dan mulailah mereka menyesal mengapa sejak dahulu

mereka terlalu mengagungkan dan mengandalkan kepandaian

sendiri! Sinar mata mereka mulai melunak, tidak seliar

biasanya dan hal ini tidak terluput dari pandangan mata Bu

Kek Siansu yang amat waspada. Sambil melangkah maju dan

tersenyum, kakek sakt i ini berkata.

“Perjanjian harus dipegang teguh. Kalian berdua

baru memukul dua kali, masih ada satu kali lagi.”

Dua orang kakek itu makin pucat. Mereka maklum bahwa

dua kali pukulan mereka tadi sama sekali tidak melukai kakek

sakti itu, sungguhpun pengerahan tenaga dalam yang luar

biasa membuat darah bertitik keluar dari mulutnya. Kalau

sekali lagi memukul, mungkin mereka sendiri yang akan

tewas!

Menyaksikan keraguan mereka, Bu kek Siansu berkata lagi,

“Mengapa Ji-wi ragu-ragu? Adakah Ji-wi merasa menyesal?

Baru saja ada orang-orang muda yang memberi contoh

kepada Ji-wi. Biarpun kepandaian mereka jauh di bawah

tingkat Ji-wi, namun tanpa merasa takut mereka berusaha

membelaku. Melepas budi kebajikan tanpa mempedulikan

keselamatan sendiri, alangkah besar jasa yang diperbuat

selagi hidup. Hayolah, aku masih hutang sebuah pukulan dari

kalian berdua.”

Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong masih saling

bergandengan tangan. Mereka kini melangkah maju dan

Lamkek Sian-ong berkata, “Masih sekali pukulan lagi, Bu Kek

Siansu, dan kalau engkau dapat bertahan serta aku tidak

mampus, biarlah aku bersumpah akan mentaati semua

pesanmu!”

“Benar, sudah sepatutnya dan sudah tiba saatnya kami

melihat kebodohan sendiri!” kata pula Pak-kek Sian-ong.

Kemudian sambil bergandeng tangan kedua orang itu

menghantamkan tangan mereka ke arah dada Bu Kek Siansu.

Mereka maklum bahwa kalau kakek sakt i ini menggunakan

tenaga untuk memukul kembali pukulan mereka, tentu mereka

takkan kuat bertahan, terpukul oleh hawa pukulan sendiri dan

isi dada mereka yang sudah terluka akan terguncang

merenggut nyawa.

“Dukkk….!”

Dua orang itu mengeluarkan pekik kaget. Ternyata kali ini

Bu Kek Siansu menerima pukulan hebat itu dengan tubuhnya

tanpa pengerahan tenaga sama sekali! Kakek itu telah

mengorbankan diri demi keselamatan mereka berdua. Mereka

melihat betapa tubuh Bu Kek Siansu mencelat ke belakang lalu

jatuh terduduk, bersila dan tubuhnya masih bergoyanggoyang.

Dari mata, hidung, mulut, dan telinga mengalir darah

segar! Dua orang kakek itu menjerit dan menubruk,

menjatuhkan diri berlutut di depan Bu Kek Siansu. Baru

sekarang mereka mengenal rasa terharu. Kakek ini yang

mereka pukul tanpa melawan, begitu saja membiarkan dirinya

terluka hebat untuk menyelamatkan mereka berdua. Di mana

ada budi kebajikan yang sebesar ini?

Bu Kek Siansu membuka matanya, tersenyum ketika

melihat wajah mereka berdua.

“Siancai…. siancai…. legalah hatiku sekarang…. kejahatan

yang merajalela di dunia akan menghadapi lawan berat….”

“Siansu, mengapa mengorbankan diri untuk kami?” Lamkek

Sian-ong yang masih terheran itu bertanya.

“Siansu, kami bersumpah akan mentaati pesanmu sampai

mati!” kata pula Pak-kek Sian-ong.

“Anak-anak yang baik,” kata Bu Kek Siansu, seakan-akan

dua orang kakek itu adalah dua orang anak-anak kecil saja.

“Tidak ada pengorbanan apa-apa. Yang keras kalah oleh yang

lunak, itu sudah sewajarnya. Yang lenyap diganti oleh yang

muncul, yang mati digant i oleh yang lahir. Apa bedanya?

Paling penting, mengenal diri sendiri termasuk kelemahankelemahan

dan kebodohan-kebodohannya, sadar insyaf dan

kembali kejalan benar. Yang lain-lain tidaklah penting lagi.

Selamat berpisah.” Setelah berkata demikian, ia bangkit berdiri

lalu berjalan terhuyung-huyung keluar dari dalam terowongan

itu dengan wajah berseri dan mulut tersenyum!

Sungguh aneh bin ajaib. Dua orang kakek yang biasanya

liar itu kini menangis terisak-isak. Lam-kek Sian-ong Si Muka

Merah itu menangis sesenggukan sambil duduk dan

menyembunyikan mukanya di antara kedua paha yang

diangkat naik. Adapun Pak-kek Sian-ong yang bermuka pucat

itu berdiri memegangi kerangkeng dan terisak-isak tanpa

mengeluarkan air mata. Kalau saja Kwi Lan tidak menyaksikan

semua peristiwa tadi, tentu ia akan tertawa bergelak saking

geli hatinya. Namun peristiwa tadi sungguh menenangkan

hatinya dan kini ia hanya memandang dengan penuh

keheranan.

Siangkoan Li segera melangkah maju dan menjatuhkan diri

berlutut di depan dua orang kakek itu. “Ji-wi Suhu, teecu

Siangkoan Li datang menghadap Suhu….”

Mendadak Pak-kek Sian-ong membalikkan tubuh menoleh

lalu membentak, “Aku tidak mempunyai murid macam

engkau.”

Kaget sekali hati Siangkoan Li, juga ia menjadi berduka.

“Suhu, harap maafkan teecu. Teecu datang menghadap

mohon nasihat Ji-wi Suhu. Ayah dan Ibu telah meninggal.

Thian-liong-pang menjadi perkumpulan jahat akan tetapi di

sana ada Gwakong. Apakah yang teecu harus lakukan….?”

Kini Lam-kek Sian-ong yang membalikkan tubuh

danmenoleh. Ia masih duduk di atas lantai dan mukanya

makin merah ketika ia membelalakkan mata menghardik,

“Engkau orang jahat! Engkau tokoh Thian-liong-pang yang

menjemukan! Pergi…. dan bawa pergi perempuan liar ini

keluar dari sini!”

“Suhu….!” Siangkoan Li merintih.

“Cukup! Engkau membiarkan bangunan yang dengan susah

payah didirikan Ayahmu menjadi runtuh berantakan. Kaukira

kami t idak mengetahui sepak terjangmu? Kami tidak sudi

mempunyai murid macam engkau!” kata Pak-kek Sian-ong.

“Heh-heh, barangkali orang muda ini datang untuk

memamerkan kekasihnya itu, dan minta persetujuan kita

untuk menikah dengannya. Ha-ha, Pek-bin Twako, kaubikin

dua orang muda ini kecewa saja!” Si Muka Merah mengejek.

Sambutan dan sikap kedua orang gurunya ini merupakan

pukulan hebat bagi Siangkoan Li. Tadinya ia menggantungkan

harapannya kepada dua orang tua itu. Siapa kira, dia sendiri

menjadi saksi betapa kedua orang suhunya ini dahulu ternyata

juga bukan orang baik-baik sehingga ditundukkan dan

dihukum Bu Kek Siansu. Kemudian ditambah lagi sikap mereka

yang tidak mengakuinya sebagai murid, lebih dari itu lagi,

mengejek dan menghina Kwi Lan. Wajah pemuda ini menjadi

pucat, layu dan sinar matanya sayu seperti orang

kehilangansemangat. Ia masih berlutut dan mengangkat

mukanya yang pucat memandang kepada dua orang kakek itu

mohon dikasihani. Akan tetapi kedua orang gurunya sama

sekali tidak menaruh kasihan. Si Muka Pucat berdiri dengan

muka merah. Si Muka Merah duduk dengan mulut menyeringai

dan mengejek.

Kwi Lan memang sejak tadi sudah merasa tidak suka

kepada dua orang kakek jembel itu. Ketika mereka melakukan

pemukulan-pemukulan kepada Bu Kek Siansu, ia telah merasa

kecewa dan tidak suka kepada dua orang guru Siangkoan Li.

Akan tetapi di samping perasaan ini ia pun maklum bahwa

ilmu kepandaian kedua orang kakek itu benar hebat luar

biasa. Karena itu ia menjadi segan juga dan tidak berani

menyatakan perasaannya ketika ia tadi terlempar oleh hawa

pukulan mereka. Kini, melihat betapa Siangkoan Li dihina

sehingga pemuda ini kelihatan begitu kecewa dan bersedih

bukan main, kemarahannya tak tertahankanlagi. Ia melompat

maju dan memaki.

“Kalian ini tua bangka benar-benar menjemukan sekali!

Dahulu Siangkoan Li menjadi murid kalian adalah atas

kehendak kalian sendiri, bukan dia yang minta-minta

mengemis kepada kalian! Sekarang, jauh-jauh Siangkoan Li

dengan hati berat datang menghadap minta nasihat, akan

tetapi kalian malah memaki-maki dan tidak mengakuinya.

Manusia-manusia macam apa kalian ini?” Ia lalu memegang

lengan Siangkoan Li, ditariknya pemuda itu bangun dari

berlutut, digandengnya dan ditarik-tariknya agar pergi dari situ

sambil membujuk.

“Sudahlah, Siangkoan Li. Mulai saat ini jangan kau

mengandalkan dan menyandarkan pendirianmu kepada orang

orang lain. Belajarlah dewasa dan hidup mengandalkan diri

sendiri. Untuk apa minta-minta kepada mereka yang tidak

punya apa-apa ini? Untuk apa minta penerangan kepada

orang yang berada dalam kegelapan? Salah benar diputuskan

sendiri, akibatnya susah senang pun ditanggung sendiri. Itu

baru laki-laki namanya!”

“Hi-hi-hik….!” Pak-kek Sian-ong mengeluarkan suara

ketawa tanpa membuka mulutnya.

“Ha-ha-ha-ha!” Lam-kek Sian-ong juga tertawa.

Dengan hati hancur Siangkoan Li yang merasa lemas

tubuhnya itu membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh Kwi Lan.

Beberapa kali ia menoleh memandang kepada gurunya itu

dengan harapan kalau-kalau kedua orang gurunya tadi hanya

mencobanya saja dan sekarang sudah berubah sikap. Akan

tetapi dua orang kakek itu tetap menyeringai seperti tadi.

Mereka berdua kini duduk di dalam rumah makan kecil

sederhana di ujung dusun tak jauh dari markas Lu-liang-pai

itu. Wajah Siangkoan Li masih pucat dan muram. Kwi Lan

membujuk dan menghiburnya dan atas bujukan Kwi Lan yang

berkali-kali itu akhirnya Siangkoan Li mau juga makan nasi.

Hari telah siang, akan tetapi warung yang sederhana itu masih

kosong, tidak ada tamunya kecuali seorang pengemis yang

duduk melenggut di sudut sebelah depan. Biarpun pakaiannya

pengemis, namun berani duduk di situ menghadapi meja,

tentu juga seorang tamu yang datang berbelanja.

Kini di atas meja di depannya tidak ada lagi mangkok

piring, akan tetapi sisa-sisa di atas meja itu membuktikan

bahwa pengemis ini tadi telah makan. Beberapa ekor lalat

merubungi sisa makanan di atas meja, akan tetapi pengemis

itu tidak peduli dan duduk melenggut, agaknya tertidur setelah

kekenyangan makan. Kedua tangannya diletakkan di atas

meja dan kalau orang memperhatikannya, tentu akan menjadi

heran melihat kedua tangan ini berkulit putih dan halus,

sedangkan kuku-kukunya pun terpelihara baik-baik. Akan

tetapi sukar untuk melihat mukanya karena sebuah topi butut

yang lebar menutupi kepala berikut mukanya. Topi lebar itu

pun aneh, berhiaskan setangkai bunga mawar merah!

Kwi Lan dan Siangkoan Li tadi hanya melempar pandang

satu kali ke arah pengemis ini, sungguhpun merasa heran

namun tidak bercuriga. Terlalu banyak perkumpulan pengemis

dan terlalu banyak pengemis-pengemis yang berlagak aneh

mereka jumpai. Agaknya pengemis ini pun hanya seorang di

antara anggauta perkumpulan-perkumpulan itu yang sengaja

berlagak aneh untuk menarik perhatian orang. Selain itu, juga

Siangkoan Li terlalu sibuk dengan kemurungan pikirannya dan

Kwi Lan terlalu sibuk dengan usahanya menghibur Siangkoan

Li sehingga keduanya selanjutnya lupa lagi kepada Si

Pengemis yang masih duduk melenggut di atas kursinya.

“Sudahlah, tak perlu kau bermuram durja lagi. Bukankah

sudah jelas bahwa kedua orang gurumu itu, betapapun

lihainya, tak lain hanya orang-orang yang pernah juga

menyeleweng daripada jalan benar? Untuk apa memikirkan

mereka? Yang paling perlu, percaya kepada diri sendiri untuk

memperbaiki hidup, menghapus semua yang kotor dan mulai

dengan lembaran baru yang bersih. Siangkoan Li, mana sifat

jantanmu? Bangkitlah, jangan terbawa hanyut duka nestapa

yang tiada gunanya.” Berkali-kali Kwi Lan menghibur.

“Aihhh…., bukan main….!” Tiba-tiba terdengar suara pujian

perlahan sekali, akan tetapi cukup jelas. Kwi Lan cepat

menoleh keluar, akan tetapi tidak tampak ada orang di luar.

Suara tadi datang dari luar, ataukah…. dari pengemis yang

tertidur tadi? Akan tetapi bukan, karena telinganya yang tajam

dapat menangkap suara pernapasan pengemis itu yang halus

dan panjang, napas orang sedang tidur! Ia menoleh ke arah

dalam di mana kakek yang mengurus warung itu sibuk

membersihkan dapur. Tidak ada orang lain kecuali kakek itu

yang mengurus warung ini. Kwi Lan tidak pedulikan lagi.

Mungkin suara orang di luar warung dan ucapan tadi tidak ada

hubungannya dengan dia.

Siangkoan Li menghela napas panjang. “Kwi Lan, setelah

menyaksikan segala yang terjadi tadi, mendengar semua

ucapan kakek ajaib yang bernama Bu Kek Siansu itu, aku

menjadi insyaf akan kebodohanku selama ini. Aku terlalu

lemah dan menyerah kepada keadaan. Tidak, Kwi Lan, aku

tidak lagi sudi menyerah dan tunduk kepada Gwakong yang

ternyata telah menyelewengkan Thian-liong-pang. Aku akan

berusaha mengangkat kembali nama baik Thian-liong-pang

seperti yang telah kuusulkan. Akan tetapi….” Ia menundukkan

muka dengan sedih.

“Mengapa lagi? Apa yang menjadi halangan?”

“Selama dua tahun aku setia kepada Thian-liong-pang yang

menyeleweng. Dengan sendirinya aku telah menjadi seorang

tokoh dunia hitam, tokoh jahat! Lebih dari itu, kedua orang

Guruku pun ternyata bukan orang baik-baik. Mana mungkin

ada pendekar yang mau percaya kepadaku? Kurasa usahaku

untuk menghimpun tenaga para patriot Hou-han takkan

berhasil.”

Kwi Lan mengerutkan keningnya. Biarpun ia kurang

pengalaman, namun ia seorang gadis yangcerdik. Ia dapat

mengerti keadaan Siangkoan Li dan melihat kebenaran

pendapat itu. Selagi ia hendak menjawab dan menghibur,

tiba-tiba terdengar suara halus namun keren dan penuh

teguran.

“Huh, bagus sekali, Siangkoan Li. Lekas menyerah sebelum

pinceng (aku) terpaksa turun tangan menggunakan

kekerasan!”

Kwi Lan cepat menoleh dan tampaklah lima orang hwesio

muncul di depan warung itu. Lima orang hwesio yang

kelihatannya bersikap agung, alim, akan tetapi juga

berwibawa. Apalagi yang memimpinnya. Dia seorang hwesio

tua yang berjenggot panjang dan putih, matanya bersinar

halus namun amat tajam. Empat orang hwesio lainnya yang

belum tua benar, berdiri di belakangnya dan sikap mereka

hormat, menanti perintah. Mereka berlima semua membawa

pedang.

“Celaka, mereka adalah hwesio-hwesio Lu-liang-pai….”

bisik Siangkoan Li yang segera bangkit berdiri dan melangkah

maju, terus memberi hormat kepada hwesio tua yang berdiri

paling depan.

“Teecu Siangkoan Li telah melanggar wilayah Lu-liang-pai

dan karena diserang terpaksa menotok roboh dua orang suhu

dari Lu-liang-pai. Harap Thaisu sudi memaafkan karena hal itu

teecu lakukan secara terpaksa ketika teecu ingin berjumpa

dengan kedua orang Suhu teecu di dalam sumur di belakang

kuil Lu-liang-pai.” Siangkoan Li yang mengenal kesalahannya

dan kini sedang dalam usaha “memperbaiki jalan hidup”

mendahului mereka minta maaf. Sikapnya merendah sekali

sehingga diam-diam Kwi Lan mendongkol.

“Omitohud…. baik sekali kalau kau menyesali perbuatanmu

yang sesat. Siangkoan-kongcu. Sayang, bukan hanya itu saja

kesalahanmu. Kau telah berdosa besar sekali kepada kami.

Beberapa tahun yang lalu, selagi masih kecil, kau telah

melanggar daerah larangan, lebih dari itu, malah tanpa ada

yang mengetahui kau telah menjadi murid dua orang musuh

besar kami yang sedang dihukum. Hal itu berarti kau telah

melakukan dua dosa. Kemudian, setelah keluar, kau menjadi

orang sesat dalam Thian-liong-pang yang menjadi

perkumpulan jahat semenjak Ayahmu mat i. Dosa ketiga ini

dosa yang paling besar dan untuk itu pinceng dan para

anggauta Lu-liang-pai sudah cukup untuk menghukummu.

Sekarang, semua dosa ini ditambah dengan pelanggaran ke

dalam kuil dan merobohkan dua orang murid kami. Siangkoan

Li, hayo lekas berlutut dan menerima hukuman di kuil kami.”

Siangkoan Li menjadi bingung dan melihat ini Kwi Lan

sudah melompat ke depan dan mencabut pedang Siangbhokkiam!

Gadis ini berdiri dengan tegak, pedang di tangan

kanan, sarung pedang di tangan kiri dan telunjuk tangan

kirinya menuding ke arah hwesio-hwesio itu.

“Hwesio-hwesio gundul sombong! Siangkoan Li dengan

kalian t idak ada hubungan sesuatu, kalian berhak apakah

mengadilinya dan bicara tentang dosa-dosanya? Apakah kalian

ini hakim? Ataukah dewa-dewa yang menentukan dosa

tidaknya manusia?”

Para hwesio itu nampak kaget, bahkan ada di antara

mereka mencabut pedang siap menant i komando. Akan tetapi

hwesio tua itu mengangkat kedua tangan memberi hormat

dan berkata.

“Omitohud…… Nona muda siapakah? Kalau tidak salah,

pinceng Cin Kok Hwesio Ketua Lu-liang-pai sama sekali belum

pernah bertemu dengan Nona. Nona murid siapakah?”

“Hwesio tua, tak perlu aku memperkenalkan diri! Ketahuilah

bahwa aku adalah sahabat Siangkoan Li yang tidak rela

melihat kau bersikap begini sombong hendak mengadili dia.

Kau tidak berhak!”

“Ah, mengapa semuda ini Nona juga tersesat ke dalam

jalan gelap? Omitohud, semoga Hudya (Buddha) membimbing

Nona ke jalan benar. Ketahuilah Nona, kami bersikap begini

adalah karena kami mengingat akan Siangkoan-pangcu yang

menjadi sahabat kami. Karena ingat Siangkoan-pangcu, maka

kami menganggap Siangkoan-kongcu ini orang sendiri

sehingga kami hendak membawanya ke kuil dan memberi

hukuman yang layak. Kalau kami tidak melihat muka

mendiang Siangkoan-pangcu, hemm…. agaknya pinceng tidak

akan berlaku selunak ini.”

Siangkoan Li membuang muka dan mengerutkan

keningnya. Ia menjadi makin berduka, diingatkan betapa

ayahnya seorang yang dihormati dan dijunjung tinggi dunia

kang-ouw, sebaliknya dia, putera tunggalnya, hanya

mencemarkan nama orang tuanya saja.

“Tua bangka gundul! Kau bicara seolah-olah engkau dan

orang-orangmulah manusia paling suci di dunia ini! Hemm,

sekarang mengerti aku mengapa Pak-kek Sian-ong dan Lamkek

Sian-ong membunuh ketua kalian dan membikin kacau Luliang-

pai. Kiranya kalian adalah orang-orang yang merasa diri

paling suci, paling bersih dan karenanya memandang rendah

orang lain yang kalian pandang orang-orang berdosa! Kiranya

kalian ini hendak mengangkat diri sendiri menjadi wakil Thian

(Tuhan) dan mewakili para dewa untuk menentukan nasib

manusia lain, menghukum dan menganggap mereka berdosa!

Pantas kalian hendak dibasmi dua orang kakek itu, dan

sekiranya tidak ada Bu Kek Siansu yang benar-benar suci dan

mulia, tentu kalian sudah mampus semua dan aku percaya,

orang-orang seperti kalian ini malah akan mati dengan

tersiksa hebat. Mau masuk sorga tak diterima karena hanya

suci anggapan sendiri, mau masuk neraka tak diterima pula

karena pada lahirnya kalian selalu menentang kejahatan. Huh,

tak tahu malu!”

“Kwi Lan, jangan….!” Tiba-tiba Siangkoan Li berseru keras

dan meloncat ke depan gadis itu, mencegah gadis itu

menggerakkan pedang. Kemudian Siangkoan Li membalikkan

tubuh menghadapi para hwesio dan berkata.

“Thaisu, dan para Suhu semua, dengarlah! Kuharap kalian

tidak membawa-bawa nama Ayahku yang sudah tidak ada.

Semua perbuatanku adalah tanggung jawabku sendiri! Aku

tidak merasa berdosa terhadap Lu-liang-pai, setelah kini

kupikir baik-baik. Pelanggaran itu bukanlah dosa. Kalau

menurut pendapat kalian aku berdosa dan perlu dihukum,

boleh. Aku bersedia melayani kalian, akan tetapi aku tidak

mau dihukum! Kalau kalian hendak menggunakan kekerasan,

juga boleh! Biarlah aku melakukan apa yang dahulu kedua

orang Suhuku Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong sudah

gagal melakukannya, yaitu memberi hajaran kepada kalian

orang-orang Lu-liang-pai yang pura-pura suci! Nah, silakan!”

Muka Cin Kok Thaisu yang kelihatan alim itu kini terkejut

dan pucat. Tak disangkanya pemuda ini akan berani melawan

dan mengingat bahwa pemuda ini adalah murid dua orang

kakek yang hebat itu, ia meragu. Apalagi di situ terdapat nona

muda yang galak ini, yang tentu bukan orang sembarangan

pula maka berani bersikap sekeras itu. Andaikata dia mampu

mengalahkan dan menangkap Siangkoan Li, kemudian hal ini

terdengar oleh dua orang kakek yang terhukum di belakang

kuil, bukankah kemarahan mereka akan bangkit dan janganjangan

mereka itu melakukan pembalasan dengan membasmi

Lu-liang-pai? Bantuan Bu Kek Siansu manusia dewa itu sukar

diharapkan karena di mana adanya kakek itu tak seorang pun

manusia mengetahuinya.

“Omitohud….! Maksud pinceng hanya untuk menghukum

dan melempangkan yang bengkok, berarti kami menolong jiwa

Siangkoan-kongcu dam berarti pula kami t idak melupakan

persahabatan kami dengan Siangkoan-pangcu. Kalau Kongcu

hendak mengambil jalan sesat terus, kami pun tidak bisa

berbuat sesuatu, akan tetapi kelak akan tiba masanya

terpaksa kami menghadapi Kongcu sebagai musuh, bukan

sebagai putera sahabat lagi.” Ia menoleh kepada muridmuridnya

dan mendengus, “Mari kita pergi.”

Hwesio tua itu mengebutkan lengan bajunya yang lebar,

lalu melangkah keluar sambil berliam-keng (membaca doa),

diikuti oleh empat orang muridnya. Kwi Lan dan Siangkoan Li

mengikut i mereka dengan pandang mata sampai mereka itu

mulai mendaki bukit menuju ke markas Lu-liang-pai.

“Engkau benar, Kwi Lan. Orang harus dapat menentukan

langkah sendiri, mempertimbangkan perbuatan sendiri

kemudian mempertanggungjawabkannya sendiri pula. Terima

kasih atas segala bantuanmu, Kwi Lan. Sekarang terbukalah

mataku. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk

membangun kembali Thian-liong-pang sebagai sebuah

perkumpulan orang-orang gagah sehingga dapat bermanfaat

bagi masyarakat, terjunjung tinggi namanya di dunia kangouw.

Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk

memperlihatkan kepada dunia bahwa t idak sia-sia Ayah

mempunyai seorang anak seperti aku.” Ucapan ini

bersemangat sekali dan pemuda itu berdiri dengan kedua kaki

terpentang lebar, kedua tangan terkepal dan mukanya yang

tampan kehilangan kemuramannya, kini tampak berseri dan

bercahaya.

Kwi Lan tersenyum lebar, menghampiri dan memegang

tangan pemuda itu. “Bagus! Sekarang aku dapat dengan hati

ikhlas dan dada lapang melepasmu pergi, Siangkoan Li. Kelak

aku pasti akan datang mengunjungi Thian-liong-pang di

bawah pimpinanmu.”

Pemuda itu memandangnya tajam. “Apa? Kau…. kau tidak

ikut bersamaku?”

Kwi Lan menggeleng kepala. “Sungguh lucu, bukan?

Tadinya engkau yang selalu menyuruh aku pergi akan tetapi

aku tidak mau meninggalkanmu. Sekarang aku yang hendak

meninggalkanmu akan tetapi engkau yang sebaliknya

menghendaki aku membantumu. Sekarang engkau dapat

berdiri sendiri, Siangkoan Li, dan urusan Thian-liong-pang

bukanlah urusanku, melainkan urusan pribadimu. Betapapun

juga, aku girang sekali telah dapat bersahabat denganmu.

Engkau seorang pemuda yang amat hebat!”

“Kwi Lan…. ahhh….”

“Ada apa? Kenapa kau meragu lagi?”

“Kwi Lan…., terus terang saja… hemm, sekarang ini….

terasa amat berat bagiku untuk berpisah darimu. Tidak….

tidak dapatkah kita…. eh, bersama selalu….?”

“Ehm…. ehm….!”

Untung pengemis yang terlupa dan masih tidur di sudut

depan itu terbatuk-batuk sambil menggaruk-garuk pundak

yang agaknya digigit kutu bajunya sehingga suasana tak enak

dan mencekam setelah kata-kata Siangkoan Li itu menjadi

buyar seketika. Siangkoan Li ingat bahwa dia berada dalam

warung di mana terdapat pengemis itu dan juga pengurus

warung yang berada di dalam, maka ia pun lalu tersenyum

dan berkata.

“Maaf, Kwi Lan. Kembali aku terseret dalam kelemahan.

Engkau benar. Kita harus mengambil jalan kita masing-masing

dan kelak bertemu kembali dalam suasana yang lebih baik,

setelah tugas kita masing-masing selesai. Nah, selamat tinggal

dan selamat berpisah, Kwi Lan!” Jari tangan yang

menggenggam tangan Kwi Lan itu seakan-akan memancarkan

hawa hangat yang menjalar dari tangan Kwi Lan terus ke

dalamhatinya. Ia memandang mesra kemudian menarik

kembali tangannya.

“Selamat jalan, Siangkoan Li. Engkau orang baik, tentu kau

akan berhasil dalam tugasmu. Sampai berjumpa pula kelak….”

Dengan wajah berseri dan langkah lebar, Siangkoan Li

meninggalkan warung itu dan tak lama kemudian ia telah

berlari-lari cepat dan lenyap dari pandang mata Kwi Lan yang

mengikut inya. Gadis itu termenung sejenak, lalu menghela

napas panjang dan memanggil pemilik warung. Setelah

membayar harga makanan, ia pun lalu membawa bungkusan

pakaiannya dan meninggalkan warung itu.

***

Kita tinggalkan dulu Kam Kwi Lan yang berpisah dari

Siangkoan Li untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke

Khitan menemui ibu kandungnya. Marilah kita menengok

keluar, ke dunia kang-ouw. Seperti telah disinggung oleh

manusia dewa Bu Kek Siansu ketika memberi nasihat kepada

Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, di dunia kang-ouw,

terutama di kalangan golongan hitam, terjadi perubahan hebat

semenjak lenyapnya Thian-te Liok-koai dari permukaan dunia

penjahat. Lenyapnya enam orang tokoh besar dunia hitam ini

membuat golongan hitam menjadi lemah kedudukannya dan

kuncup nyalinya. Apalagi, pemerintah Sung dengan secara

tidak langsung dibantu oleh para pendekar, mendapat angin

baik dan di mana-mana para pendekar berusaha membasmi

golongan hitam sehingga banyaklah golongan hitam tidak

berani lagi memperlihatkan diri secara berterang. Untuk

menjaga kelangsungan hidup mereka, kaum hitam ini

menyelundup ke dalam perkumpulan-perkumpulan bersih

seperti yang dilakukan ke dalam Thian-liong-pang dan

sebagian besar perkumpulan pengemis sehingga banyaklah

perkumpulan-perkumpulan baik berubah menjadi sarang

mereka yang dikejar-kejar itu.

Kemudian timbul desas-desus yang menggembirakan dan

membangkitkan semangat golongan hitam yaitu dengan

turunnya pentolan-pentolan yang kabarnya malah memiliki

kesaktian lebih hebat daripada mendiang Thian-te Liok-kwi!

Disebut-sebut oleh golongan hitam ini nama-nama tokoh yang

selama ini t idak terkenal di dunia kang-ouw, pendatangpendatang

baru dari empat penjuru dan yang sebelum muncul

sudah memiliki pengikut-pengikut yang memilih jagoan

masing-masing untuk dijadikan semacam “datuk” mereka.

Orang pertama yang disebut-sebut adalah Siang-mou Sin-ni

(Wanita Sakti Berambut Wangi), seorang di antara Thian-te

Liok-kwi yang belum tewas. Karena dia merupakan seorang

tokoh wanita, tentu saja yang memuja dan menjagoinya

adalah golongan hitam kaum wanita yang akhir-akhir inl

banyak muncul di dunia sebelah selatan. Semenjak dikalahkan

oleh Suling Emas (bacaCINTA BERNODA DARAH ), iblis betina

ini melarikan diri dan bersembunyi di sebuah pulau kosong di

pantai selatan, di mana selain menggembleng diri dengan

ilmu-ilmu baru, ia juga menerima murid-murid perempuan

yang cantik-cantik dan kesemuanya berambut panjang terurai

tidak digelung dan ia menciptakan sebuah barisan wanita yang

disebutnya Siang-mou-tin (Barisan Rambut Wangi)! Akan

tetapi belasan tahun lamanya Siang-mou Sin-ni melarang

murid-muridnya mencampuri urusan luar, ia sendiri tak pernah

terjun ke dunia kang-ouw.

Orang ke dua adalah seorang tokoh dari dunia barat yang

tak dikenal orang, namun yang namanya menggemparkan

perbatasan dunia barat. Begitu muncul, dia mengacau di

antara para dunia pengemis dan dikabarkan bahwa dia telah

membunuh dua ratus lebih orang pengemis golongan putih

dengan cara yang luar biasa kejamnya, yaitu mempergunakan

senjata yang istimewa, sebuah gunting yang besar sekali. Dia

ini dijuluki Bu-tek Siu-lam (Si Tampan Tanpa Tanding). Karena

munculnya telah melakukan perbuatan membasmi golongan

pengemis putih, tentu saja namanya disanjung-sanjung oleh

para pengemis golongan hitam yang berusaha untuk

mengambil alih kekuasaan di dunia pengemis. Bu-tek Siu-lam

ini dikabarkan selain lebih lihai daripada raja pengemis jahat

It-gan Kai-ong, juga lebih kejam dan amat aneh. Orangnya

tampan, pakaiannya hebat luar biasa, lagak bicaranya seperti

perempuan genit!

Orang ke tiga adalah Jin-cam Khoaong (Raja Algojo

Manusia) atau yang menamakan dirinya Pak-sin-ong, seorang

tokoh utara berbangsa campuran antara Mongol dan Khitan.

Kabarnya dia itu masih keturunan mendiang Hek-giam-lo itu

tokoh Thian-te Liok-kwi (bacaCINTA BERNODA DARAH ). Paksin-

ong (Raja Sakti Utara) atau Jin-cam Khoa-ong ini juga

amat kejam, senjatanya sebuah gergaji berkait dan ia bercitaTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

cita untuk menjadi Raja Khitan dan kini menjadi buronan

Kerajaan Khitan!

Orang ke tiga ini pun mempunyai banyak anak buah, yaitu

orang-orang Mongol dan Khitan yang tidak suka kepada Ratu

Yalina dari Kerajaan Khitan. Juga banyak tokoh dunia hitam

bagian utara yang mengagumi kesakt ian kakek ini menyatakan

takluk dan menggabungkan diri atau lebih tepat bernaung di

bawah pengaruh Pak-sin-ong.

Orang ke empat di antara deretan datuk-datuk dunia hitam

ini adalah seorang kakek tua renta yang kurus dan mukanya

selalu menyeringai, berjuluk Siauw-bin Lo-mo (Iblis Tua

Tertawa). Dia ini adalah paman guru Sin-seng Losu Ketua

Thian-liong-pang, maka dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu

kepandaiannya. Karena di waktu mudanya dahulu Siauw-bin

Lo-mo adalah seorang bajak laut, maka sekarang pun para

pengikutnya sebagian besar tokoh-tokoh bajak laut dan bajak

sungai.

Orang ke lima di antara para tokoh adalah seorang raksasa

yang mukanya seperti monyet, bahkan julukannya pun Thailek

Kauw-ong (Raja Monyet Bertenaga Kuat). Tokoh ini

muncul dari kepulauan di laut, dan entah berapa ratus tokoh

sudah dirobohkan oleh kakek ini semenjak ia mendarat di

pantai timur sampai perantauannya ke daratan tengah.

Sampai kini belum pernah ada jago silat yang mampu

mengalahkan sepasang senjatanya yang aneh dan lucu, yaitu

sepasang gembreng alat musik yang biasa dipakai bersama

tambur dan canang untuk mengiringi tarian dan permainan

barongsai atau liong. Keanehan kakek ini adalah bahwa tidak

seperti tokoh lain, ia tidak mempunyai murid, juga tidak

mempunyaipengikut. Ia malang-melintang seorang diri di

dunia kang-ouw dan kesukaan satu-satunya hanyalah

berkelahi dan mengalahkan tokoh-tokoh besar!

Pagi hari itu amat ramai di Puncak Cheng-liong-san yang

biasanya amat sunyi. Puncak gunung ini merupakan sebuah di

antara puncak-puncak yang paling sunyi, tak pernah didatangi

manusia karena selain sukar mencapai puncak ini, juga di

sekitar gunung ini menjadi sarang binatang buas dan

seringkali dijadikan sarang manusia-manusia buas pula. Pagi

hari ini pun puncak Cheng-liong-san menjadi pusat pertemuan

di antara orang-orang golongan hitam yang sudah berjanji

untuk mengadakan pertemuan awal dalam menghadapi

pertemuan para tokoh mereka untuk mengadakan pemilihan

beng-cu (ketua) yang akan memimpin para tokoh dunia hitam

menghadapi para pendekar golongan putih.

Semenjak malam tadi, berbondong-bondong orang kangouw

mendatangi puncak itu. Ada rombongan terdiri hanya dari

dua tiga orang, akan tetapi ada pula rombongan besar terdiri

dari belasan orang, bahkan sambil membawa bendera

lambang perkumpulan mereka segala! Pagi hari itu sudah

ramailah puncak, penuh dengan orang-orang yang bermacammacam

pakaiannya. Ada yang masih amat muda, ada pula

yang sudah kakek-kakek. Ada yang berpakaian mewah seperti

seorang jutawan, ada yang berpakaian pedagang, ada seperti

guru silat, dan banyak pula yang berpakaian pengemis.

Biarpun bermacam-macam, sesungguhnya mereka itu sama,

yaitu orang-orang jahat yang selalu mendatangkan kekacauan

di dunia ini. Tampak bendera mereka berkibar dengan

sulaman bermacam-macam lambang. Ada gambar naga

dengan beraneka warna, ada gambar bunga-bunga, dan lain

macam binatang. Di antara banyak bendera itu, tampak

berkibar megah bendera dengan gambar garuda hitam dan

ada pula bendera bergambar ular hitam. Dua buah bendera ini

dipegang oleh rombongan pengemis yang pakaiannya

berkembang bersih, maka mudahlah diketahui bahwa mereka

itu adalah rombongan perkumpulan-perkumpulan pengemis

Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang. Memang golongan

pengemislah yang terbanyak datang mengunjungi pertemuan

kaumsesat ini.

Serigala dan harimau, binatang-binatang buas hidup rukun

dengan kelompok masing-masing, demikian pula manusia.

Burung memilih kawan dengan persamaan warna bulu,

sedangkan manusia memilih kawan dengan kecocokan watak

dan kebiasaan mereka. Biarpun orang-orang yang pada pagi

hari itu berkumpul di Puncak Cheng-liong-san terdiri dari

orang-orang kang-ouw yang sudah biasa melakuken

perbuatan sesat, namun kini setelah berkumpul mereka dapat

beramah-tamah, bersendau-gurau dengan hati tulus ikhlas

penuh rasa persahabatan satu dengan yang lainnya. Dengan

bangga mereka saling menceritakan pengalaman mereka yang

bagi umum merupakan perbuatan jahat, namun bagi mereka

merupakan kegagahan dan keberanian yang patut mereka

banggakan. Ramailah suara mereka bercakap-cakap diseling

gelak ketawa, mengalahkan dan mengusir burung-burung

yang terbang pergi ketakutan.

Seperti telah bermufakat padahal hanya kebetulan saja,

mereka kini berkumpul mengelilingi sebuah batu besar yang

bundar bentuknya dan licin permukaannya sehingga batu itu

dapat dipergunakan sebagai pengganti meja besar. Batu-batu

kecil diangkat dan digulingkan di seputar “meja” ini, dijadikan

tempat duduk. Ada pula yang berjongkok atau duduk begitu

saja di atas tanah, ada yang berdiri dan bermacam-macamlah

sikap mereka.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dari jauh.

Sebagian besar dari kaum sesat yang berkumpul di situ adalah

hamba-hamba nafsu, maka mendengar suara ketawa wanita

semerdu ini, serentak mereka menengok dan memandang.

Tak lama kemudian semua percakapan terhenti dan semua

mata melotot memandang penuh gairah kepada dua orang

wanita muda yang datang berjalan dengan lenggang bergaya

tari, menarik dan menggairahkan. Dua orang wanita muda ini

bertubuh kecil ramping, berpakaian sutera halus tipis

berwarna merah muda dan hijau pupus. Sikap dan percakapan

mereka menunjukkan bahwa mereka adalah wanita-wanita

selatan. Rambut mereka terurai panjang tak digelung, dan

gagang pedang tampak di belakang punggung. Mereka datang

sambil tersenyum-senyum manis dan sepasang mata

mengerling-ngerling genit.

Karena yang menjadi pelopor pertemuan ini adalah dua

perkumpulan pengemis Hek-pek Kai-pang dan Hek-coa

Kaipang, maka dua perkumpulan inilah yang bertindak sebagai

tuan rumah dan yang sekaligus meneliti dan mengenal para

tamu agar jangan sampai ada pihak musuh yang datang

menyelundup. Melihat datangnya dua orang wanita muda

yang tak terkenal ini, Ketua Hek-coa Kai-pang segera

menyambut, menjura dan berkata kepada dua orang wanita

itu.

“Selamat datang di antara sahabat! Mohon tanya, Ji-wi

Kouwnio (Nona Berdua) ini dari golongan manakah dan berdiri

di bawah bendera apa?”

Dua orang wanita muda itu saling pandang lalu tertawa

genit sambil menutupi mulut dengan ujung lengan baju

mereka yang panjang. Kemudian seorang di antara mereka

yang lebih t inggi berkata.

“Kami adalah anggauta-anggauta Siang-mou-tin, diutus

oleh Sin-ni untuk melihat apa yang terjadi di sini.”

“Ah, kiranya Ji-wi adalah utusan Siang-mou Sin-ni dari

selatan. Maaf, karena terlalu jauh kami tak sempat mengirim

undangan, harap sampaikan maaf kami kepada Sin-ni. Akan

tetapi kami girang bahwa Sin-ni berkenan mengutus wakil.

Silakan duduk, Ji-wi Kouwnio!”

Dua orang wanita itu tersenyum-senyum dan melangkah

mendekati mereka. Para tamu yang terdiri dari laki-laki semua

itu kini mencium bau harum yang semerbak keluar dari

rambut panjang dua orang wanita ini. Mereka berseru kagum

dan mulailah mereka, terutama yang muda-muda, berteriakteriak

menawarkan tempat duduk.

“Mari duduk dekatku sini, Nona. Batunya licin dan bersih!”

“Di sini teduh. Marilah!”

Berlumba mereka itu menawarkan tempat duduk sambil

tertawa-tawa, semua mengharapkan untuk dapat duduk di

dekat dua orang nona manis yang genit senyum kerlingnya

dan harum rambutnya itu. Bahkan ada pula yang mulai

mengeluarkan kata-kata tidak sopan dan cabul, sesuai dengan

watak mereka yang memang sudah biasa bersendau-gurau

dengan kata-kata cabul. Namun dua orang wanita itu pun

bukan orang baik-baik. Kalau wanita sopan mendengar

sendau-gurau laki-laki yang cabul dan kurang ajar, tentu

menjadi malu dan tidak senang, namun dua orang wanita

anggauta Siang-mou-tin ini tersenyum-senyum dan melirik

sana-sini memilih tempat. Sesungguhnya bukan tempat yang

mereka pilih, melainkan penawarnya. Tak lama kemudian, di

bawah sorak-sorai dan tawa gemuruh, mereka sudah memilih

duduk di sebelah dua orang muda yang tampan dan segera

mereka bercakap-cakap dan tertawa-tawa gembira.

Biarpun tuan rumahnya adalah perkumpulan-perkumpulan

pengemis, namun mereka ini bukanlah tuan rumah yang

miskin. Sesungguhnya memang amat janggal terdengarnya.

Pengemis yang tidak miskin! Namun ini kenyataan karena

sesungguhnya para anggauta Hek-peng Kai-pang, Hek-coa

Kai-pang dan masih banyak lagi perkumpulan pengemis

golongan sesat, tak pernah pergi mengemis, melainkan

mengemis secara paksa alias merampok! Dengan

mengandalkan kepandaian dan pengaruh perkumpulan,

mereka mendatangi orang-orang kaya lalu “mengemis” jumlah

tertentu yang harus diberikan oleh si kaya. Demikianlah

praktek yang dijalankan oleh perkumpulan-perkumpulan

pengemis golongan sesat ini. Maka mereka itu bukanlah orang

miskin dan dalam pertemuan ini, segera dihidangkan arak baik

dan makanan-makanan yang cukup lezat dan mahal.

Menjelang siang, semua tamu sudah berkumpul, jumlahnya

seratus orang lebih. Maka perundingan pun dimulailah. Yang

menjadi pokok pembicaraan adalah membentuk persatuan

dan persekutuan golongan sesat untuk bersama-sama

menghadapi musuh golongan putih dan membalas dendam

serta membasmi para pendekar yang pernah menghancurkan

golongan mereka.

“Sudah terlalu lama kita ditindas!” Demikian antara lain

Ketua Hek-pek Kai-pang berkata. “Semenjak para datuk kita,

di antaranya adalah It-gan Kai-ong raja pengemis kami,

tewas, maka kita selalu dikejar-kejar, dihina dan harus

sembunyi sembunyi. Maka kini kita harus bersatu untuk

menghadapi mereka.”

“Agar persatuan kita dapat lebih kuat teratur, kita harus

mengangkat seorang bengcu (pemimpin). Pertemuan ini

memang merupakan pertemuan pendahuluan dan persiapan

untuk memilih bengcu. Tentu saja memilih bengcu harus

mencari seorang tokoh yang sakti agar pekerjaan kita jangan

sampai gagal!” kata Ketua Hek-coa Kai-pang. “Kami dari

golongan pengemis mengajukan calon bengcu, yaitu

Locianpwe Bu-tek Siu-lam!”

Semua pengemis yang merupakan anggauta pimpinan

pelbagai perkumpulan pengemis, bertepuk tangan

menyatakan setuju dan mendukung tokoh yang disebut oleh

ketua Hek-coa Kai-pang itu.

Mulailah golongan lain mengajukan calon-calon mereka.

Wakil-wakil dari utara mengajukan calon Sin-cam Khoa-ong

atau Pak-sin-ong yang sudah terkenal kesaktiannya. Golongan

barat diperkuat oleh perkumpulan Thian-liong-pang

mengajukan Siauw-bin Lo-mo. Sebaliknya para penjahat yang

datang dari timur dan yang mengagumi sepak terjang Thai-lek

Kauw-ong yang mengerikan, tentu saja mengajukan tokoh

baru ini sebagai bengcu. Ramailah mereka memuji-muji

setinggi langit calon masing-masing, menceritakan kehebatan

sepak terjang mereka, kelihaian mereka, dan kekejaman

mereka yang mereka katakan bahwa lebih hebat daripada

Thian-te Liok-kwi yang kini sudah tidak ada lagi, tinggal Siangmou

Sin-ni seorang yang tak pernah muncul di dunia kangouw.

“Bagus! Agaknya kita tidak kekurangan calon yang hebathebat!

Sudah ada empat orang calon kita yang dalam

beberapa hari ini akan hadir di sini. Setelah semua calon

berkumpul, barulah dilihat siapa di antara mereka yang paling

patut dijadikan bengcu. Sementara itu, mengingat bahwa

Siang-mou Sin-ni adalah seorang di antara Thian-te Liok-kwi,

jadi merupakan tokoh tua yang patut diingat, sebaiknya kita

mendengarkan suara utusannya yang kini hadir di sini.” kata

Ketua Hek-peng Kai-pang sambil melirik dua orang nona

manis yang kelihatan makin merapat duduknya dengan dua

orang laki-laki muda tampan tadi. Tanpa malu-malu lagi kedua

nona itu sudah bersikap sangat mesra terhadap dua orang

pasangan mereka.

Mendengar ucapan itu, dua orang nona manis itu kini

dengan manja dan perlahan mendorong dada pasangan

mereka, kemudian tertawa genit sambil meloncat ke depan.

Sekali meloncat, gerakan mereka yang amat ringan dan

cekatan itu membuat mereka sudah berdiri di atas batu besar

di tengah-tengah. Di tempat tinggi ini mereka kelihatan jelas.

Cantik genit dengan bentuk tubuh tampak membayang di balik

pakaian sutera tipis. Cantik menggairahkan.

“Seperti telah kami katakan tadi, kami hanyalah utusan

yang ditugaskan oleh Guru kami sebagai peninjau saja. Guru

kami menyatakan bahwa beliau tidak tertarik lagi akan urusan

dunia dan tidak menghendaki kedudukan bengcu. Akan tetapi

ini bukan berarti bahwa kami tidak mau bekerja sama dengan

Anda sekalian. Guru kami berpesan apabila bengcu baru

sewaktu-waktu bergerak menggempur Suling Emas, Guru

kami pasti akan turun tangan membantu. Hanya kalau bentrok

melawan Suling Emas saja Guru kami suka berkerja sama.

Kiranya cukuplah pernyataan kami dan selanjutnya kami

hanya menjadi peninjau yang tidak mengajukan calon.”

Setelah berkata demikian, dengan langkah menggoyang

pinggul mereka kembali menghampiri pasangan masingmasing

yang menerima mereka dengan kedua lengan terbuka

dan tertawa-tawa.

Ucapan anggauta Siang-mou-tin ini sekaligus membelokkan

percakapan mereka yang hadir di situ dari persoalan

pencalonan bengcu menjadi soal musuh-musuh besar mereka.

“Apa yang dikatakan oleh Ji-wi Kouwnio tadi memang

tepat!” kata seorang di antara para tokoh dari utara. “Memang

Suling Emas merupakan seorang musuh besar kita bersama.

Siapakah di antara kita yang belum pernah terganggu oleh

Suling Emas, baik secara langsung mau pun tidak langsung?

Dan jangan dilupakan Ratu Khitan! Wanita yang kini menjadi

Ratu Khitan kabarnya masih sanak dekat Suling Emas, bahkan

berhasil menjadi ratu karena bantuan Suling Emas. Kami

mendengar pula bahwa ratu yang sampai kini tidak menikah

itu adalah kekasih Suling Emas. Sungguh memalukan sekali,

terutama terhadap bangsa Khitan yang menjadi kawan baik

kami. Oleh karena itulah kami mengajukan Pak-sin-ong

sebagai calon bengcu dan tugas kita pertama adalah mencari

dan membunuh Suling Emas bersama teman-temannya,

terutama sekali Ratu Khitan!”

Ramailah mereka menyebut dan menyumpahi nama-nama

tokoh yang menjadi musuh mereka. Selain Suling Emas dan

Ratu Khitan, juga ada yang menyebut-nyebut nama Yu Kang

Tianglo yang mereka khawatirkan akan merupakan pimpinan

para pengemis baju butut yang amat lihai. Disinggung pula

nama Kam Bu Sin bersama isterinya Liu Hwee puteri ketua

Beng-kauw yang kini berdiam di kota Heng-yang, sebuah kota

yang terletak di lembah Sungai Mut iara di mana keduanya

hidup rukun dan tenteram namun yang selalu tak pernah

merupakan tugas mereka sebagai orang-orang gagah untuk

melawan kejahatan. Masih banyak nama yang disebut dan

dimusuhi oleh orang-orang golongan sesat ini, di antaranya

disebut-sebut pemilik Ang-san-kok (Lembah Gunung Merah).

“Paling penting lebih dulu memohon bengcu baru untuk

menyerang Ratu Khitan.” seorang tokoh utara berkata, “Kalau

kedudukan Ratu Khitan dapat dirampas, berarti golongan kita

akan mendapatkan bantuan yang amat kuat, yaitu bangsa

Khitan, sehingga tidak akan sukarlah membasmi yang lainlain.”

“Akan tetapi kabarnya ilmu kepandaian Ratu Khitan juga

amat hebat!” bantah seorang lain. “Aku sendiri belum pernah

bertemu dengannya, akan tetapi aku mendengar bahwa

biarpun usianya sudah empat puluh tahun lebih, namun ia

masih cantik jelita seperti bidadari dan ilmu kepandaiannya

amat dahsyat. Di sampingnya ada pula pembantunya yang

setia, Panglima Besar Kayabu yang kabarnya juga lihai sekali.”

“Uhh, lihai apa? Kayabu itu hanya mengandalkan

ketampanan wajahnya sehingga ia menjadi seorang di antara

kekasih Ratu Yalina yang gila lelaki!”

“Masa….?”

“Siapa membohong? Kekasihnya banyak, di antaranya

Suling Emas, Kayabu dan boleh dibilang setiap orang muda

bangsa Khitan tentu ditarik masuk ke istana untuk memuaskan

nafsunya.”

“Ah, benarkah itu….?” Orang-orang menjadi tertarik

hatinya.

Orang yang bercerita itu membusungkan dadanya. Dia

seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, tubuhnya

tinggi besar, nampak amat kuat, mukanya dihias kumis dan

jenggot lebat, sehingga wajahnya menjadi angker

menakutkan.

“Aku bukan hanya sudah menyaksikan dengan mata ini

sendiri, bahkan sudah pula menikmati pelukannya yang

hangat!” kata laki-laki ini. “Siapa yang tidak tahu bahwa aku

pernah tinggal di Khitan dan menjadi kekasih Ratu Yalina

sampai sepekan lebih?”

“Wah, hebat sekali! Twako, agaknya dia suka kepadamu

karena kau tinggi besar dan gagah!” kata seorang anggauta

pengemis menggoda karena masih belum percaya benar.

“Memang dia paling suka kepada laki-laki yang tinggi besar,

terutama sekali yang jenggot dan kumisnya sebagus ini!” Lakilaki

itu mengelus-elus jenggot dan kumisnya dengan bangga

sambil melirik ke arah dua orang anggauta Siang-mou-tin

yang tidak memilih dia.

“Ceritakan….!”

“Ya, ceritakan, Twako. Bagaimana ketika engkau menjadi

kekasih Ratu Yalina?”

Orang-orang mendesak kepada Si Brewok ini untuk

bercerita. Dua orang wanita anggauta Siang-mou-tin yang

mendengar percakapan yang makin menjurus ke arah cabul

dan kotor ini hanya tersenyum-senyum dan kadang-kadang

terkekeh geli.

Si Brewok yang kini menjadi pusat perhatian, dengan

bangga lalu melompat ke atas batu besar di tengah-tengah,

memasang aksi dan berdehem beberapa kali sebelum mulai

dengan ceritanya yang pasti menarik dan cabul. Akan tetapi

pada saat itu, Si Brewok menjerit dan terjengkang roboh

menggelinding turun dari atas batu besar. Ketika orang-orang

datang menghampirinya, ternyata Si Brewok sudah tewas dan

di lehernya menancap sebatang jarum hijau! Kagetlah semua

orang dan pada saat itu, dari balik sebatang pohon muncul

seorang gadis muda yang amat cantik. Gadis ini bukan lain

adalah Kwi Lan! Secara kebetulan sekali, dalam perjalanannya

menuju ke Khitan, Kwi Lan lewat di kaki Gunung Cheng-liongTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

san. Ia tertarik akan gerak-gerik dua orang anggauta Siangmou-

t in maka diam-diam ia mengikut i mereka naik ke puncak

di mana ia melihat berkumpul banyak orang dari golongan

sesat. Mula-mula ia hanya mengintai dan mendengarkan,

sudah merasa kesal dan hendak pergi ketika tiba-tiba ia

mendengar nama Ratu Khitan disebut-sebut. Ratu Khitan yang

bernama Yalina, ibu kandungnya! Ia mendengarkan dengan

hati berdebar. Ketika mendengar betapa Ratu Yalina dimusuhi,

ia hanya mencibirkan bibirnya dan tidak mengambil peduli.

Akan tetapi ketika muncul Si Brewok yang menghina Ratu

Yalina, ia tak dapat menahan kemarahannya sehingga

sebelum Si Brewok bicara yang bukan-bukan, ia sudah

menyerangnya dengan sebatang jarum. Siapa kira Si Brewok

itu hanya lihai mulutnya saja. Diserang satu kali telah roboh

dan tewas!

Kwi Lan muncul dari tempat sembunyinya dan berkata

lantang. “Aku tidak mencari permusuhan dengan siapapun

juga. Akan tetapi mendengar monyet itu membual, benarbenar

membikin orang menjadi muak dan tak dapat menahan

tangan untuk tidak menghajarnya. Selamat tinggal! ” Dengan

enak saja Kwi Lan yang telah membunuh orang itu

membalikkan tubuh hendak pergi dari situ.

Semua orang terkejut. Gadis cantik itu dapat bersembunyi

di situ tanpa seorang pun di antara mereka tahu, hal ini sudah

membuktikan kelihaiannya. Kemudian sekali turun tangan

sudah membunuh Si Brewok, hal ini merupakan bukti ke dua.

Semua orang menjadi kesima. Akan tetapi tiba-tiba terdengar

seruan seorang Khitan yang ikut dalamrombongan dari utara.

“Itu dia perempuan iblis yang merampas kuda hitam Hekliong-

ma!” Orang Khitan ini telinga kanannya putus bekas

sabetan pedang Siang-bhok-kiam di tangan Kwi Lan.

“Benar, dia Si Gadis Siluman, murid iblis betina yang

bernama Kam Sian Eng!” teriak seorang yang tangan

kanannya buntung, mata kanannya buta dan hidungnya

bengkok. Dia adalah seorang tokoh Hek-pang Kai-pang yang

pernah mendapat hajaran Kam Sian Eng dan kini mengenal

Kwi Lan.

“Dia pengacau itu….!” beberapa orang Thian-liong-pang

juga berseru.

“Srr…. werr…. siuuuuttt….!” Hujan senjata rahasia

menyerang Kwi Lan!

Gadis ini terkejut. Tak disangkanya bahwa ia akan bertemu

banyak musuh di tempat ini. Cepat ia meloncat ke depan

mengelak dari serangan hujan senjata rahasiaitu. ia menaksir

bahwa jumlah lawannya ada seratus orang lebih dan dari

sambaran senjata-senjata rahasia tadi tahulah ia bahwa di

antara mereka terdapat banyak orang yang tak boleh

dipandang ringankepandaiannya. Ia tidak takut, tidak pernah

mengenal takut. Akan tetapi Kwi Lan juga bukan seorang

goblok yang mau menyia-nyiakan nyawanya, mati konyol

dikeroyok begitu banyak lawan. Sambil tersenyum mengejek

ia lalu mempergunakan kepandaiannya berlari cepat. Karena

ia tidak mengenal daerah itu, ia lari ke kiri dan kebetulan

sekali ia lari ke tempat kuda. Kuda-kuda tunggangan para

pendatang ini dikumpulkan di suatu tempat yang banyak

ditumbuhi rumput gemuk, dijaga oleh belasan orang anggauta

rendahan.

Ketika Kwi Lan lari sampai ke tempat ini dikejar oleh

puluhan orang dari belakang, ia melihat betapa di tempat

kuda ini ternyata juga terjadi kekacauan. Belasan orang

penjaga kuda sudah menggeletak malang-melintang di sekitar

tempat itu sedangkan puluhan ekor kuda itu sudah terlepas

semua! Terdengar bunyi cambuk meledak-ledak, membuat

binatang-binatang itu menjadi makin panik, saling tabrak dan

riuh rendah suara mereka meringkik-ringkik. Melihat

kesempatan ini, Kwi Lan lalu melompat ke atas punggung

seekor kuda tinggi besar, kemudian menyendal kendali kuda

itu, membelok ke kanan lalu melarikan kuda.

Ributlah suara para pengejar ketika, menyaksikan

kekacauan di tempat ini, apalagi ketika melihat betapa semua

kuda mereka telah terlepas dan panik. Dalam keadaan seribut

itu, mereka terhalang melakukan pengejaran, dan sibuk

menenangkan kuda tunggangan mereka.

Kwi Lan membedal terus kudanya menuruni puncak. Ketika

mendengar derap kaki banyak kuda mengejarnya, ia segera

mempersiapkan jarum-jarumnya dan menoleh. Mau tidak mau

ia tertawa sendiri melihat bahwa yang mengejarnya adalah

kuda-kuda tanpa penunggang. Kiranya banyak kuda yang

karena bingung lalu mengikuti saja kuda yang ditunggangi Kwi

Lan. Gadis ini lalu menahan kudanya dan menghalau belasan

ekor kuda yang mengikut inya itu sehingga mereka lari kacaubalau

ketakutan.

Sambil tersenyum-senyum Kwi Lan melanjutkan

perjalanannya. Senyum kepuasan menghiasbibirnya. Ia telah

berhasil merobohkan orang yang telah menghina ibu

kandungnya. Biarpun ia belum pernah bertemu dengan ibu

kandungnya dan belum pernah ada yang bercerita tentang

ibunya, namun ia tidak percaya bahwa ibunya seorang

berwatak rendah seperti dibualkan oleh Si Brewoktadi. Ia puas

bahwa ia telah membunuh orang itu dan di samping ini telah

mendapatkan seekor kuda tunggangan. Biarpun tidak sebaik

kuda keturunan Hek-liong-ma yang hilang ketika ia dikeroyok

bajak sungai anak buah Huang-ho Tai-ong, namun kuda ini

juga seekor kuda yang baik. Agaknya tunggangan orangorang

utara tadi. Mereka itu jelas adalah orang-orang dari

golongan sesat, maka Kwi Lan tidak merasa malu untuk

merampas kuda mereka.

Akan tetapi, setelah melarikan kuda beberapa lama belum

juga Kwi Lan berhasil turun dari Cheng-liong-san. Ia merasa

heran dan bingung sekali. Sudah lama ia membalapkan kuda,

naik turun dan membelok ke kanan kiri, namun ia hanya

berputar-putar di sekitar lereng gunung. Ia memang berhasil

melarikan diri dari para pengejarnya, namun ia tidak berhasil

turun dari gunung!

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba dari jauh ia melihat

seorang berpakaian pengemis duduk bersandar batang pohon.

Pengemis itu agaknya kelelahan dan mengaso di tempat itu

lalu tertidur karena hembusan angin gunung yang sejuk.

Pengemis ini pakaiannya penuh tambalan, memegangi

sebatang tongkat, sebuah buntalan besar terletak di dekatnya

dan sebuah topi lebar menutupi seluruh mukanya. Topi lebar

bundar yang butut dan tua, akan tetapi anehnya, setangkai

bunga mawar yang merah segar berikut dua helai daunnya

terselip menghias pita topi itu.

Kwi Lan menjadi ragu-ragu. Ingin ia bertanya kepada

pengemis ini, menanyakan jalan turun. Akan tetapi siapa tahu

kalau-kalau pengemis ini seorang di antara kaum sesat yang

berkumpul di puncak tadi. Tentu akan sia-sia pertanyaannya.

Kalau pengemis ini seorang di antara kaum sesat itu, tentu

bukan percuma berada di situ. Mungkin sengaja menghadang

dan kalau ia lewat, tentu akan turun tangan.

Kwi Lan sengaja memperlambat jalannya kuda ketika

melewati pengemis yang duduk melenggut itu. Kudanya lewat

dekat di depan Si Pengemis dan ia sudah siap waspada

menjaga serangan. Namun pengemis itu tidak bergerak,

seolah-olah tidak mendengar suara kaki kuda lewat di

depannya. Kwi Lan lewat terus sampai agak jauh sambil

menengok. Pengemis itu tetap tidak bergerak. Kalau begitu,

tentu bukan seorang di antara kaum sesat, pikirnya. Tentu

seorang pengemis tulen yang kelaparan dan kelelahan. Maka

ia lalu memutar kembali kudanya dan meloncat turun dekat

pengemis itu. Muka pengemis itu tidak tampak, tertutup topi

lebar. Akan tetapi orang yang menjadi pengemis tentulah

seorang tua yang sudah tidak kuat bekerja lagi dan hidup

terlantar, pikirnya.

“Paman pengemis!” tegurnya nyaring. “Harap kau bangun

sebentar, aku ingin bertanya….”

Pengemis itu tersentak seperti orang kaget, lalu

mengguman dan menggaruk belakang telinganya. Gerakan ini

membuat topinya makin menunduk. Ketika ia mengangkat

sedikit mukanya, yang tampak oleh Kwi Lan hanya sepasang

mata mengintai dari bayang-bayang gelap di bawah topi.

“Mau bertanya apa?” Suara pengemis itu lirih seperti orang

kelaparan benar sehingga kehabisan tenaga.

“Engkau tentu mengenal jalan di tempat ini, Paman tua,

kautolonglah aku yang t idak tahu jalan. Tunjukkan padaku

jalan menuruni lembah gunung ini.”

Sejenak pengemis itu tidak menjawab, melainkan

memandang kuda yang dituntun Kwi Lan. Kemudian ia

berkata, acuh tak acuh, “Jalan turun bisa ditempuh jalan kaki,

tak mungkin berkuda. Dari sini maju kira-kira setengah li, di

pinggir jalan terdapat sebuah batu besar berbentuk kepala

burung. Di belakang batu itulah terdapat jalan setapak yang

akan membawa orang turun ke bawah.” Setelah berkata

demikian, pengemis itu kembali menundukkan mukanya dan

agaknya ia sudah jatuh pulas lagi.

“Terima kasih, Paman.” kata Kwi Lan akan tetapi pengemis

itu tidak menjawab karena agaknya sudah tidur.

Huh, pemalas benar, pikir Kwi Lan. Akan tetapi tiba-tiba ia

ingat seperti pernah melihat seorang pengemis semalas ini.

Ketika ia mengingat-ingat, terbayanglah pengalamannya

dalam rumah makan di dusun dekat markas besar Lu-liang-pai

di mana ia bersama Siangkoan Li berpisah. Di rumah makan

itu pun terdapat seorang pengemis yang terus menerus duduk

melenggut, sama sekali tidak mempedulikan kehadirannya

semenjak ia datang ke rumah itu sampai pergi lagi. Inikah

orang itu? Melihat topi bututnya mungkin ini orangnya dan

kalau betul, benar-benar aneh dan mencurigakan. Bagaimana

bisa begitu kebetulan? Tadinya bertemu di Lu-liang-san, kini

kembali bertemu di Cheng-liong-san. Di sana tidur, di sini pun

tidur. Kalau pengemis ini begitu malas dan kerjanya hanya

tidur, bagaimana bisa begitu cepat berada di sini? Biarlah, asal

ia tidak menggangguku, pikir Kwi Lan. Musuh terlalu banyak di

puncak itu dan tentu masih berusaha mencarinya. Tak perlu

menambah lawan yang belumdiketahui kesalahannya. Ia lalu

meloncat ke atas punggung kudanya lagi dan melarikan kuda

ke depan.

Kurang lebih setengah li jauhnya, melihat sebuah batu

besar yang bentuknya mirip kepala burung, ia berhenti. Benar

saja seperti diceritakan pengemis tadi, ketika ia menyelinap ke

belakang batu, tampak olehnya jalan menurun yang hanya

tampak bekas tapak kaki saja. Jalan itu curam dan kecil sekali,

turunnya harus berpegangan pada akar-akar dan batu. Tak

mungkin dilalui oleh seekor kuda. Kalau begitu pengemis itu

tidak bohong, dan tidak mempunyai niat buruk. Pada saat Kwi

Lan hendak menuruni jalan setapak itu, tiba-tiba ia mendengar

bentakan-bentakan keras di sebelahbelakang. Ia meloncat

keluar lagi dari belakang batu untuk melihat, siap dengan

pedangnya. Alangkah kaget dan herannya ketika dari jarak

setengah li jauhnya ia dapat melihat betapa pengemis malas

yang tadi duduk melenggut di bawah pohon, kini telah

bertanding dikeroyok belasan orang banyaknya! Hebatnya,

pengemis itu masih menutupi kepala dan mukanya dengan

topi lebar butut, bahkan masih duduk melonjorkan kaki dan

bersandar pada pohon, hanya tongkat di tangannya yang

bergerak-gerak ke depan menangkis serangan senjata tajam

belasan orang itu yang menyerangnya sambil membentakbentak!

Kwi Lan tertarik sekali. Banyak sekali orang aneh di dunia

ini dan agaknya pengemis malas itu pun seorang aneh. Ia

menunda niatnya meninggalkan gunung ini dan karena

kudanya tadi sudah ia lepas, ia lalu berlari kembali ke tempat

pengemis itu dikeroyok. Ternyata kini setelah dekat bahwa

belasan orang yang mengeroyok itu adalah pengemispengemis

pula! Pengemis-pengemis baju bersih yang sudah

beberapa kali bentrok dengan Kwi Lan.

“Hayo mengakulah! Engkau dari golongan mana dan

mengapa mengacau pertemuan di puncak Cheng-liong-san?

Pakaianmu bersih, hal ini berarti bahwa engkau masih

segolongan dengan kami, pengemis-pengemis pakaian bersih.

Mengapa kau mengacau pertemuan yang diadakan Hek-peng

Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang? Kau dari partai mana?”

“Hemm, baju bersih badan kotor hati busuk, apa artinya?

Orang-orang sesat, pergilah dan jangan menggangguku!”

Pengemis itu berkata tak acuh, dan tongkatnya juga bergerak

sembarangan menghadapi belasan batang tongkat, golok, dan

pedang itu.

Kwi Lan yang kini sudah berdiri dekat memandang penuh

perhatian dan ia menjadi kaget serta kagum sekali. Tongkat di

tangan pengemis malas itu benar-benar hebat dan lihai bukan

main. Memang behar bahwa belasan orang pengeroyok itu

tidak berapa tinggi ilmu silatnya, namun karena belasan orang

maju bersama maka cukup berbahaya. Apalagi kalau diingat

bahwa pengemis malas itu melawan sambil duduk dan lebihlebih

lagi, mukanya ditutup topi butut. Akan tetapi begitu

tongkat di tangan pengemis malas ini bergerak ke depan,

berturut-turut belasan orang pengemis baju bersih itu roboh

terguling dengan sambungan lutut terlepas karena totokan

ujung tongkat yang dilakukan secara cepat dan tepat luar

biasa!

Kini pengemis malas itu dengan gerakan sigap telah

meloncat bangun, dan barulah tampak oleh Kwi Lan betapa

tubuh pengemis ini jangkung dan tegap, namun mukanya

tetap bersembunyi di balik topi butut. Sambil melintangkan

tongkatnya dengan sikap penuh wibawa pengemis itu

menghadapi para pengemis yang merint ih-rintih dan

mengurut-urut lutut mereka, lalu terdengar suaranya lantang

berpengaruh, jauh bedanya dengan ketika bicara dengan Kwi

Lan tadi.

“Berani menjadi pengemis berarti berani menjauhkan diri

dari pada perbuatan-perbuatan jahat, berani mengatasi

kemiskinan dan kelaparan dengan jalan mengetuk hati nurani

mereka yang mampu, berani mengekang diri melawan nafsu

duniawi. Akan tetapi kalian menghadapi kemiskinan dengan

perbuatan jahat. Kalau sudah begitu, mengapa masih

memakai pakaian pengemis? Kalian hanyalah penjahatpenjahat

yang menyamar sebagai pengemis, membikin kotor

dunia pengemis dan sudah sepatutnya dibasmi. Kalau mau

menjadi penjahat, jadilah penjahat yang berani bertanggung

jawab, atau kalian mau jadi pengemis, jadilah pengemis yang

baik. Mengapa berlaku seperti pengecut-pengecut yang hinadina?”

Belasan orang pengemis yang menggeletak itu tidak

menjawab, hanyalah memandang dengan mata melotot.

Sebagai jawaban kata-kata itu, dari jauh terdengar bentakanbentakan

dan berbondong-bondong datanglah berlari-lari

banyak orang yang bukan lain adalah orang-orang yang tadi

berapat di puncak dan kini sudah datang mengejar. Jumlah

mereka itu ada tiga puluh orang lebih!

Mendengar bentakan-bentakan mereka, pengemis aneh itu

menggerakkan kepala memandang ke depan, kemudian ia

menoleh kepada Kwi Lan dengan muka masih tersembunyi di

balik topi. “Nona, mengapa engkau kembali? Pergilah turun

gunung dan jangan kau melibatkan diri dengan orang-orang

jahat itu.”

“Dan engkau sendiri?” Kwi Lan bertanya.

“Aku akan menghadapi mereka. Tongkatku masih cukup

kuat untuk memberi hajaran tikus-t ikus itu.”

“Wah, enaknya! Engkau mau mencari enak sendiri, Paman

jembel! Kalau tongkatmu kuat, apa kaukira pedangku kurang

tajam? Kaulah yang boleh pergi, mereka itu mengejar aku,

bukan mengejar engkau!” bantah Kwi Lan sambil mencabut

Siang-bhok-kiam dari sarungnya. Melihat bahwa pedang gadis

itu terbuat daripada kayu, pengemis itu tercengang, kentara

dari sikapnya yang tiba-tiba tak bergerak. Topinya terangkat

sedikit dan dari bayangan topi itu menyambar dua buah mata

yang tajamsinarnya.

“Ah, kiranya Nona seorang pendekar pedang yang lihai! ”

Percakapan mereka terpaksa dihentikan karena para

pengejar sudah tiba dekat. Yang tercepat larinya bahkan

sudah tiba di depan pengemis itu dalam jarak empat lima

meter. Mereka mengangkat senjata sambil membentak marah.

Akan tetapi pengemis itu dengan tenang namun cepat

bukan main telah menggerakkan tangan kanannya ke arah

topinya, meraih dan melemparkannya ke depan dengan

gerakan kilat dan…. topi itu berpusing dan terbang

menyambar mereka yang datang mengancam. Bagaikan

hidup, topi itu terbang keliling dan kembali kepada pemiliknya

setelah lebih dahulu mampir dan mencium dahi atau leher

mereka yang mengejar paling depan. Terdengar teriakanteriakan

kaget dan kesakitan, disusul robohnya tubuh enam

orang pengejar terdepan, roboh pingsan tak dapat bangun

lagi!

Sejenak Kwi Lan bengong. Bukan karena melihat senjata

rahasia topi yang aneh dan luar biasa itu karena ia maklum

bahwa dengan pengerahan tenaga dalam, tidaklah sukar

melempar topi yang pinggirannya lebar dan berbentuk bundar

itu seperti tadi. Yang membuat ia bengong adalah ketika

pengemis itu melepas topinya, maka tampaklah kepala dan

muka seorang pengemis yang tampan dan gagah! Seorang

pemuda yang paling banyak dua tiga tahun lebih tua

daripadanya! Dan ia sudah menyebutnya paman tua! Akan

tetapi ketika pengemis muda itu sudah mengenakan kembali

topinya yang lebar sehingga mukanya yang tampan tertutup

topi, Kwi Lan sadar dari keheranannya. Ia pun tidak mau kalah

dan secepat kilat tangan kirinya bergerak melepas jarumjarum

halus. Kembali terdengar jerit kesakitan dan enam

orang pengejar roboh.

“Nona, mari kita pergi. Jumlah mereka amat banyak dan di

antara mereka banyak terdapat orang pandai. Mari!”

Mereka berdua lari cepat dan sesampainya di batu

berbentuk kepala burung, mereka lalu menuruni jalan setapak.

Para pengejar yang belum roboh tidak berani mengejar

setelah menyaksikan kelihaian dua orang muda itu. Mereka

berdiri ragu-ragu, menanti rombongan pengejar lain yang

lebih banyak sambil menolong teman-teman yang terluka.

Karena Kwi Lan dan pengemis aneh itu menggunakan ginkang

mereka, sebentar saja mereka berhasil menuruni Chengliong-

san dan tak tampak atau terdengar lagi pengejar

mereka. Mereka kini jalan berendeng menuju ke timur.

Semenjak turun gunung tadi, tak pernah mereka membuka

mulut dan baru setelah yakin bahwa mereka tidak dikejar,

mereka tidak berlari lagi dan kini pengemis itu mengeluarkan

suara.

“Ah, untung bahwa tokoh-tokohnya belum hadir. Kalau

iblis-iblis itu hadir, hemm…., berbahaya sekali!”

“Kau maksudkan tua-tua bangka yang mereka sebut-sebut

tadi seperti Bu-tek Siu-lam, Thai-lek Kauw-ong, Jin-ciam Khoaong

dan Siauw-bin Lo-mo? Ah, aku t idak takut! Justeru aku

ingin sekali bertemu dengan mereka untuk melihat sampai di

mana kelihaian mereka!” kata Kwi Lan.

Kini pengemis muda itu yang menoleh dan memandang

terheran-heran. Saking herannya ia sampai lupa

menyembunyikan muka seperti yang biasa ia lakukan.

Kebetulan sekali Kwi Lan pun menoleh sehingga ia dapat

melihat wajah pengemis itu dengan jelas. Wajah yang tampan

dan gagah, masih muda namun sudah jelas tampak

kematangan jiwa pada sinar mata dan tarikan mukanya.

“Engkau seorang gadis yang aneh, Nona!”

“Tidak seaneh engkau!” jawab Kwi Lan cepat. “Bukankah

engkau ini pengemis malas yang pernah kulihat duduk dalam

warung di lereng Lu-liang-san? Dan mengapa engkau

sekarang berada di sini? Apakah engkau sengaja mengikuti

perjalananku?”

Pengemis itu menggeleng kepala. “Tidak ada yang

mengikut i, hanya kebetulan saja kita bertemu lagi di sini

karena memang aku hendak menonton pertemuan kaum sesat

di sini. Akan tetapi engkau…. justeru pertemuan di Lu-liangsan

itu yang membuat aku keheranan dan mengatakan

engkau seorang aneh, Nona. Kulihat engkau di sana bersama

cucu ketua Thian-liong-pang, bersama seorang dari golongan

hitam yang menentang para hwesio Lu-liang-pai. Aku sudah

menyayangkan mengapa seorang dengan kepandaian seperti

kau ini terjerumus kedalam pergaulan kaum sesat. Akan tetapi

hari ini aku melihat engkau mengacau pertemuan kaum sesat

dan memusuhi mereka, bahkan baru saja kau menantangnantang

terhadap empat orang tokoh besar mereka. Bukankah

hal ini amat aneh sekali?”

“Jadi tadinya kaukira aku ini seorang tokoh hitam pula?”

tanya Kwi Lan sambil memandang marah.

“Begitulah, karena kau datang bersama tokoh Thian-liongpang

dan menentang hwesio-hwesio Lu-liang-pai.”

“Bukan, aku bukan tokoh golongan sesat.”

“Itu aku percaya setelah menyaksikan sepak terjangmu di

sini. Engkau tentu seorang pendekar pedang wanita yang

sakti.”

“Juga bukan. Aku bukan pendekar wanita dan bukan pula

penjahat. Aku orang biasa saja. Tidak seperti engkau. Engkau

tentu seorang tokoh kaipang (perkumpulan pengemis) yang

terkenal. Agaknya engkau memimpin pengemis-pengemis baju

kotor, bukan?”

Pengemis muda itu menghela napas panjang kemudian

menggeleng kepala.

“Aku juga bukan apa-apa, seperti engkau bahkan tidak ada

orang yang mengenal siapa aku ini. Memang betul bahwa

mendiang Ayahku adalah seorang tokoh besar dunia

pengemis, akan tetapi sudah lama sekali sebelum aku lahir

Ayahku telah mengundurkan diri dari dunia pengemis. Sebagai

seorang pengemis, tentu saja Ayah hanya meninggalkan topi

butut, tongkat lapuk, dan pakaian tambal-tambalan ini.

Namun, melihat betapa dunia pengemis terancam malapetaka,

terpaksa aku harus turun tangan mewakili mendiang Ayah.

Karena itulah aku turun gunung dan bertemu dengan engkau

di sini.”

“Wah, kalau begitu Ayahmu tentu Yu Kang Tianglo!”

Pengemis muda itu terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Kwi Lan tertawa dan wajah yang sudah cantik itu menjadi

amat menarik. Ketawanya wajar, tidak ditutup-tutupi dan tidak

malu-malu sehingga gadis itu memperlihatkan kecantikan

yang aseli. Pengemis muda ini sejenak menjadi bengong,

namun ia membuang pandang matanya dan menekan

perasaannya.

“Tentu saja aku tahu! Kau berilmu tinggi dan seorang

pengemis, kau bilang Ayahmu tokoh besar dunia pengemis.

Tentu pengemis golongan put ih. Dan tadi, di antara musuhmusuh

kaum sesat disebut-sebut nama Yu Kang Tianglo, siapa

lagi kalau bukan Ayahmu.”

Diam-diam pemuda itu kagum sekali. Gadis ini lihai, lincah,

wajar dan belum terusak tata susila palsu, Di samping ini, juga

pemberani sekali dan cerdik. Teringatlah dia akan adegan di

warung yang terletak di lereng Bukit Lu-liang-san. Pemuda

Thian-liong-pang itu tampan sekali dan lihai. Pantas saja

tergila-gila kepada gadis ini. Siapa orangnya yang takkan

tergila-gila?

“Betul sekali dugaanmu. Mendiang Ayahku adalah Yu Kang

Tianglo. Namaku Siang Ki, Yu Siang Ki, pengemis muda

sebatang kara, kalau saja Nona sudi mengetahui dan

mengenalku.” Ia menjura dengan sikap hormat.

Kwi Lan membalas penghormatan itu sambil tertawa, “Ihh,

kau lucu! Mengapa t idak suka berkenalan? Gerakan tongkatmu

tadi hebat luar biasa, biarpun pakaianmu pakaian jembel,

namun engkau bukan seorang kotor! Yu Siang Ki, namaku Kwi

Lan, Kam Kwi Lan. Akan tetapi ada badut yang menyebutku

Mutiara Hitam!”

Pengemis muda itu mengangkat muka memandang, sinar

matanya penuh dugaan.

“Engkau she Kam, Nona?”

“Benar, kenapakah?”

“Aih, tidak apa-apa, hanya…. mengapa begitu kebetulan?

Eh, Nona Kwi Lan….”

“Wah, kau menjemukan benar, menyebutku nona-nonaan

segala! Semua orang yang menjadi sahabatku menyebutku

Kwi Lan begitu saja atau…. Mutiara Hitam.”

“Tapi aku…. bukan sahabat….”

“Hemm, bagus, ya? Kalau tidak suka bersahabat, mengapa

mengobrol sejak tadi? Engkau tak mau bersahabat? Nah,

selamat berpisah!” Kwi Lan sudah membalikkan tubuh hendak

pergi.

“Eh…., maaf, bukan begitu maksudku. Aku…. tadinya

merasa terlalu rendah menjadi sahabatmu, tapi…. baiklah, Kwi

Lan, jangan kau marah-marah. Mengapa kau begini gampang

marah?”

Kwi Lan tertawa! “Memang aku gampang marah gampang

gembira! Nah, sekarang lanjutkan, kalau aku she Kam,

mengapa kebetulan?”

“Shemu mengingatkan aku akan seorang yang kujunjung

tinggi, seorang pendekar sakti yang selain menjadi sahabat

baik mendiang Ayahku, juga menjadi tokoh besar dunia kangouw

yang tadi pun disebut-sebut oleh mereka sebagai musuh

nomor satu. Dia adalah Suling Emas!”

“Eh, dia she Kam?”

Siang Ki mengangguk. “Menurut penuturan Ayahku, Suling

Emas bernama Kam Bu Song, Kwi Lan, melihat keadaanmu

yang luar biasa, ilmu kepandaianmu yang lihai, dan shemu

Kam, siapa yang takkan menghubungkan engkau dengan

Suling Emas? Apakah engkau puterinya? Ataukah

keponakannya?”

Kwi Lan menggeleng kepala, mukanya membayangkan

kekecewaan. Kalau saja benar demikian, bahwa dia puteri

seorang sakti seperti Suling Emas, alangkah akan

menyenangkan dan membanggakan! Akan tetapi

kenyataannya bukan demikian. Dia puteri Ratu Khitan, dia

seorang Khitan yang dianggap bangsa liar!

“Bukan, aku bahkan sama sekali t idak kenal dan t idak

pernah melihat bagaimana macamnya Suling Emas.”

“Ah, sayang sekali. Alangkah akan senang hatiku andaikata

engkau benar-benar puterinya, karena aku pun sedang

mencarinya. Aku sendiri pun belum pernah berjumpa dengan

Suling Emas, akan tetapi Ayah berpesan bahwa dalam

usahaku membersihkan dunia pengemis dari oknum-oknum

jahat, sebaiknya aku mohon pertolongan Suling Emas.

Bolehkah aku mengetahui siapa orang tuamu?”

Mereka tiba di depan sebuah anak sungai yang amat jernih

airnya. Hutan kecil di kaki Gunung Cheng-liong-san itu amat

indah dan sunyi. Bunyi air mengalir di antara batu-batu

menjadi dendang yang aneh namun merdu. Kwi Lan lalu

duduk di tepi sungai, di atas batu yang halus licin. Yu Siang Ki

menanggalkan topinya dan mengebut-ngebutkan topi ke arah

leher. Sejuk dan nyaman sekali duduk di tepi anak sungai itu.

“Aku sendiri t idak tahu siapa orang tuaku.” kata Kwi Lan

sambil memandang air dengan pandang mata melamun.

“Semenjak aku masih bayi, aku dirawat Guruku.”

Yu Siang Ki menmmandang dengan hati iba. Dia sendiri

sudah tidak punya ayah dan ibu, akan tetapi sedikitnya ia

sudah menikmati hidup di samping orang tuanya. Gadis ini

sama sekali tidak tahu siapa ayah bundanya, seorang gadis

yang patut dikasihani.

“Ah, Gurumu tentulah seorang sakti yang luar biasa.

Siapakah julukannya yang mulia?”

“Guruku tidak mempunyai julukan apa-apa, selamanya

menyembunyikan diri, dan aku hanya mengenalnya sebagai

Bibi Sian. ilmu kepandaiannya memang luar biasa hebatnya,

akan tetapi dia orang biasa saja.” Kwi Lan memang sengaja

tidak mau menyebut nama bibinya karena bibinya adalah

seorang aneh yang tidak suka dikenal namanya. Juga ia tidak

mau menimbulkan keheranan lagi kepada pengemis muda ini

dengan memberitahukan bahwa bibi atau gurunya itu pun she

Kam!

Yu Siang Ki menarik napas panjang. “Memang banyak

orang sakti aneh di dunia ini yang mengasingkan diri tidak

mencampuri urusan dunia ramai. Gurumu tentu seorang di

antara mereka dan melihat kepandaianmu, tentu Gurumu

seorang yang amat pandai.”

Kwi Lan tertawa. “Yu Siang Ki, engkau belum pernah

bertanding denganku, belum pernah melihat kepandaianku,

akan tetapi sudah berkali-kali memuji! Guruku memang lihai,

akan tetapi tidaklah terlalu aneh. Orang-orang sakti seperti

Pak-kek Sian-ong dan Lang-kek Sian-ong itu barulah patut

disebut orang-orang sakti dan aneh luar biasa.”

Siang Ki terkejut dan cepat menatap wajah gadis itu

dengan penuh perhatian. “Apa? Engkau pernah berjumpa

dengan kedua Locianpwe itu? Mengenal mereka?”

Kwi Lan mencibirkan bibirnya. Hatinya masih mengkal kalau

ia teringat kepada dua orang kakek itu, menganggap mereka

itu keterlaluan sekali sikapnya terhadap Siangkoan Li, “Tentu

saja aku sudah pernah bertemu dengan dua orang tua bangka

seperti monyet!”

“Aiihhh…. Kwi Lan, bagaimana engkau berani….?”

“Memaki mereka monyet? Di depan mereka pun aku berani

memaki-maki mereka. Boleh jadi mereka lihai dan aneh, akan

tetapi mereka itu layak dimaki, dan seandainya aku memiliki

ilmu kepandaian seperti Bu Kek Siansu, tentu mereka berdua

itu sudah kuberi pukulan seorang satu sampai kapok!”

Kini Siang Ki memandang bengong. Makin lama makin

mengherankan gadis ini! “Kau…. kau pernah berjumpa pula

dengan…. dengan Bu Kek Siansu?”

Kwi Lan mengangguk, bangga melihat keheranan pengemis

muda ini.

Tanpa disadarinva, Siang Ki memegang lengan gadis itu

erat-erat dan dengan penuh gairah ia bertanya. “Benarkah itu,

Kwi Lan? Benarkah ada manusia dewa itu? Aku hanya

mendengar namanya seperti dongeng yang diceritakan Ayah!”

“Mengapa aku berbohong? Aku sudah melihatnya, dan

memang kakek tua renta itu lihai dan aneh akan tetapi juga

goblok!”

Kali ini sepasang mata Siang Ki memandangi muka Kwi Lan

dengan penuh curiga dan keraguan. Gadis ini berani memaki

Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, hal itu sudah

merupakan sesuatu yang tak masuk akal dan terlalu luar biasa

karena sebagian besar orang kangouw, menyebut nama dua

orang kakek ini pun dengan berbisik-bisik. Akan tetapi

sekarang gadis ini tidak hanya berani memaki mereka, bahkan

berani mengatakan bahwa Bu Kek Siansu goblok! Ini sudah

keterlaluan sekali. Nama Bu Kek Siansu sudah disanjungsanjung

oleh semua pendekar, dianggap guru besar yang

setarap dengan Tat Mo Couwsu dan juga disegani, semua

tokoh dunia hitam, dianggap seperti manusia dewa yang

entah sudah berapa ratus tahun usianya. Akan tetapi gadis ini

menyebutnya goblok! Kalau tidak mendengar dengan kedua

telinganya sendiri, tak mau Siang Ki mempercayai hal ini.

“Kwi Lan, maukah engkau menceritakan kepadaku tentang

perjumpaanmu dengan tiga orang kakek sakti itu?” Dengan

penuh gairah pemuda ini berkata sehingga membangkitkan

semangat Kwi Lan untuk menceritakan pengalamannya

bersama Siangkoan Li.

Ketika mendengar penuturan itu, Yu Siang Ki menghela

napas panjang dan berulang kali ia mengangguk. “Ah, kalau

begitu keliru persangkaanku. Patut dikasihani keadaan

Siangkoan Li dan biarlah kelak aku akan membantunya jika

keadaan mengijinkan. Keadaan antara dia dan aku banyak

persamaannya. Dia bertugas membangun dan membersihkan

Thian-liong-pang sedangkan aku harus membangun kembali

dan membersihkan Khong-sim Kai-pang dan kaum pengemis.

Kalau benar seperti yang kauceritakan bahwa kedua orang

Sian-ong itu sudah ditundukkan dan berjanji kepada Bu Kek

Siansu untuk memihak kebenaran, kita boleh bernapas lega,

Kwi Lan. Hanya orang-orang seperti mereka itulah yang kelak

akan sanggup membendung datangnya iblis-iblis jahat yang

akan menguasai dunia persilatan.”

“Yu Siang Ki, aku sudah terlalu banyak bercerita. Sekarang

kauceritakanlah pengalamanmu, tentang Ayahmu yang

terkenal itu dan tentang kau sendiri.”

Memang begitu berjumpa, Yu Siang Ki merasa suka dan

cocok sekali dengan gadis yang wajar dan polos ini. Apalagi

ketika mengetahui bahwa Kwi Lan she Kam, biarpun tidak ada

hubungan dengan Kam Bu Sang si Suling Emas, namun

persamaan she ini saja sudah menambah rasa suka di hatinya

karena semenjak kecil memang Siang Ki sudah memuja nama

Suling Emas yang dipuji-puji selalu oleh ayahnya. Kini

mendengar permintaan gadis ini tanpa ragu-ragu lagi ia lalu

bercerita.

Yu Kan Tianglo adalah seorang tokoh partai pengemis

Khong-sim Kai-pang. Ia putera Ketua Khong-sim Kai-pang

akan tetapi semenjak kecil menghilang dan mempelajari Ilmu

silat tinggi. Setelah berusia tiga puluh tahun ia muncul dan

mencari musuh besar yang membunuh ayahnya, yaitu seorang

di antara Thian-te Liok-kwi yang menjadi raja pengemis, Itgan

Kai-ong. Di dalam usahanya yang amat sukar ini karena

It-gan Kai-ong memiliki kesakt ian yang hebat, ia mendapat

bantuan Suling Emas sehingga akhirnya berhasil membunuh

tokoh iblis itu.

Semenjak itu, Yu Kang Tianglo tidak pernah lagi muncul di

dunia kang-ouw. Biarpun secara diam-diam ia masih suka

kadang-kadang mengadakan hubungan dengan para pimpinan

kai-pang, namun ia sendiri mengasingkan diri dan beberapa

tahun kemudian menikah dengan puteri seorang sahabatnya,

juga seorang pendekar silat yang mengasingkan diri. Dari

pernikahan ini lahirlah Yu Siang Ki. Akan tetapi sungguh

malang nasib Yu Kang Tianglo, ketika melahirkan, isterinya

meninggal dunia. Hal ini terjadi karena tempat tinggal mereka

yang menyendiri di lereng Bukit Thai-hang-san, jauh tetangga

sehingga pada saat melahirkan. Yu Kang Tianglo sendiri tidak

berada. di rumah, sedang pergi mencari pembantu. Ketika ia

pulang ke pondok bersama seorang wanita yang biasa

membantu orang melahirkan, isterinya telah menggeletak tak

bernyawa di samping seorang bayi yang menangis keras.

Isterinya mati karena kehabisan darah!

Yu Kang Tianglo hidup dengan hati mengandung

kedukaanbesar. Ia makin tak mau lagi muncul di dunia ramai.

Hidupnya dlcurahkan untuk merawat dan mendidik Siang Ki

sehingga ketika pemuda ini, berusia dua puluh tahun, ia telah

mewarisi semua kepandaian ayahnya! Betapapun juga, Yu

Kang Tianglo tak pernah mau mengingkari asal-usulnya

sebagai putera kai-pang (perkumpulan pengemis) sehingga

bukan hanya dia, bahkan puteranya pun semenjak kecil

diharuskan memakai pakaian yang dihias tambal-tambalan

seperti pakaian pengemis.

“Demikianlah, Kwi Lan. Ketika Ayah mendengar bahwa

dunia pengemis kembali rusak dan terancam hebat oleh

tokoh-tokoh sesat sehingga banyak pengemis dibawa

menyeleweng, Ayah menjadi kaget dan marah sekali. Hal ini

sungguh menjadi malapetaka karena jantung Ayah yang selalu

lemah dan sakit-sakit semenjak ibu meninggal dunia,

mendapat serangan yang membawa Ayah meninggal dunia

pula. Ayah hanya berpesan agar aku mewakili Ayah untuk

menolong kaum pengemis, terutama sekali Khong-sim Kaipang.”

Kwi Lan mendengarkan penuturan itu dengan hati penuh

iba. Kiranya pemuda ini juga bernasib buruk di waktu kecilnya,

tidak ada bedanya dengan Tang Hauw Lam maupun

Siangkoan Li. Semenjak kecil sudah dirundung malang dan kini

hidup sebatang kara di dunia.

“Saudara Siang Ki, karena engkau selalu melakukan

perantuan di dunia kang-ouw, kulihat engkau mengenal

semua tokoh kang-ouw yang sakti-sakti dari golongan hitam

maupun putih. Karena Ayahmu adalah sahabat baik pendekar

sakti Suling Emas, tentu engkau tahu baik tentang riwayat

pendekar itu.”

“Aku hanya mendengar dari penuturan mendiang Ayah.

Biarpun hatiku amat kepingin, namun belum pernah aku

mendapat kehormatan berjumpa dengan pendekar itu.”

“Dalam percakapan kaum sesat di puncak Cheng-liong-san

tadi, aku mendengar mereka menyebut-nyebut nama Ratu

Khitan yang katanya masih sanak dekat dengan Suling Emas,

bahkan katanya menjadi…. eh, kekasihnya. Tahukah engkau

akan hal itu?”

Yu Siang Ki menggeleng kepalanya. “Ayah tidak tahu akan

hal itu. Aku pun tidak tahu benar. Yang kutahu bahwa Ratu

Khitan kabarnya juga memiliki ilmu kepandaian yang amat

tinggi, dan aku pernah mendengar pula dari luaran bahwa ratu

itu dahulu menjadi adik angkat Suling Emas. Tentang

hubungan asmara di antara mereka, aku tidak tahu. Yang

pasti, sampai sekarang Suling Emas tidak pernah menikah,

juga Ratu Khitan yang kabarnya cantik jelita itu sampai

sekarang tak pernah menikah.”

Berdebar jantung Kwi Lan. Berdebar dan merasa tidak

enak. Menurut kata Bibi Sian gurunya, dia adalah puteri

Khitan. Kalau Ratu Khitan tidak pernah menikah, bagaimana ia

bisa menjadi puterinya? Siapakah ayahnya?

“Ah, bagaimana mungkin seorang ratu tidak menikah?” Ia

pura-pura merasa heran dan bertanya. “Bukankah seorang

raja atau ratu itu membutuhkan keturunan untuk kelak

diwarisi tahta kerajaan?”

Yu Siang Ki mengangguk-angguk. “Aku tidak tahu mengapa

Ratu Khitan yang terkenal itu tidak menikah. Akan tetapi aku

mendengar dari para pedagang keliling yang seringkali

mengembara ke Khitan bahwa sesungguhnya ia tidak menikah

namun Ratu Khitan mempunyai seorang putera angkat.

Agaknya putera angkatnya itu pun telah mewarisi kepandaian

ibunya. Namanya Pangeran Talibu, dan sudah beberapa kali

pangeran itu mengadakan perjalanan ke selatan. Ilmu silatnya

tinggi, orangnya tampan bukan main dan sebentar saja

namanya pun terkenal sebagai seorang yang tangguh.”

Makin tidak nyaman rasa hati Kwi Lan. Kalau benar seperti

yang dituturkan gurunya secara singkat sekali bahwa dia

puteri Ratu Khitan mengapa ia sejak kecil ikut Bibi Sian?

Mengapa Ibu kandungnya sendiri tidak merawat dan

mendidiknya, bahkan mengangkat seorang putera? Apakah

karena aku perempuan? Makin penasaran rasa hati Kwi Lan

sehingga tampak mukanya kemerahan, matanya menyinarkan

api kemarahan.

“Kau kenapakah?” Siang Ki yang berpemandangan tajam

itu menegurnya.

“Tidak apa-apa. Tahukah kau di mana aku bisa bertemu

dengan Suling Emas?”

Siang Ki makin terheran. “Kau tadi bilang bahwa kau t idak

mempunyai hubungan dengan Suling Emas, mengapa

sekarang hendak bertemu dengannya?”

Kwi Lan sudah dapat menekan perasaannya. Ia tersenyum

dan menjawab. “Puji-pujian yang kudengar mendorong hatiku

untuk melihat bagaimana macamnya pendekar besar itu. Di

manakah dia berada sekarang?”

“Aku sendiri pun mencari-carinya, Kwi Lan. Tidak mudah

mencari seorang tokoh penuh rahasia seperti Suling Emas.

Aku hendak pergi ke Kang-hu mengunjungi pusat dari Khongsim

Kai-pang. Setelah aku memperkenalkan diri, kiranya para

tokoh Khong-sim Kai-pang ada yang tahu di mana adanya

Suling Emas yang merupakan sahabat baik itu.”

Hati Kwi Lan kecewa mendengar bahwa pemuda yang luas

pengalamannya ini pun tidak tahu di mana adanya Suling

Emas. Ia harus bertemu dengan Suling Emas. Harus ia tanyai

pendekar itu tentang ibu kandungnya. Kalau memang betul

bahwa ibu kandungnya itu seorang wanita tak tahu malu

seperti yang dibicarakan oleh para kaum sesat, ia tidak usah

melanjutkan keinginan hatinya pergi menemui ibunya itu. Di

samping ini, ia pun tertarik untuk menyaksikan bagaimana

keadaan perkumpulan pengemis golongan putih yang menjadi

musuh pengemis-pengemis golongan hitam. Ingin ia bertemu

dengan tokoh-tokoh dan pendekar-pendekar besar yang ia

percaya tentu akan ia jumpai kalau ia mengikuti pengemis

muda ini.

“Aku ikut!” Tiba-tiba ia berkata. Siang Ki memandang,

terkejut. “Apa maksudmu? Ikut….?”

“Ya, aku ikut bersamamu dengan harapan agar kau dan

Khong-sim Kai-pang akan dapat membantuku

mempertemukan dengan Suling Emas. Atau…. barangkali

engkau tidak suka mengajak aku.”

Sepasang mata gadis itu memandang penuh selidik, bahkan

mengandung tantangan. Mau tidak mau Siang Ki tersenyum.

Gadis ini benar lincah dan wajar, aseli danmenyenangkan. Ia

mengangguk dan berkata lirih.

“Bukan aku yang tidak suka melakukan perjalanan

bersamamu, Kwi Lan. Sebaliknya aku bersangsi apakah

engkau akan betah melakukan perjalanan di samping seorang

pengemis sehingga derajatmu terseret turun dan dipandang

rendah serta dihina orang.”

“Karena kau seorang yang berpakaian pengemis? Huh,

hendak kulihat siapa berani menghinaku kalau aku berjalan

bersamamu! Mengukur manusia bukan dari pakaiannya, bukan

pula dari kata-katanya, melainkan dari perbuatannya! Hal ini

kuketahui benar setelah merantau.”

Pengemis muda itu memandang dengan wajah berseri dan

mulut tersenyum. “Dan engkau akan masih belajar banyak,

Kwi Lan, dan akan mendapatkan kenyataan-kenyataan yang

banyak pula. Hidup ini belajar dan sebelum mati, takkan

pernah habis hal-hal yang perlu kita pelajari. Nah, mari kita

berangkat ke kota Kang-hu.”

Demikianlah, untuk ke tiga kalinya Kwi Lan melakukan

perjalanan bersama seorang pengemis tampan yang lihai dan

sifatnya jauh lagi bedanya dengan dua orang pemuda yang

pernah dikenalnya. Kalau Tang Hauw Lam pemuda berandalan

yang selalu riang gembira itu memandang hidup dari segi

yang lucu dan menggembirakan, sedangkan Siangkoan Li

memandang hidup dari segi yang penuh kedukaan,

kekecewaan dan penuh perjuangan, adalah pemuda ke tiga ini

seorang pemuda yang sikapnya seperti orang tua, sudah

masak, berpemandangan luas banyak pengalaman hidup dan

memandang dunia dengan sepasang mata yang penuh

pengertian. Tiga orang pemuda yang ketiganya sama lihai,

entah mana yang paling tinggi ilmunya, dan yang memiliki

sifat-sifat menarik dan baik masing-masing. Tiga pemuda

perkasa yang begitu berjumpa dengan Kwi Lan telah

memperlihatkan rasa suka dan sayang!

***

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Suling Emas,

semenjak dalam buku jilid pertama. Dua orang tokoh

pengemis Khong-sim Kai-pang yang bernama Gaklokai dan

Ciam-lokai, dengan penuh keyakinan mengira bahwa Suling

Emas adalah Yu Kang Tianglo dan mohon kepada “Yu Kang

Tianglo” ini untuk menolong kaum pengemis yang terancam

keselamatannya oleh kaum sesat. Setelah mendengar

permintaan mereka berdua, akhirnya Suling Emas

menyanggupi untuk datang ke Kang-hu mengunjungi Khongsim

Kai-pang sebagai Yu Kang Tianglo!

Ada dua hal yang menyebabkan Suling Emas menerima

permintaan ini. Pertama karena mengingat akan

persahabatannya dengan Yu Kang Tianglo sehingga ia ingin

sekali menyelamatkan Khong-sim Kai-pang dari tangan orangorangsesat.

ke dua, karena ia sedang dikejar-kejar oleh para

orang-orang suruhan Ratu Yalina dari Khitan yang minta

kepadanya untuk datang ke Khitan. Hatinya ingin sekali pergi

ke Khitan melepaskan rindu terhadap kekasihnya, Lin Lin atau

Ratu Yalina, akan tetapi keinginan ini ia tekan dengan

anggapan bahwa kepergiannya ke Khitan berarti merendahkan

derajat ratu yang di junjung tinggi oleh bangsa Khitan itu.

Tidak, ia harus berkorban. Dengan menyamar menjadi Yu

Kang Tianglo dan menutupi mukanya dengan saputangan,

tentu akan membebaskannya daripada pengejaran orangorang

Khitan itu.

Karena kini menghadapi sebuah tugas yang penting, maka

hati dan pikiran Suling Emas tidak lagi terlalu ditekan oleh

kenang-kenangan pahit sehingga tubuhnya menjadi lebih

segar dan bersemangat. Memang tubuh pendekar sakti ini

sudah amat kuat dan kebal terhadap segala penderitaan.

Hanya kalau terlalu merana hatinya, teringat akan kegagalankegagalan

cinta kasih yang meremukkan jiwanya, maka

jantungnya menjadi tidak kuat dan ia suka terbatuk-batuk.

Akan tetapi sekali ia sudah dapat mengatasi kedukaan lni,

tubuhnya menjadi sehat kembali.

Kuda merah kurus yang menjadi kawan satu-satunya dan

menjadi kuda tunggangannya yang setia, berjalan perlahan.

Setelah tiba di depan pintu gerbang kota Kang-hu sebelah

barat, Suling Emas menarik napas panjang. Entah sudah

berapa belas tahun ia tak pernah lewat kota ini yang dahulu

dikenalnya amatbaik. Ia menaikkan saputangan menutupi

mukanya, menundukkan topi bututnya menyembunyikan

muka dan melanjutkan perjalanan. Untuk pergi ke kuil yang

menjadi markas besar perkumpulan pengemis, Khong-sim Kaipang,

ia harus memasuki kota Kang-hu dan keluar lagi dari

kota itu melalui pintu sebelah timur karena kuil itu berada di

luar kota sebelah timur.

Kota Kang-hu tidak ada perubahan. Bangunanbangunannya,

toko-tokonya, masih seperti dulu saja. Namun

ia tahu bahwa penduduknya sudah berubah. Orang-orang

muda yang dahulu telah menjadi tua, seperti dia. Pekerjaan

orang-orang tua sudah diganti yang muda, yang dahulu masih

kanak-kanak atau bahkan belum terlahir. Oleh karena

penggantian satu generasi ini, maka Suling Emas melihat

betapa ia tidak mengenal seorang pun di antara orang-orang

yang lalu-lalang atau berada di dalam warung dan toko. Maka

hatinya menjadi lega dan ia melepas saputangan yang

menutupi mukanya. Hanya kalau perlu saja, agar jangan

dikenal orang, ia menutupi mukanya. Kalau memang tidak ada

yang mengenalnya, ia tidak perlu menutupi mukanya karena

hal ini malah akan menimbulkan kecurigaan.

Seorang laki-laki tua di atas kuda kurus dan buruk bukanlah

penglihatan yang aneh di kota itu, maka tak seorang pun

memperhatikan Suling Emas. Semua orang menganggap dia

ini seorang petani tua miskin yang mungkin hendak mencari

sanaknya di kota atau hendak berbelanja.

Ketika tiba di sebuah jalan simpang tiga di dekat pintu

gerbang timur, Suling Emas menghentikan kudanya di depan

sebuahwarung. Ia teringat bahwa warung ini dahulu amat

terkenal dengan masakan bakminya yang lezat dan murah.

Perutnya memang sudah lapar maka ia ingin makan di mi

warung ini. Seperti yang telah diduganya, juga penjaga kedai

bakmi ini sudah terganti orang lain semua. Akan tetapi mejamejanya

masih seperti dahulu, menjadi hitam mengkilap

saking tuanya dan setiap hari terkena minyak. Dengan hati

lega Suling Emas mengambil tempat duduk di sudut

menghadap ke pintu masuk. Senang juga melihat betapa

dugaannya tepat, kedai bakmi itu masih dikunjungi banyak

tamu karena bakminya. Buktinya, belasan orang tamu yang

memenuhi tempat itu semua menggerakkan sumpit makan

bakmi!

Ia memesan bakmi dan arak, kemudian makan dengan

enaknya. Betapapun juga, karena ia berada dekat markas

Khong-sim Kai-pang dan maklum bahwa mulai dari kota inilah

ia akan menghadapi hal-hal yang pelik, Suling Emas

memasang mata denganwaspada. Ia sengaja tidak

menurunkan topi bututnya dan mengintai dari balik topinya

sambil makan bakmi dan minum arak. Tidak ada sesuatu yang

ganjil di antara para tamu yang makan bakmi. Hanya di sudut

kanan ada tiga orang laki-laki berpakaian seperti ahli-ahli silat,

agaknya mereka ini adalah piauwsu-piauwsu (pengantar

kiriman) yang lewat di Kang-hu dan makan di kedai ini. Yang

seorang sudah berusia lima puluhan tahun, bertubuh tinggi

kurus dengan muka merah. Yang dua orang adalah pemudapemuda

berusia dua puluh lima tahun, bersikap gagah dan

hormat terhadap yang tua itu. Di pinggang mereka tampak

gagang pedang. Melihat sikap mereka itu tidak sombong dan

bicara dengan sopan dan perlahan. Suling Emas tahu bahwa

mereka ini adalah orang baik-baik. Logat bicara mereka

menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang selatan.

Setelah habis semangkok bakmi, Suling Emas minta

semangkok lagi. Perutnya amat leper, sudah dua hari ia tidak

makan. Juga ia minta tambah arak. Pelayan kedai curiga.

Orang tua ini pelahap benar, dan pakaiannya seperti

pengemis, atau paling hebat juga seorang dusun yang miskin.

“Lopek harap bayar dulu,” kata Si Pelayan dengan suara

perlahan. Kalau sampai orang ini terlalu banyak makan minum

kemudian tidak dapat membayarnya, dia juga tidak terlepas

dari tanggung jawab dan selain mendapat teguran, sedikitnya

ia harus menanggung separoh harga makanan dan minuman

itu!

Suling Emastersenyum. Ia dihina, akan tetapi ia maklum

mengapa pelayan mencurigainya. Ia tidak merasa terhina

karena ia tahu akan dasar sikap pelayan itu. Tanpa berkata

sesuatu ia mengeluarken sepotong perak dan memberikannya

kepada Si Pelayan. Melihat perak ini yang cukup besar, Si

Pelayan mengubah sikap membungkuk-bungkuk dan berkata,

“Biar nanti sajalah, Lopek. Saya ambilkan tambahanmu.” Si

Pelayan pergi dan Suling Emas menyimpan peraknya sambll

tersenyum pula. Semenjak ia muda dahulu sampai sekarang,

generasi telah berganti namun watak manusia masih sama

saja. Hidup manusia sudah t idak sewajarnya lagi. Hati dan

pikiran manusia diselubungi hawa keduniaan sehingga orang

mempercaya orang lain bukan berdasarkan pribadinya namun

berdasarkan harta dan kedudukannya. Orang menghormat

orang lain bukan berdasarkan sikap pribadinya melainkan

berdasarkan bagusnya pakaian dan padatnya kantung.

Manusia sudah tidak dapat menguasai dirinya sendiri yang

sudah sepenuhnya dikuasai harta benda dan kedudukan.

Manusia hanyalah abdi-abdi nafsu kesenangan yang amat

lemah dan menyedihkan!

Ketika pelayan itu membawa bakmi dan arak tambahan

yang dipesannya, tiba-tiba terdengar ribut-ribut di pintu kedai.

Si Pelayan menoleh dan ketika ia melihat dua orang pengemis

di pintu itu yang marah-marah dan memaki-maki, ia cepatcepat

lari ke dalam dengan muka pucat. Suling Emas menoleh

dan diam-diam ia terkejut ketika melihat dua orang pengemis

setengah tua yang berdiri di depan pintu itu. Dua orang

pengemis ini menaruh tangan kiri di atas dada sedangkan

tangan kanan membentuk lingkaran dengan ibu jari dan

telunjuk di atas kepala. Itulah tanda bahwa mereka berdua

adalah anggauta-anggauta Khong-sim Kai-pang! Mau apakah

dua orang Khong-sim Kai-pang datang ke kedai ini dengan

sikap demikian aneh?

“Mana pemilik kedai? Hayo lekas keluar!” bentak seorang di

antara mereka dengan suara galak. Kini mereka sudah

menurunkan kedua tangan, memegang tongkat yang tadi

mereka kempit. Tak lepas dari pandang mata Suling Emas

betapa para tamu kelihatan gelisah melihat dua orang

pengemis ini, seperti takut-takut. Sejak kapankah anggautaanggauta

Khong-sim Kai-pang bersikap galak seperti ini dan

ditakuti orang?

Dari dalam kedai berlari-lari keluar seorang berjubah hitam

panjang, tubuhnya kecil kurus dan kumisnya panjang sampai

ke dagunya. Jelas tampak orang ini ketakutan, sambil

membungkuk-bungkuk dan memaksa senyum sehingga

tampak giginya yang hitam karena tembakau ia menghampiri

dua orang pengemis itu sambil berkata,

“Ah, kiranya Ji-wi dari Khong-sim Kai-pang! Silakan duduk!”

“Tak usah banyak jual omongan manis. Kami datang bukan

menghendaki bakmimu yang busuk dan arakmu yang bau!

Engkau Lai Keng pemilik kedai ini?”

Be…. betul…., ada apakah, Taihiap….?”

Diam-diam Suling Emas geli juga mendengar, Si Pemilik

Kedai menyebut Taihiap (Pendekar Besar) kepada anggauta

Khong-sim Kai-pang itu.

“Huh, engkau benar-benar memandang rendah kepada

kami, ya? Ketika kemarin seorang anggauta rendahan kami

datang minta derma sepuluh tail, kenapa hanya kauberi uang

kecil? Engkau berani menghina kami?”

“Ah, tidak sama sekali…., mana saya berani? Ketahuilah,

harap Ji-wi suka mempertimbangkan. Perdagangan sekarang

sepi, dan pula keuntungannya habis dipakai bayar pajak

pemerintah, bagaimana saya sanggup menderma sepuluh tail

perak? Harap Ji-wi sudi mempertimbangkan….”

“Tidak laku, ya? Sepi kau bilang? Begini banyak tamu kau

bilang sepi!” bentak pengemis ke dua.

“Benar, ada juga yang datang berbelanja namun

keuntungannya tipis sekali….“

“Banyak alasan! Kalau kaunaikkan harganya setiap

mangkuk, bukankah kau mendapatkan banyak untung dan

tidak berat menyumbang sepuluh tail? Pendeknya, tak usah

banyak cerewet. Kami Khong-sim Kai-pang bukannya orangorang

yang boleh dihina. Kalau kau sekarang tidak

mengeluarkan sepuluh tail, jangan harap kau akan dapat

membuka lagi kedaimu ini!” Sambil berkata demikian, seorang

di antara para pengemis itu menggerakkan tongkatnya ke

bawah dan…. “ceppp….!” tongkat itu amblas masuk ke dalam

lantai sampai setengahnya lebih!

Si Pemillk Kedai menjadi pucat wajahnya dan tubuhnya

menggigil. Dengan suara bercampur isak ia berkata, “Kalau

begini…. bakal bangkrut….”

“Kaupilih saja. Bangkrut atau mampus!”

Keadaan sudah memuncak dan pada saat itu terdengar

orang menggebrak meja sambil berseru, “Bangsat tak tahu

malu! Dari mana datangnya pengemis-pengemis yang begini

kurang ajar!”

Ternyata yang menggebrak meja dan marah-marah ini

adalah tiga orang piauwsu tadi yang kini sudah bangkit berdiri

dan menghampiri dua orang pengemis yang berdiri di luar

pintu. Piauwsu setengah tua bermuka merah tadi kini

menudingkan telunjuknya kepada dua orang pengemis sambil

membentak,

“Kalian ini golongan apakah? Melihat sikap dan pakaian

seperti pengemis-pengemis yang biasanya mencari sisa

makanan di kedai-kedai atau minta sedekah kepada orang

yang lewat. Akan tetapi ternyata kalian lebih rendah daripada

pengemis maupun perampok. Pengemis tidak minta secara

paksa sedangkan perampok tidak akan berkedok pengemis!”

Dua orang pengemis itu saling pandang, kemudian mereka

memandang piauwsu itu dengan mata melotot lebar. “Apa

kamu mencari mampus berani mencampuri urusan kami dua

orang anggauta Khon-sim Kai-pang?” Sebutan Khong-sim Kaipang

ini dikatakan oleh seorang di antara pengemis itu

dengan keras-keras, agaknya ia hendak mempergunakan

pengaruh nama ini untuk mendatangkan kesan.

“Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong)

semestinya mempunyai anggauta-anggauta yang berhati

kosong tanpa pamrih akan tetapi kalian ini perampokperampok

berkedok pengemis amat menjemukan! Kami

adalah tamu-tamu yang sedang makan di kedai ini, memang

tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan pemilik kedai. Akan

tetapi kami sedang makan kalian berani datang mengganggu!

Huh, melihat saja membuat perut kami muak dan tidak ada

nafsu makan. Hayo enyah dari sini!” bentak piauwsu setengah

tua muka merah. Dua orang piauwsu muda di kanan kirinya

juga bersikap galak. Malah seorang di antara dua orang muda

ini segera mengulur tangan ke depan, menggunakan dua buah

jari menjepit tongkat yang tertancap di lantai kemudian sekali

berseru keras, tongkat itu sudah tercabut keluar dari lantai.

“Phuhh! Yang macam ini dipakai menakut-nakuti orang?

Menyebalkan!” katanya sambil melempar tongkat itu sehingga

tongkat besi itu jatuh berkerontangan di atas lantai. Semua

tamu kedai itu terkejut dan kagum. Sebaliknya dua orang

pengemis itu menjadi marah sekali. Pemilik tongkat sudah

menyambar tongkatnya, kemudian mereka berdua meloncat

mundur lalu berdiri di jalan sambil menantang.

“Pengacau dari mana begitu buta matanya berani

memusuhi Khong-sim Kai-pang?”

Piauwsu setengah tua sudah meloncat maju pula diikut i dua

orang piauwsu muda. “Tak tahu malu, menggunakan nama

perkumpulan yang begitu muluk, kiranya Khong-sim Kai-pang

hanyalah sarang sekumpulan manusia jahat. Kami datang dan

pergi tak pernah menyembunyikan nama. Di selatan kami

terkenal piauwsu-piauwsu yang paling, benci terhadap

penjahat-penjahat berkedok pengemis, seperti srigala-srigala

berkedok domba! Aku Lim Kiang atau Lim-piauwsu, dan ini

kedua orang puteriku. Lekas kalian enyah dari sini, atau

perlukah kalian kuusir dengan gebukan seperti orang mengusir

anjing-anjing rendah.”

Dua orang pengemis itu marah bukan main. “Keparat she

Lim! Kau dan anak-anakmu sudah bosan hidup rupanya.

Majulah, hendak kami lihat sampai di mana hebatnya

kepandaianmu, apakah sehebat mulutmu yang lebar itu?”

“Ayah, biarkan kami menghajar dua penjahat ini!” seru dua

orang muda sambil meloncat ke depan dan pedang mereka

sudah berada di tangan. Sang Ayah yang agaknya cukup

percaya akan kepandaian putera-puteranya, lalu mengangguk

dan tersenyum mengejek, mundur berdiri sambil bertolak

pinggang.

Dua orang pengemis itu sudah berseru nyaring sambil

memutar tongkat besi mereka, menyerang dua orang piauwsu

muda yang sudah menangkis dengan pedang mereka pula.

Terjadilah pertandingan yang seru, di atas jalan raya di depan

kedai bakmi! Mereka yang tadinya enak-enak makan bakmi,

kini sudah keluar pula dari kedai untuk menonton, wajah

mereka tegang dan khawatir karena semua orang di Kang-hu

tahu belaka akan pengaruh Khong-sim Kai-pang yang akhirakhir

ini berlaku sewenang-wenang. Tentu saja diam-diam

mereka mengharapkan kemenangan bagi piauwsu-piauwsu

asing dari selatan itu.

Pengharapan mereka itu ternyata terkabul. Dua orang

piauwsu muda dari selatan ini memiliki ilmu pedang yang

hebat. Tidak sampai lima puluh jurus mereka berempat

bertanding dan dua orang pengemis Khong-sim Kai-pang itu

sudah roboh dengan pundak terluka tusukan pedang dan

tongkat mereka runtuh. Suling Emas yang ikut menonton

menjadi terkejut ketika melihat ilmu pedang dua orang

piauwsu itu yang segera ia kenali. Itulah ilmu pedang Bengkauw!

Tak disangsikan lagi bahwa piauwsu-piauwsu itu adalah

anak murid Beng-kauw dan melihat sepak terjang mereka, ia

menjadi bangga, Mereka ini murid-murid Bengkauw yang baik,

bukan hanya terbukti dari sikap mereka memberi hajaran dua

orang pengemis jahat, juga melihat betapa dua orang piauwsu

muda itu hanya melukai pundak lawan, tidak membunuhnya.

Beberapa orang di antara penonton yang tadi makan bakmi

segera menghampiri tiga orang piauwsu itu sambil berbisik,

“Sam-wi harap lekas-lekas pergi dari sini. Kalau terlambat,

bisa celaka. Khong-sim Kai-pang bermarkas di luar kota ini

dan selain anggautanya banyak, juga mereka mempunyai

pemimpln-pemimpin yang pandai dan amat kejam! Lekas,

Sam-wi (Tuan Bertiga) pergilah dari sini.”

Piauwsu tua mengerutkan alisnya dan berkata lantang,

“Kami bukan golongan pengecut yang berani berbuat tidak

berani bertanggung jawab! Kami memberi hajaran kepada dua

orang pengemis ini karena kelakuan mereka yang jahat. Kalau

teman-temannya datang menuntut balas, biarlah kami hadapi

mereka itu dengan pedang kami.” Ucapan ini dikeluarkan

dengan nada marah akan tetapi sama sekali tidak

membayangkan kesombongan.

Banyak orang yang sudah tahu akan kekejaman orangorang

Khong-sim Kai-pang yang akhir-akhir ini berubah

banyak sekali, membujuk-bujuk agar mereka bertiga lekas

pergi saja karena kalau tidak, mana mungkin mereka dapat

melawan banyak anggauta Khong-sim Kai-pang. Namun

bujukan-bujukan itu sia-sia belaka. Si Piauwsu Tua bersama

dua orang puteranya bahkan menyatakan hendak mendatangi

markas besar Khong-sim Kai-pang dan mengancam

perkumpulan itu agar jangan berbuat sewenang-wenang

kepada penduduk Kang-hu! Tiba-tiba terdengar suara orang

yang amat jelas mengatasi semua suara orang yang sedang

membujuk-bujuk, “Ah, orang yang sudah mabok kemenangan

mana bisa dibujuk-bujuk? Kalau mereka sudah bosan hidup,

biarkanlah mereka mati!”

Semua orang menoleh dan ketika orang-orang di situ

melihat bahwa yang mengucapkan kata-kata nyaring ini

adalah seorang berpakaian pengemis bertopi butut dengan

muka bagian bawah tertutup sehelai kain, mereka menjadi

kaget sekali dan cepat-cepat menyingkir. Ada suara bisikanbisikan

terdengar. “Nah, mereka sudah mulai datang….!”

Piauwsu setengah tua dan dua orang puteranya she Lim

cepat membalikkan tubuh dan memandang Suling Emas

dengan tajam. Melihat pakaian orang ini tentu seorang di

antara pemimpin-pemimpin Khong-sim Kai-pang, maka Lim

Kiang segera melangkah maju dan hendak menegur.

Akan tetapi Suling Emas sudah menghampiri mereka sambil

mendorong-dorong dengan tangan kirinya dan menegur,

“Kalian ini orang-orang apa berani hendak mengancam Khongsim

Kai-pang? Kalau ada satu dua orang pencuri di kota ini,

apakah bisa dikatakan semua orang kota ini pencuri belaka?

Kalau ada satu dua orang piauwsu menyeleweng, apakah

boleh dibilang bahwa semua piauwsu adalah penjahat belaka?

Demikian pula, kalau ada seorang dua orang Khong-sim Kaipang

menyeleweng, apakah benar kalau dikatakan bahwa

Khong-sim Kai-pang perkumpulan orang jahat? Setelah

memperoleh kemenangan berlaku merendah dan waspada,

tidak mabok akan kemenangannya, Itulah sikap seorang

bijaksana. Kalian bertiga tidak lekas pergi, mengandalkan

apakah? Hayo pergi…. pergi…. pergi….!” Ia mendorongdorong

sehingga jari-jari tangannya menyentuh pundak dan

punggung tiga orang piauwsu itu.

Lim Kiang adalah seorang anak murid Beng-kauw yang

menjunjung tinggi kebenaran dan kegagahan. Untuk membela

yang tertindas dan menghadapi yang jahat, ia tidak ragu-ragu

bertindak dan tidak akan ragu-ragu mengorbankan nyawanya.

Juga dua orang puteranya mewarisi watak gagah ini. Melihat

Suling Emas dan mendengarkan ucapannya, tentu saja

beranggapan bahwa pengemis ini adalah seorang tokoh

Khong-sim Kai-pang yang membela perkumpulan itu, akan

tetapi ia pun dapat menduga bahwa pengemis ini bukan orang

sembarangan. Karena itulah, ia memberi tanda kepada dua

orang puteranya untuk mundur, kemudian ia sendiri

tersenyumdan berkata.

“Setiap orang manusia tentu mencari kebenarannya sendiri.

Betapapun jahatnya Khong-sim Kai-pang, tentu seorang

anggautanya akan melihatnya sebagai perkumpulan yang

baik. Sahabat, kalau kau merasa penasaran karena dihajarnya

dua orang temanmu, kau majulah!” Sambil berkata demikian

Lim Kiang meraba gagang pedangnya.

“Aihh….!” ia berseru kaget dan tangannya meraba-raba

pinggang, kemudian ia menunduk untuk melihat ke arah

pinggangnya. Namun tetap saja ia tak dapat menemukan

gagang pedangnya karena pedang itu sudah lenyap, yang ada

hanya sarung pedangnya saja!

Dua orang piauwsu muda itu pun berteriak kaget. Muka

mereka menjadi pucat dan mereka saling pandang dengan

mata terbelalak.

“Pe…. pedangku….!” Mereka berkata lirih dan tahulah

piauwsu setengah tua itu bahwa pedang kedua orang

puteranya juga sudah lenyap!

“Adakalanya orang tidak dapat mengandalkan pedangnya.”

Suling Emas berkata lagi, “Tapi lebih tepat mempergunakan

akal dan kewaspadaan. Alangkah bodohnya menganggap

bahwa ketajaman pedang akan selalu membawa kemenangan.

Sam-wi mencari inikah?”

Tiga orang piauwsu itu melongo ketika melihat pengemis

yang mukanya ditutupi saputangan itu mengangsurkan tiga

batang pedang mereka! Cepat mereka menyambut pedang

mereka dan tidak berani sembarangan bergerak. Orang yang

sudah dapat merampas pedang mereka bertiga tanpa mereka

ketahui sama sekali, adalah orang yang memiliki ilmu

kepandaian luar biasa sekali dan bukanlah lawan mereka!

Betapapun juga, Lim Kiang adalah seorang gagah yang tidak

mau menyerah kepada orang jahat sebelum ia dikalahkan.

“Boleh jadi engkau seorang yang memiliki kesaktian luar

biasa, akan tetapi jangan kira bahwa kami takut untuk cobacoba

memberantas kejahatanmu!” Setelah berkata demikian,

Lim Kiang menggerakkan pedangnya hendak menyerang,

demikian pula dua orang puteranya sudah bergerak hendak

menerjang Suling Emas.

Pada saat itu berkelebat dua bayangan hitam. Gerakan

mereka ini cepat bukan main, padahal keduanya hanya dua

orang kakek pengemis yang sudah amat tua, bahkan yang

seorang bertubuh bongkok kurus. Namun Si Bongkok ini sekali

sambar sudah mencengkeram leher baju Lim Kiang yang

dilemparkannya ke belakang sehingga piauwsu itu terhuyunghuyung.

Sedangkan kakek pengemis ke dua sudah pula

melemparkan dua orang piauwsu muda dengan sama

mudahnya.

“Hemm, kalian ini piauwsu-piauwsu cilik berani bersikap

kurang ajar terhadap Ketua Khong-sim Kai-pang kami, Yu

Kang Tianglo yang mulia?” bentak Si Pengemis Bongkok yang

bukan lain adalah Gak-lokai. Adapun pengemis ke dua adalah

Ciam-lokai.

Lim Kiang adalah seorang piauwsu yang sudah

banyakpengalaman. Ia terkejut dan maklum bahwa dua orang

pengemis tua itu pun lihai bukan main.

Akan tetapi ia makin kaget ketika mendengar disebutnya

nama Yu Kang Tianglo. Ia memandang terbelalak kepada

Suling Emas lalu berkata.

“Locianpwe ini…. Yu Kang Tianglo….? Akan tetapi….

mereka itu….” Ia menoleh kepada dua orang pengemis yang

tadi dihajar dua orang puteranya dan masih rebah merintihrintih

di atas, tanah.

Suling Emas mengangkat kedua tangan ke depan dada

sebagai penghormatan kepada Lim Kiang dan dua orang

puteranya. “Terima kasih kami ucapkan atas pengajaran Samwi

piauwsu kepada dua orang penyeleweng itu. Memang di

antara anggauta Khong-sim Kai-pang ada yang menyeleweng,

namun itu bukan berarti bahwa Khong-sim Kai-pang telah

menjadi sebuah perkumpukan penjahat, Harap Sam-wi

menjadi puas dan sampaikanlah hormatnya Yu Kang Tianglo

kepada para tokoh Beng-kauw di selatan yang amat kami

hormati!”

Diam-diam Lim Kiang terkejut danheran. Ia memang lama

mendengar nama besar Yu Kang Tianglo akan tetapi sama

sekali tak pernah disangkanya bahwa tokoh pengemis itu pasti

dapat mengenal gerakan pedang putera-puteranya sehingga

tahu bahwa mereka bertiga memiliki ilmu pedang dari Bengkauw.

Cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut, diturut kedua

orang puteranya.

“Mohon maaf bahwa kami berani bersikap kurang hormat

kepada Locianpwe.” Setelah berkata demikian, Lim Kiang

cepat-cepat mengajak kedua orang puteranya pergi

meninggalkan Kang-hu.

“Kalian sudah datang? Bagus! Bagaimana kalian dapat

membiarkan dua orang jahat itu melakukan hal yang amat

memalukan Khong-sim Kai-pang?” Suling Emas menegur Gaklokai

dan Ciam-lokai.

“Maaf, Pangcu. Panjang ceritanya. Marilah kita keluar kota,

di sana para anggauta yang setia sudah menanti. Akan saya

ceritakan kepada Pangcu.” kata Gak-lokai, sedangkan Ciamlokai

mengambilkan kuda Suling Emas. Ketiganya lalu pergi

dari situ. Suling Emas menunggang kuda, Ciam-lokai menyeret

dua orang pengemis yang terluka tadi sedangkan Gak-lokai

sibuk menuturkan apa yang terjadi di Khong-sim Kai-pang

selama ini.

Sementara itu, berita tentang munculnya Yu Kang Tianglo

seperti tadi terdengar oleh beberapa orang penonton, telah

tersiar luas dan orang-orang di Kang-hu menjadi girang sekali.

Mereka menaruh kepercayaan bahwa setelah tokoh besar itu

muncul, Khong-sim Kai-pang akan bersih dari oknum-oknum

jahat dan tidak lagi ada penggangguan di kota Kang-hu dan

sekitarnya.

Mendengar penuturan Gak-lokai, Suling Emas menjadi

marah. Ternyata bahwa kaum sesat yang menyelundup di

Khong-sim Kai-pang telah berhasil memecah belah

perkumpulan itu, bahkan sebagian besar anggautanya kena

mereka bujuk dan menjadi anak buah mereka. Hal ini tidak

mengherankan karena oknum-oknum jahat itu menjanjikan

hal-hal yang menyenangkan seperti hidup mewah, makan

enak dan lain kesenangan dunia.

Gak-lokai dan Ciam-lokai yang melihat gejala-gejala buruk

ini, maklum bahwa kalau mereka berdua berkeras, tentu akan

terjadi perang di antara para anggauta sendiri yang akan

mengorbankan banyak nyawa. Padahal, mereka yang kini

terbujuk bukanlah orang-orang yang pada dasarnya jahat,

melainkan karena tergoda oleh bujukan-bujukan

menyesatkan. Di samping itu, ada lima orang kaum sesat yang

kini terpilih menjadi pemimpin mereka yang menyeleweng,

dan lima orang itu memiliki ilmu kepandaian yang lihai

sehingga dua orang kakek ini tidak berani turun tangan secara

serampangan dan menanti datangnya Yu Kang Tianglo yang

mereka andalkan.

“Mereka yang menyeleweng kini menduduki markas karena

para anggauta yang setia rela mengikuti kami mengundurkan

diri bersembunyi di tempat-tempat sunyi sambil menanti

kedatangan Pangcu.” Gak-lokai menutup ceritanya. “Mereka

kini mengganti pakaian mereka dengan baju-baju bersih dan

tongkat bambu mereka dengan tongkat besi. Hanya dengan

menundukkan para pimpinan mereka yang jumlahnya dua

puluh orang lebih maka anggauta-anggauta yang

menyeleweng akan dapat disadarkan kembali.”

Ketika mereka keluar dari Kang-hu melalui pintu gerbang

sebelah timur, pandang mata Suling Emas yang tajam melihat

bayangan-bayangan yang cepat berkelebat menyelinap di

antara pohon-pohon mendahuluimereka. Ia dapat menduga

bahwa itu tentulah mata-mata golongan sesat yang kini

menguasai markas Khong-sim Kai-pang. Ketika mereka bertiga

sambil membawa dua orang pengemis terluka itu tiba di

depan kuil besar yang semenjak dahulu menjadi markas besar

partai pengemis Khong-sim Kai-pang, mereka melihat betapa

dari belakang mereka datang berbondongbondong puluhan

orang pengemis yang berpakaian butut dan membawa tongkat

bambu. Jumlah mereka ada empat puluh orang lebih dan

begitu Suling Emas menghentikan kudanya untuk menengok,

mereka serentak menjatuhkan diri berlutut dan seperti

dlkomando saja mereka berseru. “Hidup Yu Kang Tianglo,

Pangcu kita!”

Kemudian tampak dari dalam kuil keluar beberapa orang

yang diikuti barisan pengemis pula, pengemis dengan pakaian

bersih dan bersenjata tongkat besi. Melihat ini Suling Emas

berkata kepada pengikut Gak-lokai dan Cam-lokai suaranya

nyaring.

“Saudara-saudara semua tidak boleh sembarangan

bergerak. Kita tidak berniat memerangi golongan sendiri,

hanya ingin menyadarkan mereka dan menghalau oknumoknumjahat

yang mengotori kai-pang!”

Demikianlah, empat puluh orang pengemis itu disuruh

menanti di luar, sedangkan Suling Emas dengan diantar Gaklokai

dan Ciam-lokai, memasuki ruangan kuil dan kini berjalan

masuk dengan langkah tenang. Kuda kurusnya ditinggalkan di

luarpekarangan. Ia memandang ke depan dan melihat bahwa

yang memimpin barisan pengemis baju bersih yang jumlahnya

ada lima puluh orang lebih itu adalah tujuh orang. Lima di

antara mereka yang usianya rata-rata sudah lima puluh tahun

memakai pakaian pengemis tambal-tambalan dan

berkembang-kembang, di tangan mereka tampak senjata

tongkat yang berat dan jelas bukan tongkat bambu, entah

logam apa. Dua orang yang tidak berpakaian pengemis,

melainkan berpakaian pendeta, dan agaknya mereka berdua

itu adalah tosu-tosu pengembara yang usianya sudah enam

puluh lebih. Suling Emas memandang tajam namun tidak

mengenal tujuh orang ini. Dari pekarangan, ia naik anak

tangga yang tingginya ada dua meter, menyambung ke

ruangan depan yang cukup luas. Tempat inilah yang biasanya

dipakai untuk pertemuan umum para anggauta, di udara

terbuka dan letaknya di depan kuil.

Lima orang pengemis berpakaian penuh kembang-kembang

itu melangkah maju dan berdiri tegak dengan sikap angkuh,

sedangkan dua orang pendeta berdiri di belakang mereka.

Gak-lokai dan Ciam-lokai lalu melemparkan dua orang

pengemis terluka pundaknya itu ke depan sehingga dua orang

itu jatuh tersungkur ke depan kaki lima orang kepala

pengemis baru.

“Siapakah yang bertanggung jawab atas perbuatan jahat

dua orang anggauta Khong-sim Kai-pang ini?” Terdengar

suara Suling Emas memecah kesunyian. Suaranya halus,

namun penuh wibawa. “Mereka yang merasa bersalah, sudah

menyelewengkan Khong-sim Kai-pang ke jalan sesat, hayo

lekas maju mengaku agar menerima hukuman!”

Seorang di antara lima pimpinan pengemis itu, yang

matanya juling, dan agaknya ia yang tua di antara mereka,

sudah melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah

muka Suling Emas.

“Siapakah kau? Apa hubunganmu dengan perkumpulan

kami sehingga kau berani mengucapkan kata-kata kurang

ajar? Apakah engkau ini sekutu para pengkhianat macam dua

orang jembel tua bangka itu?” ia menudingkan telunjuknya

kepada Gak-lokai dan Ciam-lokai.

Gak-lokai tak dapat menahan kemarahannya. “Sungguh

kalian ini tak tahu diri! Kalian adalah orang-orang baru di

Khong-sim Kai-pang, namun kalian seperti buta. tidak mau

membuka mata, seperti tuli tak mau membuka telinga. Kalian

berhadapan dengan Yu Kang Tianglo, seorang tokoh terbesar

dari golongan Khong-sim Kai-pang. Hayo lekas kalian

berlutut!”

Lima orang itu agaknya sudah mendengar laporan maka

mereka tidak menjadi kaget, bahkan tersenyum-senyum. Akan

tetapi di antara lima puluh lebih anggauta Khong-sim Kai-pang

yang sudah dibawa menyeleweng, ada yang sudah

menjatuhkan diri berlutut dan ada yang menjadi pucat

mukanya, menggigil tubuhnya. Kawan-kawannya yang

percaya kepada pemimpin baru segera menyeret mereka itu

berdiri lagi.

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Puluhan tahun Yu Kang Tianglo

tidak memperlihatkan diri, membiarkan Khong-sim Kai-pang

dalam keadaan terlantar dan hampir bangkrut. Setelah kami

muncul dan mengangkat keadaan kai-pang, tiba-tiba engkau

muncul dan berlagak seperti seorang kawakan yang berkuasa!

Cih, sungguh tidak tahu malu! Pada saat ini memang Khongsim

Kai-pang belum ada ketuanya, dan untuk sementara ini

kami lima oranglah yang berkuasa sampai diadakan pemilihan

ketua pada pertemuan antara kai-pang-kai-pang di seluruh

daerah. Adakah engkau ini Yu Kang Tianglo atau bukan,

bukan urusan kami, juga apakah engkau ini seorang tokoh

kawakan Khong-sim Kai-pang atau bukan, kami tidak peduli.

Engkau tidak ada sangkut pautnya dengan kami, lebih baik

lekas pergi jangan membadut di sini!”

Merah wajah Gak-lokai dan Ciam-lokai, namun Suling Emas

memberi isyarat dengan tangan agar merekadiam. Ia sendiri

lalu melangkah maju dan dengan sikap tenang ia berkata. “Yu

Kang Tianglo bukan seorang yang haus akan kedudukan ketua

kai-pang. Semenjak Ayahku menjadi Pangcu di sini, Khong-sim

Kai-pang terkenal sebagai perkumpulan orang-orang gagah

yang membela orang-orang terlantar dan jembel-jembel

kelaparan, membimbing mereka kembali ke dalam masyarakat

terhormat dan mengangkat derajat mereka, paling anti akan

kejahatan. Siapa dia boleh menjadi pimpinan Khong-sim KaiTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

pang dan siapa pun dia orangnya boleh menjadi anggauta,

asal saja mereka itu orang baik-baik dan wataknya sesuai

dengan jalan yang selama puluhan tahun ditempuh Khong-sim

Kai-pang. Aku pun tidak akan muncul di sini sekiranya

keadaan Khong-sim Kai-pang masih sebaik dan sebersih

biasanya. Akan tetapi sayang sekali, Khong-sim Kai-pang

diselewengkan, dengan mata kepala, sendiri aku menyaksikan

dua orangmu melakukan pemerasan seperti perampok.

Melihat ini, mau tidak mau Yu Kang Tianglo harus bertindak

membersihkan kai-pang dari orang-orang jahat!”

Mendengar ini, banyak di antara para anggauta Khong-sim

Kai-pang yang kini berbaju kembang-kembang dan memegang

tongkat besi, menjadi ketakutan. Melihat ini lima orang

pengemis yang memimpin mereka itu meloncat maju

mengurung Suling Emas dan Si Juling membentak.

“Keparat busuk, enak saja kau mengobrol di sini! Kami

yang berkuasa di Khong-sim Kai-pang dan kami yang berhak

menentukan bagaimana cara kami mengumpulkan dana demi

kemajuan perkumpulan dan kebahagiaan semua anggauta

kami. Kau berani datang menghina, berarti engkau mencari

mampus sendiri!” Sambil berkata demikian, Si Juling dan

empat orang adik seperguruannya mengangkat tinggi tongkattongkat

mereka. Ada yang memegang tongkat besi, ada

tongkat baja, kuningan bahkan ada yang memegang tongkat

dari perak murni!

“Hemm…. hemm…. semenjak dahulu Khong-sim Kai-pang

mengutamakan kebenaran dan selalu mengambil jalan halus,

maka bawaannya pun hanya sebatang tongkat bambu yang

butut sebagai lambang mencari jalan benar agar jangan

menyeleweng. Akan tetapi kalian ini pemimpin-pemimpin

murtad bermewah-mewahan dan berlumba memegang

tongkat yang membayangkan kekerasan dan kekejaman.

Sungguh menyeleweng sekali!”

“Tak usah banyak cakap! Satu di antara syarat menjadi

pimpinan Khong-sim Kai-pang, dia harus mempunyai

kepandaian yang paling t inggi itu di antara para anggauta.

Beranikah engkau melawan kami berlima?”

“Eh, kiranya kalian maslh mengenal juga akan peraturan

itu? Bagus, hanya sayangnya, kalian memperlihatkan

kecurangan dengan maju bersama. Bagiku, sama saja, maju

bersama atau ditambah lagi dua orang sekutumu itu, boleh

saja. Gak-lokai tolong beri pinjam tongkatmu!” kata Suling

Emas, menoleh kepada dua orang tokoh lama itu.

“Harap Pangcu pakai saja tongkat ini. ”Tongkat bambu ini

dahulu adalah hadiah dari mendiang Yu Jin Tianglo.” kata

Ciam-lokai sambil menyerahkan tongkatnya, sebatang tongkat

bambu yang sudah amat tua.

Yu Jin Tianglo adalah Ketua Khong-sim Kai-pang puluhan

tahun yang lalu, ayah Yu Kang Tianglo, maka tentu saja

semua anggauta yang tahu akan hal ini menjadi terharu dan

juga gelisah. Mereka semua tahu betapa lihainya lima orang

pimpinan baru itu sehingga kedua kakek pengemis Gak-lokai

dan Ciam-lokai sendiri t idak berani sembrono turun tangan

menantang mereka. Bagaimana kalau Yu Kang Tianglo kalah

oleh pengeroyokan mereka berlima?

Namun Suling Emas dengan langkah lebar dan tenag sudah

berdiri di tengah-tengah lapanganyang tinggi dan luas itu,

menanti datangnya lawan. Ia melihat betapa Si Juling berbisikbisik

kepada dua orang pendeta, akan tetapi kemudian Si

Juling bersama empat orang kawannya meloncat dan

sekaligus mengurung.

“Yu Kang Tianglo, engkau terlalu sombong, Sesungguhnya

kami berniat untuk memperkuat Khong-sim Kai-pang menjadi

perkumpulan yang paling hebat di antara semua kai-pang.

Maksud baik kami ini kiranya malah kauhina! Sungguh kau

mencari mati sendiri.”

Suling Emas tertawa di balik saputangannya. “Kalian ini

pengemis-pengemis macam apa? Pakaiannya saja berlumba

mewah! Terang bahwa kalian ini dahulunya tentu orang-orang

golongan sesat yang hendak menyelundup ke kai-pang-kaipang

mencari anak buah dan kedudukan. Hayo majulah

karena hari ini tamat riwayat kalian!”

“Manusia sombong!” Lima orang itu membentuk barisan

mengurung Suling Emas yang masih berdiri tegak tanpa

memasang kuda-kuda, berdiri seenaknya dan tongkat bambu

itu malah ia panggul di pundaknya. Itu sama sekali bukan

sikap seorang jago silat menghadapi lawan! Tongkat

dipanggul di pundak, berdiri seenaknya dan pandang mata

tidak acuh sama sekali! Diam-diam Gak-lokai Ciam-lokai, dua

orang ahli silat kelas berat, menjadi khawatir sekali. Akan

tetapi lima orang pengemis baju kembang itu menjadi girang.

Mereka terus bergerak mengitari Suling Emas dan mulai

tertawa-tawa mengejek. Tiba-tiba Si Mata Juling yang menjadi

pimpinan mereka berteriak keras dan serentak lima batang

tongkat logam yang keras dan bermacam-macam itu berubah

menjadi gulungan sinar yang menerjang Suling Emas secara

dahsyat sekali! Gak-lokai dan Ciam-lokai menahan napas.

Tepat seperti dugaan mereka, lima orang pengemis baju

kembang itu benar-benar memiliki kepandaian tinggi, jelas

terbukti dari serangan mereka yang seperti kilat cepatnya, dan

amat berat sehingga terdengar angin bersiutan. Betapa

mungkin ketua mereka yang berdiri enak-enak itu dapat

menghindarkan diri dari hantaman lima batang tongkat dari

semua penjuru ini?

“Singgggg…., Krak-krak-krak-krakkrak….!”

Semua orang kaget dan berdongak melihat lima batang

tongkat yang kini terbang di udara dan jatuh jauh dari tempat

itu. Ketika mereka memandang ke depan lima orang pengemis

baju kembang itu sudah roboh tak berkutik lagi sedangkan

Suling Emas masih berdiri enak-enak seperti tadi memanggul

tongkatnya!

Sampai lama keadaan menjadi sunyi. Pihak lawan tak

berani bersuara saking kaget dan gentar, sebaliknya pihak

kawan juga sampai tak dapat bersuara saking heran dan

kagum. Kemudian meledaklah sorak-sorai penuh kegembiraan

dari beberapa puluh orang pengemis anggauta Khong-sim Kaipang

yang setia, sedangkan para anggauta Khong-sim Kaipang

yang menyeleweng atau setidaknya telah takluk kepada

lima orang ketua baru itu kini menjadi pucat mukanya dan

makin banyak pula kini yang menjatuhkan diri berlutut.

“Yu Kang Tianglo, kau terlalu sombong!”

Bentakan ini keras sekali dan kiranya dua orang berpakaian

tosu tadi telah maju, yang seorang menghadapi Suling Emas,

sedangkan yang kedua dengan gerakan tak acuh

menggunakan kakinya melemparkan mayat lima orang

pimpinan Khong-sim Kai-pang itu ke bawah panggung!

Perbuatan yang kejam ini disambut suara berbisik dari mereka

yang pro dan anti di golongan anggauta, baik yang kini sudah

berpakaian bersih maupun yang masih berpakaian butut.

“Trakk! Trakk! Trakk!”

Suara ini nyaring sekali sehingga menyakitkan telinga.

Melihat betapa kedua telapak tangan pendeta yang

menghampiri Suling Emas ditepuk-tepukkan menerbitkan

suara nyaring itu, semua orang yang tadinya berisik menjadi

diam dan memandang penuh keheranan dan kekaguman.

Betapa dua telapak tangan dari kulit dan daging dapat

mengeluarkan bunyi seperti itu?

Sahabat-sahabat pengemis dengarlah baik-baik! Pinto (aku)

berdua hanyalah tamu-tamu dari kelima pangcu (ketua) yang

telah terbunuh secara keji oleh manusia sombong yang

mengaku Yu Kang

Tianglo ini. Pinto berdua adalah orang-orang sebawahan

Locianpwe Bu-tek Siu-lam, bagaimana mungkin menyaksikan

tuan rumah dihina orang tanpa turun tangan? Telah kita

ketahui semua betapa para anggauta kai-pang di bawah

pimpinan orang-orang lama yang mengaku suci dan bersih,

hidup sengsara, kekurangan makan dan pakaian, bahkan

kadang-kadang mengalami kelaparan. Kemudian golongan

kami sebagai pimpinan baru telah mengangkat nasib para

jembel sehingga mereka dapat memakai pakaian baik dan

makan sekenyangnya setiap hari. Tak perlu dibicarakan

panjang lebar siapa yang lebih patut menjadi pemimpin kaipang.

Sudah terbukti pula betapa kelima orang kai-pang yang

terbunuh berjasa besar terhadap saudara-saudara semua. Kini

muncul manusia sombong ini yang akan merampas kedudukan

dan akan menyeret kembali saudara-saudara ke dalam lembah

kesengsaraan!”

Mendengar ini, terbangun semangat mereka yang tadinya

berlutut ketakutan. Mereka teringat betapa dahulu, semenjak

dipimpin oleh Yu Jin Tianglo dan oleh Gak-lokai serta Ciamlokai,

para anggauta hidup di bawah tekanan peraturanperaturan

keras sekali, bahkan mereka itu diharuskan hidup

seadanya dan sederhana, sesuai dengan pendapatan serta

hasil sumbangan para dermawan. Kemudian setelah Gak-lokai

dan Ciam-lokai diusir dan pimpinan dipegang oleh lima orang

ketua baru, uang mengalir masuk dengan berlebihan sehingga

mereka dapat hidup jauh lebih baik, bahkan dapat pula

bermewah-mewahan! Maka ketika mendengar ucapan tosu

itu, mereka lalu saling bicara dan keadaan menjadi berisik

kembali.

Suling Emas tercengang ketika melihat tosu yang

membunyikan kedua telapak tangan tadi. Ia maklum bahwa

tosu itu bukan sembarang orang, telah memiliki kepandaian

tinggi dan tentu seorang ahli Tiat-ciang-kang (Ilmu Tangan

Besi) yang telah melatih kedua telapak tangannya sehingga

menjadi kuat dan keras laksana baja. Apalagi mendengar tosu

itu mengaku sebagai orang sebawahan Bu-tek Siu-lam, ia

menjadi tertarik. Memang selama perantauannya, ia

mendengar akan munculnya seorang tokoh besar berjuluk Butek

Siu-lam ini.

Akan tetapi sebelum Suling Emas menjawab, tiba-tiba

terdengar suara Gak-lokai berteriak keras. “Sungguh tamutamu

yang tak tahu malu mencampuri urusan dalam Khongsim

Kai-pang! ” Kemudian tubuh dua orang kakek pengemis

kurus yaitu Gak-lokai dan Ciam-lokai sudah melayang dan

meloncat ke depan Suling Emas menghadapi dua orang tosu

itu.

Ciam-lokai menghampiri Suling Emas dan berkata halus,

“Mohon Pangcu sudi membiarkan kami berdua memberi

hajaran kepada tosu-tosu lancang ini.”

Suling Emas cepat membisikkan nasihatnya. “Baiklah, Ciamlokai,

kau nanti hadapi Si Hidung Besar itu dan awaslah

terhadap telapak tangannya. Dia ahli Tiat-ciang-kang dan

jangan sampai mengadu telapak tangan, akan tetapi serang

kedua jalan darah di belakang sikunya.” Karena bisikan ini

dilakukan seperti tanpa menggerakkan bibir, hanya dengan

pengerahan, tenaga khikang yang sempurna, maka yang

mendengar hanya Ciam-lokai seorang. Kakek bertongkat butut

inimengangguk-angguk. Ia percaya penuh akan kelihaian

ketuanya yang sakti.

Sementara ini, Gak-lokai Si Kakek Pengemis yang bertubuh

bongkok, sudah melangkah maju, mengerahkan khi-kang dan

berkata lantang sehingga suaranya mengatasi suara berisik

para anggauta Khong-sim Kai-pang yang seketika menjadi

tenang dan mendengarkan penuh perhatian.

“Sejak kapankah Khong-sim Kai-pang mempunyai

penasihat-penasihat segala macam hidung kerbau? Urusan

kai-pang adalah urusan dalam dan tidak boleh sama sekali

dicampuri oleh orang luar. Hal ini sudah menjadi peraturan

kai-pang sejak dipimpin oleh mendiang Yu Jin Tianglo dahulu.

Sekarang ada tamu-tamu tak diundang yang berani lancang

mencampuri urusan dalam, hal ini tak lain berarti sebuah

tantangan!”

Dua orang tosu itu menjadi merah mukanya. Tosu yang

alisnya putih melangkah maju dan membentaki “Jembel

busuk! Tak tahukah kau siapa kami berdua? Kami adalah

utusan Locianpwe Bu-tek Siu-lam! Berani kau menghina

utusan beliau?”

Gak-lokai menjura dan menjawab suaranya tegas dan

nyaring. “Kami sama sekali tidak menghina siapapun juga,

apalagi seorang tokoh besar seperti Locianpwe Bu-tek Siu-lam.

Sebaliknya kalian inilah yang sudah menghina ketua kami!

Kalian sebagai orang luar mana tahu peraturan dan sifat

Khong-sim Kai-pang kami? Perkumpulan kami bukanlah

perkumpulan segala macam jembel yang kelaparan dan yang

hanya memikirkan tentang makanan dan pakaian belaka! Akan

tetapi, kai-pang kami adalah perkumpulan orang-orang yang

menjunjung tinggi kegagahan, orang-orang yang bertugas

membela kebenaran dan keadilan tanpa pamrih, cukup

dengan hidup sederhana atas kerelaan dan belas kasihan

orang yang lebih mampu. Kalian bicara tentang hidup serba

kecukupan dan menganggap penyelundup-penyelundup itu

menjunjung tinggi derajat perkumpulan kami? Huh, bahkan

merendahkan derajat, karena perbaikan nasib itu dilakukan

dengan cara yang keji dan dengan cara yang lebih jahat

daripada perampok-perampok hina!

“Setan kelaparan! Gak-lokai dan Ciam-lokai, pinto sudah

tahu bahwa kalianlah yang menjadi penyakit dalam Khong-sim

Kai-pang. Kalian mengandalkan apa berani bicara seperti itu di

depan pinto?” bentak tosu hidung besar dengan marah.

“Pergilah, kalian terlalu rendah untuk berurusan dengan pinto.

Biarkan orang yang sombong Yu Kang Tianglo bicara dengan

kami!”

“Heh-heh-heh!” Hidung kerbau macam kalian ini mana ada

harga untuk dilayani oleh Pangcu kami yang mulia?” Kalau

kalian hendak menantang, cukup kami yang akan

melayaninya. Rekan Gak, kau minggirlah, biarkan tongkat

bututku menghajar anjing hidung besar ini!”

Gak-lokai tertawa lalu meloncat ke pinggir, lalu tubuhnya

melayang ke bawah dan tahu-tahu ia telah menyelinap ke

dalam ruangan depan kuil dan sebelum lain orang berani

mencegah, ia sudah meloncat kembali membawa tiga buah

bangku. Ia mempersilakan Suling Emas duduk di atas bangku,

kemudian ia sendiri duduk di sebelah kiri Suling Emas. Bangku

kosong ke tiga adalah diperuntukkan Ciam-lokai.

“Ha-ha, Tosu Alis Putih. Kami tidak tahu kau siapa, karena

kau tamu tak diundang, silakan kau berdiri saja di sudut situ!”

kata Gak-lokai kepada tosu ke dua. Tosu ini marah sekali,

mengepal tinju dan mendelik.

“Eh-eh, sabar dulu. Giliran kita belum tiba. Nanti setelah

Saudara Ciam membereskan temanmu Si Hidung Kerbau,

barulah kita boleh saling tonjok!” kata pula Gak-lokai. Tosu

Alis Putih itu hanya membuang ludah melampiaskan

marahnya, kemudian ia memandang ke tengah panggung di

mana Ciam-lokai sudah berhadapan dengan kawannya.

Ciam-lokai dengan menggerak-gerakkan tongkat bambunya

yang butut, yang tadi ia pinjamkan kepada Suling Emas,

menghadapi tosu hidung besar, tersenyum lebar dan berkata,

suaranya lantang.

“Eh, tosu yang tak tahu diri! Engkau mengaku tamu, akan

tetapi kau telah tahu akan namaku dan rekan Gak, berarti

kalian ini bukan sembarang tamu, melainkan tamu yang

menyelidiki keadaan Khong-sim Kai-pang. Setelah kau

mengetahui namaku, sudah sepatutnya kau mengaku siapa

sebenarnya kau ini agar aku tahu pula siapa nama orang yang

nanti roboh di tanganku! ”

Ucapan ini diucapkan halus dan sewajarnya, akan tetapi

tetap saja membikin panas telinga karena sifatnya tekebur!

Tosu yang hidungnya besar itu usianya sudah tua, mungkin

hanya beberapa tahun lebih muda daripada Ciam-lokai, akan

tetapi wajahnya masih gagah dan kulit mukanya kemerahan,

rambutnya masih hitam. Ia menekan kemarahan hatinya dan

tersenyum mengejek lalu berkata.

“Jembel tua bangka yang sudah mau mampus, dengarlah

baik-baik! Pinto bernama Bu Keng Cu, sedangkan dia itu

adalah Suhengku bernama Bu Liang Cu. Kami berdua adalah

anak murid Im-yang-kauw di perbatasan dunia barat.

Kedatangan kami di Khong-sim Kai-pang ini adalah mewakili

Bengcu (Pimpinan) kami yaitu Locianpwe Bu-tek Siu-lam untuk

memenuhi undangan pimpinan Khong-sim Kai-pang. Sekarang

pimpinan Khong-sim Kai-pang yang menjadi sahabat kami dan

tuan rumah, telah tewas di tangan Yu Kang Tianglo, tentu saja

pinto berdua takkan dapat tinggal diam. Kalau kau sudah

bosan hidup hendak mewakili Yu Kang Tianglo, silakan. Akan

tetapi jangan lupa bahwa pinto sudah menasihatimu supaya

kau mundur saja karena kau bukanlah lawan pinto, jembel

tua!”

Wajah Ciam-lokai menjadi pucat sekali. Memang Ciam-lokai

ini mempunyai keadaan yang aneh. Orang lain kalau marah

akan merah sekali mukanya, akan tetapi Ciam-lokai menjadi

pucat! Ia marah karena merasa kalah bicara. Siapa kira, tosu

ini pandai berdebat dan kini ia yang tadinya hendak

menyombong, oleh tosu yang lemas lidah itu seakan-akan

diseret turun menjadi terbalik keadaannya! Selagi ia memutarmutar

otak untuk mencari jawaban yang tepat dan tak kalah

pedasnya, tosu itu sudah tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Nah, mukamu sudah pucat seperti mayat,

jembel tua. Pinto khawatir kau akan roboh pingsan dan tewas

karena takut! Lebih baik sebelum terlambat, kau mundurlah

dan biarkan Yu Kang Tianglo saja yang melayani pinto!”

Ciam-lokai makin pucat, mulutnya bergerak-gerak namun

tidak dapat mengeluarkan suara saking marahnya. Ia tahu

bahwa terhadap tosu ini, ia kalah bicara dan memang dalam

hal kepandaian berdebat, rekannya Gak-lokai lebih pandai,

maka ia hanya dapat menoleh ke arah Gak-lokai dengan muka

masih pucat dan sinar mata minta bantuan.

“Heh-heh-heh, Saudara Ciam yang baik. Mengapa kau

terheran-heran mendengar tosu hidung kerbau Bu Keng Cu itu

bernyanyi semerdu ini? Apakah kau lupa bahwa seekor burung

gagak sekalipun kalau hampir mampus dapat bernyanyi

merdu? Akan tetapi Si Hidung Besar ini suaranya mengandung

hawa busuk beracun, maka lebih baik lekas kauusir dia pergi!”

Muka Ciam-lokai yang tadi pucat kini menjadi merah

kembali. Ia menghadapi Bu Keng Cu sambil menyeringai lebar.

“Nah, kau sudah mendengar sendiri. Masih tidak mau pergi?

Besar-benar muka tebal!”

Bu Keng Cu marah sekali. Tanpa bicara lagi kembali ia

menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan terdengarlah

suara nyaring seperti dua buah benda keras digosok.

Kemudian secara tiba-tiba dan dengan dahsyat sekali, tosu itu

sudah menerjang maju, kedua tangannya terbuka, yang kanan

memukul ke arah kepala, yang kiri mencengkeram ke arah

dada. Telapak tangannya berwarna hitam mengkilap dan

ketika ia menerjang, sambaran angin pukulannya dahsyat

sekali.

Ciam-lokai terkejut dan cepat ia mengelak sambil meloncat

ke kiri dan tongkat bututnya bergerak secara aneh, berkelebat

cepat dan terdengarlah suara “plak-plak!” dua kali disusul

seruan Bu Keng Cu yang tubuhnya terhuyung-huyung ke

depan.

Gak-lokai bersorak, diikuti oleh para pengemis

bawahannya. Memang lucu sekali pertandingan dalam gebrak

pertama itu. Bu Keng Cu kelihatan amat dahsyat dan ganas

serangannya tadi, sedangkan gerakan Ciam-lokai amat cepat

dan aneh dan dalam gebrakan pertama saja tongkat

bambunya sudah berhasil menggebuk punggung lawan dua

kali dan mendorong pantat satu kali. Sayang bahwa gebukangebukan

itu dilakukan terlalu cepat sehingga tak bertenaga

sehingga tidak cukup hebat untuk dapat merobohkan lawan

sekuat tosu itu.

Memang ilmu tongkat yang dipergunakan oleh Ciam-lokai

tadi amat luar biasa. Itulah ilmu tongkat Go-bwee-tung

(Tongkat Ekor Buaya) ciptaan mendiang Yu Jin Tianglo.

Gerakan-gerakannya aneh sekali dan ilmu tongkat ini sanggup

untuk “mencuri” beberapa gebukan walau menghadapi ilmu

silat yang amat tinggi sekalipun, karena sifat-sifatnya seperti

ekor buaya yang dapat menyabet dari belakang tanpa didugaduga

lawan. Hanya sayangnya, Yu Jin Tianglo dahulu

menciptakan ilmu tongkat ini hanya untuk menghukum dan

menghajar anak buah yang dahulu menyeleweng, maka

semua pukulannya bukan merupakan pukulan maut. Dan

karena Yu Jin Tianglo melihat bakat baik pada Ciam-lokai

untuk menjadi pimpinan pengemis maka ia sengaja

menurunkan ilmu ini kepadanya.

Karena sifatnya hanya untuk menghukum, bukan

membunuh, maka ilmu tongkat Go-bwee-tung ini tentu saja

tidak banyak paedahnya kalau dipergunakan dalam

pertandingan sungguh-sungguh di mana kedua lawan

berusaha keras untuk merobohkan dan kalau perlu saling

membunuh. Betapapun juga, melihat bahwa dalam gebrakan

pertama saja pengemis tua itu sudah berhasil menggebuk

lawannya, para pengemis yang pro kepada Ciam-lokai

bersorak-sorai gembira. Sebaliknya Bu Keng Cu menjadi kaget

sekali dan tak berani menganggap rendah lawannya yang

ternyata memiliki ilmu tongkat yang hebat itu. Ia berseru

keras dan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya sehingga

terdengar suara nyaring, dan kini di antara kedua telapak

tangannya itu tampak asap! Itulah puncak kehebatan

penyaluran tenaga Tiat-ciang-kang! Kemudian tosu itu kembali

menyerang, kali ini terjangannya jauh lebih hebat daripada

tadi, juga pukulannya cepat dengan kedua tangan bergerakgerak

secara aneh, yang kanan lambat-lambat akan tetapi

yang kiri cepat-cepat.

Ciam-lokai bukan seorang bodoh. Sudah banyak

pengalamannya dalam bertempur, dan ia maklum pula akan

kelihaian tosu ini. Ia tidak berani lagi main-main dan

mengandalkan Go-bwee-tung, maka ia cepat menggeser kaki

ke kanan dan merendahkan tubuhnya, menghindarkan.

pukulan kiri lawan yang amat cepat datangnya itu. Akan tetapi

siapa kira, begitu tubuhnya merendah tahu-tahu pukulan

tangan kanan yang tadinya bergerak lambat, sudah tiba dan

dari atas menghantam ke arah kepalanya! Ia kaget sekali dan

cepat-cepat ia mengangkat tongkat menangkis sambil

mengerahkan kedua tangannya yang memegang kedua ujung

tongkatnya.

“Krakk!”

Tongkat itu patah menjadi dua! Ciam-lokai meloncat ke

belakang dan wajahnya menjadi pucat. Bukan saja ia

menderita malu, juga ia merasa sayang sekali bahwa tongkat

pusaka pemberian mendiang Yu Jin Tianglo itu kini patah

menjadi dua!

Segera terdengar sorakan para pengemis baju bersih yang

berpihak kepada dua orang tosu ini, karena keadaan kini

berubah untuk keuntungan Si Tosu. Ciam-lokai menggigit bibir

dan ia menerjang maju dengan dua batang tongkat pendek di

kedua tangan. Kini ia menyesal mengapa tadi ia tidak segera

menggunakan siasat yang dibisikkan ketuanya kepadanya.

Maka kini begitu menerjang, ia segera menggunakan dua

batang tongkat pendeknya untuk menghujani kedua siku

tangan lawan dengan totokan-totokan cepat.

“Aiihhh….!” Bu Keng Cu berseru kaget dan sibuklah ia

meloncat ke sana kemari untuk menghindarkan totokan itu. Di

dalam hatinya, ia terkejut bukan main. Bagaimana kakek

jembel ini dalam dua gebrakan saja sudah dapat mengetahui

kelemahan Ilmu Tiat-ciang-kang yang dipergunakannya?

Sampai tiga puluh jurus lebih, Ciam-lokai mendesak

lawannya dengan totokan-totokan maut yang dipusatkan pada

kedua siku tangan lawan. Bu Keng Cu mempergunakan

kegesitan tubuhnya untuk menghindarkan totokan-totokan itu,

kemudian secara tiba-tiba gerakannya berubah. Sejurus

gerakannya kasar dan keras, pada jurus berikutnya berubah

halus lembek, kemudian berubah lagi. Dalam lima enam jurus

saja Ciam-lokai sudah hampir terkena tusukan jari tangan

yang sekeras baja, dan untung ia masih sempat membuang

tubuh ke belakang sehingga hanya ujung bajunya yang bolong

ketika tercium ujung jari Bu Keng Cu. Jari menusuk ujung baju

bisa bolong menyatakan bahwa jari-jari itu cukup kuat untuk

menusuk bolong logam keras!

Setelah Bu Keng Cu menjalankan ilmu silat aneh yang

sebentar lembek sebentar keras, cepat dan lambat bergantiganti

dan selalu berubah, Ciam-lokai menjadi terdesak hebat.

Kini sukar baginya untuk mengancam kedua siku lawan,

karena kedua tangan lawan itu melakukan gerakan-gerakan

yang selalu berubah sifatnya sehingga sukar diduga dan sukar

pula dilayani.

Suling Emas yang menyaksikan jalannya. pertandingan

sejak tadi, diam-diam harus mengakui keunggulan tosu itu

atas kepandaian Ciam-lokai. Apalagi ketika tosu itu mainkan

ilmu silat yang dikenalnya sebagai Ilmu Silat Im-yang-kun, ia

tahu bahwa kalau dilanjutkan, Ciam-lokai akan kalah dan

mungkin akan tewas dalam pertempuran ini. Maka ia lalu

mengerahkan tenaga khi-kangnya, mulutnya berkemak-kemik

tanpa mengeluarkan suara.

Akan tetapi, Ciam-lokai yang sedang sibuk menghadapi

desakan lawan yang lihai, tiba-tiba mendengar suara ketuanya

itu berbisik jelas sekali di pinggir telinganya. “Hantam lutut

kanannya, totok pundak kirinya!”

Ciam-lokai yang sedang terdesak hebat dan sibuk

menyelamatkan diri itu, mendengar suara ketuanya, secara

membuta lalu mentaati anjuranini. Ia menggerakkan kedua

tangan secara beruntun, menghantamkan tongkat kiri ke arah

lutut kanan lawan sedangkan tongkat kanannya menotok jalan

darah Kin-ceng-hiat-to di pundak kiri.

Bu Keng Cu terkejut setengah mati. Memang pada saat itu,

biarpun ia sedang mendesak lawan, bagian lutut kanan dan

pundak kiri inilah yang terbuka, sedangkan perubahan gerak

jembel tua itu benar-benar aneh dan tidak terduga, begitu

langsung menyerang dua bagian yang lemah ini. Hampir saja

lutut kanannya kena dihajar, maka cepat ia mencelat ke

belakang lalu menerjang maju lagi dengan kemarahan

meluap.

“Hantam pelipis kirinya dan totok lambung kanannya!”

Kembali Ciam-lokai mentaati bisikan ini dengan hati girang

setelah melihat betapa petunjuk pertama tadi hampir berhasil.

Kembali Bu Keng Cu kaget setengah mati dan hanya dengan

susah payah ia mampu membebaskan diri dari bahaya maut.

Ia terheran-heran dan makin penasaran dan marah. Jelas

bahwa ia menang unggul dan ia sudah yakin akan

memperoleh kemenangan, akan tetapi mengapa dalam

keadaan terdesak, jembel itu secara tiba-tiba merobah

gerakan secara begitu aneh, kadang-kadang berlawanan

dengan gerakan pertama, bukan seperti gerakan orang

bermain silat lagi, akan tetapi selalu tepat menyerang bagianbagian

tubuhnya yang tak terjaga?

Apakah jembel ini mempunyai “mata ke tiga” yang dapat

melihat bagian-bagian terbuka itu? Hal seperti ini hanya dapat

dan mungkin dilakukan oleh orang yang sudah mengenal ilmu

silatnya Im-yang-kun. Akan tetapi andaikata Si Jembel Tua ini

mengenal bahkan ahli dalam ilmu silat Im-yang-kun, mengapa

gerakan-gerakannya begitu tiba-tiba dan seperti dipaksakan?

“Injak kaki kirinya dan tusuk perutnya, kalau ia membalik,

tendang pantatnya!” kembali bisikan itu diturut oleh Ciamlokai

dengan taat. Pada saat itu Bu Keng Cu sedang

mendesaknya dengan tendangan kaki kanan dan ia baru saja

menyelinap ke kiri untuk mengelak, maka secepat kilat ia lalu

mengangkat kakinya menginjak secara tiba-tiba dan keras ke

arah kaki kiri tosu itu, berbareng ia menusukkan tongkatnya

ke arah pusar lawan.

“Hayaaaa….!” Bu Keng Cu terkejut dan cepat ia memutar

tubuh untuk menghindarkan dua serangan berbahaya ini.

Akan tetapi siapa duga baru saja tubuhnya terputar, sebuah

tendangan tepat mengenai pantatnya sehingga tanpa dapat

dicegahnya lagi, tubuhnya terlempar ke bawah panggung!

Tepuk sorak riuh-rendah menyambut kemenangan Ciamlokai

ini, sebaliknya para pengemis pengikut kaum sesat

menjadi pucat wajahnya. Kiranya tosu yang menyombongkan

diri sebagai utusan Bu-tek Siu-lam itu ternyata hanya sebuah

gentong kosong belaka, kalah oleh Ciam-lokai yang tua dan

kurus kering!

Pada saat itu, di antara riuh-rendahnya para pengemis

yang menjagoi Ciam-lokai bersorak-sorak, berkelebat

bayangan Bu Liang Cu, dan begitu berhadapan dengan Ciamlokai,

ia langsung mengirim serangan bertubi-tubi,

mengeluarkan jurus-jurus paling lihai dari Im-yang-kun.

Kiranya tosu yang menjadi suheng Bu Keng Cu ini tadi juga

menyaksikan keanehan terjadi dalam pertandingan itu. Ia

yakin bahwa Im-yang-kun mengatasi ilmu silat Ciam-lokai,

akan tetapi mengapa pada saat-saat tertentu jembel itu

merubah gerakannya dan begitu tepat mengisi lowongan yang

melemahkan pertahanannya? Oleh karena inilah, dengan hati

penasaran ia lalu maju dan langsung menggunakan jurusjurus

Im-yang-kun untuk mencoba apakah benar-benar Ciamlokai

paham dan ahli Ilmu Silat Im-yang-kun. Hebat bukan

main terjangan Bu Liang Cu karena ia lebih pandai dari pada

sutenya!

Karena kejadian ini tak terduga-duga dan tiba-tiba, maka

Ciam-lokai tak dapat mengharapkan bisikan-bisikan ketuanya,

maka cepat ia memutar kedua tongkat dan meloncat ke

belakang. Akan tetapi karena perhatiannya dicurahkan untuk

menghindarkan serangan tangan kanan Bu Liang Cu, ia

kurang cepat menghindar ketika tangan kiri tosu itu bergerak

cepat sekali menyambar pergelangan tangan kanannya. Jarijari

tosu itu sudah menyentuh kulit lengannya. Ciam-lokai

terkejut, menarik tangannya. Akan tetapi ia tidak dapat

mencegah lagi tongkatnya yang di tangan kanan terampas

sedangkan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang!

Keadaannya berbahaya sekali karena jika tosu itu melanjutkan

serangannya, celakalah ia!

“Heh, tosu bau, jangan main curang kau.” Tiba-tiba Gaklokai

sudah melayang maju menghadapi Bu Liang Cu.

“Lawanmu adalah aku karena rekanku Ciam-lokai sudah

mengalahkan kawanmu!”

Tosu itu berdongak dan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha!

Siapa yang curang? Suteku tidak pernah kalah oleh jembel

busuk itu. Ada kecurangan tak tahu malu di pihakmu!”

“Benar! Mari kita hadapi mereka, Suheng. Hayo majulah

dan biar kita lihat bersama apakah benar kalian berdua dapat

mengalahkan kami!” Bu Keng Cu berseru dan ia pun sudah

melompat lagi, ke atas panggung, berdiri dekat suhengnya. Ia

memang t idak terluka. Kini kedua orang tosu itu berdiri

berdampingan dan memasang kuda-kuda Im-yang-kun. Ilmu

silat Im-yang-kun ini memang hebat, akan tetapi kalau

dimainkan oleh dua orang, lebih ampuh lagi.

Gak-lokai yang tidak tahu akan bantuan yang dilakukan

diam-diam oleh Suling Emas kepada Ciam-lokai, menjadi

marah sekali. “Saudaraku Ciam, mari kita hajar dua orang tosu

kerbau ini!”

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara halus Suling Emas.

“Tahan dulu Gak-lokai dan Ciam-lokai, kalian mundurlah. Aku

hendak bicara dengan mereka.”

Karena ketua mereka yang memberi perintah, biarpun

ogah-ogahan, kedua orang kakek pengemis itu lalu mundur.

Suling Emas lalu melangkah maju dengan langkah perlahan

dan tenang, menghadapi dua orang tosu yang sudah siap-siap

untuk mengadu nyawa. Biarpun ia menyamar sebagai ketua

kai-pang namun Suling Emas tak dapat menyembunyikan

sikapnya yang halus dan sopan terhadap golongan pendeta.

Maka ia segera menjura dengan hormat dan berkata.

“Ji-wi Toyu, sudah lama sekali saya mendengar tentang Imyang-

kauw sebagai sebuah perkumpulan agama yang besar di

perbatasan barat, bahkan pernah saya mendapat kehormatan

beramah-tamah dengan Kauwcu (Ketua Agama) Sin-hong

Locianpwe. Menurut pendapat saya, jalan hidup yang

ditempuh golongan Ji-wi (Tuan Berdua) dan golongan kaipang

tidaklah banyak bedanya. Namun, dalam urusan partai

masing-masing, tidak selayaknya kalau kedua pihak saling

mencampuri. Harap Ji-wi sudi mendengar alasanku ini dan

persilakan Ji-wi menghentikan semua kesalahpahaman ini.”

Dua orang tosu itu saling pandang, kemudian Bu Liang Cu

yang beralis putih segera berkata, lagaknya angkuh, “Yu Kang

Tianglo, bagaimana pinto berdua dapat bicara dengan orang

yang hanya mengaku bernama Yu Kang Tianglo akan tetapi

yang menutupi mukanya?”

Suling Emas menarik napas panjang. “Sesungguhnya saya

sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari

dunia ramai. Akan tetapi mendengar betapa kai-pang-kai-pang

dicemarkan oleh penyelundup-penyelundup sesat, terpaksa

saya turun tangan. Hanya karena kepentingan kai-pang saya

turun tangan, bukan kepentingan pribadi, maka apa perlunya

saya memperkenalkan muka? Harap Ji-wi Toyu suka

memandang perkenalan saya dengan Sin-hong Locianpwe

Kauwcu dari Im-yang-kauw dan menghabiskan permusuhan

yang tiada sebabnya ini.”

Tiba-tiba kedua orang tosu itu tertawa mengejek dan kini

Bu Keng Cu yang berkata dengan suara nyaring, agaknya

dengan maksud agar didengar oleh semua pengemis yang

hadir di situ.

“Ha-ha! Perkenalanmu dengan Sinhong Locianpwe tak

perlu kausombongkan! Kakek itu sudah tewas karena

kesalahan terhadap Locianpwe Bu-tek Siu-lam! Kini Locianpwe

Bu-tek Siu-lam yang memimpin kami, bahkan beliau pula yang

akan memimpin semua kai-pang di dunia. Engkau ini berani

lancang tangan membunuh lima orang pimpinan Khong-sim

Kai-pang dan mengangkat diri sendiri menjadi bengcu di sini

tanpa perkenan Locianpwe Bu-tek Siu-lam. Sungguh tak tahu

diri!”

Suling Emas adalah orang yang sudah matang jiwanya.

Kesabarannya sudah sampai pada dasar batinnya, maka ia

pun tidak marah mendengar ucapan yang sombong ini.

Namun, ia terkejut juga mendengar bahwa Ketua Im-yangkauw

yang memang pernah dikenalnya itu tewas di tangan

Bu-tek Siu-lam. Ia tahu bahwa Ketua Im-yang-kauw itu

seorang pendeta yang suci, juga memiliki ilmu kepandaian

tinggi. Kalau Ketua Im-yang-kauw itu sampai terbunuh oleh

Bu-tek Siu-lam, terbuktilah berita bahwa Bu-tek Siu-lam

memiliki kepandaian yang hebat. Jelas bahwa tokoh ini

merupakan ancaman di dunia.

“Hemm, Ji-wi Toyu tak dapat menerima kata-kata halus.

Masa bodoh dan terserahlah, karena saya sebagai orang

Khong-sim Kai-pang, tetap hendak mempertahankan kai-pang

dari tangan-tangan jahat, juga menghukum mereka yang

menyeleweng daripada peraturan kai-pang.”

“Bagus. Tadi dengan Coam-im-kang (Tenaga Mengirim

Suara) kau telah membantu kakek jembel dan mengalahkan

Suteku secara curang. Sekarang lawanlah kami berdua secara

berterang. Hendak kami lihat apakah kau pantas menjadi

Ketua Khong-sim Kai-pang.”

Dengan sikap tenang Suling Emas menjawab. “Ji-wi Toyu,

silakan maju. Saya siap menerima pengajaran!” Suling Emas

maklum bahwa dua orang tosu ini pun merupakan

penyeleweng-penyeleweng daripada agama mereka maka ia

menganggap perlu memberi hajaran kepada mereka, selain

demi kebaikan mereka sendiri, juga agar menundukkan sikap

para pengemis yang hendak menyeleweng mengandalkan

pengaruh luar. Pernah ia bertemu dengan Ketua Im-yangkauw

yang berjuluk Sin-hong (Angin Sakti), dan mereka telah

bertukar pendapat tentang ilmu silat. Ketua Im-yang-kauw itu

merasa tunduk akan pengertian Suling Emas, bahkan

berterima kasih sekali karena mendapat petunjuk-petunjuk

berharga, maka sebagai balas kebaikan, ketua itu telah

memberikan dasar-dasar Im-yang-kun dan minta supaya

ditunjuk kesalahan-kesalahannya. Karena ini maka tentu

Suling Emas sudah mengenal baik dasar gerakan Im-yang-kun

sehingga tadi ia dapat memberi petunjuk kepada Ciamlokai

untuk mengatasi lawan.

Dua orang tosu itu, apalagi Bu Liang Cu, maklum bahwa

ketua kai-pang ini amat lihai. Seorang yang sudah dapat

menguasai Ilmu Coam-im-kang, yaitu mengirim suara dari

jarak jauh dengan kekuatan khikang, adalah seorang yang

sudah memiliki tenaga sakti yang hebat. Akan tetapi karena

mereka berdua yakin akan kedahsyatan Im-yang-kun yang

dimainkan oleh mereka berdua maka mereka tidak menjadi

gentar dan ingin menebus kekalahan yang tadi.

Dari kiri dan kanan, dua orang tosu itu lalu menyerang. Bu

Liang Cu menggunakan Im-kang (Tenaga Lemas) menyerang

dari kiri, mengarah lambung dengan pukulan yang amat

perlahan dan lambat, sebaliknya dari kanan Bu Keng Cu sudah

menerjang dengan cepat dan kuat sekali, mempergunakan

Yang-kang (Tenaga Kasar). Kehebatan Im-yang-kun ini adalah

perubahan dua macam tenaga yang berlawanan. Dua orang

tosu itu dapat sewaktu-waktu merobah tenaga mereka

sehingga lawan yang dikeroyok dua akan menjadi bingung

menghadapi penyerangan-penyerangan tenaga yang

berlawanan dan berubah selalu itu. Suling Emas maklum akan

hal ini, akan tetapi tentu saja ia sama sekali tidak bingung

karenanya. Apalagi baru dua orang tosu itu, biar ketuanya

sendiri belum mampu menandingi ilmu-ilmunya. Begitu

melihat datangnya serangan dua orang tosu yang berlawanan

tenaganya dan dilakukan secara berbareng ini, Suling Emas

sama sekali tidak mengelak maupun menangkis. Pukulan dari

kiri ke arah lambung dan dari kanan menuju leher itu

diterimanya sambil mengerahkan Iweekang, kedua tangannya

bergerak dan mulutnya berseru, “Pergilah!”

“Desss…., plakkk….! Wuuuuttt….!”

Dua pukulan itu tepat mengenai lambung kiri dan leher

kanan Suling Emas, akan tetapi tubuh pendekar sakti itu

bergoyang sedikit pun tidak, sebaliknya kedua tangannya

sudah menerkam baju kedua lawan bagian dada dan sekali ia

menggerakkan kedua lengan, tubuh dua orang tosu itu

terlempar jauh ke bawah panggung!

Kedua tosu itu kaget setengah mampus. Akan tetapi

mereka bersyukur sekali bahwa lawan yang sakti itu masih

menaruh kasihan kepada mereka sehingga mereka terbanting

ke atas tanah dalam keadaan berdiri sehingga hanya

terhuyung-huyung saja. Kalau terbanting dengan kepala atau

badan lebih dahulu, setidaknya mereka tentu akan babakbelur!

Tahulah mereka bahwa “Yu Kang Tianglo” itu benarbenar

amat lihai, maka tanpa banyak cakap lagi mereka

berdua lalu ngeloyor pergi secepatnya.

Semua pengemis yang setia bersorak. Sebaliknya mereka

yang menyeleweng menjadi pucat dan berlutut ketakutan.

Akan tetapi Suling Emas mengampuni mereka, hanya

menyuruh mereka itu mengaku terus terang akan

penyelewengan mereka, mengembalikan semua rampasan

kepada yang berhak. Gak-lokai dan Ciam-lokai membantu

Suling Emas meneliti semua bekas penyeleweng, menurunkan

kedudukan dan bahkan membagi-bagi hukuman yang ringan

namun cukup meyakinkan hati mereka.

Atas permohonan Gak-lokai dan Ciam-lokai, Suling Emas

tinggal di kuil itu sampai beberapa lama untuk menjaga kalaukalau

golongan sesat datang lagi mengacau.

“Harap Pangcu menaruh kasihan kepada kami semua,”

demikian kata Gak-lokai. “Kekalahan pihak sesat yang tadinya

menguasai Khong-sim Kai-pang, tentu takkan diterima begitu

saja oleh kawan-kawan mereka. Di samping itu, juga

kemenangan dan kembalinya Pangcu di sini akan

membangkitkan semangat bagi para anggauta kai-pang yang

lain. Biarlah kesempatan ini kita pergunakan untuk

mengundang, kai-pang-kai-pang lain sehingga terdapat

kesatuan yang kuat untuk menghadapi gangguan kaum sesat.

Setelah Pangcu memimpin pertemuan itu dan keadaan kita

benar-benar kuat, barulah Pangcu dapat meninggalkan kami.”

Suling Emas merasa kasihan dan menyatakan

kesanggupannya. Semua pengemis menjadi gembira sekali

dan undangan lalu dikirim. Bendera Khong-sim Kai-pang kini

berkibar megah di atas kuil. Di waktu senggang, Suling Emas

menurunkan beberapa ilmu pukulan untuk menyempurnakan

kepandaian Gak-lokai dan Ciam-lokai yang ia harapkan akan

memimpin Khong-sim Kai-pang kalau ia meninggalkan kaipang

itu. Dua orang kakek itu menjadi girang sekali dan

karena mereka itu memang dua orang ahli yang sudah tahu

akan dasar-dasar ilmu silat tinggi, maka dalam beberapa hari

saja mereka dapat menguasai rahasia ilmu pukulan yang

diajarkan Suling Emas.

Beberapa hari kemudian, hari yang ditentukan untuk

pertemuan para kaipang telah tiba. Semenjak pagi, kuil yang

menjadi pusat Khong-sim Kai-pang dikunjungi banyak sekali

rombongan pengemis yang dipimpin ketua masing-masing.

Mereka ini datang dari segala penjuru, merupakan kai-pangkai-

pang yang membawa bendera perkumpulan masingmasing.

Ban-hwa Kai-pang dari Sin-yang, Hwa-i Kai-pang

(Perkumpulan Pengemis Baju Kembang), Ang-tung Kai-pang

(Tongkat Merah) dan masih banyak lagi kai-pang lain yang

hadir. Diantaranya malah tampak wakil-wakil dari Hek-coa Kaipang

dan Hek-peng Kai-pang yang tampak mencolok dengan

pakaian mereka yang bersih dan mentereng!

Tentu saja Suling Emas yang berpandangan tajam itu dapat

menduga kai-pang mana yang menyeleweng dari pada jalan

benar, namun sebagai seorang yang bijaksana, ia

memerintahkan Gak-lokai dan Ciam-lokai untuk menerima

semua kai-pang itu dengan penghormatan yang sama. Semua

bendera kai-pang yang menjadi tamu dipasang di sekeliling

panggung di mana berkibar bendera Khong-sim Kai-pang, dan

para wakil pimpinan kai-pang-kai-pang itu dipersilakan duduk

di sebelah kanan panggung, menduduki kursi-kursi yang

berhadapan dengan kursi ketua yang diduduki oleh Suling

Emas sendiri. Semua anak buah partai-partai ,pengemis itu

duduk mengelilingi panggung, ada yang duduk ada yang

berjongkok, ada yang berdiri.

Pada saat itu, di sebelah luar kumpulan pengemis yang

mengelilingi panggung itu, terdapat seorang pengemis muda

yang tampan dan seorang gadis cantik. Mereka ini bukan lain

adalah Yu Siang Ki dan Kwi Lan! Wajah Siang Ki agak pucat

dan sepasang matanya terbelalak penuh ketegangan. Ia sama

sekali tidak peduli ketika beberapa orang pengemis yang

duduknya paling belakang memandang kepadanya dengan

sinar mata penuh kemarahan. Mereka itu adalah pengemispengemis

baju butut yang tentu saja menjadi marah melihat

Siang Ki yang berpakaian bersih, mengira bahwa pengemis

muda ini tentulah golongan para pengemis aliran baru, yaitu

pengemis-pengemis baju bersih yang dipimpin kaumsesat.

Hati Yu Siang Ki terlampau tegang untuk memperhatikan

sikap mereka itu. Ia memandang ke atas panggung, sinar

matanya berkilat-kilat ketika ia melihat seorang kakek

pengemis bertopi lebar dengan muka ditutup saputangan

duduk di atas kursi ketua Khong-sim Kai-pang.

“Siang Ki, kenapa kau tidak maju dan terjang badut tua

itu?” tanya Kwi Lan ketika menyaksikan sikap pemuda teman

barunya ini.

Yu Siang Ki menggeleng kepala, lalu menjawab sambil

menggerakkan tangan kiri menunjuk ke arah Suling Emas.

“Tidak boleh aku berlaku lancang, Kwi Lan. Memang ketika

mendengar dari pengemis-pengemis di sepanjang jalan bahwa

ada orang yang mengaku sebagai Ayahku datang merampas

kedudukan Ketua Khong-sim Kai-pang, aku menjadi marah

sekali dan berniat untuk membuka kedoknya dan

menyerangnya. Akan tetapi setelah tiba di sini, aku menjadi

ragu-ragu. Demi menjaga nama baik Khong-sim Kai-pang, aku

harus bersabar. Menurut cerita mereka itu, orang yang

mengaku sebagai Ayahku amat aneh dan tinggi ilmunya,

bahkan telah membunuh oknum-oknum jahat yang

memegang pimpinan Khong-sim Kai-pang, bahkan

menghukum para anggauta yang menyeleweng, juga ia

dibantu oleh Gak-lokai dan Ciam-lokai, dua tokoh Khong-sim

Kai-pang yang dulu menjadi sahabat baik dan pembantu

Kakek Yu J in Tianglo. Aku harus menyaksikan dulu sepak

terjangnya, siapa tahu dia itu seorang tokoh pengemis yang

berusaha menyelamatkan Khong-sim Kai-pang dari tangan

oknum-oknum jahat dengan menggunakan nama Ayah untuk

mencari wibawa.”

Kwi Lan mengangguk-angguk. Ia heran mengapa pemuda

ini berpikir sedalam itu padahal kalau menurut dia, orang yang

memalsukan Yu Kang Tianglo yang sudah meninggal, wajib

dikutuk dan dihajar! Coba seandainya yang menghadapi

urusan itu dia sendiri, atau orang-orang seperti Tang Hauw

Lam si Berandal atau Siangkoan Li tentu takkan menunggununggu

dan melihat gelagat. Memang pengemis muda ini lain

lagi sifatnya, hati-hati dan berpandangan luas. Betapapun juga

karena yang dipalsukan namanya adalah ayah pemuda ini,

bukan ayahnya, maka ia pun tinggal diam saja menanti

perkembangannya lebih lanjut.

“Orang sesabar dan selemah engkau baru sekali ini

kujumpai! ” omelnya sambil memandang wajah yang terlalu

tampan untuk menjadi wajah seorang pengemis itu.

Yu Siang Ki juga memandang. Pandang mata mereka

bentrok, bertaut sejenak dan pemuda itu tersenyum.

“Sebelum tahu betul apa kehendak orang itu memalsukan

nama Ayah, bagaimana aku dapat bertindak? Ayah sendiri

memesan agar aku berusaha membela dan membersihkan

Khong-sim Kai-pang. Kalau orang aneh yang memalsukan

nama Ayah itu bermaksud baik dan membela Khong-sim Kaipang,

andaikata Ayah sendiri masih hidup dan berada di sini,

tentu beliau juga tidak akan menghalanginya.”

Kwi Lan tidak berkata apa-apa lagi dan ia hanya menurut

ketika pemuda itu mengajaknya memilih tempat di belakang

akan tetapi dari mana mereka dapat memandang, ke atas

panggung cukup jelas. Mereka berdua duduk dan menonton

dengan penuh perhatian.

Makin lama makin banyaklah pengemis yang datang

memenuhi pekarangan depan kuil yang menjadi markas

Khong-sim Kai-pang itu. Kemudian tampak Gak-lokai dan

Ciam-lokai melangkah maju, memberi hormat kepada Suling

Emas, kemudian mereka berdua menjura ke arah belasan

orang yang duduk di kursi kehormatan yaitu para pimpinan

kai-pang-kai-pang lain yang menjadi tamu. Sebagai wakil

Khong-sim Kai-pang yang menjadi tuan rumah, Gak-lokai lalu

berkata suaranya lantang dan jelas.

“Saudara sekalian yang kami undang telah sudi datang

memenuhi undangan, hal ini amat menggembirakan karena

jelas ternyata bahwa persatuan diantara kai-pang masih erat.

Kami mengundang Saudara sekalian untuk mempererat

persatuan ini dan hendak memperkenalkan Saudara tua kami

yang telah puluhan tahun mengasingkan diri dan kini

berkenan kembali untuk memimpin kita sekalian, yaitu Yu

Kang Tianglo, Pangcu (Ketua) Khong-sim Kai-pang!”

Tepuk sorak menyambut ucapan ini dan Suling Emas

segera bangkit dari tempat duduknya, berdiri dan menjura ke

sekeliling panggung. Melihat tubuh Suling Emas yang tinggi

besar dan tegap, sepasang mata di bawah topi lebar yang

tajam berkilat, muka yang bagian bawahnya ditutupi

saputangan, semua pengemis memandang dengan

bermacam-macam perasaan. Ada yang heran, ada yang

kagum, penuh harapan, curiga dan sebagainya. Puluhan tahun

yang lalu, Yu Kang Tianglo muncul untuk membunuh It-gan

Kai-ong kemudian melenyapkan diri kembali. Tak seorang pun

di antara para pengemis yang belum mendengar namanya,

namun tidak ada yang pernah melihat mukanya. Kini tokoh

besar itu muncul lagi dengan muka tertutup sehingga

bermacam dugaan yang aneh-aneh timbul. Ketika Suling Emas

berdiri, keadaan menjadi sunyi dan semua orang menanti

dengan hati berdebar untuk mendengarkan apa yang hendak

dikatakan oleh Yu Kang Tianglo, tokoh pengemis yang tak

pernah dijumpai orang namun namanya amat terkenal itu.

Dua pasang mata memandang ke arah Suling Emas dengan

penuh perhatian dan juga dengan terheran-heran betapa

beraninya memalsukan nama orang yang sudah meninggal

dunia. Kwi Lan terheran bercampur marah sedangkan Yu

Siang Ki terheran dan ingin sekali tahu siapa orang itu dan apa

kehendaknya.

“Saudara-saudara para pimpinan dan anggauta kai-pang!”

Suara Suling Emas lantang dan nyaring, akan tetapi halus.

“Maafkan bahwa saya menutupi muka, karena memang

sesungguhnya bukan maksud saya mencari ketenaran diri

dengan hadir saya di sini. Sudah semenjak dahulu saya selalu

berusaha menyembunyikan diri dan menjauhkan diri dari pada

urusan dunia. Akan tetapi, dua kali saya terpaksa

menampilkan diri, pertama kali dahulu di waktu It-gan Kai-ong

mengotorkan dunia pengemis dengan kejahatannya.

Sekarang, mendengar betapa dunia pengemis kembali

diselundupi kaum sesat, mau tidak mau saya terpaksa

menampilkan diri untuk menegakkan kembali kebenaran dan

kebersihan di dunia pengemis. Terutama sekali Khong-sim Kaipang

yang semenjak mendiang Ayah saya dahulu merupakan

kai-pang yang bersih dan gagah ternyata telah diselundupi

oknum-oknum jahat yang mengangkat diri sendiri menjadi

pimpinan dan menyelewengkan kai-pang ke jalan sesat.

Terpaksa saya turun tangan membasmi mereka. Karena itu,

dalam kesempatan ini saya peringatkan kepada saudarasaudara

pimpinan kai-pang lain agar berhati-hati dan bersatu

padu untuk menghalau kaum sesat yang hendak mencari

tempat dan menguasai kai-pang.”

“Bagus, bagus.”

“Akur….! Akur….!”

Para pengemis bertepuk sorak. Yu Siang Ki menganggukangguk

dan hatinya lega. Kiranya benar seperti dugaannya.

Orang aneh ini sengaja memalsukan nama mendiang ayahnya

dengan maksud baik, yaitu hendak mengandalkan nama

ayahnya untuk mempengaruhi kai-pang dan mengajak mereka

melawan kaum sesat. Ia menoleh ke arah Kwi Lan yang juga

memandang ke atas panggung dengan mata terbelalak. Pada

saat itu, Kwi Lan menyentuh tangannya.

“Siang Ki, lihat….!”

Yu Siang Ki cepat menengok dan matanya tajam masih

sempat melihat sinar hitam melayang ke arah leher dan

lambung orang aneh yang memalsukan nama ayahnya itu.

Jelas bahwa sinar itu adalah senjata rahasia yang halus sekali,

yaitu jarum-jarum rahasia!

“Celaka!” bisiknya khawatir. Akan tetapi ia dan Kwi Lan

memandang dengan melongo ketika Suling Emas dengan

tenang menerima jarum-jarum itu dengan leher dan lambung,

kemudian tangan kirinya seperti mengusir lalat di leher dan

lambungnya dan sekali tangannya bergerak, sinar hitam

melesat dan jarum-jarum itu sudah di “retour” kembali kepada

pengirimnya, namun dengan kecepatan dan kekuatan yang

dahsyat sekali. Terdengar jerit-jerit kesakitan dan dua orang

pengemis baju bersih yang berdiri di antara banyak pengemis

itu roboh dan tewas seketika karena leher dan lambung

mereka termakan jarumrahasia mereka sendiri!

Hanya para pengemis yang sudah tinggi ilmunya saja

menyaksikan gerakan Suling Emas dan maklumapa yang telah

terjadi. Yang tidak begitu tinggi ilmunya terheran-heran dan

tidak tahu apa yang terjadi sehingga keadaan menjadi panik.

Suling Emas mengangkat kedua tangan ke atas memberi

isyarat kepada semua orang agar tidak menjadi panik.

Kemudian terdengar suaranya lantang.

“Harap Saudara semua tenang. Matinya dua orang itu

menjadi peringatan bagi kita bahwa di mana-mana kaumsesat

sudah menyelundup sehingga perlu kita waspada karena

mereka berdua itu adalah orang-orang jahat yang berusaha

untuk membunuh saya. Sebaliknya pihak kaum sesat juga

telah mendapat peringatan!” Suara ini tegas dan penuh

wibawa.

“Mereka itu pengemis baju bersih! Basmi para pengemis

baju bersih yang jahat!” Terdengar teriakan-teriakan marah.

Kembali Suling Emas mengangkat tangannya. “Dengarlah

baik-baik! Menilai orang bukan dari pakaian bersih atau kotor!

Menilai orang harus dari sepak terjangnya, dari perbuatannya!

Pengemis memang orang miskin. Sedapat mungkin orang

harus berpakaian bersih dan baik, akan tetapi kalau tidak ada,

apa boleh buat, kotor pakaiannya asal tidak kotor hati dan

pikirannya. Orang-orang yang pernah menyeleweng dari pada

kebenaran bukan sekali-kali berarti bahwa mereka itu selama

hidupnya menjadi orang-orang jahat yang harus dikutuk!

Karena itu, kami anjurkan kepada saudara-saudara kaum kaipang

yang pernah menyeleweng, kembalilah ke jalan benar

dan bertobatlah. Apabila kalian tidak insyaf, kami kaum kaipang

yang sudah bersatu akan membasmi kalian!”

Kembali tepuk sorak menyambut ucapan yang lantang dan

penuh semangat dari Suling Emas ini, karena semua orang

menyetujui pendiriannya. Akan tetapi tentu saja tidak

termasuk mereka yang memang hadir dengan maksud

menentang, seperti rombongan Hek-peng Kai-pang dan Hekcoa

Kai-pang. Dua kai-pang ini memang sudah seluruhnya

dikuasai kaum sesat, bahkan dua kai-pang ini pula yang belum

lama ini mengadakan pertemuan di dunia kaum sesat untuk

membicarakan soal pemilihan bengcu golongan hitam.

Oleh karena itu, kedatangan dua rombongan ini tentu saja

berdasarkan menyelidik dan juga untuk menghalangi

pergerakan kaum pengemis yang dipimpin oleh Yu Kang

Tianglo. Bahkan dua orang pengemis yang tewas karena

senjata jarum mereka diretour oleh Suling Emas tadi adalah

anggauta-anggauta Hek-coa Kai-pang.

Di antara tepuk sorak gemuruh itu, tiba-tiba terdengar

suara nyaring yang mengatasi kegaduhan itu. “Siapa di antara

kita yang mampu menandingi Locianpwe Bu-tek Siu-lam?”

Pernyataan nyaring yang entah dikeluarkan oleh siapa ini

menusuk telinga semua orang dan seketika kegaduhan

terhenti, tak seorang pun berani mengeluarkan suara lagi.

Pada saat itu dua orang kakek pengemis sudah melompat

bangun dari barisan kursi pimpinan kai-pang yang menjadi

tamu. Mereka ini lalu melangkah maju ke tengah panggung,

menghadapi semua pengemis yang hadir. Keduanya adalah

kakek yang usianya sudah enam puluh tahun, berpakaian

sebagai pengemis akan tetapi pakaian mereka bersih dan baru

yang sengaja ditambal-tambal. Mereka ini memegang tongkat

panjang dan melihat betapa pada baju bagian dada mereka

terdapat gambar garuda dan ular, maka mudah diduga bahwa

mereka tentulah tokoh-tokoh dari Hek-peng Kai-pang dan

Hek-coa Kai-pang. Dan memang betul sekali. Kakek yang baju

di dadanya tergambar garuda hitam adalah seorang tokoh

Hek-peng Kai-pang, sedangkan yang dadanya tergambar ular

hitam adalah seorang tokoh Hek-coa Kai-pang.

Sejak tadi, kehadiran rombongan Hek-coa Kai-pang dan

Hek-peng Kai-pang sudah merupakan hal yang menimbulkan

tegang di hati para pengemis karena mereka semua itu tahu

dengan jelas siapakah mereka ini. Boleh dibilang pada waktu

itu, pelopor para kai-pang yang menggabung dengan kaum

sesat adalah dua buah perkumpulan inilah. Maka semua orang

sudah dapat menduga bahwa munculnya tokoh-tokoh dua kaipang

ini tentulah mengandung maksud kurang baik. Kini

melihat dua orang kakek ini muncul di panggung, semua

orang diamdan memandang penuh perhatian.

Kakek yang dadanya bergambar ular hitam itu tubuhnya

kecil tinggi, kepalanya besar. Setelah memandang ke sekeliling

ia lalu berkata.

“Kami adalah wakil dari Hek-coa Kai-pang. Mendengar

uraian pangcu dari Khong-sim Kai-pang tadi, kami setuju

sekali. Memang di antara kai-pang harus diadakan persatuan

erat untuk menghadapi musuh-musuh kita! Dan untuk

memperkuat para kai-pang kita harus memilih seorang

pemimpin yang cakap. Kami dari pihak Hek-coa Kai-pang dan

juga saudara-saudara kita dari Hek-peng Kai-pang dalam

pertemuan orang-orang gagah telah bersepakat untuk

mengangkat Locianpwe Bu-tek Siu-lam sebagai bengcu kita.”

“Benar apa yang diucapkan oleh Saudara dari Hek-coa Kaipang

ini!” kata kakek ke dua yang dadanya bergambar garuda

hitam. Kakek ini mukanya merah dan matanya sipit sampai

hampir terpejam selalu, tapi mulut lebar dan bibirnya tebal

sekali. “Hanya di bawah bimbingan seorang Locianpwe yang

sakti seperti Bu-tek Siu-lam saja maka derajat golongan kita

dapat terangkat. Kami rasa Yu Kang Tianglo dari Khong-sim

Kai-pang cukup bijaksana untuk menyadari hal ini dan

menyetujui pengangkatan Locianpwe Bu-tek Siu-lam sebagai

pimpinan tertinggi semua kai-pang!”

Para pengemis menyambut ucapan dua orang kakek itu

dengan berbisik. Dari rombongan pimpinan kai-pang sudah

meloncat maju lagi dua orang kakek pengemis berpakaian

butut. Seorang di antara mereka berteriak.

“Apa? Bu-tek Siu-lam menjadi bengcu kita? Setelah ia

membunuh secara keji dua ratus orang golongan kita?”

Yang berteriak ini adalah Ketua Ang-tung Kai-pang,

seorang kakek bertubuh kecil pendek akan tetapi bermata

lebar. Ia memutar-mutar tongkat merahnya dengan sikap

marah sekali. Ketika Bu-tek Siu-lam melakukan pembunuhan

terhadap dua ratus orang pengemis, belasan orang pengemis

anak buahnya ikut terbunuh, maka tentu saja ia marah-marah

mendengar betapa dua orang kakek itu hendak mengangkat

Bu-tek Siu-lam menjadi bengcu.

“Cocok! Tidak sudi kami menerima tokoh jahat itu menjadi

bengcu!” Teriak pula pengemis ke dua yang sudah meloncat

maju. Dia ini adalah wakil dari Ban-hwa Kai-pang

(Perkumpulan Pengemis Laksaan Bunga).

“Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kaipang memang

perkumpulan yang menyeleweng dan bersekongkol dengan

kaum sesat!” Teriakan-teriakan itu terdengar saling bantah

dan suasana menjadi berisik sekali melebihi pasar.

“Yang dibunuh adalah pengemis-pengemis jahat!”

“Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang menyenangkan

hidup anak buahnya!”

“Hidup Locianpwe Bu-tek Siu-lam!”

Demikianlah sorakan-sorakan mereka yang pro kepada

tokoh yang diusulkan menjadi bengcu itu.

“Basmi penyeleweng-penyeleweng!”

“Basmi Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang! ”

“Bu-tek Siu-lam musuh besar kaipang!”

Demikianlah sorakan-sorakan mereka yang anti sehingga

keadaan menjadi ribut dan tegang karena setiap saat dapat

timbul perang saudara antara para pengemis ini. Gak-lokai

dan Ciam-lokai menjadi pucat wajahnya dan mereka sudah

hendak bergerak, akan tetapi Suling Emas mencegah dan

berkata halus.

“Biarkan saja. Malah lebih baik. Dengan begini kita dapat

melihat siapakah di antara mereka yang menyeleweng. Kalau

mereka sudah menyatakan pendapat, baru kita turun tangan

melakukan pembersihan.”

Sementara itu, di atas panggung sudah terjadi perdebatan

yang makin lama menjadi saling maki antara tujuh orang

pimpinan pengemis baju bersih yang dikepalai oleh dua orang

dari Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang, dan pihak

lawan mereka adalah sebelas orang pimpinan dari kai-pangkai-

pang lain yang rata-rata berpakaian butut. Suling Emas

hanya duduk di atas kursi sambil menatap tajam, meneliti

mereka yang pro dan mereka yang anti terhadap Bu-tek Siulam.

Juga Kwi Lan dan terutama sekali Yu Siang Ki,

memandang dengan hati tegang dan tertarik. Diam-diam Yu

Siang Ki terheran menyaksikan orang aneh yang memalsukan

nama ayahnya. Ia masih belum dapat menyelami isi hati orang

itu. Kalau benar tindakannya itu demi perbaikan dan

pembersihan kai-pang, kenapa kini ia diam saja melihat

keadaan kacau-balau itu? Pihak manakah yang dibelanya?

Suling Emas yang duduk tak bergerak di atas kursinya

dapat melihat betapa semua pengemis yang pro kepada Butek

Siu-lam dipimpin oleh dua orang kakek Hek-peng Kai-pang

dan Hek-coa Kai-pang. Dilihat dari sikap mereka, memang

agaknya dua orang kakek ini sudah mengaturnya terlebih

dahulu, sengaja untuk mengacaukan pertemuan ini dan

bahkan kini tampak olehnya betapa rombongan pengemis

yang duduk di sebelah timur, yang jumlahnya banyak, adalah

anak buah mereka yang diam-diam sudah siap untuk turun

tangan jika terjadi perkelahian!

Yang menyeleweng secara sadar hanya beberapa orang

saja, pikirnya. Sebagian besar di antara para pengemis itu

hanya ikut-ikutan karena tertarik oleh tingkat hidup yang lebih

baik dan kemewahan. Kalau sampai terjadi pertempuran,

tentu akan banyak roboh korban di kedua pihak. Suling Emas

tidak menghendaki hal ini terjadi, maka ia sudah siap untuk

menegur mereka dan merobohkan para pimpinan pengacau.

Orang-orang yang melakukan penyelewengan secara ikutikutan

seperti mereka itu, sekali pimpinannya roboh, tentu

akan mudah diinsyafkan dan diajak kembali ke jalan benar.

Yang menjadi sumber penyelewengan para anggauta kai-pang

ini sebetulnya adalah tokoh yang bernama Bu-tek Siu-lam.

Karena munculnya tokoh sakti yang sudah berhasil membunuh

Ketua Im-yang-kauw itulah maka para pengemis yang lemah

batinnya, mudah dibawa menyeleweng, karena ada yang

mereka andalkan.

Akan tetapi dalam keadaan ketegangan tengah memuncak

itu, sebelum Suling Emas sempat turun tangan atau

membiarkan Gak-lokai dan Ciam-lokai mengurus keributan,

tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak. Suara ketawa ini

datangnya dari…. udara! Begitu nyaring dan hebat sehingga

seakan-akan menggetarkan papan panggung.

“Hua-ha-ha! Jembel-jembel busuk ini seperti sekumpulan

anjing berebut tulang! ”

“Heh-heh-heh! Tidak usah berebut pangkat, kamilah yang

akan menjadi raja-raja kalian! Heh-heh!”

“Hua-ha-ha! Benar sekali! Aku ingin menjadi raja

pengemis!”

Bagaikan dua ekor burung rajawali, dari atas menyambar

turun tubuh dua orang kakek yang mengerikan keadaannya.

Yang seorang bertubuh kurus bermuka put ih seperti orang

kehabisan darah, kepalanya botak dan rambutnya jarang

seperti sutera tua. Orang ke dua bertubuh besar kuat dan

mukanya merah sekali, muka yang ditumbuhi rambut sehingga

muka itu menyerupai muka singa.

Bukan main hebatnya gerakan kedua orang kakek yang

sudah amat tua ini. Begitu keduanya turun ke atas papan

panggung, sambil tertawa-tawa mereka menggerakkan kedua

tangan ke sekeliling dan…. tubuh para, pimpinan pengemis

yang tadinya berhadapan dan cekcok saling maki itu seperti

layang-layang putus talinya, terlempar ke bawah panggung!

Dan hebatnya, kedua orang kakek itu tidak pilih-pilih orang,

siapa saja yang tadi saling maki memenuhi panggung itu

mereka lemparkan turun. Mereka itu berjumlah belasan orang,

hampir dua puluh, dan rata-rata adalah pimpinan kai-pang

yang memiliki kepandaian tinggi. Ketika dua orang kakek aneh

ini muncul dan menyergap, belasan orang itu sudah berusaha

menerjang dan memukul roboh dua orang kakek pengacau,

bahkan banyak di antara mereka yang menggunakan tongkat

besi menggebuk. Memang terdengar suara bak-bik-buk ketika

tongkat-tongkat itu mengenai tubuh dua orang kakek ini, akan

tetapi sama sekali tidak dirasakannya, dan tanpa dapat

dicegah lagi semua orang itu telah mereka lempar-lemparkan

dengan cara yang luar biasa mudahnya. Dalam waktu

beberapa menit saja, delapan belas orang pimpinan para

pengemis baju bersih dan baju butut itu telah dilempar turun

dari atas panggung!

“Dua orang iblis dari mana berani mengacau pertemuan

Khong-sim Kai-pang?” Teriakan ini keluar dari mulut Gak-lokai

dan Ciam-lokai yang sudah melompat maju dan menerjang

dengan tongkat mereka.

Suling Emas terlampau heran dan kaget menyaksikan

munculnya dua orang kakek luar biasa itu sehingga ia tidak

sempat mencegah majunya Gak-lokai dan Ciam-lokai. Dengan

muka berubah Suling Emas bangkit dari kursinya, memandang

dengan mata terbelalak. Hampir ia tidak percaya akan

pandang matanya sendiri bahwa dua orang kakek yang

muncul itu bukan lain adalah Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek

Sian-ong! Dua orang kakek yang sakti itu tiba-tiba saja muncul

di situ. Apakah kehendaknya? Benarkah mereka menghendaki

menjadi raja pengemis?

Teringatlah Suling Emas pada pertemuannya dengan kedua

orang tokoh ini puluhan tahun yang lalu. Ketika itu pun dua

orang kakek ini mengacau Khitan dan ingin menjadi raja di

Khitan (baca cerita CINTA BERNODA DARAH). Hanya dengan

susah payah, setelah dibantu Lin Lin (Ratu Yalina di Khitan),

Liu Hwee puteri Ketua Beng-kauw, dan Kauw Bian Cinjin tokoh

Beng-kauw, ia berhasil mengusir dua orang kakek itu. Kini

secara tiba-tiba dan tak terduga-duga dua orang kakek ini

muncul lagi dan begitu muncul telah mengacaukan keadaan

dengan sepak terjang mereka yang aneh. Melihat bahwa

mereka berdua itu tidak memilih bulu, merobohkan semua

pengemis baik yang berpakaian butut maupun yang bersih,

jelas bahwa mereka ini bukan penggerak kaum sesat dan tidak

mewakili mana-mana, hanya bergerak menurutkan kata hati

mereka sendiri yang aneh luar biasa!

Terjangan Gak-lokai dan Ciam-lokai dahsyat sekali. Mereka

ini memang merupakan dua orang tokoh Khong-sim Kai-pang

yang sudah tinggi tingkat ilmu silatnya, apalagi dalam

beberapa hari ini mereka telah mendapat petunjuk dari Suling

Emas, maka tentu saja terjangan mereka itu amat hebat. Akan

tetapi, dengan gerakan yang tenang sekali, dua orang kakek

aneh di atas panggung itu menggeser kaki dan terjangan

kedua lokai itu hanya mengenai angin belaka.

“Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali! Makin banyak muncul tokoh

jembel makin baik. Hayo naiklah, keroyoklah kami, ha-haha!”

seru Lam-kek Sian-ong Si Muka Merah.

“Bagus sekali, Ang-bin Siauwte (Adik Muka Merah)! Baru

sekarang kita bisa berkelahi dengan enak!”

Dua orang kakek itu terkekeh-kekeh dan menghadapi

terjangan Gak-lokai dan Ciam-lokai seenaknya saja, dengan

tangan kosong. Si Kakek Muka Merah menghadapi Ciam-lokai,

sedangkan kakek muka putih menghadapi Gak-lokai. Mereka

ini memang merupakan dua orang tokoh yang berwatak luar

biasa. Makin tua makin gila dan sejak dahulu mereka amat

doyan berkelahi! Tidak ada kesenangan yang lebih

menggembirakan hati mereka melebihi perkelahian yang

ramai. Melihat terjangan dua orang pengemis bertongkat itu,

mereka sudah bergembira karena mengira tentu akan

menghadapi lawan tangguh karena mereka pun maklum

bahwa di dunia pengemis terdapat banyak orang-orang

berilmu tinggi. Akan tetapi mereka kecewa sekali ketika

mendapat kenyataan bahwa dua orang tokoh Khong-sim Kaipang

yang menyerang mereka itu sama sekali bukan

tandingan mereka!

“Ho-ha-ha, kiranya jembel busuk tidak ada harganya!”

Lam-kek Sian-ong Si Muka Merah terbahak-bahak dan pada

saat Ciam-lokai memukulkan tongkatnya ke arah dada, ia

menyambut dengan kepalan tangannya.

“Krakkk!!” Tongkat di tangan Ciam-lokai itu patah-patah

menjadi beberapa potong dan setiap kali pengemis tua itu

menghantamkan tongkatnya selalu disambut kepalan dan

terpotong-potong lagi!

Sementara itu, Pak-kek Sian-ong yang menghadapi Gaklokai

juga merasa kecewa. Akan tetapi berbeda dengan Si

Muka Merah yang mendemonstrasikan tenaga Yang-kang

dahsyat dan amat kuatnya itu, ia mengeluarkan keahliannya,

yaitu tenaga Im yang lemas dan halus. Ketika Gak lokai

menghantamnya dengan tongkat, ia menyambut dengan

telapak tangan dan…. tubuh Gak-lokai bersama tongkatnya

mencelat ke atas. Gak-lokai terkejut, namun karena ia pun

seorang yang lihai biarpun tubuhnya mencelat ke atas, ia

bergerak di udara dan menghantamkan tongkatnya ke arah

kepala Pak-kek Sian-ong. Kakek muka putih ini lagi-lagi

menyambut dengan telapak tangan dan sekali lagi tubuh Gaklokai

mencelat ke atas. Berkali-kali hal ini terjadi sehingga

tubuh Gak-lokai bagaikan sebuah bal yang dipermainkan

lawan.

“Iblis-iblis tua, berani kau mempermainkan Khong-sim Kaipang?”

Bentakan halus ini keluar dari mulut Yu Siang Ki.

Pemuda ini menjadi marah ketika menyaksikan betapa dua

orang kakek aneh itu mengacaukan pertemuan kai-pang yang

mempunyai maksud baik itu. Apalagi ketika melihat betapa

Gak-lokai dan Ciam-lokai dipermainkan, ia segera tahu bahwa

dua orang tokoh pengemis itu bukanlah lawan dua orang

kakek yang datang mengacau. Ia sendiri belum tentu dapat

mengalahkan dua orang kakek yang sakti itu, namun melihat

usaha persatuan yang diadakan Khong-sim Kai-pang itu

terancam bahaya, ia segera meloncat naik, menegur dan

sekaligus ia melemparkan hiasan bunga yang biasanya

menghias topinya.

Lontarkan itu bukanlah sembarang lontaran, melainkan

serangan yang hebat dan yang mengancam jalan darah di

dekat siku Lam-kek Sian-ong. Siang Ki sengaja menyerang

kakek muka merah karena melihat betapa kakek muka merah

ini amat dahsyat kedua tangannya dan pada saat itu keadaan

Ciam-lokai amat berbahaya. Sekali saja tangan kakek muka

merah itu berhasil menonjok tubuh Ciam-lokai, tentu tokoh

Khong-sim Kai-pang itu akan roboh tewas!

“Aihh….!” Kakek muka merah itu mengeluarkan seruan

kaget ketika lengannya terasa kesemutan karena jalan darah

di sikunya secara tepat sekali tertusuk gagang hiasan bunga.

Tadi ia melihat benda ini menyambar, akan tetapi tentu saja ia

memandang rendah. Siapa kira, totokan gagang bunga itu

cukup mengandung tenaga Iwee-kang yang dahsyat sehingga

lengannya kesemutan, ia terheran-heran. Ini bukan sambitan

orang biasa. Maka ia berseru kaget dan memutar tubuh

menghadapi Yu Siang Ki.

Keheranannya bertambah ketika ia mendapat kenyataan

bahwa yang menyambitnya hanya seorang pemuda tampan

yang masih amat muda. Pada saat itu, Ciam-lokai yang

merasa marah dan penasaran, menggunakan sisa tongkatnya

menusuk dari belakang, mengarah lambung dan menusuk di

bagian yang mematikan.

“Dukk!” Tusukan tongkat itu tepat mengenai lambung,

akan tetapi membalik seperti menusuk karet yang keras saja.

Ciam-lokai kaget sekali akan tetapi sebelum hilang kagetnya,

tiba-tiba tubuhnya sudah melayang jauh turun ke bawah

panggung karena pada saat itu kaki Lam-kek Sian-ong sudah

melakukan gerakan menyepak (menendang ke belakang)

persis seperti gerakan kaki kuda. Tanpa menoleh kakek muka

merah itu mampu menendang Ciam-lokai yang lihai itu sampai

terlempar ke bawah panggung. Hal ini benar-benar

membuktikan bahwa kesaktiannya memang luar biasa.

Yu Siang Ki maklum akan hal ini maka pemuda ini tidak

berani sembrono. Tadi pun menyaksikan sambitannya yang

tepat mengenai jalan darah itu tidak melumpuhkan lengan

kakek muka merah, ia sudah tahu bahwa lawannya benarbenar

sakti. Kini pemuda itu sudah menyambar tongkatnya

dan berseru keras. “Tak seorang pun boleh menghina KhongTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

sim Kai-pang! ” ia lalu menggerakkan tongkat dan menerjang

dengan gerakan yang mantap dan penuh tenaga sin-kang.

“Hua-ha-ha, bagus, bagus! Eh, Pek-bin-twako (Kakak Muka

Putih)! Kaulihat lawanku ini biarpun masih muda, baru

berharga untuk diajak main-main!” ia bicara sambil

menggerakkan tubuh mengelak. Sekali lihat saja Lam-kek

Sian-ong mengerti bahwa ilmu tongkat pemuda ini hebat dan

tak boleh dipandang ringan, maka timbullah kegembiraannya

untuk melayani Yu Siang Ki.

“Eh, Kakek tua, kau mundurlah. Kau bukan lawan iblis ini!”

Inilah suara Kwi Lan. Ketika gadis ini melihat Yu Siang Ki

sudah melompat naik ke atas panggung dan turun tangan, ia

pun tidak mau tinggal diam. Tentu saja ia pun mengenal dua

orang kakek itu. Ia tahu bahwa mereka itu, Pak-kek Sian-ong

dan Lam-kek Sian-ong, guru Siangkoan Li, adalah dua orang

kakek yang sakti. Tentu Yu Siang Ki tidak mengenal mereka

maka pemuda itu secara gegabah berani maju. Kalau tidak ia

bantu, mana mungkin Yu Siang Ki dapat menandingi dua

orang kakek itu. Biarpun ia maklum bahwa dengan

bantuannya sekalipun amat sukar untuk mendapat

kemenangan, namun ia tidak bisa membiarkan sahabatnya

menghadapi bahaya seorang diri. Maka ia pun lalu meloncat

tinggi keudara. Ia anggap bahwa gerakan Gak-lokai yang

dibuat permainan oleh Pak-kek Sian-ong itu hanya akan

menghalangi dan membuatnya tidak leluasa, maka sekali

meloncat, ia sudah mengeluarkan ucapan tadi dan tahu-tahu

diudara ia sudah menjambret leher baju Gak-lokai dan

melemparkan kakek itu ke bawah panggung!

Gerakan ini tentu saja kelihatan hebat luar biasa. Inilah

demonstrasi ginkang yang hebat, juga sekali jambret saja ia

dapat melemparkan seorang tokoh seperti Gak-lokai sudah

membuktikan betapa lihainya gadis ini! Semua pengemis yang

menyaksikan ini menjadi makin bengong dan bingung. Bahkan

Suling Emas sendiri yang tadi terkejut melihat munculnya

pengemis muda yang berani menentang Lam-kek Sian-ong,

kini melongo menyaksikan munculnya seorang gadis remaja

yang bagaikan seekor naga muda kini sudah menerjang Pakkek

Sian-ong dengan pedangnya!

“Ho-ho-ho, Ang-bin Siauwte kaubilang lawanmu hebat?

Kaulihat ini, Nona muda yang galak ini apakah kalah

hebatnya?” Pak-kek Sian-ong berkata demikian, akan tetapi

cepat mengelak dari gulungan sinar pedang yang menyambarnyambar

dahsyat. Pertandingan di atas panggung kini benarbenar

mengagumkan dan membuat para pengemis terlongong

keheranan. Dua orang kakek tua renta itu dengan gerakangerakan

aneh dan ringan menghadapi seorang pengemis

muda yang memutar tongkat secara hebat dan seorang gadis

cantik yang memainkan pedang secara ganas. Gak-lokai dan

Ciam-lokai juga sudah bangun. Untung bahwa tadi mereka

tidak terbanting hebat dan juga tidak terluka. Hati mereka

menjadi gentar karena maklum bahwa orang-orang yang

sedang bertanding di atas panggung itu adalah orang-orang

sakti yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada

kepandaian mereka.

Suling Emas sejak tadi sudah bangkit berdiri. Matanya

tajam menonton pertandingan, menimbang dan menilainya.

Sebentar ia memandang ke arah pengemis muda yang

menghadapi Lam-kek Sian-ong, sebentar kemudian ia

memandang ke arah gadis cantik yang menerjang Pak-kek

Sian-ong. Ia makin terheran-heran. Pengemis muda itu ilmu

tongkatnya hebat dan tinggi, tenaganya kuat dan memiliki

kecepatan gerak yang membuktikan bahwa dia bukan ahli silat

sembarangan. Diam-diam ia menjadi kagum sekali dan ia

merasa seperti pernah mengenal ilmu tongkat yang dimainkan

pemuda itu. Kalau dasarnya sudah jelas ilmu silat dari pantai

timur, akan tetapi siapakah pernah mainkan tongkat seperti

ini? Ia lupa lagi.

Namun kekagumannya terhadap pemuda tampan itu tidak

ada artinya ketika ia menonton pertempuran antara kakek

muka putih dan gadis cantik. Suling Emas melongo dan benarbenar

ia terheran-heran menyaksikan sepak terjang gadis itu.

Ilmu silat apa gerangan yang dimainkan oleh gadis dengan

pedang kayunya itu? Dalam hal Ilmu pedang, setidaknya telah

mengenal dasar-dasarnya. Akan tetapi gerakan pedang yang

dimainkan gadis itu benar-benar membuat ia terlongong.

Gerak kakinya seperti gerak kaki ilmu silat Siauw-lim-pai,

tegap dan digeser-geser kuat. Akan tetapi ketika sambaran

pedang diimbangi tendangan kaki, maka tendangan itu

bukanlah tendangan ilmu sliat Siauw-lim-pai, lebih mirip

tendangan ilmu silat utara Gobi-pai. Dan gerakan pedang itu,

kacau balau antara ilmu pedang Beng-kauw dan Ilmu pedang

Kun-lun. Aneh bukan main, kacau-balau namun justeru

kekacauannya inilah yang merupakan sifat ilmu silat gadis itu

yang benar-benar luar biasa dan dahsyatnya bukan main,

keganasannya membuat Suling Emas mengerutkan kening.

Pantas saja Pak-kek Sian-ong berkali-kali mengeluarkan

seruan kaget dan kagum, dan agaknya kakek yang doyan

berkelahi itu melayaninya dengan sungguh-sungguh sambil

memperhatikan ilmu silat gadis itu. Namun sukarlah untuk

mengenal atau mempelajari ilmu kacau balau ini sehingga Si

Kakek merasa sayang kalau cepat-cepat menghentikan

pertandingan.

Setelah menelit i sejenak tahulah Suling Emas bahwa dua

orang muda itu benar-benar bukan orang sembarangan, tentu

murid-murid orang pandai yang memiliki kepandaian luar

biasa. Juga ia sudah mengenal sifat-sifat dan keampuhan Ilmu

silat mereka. Ia sudah tahu pula akan sifat Pak-kek Sian-ong.

Dibandingkan dengan Lam-kek Sian-ong, kakek muka putih itu

lebih lunak dan agaknya tidak akan tega untuk mencelakai

orang muda. Oleh karena itu, ia lalu meloncat ke dekat Lamkek

Sian-kong dan berkata kepada Yu Siang Ki sambil

menangkis sebuah pukulan tangan kiri, Lam-kek Sian-ong,

“Orang muda, kaubantulah gadis itu. Biarkan dia yang

menyerang, kau memperkuat pertahanan kalian!”

“Dukkk….!” Dua lengan yang sama-sama mengandung

tenaga sinkang yang dahsyat bertemu. Lam-kek Sian-ong

sejak tadi tidak pernah ditangkis Yu Suang Ki karena pemuda

yang cerdik itu maklum bahwa ia kalah tenaga, kini melihat

ada orang yang berani menangkis, sengaja mengerahkan

tenaga Yang-kang yang menjadi keistimewaannya. Akibatnya,

pertemuan kedua lengan itu membuat Suling Emas terhuyung

ke belakang, akan tetapi Lam-kek Sian-ong juga terjengkang

dan hampir roboh! Bukan main kaget dan herannya sehingga

kakek muka merah mengeluarkan seruan seperti seekor singa

yang membuat papan panggung tergetar dan sejenak ia

hanya berdiri memandang dengan mata melotot.

Sementara itu Yu Siang Ki yang melihat gerakan orang

bertopeng yang mengaku ayahnya itu, seketika maklum

bahwa orang ini kepandaiannya hebat, maka tanpa ragu-ragu

lagi ia menerjang Pak-kek Sian-ong yang sedang melayani Kwi

Lan.

“Kauseranglah terus, biar aku yang menahannya!” bisiknya

kepada Kwi Lan. Pertandingan dilanjutkan dengan hebat dan

makin gembiralah hati Pak-kek Sian-ong. Setelah kini

dikeroyok dua barulah ia merasa seimbang dan tidak raguragu

lagi untuk mengeluarkan kepandaian. Diam-diam ia

kagum kepada pemuda yang tadi menjadi lawan Lam-kek

Sian-ong ini. Bagaimana pemuda ini dapat mengatur

sedemikian tepatnya, dengan membagi dua daya tempur

mereka? Memang sifat ilmu pedang gadis ini liar dan ganas

bukan main, serangan-serangannya kuat, pendeknya letak

kelihaian Ilmu pedang ini berada pada daya serangnya.

Adapun ilmu tongkat pemuda itu lebih mengutamakan

pertahanannya sehingga apabila dipergunakan untuk menjaga

diri dan mempertahankan, amatlah tepat. Gembiralah hatinya

menghadapi serangan-serangan pedang yang demikian

berbahaya dan menghadapi pertahanan seperti benteng baja

kuatnya dari tongkat pemuda itu. Di lain pihak, dua orang

muda itu juga berbesar hati karena begitu mereka berdua

bertanding dengan sikap seperti yang dianjurkan Suling Emas

tadi, ternyata mereka dapat mengimbangi kelihaian kakek

muka putih.

Sementara itu, pertandingan antara Suling Emas dan Lamkek

Sian-ong juga bukan main hebatnya. Setelah beberapa

kali hawa pukulan mereka saling bertemu dan membuat

keduanya terdarong mundur diam-diam mereka menjadi

kaget. Lam-kek Sian-ong selama “dalam hukuman” di lereng

Lu-liang-san, bersama Pak-kek Sian-ong memperdalam Ilmu

silat mereka dengan maksud menghadapi Bu Kek Siansu yang

sakti. Dapat dimengerti bahwa ilmu kepandaiannya jauh lebih

hebat daripada dua puluh tahun yang lalu ketika ia bertemu

dengan Suling Emas di Khitan. Di jaman itu, hanya beberapa

orang saja yang memiliki tingkat kepandaian setinggi Lam-kek

Sian-ong. Akan tetapi mengapa orang bertopeng ini mampu

menandinginya? Sama sekali kakek muka merah ini tidak

mengira bahwa yang dihadapinya adalah lawan lama, Suling

Emas! Di pihak Suling Emas sendiri juga terheran-heran

karena selama ini pun ia memperhebat kepandaiannya,

bahkan ia yakin akan kekuatan sinkang di dalam tubuhnya.

Namun ternyata bertemu dengan kakek muka merah ini, ia

hanya dapat mengimbangi kekuatannya. Maka ia lalu merobah

gerakannya, hendak mencari kemenangan dengan

menggunakan Ilmu silatnya yang ia yakin lebih murni dan

lebih banyak ragamnya daripada ilmu silat Lam-kek Sian-ong.

Ia lalu menggerakkan kedua tangannya, mulai “menulis”

hurut-huruf mulia di udara. Tampaknya saja seperti menulis

huruf, pada hakekatnya semua gerakan itu mengandung hawa

serangan yang amat dahsyat sehingga terdengar anginnya

bersiutan, karena Inilah Hong-In-bun-hoat (Silat Huruf Angin

dan Awan)! Lam-kek Sian-ong yang merasa tergetar oleh

angin pukulan gerakan tangan lawan, menjadi kaget sekali

dan berulang-ulang ia mengeluarkan seruan keras.

Pak-kek Sian-ong yang senang gembira melayani dua orang

muda yang mengeroyoknya terheran-heran mendengar seruan

kawannya. Seruan-seruan itu menandakan bahwa kawannya

kaget dan terheran, menemui lawan berat. Tidak sembarang

orang dapat membuat Lam-kek Sian-ong mengeluarkan

seruan-seruan seperti itu. Pak-kek Sian-ong mencari

kesempatan, lalu menengok. Alangkah kagetnya ketika ia

melihat betapa kawannya terdesak hebat oleh pengemis

berkedok yang gerakannya luar biasa sekali. Ia berseru keras

dan kedua lengannya lalu ia dorongkan ke depan, ke arah Kwi

Lan dan Yu Siang Ki. Karena kakek ini mengerahkan seluruh

tenaga sinkangnya dan sekaligus menyerang mereka berdua,

tentu saja Siang Ki t idak dapat menahan dua serangan ini

sekaligus dan terpaksa Kwi Lan menjaga diri dengan memutar

pedangnya. Namun hebat sekali angin pukulan yang keluar

dari dorongan kedua telapak tangan yang terbuka itu.

Betapapun Yu Siang Ki dan Kwi Lan mempertahankan diri,

tetap saja mereka terhuyung-huyung ke belakang sampai lima

enam langkah! Kesempatan yang memang dicari oleh Si Muka

Putih itu lalu dipergunakan sepenuhnya. Bagaikan kilat

cepatnya, tubuhnya sudah mencelat ke arah Suling Emas yang

sedang berhantam dengan Lam-kek Sian-ong. Gerakan Pakkek

Sian-ong ini luar biasa cepatnya dan tak terduga-duga

sama sekali.

Memang Pak-kek Sian-ong adalah seorang ahli yang

memiliki keistimewaan sebaliknya daripada Lam-kek Sian-ong.

Kalau Lam-kek Sian-ong ahli dalam penggunaan tenaga sakti

yang ia salurkan menjadi tenaga yang dahsyat, keras dan

amat kuat, adalah Pak-kek Sian-ong menyalurkan tenaga

saktinya menjadi tenaga yang amat halus dan tidak

menimbulkan suara. Akan tetapi kekuatannya tidak kalah oleh

kakek muka merah, bahkan melebihinya! Demikian pula ketika

ia meloncat, tanpa mengeluarkan suara tahu-tahu lengannya

sudah menyelonong ke depan dan jari tangan kirinya

mencengkeram kepala didahului oleh jari tangan kanan yang

menotok ke arah leher!

“Kepandaianmu boleh juga!” Demikian Pak-kek Sian-ong

berseru sebagai tanda serangannya.

Suling Emas terkejut sekali. Menghadapi seorang di antara

dua kakek ini saja, tidak mudah baginya untuk memperoleh

kemenangan. Kalau ia dikeroyok, hal ini bukan main beratnya.

Cepat sekali ia menendang lengan tangan Lam-kek Sian-ong

yang sudah menyerangnya dan pada detik lain tubuhnya

sudah mencelat ke atas. Terpaksa ia akan menyambut

serangan Pak-kek Sian-ong dari atas itu dengan cara keras

melawen keras. Sambil mengerahkan tenaga, ia menangkis

totokan pada lehernya dan balas menghantam dada sambil

miringkan kepalanya yang dicengkeram.

Cepat sekali gebrakan yang terjadi di udara ini. Terdengar

suara “piak-piak!” Dan tubuh Pak-kek Sian-ong terlempar ke

belakang dan ketika turun kakek itu terhuyung-huyung dan

berseru. “Bagus….!” Di tangannya terdapat sehelai

saputangan yang tadi menutupi muka Suling Emas.

Suling Emas kaget dan cepat ia berjungkir balik membuat

salto sampal lima kali di udara sebelum turun karena ia

khawatir akan penyerangan Lam-kek Sian-ong yang tentu

akan hebat sekali karena posisi dirinya tidak menguntungkan.

Akan tetapi ketika kedua kakinya turun di atas papan, ia

melihat betapa dua orang kakek itu hanya berdiri dan

memandangnya dengan mata terbelalak.

“Suling Emas….!” Dua orang kakek itu berseru heran.

Sungguh tak mereka sangka bahwa mereka akan berhadapan

dengan Suling Emas di situ. Saking heran, sejenak

mereka tak dapat bicara. Tadinya Pak-kek Sian-ong yang

gagal dalam serangannya dan hanya berhasil merenggut

saputangan penutup muka akan tetapi ia sendiri menerima

pukulan di pundak yang membuat bagian tubuh itu terasa

ngilu, merasa penasaran sekali. Kini, setelah mendapat

kenyataan bahwa lawan yang amat tangguh itu adalah Suling

Emas, penasarannya hilang, terganti rasa heran.

Bukan hanya kedua orang kakek tua renta ini yang terkejut

dan terheran melihat Suling Emas, juga semua orang yang

berada di situ. Bermacam perasaan teraduk dalam hati

mereka. Ada yang merasa kagum dan girang karena maklum

bahwa pendekar sakti yang dicinta kawan ditakuti lawan ini

adalah seorang pendekar yang sejak dahulu bersahabat

dengan kaum kai-pang. Ada pula yang marah dan benci

karena memang sejak dahulu mengandung hati dendam

kepada Suling Emas, karena Suling Emas adalah putra tunggal

Iblis betina Tok-siauw-kwi Liu Lu. Sian (baca cerita SULING

EMAS) yang melakukan banyak kejahatan sehingga banyak

orang kang-ouw mendendam kepadanya. Yang paling gentar

adalah kaum sesat yang menyelundup menjadi anggauta kaipang.

Mereka maklum bahwa bukan saatnya bagi mereka

untuk menentang kaum pengemis baju butut setelah Suling

Emas berada di situ. Diam-diam para pengemis Hek-peng Kaipang

dan Hek-coa Kai-pang segera pergi dari situ untuk

menyelamatkan diri dan hendak melaporkan peristiwa ini

kepada junjungan mereka, yaitu Bu-tek Siu-lam.

Sementara itu Suling Emas yang sudah terbuka rahasianya,

menarik napas panjang tiga kali, memandang ke sekeliling

kemudian mengeluarkan sebatang suling dari balik jubahnya.

Sambil melintangkan suling emasnya di depan dada, ia

menatap dua orang kakek itu sambil berkata.

“Baiklah, Ji-wi Sian-ong (Sian-ong Berdua). Agaknya

memang Ji-wi paling suka mengacau semenjak dahulu, tetapi

jangan mengira aku akan diam saja melihat kalian mengacau

Khong-sim Kai-pang. Aku akan mewakili sahabat baikku Yu

Kang Tianglo untuk melindungi kai-pang dari gangguan

kalian.” suara ini jelas dikeluarkan dengan halus akan tetapi

jelas terdengar oleh semua pengemis yang hadir di situ. GakTiraikasih

Website http://kangzusi.com/

lokai dan Ciam-lokai berdiri bengong, sama sekali tidak

mengira bahwa mereka betul-betul telah salah sangka.

Kiranya orang yang mereka sangka Yu Kang Tianglo itu adalah

Suling Emas, pendekar sakti yang namanya menggetarkan

Jagad selama puluhan tahun!

Yu Siang Ki berdiri dengan muka pucat. Sama sekali di luar

persangkaannya bahwa yang memalsukan nama ayahnya

adalah Suling Emas, pendekar yang dicari-carinya, pendekar

yang dihormati dan dijunjung tinggi selalu oleh ayahnya. Tak

salah dugaannya bahwa orang aneh ini memang bermaksud

menyelamatkan kai-pang dengan, menggunakan nama

ayahnya? Akan tetapi mengapa menggunakan nama ayahnya?

Nama Suling Emas sendiri jauh di atas nama Yu Kang Tianglo,

jauh lebih terkenal dan ditakuti orang jahat. Mengapa Suling

Emas menggunakan nama ayahnya yang sudah meninggal

dunia? Mengapa pula memakai kedok saputangan seperti

orang takut dikenal? Mengapa Suling Emas seakan-akan

hendak menyembunyikan diri? Saking heran dan bingungnya,

pemuda yang merasa girang di hatinya berdiri memandang

dengan bengong.

Kwi Lan memandang dengan sinar mata bercahaya. Ia

kagum sekali terhadap Suling Emas. Kagum menyaksikan

sepak terjangnya ketika menghadapi dua orang kakek yang

sakti itu, dan terutama kagum sekali setelah kini saputangan

itu terbuka. Wajah laki-lakl yang amat gagah dan entah

bagaimana, jantungnya berdebar dan ia merasa tertarik sekali.

Kini ia tidak akan sesalkan ibu kandungnya andaikata Ibu

kandungnya itu mencinta laki-laki ini! Makin besar keinginan

hatinya untuk bicara dengan Suling Emas, untuk bertanya

kepada pendekar ini tentang Ratu Yalina di Khitan. Pada saat

itu ia melihat Suling Emas sudah mencabut Sulingnya, melihat

pula betapa dua orang kakek itu sambil tertawa-tawa girang

sudah mencabut pedang mereka, Si Kakek Muka Putih

mencabut pedang putih sedangkan kakek muka merah

mencabut pedang merah. Ia maklum betapa lihainya dua

orang kakek itu maka timbullah kekhawatiran di hatinya. Maka

tanpa ragu-ragu lagi ia meloncat maju menghadapi dua orang

kakek itu sambil menudingkan pedangnya ke arah hidung

mereka.

“Kalian ini dua orang tua bangka benar-benar tak tahu

malu!”

Tidak hanya para pengemis yang kaget setengah mati,

bahkan Suling Emas yang sejak tadi sudah kagum dan heran

melihat Ilmu silat gadis ini, sekarang bengong melihat betapa

gadis ini berani memaki-maki dua orang kakek sakti itu.

Anehnya, dua orang kakek itu hanya tersenyum lebar dimakimaki.

“Kalian ini sudah tua bangka seperti kanak-kanak nakal

saja! Lupa lagikah kalian betapa secara pengecut kalian

memukul Bu Kek Siansu? Lupa lagikah kalian betapa kalian

menangis dan menyesali perbuatan, betapa kalian bersumpah

akan mentaati pesan beliau sampai mati? Apakah yang

dipesan oleh Bu Kek Siansu?,”

Pak-kek Sian-ong hanya meringis dan menundukkan muka,

akan tetapi, Lam-kek Sian-ong dengan melotot lalu

membentak, “Bocah kurang ajar! Siapa bilang kami lupa akan

pesan Bu Kek Siansu?”

Sepasang mata yang jeli itu bersinar-sinar tajam, bibir yang

merah itu tersenyum mengejek, pedang kayu di tangan masih

menuding ke arah hidung Lam-kek Sian-ong, ketika gadis itu

berkata nyaring.

“Tidak lupa mungkin sekali, akan tetapi melanggar sudah

jelas! Apa kaukira aku lupa akan pesan itu? Masih terbayang di

depan mataku bagaimana kakek suci itu mengatakannya

kepada kalian.” Gadis itu dengan gerakan lincah lalu duduk

bersila di atas papan dan berkata lagi, “Dia bersila seperti ini,

hanya bedanya, setelah, menerima pukulan curang dan

pengecut kalian, dari mata, hidung, mulut dan telinganya

mengalir darah segar. Kemudian ia berkata begini. Kwi Lan

duduk bersila setengah memejamkan mata dan meniru lagak

dan suara Bu Kek Siansu sedapatnya. “Anak-anak yang baik.

Tidak ada pengorbanan apa-apa. Yang keras kalah oleh yang

lunak, Itu sudah sewajarnya. Yang lenyap digant i oleh yang

muncul, yang mati digant i oleh yang lahir. Apa bedanya?

Paling penting, mengenal diri sendiri termasuk kelemahankelemahan

dan kebodohan-kebodohannya, sadar insyaf dan

kembali ke jalan benar. Yang lain-lain tidakkah penting lagi.

Selamat berpisah.”

Kwi Lan meloncat bangun dan kembali menudingkan ujung

pedangnya ke arah hidung dua orang kakek itu berganti-ganti.

“Nah, betul tidakkah demikian?”

“Memang betul. Nah, bagaimana kau bilang kami

melanggarnya? Kami memang sudah sadar dan insyaf.”

bantah Pak-kek Sian-ong.

“Wah, kalian tebal muka benar-benar! Kalian datang

mengacau di sini masih bilang sadar dan insyaf? Bukankah

perbuatan kalian hari ini merupakan pelanggaran sumpah itu?

Bukankah kalian kembali menggunakan kepandaian untuk

berbuat jahat dan mengacau?”

“Tidak! Jembel-jembel busuk ini jahat, dan menyeleweng,

saling memperebutkan kedudukan, sudah sepatutnya dihajar!

Kalau kami yang menjadi raja jembel dan memimpin para

jembel busuk ini ke jalan benar, bukankah itu merupakan

perbuatan baik?” Lam-kek Sian-ong membantah.

“Tak tahu malu!” Kwi Lan kembali memaki. “Yu Siang Ki ini

adalah putera Yu Kang Tianglo dan Suling Emas itu adalah

sahabat baik mendiang Yu Kang Tianglo. Dengan cara masingmasing,

mereka hendak menyelamatkan Khong-sim Kai-pang

dari penyelundupan orang-orang sesat. Kalau kalian

membantu mereka dan membasmi kaum sesat, itu barulah

benar namanya. Akan tetapi kalian memusuhi orang-orang

gagah Khong-sim Kai-pang, bukankah itu berarti kalian lebih

sesat daripada kaum sesat? Baiklah, kalau aku bertemu

dengan Bu Kek Siansu, hendak kulaporkan hal ini, minta

bagaimana pendapat orang tua suci itu dan hendak kulihat

kelak bagaimana kalian masih mempunyai muka untuk

bertemu dengan beliau!”

Lam-kek Sian-ong dan Pak-kek Sian-ong saling pandang

dengan muka berubah. Ucapan gadis itu amat berkesan di hati

mereka. Akhirnya mereka merasa ngeri juga kalau sampai Bu

Kek Siansu mendengar tentang sepak terjang mereka yang

mengacau Khong-sim Kai-pang. Apa lagi setelah mereka

melihat Suling Emas berada di situ. Mereka tahu bahwa Suling

Emas adalah seorang pendekar yang dikasihi Bu Kek Siansu.

“Sudahlah, kami mengaku salah, Nona. Jangan kaubilang

apa-apa kepada Bu Kek Siansu orang tua itu. Akan tetapi

kesalahan kami tidak sengaja. Kami memang tidak tahu akan

urusan kaum jembel ini. Nah mana sekarang golongan jembel

sesat? Biar merasa kerasnya kepalan kami!” kata Lam-kek

Sian-ong.

“Dasar kalian, tua bangka-tua bangka bodoh! Sudah jelas

yang menyeleweng adalah Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa

Kai-pang. Mereka ini sudah pergi jauh, andaikata kalian

mengejar juga, kalau kalian nanti bertemu dengan datuk

mereka yang bernama Bu-tek Siu-lam, kalian tentu akan lari

terbirit-birit ketakutan!”

“Heh, kaulihat saja!” bentak Pak-kek Sian-ong marah.

“Hayo, Ang-bin Siauwte, kita kejar mereka!” Dua orang kakek

itu lalu meloncat turun dari panggung dan secepat terbang,

mereka pergi. Dari jauh terdengar suara Lam-kek Sian-ong.

“Suling Emas, Lain kali kami akan mencarimu untuk

menentukan siapa diantara kita yang lebih unggul!”

Suling Emas hanya tersenyum pahit dan tidak menjawab.

Pada saat itu, setelah para pengacau pergi, kembali Suling

Emas yang menjadi pusat perhatian.

Keadaan masih tetap tegang karena hal-hal dan

perubahan-perubahan baru yang mereka dengar dan hadapi

ini tidak kalah gawat dan menegangkan daripada tadi. Orang

yang mereka anggap Yu Kang Tianglo tadi ternyata bukan Yu

Kang Tianglo! Ini sudah hebat, akan tetapi lebih hebat lagi,

orang itu ternyata Suling Emas. Lalu muncul pengemis muda

lihai yang menurut keterangan Si Gadis jelita adalah putera Yu

Kang Tianglo. Semua pengemis menjadi bingung dengan

adanya perubahan-perubahan hebat yang amat cepat terjadi

di depan mata mereka. Akan tetapi karena maklum akan

lihainya tiga orang yang kini berada di atas panggung itu,

mereka tidak berani apa-apa. Juga jelas bahwa dalam sepak

terjang mereka tadi, mereka membantu Khong-sim Kai-pang.

Suling Emas yang kini tidak menutupi muka dengan

saputangannya lagi, berdiri di atas panggung berhadapan

dengan Yu Siang Ki dan Kwi Lan. Mereka bertemu pandang

untuk beberapa lamanya. Kemudian tanpa ragu-ragu lagi

Siang Ki maju ke depan dan menjatuhkan dirinya berlutut di

depan Suling Emas.

“Paman, besar sekali hati saya dapat berjumpa dengan

Paman yang memang saya cari-cari, dan lebih bahagia lagi

hati saya menyaksikan betapa Paman telah melindungi Khongsim

Kai-pang dari orang-orang jahat. Nama saya Yu Siang Ki.

Yu Kang Tianglo adalah mendiang Ayah saya. Sebelum

meninggal dunia, Ayah saya meninggalkan pesan kepada saya

untuk membela Khong-sim Kai-pang daripada pengaruh kaum

sesat dan untuk usaha itu, kalau saya menemui kesulitan

menghadapi orang jahat yang lihai, saya diharuskan mencari

Paman dan mohon pertolongan Paman. Siapa kira dapat

berjumpa di sini, harap Paman menerima hormat saya.”

Suling Emas tersenyum dan girang sekali hatinya. Dengan

munculnya pemuda yang menjadi putera Yu Kang Tianglo,

akan terbebaslah ia daripada tugas melindungi Khong-sim Kaipang.

Tadi ia sudah menyaksikan kelihaian pemuda ini dan

agaknya pemuda ini sudah mewarisi kepandaian ayahnya.

Melihat betapa pemuda ini secara gagah berani turun tangan

menghadapi Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong yang

sakti untuk membela Khong-sim Kai-pang, ia maklum pula

bahwa pemuda ini setia dan mencinta perkumpulan pengemis

yang dulu dibangun oleh kakeknya, maka dapat diharapkan

pemuda ini menggantikan Yu Kang Tianglo menjadi ketua

perkumpulan ini.

Untuk menguji Iwee-kang Yu Siang Ki, Suling Emas

menempelkan kedua tangannya di pundak pemuda itu sambil

membentak. “Tak usah berlutut!” Pendekar sakti ini

mengerahkan sinkang yang disalurkan di kedua tengannya.

Yu Siang Ki terkejut ketika merasa betapa pundaknya

seakan-akan ditindih dua buah gunung, kemudian tenaga

raksasa membetotnya ke atas. Ia mengerling ke atas dan

melihat wajah yang tersenyum-senyum itu maklumlah ia

bahwa Suling Emas sedang mengujinya. Maka ia pun cepatcepat

mengerahkan tenaga sehingga biarpun tubuhnya

terbetot dan tertarik ke atas, namun ia masih dalam keadaan

berlutut!

“Bagus! Engkau patut menjadi putera Saudara Yu Kang

Tianglo!” kata Suling Emas sambil melepaskan kedua

tangannya. Pemuda itu melompat dan berdiri di depan Suling

Emas dengan muka agak pucat dan bibir menyeringai

menahan takut. Suling Emas terkejut sekali, tangan kirinya

bergerak cepat dan…. “brettt!” baju Siang Ki sudah robek

memperlihatkan pundak kirinya. Ternyata benar seperti

dugaannya, di situ terdapat tanda menghitam seperti tapak

jari tangan!

“Hemm, kau terkena hawa pukulan jarak jauh yang amat

berbahaya. Berputarlah kau dan jangan melawan!”

Yu Siang Ki tadinya terkejut dan heran ketika ia

mengerahkan Iwee-kang untuk menahan ujian, ia merasa

betapa dada kirinya sakit seperti ditusuk-tusuk jarum. Ia

makin terkejut ketika tiba-tiba Suling Emas merobek bajunya,

akan tetapi kini ia merasa bersyukur. Sebagai seorang ahli

silat tinggi, tentu saja ia sudah dapat menduga bahwa kakek

putih yang sakti tadi ternyata telah melukainya dengan

pukulan jarak jauh yang membuat ia terdorong dan terhuyung

ke belakang tadi. Maka tanpa banyak pikir lagi ia lalu memutar

tubuh membelakangi Suling Emas, melepaskan seluruh urat

dan tenaganya sedikit pun tidak melakukan perlawanan. Pada

saat itu ia merasa betapa pundak kiri dan punggungnya

ditotok kemudian telapak tangan yang amat panas seperti

membara menempel di punggungnya.

“Sekarang bernapaslah panjang-panjang dan rasakan

apakah masih sakit.”

Yu Siang Ki menarik napas panjang, hatinya girang sekali

karena dada kirinya sudah tidak sakit lagi. Ia menggeleng

kepala dan berkata. “Sudah tidak terasa apa-apa lagi, Paman.”

Suling Emas melepaskan tangannya dan menghela napas.

“Sungguh berbahaya Pak-kek Sian-ong, tangannya masih keji!

Akan tetapi bahayanya sudah lewat, hanya perlu memulihkan

tenaganya. “He, Nona, ke sinilah engkau!” Tiba-tiba Suling

Emas memanggil dan menggapai ke arah Kwi Lan.

Ketika Kwi Lan tadi melihat betapa Yu Siang Ki

disembuhkan dari lukanya oleh Suling Emas dengan tenaga

sin-kang, ia tercengang. Kemudian ia tersenyum girang.

Kiranya kakek muka putih tadi lihai sekali sehingga

dorongannya dari jarak jauh telah melukai Yu Siang Ki. Akan

tetapi ia tidak terluka! Dan hal ini berarti bahwa dia lebih kuat

daripada pemuda itu, lebih lihai! Ketika Suling Emas

memanggilnya, sambil tersenyum ia menghampiri dan

menyimpan pedangnya. Memang ia pun ingin sekali bicara

dengan Suling Emas yang ia kagumi. Ingin bicara tentang

Sang Ratu Khitan, ibu kandungnya!

Begitu Kwi Lan melangkah maju dengan mata bersinar,

wajah berseri dan bibir tersenyum, Suling Emas memandang

seperti orang terpesona. Dadanya berdenyut keras dan

seketika teringatlah ia kepada Lin Lin atau Yalina, kekasihnya.

Gadis ini sama benar dengan kekasihnya itu! Seperti itu pula

Lin Lin dahulu mengangkat muka dengan leher panjang lurus,

dada dibusungkan, pandang mata penuh ketabahan dan

semangat. Seperti itu pula lenggang Lin Lin yang halus

gemulai namun membayangkan kegagahan. Dan senyum itu!

Senyum nakal dan aneh, pembawaan dari suku bangsanya

yang asing, suku bangsa Khitan!

Gadis itu sudah berdiri dekat di depannya, namun Suling

Emas masih memandang, merasa seperti dalam mimpi. Ia

melihat Lin Lin muda kembali, menjadi gadis remaja!

Melihat keadaan Suling Emas ini, Kwi Lan memperlebar

senyumnya, merasa lucu dan aneh. Dilihat sikapnya, pendekar

sakti yang berjuluk Suling Emas ini tiada ubahnya dengan lakilakl

biasa, yang selalu memandangnya dengan sikap tertarik

seperti itu. Akan tetapi sinar matanya lain daripada laki-laki

yang lain. Sinar mata yang terpancar keluar dari sepasang

mata yang sayu sedih itu, tidak mengandung nafsu seperti

pada laki-laki lain, melainkan penuh pertanyaan dan

keheranan bukan kekaguman dan bukan pula gairah.

“Jadi engkau inikah orangnya yang berjuluk Suling Emas?

Sudah banyak kudengar tentang dirimu dari Yu Siang Ki.

Memang aku ingin sekali jumpa denganmu, banyak hal yang

hendak kutanyakan. Suling Emas, di manakah kita dapat

bicara dengan enak dan leluasa? Kuharap engkau tidak akan

merasa keberatan….!”

“Engkau anak siapa? Siapa Ibumu?” Pertanyaan ini keluar

dari mulut Suling Emas secara otomatis seperti di luar

kesadarannya dan terdengar keras seperti bentakan sehingga

semua orang yang mendengar mengira bahwa pendekar itu

menjadi marah-marah.

Kwi Lan tersentak kaget, keningnya berkerut, matanya

memandang tajam. Apa maksud pendekar ini? Mengapa

begitu jumpa, terus saja bertanya siapa ibunya? Kwi Lan

adalah seorang gadis yang amat cerdik. Pertanyaan yang

membingungkan semua orang ini sudah dapat diduga

maksudnya dalam sekejap mata oleh Kwi Lan. Ia sudah

mendengar bahwa orang ini, Suling Emas adalah kakak angkat

Ratu Yalina, dan mungkin sekali, kalau tidak hisapan jempol

belaka percakapan antara kaum sesat, di antara kakak dan

adik angkat ini terjalin kasih sayang. Kalau betul demikian,

agaknya kini Suling Emas terkejut melihat dia dan tentu saja

hanya satu hal yang menyebabkannya, yaitu bahwa dia tentu

mirip dengan ibunya di waktu masih muda! Ia tidak

meragukan keterangan bibi dan gurunya, bahwa Ibu

kandungnya adalah Ratu Yalina.

“Kau tanya namaku? Seperti engkau, namaku hanya nama

julukan. Mutiara Hitam! Tentang Ibuku…. aku sendiri tidak

tahu….”

Mendengar jawaban ini, Suling Emas baru sadar betapa

tidak pantasnya pertanyaannya tadi. Wajahnya menjadi merah

sekali dan ia cepat berkata. “Nona, kaubukalah baju bagian

dadamu!”

Kini wajah Kwi Lan yang menjadi merah sekali, merah

karena marah. Sepasang matanya memancarkan kemarahan,

sinarnya menyambar wajah Suling Emas dan tangan kanannya

bertolak pinggang, telunjuk kiri menuding ke arah hidung

Suling Emas sambil mulutnya membentak.

“Apakah kaukira setelah kau bernama Suling Emas dan

terkenal sebagai pendekar besar yang sakti, boleh saja engkau

menghina seorang seperti aku? Cih, manusia kurang ajar tak

tahu malu!” Setelah berkata demikian, ia membanting kakinya

dengan gemas kemudian sekali bergerak, tubuhnya sudah

melayang turun dari atas panggung.

“Kwi Lan….! Kwi Lan, kembalilah! Engkau hendak ke

mana….?” Yu Siang Ki berseru memanggil.

Kwi Lan tidak menoleh, hanya menjawab dengan suara

menyatakan kekesalan hatinya. “Aku pergi, uruslah dunia

pengemismu, sampai jumpa!”

“Kwi Lan….!” Yu Siang masih berusaha menahan.

“Percuma, gadis seperti dia itu tak mungkin mau dicegah

kehendaknya….!” Suling Emas berkata lirih dan berkali-kali

pendekar ini menarik napas panjang dan berkata. “ aneh….

benar aneh….,” Di dalam hatinya ia benar-benar makin heran

menyaksikan sikap gadis pemarah itu yang sama dengan

watak Lin Lin. Kemudian ia bertanya kepada Yu Siang Ki, “Kwi

Lan namanya? Mutiara Hitam? Dari manakah datangnya?

Ilmunya hebat….“

“Entahlah, Paman. Saya bertemu di tengah jalan, dia

sebatangkara namanya Kwi Lan dan shenya Kam….”

“Heh….?” Suling Emas benar-benar terkejut, memandang

wajah tampan itu dengan mata penuh selidik.

“Benar, Paman. Ketika pertama kali mendengar saya pun

terkejut dan melihat kelihaiannya, saya mengira dia

mempunyai hubungan keluarga dengan Paman. Akan tetapi

ternyata bukan dia…. dia bahkan tidak tahu siapa orang

tuanya. Kiranya, semenjak bayi dia dirawat gurunya yang ia

sebut-sebut Bibi Sian.”

Suling Emas berdiri tegak seperti arca. Penuturan singkat

tentang gadis itu membuat pikirannya melayang-layang dan

mengenangkan masa lalu. Bibi Sian? Kalau gadis yang sama

benar wajah dan wataknya dengan Lin Lin itu puteri Lin Lin,

memang dia mempunyai seorang “Bibi Sian”, yaitu Kam Sian

Eng! Dan ilmu kepandaian Sian Eng memang hebat luar

biasa,” karena Sian Eng telah mewarisi pusaka ibu

kandungnya, Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian (baca cerita CINTA

BERNODA DARAH)! Benarkah sangkaannya ini? Akan tetapi,

ahh…. mana mungkin Lin Lin mempunyai puteri? Ia hanya

mendengar bahwa sampai kini, Lin Lin yang kini menjadi Ratu

Yalina di Khitan, tidak pernah menikah dan hanya mempunyai

seorang putera angkat, yaitu anak panglimanya sendiri yang

setia, Kayabu.

Pada saat itu, Gak-lokai dan Ciam-lokai sudah meloncat ke

atas panggung. Tadi ketika semua orang mendengar bahwa

orang yang mereka sangka Yu Kang Tianglo itu ternyata palsu

dan Suling Emas adanya, mereka menjadi gaduh dan ramailah

mereka mengeluarkan pendapat masing-masing. Gak-lokai

dan Ciam-lokai segera merundingkan hal itu dengan anak

buahnya. Mereka kini sudah mendengar bahwa Yu Kang

Tianglo telah meninggal dunia dan karena mereka tahu bahwa

Suling Emas dahulu sahabat baik Yu Kang Tianglo, maka

mereka tidak akan menuntut, bahkan berterima kasih. Apalagi

di situ ada terdapat pemuda lihai yang mengaku putera Yu

Kang Tianglo, hal ini harus dibuktikan lebih dahulu

kebenarannya. Setelah mendapat persetujuan rekan-rekan

mereka, dua orang kakek pengemis itu lalu melompat ke atas

panggung. Langsung mereka berdua menghadapi Suling Emas

dan memberi hormat.

“Kiranya Taihiap (Pendekar Besar) yang semenjak dahulu

telah menjadi sahabat baik para kai-pang. Harap Taihiap sudi

memaafkan kesalahan kami yang menyangka Taihiap Yu Kang

Tianglo.” kata Gak-lokai.

Suling Emas balas menjura dah menarik napas panjang.

“Sama-sama salah, Lokai. Aku pun bersalah, telah berani

mengaku sebagai Yu Kang Tianglo. Syukurlah kalian semua

percaya bahwa perbuatanku ini sama sekali bukan untuk

merampas kedudukan, melainkan untuk mewakili sahabatku

itu membersihkan Khong-sim Kai-pang. Sekarang rahasiaku

telah terbuka, dan kebetulan sekali muncul putera Yu Kang

Tianglo ini yang bernama Yu Siang Ki. Melihat kepandaiannya,

kiranya tidak ada orang lain yang tepat untuk memimpin

Khong-sim Kai-pang dan bersama kai-pang-kai-pang lain

bersatu menghadapi ancaman kaumsesat.”

“Ucapan Taihiap tepat sekali dan kami bergembira bertemu

dengan putera Yu Kang Kai-pangcu, sungguhpun merasa

sedih mendengar berita kematiannya.

Akan tetapi, Taihiap, siapakah berani tanggung bahwa

orang muda ini benar-benar putera Yu Kang Tianglo yang

sudah puluhan tahun tiada berita?” kata Ciam-lokai.

“Pendapat rekan Ciam-lokai benar. Kalau yang memalsukan

nama Yu Kang Tianglo itu Taihiap, hal ini masih tidak ada

buruknya, bahkan lebih baik mengingat bahwa Taihiap

seorang pendekar sakti yang selalu membela kaum lemah.

Akan tetapi kalau sampai dipalsukan orang lain yang kemudian

menyelewengkan kai-pang seperti hannya lima pangcu yang

telah tewas di tangan Taihiap, bukankah hal ini akan

menimbulkan malapetaka? Karena itu, kami minta bukti dari

orang muda ini bahwa dia betul-betul putera Yu Kang

Tianglo!”

“Bagus….! Benar sekali….!” Terdengar para pengemis

berteriak-teriak.

Suling Emas hanya memandang kepada Yu Siang Ki. Di

dalam hatinya ia percaya kepada pemuda ini yang dapat ia

nilai kejujuran dan kesetiaannya dari sikap dan sepak

terjangnya tadi. Akan tetapi ia pun tidak berani memastikan

apakah pemuda ini benar-benar putera Yu Kang Tianglo,

karena ketika bertemu dengan tokoh pengemis itu, dahulu Yu

Kang Tianglo tidak menyebut-nyebut tentang keadaan

keluarganya. Oleh karena inilah, ia diam saja dan

menyerahkan kepada Yu Siang Ki sendiri untuk membuktikan

kebenaran pengakuan sebagai putera Yu Kang Tianglo.

Pemuda itu dengan sikap tenang, tanpa ragu-ragu

menghadapi Cak-lokai dan Ciam-lokai sambil berkata.

“Kalau saya tidak salah duga, Ji-wi (Anda Berdua) tentulah

Gak-lokai dan Ciam-lokai. Ayah pernah menyebut nama Ji-wi

kepada saya. Apa yang Ji-wi kemukakan tadi memang benar.

Saya harus dapat membuktikan bahwa saya Yu Siang Ki,

benar-benar adalah putera tunggal Yu Kang Tianglo. Saya

mempunyai tiga macam bukti, harap Ji wi dan semua Saudara

anggauta Khong-sim Kai-pang, mendengar dan

menyaksikannya!”

Yu Siang Ki berhenti sejenak, kemudian ia berkata lagi

dengan suara lantang sambil menggerakkan kedua tangannya,

yang kiri menekan di dada kiri arah tempat jantung dan

tangan kanan diangkat ke atas membentuk lingkaran dengan

ibu jari dan jari tengah. “Beginilah tanda rahasia perkumpulan

kita Khong-sim Kai-pang! Kakekku, Yu Jin Tianglo, yang

menciptakan tanda rahasia ini. Bukan hanya sekedar tanda,

melainkan memiliki tiga kegunaan, yaitu pertama sebagai

tanda pengenal sesama anggauta. Kedua mempunyai arti

yaitu Kosong dan Hati, sesuai dengan nama perkumpulan kita,

Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong).

Kosong adalah kosong lahir batin. Lahirnya kosong dan miskin

tidak memiliki apa-apa, dalamnya juga kosong dan polos tidak

mempunyai watak dan pikiran kotor. Adapun hati

dimaksudkan bahwa setiap anggauta harus memiliki hati yang

bersih dan penuh kesetiaan terhadap perkumpulan. Kemudian

arti ke tiga dan hal ini hanya dikenal oleh para pimpinan

Khong-sim Kai-pang, yaitu gerakan ini adalah jurus

pembukaan daripada ilmu silat yang harus dimiliki oleh para

pimpinan Khong-sim Kai-pang. Nama Ilmu silatnya pun Khongsim-

kun (Ilmu Silat Hati Kosong)!”

Mendengar ini, berisiklah semua pengemis dan semua

terheran-heran. Yang sudah tahu jelas akan arti tanda rahasia

mereka itu, mengangguk-angguk membenarkan, yang belum

tahu kini menjadi tahu dan tercengang, tidak mengira bahwa

tanda rahasia itu mempunyai arti yang begitu luas.

“Sekarang bukti ke dua bahwa saya adalah putera tunggal

Yu Kang Tianglo. Mungkin di antara saudara anggauta Khongsim

Kai-pang tidak ada yang mengetahui siapa nama Gak-lokai

dan Ciam-lokai! Adakah di antara saudara yang mengetahui

nama mereka berdua?”

Yu Siang Ki menanti sampai beberapa lama. Para pengemis

itu kembali berisik sekali sehingga keadaan di situ menjadi

seperti pasar. Namun tidak ada yang tahu akan nama dua

orang tokoh yang selalu hanya dikenal sebagai Gak-lokai dan

Ciam-lokai saja. Kemudian terdengar suara mereka. “Tidak

ada yang tahu….!”

Yu Siang Ki menjura kepada Gak-lokai dan Ciam-lokai.

“Maafkan saya, Ji wi Lokai, untuk menjadi bukti, terpaksa saya

memperkenalkan nama Ji wi.” Kemudian pemuda ini

menghadapi para pengemis dan berkata lantang. “Mendiang

Ayah pernah mengatakan bahwa di antara para tokoh Khongsim

Kai-pang, yang boleh saya percaya adalah dua orang yaitu

Paman Gak Lun dan Paman CiamHie inilah!”

Dua orang lokai itu saling pandang dengan muka pucat.

Sudah puluhan tahun mereka tidak pernah memperkenalkan

nama, bahkan tidak pernah ada yang menyebut nama

mereka. Memang hanya Yu Kang Tianglo yang mereka

beritahu tentang nama mereka.

Kembali para pengemis menjadi berisik, bahkan ada yang

bersorak karena kedua orang lokai itu sama sekali tidak

membantah. Hal ini hanya berarti bahwa bukti ke dua ini pun

cocok.

“Sekarang bukti ke tiga. Seperti kukatakan tadi, setiap

pimpinan Khong-sim Kai-pang tentu diberi pelajaran Ilmu Silat

Khong-sim-kun. Ayah pernah bercerita bahwa pada masa ini,

di antara semua anggauta Khong-sim Kai-pang, hanya Gaklokai

dan Ciam-lokai berdua sajalah yang fahamakan ilmu silat

itu, karena dahulu ketika Ayah datang ke sini untuk memimpin

saudara-saudara menghadapi Pouw Kai-ong, sebelum Ayah

pergi lagi Ayah telah menurunkan Ilmu itu kepada dua orang

tua ini. Benarkah tidak, Ji-wi Lokai?”

Gak-lokai dan Ciam-lokai berseri-seri wajahnya dan

mengangguk-angguk. Kini mereka tidak ragu-ragu lagi bahwa

pemuda yang tahu semua kejadian rahasia ini tentulah benar

putera Yu Kang Tianglo. Akan tetapi mereka masih belum

puas. Kalau ketua mereka selihai Suling Emas, hati mereka

akan menjadi lega. Akan tetapi Yu Siang Ki masih amat muda.

Biarpun tadi kelihatan kelihaiannya, bahkan dipuji oleh Suling

Emas, namun cukup kuatkah pemuda ini menjadi ketua kaipang

yang kini menghadapi banyak musuh tangguh?

“Nah, kalau benar demikian.” Siang Ki menyambung katakatanya,

kini saya persilakan Ji-wi untuk menguji aku dengan

ilmu silat itu. Kalau aku dapat memecahkan Khong-sim-kun,

jelaslah bahwa hanya ayahku Yu Kang Tianglo yang dapat

mengajarkan ilmu itu kepadaku.”

“Setuju! Baik begitu!” Semua pengemis bersorak. Gak-lokai

dan Ciam-lokai juga menjadi girang karena kini terbuka

kesempatan bagi mereka untuk memuaskan hati mereka

dengan menguji sampai di mana kelihaian putera Yu Kang

Tianglo ini. Akan tetapi karena kini mereka yakin bahwa

pemuda ini adalah putera Yu Kang Tianglo, maka mereka

menjadi segan juga. Gak-lokai lalu menjura dan berkata.

“Yu Siauw-pangcu (Ketua Yu Muda) yang memerintah,

harap suka maafkan kami dua orang tua berani kurang ajar!”

Yu Siang Ki tertawa. Senang hatinya melihat sikap dua

orang yang pernah dipuji ayahnya ini. “Ji-wi harap jangan

sungkan-sungkan. Mulailah!”

Gak-lokai dan Ciam-lokai bergerak maju dan benar saja,

sebagai pembukaan mereka telah bergerak seperti yang

dilakukan Yu Siang Ki tadi, yaitu tangan kiri menekan dada kiri

sedangkan tangan kanan diangkat di atas kepala membentuk

lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah. Juga pemuda itu

melakukan gerak yang sama, setelah itu barulah dua orang

kakek itu menyerang dengan jurus-jurus yang aneh, namun

amat cepat dan menimbulkan angin pukulan halus. Diam-diam

Suling Emas memperhatikan dan menjadi kagum. Ilmu Khongsim-

kun yang diciptakan kakek pemuda itu memang benar

hebat, gerakannya halus dan indah namun mengandung

kecepatan gerak dan tenaga kuat. Begitu menyaksikan cara

pemuda itu menyambut serangan, tahulah Suling Emas bahwa

dalam ilmu silat ini, Si Pemuda jauh lebih matang dan

sempurna gerakannya daripada kedua orang lawannya. Hal inl

adalah karena Gak-lokai dan Ciam-lokai hanya beberapa hari

saja berkumpul dengan Yu Kang Tianglo sehingga hanya

menerima teori dan menerima bimbingan sebentar, sebaliknya

Yu Siang Ki berlatih di bawah pengawasan ayahnya, tentu saja

gerakannya lebih mahir dan sempurna.

Dua orang kakek itu girang bukan main. Mereka pun tahu

bahwa pemuda ini benar-benar mahir Ilmu Silat Khong-simkun

dan semua jurus yang mereka keluarkan untuk

menyerangnya, semua dapat dikembalikan, ditangkis atau

dielakkan dengan baik sekali. Sampai habis semua jurus

Khong-sim-kun mereka jalankan dan belum pernah mereka

dapat menyentuh tubuh Yu Siang Ki, sebaliknya setiap kali

pemuda itu menangkis, tentu tangan mereka terpental dan

pangkal lengan mereka terasa kesemutan dan setengah

lumpuh. Mereka maklum bahwa kalau pemuda itu

menghendaki, dalam beberapa jurus saja mereka tentu akan

dapat dirobohkan!

Keduanya lalu melompat mundur, menghadapi para

pengemis di bawah panggung dan bersorak, “Saudara-saudara

semua! Dia ini betul-betul putera Yu Kang Kai-pangcu! Dialah

yang patut menjadi ketua kita!”

Setelah berkata demikian, Gak-lokai dan Ciam-lokai lalu

menjatuhkan diri berlutut di depan Yu Siang Ki sambil berkata,

“Yu-pangcu, kami mohon pimpinan Pangcu!”

Pemuda itu terharu ketika melihat semua pengemis di

bawah panggung juga berlutut. Ia tersenyum dan mengangkat

bangun Gak-lokai dan Ciam-lokai. “Harap Saudara sekalian

jangan terlalu merendahkan diri. Aku tentu saja suka sekali

memimpin kalian dan melindungi perkumpulan kita, asal

mendapat bantuan Gak-lokai dan Ciam-lokai yang sudah lebih

berpengalaman.”

Para pengemis bersorak gembira, ada yang menari-nari dan

ada yang tertawa-tawa. Para pimpinan kai-pang yang menjadi

tamu segera maju dan memberi hormat serta memberi

selamat kepada pangcu baru dari Khong-sim Kai-pang. Timbul

harapan mereka bahwa bersama pemuda yang lihai ini mereka

akan lebih kuat menghadapi penyelundupan kaumsesat.

“Eh, ke mana dia….?” Tiba-tiba Yu Siang Ki menengok,

terkejut karena tidak melihat Suling Emas di belakangnya.

Gak-lokai dan Ciam-lokai juga terkejut dan heran. “Ke

mana perginya Kim-siauw Taihiap?”

“Lihat itu ada tulisan!” kata pula Yu Siang Ki yang melihat

tulisan terukir di atas papan panggung di mana tadi Suling

Emas berdiri. Beramai-ramai mereka mendatangi tempat itu

dan pembaca tulisan yang terukir, amat indahnya, agaknya

diukir dengan ujung sepatu!

“Selamat kepada pangcu baru, Suling Emas akan selalu

mengamati dan melindungi dari jauh!”

Mereka menarik napas panjang. Gak-lokai dan Ciam-lokai

cepat lari meloncat turun menuju ke kandang kuda, namun

kuda kurus tunggangan Suling Emas juga tidak ada pula di

situ. Semua orang menjadi makin kagum. Di depan mata

sekian banyaknya orang, Suling Emas dapat menghilang

begitu saja, bahkan meninggalkan tulisan yang diukir dengan

ujung kaki.

Namun di dalam hatinya, Yu Siang Ki, Gak-lokai, dan Ciamlokai

girang karena di dalam tulisan yang ditinggalkan Suling

Emas itu, Si Pendekar Sakti menjanjikan pengamatan dan

perlindungan, biarpun dari jauh. Hal ini berarti bahwa dalam

menghadapi bahaya dan kesukaran, mereka masih dapat

mengharapkan bantuan pendekar sakti itu. Biarpun di dalam

hatinya Yu Siang Ki berduka sekali karena ia kehilangan Kwi

Lan yang pergi secara mendadak, namun sebagai seorang

ketua yang amat setia kepada Khong-sim Kai-pang, ia

mengesampingkan perasaan pribadi yang jatuh cinta kepada

gadis itu, dan mulailah ia mengatur segala usaha dan

perbaikan untuk Khong-sim Kai-pang.

***

Suling Emas menarik napas panjang berkali-kali, hanya

kecewa dan menyesal karena ia tidak berhasil mengejar gadis

yang bernama Kam Kwi Lan itu. Biarpun ia membalapkan

kudanya mengejar keempat penjuru, ia tetap saja tak dapat

melihat Kwi Lan. Mengertilah ia bahwa gadis itu memang

sengaja tidak mau menjumpainya. Ia mengingat-ingat dan

mengangguk-angguk. Gadis itu wataknya aneh dan keras

sekali. Dan ia memang kurang hati-hati dengan ucapannya

tadi. Ia menyuruh gadis itu membuka baju. Tentu saja ia

maksudkan agar gadis itu melihat sendiri pada dadanya

karena seperti juga Siang Ki, ia tahu bahwa gadis itu

menderita luka akibat pukulan rahasia Pak-kek Sian-ong. Gadis

itu salah kira, menyangka dia bersikap kurang ajar!

“Hemm, patut menjadi murid Sian Eng.” ia menggereneng.

“Akan tetapi wataknya lebih mirip dengan Lin-moi, juga wajah

dan bentuk tubuhnya. Heran sekali…. siapakah bocah itu?”

Karena dapat menduga, watak Kwi Lan yang mirip Lin Lin,

maka ia tahu bahwa percuma saja mencari terus. Kalau gadis

itu tidak mau menjumpainya dan bersembunyi, mana mungkin

ia mencari dan menemukannya? Suling Emas menjalankan

kudanya lagi, perlahan-lahan. Ia telah dikenal orang.

Rahasianya telah bocor karena munculnya Pak-kek Sian-ong

dan Lam-kek Sian-ong. Hatinya menjadi risau. Untuk

menghilangkan perasaan tidak enak ini ia mengeluarkan

sulingnya dan ditiupnya sulingnya itu dan berusaha

melenyapkan segala perasaan yang tidak menyenangkan.

Namun tetap saja pikirannya tak dapat ia diamkan. Dunia

mulai kacau lagi. Orang-orang jahat bermunculan. Bahkan dua

orang seperti Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong juga

mulai main gila di dunia ramai. Bagaimana dia akan dapat

menyembunyikan dan mengasingkan diri, berpeluk tangan

saja? Tak mungkin, bisik hatinya. Tak mungkin , aku dapat

menjadi penonton saja. Haruskah dia turun tangan kembali,

seperti dulu-dulu? Haruskah ia mengisi hidupnya dengan

pertandingan-pertandingan lagi? Mengganggu ketenangan dan

kesunyian dengan urusan dunia yang tiada habisnya?

Tiba-tiba ia menahan kudanya dan otomatis tangan kirinya

menarik saputangan yang tergantung di leher ke atas,

menutupi mulut dan hidungnya. Telinganya mendengar suara

makian dari jauh, dari arah belakangnya.

“Setan biadab, siapa sudi menuruti kehendakmu? Bunuh

saja aku!”

“Iblis Khitan, kalau bisa kaucari sendiri orangnya, mengapa

memaksa kami? Kau berani menghina pengemis miskin?”

Itulah suara Gak-lokai dan Ciam-lokai! Biarpun ia t idak

menengok dan tidak melihat, namun telinganya mendengar

betapa dari belakang terdapat dua orang yang mendatangi

dengan ilmu lari cepat yang amat hebat. Ia terkejut dan

tadinya ia mengira tentu Lam-kek Sian-ong dan Pak-kek Sianong

yang datang, akan tetapi kalau mereka, mengapa suara

makian Ciam-lokai tadi menyebut-nyebut iblis Khitan? Suling

Emas lalu memutar kudanya dan karena harus siap menjaga

kalau yang datang betul Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sianong,

maka masih memegang suling di tangan kanannya.

Akan tetapi setelah kini ia memutar kuda, ia terheranheran.

Yang datang berlari cepat sekali adalah dua orang

Khitan, dua orang kakek yang datang membawa Gak-lokai

seperti orang menenteng kelinci saja. Dua orang kakek

pengemis yang cukup lihai itu dicengkeram punggung bajunya

dan sama sekali t idak dapat melepaskan diri. Ini saja sudah

membuktikan betapa lihainya dua orang Khitan itu. Suling

Emas diam-diam terkejut. Bukan terkejut melihat kelihaian

mereka karena ia pun maklum bahwa banyak orang-orang

kuat di Khitan. Akan tetapi ia terkejut karena melihat bahwa

yang datang ini bukan orang sembarangan, melainkan dua

orang yang berpangkat tinggi dalam ketentaraan, dua orang

panglima! Hal ini dapat dilihat dari pakaiannya. Para panglima

Khitan dapat dikenal dari tanda sulaman bundar di dada

mereka. Dua orang kakek ini pada dadanya terdapat gambar

pilar besar, berarti bahwa mereka adalah panglima-panglima

benteng. Hemm, kalau Lin Lin sampai mengutus panglimapanglimanya

datang, berarti Ratu Khitan itu tidak main-main

lagi, tidak sekedar rindu dan mengundangnya begitu saja!

Setelah dua orang panglima Khitan itu tiba dekat, Gak-lokai

berkata sambil memandang Suling Emas, “Taihiap, bukan

kami yang menunjukkan tempat Taihiap, melainkan kami

dibawa dengan paksa oleh dua ekor monyet Khitan ini!”

Suling Emas berkata dari balik saputangannya, suaranya

perlahan dan halus, namun berpengaruh, “Sepanjang

pengetahuanku, Panglima-panglima Khitan adalah orangorang

yang berkepandaian tinggi dan juga menjunjung

keadilan dan kegagahan. Mengapa mengganggu pengemispengemis

seperti kami? Apakah Khitan sudah melupakan

persahabatan dan hendak mengganas di selatan?”

Muka kedua orang panglima Khitan itu menjadi merah

karena teguran itu langsung menusuk hati mereka. Sejenak

mereka saling pandang dengan sangsi karena mereka sendiri

pun tidak tahu apakah benar orang berkuda yang menutupi

mukanya itu adalah orang yang dicarinya. Namun, karena

perintah dari atasan mereka menyatakan bahwa orang yang

dicarinya itu menyamar sebagai pengemis dan berada di

antara para pengemis Khong-sim Kai-pang, serta memiliki

seekor kuda merah yang kurus kering, hilang keraguan

mereka.

Seorang di antara mereka berkata, “Maafkan jika terpaksa

kami menangkap dua manusia bandel ini, karena dimintai

tolong menunjukkan tempat Taihiap mereka t idak mau malah

memaki-maki. Taihiap, jauh-jauh kami datang sengaja untuk

menemui Taihiap, menempuh perjalanan ribuan li, mengalami

segala macam kesukaran dan rintangan. Sama sekali bukan

maksud kami untuk mengganggu saudara-saudara kai-pang.

Hanya dua orang manusia ini terlalu bandel tidak suka

membantu.”

“Di antara kalian dan aku tidak ada urusan apa-apa, tak

pernah saling bertemu dan tidak saling mengenal. Mengapa

kalian bersusah payah mencariku?”

Pangllma yang bicara tadi mengambil sesuatu dari sakunya,

kemudian berkata.

“Kami datang sebagai utusan ratu kami untuk

menyampaikan surat ini kepada Taihiap. Harap Taihiap sudi

menerimanya!”. Setelah berkata demikian, tangannya yang

memegang surat itu bergerak menyambit dan gulungan surat

itu bagaikan peluru menyambar ke arah Suling Emas.

Suling Emas mengerti bahwa tidak perlu ia berpura-pura

terus. Sambitan itu saja sudah merupakan ujian karena tidak

sembarang orang dapat menyambit seperti itu dan tidak

sembarangan orang pula dapat menerimanya. Ia

mengangsurkan tangan kiri, dengan tenang ia menangkap

gulungan surat itu. Tubuhnya sedikit pun tidak bergoyang dari

atas panggung kudanya.

Dua orang panglima itu memandang penuh kekaguman

dan panglima yang menyambitkan gulungan surat berkata,

“Ternyata tidak keliru dugaan kami. Kami telah melaksanakan

tugas kami. Maafkan kami, sobat-sobat yang bandel dan

selamat tinggal, Taihiap!” Mereka berdua melepaskan

cengkeraman pada punggung baju dua orang kakek pengemis

itu, kemudian membalikkan tubuh dan berlari cepat pergi

meninggalkan tempat itu.

“Berbahaya sekali! Mereka itu memiliki kepandaian yang

hebat. Mengapa Taihiap selalu diganggu orang-orang Khitan?”

tanya Ciam-lokai terheran-heran. Ini adalah pengalamannya

yang dua kali melihat Suling Emas dikejar-kejar orang Khitan.

Suling Emas tersenyum. “Urusan pribadi, Lo-kai. Maafkan

kalau kalian sampal terbawa-bawa.”

“Adakah sesuatu yang dapat kami lakukan untuk

membantumu, Taihiap?” tanya Gak-lokai ketika melihat wajah

pendekar itu agak pucat.

Suling Emas mengerutkan kening. Ia tadi kecewa karena

tak dapat mencari Kwi Lan, maka kini ia berkata. “Memang

kalian dapat membantuku. Harap kalian sampaikan kepada

Pangcu kalian agar suka mengutus anak-anak buahnya untuk

menyelidiki dan mencari kemana perginya gadis yang berjuluk

Mutiara Hitam itu. Kalau berhasil, harap memberi kabar

kepadaku. Aku akan berada di kota raja.”

Dua orang kakek pengemis itu menyanggupi dan mereka

lalu berpisah. Setelah Gak-lokai dan Ciam-lokai pergi, Suling

Emas menjalankan kudanya perlahan-lahan sambil melepas

tali pengikat gulungan kertas. Hatinya berdebar keras. Surat

dari Lin Lin? Apa kehendaknya? Jari-jari tangannya agak

gemetar ketika ia membentangkan kertas itu di depannya,

sedangkan kudanya masih jalan terus perlahan-lahan

seenaknya. Surat itu ternyata singkat namun mengandung

gambaran hati yang penuh rindu dan risau.

Kakanda Kam Bu Song,

Terlalu lama saya menanggung derita batin. Terlalu lama

menyimpan rahasia besar. Tak tertahankan lagi. Lekas datang

berkunjung.

YALINA

Suling Emas menghela napas panjang dan menyimpan

gulungan surat di saku baju sebelah dalam. Apakah yang

dikehendaki Lin Lin? Rahasia besar apakah yang

dimaksudkannya? Bukankah sudah tepat kalau ia

meninggalkan Lin Lin, seperti juga ia meninggalkan Suma

Ceng?”

Ah, hidupnya yang lalu dirusak oleh asmara gagal. Bukan ia

tidak merasa rindu kepada Lin Lin, hanya ia sengaja hendak

menghapus perasaan itu mengingat akan kedudukan Lin Lin

sebagai Ratu Yalina di Khitan. Untuk apa dia mengganggu dan

merusak nama baik seorang ratu besar? Inilah yang

meragukan hatinya sehingga ia tidak berani berkunjung ke

Khitan. Sekarang pun ia tidak ingin berkunjung, bahkan

hendak pergi ke kota raja Sung, untuk menemui Liong ji (Anak

Liong). Ya, kini hanya pemuda putera Suma Ceng itulah yang

menjadi harapannya. Kiang Liong adalah pemuda puteranya.

Anak Suma Ceng, menggunakan she Kiang menurut nama

keluarga Pangeran Kiang suami Suma Ceng, akan tetapi Kiang

Liong adalah puteranya! Dan semenjak kecil, ia seringkali

berkunjung secara diam-diam dan menurunkan ilmunya

kepada Kiang Liong yang menganggapnya sebagai gurunya.

Sekarang pun ia hendak pergi ke kota raja untuk berkunjung

kepada murid dan juga puteranya itu, karena sudah merasa

rindu? Akan tetapi surat Lin Ling yang baru saja diterimanya

membuat hatinya bimbang.

Ah, betapa pahit semua kenyataan itu. Lin Lin adalah

seorang wanita yang dicintanya, bahkan bukan hanya menjadi

kekasih biasa, melainkan menjadi isteri selama sebulan, isteri

yang tidak sah! Terpaksa ia harus merenggutkan cinta kasih,

merobek hati sendiri demi kedudukan Lin Lin sebagai seorang

ratu! Dan terhadap Kiang Liong, biarpun ia tahu bahwa anak

itu adalah puteranya sendiri, ia tidak berani mengakuinya dan

oleh pemuda itu ia hanya dianggap sebagai guru! Hal ini ia

lakukan demi menjaga nama baik Suma Ceng, juga nama baik

anak itu sendiri sebagai putera pangeran! Benar-benar ia

banyak menderita batin, namun pengorbanan-pengorbanan itu

harus ia lakukan demi orang-orang yang ia cinta!

Senja hari di malamtahun baru. Untuk kedua kalinya dalam

beberapa bulan itu, puncak Cheng-liong-san yang biasanya

sunyi sepi itu kini ramai dikunjungi orang. Akan tetapi tidak

seperti dahulu pada pertama kalinya, kini kaum sesat dengan

pasukan-pasukannya yang datang berbondong-bondong, tidak

langsung naik ke puncak, melainkan bergerombol dan

berkumpul menjadi beberapa kelompok di lereng gunung.

Puncak Cheng-liong-san tetap sunyi. Siapakah berani lancang

naik ke puncak sebelum datuk-datuk yang mereka pilih tiba?

Hari itu adalah hari penentuan, hari pertemuan para datuk

kaum sesat yang dipilih oleh golongan masing-masing untuk

menentukan siapa di antara mereka yang patut dipilih menjadi

bengcu atau pemimpin besar kaum sesat.

Datuk pertama yang muncul di puncak adalah seorang

yang amat aneh. Dia berjalan seorang diri, mendaki puncak

sambil bernyanyi-nyanyi. Nyanyinya amat aneh pula, dengan

kata-kata asing yang lucu, sedangkan lagunya juga lucu

sekali, sehingga suaranya yang bergema di seluruh lembah

dan terdengar oleh para kaum sesat, membuat mereka

terheran-heran dan tersenyum-senyum geli. Suara tinggi kecil

seperti suara perempuan. Kalau tidak melihat orangnya,

mendengar suaranya tentu orang mengira dia seorang wanita.

Akan tetapi ternyata dia itu seorang laki-laki yang bertubuh

tinggi tegap, dengan tubuh berotot dan sepatutnya ia seorang

laki-laki yang memiliki tubuh gagah. Wajahnya tampan sekali,

dengan hidung yang agak terlalu mancung dan mata yang

warna hitamnya tercampur biru, kulitnya putih halus seperti

kulit wanita, rambutnya panjang dibiarkan terurai di belakang

punggung. Dan lenggangnya, lenggangnya genit dan lemahgemulai

seperti lenggang seorang wanita berpantat besar

yang genit sekali. Bibirnya yang terlalu manis bentuknya untuk

seorang pria itu selalu tersenyum-senyum dan bergerak-gerak

dibuat-buat agar nampak makin manis. Pakaiannya juga aneh,

amat mewah terbuat dari sutera beraneka warna yang halus,

lehernya digantungi kalung permata yang besar-besar. Kuku

jari-jari tangannya runcing terpelihara dan diberi merahmerah!

Inilah dia Bu-tek Siu-lam, datuk yang dipilih para

pengemis untuk menjadi bengcu. Julukan Siu-lam (Laki-laki

Tampan) memang ada benarnya, hanya sayang

ketampanannya itu membuat ia menjadi genit seperti

perempuan, beraksi seperti perempuan dan tingkah lakunya

tiada bedanya dengan seorang wadam (banci). Sebuah

gunting besar yang mengkilap putih terselip di pinggangnya.

Setelah tiba di puncak, Bu-tek Siu-lam menghent ikan

nyanyiannya, memandang ke kanan kiri lalu berdongak ke

atas. Mulutnya terbuka dan terdengarlah suara suitan yang

keras sekali sehingga mengumandang ke seluruh lembah dan

lereng gunung. Suitan panjang ini disusul suaranya yang

merdu dan kecil namun nyaring sekali.

“Heiiii! Mana dia iblis-iblis palsu dari empat penjuru yang

katanya hendak beraksi? Kalau benar bisa menandingi Bu-tek

Siu-lam, aku rela menganggapnya sebagai bengcu dan

bersahabat dengannya, hi-hi-hik!” Setelah berkata demikian,

Bu-tek Siu-lam yang sukar ditaksir berapa usianya ini berdiri

dengan tubuh digerak-gerakan kemayu!

Mendengar suara datuk mereka ini, rombongan pengemis

yang dipimpin oleh Hek-peng Kai-pang dan Hek-coa Kai-pang

mulai berani mendaki puncak, akan tetapi mereka ini pun

hanya berkumpul di bawah puncak dari mana mereka dapat

memandang datuk mereka dengan penuh harapan. Di antara

kaum sesat yang berkumpul disekitar Pegunungan Chengliong-

san, terdapat pula puluhan orang yang datang hanya

karena tertarik hatinya dan ingin menonton apa sesungguhnya

yang menyebabkan banyak sekali orang mendatangi bukit

yang sunyi itu. Mereka ini adalah orang-orang petani,

beberapa orang pelancong dan ada juga beberapa orang

kang-ouw yang menjadi ingin tahu sekali. Ketika rombongan

pengemis mulai mendaki bukit, orang-orang ini yang tidak

tahu akan bahaya dan sama sekali tidak tahu dan tidak

mengenal orang aneh di atas puncak, ikut pula naik untuk

menonton.

Kedatangan rombongan bukan pengemis ini tak terlepas

dari pandangan mata Bu-tek Siu-lam yang tajam. Ia segera

menghadap ke arah tiga puluh lebih orang-orang yang ingin

menonton itu, lalu berkata, suaranya manis sekali

terdengarnya, sungguhpun dengan dialek asing.

“Siapakah jago kalian? Mana dia? Suruh dia naik ke sini!”

Akan tetapi tentu saja puluhan orang itu tidak ada yang

mengerti apa yang dimaksudkannya karena mereka itu bukan

rombongan tertentu, dan sama sekali tidak punya jago.

Karena tidak ada yang menjawabnya, Bu-tek Siu-lam diamdiam

menjadi marah, menganggap mereka itu tidak sopan dan

tidak menghormatinya. Tiba-tiba ia tertawa dan tahu-tahu

tubuhnya yang tinggi itu sudah melayang turun dari puncak,

tiba di antara puluhan orang yang menonton itu. Para

penonton ini tidak menyangka buruk, bahkan menjadi girang

dapat melihat orang aneh itu dari dekat. Mereka tersenyumsenyum

kepada Bu-tek Siu-lam karena orang aneh yang

tampan dan genit ini pun tertawa-tawa.

Akan tetapi secara mendadak suara ketawa mereka

terhenti ketika Bu-tek Siu-lam menangkap seorang di antara

mereka yang terdekat, menangkap gelung rambut orang itu,

seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun yang bertubuh tinggi

besar dan kuat. Sekali sambar dengan tangan kanan, laki-laki

itu dijambak rambutnya dan digantung. Laki-laki itu terkejut

dan berteriak kesakitan.

“Hi-hik, inikah jago kalian? Atau ada yang lain lagi?” Bu-tek

Siu-lam bertanya sambil tertawa-tawa dan mengangkatangkat

tubuh yang tergantung di tangan kanannya itu. Karena

kesakitan, orang itu menjadi marah sekali. Betapapun juga,

dia adalah seorang laki-laki yang kuat dan pernah belajar silat,

maka tentu saja tidak mau dihina oleh orang aneh ini.

“Bedebah! Lepaskan aku!” teriaknya dan tangan kirinya

menghantam ke arah dada Bu-tek Siu-lam.

“Crakkk!”

Laki-laki itu menjerit dan darah menyembur dari lengan

kirinya yang sudah buntung sebatas siku karena pukulannya

tadi ditangkis dengan guntingan, dilakukan oleh tangan kiri

Bu-tek Siu-lam yang entah kapan sudah mencabut

guntingnya! Saking sakitnya, Laki-laki itu meronta-ronta dan

menjadi nekat, menggunakan tangan kanan dan kedua

kakinya menghantam dan menendang agar terlepas dari

cengkeraman orang aneh itu.

“Crak-crak-crak!”

Sungguh hebat pemandangan itu. Mengerikan sekali! Lakilaki

yang tergantung itu kini buntung semua lengan dan

kakinya! Darah bercucuran dan Laki-laki itu matanya mendelik,

mukanya pucat tak berdarah lagi, agaknya sudah tewas di

saat itu juga, atau pingsan! Kejadian ini membuat para

penonton menjadi panik, ada yang lari, ada yang jatuh

bangun, ada pula yang seketika menjadi lumpuh tak dapat lari

saking takutnya.

“Hayo mana jagomu. Inikah? Crak-crak! Atau ini? Crakcrak-

crak!” Sambil tertawa-tawa Bu-tek Siu-lam mengerjakan

guntingnya setelah melemparkan korban pertama ke atas

tanah. Ia tidak menggunt ing badan atau leher, melainkan kaki

dan tangan sehingga sebentar saja belasan orang sudah

bergelimpangan dengan kaki tangan buntung! Darah

membanjir dan mereka yang menjadi korban kebiadaban ini

berkelojotan dan mati karena kehabisan darah!

“Heeii, anak-anakku semua kaum kai-pang! Lihat, beginilah

akan kuperlakukan terhadap musuh-musuh kita kalau aku

menjadi Bengcu!”

Para pengemis itu biarpun tadinya merasa ngeri

menyaksikan kekejaman yang luar biasa itu, namun karena

mereka sendiri adalah golongan kaum sesat yang berwatak

kejam dan senang melihat orang lain bukan golongannya

menderita, lalu bersorak girang.

“Hidup Locianpwe Bu-tek Siu-lam!”

“Tidak ada yang dapat melawan kegagahan Locianpwe!”

Demikianlah teriakan-teriakan mereka dan Bu-tek Siu-lam

berdiri sambil tersenyum bangga dan puas. Sementara itu sisa

para penonton yang panik dan ketakutan itu kini melarikan diri

ke sebelah barat menjauhi rombongan pengemis yang

mendaki puncak dari sebelah timur. Hati mereka lega karena

orang aneh kejam itu tidak mengejar mereka, agaknya Bu-tek

Siu-lam yang sudah membunuh belasan orang untuk

mendemonstrasikan kepandaian dan kekejamannya telah

puas.

Di antara rombongan pengemis itu terdapat seorang

pengemis tua yang terkenal dengan julukan Tiat-ciang Lo-kai

(Pengemis Tua Tangan Besi) dan namanya hanya disebut

Hoan-lokai. Dia adalah tokoh pengemis semenjak mudanya,

dan semenjak dahulu menjadi tokoh Hek-coa Kai-pang.

Perkumpulan Hek-coa Kai-pang ini sudah mengalami banyak

sekali perubahan, dari pimpinan prang baik-baik sampai

pimpinan orang-orang sesat. Akan tetapi Hoan-lokai tidak

pernah ambil peduli, selalu dia setia kepada Hek-coa kai-pang.

Hal ini adalah karena Hoan-lokai mempunyai penyakit pikun

dan tak mau tahu akan segala urusan. Pendeknya, ia hanya

tahu bahwa ia harus setia terhadap perkumpulannya yang

didirikan oleh seorang pamannya dahulu. Begitu bodoh dan

tidak normal pikiran Hoan-lokai ini sehingga ia tidak tahu lagi

apakah perkumpulannya berada di tangan pimpinan baik-baik

atau sesat. Kali ini ia pun ikut rombongan hanya untuk

menonton dan sama sekali tidak tahu macam apa orang yang

dipilih perkumpulannya sebagai bengcu. Maka tadi pun ia

hanya ikut bergerak kalau rombongannya bergerak.

Akan tetapi, begitu menyaksikan kekejaman yang amat luar

biasa dan di luar batas perikemanusiaan ini, semangatnya

tergugah dan kemarahannya membuat mukanya merah dan

matanya melotot. Apalagi ketika melihat betapa para

pengemis yang menjadi anggauta-anggauta perkumpulannya

kini sambil tersenyum-senyum memuji orang kejam aneh itu

mulai menyeret mayat-mayat yang bergelimpangan dan

melemparkan mayat-mayat itu ke dalam jurang atas perintah

Bu-tek Siu-lam, ia menjadi makin penasaran. Kalau ia melihat

anak buah merampok atau memeras, ia masih tidak peduli

karena betapapun juga yang dirampok dan diperas tentulah

orang yang kaya. Akan tetapi menyaksikan pembunuhanpembunuhan

tanpa alasan terhadap orang-orang yang sama

sekali tidak berdosa, benar-benar ini menembus

kebodohannya dan membuat hatinya memberontak.

“Hei, kau ini mengapa begini kejam seperti iblis?”

bentaknya sambil meloncat maju ke depan Bu-tek Siu-lam.

“Hoan-lokai, jangan sembrono….!”

“Hoan-lokai, jangan kurang ajar terhadap calon bengcu….!”

Teriakan-teriakan peringatan para pimpinan Hek-coa Kaipang

ini tidak dipedulikan oleh Hoan-lokai yang sudah menjadi

marah sekali. Ia sudah meloncat naik ke bagian paling atas

dari puncak itu, berhadapan dengan Bu-tek Siu-lam. Ketika

semua orang memandang dan melihat betapa kedua tangan

pengemis ini berubah menjadi hijau, mereka terkejut dan

mengeluarkan teriakan kaget. Warna hijau pada kedua tangan

ini menjadi tanda bahwa Tiat-ciang Lo-kai ini sudah

mengerahkan semua tenaga Tiat-ciang pada kedua tangan!

Jarang sekali kakek itu menggunakan ilmunya dan biarpun

semua orang tahu akankeampuhan kedua tangannya, namun

belum pernah mereka melihat Hoan-lokai mengerahkan

tenaga Tiat-ciang sampai kedua tangan menjadi hijau! Kini tak

seorang pun mengeluarkan suara, hanya memandang ke atas

puncak dengan muka pucat dan mata terbelalak. Betapapun

juga, kejadian ini menegangkan hati dan menyenangkan,

karena mereka mendapat kesempatan untuk menyaksikan

kelihaian orang yang hendak mereka angkat menjadi bengcu

itu. Tentang keselamatan Hoan-lokai, siapa peduli? Kakek ini

biarpun memiliki ilmu tinggi, namun bodoh dan tidak tahu

urusan. Kematiannya pun takkan merugikan siapa-siapa.

Sementara itu, ketika Bu-tek Siu-lam melihat majunya

seorang pengemis tua bermuka jelek yang kedua tangannya

hijau, ia hanya tertawa dan menyelipkan guntingnya di

pinggang. Ia tahu akan sikap kakek pengemis itu yang marah,

dan tahu pula bahwa kedua tangan yang hijau itu

mengandung tenaga mujijat, namun Bu-tek Siu-lam agaknya

sama sekali tidak memandang mata.

“Kau mau apa?” tanya Bu-tek Siulam dengan sikap angkuh

sambil memandang pengemis itu dengan kepala dimiringkan.

“Kau ini manusia apakah iblis? Kalau manusia, mengapa

kau membunuhi orang sekejam itu tanpa alasan?” tanya

Hoan-lokai dengan muka merah dan mata melotot.

Bu-tek Siu-lam tertawa terbahak-bahak. Kepalanya

mendongak ke atas dan ia sama sekali tidak peduli lagi bahwa

kakek pengemis itu sudah melangkah maju dengan sikap

mengancam sekali. Kemudian tanpa memberi peringatan lagi

karena marahnya melihat sikap orang aneh itu yang amat

sombong, Hoan-lokai sudah menggerakkan tangan kanannya

menghantam ke arah perut Bu-tek Siulam. Pukulan ini keras

sekali, sesuai dengan sifat ilmu pukulan Tiat-ciang-kang.

Dengan ilmu pukulan seperti ini, pengemis tua itu sanggup

memukul hancur sepotong batu, karena tangannya seperti

besi saja keras dan kuatnya.

Namun bagi seorang tokoh besar seperti Bu-tek Siu-lam,

tentu saja kepandaian seperti ini tidak ada artinya sama sekali,

termasuk kepandaian luar yang kasar. Ilmu Tiat-ciang atau

semacam Tiat-see-ciang adalah ilmu gwa-kang atau ilmu luar

yang dikuasai seseorang hanya dengan latihan-latihan berat

mempergunakan kekuatan kulit daging, maka bagi seorang

berilmu seperti Bu-tek Siu-lam, pukulan itu hanya keras dan

kuat saja, sama sekali tidak mengandung hawa sakti yang

boleh dipandang. Tingkat Bu-tek Siu-lam jauh lebih tinggi

karena tokoh ini sudah tidak lagi memhutuhkan tenaga kasar

untuk mempergunakar, kepandaiannya. Seseorang yang

sudah menguasai ilmu silat tinggi, tidak lagi membutuhkan

bantuan tenaga kasar, melainkan lebih mengandalkan hawa

sakti dari dalam tubuhnya untuk dipergunakan secara tepat.

Seorang ahli ilmu silat tinggi mendasarkan tenaga dalam yang

sifatnya lunak dan lembut, seperti pasir atau tanah seperti air,

atau lunak ulet seperti karet. Kalau seorang yang

mengandalkan tenaga kasar menggunakan tenaganya seperti

besi sifatnya, apakah yang dapat ia lakukan terhadap sifat

lunak dan lemas itu? Besi dapat menghancurkan batu atau

benda-benda lain karena keras bertemu keras, akan tetapi

kalau besi dipukulkan karet, takkan ada artinya bahkan

memukul diri sendiri, kalau dihantamkan pasir, tanah atau air

yang tak melawan, akan lenyap dan tenaga pukulannya akan

tersedot tanpa guna.

“Wuuuuttt…. desss!” Pukulan tangan Tiat-ciang yang

dilancarkan Hoan-lokai itu tepat sekali mengenai perut Bu-tek

Siu-lam. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hati

Hoan-lokai ketika ia merasa betapa tangannya itu amblas atau

tenggelam ke dalam perut, sama sekali tidak menemui

perlawanan seperti orang memukul kapas. Namun Hoan-lokai

adalah seorang ahli silat yang sudah banyak pengalaman. Ia

segera maklum bahwa orang aneh kejam seperti iblis ini

adalah seorang ahli Iwee-keh (tenaga dalam), maka ia cepatcepat

menggunakan tangan kirinya menghantam ke arah

dada.

“Wuuuuttt…. dukkk!” Kali ini dada itu dibusungkan penuh

hawa sakti sehingga pukulan tangan kiri Hoan-lokai seperti

memukul karet dan membalik. Untung bahwa Hoan-lokai tadi

menggunakan siasat, hanya menggunakan setengah

tenaganya, sedangkan tenaga setengahnya lagi ia pergunakan

untuk mencabut lengan kanan yang “menancap” ke

dalamperut. Ia berhasil dan tubuhnya terhuyung ke belakang.

“Ha-ha-hi-hi-he-hehh….!” Bu-tek Siu-lam tertawa, suara

ketawanya genit sekali, berirama dan berlagu seperti orang

bernyanyi! “Jembel busuk, apakah kau hendak memberontak?

Teman-temanmu mengangkatku sebagai Bengcu, kenapa

engkau sendiri hendak melawan aku?”

“Manusia iblis! Kau bukan manusia, engkau setan. Engkau

akan menyeret Hek-coa Kai-pang ke dalam neraka!”

Dengan kemarahan meluap, Hoan-lokai sudah menerjang

maju lagi. Di tangan kanannya tampak seekor ular hitam yang

panjangnya semeter lebih. Ular itu mendesis-desis dan

kepalanya menyambar, mendahului tangan Hoan-lokai, ke

arah leher Bu-tek Siu-lam. Namun tokoh aneh itu hanya

tersenyum dan sekali dua jari tangan kirinya menyambar ke

depan, leher ular itu telah putus karena telah digunting kedua

buah jari tangannya tadi!

Hoan-lokai melempar bangkai ular hitamnya dan hatinya

marah bercampur duka. Ular hitam itu bukan sembarang ular,

melainkan binatang peliharaannya. Sesuai dengan nama

perkumpulan Hek-coa Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Ular

Hitam), maka semenjak dahulu para pemimpinnya tentu

memelihara ular hitam yang mempunyai dua kegunaan.

Pertama adalah dipelihara untuk diambil racunnya yang dapat

dicampur dengan obat penguat tubuh, kedua kalinya di waktu

amat perlu dapat dipakai sebagai senjata yang ampuh karena

ular hitam ini beracun. Kini ular yang sudah dipeliharanya

bertahun-tahun itu demikian mudah terbunuh! Sambil

memekik keras Hoan-lokai lalu menerjang maju dan kali ini

kedua kepalan tangannya secara berbareng, dengan

pengerahan tenaga Tiat-ciang-kang sekuatnya, menghantam

perut.

“Wuuuttt…. ceppp….!”

Dua buah kepalan tangan Hoan-lokai masuk ke perut

karena sama sekali tidak dielakkan oleh Bu-tek Siu-lam! Akan

tetapi segera kakek pengemis itu meronta-ronta dan mukanya

menjadi pucat sekali, keringatnya keluar memenuhi muka

yang berkerut-kerut. Jelas bahwa ia menderita nyeri yang

hebat. Kedua kepalan tangannya yang masuk ke dalam perut

lawan itu seperti dibakar api panasnya. Rasa panas menjalar

melalui lengan terus ke seluruh tubuh. Ia berusaha untuk

meronta, mengerahkan seluruh tenaga untuk mencabut keluar

kedua tangannya, namun sia-sia belaka. Bu-tek Siu-lam hanya

tertawa, suara ketawanya lucu menyeramkan.

“Pergilah!” bentaknya nyaring dan tubuh Hoan-lokai

terdorong ke belakang ketika Bu-tek Siu-lam mengerahkan

tenaga. Akan tetapi sebelum tangannya terlepas dari

“cengkeraman” perut, terlebih dahulu terdengar suara “pletokpletok!”

dua kali dan ketika kedua tangan itu sudah bebas,

ternyata tulang-tulang tangannya sudah remuk dan patahpatah!

Kedua lengan itu tergantung lumpuh dan rasa nyeri

menusuk sampai ke jantung dan tulang sumsum.

Muka Hoan-lokai menyeramkan sekali. Rasa nyeri membuat

mukanya pucat penuh keringat, dan garis-garis keriputnya

makin dalam, matanya merah dan basah, mulutnya

menyeringai. Dia memang seorang yang memiliki kepandaian

tinggi, akan tetapi karena kecerdikannya kurang, maka Hoanlokai

tak dapat sadar bahwa kini ia berhadapan dengan lawan

yang jauh lebih tinggi ilmunya. Saking hebatnya rasa sakit

yang dideritanya, ia menjadi makin marah dan nekat. Dengan

pekik yang menyeramkan ia lalu menerjang maju lagi, kedua

lengannya bergantungan lumpuh, dan kini ia menyerang

dengan menggunakan kepalanya! Serudukan seperti ini sama

sekali tak boleh dipandang ringan karena dengan kepalanya,

Hoan-lokai sanggup menyeruduk roboh sebuah dinding

tembok yang kuat!

Akan tetapi Bu-tek Siu-lam hanya berdiri dengan tegak

sambil tertawa ha-ha-hi-hi, memasang perutnya yang sengaja

ia busungkan untuk diseruduk lawan. Tak dapat dihindarkan

lagi tubrukan antara kepala dan perut itu.

“Suppp!” Kepala itu dengan tepat menghantam perut dan

tiba-tiba perut yang tadinya membusung itu serentak

mengempis sehingga kepala Hoan-lokai tersedot masuk ke

rongga perut! Aneh sekali kejadian ini. Kepala menancap di

perut sampai dalam sehingga mata dan hidung Hoan-lokai tak

tampak, hanya mulutnya yang tampak menggigit-gigit bibir

seperti menahan kesakitan hebat. Kedua lengan yang

tangannya remuk itu bergerak-gerak seperti meronta,

demikian pula kedua kakinya menendang-nendang tanah di

bawahnya. Biarpun semua orang yang hadir belum pernah

menyaksikan ilmu yang sehebat itu, yaitu menggunakan perut

menangkap kepala orang, namun semua sudah dapat

menduga betapa kepala Hoan-lokai, seperti kedua tangannya

tadi, akan menjadi remuk tergencet!

Pada saat itu, dari bawah puncak gunung terdengar suara

orang tertawa, suara ketawanya keras sekali dan terbahakbahak

terpingkal-pingkal seakan-akan orang itu melihat

sesuatu yang amat lucu. Terdengar lucu sekali, akan tetapi

semua pengemis yang berkumpul di dekat puncak menjadi

kaget dan berdiri bulu tengkuk mereka karena suara ketawa

ini bergema di empat penjuru dan mendatangkan hawa dingin

yang membuat jantung seakan-akan berhenti berdetik. Mereka

saling pandang dengan melongo. Belum lenyap suara gema

ketawa itu, tiba-tiba muncul orangnya. Amat tidak patut

dengan suara ketawanya. Kalau suara ketawanya besar dan

dalam, panjang dan bergema, sepatutnya suara seorang

raksasa tinggi besar, orangnya ternyata biasa saja, bahkan

kurang daripada ukuran biasa. Kecil kurus, sedemikian

kurusnya seperti cecak kering, tinggal kulit membungkus

tulang-tulang yang kecil, sudah amat tua sehingga sukar

ditaksir berapa usianya. Rambutnya hanya sedikit di atas

kepalanya yang kecil, alisnya tebal panjang menutupi matanya

yang hanya tampak sebagai dua bayangan hitam. Namun

kumisnya yang melintang di tengah muka yang sempit itu

amat panjang. Punggungnya dilingkari sabuk yang aneh dan

lucu pula karena sabuk itu penuh dengan dompet-dompet

kecil berjajar di sekeliling perutnya. Di punggungnya tampak

sebuah bambu yang panjangnya dua kaki, diikat di punggung

dengan tali. Bajunya berlengan pendek sebatas pangkal

lengan, celananya panjang kakinya telanjang. Benar-benar

seorang yang aneh dan lucu sekali. Apalagi kalau orang

melihat mukanya, muka yang kelihatan serius dan galak,

pantasnya ia pemarah sehingga sama sekali tidak cocok

dengan suara ketawa terkekeh-kekeh yang keluar dari

mulutnya sedangkan mulut itu sendiri t idak tertawa!

Berbareng dengan munculnya kakek yang aneh ini, dari

bawah puncak muncul pula serombongan orang yang

beraneka macam bentuk dan pakaiannya, akan tetapi sebuah

bendera yang dipegang oleh seorang di antara mereka

bertuliskan huruf Thian-liong-pang dengan gambar seekor

liong (naga). Kiranya rombongan itu adalah rombongan

perkumpulan Thianliong-pang yang sudah kita kenal, yaitu

perkumpulan yang diselewengkan oleh Sin-seng Losu dan dua

belas orang murid-muridnya, yaitu yang terkenal dengan

julukan Dua Belas Ekor Naga! Melihat rombongan ini,

mudahlah diduga sekarang siapa adanya kakek kecil kurus

yang aneh itu. Dia bukan lain adalah Siauw bin Lo-mo (Iblis

Tua Muka Tertawa)! Siauw-bin Lo-mo yang belum lama ini

menggemparkan dunia persilatan. Sebetulnya, julukannya Iblis

Tua Muka Tertawa kurang tepat karena biarpun suaranya

kalau tertawa seperti orang terpingkal-pingkal, akan tetapi

mukanya sama sekali tak pernah memperlihatkan senyum

sedikit pun, apalagi ketawa!

Kedua kaki orang aneh ini tidak tampak bergerak, akan

tetapi tahu-tahu ia sudah berada di depan Bu-tek Siu-lam,

yaitu di belakang tubuh Hoan-lokai yang kepalanya masih

“menancap” dalam perut Bu-tek Siu-lam. Melihat datangnya

orang kate kecil ini, Bu-tek Siu-lam sama sekali tidak

memandang mata dan ia masih tersenyum-senyum bangga

sedangkan kedua kaki Hoan-lokai masih berkelojotan dalam

usahanya membebaskan kepalanya dari perut lawan.

Kepalanya terasa makin panas seperti akan meledak dan

sakitnya tak dapat diceritakan lagi saking hebatnya.

“Huah-hah-heh-heh-heh!” Siauw-bin Lo-mo tertawa

bergelak tanpa menggerakkan bibir atau membuka mulut.

Suara ketawa itu seperti keluar dari dalam perutnya yang

kecil! “Gunung di barat takkan dapat berjumpa dengan laut di

selatan akan tetapi setan dari barat hari ini bertemu dengan

iblis dari selatan. Huah-hah-hah-hah! Aku mendengar kau

yang berjuluk Bu-tek Siu-lam, jangan kau bermain-main

seorang diri!” Setelah berkata demikian, kaki kiri Siauw-bin Lo

mo diangkat dan ditendangkan ke arah pantat Hoan-lokai.

“Bukkk! ” Tendangan ini kelihatannya hanya tendangan

biasa saja, akan tetapi kelirulah kalau orang mengira

demikian, karena tendangan kaki telanjang yang kecil itu

mengandung tenaga sakti yang hebat sehingga Hoan-lokai

yang ditendang pantatnya itu tiba-tiba merasa betapa

serangkum tenaga yang berhawa panas memasuki tubuhnya

dan berkumpul di pusar. Sebagai seorang ahli silat tinggi tentu

saja Hoan-lokai maklum bahwa ada orang yang

membantunya, maka cepat ia mengerahkan tenaga panas itu

dari pusar terus ke atas, keluar dari kepalanya untuk melawan

gencatan perut Bu-tek Siu-lam yang hebat.

Kaget sekali Bu-tek Siu-lam. Hawa panas yang keluar dari

kepala Hoan-lokai itu amat hebat dan kalau ia melawannya

keras sama keras, dia terancam bahaya karena perut

merupakan bagian tubuh yang lemah dan gawat. Kalau

sampai sebuah di antara isi perutnya terluka, hebatlah

akibatnya. Tentu saja ia tidak mau mengambil resiko berat ini

dan sambil berseru keras ia membusungkan perutnya

sehingga tubuh Hoan-lokai bagaikan sebuah peluru meluncur

ke arah manusia kate yang lihai itu.

Sambil tertawa-tawa Siauw-bin Lomo menggerakkan

tangan kirinya dan sekali tangan ini bergerak entah

bagaimana, tubuh Hoan-lokai yang menyambar ke arahnya itu

tiba-tiba membalik dan kini dengan kecepatan yang tak kalah

besarnya meluncur dan menyambar kembali ke arah Bu-tek

Siu-lam! Kiranya sekarang ternyata bahwa Si Kecil ini sama

sekali t idak bermaksud menolong Hoan-lokai, melainkan tadi

melalui tubuh Hoan-lokai hendak mencoba-coba kepandaian Si

Iblis Banci! Kasihan sekali nasib Hoan-lokai. Dia boleh jadi

tergolong seorang tokoh yang berkepandaian tinggi di antara

para anggauta Hek-coa Kai-pang, akan tetapi di tangan dua

orang aneh ini, ia seolah-olah menjadi seekor kelinci di antara

dua ekor harimau buas! Sama sekali tidak berdaya dan

kepalanya pening pandang matanya berkunang-kunang ketika

tubuhnya kini menjadi semacam bola yang ditendang pergi

datang oleh hawa pukulan kedua orang aneh itu. Tanpa

menyentuh tubuhnya, dua orang aneh itu hanya dengan

dorongan tangan dari jauh, dapat membuat tubuhnya

terlempar ke sana ke mari! Sambil mempermainan tubuh

Hoan-lokai yang beterbangan pulang pergi di udara, dua

orang itu sudah bercakap-cakap seenaknya!

“Heh manusia kerdil, melihat bahwa kau sudah mengenal

namaku dan memiliki kepandaian yang tidak buruk, kau tentu

bukan sembarang orang. Siapakah kau dan apakah nyawamu

rangkap maka kau berani mencoba untuk main-main dengan

aku?” Bu-tek Siu-lam bertanya, sikapnya masih memandang

rendah dan mengejek.

“Hoh-hoh-huh-huh, manusia pesolek, Bu-tek Siu-lam. Kau

boleh. jadi merupakan setan di barat dan ditakuti orang, akan

tetapi jangan mengira bahwa aku Si Tua Bangka yang sudah

terlalu tua takut kepadamu. Ha-ha-hah, alangkah lucunya

kalau seorang tokoh muda hijau seperti Bu-tek Siu-lam

mengira bisa membikin gentar Siauw-bin Lo-mo! ” Kakek kecil

itu tertawa terus, akan tetapi mulutnya tidak bergerak dan kini

dorongannya membuat tubuh Hoan-lokai makin cepat dan

kuat meluncur ke arah Bu-tek Siulam.

“He-he-hi-hi-hik! Kiranya Siauw-bin Lo-mo si Iblis Tua

Bangka. Pantas, pantas sekali! Orangnya ternyata lebih buruk

daripada namanya!” Bu-tek Siu-lam tidak menanti sampai

tubuh Hoan-lokai menyambar dekat. Ia memapaki dengan

dorongan jarak jauh sambil mengerahkan tenaga.

Dua tenaga sinkang raksasa bertemu di udara, menggencet

tubuh Hoan-lokai dan…. tubuh kakek pengemis itu terhenti di

udara, di tengah-tengah antara mereka seakan-akan tertahan

oleh dua tenaga besar yang saling bertemu di udara! Kini

setelah saling memperkenalkan diri dan tahu bahwa lawan

masing-masing adalah seorang yang memiliki kepandaian

hebat, kedua orang ini tidak main-main lagi. Dengan berdiri

tegak, tangan kanan mereka diulur ke depan dengan jari

tangan terbuka darimana meluncur tenaga sakti yang tak

tampak, yang “menahan” bahkan mendorong tubuh Hoanlokai

di tengah udara. Wajah mereka berkeringat, tekanan

makin hebat dan keduanya tidak mau saling mengalah.

Celaka sekali adalah Hoan-lokai. Tadi ia diperlakukan

seperti sebuah bola dilontarkan ke sana ke mari sehingga

kepalanya pening, pandang matanya berkunang dan kini,

tertahan oleh gencetan dua tenaga dahsyat itu, ia merasa

tubuhnya terjepit dan sukar bernapas. Makin lama makin

hebat dan akhirnya ia mengeluarkan teriakan menyeramkan,

tubuhnya lalu menjadi lemas dan dari hidung, mulut dan

telinganya bercucuran darah! Hoan-lokai tewas dalam keadaan

masih mengapung di tengah udara!

Melihat ini, kedua orang aneh itu menarik kembali

tangannya dan tubuh Hoan-lokai terbanting berdebuk ke atas

tanah. Bu-tek Siu-lam tertawa terkekeh-kekeh dan berkata,

“Iblis tua bangka kurus kering benar-benar mengagumkan!”

Siauw-bin Lo-mo tertawa juga. “Engkau hebat, akan tetapi

belum tentu aku kalah. Bangkai ini tak menyenangkan, lebih

baik disingkirkan saja!” Mendengar ucapan datuk mereka,

orang-orang Thian-liong-pang maju hendak menyeret mayat

Hoan-lokai, akan tetapi Siauw-bin Lo-mo mencegah dengan

gerakan tangan, lalu berkata. “Tak usah, tak usah, kenapa

banyak repot untuk menyingkirkan bangkai ini?”

Anak buah Thian-liong-pang mundur kembali dan

memandang heran. Kakek kecil itu sambil mengeluarkan suara

tertawa-tawa lalu meraba bumbung bambu di punggungnya,

mengambil sebuah botol kecil dan membuka tutup botol,

menuangkannya beberapa tetes cairan berwarna kuning ke

atas mayat Hoan-lokai. Tampak asap mengebul dan bau

sangit. Ketika semua orang memandang ke arah mayat itu,

mereka membelalakkan mata saking kaget dan herannya.

Bahkan Bu-tek Siu-lam sendiri bergidik. Mayat itu berikut

pakaiannya mulai lenyap, melumer menjadi cairan berwarna

kuning! Bukan main kakek ini, pikir Bu-tek Siu-lam. Racun

cairan di dalam botol tadi benar-benar amat hebat. Dengan

racun seperti itu saja, kakek ini sudah dapat menebus

kekalahan ilmu silat dan merupakan lawan yang amat

berbahaya dan harus diperhatikan.

Dalam waktu singkat saja lenyaplah mayat Hoan-lokai.

Cairan kuning lenyap pula, masuk ke dalam tanah. Siauw-bin

Lo-mo masih tertawa-tawa, kemudian menghadapi Bu-tek Siulamsambil

berkata.

“Bagaimana, bocah tampan. Apakah kau masih belum mau

mengakui kelihaian kakekmu?”

Bu-tek Siu-lam mengangguk-angguk. “Memang hebat!

Patut kau menjadi iblis bangkotan dari selatan. Akan tetapi,

tentang kedudukan bengcu, nanti dulu. Belum mau aku

menyerahkannya kepadamu sebelum kau mengalahkan aku

dan agaknya takkan mudah bagimu untuk mengalahkan

guntingku ini, orang tua, biarpun kau mempunyai racun

neraka itu!”

“Huah-hah-hah, bocah muda omongannya besar! Apakah

hanya engkau saja yang menjadi sainganku? Ataukah masih

ada yang lain? Kalau masih ada, lebih baik suruh mereka maju

semua agar tidak kepalang tanggung aku turun tangan

membuang keringat menghadapi mereka!” Ucapan kakek kecil

ini membuat Bu-tek Siu-lam mendongkol. Wah, tua bangka ini

benar-benar sombong bukan main, pikirnya, tentu memiliki

ilmu simpanan yang ampuh.

Sebelum Bu-tek Siu-lam sempat menjawab, terdengar

bunyi pekik seperti lolong serigala, terdengar dari utara.

Lolong ini hebat bukan main, menggetarkan tanah dan pohonpohon

di puncak itu, dan bergema di sekeliling puncak. Belum

lenyap gema suara melolong mengerikan ini, orangnya sudah

muncul. Kakek yang muncul kali ini sama anehnya dengan dua

orang pertama, akan tetapi lebih lucu lagi agaknya. Tinggi

kurus, mukanya seperti tengkorak, kepalanya ditutupi sebuah

topi yang tinggi, sepasang matanya hanya tampak dua lubang

hitam yang amat dalam sehingga tak tampak biji matanya,

tangan kanan memegang sebuah senjata yang aneh,

berbentuk seperti pedang, ujungnya berkait dan bergigi

seperti gergaji! Tangan kirinya memegang segulung tali kecil

yang ujungnya mengikat sebuah pancing bermata kail pula!

Benar-benar seorang aneh, akan tetapi pakaiannya tidak kalah

mewah oleh pakaian Bu-tek Siu-lam. Berbareng dengan

munculnya tokoh aneh ini, muncul pula serombongan orang

tinggi besar yang galak sikapnya dan aneh pakaiannya.

Kiranya mereka ini adalah orang-orang Khitan dan Mongol,

orangorang dari utara. Melihat rombongan ini, mudah saja

diduga siapa tokoh aneh itu.

“Heh-heh-hik-hik! Siapa lagi badut ini kalau bukan Jin-cam

Khoa-ong (Raja Algojo Manusia)!” kata Bu-tek Siu-lam.

Mendengar ini, Siauw-bin Lo-mo memandang penuh

perhatian dan amat tertarik, kemudian sambil tertawa-tawa ia

pun berkata, “Aha, kiranya yang hadir adalah Pak-sin-ong

yang terkenal! Bagus, tidak percuma kalau begini

kedatanganku, bertemu dengan orang-orang yang bernama

besar!”

Bu-tek Siu-lam adalah seorang yang cerdik. Tadi,

sungguhpun hanya mengukur kekuatan sinkang masingmasing,

ia telah mencoba kelihaian Siauw-bin Lo-mo dan

maklum bahwa betapapun lihai kakek kecil itu, ia sanggup

menandinginya. Kini muncul lagi seorang saingan yang

namanya sudah terkenal sekali, maka ia pun tidak mau

menyia-nyiakan waktu dan ingin mencobanya sebelum

bertanding memperebutkan kedudukan bengcu. Sambil

tersenyum mengejek ia lalu menghadapi Pak-sin-ong atau Jincam

Khoa-ong dan berkata.

“Pak-sin-ong terkenal sebagai seorang algojo, maka ke

mana-mana membawa gergaji. Agaknya tali itu untuk

mengikat korban selain untuk mancing, dan gergaji itu jelas

untuk menggorok leher. Hi-hi-hik! Senjatamu lucu sekali, Paksin-

ong akan tetapi aku sangsi apakah cukup kuat menandingi

gunting dan jarum benangku!” Sambil berkata demikian, Butek

Siu-lam sudah mencabut guntingnya yang dipegang di

tangan kiri sedangkan tangan kanannya sudah mengeluarkan

sebatang jarumbesar dengan gulungan benangnya!

Pak-sin-ong mengerutkan keningnya. Dia memang aneh

dan lucu pakaiannya, akan tetapi sikapnya sama sekali tidak

ramah apalagi lucu. Ia seorang yang sikapnya angkuh. Tadi

begitu muncul dan menghadapi teguran-teguran Bu-tek Siulam

dan Siauw-bin Lo-mo, ia hanya berdiri dengan kedua kaki

terbuka lebar, dada dibusungkan dan kepala dikedikkan, muka

agak berdongak memandang kedua orang itu dengan sikap

angkuh sekali. Hal ini tidak aneh karena di dunia utara, ia

mengangkat diri sendiri menjadi raja, bahkan diperlakukan

sebagai raja oleh anak buahnya, yaitu segolongan bangsa

Khitan dan Mongol. Kini mendengar ucapan Bu-tek Siu-lam

yang tidak hanya amat menghina akan tetapi juga terangterangan

menantangnya itu, mukanya seketika menjadi merah

sekali dan dari dua lubang matanya menyambar sinar berapi.

Mulut yang seperti tengkorak hidup itu agak tersenyum

mengejek, kemudian terdengar suaranya,

“Bu-tek Siu-lam, sudah lama kudengar namamu. Ternyata

memang kau pesolek, genit, sombong dan menjemukan. Nah,

rasakan kelihaian Pak-sin-ong!” Begitu kata-katanya berhenti,

sinar putih yang menyilaukan mata sudah menyambar ke

depan. Itulah senjata gergajinya yang sudah ia gerakkan

membacok dengan gerakan menarik ke arah perut Bu-tek Siulam.

Kecepatan gerak dan angin yang didatangkan oleh

serangan ini cukup dahsyat dan agaknya kalau perut orang

kena disambar gigi-gigi gergaji dengan kekuatan sehebat itu,

tentu akan terbelah dan isi perutnya akan cerai-berai!

“Traanggg….!” Pak-sin-ong terhuyung mundur tiga

langkah, juga Bu-tek Siulam terdorong ke belakang ketika

senjata gergaji itu bertemu dengan gunting besar di tangan Si

Tokoh Genit. Mereka memandang kagum dan muka mereka

berubah sedikit. Pertemuan kedua senjata ini cukup bagi

mereka untuk mengetahui bahwa lawan tak boleh dipandang

ringan.

“Siuuuuutttt….!” Kini sinar yang kecil panjang menyambar

dari tangan kiri Pak-sin-ong, sinar ini melengkung dan

melayang ke atas, lalu dari atas menyambar ke arah kepala

Bu-tek Siu-lam.

“Cringgg….!” Sinar kecil putih itu terpental kembali ketika

tertumbuk oleh sinar kecil kuning yang meluncur dari tangan

kanan Bu-tek Siu-lam. Ternyata tali yang ujungnya terda